Ceritasilat Novel Online

Hadiah Membawa Bencana 7

Eps 7 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.

Ia menggrendeng sendirian. Li Cong Bun sudah panas hatinya melihat orang itu sangat kurang ajar terhadap kouw-kouwnya tapi saban-saban tindakannya untuk menyerang telah dicegah Gan Su Nio.

"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku."

Bentak Gan Su Nio ketika Cong Jie Giok masih terus mengimplang pada dirinya.

"Ha ha ha.. kau memang tepat menebaknya,"

Akhirnya ia menjawab dengan cengar cengir.

"Apa kau ini adalah Gan Su Nio muridnya Biauw Hoat Sin ni. Aku diminta untuk menagkap orang. Eh, kedatanganmu ini bukankah hendak menolong dua kawanmu?"

"Betul, dimana mereka?"

Tanya Gan Su Nio. 687

"Nah mari sini ikut aku. Kalian nanti lihat dua kawanmu yang hendak ditolong itu,"

Kata Cong Jie Giok sambil menggapaikan tangannya lalu berjalan ke pintu darimana tadi ia keluar.

Gan Su Nio agak sangsi untuk mengikutinya akan tetapi Li Cong Bun yang tidak mengenal artinya bahaya sudah lantas mengajak kouw-kouwnya untuk mengikuti si Iblis Telengas Muka Putih.

Sampai dalam ruangan mereka dibawa ke sebuah kamar yang berjeruji besi dan terang didalamnya.

Betul saja mereka dapat lihat di dalam kamar tahanan itu ada dua orang yang diikat pada sebuah tiang besar.

Gan Su Nio berbisik pada Li Cong Bun.

"Cong Jie Giok ini adalah penjahat ulung yang tinggi kepandaiannya. Kita tak mudah bertanding dengannya. Tapi disini kukira hanya dia yang tinggi ilmu silatnya. Aku saja yang menempur padanya. Sebentar seetelah aku turun tangan kau lekas-lekas menolong kedua kawan kita. Jangan kau ikut bertempur, tapi terus lari turun gunung pulang ke tempat kita, kau mengerti?"

Li Cong Bun mendengar couw-couwnya berkata demikian, ia percaya kepandaiannya orang itu bukan main tingginya,tapi ia masih penasran. Sambil angguk-anggukkan kepalanya ia menanya pada Cong Jie Giok.

"Hmm…! Thian lam Siang koay adalah Hwe Ciang dan Hwe Kong Thi tiok Im yang kaucy adalah dua penjahat Leng Hong dan Pit Tho Hoa, kau ini termasuk golongan apa dalam gerombolannya mereka itu? kau begini tengik menonjolkan kesombongan, bukankah kau hendak mencari mati?"

"Ha ha ha anak kecil,"

Cong Jie Giok tertawa dingin.

"Hwe Ciang pergi ke Ya jin san untuk mengundang Kiu bin Sin bo Siang Su Su untuk membantu bertempur. Itu Leng Hong Tiok dan Pit Tho Han sudah enam kali mengundang aku datang disini untuk memajukan perkumpulannya. Pendeknya semua pendekar ulung yang jarang keluar pada membantu Hwe Kong, maka jangankan kau orang dari tingkatan rendah. Biarpun Buju, Ceng Leng dan Biauw Hoat itu tiga setan tua datang kemari mana ada itu kemampuanuntuk melawan aku…?"

Li Cong Bun sudah menjadi panas karena bicaranya Cong Jie Giok, maka ia terus berbisik pada Gan Su Nio.

"Gan kouw-kouw orang ini sangat sombong. Aku ingin menjajalnya dan bikin terlepas kepalanya dari tubuhnya. Sebentar kalau dia sudah tidak berdaya, kita sama-sama melepaskan kawan kita masih belum terlambat. Tanpa menunggu jawaban Gan Su Nio, sudah melompat kedepan Cong Jie Giok. 689 Dengan tidak banyak cakap ia menggunakan salah satu tipu serangan dari Ilmu Pedang Pengejar Sukma yang dinamai "

Bintang meluncur dari langit‟ satu serangan yang hebat, pedangnnya terus menyerang musuh.

Gan Su Nio tahu bahwa Iblis Telengas Muka Putih ini adalah dari air mukanya seperti yang baru merumur tiga puluh tahun, tapi sebenarnya ia sudah berumur tujuh puluh tahun.

Ia sangat lihai, maka ia tidak mengijinkan Li Cong Bun yang melayani dan ia sudah akan turun tangan sendiri.

Cong Bun bukan tandingannya.

Tapi sekarang apa mau dikata Ceng Bun yang bandel dan tidak mengenal apa artinya bahaya sudah menerjang pada Cong Jie Giok maka ia tidak bisa mencegahnya lagi.

Cong Jie Giok anggap serangan Li Cong Bun Enteng sekali, sebab ia hanya gerakkan kipasnya menempel pedang ternyata dua senjata itu sudah melekat.

Sekali dikibaskan pedangnya Li Cong Bun sudah hampir terlepas dari cekalannya.

Bukan main Li Cong Bun kaget hatinya karena sampai sebegitu lamanya ia belum pernah menemui tandingan yang demikian lihainya.

Serangan kipas yang menyusul dari Cong Jie Giok hampir-hampir menemui sasarannya kalu Li Cong bun tidak cepat berkelit.

690 Tapi ia seorang bandel, mana ia takut pada Cong Jie Giok meskipun kepandaiannya beberapa tingkat lebih tinggi darinya.

Ketika ia merangsek lagi, pedangnya kena ditempel kipas.

Tiba-tiba mendengar Gan Su Nio berteriak.

"Hei Bun jie, cepat-cepat lepaskan pedangmu dan mundur. Bukankah menurut rencana orang ini aku yang melawannya?"

Berbareng tiga sinar bintang berwarna keemas-emasan meluncur mendatangi.

Itulah ada senjata rahasianya San Su Nio mengarah Cong Jie Giok.

Li Cong Bun terus mendorong pedangnya kemudian enjot tubuhnya melesat tinggi mundur.

Ketika turun lagi ia sudah berhadapan dengan kamar tahanan yang berjeruji besi dan menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya terus ia menyerang jeruji besi itu.

Dari permainan silatnya, Gan Su Nio tahu kalau Cong Jie Giok melatih tenaga Cit Im CI (Tujuh jari bersembunyi) yang sangat lihai.

Ia meluhat Li Cong Bun tidak tahu lihaynya ilmu itu maka ia lantas teriaki Li Cong Bun yang sedang berkutetan pedangnya kena ditempel kipas untuk menarik balik pedangnya, berbareng ia meluncurkan senjata rahasianya Hot mo Kim hoan tiga butir menyerang kearah Cong Jie Giok.

691 Sebenarnya Cong Jie Giok saat itu sedang kegirangan melihat Li Cong Bun masuk tipunya karena berkutat mempertahankan pedangnya sebab dalam keadaan demikian ilmunya Cit im ci dapat dikerjakan dengan tepat sekali.

Ia tertawa bergelak-gelak, pikirnya Li Cong Bun yang bandel niscaya mati dibawah tangannya.

Apa mau Li Cong Bun telah menurut teriakannya Gan Su Nio.

Ia mendorong tapi lantas mencelat mundur hingga ikan yang sudah ditangan terlepas kembali.

Dalam kemek-mek memegang pedang Li Cong Bun tiba-tiba meluncur bayangan putih menebarkan bau harum.

Pedang ditangannya lantas dirampas tanpa dapat mencegahnya.

Itulah ada Gan Su Nio punya kerjaan.

Si Iblis Telengas Muka Putih tidak mengira bahwa Gan Su Nio berani merampas pedang di tangannya.

Maka ia jadi sangat marah.

Hatinya yang jahat kejam timbul seketika.

Ia lantas menyerang dengan ilmu Cit im ci nya.

Gan Su Nio setelah merampas pedang lalu melesat tinggi dengan meminjam serangan kipas musuh ia gunakan ilmu meringankan tubuhnya sangat indah ialah gaya "

Burung walet menerobos awan‟ sudah meluncur beberapa tombak jauhnya hingga pukulan musuh telah menemui tempat kosong.

Semakin marah mukanya Cong Jie Giok yang putih semakin pucat.

Matanya melotot 692 mengawasi Gan Su Nio.

Tapi si nona cantik tidak takut dan tidak mempedulikan mata yang melotot itu.

dengan tenang ia memasukkan pedangnya sendiri dan menggunakan Pedang Penakluk Iblis untuk bertempur.

Sambil tertawa manis ia berkata pada Cong Jie Giok.

"Hmm.. Cong Jie Giok, jangan kira dirimu sangat lihai. Aku katakan tegas padmu bahwa orang pandai masih ada yang lebih pandai lagi. Jadi di dunia orang tidak boleh membanggakan kepandaiannya karena masih ada yang melebihinya. Nah, sekarang aku mau memperkenalkan ilmu pedang dari Lam hay dengan Pedang Penakluk Iblis ditanganku kau sebentar boleh rasai."

Sementara itu nona Gan melihat usahanya Li Cong Bun menolong dua kawannya dihalang-halangi oleh banyak orang.

Anak muda itu tidak membekal senjata, maka terang ada sedikit sulit untuk menggebah itu kawanan kurcaci, ia menjadi bingung karena kalau sang waktu berlarut demikian Iblis Hwe Kong sebentar lagi sudah datang dan sulit untuk mereka berhasil dengan usahanya.

Gan Su Nio lalu membungkuk seolah-oleh bersiap mau menyerang pada Cong Jie Giok.

tidak tahunya itu hanya tipuan belaka sebab badannya lantas melesat tinggi dan menghampiri Li Cong Bun yang sedang dikurung.

Dengan Pedang Penakluk Iblis ia bikin kucar kacir kawanan penjahat yang hendak menggagalkan Li Cong Bun.

693 Cong Jie Giok menjadi melengak oleh perbuatannya nona Gan yang gesit lincah, ia merasa tertipu, maka ia lantas memburu.

Ketika ia melancarkan serangan kipasnya berbareng ada beterbangan tiga kepala dengan darah menetes-netes.

Pedang Penakluk Iblis memakan korban.

Cong Jie Giok sangat marah.

Ini budak hina lihai juga, pikirnya.

Ia menyerang lagi dengan kipasnya, tapi Gan Su nio tidak takut pada jago kawakan itu.

dengan gaya "

Mengejar Angin‟ sambil merangkang ia menyambut satu penjahat yang hendak melarikan diri berbareng badannya berbalik dan pedangnya yang berkilauan memapas kipas musuh yang menyerang dirinya.

Cong Jie Giok tidak menyangka si nona dapat bergerak demikian sebetnya hingga ia hampir dia dirugikan.

Sambil menangkis dengan angin telapakan tangannya, tangan kirinya yang memegang kipas telah mengetok belakang pedang si nona.

Pertandingan ramai sekali.

Cong Jie Giok sampai bergulingan di tanah untuk menghindari tipu-tipu serangan pedang Gan Su Nio yang datangnya bertubi-tubi.

Ia merasa malu sebagai jago kawakan kena dipermainkan oleh anak kemarin sore.

Gan Su Nio tidak perdulikan Cong Jie Giok yang bengong berdiri.

Ia insyaf akan maksud kedatangannya kesitu, maka ia putar terus 694 pedangnya mengamuk dalam kepungan kawanan penjahat yang makin lama makin banyak jumlahnya.

Dengan tupu-tipu serangan pedang "Angin mengusur hawa jahat‟ dan "

Siluman salju menimbulka air mendidih‟ hebat sekali tubuhnya Gan Su Nio berkelebatan diantara kawanan penjahat yang mengepung dirinya.

Sebentar saja terdengar banyak teriakan dari para korbannya si nona.

Ada yang kepalanya menggelinding, ada yang tangannya tertebas kutung ada yang tertusuk dadanya.

Dalam sekejapan sana empat lima penjahat sudah rubuh dengan mandi darah.

Cong Jie Giok melihat suasana tidak menguntungkan pihaknya agak gugup juga tapi ia bisa menekan kegugupannya itu.

dengan tenang ia menghampiri Gan Su Nio.

Pikirnya akan tetap akan mengkap si nona yang telah membikin kepalanya pusing.

Dengan wajah cengar cegir ia menggoyang-goyangkan kipasnya.

Dilain pihak, selirikan saja Gan Su Nio sudah tahu kalau ada banyak penjahat yang bergelimpangan didekat kamar tahanan.

Itulah ada korban-korbannya Li Cong Bun yang dihalangi maksudnya menolong dua kawannya.

Si nona tahu ia harus menggempur Cong Jie Giok untuk mengulur waktu supaya Li Cong Bun dapat menolong dua kawannya.

Maka ia tinggal berdiri ditempatnya ketika melihat Cong Jie 695 Giok datang menghampiri.

Ia pikir hendak menggunakan "Tiga Belas Gerakan Pedang Ajaib‟ untuk mellayani jago rimba hijau itu.

Cong Jie Giok tahu bahwa si nona sangat lihai, apalagi ada pedang pusaka ditangannya musuh.

ia sudah mengambil keputusah kalau musuh diam ia juga diam waspada, kalau musuh menyerang ia juga bergerak menyerang.

Ketika ia melihat musuhnya menyerang, ia menggunakan jurus Hui kiam Cen liong (pedang terbang menaklukkan naga) dari tiga belas gerakan pedang ajaib.jurus ini ada perlahan mula-mulanya, tapi tenaganya kuat sekali.

Serangan dilakukan laksana kilat.

Pedang berkelebat mengarah dada lawannya.

Cong Jie Giok melihat permainan pedang itu bukan saja tenaganya amat dahsyat tapi perubahannya banyak yang aneh-aneh.

Ia kuatir kesalahan maka ia tidak berani menangkis dengan kipasnya.

Untuk menghindarkan serangan itu ia melesat ke udara.

Gan Su Nio tidak mengasih hati.

ia terus mengeluarkan jurus-jurusnya yang berbahaya dari ilmu Tiga belas gerakan pedang ajaib.

Gesit sekali si nona bergerak sehingga Cong Jie Giok merasakan seperti dirinya dikurung oleh pagar pedang.

Dimana ia melihat disitu ada pedangnya si nona.

Seakan-akan Gan Su Nio mainkan ratusan pedang ditangannya.

696 Si Setan Muka Putih Telengas Cong Jie Giok seorang yang ulung dalam rimba persilatan.

Tetapi ia menghadapi ilmu pedang yang ajaib dari si nona mau tidak mau ia harus mengakui kelihaian.

Ia hanya bisa membela diri dengan saban-saban gerakkan kipasnya menangkis tapi tidak berani balas menyerang apalagi kipasnya beradu dengan pedangnnya si nona.

Satu demi satu ilmu gerakan pedang ajaib dikeluarkan oleh Gan Su Nio, akan tetapi masih juga ia belum bisa merubuhkan musuhnya yang tangguh.

Perlahan-lahan jurus-jurus telah dikeluarkan semuanya.

Nona gan jadi agak bingung untuk melayani terus Cong Jie Giok.

Si Setan Muka Putih juga tahu keadaan si nona maka hatinya menjadi besar lagi.

Kini ia tidak terus-terusan menjaga tapi juga balas menyerang lawannya.

Ia menggunakan tangannya yang ajaib untuk mengimbangi pertempuran.

Pikirnya, bagaimanapun juga akhirnya Gan Su Nio akan jatuh dipihak yang kalah.

Kalau Gan Su Nio dan Cong Jie Giok bertempur sengit, adalah dilain pihak Li Cong Bun juga telah membikin para musuh-musuhnya kewalahan.

Ketika ia menyerbu kamar tahanan ada dua hweshio yang menghalang-halangi.

Dengan menggunakan tenaga sakti ia telah bikin 697 terpental satu diantaranya sejauh beberapa tombak dan dari mulutnya mengeluarkan banyak darah.

Hweshio lainnya yang bersenjatakan golok bergigi telah dibikin patah pahanya dengan jurus "Memotong Aliran Sungai‟ hingga ia bergulingan ditanah sambil menjerit-jerit kesakitan.

Senjatanya dilemparkan entah kemana.

Li Cong Bun melihat Gan Su Nio sudah menggunakan pedang dan membikin beberapa kepala kawanan penjahat pada terpental dari tubuhnya hatinya menjadi besar dan semangatnya terbangun.

Dengan menggunakan Naga mencengkram mustika dan Tenaga Sakti ia sikat bersih kawanan penjahat yang mengepung dirinya.

Diwaktu Gan Su Nio keluarkan ilmunya "

Tiga belas gerakan pedang ajaib‟ Li Cong Bun hanya menghadapi dua gelintir sisanya kawanan penjahat yang mengepung dirinya.

Juga dua penjahat ini karena melihat bagaimana gagahnya Li Cong Bun tak berani menempur dan cepat-cepat angkat kaki selamatkan dirinya.

Melihat kawanan penjahat sudah pada lari, maka ia cepat menghampiri kamar tahanan.

Dilihatnya dalam kamar itu ada dua orang yang diikat di tiang dengan menghadap ke sebelah dalam hingga Li Cong Bun tidak dapat mengenali romannya apalagi keadaan ada remang-remang.

Kalau tidak didekati, terang ia tidak bisa mengenalinya itu.

ia lantas 698 datang menghampiri.

Dalam jarak lima ayunan kaki dari mereka terus anak muda itu berteriak.

"Apa yang di dalam ad kedua lopek Auw yang dan Hwe? Li Cong Bun datang untuk membebaskan kalian."

Terdengar suara keluhan perlahan.

"Hmm"

Dari sebelah dalam.

Li Cong Bun tak sabaran lantas menggunakan tenaga saktinya untuk membikin jeruji-jeruji besi dalam kamar tahanan itu menjadi terpengkang.

Tiba-tiba dua orang yang diikat tadi telah tertawa nyengir masing-masing mengibarkan bendera putih dan merah dan digoyang-goyangkan.

Li Cong Bun menjadi kaget.

Lantas tahu dirinya sudah terlambat.

Dua bendera merah putih itu telah menebarkan harum menusuk hidungnya Li Cong Bun, maka seketika itu telah jatuh lemas kemudian sudah lupa akan keadaan dirinya (pingsan).

Berbareng api telah menyela terang benderang dalam kawanan itu.

kawanan penjahat yang pada menyembunyikan dirinya pada muncul dari tempat persembunyiannya.

Sambil berteriak-teriak serukan supaya Gan Su Nio lekas meletakkan pedangnnya dan menyerah untuk diikat.

Gan Su Nio bertempur dengan Cong Jie Giok sebenarnya sudah dibawah angin.

Kini melihat Li Cong Bun sudah kena ditangkap, hatinya sangat gelisah.

Terus menerus kena didesak 699 oleh musuhnya bahkan hampir ia kena totokan pada jalan darahnya yang penting oleh kipasnya Cong Jie Giok yang lihai.

Gan Su Nio pikir tak ada gunanya ia terus ngotot memberikan perlawanan terhadap musuh.

lebih baik ia lekas pulang melaporkan kepada kawan-kawannya di bawah gunung dan mencari daya upaya unguk menolong Li Cong Bun.

Cong Jie Giok tahu lawannya dalam kegelisahan karena melihat kawannya ditangkap maka serangan-serangannya dilakukan lebih gencar lagi dan mendesak pada si nona begitu rupa, hingga dengan susah payah baru Gan Su Nio dapat meloloskan diri dari totokan musuh yang sangat berbahaya.

"Hei budak tolol!"

Bentak Cong Jie Giok.

"Penjahat kecil sudah ditangkap dengan bendera Tok tiok Im yang, mana dapat kau meloloskan diri dari tanganku?"

Gan Su Nio gemas sekali dengan lawannya.

Ia merogoh sakunya.

Dengan senjata rahasianya ia menimpuk ke arah lawan.

Kemudian pedang wasiatnya "Pedang Penakluk Iblis‟ bekerja mengamuk diantara kawanan hweshio yang mengurung dirinya.

Banyak tipu-tipu silat dari tiga belas gerakan pedang ajaib telah dikeluarkan hingga pedangnnya Gan Su Nio berkelebatan seperti kilat saja cepatnya.

700 Cong Jie Giok adalah seorang kawakan dalam rimba hijau, maka ketika melihat berkilaunya pedang yang digunakan Gan Su Nio lantas mengetahui bahwa itu bukannya senjata pedang sembarangan.

Pantasan dari tadi sudah menebasi kepala orang demikian mudahnya.

Pikirnya ia akan menempur terus Gan Su Nio tidak dengan keras lawan keras akan tetapi keras dilawan lunak dengan demikian Gan Su Nio lambat laun akan kehabisan tenaga dan dapat ditangkap hidup-hidup.

Cong Jie Giok salah menduga bahwa Gan Su Nio telah mengeluarkan tipu-tipu simpanannya perlunya bertempur mati-matian lantaran kawannya sudah kena ditangkap sebab kebenarannya adalah Gan Su Nio ingin angkat kaki dari situ untuk segera memberikan laporan kepada kawan-kawannya yang menantikan di bawah gunung.

Macan betina itu mengamuk diantara para kawanan hweshio yang mengepung dirinya.

Kembali telah terdengar beberapa suara teriakan yang menyayat hati.

Ternyata ada beberapa hweshio yang terluka parah dan bukan sedikit yang kepalanya dibikin terpisah dari badannya oleh Pedang Penakluk Iblis yang dimainkan oleh Gan Su Nio ganas sekali.

Ketika melihat lowongan dengan baju yang penuh dengan darah korbannya Gan Su Nio sudah melesat tinggi dan turun beberapa tombak jauhnya dari Cong Jie Giok.

701 Tidak banyak rewel lagi ia enjot pula tubuhnya melesat dan beberapa kali menotol tanah lantas tubuhnya sudah melayang-layang turun dari gunung.

Cong Jie Giok mengubar tidak mendaptkan hasil apa-apa dan pulang kembali kesarangnnya dengan hati sangat mendongkol.

**** Demikian kisah Gan Su Nio dan Li Cong Bun di atas gunung untuk menolong dua kawannya.

Semua ini telah diceritakan kepada kawan-kawannya dengan jelas.

Setelah mendengar penuturan sang kekasih, Bo yong Kang hatinya tidak tenteram.

Benar kekasihnya telah kembali dengan selamat, kan tetapi bagaimana dengan Li Cong Bun keponakannya yang ia sayang itu ditahan kawanan penjahat?

Apakah anak muda itu tidak akan diganggu keselamatannya?

Sambil menggendong tangan ia jalan mondar-mandir dalam kamar itu.

Se bun Pa melihatnya merasa kasihan.

Setelah menghela nafas ia menghibur.

"Bo yong laote, urusan sudah jadi begini rupa maka kita dengan tergesa-gesa menolongnya juga tidak akan ada gunanya.

Sebaiknya kita berunding dengan tenang bagaimana baiknya untuk menolong pada Cong Bun.

Kita menunggu Teng Goan Taysu, 702 bagaimana kabarnya dengan pertukaran tawanan antara Song Sam Ceng dan Li Cong Bun.

Bo yong Kang tidak menjawab.

Ia kelihatan menghela nafas berkali-kali.

Jilid 19

"SE BUN TOAKO,"

Akhirnya ia berkata.

"Itu Hwe kong dari Thian lam Siang koay, memang sungguh tinggi kepandaiannya dan kita susah melawannya. Ketambahan dengan adanya Cong Jie Giok yang lihay dan Tho tiok Im yang di atas gunung. Sukarlah kita menempuh bahaya untuk menolong dirinya dua orang kawan kita itu. Benar misalnya Li Cong Bun berhasil ditukar dengan Song Sam Ceng. Tapi bagaimana dengan Auw yang Ti dan Hwe Pek It yang ditahan dalam kawanan penjahat itu? Apakah kita tega setelah kita tahu lantas kita tidak mempedulikan kepada mereka?"

Se bun Pa membisu, sedang Gan Su Nio juga tidak berkata apa-apa dan mengawasi kekasihnya dengan penuh rasa kasihan.

"Ya, terjadinya peristiwa ini adalah usulnya Li Cong Bun sendiri. Aku juga bersalah. Biasanya rencanaku berjalan lancar, ternyata kini ia dikalahkan musuh. 703 Li Cong Bun sudah kena perangkap."

Kata Se bun Pa dengan suara menyesal. Bo yong Kang masih terus jalan mondar-mandir dengan tidak mengatakan apa-apa.

"Ya, sebenarnya aku di pondok gunung Cit Cui hong dalam kamar batuku, setelah membakar buku obat racun "

Pek tok Cin tong‟ dihadapanmu,"

Berkata Se bun Pa.

"Aku sejak saat itu memang bersumpah tidak akan menggunakannya lagi. Tapi kini kenyataannya kita menghadapi musuh berat, perlu kita membinasakan musuh-musuh kita dan menolong dua kawan kita, terpaksa aku harus menggunakan obat racunku untuk melayani mereka. Sekarang kita tunggu dahulu kedatangannya Teng Goan Hweshio, bagaimana prihal tugasnya?. Kalau Se bun Pa dan Bo yong Kang sedang bingung menghadapi musuh-musuh berat adalah Cong Jie Giok di atas gunung telah melihat ada tigapuluhan orang-orangnya yang mati dan terluka parah. Sedang Pedang Penakluk Iblis sudah jatuh di tangan Gan Su Nio pula. Hatinya bukan main panasnya. Kemurkaan ini telah semuanya ditumpahkan kepada dirinya Li Cong Bun yang saat itu dalam keadaan tidak sadarkan diri dan diikat dengan tambang besar dan kuat. Ia lalu memerintahkan orang-orangnya supaya di lapangan disediakan papan untuk Li Cong Bun bersandar dengan tubuh terikat. 704 Kira-kira ada tiga tombak jauhnya dari papan tadi Cong Jie Giok telah menyediakan dua belas pisau tajam. Setelah melihat Li Cong Bun sudah disenderkan di papan dengan diikat kencang-kencang dengan tambang besar, ia lalu berkata kepada orang sebawahannya sambil ketawa nyengir. Ayo kau cepat cepat ambil obat pemunah racun bikinan Tok tiok Im yang pay untuk membikin mendusin ini penjahat kecil. Biar dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kelihayan kita. Setelah ia ketakutan barulah aku dengan perlahan-lahan akan membinasakannya."

Orang yang diperintah lantas berlalu dan tidak lama sudah datang kembali dengan membawa obat yang dimaksudkan.

Obat itu hanya didekatkan pada hidungnya Li Cong Bun yang telah mengendusnya dan sebentar kemudian ia sudah mendusin dari pingsannya.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat Cong Jie Giok berdiri dihadapannya sejauh tiga tombak.

Mukanya kelihatan bengis sekali dan disekitarnya berdiri para penjahat kepala gundul (Hweshio) yang sudah siap dengan senjata masing-masing, bahkan mereka menggunakan juga senjata gelapnya kalau perlu.

Li Cong Bun saat itu merasa dirinya mungkin akan menemui kebinasaanya sebab 705 taruh kata ia bisa lolos dari kawanan penjahat kepala gundul itu, tentu tidak akan terluput dari senjata kipasnya Cong Jie Giok yang ganas dan kejam.

Meskipun demikian ia tidak putus harapan, ia masih mencoba mencari akal.

Ia pura-pura terus dalam keadaan pingsan, akan tetapi diam-diam ia telah kerahkan tenaga dalamnya.

Sayang perbuatan itu tidak bisa lolos dari matanya Cong Jie Giok yang awas.

Dia telah melihat Li Cong Bun mengendus obat pemunah racun lantas kelihatan dadanya naik turun yang tadinya pernapasannya sangat lemah.

"Bocah, jangan kau pura-pura mati, ha ha ha…"

Cong Jie Giok tertawa.

"Dahulu dalam markas Si leng cee kau demikian jagoan. Tapi sekarang dikemanakan kegagahanmu itu!"

Perkataannya ditutup dengan meluncurnya sebilah pisau ke arah Cong Bun.

Li Cong Bun menghadapi bahaya maut itu tidak keder, ia pecaya bahwa orang tidak akan membunuh dirinya sekaligus.

Maka ia tidak ambil peduli terhadap pisau yang diterbangkan tadi.

Ia hanya menggunakan tenaga dalamnya untuk membikin pisau itu agar nyeleweng dari tujuannya.

Cong Jie Giok heran melihat pisaunya nyeleweng dari arah tujuannya.

Ia melihat anak muda itu tidak bergerak apa-apa.

Ia lalu mengirim dua bilah pisau lagi menyerang 706 ke pinggiran telinganya Li Cong Bun tapi juga anak muda itu tinggal tenang-tenang saja.

Ia hanya menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian meniup untuk coba menolak pada dua pisau yang melayang ke arahnya hingga tertahan ditengah jalan dan kemudian natuh di tanah.

Sebenarnya dengan tenaganya yang dikerahkan pada saat itu Li Cong Bun dapat membuat tambang besar yang mengikat dirinya, tetapi ia tidak mau.

Rupanya ia ingin menyaksikan penjahat Cong Jie Giok itu akan berbuat pa aterhadap dirinya.

Justru Li Cong Bun acuh tak acuh sikapnya menghadapi kematian, maka hatinya penjahat muka putih itu menjadi panas.

Ia tidak percaya akan kekuatan tenaga dalamnya yang hebat.

Sambil tertawa nyengir dengan suara keras ia berkata.

"Ha ha ha, bocah she Li, kau sudah menghadapi kematian masih unjuk kesombonganmu? Hmm…! kau lihat sekarang, aku punya pisau akan menerobos di pelipismu bagian kanan. Awas..!"

Perkataannya ditutup denga terbangnya sebilah pisau yang mengeluarkan suara mengaung saking hebatnya ia membawa tenaga.

Li Cong Bun keluarkan ilmunya Hian bun kang, kembali nafasnya ditarik dalam-dalam dan ketika pisau belati itu hendak menyambar pelipisnya dengan cepat telah ditiup balik dan jatuh di tanah.

707 Mau tidak mau Cong Jie Giok sebagai jago kawakan dinikin tarkejut oleh kejadian-kejadian yang dihadapinya.

Kalau tadinya ia kagum oleh ilmu pedang ajaib kini ia dibikin terkejut oleh tenaga Li Cong Bun yang demikian hebatnya.

Orangnya masih demikian muda akan tetapi sudah mempunyai ilmu demikian tinggi, dapat meniup pisaunya yang diterbangkan dengan tenaga yang dahsyat.

Sungguh mengagumkan!.

Pikirnya, kalau anak muda ini ada memiliki kepandaian yang demikian hebat, tentu tambang yang mengikat tubuhnya yang hanya tiga libatan saja, terang akan terputus oleh tenaganya.

Kalu sampai kejadian begitu tentu ia akan mengamuk dan akan meminta korban anak buahnya lagi.

Padanya masih tersisa delapan buah pisau lagi, maka dengan menggunakan ilmunya ia menerbangkan kedelapan pisau tadi hingaa datangnya saling susul indah sekali kelihatannya.

Sementara itu Li Cong Bun menggunakan kesempatan Cong Jie Giok barusan ketika kesengsem melihat kepandaiannya ia sudah memutuskan semua tambang yang mengikat dirinya dan papan yang menempel pada tubuhnya juga ia sudah bikin berantakan.

Dengan mengerahkan tenaga lunaknya, enak saja nampaknya Li Cong Bun sudah bikin jatuh 708 satu demi satu pisau terbangnya Cong Jie Giok.

Lalu dengan menggunakan senjata ampuhnya biji catur, ia menimpuk kekanan dan kekiri hingga beberapa hweshio penjahat sudah pada berkaok-kaok dan rubuh karena tertotok jalan darahnya oleh serangan biji caturnya Li Cong Bun.

Sebentar saja sudah ada tujuh orang yang bergelimpangan di tanah.

Melihat itu, bukan main marahnya Cong Jie Giok.

Segera ia menyimpan kipasnya.

Ia mengerahkan tenaga gaibnya hingga tulang-tulangnya berbunyi berkrotokan.

Sepuluh jari tangannya terbuka tampak ada berwarna hitam ungu.

Mukanya bengis sekali.

Dengan perlahan-lahan ia enghampiri Li Cong Bun.

Iapun telah keluarkan suara aneh, ialah suara seperti yang tertawa dan menagis sedih.

Itulah ilmu yang dinamai Tangisan dan Tertawanya Setan ilmu yang menyeramkan dan membangunkan bulu roma bagi yang mendengarnya.

Semua orang-orangnya pada berdiri dengan tegang menyaksikan bagaimana pemimpinnya akan membinasakan musuhnya yang sangat tangguh.

Li Cong Bun mengerti serangan yang akan dilancarkan oleh Cong Jie Giok itu akan dahsyat sekali, maka ia siap sedia unguk 709 menghindarinya.

Setindak-tindak ia mundur.

Ia diam diam mengerahkan ilmunya "

Hian Bun Kang‟ menutup jalan darahnya supaya jangan kena ditembus serangan yang beracun dari musuhnya.

Cong Jie Giok setelah menghentikan suara anehnya yaitu Tangisan dan tertawa setan lalu menggetarkan perasaan.

Tidak heran kalau ada beberapa anak buahnya yang tak tahan dengan suara aumannya yang hebat itu sudah pada rubuh meloso sambil menutup telinganya masing-masing.

Iblis tua itu setelah mengunjukkan akalnya yang menyeramkan lalu mengebutkan lengan bajunya.

segera juga tubuhnya telah melesat ke udara kira-kira empat tombak.

Dari sini ia menukik dengan membuka lebar sepuluh jarinya yang sekarang telah berubah hitam seluruhnya.

Dari jari-jarinya itu mengeluarkan suara "

Siut-siut‟ yang nyaring sekali maka dalam lingkaran sepuluh kaki saja sudah berada dalam serangan angin tenaganya yang kuat dan hebat.

Li Cong Bun tidak melihat jalan lain daripada mengadu kekuatan dengan iblis telengas itu.

untuk menyingkir, tidak semudah seperti beberapa saat berselang.

Maka ia mengerahkan tenaganya.

Ia menggunakan tenaga saktinya untuk melawan sepuluh jarinya sang lawan dengan satu jari 710 saja.

Ia sudah perhitungkan untuk bersama-sama binasa dengan musuhnya.

Keadaan sudah menjadi sangat tegang.

Tiba-tiba pada saat itu terdengar siulan panjang yang nyaring.

Orangnya dalam sekejap sudah berada didepannya Cong Jie Giok dan mencegah iblis telengas itu meneruskan serangannya.

Untung Cong Jie Giok masih dapat menarik pulang serangannya itu sebab kalau tidak, bagaimana akan nasibnya dia dan Li Cong Bun.

Ternyata orang yang datang tidak lain daripada siluman kedua dari Thian lam Siang koay Hwe Kong.

Cong Jie Giok tak mengerti kenapa Hwe Kong mencegah ia turun tangan berat kepad musuhnya, tetapi ketika Hwe Kong memberi keterangan barulah ia tahu sebabnya.

Hwe Kong kata kepadanya.

"Song Hiante Sam Ceng telah ditahan oleh kawan-kawannya penjahat kecil ini, mati hidupnya kita masih belum tahu. Sekarang lebih baik kita tangkap hidup-hidup saja penjahat kecil ini, kemudian kita lihat bagaimana perkembangan dengan dirinya Song Sam Ceng yang ditahan mereka. Kalau dia masih hidup sebaiknya kita bikin perhitungan dengan saling menukar orang tawanan."

Setelah berkata demikian Hwe Kong lantas menghadapi Li Ceng Bun, katnya.

"Bocah, hmm! kau dihadapan lohu tak bisa jual lagak tengik. Lihat, lohu akan 711 menangkap kau hidup-hidup. Kalau Sam Ceng tidak binasa, kau juga tentu tidak sampai binasa."

Li Cong Bun mendengar itu dalam hatinya berpikir bahwa ia tak bisa merebut kemenangan dari dua musuhnya yang tinggi ilmu silatnya tapi kalau mau menyerah begitu saja, sangat memalukan kepada suhunya yang telah mendidik padanya dengan sungguh-sungguh hati.

maka lebih baik bertengkar adu lidah saja dulu, lihat bagaimana akan kejadiannya.

Lebih dahulu ia tertawa bergelak-gelak.

Dengan suara terang ia berkata.

"Setan tua, enak benar kau meluncurkan perkara. Terang kau hendak mengandalkan jumlah banyak untuk menangkap diriku seorang. Betul-betul tidak tahu malu. Apa dengan berbuat demikian bis menakut-nakuti Siao-ya, oa, jangan mengimpi. Biarlah siauya dikeroyok mati oleh kalian. Siauya mau lihat apakah dunia kangouw akan mengakui kegagahanmu yang pengecut dan sangat memalukan itu. Ha ha ha.."

Li Cong Bun berkata sambil menepuk-nepuk dadanya.

Betul-betul ia berani menghadapi iblis kejam telengas seperti Hwe Kong masih berani tepuk dada dan membahasakan dirinya sebagai Siau-ya (Tuan muda).

Cong Jie Giok masih bisa tertawa bergelak mendengar ocehannya Li Cong Bun.

Akan tetapi 712 si Iblis Hwe Kong tidak demikian keadaanya.

Ia merasa gemas dengan tajamnya lidah Li Cong Bun.

Ia melihat jarak antara dirinya dengan Li Cong Bun ada setombak lebih.

Tidak mungkin kalau ia dengan sekali menyerang dapat merubuhkan musuhnya, maka ia menggunakan kancing yang ia copot dari bajunya untuk menyerang Li Cong Bun.

Kancing itu disentilkan dengan tepat mengenai jalan darah di dada Li Cong Bun hingga anak muda itu merasa kesemutan tapi tidak jadi rubuh oleh karenannya.

Hwe Kong tahu bahwa serangannya telah berhasil maka ia tertawa bergelak-gelak.

"Bocah!"

Ia kata.

"Lebih baik kau menyerah, jangan sampai lohu turun tangan. Nah kau lihat lohu menangkap kau dengan tangan lohu yang masih terluka. Jangan kau katakan lohu menangkap kau dengan mengandalkan banyak orang. Lohu tidak nanti meminta bantuan orang lain."

Sambil berkata demikian, Hwe Kong telah memperlihatkan telapak tangan kanannya yang terluka dan banyak mengeluarkan darah.

"Siluman tua,"

Ejek Li Cong Bun.

"Kau mau pergunakan tanganmu yang terluka untuk bertanding dengan aku.

Tak berani aku melayaninya.

Aku tak mau bertanding dengan orang terluka.

Kalau kau tidak mengandalkan 713 orang banyak untuk menjatuhkan aku Li Cong Bun.

Matilah kita bertanding sampai beberapa ratus jurus.

Aku tak kan merintih karena pukulanmu yang berat dan tak nanti menyesal kalau jiwaku melayang di tanganmu asal bertanding satu lawan satu.

Benar-benar Li Cong Bun berani.

Ia kelihatannya nekat, menantang bertanding satu lawan satu dengan si iblis yang terkenal kelihaiannya.

"Ha ha ha.. kau bocah yang belum hilang pupuk dikepalamu berani menantang lohu? Hmm! betul-betul kau belum tahu lohu punya kelihaian. Sayang Song Sam Ceng ada ditangan kawan-kawanmu. Kalau tidak, kau sudah melayang jiwamu. Kau tahu, selain Ceng Leng, Bu Ju dan Biauw Hoat yang dapat melayani lohu ratusan jurus, tidak ada lain orang yang dapat menandingi lohu."

"Boleh kau bilang begitu,"

Memotong Li Cong Bun.

"Aku sendiri tidak takut kau. Mungkin juga tiga orang yang kau sebutkan tak dapat menjatuhkan padamu, akan tetapi aku, siapa tahu bisa menjatuhkanmu."

"Hmm!"

Kwe Hong menggeram. Diam-diam ia merasa panas dengan kelakuannya Li Cong Bun yang kelihatannya menghina kepadanya seorang jagoan kawakan.

"Buat apa menggeram hmm… segala? Kalau memang mau bertanding marilah! Aku akan melayani kau sampai ratusan."

"Bocah jamur, betul-betul kau tidak tahu gelagat. Nah sekarang begini saja. Kalau kau dapat menahan tiga pukulanku dengan selamat, aku akan ijinkan kau pergi dari sini dengan membawa dua kawanmu Hwe Pek It dan Auw yang Ti…"

Li Cong Bun diam-diam berpikir memang iblis tua itu ada sangat lihai.

Meskipun telapakan tangannya terluka tapi pukulannya tentu hebat bukan main.

Apa ia punya ilmu Hian bun kang dapat digunakan untuk melawannya?

Ia merasa sangsi.

Tapi dalam keadaan seperti itu untuknya tidak ada pilihan jalan lain daripada memerima syarat yang diunjukkan oleh iblis tua itu.

"Boleh!"

Jawbnya ringkas.

Berbareng ia mengerahkan tenaga saktinya untuk menyambut pukulan-pukulan yang akan dilancarkan oleh Hwe Kong.

Pek kut Thian ong Hwe kong lantas lantas bersiap-siap.

Sekali ia menggerakkan telapak tangan, kekuatan tenaga yang dahsyat meluncur menyerang dadanya Li Cong Bun.

Cepat anak itu enjot tubuhnya melesat ke udara dengan menggunakan tipu "Burung bangau menerobos awan‟.

Benar ia bisa lolos dari kekuatan tenaga yang hebat, akan tetapi tenaga yang berat itu melewati kakinya, bagaimanapun juga ia merasakan getaran yang mengagetkan pada tubuhnya.

"Betul-betul lihai,"

Pikir Li Cong Bun dalam hati. Segera ia menggunakan gaya "Angin meniup bunga gugur‟. Badannya meluncur turun sejauh 7tujuh delapan kaki dari lawannya. Dengan angkuhnya ia masih berkata.

"Hmm … iblis tua, barusan aku sudah bilang kalau kau menggunakan tanganmu sebelah saja. Aku tidak mau meladeni dengan sungguh-sungguh makanya aku hanya berkelit saja, tidak maumembalas menyerang.

"Bocah mau mampus! Jangan membuka mulut besar. Kematian sudah didepan mata masih mau banyak lagak? Hmm… baik kau serahkan jiwamu supaya kematianmu dapat dengan badan utuh. Sebentar kalau kau kena pukulanku, jangan menyesal kalau badanmu akan menjadi hancur berkeping-keping tanpa dikenali orang."

Sambil berkata ia bikin satu dua kepalan ditaruh didada.

Ia mundut beberapa tindak kemudian membuka kepalannya disodorkan ke atas.

Ini adalah serangan kombinasi yang membikin lawan tidak bisa melarikan diri karena angin pukulan yang keluar dari dua tangan itu memukul ke banyak jurusa.

Bawah tengah dan atas.

Li Cong Bun rasakan dadanya seperti ditindih batu ribuan kati beratnya, bafasnya dirasakan sesak.

Meskipun ia gunakan ilmunya tenaga sakti tidak menolong.

Tenaga yang kuat itu tidak mau pergi, semakin lama semakin menindih hingga ia 716 sukar bernafas, akhirnya ia telah jatuh pingsan karenanya.

Kebetulan waktu itu Teng Goan Hweshio sudah sampai.

Ia memburu pada Li Cong Bun dan memeriksa keadaannya ternyata tidak berbahaya.

Ia hanya jatuh pingsan lantaran nafasnya kena kepencet oleh tekanan tenaga dahsyat dari musuhnya.

Sambil berpaling kepada Hwe Kong yang masih berdiri tidak jauh dari situ, Teng Goan Hweshio berkata.

"Yah Song Sam Ceng ada di tahanan kami, sedang Li Cong Bun kini menjadi orang tawananmu, baiklah besok malam jam sepuluh di puncak Ciang jin hong kita bersama-sama membawa orang tawanan buat disana ditukarkan."

Hwe Kong kerutkan alisnya.

"Lohu dan dua saudara Im yang Siang sia sudah mengirim undangan di gunung Heng san pada "

Tri Tunggal‟ untuk kita mengakhiri dendaman lama, yaitu pada tahun depan tanggal satu bulan satu.

Kita berjanji setelah kita bertukar orang tahanan, kalian harus pergi dari sekitar gunung Tay san ini.

tunggu sampai waktunya tahun depan kita boleh bikin perhitungan.

Kalau belum sampai waktunya itu kalian masih juga menggrecok pada kami orang, jangan sesalkan kalau kami tidak akan memberi maaf lagi kepada kalian!

" 717 Hwe Kong berkata tegas.

Wajahnya tampak bengis, tidak enak dilihat.

Akan tetapi Teng Goan Hweshio masih berlaku kalem dan enjawab.

"Kami sebenranya tidak mau mengingkari janji, akan tetapi karena Auw yang Ti dan Hwe Pek It ditahan disini maka kami datang untuk menolongnya. Nah baiklah, sebentar malam kita berjumpa lagi untuk kita saling menukar tawanan."

Teng Goan Hweshio memberi hormat kemudian meninggalkan tempat itu.

Hwe Kong kemudian menyuruh anak buahnya menggotong pergi Li Cong Bun.

Mengingat akan kata-katanya Teng Goan Hweshio tadi, Hwe Kong jadi tertawa.

"Ha ha ha,"

Mereka hendak menolong dua orang itu? bagus bagus… aku mau lihat sampai dimana kelihaiannya mereka dapat menolong dua orang itu."

Teng Goan Hweshio masih mendengar tertawanya Hwe Kong dan segala ucapannya.

Ketika Teng Goan Hweshio kembali dipenginapannya, keadaan sudah terang tanah.

Bo yong Kang, Se bun Pa dan Gan Su Nio menantikan kembalinya Teng Goan Hweshio.

Dengan hati tidak sabaran.

Maka begitu kawannya itu kembali lantas saja diminta keterangannyadengan segera.

718 Mereka tidak bisa berbuat lain daripada menantikan besok malam saja tentang pertukaran orang tawanan.

Apakah malam itu menemui kesulitan dari si iblis tua, entahlah.

Tapi bagaimanapun juga mereka hari itu harus beristirahat menyimpan tenaga kalau-kalau besok malam harus digunakan.

Dalam semedhinya pikirannya Se bun Pa melayang-layang.

Pikirnya Kiu bin Sin to Siang Su Su ilmu silatnya sangat tinggi.

Hanya Tri Tunggal yang dapat melayaninya berbareng.

Kwe Hun dan Pek Hun dari kuil Naga "Emas‟ disangsikan dapat melawan Hwe Ciang ditambah oleh Hwe Kong dan Cong Jie Giok.

Keduanya ini sangat susah dilayani pada tahun depan pertempuran di puncak Ceng Cin bong meskipun pihaknya mendatangkan Biauw Hun dan Ang Hun juga percuma saja tidak dapat melawan musuh-musuhnya yang kuat.

Untuk dapat membasmi musuh-musuh iblis yang kuat itu tidak ada jalan lain daripada minta bantuannya pendekar ulung.

Ia tidak kuatirkan Li Cong Bun yang berada dalam tawanan musuh, yang sedang ia pikirkan bolak-balik adalah itu pertempuran tahun depan nanti."

Tiba-tiba ia melompat bangun setelah beberapa kali mengkerutkan alis.

Ia tampak kegirangan.

Ternyata Se bun Pa ada ingat kepada pengalamannya tempo hari di gunung 719 Kouw louw san dalam propinsi Kang se ia menemukan sebuah goa ajaib, dalam mana ia menemukan Pek tok Cin keng (kitab obat-obatan racun).

Saat itu saking kegirangan, ia sudah puas dengan hanya memiliki kitab itu, tidak mau meneruskan mencari lagi kitab lain yang berharga yaitu Pek hap Cin keng.

Satu kitab yang memuat intisari dari ilmu silat yang tinggi.

Dalam kitab itu hanya memuat beberapa ratus huruf saja.

Tapi siapa yang dapat mempelajari dengan berhasil niscaya akan menjadi orang yang tak terkalahkan dalam dunia rimba persilatan.

Ilmu-ilmu silat dalam kitab itu dahulunya ada dimiliki oleh Thian Ju Cuncia dan Thian Cok Cinjin.

Ialah pada tiga ratus tahun yang lampau Thian Ju Cuncia telah menjelajah keseluruh pelosok dari dunia untuk mempelajari semua ilmu silat yang tinggi.

Dalam Goa di gunung Kouw louw san itu ia telah menyusun ilmu pelajaran itu dan dinamakan Pek hap Cin keng.

Sedang Thian Ciok Cinjin yang gemar dengan ilmu obat-obatan telah menyusun satu kitab yang dinamai Pek tok Cin Keng yang belakangan dimiliki oleh Se bun Pa yang telah melakukan perbuatan-perbuatan kejam dimana ia sebelum bertobat hingga mendapat nama julukan Cian tok Jin mo (Manusia Iblis Seribu Racun) Penemuan benda-benda pusaka itu memang ada jodohnya.

Demikian dengan Se bun Pa 720 sudah menemukan Pek tok Cin keng yang tak dapat diketemukan oleh orang lain.

Maka pikirnya Se bun Pa siapa tahu kalau Pek hap Cin keng ada berjodoh dengan Li Cong Bun yang muda dan gagah.

Anak muda itu sudah mahir menggunakan segala ilmu yang dipelajari dari Bu Ju dan Ceng Leng malah belakangan ia mendapat lagi ilmu pedangnya Gan Su Nio yang hebat yaitu Tigabelas Gerakan Pedang Ajaib.

Maka kalau Ceng Bun ditambah dengan pelajaran yang didapat dari kitab Pek hap Cin keng terang ia akan merupakan satu pendekar tanpa tandingan dalam dunia persilatan.

Li Cong Bun ada berangan-angan tinggi.

Ia setelah mendapatkan ilmu pedangnya Gan Su Nio, katanya nanti akan menciptakan ilmu pedang tersendiri.

Ia ingat akan ayahnya Li Cong Bun yang telah ia racuni yang membikin belakangan ia menyesal tidak habisnya sampai membunuh diri di depan Li Cong Bun dan Bo yong Kang untuk menebus dosanya.

Untung ada pil Ban mio Leng tan yang diberikan oleh Li Cong Bun kepadanya ketika ia sudah tidak bernafas.

Dasar pil ajaib bikina Bu Ju Toato maka Se bun Pa tidak jadi binasa.

Karena tidak jadi mati, ia ingin membalas budinya Li Cong Bun itu.

maka sekarang ada saatnya ia membalas budinya ialah dengan membawa Li Cong Bun ke goa yang ia ketahui 721 dimana ada disimpan kitab wasiat dari dua orang pendekar gagah perkasa pada jaman tiga ratus tahun yang lampau.

Siapa tahu Li Cong Bun ada jodoh dan berhasil menemuinya.

Ia dan Cong Bun akan berada dalam goa itu untuk melatihnya sampai waktu pertempuran tahun depan bulan satu tanggal satu.

Waktu itu pasti Li Cong Bun sudah meyakinkan sampai mahir ilmu yang didapatnya dari Pek hap Cin keng.

Dengan kepandaiannya ini sudah tentu Li Cong Bun dapat menyapu jagoan-jagoan iblis yang mana saja.

Dengan Pedang Penakluk Iblis yang tajam luar biasa.

Li Cong Bun dapat menaklukkan semua iblis sesuai dengan nama pedang yang ia gunakan.

Demikian pikirannya sudah tetap.

Kalau nanti Li Cong Bun sudah dipulangkan dan Hwe Pek It dan Auw yang Ti kalau bisa sudah ada diantara kawan-kawannya, ia dengan Li Cong Bun akan berangkat ke propinsi Kang se untuk mencari goa yang dimaksudkan guna mendapatkan kitab Pek hap Cin keng yang ajaib.

Sng waktu dirasakan lambat sekali jalannya tapo toh akhirnya sampai juga sang malam ialah waktu dimana Li Cong Bun akan ditukarkan dengan Song Sam Ceng.

Mereka lantas membawa Song Sam Ceng yang tidak berdaya karena jalan darahnya ditotok.

Mereka berkumpul diluar rimba dimana ada 722 banyak pohon-pohon, menunggu akan kedatangannya Hwe Kun dan Li Cong Bun.

Si Burung Hong Kemala Gan Su Nio rada kuatir kalau-kalau nanti musuhnya berlaku licik ialah hanya merebut Song Sam Ceng dan tidak mau mengembalikan Li Cong Bun.

Pihaknya tentu tidak dapat berbuat apa-apa karena memang kekuatannya kalah jauh dengan kawanan iblis itu.

Kira-kira jam sepuluh dari kejauhan ada datang beberapa bayangan orang ke arah mereka.

Ketika ditegasi benar saja mereka itu ada Hwe Kong, Cong Jie Giok dan Li Cong Bun.

Selainnya itu ad beberapa penjahat yang berjubah hweshio.

Melihat mereka datang mendekati maka Se bun Pa lantas berteriak.

"Hei, kau orang, tunggu dulu disitu.

Masing-masing membuka totokan tawanan yang hendak ditukarkan.

Gan Su Nio terus membuka totokan Song Sam Ceng si Garuda Hitam.

Ketika melihat Gan Su Nio bekas sumoy dari Si leng cee tempo hari, matanya melotot pada si nona.

Tapi ia tidak bisa bergerak apa-apa karena Pedang Penakluk Iblis ditodongkan kepadanya oleh si nona yang takut ia kabur sebelum urusannya pertukaran tawanan beres.

Dilain pihak, Hwe Kong juga telah membuka totokan Li Cong Bun.

723 Bo yong Kang lalu berteriak.

"Bun jie, bagaimana tentang kesehatanmu?"

Tapi Bo yong Kang tidak mendapat jawaban dari keponakannya hingga harinya merasa sangat gelisah, tapi Se bun Pa rupanya lebih tahu akan adatnya Li Cong Bun yang angkuh dan pantang menyerah kalah, maka sambil tertawa ia berkata.

"Ya Li hiantit, kau sudah masuk ke kolam naga dan goa harimau. Sebagai pemuda dapat melawan yang umurnya empat lima kali lebih tua daripada kau. Apalagi lawanmu itu adalah penjahat yang termasyur dalam kalangan kangouw, maka biarpun kau kalah, tapi harus merasa bangga. Apakah kau masih merasa menyesal? Semua itu buat apa harus disesalkan?"

Li Cong Bun hanya menjawab dengan "Hmm…"

Sebaliknya Hwe Kong juga menanya pada Song Sam Ceng tentang keadaanya apakah selama dalam tawanan ia kena disiksa Se bun Pa dan kawan-kawannya?

"Oh.

Aku tidak nanti membikin malu sebagai murid Thian lam yang termasyur, susiok jangan buat kuatir…."

Hwe Kong mengerti bahwa keadaan tawanan kedua pihak tidak kurang suatu apa, maka ia berteriak.

"Kedua pihak mempunyai tawanan tidak kurang suatu apa, maka lekas-lekas masing-masing melepaskannya!" 724 Berbareng Hwe Kong telah melepaskan Li Cong Bun. Diam-diam pihak Gan Su Nio telah melepaskan Song Sam Ceng. Dengan muka kemalu-maluan bekas ketua dari Si leng cee telah melesat berkumpul dengan kawan-kawannya. Se bun Pa setelah menerima Li Cong Bun segera menyebarkan obat racunnya untuk mencegah kawanan iblis itu berbalik pikir dan merampas kembali Li Cong Bun. Sambil menyebarkan racunnya ia telah berkata pada pihaknya Hwe Kong.

"Hei, kalian ketahuilah. Aku menebarkan obat racun untuk mencegah perbuatan yang licik dan tidak tahu malu. Racunku ini amat ganas. Siapa terkena akan mati. Siapa tak percaya boleh coba-coba saja. Nah sekarang halnya pertukaran tawanan sudah beres. Sejak tiga hari kalian tentu juga akan melepaskan Hwe Pek It dan Auw yang Ti dikembalikan kepada kami."

Hwe Kong dan Cong Jie Giok memeriksa obat racun itu, memang benar ada obat racun yang sangat berbisa maka cepat mereka telah angkat kaki pulang naik gunung. Dari kejauhan terdengar suara berkata.

"Hmm.. kalian kira begitu mudah? Tunggu kalau matahari sudah terbit dari barat barulah Hwe Pek It dan Auw yang Ti dapat kalian ambil pulang. Ha ha ha… " 725 Li Cong Bun amat berduka hatinya karena tempo hari sudah kena kurung di Si Hek, sekarang ia kembali menjadi tawanan musuh. Ia merasa sangat malu untuk menemui para Locianpwe. Dalam keadaan demikian tiba-tiba muncul pikiran nekatnya. Ia mencoba melompat menceburkan diri kedalam rawa berlumpur yang tak berjauhan dari situ. Maksudnya hendak bunuh diri. Tetapi Se bun Pa yang berdekatan dengannya cepat-cepat sudah memeluknya dan berbisik di kupingnya.

"Hiantit, kau jangan kesusu. Aku tanggung setahun kita menempur mereka yang sombong itu di gunung Tay san. Kaulah yang akan menonjol kedepan sebagai pendekar yang tertinggi ilmunya. Jangan kuatir tidak dapat mengalahkan Pek kut Thian ong Hwe Kong dan lain-lainnya."

Li Cong Bun terkejut mendengar bicaranya Se bun Pa.

pikirnya ia kini bukan tandingan itu dua musuh Hwe Kong dan Cong Jie Giok.

Apakah pertandingan di gunung Tay san itu hanya tinggal tiga bulan saja.

Mana dapat dalam waktu sesingkat itu ia mempertinggi ilmunya?

Itulah pikirannya dalam teori tapi ia sangat percaya akan kata-katanya Se bun Pa yang ia tahu benar bahwa orang ini ada sangat cerdik dan sukar diukur kecerdikannya itu sampai dimana.

Li Cong Bun malam itu menghadapi Hwe Kong dengan ilmunya "

Tenaga sakti‟ bukan hanya bobol diserang oleh Hwe Kong, malah berat 726 pukulan musuh telah menyusup ke tulang-tulangnya hingga mau tak mau harus menerima luka parah di sebelah dalam tubuhnya.

Inilah ada kejadian yang mencemaskan hatinya maka tadi ia ingin lantas membunuh dirinya tetapi kini mendengar perkataannya Se bun Pa hatinya menjadi terang kembali.

Pengharapannya timbul bahwa ia dapat mengalahkan musuh-musuhnya yang sangat tangguh dan lihai.

Bo yong kang dan Teng Goan hweshio juga pada datang menghampiri Li Cong Bun.

Mereka menghibur hatinya pemuda yang pantang mundur itu.

Teng Goan Hweshio tahu bahwa Li Cong Bun terluka karena pukulannya Hwe Kong.

Maka ia telah menotok beberapa jalan darahnya untuk mencegah pengaruh pukulan siluman itu menyusup ke jalan darah yang penting dan dapat membinasakan korbannya.

Setelah itu Teng Goan Hweshio berkata pada kawan-kawannya.

"Cong Bun sudah terkena pukulannya Hwe Kong.

Memang sangat ganas ilmunya Pek kui Im kong.

Kalau pengaruh pukulannya itu sudah menyusup ke seluruh jalan darah akan menutup semua jalan-jalan darah itu.

Tulang-tulangnya akan menjadi dingin seperti es.

Semalam karena Song Sam Ceng kena kita tangkap, rupanya siluman tua itu tak menggunakan keganasannya sepenuhnya.

Juga 727 tenaga dalamnya Cong Bun sudah mahir maka Cong Bun tidak sampai mati kedinginan karena pukulannya itu.

Sekarang ia perlu mendapat pertolongan dua orang yang tinggi ilmu tenaga dalamnya untuk memeriksa dan melancarkan jalan darahnya, membuang racunnya kalau tidak akan mengganggu kesehatan Ceng Bun.

Setelah diperiksa demikian dan dibuang racunnya, ia harus beristirahat, kemudian barulah sembuh luka parahnya disebelah dalam.

Maka sebaiknya lekas-lekas kita pulang ke penginapan.

Disana barulah kita memberikan pertolongan kepada Ceng Bun.

Mendengar kata-kata itu, segera Bo yong kang menggendong keponakannya.

Terus turun gunung menuju ke tempat pondoknya.

Sesampainya di penginapan segera Li Cong Bun dibawa masuk ke dalam kamar.

Disana ia mendapat pertolongan sementara dari Teng Goan Hweshio.

Jalan-jalan darahnya pada beberapa bagian dapat dibuka.

Lantas kelihatan mukanya Li Cong Bun yang berwarna merah menjadi berubah warna kehitam-hitaman.

Itulah tandanya racun sudah mulai bekerja didalam tubuhnya.

Juga ia mulai mengigil seperti yang sakit demam kedinginan.

Pil Bun mia Leng tan sudah diberikan pada Se bun Pa tidak dapat menolong Li Cong Bun.

Maka Teng Goan Hweshio telah memberikandua butir pil bikinannya sendiri yaitu Ko goan 728 Leng tan dan sebutir pilnya Ceng Leng Cinjin.

Teng Goan Hweshio lalu berkata pada Bo yong Kang.

"Sute, mari kau dan aku bersama-sama menyalurkan hawa murni kedalam tubuhnya Li ong Bun untuk membantu melancarkan jalan darahnya, mengusir racun hawa dingin yang sudah menyusup ke tulangnya, hanya…"

"Hei, suheng kenapa kau berhenti bicara?"

Tegur Bo yong Kang gelisah.

"Bukan begitu, sebenarnya dalam tiga hari lamanya kita harus bekerja sebagaimana yang dikatakan tadi. Tapi selama itu tak seorangpun diantara kita yang kena kaget. Kalau kena kaget semua usaha kita akan sia-sia saja dan sakitnya Cong Bun lebih berat lagi. Aku kuatirkan nanti itu siluman tua yang datang mengacau kesini, tentu kita akan kaget dibuatnya. Maka itu penjagan disebelah luar harus diperkuat, jangan mereka kena mengacaukan usaha kita. Sekarang aku hanya mengharap bantuannya Se bun Toako. Harap toako suka mengatur bagaimana baiknya supaya usaha yang kita kerjakan tidak sia-sia."

Se bun Pa berpikir sejanak kemudian angkat kepalanya.

"Ya, kemarin pagi aku sudah membikin obat yang amat berbisa,"

Katanya.

Malah aku sudah masukkan di badannya Song Sam Ceng.

Aku 729 berbuat begini demi menolong dua kawan kita Auw yang Ti dan Hwe Pek It.

Menurut dugaanku, dalam tiga hari ini siluman tua itu pasti akan datang atau mengirim orang-orangnya untuk berdamai.

Pasti datang bukan untuk bertempur.

Taysu dan Bo yong Laote boleh tenangkan hati.

Cepat-cepat saja mengobati Li hiantit agar lekas sembuh.

Nona Gan pandai ilmu pedangnya dan aku menggunakan racun yang amat berbisa, maka dalam tempo tiga hari tiga malam ini rasanya tidak ada yang berani mengacau kesini!"

Teng Goan Hweshio tersenyum dan angguk anggukkan kepala.

"Semua aku mengandalkan Se bun toako dan Gan Sumoy. Nah kalian boleh mulai dengan penjagaan dan kami berdua di sini akan mengatur bagaimana baiknya untuk menolong Cong Bun."

Se bun Pa dan Gan Su Nio pada keluar dari kamar.

Kini tinggal Teng Goan hweshio dan Bo yong Kang.

Mereka lantas mulai menyalurkan tenaga murninya kedalam tubuhnya Li Cong Bun.

Pekerjaan itu bukannya gampang.

Dengan telaten satu persatu jalan darahnya Li Cong Bun telah dipijati dan dilancarkan darahnya agar tak jadi mecet karena pengruhnya racun dingin yang masuk ke tulangnya.

730 Dalam waktu satu hari satu malam mereka bekerja baru bisa menghentikan badannya Li Cong Bun yang mengigil.

Tapi masih ada beberapa bagian yang dingin dirasakan oleh Li Cong Bun.

Matanya yang menjadi kehitam-hitaman masih juga belum kelihatan hilang.

Itulah tandanya racun dingin belum terusir semua keluar.

Se bun Pa dan Gan Su nio yang mengintip di kamar sebelah sangat terkejut.

Mereka insyaf akan hebatnya ilmu Pek kut Im tong cian dari Hwe Kong.

Sukar dapat disembuhkan dalam sedikit waktu.

Saat mereka sedang mengagumi hebatnya pukulan Hwe Kong mendadak pintu kamar diketuk, gan Su Nio cepat membuka pintu dan menjumpai pelayan yang mengabarkan bahwa diluar ada orang berbaju putih hendak bertemu dengan Se bun Pa.

Se bun Pa lantas mengerti bahwa orang yang hendak bertemu dengannya itu adalah hwe Kong maka ia lalu berkata pada Gan Su Nio.

"Nona Gan, mereka berdua yang sedang menolng Cong Bun jangan dikasitau. Kau sekarang berjaga-jaga saja disini. Aku akan menemui Hwe Kong untuk berunding. Kau jangan kuatir!"

Gan Su Nio tidak menjawab, hanya matanya saja yang menatap pada Se bun Pa.

731 Bekas iblis beracun itu mengetahui bahwa nona Gan ragu-ragu akan tindakannya sebab kalau-kalau salah paham bisa mengacaukan urusan dan meminta korban bagi pihaknya, maka Se bun Pa lalu berkata pula.

"Nona Gan legakan hatimu.

Siluman tua itu datang kesini hendak minta pertolongan dari aku.

dia pasti tidak berani embikin ribut.

Kau jangan kuatir.

Aku pergi menemui dia sebentar.

Setelah berkata, ia lalu meninggalkan Gan Su Nio yang bengong sendirian mengawasi perginya Se bun Pa.

ketika ia bersandar lantas ia siapkan pedangnya dan senjata rahasianya untuk menjaga segala kemnungkinan yang tidak enak untuk bercakap-cakap.

Baru saja Se bun Pa melangkah ke pintu,ia kesomplokan dengan hwe Kong yang sedang berada dekat disitu.

Se bun Pa sambil tertawa lalu menjura kepada Hwe Kong dan menyilakan tamunya untuk ikut ke ruang tamu dimana mereka dapat berbicara dengan leluasa.

Setelah mereka mengambil tempat duduknya masing-masing, Se bun Pa lalu menuangkan teh disuguhkan kepada Hwe Kong, tapi dia ini tidak berani irup teh itu hanya ditaruh saja diatas meja.

Se bun Pa tertawa.

Ia tahu bahwa Hwe Kong takut kena raun maka ia tidak meminum tehnya.

Ia berkata pada tamunya.

"Ah Locianpwe punya ilmu Pek kut Im hong ciang itu benar-benar amat lihai tidak ada bandingannya. Kalau saja Ceng Bun tidak berilmu Cian goan kang dan Tay cing Sin Kang pada saat ini barangkali tulang belulangnya sudah menjadi beku seperti es. Kami mana dapat membawa dia ke puncak Tay san untuk melihat-lihat dan menikmati pemandangan yang indah disana. Ha ha ha…"

Hwe Kong terkejut mendengar omongan.

Ia sangat hati-hati menghadapi Se bun Pa yang dulunya bergelar Cian tok Jin Mo (Iblis beracun)hingga teh yang disajikan tidak berani ia minum.

Kini ia mendengar tentang Li Cong Bun yang memiliki dua ilmu yang hebat itu mana ia tidak menjadi kaget karena ia pikir setelah menerima pukulannya sudah pasti tinggal menunggu saatnya saja untuk menghadap pada Giam lo ong (raja akherat).

Tidak disangka Li Cong Bun yang semuda itu sudah memiliki ilmu yang tidak sembarangan dapat dimiliki hingga jiwanya tidak sampai melayang.

"Se bun Pa,"

Tiba-tiba ia berkata.

"Kedatanganku ialah hendak membicarakan halnya Sam Ceng yang tiba-tiba tidak henti-hentinya tertawa. Dia tentu sudah terkena racunmu yang berbisa bukan? Kenapa kau sudah berbuat curang demikian?"

"Aku tidak berbuat curang. Aku melakukan demikian karena untuk kepentingannya dua kawanku yang telah ditahan olehmu."

"Hmm…!"

Hening sekian lamanya. Tiba-tiba Hwe Kong menatap wajahnya Se bun Pa dengan bengis.

"Kau harus keluarkan obatnya untuk menyembuhkan Sam Ceng!"

Katanya.

"Tentu,"

Jawb Se bun Pa.

"Aku akan memberikan obat pemunahnya asal saja cianpwe juga melakukan permintaanku."

"Apakah itu yang hendak kau minta dariku?"

"Kebebasan kedua kawanku Auw yang Ti dan Hwe Pek IT."

"Hmm…!"

Hwe Kong menggeram. Beberapa saat kedua pihak tidak membuka suara.

"O cianpwe,"

Se bun Pa buka suara.

"Sam Ceng tidak bisa sembuh dengan obat apapun kecuali obat pemunah dari bikinanku sendiri. Aku akan memberikan obat pemunah itu, tapi aku harap cianpwe suka pegang janji akan membebaskan dua kawanku yang aku sebetkan barusan. Bagaimana, apa cianpwe bersedia?"

Hwe Kong tidak menjawab, mukanya berubah menjadi asam.

Ia menatap wajahnya Se bun Pa dengan matanya yang tajam seolah-olah ingin menembusi hati orang.

Tapi sSe bun Pa tidak merasa keder menghadapi sorot matanya yang beringas ganas itu.

"Locian pwe adalah seorang gagah dengan kepandaian yang tidak ada duanya."

Se bun Pa mengumpak.

"Untuk melepaskan dua orang itu dan menangkapnya kembali sama saja gampangnya seperti membalik telapak tangan.

Maka aku percaya cianpwe tidak akan keberatan untuk melepaskan dua orang sahabatku itu.

Hwe Kong kerutkan alisnya setelah itu tertawa bergelak-gelak.

"Se bun Pa kau benar-benar pintar katanya.

Nah sekarang serahkan obat pemunah itu kepadaku.

Aku mau lihat kalau dalam dua hari Song Sam Ceng sembuh dari penderitaannya, aku akan kembalikan dua orang itu pada kau malah aku tanggung keadaan dua orang itu utuh kulit dan rambutnya.

"Aku harap cianpwe tidak membohongi aku."

Jawab Se bun Pa.

"Ha ha ha…"

Hwe Kong tertawa.

"Kalau obatmu manjur, untuk apa aku si orang tua mesti mendustai padamu. Kau tak usah banyak rewel."

Se bun Pa tidk bisa berkata apa-apa.

matanya mengawasi pada Hwe Kong seakan-akan ingin mengetahui apa yang dikatakan mulutnya siluman tua itu dapat dipercaya?

Pelahan-lahan ia telah mengeluarkan sebotol kecil obat berwarna hijau.

Sambil 735 mengunjukkan itu di depan Hwe Kong ia berkata.

"Locianpwe ada sangt tinggi ilmu silatnya aku tak dapat menandinginya. Maka terpaksa aku berbuat pengecut dengan minta pertolongan obat ini."

Ia tertawa nyengir lalu meneruskan bicaranya.

"Dalam botol ini ada bisanya ular yang paling beracun dalam dunia ini, maka siapa yang terkena sedikit saja olehnya tentu akan binasa seketika itu juga. Nah marilah kita keluar dan aku akan menyerahkan obat pemunah untuk Sam Ceng. Silakan cianpwe jalan terlebih dulu."

Ia berkata sambil bangkit dari duduknya diikuti oleh Hwe Kong.

Siluman kedua dari Thian lam Siang koay mengerti bahwa dirinya dicurigai oleh Se bun Pa.

bekas Iblis Beracun itu mencurigai kalau ia sudah menerima obat pemunahnya pasti akan menyerang dirinya maka Se bun Pa sudah sedia dulu pelindungnya yang berupa racun ular dalam botol.

Kalau umpamanya Hwe Kong berani menyerang, sekalipun misalnya Se bun Pa menemui kebinasaannya tapi Hwe Kong juga tidak akan luput dari kematian karena kena tersiram oleh racun ular berbisa yang ada dalam botol tadi.

Se bun Pa telah sedia payung sebelum hujan.

Hwe Kong sudah mengetahui lihainya obat racun orang she Se bun itu maka sementara 736 berjalan hatinya kebat-kebit kalau dirinya kena dicurangi oleh sSe bun Pa dan mati konyol karena racun berbisanya.

Tapi ternyata tidak ada kejadian yang dikuatirkan oleh Hwe Kong, sebab setelah mereka sampai di tempat yang sepi Se bun Pa lalu berkata.

"Nah, cianpwe harap menerima obat pemunah ini.

Setelah Sam Ceng sembuh harap tepati janji cianpwe.

Aku disini menantinya.

Setelah berkata, ia melemparkan sebuah bungkusan keudara.

Hwe Kong menyambuti dan dengan tidak mengatakan apa-apa lagi ia sudah terus panjangkan langkahnya menuju keatas gunung.

Se bun Pa setelah melemparkan bungkusan tadi, cepat-cepat dari sakunya mengambil beberapa pil untuk ditelannya, rupanya pil untuk mencegah keracunan.

Sampai di rumah penginapan lagi, cepat ia mengambil sebungkus obat untuk diaduk dengan air untuk mencuci tangannya.

Gan Su Nio yang mengikuti dengan sembunyi-sembunyi apa yang dirundingkan oleh Se bun Pa dan Hwe Kong dalam hatinya ingin tahu darimana Se bun pa bisa dapat obat berbisa itu, maka ia lalu menanya.

"Toako, siluman tua itu amat jahat, mana dapat dia dipercaya akan menepati janjinya? 737 Dan itu obat racun berbisa dalam botol kau dapat dari mana?"

Se bun Pa tertawa, katanya.

"Ya, betul seperti katamu. Tapi dia adalah seorang yang ternama dalam kalangan kangouw, semestinya ia berlaku jujur. Tapi lihat saja. Jikalau belakangan ia mengingkari janjinya, kita mencari akal untuk membasmi habis itu kawanan penjahat."

Ia berkata sambil keluarkan botol obat beracun yang berwarna hijau tadi.

Ia lalu tuang dicangkir kemudian diminum dengan enak sekali kelihatannya.

Dilain pihak Gan su nio yang melihatnya menjadi pucat wajahnya.

Ia kaget Se bun Pa sudah meminum obat racun ular.

"Toako, ah kau..kau…"

Ia hanya dapat mengeluarkan perkataan ini dengan terputus-putus. Tidak dapat mencegahnya, Se bun Pa dengannya ada jauh juga. Tapi Se bun Pa dengan tertawa telah berkata.

"Nona Gan, kau jangan kuatir.

Legakan hatimu.

Obat yang barusan aku minum itu bukannya racun.

Aku hanya membikinnya untuk menakut-nakuti siluman tua itu saja.

Sebab berbahaya sekali kalau dia tidak dipengaruhi oleh benda yang ia sangat takuti.

Dia sangat lihai, seperti kau sendiri ketahui bagaimana 738 dengan dirinya Cong Bun yang terkena pukulan Pek kut Im hong ciang.

"Toako, ah benar-benar kau pintar sekali. Aku tadi sudah ketakutan karena kau minum racun sendiri…"

Kata Gan Su Nio.

Hatinya lega sebab yang diminum itu bukan racun.

Mukanya yang cantik jelita tampak ramai lagi dengan senyuman.

Pada hari yang ketiga, waktu tengah hari masih meminta setengah harian lagi untuk Teng Goan Hweshio dan Bo yong Kang dapat mengeluarkan semua racun dari tubuhnya Li Cong Bun.

Menurut pikiran Se bun Pa, Song Sam Ceng yang telah minum obatnya saat itu tentu sudah sembuh.

Akan tetapi kenapa Hwe Kong masih belum mengirim pulang kedua kawannya?

Hati Se bun Pa menjadi gelisah.

Se bun Pa kelihatan banyak membisu, karena pikirannya tidak tenteram dengan dua kawannya yang ditahan oleh Hwe Kong masih juga belum mincul.

Gan Su Nio melihat kelakuannya demikian telah menanya.

"Toako, kau biasanya sangat gembira. Tapi kenapa hari ini kelihatan sangat lesu dan saban-saban aku lihat kau mengerutkan alis, apa sih yang sedang kau pikirkan?"

"Siluman tua itu sampai saat ini masih belum menepati janjinya hingga pikiranku jadi gelisah,"

Jawab Se bun Pa. 739

"nah aku bilang juga apa. orang semacam siluman tua itu mana dapat dipercaya? Dia hanya dimulutnya saja berjanji, tapi hatinya lain lagi."

Se bun Pa diam beberapa lamanya.

"Habis bagaimana toako pikir?"

Tanya Gan Su Nio. Kelihatan ia sangat kasihan kepada Se bun Pa seperti yang sudah mati daya.

"Aku kuatir siluman itu betul-betul mengingkari nanjinya, tapi apakah ia tidak malu dicaci oleh dunia?"

Ia tidak melanjutkan bicaranya karena muncul seorang pelayan yang menyerahkan pada Gan Su Nio kotak dari kulit.

Entah apa isinya.

Menurut keterangan si pelayan, katanya kotak itu diterima dari seseorang yang tidak dikenal untuk diserahkan kepada Se bun Pa.

"Aha,"

Kata Gan Su Nio setelah si pelayan berlalu.

"Menepati janjinya?, Buktinya sekarang ia bukannya mengirim kembali dua kawan kita. Sebaliknya telah mengirimkan kotak itu,"

Kata Gan Su Nio pada Se bun Pa.

Kotak lalu diletakkan diatas meja.

Se bun Pa berdiri bengong mengawasi benda persegi itu.

Dalam hatinya menduga-duga apa maksud siluman tua itu mengirimkan benda demikian?.

740 Tiba-tiba ia menangis sedih sekali.

Air matanya terus bercucuran, sehingga Gan Su Nio menjadi kaget.

"He, toako kenapa? Kau bikin kaget orng saja."

Tegur si nona. Dengan air matanya berlinang-linang ia berkata perlahan kepada Gan Su Nio.

"Ahh… betul-betul celaka. Aku ingin menebus dosa, sekarang jadi tambah dosa lagi. Seumur hidupku aku menumpuk dosa dan membikin susah kepada teman-teman saja. nona Gan aku sudah bisa tebak isinya, kotak ini tentu saja Nona Gan aku sudah bisa tebak isinya tentu bukan lain dari rambut dan kulitnya dua kawan kita, Ah… sungguk kejam itu iblis tua…."

Jilid 20 GAN SU NIO GEMETAR BADANNYA.

Ia ingat ketika Se bun Pa dan Hwe Kong berunding.

Iblis tua itu telah berikan janjinya bahwa rambut dan kulit Auw yang Ti dan Hwe Pek It utuh terkirim.

Mengingat hal ini, hatinya ingin lekas-lekas membuka kotak tadi.

741 Tetapi ketika ia mendekati dan mau mengulur tangannya tiba-tiba Se bun Pa berkata.

"Nona Gan kau jangan ceroboh. Siapa tahu didalamnya ada racunnya, karena iblis tua itu sangat jahat dan licik. Kita harus berjaga-jaga. Apalagi dia sudah tidak menepati janjinya maka perbuatan apa saja dia berani lakukan. Nah kau dengan memiringkan badanmu coba buka kotak itu dengan pedangmu!"

Gan Su Nio menurut.

Dari jauh-jauh ia membuka kotak itu, ketika terbuka betul saja telah menghambur sinar keemas-emasan.

Cepat-cepat Gan Su Nio kebutkan lengan bajunya untuk menyampok asap beracun itu hingga sebentar saja sudah hilang.

Apa yang mengagetkan adalah benar saja isi kotak itu seperti apa yang Se bun Pa katakan.

Dalam kotak itu terdapat kulit manusia dengan kumis dan rambut putih yang lainnya sedikit kumis dan rambut coklat tidak salah lagi adalah kulit mukanya Auw yang Ti dan Hwe Pek It.

Tidak heran kalau Gan Su Nio setelah melihatnya lantas menangis sedih sekali.

Kini Se bun Pa dan Gan Su Nio dapat kepastian bahwa dua kawannya itu telah dibunuh mati oleh iblis dari Thian lam itu.

742 Ketika mereka sedang sibuk menangis tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kelihatan masuk Li Cong Bun diikuti oleh Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio.

Anak muda itu ternyata sudah sembuh dari luka dalamnya.

Ketika mendengar penuturannya Gan Su Nio tentang dibunuh matinya Hwe Pek It dan Auw yang Ti, bukan main marahnya Li Cong Bun.

Ia membanting-banting kakinya demikian keras hingga lantas yang diinjaknya menjadi hancur.

Bo yong Kang merasa sangat berduka dengan hilangnya dua kawannya itu.

Teng Goa Hweshio sambil merangkap kedua tangannya di dada tidak henti-hentinya memuji Sang Buddha.

"O mi to hud!"

Keadaan dalam kamar itu diliputi kesedihan dan penasaran. Lama keadaan itu telah berlalu, tiba-tiba Se bun Pa memecahkan kesunyian dengan tertawa bergelak.

"Ha ha ha ha..!

Hwe Kong siluman tua itu telah kira telahdan menipu kau.

Hmm!

Dia salah menghitung.

Kawan kita berdua mati ditangan pengecut itu.

Song Sam Ceng juga tidak.

Selewatnya tiga hari setelah sembuh sementara yang mengenaskan Ha ha ha ha ha..

Hwe Kong, Hwe kong..

kau kira sudah menang.

743 Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio tidak mengerti dengan kata-katanya Se bun Pa maka mereka lalu minta penjelasan.

Kiranya Se bun Pa telah memperhitungkan urusan terlebih dahulu, ialah obat yang diserahkan kepada Hwe Kong adalah obat sementara, yaitu jika Hwe Kong berbuat jujur dan mengembalikan dia kawannya ia akan menyerahkan obat pemunahnya yang tulen supaya Song Sam Ceng sembuh benar-benar.

Sebaliknya kalau Hwe Kong mengingkari janjinya obat sementara yang diberikan sebagai pemunah akan memperlihatkan reaksinya dan Song Sam Ceng akan binasa secara mengenaskan.

Bekas keetua dari Si leng cee itu akan menemui ajalnya.

Bo yong kang dan Ceng Goa Hweshio mendengar keterangan itu tidak bisa berkata apa-apa.

meskipun hatinya tidak setuju dengan tindakan Se bun Pa tetapi mengingat kekejamannya Hwe Kong yang telah membinasakan Hwe Pek It dan Auw yang Ti mau tidak mau diam-diam mereka telah memuji kecerdikannya Se bun Pa.

"Sam Ceng lewat tiga hari akan binasa, sedangkan itu Hwe Kong hanya menunggu waktunya saja tahun depan bulan satu tanggal satu pertempuran di gunung Tay san dia akan binasa secara lebih mengenaskan. Kini kita tidak bisa melawan kepadanya. Biarlah kita menelan hinaan dahulu. Pembalasan tahun depan pasti kita akan berhasil!" 744 Se bun Pa bicara sambil kepal-kepalkan tangannya. Rupanya sangat marah kepada Hwe Kong yang sudah mengingkari janjinya hingga dua temannya telah binasa. Teng Goan Hweshio dan Bo yong Kang merasa heran dengan omongannya Se bun Pa yang seolah-olah sudah memastikan bahwa Hwe Kong akan binasa tahun depan, lalu minta keterangan cara bagaimana iblis yang lihai itu bisa dibinasakan.

"Ha ha ha.."

Se bun Pa tertaw.

"Iblis celaka itu akan binasa di ujung pedangnya Li hiantit, kau saksikan saja omonganku. Benar atau tidak?"

"Toako, apa kau mengimpi? Cara bagaimana Cong Bun dapat membunuh iblis itu. Sedang sekarang saja dia hanya kena angin pukulnnya sudah tidak tahan dan tulang-tulangnya pada membeku seperti es. Kalau tidak keburu kita berdua turun tangan tentu Cong Bun kapiran hidupnya."

Demikian Bo yong Kang menyatakan pikirannya.

"Bo yong laote, kau legakan hatimu. Aku akan membawa Li hiantit ke suatu tempat dimana ia akanmeyakinkan ilmu silat yang luar biasa warisan dari seorang pendekar ulung pada tiga ratus tahun yang lampau."

Semua orang menjadi heran dan minta penjelasan dari Se bun Pa.

745 Secara singkat se bun Pa tuturkan rencananya untuk ia dan Li Cong Bun akan pergi ke Kouw louw san mencari Pek hap Cin Keng yang akan diyakinkan oleh Cong Bun supaya dapat membalas sakit hati atas dua kawannya yang dibinasakan.

"Menurut pikiranku,"

Kata Se bun Pa pada akhir penuturannya.

Kalian lebih baik meninggalkan tempat ini dan mencari suatu tempat sembunyi menantikan kabar bagaimana kesudahannya pertandingan antara Tri Tunggal dengan Kiu bin Sin Bo sSiang Su Su yang tinggi ilmunya.

Aku berani pastikan setelah Song Sam Ceng binasa itu Hwe Kong dan Song Jie Giok mesti turun gunung mencari kemari.

Kita tidak cukup tenaga untuk melayani kepandaiannya yang tinggi maka sebaiknya kita menyingkir dahulu.

Jangan sampai kita menjadi korban percuma.

Sekarang aku dengan Cong Bun berangkat ke Kouw louw san.

Tahun depan kita berdua tentu akan naik ke puncak Cang jin hong untuk membantu pertandingan yang menentukan.

Bagaimana, apa Bo yong laote keberatan aku membawa Li hiantir?"

Bo yong Kang geleng-geleng kepalanya.

"Aku tidak keberatan Cong Bun mengikuti toako pergi, malah aku merasa sangat bersyukur toako sudah mengambil perhatian begitu besar terhadap keponakanku. Untuk itu barangkali aku tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih kepada toako. Cuma saja dua kawan kita telah binasa ditangan mereka. 746 Apakah kita boleh sudahi saja cara begini? Betuk-betul hatiku merasa tidak puas menghadapinya."

Se bun Pa tertawa.

"Bo yong Laote,"

Katanya.

"Biar sajalah mereka mengganas sementara, nanti juga sudah waktunya akan mati mengenaskan. Kita dipihak lemah, meskipun kit berkorban tak ada gunanya sebab puhak musuh ada terlalu kuat. Seorang yang mengerti ilmu silat, tahu waktunya maju dan tahu juga waktunya mundur. Itulah baru dikatakan seorang pendekar yang berpandangan luas. Maka apa salahnya kita mengalah dahulu kepada mereka, nanti suatu saat kita sudah menjadi kuat masih banyak waktu untuk menempur mereka dan membasminya habis-habisan bila perlu."

Teng Goan Hweshio angguk-anggukkan kepalanya.

Diam-diam ia memuji tinggi kecerdikannya Se bun pa.

dan Bo yong Kang juga setelah mendengar alasannya Se bun Pa tak dapat menuruti napsunya saja.

Demikian mereka telah berpisah.

se bun Pa dengan Li Cong Bun pergi ke Kouw louw san, sedangkan Bo yong Kang, Teng Goan hweshio dan Gan Su Nio pergi mencari tempat lain untuk melatih diri sementara menunggu kabar lebih jauh tentang hasil pertempurannya Tri Tunggal dengan si wanita iblis Siang Su Su.

Sebelum mereka berpisah, Se bun Pa telah menjura didepan kotak kirimannya Hwe Kong, 747 katanya.

Roh Auw yang ko dan Hwe toako harap tidak menjadi penasaran sebab tahun depan tanggal satu bulan satu, itu penjahat Hwe Kong dan Cong Jie Giok kepalanya akan terpenggal oleh Pedang Penakluk Iblis dari Li Cong Bun… "

Setelah itu ia lantas benahi kotak tersebut.

Kemudian dibawa pergi sekalian menuju ke Kouw louw san dalam propinsi Kang su.

**** Dilain pihak Hwe Kong dan Cong Jie Giok merasa girang ketika melihat Song Sam Ceng telah sembuh dari penyakit "tertawa‟ nya yang terus menerus.

Mereka tidak tahu bahwa sembuhnya Song Sam Ceng itu hanya untuk sementara saja.

Melihat keponakan muridnya sudah sembuh, lantas pikirannya Hwe Kong bimbang untuk melepaskan dua orang taawanannya maka ia lalu berunding dengan Cong Jie Giok.

Iblis muka putih Cong Jie Giok telah mengusulkan supaya janjinya pada Se bun Pa jangan ditepati karena Song Sam Ceng sekarang toh sudah sembuh.

Lebih baik dua orang tawanan itu dibunuh mati saja supaya dikemudian hari tidak menimbulkan bahaya bagi perjuangan mereka yang hendak menguasai dunia persilatan.

"Pikiranmu memang bersamaan dengan pikiranku, memang paling baik kita bereskan itu orang tawanan supaya kita mengurangi musuh,"

Jawab Hwe Kong kegirangan.

Kini ia sudah tak bimbang lagi mengambil keputusan.

Kemudian ia menyuruh algojo untuk membereskan dua orang tawanannya.

Tidak lama kemudian kepala yang darahnya masih segar telah diperlihatkan kepada dua iblis kejam itu.

Mereka tertawa melihatnya.

Setelah memerintahkan untuk memapas kulit mukanya dua korban itu, kemudian dimasukkan kedalam kotak dari kulit lalu ia menyuruh orang untuk menyerahkan kotak itu kepada Se bun Pa.

kemudian pada malam harinya kedua iblis bersama Song Sam Ceng telah mengadakan pesta minum-minum.

Urusan dianggap telah selesai.

Kalau Se bun Pa datang untuk menagih dua orang tawanan yang sudah dibunuhnya itu akan sekalian ditangkap dan jiwanya dibinawakan.

Demikian dalam kegirangan mereka berpesta pora minum minuman dengan sepuasnya.

Song Sam Ceng sebenarnya bisa hidup untuk beberapa hari lagi setelah sembuh makan obat sementaranya Se bun Pa.

Apa mau ia waktu itu ia telah banyak minum arak hingga rasakan badannya tidak enak.

Hatinya dirasakan 749 seperti diiris-iris, maka ia berkata kepada paman gurunya Hwe Kong.

"Susiok, maafkan aku mau mengundurkan diri lebih dahulu karena aku merasakan hatiku tidak enak dan badan rasanya seperti bergemetaran. Silakan kedua susiok melanjutkan minum-minum…!"

Hwe Kong dan Cong Jie Giok mengira Song Sam Ceng hanya tidak enak badan saking kebanyakan minum arak maka tidak begitu memperhatikan. Hwe Kong hanya berkata.

"Ya, kalau kau merasakan begitu, kau istirahat saja…"

Tiba-tiba Hwe Kong kaget melihat keponakan muridnya ketika bangkit dari tempat duduknya telah sempoyonyan.

Mukanya mendadak berkeringat lalu menjerit-jerit sambil memegang perutnya.

Malah tidak lama kemudian mukanya berubah pucat pasi.

"Hei, Sam Ceng kau kenapa?"

Tanya Hwe Kong.

Tapi Song Sam Ceng tidak menjawab.

Ia sekali menekan meja badannya meleset dan jatuh terhuyung-huyung.

Sambil menjerit-jerit ia memegangi perutnya yang kesakitan seperti ususnya ada yang menarik-narik.

Ia bergulingan di tanah dengan berteriak-teriak kesakitan.

Sungguh mengenaskan.

Melihat keadaan demikian.

Hwe Kong sadar itu adalah perbuatannya Se bun Pa.

750 Hatinya sangat marah, tapi apa daya?

Se bun Pa tidak ada dihadapannya untuk ia sekali pukul membikin melayang jiwanya.

Ia kasihan kepada keponakan muridnya bergulingan menjerit-jerit kesakitan.

Seluruh badannya telah mengeluarkan darah dan menebarkan bau amis.

Betul-betul si Garuda Hitam Song Sam Ceng bekas ketua Si leng cee menjelang menemui ajalnya sangat mengenaskan.

Hwe Kong tahu bahwa Song Sam Ceng sudah tak bisa tertolong lagi.

Ia ingin melepaskan pukulannya supaya ia lekas mati agar tidak menderita kesakitan lebih lama lagi, akan tetapi mengingat Sam Ceng sudah selama tiga puluh tahun menjadi keponakan muridnya hatinya tidak tega untuk turun tangan.

Ia menjadi sangat berduka dan beberapa kali menghela nafas.

Cong Jie Giok tahu apa yang sedang dipikirkan olah kawannya.

"Biarlah aku yang mewakili kau Hwe Jie ko…"

Kata Cong Jie Giok. Sementara iitu dari kenauhan ia sudah mengerahkan tenaganya Cu im ci mengirim serangan kepada Song Sam Ceng. Ia ini sekali bersuara "uwaa.."

Dari mulutnya lantas menyembur darah segar yang kehitam-hitaman kemudian berkelejatan dan putus jiwanya.

Si Garuda Hitam Song Sam Ceng tamatlah riwayatnya….

751 Hwe Kong dan Cong Jie Giok setelah melihat Song Sam Ceng binasa, keduanya lalu menangis sedih.

Kemudian si Iblis Muka Putih Cong Jie Giok menyuruh orang-orangnya untuk merawat mayatnya Song Sam Ceng dan dikuburkan.

Kepada Hwe Kong ia berkata.

"Ya, Song Sam Ceng telah mati terkena racunnya Se bun Pa akan tetapi kita juga membunuh mati dua orang tawanan kita. Kita sekarang jangan peduli lagi apa omongan atau hukum dunia persilatan. Paling baik kita sekarang bersama-sama turun gunung mencari Se bun Pa lima orang dengan kawannya. Kita habisi jiwa mereka ini. Kalau belakangan Tri Tunggal mencari kita juga boleh, dengan diam-diam kita membinasakannya. Sesudah itu terang dunia persilatan dibawah pengaruh kita dan akan menjadi rejanya."

"Urusan kemudian hari tidak kita bicarakan sekarang,"

Jawab Hwe Kang.

"Aku pasti menangkap Se bun Pa. penjahat beracun itu sangat banyak akalnya. Kalau sudah kutangkap kubinasakan dia secara yang lebih mengenaskan dari yang diderit Sam Ceng. Mari..mari turun gunung kita menangkapnya…."

Berdua lantas mereka turun dari gunung, akan tetapi maksudnya tidak kesampaian karena Se bun Pa tidak ada lagi dalam rumah penginapan tersebut.

Mereka sudah pergi entah kemana menurut keterangannya pemilik penginapan kepada dua iblis kejam itu.

752 **GS** Sementara itu.

Se bun Pa bersama Li Cong Bun telah memalui peropinsi Kang soaw An hwi dan Kwan tung terus menuju ke selatan.

Sepanjang jalan Se bun Pa telah mengasi keterangan pada Li Cong Bun maksudnya mencari kitab Pek hap Cin Keng di lembah gunung Kouw louw san.

Ilmu dalam kitab itu dipelajari oleh Li Cong Bun.

Anak muda itu sekarang telah mahir dengan ilmu-ilmu pedang seperti Tau it Ki bun kiam Chian cin To lo kiam dan Tigabelas gerakan pedang ajaib.

Tiga ilmu ini ditambah dengan ilmu yang didapat dari Pek hap Cin keng digodog menjadi satu ilmu pedang yang luar biasa pasti akan merupakan keanehan dalam dunia persilatan.

Sebab ilmu itu tentu bukan saja dapat menyapu semua iblis yang akan dihadapinya tahun depan tetapi juga akan merupakan ilmu-ilmu pedang pusaka untuk dunia kangouw dihari-hari belakangan.

Li Cong Bun amat girang mendengar bicaranya Se bun Pa.

memang menjadi pengharapannya menciptakan ilmu pedang tersendiri.

Oa bagaimana hebatnya ilmu pedangnya nanti kalau benar-benar ia ada jodoh dapat menemukan kitab pusaka dari pendekar tiga ratus tahun yang lalu itu.

Se bun Pa tempo hari telah menemukan Pek tok Cin Keng maka ia masih hafal letak 753 tempatnya itu dimana.

Maka tidak seberaa susah dua orang itu menemukan goa tersebut di gunung Kouw Louw san yang menjulang tinggi.

Goa itu letaknya di atas jurang yang penuh dengan pepohonanSong Pek rumput dan bunga beraneka warna.

Tertutup oleh pohon-pohon yang merambat.

Kalau orang belum pernah menemukan terang goa itu susah ditemukan karena tertutup.

Di mulut goa ada air terjun yang merupakan dinding putih.

Dibawahnya anyak batu-batu yang sudah lumutan tebal kehijau-hijauan.

Sebelum mereka mencari kitab.

Se bun Pa pinjam pedangnya Li Cong Bun, Pedang Penakluk Iblis yang tajam luar biasa.

Dengan senjata itu Se bun Pa telah membelah batu besar dan mengoreknya di bagian dalamnya kemudian ia taruh kotak kulit pemberian Hwe Kong didalamnya lalu ditutup lagi.

Setelah meletakkan batu besar tadi, dengan didalamnya sudah diisi kotak kulit muka.

Se bun Pa berlutut memberi hormat sambil berkata.

"Saudara Auw yang dan Hwe harap berdua tenang-tenang disini beristirahat. Semoga roh kalian yang tidak musnah mendoakan supaya Cong Bun dapat memahirkan ilmunya supaya dapat digunakan dalam pertempuran tahun depan menghadapi kawanan penjahat di 754 gunung Tay san. Cong Bun nanti yang membalaskan sakit hati kalian…"

Li Cong Bun melihat apa yang dilakukan Se bun Pa turut berlutut dan diam-diam berdoa sebagaimana kata-kata Se bun Pa.

ia bersumpah akan membalaskan dendam dua jago yang sudah berada di alam baka tersebut manakala sudah berhasil meyakinkan ilmu yang didapat pada kitab Pek hap Cin keng.

Demikian, kemudian mereka masuk ke dalam goa untuk mencari kitab tersebut.

Mereka telah mencari berputar-putar akan tetapi sudah sampai tiga hari lamanya belum juga menemukan barang yang dicarinya.

Li Cong Bun mulai putus asa mencari disitu, maka ia berkata pada Se bun Pa.

"Se bun pepe, goa ini ada begini kecil, kit sudah mencari hampir seluruhnya goa diperiksa tidak juga kita berhasil. Apakah tidak lebih baik kita mencari di lain goa, sebab dua pendekar itu Thian ju Cun cia dan Thian Ciok Cinjin tentu tidak tinggal hanya dalam goa ini saja. mari kita mencarinya!"

Mendengar perkataanya Li Cong Bun, Se bun Pa seperti diingatkan.

Pikirnya selain goa ini mungkin ada goa yang lainnya pula, tapi dimana jalnnya untuk masuk ke lain goa?

Ia lalu berunding dengan Li Cong Bun, akhirnya telah diambil keputusan dengan menggunakan Pedang Penakluk Iblis menggali sana dan sini 755 barangkali saja mendapatkan tempat rahasia untuk membuka pintu goa lainnya.

Dua hari juga mereka berbuat demikian, tidak juga menemukan hasil.

Tapi pada hari yang ketiga mereka girang ketika disebelah kanan dinding itu diketemukan satu kotak beri yang panjangnya empat dim dan lebarnya satu dim.

Se bun Pa melihat kotak itu ada demikian kecilnya, hatinya merasa sangsi, apakah mungin didalamnya ada tersimpan kitab yang dicarinya.

Ketika kotak terbuka bau harum obat menusuk pada hidung, didalamnya tersapat kata sastra yang tulisannya berbunyi .

"Siapa yang menemukan kotak ini dengan sabar hati dan ulet perjuangannya pastilah beruntung. Dalam kotak ini ada pil "

Hoan kut Leng tan‟ yang kalau dimakan khasiatnya sama dengan berlatih nafas dua puluh tahun lamanya. Harus mendaptkan Pek hap Cin keng "

"Banyak kesukaran harus ditempuh untuk mendapatkan kitab itu. Terlebih dahulu tempat tidur yang ada di tengah-tengah harus dihancurkan. Kemudian meja batu didorong ke kanan dan kekiri sekali saja, diisitulah akan menemukan suatu keajaiban. Tapi kalau kitab tidak dipelajari betul-betul seumur hidupnya 756 orang yang menemukan jangan harap mendapat kebahagiaan."

Li Cong Bun dan Se bun Pa setelah menemukan tulisan tersebut bukan main girangnya.

Mereka tidak takut akan susah payah menempuh bahaya, asal kitab yang dimaksudkan dapat dimiliki.

Semikianlah mereka lau bekerja menurut petunjuk tulisan tadi.

Tempat tidur dihancur-leburkan dahulu.

Kemudian mendorong kekanan dan kekiri meja batu yang ada di situ.

Tiba-tiba terdengar suara bergedebrukan rubuh.

Ternyata dindingnya goa dan atasnya goa pada ambruk.

Segera tampak sinar terang menyorot.

Untuk menghindarkan diri dari reruntuhan batu-batu goa, keduanya lantas menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk melesat keluar ke arah yang menyorot terang.

Ketika mereka turun ke bawah ternyata mereka turun di atas tanah biasa hanya kedalam rawa lumpur.

**GS** SAMPAI didini kita tinggalkan Li Cong Bun dan Se bun Pa yang nyemplung ke dalam rawa lumpur.

Mari kita ikuti perjalanannya Bu Ju Toato, Ceng Leng Cin jin dan Biauw Hoat Sin ni serta Kun Hun dan Pek Hun dari kuil Naga Emas di Si Hek yang pergi ke Ya ji san 757 menyatroni sarangnya Kiu bin Sin bo Siang Su Su yang sangat tinggi ilmu silatnya.

Untuk menghindari kerepotan penduduk yang sangat menghormati padanya sebagai orang suci dari kuil naga emas maka Kun Hun dan Pek Hun menghindari berjalan di jalan raya dan terpaksa berjalan di perkampungan.

Untuk mencari puncak Kui cui hong dan tempat tinggalnya Siang Su Su diperairan Toan hun cian sungguh tak mudah.

Apalagi disitu ada disebar hawa beracun yang amat jahat dan dapat membunuh kepada siapa yang lewat disana.

Dalam beberapa hari mereka menjelajah puncak gunung akhirnya mereka sampai di suatu jurang yang ada air terjunnya.

Keadaan disitu rupanya tak terawat karena boleh dikatakan hampir seluruhnya tertutup oleh dedaunan yang pada jatuh.

Tiba-tiba mereka mendengar suara "Tang".

"Hei, ada terdengar suara demikian. Tentu ada orangnya. Mari kita maju terus untuk menanyakan pada orang itu dimana kita bisa menemui sarangnya Siang Su Su."

Demikian Ceng Leng Cinjin berkata pada Kun Hun.

Mereka baru saja hendak bergerak maju mendadak nampak ada orang dengan langkah gesit sekali mendatangi.

Orang itu rupanya mempunyai ilmu meringankan tubuh yang 758 sempurna karena kedatangannya tidak terdengar sama sekali.

Tunuhnya tinggi kurus, mukanya bengis, matanya melesak seperti alap-alap, mulutnya tipis dan hidungnya seperti paruh burung kakatua, ada sedikit janggut.

Orang macam demikian pasti bukan orang baik-baik.

Ceng Leng Cinjin tidak memandang orangnya, hanya diam-diam mengagumi ilmu meringankan tubuhnya yang amat tinggi.

"Sahabat, bolehkah aku menumpang tanya?"

Belum habis jago Thian san itu bicara sudah dicegat oleh orang itu.

"Kamu demikian berani sudah datang ketempat kan hun cian ini, benar-benar menandakan kematianmu sudah sampai pada waktunya. Maka buat apa tanya ini dan itu lagi?"

Perkataan yang dikeluarkan oleh orang itu ada sangat kasar, akan tetapi Ceng Leng Cinjin tidak jadi marah, malah ia tertawa bergelak-gelak.

"Sahabat,"

Katanya.

"Hidup dan mati itu semua sudah ada takdirnya Tuhan. Kita manusia mana tahu akan mati dengan mendadak. Kami hanya hendak menanya padamu, dimana leteknya Koan hun cian?"

"Kauw hun dan Toan hun tidak ada bedanya. Kamu mau kesana boleh berjalan sepiluh li 759 lagi. Pada saat tengah hari kau akan sampai disana."

Orang itu menjawab dengan tidak jelas, lebih tak tahu adat lagi.

Setelah menjawab demikian lantas meninggalkan Ceng Leng Cin jin dengan kawan-kawannya.

Ia mendemonstrasikan ilmu meringankan tubuhnya.

Sekali melompat sudah bisa mencapai jarak puluhan tombak, Ceng Leng Cin jin mengerutkan alisnya.

"Orang ini rupanya ingin mencari seteru dengan kita,"

Katanya menghela nafas.

"Diwaktu pergi dia sudah memperlihatkan ilmu meringankan tubuhnya Leng si Sut ie, entah ia ada dari golongan mana?"

"Totiang waktu bicara dengannya apa tidak memperhatikan ditangannya ada memegang gong kecil dan tangannya tidak mempunyai jari kelingking?"

Tanya Pek Hun.

"Ya, betul seperti katanya Pek Hun Taysu,"

Menyela Bu Ju Toato.

"Aku kira dia itu adalah Hoat Teng Hweshio sebab mukanya ada demikian bengis. Menurut kabar yang tersiar diluaran, Hoat Teng hweshio telah dibinasakan oleh seorang pendekar she Kwee. Senjata tongkatnya telah dibabat putus dengan pedang. Kiranya dia tidak mati dan muncul disini dengan memelihara rambut kembali menjadi orang biasa."

"Melihat ilmu meringankan tubuhnya yang lihai,"

Kata Ceng Leng Cinjin.

"Mungkin benar dia Hoat Teng Hweshio. Ah jika dia benar, kita tambah lagi seorang musuh kuat. Tapi tak apa. kita boleh bekerja sebisanya membasmi kawanan penjahat yang mengganggu keamanan. Ah barusan dia berkata kita sampai disan tepat pada tengah hari, perlu apa kita harus menuruti dia?"

Biauw Hoat Sin ni ikut bicara, katanya.

"Ya Siang Su Su memang sangat lihai, tapi hweshio tadi hanya biasa saja.

Nah kita lebih baik sekarang beristirahat saja dahulu disini.

Sebentar kalau sudah tengah hari kita boleh mulai jalan lagi.

Kita mau tahu sampai dimana kelihaian mereka menyembut kedatangan kita.

Jangan kita bikin merosot namanya Tri Tunggal dan Empat Hud yang sudah termasyur.

Berlima lantas pada mengambil tempat masing-masing untuk beristirahat bersemedhi.

Setelah hampir tengah hari mereka melanjutkan perjalanannya.

Setelah menempuh perjalanan delapan li, mereka tidak menemukan apa-apa tapi keadaan disekitar tempat itu amat sunyi seolah-olah ditempat itu akan timbul bencana tidak terduga-duga.

Mereka berjalan lebih jauh dan menemukan satu jurang yang buntu jalannya.

Ditepi jurang ada air terjun dan tampak pada bertumpuk lebih tebal dari yang mereka 761 pernah lihat.

Tidak jauh dari air terjun tampak sebuah batu berwarna hijau persegi panjang, diantaranya ada berbaris tengkorak manusia.

Lebih jauh ada ukiran beruang ekek yang jahat serta tulisan yang ditulis dengan jari tangan yang menggunakan tenaga dalam yang sangat kuat berbunyi .

"ORANG SAMPAI DI TEMPAT INI ROKHNYA AKAN MELAYANG!"

Mereka setelah menyaksikan itu semua mengetahui kalau disitu adalah Toan bun cian sarangnya Siang Su Su dan mungkin juga Hwe Ciang ada disitu. Tiba-tiba Biauw Hoat Sin ni tertawa dan berkata.

"Mereka itu ilmunya sudah sangat ajaib, perlu apa pakai segala embel-embel begitu yang hanya dibuat tertawaan orang saja…?"

Tapi Bu Ju Toato ada berpendapat lain.

Ia menduga kawanan iblis itu membuat segala embel-embel untuk menakut-nakuti, supaya sebelum berjumpa dengan kawanan iblis itu, orang yang menyatroninya sudah ketakutan terlebih dahulu.

Mungkin juga mereka mengetahui kelihaiannya Tri Tunggal dan Dua Hud mka sudah membuat luconan yang demikian macam.

Ceng Leng Cinjin berpikiran lain.

Mereka sekarang sudah sampai di sarangnya nenek iblis yang lihai itu bagaimanapun juga harus 762 waspada terhadap segala kemungkinan termasuk keracunan.

Ia tahu Siang Su Su selain ilmu silatnya amat lihai juga bermain dengan obat racun untuk membikin binasa lawan-lawnnya.

Pikiran Ceng Leng Cinjin bukan mustahil ancanan dengan tulisan itu akan menjadi suatu kenyataan.

Ia sendiri tidak dapat menduga sampai dimana kelicikannya Siang Su Su, maka ketika mendengar masing-masing kawannya menyatakan endapatnya ia tinggal membisu.

Hanya matanya yang tajam memeriksa kesekitar tempat itu.

Tiba-tiba saja ia mencium bau busuk.

"Hei, kawan-kawan, lekas kalian menelan pil pemunah racun. Kelihatannya hawa busuk sudah mulai keluar. hayo lekas-lekas mundur!"

Ia berteriak kepada kawan-kawannya.

Kelihatannya pada daun yang bertumpuk-tumpuk itu ada mengepul asap berwarna kuning kemudian berubah menjadi merah.

Asap itu bergulung-gulung terus naik tinggi.

Itulah ada hawa beracun yang ganas sekali.

Sebab jika ada orang yang kena menghisap hawa beracun itu tidak ampun lagi badannya akan lemas kemudian rubuh dan tubuh yang utuh pelahan-lahan akan lumer dan menjadi cairan.

Baunya asap beracun itu sangat amis membikin orang muntah-muntah seketika.

Mengetahui ada bahaya, mereka lantas pada menggunakan ilmu meringankan tubuhnya melesat ke tempat yang lebih tinggi.

Selesai 763 mereka pada melesat, dari atas ada dua buah batu besar yang menimpa ke bawah, rupanya didorong sengaja oleh orang.

Jatuhnya batu itu menimbulkan suara menggelegar saking beratnya.

Tri Tunggal dengan menggunakan ilmu Kera Putih Melompati Pohon sebentar saja sudah berasa di atas, disusul oleh Kun Hun dan Pek Hun.

Namun Pek Hun rupanya tidak tahan oleh getaran jatuhnya batu tadi, mungkin juga mengendus hawa yang tidak enak, maka ia sudah rubuh pengsan ketika ia sedang merambat naik memegangi akar rotan.

Tentu saja tubuhnya melayang jatuh ke bawah.

untung Bu Ju Toato yang melihat kawannya menghadapi bahaya sudah segera melayang turun dengan ilmu yang tinggi dan dapat menjambret bajunya Pek Hun hingga ia ta sampai jatuh binasa.

Kun Hun dari atas telah memotong rotan yang merambat dan dijatuhkan ke bawah untuk menolong dua orang itu ditarik ke atas.

Apa mau setelah mereka selamat berada diatas, mendadak dari atasnya lagi ada batu besar yang melayang hendak menimpa mereka.

Ceng Leng Cinjin mendongkol sekali.

Denganmenggunakan ilmunya Hian bun kang ia menolak pergi batu yang hendak menimpa mereka itu.

Biauw Hoat Sin ni sangat marah.

Biar kalian menangkis serangan-serangan gelap 764 itu.

Aku mau pergi melihat siapa orangnya yang sudah berlaku licik dan pengecut itu."

Setelah berkata, badannya bergerak.

Ia menggunakan gaya Peng po Seng lian (tindakan lurus diatas teratai).

Sekali kakinya menotol lantas badannya meluncur naik beberapa tombak.

Setelah naik sampai puluhan tombak sampailah ia diatas dan disini ia hanya melihat satu patung besi yang hitam berbentuk burung ekek dan sehelai bendera dengan tulisan .

"Kawanan Tri Tunggal dan Dua Hud datang disini mencari mampus. Kami sudah baik hati dengan batu memperingatkan kalian agar segera pergi dari sini."

Biauw Hoat Sin ni memeriksa ke sekitarnya.

Ia curiga kalau-kalau ada musuh yang akan membokong dirinya, tapi sampai sebagitu jauh keadaan tenang-tenang saja.

ia merasa tidak ada apa-apa yang menghalangi, maka ia lalu berteriak kepada kawan-kawannya supaya ikut naik.

Keadaan Pek Hun masih belum sadar, hingga dengan susah paya ia dapat dibawa naik ke atas.

Sampai di atas ia kembali diperiksa keadaannya.

Bu Ju Toato sudah turun tangan untuk menyedarkannya, akan tetapi usahanya tidak berhasil.

"Nanti aku akan berikan pil pemunah racun, tentu dia bisa bangun kembali." 765 Demikian kata Kun Hun sambil merogoh kantongnya, akan tetapi Bu Ju Toato mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia menghela nafas dan berkata pada Kun Hun.

"Taysu, rasanya tidk akan menolong Pek Hun Tay dengan obat pemunah racunmu itu karena dia sudah kemasukan hawa jahat rupanya makanya ia terus pingsan.

Mengingat bahwa Pek Hun Taysu menjadi korban karena ikut pada kami hendak membantu maka aku tidak sayang akan memberikan obat pil Ban mia Leng tan yang aku bikin hanya tujuh butir dalam waktu empat puluh sembilan tahun.

Selain aku sudah berikan pada Cong Bun yang ia telah berikan pada Se bun Pa ketika ia menelan racunnya sendiri hendak membunuh diri.

Nah coba kau tolong kasi masuk dalam mulutnya.

Bu Ju Toato berkata sambil menyerahkan satu pil mujarabnya sebesar lengkeng.

Kun Hun menerimanya dengan mengucapkan banyak terima kasih.

Sementara Kun Hun memasukkan obatnya kedalam mulurnya Pek Hun, Bu Ju Toato telah bekerja membuka semua totokan pada Pek Hun yang tadi ia berikan untuk mencegah menjalarnya racun yang jahat dalam tubuhnya Pek Hun.

Tidak lama setelah obatnya Bu Ju Toato yang mujarab masuk ke dalam perutnya, Pek Hun sudah bisa membuka matanya dan mengawasi 766 kawan-kawannya yang sedang merubung dirinya.

Pek Hun tersenyum kepada Ceng Leng Cinjin.

Melihat Pek Hun sudah mendingan dan pasti akan tertolong oleh Bu Ju Toato, maka Biauw Hoat Sin ni telah berkata.

"Nah, sekarang Pek Hun Taysu sudah mulai sembuh, biarlah dia dijaga oleh Kun Kun Taysu. Sementara kita bertiga harus melakukan penyelidikan ke sekitar tempat ini untuk mengetahui sarangnya nenek jahat itu."

Mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu naik ke bagian yang lebih tinggi.

Mereka berputar-putar mencari sarangnya Kiu bin Sin bo Siang Su Su.

Pada suatu jalanan buntu mereka berhenti.

Matanya Biauw Hoat Sin ni memandang kepada dua puncak gunung satu pendek dan satunya lagi menjulang tinggi.

Sambil menunjuk pada puncak yang tinggi itu Biauw Hoat Si ni berkata.

"Puncak itu mungkin ada sarangnya Siang Su Su yang dinamai Kui ciu bong. Baik kita tunggu sampai Pek Hun sudah pulih betul kesehatannya, kita nanti naik ke puncak itu. Masa kemana sih lolosnya iblis jahat itu?"

"Ha ha ha…"

Bu Ju Toato tertawa.

"Aku punya pil mustajab bukan hanya dapat menolak segala racun akan tetapi juga akan menambah tenaga pada badannya yang memakan obatku itu. Tidak lama lagi Pek Hun aka sudah sembuh betul betul, tapi menurut pikiranku lebih baik kita sebentar malam menyatroni 767 tempat itu. Karena hawa racun yang jahat itu kelihaiannya hanya diwaktu siang hari. Sebaliknya diwaktu malam hari tidak demikian. Kita jadi tidak begitu repot untuk menyingkirkan hawa racun yang jahat itu. Bagaimana Toheng punya pendapat?"

Bu Ju Toato menanyakan pikirannya Ceng Leng Cinjin, dia lalu angguk-anggukkan kepalanya.

Jago dari Pek Thiansan itu memang berpendapat sama dengan Bu Ju Toato bahwa hawa racun itu berbahaya diwaktu siang saja.

Demikianlah mereka telah kembali ke tempat Kun Hun dan Pek Hun menunggu.

Mereka telah melewatkan waktunya dengan duduk bersemedhi untuk sebentar malam akan gunakan tenaganya melakukan penyelidikan.

Setelah petang hari tiba segera disusul oleh sang malam.

Keadaan ternyata ada sangat gelap.

Tiupan angin membuat cabang-cabang pohon beradu satu dengan yang lain menimbulkan suara berisik.

Kemudian terdengar suaranya binatang-binatang liar dalam hutan.

Suasana diwaktu malam di tempat itu benar-benar amat menyeramkan bulu roma, tetapi kalau untuk mereka brlima yang mempunyai ilmu silat tinggi semua itu tidak menakutkan hatinya.

Mereka bersikap tenang, pikirannya hanya satu ialah mencari sarangnya Kiu bin Sin bo Siang Su Su.

768 Tiba-tiba terdengar suara Ceng Leng Cinjin berkata.

"Ya memang suasana pada waktu malam begini ada menyeramkan. Dari suara binatang yang kita dengar, kawanan binatang itu tentu ada galak dan buas-buas, maka kita bukan saja harus waspada pada bokongan musuh dan racun yang jahat, tapi juga harus memperhatikan pada serangan binatang liar yang tidak terduga-duga. Harus kit…."

Ceng Leng Cinjin berhenti bicara ketika mendengar suara siulan aneh di puncak paling atas.

Suara itu kedengarannya berganti-ganti dari halus berubah kasar dan dari kasar berubah halus.

Inilah suatu tanda bahwa tingginya tenaga dalam yang mengeluarkan siulan tadi.

Suara itu semakin lama semakin tegas, mereka terus memperhatikan dengan seksama.

Segera kedengaran suara itu sangat nyata berkata.

"Hai Tri Tunggal dan Dua Hud sudah datang disini, kenapa tidak menemuiku?"

Pek Hun adatnya berangasan, ia sudah diserang racun jahat dari perbuatan lawan, maka hatinya sangat gusar ketika mendengar suara bertanya tadi.

Ketika dia hendak membuka mulutnya berkata Ceng Leng Cinjin sudah mendahului berteriak.

"Apa hoat Teng Taysu ada diisitu yang pada tiga puluh tahun lalu malang melintang di propinsi Han lam, Su coan, Kui cu dan Ouw lam? Juga Kut lo ie an Hwe Ciang ada berada bersama-sama?"

Segera dua bayangan telah melesat mendatangi dari balik batu besar.

Yang satu mengenakan baju putih lainnya berpakaian baju kuning.

Sambil tertawa geli kedua bayangan itu melayang menghampiri mereka.

Ternyata yang berbaju kuning adalah Hoat Teng Hweshio, sedang kawannya adalah Hwe Ciang yang tertua dari Thian lam Siang koay.

Tubuhnya Hwe Ciang kurus dan berwajah dingin.

"Totiang ternyata amat pandai menebak orang,"

Kata Toat Teng hweshio sambil tertaw bergelak-gelak.

"Mata dan telingamu masuk bagus.

Tapi tahukah bahw Hoa Teng sudah menjadi setan karena pulangnya Kwee Sin Teng?

Bahkan namanya sudah dihapus dari dunia persilatan.

Aku sekarang sudah memelihara rambut lagi sebagai manusia biasa dan memakai namaku asli yang dulu ialah Kauw Bit.

Di Biauw sebagai tukang jual obat menolong orang aku dekenal dengan nama Kin Ci (jari sembilan, karena jari kelingkingnya kena terpapas pedangnya Kwe Kin Teng menjadi hilang satu).

Ia berkata sambil menatap lima orang di depannya, kemudian ia melanjutkan.

"Daerah ini sudah dijadikan daerah terlarang. Kalian 770 datang kemari tentu ada urusan penting. Apakah kalian hendak menjumpai Siang Su Su?"

Pek Hun menduga yang menjatuhkan batu besar tentunya adalah ini si jari sembilan makanya hatinya sudah menggerodok, lantas berkata.

"Selama kita berkelana menikmati bahyak pemandangan indah-indah dipegunungan manapun juga, belum pernah mengalami gangguan seperti yang kami alami disini. Kenapa kau sudah berlaku demikian kejam dengan menggelontorkan batu hendak membinasakan kami orang? Apakah kau berbuat demikian karena mengandalkan kepada si nenek jahat? Hmm, jari sembilan, kau jangan banyak lagak?"

Hoat Teng Hweshio sekarang sudah menjadi orang biasa bernama Kauw Bit.

Masa dahulunya karena melakukan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat sekali, maka ia kena dihajar oleh pendekar dari Siang lan bernama Kwee Sim Teng.

Pedangnya yang lihai telah membikin kutung satu jarinya.

Kejadian out justru membuat ia malu dan memendam sakit hati, bukannya sadar dan berbalik menjadi orang baik.

ia telah mengeram diri sekian lamanya memperdalam ilmu silatnya ialah perlunya untuk menuntut balas kepada pendekar dari Siang lan tadi.

Hanya sayang sekali keinginannya itu tidak terkabul karena Kwe Sim Teng sudah keburu mati.

Untuk melampiaskan hati dendamnya ia telah melakukan kejahatan lagi yang lebih ganas 771 dari yang sudah.

Malah ia sudah menyekutukan diri dengan Kin bin Sin bo.

Perlunya untuk melindungi diri karena dikejar-kejar oleh kawanan pendekar karena perbuatannya yang sangat terkutuk itu.

Pekerjaannya setiap hari keluar mencari obat-obatan untuk menyembuhkan Siang Su Su dapat disembuhkan, rencana mereka hebat sekali yaitu memasuki Tionggoan dimana mereka akan mendirikan suatu partai dalam rimba persilatan dan berusaha untuk menjadi rajanya dari dunia persilatan.

Mereka akan memusnahkan setiap partai persilatan yang tidak mau tunduk dibawah pengaruh partainya.

Barusan ia telah mendengarkan hinaan dari Pek Hun yang mengatakan ia berjari sembilan, bukan main marahnya.

"Mhh..!"

Ia menggeram.

"Aku karena berjari sembilan maka aku mempertinggi ilmu silatku yang dinamai Thian ciang Ci hoat.

Sekarang aku akan menyerang dengan empat jariku.

Kau boleh menangkis dengan lima jarimu yang utuh.

Aku mau lihat apa kau bisa tahan atau tidak?

Aku tidak mau gunakan tangan kanan yang berjari utuh, sebab akibatnya akan membuat kau rubuh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

Setelah berkata, tangan kirinya yang berjari empat diulurkan.

Serangannya mengeluarkan angin dahsyat sekali, mengarah pada dadanya Pek Hun.

772 Memang dari tadi ia sudah sangat benci maka Pek Hun telah menangkis serangan si Jari Sembilan dengan ilmunya Tay kim Kong ciang.

Kedua pihak bergebrak ramai.

Masing-masing ingin secepatnya menyudahi pertandingan, akan tetapi berjalan beberapa jurus masih juga belum kelihatan siapa menang dan kalah.

Kin Ci (si jari sembilan) menjadi mendongkol.

Ia lantas keluarkan ilmu simpanannya yang berjari empat diulur hendak menyerang kearah batok kepalanya Pek Hun tapi keburu dicegah serangannya itu oleh Hwe Ciang.

"Tunggu sebentar!"

Katanya. Hwe Ciang yang tertua dari Thian lam Siang koay, telah mengawasi pada Ceng Leng Cinjin, kemudian berkata.

"Totiang selamat ketemu lagi. Sudh tiga puluh tahun kita tidak berjumpa, maka aku sebenarnya kangen betul. Tapi aku sudah mengirim undangan untuk kita bertemu nanti tahun depan bulan satu tanggal satu di gunung Tay san. Kau dapat bersatu dengan Empat Hud dari kuil Naga Emas. Aku juga tentu mendapat bantuan dari orang-orang yang bersatu tujuan."

"Bagus..bagus…."

Jawab Ceng Leng Cinjin seraya tertawa.

"Siang toaci mengetahui kedatangan kalian dan ia sudah menyuruh Kouw Ji-ko untuk 773 memberitahukan supaya lain tahun saja kita bertemu di gunung Tay san. Entah kenapa Kouw jiko marah atau kenapa dia tidak menyampaikan maksud sang toci. Sekarang lebih baik kalian pulang lagi saja. nanti tahun depan kita boleh berhadap-hadapan untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita, bagaimana setuju?"

"Hmm…."

Biauw Hoat Sin ni mengeluarkan suara dari hidung. Nikow dari Lam hay itu rupanya jemu melihat lagaknya Hwe Ciang yang sombong. Hwe Ciang tertawa bergelak-gelak.

"Kalau kalian paksa mau bertempur tidak akan menguntungkan kalian. Ini sudah pasti, sebab letaknya tempat ada asing bagi kalian. Sudah pasti kalian menjadi pecundang. Siang toci tidak mau menggunakan keuntungan ini maka dia sudah menyuruh kalian pulang dulu. Tunggu tahun depan bertemu di gunung Tay san. Entahlah kalau kalian paksa juga mengajak bertempur. Siang toaci pesan sebentar malam pada waktu bulan purnama ada ditengah-tengah kalian boleh berhadapan dengannya. Supaya kalian mengetahui sampai dimana kelihaiannya Siang toaci. Menurut pikiranku, lebih baik kalian pulang dulu menunggu nanti tahun depan bertemu muka."

"Hmm"

Kembali Biauw Hoat Sin ni keluarkan suara di hidung. 774 Ketika nikow dari lamhay itu mau membuka mulut, sudah didahului oleh Ceng Leng Cinjin, berkata.

"Hwe toako, kita sudah berpisah selama tiga puluh tahun lamanya. Tidak nyana Hwe toako masih ingat akan dendaman karena pecundang dalam pertempuran di puncak Tay san. Sebenarnya aku Bu Ju dan Biauw Hoat sudah lama mengasingkan diri, tidak mencampuri lagi hal keduniawian, kita taat menjalankan keibadatan, tapi apa mau belum lama ini kami di Heng San telah mendapat undangan dari Hwe toako. Terang undangan itu akan menerbitkan angin tofan dalam rimba persilatan. Bencana hebat mengancam pada dunia kangouw sebab dengan munculnya dua orang tua dari Thian lam dibantu oleh kawanan penjahat, terang ada berarti bencana untuk rimba persilatan…"

"Totiang buat apa banyak rewel dengan dia?"

Menyela Biauw Hoat Sin ni. Ceng Leng tersenyum dengan sikap tenang seperti tadi, ia melanjutkan bicaranya.

"Apalagi ketika aku mendengar Hwe toako ada mengundang Kiu bin Sin bo untuk membantu perjuangan toako. Ini sudah terang ada merupakan bahaya besar bagi dunia persilatan. Kami yang berpendirian menjalankan hukum Tuhan terhadap mereka yang menjalankan kejahatan, tidak dapat tinggal peluk tangan mengawasinya saja."

"Hmm…!"

Hwe Ciang tertawa nyengir.

"Menurut pendapatku, Hwe toako suka melupakan dendaman toako ini supaya dubia persilatan dapat hidup tenteram. Apalagi dendam toako ini tidak ada artinya sama sekali. Tetapi apabila Hwe toako menarik panjang juga kami bersedia mengiringi kehendakmu, tidak usah kita menunggu sampai lain tahun. Sengaja kami jauh jauh datang kesini, maksudnya untuk mendamaikan atau menghilangkan dendaman atau kalau perlu menggunakan kekerasan untuk dapat keputusan dari hal urusan kita ini."

Mendengar bicaranya Ceng Leng Cinjin yang panjang lebar, bukannya jago tua dari Thian lam itu insyaf akan kekeliruannya bertindak, akan tetapi tertawa bergelak-gelak seperti yang mengejek dan menganggap sepi kepada Ceng Leng Cinjin dan kawan-kawannya.

"Totiang,"

Ia akhirnya berkata.

"Bicaramu sungguh manis sekali. Yang terang bukannya urusan tak dapat ditunda sampai lain tahun adalah kau tidak mau kalau Siang toaci nanti masuk ke Tionggoan dan mengaduk dalam rimba persilatan disana. Hmm… bagus.. bagus, enak betul kau bicara. Terus terang aku katakan siapa yang kuat dia akan manjadi kepala, yang kalah harus takluk kepada yang menang. Yang kuat harus terus hidup, yang lemah harus lekas musnah…" 776 Hwe Ciang tidak terpengaruh oleh omongannya Ceng Leng Cinjin maka ia meneruskan.

"Totiang, apa yang dikatakan hukum Tuhan dan Kebenaran itu hanya perkataan penipuan belaka. Aku bukannya tidak mau mengakhiri dendaman sebab kejadian diantara kita pada tiga puluh tahun yang lampau itu ada disaksikan oleh banyak pendekar maka untuk memcuci itu, kali ini pertemuan kita di gunung Tay san harus disaksikan oleh kawanan pendekar lagi. Tapi terus terang aku peringatkan sekali lagi, jikalau kau tidak mau menurut kata-katanya Siang toaci, jangan menyesal jika ia akan turun tangan ganas dan itulah karena kau sendiri mencari kematian."

Setelah berkata ia berpaling kepada Kin Ci memberi isyarat. Mereka lalu angkat kaki hendak meninggalkan tempat itu. Tapi Pek Hun telah berkata.

"Tadi siapa yang menjatuhkan batu yang beratnya ribuan kati?"

Kin Ci yang ditegur telah tertawa nyengir.

"Aku bukannya sengaja hendak membinasakan kalian batu berat itu, hanya aku meluncurkan dari atas semata-mata hanya sebagai peringatan baik untuk kalian supaya tahu diri, lekas-lekas meninggalkan tempat ini yang berbahaya bagi kalian yang mungkin bisa datang tapi tak bisa pulang. Ha ha ha.."

"Kau sangat sombong Jari Sembilan!"

Menjengek Pek Hun.

Kiu Ci marah dipanggil jari sembilan.

Seketika itu juga ia menyerang dengan ilmunya Thian cing ci.

Pek Hun juga tidak mau unjuk kelemahan.

Ia telah keluarkan ilmunya Kim kong ciang hingga keduanya menjadi bertarung dengan seru sekali.

Tengah ramainya mereka bertempur, tiba-tiba terdengar suara yang menusuk telinga.

Semakin nyata itulah ada ilmunya Kiu bin Sin bo Siang Su Su yang sangat hebat.

Orang yang berkepandaian rendah begitu mendengar suaranya akan jatuh meloso pingsan.

"Hei kalian, cepat-cepat pulang aku masih banyak uurusan. Biarlah mereka nanti malam menemui aku akan menerima kematiannya."

Demikian suaranya Kiu bin Sin bo.

Hwe Ciang dan Kun Ci tidak berani ayal ayalan menerima panggilan, maka ketika itu juga, keduanya lantas angkat kaki dari situ.

Sebelumnya ia memberi ingat kepada Ceng Leng Cinjin.

"Totiang, kau harus hati-hati dengan suara melengking menusuk kuping dari Siang toaci, kalau dia sudah mengeluarkan suaranya yang ketiga kali, niscaya tubuh kalian akan menggigil dan pingsan dibuatnya kemudian bisa binasa tanpa dapat bicara lagi."

Ceng Leng Cinjin hanya tersenyum mendengar peringatan lawannya. 778

Jilid 21 Tapi Biauw Hoat Sin ni lalu dengan mendongkol ia berkata.

"Apa memang nenek jahat itu sampai demikian tinggi kepandaiannya? Aku si nikow tua dari Lam hay ingin menjajalnya sampai dimana ia punya kelihaian!"

"Hmm…!"

Hwe Ciang hanya mengeluarkan suara di hidung ia tidak meladeni pada Biauw Hoat Sin ni.

Ia menarik tangannya Kiu Ci lantas berlalu meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka berlalu Ceng Leng Cinjin berpikir.

Adanya Kiu Ci dipihaknya Kiu bin Sin bo sesungguhnya ada diluar perhitungannya.

Dengan bertambahnya lawan berat itu maka dipihaknya harus distur sebaik-baiknya untuk menandingi musuh yang kuat.

Mereka lalu berunding bagaimana baiknya.

Akhirnya telah diambil satu keputusan ialah Kun Hun menandingi Kiu Ci, Buju Toato melawan Hwe Ciang sementara Ceng Leng Cinjin, Biauw Hoat Sin ni dn Pek Hun mengeroyok Kiu bin Sin bo yang sangat lihai.

Kemudian mereka lalu beristirahat mengumpulkan tenaganya untuk digunakan 779 sebentar malam melayani musuh-musuhnya yang kuat.

Pada waktu tengah malam, tiba-tiba mereka lihat ada seekor kera besar datang mendekati, setelah celingukan kera itu telah melemparkan suatu benda kearah mereka.

Lemparan itu tentu saja mengagetkan lima orang itu.

Sebab dikuatirkan itu adalah suatu benda racun bikinannya Kiu bin Sin Bo Siang Su Su.

Tapi ketika diteliti, ternyata itu hanya satu gulungan kertas kecil, bertuliskan.

"GIAM LO ONG SUDAH MENENTUKAN JIWA KALIAN, SEBENRAT JAM TIGA AKAN DICABUT, TIDAK SAMPAI MENEMUI JAM LIMA"

"Hmm,"

Biauw Hoat Sin ni menggeram.

"Kawanan iblis itu terlalu memandang enteng kepada kita orang. Aku sebal dengan segala sepak terjangnya."

"Ha ha ha..Lam hay Lo ni marah-marah."

Bu Ju Toato bergurau.

"Biarkan mereka memandang enteng kepada kita orang, sebab itu satu kerugian bagi mereka dan merupakan keuntungan bagi kita orang."

"Hei, kenapa kau bilang demikian?"

Tanya Biauw Hoat Sin ni.

"Oh itu gampang saja dimengerti."

"Gampangnya bagaimana?" 780

"Mereka memandang enteng pada kita orang berarti kelengahan dari mereka, bukankah ini satu keuntungan bagi kita orang?"

Biauw Hoat Sin ni tersenyum sambil anggung-anggukkan kepala.

"Biarpun demikian, kita tidak boleh merasa girang dahulu,"

Menyela Ceng Leng Cinjin.

"Itu Kiu Ci tentu tidak dapat menangingi kepandaiannya Kun Hun Taysu, sedang Hwe Ciang juga sudah dapat dibendung oleh Bu Ju Taysu, hanya si nenek iblis itu masih tanda tanya apakah aku dengan Biauw Hoat dibantu oleh Pek Hun Taysu dapat menandingi kelihaiannya?"

"Bagaimanapun juga kita sudah sampai di sini. Kita toh tidak bisa pulang dengan begitu saja yang berarti runtuhnya nama Tri Tunggal dan Empat Hud yang sudah terkenal di kalangan kangouw."

Bu Ju menyatakan pikirannya.

Kun Hun mendengarkan suara setuju dengan pendapatnya Bu Ju Toato.

Ceng Leng Cinjin hanya tersenyum tapi senyuman yang mengandung tanda tanya apakah ia sudah percaya dengan kemampuannya atau hanya menghibur kepada kawan-kawannya yang sudah mengambil keputusan nekat.

Tiba-tiba suara Siang Su Su yang nyaring melengking menusuk kuping kembali terdengar.

Biauw Hoat Sin ni merasa mendongkol sekali.

781 Maka ia usulkan kepada kawan-kawannya dengan berempat (karena Pek Hun belum pulih benar tenaganya) melawan suara yang menggemparkan sanubari itu.

Kawan-kawannya sepakat maka mereka berempat telah kerahkan tenaga dalamnya dalam suara memuji-muji Sang Buddha.

"O mi to hud"

Berulang kali.

Tenaga yang tergabung itu dapat mematahkan suara melengking Siang Su Su, karena tidak lama kemudian suara itu perlahan-lahan telah menghilang.

Udara tampak menjadi trang dibawah sinar sang rembulan.

Baru saja mereka lega hatinya, tiba-tiba kelihatan dari puncak Kui ciu bong muncul delapan buah api obor meluncur turun menghampiri mereka.

Ketika sampai ditempat tidak jauh dari batu besar tampak seorang bertubuh tinggi besar dan berbulu panjang ditangannya ada membawa semacam pembaringan dari kulit harimau.

Diatasnya ada duduk seorang nenek berbaju merah, rambutnya sudah putih semua mukanya lancip dan hidungnya seperti burung ekek, matanya mlesak kedalam.

Wajahnya cukup menakutkan.

Ia embawa sebuah kebutan.

Rupanya ini adalah senjata ampuhnya untuk menghadapi lawan.

Desampingnya ada berdiri Kiu Ci dan Hwe Cian.

782 Kiu Ci ditangan kanannya memegang pedang panjang ujungnya melingkar bentuknya seperti sepasang gaetan.

Tangan kirinya membawa seporong bambu yang pada bagian-bagiannya ada disangkutkan obat-obatan dan senjata rahasianya yang berbentuk golok bukan dan pedang juga bukan.

Thian lam Siang koay Hwe Ciang di lehernya ada tergantung tiga tengkorak dengan rantai emas.

Di pinggangnya ada senjata berbentuk mertil yang dibikin dari bahan tengkorak, suatu denjata aneh yang sangat diagolkan oleh iblis dari Thian lam itu.

Kedua pihak setelah berhadap-hadapan, Bu Ju Toato hendak membuka mulutnya sudah didahului oleh Hwe Ciang.

"Hai kalian ketahuilah bahwa Siang Toaci sudah enam puluh tahun lebih pantang membunuh. Malam ini adalah malam istimewa ia membuka pantangannya. Kalau kalian berlima tahu gelagat dan tahu diri bahwa kau orang tak akan menang melawan kami orang, dengan baik-baik meninggalkan tempat ini, jiwa kalian akan selamat. Boleh kalian menanti tahun depan untuk kita bertemu lagi dipuncak gunung Tay san. Kalau kalian masih membandel, kukuh mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa untuk melawan kami orang, jangan sesalkan perbuatan kami nanti yang akan menyingkirkan jiwa kalian satu persatu untuk beristirahat di neraka!" 783 Omongan Hwe Ciang itu memang sombong sekali, akan tetapi memang bukan mustahil akan menjadi kenyataan. Maka berlima ketika mandengarnya tinggal membisu untuk sekian lamanya sampai kemudian Hwe Ciang melanjutkan kata-katanya. Kalian berlima dan kami disini bertiga. Orang sedikit akan manindih orang yang banyak. Nah kalau kalian hendak bertempur, adalah aku yang maju terlebih dahulu. Siapa yang ada minat, boleh maju kedepan untuk coba-coba aku Hwe Ciang dari Thian lam."

Tantangan ini beluh ada suara yang menyambuti.

Tampak Pek Hun yang sangat mendongkol terhadap Kiu Ci sudah lantas menantang untuk bertanding dengan si Jari Sembilan.

Dengan hati panas ia berkata pada Kiu Ci.

"Hmm, Jari Sembilan, biarpun kau tidak mau bertanding, aku juga akan mencarimu untuk mencoba kepandaianmu, seorang kejam tidak tahu malu tukang membokong menggunakan batu besar. Kalau saja kami orang tidak waspada tentu jadi korbanmu. Mari kau boleh pilih kita bertanding dengan tangan kosong atau menggunakan senjata. Hayo sebutkan!"

Kiu Ci mendengar perkataan yang menghina itu, ia tidak marah malah tertawa lebar dan berkata.

"Semalam ilmumu Kim kong ciang masih belum dikeluarkan betul-betul. Nah sekarang 784 kita baik bertanding mengadu Iweekang tenaga dalam yaitu masing-masing duduk di atas batu dengan pakai garis sebagai batasnya. Siapa yang duduknya menggeser, dialah yang dianggap kalah. Bagaimana, setuju?"

Tanpa menanti jawaban lagi Kiu Ci sudah menghampiri sebuah batu besar.

Dengan jari tangan kanannya ia menggaret pad batu itu sehingga lelatu api.

Kemudian diatasnya batu tadi ia duduk menantikan musuhnya mengambil sikap yang bersamaan dengannya untuk memulai pertandingan.

Pek Hun pikir, pertandingan macam itu ada pertandingan Iweekang kekuatan tenaga dalam.

Tidak dapat dibandingkan dengan Gwa-kang (tenaga luar).

Lebih sulit daripada bertanding menggunakan tangan atau senjata.

Tapi ia sudah terlanjur majukan tantangan maka ia juga telah membuat garis diatas vatu yang tidak berjauhan dari Kiu Ci dan duduk diatasnya.

Sebentar kemudian pertandingan adu Iweekang sudah mulai.

Kedua pihak nampak bersemangat, masing-masing telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk menjatuhkan musuhnya.

Bagaimana hebat adu kepandaian cara begini.

Itulah dapat dibuktikan dengan hancur leburnya batu yang ada ditengah-tengah mereka.

Tidak lama kemudian batu yang mereka duduki juga telah menjadi berantakan.

785 Tapi mereka berdua belum ada yang mau mengalah.

Nafasnya masing-masing terdengar memburu-buru dengan hebat Pek Hian telah mengucurkan keringat sebesar kacang kedele.

Keadaannya mengenaskan dan diduga ia bakalan kalah dalam pertandingan itu.

siapa kalah dalam adu Iweekang itu, kalau tidak terus mati seketika itu tentu akan mendapat luka parah didalam.

Mereka kawannya sudah tertindih dan menghadapi bahaya, Ceng Leng Cinjin tidak tega, maka ia lalu berkata pada Hwe Ciang.

"Hwe toako, biarlah aku mewakili Pek Hun taysu untuk mengaku kalah dalam pertandingan ini. terlebih dahulu dua orang ini…"

Belum habis bicaranya, Siang Su Su telah memotong.

"Hmm, gampang saja mengaku kalah untuk memisahkan mereka berdua tidak begitu mudah!"

Seiring dengan kata-katanya ia lantas mengeluarkan tangannya yang kurus.

Dua jari tangan kanannya disiapkan.

Begitu ia ulur jari-jarinya ini seakan yang menotok kekuatan yang tidak kelihatan telah meluncur keluar dari situ.

Sungguh mengherankan sebab dua telapak tangan Kiu Cin dan Pek Hun yang menempel satu dengan lainnya seketika itu telah 786 terlepas.

Keduanya telah rebah terlentang dengan mendapat luka-luka parah didalam akibat pertandingan adu Iweekang tadi.

Siang Su Su sembari memisah ada mengirim totokan pada Pek Hun hingga keadaannya ada lebih payan dari Kiu Ci.

Cepat Kun Hun membantu pada saudaranya.

Ia memberikan pilnya yang mujarab untuk mencegah lukanya menjadi lebih parah.

Sebentar kemudian Pek Hun telah memuntahkan darah segar untuk berhentinya.

Ceng Leng Cinjin datang mendekati untuk menghibur hatinya sang kawan.

Kemudian dengan perlahan-lahan ia telah menghampiri Hwe Ciang yang sementara itu telah repot memberi pertolongan kepada Kiu Ci yang juga lukanya tidak ringan.

Hwe Ciang menyambut Ceng Leng Cinjin dengan tertawa mengejek.

"Kita adalah kenalan lama, sebaiknya juga membuat garis untuk bertempur. Nah sesuka kau boleh bikin bagaimana saja. Ceng Leng Cinjin tersenyum.

"Kami adalah tetamu, tidak pantas berlaku lancang demikian. Maka haraplah Hwe toako jangan terlalu sungkan. Kau boleh sebut dan tetapkan ingin bertanding dengan cara yang bagaimana supaya aku dapat mengiringi untuk memuaskan hatimu!"

"Ya, barusan mereka berdua bertanding dengan menggunakan tolongan kepada Kiu Ci yang lukanya juga enteng tidak enteng. Boleh bertanding melebur besi, bagaimana?"

"Oa,itulah aku sebagai tetamu akan mengiringi kemauannya tuan rumah saja."

"Hmm!"

Hwe Ciang menggeram.

Ia kemudian ambil sebuah bola besi dari orangnya.

Sambil memejamkan matanya.

Ia menekan dan memale bola besi itu ditelapakan tangannya.

Tenaga dalamnya yang hebat, telah membuat bola besi itu menjadi gepeng kemudian lonjong dan merupakan potongan besi sepanjang tiga kaki, ketika ia membuka pula telapakan tangannya.

Selanjutnya ia menggunakan jari tengah dan telunjuknya menjepit potongan besi tadi.

Jari-jarinya itu benar-benar seperti gunting saja tajamnya sebab lantas porongan besi tadi telah menjadi kutungan.

Seterusnya ia menjepit berkali-kali potongan besi itu persis seperti yang mengunting benang saja.

Potongan besi itu saban kali dijepit telah menjadi kutung sehingga akhirnya menjadi sepuluh potong.

Sambil mengawasi potongan-potongan besi yang dipungguti orang-orangnya ia berkata pada Ceng Leng Cinjin.

"Hei Tosu tua, barusan aku sudah unjukkan kejelekan, sekarang adalah giliranmu untuk unjukkan kemahiranmu!"

Ceng Leng Cinjin hanya tersenyum.

788 Ia sebenarnya ingin menyaksikan kepandaiannya Siang Su Su, untuk nanti tahun depan bertemu di puncak Tay san, dipakai sebagai pegangan maka ia tidak mau unjukkan kebisaannya.

Ia terus mengambil sepuluh potongan besi tadi dikepal dalam tangannya.

Tenaganya Cian goan Sin kang dikerahkan, ketika dalam sekejapan saja kesepuluh potongan besi tadi telah kembali bundar seperti semula bentuknya.

Smbil menyerahkan ini kepada Hwe Ciang ia berkata.

"Nah menurut Hwe toako urusan kita akan diselesaikan tahun depan di Tay san maka kita bertanding sampai disini saja sudah cukup. Tapi dari jauh-jauh kami sudah datang. Kurang puas kalau pulang dengan tidak melihat apa-apa yang istimewa dari kepandaiannya Siang Toaci, apakah sekiranya aku…"

"Ya, aku si nenek selalu berlaku adil,"

Memotong Siang Su Su.

"Tadi kepandaian mengadu Iweekang dimenangkan oleh pihak kami sedangkan yang barusan kami mengaku kalah.

Benar Hwe Ciang tadi dapat mengacip besi hingga kutung tapi terlalu banyak aksinya dan lama baru berhasil dengan pertunjukannya.

Sebaliknya dengan Ceng Leng yang memulihkan besi seperti bentuk semula ada semikian cepatnya.

Dalam hal ini Hwe Ciang harus dihitung kalah."

Ceng Leng Cinjin tersenyum, ia tidak menjadi bangga oleh karenanya. Sebaliknya Hwe Ciang diam-diam merasa mendongkol dengan putusan itu. mukanya menjadi merah karena jengah.

"Aku si nenek akan memperlihatkan tiga kepandaian sekaligus,"

Kata pula Siang Su Su dengan sungguh-sungguh.

"Kalian diantara kau orang berlima ada satu yang dapat menandingi delapan bagian saja aku si nenek cacat akan membuang diri ke jurang di tempat ini.

Ia tertawa dingin.

Lalu mengulurkan tangannya yang kurus, jari-jarinya yang seperti cakar burung rajawali dibuka seperti sikap yang mencengkram, entah bagaimana seperti juga tangannya ada besi berani bola besi tadi tersedot dan sebentar saja sudah ada ditangannya.

Ia bikin benda itu menjadi dua bola kemudian ia lemparkan ke udara setinggi empat tombak.

Ketika bola itu meluncur turun lagi, satu diantaranya dengan menakjubkan sekali telah menimpa cabang pohon Siong dan tergantung disitu seperti juga buah jeruk.

Sedang bola yang satunya menerobos diantara cabang-cabang itu langsung jatuh ketanah dan meledak.

Kepandaian itu memang amat lihay.

Ceng Leng Cin Jin dan kawan-kawannya memujinya.

Bola besi yang menyangkut dicabang pohon siong persis diatasnya mereka, sehingga Bu 790 Ju Toato yang melihat benda itu bergelantungan tak sabatan.

Sambil tertawa bergelak, jarinya ditekuk dan menyentilkan angin dahsyat kearah bola besi yang bergelantungan tadi.

Cabang pohon putus dan bolanya jatuh ditangannya.

Siang Su Su melihat itu lalu berteriak dan mau mengeluarkan ilmunya lagi.

Tapi Bu Ju Toato dengan tertawa berkata.

"Siang toaci, ilmumu memang amat mahir dan tinggi sekali. Malam ini aku mengaku kalah. Biarlah kita menurut janji saja, ialah tahun depan tanggal satu bulan satu kita bertemu lagi. Bola besi ini biar aku bawa sebagai kenang-kenangan untuk pertemuan kita di tempat ini."

Setelah berkata lalu ia ajak kawan-kawannya berlalu meninggalkan tempat itu.

**GS** Pembaca yang budiman, marilah kita melihat bagaimana kisah Se bun Pa dan Li Cong Bun lagi.

Untuk menghindarkan diri dari ambruknya batu-batu goa, keduanya telah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya melesat keluar ke arah tempat yang ada menyorot terang.

791 Ketika mereka turub kebawah, ternyata bukannya menginjak tanah biasa, tapi masuk ke dalam rawa lumpur.

Kiranya rawa itu adanya didalam lembah dimana juga ada terdapat banyak lumpur.

Keduanya lalu erayap naik keluar dari rawa.

Tiba-tiba setelah mereka berada diatas, Se bun Pa ada melihat burung besar terbang lewat.

Berdua ingatan hendak mencari kitab disekitar situ malahan Li Cong Bun sambil gunakan pedangnya untuk menahan dirinya merosot kebawah ia telah pelahan-lahan turun mencari goa.

Se bun Pa sebaliknya, telah enjot tubuhnya menguber burung tadi dan dipeluknya erat-erat.

Sedang enaknya ia dibawa terbang ke awan oleh sang burung yang ia tidak tahu namanya apa, mendadak burung itu seperti melihat apa-apa dan ia terkaget.

Ketika diselidik ternyata pada suatu tebing didekatnya ada seekor ular raksasa dengan mata beringas hendak menyerang pada sang burung.

Burung itu ketakutan dan membawa Se bun Pa terbang ke bawah dimana Se Bun Pa yang takut burung itu menjadi korbannya sang ular raksasa.

Akan tetapi sang burung tidak bisa meloloskan diri.

Rupanya ia sudah terkesima melihat ular tadi.

Ia tidak bisa terbang sehingga ketika sang ular datang ia telah menjadi mangsanya.

Kasihan.

792 Se bun Pa yang menyaksikan menjadi sangat ngeri.

Ia sendiri telah menjadi pingsan oleh bau amis sang ular.

Kelihatan ular raksasa itu akan memangsa Se bun Pa setelah menyikat habis burung besar tadi.

Dengan perlahan-lahan sang ulat raksasa menghampiri Se bun Pa.

mulutnya sudah dibuka lebar-lebar.

Rupanya ia masih lapar kendati baru saja ia habis makan mangsanya yang tidak kecil.

Li Cong Bun melihat Se bun Pa dalam bahaya bukan main kagetnya.

Tanpa menghiraukan dirinya dapat menemui bahaya meluncur ke bawah, ia sudah enjot tubuhnya melayang jatuh.

Untung ia telah disambar oleh benda empuk bukannya batu keras sehingga ia dapat menancapkan kakinya dengan selamat.

Ia tak mengira kalau benda empuk yang menahan jatuh tubuhnya itu adalah badan sang ular raksasa.

Li Cong Bun kaget juga, cepat ia melompat dan dengan pedangnya ia memapaki sang ular yang hendak menyerang padanya.

Ular raksasa itu tidak menyerah mentah-mentah, sebab ketika Li Cong Bun melancarkan serangan pedangnya ia masih bisa berkelit, kemudian membuka mulutnya dan hendak menyaplok anak muda itu.

pertarungan antara manusia melawan ular raksasa sekalipun pertarungan itu tidak berjalan lama karena 793 Li Cong Bun cepat sudah memenggal kepalanya sang ular raksasa.

Li Cong Bun setelah membinasakan ular tadi, bajunya belepotan dengan darah sang korban.

Cepat-cepat ia memburu pada Se bun Pa yang dalam keadaan pingsan.

Ia memberikan pertolongan dengan memasukkan pil mujarabnya kedalam mulutnya Se bun Pa.

sebentar kemudian orang itu sudah mendusin dari pingsannya.

Sambil matanya mengawasi bangkai ular raksasa tadi yang panjangnya ada lima tombak, Li Cong Bun berkata pada Se bun Pa.

"Se bun Pepe, barusan kau pingsan karena ular raksasa itu, sambil menunjuk pada sang ular yang sudah terkutung kepalanya.

Kalau aku tidak memberikan pil, kau tentu masih pingsan sampai sekarang.

Ya, semua orang hidup sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa, barusan aku meluncur menjatuhkan diri.

Kalau tidak disambut oleh badannya ular raksasa itu, aku mungkin tidak bertemu lagi dengan pepe.

Kau lihat, bagaimana hebat tenaga ular raksasa itu, batu besar yang kena dibabat oleh buntutnya telah hancur berantakan.

Sungguh mengerikan.

Se bun Pa leletkan lidahnya dan bengong mengawasi pada batu besar yang hancur lebur kena dihajar oleh buntutnya sang ular raksasa ketika ketika ia ini bertempur dengan Li Cong Bun.

794 Mereka lalu berunding untuk meneruskan niatnya.

Sambil bercakap-cakap Li Cong Bun mengawasi sekitar tempat itu.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, ia melihat air terjun dimana batu-batu disekitarnya sudah pada lumutan.

Setelah berada dalam lembah itu, untuk bisa naik pula keatas, orang akan menghadapi kesukaran karena jalanan ada sangat licin.

Biarpun orang pandai rasanya tidak gampang-gampang untuk bisa keluar dari lembah yang aneh itu.

Li Cong Bun tampak kerutkan alisnya.

Setelah menghela nafas ia berkata.

Se bun Pepe, melihat keadaan ditempat ini, benar-benar dua Locianpwe Thian Yu Cuncia dan Thian Ciok Cinjin ada sangat mahir ilmu meringankan tubuhnya.

Kalau lihat betul-betul pada tebing itu sudah pada lumutan.

Rasanya kita berdua tidak ungkulan untuk naik keatas dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh kita berdua.

Kalau seandainya kita tidak dapat menemukan Pek hap Cin keng, aku sendiri tidak akan meninggalkan tempat ini.

tidak bernafsu untuk keluar lagi dalam dunia kangouw.

"Li hiantit,"

Menghibur Se bun Pa, kau jangan lekas putus harapan. Aku percaya penuh bahwa kitab itu ada berjodoh dengan kau. Mari kita meneliti lagi. Siapa tahu di tempat ini kita berhasil.

" 795 Li Cong Bun tidak berkata apa-apa, ia mengikuti Se bun Pa berjalan. Tempat itu banyak jalannya bergelol-belok dan berlumut tapi akhirnya buntu. Mereka menemui sumber air yang mengalir ke suatu pusat ialah yang merupakan air terjun. Ditempat itu mereka hanya menemui air untuk menghilangkan rasa haus, akan tetapi tidak menemui barang makanan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Tangsum kering yang dibekalnya mereka ingin iritkan sebisanya supaya dapat menahan beberapa waktu lagi. Sebagai selingan untuk ini, mereka telah mengambil keputusan untuk memakan ular raksasa yang dibunuhnya itu. Sepuluh hari sudah lewat sejak kejadian dimana merekamasih tetap belum dapat menemukan kitab yang dicarinya. Pada suatu malam ketika mereka duduk bersemedhi, didekatnya air terjun, tiba-tiba Se bun Pa merasakan ada butiran air yang jatuh. Ia mendongakkan kepalanya dan dapat melihat ada binatang kelelawar yang sedang terbang. Segera pikirannya bekerja. Ia menduga di balik air terjun itu tentu ada sebuah goa. Disana kelelawar bersarang. Ia lalu berunding dengan Li Cong Bun. Berdua lalu pergi ke dekatnya air terjun. Mereka meneliti dengan meminjam penerangan sang rembulan. Lapat-lapat mereka seperti 796 melihat lubang dibaliknya air terjun itu. lalu dicobanya dengan melemparkan batu pada air terjun. Mereka pikir, kalau memang didalamnya ada goa, batu yang dilemparkan itu tidak akan membalik oleh karena tidak membentur dinding tebing. Hasilnya ternyata menggirangkan, batu-batu yang ditimpukkan amblas terus. Mereka jadi kegirangan. Se bun Pa sampai menari-nari bahna girangnya.

"Li hiantit, mari aku pinjam pedangmu.

Aku akan menerjang air terjun itu untuk mencari tahu.

Sebentar kalau aku sudah mendapat kepastian bahwa dibalik air terjun itu ada goanya aku akan memberitahukan supaya kau juga menerjang masuk.

Ia berkata sambil bersiap-siap untuk melakukan apa yang dikatakannya.

Li Cong Bun menyerahkan pedangnya.

Ia sendiri bersiap-siap memberi pertolongan kepada Se bun Pa kalau ternyata orang tua itu gagal menerjang masuk dan terbawa oleh air terjun.

Se bun Pa dengan pedang penakluk iblis telah menerjang air terjun tadi.

Benar saja ia telah menemui sebuah goa disitu.

Ia cepat hendak memberitahukan kepada Li Cong Bun tapi anak muda itu juga sudah menerjang masuk dan mereka sekarang sudah berada dalam goa yang baru ditemukannya.

797 Keadaan dalam goa itu gelap sekali.

Pelahan-lahan mereka telah memasuki.

Setelah berjalan bolak-balik mereka telah menemukan sebuat kamar batu besar.

Untuk memeriksa keadaan dalam kamar itu ada diperlukan penerangan, maka Li Cong Bun lantas membuat api obor.

Kiranya dalam kamar itu ada terdapat tempat tidur dan dapur tempat memasak obat.

Di atas tempat tidur ada dua kerangka manusia.

Mereka menduga dua kerangka itu tentu adalah kerangkanya Thian Yu Cuncia dan Thian Ciok Cinjin.

Maka tanpa ragu-ragu telah jatuhkan diri berlutut memohon kerelaan rohnya almarhum supaya maksud mereka mencari kitab Pek hap Cin keng terkabul.

Thian Yu Cuncia dan Thian Ciok Cinjin karena ilmunya sangat tinggi membikin tulang belulangnya meskipun sudah tiga abad lamanya masih dalam keadaan utuh malah tampaknya seperti berubah menjadi logam.

Setelah berlutut mereka berdiri lagi dan memperhatikan kesekitarnya.

Matanya Li Cong Bun segera tertarik oleh sebuah kotak yang bersinar tidak jauh dari pembaringan.

Cepat ia menghampiri dan dilihatnya.

Ternyata kotak itu panjangnya ada tujuh dim dan lebarnya empat dim.

Didalamnya pasti ada kitab yang dicari oleh mereka sebab diatasnya kotak ada bertuliskan Pek hap Cin keng.

Lebih jauh diberitahukan 798 untuk membuka kotak itu, orangnya harus yang sudah mencapai ilmu sejati dari ilmu memusatkan pikiran.

Oleh orang ini benda itu hanya ditaruh di dadanya pantas bisa lumer kemudian dengan golok atau pedang digores dan kotak itu segera dapat terbuka dan mendapatkan kitab Pek hap Cin keng didalamnya.

Li Cong Bun membaca itu tidak percaya maka ia coba dengan pedangnya membacok kotak tersebut.

Betul saja tutup kotak itu tidak bergeming sama sekali.

Ia penasaran, ia lalu taruh kotak tersebut diatas batu dan dibacoknya pula dengan sekuat tenaga.

Betul batunya hancur berantakan tetapi kotaknya tinggal utuh saja.

Koni baru Li Cong Bun percaya akan tulisan tadi.

"Li hiantit, lebih baik kau turuti apa yang dikatakan dalam tulisan itu, sebab sudah ternyata kotak itu tidak dapat dibuka sembarangan."

Kata Se bun Pa. Li Cong Bun anggukkan kepalanya.

"Aku minta supaya Se bun pepe saja yang melakukannya."

"Li hiantit, kau ini mimpi? Aku si orang tua mana ada kemampuan untuk menjalankan ilmu demikian. Kau sebagai orang muda, apalagi kalau kau sudah menelan pil Hoan kut Leng tan, tenagamu akan berubah amat lihai." 799 Li Cong Bun menurut. Ia telah menelan pil itu, kemudian bersemedhi menjalankan ilmu "

Memusatkan Pikiran‟, tapi dalam tempo tiga hari belum juga dapat membuka kotak aneh itu karena Li Cong Bun belum sempurna betul memusatkan pikirannya lantaran hatinya masih tertarik oleh kotak itu.

Se bun Pa melihat itu amat kasihan kepada Li Cong Bun maka ia lalu mengeluarkan pilnya It gi Leng tan, diberikan untuk ditelan oleh Li Cong Bun.

Ia menyuruh Li Cong Bun untuk beristirahat sebab bekerjanya pil ini tidak kontan.

Orang harus bersabar menanti reaksinya dengan beristirahat.

Setelah lewat beberapa lama, tiba-tiba Li Ceng Bun merasakan perutnya panas, tulang-tulangnya seperti bengkak dan linu rasanya dan mengeluarkan suara berkeretekan.

Li Cong Bun sangat kageet mengalami itu tapi Se bun Pa tersenyum saja menyaksikannya.

Kemudian ia memberi totokan kepada jalan darah Oh-ti sui biat.

Lantas Li Cong Bun merasakan badannya menjadi segar.

Tapi kemudian ia jatuh pingsan.

Ia pingsan sampai satu hari satu malam baru mendusin.

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 5

Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert