Eps 12 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen
Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.
"Aku sendiri tidak sanggup melawan Seng Cap-si Kouw. apalagi jika dia dibantu oleh orang-orang Biauw!"
"Jadi kau juga memusuhi dia?"
"Ya. Karena dia ingin merebut lukisan itu dari tanganku, aku tidak mau menyerahkannya,"
Kata si pengemis tua.
"Dia benci padaku mungkin melebihi bencinya padamu!"
"Jadi kau ingin mengajakku bergabung melawan dia?"
"Bukan itu saja! Malah kelak kita bisa bergabung melawan Kiauw Sek Kiang!"
Kata si pengemis tua.
"Ingat, bukankah aku ini hanya musuh nomor tigamu! Jika aku bisa membantu mengalahkan musuh pertama dan keduamu, permusuhan kita aku kira bisa disudahi, bukan?!"
Tawaran itu cukup memadai, namun Ciok Leng belum berani mengiakan.
Dia tidak tahu apakah tawaran pengemis tua itu sungguh-sungguh atau malah hanya siasat.
Ciok Leng sadar, jika dia berdamai dengan si pengemis tua, maka dia tak bisa meminta gambar itu untuk dikembalikan 1511 padanya.
Bagaimana nasib kematian orang she Yo, sahabatnya akibat gambar itu?
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 54 Pengemis Tua Bergabung Dengan Ciok Leng; Kiong Cauw Bun Menaklukkan Seng Cap-si Kouw Melihat lawannya tertegun sejenak, si pengemis tua seolah menebak jalan pikiran lawannya.Sambil tertawa dia berkata dengan lembut penuh persahabatan.
"Aku tahu hatimu sangat mulia,"
Kata si pengemis tua.
"dulu kau berniat menyerahkan lukisan itu kepada Kaisar Song Selatan, bukan? Karena lukisan tubuh itu aku curi, kau marah kepadaku, iya kan? Untung usaha kalian mencari tahu tentang si pencuri tidak berhasil!"
"Kau mencuri barang orang, malah berani bicara seenakmu!"
Bentak Ciok Leng.
"Aku tidak bicara semauku, sekalipun dorna Cin Kwee ketika itu sudah binasa, namun para penggantinya di Kerajaan Song Selatan sama jahatnya! Seandainya waktu itu kalian berhasil mengambil lukisan tubuh itu lalu diserahkan kepada Kaisar Song, pasti barang itu tetap akan jatuh ke tangan para dorna yang jahat itu! Maka kupikir tidak ada salahnya jika benda itu ada di tangan sesama orang Kang-ouw."
Kata si pengemis tua.
"Tidak selayaknya kau mnguasai lukisan itu!"
Kata Ciok Leng gusar bukan main. Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar, memang si Pengemis Tua ini tidak berhak dan tidak pantas memiliki lukisan itu! Sekarang, jika kau 1512 bersedia berdamai denganku, lukisan itu dengan tulus hati akan kuserahkan padamu. Sesudah ada di tanganmu, terserah kau akan berikan kepada siapa lukisan itu? Apa kau setuju dan percaya pada kata-kataku ini?"
Kata si pengemis tua.
"Hm! Jika benar kau bersedia menyerahkan lukisan itu, kenapa aku tidak percaya padamu?"
Kata Ciok Leng yang tertarik pada tawaran lawannya itu. Kemudian dia berkata lagi.
"Sesudah masalah kita di sini selesai, tidak perlu kau serahkan lukisan itu kepadaku...."
"Lalu harus kuserahkan pada siapa lukisan itu?"
Kata si pengemis tua keheranan.
"Kau serahkan sendiri pada Liu Lie-hiap di Kim-keeleng!"
Jawab Ciok Leng.
"Baik, akan kupenuhi permintaanmu itu,"
Kata si pengemis tua.
"Mari kita berdamai, kita sudahi pertarungan ini."
Sesudah itu masimg-masing menarik kembali tangan mereka. Menyaksikan kejadian itu Ciauw Siang Hoa girang sekali. Dia menghampiri ayahnya dan memberi hormat pada si pengemis.
"Ayah, atas kerelaan Lo Cian-pwee ini rasanya usaha kita akan sukses!"
Kata Ciauw Siang Hoa.
"Kau benar, Nak. Tapi aku belum tahu siapa nama beliau?"
Jawab sang ayah.
"Margaku Thio, dulu aku dipanggil Thio Hong-chu (Si Thio Gila),"
Jawab si pengemis tua tanpa diminta.
"Aku juga dipanggil Thio Thay Thian!"
"Saudara Thian, kita akan menuntut balas dan menyelamatkan Han Tay Hiong. Apa kau punya rencana?"
Kata Ciok Leng.
"Sebenarnya aku membutuhkan bantuan kalian,"
Jawab Thio Thay Thian.
"Bantuan bagaimana?"
Tanya ayah Siang Hoa.
"Kau pancing Seng Cap-si Kouw agar mengejarmu ke tempat yang jauh,"
Kata si pengemis tua.
"Jika tidak, aku yakin dia sempat untuk minta bantuan kepada suku Biauw untuk mengejar kalian! Jika kalian bisa mengulur waktu selama mungkin, aku bisa masuk ke perkampungan suku Biauw untuk menolongi kawan kita! Soal balas-dendam pada Seng Cap-si Kouw untuk sementara kita tunda dulu!"
"Bagus, tapi jika kau sendiri yang masuk ke sarang musuh, apa itu tidak berbahaya bagimu?"
Kata ayah Siang Hoa.
"Jangan kalian cemaskan diriku, aku sudah tahu di mana mereka menahan Han Tay Hiong dan Kok Siauw Hong? Kebetulan aku juga bisa bahasa Biauw. Malah aku pikir kaulah yang harus waspada menghadapi si Iblis Perempuan itu!"
Kata Thio Thay Thian.
"Kalau begitu baiklah, akan kupancing dia ke puncak gunung,"
Kata ayah Siang Hoa. Sesudah membagi tugas, si pengemis menunjuk ke suatu arah.
"Kau lihat di sana ada api, pasti orang-orang Biauw sudah mulai mengejar kalian!"
Kata si pengemis tua.
Ciok Leng mengajak anaknya dan kawannya menuju ke suatu tempat, mereka berharap agar dilihat oleh orang-1514 orang Biauw.
Dengan cara demikian Ciok Leng dan kawankawannya hendak memancing lawan.
Sesudah mereka pergi Thio Thay Thian menarik napas panjang, saat itu seolah dadanya lapang.
Padahal sebelumnya dadanya seolah tertekan benda berat.
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-Di suatu tempat Han Tay Hiong sedang duduk bersila, dia menempati sebuah kamar yang sunyi.
Orang tua ini sedang keracunan, sehingga tampak wajahnya pucat dan tidak leluasa bergerak.
Setiap malam sebelum dia tidur, Han Tay Hiong berusaha memulihkan tenaga dalamnya dengan berlatih.
Malam itu pada tengah malam tampak Han Tay Hong agak gelisah, dia mencoba menenangkan hatinya tetapi tidak berhasil.
Dia berada di tempat itu hampir tiga bulan lamanya.
Katanya saat itu dia sedang dirawat oleh Seng Cap-si Kouw yang rutin memberinya sebuah pil untuk memulihkan kekuatannya.
Tetapi dia merasakan keadaannya belum pulihpulih juga.
Jika Seng Cap-si Kouw akan berpergian, pil dititipkan kepada ketua suku Biauw untuk diberikan kepadanya.
Sekalipun Seng Cap-si Kouw mengatakan dia sudah berusaha keras, tetapi lama kelamaan Han Tay Hiong pun jadi sangsi juga.
Apa benar perempuan itu mengobatinya?
Pada tengah malam itu saat suasana begitu sunyi, Han Tay Hiong mendengar suara terompet dari batang gelagah, alat tiup itu adalah alat khas bangsa Biauw.
Tidak lama Han Tay Hiong mendengar banyak langkah kaki orang Biauw bergerak keluar dari kampung mereka.
Han Tay Hiong curiga, tapi tidak tahu apa yang terjadi.
Dia juga heran kenapa Seng Cap-si Kouw tidak datang menjenguknya.
"Aku sudah jatuh ke tangannya, jika dia ingin mencelakakan aku maka aku tidak berdaya melawannya! Aku pun tidak tahu bagaimana nasib puteriku Pwee Eng sekarang? Aku harap aku bisa bertemu lagi dengannya sebelum aku binasa."
Pikir Han Tay Hiong.. Saat melamun tiba-tiba daun jendela terbuka dengan mendadak. Menyusul dengan terbukanya jendela, sesosok tubuh manusia melayang masuk ke dalam kamar itu.
"Siapa kau?"
Bentak Han Tay Hiong.
Dengan bantuan cahaya rembulan Han Tay Hiong melihat seorang pengemis masuk ke dalam kamarnya.
Dia kaget karena seolah dia mengenali pengemis itu.
Sebelum hilang rasa terkejutnya dia dengar pengemis itu tertawa sambil berkata.
"Han Toa-ko, duapuluh tahun lamanya kita tidak pernah bertemu. Bagaimana keadaanmu, apa kau sehat?"
"Siapa kau?"
"Aku ThioThay Thian!"
"Eeh, Saudara Thio, kenapa kau juga ada di sini?"
Kata Han Tay Hiong.
"Suaramu perlahankan, nanti didengar orang. Kedatanganku untuk membalas budimu dulu. Aku akan mencoba membawamu keluar dari tempat ini,"
Bisik Thio Thay Thian.
Ketika masih muda mereka adalah sahabat, usia Han Tay Hiong lebih tua dari Thio Thay Thian.
Saat baru berkenalan Thay Thian belum lama berkelana di kalangan Kang-ouw.
Ketika itu Thay Thian ini pemberang dan sering membuat onar.
Suatu saat dia bentrok dengan murid Bu-tong-pay.
Beruntung Han Tay Hiong bisa mendamaikan persengketaan mereka.
Saat Han Tay Hiong mengasingkan diri di kota Lokyang; orang she Thio berhasil mencuri lukisan dan kabur.
"Kau mau menolongku pergi dari sini? Apa maksudmu?"
Kata Han Tay Hiong.
"Hai Kanda Han. apa kau memang ingin mati di tempat ini? Aku kira Seng Cap-si Kouw bukan orang baik-baik!"
Kata Thio Thay Thian.
"Apa kau mengetahui sesuatu?"
Tanya Han Tay Hiong.
"Sudah jangan banyak bicara, kau akan segera mengerti jika kau kupertemukan dengannya,"
Kata Thio Thay Thian.
"Separuh badanku sudah lumpuh, bagaimana kau bisa ikut kau keluar dari sini?"
Tanya Han Tay Hiong.
"Jangan cemas, aku tahu kau terkena racun berbahaya, kebetulan aku membawa sebuah teratai salju dari Thay-san. Kau kunyah teratai ini, aku yakin tak lama lagi kau akan bisa berjalan."
Kata Thio Thay Thian.
Teratai salju itu barang langka, entah dari mana si pengemis tua itu mendapatkannya.
Han Tay Hiong sangat berterima kasih, lalu dia makan tetratai itu.
Kemudian dia mengerahkan tenaga dalamnya, dan berhasil mendorong racun yang ada di tubuhnya.
Selang beberapa saat benar saja Han Tay Hiong merasakan tubuhnya nyaman.
Dia anggap sekarang dia sudah bisa berjalan kaki lagi.
Mereka kemudian keluar dari kamar itu.
Dengan menyusuri taman, mereka mengambil jalan yang berliku-liku di perbukitan.
Tak lama mereka sampai di rumpun bambu.
Di sepanjang jalan Han Tay Hiong berpikir keras.
"Siapakah orang yang akan dipertemukan denganku itu?"
Pikir sang jago tua ini. Tak lama mereka sudah melihat sebuah rumah batu. Di depan pintu rumah batu itu tampak dua orang Biauw berdiri kaku. Mereka sudah ditotok semuanya.
"Silakan! Orang di dalam rumah batu itulah yang akan kau temui!"
Kata Thio Thay Thian. Tiba-tiba dia menendang pintu rumah batu itu.
"Brak!"
Berbareng dengan hancurnya pintu, dari dalam rumah batu yang gelap itu terdengar suara teguran.
"Siapa di luar?"
Mendengar suara itu bukan main senangnya hati Han Tay Hiong.
"Siauw Hong!"
Kata Han Tay Hiong. Sesudah saling bertemu Han Tay Hiong langsung bertanya.
"Siauw Hong, mana Pwee Eng?"
"Oh, kau Gak-hu (Mertuaku),"
Kata Siauw Hong.
"Jika kuceritakan tentu ceritanya sangat panjang. Aku dikurung karena tertangkap oleh Seng Cap-si ouw!"
"Aku minta kau datang menemuiku, malah dia mengurungmu di sini!"
Kata Tay Hiong. Saat mereka berbincang, Thio Thay Thian berkata dari luar rumah batu.
"Bicara dengan tenang, aku akan mengajak seseorang untuk kupertemukan dengan kalian!"
Kata Thio Thay Thian.
"Dengan demikian masalahnya akan lebih jelas!"
Di tempat lain Beng Cit Nio yang tertangkap oleh Seng Capsi Kouw ditahan di rumah batu yang lebih kuat dibanding tempat Kok Siauw Hong ditahan.
Tempat itu 1518 dikelilingi tembk batu yang tingginya mencapai sepuluh meteran.
Di bagian atasnya terdapat lubang untuk menurunkan makanan pada Beng Cit Nio.
Mungkin karena ilmu silat Beng Cit Nio dianggap sangat tinggi, maka dia ditahan di tempat yang istimewa itu.
Karena dianggap tempat itu sangat kokoh dan tersembunyi, tempat itu tidak dijaga.
Saat Beng Cit Nio sedang duduk bersemedi, terdengar seperrti ada orang yang mengetuk-ngetuk dinding rumah batu.
Ketika Beng Cit Nio menengadah ke atas, dia melihat cahaya memancar ke bawah.
Tidak lama seutas tambang dadung meluncur ke bawah, ketika diperhatikan itu bukan kiriman makanan untuknya.
"Pegang tambangnya erat-erat!"
Kata suara dari atas.
"Kau mau apa?"
"Jangan berisik, pegangi talinya aku ingin menolongimu,"
Kata orang di atas sana.
Saat Beng Cit Nio meraih tambang itu, bersamaan dengan itu dia mendengar suara keras di atas.
Tak lama tampak cahaya terang, ternyata lubang di atas yang semula ditutupi batu besar, sekarang sudah tergolek dan tampak lubang menganga.
Beng Cit Nio yakin, orang yang menggolekkan batu besar itu mempunyai tenaga yang besar.
Karena Beng Cit Nio masih ragu-ragu, dia tidak langsung naik.
Tetapi tak lama dia pun nekat, dia pegangi tambang besar itu.
Tak lama dia merasakan tubuhnya ditarik naik.
Sampai di atas dia tahu penolongnya itu seorang pengemis tua.
"Kau ini siapa?"
Tanya Beng Cit Nio.
"Apalagi kau orang Kay-pang?"
"Jangan hiraukan aku, ayo kau ikut aku,"
Kata Thio Thay Thian.
"Jangan khawatir aku tidak berniat jahat, kalau tidak mengapa kau kutolongi."
Si Pengemis tua berjalan dimuka diikuti oleh Beng Cit Nio.
Maka tanpa banyak bicara Beng Cit Nio terus mengikutinya.
Sejak ditinggalkan oleh Thio Thay Thian, Kok Siauw Hong telah menceritakan pengalamannya pada Han Tay Hiong.
Sesudah mendengar cerita anak muda itu Han Tay Hiong terkejut.
Sedikit pun dia tidak mengira kalau orang yang mencelakai keluarganya itu Seng Cap-si Kouw adanya.
Han Tay Hiong sudah berpengalaman, tetapi mengalami kejadian yang menimpa dirinya membuat dia ngeri juga.
"Aku tidak mengira dia sekeji itu. Aku sendiri sudah curiga padanya,"
Kata Han Tay Hiong.
"Kalau begitu kematian Ibu Pwee Eng diakah yang melakukannya."
"Mungkin begitu!"
Jawab Kok Siauw Hong. Saat itu Beng Cit Nio pun muncul.
"Biar aku yang menjelaskannya,"
Kata Beng Cit Nio.
"Jadi kau juga ada di sini, Cit Nio?"
Kata Han Tay Hiong.
"Oh, tidak kusangka aku bisa bertemu lagi denganmu,"
Kata Beng Cit Nio.
"Aku bebas, dibebaskan oleh Tuan ini...."
"Dia Thio Thay Thian, sahabatku,"
Jawab Han Tay Hiong. Han Tay Hiong mengucapkan terima kasih pada sahabatnya.
"Silakan kalian bicara aku akan mencari seseorang. Jika tubuhmu sudah merasa enakan, kau susul aku di depan sana!"
Kata Thio Thay Thian pada Han Tay Hiong.
"Baik,"
Jawab Han Tay Hiong.
Perkiraan dari Ciok Leng tidak keliru.
Ternyata sesudah melihat Ciok Leng dan kawan-kawannya, orang-orang Biauw itu langsung mengejar mereka.
Seng Cap-si Kouw dan Bong Tek Cie serta orang Biauw yang terpancing mengejar Ciok Leng dan kawan-kawannya.
Ciok Leng lari ke atas puncak gunung, mereka disusul dan Seng Cap-si Kouw.
Tak lama Seng Cap-si Kouw dan Ciok Leng sudah mulai bertarung.
Bu Hian Kam dan kawan-kawannya mengepung Bong Tek Cie.
Karena lonceng bergagang panjang atau senjata Ciok Leng sudah rusak, terpaksa dia menghadapi Seng Cap-si Kouw dengan tenaga pukulan tangannya saja.
Tentu saja pertarungan yang tidak seimbang ini membuat Ciok Leng agak terdesak juga.
Untung Seng Cap-si Kouw tidak berani menyerang dekat, dia juga mengkhawatirkan serangan tangan Ciok Leng yang dahsyat.
Saat keadaan mulai gawat untung Thio Thay Thian muncul.
Dia tiba dengan didahului suara suitan batang gelagah.
Melihat Thio Thay Thian muncul, orang Biauw langsung menghujaninya dengan anak panah.
Ratusan anak panah itu ternyata tidak mampu menghalangi kedatangan Thio Thay Thian yang lihay.
Semua anak panah itu berterbangan laksana burung kecil pada saat Thay Thian mengibaskan lengan bajunya.
Tak lama Thay Thian sudah bercokol di atas gunung.
Menyaksikan kejadian itu Seng Cap-si Kouw terperanjat.
"Jadi kalian ingin mengerubutiku?"
Kata dia. Dengan tak banyak bicara Thay Thian menghantamkan pukulannya ke arah si Iblis Perempuan hingga dia terdorong mundur.
"Aku hampir binasa di tanganmu, untuk apa aku harus bicara soal aturan segala?"
Kata Thay Thian.
"Saudara Thio, biarkan aku menghajar Iblis perempuan ini. Kau bantu saja anak-anak muda itu!"
Kata Ciok Leng.
"Sebenarnya aku tak perlu turun tangan sendiri, nanti juga akan ada orang yang membuat perhitungan dengannya,"
Kata Thay Thian.
Sesudah itu dia mendatangi Bong Tek Cie yang bersenjata golok berbentuk bulan sabit.
Begitu sampai Bong Tek Cie menyambut Thay Thian dengan sebuah serangan, yang dikibas oleh lengan baju Thio Thay Thian.
Anehnya lengan baju itu tidak rusak oleh golok bulan sabit lawan.
Sambil mengejek Thay Thian berkata nyaring.
"Hm harumnya, dari mana bau harum ini?"
Katanya.
Sebenarnya serangan Bong Tek Cie yang beracun menimbulkan bau tak sedap, karena terdiri dari berbagai bisa binatang yang sangat beracun.
Ketika mengetahui lawannya tidak mempan oleh racun serangannya Bong Tek Cie kaget.
"Jadi kaukah si pengemis tua yang menyamar jadi ketua kami?"
Kata Bong Tek Cie. Tanpa menghiraukan pertanyaan lawan, Thio Thay Thian menyerahkan tempat araknya pada Bu Hian Kam.
"Kalian minum arak ini, tak lama lagi kalian akan segar kembali!"
Kata Thay Thian. Bu Hian Kam dan keempat kawannya mundur untuk minum arak, sedang Thay Thian langsung menghadapi Bong Tek Cie. Dia maju sambil tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?"
Kata Bong Tek Cie.
"Jangan sombong, jika aku kalah olehmu, apa kau sanggup menghadapi anak buahku yang banyak itu? Kau harus waspada panah anak buahku beracun, sedang di sini tidak ada jalan bagimu untuk bisa meloloskan diri. Jika anak buahku menghujammu dengan anak panah, maka binasalah kalian semua!"
Saat mereka adu bicara anak buah Bong Tek Cie atau suku Biauw sudah semakin dekat.
"Bong Tek Cie, kita tidak bermusuhan, untuk apa berkelahi. Jika aku mati oleh anak buahmu, kau pun tidak akan lolos dari tanganku! Percayalah aku bermaksud baik, bagaimana pendapatmu?"
Kata Thio Thay Thian.
Mendengar peringatan itu Bong Tek Cie sadar, apa yang dikatakan orang she Thio itu ada benarnya.
Sebelum anak buahnya membunuh Thio Thay Thian, mungkin dia sudah binasa oleh lawannya.
"Kau bilang kau ingin berbuat baik padaku, tapi apa alasanmu kau mengacau di tempatku?"
Kata Bong Tek Cie.
"Aku mengaku utusan ketuamu tidak semuanya salah, ketuamu itu sahabatku, jika kau tidak percaya coba kau periksa ini!"
Kata Thio Thay Thian sambil tertawa. Thio Thay Thian menyerahkan bumbung bambu yang dilukis warna-warni pada Bong Tek Cie. Melihat benda itu orang she Bong kaget.
"Benarkah ketua kami yang memberimu "Lek-giok-tek-hu"
Itu?"
Kata Bong Tek Cie.
"Jika bukan dari dia lalu dari siapa?"
Kata Thay Thian.
"Bagaimana aku bisa tahu berharganya benda ini di depan mata kalian?"
Kata Thio Thay Thian.
"Jika aku pencuri, aku pun tidak akan mengambil benda itu, kalau aku tidak tahu gunanya!"
Benda itu sebagai tanda "persahabatan"
Antara suku Han dan orang Biauw.
Rupanya segelintir pembesar Han memusuhi orang Biauw, sehingga orang Biauw menganggap "orang Han sebagai penindas bangsanya".
Itu sebabnya jika ada orang Han ke daerah Biauw, dia akan dibunuh.
Tapi jika membawa benda itu, dia dianggap sahabat suku Biauw.
Orang Han yang membawa "benda"
Itu, bisa berkeliaran bebas di daerah suku Biauw.
"Aku tahu Seng Cap-si Kouw baik pada kalian dan pernah mengobati suku kalian, namun pada dasarnya dia itu orang jahat,"
Kata Thio Thay Thian.
"Ketuamu khawatir kalian tertipu, lalu memerintahkan aku menyelidiki apa yang dilakukannya di sini! Ternyata dia menghasut agar kalian bermusuhan dengan pendekar bangsa Han. Jika diteruskan kalian akan celaka!"
Sebenarnya Thio Thay Thian berbohong, tapi karena dia memegang "benda berharga"
Itu, Bong Tek Cie jadi takluk. Ditambah lagi dia juga takut oleh kepandaian lawan, jadi dia percaya saja. Saat anak buahnya sampai ke tempat mereka, Bong Tek Cie berteriak keras.
"Tahan! Jangan memanah!"
Katanya. Sesudah itu Bong Tek Cie berkata pada Thay Thian.
"Kalau begitu kami tidak akan mengganggu kalian karena kau tamu ketua kami. Tapi Seng Cap-si Kouw pun tidak akan kucelakakan, karena dia penolong kami!"
Kata Bong Tek Cie.
"Baik, kami pun tidak akan mengganggu kalian, permisi,"
Kata Thio Thay Thian.
"Mengenai masalah kami akan kubereskan dengan dia saja!"
Sesudah itu Bong Tek Cie berseru keras.
"Seng Cap-si Kouw, bukan aku tak mau membantumu, mereka sahabat ketua kami!"
Kata Bong Tek Cie.
Sesudah itu dia memberi komando agar anak buahnya mundur teratur dari atas gunung.
Sesudah minum arak dari Thay Thian maka Bu Hian Kam dan kawan-kawannya segera kembali.
Mereka membantu Ciok Leng mengepung Seng Cap-si Kouw.
Menganggap dia tidak perlu membantu lagi, Thio Thay Thian pun pergi.
Dia juga yakin tak lama lagi Han Tay Hiong dan Kok Siauw Hong akan segera datang.
Sesudah ada kesepakatan dan saling mengerti antara Han Tay Hiong dan Beng Cit Nio, mereka langsung mencari Seng Cap-si Kouw bersama-sama.
Saat keluar dua penjaga, yaitu menantu Bong Tek Cie memergokinya.
Tapi sebelum bisa berbuat apa-apa kedua orang itu sudah ditotok oleh Han Tay Hiong hingga tidak berdaya.
"Eeh, tenagamu sudah pulih,"
Kata Beng Cit Nio girang.
"Benar, ini berkat teratai Thian-san pemberian Thay Thian,"
Kata Han Tay Hiong.
Sesudah itu mereka beramai-ramai menuju ke tempat yang ditunjukkan Thio Thay Thian pada mereka.
Melihat Han Tay Hiong yang sudah segar sedang mendatangi bersama Kok Siauw Hong dan Beng Cit Nio, bukan main kagetnya Seng Cap-si Kouw.
"Tay Hiong segera kau bantu aku!"
Teriak Seng Cap-si Kouw.
"Baik, kau akan segera kubantu!"
Jawab Han Tay Hiong.
Tapi sesudah dekat Seng Cap-si Kouw jadi kaget melihat sorot mata Han Tay Hiong yang tajam dan sangat benci kepadanya.
Apalagi Beng Cit Nio pun sudah menghampirinya bersama Kok Siauw Hong.
Dengan tidak berpikir panjang lagi, dia berbalik dan menyerang ke arah Ciauw Siang Hoa dengan serangan gertakan.
Saat Ciok Leng datang hendak menyelamatkan puteranya, kesempatan itu tak disia-siakan oleh Seng Cap-si Kouw.
Dia menyerang dari celah kepungan yang kurang ketat.
Saat itu pun Han Tay Hiong tiba.
"Tay Hiong, apa kau lupa pada kebaikanku?"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Hm! Kau bicara seenaknya, tunggu balasan kebaikanmu akan datang,"
Kata Han Tay Hiong.
Dari jarak kurang-lebih tiga sampai empat langkah, Tay Hiong segera melancarkan serangan dahsyat ke punggung si Iblis Perempuan.
Tak lama Seng Cap-si Kouw merasakan hantaman yang dahsyat pada punggungnya.
Dia kaget lalu dengan mnggunakan tongkat yang dia tekan ke tanah, dia langsung melompat dan melayang jauh dari kalangan.
"Kau mau kabur ke mana?"
Teriak Thio Thay Thian. Thay Thian membentangkan kedua tangannya, lalu menyerang dengan hebat. Sayang, serangan Thay Thian tidak mampu menghadang si Iblis Perempuan itu kabur.
"Eh, Kok Toa-ko, kau juga ada di sini!"
Kata Kiat Bwee. Buru-buru Kiat Bwee memberi hormat pada Han Tay Hiong.
"Han Lo-cian-pweee, sebenarnya meracunimu dulu itu Seng Cap-si Kouw! Aku saksinya!"
Kata Kiat Bwee.
"Aku sudah tahu,"
Jawab Han Tay Hiong.
"Kalian jangan ikut campur, biar aku yang menghadapinya!"
Han Tay Hiong mencoba mengejar ke arah si Iblis Perempuan yang sudah lari jauh itu.
Ketika mereka berada di atas gunung, ke mana Seng Cap-si Kouw lari sebenarnya dia menemui jalan buntu.
Tapi dengan menggunakan gin-kangnya yang tinggi, terpaksa dia lari ke atas untuk mengulur waktu saja.
Sedikit pun dia tidak menduga kalau Han Tay Hiong terus mengejarnya.
Saat itu kawan-kawannya sudah tertinggal di belakang.
Seng Cap-si Kouw menoleh karena merasa ada orang mengejarnya.
Ternyata dia mengenali Han Tay Hiong.
"Han Tay Hiong, memang aku yang menaruh racun dalam arak yang kau minum. Tapi maksudku itu baik agar kau selalu ada di sampingku. Aku meracunimu tapi aku juga menyelamatkan kau. Apa kau tidak mau memaafkan dosaku?"
Kata Seng Cap-si Kouw lirih.
"Aku ingin tahu, bagaimana isteriku mati?"
Kata Han Tay Hiong.
"Tanpa bersalah padamu, kenapa isteriku kau bunuh. Hal ini aku akan mengadakan perhitungan denganmu!"
"Isterimu diracun oleh Beng Cit Nio!"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Bohong!"
Bentak Han Tay Hiong.
"Dia memfitnahku, apa kau tidak percaya padaku?"
Kata si Iblis Perempuan.
"Jangan banyak bicara dan jangan memfitnah orang lain, siapa yang akan percaya pada omonganmu!"
Bentak Han Tay Hiong. Melihat Han Tay Hiong tidak mau mengerti, Seng Cap-si Kouw menduga tak ada pilihan lain, dia jadi nekat.
"Karena kau memaksa, aku akan adu jiwa denganmu!"
Kata Seng Cap-si Kouw. Tongkat bambu hijaunya bergerak, dia menyerang ke beberapa bagian berbahaya di tubuh Han Tay Hiong. Melihat cara lawan yang sudah nekat menyerangnya, Han Tay Hiong segera siaga.
"Adu jiwa pun boleh, memang nyawaku pun semula sudah hampir binasa!"
Kata Han Tay Hiong.
Saat tongkat mengarah ke tubuhnya, Han Tay Hiong menyentil tongkat itu dengan jari tangannya hingga tongkat hijau itu melenceng ke arah lain.
Dengan tangan kirinya Han Tay Hiong menepuk kepala Seng Cap-si Kouw.
Ketika itu tangan Seng Cap-si Kouw yang memegang tongkat bambu hijau terasa sakit, dia melompat menghindari serangan Han Tay Hiong.
Seng Cap-si Kouw tertawa.
"Sudah tua pun kau masih pemarah seperti dulu!"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Apa gunanya kita bertarung sampai mati. Aku ini sebatang kara tidak sepertimu masih punya anak dan menantu!"
"Hm! Tutup mulutmu, aku tetap tidak akan mengampunimu!"
Bentak Han Tay Hiong. Beberapa kali Seng Cap-si Kouw berhasil menghindari serangan Han Tay Hiong yang ganas.
"Han Tay Hiong, kau memang jago silat. Aku pikir kau tahu, keadaanmu belum pulih benar. Tenagamu akan terkuras habis. Apa benar kau ingin binasa bersamaku?"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Ya, kalau perlu kita mati bersama-sama!"
Kata Han Tay Hiong.
"Baik, walau kita dilahirkan berlainan waktu, apa salahnya jika kita bisa mati bersama-sama,"
Ejek Seng Capsi Kouw. Seng Cap-si Kouw terus membujuk agar Han Tay Hiong mau berdamai dan hidup bersama. Tapi Han Tay Hiong malah mengejek.
"Pada dasarnya aku sangat benci padamu!"
Kata Han Tay Hiong.
"Apa kau sudah gila?"
Seng Cap-si Kouw kaget mendengar kebencian Han Tay Hiong dikemukakan di depannya. Wajahnya berubah sebentar merah, sebentar lagi pucat-pasi.
"Baik Han Tay Hiong, sekarang kuputuskan, jika kau tidak membunuhku, maka akulah yang akan membunuhmu!"
Kata Seng Cap-si Kouw sambil tertawa. Saat diserang Seng Cap-si Kouw mengulur waktu dengan memancing Han Tay Hiong agar naik gunung lebih tinggi.
"Han Tay Hiong, di sinilah kuburan kita!"
Kata si Iblis Perempuan dengan suara menyeramkan.
Sekarang Han Tay Hiong baru sadar, kalau dia telah terpancing ke tempat yang berbahaya sekali.
Di atas gunung dia menyaksikan tempat yang curam dan berbahaya.
Gerakan Seng Cap-si Kouw pun gesit, terpaksa Han Tay Hiong menghadapinya dengan sabar.
Serangan Han Tay Hiong terus dilancarkan dengan dahsyat.
Di bawah mereka Thio Thay Thian dan kawan-kawannya menyaksikan pertarungan dua jago dengan ilmu tingkat tinggi.
Tapi bagaimana pun mereka merasa ngeri juga.
Di antara mereka hanya Thio Thay Thian yang mampu menyusul ke atas.
Tapi karena tempat kedua jago itu bertarung sangat sempit, tak mungkin Thay Thian bisa memijakkan kakinya di sana.
Dia menyesali Han Tay Hiong, kenapa dia bisa terpancing oleh si Iblis Perempuan jahat itu.
Saat pertarungan sedang seru-serunya tak lama terdengar suara tiupan seruling dari rumput gelagah.
Selang sesaat muncul pasukan wanita suku Biauw yang dipimpin oleh Samkiong-cu atau Bong Say Hoa.
Dari jarak lumayan cukup jauh, Bong Say Hoa berteriak.
"Bibi Seng, jangan khawatir, kami akan memanah dari sini!"
Kata Say Hoa.
"Baik jangan mencemaskan diriku, kalian sudah boleh langsung memanah ke mari!"
Jawab Seng Cap-si Kouw.
Si nona sadar Seng Cap-si Kouw lihay, dia juga akhli racun.
Maka itu dia yakin Bibi Seng-nya bisa terhindar dari bahaya.
Ditambah lagi Seng Cap-si Kouw pun gin-kangnya tinggi dan lincah.
Sedangkan anak buahnya pun memang akhli memanah.
Tanpa ragu-ragu si nona mengeluarkan perintah memanah!
Dalam sekejap ratusan anak panah menghambur ke arah Han Tay Hiong.
Melihat hujan panah, Han Tay Hiong membuka bajunya untuk menangkis serangan anak panah itu.
Dengan demikian konsentrasi Han Tay Hong jadi terpecah dua.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Seng Cap-si Kouw.
Tapi secara tiba-tiba 1530 anak panah nona Biauw itu sekarang ditujukan juga pada Seng Cap-si Kouw, dia kaget lalu berseru nyaring.
"Nona Bong, ayahmu sudah pulang, Apa dia tak bilang aku sahabat kalian? Jika kau mau bukti, akan kutunjukkan padamu. Tapi aku mohon hentikan dulu kalian memanah ke arah kami!"
Kata Seng Cap-si Kouw. Nona Bong tidak menghiraukkan peringatan itu. Dia malah berteriak.
"Sekalipun kau tunjukan tanda itu, aku sudah tidak percaya lagi padamu!"
Kata nona Bong.
"Aku tidak bohong, sesudah masalah ini selesai harapanmu akan kuselesaikan juga. Kau akan kupertemukan dengan keponakanku Seng Liong Sen!"
Teriak Seng Cap-si Kouw yang mulai putus asa.
Rupanya nona Biauw itu telah jatuh cinta pada Seng Liong Sen.
Maka itu tentang perkawinan Seng Liong Sen dengan Ci Giok Hian sengaja dirahasiakan oleh Seng Capsi Kouw kepada nona Bong, karena hal itu bisa dipakai alasan olehnya untuk meminta bantuan dari suku Biauw.
Tapi hujan anak panah masih berlanjut.
Mengetahui nona Bong tidak menghiraukan peringatannya, Seng Cap-si Kouw mencoba mengganggu Han Tay Hiong agar menjadi sasaran anak panah.
Sial bagi Han Tay Hiong sebuah anak panah mengenai tubuhnya, dia menjerit kaget.
"Aduh!"
Seng Cap-si Kouw tertawa.
"Jangan senang dulu, sekalipun aku harus mati, tapi kau pun harus mati sebelum aku mati!"
Kata Han Tay Hiong mengejek. Kaget karena mendengar kata-kata penuh "dendam"
Dari orang yang dicintainya itu Seng Cap-si Kouw jadi lengah.
Serangan tongkatnya jadi ngawur dan Han Tay Hiong berhasil mencengkram tongkat bambu hijau itu.
Segera Han Tay Hiong menyalurkan tenaga dalamnya lewat tongkat bambu hijau itu.
Maksudnya untuk menghajar Seng Cap-si Kouw dengan hebat.
Teman-teman Han Teiy Hiong yang berada di bawah jadi ngeri.
Serangan Han Tay Hiong itu sungguh dahsyat hingga Seng Cap-si Kouw tak mampu bertahan dan sadar bahwa dia akan binasa.
Sebaliknya tubuh Han Tay Hiong pun jadi sasaran empuk anak panah anak buah nona Bong.
Thio Thay Thian mengira kedua jago itu akan binasa bersama.
Sedangkan Han Tay Hiong berharap, sebelum terkena anak panah, Seng Cap-si Kouw harus mati lebih dulu.
Ketika keadaan sangat tegang, ternyata di saat kritis muncul seorang berjubah hijau dari atas puncak gunung.
Pakaiannya yang lebar mampu menangkis hujan panah itu.
Sesudah hinggap di dekat kedua jago yang sedang bertarung, dia memisahkan pertarungan itu dengan menyentilkan tangannya.
Tak lama terpisahlah pertarungan kedua jago yang menentukan itu.
Saat itu Seng Cap-si Kouw hanya menunggu kematian.
Tapi karena datangnya orang berbaju hijau itu, dia selamat.
Sekarang dia awasi orang yang memisahkannya itu.
Ternyata dia Kiong Cauw Bun.
Bukan main kagetnya si Iblis Perempuan ini, begitu pun Han Tay Hiong.
Han Tay Hiong tidak bermusuhan dengan Kiong Cauw Bun, tapi Seng Cap-si Kouw justru pernah bertarung dengannya.
Han Tay Hiong pun tidak tahu apa maksud 1532 kedatangan Kiong Cauw Bun dan memisahkan mereka yang sedang bertarung.
"Hek-hong To-cu, kau tidak boleh menyerang orang yang tidak berdaya!"
Teriak Thay Thian yang kaget bukan kepalang. Dia mengira kedatangan Kiong Cauw Bun untuk membantu Seng Cap-si Kouw.
"Jangan khawatir, aku datang untuk jadi juru damai!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Dendamku jika belum terbalas, tidak mungkin kau damaikan!"
Kata Han Tay Hiong.
"Kau akan mendamaikan kami dengan cara bagaimana?"
Kata Seng Cap-si Kouw sambil mengawasi Kiong Cauw Bun.
"Suruh mereka berhenti memanah,"
Kata Kiong Cauw Bun. Seng Cap-si Kouw menurut dan meminta hujan anak panah dihentikan. Sesudah itu Kiong Cauw Bun mengeluarkan botol obat yang dia serahkan kepada Han Tay Hiong.
"Obati dulu lukamu yang terkena panah itu dengan obat buatanku,"
Kata Kiong Cauw Bun.
Dengan terpaksa Han Tay Hiong menerima obat itu, jika tidak dalam keadaan gawat, pasti dia menolak bantuan iblis tua itu.
Segera Han Tay Hiong mencabut anak panah di tubuhnya, sesudah darah hitam dikeluarkan dia mengobatinya dengan obat pemberian Kiong Cauw Bun.
Menyaksikan ketangguhan Han Tay Hiong ini Kiong Cauw Bun kaget juga.
Dia pikir jika Han Tay Hiong tidak 1533 dibunuhnya, kelak akan jadi bahaya baginya.
Tapi karena sekarang belum waktunya, dia harus menolonginya..
Selesai mengobati lukanya Han Tay Hiong berkata pada Kiong Cauw Bun.
"Kebaikanmu aku terima, tapi karena aku sangat dendam padanya, izinkan aku membunuh dia dulu. Sesudah kubunuh dia, baru aku akan bunuh diri,"
Kata Han Tay Hiong.
"Yang mati tidak bisa hidup kembali,"
Kata Kiong Cauw Bun."Jika kau bunuh Seng Cap-si Kouw apa isterimu bisa hidup kembali? Apalagi kau dengan dia pernah bergaul selama beberapa puluh tahun."
"Apa aku harus tinggal diam setelah tahu dia membunuh isteriku?"
Kata Han Tay Hiong.
"Jika benar dia pembunuh isterinya, dosanya pun pantas jika kau maafkan. Untuk apa kau bertarung mati-matian dengannya? Aku tak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Tapi aku damaikan kalian karena kalian tokoh persilatan yang disegani. Maka itu terpaksa aku ikut campur masalah ini,"
Kata Kiong Cauw Bun "Lalu apa saranmu?"
Kata Seng cap-si Kouw.
"Aku yakin aku punya saran yang bisa diterima oleh kedua belah pihak,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Hanya tentu saja ada risikonya bagimu. Kau musnahkan ilmu silatmu!"
"Hm! Aku memusnahkan ilmu silatku?"
Kata Seng Cap-si Kouw yang saat itu bulu berdiri karena ngeri.
"Dia jahat sekali, mungkin dia tak ingin aku mati di tangan Han Tay Hiong. Dia ingin menggunakan tenagaku. Jika ilmu silatku sudah musnah, pasti dia bisa terus mengendalikan aku. Tapi memang aku pun tidak punya 1534 pilihan lain. Tetapi selama aku masih bernyawa, mana mau aku diperalat olehmu!"
Pikir Seng Cap-si Kouw.
Mendengar ucapan Kiong Cauw Bun sekalipun Han Tay Hiong tidak takut kepadanya, mau tak mau dia ngeri juga.
Ucapan Kiong Cauw Bun bahwa orang mati tak bisa hidup lagi, itu benar!
Jika Seng Cap-si Kouw sudah tak memiliki ilmu silat lagi, itu rasanya sudah cukup bagi Han Tay Hiong.
Dengan demikian dia tak bisa berbuat semena-mena lagi di kalangan Kang-ouw.
Maka itu Han Tay Hiong diam saja.
"Baik, akan kulaksanakan saranmu!"
Kata Seng Cap-si Kouw nekat.
"Dengan demikian kau puas, Tay Hiong!"
Sesudah itu dia melaksanakan tuntutan Kiong Cauw Bun.
Tak lama tedengar suara urat-urat yang putus.
Seng Cap-si Kouw mandi keringat dingin, dia kelihatan menderita sekali.
Menyaksikan kejadian yang mengharukan itu mau tak mau Han Tay Hiong pun kasihan juga.
Dia menoleh tak ingin menyaksikannya.
"Dia sudah menjalankan saranku, sekarang kau sudah puas Saudara Han?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Yu Ih semua ini karena perbuatanmu dulu. Aku harap kelak kau akan jadi orang baik."
Kata Han Tay Hiong.
"Semua sudah selesai, tapi sebelum pergi izinkan aku bicara dengan Kok Siauw-hiap,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Apa yang kau inginkan dariku, Kiong Tay-hiap?"
Kata Kok Siauw Hong.
"Aku dengar kau kenal dengan anakku Kiong Mi Yun, sekarang ada di mana dia?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Benar, aku kenal setahun yang lalu ketika bertemu dia di Lok-yang. Tetapi sekarang aku tidak tahu di mana dia?"
Jawab Kok Siauw Hong.
"Kalau begitu, di mana Kong-sun Po, apa kau tahu?"
Kok Siauw Hong pernah diberi tahu oleh Kong-sun Po bahwa Kiong Cauw Bun ingin mencelakai dirinya.
Maka itu saat ingin memberi tahu dia jadi sangsi.
Melihat Kok Siauw Hong ragu, Kiong Cauw Bun seolah mengetahui Kok Siauw Hong keberatan memberi keterangan.
"Akan kukatakan terus terang padamu, Kok Siauw-hiap, puteriku dengan Kong-sun Po sudah dituangkan sejak mereka masih anak-anak. Kau jangan mencemaskan keselamatan Kong-sun Po!"
Kata Kiong Cauw Bun. Mendengar pengakuan yang tulus, Kok Siauw Hong tergerak.
"Menurutku, saat ini Kong-sun Po ada di lembah Honghoo. Dia berjanji akan mengobati orang-orang Hay-sah-pang!"
Kata Kok Siauw Hong.
"Baik, sekarang juga aku akan ke sana!"
Kata Cauw Bun. Sesudah itu dia menoleh ke arah Seng Cap-si Kouw, lalu berkata.
"Mari ikut aku, sodorkan tongkatmu padaku,"
Kata Cauw Bun.
Berhubung ilmu silatnya sudah punah, dia terpaksa berjalan dengan bantuan Kiong Cauw Bun.
Jika tidak mau dia tidak akan bisa turun sendiri dari atas gunung.
Menyaksikan Seng Cap-si Kouw demikian, mau tak mau Beng Cit Nio dan yang lainnya terharu juga.
Sampai di bawah Seng Cap-si Kouw ingin berpisah dengan Kiong Cauw Bun.
"Baiklah,"
Kata Kiong Cauw Bun yang langsung bersuit.
Tak lama muncul sebuah kereta dari balik bukit.
Di kereta itu terdapat seorang perempuan setengah umur, dia berpakaian seperti seorang pelayan.
Sesudah kereta berhenti, dari dalam kereta terdengar orang bicara.
"Atas permintaan To-cu, aku sudah menunggu kedatanganmu, tamu agung!"
Kata perempuan itu.
"Silakan kau naik ke kereta, maaf aku tidak bisa mengantarmu!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Apa artinya semua ini?"
Kata Seng Cap-si Kouw kaget. Sesudah itu Kiong Cauw Bun tertawa.
"Jangan takut mereka ini suami isteri, dia akan mengantarmu ke Hek-hong-to!"
Katanya.
"Rumahku di Ie-hong-li, aku bisa pulang sendiri, aku tidak berani mengganggumu,"
Kata Seng Cap-si Kouw.
"Kau sudah tak bisa silat, di tempatku kau akan dilayani dengan baik. Dengan demikian tidak akan ada orang yang berani mencarimu!"
Kata Kiong Cauw Bun.
Seng Cap-si Kouw sadar apa artinya itu.
Jika dia tinggal di Hek-hong-to berarti dia jadi tawanan Kiong Cauw Bun.
Sekarang karena tak berdaya dia menurut saja.
Dia pikir jika sebagian kekuatannya sudah pulih baru dia akan memikirkan cara lain.
Namun Kiong Cauw Bun bisa membaca isi hati Seng Cap-si Kouw.
Dia lalu berkata.
"Untuk memulihkan kepandaianmu itu dibutuhkan waktu sepuluh tahun. Aku bisa membantumu, sesudah 1537 kutemukan obatnya dalam tiga tahun kau akan pulih kembali!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Kenapa kau membantuku, padahal aku tidak pernah berbuat baik apa-apa kepadamu"
Tanya Seng Cap-si Kouw.
"Terus terang aku katakan, aku tahu siapa kau? Kau akhli racun terhebat di dunia persilatan. Maka itu aku mau kau tinggal di pulauku. Di sana kau hanya diminta menuliskan semua resep racun itu. Aku juga yakin kau tidak akan bisa membunuh semua orangku yang di sana. Sekalipun bisa, kau akan celaka sendiri dan tak bisa keluar dari pulau itu. Ibarat pedagang jelas aku juga tidak mau menderita rugi!"
Kata Kiong Cauw Bun sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hebat! Rencanamu begitu rapih,"
Kata Seng Cap-si Kouw tertawa. Dia sangat benci pada Kiong Cauw Bun yang licik ini.
"Soal itu aku kalah olehmu, tapi karena nasibmu sedang sial kau jatuh ke tanganku, ha. ha, ha!"
Kata Kiong Cauw Bun.
Sesudah itu dia tinggalkan kereta yang membawa Seng Cap-si Kouw.
Kiong Cauw Bun yakin dia bisa menemukan jejak puterinya dan Kong-sun Po.
Dia akan membujuk Kong-sun Po mengajari dia ilmu racun, kalau perlu dengan kekerasan.
Sesudah dia menguasai Seng Cap-si Kouw dan pengetahuannya digabung dengan ilmu racun dari keluarga Suang, maka siapa yang akan jadi lawannya di dunia persilatan?
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 55 Kong-sun Po Singgah Lagi Di Ngih Nie Lauw; Di Tempat Chu Tay Peng Bertemu See-bun Souw Ya Dikisahkan Kong-sun Po yang sedang menem-puh perjalanan menuju ke Utara akhirnya tiba di kota Ouw-shia yang terletak di tepi sungai Hong-hoo.
Dari Ouw-shia ke tempat orang Hay-sah-pang atau tempat Hong-hoo-ngo-pa (Lima Jago dari Sungai Hong-hoo) sudah tidak jauh lagi dari kota itu.
Mungkin hanya butuh waktu setengah hari perjalanan saja untuk sampai ke tempat itu.
Kota Ouw-shia hanya sebuah kota kecil, tapi di tempat itu ada rumah makan yang terkenal yang pernah disinggahi Kong-sun Po dulu.
Rumah makan itulah yang meninggalkan kenangan manis baginya, bahkan merupakan rumah makan yang tidak bisa dilupakan oleh Kong-sun Po.
Rumah makan itu bernama "Ngi Nih Lauw".
Selain masakannya yang lezat araknya pun sangat terkenal harum dan enak rasanya.
Begitu menginjakkan kakinya di kota itu, Kong-sun Po langsung ia ingat pada rumah makan itu, maka itu dia ingin singgah di sana.
Dulu di rumah makan inilah pertama kali Kong-sun Po bertemu dengan Kiong Mi Yun dan Han Pwee Eng.
Tapi sekarang entah ada di mana nona itu?
Dia ingat di sinilah dia bentrok dengan Pouw Yang Hian, murid See-bun Souw Ya.
Sekarang dia datang lagi untuk singgah ke tempat orang-orang Hay-sah-pang, maksudnya untuk menunaikan janjinya dulu.
Di sinilah dia mengalami suka-duka, ingat semua peristiwa yang dialaminya dulu itu, Kong-sun Po jadi melamun.
Dia lalu singgah di rumah makan itu.
Sesudah naik ke loteng tempatnya dulu bertemu dengan Kiong Mi Yun, dia langsung memesan makanan maupun arak.
Saat sedang 1539 mengenang masa lalunya, tiba-tiba dia merasakan perutnya sakit sekali.
"Aah, celaka ada yang tak beres nih,"
Pikir Kong-sun Po.
"Heran, tidak biasanya begini. Pasti dalam arakku ada racunnya!"
Mengingat bisa jadi ada bahaya mengancam, dia kerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir racun yang ada dalam perut-nya. Seorang pelayan menghampirinya.
"Apa araknya mau ditambah, Tuan?"
Kata si pelayan.
"Arakmu sungguh sedap, memang perlu kau tambah,"
Kata Kong-sun Po sambil melotot.
Sesudah itu Kong-sun Po tertawa mengejek si pelayan.
Tapi makin lama matanya mulai berkunang-kunang.
Tibatiba dia melihat ada dua orang lelaki naik ke loteng dan mendekatinya.
Kedua lelaki itu tertawa terbahak-bahak, dia mengenalinya.
Ternyata mereka itu Pouw Yang Hian dan The Yu Po.
"Hai bocah! Kau cari mati sendiri! Kau tidak akan lolos dari tangan kami,"
Kata Pouw Yang Hian sambil menyeringai. Pouw Yang Hian memang benci pada Kong-sun Po karena dulu dialah yang memusnahkan ilmu racun Huahiat-tonya.
"Kakak, Suhu menginginkan dia ditangkap hidup-hidup,"
Kata The Yu Po.
"Ya, tapi akan kuajar adat dulu bocah ini,"
Kata Pouw Yang Hian gemas.
"Biar akan kuhancurkan semua tulangnya, karena dia pernah mencelakaiku!"
Ketika itu Pouw Yang Hian menduga Kong-sun Po sudah keracunan berat, maka itu dia mendekatinya.
Saat 1540 dia akan mencengkram bahu Kong-sun Po yang menggeletak di lantai loteng, tiba-tiba Kong-sun Po melompat bangun.
"Hm, kau kira arakmu mampu merobohkan aku?!"
Kata Kongsun Po dengan keras.
Kemudian dia semburkan arak dari mulutnya hingga membasahi seluruh wajah Pouw Yang Hian yang gelagapan terkena arak beracun.
Tadi Kong-sun Po hanya berpura-pura pingsan agar mampu menjebak dan mengelabui murid pertama See-bun Souw Ya itu.
Untuk sementara Pouw Yang Hian tidak bisa membuka matanya karena perih dan sakit sekali.
Saat itu Kong-sun Po melancarkan sebuah pukulan keras.
"Buuk!"
Disusul suara keras.
"Aduh!"
Tubuh Pouw Yang Hian pun roboh ke lantai loteng. The Yu Po kaget, dia cabut goloknya akan menghadang Kong-sun Po yang dia kira akan pergi.
"Silakan maju, walau aku tak mau membunuhmu, tapi aku menginginkan kedua matamu!"
Kata Kong-sun Po.
The Yu Po sudah tahu kelihayan Kong-sun Po.
Tadi dia menghadang hanya untuk menolongi su-hengnya saja, Sebenarnya dia juga jerih pada Kong-sun Po.
Dengan gugup dia menghindari tusukan jari Kong-sun Po yang ditujukan ke matanya.
Sekarang Pouw Yang Hian sudah bisa melihat kembali.
Saat melihat The Yu Po sedang terdesak, dia berteriak nyaring pada adik seperguruannya.
"Yu Po, jangan takut. Dia sudah keracunan berat, jadi tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi!"
Kata Pouw Yang Hian. Saat terpukul oleh Kong-sun Po, Pouw Yang Hian merasakan pukulan itu tidak keras, itu sebabnya dia mengira Kong-sun Po sudah keracunan berat.
"Jika aku mau membunuh kalian, itu mudah saja,"
Kata Kong-sun Po mengancam.
Dengan menggunakan jurus "Hui-liong-cay thian" (Naga terbang ke angkasa), ujung payung Kong-sun Po mengarah ke tubuh lawan.
Buru-buru The Yu Po menangkis serangan itu.
Saat goloknya beradu dengan payung Kong-sun Po, lelatu api pun berhamburan.
Mata golok The Yu Po gompal dan hampir terlepas dari tangannya.
Sedang ujung payung Kong-sun Po masih mengarah ke dada Yu Po.Tak lama payung itu berhasil merobek pakaian The Yu Po.
Mengetahui pukulan Kong-sun Po tidak akurat lagi, Pouw Yang Hian berkata pada su-tenya.
"Apa kataku, dia sudah mulai lemah,"
Kata Pouw Yang Hian.
Sebenarnya apa yang dikatakan Pouw Yang Hian ada benarnya, sekarang Kong-sun Po sedang merasakan payungnya berat sekali.
Sadar tenaganya telah berkurang, dia menggertak lawan dengan ancamannya.
"Coba rasakan pukulan Hua-hiat-to!"
Kata Kong-sun Po.
Kemudian dia melemparkan payung besinya.
Tapi saat Kong-sun Po mengangkat tangannya, tampak tangan itu berubah merah.
Pouw Yang Hian sadar betapa lihaynya Huahiat-to itu, menjadi kaget dan dia melompat mundur.
Tapi celakanya dia terjatuh ke lantai loteng.
Melihat lawannya jatuh, Kong-sun Po berganti sasaran..
Sekarang yang dituju The Yu Po.Karena kagetnya, The Yu 1542 Po langsung menangkis serangan itu dengan goloknya, dan langsung turun ke bawah loteng.
Tapi sebelum sempat berjalan turun, Kong-sun Po sudah menendangnya.
"Pergi kau!"
Bentak Kong-sun Po. Melihat musuhnya ketakutan Kong-sun Po jadi malu sendiri. Berhubung tenaganya telah berkurang, dengan terpaksa dia menggertak lawannya dengan pukulan beracun yang dia pantang.
"Segera kalian pergi, aku tak ingin mengotori tanganku dengan membunuh kalian berdua!"
Kata Kong-sun Po. Saat dia akan melipat payung besinya, tiba-tiba muncul seorang bertubuh gemuk menghampirinya. Dia berpakaian seperti pemilik rumah makan.
"Tunggu, kenapa kau buru-buru pergi?"
Kata si gemuk.
"Pelayananmu bagus sekali. Dengan sengaja arakku kau beri racun. Sekarang, berapa aku harus membayarmu?"
Kata Kong-sun Po. Si gemuk menggerakkan tangannya di atas sui-poa (alat hitung bangsa Tionghoa).
"Kau telah memukuli dua orang tamuku! Jadi sepantasnya kau harus membayar kerugian?"
Kata si gemuk.
"Hm! Jadi kau sekongkol dengan mereka!"
Kata Kongsun Po. Si gemuk tertawa.
"Oh! Jadi kau baru tahu sekarang?"
Katanya.
Tiba-tiba sui-poa itu disodokkan ke perut Kong-sun Po dengan keras.
Kong-sun Po baru sadar, See-bun Souw Ya yang mengatur siasat keji itu.
Mungkin dia sudah mengira Kong-1543 sun Po akan datang ke kota Ouw-shia dan singgah di rumah makan itui.
Dia lalu merekrut seorang gemuk bekas penjahat untuk membantu kedua muridnya.
Mereka merampas rumah makan itu dan mengusir maji-kannya.
Sedang tukang masaknya dipertahankan agar masakannya tetap seperti sedia kala.
Si gemuk menjadikan sui-poa (alat hitung bangsa Tionghoa) itu sebagai senjata ampuhnya.
Alat hitung itu selain dipakai menyerang, bisa juga dipergunakan untuk menjepit pedang lawan.
Jika tangan kosong Kong-sun Po terjepit, bisa dibayangkan tulang tangannya akan hancur dan remuk.
Saat sui-poa baja itu menyodok ke arahnya, Kong-sun Po mengubah siasat bertarungnya.
Dia pura-pura akan menotok dengan jarinya saat su-poa itu akan menjepit tangannya, dia menarik serangannya.
Lalu dengan tangan kirinya dia menyerang dua biji mata si gemuk.
"Sungguh jahat tanganmu!"
Kata si gemuk.
"Tapi tenagamu seolah api yang hampir padam!"
Si gemuk menghindari serangan yang di arahkan ke matanya dengan mengibaskan lengan bajunya.
Tiba-tiba terdengar suara robekan baju yang terkena jari Kong-sun Po yang berhasil melubangi baju si gemuk.
Saat mau diulangi serangannya, sui-poa si gemuk menyodok perut Kong-sun Po hingga terpaksa dia harus mundur.
Kong-sun Po menyesal karena tak bisa menggunakan payungnya.
Dengan terpaksa dia menggunakan jurus Huahiat-to untuk menyerang lawan.
Terlihat si gemuk agak jeri juga, sekalipun dia lebih lihay dibanding Pouw Yang Hian.
Tapi dengan senjatanya dia masih mampu bertahan untuk meladeni Kong-sun Po.
Sesudah merangkak bangun Pouw Yang Hian dan The Yu Po naik lagi ke loteng.
"Hai bocah busuk! Berapa lama lagi kau bisa bertahan"
Kata Pouw Yang Hian mengejek.
Kong-sun Po yang panas hatinya lalu mengerahkan seluruh kemampuannya.
Masih untung ketiga lawannya itu masih ngeri terhadap pukulan Hua-hiat-tonya.
Saat keadaan sedang gawat-gawatnya, di bawah tangga terdengar suara bentakan dua anak buah Pouw Yang Hian.
"Pergi! Jangan masuk anak busuk! Pergi dari sini, ini bukan tempatmu!"
Kata anak buah Pouw Yang Hian.
Tapi tak lama terdengar suara pukulan hingga kedua anak buah Pouw Yang Hian roboh.
Seorang anak muda berpakaian sederhana segera menaiki tangga loteng.
Mulutnya terus ngoceh.
"Bajingan, aku punya uang dan mau makan. Kenapa kalian mengusirku?' kata suara itu. Mendengar suara yang dikenalinya, Kong-sun Po girang. Ternyata itu suara Kiong Mi Yun, kekasihnya. Di tempat inilah pertama kali mereka saling berkenalan.
"Adik Mi Yun, ternyata kau juga datang ke tempat ini!"
Kata Kong-sun Po. Melihat kedatangan bocah itu si gemuk kaget.
"Eh, bukankah kau puteri Hek-hong To-cu?"
Katanya.
"Mengapa kau datang ke mari?"
"Aku lapar mau makan, tapi di sini sedang terjadi perkelahian, maka aku juga mau ikut!"
Kata Kiong Mi Yun. Pouw Yang Hian mengenali si nona.
"Serang dia dulu! Biar Kong-sun Po belakangan saja!"
Kata Pouw Yang Hian.
Dia tidak peduli nona itu anak siapa, dia tetap akan menangkapnya hidup-hidup.
Saat orang-orang itu memperhatikan kedatangan Kiong mi Yun, kesempatan ini digunakan Kong-sun Po untuk menyerang.
Pukulan itu membuat The Yu Po terjungkal ke bawah loteng.
"Senjata makan tuan,"
Kata Kiong Mi Yun. Ketika itu The Yu Po sudah bangun dan akan maju lagi, tapi dia kaget oleh ucapan si nona. Kata-kata "senjata makan tuan"
Berarti pukulan itu pukulan Hua-hiat-to.
Karena tidak belajar pukulan itu, dia jadi ngeri sekali dan ingin mencari selamat.
Saat itu juga dia langsung kabur untuk mencari gurunya untuk minta diobati.
Si gemuk berhasil menangkis serangan Kong-sun Po dengan sui-poanya.
"Yang Hian kau hadapi bocah yang baru datang itu, aku akan membereskan bocah ini. Nanti kau kubantu!"
Kata si gemuk. Pouw Yang Hian memang pernah bertarung melawan nona Kiong ini, maka dia bisa mengukur kepandaian nona itu. Maka dia yakin tidak sulit mengalahkannya.
"Pouw Yang Hian, ilmu Hua-hiat-tomu sudah musnah. Tapi sekarang kau masih jual laga di depanku!"
Kata Kiong Mi Yun.
"Jangan tekebur, untuk membunuhmu aku tak butuh Huahiat-to segala!"
Kata Pouw Yang Hian gusar sekal. Kiong Mi Yun tertawa mengejek.
"Benarkah?"
Kata si nona.
Saat Pouw Yang Hian lengah karena marah oleh ejekan si nona.
Saat itu dipegunakan oleh Kiong Mi Yun yang segera maju, pedangnya menyambar dan sasarannya perut Pouw Yang Hian.
Saat pedang menyerempet, Pouw Yang Hian tidak menyangka kepandaian nona itu maju pesat, dia kaget bukan kepalang.
Sekalipun dia bisa mengliindar tak urung bajunya terkoyak juga oleh pedang si nona.
Sejak berkenalan dengan Kong-sun Po, nona Kiong memang mendapat pelajaran inti lwee-kang dari pemuda itu.
Sedang ilmu bisa Pouw Yang Hian pun sudah lenyap.
Maka itu Pouw Yang Hian terdesak serangan si nona ini.
Sesudah berjalan cukup lama, tiba-tiba Mi Yun membentak keras.
"Kena!"
Ternyata tusukan Kiong Mi Yun mengenai bahu Yang Hian.
"Aduh!"
Teriak Pouw Yang Hian yang kesakitan.
"Kau melukaiku, akan kubunuh kau!"
Teriak Pouw Yang Hian. Tetapi lukanya bertambah sakit. Maka itu sekalipun dia mengancam tak urung dia melompat mundur dan kabur.
"Bocah busuk! Suatu hari nanti akan kubalas sakit hatiku ini"
Kata Pouw Yang Hian dari bawah loteng. Nona Kiong tertawa terkekeh.
"Sudah tak tahu malu kabur, malah berani mengancamku lagi!"
Kata Kiong Mi Yun.
Semetara itu si gemuk yang ditiggalkan lari jadi kaget dan jengkel pada kedua kawannya yang pengecut itu.
Diam-diam dia berniat kabur juga.
Sebenarnya dia masih mampu meladeni Kong-sun Po.
Tapi karena ngeri pada puteri Kiong Cauw Bun yang terkenal itu, dia jadi gugup sekali.
Saat nona Kiong menyerang membantu kekasihnya, si gemuk sudah tidak ingin bertarung lebih lama lagi.
Dia lalu maju dengan menggunakan sui-poanya akan menjepit pedang si nona.
Ketika serangannya itu gagal, dia buang senjatanya dan membalikkan tubuhnya lalu melompat lewat jendela ke bawah.
Nona Kiong yang melihatnya tertawa.
"Kenapa alat hitungmu kau tinggalkan? Nanti majikanmu memarahimu!"
Kata Kiong Mi Yun menggoda. Semua anak buah mereka ikut kabur semua. Sekarang keadaan di loteng rumah makan itu jadi sunyi.
"Adik Mi Yun, tak kusangka kita bertemu di sini!"
Kata Kong-sun Po.
"Kenapa kau berkata begitu? Bukankah kau sudah berjanji bahwa hari ini akan ke mari?"
Kata si nona.
"Ini hari yang kau janjikan pada orang-orang Hay-sah-pang, kan?"
"Ah, ya aku lupa. Kau baik sekali adik Mi Yun,"
Kata Kong-sun Po.
"Bagaimana keadaanmu?"
Kata si nona.
"Jangan khawarir aku tak apa-apa. Mereka memang meracuni araklu, tapi racunnya sebagian sudah kusingkirkan dari perutku!"
"Bagus, kalau begitu mari kita makan,"
Kata nona Kiong.
"Ini kesempatan baik jangan kita sia-siakan."
Tak lama dari dapur bermunculan para tukang masak. Kepala tukang masak itu mewakili kawan-kawannya.
"Terima kasih atas bantuan kalian, apakah kalian mau makan?"
Kata juru masak itu.
"Ya, buatkan kami masakan yang lezat,"
Kata nona Kiong sambil tertawa.
Tak lama masakan yang dipesan sudah dibawa dan disajikan d atas meja karena keduanya sudah lapar, tanpa sungkan-sungkan merekapun mulai makan.
Saat makan Kong-sun Po menceritakan pertemuannya dengan Kok Siauw Hong dan nona Han Pwee Eng.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Tanya nona Kiong.
"Mereka telah rukun kembali. Sekembali kita ke Kim-keeleng, mungkin kita bisa menghadiri pesta pernikahan mereka!"
Kata Kong-sun Po sambil tertawa.
"Kau sudah ke Kang-lam, bagaimana keadaan di sana?"
Kata si nona lagi.
"Pemandangannya indah sekali. Souw-ciu dan Hang-ciu benar-benar kota yang indah. Saat di Hang-ciu aku juga sempat ciam-si (meramal nasib)."
Kata Kong-sun Po sambil tertawa.
"Hasilnya bagaimana?"
"Dapat jawaban bagus,"
Kata Kong-sun Po.
"Saat itu aku pikir kita akan bertemu lagi!"
Wajah Kiong Mi Yun berubah merah.
"Sejak kapan kau bisa berkelakar?"
Kata nona Kiong.
"Apa yang kukatakan memang keluar dari lubuk hatiku, apa kau sendiri tidak berpikir begitu?"
Kata Kong-sun Po.
"Siapa bilang begitu?"
Kata nona Kiong.
"Jika aku tak ingin, untuk apa jauh-jauh aku datang ke mari? Sudah tahu kau pura-pura lagi!"
Kong-sun Po girang.
"Makanan dan arak di sini sangat terkenal, mari kita minum lagi!"
Kata Kong-sun Po. Dia meneguk secawan arak. Tetapi ketika melihat Kongsun Po minum terus, nona Kiong cemas juga.
"Aneh, tak biasanya kau minum banyak. Sudah jangan teruskan nanti kau mabuk!"
Kata si nona.
"Jangan takut, aku tak akan mabuk,"
Kata Kong-sun Po. Tak lama dari kepalanya mengepul asap, rupanya dia sedang mengeluarkan racun yang ada di tubuhnya.
"Lwee-kangmu maju pesat, Toa-ko,"
Kata Kiong Mi Yun.
"Entah kapan aku bisa selihay kau?"
"Saat aku melihat kau mengalahkan Pouw Yang Hian, kepandaianmu sudah maju juga,"
Kata Kong-sun Po.
"Maka itu aku perlu guru sepertimu,"
Kata si nona sambil tertawa.
"Aku belum pantas jadi gurumu. Aku juga tak berani menerimamu sebagai murid, tapi yang aku ingin...."
Walaupun Kong-sun Po tak meneruskan kata-katanya, Nona Kiong sudah tahu apa yang akan dikatakan pemuda itu.
"Sudah, jangan ngoceh terus! Aku tahu kau tak berani menerimaku sebagai muridmu, karena takut aku memukulimu, kan?"
Kata si nona sambil tertawa. Ketika sedang asyik berbincang, mereka mendengar pelayan berkata.
"Chu Toa-ya, angin apa yang meniupmu sampai ke mari?"
Kata si pelayan.
"Di sini baru saja ter..."
Belum habis kata-kata si pelayan itu, Chu Tay Peng sudah muncul di tangga loteng.
"Aku sudah tahu,"
Kata Chu Tay Peng menjawab katakata si pelayan.
"Maka itu aku ke sini!"
Sesudah tertawa sejenak Chu Tay Peng memberi hormat pada Kong-sun Po.
"Kong-sun Siauw-hiap kau seorang yang menepati janji! Sebenarnya kami memang sedang mengharapkan kedatanganmu. Eeh, nona kau juga ikut datang!"
Kata Chu Tay Peng.
"Tapi aku tidak bisa membantu banyak,"
Kata Kiong Mi Yun.
"Malah akulah yang tak bisa membantu kalian,"
Kata Chu Tay Peng.
"Tadi kau berhasil mengusir orang she Pouw itu hingga lari terbirit-birit seperti anjing buduk!"
"Jadi kau menyaksikannya?"
Kata si nona sambil tertawa.
"Lalu kau sembunyi di mana?"
Wajah Chu Tay Peng berubah merah karena malu.
"Harap nona maklum, kami tak berani memusuhi mereka!"
Kata Chu Tay Peng.
"Bagaimana keadaan kawan-kawanmu?"
Kata Kong-sun Po "Masih menderita seperti dulu, hanya Ang Pang-cu agak mendingan!"
Jawab Chu Tay Peng.
"Jangan cemas segera akan kuobati mereka,"
Kata Kongsun Po memastikan. Tiba-tiba Chu Tay Peng berkata pada nona Kiong.
"Nona, apakah kau datang bersama Ayahmu?"
Katanya.
"Tidak, memang kenapa?"
Tanya si nona.
"Apa kalian tahu di mana Ayahku berada?"
"Kami tidak mengetahuinya. Tapi karena kau datang, aku kira kau datang bersama beliau. Kami sangat mengharapkan kedatangan beliau."
Kata Chu Tay Peng sungguh-sungguh.
"Benarkah?"
Kata si nona.
"Ah, sayang aku tak bilang pada beliau akan ke mari. Aku datang ke mari di luar tahu Ayahku."
Wajah Chu Tay Peng kelihatan kecewa sekali.Dia diam saja. Kong-sun Po merasa sehat, dia mengajak Chu Tay Peng menemui kawan-kawannya.
"Mari kita berangkat!"
Kata Kong-sun Po. Pertanyaan Chu Tay Peng mengenai ayahnya membuat Kiong Mi Yun curiga dan penasaran. Oleh sebab itu dijalan dia bertanya pada Chu Tay Peng.
"Chu Pang-cu, apakah kau pernah mendengar sesuatu tentang Ayahku?"
Kata si nona. Dengan agak ragu dan gugup Chu Tay Peng menjawab.
"Benar, tapi itu cuma kabar angin saja."
Katanya.
"Jika aku katakan, harap nona tidak memarahiku."
"Jangan takut katakan saja, aku tidak akan marah,"
Kata Kiong Mi Yun.
"Aku dengar kabar ayahmu kurang senang pada Kongsun Siauw-hiap, apa benar begitu?"
Kata Chu Tay Peng.
"Jadi masalah kami sudah menjadi rahasia umum?"
Pikir Mi Yun. Sesudah itu dia berkata pada Chu Tay Peng.
"Kalau ya, lalu kenapa?"
"Jadi benar kabar angin itu?"
Kata Tay Peng.
"Apa pedulimu jika Ayahku tidak senang padanya,"
Kata nona Kiong.
"Kalau aku suka, dia mau apa?"
Dengan berkata begitu Kiong Mi Yun mengakui terus terang. Mendengar ucapan si nona Kong-sun Po jadi malu sendiri.
"Kami ucapkan terima kasih, jauh-jauh Kongsun Siauw hiap datang menepati janjinya,"
Kata Chu Tay Peng.
Padahal hatinya cemas bukan main sesudah dia tahu Kiong Cauw Bun tidak datang.
Jika See-bun Souw Ya tiba-tiba datang, maka sulit bagi Kong-sun Po menghadapi dia.
Tapi tetap dia mengajak Kong-sun Po menemui kawankawannya.
Sampai di markas Hay-sah-pang, mereka sudah menunggu kedatangannya.
Ketika Ang Kin tak kelihatan, Kong-sun Po merasa heran.
Saat tahu yang datang hanya kedua muda mudi itu, semua anggota Hay-sah-pang kecewa sekali.
Ie Kun, salah satu ketua Tiang-keng-pang mulai bicara.
"Apa benar menurut nona ayahmu tak akan datang?"
Kata Ie Kun menegaskan.
"Benar,"
Kata si nona. Orang-orang Hay-sah-pang tampak kecewa sekali. Melihat hal itu nona Kiong kurang senang.
"Yang mau mengobati kalian Kong-sun Toa-ko, bukan Ayahku. Kenapa kelihatannya kalian kecewa?"
Kata si nona. Dengan agak kaku Ie Kun berkata.
"Ya! Ya!"
Kemudian semua diam. Dia mengawasi kawan-kawannya yang terluka untuk mengetahui pendapat mereka.
"Sekarang, siapa yang lebih dulu harus kuobati?"
Kata Kong-sun Po.
Dia sadar waktu untuk mengobati hanya tinggal beberapa hari saja.
Tapi dari ketujuh orang itu tidak ada yang segera maju.
Mereka hanya saling dorong menyuruh yang lain lebih dulu.
Tapi tidak ada yang mau maju lebih dulu.
Kejadian itu mengherankan Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun.
"Sudah kalau begitu panggil Ang Pang-cu, biar dia dulu yang kuobati!"
Kata Kong-sun Po. Tapi Ang Kin tak muncul.
"Kalau begitu untuk apa kita buang waktu di sini, Kongsun Toa-ko mari kita pergi saja!"
Ajak nona Kiong. Kong-sun Po ragu, dia berkata.
"Ayo yang paling parah maju lebih dulu,"
Kata Kong-sun Po. Tiba-tiba Ang Kin muncul memakai tongkat.
"Mari Ang pang-cu, aku kira kau yang paling parah..."
Kata Kong-sun Po.
"Tidak!"
Kata Ang Kin.
"Karena keadaan sudah jadi begini, sebaiknya kalian berterus terang pada Kong-sun Siauw-hiap! Jika tak berterus-terang malah akan mencelakakan kawan sendiri!"
Sesudah itu Ang Kin meneruskan kata-katanya.
"Kong-sun Siauw-hiap, jauh-jauh kau sudah datang ke mari untuk mengobati kami,"
Kata Ang Kin.
"Kami bersyukur dan berterima kasih sekali. Tapi kami tak ingin menyusahkanmu, Seperti kata nona Kiong tadi, sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini! Jika akhirnya kami harus mati pun, kami tetap berterima kasih padamu."
"Apa kalian tak sayang pada nyawa kalian? Kenapa Ang Pang-cu berkata begitu? Coba kaujelaskan pada kami."
Kata Kong-sun Po penasaran.
"Akan kukatakan dengan terus-terang, karena kami sayang pada nyawa kami, maka kami tidak berani minta diobati oleh kalian!"
Kata Ang Kin yang kelihatan ketakutan. Ucapan itu membuat Kong-sun Po bertambah keheranan.
"Apa kalian tak yakin pada kemampuanku?"
Kata Kongsun Po menegaskan.
"Bukan! Bukan itu alasannya, kami malah yakin sekali kau bisa mengobati kami, tapi terus-terang kami takut pada See-bun Souw Ya!"
Jawab Ang Kin.
"Jadi dia penyebabnya?"
Kata Kong-sun Po yang mulai menyingkap tabir misteri itu. Kiong Mi Yun yang cerdik berkata dengan tegas.
"Jadi dia telah mengancam kalian? Seharusnya sudah kuterka sejak tadi. Aku juga heran kenapa dia mengirim Pouw Yang Hian dan anak buahnya mengganggu kami? Malah mereka merampas rumah makan segala! Dan meracuni Kong-sun Toa-ko!"
"Benar, Nona Kiong!"
Kata Ang Kin.
"Beberapa waktu yang lalu dia mengancam kami agar tidak diobati oleh siapapun. Malah aku dengar dia sudah sampai di Ouw-shia. Tak lama lagi dia akan sampai ke tempat ini!"
Kiong Mi Yun kaget, sekarang dia tahu kenapa Chu Tay Peng menanyakan kedatangan ayahnya. Rupanya mereka ingin mendapat bantuan dari ayah si nona.
"Pantas, ketika mendengar Ayahku tidak datang kalian sangat kecewa!"
Kata nona Kiong.
"Ya, maka itu sebaiknya kalian segera meninggalkan tempat ini,"
Kata Ang Kin.
"Aku malah ingin menemui si Iblis Tua itu!"
Kata Kongsun Po.
"Kau lain, kau tidak akan diganggunya,"
Kata Ie Kun.
"tapi kepada kami yang berkepandaian rendah dia bisa berbuat semena-mena!"
"Kau dengar, mereka takut kita akan menyulitkan mereka,"
Kata nona Kiong.
"Harap kalian jangan salah mengerti,"
Kata Ang Kin.
"Aku tak takut mati, dan budi kalian sangat kuhormati. Sudahlah tak ada yang bisa kukatakan lagi, semoga kita...."
"Aku paham maksudmu,"
Kata Kong-sun Po.
"Semoga kelak kita bertemu lagi!"
Saat kedua muda-mudi itu akan melangkahkan kaki mereka, terdengar suara tawa yang menyeramkan.
Suara itu sudah dikenali oleh kedua muda-mudi itu.
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 56 See-bun Souw Ya Berhadapan Dengan Kong-sun Po; Kiong Cauw Bun dan Wan Ceng Liong Bertemu Kok-su Mongol Suara tawa itu memang suara See-bun Souw Ya yang tak asing lagi bagi telinga Kong-sun Po.
Dia agak terperanjat juga mendengar tawa dingin itu.
Tak lama terdengar See-bun Souw Ya berkata nyaring sekali.
"Kong-sun Po, kenapa kau terburuburu mau pergi? Ingat anak muda, kau bisa datang tapi aku yakin kau tidak akan bisa pergi begitu saja!"
See-bun Souw Ya muncul diikuti kedua muridnya, Pouw Yang Hian dan The Yu Po.
Dua muridnya langsung menjaga pintu keluar menghalangi Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun.
Menyaksikan munculnya See-bun Souw Ya, tentu saja hal itu membuat kaget semua yang hadir di tempat itu.
Apalagi Ie Kun, dia sangat ketakutan dan segera menepi ke sebuah sudut.
Lalu dia bicara dengan suara agak gemetar.
"Bukan aku yang mengundang mereka, See-bun Sianseng! Aku malah sedang menantikan kedatanganmu bersama anak buahku."
Kata Ie Kun. Sesaat si Iblis Tua hanya melirik ke arah Ie Kun, lalu dia tatap Kong-sun Po dengan tajam.
"Bocah untuk kau menyelamatkan diri, rasanya sulit sekali! Kau berani datang hendak menolongi orang segala!"
Kata See-bun Souw Ya.
Kata-kata si Iblis Tua tidak dihiraukan oleh Kong-sun Po, dia hanya memegangi payungnya erat-erat sambil menatap ke arah See-bun Souw Ya dengan tajam.
Saat itu dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya, dan siap jika sewaktu-waktu lawan menyerang.
Tiba-tiba Mi Yun mendapat akal bagus untuk mengulur waktu.
"Kedatanganmu sangat kebetulan, See-bun Sian-seng,"
Kata si nona.
"Ayahku ingin sekali berkenalan denganmu, terutama dia ingin tahu sampai dimana kepandaian Hua-hiattomu!"
"Heh! Apakah ayahmu juga mau datang?"
Kara See-bun Souw Ya agak terperanjat mendengar ucapan nona Kiong itu.
"Di mana aku berada, Ayahku ada!"
Jawab nona Kiong sambil tertawa.
"Beliau bilang ilmu Hua-hiat-tomu sama terkenalnya dengan Cit-sat-ciang milik kami! Malah ada mulut usil yang bilang bahwa Cit-sat-ciang kami tidak mampu menandingi Hua-hiat-to keluarga Suang, maka itu Ayahku ingin mencoba kehebatannya. Tapi Ayahku bilang, mungkin kau tidak berani bentrok dengan Ayahku. Maka itu aku mengusulkan, biar kami dulu menemuimu. Jika kau sudah muncul Ayahku pun pasti akan muncul!"
Ternyata kata-kata Kiong Mi Yun itu sedikitnya mempengaruhi hati See-bun Souw Ya juga.
Maka itu dia jadi ragu-ragu untuk mendahului menyerang.
Kiong Mi Yun memang sengaja berbohong, maksudnya hanya untuk mengulur waktu hingga Kong-sun Po selesai mengumpulkan kekuatannya.
Untung si Iblis Tua berhasil digertak.
Tapi See-bun juga Souw Ya cukup licin, maka itu bualan si nona hanya mempan sebentar kelihatan dia jadi curiga melompat dan berhasil mencengjram tubuh Ie Kun yang ketakutan setengah mati lalu menyeeretnya ke dekatnya.
"See-bun Sian-seng, ampuni hamba. Hamba tidak bersalah!"
Ratap Ie Kun.
"Kau mau taat padaku tidak?"
Bentak See-bun Souw Ya.
"Sekalipun harus melompati api aku bersedia,"
Kata Ie Kun.
"Tidak perlu begitu!"
Bentak See-bun Souw Ya.
"Tapi aku ingin kau bicara terus-terang. Katakan, apa benar Hekhong To-cu sudah datang ke mari?"
"Belum! Dia belum datang, nona Kiong berbohong padamu,"
Kata Ie Kun dengan amat ketakutan. Sesudah tertawa terbahak-bahak dia lemparkan Ie Kun sambil berkata.
"Dasar bocah sial kau berani membohongiku! Kau kira aku takut pada ayahmu?"
Ucapan See-bun Souw Ya menyebabkan Kong-sun Po jadi was-was, dia takut iblis tua itu menyerang nona Kiong, maka buru-buru dia menghimpun tenaga dalamnya lalu melompat akan melindungi si nona.
"Hm! Kubunuh kau lebih dulu!"
Katanya sambil menyerang Kong-sun Po dengan jurus "Garuda sakti membentangkan sayap".
See-bun sudah tahu bagaimana ampuhnya payung di tangan Kong-sun Po, dia kumpulkan seluruh tenaganya dan langsung menyerang.
Harus diakui tenaga Kong-sun Po memang kalah jauh, maka itu dia terdorong mundur.
Buru-buru dia tutup payungnya yang runcing untuk digunakan menusuk ke tengah telapak tangan lawan.
Tapi See-bun Souw Ya gesit, sesudah berhasil menghindari totokan yang ditujukan ke telapak tangannya, dia menyerang dua kali.
Hanya karena keampuhan payung besi dan kelincahan Kong-sun Po saja, dia berhasil menangkis dua serangan berbahaya itu.
Tapi dia tetap berada dalam ancaman sang lawan yang lihay itu.
Menyaksikan Kong-sun Po dalam bahaya, Ang Kin meneriaki kawannya supaya membantu Kong-sun Po.
"Mari kawan kita bantu Kongsun Siauw-hiap!"
Kata Ang Kin. Melihat Ang Kin maju See-bun Souw Ya gusar.
"Awas sesudah kubunuh bocah ini kau juga akan kubunuh!"
Kata See-bun Souw Ya pada Ang Kin.
Ternyata hanya Ang Kin yang maju, sedang kawannya yang merasa jerih tak berani maju.
Apa lagi mereka pikir tak ada harapan jika mereka ikut campur.
Mereka sadar dalam waktu singkat pasti Kong-sun Po akan roboh di tangan si Iblis Tua.
Kawan-kawan Ang Kin yang tak berani maju berteriak.
"See-bun Sian-seng dia kawan Ang Kin bukan kawan kami, harap See-bun Sian-seng jangan salah paham,"
Kata Ie Kun dan kawan-kawannya.
Mendengar ucapan itu See-bun Souw Ya tertawa terbahak-bahak.
Dia serang Kong-sun Po lebih hebat dari tadi.
Bukan main marahnya Ang Kin melihat sikap kawannya yang pengecut itu.
"Sebagai laki-laki sejati aku lebih memilih mati daripada terhina!"
Kata Ang Kin.
"Aku tak bisa membantumu, maka biarlah aku binasa...."
Dia mencabut belati siap akan bunuh diri.
Ketika itu Kong-sun Po sedang terdesak mundur, melihat Ang Kin hendak bunuh diri Kong-sun Po kaget.
Dia gunakan tangan kanannya menghantam See-bun Souw Ya dari bawah payung besinya dengan keras.
Melihat Kong-sun Po nekat, See-bun Souw Ya kaget.
"Mungkin pukulan hua-hiat-tonya lebih lihay dariku. Tangannya tampak merah membara,"
Pikir See-bun Souw Ya.
"Adu jiwa dengannya pun aku rasa tak ada gunanya."
Maka itu si Iblis Tua segera menghindari pukulan Kongsun Po. Saat mengelak itulah Kong-sun Po menggunakannya untuk menyambitkan uang logam ke arah belati yang hendak dipakai bunuh diri oleh Ang Kin.
"Trang!"
Belati itu jatuh ke tanah. Menyaksikan anak muda itu mampu menyelamatkan Ang Kin, Pouw Yang Hian dan The Yu Po geram. Mereka maju hendak menyerang Ang Kin yang kaget karena belatinya jatuh.
"Adik Mi Yun, selamatkan Ang Pang-cu!"
Teriak Kongsun Po.
"Baik, Toa-ko!"
Kata Kiong Mi Yun. Kiong Mi Yun menghunus pedangnya lalu maju menghalangi majunya Pouw Yang Hian dan The Yu Po.
"Biarkan Ang Kin, serang bocah sial itu dulu!"
Kata See-bun Souw Ya memberi petunjuk pada muridnya.
"Baik, Suhu!"
Kata Pouw Yang Hian. Pouw Yang Hian dan Yu Po maju mengeroyok Kiong Mi Yun.
"Jika berani silakan maju! Andaikan aku kalian lukai, Ayahku akan membunuh kalian!"
Ancam Kiong Mi Yun. See-bun Souw Ya tertawa terbahak-bahak.
"Hai bocah, jangan kau gertak kami dengan nama besar ayahmu!"
Kata See-bun.
"Aku tahu kau bohong, jika tak kubunuh kau kira aku takut pada ayahmu! Yang Hian, jika perlu kau bunuh!"
Sebenarnya ucapan itu tidak bersungguhsungguh menyuruh dia membunuh nona Kiong.
Itu cuma gertakan See-bun Souw Ya agar membuat nona Kiong jerih.
Maka waktu Pouw Yang Hian menyerang, dia tidak bersungguh-sungguh.
Kiong Mi Yun meladeninya dengan gerakan yang lincah luar biasa.
Tiba-tiba terdengar suara robekan pakaian, ternyata pakaian Pouw Yang Hian robek oleh pedang nona Kiong.
Saat itu Yu Po dengan golok berbentuk sabit sedang menyerang kaki nona Kiong.
Saat siku nona Kiong berada dekat ke arah Pouw Yang Hian, dia hajar siku nona Kiong.
"Lepas!"
Kata Pouw Yang Hian.
Jika nona Kiong tak menghindar maka tangannya akan patah terhajar pukulan Pouw Yang Hian.
Pada saat genting nona Kiong melompat menghindari serangan itu.
Tebasan The Yu Po ke arah kakinya bisa dia hindari, tetapi serangan Pouw Yang Hian ke arah sikunya, sulit dihindari.
Tangan si nona terserang sedikit pukulan lawan dan terasa sakit.
Mau tidak mau pedang di tangan si nona terlepas juga.
Dua murid See-bun Souw Ya berusaha keras akan menangkap nona Kiong untuk disandera.
"Bagaimana, kau menyerah?"
Kata Pouw Yang Hian. Dia maju untuk mencengkram bahu si nona. Tapi Kiong Mi Yun gesit sekali, tak lama terdengar suara keras.
"Plok!"
Pipi Pouw Yang Hian tertampar oleh tangan Kiong Mi Yun dengan keras sekali. Wajah Pouw Yang Hian langsung berubah merah dan bengkak.
"Bocah sial!"
Bentak Pouw Yang Hian.
"Kau berani memukulku? Kubunuh kau!"
Nona Kiong tertawa.
"Jika bisa, silakan!"
"Apa kau kira kami tak berani?"
Kata The Yu Po.
"Awas golokku!"
Dia serang nona Kiong dengan gencar hingga nona Kiong seolah terkurung di tengah goloknya.
Dengan ilmu cengkramnya yang lihay, Pouw Yang Hian pun maju menyerang.
Tapi karena tadi tertampar dia jadi hati-hati dan agak jerih juga.
Sekarang Kiong Mi Yun yang melawan dengan tangan kosong mulai kewalahan.
Melihat kekasihnya dalam bahaya, Kong-sun Po berusaha akan menolong, tapi selalu dirintangi oleh See-bun Souw Ya.
"Kau sudah hampir mati, tapi kenapa kau masih berniat menolongi dia segala?"
Ejek See-bun Souw Ya pada Kongsun Po. Tadi Kong-sun Po bertarung dengan mati-matian, hingga tenaganya terkuras. Melihat Kong-sun Po sudah mandi keringat, See-bun girang sekali.
"Ayo kau keluarkan ilmu Hua-hiat-tomu!"
Ejek See-bun.
Saat See-bun Siuw Ya menyerang, Kong-sun Po menyambut serangan itu.
Kedua tangan mereka beradu keras.
Tiba-tiba Kong-sun Po tersentak mundur, wajahnya pucatpasi.
Saat Kong-sun Po terdorong tenaga pukulan lawan, dia kelihatan limbung dan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.
"Mau lari ke mana kau?"
Kata See-bun Souw Ya.
Jika saat itu See-bun Souw Ya melancarkan serangan, maka tamatlah Kong-sun Po.
Tapi tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring hingga See-bun Souw Ya terperanjat dia menghentikan serangannya.
Dengan demikian Kong-sun Po mampu menghindari pukulannya.
Sebelum suara suitan itu lenyap, muncul seorang tua berpakaian hijau di tengah gelanggang pertarungan.
Kiong Mi Yun mengenalinya.
"Paman Wan!"
Teriak nona Kiong.
"Tolongi kami, si Iblis Tua menyulitkan kami!"
Kata Kiong Mi Yun. Orang itu memang Wan Ceng Liong, ayah nona Wan Say Eng.
"Jangan takut!"
Kata Wan Ceng Liong.
"Katakan saja harus kuapakan Iblis Tua ini?"
"Paksa agar mereka berlutut di depanku,"
Kata nona Kiong.
"Baik, itu tidak sulit!"
Kata Wan Ceng Liong.
Kedua tangan Wan Ceng Liong bergerak, dalam sekejap mata Pouw Yang Hian dan The Yu Po berhasil dia cengkram dengan keras.
Kemudian tubuh mereka dibanting ke depan nona Kiong.
Mau tak mau tanpa sengaja mereka berlutut di depan nona Kiong sambil menahan sakit.
Melihat dua muridnya berhasil dibekuk dengan mudah, See-bun Souw Ya terperanjat.
Kiong Mi Yun menunjuk ke arahnya.
"Paman Wan, bangsat tua ini membiarkan kedua muridnya mengacau di tempat ini. Kalau bisa aku ingin agar dia berlutut di depanku!"
Kata Kiong Mi Yun pada Wan Ceng Liong.
"Menyuruh dia berlutut rasanya tidak mudah, mungkin lebih mudah membunuhnya,"
Jawab Wan Ceng Liong.
"Kalau begitu bunuh saja dia!"
Kata nona Kiong.
"Tak perlu buru-buru, sekalipun aku sengaja datang untuk menghadapinya,"
Kata Wan Ceng Liong. Di tempat lain Kong-sun Po muntah darah segar. Karena tak tahan dia terjatuh dan duduk di lantai. Melihat keadaan luka Kong-sun Po tersebut, Wan Ceng Liong tertawa dingin.
"Ternyata benar ilmu racun keluarga Suang ada di tanganmu!"
Kata Wan Ceng Liong.
"Tapi sayang kau mempelajarinya belum sempurna!"
"Kita tidak bermusuhan, kenapa kau ikut campur dalam masalahku?"
Kata See-bun Souw Ya.
"Ucapanmu salah, siapa bilang masalah ini tidak ada hubungannya denganku? Pertama karena nona Kiong keponakanku yang baik, kedua aku telah berjanji menolong seseorang untuk mengambilkan sebuah benda darimu. Maka mau tak mau aku harus menepati janjiku!"
Kata Wan Ceng Liong.
"Siapa yang meminta bantuan padamu?"
Kata See-bun.
"Dalam soal ini kau tak perlu tahu!"
Jawab Wan Ceng Liong. Jawaban itu membuat See-bun Souw Ya kurang senang.
"Kau benar di kalangan Kang-ouw musuhku memang banyak,"
Kata See-bun Souw Ya.
"Sebaiknya aku tak perlu tahu. Jika kau diminta bantuan untuk mengambil kepalaku, silakan jika bisa!"
Kata See-bun Souw Ya. Dia mengira Wan Ceng Liong disuruh mengambil kepalanya.
"Yang akan kuambil darimu bukan kepalamu!"
Jawab Wan Ceng Liong.
"Tetapi sebuah barang berharga. Jika kau tidak mau menyerahkannya, terpaksa aku membunuhmu!"
"Maksudmu barang apa?"
Tanya See-bun Souw Ya.
"Kitab Racun milik keluarga Suang!"
Kata Wan Ceng Liong. Bukan main marahnya See-bun saat mendengar Wan Ceng Liong ingin meminta Kitab Racun itu.
"Baik jika bisa, kau ambil Kitab Racun itu, kalau perlu kedua-duanya kitab dan kepalaku!"
Kata See-bun Souw Ya.
"Baik, dengan demikian aku bisa mengetahui berapa tinggi kepandaianmu!"
Kata Wan Ceng Liong. Baru saja Wan Ceng Liong menghentikan bicaranya, See-bun Souw Ya langsung menyerang. Dia gunakan jurus "Pengpok-kiu-thian"
Atau "Rajawali menyambar dari langit", maka dihantamnya kepala Wan Ceng Liong dengan keras.
"Hm! Bagus!"
Kata Wan Ceng Liong.
Dia menunduk sambil berkelit, alu sambil memutarkan telapak tangannya dia membalas menyerang.
Sedikitpun See-bun tidak menyangka kalau Wan Ceng Liong berani menyambut serangannya.
Jika kedua tangan mereka berbenturan, maka celakalah keduanya.
See-bun berpikir jika serangan pertamanya gagal, dia tak sanggup mengalahkan lawan, dia akan kabur.
Buru-buru dia hindari bentrokan tangannya.
Kemudian dengan cara berakrobatik, dia berhasil menghindari serangan Wan Ceng Liong dengan gerakan yang indah.
Wan Ceng Liong memuji kecerdikan dan kelincahan lawannya.
Dia juga bersyukurkarena lawan tidak berani menga-du tangan.
Karena itu dia jadi ragu, apakah dia mampu mengalahkan See-bun?
Di tempat lain Kong-sun Po sedang duduk di lantai, mulutnya mengeluarkan darah.
Melihat hal itu Kiong Mi Yun menghampirinya.
"Bagaimana keadaanmu, Toa-ko?"
Tanya si nona "Tak apa-apa, aku butuh sebuah kamar untuk memulihkan tenagaku,"
Jawab Kong-sun Po. Chu Tay Peng mendengar kata-kata anak muda itu.
"Nona Kiong, ajak Kong-sun Siauwhiap ke belakang bersamaku!"
Kata Chu Tay Peng.
Dia baru saja mengantarkan Ang Kin ke tempat yang aman.
Melihat kedua muda-mudi itu ikut Chu Tay Peng pergi, See-bun yang melihatnya langsung melompat ke arah mereka.
Tapi dengan tak kalah gesitnya, Wan Ceng Liong melompat hendak merintanginya.
Wan Ceng Liong menghalangi See-bun karena takut dua muda-mudi itu dicelakai oleh See-bun.
"Hm! Masih ada aku di sini, jangan main gila!"
Bentak Wan Ceng Liong.
Dengan cepat Kiong Mi Yun membawa Kong-sun Po masuk ke sebuah kamar.
Rupanya karena See-bun tak yakin bisa meladeni Wan Ceng Liong, dia hendak menangkap Kong-sun Po dan Mi Yun yang akan dijadikan sandera.
Tapi usahanya itu gagal karena dihalangi oleh Wan Ceng Liong.
"Baik, sekarang kita adu jiwa saja!"
Bentak See-bun Souw Ya.
"Itu yang kumau!"
Jawab Wan Ceng Liong.
See-bun mementang kedua tangannya, yang kanan berwarna merah darah yang kiri hitam legam.
Itu adalah jurus Hua-hiat-to dan Hu-kut-ciang yang lihay.
Melihat hal itu Wan Ceng Liong tak berani menyambut serangan itu.
Saat Wan Ceng Liong bersiap menyambut serangan lawan, tiba-tiba terdengar suara jeritan.
Ternyata See-bun Souw Ya berhasil menerkam Ie Kun salah satu rekan Chu Tay Peng.
Ie Kun kaget, maka itu dia menjerit minta tolong.
Tubuhnya terkena racun yang lihay sekali.
Tiba-tiba See-bun Souw Ya yang kejam melemparkan tubuh Ie Kun ke 1567 arah Wan Ceng Liong.
Tahu tubuh yang dilemparkan itu beracun, Wan Ceng Liong tak berani menyambutnya.
Terpaksa dia gunakan kakinya menendang kembali tubuh Ie Kun ke arah See-bun Souw Ya.
Ie Kun pun seketika itu binasa.
Memang di antara kawan-kawannya, Ie Kun sangat pengecut.
Dia akhirnya binasa mengenaskan.
Saat Wan Ceng Liong sibuk menendang tubuh Ie Kun, See-bun Souw Ya menggunakan kesempatan itu untuk kabur sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hai, bangsat! Tak mudah kau lari begitu saja dari tanganku!"
Bentak Wan Ceng Liong yang segera mengejarnya.
Kejar-mengejar pun terjadi mereka menggunakan ginkang yang tinggi.
Dalam sejejap belasan li sudah mereka lalui.
Ketika itu See-bun yang sudah sampai di sebuah hutan, langsung masuk ke dalam hutan.
"Ceng Liong, kejar aku kalau berani!"
Teriak See-bun.
Sebenarnya ada pantangan yang sangat keras untuk seorang jago persilatan memasuki hutan yang tak dikenalnya.
Maka itu Wan Ceng Liong ragu untuk terus mengejar lawannya.
Tapi dia pikir jika tidak dikejar, kapan lagi dia bisa bertemu dengan si Iblis Tua yang ganas itu?
Dia pikir bagaimana dia bisa segera memenuhi permintaan Kiong Cauw Bun untuk mengambil Kitab Racun itu?
Maka itu tanpa pikir panjang Wan Ceng Liong masuk meneruskan pengejarannya.
"Mana Kok-su itu, katanya dia akan datang? Jika dia tak segera tiba, aku bisa celaka di tangan Wan Ceng Liong yang ternyata lihay sekali!"
Pikir See-bun Souw Ya. Saat itu sayup-sayup See-bun mendengar teriakan seseorang.
"Benarkah kau saudara Wan? Siapa yang sedang kau kejar?"
Kata suara itu.
"Bukankah kau Saudara Kiong? Aku sedang mengejar "Penggali dan pencuri kuburan"!"
Jawab Wan Ceng Liong yang terus berlari mengejar lawannya. Sungguh malang dan sial See-bun saat itu.
"sudah jatuh tertimpa tangga pula". Belum selesai urusan dengan Wan Ceng Liong, kini muncul Kiong Cauw Bun. Dalam keadaan ketakutan See-bun yang cerdik sudah berhasil memecahkan teka-teki itu.
"Kenapa Wan Ceng Liong meminta kitab itu?"
Jelas dia diminta bantuannya oleh Kiong Cauw Bun!
Begitu yang ada di benak See-bun saat itu.
Diam-diam dia mencoba mengadu siasat dengan lawan.
Orang she Wan menuduhnya sebagai 'penggali kubur', memang Kitab Racun"
Itu. Karena See-bun mendapatkannya dengan menggali kuburan Kong-sun Khie almarhum.
"Kebetulan,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"See-bun Souw Ya, ternyata kita bertemu di sini! Kau curi kitab itu dari kuburan sahabat baikku. Aku dengar kau sudah lihay, mari kita coba bertarung!"
Bukan main kagetnya See-bun, sebab melawan Wan Ceng Liong saja dia sudah kewalahan, sekarang dia ketemu dengan Kiong Cauw Bun.
Dari belakang dia dikejar Wan Ceng Liong, dari depan dihadang oleh Kiong Cauw Bun.
"See-bun, berhenti dan serahkan kitab itu padaku!"
Kata Kiong Cauw Bun. See-bun Souw Ya ketakutan sekali. Tiba-tiba dia punya ide dan berteriak nyaring.
"Saudara Wan, apalagi yang kau inginkan? Kitab Racun sudah kuserahkan padamu!"
Kata See-bun.
"Kenapa kau masih terus mengejarku? Saudara Kiong, kita tidak bermusuhan, buat apa kau menghadangku?"
Kiong Cauw Bun mengetahui kalau See-bun bersekongkol dengan orang-orang Mongol, Chu Kiu Sek dan Hak-su Mongol.
Jika dia membunuh See-bun pun cuma akan mendatangkan kesulitan.
Dalam keadaan ragu dia mendengar ucapan licik See-bun Souw Ya.
Maka itu dia sedikit curiga.
"Apa benar begitu Saudara Wan?"
Kata Kiong Cauw Bun. Dengan sangat marah Wan Ceng Liong membantah.
"Bohong! Jangan dengarkan ocehan busuknya! Dia ingin mengadu domba antara aku dan kau!"
Kata Wan Ceng Liong.
"Kau jangan percaya padanya!"
"Jika kau tidak percaya padaku, maka kitab itu akan menjadi milik dia!"
Kata See-bun dengan licik. Kiong Cauw Bun dan Ceng Liong memang bukan sahabat sejati. Tapi karena masih ragu dia tidak berani menuduh Wan Ceng Liong curang.
"Saudara Kiong, jika persoalannya ingin jekas kita bekuk dulu dia. Nanti semuanya akan jadi jelas sekali!"
Kata Wan Ceng Liong. Karena Kiong Cauw Bun berpikir ucapan Wan Ceng Liong masuk akal, dia berseru pada kawannya itu.
"Baik, kita tangkap dulu dia! Sesudah itu geledah tubuhnya, maka persoalannya akan jelas!"
Kata Kiong Cauw Bun.
Siasat See-bun hanya mempan sebentar, sekarang kedua jago itu mengejarnya lagi.
See-bun berhasil lari ke lain arah, maka itu Wan Ceng Liong dan Kiong Cauw Bun terus mengejarnya bersamasama.
Di suatu tempat See-bun melihat dan mendengar ada seorang paderi Budda yang berseru.
"Omi-to-hud! Buddha Maha Pengasih!"
Katanya. Bukan main girangnya See-bun sesudah mengenali paderi Buddha itu. Paderi itu memberi tanda pada See-bun.
"Toa hwee-shio tolongi aku, mereka ingin membunuhku!"
Kata See-bun Souw Ya.
"Omi-to-hud! Buddha Maha Penyayang!"
Katanya lagi.
"Buddha Melarang orang saling membunuh! Kau pergi, biar akan kumintakan ampun bagimu!"
Kata hwee-shio itu. Sesudah See-bun pergi, kedua pengejarnya tiba. Namun, mereka tak bisa terus mengejar karena terhalang jalannya oleh hwee-shio itu.
"Hwee-shio, lekas menepi! Beri kami jalan!"
Bentak Kiong Cauw Bun.
"Omi-to-dud! Selama ini pin-ceng (hamba) selalu bertindak adil dan welas asih. Pertemuan kita ini sudah takdir. Jika si-cu bersedia mengampuninya, sungguh berkat besar. Hapuslah permusuhan kalian!"
Kata si hwee-shio. Dia tetap berusaha menghalangi kedua pengejar itu.
"Gila, minggir!"
Bentak Kiong Cauw Bun gusar. Dari tingkah-lakunya Kiong Cauw Bun mengerti hweeshio ini bukan sembarangan.
"Omi-to-hud!"
Puji hweeshio itu.
"Sabar, kenapa kau kurang sabar? Nafsu membunuhmu sungguh besar". Saat Kiong Cauw Bun menghantam hwee-shio itu dengan sebuah serangan dahsyat, dengan cepat si hwee-shio mementangkan jubahnya, dia menangkis serangan Kiong Cauw Bun. Jubah itu menggelembung bagaikan layar sebuah perahu di sungai. Kemudian dengan lengan jubahnya si hweeshio mengebut ke arah Kiong Cauw Bun dengan keras. Dia menangkis dan menyerang dengan tetap duduk bersila tak bergeming. Ternyata serangan kilat Kiong Cauw Bun yang dahsyat, dengan mudah dipunahkannya. Kebutan si Hwee-shio membuat serangan Cauw Bun punah seketika Melihat Kiong Cauw Bun dalam bahaya, Wan Ceng Liong menyerang tangan si Hwee-shio. Tahu-tahu tangan yang lain dipakai menangkis serangan Wan Ceng Liong secara berbarengan.
"Hebat sekali! Aku jadi tidak bisa tenang duduk di sini!"
Kata si hwee-shio memuji.
Dia bertarung dengan tetap duduk.
Menerima tangkisan lawan itu tubuh Wan Ceng Liong terdorong ke belakang.
Rupanya saat itu tenaga si hweeshio seolah-olah menyambar seluruhnya ke arah Kiong Cauw Bun.
Maka tak ampun lagi Kiong Cauw Bun terdorong mundur.
"Hm! Siapa sebenarnya kau?"
Bentak Kiong Cauw Bun. Sesudah tertawa terbahak-bahak hwee-shio itu berkata.
"Kau sangat terkenal, mengapa tidak kenali siapa aku ini?"
Katanya. Sambil bicara dia terus menangkis dan menyerang, karena kedua lawannya itu masih melancarkan serangan mereka.
"Benarkah kau Kok-su dari Mongol? Aku dengar kau jago nomor satu di kalangan Kang-ouw!"
Kata Kiong Cauw Bun mulai menduga-duga. Sesudah tertawa lagi, si hwee-shio baru menjawab.
"Benar akulah dia, tapi sebutan jago itu tidak berani aku menerimanya,"
Kata si hwee-shio.
"Kalian berdua juga hebat, sesudah kuserang bisa bertahan. Kalian juga hebat!"
"Aku dengan See-bun bermusuhan, kenapa Hoat-ong sengaja merintangi kami?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Maaf, terus terang kukatakan, dia sekarang sudah menjadi muridku,"
Kata si hwee-shio.
"aku harap permusuhan kalian disudahi saja. Kebetulan Khan Agung kami sedang mencari orang gagah, kenapa kalian tidak menemuinya. Apa kalian mau atau tidak?"
Wan Ceng Liong maju sikapnya kelihatan kurang senang.
"Kepandaian kami tidak seberapa, mana mungkin bekerja pada Khan Agung,"
Kata Wan Ceng Liong.
"Benar, aku pun begitu! Aku lebih senang hidup sebagai rakyat biasa,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Terima kasih atas kebaikan Toa Suhu!"
Liong Siang Hoat-ong orangnya cerdik.
Dia tahu Wan Ceng Liong memang tak mau, tapi Kiong Cauw Bun masih bisa dibujuk.
Tapi waktu itu dia tak membujuknya, karena berpikir masih ada waktu lain kali.
Sesudah itu dia mohon 1573 diri dan pergi.
Sesudah mereka tinggal berdua, Wan Ceng Liong memberi hormat pada Kiong Cauw Bun.
"Saudara Kiong, maaf aku belum bisa menepati janjiku. Baik lain kali saja hutang budiku kubalas padamu,"
Kata Wan Ceng Liong. Ketika dia akan meninggalkan Kiong Cauw Bun tiba-tiba terdengar suara aseran.
"Tunggu dulu!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Ada apa lagi? Apa kau curiga kitab itu ada padaku seperti kata See-bun?"
Kata Wan Ceng Liong.
"Bukan. Aku harap kau jangan salah sangka,"
Kata Kiong Cau Bun.
"Aku hanya ingin bertanya."
"Katakan saja soal apa?"
"Apakah kau tahu atau pernah bertemu dengan puteriku?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Aah, aku baru ingat. Aku pernah bertemu dengan puterimu, dia ada di tempat orang Hay-sah-pang,"
Kata Wan Ceng Liong.
"Dia bersama Kong-sun Po. Jika kau bertemu dengannya tolong sampaikan pesanku. Katakan padanya, aku belum bisa memenuhi keinginannya untuk membunuh See-bun Souw Ya!"
Mendengar keterangan itu Kiong Cauw Bun girang bercampur kecewa.
Girang karena dia sudah tahu jejak puterinya, kecewa karena puterinya bersama Kong-sun Po.
Sekarang dia tahu puterinya menyukai Kong-sun Po, tapi sayang anak muda itu ikut musuh besarnya, Hong-lai-mo-li!
Tapi dia juga punya harapan, jika benar Kong-sun Po mencintai anaknya, dari pemuda itu dia bisa belajar ilmu racun keluarga Suang.
"Jika kitab itu tak dapat kurebut dari See-bun, masih ada titik terang. Aku bisa belajar dari calon menantuku!"
Begitu pikir Kiong Cauw Bu.
"Jika dia mau mengajariku, aku tak keberatan dia jadi menantuku. Jika tidak mau menurut kalau perlu kubunuh dia! Sekalipun itu akan membuat puteriku berduka."
Sesudah mengambil keputusan Kiong Cauw Bun bergegas ke tepi sungai Huang-hoo akan mencari puterinya.
Ketika itu Kong-sun Po berada di sebuah kamar yang sunyi.
Dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengobati lukanya.
Untung sejak masih kecil dia sudah terkena racun Hua-hiat-to.
Dia bisa bertalian berkat pertolongan Beng Beng Tay-su, hingga daya tahannya terhadap racun cukup baik.
Sekalipun belum sembuh benar tapi sekarang dia bisa bergurau dengan Kiong Mi Yun.
Mereka sudah berpisah setahun yang lalu, maka itu mereka mengisahkan pengalamannya masing-masing.
Sesudah itu Kong-sun Po berkata pada kekasihnya.
"Dulu kenapa kau tinggalkan aku sendirian?"
Kata Sun Po.
"Kau ingat ketika di rumah makan ada pencopet?"
"Ya."
"Dia bukan copet tapi pengikut Ayahku bernama Thio Kiong, maka kukejar dia. Sesudah terkejar dia memberitahu bahwa Ayahku mencariku. Aku jadi khawatir kita akan ketahuan oleh Ayahku. Maka itu aku sepakat dengan Thio Tiong untuk memancing Ayahku supaya tidak menemui kita agar Ayahku pergi jauh!"
Kata Kiong Mi Yun.
"Kenapa kau takut kalau kita bertemu dengan Ayahmu?"
Kata Kong-sun Po.
"Apa ayahmu tak suka padaku?"
"Kisahnya panjang sekali, lain kali saja aku jelaskan padamu,"
Kata nona Kiong. Sekarang aku ingin tahu, kenapa kau tinggalkan kota kecil itu?"
"Tak lama sesudah kau pergi, seseorang datang menemuiku di penginapan..."
Kata Kong-sun Po.
"Seorang nona? Siapa dia dan bagaimana rupa nona itu?"
Kata nona Kiong agak curiga. Kong-sun Po memberi penjelasan tentang wajah, tubuh dan gerak-gerik nona itu dengar jelas.Sambil tertawa nona Kiong akhirnya berseru.
"Oh dia! Dia itu Kakak Wan Say Eng, puteri orang tua yang membantu mengusir See-bun Souw Ya tadi!"
Kata nona Kiong.
"Nama ayahnya Wan Ceng Liong, lalu apa saja yang dia katakan padamu?"
"Dia mengatakan sebuah cerita menarik, tetapi aku tidak tahu bolehkah aku mengatakannya padamu?"
Kata Kongsun Po.
"Kenapa tidak, memang di antara kita harus ada yang dirahasiakan? Katakan saja!"
Kata nona Kiong.
"Dia... Dia bilang kau sudah ditunangkan sejak kecil denganku, apa benar begitu?"
Kata Kong-sun Po agak terbatabata.
"Benar, kau tak percaya?"
Kata Kiong Mi Yun menunduk malu.
"Bukan begitu! Tapi kenapa kau tak bilang dari dulu?"
Kata Kong-sun Po.
"Dasar bodoh! Dulu kita baru kenal, mana berani aku bicara terus-terang padamu? Tapi setidaknya aku sudah memberi isyarat padamu. Apa kau lupa?"
Kata nona Kiong.
"Ah, dasar aku ini bodoh,"
Kata Kong-sun Po.
"Pantas dulu kau bertanya apakah aku sudah punya tunangan atau belum? Iya kan?"
Kata Kong-sun Po.
"Waktu itu dengan tegas kaujawab kau belum dijodohkan atau punya tunangan!"
Kata si nona.
"Memang! Karena Ibuku tidak pernah mengatakannya padaku,"
Kata Kong-sun Po. Nona Kiong mengelah napas karena agak penasaran. Saat itu Kong-sun Po ingat bagaimana ayah si nona marah dan akan mencelakakannya. Lalu dia berkata lagi.
"Jika kita sudah ditunangkan sejak kecil, kenapa ayahmu mau membunuhku?"
Kata Kong-sun Po.
"Dari mana kau tahu dia akan membunuhmu?"
Kata si nona heran.
"Dulu ketika kau pergi aku sempat bertemu dengan ayahmu,"
Menjelaskan Kong-sun Po.
"Tapi memang dia tak mengenaliku...."
Kemudian Kong-sun Po mengisahkan pengalaman pertemuannya dengan ayah si nona. Sesudah itu dia berkata perlahan.
"Yang sial Kakak Ci Giok Phang, karena salah menduga dan mengira dia itu aku, maka Kakak Ci dilukainya."
Kata Kong-sun Po.
"Masalah kita memang rumit, nanti kuceritakan padamu,"
Kata nona Kiong.
"Tapi aku jadi mencemaskan sesuatu...."
"Apa tentang hubungan kita?"
Kata Kong-sun Po.
"Benar, darimu aku tahu ibumu tidak menyukai hubungan kita, sedang Ayahku pun melarang aku berhubungan denganmu.."
Kata si nona sedih.
"Bagaimana menurut kau sendiri?"
"Sekalipun nanti Ayah tak mengakuiku sebagai puterinya, jika aku mau, aku mau...."
Tapi Mi Yun tak meneruskan katakatanya. Dia malu sendiri dan menunduk dengan wajah merah.
"Kalau begitu tidak ada masalah,"
Kata Kong-sun Po.
"Asalkan kita sama-sama suka, semua beres. Apa pedulinya dengan mereka?"
Kata Kong-sun Po.
"Apa yang akan kau katakan pada ibumu?"
"Akan kukatakan kau cantik dan baik, sekalipun ayahnya. Ah, sudahlah."
Kata Kong-sun Po.
"Kau benar-benar mencintaiku?"
Kata si nona.
"Apa kau masih sangsi?"
Tanya Kong-sun Po. Tak lama keduanya saling berpegangan tangan dan saling bertatap mesra. Saat itu Kiong Mi Yun ingat pengalamannya, saat dia "jatuh cinta"
Pada Han Pwee Eng yang dia kira seorang pria. Dia jadi malu sendiri dan tersenyum geli.
"Eeh, apa yang kau pikirkan?"
Kata Kong-sun Po.
"Tidak!"
Kata si nona malu-malu.
"Kau sedang mengobati lukamu, pusatkan saja pikiranmu. Dengan demikian kau bisa segera menolong Ang Pang-cu dan kawan-kawannya."
"Tak lama lagi tenagaku akan pulih, tapi yang aku cemaskan keadaan mereka."
Kata Kong-sun Po.
"Sampai aku sehat butuh waktu sepuluh hari!"
"Sepuluh hari pun tak apa yang penting kau tolongi mereka,"
Kata si nona.
"Justru itu yang aku cemaskan, mereka harus ditolong paling lambat tiga hari, mana bisa selewat sepuluh hari lagi?"
Kata Kong-sun Po kelihatan gugup.
"Aku mengerti, kau kan sudah berusaha kalau gagal, masakan mereka akan menyalahkanmu?"
Kata si nona.
"Tapi aku sudah berjanji akan mengobati mereka, jika gagal aku ikut bertanggungjawab,"
Kata Kong-su Po.
"Kalau begitu kita minta bantuan Paman Wan saja!"
Kata si nona.
"Tapi aku jadi heran, kenapa sampai sekarang Paman Wan belum kembali juga?"
Saat mereka sedang bermesraan tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar sambil berkata dengan tegas.
"Hm! Pasti kalian tidak mengira aku akan datang menemui kalian?"
Kata orang itu. Mereka sedang berharap-harap kedatangan Wan Ceng Liong, tapi yang muncul justru Kiong Cauw Bun, ayah nona Kiong. Tentu saja Kiong Mi Yun dan Kong-sun Po kaget bukan kepalang.
"Eeh, Ayah datang! Apa Ayah bertemu dengan Paman Wan?"
Kata si nona.
"Dia sudah pergi, dasar anak bandel. Kau tidak mau mendengarkan nasihat ayahmu. Sesudah kau dilabrak orang kau baru tahu rasa!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Kau benar, Ayah. Tua bangka itu menyusahkan puterimu, kau harus membalaskan sakit hatiku,"
Kata Kiong Mi Yun manja.
"Anak liar macam apa kau ini?"
Kata sang ayah.
Saat tiba di markas Hay-sah-pang jago tua ini langsung menemui Chu Tay Peng.
Tentu Chu Tay Peng tidak berani berbohong lalu menunjukkan kamar anak-muda itu.
Kiong Mi Yun berusaha agar bisa tenang di depan ayahnya.
"Sekarang aku ingin bertanya padamu,"
Kata Kiong Cauw Bun. Hati nona Kiong berdebar-debar.
"Apa yang Ayah ingin ketahui dariku?"
Kata Mi Yun.
"Aku tak apa-apa, tapi dialah yang terluka!"
"Hm! Maksudmu dia siapa?"
Kata sang ayah.
"Apa kau belum mengenalinya, dialah Kong-sun Po!"
Jawab Mi Yun.
"Padahal Paman Kiong pernah bertemu denganku,"
Kata Kong Sun Po.
"cuma waktu itu kita belum saling kenal."
"Tentu aku ingat! Siapa yang bisa lupa pada bocah dungu seper-timu ini!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Ayah, kenapa kau marahi dia?"
Kata Mi Yun. Wajah Kiong Cauw Bun tetap dingin.
"Kong-sun Po, katakan terus terang, apa kau mau menikahi puteriku?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Dulu aku tak tahu masalah perjodohan ini, sesudah tahu, aku bersedia menikahi puterimu,"
Kata Kong-sun Po.
"Kalian sudah saling mencintai setulus hatimu?"
Kata Kiong Cauw Bun.
Kiong Mi Yun yang sedang memegangi tangan kekasihnya memijitnya agar Kong-sun Po menjawab dengan panggilan lain selain paman pada ayahnya.
Kongsun Po yang lugu itu cukup cerdas, dia langsung memberi hormat.
"Ya, Gak-hu (Ayah mertua),"
Kata Kong-sun Po.
"Aku sedang terluka mohon maaf tidak bisa memberi hormat sewajarnya."
"Hm! Panggilan Gak-hu padaku belum saatnya!"
Kata Kiong Cauw Bun ketus.
"Ayah, sebenarnya apa maumu?"
Kata nona Kiong.
"Bukankah kau yang bilang bahwa dia calon suamiku yang ditunangkan sejak kita masih kecil dan Ayah menyetujuinya?"
"Diam kau! Jangan salah paham, aku hanya punya kau satu-satunya. Jika dia ingin jadi menantuku, dia harus tunduk kepadaku!"
"Tunduk sih boleh,"
Pikir Kong-sun Po.
"Tapi dalam soal apa aku harus tunduk padamu?"
"Ayah jangan macam-macam, jika dia tak tunduk padamu, aku yang akan membujuk dia supaya menurut padamu! Benar kan, Kong-sun Toa-ko?"
Kata Mi Yun pada kekasihnya. Kong-sun Po ketika itu hanya bisa mengangguk mengiakan.
"Baik, aku tanya kau,"
Kata Kiong Cauw Bun pada Kong-sun Po.
"Aku dengar kau bergabung dengan Honglay-mo-li, apa benarkah begitu?"
"Benar,"
Kata Kong-sun Po yang tak berani memanggil Gakhu lagi.
"Aah, bagaimana kau ini Ayah? Apa hubungannya perjodohan kami dengan masalah pribadinya?"
Kata Mi Yun.
"Siapa bilang tak ada sangkut-pautnya! Sekarang aku tanya kau Kong-sun Po, tahukah kau bagaimana cara meninggalnya ayahmu?"
"Ketika Ayahku meninggal aku baru berumur satu tahun, jadi mana aku tahu,"
Kata Kong-sun Po.
"Tapi menurut cerita Ibuku, Ayahku meninggal karena keracunan ilmu racun keluarga Suang."
"Salah!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Yang benar ayahmu meninggal dibunuh oleh Hong-lay-mo-li Liu Ceng Yauw!"
Kong-sun Po kaget, sesudah menenangkan diri sejenak dia menjawab.
"Aku tak percaya!"
Kata Kong-sun Po.
"Masakan Ibuku berbohong padaku?"
"Aku tidak bermaksud meremehkan keterangan ibumu,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Sekarang akan kuceritakan kejadian yang sebenarnya padamu. Dulu memang ibumu tak mau dinikahi oleh ayahmu. Tapi akhirnya mau juga. Selama mereka jadi suami isteri mereka tak akur hingga akhirnya bermusuhan! Aku yakin ibumu tidak jujur menceritakan tentang kematian ayahmu!"
"Kakekku juga bilang begitu, masakan Kakekku juga bohong?!"
Kata Kong-sun Po. Karena terdesak akhirnya Kiong Cauw Bun bicara lagi.
"Memang benar ayahmu meninggal karena ilmu racun,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Tapi jika tidak dimusuhi oleh Liu Ceng Yauw hingga dia terpaksa harus kabur, aku kira tidak akan meninggal seperti itu! Maka secara tidak langsung dia mati oleh Hong-lay-mo-li. Tapi kau bukan menuntut balas kematian ayahmu, malah bergabung dengan Hong-lai-mo-li pembunuh ayahmu!"
"Ibu memberi nama padaku bekas orang jahat atau Gi Ok,"
Kata Kong-sun Po.
"Waktu itu kata Ibuku, Ayahku orang jahat. Maka itu Ibu berharap sesudah dewasa, aku tidak meniru kelakuan Ayahku!"
Mendengar ucapan Kong-sun Po itu, Kiong Cauw Bun jadi gusar bukan main.
"Jadi kau hanya mau berbakti pada ibumu dan tak mau membalaskan sakit hati ayahmu?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Harap jangan salah paham, jasa Ayah dan Ibu sama besarnya dan harus dibalas. Tetapi antara baik dan jahatpun harus dibedakan!"
Jawab Kong-sun Po kurang senang.
"Untuk apa Ayah ikut campur urusan keluarganya?"
Kata nona Kiong.
"Mi Yun, apa kau sudah lupa, aku dan ayahnya bersahabat baik. Bukankah sudah Icukatakan bahwa Honglay-mo-li itu musuh besarku. Jika dia lebih memihak pada Hong-lay-mo-li, kau kira aku bisa mengizinkan dia menikahimu, malah aku harus membu..."
Bersamaan dengan ucapannya itu, tangan Kiong Cauw Bun terangkat siap menyerang.
"Jika kau anggap aku salah, silakan bunuh aku!"
Kata Kong-sun Po.
"Hm! Apa kau kira aku tak berani membunuhmu?"
Kata Kiong Cauw Bun. Ketika dia mengayunkan tangannya, buru-buru Kiong Mi Yun menubruk pemuda itu untuk melindungi dari hajaran ayahnya. Dia menghadang di depan ayahnya yang tak jadi memukul.
"Kong-sun Toa-ko tutup mulutmu. Ayah, dengar dulu katakataku. .."
Kata Kiong Mi Yun.
"Apa yang mau kau katakan?"
Kata sang ayah. 'Jika Ayah akan membunuh dia, bunuh dulu aku!"
Kata nona Kiong.
"Bagus! Bagus sekali! Ibarat burung sekarang kau sudah tumbuh sayap. Jadi kau berani melawan ayahmu,"
Kata Cauw Bun.
"Aku mau mengikuti saran Ayah dan merawat Ayah, tapi izinkan aku jadi isterinya! Dengan demikian kau tak kehilangan anakmu malah kau mendapat menantu dia."
Kata Mi Yun.
"Jika dia tidak menganggapku musuh saja sudah bagus, mana berani aku minta dia jadi menantuku!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Sifat Kong-sun Toa-ko memang keras kepala, tapi jika Ayah baik padanya dia juga akan baik pada Ayah!"
Kata nona Kiong. Lalu dia kedipi kekasihnya agar tak ikut bicara.
"Baiklah, karena permintaanmu, maka aku kabulkan. Tapi dia harus pegang janji!"
Kata Kiong Cauw Bun. Kong-sun Po diam tak menyahut. Sedang Mi Yun berkata.
"Ayah mau agar dia berjanji apa?"
Katanya.
"Aku minta kalian ikut aku pulang ke Hek-hong-to sekarang juga!"
Kata sang ayah.
"Dia harus tinggal di sana selama tiga tahun. Akan kulatih dia agar tidak keras kepala lagi!"
Sebenarnya Kiong Cauw Bun hanya pura-pura ingin membunuh calon suami puterinya.
Sebenarnya tujuannya ingin mendapatkan ilmu racun dari calon menantunya ini.
Jika berhasil maka dia tidak akan mendapat lawan yang lebih tangguh dari dirinya.
"Kong-sun Toa-ko, maukah kau berjanji padanya?"
Kata si nona. Tapi kelihatan anak muda itu bingung. Kiong Mi Yun tahu kekasihnya keberatan, lalu menghadap pada ayahnya.
"Tiga tahun terlalu lama Ayah, bagaimana kalau kau ubah waktunya?"
Kata nona Kiong.
"Berapa tahun?"
Kata sang ayah.
"Barangkali kalau setahun dia tidak keberatan!"
Kata nona Kiong.
"Aah, kau tawar-menawar segala memang ini pasar?"
Kata sang ayah. Lama dia berpikir. Rasanya setahun pun untuk mempelajari ilmu racun dari akhli warisnya sudah memadai. Akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah, aku penuhi permintaanmu!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Baik, aku mau dengan perjanjian begitu,"
Kata Kongsun Po.
"Tapi Paman juga harus berjanji!"
"Pakai nawar segala, apa maumu? Ah aku tahu, kau ingin aku mengobatimu?"
Kong-sun Po menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu!"
Kata dia.
"Lalu apa maumu?"
Kata Kiong Cauw Bun yang sudah tak sabar dan heran.
"Karena sudah berjanji pada orang-orang Hay-sah-pang aku akan mengobati mereka, aku minta waktu agar Paman bersabar menunggu sekitar sepuluh hari, baru berangkat!"
Kata Kong-sun Po.
"Menunggu selama sepuluh hari terlalu lama,"
Kata Kiong Cauw Bun tak sabar.
"Bagaimana jika aku saja yang mengobati mereka?"
"Jadi kau mau mengobati mereka, Ayah?"
Kata Mi Yun.
"Ilmu Hua-hiat-to hampir mirip dengan Cit-sat-ciang-ku, jadi rasanya aku bisa mengobati mereka!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Baiklah kalau begitu,"
Kata Kong-sun Po.
"Akan kuberi Paman petunjuk mengobati serangan Hua-hiat-to itu!"
"Silakan, mungkin itu lebih baik,"
Kata Kiong Cauw Bun.
Sebenarnya mendengar ucapan calon menantunya itu dia girang bukan main, pucuk dicinta ulam tiba, pikirnya.
Tapi sengaja dia tidak menunjukkan kegembiraannya di depan kedua anak muda itu.
-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-BAB 57 Kiong Cauw Bun Dikalahkan Oleh Tam Yu Cong; Kong-sun Po Mendapat Undangan Dari Han Hie Sun Sesudah mendapat berbagai petunjuk dari Kong-sun Po dan bagaimana mengobati orang yang terkena Hua-hiat-to, bukan main girangnya Kiong Cauw Bun.
Pada saat memberikan petunjuk terpaksa sang calon menantu menerangkan inti ilmu Hua-hiat-to itu pada sang calon mertua.
Maka secara tidak langsung Kiong Cauw Bun mendapat inti ilmu Hua-hiat-to yang dia idam-idamkan itu.
Sesudah dirasa cukup paham, Kiong Cauw Bun pergi akan mengobati orang-orang Hay-sah-pang yang terkena racun itu.
Tak lama dia sudah kembali lagi menemui kedua anak muda itu.
Saat kembali itulah dia mengajak orang-orang yang telah dia obati.
Bukan main kagetnya Kong-sun Po, dalam waktu singkat sang calon mertua mampu mengobati orang-orang Hay-sah-pang yang terluka itu.
Orang-orang itu memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih pada Kong-sun Po.
"Eeh, kenapa kau berterima kasih padaku? Yang mengobati kalian adalah Kiong Lo-cian-pwee, bukan aku!"
Kata Kong-sun Po kaget.
"Kami harus mengucapkan terima kasih padamu, karena Kiong Cian-pwee bilang, kaulah yang memohon pada beliau agar beliau mengobati kami!"
Kata Ang Kin. Chu Tay Peng ikut bicara.
"Kiong To-cu, terima kasih kau mau datang. Apa tidak sebaiknya kau tinggal beberapa hari di tempat kami?"
Kata Chu Tay Peng dengan ramah.
"Siapa kesudian tinggal di tempatmu!"
Kata Kiong Cauw Bun ketus.
"Kong-sun Po, Mi Yun, ayo kita pergi!"
Tangan kanan meraih tangan Kong-sun Po tangan yang lain menuntun puterinya.
Dengan setengah diseret Kongsun Po terpaksa mengikutinya.
Diperlakukan demikian di depan orang banyak, tentu saja Korig-sun Po jadi merasa tak enak hati.
"Paman, aku sudah janji akan ikut, maka itu aku tidak akan ingkar janji. Tolong Paman jangan menyeretku karena aku bisa berjalan sendiri,"
Kata Kong-sun Po memohon.
"Baik, tapi ingat jangan coba-coba berbuat macammacam,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Ayo, ikuti kami!"
Saat itu tiba-tiba terdengar suara seruling yang berkumandang dari jarak jauh.
Di telinga Kong-sun Po suara seruling itu jelas sekali, sedang Mi Yun tidak mendengarnya.
Saat itu Kong-sun Po langsung tahu, itu suara seruling Bu-limthian-kiauw Tam Yu Cong.
Maka itu Kong-sun Po pun berteriak keras.
"Paman Tam, aku ada...."
Belum selesai teriakan Kong-sun Po.
Suara Kong-sun Po terhenti karena dia langsung ditotok oleh Kiong Cauw Bun yang tak ingin pemuda itu memberitahu tempat mereka berada.
Melihat sikap ayahnya itu Kiong Mi Yun yang ada di sampingnya langsung menarik tangan ayahnya.
Dengan demikian totokan sang ayah tidak tepat benar mengenai kekasihnya.
"Ayah kenapa kau berbuat begitu?"
Kata nona Kiong. Untung dalam kagetnya Kong-sun Po masih sempat melompat.
"Jangan mengeluarkan suara apa-apa!"
Ancam Kiong Cauw Bun dengan bengis.
"Paman jangan kuatir, aku akan memegang janjiku, suara seruling itu milik Paman Tam yang datang ingin menemuiku!"
Kata Kong-sun Po.
"Tidak bisa!"
Ancam Kiong Cauw Bun yang akan segera menarik tangan anak muda itu. Adat Kong-sun Po agak pemarah. Dia tidak mau diperlakukan seperti anak kecil.
"Paman, jika kau main paksa, aku akan menolak ikut denganmu!"
Kata Kong-sun Po tegas.
Untuk menghadapi segala kemungkinan dia membuka payung besinya, karena kuatir Kiong Cauw Bun menyerangnya.
Ketika mereka sedang adu mulut Tam Yu Cong sudah muncul di antara mereka.
"Ooh! Rupanya si Iblis Tua, jadi kau ada di sini? Beraninya kau membuat susah keponakanku!"
Kata Tam Yu Cong.
"Hm! Siapa bilang aku menyusahkan keponakanmu?"
Bentak Kiong Cauw Bun.
"Paman Tam, kau jangan salah mengerti pada Paman Kiong. Akulah yang suka ikut dengan beliau!"
Kata Kongsun Po.
"Jadi kau yang bersedia ikut dengannya? Kau mau ke mana?"
Kata Tam Yu Cong.
"Ke Hek-hong-to memenuhi janjiku dan akan tinggal di sana selama satu tahun,"
Kata Kong-sun Po.
"Kenapa begitu?"
Desak Tam Yu Cong. Kiong Cauw Bun tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau belum tahu, dia kan calon menantuku!"
Kata Kiong Cauw Bun. Tam Yu Cong sudah menduga mungkin karena Kongsun Po telah jatuh cinta pada anak gadis Kiong Cauw Bun, dia jadi lupa pada tugasnya. Maka itu Tam Yu Cong langsung menegurnya.
"Kong-sun Po, sekalipun kau mau ikut dengan calon "Bukan Paman, bukan untuk menikah. Aku ke sana hanya untuk menepati janjiku!"
Kata Kong-sun Po.
"Kenapa kau berjanji begitu padanya?"
Kata Tam Yu Cong. Mendengar tanya-jawab itu Kiong Cauw Bun kesal juga. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kong-sun Po, kau boleh mengatakannya terus terang padanya,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Dengan demikian dia tidak menuduhku main paksa!"
Kong-sun Po lalu menceritakan apa yang telah terjadi. Tam Yu Cong agak curiga saat mendengar calon mertua Kong-sun Po bisa mengobati orang terkena jurus Hua-hiatto.
"Eeh, sejak kapan kau bisa mengobati serangan Hua-hiatto?"
Kata Tam Yu Cong pada Kiong Cauw Bun. Saat itu Kiong Cauw Bun sadar, Tam Yu Cong tidak bisa dibohongi. Maka sambil mendengus dia menjawab.
"Tam Yu Cong, kau jangan terlalu memandang ringan pada orang lain!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Sekalipun aku tidak bisa, masakan menantuku tak bisa?"
"Kong-sun Po, jadi kau telah mengajari cara mengobatinya?"
Kata Tam Yu Cong.
"Benar, Paman Tam,"
Jawab Kong-sun Po dengan jujur. Sambil menggelengkan kepalanya Tam Yu Cong berkata lagi.
"Perbuatan itu tidak benar!"
Kata Tam Yu Cong.
"Apanya yang tidak benar?"
Kata Cauw Bun kurang senang.
"Dengar baik-baik,"
Kata Tam Yu Cong.
"Dia bisa mengobati luka terkena Hua-hiat-to karena sejak kecil dia sudah tersiksa oleh ilmu itu. Untung Beng Beng Tay-su mengajari dia lweekang hingga lukanya sembuh. Jika tidak karena Beng Beng Tay-su, sekalipun ayahnya hidup kembali dia tidak akan mampu menyembuhkannya! Apalagi kau yang hanya tahu lwee-kang kaum Shia-pay (golongan sesat). Sekalipun kau sudah diberitahu caranya dan aku yakin kau tidak akan berhasil menyembuhkannya, sekalipun selama setahun kau mempelajarinya. Mana bisa kau menyembuhkan mereka dalam waktu sesingkat itu?"
"Tapi jika buktinya sudah terjadi, apa yang hendak kau katakan?"
Bentak Kiong Cauw Bun.
"Jika kau tidak percaya padaku, silakan kau temui orang Hay-sah-pang yang telah kusembuhkan itu! Sudah aku tak punya waktu lagi untuk bicara denganmu!"
Dia sudah akan menarik tangan Kong-sun Po dan puterinya hendak langsung pergi.
"Tunggu dulu!"
Kata Tam Yu Cong.
"Eeh, apa maumu sih?"
Kata Kiong Cauw Bun gemas sekali.
"Dia dengan rela mau ikut denganku, lalu apa urusannya denganmu?"
"Maaf, bukan itu masalahnya,"
Kata Tam Yu Cong.
"Aku dengar kau sudah mahir ilmu Cit-sat-ciang, kedatanganku ini justru ingin menjajal ilmu itu!"
"Hm! Rupanya kau sengaja ingin mencari masalah denganku. Dengar baik-baik, aku bukan takut padamu! Tapi sekarang aku tak punya waktu meladenimu!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Mengapa kau harus terburu-buru?"
Kata Tam Yu Cong.
"Di kalangan Kang-ouw saling menjajal ilmu itu soal biasa. Mari kabulkan permintaanku, beberapa jurus pun tak apa!"
Karena sulit untuk menghindar tantangan itu, Kiong Cauw Bu terpaksa menjawab.."Jika kita hanya saling menjajal, baiklah. Tapi tidak boleh saling melukai!"
Kata Kiong Cauw Bun menegaskan. Dari pembicaraan antara Kiong Cauw Bun dengan Tam Yu Cong ada bagian yang membuat Kong-sun Po curiga dan sangsi.
"Mengapa Paman Kiong ingin buru-buru pergi mengajakku ke pulaunya?"
Pikir Kong-sun Po.
"Jelas katakata Paman Kiong karena dia takut Paman Tam menghalangi kepergianku!"
Sesudah saling memberi hormat Kiong Cauw Bun langsung menyerang. Tam Yu Cong menangkis serangan pertama lawan.
"Bagus, seranganmu boleh juga!"
Kata Tam Yu Cong.
Ketika Tam Yu Cong bergerak menggunakan seruling besinya, tak lama bayangan seruling bergerak ke berbagai arah, sasarannya jalan darah di tubuh Kiong Cauw Bun.Karena Tam Yu Cong tahu Kiong Cauw Bun lihay, dia langsung mengurung lawannya dengan serangan hebatnya.
Tapi dia juga sudah berencana, jika dia kalah dia akan segera meninggalkan lawannya itu.
Baik Kong-sun Po maupun Mi Yun yang menyaksikan pertarungan tingkat tinggi itu jadi terpesona.
Dalam serangannya Tam Yu Cong sering memakai jurus yang berubah-ubah.
Sedang serangan Kiong Cauw Bun terlihat monoton, hanya dengan tujuh jurus sesuai namanya Cit-satciang.
Selang beberapa saat sudah terlihat kewalahan menghadapi serangan Tam Yu Cong yang lihay.
Kong-sun Po kagum bukan main.
Dalam benak Kiong Cauw Bun pun sudah direncanakan, jika kalah oleh Tam Yu Cong dia akan mengaku kalah saja.
Dia tidak menduga serangan Tam Yu Cong yang begitu gencar bagaikan badai saja, hingga untuk bicara saja Kiong Cauw Bun kewalahan.
Dari setiap serangan Tam Yu Cong jelas, dia bukan hanya ingin menguji, tapi ingin merobohkan lawannya.
Pertarungan hebat itu berlangsung sampai cuaca mulai remang-remang.
Melihat lawan mulai terdesak Tam Yu Cong tertawa.
"Saudara Kiong, bolehkah aku meniup sebuah lagu untukmu?"
Kata Tam Yu Cong.
Tanpa mendapat jawaban lagi, Tam Yu Cong sudah mulai meniup serulingnya.
Dalam sekejap seolah datang gelombang hawa dingin menyerang ke arah Kiong Cauw Bun.
Kiong Cauw Bun terperanjat, buru-buru dia gigit lidahnya agar tidak terbuai oleh suara seruling lawan.
Kiong Cauw Bun sadar jika dia gunakan Cit-sat-ciangnya, maka ilmu itu akan punah oleh seruling pusaka yang bernama "Loan-giok-siauw-ling".
Menyaksikan ayahnya mulai terdesak Kiong Mi Yun cemas bukan main.
Dia minta pada Kong-sun Po agar anak 1593 muda itu memohonkan ampun bagi ayahnya.
Kong-sun Po menghibur kekasihnya.
"Jangan takut, Paman Tam tak akan mencelakai ayahmu,"
Bisik Kong-sun Po.
Saat sedang kritis terdengar suara derap kaki kuda mendatangi.
Sesudah dekat penunggangnya adalah Chu Tay Peng yang wajahnya kelihatan cemas bukan main.
Dari jauh Chu Tay Peng sudah berteriak-teriak.
"Celaka! Celaka!"
Katanya.
"Hai, Chu Hiang-cu apa yang terjadi?"
Kata Kong-sun Po kaget melihat Chu Tay Peng demikian panik.
"Beberapa kawan yang terluka itu penyakitnya kambuh lagi!"
Kata Chu Tay Peng.
"Mngapa bisa begitu?"
Kata Kong-sun Po.
"Mereka hanya sembuh sebentar saja, tidak lama kambuh lagi. Semuanya langsung pingsan,"
Kata Chu Tay Peng.
"Aku mohon kau mau kembali sebentar untuk memeriksa luka mereka!"
Kong-sun Po segera insaf apa yang dikatakan Tam Yu Cong tadi, bahwa Kiong Cauw Bun tidak mungkin bisa mengobati luka itu dalam sekejap.
Maka itu dengan sengaja Tam Yu Cong menantang Kiong Cauw Bun, ternyata itu hanya untuk mengulur waktu sampai ada orang yang menyusul mereka.
Tiba-tiba Tam Yu Cong tertawa terbahak-bahak, dan pertarunganpun terhenti.
"Saudara Kiong, sekarang jelas bahwa ucapanku benar, bukan?"
Kata Tam Yu Cong.
"Mari pertarungan itu kita sudahi saja!"
Dengan napas memburu Kiong Cauw Bun menjawab.
"Benar, ternyata kau lihay. Aku kagum padamu, aku pamit akan segera pergi!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Silakan! Jika Kong-sun Po bersedia ikut denganmu, mana berani aku mencegahnya! Silakan pergi!"
Kata Tam Yu Cong. Kong-sun Po diam saja tidak bergerak.
"Kong-sun Po, mari kita berangkat!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Maaf Kiong To-cu, orang yang kau obati sekarang kambuh lagi. Maka itu aku mohon kau dan Kong-sun Siauw-hiap jangan pergi dulu!"
Kata Chu Tay Peng. Bukan main gusarnya Kiong Cauw Bun. Rasanya dia ingin dengan sekali hajar Chu Tay Peng hingga binasa. Dia tak melakukannya karena Tam Yu Cong masih ada di situ.
"Chu Tay Peng, jika kau mengundang Kiong To-cu kau salah alamat. Karena orang yang bisa mengobati kawankawanmu hanya Kong-sun Po!"
Kata Tam Yu Cong.
"Harap Kong-sun Siauw-hiap menolong kami,"
Kata Chu Tay Peng sambil menarik lengan baju Kong-sun Po.
"Ayo kita pergi Kong-sun Po!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Maaf Paman Kiong, aku tidak bisa pergi denganmu sekarang,"
Kata Kong-sun Po.
"Apa kau bilang?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Harap Paman Kiong jangan salah mengerti, tadi kau bilang sesudah kau mengobati mereka, baru aku ikut denganmu ke Hek-hong-to! Mereka dalam bahaya, mana boleh aku pergi begitu saja!"
Karena sudah tak punya alasan lagi untuk memaksa anak muda itu ikut, Kiong Cauw Bun membalikkan tubuh dia menarik tangan Kiong Mi Yun dan langsung pergi. Saat itu Kiong Mi Yun kaget.
"Ayah, tunggu dulu!"
Kata Mi Yun. Tapi sang ayah membentaknya.
"Kau anak perempuanku satu-satunya, apa kau juga akan melawan tak mau ikut pulang denganku?"
Bentak Kiong Cauw Bun.
Selama ini Kong Mi Yun belum pernah melihat ayahnya begitu gusar, maka itu dia tidak beran membantah ajakan ayahnya lagi.
Maka itu dengan terpaksa dia ikut saja.
Saat itu Kong-sun Po hanya mengawasi kepergian mereka sampai mereka berjalan jauh.
"Ayo, nak! Kita harus segera ke markas Hay-sah-pang, di sana menunggu orang-orang yang harus kau obati!"
Kata Tam Yu Cong.
"Sayang aku sendiri sedang terluka,"
Kata Kong-sun Po.
"Itu sudah kuketahui,"
Kata Tam Yu Cong.
"Tapi jangan cemas, aku mampu mengobatimu!"
Mereka segera menuju ke tempat Hay-sah-pang.
Begitu tiba Tam Yu Cong mengobati Kong-sun Po dulu.
Sesudah Kong-sun Po sembuh dalam tiga hari dia sudah bisa menyembuhkan semua anggota Hay-sah-pang yang terluka.
Mereka girang bahkan berjanji, sewaktu-waktu jika tenaga mereka diperlukan mereka bersedia membantu.
"Kebetulan, kedatanganku memang atas perintah Liu Bengcu untuk mengajak kalian bergabung,"
Kata Tam Yu Cong.
"Sekarang karena kita sedang menghadapi serangan musuh, kita wajib bersatu!"
"Ang Kin, sebagai bangsa Han kita harus bersatu mengusir penjajah. Kami dari lima kelompok siap berjuang!"
Sesudah itu mereka mengikrarkan janji mereka, tiap orang mengiris jari mereka dan meneteskan darahnya ke dalam tempat arak.
Kemudian mereka bersama-sama meminumnya sebagai tanda persaudaraan.
Esok harinya Kong-sun Po dan Tam Yu Cong pamit meninggalkan daerah kekuasaan Hay-sah-pang.
Saat berjalan Tam Yu Cong berkata pada Kong-sun Po.
"Aku akan langsung kembali ke Kim-kee-leng.Apa kau masih akan mengurus masalah lain, jika tidak sebaiknya kau ke Hang-ciu!"
Kata Tam Yu Cong.
"Mengapa harus ke sana?"
Kata Kong-sun Po.
"Di Kang-lam tinggal Bu-lim-beng-cu Bun Yat Hoan, aku dengar gurumu juga ada di sana. Kau bisa menemui mereka!"
Kata Yu Cong.
"Baik, aku dengar Suhu menjadi panglima perang dan bertugas di lembah Tiang-kang. Padahal keadaan sedang gawat, tapi kenapa Suhu meninggalkan daerah Tiang-kang dan datang ke Hang-ciu?"
Kata Kong-sun Po.
"Aku dengar karena Perdana Menteri Han To Yu memanggil gurumu agar kembali ke Selatan,"
Kata Tam Yu Cong.
"Pada saat segenting ini, mungkin Han To Yu ingin mendengar pendapat gurumu!"
"Aku dengar Ibu-kota Kerajaan Song dipindahkan ke selatan dan menunjuk kota Hang-ciu sebagai Ibu-kota dengan berganti nama Lim-an, aku rasa kota raja ini pun jadi kurang aman,"
Kata Kong-sun Po dengan perasaan kurang mengerti..
"Kerajaan Song sepertinya sudah kalah, namun rakyat yang patriotik tetap berjuang melawan penjajah,"
Kata Tam Yu Cong.
"Itu sebabnya kau perlu menemui Bun Yat Hoan, agar beliau mengerahkan para patriot negara untukmelawan kaum penjajah. Saat kau di Kang-lam dulu, apakah kau bertemu dengan Bun Yat Hoan?"
"Delapan tahun lamanya aku ikut Suhu, tapi belum pernah bertemu dengan beliau,"
Kata Kong-sun Po.
"Dengan muridnya malah aku sudah bertemu."
"Apa yang kau maksud itu, Seng Liong Sen? Aku dengar dia telah menikah dengan Ci Giok Hian, bukan?"
Kata Tam Yu Cong.
"Saat bertemu dengan dia dan isterinya, aku juga bertemu dengan Kok Siauw Hong,"
Kata Kong-sun Po.
"Di mana Kok Siauw Hong sekarang?"
Tanya Tam Yu Cong.
"Semula dia ada di Thay-ouw, kemudian bergi ke Ouwlam bersama Beng Cit Nio. Sesudah itu aku tidak tahu lagi ke mana dia?"
Kata Kong-sun Po.
"Beng Cit Nio orangnya baik, hanya adatnya saja yang aneh."
Kata Tam Yu Cong.
"Aah, aku hampir lupa sekarang Han Pweee Eng ada di Kang-lam. Jika kau ke Kang-lam aku rasa kau akan bertemu dengannya. Dia tak sabar menunggu kabar dari Kok Siauw Hong, lalu menyusul akan mencari ayahnya."
Sesudah puas berbincang-bincang akhirnya mereka berpisah, Tam Yu Cong kembali ke Kim-kee-leng atau Bukit Ayam Jago Emas, sedangkan Kong-sun Po melanjutkan perjalanan ke Hang-ciu.
Setelah dikalahkan oleh Bu-lim-thian-kiauw Tam Yu Cong, Kiong Cauw Bun bersama Kiong Mi Yun pergi 1598 meninggalkan Kong-sun Po yang hendak mengobati orang Hay-sah-pang.
Di tengah jalan Kiong Cauw Bun mendengar ada orang menegurnya.
"Dunia benar-benar sempit, ke manapun kita pergi bisa bertemu lagi,"
Kata orang itu.
"Tidak terduga Kiong To-cu bertemu lagi!"
Ketika Kiong Cauw Bun menoleh, orang itu hwee-shio yang pernah bertemu dengannya di tengah hutan, dia Kok-su Mongol.
"Ah, kiranya Anda Hoat-ong, kok Anda kembali lagi ke sini?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Aku rasa nona ini puterimu, kan?"
Kata Liong Siang Hoatong.
"Aku kembali untuk menemuimu, Kiong Si-cu!"
"Apa maksud Anda mencariku?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Kuucapkan selamat, kau sudah bertemu dengan puterimu,"
Kata Kok-su Mongol itu.
"Tapi ke mana calon menantumu?"
Kiong Cauw Bun heran, bagaimana hwee-shio ini bisa tahu masalahnya. Wajah nona Kiong pun memerah karena malu.
"Oh, yang Anda maksud Kong-sun Po? Memang sejak kecil mereka sudah dijodohkan. Tetapi sekarang sudah putus hubungan karena perjodohannya dibatalkan!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Mungkin sudah takdir, nasib manusia memang begitu. Ada suka ada juga duka, tapi biasanya sesudah duka bisa saja jadi bahagia!"
Kata Kok-su itu.
"Ucapan Anda sungguh dalam artinya, aku mohon kaujelaskan,"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Sekalipun baru berkenalan, kita seolah sahabat lama,"
Kata Kok-su Mongol.
"Baik kita bicara terus terang, aku kira Tam Yu Cong dan bocah itu ada di markas Hay-sah-pang. Dia tertahan di sana!"
"Aku kira begitu!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Kalau begitu Anda batal mendapatkan ilmu keluarga Suang, bukan begitu Kiong To-cu?"
Kata Liong Siang Hoatong. Bukan main kagetnya Kiong Cauw Bun, ternyata Hak-su Mongol itu bisa menerka seluruh isi hatinya. Dengan tersipusipu dia menjawab.
"Aku punya ilmu dari perguruanku, ilmu milik orang lain mengapa kuinginkan?"
Kata Kiong Cauw Bun. Pendeta itu tersenyum penuh arti.
"Setahuku permusuhan Anda dengan See-bun Souw Ya, gara-gara kitab itu, bukan? Terus-terang aku ingin membantumu agar cita-citamu itu terkabul. Sekarang mari ikut denganku!"
"Apa maksud Anda sebenarnya?"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Masih tetap soal lama,"
Kata Hak-su Mongol itu.
"Aku harap kau mau memenuhi undangan Khan Agung kami di Holin. Aku pun sudah minta agar See-bun Souw Ya mau menyerahkan kitab racun itu kepadamu. Malah jika kau mau, kau bisa jadi Bu-lim Beng-cu se-Tiong-goan!"
"Mengenai masalah itu..."
Tapi ucapan Kiong Cauw Bun langsung dipotong oleh puterinya.
"Tidak! Mana boleh kau ke Mongolia?"
Kata Mi Yun.
"Jangan dikira Mongol itu daerah tandus seperti dugaan bangsa Han. Kota Ho-lin itu daerah makmur. Jika kalian datang, maka kalian akan disambut sebagai tamu agung 1600 kami,"
Kata Hak-su Mongol itu.
"Nona kau pasti senang berburu, bukan? Di Mongol banyak binatang yang tak ada di Tiong-goan. Apa kau mau Kiong To-cu?"
Kelihatan ayah Kiong Mi Yun ragu-ragu.
"Terima kasih atas undanganmu, untuk menjadi Bu-limbeng-cu, aku bukan orangnya yang tepat!"
Kata Kiong Cauw Bun.
"Aku tahu isi hatimu! Kau bukan tidak mau tapi kau takut karena aku mendukungmu, begitu kan? Baik, jika kau mau aku tidak akan membuka rahasia ini!"
Kata Kok-su Mongol.
"Jika ingin orang lain tidak tahu, kuncinya jangan lakukan pekerjaan itu!"
Kata Kiong Mi Yun.
"Huss! Orang tua sedang bicara kau jangan ikut campur!"
Bentak Kiong Cauw Bun.
"Baiklah, masalah ini lain kali saja kita bicarakan lagi!"
"Baiklah, sekarang kalian ikut aku ke Mongol, di sana kita bicarakan lagi soal ini,"
Kata si Hak-su Mongol.
"Soal jadi Beng-cu terserah padamu. Tapi untuk masalah Kitab Racun keluarga Suang, aku berjanji akan menyuruh See-bun Souw Ya agar dia memberikannya padamu! Selain itu kau juga bebas jika akan kembali ke sini. Sebab aku cuma ingin bersahabat saja dengan kalian!"
Karena iming-iming kitab racun mau tak mau hati Kiong Cauw Bun tergerak juga. Akhirnya dia berkata.
"Baiklah, aku ikut dengan Anda, Hoat-ong!"
"Jadi Ayah mau ke sana?"
Kata Mi Yun.
"Benar, kau juga harus ikut. Jika tidak kau akan membuat kekacauan lagi kau tidak ikut bersamaku!"
Kata sang ayah.
Ucapan sang ayah pasti hingga Kiong Mi Yun tak bisa membantah.
Terpaksa dia ikut ke Mongol.
Tak lama maka berangkatlah Kiong Cauw Bun bersama puterinya ikut Hak-su itu ke Mongol.
Dalam perjalanan Kiong Mi Yun ingat pada kekasihnya.
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-Saat itu Kong-sun Po yang sedang melakukan perjalanan seorang diri ke Hang-ciu, telah menyeberangi sungai Honghoo.
Dia merasakan di sepanjang jalan itu sunyi tanpa Kiong Mi Yun di sampingnya.
Tak lama Kong-sun Po sudah mulai memasuki kota Hangciu atau Lim-an.
Perjalanan sebulan yang makan waktu cukup lama, membuat Kong-sun Po lelah dan bosan.
Setiba di Hangciu dia menuju ke selatan See-ouw, telaga yang sangat terkenal itu.
Dia lalu menyusuri sepanjang tepi danau sambil menikmati pemandangan yang indah.
"Aah, alangkah bahagianya jika aku bersama Mi Yun,"
Begitu anak muda ini melamun.
Saat Kong-sun Po berjalan sambil melamun, tiba-tiba sebuah perahu yang laju meluncur ke arahnya.
Tak lama perahu itu sudah ada di depan Kong-sun Po.
Di atas perahu kelihatan seorang pemuda diiring dua pengawalnya melangkah turun dari atas perahu itu.
"Hai, dunia ini ibarat hanya seluas daun kelor, ternyata kita bertemu lagi di sini,"
Kata si pemuda.
"Pasti kau masih mengenaliku, kan?"
Kong-sun Po mengenali pemuda itu Han Hie Sun, putera perdana menteri.
Setengah tahun yang lalu keduanya pernah bertarung, karena pemuda itu menggoda Wan Say Eng.
Ketika itu Han Hie Sun ditotok oleh Kong-sun Po yang lihay.
Pertemuan lainnya saat Kong-sun Po dan Kok 1602 Siauw Hong mencari Seng Liong Sen dan Ci Giok Hian yang ditahan oleh murid pemuda ini.
Tapi kembali Han Hie Sun dikalahkan oleh Kok Siauw Hong.
Sekarang mereka tiba-tiba bertemu di tempat itu.
Guru Kong-sun Po bawahan ayah pemuda itu.
Saat pemuda itu menyapanya dengan ramah, Kong-sun Po pun bersikap ramah pula.
"Mau tak mau kau harus singgah di rumahku, bukankah gurumu kepercayaan Ayahku?"
Kata Han Hie Sun.
"Ya, apa Guruku ada di tempatmu, Han Kong-cu?"
Kata Kong-sun Po.
"Kemarin gurumu pun membicarakanmu,"
Kata Han Hie Sun.
"Bagaimana keadaan Guruku, apakah dia sehat-sehat saja?"
"Beliau sehat, aku kagum pada ayahmu. Bukan saja dia seorang panglima yang cakap, tapi dia juga seorang pendekar terkenal di Kang-lam. Tapi sayang besok beliau sudah harus berangkat lagi. Maka itu walau kau siibuk bagaimanapun sebaiknya kau temui dulu beliau."
Kata Han Hie Sun.
Saat itu dalam hati Kong-sun Po sudah bertekat akan minta bantuan Bun Yat Hoan untuk mempertemukan dia dengan gurunya saat dia berada di Hang-ciu.
Jadi ketika mendengar tawaran Han Hie Sun tentu saja dia pikir sangat kebetulan baginya.
Tapi hatinya agak cemas juga.
Han Hie Sun yang tak hentinya mengipasi dirinya berkata lagi.
"Kong-sun Siauw-hiap, aku undang kau karena gurumu pun sedang ada di rumahku, kau mau kan? Apakah kau masih ingat peristiwa yang lalu-lalu, maka kau tidak bersedia kuundang?"
"Mana berani aku mengingat kejadian dulu, sedang Kongcu sendiri tidak,"
Kata Kong-sun Po.
"Aku tahu orang Kang-ouw berjiwa besar, walau kita berselisih pendapat, aku kira kau pun sudah melupakannya. Mari sekarang singgah di rumahku."
Kata Han Hie Sun.
Kong-sun Po sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan gurunya, dia langsung mengangguk.
Han Hie Sun senang lalu minta agar Kong-sun Po naik ke perahunya yang langsung dikayuh.
Mereka menuju ke sebuah lereng bukit.
Di sana terletak gedung milik Han To Yu.
Begitu perahunya menepi, Kong-sun Po lihat gedung itu merah sekali.
Segera Kong-sun Po diajak masuk ke dalam gedung dan disilakan duduk.
"Jangan see-ji (segan) Kong-sun Siauw-hiap, minum dulu, aku sudah memerintahkan orangku mengundang gurumu,"
Kata Hie Sun. Sesudah Kong-sun Po duduk tak lama pegawai Han Hie Sun menghadap. Orang itu melaporkan bahwa guru Kongsun Po dan perdana menteri belum pulang mereka sedang menghadap pada kaisar.
"Sayang sekali,"
Kata Han Hie Sun seolah menyesal.
"Karena keadaannya sedang gawat disebabkan akan datangnya serangan bangsa Mongol ke selata, aku rasa ayah dan gurumu baru akan pulang malam nanti. Maka untuk mengisi waktu luang, bagaimanakalau kita temui kawankawan dari kaum Kang-ouw?"
Kong-sun Po tidak bisa menolak ajakan itu, dia pikir siapa tahu dia akan bertemu dengan orang she Pek.
Maka itu dia setuju pada tawaran Han Hie Sun.
Ketika dia menunggu maka berdatanganlah orang-orang Kang-ouw itu, tapi orang she Pek tidak ada bersama mereka.
Dari sekian banyak "kawan"
Itu Kong-sun Po hanya kenal 1604 dengan Su Hong yang dulu pernah mengawal Han Hie Sun ketika bentrok di tepi Telaga See-ouw.
"Oh ternyata kau datang ke mari Kong-sun Siauw-hiap,"
Kata Su Hong menyambut.
"Mungkin itu sebabnya Han Kongcu meminta kami datang!"
Kong-sun Po memberi hormat. Kemudian Su Hong melanjutkan ucapannya.
"Saudara-saudara, inilah Kong-sun Siauw-hiap.Maka itu kesempatan bertemu dengannya jangan kalian sia-siakan! Kalian bisa ,emberi petunjuk padanya!"
Kata Su Hong. Kong-sun Po jadi curiga, siapa tahu Han Hie Sun punya maksud jahat padanya. Kong-sun Po lalu memberi hormat.
"Saudara Su, kau jangan terlalu memujiku begitu tinggi, ilmu silatmulah yang lebih baik dariku!"
Kata Kong-sun Po.
"Harap kau jangan salah paham,"
Kata Han Hie Sun.
"Kalau kau bersedia kita saling menunjukkan keahlian masingmasing. Kita hanya ingin belajar kenal dengan kepandaianmu!"
"Mana berani aku menunjukkan kepandaianku yang rendah,"
Kata Kong-sun Po.
"Malah akulah yang minta petunjuk dari kalian!"
"Baik, akan kuperkenalkan mereka padamu,"
Kata Hie Sun. Dia langsung memperkenalkan semua kawannya. Sesudah semua diperkenalkan, Kong-sun Po menanyakan orang she Pek.
"Ke mana Pek Lo-cian-pwee, kenapa tidak hadir? Ke mana beliau?"
Kata Kong-sun Po.
"Kebetulan beliau sedang ke kota, jadi tak bisa hadir,"
Kata Su Hong.
Keterangan Su Hong membuat Kong-sun Po sedikit curiga.
Dia juga jadi cemas kenapa Han Hie Sun ingin kawankawannya memamerkan kepandaian mereka di depan dia.
Sesudah dipersilahkan minum, tak lama Han Hie Sunberkata.
"Harap bersabar akan datang seseorang dari tempat yang jauh, dia akan hadir bersama kita di sini!"
"Apa yang kong-cu maksud...."
Tapi ucapan Su Hong segera dipotong.
"Sst, itu dia Yan Kong-cu datang!"
Kata Han Hie Sun.
Tak lama seorang pemuda berjalan menuju ke ruangan itu.
Dia mengenakan jubah berbulu putih, datang dengan dua orang pengikutnya.
Han Hie Sun segera menyambut kedatangannya.
Kong-sun Po tidak kenal siapa Yan Kong-cu ini, dia heran kenapa Han Hie Sun begitu hormat kepadanya.
Kong-sun Po mengira Yan Kong-cu ini lebih terhormat kedudukannya dibanding Han Hie Sun.
Kong-sun Po yang bingung tak ikut menyambut.
Tapi Yan Kong-cu mengawasinya.
"Jadi ini orangnya Kong-sun Siauw-hiap itu?"
Kata Yan Kong-cun.
"Aku dengar kau lihay sekali!"
"Mana berani aku menerima pujian Kong-cu,"
Kata Kong-sun Po.
"Jika boleh aku ingin tahu, Kong-cu asal mana?"
"Harap Anda tak sungkan, aku she Yan, namaku Hoo, aku berasal dari Tay-to. Aku dengar Kang-lam indah, maka itu aku datang untuk menyaksikannya."
Kata Yan Hoo.
"Pantas saja kata-katanya lain, bukan dialek selatan. Ternyata dia orang yang datang dari Kerajaan Kim. Entah 1606 apa pangkatnya? Aku heran padahal antara Kim dan Song masih berperang, kenapa dia berani datang ke daerah Song, malah dia tinggal di rumah Perdana Menteri Han?"
Pikir Kong-sun Po bingung.
"Atas kedatangan Yan Kong-cu dan Kong-sun Siauwhiap, aku berharap kalian akan menunjukkan kepandaian kalian di depan kami,"
Kata Han Hie Sun.
"Aku mohon petunjuk pada kedua tamu kita ini!"
"Maaf, maaf, mana bisa aku menunjukkan ilmuku yang rendah, jika hanya menonton ya boleh-boleh saja,"
Kata Yan Hoo tersipu-sipu.
"Tapi dalam hal ilmu silat, kedua pengawalku ini malah lumayan. Aku bisa minta dia yang memperagakannya."
Su Hong kelihatan kecewa mendengar kata-kata sombong Yan Hoo di depannya.
"Jika pengawal Kong-cu mau, kami senang sekali!"
Kata Su Hong merendah.
"Mana berani kami memberi petunjuk, apalagi di sini ada Kong-sun Siauw-hiap sekalipun hanya bertukar pengalaman saja!"
Kata pengawal Yan Hoo yang jangkung.
"Maaf, jangan memujiku,"
Kata Kong-sun Po.
"aku senang jika kalian mau menunjukkan barang sejurus pada kami. Itu hitung-hitung pengalaman bagi kami,"
Kata Kongsun Po.
"Kami ini hanya seorang pengawal,"
Kata orang Yan Hoo yang bertubuh pendek kurus.
"Mana berani kami melakukannya di depan Kong-sun Siauw-hap. Ngomongngomong cuaca begini cerah, kenapa kau membawa-bawa payung?"
"Itu bukan payung biasa tapi senjata andalannya, Tok-koh Toa-ko,"
Kata Han Hie Sun menjelaskan.
"Jadi itu senjata andalannya?"
Kata orang yang dipanggil Tok-koh itu.
"Hebat, bolehkah aku melihatnya?"
"Maaf, senjata ini hanya akan membuat orang tertawa saja, tidak ada keistimewanya,"
Kata Kong-sun Po. Tapi yang ada dalam pikiran Kong-sun Po lain.
"Jika mau melihatnya silakan saja, asal kuat mengangkatnya!"
Pikirnya. Si pendek mendekat ke arah Kong-sun Po, lalu mengambil payung itu dan mengangkatnya. Kemudian dia buka dan dijajal.
"Aah berat sekali, pasti ini terbuat dari baja murni!"
Katanya.
Melihat si kate sanggup menggunakan payungnya Kongsun Po kaget juga.
Sebab jika anak buahnya lihay, entah berapa tinggi ilmu silat Yan Hoo?
Sebelum Kong-sun Po menjawab kata-kata si pendek, Yan Hoo sudah bicara.
"Pasti gagang payung itu terbuat dari baja murni, bukan begitu Kong-sun Siauw-hiap?"
Kata Yan Hoo. Ternyata pengetahuan Yan Hoo luas, dia tahu payung itu terbuat dari besi apa.
"Aku kagum, pengetahuan Kong-cu sangat luas!"
Kata Kong-sun Po. Han Hie Sun tertawa.
"Ayo kalian minum dulu. Sambil minum kita saksikan kepandaian Su Kauw-thauw dulu!"
Kata Han Hie Sun.
"Ya, Kong-cu!"
Kata Su Hong.
"Tapi aku mohon izin Kongcu memakai pohon di taman sebagai sasaran."
"Silakan,"
Kata Han Hie Sun. Su Hong pergi ke taman lalu dia mulai memukuli pohon itu, terakhir dia tendang. Tak lama daun-daun pohon itu berguguran. Sekarang pohon itu jadi gundul tinggal batang pohonnya saja.
"Tenaga dalam Anda bagus sekali,"
Kata pengawal Yan Hoo memuji. Yan Hoo diam saja. Padahal Su Hong ingin dipuji Yan Hoo. Ternyata dari pengikutnya dia hanya mendapat nilai sedangsedang saja. Su Hong kesal lalu berkata.
"Memang kepandaianku tidak berarti, masih perlu petunjuk,"
Kata Su Hong. Tiba-tiba maju seseorang.
"Kalau begitu, aku juga ingin mempertunjukkan kebolehanku di depan Yan Kong-cu, aku akan mainkan ilmu golokku!"
Katanya.
Orang itu lalu memainkan goloknya dan bergerak membacok kian ke mari, ranting-ranting yang tadi berjatuhan dari pohon akibat pukulan Su Hong, sekarang sudah terpotong-potong dengan cepat.
Anak buah Yan Hoo yang pendek kecil memuji.
"Rupanya Anda ini Kwee Suhu bukan? Ternyata kepandaianmu bukan omong kosong!"
Katanya.
"Belum, belum hebat. Malah masih harus mohon petunjuk dari Tok-koh Toa-ko!"
Kata orang she Kwee itu. Orang yang dipanggil Tok-koh atau si pendek kurus tertawa.
"Aku pernah belajar, baiklah akan kutunjukkan pada kalian. Tapi jangan ditertawakan. Sebaiknya saudara See-bun Chu Sek yang memberi petunjuk sejurus saja!"
Orang yang dipanggil she See-bun itu si jangkung.
"Aah, kau sengaja ingin membuat malu aku, baiklah,"
Kata See-bun Chu Sek.
Dia langsung berjalan ke sebuah pohon lain, pohon itu dia tepok dan sedikitpun tidak bergerak.
Sesudah itu dia kembali ke tempatnya semula.
Ketika itu Su Hong heran, dalam sekejap daun-daun pohon itu berubah kering menguning, kebetulan bertiup angin, maka serentak daun-daun itu berguguran ke tanah.
"Kwee Suhu, jika bersedia mohon kau belah batang kayu itu untuk memeriksa dalamnya,"
Kata See-bun Chu Sek. Orang she Kwee segera bergerak menggunakan goloknya memotong pohon itu, sesudah terpotong bagian dalam batang pohon itu sudah hancur seperti dimakan kutu bubuk.
"Luar biasa!"
Kata Su Hong.
"Ilmu apa yang kau pelajari itu?"
"Aku pun tak tahu, tapi kata guruku itu jurus Hu-kutciang milik keluarga Suang!"
Kata See-bun Chu Sek.
"Luar biasa, jika orang yang terhajar entah bagaimana jadinya?"
Kata Su Hong.
"Benar, ilmu saudara See-bun ini istimewa. Pukulan itu jika mengenai manusia, sekalipun dia tidak langsung mati, paling tidak urat-urat nadinya akan putus dan dia akan lumpuh!"
Kata Tok-koh.
Mendengar keterangan itu Kong-sun Po kaget, karena ilmu itu diciptakan oleh kakek dari ibunya dan tidak diajarkan pada orang lain.
Bahkan ayahnya belajar ilmu itu dari hasil mencuri.
Dia heran kenapa See-bun Chu Sek bisa dan lihay.
Apakah dia ada hubungannya dengan See-bun Souw Ya?
See-bun Souw Ya mengabdi pada bangsa 1610 Mongol, lalu jika dia masih sanak See-bun Souw Ya, sungguh berani dia menjadi tamu perdana menteri?
Kong-sun Po pun memuji kepandaian orang itu.
"Kenapa kau ikut-ikutan memuji, Saudara Kong-sun?"
Kata Yan Hoo.
"Kenapa tidak boleh?"
Kata Kong-sun Po.
"Jika mereka yang memuji itu memang pantas,"
Kata Yan Hoo.
"Karena mereka belum tahu ilmu itu, sedang kau akhlinya. Jadi tak sepantasmya kau memuji anak buahku karena ilmunya kalah tinggi olehmu!"
"Aku memang bisa ilmu itu, tapi bagian luarnya saja. Tapi saudara See-bun sudah mengubah Hu-kut-ciang demikian hebat. Aku kira jauh lebih baik dari pengetahuanku. Jika kau ingin petunjuk dariku, malah sebaliknya aku harus belajar dari Saudara See-bun!"
Kata Kong-sun Po.
"See-bun Chu Sek, ternyata aku kurang beruntung karena Kong-sun Siauw-hiap keberatan mmberi petunjuk,"
Kata Yan Hoo.
"Benar, aku menyesal,"
Kata See-bun Chu Sek.
"Jangan kecewa dulu, mungkin sesudah makan nanti saudara Kong-sun mau memenuhi harapanmu,"
Kata Han Hie Sun.
"To-koh Heng, silakan kau tunjukkan ilmu golokmu supaya kami lebih bertambah pengalaman."
"Jika tuan rumah yang memintamu, silakan kau tunjukan Tok-koh Heng!"
Kata Yan Hoo.
"Baik, aku ingin agar pertunjukanku dianggap sebagai tukar-menukar pengalaman dengan Kwee Suhu, tapi aku mohon kau pinjamkan hambamu untuk menemaniku,"
Kata Tok-koh Heng pada Han Hie Sun.
"Apa, mana ada orangku yang bisa ilmu golok untuk menemanimu?"
Kata Han Hie Sun.
"Tapi aku menginginkan orangmu yang belum tahu apaapa tentang ilmu golok, harap kau jangan kuatir golokku tidak akan melukainya,"
Kata Tok-koh Heng.
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 58 Tamu Han Hie Sun Menunjukkan Kebolehannya; Kong-sun Po Diperdaya oleh Yan Hoo Mendengar permintaan tamunya, Han Hie Sun heranjuga.
Jika orangnya tidak tahu tentang ilmu silat, sedangkan tamunya akan menunjukkan ilmu silatnya, bagaimana jika salah tangan.
Akibatnya malah anak buah Han Hie Sun bisa celaka.
Tapi setelah diyakinkan bahwa tidak akan terjadi apaapa pada anak buahnya, Han Hie Sun tertawa.
"Oh, jika budak yang kau maksudkan itu tidak tahu ilmu silat di sini memang banyak,"
Kata Han Hie Sun.
"Siauw Siang Cu, mari kau maju ke depan!"
Pelayan yang bernama Siauw Siang Cu itu adalah pelayan yang selalu melayani dan mengantar serta menuang arak pada cawan tamu-tamu majikannya.
Mendengar namanya dipanggil tentu saja pelayan ini ketakutan.
Tubuhnya gemetaran.
"Hamba tidak bisa apa-apa, lalu apa yang harus hamba lakukan?"
Kata si pelayan dengan wajah pucat-pasi.
"Kau tidak perlu takut, lakukan saja apa yang aku perintahkan padamu,"
Kata Tok-koh Heng sambil tertawa riang.
Dia memungut sehelai daun lalu dia lumuri dengan tanah yang sudah dibasahi.
Kemudian daun itu dia tempelkan di hidung si pelayan.
Sesudah selesai menempelkan daun itu, Tok-koh Heng tibatiba beseru.
"Lihat apa yang ada di belakangmu!"
Peringatan itu mengagetkan si pelayan yang segera menoleh.
Saat Suaw Siang Cu menoleh itulah, golok Tok-koh Heng berkelebat dan menebas daun yang ada di hidung si pelayan.
Si pelayan menjerit kaget, namun sedikit pun dia tidak terluka, sedang daun yang tadi ditempelkan di hidungnyajatuh seketika itu juga.
Tok-koh berseru agar pelayan itu menoleh, jika tidak demikian pasti pelayan itu akan kaget melihat berkelebatnya golok hingga bisa melukai pelayan itu.
Karena dia tidak tahu akan ditebas, maka berhasillah Tok-koh Heng mempertunjukkan keakhliannya.
Orang-orang yang menyaksikan pertunjukkan yang mendebarkan itu semua menghela napas lega.
Mereka banyak yang mengkhawatirkan keselamatan pelayan itu.
Tak lama terdengar sorakan para tamu yang gembira menyaksikan kehebatan Tok-koh Heng memainkan ilmu goloknya.
"Memang benar kata pepatah "Di atas langit masih ada langit yang lain; jika ada orang yang pandai pasti akan ada yang terlebih pandai lagi!"
Kata orang she Kwee kagum.
"TernyataTok-koh Heng menggunakan jurus golok kilat yang lihay!"
"Harap Kwee Suhu jangan merendah, kaulah akhli golok kilat di kalangan Kang-ouw,"
Kata Tok-koh Heng. Sikap Tok-koh Heng yand tidak congkak dan bersedia memuji kepandaian orang lain, membuat hati orang she Kwee itu lega juga.
"Dengan kehadiran Yan Kong-cu dan Tok-koh Heng ditambah lagi Kong-sun Siauw-hiap, rasanya kalian tidak perlu mempertunjukkan kebolehan kalian,"
Kata Han Hie Sun.
"Benar, kita ingin melihat kepandaian Kong-sun Siauwhiap, coba kau tunjukkan pada kami!"
Kata para tamu.
"Maaf, kepandaianku tidak seberapa. Jadi tidak pantas dipertontonkan, aku rasa tontonan tadi sudah kita saksikan dengan memuaskan,"
Kata Kong-sun Po merendah.
"Aah, jangan merendah. Kalau Anda belum mau menunjukkan kepandaianmu, sebaiknya harus diberi minum arak dulu supaya bersemangat,"
Kata Yan Hpo sambil tertawa.
Tiba-tiba jari tangan Yan Hoo menyentil sebuah cangkir arak,hingga melejit dan terlontar ke arah Kong-sun Po, sedang araknya tidak tumpah.
Cawan arak itu langsung hinggap di depan Kong-sun Po.
Semua penonton ternganga keheranan.
Semua diam dan sunyi.
Kepandaian Yan Hoo terbilang luar biasa, dia mampu menyentil cawan arak yang berisi penuh dan araknya tidak tumpah.
Begitu cawan sampai di depan Kong-sun Po, pemuda ini menggigit tepi cawan dan meminum isinya hingga habis.
Sesudah itu perlahan-lahan dia meletakkan cawan itu di atas meja di depannya.
"Terima kasih pemberian araknya,"
Kata Kong-sun Po.
"Maaf aku tidak bisa minum arak terlalu banyak!"
Tiba-tiba semua tamu besorak memuji kepandaian Yan Hoo. Sebaliknya Yan Hoo tidak kelihatan gembira mendapat sorakan dari para penontonnya itu.
"Apa yang kalian puji, aku ini tidak sehebat Kong-sun Siauw-hiap!"
Kata Yan Hoo sambil tersenyum sinis.
Su Hong bersama yang lainnya memuji Yan Hoo yang merendah, tapi sebenarnya kepandaian Kong-sun Po sangat luar biasa.
Han Hie Sun pun kaget menyaksikan kehebatan kedua tamunya.
"Menyuguhi arak dengan cara unik dan meerimanya dengan cara yang sama uniknya, sungguh suatu kepandaian yang langka!"
Kata Han Hie Sun sambil tertawa.
Tadi sentilan Yan Hoo luar biasa, jika Kong-sun Po tidak berkepandaian tinggi, maka cawan itu akan menyambar keras ke mukanya dan dia bisa celaka.
Tak heran jika Kongsun Po jadi kurang senang.
Dia tidak tahu apa maksud Yan Hoo menyerangnya begitu?
Semula dia juga akan membalas, tapi dia batalkan karena dia menganggap untuk apa bertengkar dengan orang itu.
Saat Han Hie Sun menyu-guhinya secawan arak, dia pun menerimanya sambil tersenyum.
"Terima kasih,"
Kata Kong-sun Po pada Han Hie Sun.
"Ternyata kau hebat saudara Kong-sun, karena itu aku pun ingin memberi secawan arak lagi,"
Kata Yan Hoo. Kong-sun Po heran melihat orang-orang itu mendesaknya untuk terus minum. Dia tidak tahu apa maksud mereka itu.
"Terina kasih, mana berani aku menerimanya. Tadi hanya pertunjukan tidak berarti, kenapa harus dipermasalahkan?"
Kata Kong-sun Po tetap merendah 1615 Melihat Kong-sun Po tetap menolak, Yan Hoo penasaran. Dia mencari cara lain.
"Tadi yang kau tunjukkan satu jurus yang indah, maka aku yakin kau punya yang lain. Aku mohon kau mau mempertunjukannya pada kami,"
Kata Yan Hoo setengah memaksa.
"Mana aku berani, Andalah yang lihay. Malah aku ingin belajar darimu!"
Kata Kong-sun Po.
"Sejak awal sudah kukatakan, aku ini penonton yang baik, tetapi jika kau mau mari kita latihan bersama,"
Kata Yan Hoo. Sekalipun kata-katanya halus itu sebuah tantangan.
"Mana berani, maaf aku tidak berani!"
Kata Kong-sun Po. Melihat keadaan mulai "panas"
Han Hie Sun ikut bicara.
"Kau benar Yan Kong-cu, ilmunya tadi tak seberapa dibanding ilmu totoknya yang lihay!"
Kata Han Hie Sun.
"Saudara Han kau jangan bergurau, mana bisa kau kataka lihay?"
Kata Kong-sun Po. Saat itu secara kebetulan seorang pelayan membawa nampan berisi makanan berikut alat makannya lengkap. Masakanku diberi nama Him-ciang (Kaki beruang).
"Ah, mumpung masih hangat, silakan cicipi, Sesudah itu baru kita berbincang lagi!"
Kata Han Hie Sun berbasa-basi selaku tuan rumah.
Saat itu Yan Hoo mengedipkan matanya pada dua anak buahnya.
Tak lama Tok-koh Heng dan See-bun Chu Sek maju, seolah hendak melayani Kong-sun Po.
Dengan sumpit di tangannya dia hendak mengambil masakan, seorang lagi akan menuang arak.
"Jangan, jangan layani aku. Aku bisa mengambilnya sendiri!"
Kata Kong-sun Po. Melihat Kong-sun Po memegang sumpit akan mengambil makanan, See-bun Chu Sek membalikkan sumpitnya dengan tujuan menahan sumpit Kong-sun Po.
"Anda jangan sungkan, biar kuambilkan!"
Kata See-bun Chu Sek.
Sambil bicara sumpitnya bergerak hendak menotok pergelangan Kong-sun Po.
Melihat sikap kurangajar itu bukan main gusarnya Kong-sun Po.
Maka itu dia gunakan sumpitnya untuk membentur sumpit See-bun Chu Sek.
Kong-sun Po pun mengerahkan tenaga dalamnya.
Maka tak heran jika sumpit See-bun Chu Sek jadi bergetar keras ke samping.
Sedang ujung sumpit Kong-sun Po mengarah ke jalan darah yang ada di telapak tangan See-bu Chu Sek.
Bagai disambar petir kagetnya See-bun Chu Sek, buru-buru dia lepaskan sumpit di tangannya dan segera melompat mundur.
Baru saja Kong-sun Po bangun dari kursinya, Tok-koh Heng menahan bahu Kong-sun Po.
"Harap kau terima secawan arak ini, jika kau menolak pasti majikanku akan memarahiku!"
Kata Tok-koh Heng. Kong-sun Po sadar Tok-koh Heng ahli jurus Hu-kutciang (ilmu menghancurkan tulang), dia berniat mencelakakan Kong-sun Po.
"Tadi sudah kubilang, aku tak bisa minum banyak!"
Kata Kong-sun Po. Sesudah itu terdengar suara jeritan Tok-koh Heng.
"Aduh!"
Kong-sun Po telah mengerahkan tenaga dalamnya menolak tekanan Tok-koh Heng dengan jurus Hou-the-sin-1617 kang (ilmu pelindung tubuh).
Terpaksa tangan yang tadi ada di bahu Kong-sun Po oleh Tok-koh Heng dilepaskan.
Dalam kesakitan Tok-koh Heng segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan lukanya.
"Kong-sun Siauw-hiap, aku berniat baik menyuguhimu arak. Jika kau tak mau tak apa, tapi jangan kau membuat aku malu!"
Kata Tok-koh Heng. Su Hong bersama kawan-kawannya Cuma melongo heran. Yan Hoo berdiri sambil berkata.
"Jika Anda tak mau dilayani oleh dua pengikutku, biar aku yang melayanimu, kau mau kan? Jika tidak bisa secawan separuhnya pun boleh!"
Kata Yan Hoo.
"Aku bilang tidak, aku tidak mau minum!"
Kata Kongsun Po.
"Jika kau tak mau minum, silakan makan,"
Kata Yan Hoo.
Dengan sumpitnya dia jepit masakan kaki beruang itu yang dia sodokan ke arah Kong-sun Po.
Begitu cepat gerakan sumpit Yan Hoo ke arah Kong-sun Po, hingga Kong-sun Po kaget.
Kong-sun Po pun menggerakkan sumpitnya untuk menangkis serangan itu!
Dengan sumpit itu dia balas menyerang menggunakan jurus "Keng-sin-cihoat"nya yang lihay.
"Hm! Kiranya Yan Kong-cu ingin menjajal ilmu silatku, ya?"
Kong-sun Po berhasil. Yan Hoo tertawa terbahak-bahak, sesudah menghindar dari serangan Kong-sun Po.
"Bagus! Bagus, ternyata Anda tidak cuma menyandang nama kosong!"
Kata Yan Hoo.
"Aku memang ingin belajar kenal dengan ilmu totokmu! Jika kau katakan tak ingin 1618 menjajal ilmu totokmu, itu keterlaluan. Aku hanya ingin belajar kenal saja!"
"Hebat! Hebat, ternyata kalian sudah saling tukar-menukar pengetahuan kalian,"
Kata Han Hie Sun ikut bicara.
"Eh, siapa sebenarnya Yan Hoo ini. Apakah su-heng dari Han Hie Sun? Ilmu totoknya lihay sekali,"
Piker Kong-sun Po. Ilmu totok Keng-sin-ci-hoat yang dipelajari Kong-sun Po dia peroleh dari Tam Yu Cong, tapi "peta tubuh manusia"
Aslinya ada di tangan Thio Thay Thian, guru Han Hie Sun.
Yan Hoo terus mendesak ke arah Kong-sun Po, hingga mundur ke taman.
Sekarang keduanya sedang a bertarung adu ilmu totok di taman.
Kong-sun Po kesal, saat sumpit lawan dia jepit dia kerahkan tenaga dalamnya.
"Krek!"
Kedua sumpit mereka akhirnya patah jadi dua. Yan Hoo kaget, dia buang sisa sumpit di tangannya, dengan jarinya dia menotok.
"Hm! Kiranya kau bukan hanya ingin saling-tukar pengetahuan silat, tapi kau bermaksiu jahat!"
Pikir Kongsun Po.
"Baik kau akan kuladeni!"
Ilmu totok Yan Hoo banyak ragamnya, tapi untung tenaga dalam Kong-sun Po lebih hebat darinya.
Saat sumpit mereka patahpun, sebenarnya Kong-sun Po mampu melukai lawan.
Tapi Yan Hoo tamu Han Hie Sun, dia tidak enak melukai tamu tuan rumah.
Akibat dari sikap tidak enak itu malah merugikan bagi Kong-sun Po.
Sekarang Yan Hoo menyerang Kong-sun Po 1619 dengan jurus mematikan dan sepenuh tenaga, dengan demikian Kong-sun Po sekarang jadi terdesak.
Melihat Kong-sun Po mulai terdesak, Su Hong yang memihak pada Yan Hoo bersama kawan-kawannya bersorak girang.
Mendengar sorakan itu bukan main gusarnya Kong-sun Po, lawan yang sudah diberi hati itu sekarang malah ingin mencelakainya.
Bahkan Yan Hoo tak jera-jera dan tak tahu malu.
Melihat dia dalam bahaya, dia bermaksud akan menggunakan jurus warisan dari keluarga ibunya.
Maka itu dia ubah siasat ber-silatnya dan menyerang dengan tenaga dalam yang tinggi.
Hingga lama kelamaan Yan Hoo pun mulai kewalahan.
Tapi tiba-tiba Kong-sun Po heran karena dia merasa tenaganya mulai berkurang.
Saat pertarungan sedang berjalan dengan hebatnya, Tok-koh Heng mengambil payung Kong-sun Po, dan See-bun Chu Sek mengikutinya.
"Dia bukan lawan cu-kong kita, mari kita mundur saja!"
Kata Tok-koh Heng pada kawannya. Melihat Tok-koh Heng mengambil payung orang Han Hie Sun pura-pura tidak tahu. Malah dia bilang dengan nyaring pada meeka.
"Jika Toa-ko mau istirahat, silakan saja,"
Kata Han Hie Sun pada Tok-koh Heng.
"Hai, tinggalkan payungku!"
Teriak Kong-sun Po.
"Yan Kong-cu, suruh anak buahmu menaruh payungku, jika tidak awas mereka akan kuurus sendiri!"
Karena gusar Kong-sun Po mengejar ke arah dua anak buah Yan Hoo itu, tapi dari belakang dia diikuti oleh Yan Hoo. Dengan jarinya dia hendak menotok punggung Kongsun Po.
"Latihan kita belum selesai, kenapa kau mau pergi begitu saja?"
Kata Yan Hoo mengejek. Dia tahu diserang tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya lalu menangkis serangan Yan Hoo.
"Hm, kiranya kau sengaja mengatur siasat busuk ini!"
Kata Kong-sun Po.
"Dia hanya mau pinjam, kenapa kau gusar?"
Kata Yan Hoo. Su Hong dan kawan-kawannnya ikut meledek. Mereka mengatakan bahwa Kong-sun Po terlalu pelit, payung saja dipersoalkan.
"Tenang Kong-sun Siauw-hiap, jika kau bisa mengalahkan dia, payung itu akan dikembalikan padamu! Tetapi jika kau kalah, maka payung itu akan kuhadiahkan pada pemenang pertarungan ini!"
Kata Han Hie Sun sambil tertawa.
Sambil menyerang Yan Hoo merasa heran, dia mengira obat yang dia taruh dalam cawan arak Kong-sun Po belum bekerja?
Saat itu datang lagi serangan Kong-sun Po dengan sebuah totokan yang cepat dan dahsyat.
Terpaksa Yan Hoo harus mundur untuk menghindari totokan berbahaya itu.
Saat Kong-su Po menotok untuk ketiga kalinya, dia kaget tiba-tiba napasnya sesak.
Dia juga terkejut bagian bawah ketiaknya kesemutan.
Ternyata dia tertotok oleh Yan Hoo.
Dalam keadaan kepala mulai pening samar-samar Kongsun Po mendengar suara tawa riuh.
Dia juga masih mendengar ucapan Han Hie Sun sambil tertawa.
"Ternyata kau pemenangnya Yan Kong-cu, payung ini jadi milikmu. ..."
Hanya itulah yang terakkhir didengar Kong-sun Po, sesudah itu dia pingsan.
Sesudah selang sekian lama Kong-sun Po baru sadar.
Dia kaget, sekarang dia berada di sebuah kamar batu.
Dia gusar 1621 dan berteriak.
"Han Hie Sun ternyata sifatmu rendah, kenapa kau jebak aku?"
Kata Kong-sun Po.
Dia menghajar dinding kamar batu itu sambil berteriakteriak, tapi usahanya membobol kamar itu sia-sia saja.
Sesudah tahu tidak ada hasilnya berbuat begitu, Kongsun Po berkonsentrasi menenangkan pikirannya.
"Heran, bagaimana aku bisa dikerjai mereka, padahal arak yang kuminum dari poci yang sama?"
Pikir Kong-sun Po.
Rupanya tidak terpikir oleh Kong-sun Po kalau racunnya diletakkan di cawan arak.
Jadi sekalipun araknya dari poci yang sama maka yang lain tidak keracunan, karena cawannya bebas dari racun.
Racun yang digunakan buatan bangsa Kim yang sengaja dibawa dari negerinya oleh Yan Hoo.
Ketika itu terdengar ada langkah orang.
Karena gusar Kong-sun Po berteriak.
"Suruh Han Hie Sun menemuiku!"
Teriak Kong-sun Po.
"Maaf, aku hanya disuruh membawa ini,"
Kata orang itu. Dia menaruh panggang ayam dan arak untuk Kong-sun Po.
"Bawa lagi makanan itu, aku tidak mau makan!"
Kata Kong-sun Po.
Dia dorong nampan yang disodorkan itu dengan keras hingga jatuh berantakan.
Pelayan itu kaget lalu membersihkan makanan itu dan pergi.
Selang sekian lama perut Kong-sun Po mulai lapar, malah hausnya tak tertahankan lagi.
Tak lama pelayan itu datang lagi membawa makanan dan arak.
"Tuan, aku tahu kau lapar, silakan makan. Jika Tuan mau bertarung lagi pun Tuan harus menghimpun tenagamu dulu,"
Kata si pelayan. Lalu dia sodorkan lagi nampan makanan itu pada Kongsun Po lewat jendela kamar batu. Dalam keadaan lapar perlahanlahan otak Kong-sun Po pun jernih sendiri.
"Jika Han Hie Sun ingin membunuhku, sudah sejak tadi bisa dilakukannya. Jadi aku rasa tidak mungkin makanan ini dia bubuhi racun lagi?"
Pikir Kong-sun Po.
"Pelayan itu benar aku harus makan sampai kenyang yang lain nanti baru kupikirkan lagi!"
Tanpa pikir panjang makanan itu ada racunnya atau tidak Kong-sun Po melahap makanan itu.
Sesudah makan dia rasakan tenaganya sudah hampir pulih lagi.
Dia awasi kamar tahanan itu, selain jendela untuk memasukan makanan tak ada lubang lain.
"Heran, jika mereka menginginkan payungku. Seharusnya sesudah berhasil dia membunuhku. Tapi kenapa tidak? Malah aku dikurung di sini."
Pikir Kong-sun Po keheranan. Saat sedang berpikir pintu tahanan terbuka, dan muncullah Han Hie Sun dan Yan Hoo. Kong-sun Po langsung hendak menerjang keluar.
"Han Hie Sun perbuatanmu hina sekali, apa kau pikir ini perbuatan seorang eng-hiong?"
Kata Kong-sun Po.
"Sabar, jangan marah dulu Saudara Kong-sun,"
Kata Han Hie Sun.
"Apa yang aku lakukan justru demi kebaikanmu sendiri!"
"Hm! Kebaikan? Kalian telah merampas payungku dan menahanku di sini, apa itu yang kau maksud kebaikan? Seorang anak Perdana Menteri ternyata perbuatannya sama 1623 dengan penjahat murahan! Kenapa kau tidak membunuhku saja?"
Kata Kong-sun Po.
"Kau keterlaluan, payung itu sudah kukatakan sebagai hadiah untuk pemenang pertarungan tadi!"
Kata Han Hie Sun. Mendengar ucapan itu bukan main marahnya Kong-sun Po karena dia tidak pernah bertaruh dengan payungnya itu.
"Jika dia mengalahkan aku dengan jujur, tak apa payung itu untuknya! Tapi kalian berbuat curang dan meracuniku!"
Kata Kong-sun Po.
"Saudara Kong-sun, bagaimana kau katakan aku curang? Bukankah kaujatuh oleh totokanku?"
Kata Yan Hoo.
"Aku tahu kalian curang, jika bertarung secara jujur aku yakin aku tidak akan kalah olehmu!"
Kata Kong-sun Po gusar. Kong-sun Po yakin mereka meracuninya, tapi bagaimana caranya dia membuktikannya. Sambil tertawa Yan Hoo berkata lagi.
"Hm! Jadi kau merasa kurang puas, itu tidak masalah. Mari kita bertarung lagi. Jika kau berhasil mengalahkan aku, payung itu akan jadi milikmu lagi!"
Kata Yan Hoo.
"Sabar, baik aku jelaskan maksudku,"
Kata Han Hie Sun.
"Aku terpaksa melakukan semua itu karena aku kuatir kau tidak mau tinggal di rumahku lebih lama. Maka terpaksa kutahan kau di sini agar Yan Kong-cu bisa main-main denganmu! Jika kau penasaran, kau boleh bertanding lagi sampai kau puas. Jika perlu sampai tiga kali! Yan Kong-cu akan terus melayanimu! Dengan demikian kalian jadi bisa saling bertukar pengalaman."
"Kalau begitu, baik. Silakan kau maju!"
Kata Kong-sun Po yang panas hatinya.
Sesudah itu keduanya sudah bertarung kembali.
Sekarang Kong-sun Po sudah tak menghiraukan siapa lawannya itu.
Dia menyerang dengan hebat dan keras luar biasa.
Pertarungan berjalan cukup lama, mula-mula Kongsun Po bisa mendesak lawan, tetapi sesudah lewat limapuluh jurus, kembali tubuh Kong-sun Po mulai lemah.
Jika dia lengah maka tubuhnya akan jadi sasaran totokan lawan.
Ketika itu lagi-lagi Yan Hoo berhasil menotok dirinya hingga pingsan.
Saat kong-sun Po sadar dari pingsannya, dia sudah ada di dalam kamar tahanan lagi.
Saat sadar itulah Kong-sun Po berpikir keras.
"Aku yakin dalam makananku dia taruhi racun! Tapi dia seolah tak ingin mencelakaiku, maka itu kesempatan untuk mempelajari ilmu totoknya tak boleh aku sia-siakan. Dia memanfaatkan aku maka aku juga akan memanfaatkan mereka. Akan kuikuti apa mau mereka sekalian kupelajari ilmu si Yan Hoo ini!"
Sesudah Kong-sun Po mengambil keputusan akan mengerjai Yan Hoo, maka ketika pelayan itu mengantarkan makanan untuknya, tanpa pikir panjang dia makan saja makanan itu.
Ketika Yan Hoo dan Han Hie Sun kembali menemuinya, dia lagi-lagi menantang bertanding.
Sesudah bertarung sebanyak lima puluh jurus lebih, lagi-lagi Kongsun Po merasakan tenaganya berkurang.
Kembali dia tertotok oleh Yan Hoo.
Sejak saat itu Kong-sun Po dan Yan Hoo melakukan pertandingan ulang.
Dia sudah mengeluarkan seluruh 1625 kepandaiannya untuk menghadapi Yan Hoo.
Tapi lagi-lagi dia dikalahkan dan dimasukkan kembali ke kamar tahanan.
Malamnya Kong-sun Po berkonsentrasi mengumpulkan seluruh kekuatan dan tenaga dalamnya, karena esok paginya kembali dia harus bertanding dengan Yan Hoo.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar tahanan berderit, ini membuat Kong-sun Po heran.
"Kenapa mereka datang malam-malam tidak pagi seperti biasanya?"
Pikir Kong-sun Po.
Saat pintu kamar tahanan terpentang, Kong-sun Po agak terperanjat.
Orang itu bukan Han Hie Sun dan Yan Hoo, melainkan seorang kakek berjenggot putih.
Dia langsung kenal siapa kakek itu, tak lain daripada Pek Tek adanya.
"Lo-cian-pwee, akhirnya kau datang juga. Apa kau sudah tahu masalahku?"
Kata Kong-sun Po.
"Jangan bersuara,"
Bisik Pek Tek.
"Kau akan kuajak keluar dari sini!"
"Lo-Cian-pwee, aku mau kau ajak ke mana?"
Kata Kongsun Po lirih.
"Untuk menemui Gurumu,"
Bisik Pek Tek. Mendengar hal itu Kong-sun Po girang.
"Jika aku sudah bertemu dengan Suhu rasa penasaranku akan bisa kubalas. Aku kira Han Hie Sun melakukan hal ini padaku di luar tahu ayahnya,"
Pikir Kong-sun Po.
Kemudian Pek Tek mengajak Kong-sun Po ke sebuah taman.
Di sini ada jalan yang berliku-liku sampai tiba-tiba Pek Tek menyuruh Kong-sun Po merunduk.
Dari tempat itu terlihat sebuah gedung yang indah, penerangan gedung itu cukup.
Dari tirai jendela terlihat dua sosok bayangan 1626 tubuh manusia.
Kong-sun Po mengenali bayangan itu adalah bayangan Han Hie Sun dan Yan Hoo.
"Aah, jadi ke kamar Suhu harus melewati kamar baca Han Hie Sun,"
Pikir Kong-sun Po. Mereka mendekam sambil mendengarkan pembicaraan Han Hie Sun dengan Yan Hoo. Walau samar-samar Kongsun Po bisa mendengarnya.
"Selamat, selamat Pwee-leek, ternyata kau berhasil mencangkok ilmu totok Beng Beng Tay-su dari bocah itu!"
Kata Han Hie Sun.
"Dengan ilmu totok yang ada dalam lukisan Hiat-to-tong-jin, berarti ilmumu sudah lengkap!"
Jelas dari pembicaraan Han Hie Sun dia tahu Yan Hoo bukan orang Han. Apalagi Han Hie Sun membahasakan dia "Pwee-lek"
Yakni panggilan Pangeran pada bangsa Kim.
"Han Kong-cu pandangan kita sama. Kau pun sudah menyaksikan ketika aku bertarung. Jadi aku yakin pengetahuanmu pun sudah bertambah bukan? Dan kita bisa saling tukar-menukar pengalaman!"
Kata Yan Hoo.
"Hm! Jadi dia mengajakku bertarung maksudnya ingin mencuri ilmu totokanku,"
Pikir Kong-sun Po.
"Sudah lama aku ada di Tiong-goan, maka itu aku harus segera pulang,"
Kata Yan Hoo.
"Anak itu pun sudah tidak berguna lagi bagiku, tapi besok untuk terakhir kalinya akan kutantang lagi dia bertarung! Sesudah itu terserah kau mau diapakan dia!"
"Kalau kau sudah tidak memerlukannya lagi, akan kubunuh saja dia beres!"
Kata Han Hie Sun. Untung Pek Tek datang jika tidak Kong-sun Po bisa celaka. Dia bersyukur orang tua itu segera menyelamatkannya.
"Ayo kita pergi dari sini!"
Bisik Pek Tek. Sesudah itu tak lama mereka melintasi sebuah pagar, hingga akhirnya mereka sudah ada di luar gedung Perdana Menteri Han.
"Lo Cian-pwee, bukankah Suhu tinggal di gedung Perdana Menteri itu?"
Bisik Kong-sun Po.
"Tadi pagi dia pindah ke penginapan kecil,"
Kata Pek Tek.
"Apa yang terjadi?"
"Jangan banyak bertanya, sesudah bertemu dengan gurumu kau akan tahu masalahnya,"
Kata Pek Tek.
Pek Tek terus mengajak Kong-sun Po ke kota.
Sampai di kota mereka menuju ke sebuah penginapan kecil.
Mereka masuk ke penginapan saat fajar baru menyingsing.
Mereka mengetuk pintu kamar guru Kong-sun Po.
"Masuk!"
Terdengar suara dari dalam.
"Saudara Ciu Cioh, kau harus bersyukur aku bisa menolongi muridmu!"
Kata Pek Tek sambil tertawa. Buru-buru Kong-sun Po berlutut memberi hormat pada gurunya.
"Suhu kenapa kau jadi ada di sini?"
Tanya sang murid. Ciu Cioh alias Kheng Ciauw mengawasi muridnya.
"Sudah jangan banyak bicara dulu, sebaiknya kau kubantu memulihkan tenagamu. Kau harus duduk tenang, gunakan tenaga dalammu, pakai jurus Tay-hang-pat-sek!"
Kata Ciu Cioh.
Kong-sun Po duduk untuk berkonsentrasi, sedang Ciu Cioh memegang kedua tangan anak muda itu.
Segera Ciu Cioh menyalurkan tenaga dalamnya membantu sang murid memulihkan seluruh tenaganya.
Sesudah agak lama Kongsun Po merasakan tubuhnya segar kembali.
"Aku rasa sudah cukup,"
Kata Ciu Cioh.
"Apa masih ada yang tak enak pada tubuhmu?"
"Sudah segar, Suhu! Terima kasih. Aku dikerjai oleh Han Hie Sun dan Yan Hoo, Suhu!"
Kata Kong-sun Po.
"Ya, mereka menaruhi obat pada makananmu, maka itu tenagamu makin berkurang,"
Kata Ciu Cioh.
"Syukur obat itu tidak terlalu berbahaya karena mereka punya rencana tertentu atas dirimu. Mereka ingin mencuri ilmu silatmu, maka itu dia tidak memusnahkan tenagamu. Selain itu tenagamu dengan mudah kupulihkan lagi!"
"Kalau begitu Suhu sudah tahu mereka mengerjaiku?"
Kata Kong-sun Po.
"Siapa sebenarnya Yan Hoo itu? Dia mengambil payungku, apa Suhu bisa melaporkan perbuatan mereka pada Perdana Menteri?"
"Ah, bagaimana kau ini! Negeri Song yang besar ini saja akan diserahkan seluruhnya pada orang she Yan itu! Apa sih artinya sebuah payung? Mana bisa aku memintanya kembali?"
Kata Ciu Cioh.
"Jadi siapa orang she Yan itu?"
Desak Kong-sun Po.
"Dia bukan she Yan, tapi she Wan-yen, namanya memang Hoo!"
Kata sang guru.
"Jadi dia Wan-yen Hoo? Kalau begitu dia orang asing!"
Kata Kong-sun Po.
"Benar, ayah Wan-yen Hoo paman dari raja Kim sekarang, namanya Wan-yen Tiang Cie. Dia menjadi 1629 panglima besar dan pengawal pasukan kerajaan Kim!"
Kata Ciu Cioh.
"Jadi begitu? Pantas Han Hie Sun begitu hormat padanya,"
Kata Kong-sun Po.
"Wan-yen Tiang Cie seorang jago kerajaan Kim nomor satu,"
Kata Ciu Cioh lagi.
"Setelah orang Kim memiliki Hiat-totong-ji di istana Song, Wan-yen Tiang Cie yang memimpin para akhli mempelajari ilmu silat yang ada di lukisan itu. Dengan mengumpulkan para ahli bangsa Kim, dalam jangka waktu sepuluh tahun, mereka berhasil melukis lukisan itu, sekalipun salinan lukisan itu tidak selengkap aslinya. Tak lama kemudian keberhasilan mereka luar biasa. Sedang sebagian dari lukisan itu jatuh ke tangan Tam Yu Cong, tetapi tidak selengkap yang diperoleh oleh orang Kim itu!"
"Pantas Wan-yen Hoo menantang aku bertarung, jadi tujuannya ingin mengetahui bagian yang ada di tangan Paman Tam,"
Kata Kong-sun Po yang mulai sadar apa yang terjadi atas dirinya."Sedang lukisan asli yang ada di istana Song, sekarang ada di tangan guru Hie Sun."
"Kau benar, aku juga pernah mendengarnya,"
Kata Pek Tek.
"Jadi hubungan Han Hie Sun dengan Yan Hoo, selain urusan Negara juga soal ilmu silat dalam lukisan itu!"
"Kim dan Song sedang bermusuhan, walau sekarang sedang dilakukan gencatan senjata untuk sementara. Tapi kenapa Wan-yen Hoo mau datang ke tempat Han To Yu?"
Kata Kong-sun Po.
"Dia menjadi utusan rahasia negaranya,"
Kata Ciu Cioh.
"Bangsa Kim tak mau mengutus orang resmi mereka, mereka takut diketahui orang Mongol. Maka diutusnya Wan-yen Hoo untuk berunding dengan Han To Yu!"
"Mereka sudah merampas separuh dari Negara Song, mau apa lagi mereka berunding?"
Kata Kong-sun Po.
"Ibukota Kerajaan Song sudah pindah ke selatan ke kota Hang-ciu, nama Lim-an yang artinya "Selamat untuk sementara". Para pejabat Song pun tidak memikirkan keselamatan rakyatnya. Bahkan panglima Gak Hui yang setia sampai jadi korban kebuasan dorna jahat bernama Cin Kwee. Aku kira kedatangan Yan Hoo lebih rumit dibanding hubungan Cin Kwee dengan bangsa Kim dulu!"
Kata Ciu Cioh.
"Apa yang mereka bicarakan, tahu Anda?"
Kata Pek Tek pada Ciu Cioh.
"Aku panglima perang Song, maka sedikit banyak aku diberi tahu oleh Han To Yu,"
Kata Ciu Cioh.
"Pada awal tahun lalu juga bangsa Mongol mengirim utusan ke negeri Song. Mereka mengajak Song bersekutu melawan bangsa Kim. Mereka bilang jika sudah mengalahkan bangsa Kim, wilayah yang diduduki bangsa Kim akan dikembalikan pada Kerajaan Song. Apa kalian percaya hal itu?"
"Mungkin itu cuma akal bangsa Mongol saja,"
Kata Pek Tek.
"Jika niat Mongol berserikat dengan Song, kenapa dia serang Siam-say dan Su-coan? Mereka juga menunggangi pemberontak bernama Su Thian Tek."
"Kau benar, pendapatmu hampir sama dengan semua patriot Song,"
Kata Ciu Cioh.
"Maka itu pembesar Song jadi ragu, perlukah mereka bersekutu dengan Mongol atau jangan? Mungkin karena bangsa Kim sudah mendengar hal ini, dia kirim Wan-yen Hoo. Aku kira kaisar dan Perdana Menteri Han pun bingung dan takut pada Negara Kim dan Mongol. Sedangkan jarak negara Mongol lebih jauh dibanding Negara Kim. Mereka pun takut jika Kim mendahului Mongol menyerang ke selatan! Sedangkan 1631 sambuntan Perdana Menteri pada Wan-yen Hoo mungkin hanya untuk menjajaki sampai sejauh mana tawaran pihak Kim pada Song."
"Kalau demikian Negara ini mirip roti yang diperebutkan oleh dua pihak,"
Kata Pek Tek.
"Tapi kebetulan di Negara Mongol sedang kacau karena sedang mengganti Khan Agung mereka,"
Kata Ciu Cioh.
"Maka serangan ke Negara Kim paling tidak akan tertunda selama setahun. Nanti sesudah bisa menjajaki keinginan bangsa Kim, kaisar berniat berdamai dulu dengan pihak Kim. Politik ini mereka namakan "Mengikuti bertiupnya sang angin"."
"Apa tawaran pihak Kim, Suhu?"
Kata Kong-sun Po.
"Mereka sepakat memerintah daerahnya masing-masing dengan batas sungai Tiang-kang, selain sepakat menumpas para pengacau bersama-sama,"
Kata Ciu Cioh.
"Kalau begitu, aku dan kawan-kawan terhitung para pengacau?"
Kata Kong-sun Po.
"Karena kau dari Kim-kee-leng, maka kau terhitung penjahat sejati!"
Kata Pek Tek sambil tertawa tebahak-bahak.
"Sedangkan aku sebagai penghubung dari sana, jadi aku termasuk mata-mata para penjahat!"
"Kau seorang panglima, Suhu, apa rencanamu jika kau mendapat perintah kaisar menumpas para penjahat?"
Kata Kong-sun Po.
"Aku sudah meletakan jabatan,"kata Ciu Cioh.
"Jadi sekarang Suhu bukan pembesar lagi?"
Kata Kongsun Po sedikit kaget.
"Dalam sidang di istana, aku menyampaikan pendapatku. Tapi karena Kaisar kurang senang dan berniat 1632 memindahkan aku ke tempat tugas yang lain. Maka itu aku meletakkan jabatan,"
Kata Ciu Cioh.
"Barangkali pilihan Suhu tepat sekali,"
Kata Kong-sun Po sambil tersenyum.
"Kau harus waspada, Saudara Ciu,"
Kata Pek Tek.
"Siapa tahu Han To Yu akan mencelakaimu!"
"Aku juga berpikir begitu,"
Kata Ciu Cioh.
"Maka itu aku langsung pindah ke sini!"
"Seharusnya aku sudah pergi dari sini, tapi karena cap jabatanku belum aku serahkan maka aku belum pergi. Ditambah lagi aku dengar Kong-sun Po terkurung di kamar batu, maka itu aku menunggumu sampai bebas!"
Kata Ciu Cioh.
"Terima kasih Lo Cia-pwee,"
Kata Kong-sun Po pada Pek Tek.
"Atas tindakanmu ini, kau pun pasti kehilangan pekerjaanmu!"
"Sekalipun tidak terjadi kejadian ini, aku tetap mau berhenti,"
Kata Pek Tek.
"Apalagi pendirian pemerintah sudah berubah, jadi untuk apa aku terus bekerja pada mereka? Aku sudah tua tapi aku tidak takut mati. Yang aku cemaskan keadaan Bun Tay-hiap. Dari sini ke tempatnya tidak jauh. Aku kuatir tempat itu sudah diketahui oleh anak buah Han To Yu!"
"Aku mendapat tugas untuk menemui beliau,"
Kata Kong-sun Po.
"Bagaimana jika kita bersama-sama ke sana?"
Tiba-tiba di luar penginapan terdengar suara ribut-ribut.
Saat itu seorang pelayan penginapan sedang dibentak-bentak.
Mereka sedang menanyakan apakah ada Ciu Congpeng menginap di penginapan itu.
Ketika pelayan itu 1633 menjawab tidak tahu.
Orang itu gusar bukan kepalang.
Keadaan di luar tegang sekali.
-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 59 Pek Tek Menyelamatkan Kong-sun Po; Kekacauan Di Rumah Bun Yat Hoan Di dalam kamar Ciu Cioh, Pek Tek dan Kong-sun Po mengenali suara orang yang galak di luar sana.
Orang itu adalah Su Hong, pengawal utama gedung Perdana Menteri Han.
Sikapnya garang ketika pelayan mengatakan tidak tahu, dia dan anak buahnya akan segera menerobos masuk untuk menggeledah setiap kamar penginapan itu.
"Telinganya tajam sekali, mereka sudah tahu kau ada di sini,"
Kata Pek Tek pada Ciu Cioh.
"Kita temui mereka, Sun Po kau sembunyi saja di sini. Jika mereka tidak menyebut-nyebut namamu, kau jangan keluar!"
Kata Ciu Cioh.
"Baik Suhu!"
Kata Kong-sun Po.
"Akan kubereskan urusanku dengan mereka,"
Kata Pek Tek. Sesudah itu Ciu Cioh dan Pek Tek keluar dari kamar itu.
"Su Toa-ko, Ciu Cioh ada di sini!"
Kata Ciu Cioh.
Su Hong dan tiga orang pengikutnya diam.
Dua di antaranya adalah Tok-koh Heng dan See-bun Chu Sek yang langsung menemui Ciu Cioh.
Begitu bertemu Su Hong kaget juga ketika bertemu muka dengan Pek Tek.
Memang sudah dia duga, Pek Tek pasti ada bersama Ciu Cioh.
Tapi dia tak berani langsung 1634 menuduh, dia kaget ternyata Pek Tek berani muncul bersama Ciu Cioh di hadapannnya.
"Pek Lo Suhu,"
Kata Su Hong.
"Tuan Perdana Menteri sedang mencarimu! Ternyata kau ada di sini untuk mengantarkan kepergian Ciu Tay-jin!"
"Bukan aku yang mau mengantarkan beliau, tapi kalianlah yang akan mengantar kepergian Ciu Tay-jin!"
Kata Pek Tek. Su Hong bingung tidak tahu apa maksud ucapan Pek Tek, dia menjawab.
"Benar kami datang untuk mengucapkan selamat jalan pada Ciu Tay-jin, tapi kau datang ke mari untuk apa?"
Kata Su Hong.
"Dengar baik-baik, hari ini aku harus pergi dari Hangciu, tolong kau sampaikan pada Siang-ya (Perdana Menteri), kami mohon diri,"
Kata Pek Tek.
"Mau pergi, kenapa? Padahal di Siang-hu (Gedung Perdana Menteri) kau cukup terhormat?"
Kata Su Hong.
"Terima kasih atas kebaikan dan penghargaan kalian padaku,"
Kata Pek Tek.
"Jika kalian ingin tahu, kenapa aku harus pergi kau tanyakan saja pada Han Kong-cumu!"
Su Hong tertawa dingin.
"Baiklah, urusanmu nanti kita bicarakan lagi,"
Kata Su Hong.
"Kenapa kalian datang mencariku? Katakan terus-terang padaku,"
Kata Ciu Cioh.
"Kedatangan kami atas perintah Siang-ya (Tuan Perdana Menteri) untuk bicara tiga masalah,"
Kata Su Hong.
"Silakan kau katakan,"
Kata Ciu Cioh.
"Pertama sudah kubilang tadi, kami ingin mengucapkan selamat jalan, karena penggantimu sudah ada,"
Kata Su Hong.
"Baik, pasti Siang-ya ingin agar aku segera menyerahkan cap jabatan, bukan? Baik itu akan segera kulaksanakan, jangan kuatir!"
Kata Ciu Cioh.
"Yang lain, benarkah Kong-sun Po itu muridmu?"
Kata Su Hong.
"Benar, dia memang muridku, lalu kenapa?"kata Ciu Cioh.
"Begini! Han Kong-cu senang padanya. Dia diundang datang ke Siang-hu, tetapi entah kenapa dia pergi tanpa pamit pada Han Kong-cu. Jadi aku diminta untuk menanyakan pada Ciu Tay-jin, apakah kau tahu di mana Kong-su Siauw-hiap berada?"
Kata Su Hong.
"Hm! Aku tidak mengerti maksud kata-katamu?"
Kata Ciu Sioh sambil tersenyum.
"Tetapi memang begitu pesan Han Kong-cu!"
Kata Su Hong Kemudian Ciu Cioh memanggil muridnya.
"Kong-sun Po, keluarlah kau!"
Kata Ciu Cioh. Dari dalam terdengar sahutan muridnya.
"Baik, Suhu!"
Kata Kong-sun Po yang langsung keluar. Sampai di luar dia awasi Su Hong dan dua orang kawannya dengan mata mendelik.
"Kalian datang menemuiku agar aku memenuhi permintaan majikanmu, bukan? Dia bilang aku harus kembali untuk diajak bertarung lagi, begitu?"
Kata Kong-sun Po sengit. Sesudah tertawa Su Hong lalu berkata dengan pura-pura manis.
"Bukankah Wan-yen Kong-cu bermaksud baik dan ingin bertukar pengalaman denganmu,"
Kata Su Hong.
"Tapi kenapa kau pergi dari Siang-hu tanpa pamit?"
"Jika aku bilang sebenarnya, apa kau kira Han Hie Sun akan membebaskan aku pergi?"
Bentak Kong-sun Po.
"Sudahlah Su Hong, kau jangan berpura-pura bodoh!"
Kata Pek Tek.
"Sebenarnya Han Hie Sun ingin tahu, bagaimana dia bisa membebaskan diri dari kamar tahanan, bukan? Katakan saja, aku yang membebaskannya!"
"Maaf, aku kira Pek Lo Su-hu dan Kong-sun Siauw-hiap agaknya salah paham,"
Kata Su Hong.
"Dengan sesungguhnya Han Kong-cu bermaksud baik. Malah jika Kong-sun Siauw-hiap mau kembali lagi, Han Kong-cu akan memintakan jabatan untuknya!"
"Hm! Sudahlah kau jangan banyak bicara lagi. Semalam aku dengar sendiri dia akan membunuhku!"
Bentak Kongsun Po.
"Ah, aku kira kau salah paham, Ciu Tay-jin tolong jelaskan, apa maksud Perdana Menteri demi Negara!"
Kata Su Hong.
"Sekarang aku bukan pejabat lagi, maka itu aku tidak mau ikut campur lagi urusan Negara,"
Kata Ciu Cioh.
"Sekarang tolong kau jelaskan apa maksud yang ketiga itu?"
"Yang ketiga, dia berharap Pek Lo-su kembali ke gedungnya,"
Kata Su Hong. Perlahan-lahan Pek Tek menggunakan jari kakinya menggores ke jubin. Tak lama tampak bekas goresan seperti bekas digores dengan golok.
"Ini tanda bahwa aku sudah memutuskan hubunganku dengan Siang-ya,"
Kata Pek Tek tegas.
"Sudah jangan banyak bicara lagi, kita ambil jalan masing-masing!"
Su Hong terkejut bukan kepalang.
Menyaksikan betapa tinggi tenaga dalam Pek Tek membuat dia jadi kecil hati.
Su Hong memang agak pengecut, dia lebih suka cari selamat.
Maka itu dia langsung berkata lagi.
"Kalau kau tidak mau kembali, baiklah kalau begitu aku pamit!"
Kata Su Hong.
"Tunggu!"
Bentak Kong-sun Po. Su Hong yang sudah akan pergi, terpaksa balik lagi.
"Ada apa?"
Katanya.
"Kau menyampaikan tiga masalah, kalau begitu aku juga boleh mengajukan satu hal padamu!"
Kata Kong-sun Po.
"Apa yang hendak kau katakan, Kong-sun Siauw-hiap?"
Kata Su Hong dengan hati berdebar-debar.
"Masalah ini tidak ada hubungannya denganmu!"
Kata Kong-sun Po yang tubuhnya langsung melayang dan berdiri di depan pintu menghadang kedua anak buah Yan Hoo alias Wan-yen Hoo. Tok-koh Heng tidak menyangka anak muda itu akan menghadangnya.
"Kau mau apa Saudara Kong-sun?"
Kata Tok-koh Heng sambil mendorongkan tangannya ke arah Kong-sun Po.
Gerakan ini memang sangat diharapkan oleh Kong-sun Po, secepat kilat tangan Kong-sun Po bergerak, lalu mencengkram pergelangan tangan Tok-koh Heng.
Sedangkan tangan yang lain menyambar ke arah See-bun Chu Sek.
"Jangan kasar begitu, bicara baik-baik, Kong-sun Siauwhiap,"
Kata Su Hong yang kaget bukan kepalang.
"Jangan takut, mereka tidak akan kubunuh,"
Kata Kongsun Po.
"Kalian pencuri payungku, sekarang aku tangkap pencurinya!"
Saat Tok-koh Heng berontak, Kong-sun Po memperkeras cekalan tangannya pada tangan Tok-koh Heng, hingga dia berkeringat dingin menahan sakit. Sambil meringis Tok-koh Heng berkata terbata-bata.
"Kong-sun Siauw-hiap, pa... payungmu su.. .sudah kuserahkan pada majikanku. Kau minta saja padanya!"
Kata Tok-koh Heng. Su Hong memohon pada Ciu Cioh agar muridnya mengampuni Tok-koh Heng dan See-bun Chu Sek Terpaksa Ciu Cioh berkata pada muridnya.
"Sun Po, ampuni mereka karena mereka hanya orang suruhan!"
Kata Ciu Cioh. Masih dalam kegusaran Kong-sun Po mendorong kedua lawannya keluar.
"Heran, seharusnya pejabat menangkap maling, sekarang sebaliknya pejabat melindungi pencuri!"
Kata Kong-sun Po.
"Baik, sekarang kuampuni kalian karena perintah Suhuku. Kelak aku masih akan mengadakan perhitungan dengan majikanmu!"
"Ucapanmu tepat, tapi dengan demikian kau jadi lawan Han To Yu, aku harap kelak kau waspada terhadapnya!"
Kata Pek Tek.
"Mereka orang-orang jahat, pantas kumaki mereka. Aku tidak takut pada Han To Yu. Sayang aku harus segera kembali ke Kim-kee-leng. Tapi kepergian mereka akan 1639 makan waktu dua jam, mereka baru bisa sampai di Siang-hu. Maka itu aku punya kesempatan untuk menemui Bun Tay-hiap tanpa gangguan mereka!"
Kata Kong-sun Po.
"Baik, kau dan Pek Lo-cian-pwee pergi temui Bun Tayhiap, aku juga harus segera pergi dari sini,"
Kata Ciu Cioh.
Mereka akhirnya berpisahan.
Pek Tek dan Kong-sun Po ke tempat Bun Tay-hiap, sedang Ciu Cioh pergi ke tempat lain.
Letak Thian-tiok-san berada di tepi See-ouw, telaga yang sangat termasyur.
Tempat tinggal Bun Yat Hoan sekitar 50 li dari kota Hang-ciu atau Lim-an.
Sejak pagi mereka berangkat dan hampir senja baru sampai di tempat Bun Yat Hoan.
Begitu mereka sampai di depan rumah yang dituju, Kong-sun Po dan Pek Tek kaget.
Dari dalam rumah Bun Yat Hoan tedengar suara berisik.
Rupanya ada orang sedang bertengkar.
Ketika mereka menyelinap ke dalam, terlihat anak buah Bun Yat Hoan sedang bertengkar dengan orang-orang asing yang tidak dikenal oleh Kong-sun Po maupun Pek Tek.
Sikap mereka jelas angkuh dan garang.
Salah seorang yang bertengkar adalah anak buah Bun Yat Hoan dengan orang asing itu.
Dari jarak cukup jauh Kong-sun Po mengenali anak buah Bun Yat Hoan.
dia adalah Chan It Hoan, bekas anak buah nona Han Pwee Eng.
Sedang orang asing yang bertengkar dengan Chan It Hoan pun seperti dikenali oleh Kong-su Po, tapi dia lupa di mana pernah bertemu.
Maka itu Kong-sun Po mencoba mengingat-ingat.
Akhirnya Kong-sun Po ingat, bahwa orang itu orang yang dia lihat di Siang-hu, saat dia baru datang atas 1640 undangan Han Hie Sun.
Rupanya mereka mendatangi tempat Bun Yat Hoan, tapi Yan Hoo datang atau tidak, dia belum tahu.
"Hm! Kau ini siapa? Beraninya kau menegurku!"
Kata orang itu dengan garang.
"Sudah wajar seekor anjing lebih galak dari majikannya,"
Kata Chan It Hoan.
"Orang lain takut pada Han To Yu, aku tidak!"
"Kurangajar!"
Kata orang itu.
Kedua tangannya menjulur akan mencengkram bahu Chan It Hoan.
Melihat serangan datang Chan It Hoan merunduk menghindari serangan lawan, lalu dia balas menyerang.
Dia berhasil mencengkram tangan lawan.
Ternyata kekuatan keduanya seimbang, saat tangan mereka bentrok keduanya tergetar.
Diam-diam Kong-sun Po melangkah, dia gunakan tenaga dalam saat menginjak lantai hingga berbekas.
Ketika sudah dekat Kong-sun Po meneriaki Chan It Hoan.
"Chan Toa-siok, aku kenal mereka ini!"
Kata Kong-sun Po. Kedatangan Kong-sun Po membuat orang-orang itu terperanjat. Mereka melompat ke samping.
"Siapa yang mengizinkan mereka masuk ke mari?"
Kata Kong-sun Po.
"Mereka datang bersama Han Hie Sun yang mengatakan ingin bertemu dengan Bun Tay-hiap,"
Kata Chan It Hoan.
"Tapi kau lihat sebagaian orang-orang ini bukan orang Han! Maka kuhalangi mereka masuk!"
"Sekarang di mana Han Hie Sun berada?"
Kata Kong-sun Po.
"Mereka ada di dalam,"
Kata Chan It Hoan.
"Karena Hie Sun putera Perdana Menteri, Bun Tay-hiap mengizinkan mereka masuk!"
"Chan Toa-siok, mereka ini anak buah Wan-yen Tiang Cie, panglima besar bangsa Kim. Selain orang Kim di antara mereka pun ada penjilat bangsa, mereka orang Han!"
Kata Kong-sun Po.
"Jadi begitu! Mana boleh tempat kami dikotori oleh bangsa asing!"
Kata Chan It Hoan gusar bukan main. Menyaksikan keadaan semakin tegang Pek Tek menengahi mereka.
"Sabar, temui Bun Yat Hoan dulu,"
Kata Pek Tek.
Dia sadar orang-orang itu lihay semua.
Jika Chan It Hoan bertarung dengan mereka, belum tentu Chan It Hoan akan menang.
Maka posisi yang bakal merugikan itu perlu dicegah oleh Pek Tek.
Kong-sun Po dan Pek Tek masuk ke ruang tengah.
Di sana mereka lihat Han Hie Sun dan Wan-yen Hoo, ditemani hweeshio berwajah merah dan seorang lelaki kurus berwajah pucat.
Sekali lihat Pek Tek tahu, mereka orang-orang berilmu tinggi.
"Kedatangan mereka ke mari pasti bukan bermaksud baik,"
Pikir Pek Tek. Memang tak lama terdengar kata-kata Han Hie Sun.
"Ayahku sangat kagum pada Bun Tay-hiap yang jadi Bengcu di sini, itu sebabnya Ayahku bilang seharusnya dia yang datang sendiri menemui Anda di sini. Sayang Ayah 1642 terlalu sibuk hingga dia mengutusku ke mari untuk memberi hormat!"
Kata Han Hie Sun.
"Jangan sungkan, aku tidak berani menerima penghormatan dari ayahmu, siapa yang datang bersamamu ini?"
Kata Bun Yat Hoan.
"Dia Yan Kong-cu teman baikku,"
Kata Han Hie Sun.
"Sedangkan Bu Bong Tay-su ini sahabat Ayahku."
Han Hie Sun memperkenalkan sahabat-sahabatnya satupersatu pada Bun Yat Hoan. Sesudah diperkenalkan oleh Han Hie Sun tanpa basa-basi lagi Bu Bong Tay-su langsung bicara.
"Aku datang untuk belajar kenal dengan kepandaian Bun Tay-hiap yang terkenal itu!"
Kata Bu Bong Tay-su.
"Harap Anda mau memberi muka pada pin-ceng!"
"Jika kita bertukar pengalaman di dunia persilatan, rasanya itu wajar saja,"
Kata Cian Ji-sian-seng, Mendengar tantangan tamu-tamunya Bun Yat Hoan segera berpikir.
"Jika kunjungan mereka atas perintah Han To Yu, sungguh tak pantas rasanya jika baru bertemu sudah menantang bertarung?"
Pikir Bun Yat Hoan.
Melihat Bun Yat Hoan agak ragu, Kong-sun Po yang tidak tahan mendengar ucapan si hwee-shio langsung maju ke depan.
Melihat Kong-sun Po tiba-tiba muncul, Han Hie Sun sedikit terperanjat.
Sambil tertawa Han Hie Sun menyambut.
"Oh, kiranya Kong-sun Siauw-hiap juga ada di sini?"
Kata Han Hie Sun. Kata-kata Han Hie Sun tidak dihiraukan oleh Kong-sun Po, dia langsung memberi hormat pada Bun Tay-hiap.
"Harap Bun Tay-hiap maklum, mungkin penjelasan Han Hie Sun kurang jelas, maka itu baik aku yang mengulang penjelasannya,"
Kata Kong-sun Po.
"Jadi kau kenal dengan mereka?"
Kata Bun Tay-hiap.
"Untuk dua orang itu aku tidak kenal, tapi Yan Kong-cu hampir setiap hari berkelahi denganku. Dia sebenarnya she Wan-yen!"
Kata Kong-sun Po.
"Oh, jadi Kong-cu ini she Wan-yn marga kerajaan Kim, kau bangsa Kim atau Han?"
Kata Bun Yat Hoan.
"Untuk apa bicara soal kebangsaan?"
Kata Wan-yen Hoo.
"Hm! Kau menutupi identitasmu, baik kukatakan terus terang untukmu,"
Kata Kong-sun Po.
"Bun Tay-hiap, dia putera Wan-yen Tiang Cie, paman raja Kim. Dia diutus ke Kang-lam sebagai pangeran bangsa Kim, dia seorang utusan rahasia!"
"Kalau begitu aku besikap kurang hormat kepadanya,"
Ejek Bun Yat Hoan.
"Dua yang lainnya, biar aku yang memberi penjelasan,"
Pek Tek ikut bicara. Dia tunjuk hwee-shio berwajah merah itu.
"Bu Bong Tay-su kakak seperguruan Wan-yen Tiang Cie, dia baru turun gunung dan dia diangkat jadi Hak-su di kerajaan Kim."
Kata Pek Tek.
"Dia masih punya kakak seperguruan yang ilmu silatnya juga lihay!"
"Kau punya keterangan yang lengkap tentang diriku,"
Kata Bu Bong Tay-su dengan tenang.
"Sedang Cian Jie Seng atau Cian Tiang Cun asal-usulnya luar biasa, dia mantan pengawal istana Kerajaan Kim,"
Kata Pek Tek.
"Dia jarang turun ke kalangan Kang-ouw. Hanya 1644 aku beruntung bertemu dia di Ceng-ciu sepuluh tahun yang lalu dia pernah bertarung dengannya!"
"Rupanya Anda masih ingat pertemuan kita sepuluh tahun yang lalu,"
Kata Cian Tiang Cun.
"Dulu kita bertarung, namun tak diketahui siapa yang kalah dan menang! Baik sekarang aku mohon petunjuk darimu!"
Sesudah sekian lama saling memperkenalkan, Han Hie Sun yang cerdik melihat sikap Bun Yat Hoan yang tidak jerih, malah menantang dia jadi ngeri juga.
"Memang Bu Bong Tay-su yakin bisa mengalahkan Bun Yat Hoan, tapi jika gagal aku juga bisa mendapat kesulitan,"
Pikir Han Hie Sun yang hatinya kebat-kebit juga. Kemudian Han Hie Sun yang licik lalu berkata.
"Antara Kerajaan Kim dan Song sekarang telah terjalin hubungan baik, jika tidak percaya Bun Tay-hiap tanya saja Kong-sun Siauw-hiap,"
Kata Han Hie Sun.
"Tidak perlu! Jika tak ada hubungan, bagaimana kau bisa mengantar mereka ke mari?"
Kata Bun Yat Hoan.
"Perlu aku jelaskan, aku rakyat biasa yang buta politik! Jika Kim dan Song berserikat, itu urusan pemerintah. Jika kau ingin tahu pendirian rakyat Song, musuh adalah musuh! Mereka tamutamu ayahmu, tapi jelas mereka bukan sahabat kami!"
Mendengar jawaban itu tentu saja Han Hie Sun jadi ngeri.
"Bun Yat Hoan,"
Kata Bu Bong Tay-su.
"Sekarang apa maumu, katakan saja. Apa kau kira kami takut padamu?"
"Apa mauku? Baik, jika kau ingin tahu kelihayanku, silakan aku terima tantanganmu!"
Kata Bun Tay-hiap. Cian Tiang Cun tertawa.
"Aku dan Pek Lo-su akan mengadakan perhitungan lama dengannya!"
Kata Cian Tiang Cun dengan angkuh.
"Benar, aku juga harus mengadakan perhitungan dengan Wan-yen Kong-cu!"
Kata Kong-sun Po yang tidak mau ketinggalan.
Mendengar tantangan Kong-sun Po tentu saja Wan-yen Hoo senang.
Dia pikir karena pengaruh racun di tubuh Kong-sun Po belum seluruhnya punah, dia yakin akan memenangkan pertarungan.
"Baik, aku terima tantanganmu Kong-sun Siauw-hiap. Kita bertarung dalam tiga pasangan. Sesuai peraturan jika dua pasangan memperoleh kemenangan, maka dialah pemenangnya. Bagaimana kau setuju?"
Kata Wan-yen Hoo.
"Silakan Saudara Pek maju lebih dulu!"
Bun Yat Hoan mengerti, Wan-yen Hoo ingin maju yang pertama. Tapi sudah didahului oleh permintaan Bun Yat Hoan pada Pek Tek.
"Baik, aku setuju bagaimana kehendakmu saja!"
Kata Bun Yat Hoan. Pek Tek maju lebih dulu.
"Cian Tiang Cun, kau tamuku. Silakan kau dulu!"
Kata Pek Tek. Wan-yen Hoo kecewa. Semula dia yang ingin maju lebih dulu dengan perhitungan pengaruh obat di tubuh Kong-sun Po masih bekerja. Tapi sekarang Cian Tiang Cun yang maju lebih dulu.
"Mari,"
Kata Cian Tiang Cun.
"Terimalah seranganku!"
Tiba-tiba tangannya menyerang Pek Tek karena dia anggap sekarang sudah tua hingga tenaganya berkurang.
Dia yakin, jika tak bisa mengalahkan Pek Tek, paling tidak mereka seimbang.
Tiga serangan Cian Tiang Cun berhasil ditangkis oleh Pek Tek.
Pertarungan berlangsung seru, tapi Kong-sun Po agak mencemaskan keadaan Pek Tek yang sudah tua.
Tadi saat diserang pun Pek Tek mundur, jika dihitung dia sudah tujuh kali mundur.
Tapi anehnya tiba-tiba dia berdiri tegak.
Setiap serangan lawan dia hadapi dengan berani.
Sekarang Kong-sun Po jadi lega, dia yakin Pek Tek bisa mengatasi lawannya.
Begitu pun Bun Yat Hoan yang kelihatan tenang tersenyum simpul.
"Celaka, dugaanku keliru semakin tua dia semakin lihay."
Pikir Cian Tiang Cun.
"Rupanya sulit aku mengalahkannya dalam waktu singkat!"
Karena hatinya bimbang serangan Cian Tiang Cun tidak sehebat tadi.
Malah dia seolah tidak mengharapkan kemenangan seperti tadi, karena pikirnya seimbang pun sudah bagus.
Pek Tek tahu lawannya mulai jerih, dia gunakan Kim-n;i elu, serangan ini membuat Cian Tiang Cun kewalahan.
Pertarungan berjalan cukup lama, sesudah lebih dari tigapuluh jurus, Cian Tiang Cun hanya mampu bertahan karena tidak bisa menyerang lawannya lagi.
Satu saat dengan terkejut Cian Tiang Cun melompat mundur.
Bahunya berdarah.
Jelas dia tercengkram serangan Pek Tek yang lihay.
"Pek Lo-su kau hebat, aku kagum padamu!"
Kata Cian Tiang Cun.
"Kau juga hebat, tapi aku heran kenapa kau mau jadi budak bangsa Kim? Baik, aku tidak mengambil jiwamu, cukup sampai di sini saja!"
Kata Pek Tek. Sebenarnya jika pertarungan lebih lama lagi Pek Tek akan kewalahan karena tenaganya terkuras. Untung Cian Tiang Cun menyerah kalah. Menyaksikan kawannya kalah, Bu Bong Tay-su maju.
"Hm! Masih ada dua partai lagi, belum tentu kami yang kalah!"
Kata Bu Bong Tay-su yakin sekali.
"Aku dengar kau akhli Tie-pit-su-seng, silakan kau maju!"
"Baik,"
Kata Bun Yat Hoan sambil tertawa.
"Sepuluh tahun alat tulisku ini (maksudnya pit) aku simpan saja. Untuk memenuhi permintaanmu, terpaksa kugunakan lagi!"
Bu Bong membuka jubah merahnya.
"Senjataku hanya jubah ini, mohon kau berbelas kasihan padaku,"
Kata Bu Bong Tay-su.
"Jika kau tidak berbelas kasihan, baiklah aku akan menyerah kalah saja!"
"Baik, silakan kau maju!"
Kata Bun Yat Hoan.
"Awas!"
Kata Bu Bong yang langsung mengibaskan jubah merahnya ke arah Bun Yat Hoan.
Bun Yat Hoan menghindari serangan itu dengan mengelak sedikit, sedangkan pitnya langsung menotok jalan darah Iegie-hiat di iga lawan.
Bu Bong Tay-su menggeser kakinya, dia hindari serangan Bun Yat Hoan.
Sesudah itu Bu Bong pun menyabetkan jubah merahnya dengan hebat.
Bun Yat Hoan terkejut merasakan kehebatan kebutan lawannya ini.
Sebagai jago Bun Yat Hoan bersikap tenang.
Dia segera membalas dengan beberapa totokan ke arah lawan.
Pitnya berkali-kali mengarah ke setiap jalan darah 1648 lawan.
Tapi Bu Bong seorang jago yang lihay, dia mampu menangkis maupun menghindari totokan lawannya.
"Aah, ternyata pitmu yang dikatakan lihay, ternyata hanya begini saja,"
Ejek Bu Bong. Tapi Bun Yat Hoan cuma tertawa.
"Sabar, kau akan menyaksikan kelihayannya nanti!"
Kata Nun Tay-hiap.
Saat Bu Bong diserang dia gunakan jubah merahnya menutup tubuhnya.
Saat itu seakan-akan Bu Bong berada di tengah warna merah jubahnya saja.
Sedang pit Bun Yat Hoan tak mampu menerobos untuk melukainya.
Sebagai jago silat Bun Yat Hoan tahu betapa lihaynya Bu Bong Tay-su.
Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 3
Baca Juga: Bara Maharani 6