Bu Kek Kang Sinkang 2

Eps 2 Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh

Baca online Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh

Cersil Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh.

"Telah kuhitung jumlah kalian. Sepuluh orang berdiri disebelah kiri, dan sepuluh orang sisanya disebelah kananku berdiri saling menghadap". Seperti seorang jendral, Giok Hui Yan berjalan mondar mandir di tengah barisannya. Tangan dan mulutnya sibuk membetulkan. Setelah puas, ia berdiri ditempatnya semula dan meminta perhatian mereka. Tangan kanan dan kakinya bergerak secara aneh. Ia mengulang hingga tiga kali kemudian meminta barisan kanan menirunya dengan cepat dan tenaga penuh. Barisan kanan melakukan yang dipintanya, terdengar suara beruntun keplak keplok, saling menyusul. Para piasu dibarisan kiri banyak yang terpelanting, pipi kanan mereka tertampar nyaring. Gadis itu bertepuk tangan sambil tertawa girang.

"Kalian sungguh pintar. Diberitahu sekali, langsung pandai. Hayoh dilatih sebanyak duapuluh kali"

Dengan bingung, salah satu piasu dibarisan kiri bertanya "Sebetulnya jurus apa ini?"

Dengan nada tidak senang, Giok Hui Yan menjawab.

"Untuk menjadi seorang jago silat, kalian harus berani tahan sakit. Baru sedikit tertampar, kalian sudah mengeluh. Kalau kalian enggan berlatih, yaa sudahlah"

Gadis itu kemudian melangkah pergi. Dengan gugup, piasu itu berkata.

"Jangan pergi dulu, kami tahan uji dan biasa hidup diujung golok. Kami akan berlatih sungguh sungguh"

Giok Hui Yan mengurung niatnya untuk pergi.

"Siapa yang tidak tahan sakit, boleh lekas pergi dari sini. Yang pergi, tidak akan dianggap seorang pengecut!"

Ujarnya memberi penekanan dikata 'pengecut'. Tidak ada seorangpun yang pergi. Tentu saja jika ada yang pergi, malah akan dianggap pengecut oleh piasu lainnya. Sambil mengikik gadis itu berkata.

"Kalian memang calon calon pendekar besar. Jika kalian latih jurus ini dengan sungguh sungguh, kujamin dalam satu dua tahun kalian akan mempunyai nama di rimba persilatan"

Mendengar janji yang muluk muluk, sebagian piasu ada yang sampai membusungkan dada dengan semangat. Mereka lupa, ada jenis perempuan yang ucapannya tidak boleh dipercaya begitu saja.

"Ayoh, barisan kanan mulai berlatih, barisan kiri boleh mencoba menghindar"

Kembali terdengar suara keplak keplok nyaring, silih berganti.

Jurus ini memang rada aneh.

Para piasu dibarisan kiri mencoba menghindar, toh pipi kanan mereka tetap saja tertampar.

Setelah puas melihat pipi kanan barisan kiri membengkak, Giok Hui Yan menyuruh mereka bergantian.

Barisan kiri menyerang dan barisan kanan mencoba menghindar.

Ruangan berlatih silat, kembali diriuhkan dengan suara pipi tertampar.

Sambil sibuk mondar mandir, Giok Hui Yan berteriak memberi semangat.

"Jurus kalian sudah benar, hanya masih loyo. Kalian harus mengerahkan semua tenaga ke telapak tangan". Suara tamparan semakin nyaring, bahkan ada sebagian piasu dibarisan kanan yang terpelanting dengan gigi copot. Setelah berlatih dua puluh kali, Gadis itu menyuruh mereka berhenti dan berdiri tegak dibarisan masing masing. Senyum manis menghias wajah cantik itu ketika melihat warna merah biru menghiasi pipi kanan para piasu.

"Kulihat ada yang mencoba menghindar tapi tidak berhasil, bukankah jurus ini hebat luar biasa?"

Dengan ujung bibir berdarah, dan pipi memar, para piasu menjawab. Yang terdengar hanya suara gumaman yang tidak jelas.

"Sekarang barisan kiri dan barisan kanan berbareng melatih jurus kedua"

Ujar gadis itu sambil melakukan langkah dan gerakkan tangan kiri yang aneh.

Suara tamparan yang terdengar kali ini, selain bersusulan juga bersamaan.

Para piasu di barisan kiri dan barisan kanan saling menampar pipi kiri masing masing.

"Kalian ulang sebanyak dua puluh kali, aku akan kembali melihat hasil latihan kalian"

Kata gadis ini sambil menyengir kemudian melangkah pergi.

Tan Leng Ko yang baru saja bersamadi, berjalan keruangan latihan silat.

Dahinya berkerut ketika melihat Giok Hui Yan dikejauhan, apalagi ketika mendengar suara aneh dan nyaring.

Dengan cepat ia memasuki ruang latihan silat, Tan Leng Ko menghela napas ketika melihat murid muridnya terpelanting dengan muka bundar.

Tujuh tahun ia telah mengajar mereka, tidak ada yang mukanya hingga bengap biru, babak belur begitu.

******************************** Warna biru tinta yang masih basah, kelihatan indah sekali.

Khu Han Beng berada di kamarnya, sedang sibuk menyalin.

Menyalin tulisan keriting yang dia tidak ketahui namanya, tapi sudah dihapalnya semenjak ia berusia tujuh tahun.

Suara ribut ribut Lo Tong terdengar dari luar pintu kamarnya, yang kemudian dibuka oleh Giok Hui Yan.

Sambil cengar cengir, matanya memicing menatap Khu Han Beng seperti mahluk aneh yang belum pernah dilihatnya.

Khu Han Beng, yang pernah diceritakan oleh Tan Leng Ko mengenai kelakuan gadis itu di Se Chuan Koan, menghela napas.

"Apa yang kau kehendaki?"

Tanyanya perlahan.

"Aku sedang mencari cacing".

"Kenapa tidak mencari diluar sana, malah mencari dikamar ini?"

Tanya Khu Han Beng heran.

"Aku sedang mencari kau, bukankah kau seekor cacing buku"

Katanya sambil mengikik. Dengan kesal Khu Han Beng berkata.

"Jika kau hendak menggoda, sebaiknya kau keluar saja dari kamar ini, aku hendak tidur". Smabil bertolak pinggang, Giok Hui Yan berkata.

"Apa yang hendak kau perbuat, jika aku enggan keluar?"

Khu Han Beng memandang Giok Hui Yan sejenak.

Untuk mengatasi kenakalan gadis ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali racun melawan racun.

Khu Han Beng mendekati Giok Hui Yan, dan dengan cepat melepaskan bajunya hingga telanjang dada.

"Biasanya aku tidur tanpa busana, jika kau tidak mau keluar..."

Belum selesai ia berbicara, Giok Hui Yan menjerit, kemudian kabur dari situ.

Bagaimana berani dan anehnya adatnya, bagaimanapun juga ia seorang gadis perawan, yang jengah melihat seorang bocah sebaya dirinya dengan dada telanjang.

Sambil tertawa Lo Tong menghampiri Beng-sauyanya, kemudian berkata.

"Sekarang kutahu cara terbaik untuk mencegah gadis nakal itu".

"Apa yang akan kau lakukan?"

Sambil menyengir Lo Tong menjawab.

"Jika gadis setan itu muncul, kubuka saja celanaku, tanggung urusan jadi beres"

Khu Han Beng tersenyum.

"Aku hendak bermain di belakang bukit sana, tolong kau bereskan kamarku"

Ujarnya sambil merapihkan baju, kemudian ia melangkah keluar.

Begitu berada diluar pintu gerbang, ia memusatkan perhatiannya.

Setelah yakin tidak ada orang disekitarnya.

Tiba tiba tubuhnya melesat kebelakang bukit.

Cepatnya bukan main.

Tak lama dari kepergian Khu Han Beng, pintu gerbang Lok Yang Piaukok kembali dilalui orang.

Bukan hanya seorang, melainkan dua belas orang yang di atas dada sebelah kiri disemati oleh bunga.

Bunga bwe berwarna hitam, terbuat dari besi.

"Blaaangg...!"

Pintu gerbang Lok Yang Piaukok yang terbuka, yang tidak menghalang jalan masuk mereka, toh tetap dihajar hancur oleh mereka.

Rombongan Bwe Hoa Pang kali ini nampaknya dipimpin oleh seorang tosu yang memegang pedang ditangan kirinya.

Tapi yang menghancurkan pintu bukan dia, melainkan pemuda sombong yang pernah datang kemari beberapa minggu yang lalu.

Mendengar suara hancurnya pintu yang keras, yang pertama muncul menghadap mereka bukan lain Giok Hui Yan, disusul oleh Tan Leng Ko yang bergegas keluar.

Sambil bertepuk tangan Giok Hui Yan tertawa.

"Benar benar menarik. Rupanya serombongan badut berseragam datang kemari".

"Rombongan badut?"

Tanya tosu itu tak tahan.

"Bukankah pertunjukan panggung, selalu diawali dengan suara 'bang' yang mengejutkan. Tentu kalian ingin menari disini"

Kata Giok Hui Yan sambil cengar cengir. Tosu tua tidak menggubris ucapan gadis itu.

"Apakah bocah ini?"

Tanyanya kepada pemuda sombong itu. Pemuda sombong itu menggeleng.

"Usia mereka sebaya, tapi bocah itu jelas bukan perempuan"

Giok Hui Yan mendengus.

"Seorang kakek tua mencari seorang bocah lelaki, tentu untuk urusan yang tidak beres". Selesai berkata tubuhnya melesat cepat kesalah satu dari rombongan mereka, tangannya bergerak aneh, terdengar suara pipi ditampar bolak balik tanpa orang itu mampu menghindar. Tubuhnya terkulai lemas, ketika hidungnya dihajar remuk. Para piausu yang ikut keluar bersama Tan Leng Ko bersorak, mereka mengenal gerakkan gadis itu. Tidak rugi pipi mereka bengkak, ternyata jurus itu memang benar hebat. Tosu tua itu terkejut kaget melihat kegesitan Giok Hui Yan. Ia maklum gadis ini tentu bukan orang sembarangan.

"Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Lok Yang Piaukok?"

Sambil Tolak pinggang, Giok Hui Yan mendekati tosu itu. Ia tidak menggubris pertanyaan itu.

"Ku tahu maksud kedatangan kalian. Kau tahu apa sebabnya tak akan kubiarkan kalian mengacau disini"

"Apa sebabnya?"

"Sebab itu sudah menjadi tugasku. Apa kalian ingin berebut tugas denganku?"

Tanya Giok Hui Yan sambil mengikik. Giliran Tosu itu tidak menggubris Giok Hui Yan. Ia menatap Tan Leng Ko dengan tajam.

"Kedatanganku ingin bertemu dengan Khu Pek Sim dan cucunya"

Tan Leng Ko yang terdiam sedari tadi, tidak menjawab.

Sekarang ia tahu perkiraannya tidak tepat.

Asal usul Giok Hui Yan ternyata tidak berhubungan dengan Bwe Hoa Pang.

Tapi ia tetap membiarkan Giok Hui Yan yang maju.

Ia ingin tahu tindak tanduk Giok Hui Yan apakah akan membantu Lok Yang Piaukok atau tidak.

Giok Hui Yan yang tidak dianggap oleh tosu itu, marah betul.

Ia menggerakkan tangannya secara lurus.

Terdengar suara mencicit seperti hawa pedang menerjang ke tosu itu.

Cepat tosu itu mengelak, kekagetannya bertambah.

Ia telah mendengar seorang bocah aneh yang entah dengan cara apa telah menguntungi tangan Ceng Siau Lam murid ketua mereka.

Sekarang muncul bocah aneh yang lain.

Seorang bocah perempuan.

Tosu itu tidak sempat berpikir lagi, serangan berikut dari Giok Hui Yan memaksanya mencabut pedang.

Sebilah pedang yang melekat noda merah kehitaman.

Noda darah yang telah mengering.

Pedang itu membuat gerakkan melingkar memunahkan serangan Giok hui Yan.

Gerakkan susulan pedang itu yang sedang menusuk perut Giok Hui Yan, entah kenapa mendadak ditarik.

Diganti dengan tangan kiri yang menghajar pundak kiri gadis itu dengan telak.

Tubuh Giok Hui Yan mencelat dibarengi darah kental yang keluar dari mulutnya.

Dengan terkejut, Tan Leng Ko lekas meloncat menanggapi tubuh Giok Hui Yan.

Tosu itu tidak melanjutkan serangannya, ia malah termenung.

Gerakkan tangan gadis itu seperti dikenalnya.

Justru karena itu, ia tidak melanjutkan tusukannya.

Hanya satu perguruan yang mempunyai ciri gerakkan tangan yang lurus tidak membengkok....tiba tiba mukanya berubah hebat.

"Kau ....?"

Giok Hui Yan mendengus, memotong ucapannya.

"jika kau mundur dari sini, urusan ini tidak akan kuperpanjang"

Tosu itu menarik napas.

Bocah perempuan ini telah memiliki hawa pedang tanpa menggunakan pedang, tentu berhubungan erat dengan ketua perguruan itu.

Dan ia telah melukainya!

Pertikaian dengan perguruan itu bukan urusan main main dan akan berakibat hebat.

Ia tidak berani mengambil keputusan, ia harus melapor kepada ketuanya.

Tanpa berbicara, cepat ia mengajak rombongannya pergi dari Lok Yang Piaukok.

************************************** Suasana malam sepi sekali.

Angin dingin dari utara meniup kencang, membuat penghuni Lok Yang Piaukok malas keluar dari kamar.

Kecuali penjaga malam, boleh dibilang hampir semua orang meringkuk di dalam kemul selimutnya.

Begitu pula Giok Hui Yan, luka gempur di bahu, memaksanya berbaring di tempat tidur kamar tamu.

Hong naynay yang ingin menemaninya ditolak secara halus.

Ia biasa tidur sendirian dan ia tidak ingin menyusahkan Hong naynay.

Tan Leng Ko baru saja selesai melakukan pekerjaan rutinnya, melakukan perondaan.

Ia tidak ingin terlena dari tugasnya.

Walau kecil sekali kemungkinan orang Bwe Hoa Pang akan muncul lagi, ditilik dari sikap tosu itu yang sudah menang tetapi malah mengundurkan diri.

Asal usul Giok Hui Yan, rupanya cukup menggertak mereka pergi.

Tiba tiba timbul keinginannya untuk meminum arak.

Ia menghilang sebentar, tahu tahu sudah kembali dengan tangan memegang sebuah guci arak.

Sekali lompat, dia sudah berada di wuwungan rumah.

Tan Leng Ko meminum araknya dengan perlahan.

Hawa hangat menyebar tubuhnya, membantu melawan dinginnya malam.

Waktu bergerak lambat sekali.

Tapi Tan Leng Ko tidak keberatan menunggu.

Kalau perhitungannya tidak salah, asal dia sabar menunggu mungkin dia akan mendapat jawabannya.

Sesungguhnya, apa yang sedang ia tunggu?

Dari letak wuwungan rumah yang tinggi, seperti kemarin, Tan Leng Ko melihat Khu Han Beng yang baru saja pulang.

Dari sore bocah ini pergi, baru sekarang pulang.

Apa saja yang dilakukan anak ini?

Dahi Tan Leng Ko berkerut ketika melihat kembali belakang tubuh Khu Han Beng banyak menempel daun segar.

Baru teringat oleh Tan Leng Ko ketika kemarin ia membersihkan daun dari punggung bocah ini.

Letak daun daun tersebut tepat diatas urat nadi penting.

Apakah hal ini sesuatu yang kebetulan atau disengaja?

Tapi dia tidak menegur Khu Han Beng, dibiarkannya bocah ini memasuki kamarnya.

Dia cukup menyadari, urusan ganjil yang menyangkut Khu Han Beng tidak dapat ditunda lagi.

Ia harus menanyakan urusan ini sejelas jelasnya.

Setelah memikirkannya secara seksama, Tan Leng Ko berkesimpulan, cara terbaik agar Khu Han Beng bersikap terbuka padanya, ia juga harus bersikap jujur dengan Khu Han Beng.

Ia ingin Khu Han Beng mengetahui dengan pasti, bahwa ia berniat tidak buruk padanya.

Hanya saatnya bertanya bukan sekarang.

Ia tidak mempunyai pilihan.

Urusan yang tidak bisa ditunda ini, sekali lagi harus ia tunda!

Malam semakin larut.

Awan hitam yang menggulung dengan cepat berubah menjadi hujan deras yang seakan akan tumpah dari langit.

Suara guntur merobek keheningan malam, diselingi kilatan petir yang menyambar, menerangi seluruh Lok Yang Piukok walau hanya sesaat yang singkat.

Dibawah kilatan petir yang sekejab itu, sesosok bayangan menyelinap masuk kedalam ruang kerja Khu Pek Sim.

Tubuhnya bergerak dari satu lemari ke lemari lainnya.

Entah apa yang dilakukannya, tangannya sibuk kesana sini seperti mencari sesuatu yang hilang.

Tak lama kemudian, ia meraih sebuah buku, membacanya sebentar.

Kemudian menaruhnya kembali..

Orang yang sedang sibuk mencari itu menabrak lemari, ketika dikagetkan oleh seruan Tan Leng Ko.

"Apapun barangmu yang hilang, kujamin tidak akan hilang disini"

Giok Hui Yan menyeringai kepada Tan Leng Ko sambil meringis memegang pundak kirinya. Tan Leng Ko melirik pundak gadis itu sebentar, kemudian katanya.

"Ketika kau dilukai oleh tosu itu, aku terkejut. Yang membuatku heran, dengan ginkangmu yang tinggi, seharusnya kau dapat menghindari serangan itu". Dengan muka serius Giok Hui Yan berkata.

"Maka kau curiga, luka dibahuku hanya pura pura"

Tan Leng Ko yang belum pernah melihat gadis ini bersikap serius, semakin berhati hati.

"Cedera dibahumu jelas bukan pura pura. Kau memang terluka cukup berat. Hanya lukamu memang kau sengaja"

"Terluka bukan suatu hal yang menyenangkan, mengapa aku berbuat begitu?"

"Karena kau ingin gerak gerikmu bebas dari kecurigaan kami. Kau terluka dalam usaha membela kami. Tentu saja kami akan berterima kasih dan menganggapmu seorang kawan. Seorang kawan yang tidak patut dicurigai". Giok Hui Yan menghela napas.

"Semenjak kita bertemu di Se Chuan Koan, rupanya kau selalu curiga padaku"

"Pada saat itu, aku hanya menganggap dirimu seorang bocah nakal yang gemar cari gara gara. Aku baru mencurigaimu ketika kau muncul di pintu gerbang Lok Yang Piaukok"

"Kenapa?"

Tanya Giok Hui Yan heran "Sebab kau tidak tahu namaku, dan dimana tempat aku tinggal"

"Dengan kemunculanku, dengan sendirinya aku sudah mengetahui siapa kau dan dimana kau tinggal"

"Jika kau bercapai lelah mencari tahu urusan itu, dengan sendirinya maksud tujuanmu tentu tidak sederhana".

"Maka terluka atau tidak, kau tetap curiga padaku"

"ya!"

Jawab Tan Leng Ko dengan tegas. Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, kemudian duduk di kursi meja kerja Khu Pek Sim.

"Apa sebabnya kau datang kemari?"

Tanya Tan Leng Ko tetap menjaga kewaspadaannya. Giok Hui Yan menatapnya dengan tajam.

"Tahukah kau sebabnya kota Lok Yang dibanjiri kaum persilatan?"

Tan Leng Ko menarik napasnya.

"Bukankah disebabkan urusan mustika kemala pelangi"

"Benar! Tahukah kau, mustika itu kabarnya berada ditangan siapa?"

Mulut Tan Leng Ko bergerak, hampir ia menyebut nama, tapi ditahannya.

