Bu Kek Kang Sinkang 1

Eps 1 Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh

Baca online Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh

Cersil Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh.

Bu Kek Kang Sinkang Udara siang hari cerah.

Langit biru bersih dari awan berpadu warna daun kuning kecoklatan yang berhamburan disekitar kuil siaulimsi.

Pemandangan indah awal musim gugur, sejuknya angin lembut yang menghempas, biasanya mengandung kekuatan aneh, yang bisa menghanyutkan perasaan seseorang hingga lupa dari masalah.

Sayangnya, Pek Bin Siansu Hongtiang siaulimsi generasi kini, sedang berkonsentrasi terhadap urusan lain.

Urusan yang dapat menimbulkan keangkeran ketua siaulimsi beserta 108 anggota LoHanTin yang melangkah perlahan dibelakangnya.

Tidak seorangpun menghiraukan pemandangan indah disekelilingnya.

Mereka seperti menanggung beban berat.

Ditilik dari usia mereka yang diatas 50 tahun, tentu berbekal kekuatan batin paling tidak hasil latihan puluhan tahun, namun mereka tetap tidak berhasil menghilangkan rasa kuatir, malu, geram yang jelas tertera di wajah mereka.

Jumlah mereka tidak sedikit, namun mereka berjalan tanpa menimbulkan suara, bergerak kearah belakang kuil dan berhenti didepan pondok mungil tapi terawat.

Pondok itu terbuat dari bambu, dengan sebuah pintu ditengah yang tertutup rapat.

Sangat menyolok bedanya dengan bangunan siaulimsi yang lain yang dibuat dari batu yang kokoh.

Walau terawat, bagaimanapun juga pondok itu kelihatan sudah tua sekali, terlihat lapuknya batang bambu disana sini.

Siapapun penghuninya, tentu usianya sudah tidak muda.

Sekitar sepuluh kaki dari pondok itu, Pek Bin Siansu menghentikan langkahnya.

"Siautit mohon maaf yang telah menganggu supek dari ketenanganya"

Lirih Pek Bin Siansu perlahan.

Hanya satu kali Pek Bin Siansu berseru.

Nampaknya tidak berminat untuk mengulangi ucapannya.

Ia hanya diam mematung.

Tidak seorangpun bergerak maupun bersuara.

Hanya gerak jubah dan suara pakaian yang tertiup angin mengisi kekosongan yang mencekam.

Waktu seakan berhenti, toh tetap tidak dapat mencegah turunnya matahari ke arah barat.

Sudahlimakentungan berbunyi, sore hari telah tiba.

Pemandangan ratusan orang berdiri bagaikan patung tidak juga berubah.

Seekor burung gagak hitam hinggap di pundak Pek Bin Siansu.

Bertengger dengan tenang sambil menguak suaranya yang khas.

Apakah bayangan kematian mulai menghantui siaulimsi?

Timbul perasaan yang sukar dijelaskan di hati kecil Pek Bin Siansu.

Apakah ia mengambil keputusan yang tepat?

Burung gagak terbang terlonjak kaget ketika pintu pondok berderit terbuka dan sesosok tubuh berkelabat cepat didepan Pek Bin Siansu.

Tubuh kurus dibungkus baju biru lusuh duduk bersila diatas sehelai ikat pinggang yang panjang menegak lurus kebawah menusuk batu keras di pelantaran siaulimsi.

Tubuh kakek tua itu yang hanya ditopang kain yang mengeras, mengambang dan bergoyang mengikuti geraknya angin gunung.

Sungguh mengagumkan kesempurnaan tenaga dalam kakek tua itu.

"Selamat atas keberhasilan supek yang telah melatih Siau Thian sinkang ketingkat yang sempurna"

Kata Pek Bin Siansu sambil menjura. Goan Kim Taysu, supek Pek Bin Siansu, menghela nafas.

"Aaai... masih jauh dari berhasil, puluhan tahun kucoba, baru menyelesaikan tingkat tiga, setelah mencapai tingkat delapan baru ilmu ini sempurna. Sayang aku kurang berbakat". Pek Bin Siansu mengangkat kepalanya dengan kaget. Goan Kim Taysu terkenal sebagai manusia yang paling berbakat di siaulimsi selama seratus tahun terakhir. Sepengetahuannya, sepanjang sejarah, dia lah satu satunya yang dapat menguasai 72 macam ilmu kepandaian siaulimsi sekaligus.

"Maaf supek, bukankah suhu dapat menyempurnakan Siau Thian Sinkang hanya dalam sepuluh tahun?". Goan Kim Taysu tersenyum,"

Suhumu memang memerlukan sepuluh tahun untuk melatih Siau Thian sinkang, hanya bukan ilmu itu yang sedang aku latih."

Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan.

"Ilmu yang sedang kulatih bernama Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke-73 yang diciptakan Tatmo cowsu".

Pek Bin Siansu terkesima, dari kecil ia tinggal di siaulimsi, dia yakin betul pendiri sialimsi menciptakan 72 macam kepandaian.

Dari mana datangnya Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke tujuhpuluh tiga?

Seperti memaklumi kebingungan sutitnya, Goan Kim Taysu menjelaskan "Kecuali Tatmo Cowsu belum pernah ada yang berhasil menguasi ilmu ini.

Tidak heran kau walau sebagai ketua pun tidak pernah mendengarnya.

Nampaknya ilmu ini akan ikut terkubur bersamaku".

Goan Kim Taysu nampak murung, kecewa, seperti dirudung persoalan pelik, tapi dengan cepat ia menarik napas panjang dan senyumnya pulih kembali.

Sungguh tinggi kekuatan batin kakek tua ini, satu tarik nafas telah mengusir kegalauan hatinya.

"Kau mencariku tentu sebagai langkah akhir untuk menghadapi situasi sulit". Dengan perasaan berat, Pek Bin Siansu mengiakan. Goan Kim Taysu telah menutup diri selama tiga puluh tahun dan ia telah merusak ketenangan supeknya. Ia harus menganggunya karena dia tidak melihat jalan lain. Tiga bulan yang lalu terjadi suatu peristiwa yang luar biasa di kuil siaulimsi. Mereka kedatangan tamu. Enam orang tamu yang mempunyai status cukup istimewa. Mereka merupakan ketua perkumpulan besar dari Bu tong pay, Kho tong pay, Hoa san pay, Thian san pay, Kun lun pay, dan kaypang saat ini. Walau hubungan mereka cukup baik dan suka berkunjung satu sama lain, belum pernah enam ketua perkumpulan berkunjung bersamaan sekaligus. Kecuali...yaaa, kecuali terjadi satu urusan yang janggal yang memaksa mereka berkumpul. Pek Bin Siansu mengajak mereka duduk menikmati minum teh di pendopo 'selaksa daun bambu' sambil menikmati pemandangan lembah gunung Siong San yang terkenal akan keindahannya.

"Braaakkkk....!"

Meja kayu setebal empat jari patah dipukul Ouw Hek Tong, ketua Kho Tong Pay yang memang berangasan.

Cangkir kemala antik tanpa dapat dicegah lagi, berhamburan pecah, air teh menciprat kemana mana.

Sambil menghel nafas Pek Bin Siansu berkata.

"Kutahu kedatangan kalian jelas bukan untuk menikmati pemandangan Siong san, hanya tidak kusangka, perabotan yang tidak bersalah menjadi sasaran".

"Hayo, kembalikan!"

Tuntut Ouw Hek Tong sambil melotot.

Ouw Hek Tong berperawakan sedang tapi kekar.

Berangasan, tapi mempunyai keberanian yang luar biasa.

Pernah seorang diri dia melawan enam puluh penjahat yang telah membunuh muridnya.

Komplotan penjahat yang rata rata berkepandaian tinggi itu toh tidak ada satupun yang hidup, walau dirinya pun mengalami luka luka berat.

Selama bisa maju, kenapa mesti mundur...prinsip sederhana ini membuat Ouw Hek Tong terkenal akan nekadnya berkelahi.

Sekarang ia telah berdiri siap melabrak ketua Siaulimsi yang ia tahu memilki kepandaian yang luar biasa.

"Boleh pinceng tahu, apa yang mesti dikembalikan?"

Tanya Pek Bin Siansu dengan sabar.

Tanpa banyak bicara, Ouw Hek Tong menggerakan tanganya melancarkan serangan dengan telapak tangan terbuka.

Angin menderu mengandung kekuatan merusak kearah Pek Bin Siansu yang tubuhnya melayang mengikuti derunya angin.

Bagai sehelai daun, kaki Pek Bin Siansu menyentuh tanah sekitar enam kaki dari mereka.

"Jika Ouw-heng ingin berkelahi tanpa tanya jawab, sungguh membuat orang penasaran"

Ujar Pek Bin Siansu sambil menatap Ow Hek Tong dengan tajam.

"Tahan!"

Seru Thian Ki Hwesio, ketua Bu Tong Pay sambil berdiri diantara mereka.

"Tampaknya kalian telah sepakat untuk melabrak Siaulimsi, jika kalian menganggap kami telah berhutang, kalianpun berhutang penjelasan"

Kata Peik Bin Siansu perlahan.

Thian Ki Totiang mengambil sebuah kotak dari saku bajunya, kemudian melontarkannya ke arah Pek Bin Siansu.

Kotak itu melayang dengan perlahan seperti ada tangan yang sedang menyuguh.

Pek Bin Siansu mengerut alisnya, agak terkejut juga ia akan kehebatan tenaga dalam Thian Ki Totiang.

Ia meraup kotak tersebut.

"Blaaang...!"

Tubuhnya tergetar keras dimana tubuh Thian Ki Totiang mundur selangkah ketika terjadi bentrokan tenaga dalam.

"Omitohud, jika kalian memaksa main kekerasan, bukankah ini akan menyangkut keselamatan ribuan murid tujuh perguruan"

Ujar Pek Bin Siansu dengan sedih.

Berenam mereka saling melirik.

Muka mereka berubah hebat.

Sukar dibayangkan jika terjadi bentrokan antar mereka yang jelas akan menggoncangkan dunia persilatan.

Murid murid mereka yang banyak merantau tentu tidak tinggal diam, entah bencana apa yang bakal terjadi.

"Kupinta, Siansu memperhatikan dengan cermat, symbol yang tertera di dalam kotak itu"

Pinta Thian Ki Toting setelah berpikir sejenak.

Pek Bin Siansu melirik kotak tersebut dan membukanya dengan perlahan.

Isinya ternyata hanya beberapa helai daun siong yang kering.

Enam helai daun itu memiliki simbol sama yang tertera jelas.

Bukan diatas daun, simbol itu tergores kedalam seperti dipahat tanpa merusak dasar sisi bawah permukaan daun.

Berubah hebat muka Pek Bin Siansu.

"Bukankah goresan semacam itu hanya bisa ditimbulkan oleh tenaga jari Kim Kong Ci?"

Desak Thian Ki Totiang. Memang hanya tenaga jari Kim Kong Ci yang mampu melakukan hal ini.

"Betul, memang mirip dengan tenaga jari Kim Kong Ci"

Jawab Pek Bin Siansu "Hanya mirip atau memang tenaga jari Kim Kong Ci?"

Desak Thian Ki Totiang.

"Sukar untuk dikatakan"

Kata Pek Bin Siansu setelah termenung sejenak. Tiba tiba jari telunjuknya melentik kearah tembok batu bangunan berjarak sekitar sepuluh kaki dari tempat berdirinya.

"Blaaar....!"

Dinding batu itu bolong sebesar jari sedalam tiga inci.

Desah kagum terdengar dari mereka yang menyaksikan.

Muka mereka berubah tenggelam.

Sungguh hebat demonstrasi tenaga jari Kim Kong Ci, ketua Siaulimsi ini.

Sambil tersenyum Pek Bin Siansu berkata.

"Dapat kujamin, goresan daun ini walau mirip dengan tenaga jari Kim Kong Ci, jelas bukan dibuat oleh orang Siaulimsi".

"Berdasarkan apa Siansu berani menjamin?"

Tanya Thian Ki Totiang. Pek Bin Siansu berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Selain Goan Kim Supek, boleh dibilang diriku yang berhasil melatih tenaga jari Kim Kong Ci ketingkat yang paling tinggi. Walau sudah cukup sempurna, akupun tidak sanggup menggores dengan cara seperti ini".

"Siansu tidak sanggup?"

Jerit Ong Pek Than ketua kaypang. Setelah termenung sejenak, Pek Bin Siansu menerangkan.

"Tenaga yang tidak merusak jauh lebih sulit dibanding tenaga yang bersifat menghancur. Simbol yang tertera di daun ini, jelas dicukil dengan hawa tenaga jari. Goresannya mempunyai kedalaman yang sama, licin dan rata. Dasar daunpun pun tidak robek. Hanya orang yang mempunyai tenaga dalam telah menyatu dengan kehendak hati yang mampu melakukan hal ini". Thian Ki Totiang terdiam. Dari bentrokan barusan, ia dapat mengukur tenaga dalam Pek Bin Siansu walau lebih tinggi paling hanya setengah atau satu tingkat darinya. Memang tinggi kepandaian Pek Bin Siansu, tapi belum mencapai tingkatan 'menyatu dengan kehendak hati'. Ia yakin Pek Bin Siansu berkata dengan jujur.

"Kalian sudah banyak bertanya, akupun sudah banyak menjawab. Sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi?"

Tanya Pek Bin Siansu dengan serius.

Ternyata, kitab kitab pusaka enam partai besar yang disimpan diruang rahasia, siang malam dijaga ketat telah hilang begitu saja.

Si pencuri tidak menganggu benda benda pusaka lainnya, hanya semua kitab silat lenyap tanpa ketahuan rimbanya.

Sehelai daun siong kering ditinggalkan di rak buku yang kosong di tiap ruang kitab keenam partai.

"apakah...?"

Pek Bin Siansu kemudian terdiam membatalkan pertanyaanya. Thian Ki Totiang ketua Butongpay menangkap masuknya.

"Apakah mungkin dilakukan oleh orang dalam?"

"Dalam pengusutan kami, hal ini yang pertama kali kami pikirkan kemungkinannya. Sulit dipercaya orang lain dapat memasuki ruang kitab tanpa sepengetahuan kami. Setelah penyelidikan yang teliti berbulan bulan, kami berkesimpulan satu hal yang mustahil pencurian dilakukan oleh orang dalam".

"Jadi dapat dipastikan oleh orang luar"

Tegas Pek Bin Siansu. Thian Ki Totiang berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Mustahil pencurian dilakukan oleh orang lain. Karena kami benar benar tidak dapat menerka, selain Siaulimsi, siapa di dunia persilatan jaman ini yang mempunyai tenaga jari sedahsyat ini!". Pek Bin Siansu menatap Thian Ki Totiang dengan tenang. Dengan perlahan Thian Ki Totiang menerangkan bahwa ruang kitab di Bu tong pay dijaga ketat oleh sam go beng yang pernah mengalahkan Kiu tok sin mo, raja iblis yang mengobrak abrik dunia persilatan tiga puluh tahun yang lalu. Perasaan Pek Bin Siansu tenggelam, sutenya Ang lee Siansu pernah bertarung melawan murid Kiu tok sin mo dan kalah. Bisa dibayangkan betapa sempurnanya kepandaian sam go beng yang berhasil menaklukan Kiu tok sin mo dalamlimaratus jurus.

"Sebaiknya kita bicara di ruang dalam"

Ajak Pek Bin Siansu yang kemudian membimbing mereka masuk ke ruang pertemuan. Setelah duduk dan minuman teh disediakn, Thian Ki Totiang melanjutkan ceritanya.

"Ruang kitab dipusat perkumpulan kaypang dijaga oleh kay ong". Tanpa terasa dahi Pek Bin Siansu berkerenyit. Sembilan tangan raja pengemis adalah rajanya pencuri. Berkepandaian tinggi walau tidak sehebat sam go beng, keahlian kay ong dalam mencuri tiada bandingannya. Di propinsi Kang Lam, kemarau yang berkepanjangan menyebabkan berulang kali panen gagal. Rakyat kelaparan, kay ong berhasil mencuci habis sembilan gudang persedian beras yang dijaga ketat oleh pasukan pemerintah. Rajanya pencuri yang bertanggung jawab atas ruang kitab ternyata kebobolan. Sungguh berita ini sukar dipercaya. Ang lee Siansu, wakil ketua siaulimsi, tiba tiba muncul diruang pertemuan.

"Mo Tiang sute, penjaga ruang kitab, mendesak untuk menghadap ciangbujin suheng"

Katanya singkat. Berubah hebat muka para ketua yang hadir, Pek Bin Siansu menutup matanya sambil menarik nafas.

"Bawa dia masuk".

"sute nampaknya ingin berjumpa dengan suheng secara pribadi"

Kata Ang lee Siansu agak ragu melihat begitu ramainya yang hadir.

"Apakah ditangan Mo Tiang sute memegang secarik daun?"

Duga Pek Bin Siansu dengan jantung berdebar. Ang lee siansu agak heran dengan tebakan jitu suhengnya, iapun mengangguk.

"Diangan sute memang memegang sehelai daun, nampaknya hendak diserahkan langsung ke suheng".

"Bawa dia segera kemari!"

Gumam Pek Bin Siansu. Tidak lama kemudian, Mo tiang Siansu muncul kemudian bersimpuh dengan air mata yang bercucuran.

"Suheng..."

"Kukira kutahu apa yang telah terjadi, kesalahan bukan terletak padamu". Potong Pek Bin Siansu sambil mengambil helaian daun dari sutenya. Potongan daun siong kering dengan simbol persis sama dengan helaian daun di dalam kotak yang telah dikembalikan olehnya kepada Thian Ki Totiang.

"Suheng, hanya ini yang bisa kulakukan"

Jerit Mo Tian siansu yang tubuhnya melenting dengan kepala mengarah tembok.

Perhatian Pek Bin Siansu yang terpusat pada helain daun tersebut membuatnya lengah dengan perbuatan nekad sutenya.

Tidak ada satu orangpun yang hadir yang menduga atau sempat mencegah perbuatan bunuh diri Mo Tian Siansu.

Goan Kim Taysu yang tidak melihat kehadiran keponakan muridnya, memejamkan mata.

"Apakah Mo Tian sutit telah tewas?"

Tanyanya perlahan.

Pek Bin Siansu mengeluarkan sehelai daun dari sakunya dan menyerahkan kepada Goan Kim supek.

Dengan pandangan bertanya, Goan Kim menerima daun tersebut.

Ia tidak dapat melihat keistimewaan daun siong kering yang memang banyak tumbuh disekitar siaulimsi.

"Perbuatan sute dicegah oleh daun ini". Ketika semua yang hadir di ruang pertemuan termangu tanpa dapat melakukan sesuatu, sesuatu melayang dari luar dengan cepat meliuk menghantam ubun ubun Mo Tiang Siansu. Anehnya, tubuh Mo Tiang siansu seperti tertahan tangan yang tak tampak, perlahan menahan laju tubuhnya.sekitar tiga hun dari tembok, tubuhnya berhenti beberapa detik, kemudian jatuh tegak lurus ke lantai. Dengan ringan Pek Bin Siansu melayang menangkap tubuh sutenya. Setelah diperiksa, dengan lega dia mendapatkan sutenya lepas dari bencana. Wajah lega Pek Bin Siansu tiba tiba berubah hebat.

"Aneh... tiga puluh enam pembuluh darah sutenya telah tertotok. Siapa yang melakukannya? Apakah sehelai daun segar yang menempel dikepala sutenya dapat digunakan untuk menotok orang?"

Terjadi perubahan hebat di muka Goan Kim Taysu.

"Ilmu menitip daun"

Jeritnya pelan.

Pek Bin Siansu termangu.

Dia pernah mendengar, seseorang dinilai berkepandaian sempurna bila sudah mencapai tingkatan 'memetik daun'.

Setahu Pek Bin Siansu, hanya beberapa orang yang mencapai tingkatan ini.

Sam Go beng dari Bu tong pay, mendiang suhu, dan Goan Kim supek.

Bahkan kepandaian Kay Ong atau Kui thian sin mo masih satu tingkat lebih rendah.

Walau tidak mengerti tingkatan 'menitip daun' dari jeritan kaget supeknya, Pek Bin Siansu berkesimpulan ilmu itu bertataran lebih tinggi dibanding tingkatan 'memetik daun'.

"Lanjutkan ceritamu"

Seru Goan Kim Taysu setelah termenung sejenak.

Ternayata Jalan darah tidur atau Sui hiat Mo tiang siansu juga tertotok.

Suara dengkur tidur sutenya justru melegakan Pek Bin Siansu, ia yakin sutenya tidak terluka.

Thian Ki Totiang beserta ketua perkumpulan lainnya berusaha membantu Pek Bin Siansu yang berkutet mencoba membuka totokan sutenya.

Ternyata tidak satu pun yang berhasil mengenal apalagi mampu membebaskan pengaruh totokan itu.

"Hentikan usaha sia sia kalian. Biarkania tidur. Dua belas jam kemudian, dia akan bebas dengan sendirinya". Suara lirih tapi jelas terdengar berbisik ditelinga mereka. Sulit menentukan sumber suara itu. Suara itu jelas bukan berasal dari luar atau dari dalam ruangan. Sepertinya suara tersebut dibisikkan orang dari sisi tubuh mereka. Bahkan sulit diduga, apakah suara lelaki atau perempuan, tua atau muda. Siapa sih yang bisa membedakan suara bisikan? "Sebaiknya kalian pulang saja. Tiada gunanya kalian berkumpul. Selain Kitab Siaulimsi, kitab lainnya telah kembali ke tempat asalnya". Bisikan misterius kembali berkumandang ditelinga mereka.

"Bila kitab kami dikembalikan"

Seru Pek Bin Siansu dengan kuatir.

"Paling lama seratus hari lagi".Kali ini suara misterius itu terdengar seperti jauh dari bawah bukit siong san. Sungguh sukar dibayangkan, seseorang mampu berbisik dari jarak sejauh itu dan tetap terdengar jelas.

"Dapatkah ucapannya dipercaya?"

Tanya Thian Ki totiang dengan getir.

Tujuh tokoh utama persilatan masa kini, ternyata seperti bayi yang tak berdaya di depan orang ini.

Sungguh sukar dipercaya.

Peristiwa ini sungguh memukul kepercayaan diri mereka.

"Ucapannya dapat dipercaya"

Seseorang melesat masuk ke ruang pertemuan. Go sam beng menjura ke hadirin sekalian, kemudian berkata kepada ketuanya.

"Kitab kitab Bu tong pay telah kembali ke tempatnya masing masing".

"Tiada penjagaankah ruang kitab bu tong pay, sehingga orang dapat bebas keluar masuk seperti rumah makan umum?"

Tegur Thian Ki totiang dengan muka masam. Go sam beng menunduk malu.

"Siautee berjaga di depan pintu sedangkan puluhan anggota tay kek ngo hen tin bersiaga ditempat tersembunyi. Kami berkeyakinan, seekor lalatpun tidak dapat keluar atau masuk ruang kitab tanpa seijin kami".

"Bagaimana orang itu yang jelas lebih besar dari seekor lalat bisa mengembalikan kitab tanpa sepengetahuan kalian"

Tanya Thian Ki totiang dengan penasaran. Dengan perasaan tertekan, Go sam beng menjawab.

"Sebab kami semua tertidur".

Sungguh kejadian yang luar biasa, Go sam beng yang berkepandaian paling tinggi di Bu tong pay beserta puluhan pasukan pilihan tay kek ngo hen tin tertotok tidur tanpa sepengetahuan mereka.

Dia yang tersadar duluan, merasa angin dingin bertiup dari belakangnya.

Ketika ia menoleh, pintu ruang kitab terbuka lebar.

Secepat kilat ia melayang masuk dan tertegun ketika menyaksikan puluhan kitab yang hilang telah tersusun rapi seperti semula.

"Apakah kitab kitab itu benar benar asli"

Tanya Thian Ki totiang.

"pinto sudah mengecek satu persatu, semuanya asli". Thian Ki totiang tahu betul akan hobi sutenya yang gila baca. Jika dia bilang asli, maka tidak perlu diragukan lagi.

"Kuyakin orang yang berkepandaian luar biasa itu tidak akan mau berbohong. Letak Bu tong pay dekat dengan siaulimsi maka mendapat berita lebih awal. Memang tiada gunanya kita berkumpul. Jika kalian pulang tentu akan mendapat kabar yang sama".

"Walau kitab yang hilang sudah kembali, kenyataannya kita sudah dipecundangi. Perasaan ini yang sulit dihilangkan"

Kata Thian Ki totiang dengan sedih.

Ia tidak malu menyatakan kekalahannya.

Toh semua mengalami nasib yang sama termasuk siaulimsi yang terkenal gudangnya orang pandai.

Thian Ki totiang bersama Go sam beng berpamit pulang.

"Totiang, tidak maukah kau mengurus persoalan ini lagi?"

Seru ketua kaypang.

"Bukannya tidak mau, hanya sukar diurus"

Jawab Thian Ki totiang sambil melangkah keluar.

"Masakkan kita biarkan berlalu begitu saja?"

Teriak Ouw Hek Tong penasaran.

"Ku akui kepandaian Bu tong pay masih terlampau rendah, masih banyak yang harus kami benahi"

Ujarnya dengan pahit.

Dengan perasaan tertekan, mereka mengakui kebenaran pernyataan itu.

Tujuh perkumpulan terkemuka di masa ini mengalami kekalahan tragis ditangan seseorang tanpa melakukan pertarungan.

Satu persatu mereka meninggalkan ruangan, tinggal Pek Bin Siansu yang termenung sambil memegang ke dua helai daun itu.

Satu helai daun segar, dan satu helai daun kering.

********************** Setelah terdiam sejenak, Goan Kim berkata "Coba kau gunakan Kim Kong Ci menghajar tembok itu".

Jarak tembok dari Pek Bin Siansu berdiri sekitarlimabelas kaki.

Dengan mengerahkan tenaga sembilan bagian, ia melentikkan jari telunjuknya.

Terdengar suara keras disertai sebuah lobang sebesar jari sedalam tiga inci.

Goan Kim tersenyum.

"Nampaknya cukup banyak kau mendapat kemajuan".

"Berkat restu supek"

Jawab Pek Bin Siansu merendah.

"Coba kau serang pohon diluar temboksana"

Sambil menunjuk pohon yang dimaksudkan. Pek Bin Siansu menatap pohon yang lebih dari tiga puluh kaki dari dia berdiri.

"Terlampau jauh, supek. Teecu belum mampu". Terdengar suara lirih mendesir ketika Goan Kim Taysu menggerakkan jarinya, pohon tersebut seperti ditabrak gajah, bergoyang dengan kencang. Suara berdecak kagum dari barisan lo han tin mengagumi kehebatan tetua mereka.

"Di mata kalian kepandaian ini sudah hebat, padahal bukan terhebat". Ratusan mata menatap Goan Kim Taysu dengan heran.

"Kebanyakan daya serang bersifat lurus atau menyebar hingga mencapai sasaran yang terlihat atau bagian yang tidak kuat terlindungi ". ujar Goan Kim Taysu perlahan.

"Dapatkah kau melubangi tembok bagian luar yang tidak terlihat yang dilndungi dengan enam kaki tebal tembok itu sendiri?"

"Tidak dapat". Goan Kim mengangguk.

"Daya serangmu harus meliuk, berubah dari daya lurus dan harus mempunyai sisa tenaga yang cukup untuk menghancurkan". Setelah berpikir sejenak, Goan Kim melanjutkan,"Orang yang telah menyelamatkan sutemu, jelas memetik daun ini dari pekarangan luar, kemudian melemparnya melampaui puluhan kaki dengan ruangan yang berbelok belok dan mempunyai cukup sisa tenaga untuk menahan daya luncur dan menotok jalan darah sutemu". Ucapan Goan Kim agak sulit dipercaya Pek Bin Siansu. Dia tahu betul jarak pekarangan luar hingga ruang pertemuan mencapai lebih dari seratus kaki dengan kelak kelok yang rumit. Tapi teringat olehnya, dari getah yang menetes keluar, daun siong itu memang seperti baru saja dipetik, bahkan masih mengeluarkan getaran aneh yang menyebabkan tangannya kesemutan ketika memegangnya.

"Siapapun dia, apapun maksudnya, kita wajib berterima kasih atas upayanya yang telah menyelamatan Mo tiang sutit". Suara Goan Kim Taysu menyadarkan Pek Bin Siansu dari renungannya.

"Sutit berharap dapat menyampaikan terima kasih malam ini kepadanya".

"Hari keseratus jatuh pada hari ini?"

Tanya Goan Kim memastikan. Pek Bin Siansu mengangguk.

"Coba kau perlihatkan padaku lembaran kedua"

Pinta Goan Kim setelah berpikir sejenak.

Pek Bin Siansu mengeluarkan kotak berisi lembaran daun yang mempunyai simbol dipermukaannya.

Tiga bulan lebih ia mencoba menafsirkan arti simbol itu....Mirip huruf sansekerta tapi ia tidak mengenalnya.

Goan Kim Hwesio menatap daun itu lama sekali.

Terdengar tarikan nafasnya yang panjang.

"Sungguh sempurna kepandaian orang ini"

Gumamnya perlahan.

"maksud susiok?"

Goan Kim Taysu menggerakkan tangannya, seperti sulap sehelai daun segar dari pohon siong berjarak puluhan kaki, terpetik dan melayang ketangannya.

Dengan perlahan, Goan Kim Taysu mengukir jari tangannya diatas daun segar tersebut mengikuti bentuk simbol itu.

Dengan hasil, persis sama.

Rasa kagum muncul dihati Pek Bin Siansu atas kemampuan supeknya.

Berbareng dihati kecil timbul rasa kuatir.

Apa supeknya yang melakukan pencurian besar besaran ini?

Sungguh sukar dipercaya!

Goan Kim Taysu tersenyum seperti dapat membaca renungan hati sutitnya.

"Jangan kuatir, bukan aku yang melakukan pencurian itu"

Merah muka Pek Bin Siansu mendengar ucapan supeknya.

"Aku hanya mampu menulis simbol ini diatas daun yang masih segar"

Tutur Goan Kim Taysu menjelaskan.

"Daun kering mudah tersepih hancur, aku masih belum mempunyai kemampuan untuk menulis diatas daun kering tanpa menganggu keutuhan daun". Hati Goan Kim Taysu berdesir, daun segar yang baru ditulisnya, jika mengering sedikit banyak akan ikut mengubah bentuk dan ukuran simbol tulisannya.Dari simbol yang licin dan rata, jelas si pencuri ini menulis diatas daun yang memang sudah kering! Goan Kim Taysu merenung, .ia seperti mengenal ilmu yang digunakan orang ini, tapi tidak dapat mengingatnya. Pek Bin Siansu memberanikan diri untuk bertanya.

"Simbol itu, entah apa artinya?"

Baru Goan Kim Taysu teringat, ia sibuk memperhatikan hal yang lain, simbol tulisan itu malah belum ia perhatikan dengan benar.

Muka Goan Kim Taysu berubah serius, tangannya sedikit gemetar, lama ia termangu.

Tergetar hati Pek Bin Siansu melihat keadaan susioknya.

"Mohon maaf atas kebodohan sutit yang tidak mengenal..."

"Tulisan ini menggunakan huruf Ardhmagadhi, tulisan kuno yang menjadi dasar bahasa sansekerta. Tidak heran kau tidak mengenalnya"

Potong Goan Kim Taysu.

"Budhidharma"

Baca Goan Kim Taysu cukup keras.

"Omitohud, Tat Mo Cowsu"

Seru Pek Bin Siansu Tat Mo Cowsu dilahirkan dengan nama Budhidharma.

Berasal dari India, beliau merantau ke Cina untuk menyebarkan ajaran Budha.

Akhirnya menetap di bukit siong san dan mendirikan kuil siaulimsi, Tat Mo Cowsu berhasil menjadikan siaulimsi menjadi pusat ajaran Budha untuk seluruh daratan Cina.

Goan Kim Hwesio tidak dapat menebak apa maksud pencuri itu menulis nama cikal bakal siaulimsi dengan bahasa kuno.

Setahunya, tinggal dirinya seorang yang menguasai bahasa Ardhmagadhi.

Itu pun dikarenakan Bu Keng Kang sinkang ditulis dengan bahasa....

"Tingkat terakhir!"

Jerit Goan Kim Taysu tanpa terasa. Pek Bin Siansu menatap susioknya dengan pandangan tidak mengerti.

"Orang itu menulis dengan Bu Kek Kang sinkang tingkat ke delapan"

Kata Goan Kim Hwesio dengan seruan tidak percaya. Hanya dirinya yang menguasai Bu Kek kang sinkang itupun baru sampai tingkat tiga. Goan Kim Taysu menggeleng kepala "tidak mungkin"

Gumamnya. Tiba tiba terdengar suara kalem berkumandang dari dalam pondok kecil.

"Memang tidak mungkin dari tingkat ke delapan, harus dilakukan dari tingkat sebelas".

"Tingkat sebelas?"

Seru Goan Kim Taysu tidak mengerti.

Bu Keng Kang sinkang terbagi atas delapan tingkat, darimana muncul tingkat sebelas?

Jelas jelas pondoknya tiada penghuni lain, siapa yang bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuannya?

"Tio sam, tentu banyak yang kau ingin tanyakan, sebaiknya kau masuk kemari"

Seru suara dari dalam pondok.

Yang tahu dirinya bernama Tio Sam, sepuluh tahun ini, setahu Goan Kim Hwesio tinggal dua orang.

Satu dirinya, yang satu lagi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Toh orang ini mampu menyebut nama aslinya.

Nama sebelum ia menjadi pendeta.

Pek Bin Siansu tidak berani melanggar perintah supeknya.

Secara isyarat, ia memerintahkan pasukan Lo Han Tin untuk mengepung pondok kecil tersebut.

Hatinya rada lega ketika ia memastikan tiada suara pertarungan terdengar dari dalam pondok.

Dari uraian susioknya, Pek Bin Siansu berkesimpulan kepandaian si pencuri kitab berkali kali lipat lebih tinggi dari Goan Kim Taysu, tidak heran mampu menggerayangi ruang kitab tujuh perkumpulan besar semudah keluar masuk rumah makan.

"Ciangbun-suheng". Panggilan ini menyadarkan Pek Bin Siansu dari renungannya. Berdiri di depannya, Mo Tian Sute dengan wajah serius.

"Apa kauingin melapor bahwa kitab kitab yang dicuri sudah dikembalikan?"

Tanya Pek Bin Siansu.

"Ya, kitab kitab itu lengkap sudah kembali ketempatnya semula, Keasliannya pun tidak diragukan., hanya...?"

Melihat keraguan sutenya, Pek Bin Siansu segera bertanya "apa ada urusan yang janggal?"

Mo thian Siansu menyodorkan sebuah kitab ke suhengnya.

"Selain kitab kita, kutemukan juga kitab ini". Jantung Pek Bin Siansu berdebar kencang ketika membaca sampul kitab itu.

"Tat Mo ih kin keng"

Desisnya kaget.

Menurut catatan, kitab ini hilang tidak ketahuan rimbanya, sejak angkatan Hui memegang jabatan ketua siaulimsi, seratus tahun yang lalu.

Segala macam usaha dicoba untuk menemukan kembali kitab yang tak ternilai ini.

Hasilnya, nihil.

Lama sudah proses pencarian kitab dihentikan.

Tiba tiba, tanpa mengeluarkan keringat, kitab itu berada ditangannya.

Hati Pek Bin Siansu girangnya bukan main, berbareng bingung dengan perilaku aneh si pencuri kitab itu.

Betul Ruang kitabnya kecurian, tapi bukannya kurang, malah bertambah!

Pek Bin Siansu tidak dapat menerka maksud atau tujuan si pencuri itu.

Bahkan sulit baginya mengambil sikap, haruskah ia marah atau malah berterima kasih?

Apapun juga ia berharap segala sesuatu akan jelas dengan sendirinya.

Ia yakin, orang yang sedang bercakap dengan susioknya di dalam pondok itu adalah si Pencuri misterius itu.

Tidak terlalu lama ia menunggu, terdengar suara Goan Kim Taysu menyuruhnya masuk ke dalam.

Pek Bin Siansu mendapati susioknya duduk bersila di atas dipan dengan wajah serius.

Entah kemana orang itu, yang bagaikan naga sakti tidak terlihat ekornya.

Hati Pek Bin Siansu agak penasaran mengetahui siaulimsi yang terkenal banyak orang pandainya dianggap tempat umum oleh si pencuri misterius yang bisa keluar masuk seenak udel tanpa diketahui jejaknya.

Pek Bin Siansu memberi hormat kepada susioknya yang mempersilahkan duduk.

"Tentu banyak yang ingin kau tanyakan mengenai Pencuri kitab itu, sayang tidak banyak yang boleh kujelaskan padamu"

Kata Goan Kim Taysu perlahan. Pek Bin Siansu tertegun. Siapa yang dapat melarang susioknya berbicara? Goan Kim Taysu tersenyum, ia memahami pikiran sutitnya.

"Dia bukan orang luar, walau bukan dari siaulimpay, dia termasuk angkatan tuaku"

Agak heran Pek Bin Siansu, susioknya hampir berusia seratus tahun, jika si Pencuri sakti itu angkatan tua susioknya, tentu usianya tua sekali.

"Walau dari angkatan tua sekalipun, tidak dapat dibenarkan tindakannya yang main curi itu"

Kata Pek Bin Siansu dengan penasaran.

"Tindakkannya memang gegabah, tapi tidak juga dapat dipersalahkan"

"Maksud susiok?"

Goan Kim Taysu menarik napas hendak menerangkan, tapi tidak jadi.

"Memandang wajahku, maukah kau melupakan kejadian ini? Toh kitab yang dicuri sudah dikembalikan bahkan disertai Tat mo Ih Kin Keng"

"Darimana susiok..?"

Pek Bin Siansu tidak jadi meneruskan pertanyaannya. Tentu saja si Pencuri yang memberitahu susioknya.

"Sebentar lagi, dunia persilatan akan digegerkan dengan kedatangan orang dari partai Lam Hay Bun. Sebaiknya, jika tidak ada keperluan mendesak, anggota siaulimsi tidak usah berkelana."

Kening Pek Bin Siansu berkerut.

Lam Hay Bun adalah sebuah perguruan silat dari pantai selatan yang terkenal sekali atas kesaktiannya.

Tidak banyak yang diketahui Pek Bin Siansu mengenai perguruan misterius ini.

Cuma ia tahu, mereka jarang sekali berkelana ke daerah tionggoan.

"Kalau mereka datang untuk mengacau, bukankah kewajiban kita untuk maju membela?"

"Kalau mereka berbuat busuk, tentu wajib kita mencegah. Tapi mereka berniat untuk merebut gelar nomor wahid dengan mengalahkan orang orang persilatan. Apa kau mau ribut memperebutkan gelar kosong?"

Bantah Goan Kim Taysu. Pek Bin Siansu terdiam.

"Sungguh hebat rencana mereka"

Gumam Goan Kim Taysu dengan perlahan. Wajahnya makin kelihatan tua, sesuatu nampaknya mengganjal hatinya.

"Apa rencana mereka, susiok"

Tanya Pek Bin Siansu tak tahan. Goan Kim Taysu merenung sejenak, kemudian berkata.

"Ratusan tahun sejarah telah membuktikan. Walau banyak yang telah mencoba, baik itu dari wakil pemerintah, peorangan atau satu perguruan, tapi tidak pernah ada satupun yang benar benar berhasil menguasai rimba persilatan". Pek Bian Siansu mengangguk membenarkan. Dia tahu perguruan Mo-Kauw, Ceng Liong Hwee, istana kelabang emas dari luar tembok besar dan yang lain, pernah mencoba...mereka gagal! "Mereka tidak berhasil disebabkan usaha mereka menggunakan cara yang licik, curang dan memaksa, hingga mengundang kemarahan orang banyak. Karena tidak tahan, anggota persilatan bergabung menjadi satu, menentang kezaliman mereka"

Kata Pek Bin Siansu tanpa terasa.

"Jangan kau lupa, sejarah juga membuktikan setiap zaman kezaliman, selalu muncul seorang enghiong yang berkepandaian tinggi menentang mereka". Kembali Pek Bin Siansu mengangguk. Kisah suka duka para enghiong itu, sudah menjadi dongeng yang beredar di kalangan liok lim.

"Rencana Lam Hay Bun kali ini berbeda. Mereka bertekad menguasai rimba persilatan dengan cara yang jujur, menggunakan kemurnian ilmu silat sehingga tidak beralasan orang rimba persilatan untuk menentang mereka". Sudah menjadi pengetahuan umum, seseorang jika kalah dalam pi-bu, kalah atau tewas dalam pertandingan yang jujur, hal ini merupakan suatu hal yang jamak. Tidak ada alasan bagi yang kalah untuk mengeroyok yang menang. Jika yang kalah mengeroyok yang menang, maka ia akan dianggap seorang pengecut. Seorang yang berlaku perbuatan curang yang dapat merugikan nama baiknya. Pihak yang kalah harus berusaha dengan kemurnian silat untuk mencapai kemenangan. Dengan cara ini, baru dia diakui kehebatannya.

"Dengan cara seperti ini, paling banter mereka hanya keluar sebagai pemenang, bagaimana mereka dapat dianggap menguasai rimba persilatan?"

"Sebab mereka menawarkan yang kalah untuk mempelajari silat Lam Hay Bun"

Pek Bin Siansu memandang susioknya dengan kaget.

Cara ini memang cara yang luar biasa!

Siapa yang tidak tertarik untuk mempelajari ilmu silat yang mengalahkan mereka?

Untuk mempelajari ilmu tersebut, mereka harus bergabung dengan pihak Lam Hay Bun.

Otomatis harus mengikuti tata cara satu perguruan.

Tanpa paksaan atau penggunaan racun, secara suka rela dan bersih, mereka dapat menundukkan orang orang di rimba persilatan tanpa dapat ditentang oleh perguruan besar di tionggoan.

"Kuyakin, masih banyak pendekar sejati, yang belum tentu tertarik bergabung dengan pihak Lam Hay Bun"

Kata Pek Bin Siansu setelah berpikir sejenak.

"Betul perkataanmu. Tapi jumlah pendekar sejati semacam ini sangat sedikit. Pendirian merekapun terkenal teguh. Pihak Lam Hay Bun tentu saja menyadari, mereka tidak mungkin dapat merangkul pendekar sejati sejenis ini. Kuyakin, pihak Lam Hay Bun tentu akan membunuh mereka dalam pertandingan yang adil"

Pek Bin Siansu mau tidak mau harus mengakui kebenaran ucapan susioknya.

"Walau mereka berkepandaian hebat, belum tentu mereka berhasil mengalahkan semua orang rimba persilatan"

Seru Pek Bin Siansu agak penasaran.

"Berhasil atau tidak, yang jelas banjir darah akan terjadi. Dan sulit sekali untuk dicegah"

Kata Goan Kim Taysu dengan sedih.

"Sungguh rencana yang hebat!"

Gumam Pek Bin siansu perlahan.

"Apa susiok sudah mempunyai cara untuk menghadapi mereka?"

Tanya Pek Bin Siansu. Setelah termenung sejenak, Goan Kim Taysun berkata.

"Kuminta kau mengutus Mo Tian sutit pergi ke kota Lok Yang, bilang pada Khu Pek Sim, aku berkenan untuk mengangkat cucunya, Khu Han Beng, menjadi ahli warisku"

Goan Kim Taysu, mengulap tangannya, mengakhiri pembicaraan.

Pek Bin Siansu meninggalkan susioknya sambil merenung.

Kecuali persoalan Lam Hay Bun yang luar biasa, hal yang lain yang dibicarakan Gon Kim Taysu kepadanya, boleh dibilang tidak ada satupun yang istimewa.

Hal hal yang ingin ia ketahui terutama mengenai si pencuri kitab itu, justru tidak dibicarakan, dan iapun tidak berani mendesak susioknya.

Diam diam ia ikut bersyukur bagi Khu Pek Sim, murid preman sialimsi yang bukan dari kalangan pendeta.

Bagaimanapun juga Goan Kim Taysu akan mempunyai ahli waris hingga Bu Kek Kang sinkang tidak ikut terkubur bersamanya.

Yang ia heran, susioknya yang tidak pernah keluar pondok puluhan tahun lamanya, darimana mengetahui nama cucu Khu Pek Sim?

Dirinya malah tidak tahu.

Khu Pek Sim memiliki Lok Yang Piaukiok, perusahan pengawal barang di kota Lok Yang.

Terakhir Khu Pek Sim berkunjung ke siaulimsi terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu, setelah selesai mengantar barang ke kotaraja.

Walau jarang bertemu, hubungan mereka tidak jelek.

Pek Bin Siansu sempat mengetahui Khu Pek Sim hanya mempunyai seorang putri remaja.

Tentu sekarang ia sudah menjadi seorang ibu, ibunya Khu Han Beng.

Setelah berpikir sejenak, Pek Bin Siansu merasa kejanggalan.

Sebagai murid swasta siaulimsi, sudah tentu Khu Pek Sim mengirim undangan kepada ketua siaulimsi, ketika putrinya menikah.

Tapi seingatnya, ia tidak pernah menerima undangan tersebut.

**************************** Lok Yang piaukok terletak di pinggir kota Lok Yang dan menempati daerah yang cukup luas dikelilingi sebuah tembok yang cukup tebal.

Rumah bergenting merah bederet deret puluhan banyaknya.

Sebagai Congpiautau, Khu pek sim temasuk seorang pemimpin yang sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya.

Selain memberi pesangon yang cukup, dia juga memberikan sarana tempat tinggal bagi pegawainya.

Disebuah kamar dirumah yang paling besar, seorang anak berumur sekitar empat belas tahun sedang menggoreskan penanya diatas sehelai kertas.

Tampaknya ia tidak berniat untuk berhenti, dilihat dari tumpukan kertas yang cukup tebal diatas mejanya, tentu sudah lama ia menulis.

Sinar matahari pagi menyoroti sebagian wajah bocah itu.

Wajah yang tampan dihiasi alis yang tebal, dan hidung yang mancung, jelas mencerminkan kekerasan dan keteguhan hati.

Matanya agak istimewa, bukan karena mencorong sinar tajam, seperti biasanya ahli silat...Mata itu agak istimewa karena mengikuti tarian pena lebih dari sepenanakan nasi....

tanpa berkedip.

Hanya seorang kutu buku yang bisa mempunyai otot mata yang demikian kuatnya.

Hanya kebiasaan membaca berjam jam setiap harinya, yang dapat melatih otot mata yang kuat sekaligus melatih kebiasaan memusatkan perhatian.

Membaca adalah suatu kebiasaan yang baik.Suatu kebiasaan yang membuat kamar Khu Han Beng yang luas menjadi sempit penuh dengan rak berisi buku.

Pintu kamarnya dibuka oleh Lo Tong yang tanpa basa basi langsung berkata.

"Beng sau-ya, kau dipanggil oleh yaya-mu"

Lo Tong ditugaskan yaya-nya untuk melayani keperluannya.

Sebetulnya, dia yang meminta dan memilih Lo Tong untuk melayaninya.

Lucunya, walau sudah berusia enam puluh tahun lebih, dan lebih dari tujuh tahun bekerja sebagai kacung bukunya, Lo Tong buta huruf.

Entah apa sebabnya, Han Beng tidak pernah mengajar cara membaca atau menulis kepada Lo Tong, kakek tua itupun juga nampaknya tidak tertarik untuk belajar membaca.

Tugas sehari harinya, hanya menyiapkan tinta, membersihkan alat tulis, dan menyusun kertas kertas hasil tulis sau-ya kecilnya.

Tugas yang sangat ringan, cocok dengan kondisinya yang memiliki tulang tua, yang mudah mengilu bila melakukan kerja berat Setahu Lo Tong, siau sau-ya, tuan kecil satu ini memang sedikit aneh.

Umumnya anak kecil gemar bermain, Khu Han Beng lebih gemar mengurung dirinya didalam kamar, membaca buku buku tebal dan menulis puluhan lembar tiap harinya.

Kecuali dirinya, bocah ini melarang orang lain memasuki kamarnya.

Bahkan Khu Pek Sim pun, hampir tidak pernah datang ke kamar ini.

Ia selalu menyuruh Lo Tong meminta Han Beng untuk menghadapnya.

Khu Han Beng meletakkan penanya, sambil berkata.

"Kau masukkan kertas kertas ini kedalam tasku, siapkan kuda, kita pergi mengunjungi Gu-Suko"

Han Beng menarik laci mejanya, mengambil beberapa tahil perak.

"Kupergi menemui yaya. Tunggu aku di pintu gerbang". Lo Tong menghela napasnya, dia tidak begitu menyukai mengunjungi tempat Gu-Suko, pemilik toko buku terbesar di kota Lok Yang. Baginya bau arak wangi, jauh lebih sedap dibanding bau buku tua yang memiliki ciri yang khas. Ciri yang membuatnya sesak napas. Khu Han Beng sangat akrab dengan Gu-Suko. Boleh dibilang hubungan mereka sudah seperti adik-kakak angkat. Hampir seminggu sekali Han Beng menyempatkan diri untuk mengunjungi Gu-Suko. Aneh juga, baru terpikir oleh Lo Tong, selama tujuh tahun ini, seingatnya belum pernah, Gu-Suko mengunjungi Lok Yang Piaukok, walau satu kali. ************************ Khu Pek Sim sedang duduk termenung diruang meja kerjanya. Tangannya memegang sebuah kotak terbuat dari batu kemala, yang mempunyai bentuk kubus. Setiap sisi kotak itu, terdapat 9 kotak bujursangkar kecil yang dihiasi enam macam warna. Setiap kotak dipenuhi oleh sebuah warna, ada yang merah, ada yang biru, kuning, hijau, hitam, dan putih...sayangnya tidak mengikuti citra seni, hingga berkesan tidak beraturan dan tidak karuan. Kerutan di kening Khu Pek Sim makin bertambah, ketika tanpa sengaja tangannya dapat memutar setiap sisi kotak tersebut. Pegas di dalam kotak kemala tersebut, dibuat sedemikian rupa hingga setiap sisi kota itu dapat digerakkan secara tegak lurus atau mendatar. Sudah menjadi kebiasaan banyak orang, jika sedang asyik berpikir, tangan tidak jauh dari memegang jenggot. Walau usia sudah mendekati enam puluh tahun, Khu Pek Sim masih nampak gagah. Dia memelihara jenggot yang pendek yang terawat rapi, mungkin untuk menutupi codet luka pedang yang tergaris dari bibir sebelah kiri turun mencapai dagu. Setiap kali jari tangannya menyentuh bekas luka diujung bibir, tubuh Khu Pek Sim masih bergidik.Tidak sedikit manusia yang menemui ajal di dunia persilatan waktu berselang, karena tidak berhasil menghindari jurus pedang Bwe Hoa kiamsut, dirinya pun tidak. Jurus yang selalu mengarah ke bagian yang mematikan sedang mengancam ke arah mulutnya ketika pedang itu terpukul dari atas, meninggalkan codet luka yang cukup dalam. Untung dia berhasil ditolong oleh....

"Yaya!"

Panggilan Khu Han Beng menyentakkan Khu Pek Sim dari pikirannya.

Khu Pek Sim mengangkat wajahnya kemudian tersenyum haru.

Relung hatinya selalu terenyuh setiap kali melihat cucu ini.

Anak satu satunya dari mendiang putrinya yang juga satu satunya.

"Kau semakin besar, wajahmu makin mirip ibumu"

Kata Khu Pek Sim sambil meletakkan kotak kemala itu, dan kemudian memegang bahu cucunya. Tak tahan, Khu Han Beng melirik sekejap pada kotak kemala itu.

"Kotak apa itu, yaya?"

Tanyanya.

"Barang pelanggan yang harus kuhantarkan. Warnanya cukup menarik bukan"

Kata Khu Pek Sim sambil tersenyum. Khu Han Beng termenung sejenak sebelum berkata.

"Entah ada urusan apa, yaya memanggilku?"

"Siang ini, aku akan pergi mengawal barang ini. Perjalanan kali ini cukup jauh, mungkin akan menyita sekitar dua bulan. Kuminta kau mengatur dan mengurus sesuatunya dipiaukiok ini".

"Baik akan kulakukan. Hanya kuperlu menemui Gu-suko sebentar. Siang hari, kuyakin sudah kembali". Khu Pek Sim cukup tahu hubungan akrab cucunya dengan Gu Cin Long, pemilik toko buku, walau belum pernah berjumpa dengan orangnya.

"Apa kau perlu uang? Kutahu buku yang hendak kau beli tentu tidak sedikit"

Khu Han Beng menggeleng, ujarnya perlahan.

"Aku memang memerlukan sesuatu, cuma bukan uang"

Agak berubah muka Khu Pek Sim, ia seperti tahu apa yang dikehendaki bocah ini.

Dia memang jarang di rumah, tugasnya menuntut kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di jalan.

Tapi setiap kali ada kesempatan, dia berusaha memanjakan cucu luarnya ini.

Hanya maunya bocah ini sangat sedikit.

Begitu memasuki usia membaca, hobinya mengurung diri di kamar, tenggelam oleh buku bukunya.

Kadang kadang suka juga ia bermain dibukit belakang, sendirian.

Tapi belakangan ini, setiap ada kesempatan, cucunya selalu menanyakan soal yang itu itu juga.

Soal yang Khu Pek Sim enggan membicarakannya.

Bergetar bibi Khu Han Beng ketika bertanya.

"Bukankah yaya pernah bilang, jika aku sudah besar, yaya akan menceritakan mengenai ayah-ibu?"

Khu Pek Sim menghela napas.

"Kau memang sudah sebesar dan setinggi yayamu, hanya kau tetap belum dewasa"

"Bukankah seorang dianggap dewasa, jika sudah berani bertanggung jawab?"

"Yaa, kira kira begitu."

Khu Han Beng dengan cepat mendesak kakeknya.

"Untuk yang kedua kali, aku memimpin Liok Yang Piaukok selama kepergian yaya, bukankah hal ini bisa dianggap aku bertanggung jawab dan mampu melakukannya?"

Khu Pek Sim terdiam, katanya dengan perlahan.

"Kenapa kau selalu ingin tahu urusan ini?"

Melihat kali ini yaya-nya tidak berang, dengan cepat Khu Han Beng menjawab.

"Ku tahu she-ku mestinya mengikuti she ayahku, yang jelas bukan she Khu seperti she yaya. Aku juga tahu riwayat hidup orang tuaku tentu mempunyai liku liku sehingga yaya enggan menceritakannya padaku.Tapi bukankah seorang anak mempunyai hak untuk mengetahui perihal orang tuanya?"

Khu Pek Sim menarik napas dalam dalam.

"Ai ih....Inilah akibatnya kalau seorang anak gemar baca buku. Ucapan dan usianya benar benar tidak sebanding"

Gumamnya perlahan. Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus memberitahu persoalan ini kepada Khu Han Beng. Tapi apa sekarang? Dia agak ragu.

"Urusan ini akan jauh lebih mudah, jika kau sudah menguasai ilmu silat"

Ujarnya sedih.

Khu Han Beng membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

Khu Pek Sim termenung.

Cucunya tidak suka berlatih silat, setiap kali dia mendesak, Khu Han Beng hanya tersenyum sambil menggeleng.

Dia tidak tega untuk memaksa cucu kesayangannya ini.

Bagaimanapun juga, sudah cukup bocah ini dilahirkan dari suasana yang tidak menyenangkan.

Tapi pernah terjadi suatu kejadian lucu.

Ketika bocah ini berusia 9 tahun, Khu Han Beng pernah mengomentari jurus kebanggaannya, jurus toya penghancur iblis, jurus yang ia peroleh langsung dari siaulimpay...salah gerakannya!

Pek Bin Siansu sendiripun kagum atas kesempurnaan permainan toyanya.

Masakkan bocah yang tidak suka silat, berani berkata, gerakkan toyanya kurang tepat.

Tersungging senyum dibibir Khu Pek Sim setiap mengingat kejadian ini.

Melihat senyuman yaya-nya, terlintas rasa girang di muka Khu Han Beng.

"Baik! Begitu kembali dari perjalananku ini, akan kuceritakan perihal orangtuamu. Dengan satu syarat, kau harus mulai belajar silat. Walau sudah agak telat, tapi belum terlambat". Mendengar dia harus menunggu dua bulan lagi, Khu Han Beng agak kecewa, tapi dia yakin dia sanggup menunggu. Hanya soal harus belajar silat agak mengganggunya.

"Baik! Aku akan mulai belajar silat dari Tan toako"

Katanya setelah berpikir sejenak.

*********************** Dengan jadwal usahanya yang padat, sudah tentu Khu Pek Sim tidak sempat menurunkan kepandaiannya kepada anak buahnya.

Tan Leng Ko, Tan kausu, merupakan guru silat yang melatih para piasu di Lok Yang Piaukok.

Kepandaian Tan leng ko khusus dibidang golok.

Konon katanya ia menguasai enam jurus dari 13 jurus Ouw Yang Ci To yang sudah lenyap dari dunia persilatan.

Enam jurus tersebut sudah cukup untuk mengangkat namanya, sebagai ahli golok di dua propinsi.

Tan Leng Ko selalu menganggap setiap orang mempunyai nasib masing masing.

Kebanyakkan orang mempunyai garis hidup yang sial, dia tidak.

Sekitar tujuh tahun yang lalu, dia pernah hampir mati dikeroyok oleh enam manusia buas dari gurun.

Khu Pek Simlah yang menolong dirinya lolos dari lubang jarum.

Toya Khu Pek Sim menghajar mampus mereka dalam seratus jurus.

Merasa hutang budi, dia ikut Khu Pek Sim dan mulai bekerja di Lok Yang Piaukok.

Baru tiga hari menetap, karena suatu keperluan, dia pergi ke kota Lok Yang.

Kembali dirinya mengalami nasib yang mujur.

Secara tidak sengaja, dia memperoleh enam jurus Ouw Yang Ci To!

Dia ingat betul, waktu itu perutnya sangat mules, maklum, pagi hari dan santapan pedas, merupakan kombinasi yang kurang baik terhadap kondisi perut.

Dia kebetulan baru selesai makan di rumah makan Se Chuan Koan yang terkenal menyajikan makanan yang pedas pedas.

Untuk kembali ke rumah makan sudah tidak sempat.

Sekenanya, diambilnya gumpalan kertas dari dalam tempat sampah, yang terletak tidak jauh dari tempat berdirinya.

Dan bagaikan dikejar setan, dia berlomba lari menuju sebuah gang yang gelap dan sempit Sambil berjongkok di pojok memenuhi tugas panggilan alam, iseng Tan Leng Ko melirik gumpalan kertas yang diperlukannya untuk memoles bagian tertentu.

Kertas itu jelas lecak diremas orang, untung masih kelihatan bersih dan baru.

Dari tulisan yang mencong sana sini, Tan Leng Ko sadar bahwa tulisan ini dibuat oleh anak kecil yang sedang belajar menulis.

Tulisan anak anak biasanya memang mempunyai ciri khas yang berbeda dengan tulisan orang dewasa.

Tanpa terasa Tan Leng Ko membaca tulisan tersebut.

Setelah membaca beberapa baris, muka Tan Leng Ko berubah hebat.

Tulisan cakar ayam itu ternyata mencatat jurus Ouw Yang Ci To yang ia dengar sangat terkenal seratus tahun yang lalu.

Salinan ilmu golok yang hebat ini, ternyata dibuang orang begitu saja ke keranjang sampah!

Selesai melakukan hajat, bergegas Tan Leng Ko kembali ke keranjang sampah tersebut.

Ia tidak peduli, orang yang kebetulan lewat keheranan melihat kelakuannya yang seperti orang gila menumpahkan isi sampah dan mengorek sana sini.

Tan Leng Ko tidak sayang baju dan tangannya berlempotan sampah.

Yang ia sayangkan, banyak gumpalan kertas itu yang sudah ternoda lumpur dan kotoran hingga rusak tidak tertolong.

Dari puluhan gumpalan kertas yang berhasil ia selamatkan, dengan susah payah, Tan Leng Ko berhasil juga melatih jurus golok yang tidak lengkap itu.

*************** Matahari yang condong ke barat menerpa debu debu yang masih menempel ditubuh Khu Han Beng.

Jelas bocah ini baru kembali dari kota Lok Yang.

Dia tidak sempat berganti baju.

Ia menepati janjinya untuk menemui Tan toako sore hari di ruang melatih silat.

Tanpa banyak cakap, Tan Leng Ko begitu muncul, langsung menyodorkan golok yang terbuat dari kayu kepada Khu Han Beng.

Seperti piasu yang lainnya, Tan Leng Ko tidak begitu akrab dengan bocah yang suka menyendiri ini.

Tapi bagaimanapun, bocah ini cucu kesayangan Khu Pek Sim, orang yang paling dihormatinya.

Tan Leng Ko memutuskan untuk memberikan ilmu yang menjadi andalannya kepada Khu Han Beng.

"Banyak orang persilatan menganggap bahwa pedang adalah rajanya senjata. Yang kulatih adalah ilmu golok. Bagiku, golok adalah kaisarnya senjata"

Ujar Tan Leng Ko menerangkan.

"Ukuran sebilah golok biasanya lebih pendek dari sebatang pedang, hingga lebih memudahkan untuk menguasai gerakkannya. Inti jurus golokku adalah cepat. Kau harus dapat menguasai lawan digebrakkan awal. Misalnya, jika lawanmu menggunakan tangan kanan dan menyerang dengan pedang, kalau tidak melakukan gerakkan menusuk tentu menebas. Jurus pertama Ouw Yang Ci To, mengharuskan kau untuk melompat dan memutar badanmu ke arah bahu kiri lawan, mengayun golok dengan tangan kanan, kemudian melepasnya melayang di udara. Tangan kiri mencekeram, menyambut golok tersebut dan kemudian menabas ke arah leher lawan". Dengan sabar dan perlahan, Tan Leng Ko menerangkan jurus goloknya yang sulit untuk dilakukan. Untuk Jurus pertama Ouw Yang Ci To, Tan Leng Ko memerlukan waktu sekitar delapan bulan untuk dapat melakukannya. Ia berharap Khu Han Beng dapat menguasainya dalam waktu satu tahun. Tan Leng Ko mengulang sampai tiga kali, kemudian menyuruh Khu Han Beng untuk meniru gerakkannya. Khu Han Beng menggerakkan golok kayunya, memutar tubuhnya dan melakukan persis seperti apa yang diperbuat oleh Tan toakonya. Mata Tan Leng Ko terbelalak, mulut terbuka menganga, dia tidak mempercayai apa yang barusan dilihatnya. Masakkan bocah yang dia tidak pernah lihat berlatih silat, dapat melakukan jurus yang dia tahu sulit sekali untuk dilakukan! "Coba kau ulangi lagi!"

Perintahnya Sampai tiga kali, Khu Han Beng mengulang, walau masih kelihatan kaku tapi jelas dia mampu melakukannya dengan baik.

"Coba kau tiru gerakkan ini!"

Berturut turut Tan Leng Ko menggerakkan tubuh dan goloknya melakukan jurus kedua hingga jurus keenam dari Ouw Yang Ci To, yang kemudian dapat ditiru oleh Khu Han Beng dengan persis, hanya berbeda keluwesannya.

Tanpa terasa, Tan Leng Ko menelan air ludahnya.

"Coba yang ini!"

Jeritnya tak terasa.

Tubuhnya bergerak, inilah gerakkan ke tujuh dari Ouw Yang Ci To!

Hasil gubahannya bertahun tahun.

Jurus Ouw Yang Ci To, memerlukan kecepatan, mirip dengan deburan ombak.

Jurus kedua akan mempunyai daya serang yang lebih hebat dari jurus pertama.

Jurus ke tiga lebih dahsyat dari jurus kedua, begitu seterusnya.

Setelah berpikir keras sekian lama, walau agak dipaksakan, akhirnya Tan Leng Ko berhasil menciptakan jurus ketujuh.

Baru setengah jurus ketujuh Khu Han Beng lakukan, tiba tiba ia berhenti.

Alisnya yang tebal berkerenyit.

"Kenapa berhenti?"

Tanya Tan Leng Ko. Agak ragu Khu Han Beng menjawab. Jurus satu hingga enam enak dilakukan, satu jurus berkait dengan jurus berikutnya. Hanya jurus yang ini...?"

Bagi seorang ahli silat, walau jurus ketujuh ini cukup dahsyat tapi jelas mempunyai lobang kelemahan yang banyak disana sini. Dengan tegang, Tan Leng Ko menjawab.

"Kenapa dengan jurus ini?"

"Seperti berdiri sendiri....terpisah!"

Ujar Khu Han Beng dengan perlahan.

Tan Lengko menarik napas dalam dalam, jantungnya agak berdebar keras.

Tujuh tahun sudah dia bekerja di Liok Yang piaukok, dia tahu dengan pasti Khu Han Beng bukan seorang ahli silat.

Golok kayu ditangan Khu Han Beng mendadak digerakkan secara aneh "Mungkin, kalau begini....?"

Tubuh Khu Han Beng bergerak dengan lambat.

Setiap gerakkan nampak Khu Han Beng berhenti sejenak seperti sedang mengingat gerakkan selanjutnya.

Tapi jelas gerakkan Khu Han Beng jauh berbeda dengan gerakkan Tan Leng Ko.

Lapat lapat Tan Leng Ko merasa, gerakkan ini sangat serasi dengan jurus keenam dari Ouw Yang Ci To.

Apa ini jurus ketujuh yang asli?

Tanpa terasa Tan Leng Ko mengikuti gerakkan Khu Han Beng.

Setelah sekian lama mengulang, baru ia melakukan gerakkan itu dengan cepat.

"Braaakk....!"

Puluhan tombak yang berderet di rak senjata dekat Tan Leng Ko putus berserakkan terkena sabetan goloknya. Seorang piasu berlari masuk dengan napas terengah engah.

"Khu siau-sauya, Tan Toako! Ada orang diluar mengamuk melukai orang!"

"Siapa?"

Tanya Tan Leng Ko.

"Mereka mengaku dari Bwe Hoa Pang, mereka mencari Khu Congpiautau. Mereka tidak percaya, Khu Congpiautau sedang dinas keluar, malah kemudian mereka mulai melukai para piausu". Tan Leng Ko bergegas keluar di kuti oleh Khu Han Beng dan piasu yang melapor. Betul Khu Han Beng yang memimpin Liok Yang Piaukok jika Khu Pek Sim berhalangan, tapi lebih banyak bersifat administratif. Jelas untuk menghadapi urusan semacam ini, Tan Leng Ko jauh lebih tepat dan handal. Mendidih darah Tan Leng Ko begitu melihat lebih dari enam orang anak buahnya menggeletak berlimpangan darah, jelas dilukai oleh mereka bertiga. Seorang gadis muda belia, didampingi seorang pemuda bersenjata pedang yang bernoda darah yang masih menetes, dan seorang kakek beralis putih.

"Apapun urusan kalian datang kesini, melukai banyak orang, bukankah menyalahi aturan kangouw?"

Bentaknya dengan geram.

"Jika pertanyaan kami tidak kau jawab dengan tepat, kaupun akan kami lukai"

Kata gadis muda itu sambil tertawa.

"Siapa kalian? Apa yang kalian maui?"

"Seharusnya kau tahu, kami dari Bwe Hoa Pang". Tiga tamu ini, masing masing menyematkan bunga bwe di dada atas sebelah kiri.Bunga bwe terbuat dari besi, berwarna hitam. Tan Leng Ko pernah mendengar ketenaran Bwe Hoa Kiamsut, yang dikuasai seorang jago pedang berwajah dingin, Ma Koan Tek. Tapi baru pertama kali ia mendengar Bwe Hoa Pang. Apa dua hal ini berhubungan? Menurut penuturan Khu Pek Sim, kepandaian Ma Koan Tek tinggi sekali. Ia hampir tewas dibawah serangan Bwe Hoa Kiamsut, jika tidak ditolong oleh seorang pemuda, yang kemudian melukai Ma Koan Tek dalam dua puluh jurus. Semenjak kejadian itu, Bwe Hoa Kiam Ma Koan Tek tidak pernah kedengaran lagi beritanya. Ketika Tan Leng Ko bertanya siapakah pemuda yang mampu mengalahkan Ma Koan Tek itu, Khu Pek Sim menolak untuk menjawab.

"Kedatangan kami memang mencari Khu Pek Sim"

Perkataan gadis itu menyentakkan Tan Leng Ko dari lamunannya. Tanpa banyak bicara, Tan Leng Ko langsung mencabut goloknya. Dengan agak heran, gadis itu bertanya.

"Bukan menjawab, kau malah mau mengajak berkelahi?"

"Jika kujawab Khu Congpiautau sedang pergi dinas keluar, kalian toh tetap tidak percaya, daripada buang tenaga ribut mulut, toh dengan melukai anggota kami, urusan ini hanya bisa diselesaikan dengan ujung senjata. Kenapa tidak kita mulai sekarang?"

Tantang Tan Leng Ko. Gadis muda itu manggut manggut setuju.

"Memang urusan ini jika makin cepat selesai, main baik"

Tangannya membuat gerakkan perlahan, pemuda yang kelihatan angkuh itu, meloncat maju.

"Semestinya menghadapi cecurut kelas tiga, bukan aku yang maju"

Keluhnya dengan sombong.

Tanpa banyak cing cong, Tan Leng Ko menggerakkan goloknya mengeluarkan jurus andalannya.

Terkesirap darah pemuda itu menghadapi sabetan golok yang hebat itu.

Dengan cepat iapun menggerakkan pedangnya.

Sinar pedang dan golok berkelebatan di ringi suara yang menggiriskan.

"Traaangg...!"

Terdengar suara benturan golok dengan pedang. Pemuda itu melejit menjauhi Tan Leng Ko.

"Tak kusangka, dikalangan piausu terhadap seorang jago golok yang hebat"

Gumamnya perlahan.

"Coba kau tahan jurus ini!"

Bentak Tan Leng Ko, tubuhnya melambung melakukan jurus serangan kedua.

Hawa dingin yang keluar dari golok, menyambar kearah pemuda itu.

Tubuhnya terada ditindih oleh sesuatu yang berat dan tak tampak.

Pemuda itu menggeliat menggerakan jurus bwe hoa kiam sut yang menjadi andalannya.

Terlambat!

Pemuda itu mendengus, bahu kanannya tersabet golok, darah mengalir cukup deras.

"Tahan!"

Seru kakek beralis putih sambil melesat menarik pemuda itu dari gelanggang pertarungan.

Tanganya dengan cepat menotok memberhentikan aliran darah.

Selesai menolong, kakek itu menoleh ke arah Tan Leng Ko sambil berkata dengan dingin.

"Jurus serangan golokmu, apakah jurus golok Ouw Yang Ci To yang sudah lama punah?"

"Kau pernah melihat jurus itu"

Jawab Tan Leng Ko balik bertanya. Kakek alis putih itu termenung.

"Tidak banyak jurus golok yang mampu menekan Bwe Hoa Kiamsut. Jurus golok yang dapat melakukan itu, pernah kulihat semua"

Ia berhenti sejenak.

"Jurus yang baru saja kau gunakan, sama sekali tidak kukenal! Hanya....?".

"Hanya apa...?"

"Kukira, hanya jurus golok Ouw Yang Ci To yang mampu melukai pemuda ini".

"Mampukah kau menyambut jurus itu"

Tanya Tan Leng Ko. Diam diam hatinya kagum dengan pengetahuan kakek ini.

"Belum tentu, tapi aku ingin mencobanya"

Kata kakek beralis putih dengan dingin.

Tangan Tan Leng Ko memegang golok dengan kencang.

Dari sikap si kakek alis putih yang dia tidak kenal ini, dia tahu, dia akan menghadapi musuh tangguh.

Kakek alis putih itu berdiri miring menghadap Tan Leng Ko dengan kaki kiri ditekuk kedepan.

Mereka saling mengukur mencoba menerka gerakkan lawan.

Tan Leng Ko mulai menyerang, kakek alis putih menggerakkan lengan bajunya menepas pergi hawa golok yang mengiris tajam.

Tubuh Tan Leng Ko lenyap terbungkus gulungan selimut golok, tanpa terasa ia telah mengeluarkan enam jurus Ouw Yang Ci To.

Tegopoh gopoh kakek alis putih itu menyambut gelombang serangan dahsyat itu, tapi dengan memaksakan diri dia mampu lolos dari maut.

Tanpa terasa, mereka sudah bertukar posisi.

Tan Leng Ko menatap tajam lawannya yang paling tangguh yang ia pernah jumpai.

Dengan pandangan dingin, kakek alis putih berkata.

"Tampaknya jurus serangamu memang dari Ouw Yang Ci To, sayang..."

"Apanya yang sayang?"

Tanya Tan Leng Ko dengan muka berubah.

"Yang kuketahui, 13 jurus Ouw Yang Ci To harus dimainkan sekaligus. Jelas seranganmu baru enam jurus, dan kau sudah berhenti. Kau menghentikan seranganmu karena jurus yang kau miliki tidak lengkap!"

Berdesir hati Tan LengKo, kakek sakti ini mengetahui kelemahannya.

"Jika kau menguasai satu jurus lagi, tentu aku tidak tahan. Sayang, ilmu yang langka ini harus kembali punah"

Gumam kakek itu perlahan.

"Kenapa harus punah?"

Tanya Tan Leng Ko kurang mengerti.

"Jika kau tidak mampu mengalahkanku, maka kau harus mati!"

Jengek kakek itu.

Selesai berkata, kakek itu menyerang, menggunakan tapak tangan.

Tanpa pikir panjang, terpaksa Tan Leng Ko menggerakkan goloknya dengan enteng.

Tidak seperti gerakkan sebelumnya, kali ini gerakannya kaku, dan lambat.

Kelihatan betul ia belum begitu mahir.

Dengan nekat, ia mengeluarkan gerakkan yang baru saja dilatihnya dengan Khu Han Beng....jurus ketujuh dari Ouw Yang Ci To!

"hiyaatttt...!"

Kakek alis putih itu membentak.Tangannya menyambut serangan golok itu "Bruaaakkk...!"

Tan Leng Ko mendengus, darah keluar dari mulutnya.

Perutnya terserempet ujung lengan baju kakek itu.

Ia jatuh dengan goloknya terhujam ditanah, menopang tubuhnya yang gemetaran.

Senuyman yang menghiasi bibir mungil gadis cantik itu membeku.

Dengan cepat ia menghampiri kakek alis putih yang menggeletak diam ditanah.

Dada sebelah kanannya terluka sedalam tujuh inci.

Darah yang membasahi baju kakek itu berhenti mengalir...

dia sudah tewas!

"Benar benar tak kusangka, seseorang dari kalangan piasu, mampu membunuh Kiu Tok Sin Mo"

Serunya perlahan. Kaget sekali Tan Leng Ko mendengar ucapan gadis itu, dia telah membunuh raja iblis yang terkenal puluhan tahun yang lalu itu! "Siapa yang akan maju menghadapiku?"

Tantang gadis itu dengan lantang. Hati Tan Leng Ko tenggelam, dia sudah luka parah. Para piasu yang berkepandaian tinggi, ikut pergi bersama Khu Congpiautau.

"Aku yang akan menghadapi dirimu"

Gumam Tan Leng Ko tidak jelas. Mulutnya penuh dengan darah...darah getir dan lengket.

"Jika kau masih sanggup berdiri, aku akan pergi dari sini!"

Ujar gadis itu dengan sinis. Tan Leng Ko menggeliat badannya berusaha untuk berdiri, tapi tubuhnya malah rubuh. Khu Han Beng bergegas memegang tubuh Tan Leng Ko.

"Bagaimana keadaanmu, Tan toako?"

Tanyanya kuatir.

"Jangan kuatir, aku tak bakal mati. Kau tahu, kenapa aku tak bakal mati?"

Tanya Tan Leng Ko sambil memuntahkan darah segar. Khu Han Beng menatapnya haru.

"Sebab nasibku mujur!"

Selesai berkata Tan Leng Ko terkulai pingsan ditangan Khu Han Beng.

Melihat rubuhnya Tan Kausu, para piasu lain tidak dapat menahan amarahnya.

Terdengar desingan pedang dicabut, ayunan golok, dan ancaman tombak menyerang gadis muda itu.

Dengan ringan, gadis itu menggerakkan kaki tangannya, tanpa menghadapi kesulitan yang berarti.

Puluhan piasu berterbangan seperti serangga menabrak api.

Hanya dalam waktu sebentar, lebih banyak yang berbaring dibanding yang berdiri.

Dengan keras Khu Han Beng membentak para piasu itu, agar mengundurkan diri.

Ia menoleh ke gadis itu.

"Sebaiknya kalian lekas pergi dari sini"

Ucapnya dengan dingin.

"Bocah kecil, siapa kau? kata gadis itu sambil tertawa. Khu Han Beng membaringkan tubuh Tan Leng Ko, kemudian menghampiri gadis itu dengan memegang golok kayunya.

"Apa kau akan menghadapi diriku dengan senjata mainan itu?"

Tanya gadis itu tak dapat menahan gelinya. Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian katanya.

"Apa yang harus kulakukan, agar kau lekas pergi"

Katanya hambar.

"Kau harus mampu mengutungi tanganku dengan golok kayu itu"

Gurau gadis itu.

"Baik!"

Golok kayu itu membuat gerakkan mendorong, perlahan. Tidak ada yang luar biasa dari gerakkan Khu Han Beng. Golok kayu itu hanya menunding ke arah tubuh gadis itu.

"Iii hhh....!"

Tubuh gadis itu bergeser mundur lima langkah dengan cepat.

Begitu kakinya menempel tanah, dia merasa dua belas jalan darah pentingnya masih terancam hawa tak nampak yang keluar dari ujung golok kayu itu.

Cepat ia mencabut pedangnya.

Tapi sudah terlambat.

Semacam hawa hangat, halus tapi kuat menyusup ke lengan kanannya yang memegang pedang.

Otot lengan kanannya mengejang keras, tanpa dapat ia kuasai, pedangnya membuat gerakkan memutar, mengayun kuat kearah....siku kirinya!

"Croottt!!!...."

Darah berhamburan dengan dibarengi sebuah tangan yang jatuh ke tanah.

Muka gadis itu berubah pucat, dengan rasa takut yang hebat dia melirik Khu Han Beng dengan pandangan tak percaya!

Wajah Khu Han Beng dingin membatu.

Tidak ada satupun dari tubuhnya yang bergerak.

Tiupan angin malam yang kencang bahkan tidak dapat menggerakkan rambutnya.

Lapat lapat, tubuhnya seperti memancar hawa yang menggiris.

Keadaan Khu Han Beng sungguh menyeramkan.

Dengan menggigit bibir menahan isak tangis, gadis itu memungut kuntungan tangannya, kemudia tanpa berbicara, ia melesat dan menghilang di kegelapan malam.

Pemuda yang terluka yang datang bersama gadis itu, memandang bingung tidak mengerti.

Apalagi para piasu yang tidak pernah melihat Khu Han Beng berlatih silat.

Sebenarnya apa gerangan yang terjadi?

"Ilmu iblis apa yang kau gunakan?"

Bentak pemuda itu menutupi rasa gentarnya.

"Bukankah kau saksikan sendiri perbuatan gadis itu? Menyentuh dirinyapun tidak? Apa sangkut pautnya dengan aku?"

Khu Han Beng balik bertanya.

Pemuda itu yakin, gadis itu tak akan suka rela menguntungi lengannya sendiri, tapi ia juga melihat, selain menuding golok kayu, Khu Han Beng tidak melakukan yang lain.

Apa ilmu sihir?

Pemuda itu bergidik.

Dengan menggunakan tangan kirinya, ia memanggul rekannya yang tewas, dan mengikuti jejak gadis itu menghilang dikegelapan malam.

Khu Han Beng menghela napas, kemudian mengisyaratkan para piasu yang masih bisa berdiri untuk menggotong masuk tubuh Tan Leng Ko yang terluka dan merawat para piasu yang terluka.

Malam mulai menyelimuti tanah yang bernoda darah.

Konon katanya, dibawah sinar rembulan, darah akan nampak berwarna jingga.

Warna ini jauh lebih menarik...jauh lebih indah dari warna aslinya.

Tidak heran, banyak kisah pembunuhan terjadi di bulan purnama.

*************************** Dua minggu telah lewat dengan cepatnya.

Luka Tan Leng Ko sudah sembuh.

Tubuhnya yang penuh otot gempal, ditambah dengan usianya yang mendekati tiga puluh tahun, sangat membantu kecepatan sembuhnya.

Umumnya manusia dikala bayi atau menjelang tua, sering sakit sakitan.

Dikala umur seseorang mencapai bilangan sepuluh dikali dua hingga empat, jarang sekali sakit, maklum daya tahan tubuh sedang bekerja paling aktif.

Luka Tan Leng Ko cepat sembuh berkat obat luka dari tabib Liok Yang Piaukiok yang manjur.

Juga dibantu dengan jinsom yang diminumnya setiap hari.

Tapi Tan Leng Ko berpendapat, obat yang membuat lukanya lekas sembuh, adalah bubur ayam Hong naynay yang paling digemarinya.

Masakan yang cocok dengan perut, tentu membuat hati seseorang menjadi riang.

Konon katanya, kondisi hati seseorang sangat menentukan kesehatannya.

Hong naynay, berbadan gemuk, dan berusia diatas lima puluh tahun.

Ia memimpin satu daerah kekuasaan, dapur umum Lok Yang Piaukok.

Begitu ia masuk dapur, yang merasa pintar masak, dengan sendirinya akan menyingkir keluar, kehilangan kepercayaan diri.

Kepandaian Hong naynay mengolah masakan, membuat banyak piausu tunduk padanya...berbareng takut.

Soalnya, Hong naynay galaknya bukan main.

Sedikit berbuat salah padanya, dijamin sendok kayu besar akan melayang.

Sedikit sekali, penghuni Lok Yang Piaukok, yang belum pernah benjol kepalanya.

Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam.

Kembali ia merasa nasibnya mujur.

Selama ia sakit, ternyata pihak Bwe Hoa Pang tidak melakukan penyerangan, bahkan tidak terdengar kabarnya.

Mereka telah melepaskan kesempatan yang baik.

Sambil menggeliatkan badan, Tan Leng Ko merasa, ia sudah siap melakukan tugas.

Yang pertama ia lakukan, beranjak dari tempat tidur, dan membuka jendela kamarnya.

Angin malam meniup, membuat segar wajahnya.

Tanpa terasa ia melamun.

Cukup sering Khu Han Beng menjenguk dirinya, sayang selama ini Tan Leng Ko belum mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang banyak berkecamuk dibenaknya.

Hubungan mereka menjadi akrab, walau Khu Han Beng juga seperti menghindari dirinya.

Ia selalu datang ketika kamarnya ramai dikunjungi orang.

Dan tidak pernah muncul ketika ia sedang sendirian.

Dari piasu yang menjaga pintu kamarnya, Tan Leng Ko mendapat tahu peristiwa yang terjadi setelah ia jatuh pingsan.

Dengan menunding sebilah golok kayu, Khu Han Beng telah mengusir pengacau Bwe Hoa Pang.

Jelas itu bukan sejenis ilmu silat.

Mana ada ilmu silat yang tanpa bergerak dapat menjatuhkan lawan?

Ketika mereka berlatih, walau cepat menangkap, jelas gerakkan Khu Han Beng sangat kaku.

Kekakuan yang tidak dibuat buat.

Kekakuan yang timbul karena tidak pernah berlatih gerakkan silat.

Jika bukan silat, apa ilmu sihir?

Pusing kepala Tan Leng Ko memikirkan hal ini.

Akhirnya ia memutuskan, paling baik bertanya langsung pada yang bersangkutan.

Diraih goloknya, kemudian ia melangkah keluar.

************************ Kamar Khu Han Beng terletak dibagian belakang rumah yang paling besar.

Tujuh tahun ia telah bekerja disini, boleh dibilang baru pertama kali, ia berdiri didepan kamar Khu Han Beng.

Ketukan pintunya dijawab oleh Lo Tong yang berdiri dengan badan bergoyang, jelas dalam keadaan mabuk.

Walau dalam keadaan mabuk, Lo Tong tidak lupa dengan tugasnya.

Tubuhnya berdiri menutupi pintu yang terbuka, dengan tangannya sibuk menyapu.

"Kenapa banyak daun kering di dalam kamar?"

Tanya Tan Leng Ko heran. Setiap rumah pasti mempunyai dedaunan sampah. Tapi biasanya diperkarangan, bukan di dalam kamar.

"Akupun tidak tahu, setiap hari, bertahun tahun lamanya, selalu kutemukan tumpukan daun dikamar Beng Siauya. Entah masuk dari mana"

Gerutu Lo Tong.

"Dimana siauya?"

"Beng-siauya, pergi mencari kunang kunang". Sedari kecil Khu Han Beng mempunyai kegemaran mencari kunang kunang dimalam hari. Memang dibelakang perumahan Liok Yang Piaukok terdapat sebuah bukit kecil yang masih banyak ditumbuhi bunga bunga, walau dimusim gugur ini.

"Aku akan menyusul Beng sauya"

Kata Tan Leng Ko sambil melangkah pergi.

Lo Tong menggumam tidak jelas, lalu menutup pintu.

Baru empat lima langkah, sekelebat bayangan memenuhi benak Tan Leng Ko.

Cepat ia memutar balik ke kamar.

Lo Tong membuka pintu dengan pandangan bertanya.

Tan Leng Ko mencoba melirik dalam kamar dari pintu yang terbuka.

Tapi Lo Tong menjepit badannya dengan pintu hingga sukar melihat keadaan didalam kamar.

Sambil tertawa, Tan Leng Ko berkata.

"Badanku belum terlalu sehat, tiba tiba aku ingin berisitirahat sejenak, kau ijinkan aku tidak, untuk masuk kedalam".

"Kau kan tahu, Beng sauya tidak menyukai orang untuk memasuki kamarnya"

Jawab Lo Tong menolak. Dengan berbisik, Tan Leng Ko, kemudian berkata.

"Ketika sedang sakit, kuperoleh seguci arak wangi Tiok Yap Jing dari Hong naynay, tapi dilarang olehnya untuk kuminum, kecuali sudah sembuh benar. Guci arak itu hanya dapat kupandang, tak berani kulanggar pesan Hong naynay. Sungguh runyam keadaanku". Mendengar arak Tiok Yap Jing yang terkenal mahal dan harum, mata Lo Tong berbinar.

"Konon katanya orang yang sakit, tidak lekas baik kalau minum arak. Supaya Tan Kausu cepat sembuh, dan tidak susah, bagaimana kalau arak itu diberikan saja padaku". Tan Leng Ko menepuk pundak Lo Tong, sambil berkata.

"Sungguh engkau seorang sahabat sejati, yang mau menolong teman dalam kesusahan. Lekas kau ambil arak itu dari kamarku". Dengan sempoyongan, bergegas Lo Tong berlari meninggalkan Tan Leng Ko sendirian, dengan pintu kamar Khu Han Beng yang terbuka. Sekilas tadi, ketika Lo Tong membuka pintu pertama kali, ia seperti mengenal tulisan tangan yang terdapat di rak buku. Tan Leng Ko melangkah masuk ke kamar. Buku buku yang terdapat di kamar ini, sungguh banyak sekali. Bahkan terdapat buku buku yang ditulis huruf keriting yang dia tidak kenal. Disalah satu rak tersebut, terdapat kumpulan buku buku hasil tulisan Khu Han Beng. Buku buku ini tidak berjudul, hanya bulan dan tahun pembuatan tercatat dipunggung buku. Gaya tulisan tanganyapun macam macam, dari tulisan cakar ayam sampai tulisan tangan yang indah. Tan Leng Ko menarik satu buku yang menarik perhatiannya tadi. Setelah ia hitung, tulisan cakar ayam ini ditulis oleh Khu Han Beng ketika ia berusia tujuh tahun. Muka Tan Leng Ko berubah hebat ketika ia membaca buku itu. Tulisan cakar ayam itu menguraikan jurus tangan kosong yang begitu hebat! Tidak disebut nama jurus tersebut, tapi untuk menghindari serangan jurus pertama tangan kosong ini, dirinyapun tidak sanggup. Sukar dipercaya tulisan ini ditulis oleh bocah kecil bahkan ditulis pada saat ia berumur tujuh tahun! Tan Leng Ko menaruh kembali buku itu ketempat semula, kemudian menarik satu buku yang bertulisan indah yang dibuat beberapa bulan yang lalu.

"Hui Liong Cap Sa Cik!"

Pekiknya tertahan.

Hui Liong Cap Sa Cik merupakan ilmu pedang andalan Kun Lun Pay yang jelas tidak diajarkan sembarang orang.

Bahkan hanya Kun Lun Ciangbujin yang boleh mempelajari ilmu pedang rahasia ini.

Darimana bocah ini memperoleh catatan yang rahasia ini?

Bahkan buku berisi ilmu yang luar biasa ini, ternyata hanya ditaruh begitu saja disebuah rak buku, seperti menaruh buku syair yang tidak terlalu bernilai!

Pening kepala Tang Leng Ko memikirkan hal ini.

Cepat dikembalikan buku tersebut.

Dengan perlahan ditutupnya kamar Khu Han Beng.

Sambil melangkah Tan Leng Ko merenung.

Apa yang harus ia lakukan?

Mencari Khu Han Beng, kemudian bertanya mengenai catatan ilmu silat itu?

Tentu ia bakal ditanya, darimana dia tahu, kecuali dia, secara lancang telah menyelonong masuk ke dalam kamar, tanpa ijin!

Sedikit banyak,hatinya menjadi malu atas perbuatan usilnya mencuri rahasia orang.

Tapi ia benar benar tidak tahan, selimut misteri yang membungkus bocah ini sungguh memancing rasa ingin tahu!

Akhirnya Tan Leng Ko memutuskan untuk kembali kekamarnya.

Dahinya berkerut, ketika ia melihat Lo Tong terkapar ditempat tidurnya, dalam keadaan mabuk.

Guci arak Tiok Yap Jing pecah dilantai, sisa arak tumpah kemana mana.

Orang yang sedang mabuk memang sukar menghargai arak mahal.

Tiba tiba ia ingin minum arak.

Arak memang dapat mengusir kepusingan pikiran, sekaligus dapat pula mengundang kepusingan kepala.

Untung ia masih mempunyai persedian arak.

Diambilnya seguci, kemudian melangkah keluar.

Tubuhnya meloncat keatas genting rumah, menghadap kamar Khu Han Beng.

Dengan perlahan Tan Leng Ko meminum arak sendirian.

Tanpa terasa, pikirannya melayang, ia membandingkan tulisan tangan di gumpalan kertas Ouw Yang Ci To yang diketemukannya dengan tulisan di dalam kamar Khu Han Beng.

Tulisan cakar ayam itu sangat dikenalnya.

Tulisan cakar ayam itu terlalu mirip dengan tulisan gumpalan kertas yang diketemuinya dikeranjang sampah, tujuh tahun yang lalu!

Dia yakin, ilmu Ouw Yang Ci To yang dipelajarinya berasal dari tulisan tangan Khu Han Beng!

Bocah itu tentu telah menyalin dari kitab aslinya.

Bertahun tahun bocah ini mengurung diri di dalam kamar, rupanya mempunyai kesibukkan.

Menyalin kitab pusaka yang langka, bahkan ada kitab yang dianggap sudah punah.

Entah berapa banyak kitab yang sudah disalinnya.

Dilihat dari deretan catatan di rak bukunya, tentu jumlahnya tidak sedikit!

Tan Leng Ko dapat memastikan, walau hanya melihat dua buah buku.

Ia mengerti, yang disalin oleh Khu Han Beng bukan jenis kitab syair atau kitab agama, melainkan salinan dari kitab kitab ilmu silat yang luar biasa hebatnya.

Yang Tan Leng Ko tidak paham, kenapa kitab yang tak ternilai harganya itu ditaruh begitu saja di rak buku, seperti kitab umum yang biasa?

Apa karena Khu Han Beng masih terlampau muda, kurang pengalaman, untuk mengerti nilai kitab kitab pusaka tersebut?

Tan Leng Ko menenggak sisa araknya yang tinggal sedikit.

Satu soal lagi yang mengganggu pikirannya.

Ditilik dari gaya tulisan cakar ayam dan tahun catatan, tentu Khu Han Beng mulai menyalin kitab kitab sakti itu sedari kecil, bahkan digunakan sebagai latihan belajar menulis!

Tidak mungkin seorang anak kecil mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan kitab kitab sakti tersebut, apalagi sebanyak itu.

Seseorang mesti memberi dan menyuruhnya menyalin.

Tentu saja seorang anak kecil yang tidak tahu apa apa, akan melakukannya tanpa banyak pertanyaan.

Yang Tan Leng Ko tak habis berpikir, kenapa urusan yang penting ini dipercayakan kepada seorang bocah?

Tan Leng Ko menghela napas, tanpa terasa ia mengangkat guci arak yang sudah kosong itu.

Tiba tiba guci arak itu terlepas dari tangannya, hatinya bergidik ketika ia menyadari sesuatu.

Sudah menjadi pengetahuan umum, kitab pusaka ilmu silat sering menjadi barang rebutan di rimba persilatan.

Satu kitab saja, dapat membuat kehebohan yang menimbulkan ribuan orang tewas, dalam usaha memperebutkan.

Bayangkan jika mereka mengetahui, puluhan kitab sakti yang langka, ternyata terdapat di dalam kamar seorang bocah di perumahan Lok Yang Piaukok.

Akibatnya sukar untuk dibayangkan!

Sambil memandang guci araknya yang hancur dipelataran, Tan Leng Ko memutuskan untuk menyelidiki perkara ini sampai tuntas.

Ia tidak akan mengijinkan jika terjadi sesuatu bencana di Lok Yang Piaukok ini.

Suara langkah kaki, menyadarkan Tan Leng Ko dari lamunannya.

Dilihatnya, Khu Han Beng sedang berjalan menghampiri kamarnya.

Tangan kanannya memegang kantong kain yang memancarkan cahaya kelap kelip bergantian.

Sekitar tiga langkah dari kamar, Khu Han Beng menghentikan langkahnya.

Badannya memutar perlahan.

Matanya langsung menatap kearah Tan Leng Ko yang duduk diatas wuwungan rumah dalam kegelapan.

Jantung Tan Leng Ko berdetak lebih cepat.

"Apa bocah ini mengetahui kehadiranku?"

Pikirnya.

Kebetulan ia mengenakan pakaian berwarna gelap.

Jarak dari tempat ia duduk mencapai puluhan kaki ke kamar Khu Han Beng.

Awan gelappun menutupi sinar bulan.

Tapi bocah ini seperti mengetahui kehadirannya.

"Apa Tan toako yang berada disana?"

Tanya Khu Han Beng perlahan. Setelah menghela napas, Tan Leng Ko meloncat turun persis di depan Khu Han Beng.

"Apa kau mepunyai mata malam?"

Tanya Tan Leng Ko dengan cepat. Khu Han Beng tersenyum.

"Kulihat guci yang pecah itu, mengeluarkan bau harum arak Tiok Yap Jing. Kutahu hanya beberapa orang saja yang mampu meminum arak mahal itu. Lagipula dari kelebatan kilat tadi, kulihat seperti ada orang yang sedang duduk di atas genteng."

"Darimana kau tahu itu aku? "

Yang dapat meloncat setinggi itu, tentu Tan toako adanya". Tan Leng Ko ikut tersenyum.

"Pengetahuanmu mengenai arak, ternyata tidak sedikit"

Sambil tertawa, Khu Han Beng berkata.

"Sayang kesempatanku untuk minum, sangat sedikit"

"Jika kau tidak melapor pada yaya-mu, tentu kuundang kau minum barang secawan"

Bisik Tan Leng Ko. Sambil menengok kekanan kekiri, Khu Han Beng ikut berbisik.

"Kalau cuma secawan, aku tidak mau minum"

Tanpa dapat dicegah, Tan Leng Ko tertawa keras.

"Benar! Kalau hanya secawan, akupun tidak mau minum"

Diam diam Khu Han Beng merasa geli, melihat kelakuan Tan toakonya yang setengah mabok.

"Kau habis dari mana?"

Tanya Tan Leng Ko setelah tertawa. Khu Han Beng mengangkat tangan kanannya.

"Hari ini banyak sekali kudapat. Bukankah mereka sangat indah?"

Dari celah kantung kain, Tan Leng Ko dapat melihat puluhan kunang kunang yang berterbangan.

"Bukan niatku melarang kau untuk bermain, aku kuatir pihak Bwe Hoa Pang tidak tinggal diam. jika kau berniat keluar, sebaiknya membawa beberapa piasu untuk melindungimu"

Khu Han Beng mengiakan, kemudian menguap.

"Aku mengantuk sekali Tan toako, aku sebaiknya tidur dulu"

Melihat sikap bocah itu, Tan Leng Ko merasa saat ini bukan yang tepat. Ia mengurungkan niatnya bertanya.

"Kau tidurlah yang nyenyak. Aku akan meronda sebentar"

"Selamat malam, Tan toako"

Setelah berkata Khu Han Beng berjalan ke kamarnya.

"Tunggu sebentar!"

Khu Han Beng menoleh dan menatap Tan Leng Ko dengan mata penuh pertanyaan.

"Banyak helaian daun menempel dipunggungmu"

Kata Tan Leng Ko sambil membersihkan.

Khu Han Beng mengucapkan terima kasih kemudian menutup kamarnya.

Tan Leng Ko menatap helaian daun ditangannya yang mirip dengan helaian daun yang tadi baru saja disapu.

Diam diam ia merasa geli.

Sumber kekesalan Lo Tong secara tidak sengaja ia telah temukan.

Bocah ini tentu menyusup kesana kesini diantara pepohonan, mengejar kunang kunang.

Kentongan terdengar berbunyi sebanyak sembilan kali.

Tan Leng Ko segera bergerak melakukan tugasnya, mengelilingi perumahan Lok Yang Piaukok memeriksa penjagaan dan keamanan.

Posisi matahari sudah agak tinggi ketika Tan Leng Ko bangun dari tidurnya.

Tanpa berganti baju, ia berjalan menuju pelataran depan.

Dilihatnya, Khu Han Beng duduk diatas kuda sambil memasukkan bekal makanan dari Hong naynay ke dalam tasnya.

Semua orang di Lok Yang Piaukok cukup mengetahui besarnya kasih sayang Hong naynay kepada Khu Han Beng.

Setiap kali berjumpa dengan Beng-sauyanya, Hong naynay selalu mengerjakan suatu perbuatan, suatu perbuatan yang sia sia...

Hong naynay mencoba tersenyum ramah.

Setiap wajah perempuan, konon katanya mempunyai dua sudut pandang.

Yang satu, mebuatnya terlihat cantik jelita, dan yang satu lagi membuatnya tidak sedap untuk dipandang.

Raut muka Hong naynaypun memiliki dua sudut pandang.

Yang satu membuatnya kelihatan galak.

Dan yang satu lagi, membuatnya kelihatan...

galaknya bukan main!

Seperti seorang ahli pedang, Hong naynay mempunyai kebiasaan menyelipkan sendok kayu panjang di tali pinggang bagian depan tubuhnya.

Gagang sendok kayu itu menyerong ke kanan, siap untuk ditarik ketika dibutuhkan.

Kuku jarinyapun digunting pendek pendek.

Hong naynay tidak akan membiarkan sesuatu menghalangi gerakkannya.

Gerakkan ketika ia mencabut senjata pusakanya.

ketika Tan Leng Ko mendekati mereka, debu dari kuda Khu Han Beng yang berlari, menerpa wajahnya.

"Pergi kemana, Beng-sauya?"

Tanpa menjawab, dengan sigap, Hong naynay mencabut sendok kayunya yang kemudian melayang mengetok kepala Tan Leng Ko dengan keras.

"Auuww!....Apa kesalahanku kali ini?"

Jerit Tan Leng Ko memprotes.

"Arak yang kubeli mahal mahal, kenapa kau berikan kepada Lo Tong?"

"Tookkkk!..."

Kepala Tan Leng Ko benjol untuk kedua kalinya.

"Bukankah arak itu sudah kau berikan padaku? Terserah aku, hendak kuapakan"

Protes Tan Leng Ko sambil mengelus kepalanya. Ayunan senjata pusaka Hong naynay terhenti diudara. Sambil melotot ia berkata.

"Semestinya tidak kau berikan kepada Lo Tong"

Hubungan Hong naynay dengan Lo tong tidak akur, seperti kucing dan anjing.

Keduanya keras kepala.

Jika sudah bertengkar, tidak ada satupun yang mau mengalah.

Jika mereka sudah bertengkar, yang lain tidak pernah mencoba melerai, malah lari bersembunyi.

Tan Leng Ko yakin, setiap persoalan selalu ada jawabannya.

Kecuali, pertengkaran Hong naynay dengan Lo Tong, yang pemecahannya tidak mungkin ada.

Dengan cepat Tan Leng Ko berkata.

"Kulihat tadi, Lo Tong menyelinap ke dapur, ia mendengar tidak hanya seguci Tiok Yap Jing yang kau beli"

Rona merah menyebar muka Hong naynay, giginya begemeretuk kencang.

Dengan gopoh, ia bergegas ke dapur.

Tan Leng Ko menarik napas lega.

Untung ia dapat membebaskan diri dari Hong naynay dengan cepat.

Ia harus secepatnya menyusul Khu Han Beng.

***************** Hari sudah siang ketika Tan Leng Ko tiba di persimpangan jalan ditengah kota Lok Yang.

Ia tidak berhasil menyusul Khu Han Beng.

Ia yakin Khu Han Beng mengunjungi Gu-sukonya.

Tapi ia tidak tahu letak toko buku terbesar di kota Lok Yang.

Ia telah bertanya kesana kesini, jawabannya semua sama....tidak tahu!

Ia tidak dapat menyalahkan mereka.

Dirinya sendiri telah tinggal tujuh tahun dikota ini, iapun tidak tahu.

Rupanya orang yang gemar membaca, tidak sebanyak orang yang gemar minum arak.

Dengan rasa apa boleh buat, Tan Leng Ko berjalan menuju Se Chuan Koan, rumah makan kegemarannya, untuk makan siang.

Kota Lok Yang memang cukup ramai, tapi kali ini nampak lebih ramai dari biasanya.

Banyak pendatang berdandanan orang kang-ouw lalu lalang disepanjang jalan.

Ada yang berpakaian rapih, banyak juga yang kusam.

Ada yang bertangan kosong, banyak pula yang membawa pedang atau golok.

Ada juga yang sendiri, tapi tidak sedikit yang berkelompok.

Rata rata air muka mereka bersifat serius.

Dari sorot mata mereka yang tajam dan keningnya yang menonjol, Tan Leng Ko tahu, mereka berkepandaian tinggi.

Kening Tan Leng Ko berkerut, ia menduga suatu urusan besar telah memancing minat para jago persilatan untuk datang ke kota Lok Yang.

Dengan menundukkan kepala, Tan Leng Ko berjalan perlahan, ia tidak ingin menarik perhatian mereka.

Hatinya bersyukur, ia masih menggunakan pakaian tadi malam yang berbeda dengan seragam piausu yang biasa ia kenakan.

Tan Leng Ko memasuki Se Chuan Koan yang lebih ramai dari biasanya.

Untung ia masih kebagian meja, diloteng atas, menghadap jalanan luar.

Pelayan yang sudah hafal dengan selera Tan Leng Ko, meletakkan seguci arak Tiok yap Jing, kemudian langsung berteriak ke dapur, memesan makanan.

Derap lari kuda menarik perhatian Tan Leng Ko.

Matanya melayang kepada seekor kuda yang dilarikan cukup kencang, dan hampir menabrak orang yang berpakaian perlente.

Orang itu dengan sigap meloncat kesamping, pedangnya dengan cepat sudah berada ditangannya.

dengan bergusar ia membentak.

"Kurang ajar!...Apa matamu buta?"

Arak yang baru diminum Tan Leng Ko tersendak keluar.

Yang mengendarai kuda itu ternyata Khu Han Beng!

Orang yang marah itu tidak jadi menyerang, ketika melihat yang hampir menabraknya ternyata hanya seorang bocah.

Sambil mendengus, orang itu memasukkan pedangnya.

Kemudian, diambilnya tas Khu Han Beng yang terlempar jatuh didekatnya.

Urat syaraf Tan Leng Ko menegang kencang.

Ia tahu betul apa isi tas itu.

Sudah cukup sering, ia menyaksikan Khu Han Beng membawa tumpukan kertas hasil salinan setiap mengunjungi Gu-sukonya.

Hanya saat itu, ia tidak terlalu peduli, kecuali sekarang.

Dari cepatnya orang itu meloloskan pedang, orang berbaju kuning emas ini, tentu seorang ahli pedang.

Untuk mencapai tingkatan ahli, orang yang berlatih pedang harus berpandangan tajam.

Di depan banyaknya jago persilatan, jika orang itu mengetahui isi tas itu....?

tak berani Tan Leng Ko membayangkan.

Ketegangan Tan Leng Ko mulai mengendur ketika orang itu menyerahkan kembali tas itu kepada Khu Han Beng sambil menasehatinya untuk berhati hati.

Tan Leng Ko menghembuskan napas ketika ia menyaksikan orang itu berjalan pergi.

Dengan rasa lega, Tan Leng Ko mengulurkan tangan, meraih guci arak.

Mendadak air mukanya berubah secara aneh.

Cahaya cemerlang seperti keluar dari mata Tan Leng Ko.

Tiba tiba ia paham!

Kenapa kitab kitab sakti itu diberikan kepada seorang anak kecil, karena...

karena memang cara ini termasuk yang aman!

Kapan sih, seorang jago silat, memperhatikan anak kecil?

Apalagi tertarik kepada isi tas milik seorang bocah yang dianggapnya kalau bukan isi gula gula tentu mainan.

Tulisan tangan seorang bocah juga tidak akan mengundang rasa ingin tahu seorang jago silat.

Kecuali, ia tanpa sengaja membaca tulisan itu.

Dia saja yang tinggal bersama Khu Han Beng bertahun tahun, tidak pernah acuh dengan tumpukkan kertas ditangannya.

Hanya orang tua kandung yang tertarik, terhadap tulisan seorang anak, apalagi tulisan seorang anak kecil yang sedang belajar menulis.

Khu Han Beng besar bersama kakeknya yang sering bepergian.

Tentu saja Khu Pek Sim merasa bersalah, dan mencoba mengabulkan permintaan cucunya, setiap kali ada kesempatan.

Seperti larangan masuk ke kamar yang tentu dimintanya setelah bocah ini pandai menulis.

Jelas Khu Pek Sim tidak keberatan, toh kelakuan aneh bukan suatu perbuatan buruk.

Kecuali Lo Tong yang buta huruf, tiada orang di Lok Yang Piaukok yang memperhatikan tulisan Khu Han Beng.

Siapa yang bakal tertarik dengan karya tulis seorang anak kecil?

Kakeknya saja tidak.

Apalagi orang lain?!

Hasil karya tulis ini kemudian dibukukan tanpa diberi judul dan ditaruh begitu saja di rak buku.

Ditaruh seperti jenis buku lainnya.

Tidak ada yang aneh atau luar biasa dengan perbuatan ini.

Justru sesuatu yang jamak, tidak janggal dan bersifat terlalu umum, bukankah tidak akan mengundang perhatian orang lain?

Bertahun tahun orang di Lok Yang Piaukok terbiasa dengan prilaku Khu Han Beng.

Sifat Khu Han Beng yang menyendiri sudah dianggap hal yang jamak..

Tidak satupun yang curiga.

Dirinya juga tidak.

Bukankah salinan kitab sakti itu dengan sendirinya tersimpan dengan aman?

Tan Leng Ko mengangkat guci araknya dan meminum seteguk.

Mau tidak mau timbul juga rasa kagum dihati Tan Leng Ko terhadap si Pemberi Kitab yang tentu telah memikirkan urusan itu.

Kelemahan dari cara ini adalah jika salinan kitab sakti di kamar Khu Han Beng diketemukan secara tidak sengaja oleh orang lain.

Tapi misalnya, salinan kitab sakti itu disembunyikan di dalam sebuah gua rahasia atau di dasar jurang sekalipun, toh tetap ada kemungkinan diketemukan orang secara kebetulan.

Dan kemungkinan itupun juga kecil.

Untuk menemui urusan ini secara kebetulan, orang itu harus bernasib mujur...

seperti dirinya.

Renungannya terganggu ketika kursi didepannya ditarik.

Seorang pemuda bermuka cemong duduk didepannya.

"kau tidak dapat mengusirku, kursi ini satu satunya yang kosong"

Katanya dengan cengar cengir.

Memang rumah makan itu penuh sekali.

Meja yang paling sedikit orangnya, terletak cukup jauh dari meja Tan Leng Ko.

Meja itu di si oleh seorang pemuda berpakaian hijau dengan seorang gadis duduk disebelahnya.

Keduanya menyoreng pedang dipunggung mereka.

Pemuda itu berwajah tampan, gadis itupun cantik sekali.

Muka mereka tidak menakutkan sama sekali.

Tapi entah kenapa, orang menghindar untuk duduk bersama mereka.

Mungkin sikap mereka yang telampau tenang dan pancaran hawa pedang yang seperti keluar dari sarungnya.

Tan Leng Ko memandang mereka hanya sekejab, ia juga tidak acuh dengan pemuda didepannya.

Perhatiannya kembali terpusat kepada Khu Han Beng yang tubuhnya menghilang di tikungan sebuah jalan kecil.

"Hey! Apakah aku setan yang tidak kelihatan?"

Tanya pemuda yang duduk didepannya.

Tan Leng Ko menatap mata yang melotot itu.

Mata yang indah, yang tidak sebanding dengan dandanannya yang mengenakan pakaian kusam berlapis lapis.

Mukanya juga penuh debu.

Debu yang seperti sengaja ditempel kemukanya, mungkin agar tidak terlalu nampak kecantikkannya.

Usianya jelas masih muda sekali, sebaya Khu Han Beng, tapi lagaknya seperti yang punya tempat.

Dalam hati ia tertawa geli.

Kenapa seorang gadis cantik gemar sekali menyamar menjadi seorang pemuda jembel?

Yang cemong hanya mukanya.

Pakaiannya walaupun kusam, tapi terlalu bersih.

Bahkan tersiar bau harum dari tubuhnya.

Yaa, bagaimanapun juga, tidak ada seorang gadis yang mau dibilang badannya berbau busuk.

"Orang ini nampaknya cukup sehat, sayang telinganya tuli"

Gumam gadis itu sambil seenaknya meraih guci arak Tan Leng Ko dan meminumnya tanpa permisi. Tan Leng Ko segan ribut mulut, ia harus menyusul Khu Han Beng. Ia segera berdiri.

"Hey! Kau tidak boleh pergi!"

Perintah gadis itu.

"Kenapa aku tidak boleh pergi"

Tanya Tan Leng Ko tak tahan. Sebetulnya malas ia meladeni gadis edan ini.

"Jika kau pergi, aku akan berteriak, kau mencoba memperkosaku"

Ancam gadis itu.

"Bukankah kau seorang pemuda?"

Tanya Tan Leng Ko yang mulai kesal dengan kelakuan gadis itu.

"Semua juga tahu, aku seorang gadis yang menyamar. Jika mereka tidak percaya, kubuka bajuku untuk membuktikan"

Jawab gadis itu sambil mengikik.

Tan Leng Ko tak percaya gadis itu berani melakukannya, ia berjalan pergi.

Gadis itu kemudian berdiri, memulai membuka baju luarnya.

Orang yang sedang makan menatap mereka dengan heran.

Dilihat dari gerakkannya, nampaknya gadis itu tidak berniat berhenti.

Bajunya yang berlapis lapis, dibukanya satu persatu.

Sambil menghela napas, Tan Leng Ko kembali duduk dimejanya.

Ia tahu ia telah berhadapan dengan gadis jenis Hong naynay.

Berani berkata, berani berbuat.

Sambil mengikik, gadis itu berkata.

"Sudah kuperhitungkan, kau akan kembali. Silahkan minum, sudah kusiapkan arak untukmu"

Tangannya mendorong guci arak yang tadi direbutnya dari Tan Leng Ko. Tanpa bicara, Tan Leng Ko langsung meminum arak itu hingga habis. Gadis itu bertepuk tangan.

"Sungguh seorang laki laki sejati. Kukagum dengan lelaki yang mempunyai takaran arak sepertimu"

"Apakah kau sedang mengajakku untuk kawin?"

Tanya Tan Leng Ko dengan hambar.

Entah apa maksud gadis yang tidak dikenalnya ini, dengan pebuatan dan ucapan yang mengejutkan.

Tan Leng Ko tidak mepunyai pilihan lain, kecuali melakukan hal yang sama.

Rona merah memenuhi wajah gadis itu, tapi dalam sebentar marahnya hilang.

"Bukan tak mungkin bagiku untuk menikahimu, tapi kau harus mempunyai kemampuan untuk melindungiku"

Tan Leng Ko terdiam. Gadis belia yang pantas menjadi anaknya, berbicara soal menikah segala. Bakal repot jika ia terus meladeninya..

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"

Tanyanya perlahan. Dengan wajah serius, gadis itu berkata.

"Kulihat kau sangat memperhatikan Pek Kian Si, apa dia musuhmu?"

"Pek Kian Si?"

Tanya Tan Leng Ko agak heran, ia merasa tidak kenal. Walau bekerja di Lok Yang Piaukok, Tan Leng Ko jarang sekali bepergian. Tugasnya melatih silat para piasu. Tentu saja tidak perlu pergi jauh jauh.

"Pek Kian Si, pedang kilat dari Kang Lam, yang barusan hampir ditabrak....?"

Gadis itu menghentikan perkataannya, dia paham sekarang.

"Rupanya yang kau perhatikan adalah bocah yang naik kuda itu. Apa dia anakmu?"

Tan Leng Ko terkejut juga. Rupanya ketegangannya tadi menarik perhatian orang.

"Jika kau tak lekas katakan apa maumu, sebaiknya aku pergi saja."

Kata Tan Leng Ko mulai kesal. Ia benar benar tidak mengerti apa maunya gadis ini dengan dirinya. Tapi dia juga tidak ingin mengundang keributan yang tidak perlu.

"Baik kukatakan!"

Kata gadis itu sambil mengambil sebuah kantung dari kain dari jubah luar yang ditanggalkannya tadi.

Kantung kain dibuka dan ditunjukkan isinya pada Tan Leng Ko yang tentu saja tidak paham.

Isi kantung itu ternyata benang sulaman bewarna warni.

"Apa kau ingin aku untuk menjahit"

Tanyanya dengan muka kelam. Gurauan gadis ini sudah keterlaluan. Gadis itu mengikik ketawa.

"Tentu saja tidak. Walaupun kumau, belum tentu kau bisa. Yang kuingin..."

Gadis itu menoleh kepada kedua pemuda pemudi yang duduk disana.

Dengan agak heran, Tan Leng Ko ikut melirik.

Sekarang dia baru mengerti.

Pedang si Pemuda dihiasi ronce berwarna hijau, sedangkan pedang si pemudi dihiasi oleh ronce warna merah.

Benang sulaman di dalam kantung kain itu ternyata ronce pedang yang umumnya menempel disarung pedang.

Tentu saja hanya pedang kenamaan yang biasanya mempunyai ciri khas ini.

"Sekali lihat langsung paham. Kutahu kau orang pintar"

Kata gadis itu sambil tertawa girang.

"Kau ingin aku untuk mengambil ronce pedang Pek Kian Si"

Dengan menghela napas, gadis itu berkata.

"Baru saja kau pintar, kenapa jadi bodoh kembali?"

Gadis itu kembali membuka kantong kainnya.

"Kau lihat yang berwarna kuning emas"

Hati Tan Leng Ko tenggelam.

Warna itu memang cocok sekali dengan baju perlente yang dikenakan oleh Pek Kian Si.

Dia tahu,kepandaian Pek Kian Si termasuk golongan kelas satu, entah bagaimana cara mencuri gadis ini.

"Kau mau yang hijau atau yang merah?"

Tanyanya.

"Aku tertarik dengan yang hijau"

Jawab gadis itu sambil menggigit tangannya.

"Kenapa tidak kau ambil sendiri, malah minta bantuanku?"

"Karena aku hanya mampu menghadapi satu orang saja. Kau tahu siapa mereka?"

"Siapa mereka?"

"Mereka kakak beradik, bermarga Kwee, dari Siong Yang. Sang kakak bernama Kwee Tiong sedangkan adik perempuannya bernama Kwee Li"

Hati Tan Leng Ko tenggelam.

Keluarga Kwee dari Siong Yang merupakan keluarga ahli pedang yang sudah terkenal ratusan tahun lamanya.

Selain Kehebatan ilmu pedangnya, mereka juga terkenal akan kegagahan dan keringanan tangan untuk menolong orang susah.

Tentu saja ia tidak ingin mencari gara gara.

"Kutahu kau berkepandaian tinggi. Dua lawan dua, bukankah pertarungan yang adil"

Jawab gadis itu sambil tertawa.

"Darimana kau tahu, aku mampu menghadapi mereka?"

Sambil memicingkan mata, gadis itu menjawab.

"Kujarang salah menilai orang, apalagi kutahu sesungguhnya kau berhati baik. Tentu tidak tega melihat seorang gadis belia yang dirundung kesusahan"

Jelas jelas gadis ini hendak merampas, bahkan tidak segan mencuri, masakkan ia bisa susah segala.

Keberaniannya untuk mencari perkara dengan keluarga Kwee menunjukkan, gadis setan ini mempunyai asal usul yang tidak sembarangan.

Tan Leng Ko berpikir sejenak.

"Hanya yang hijau kau maui, tidak ada lagi yang lain?"

"yaa, hanya itu yang kumaui"

"Setelah kau peroleh, apakah kau akan mencari perkara yang lain?"

Sambil tertawa gadis itu menjawab.

"Apa kau kira aku gemar mencari perkara? Yang kusukai hanya mengumpulkan ronce pedang".

"Kau akan membiarkanku pergi, dan tidak akan mengganggu atau mencari diriku lagi?"

Tan Leng Ko tidak punya pilihan lain, ia harus bertanya bertele tele, soalnya jenis gadis yang berani, biasanya juga memegang teguh ucapannya.

"Yang kumaui adalah itu, bukan dirimu. Semoga kau tidak patah hati"

Kata gadis itu sambil menangis sedih.

Watak gadis ini sungguh luar biasa, dapat berubah dalam sekejab.

Walau suasana dalam rumah makan sangat ribut, toh orang mulai kembali memperhatikan mereka.

Cepat Tan Leng Ko berkata.

"Apalagi yang kau ratapi, bukankah sebentar lagi kau akan memperoleh apa yang kau maui?"

Sambil tetawa girang, gadis itu meloncat sambil memegang tangan Tan Leng Ko.

"Kau benar benar pahlawan pujaanku, ayoh kita labrak mereka"

"Jika kau ingin berhasil, sebaiknya kau tunggu disini saja"

Bujuk Tan Leng Ko Dia tahu, jika gadis itu yang maju, urusan malah menjadi runyam. Gadis itu mengangkat jempolnya.

"Kau benar benar hebat! Sendirian melawan mereka berdua. Hanya ciciku dan.."

Ia menghentikan ucapannya seperti telah kelepasan bicara.

Tan Leng Ko menghela napas, dia tidak ingin kenal dengan cici atau keluarga gadis ini....Ia hanya ingin selekasnya dapat pergi.

Disemat goloknya dipinggang, kemudian berjalan menghampiri kakak beradik keluarga Kwee yang baru saja selesai bersantap.

Dilihat dari kemantapan mereka, Tan Leng Ko paham, bukan urusan yang mudah untuk mengalahkan mereka.

Tan Leng Ko mengangkat tangannya memberi hormat pada mereka.

Pandangan pemuda itu menatap dirinya dengan pertanyaan.

"Kuhargai keluarga Kwee yang terkenal kegagahannya. Entah apakah kalian sudi menolong orang yang tidak dikenal yang sedang kesusahan?"

Pemuda itu tersenyum.

Tanpa berkata, tangannya bergerak melepaskan ikatan ronce pedangnya yang berwarna hijau.

Tan Leng Ko menyengir.

Rupanya percakapan mereka ditengah bisingnya rumah makan, dapat didengar oleh pemuda hebat ini.

Kwee Li, gadis dari keluarga Kwee itu tersenyum padanya sambil berkata.

"Gadis nakal itu benar. Kau memang orang baik"

Secepatnya Tan Leng Ko mengucapkan terima kasih, kemudian kembali ke mejanya yang kini penuh dengan makanan yang tadi dipesannya.

Makanan yang sedang asyik disantap oleh gadis setan itu.

Gadis itu girangnya bukan main ketika menerima ronce idamannya.

Seperti sebuah benda pusaka, secara perlahan ia menaruh ronce hijau itu ke dalam kantung kainnya.

Seperti baru dilepas dari kurungan penjara, Tan Leng Ko bergegas meninggalkan gadis itu.

"Tunggu Sebentar!"

Tan Leng Ko menghela napas sambil memutar badannya.

"Kau ada perlu apa lagi?"

Tanyanya sabar.

"Kau yang memesan makanan ini, semestinya kau pula yang membayar"

Kata gadis itu sambil mengunyah makanan itu.

Tanpa menghitung lagi, Tan Leng Ko mengambil uang sekenanya dan memberikan kepada pelayan.

Cepat ia kabur dari situ.

Begitu berada diluar, Tan leng Ko bergegas menghampiri tempat dimana Khu Han Beng menambatkan kuda.

Ia terlambat!

ia sudah tidak melihat kuda Khu Han Beng maupun orangnya.

Kesal juga ia dengan ulah gadis setan itu, usahanya menjadi berantakan.

Dengan apa boleh buat, Tan Leng Ko berhenti didepan jalan yang dimasuki Khu Han Beng tadi.

Ia tertegun!...

Ia sangat mengenal tempat ini.

Gang ini masih saja gelap dan sempit, hanya keranjang sampahnya yang kelihatan lebih tua, sebagian sisinya sudah hancur dimakan usia.

Tapi bau busuknya tetap tidak berubah.

Sekarang dia sudah tahu, Khu Han Beng adalah orang yang membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To ke keranjang sampah, walau ia tidak mengerti kenapa dibuang.

Yang sekarang benar benar diluar dugaannya, Khu Han Beng bakal balik kemari lagi!

Ketika ia menemukan gumpalan kertas tersebut, ia telah mencarinya dengan seksama.

Tidak sejengkal tanahpun yang terlewati.

Tapi tidak ada lagi yang lain, kecuali apa yang diketemukannya.

Ia selalu berkeyakinan, jika seseorang membuang sesuatu yang mengandung sifat rahasia atau penting, tentu dilakukannya di tempat jauh jauh.

Tempat yang tidak berhubungan dengan dirinya.

Misalnya, kau telah melakukan pembunuhan, tentu senjata membunuh yang dapat dijadikan bukti, tidak akan kau buang didalam perkarangan rumahmu.

Kau akan berusaha membuang senjata itu, ditempat yang di luar dugaan orang lain.

Semakin jauh semakin baik.

Waktu itu, ia merasa orang yang membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To, tidak akan kembali ke gang ini, sehingga tidak beralasan baginya untuk datang ke tempat yang berbau busuk ini.

Dengan keyakinan itu, boleh dibilang dirinya tidak pernah kembali lagi ke gang ini.

Dengan perlahan, Tan Leng Ko memasuki gang yang sempit itu.

Di deretan sebelah kanan, rumah kedua yang berpintu biru, terdapat tulisan.

"Toko Buku Lok Yang. Menjual Buku Baru dan Buku Bekas". Tan Leng Ko menyengir. Tulisan yang cukup besar itu, baru pertama kali dilihatnya. Ketika dulu ia memasuki gang ini, pikirannya berpusat pada kondisi perutnya. Sedangkan ketika ia keluar dari gang ini...boleh dibilang, ia sudah tidak dapat berpikir lagi. Toko Buku terbesar di kota Lok Yang ternyata tidak besar. Kentara sekali minat baca masyarakat Lok Yang yang rendah. Untuk banyak orang, ada dua cara yang cepat menimbulkan pusing kepala. Pertama adalah membaca buku dan yang satunya lagi meminum arak. Mereka beranggapan cara yang kedua adalah cara yang terbaik. Kesan Tan Leng Ko tidak jelek, ketika ia berada di dalam toko itu. Toko buku itu bersegi empat dengan sebuah pintu yang menutup lorong yang menuju ke belakang. Rak rak buku yang tinggi memenuhi dinding mengikuti bentuk segi empat itu. Sebuah papan kayu menempel di rak buku dan terulang dijarak tertentu. Papan kayu ini menerangkan tema dari buku yang tersedia pada rak itu. Ada sejarah, ilmu perang, syair, agama dan seterusnya. Toko ini sepi sekali, selain dirinya, hanya seorang pelayan tua yang sedang membersihkan buku dengan kebutan debu. Ia menoleh memandang Tan Leng Ko sekejab, kemudian kembali menekuni pekerjaannya. Sambil menggendong tangan dibelakang punggungnya, Tan Leng Ko berjalan mengitari ruangan itu. Ia tidak melihat tulisan tangan Khu Han Beng diantara buku buku ini. Seperti umumnya calon pembeli, Tan Leng Ko mengambil beberapa buku secara acak dan membacanya sekilas. Seperti yang diduganya, buku buku ini hanya buku umum biasa, jenis buku yang bisa membuat pusing kepala bagi yang tidak suka membaca. Ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa. Sambil meletakkan buku tersebut ketempatnya, Tan Leng Ko berpikir cara yang terbaik untuk bertemu dengan Gu-suko. Bagaimanapun juga, ia harus berusaha untuk bertemu dengan Gu-suko, pemilik toko buku ini. Bertahun tahun Khu Han Beng menerima atau membeli banyak buku dari toko buku ini. Begitu pula sebaliknya, Khu Han Beng sering membawa tumpukkan kertas ketika mengunjungi Gu-sukonya. Sulit bagi Tan Leng Ko untuk tidak mencurigai Gu-suko sebagai si Pemberi kitab kepada Khu Han Beng. Mengenai bagaimana cara si Pemberi kitab itu meperoleh kitab kitab sakti itu, ia tidak ingin tahu. Hal itu bukan urusannya. Yang ingin ia ketahui, kenapa kitab kitab itu diberikan kepada Khu Han Beng? Apa maksudnya menyuruh Khu Han Beng menyalinnya? Pintu toko buku tiba tiba terbuka. Tan Leng Ko menoleh, kemudian menghela napas. Gadis setan yang merepotkannya tadi, muncul dengan cengar cengir. Ia berjalan sambil bertolak pinggang dan berlagak seperti tidak melihat kehadiran Tan Leng Ko. Melihat kelakuannya, Tan Leng Ko tahu masalah sebentar lagi akan muncul. Ia tidak ingin menggebrak rumput mengusir ular. Agar penyelidikkannya tidak terganggu, ia harus mengajak gadis setan ini pergi dari sini, dan kembali lagi ke toko ini, sendirian, disaat yang tepat. Dengan cepat dihampiri gadis setan itu. Ia menyadari, jika ia tanya kenapa mencarinya, tentu gadis setan itu akan menjawab dia sedang mencari buku, dan tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Ia harus menghadapi gadis setan ini dengan kecerdikkan.

"Apa kau baik?"

Tanya Tan Leng Ko dengan perlahan. Gadis setan itu berlagak seperti baru melihatnya "Aku sudah berjanji, tidak akan mencarimu. Kenapa kau cari diriku? Apa ingin menggangguku?"

Tanya gadis setan itu sambil cekikikan.

"Kau tadi telah menyuguhkan arak padaku, sebetulnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk minum, tapi...?"

Tanpa menyelesaikan perkataannya Tan Leng Ko berjalan keluar. Gadis setan itu mengejarnya dari belakang.

"Tapi apa?"

"Kutakut kau akan menyesal nantinya. Sebaiknya tidak usahlah"

Dengan cepat Tan Leng Ko berjalan keluar dari gang sempit itu. Gadis setan itu, menghadang jalannya. Sambil mendengus ia berkata.

"Kutahu kau sedang memancingku. Namun tetap kuikut pergi denganmu, agar kau tahu saja, tidak ada tempat yang tidak berani kudatangi. Asal kau ingat! aku tidak menjilat ucapanku. Kali ini, kau yang mencariku". Diam diam Tan Leng Ko tertawa geli. Walau gadis ini mengerti bakal ada satu urusan yang tak beres, toh tidak dapat menahan jiwa mudanya yang ingin tahu.

"Baik! Kau ikut aku". Di kuti gadis setan itu, Tan Leng Ko berjalan melewati deretan toko sepanjang dua blok, kemudian membelok kekanan memasuki rumah makan Ban Tiok Koan. Seorang berbaju kuning emas baru saja selesai bersantap ketika ia melirik kearah mereka. Mukanya berubah ketika melihat siapa yang berdiri dibelakang Tan Leng Ko.

"Kau...?!"

Ucap Pek Kian Si dengan geram.

Gadis setan itu menyengir ketika melihat Pek Kian Si melotot padanya.

Dengan cepat Pek Kian Si mengejar gadis setan itu yang sudah kabur duluan.

Terkejut juga Tan Leng Ko melihat ginkang gadis setan itu.

Walau gadis itu menyusahkan dirinya, bagaimanapun juga ia masih belia.

Ada juga rasa kuatir dihatinya, jika gadis setan itu dicelakai oleh Pek Kian Si.

Tapi berdasarkan kegesitan gadis setan itu, ia yakin, Pek Kian Si tidak akan mampu mengejar gadis setan itu.

Dengan napas lega, Tan Leng Ko bergegas meninggalkan tempat itu.

Tadi ia tidak membawa kuda, agar lebih mudah melacak Khu Han Beng.

Sampai ditempat sepi, Tan Leng Ko mengerahkan ginkangnya menuju pulang.

Setibanya di pinggir kota, ia berhenti sejenak, perutnya terasa lapar bukan main.

Hatinya menggerutu mengingat jatah makan siangnya direbut oleh gadis setan itu.

Setelah mengatur napas, kembali ia menggerakkan kakinya.

Ketika enak enaknya berlari, sebuah senjata rahasia atau amgi menyambar kearahnya.

Dengan cepat ia menghindar.

"Siapa disitu?"

Bentaknya sambil bersiaga.

Amgi itu disambitkan dari rimbunan pohon yang terletak disebelah kiri jalan.

Tiga orang keluar dari belukar.

Seorang tinggi besar, seorang pendek kekar, dan seorang berbadan kurus kering dengan kuku jari yang panjang.

"Ginkang orang ini lumayan juga"

Ujar yang tinggi besar.

"Tentu ia akan memperebutkan mustika itu"

Kata yang pendek kekar.

"Lekas kita bereskan dia! Mati satu, saingan kita berkurang satu"

Kata yang kurus kering yang langsung menyerang Tan Leng Ko. Dari warna kuku jari yang mengarah matanya, Tan Leng Ko maklum tentu mengandung racun yang mematikan, cepat ia menghindar.

"Kita tidak saling kenal, kalian main serang diriku begitu saja. Aku kan tidak memperkosa bini kalian"

Kata Tan Leng Ko dengan kesal.

Tiada angin hujan, orang ini langsung memberi serangan mematikan padanya, bahkan mengeroyoknya!

Serangan mereka selain cepat dan berbahaya, juga kerja sama mereka terjalin sangat erat.

Hakekatnya ia kerepotan menghindar.

Serangan yang bertubi tubi, dan silih berganti dari ketiga orang ini, tidak memberi kesempatan dirinya untuk mencabut golok.

Setelah dua puluh jurus, Tan Leng Ko terdesak dibawah angin, bau amis yang keluar dari kuku jari itu, membuat dadanya sesak ingin muntah, kepalanya mulai pusing, pertahanannya mulai kacau.

Disuatu kesempatan, si tinggi besar mengayunkan pedangnya mengarah ke ubun ubun Tan Leng Ko.

Jika begini terus, tidak sampai lima jurus lagi, ia akan keok pikir Tan Leng Ko.

Dengan menggeretak gigi, dengan nekat ia menyongsong pedang itu dengan tangan kiri sambil tangan kanannya mencabut golok.

Ia lebih rela mengorbankan tangannya dari pada mati konyol disini.

"Traaang!"

Sebuah pedang bergagang hijau menangkis serangan si tinggi besar.

Tan Leng Ko melirik kepada orang yang memegang pedang itu yang kemudian terlibat perkelahian seru dengan si tinggi besar.

Ia mengenal pedang itu, pedang yang sarungnya sudah tidak terdapat ronce lagi.

Kwee Tiong beserta Kwee Li telah datang menolongnya disaat yang genting.

Desiran pedang Kwee Tiong yang kuat dan cepat menusuk si tinggi besar yang segera meloncat menghindar.

Si kurus kering kerepotan terhadap serangan Kwee Li yang jauh lebih lincah dari kakaknya.

Kerja sama ketiga orang itu menjadi hancur berantakan diganti dengan pertandingan satu lawan satu.

Tanpa banyak bicara, Tan Leng Ko yang sudah gusar segera menyerang si pendek kekar.

Angin golok dingin menggidik mengurung si pendek kekar yang dengan gugup mencoba menangkis.

"Uagghhh...!"

Si pendek kekar menjerit ngeri melihat isi perutnya terburai keluar.

Ia terkulai jatuh, menggeliat kesakitan dengan erangan yang melemah, kemudian diam tak bergerak.

Melihat kawannya tewas, si kurus kering bersiut nyaring.

Tubuhnya melesat di kuti si tinggi besar, mereka menghilang dibalik rimbunan pepohonan.

Dengan gegetun, Kwee Li berkata.

"Tega benar mereka, kawan sendiri tewas, ditinggal begitu saja"

Kwee Tiong menghela napas.

"perkawanan mereka berdasarkan rugi laba. Kawan yang tewas tentu tidak menguntungkan, buat apa berteman lagi"

Tan Leng Ko menghampiri mereka.

"Kutahu ucapan terimakasih saja tidak akan cukup"

Katanya sambil menghela napas. Kwee Tiong tersenyum.

"Ucapanmu membuatku malu.Kuyakin tindakkanku barusan hanya berlebihan. Tidak kusangka permainan golok saudara begitu hebatnya". Tan Leng Ko tertawa.

"Kau puji kehebatan permainan golokku, nyatanya yang telah menyelamatkan sebuah tanganku, adalah pedangmu dan bukan golokku"

Kwee Tiong ikut tertawa.

"Mereka bertiga mempunyai kepandaian yang seimbang dan kerja sama yang hebat. Serangan mereka memaksamu menghindar tanpa ada kesempatan untuk membalas. Begitu satu lawan satu, sudah lima jurus kukeluarkan hanya dapat mendesak si tinggi besar, sedangkan saudara hanya cukup mengeluarkan satu jurus". Sambil menunjuk kepada mayat si pendek kekar, ia melanjutkan.

"Permainan golokmu memang patut dipuji."

Tan Leng Ko tersenyum, ia sangat menyukai pemuda ini. Seorang pemuda perkasa, dari keluarga hebat, berkepandaian tinggi dan tidak sombong.

"Siapakah mereka, toako?"

Tanya Kwee Li Kwee Tiong menarik napas dalam dalam sebelum menjawab.

"Puluhan tahun mereka dikenal sebagai Tiga Srigala dari gunung hong san. Adat mereka buas, gemar membunuh. Tak kusangka mereka bisa berdatangan juga ke kota Lok Yang"

Kwee Li melirik sebentar kepada Tan Leng Ko dengan pandangan kagum.

"Merek mereka yang sudah tahunan gara gara saudara ini, terpaksa harus diganti"

Katanya dengan tersenyum "Merek mereka?"

Tanya Tan Leng Ko heran.

"Sekarang mereka lebih tepat dikenal sebagai Dua Srigala dari gunung hong san"

Giliran Tan Leng Ko tersenyum.

"Kuusahakan agar gelar mereka cepat berubah lagi, jika bertemu"

Kwee Tiong ikut tersenyum.

"Kau telah mengetahui nama kami dari gadis nakal itu, rasanya kurang adil jika kami tidak mengetahui nama saudara"

Buru buru Tan Leng Ko menyebut namanya. Hanya nama yang ia sebut.Saat ini, Ia tidak ingin memancing perhatian orang lain terhadap Lok Yang Piaukok.

"Kenapa mereka menyerangmu, Tan toako?"

Tanya Kwee Li ingin tahu. Kwee Tiong pura pura tak menggubris, cara panggil adiknya yang terdengar 'langsung akrab'.

"Akupun tidak tahu. mereka menuduhku memperebutkan mustika segala, kemudian langsung menyerang tanpa memberi kesempatan aku untuk berbicara"

Kwee Tiong menghela napas.

"Nampaknya kabar angin itu sudah beredar di kalangan kang ouw. Tidak heran kota ini kedatangan bermacam macam orang". Dengan heran Tan Leng Ko bertanya.

"Kabar apa? Apa hubungannya dengan kota ini?"

"Apa Tan-heng belum pernah mendengar berita ini?"

Tanya Kwee Tiong berbalik heran. Mereka yang tinggal jauh di gunung Hong San saja tahu, masakkan pemuda yang nampaknya tinggal dikota ini malah tidak tahu. Tan Leng Ko menyengir.

"Badanku kurang sehat, dua minggu terakhir ini. Kujarang keluar rumah. Berita itu tentu baru saja beredar".

"Memang belum lama ini kami mendengar bahwa mustika kemala pelangi telah muncul di kota Lok Yang"

Kata Kwee Li menerangkan.

Mau tidak mau Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam.

Ia tidak tertarik dengan mustika segala, urusannya sudah banyak.

Ia harus menjaga urusan Khu Han Beng tidak sampai mengundang perhatian orang kang ouw.

Tak mungkin ia dapat menghadapi mereka sendirian.

"Apa keistimewaan mustika itu hingga diperebutkan orang"

Tanyanya berlagak tertarik, meniru reaksi umumnya orang, jika mendengar sebuah mustika.

"konon katanya, mustika itu menunjuk ke suatu tempat yang terdapat koleksi kitab kitab ilmu silat yang luar biasa"

Kata Kwee Tiong perlahan.

Kagetnya bukan main Tan Leng Ko mendengar hal ini.

Dengan sekuat tenaga, dikerahkan tenaga batinnya agar airmukanya tidak berubah..!.

Apa kamar Khu Han Beng berhubungan dengan mustika kemala pelangi?

Rasanya tidak masuk akal...

"Apakah kedatangan kalian karena urusan ini?"

"yaa...kedatangan kami memang karena urusan ini"

Jawab Kwee Li.

"Kami tidak ingin mustika itu jatuh ketangan yang salah"

Ujar Kwee Tiong dengan cepat. Ia tidak ingin dianggap orang yang silau terhadap sebuah mustika.

"Sebenarnya bagaimana bentuk dari mustika itu?"

Tanya Tan Leng Ko kali ini ia benar benar tertarik. Baru Kwee Tiong mau menjawab, adiknya berkata dengan nada tidak sabar.

"Toako, kita ditunggu orang. Tidak baik kalau terlambat. Sampai berjumpa saudara Tan"

Kata Kwee Li kemudian melangkah pergi. Kwee Tiong tidak punya pilihan lain kecuali menyusul adiknya.

"Saudara Tan, kami harus segera pergi"

Kata Kwee Tiong.

"Sialhkan saudara Kwee, terima kasih atas pertolonganmu"

Ucapnya segera.

Mereka mengembangkan ginkang, melesat pergi, meninggalkan Tan Leng Ko yang menjadi termenung sendirian.

Entah bagaimana bentuk mustika kemala pelangi.

Yang pasti, jika manusia sejenis tiga srigala dari gunung hong san dan keluarga Kwee sampai tertarik, tentu mustika itu mengandung nilai luar biasa sekali...

Setelah mengubur si pendek kekar, Tan Leng Ko menggerakkan kakinya meninggal tempat itu.

Kepalanya masih terasa pening, mungkin sedikit hawa beracun dari kuku beracun sikurus kering, sempat terisap olehnya.

Ditambah dengan kerja berat gali kubur, dan perutnya yang lapar, ia harus lekas beristirahat dan bersamadi.

Walau tidak sampai membahayakan dirinya, bagaimanapun juga, makin cepat ia mengusir hawa racun tersebut, makin baik.

Sekitar sepuluh kaki dari pintu gerbang Lok Yang Piaukok, sebuah bayangan berkelebat mencegat Tan Leng Ko yang kembali terkejut.

Ia terkejut bukan saja disebabkan melihat si gadis setan yang berdiri didepannya sambil bertolak pinggang.

Ia terkejut melihat ginkang gadis setan itu yang jauh lebih hebat dari dugaannya semula.

"Kau ingin mencelakaiku?"

Bentak gadis setan itu marah marah.

Sebelum Tan Leng Ko sempat menjawab, gadis setan itu mulai menyerangnya.

Jurus serangannya sangat aneh.

Empat jarinya dirapatkan meniru sebilah pedang, gerakkan lengannya selalu lurus, tidak ada gerakkan membengkok.

Tapi hebatnya luar biasa.

Semacam hawa pedang yang mencicit merobek hancur lengan baju Tan Leng Ko berkeping keping.

Tan Leng Ko kagetnya luar biasa.

Kepeningan kepalanya, mengganggu kecepatan geraknya.

Hampir ia mencabut goloknya, tapi ia tidak tega.

Sayangnya ia tidak mempunyai kepandaian hebat lain kecuali Ouw Yang Ci To.

"Apa kau ingin membunuhku"

Tanyanya cepat "Siapa suruh kau hendak mencelakaiku"

"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, jika kau ikut, kau akan menyesal"

Gadis setan itu terdiam. Mau tidak mau ia harus mengakui, Tan Leng Ko telah memberi peringatan padanya.

"Tadi kau selalu bersamaku...Darimana kau tahu Pek Kian Si, berada disitu?...hayoh jawab!"

Sambil menyengir Tan Leng Ko menjawab.

"Kejadian tabrakan tadi dekat dengan waktu makan siang, Pek Kian Si tidak memilih Se Chuan Koan yang lebih dekat, berarti ia tidak suka makanan pedas. Kau sendiri yang bilang dia dari Kang Lam yang kutahu suka makanan manis. Ban Tiok Koan adalah jenis rumah makan seperti itu..."

Diam diam timbul juga rasa kagum di hati gadis setan itu.

"Kenapa kau tidak menghalangi kejaran Pek Kian Si?"

Tanyanya galak.

"Jika kau mampu mengambil ronce pedangnya, kuyakin kau mempunyai cara untuk menghadapinya. Lagi pula...."

"Lagi pula apa...?"

Desak gadis setan itu.

"Aku tidak mengenal kau ini siapa"

Mata gadis setan itu mulai mengembang air mata.

"Huuuhuuu...kau yang kuanggap baik, ternyata berniat mencelakakanku. Tidak ada yang sayang padaku. Tidak ada yang mau pedulikan aku"

Gadis setan ini mulai menangis.

Bukan hanya menangis, melainkan menangis sambil menjerit keras.

Tentu saja mengundang perhatian orang Lok Yang Piaukok.

Tan Leng Ko menghela napas.

Ia benar benar tidak dapat menerka watak gadis setan ini yan cepat sekali berubah.

Sebentar marah, sebentar jahil, kemudian tahu tahu menangis.

Kepalanya yang pusing semakin pening.

Khu Han Beng keluar menghampiri mereka.

Bahkan Hong naynay pun ikut keluar dari dapur.

"Apa yang sedang kau perbuat?"

Tanya Hong naynay sambil melotot.

Tangannya memeluk gadis setan itu, yang menangis makin keras, air matanya membasahi baju Hong naynay.

Tak ada yang bisa diperbuat Tan Leng Ko kecuali menyengir.

Mata Hong naynay masih melotot kepadanya.

"Memang laki tidak genah ini, bukan orang baik baik. Ayoh, kau masuk kedalam. Kau coba masakkan Hong naynay. Kau akan melupakan kesedihanmu"

Hong naynay mengajak gadis setan itu kedapur.

Tan Leng Ko menyengir dalam hati, yang belum makan adalah dia...

dia tidak diajak.

Gadis setan ini baru saja makan.

Malah Sekarang diajak makan lagi.

Apa sengaja mau dibikin gemuk?

Sebenarnya ia tidak setuju dengan ajakan Hong naynay mengundang gadis setan itu masuk.

Perbuatan ini, seperti mengundang harimau, yang lebih banyak bahayanya daripada manfaat.

Tapi ia juga tidak ingin melanggar Hong naynay.

Yang harus ia lakukan adalah mengawasi gadis setan itu dengan ketat.

Ia tidak tahu bagaimana gadis setan ini dapat menemukan dirinya dekat Lok Yang Piaukok.

Dugaannya bukan suatu kebetulan.

Ia harus mencari tahu, apa maksud gadis setan ini menyusup ke Lok Yang Piaukok.

"Siapa dia?"

Tanya Khu Han Beng dengan heran.

"Aku tidak tahu"

Jawab Tan Leng Ko.

Yang ia tahu, nama gadis itu tentu bukan gadis setan.

************************ Derak suara roda berputar, disela sela ringkik kuda, mengisi kesunyian hutan.

Kali ini rombongan Khu Pek Sim terdiri dari duapuluh orang piasu yang berkepandaian paling tinggi di Lok Yang Piaukok untuk mengawal sebuah kereta barang.

Untuk sebuah kereta, biasanya sepuluh orang sudah lebih dari cukup.

Hanya barang kawalan yang berharga sekali yang mendapat perlakuan istimewa.

Dua laksa tahil yang seluruhnya dari emas tentu saja mendapat perlakuan istimewa.

Bukan saja dalam pengawalan, kuda kuda yang menarik kereta inipun termasuk kuda pilihan.

Kereta itu ditarik oleh delapan kuda yang kuat dan kekar.

Jelas bukan jenis kuda sembarangan ditilik dari warna putih seperti kaos kaki yang melingkari bagian bawah kakinya.

Khu Pek Sim yang mengendarai kuda yang paling depan, mengerenyitkan alisnya.

Ia tidak menyukai suara derak ini yang terlalu mengundang perhatian.

Sumbu roda telah beberapa kali diberikan minyak dari lemak binatang, namun tidak menolong banyak.

Bagi orang kang ouw yang berpengalaman, dari suara derak yang nyaring itu, juga dari jumlah kuda yang banyak, mereka dapat menarik kesimpulan kereta barang ini membawa sesuatu yang berat dan hanya emas yang dapat menimbulkan beban seberat itu.

Udara yang dingin tidak dapat menghilangkan rasa gundah dihati Khu Pek Sim.

Yang membuatnya agak lega, sore ini mereka akan tiba di kota Po-ting, tempat tujuan mereka.

Khu Pek Sim bersyukur perjalanannya kali ini nampak aman dari gangguan.

"Brruaaakkk...!"

Sebatang pohon sepelukan tangan manusia, rubuh melintang dijalan.

Kuda dibagian depan yang menarik kereta mengangkat kaki, sambil meringkik kaget, hampir mereka saling bertubrukan, untung sais kereta itu seorang yang sudah berpengalaman.

Dengan suara perlahan dibujuk kudanya agar tenang.

Khu Pek Sim memberi isyarat tangan.

Para piasu yang sudah terlatih mengangkat tameng mereka dan berdiri mengitari kereta barang.

Tangannya meraih tombak, dan duduk diatas kuda dengan tenang.

Jalan yang mereka sedang lalui walau bukan hutan, tapi dikiri kanan banyak pepohonan yang rindang.

Rubuhnya pohon itu jelas disengaja, namun tidak terdengar gerakkan atau suara lain kecuali ributnya burung liar yang kaget beterbangan.

Setelah menunggu sekian lama, hanya deru bendera pelambang Lok Yang Piaukok yang mengisi keheningan, Khu Pek Sim akhirnya tidak sabar.

"Jika kalian tidak mau bertemu, sebaiknya kami pergi saja"

Serunya dengan lantang.

Ia tidak terlalu sering kekota Po-ting, namun ia cukup tahu, walau jalan ini tidak terlampau aman, perampok yang menguasai daerah ini, belum pernah menganggu barang kawalan Lok Yang Piaukok.

"Jika berani menghalang, tentu tidak takut urusan, kenapa tidak lekas diselesaikan?"

Teriaknya sekali lagi.

Dari balik rumpunan pohon bambu, seseorang keluar berjalan kearah mereka dengan perlahan.

Ia mengenakan baju putih, berwajah tampan walau sudah tidak muda lagi, sebuah senyuman ramah tersungging dibibirnya.

Khu Pek Sim tertegun.

Ia menduga puluhan perampok yang menghadang jalannya, bukan hanya satu orang.

Orang berbaju putih itu mengangkat tangannya memberi hormat.

"Kumohon maaf atas keterlambatanku. Maklum ini pengalaman pertama bagiku untuk merampas barang milik orang lain. Caraku masih canggung"

Ujarnya perlahan. Diam diam Khu Pek Sim agak kuatir, ada satu hal yang merisaukan hatinya.

"Inipun pengalaman pertama bagiku, menemui perampok yang ramah dan tamah"

Katanya sambil memberi hormat. Orang itu tersenyum.

"Ditinjau dari beratnya muatan, dan besarnya kereta, tentu kau membawa paling sedikit satu laksa tahil emas".

"Pandai sekali anda berhitung"

Seru Khu Pek Sim dengan dingin.

"Selain mengetahui cara berhitung, akupun mengetahui laksaan tahil emas dapat digunakan untuk apa saja"

Kata orang itu dengan tetap ramah.

"Jika kau hendak merampas uang emas ini, langsung saja menggunakan kepandaian, tidak perlu bertele tele yang tidak berguna"

Tantang Khu Pek Sim Sambil meloncat turun dari kudanya. Orang itu menghela napas.

"Jika kita bertarung, belum tentu aku menang. Walau menang sekalipun, jika kau hancurkan roda kereta itu, akupun tidak dapat membawa emas itu pergi jauh"

Khu Pek Sim tertegun.

Jika roda keretanya telah hancur, memang emas sebanyak dan seberat ini tidak mungkin dapat dibawa kabur oleh satu orang.

Ia yang sudah berpengalaman bertahun tahun, malah tidak berpikir kearah itu.

Orang ini berpikiran tajam, jelas bukan orang sembarangan yang mudah dihadapi, ia harus berhati hati.

"Sebetulnya, apa kehendakmu?"

Tanya Khu Pek Sim dengan keras.

"Bukankah sudah jelas kukatakan, aku ingin merampas, ingin merampok barang kawalanmu"

Katanya dengan halus.

"Bolak balik kau berbicara, rupanya tujuanmu tetap tertuju pada emas ini"

Dengus Khu Pek Sim yang mengakui muatan barang kawalannya. Ia tahu tiada gunanya berbohong. Sambil tertawa, orang itu mengeluarkan sesuatu dari bajunya.

"Benda ini tidak beracun, dan kuberikan kepadamu jika kau berikan barang yang kuminta"

Dengan heran Khu Pek Sim menatap secarik kertas yang dipegang oleh orang itu.

Ia tidak mengerti apa maksudnya.

Tiba tiba orang itu melesat cepat sekali kearah salah satu piasu yang berdiri di depan dan dengan cepat telah kembali ke posisinya semula.

Piasu itu tidak nampak terluka.

Ia berdiri bengong dengan tangan kiri memegang kertas itu.

Jantung Khu Pek Sim berdetak keras melihat kecepatan gerak orang itu.

Dengan tetap waspada, ia menoleh kepada anak buahnya.

"Cu Goan, apakah kau terluka?"

Tanyanya dengan cemas.

Piasu yang bernama Cu Goan itu menggeleng, kemudian matanya melirik kertas yang dipegangnya.

Tahu tahu mukanya berubah dengan hebat.

Melihat perubahan raut muka anak buahnya, Khu Pek Sim cepat bertanya.

"Apa kau keracunan?" ' Aku tidak keracunan...hanya ini....sebaiknya Khu Conpiautau melihat sendiri"

Katanya sambil menghampiri Khu Pek Sim.

Khu Pek Sim menerima kertas tersebut, mukanya ikut berubah ketika membacanya.

Kertas itu ternyata sebuah gin-bio atau surat uang yang dikeluarkan dari bank ternama di kotaraja.

Keaslian surat uang ini tidak perlu diragukan lagi, bahkan dapat diuangkan kapan saja dan oleh siapa saja.

Sekarang ia paham kenapa anak buahnya terkejut.

Siapa yang tidak kaget melihat surat uang itu, yang ternyata bernilai enam laksa tahil emas!

Hati Khu Pek Sim tenggelam, kekuatirannya ternyata menjadi kenyataan.

Tidak mungkin orang ini menghendaki barang kawalannya yang tidak bernilai sebanyak surat uang ini.

Jika orang ini tidak sayang kehilangan enam laksa tahil emas, hanya satu barang yang di ngini oleh orang ini.

Barang yang dibawanya, dan hanya diketahui oleh tiga orang .

Dengan muka serius orang itu berkata.

"Kau tidak harus menjawabnya sekarang, kuberi waktu satu hari penuh padamu untuk memertimbangkan. Surat uang itu boleh kau simpan, untuk menunjukkan ketulusan hatiku.".

"Apa kau tidak kuatir kubawa kabur uangmu?"

Tanya Khu Pek Sim tak tahan. Orang itu menggerakkan kakinya menendang batang pohon yang rubuh itu.

"Blaaangg!"

Batang pohon itu bagaikan kapas terbang melayang menabrak pohon yang berdiri.

Kerasnya daya dorong menyebabkan pohon itu tidak tahan dan ikut tumbang, akar menonjol keluar, terobek dari tanah.

Suara ranting, dahan dan rimbunan daun saling bertabrakan menimbulkan suara yang menakutkan.

"Aku tidak kuatir"

Kata orang itu sambil tersenyum.

Tangannya merangkap memberi hormat, kemudian tubuhnya melesat menghilang di balik rumpunan pohon bambu.

Para piasu terpaku akan kedahsyatan tendangan orang itu, mereka tidak memperhatikan keadaan Khu Pek Sim yang berdiri termenung.

Lok Yang Piaukok mempunyai penghuni baru, atau lebih tepatnya seorang tamu yang bernama Giok Hui Yan.

Entah bagaimana caranya, gadis yang beradat aneh ini dapat dijinakkan oleh Hong naynay.

Rupanya seorang gadis pemberani hanya takut kepada perempuan lain...

yang lebih galak daripadanya.

Menurut cerita Hong naynay, gadis ini ternyata kabur dari rumah setelah dimarahi oleh ayahnya.

Ia luntang lantung mengembara, hingga bertemu dengan Tan Leng Ko di Se Chuan Koan.

Ketika ditanya asal usulnya, Giok Hui Yan menjawab bahwa dia tidak suka membohongi Hong naynay yang begitu baik padanya, tapi ia juga mempunyai alasan yang kuat sehingga belum dapat menceritakan asal usulnya.

Hong naynay enggan mendesak, begitu pula yang lainnya.

Kebiasaan ingin tahu urusan orang lain bukanlah kebiasaan yang ada di Lok Yang Piaukok.

Entah disengaja atau tidak, Giok Hui Yan hanya alim di depan Hong naynay, sedangkan dengan yang lain, kelakuannya tidak berubah.

Seperti biasa, sore hari para piasu berlatih silat di lapangan.

Tan Leng Ko berhalangan hadir.

Ia masih bersamadi dikamarnya membersihkan sisa hawa racun ditubuhnya.

Giok Hui Yan menghampiri mereka dengan cirinya yang khas....bertolak pinggang sambil cengar cengir.

Tubuhnya meloncat keatas rak senjata, dan berdiri diatas sebuah ujung tombak yang tajam.

Melihat ginkang gadis itu yang tinggi, para piasu tanpa terasa menghentikan latihannya dan bersorak kagum.

Mendengar teriakan bernada memuji itu, gadis itu tersenyum bangga.

Giok Hui Yan telah melepaskan ikat kepalanya, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai.

Cantik sekali gadis ini ketika tersenyum walau masih mengenakan pakaian pria.

Tak lama kemudian, kakinya berlari diatas deretan ujung tombak, makin lama makin cepat, para piasu yang hanya mampu melihat bayangan gadis ini bertepuk tangan, sebagian malah ada yang bersuit.

Tubuh Giok Hui Yan meletik, dan membuat salto tiga kali di udara, dan berdiri di depan para piasu yang belum berhenti bertepuk tangan.

Gadis ini mengangkat tangannya menenangkan pengagumnya, sambil berkata.

"Mau tidak kalian kuajarkan jurus tangan kosong?"

Tentu saja para piasu menjawab ingin.

Baca Juga: Sukma Pedang 1

Baca Juga: Golok Halilintar 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger