Eps 3 Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh
Baca online Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh
Cersil Bu Kek Kang Sinkang - Kkabeh.
Mumpung masih bertenaga dengan mengemposkan semangat ia menyerang Khu Pek Sim yang menyongsong tubuhnya dengan ujung tombak.
Muka Buyung Hong mendadak berubah aneh, ketika ujung tombak Khu Pek Sim mengenai tubuhnya.
Ia terkejut bukan saja lukanya menyebabkan gerakkannya menjadi lambat sehingga tidak dapat menghindari serangan Khu Pek Sim.
Yang membuatnya heran, ia tidak merasa sakit.
Ternyata Khu Pek Sim telah memutar balik tombaknya.
Tubuh Buyung Hong terkulai pingsan tertotok oleh ujung tombak dari tangkainya yang tumpul.
******************************** Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan.
Nampak taburan bintang gemerlapan memenuhi angkasa.
Suara burung hantu disahuti oleh binatang malam lainnya, menyadarkan Buyung Hong dari pingsannya.
Setelah menggeliat badan, ia baru menyadari luka dilambung kanannya telah terbalut rapi walau ditandai oleh bercak darah yang telah mengering.
Dengan perlahan Buyung Hong bersila kemudian mengatur pernapasannya untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Malam semakin larut.
Buyung Hong membuka matanya kemudian menarik napas dalam dalam.
Tubuhnya terasa lebih segar setelah bersamadi.
Hanya pertunya terasa lapar bukan main.
Entah sudah berapa lama ia pingsan, ditilik dari gelapnya malam, sedikitnya sudah lebih dari setengah hari.
Perlahan ia berjalan menghampiri api unggun.
Khu Pek Sim sedang menyusun ranting sehingga nyala api unggun jauh lebih besar untuk membakar ayam hutan yang sedang dipanggangnya.
Buyung Hong duduk disebelahnya sambil menerima sobekkan ayam panggang yang berbau semerbak mengundang rasa lapar.
"Kuheran dengan kelakuanmu"
Kata Buyung Hong disela sela gigitan santapannya.
"Kau heran padaku?"
"Kau toh tahu dengan membunuhku, bukankah urusanmu jauh lebih sederhana?"
Dengan tertawa Khu Pek Sim menjawab.
"Aku memang sedang sibuk memarahi diriku. Kenapa tidak main bunuh?"
Buyung Hong menghela napas.
"Ternyata, kau juga bukan seorang yang rendah"
Khu Pek Sim ikut menghela napas, katanya perlahan.
"Kutahu ketika kau menyerangku, hatimu sedang kecewa setelah dihianati oleh sahabat sendiri, sukar bagimu untuk percaya kepada siapapun"
"Kenapa kau totok diriku?"
"Lukamu sudah mengeluarkan darah cukup banyak, aku tidak melihat jalan lain"
"Dan kau kuatir, aku akan curiga dengan maksud baikmu?"
Khu Pek Sim tidak mengiakan, ia malah mengalihkan pembicaraan.
"Merebut mustika dengan sahabat sendiri, memang suatu perbuatan yang rendah"
Buyung termangu memandang gundukkan tanah yang nampaknya baru digali. Dengan lambat, ia menghampiri kuburan sahabatnya dan berdiri termenung lama sekali.
"Apakah ia masih kau anggap sebagai sahabatmu?"
Tanya Khu Pek Sim perlahan. Dengan tegas Buyung Hong menjawab.
"Yaa, ia tetap sahabatku"
"Walau ia telah menghianati dirimu?"
"Yaa, ia hanya bersalah satu kali kepadaku. Aku harus dapat memaafkannya"
Khu Pek Sim terdiam sejenak, kemudian katanya.
"Apakah aku juga termasuk sahabatmu?"
Buyung Hong tertawa, katanya.
"Kau bukan saja seorang sahabatku, malah sahabatku yang paling baik"
Dengan cepat Khu Pek Sim bertanya.
"Maukah kau menerangkan padaku, darimana kau tahu mustika kemala pelangi berada ditanganku?"
Buyung Hong mengerinyitkan alisnya.
"Kukuatir tempat ini sudah tidak aman lagi"
"Kau kuatir bukan satu hal kebetulan sahabatmu datang kemari?"
"Benar!"
Setelah berpikir sebentar, Khu Pek Sim berkata.
"Kukira temanmu yang pandai Im Yang Kiam Ci memang secara tidak sengaja menemukan jejak kita"
"Kenapa?"
"Sebab ia malu dikenal olehmu, tapi juga tidak tahan untuk tidak merebut mustika kemala pelangi yang mempunyai daya tarik luar biasa"
"Maka ia membungkus kepalanya dan juga mengubah suaranya?"
Khu Pek Sim mengangguk.
"Jika ia mempunyai persiapan yang cukup, tentu tidak perlu repot membuka dan menggunakan bajunya sendiri sebagai penutup kepala"
Buyung Hong mengakui ucapan Khu Pek Sim mengandung kebenaran. Setelah menghela napas, ia berkata.
"Seharusnya dapat kupikirkan hal itu"
"Dari keraguanmu tadi untuk meladeninya bertempur, kuyakin engkau telah mengetahui siapa sebenarnya dia. Banyak hal telah kau pikirkan sehingga pikiranmu menjadi kusut. Aku tidak heran kau terluka dan kau tidak usah heran kenapa tidak berpikir hal itu"
Buyung Hong berjalan perlahan dan kembali duduk didepan api unggun menghadap Khu pek Sim.
"Aku memang lebih banyak menghindar dari menyerang. Kuladeni dia bertempur sekian lama agar ia paham bahwa ia tidak dapat mengalahkanku dan mundur dengan sendirinya"
"Ternyata perbuatanmu membuatnya penasaran dan tersinggung. Ia malah menyerangmu semakin nekat dan tidak memberimu pilihan kecuali membunuhmu"
Kerlingan sedih keluar dari mata Buyung Hong, ia tidak menjawab.
Tangannya meraih guci arak dan meminumnya seteguk.
Lama mereka terdiam, terbenam oleh pikirannya masing masing.
Akhirnya Khu Pek Sim memecahkan kesunyian.
"Disini dekat air, dan banyak ayam hutan, kukira sebaiknya kita tinggal disini saja hingga lukamu sembuh"
"Bagaimana dengan urusanmu?"
"Kau telah pingsan lebih dari lima hari. Apa salahnya kutunda urusanku beberapa hari lagi"
"Lima hari katamu?!"
Tanya Buyung Hong terkejut.
"Bukankah perutmu lapar sekali?"
Buyung Hong tidak menjawab, ia menyobek paha ayam dari panggangan api unggun dan memakannya dengan lahap.
Selesai makan dan mencuci tangan disebuah sungai kecil, mereka kembali duduk didepan api unggun sambil menikmati minuman arak.
Khu Pek Sim berkata perlahan memecah keheningan.
"Lima hari kujaga dirimu. Aku tidak takut kedatangan musuh, yang kutakut adalah kesunyian. Sepi sekali tempat ini"
Buyung Hong tertawa mendengar pancingan Khu Pek Sim.
"Kau ingin aku mengisi kesunyian dengan bercerita darimana kutahu mustika kemala pelangi berada ditanganmu"
"Benar!"
Buyung Hong membalikkan ranting api unggun yang belum terbakar. Kemudian tanyanya.
"Tahukah kau asal usul mustika kemala pelangi?"
"Tidak! Yang kutahu mustika ini di ncar banyak orang konon karena menunjukkan tempat penyimpanan kitab kitab ilmu silat yang luar biasa"
"Tahukah kau bahwa mustika kemala pelangi merupakan hasil karya Budhidharma"
Terkejut sekali Khu Pek Sim mendengar hal ini.
"Budhidharma Tat Mo Couwsu pendiri Siaulimsi?! Jadi Siaulimpay adalah pemilik sebenarnya dari mustika kemala pelangi?"
"Kau salah!"
Dengan penasaran Khu Pek Sim berkata.
"Jika mustika itu buah tangan dari Tat Mo Couwsu, sudah tentu menjadi hak Siaulimpay. Aku tidak dapat melihat kesalahanku"
Buyung Hong menatap Khu pek Sim dengan tenang, kemudian katanya sepatah demi sepatah.
"Tat Mo Couwsu bukan pendiri Siaulimsi! Mustika itu oleh beliau telah dihadiahkan kepada orang lain, sudah tentu bukan menjadi hak Siaulimpay lagi. Siaulimpay sama sekali tidak mempunyai hak atas mustika itu"
Khu Pek Sim tidak dapat menahan dirinya, ia melonjak kaget.
"Apa kau bilang?"
Walau belum lama mengenalnya, Khu pek Sim cukup mengerti, Buyung Hong bukan jenis yang gemar asal bicara. Buyung Hong menghela napas, kemudian ujarnya.
"Sedikit sekali yang mengetahui bahwa kuil Siaulimsi didirikan oleh kaisar Siao Wen Ti dari Wei dinasti bagian utara sebagai tempat menetap untuk Batuo atau Buddhabadra, seorang bhiksu dari aliran Hinayana dari daerah Biau. Sedangkan Budhidharma baru mengunjungi Siaulimsi 17 tahun setelah kuil itu didirikan dan tak lama kemudian menjadi pemimpinnya. Beliau juga berasal dari daerah Biau hanya berbeda aliran dengan Buddhabadra. Budhidharma merupakan sesepuh dari aliran Mahayana"
Seperti terpukau berbareng kecewa, Khu Pek Sim menggumam sendirian.
"Tidak kusangka, Tat Mo Couwsu bukan pendiri Siaulimpay"
Melihat reaksi Khu Pek Sim, Buyung Hong cepat menghibur.
"Beliau memang bukan pendiri kuil Siaulimsi, tapi bukan tidak mungkin Tat Mo Cowsu memang pendiri Siaulimpay"
Khu Pek Sim menatap bingung Buyung Hong yang lekas berkata.
"Kurang kutahu pasti siapakah sebenarnya pendiri Siaulimpay, apakah Buddhabadra yang lebih tua atau Budhidharma. Yang pasti Tat Mo Couwsu telah menciptakan barisan LoHanTin yang terdiri dari 2 kali 9 orang yang bisa dibilang cikal bakal gerakkan ilmu silat ditanah tionggoan. Konon katanya Thio Sam Hong pendiri Bu Tong Pay, ketika kecilnya pernah menerima mainan yang dapat melakukan gerakkan LoHanTin. Sedikit banyak gerakkan ini mempunyai andil dalam pemikiran Thio Sam Hong ketika menciptakan gerakkan ilmu silat Bu Tong Pay"
Setelah meneguk arak menghilangkan rasa hausnya, Buyung Hong melanjutkan.
"Setelah sekian ratusan tahun, banyak gerakkan silat telah disempurnakan oleh bhiksu bhiksu Siaulimpay bahkan ada ilmu silat yang berubah total. Hanya LoHanTin yang walau sekarang telah dikembangkan menjadi barisan enam lapis 2 kali 9 orang atau menjadi 108 anggota barisan LoHanTin yang terkenal, Inti barisan ini tidak berubah. Barisan LoHanTin masih mengandung daya tekan tenaga 'Kang' yang dahsyat yang merupakan ciri khas dari aliran kuno Mahayana"
"Dan peta petunjuk ilmu kuno dari aliran Mahayana inilah yang ditaruh oleh Tat Mo Couwsu di dalam mustika kemala pelangi"
Kata Khu Pek Sim menerka. Buyung Hong menggeleng.
"Konon justru Buddhabadra yang telah menaruh peta ilmu kuno aliran Hinayana yang menekankan lebih banyak ditenaga lemas dan gerakkan ilmu silat di dalam mustika itu. Kurang kutahu dengan pasti, tapi kukira telah terjadi perselisihan antara murid murid Buddhabadra dengan murid murid Tat Mo Couwsu. Beliau memberikan kotak kemala berwarna pelangi itu sebagai lambang perdamaian dari dua aliran yang berbeda tapi sama sama penganut ajaran Buddha"
"Sebetulnya apa keistimewaan kotak kemala itu?"
Tanya Khu Pek Sim tak tahan.
"Dengan kejeniusannya, setelah bersusah payah sekian tahun lamanya, Tat Mo Couwsu berhasil menciptakan sebuah kotak penyimpan yang berongga dibagian dalam. Rencananya semula adalah menaruh peta petunjuk ilmu kuno aliran Mahayana didalamnya. Kotak itu hanya dapat dibuka dengan satu cara, jika dibuka dengan kekerasan, maka racun kering yang ikut tersimpan akan menghancurkan peta itu. Hal ini beliau lakukan untuk mencegah kotak kemala itu jatuh ketangan yang salah."
"Pernah kucoba memutar kotak itu kesana kemari, tapi tidak pernah berhasil membukanya"
Gumam Khu Pek Sim perlahan. Sambil tertawa kecil, Buyung Hong berkata.
"Jumlah kombinasi cara memutar kotak itu dengan salah, mungkin sama banyaknya dengan jumlah bintang dilangit"
Khu Pek Sim menghela napas sambil memandang taburan bintang di angkasa.
"Kurasa Buddhabadra menaruh peta petunjuk ilmu kuno Hinayana untuk menghormati jerih payah Tat Mo Couwsu"
Buyung Hong mengangguk perlahan.
"Entah bagaimana cara beliau melestarikan ilmu aliran Mahayana"
"Bukankah ilmu tersebut sudah terlebur di dalam ilmu silat Siaulimpay"
Seru Khu Pek Sim.
"Tidak benar! Ilmu Siaulimpay merupakan ilmu silat ciptaan Tat Mo Couwsu setelah ia berada di Tionggoan, sedangkan ilmu kuno asli dari aliran Mahayana yang dipelajari beliau entah tersimpan dimana"
Khu Pek Sim termenung sejenak, kemudian katanya.
"Jika telah terjadi perselisihan antara murid mereka, berarti terdapat murid Tat Mo Cowusu yang mempelajari aliran Mahayana tapi bukan dari golongan Siaulimpay"
Tergerak hati Buyung Hong mendengar hal ini, katanya sambil bergurau.
"Jika keturunan murid itu masih ada hingga jaman sekarang, boleh kau anggap mereka sebagai saudara dari angkatan tuamu"
Khu Pek Sim memandang Buyung Hong dengan tajam.
"Rahasia ini jelas tidak sembarangan orang yang tahu, darimana kau tahu sebanyak ini?"
Buyung Hong menatap Khu pek Sim dengan tenang.
"Pernahkah kau mendengar istilah 'dengan kepandaiannya, digunakan di atas dirinya' dari keluarga Buyung di Ko-soh?"
"Pernah kudengar"
Jawab Khu Pek Sim.
"Sehebat hebatnya kemampuan seseorang, mungkinkah mampu mempelajari ilmu silat yang sekian banyaknya dalam hidupnya?"
Giliran hati Khu Pek Sim yang tergerak, serunya dengan cepat.
"Apalagi keluarga Buyung terkenal selama beberapa generasi. Tidak mungkin setiap generasi terus menerus melahirkan seorang jenius yang dapat menguasai ilmu silat sedemikian banyaknya"
Buyung Hong tersenyum, katanya pendek.
"Tepat sekali ucapanmu"
"Jadi kau merupakan keturunan murid dari aliran Hinayana?"
Tanya Khu Pek Sim dengan kaget.
"Aku memang keturunan generasi penerus dari murid aliran Hinayana di Tionggoan. Mustika kemala pelangi memang sepatutnya sudah menjadi hakku"
Dengan ragu Khu Pek Sim bertanya.
"Jika demikian, kau telah menguasai ilmu kuno yang hebat itu, untuk apa kau mencari tempat penyimpanan kitab kitab itu?"
Dengan muka muram, Buyung Hong menjawab.
"Sudah menjadi kebiasaan di rimba persilatan, setiap guru biasanya menyisihkan sebagian kepandaiannya dan tidak mengajari muridnya. Setelah sekian ratus tahun, kepandaian tersisa yang diajarkan semakin sedikit, dan boleh dibilang sudah tidak karuan dari kepandaian aslinya. Aku ingin memulihkan, atau menghidupkan kembali kepandaian kuno yang sejati itu."
Khu Pek Sim menghela napas, kemudian katanya.
"Kepandaian yang kau miliki yang menurutmu hanya sisa dan tidak keruan, sudah kuanggap hebat sekali"
Buyung Hong ikut menghela napas.
"Dapat kau bayangkan bagaimana saktinya kepandaian kuno yang asli?"
Bergidik Khu Pek Sim membayangkan hal ini.
"Tidak heran banyak yang mau mengorbankan nyawanya untuk merebut mustika kemala pelangi"
Gumamnya lirih.
"Tahukah kau nama asli orang yang mahir Im yang Kiam Ci itu? Tanya Buyung Hong sambil menuding gundukkan kuburan itu.
"Kau tidak ingin aku melihat dirinya, aku tidak membuka kerudung kepalanya ketika menguburnya"
Buyung Hong memandang Khu Pek Sim dengan rasa terima kasih. Timbul rasa hormat dari lubuk hatinya kepada orang yang sudah tua ini.
"Dia bernama Ki, she Buyung"
Katanya perlahan.
"Buyung Ki?!...Jadi dia...?"
Buyung mengangguk.
"Dia sahabatku sekaligus sanak keluargaku dari Ko-soh"
Khu Pek Sim membungkam mulutnya dengan tegukkan arak. Lama mereka tidak berbicara, guci arak itu lambat laun habis diminum mereka berdua.
"Apakah kau heran kenapa kubunuh dia"
Tanya Buyung Hong memecah kesunyian.
"Tidak. Yang kuheran, kenapa setiap kutanya padamu mengenai darimana kau tahu mustika kemala pelangi berada ditanganku, kau sepertinya menghindar"
Buyung Hong tertawa kecut, katanya.
"Kukira setelah kuceritakan perihal mustika kemala pelangi, kau telah melupakan pertanyaan itu"
"Ceritamu memang menarik. Tapi bukan itu jawaban yang ingin kuketahui"
"Baik! Kuceritakan kepadamu darimana kutahu mustika itu berada ditanganmu"
Ditinjau dari susunan meja kecil berlaci dibawah lampu kertas yang menempel di dinding disebelah sebuah cermin tembaga, Giok Hui Yan yang baru saja membuka kelopak mata, maklum ia berada di sebuah kamar penginapan.
Dahinya berkerut, ketika hidungnya mencium semacam bau aneh.
Giok Hui Yan yang kurang berpengalaman, tidak mengetahui bahwa bau khas semacam itu biasanya tersuar dari tubuh lelaki jantan.
Wajahnya merah padam ketika menyadari, ia tertidur dengan kepala menggelendot diatas dada Tan Leng Ko yang bidang.
Dengan tangkas, ia meloncat turun dari tempat tidur.
Bergegas ia memeriksa dirinya, hatinya yang kuatir berubah lega melihat ia masih berpakaian lengkap, bukan saja ia merasa dirinya tidak kurang apa, bahkan terasa lebih segar dari sebelumnya.
Ia mengerti, entah bagaimana caranya, Tan Leng Ko telah berhasil menyembuhkan lukanya yang parah.
Tapi bukan berarti, ia boleh seenaknya membawa dirinya tidur berduaan disebuah kamar penginapan.
Timbul hawa kemarahan dihati Giok Hui Yan, tangannya dengan cepat menampar ke pipi Tan Leng Ko.
"Plaaakkk....!"
Tamparan yang keras itu membuat pipi Tan Leng Ko bengap, darah mengalir dari ujung bibirnya.
Anehnya, ia seperti tidak merasakan, Tan Leng Ko tetap tertidur dengan tenang.
Semacam pikiran melintas di benak Giok Hui Yan yang keheranan.
Cepat ia memeriksa tubuh Tan Leng Ko yang ternyata telah tertotok di tiga puluh enam urat nadinya.
"Rupanya locianpwee itu yang membawa kami kesini"
Gumam Giok Hui Yan.
Segera ia berusaha menyadarkan Tan Leng Ko.
Segala cara ia mencoba, setelah berkutet sekian lama, ternyata ia tidak berhasil juga membuka totokkan itu.
Giok Hui Yan menghela napas, ia maklum keadaan Tan Leng Ko mirip dengan nasib Ou Leng Poo dan anak buahnya yang lain.
Tidak ada jalan lain, kecuali membiarkan totokkan itu terbuka dengan sendirinya.
Ia memandang wajah Tan Leng Ko sejenak, senyuman manis menghias bibir Giok Hui Yan, ketika melihat pipi Tan Leng Ko yang membengkak.
Tiba tiba sinar matanya berbinar terang, mulutnya cengar cengir.
Tangan kanannya meraih kesaku baju dalamnya dan mengeluarkan sebilah pisau pendek yang berkilauan hijau saking tajamnya.
Sambil menyeringai seperti seekor rase siluman, tangan kirinya menjambak rambut Tan Leng Ko sedangkan tangan kanannya sibuk menggerakkan pisau disekitar kepala Tan Leng Ko.
Giok Hui Yan tertawa cekikikan, mengagumi hasil karyanya.
Setelah puas, ia menyimpan pisaunya dan kemudian menghampiri cermin tembaga itu.
Nampak pantulan wajahnya yang cantik segar tidak sepucat seperti biasanya.
Giok Hui Yan termangu memandang dirinya, rambutnya yang panjang terlihat kusut berantakan.
Tangannya menarik laci bagian atas meja itu.
Ia tidak menemukan sisir yang dicarinya, malah menemukan sebuah buku ajaran Buddha.
Giok Hui Yan tidak dapat menahan ketawanya, matanya melirik ke kepala Tan Leng Ko.
Ia menutup kembali laci itu, kemudian merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
Ketika Ia menarik napas dalam dalam, hampir saja ia terbatuk.
Bau apek ruangan ini sangat menusuk hidungnya.
Nampaknya, tidak setiap hari kamar ini dibersihkan.
Segera ia membuka jendela kamar penginapan, sinar matahari pagi menerobos masuk disertai tiupan sepoi angin dingin.
Hanya sekilas ia memandang, Giok Hui Yan segera mengenali jalanan luar.
Ia berjalan ketengah ruangan, kemudian duduk bersimpuh mengatur posisi kaki tangannya.
Dengan mata tertutup, ia mengatur tenaga saktinya yang berputar mengikuti irama pernafasannya.
Sebentar saja ia sudah tenggelam di alam semadhinya.
********************************** Waktu berlalu dengan lambat.
Suasana kamar gelap sekali hanya sedikit cahaya yang menerobos masuk dari jendela yang terbuka.
Giok Hui Yan membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa ringan sekali.
Bukan saja ia telah sembuh dari luka dalamnya, bahkan ia merasa tenaga saktinya seperti bertambah.
Giok Hui Yan mengeluarkan batu ketik apinya dan menyalakan semua lampu kertas yang berada di kamar itu.
Perutnya terasa lapar sekali, ia ingin mencari makanan di luar, tapi juga tidak ingin meninggalkan Tan Leng Ko sendirian dalam keadaan begitu!.
Ketika Tan Leng Ko bangun dari tidur, bukan saja badannya terasa panas dingin dari terjangan hawa liar, pipinya pun terasa sakit, anehnya kepalanya terasa ringan.
Tak terasa ia mengusap batok kepalanya, Tan Leng Ko terkejut bukan main begitu mengetahui rambutnya yang panjang, ternyata telah hilang...
Kepalanya gundul plontos!
Terdengar suara cekikikan yang khas, Tan Leng Ko menengok, nampak olehnya Giok Hui Yan yang sedang duduk disebuah kursi disebelah meja kecil.
Dua titik lubang kecil bekas gigitan hek pek coa di pergelangan tangan, membuktikan dia tidak sedang bermimpi.
Melihat Giok Hui Yan yang tadinya sudah sekarat ternyata sekarang sehat bugar, pipinya yang biasa pucat kekuning kuningan, malah terlihat memerah seperti tomat segar, Tan Leng Ko tidak dapat menahan rasa harunya.
Lehernya seperti tercekik, matanya mengembang merah, hampir ia menitik air mata.
"Dari bentuk kepalamu, kutahu kau cocok sekali menjadi seorang bhiksu"
Kata Giok Hui Yan dengan cengar cengir.
Begitu mendengar ucapan gadis itu, perasaan terharu Tan Leng Ko dengan cepat berubah bercampur dongkol.
Dari gumpalan rambut yang berserakan disekitarnya, ia paham, tentu Giok Hui Yan yang telah membotaki kepalanya.
"Kenapa kau memerlukan untuk mencukur rambutku?"
Tanya Tan Leng Ko menyesali. Sambil menepuk tangannya senang, Giok Hui Yan menjawab.
"Bukankah pernah kukatakan, dengan warna bajumu kan lebih cocok, juga kau lebih tampan jika kepalamu gundul"
Mendengar jawaban yang tidak karuan ini, Tan Leng Ko hanya dapat menghela napas. Sambil bangkit dari tempat tidur, ia bertanya.
"Tempat apa ini?"
"Se Chuan Koan"
Tan Leng Ko mengangguk.
Se Chuan Koan seperti kebanyakkan rumah makan, juga menyediakan sarana tempat penginapan.
Walau sering makan disini, tapi ia belum pernah menginap.
Hanya ia tidak menduga, mereka dipindahkan ke tempat yang tidak jauh dari toko buku itu.
Giok Hui Yan memandangnya sejenak, kemudian katanya perlahan.
"rupanya kau memang mempunyai setitik hubungan dengan toko buku itu"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Ou Leng Poo mengundurkan diri dari perguruan kami karena kepandaiannya telah musnah, siapapun yang pernah mengunjungi taman belakang itu, jika tidak mengalami nasib yang sama tentu tewas mengerikan!"
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan tajam, katanya dengan perlahan.
"Hanya nasib kita yang berbeda, kuyakin hal ini bukan disebabkan oleh diriku"
Tan Leng Ko menggerakkan tubuhnya, duduk di pinggiran tempat tidur.
"Ada yang aku kurang mengerti, sesaat kau bilang mereka hanya tertotok pulas, disaat lain kau katakan mereka tewas atau dimusnahkan kepandaiannya. Sebetulnya mana yang benar?"
Dengan muka murung, Giok Hui Yan menjelaskan.
"Awalnya mereka memang hanya tertotok pulas. Ou Leng Poo, tongcu pemimpin tugas ini, memutuskan mengirim mereka kembali kesana, toh paling banter hanya tertidur sekali lagi. Ternyata tidak ada yang pernah datang untuk kedua kali tanpa mengalami nasib tragis, termasuk dirinya"
Tan Leng Ko menghela napas, sudah menjadi pandangan umum bagi kaum persilatan, musnahnya kepandaian silat dianggap jauh lebih mengenaskan dibanding tewas terbunuh.
Ia tidak mengenal Ou Leng Poo, namun hatinya ikut berduka atas kemalangan yang menimpa bekas tongcu Mi Tiong Bun itu.
Setelah berpikir sejenak, Tan Leng Ko berkata.
"Kau kan tahu, aku kesana baru satu kali, hasilnya aku tertotok pulas. Aku tidak melihat nasibku berbeda dengan mereka"
"Benar! Memang pertama kali kau pergi kesana, tapi bagiku, ini kali yang kedua"
Kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini.
"Kau tidak sadar diri, darimana kau tahu aku telah membawamu kesana?"
"Hanya locianpwee itu yang dapat menotokmu dengan cara demikian, juga kutahu betapa parah lukaku. Hanya locianpwee itu yang mampu menyembuhkanku, kau tidak mempunyai kemampuan itu"
"Yaa, aku memang tidak dapat menyembuhkanmu"
"Sembuhnya diriku, tentu disebabkan kau mempunyai hubungan dengan locianpwee itu"
Tan Leng Ko menghela napas, akhirnya ia mengakui.
"Tadinya tidak punya, sekarang memang ada satu titik"
Berubah muka Giok Hui Yan mendengar hal ini.
"Kenapa locianpwee itu mau mengecualikan diriku, bahkan menyembuhkanku?"
Tan Leng Ko ragu, ia mengalami kesulitan untuk menjawab.
Ia tidak ingin seperti menonjolkan jasa, tapi lebih lebih tidak ingin hubungan locianpwee itu dengan Khu Han Beng diketahui orang lain.
Akhirnya dengan pelan ia menggumam.
"Karena aku telah menyanggupi melakukan satu hal"
"Sebetulnya apa yang telah terjadi?"
Desak Giok Hui Yan.
Tan Leng Ko termenung sejenak, masih segar dibenaknya apa yang telah terjadi.
Ini yang ketiga kali ia terjaga dari tidur atau pingsannya setelah dipatuk Hek Pek Coa.
Yang pertama, ia pun berbaring disebuah tempat tidur disebuah ruangan yang juga dihiasi sebuah meja kecil lengkap dengan cermin tembaga.
Ia meronta bangun kemudian duduk dipinggir tempat tidur.
Tubuhnya terasa tersiksa bukan main, mulutnya kering, ia kehausan.
Badannya dibagian sebelah kiri terasa panas seperti dibakar hidup hidup.
Tapi ia juga menggigil kedinginan, separuh badan kanannya seperti dibungkus lapisan es yang tebal.
Dua hawa panas sekaligus dingin bergulung mengikuti aliran darah di urat nadinya.
Tubuhnya berkeringat bergemetaran, tak terasa mulutnya melolong kesakitan.
Anehnya dua hawa yang bertentangan itu tidak bercampur.
Yang panas semakin menyengat, sedangkan hawa yang dingin semakin dingin.
Ngeri hati Tan Leng Ko, begitu melihat keringat di tangan kirinya menjadi kabut putih, dan selapis es tipis membungkus tangan kanannya.
Mendadak segulung hawa hangat memasukki urat nadi dibagian punggungnya.
"Cepat kau bersamadhi menyatukan hawa racun itu ke urat nadi Khi Hay, kemudian alirkan perlahan ke Hwee Tie"
Tiba tiba suara yang dikenalnya berbisik dari belakang.
Dengan susah payah Tan Leng Ko mengalirkan hawa liar itu ke tiga puluh enam nadi pentingnya mengikuti perintah locianpwee itu.
Hampir ia tidak dapat menguasai gelombang hawa panas dingin yang menerjang, untung hawa hangat yang mengalir halus tapi kuat membimbing dan menguasai hawa liar itu.
Entah sudah berapa ratusan kali hawa gabungan itu mengitari tubuhnya, lama kelamaan, rasa sakit yang timbul dari hawa panas dingin yang bersilih ganti berubah menjadi hawa hangat yang menimbulkan rasa nyaman.
Matanya terasa berat, kantuk mulai menyerang tubuhnya, tak terasa ia tertidur!
Tan Leng Ko tidak tahu telah berapa lama ia tertidur, hanya ketika ia terjaga untuk yang kedua kali, tubuhnya terasa lebih mendingan walau hawa panas dingin masih menerjang urat nadinya secara liar.
Tanpa terasa ia bersiul nyaring, cermin tembaga yang menempel di dinding tergetar oleh nada siulannya.
Diam diam ia terkejut ternyata tenaga dalamnya telah meningkat tidak sedikit, cepat ia melompat membetulkan cermin tembaga yang hampir terjatuh.
Tan Leng Ko melongo!
Bayangan mukanya yang terpantul di cermin sungguh terlihat mengerikan!
Bagian sebelah kiri hangus berwarna hitam, sedangkan sebagian kanan berwarna seputih salju.
Sebuah garis membelah persis ditengah.
Melihat mukanya yang menjadi tidak karuan, mau tidak mau hatinya sedih juga.
"Tak kusangka, kau jenis lelaki yang peduli dengan penampilan"
Tiba tiba terdengar suara bisikkan locianpwee itu. Tan Leng Ko melirik sekeliling ruangan itu, ia tidak melihat orangnya, tentu locianpwee itu telah menggunakan ilmu mengirim gelombang suara.
"Giok Hui Yan juga digigit oleh Hek Pek Coa, tak kusangka kau tega membuat seorang gadis berwajah seperti ini"
Kata Tan Leng Ko dengan geram.
"Giok Hui Yan belum melatih Hek Yang Pek Im Sinkang tidak mungkin wajahnya akan berubah"
Tan Leng Ko menjadi bingung, seingatnya, ia tidak pernah melatih ilmu Hek Yang Pek Im Sinkang, mendengarnyapun baru sekarang.
"Apakah dengan cara mengalirkan hawa liar itu mengikuti petunjukmu, telah kulatih ilmu itu?"
Tanya Tan Leng Ko setelah berpikir sejenak.
"Benar! Jika kau tidak mengerahkan tenaga dalam, mukamu pun akan pulih"
Ketika Bersiul tadi memang Tan Leng Ko secara tidak sengaja telah mengerahkan tenaga saktinya.
Benar saja, mukanya berangsur pulih begitu ia menghentikan aliran tenaga dalamnya.
Tan Leng Ko menghela napas, tanyanya kemudian.
"Apakah kau ingin aku mengangkat guru padamu?"
"Tidak perlu! Ilmu itu toh andalan Ngo Tok Kauw, denganku tidak ada sangkut pautnya"
"Darimana kau...?"
Tan Leng Ko tidak jadi meneruskan pertanyaannya.
Walau Ngo Tok Kauw termasuk perkumpulan yang cukup besar dan disegani, tapi masih jauh dibanding dengan tujuh perkumpulan besar, sedangkan ruang kitab mereka saja kebobolan.
"Kau tidak perlu kuatir, ilmu itu tidak beracun, malah cocok untuk mempercepat melebur racun Hek Pek Coa dengan tenaga dalam"
"Apakah racun Hek Pek Coa dapat digunakan untuk meningkatkan tenaga dalam?"
"Benar!"
"Jadi gigitan ular itu, tidak ada hubungannya dengan pengobatan?"
Tanya Tan Leng Ko dengan muka berubah.
"Kan pernah kukatakan, hanya aliran tenaga sakti yang mengalir tidak putus yang dapat menyelamatkan gadis itu"
"Sebenarnya ilmu apa yang dapat menyelamatkan gadis itu?"
Tanya Tan Leng Ko ingin tahu.
"Kujamin kau belum pernah mendengar namanya"
Tan Leng Ko termenung sejenak.
Ia cukup mengerti locianpwee itu menginginkan dirinya memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga ruang pustaka.
Ia juga paham, kenapa Giok Hui Yan tidak diajarkan Hek Yang Pek Im Sinkang, karena soal penampilan wajah sangat penting bagi seorang gadis.
Walau ia tidak tahu Giok Hui Yan sekarang berada dimana, Tan Leng Ko merasa terhibur, paling tidak ia menduga tentu sedang dalam pengobatan.
Lapat lapat, ia seperti mendengar, locianpwee itu berbisik.
"Ada dua cara meningkatkan tenaga dalam dengan cepat, menggunakan racun Hek Pek Coa adalah cara kedua"
Tan Leng Ko tidak ingin mengetahui cara pertama, walau sedikitnya ia dapat menerka tentu berhubungan dengan aliran tenaga sakti itu.
Tapi masih banyak hal yang ia tidak mengerti!
"Apakah kau ingin aku yang mengajar Hek Yang Pek Im Sinkang kepada Giok Hui Yan?"
"Itu terserah padamu. Satu hal yang kau perlu tahu, muka kalian tidak akan berubah jika racun Hek Pek Coa telah berhasil melebur dengan tenaga sakti kalian. Tapi ada satu hal yang harus kau beritahu padanya"
Setelah menghela napas, akhirnya Tan Leng Ko bertanya.
"Urusan apa?"
"Toko buku Gu-suko menjadi daerah terlarang bagi orang Mi Tiong Bun"
"Dan jika mereka melanggar?"
"Mereka tidak hanya akan tertotok pulas, kujamin mereka akan tidur untuk selamanya... Dan kuyakin kau akan memikirkan satu akal untuk mencegah, karena kunjungan berikutnya dapat berpengaruh buruk dan kau menguatirkan kesehatannya"
Tenggelam hati Tan Leng Ko mendengar hal ini.
Ia yakin locianpwee ini mampu dan akan menyembuhkan Giok Hui Yan.
Tapi ia juga percaya, locianpwee ini mampu dan akan membunuh Giok Hui Yan jika berani melanggar larangannya.
"Dengan meningkatkan tenaga dalam Giok Hui Yan, apakah kau juga menginginkan dia untuk menjaga ruang pustaka itu?"
"Tidak! Urusan ini tidak boleh kau ceritakan kepadanya, maupun kepada orang lain!"
Tan Leng Ko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tahu Giok Hui Yan juga dipatuk Hek Pek Coa.
Jelas bukan dalam upaya penyembuhan, melainkan untuk meningkatkan tenaga dalamnya.
Jika tidak ikut menjaga, lalu apa tujuannya?
Tan Leng Ko menyeringai, banyak hal yang ingin ia ketahui nampaknya bakal sukar memperoleh jawaban.
"Kenapa kau pilih aku untuk menjaga isi kamar Khu Han Beng?"
"Karena kau yang paling cocok untuk menjaga ruang pustaka itu"
"Bukan aku tidak berterima kasih, namun aku tidak melihat perlunya kau tingkatkan tenaga dalamku. Bukankah Khu Han Beng yang tinggal dikamar itu tidak bisa silat?"
"Khu Han Beng tidak akan dicurigai, lain halnya jika kau yang tidur disitu. Kemungkinan orang lain memasukki kamar itu jauh lebih besar"
"Maksudmu?"
"Sebentar lagi Khu Han Beng harus meninggalkan Lok Yang Piaukok, dan kau yang harus tinggal di kamar itu"
"Kemana dia harus pergi?"
"Tahukah kau kenapa setiap pertanyaanmu kujawab?"
"Akupun sedang heran"
"Sedikitnya, ada dua cara untuk meminta orang melakukan apa yang kukendaki, yaitu menekan secara kekerasan...!"
Tiba tiba Tan Leng Ko tidak mampu untuk bergerak.
Sekujur tubuhnya kaku, bahkan suara gerengan keluar dari mulutnya yang bergerak gerak seperti sukar untuk bernapas.
Dirinya seperti digulung serangkum kekuatan tenaga sakti yang tak nampak.
"...Atau dengan ketulusan!"
Mendadak tubuh Tan Leng Ko tergetar mundur beberapa langkah, dengan segera ia menarik napas dalam dalam.
Diam diam bergidik hati Tan Leng Ko membayangkan pengalamannya barusan.
Ia cukup menyadari, jika locianpwee ini berniat membunuhnya tentulah tidak terlampau sukar.
"Karena banyak hal yang ingin kau tahu tapi tidak kau ketahui, otomatis kau mudah curiga, maka kuusahakan untuk memberimu pergertian. Tapi ada beberapa hal yang tidak kuperkenankan kau bertanya"
Dengan sedikit terengah, Tan Leng Ko menjawab.
"Salah satunya, urusan yang menyangkut perihal Khu Han Beng?"
"Benar!"
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam.
Jika dugaannya benar, locianpwee ini nampaknya telah mengenal Khu Han Beng jauh lebih dulu, malah sebelum ia tinggal di Lok Yang Piaukok.
Betapapun rumit hubungan mereka jelas tidak bermaksud buruk terhadap Khu Han Beng.
Hanya kemisteriusan yang menyelimuti dan terlibatnya locianpwee ini terhadap kasus pencurian kitab membuatnya sedikit kuatir terhadap masa depan Khu Han Beng.
"Kuheran kenapa kau tidak sembunyikan saja kitab kitab itu ditempat yang aman?"
"Bukan hanya tempat, orang yang menjaganya pun harus tepat. Kau sendiri toh tidak mencurigai kamar itu, walau sudah tinggal disana selama bertahun tahun. Lagipula kau yang datang dan memohon padaku, dan aku telah menyanggupi"
Tan Leng Ko tidak mengelak, juga tidak ingin! Ia memang telah menyanggupi untuk menjaga ruang pustaka di kamar Khu Han Beng.
"Sekarang kau perhatikan meja di depanmu, kau boleh buka laci bahagian atas!"
Tanpa membantah, Tan Leng Ko membuka laci tersebut yang berisi sebuah salinan kitab. Tiba tiba muka Tan Leng Ko berubah hebat ketika ia membaca sekilas lembaran halamannya....
"in....ini...?!"
"Kau boleh mengingat dan mempelajari secara lengkap 13 jurus Ouw Yang Ci To, hanya tidak diperkenankan membawa kitab itu!"
"Ini...?!"
Kerongkongan Tan Leng Ko seperti tercekik, hatinya terenyuh.
Sungguh ia tidak sangka, ternyata dirinya benar benar begitu mujur, impiannya selama tujuh tahun berubah menjadi kenyataan.
Sebercik pikiran memasukki benaknya, lekas ia membalik halaman kitab itu.
Hatinya berdesir ketika ia menyadari gerakkan ke tujuh dari Ouw Yang Ci To ternyata sama persis dengan gerakkan yang pernah diperagakan oleh Khu Han Beng.
"Ini... bukan tulisan tangan Khu Han Beng?"
"hemm... Pintar juga kau! Ternyata kau memang mengenali tulisan Khu Han Beng dari gumpalan kertas yang kau peroleh di keranjang sampah tujuh tahun yang lalu"
"Kau...Kau tahu kejadian itu?!"
"Banyak orang di dua propinsi mengetahui dirimu menguasai Ouw Yang Ci To, setelah kuketahui kau hanya menguasai enam jurus, kuyakin ilmu tersebut kau peroleh dari keranjang sampah itu"
"Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Kukurang mengerti kenapa salinan ilmu langka itu dibuang begitu saja ke keranjang sampah?!"
"Hemm... Jika tidak kuceritakan tentu kau akan penasaran sekali!"
Lama tidak terdengar suara bisikkan, sepertinya locianpwee itu sedang menimbang, menceritakan atau tidak.
"Boleh kuceritakan sedikit hal ini. Sebetulnya urusan ini tidak terlalu luar biasa, saat itu bocah itu memasukki usia sedang belajar menulis, dan karena tulisannya dianggap kurang baik, ia menjadi mengkal. Selang beberapa hari, baru kuketahui ia telah membuang kertas kertas tulisan itu ke keranjang sampah dan aku terlambat menemukannya kembali"
Tan Leng Ko menyengir, tadinya ia selalu berkeyakinan, Khu Han Beng membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To karena mengandung sifat rahasia.
Makanya ia menjadi bingung melihat bocah itu kembali ke gang sempit itu.
Sungguh tidak terpikir olehnya, ternyata peristiwa itu tidak ada rahasia segala, bahkan hanya sebuah perbuatan seorang bocah yang mengambek karena tulisannya dianggap jelek!
Sebagai bocah yang sedang belajar menulis, tentu saja ia tidak mengetahui betapa tinggi nilai tulisannya.
Sekarangpun, rasanya bocah itu juga seperti tidak mengetahui betapa berharganya kumpulan kitab di kamarnya.
Ketika kuda bocah itu menabrak Pek Kian Si tempo hari, wajahnya tidak nampak cemas.
Apa bocah itu memang menganggap kitab di dalam tasnya seperti kitab umum yang biasa, yang setiap saat dapat diperoleh di setiap toko buku?
Mendadak, Tan Leng Ko menyadari tiga hal.
Pertama, banyak urusan yang misterius begitu ketahuan sebab akibatnya kebanyakkan menjadi hambar, cemplang seperti tiada harganya.
Anehnya, sedikit sekali orang yang bisa menahan rasa ingin tahunya, kadang malah bersedia mengorbankan nyawanya untuk memecahkan hal hal yang misterius.
Yang kedua, locianpwee ini walau sakti jelas bukan seorang dewa yang serba tahu.
Sedikitnya beliau kalah cepat, juga nasibnya kalah mujur dibanding dengan dirinya.
Yang ketiga, locianpwee yang sukar diajak berkomunikasi ini, nampaknya juga minim sekali berkomunikasi dengan Khu Han Beng.
Setelah termenung sejenak, Tan Leng Ko bertanya.
"Kenapa kau tidak mengambil tindakkan setelah mengetahui gumpalan kertas itu berada ditanganku?"
"Tidak banyak orang yang berbakat mempelajari Ouw Yang Ci To, dan kau orang yang tepat! Kenapa harus kurebut kembali darimu?"
"Sebab...?!"
Tan Leng Ko termangu, ia tidak mampu untuk menerangkan. Tan Leng Ko menghela napasnya.
"Yang kuheran, kenapa kau tidak mengajarkannya saja kepada Khu Han Beng, jelas jelas bocah itu tidak bisa silat!"
"Kuheran jelas jelas kau orang pintar, kenapa masih juga mengeluarkan pertanyaan yang bodoh?"
"Kutahu locianpwee melarangku bertanya urusan Khu Han Beng, tapi aku sangat memerhatikannya. Kutahu locianpwee juga sayang padanya, hanya aku tidak habis mengerti, dengan kesaktian locianpwee juga dengan koleksi kitab kitab itu, kenapa bocah itu tidak dilatih silat?"
"Sebab tadi pagi, ku santap telur rebus sebanyak 5 butir"
Tan Leng Ko bengong! Ia tidak mengerti dengan jawaban yang tidak juntrungan, tanyanya heran.
"Apa hubungan sarapanmu dengan pertanyaanku?"
"Apa setiap jawaban harus berhubungan dengan pertanyaanmu? Jengek bisikkan itu.
"Aku...?!"
Sekitar sepenanakan nasi mereka tidak berbicara. Akhirnya, terdengar bisikkan halus, suara helaan napas locianpwee itu.
"Kutahu kau juga kasih pada bocah itu. Baiklah, sekali ini kujawab pertanyaanmu. Khu Han Beng tidak melatih Ouw Yang Ci To sebab bocah itu tidak memerlukannya"
"Tidak memerlukannya?"
Tanya Tan Leng Ko semakin bingung.
"Sudahlah, sudah waktunya kau melatih Hek Yang Pek Im Sinkang, jika tidak hawa liar itu akan menganggumu"
Lama sekali, Tan Leng Ko termenung. Sedari tadi semacam pikiran menganggu benaknya. Akhirnya dengan menggeretak gigi, ia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Apakah Hek Yang Pek Im Sinkang, Ouw Yang Ci To, seperti halnya Hui Liong Cap Sa Cik, merupakan hasil curian?"
"Apakah engkau enggan melatih ilmu hasil curian?"
"Benar!"
"Jika kau tidak melatih Hek Yang Pek Im Sinkang, kau akan mati oleh hawa liar racun Hek Pek Coa, berarti ruang pustaka itu tidak akan kau jaga. Kau mengingkari janji, aku juga tidak harus menyembuhkan putri Mi Tiong Bun itu"
"Tidak adil! Ini sebuah pemerasan...!"
Protes Tan Leng Ko agak keras.
"Tidak, ini sebuah pilihan. Aku tidak memeras juga enggan memaksamu. Kau sepenuhnya berhak memilih"
Dengan sedih dan terpaksa, akhirnya Tan Leng Ko mengakui ia tidak mempunyai pilihan lain.
"Baik! Akan kulatih Hek Im Pek Yang Sinkang agar gadis itu tetap hidup. Tapi kau tidak dapat memaksaku untuk melatih Ouw Yang Ci To"
"Bukankah kau telah menguasai tujuh jurus?"
"Aku dapat saja tidak menggunakan jurus itu lagi...untuk selamanya"
Kata Tan Leng Ko dengan sedih.
Sebetulnya impiannya sekarang telah menjadi kenyataan, kitab Ouw Yang Ci To sesungguhnya benar benar ada didepan mata, sayang impiannya tetap hanya sebuah mimpi yang tidak bisa terlaksana.
"Selain Ouw Yang Ci To, boleh dibilang kau tidak memiliki kepandaian lain yang berarti, apakah engkau hendak mengingkari tugasmu? Tidak! Tanpa jurus itu pun, aku tetap akan melaksanakan tugas itu walau harus mengorbankan jiwa raga"
Kata Tan Leng Ko dengan tegas.
"Kalau kukatakan kitab itu bukan hasil curian?"
"Locianpwee sukar untuk membuktikannya"
"Apa kau sudah tidak ingin mempelajari Ouw Yang Ci To secara lengkap?"
"Tetap ingin, hanya aku tidak dapat"
"Kenapa?"
"Karena mencuri itu salah!...Ketika kecil, aku dididik demikian"
"Kuyakin kau juga dididik membunuh itu tidak benar! Hmm...Orang yang mati ditanganmu tentu tidak sedikit!"
"Benar! Cuman pada saat itu, pilihanku hanya membunuh atau dibunuh!"
Locianpwee itu seperti menghela napas, ia cukup paham.
Seorang lelaki berapapun usianya, betapa besar kekuasaannya toh sukar melepas diri dari didikan orang tua, terutama pengaruh seorang ibu!
Tan Leng Ko terdiam sejenak.
Kemudian katanya.
"Dengan kemampuan locianpwee yang luar biasa, tidak seharusnya kau orang tua mencuri kitab dan mempelajari ilmu orang lain"
"Apakah kau telah ditunjuk oleh tujuh perguruan besar untuk menarik panjang urusan pencurian kitab ini? Pihak mereka saja tidak mengurusinya lagi!"
Tan Leng Ko menyeringai tersipu sipu.
"Tapi mencuri adalah perbuatan yang salah!"
"Oooh!....dan kau beranggapan, aku memerlukan pendapatmu mengenai perbuatan mana yang baik dan mana yang salah?"
Tan Leng Ko tidak bisa menjawab kecuali menyengir. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya bisikkan itu terdengar lagi.
"Dari tiga belas gerakkan Kun Lun Hui Liong Cap Sa Cik, tiga jurus diantaranya meniru persis gerakkan Soh liong Jiu (tangan sakti pengunci naga) dari perkumpulan Siu Lo Bun. Tanpa mengetahui latar belakang persoalan atau sejarah ilmu silat, darimana kau memastikan satu perbuatan mana yang baik atau yang salah?"
Terkejut juga, Tan Leng Ko mendengar hal ini, tak dapat ia berbuat lain kecuali menghela napas.
Dari segi ilmu silat, pengetahuan, sejarah dan sebagainya dia kalah segala galanya.
Dan sekarang, ia malah mencoba menggurui locianpwee ini mengenai urusan 'Gie'.
Nampaknya urusan pencurian kitab ini lebih ruwet dari dugaannya semula.
Misalnya saja, dari keterangan Giok Hui Yan, ia yakin kitab Tat Mo Ih Kin Keng yang dikembalikan puluhan kali lipat lebih bernilai dibandingkan kitab yang tercuri yang malah sudah dikembalikan.
Ia tidak mengerti sebabnya, lebih tidak paham lagi, kenapa ia mesti pusing kepala sedangkan pihak yang bersangkutan saja tidak melakukan tindakkan?
Apa karena ia sangat memerhatikan Khu Han Beng?
Atau karena ia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya?
Jangan jangan rahasia dibalik kemisteriusan pencurian kitab juga akan terasa cemplang, tiada harganya?
"Terserah padamu, kau akan mempelajari kitab itu atau tidak.
Seperti kukatakan tadi, aku enggan memaksamu!"
Suara bisikkan terdengar semakin lirih, sepertinya locianpwee itu telah pergi menjauh.
Yang tertinggal hanya Tan Leng Ko yang termenung sendirian di ruangan itu, berdiri sambil memegang kitab Ouw Yang Ci To ditangannya.
Ia tidak berniat meninggalkan ruangan itu.
Hawa liar ditubuhnya mulai bergolak keras yang menimbulkan rasa sakit yang hebat menyukarkan dirinya untuk bergerak.
Tan Leng Ko cukup menyadari, sudah tiba waktunya untuk melatih Hek Im Pek Yang Sinkang.
Ia menghela napas, pengalamannya belakangan hari dirasakannya aneh seperti sebuah mimpi saja.
************************************** "Hei i...
Kau sedang bermimpi, atau melamun?
Kau dengar tidak, pertanyaanku?"
Teriak Giok Hui Yan dengan kesal.
Rada gelagapan Tan Leng Ko yang tersadar dari lamunannya.
Telinganya terasa pengang, Giok Hui Yan berteriak keras, dekat sekali dengan kupingnya.
Setelah berpikir sejenak, Tan Leng Ko kemudian memutuskan menuturkan peristiwa yang terjadi walau tidak semua.
"Apa yang harus kau lakukan untuk locianpwee itu?"
"Ia menugaskanku mewakilinya untuk mencari kitab Hay Thian Sin Kiamboh dalam kurun waktu satu tahun"
"Dan sebagai timbal balik, kami dilarang untuk mengunjungi toko buku itu?!"
"Benar!"
Tan Leng Ko menggerutu dalam hati, ternyata locianpwee itu dapat menerka dengan tepat.
Ternyata, dia memang dapat menemukan satu akal untuk mencegah mereka mengunjungi daerah terlarang itu..
Giok Hui Yan mengerenyitkan alisnya yang lentik, tanyanya kemudian perlahan.
"Kuheran kenapa beliau akan membantu kami?"
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati, dengan gelagapan ia menjawab.
"Sedikit banyak, daun yang temukan diruang pustaka kalian, tentu mempunyai sangkut paut dengan dirinya. Menurut ayahmu cara pencuri kitab itu menggores daun, menunjukkan kepandaiannya yang luar biasa, tidak heran locianpwee itu menjadi tertarik untuk menyelidikinya. Yang kuheran, kenapa dengan kepandaianku yang rendah ia tetap memilihku?"
Giok Hui Yan menghela napas.
"Kutahu sebabnya"
"Apa sebabnya?"
Tanya Tan Leng Ko ingin tahu.
"Coba kau kerahkan tenaga saktimu"
Tan leng Ko melakukan apa yang dikatakan Giok Hui Yan, diam diam Giok Hui Yan terkejut, melihat perubahan wajah Tan Leng Ko yang belang hitam putih.
"Mukamu...?!"
Tan Leng Ko mengomeli dirinya dalam hati, dia lupa atas perubahan wajahnya setiap kali mengerahkan tenaga. Bergegas ia menerangkan perihal Hek Im Pek Yang Sinkang kepada Giok Hui Yan.
"Kau harus mempelajari ilmu ini"
Ujarnya dengan serius.
"Dan memiliki wajah setan sepertimu? Aku tidak mau!"
Kata Giok Hui Yan yang tidak dapat menahan ketawanya melihat kepala Tan leng Ko yang gundul ikut berubah warna. Dengan cemas Tan Leng Ko berseru.
"Jika tidak kau latih, kau akan tewas secara mengerikan!"
"Mati yaa mati, paling paling tubuhku hanya pucat dan dingin, tidak belang belang seperti itu"
Tawa Giok Hui Yan sampai mengikik. Mendadak, ia menghentikan ketawanya, alisnya berkerenyit.
"Aneh! Setiap benda diruang terbuka, biasanya tiada yang lebih panas atau lebih dingin. Kenapa sesosok mayat lebih dingin dari benda sekitarnya?"
"Kau sedang berbicara ngawur apalagi?"
Tanya Tan Leng Ko sambil menghela napas. Giok Hui Yan memincingkan matanya menatap bagian tubuh Tan Leng Ko yang menghitam. Kemudian katanya sambil tertawa.
"Jika kau mati, kujamin tubuhmu tidak akan dingin. Konon warna hitam dapat menyerap panas lebih banyak"
Tan Leng Ko tidak meladeni ucapan kacau Giok Hui Yan.
"Apa kau tidak merasakan, hawa panas bercampur dingin bergerak mengikuti tenaga saktimu?"
Tanyanya masih kuatir. Melihat kekuatiran Tan Leng Ko, Giok Hui Yan termenung sejenak.
"Selain tenaga saktiku bertambah, aku tidak merasa kurang apa"
Ujarnya perlahan.
Tan Leng Ko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia menjadi bingung!
Lociapnwee itu tidak beralasan untuk berbohong padanya.
Tapi ia juga dapat melihat Giok Hui Yan berbicara jujur!
Apa racun Hek Pek Coa telah berhasil melebur dengan tenaga sakti Giok Hui Yan?
Kenapa dirinya yang melatih Hek Im Pek Yang Sinkang malah belum berhasil?
Dengan muka serius Giok Hui yan berkata.
"Kutahu racun Hek Pek Coa dapat menambah tenaga sakti, juga dapat kuterka locianpwee itu menambah tenagamu agar dapat membantu usahamu mencari kitab. Yang tidak kumengerti kenapa ia menambah tenagaku?"
Tan Leng Ko menggeleng. Ia pernah menanyakan urusan itu, hanya tidak memperoleh jawaban yang memuaskan.
"Darimana kau tahu gigitan Hek Pek Coa dapat menambah tenaga?"
Giok Hui Yan termenung sejenak, kemudian katanya.
"Sebab perselisihan Mi Tiong Bun dengan pihak Ngo Tok Kauw disebabkan oleh ular itu!"
"Maksudmu?"
Tanya Tan Leng Ko dengan kaget.
"Ngo Tok Kauw menuduh anggota kami yang sedang melalui kota pusat perkumpulan mereka, telah mencuri Hek Pek Coa"
"Apa dasar tuduhan mereka?"
"Mereka beranggapan hanya jagoan tangguh yang dapat mencuri Hek Pek Coa yang dijaga ketat, sedangkan dalam lingkaran lima puluh lie, mereka tidak menemukan orang lain kecuali anggota kami"
Tan Leng Ko menghela napas, nampaknya tidak hanya kitab pusaka yang dicuri oleh locianpwee itu.
Ia benar benar tidak paham tujuan locianpwee itu yang gemar mengambil barang milik orang lain.
Diam diam timbul rasa muaknya.
Tiba tiba semacam pikiran berkecamuk dibenaknya sehingga membuat perutnya mual.
"Apakah kau mencurigai locianpwee itu telah mengadu domba dengan sengaja?"
Tanyanya perlahan. Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan termangu. Lama sekali ia terdiam. Akhirnya ia menjawab dengan perlahan.
"Kurasa tidak!"
Dengan kesal, Tan Leng Ko berkata.
"Pertama kalian menuduh dia mencuri kitab, tapi seperti juga membelainya. Sekarang jelas Hek Pek Coa ada padanya, kau malah tidak yakin dia yang mengadu domba kalian. Sebenarnya apa hubungan kalian dengan locianpwee itu?"
Sambil menarik napas, Giok Hui Yan menjawab.
"Sebab ayahku sangat mengaguminya. Ia beranggapan tidak mungkin seorang licik dapat menguasai kepandaian setinggi itu"
Setelah termangu beberapa saat, Giok Hui Yan bertanya.
"Kau pernah berjumpa dengannya, bagaimana pandanganmu mengenai locianpwee itu?"
Sebenarnya, Tan Leng Ko kurang setuju dengan pendapat ketua Mi Tiong Bun, ia sudah mencicipi kelicikkan locianpwee itu yang memaksanya menjaga ruang pustaka.
Awalnya, memang ia rela, tapi ia enggan diperas.
Ia merasa selain pencuri, locianpwee itu juga seorang yang licik.
"Entah!...Aku tidak pernah bertemu muka"
Tan Leng Ko hanya bisa menjawab secara itu. Ia tidak leluasa menceritakan hal ini kepada Giok Hui yan. Keduanya terdiam tenggelam oleh pikiran masing masing. Akhirnya Tan Leng Ko memecahkan kesunyian.
"Apa rencanamu sekarang?... Akan tetap menyelidiki toko buku itu?"
Lama Giok Hui Yan tidak berbicara. Tiba tiba ia tertawa secara aneh.
"Kutahu alasannya kenapa locianpwee itu menambah tenaga saktiku"
"Apa alasannya?"
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan tajam, kemudian katanya perlahan.
"Selain melalui kekerasan, atau ketulusan, ada cara ketiga agar orang melakukan apa yang kaukehendaki!"
"Cara apa?"
"Tanam budi!"
Sekarang Tan Leng Ko menjadi paham.
Dengan menyembuhkan penyakit Giok Hui Yan, juga dengan menambah tenaga saktinya, locianpwee itu telah menanam budi yang tidak sedikit!
"Locianpwee itu boleh berlega hati, kujamin tidak ada anggota Mi Tiong Bun yang akan mengunjungi daerah terlarang itu"
Kata Giok Hui Yan melanjutkan.
Tan Leng Ko termangu seperti orang bodoh.
Giok Hui Yan tidak mengetahui sistim barter yang ia lakukan.
Apalagi gadis itu tidak mengetahui ia berbohong.
Giok Hui Yan menyangka locianpwee itu ikut membantu mencari kitab Mi Tiong Bun yang hilang.
Sedikit permintaan locianpwee itu yang melarang mereka menyelidiki toko buku itu, tentu saja dikabulkan!
Untuk pertama kalinya Tan Leng Ko merasa nasibnya kurang mujur.
Tanpa menyebut pencarian Hay Thian Sin Kiamboh, sebetulnya Giok Hui Yan juga tidak akan memasukki daerah terlarang itu karena merasa berhutang budi.
Sekarang, selain dia harus menjaga ruang pustaka, ia juga harus mencari Hay Thian Sin Kiamboh yang tidak ketahuan rimbanya.
Ia yang repot!
Sedangkan locianpwee itu yang memetik hasil mendapat apa yang dimauinya.
"Dan mereka menganggap locianpwee itu bukan seorang yang licik"
Gerutu Tan Leng Ko dalam hati walau ia menyadari kerepotan mencari kitab terjadi karena salahnya sendiri.
"Setahun lagi akan kudatangi Lok Yang Piaukok untuk meminta kitab"
Tan Leng Ko berpikir sejenak. Kemudian katanya.
"Ya, memang sudah waktunya kau pulang. Kau harus melapor pada ayahmu"
"Bagaimanapun juga aku berhutang padamu, kau telah berusaha menyelamatkan nyawaku"
Bisik Giok Hui Yan dengan pancaran sinar mata yang sukar diterka. Tan Leng Ko mengelak pandangan mata itu, segera ia bergurau.
"Kau telah membayar hutangmu, bukankah kau telah menghadiahkan tamparan dipipiku sekaligus menggunduli kepalaku"
Pancaran menyesal seperti terpancar dari wajah Giok Hui Yan.
"Kau pasti mengenangku sebagai seorang gadis liar, aku...?!"
"Kukenang kau sebagai seorang gadis yang gemar ronce pedang"
Tukas Tan Leng Ko sambil mengeluarkan kantong kain milik Giok Hui Yan dari dalam saku bajunya. Giok Hui Yan menerima kembali barangnya, katanya dengan perlahan.
"Kau pernah berjanji untuk menjaga kantong kainku, kukenang kau sebagai seorang lelaki yang menepati janji"
Merasakan hawa murninya bergejolak liar, Tan Leng Ko cepat berkata.
"Mendadak kuingin minum arak, aneh tidak?"
Sambil tertawa manis bercampur sedih, Giok Hui Yan berkata dengan nada serak.
"Kutahu kau lapar, kukeluar mencari makanan sebentar. Kutahu tiada perjamuan yang tidak bubar. Sedikitnya harus kujamu kau arak... arak perpisahan"
Tan Leng Ko menahan sakit yang menyerang tubuhnya. Ia memaksa tersenyum, kemudian katanya.
"Arak perpisahan kuyakin tetap sebuah arak yang baik"
Tanpa berkedip Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali.
Matanya seperti berkaca kaca.
Tanpa bersuara, sambil menggigit bibir, ia melesat keluar melalui jendela.
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati.
Hawa panas bercampur dingin kembali menyiksanya.
Sebagian tubuhnya sudah mengepul asap putih, selapis es tipis mulai membungkus sebagian tubuh lainnya.
Cepat ia bersila melatih Hek Im Pek Yang Sinkang.
Sebentar saja ia sudah tenggelam di alam samadhinya.
*********************************** Kamar penginapan itu terletak dilantai tiga, tapi dalam sekali loncat, Giok Hui Yan mendarat di tengah jalan, persis didepan pintu masuk lantai dasar Se Chuan Koan.
Ketika Giok Hui Yan melangkah masuk, alisnya berkerenyit.
Ia merasa rada janggal!
Selain beberapa pelayan, ia tidak melihat pengunjung lain.
Rumah makan ini jelas masih belum tutup, berarti waktu sekarang masih dibawah kentongan sembilan malam.
Tempat yang biasanya ramai kenapa sepi begini?
Kemana orang orang rimba persilatan yang biasanya memenuhi tempat ini?
Melihat kecantikkan Giok Hui Yan yang luar biasa, seorang pelayan menghampiri sambil menyengir memualkan.
Cepat Giok Hui Yan memesan beberapa jenis penganan kering dan sebuah guci arak yang sebentar saja sudah disiapkan.
"Satu jam yang lalu, mendadak mereka semua serentak pergi, sebagian besar malah tanpa bayar!"
Keluh pelayan itu ketika ditanya.
"Kenapa kau tidak tagih?"
"Rata rata tampang mereka bengis, aku...?!"
"Apalagi mereka bersenjata, tentu saja kau tidak berani"
Ujar Giok Hui Yan lembut. Melihat senyuman Giok Hui Yan yang seperti setengah mentertawai, pelayan itu tentu saja tidak tahan. sambil membusungkan dada, ia berkata.
"Aku bukan seorang penakut yang hanya beraninya pada perempuan"
"Yaa, kutahu kau seorang gagah! Jika mereka tidak terlalu lekas pergi tentu sudah kau hajar babak belur"
Puji Giok Hui Yan sambil menatap kagum.
Dipuji seorang gadis rupawan, perasaan pelayan itu menjadi tidak karuan.
Hidungnya kembang kempis, bangganya bukan main.
Giok Hui Yan mengerling manis pada pelayan itu, tangannya meraih bungkusan pesanannya yang tadi diletakkan diatas meja, kemudian melangkah pergi.
Melihat gadis itu pergi begitu saja, dengan gugup pelayan itu lekas menagih.
"Siocia! Kau belum sempat bayar!"
"jika kau tidak menagih mereka, kenapa kau tagih diriku? Huh! Nampaknya kau memang penakut yang beraninya hanya menagih pada perempuan!"
Omel Giok Hui Yan sambil melotot. Muka pelayan itu meringis seperti ditinju bogem mentah. Ia serba salah.
"Kau?!...kau boleh pergi!"
Giok Hui Yan tertawa menggiurkan.
"Kutahu aku tidak salah menilai!. Kau memang bukan seorang penakut"
Pelayan itu hanya dapat mengeluh dalam hati.
**************************************** Tan Leng Ko baru saja selesai dengan latihannya.
Nampaknya semakin sering ia berlatih, tempo untuk menenangkan hawa liar itu juga semakin cepat.
Sambil menunggu Giok Hui Yan, ia memerhatikan sekitarnya.
Ruangan ini tidak mirip dengan kamar di tempat locianpwee itu, tapi isi ruangannya mirip sekali.
Sekilas pikiran membercik dikepalanya, lekas Tan Leng Ko memeriksa laci bagian atas dari meja ruangan itu.
Ia mengeluarkan kitab suci Buddha yang memang biasanya terdapat di setiap rumah penginapan.
Ketika Tan Leng Ko membuka lembaran kitab itu, yang isinya tidak berbeda dengan kitab Buddha umumnya, secarik kertas melayang jatuh ke lantai dari sela sela halaman.
Tan Leng Ko membungkukkan badannya memungut kertas itu, mendadak mimik muka Tan Leng Ko menunjukkan perubahan yang hebat, wajahnya menjadi pucat!
Giok Hui Yan yang baru saja melayang masuk, heran melihat reaksi Tan Leng Ko yang ganjil.
Ia jadi tertarik, tulisan apa yang sebenarnya tertera di atas secarik kertas itu?
Lekas ia menghampiri Tan Leng Ko dan ikut membaca tulisan singkat yang berbunyi.
"Lok Yang Congpiauthau memiliki Mustika Kemala Pelangi"
Giok Hui Yan menghela nafas, katanya perlahan.
"Pernah kulihat tulisan di atas kertas semacam itu sebelumnya"
Tan Leng Ko memandang Giok Hui Yan dengan tajam.
"Dimana?"
"Ketika kusinggah di Kanglam"
"Apakah kertas itu kau temukan juga disela sela buku?"
Giok Hui Yan menggeleng.
"Kamar tempat penginapan itu memiliki pot bunga kamelia yang indah. Kertas itu terselip diantara bunga..."
Tiba tiba terdengar suara, pintu kamar penginapan itu terbuka lebar. Seorang pelayan melangkah masuk dan berdiri terkesima melihat kehadiran mereka berdua.
"Siapa kalian...? Seharusnya kamar ini kosong, tidak berpenghuni!"
"Siapa kau?"
Tanya Tan Leng Ko galak.
"Aku yang bertugas membersihkan kamar ini"
Jawab pelayan yang ciut melihat wajah Tan Leng Ko yang garang.
"Siapa yang menaruh kertas ini. Hayo jawab!"
Kata Tan Leng Ko sambil menarik baju pelayan itu.
"Aku tidak tahu!"
Jerit pelayan itu ketakutan.
"Kau pasti tahu, bukankah kau yang bertugas disini!"
"Mungkin... mungkin bhiksu yang menginap disini beberapa hari yang lalu"
"Bagaimana ciri orangnya?"
"Kurus tinggi, mengenakan mantel merah"
"Ada ribuan bhiksu yang berciri seperti itu!"
Dengus Tan Leng Ko.
"Bhiksu itu memelihara rambut, bahkan cukup panjang hingga dikuncir!"
Kata pelayan itu pucat. Giok Hui Yan yang terdiam sedari tadi, mendadak wajahnya ikut menjadi pucat.
"Bukan saatnya kau memikirkan darimana datangnya kertas itu. Kita harus segera pulang ke Lok Yang Piaukok!"
Tan Leng Ko melepaskan pelayan itu dan menggebahnya pergi. Ia memutar badannya, memandang Giok Hui Yan dengan heran.
"Kau tidak perlu kembali kesana, bukankah kau harus pulang ke Mi Tiong Bun?"
"Lok Yang Piaukok bukan daerah terlarang bagiku. Lagipula sekarang bukan saatnya untuk berdebat denganku!"
Tanpa memperdulikan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan melayang turun dan berlari secepatnya. Terdengar suaranya yang menjauh.
"Kau harus ikut aku, jika tidak kau akan menyesal!"
Tan Leng Ko yang menjadi bingung, mau tidak mau ikut mengerahkan ginkang, ia merendeng disebelah Giok Hui Yan.
"Sebenarnya apa gerangan yang terjadi?"
"Lok Yang Piaukok dalam bahaya!"
"Darimana kau tahu?"
Tanya Tan Leng Ko dengan cemas.
"Apa yang kau lihat sekarang?"
Tan Leng Ko menghentikan larinya, sambil berdiri ditengah jalan, ia memandang jalanan utama kota Lok Yang yang diterangi sinar obor disepanjang jalan.
Ditikungan remang remang diujung sana, nampak dua orang berjalan dengan terhuyung mabuk.
Tanpa melihat dengan jelaspun Tan Leng Ko dapat mencium bau arak murah dari badan mereka yang terbawa angin.
Selain kedua orang itu, yang sedang lalu lalang bisa dihitung dengan jari, itupun tidak terlihat seperti orang kangouw!
Setelah yakin, Tan Leng Ko menoleh kebelakang, dimana ia juga tidak melihat sesuatu yang luar biasa, kecuali..
"Sepi! Tidak banyak orang...!"
Leher Tan Leng Ko seperti tercekik.
Giok Hui Yan yang terpaksa menghentikan larinya dan berdiri tidak jauh darinya, cepat menceritakan kepergian orang rimba persilatan yang terburu buru dari rumah makan Se Chuan Koan.
"Dan kau menduga berita mustika pelangi telah tersebar luas"
"Kukuatir mereka telah mengunjungi Lok Yang Piaukok satu jam yang lalu, kita terlambat!"
Seru Giok Hui Yan kemudian melesat pergi.
Dengan gugup bercampur kuatir, Tan Leng Ko mengerahkan seluruh tenaganya mengejar Giok Hui Yan.
Hanya dalam hitungan beberapa bilangan, Tan Leng Ko dapat menyusul Giok Hui Yan yang selama ini ia sadari memiliki ilmu meringankan tubuh lebih tinggi darinya.
Ditengah kegalauan dan kekuatiran, Tan Leng Ko sempat sempatnya menemukan dua hal.
Entah bagaimana, ginkangnya mendadak maju pesat.
Ia juga menemukan, hentakkan hawa liar yang selama ini mengganggunya seperti berkurang, seakan akan mendapat tempat penyaluran yang tepat.
***************************** "Apakah kau meragukan ucapanku?"
Tanya Buyung Hong dengan tenang. Khu Pek Sim menghentikan tawanya, katanya kemudian.
"Kau mengetahui Mustika Kemala Pelangi berada ditanganku dikarenakan secarik kertas yang kau temukan dibawah bantal, disebuah tempat penginapan?"
"Benar!"
"Apakah dikota Po-Ting?"
"Bukan! Penginapan Peng Coan Koan di kotaraja!"
Khu Pek Sim memandang Buyung Hong sejenak.
"Kupercaya pada ucapanmu!"
"Kau percaya padaku?"
"Kupercaya ucapanmu benar, karena kau tidak beralasan untuk berbohong"
Diterangi jilatan api unggun, Buyung Hong seperti tertawa secara aneh, tapi dia diam saja, tidak mengatakan apa apa. Khu Pek Sim termenung sesaat, kemudian katanya.
"Sebelum menjadi pendeta Siaulim, apakah Mo Tian Suheng she Buyung?"
"Iihhh!!!...Darimana kau tahu?"
Seru Buyung Hong kaget.
Sudah menjadi kebiasaan, jika seseorang menjadi pendeta di Siaulim, seperti bayi yang baru dilahirkan, tidak hanya diberi nama baru, bahkan latar belakang, atau kesalahan yang pernah dibuatnya dianggap tidak ada lagi hubungan dengannya.
Khu pek Sim boleh jadi murid luar Siaulimpay, seperti namanya, ia tentu lebih banyak menghabiskan waktu diluaran ketimbang di Siaulimsi.
Bahkan sesama anggota Siaulimsi pun belum tentu saling mengetahui nama lama sebelum mereka menjadi pendeta.
Walau nama lamanya bukan suatu rahasia, tapi juga bukan sesuatu yang menjadi topik pembicaraan.
kecuali ketua dan beberapa pejabat Siaulimsi, sedikit sekali yang mengetahui nama asli Mo Tian Siansu.
Tidak heran, Buyung Hong terperanjat berbareng curiga!
Setelah menghela napas, Khu pek Sim menjawab.
"Kau bukan jenis yang gemar bersahabat. Apalagi dengan seorang pendeta Siaulimsi, malah penjaga ruang kitab yang kutahu jarang sekali pergi keluaran. Makanya kuheran"
"Apa yang kau herankan?"
"Kuheran kenapa Mo Tian Suheng mau menceritakan tujuannya pergi ke Lok Yang Piaukok yang tidak ada hubungannya denganmu"
"Apalagi Mo Tian Siansu bukan jenis yang gemar berbicara usil"
"Benar! Juga kuheran, sebetulnya diangkatnya cucu luarku menjadi murid Goan Kim Taysu kau tidak perlu tahu, karena hakekatnya tidak ada hubungannya dengan dirimu"
Buyung Hong menghela napas, katanya perlahan.
"Aku diberitahu, karena..."
"Karena kau telah bercerita padanya lebih dahulu, bahwa kau akan berjumpa denganku di kota Po-Ting. dan ia ingin aku mengetahuinya. Hanya satu penjelasan ini yang masuk akal"
Potong Khu Pek Sim. Buyung Hong tidak dapat mengelak, akhirnya ia mengangguk mengakui. Melihat reaksi Buyung Hong, Khu Pek Sim lekas menukas.
"Makanya kuheran, dua orang yang tidak gemar berbicara usil, mendadak secerewet perempuan. Yang luar biasa, kau bersedia menceritakan tujuanmu padanya, mau tidak mau kutarik kesimpulan hubungan kalian tentu tidak biasa"
Buyung Hong termenung sejenak, kemudian ujarnya perlahan.
"Kau memanggil Mo Tian Suheng padanya, sedangkan aku lebih menyukai nama panggilannya yang lain, Song-ko"
Giliran Khu pek Sim yang mengangguk.
Ditilik dari usia mereka, Buyung Song atau Mo Tian Siansu mungkin menempati posisi abang tertua dari keluarga Buyung sebelum menjadi pendeta di Siaulimsi.
Tapi dia tidak menanyakan hal itu, karena dia tidak perlu tahu jawabannya.
Ada satu hal lain yang Khu pek Sim tidak tanyakan, kali ini karena dia sudah tahu jawabannya.
Pertanyaan yang sebelumnya selalu menghantui pikirannya.
Kenapa sejauh ini, Buyung Hong tidak main rampas, memaksa merebut Mustika Kemala Pelangi dari tangannya?
Yaa, sekarang ia tahu dan yakin dengan jawabannya.
Jawaban yang membuat hatinya menjadi lega.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Tanya Buyung Hong tiba tiba. Setelah berpikir sebentar, Khu Pek Sim menjawab.
"Kuharap Lok Yang Piaukok tidak tertimpa bencana!" ****************************** Angin malam yang bertiup kencang, menggerakkan jilatan puluhan api obor yang menancap di depan pintu gerbang Lok Yang Piaukok. Mendidih darah Tan Leng Ko menyaksikan ratusan orang kangouw yang mengepung membentuk setengah lingkaran. Para piasu nampak membentuk semacam barisan, mirip dengan LoHanTin, yang memang khusus dilatih untuk menghadapi serbuan musuh dalam jumlah besar. Tan Leng Ko tidak mengenal barisan itu, tapi ia dapat mengenali kehebatannya. walau terdesak dengan hebat, nampak anah buahnya dapat berkutet bertahan selama ini. Air mata bercucuran di pipi Tan Leng Ko ketika matanya menyaksikan puluhan tubuh berseragam piausu menggeletak mati bergelimpangan darah! Hentakkan hawa liar yang tersalur melalui kerongkongannya menimbulkan raungan keras yang menghentikan pertarungan yang tidak seimbang. Tan Leng Ko cepat memburu, bersimpuh dengan penuh penyesalan diantara genangan darah anak buahnya. Dengan perlahan, tangannya mengusap menutup kelopak mata mayat didekatnya. Ia mengenal benar mayat ini. Sesosok mayat yang seperti tersenyum padanya, tewas tanpa penyesalan, bukan karena mencari harta atau nama, melainkan karena menjalankan tugas dan kewajiban. Tan Leng Ko memanggilnya Bu Koat, she Tan. Bukan saja she pemuda ini sama dengan dirinya, mereka pun berasal dari kampung halaman yang sama. Walau tidak mempunyai hubungan darah, Tan Leng Ko menganggap Tan Bu Koat sebagai saudara kandungnya. Dia yang mengajak pemuda ini bekerja di Lok Yang Piaukok. Masih tebayang dibenak Tan Leng Ko, ketika pamit betapa senang dan bangga ibu Tan Bu Koat melihat anaknya mendapat pekerjaan yang sukar didapat dengan penghasilan yang cukup. Penghasilan yang sebagian besar dikirim Tan Bu Koat untuk ibunya di kampung. Asam lambung di perut Tan Leng Ko berontak, ia muntah muntah. Sambil menyeka dan membersihkan bibir, ia dapat merasakan rasa pahit, getir dimulutnya. Tak berani ia membayangkan apa yang harus ia katakan kepada ibu Tan Bu Koat. Giok Hui Yan yang mengikuti Tan Leng Ko, berdiri dibelakangnya dengan muka kaku. Walau singkat, ia pernah berhubungan dengan para piasu yang tewas itu. Bahkan pernah mengajar satu dua jurus! Sekarang mereka membujur kaku, mereka memilih mati daripada menyerah! Jilatan kemarahan dan penyesalan timbul dimata Giok Hui Yan. Mereka terlambat! Keterlambatan yang memakan korban yang tidak sedikit! "Ji-siocia!"
Terdengar teriakkan perlahan. Giok Hui Yan menoleh, ia segera mengenal tiga orang gagah berumur yang menghampirinya.
"Su-Lopeh, apakah kalian terlibat pembunuhan ini?"
Tanya Giok Hui Yan dengan cemas kepada tongcu pelindung hukum dari Mi Tiong Bun. Su-Tongcu menggeleng.
"Kami belum lama tiba, kami memang sedang mencari Ji-siocia"
"Siapa yang membunuh mereka?"
"Kurang jelas siapa yang melakukan. Pertarungan belum lama berlangsung, tapi suasana kacau sekali. Puluhan orang bertempur sekaligus walau tidak semua orang terlibat!"
"Nona, beruntung sekali dapat berjumpa lagi denganmu"
Seru seorang pemuda gagah.
Dengan muka berseri seri, ia menatap Giok Hui Yan dengan sorot mata kekaguman.
Giok Hui Yan mengenal pemuda yang menghampirinya.
Pemuda berkepandaian tinggi bersenjata kipas yang gemar memakai baju biru, Bok Siang Gak.
"Apakah kau ikut membunuh para piasu itu?"
Tanya Giok Hui Yan dengan dingin.
"Seperti kami, anak muda itu juga baru datang, dia tidak terlibat"
Sela Su-Tongcu. Sambil menatap tajam Bok Siang Gak, Giok Hui Yan Berkata.
"Untuk apa kau kemari?"
"Ayahku memberi tugas untuk mencari Mustika Kemala Pelangi, dan kudengar..."
"Tak kubiarkan kau mengacau disini!"
Potong Giok Hui Yan. Bok Siang Gak menjadi serba salah.
"Apakah kau penghuni Lok Yang Piaukok?"
Tanyanya dengan bingung.
"Anggap saja demikian. Apakah kau hendak menantangku berkelahi?"
"Tentu saja tidak! Mana mungkin aku mengajakmu bertanding?"
Mendadak terdengar suara lantang Tan Leng Ko yang parau menggaung.
"Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?"
Suasana malah menjadi sepi.
Ratusan mata menatap Tan Leng Ko seperti terkesima.
Kepalanya yang botak ditambah tubuhnya yang belang dua warna, membuatnya menjadi pusat perhatian.
Tan Leng Ko menebar pandangan ke ratusan orang di hadapannya.
Banyak yang ia tidak kenal, tapi tidak sedikit wajah yang tidak asing baginya.
Dua srigala dari gunung Hongsan, kwee kakak beradik, Pek Kian Si, bahkan Hek I Houw yang menatap kearah belakang kanannya dengan tajam.
Duka dan gusar berkecamuk dihati Tan Leng Ko, tapi diam diam timbul juga rasa heran ketika melihat wajah Hek I Houw kembali berubah pucat!
Seorang berkepandaian tinggi seperti Hek I Houw, semestinya tidak mudah terkejut.
Tan Leng Ko menoleh sekejap orang orang yang berada dibelakangnya.
Ia tidak melihat Khu Han Beng, tapi menyaksikan Hong Naynay, Lotong dan penghuni lain, ikut keluar berdiri diam dengan wajah kelam dibawah pepohonan.
Dengan pandangannya yang kabur teraling airmata, ia seperti melihat sesuatu yang membuat matanya berkejap beberapa kali.
Ia terkesima!
Tan Leng Ko bahkan tidak merasa ketika seekor serangga memasukki mulutnya yang ternganga lebar.
Sesaat, ia menggeleng kepalanya seakan akan tidak percaya dengan apa yang dipandangnya.
"mungkin kusalah lihat"
Gumamnya perlahan.
Ditengah tiupan angin kencang bagai jeritan setan yang merobek kesunyian malam, Hek I Houw mengeluarkan suara tertawa yang aneh.
Sekonyong koyong, tubuhnya bergerak menyerang seorang pesilat yang berdiri tidak jauh darinya.
Orang itu segera mengayunkan goloknya menebas leher lawan.
Hek I Houw mendengus, tangan kanannya digerakkan dengan sebat, terdengar suara dada remuk disusul jeritan yang menyayat.
Tanpa memperdulikan korbannya, Hek I Houw kembali berkelebat dan dalam sebentar saja lima korban lain berjatuhan gugur dengan cara mengerikan.
Sebagian kepalanya hancur, malah ada yang tubuhnya terobek dua!
"Hanya sempat kulihat enam orang ini yang telah membunuh para piasu"
Gumam Hek I Houw cukup keras, entah kepada siapa ia berbicara.
"Siapa yang hendak mengacau disini, akan berhadapan denganku!"
Ujarnya garang. Pek Kian Si yang bingung dengan kelakuan Hek I Houw cepat menukas.
"Bukankah kau bertujuan sama dengan kami, hendak memiliki Mustika Kemala Pelangi?"
"Tadinya memang demikian"
Sahut Hek I Houw dingin.
"Kenapa kau berubah membelai mereka?"
"Istri hendak serong, lelaki ingin bergendak, orang hendak berubah pikiran siapa yang dapat mencegah?"
Ujar Hek I Houw tak acuh.
"Keluarga Kwee dari SiongYang juga tidak ingin kalian mengacau disini!"
Teriak Kwee Tiong, disertai adiknya ia segera menghampiri Tan Leng Ko.
Suara desahan berkumandang disana sini, keluarga Kwee adalah keluarga persilatan yang terkenal sekali, selain kehebatannya juga menjunjung tinggi keadilan.
Tapi keluarga ini jarang sekali terlibat urusan kangouw, tidak disangka bisa muncul disini!
Melihat kesempatan, dengan cepat Kwee Li menyapa Tan Leng Ko.
"Dilihat dari kesedihanmu, kau tentu seorang piasu dari Lok Yang Piaukok"
Yang disapa, lekas menggerakkan tangannya memberi hormat.
"Bukankah kalian bertekad untuk mendapatkan Mustika kemala Pelangi?"
Sambil tersenyum manis, Kwee Li menjawab.
"Sahabat sejati jauh lebih berharga daripada sebuah mustika"
Giok Hui Yan mencibir bibirnya, hatinya kurang senang melihat cara Kwee Li tersenyum. Gadis ini dinilainya terlalu genit dan sok-akrab. Tanpa terasa, ia maju kedepan dengan lantang ia berseru.
"Pihak Mi Tiong Bun mempunyai hubungan dekat dengan Lok Yang Piaukok, kami juga tidak akan tinggal diam jika ada yang hendak mencari masalah disini!"
Terlintas rasa heran diwajah Su-Tongcu, tapi ia diam saja mengikuti Ji-siocianya yang kemudian bergabung dengan kelompok Tan Leng Ko.
Terdengar suara kaget dan keributan diantara hadirin, Pek Kian Si diam diam tercengang, ia tidak menyangka Gadis pencuri ronce yang ia telah pukul hingga sekarat ternyata bukan saja masih hidup, malah berasal dari Mi Tiong Bun yang misterius!.
Juga diluar dugaannya pihak yang mendukung Lok yang Piaukok bertambah ramai.
Seorang Hek I Houw saja sudah cukup memusingkan kepala, apalagi ditambah pihak Mi Tiong Bun, dan keluarga Kwee yang juga tidak bisa dianggap remeh.
"Aku juga tak ingin kalian mengacau disini!"
Teriakkan lantang terdengar dari mulut seorang pemuda berbaju biru. Sikurus kering dari Dua Srigala gunung Hongsan mendengus tidak senang.
"Siapa kau berani lancang berucap lancang?!"
"Bok Siang Gak, seorang yang baru berkelana di rimba persilatan!"
"Pemuda masih bau kencur, tidak dikenal mau unjuk gigi disini?!"
Jengek sikurus kering.
"Kau tidak mengenalku, tapi tentu kau mengenal benda ini"
Kata Bok Siang Gak sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Muka sikurus kering berubah melihat sebuah suling perak yang bekilauan ditimpa cahaya obor, ditangan pemuda itu.
"Pak Sian Gin Siauw, Bok Thin Ki, apa hubungannya denganmu?"
"Dia mengakui aku sebagai anaknya, dengan sendirinya aku memanggil ayah padanya"
Sahut Bok Siang Gak sambil tersenyum.
Tak terasa Pek Kian Si mengeluarkan pekikkan tertahan.
Lagi lagi Lok Yang Piaukok mendapat bantuan dari pihak yang kuat.
Pak Sian Gin Siauw, atau Suling Perak Dewa Utara, terkenal sebagai tokoh sakti berwatak aneh, walau tidak semesterius Mi Tiong Bun, tapi juga jarang sekali berkunjung ke tionggoan.
Bagaimana mungkin ikut ikutan membantu?
Ia tidak habis mengerti, walau tidak banyak yang ia tahu mengenai Lok Yang Piaukok, sedikitnya ia paham tiada keistimewaan dari perusahaan kecil pengawal barang ini.
Malah baru belakangan saja ia mendengar Lok Yang Piaukok.
Kenapa banyak sekali yang ikut membela?
Pek Kian Si memandang orang sekitarnya, banyak yang ia tidak tahu namanya, tapi ia tahu tujuan mereka hanya satu, yaitu memperoleh Mustika Kemala Pelangi.
Setelah termenung sejenak, cepat ia berseru.
"Bagaimanapun juga, sukar bagi pihak kalian untuk menahan keinginan ratusan orang persilatan!"
Mau tidak mau Tan Leng Ko mengakui kebenaran ucapan Pek Kian Si.
Ketenaran dan kehebatan pihak yang ingin membantunya memang tidak perlu diragukan lagi, namun jumlah mereka terlampau sedikit.
Tentu sukar sekali menahan gempuran ratusan orang persilatan yang menyerang serentak!
Dia harus mencari akal untuk memecah belah jalinan kerja sama diantara mereka.
mencegah mereka bekerja sama.
Tujuan mereka boleh hanya satu, tapi ditinjau dari segi keserakahan dan mementingkan diri yang umum dikalangan persilatan, belum tentu mudah bagi mereka untuk bersatu.
"Berita angin Mustika Kemala Pelangi berada di tangan Khu Congpiauthau belum tentu benar, tapi yang pasti betul beliau benar benar tidak berada disini!"
Pek Kian Si tertawa dingin.
"Benar atau tidak, kami ingin memeriksanya sendiri. Jika tadi kalian tidak mencegah, belum tentu timbul korban yang sia sia seperti ini"
"Jika kalian memintanya secara baik baik, itu lain soal. Tapi jika kalian main paksa, terpaksa kita lihat darah siapa yang lebih merah!"
Dengus Tan Leng Ko.
"Apa kau punya keyakinan menang melawan segini banyak orang?"
Tanya Pek Kian Si tertawa sinis.
"Tidak! Hanya kuyakin dapat mengalahkanmu"
Tantang Tan Leng Ko.
Pek Kian Si mendengus perlahan, tentu saja ia mengerti siasat Tan Leng Ko yang memancingnya untuk bertempur satu lawan satu sehingga menunda penyerbuan serentak.
Ujarnya kemudian dengan tertawa licik.
"Jika kau berniat bertarung karena urusan pribadi, kukuatir membuat banyak orang bosan menunggu. Kukemari atas kepentingan umum yang harus lebih didahulukan"
Gegetun melihat kelicinan lawan, Tan Leng Ko lekas menukas.
"Mustika itu hanya satu, jika diketemukan entah siapa yang akan memegangnya? Untuk kepentingan umum, apakah terpaksa diberikan kepadamu untuk mencegah terjadi saling rebut?"
Sikurus dari Dua Srigala gunung Hong San mendengus tak tahan.
"Tentu saja tidak! Kenapa harus diberikan kepadanya? memangnya siapa dia? kami tidak pernah memilihnya menjadi pemimpin, dia sendiri yang mengajukan dirinya"
Walau tidak ingin terjebak oleh siasat memecah belah dari Tan Leng Ko, tak urung merah padam muka Pek Kian Si mendengar ucapan kasar dari sikurus. Sambil menunding Tan Leng Ko, ia berseru keras.
"Kalian telah lama berkecimpung di dunia kang-ouw, masakkan tidak dapat merasakan adu domba yang disiasati olehnya"
"Adu domba atau tidak, yang jelas ucapannya beralasan, mustika itu hanya satu, jika diberikan pada tampang semacammu, aku yang paling tidak setuju!"
Jengek sikurus.
"Kita tentukan saja diujung senjata, siapa yang ingin merebut mustika itu, silahkan minta ijin pada kepalanku"
Terdengar teriakkan dari belakang Pek Kian Si.
"Siau Kun Lok! Kepalanmu lunak seperti tahu, malah masih kalah keras dengan pijitan Giok Si!"
Teriak seseorang dari sebelah kiri yang rupanya mengenal siapa yang sedang berbicara.
Terdengar suara raungan kemarahan disertai suara gelak disana sini.
Rupanya tidak sedikit yang mengenal Giok Si, nama pelacur paling terkenal dikota Lok Yang.
Sebentar saja terjadi kegaduhan, bentakkan dibarengi desingan senjata tajam yang melibatkan puluhan orang.
Ternyata tanya jawab tadi, ditimbulkan oleh dua orang dari kelompok yang berbeda.
Dalam waktu singkat terdengar jeritan kesakitan di ringi suara khas, suara daging yang terbacok oleh senjata yang tajam.
Pek Kian terpaksa meloncat menghindar senjata rahasia yang melayang kearahnya.
Kilatan kemarahan terpancar dari matanya.
Ia benar benar tidak menyangka, ternyata sungguh tidak sedikit orang goblok di rimba persilatan!
"Tahan senjata kalian!"
Teriaknya menggunakan auman singa.
kaget juga sikurus melihat kesempurnaan tenaga dalam Pek Kian Si yang dapat menggetarkan jantungnya.
Perhatian banyak orang otomatis beralih kepada pendekar dari Kang Lam itu.
Perkelahian dengan sendirinya terhenti!
Ratusan mata terpusat kepada Pek Kian Si yang tidak ingin menyia nyiakan kesempatan.
"Dari jaman dulu, sejarah persilatan mencatat banyak pesilat yang tewas memperebutkan mustika. Hal ini tidak aneh, hanya yang patut disayangkan, mereka kebanyakkan tewas sebelum sempat melihat mustika itu. Apakah kalian hendak meniru perbuatan bodoh itu?!"
Seperti mendengar suatu lelucon, dengan tertawa mengejek Tan Leng Ko menukas.
"Sejarah persilatan juga mencatat, pesilat tangguh biasanya ribut dulu, urusan belakangan. Pek Kian Si..., jika kau tidak punya keberanian, semestinya kau tidak usah berkecimpung di dunia persilatan. Sebaiknya kau pulang saja ke Kang Lam menetek sama bini!"
Giok Hui Yan tidak dapat menahan ketawanya sedangkan Kwee Li mengulum senyum walau ia melengos dengan muka merah.
Yang lainnya tidak usah ditanya, suasana menjadi riuh, komentar tercetus disana sini.
Dari sekian banyak komentar, tidak ada satupun yang bernada baik.
Bahkan ada yang menganjurkan Pek Kian Si jika tidak mempunyai bini, boleh mencari dan menetek pada seekor kambing!
Malah ada yang berceloteh, Jika Pek Kian Si tidak punya uang, ada yang bersedia mengantarnya ke pasar hewan dan membayar ongkosnya.
Degan muka kaku menahan dongkol, Pek Kian Si menatap Tan Leng Ko dengan geram.
Tadinya ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk menonjolkan diri, dan diam diam menjadi tokoh yang disegani.
Sungguh di luar dugaannya urusan berubah, dirinya malah menjadi konyol begini!
"Hei, Pek Kian Si!
Dari pada melotot begitu, kenapa tidak kau hantam saja?"
Teriak seseorang diantara keremunan.
"Hm! Kutahu siasatnya. Ia tidak ingin kita bersatu padu. Ia menginginkan pertarungan satu lawan satu hingga memudahkan baginya. Aku tidak ingin terjebak olehnya!"
Tan Leng Ko menyeringai dan tertawa dalam hati.
Ia cukup menyadari siasatnya memang kasar, mudah diterka lawan.
Tapi bukan berarti tidak berguna!
Sambil menatap balas Pek Kian Si, Tan Leng Ko bergumam dalam hati.
"Kau boleh mengetahui siasatku bukan berarti kau dapat lolos!"
Mengadu domba adalah siasat kuno yang belum pernah tidak berhasil.
Dari jaman apapun , siasat ini selalu digunakan oleh si jumlah kecil melawan jumlah yang besar.
Terjajahnya suatu bangsa bahkan hingga ratusan tahun juga disebabkan oleh keajaiban siasat ini.
Setelah tertawa perlahan, Tan Leng Ko berkata.
"Kukenal Giok Si yang sering kaukunjungi. Beberapa hari yang lalu, dia pernah bilang padaku, sebagai langganan tetap kau jarang sekali bayar. Selain hobi menunggak, kau juga gemar memukulnya. Karena tak tahan teraniaya, dia nekat menjual rahasiamu padaku"
Pek Kian Si tidak heran Tan Leng Ko mengetahui kunjungannya ke rumah bordil Lampiun Merah.
Lelaki yang memerlukan alat pelampias nafsu, jika berada di kota Lok Yang, sedikitnya akan menyempatkan waktu untuk mencari Giok Si, si pelacur penawan hati.
Ia juga cukup sadar, lelaki dalam keadaan bugil, berbaring dan ditemani perempuan cantik yang bugil pula, gemar berbicara lebih banyak dari biasanya.
Hanya setahunya, ia tidak pernah menceritakan sebuah rahasia segala.
Tapi ia dapat melihat, pemuda yang sekarang botak yang pernah dijumpainya bersama gadis liar itu, adalah seorang yang cerdik.
Jelas tidak akan sembarangan berbicara.
Mau tidak mau, timbul rasa ingin tahunya.
"Rahasia apa?"
Tanyanya heran.
"Rahasia kenapa kau menggunakan pedang sebagai gaman andalanmu,sebab..."
Tiba tiba Tan Leng Ko berhenti berbicara.
"Sebab apa?"
Tanya Pek Kian Si tak tahan. Dengan mendengus, Tan Leng Ko berkata ketus.
"Kuhabiskan 500 tahil perak untuk membeli rahasia itu, masakkan engkau hendak memperolehnya dengan gratis"
"Yaa, sedikitnya sekarang bernilai 5000 tahil perak!"
Seru Giok Hui Yan serius.
Giok Hui yan tidak tahan untuk tidak menimbrung.
Beberapa hari terakhir ini, Tan Leng Ko boleh dibilang selalu bersama dengannya.
Jelas ucapannya sedang mengerjai Pek Kian Si.
Jika ia dapat membantu merugikan pendekar dari Kang Lam itu, tentu tidurnya bakal nyenyak nanti malam.
Tentu saja hadiah pukulan Pek Kian Si tidak ia lupakan.
Bahkan ia berencana menuntus balas beserta rente rentenya.
Tapi hal ini dapat ditunda untuk sementara, mengingat urusan didepan mata lebih mendesak.
Selagi Giok Hui Yan sibuk dengan pikirannya, sementara itu, tanpa banyak rewel, Pek Kian Si melempar beberapa keping emas kepada Tan Leng Ko.
"Kubayar kontan rahasia itu, nah perlahan saja kau katakan"
Setelah menerima pembayaran, mau tidak mau Tan Leng Ko harus mengatakan. Dengan muka misterius, ia bergumam pelan.
"Kerasan sedikit! aku tidak mendengar ucapanmu"
Kata Pek Kian Si penasaran.
"Katanya, pukulanmu memang sedikit lebih keras dari pijitannya sehingga tidak dapat diandalkan"
Teriak Tan Leng Ko lantang.
Suara gelak kembali berkumandang disana sini.
Merah padam muka Pek Kian Si, sekuat tenaga ia mengekang rasa dongkolnya.
Ditengah suara gaduh, kembali terdengar teriakan dari sebelah kiri.
"Hei, Siau Kun Lok! Sebaiknya kau membuat satu perkumpulan dengan Pek Kian Si. Beri saja nama 'Perkumpulan Pukulan Tahu'. Walau pukulannya tidak hebat, dijamin lunaknya tiada bandingan!"
Teriakkan kemarahan disertai gelakkan tawa dan dentingan adu senjata kembali terdengar.
Dua kelompok yang entah dari mana kembali bertikaian.
Tan Leng Ko hanya dapat menduga kelompok ini nampaknya memang musuh bebuyutan.
Pek Kian Si sekarang paham maksud Tan Leng Ko yang sebenarnya yakni memecah belah.
Dengan berbicara asal omong.
Ia menggunakan nama Giok Si untuk mengingatkan dan memancing rasa marah dari kelompok dibelakangnya.
Orang kang-ouw selalu menganggap nama dan harga diri jauh lebih penting dari pada nyawa.
Menjaga martabat diri selalu didahulukan, meski mereka tahu mereka sedang diadu domba, tetap sukar bagi mereka untuk melepaskan diri.
Ia mengumpat dalam hati, pemuda botak didepannya sungguh bukan lawan lunak, ia harus hati hati menghadapinya, tidak boleh meremehkan.
Pek Kian Si menimbang kemungkinan kemungkinan di dalam hatinya, apa yang harus ia lakukan untuk memandulkan siasat licik pemuda ini?
Sementara Pek Kian Si sibuk dengan alam pikirannya, kesempatan itu dimanfaatkan Su-Tongcu untuk bertanya pada Ji-Siocianya.
"Kenapa kau melibatkan diri pada urusan orang lain?"
"Lok Yang Piaukok telah banyak membantu Mi Tiong Bun, aku berkewajiban untuk membantu mereka..."
Seperti teringat satu hal, Giok Hui Yan balik bertanya.
"Kenapa Su-lopeh baru tanyakan sekarang?"
"Tadi dapat kurasakan keseriusan situasi, aku tidak ingin mengambil kesimpulan tanpa mengetahui ujung pangkalnya"
"Aku lebih memahami situasi yang ada, kuminta Su-lopeh bertiga untuk membantu mereka jika terjadi pertempuran"
Selesai berkata Giok Hui Yan menghampiri dan menjawil ujung baju Bok Siang Gak.
"Benarkah kau putra Pak Sian Gin Siauw?"
Yang ditanya mengangguk sambil tersenyum, sahutnya.
"Aku memang anaknya, anak satu satunya malah"
"Kenapa kau malah membantu pihak kami?"
Tanyanya heran.
Giok Hui Yan yang pernah menyaksikan pertarungan pemuda itu dengan Hek I Houw, ia tidak paham kenapa kedua duanya sekarang malah bahu membahu membantu pihak Lok Yang Piaukok?
Ingin menanya langsung kepada Hek I Houw, ia enggan.
Ia memilih Bok Siang Gak, bagaimanapun juga, rupa pemuda itu jauh lebih menyenangkan.
Bok Siang Gak tertegun, ia tidak menyangka bakal ditanya.
Ia juga tidak tahu bagaimana cara menjawabnya!
Pertama kali ia melihat gadis ini, hatinya sudah tertarik!
Wajahnya yang ketika itu pucat, tidak mengurangi kecantikkannya, malah menimbulkan perasaan iba dilubung hati pemuda itu.
Bok Siang Gak bukan jenis pemuda yang belum pernah melihat paras cantik, tapi seperti ada sesuatu di diri gadis itu yang mencegah dirinya untuk berbuat hal hal yang tidak menyenangkan gadis itu.
Entah cara senyumnya yang menggemaskan, atau suara tawanya yang seperti berirama ditelinganya, atau mungkin keindahan matanya yang berbinar tajam menatap dirinya.
Ia tidak ingin gadis yang hingga sekarang belum ia ketahui namanya, kecewa terhadap dirinya.
Giok Hui Yan tak dapat menahan ketawa, melihat Bok Siang Gak menatap bodoh dirinya dengan pandangan penuh kekaguman.
Naluri kewanitaannya timbul, ia merasa risih dipandang secara demikian.
Sebersit pikiran nakal mengerjai pemuda itu muncul dibenaknya.
Hanya sebelum ia sempat berbuat, mendadak terdengar teriakkan lantang Pek Kian Si.
"Dengarkan ucapanku! Aku akan masuk kedalam mencari Mustika Kemala Pelangi, bagi yang hendak ikut siapa tahu ketiban rejeki, bagi yang hendak ribut diluar sini, silakan kalian ketiban golok, silahkan kalian berkelahi sampai mampus!"
Tan Leng Ko mengumpat dalam hati atas kelicikan lawannya, meski siasatnya saat ini berjalan dengan baik, sayangnya daya tarik mustika itu sangat kuat!
Ternyata Pek Kian Si telah memanfaatkan titik lemah kebanyakkan orang kangouw.
Titik hawa nafsu ingin menguasai sebuah mustika, sebuah mustika yang mengandung rahasia tempat penyimpanan ilmu ilmu sakti mandraguna!
Rasa tamak nampaknya jauh lebih berpengaruh, lebih penting dibanding harga diri.
Kali ini Tan Leng Ko benar benar bakal menemui kesukaran untuk menghentikan serangan serentak dari ratusan orang kangouw.
Lok Yang Piaukok dalam bahaya!
Benar saja, pertarungan yang sedang berlangsung, berhenti dengan sendirinya.
Mereka berlomba menyusul Pek Kian Si yang berjalan ke pintu gerbang!
Cepat Tan Leng Ko meraih golok yang menggeletak disebelah mayat anak buahnya, goloknya sendiri entah menghilang dimana, mungkin tercecer di taman belakang di toko buku itu.
Sekali meloncat ia menghadang Pek Kian Si.
Tanpa banyak berbicara lagi, dia melepaskan sebuah tabasan ke arah dada lawan.
Dengan gesit Pek Kian Si menghindar, lalu memutar badannya.
Tangan kanannya tidak tinggal diam, dengan sebat menyambar ke belakang untuk meloloskan pedangnya.
"Sreet!"
Cahaya tajam segera berkilauan menyilaukan wajah Tan Leng Ko.
Sudah lama para jago persilatan tahu kalau Pek Kian Si terkenal di dunia persilatan karena ilmu pedangnya yang lihay, kendatipun demikian, jarang sekali orang yang pernah menyaksikan permainan pedangnya didepan umum.
Tidak heran, semua oprang lantas memusatkan segenap perhatiannya untuk menyaksikan pertarungan ini.
Dilihat dari cara mencabut pedang, Tan Leng Ko dapat menilai sampai dimana taraf kesempunaan yang berhasil diraih lawannya.
Agaknya ia cukup sadar, kalau ilmu pedang yang dimiliki Pek Kian Si lihai sekali.
Tan Leng Ko tak berani menganggap enteng musuhnya, dengan sorot mata yang bekilauan tajam, dia awasi gerak pedang lawan yang mengarah pada jantungnya.
Secepat kilat goloknya membentuk gerakkan melingkar, sedangkan tangan kirinya dengan setengah ditekuk mengebas pergi serangan pedang lawan.
Paras muka Pek Kian Si berubah hebat setelah menyaksikan datangnya ayunan golok Tan Leng Ko, dalam seruan tertahan ia mendadak menekuk pinggang sambil menarik kembali senjatanya.
Setelah itu pedangnya sekali lagi digetarkan kemuka, dari kiri menusuk kekanan lalu dari kanan menyapu ke tengah, dalam waktu yang singkat sekali dia telah melepaskan tiga buah serangan berantai!
Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, dengan suatu gerakkan pedang yang aneh, seperti menotok, seperti juga menggunting, dia menghajar musuhnya.
Usahanya berhasil, Tan Leng Ko telah terdesak mundur sejauh lima langkah oleh gencaran serangan berantainya.
Pek Kian Si memang tak malu disebut seorang jago pedang dalam dunia persilatan, ia tak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melepaskan serangan balasan, kaki kirinya segera maju selangkah kemudian pedangnya ditebas kesamping dan "Sreeet!"
Sebuah tusukan kilat disodokkan kemuka.
Kali ini Tan Leng Ko tidak menghindar lagi, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah membentak nyaring, pergelangan golok di tangan kanannya diayunkan ke muka membabat punggung pedang, seketika itu juga muncul segulung angin pukulan dingin yang mendesak pedang lawan miring kesamping.
Sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam.
tiba tiba saja ia melepaskan terobosan mnencekeram pergeralangan tangan kanan musuh yang mengenggam pedang.
Pek Kian Si amat terkejut,cepat cepat dia mundur sejauh tiga langkah tiba tiba saja gerakkan pedangnya berubah.
Terlihatlah sinar pedangnya berkelebat sehingga membentuk suatu jaringan pedang yang sangat rapat, menerjang tubuh Tan Leng Ko dari arah atas menuju kebawah.
Terdengar angin menderu deru, cahaya kilat pedang berkilauan diangkasa, segulung angin puyuh yang maha dahsyat segera menggulung tiba.
Tan Leng Ko mendengus dingin, ujung bajunya berkibar terhembus angin, dengan cepat ia menerjang masuk ketengah gulungan angin pedang yang gencar.
Dengan goloknya ia menangkis pedang lawannya, lalu dengan tangan kirinya ia menyerang musuh.
Dalam sekejap, terlihat sinar pedang dan golok berkelebat, berkilauan diselingi suara benturan dan dentingan yang terus menerus, tak henti hentinya bagaikan meluncurnya bintang dilangit menyambar keseluruh penjuru dan meletus dengan hebatnya.
Serangan mereka berubah silih berganti, bagaikan dua naga mengamuk diangkasa, kelihaian mereka benar benar luar biasa sekali!
Kawanan jago persilatan itu rata rata merupakan jagoan, ilmu silat mereka rata rata juga hebat, tatkala mereka menyaksikan jalannya pertarungan tersebut , serentak keningnya berkerut.
Rupanya sedikit sekali dari mereka yang dapat membedakan mana gerakkan golok dari Tan Leng Ko dan manakah jurus pedang dari Pek Kian Si.
Pertarungan yang menegangkan ini, mencengangkan semua orang, membuat semua jago yang hadir diarena tak seorangpun yang teringat untuk menerobos masuk ke dalam.
Mereka semua hanya berdiri tegak ditempat semula dengan wajah terpesona.
Mendadak sinar pedang Pek Kian Si berubah bagaikan pelangi yang muncul sehabis hujan, tubuh pedangnya dengan cepat dilancarkan kedepan.
Segera terlihatlah sinar kekuningan yang menyilaukan meliputi sekeliling tempat tersebut dan mengitari tengah udara dengan kencangnya, menerjang tak henti hentinya mengancam tubuh Tan Leng Ko.
Dengan gusar Tan Leng Ko mendengus, jari tengah dan telunjuk dari tangan kirinya ditepiskan membentur tubuh pedang ditangan Pek Kian Si, sedang kaki kanannya maju kedepan, tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat membacok dada lawannya.
Cepat Pek Kian Si menjejakkan kakinya, melenting kebelakang bersalto tiga kali untuk meololoskan diri dari serangan musuhnya.
Dia tidak segera menyerang Tan Leng Ko, otaknya berpikir keras untuk menemukan cara yang tepat untuk mengalahkan Tan Leng Ko.
Jarak mereka terpisah sekitar tujuh kaki.
Keduanya berdiri saling melotot sambil mengatur napas yang serabutan.
Mendadak Pek Kian Si mengalihkan pandangannya kearah kerumunan jago persilatan, kemudian mendengus.
"kalian datang kesini hendak menonton pertandingan atau hendak mencari Mustika Kemala Pelangi didalam!"
Teringat pada mustika yang sangat menggiurkan itu, tak usah di ngatkan kedua kali, terdengar teriakkan gemuruh bercampur suara macam macam senjata yang dicabut dari sarungnya.
Ratusan orang serentak menyerbu ke pintu gerbang.
Otot dirahang Tan Leng Ko bergerak gerak ketika ia mengadu giginya keras keras.
Ia telah membuat kesalahan!
Tidak seharusnya dia memberi peluang kepada Pek Kian Si untuk berbicara!
Tak dapat menahan murkanya, Tan Leng Ko berteriak mengayun goloknya mendesak maju kedepan.
"Su-lopeh! cepat kalian bertiga maju menghadang mereka!"
Teriak Giok Hui Yan yang tubuhnya dengan sangat ringan sekali bagaikan bertiupnya angin berkelebat menghadang, menyerang, mencoba merubuhkan lawan sebanyak dan secepat mungkin.
Tanpa banyak bicara, Su-tongcu bertiga mencabut pedang mereka, dalam waktu singkat angin yang tajam menggiris, menerpa keremunan jago persilatan.
Ada yang berhasil menghindar, tapi sedikitnya lima orang rubuh dengan dada terbelah terhajar hawa pedang yang dapat memanjang satu depa!
Kejadian itu tidak membuat orang orang kangouw gentar, sekitar sepuluh orang mengepung dan mengayunkan senjata yang cukup merepotkan jago jago Mi Tiong Bun.
Disebelah kanan pintu gerbang, Hek I Houw terlibat pertempuran melawan Dua Srigala dari gunung Hongsan yang dibantu oleh tujuh orang jago persilatan lainnya.
Entah karena banyak yang segan mencari perkara dengan keluarga Kwee yang banyak dihormati orang, yang paling sedikit menghadapi keroyokkan lawan adalah Kwee bersaudara.
Cara bertempur mereka pun tidak main bunuh, cukup asal lawannya tertotok atau terluka ringan, mereka segera meninggalkan korbannya mencari lawan baru.
Sedangkan yang paling kerepotan adalah Bok Siang Gak yang harus melawan keroyokkan lebih dari dua puluh orang!
walau nama Pak Sian Gin Siauw cukup terkenal, tapi bukan karena keseraman atau kekejiannya, hingga banyak yang memilih lebih baik mencari perkara pada pemuda itu ketimbang Hek I Houw atau pihak Mi TIong Bun.
Dengan gagah pemuda itu menggerakkan tangannya, terdengar suara merdu suara seruling ketika tubuhnya terbungkus bayangan perak menangkis senjata rahasia lawan.
Walau berkepandaian hebat, dia terdesak hebat!
Sepasang tangan melawan empat puluh tangan bagaimanapun juga merupakan pertandingan yang berat sebelah!
Yang melakukan pertempuran satu lawan satu hanyaTan Leng Ko, rupanya banyak yang terpesona dengan pertarungan mereka, sehingga membiarkan mereka berdua menyelesaikan perselisihan mereka sendiri.
Suasana pertempuran kacau sekali!
Tidak ada yang menganggur!
Desakkan yang paling berat terjadi didepan pintu gerbang yang dijaga oleh barisan golok para piasu.
Sungguh barisan golok yang ampuh!
walau dengan susah payah, kerja sama mereka tetap rapat, sepertinya untuk sementara mereka mampu membendung serbuan banyak orang.
Sinar mata Tan Leng Ko berkelebat ia ingin cepat cepat mengakhiri pertempuran ini.
Jurus goloknya telah berubah, menanti tangan kiri Pek Kian Si membentur tubuh goloknya, tubuhnya barulah bergeser dengan cepat mendesak maju kedepan, goloknya diputar sedemikian rupa ditengah udara, sedang gagang goloknya menghantam jalan darah "
Chie ce hiat"
Dipergelangan tangan Pek Kian Si.
Kegesitan serta kecepatan gerak tubuh Tan Leng Ko sama sekali diluar dugaan Pek Kian Si, dalam hatinya diam diam dia merasa sangat terkejut sekali, dengan serangan yang dilancarkan oleh lawannya ini.
Apabila jalan darah chie ce hiat nya benar benar terbentur gagang golok, tubuhnya tentu segera akan berhasil dipukul rubuh keatas tanah!
Melihat keadaan seperti itu, Pek Kian Si tak berani lama bertahan lagi, tubuhnya dengan cepat mundur kebelakang.
Tan Leng Ko yang melihat lawanya mundur kebelakang, segera menubruk maju kedepan berturut turut melancarkan beberapa kali serangan golok, setiap serangan golok itu semuanya mengancam jalan darah terpenting dibagian depat tubuh Pek Kian Si!
Serangan golok tersebut belum mencapai sasarannya, hawa golok dengan dahsyat sekali telah menekan tubuh lawannya, dalam hati Pek Kian Si menjadi sangat terperanjat, dengan tenaga dalam yang dimiliki Tan Leng Ko saat ini, tak mungkin dia akan berhasil melawan.
Ditengah lapisan bayangan golok yang menyelimuti udara mendadak Pek Kian Si melejit ketengah udara dan melayang turun tiga empat kaki jauhnya dari arena, mendadak terdengar dengusan tertahan,baju dibagian perutnya robek mendatar, darah kental mengucur dari goresan luka sedalam setengah inci!
"Apakah gerakkanmu barusan, adalah jurus Ouw Yang Ci To yang konon telah lenyap itu?"
Tanyanya dengan muka serius.
Tan Leng Ko terkesiap, mukanya berubah hebat, tanpa sadar selama ini ia telah mengeluarkan jurus yang pernah ia janji tidak akan digunakannya lagi.
Selagi ia termenung, Pek Kian Si meloncat dengan ringan sambil menggetarkan pedangnya.
puluhan batang pedang seperti mengancam jalan darah bagian depan tubuh Tan Leng Ko.
Tan Leng Ko menjadi bingung juga, tanpa jurus andalannya, sukar baginya mengalahkan lawan!
Apalagi tadi ia sempat melirik keadaan sekitarnya..., ternyata keadaan genting sekali!
Beberapa orang telah berhasil meloncat melalui tembok pagar Lok Yang Piaukok tanpa dapat dicegah.
Membuat hatinya gelisah bukan main, pikirannya bercabang.
Beberapa serangan pedang Pek Kian Si membuatnya terdesak hebat!
Goloknya menangkis secara serabutan, Tan Leng Ko kemudian meloncat menjauhi lawannya sambil berteriak parau.
"jika kau tidak membantu.... Kumati disini! Otomatis perjanjian kita batal dengan sendirinya!"
"Tan-ko kepada siapa kau berbicara?"
Ditengah kesibukkannya Kwee Li sempat menyahut.
Bergeridip mata Giok Hui Yan, dia dapat menduga kepada siapa Tan Leng Ko berbicara.
Yaa, hanya locianpwee itu dengan kesaktiannya yang luar biasa, yang dapat mencegah kehancuran Lok Yang Piaukok!
Timbul semangat tempurnya, tangannya mengayun lurus kedepan, suara mencicit hawa pedang membubarkan pengeroyokkan atas dirinya walau dalam tempo singkat mereka kembali bergabung menyerangnya.
Tan Leng Ko tidak menggubris pertanyaan Kwee Li, malah mengayunkan goloknya menyerang Pek Kian Si sambil meraung lebih keras.
"jika kau tidak membantuku sekarang, kau akan kucaci maki!"
Mendadak hawa panas dingin mengamuk, Tan Leng Ko mengeluh.
Gerakkannya langsung kacau balau, tangan kiri Pek Kian Si berhasil menghajar rusuk kanannya, tubuh Tan Leng Ko terhuyung kebelakang, posisinya sangat terjepit, tusukkan Pek Kian Si yang mengarah jantungnya tidak mampu ia hindari!
Disaat pedang itu menembus dada kirinya, Tan Leng Ko sempat mengayunkan tangan kirinya, serangkum hawa panas menerjang bahu kanan Pek Kian Si yang menjerit, mental terhajar!
Tercium bau hangus pakaian yang terbakar.
Mencelos hati Kwee Li melihat kejadian itu, ingin sekali ia menengok keadaan Tan Leng Ko, tapi rasa malu menahannya untuk menerjang kesana.
Baru ia mau meminta pertolongan kakaknya, terdengar jeritan gadis yang dikenalnya sangat binal itu.
"Kau?!"
Teriak Giok Hui Yan yang cepat meninggalkan lawannya bergegas menghampiri Tan Leng Ko yang tersungkur ditanah!
Tan Leng Ko merasa rusuk kanannya sakit bukan main, tapi ia juga merasa hawa murni yang bergejolak berkurang jauh!
Cepat ia memeriksa lukanya.
Aneh!
tiada darah yang keluar dari dadanya yang tertusuk!
Setelah memeriksa sebentar, baru sekarang ia paham.
Tangan Tan Leng Ko mengeluarkan tiga kitab dari saku dalam dada kirinya.
Kitab yang dibelinya di toko buku Gu-Suko telah bolong dibagian tengahnya!
Tusukkan seorang ahli pedang yang telah berlatih puluhan tahun, mempunyai kebiasaan tidak menggunakan tenaga berlebih.
jika tidak teralang kitab kitab itu, tusukkan tersebut sudah cukup memasukki jantung Tan Leng Ko dan menewaskannya!
"Omitohud!"
Ucap Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan berbareng. Tan Leng Ko menyeringai pada Giok Hui Yan yang kemudian berkata sambil menyengir.
"Kitab Buddha yang telah menyelematkan kau, kan pernah kubilang, kau cocok menjadi bhiksu"
Baru Tan Leng Ko hendak menjawab, tiba tiba terdengar suara halus yang berwibawa.
"Sicu sekalian, hentikan pertarungan yang tidak berguna ini!"
Suara itu walau tidak membawa tekanan hawa sakti atau gentakkan yang menggoyangkan jantung, namun terdengar kemana mana!
Bahkan terdengar jelas sekali oleh setiap orang disela sela keributan pertarungan.
Entah dikarenakan, suara itu mengandung kelembutan yang menyejukkan dan menenangkan hati, yang jelas mereka menghentikan perkelahian.
Seperti bocah bocah nakal yang kadang mendengar dan menurut teguran kasih dari orrang yang mengasihinya.
Giok Hui Yan memandang Tan Leng Ko dengan tegang, bisiknya.
"Pancinganmu berhasil! Akhirnya, locianpwee itu muncul juga"
Tan Leng Ko juga menganggap demikian.
Walau ia sudah berbincang dengan locianpwee sakti itu, tapi ia tidak kenal dengan suaranya.
Suara bisikkan memang tidak bisa dijadikan ukuran.
Dengan tegang ia memperhatikan kerumunan orang kangouw yang terbelah, seperti memberi jalan kepada seseorang!
Seorang yang berusia lanjut yang mengenakan jubah kuning kependetaan berjubah merah berjalan dengan tenang.
"Mo Tian Siansu!"
Seru Hek I Houw yang nampak terkejut juga.
Tan Leng Ko menghela napas.
Walau ia tahu, Mo Tian Siansu merupakan salah satu tokoh sakti dari Siaulimsi tapi ia tidak yakin kemampuannya dapat menghalangi serbuan orang kangouw ini.
"Lain halnya jika yang muncul Goan Kim Taysu sendiri"
Lamunnya menutupi kekecewaannya.
"Omitohud!....Apapun persoalannya, tidakkah dapat diselesaikan dengan cara selain saling bunuh"
Kata Mo Tian Siansu sedih.
"Apakah kedatangan siansu juga seperti kami, untuk mencari Khu Pek Sim?"
Sela sikurus dari dua Srigala gunung Hongsan.
"Bukankah Khu Pek Sim Sute berada di kota Po Ting?"
Seru Mo Thian Siansu heran.
Tan Leng Ko yang hendak berseru mencegah...terlambat!
Ia hanya dapat menghela napas mendengar ucapan polos Mo Tian Siansu.
Ia juga tidak dapat menyalahkannya, bhiksu itu tidak tahu menahu persoalannya disini.
Sudah menjadi suatu naluri bagi seseorang untuk membetulkan satu ucapan yang salah.
walau tidak sedikit yang melakukannya, karena ingin dipuji atau dianggap serba tahu, tapi ada juga yang keluar secara spontan, hanya untuk meluruskan fakta yang ada.
Justru ucapan yang polos tidak bersalah kadang malah lebih berbahaya!
Sikurus menatap pakaian Mo Tian Siansu yang penuh debu, ciri dari seorang yang telah menempuh perjalanan kaki yang lama dan jauh.
Setelah termenung sebentar, ia berkesimpulan bhiksu ini tidak tahu menahu persoalan Mustika Kemala Pelangi hingga tidak beralasan untuk berbohong.
Tapi ia ingin memastikan sekali lagi.
Ujarnya kemudian.
"Urusan apa yang membawa Siansu kemari?"
"Siancai...siancai...! Orang beragama tidak boleh berdusta. Kudatang menjemput cucu Khu Pek Sim sute dalam sangkutan yang tidak berhubungan dengan kalian"
Berubah muka sikurus begitu pula yang lainnya.
Banyak yang baru tahu bahwa Khu Pek Sim, Congpiathiau Lok Yang Piaukok, ternyata murid Siaulimpay, dan mereka telah membuat keributan disini!
Setelah berpikir sejenak, sikurus kemudian berkata.
"Orang beragama tentu tidak akan berdusta, ucapan siansu benar, pertarungan ini tidak berguna, aku mohon diri"
Badannya membungkuk memberi hormat, kemudian ia mengajak rekannya, didalam beberapa kali lompatan saja, bayangan tubuh mereka sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Tan Leng Ko yang tadinya rada menyesal atas ucapan Mo Tian Siansu yang kelepasan bicara, sekarang berubah pikiran.
Malah ia bersyukur ketika ia menyaksikan satu persatu tokoh tokoh persilatan mulai mengundurkan diri.
Matanya dengan cepat mencari Pek Kian Si yang sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Jelas sekali, ia merupakan salah satu tokoh yang mampu menggunakan otak!
Tapi masih tidak sedikit bahkan ratusan orang yang berdiri termangu bodoh seperti tidak mengerti apa yang telah terjadi.
"Khu Pek Sim locianpwee berada di kota Po Ting, Apakah kalian akan membiarkan mereka pergi untuk memperoleh Mustika Kemala Pelangi!"
Bentak Giok Hui Yan menyadarkan mereka.
Seperti baru mengerti, terdengar suara gopoh disana sini, rombongan demi rombongan menghilang dikegelapan malam, Lewat beberapa saat kemudian, suara keributan itu terdengar menjauh.
Yang tersisa hanya kelompok Tan Leng Ko yang dikelilingi mayat mayat yang bergelimpangan, serta bau anyir darah yang menusuk!
Tan Leng Ko menatap Giok Hui Yan sambil menghela napas, sebetulnya ia tidak setuju dengan caranya yang dapat sangat membahayakan Khu Pek Sim, namun ia juga tahu hanya cara itu satu satunya yang dapat mengusir ratusan orang itu sekaligus mencegah bencana bagi Lok Yang Piaukok.
Baru ia hendak menghampiri Mo Tian Siansu, Ci Kang salah seorang piasu memanggilnya.
"Ada apa?"
"Sebaiknya Tan-kausu melihatnya sendiri didalam"
Jawab Ci Kang.
Di kuti Giok Hui Yan, segera ia mengikuti anak buahnya masuk kedalam pintu gerbang.
Didekat pepohonan yang tumbuh dipekarangan, menempel ditembok pagar nampak tumpukkan manusia yang menindih satu dengan lain dalam keadaan kaku!
Setelah memeriksa beberapa orang tersebut, Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam.
Tanpa harus memeriksa semuanya, ia yakin mereka telah tertotok ditigapuluh enam urat nadinya.
Giok Hui Yan memandangnya lekat lekat, tanpa berbicarapun mereka maklum, ternyata locianpwee sakti itu telah membantu mereka!
"Rupanya, ia tidak ingin kau caci maki"
Gumam Giok Hui Yan perlahan. Tan Leng Ko tidak menjawab, banyak hal yang harus ia kerjakan juga yang harus ia pikirkan.
"Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka?"
Tanya Ci Kang.
Tan Leng Ko menatap Ci Kang sebentar, timbul rasa syukur bercampur iba begitu melihat pakaian Ci Kang yang basah ternoda darah.
Tiba tiba teringat olehnya, Ci Kang termasuk salah satu yang menjaga pintu gerbang dengan menggunakan barisan aneh yang belum pernah ia lihat.
"Darimana kalian belajar barisan golok itu?"
Tanyanya ingin tahu. Dengan ragu Ci Kang menjawab.
"Ketika kami mempelajarinya, kami telah dipesan jangan sekali sekali sampai Tan-kausu tahu!"
Tan Leng Ko memandang anak buahnya dengan pandangan dingin. Terlihat sekali Ci Kang seperti serba salah, namun akhirnya ia memutuskan untuk berkata juga.
"Lapor Tan-kausu! Cu-toako yang mengajari kami barisan golok itu. Ia tidak ingin kami bercerita, karena ia tidak ingin melangkahi Tan-kausu. Tapi ia juga menganggap pentingnya barisan pertahanan yang dapat menahan serangan orang banyak!"
"Apa Cu Goan sudah pulang?"
Tanya Tan Leng Ko heran.
"Bukankah Tan-kausu telah melihat, ia tadi bersama sama bertempur dengan kami"
Sahut Ci Kang.
Tan Leng Ko rada heran juga, sebab ia merasa tidak pernah melihat Cu Goan, tapi ia tidak mempesoalkan hal itu, suasana pertempuran tadi kacau sekali, lagipula urusannya saat ini, sudah terlampau banyak.
"Coba kau panggil dia kemari!"
"Lapor Tan-kausu, Cu-toako sedang berbaring merawat lukanya yang parah, dia berhalangan hadir"
Tan Leng Ko mengangguk, lalu ia menyuruh anak buahnya untuk memasukkan orang orang tsb kedalam kereta barang dan membawa mereka pergi.
"Kemana mereka harus kuturunkan"
Tanya Ci Kang.
"Pergi kearah barat selama sebelas jam tanpa berhenti, kemudian kalian boleh letakkan saja mereka dipinggir jalan, sejam kemudian totokkan mereka akan terbuka dengan sendirinya"
"ii hh...! Apakah ke tiga puluh enam urat nadi mereka telah tertotok"
Kejut Mo Tian Siansu yang telah melangkah masuk kedalam bersama sama Kwee Tiong, Kwee Li, Su-Tongcu dan yang lain.
Tanpa menunggu jawaban, ia memeriksa tumpukkan orang orang tersebut.
Tan Leng Ko mengeluh dalam hati, ia mengomeli dirinya dalam hati.
Ia benar benar lupa, locianpwee sakti itu pernah mengacau di siaulimsi!
Tidak seharusnya ia berbicara keras keras hingga menarik perhatian Mo Tian Siansu.
Bagaimanapun juga, ia tidak ingin bhiksu itu menyelidiki hubungannya dengan locianpwee itu.
"Darimana kau tahu totokkan ini akan terbuka dengan sendirinya, dua belas jam kemudian?"
Selidik Mo Tian Siansu sambil menatap Tan Leng Ko dengan tajam.
"Sebab aku pernah melihat seseorang ditotok secara demikian"
Jawab Tan Leng Ko menjaga tekanan suaranya, polos seperti bayi yang tidak tahu apa apa.
"Apakah kejadian itu baru baru saja terjadi?"
Desak Mo Tian Siansu.
"Tidak! Kejadian itu terjadi sekitar tujuh tahun yg lalu. Ketika itu aku sedang menuju ke propinsi Sujwan, dan kutemukan seseorang berpakaian compang camping, brewokkan, sedang berbaring dipinggir jalan"
Sahut Tan Leng Ko mengarang cerita sekenanya.
"Kucoba menolongnya dengan membuka jalan darahnya yang tertotok ditiga puluh enam tempat, tapi tidak juga berhasil walau sudah berkutet sekian lama"
Lanjut Tan Leng Ko. Mo Tian Siansu mengangguk,membenarkan.
"Karena tidak ingin meninggalkan orang itu begitu saja, tapi juga tidak berdaya menolongnya, terpaksa kutunggui dia hingga jalan darahnya terbuka dengan sendirinya"
"Dan kau telah menungguinya selama dua belas jam?"
"Benar! Sekian lama kutunggui dia, begitu bebas, bukan saja tidak berterimakasih, bahkan ia berkelebat menghilang begitu saja!"
Ucap Tan Leng Ko dengan kesal. Diam diam ia mengagumi dirinya, yang dapat bersandiwara begitu bagusnya.
"Jadi kau tidak sempat bertanya siapa namanya, kenapa ia sampai tertotok dengan cara demikian?"
Seru Mo Tian Siansu dengan nada kecewa.
"Aku tidak tahu siapa dia, juga tidak tahu kenapa ia tertotok begitu"
Sahut Tan Leng Ko bergaya apa boleh buat.
"Apa selama ini, kau tidak pernah bertemu lagi dengan orang itu?"
"Aku pun ingin sekali berjumpa satu kali lagi dengannya. Ingin kutanyai dia, apakah dia ketika kecil, pernah mendapat pendidikkan budi pekerti? Seseorang yang telah menungguinya setengah harian, sedikitnya perlu diucapkan terimakasih paling tidak satu kali"
Seru Tan Leng Ko dengan jengkel. Mo Tian Siansu menghela napas, titik terang yang dianggapnya dapat memulai penyelidikkan kembali buram, terputus begitu saja.
"Apakah ada sesuatu barang penting yang hilang di Lok Yang Piaukok"
Tanya Mo Tian Siansu setelah termenung sejenak. Sambil berpura pura heran, Tan Leng Ko lekas menjawab.
"Kecuali kereta kereta barang yang kami anggap penting, kami tidak memiliki benda penting lainnya, setahuku kereata barang masih ada dipekarangan belakang... kuyakin kami tidak kehilangan barang!"
Dengan cepat ia menyuruh Ci Kang.
"Lekas kau ambil kereta barang kesini. agar Siansu tidak terlalu kuatir!"
Yang disuruh mengangguk, kemudian berlari kedalam.
"Kuyakin, pencuri sakti itu tidak akan tertarik pada kereta barang"
Kata Mo Tian Siansu perlahan.
"Pencuri sakti? Siapa yang Siansu maksudkan?"
Tanya Tan Leng Ko pura pura bodoh.
Mo Tian Siansu tidak segera menjawab, ia hanya menghela napas, kecurigaannya telah berkurang!
Tidak mungkin pencuri sakti itu tetarik terhadap Lok Yang Piaukok.
Ia menganggap, pentolan yang memilki silat yang paling tinggi dipiaukok ini adalah sutenya, Khu Pek Sim yang ia yakin tidak memiliki kitab sakti.
"Sudahlah, lupakan saja! kejadian ini mengingatkanku pada peristiwa tempo hari"
Ujar Mo Tian Siansu yang enggan menceritakan urusan siaulimsi pada orang lain. Diam diam Tan Leng Ko menarik napas lega, kemudian katanya.
"Silahkan Siansu beristirahat didalam, kuperlu membereskan urusan disini lebih dahulu"
Mo Tian Siansu mengangguk.
"Sebelum beristirahat, aku ingin sekali bertemu dengan Khu Han Beng"
"Begitu urusanku disini selesai, aku akan mengajaknya untuk menemui Siansu diruang tamu"
Ujar Tan Leng Ko sambil memberi hormat, lalu menyuruh anak buahnya yang lain untuk mengantar Mo Tian Siansu masuk kedalam.
Melihat kesempatan, Kwee Tiong bersama adiknya berpamitan kepada Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan.
Tan Leng Ko tidak mencegah kepergian mereka, mereka tentu memaklumi kesibukkannya.
Ia juga tidak mengucapkan terimakasih.
Bantuan mereka padanya tidak hanya cukup dibalas dengan ucapan, apalagi mereka bisa tersinggung, merasa dianggap bukan seorang sahabat, jika ia berterimakasih.
Setelah menukar kata kata perpisahan, Kwee Tiong mengajak adiknya pergi dari situ.
"Ji-Siocia, sudah waktunya bagi kita untuk pergi juga"
Ujar Su-Tongcu pelan.
"Masih banyak yang harus kukerjakan disini"
Kata GIok Hui Yan bersikeras.
"Tidak! Tugasku adalah membawamu pulang. Bagaimanapun juga, kau harus ikut denganku sekarang"
Kata Su-Tongcu dengan tegas.
Biji mata Giok Hui Yan berputar.
Dia cukup mengerti kenapa Su-Tongcu yang disuruh oleh ayahnya untuk menjemputnya pulang.
Watak Su-Tongcu keras, tidak doyan kompromi!
Tidak terlalu cerdas, tapi justru sukar untuk ditipu.
Su-Tongcu berpendirian teguh.
jika hendak melakukan suatu pekerjaan, ia akan mengerjakannya sampai tuntas.
Cocok untuk mengatasi kebandelannya.
Satu cara untuk mengapusi Su-Tongcu adalah dengan berbicara jujur dengannya.
"Su-lopeh, dia telah menyelamatkan jiwaku, paling tidak aku harus membantunya.Bukankah ayah paling benci jika kita berhutang?"
Seru Giok Hui Yan sambil menunjuk pada Tan Leng Ko.
"Apa gerangan yang telah kau alami?"
Tanya Su-Tongcu kuatir.
"Sukar untuk dibicarakan dengan satu dua patah kata. Kutahu hutang jiwa tidak bisa dibayar dengan begitu saja, tapi paling tidak, aku tidak bisa berpangku tangan, sedikitnya aku harus membantu kesibukkannya"
Su-Tongcu sangat mengenal kecerdasan dan kenakalan Ji-siocianya.
Tapi saat ini, ia juga dapat merasakan pancaran kejujuran dari sinar mata Giok Hui Yan.
Sifat kejujuran yang jarang sekali timbul.
Malah boleh dibilang semenjak dari bayi hingga sekarang, selama ini, sifat jujur Ji-Siocianya bisa dihitung dengan jari.
"Sebaiknya Su-lopeh bertiga berisirahat didalam, besok baru kita berangkat pulang"
Bujuk Giok Hui Yan.
Su-lopeh menoleh pada kedua rekannya yang mengangguk setuju.
Giok Hui Yan tertawa senang dan cepat memanggil salah satu piasu untuk menghantar mereka berisitirahat.
Seperti teringat sesuatu, bergegas Tan Leng Ko melangkah keluar pintu gerbang, disusul oleh Giok Hui Yan tak lama kemudian.
"Apa yang sedang kau cari?"
Tanya Giok Hui Yan melihat Tan Leng Ko menebarkan pandangannya seperti mencari sesuatu.
"Aku tidak melihat Hek I Houw, dia telah pergi tanpa pamit"
Kata Tan Leng Ko rada kecewa.
"Kuheran kenapa ia berubah pikiran, malah membantu kita"
Ujar Giok Hui yan setelah termenung sejenak.
"Aku juga tidak mengerti, makanya hendak kutanyakan padanya"
"Putra Pak Sian Gin Siauw juga pergi tanpa pamit"
Seru Giok Hui Yan seperti rada kecewa juga.
"Sempat kudengar pertanyaanmu, kenapa ia mau membantu kita"
"Yaa, sayang ia belum sempat menjawab, sekarang entah ia menghilang kemana!"
Sambil tertawa tertahan, Tan Leng Ko bertanya.
"Memangnya kau tidak dapat menerka sebabnya?"
Giok Hui Yan menggeleng, kemudian ia ikut tertawa, katanya perlahan.
"Jika dapat kuterka, untuk apa lagi kubertanya padanya?"
Baru Tan Leng Ko mau menjawab, tiba tiba ia melihat sesuatu diantara tindihan mayat mayat yang bergelimpangan, sesuatu yang mengkilat tertimpa cahaya bulan.
Cepat ia menghampiri dan membalik mayat itu.
Membujur kaku dengan tangan kanan memegang kaku sebuah seruling perak yang menghujam tembus tenggerokkan lawannya, sesosok mayat yang mengenakan baju biru...
Bok Siang Gak!
Bergegas Tan Leng Ko memeriksa penyebab kematiannya.
Luka luka ditubuh pemuda itu, sedikitnya ditimbulkan oleh tujuh macam senjata bahkan sebilah golok masih terbenam dalam diperutnya!
Giok Hui Yan menatap mayat itu dengan sorot mata sedih, suaranya bergetar, memilukan, matanya mengembang air mata.
"jika kau tidak membantu, tentu tidak akan tewas secara mengenaskan. Kenapa kau perlu membantu kami... sekarang aku tidak akan pernah tahu...!"
Tan Leng Ko terdiam.
Dari cara Bok Siang Gak memandang kepada Giok Hui Yan ia dapat menerka sebabnya, hanya ia tidak tega untuk mengatakannya.
Lama Mereka berdua terdiam, tenggelam di alam pikir masing masing.
"Biar situasi disini aku yang urus, kau sebaiknya mencari cacing buku itu, untuk menemui Mo Tian Siansu"
Ujar Giok Hui Yan perlahan memecah keheningan.
Tan Leng Ko mengiakan.
Setelah menarik napas dalam dalam, ia melangkah masuk mencari Khu Han Beng, meninggalkan Giok Hui Yan mengurusi mayat Bok Siang Gak.
"Kutahu kau seorang pemuda baik. Kutahu kita dapat menjadi sahabat yang baik... sayang sekali....!"
Giok Hui Yan tidak dapat meneruskan perkataannya, lehernya seperti tercekik, ia menangis perlahan! Yaa, sayang sekali perkenalan mereka singkat sekali, terlampau singkat malah! "Namaku Giok Hui Yan"
Bisiknya disela sela tangisan.
Kamar Khu Han Beng kelihatan sepi sekali, Tan Leng Ko mengetuk pintu kamar perlahan.
Seperti dugaannya, tiada jawaban!
Tentu bocah ini pergi sedari tadi.
Dengan keributan sejak tadi diluar, tidak mungkin ia tidak keluar.
Tan Leng Ko juga tidak melihat Lo Tong, entah ia lagi mabuk dimana.
Dibawah terangnya sinar bulan dan dinginnya malam, Tan Leng Ko berlari menuju ke bukit belakang.
Di lereng bukit kecil ini, terdapat sebuah gua yang didepannya masih banyak tumbuh bunga liar yang belum rontok di awal musim gugur ini.
Tan Leng Ko yakin, ia akan dapat menjumpai Khu Han Beng disana.
Dugaan Tan Leng Ko tidak salah, betul ia menemui Khu Han Beng disini.
Tapi bocah ini tidak sedang mencari kunang kunang seperti apa yang diduganya semula!
Bukannya mendekat, Tang Leng Ko malah bersembunyi diantara alang alang yang tinggi.
Soalnya ia ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan Khu Han Beng, sebab keadaannya sungguh aneh!
Khu Han Beng sedang berdiri jungkir balik dengan kaki diatas, kepala dibawah diatas sebuah batu.
Tangan kirinya melipat didepan dada, tubuhnya tegak lurus ditopang telapak tangan kanannya.
Bukan telapak tangan, melainkan jari tangan!
Tubuh Khu Han Beng berjungkir balik ditopang hanya dengan sebuah jari telunjuk yang menegak lurus.
Dibawah terangnya bulan, Tan Leng Ko melihat batu tersebut banyak lumutnya, tentu permukaannya licin sekali.
Bahkan tempat dimana jari Khu han Beng berada, terletak dibagian yang miring.
Tapi nampaknya, Khu Han Beng dapat menjaga posisinya dengan baik.
Jari telunjuknya tidak menancap dipermukaan batu, melainkan seperti lengket menyatu dengan batu.
Tiupan kencang angin bukit pun tidak membuat tubuhnya bergoyang, dan agaknya ia sedang....tertidur!
Yang membuat bingung Tan Leng Ko, 12 nadi penting dibagian depan tubuh Khu Han Beng dihiasi 12 helai daun yang tidak rontok ditiup angin kencang.
Bahkan ketika halimun tipis berwarna putih menerpa tubuh Khu Han Beng, seperti menyibak ke kiri, ke kanan kemudian menyatu kembali di belakang tubuh Khu Han Beng.
Tan Leng Ko menjadi ragu.
Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Kelopak mata Khu Han Beng yang tetutup, tiba tiba terbuka dengan lebar.
Matanya menatap tempat Tan Leng Ko bersembunyi.
"Tan toako, kau kemarilah!"
Tegur Khu Han Beng sambil melentikkan badan, menggeliat di udara.
Daun daun yang melekat dibagian depan dan belakang tubuhnya terbang mengikuti arah angin.
Tan Leng Ko menghampiri Khu Han Beng dengan pandangan penuh kagum.
Tubuh Khu Han Beng melayang seperti daun kering, kakinya perlahan menyilang membentuk posisi bersila.
Semua ini dilakukannya dengan lambat dan ketika ia masih melayang diudara!
Tan Leng Ko ikut duduk di atas batu di sebelah Khu Han Beng.
Banyak yang ingin dia tanyakan, hanya bingung harus mulai dari mana!
Khu Han Beng tersenyum padanya, kemudian menoleh kearah dalam gua seperti seseorang mengajaknya berbicara.
Tan Leng Ko ikut menoleh.
Dia tidak melihat atau mendengar sesuatu dari goa yang gelap itu.
Tapi dapat dilihatnya Khu Han Beng mengangguk kepala.
"Terima kasih, suhu"
Bisiknya lirih.
"Apa suhumu ada di dalam?"
Tanya Tan Leng Ko sambil ikut berbisik.
Setelah mendapati banyak hal yang aneh yang berhubungan dengan bocah ini, Tan Leng Ko mau tidak mau berkesimpulan, tentu locianpwee sakti itu yang menjadi guru Khu Han Beng.
Hatinya girang, bocah ini mendapat seorang yang sakti luar biasa sebagai gurunya, berbareng kuatir karena ia tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari locianpwee itu.
Betul locianpwee itu tidak berniat jelek bahkan sayang pada Khu Han Beng, tapi acap kali niat baik kadang tanpa sengaja, dapat menjerumuskan lebih dalam ketimbang niat jahat.
"Apakah toako ingin bertemu muka dengan suhu?"
Tanya Khu Han Beng.
"Tentu saja ingin!"
Jawab Tan Leng Ko.
Banyak yang ingin ia tanyakan kepada guru Khu Han Beng.
Terutama perihal salinan kitab kitab sakti dikamar Khu Han Beng, apakah kitab aslinya diberikan oleh gurunya atau oleh Gu-suko pemilik toko buku Lok Yang.
Atau guru Khu Han Beng dan Gu-sukonya sesungguhnya adalah orang yang sama?
Belum lagi janjinya untuk menjaga ruang pustaka itu, sekaligus mencari Hay Thian Sin Kiamboh.
Dia hanya mampu melakukan satu dari dua persoalan itu.
Bagaimanapun juga, tidak mungkin baginya untuk menemukan kitab pusaka milik Mi Tiong Bun, jika ia harus nangkring terus di kamar Khu Han Beng!
"Kenapa toako tidak coba masuk ke dalam?"
Tanya Khu Han Beng tiba tiba.
Tan Leng Ko tertegun.
Ucapan Khu Han Beng terdengar agak janggal.
Masuk ke dalam gua kenapa mesti dicoba?
Apa ada jebakkan yang menunggu?
Tan Leng Ko tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
Sambil meningkatkan kewaspadaan, ia berjalan perlahan menuju ke arah gua, hawa murninya dikerahkan hingga sepuluh bagian.
Gua itu gelapnya bukan main, hatinya menjadi ragu.
"Cayhe Tan Leng Ko dari Lok Yang Piaukok, ingin menghadap locianpwee!"
Angin dingin meniup perlahan, tidak terdengar jawaban dari dalam gua.
Suasana hening, hanya terdengar suara binatang malam yang berbunyi.
Diam diam timbul rasa ngeri di kalbu Tan Leng Ko.
Dengan nekat, dia menggerakkan kakinya, tapi Ia hanya sanggup berjalan dua langkah.
Tubuhnya membentur sebuah dinding tebal dari hawa tanpa ujud!
"Tan toako, kau kembalilah kemari"
Panggil Khu Han Beng.
Tan Leng Ko menggerakkan badannya kedepan, kekiri dan kekanan.
Semacam gerakkan yang sia sia.
Yang dapat ia lakukan hanya mundur kembali ke sebelah Khu Han Beng.
Setelah ia duduk disebelah Khu Han Beng, tenaga yang membungkus tubuhnya lenyap begitu saja.
"Duduklah dengan tenang Tan toako, guruku telah berlalu"
Tan Leng Ko menghela napas panjang.
"Aaai ih....padahal aku hanya ingin berjumpa dengan gurumu"
"Kau tidak akan mampu untuk berjumpa dengannya"
"Kenapa?"
"Karena akupun tidak pernah berhasil bertatap muka dengan beliau"
Kata Khu Han Beng dengan sedih.
"Masakkan seorang guru melarang muridnya untuk bertemu?"
Seru Tan Leng Ko kaget bercampur penasaran.
"Guruku tidak melarang. Hanya aku diharuskan mengeluarkan kepandaian, jika ingin melihat wajahnya"
Jawab Khu Han Beng dengan mata berkaca kaca.
"Kepandaian yang kumiliki, masih rendah"
Lanjutnya.
Tan Leng Ko termangu mendengar perkataan Khu Han Beng.
Dari pertunjukkan barusan, boleh dibilang ginkang Khu Han Beng yang terhebat yang pernah dilihatnya seumur hidup.
Dan sekarang, bocah ini mengaku kepandaiannya masih rendah!
"Ada urusan apa, Tan toako mencariku?"
"Aku...?"
Banyak persoalan yang hendak ia ajukan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kenapa kepalamu menjadi tidak berambut, toako?"
Tan Leng Ko menyeringai, terpaksa ia menceritakan apa yang telah dilakukan Giok Hui Yan padanya.
"Lagi lagi gadis setan itu mengacau"
Gumam Khu Han Beng kesal.
"Tidak hanya gadis itu yang mengacau"
Gumam Tan Leng Ko perlahan.
"maksud toako?"
"Sudahlah, kau akan tahu dengan sendirinya"
Jawab Tan Leng Ko setelah berpikir sejenak.
Ia tidak dapat memutuskan, apakah sebaiknya ia menceritakan tragedi yang menimpa Lok Yang Piaukok dimana banyak piasu yang tewas, atau membiarkan Khu Han Beng menemukannya sendiri.
Ia menjadi ragu.
Ia tidak dapat menerka apa yang bakal dilakukan oleh Khu Han Beng, ia memang belum terlalu mengenal betul karakter bocah ini.
"Tan toako, kutahu kau bernasib mujur, berapakah angka keberuntunganmu?"
Tanya Khu Han Beng sambil tertawa. Tan Leng Ko ikut tertawa, dia memang sangat bangga mengenai hal ini.
"Ketika Khu-Congpiautau menolongku, peristiwa itu terjadi pada bulan enam. Begitu pula dengan jurus Ouw Yang Ci To yang dulu kuperoleh. Kuyakin, angka enam adalah angka keberuntunganku"
"Kalau begitu, Tan toako, diberi kesempatan untuk bertanya sebanyak enam kali... Kutahu suhu melarang toko menanyakan urusanku. Tapi aku pun paham, banyak yang ingin toako tanyakan padaku"
"Iiihhh...! Darimana kau tahu urusan itu?"
"Suhu yang bercerita padaku"
"Suhumu mau menceritakan urusan ini padamu?"
Seru Tan Leng Ko dengan nada tidak percaya. Sebab menurut perhitungannya, komunikasi antara mereka minim sekali.
"Aku juga heran, biasanya jarang sekali suhu mau mengeluarkan kata kata. Kadang dalam satu tahun, aku belum tentu satu kali mendengar suaranya"
Tan Leng Ko termenung sebentar, kemudian tanyanya.
"Apakah, kau yang meminta ijin?"
"Suhu sangat sayang padaku, Jarang sekali suhu menolak keinginanku... Tapi beliau juga menginginkan satu syarat!"
"Apa syaratnya?"
"Jumlah pertanyaan toako harus dibatasi!"
Tan Leng Ko menghela napas, sekarang ia baru mengerti kenapa tadi Khu Han Beng mengucapkan terima kasih.
Ia juga baru paham kenapa bocah itu menanyakan angka keberuntungannya.
Diam diam ia menyengir, kenapa tadi dia tidak bilang seratus atau seribu?
Untuk kedua kalinya, Tan Leng Ko merasa nasibnya...tidak mujur!
"Sudahlah, mari kita pulang"
Kata Tan Leng Ko. Agak heran Khu Han Beng dengan ajakan ini.
"Apa tidak ada yang toako hendak tanyakan?"
"Tentu saja ada. Dan kuyakin lebih dari enam. Hanya harus kupikirkan secara masak agar kesempatan bertanya tidak terbuang percuma"
Khu han Beng terseyum geli.
Baru belakangan ini saja ia bergaul dengan Tan Leng Ko.
Tadinya ia mempunyai anggapan kalau Tan toakonya jenis yang beradat berangasan, nyatanya jenis yang dapat menggunakan otak.
"Lagipula susiokmu ingin sekali berjumpa denganmu"
"Susiokku?"
"Mo Tian Siansu dari Siaulimsi ingin sekali bertemu denganmu, ia sedang menunggu diruang tamu"
"Utusan Siaulimsi sudah datang?!"
Seru Khu Han Beng tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
"Kau seperti sudah lebih dahulu tahu, susiokmu bakal kemari"
Ujar Tan Leng Ko tertarik.
"Suhu menyuruhku berguru di Siaulimsi, hanya tak kusangka cepat sekali kedatangannya"
Hati Khu Han Beng menjadi sedih.
Yayanya sudah berjanji akan menceritakan perihal orangtuanya, sekembalinya dari menghantar barang.
Menurut perhitungannya tinggal beberapa minggu lagi.
Tak nyana sekarang ia harus pergi belajar ke Siaulimsi, entah untuk berapa lama.
Sedikitnya juga memakan tempo bertahun tahun.
Tan Leng Ko tidak dapat menduga apa yang dipikirkan bocah itu.
Tapi lapat lapat ia seperti dapat merasa bocah itu sedang dirundung kesusahan.
"Sebaiknya kita pulang"
Bujuknya perlahan.
Khu Han Beng menghela napas, ia hanya mengangguk.
Kemudian, keduanya mengerahkan ginkang menuju balik ke Lok Yang Piaukok.
Tan Leng Ko benar benar takluk atas kehebatan ginkang Khu Han Beng.
Umumnya ilmu meringankan tubuh, kedua kaki harus digerakkan bergantian seperti orang berlari yang ayunan langkahnya lebih ringan dan lebih jauh daya lompatnya.
Kaki Khu Han beng tidak ada satupun yang bergerak.
Tubuhnya boleh dibilang melayang, sekali sekali ujung sepatunya menotol tanah, kemudian melenting kembali puluhan kaki jauhnya.
"Sungguh hebat ginkangmu, apa namanya?"
Tanya Tan Leng Ko tak tahan memuji. Bagaimanapun juga Khu Han Beng masih seorang bocah. Cepat sedihnya, cepat pula hilangnya. Mendengar perkataan Tan Leng Ko, timbul niatnya untuk menggoda.
"Apakah ini termasuk pertanyaan pertama?"
Tan Leng Ko terdiam.
"Lupakan saja omonganku"
Tubuhnya bergerak mendahului Khu Han Beng. Geli hati Khu Han Beng melihat toakonya merajuk. Sedikit ia mengerahkan tenaga, dalam sekejab ia merendeng disebelah Tan Leng Ko.
"Apa toako pernah mendengar langkah Leng Po Wi Poh?"
Tergetar hati Tan Leng Ko mendengarnya.
"Kau menggunakan langkah Leng Po Wi Poh?"
Serunya terkejut.
"Tentu saja tidak. Yang kugunakan namanya Ban Cui Leng Poh"
Tan Leng Ko menarik napas lega.
Walau banyak hal yang aneh mengenai bocah ini, tidak mungkin ia menguasai ilmu kuno yang hanya ada didalam dongeng itu!
"Langkah Leng Po Wi Poh merupakan latihan dasar untuk mempelajari Ban Cui Leng Poh"
Kata Khu Han Beng perlahan.
Tan Leng Ko menghentikan larinya.
Ia memandang Khu Han Beng dengan tajam.
Dengan sendirinya, Khu Han Bengpun ikut berhenti!
"Apa toako ingin menyaksikan gerakkan Ban Cui Leng Poh yang tak dapat dilakukan oleh langkah Leng Po Wi Poh?"
Bagaimanapun juga Khu Han Beng masih seorang bocah, yang tak lepas dari rasa keinginan untuk memamerkan kepada Tan toakonya.
"Tentu saja ingin!"
"Silahkan toako bergerak lebih dulu"
Kata Khu Han Beng sambil tersenyum Tan Leng Ko mengerahkan segenap tenaganya dan berlari sekencang kencangnya menuruni bukit.
"Wuusss...!"
Berkelebat tubuh Khu Han Beng persis didepan Tan Leng Ko dan berdiri dengan ringan melayang didepan Tan Leng Ko...
mengambang!
Puluhan lie Tan Leng Ko berlari, seperti ditiup angin, tubuh Khu Han Beng menghadap dirinya dengan santai tetap dalam jarak tertentu tanpa satu kalipun kakinya menyentuh tanah!
"Apa kau bisa terbang?"
Tanya Tan Leng Ko bergidik.
"Tentu saja tidak! Aku hanya meminjam angin yang mendorong kedepan yang ditimbulkan dari gerak lari toako.... Seperti gerakkan sehelai daun yang meminjam tiupan angin kencang". Tan Leng Ko menghentikan larinya. Benar saja, hilangnya dorongan angin, menyebabkan tubuh Khu Han Beng melayang turun.seperti sehelai daun kering, secara perlahan kaki Khu Han Beng hinggap diatas tanah. Jarak kakinya dengan tanah tadinya hanya sejengkal, toh tetap memerlukan tempo yang cukup lama. Menyaksikan peristiwa ini, Tan Leng Ko menghela napas. Teringat olehnya, ketika tenaga dalamnya bertambah, ternyata ginkangnya ikut bertambah maju .
"Aku ingin mengajukan pertanyaan pertama". Khu Han Beng memandang toakonya sambil tersenyum.
"Kutahu makin hebat ginkang seseorang, semakin tinggi kesempurnaan tenaga saktinya. Semuda ini, apa yang kau latih hingga mencapai tingkat yang begitu tinggi?"
Khu Han Beng tertegun.
"Apa kepandaianku sudah tinggi?"
Ia malah balik bertanya.
Giliran Tan Leng Ko yang tertegun.
Ditatapnya bocah ini dengan tajam.
Tidak mungkin bocah ini bergurau dengannya.
Bocah ini memangdang dirinya begitu polos.
Hati Tan Leng Ko tenggelam.
Teringat olehnya, kebiasaan bocah ini yang suka menyendiri, dan jarang berhubungan dengan orang lain!
Baca Juga: Dendam Asmara 1
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 12