"Sebenarnya bagaimana bentuk dari mustika itu?"

Kata Tan Leng Ko balik bertanya.

"Mustika itu berbentuk sebuah kotak kubus yang dibuat dari batu kemala dimana disetiap sisi terdapat enam macam warna". Dengan perlahan Giok Hui Yan melanjutkan.

"Mustika itu kabarnya berada ditangan Khu Pek Sim"

"Darimana kau tahu urusan ini?"

Tanya Tan Leng Ko tak tahan "Anggap saja aku mengetahui urusan ini secara kebetulan"

"Masakan hanya sebuah kabar burung kau percaya begitu saja"

Jengek Tan Leng Ko Dengan perlahan Giok Hui Yan menjawab.

"Baru saja kuperiksa buku jurnal kerja kalian. Selama ini, setiap pengawalan barang tertulis dengan rapi, hanya perjalanan Khu Pek Sim kali ini tidak tercatat sama sekali"

"Mungkin karena terburu buru, Khu Congpiautau lupa mencatat"

"Memang mungkin. Tapi mungkin juga kali ini ia menghantar sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang dia tidak ingin orang lain tahu kemana dia pergi". Diam diam Tan Leng Ko terkejut. Giok Hui Yan tidak mungkin tahu, tapi ia jelas betul bahwa Khu Pek Sim sendiri yang menentukan setiap perjalanan harus dicatat, sangat ganjil jika ia melanggar ketentuannya sendiri.

"Jadi kau kemari karena kuatir mustika itu bakal keduluan dicuri oleh orang lain"

Jengek Tan Leng Ko. Giok Hui Yan seperti tidak mendengar sindiran ini.

"Yang kukuatir, sebentar lagi berita ini bakal menyebar. Aku tidak yakin, kalian mampu menahan puluhan atau ratusan orang kang ouw yang meluruk kesini"

"Kau ingin aku percaya bahwa tujuanmu kemari disebabkan kau benar benar menaruh perhatian terhadap keselamatan kami"

Dengus Tan Leng Ko Giok Hui Yan menghela napas.

"Tujuanku kemari sebetulnya ingin menawarkan suatu kerja sama dengan kalian"

"Kerja sama?"

"Kubantu kalian menghadapi orang orang kang ouw itu, dengan imbalan kalian juga harus membantu kami"

"Kau ingin kami membantumu mencuri mustika kemala pelangi dari tangan Khu Congpiautau"

Kata Tan Leng Ko sinis. Giok Hui Yan tiba tiba tertawa.

"Walau mustika itu bernilai luar biasa, tapi masih belum cukup memikat minatku"

"Jadi kau kemari bukan disebabkan urusan mustika kemala pelangi?"

Kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini. Giok Hui Yan menggeleng perlahan. Dengan penuh selidik, Tan Leng Ko memandang Giok Hui Yan.

"Sebetulnya apa alasanmu datang kemari?"

"Alasanku kemari, karena aku mencurigai kalian!"

Kata Giok Hui Yan perlahan. Tan Leng Ko tidak dapat menahan ketawanya.

"Kau yang telah menyusup ke Lok Yang Piaukok, malah curiga terhadap kami"

Dengan pandangan lekat, Goik Hui Yan menatap Tan Leng Ko.

"Aku mencurigai kalian mempunyai hubungan dengan toko buku di Lok Yang itu"

Muka Tan Leng Ko berubah, ia benar benar tidak menyangka urusan ini menyangkut toko buku Gu-suko. Melihat perubahan air muka Tan Leng Ko, Giok Hui Yan mendesah.

"Ditilik dari reaksimu, rupanya kau memang mempunyai setitik hubungan"

Dengan tertawa Tan Leng Ko menjawab.

"Aku merasa geli mendengar ucapanmu. Aku pergi ketoko buku, kau malah curiga, sehingga memerlukan menyusup kesini. Bagaimana jadinya jika aku pergi kepasar?". Seperti tidak mendengar ejekan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan menjawab "Sebab kau bukan jenis yang suka membaca. Kuheran mengapa tiba tiba kau datang kesana".

"Yang kuheran, aku harus percaya maksudmu kemari bukan karena mustika kemala pelangi itu melainkan karena aku pergi ke sebuah toko buku". Giok Hui Yan termenung. Ia seperti menimbangkan perlu tidak menceritakan suatu urusan kepada Tan Leng Ko. Setelah diam sejenak, akhirnya ia memutuskan.

"Sekitar enam bulan yang lalu, perguruan kami kedatangan tamu yang tidak diundang, yang telah mencuri sebuah kitab pusaka".

"Sesungguhnya, siapakah kau sebenarnya? tanya Tan Leng Ko dengan perlahan.

"Aku putri bungsu ketua sekarang, dari perguruan Mi Tiong Bun!"

Wajah Tan Leng Ko berubah pucat.

Mi Tiong Bun merupakan perguruan yang paling misterius yang ada di rimba persilatan.

Perguruan ini dianggap paling misterius karena yang diketahui mengenai mereka, hanya kehebatan mereka dibidang ilmu pedang, dan ketegasan mereka terhadap lawan.

Ngo Tok Kauw, sebuah perkumpulan sesat ahli racun, pernah meracun mati anak murid Mi Tiong Bun.

Tidak lama kemudian, Rimba persilatan digegerkan dengan tewasnya tiga ratus tujuh puluh tiga anggota Ngo Tok Kauw dipusat perkumpulan mereka.

Tidak ada satupun yang hidup, tidak juga binatang peliharaan mereka seperti.

ular, kelabang, ayam, anjing dan sebagainya.

Semua yang hidup kedapatan mati tertusuk atau tertabas pedang.

Sekarang Tan Leng Ko mengerti, kenapa orang Bwe Hoa Pang yang telah menang bertempur, malah mengundurkan diri.Tentu tosu ahli pedang itu telah mengenal asal usul Giok Hui Yan!

"Apakah kau mencurigai kami telah mencuri kitab pusaka Mi Tiong Bun?"

Selidik Tang Leng Ko Giok Hui Yan tersenyum.

"Tentu saja tidak. Walau kau ingin, belum tentu kau mampu"

Agak tersinggung Tan Leng Ko mendengar ucapan ini.

"Menurutmu, kepandaianku masih terlalu rendah untuk mencuri kitab pusaka kalian"

Giok Hui Yan seperti memaklumi perasaan Tan Leng Ko. Cepat ia berkata.

"Beberapa bulan yang lalu, tujuh perguruan besar di Tionggoan mengalami nasib yang sama. Ruang kitab Siaulimpay yang dijaga oleh Mo Tian Siansu, Ruang kitab Bu Tong Pay yang dijaga Go Sam Beng, Ruang kitab Kaypang yang dijaga oleh Kay Ong, juga Ruang kitab Kun Lun Pay dan yang lain, telah kebobolan pencuri yang telah menggondol beberapa kitab pusaka mereka. Apakah kau mempunyai kemampuan melakukan hal ini?"

Berubah muka Tan Leng Ko tanpa ia sadari.

Bukan pertanyaan Giok Hui Yan yang membuatnya terkejut, melainkan bayangan salinan kitab Kun Lun Pay, Hui Liong Cap Sa Cik dibenaknya.

Salinan kitab yang dilihatnya dikamar Khu Han Beng.

"Kenapa tidak pernah kudengar berita ini?"

Tanya Tan Leng Ko sambil menenangkan hatinya.

"Sebab untuk menutupi rasa malu, urusan ini harus dirahasiakan. Tapi kami selain berhasil mengetahui hal ini, juga mengetahui bahwa pencurian ini dilakukan oleh satu orang yang sama". Mau tidak mau Tan Leng Ko berpikir, mungkin sekali Mi Tiong Bun mempunyai mata mata di tujuh partai besar. Tapi ini bukan urusannya.

"Apa buktinya?"

Tanyanya kemudian.

"Sehelai daun kering yang ditinggalkan, seperti juga yang ditinggalkan di ruang kitab Mi Tiong Bun". Dahi Tan Leng Ko berkerut, kembali terbayang dedaunan yang menempel diurat nadi penting di tubuh Khu Han Beng. Giok Hui Yan meraih alat tulis didepannya. Tangannya dengan lincah menulis suatu simbol.

"Setiap helai daun mempunyai guratan simbol semacam ini"

Katanya sambil menunjukkan.

Tan Leng Ko menghenyakkan tubuhnya, duduk dikursi yang berhadapan dengan Giok Hui Yan.

Ia harus duduk.

Ia tidak ingin Giok Hui Yan melihat kakinya yang sekarang terhalang meja kerja, gemetaran dengan kencang.

Ia tidak mengenal arti simbol itu.

Tapi ia pernah melihat tulisan keriting semacam itu.

Lagi lagi dikamar Khu Han Beng.

Faktor kebetulan yang berhubungan dengan urusan Khu Han Beng terlampau banyak.

Sukar bagi Tan Leng Ko untuk menganggap bocah itu tidak terlibat, walau tidak secara langsung.

"Semua yang kau ceritakan ini, apa hubungannya dengan toko buku di Lok Yang?"

"Konon katanya, jika kau hendak menyembunyikan segenggam beras, tempat yang terbaik adalah dilumbung padi. Jika kau telah mencuri kitab yang banyak, bukankah sebuah toko buku merupakan tempat yang baik untuk menyembunyikannya"

"Ucapanmu walau tidak salah, tapi juga tidak benar. Jika aku mencuri kitab kitab sakti, tentu aku akan menyembunyikan diri disebuah gunung yang sepi atau didalam jurang untuk melatihnya"

Bantah Tan Leng Ko. Giok Hui Yan mengangguk.

"Ucapanmu benar. Tapi satu hal yang kau lupa. Orang itu mencuri dengan menggunakan kepandaian sejati, tanpa seorangpun pernah memergokinya. Seseorang yang mempunyai kemampuan seperti itu, apakah masih memerlukan untuk belajar ilmu orang yang dipecundanginya?"

Tan Leng Ko terdiam. Ia harus mengakui alasan itu memang masuk akal.

"Menurutmu, apa alasan dia mencuri?"

"Tidak ada yang tahu. Untuk menerkanyapun tidak dapat"

Kata Giok Hui Yan sambil tertawa getir. Kepala Tan Leng Ko terasa berat, urusan mustika kemala pelangi saja sudah memusingkan, ditambah lagi dengan urusan ini yang bukan main main.

"Mi Tiong Bun dan tujuh perguruan besar keluar sarang mencari kitab pusakanya, berita ini akan menggegerkan rimba persilatan"

Gumamnya lirih. Giok Hui Yan tersenyum pahit.

"Kau salah! Kitab tujuh perguruan besar yang dicuri telah dikembalikan. Bahkan dikembalikan dengan kitab mereka yang pernah hilang seratus tahun yang lalu.

"Maksudmu, kitab mereka awalnya berkurang tapi pada akhirnya malah bertambah?"

Tanya Tan Leng Ko dengan bingung.

"Ya. Bahkan kitab yang dikembalikan merupakan pusaka mereka yang berharga sekali. Siaulimpay mendapat kembali Tat Mo Ih Kin Keng, Bu Tong Pay menerima Sam Hong Ciang Cin Keng, Kay Pang menemukan Jurus Pukulan Naganya yang telah hilang, begitu pula yang lain. Mereka telah menerima tambahan kitab perguruan yang pernah hilang seratus tahun yang lalu. Saking girangnya, mereka memutuskan untuk tidak mengusut perkara ini lebih lanjut". Tan Leng Ko menatap Giok Hui Yan dengan tajam.

"Kecuali kitab Mi Tiong Bun yang belum dikembalikan"

"Betul! Makanya kami terus berusaha untuk menemukannya kembali"

Sambil menggeleng kepala Tan Leng Ko bergumam.

"Apa maksud pencuri itu mengembalikan kitab, dan kenapa kitab kalian belum dikembalikannya?"

Giok Hui Yan menghela napasnya.

"Seperti yang kukatakan tadi. Untuk menerkanyapun tidak dapat"

Tan Leng Ko menatap wajah Giok Hui Yan yang pucat.

Bibir dan tubuhnya menggigil.

Menggigil bukan karena dingin melainkan karena demam yang ditimbulkan oleh lukanya.

Tan Leng Ko tidak tega.

Dengan lembut dia berkata.

"Keterangan yang kau berikan sudah terlampau banyak. Sulit bagiku untuk mencerna semuanya. Kau memerlukan istirahat, sebaiknya kau kembali kekamarmu, percakapan kita, bisa dilanjutkan besok". Giok Hui Yan seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Dengan perlahan, dia berjalan menuju kamarnya. Tan Leng Ko yang baru saja minum arak, tiba tiba ingin sekali meminum arak lagi. Ruang makan ditempat penginapan Khu Pek Sim, kendati tidak terlalu besar, namun mempunyai satu kelebihan, dibanding tempat makan lain. Ruang makan ini selalu buka. Ada pengunjung atau tidak, tempat ini tidak pernah tutup. Lucunya, pada saat jam makan, tempat ini justru jarang sekali dikunjungi orang. Tempat ini memang bukan terkenal atas makanannya yang lezat. Tempat ini dikenal karena araknya, segala jenis arak mudah didapat ditempat ini. Dengan sendirinya, tempat ini cukup ramai, terutama setelah lewat larut malam. Entah mungkin karena hujan, malam ini ruang makan ini hanya di si oleh enam orang. Seorang pelayan berusia muda yang sedang duduk mengantuk. Seorang kakek tua berjenggot, dan bersenjata tombak. Dan empat orang yang duduk bersama mengelilingi sebuah meja. Khu Pek Sim meletakkan tombaknya dikursi samping. Matanya melirik keempat orang itu sekejab. Dalam sekali pandang saja, cukup baginya untuk menarik kesimpulan, empat laki laki itu kalau bukan pencoleng, tentu perampok. Jenis orang yang berkunjung kesini, kebanyakkan memang lelaki. jenis lelaki yang gemar mencari gara gara. Jarang sekali orang baik baik keluyuran dimalam hari. Kendati gemar mencari gara gara, hampir tidak pernah, mereka mencari perkara ditempat ini. Mereka segan berurusan dengan Chin Toa Li, pemilik tempat ini. Khu Pek Sim kenal Chin Toa Li, seorang saudagar kaya yang berpengaruh. Dia mempunyai banyak jenis usaha, yang menyebar dibanyak kota. Otomatis, usahanya memerlukan jasa pengangkutan barang. Saudagar Chin Toa Li adalah salah satu langganan utama Lok Yang Piaukok. Walau Chin Toa Li pemilik tempat penginapan ini, dia tidak tinggal disini. Dia tinggal di gedung besar disebelah kediaman kepala daerah Po Ting. Sore ini, rombongan Khu Pek Sim baru saja menghantar dua laksa tahil emas ke gedung kediaman Chin Toa Li. Gedung mewah yang memiliki duapuluh tiga kamar. Kamar yang banyak kosong, namun Khu Pek Sim tidak ditawarkan untuk menginap disana. Khu Pek Sim jarang ke kota Po Ting, hubungannya dengan Chin Toa Li sebatas profesi, tidak lebih. Setelah selesai dengan urusannya, Khu Pek Sim meminta Cu Goan untuk memimpin para piasu segera kembali ke Lok Yang saat itu juga. Perintah yang dianggap janggal oleh Cu Goan. Biasanya setelah menghantar barang, mereka akan beristirahat paling tidak satu hari sebelum kembali pulang. Apa perintah ini berhubungan dengan orang baju putih itu? "Aku tidak ingin meninggalkan Khu Congpiatau sendirian"

Kata Cu Goan kuatir. Terharu hati Khu Pek Sim atas kesetiaan Cu Goan. Setelah diam sejenak dengan tegas dia berkata.

"Kuingin kau melaksanakan perintahku tanpa membantah. Walau kau belum lama bekerja di Lok Yang piaukok, kuyakin atas kemampuanmu memimpin mereka pulang". Cu Goan menatap Khu Pek Sim sesaat, ia tidak berani membantah atau bertanya. Ia segera mengajak para piasu berangkat meninggalkan Khu Pek Sim sendirian di kota Po Ting. Suara tawa yang kasar, menyentakkan Khu Pek Sim dari lamunannya. Entah sejak kapan, meja empat orang itu telah ketambahan dua orang yang duduk bergabung. Entah apa yang mereka bicarakan, sebentar saja terdengar suara umpatan, diselingi suara gelak tawa terdengar disana sini. Seorang diantara mereka yang brewokan, tertawa paling keras. Khu Pek Sim tidak menghiraukan mereka, ia hanya menuang arak ke pocinya dan meminumnya perlahan. Pikirannya kembali menerawang. Orang berbaju putih itu berkata akan merampas barang antarannya. Berarti barang itu harus didapati olehnya dengan segala cara. Tanpa kuatir, orang itu meninggal surat uang kepadanya. Tentu dikarenakan dia mempunyai persiapan yang cukup, sehingga dirinya tidak dapat lolos dari jaringnya. Ditinjau dari kedahsyatan tendangan orang itu, Khu Pek Sim maklum, dirinya bukan tandingan orang berbaju putih itu. Jika terjadi pertarungan, paling paling hanya akan banyak memakan korban yang sia sia. Itulah sebabnya, dia menyuruh anak buahnya pulang, agar perhatian orang itu hanya terpusat padanya seorang. Seorang berbaju putih melangkah masuk dan memilih duduk didepan Khu Pek Sim. Tanpa berbicara, Khu Pek Sim menuangkan arak ke poci dan menyodorkan kepadanya. Orang itu langsung meminum habis dalam satu kali tenggak.

"Kau tidak takut kuracun?"

Tanya Khu Pek Sim tak tahan.

"Kutahu kau seorang gagah dan bertanggung jawab. Lagipula anak murid siaulimpay tidak ada yang mengenal istilah racun segala"

Katanya sambil tersenyum. Setelah termenung sebentar, Khu Pek Sim berkata.

"Tak kusangka, kau akan muncul disini"

"Kebetulan, aku memang tinggal di penginapan ini"

Kata orang berbaju putih sambil tersenyum. Khu Pek Sim menatap wajah tampan yang tidak muda itu.

"Siapa kau sebenarnya?"

"Aku she Buyung, bernama Hong"

Katanya perlahan.

Khu Pek Sim pernah mendengar nama ini, nama yang dikenal dibagian utara.

Wataknya terkenal rada aneh.

Ia biasa mengikuti maunya sendiri, tidak lurus juga tidak sesat.

Kepandaiannya sangat tinggi.

Konon katanya, ia masih mempunyai tali hubungan keluarga dengan keluarga Buyung dari Ko-Soh.

"Apakah kau ingin jawabanku sekarang?"

Tanya Khu Pek Sim "Tidak. Kau masih mempunyai waktu hingga besok siang. Namun kutahu, apa jawabanmu"

Kata Buyung Hong sambil menghela napas.

"Apa jawabanku?"

"Kau tidak akan menyerahkan barang itu"

"Enam laksa tahil emas adalah jumlah uang terbanyak yang pernah kulihat seumur hidup. Jika aku tidak berniat menyerahkan benda itu, kenapa kuterima surat uangmu?"

"Sebab kau ingin menyelesaikan tugasmu!"

Kata Buyung Hong perlahan.

"Dengan menerima surat uang itu tanpa rewel, bukan saja dengan aman, kau dapat menghantar barang kawalanmu ke tempat Chin Toa Li, kau juga menghindari pertarungan yang dapat memakan korban anak buahmu". Walau sudah menduga, gerak geriknya tidak lolos dari pengintaian orang ini. Mendengar penuturan ini, mau tidak mau, Khu Pek Sim terkejut juga.

"Jika kau sudah tahu, tugasku menghantar barang telah selesai. Kalau begitu, kau kemari tentu ingin meminta surat uangmu". Buyung Hong tersenyum.

"Tugas pertamamu sudah selesai. Sedangkan tugasmu menghantar barang itu belum kau lakukan. Barang itu masih berada padamu".

