Eps 6 Istana Hantu - Kim Tiaw
Baca online Istana Hantu - Kim Tiaw
Cersil Istana Hantu - Kim Tiaw.
ooOOoo Puncak pegunungan Lu-liang-san tertutup kabut mega mendung.
Segumpalan awan hitam menaungi puncak itu, sementara hujanpun turun dengan lebatnya membasahi tanah di atas puncak pegunungan Lu-liang-san yang penuh dengan mayat manusia yang bergelimpangan bermandikan darah.
Pertempuran di atas puncak itu terjadi amat seru dan dahsyat, sesosok tubuh seorang gadis yang sudah berlumuran darah mengamuk dengan hebat.
Setiap kali kilatan pedangnya menyambar tentu dua atau tiga orang lawannya roboh dengan tubuh mandi darah.
Sebuah kilat menyambar menerangi suasana yang samar-samar itu, dibarengi dengan kilatan pedang si gadis amblas masuk ke dalam dada seorang Mongol yang tak keburu mengelak dari sambaran pedang yang dahsyat itu.
Suara mengerikan membahana di puncak, sementara pengurungan dari orang-orang Lu-liang-pay bertambah ketat.
Bertambah banyak memenuhi puncak itu, namun meskipun sudah banyak korban yang jatuh di tangan pedang gadis itu, akan tetapi tetap saja pengurungan bertambah ketat.
Hujan berderai lebat, angin kencang berhembus dengan amat kencangnya.
Suasana menjadi gelap.
Hanya sekali-sekali sambaran petir itu saja yang menerangi alam sekitarnya.
Gadis yaug mengamuk dengan hebatnya itu adalah Sung Hong Kwi.
Seperti telah dituturkan pada bagian depan, gadis ini terbius oleh pemuda temannya yang bernama Nguyen Hoat.
Setelah itu tak sadarkan diri, setelah itu barulah ia tahu bahwa kehormatannya telah direnggut oleb Nguyen Hoat, maka begitu sadar, Hong Kwi mengamuk hebat.
Pemuda yang bernama Nguyen Hoat itu, entah hidup entah mati menggeletak dalam kamar terkena pukulan gerakan tangan kilat yang luar biasa hebatnya dari tangan kiri si gadis yang telah menjadi marah.
Kemudian, ia meninggalkan kamarnya itu dan mengamuklah ia dengan sengitnya membunuhi semua tokoh-tokoh Lu-liang-pay.
Namun seperti kita ketahui, partai Lu-liang-pay ini merupakan salah satu partai yang sudah mencapai maju dan banyak anggotanya.
Begitu mengamuk, tentu saja orang-orang Lu-liang-pay maju mengurung gadis itu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat!
Tiga orang kakek tokoh pertama dari Lu-liang-pay ini, maju merangsek.
Yang seorang kakek gemuk pendek berpakaian serba hitam memakai senjata ruyung sedangkan dua orang kakek lainnya, bermuka pucat, tubuhnya kurus kering seperti tengkorak bersenjata rantai baja yang besar dan berat.
Dua orang inilah yang terkenal di Lu-liang-pay.
Mereka ini dijuluki Siang-pian-sin-kek (sepasang pendekar rantai baja) Mo Yung, dan Mo Siang, sedangkan kakek gemuk pendek tadi adalah Coa Ong Jin, disebut si Ruyung Sakti.
Namun ketika orang ini begitu bergebrak alangkah kagetnya mereka ini, karena benturan rantai Mo Yung tergetar hebat begitu terkena tangkisan pedang lawannya, sedang kan Mo Siang berteriak kaget merasakan angin pukulan yang maha dahsyat merempet pinggangnya dan kalau tidak ia buru-buru menghindarkan diri, tentu ia akan celaka.
Kendati demikian tetap saja ia terhuyung mundur dengan muka pucat.
Hong Kwi tertawa mengejek, mematukan ilmu pedang Tok-pik-kiam-hoat yang dahsyat bagaikan halilintar menyambar ini.
Dibarengi dengan bentakan-bentakan yang merampas semangat lawan, karena ia sengaja mengerahkan khi-kang tinggi melumpuhkan semangat lawan.
-anjing Lu-liang-guruh yang menggelegar, karena begitu sinar pedang berkelebat, terdengar suara kesakitan dua orang pengeroyoknya terluka hebat oleh sambaran pedang itu.
Melihat keganasan gadis ini, Mo Yung memberi tanda mengeroyok gadis itu.
Tigapuluh orang berpakaian baju hitam bergerak berbareng.
Senjata golok, pedang, toya dan rantai baja, saling dulu meluncur ke arah tubuh Hong Kwi.
Namun sambil mengeluarkan pekikan dahsyat Hong Kwi sudah mencelat tinggi.
Dan begitu tubuhnya turun menukik, terdengar jeritan kematian dari dua orang pengeroyoknya di bawah.
Sebuah lengan manusia jatuh berdebuk, darah merah menyembur dari tangan yang buntung itu.
Hong Kwi tak memberi hati lagi kepada pengeroyoknya ini, menerjang dengan tusukan pedang yang begitu cepat laksana kilat menyambar.
Hong Kwi menekan pedangnya.
ditekan oleh gadis yang luar biasa ini.
Tubuh manusia terbelah dua, usus dan jantung berantakan oleh sabetan si gadis.
Melihat keganasan gadis ini.
Mo Siang menjadi marah dan memerintahkan kepada teman-temannya untuk mengeluarkan barisan panah.
Tigapuluh orang barisan panah maju ke depan dan menarik gendewanya, suara jepretan keras mengiringi meluncurnya puluhan batang anak panah.
Cepat Hong Kwi memutar pedangnya dan semua anak panah terpukul runtuh oleh putaran pedang si gadis.
Akan tetapi, ternyata para barisan panah ini cukup cerdik.
Mereka tidak melakukan serangan sekali gus, melainkan beruntun.
Kalau rombongan pertama selesai, disusul kemudian oleh barisan kedua, lalu terus disambung pula oleh rombongan lain yang menggerakkan tali gendewa.
Dengan demikian anak panah yang menghujani Hong Kwi tak pernah berhenti!
Hong Kwi mendongkol bukan main, ia kini sudah menjadi marah dan nekat.
Sambil memutar terus pedangnya sehingga tubuhnya tidak kelihatan oleh gulungan sinar pedangnya sendiri, Hong Kwi memekik keras.
-anjing Lu-liang-pay bangsat, hayo kalian semua maju.
Aku puteri Pendekar Akan tetapi jawabannya ini disambut oleh puluhan anak panah yang menyambar, malahan di antaranya terdapat pula senjata rahasia seperti pisau terbang, jarum, dan lain sebagainya!
Hong Kwi menggigit bibirnya, menahan rasa sakit waktu ia merasakan tiga buah jarum telah menembus kulit di punggungnya, gerakannya menjadi lemah.
Pada saat itutah sebuah anak panah dengan tepat sekali telah menancap di lengannya.
Darah merah mengucur dari lengan itu.
Akan tetapi sambil menahan rasa sakit, gadis yang luar biasa perkasanya ini masih terus bertahan malah melancarkan serangan-serangan yang lebih ganas lagi.
Sabuk suteranya terlolos dari pinggangnya.
Sekarang dengan pedang di tangan kanan dan sabuk sutera di tangan kiri gadis ini mengamuk hebat!
Hong Kwi mongeluarkan seruan pekikan yang sangat memekakkan telinga.
Begitu tangan kirinya bergerak, sabuk sutera merah itu melayang ke atas dan turun bergerak-gerak bagaikan ular naga yang siap merebut mustika.
Sabuk ini meluncur cepat ke arah barisan panah yang bergerak hendak mundur.
Namun begitu cepatnya sambaran sabuk ini seorang di antara rombongan panah terjirat lehernya dan terangkat naik.
Hong Kwi menghentakkan tangannya ke atas, dan tiba-tiba saja terdengar jeritan mengerikan dari orang itu.
Tubuhnya terlempar ke atas dan melayang jatuh menimpa batu.
Darah dan otak berhamburan pada batu hitam itu.
Dibasahi oleh air hujan yang mulai turun dengan lebatnya.
Muka Hong Kwi sudah pucat bagaikan mayat, seluruh pakaiannya sudah basah kuyup.
Dingin yang luar biasa ini membuat pedang yang terpegang di tangan menggigil, dan membeku.
Akan tetapi gadis yang perkasa ini tidak mundur, malah semakin lama semakin dahsyat gerakan-gerakannya.
Pada saat itu, Hong Kwi sudah lelah sekali.
Juga darah yang mengucur keluar dari luka anak panah di lengannya itu, semakin basah oleh darah dan terasa tangannya sakit dan lumpuh.
Baiknya anak panah itu masih menancap sehingga darah yang keluar dapat tertahan dan tidak begitu banyak.
Kalau tidak demikian tentu dalam gerakan ilmu silat, otot-otot yang bergerak dan mengejeng membuat darah keluar banyak sekali!
Hong Kwi mengerahkan tenaga, keuletan dan kepandaian untuk melindungi diri, juga untuk membalas serangan lawan.
Sudah berapa puluh orang yang ia robohkan.
Baru-baru ini dapat merobohkan Mo Yung dan Mo Siang sehingga dua orang ini binasa dengan leher terbabat putus oleh pedang, sedangkan kakek yang satu lagi yakni Coa Ong Jin menjerit kaget begitu sabuk sutera gadis itu membelit ruyungnya.
Pada saat itu selagi ia kaget dan gugup, Hong Kwi menggerakkan pedangnya.
Darah merah mengucur dari ujung pedang.
Gadis itu tertawa keras mengawasi pedangnya yang berlumur darah.
Pada saat itu, dari dalam gedung berlompatan banyak bayangan orang.
Tahu-tahu Sian Jiu Nio-nio, dan Tung Hay Nio-nio sudah menerjang Hong Kwi dalam deraian hujan yang bertambah lebat.
Melihat munculnya orang-h........
-nio yang menerjang dengan tongkat kecilnya.
Menghadapi sambaran tongkat kecil ini Hong Kwi tertawa keras, menyabetkan sabuk suteranya ke arah tongkat ranting yang berkelebat di sampingnya.
Namun pada saat itu, kakek Lu-liang-pay menerjang dengan pukulan cengkeraman Eng-jiauw-kang yang terkenal itu, sedangkan Sian Jiu Nio-nio telah menggerakkan rambutnya menyerang.
Tentu saja menghadapi tiga pukulan sekali gus ini, Hong Kwi yang sudah lelah sekali tak dapat bergerak cepat waktu pukulan rambut Sian Jiu Nio-nio tiba-tiba melibat lengannya, dan ia tertarik oleh sentakan rambut lengannya, dan ia tertarik oleh sentakan rambut itu.
Kakek Lu-liang-pay menyerbu dengan pukulan tangan kiri.
Tentu saja karena Hong Kwi dalam keadaan terhuyung-huyung ia tak dapat lagi menangkis serangan pukulan lawan.
Bagaikan gasing tubuhnya berputar, bersamaan dengan itu tongkat Tung Hay Nio-nio berkelebat.
Sian Jiu Nio-nio menerjang dengan cengkeraman tangan kanan dan pukulan rambut yang kuat memukul kepala Hong Kwi yang sudah menggeletak diam.
-ha-ha gadis liar, berbareng.
Pada saat itu kilat menyambar.
Sesosok tubuh manusia berkelebat cepat dan menggerakkan kedua tangannya.
mundur, karena pukulan mereka tiba-tiba menjadi membalik.
Rambut Sian Jiu Nio-nio banyak rontok, sedangkan tangan kiri si kakek terkena angin pukulan dahsyat sehingga terasa panas bagaikan terbakar, sedangkan Thung Hay Nio-nio menjerit kaget.
Begitu tongkatnya yang hampir menyentuh kepala si gadis terpental ke belakang dan hampir menghantam dadanya sendiri.
Dalam suasana remang-remang ini ketiga orang ini, melihat seorang pemuda dan seorang gadis telah berada di tempat itu berdiri dengan keren.
Si pemuda berjongkok menyentuh punggung Hong Kwi yang menggeletak tak sadarkan diri, begitu pemuda ini menotok punggung itu Hong Kwi mengeluh dan cepat ia meloncat berdiri.
seketika bercahaya.
Akan tetapi apabila Hong Kwi teringat keadaan dirinya, pandangannya jadi meredup kembali seperti lampu kehabisan minyak.
-Wang Ie tersenyum.
Wajahnya yang berseri-seri itu ditimpah hujan lebat.
Pada saat itu, Hwe Lan sudah bergebrak dikeroyok oleh orang-orang Lu-liang-pay yang masih berada di tempat itu.
Akan tetapi begitu gadis puteri Kong-hwa-pay ini bergerak, terdengar jeritan di sana sini, karena pukulan tangan kanan gadis itu sudah merobohkan dua orang pengeroyoknya.
Sian Jiu Nio-nio dan Thung Hay Nio-nio maju menerjang Wang Ie.
Cepat Wang Ie menggeser kakinya dan begitu tangan kiri dan kanan melakukan gerakan memutar dengan tubuh agak sedikit jongkok.
Tahu-tahu entah bagaimana caranya.
Thung Hay Nio-nio telah sempoyongan dan merasakan tulang pundaknya menjadi pegal-pegal dan lumpuh.
Demikian pula dengan Sian Jiu Nio-nio, begitu tadi pukulan rambutnya menyebar mengirimkan pukulan totokan yang lihai, akan tetapi entah bagaimana caranya tiba-tiba ia merasakan ada tangan yang sangat kuat sekali merenggut rambutnya sehingga saking kerasnya renggutan ini, membuat Sian Jiu Nio-nio meringis, dan ternyata segumpal rambut itu telah rontok beterbangan di tanah.
Sambil memekik keras, dan menahan rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya, nenek ini tiba-tiba mengelebatkan tubuhnya dan lari dari tempat itu, diikuti pula oleh Thung Hay Nio-nio yang menjadi jeri menghadapi pemuda aneh yang mempunyai ilmu silat siluman tadi!
Sedangkan limabelas anak buah Lu-liang-pay yang melihat para pemimpinnya ambil langkah seribu, cepat-cepat merekapun bergerak turun puncak!
Guntur menyambar memekakkan telinga.
Wang Ie memeluk tubuh gadis yang terluka parah itu.
Tubuh Hong Kwi sudah menggigil dan pucat bukan main.
Cepat ia membawa tubuh itu ke tempat di bawah pohon yang terhindar dari serangan hujan, kemudian ia memeriksa luka di lengan yang tertancap anak panah, akan tetapi pemuda ini berseru kaget ketika begitu dipegangnya, ternyata darah Hong Kwi sudah keracunan!
Cepat Wang Ie mencabut anak panah yang tertancap di lengan Hong Kwi, kemudian luka itu ditempeli obat.
Rasanya dingin sekali setelah Wang Ie menempeli dengan daun obat yang ditumbuk halus.
Sementara Hwe Lan telah membuat api untuk memasak air buat menggodok akar obat.
Tentu saja gadis puteri Kong-hwa-pay ini pandai sekali ahli pengobatan karena ayahnya sendiri Ho Siang, adalah ahli pengobatan dan ahli silat.
Melihat bahwa wanita itu terluka oleh jarum yang beracun, segera saja gadis ini mengeluarkan benda semacam salju es yang sudah dikeringkan, kemudian benda itu ditempeli di pundak Hong Kwi yang terserang oleh tiga anak jarum berbisa.
Sungguh mujijat sekali, begitu benda salju itu ditempel, tiga buah jarum halus yang menancap di dada di dalam daging di pundak Hong Kwi tercabut keluar.
Darah hitam turut tersedot pula, sehingga benda salju jang tadinya berwarna putih mengkilap kini semakin hitam oleh darah!
Ketika Hong Kwi siuman kembali, ia telah dibaringkan di atas rumput tebal di bawah sebuah pohon yang rindang daunnya sehingga hujan gerimis tidak menimpah tubuhnya.
Ia melihat Wang Ie duduk berjongkok di dekatnya sementara dekat api yang sedang menyala itu seorang gadis jelita sibuk memasak air untuk menggodok obat.
Hong Kwi tidak kenal wanita itu, ia memandang redup ke arah Wang Ie.
Terasa tangannya dipegang oleh pemuda itu dengan sentuhan mesra, -Hong Kwi berusaha untuk bangun akan tetapi sebuah tangan menyentuh pundaknya.
-moay jangan banyak bergerak dulu karena kau masih lemah, sebentar oleh sepasang tangan pemuda itu.
Pada saat itu Hwe Lan mendatangi dengan membawa semangkok obat yang baru saja digodok.
Bau obat pahit menyengat hidung.
-panas.
Akar obat ini berguna sekali itu ke tangan Wang Ie, minta pemuda itu yang memberikan dan meminumkan kepada si gadis.
Hong Kwi memandang Hwe Lan, dan menoleh kepada Wang Ie.
Wang Ie tersenyum, menyodorkan mangkok obat.
-moay.
Untung ada Hwe Lan yang pandai ilmu pengobatan, kalau tidak tentu repot sekali, karena aku yang bodo -cu Kong-hwa-Ie.
Hong Kwi mengangguk, mengangkat tangannya menjura menyatakan terima kasih.
Akan tetapi begitu melihat pandangan Hwe Lan terhadap Wang Ie begitu mesra dan intim, dirasakannya hatinya tak enak benar.
Apa lagi teringat akan dirinya yang telah ternoda oleh Nguyen Hoat.
Tiba-tiba Hong Kwi bangkit berdiri dan berkelebat ke dalam gedung.
Ia teringat kepada Nguyen Hoat yang menggeletak di dalam kamar, maka dengan mengertak gigi ia berlari ke kamar itu.
Wang Ie terkejut sekali, cepat ia sudah mencelat pula mengejar Hong Kwi.
-Hong Kwi terus berlari.
Akan tetapi begitu sampai di kamar, tidak nampak tubuh Nguyen Hoat yang tadi menggeletak di situ.
Dengan menggertakkan gigi Hong Kwi memaki sengit!
kabut memukul tempat pembaringan yang menampakkan noda-noda darah bekas semalam ditidurinya bersama Nguyen Hoat.
Saking marahnya gadis ini, sampai ia muntahkan darah segar dari mulutnya dan terhuyung-huyung.
Dirasakannya berat bukan main.
Ia hampir saja roboh kalau tidak keburu Wang Ie yang sudah sampai ke tempat itu mencelat dan memondongnya.
y-Hong Kwi membuka matanya.
Tiba-tiba mata itu menjadi basah.
Memeluk Wang Ie.
Membenamkan kepalanya di dada pemuda itu sambil menangis.
Wang Ie mengusap kepala Hong Kwi dengan sentuhan mesra.
-moay........
tenanglah apakah yang terjadi, jangan kau begini moay-Bertambah deras air mata Hong Kwi membasahi dada pemuda itu.
Hong Kwi menangis sedih, apabila tangan lembut pemuda ini mengelus kepalanya dengan -bertambah sedih lagi.
Wang Ie menundukkan mukanya, memandang wajah Hong Kwi dalam-dalam.
-moay, bukankah aku yang telah Hong Kwi menangis sedih, air matanya bercucuran memandang pemuda itu.
Sementara melihat gadis ini menangis sedih, hati Wang Ie seperti diremas-remas rasanya.
Ia memeluknya erat-erat.
Hong Kwi membalas pelukan pemuda itu.
Teramat mesra.
Sepasang mata melihat adegan ini dengan mata basah, tiba-tiba Hwe Lan membalikkan tubuhnya dan menangis pula.
Ahh, tidak disangka bahwa Wang Ie mempunyai kekasih, mengapa ia begini bodoh?
Selama perjalanannya dengan pemuda itu, Hwe Lan jatuh hati kepada pemuda itu.
Dan diam-diam ia mencintai pemuda itu.
Akan tetapi sekarang?
Terasa hatinya sakit sekali.
Seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Wajahnya merah dan panas.
Perasaannya tidak keruan macam, ada rasa benci, terharu dan iri melihat betapa pertemuan Wang Ie dengan Hong Kwi begitu mesra begitu intim.
Tak boleh aku mengganggu Wang Ie, tak boleh ini sambil terisak, Hwe Lan mengelebatkan tubuhnya dan tahu-tahu bayangannya telah lenyap dari tempat itu.
Ia berlari cepat menuju Kong-hwa-san.
Akan tetapi kaki itu terasa berat untuk kembali ke Kong-hwa-pay, di dalam hutan itu Hwe Lan menangis sedih.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tanah berumput.
Pakaiannya yang bekas kehujanan tadi masih basah kuyup rambutnya yang panjang bergerai terlepas dari ikatannya.
Pada saat itu, tiba-tiba ia bangkit berdiri begitu pendengarannya yang tajam mendengar langkah-langkah kaki mendatangi ke tempat itu.
Serombongan orang berlari dengan cepatnya.
Hwe Lan memekik girang dan mengelebatkan tubuhnya mengejar rombongan itu ternyata di antara rombongan itu terdapat ayah bundanya.
Siang begitu melihat anaknya berlari menghampiri.
Sementara Nyuk In memeluk anaknya dan berkata, kepada kami.
Sehingga kami mencari-carimu setengah mati.
Kau, menyusahkan hati Hwe Lan memeluk ibunya, tiba-tiba perasaannya yang tadi tertekan, ditumpahkan pada ibu ini.
Ia menangis tersedu-sedu karena ingat masa yang silam, sewaktu masih berada dipangkuan ayah bundanya.
-hatinya merana pada saat itu.
Hatinya merenyuh sakit apabila teringat pemandangan-pemandangan barusan antara Hong Kwi dengan Wang Ie.
Hatinya terasa sakit dan marah!
Sakit, karena orang-orang yang selama ini menjadi impiannya dan dikagumi ternyata mencintai gadis lain, pantas sikap Wang Ie selama itu sangat dingin terhadapnya.
Ia benar-benar buta, mencintai pemuda yang sudah mempunyai kekasih, gemas sekali hatinya.
Gemas, menyesal dan malu, bercampur aduk!
Kini ia hanya menangis di depan ibunya.
Ho Siang menarik tangan anaknya.
ni ada Locianpwe Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, dan isteri.
Dan tokoh-tokoh dari Mendengar ayahnya menyebut Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, Hwe Lan menoleh.
Dilihatnya laki-laki setengah tua berlengan buntung tersenyum ramah Hwe Lan menghapus air matanya.
Tiba-pakah Tiba--cari puteri Locianpwe ini yang bernama Sung Hong Kwi, a -liang-Lan yang berkuatir akan hal anaknya cepat berkelebat dan sebentar saja orang-orang ini telah berada di puncak Lu-liang-san.
Hwe Lan menunjukkan kepada Tiang Le dan membawanya ke dalam gedung Lu-liang-pay.
Mereka terus memasuki ke dalam.
Akan tetapi begitu sampai di ruang itu, Tiang Le dan orang-orang gagah lainnya mendengar suara seorang gadis yang berkata dengan terputus-putus dalam tangisan.
Kata-kata itu membuat wajah Tiang Le sebentar pucat sebentar merah.
Bwe Lan tak dapat melanjutkan langkah kakinya.
Terhenyak di depan pintu.
aku tak layak lagi -moay.......
sudahlah, kau lupakanlah itu.......
biar bagaimanapun juga lemah, meneruskan kata-katanya begitu tiba-tiba terdengar pintu kamarnya terbuka dari arah luar.
Terlihat Tiang Le sudah berdiri di muka pintu dengan pandangan sebentar pucat sebentar merah.
Dadanya terasa turun naik, apabila dilihatnya Hong Kwi telah berada dalam pelukan pemuda bekas muridnya, Wang Ie!
-hoa-Tiang Le memaki keras dan begitu pedang buntungnya berkelebat, terdengar Wang Ie berteriak kaget dan cepat ia mengelak ke belakang menarik tubuh Hong Kwi.
Namun demikian cepat ia sudah mengelak, tetapi tetap saja pundaknya tersayat oleh gerakan pedang yang luar biasa cepatnya itu.
Wang Ie meringis merasakan pundaknya sakit bukan main, darah merah mengalir bercucuran membasahi lengannya, menetes-netes ke lantai.
Sementara wajahnya semakin pucat begitu dilihatnya Tiang Le dan Bwe Lan, dan banyak orang gagah telah memasuki kamarnya.
Tiba-tiba Tiang Le menubruk lagi, menggerakkan pedangnya dengan hebatnya diarahkan ke batang leher pemuda itu.
Wang Ie dengan gerakan seperti orang mabok karena desakan bekas gurunya ia hanya bisa mengelak lompat ke kiri, sedang suara pedang berdesing di sampingnya laksana kilat guntur yang menggelegar.
g Kwi juga memekik ngeri melihat ayahnya sudah mengamuk menempur karena perbuatan pemuda itu.
Tentu saja melihat pemuda ini dapat menghindarkan serangannya, bertambah paras hati Tiang Le.
Kata-kata yang didengarnya barusan, bahwa Hong Kwi, anaknya telah diperkosa membuat pendekar ini menjadi mata gelap.
Ia menubruk lagi Hong Kwi dengan tendangan kaki kiri dan tusukan pedang yang luar biasa cepatnya.
Tentu saja Wang Ie yang tidak mengerti datang-datang suhunya ini marah-marah dan menyerangnya menjadi bingung.
Gerakannya menjadi kurang cepat, sebuah tendangan Tiang Le yang beruntun, dengan jitu sekali mengenai lambungnya.
Wang Ie terhenyak.
Diam seketika itu Hong Kwi memeluk Wang Ie dan melindungi pemuda itu dari terjangan pedang Tiang Le.
Kwi tertembus pedang Tiang Le.
Bwe Lan menjerit kaget dan menggerakkan tangannya menggempur Tiang Le.
menggunakan gerak tangan kilat.
Saking hebatnya pukulan ini, Tiang Le terhuyung ke belakang dan muntahkan darah.
Bwe Lan sudah mencabut tongkatnya.
Pada saat itu Ho Siang mencelat dan menangkis tongkat nyonya ini yang hendak ditusukkan ke arah dada suaminya.
Bwe Lan tergetar memegang tongkat.
Ci Goat yang telah menolong Hong Kwi dan Wang Ie menoleh.
Ia sudah menotok pundak Hong Kwi yang bercucuran darah.
Bwe Lan menatap anaknya dengan pandangan basah.
Sementara itu Tiang Le telah berdiri.
Kepalanya terasa pening bukan main.
Ia berpegangan pada tembok.
Ketika itulah Hong Kwi menubruk kakinya dan menangkis.
menunjuk ke arah pemuda yang memandangnya dengan wajah pucat seperti mayat.
menubruk pinggang ayahnya dan mencabut pedang pusaka buntung.
Dengan gerakan yang demikian cepat tahu-tahu pedang itu telah berkelebat menusuk dada Hong Kwi.
Tiang Le memekik keras menubruk anaknya.
Sebuah bayangan berkelebat, ternyata Wang Ie telah menubruk Hong Kwi.
Akan tetapi Bwe Lan sudah merenggut tubuh Wang Ie dan melempar.
Sehingga dengan terhuyung-huyung pemuda itu terjerembab jatuh.
Nyonya ini menubruk anaknya.
Tiba-tiba Hong Kwi mengibaskan pelukan ibunya dan menubruk Wang Ie.
Kedua orang muda ini saling berpelukan.
Mereka sudah bermandikan darah.
--cu mereka memberiku bius dalam perjamuan makan.......
koko......
Wang Ie mencucurkan air matanya.
Mendekapkan dadanya ke dada si gadis yang terluka hebat, darah merah menetes-netes turun.
Tiba-tiba ia menoleh kepada ayah yang tengah memandangnya dengan wajah pucat.
-tiba kepala itu terkulai di dada Wang Ie.
Wang Ie mendekap kepala si gadis.
Perlahan ia merebahkan tubuh gadis itu di atas rumput.
Kemudian ia menoleh kepada Tiang Le dan Bwe Lan, tertunduk.
Akhirnya tinggal kenangan dan penyesalan yang menyelubungi mereka dan saling menyalahkan diri sendiri adanya.
Sementara Tiang Le berdiri tak bergerak seperti patung mengawasi anaknya yang telah membujur kaku.
Semua orang gagah yang hadir di situ menangis melihat adegan yang sangat memilukan hati.
Mereka pasti akan terkutuk atas perbuatannya yang sangat kejam dan keji.
Bwe Lan tahu-tahu berlari turun gunung menangis tersedu-sedu.
Air matanya berderai.
Angin gunung berhembus sejuk.
Daun bergoyang-goyang terhembus angin lalu.
Hujan masih turun rintik-rintik membasahi tanah pekuburan yang masih baru.
Di sinilah Hong Kwi beristirahat untuk selamanya di bawah naungan pohon kamboja yang teduh itu.
Hilangnya kabut hujan yang laksana ikut berduka cita atas gugurnya Hong Kwi berganti menjadi terang, sang surya menyinari dunia, maka selesailah cerita ini dengan semoga gembira para pembaca!
TAMAT Istana Hantu -Yoza Collection Istana Hantu -Yoza Collection
Baca Juga: Kedele Maut 11
Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 12