Eps 6 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung
Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung
Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.
"Aku dimasa lampau dengan mengandalkan pedang yang kau bawa-bawa, entah sudah berapa banyak membikin tewas jiwanya kawanan penjahat. sekarang dengan sengaja kita keluar dari Lam hay. kau mau masuk kedalamnya juga tidak ada halangan. itu Tigabelas hweshio kosen rasanya tidak gampang-gampang memberi jalan secara mudah kepada kita, tentu kita akan menghadapi pertempuran. Nah kau coba ketuk pintunya dan masuk ke dalamnya. Apakah yang mereka bisa bikin terhadap kita?"
Mereka lalu berjalan melalui undak-undakan batu menghampiri pintu.
Gan Su Nio segera mengetuknya, akan tetapi lama tidak kedengaran ada orang yang akan membuka pintu hingga nona Gan tidak sabaran.
Ia memanjat tembok, ternyata pintu kuil itu diselarak dari sebelah dalam.
Melihat hal yang mencurigakan itu, Gan Su Nio berkata pada gurunya.
"Suhu, kuil yang begitu besarnya kenapa bisa diselarak dari sebelah dalam? Aku tidak percaya didalamnya tidak ada orangnnya. Apakah tidak lebih baik aku dan suhu sama-sama memasuki kuil ini." 573 Biauw Hoat Sin ni tidak menjawab. Badannya melesat menghampiri GanSu Nio. Kemudian mereka dengan melewati tembok, sudah bisa masuk ke dalam kuil besar itu. Menyaksikan keadan yang serba rapi dalam kuil itu. Biauw Hoat Sin ni merasa kagum. Patung-patungnya juga kelihatan hidup. Pada saat mereka hendak berlutut di depannya sebuah patung yang dipuja dalam kuil itu, tiba-tiba mendengar seperti orang berkata dan tertawa.
"Ha ha ha ha… betul mengherankan. Patung-patung yang berdarah daging tidak dihormati, malah menghormati patung yang dibikin dari tanah lempung. Punya mata tapi buta, punya teling seperti tuli, maka apa kepandaian kalian jauh-jauh datang dai Lam hay? dimana kemahiran kalian?"
Biauw Hoat Sin ni terkejut mendengar orang mencemooh dirinya.
"Hei, siapa yang berani mengeluarkan perkataan tidak sopan dihadapan Biauw Hoat Sin ni?
Katanya nyaring.
Tak kedengaran ada yang menjawab.
Gan Su Nio sementara itu sudah meneliti darimana keluarnya suara tadi.
Disitu ada belasan patung berbaris rapi.
Memang patung-patung sukar membedakan yang mana patung manusia yang mana patung bikinan dari tanah lempung.
574 Si nona curiga pada patung yang ke sembilan dihitung dari kiri.
Ia tak berani turun tangan karena masih menyangsikan pendapatnya sendiri.
Matanya Biauq Hoat sin ni yang tajam mengawasi patung itu.
Tiba-tiba tertawa dingin dan berkata pada muridnya.
"Su Nio, coba kau serang matanya patung yang ke tiga dihitung dari kiri!"
Gan Su Nio baru mau bergerak, tiba-tiba patung yang dimaksud telah tertawa gelak-gelak dan turun menghampiri pada mereka.
Ternyata hweshio yang menyamar menggunakan jubah merah perawakannya gemuk pendek.
Sambil merangkap kedua tangannya dan menundukkan kepala tanda hormat.
Perkataan "O mi to hud‟ telah meluncur dari mulutnya.
(G S) "
HEY, kau ini sebagai hweshio seharusnya membaca kitab suci di dalam kuil,£ kata Gan Su Nio yang tidak sabaran.
"Bukannya disini main dandiwara menyaru jadi patung. Apakah maksudmu? Bukankah kau adalah hweshio kiriman dari Naga Emas?"
Setelah tertawa gelak-gelak hweshio jubah merah itu menjawab. 575
"Hmm, rimba persilatan di Tionggoan juga ad sama aturannya. Di sini kalau tanpa ijinnya Empat Hud dari Kuil Si Hek . kalau kalian mau memaksa juga, jangan menyesal kalau sang maut akan merenggut jiwa kalian. Nah sekarang sudah diberitahukan, maka masih belum kemalaman di jalan kalau kalian sekarang pergi dari sini!"
Gan Su Nio tersenyum manis.
"Kau aneh,"
Katanya.
"Manusia bebas untuk menjunjung tempat dimana juga untuk menikmati pemandangan yang indah. Bukan saja di perbatasan sini saja kami datangi tapi kami juga akan mengunjungi kuil "
Naga Emas‟ yang katanya sangat indah bangunannya dan pemandangan di sekitarnya amat permai.
Jadi kami bebas untuk kemana saja.
Tapi kau ini hweshio dari mana lantas mengadakan larangn, apa sih kepandaianmu untuk mencegah perjalanan kami?"
"Perantara Hud couw yang mulia tak dapat ditentang,"
Jawab si hweshio jubah merah dengan nada dingin.
"Apa kau mau mengandalkan nama tersohor dari Tri Tunggal hendak menentang peraturan hukum kami? Kau tahu kau dipandang oleh kami orang hanya bagai kunang-kunamg. Tidak percaya? Nah rasakan serangan telapakan tanganku yang lihay."
Setelah berkata ia mengkerutkan bahu kanannya, terus menyerang dengan tenaga angin dahsyat ke arah dada si nona hingga 576 Gan Su Nio amat gusar lalu menggunakan tenaganya sembilan bagian untuk menangkis hingga si hweshio amat kaget.
Ia terdorong mundur sampai beberapa tindak.
Si nona yang merasakan tenaga si hweshio hanya sebegitu saja, lantas tertawa mengejek.
"Aku kira berapa besar tenaganya orrang kuil naga emas, tidak tahunya hanya segini saja."
"Hmm..!"
Kedengaran suara orang memotong bicaranya dari belakang.
Gan Su Nio menoleh, tampak satu patung yang berubah jadi manusia maju ke depan.
Hweshio ini mengenakan jubah kuning, lehernya panjang, matanya besar dan kulitnya kemerah-merahan.
Dilihat gerakannya, hweshio ini tentu ada lebih tinggi kepandaiannya dari hweshio jubah merah tadi.
Kali ini Biauw Hoat Sin ni yang menegur.
"Kamu sebagai hweshio melakukan perbuatan macam ini apa artinya? Kalau mau menghalang-halangi perjalanan kami lebih baik terang-terangan saja. Kau menyaru sebagai patung, apakah perbuatan itu tidak berdosa?"
"Aku adalah Hud! Hud ialah aku! Kau sebagai nikow tua apakah belum tahu? Tidak pantas kau digolongkan dalam Tri Tunggal. Nah baik sebagai tuan-tuan rumah, aku akan mengiringi apa yang kau katakan tadi. Dalam ruangan ini adalah tempat suci, marilah ikut aku untuk bertempur di luar!" 577 Setelah berkata ia enjot tubuhnya melesat keluat melalui dinding yang berlobang bulat dan berdisi di lapangan menantikan Biauw Hoat Sin ni. Gan Su Nio melihat kepandaiannya hweshio itu tertegun karenanya.
"Suhu,"
Ulutnya nyeletuk.
"Hweshio itu telah menggunakan Tenaga Gaib Mengkerutkan Tulang untuk menerobos lubang dinding tadi. Betul-betul mengagumkan. Dia sebenarnya ada berkedudukan apa di Kuil Naga Emas? Pantas Bo yong ko mendapatkan luka dikeroyok mereka dan Li Cong Bun dirubuhkan, diculik bersama pedangnya. Hweshio di perbatasan memang lihai."
Biauw Hoat Sin ni tertawa mendengar bicaranya Gan Su Nio.
"Pada masa dahulu."
Ia kata.
"Semua hweshio Si Hek kalau metantau, pasti mengenakan baju kuning. Tapi kalau mau membedakan tingkat derajat dalam partainya, yang berbaju kuning paling tinggi, baju merah kedua dan paling rendah yang berbaju abu-abu. Hweshio yang barusan menggunakan ilmu menrkeretkan tulang-tulang tentu adalah salah satu dari Empat Hud dalam kuil Naga Emas. Ia mengajak kita bertempur tentu ada mempunyai kepandaian silat yang tinggi. Biarlah dia aku yang melayani dan kau boleh melayani si hweshio baju merah aku lihat kepandaiannya selisih tak banyak dari kau." 578 Keduanya melesat keluar. Di lapangan sudah menunggu hweshio dengan congkaknya. Gan Su Nio tidak sabaran, ketika menghampiri sejauh enam tujuh tindak dari dua hweshio tadi, ia telah menunjuk kepad si hweshio jubah kuning dan menanya.
"Hei kau ini bukannya yang dipanggil Cio Hud Pek Hun?"
Si hweshio jubah kuning tak menjawab, kawannya yang mewakili menjawab.
Hud ada di gunung Leng san, kau tidak boleh sembarangan menemuinya.
Benar-benar kau lucu.
Tadi di dalam ruangan kita sudah bergebrak sebentar, nah kini aku meminta pelajaran lebih jauh.
Kalau kau dapat menangkan sepasang senjataku ini, aku akan antar kau ke Leng san!"
Ia berkata sambil menunjukkan sepasang senjatanya berbentuk pentungan lonjong dan bergigi macam gergaji.
Gan Su Nio juga tidak banyak rewel ia juga menghunus pedangnya untuk melayani musuhnya yang sombong itu.
Mereka bertempur ramai sekali, suara beradunya senjata membuat semangat berkelahinya masing-masing pihak terbangun.
Hweshio jubah merah bernama Li Jen, salahsatu dati tiga belas hweshio kosen dan dalam Naga Emas barisan huruf Li dia boleh dikatakan yang terpandai ilmu silatnya.
579 Tapi menghasapi Gan Su Nio yang melayaninya dengan lincah dan berat tekanannya membuat si hweshio jubah merah menjadi kaget juga.
Ia tek menyangka nona secantik itu yang usianya ditaksir baru tiga puluh tahun ada mempunyai kepandaian yang tinggi.
Maka ia tak berani unjuk kesombongan lagi, ia melayani si nona dengan berhati-hati.
Satu kali ia mengerahkan seluruh tenaganya dipusatkan pada senjatanya dan menyerang dengan dahsyat.
Gan Su Nio tidak berkelit dari serangan itu.
Dengan gaya serangan "Wanita Penenun Gerakkan Alat Tenun‟, pedangnya menusuk diantara sepasang senjata musuh.
Li Jun kaget dan mundur beberapa tindak.
Ia tak kira serangannya dengan gaya serangan "Nona Cantik Menutup Pintu‟ dapat dipunahkan dengan mudah oleh Gan Su nio.
Ia paling mahir dengan ilmu serangan itu.
Kalau ia berhasil, pedang musuh akan tergencet diantara sepadang senjatanya.
Sekali ia menggetarkan senjatanya itu dengan tenaga dalam, kalau tidak pedang musuh patah, sedikitnya akan terlepas dari cekalannya karena tak tahan dengan pengaruh getarannya tadi.
Ia tak menyangka Ga Su Nio akan memunahkan serangannya dengan mengirim tusukan diantara dua senjatanya yang hendak menggencet pedang.
Coba ia tak trik mundur serangannya, 580 niscaya ia akan disate oleh pedangnya si nona.
Gan Su Nio melihat musuhnya mundur ia merangsek dan mengirim pula beberapa tusukan yang berbahaya.
Tapi Li Jen juga bukan orang lemah.
Ia putar sepasang senjatanya untuk menyampok pergi pulang pedang si nona yang saban-saban hendak mengarah jalan darahnya yang berbahaya.
Li Jeng perlahan-lahan jadi kesal karena semua serangnnya tak menemukan sasarannya, malah ia jadi terdesak oleh si nona.
Satu kali ia dapat kesempatan untuk membentur pedangnya si nona hingga patah, tapi mendadak dirasakan bahunya kesemutan dan ia tak dapat menggunakan senjatanya lagi.
Ternyata sepintas lalu tangannya Gan Su Nio yang lihai dapat menotok jalan darahnya di bahu si hweshio, selanjutnya si nona telah membuka kelima jarinya hendak menyengkram dadanya musuh sehingga si hweshio sudah ketakutan tak bisa menghindarkan diri dari bahaya itu.
Terpaksa ia memejamkan matanya menanti kematiannya, tapi rupanya Gan Su Nio tak mau mencari musuh maka ia tarik kembali tangannya.
Sembari tertawa dingin berkata.
"Hmm! Karena aku ingat kau muridnya sang Buddha maka aku tak mau ambil jiwamu. Tapi ingat, jikalau dalam perjalanan kami selanjutnya, kau coba mencari-cari seteru lagi, jangan sesalkan 581 kalau kami tak dapat memberi ampun lagi kepadamu!"
Li jen hweshio bukan main malunya, tapi ia sudah tidak punya nyali untuk melawan si nona.
Kejadian ini dapat disaksikan oleh si hweshio jubah kunging tapi ia tak datang membantu kawannya.
Ia maju setindak menghadapi Gan Su Nio dan berkata setelah bergelak tertawa.
"Yah, nona sudah tidak mau mengambil jiwanya hweshio dari kuil Naga Emas, aku disini mengucapkan banyak terima kasih…!"
Ia sambil menjura memberi hormat.
Justru saat itu si nona barusaja memasukkan pedangnya dalam sarungnya.
Ia tidak menjuranya si hweshio itu ada mengandung serangan yang tak kelihatan.
Tahu bahwa tenaga si hweshio ada sangat dahsyat, kalau ia menyambuti dengan kekerasan juga tidak akan menguntungkan baginya, maka ia berkelit sedikit kesamping hingga serangan dahsyat si hweshio jubah kuning telah mengenai tempat kosong.
"Ha ha ha, betul-betul murid Lam hay sangat libay!"
Si hweshio jubah kuning tertawa memuji setelah menyaksikan serangannya tidak mendapatkan apa-apa.
"Nah, sampai di sini saja kit berkenalan, lain kali kita dapt bertemu lagi."
Sambil berkata ia menarik Li Jen hweshio lalu berjalan menuju belakang kuil. 582 Gan Su Nio panas batinya, seketika itu ia hendak mengejar pad kepala gundul itu tapi Biauw Hoat Sin ni mencegah.
"Su Nio, biarkan mereka berlalu, apakah takut kau mendapat gangguan mereka lagi?"
Gan Su Nio urungkan mengejarnya. Ia berpaling kepada suhunya sambil tertawa berkata.
"Aku kira semua hweshio dari kuil Naga Emas lihai-lihai. Tidak tahunya ada sama saja dengan itu Li Bu Taysu yang menjadi tetamu Si leng cee. Tapi itu hweshio jubah kuning ada mempunyai kepandaian yang berarti juga, apa suhu tahu siapa dia?"
"Menurut kabar, yang menjadi ketua kuil Naga Emas ada empat Hud ialah Pei, Cui, Cio dan Ie. Kebiasaan kalau bicar didahului oleh tertawa yang terus menerus. Mungkin hweshio jubah kuning tadi adalah Cio Hud atau Ie hud, memang ilmu silatnya amat tinggi. Sebaiknya kau pakai baju kulit ikan yang aku berikan padamu. Perlu untuk menjaga kemungkinan yang tidak enak."
"Suhu, baju itu benar-benar amat ampuh. Pada waktu aku bertempur di markasnya Si leng cee sudah menolong aku menghindarkan aku dari senjata gelapnya si Kalajengking Pho Kun Peng ialah air beracun yang disemburkan dari ujung pedang. Maka sejak kita meninggalkan kuil aku terus memakainya. Suhu jangan kuatir!" 583 Sang guru unjuk senyumannya sambil angguk-anggukkan kepalanya.
"Ya memang kita tidak berniat membuat celaka orang katanya.
"Tapi harus kita waspada dalam pernalanan kita ini. Kita sudah menempuh perjalanan ribuan li jauhnya, tempat tempat yang kita lewati semua ada asing bagi kita. Harus kita menjaga diri, coba saja pikir, belum masuk ke Si Hek sudah banyak mendapat halangan di perjalanan. Kita masih belum bertemu dengan Bu Ju dan Ceng Leng. Apakah mereka sudah masuk ke Si Hek atau belum, merupakan pertanyaan. Ada kemungkinan mereka telah bertemu dengan "
Empat Hud‟ dari kuiil "Naga Emas‟"
Gan Su Nio yang diajak bicara tidak bisa memberi jawaban apa-apa. karena pikirannya telah melayang pada kekashnya yang sampai saat itu masih belim dijumpainya.
"Pikirku, lebih baik kita langsung saja menuju kuil Naga Emas dan menerangkan disana bahwa tujuan kedatangan kita hendak meminta pulang pedangnya Tay Han Sin ni dan kebebasan Li Cong Bun. Kalau mereka mau membalas dendam, boleh ditujukan kepada kita. Sebab kitalah yang lebih tepat bertanggung jawab untuk urusannya suci."
Demikian Biauw Hoat Sin ni melanjutkan bicaranya.
Gan Su Nio pikir, urusan lebih cepat diselesaikan memang ada lebih baik menemui 584 Bu Ju Toato adalah soal yang kedua, yang penting harus ketemu dengan Ceng Leng Cin jin yang merawat Bo yong Kang.
Pikirnya kalau dapat lekas-lekas menyelesaikan urusan pedang dnan Li Cong Bun ia akan terus ke gunung Pek Thian san untuk menemui jantung hatinya.
Berdua lalu meninggalkan kuil itu melanjutkan perjalanannya.
Ketika hari sudah mulai malam, mereka sampai di sebuah desa kecil dibawahnya kaki gunung.
Mereka tak bisa dapat tempat menginap karena semua rumah penginapan sudah penuh.
Diam-diam Biauw Hoat Sin ni merasa heran.
Desa yang sekecil itu tidak boleh jadi penuh dengan tetamu kalau bukannya orang-orangnya kuil Naga Emas yang telah mencari gara-gara membikin susah kepada mereka.
Biarlah tidak dapat tempat menginap ia dengan muridnya boleh mencari suatu tempat di pegunungan untuk beristirahat bersemedi.
Mereka telah meneruskan perjalanan ke gunung dimana mereka menemukan sebuah pohon besar dan diatas pohon itu mereka telah beristirahat.
Tidak jauh dari situ ada sebuah kuil, seorang hweshio tampak keluar membawa kentongan meronda.
Sambil membunyikan kentongan tangannya hweshio itu mendekati pohon besar dimana guru dan murid itu pada beristirahat.
Mereka tidak mempedulikan 585 kepada hweshio itu, sebaliknya si hweshio itu juga tidak mengambil pusing.
Cuma ketika si hweshio itu melewati pohon, ia telah mengeluarkan kata-kata menyindir.
Tiba-tiba disatu jalan tikungan ada terdengar pula kentongan meronda.
Kali ini bunyinya kentongan itu nyaring benar.
Jilid 16 Biauw Hoat Sin ni lalu turun dari pohon meneruskan perjalanannya.
Ketika mereka berjalan berbelok tiga kali lantas ketemu dengan dua hweshio.
Satu diantaranya adalah si hweshio jubah kuning yang tadi siang telah minta maaf pada Gan su Nio.
Ia tengah menghadapi sebuah kentongan besar yang berat sekali rupanya.
Gan Su Nio meluap amarahnya tapi Biauw Hoat Sin ni mencegah muridnya bertindak sembarangan.
Mereka terus berjalan.
Ketika mereka sampai pada jarak beberapa tombak lagi dari si hweshio jubah kuning mendadak Biauw Hoat Sin ni dan muridnya mendengar hweshio itu berkata.
Setelah tertawa bergelak-gelak.
"Sebenarnya aku tak tega kalian berdua akan membuang jiwa di tempat orang lain, 586 maka dengan baik aku nasehati supaya kalian berdua balik lagi saja. Kalau Lam hay Lo ni sudah banyak tahun menjadi nikow tapi basih belum tahu soal selamat dan bahaya betul-betul mengherankan!"
Biauw Hoat Sin ni mendengar bicaranya si hweshio jubah kunging ditujukan kepadanya lalu menjawab.
"Hmm…! Kau dengan tujuh belas orang mengerubuti Bo yong kang dan Li Cong Bun apakah tidak malu dengan perbuatan kalian itu? Aku berdua datang di sini terus terang kukatakan aku akan membereskan urusannya Tan Hay Sin ni. Dari pihak kamu orang, apa tidak ada jagoannya untuk bertemu dengan aku si nikow tua…?"
"Hmm…! Hweshio jubah kuning keluarkan suara dari hidungnya.
"Sebagai laki-laki sejati tidak seharusnya kalian membuat sulit aku dengan muridku dengan jalan sembunyi-sembunyi, sebab ini adalah suatu perbuatan pengecut yang tak tahu malu!"
Demikian Biauw Hoat Sin ni berkata.
"O mi to hud!"
Berkata si hweshio jubah kuning.
"Lam hay tujuh belas orang melawan dua orang, kami tidak membikin celaka Li Cong Bun. Dia masih ada di tempat kami dalam keadaan segar bugar. Kalau belum sampai batas waktu tanggal sembilan bulan sembilan, aku tanggung jiwanya Li Cong Bun tidak mendapat gangguan apa-apa. sedang itu Bo 587 yong Kang, hmm..! dia sudah melukai tiga kawan kami, maka kami telah melakukan hajaran supaya dia tahu rasa.."
"Hei!"
Menyela Gan Su Nio.
"Bukankah yang melukai Bo yong Kang adalah kau sendiri?"
"Aha, kau burung Hong Kemala, sebenarnya derajatmu belum pantas berunding dengan kami "
Empat Hud‟. Kalau kamu mau membalas dendam halnya Bo yong kang, tunggu aku selesaikan dulu pembicaraanku dengan suhumu! "
Ia berpaling kepada Biauw Hoat Sin ni, lalu berkata.
"Sebetulnya hal ini bukan urusan kau, lebih baik kau jangan turut campur."
"Hei, mana boleh begitu."
Menyela Biauw Hoat Sin ni.
"Kalian sebenarnya merampas dan menculik orang ada mempunyai maksud apa?"
"Untuk membalas dendam atas kematiannya Hoat Goan Taysu dibawah pedangnya Tay Han Sin ni."
Jawab si hweshio jubah kuning dengan sikap sombong.
"Oh kalau begitu, kau harus membalas dendam padaku. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu. Tay Han Sin ni adalah suciku dan kedatanganku khusus untuk mengurus hal itu. Sedang muridku Gan Su Nio adahal hendak bikin perhitungan dengan orang yang telah melukai Bo yong Kang. Nah sekarang katakan kau ini Co hud apa Ie hud?"
Hweshio jubah kuning itu tertawa bergelak-gelak. 588
"Ha ha ha ha.. inilah yang dinamai ular cari penggebug. Aku adalah Ie Hud Ang Hun. Kami tidak tahu bahwa kau Lam hay Lo ni ada satu partai denga Tay Han. Sekarang sudah terang siapa yang harus bertanggung jawab, maka itu Li Cong Bun akan kami bebaskan dan Pedang Penakluk Iblis harus kami tahan, nah sekarang aku pulang untuk memberitahukan hal ini tapi terimalah kentongan besi ini….!"
Setelah berkata hweshio jubah kuning itu telah melemparkan benda yang beratnya ribuan kati ke arah Biauw Hoat Sin ni dan Gan Su Nio.
Saat itu sebenarnya Gan Su Nio hendak mengejar si hweshio jubah kuning, tapi kaget karena melayangnya kentongan besi ke arahnya.
Biauw Hoat Sin ni suruh muridnya menyingkir dan ia yang hendak menyambutinya akan tetapi belum sempat kentongan besi itu disambuti tiba-tiba dari belakang pohon ada orang tertawa dan berkata.
"Hei, segala kentongan rongsokan begini buat apa kau yang menyambutinya, biarlah aku yang menalangi…."
Berbareng telah berkelebat sesosok bayangan dan menangkis benda yang berat itu hingga terpental jauh juga.
Orang itu segera sudah ana di hdapan Biauw Hoat Sin ni, sambil menjura "Ceng Leng dari Pek Thian san juga tidak lama lagi akan datang."
Kemudian ia berpaling pada Ie hud Ang Hun, berkata.
"Hei Ang Hun kau cepat-cepat 589 memberitahukan pada saudara-saudaramu, kami tidak akan lama lagi menemui kalian di di kolam A ju Ta ti. Beritahukan pada ketiga suhengmu bahwa Tri Tunggal datang untuk membebaskan Li Cong Bun dan membereskan pedang. Kita tidak akan bertempur mati-matian, tidak perlu kita menonjolkan partai ini dan partai itu, sebabkita tahu semua itu ada satu sumber asalnya."
Ang Hun tanpa menoleh lagi kepada mereka.
Setelah habis Bu Ju berkata, ia cepat angkat kaki dari situ untuk melaporkan pada ketiga suhengnya hal kedatangan "Tri Tunggal‟ yang hebat kepanddaian ilmu silatnya.
"Hi hi hi hi… tigapuluh tahun tidak berjumpa hatimu bisa berubah megini lunak. Menurut pandanganku, hweshio-hweshio yang sombong itu harus diajar adat dan kalau perlu dibasmi semuanya supaya kedepannya tidak menjadi bibit penyakit. Kau bisa begini lunak, betul betul aku heran…!"
Bu Ju Toato geleng-geleng kepalanya.
"Sebaiknya peristiwa yang lampau jangan diulangi lagi. Balas membalas dendam tidak habis-habisnya kalau tidak kita sendiri yang mengakhirinya. Ceng Leng sudah menyembuhkan Bo yong Kang, mungkin mereka sudah pergi ke kolam A Yu Ta ti dari kuil Naga Emas perlunya untuk mencari tahu dimana tempatnya Li Cong Bun ditahan dan pedang telah disembunyikan dimana? Disana mereka akan berjumpa dengan kita. Aku harap kau yjangan 590 membuat perhitungan dengan kawanan hweshio itu, kita bereskan urusan dengan damai saja sudah cukup!"
Biauw Hoat Sin ni tertaw mendengar bicaranya Bu Ju Toato.
"Ya, aku sudah tiga puluh tahun lamanya menjalankan ibadah dalam kuil kalau tidak menuruti sifat tabiatku seperti dahulu, terang hweshio tadi akan membawa tanda mata di tubuhnya sebagai oleh-oleh perbuatannya yang lancang telah mengganggu perjalanan kami berdua guru dan murid sampai dua kali. Aku mendengar kabar kau sudah berada di perbatasan tapi kenapa kau masih ada di sini?"
Bu Ju Toato tertawa ditanya demikian. Setelah menghela napas ia menjawab.
"Ya, dalam dunia ini masih banyak penjahat malang melintang. Munculnya Empat Hud dari Kuil Naga Emas, dua saudara Hwe atau Thian lam Siang Koay dari gunung Ko lo kang datang ke Tionggoan hanya untuk bikin huru hara saja. Itu Song Sam Ceng sangat membenci pada Auw Yang Ti yang sebetulnya Se buh Pa yang menyaru dan Bo yong Kang serta Li Cong Bun karena markasnya Si leng cee telah diaduk-aduk oleh mereka, maka Thian lam Siang koay pertama-tama akan membaalas pada Auw yang Ti di goa It goan kok. Karena aku kuatirkan dirinya Auw yang Ti, maka aku sudah menyuruh Teng Goan pergi kesana untuk memberitahukan 591 halnya Tian lam Siang koay yang hendak menyatroni padanya."
Biauw Hoat Sin ni angguk-anggukkan kepalanya.
"Nah sekarang sudah malam,"
Kata pula Bu Ju Toato.
"mari kita beristirahat bersemedhi, besok baru kita pergi ke kolam A yu Ta ti, supaya cepat-cepat urusan Li Cong Bun dan pedang Penakluk Iblis dibereskan. Selain dari itu, aku rasa tentiu kita akan membuang waktu sedikit lama untuk mengakhiri urusannya Thian lam Siang koay."
Biauw Hoat Sin ni mencari sebuah batu besar, dimana ia duduk untuk bersemedhi. Sebelumnya ia menanya pada Bu Ju Toato.
"Ya, Thian lam Siang koay tempo hari lolos dari pedangnya Ceng Leng di gunung Tay san. Kini mereka muncul kembali tepat dengan munculnya musuhku suami istri kepala dari Tho tiok im yang pay, apakah kau tahu bagaimana keadaan mereka?"
Bu Ju Toato gelengkan kepalanya.
"Aku hanya menerima panah dan panji saja,"
Jawabnya.
"Tidak tahu sekarang mereka ada dimana. Kalau kita sudah membereskan urusan disini, kita dapat berjumpa dengan mereka di Tionggoan. Apakah kau tidak dapat memaafkan mereka?" 592 Biauw Hoat Sin ni hanya mengeluarkan suara di hidunt.
"Hmm!"
Tidak menjawab pertanyaannya Bu Ju Toato.
Bertiga mereka lalu bersemedhi di masing-masing tempatnya.
Dalam semedhinya ternyata batinnya terus berpikir, ia merasa girang, Bo yong Kang pujaannya telah sembuh dari luka-lukanya.
Sekarang hanya yang dipikirkan halnya Li Cong Bun dengan jalan bagaimana mereka nanti dapat menolong?
Oleh sebab itu maka hatinya Gan Su Nio terus tidak tenteram.
Kuil "
Naga Emas‟ letaknya di tepi kolam A yu Ta ti, dikepalai oleh Empat Hud (empat Buddha) yang berkepandaian sangat tinggi. Pei hud Kun Hun yang tertua sebagai kepala dari "
Empat Hud‟ itu, ketika mendengar akan kedatangannya Biauw Hoat Sin ni lantas mengirim sutenya Ie hud Ang Hun ke perbatasan untuk menjajal kepandaiannya Biauw Hoat Sin ni.
Kemudian ia menugaskan Cui hud Biauw Hun dan Cio hud Pek Hun menjaga Li Cong Bun yang ditahan di puncak pagoda "
Gledek‟ sedang Pedang Penakluk Iblis ia sangkutkan di badannya sendiri untuk menjaga kemungkinan senjata beriwayat itu kena dicuri orang.
Kun Hun tahu bahwa "Tri Tunggal‟ berkepandaian sangat tinggi maka ia sangat waspada.
Setiap pagi dan sore ia melakukan pengontrolon sendiri pada keadaan 593 disekitarnya apalagi tempat tahanan Li Cong Bun mendapat perhatian yang istimewa.
Pada suatu petang hari selagi duduk bersemedhi Kun Hun tiba-tiba ia merasakan hatinya tidak enak maka ia bangun dan memeriksa sekitar kamar sembahyang.
Matanya melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang cepat sekali.
Hingga sukar ia dapat mengejarnya.
Ia terus masuk memeriksa di atas meja sembahyang kedapatan sepotong kertas yang bertulisan.
Di Kau lan sekali bertempur dengan telapakan tangan, di Thiau san bertempur dengan sebilah pedang.
Semua dendaman sebaiknya dihapuskan.
Pasti tenteram dan damai akan bersemayam dalam sanubari kita.
Pikirnya dalam kuilnya, semua orang berilmu silat sangat tinggi, tapi orang yang membawa surat itu dapat datang dan pergi dengan sesuka hatinya, benar-benar orang itu sangat hebat kepandaiannya.
Ia menduga Bo yong Kang yang berniat hendak menghapuskan segala dendam hati jika melihat bunyinya surat tadi, hal mana membikin Kun Hun merasa geli dalam hatinya.
Ia empar saudara dengan susah payah memperdalam ilmunya, maksudnya untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Hoat Goan Taysu malah sudah mengirim tiga belas hweshio kosen ke Tionggoan untuk mencari onar.
Ini pihak lawan majukan usul damai sebagai 594 penyelesaiannya.
Betul-betul pihak lawan sudah mengimpi.
Enak saja mereka menyudahi dendaman yang sudah mengeram sekian banyak tahun.
Memikir sampai disini tiba-tiba hatinya terkejut.
Kalau orang itu bisa masuk ke tempatnya demikian leluasa, tentu ia juga bisa masuk ke tempat tahanannya Li Cong Bun.
Maka ia segera memanggil rombogan hweshio yang memakai huruf Li sejumlah tiga belas orang.
Diperintahkan semuanya untuk melakukan penjagaan keras karena musuh sudah datang.
Mereka dikepalai oleh Li Bu Taysu yang pernah datang di markas Si leng cee dan berhantam diatas liutay dengan seorang jago dari Siauw Lim si.
Ia sendiri tentu pergi ke pagoda Gledek yang jauhnya dari kuil kira-kira tujuh delapan li.
Pagoda Gledek itu semuanya ada tujuh tingkat.
Li Cong Bun ditahan di tingkat yang tertinggi yaitu tingkat ke tujuh.
Kamar tahanan itu berdinding tembok yang kuat kokoh dan berteruji.
Hanya dua kaki persegi lebatnya dan jendela kecil.
Dikunci dari sebelah luar, dengan kamar ini ada kamar tidurnya Cui hud Biauw Hun dan Ciok hud Pek Hun.
Ketika Kun Hun sampai di atas, melihat Pek Hun seperti masih marah-marah dan Biauw Hun tampak sedang meredakan amarahnya.
Kun 595 Hun bercekat hatinya.
Ia pikir tentu ada terjadi apa-apa.
Cepat ia menegur.
"Ada apa telah terjadi, apakah musuh sudah datang kesini? Barusan aku juga dapar melihat musuh sudah masuk ke tempat kita. Apakah sute belum kembali?"
Biauw Hun dan Pek Hun kaget melihat saudara tuanya datang dengan tiba-tiba.
Setelah menyilakan saudara tuanya duduk, lalu Biauw Hun menutur.
Tadi sewaktu aku minum arak dengan sam-te tiba-tiba seperti ada suara apa-apa di puncak pagoda.
Suara itu terdengar dari dua jurusan, jalan depan dan belakang.
Aku akan melesat naik, berbareng dari atas meluncur sesosok bayangan hitam kebetulan Sam-te ada di bawah , maka cepat ia hendak menangkapnya.
Apa mau bayangan itu cepat dan gesit luar biasa.
Sam-te mengejar sampai diperbatasan rimba bambu.
Bayangan itu balikkan badannya dan bertemur sebentar dengan sam-te.
Dia ada berkata.
"Jangan kuatir, aku tidak bermaksud jahat!"
Setelah itu ia enjot tubuhnya meluncur ke dalam rimba dan menghilang."
Kun Hun kerutkan alisnya. Ia pikir kalau bayangan itu sungguh-sungguh mau menempur samtenya, terang pihaknya akan menderita kekalahan.
"Ya, kalau samte sudah bertempur dengan orang itu, tentu sudah dapat melihat terang wajahnya bukan?"
Kun Hun menanya.
"Ya, orang itu memang cepat gerakannya. Aku menyerang padanya dari jarak dua tombak. Karena di dalam gelap aku tak dapat melihat terang mukanya. Cuma saja bajunya gerombyongan, dia kalau bukan hweshio tentu ada seorang Tosu. Dia begitu berani datang meskipun kepandaiannya…"
Bicara sampai disini tertunda karena ada desiran angin.
Stu benda kecil hitam telah meluncur masuk kedalam jendela hingga Kun Hun terdorong ke dinding.
Cepat Kun Hun melongok keluar jendela.
Ditempat setinggi sepuluh tombak oa tidak melihat bekas-bekasnya orang.
Bertiga jadi sangat heran.
Pikirnya dalam dunia ini mana ada orang yang demikian cepat seperti kilat larinya.
Mereka lalu memeriksa benda hitam yang dilontarkan tadi ternyata ada satu benda bulat keras seperti batu.
"Hei, jiwi sute jangan kena ditipu orang tadi!"
Kun Hun tiba-tiba kaget.
"Itu Li Cong Bun apa masih ada dalam kamar tahanan?"
Melihat toakonya gelisah, Pek Hun tertawa gelak-gelak.
"Toako, kau jangan kuatir sampai begini rupa."
Katanya.
"Berapa jauh Li Cong Bun dapat melarikan diri? Juga di puncak pagoda 597 kalau ada orang lagi tentu kita dapat mengetahuinya. Apalagi jendela yang berjeruji baja tulen, masa begitu mudah dapat diputuskan? Aku tidak tahu kalau misalnya Li Gong Bun dapat merubah dirinya menjadi angin untuk meloloskan dirinya. Ha ha ha…!"
Kun Hun berpikir lain. Setelah menggeleng-gelengkan kepala ia berkata.
"Meskipun katamu betul,tapi ketahuilah musuh sudah datang. Kalau kita bertanding secara berterang. Kita tidak takut. Tentu kita bakal menang, tapi kalau musuh melakukan pekerjaan secara mengelap, meloloskan orang tahanan dan mencuri pedang rasanya sukar ditangkis. Dari itu kita harus waspada. Nah mari kita lihat Li Cong Bun."
Bertiga lalu mereka melihat kamar tahanan si anak muda.
Li Cong Bun dalam kamar kelihatan tidur.
Ia mendengar pintu kamar dibuka dan melihat datangnya mereka bertiga, ia tidak mengatakan apa-apa.
Pek Hun melihat itu adaknya ganjil, karena biasanua pada siapa yang saja datang melihatnya Li Cong Bun akan memaki habis-habisan.
Juga makanannya yang diberikan tidak suka dimakan kecuali tidak terpaksa saking lapar rupanya ia hanya makan sedikit saja.
Ek Hun lebih heran lagi ketika ia ingat bahwa dalam beberapa hari ini ada terjadi 598 perubahan pad dirinya Li Cong Bun.
Ialah kalau diberi makanan yang biasanya ia makan sedikit saja, belakangan ini kalau ia dikasi makan selalu disikat habis.
Kejadian yang ganjil ini ini mau tidak mau Pek Hun memeriksa keadaan kamar tahanan itu.
Tapi setelah diperiksa semuanya dalam keadaan tidak berubah, hatinya lega dan lalu berkata pada anak muda itu.
"Hei, setan kecil, lebih baik kau tahu diri sedikit. Kawan-kawanmu sudah datang hendak memberikan pertolongan. Dalam waktu tiga hari ini tentu ada keputusannya. Kalau kau dengan diam-diam meloloskan diri tentu kau membuat huru-hara. Ini akan membikin sukar dirimu saja, kau mengerti?"
Li Cong Bun tidak marah, sikapnya sangat alim malah diam-diam mendengarkan bicaranya Pek Bun sampai habis baru ia mendongakkan kepalanya dan memjawab dengan kepala dingin.
"Hmm….! Kau jangan menggertak aku. Kamar kecil ini apa gunanya untuk menahan aku, sebab kalau aku mau datang terus datang dan mau pergi terus pergi dari sini. Kau tidak percaya? Nah perhatikan omonganku benar atau tidak dalam tiga hari ini kau yang datang akan melepas diriku."
Pek Hun tertawa, ketika ia mau memebuka mulut dikedipi oleh Kun Hun hingga urung bicara.
Kun Hun sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri Li Cong Bun masih ada 599 maka ia tidak mau banyak bicara dengan orang tahanannya.
Ia terus ajak kedua saudaranya meninggalkan kamar itu.
Pada hari kedua sejak peristiwa kemasukan bayangan hitam dalam kuil "
Naga Emas‟ diwaktu pagi-pagi, Ie hud Ang Hun telah kembali dari menjalankan tugasnya dan memberi laporan pada Pei hud Kun Hun.
Ia menerangkan bahwa Bu Ju dari Heng san dan Biauw Hoat dari Lam hay dan muridnya si Burung Hong Kumala sudah datang dan Li Cong Bun sebaiknya dilepaskan dan hanya menahan "Pedang Penakluk Iblis saja dahulu.
Kun Hun mendengar laporan sutenya kurang jelas, lalu mengerutkan alisnya dan berkata.
"Hmm… sute, kenapa kau bicara semacam ini? biarkan sana Bu Ju dan Biauw Hoat datang kemari. Buat apa kita harus melepaskan Li Cong Bun?"
Ang Hun merasa bicaranya kurang jelas, maklumlah ia barusan saja datang dan membeerikan laporannya itu secara tergesa-gesa.
Malah setelah ia mengaso sebentar dan minum lalu dengan tertawa ia memberikan keterangan lebih jelas.
"Toako, itu Biauw Hoat adalah sumoynya dari Tay Han. Ia masih hidup dan akan datang kemari. Dia sebenarnya yang harus bertanggung jawab prihal urusannya Tay Han maka kita dengan Li Cong Bun tidak ada 600 sangkut paut apa-apa dan kalau kita terus menahannya tidak baik, bukan saja kita bermusuhan dengan Ceng Leng Cinjin, juga akan menjadi buah tutur dalam kalangan sungai telaga bahwa kita telah menindih yang lemah dengan kekuatan dahsyat. Maka aku sudah berjanji pada Bu Ju dan Biauw Hoat sebelum mereka datang kesini kita sudah membebaskan Li Cong Bun dan hanya menahan Pedang Penakluk Iblis."
Kun Hun kini mengerti duduknya urusan. Ia berpokir dan manggut-manggut kapalanya.
"Ya, sekarang aku mengerti maksud sute. Kau sudah melakukan perjalanan jauh, tentu sangat lelah maka sebaiknya lekas pergi mengaso. Nanti aku akan urus pelepasan Li Cong Bun dan minta Jite dan Samte mengatur penyambutan secara orang rimba persilatan kepada teman-teman kita."
Pei Hud Kun Hun terus pergi ke pagoda Gledek.
Sepanjang jalan ia berpikir sutenya Ang Hun telah ketemu Bu Ju dan Biauw Hoat diperjalanan.
Tidak mungkin orang yang tersebut belakangan ini yang datang meninggalkan surat di ruangan sembahyang dan bikin permainan di puncak Pagoda.
Tentu yang datang itu adalah Ceng Leng Cinjin dari Thian san.
Kalau begini jalannya, tentu pertempuran antara Empat Hud Naga Emas dan Tri Tunggal akan menjadi buah tutur selama tiga puluh tahun dalam kalangan rimba persilatan.
601 Sampai di atas pagoda, ia memberitahukan maksudnya untuk membebaskan Li Cong Bun kepada dua saudaranya yang menjaga di situ berdasarkan laporan dari Ie hud Ang Hun yang baru pulang dari menjalankan tugasnya.
Kemudian Kun Hun membuka pintu kamar tahanan, lalu menghadapi jeruji yang mengurung dirinya Li Cong Bun.
Dengan sekali mengangkat tangan, angin pukulannya yang jalanan untuk Li Cong Bun keluar."
Ia memberitahukan pada Li Cong Bun bahwa ia dibebaskan lantaran orang yang harus menanggung jawab atas perbuatannya Tay Han Sin ni sudah diketemukan.
Li Cong Bun bebas buat terus pulang ke Tionggoan atau mau menantikan kedatangannya sang guru, itu terserah kepada si anak muda.
Hanya Pedang Penakluk Iblis harus ditahan dulu sebelum persoalannya dibikin beres karena semua kerusuhan ada berpokok pada pedang itu.
Setelah mendengar keterangan Kun Hun panjang lebar, Li Cong Bun tertawa kemudian menjawab dengan terang.
"Kun Hun Taysu, perlu apa sampai kau sendiri yang datang melepaskan aku. Soal kejadian pada masa lampau kau harus dapat menimbang dengan kepala dingin. Hoat Goan Taysu waktu itu ada sangat jahat. Segala perbuatannya yang nyeleweng membuat orang-orang dalam dunia kanouw tidak tenteram. Ia ketemu dengan Tay han Sin ni dan kena 602 dibinasakan. Itulah sudah sepantasnya untuk menebus dosanya yang sudah menumpuk itu. Kalau urusan ini tak dapat diselesaikan dengan damai dan terus menerus saling mendendam sampai kapan antara partai-partai dari Si Hek dan Tionggoan dapat hidup damai? Dengan sendirinya kau telah bertindak menyimpang dari ajarannya sang Buddha. Aku karena tidak ingin bertambahnya permusuhan, maka sudah biarkan diriku menderita ditahan menanti penyelesaian secara damai. Kalian seharusnya bisa insyaf akan manfaatnya suatu perdamaian yang abadi yang membuat hati tenteram dan bahagia."
Pei Hud Kun Hun dengan kedua saudaranya tidak menyela pembicaraannya Cong Bun, agaknya ia ada menaruh perhatian juga. Terdengar Li Cong Bun meneruskan bicaranya.
"Aku karena berpendapat demikian maka telah memberitahukan kepada kalian.
Nah lonceng kuil sudah berbunyi amat nyaringnya.
Mungkin suhu Taysupek dan Biauw Hoat susiok sudah pada datang.
Aku hanya mengharap kalian tiga Taysu suka memikirkan akan susah payahnya kuil yang megah dibangun ini jangan sampai menuruti nafsu hati sendiri saja melakukan pertandingan mati-matian untuk membela urusan pepesan kosong.
Semoga Taysu bertiga menginsyafi akan adanya perdamaian yang abadi.
603 Li Cong Bun setelah selesai bicara lalu angkat kakinya berjalan turun dari atas pagoda.
Pei hud Kun Hun yang mendengar kata-katanya pemuda itu tadi hatinya sangat terharu.
Ia mendengar lonceng kuil telah ditabuh terus terusan tanda ada tamu datang, maka dengan tergesa-gesa telah turun mengikuti Li Cong Bun.
Ia lupa dengan kecurigaan tadi ketika ia mengangkat tangannya dan sekali memukul saja jeruji besi yang mengurung Li Cong Bun lantas saja berantakan sebab hal itu tidak mungkin terjadi dalam keadaan biasa.
Tentu ada apa-apa dengan jeruji yang kooh kuat itu.
Pada sebelumnya ia memukul dengan tenaga dalamnya.
Tiga Hud bersama Li Cong Bun empat orang ketika sampai dalam ruangan tetamu dari kuil Naga Emas melihat Ang Hun sedang melayani tetamunya ialah Bu Ju Toato, Biauw Hoat Sin ni dan Gan Su Nio, Kun Hun dan saudara-saudaranya segera menghampiti tamu-tamunya dan belajar kenal.
Sedang Li Cong Bun tidak ketinggalam memberi hormat kepada Tay supeknya, Biauw Hoat Sin ni dan Gan Su Nio.
Li Cong Bun girang sekali ketemu lagi dengan Gan kouw-kouwnya.
Gan Su Nio sebaliknya merasa heran dengan sikap Li Cong Bun.
Tadinya ia mengira Cong Bun yang beradat angkuh dan keras hati bukan 604 main marahnya kena ditahan dirinya, kini kenyataannya ada lain sekali.
Tampak sikapnya Li Cong Bun tenang-tenang saja, berseri-seri seperti juga tidak mengalami penahanan atas dirinya.
Si pemuda melihat Gan kouw-kouwnya mengawasi padanya dengan roman heran, ia tahu apa yang dipikirkan oleh bibinya itu, maka ia datang menghampiri dan bicara berbisik.
"Kouw-kouw, kawanan hweshio ini sangat sombong dan pandang dirinya amat tinggi, tapi hatinya baik, maka baiknya kouw-kouw menceritakan kepada Biauw Hoat susiok menggunakan waktu kita saat berkumpul, menghilangkan segala permusuhan agar Si Hen dan Tionggoan tidak terus menerus bermusuhan. Bo yong susiok sudah sembuh dan sehat, tidak lama lagi juga bakal datang."
Gan Su Nio girang sekali mendengar kekasihnya sehat walafiat dan ia kepingin lekas-lekas menjumpainya, supaya suhunya dapat berkenalan dengan jago To lo kiam (Pedang Swastika) itu yang gagah dan tampan.
Pada waktu itu empat tokoh dari kuil Naga Emas sedang bercakap-cakap dengan Bu Ju dan Biau Hoat, tiba-tiba terdengat pula bunyi lonceng menandakan kedatangan tamu lagi.
Kun Hun lalu berkata pada Biauw Hun.
"Ji-te lonceng tamu telah berbunyi lagi, tentu sahabat kita dari Pek thian san yang datang.
Harap kau pergi menyambutnya.
Biauw Hun menurut.
Ketika ia kembali lagi di ruangan benar saja dibelakangnya mengikuti Ceng Leng Cinjin dan Bo yong Kang.
Gan Su Nio dengan berseri-seri menyambut dengan kerlingan mata kepada kekasihnya yang disambut oleh Bo yong Kang dengan mesranya.
Meskipun mulut tidak bicara tapi cukup dengan mata yang mewakili masing-masing telah menyatakan rasa rindunya.
Setelah Ceng Leng Cinjin saling berkenalan, Bo yong Kang maju kedepan memberi hormat kepada Bu Ju, kemudian menghadap Biauw Hoat Sin ni.
Dengan menjura hormat sekali jago pedang swastika itu telah berkata.
"Teecu Bo yong Kang menghadap pada susiok, semoga susiok selalu sehat dan bahagia."
Biauw Hoat Sin ni matanya berkilat-kilat mengamat-amati lelaki pujaan muridnya.
Ia mengawasi dari kepala sampai kaki, sikap dan tingkah lakunya dipelajari.
Setelah meneliti, hatinya amat girang dan puas.
Ia memuji muridnya telah memilih pasangannya, maka ia lalu tertawa dan berkata.
"Bagus, kau kelihatan sudah sembuh betul!" 606
"Terima kasih, semua berkat pertolongan Ceng Leng supek."
Jawabnya hormat.
Bo yong Kang mengangguk kemudian mengundurkan diri mengambil tempat duduk.
Gan Su Nio yang memperhatikan dengan hati berdebar ketika gurunya mengawasi Bo yong Kang sekarang melihat hasilnya menyenangkan dalam hatinya kegirangan dan tidak kuatir lagi akan suhunya melarang ia berkawan dengan pujaannya.
Kun Hun melihat tetamunya sudah semua pada mengambil tempat duduk dan hweshio-hweshio anak muridnya sudah menghidangkan arak, ia lantas berdiri angkat bicara.
"Nah sekarang sahabat-sahabat dari Tri Tunggal sudah hadir lengkap, kini aku ingin mendapat penjelasan ialah menurut laporan sute kami ialah semua dendaman dalam kejadian di puncak Pek thian san, katanya adalah menjadi tanggung jawab dari segala kuil Ciauw in yan, karena dia adalah sumoynya dari Tay Han Sin ni. Apakah ini betul?"
"Hmm…!"
Biauw hoat perdengarkan suara di hidung. Sebelum ia menjawab, Ceng Leng Cinjin telah mendahului.
"Halnya itu perempuan Pedang Penakluk Iblis kontra Pentungan Bulan Sabit di gunung Pek thian san aku dapat menceritakannya. Tay Han Sin ni turun tangan karena diundangnya 607 segenap orang dari rimba persilatan di Tionggoan, terutama dari pihak kuil Siauw Lim si utara dan selatan. Hoat Coan Taysu ilmu silatnya sangat tinggi dan tidak ad bandingannya, sayang kelakuannya sangat jahat dan kejam, tak dapat dibandingkan dengan Empat Hud yang suci. Buktinya setelah Hoat Goan Taysu disingkirkan jiwanya dalam tempo sepuluh tahun Si Hek pay telah mendapat kemajuan dan hidup makmur. Jadi perbuatannya Tay Han Sin ni merupakan suatu berkah untuk Si Hek pay. Tak benar dia dipandang sebagai musuh, tapi seharusnya Si Hek pay kepadanya bilang terima kasih atas jasa-jasanya. Empat taysu ada amat cerdik dan mengerti tentang baik buruk urusan. Mungkin dengan kedatangannya Biauw Hoat Sin ni harap jangan dianggap sebagai musuh tetapi sebagai sahabat yang sucinya pernah membebaska Si Hek pay dari perbuatan terkutuk Hoat Goan Taysu. Dengan adanya perdamaian ini maka dendaman antara Si Hek dengan Tionggoan dapat dihapus dan keempat taysu semuanya tentu akan dijunjung tinggi oleh dunia persilatan."
Pei hud Kun Hun mendengar bicaranya Ceng Leng Cinjin masuk diakal, tapi hanya membenarkan disatu pihak saja dan menyalahkan pihak lain maka lalu ia berkata.
"Ya, prihal kejadian yang lampau siapa salah dan siapa benar, kita semua tidak ada yang tahu. Sekarang begini saja, kalian 608 bertiga sudah terlanjur datang maka urusan itu kita selesaikan menurut aturan rimba persilatan ialah Empat Hud bertanding melawan Tri Tunggal. Kami ada kelebihan satu orang, tapi tak apa masih ada Bo yong, Gan dan Li salah satu orang yang dapat melengkapinya. Syaratnya, kalau kami kalah, bukan saja Pedang Penakluk Iblis kami kembalikan, juga sejak hari ini kami perintahkan kepada semua orang-orang kami supaya tak turut campur urusan kangouw. Sebaliknya kalau kalian kalah, harap Biauw Hoat Sin ni membawa itu hweshio-hweshio Siauw Lim SI utara dan selatan sebanyak sepuluh orang untuk ersembahyang pad rohnya Hoat Goan Taysu selama tiga hari. Selain itu, Pedang Penakluk Iblis akan dilebur dan dijadikan Pentungan Bulan Sabit. Sampai disini baru dapat mengakhiri permusuhan kita. Kalian juga tentu tak menyalahkan kami amat sombong dan pandang diri sendiri terlalu tinggi!"
Biauw Hoat Sin ni mendengar bicaranya Kun Hun darahnya meluap. Segera ia akan membuka mulut untuk berdebat. Akan tetapi urung ketika diberi isyarat oleh Ceng Leng Cinjin yang kemudian berkata.
"Kita datang ke sini dengan menempuh ribuan li dengan tak merasa gentar, perlunya untuk berusaha sekuat tenaga mendamaikan soal yang ruwet itu. Tetapi ternyata Taysu sudah mengambil keputusan demikian. Kami 609 sebagai tamu tak bisa mendapatkan pilihan selain mengiringi kemauannya tuan rumah. Nah sekarang kalian mau berbuat apa saja kami akan mengiringi saja!"
Bu Ju dan Biauw hoat pada manggutkan kepala tanda setuju.
Pei Hud Kun Hun lalu memerintahkan anak buahnya untuk menunjuk jalan keluar kuil.
Bu Ju, Biauw Hoat dan Ceng Leng bersama-sama Empat Hud Naga Emas berjalan keluar diikuti oleh Bo yong Kang, Gan Su Nio dan Li Cong Bun dari belakang.
Bo yong Kang saat itu baru dapat berbicara dengan kekasihnya.
"Sumoy."
Katanya.
"Kau tentu tak menduga dalam perjalanan bersembahyang di makamnya ayah bunganya Bun jie ditengah perjalanan kami mendapat halangan sampai timbulnya peristiw seperti sekarang ini. kau di pulau Lam hay tentu menanti-mantikan kedatanganku sia-sia saja, bukan?"
Gan Su Nio tersenyum manis.
"Ah, aku sudah tahu. Menunggu-nunggu kau tak juga muncul, aku lantas merasa mesti ada terjadi apa-apa dengan kau. Saban hari aku terus memikirkan sampai pada suatu hari, Teng Goan Suheng datang ke pulau melaporkan prihal kau mendapat luka berat dan Li Cong Bun kena diculik. Sekarang kalian sudah selamat, hatiku merasa sangat girang. Cuma 610 saja itu Pedang Penakluk Iblis masih ada ditangannya Kun Hun, benar-benar hatiku tak mengasih. Lebih baik Bun jie mencari akal untuk merampas kembali pedang-pedang tersebut!"
Sebelum Bo yong Kang menjawab, Li Cong Bun sudah mendekati dan bicara perlahan.
"Gan kouw-kouw kau jangan kawatir, selempang pedang yang ditangannya itu ada pedang palsu, yang tulen ada di tangan kita. Kalau mereka tahu tentu mereka akan kalap karenanya."
"Apa iya?
tanya si nona melengak heran.
Li Cong Bun tersenyum mengangguk.
Smbil berjalan mereka bercakap-cakap.
Sebentar kemudian sudah sampai didepan kolam A yu Ta ti.
Mereka pada duduk sambil menikmatii pemandangan yang permai.
Ceng Leng Cinjin setelah membasahi tenggorokannya dengan seteguk air teh sambil tertaw telah berkata.
"Ya, sungguh menarik sekali kalau kita bertempur diatas air. Entah bagaimana dengan kepandaiannya empat taysu yang tentunya sudah berlatih mahir sekali cara bertending demikian."
Pei hud Kun Hun merendahkan diri, kemudian ia bertanya.
"Ya sebelumnya bertanding aku ingin mendapat tahu halnya semalam di puncak 611 pagoda Gledek ada orang dengan batu menimpug kedalam jendela, tapi aku mencari-cari dalam sepuluh lingkaran tombak di pagoda itu ternya tak ad orangnya. Betul-betul aku tak mengerti… "
Oh ya, itu aku yang berbuat,"
Memotong Li Cong Bun. Karena tiga taysu dalam percakapan sangat menghina suhu maka dengan biji caturku aku menghentikan pembicaraan kalian."
Sehanis berkata, Li Cong Bun keluarkan biji caturnya yang hitam.
Ia kasi demonstrasi caranya menimpuk semalam.
Kun Hun manggut-manggut dan kenali betul adalah biji caturnya Li Cong Bun adalah benda yang semalam menerjang masuk dari jendela.
"Ooh. Li Sicu pandai bermain catur."
Katanya tertawa kemudian berpaling kepada Cui hud Biauw Hun berkata.
"Jite, kau pandai dengan ilmu "
Tubuh bertindak keluar cari bunga teratai‟ maka kau boleh coba-coba memilih lawanmu untuk bertempur."
Biauw Hun terus berdiri dan memberi hormat kepada pihak lawan ia berkata .
"Sebatulnya kolan A ya Ta ti ini, dlamnya sepuluh tombak. Kami empat saudara setiap hari ada berlatih terutama membuat delapan puluh satu kuntum bunga teratai merah dari besi digunakan sebagai alat berlatih. Pada saat ini alat itu terendam air kira-kira tiga dim, tapi kalau menggunakan iweekang, 612 bunga itu dapat ditarik dengan sendirinya timbul di permukaan air. Berbarisnya bunga-bunga itu amat rapih. Tiap-tiap bunga atas bawah depan belakang kiri dan kanan jaraknya tepat tiga kaki. Aku sekarang ingin bertending dengan Ceng Leng Totiang untuk beradu kecepatan. Kita bersma-sama lompat ke permukaan air, kemudian dengan menggunakan tenaga dalam dipusatkan pada telapak kaki, saban setindk harus dapat menaikkan sekuntum bunga. Siapa yang dapat menarik bunga itu sebanyak empat puluh satu kuntum itulah yang menang. Bagaimana dengan pendapat totiang?"
Ceng Leng Cinjin tertawa pada Bu Ju Toato dan Biauw Hoat Sin ni.
"Hei, kamu berdua, tolong ajari aku! Biauw Hun taysu betul-betul cerdik dan bisa memilih aku, betul-betul aku kuatir nanti membuat gagal dipihak kita!"
Biau Hun mendengar perkataannya Ceng Leng Cinjin lalu tertawa bergelak-gelak sambil hirup kering araknya ia berkata.
"Ceng Leng totiang kau jangan merendahkan diri"
Katanya "
Ilmu meringankan tubuhmu sangat termasyur di Tionggoan sehingga kami di Si Hek juga mendapat dengar kemasyuran itu.
Nah silakan datang ke tepi kolam untuk melihat itu delapan puluh satu kuntum bunga teratai merah dari besi.
Kau terus dapat membuat rencana bagaimana harus berbuat 613 untuk pertandingan yang barusan aku sebutkan.
Ceng Leng Cinjin menghampiri tepi kolam dimana ia melihat delapan puluh satu kuntum bungan teratai itu ada berbayang di bawah air barisan sangat rapi yaitu sembilan baris kali sembilan kuncup bunga.
Ia memperhatikan lebih jelas, disitu tidak ada sesuatu apa-apa yang aneh, maka ia lantas berkata.
"Ya, harap taysu tolong menunjukkan jalannya!"
Biauw Hun tertawa, sambil mengibaskan lengan jubah kuningnya badannya melesat ke udara dan menolak di atas bunga teratai tadi, sambil memalingkan kepalanya ia berkata pada Pei hud Kun Hun.
"Toa suheng, harap beri tanda dengan tiga kali bunyi lonceng! Agar aku dan Ceng Leng totiang dapat bersama-sama memulai pertandingan ini!"
Ceng Leng Cinjin menghadapi pertandingan itu diam-diam dalam hatinya berpikir ada sulit untuk ia rebut kemenangan.
Ia belum biasa menarik keluar bunga-bunga teratai dari besi itu hingga di atas permukaan air.
Sebaliknya tidak demikian dengan lawannya yang tentu sangat mahir dalam hal demikian.
Tapi sudah terlanjur, apa boleh buat, ia harus menunjukkan kepandaiannya.
"Taysu sekali menginjah ditengah bunga teratai sudah menang tiga kaki jauhnya. Aku sudah kalah angin. Tapi aku terpaksa mengikuti jejakmu. Nah sekarang boleh membunyikan tanda mulai pertandingan!"
Biauw Hun tersenyum, terus melambaikan tangannya memberi tanda supaya dibunyikan lonceng.
Kun Hun sudah sedia lonceng diatas meja.
Maka begitu mendapat isyarat dari saudaranya segera ia membunyikannya.
Berdua terus berlomba lompat-lompatan sambil mengeluarkan bunga-bunga teratai dari besi keatas permukaan air.
Berdua mulai dari sebelah dalam terus ke barisan luar.
Setelah ada tigapuluh kuntum yang muncul diatas permukaan air, Bu Ju Toato berbisik ada Biauw Hoat Sin ni menyatakan kekuatirannya kena ditipu, tapi Li Cong Bun dengan tertawa menyela.
"Jiwi supek, jangan kuatir, biarpun suhu tertipu dia tidak bisa kalah. Buktikanlah nanti!"
Pada saat mereka tidak percaya, tiba-tiba semua kuntum bunga sudah pada muncul di permukaan kolam.
Pei hud Kun Hun melihat kejadian aneh itu, lantas tahu tentu ada orang yang mengacau di kamar rahasia tempat mengemudikan alat bunga itu.
Terus ia memberi isyarat pasa Ang Hun, siapa bersama-sama dengan Li Bu dan Li Kong lantas pergi untuk melakukan pemeriksaan.
615 Pertandingan di atas bunga teratai ini tidak dilangsungkan lagi, menunggu kabar dari hasilnya pemeriksaan.
Tapi Cui hud Biauw Hun sudah menjadi sangat gusar.
Setelah berada didekat Kun Hun ia tertawa dingin.
"Toa suheng, itu delapan puluh satu kuntum bunga dengan sendirinya sudah muncul diatas permukaan air, kita sangat malu terhadap Ceng Leng Totiang. Toa Suheng, apakah sudah memerintahkan orang untuk memeriksa hal itu? Apa ada setan yang main-main?"
Ceng Leng Cinjin terus duduk di tempatnya. Ia berbisik kepada Bu Ju dan Biauw Hoat.
"Wah kalau semua bunga itu tidak dengan tiba-tiba muncul, aku pasti kalah dalam pertandingan tadi. Empat Hud Naga Emas benar-benar mahir dan pandai, kita tidak boleh memandang rendah!"
Bu Ju dan Biauw Hoat tertawa girang. Tiba-tiba muncul Ang Hun bersama seorang hweshio yang menjaga alat pengendali bunga-bunga teratau besi, ia melaporkan.
"Toa suheng, dalam kamar rahasia tidak ditemukan seorangpun. Hanya satu murid ini ini yang bertugas di kamar itu telah mabuk arak ketiduran hingga tidak ada yang mengontrol dan pengemudian menjadi kacau balau." 616 Kun Hun marah matanya melotot pada hweshio yang diajak Ang Hun tadi tapi ia tidak berani unjuk kemarahannya dihadapan banyak tetamu. Kemudian ia berbisik pada Cio hud Pek Hun.
"Samte kau boleh bertanding dengan Bu Ju dari Hang san dengan menggunakan "
Ilmu Harimau Memasuki liong‟ dalam duapuluh tujuh jurus kau pasti menang."
Pek Hun tertawa, lalu menghadapi Bu Ju Toato berkata.
"Aha, Bu Ju Taysu, telapakan tangannya yang bertenaga sakti. Semua kalangan rimba persilatan sudah tidak asing lagi. Aku minta pelajaran ilmu itu diatas depapan puluh satu kuntum bunga teratai merah itu untuk beberapa jurus saja."
Bu Ju Toato bergelak-gelak ketawa ketika ia hendak berdiri dari duduknya ada Bo yong Kang yang mencegah.
"Supek biarkan aku yang maju melayaninya!"
Bu Ju Toato melirik Ceng Leng Cinjin siapa anggukkan kepalanya tanda setuju dengan penggantian itu Ceng Leng Cinjinmengerti.
Bo yong Kang ingin membalas atas bokongannya Pek Hun tempo hari sehingga jiwanya hampir melayang karena mendapat luka dalam yang sangat berat.
Bo yong Kang lompat ke hadapan Pek Hun, ia memberi hormat dan berkata.
"Pek Hun taysu aku datang ingin minta pelajaran pula dari kau untuk beberapa jurus saja!"
Pek Hun melihat Bo yong Kang yang akan menghadapi, ia meskipun kurang senang diam-diam dalam hatinya girang pikirnya Bo yong Kang ada lebih empuk dibanding dengan Bu Ju Toato yang sudah banyak pengalamannya.
maka ia anggukkan kepala ketika Bo yong Kang bicara dihadapannya.
"Aha rupanya hendak merebut kekalahanmu tempo hari. Baik, mari kita bertempur diatas delapan puluh satu kuntum bunga teratai. Karena aku sangat mahir bertempur di atas bunga teratai maka aku akan menggunakan satu telapakan tangan kanan saja untuk melayani kau!"
Setelah berkata ia enjot tubuhnya melesat keudara kemudian hinggap diatas bunga teratai.
Dari sikapnya yang congkak, kelihatannya ia tidak memandang sebelah mata kepada Bo yong kang yang dulu menjadi pecundangnya.
Bo yog Kang melihat Pek Hun sudah berada diatas bunga teratai, ia juga enjot tubuhnya meluncur.
Setelah beerada diatas bunga teratai ia telah memeriksa, ternyata tidak ada apa-apa yang mencurigakan.
Pek Hun melihat Bo yong Kang masih belum bergerak lalu menegur.
"Hey, kita berada di barisan bunga teratai seperti biasa saja tidak ada apa-apanya yang istimewa. Waktu kita bertempur tempo hari, kita belum mengeluarkan ilmu istimewa kita masing-masing. Nah sekarang aku dengan telapak tangan kanan satu saja akan melayani kau. Hayo mengapa kau masih belum mulai menyerang?"
Bo yong Kang tidak menjawab, hanya ia lantas angkat tangannya menyerang.
Betul saja Pek Hud hanya menggunakan satu telapak tangan kanannya yang dipakai menangkis ialah satu jurus dari "Harimau menaklukkan Hong dalam dua puluh tujuh jurus.
Seranganmana telah mengeluarkan tenaga yang dahsyat hingga Bo yong Kang tidak berani menyambuti, ia hanya berkelit mengkindarkan pukulan maut itu.
Berbareng Bo yong Kang berkata.
"Wah Tysu mempunyai ilmu "Kobasan tangan baja‟ bertenaga gaib benar-benar lihai."
"Nah, sekarang kau sambut serangan lengan gaya Bunga mekar menghormat sang Buddha,"
Kata Pek Hun seeraya memutar tubuhnya sepasang telapakan tangannya yang dahsyat ditaruh di dadanya.
Saat serangan hebat kembali dilancarkan oleh Bo yong Kang tetapi dengan gayanya yang terus berkelit mengkindari serangan lawan, tidak menyambut dengan kekerasan.
"Ha ha! Kau tahu gayaku lihai, cobalah sambuti. Kenapa tidak mau menangkis apa takut?"
Sambil berkata ia kembali mengibaskan lengan bajunya menyerang.
Lagi-lagi Boyong kang hanya berkelit, hingga membuat Li Cong Bun yang menonton merasa heran, kenapa susioknya bertempur dengan cara yang demikian.
Bu Ju Toato juga heran, maka ia menanya pada Ceng Leng Cinjin.
"Ceng Leng toheng, aku lihat Bo yong kang sekarang amat sabar, dia tidak mau menyerang, apakah kau sudah ajarkan padanya ilmu Cian Goan Kang?"
Cian Goan Kang adalah sebuah ilmu serangan tenaga urat.
"Ya,"
Jawab Ceng Leng Cinjin.
"Mereka berdua paman dan keponakan sudah dipengaruhi kebaikan pribadi Se bun Pa. Thio Tit Jun ke Pek thian san dia ada cerita bahwa hatinya sangat cemas karena gara-gara Pedang Penakluk Iblis menjadi bermusuhan dengan kawanan hweshio dari Si Hek. Aku merasa kasihan padanya maka aku tidak sayang untuk menurunkan ilmu Cian Goan Kang kepadanya. Dan jalan darah nadi yang penting Jen dan Tok sudah bersatu lima jalan pernapasannya sudah sempurna. Kalau dibandingkan dengan kita berdua, bedanya kita berdua sudah mahir sedangkan dia belajar belum lama." 620 Bo yong Kang terus-terusan tidak mau bertempur betul-betul. Ia mengandalkan kegesitan dan tenaga lunaknya untuk memberikan perlawanan. Satu waktu ia badannya berputar lalu saat melesat tinggi hingga lawannya menjadi sangat mendongkol karena tiap serangannya selalu mengenai tempat kosong. Satu kali Bo yong Kang menyerang dengan gaya Bayangan Jatuh Dikolam tidak membuahkan hasil sebaliknya lawannya menyerang dengan ilmu pukulan Dewa Menyebrang Lautan. Pek Hun melompat melewati empat kuntum bunga mendekati Bo yong kang dan menyerang punggungnya, saat itu Bo yong Kang baru menotol bunga tiba-tiba terputar seperti gasing. Ia balas menyerang dengan menggunakan tenaga urat. Pek Hun menangkis kira-kira setengah dim lagi kedua tangan benterok, Bo yong Kang menarik pula serangannya. Pek Hun merangsek dan mendorong saat mana Bo yong Kang telah keluarkan ilmunya Ciong goan kang maka seketika itu keduanya berhadapan mengadu Iweekang (tenaga dalam). Pertarungan menggunakan tenaga dalam sangat hebat hingga Gan Su Nio yang menyaksikan kelihatan sangat kuatir kekasihnya akan jatuh dibawah angin. Biauw Hoat Sin ni yang selalu memperhatikan gerak-gerik muridnya lantas menghibur.
"Su Nio, kau tak usah kuatir. Apakah kau tak dengar barusan Ceng Leng Supekmu bilang Bo yong Kang punya dua jalan darah Jen dan Tok sudah bersatu? Terang dia tak akan mengalami kerugian, kau lihat saja nanti buktinya."
Saat itu memang Bo yong Kang berada diatas angin, meskipun wajahnya kelihatan merah.
Ia memberi tekanan berat pada Pek Hun, hingga ia meskipun tak mengeluarkan seantero tenaganya tidak dapat menyingkir dari tekanan berat lawannya.
Hanya dengan sekali menggetarkan telapak tangannya saja Bo yong Kang dapat membuat musuhnya mendapat luka didalam.
Tetapi ia tak mau membalas dendam.
Ia hanya mendorong perlahan Pek Hun sambil berkata.
"ek Hun Taysu, ilmu silat termahir itu hanya dalam tubuh yang kuat. Pertempuran hanya mencari kemenangan saja. Perlu apa kita harus berebut kemenangan kosong, sebaiknya kita menghapuskan permusuhan yang berlarut-larut tidak ada ujung pangkalnya. Nah Taysu, kita bertanding sampai disini saja."
Setelah berkata, Bo yong Kang enjot tubuhnya melesat keudara dengan gaya "Sang Bangau Menerobos Awan‟. Kemudian waktu meluncur turun ia merunah gayanya dengan "
Belibis terbang sambil miringkan badan‟ dan segera jago Liauw tong itu sudah berada dipinggir kolam lagi.
622 Sungguh dua macam ilmu meringankan badan yang indah sekali.
Penonton semua merasa kagum oleh gerakannya abo yong Kang yang gesit dan mantap.
Terutama Gan Su Nio tentu ia menyambut dengan kerlingan mata dan berseri-seri, cukup membuat Bo yong Kang merasa sengan hatinya.
Pek Hun waktu itu memang sudah kehabiisan tenaga, dan ia sudah merasa dirinya bakal jadi pecundang dan menerima pembalasan Bo yong Kang.
Siapa tahu Bo yog Kang tidak mau membalas dendam dan menyerang, sebaliknya memberi muka padanya.
Betul-betul orang she Bo yong itu sangat baik hatinya.
Ia tidak tahu harus bagaimana ia berbuat, waktu itu ia jadi bengong berdiri di atas bunga teratai sampai kemudian Pek hud Kun Hun meluncur dan hinggap di atas bunga teratai didekatnya.
"Samte, pertandingan barusan sama kuatnya. Sekarang samte boleh kembali ketempatmu. Aku akan bertanding dengan Biauw Hoat untuk menyelesaikan urusan di Pek thian san itu."
Pek Hun menurut.
Ketika ia kembali di pinggir kolam sambil berjalan ketempatnya hatinya tak sudah-sudahnya memuji kebaikan Bo yong Kang.
623 Sementara itu Cui hud Biauw Hun yang mengambil alih lonceng tanda pertandingan dari Kun Hun lalu mulai membunyikannya.
Pada saat itu justru ada timbul kejadian yang ajaib.
Air kolam yang tenang tiba-tiba bergelora.
Delapan puluh satu kuntum bunga teratai dari besi bergerak semua, berputar perlahan dari kanan kekiri.
Tapi Kun Hun tak ambil pusing itu semua.
Ia menantang Biauw Hoat Sin ni untuk bertanding.
Biauw Hoat Sin ni melihat bunga teratai itu terus berputaran ia menduga tentu di dasar kolam ada alat untuk memutarnya.
Ia ingat barusn lonceng dibunyikan sampai enam belas kali.
Suara itu tanda untuk orang menggerakkan alat rahasiannya.
Ia tak ingin kelepasan tangan beratnya, maka ia minta agar Bu Ju dan Ceng Leng saja yang turun dipertandingan.
Sementara itu bunga-bunga yang berputar semakin lama semakin cepat.
Air muncrat beterbangan beberapa tombak, hingga mereka yang pada duduk dipinggir pada menjauhkan diri agar tak kena sambaran air muncrat.
Pui hud Biauw Hun merasa heran.
Inilah untuk kedua kalinya ada kejadian yang mengherankan.
Karena itu cepat ia meninggalkan tempatnya menuju ketempat rahasia tempat alat menggerakkan bunga teratai besi itu.
624 Waktu sampai, ia dapatkan Li Hui yang ditugaskan menjaga, mulutnya sudah berbau arak.
Dalam keadaan mabuk ia memutar alat-alat itu sampai habis hingga tentu saja terjadi hebat akibatnya.
Li Hui lalu didorong dari tempatnya.
Ia sendiri lekas mengendalikan putaran-putaran alat itu kepada keadaan biasanya hingga keadaan di kolam menjadi tenang kembali.
Pei hud Kun Hun yang sudah berada di atas bunga teratai yang diajak berputaran demikian cepatnya tentu saja kepalanya keliyengan.
Pikirnya ia tidak bisa bertanding dalam keadaan demikian, maka cepat ia melompat lagi ke pinggir kolam.
Napasnya sengal-sengal dan jubahnya sudah basah kuyup dengan air.
Sungguh enyilaukan dilihatnya.
Ia tidak menemukan "
Tri Tunggal‟ dan anak muridnya di pinggir kolam, maka cepat ia bertindak masuk ke dalam kuil, dimana benar saja Ceng Leng dan kawn-kawannya ada di dalam.
Ia datang menghampiri sambil merangkap kedua tangnnya memberi hormat dan berkata.
"Sahabat sekalian, aku menyesal murid-muridku amat bodoh sehingga ada orang mengacau tidak mendapat tahu. Aku tidak berani menuduh kalian yang berbuat, karena aku tahu kalian adalah orang-orang yang terhormat. Nah baiknya pertempuran ini ditunda dahulu. Aku akan mencari si 625 pengacau. Kalau sampai tidak bisa ditemukan, sungguh memalukan kepada nama Si Hek pay. Aku tidak akan lagi meneruskan pertandingan akan lantas menutup kuil "
Naga Emas‟ dan memulangkan lagi "Pedang Penakluk Iblis‟ kepada kalian. Sejak saat mana kami akan bikin habis segala dendaman kita soal Hoat Goan dan Tay Han itu di Pek thian san."
Wajahnya ketua dari kuil "Naga Emas‟ itu merah padam saking marahnya. Sebelum Biauw Hoat menjawab, Bu Ju telah mendahului.
"Taysu, urusan sekecil ini buat apa taysu sampai demikian marahnya? Kami datang disini juga bukan buat mendapat kemenangan. Hanya untuk berusaha supaya permusuhan diantara kita dapat dibikin hilang dan seterusnya kita dapat hidup damai."
Pie hud Kun Hun sudah sangat marah hingga omongannya Bu Ju Toato seolah-olah tidak mendapat perhatiannya. Ia terus masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan sendiri.
Jilid 17 LI CONG BUN yang melihat tingkah lakunya Kun Hun diam-diam merasa geli dalam hatinya.
Ia tertawa sambil mendekap mulutnya.
Bo yog Kang memberi isyarat supaya keponakannya itu 626 jangan menertawakan orang.
Karena kalau dapat dilihat oleh Kun Hun urusan akan menjadi tambah runyam.
Kun Hun ketika balik lagi ke ruang tamu, ia duduk menemani tetamunya dan kepada Biauw Hun ia berkata.
"Jika itu Li Hai yang mendapat giliran menjaga tidak melakukan kewajibannya dengan baik dan sudh mabuk-mabukan boleh diberi hukuman empat puluh kali rangketan rotan. Selama tiga tahun dia ditugaskan menjaga api di dapur. Aku disini menemui tamu-tamu, kalian bertiga boleh memimpin murid-murid untuk melakukan pemeriksaan dan menangkap orang yang telah berbuat kekacauan. Kalau sudah kedapatan, boleh segera laporkan padaku."
Kun Hun berkata-kata dengan muka tenang,tidak marah-marah lagi seperti tadi.
Malah saban-saban tampak ketawanya.
Hal mana membikin Gan Su Nio yang mengikuti gerak-geriknya telah merasa curiga dan berbisik pada gurunya.
"Suhu, aku lihat wajahnya Kun Hun dari begitu hebat marahnya, mendadak sekarang telah berubah berseri-seri, aku merasa curiga.
Mungkin dia ada merencanakan apa-apa yang membuat kita bisa mendapt kesulitan."
Biauw Hoat Sin Ni buka lebar-lebar matanya meneliti kesana sini.
Kecuali mukanya Kun Hun yang betul cepat berubahnya, lainnya ia tak mendapat apa-apa yang dirasa 627 ada mencurigakan.
Air teh yang diminum juga tidak ada apa-apanya.
Malah kawan-kawannya yang minum dari tadi tidak mengalami apa-apa yang tidak diinginkan.
Bo yong Kang dan kawan-kawan juga seperti nona Gan merasa heran, tetapi mereka hanya menuggu perkembangan lehih jauh baru nanti diambil tindakan bagaimana.
Pada saat itu tiba-tiba datang dua saudaranya Kun Hun yang melaporkan bahwa tidak ada orang yang mencurigakan.
Kun Hut tertawa.
Ia tidak mengusik lagi halnya si pengacau.
Hanya menyuruh orang-orangnnya untuk mengganti air teh dengan yang baru, lalu diedarkan pada semua tetamu dan sekalian hweshio yang ada disitu mereka pada munum bersama-sama.
Setelah melihat semua sudah pada minum teh, tiba-tiba Kun Hun tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata pad Biauw Hoat Sin ni.
"Lebih baik tinggalkan murid kesayanganmu si Burung Hong Kumala dan edang Penakluk Iblis sebagai tanggungan. Nanti setelah kau membawa sepuluh hweshio Siauw lim si, kesini uantuk melakukan upacara sembahyang akan kami kembalikan barang-barang tanggungan itu!"
Biauw Hoat Sin ni berubah wajahnya.
"Hei…."
Ia menggerang.
"Belum bertempur sudah berkata demikian, apa kau kira sku sudah kalah bertanding diatas bunga teratai 628 itu? Hmm…. Aku masih pandang kau adlah sama-sama murid Buddha maka aku mengampuni jiwamu. Tapi sekarang jikalau kau mau berbuat yang tidak-tidak, jangan sesalkan aku akan mencabut jiwamu dalam ruanga kelenteng ini sampai isi perutmu keluar semua!"
Kun Hun tertawa nyengir.
"Ha ha ha…. untuk apa kau harus keluarkan tenaga lagi, seban kematianmu sudah berasda di depan mata. Terus terang aku katakan bahwa air teh yang barusak kalian minum kami sudah taruhi racun "
Cit jit toan hun san‟ ha ha ha…."
Cit jit toan hun san adalah semacam obat bubuk yang dapat merenggut jiwa orang yang memakannya dalam tempo tujuh hari.
Setelah lewat tujuh hari perutnya si korban akan pecah dan keluar semua isi perutnya.
Sungguh racun yang ganas sekali, kalau tak obat pemunahnya sendiri, obat pemunah lainnya tidak menolong.
Biauw Hoat Sin ni merasa ia memang tadi ada curiga hendak meminum teh yang disuguhkan baru, tapi karena malu hati oleh lain-lainnya yang pada minum tanpa menghiraukan akibatnya ia jadi teturutan minum.
Sekarang kejadiannya begini, sungguh besar sekali kegusarannya terhadap kepala kuil "Naga Emas‟ yang licik itu.
629 Tapi Li Cong Bun diantaranya yang terus tertawa bergelak-gelak tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Kun Hun tadi.
Dalam gusarnya Biauw Hoat membentak.
"Empat Hud naga Emas, kalian dengan jalan licik begini hendak merebut kemenangan? Hmm… sungguh tidak tahu malu!"
"Kau jangan bilang begitu,"
Jawab Kun Hun.
"Coba pikir. Jeruji besi dalam kamar tahanan Li Cong Bun tiba-tiba menjadi amoh sedang bunga teratai tadi untuk kita bertempur dengan mendadakan telah bergerak dan berputaran, amat mengherankan. Kalau bukannya kalian punya perbuatan, lalu siapa lagi? Nah, begini saja. Kalau kalian mau menurut pendapatku, aku akan memberikan obat pemunahnya supaya kalian jangan sampai mati konyol. Sebaliknya jika kalian menolak kehendakku,terserah. Sebab yang susah dan mati penasaran bukannya kami disini. Ha ha ha…."
"Hweshio jahat tidak tahu malu!"
Teriak Biauw Hoat Sin ni yang sudah meluap-luap amarahnya.
"Dimukanya saja baik tapi dalam hatimu busuk dan licik, sungguh tidak nyana begitu muka tebal. Tidak berani menghadapi musuh dengan berterang. Beraninya hanya membokong. Nah sambutlah seranganku ini….!"
Berbareng Biauw Hoat Sin ni melancarkan serangan tangannya yang mengandung tenaga dalam yang hebat.
630 Kun Hun mengira Biauw Hoat Sin ni keracunan dan tidak dapat bertempur lagi.
Tapi siapa tahu serangan nikow itu mengandung tenaga yang amat lihay.
Sambil menghindarkan serangan Kun Hun berteriak pada tiga saudaranya.
"Hei, samwi sute, coba kerahkan tenaga kalian. Apakah ada perubahan atau tidak dalam tubuhmu?"
Tiga saudaranya segera menurut apa yang dikatakan toakonya.
Benar saja mereka merasakan seperti perut dan kepalanya tak enak.
Kenapa Kun Hun berkata demikian?
Itulah karena Kun Hun sendiri merasakan badannya tidak enak, kuatir dirinya kena keracunan bikinannya sendiri.
"Lo ni, kau mengatakan kami licik dan muka tebal, tapi dipihakmu diam-diam menggunakan orang untuk membokong kami orang. Apakah perbuatan itu tidak lebih licik dan tebal muka dari kami orang? Hmm…. Kalau berkata mau enaknya saja, tapi…"
Kata-katanya belum habis, tiba-tiba ia mendengar suara dibalik kerudung sebuah patung hingga KunHun kaget dan menyerangnya dengan sekuat tenaganya hingga patung yang diserangnyamenjadi hancur lebur dan abunya pada beterbangan, tapi ia tidak dapat menemukan orang yang perdengarkan suara tadi.
631 Sesaat keadaan dalam ruangan itu menjadi sunyi.
Li Cong Bun yang tidak dapat menahan ketawanya, tiba-tiba berkata.
"Sungguh lucu, belum pernah aku melihat ada hweshio meninju atung Buddha yang suci. Locianpwe yang jail, kalau tidak mau menunjukkan diri, aku kuatir kuil yang megah ini akan rubuh dipukul hancur oleh hwishio penghuninya sendiri. Ha ha ha…"
Berbareng pada saat itu dari belakang patung yang jauhnya kira-kira tiga empat kaki dari patung yang hancur, ada muncul seorang laki-laki berumur kira-kira limapuluh tahun, tubuhnya pendek dan kurus, tapi matanya amat terang.
Pada kedua pipinya ada dua goresan luka dan dibahunya ada disangkutkan sebilah pedang.
Ia berbaju putih, setelah munculkan dirinya lalu menghampiri Tri Tunggal dan menjura dengan hormat.
Pie Hud Kun Hun pikir semua rencananya telah dibuat berantakan oleh orang yang baru muncul ini, maka ia tak mau memberikan ampun lagi.
Dengan menggunakan sepenuh kekuatan tenaganya ia telah melancarkan serangan yang maha dahsyat.
Dalam ruangan itu lantas timbul angin dingin yang beracun menyerang kepada orang tadi.
Ceng Leng Cinjin melihat Kun Hun sudah seperti orang gila ia terus menggunakan 632 ilmunya Hiau Bun Kang untuk menangkis serangan angin dingin beracun tadi.
Hebat kesudahannya sebab Kun Hun tidak tahan menyambuti tangkisannya jago dari Pek thian san itu.
Tubuhnya mental beberapa tindak, setelah mengeluarkan jeritan tertahan ia jatuh rubuh ditanah.
Tulang-tulang pada tubuhnya dirasakan amat sakit seperti terlepas dari rangkanya, urat-uratnya semua kesemutan dan sakit.
Ia tidak bisa berdiri lagi.
Biauw Hun yang menyaksikan kejadian itu telah menghela nafas.
Ia mengerti bahwa Empat Hud naga Emas bukan tandingannya Tri Tunggal, perlahan-lahan menghampiri toakonya, ia membimbing bangun Kun Hun.
Orang tua baju putih tadi memalingkan kepalanya danberkata padanya.
"Kalian bertanding di kandang sendiri. Belum tahu siapa menang siapa kalah, sudah mengandung hati jahat terlebih dahulu. Kalian telah menyuruh pelayan-pelayan menyediakan teh beracun. Perlunya kalau kalian nanti mendapat kekalahan teh beracun itu disuguhkan pada para musuh-musuhmu untuk membinasakan mereka. Sungguh suatu perbuatan yang sangat memalukan, jauh bedanya dengan Si Hek pay dibawah pimpinan Cauwsu kalian. Partai kalian mendapat nama termashyur. Oleh sebab itu tidak ada salahnya aku juga menaruh racun pada teh kalian sebagai balas 633 budi. Racunku itu terbuat dari bisanya ular sutera yang terdapat di daerah Biauw. Empat tokoh dari kuil "
Naga Emas‟ mendengar itu sudah menjadi terkejut dan bukan main takutnya, karena racun demikian hanya dapat dipunahkan oleh obat orang yang memelihara ular sutera itu.
Racun itu amat jahat.
Dalam tempo tiga hari tiga malam sang korban akan menderita kesakitan bukan main.
Tubuhnya setelah mengalami siksaan itu baru binasa.
Orang tua tadi melihat mereka sangat ketakutan, dengan tersenyum lalu berkata lagi.
"Hmm…!
Kalian sudah tahu jahatnya racun ular sutera.
Nah sekarang harus makan obatku untuk memunahkan racun itu baru dapat menolong jiwa kalian.
Kemudian ia menghadap Tri Tunggal memberi hormat, katanya.
"Boanpwe Se bun Pa dari Kui hoa san, seorang yang banyak dosa menghadap pada tiga cianpwe…."
Berbareng ia menjatuhkan dirinya berlutut. Tapi Bu Ju Toato yang dekat padanya sudah lantas mengulurkan tangannya mencegah.
"Ha ha ha…"
Bu Ju Toato tertawa.
"Se bun sicu dari jalanan gelap sudah mencari jalanan terang sesungguhnyalah mengunjukkan 634 budi yang luhur. Mana dapat kami dipanggil cianpwee..?"
Karena dicegah berlututnya maka Se bun Pa hanya memberi hormat saja kepada Tri Tunggal yang dibalas sebagaimana mestinya oleh mereka.
Kemudian Se bun Pa telah menyampaikan kabar bahwa Thian lam Siang koay telah datang di Tionggoan.
Ia usul supaya urusan di kuil Naga Emas itu lekas-lekas diselesaikan.
Karena dengan turunnya dua siluman dari Thian lam itu ada meminta perhatiannya Tri Tunggal itu unguk menghadapinya.
Mendengar itu Bu Ju Toato tertawa.
"Se bun sicu dapat memutuskan bagaimana baiknya dalam sengketa kita ini,"
Kata jago Heng san itu.
"Nah sekarang aku serahkan Se bun sicu yang menyelesaikan urusan kita dengan Si Hek pay."
Se bun Pa baru saja hendak berkata pada pihak Si Hek pay tuba-tiba Biauw Hun menyela.
"Se bun Pa, kau jangan bergirang dahulu. Meskipun kami sudah makan racunmu, tapi pihak Biauw Hoat sekalian juga sudah kena minum racun kami. Menurut pikiranku tidak usah sampai dua pihak binasa. Kita dapat bertukar obat memunahkan racun. Kemudian kita bertempur lagi untuk mendapat keputusan. Kalau tidak bisa bertempur sekarang boleh ditetapkan suatu batas waktu 635 untuk kita bertemu lagi akan menetapkan siapa yang lebih unggul."
Se bun Pa geleng-geleng kepalanya.
"Kau jangan salah mengerti!"
Jawab Se bn Pa.
aku mau memberikan obat pemunah karena memandang pada muka Locianpwe ini yang berbudi luhur dan penuh dengan welas asih.
Aku tahu kalian berhati kejam dan jahat maka obat pemunahku itu hanya tahan untuk sementara waktu saja.
Didalam waktu tiga tahun, aku mau lihat bagaimana sepak terjang kalian, apa maih juga berbuat kejahatan atau sudah berubah insyaf.
Kalau sudah aku mendapat kenyataan bahwa kalian benar-benar insyaf, baru pada waktu itu memberikan obat pemunahnya yang betul-betul memunahkan semua akar-akarnya racun."
Ia berhenti sebentar. Matanya melirik pada Gan Su Nio. Kemudian setelah menghirup air tehnya lantas berkata lagi pada Biauw Hun.
"Kalian sudah sombong mengira sudah dapat kemenangan. Tapi coba sekarang lihat pedang yang tergantung di pinggangnya Pie Hud Kun Hun, apa Pedang Penakluk Iblis bukan?"
Kun Hun yang sejak tadi tinggal membisu saja, cepat-cepat menghunus pedangnya dan diperiksa.
Tiga saudaranya juga turut serta melihatnya.
Mereka semua dibikin pucat wajahnya karena pedang itu bukannya yang tulen.
Itu hanya pedang biasa saja.
Pedang 636 yang tulen ada tanda sedikit rompal dan ada cap kura-kuranya.
"Ha ha ha ha…"
Se bun Pa tertawa ketika menyaksikan empat tokoh dari kuil Naga Emas itu berdiri bengong semuanya.
"Li hiantit, ini terimalah pedangmu."
Se bun Pa meneruskan sambil menghunus pedang dipunggungnya yang memancarkan sinar kehijau-hijauan dan memancarkan hawa dingin.
Li Cong Bun menyambuti dengan wajah berseri-seri.
Se Bu Pa loloskan sekalian sarung pedang dari punggungnya dan diserahkan kepada Li Cong Bun hingga Bo yong Kang dan lain-lainnya menyaksikan kejadian itu pada merasa heran.
Dengan berseri-seri Se bun Pa menghampiri Bo yong Kang dengan siapa ia berjabatan tangan penuh kegirangan.
Bo yong Kang pandang Se bun Pa adalah sahabat yang paling baik dan berbudi luhur.
Berkali-kali telah menyelamatkan dirinya dan keponakannya dari bahaya maut.
Ho Ceng Bu musuh besarnya Li Cong Bun juga belum bisa ditemukan dengan mudah kalau tidak dengan pertolongannya Se bun Pa.
ia musuh besar yang sekarang menjadi sahabat dekatnya.
Girang sekali hatinya Bo yong Kang sebab dengan munculnya Se bun Pa terang urusan yang dihadapinya akan berjalan lancar dan 637 segera mendapat keputusan karena ia tahu benar Se bun Pa ada banyak akalnya dan cerdik sekali.
"Se bun toako, aku tak nyana bakal jumpa kau disini,"
Kata Bo yong Kang dengan nada suara tak lampias karena girangnya.
"Bo yong laote, kisah perjalananku setelah tertolong oleh obatnya Cong Bun gagal dari binasa. Kau tentu sudah mengetahuuinya dari Hwe Tayhiap dan suratku."
Bo yog Kang anggukkan kepalanya.
"Tetapu cara bagimana toako berada di sini?"
Tanya Bo yong Kang.
"Ha ha ha…!"
Se bun Pa tertawa.
"Setelah beres urusan Si leng cee, aku balik ketempatnya Auw yang Ti sahabat karibku. Tidak lama kemudian aku mendapat kabar tentang kalian berdua dengan Li hiantit dikeroyok oleh tujuh belas hweshio dari Si Hek. Kau sendiri mendapat luka-luka dan pulang ke Pek Thian san. Sedangkan Li hiantit kena diculik dan pedangnya kena dirampas oleh mereka. Tanpa banyak memikr aku lantas menyuruh pandai besi untuk membuat pedang palsu yang mirip dengan pedang Li hiantit. Setelah selesai dibikin aku lantas bikin perjalanan ke Si Hek untuk memberikan pertolongan kepada Li Hiantit. Dengan 638 melihat gelagat, aku tahu kau sudah sembuh. Bersama Ceng Leng Cinjin akan datang kesini untuk menolong Li hiantit. Hatiku lega karena dengan adanya kau dan tiga locianpwee misalnya ada diperlukan tenaga untuk pertempuran aku tidak akan merasa kuatir lagi."
Bo yong Kang angguk-anggukkan kepalanya.
Diam-diam ia merasa sangat bersyukur, Se bun Pa yang dahulunya dianggap sebagai musuh besar yang tak bis diampuni ternyata telah menjadi sahabat karib yang setia dan memperhatikan keselamatannya dan keponakannya.
Dengan tidak menghiraukan dirinya bisa celaka, jauh-jauh Se bun Pa sudah datang ke Si Hek dengan maksud membantu menolong dan melindungi Li Cong Bun.
Se bun Pa kemudian berpaling kepada empat tokoh dari kuil Naga Emas dan berkata.
"Kalian tahu pada waktu tiga locianpwe belum datang, aku sudah masuk dalam kuil kalian. Diwaktu Kun Hun menghirup arak, aku sudah taruh obat bius dalam araknya hingga ia tidur pulas. Waktu itu aku telah menukar pedang tulen dengan yang palsu."
Sementara tiga saudara Kun hun merasa amat heran akan sepak terjangnya Se bun Pa, adalah Kun Hun diam-diam merasa malu sendiri karena ia dapat dikerjai mentah-mentah oleh Se bun Pa, sehingga pedang yang sarungnya 639 tergantung dipinggangnya tanpa diketahui telah ditukar dengan yang palsu.
"Waktu aku sudah mendapat pedang,"
Melanjutkan Se bun Pa.
"Aku dengar Gan Su Nio dan gurunya sudah sampai diperbatasan Si Hek. Aku lantas mengamat-amati dari kejauhan untuk menjaga mereka terkena aksi liciknya dari hweshio Si Hek. Tentang jeruji-jeruji besi yang mengurung Li Cong Bun adalah aku yang memotongnya dengan Pedang Penakluk Iblis. Kemudian aku menginap tiga malam bersama-sama Li Cong Bun dalam kamar tahanan kalian di Pagoda Gledek."
Semua orang heran mendengar penuturannya Se bun Pa terutama empat tokoh dari kuil Naga Emas.
"Tentang barisan bunga terratai yang kacau,"
Se bun Pa melanjutkan.
"Akulah yang melakukannya. Aku sudah bikin Li Hui yang menjaga alat bergeraknya bunga-bunga teratai itu telah menjadi mabuk dan memutar-mutar alat itu sesuka hatiku. Aku tak mengira perbuatanku yang menggembirakan itu sebaliknya telah menyusahkan kepada Li Hui. Dia telah mendapatkan hukuman empat puluh kali rangketan rotan. Harap jangan dihukum lagi sampai tiga tahun menjadi penjaga dapur tukang menyakalan api. Kasihan!"
Pie Hud Kun Hun yang mendengar penuturannya Se bun Pa menggebrak meja dan 640 tubuh gemetaran saking menahan marahnya telah berkata.
"Hei, Se bun Pa, masih ada… masih ada yang belum kau jelaskan. Tadi terang-terang kau bersuara dibelakangnya patung yang kuhancurkan, tapi memdadak kau menghilang dan secepat kilat kau sudah berada sejauh tiga kaki, bagaimana?"
Se bun Pa terus berdiri dan berjalan ke tempat patung dimana ia barusan bersmbunyi.
Ia mengambil bambu yang kira-kira empat kaki panjangnya.
Dengan tersengum-senyum tertawa ia mendemonstrasikan cara bagaimana ia telah tipu tokoh utama dari kuil Naga Emas tadi.
Kiranya dengan sepotong bambu yang dilubangi ia telah letakkan patung yang ditengah yang kini telah hancur dihajar Kun Hun yang menganggap ia bersembunyi dibelakang patung itu telah mengirim pukulannya yang maha dahsyat.
Betul-betul Se bun Pa cerdik dan banyak akalnya.
Sambil tertawa Se bun Pa berkata pada Kun Hun.
"Dalam hal ini aku memang berdosa. Biarlah setelah aku pulang ke Tionggoan nanti aku membaca kitab sici untuk menebus dosaku. Nah sekarang aku mau pergi, harap saja kalian menempuh jalan damai dalam persengketaan ini dan merubah jalan yang tidak baik menjadi baik untuk kepentingan hidup damai kalian." 641 Kemudian ia menyerahkan obat pemunah racun sementara kepada Tri Tunggal. Ketika ia meminta diri dari sekalian, tiba-tiba Gan Su Nio berkata.
"Se bun toako, apakah kau suka memberikan padaku obat untuk menyembuhkan racun yang akan toako berikan tiga tahun kemudian?"
Se bun Pa berpikir sejenak, kemudian merogoh sakunya mengeluarkan empat butir pil merah dari botol kecil diserahkan pada Gan Su Nio.
"Terima kasih…"
Kata Gan Su Nio. Kemudia ia menghadap kepada empat tokoh dari kuil Naga Emas dan berkata.
"Taysu sekalian, tentang peristiwa Hoat Goan Taysu dan Tay Han Sin ni di gunung Pek thian san, sebaiknya kita jangan usik-usik lagi. Sebab aku tidak tahu duduknya urusan siapa salah dan siapa yag benar. Oleh karena kalau tidak terpaksa. Tentu Tay han Sin ni juga tidak akan menurunkan tangan berat. Kalian sudah mengatur muslihat yang memalukan terhadap kami orang. Syukur ada Se bun toako yang turun tangan dan menyelesaikannya hingga kedua puhak bisa berhadap-hadapan dengan tidak kurang suatu apa. Memang paling baik dendaman antara kita dihapuskan. Selanjutnya kita dapat hidup damai dan tenteram. Sekarang terimalah obat ini, yang semestinya diberikan oleh Se bun toako tiga tahun lagi."
"Kami ingin permusuhan dapat dihapuskan tapi kalau kalian masih juga ngotot dan ingin menuntut balas, aku persilakan kalian mencari aku guru dan murid di Lam hay. Jangan merembet-rembet lain orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa Hoat Goan dan Tay Han."
Gan Su Nio sambil berkata telah menyerahkan empat butir pil pemunah racun kepada Kun Hun, siapa telah menyambuti dan diam-diam dalam hatinya sangat malu.
Pikiran terang telah berkelebat dalam otaknya.
Kalau semula pikirannya keruh dengan rasa benci dan dendam, kini menjadi jernih dan tenang.
Ia insyaf akan kekeliruannya maka lalu ia menberi hormat dan menjawab bicaranya Gan Su Nio.
"Ya, semua perkataanmu memeng benar. Kita seharusnya hidup damai daripada bermusuhan tanpa ada habis-habisnya. Aku kini sudah sadar, maka mulai hari ini aku akan mengeluarkan perintah kepada semua murid-murid supaya menghabiskan dendaman urusan Pek thian san. Mulai hari ini kita tidak jadi musuh lagi, tapi menjadi kawan karib. Dari jauh-jauh kalian datang disini. Sebaiknya kalian tinggal disini untuk beberapa hari untuk mempererat hubungan persahabatan. Aku akan menjamu kalian dengan penuh kegembiraan." 643 Bu Ju Toato dan kawan-kawan mendengar bicaranya Kun Hun sudah menjadi tenang sekali hatinya, karena permusuhan yang sudah berakar itu kini dapat dilenyapkan. Mereka kini menjadi kawan karib. Undangan Kun Hun untuk tinggal disitu beberapa hari lamanya telah diterima baik dengan penuh kegembiraan. Setiap hari mereka lewatkan waktunya dengan menikmati pemandangan indah disekitar kuil Naga Emas itu kalau tidak mereka bercakap-cakap dengan tuan rumah dengan asyik sekali. Semua ini mengunjukkan rapatnya perhubungan mereka. Pada suatu hari selagi mereka menikmati pemandangan ditemani oleh tuan rumah yang memberikan pengunjukan-pengunjukan tentang keadaan disitu tiba-tiba mendengar bunyi lonceng kuil berbunyi mendadakan ada tetamu datang. Tamu itu ternyata adalah Teng Goan Hweshio muridnya Bu Ju Toato. Kedatangannya ini tentu ada membawa laporan penting untuk disampaikan kepada guru dan kawan-kawannya. Kiranya Teng Goan hweshio setelah menyampaikan laporan kepada Biauw Hoat Sin ni di Lam hay telah melanjutkan perjalanannya ke Cui tiok san untuk menemui Hwe Pek It. Tetapi alangkah kagetnya dia ketika melihat tempat tinggalnya Hwe Pek It sudah menjadi rata dengan tanah. Ia pikir 644 keadaan sudah menjadi sangat genting maka lantas ia pergi ke Goa It goan kok tempatnya Auw yang Ti. Di sana juga ia dibikin kaget. Bukan saja goanya orang itu telah dibikin musnah malah jalanan rahasia yang dibikin olehnya juga sudah diobrak-abrik tidak karuan macam. Keadaan disitu telah memberikan pemandangan yang menyedihkan. Kemana perginya Hwe Pek It dan Auw yang Ti? Mereka tentu dibawah kekuasaannya musuh perbuatannya Thian lam Siang koay dan Song Sam Ceng, tidak salah lagi. Tanpa banyak pikir lagi ia lantas menyusul gurunya ke Si Hek dimana ia harap urusan permusuhan sudah dapat diselesaikan dengan cara damai dan Tri Tunggal bisa meninggalkan tempat itu untuk menghadapi lawan-lawan berat di Tionggoan. Ketika ia masuk kedalam kuil ia lihat suasana ada amat tenang dan tenteram. Pikirnya hal persengketaan sudah dapat diselesaikan dengan damai. Ia menjadi sangat lega hatinya ketika mendapat keterangan dari hweshio dalam kuil itu bahwa permusuhan memang sudah dapat diselesaikan dengan jalan damai. Ia bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kesudahan yang menyenangkan itu. Ketika menjumpai gurunya, Teng Goan Hweshio telah memberikan laporannya. 645 Semua orang menjadi kaget karenanya. Tidak disangka-sangka Thian lam Siang koay turun tangan begitu cepat. Terutama Se bun Pa menjadi bingung mendengar kawan karibnya Auw yang Ti telah lenyap. Ia toh tidak bersalah apa-apa. Melihat Se bun Pa agak kebingungan, Teng Goan Hweshio telah berkata padanya.
"Ya, semua laporan berdasarkan kabar yang disiarkan oleh Song Sam Ceng. Katanya mereka telah menahan kedua Tayhiap itu, kalau orang mau menemuinya boleh datang di…"
Perkataannya putus karena Li Cong Bun menyela.
"Tidak salah lagi, tentu ada hubungannya dengan peristiwa di Si leng cee yaitu Se bun pepe menyaru menjadi dirinya. Aha, karena gara-garanya Se bun pepe maka Auw yang Ti cianpwe kena getahnya."
Semua orang membenarkan perkataannya Li Cong Bun. Mereka lalu berunding, semuanya setuju pergi ke gunung Tay san untuk menolong pada Auw yang Ti yang tidak bersalah dosa kena disekap disana.
"Kita harus menolong Auw yang Ti,"
Bu Ju Toato menyatakan pikirannya.
"Selain ini tentu siluman bermuka burung ekek Kiu bin Sin mo Siang Su Su yang jahat dan kejam yang membunuh orang tanpa berkedip harus dicegah masuk ke Tionggoan. Entah sudah berapa 646 banyak orang baik-baik yang mati ditangannya. Kita bertiga kalau melawan dia masih bisa menandinginya. Tapi kalau satu-lawan satu rasanya berat tidak bisa menang. Maka kita harus membagi diri unguk menandinginya. Itu siluman tua Hwe Kong sudah ada di gunung Tay san. Bo yong Kang, Gan Su Nio dan Li Cong Bun pergi ke propinsi Shan tung dengan diam-diam mencari kesempatan mengacau musuh. Im Hwa Kong ada mempunyai ilmu Pek kut Im kang yang sangat dahsyat, harus kita jangan sembarangan. Ada lagi dari pihak lawan yang kuat adalah suami istri ketua dari Tho tiok Im yang pay. Kalau mereka ada di gunung Tay san, harap kalian berlaku hati-hati. Sedang Song Sam Ceng sendiri kita tak usah buat kuatir."
Semua orang mufakat dengan rencana Bu Ju Toato.
"Se bun sicu yang cerdik dan pandai mengatur akal memimpin kalian."
Bu Ju Toato berkata kepada Bo yong kang dan lain-lainnya.
"Harap kalian harus mendengar petunjuknya, pasti akan peroleh hasil."
Teng Goan dan kawan-kawannya angguk-anggukkan kepalanya.
"Itu siluman wanita tua,"
Berkata lagi Bu Ju Toato.
"Kalau memang betul-betul muncul lagi di Tionggoan, harus kita menempur dia mati-matian untuk mencegah korban 647 kejahatannya. Apakah tidak lebih baik kita pergi kesarangnnya di Ya jin sen untuk membinasakannya? Tapi kalau salah satu dari Thian lam Siang Koay ada disana misalnya Hwe Ciang, perlu ada salah satu dari kita yang menempur dia. Dua yang lainnya menempur si Iblis wanita rasanya berat untuk menang. Kita bertiga barangkali masih belum cukup kuat…"
Belum habis bicaranya tiba-tiba Kun Hun menyela.
"Ya, sekarang kita sudah menjadi kawan akrab. Kami dapat membantunya. Aku dengan samte, Pek Hun akan membantu kalian bertempur!"
"Oh itu siluman wanita Siang Su Su,"
Kata lagi Bu Ju Toato.
"Pada enam puluh tahun yang lampau sudah membuat dosa di gunung Ji san. Ia bukan saja berhati kejam dan buruk kelakuannya, tapi ilmu silatnya sangat tinggi. Diantara kita bertiga tidak ada yang bisa menang melawan dia. Kalau taysu berdua suka membantunya, tentu saja kami akan merasa sangat girang!"
Urusan ini perlu diatur cepat-cepat.
Maka mereka pada besok harinya telah pergi ke gunung Ya Jin san.
Semua urusan didalam kuil diserahkan kepadaBiauw Hun dan Ang Hun untuk mengaturnya.
Se bun Pa dan wakan-kawan telah melakukan perjalanan dengan cepat.
Tidak lama sudah 648 sampai di kaki gunung Tay san dalam propinsi San tung.
Mereka menginap pada sebuah rumah penginapan.
Mereka berunding cara bagaimana penyelidikan dapat dilakukan dan menolong kepada Auw yang Ti dan Hwe Pek It yang ditahan musuh.
Teng Goan Hweshio menyatakan pikirannya bahwa ia sering dengar dari suhunya tentang pertempuran Ceng Leng Cinjin dengan dua saudara Hwa (Thian lam Siang koay), diatas bambu Ceng Leng dengan menggunakan ilmunya Pedang Pengejar Sukma menang sedikit dari mereka maka sekarang sudah terang mereka hendak menebus kekalahannya tempo hari.
Hwa Kong yang bergelar Pek kut Thian ong ada memiliki ilmu Pek kut Im kang, siapa yang kena pukulannya, tulang belulangnya menjadi dingin seperti es dan tubuhnya beku terus mati.
"Kalau kita bertempur dengan berterang,"
Akhirnya Teng Goan Hweshio menutup pendapatnya.
"Terang kita tidak ada harapan menang maka kudu kita menempurnya dengan jalan bergelap. Apalagi kalau siluman itu dibantu oleh suami istri ketua dari Tho tiok Im yang pay yang kebetulan ada disitu. Dalam hal ini Se bu toako yang mengatur rencaha kami orang yang menjalankannya."
Semua orang pada diam memikirkan bagaimana baiknya. Hanya Li Cong Bun yang sikapnya yang tidak wajar, ia terus meners tersenyum. Melihat sikapnya anak muda itu, 649 Se bun Pa lalu tertawa dan berkata.
"Ya sebab hal ini sangat penting, kita akan mengambil tindakan dari segala sudut. Kita tidak perlu menentukan sekarang. Paling baik kita mengaso dahulu. Besok pagi baru kita mengambil keputusan!"
Semua mufakat.
Hari waktu itu sudah larut malam.
Mereka semua pada masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk istirahat tidur.
Tidak lama kemudian suara mengores kedengaran.
Mereka rupanya sudah pada tidur nyenyak.
Setelah melihat pamannya (Bo yong Kang) tidur nyenyak.
Li Cong Bun diam-diam turun dari pembaringannya.
Dengan membekal sekantong biji catur dan Pedang Penakluk Iblis, setelah menulis pada selembar kertas merah yang lantas dimasukkan dalam sakunya.
Ia meninggalkan kamarnya naik gunung.
Selagi enaknya berlari ia kesompokan dengan seorang berbaju putih tengah mengawasi terangnya sinar rembulan.
Ia tidak meneruskan jalan larinya, ia hanya menyamping dan mengawasi pada orang tadi.
Kiranya orang itu adalah Se bun Pa.
ia segera manyaperi dan berkata.
"Oa Se bun pepe, kau orang tua tiba-tiba ada disini, tentu ada sebabnya. Apakah kau menantikan aku?"
Se bun Pa tersenyum.
"Ya,"
Jawabnya.
"Tasi siang aku melihat kau punya gerak-gerik tidak wajar. Pikirku tentu ada apa-apa 650 yang terkandung dalam hatimu. Kau tak dapat mengelabuhi diriku dan juga Teng Goan Hweshio tahu. Aku menanti kau bukannya untuk apa-apa, hanya mau tahu kau hendak bertindak bagaimana?"
"Aku tidak melihat ada mata-mata musuh tadi siang di rumah penginapan kita. Aku pikir mungkin mereka di atas gunung tidak berjaga-jaga. Aku hendak pergi kesana mencari tahu. Kalau ada kesempatan, sukur dapat menolong kedua Locianpwe. Kalau aku kena dipergoki aku akan menyerahkan surat tantangan dan aku akan kembali."
Li Cong Bun menjelaskan dengan ketawa-ketawa sambil terus duduk disampingnya Se bun Pa yang sedari tadi sudah duduk diatas sebuah batu.
Se bun Pa memuji akalnya anak muda itu.
Ia tahu melalui surat yang ditulis Li Cong Bun untuk pihak musuh bunyinya hanya pendek saja, ialah mengharap supaya dua bersaudara serta ketua dari Tho tiok Im yang pay besok malam kira-kira jam sepuluh malam di bawah gunung Tay san ditempat kuburannya orang she Lauw bertemu dengan Ceng Leng,Bu Ju dan Biau Hoat sekawan-kawannya yang dipimpinnya.
"Ah aku tahu maksudmu,"
Kata Se bun Pa tersenyum.
Kau mau memancing kawanan harimau keluar dari sarangnnya, kemudian menolong Auw yang Ti dan Hwe Pek It.
Dengan tida mengeluarkan banyak tenaga masuk di tempat kosong.
Kau pintar menggunakan kuburan she Lauw untuk menjadi penghalang." 651
"Ya betul, kok Se bun pee tahu?"
Jawab Li Cong Bun tertawa.
"Aku lihat keadaan di gunung ini mendapat kenyataan bahwa tempat kuburan orang she Lauw itu ada luas sekali dan berpadang rumput yang panjang. Malam itu, baik Se bun pepe kerjai mereka seperti tempo hari kau berbuat pada Bo yong Susiok. Di lantai kuburan itu kau boleh tancapkan paku beracun supaya mereka dapat mencicipi juga kelihaiannya Cian tok Jin mo!"
Se bun Pa berubah merah matanya mendengar disebut namanya Cian tok Jin mo aatau Iblis Beracun yang menjadi gelarannya dahulu ketika ia masih melakukan keganasan dan kekejaman.
Kini ia telah berubah menjadi orang baik-baik, tentu saja bicaranya Li Cong Bun meskipun dikeluarkan dari hatinya yang polos, merasa dirinya sudah kena disindir.
"Hmm!"
Ia menjawab.
"Sejak aku makan pil Ban miauw Ceng tan dari kau kemudian aku sudah bisa hidup kembali, semua obat-obatku yang ajaib telah aku buang. Tapi aku ada akal umtuk menipu iblis tua itu supaya dapat menolong dua kawan kita."
Tiba-tiba ia berhenti berkata sampai disini. Ia seperti yang memikir, kemudian berkata pula.
"Ya, semuanya dapat kita laksanakan. Tapi mereka itu ilmu silatnya sangat tinggi, kalau kau sendiri yang pergi, hatiku merasa tidak enak…." 652 Belum impas ia bicara, tiba-tiba terdengar suara tertawa.
"Ha ha ha, Se bun toako jangan kuatir, aku yang akan mendampingi Li Cong Bun!"
Mereka kenali itu suaranya siapa, sebab memang bukan lain adalah Teng Goan Hweshio hingga hatinya Se bunPa menjadi girang.
"Aha, kalau ada kau yang mendampingi, hatiku merasa lega,"
Kata Se bun Pa tertawa.
"Malam ini sebaiknya jangan bertempur dengan mereka. Kalian pergi hanya untuk menyelidiki keadaan dari dua kawan kita saja. Besok malam aku dapat menggunakan akal di tempat kuburan she Lauw itu pasti usaha kita berhasil!"
Setelah Se bun Pa memesan beberapa perkataan, mereka lalu berpisahan.
Teng Goan dan Li Cong Bun terus pergi ke puncaknya gunung Tay san, ialah Ciang Jie Hong dengan menggunakan ilmu lari cepatnya.
Cian jie hong adalah puncak yang tertinggi dari puncak-puncak lainnya, maka setelah mereka sampai di puncak tersebut, melihat pada gunung-gunung yang ada disekitarnya kecil.
Siluman tua Pek kut Thio dan Ong Hwee Kong di tempat ini telah membangun pesanggrahan sebagai markasnya untuk melakukan kejahatan.
Pesanggrahan itu kini telah diperbaiki.
Perlunya untuk menyambut Tri Tunggal bertanding tahun depan.
653 Dengan menggunakan kepandaiannya, Li Cong Bun dan Tiang Goan Hweshio, sudah bisa masuk kedalam pesanggrahan itu.
Tiba-tiba Li Cong Bun matanya tertarik oleh sebuah rumah besar yang mana penerangannya tampak terang benderang.
Dengan perlahan-lahan ia berkata pada Teng Goan Hweshio.
"Aha, itu rumah yang masih ada penerangannya, tentu adalah tempat berkumpul kawanan penjahat. Aku ingin meneriaki mereka supaya keluar dan aku kepingin kenal bagaimana bengisnya iblis-iblis itu. Bagaimana pikiran suheng?"
Teng Goan tidak keberatan. Ia lalu menyelinap pada suatu sudut jalanan. Sedang Li Cong Bun sudah bersiap untuk meneriaki kawanan penjahat.
"Hei, Thian lam Siang koay Hwe Ciang Kong bersama dua Iblis Leng Hong Tiok dan Pit Tho Hoa, lekas keluar untuk menjawab pertanyaanku!"
Demikian Li Cong Bun berteriak nyaring.
Tiba-tiba rumah tadi dimatikan penerangannya disusul dengan suara siulan nyaring yang memekakkan telinga.
Dan bayangan orang putih dan hitam tampak muncul berbareng.
Inilah suara suitan dengan ilmu Liap hua Mo in (suara iblis mencengkram roh).
Barang siapa yang mendengarnya, jiwanya seperti digerakkan melayang-layang.
Kalau korban itu 654 kurang kuat tenaga dalamnya bisa kehilangan pikiran dan dapat dibikin punya suka oleh suara itu.
Cepat-cepat ia mengerahkan tenaga murninya dan disalurkan keseluruh tubuhnya hingga ia bisa berdiri tegak tidak kena pengaruhnya siulan berbahaya tadi.
Segera di depannya sudah berdiri seseorang dengan muka kuda pucat pasi sepasang matanya melesak ke dalam.
Inilah ada bayangan putih tadi yang mengenakan baju putih.
Di belakangnya ada Song Sam Ceng, bekas kepala dari Si leng cee.
Erdengar orang tua baju putih itu bertanya pada Song Sam Ceng.
"Hai, pemuda ini amat lihai, dia dapat menahan suitanku yang dahsyat tadi baru aku menemuinya dia, siapa apakah kau kenal padanya?"
"Ya aku kenal padanya,"
Sahut Song Sam Ceng dengan laku hormat sekali.
Dia adalah Ceng Bun muridnya Ceng Leng Cinjin.
Sebenarnya menurut kabar dia kena ditangkap dan dibawa ke Si Hek.
Entah kenapa dia bisa meloloskan diri.
Dia datang tentu akan membikin huru hara disini.
Sebaiknya susiok menangkapnya!"
Li Cong Bun mendengar Song Sam Ceng memanggil orang itu susiok, ia lantas tahu yang di depannya itu ialah Thian lam Ji koay (siluman kedua) yang bernama Hwe Kong 655 bergelar Pek kut Tian ong.
Ia menduga siluman pertama tentu sedang pergi ke gunung Ya yin san untuk mengundang si wanita bermuka burung ekek Siang Su Su bergelar Kiu Bin Sin mo (Iblis muka sembilan) sedang dua iblis Leng Hong Tiok dan Pit Tho Hoa tupanya ada urusan tidak berada di situ pada saat itu.
Mendengar keterangannya Song Sam Ceng, Hwe Kong terkejut sebab dikiranya Li Cong Bun datang bersama-sama Tri Tunggal.
Tapi hanya sebentaran saja, lekas ia bisa menentramkan pikirannya dan menanya pada Li Cong Bun.
"Hai anak muda, apakah kau datang bersma Ceng Leng. Ada urusan apa kau datang kesini?"
Mendengar bicaranya Hwe Kong, pemuda itu menduga Hwe Kong ketakutan, maka percuma saja surat yang telah ia tulis itu diberikan pada Hwe Kong sebab toh ia tidak akan berani datang ke kuburan orang she Lauw.
Li Cong Bun menjadi cemas karena pertolongan untuk mengeluarkan kedua kawannya dari tahanan menjadi tidak berguna.
Ia hanya menjawab.
"Oo, jangan takut siluman tua. Bu Ju tayan pek dan Biauw susiok ditahan dalam kuil Naga Emas di Si Hek. Mereka disana saling bertukaran tentang kitab suci. Kedua-duanya belum pulang ke Tionggoan. Kau tak 656 perlu kuatir. Aku hanya diperintah oleh guruku untuk mengundang Thian lam Siang koay dan dua penjahat Leng Hong Tiok dan Pit Tho Hoa besok malam jam sepuluh bertempat di bawahnya gunung Tay san tempat kuburannya orang she Lauw."
Mendengar bicaranya Li Cong Bun, maka Hwe Kong mengetahui bahwa hanya ada Ceng Leng seorang, ia tidak takut, hatinya menjadi lega. Setelah tertawa gelak-gelak, ia menjawab.
"Ha-ha-ha..
kalau hanya bertempur dengan Ceng Leng saja tidak perlu saudraku Leng dan Pit turun tangan.
Baik, kau pulang beritahukan pada Ceng Leng besok malam jam sepuluh boleh tunggu aku disana untuk menyelesaikan dendaman tiga puluh tahun yang lampau.
Aku hanya datang dengan Song Sam Ceng berdua.
Song Sam Ceng sebenarnya sudah bernapsu besar melihat Li Cong Bun satu diantaranya musuh-musuh yang mengaduk di Si leng Cee.
ia sudah hendak menerjang, tapi ditahan oleh Hwe Kong.
Ia ini pikir besok malam toh anak muda itu tidak akan bisa lolos dari tangannya.
Ia akan menangkap bukan saja Li Cong Bun, tapi semuanya yang membantu Ceng Leng Cinjin akan ditangkapnya dan dimasukkan dalam tahanan.
Buat lain tahun semuanya dibunuh mati di depannya para pendekar yang berkumpul di tempatnya.
Dengan begitu, kawanan pendekar akan mengetahui bagaimana 657 berkuasanya Thian lam Siang koay dan mereka semua akan menjadi tunduk oleh pengaruhnya.
Li Cong Bun masih belum puas belum mendapat keterangan prihal Hwe pek It dan Auw yang Ti, maka ia sengaja memancing berkata.
"Kau hanya beraninya kepada yang tidak berdaya seperti Hwe Pek It dan Auw yang Ti yang kalian tangkap dan dibunuhnya, kalau terhadap lawan berat tidak berani. Perbuatan mana sungguh mempermalukan namanya Thian lam Siang koay yang sudah termasyur."
"Ha ha ha… anak kecil,"
Hwe Kong tertawa.
"Aku man ada kesempatan membinasakan orang-orang tidak ternama, maka mereka kini hanya ditahan, menunggu yang lain-lainnya dapat ditangkap akan kami binasakan sekalian sehingga dunia kangouw akan menjunjung tinggi kepada kami orang. Kau mengerti?"
Li Cong Bun girang mendengar bicaranya siluman nomor dua itu, sebab itu ada membuktikan bahwa Hwe Pek It dan Auw yang Ti masih belum mati.
"Siluman tua, kau jangan sombong. Apa kau belum kenal kelihaiannya ilmunya guruku Pedang Pengejar Sukma? Baiklah sampai besok malam kita bertemu…"
Li Cong Bun sehabisnya mengucapkan perkataannya lantas gerakkan kakinya.
Sekali lompat ia sudah mencapai empat tombak 658 tingginya.
Kemudian meluncur turun gunung tanpa menoleh kepada Hwe Kong dan Song Sam Ceng.
Song Sam Ceng sangat gemas kepada Li Cong Bun.
Ia kepingin mengejar tapi dicegah oleh paman gurunya.
Maka ia terpaksa untuk melampiaskan kekesalan hatinya telah mengirim serangan udara kosong.
Dahsyat sekali serangan ini, akan tetapi tentu sja tidak mengenai sasarannya sebab Li Cong Bun sudah lari jauh.
Teng Goan Hweshio melihat Cong Bun lari pulang, iapun keluar dari tempat sembunyinya dan menyusul turun gunung.
Besok harinya, Sebun Pa dan kawan-kawan berunding mengatur rencananya untuk sebentar malam menghadapi Hwe kong dan Song Sam Ceng.
Se bun Pa telah mengatur rencananya, karena telah mengetahui Hwe Kong dan Song Sam Ceng saja, maka diduga ditempatnya tak ada orang lihai.
Ia minta agar Li Cong Bun dan Gan Su Nio menyerbu ke atas gunung untuk menolong Hwe Pek It dan Auw yang Ti.
Sedang ia sendiri dengan Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio menghadapi Hwe Kong dan Song Sam Ceng.
"Diantara kita."
Se bun Pa berkata.
"Teng Goan Taysu yang kepandaiannya paling tinggi."
"Kau keliru, Se bun toako,"
Menyela Teng Goan Hweshio.
"Meskipun kau terkenal pintar 659 dan bisa melihat orang tapi kali ini tebakanmu salah.
Kau belum tahu Bo yong sute telah mendapat luka dikeroyok oleh tujuh belas Hweshio Si Hek.
Ia telah dapat ditolong oleh Ceng Leng supek.
Tujuh hari tujuh malam ia dipola dan diberikan kepandaian istimewa yang membuat dirinya menjadi sangat kuat.
Kini kepandaianku kalah dari sute, maka kau harus mengatakan Bo yong sute yang paling atas kepandaiannya diantara kita itu baru betul… "
Se bun Pa tertawa nyengir.
"Ya, itu Hwa Kong sangat lihai. Ilmunya Pek kut Im kang bukan main dahsyatnya. Maka untuk melawannya, tenaganya harus dapat dipencarkan. Kita bereskan Song Sam Ceng terlebih dahulu. Baru beramai-ramai mengerubuti Hwe Kong. Dengan demikian baru kita dapat mengatasi kelihaiannya."
Li Cong Bun heran.
Itu Hwe Kog sampai bagaimana kelihaiannya sampai untuk melawannya harus bisa memencarkan tenaganya?
Ia lalu menanya pada Se bun Pa.
tapi ia ini tidak memberikan jawaban langsung, hanya berkata.
"Keponakanku Se bun Ceng tempo hari ada pakai rompi wasiat.
"Tok hui Kim lok‟ baja wasiat yang tidak mempan senjata dan dapat menangkis serangan racun. Rompi ini sebaiknya dipakai oleh Bo yong laote yang kebetulan aku ada bawa disini. Bo yong laote bertempur dengan Hwe Kong, perlunya untuk 660 mengurangi tenaganya. Tak ush sampai nekat-nekatan. Sebisanya kita mengulur waktu untuk memberikan kesempatan kepada Su Nio dan Ceng Bun menolong dua kawan kita. Tapi biarpun demikian, Bo yong laote harus hati-hati, sebab kalau terkena serangan, urusan bisa jadi runyam. Teng Goan Taysu boleh membantu Bo yong laote. Sedangkan aku sendiri akan mengacaukan pikirannya untuk masuk perangkap kita."
Demikian setelah semua diatur beres, mereka lalu pergi beristirahat.
Se bun Pa sendiri tidak ikut beristirahat.
Ia terus pergi ke lain tempat untuk mengurus sesuatu rupanya.
Begitulah ketika siang malam tiba Teng Goan Hweshio, Se bun Pa dan Bo Yong Kang terus pergi sembunyi di tempat kunurannya orang-orang she Lauw.
Gan Su Nio dan Li Cong Bun bersembunyi disatu bagian.
Setelah jam sepuluh ada lewat bayangan putih dan hitam meluncur dari puncak menuju ke kuburan orang she Lauw.
Li Cong Bun dan Gan Su Nio melihat Hwe Kong dan Song Sam Ceng sudah meninggalkan tempatnya, lantas gerakkan kakinya lari ke atas gunung untuk menolong dua kawannya.
Song Sam Ceng dan Hwe Kong setelah sampai di tempat kuburan itu telah memandang ke sekitarnya.
Pada beberapa kuburan mereka melihat ada berkelak-kelik sinar kehijau-661 hijauan.
Apakah itu mereka tidak mengambil pusing.
Setelah beberapa lamanya tidak kelihatan muncul orang, maka Song Sam Ceng telah berkata pada paman gurunya.
"Oh, sekarang sudah jam sepuluh lewat, tapi tidak kelihatan muncul orang. Barangkali betul seperti yang diduga oleh susiok."
Bicaranya belum babis, tiba-tiba pada tempat berjatak tiga empat tombak jauhnya dari mereka ada kedengaran suara yang menyeramkan disusul dengan siara orang tertawa.
"Lohu sudah menunggu disini lama sekali. Apakah mata kalian tidak melihatnya? Jangan sembarangan menuduh ya!"
Orang itu bukan lain dari Se bun Pa yang memakai kedok dan berbaju hitam, hingga Song Sam Ceng dan Hwe Kong tak dapt mengenali roman orang.
"Kau siapa?"
Tanya Song Sam Ceng.
"Ha ha ha…! Se bun Pa tertaw.
"Kalian tentu belum kenal. Lohu adalah Se bun Pa yang dikalangan kangouw mendapat julukan Cian tok Jian mo!"
Hwe Kong dan Song Sam Ceng meskipun terkejut oleh nama yang termasyur itu tapi tidak ambil pusing.
"Se bun Pa!"
Membentak Song Sam Ceng.
"Kau malam-malam begini berkeliaran di kuburan orang ada bermaksud apa? Lekas enyah dari sini. Kalau tidak nanti kami tangkap kau dan dimasukkan dalam tahanan!"
"Ha ha ha…"
Se bun Pa tertawa.
"Hwe Kong dan Sam Ceng, kalian jangan banyak lagak. Aku Se bun Pa sudah banyak malang melintang di banyak tempat. Belum pernah ada yang mengusir aku. Apakah kalian kira aku Se bun Pa dapat ditahan oleh kalian? Hmm.."
Ia tidak melanjutkan katanya, karena ia merasakan ada datang serangan yang dilancarkan dengan dahsyat.
Itulah ada serangan Hwe Kong yang menjadi sebal mendengar ocehannya Se bun Pa.
Song Sam Ceng marah serangan paman gurunya dapat dielakkan, maka ia mau menyerang tapi dicegah oleh Hwe Kong.
Kemudian melihat kuburan yang tadi hancur dan mengeluarkan asap putih.
Ternyata itu bukan kuburan tapi hanya kertas karton yang dibikin menyerupai kuburan dan didalamnya ada terisi kapur.
Karena kena pukulan dahsyat tentu saja kuburan karton itu itu menjadi berantakan dan kapurnya pecah beterbangan merupakan asap putih.
Meskipun hatinya sangat mendongkol, diam-diam Hwe Kong merasa geli atas kejadian barusan.
Kemudian ia berdiri menghadapi Se 663 bun Pa yang berdiri sejarak kira-kira enam tujuh tombak dengan suara gusar berkata.
"Se bun Pa, untuk apa kau banyak kerjaan seperti ini, paling baik kau panggil Ceng Leng keluar untuk bertempur denganku menyelesaikan dendaman tiga puluh tahun yang lalu. Supaya dia nanti dapat dikuburkan disini saja. Bukankah itu sangat menggirangkan untuknya?"
Se bun Pa melihat kelakuannya Hwee Kong amat lucu, hatinya merasa amat geli.
"Hmm..! Se bun Pa menggeram.
"Kalau hatiku masih seperti dahulu. Kau pasti sudah dikubur di tempat ini. Nah aku beritahukan Ceng Leng Cinjin belum sempat datang, aku yang mewakili. Tapi sebentar lagi sudah pasti aku akan membereskan mayatmu dalam kuburan ini. Tapi, ya tempat kuburan ini tidak sesuai dengan pilihanku, sebaiknya kita pindah ke lain tempat."
Jilid 18 Hwe Kong ternyata tidak gusar, meskipun digoda pergi datang oleh Se bun pa.
"Ha ha ha…."
Hwe Kong tertawa dingin.
"Kau jangan banyak jual lagak tengik untuk 664 membikin aku enjadi marah. Hmm… lihat nanti aku tangkap kau supaya Ceng Leng keluar. Ia berkata sambil memberi. Jaraknya Se bun Pa dengan dia kira –kira enam tombak. Ia ungkulan untuk menangkap Se bun Pa dengan dua kali lompatan. Maka ketika bicaranya habis, tubuhnya melesat tinggi, setelah turun dan menotol lagi sekali kakinya di tanah sudah terbang lagi dan meluncur ke kuburan dibelakang mana Se bun pa ada berdiri. Se bun Pa melihat Hwe Kong bagaikan rajawali hendak menyambar mangsanya, melayang diudara kemudian menukik hendak mencengkram dirinya. Cepat ia melompat mundur dan tubuhnya Hwe Kong hinggap di atas kuburan dan… terdengar suara "
Plung‟.
Itulah suara tubuhnya Hwe Kong yang nyemplung ke dalam lubang.
Betul-betul Se bun Pa jail.
Gundukan tadi yang merupakan kuburan ternyata bukan kuburan tulen lagi.
Hanya terdiri dari bambu-bambu kecil dan ditutup dengan kain hitam hingga didalam gelapnya sang malam kelihatannya seperti kuburan tulen.
Tidak tahunya….
itu adalah suatu lubang yang sengaja tadi siang Se bun Pa menyuruh orang untuk menggalinya dan didalamnya ada dimasukkan air kotoran yang menebarkan bau memuakkan.
665 Terang bambu-bambu kecil tak kuat menahan tubuhnya Hwe Kong lantas nebur kedalam kotoran dalam lubang tadi.
Selagi Hwe kong masih gelagapan dalam lubang, mendadak muncul dua orang sambil bertepuk tangan menertawakan siluman dari Thian lam itu.
"Ha ha ha…! Siluman tua Thian lam menukik dari udara masuk dalam kuburannya yang penuh najis. Sungguh menertawakan dunia kangouw. Lekas pergi mandi, kalau tidak lekas nanti tidak ada yang berani mendekatimu.. ha..ha..ha… sungguh lucu dunia kangouw akan gempar dengan kejadian ini. Song Sam Ceng melihat susioknya dibuat permainan orang, bukan main marahnya. Ia melesat keudara dengan ilmunya Pek kut Tian kang ia menyerang Se bun Pa dari udara tapi Hwe Kong sendiri yang pakaiannya penuh dengan kotoran dan menebarkan bau najis tidak menjadi marah. Ketika ia sudah berada lagi diatas lubang ia melihat kepada orang-orang yang bertepuk tangan tadi. Hanya melihat Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio. Sedang Ceng Leng Cinjin musuh besarnya tidak kelihatan mata hidungnya. Sementara itu Teng Goan Hweshio sudah bertempur dengan Song Sam Ceng mewakili Se bun Pa yang barusan diserang. Se bun Pa tidak apa-apa karena keburu ada Teng Goan 666 Hweshio yang menyambut serangannya Song Sa Ceng yang dahsyat. Teng Goan mendesak musuhnya sampai ke pinggir lubang kedalam mana Hwe Kong barusan nyemplung. Sementara itu Bo yong Kang sudah menyerang Hwe Kong, tapi orang kedua dari Thian lam Siang Koay itu sudah sangat gemas pada Se bun Pa dan hendak menghancurkannya maka ia tak begitu mau ladeni Bo yong Kang. Ia terus menyambar-nyambar Se bun Pa. Apa mau ternyata serangannya Bo yong Kang ada sangat dahsyat, maka apa boleh buat ia mengeluarkan tenaganya delapan bagian untuk menyambutnya dengan gaya pukulan "
Han liong Pai hwe‟ (naga diudara menggoyangkan ekornya) yang mengandung hawa racun dingin tapi semuanya ini tidak menemukan sasarannya.
Se bun Pa diam-diam membantu Bo yong Kang memunahkan racun dinginnya Hwe Kong yang jahat.
Ia tertaw gelak-gelak kemudian menghilang kedalam rimba rumput alang-alang.
Hwe Kong melihat Song Sam Ceng sedang bertempur dengan hweshio lihay, ia ragu-ragu kalau keponakan muridnya itu memperoleh kemenangan.
Ia sendiri barusan dikerumuni dua orang Bo yong Kang dan Se bun Pa.
kini kelihatatan Se bun Pa menghilang, maka dengan terang ia 667 menghadapi Bo yong Kang.
Ia kagum akan kepandaiannya lawan yang kuat maka lalu ia menanya.
"Kau siapa?"
"Siluman tua, masih belum mengenal namaku? Aku adalah Bo yong Kang yang telah mengobrak-abrik Si leng cee!"
Jawab jago Liauw tong itu.
"Oa, kau Bo yong Kang sutitnya Bu Ju!"
"Siluman tua, aku bukan saja bergelar "
Pelajar Hati Besi‟ tetapi aku juga ada mempunyai tangan yang kerasnya seperti besi. Nah, siluman tua Thian lam, kau boleh rasakan aku punya serangan telapakan tangan…! "
Berbareng Bo yong Kang betul-betul telah melancarkan serangannya sangat hebat.
Pek kut Thian ong Hwe Kong telah mengetahui serangan lawan ada dahsyat maka ia juga lantas mengeluarkan tenaganya delapan bagian untuk menangkis dengan ilmunya yang mengandung racun dingin.
Berdua mengeluarkan tenaga keras lawan keras akubatnya hebat.
Hwe Kong sendiri tidak bergeming dari tempatnya.
Sedang Bo yong Kang sudah terpental mundur sampai tujuh delapan kaki.
Bahwak karena serangan racun dingin, cepat-cepat ia mengatur hawa murninya untuk mengusir racun lihai ilmu dalamnya sebab sebentar saja ia sudah gagah kembali.
668 Pikirnya kalau bertanding dengan caranya tadi, ia tak dapat mengulur waktu seperti yang diinginkan oleh Se bun Pa untuk menahan jago dari Thian lam itu lama-lama supaya Ceng Bun dan SU Nio dapat melakukan tugasnya dengan baik menolong dua kawannya.
Maka ila lalu berkata.
"Siluman tua benar-benar kau lihai, aku tidak boleh tidak akan mengadu jiwa dengan kau!"
Hwe Kong pikir melihat Bo yong Kang ada demikian bandel tidak dapat dikalahkan dalam dua tiga jurus, kuatir akan tipunya Se bun Pa yang kini menghilang dalam rimba rumput alang-alang dan menyerang dirinya secara menggelap.
Hidungnya juga sudah tidak tahan mencium bau kotoran yang menempel dipakaiannya, maka timbullah keganasannya untuk menyerang musuh dengan ilmunya yang mematikan.
"Hmm…!"
Ia menggeram.
"Kau sudah tahu aku lihai tapi masih berani buka mulut besar?"
Sambil berkata ia tarik naik lengan bajunya.
Tangan kanannya yang pucat pasi diulurkan dan lima jarinya tampak mengeluarkan kuku-kuku yang runcing tajam darimana telah meluncur keluar hawa dingin menyambar Bo yong Kang.
Si Pelajar Hati Besi mengerti lihainya hawa dingin yang keluar dari kukunya sang lawan, sebab itu adalah ilmu Pek kut Im Hong ciauw dan ilmu Im Kui kek yang tidak boleh 669 dibuat gegabah.
Tenaga dalam dikerahkan meluncur melalui kuku-kuku yang telah diberi racun.
Bukan saja serangan ini dapat memecahkan barang keras, tapi orang yang kena sedikit goresannya saja terus akan menggigil kedinginan.
Semua darah dalam tubuhnya menjadi beku dan orang itu terus binasa.
Pikirannya Bo yong Kang, lebih baik ia meladeni musuh dari jarak jauh saja untuk menghindarkan diri dari bahaya.
"Siluman tua, kau jangan kira ilmumu itu akan mengenai sasarannya. Kau lihat aku akan menandingi dengan ilmu Tay han Sin kun. Aku mau tahu sampai dimana kelihaiannya ilmumu itu.."
Sambil berkata, ia melangkah telapakan tangan kanan di dadanya, jari tengah tangan kirinya disisipkan untuk menangkis jari-jari musuh.
inilah ilmu Kim kang Ciok in yang dapat memubahkan ilmunya Hwe Kong Pek Kut Im hong cauw dan Hian im Kui kek sehingga Kwe Kong yang melihatnya menjadi terkejut.
"Hei, kau menggunakan ilmu apa itu?"
Tanyanya.
"Ilmu Kim kang Ciok in yang akan memunahkan ilmu hawa dingin yang meluncur dari kukumu,"
Jawab Bo yong Kang dengan sikap gagah.
670 Hwe Kong adalah seorang licin dan licik maka ketika mendengar jawaban Bo yong Kang ia mengerti memang dua ilmunya itu punah oleh Kim kang Ciok in.
Ia insyaf banyak musuhnya malam itu dihadapi kurang hati-hati sedikit saja ia bisa masuk perangkap.
Kalau sampai dijatuhkan oleh orang tingkatan muda, bagaimana dengan namanya nanti dalam kalangan kangouw.
Memikir disini ia lalu menarik pulang serangan hawa kuku beracunnya.
Bo yong Kang sebenarnya hanya tahu ilmu Kim kang Ciok in tetapi tidak belajar bagaimana ia bisa menggunakannya?
Dasar nasibnya baik si Iblis kena digertak.
Girang hatinya Bo yong Kang yang semula sudah berdebaran dan keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya, kini berubah kegirangan dan wajahnya kelihatan tenang kembali.
Malah ia bisa tertawa bergelak-gelak.
Satu kali kakinya menotol lantas tubuhnya melesat mundur sejauh lima tombak.
Hwe Kong melihat Bo yong Kang mundur lantas tahu dirinya kena ditipu.
Orang she Bo yong itu tidak mahir dengan ilmu Kim kong Ciok in.
tidak heran kalau ia menjadi marah besar sampai rambutnya berdiri.
Ia enjot tubuhnya melesat keudara darimana ia melancarkan serangan hawa dinginnya yang beracun kepada yang Bo yong Kang.
Menghadapi serangan yang maha lihai ini, Bo yong Kang menentramkan hatinya dan 671 maranya dibuka lebar-lebar mengawasi datangnya serangan.
Ia hanya berkelit menghindari serangan.
Tidak mau ia mengadu tenaga dengan Hwe kong yang lihai.
Tiba-tiba Sebun Pa muncul dan mencaci-maki Hwe Kong.
Setelah itu Se bun Pa benar-benar menerbangkan sebuah benda berat menyerang Hwe Kong yang masih melayang di udara.
Ia sangat kaget.
Kalau lain orang tentu tidak takuti.
Tapi Se bun Pa sudah dua kali ia kena dikibuli.
Betul-betul ia takut untuk menangkis sembarangan pada benda yang diterbangkan oleh Se bun Pa.
setelah ia melancarkan serangannya pada Bo yong Kang, baru dengan hati-hati sekali ia memukul jatuh benda yang titerbangkan Se bun Pa tadi.
Ketika ia turun ke bawah dan dilihatnya benda yang dipukulnya, ternyata itu bukan senjata rahasia apa-apa tetapi hanya bungkus kepalanya Song Sam Ceng.
Hatinya sangat terkejut, sebab dengan adanya itu bungkus kepala terang keponakannya telah terjatuh dalam tangannya musuh.
suasana tidak menguntungkan baginya.
Hawa amarahnya lantas meluap-luap terhadap Se bun Pa yang berkali-kali telah mempermainkan dirinya.
Maka seketika itu juga ia mengerahkan tenaganya sepenuhnya dilancarkan ke tempat tadi Se bun Pa berdiri.
Ia sudah menghitung pasti bahwa 672 serangannya itu akan tidak salah lagi dan akan meminta jiwa Se bun Pa.
"Se bun Pa penjahat tua, kau masih belum mau menyerahkan jiwamu?"
Inilah perkataan yang dikeluarkan oleh Hwe Kong seiring dengan pukulan dahsyatnya.
Se bun Pa bergidik juga melihat melihat dahsyatnya pukulan si Iblis dari Thian lam karena semua rumput dan batang-batang pohon yang kena angin pukulannya menjadi pada patah dan beterbangan di udara, bahkan sasarannya yang mengenai tanah telah membuat lubang besar.
Untung Se bun Pa yang cerdik tidak ada disitu.
Kalau tidak..hmm..
terang tubuhnya sudah menjadi tepung.
Ia pintar sudah lantas lompat ke lain bagian dan mengumpat disitu.
Kini muncul lagi dan tertawa bergelak-gelak mengejek pada Hwe Kong.
"Siluman tua, ilmumu memang jempol, tenagamu betul-betul lihai, sayang sudah berkali-kali sudah kena tipuku. Apa memang matamu sudah lamur, karena usiamu sudah lanjut? Baru melihat keadaan gelap begini saja sudah mengalami kesukaran. Apakah ini yang dinamai siluman dari Thian lam yang jempolan? Ha ha ha.."
Betul-betul Se bun Pa keterlaluan.
Hingga saat itu Hwe Kong dadanya rasakan mau meledak dan matanya lompat keluar karena marahnya pada Se bun Pa.
Kini tujuannya 673 tidak peduli apa yang terjadi.
Ia harus membunuh Se bun Pa, urusan Ceng Leng ada soal belakangan baru dipikirkan lagi.
"Hei, siluman tua, jangan sembarangan menggunakan tenaga dahsyatmu untuk menyerang aku. Sebab kalau kau tetap ganas, jangan sesalkan kalau aku sentil menggunakan senjata rahasiaku Cian tok Sin sai (puder ajaib ribuan racun) untuk mengirim roh mu menghadap Giam lo ong (Raja Akherat)"
Hwe Kong menekan amarahnya dengan tertawa mengganas sehingga burung-burung dan binatang-binatang yang ada disekitarnya pada beterbangan dan berlarian ketakutan.
Setelah menghentikan ketawanya yang panjang itu, Hwe Kong berkata.
"Se bun Pa, kini aku sudah tahu bahwa Ceng Leng tidak akan muncul. Kau hanya permainkan aku disini untuk mengulur waktu supaya supaya kawan-kawanmu dapat bekerja leluasa di puncak Ciang jin hong, bukan? Tapi kau keliru, sebab aku sudah mengatur serapih-rapihnya penjagaan. Siapa yang berani datang kesana, kalau tidak mati tanpa kepala tentu akan kena ditahan. Kau disini perlu apa main sandiwara? Hmm, ketahuilah jiwamu akan aku cabut disini. Aku tak takut dengan segala racunmu yang akan kau keluarkan. Jangan lagi baru ribuan, biarpun puluhan ribu kau boleh keluarkan semua. Nah, sekarang kau serahkan jiwamu..ha ha ha…." 674 Teertawa ditutup dengan melesat badannya tinggi empat tombak, dari udara ia melancarkan serangan dahsyat kepada musuhnya yang sangat dibenci. Se bun Pa juga betul-betul dengan tangan kirinya telah menerbangkan benda semacam pasir tetapi bukan pasir tersebar diudara menyerang Hwe Kong. Hwe Kong dengan kebutkan lengan bajunya menangkis serangan Se bun Pa. Ia lihat Se bun pa hendak lari meloloskan diri, ia tertawa dingin menyeramkan.
"Se bun Pa, kau jangan harap bisa hidup. Meskipun kau lari minta pertolongan pada Giam lo ong di akherat tak urung aku akan susulkan dan cabut nyawamu. Ha ha ha.."
Saat itu Se bun Pa jiwanya sudah seperti telur di ujung tanduk.
Sepuluh jari-jarinya Hwe Kong sudah diulur hendak melancarkan serangan hawa dinginnya yang beracun.
Untung tiba-tiba ada dua bintang penolong datang yaitu Bo yong Kang dan Teng Goan Hweshio yang berteriak.
"Siluman tua, jangan sombong. Belum tentu kau dapat membinasakan jiwanya Se bun toako!"
Berbareng dua orang tadi telah melancarkan serangannya.
Hwe Kong tak jadi turun tangan.
Pikirnya satu orang melawan tiga orang, bagaimana tinggi juga ilmu silatnya tentu tak bisa menang.
Lebih dahulu 675 ia menyerang Bo yong Kang yang dianggap paling kuat diantara mereka bertiga.
Bo yong Kang tk keburu menyingkirkan tubuhnya hingga ia terpental delapan kaki, terus rubuh diatas gerombolan rumput.
Tapi Hwe Kong juga mendapat kerugian karena punggungnya dihajar oleh Teng Goan Hweshio.
Isi perut dan hatinya dirasakan tergetar.
Bahkan lengannya terus terusan mengucurkan darah lantaran kena rompi wasiat yang dipakai Bo yong Kang.
Ia pikir waktu itu dak dapat pertempuran dilanjutkan karena tidak menguntungkan bagi pihaknya.
Maka dengan tidak memikirkan lagi dengan nasibnya Song Sam Ceng ia lantas sudah lompat masuk gerombolan pepohonan dan menghilang.
Melihat si Iblis sudah melarikan diri, maka Teng Goan dan Se bun Pa lalu menghampiri Bo yong Kang.
Dilihatnya Bo yong Kang sedang memejamkan matanya mengatur tenaga dalammya.
Mukanya kelihatan pucat seperti tak berdarah lagi.
Keadaannya sangat mengenaskan, maka Teng Goan Hweshio dengan hati terharu telah turun tangan menolongnya, ia membuka rompi wasiatnya yang menjadi pelindung dirinya.
Tanpa rompi wasiat itu terang Bo yong Kang sudah melayang jiwanya terkena serangan si iblis dari Thian lam yang maha dahsyat itu.
676 Teng Goan Hweshio lalu tempelkan tangan kanannya didadanya sang sute, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya untuk membantu melancarkan peredaran darahnya yang agak membeku karena pengaruh pukulan hebat.
Setengah jam Teng Goan Hweshio mengalirkan hawa hangatnya ke tubuh sang sute.
Barulah kelihatan Bo yong Kang mulai sadar dari lupa orangnya.
Keringat dingin membasahi seluruh badannya Teng Goan Hweshio yang telah mengeluarkan banyak tenaga menolong sutenya.
Ia lantas menelan dua pil obatnya dan itu juga dua butir diberikan kepada Bo yong Kang untuk ditelannya.
Bo yong Kang melihat pada bajunya yang robek, ada tanda bekas darah, ia mengerti itulah tanda darahnya Hwe Kong ketika tangannya menggempur dirinya telah mengenai rompi wasiatnya dan terluka karenanya.
Setelah sadar betul, dengan geleng-geleng kepala ia menghela napas.
"Ya, memang harus diakui siluman itu lihai. Serangannya suudah mengenai rompi wasiat dan ia luka cukup parah akan tetapi jiwaku sementara itu hampir melayang terkena serangannya yang maha dahsyat."
Kata Bo yong Kang pada dua kawannya.
"Memang dia lihai,"
Jawab Teng Goan Hweshio.
"Tenaga dalamnya bukan main hebatnya. Ia tidak akai pelindung benda dibadannya, terkena pukulan yang dapat 677 menghancurkan batu ia tidak apa-apa malah dapat melarikan diri dengan cepatnya. Sungguh luar biasa…"
Teng Goan geleng-geleng kepalanya sambil menarik nafas panjang.
"Untung aku tidak terkena pukulannya,"
Menyela Se bun Pa bergurau sambil tertawa.
"Siluman tua itu kelihatannya sangat gemas pada Se bun Toako, kalau bisa dia hendak menelannya, karena sampai beberapa kali ia telah menjadi terkecoh kena diakali. Paling hebat ketika dia nyemplung kedalam lubang, benar-benar toako jail.."
Bo yong Kang tertawa, Teng Goan Hweshio tersenyum dan Se bun Pa nyengir.
"Bagaimanapun juga,"
Keta Teng Goan Hweshio.
"Pertandingan kali ini di puncaknya gunung Tay san dimana akan turun tokoh-tokoh terkuat dalam rimba persilatan termasuk si wanita yang berwajah burung ekek Kiu bin Sin mo Siang Su Su pasti bukan main hebatnya. Bagaimana kesudahannya nanti masih merupakan teka-teki. Tapi mudah-mudahan Tuhan Maha Esa akan menyertai pihak kita dan keluar sebagai pemenang dengan tidak beroleh kerugian jiwa yang tidak diingini."
Bo yong Kang manggut-manggut kepalanya.
Tiba-tiba berkelebat dalam pikirannya halnya Hwe Kong tadi telah berkata bahwa di puncak gunung telah diatur rapi, siapa yang berani naik ke atas kalau tidak mati terpisah kepalanya tentu akan kena ditahan.
678 Hatinya merasa sangat tidak enak.
Ia memikirkan akan keselamatan kekasihnya Gan Su Nio dan keponakannya Li Cong Bun yang pergi kesana hendak menolong Hwe Pek It dan Auw yang Ti.
Maka ia lalu menanya pada Se bun Pa.
"Toako, tadi si siluman tua bilang bahwa ditempatnya penjagaan sudah diatur rapi, apakah perkataannya itu betul? Aku sangat kuatir keselamatannya Ceng Bun dan Su Nio yang pergi ke atas."
Se bun Pa tidak lantas menjawab, ia agaknya berpikir, setelah itu berkata dengan nada menyesal.
"Ya, laote. Itu memang betul. Aku menyesal, biasanya aku berpikir sempurna. Kali ini aku lalai tidak melarang Cong Bun naik ke puncak gunung kemarin malam. Betul-betul aku alpa dalam hal ini."
Bo yong Kang tidak mengerti dengan bicaranya Se bun Pa maka ia minta ditegaskan Se bun Pa lalu memberi keterangan.
"Ya, kawanan penjahat itu memang sedang menanti-nanti kedatangan Ceng Leng Locianpwe. Mendadak Cong Bun muncul dan menantang berkelahi di bawah gunung. Hal ini tentu saja mencurigakan bagi mereka. Sebab kalau benar-benar Ceng Leng Locianpwe datang, untuk apa mesti pakai mengundang bertempur di bawah gunung, tentu Ceng Leng Locianpwe sudah menyatroni sarangnya di 679 puncak gunung. Maka berdasarkan kecurigaan itu rapih-rapih ketika Hwe Kong dan Song Sam Ceng turun gunung mereka sebenarnya turun gunung mehdak mencari tahu apa betul Ceng Leng Locianpwe sudah datang ketika kita permainkan Hwe Kong. Iblis ini sudah benar-benar mendapat kepastian bahwa benar-benar Ceng Leng tidak datang dan kita sengaja menahan padanya untuk mengulur waktu supaya orang kita yang pergi ke puncak dapat menjalankan pekerjaannya dengan leluasa. Itupun seperti yang kau dengar telah dikatakan oleh Hwe Kong yang membuka rahasia maksud kita secara tepat sekali."
Bo yong Kang beringas mendengar keterangan itu.
Ia tidak memperhatikan lukanya di dalam lantas ia berontak mau berdiri.
Teng Goan Hweshio melihat sutenya demikian lalu berkata sambil memegangi tangannya.
"Sute jangan kuatir, mereka berdua tentu akan selamat. Kau tenangkan hatimu sja. Aku tanggung mereka tidak diganggu seujung rambutnya lagi. Sekarang lebih baik kau mersemedi melancarkan jalan darah dan kau punya tenaga dapat pulih kembali."
Se bun Pa juga bantu menghibur.
"Apa katanya Taysu tadi memang benar Bo yong laote. Kau jangan kuatir. Sebaiknya kau tenang dan memulihkan tenagamu dahulu. Setelah itu kita akan pikirkan satu daya 680 bagaimana baiknya. Barusan ketika kau bertempur dengan Hwe Kong, diam-diam aku membantu Taysu menghadapi Song Sam Ceng. Dengan menggunakan bubuk kapur aku hamburkan ke mukanya hingga ia tak dapat melihat dan kena kita tangkap. Maka kau jangan kuatir. Kita sudah mempunyai barang tanggungan untuk menjamin keselamatannya mereka berdua."
Mendengar perkataanya Se bun Pa, barulah Bo yong Kang perlahan-lahan menjadi tenang kembali pikirannya.
Bertiga setelah kembali ke tempat penginapannya melihat Li Cong Bun dan Gan Su Nio belum kembali, Bo yong Kang merasa tidak enak hatinya.
Sebab meskipun sudah dapat menangkap Song Sam Ceng, bagaimanapun juga keselamatannya dua orang itu tetap dikuatirkan.
Pada waktu ia mau membuka mulut berkata pada suhengnya, mendadak muncul Gan Su Nio dengan membawa pedangnya Li Cong Bun.
Pakaiannya yang putih banyak tanda-tanda merah kena cipratan darah.
Melihat tiga kawannya sudah ada di kamarnya, Gan Su Nio tergesa-gesa masuk dan memberikan laporannya.
Bo yong Kang disamping terkejut melihat kedatangan Gan Su Nio dengan pakaian penuh cipratan darah, diam-diam merasa girang bahwa kekasihnya pulang dengan selamat.
681 Tapi kemudian pikirannya menjadi bingung melihat si nona datang tidak disertai Li Cong Bun.
Lebih-lebih ketika Gan Su Nio mengatakan.
"Cong Bun dipuncak Can jin hong kena perangkap terus ditangkap dan ditahan. Kita perlu lekas-lekas menolongnya."
Sebelum Bo yong Kang berkata, Teng Goan Hweshio telah mendahului.
"Bo yong sute baru saja sembuh dari lukanya, ia perlu istirahat. Se bun toako ada seorang cerdik dan berakal. Maka kita tidak usah takut tidak bisa menyelesaikan urusan dengan kawanan penjahat itu. sekarang aku saja yang datang kesana buat ajukan usul pertukaran tawanan besok malam ialah Ceng Bun dari sana dan Song Sam Ceng dari dari pihak kita. Aku rasa mereka tidak akan keberatan. Setelah itu kita janjikan pula kapan kita bertempur lagi."
Seiring dengan habisnya perkataannya Teng Goan sudah berlalu meninggalkan kamar itu dan pergi ke puncak Tay san untuk melakukan tigasnya.
Setelah Teng Goan Hweshio berlalu, lantas Bo yong Kang menuturkan pada kekasihnya tentang pertempuran dengan Hwe Kong dan ditangkapnya Song Sam Ceng karena akalnya Se bun Pa.
sedang Gan Su Nio telah menceritakan pengalamannya ketika menyatroni puncak Cang jin hong dari gunung Tay san, markasnya 682 kawanan penjahat untuk menolong dua kawannya Hwe Pek It dan Auw yang Ti.
**** Gan Su Nio dan Li Cong Bun setelah melihat Hwe Kong sudah turun gunung lantas menggunakan ilmu lari cepat naik gunung yang jauhnya ada beberapa ratus tombak untuk sampai pada puncaknya yang dituju.
Li Cong Bun yang pernah pada kemarin malamnya datang kesini, lantas mengajak Gan Su Nio untuk menyatroni rumah besar dalam pesanggrahan itu, ialah tempat berkumpulnya kawanan penjahat.
Tujuan yang terpenting adalah untuk mencuri dengar dimana sebenarnya dua kawannya itu ditahan.
Mereka dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh sudah pada lompat ke genteng.
Tetapi kedatangan mereka itu sudah dapat diketahui lebih dahulu.
Satu tanda suitan terdengar, tiba-tiba rumah besar itu penerangannya bertambah terang.
Disusul oleh hujan panah menyerang pada Li Cong Bun dan Gan Su Nio hingga mereka repot sekali untuk menangikis serangan anak panah yang datangnya seperti hujan itu.
Gan Su Nio mengerti bahwa mereka sudah bersiap lebih dulu menyambut kedatangannya.
Lantaran mana pertempuran malam-malam oleh karenanya tak dapat disingkirkan lagi.
Cong Bun putar Pedang Penakluk Iblisnya seru 683 sekali, hingga semua anak panah dapat disapu pergi.
Mereka kurang leluasa kalau bertempur di atas genteng maka Gan Su Nio dan Li Cong Bun pada lompat turun.
Mereka lantas dikurung.
Pertempuran bakal terjadi.
Dua orang melawan banak orang.
Tiba-tiba ada diantara yang mengepung mereka ad seorang Tosu yang air mukanya kelihatan takut-takut menghadapinya.
Ketika ditegasi dia itu bukan lain daripada It Beng Tojin yang dengan si Kalajengking Pho Kun Peng telah menggunakan obat biusnya hingga hampir saja kehormatannya Gan Su Nio kena dicemarkan oleh si Kalajengking.
It Beng Tojin jerih pada si nona karena sudah tahu sampai dimana kepandaiannya Gan Su Nio.
Tapi karena ada terima perintah dari atasnnya, meskipun jerih, telah ikut-ikutan juga mengepungnya.
Gan Su Nio melihat cecongornya Tosu murtad itu lantas makin panas hatinya.
Sembari menyerang pada lawan-lawannya penyerangannya yang hebat ditujukan kepada It Beng Tojin hingga saban-saban penjahat itu melompat mundur.
Dilain pihak Cong Bun mainkan pedang wasiatnya, lawan-lawannya tidak tahu hebatnya pedang pusaka itu mereka pada menangkis dengan senjata garpunya.
Tentu 684 saja banyak yang terkutung kena sabetan pedang tajam, malah dengan getaran pedang Li Cong Bun yang dibarengi dengan tenaga dalam cukup membikin banyak kawanan penjahat yang pada rubuh bergelimpangan.
Gan Su Nio yang sudah menjadi sangat panas melihat cecongornya It Beng Tojin sudah mengeluarkan kepandaiannya untuk menerobos diantara banyak pengepungnya dan menyerang khusus kepada It Beng Tojin yang sudah jerih sedari tadi mana ada hati untuk bertempur mati-matian.
Maka dalam bingung bagaimana ia harus bertindak menghadapi pedangnya si nona yang menyambar-nyambar laksana kilat tiba-tiba ia rasakan lehernya dingin dan kepalanya seketika itu telah terpisah dari tubuhnya.
Ia rubuh dengan kepala terpental entah kemana.
Inilah ada upahnya orang jahat dan murtad mengkhianati suhengnya dan mengingkari janjinya.
Justru darahnya It Beng Tojin yang menyembur dari lehernya yang menyiprati baju putihnya si nona.
"Sialan…!"
Si nona menggerutu melihat bajunya ternoda.
Dalam pertempuran itu banyak yang sudah binasa.
Sisanya yang masih hidup pada ketakutan.
Li Cong Bun menggunakan kesempatan itu, mencekuk salah seorang diantaranya untuk menunjukkan dimana ditahannya Hwe Pek It dan Auw yang Ti?.
685 Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tertawa yang nyaring mendengarkan dada yang mendengarnya, yang keluar dari satu ruangan gelap.
Suara tertawa demikian ada tanda bahwa seorang yang mengeluarkan ada oang yang tinggi tenaga dalamnya dan sangat lihay.
Gan Su Nio lalu menasehati pada Li Cong Bun waspada menghadapi orang yang mahir tenaga dalamnya itu.
suara itu semakin rendah terdengar semakin menusuk kuping.
Sebentar kemudiansetelah suara itu menghilang lalu muncul keluar dari pintu seorang dengan dandanan pelajar.
Parasnya tampan bibirnya merah dan gigi putih kira-kira umurnya tiga puluh tahun ditangannya ada memegang sebuah kipas.
Orang itu adalah Cong Jie Giok yang bergelar Iblis Telengas Muka Putih, seorang penjahat kenamaan yang mengaduk sepanjang propinsi Hun lam Kui cu daerah Biauw dan Si Hek.
Kepandaiannya sangat tinggi, sukar mendapat tandingan.
Cong Jie Giok dengan tenang-tenang saja berjalan melihat pada orang-orangnya yang bergelimpangan tidak mengunjukkan reaksi apa-apa.
Ia melihat itu seperti sudah kejadian biasa.
Ia tidak melihat sebelah mata kepada dua orang tamunya yang tidak diundang.
686 Ketika datang dekat pada mereka, Li Cong Bun yang sebal melihat tampangnya yang cengar-vengir seperti monyet kena terasi mengawasi Gan Su Nio sudah lantas mau menyerang tapi dicegah oleh Gan Su Nio yang melihat ditangannya Cong Jie Giok.
"Hei, kau ini yang bernama Cong Jit Giok yang pada tiga puluh tahun berselang malang melintang sebagi penjahat disepanjang propinsi Hun lam Kui cu Biauw dan Si Hek yang orang kangouw memberi julukan padamu Iblis Telengas Muka Putih?"
Cong Jie Giok mengawasi paras si nona yang cantik jelita.
"Hmm…. parasmu boleh juga,"
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 4
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 3