"Darimana kau tahu?"

Tanya Khu Pek Sim dengan berat.

"Sebab telah kuperiksa barang hantaranmu ke Chin Toa Li, dan juga anak buahmu yang telah meninggalkan kota ini". Timbul rasa kuatir di hati Khu Pek Sim. Buyung Hong seperti dapat meraba isi hatinya.

"Setelah mereka kuperiksa, mereka kubiarkan pergi"

Khu Pek Sim menarik napas lega, diam diam dia berterima kasih kepada orang ini. Setelah berpikir sejenak ia berkata.

"Tadinya kuheran dengan caramu yang tidak main kekerasan, malah tidak sayang menyerahkan surat uang bernilai enam laksa tahil emas, untuk ditukar dengan benda itu. Sekarang kupaham sebabnya"

"Apa yang kau pahami?"

Dengan pandangan selidik, Khu Pek Sim berkata.

"Kau tidak sayang kehilangan enam laksa tahil emas, karena yang hendak kau tukar dengan uang itu sebenarnya adalah diriku ". Buyung Hong tertawa, tanyanya kemudian.

"Enam laksa tahil emas, bukan suatu jumlah yang sedikit. Seratus perempuan cantikpun tidak bernilai setinggi itu. Untuk apa kutukar dengan dirimu?"

"Sebab kau tahu, puluhan tahun aku berusaha pengawalan barang, sedikit banyak tentu mencari uang. Ada kemungkinan enam laksa tahil emas dapat memancing keserakahanku. Jika kuterima, banyak yang bisa kau peroleh"

"Apa yang kuperoleh?"

Tanya Buyung Hong tak tahan.

"Selain barang itu dapat kau peroleh, dengan sendirinya, kau juga menutup mulutku yang tidak mungkin menceritakan soal dirimu ke orang lain, sehingga berita mustika kemala pelangi berada ditanganmu, akan aman"

"Kenapa berita itu tidak bakal tersiar?"

"karena hal ini menyangkut juga nama baikku. Jika kuceritakan mengenai dirimu, otomatis urusan kuterima uang darimu, juga akan kau siarkan. Makanya kau serahkan surat itu kepada Cu Goan, tidak langsung padaku. Kau menghendaki saksi mata sehingga aku tidak dapat menyangkal".

"Bukankah anak buahmu tetap dapat membocorkan hal ini?"

"Kau tahu, aku akan membagi mereka dan mereka sangat setia padaku. Aku dapat mengontrol mereka, sedangkan kau tidak"

"Jika mereka setia padamu, bukankah kau dapat menyangkal menerima uang dariku"

Bantah Buyung Hong "Kau dapat mengancam mereka. Karena urusannya memang demikian, mereka dapat menjadi saksimu"

Buyung Hong menghela napas, kemudian katanya.

"Konon katanya cara terbaik untuk menutup mulut orang adalah membunuhnya mati"

"Benar. Makanya aku sempat bingung dengan tindak tandukmu. Bukankah lebih mudah, membunuh mati kami semua yang bukan tandinganmu, dan kemudian merebut barang itu"

"Ya, memang dapat kulakukan hal itu"

"Tapi tidak kau lakukan, karena kau seorang yang cerdik"

Kata Khu Pek Sim dengan cepat.

"Aku seorang yang cerdik?"

"Kau ragu dengan keaslian barang itu. Mustika kemala pelangi yang menjadi idaman orang persilatan, sukar dipercaya bisa jatuh ketangan seorang piasu. Walau kau merasa urusan ini rada janggal, kau tetap ingin menyelidikinya. Jika belum apa apa, asal main bunuh dan ternyata barang itu palsu, bukankah kau terjebak oleh siasat orang"

Diam diam Buyung Hong terkejut. Ternyata kakek ini dapat menggunakan otak. Ia tahu percuma berdusta terhadap seorang rase tua.

"Ya. Memang ada keraguanku"

Katanya mengakui "Misalnya benda itu ternyata palsu, dengan menerima uangmu, mau tidak mau aku akan membantumu"

"Kenapa aku perlu bantuanmu?"

"Karena tugasku adalah mengantar barang. Mustika kemala pelangi tentu kuterima dari orang lain. Tanpa bantuanku, kau tidak bakal mengetahui siapa sebenarnya orang ini. Kau mengerti, aku bukan jenis yang bisa ditekan dengan kekerasan"

"Makanya aku berusaha memikat hatimu dengan membiarkan anak buahmu pergi tanpa cedera?"

"Benar. Aku memang berterima kasih padamu"

Kata Khu Pek Sim perlahan. Buyung Hong tidak mengingkari, ia hanya menuang arak dan meminumnya.

"Buat apa aku mengetahui asal usul orang ini?"

"Sebab kau curiga dengan maksudnya. Jika mustika kemala pelangi yang menjadi incaran orang telah diperolehnya, kenapa harus diserahkan kepada seorang piasu untuk diantar?"

"Ya. Aku memang curiga kepadanya"

Buyung Hong mengakui.

"Akupun juga mencurigainya"

Kata Khu Pek Sim perlahan. Kali ini Buyung Hong benar benar terkejut.

"Kau curiga kepadanya?"

Khu Pek Sim meminum araknya seteguk, setelah berpikir sejenak ia berkata.

"Semestinya kau tidak tahu mustika kemala pelangi berada padaku. Yang mengetahui, sebenarnya hanya tiga orang"

"Dapat kuterka dua, yaitu, orang itu dan dirimu. Siapa orang ketiga?"

"Cucuku, seorang bocah yang baru berusia empat belas tahun"

Dahi Buyung Hong berkerut.

"Apa mungkin cucumu yang membocorkan tanpa sengaja?"

"Dia jarang sekali bergaul dengan orang. Apalagi dia hanya pernah melihat sekali, kuyakin dia tidak akan tahu nama barang yang dilihatnya"

Buyung Hong tidak mencurigai Khu Pek Sim yang membocorkan rahasia ini.

Sebagai piasu kawakan, tentu dia tahu cara menjaga sebuah rahasia.

Buyung Hong menenggak araknya dengan cepat.

Setelah berpikir sejenak, ia berkata.

"Jika pemberi mustika itu adalah orang yang membocorkan rahasia ini, tentu ada alasannya"

Khu Pek Sim ikut merenung, setelah sekian lama, mendadak mukanya berubah.

"Ya. Hanya satu alasan"

Kata Khu Pek Sim dengan getir.

Suasana ruang makan itu tanpa terasa menjadi hening.

Diam diam timbul rasa seram dihati Buyung Hong.

Setelah dipikir bolak balik, memang hanya satu alasan yang masuk akal.

Jika rahasia itu dibocorkan dengan secara sengaja, berarti dibalik kesemuanya itu, terselip suatu rencana yang menakutkan!

Dengan umpan mustika kemala pelangi, orang itu ingin mengadu domba orang orang rimba persilatan, sekaligus menghancurkan Lok Yang Piaukok yang menjadi sasaran!

"Sebetulnya, siapakah orang itu?"

Tanya Buyung Hong tak tahan. Khu Pek Sim tertawa, kemudian diminumnya arak dengan perlahan tanpa menjawab.

"Sebetulnya, apa kehendakmu?"

Tanya Buyung Hong yang memahami sikap Khu Pek Sim.

"Entah barang itu asli atau tidak, kau harus membiarkan aku melaksanakan tugasku menghantar barang itu kepada tujuannya"

"Buatku, aku tidak melihat manfaatnya"

Kata Buyung Hong setelah merenung sejenak.

"Selesai dengan tugasku. Apapun yang kau perbuat, sudah bukan urusanku lagi"

Kata Khu Pek Sim sambil menatap Buyung Hong dengan tajam. Buyung Hong akhirnya paham maksud Khu Pek Sim.

"Kau ingin mengajakku bersama sama ketempat itu?"

"Benar!"

Jawab Khu Pek Sim dengan tegas. Buyung Hong tertawa perlahan, kemudian katanya.

"Baru kupaham kenapa kau suruh anak buahmu kembali. Tentu karena aku jauh lebih berguna dibanding mereka, untuk mengawal barang itu"

"Benar!"

Kata Khu Pek Sim mengakui.

"Setelah tiba ditujuan, begitu kau serahkan, aku merampas barang itu atau tidak, sudah tidak ada sangkut pautnya denganmu lagi"

Khu Pek Sim tidak membantah, juga tidak membenarkan, ia hanya meminum araknya tanpa menjawab.

"Kenapa aku harus susah payah, bukankah aku dapat merebut barang itu sekarang juga?"

Tanya Buyung Hong sambil menatap Khu Pek Sim dengan tajam. Sambil membalas tatapan Buyung Hong, Khu Pek Sim dengan tegas menjawab.

"jika kau main paksa merebut, kita bertarung! Setelah aku tewas, kau boleh geledah tubuhku"

Buyung menghela napas.

"Kau akan membela barang itu sampai mati, sehingga tanganku bernoda darah dan terjebak oleh siasat orang itu?"

"Benar!"

Buyung Hong merenung sejenak, lalu katanya.

"Sebagai imbalan jasaku mengawal barang, kau juga akan tutup mulut, mengenai benda itu akan berada ditanganku"

"Akupun akan menceritakan apa yang kuketahui mengenai orang itu, asal kau sanggupi tiga syaratku"

Buyung Hong berpikir dengan sejenak, kemudian berkata.

"Apa syarat syaratmu?"

"Kau harus menceritakan bagaimana kau bisa mengetahui barang ini berada padaku"

Buyung Hong tidak nampak keberatan.

"Syaratku kedua, kuingin kau angkat cucuku sebagai muridmu"

Buyung menjadi ragu, dia agak keberatan. Setelah termenung sejenak, ia berkata.

"Aku akan mengajar cucumu satu macam kepandaian, tidak perlu angkat guru murid"

Khu Pek Sim menghela napas, paling tidak ia telah berusaha untuk cucunya.

"Apa syaratmu yang terakhir?"

Tanya Buyung Hong.

"Kumaui, surat uang itu"

Kata Khu Pek Sim perlahan. Heran Buyung Hong dibuatnya, ia benar benar tidak menyangka! "Kau maui surat uang itu?"

Tanyanya menegaskan.

"Jika kulakukan semua itu untukmu, kenapa tidak sekalian kuambil surat uang itu"

Katanya sambil tersenyum kecut. Buyung Hong menatap Khu Pek Sim dengan tajam.

"Kutahu seorang gagah seperti dirimu, sulit dipercaya kemaruk harta benda. Sesungguhnya apa alasanmu menghendaki surat uang itu?"

Sambil tertawa getir Khu Pek Sim menjawab.

"Nasibku berada diujung tombak, setiap saat dapat kumati. Aku ingin kau berikan surat uang ini kepada cucuku"

Tangan Khu Pek Sim meraih surat uang itu dari bajunya, kemudian memberikannya kepada Buyung Hong.

Buyung Hong dapat merasakan betapa besar kasih sayang Khu Pek Sim terhadap cucunya.

Jika orang itu dengan sengaja telah membocorkan rahasia ini, tentu bukan hanya dirinya seorang yang tahu.

Untuk melakukan tugasnya, Khu Pek Sim harus menghadapi kerebutan orang Kang-ouw.

Ia merasa kesempatan hidupnya kecil sekali.

"Demi seorang cucu, apapun dapat diperbuat oleh kakeknya"

Kata Buyung Hong dengan terharu. Setelah menghela napas lalu ia berkata.

"Baik kukerjakan apa yang kau pinta. Kau boleh menyebutkan orang itu"

"Apakah kau tidak merasa tempat ini banyak orang?"

Buyung tertawa sambil menjawab.

"Sebetulnya tidak masalah. Mereka toh sudah mendengarkan percakapan kita sedari tadi. Tapi memang sebaiknya, kita pergi dari sini"

Berubah wajah keenam lelaki itu, tapi mereka merasa lega mendengar ucapan Buyung Hong yang bernada tidak keberatan. Lalu Buyung Hong memanggil pelayan yang sedang duduk mengantuk itu.

"Apakah kau menulis buku tamu atas namamu?"

Khu Pek Sim agak heran dengan pertanyaan ini.

"Tentu saja tidak"

"Sebagai anak murid siaulimpay, apakah kau akan membela orang jahat?"

Khu Pek Sim makin heran.

"Tentu saja tidak"

Sementara itu, pelayan yang dipanggil, telah berdiri disisi Buyung Hong. Buyung Hong menoleh padanya sambil memandangnya dengan dingin, pelayan itu tentu saja ketakutan.

"Sudah berapa lama kau tinggal dikota Po-Ting?"

"Su...sudah tiga tahun"

Jawab pelayan itu dengan gugup. Mata Buyung Hong mencorong tajam seperti mata harimau. Tak terasa, celananya mulai basah.

"Apakah kau sudah bekeluarga?"

"hamba...hamba sebatang kara, tinggal sendirian dirumah sewaan"

Jawabnya sambil menunduk. Buyung Hong mendengus dengan dingin, tangannya meraih kesakunya.

"Ini untukmu"

Katanya menyodorkan seribu tahil perak. Pelayan yang sedang menebak nebak apa kesalahannya, hingga dipelototi semacam itu, semakin bingung. Ia tidak berani menerimanya.

"Uang ini sebagai bekalmu untuk pindah kota.Sebaiknya kau lekas pergi. Makin jauh makin baik". Girang kejatuhan rejeki nomplok berbareng takut memenuhi hati pelayan itu. Sambil mengambil uang itu, ia memberanikan diri bertanya.

"Kena...kenapa aku harus pindah kota?"

"Jika kau tidak pindah, kau akan mati!"

Jengek Buyung Hong dengan suara berat. Tanpa banyak tanya lagi, pelayang itu langsung kabur dari situ. Khu Pek Sim yang tidak mengerti tindak tanduk Buyung Hong, tanpa terasa bertanya.

"Sebenarnya, apa tujuanmu?"

Sambil tersenyum Buyung Hong meraih segenggam sumpit di meja, lalu berkata.

"Masakkan kau tidak paham maksudku"

Tiba tiba tanpa menoleh, tangan Buyung Hong mengayun kebelakang.

"Sreeet...sreet!"

Bayangan coklat karena kecepatannya terlihat kabur, melayang kearah enam orang yang duduk dibelakangnya.

Suara jeritan ngeri berturut turut terdengar lirih.

Darah dan cairan putih yang kental meleleh turun dari bagian kepala lima orang yang tertancap sumpit, mereka tewas seketika!

Berubah muka Khu Pek Sim melihat kejadian itu.

"Kujamin, mereka bukan orang baik baik!"

Kata Buyung Hong.

Sesudah berbicara, tubuhnya beserta kursi yang didudukinya tahu tahu melayang keatas, membuat salto diudara kemudian mendarat didepan pintu keluar, menghalangi orang keenam yang hendak melarikan diri.

Buyung Hong menatap darah yang menetes dilantai.

Darah yang mengalir dari telapak tangan kanan orang itu yang tertembus sumpit Rupanya dia mencoba menangkap, hanya sumpit yang terbang itu terlampau cepat baginya.

Orang yang brewokan itu berkata sambil menahan sakit.

"Kukenal siapa dirimu"

"Jika kau kenal diriku. Tentunya kau tahu, melarikan diri tidak terlalu berguna"

Kata Buyung sambil menghela napas.

"Sebetulnya kau tidak perlu membunuhi kami"

Kata orang itu ketakutan.

"Oh,ya?! Apa sebabnya?"

Tanya Buyung Hong tak acuh.

"Bukankah tanganmu menjadi belepotan darah, sehingga kau terjebak siasat orang itu"

Jelas sekali, mereka telah menguping percakapan Buyung Hong dengan Khu Pek Sim. Sambil tertawa, Buyung Hong berkata.

"Jika Khu Pek Sim tewas ditanganku, tentu pihak Siaulimpay tidak akan diam. Aku tidak ingin bentrok mereka, apalagi lantaran dijebak orang. Lain halnya dengan membunuh kalian, aku malah dianggap telah melakukan kewajiban seorang pendekar"

Orang itu terdiam, dia enggan ribut mulut.

Dia mengenal betul watak Buyung Hong yang biasanya tidak pernah perduli dengan kepentingan orang lain, kecuali kepentingan dirinya.

Sekarang malah mengaku aku menjadi seorang pendekar segala.

"Kau tidak beralasan membunuhku, karena yang kalian bicarakan, sudah bukan menjadi suatu rahasia lagi"

Katanya dengan parau. Agak terkejut Buyung Hong dan Khu Pek Sim mendengarnya.

"Apa sebabnya?"

Tanya Buyung Hong tak terasa.

"Sebab kabar burung sudah beredar, bahwa mustika kemala pelangi berada di kota Lok Yang. Jika orang itu sengaja membocorkan rahasia ini, tentu tidak lama lagi dia akan menyiarkan bahwa mustika itu berada pada Khu Congpiautau"

Kata orang itu. Peluh keringat dingin membasahi wajahnya.

"Kenapa tidak langsung saja ia siarkan, mustika itu berada ditanganku? Kenapa beritanya harus bertahap begitu?"

Tanya Khu Pek Sim dengan heran, sambil menghampiri mereka.

"Kuduga, orang itu ingin mengumpulkan lebih dahulu, orang orang rimba persilatan dari segala penjuru di kota Lok Yang, setelah terkumpul banyak, baru ia siarkan berita itu agar serentak ratusan orang menyerbu ke Lok Yang Piaukok"

Kata orang brewokan itu setelah berpikir sejenak.

Lama ketiga orang ini diam tidak berkata.

Tidak ada satupun yang berbicara, masing masing sibuk dengan pemikirannya.

Memang jika langsung disiarkan bahwa mustika kemala pelangi berada di tangan Khu Pek Sim, mereka akan menyerbu satu persatu, tentu hasilnya tidak terlalu memuaskan.

Lain halnya jika berita itu disiarkan secara bertahap, serbuan ratusan atau ribuan orang, dijamin dapat menghancurkan Lok Yang Piaukok!

Tertera jelas rasa ngeri dan takut yang amat tebal diwajah mereka bertiga.

Mereka bukan takut kepada orangnya.

Yang mereka takutkan, adalah ketelitian dan kecermatan orang itu mengatur rencana yang matang!

Jika peristiwa ini terjadi, benar benar akan menjadi suatu peristiwa yang mengerikan!

Buyung Hong menghela napas, lalu katanya "Walau berita itu sudah bukan suatu rahasia lagi, tapi kau telah melupakan sesuatu"

Orang brewokan itu memandang Buyung Hong dengan pandangan bertanya.

"Kau lupa, saat ini tidak ada yang tahu, Khu Congpiautau berada dikota Po-Ting"

Tiba tiba paras muka orang brewokan itu menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali. Baru teringat olehnya, darimana Buyung Hong mengetahui jejak Khu Pek Sim? "Darimana kau...?!....praaakk"

Tanpa sempat menyelesaikan pertanyaannya, kepala orang brewokan itu hancur, terhajar pegangan lengan kursi yang dilempar Buyung Hong.

Khu Pek Sim meloncat menghindari muncratan darah yang menyebar kesana sini.

"Kenapa kau bunuh dia?"

Tanya Khu Pek Sim sambil mengerutkan kening. Buyung Hong berdiri dari kursinya, sebelum menjawab.

"Sebab Aku kenal dengan mereka. Kutahu merekalah yang membunuh hartawan Kang Siok Ih sekeluarga dan memperkosa anak dan istrinya". Khu Pek Sim terperanjat! Dia memang pernah mendengar peristiwa yang menghebohkan itu. Hartawan Kang Siok Ih yang terkenal, selain kedermawaannya menolong orang susah, ia juga memiliki tujuh orang putri yang cantik jelita. Tak nyana, suatu hari mereka kedapatan tewas secara mengerikan dengan anak istri dalam keadaan telanjang bulat "Apakah kau akan membela gerombolan jai hoa cat?"

Tanya Buyung Hong lagi dengan getir. Khu Pek Sim terdiam. Ia tidak ingin memperpanjang urusan ini. Urusan yang berkecamuk dibenaknya sudah banyak. Cukup lama Buyung Hong menatap Khu Pek Sim.

"Kutahu apa yang sedang kau pikirkan"

Katanya dengan perlahan.

Khu Pek Sim tidak menjawab, ia berjalan meraih tombaknya sambil berpikir.

Ia benar benar menguatirkan keselamatan Lok Yang Piaukok.

Ia sedang bimbang, haruskah ia kembali kesana?

Atau meneruskan tugasnya yang sudah setengah jalan?

"Kau tidak perlu terlalu kuatir atas keselamatan Lok Yang Piaukok"

Kata Buyung Hong melanjutkan.

"Kenapa aku tidak perlu kuatir?"

Tanya Khu Pek Sim tak tahan.

"Sebab aku telah berjumpa seseorang yang sedang menuju kesana. Kujamin, dia akan membantu melindungi keselamatan Lok Yang Piaukok"

"Siapa dia?"

"Mo Tian Siansu"

Kata Buyung sepatah demi sepatah.

"Kau kenal Mo Tian Suheng?"

Guru Khu Pek Sim adalah sutenya guru Mo Tian Siansu, otomatis dia memanggil suheng kepada Mo Tian Siansu walau berusia lebih tua beberapa tahun. Buyung Hong mengangguk.

"Bukan hanya kenal bahkan hubungan kami pernah akrab. Darinya kutahu, dia sedang menuju ke Lok Yang Piaukok untuk meminta ijin padamu"

"Ijin apa?"

Tanya Khu Pek Sim heran bercampur girang mendengar kabar ini.

"Goan Kim Taysu berkenan untuk mengangkat cucumu sebagai ahli warisnya"

Khu Pek Sim tak dapat menahan gelak ketawanya, gembiranya bukan main.

"Ha...ha...ha, pantas kau tak mau mengangkat cucuku sebagai muridmu"

Buyung Hong tersenyum sambil mengangguk. Sambil menghela napas lega, Khu Pek Sim berkata.

"Ini kabar paling bagus yang kudengar seharian"

Tiba tiba wajah Buyung berubah serius.

"Kupikir, sebaiknya kita lekas pergi dari sini!"

Khu Pek Sim berpikir sejenak, setelah sekian lama, akhirnya mengangguk setuju.

"Memang, sebaiknya kita pergi!"

Segera mereka meninggalkan ruang makan itu.

Ruang makan yang kendati tidak terlalu besar, namun selalu buka dan tidak pernah tutup.

Ruang makan yang malam ini, di si oleh enam orang.

Enam orang dengan kepala yang tidak utuh, tewas dengan cara yang mengerikan!.

Hujan sudah lama berhenti.

Sinar bulan purnama menyinari jalan yang dilalui Buyung Hong dan Khu Pek Sim.

Buyung Hong mengenali jalan ini.

Pohon yang ditendangnya kemarin sore masih menggeletak dipinggiran jalan.

"Nampaknya kau enggan memberitahu, kemana sebenarnya tujuan kita pergi?"

Tanya Buyung Hong dengan perlahan.

Khu Pek Sim mau tidak mau kagum atas kesempurnaan tenaga sakti Buyung Hong.

Kuda yang dikendarai Buyung Hong berada dibelakangnya, toh dia dapat mendengar jelas, ucapannya yang melawan angin kencang.

"Orang Lok Yang Piaukok saja tidak kuberitahu, bagaimanapun juga itu merupakan rahasia perusahaan"

Buyung Hong tertawa, memang dia tidak tahu banyak mengenai usaha piaukok.

Tapi ia dapat menduga, kesuksesan usaha macam itu tergantung dari kemampuan menutup mulut.

Jika tidak dapat menjaga rahasia, tentu para langganan bakal kabur.

Tiba tiba Khu Pek Sim menarik tali kendali kudanya.

Karena kaget, kuda itu meringkik keras dengan mengangkat kedua kakinya.

Dengan sigap, Buyung Hong membimbing kudanya menghindari tubrukan.

Baru ia hendak bertanya, mendadak hidungnya mencium bau anyir.

Bau anyir darah yang dibawa hembusan angin malam, datang dari depan sana.

Khu Pek Sim turun dari kudanya di kuti oleh Buyung Hong, dengan cepat mereka berjalan maju dengan sikap waspada.

Dibawah terangnya bulan, terlihat sebuah kereta barang dengan bendera Lok Yang Piaukok berkibar dengan kencang.

Bau anyir tersebut bukan ditimbulkan oleh kereta itu, melainkan dari tubuh tubuh yang bergelimpangan disekitar kereta barang.

Wajah Khu Pek Sim menjadi pucat, bibirnya bergetar menahan kemarahan, dengan melotot dia memandang Buyung Hong yang nampak terkejut.

"Kau...kau telah membunuh mereka!"

Buyung Hong cepat mengelak serangan tombak Khu Pek Sim yang datang bertubi tubi.

Ditilik dari serangannya yang tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, Buyung Hong maklum, Khu Pek Sim bertekad untuk mengadu jiwa dengannya.

"Bukan aku yang membunuh mereka!"

Teriak Buyung Hong sambil melangkah ke kiri menghindari tusukan tombak yang mengarah kelehernya.

Badannya memutar kekanan setengah lingkaran dengan pergelangan tangan kiri menepis sisi batang tombak yang segera direbut dengan paksa.

"Kau bohong!"

Kata Khu Pek Sim dengan geram.

Tangannya membuat gerakkan cakar, memukul ulu hati Buyung Hong dengan jurus harimau kumbang mencuri hati, Hek Hou Tau Sim .

Buyung Hong tidak mengelak serangan itu.

Ia hanya mengerahkan tenaga saktinya melindungi bagian itu.

"Breeet...!"

Kulitnya lecetpun tidak, hanya bajunya tersobek. Khu Pek Sim menghentikan serangannya. Ia menatap robekkan baju ditangannya.

"Kenapa kau tidak menghindar?"

Tanyanya dengan parau. Buyung Hong menggeleng.

"Aku enggan berkelahi, dengan kakek dari murid Goan Kim Taysu yang kuhormati"

Kata Buyung Hong mengakui. Dengan muka sedih dan masih mengandung marah, ia bertanya.

"Dapatkah kau buktikan, bukan kau yang membunuh mereka?"

"Tidak dapat! Tapi, aku tentu menolak melewati jalan ini, jika aku yang telah membunuh mereka"

Katanya serius sambil menatap tajam Khu Pek Sim.

Yang dipandang mau tidak mau mengakui, memang selama perjalanan bersamanya, Buyung Hong tidak menunjukkan sikap sikap yang mencurigakan.

Paling tidak, ia tidak melihat sikap kaget Buyung Hong, suatu sikap pura pura.

"Sebaiknya kita periksa mereka, siapa tahu kita dapat menentukan siapa pembunuhnya"

Bujuk Buyung Hong dengan lembut.

Khu Pek Sim menghela napas, ia pun tahu mayat kadang dapat berbicara, asalkan kau tahu cara mendengarkannya.

Mereka mengumpulkan mayat mayat para piasu menjadi satu.

Setelah dihitung ternyata berjumlah sembilan belas orang.

"Satu orang nampaknya berhasil meloloskan diri"

Gumam Buyung Hong perlahan.

Khu Pek Sim tidak menjawab, hanya mengangguk sedikit.

Tubuhnya berjongkok, Matanya berkaca kaca, ia menangis tanpa suara.

Buyung Hong tidak ingin menganggu Khu Pek Sim yang sedang meratapi anak buahnya, ia menyibukkan diri dengan memerika mayat mayat tersebut dengan teliti.

Ia berjongkok disalah satu mayat yang terletak paling ujung, tangan Buyung Hong menyingkap baju mayat tersebut.

Sebuah luka tipis sekali menggaris miring dibagian dada sebelah kiri, disekitar jantung.

Anehnya, wajah mayat mayat itu seperti tersenyum penuh dengan kedamaian.

Kening Buyung Hong berkerut, ia menjadi termenung.

Matanya menerawang jauh kedepan, ia tak acuh dengan bayangan sesosok tubuh yang berdiri dibelakangnya.

"Aku tidak mengerti, kenapa luka setipis itu dapat mengeluarkan darah sebanyak ini?"

Gumam Khu Pek Sim yang telah berdiri dibelakang Buyung Hong.

Memang rumput rumput disekitar kereta barang, penuh dengan warna jingga yang mengkilat, warna darah dibawah sinar bulan.

Buyung Hong tidak menjawab, dengan perlahan ia membalikkan mayat itu.

Muka Khu Pek Sim menjadi pucat!

Luka tipis dibagian depan ternyata menembus hingga membolongi bagian punggung sebesar mangkuk besar!

Khu Pek Sim muntah muntah, ketika mengetahui bongkahan bongkahan kecil disekitar sini yang dipikirnya batu kerikil, ternyata adalah serpihan daging daging anak buahnya yang bertebaran disana sini.

Buyung Hong menoleh, kemudian menghela napas.

"Dapat kau lihat luka ini disebabkan oleh apa?"

Khnu Pek Sim membersihkan mulutnya, rasa asam lambung dan getir masih terasa dilidahnya.

"Luka itu disebabkan oleh Sebilah pedang, yang sangat tipis dan tajam"

Jawabnya dengan suara parau.

"Bukan hanya oleh pedang, tapi juga oleh hawa pedang yang dapat mencapai dua jengkal"

Kata Buyung Hong perlahan. Khu Pek Sim termenung. Walau jumlah orang yang telah mencapai hawa pedang tidak banyak, tapi juga tidak sedikit.

"Dapat kau lihat dari perguruan mana?"

Tanya Khu Pek Sim Buyung Hong terpekur sejenak, akhirnya menjawab.

"Dapat kuterka sembilan bagian dari perguruan itu"

Sebetulnya Khu Pek Sim cukup mengerti, jika Buyung Hong mau menyebut nama perguruan itu, tentu telah disebutnya sedari tadi.

Tapi ia tidak mau mengerti, sambil melotot Khu Pek Sim berkata sepatah demi sepatah.

"Kau harus menyebutkan nama perguruan itu"

Buyung berpikir sekian lama, baru menjawab "Aku tidak dapat memfitnah sembarangan, karena ada satu bagian yang aku kurang mengerti"

"Bagian yang mana?"

Jari Buyung Hong menunjuk kepada mayat mayat itu.

"Luka mematikan semacam ini sedikit banyak menimbulkan rasa sakit yang sangat. Namun sama sekali tidak terlihat diwajah mereka, yang nampak tenang penuh kedamian bahkan menyungging senyuman"

Khu Pek Sim menatap wajah mayat mayat tersebut. Semua mayat terlihat tersenyum. Walau senyuman mereka tidak terlihat aneh, kenapa mereka semua tersenyum, hal ini yang rada ganjil.

"Apakah sebelumnya, mereka telah terkena racun?"

Gumam Khu Pek Sim.

"Benar! Yang kutahu, hanya racun dari Ngo Tok Kauw yang dapat membuat orang tersenyum seperti itu"

"Bukankah Ngo Tok Kauw telah musnah?"

Tanya Khu Pek Sim dengan heran.

"Benar!... Lagipula dengan ilmu pedangnya, pembunuh itu sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan para piausu ini."

Kata Buyung Hong sambil menghela napas.

"Kenapa harus meracuni mereka lebih dahulu?"

Tanya Khu Pek Sim dengan bingung.

"Makanya aku kurang mengerti"

Kata Buyung Hong setelah berpikir sejenak.

Macam macam perasaan berkecamuk di hati Khu Pek Sim.

Seingatnya, dia tidak ada permusuhan dengan pihak Ngo Tok Kauw.

Boleh dibilang dia tidak pernah mengikat permusuhan dengan siapapun, kecuali dengan jago pedang berwajah dingin Ma Koan Tek dan satu orang lain.

Seorang yang telah menyelamatkan jiwanya sekaligus menghancurkan pelita kehidupannya.

Seseorang yang dianggapnya telah mati.

Setelah memeriksa seksama, Buyung Hong dapat memastikan satu hal.

"Yang berhasil meloloskan diri, ternyata Liu Cu Goan. Kenapa dia tidak mencarimu di kota Po Ting?"

Tanyanya heran. Setengah melamun Khu Pek Sim menggumam.

"Sebab dia tidak tahu aku menetap dimana... Atau, mungkin dianggapnya aku telah pergi meninggalkan kota itu"

Seperti disadarkan oleh sesuatu ia balik bertanya.

"Darimana kau tahu dia lolos dari bencana? Apa tidak mungkin dia tertawan?"

"Ditinjau dari kondisi mayat mayat itu, nampaknya mereka tidak mengalami siksaan"

"Seseorang disiksa, jika mempunyai suatu informasi yang di ngini"

Tukas Khu Pek Sim perlahan.

"Benar! Kurasa pembunuh itu datang memang untuk membunuh, aku tidak melihat alasannya untuk menawan seseorang hidup hidup"

Lama mereka terdiam, terbenam dalam pikirannya masing masing.

"Nampaknya kau harus kembali ke Lok Yang"

Kata Buyung Hong memecah keheningan.

"Tidak! Jika aku kembali, malah dapat membahayakan Lok Yang Piaukok. Aku harus menyelesaikan tugasku, baru menyelidiki pembunuhan ini"

Tegas Khu Pek Sim sambil mengepalkan tangan. Sambil menarik napas, Buyung Hong bertanya.

"Apa rencanamu sekarang? Lama sekali Khu Pek Sim terdiam, lalu katanya perlahan.

"Aku akan membawa abu jenazah mereka!"

Khu Pek Sim mulai bekerja dibantu oleh Buyung Hong, tidak hanya membakar mayat mayat tersebut, tapi juga membakar kereta barang yang sudah tidak dibutuhkan.

Suara letupan disertai suara khas mendesis yang ditimbulkan oleh lemak yang terpanggang api mengisi kesunyian malam.

Api yang besar menerangi tempat itu sejauh puluhan kaki, nampak wajah Khu Pek Sim terlihat kaku menyeramkan.

Jilatan api yang tercermin di matanya, bercampur dengan jilatan kobaran dendam.

Dendam kesumat!

************************************ Warna kuning emas dari sinar matahari pagi, menerangi sebagian wajah Giok Hui Yan yang cantik.

Tan Leng Ko yang melirik kepadanya sekejab, ia menganggap wajah itu masih terlihat pucat, malah makin pucat dibanding semalam.

Menurut pendapat Tan Leng Ko, seharusnya gadis ini, berbaring istirahat dikamarnya.

Seharusnya gadis ini tidak keluar rumah, sampai lukanya sembuh.

Seharusnya gadis ini tidak bersikeras ikut dengannya ke toko buku Gu-suko.

Sayang...

gadis secantik ini, cacat semenjak dilahirkan.

Kepala gadis ini terlampau keras, mendekati sifat kepala batu.

Nampaknya, sedari kecil gadis ini tidak mengenal kata 'seharusnya'.

Berdua, mereka berkuda berdampingan menuju kota Lok Yang.

Sejauh mata memandang, jalanan nampak sepi, Tan Leng Ko menjalankan kudanya dengan perlahan.

Goncangan kuda beberapa kali membuat tubuh Giok Hui Yan terhuyung.

Sambil mengerutkan alis, Tan Leng Ko menegur dengan kesal.

"Kulihat lukamu semakin parah, kenapa kau memaksa diri untuk ikut?" .

"Yang semestinya kau tanya, tidak kau ucapkan. Yang tidak perlu diucapkan, malah kau tanya"

Jawab Giok Hui sambil menyengir. Tan Leng Ko menghela napas, lalu berkata memberi nasehat.

"Tidak baik seorang gadis belia mempunyai adat sekeras ini, kalau sudah besar susah dapat jodoh"

Sambil menahan sakit, Giok Hui Yan berkata.

"Kutahu watak kebanyakkan lelaki yang lebih mementingkan paras cantik dan badan yang aduhai. Mengenai sifat calon istri, entah diurutan keberapa, sedikitnya ditaruh di nomor paling buntut"

Sambil mengikik diselingi menyeringai sakit, Giok Hui Yan melanjutkan.

"Apalagi seorang gadis cantik biasanya, secara kodrat mempunyai adat keras. Apa kau ingin aku melawan hukum alam?"

Mau tidak mau Tan Leng Ko mengakui, memang tidak banyak perempuan yang boleh dianggap cantik, lebih sedikit lagi perempuan cantik yang tidak beradat keras.

Tiba tiba kening Giok Hui Yan berkerut, ia seperti menyadari satu hal.

"Aku menjadi kuatir"

Katanya perlahan.

"Apa yang kau kuatirkan?"

"Kukuatir ketika aku setua dirimu, gemar memberi nasehat gratis. Apakah ceriwis hal yang tidak berguna, termasuk kodrat alam menjelang usia lanjut?"

Tanya Giok Hui Yan sambil cekikikan.

Tan Leng Ko menyengir.

Ia mulai menyesal telah mengajak bicara gadis setan ini.

Digerakkan tali kendali kudanya, dengan cepat ia melaju meninggalkan Giok Hui Yan.

Sambil tertawa Giok Hui Yan berteriak.

"Sebetulnya kau tidak perlu marah. Semakin kau marah, bukankah aku semakin gembira"

Tidak mau meladeni gadis setan itu, Tan Leng Ko melarikan kudanya dengan kencang, kemudian menghilang ditikungan depan.

Tan Leng Ko sebenarnya tidak marah, ia terlalu tua untuk ribut dengan seorang gadis belia.

Ia hanya ingin sendirian agar dapat berpikir dengan tenang.

Ditahan lari kudanya, kembali kudanya berjalan perlahan, tidak terburu buru.

Kerja sama yang ditawarkan oleh Giok Hui Yan, juga tidak buru buru ia jawab.

Tan Leng Ko cukup mengerti, Mi Tiong Bun yang disegani oleh orang orang Kang Ouw, memang dapat diandalkan untuk membantu melindungi Lok Yang Piaukok.

Yang membuatnya bimbang, jika ia menyetujui, tentu sukar baginya untuk melindungi rahasia keterlibatan Khu Han Beng.

Tapi ia tidak berkeberatan untuk bersama sama mendatangi toko buku itu.

Ia berkeputusan, untuk sementara ini, bertindak sesuai dengan keadaan tanpa suatu ikatan.

Ia menarik napas dalam dalam, tak terasa ia menengok kebelakang.

Jalanan pinggir kota masih terlihat sepi, Giok Hui Yan tidak muncul juga dari tikungan.

Tan Leng Ko mulai kuatir, seharusnya gadis itu sudah menyusulnya.

Setelah ditunggu sekian lama, yang ditunggunya tidak juga datang, dengan gregetan dia memutar balik dan menggebrak kudanya.

Kecemasan muncul dihati Tan Leng Ko ketika melihat kuda itu berdiri di pinggir jalan dipeluk oleh Giok Hui Yan, yang badannya menelungkup diatas kuda...

tidak bergerak!

Bergegas Tan Leng Ko turun dari kudanya, ia tahu luka gadis ini semakin parah, Ia mulai mengomeli dirinya, tidak seharusnya ia membawa gadis sakit ini ke kota Lok Yang.

Ternyata dirinya juga tidak mengerti kata 'seharusnya'.

Rambut yang panjang tergerai, dan menutupi wajah, tiba tiba bergerak keatas.

Giok Hui Yan bangun dengan meleletkan lidah dan membuat muka setan.

"Telah kuperhitungkan kau akan kembali, kutahu kau kuatir dengan keadaanku, ternyata kau memang baik kepadaku"

Katanya cekikikan. Merah muka Tan Leng Ko menahan kemarahan, kembali dirinya terjebak oleh gurauan gadis setan ini.

"Kau sebaiknya pulang saja!"

Katanya dengan ketus. Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan memincingkan mata, kemudian katanya.

"Tahukah kau, semakin kau marah, wajahmu terlihat lebih gagah dan tampan"

Agak gelagapan Tan Leng Ko mendengar perkataan yang diluar dugaannya ini. Gadis belia ini kalau sudah bicara, memang tidak ada remnya.

"Sayang...!"

Lanjut Giok Hui Yan sambil menghela napas.

"Sayang apa?"

Tanpa terasa Tan Leng Ko terpancing.

"Sayang kau sudah tua sekali. Jika kau lebih muda tiga puluh tahun, tentu aku menyukai dirimu"

Kata Giok Hui Yan kembali cekikikan dengan muka jengah.

Tan Leng Ko ikut jengah sambil menggerutu dalam hati.

Dirinya hampir tiga puluh tahun disuruh lebih muda tiga puluh tahun, bukankah ia bakal dianggap seorang bayi?!

"Jika kau tidak lekas diam, kau akan kukawinkan dengan Khu Han Beng"

Ancam Tan Leng Ko kewalahan. Sambil mencibir, Giok Hui Yan berkata.

"Aku mah tidak suka cacing buku. Kalau kau suka, boleh juga kujadi mak comblangmu. Jika kau menurut, tentu kau kujodohkan dengan Hong naynay"

"Kau bisa diam tidak?!"

Bentak Tan Leng Ko kesal. Makin dibiarkan, ucapan gadis ini semakin tidak genah. Giok Hui Yan menyengir, tangannya mengambil sesuatu barang kecil yang dibungkus dan menyerahkannya kepada Tan Leng Ko.

"Ini untukmu"

Katanya serius. Melihat sikap serius gadis ini, Tan Leng Ko menerima dan membukanya "Apa ini?"

Tanyanya bingung ketika melihat gula gula yang ada ditangannya.

"Kutahu dalil semakin tua seseorang, semakin mudah merajuk. Bukankah gula gula, merupakan obat yang paling manjur untuk menghibur anak kecil"

Kata Giok Hui Yan yang tak dapat menahan lagi ketawanya.

Runyam Tan Leng Ko dibuatnya, matanya melotot sangkin gemasnya.

Ia tidak tahu mesti berbuat gimana.

jika kabur dari sini, ia bisa dianggap benar benar ngambek.

Ingin sekali, ia membalas menggoda lagi, tapi hatinya tidak tega melihat keringat dingin yang mengucur di wajah Giok Hui Yan.

Tanpa berbicara, ia meloncat ke kudanya, kemudian menarik tali kendali kuda Giok Hui Yan, dengan perlahan menuju balik ke Lok Yang Piaukok.

"Hei, kau salah arah. Sebenarnya kau hendak kemana?"

Tanya Giok Hui Yan cemas. Tan Leng Ko tidak mengacuhkan, ia malah menderap kudanya lebih kencang. Dengan gugup Giok Hui Yan berkata.

"Baik. Aku tidak akan bergurau lagi denganmu. Lekas kau putar balik. Kita harus menuju ke Lok Yang sekarang juga"

Tan Leng Ko menghentikan lari kudanya.

"Kenapa harus sekarang juga?"

Giok Hui Yan menyadari, jawabannya harus memuaskan Tan Leng Ko, kalau tidak ia akan memaksanya pulang.

"Sebab waktuku sudah tidak banyak lagi... sebab aku benar benar kabur dari rumah. Orang orangku di Lok Yang, tentu dengan diam diam telah melapor kepada ayahku, walau telah kuperintahkan untuk merahasiakan jejakku"

Sambil tertawa senang, Tan Leng Ko berkata.

"Ayahmu tentu tidak tinggal diam, dia akan mengirim orang untuk menjemputmu pulang"

Giok Hui Yan mengangguk sedih.

"Sebaiknya kau memang pulang, mengapa sih kau keluyuran keluar?"

Tanya Tan Leng Ko tertarik.

"Sebab aku benar benar ingin mendapat kembali kitab pusaka yang hilang itu!"

Tan Leng Ko tertawa sebentar, kemudian katanya.

"Kurasa itu bukan alasanmu yang sebenarnya. Tanggung jawab mencari kitab itu, toh bukan berada di atas pundakmu, melainkan sudah menjadi tugas ayahmu"

Giok Hui Yan berpikir sejenak, setelah menghela napas ia berkata.

"banyak orang menganggapku pintar, akupun merasa diriku tidak bodoh, namun setelah sekian lamanya, aku tetap tidak berhasil menerka maksud dari pencuri kitab itu"

"Makanya kau ingin sekali berjumpa dengannya?"

"Betul!"

Setelah termenung sekian lama, Tan Leng Ko bertanya.

"Kenapa kalian yakin, toko buku itu terlibat pencurian kitab?"

"Sampai sekarangpun kami tidak terlalu yakin. Berbulan bulan lamanya, kami mencari jejak pencuri kitab itu yang seperti naga sakti tanpa kelihatan ekornya. Sedikitpun kami tidak memperoleh titik terang"

Giok Hui Yan menarik napasanya dalam dalam, kemudian katanya.

"Sebetulnya kami sudah putus asa, sampai suatu hari aku melihat beras didalam lumbung. Seperti mendapat ide gila, secara sembarangan aku mengusulkan untuk mencarinya di toko buku. Karena sudah kehabisan akal, ayahku menyuruh anak buah kami untuk memerhatikan toko toko buku di kota kota besar."

"Nasib mereka juga mujur"

Kata Tan Leng Ko dalam hati.

Ia tahu, walau kedengaran tugas ini merepotkan, ia yakin, jumlah toko buku di tionggoan tidak terlalu banyak.

Lain halnya jika yang dicuri adalah seguci arak.

Jumlah warung arak di tionggoan, ia tidak yakin dapat dihitung.

"Dan toko buku di Lok Yang termasuk yang mencurigakan?"

Tanyanya kemudian.

"Setiap toko buku tentu kami selidiki dengan diam diam. Kami mulai curiga dengan toko buku di Lok Yang, sebab setiap kali kami mengirim orang, tentu ia tergeletak dipinggir kota dalam keadaan tidur pulas, dengan tiga puluh enam urat nadinya tertotok tanpa mengetahui sebabnya"

Dengan heran Tan Leng Ko bertanya.

"Hanya karena alasan itu, kalian curiga?"

Giok Hui Yan tertawa secara aneh.

"Karena kau tidak mengetahui bahwa yang terakhir kami kirim adalah Ou Leng Poo, yang berpangkat tongcu. Kepandaiannya boleh dibilang termasuk kelas satu di rimba persilatan. Untuk mengalahkannya sungguh tidak mudah!"

Agak terkejut juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, cepat ia berkata.

"Jadi ia mengalami nasib yang sama, tertotok dan tertidur pulas?"

Dengan tersenyum getir, Giok Hui Yan menjawab.

"Bahkan ia tidak dapat melihat siapa yang melakukannya"

Tan Leng Ko tidak kenal Ou Leng Poo, tapi ia yakin, seorang tongcu dari perguruan Mi Tiong Bun tidak usah diragukan lagi kehebatannya.

Nyatanya, ia juga tidak berdaya!

Setelah terdiam beberapa saat, ia berkata.

"Kalian curiga, orang yang berkepandaian tinggi di toko buku itu, bukan mustahil si pencuri kitab itu?"

"Benar!"

"Tapi kan juga bisa jadi seorang cianpwee yang mengasingkan diri di toko buku itu"

Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, lalu berkata.

"Memang bisa juga begitu. Seperti yang kukatakan tadi, sebenarnya kami tidak terlalu yakin. Kamipun enggan mencari perkara, jika ia tidak terlibat. Apalagi menurut penyelidikkan kami setelah menanyai para tetangga, Gu Cin Liong, pemilik toko buku itu sudah bertahun tahun, tidak pernah keluar kota"

"Jika ia adalah cianpwee itu, sukar untuk menundingnya telah mencuri di perguruan kalian yang jauh letaknya dari kota Lok Yang"

Kata Tan Leng Ko perlahan.

"Benar, tapi ini satu satunya titik terang yang kami punyai, kami juga tidak dapat melepaskannya begitu saja"

"Makanya kalian belum menyerbu tempat itu secara terang terangan"

"Benar!"

Tan Leng Ko terpekur beberapa saat, sambil memandang tajam Giok Hui Yan, ia bertanya.

"Kenapa kau mencurigai aku?"

Giok Hui Yan membalas tatapan mata Tan Leng Ko.

"Kan sudah kukatakan, kau bukan jenis yang gemar membaca. Menurut hasil pengamatan kami, hampir semua yang datang ketempat itu, bertampang macam si cacing buku Khu Han Beng. Ketika kau muncul, otomatis kami menjadi heran"

Dengan sorot mata menyelidik, Giok Hui Yan bertanya sepatah demi sepatah.

"Sebetulnya apa tujuanmu ke toko buku itu?"

Tan Leng Ko menghela napas.

"Tujuanku datang kesana, memang untuk menyelidiki toko buku itu"

Kata Tan Leng Ko mengakui. Giok Hui Yan memang sudah menduganya, cepat ia bertanya.

"Apa yang kau curigai?"

"Kau sudah tahu, Khu Han Beng gemar sekali membaca. Kupernah memasuki kamarnya dan tanpa sengaja telah menemukan buku buku yang kuheran darimana dia memperolehnya"

Mata Giok Hui Yan seperti bersinar terang.

"Apakah bocah itu mempunyai buku yang semestinya dia tidak miliki?"

"Benar!"

"Apakah jenis buku yang langka?"

"Benar!"

Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali.

"Sebetulnya jenis buku apa yang dimilikinya?"

Tanyanya sepatah demi sepatah. Tan Leng Ko nampak ragu ragu untuk menjawab. Melihat keraguan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan cepat mendesak.

"Banyak yang telah kuceritakan, karena kupercaya kepadamu. Kuharap kau juga percaya kepadaku"

Tan Leng Ko diam saja tidak menjawab.

"Kuminta kau berterus terang kepadaku, apakah kitab pusaka Mi Tiong Bun berada di kamar Khu Han Beng?"

Desak Giok Hui Yan dengan tegang. Akhirnya Tan Leng Ko menjawab.

"Tentu saja tidak, masakkan seorang bocah kau curigai mempunyai kitab pusaka segala"

Dengan penuh selidik, Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali. Akhirnya, ia menarik napas lega walau terdengar agak kecewa, lalu tanyanya.

"Sebetulnya buku apa yang kau lihat?"

"Buku porno"

Kata Tan Leng Ko perlahan.

Merah padam muka Giok Hui Yan, ia melengos.

Tan Leng Ko cukup mengetahui, konon katanya walau kejahatan yang paling tua adalah pembunuhan, tapi kejahatan yang paling sering dilakukan orang adalah pelacuran!

Dari jaman dulu perempuan sudah pandai melacur.

Memang nafsu birahi lelaki sukar dihindari, dengan sendirinya pelacuran mempunyai peminat yang sangat banyak jumlahnya.

Sesuatu yang digemari oleh banyak orang, dijaman apapun otomatis berkembang menjadi sesuatu yang didagangkan, baik sesuai hukum atau tidak.

Tidak hanya dalam bentuk orang, pelampiasan nafsu birahi diterjemahkan pula dalam lukisan dan susunan kata.

Buku buku porno termasuk salah satu yang dijual belikan, walau tidak terang terangan.

Giok Hui Yan terdiam sesaat, kemudian katanya dengan ragu.

"Apa...apa benar buku itu yang kau lihat"

Tan Leng Ko menghela napas.

"Boleh kutunjukkan buku buku itu kepadamu, jika kau tetap curiga padaku"

Tentu saja Giok Hui Yan menolak.

Diam diam Tan Leng Ko geli dalam hati.

Ia memang telah menyiapkan jawaban pertanyaan ini.

Alasan ia menghentikan percakapan di ruang kerja Khu Pek Sim semalam, adalah agar mendapat waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban jawaban yang masuk akal.

Tentu saja ia enggan menceritakan alasan sesungguhnya.

Tan Leng Ko tidak mempunyai pilihan lain kecuali berbohong.

Dia harus mencegah Giok Hui Yan untuk sembarangan masuk ke kamar Khu Han Beng.

Bukan saja Giok Hui Yan harus menerima alasan ini.

Sebagai seorang gadis perawan, tentu ia kesulitan untuk memeriksa kebenaran ucapannya.

Tidak ada gadis perawan yang berani memeriksa sesuatu yang bersifat porno.

Giok Hui Yan mendengus.

"Huh! Kutahu bocah itu tidak genah. Ketika kumasuk kamarnya, dia membuka baju dihadapanku. Nampaknya saja bocah itu seperti pelajar alim, tak tahunya berbakat menjadi jai hoa cat"

Tanpa sengaja, Tan Leng Ko telah menanam bibit kesan buruk di hati Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng. Cepat Tan Leng Ko mengalihkan perhatian Giok Hui Yan.

"Kuyakin tidak sedikit orang pintar di Mi Tiong Bun. Yang masih aku tidak paham, kenapa kaumemerlukan bantuanku?"

"Sebab Khu Han Beng satu satunya yang dekat dengan Gu Cin Liong, tadinya aku hendak meminta bantuannya bukan bantuanmu"

"Kenapa tidak kau minta padanya?"

"Huh! Bocah itu sukar didekati. Doyan buka baju, aku malas berhubungan dengan dia"

Rupanya perbuatan Khu Han Beng membuka baju, membekas dalam dihati Giok Hui Yan.

"Apakah kau mencurigai Khu Han Beng?"

Tanya Tan Leng Ko dengan tak acuh.

"Tadinya... Setelah kami tahu, dia telah berkunjung ke toko buku itu sudah tahunan lamanya, bahkan sejak dari kecil. Kami tidak beralasan mencurigainya lagi, sebab hilangnya kitab kami baru terjadi dalam hitungan bulan"

"Makanya kau tahu nama, dan tempat tinggalku, karena kalian telah menyelidiki Khu Han Beng dengan seksama"

"Benar. Pertemuan kita di Se Chuan Koan memang kejadian yang kusengaja. Yang membuatku terkejut, ketika kau mengunjungi toko buku itu"

"Karena itu, kau memutuskan untuk menyelundup masuk ke Lok Yang Piaukok"

"Tepat!"

"Kenapa baru sekarang kau lakukan?"

"Sebab aku memang belum lama tiba di Lok Yang"

Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, ia tahu walau tidak diucapkan, Giok Hui Yan memintanya untuk mengorek keterangan dari Khu Han Beng.

Ia juga mempercayai ucapan Giok Hui Yan.

Yang ia kurang percaya, adalah kemampuan dirinya untuk menyelidiki toko buku itu.

Kalau pihak Mi Tiong Bun saja kewalahan, kesempatan dirinya berhasil tentu tidak besar.

Tapi bukan berarti dia takut, Tan Leng Ko cukup mengenal dirinya yang jika sudah memutuskan sesuatu, biasanya akan dikerjakan hingga tuntas.

Apakah dia akan terluka atau tewas dalam mengerjakannya, biasanya tidak ia terlalu pikirkan.

Yang mesti diucapkan, telah dikatakan.

Karena tidak ada lagi yang mesti dibicarakan, Tan Leng Ko segera membalikkan kudanya, di kuti oleh Giok Hui Yan, mereka menuju ke toko buku Gu Cin Liong, toko buku terbesar di kota Lok Yang.

Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan menambatkan kudanya didepan toko kain dua blok dari gang sempit itu.

Tanpa bertanyapun, Giok Hui Yan cukup memaklumi alasan perbuatan Tan Leng Ko yang tidak ingin kuda mereka dikenali.

Terutama oleh Khu Han Beng yang setiap saat bisa muncul di toko buku Gu-suko.

Walau kurang mengerti sebabnya, Giok Hui Yan dapat melihat bahwa Tan Leng Ko mempunyai rasa segan terhadap bocah itu.

Ia tidak ingin banyak bertanya soal ini, toh tiap orang berhak mempunyai urusan pribadi masing masing.

Apalagi, mereka juga menghargai haknya dan tidak usil dengan urusan pribadinya.

Mereka melangkah perlahan menyusuri pinggiran toko toko, jalanan didepan rumah makan Se Chuan Koan semakin penuh dengan orang persilatan yang berkeliaran.

Melihat keramaian ini, tanpa terasa dahi Tan Leng Ko berkerenyit "Ada apa?"

Tanya Giok Hui Yan dengan heran. Tan Leng Ko menghela napas, kemudian katanya.

"Kebanyakkan orang persilatan mempunyai watak ingin menang sendiri. Dua orang saja sudah cukup untuk memulai suatu pertarungan, apalagi dalam jumlah sebanyak ini"

Sembari tertawa kecil, Giok Hui Yan menjawab.

"Yaa, urusan lain mungkin mereka kurang paham, jika disuruh mencari gara gara, tanggung mereka ahli!"

Dengan menatap tajam, Tan Leng Ko berkata perlahan.

"Kuharap kau dapat menahan diri dan tidak menimbulkan keributan"

Baru Giok Hui Yan mau menjawab, tiba tiba terdengar.

"Bruaakkk!!!"

Sesosok tubuh menjebol pagar tingkat atas rumah makan Se Chuan Koan, melayang turun dengan kepala lebih dahulu.

Bagaikan hujan, titik titik kental berwarna merah bertebaran kemana mana.

Usus bewarna putih, panjang melingkar terkuar dari perut orang tersebut yang robek menganga.

Suara tengkorak kepala pecah menghantam jalanan yang keras, menimbulkan kepanikkan banyak orang yang segera kabur menghindar jauh.

Sebuah kereta kuda yang sedang berjalanpun mau tidak mau ikut berhenti.

Satu orang berbaju hitam yang berambut ikal panjang tidak ikut menyingkir.

Dia berdiri tegak disebelah mayat orang itu, dengan rambut ikalnya yang menjadi lurus dibasahi cipratan darah.

Matanya memancar kilat kemarahan, memandang kelantai atas rumah makan Se Chuan Koan yang tiba tiba menjadi sunyi.

Jalanan yang tadi ramai sekarang menjadi lengang.

Orang ramai berdesakkan dipinggir jalan ingin menonton kejadian kejadian yang bakal menyusul.

"Kau yang turun atau aku yang naik keatas?"

Geramnya perlahan. Terdengar suara lantang tertawa mengejek dari lantai atas.

"Apa kau tidak berani naik kesini?"

Lidah sibaju hitam bergerak menjilati darah yang menetes.

"Aku tidak ingin membunuh orang satu lebih banyak"

Ujarnya dingin.

Kelihatan sekali, ia berusaha menahan diri.

Sorot matanya berubah dari kemarahan, sejenak menjadi sedih, kemudian perlahan tapi pasti berganti dengan rona kebuasan yang timbul diwajahnya yang keriputan.

Dari lantai atas, seseorang berbahu lebar memegang kampak yang berlamuran darah melenting turun.

Wajahnya buruk rupa, lucunya ketika ia menyeringai, nampak deretan giginya yang putih dan bagus sekali.

"Apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuhku?"

Sibaju hitam tidak menjawab, ia menatap dingin orang itu, seperti seekor buaya mengincar mangsanya.

"Tahukah kau, siapa dia?"

Tanya siburuk rupa sekali lagi sambil menunjuk kepada mayat itu.

"Aku tidak perlu tahu siapa dia, aku juga tidak perlu tahu siapa kau. Yang kuketahui hanya satu hal"

Akhirnya sibaju hitam menjawab dengan lambat.

"Apa yang kau ketahui?"

"Aku sudah tidak mau mengganggu orang, tapi juga tidak ingin diganggu orang"

"Salahmu sendiri, kenapa kau tidak menghindar!"

"Aku memang dapat menghindar"

"Kenapa tidak kau lakukan?"

"Karena aku belum makan siang"

Siburuk rupa menjadi bingung, ia tidak mengerti. Dengan heran ia bertanya.

"Aku tidak paham, apa hubungannya kau sudah makan atau tidak?"

"Begitu kau paham, mungkin sudah terlambat"

Gumam sibaju hitam sembari menyodokkan tangan kiri kedepan.

Siburuk rupa tidak menghindar, dengan tertawa dingin ia mengayunkan kampaknya dengan cepat menyongsong serangan itu.

Ketika kampaknya mencapai sekitar satu inci dari dari pergelangan tangan, jari tangan kiri sibaju hitam tiba tiba bergerak menepis kampak yang kemudian mencelat jauh entah kemana.

Gerakkan sibaju hitam tidak terlihat aneh atau cepat.

Hanya perhitungan gerakkannya yang sungguh tepat!

Siburuk rupa menjadi melongo terkesima.

Waktu yang sekejap itu, dimanfaatkan oleh sibaju hitam dengan sodokkan tangan kanannya ke dada sebelah kiri.

Rasa sakit yang luarbiasa menyerang siburuk rupa, tubuhnya menjadi dingin dan lumpuh.

Sebelum tubuhnya terkulai jatuh, ia sempat melirik genggaman tangan kanan sibaju hitam.

Sedetik menjelang ajalnya, ia telah paham, walau ia lebih suka tidak mengerti!

Konon katanya sebelum kedatangan kematian, orang akan teringat banyak hal.

Yang ia ingat hanya kemuakkan dan rasa ingin muntah, sebelum kegelapan yang abadi, dingin, dan dalam mulai menyelimuti benaknya...untuk selamanya!

Giok Hui Yan membuang pandangannya, timbul kemarahan diwajahnya yang pucat.

Begitu pula Tan Leng Ko, yang hatinya menjadi tenggelam meyaksikan sibaju hitam memakan jantung segar yang masih berdenyut dengan penuh kenikmatan.

Suara gigitan dan kelahapannya sungguh menggidikkan hati.

Dengan cepat Giok Hui Yan memegang lengan Tan Leng Ko yang telah bergerak maju.

Giok Hui Yan menggeleng perlahan, matanya tetap menatap kedepan, melihat seorang pemuda berwajah tampan, keluar dari kereta kuda yang tadi terhenti dijalan.

Pemuda itu melangkah maju dengan mengulum senyum ramah, matanya menatap Giok Hui Yan beberapa kejap.

Nampaknya ia terpesona oleh kecantikkan Giok Hui Yan walau langkahnya tidak berhenti mendekati sibaju hitam yang sedang makan siang.

Pemuda itu memakai baju bewarna biru dan memiliki rambut panjang yang dikepang seperti seekor ular, rambut panjang yang membelit dua kali melingkari lehernya.

Potongan bajunya mengikuti potongan mutakhir seorang bangsawan, tangan kanannya menggoyangkan sebuah kipas yang juga bewarna biru.

Nampak serasi sekali dengan penampilannya.

Sibaju hitam tidak menghiraukan kehadiran pemuda itu.

Dengan rakus ia menelan sisa makanannya yang terakhir seakan kuatir, pemuda itu akan meminta sebagian.

"Dengan bekal kepandaianmu, semestinya kau memang dapat menghindar"

Kata pemuda itu dengan halus. Dengan tawar sibaju hitam menjawab.

"Kau juga dapat menghindar menjadi santapanku, semestinya kau tidak usah mengangguku"

Dengan tertawa dingin, pemuda itu berkata.

"Aku sudah tidak mau mengganggu orang, tapi juga tidak ingin diganggu orang"

Agak melengak sibaju hitam mendengar ucapannya tadi, diulang secara persis. Dia memandang sekejab kepada kereta yang berhenti ditengah jalan, kemudian katanya.

"Yaa, nampaknya, secara tidak sengaja aku telah menganggu perjalananmu"

"Thi Bin Eng, si pendekar muka besi juga tidak sengaja menganggumu, toh kau tidak memberi ampun kepadanya"

Kata pemuda itu sembari kipasnya menunding mayat siburuk rupa. Sibaju hitam termenung sejenak, kemudian katanya dengan dingin.

"Siapa kau?"

"Bok Siang Gak, seorang yang baru berkelana di rimba persilatan"

"Apakah kau ingin mencampuri urusan ini?"

Pemuda yang bernama Bok Siang Gak tertawa halus.

"Thi Bin Eng merobek perut orang itu bukan karena ia dikenal sebagai Giok Bin Cat atau pemerkosa bermuka giok"

"Sebab apa ia membunuhnya?"

Tanya sibaju hitam tak acuh.

"Sebab Giok Bin Cat hanya memperkosa atau menyukai sesama jenis"

"Apakah Thi Bin Eng telah diperkosa olehnya?"

Timbul juga rasa ingin tahu sibaju hitam.

"Tidak. Giok Bin Cat telah jatuh cinta kepada Thi Bin Eng"

"Karena tersinggung Thi Bin Eng membunuhnya?"

"Juga tidak. Mereka saling mencinta. Giok Bin Cat mendesak Thi Bin Eng untuk meninggalkan istrinya. Karena hanya dijanjikan berulang kali, Giok Bin Cat mengancam akan menyiarkan hubungan mereka"

"Maka Thi Bin Eng membunuhnya ditempat umum, agar terlihat ia melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar"

"Benar. Giok Bin Cat yang dijanjikan muluk muluk, tentu saja tewas dengan mudah, dari serangan maut Thi Bin Eng yang diluar dugaannya"

"Kematiannya sungguh penasaran sekali"

Gumam sibaju hitam perlahan. Bok Siang Gak mengangguk.

"Walau dia jahat, cintanya terhadap Thi Bin Eng tulus sekali. Cinta kasih antara sibagus dan siburuk, biasanya memang berakhir dengan tragedi"

"Kau banyak sekali tahu urusan mereka, apakah kau salah satu kekasih mereka?"

Tanya sibaju hitam dengan dingin. Suara tertawa Giok Hui Yan terdengar cukup keras, Bok Siang Gak melirik kepadanya dengan muka merah.

"Walau Thi Bin Eng memang pantas mati, tapi bukan karena alasan ini kau membunuhnya"

"Karena alasan apa aku membunuhnya?"

"Karena kau memang belum makan siang. Kau pernah berjanji tidak akan memakan jantung manusia lagi kecuali orang yang telah mengganggumu"

Wajah sibaju hitam berubah hebat. Setelah termenung sejenak, ia berkata "Apa yang hendak kau lakukan sekarang"

"Aku ingin melakukan apa yang kau telah lakukan"

"Apakah kau hendak memakan jantungku?"

"Aku bukan Hek I Houw"

Kata pemuda itu dengan hambar Terkejut juga Tan Leng Ko mendengar nama ini.

Hek I Houw, atau harimau berbaju hitam adalah seorang iblis yang pernah menggemparkan rimba persilatan generasi lampau.

Hobinya yang gemar memakan jantung manusia sempat menimbulkan kemarahan tujuh perguruan besar.

Entah kenapa, sudah puluhan tahun ia menghilang tidak terdengar kabarnya, tak nyana iblis ini bisa muncul disini!

"Tak kusangka seorang pemuda yang baru berusia belasan tahun dapat mengenalku"

Gumam Hek I Houw perlahan.

"Itu mah tidak sulit, tidak banyak orang yang memiliki selera makan sepertimu"

Ujar pemuda itu halus. Mendadak senyum yang menghias bibirnya menghilang, dengan kaku pemuda itu berkata.

"Membunuhmu, itu yang sukar!"

Sinar kebuasan kembali terpancar dari mata Hek I Houw.

"Apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuhku?"

Geramnya Sebagai jawaban, kipas ditangan pemuda itu diayunkan mengarah mata Hek I Houw yang dengan cepat mengelak.

Sebentar saja mereka terlibat disebuah pertarungan yang seru.

Puluhan jurus telah berlalu, yang terlihat hanya kelebatan bayangan mereka disertai debu jalanan yang beterbangan diterpa oleh deru angin pukulan.

"Blaaarrr!!!"

Sodokkan tangan kanan Hek I Houw bertemu dengan kipas pemuda itu yang kemudian membuat pemuda itu terhuyung mundur lima langkah dengan wajah pucat.

Bentrokkan tenaga sakti barusan, juga membuat tubuh Hek I Houw tergetar, tanpa terasa ia mundur selangkah.

Terkejut hatinya melihat kemampuan pemuda itu yang dapat menandinginya.

Betul ia lebih menang tenaga, tetapi sedikit sekali bedanya.

Jelas pemuda itu mempunyai asal usul yang tidak sembarangan, tapi ia tidak perduli.

Sambil membentak keras, ia meloncat dan menghantam kepala pemuda itu.

Dengan menggigit bibir, pemuda itu menyongsong pukulan dengan kepalan tangan berbareng kipasnya.

"Duarrr!!!"

Kembali ledakkan angin pukulan berbunyi nyaring.

Debu bercampur tanah seperti ditup angin taufan mencelat kesana sini mengaburkan pemandangan.

Dengan tegang Tan Leng Ko memperhatikan pertarungan itu.

Ia tidak kenal pemuda itu, tapi sedikit banyak ia bersimpati kepadanya.

Setelah debu mereda, nampak pemuda itu berdiri dengan limbung disebelah liang cukup besar hasil bentrokkan tenaga sakti mereka.

Wajahnya pucat pasi, ujung bibirnya menetes darah segar, jelas ia terluka dalam yang cukup parah.

Darah bercampur debu tanah yang menempel dimuka, membuat Hek I Houw terlihat lebih menyeramkan.

Ia menatap tajam pemuda itu seperti harimau memandang mangsanya.

Tiba tiba paras muka Hek I Houw menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali...Sinar matanya yang buas seperti meredup kemudian berganti memancarkan sinar ketakutan dan rasa ngeri yang amat tebal..

Suara gerengan harimau yang sedang terluka keluar dari mulutnya.

Tanpa diduga tubuh hek I Houw mencelat tinggi ke atas kemudian menghilang dibalik atap rumah makan Se Chuan Koan.

Pemuda itu termangu.

Ia tidak mengerti kenapa lawannya yang sudah menang malah merat kabur?

Setelah menghela napas, ia membungkuk badan menyingkirkan sehelai daun segar yang menutupi sebagian dari batang kipasnya yang tadi terjatuh diatas gundukkan tanah dekat liang itu.

Perlahan pemuda itu berjalan menuju kereta kudanya yang tak lama kemudian bergerak menuju kedepan di ringi kerumunan orang orang yang membubarkan diri.

Giok Hui Yan yang terdiam sedari tadi, nampak termenung.

Sinar terang seperti memancar dari matanya.

"Apa yang kau lamunkan?"

Tanya Tan Leng Ko tak tahan. Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam.

"Tidakkah kau rasakan, kejadian tadi rada janggal?"

"Yaa, memang aneh seorang manusia memakan jantung manusia lain mentah mentah"

Giok Hui Yan menggeleng perlahan.

"Kejadian itu memang mengerikan, tapi bukan sesuatu yang aneh"

"Maksudmu?"

"Pohon terdekat berjarak puluhan kaki dari sini, darimana datangnya helaian daun yang menutupi kipas itu?"

Berdesir hati Tan Leng Ko mendengar ucapan ini.

"Gadis ini tahu!"

Jeritnya dalam hati. Giliran Tan Leng Ko menarik napas menenangkan hatinya yang berdebar.

"Daun itu hanya salah satu sampah di jalan, buat apa kau pusingkan"

Katanya datar.

"Tidak mungkin! Jika hanya sampah tentu telah tertimbun gundukkan tanah dari liang hasil bentrokkan pukulan dahsyat itu. Lagipula letak daun itu berada diatas kipas yang terjatuh"

"Sebenarnya, apa maksud perkataanmu?"

Tanya Tan Leng Ko perlahan. Giok Hui Yan termenung sebentar, kemudian katanya "Daun tersebut pasti berada disitu setelah pukulan dilepaskan, bukankah hal ini sebuah kejadian yang aneh?!"

"Mungkin terbang tertiup angin"

"Memang mungkin, tapi daun itu masih terlihat segar, jelas baru dipetik orang"

Mau tidak mau, Tan Leng Ko mengakui daun itu memang seperti baru dipetik. Matanya yang tajam dapat melihat tetesan getah dari ujung tangkai daun tersebut. Giok Hui Yan menatap tajam Tan Leng Ko.

"Daun itu tentu telah disambit oleh seseorang"

Katanya sepatah demi sepatah.

"Aku tidak melihatnya"

Kata Tan Leng Ko Giok Hui Yan tertawa secara aneh, air mukanya berubah serius.

"Kutahu sebagai ahli golok, kau pasti memiliki mata yang tajam. Ingin kutanya padamu. Jika seseorang dapat menggertak pergi seorang iblis seperti Hek I Houw hanya dengan sehelai daun, dapatkah kau terka kehebatan ilmu silatnya?"

Tan Leng Ko terdiam.

Ia paham maksud Giok Hui Yan yang secara tidak langsung mengatakan pemetik daun itu mungkin sekali berhubungan erat dengan sipencuri Kitab Mo Tiong Bun.

Apalagi tempat ini memang dekat sekali dengan toko buku Gu-Suko.

Sebetulnya jalan pemikirannya tidak berbeda dengan gadis ini, hanya ia lebih suka tidak mengatakannya.

Setelah berpikir sejenak, ia menarik ujung baju Giok Hui Yan.

"Ayoh kita lekas kesana!"

Katanya sambil menggeretakkan gigi.

Giok Hui Yan membiarkan dirinya diseret pergi.

Setiba didepan gang yang berbau sampah itu, perlahan ia menarik ujung bajunya melepaskan diri.

Jengah juga Tan Leng Ko ketika menyadari, tanpa sengaja ia telah menarik ujung baju gadis ini.

Buru buru ia berkata.

"Mungkin pemetik daun itu sedang mengejar Hek I Houw, ini merupakan kesempatan baik untuk kita menyelidiki toko buku itu"

Giok Hui Yan mengangguk.

"Sebaiknya aku tunggu disini saja, agar dapat memperingatkan kau jika Khu Han Beng munculkan diri"

"Dasar setan!"

Gerutu Tan Leng Ko dalam hati.

"Tadi bersikeras untuk ikut, begitu sampai malah tidak ingin ikut masuk"

Tapi ia hanya berani mengomel dalam hati.

Ia cukup paham dalil yang mengatakan, jika kau dapat memahami perubahan tabiat seseorang, yang jelas orang itu bukan seorang perempuan.

Jika kau mampu menyelami watak seorang perempuan, dapat dipastikan kau bukan seorang lelaki.

Tan Leng Ko tidak ingin menarik panjang urusan ini.

Apapun juga ucapan Giok Hui Yan toh masuk akal.

"Sebaiknya kau tirukan bunyi burung gagak tiga kali"

Usulnya perlahan. Secara samar sekali lagi Giok Hui Yan mengangguk. Entah apa yang sedang dipikir olehnya, raut mukanya serius sekali.

"Hey! Kau dengar tidak ucapanku"

Kata Tan Leng Ko agak keras. Tersentak Giok Hui Yan dari lamunannya.

"yaa...yaa...yaaa, gagak tiga kali..."

Agak gelagapan ia menjawab.

Geli bercampur heran, Tan Leng Ko melihat kegugupan gadis itu.

Jarang sekali gadis ini menunjukkan sikap demikian.

Apapun yang dipikir oleh Giok Hui Yan, sukar bagi Tan Leng Ko untuk percaya, gadis ini mempunyai maksud yang genah, walau ia tetap percaya bahwa Giok Hui Yan tidak berniat jahat padanya.

"Kuingin meminjam kantong kainmu"

Pinta Tan Leng Ko "Buat apa?"

Tanya Giok Hui Yan heran.

"kau mau berikan tidak?"

Dari lapisan dalam baju luarnya, dengan berat hati Giok Hui Yan memberikan kantong kain berisi kumpulan ronce ronce pedang.

"Sebaiknya kau jaga baik baik mustikaku"

Pintanya dengan sangat.

"Orang harus melangkahi mayatku, sebelum kubiarkan merebut mustikamu"

Jawab Tan Leng Ko asal lalu, kemudian melangkah pergi memasuki toko buku Gu-Suko.

Terharu sekali Giok Hui Yan mendengar perkataan ini.

Dia tidak menyangka begitu besar perhatian Tan Leng Ko kepadanya.

Toko ini tetap saja sepi, jumlah pengunjung dengan jumlah buku buku benar benar tidak sebanding.

Dia tidak sendirian, selain dirinya, masih ada seorang lain yang sedang membersihkan buku dengan kebutan debu.

Ia menoleh memandang Tan Leng Ko cukup lama, kemudian menghentikan pekerjaannya.

Jelas orang itu bukan pelayan tua yang dulu.

Usianya sebaya dengan dirinya, atau mungkin lebih tua beberapa tahun.

Wajahnya tampan, walau sudah nampak kerutan disekitar matanya.

Pakaiannya sederhana ditambah kulitnya yang bersih, nampak sekali orang ini mempunyai kebiasaan mandi setiap hari.

Tan Leng Ko yakin, dalam satu minggu orang ini lebih sering mandi dibanding Lo Tong dalam sebulan.

Kesan suka timbul disanubari Tan Leng Ko terhadap orang ini.

Juga ia seperti melihat sesuatu yang tidak asing walau mereka baru berjumpa untuk pertama kali.

Sayang, ia juga merasa orang ini seperti dirundung kesusahan.

Mungkin kesan murung timbul dari sorot matanya yang seperti acuh lagi hambar.

Apakah orang ini Gu Cin Liong, Gu-Suko pemilik toko buku ini?

Tan Leng Ko menduga dalam hati.

"Beli dua, dapat satu buku gratis"

Kata orang itu lambat.

Merinding bulu kuduk Tan Leng Ko mendengar ucapan ini.

Cara orang ini berbicara sangat datar, tanpa irama, tidak mencerminkan suatu perasaan....

Ia seperti sedang berbicara dalam hati!

"Kuingin melihat lihat dulu"

Ujar Tan Leng Ko dengan dingin, otomatis kesan sukanya menjadi berkurang banyak.

Dengan perlahan ia meletakkan kantong kain yang dibawanya diatas jejeran kitab, kemudian sekenanya dia mengambil sebuah buku.

Matanya melirik ke pintu belakang yang setengah terbuka.

Tidak banyak yang dapat dilihatnya, hanya sebagian halaman belakang diantara tiang tiang penyanggah.

Mendadak terdengar tiga kali suara yang semestinya seperti bunyi burung gagak.

Belum pernah Tan Leng Ko mendengar suara gagak semacam ini.

Mana ada burung gagak bersuara merdu seperti itu!

Orang itu menoleh kepada Tan Leng Ko, walau tidak mengatakan apa apa, sinar matanya seperti mengandung senyuman.

Tan Leng Ko menyengir.

Terasa olehnya, orang ini serasa menyindir, seakan akan tahu maksud kedatangannya bukanlah untuk membeli buku.

Secara sembarang, Tan Leng Ko meraih tiga buku dan meletakkan setahil perak diatas meja kasir.

"Kuingin melihat suara apa itu"

Kata Tan Leng Ko dengan jengah, cepat ia berlari keluar.

Giok Hui Yan menarik tangannya dan bergegas mengajak masuk ke sebuah toko yang menjual berbagai bentuk porselin.

Dari jendela toko yang terbuka, tak lama kemudian Tan Leng Ko mengintip Khu Han Beng memasuki gang sempit itu.

"Kau membeli buku apa?"

Tanya Giok Hui Yan yang tertarik melihat buku buku ditangan Tan Leng Ko.

"Akupun tidak tahu"

Kata Tan Leng Ko seraya melirik ketangannya.

"Omitohud!"

Kata Giok Hui Yan sambil meleletkan lidah. Geli juga Tan Leng Ko ketika ia melihat kitab yang dibelinya ternyata merupakan kitab ajaran Budha.

"Omitohud!"

Serunya perlahan seraya memasukkan buku itu ke bagian dalam baju di saku sebelah dada kiri. Giok Hui Yan tertawa perlahan, kemudian katanya.

"Kutahu kau tidak punya banyak bakat, kujamin kau berbakat sekali menjadi seorang pendeta"

"Dan kau berbakat menjadi seorang nikouw"

Omel Tan Leng Ko. Sambil menyeringai, Giok Hui Yan memicingkan matanya.

"Yaa, bentuk kepalamu jika digundulkan hingga plontos, tentu serasi sekali dengan warna pakaianmu"

"Gundul dengkulmu!"

Balas Tan leng Ko dengan gemas.

Selesai berkata, ia pun tidak dapat menahan tawanya mengikuti suara cekikian Giok Hui Yan, orang orang didalam toko sampai menengok heran ke mereka berdua yang tidak peduli dengan pandangan orang lain.

"Apa yang kau ketemukan disana?"

Tanya Giok Hui yan setelah puas tertawa.

"Aku tidak sempat melihat banyak"

Lalu Tan Leng Ko menceritakan apa yang dialaminya. Giok Hui Yan menghela napas selesai mendengar penuturan ini.

"Dugaanmu tidak salah, orang yang kurang semangat hidup itu memang Gu Cin Long, pemilik toko buku itu"

Ujarnya perlahan.

"Ia tidak terlalu mirip seorang locianpwee sakti"

Gumam Tan Leng Ko.

"Kami pernah mengujinya, ia memang orang biasa yang tidak mempunyai kepandaian silat"

Tan Leng Ko percaya dengan ucapan ini.

Seseorang yang berkepandaian tinggi biasanya mempunyai semacam ciri, jika keningnya tidak menonjol, tentu matanya mencorong mengkilat.

Sorot mata Gui Cin Liong jelas hanya sorot mata orang biasa yang tidak pandai bersilat, seperti sorot mata Khu Han Beng.

Setitik ingatan berkelebat di benak Tan Leng Ko, membuatnya tertegun.

Bentuk mata Gu Cin Liong banyak mirip dengan bentuk mata Khu Han Beng, pantas ia mempunyai perasaan seperti pernah mengenal Gu Cin Liong sebelumnya.

Apakah hubungan akrab mereka sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan fisik Khu Han Beng?

Tan Leng Ko belum pernah menikah, tapi banyak temannya yang sudah, bahkan sampai ada yang telah menjalani pernikahan hingga puluhan tahun lamanya.

Konon katanya hubungan akrab maupun hubungan cinta kasih dapat merubah fisik seseorang.

Wajah suami istri yang saling mencinta lama lama bisa menyerupai satu dengan yang lainnya.

Bukankah Tiada kekuatan yang lebih dahsyat daripada cinta kasih!

Giok Hui Yan cepat menarik kepalanya dari jendela, Khu Han Beng yang baru saja keluar dari gang sempit itu seperti melirik kearahnya.

"Ada apa?"

Tanya Tan Leng Ko cepat.

"Bocah mesum itu, baru saja keluar dari sana"

Jawab Giok Hui Yan sambil mencibir. Mendengar julukan Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng, Tan Leng Ko hanya dapat menarik napas.

"Mana kantong kainku?"

Tanya Giok Hui Yan.

"Sengaja kutinggalkan disana"

"Supaya kau mempunyai alasan untuk kembali kesana?"

Tan Leng Ko mengangguk. Setelah termenung sejenak, Giok Hui Yan berkata perlahan.

"Toko buku itu hanya sebuah toko, setahu kami tidak ada yang aneh ditempat itu"

"Dan tempat yang harus kuselidiki?"

"Dari gang buntu itu Kau harus meloncat tembok, memasuki pekarangan belakang toko buku"

"Kenapa kau tidak bilang sedari tadi?"

Tanyanya kesal.

Kali ini Tan Leng Ko benar benar tidak dapat menebak maksud tujuan Giok Hui Yan sesungguhnya.

Sesaat ia bersikeras untuk menyelidiki tempat itu bersamanya, disaat lain, gadis ini seperti mencegahnya.

Giok Hui Yan seperti hendak mengatakan sesuatu tapi akhirnya memilih tutup mulut.

Melihat gadis itu tidak mau menerangkan alasannya, Tan Leng Ko melangkah keluar.

"Kau hendak kemana?"

Tanya Giok Hui Yan yang mengejarnya keluar.

"Kudatang kesini bukan untuk membeli buku"

Jawab Tan Leng Ko datar.

"Sekarang, kau tidak boleh mengunjungi perkarangan itu!"

"Kenapa tidak?"

Semenjak melihat kemunculan daun itu, timbul keraguan dihati Giok Hui Yan. Ia yakin si pencuri kitab benar benar berada disini.

"Kukuatir sesuatu buruk terjadi atas dirimu. Kepandaian orang itu tingginya bukan main, kau bukan tandingannya"

Setengah berbisik Giok Hui Yan mengutarakan isi hatinya.

"Kau sudah tahu aku bukan tandingannya, toh kau ceritakan juga mengenai perkarangan belakang itu. Bukankah kau mengetahui, aku pasti akan kesana"

Dengus Tan Leng Ko pelan.

"Aku tidak ingin membohongimu, tapi aku juga tidak ingin kau celaka"

Pedih hati Giok Hui Yan melihat sikap Tan Leng Ko yang seperti curiga padanya. Tak tega Tan Leng Ko melihat mata yang indah berkaca kaca oleh air mata, lekas ia menghibur.

"Paling paling aku hanya tertotok, tertidur di pinggir jalan bukan masalah bagiku"

"Kau tidak tahu, selain tertotok tidur, sebagian orang kami seperti tongcu Ou Leng Poo dimusnahkan kepandaiannya"

Akhirnya Giok Hui Yan berterus terang.

"Dan sebagian yang lain?"

"Sebagian yang lain tewas dengan cara yang mengerikan"

Jawab Giok Hui Yan dengan sedih. Tan Leng Ko berpikir sejenak, ia masih percaya Giok Hui Yan tidak berbohong. Tapi sekarang ia juga sadar, tidak semua keterangan telah diberikan oleh gadis ini.

"Kenapa kalian tidak segera membalas dendam?"

"Sebab kami kurang yakin sipencuri kitab itu yang telah melakukan pembunuhan"

"Orang itu telah mencuri, dan kalian tidak yakin ia melakukan pembunuhan"

Dengan tertawa getir, Giok Hui Yan menjawab.

"Menurut ayahku, ditinjau dari cara pencuri kitab menggores daun, sukar untuk mencegahnya jika ia berkeinginan melakukan pembantaian di Mi Tiong Bun. Orang yang kami kirim ke toko buku itu, kecuali Ou Leng Poo, kebanyakkan juga dari tingkat rendahan, makanya kami menjadi kurang yakin pencuri itu melakukan pembunuhan. Apalagi...?!"

Giok Hui yan nampak ragu untuk meneruskan.

"Jika kau ingin bantuanku, kuminta kau tidak lagi menahan keterangan"

Desak Tan Leng Ko. Setelah menarik napas panjang, Giok Hui Yan berkata.

"Orang kami diketemukan tewas dengan luka tipis dibagian dada yang menembus hingga membolongi bagian punggung sebesar mangkuk besar"

"Luka dari hawa pedang?"

"Benar!"

"Apa pencuri kitab itu, tidak menggunakan pedang?"

Giok Hui Yan menggeleng.

"Kami tidak tahu, yang kami tahu luka semacam itu hanya dapat disebabkan oleh Hay Thian Sin Kiamsut"

"Hay Thian Sin Kiamsut?"

"Jurus pedang andalan Mi Tiong Bun dari kitab Hay Thian Sin Kiamboh"

Ujar Giok Hui Yang sepatah demi sepatah.

"Kitab yang hilang dicuri?"

"Benar!"

"Apa tidak mungkin pencuri itu telah mempelajari dan menggunakan jurus tersebut"

"Ayahku bilang, tenaga sakti pencuri kitab itu sudah mencapai taraf tiada tara, jika ia yang menggunakan jurus tersebut, tentu korbannya hancur berkeping keping. Tidak mungkin hanya meninggalkan bolongan sebesar mangkuk"

Tan Leng Ko terdiam.

Sebagai ketua Mi Tiong Bun, ayah Giok Hui Yan sudah pasti seorang ahli pedang.

Penilaiannya mengenai urusan pedang, tentu tidak bakal salah.

Rupanya masalah yang dihadapi pihak Mi Tiong Bun, tidak hanya sekedar kehilangan kitab saja.

Apa ada kemungkinan terjadi suatu penghianatan didalam perguruan misterius itu?

Sekarang Tan Leng Ko mulai mengerti, kenapa Giok Hui Yan seperti enggan menceritakan semuanya sekaligus.

Selain, si pencuri kitab, siapa lagi yang mampu melakukan jurus Hay Thian Sin Kiamsut, kecuali orang Mi Tiong Bun sendiri?

Giok Hui Yan tentu segan menceritakan borok sendiri kepada orang lain.

Tan Leng Ko menarik napas panjang, ia tidak ingin terlibat urusan dalam sebuah perguruan.

Perlahan ia menggerakkan kakinya mengarah ke gang sempit itu.

"Kujanji untuk menjaga kantong kainmu, bagaimanapun juga aku harus mengambilnya kembali"

Ujar Tang Leng Ko tanpa menghentikan langkahnya.

Giok Hui Yan cukup paham, niat lelaki sejenis Tan Leng Ko tidak dapat dihentikan hanya dengan kata kata.

Tan Leng Ko pasti akan mengunjungi perkarangan belakang itu.

"Kau harus hati hati!"

"Jangan kuatir, nasibku selalu mujur"

Terdengar jawaban Tan Leng Ko sebelum menghilang dibalik tikungan.

Lama Giok Hui Yan termangu dipinggiran jalan.

Rasa perih kembali muncul dari bahu kirinya, ia tahu luka dalamnya semakin parah.

Tapi luka hatinya lebih parah lagi.

Memang rencananya, ia ingin memanfaatkan orang orang Lok Yang Piaukok untuk kepentingannya.

Yang dia tidak perhitungkan, ternyata mereka memang sangat baik padanya.

Giok Hui Yan menggigit bibirnya, ia tidak berani membayangkan jika sesuatu menimpa Tan Leng Ko, dirinya tentu....

Mendadak, bahunya ditepuk orang dari belakang, dengan cepat Giok Hui Yan menoleh.

Pek Kian Si yang berbaju kuning emas sedang menyeringai dihadapannya.

"Semestinya,kau yang harus berhati hati"

Katanya dengan seram.

Giok Hui Yan menjerit kaget, cepat ia melompat menuju gang sempit itu.

Sementara itu, begitu menutup pintu masuk toko buku itu, didapati olehnya Gu Cin Liong seperti sedang berdiri menunggu kedatangannya.

Sebelum Tan Leng Ko sempat berkata, Gu Cin Liong menyodorkan tangan kanannya yang memegang kantong kain Giok Hui Yan.

Seraya mengucapkan terima kasih, Tan Leng Ko menerima kantong kain tersebut,.

Mendadak, kaki kanannya kesandung kaki kirinya, tubuhnya menjadi limbung dan pundaknya menubruk tubuh Gu Cin Liong, yang tanpa dapat dicegah lagi terjengkang jatuh.

"Bluuuk.....Bluuuk!"

Suara tubuh Gu Cin Liong menimpa lantai terdengar jelas sekali.

Cepat Tan Leng Ko menarik bangun Gu Cin Liong seraya minta maaf kepadanya.

Tan Leng Ko yang baru saja menguji Gu Cin Liong tidak begitu heran, ketika mengetahui ternyata pemilik toko buku ini benar benar tidak mengerti ilmu silat.

Bagaimanapun juga, Ia harus mengujinya sendiri untuk mengetahui benar tidaknya ucapan Giok Hui Yan.

Yang ia heran, dirinya tidak ikut terjatuh, kenapa bunyi suara orang jatuh bisa terdengar dua kali?

Bahkan suara yang terakhir seperti datang dari luar toko.

Hatinya tiba tiba seperti mendapat firasat yang tidak enak.

Seakan dituntun oleh suatu kekuatan yang ia tidak dapat jelaskan, Tan Leng Ko bergegas keluar dari toko buku itu.

Tan Leng Ko menjerit tertahan, ditengah jalan gang sempit itu, tergeletak diam tidak bergerak tubuh Giok Hui Yan yang terkapar.

Secepat kilat, Tan Leng Ko memburu kesana, nampak olehnya napas Giok Hui Yan kembang kempis lambat sekali, darah segar bergolak dari mulutnya.

Wajahnya yang pucat, sudah mulai membiru.

Giok Hui Yan bukan saja luka parah, bahkan sudah sekarat mendekati ajal.

Dengan tubuh gemetar Tan Leng Ko mengangkat tubuh Giok Hui Yan dari lumpur becek berbau sampah.

Segera ia mengerahkan tenaga saktinya ke tubuh Giok Hui Yan.

Hati Tan Leng Ko tenggelam begitu menyadari, aliran tenaga saktinya seperti tenggelam sirna ke dalam lautan yang tanpa terbatas, tiada sambutan dari tenaga sakti Giok Hui Yan.

Cepat Tan Leng Ko memusatkan pikiran, dengan menggeretak gigi, ia mengalirkan terus tenaga saktinya walau cara ini bukan saja merugikan dirinya bahkan dapat membahayakan jiwanya.

Ia tidak perduli.

Tan Leng Ko tidak berani mencari tempat, takut terlambat menolong Giok Hui Yan yang keadaannya genting sekali.

Lebih dari sepernanakan nasi ia berdiri mematung menggendong tubuh Giok Hui Yan menyalurkan hawa sakti.

Usahanya sedikit berhasil, Giok Hui Yan membuka kelopak matanya.

"Siapa yang tega melukaimu"

Tanya Tan Leng Ko dengan mata berkaca kaca.

"Peeek.....Kian...Si i i i"

Lirih Giok Hui Yan nyaris tidak terdengar.

Selesai berkata, tubuh Giok Hui Yan terkulai kaku dipelukkan Tan Leng Ko yang menemukan nadi gadis itu telah berhenti berdenyut!

Di gang buntu yang sempit, gelap dan berbau sampah, terdengar suara gerengan yang keras bagaikan seekor harimau yang terluka.

Tan Leng Ko meletakkan kepalanya yang miring diatas dada Giok Hui Yan.

Ia mengisak dengan perlahan, air matanya bercucuran dengan deras.

Ia memang baru kenal dengan gadis ini.

Tapi Tan Leng Ko tidak dapat mengingkari, dari cara tutur kata gadis ini yang nakal, mau tidak mau telah menimbulkan suatu ciri khas di lubuk hatinya.

Bukankah kata kata tidak hanya dapat menggugah perasaan melainkan juga mempunyai pengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang?

Mendadak telinga Tan Leng Ko menangkap suara detak jantung yang lambat dan terdengar lemah sekali.

Bergetar tubuh Tan Leng Ko menahan perasaannya yang terguncang.

Giok Hui Yan belum mati!

Cepat Tan Leng Ko memeriksa nadi Giok Hui Yan lebih seksama.

Ternyata urat nadi dipergelangan tangan Giok Hui Yan telah tergeser dari tempatnya, hingga Tan Leng Ko tidak merasakan denyutnya.

Walau belum tewas, Tan Leng Ko maklum keadaan Giok Hui Yan kritis sekali.

Ia harus memberi pertolongan secepat mungkin sebelum terlambat!

Hanya bagaimana caranya?

Luka gempuran tenaga sakti biasanya dapat disembuhkan oleh obat mustika.

Obat mustika semacam ini selain dia tidak punya, tabib di Lok Yang Piaukok juga tidak memiliki.

Ia cukup paham, umumnya, obat seperti itu memang sukar diperoleh!

"Apa harus membawanya ke gunung bunga putih?"

Gumamnya dalam hati.

Gunung bunga putih, atau Pek Hoa San merupakan tempat tinggal sepasang tabib suami istri yang beradat aneh.

Mereka dengan senang hati menyembuhkan penyakit penduduk sekitarnya, tapi enggan menolong orang persilatan.

Mereka beranggapan, orang yang berkecimpungan di rimba persilatan sudah sepantasnya mampus.

Mereka seperti tidak ingat, bahwa merekapun orang persilatan, bahkan berkepandaian tinggi.

Jarang sekali yang mencari gara gara dengan mereka, jika tidak terlalu terpaksa.

Tan Leng Ko tidak takut perkara, hanya kuatir dengan kondisi Giok Hui Yan yang buruk, mungkin waktunya sudah tidak keburu.

Walau Pek Hoa San tidak terlampau jauh dari Lok Yang, pergi kesana dengan kereta, tetap akan memakan dua hari.

Dua hari yang ia tidak miliki!

Semacam pikiran aneh berkelebat dibenaknya.

Setelah menimbangnya sejenak, ia bergumam.

"Apapun juga aku harus mencobanya"

Bergegas Tan Leng Ko sambil menggendong Giok Hui Yan meloncat ke atas tembok di ujung gang buntu kemudian meniti dan melayang masuk perkarangan belakang toko buku Gu-suko.

Ia sudah tidak menghiraukan apakah jebakan maut sedang menunggunya atau seorang sakti yang dapat memusnahkan kepandaiannya.

Ia harus dapat berjumpa dengan orang sakti itu yang mungkin mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka Giok Hui Yan dengan tenaga dalamnya.

Yang menyambut kedatangan mereka hanya keheningan dan angin utara yang bertiup perlahan.

Tan Leng Ko berdiri termangu ditengah perkarangan yang cukup luas.

Perkarangan yang dipenuhi rumput botak yang sudah layu kecoklatan, ciri dari pergantian musim.

Diujung sebelah kiri, dekat sebuah pohon yang masih rindang, terdapat sebuah naungan jalan yang menuju kebelakang sana.

Disalah satu deretan tiang naungan jalan, terikat seekor ular sebesar lengan manusia.

Ular itu tidak terlalu panjang, dan juga tidak terlampau pendek.

Bersisik putih, kontras sekali dengan bola matanya yang merah.

Melihat kedatangan Tan Leng Ko, ular itu mendongakkan kepalanya memandang curiga.

Terdengar suara desis di ringi uap putih yang keluar dari mulut ular itu.

Setengah badannya berdiri tegak, lidahnya keluar masuk dari rongga mulut yang berwarna hitam.

Tan Leng Ko belum pernah melihat ular sejenis ini.

Setahunya, ujung ekor ular meruncing, ujung ekor ular ini justru pipih melebar.

Cabang lidahnya juga tidak umum, yang satu berwarna hitam, dan yang satu lagi berwarna putih.

Benar benar seekor ular yang aneh, tapi bukan hal ini yang membuat Tan Leng Ko termangu.

Yang menarik perhatiannya, justru pohon yang masih rindang itu!

Ia tidak kenal nama pohon itu, tapi ia cukup mengenal daun yang berbentuk lebar itu.

Daun yang ujung tangkainya akan meneteskan getah jika dipetik.

Tan Leng Ko yakin, jenis daun ini yang telah menutupi kipas pemuda yang bernama Bok Siang Gak.

"Kutahu maksud kedatanganmu"

Suara lirih tapi jelas terdengar berbisik ditelinga Tan Leng Ko.

Tubuh Tan Leng Ko tergetar, ia tidak dapat menentukan sumber suara itu.

Bahkan sulit baginya untuk menerka, apakah suara lelaki atau perempuan?

"Kumohon locianpwee berkenan menyembuhkan dia"

Pinta Tan Leng Ko dengan sangat.

Lama sekali tidak terdengar jawaban, Tan Leng Ko memeluk erat tubuh Giok Hui Yan kemudian memutarkan badan melihat sekelilingnya.

Suasana sepi sekali, kecuali mereka, tidak ada orang lain.

Entah ada dimana locianpwee itu.

"Pihak Mi Tiong Bun gemar mengacau disini, kenapa harus kutolong dia?"

"Sebab....sebab locianpwee telah mencuri kitab Hay Thian Sin Kiamboh mereka, sudah sepantasnya jika locianpwee menyembuhkannya"

Kata Tan Leng Ko dengan gelisah.

"Apa ada buktinya?"

Walau hanya lirih, Tan Leng Ko seperti menangkap nada keheranan di suara bisikkan itu.

"Ada! Sehelai daun kering yang ditinggalkan di ruang kitab Mi Tiong Bun"

Jawab Tan Leng Ko. Kembali suasana hening beberapa saat, kemudian terdengar bisikkan itu berkata.

"Bukan aku yang mencurinya"

"Apa buktinya?"

Tanya Tan Leng Ko memberanikan diri.

"Kami tidak mengetahui letak perguruan Mi Tiong Bun yang misterius itu. Walau kami berniat, bukan berarti kami telah mencuri Hay Thian Sin Kiamboh"

"Kami?"

Tan Leng Ko terpelangak dalam hati. Tiga kali locianpwee ini mengucapkan kata 'kami', apa mereka tediri dari lebih satu orang? "Apa di helaian daun itu mempunyai guratan simbol?"

Bisik locianpwee itu.

"Benar helaian daun tersebut tergores tulisan keriting. Tulisan keriting yang banyak terdapat di kamar Khu Han Beng!"

"Hmm....Kutahu kau telah memasukki kamarnya"

"Kenapa kau mengajarinya untuk mencuri?"

Tanya Tan Leng Ko dengan lantang.

"Pernahkah Khu Han Beng mencuri?"

Tan Leng Ko terdiam. Memang tidak mungkin Khu Han Beng yang melakukan pencurian kitab.

"Tapi salinan kitab Hui Liong Cap Sa Cik, jelas berasal dari Kun Lun Pay!"

"Benar! Tapi bukankah gadis dipelukkanmu telah bercerita bahwa kitab kitab yang dicuri telah dikembalikan"

Kecut juga hati Tan Leng Ko mendengar gerak gerik juga percakapannya dibawah pengawasan seorang sakti tanpa setahu dirinya.

"Aku tidak paham, kenapa setelah kau curi kemudian kau kembalikan?"

Tanya Tan Leng Ko tak tahan. Lama tidak terdengar bisikkan perlahan.

"Putri ketua Mi Tiong Bun jika tidak lekas ditolong, sukar untuk diselamatkan jiwanya"

Tan Leng Ko paham, orang ini mencoba mengalihkan perhatiannya, jelas locianpwee ini enggan menjawab. Bagaimanapun juga keselamatan Giok Hui Yan jauh lebih penting dari pertanyaannya.

"Dapatkah ia diselamatkan?"

Tanya Tan Leng Ko dengan penuh harapan.

"Jalan darah Khi Hay, Thian Tie, Hwee Tie, telah tersumbat darah beku. Begitu pula sembilan nadi penting ditubuhnya. Hanya aliran tenaga sakti yang mengalir tidak putus di dua belas jalan darah yang dapat menyelamatkan gadis itu. Di dunia saat ini, hanya dua orang yang mampu melakukan hal itu"

Baru sekarang Tan Leng Ko mengerti, kenapa tubuh Giok Hui Yan terkulai kaku.

Jalan darah Khi Hay jika tertotok atau tersumbat, memang dapat membuat kaku tubuh.

Begitu pula jalan darah Hwee Tie yang terletak disikut lengan, nadi yang beku menghalangi peredaran darah, pantas ia tidak berhasil mendengar denyut nadi pergelangan tangan Giok Hui Yan.

Yang Tan Leng Ko tidak mengerti adalah cara pengobatannya.

Letak dua belas jalan darah ada yang di lengan, dada, punggung dan sebagainya.

Bukankah tenaga sakti yang mengalir tidak putus harus dapat meliuk, berubah dari daya lurus untuk mencapai punggung?

Dengan hati berdebar debar Tan Leng Ko berkata.

"Dua orang itu, tentu yang pertama adalah Goan Kim Taysu, dan yang satu lagi tentu adalah locianpwee sendiri"

"Goan Kim Taysu masih belum mempunyai kemampuan itu"

Kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, Goan Kim Taysu telah diakui sebagai jeniusnya didunia persilatan.

Kepandaiannya sudah mencapai taraf yang sempurna sekali.

Nampaknya kepandaian locianpwee ini jauh lebih tinggi dari Goan Kim Taysu!

Hal yang ia percaya, bukankah Giok Hui Yan telah bercerita ruang kitab Siaulimsi juga kebobolan?

Yang ia sukar percaya, ada orang kedua yang melebihi kepandaian Goan Kim Taysu.

Apakah ketua dari perguruan Lam Hay Bun?

"Kumohon locianpwee segera menyembuhkan Giok Hui Yan sebelum terlambat"

"Hilangnya kitab Mi Tiong Bun tiada sangkut paut denganku. Sekali lagi kutanya padamu, kenapa harus kusembuhkan dia?"

Tan Leng Ko termenung sejenak, kemudian katanya.

"Kutahu loncianpwee akan menolong dia, hanya mungkin.... mungkin locianpwee ada persyaratan yang harus kupenuhi?"

"Iiihhh...Darimana kau tahu?"

Bisikkan dengan nada terkejut itu membuat tubuh Tan Leng Ko terhuyung.

Telinganya seperti mendengar dentuman keras, dadanya seperti dihantam martil dengan keras.

Cepat ia menarik napas menenangkan jantungnya yang berdebar keras.

Hatinya lega ketika melihat bisikkan yang disertai tenaga sakti itu, tidak mempengaruhi Giok Hui Yan.

Dengan muka masih pucat, Tan Leng Ko menjawab.

"Sebab disekitar ular aneh itu tidak terdapat kotoran, jelas ular itu belum lama dipindahkan. Apalagi sedikit sekali yang berani datang kesini, maka kutahu ular itu sengaja dipertontonkan untukku walau belum dapat kuterka untuk apa"

Setelah menelan ludah, Tan Leng Ko melanjutkan.

"Locianpwee sudah tahu maksud dan kedatanganku, jika tidak mau menolong, tentu tidak akan bersusah payah memindahkannya"

Suasana kembali hening, hanya angin menderu makin kencang. Cukup lama Tan Leng Ko menunggu, akhirnya dia tidak tahan.

"Jika tidak melanggar aturan, apapun yang locianpwee minta tentu akan kulakukan!"

"Jika kupinta kau melompat ke wajan panas, atau menerjang ribuan golok, apakah akan kau lakukan?"

"Tidak! Aku bukan orang bodoh!"

Tan Leng Ko seperti mendengar suara orang tertawa.

"Kau orang pintar, kusuka dengan orang pintar!"

"Apa yang locianpwee ingin kulakukan?"

"Tahukah kau, kenapa kubiarkan kau mengetahui isi kamar Khu Han Beng?"

Giliran Tan Leng Ko yang terdiam, tidak menjawab.

"Kuingin kau menjaga ruang pustaka itu"

"Hanya itu?"

Tanya Tan Leng Ko dengan heran.

"Tanpa locianpwee pintapun, aku tentu akan menjaga kitab kitab di kamar itu"

"Tentu saja tidak hanya itu, tapi kondisi gadis itu sudah kritis sekali. Kau julurkan tangannya, biar dia digigit sekali oleh Hek Pek Coa"

Tan Leng Ko tertegun.

Walau ia baru tahu Hek Pek Coa adalah nama jenis ular itu, ia yakin betul ular itu sangat berbisa.

Masakkan racun Hek Pek coa dapat menyembuhkan luka dalam?

Setelah termenung sekian lama, dengan meggigit bibir ia mendekati ular berbisa itu.

Desis Hek Pek Coa semakin keras melihat Tan Leng Ko menghampirinya.

Ular itu membuka mulutnya, nampak dari lubang pernapasannya keluar kabut tipis berbau amis.

Dengan hati berdebar debar, Tan Leng Ko melambaikan lengan Giok Hui Yan didepan mulut Hek Pek Coa.

Secepat kilat, ular itu mematuk sekali meninggalkan dua lubang kecil yang menitik darah, dipergelangan tangan Giok Hui Yan.

"Bagus! Kusuka dengan tindakkanmu yang tegas. Nah sekarang, kau julurkan tanganmu sendiri, dan biarkan ia juga mematukmu sekali"

Kali ini Tan Leng Ko benar benar terperanjat!

Ia tidak tahu banyak soal racun, tapi pikirnya, mungkin saja racun Hek Pek Coa dapat melancarkan darah Giok Hui Yan yang beku.

Sedangkan ia tidak sakit, kenapa ia harus juga dipatuk?

Ia membaringkan tubuh Giok Hui yan diatas rumput, kemudian menghampiri Hek Pek Coa yang memandangnya dengan garang.

Tanpa berpikir panjang dengan nekat ia menyodorkan tangan kanannya.

Taring Hek Pek Coa yang menembus kulit tangan Tan Leng Ko, dirasakannya seperti tisikan jarum.

Ia tidak merasa sakit, hanya rasa linu dan kemeng.

Tiba tiba rasa dingin yang luar biasa bercampur rasa panas yang juga luar biasa merambat naik.

Tan Leng Ko merasa kepanasan juga menggigil kedinginan.

"Apakah kau tidak curiga, telah kucelakai kalian?"

Suara bisikkan itu seperti bernada kagum melihat keteguhan dan kecepatan Tan Leng Ko bertindak. Sambil tertawa perlahan, Tan Leng Ko menjawab.

"Jika locianpwee berniat mencelakai kami, dengan kepandaian yang tinggi, locianpwee dapat melakukannya dengan mudah. Tentu tidak akan mau repot repot begini. Kuyakin locianpwee mempunyai maksud yang dalam. Jika locianpwee mau menjelaskan tentu akan kudengar dengan senang hati"

"Haruskah kujelaskan perbuatanku kepadamu?"

"Ti....tidak harus. Hanya kuyakin, locianpwee akan menyembuhkan dia"

Gumam Tan Leng Ko perlahan.

Pandangan matanya mulai kabur, dunia sekelilingannya seperti berputar dengan kencang.

Tan Leng Ko mencoba mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang bergoyang tapi malah rubuh tidak sadar diri disebelah tubuh Giok Hui Yan.

Suasana perkarangan rumput itu seperti diliputi hawa kematian yang tebal.

Angin utara yang tadinya bertiup kencang berhenti mendadak.

Desis Hek Pek Coa juga tidak terdengar, ular itu seperti termangu memandang dua korban gigitannya.

Tidak ada yang bergerak, kecuali sebuah bayangan yang berkelebat menyambar tubuh mereka berdua, kemudian menghilang bagaikan bayangan setan yang bergerak cepatnya bukan main.

******************************** Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan.

Nampak taburan bintang gemerlapan memenuhi angkasa.

Suara burung hantu disahuti oleh binatang malam lainnya, menyadarkan Khu Pek Sim dari tidurnya.

Mereka menginap dipinggir sebuah hutan di sebuah lereng gunung yang Khu Pek Sim tidak tahu namanya.

Matanya yang masih mengantuk melirik sebentar kepada kedua ekor kuda mereka yang sedang memakan rumput dengan tenang.

Setelah menggeliat badan, ia menghampiri Buyung Hong yang sedang menyusun ranting kayu sehingga nyala api unggun jauh lebih terang.

"Kuheran dengan kelakuanmu"

Kata Khu Pek Sim sambil meneguk guci arak yang disodorkan Buyung Hong. Beberapa guci arak mereka peroleh dan mereka boyong dari kereta kuda Lok Yang Piaukok sebelum mereka bakar menjadi abu.

"Kau heran padaku?"

"Kau toh tahu mustika kemala pelangi berada padaku. Kenapa tidak kau rebut saja ketika aku sedang tidur?"

Dengan tertawa Buyung Hong menjawab.

"Aku memang sedang sibuk memarahi diriku. Kenapa tidak main rebut?"

Khu Pek Sim menghela napas.

"Ternyata, kau memang bukan seorang yang rendah"

Buyung Hong ikut menghela napas, katanya perlahan.

"Sebetulnya ingin sekali aku menjadi seorang siaujin... sayang aku tidak dapat"

Khu Pek Sim termenung sebentar, kemudian mengangguk.

"Yaa, kau memang tidak dapat. Melakukan perbuatan rendah mestinya suatu hal yang mudah. Sedikit yang tahu untuk sebagian orang, hal itu sukarnya bukan main"

"Dia tidak dapat, aku bisa!"

Tiba tiba terdengar suara dingin dari balik bayangan pohon. Buyung Hong dengan sigap meloncat menjauhi api unggun, kemudian katanya sambil tertawa dingin.

"Kau dapat berada disini tanpa sepengetahuanku, nampaknya kepandaianmu tidak rendah. Kenapa tidak lekas munculkan diri?"

Khu Pek Sim tidak terkejut ketika seorang berkedok muka berjalan perlahan menghampiri mereka.

Ia juga tidak kaget mendengar nada suara orang itu yang naik turun.

Ia maklum seorang bertenaga dalam tinggi memang dapat mengubah ubah suaranya.

Ia hanya heran dengan kedok orang itu.

Kepala orang itu dibungkus seluruhnya oleh bajunya sendiri.

Badannya yang telanjang setengah dada kelihatan masih kekar walau kulitnya sudah keriputan, jelas usianya tidak sedikit.

Lengan bajunya di kat kencang dibelakang kepala, hanya dua lubang kain disekitar mata yang agak kendur.

Mata orang itu menatap Khu pek Sim dengan tajam, kemudian serunya.

"Kau berikan mustika kemala pelangi padaku. Kubiarkan kalian hidup"

Sebelum Khu Pek Sim menjawab, Buyung Hong dengan serius berkata.

"Apakah kau bertekad bertarung menentukan mati hidup hanya disebabkan sebuah mustika?"

"Benar!' jawab orang itu tegas. Buyung nampak ragu, lama sekali ia termenung. Akhirnya setelah menghela napas ia berkata.

"Baik kuiringi kemauanmu"

Tanpa banyak bicara, orang berkedok itu menyodok keempat jari tangannya yang menegak lurus ke tubuh Buyung Hong.

Gerakkannya selain cepat juga disertai dengan tenaga penuh.

Khu Pek Sim yang yang berdiri tidak jauh dari Buyung Hong terpaksa ikut menghindar ketika deru angin pukulan yang dingin terasa mengiris wajahnya.

Cara Buyung Hong menghindar selain cepat juga indah luar biasa.

Kaki kirinya diangkat, dan tubuhnya yang bertumpu dikaki kanan bergeser dengan licin kebelakang.

Dalam waktu yang singkat, mereka sudah terlibat dalam pertarungan seru yang sudah meliputi puluhan jurus.

Kecepatan tubuh mereka berkelebat membuat kepala Khu Pek Sim mulai berkunang, matanya sudah tidak dapat memandang mereka dengan jelas.

Bayangan tubuh mereka seperti bergumul menjadi satu.

Cara bertarung jarak dekat semacam ini sangat berbahaya, salah perhitungan satu kali dapat berakibat fatal.

Khu Pek Sim tidak mendengar benturan benturan tenaga dalam, rupanya cara mereka bertempur lebih dititik beratkan kepada tipu muslihat gerakkan ilmu silat.

Entah sudah berapa lama mereka bertempur, jelas tidak sebentar.

Ranting kayu di api unggun sudah habis terbakar, yang tersisa hanya redupnya bara api.

Sinar terang di ufuk timur mulai menerangi jalannya pertempuran.

Khu Pek Sim menggenggam erat tombaknya.

Dilihat dari kemampuan orang berkedok itu mengimbangi kepandaian Buyung Hong yang tinggi untuk sekian lama, Khu Pek Sim yakin, orang itu termasuk orang yang ternama dirimba persilatan.

Tentu orang itu tidak ingin dikenal maka memerlukan membungkus wajahnya.

"Bluuuk....!"

Terdengar suara pukulan yang telak mengena dibarengi tubuh mereka yang berpisah.

Buyung Hong terhuyung mundur sambil meringis kesakitan.

Tangannya bergerak cepat menutuk untuk menghentikan kucuran darah yang keluar cukup deras dari lambung kanannya yang terluka.

Khu Pek Sim segera meloncat menghampiri mereka.

Diterangi nuansa pagi, ia dapat melihat jelas sebuah telapak tangan bersemu hitam kemerahan yang tertera di dada kiri orang berkedok itu yang menggeletak tidak berkutik.

Hanya melihat sekilas, Khu Pek Sim paham, jelas urat besar disekitar jantung orang itu tergetar putus oleh sodokkan tangan Buyung Hong yang dahsyat.

Khu Pek Sim melirik sebentar ke Buyung Hong, kemudian menghampiri mayat itu hendak membuka kedoknya.

"Jangan sentuh dia!' teriak Buyung Hong dengan parau. Teriakkannya membuat tubuhnya tergetar, lukanya kembali terbuka, darah segar membasahi bajunya. Khu Pek Sim menahan gerakkan tangannya.

"Apa tubuhnya beracun?"

Buyung Hong menggeleng perlahan. Tanpa menghiraukan lukanya, ia bergerak perlahan menghampiri mayat itu. Wajahnya nampak pucat, rupanya lukanya tidak ringan. Dengan heran Khu Pek Sim bertanya.

"Apa kau tidak ingin tahu, siapa dia sebenarnya?"

Buyung Hong menatap sayu mayat orang berkedok itu, katanya dengan perlahan.

"Lubang mata dikedoknya seperti digunting rapih, hanya tenaga jari Kim Kong Ci dan Im Yang Kiam Ci yang mampu melakukan serajin itu. Dia adalah seorang sahabatku"

"Sahabatmu?"

Kejut juga Khu Pek Sim mendengar hal ini. Buyung Hong termangu sebentar, katanya kemudian dengan sedih.

"Sudah puluhan tahun kami berteman, tak kusangka hanya karena urusan mestika kemala pelangi, ia tega melupakan persahabatan"

"Makanya kau juga tega untuk membunuhnya?"

Buyung Hong tertawa getir.

"Semua serangannya mengandung maut, aku tidak diberi pilihan lain olehnya"

Khu Pek Sim menghela napas, ia dapat merasakan kepedihan perasaan Buyung Hong.

"Lukamu nampaknya tidak ringan"

Ujarnya perlahan. Buyung Hong seperti tidak mengacuhkan keadaan dirinya, malah ia memandang Khu Pek Sim dengan tajam.

"Dengan kondisiku saat ini, nampaknya aku bukan tandinganmu"

"Yaa, sekarang aku memang dapat mengalahkanmu"

Kata Khu Pek Sim juga memandang Buyung Hong dengan tajam. Dengan dingin Buyung Hong berkata.

"Untuk melepaskan diri dariku, sekarang merupakan kesempatan yang paling baik bagimu"

"Aku bahkan dapat membunuhmu"

Ujar Khu Pek Sim tidak kalah dinginnya.

Buyung Hong memaksa dirinya mengerahkan tenaga dalam yang sudah menyusut banyak.

Ia tidak marah atas sikap Khu Pek Sim.

Sahabat kentalnya yang dia kenal puluhan tahun saja tega menghianatinya, apalagi Khu Pek Sim yang baru saja dikenalnya.

Hati Buyung Hong tenggelam ketika ia menyadari lukanya ternyata lebih parah dari yang dibayangkannya.

Selain darahnya sudah keluar cukup banyak, ternyata serempetan jari Im Yang Kiam Ci yang setajam pedang, juga telah menggetarkan isi perutnya.

Buyung Hong maklum tanpa diserangpun, tak lama lagi ia akan rubuh dengan sendirinya.

Baca Juga: Pendekar Riang 5

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger