Badai Awan Angin Pendekar Sejati 11

Eps 11 Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Baca online Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen

Cersil Badai Awan Angin Pendekar Sejati - Liang Ie Shen.

"Jika masalah di sini sudah selesai, aku dan Siang Hoa pasti akan ke Kim-kee-leng. Selamat jalan!" -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-BAB 50 Berangkatlah Hoa Kok Han ditemani Ci Giok Phang dan Wan Say Eng. Di perjalanan Wan Say Eng baru cerita tentang kisah yang dia dengar dari Kho-si kepada Ci Giok Phang dan Hoa Kok Han. Hoa Kok Han dan Ci Giok Phang menghela napas setelah mendengar cerita nona Wan.

"Sekalipun Kho-si bersalah, tetapi dia juga patut mendapat simpatik,"

Kata Ci Giok Phang.

"Sesudah Seng Cap-si Kouw kabur karena kugertak, mungkin dia tidak akan mengganggu lagi keluarga Ciauw. Mudah-mudahan aku bisa bertemu kembali dengannya, karena aku ingin tahu di mana Han Lo-cian-pwee dia sembunyikan? Ini kulakukan atas permintaan Han Pwee Eng!"

Kata Hoa Kok Han. Mendengar nama Han Pwee Eng disebut-sebut, Ci Giok Phang jadi bimbang.

"Entah di mana Siauw Hong sekarang berada?"

Kata Ci Giok Phang.

"Aku juga harus mencari Kok Siauw Hong,"

Kata Hoa Kok Han.

"Dia ke Kang-lam untuk menghubungi jago-jago Kanglam. Sesudah ke tempat Bun Yat Hoan, mungkin sekarang dia ada di tempat Ong cee-cu di Thay-ouw. Maka itu aku harus singgah dulu di Thay-ouw."

"Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Kok Siauw Hong, tapi karena aku juga khawatir keadaan Giok Hian, adikku terpaksa aku tidak ikut,"

Kata Ci Giok Phang.

"Jika Hoa Tayhiap bertemu dengannya, dan dia tidak segera pulang ke Utara. Tolong katakan padanya tunggu aku di Thay-ouw!"

Maka berpisahlah mereka, Hoa Kok Han langsung ke Thayouw sedang Ci giok Phang dan nona Wan ke tempat Bun Yat Hoan di Hang-ciu.

Ketika itu musim semi, udara sejuk sekali, bunga-bunga bermekaran aneka warna.

Musim semi di wilayah Kanglam memang indah sekali.

Terutama bagi dua kekasih yang sedang memadu cinta seperti Ci Giok Phang dan nona Wan.

Wan Say Eng terkenang pada nona Kiat Bwee.

Dia menceritakan kisah sedih Kiat Bwee dan Siang Hoa.

Tibatiba nona Wan berkata pada Giok Phang.

"Di See-ouw ada sebuah kelenteng Dewi Rembulan, di sana ada sepasang lian yang bunyinya begini. Mudah-mudahan semua kekasih menjadi suami-isteri, Jika sudah takdir, jangan menyia-nyiakannya. Nasib Siang Hoa dan Kiat Bwee seperti sepasang lian itu. Tapi kisah yang mereka alami benar-benar sulit diduga"

Kata nona Wan.

"Syair dalam lian yang diceritakan Wan Say Eng, mirip pengalaman hidupku,"

Pikir Ci Giok Phang.

"Seperti orang sengaja menanam bunga, tapi sang bunga malah tidak mekar. Tanpa bermaksud menanam pohon liu, pohon menjadi rindang. Dulu Kok Siauw Hong mengikat jodoh dengan adikku. Karena peristiwa di Pek-hoa-kok, akhirnya mereka rujuk kembali. Tapi yang aneh adikku Giok Hian, entah kenapa dia mau dipersunting oleh Seng Liong Sen. Sungguh aneh kejadian di dunia!"

Pikir Ci Giok Phang. Melihat Ci Giok Phang seolah sedang melamun, nona Wan menegurnya.

"Eeh, melamun ya? Kau sedang memikirkan siapa?"

Kata si nona.

"Aku pikir bunyi lian di kelenteng Dewi Rembulan itu, apa kau kira tidak tepat untuk kita juga?"

Kata Ci Giok Phang.

"Iih, ternyata kau genit juga"

Kata nona Wan.

"Aku bicara sebenarnya, kau malah melantur! Tetapi aku malah ingat sesuatu."

"Ingat apa?"

Tanya Giok Phang.

"Aku sangsi orang bertopeng itu Kiong Cauw Bun, aku juga tak yakin lukisan itu ada padanya. Sayang aku belum bertemu dengan Enci Kiong Mi Yun, jika bertemu akan kutanyakan padanya,"

Kata nona Wan.

"Kau bilang semasa kecil kau akrab dengan Mi Yun, benarkah?"

Kata Ci giok Phang.

"Ya. Selain baik aku pun sering bertengkar dengannya,"

Kata nona Wan.

"Tapi waktu itu dia belum bisa ilmu totok, maka aku tidak tahu apakah lukisan pusaka itu ada di tangan ayahnya atau tidak?"

"Karena kau bicara soal nona Kiong, aku jadi ingat pada seorang temanku,"

Kata Ci Giok Phang.

"Siapa temanmu itu?"

Kata nona Wan. 'Kong-sun Po,"

Kata Ci Giok Phang.

"Dia berpisah denganku ketika di Ceng-liong-kouw. Dia bersama nona Kiong berhasil lolos dari kepungan musuh. Kau bilang kau pernah bertemu Kong-sun Po, tapi kenapa nona Kiong tidak bersamanya?"

"Kong-sun Po dikejar-kejar calon mertuanya, sedangkan nona Kiong tidak berani menemui ayahnya. Tapi mereka 1376 sama-sama ke Kim-kee-leng. Aku kira sekarang mereka sudah ada di sana!"

Kata Wan Say Eng.

"Aku sudah ingin bertemu dengan Kong-sun Po. Dia seorang yang baik,"

Kata Ci Giok Phang.

"Kalau begitu mari kita temui dulu adikmu sesudah itu kita bersama-sama ke Kim-kee-leng mencari dia,"

Kata nona Wan.

Mereka terus melakukan perjalanan.

Tak lama mereka sudah tiba di kota Lim-an.

Saat mereka tiba keadaan cuaca sangat cerah sekali.

Dua muda-mudi ini berjalan bersama, kelihatannya mereka sangat mesra.

Di jalan raya sudah ramai dengan orang yang lalu-lalang.

Mereka akan melakukan kegiatan sehari-hari mereka.

"Di dalam buku, Kang-lam sebuah daerah yang mendapat pujian tentang keindahannya. Ternyata memang musim semi di Kang-lam ini sangat indah,"

Kata Ci Giok Phang memuji. Saat itu karena mereka berjalan dijalan pegunungan, makin lama orang-orang yang mereka temui semakin sedikit. Saat itulah dahi nona Wan berkerut sambil berkata.

"Ci Toa-ko, perhatikan olehmu. Di sana orang sedang memperhatikan kita,"

Kata Wan Say Eng.

"Entah apa yang mereka bicarakan di pos jaga itu, barangkali mereka sedang membicarakan kita!"

Giok Phang menengadah, dia lihat di sana ada semacam pos atau tempat beristirahat.

Di tempat itu ada sekitar lima sampai enam orang sedang berkumpul dan berbincang.

Salah seorang dari mereka terdapat seorang pemuda berpakaian bagus.

Barangkali dia seorang anak hartawan 1377 atau pejabat.

Sedangkan yang lainnya barangkali para pengawal pemuda itu.

Para pengiring itu sedang memuji-muji majikannya.

Memang saat itu mata mereka sedang mengawasi ke arah kedua muda-mudi.

Ketika Ci Giok Phang menggunakan ketajaman telinganya, dia dengar salah seorang bicara.

"Wajah nona itu lumayan juga,"

Katanya.

"Sedang yang pria pun tampan,"

Kata yang lain.

"walau tampak kikuk ketolol-tololan! Sayang, nona seperti mawar indah tang ditancapkan di atas tahi kerbau saja."

"Kau bilang mereka suami isteri, dari mana kau ketahui hal itu?"

Kata yang lain. Mendengar ocehan itu, nona Wan mendongkol bukan main. Dia ingin menghajar orang-orang itu. Tapi niatnya dicegah oleh Ci Giok Phang.

"Jangan ladeni orang-orang itu. Mengapa harus meladeni mereka?"

Kata Giok Phang. Giok Phang dan Wan Say Eng mencoba menjauhi mereka. Tapi tak lama terdengar suara ejekan dari orang-orang itu. Malah kata-kata mereka semakin tidak senonoh.

"Tuan, apa Tuan suka pada nona itu? Perintahkan saja kami!"

Kata salah seorang dari mereka.

"Huss! Jangan main gila, mereka itu suami-isteri!"

Kata si kong-cu.

"Hm! Tapi Kong-cu suka padanya, kan?"

Kata yang lain.

"Sabar, akan kusapa mereka. Jika mereka kakak-beradik, aku bisa jadi comblang Kong-cu!"

Kata yang lainnya.

"Suami-isteri atau bukan apa halangannya?"

Kata yang lain lagi.

"Aku dengar malah Kong-cu lebih suka perempuan yang pernah bersuami!"

"Rampas saja, kenapa harus bertele-tele ditanya segala?"

Kata yang lain.

"Jangan gegabah, ketahuan Ayahku celaka,"

Kata kongcu itu.

Dia asyik mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas lipat.

Sekarang nona Wan sudah tak dapat menahan dongkolnya.

Dia pungut beberapa kerikil, lalu dia sentil dengan sekuat tenaga ke arah orang-orang itu.

Sebenarnya saat itu Ci Giok Phang sedikit terkejut, karena suara orang itu ada yang dikenalnya.

Maka itu dia menghentikan langkahnya.

Dia ingin memperingatkan orang yang berbicara sembarangan itu.

Orang-orang itu merasa diberi hati oleh majikannya, dua di antara mereka keluar dari pos, tapi mereka langsung disambuit oleh batu-batu yang dilontarkan oleh nona Wan.

Mereka menjerit kesakitan.

Setelah kedua orang itu terkena batu, tapi batu yang lain masih meluncur ke dalam tempat peristirahatan itu.

Ternyata orang yang ada di dalam pos itu tidak sebodoh dua kawannya.

Saat batu-batu itu menyambar ke arah mereka, batu itu disampok.

Sedang yang seorang lagi menangkap batu itu.

Kemudian disambitkan ke arah nona Wan.

Tapi yang satu lagi tak sempat berkelit, jidatnya terhajar hingga berteriak kesakitan.

Ketika sebuah batu diarahkan ke kong-cu itu, dengan tenang si kongcu menepis batu itu dengan kipas lipatnya.

"Hm! Nona ini lihay. Mungkin mereka kawanan perampok dari Thay-ouw atau Thian-po-san!"

Kata lelaki bertubuh kekar.

"Baik, kalian tangkap mereka,"

Kata si kong-cu.

"Tapi ingat, jangan lukai yang perempuan!"

"Baik,"

Kata orang kekar itu.

"Nona beraninya kau main gila di depan Han Kong-cu, jika kau tahu selatan, mari ikut kami!"

Kata si kekar.

Dia serang nona Wan dengan jurus Kim-na-ciu-hoat atau jurus cengkraman yang lihay.

Serangan itu oleh nona Wan dikibaskan, sedang tangan kiri nona Wan mencoba menotok lawan.

Ketika terdengar suara sobekan kain, nona Wan kaget.

Tampak lengan bajunya robek, tapi lawannya mundur beberapa langkah.

Temannya yang lain maju hendak mengeroyok nona Wan.

Sedang si kekar yang tertotok tadi tak apa-apa.

"Kurang ajar, majikanku sayang padamu, kau malah mau mencelakai aku!"

Kata si kekar.

Tak lama pertarungan terjadi.

Wan Say Eng diserang oleh orang bertubuh kekar, sedang Giok Phang diserang si wajah hitam yang bersenjata tombak cagak, kawannya yang membantunya menggunakan sebilah pedang.

Sekarang Ci Giok Phang mengenali lawannya, yang satu bernama Bong Sian, sedang yang lain bernama Teng Kian.

Mereka pernah datang ke Pek-hoa-kok pada saat terjadi keributan gara-gara Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng.

Si kong-cu ternyata putera kedua Han To Yu, sang perdana menteri.

Dia bernama Han Hie Sun.

Lawan nona Wan bernama Su Hong, atau pengawal perdana menteri.

Bong Sian dan Teng Kian semula orang Liok-lim (Rimba Hijau atau kaum penjahat).

Mereka sahabat Chan It Hoan, pelayan nona Han Pwee Eng.

Tak heran ketika keributan di Pek-hoa-kok, Chan It Hoan mengundang mereka.

Sesudah keributan di Pek-hoa-kok mereka lalu pergi ke Kang-lam dan diajak bekerja oleh Su Hong.

Di Pek-hoa-kok mereka terluka oleh Kok Siauw Hong dan Ci Giok Phang.

Walau sudah damai, tapi kedua orang ini masih mendendam.

Sebenarnya mereka sudah tahu, muda-mudi itu Ci Giok Phang bersama nona Wan.

Tapi sengaja mereka mengolok-olok dan berniat merampas nona Wan.

"Hm, ternyata kalian! Dulu saat peristiwa itu terjadi, itu karena salah paham. Sekarang aku tidak akan segan-segan terhadap kalian!"

Kata Ci Giok Phang.

"Tutup bacotmu, bocah! Hari ini kaujatuh ke tanganku. Kenapa kau masih berani lancang bicara!"

Kata Bong Sian.

Giok Phang gusar, dia putarkan pedangnya menangkis serangan tombak cagak Bong Sian.

Tak lama ujung pedang Giok Phang meluncur ke arah perut Bong Sian, sedang gagang pedang Giok Phang digunakan untuk menotok Teng Kian.

Satu serangan ke dua lawan, membuat kedua orang ini mundur karena terdesak.

"Jika aku tidak memandang keluarga Han, dulu kalian sudah mampus di tanganku!"

Kata Giok Phang.

"Bangsat! Jangan banyak bicara, baru menang satu jurus kau pentang bacotmu! Sekarang, bisakah kau menahan seranganku?"

Kata Teng Kian.

"Sudah jangan banyak bicara, bunuh saja!"

Kata Bong Sian.

Mereka bertarung seimbang karena dua lawan satu, jika satu lawan satu rasanya mereka tidak akan sanggup melawan Ci Giok Phang yang lihay.

Tapi di tempat lain nona Wan tampak kewalahan melawan Su Hong.

Kepandaian Su Hong sebagai pengawal perdana menteri memang memadai.

Untung nona Wan mampu mengimbangi lawan, walau kalah tenaga.

Kelihatan Su Hong tak sabar.

Dia menyerang dengan cengkraman dasyatnya.

Sekalipun nona Wan bersenjata pedang, tapi tak urung terdesak juga.

Untung Wan Say Eng mampu bergerak cepat, tubuhnya berputarputar menghindari serangan Su Hong.

Ci Giok Phang sempat melirik ke arah nona Wan yang sedang terdesak.

Melihat si nona dikepung dua musuh Giok Phang nekat.

Dia menyerang dengan cepat, pedangnya menusuk cepat luar biasa.

Bong Sian berusaha menghadang Giok Phang agar tak bisa menolongi nona Wan.

Tiba-tiba terdengar suara tajam.

"Sreet!"

Pedang Giok Phang mengarah ke tenggorokan Bong sian; untung Teng Kian maju membantu.

"Trang!"

Pedang Giok Phang dan pedang Teng Kian beradu keras. Tapi pedang Giok Phang lebih cepat, dan....

"Cress!"

Dahi Bong Sian tergores pedang Giok Phang.

Itu masih untung, jika Teng Kian tidak menangkis pedang Giok Phang entah apa jadinya.

Su Hong jadi kesal dan malu karena dia tak mampu segera mengalahkan nona Wan.

Dia menyerang dengan sedikit tergesa-gesa.

Hal ini justru memberi kesempatan buat nona Wan.

Serangan Su Hong yang bertubi-tubi berhasil dihindarkan oleh nona Wan.

Saat itu tiba-tiba nona Wan bergeser ke belakang lawan, pedangnya dengan cepat ditusukan.

Secara reflek dan tidak menoleh lagi Su Hong menangkis ke belakang.

Tangan baju nona Wan terjambret olehnya.

Tapi tangan Su Hong pun tergores oleh pedang nona Wan.

"Kurangajar, kau melukaiku?"

Teriak Su Hong. Saat amarah Su Hong memuncak dan hendak menerkam nona Wan, tiba-tiba si kong-cu maju.

"Suhu, biarkan nona ini kuhadapi,"

Kata kong-cu itu.

"Kau bantu Bong Sian membekuk yang lainnya!"

Kong-cu itu maju. Nona Wan malah girang.

"Kebetulan, menangkap penjahat harus menangkap gembongnya,"

Pikir nona Wan.

Tiba-tiba nona Wan menyerang kong-cu itu dan yang dia arah Tan-tiong-hiat lawan.

Jika tidak waspada Han Hie Sun akan celaka.

Su Hong kaget menyaksikan serangan nona Wan, tapi dia tak sempat jika menolongnya pun.

"Hm! Ilmu silat yang istimewa!"

Puji Han Hie Sun.

Serangan nona Wan, dia tangkis dengan kipasnya, ternyata pedang nona Wan tak mampu menembus kipas lawan.

Melihat kehebatan majikannya, Su Hong tercengang.

Dia tidak menyangka kong-cunya demikian lihay.

"Aah, siapa yang mengajari Kong-cu ilmu silat?"

Pikir Su Hong. Melihat Su Hong bengong, Han Hie Sun memberi perintah.

"Suhu, lekas bantu Bong Sian, dia sudah kewalahan!"

Kata Hie Sun.

Mengetahui kong-cunya lihay sekarang dia meninggalkan sang kong-cu untuk membantu Bong Sian.

Menyaksikan serangannya bisa dimentahkan, nona Wan kaget.

Dia sadar Han Kong-cu ini lihay, mungkin dia bukan tandingannya.

Sambil mengipas-ngipas tubuhnya, Han Hie Sun berkata lagi.

"Pelayanku bicara kurang sopan, aku harap nona tidak marah. Aku ingin bersahabat denganmu, maukah nona?"

Kata Hie Sun. Walau nona Wan jengkel dan mau marah, dia coba menahan sabar.

"Mana pantas gadis kampung sepertiku bersahabat denganmu, kong-cu?"

Kata nona Wan.

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba pedang nona Wan meluncur menyerang Han Hie Sun.

Saat kipas Han Hie Sun baru dilepit karena tertarik oleh jawaban nona Wan yang lemah-lembut.

Saat akan menjawab, tiba-tiba serangan nona Wan datang.

Pada saat yang sangat kritis dia mampu menangkis serangan nona Wan.

Baju Han Hie Sun tertusuk pedang nona Wan, tapi tidak terluka.

Han kaget bukan kepalang, keringat dingin mengucur.

Dia pun gusar.

"Hm! Kau licik nona!"

Kata Han Hie Sun.

"Tapi kau tidak akan lolos dari tanganku!"

Tiba-tiba Han Hie Sun melancarkan serangan dengan kipasnya.

Nona Wan mencoba menghindar.

Dia tak ingin terkena kipas lawan yang lihay itu.

Nona Wan gesit hingga Han Hie Sun jengkel juga.

Kipasnya yang dia lipat langsung dipakai menyerang.

"Roboh!"

Teriak Han Hie Sun. Su Hong tiba tepat pada saat baru saja Giok Phang melukai Bong Sian. Giok Phang berusaha meloloskan diri untuk membantu nona Wan.

"Tunggu! Jangan sombong bocah!"

Kata Su Hong yang langsung menyerang.

Serangan itu membuat Ci Giok Phang terdorong mundur.

Niatnya yang terhalang membuat Giok Phang gelisah, dia lihat nona Wan sedang didesak oleh Han Hie Sun.

Giok Phang yang cerdik tak menyerang ke depan, sebaliknya dia mundur.

"Kau mau kabur ke mana?"

Teriak Su Hong.

Giok Phang dikepung oleh tiga orang lawan.

Mereka tak sadar kalau mereka terjebak oleh akal Ci Giok Phang.

Saat dia sedang dikejar oleh ketiga lawannya.

Ci Giok Phang merogoh mata uang yang dia hamburkan dengan kecepatan seperti kilat ke arah Han Hie Sun.

Ternyata uang itu berjumlah tujuh buah yang mengarah ke tujuh jalan darah Hie Sun.

Han Hie Sun yang hampir berhasil menotok nona Wan, sadar serangan senjata rahasia lawannya berbahaya, terpaksa membuka kipasnya, lalu menangkis ke belakang.

Tak lama ketujuh uang itu berjatuhan ke tanah.

"Bangsat! Aku akan adu jiwa dengan kalian!"

Teriak Giok Phang.

Melihat Giok Phang nekat Su Hong dan kawannya jadi sangsi.

Teng Kian jadi ingat, kenapa dia tidak menggunakan senjata rahasia juga.

Maka itu Teng Kian pun menyerang Giok Phang dengan senjata rahasia.

Tadi saja Giok Phang sudah tak bisa keluar dari kepungan musuh, sekarang ditambah dengan serangan senjata rahasia.

Tentu saja Giok Phang bertambah repot.

Saat itu nona Wan sedang menghadapi serangan Han Hie Sun.

Tapi sambil menyerang Hie Sun menggoda nona Wan dengan kata-kata kurang senonoh.

Tentu saja nona Wan bertambah murka.

Serangan Han Hie Sun semakin genjar, dia menotok nona Wan dengan jurus-jurusnya yang lihay.

Saat Han Hie Sun menyerang muka nona Wan, si nona menunduk tapi tak urung tusuk kundainya terkena kipas lawan.

Hie Sun yang penasaran ingin melancarkan serangan yang mematikan.

Saat Ci Giok Phang dan nona Wan sedang dalam keadaan kritis, muncul seorang pemuda berpakaian kain kasar.

Pemuda itu menggendong sebuah payung.

Sikap pemuda itu lugu sekali.

Pada tengah hari bolong membawa-bawa payung, itu sudah mengherankan orang.

Ditambah lagi saat Teng Kian menghujani Ci Giok Phang dengan senjata rahasia, pemuda itu bukan menyingkir malah menyambut sambaran hujan senjata rahasia itu dengan payungnya.

Menyaksikan kedatangan pemuda lugu itu.

Su Hong keheranan.

Dia coba mengusir pemuda itu dengan bentakan nayaring.

Tapi heran pemuda itu seperti tuli.

Dia bukan 1386 menyingkir, malah berjalan santai menghampiri Ci Giok Phang.

Su Hong tidak tahu siapa pemuda itu, sebaliknya Ci giok Phang justru mengenalinya.

Dia Kong-sun Po, pemuda yang sangat ingin dia temui.

Ilmu silat pemuda ini lumayan tinggi.

Menyaksikan kedatangan pemuda itu nona Wan girang.

Tiba-tiba pemuda lugu itu bicara seenaknya.

"Aneh, udara secerah kok malah turun hujan? Tapi entah hujan apa, karena kelihatannya mengkilap seperti jarum jahit janda she Ma, tetangga kita!"

Kata Kong-sun Po sambil tertawa.

Memang senjata yang menyerang bagaikan hujan itu senjata Teng Kian yang disebut Bwee-hoa-ciam atau jarum bunga Bwee.

Jarum-jarum itu menempel di payung pemuda lugu itu.

Saat dia kibaskan jarum-jarum itu berjatuhan ke tanah.

"Hm! Bocah, kau pura-pura bodoh! Rupanya kau ingin ikut campur di air keruh?"

Kata Teng Kian.

"Tidak hujan, bagaimana di sini bisa ada air? Yang ada kawanan bajingan!"

Kata Kong-sun Po.

Bukan main gusarnya Teng Kian.

Dia gunakan senjata rahasia Hui-bong-ciok yang lebih berat dari jarum tadi menyerang Kong-sun Po.

Teng Kian menganggap payung pemuda itu tidak akan mampu menangkis serangannya.

Di luar dugaan payung Kong-sun-po yang terbuat dari sari baja itu sangat ampuh.

"Oh celaka! Tadi hujan jarum, sekarang hujan batu!"

Sengaja dia berteriak Perbuatan Kong-sun Po memang menggelikan.

Dengan payungnya dia sampok setiap batu yang menyambar ke arahnya.

Dan sialnya batu itu malah berbalik menyambar ke arah Teng Kian.

Teng Kian kaget, dia berkelit dalam keadaan gugup.

Tapi salah satu batu mengenai wajahnya.

Serangan batu itu menyebabkan hidung dan bibir Teng Kian terluka.

Dia menjerit kaget dan kesakitan, dari lukanya keluar darah.

Untung yang diserang bukan matanya, jika matanya pasti buta!

"Toa-ko, kebetulan kau datang.

Tolong kau bantu nona Wan!"

Kata Ci Giok Phang girang bukan main.

"Nona Wan, dulu kau membantu aku. Malah aku belum berterima kasih padamu. Sekarang serahkan bajingan itu padaku!"

Kata Kong-sun Po.

"Baik, kuserahkan dia padamu,"

Kata nona Wan yang girang telah bebas dari tekanan lawan.

"Tapi Toa-ko hatihati ilmu silatnya luar biasa!"

"Tak apa, aku ingin belajar kenal dengan ilmu totok bajingan ini,"

Kata Kong-sun Po.

Bukan main gusarnya Han Hie Sun yang selama ini menganggap dirinya pandai dan serba bisa, dia juga anak perdana menteri.

Tapi sekarang Kong-sun Po mengatakan dia bajingan.

Tiba-tiba tanpa banyak bicara Han Hie Sun menyerang Kong-sun Po dengan sebuah totokan yang sangat ganas.

Tapi serangan itu dengan cepat ditangkis oleh Kong-sun Po dengan payungnya.

Tak heran ketika Han Hie Sun terkena gagang payung, dia kesakitan.

Kipas di tangannya hampir saja terlepas.

"Senjata apa itu?"

Pikir Han Hie Sun. Kong-sun Po sadar lawannya lihay, dia menotok dengan jurus yang mirip Keng-sin-ci-hoat hanya ada sedikit perubahan. Tapi Kong-sun Po malah mengejeknya.

"Jika kau takut pada senjataku, aku tak akan menggunakannya,"

Kata Kong-sun Po.

Kong-sun Po ingin agar lawan mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dia khawatir kipas lawan patah atau rusak, dengan demikian Han Hie Sun tak akan bisa menunjukan kemampuannya.

Merasa dihina Hie Sun marah.

Dia serang Kong-sun Po dengan jurus Pak-thauw-cit-seng (Tujuh bintang barat).

Serangan itu diegos oleh Kong-sun Po.

Melihat serangannya gagal, Han Hie Sun tampak girang.

"Kena!"

Kata dia. Kong-sun Po memutar tubuhnya sambil mengejek.

"Nah rasakan ilmu totokku!"

Kaa Kong-sun Po.

Serangan Kong-sun Po agak aneh, rupanya dia bisa bergerak cepat.

Dia juga bisa mengubah setiap sasaran yang dia tuju.

Ini sungguh membingungkan Han Hie Sun.

Ditambah lagi kepandaian ilmu totok Han Hie Sun belum sempurna benar.

Dia tak mampu merobohkan Kong-sun Po.

"Ilmu totok Han Hie Sun mirip Keng-sin-ci-hoat milik Tam Siok-siok dan Wan-yen Tiang Cie dari negara Kim. Sedangkan Wan-yen Tiang Cie paman raja Kim. Dia tak punya murid. Dari mana Han Hie Sun memperoleh imu totok itu?"

Pikir Kong-sun Po bingung.

"Sedangkan Tam Yu Cong anak pangeran kerajaan Kim, dia sahabat Hoa Kok Han dan sudah lama jadi buronan. Ilmu totokku kupelajari dari Hong-lay Mo-li."

Han Hie Sun pun kaget, serangan balik Kong-sun Po mirip ilmu yang dia miliki. Dia sulit sekali bisa menghindari serangan Kong-sun Po itu.

"Aneh, dia juga memiliki ilmu totok yang sama dengan miliku?"

Pikir Han Hie Sun.

Nona Wan yang sudah bebas dari tekanan orang she Han itu, dia berlari akan membantu Ci Giok Phang menghadapi lawan-lawannya.

Saat itu Teng kian masih menghujani Ci Giok Phang dengan senjata rahasianya, tapi semua dengan mudah bisa dihindarkan oleh Ci Giok Phang.

Tak lama nona Wan sudah ada di tengah kalangan pertempuran.

Dia menyerang Teng Kian dengan pedangnya.

Sekalipun Teng Kian lihay, tapi nona Wan lebih lihay lagi.

Dalam sekejap Teng Kian sudah terdesak oleh serangan pedang nona Wan.

Teng Kian bergabung dengan Bong Sian dan Su Hong.

Dengan demikian mereka baru mampu menghadapi kedua muda-mudi ini dengan baik.

Kong-sun Po di pihak lain berhasil mendesak Han Hie Sun, hingga pemuda ini tampak mulai kewalahan.

Dalam keadaan kritis tiba-tiba muncul seorang kakek.

"Hai, Ji-kong-cu! Kenapa kau bertarung dengan mereka?"

Kata si kakek. Ternyata kakek itu adalah Pek Tek.

"Pek Lo-su, bantu aku!"

Kata Han Hie Sun.

Tiba-tiba Kong-sun Po menyerang Hie Sun.

Melihat serangan berbahaya itu, Pek Tek maju menghalangi Kongsun Po melukai Han Hie Sun.

Melihat tangkisan si jago tua, Kong-sun Po terperanjat.

Dia mengubah totokan dengan telapak tangan, hingga tangan Pek Tek dan Kong-sun Po bentrok.

Kong-sun Po terperanjat karena tangannya seolah 1390 mengenai kapas, tapi orang tua itu pun tak berniat mencelakakan Kong-sun Po.

"Hm! Sekarang kalian mau lari ke mana?"

Kata Han Hie Sun yang girang karena munculnya Pek Tek.

"Jangan berkelahi dulu. hentikan!"

Kata Pek Tek. Su Hong pengawal istana Perdana Menteri Han, sekalipun Pek Tek ini tamu, tapi dia menghormatinya. Mereka menghentikan pertarungan.

"Eh, ada apa Pek Lo-su? Mereka ini penyusup ke kota Liman!"

Kata Han Hie Sun.

"Maaf, apa hubungan kalian dengan Pek-hoa-kok?"

Kata Pek Tek.

"Ci Hie Po apamu?"

"Dia Ayahku,"

Jawab Ci Giok Phang dengan sikap hormat.

"Oh, pantas ilmu pedangmu bagus sekali. Dua puluh tahun yang lalu kami berkenalan dengan ayahmu. Aku Pek Tek, mungkin ayahmu pun pernah bilang padamu?"

Kata Pek Tek.

"Oh, ternyata Anda Pek Siok-siok!"

Kata Ci Giok Phang.

"Benar Ayah pernah bercerita tentang Siok-siok, tapi sekarang Ayah telah tiada."

"Aku sudah tahu,"

Kata Pek Tek.

"belum lama ini aku bertemu temanmu, Kok Siauw Hong!"

"Sebenarnya kami sedang mencari dia,"

Kata Ci Giok Phang.

"Aku dengar dia pergi.."

Kata-kata Giok Phang terhenti karena Pek Tek mengedipkan mata ke arahnya.

"Benar, dia ke rumah sahabatnya. Apa kalian mau ke rumah Bun Tay-hiap, silakan aku tak merintangi kalian!"

Kata Pek Tek.

Memikirkan kedipan Pek Tek tadi Ci Giok Phang sadar, jika dia mengatakan Siauw Hong ke tempat Ong Cee-cu, maka si Kong-cu akan menuduh mereka berkomplot dengan penjahat.

Dia juga heran kenapa jago tua yang sudah lama mengundurkan diri itu tiba-tiba muncul.

Nona Wan maju dia langsung berkata.

"Tapi Han Kong-cu yang menghalangi kami!"

Kata nona Wan. Pek Tek tertawa.

"Harap Kong-cu memandang mukaku, orang she Ci ini sahabatku. Ji-kong-cu harap kau tidak menyusahkan aku!"

Tadi dia tak bisa mengalahkan Kong-sun Po, sekarang Pek Tek mengaku punya hubungan dengan pem,uda she Ci. Sekalipun dia dongkol dia lalu berkata.

"Karena keadaan agak gawat, dan Ayahku seorang pejabat, maka mau tak mau aku waspada! Maafkan kami, saudara Ci. Orang kalangan Kang-ouw menjadi sahabat, biasanya harus dengan berkelahi dulu!"

Kata Han Hie Sun.

"Dia ini putera Perdana Menteri Han,"

Kata Pek Tek pada Ci Giok Phang dan kawan-kawannya. Dengan merendah Ci Giok Phang berkata lagi.

"Kami senang bisa bertemu. Tapi mana mungkin kami bergaul dengan orang bangsawan. Jika Han Kong-cu mau membebaskan kami, kami sudah sangat bersyukur!"

Kata Ci Giok Phang.

Semula mereka akan jalan-jalan melihat See-ouw, tapi karna kejadian tadi selera mereka hilang.

Maka itu mereka 1392 langsung pamit dan berangkat akan menemui Bun Yat Hoan.

Di tengah jalan nona Wan bertanya pada Kong-sun Po.

"Kong-sun Toa-ko, kenapa bisa kebetulan kau pun datang ke mari?"

Kata nona Wan.

"Mana nona Kiong?"

"Aku ke Kang-lam untuk mencari dia,"

Kata Kong-sun Po.

"Apa kau tidak bertemu dengannya?"

"Kami janji akan bertemu di tengah jalan ke Kim-keeleng,"

Kata Kong-sun Po.

"Di Kim-keeleng pun aku tidak bertemu dengannya. Entah ke mana dia. Karena aku tahu dia senang pemandangan yang indah, aku pikir dia ke Kang-lam. Maka itu aku datang ke mari!"

Kata Kong-sun Po.

"Dia memang senang melancong,"

Kata nona Wan.

"Kalian sudah janji, jika ada sesuatu seharusnya dia memberi khabar padamu!"

"Itu sebabnya aku jadi khawatir,"

Kata Kong-sun Po.

Kong-sun Po dan nona Wan tidak mengetahui bahwa HokhongTo-cuKiong Cauw Bun bermusuhan dengan Hong-lai-moli di Kim-kee-leng.

Sesudah nona Kiong bertemu dengan Kong-sun Po, nona Kiong mulai tidak percaya pada ayahnya.

Tapi karena dia melarikan diri dari ayahnya, ditambah dia bergabung dengan musuh ayahnya, betapa marahnya sang ayah nanti.

Saat nona Kiong mengetahui ayahnya sedang menguntit Kong-sun Po, maka dia menggunakan siasat supaya ayahnya mengejar dia tapi tidak mengejar Kong-sun Po.

Dia naik kuda pemberian nona Wan, hingga dia tidak bertemu dengan Kong-sun Po.

Dia ingin memberi tahu 1393 Kong-sun Po, tapi khawatir bertemu ayahnya.

Itu sebabnya dia tak ke Km-kee-leng.

Ditambah dia mendapat halangan lain.

Saat nona Wan melihat Kong-sun Po murung, nona Wan menghiburnya.

"Dia cerdas dan lihay, kau jangan cemas. Barangkali dia ada di Kang-lam sedang bersenang-senang,"

Kata Wan Say Eng.

"Aku juga berharap begitu!"

Kata Kong-sun Po.

"Untung kau datang, jika tidak kami bisa celaka,"

Kata Ci Giok Phang ikut bicara.

"Han Kong-cu itu ternyata lihay!"

"Aku juga heran?"

Kata Kong-sun Po.

"Apa yang kau herankan?"

Tanya nona Wan.

"Dia murid Pek Tek, jago tua itu. Pantas jika dia lihay!"

"Aku kira dia bukan murid Pek Tek!"

Kata Kong-sun Po.

"Darimana kau ketahui hal itu?"

Tanya nona Wan.

"Dari ilmu silatnya,"

Jawab Kong-sun Po.

"Tenaga Pek Tek keras dan lunak, berbeda dengan tenaga orang she Han itu! Setahuku Pek Tek bukan akhli Tiam-hiat!"

"Kau sangsi tentang gurunya?"

Kata nona Wan.

"Ya. Tapi aku belum bisa menjelaskannya,"

Kata Kongsun Po.

"Aku kira Bun Tay-hiap pengalamannya luas, lebih baik kita tanyakan saja pada beliau!"

Nona Wan agak tak sabar tapi mereka sudah dekat ke rumah Bun Yat Hoan.

Begitu sampai mereka meminta pada penjaga rumah agar memberi tahu pada Bun Yat Hoan tentang kedatangan mereka.

Tak lama mucul seorang pria berumur sekitar limapuluh tahun.

Ci Giok Phang mengenalinya.

"Eeh, ternyata Chan Toa-siok pun ada di sini?"

Kata Ci Giok Phang. Pemuda ini agak kaget bertemu Chan It Hoan. Dia salah seorang pegawai keluarga Han di Yang-ciu.

"Ci Kong-cu, sudah kuduga kau akan datang. Tentang kejadian masa lalu jangan kau pikirkan. Adikmu sekarang menjadi menantu Bun Yat Hoan,"

Kata Chan It Hoan.

"Benar, aku memang sedang mencari adikku,"

Kata Giok Phang.

"Benarkah dia telah menkah dengan Seng Siauwhiap?"

"Benar,"

Kata Chan It Hoan.

"Pestanya pun meriah sekali, semua jago berdatangan mengucapkan selamat. Sayang kau tak hadir!"

"Chan Toa-siok, tolong kau temukan aku dengannya,"

Kata Ci Giok Phang.

"Sayang, adikmu dan Seng Siauw-hiap sedang tak ada di rumah,"

Kata Chan It Hoan.

"Ke mana mereka?"

Kata Ci Giok Phang.

"Mereka sedang melaksanakan tugas dari gurunya,"

Kata Chan It Hoan.

"Sebentar bila kau betemu dengan Bun tay-hiap bisa kau tanyakan soal mereka padanya."

Mereka lalu dipersilakan masuk. Malah Chan It Hoan sudah mendapat keterangan Bun Yat Hoan sedang menunggu mereka di ruang tamu. Begitu bertemu Bun Yat Hoan, Kong-sun Po memberi hormat.

"Jangan sungkan,"

Kata Bun Yat Hoan.

"aku juga mendapat petunjuk Kakekmu, sekalipun aku tidak jadi murid kakekmu! Tapi bisa dikatakan aku ini muridnya yang tidak resmi!"

Bun Yat Hoan mencoba membangunkan Kong-sun Po, maksudnya untuk menjajal tenaga Kong-sun Po.

Bun Yat Hoan girang melihat Kong-sun Po tampak gagah.

Dia girang sekali padahal ayah Kong-sun Po yaitu Kong-sun Kie banyak berbuat dosa.

Tapi anaknya cukup menggirangkan.

Ci Giok Phang pun memberi hormat.

Bun Yat Hoan berkata pada pemuda ini.

"Adikmu telah menjadi isteri muridku. Maka sebagai keluarga kau jangan sungkan! Sayang kau datang terlambat, sekarang mereka sedang ke tempat Ong Cee-cu! Mereka mewakiliku!"

Kata Bun Yat Hoan.

"Kebetulan, kami juga mau ke Thay-ouw."

Kata Ci Giok Phang.

"Jangan tergesa-gesa, kalian baru datang, istirahat saja dulu,"

Kata Bun Yat Hoan. Nona Wan memberi hormat.

"Siapa dia?"

Tanya Bun Yat Hoan.

"Dia puteri ketua pulau Beng-shia-to!"

Kata Ci Giok Phang.

"Hm! Kau jangan malu-malu, bukankah dia tunanganmu?"

Kata Kong-sun Po.

"Oh, jadi kau menantu beliau?"

Kata Bun Yat Hoan.

Bun Yat Hoan jadi heran kenapa Ci Giok Phang bertunangan dengan anak seorang jago tua yang berpihak di dua golongan, jahat dan benar.

Mereka dipersilakan duduk.

Setelah mereka duduk Kong-sun Po bicara.

"Paman Bun, ada yang ingin kutanyakan pada Paman,"

"Kakatakan saja,"

Kata Bun Yat Hoan.

"Tadi di luar kota kami bertemu dengan Pek Lo-sianseng, dia tinggal di rumah Perdana Menteri Han, siapa beliau itu?"

Kata Kong-sun Po.

"Yang kau maksud Pek Tek, bukan?"

Kata Bun Yat Hoan.

"Dia utusan Ong Cee-cu dan tamu Han To Yu. Kenapa kau sangsi padanya?"

"Mana berani, beliau jago tua. Mana mungkin aku sangsi!"

Kata Kong-sun Po.

"Yang ingin kuketahui tentang putera perdana menteri, apa dia murid Pek Lo-cian-eee atau bukan?"

"Terus terang aku juga tak tahu soal itu,"

Kata Bun Yat Hoan.

"Pek Tek baru dua bulan di sana, apa kau bertarung dengannya?"

"Ya. Aku sangsi gaya bersilat Han Hie Sun berbeda dengan ilmu silat Pek Lo-cian-pwee. Sekarang sesudah mendengar keterangan Bun Tay-hiap, aku yakin dia bukan murid Pek Locian-pwee. Lalu murid siapa?"

Kata Kong-sun Po.

"Di istana ayahnya tidak sedikit orang-orang gagah,"

Kata Bun Yat Hoan.

"Dari ceritamu, Han Hie Sun lebih tinggi kepandaiannya dari para jago di sana. Siapa gurunnya, aku juga tak tahu. Memang kenapa?"

"Karena curiga jadi aku ingin tahu saja,"

Jawab Kong-sun Po.

"Jago Tiam-hiat sekarang ini, mana ada yang lebih lihay dari Bu-lim-thian-kiauw! Malah aku dengar kau belajar darinya. Masakah kepandaianmu aku mampu menandingi dia?"

Kata Bun Yat Hoan.

"Dia lihay, sekalipun belum sempurna sekali. Selain lebih hebat ilmu totoknya lebih baik dari Tam Siok-siok!"

Kata Kong-sun Po.

"Kenapa begitu?"

Bun Yat Hoan keheranan.

"Entahlah, kuakui dia lebih lihay!"

Kata Kong-sin Po.

"Jadi dia mahir Keng-sin-ci-hoat?"

"Benar! Maka itu aku heran."

Kata Kong-sun Po.

"Jika demikian, sungguh aneh sekali!"

Kata Bun Yat Hoan.

"Apa yang mengherankan, jelaskan, aku tidak mengerti?"

Kata nona Wan.

"Maksudnya, ilmu tiam-hiat Tam Yu Cong itu berdasarkan hiat-to atau titik yang ada di patung tembaga milik Kerajaan Song yang diduduki bangsa Kim. Patung itu dirampas oleh musuh. Konon raja Kim mengumpulkan jago silat dan tabib untuk mengungkap rahasia patung itu!"

Kata Bun Yat Hoan.

"Tim penyelidikan itu dipimpin oleh Wan-yen Tiang Ci."

"Sekarang aku mengerti!"

Kata nona Wan.

"Mengerti tentang apa?"

Kata Ci Giok Phang.

"Aku sekarang tahu, siapa "orang bertopeng"

Yang mencuri lukisan itu!"

Kata nona Wan.

"Dia adalah guru Han Hie Sun!"

"Apa maksudmu. Siapa orang bertopeng itu maksudmu?"

Kata Bun Yat Hoan. Nona Wan menceritakan apa yang dia dengar dai Kho-si atau isteri Ciauw Goan Hoa sebelum dia meninggal.

"Oh, jadi begitu ceritanya,"

Kata Bun Yat Hoan.

"Aku tahu sekarang,"

Kata Bun Yat Hoan.

"Jadi salinan gambar itu ada dua buah. Yang satu milik Kerajaan Song yang satunya hasil penelitian orang Kim!"

Kata Bun Yat Hoan.

"Bun Tay-hiap benar,"

Kata nona Wan.

"Mungkin lukisan asli milik Kerajaan Song lebih bagus dibanding 1398 milik kerajaan Kim, itu sebabnya Kong-sun Po mengatakan ilmu tiam-hiat Han Hie Sun lebih bagus! Saat terjadi pencurian di kamar Kho Kiat, orang bertopeng menotok Yo Tay Ceng dan Ciok Leng. Ketika itu Yo Tay Ceng dan Ciok Leng mencurigai Kho Kiat bersekongkol dengan orang bertopeng. Orang itu dikira Hokhong To-cu Kiong Cauw Bun. Ternyata dugaan itu keliru. Sebab orang itu guru Han Hie Sun!"

"Kita sudah mendapat titik terang, tapi siapa guru Han Hie Sun?"

Kata Ci Giok Phang.

"Tentang Keng-sin-ci-hoat itu, Tam Siok-siok belum mempelajarinya secara sempurna. Dia tahu ada sebuah lukisan milik Kerajaan Song, tapi tak tahu ada di mana?"

Kata Kong-sun Po.

"Jika guru Han Hie Sun sudah ditemukan, maka akan bermanfaat bagi Tam Siok-siok. Mereka berdua bisa bertukar-pikiran berdua!"

"Muridnya begitu, pasti sifat gurunya juga sama,"

Kata nona Wan.

"Sifat Han Hie Sun jahat, orang yang jadi gurunya pasti sama dan bukan orang baik!"

"Memang aku juga khawatir, jika lukisan itu berada di tangan oangjahat, kelak pasti akan membahayakan dunia persilatan,"

Kata Bun Yat Hoan.

"Sebaiknya aku mencari tahu, siapa guru Han Hie Sun? Jika tidak berhasil aku akan minta bantan Liok Pang-cu Kay-pang untuk mencari siapa orang itu'.

"Terima kasih, Bun Tay-hiap,"

Kata Kong-sun Po.

Mereka akan pamit tapi ditahan agar bermalam, baru besoknya mereka pergi dari rumah Bun Yat Hoan.

Esok harinya...

Saat matahari terbit, mereka sudah meninggalkan tempat Bun Yat Hoan.

Di tengah jalan nona Wan bicara.

"Eeh, apa kalian setuju malam ini kita selidiki rumah Han To Yu?"

Kata si nona.

"Jangan terburu-buru, bukankah Bun Tay-hiap berjanji akan membantu menyeldiki masalah ini?'' kata Ci Giok Phang sambil tersenyum.

"Kho-si meninggal gara-gara lukisan itu,"

Kata nona Wan.

"aku ingin sekali segera mengungkap misteri itu. Jika Bun Tay Hiap berhasil dan tahu siapa guru Han Hie Sun, kita bisa apa terhadapnya? Kita ke rumah Han To Yu, lalu bekuk Han Hie Sun dan langsung kita tanya dia, beres!"

"Jangan! Cara begitu kurang baik. Kita cari saja Pek Locian-pwee untuk kta tanya!"

Kata Kong-sim Po.

"Aku tak setuju, sebab begitu sampai di sana, kita sudah akan diganggu oleh Han Hie Sun. Lebih baik kita bertindak secara diam-diam saja,"

Kata nona Wan.

Akhirnya Kong-sun Po setuju.

Mereka menuju ke kota Liman.

Sampai di sana hari masih sore.

Lalu mereka makan dulu di sebuah rumah makan kecil.

Mereka pun mencoba bertanya di mana istana perdana menteri Han.

Sesudah tahu mereka pun menunggu saat yang tepat.

Sore itu mereka menuju ke danau ke tempat tinggal Han To Yu.

Istana perdana menteri ini berdiri membelakangi bukit.

Dari sebuah tebing mereka mengintai ke istana itu.

Di sekitar rumah terdapat banyak oyot atau akar pohon, dengan mudah mereka bisa memasuki taman.

Padahal di taman itu banyak Wi-su (pengawal) yang berjaga-jaga.

Mereka mengendapendap di balik semak-semak.

Tampak beberapa pengawal sedang meronda di sekitar taman.

Ci Giok Phang dan kawankawannya mengawasi ke arah gedung.

"Gedung ini tamannya luas sekali,"

Kata Ci Giok Phang.

"Di mana letak kamar Han Hie Sun keparat itu!"

"Jangan tergesa-gesa, tunggu saat yang baik,"

Bisik nona Wan. Saat mereka sedang mengintai, tiba-tiba seorang budak keluar. Dengan cepat dia disergap nona Wan.Mulutnya dibekap lalu dibawa ke balik semak.

"Tenang, jangan takut,"

Kata nona Wan.

"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi jika kau tak jujur awas!"

Budak itu ketakutan.

"Katakan saja, apa yang ingin kau tanyakan?"

Kata si budak.

"Kau mau ke mana?"

Kata nona Wan.

"Aku sedang membawa kuah kolesom untuk Ji-siauw-ya,"

Kata budak itu.

"Aku ingin tahu, di mana kamar Ji Kong-cumu?"

Kata nona Wan.

"Kalian mencari majikan mudaku?"

"Benar,"

Kata nona Wan.

"Lekas katakan, di mana kamarnya?"

Dia tahu majikan mudanya senang bergaul dengan orang kang-ouw, maka itu tanpa ragu-ragu dia berkata.

"Dia tinggal di rumah susun bercat merah! Dari sini ke selatan kalian akan sampai di rumah itu. Tapi kau jangan bilang aku yang memberitahu!"

"Jangan takut, aku kira Kong-cumu tak akan bertanya apaapa padamu. Kau istrahatlah dulu di barang sejam, baru 1401 kau ke kamarmu untuk tidur,"

Kata nona Wan sambil menotok jalan darah budak itu.

"Kalau kuah kolesom ini dibuang sayang sekali, lebih baik kuminum saja!"

Kata nona Wan sambil tertawa. Lalu dia minum.

"Ah, enak juga rasanya. Kalian mau?"

Kata nona Wan.

"Minum saja,"

Kata Ci Giok Phang.

Sesudah itu mereka menuju ke gedung tingkat bercat merah.

Dengan berhati-hati mereka berusaha agar tidak terlihat oleh para penjaga.

Dari semak-semak mereka mengintai, mereka lihat di salah satu jendela ada bayangan orang.

"Hai, sedang apa dia?"

Kata nona Wan yang mengenali bayangan itu bayangan Han Hie Sun. Ternyata Han Hie Sun sedang berlatih suatu ilmu. Kakinya ke atas dan kepalanya bertumpu ke lantai.

"Dia sedang berlatih tenaga dalam,"

Kata Kong-sun Po.

"Tapi rasanya tidak bagus."

"Tidak bagus bagaimana?"

Tanya nona Wan.

"Jika dia sedang konsentrasi, apapun yang terjadi di sekitarnya, tidak dia hiraukan. Lalu kenapa kau bilang kurang baik?"

"Sikap seperti itu tidak baik, menyerang orang sedang dalam kesulitan. Sebaiknya kita bertarung dengannya dan mengalahkannya, baru kita culik dia!"

Kata Kong-sun Po.

"Apa perlunya bicara soal aturan dengan si jahat itu!"

Kata nona Wan. Ketika mereka masih berdebat, tiba-tiba muncul wanita tua bersenjata tongkat bambu hijau. Ci Giok Phang dan nona Wan langsung mengenali wanita tua itu. Dia Seng Cap-si Kouw adanya.

"Mau apa dia ke mari? Apa dia kawan orang she Han atau bukan?"

Pikir nona Wan.

Saat si nona bingung, tiba-tiba dia lihat Seng Cap-si Kouw memukul kepala Han Hie Sun.

Mereka mengira wanita itu ingin membunuh pemuda itu.

Ternyata dugaan mereka salah.

Dia memukul untuk menghentikan latihan Han Hie Sun yang sudah tingkat kritis.

Jika tidak segera ditolong oleh Seng Capsi Kouw bisa jadi Han Hie Sun celaka atau binasa.

Seng Cap-si Kouw seorang akhli aliran hitam.

Tindakannya itu justru untuk menyelamatkan Han Hie Sun dari bahaya.

Melihat Seng Cap-si Kouw ada di kamarnya, Han Hie Sun memberi hormat.

"Maaf, aku tidak menyambutmu!"

Kata Han Hie Sun.

"Mana suhumu?"

Tanya Seng Cap-si Kouw.

"Dia sudah menduga kau akan datang, tapi tidak kukira akan secepat ini,"

Kata Han Hie Sun.

"Dia akan sampai dua tiga hari lagi. Kau mau menunggu kedatangannya?"

"Semula kukira dia bersembunyi di taman, rupanya itu orang lain,"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Kau melihat siapa?"

Tanya Han Hie sun.

"Jika aku tak muncul, mungkin kau sudah disergap mereka. Tapi aku tidak tahu siapa orang itu?"

Kata Seng Cap-si Kouw. Mendadak Seng Cap-si Kouw mengayunkan tangan ke arah taman.

"Hai bocah yang sembunyi di taman, keluar!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Saat nona Wan melihat munculnya si iblis perempuan, dia tarik tangan Ci giok Phang dan mengajak Kong-sun Po 1403 untuk segera meninggalkan tempat itu.

Tapi saat mereka mengundurkan diri, mereka mendengar suara deingan senjata rahasia yang dilontarkan oleh si iblis perempuan.

Sambitan si iblis sangat aneh, senjata rahasianya berubah seperti sebuah bumerang.

Sekalipun musuh bersembunyi di balik bukitbukitan, senjata itu mampu berbalik dan menyerang dengan hebat.

Untung Kong-sun Po melihatnya.

Dengan cepat, senjata rahasia cincin itu berhasil disentil oleh Kong-sun Po hingga berjatuhan.

Tak lama berkelbat sebuah bayangan.

Itulah bayangan Seng Cap-si Kouw yang melompat lewat jendela ke taman.

"Aah, aku kira siapa. Ternyata kalian, hai bocah-bocah masih bau kencur!"

Kata Seng Cap-si Kouw. Kong-sun Po belum pernah bertarung dengan wanita tua ini, maka itu dia belum tahu seberapa lihaynya wanita tua ini.

"Lekas lari, biar aku yang menghadapi dia!"

Kata Kongsun Po pada kawan-kawannya.

"Mau pergi ke mana, jangan harap kalian bisa lolos!"

Kata Seng Cap-si Kouw. Dia angkat tongkatnya langsung menghajar kepala Kong-sun Po dengan tongkat bambu hijaunya. Kong-sun Po secara reflek menangkis serangan itu dengan payung besinya.

"Traaang!"

Tangan Kong-sun Po langsung kesemutan.

Dia kaget dan heran, untung payungnya dari baja murni.

Jika bukan dan beradu, terkadang senjata lawan patah.

Aneh tongkat bambu Seng Cap-si Kouw mampu menahan payung itu.

Sebaliknya iblis perempuan ini pun kaget.

Dia langsung ingat cerita See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek.

Mereka 1404 bilang mereka pernah bentrok dengan pemuda bersenjata payung.

Dia manggutmanggit.

Tak lama Han Hie Sun pun melompat dan sudah sampai di tempat itu.

"Aaah, aku kira siapa? Ternyata kalian!"

Kata Han Hie Sun mengejek.

"Kemarin kalian aku undang, tapi kalian menolak. Eeh, malam ini malah kalian datang! Sembunyi-sembunyi lagi!"

Han Hie Sun tertawa menghina.

"Jika kalian sendiri datang, sebaiknya tak boleh pergi lagi!"

Kata Han Hie Sun. Orang yang dia takutkan Kong-sun Po, tapi pemuda itu sedang bertarung melawan Seng Cap-si Kouw. Dia girang, maka itu dia hampiri Ci Giok Phang dan nona Wan.

"Karena ada Pek Tek, jiwa kalain kuampuni. Sekarang kau harus kuajar adat!"

Kata nona Wan. Han Hie Sun tertawa.

"Kau mau mengajar adat padaku? Aku malah sayang padamu!"

Kata Han Hie Sun menggoda dengan sikap tengil. Wajah nona Wan berubah serius. Dia tusukkan pedangnya ke dada lawan.

"Nona, ilmu totokmu itu harus kau latih lagi!"

Kata Han Hie Sun. Saat serangan pedang nona Wan sampai, dengan cepat dia buka kipasnya. Ketika pedang sampai, kipas itu dia tutup dengan cepat.

"Sreet!"

Dia tangkis pedang nona Wan, lalu dengan kipasnya dan dia totok bagian dada nona Wan.

"Jangan tekabur!"

Bentak Ci Giok Phang yang langsung menyerang.

Dia gunakan jurus Sam-goan-to-goat (Tiga gelang menjerat rembulan).

Ini salah satu jurus andalan Pek-hoa-kok.

Han Hie Sun pernah bertarung melawan Ci Giok Phang.

Maka itu dia tidak berani memandang ringan lawan.

Dia tarik kipasnya untuk menangkis serangan pedang lawan.

Lalu balas menyerang dengan menotok beberapa jalan darah Ci Goik Phang.

Serangan nona Wan tak sehebat Ci giok Phang, tapi jurus pedang si nona cukup gesit dan berbahaya.

Tak lama terdengar suara nyaring.

"Breet!"

Tangan baju Han Hie Sun terobek pedang si nona.

Pertempuran mereka jadi seimbang, entah jika satu lawan satu, tapi sekarang Han Hie Sun dikeroyok berdua.

Sekalipun Seng Cap-si Kouw lebih lihay dari Kong-sun Po, tapi untuk mengalahkan pemuda itu tidak mudah.

Dengan paung di tangannya, Kong-sun Po berusaha menahan setiap serangan si iblis perempuan.

Tak heran setiap serangan Seng Cap-si Kouw selalu bisa diatasi oleh pemuda ini.

Ketika itu para penjaga sudah mengetahui ada pertempuran di taman, mereka segera berlomba mendatangi taman.

Sejak masih kecil Kong-sun Po dididik oleh tiga jago terkemuka.

Lwee-kangnya sangat tinggi, sedang pukulan jarak jauhnya sudah bagus.

Ketika Kong-sun Po menyerang Han Hie Sun, orang she Han itu merasa dadanya seperti terhajar sebuah palu besar.

Dia mundur beberapa langkah.

Melihat lawannya mundur, nona Wan menggunakan kesempatan baik itu.

"Rasakan pedangku!"

Kata si nona yang menusuk bahu Han Hie Sun dengan cepat.

Tapi kecepatan nona Wan masih kalah oleh kecepatan tongkat bambu hijau.

Seng Cap-si Kouw menangkis pedang nona Wan.

Sekarang dia menghadapi Ci Giok Phang dan nona Wan.

Sebuah serangan yang diarahkan ke dua sasaran dan luar biasa cepatnya.

Nona Wan buru-buru menarik tusukannya.

Bersama Ci Giok Phang nona Wan melompat mundur.

Pada saat yang bersamaan Kong-sun Po sudah melompat maju membantu dua kawannya.

Untung gerakan Seng Capsi Kouw hanya ingin menyelamatkan Han Hie Sun, jika dia berniat menyerang mereka, paling tidak nona Wan akan terluka olehnya.

Serangan Kong-sun Po pada Han Hie Sun sebuah serangan tipuan.

Akal Kong-sun Po ini ternyata berhasil.

Dengan mundurnya Seng Cap-si Kouw menyelamatkan Han Hie Sun, kesempatan ini digunakan oleh tiga anak muda itu untuk meloloskan diri.

Han Hie Sun kelihatan kesakitan.

Bahunya terasa panas.

"Aah kejam sekali perempuan itu, untung Seng Cap-si Kouw menyelamatkan aku!"

Pikir Han Hie Sun yang kaget bukan kepalang. Dengan marah Han Hie Sun memberi perintah.

"Pengawal tangkap mereka! Jangan sampai ada yang lolos!"

Kata Han Hie Sun. Saat mengejar usaha mereka sia-sia. Dengan mudah Kong-sun Po berhasil menotok mereka. Su Hong gusar.

"Panggil Pek Tek supaya dia lihat perbuatan kawankawannya...."

Kata Su Hong.

Tapi belum selesai ucapannya payung Kong-sun Po sudah mengancam dirinya.

Dia gunakan Kim-na-ciu andalannya.

Tapi celaka justru urat nadi Su Hong terkilir karena bentrok dengan payung baja murni Kong-sun Po.

Dengan cepat ketiga orang itu sudah melompati tembok dan menghilang.

Saat itu mereka dihujani oleh anak panah para pengawal, Kong-sun Po dengan payungnya menangkis semua anak panah itu.

Ketika mereka sudah jauh Seng Cap-si Kouw berpikir.

"Jika mereka kukejar, belum tentu aku bisa mengalahkan mereka? Apalagi dia murid Beng Beng Tay-su, jika aku memaksa aku malah dianggap menghina Beng Beng Taysu!"

Begitu Seng Cap-si Kouw berpikir. Dia tak jadi mengejar, malah bertanya pada Han Hie Sun.

"Bagaimana lukamu? Biar lain kali kita balas mereka!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Saat itu Han Hie Sun menahan sakit karena pukulan jarak jauh Kong-sun Po tadi.

Maka itu dia pun diam saja.

-o0-DewiKZ^~^aaa-o0-Pengantar dari penerbit Untuk memenuhi permintaan para pembaca "Beng Ciang Hong In Lok"

Mengenai penggantian cover buku, kami penuhi dan pembuatan cover ini dikerjakan oleh sdr.

Dedi Sugianto.

Juga untuk memenuhi keinginan pembaca mengenai ilustrasi cerita aslinya, kami juga sertakan dalam

Jilid 4 ini, sesudah kami temukan kembali buku aslinya. Mulai sejak

Jilid 4 dan selanjutnya, kami akan terus memuat gambar asli buku yang diterjemahkan oleh sdri.

Ai Cu ini sampai selesai.

Dengan ini kami penuhi keinginan pembaca sehinggu buku ini menjadi lengkap dan menarik.

Semoga para pembaca puas atas sajian kami ini.

Penerbit -o0-DewiKZ^~^aaa-o0-

Jilid Kelima BENG CIANG HONG IN LOK (Badai Awan dan Angin) oleh . Liang le Shen

Jilid Ke 5 Diceritakan kembali oleh .

Marcus A.S.

MARWIN Penerbitan & Percetakan Judul asli.

Beng Ciang Hong In Lok Penulis asli.

Liang le Shen Diterjemahkan oleh .

Ai Cu Diceritakan kembali oleh .

Marcus A.s.-Diterbitkan atas kerjasama dengan San Agency & Marwin Cetakan pertama .

2006 Bab 51 Ci Giok Phang Bertemu Siauw Hong; Seng Liong Sen Dipermainkan Pengemis Tua Tiga orang muda-mudi itu melarikan diri dari taman gedung perdana menteri.

Ketika mereka menoleh dan tidak ada yang mengejar lagi, hati mereka lega juga.

Sambil tersenyum Wan Say Eng berkata pada dua orang kawannya.

"Tidak kusangka, lihay juga iblis perempuan itu!"

Kata nona Wan.

"Jika Ayah sudah aku temukan, akan kucari lagi dia untuk mengadakan perhitungan yang menentukan!"

"Sesudah kejadian ini aku khawatir Pek Lo-cian-pwee mendapat susah dari mereka!"

Kata Kong-sun Po.

"Mudah-mudahan saja tidak,"

Kata Ci Giok Phang.

"Pek Locian-pwee merupakan penghubung antara Han To Yu dengan para tokoh persilatan di daerah Kang-lam, yakni saat diketahui tentara Mongol akan menyerang ke daerah selatan! Aku kira Han To Yu masih memerlukan tenaganya."

"Sekarang mau ke mana kita?"

Tanya Kong-sun Po.

"Sebaiknya kita ke Thay-ouw saja untuk menemui Kok Siauw Hong!"

Kata Ci Giok Phang.

"Baik, karena Ong Cee-cu dengan Bibi Hong-lai-mo-li punya hubungan baik,"

Kata Kong-sun Po.

"Kita bisa minta 1411 bantuan Ong Cee-cu untuk mengirim khabar kepada Bibi Hong-lay-moli di Kimkee-leng! Beritahu pada Bibi tentang munculnya Iblis Perempuan di istana Perdana Menteri Han. Aku yakin Bibi akan memberi tahu Tam Siok-siok. Maka dengan tak perlu menunggu bertemu ayahmu, aku rasa sudah memadai jika hanya untuk membereskan si Iblis Perempuan!"

"Dari ucapan Seng Cap-si Kouw tadi, aku yakin dia kenal dengan guru Han Hie Sun. Guru Han Hie Sun pasti si Manusia Bertopeng. Jika Bu-lim-thian-kiauw mengetahui hal ini, pasti dia akan mencari mereka!"

Kata nona Wan.

Mereka terus melanjutkan perjalanan ke Thay-ouw.

Tanpa terasa akhirnya mereka tiba di Thay-ouw.

Danau itu luas sekali.

Pemandangan di tempat itu pun indah.

Ketika mereka sedang berada dekat semak gelagah, terdengar suara suitan nyaring.

Tak lama muncul sebuah perahu dari balik semak-semak itu.

"Apakah Anda rombongan Ci Kong-cu dari Pek-hoakok?"

Sapa si tukang perahu. Mendengar pertanyaan itu mereka jadi keheranan.

"Kau mengenaliku, siapa sebenarnya Anda? Padahal kita belum pernah berkenalan,"

Kata Ci Giok Phang.

"Aku sudah tahu tentang kedatangan kalian dari Ong Ceecu, aku diperintah beliau untuk menyambut kedatangan kalian!"

Kata si tukang perahu. Ci Giok Phang mengangguk, tanpa ragu-ragu mereka naik ke atas perahu. Perahu pun mulai dikayuh.

"Tuan, tahukah kau di mana Kok Siauw Hong dan Nona Ci bersama Seng Siauw-hiap berada?"kata Ci Giok Phang.

"Tentang Kok Siauw-hiap, dia memang ada di Thayouw. Mengenai Seng Siauw-hiap dan isterinya, aku tidak tahu,"

Jawab si tukang perahu.

Markas besar Ong Cee-cu berada di danau besar Tongteng-ouw.

Ketika mereka sampai ternyata Ong Cee-cu dan Kok Siauw Hong sudah menunggu kedatangan mereka di sana.

Sekalipun mereka girang karena bertemu dengan Kok Siauw Hong, hati Ci Giok Phang merasa tidak enak juga.

Sedang Ong Cee-cu langsung berkata pada Ci Giok Phang.

"Ci Siauw-hiap, kau dari tempat Bun Tay-hiap, sayang aku tidak bisa menghadiri pernikahan adikmu dengan Seng Siauwhiap!"

Kata Ong Cee-cu.

"Jadi mereka belum sampai ke tempat ini?"

Kata Ci Giok Phang bingung dan khawatir.

"Kata Bun Tay-hiap adikku bersama suaminya sudah lama mau ke sini!"

"Hah! Wah, kalau begitu mereka mendapat halangan di tengah jalan. Tapi jangan khawatir, sebab Seng Liong Sen dikenal di daerah ini. Biar akan kukirim orang untuk menyelidikinya!"

Kata Ong Cee-cu memberi kepastian.

Mereka akhirnya bermalam di tempat Ong Cee-cu yang bernama Ong It Teng.

Malam itu Ci Giok Phang tidur dengan Kok Siauw Hong.

Mereka ngobrol sampai jauh malam.

Terutama mengenai pengalaman mereka saat keduanya berpisahan.

"Tempo hari ketika aku ke rumah Perdana Menteri Han To Yu, aku bertemu dengan seseorang, mungkin kau pun tidak mengira."

Kata Ci Giok Phang.

"Bertemu dengan siapa?"

Tanya Kok Siauw Hong.

"Dengan Seng Cap-si Kouw,"

Jawab Ci Giok Phang.

"Kenapa dia bisa ada di sana?"

Tanya Kok Siauw Hong heran. Sesudah itu Ci Giok Phang menceritakan pertemuannya dengan Seng Cap-si Kouw.

"Aku pun sedang mencari dia!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Mencari dia, untuk apa?"

Kata Ci Giok Phang.

"Ayah Pwee Eng luka dan dirawat di rumahnya, tapi ketika dicari dia tidak ada di sana hingga membuat Pwee Eng khawatir. Jadi untuk mencari ayah nona Han kita harus mencari dia dulu!"

Kata Kok Siauw Hong. Ci Giok Phang menghela napas.

"Syukur kau tidak bertemu dengan Han Lo-eng-hiong!"

Kata Ci Giok Phang.

Kok Siauw Hong langsung mengerti apa artinya itu, sebab jika dia bertemu dengan Han Tay Hiong dan menyampaikan soal pemutusan perjodohannya dengan Han Pwee Eng bisa berabe.

Ternyata dalam setahun terakhir ini telah terjadi banyak perubahan yang dialaminya.

Saat Seng Liong Sen dan Ci Giok Hian diperintahkan pergi ke tempat Ong Cee-cu di Thay-ouw, mereka langsung mengadakan perjalanan bersama-sama.

Suatu hari mereka telah tiba di daerah Ciat-kang Barat.

Untuk menghemat waktu mereka mengambil jalan pintas lewat daerah pegunungan.

Saat itu Seng Liong Sen ingat sesuatu.

"Dik Giok Hian nanti di Thay-ouw pasti kau akan bertemu dengan orang yang tak kau duga-duga,"

Kata Seng Liong Sen. Ci Giok Hian heran melihat sikap aneh suaminya itu.

"Maksudmu bertemu dengan siapa?"

Kata Ci Giok Hian.

"Kau akan bertemu dengan Kok Siauw Hong,"

Kata Liong Sen dingin.

"Aku dengar dari Suhu, dia akan ke Thay-ouw!"

"Jika bertemu dengannya, memang kenapa?"

Kata Giok Hian dengan perasaan kurang enak.

"Kita sudah jadi suami isteri, apa kau masih tidak percaya padaku?"

"Kau baik padaku, aku sangat berterima kasih,"

Kata Liong Sen.

"Tapi karena aku dicelakakan si budak sial itu, aku hanya namanya saja suamimu, tapi tak bisa menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik. Aku jadi tidak enak padamu. Entah Kok Siauw Hong sudah menikah atau belum dengan Nona Han?"

"Tutup mulutmu! Jangan kau teruskan bicaramu!"

Kata Ci Giok Hian.

"Ingat! Bagi suami isteri kerukunan rumah-tangga dan saling mencintai sudah cukup! Yang lain jangan kau pikirkan!"

Sesudah Ci Giok Hian mendengar ucapan suaminya, dia jadi merasa kurang nyaman.

Dia teringat kepada Kok Siauw Hong yang dulu sangat dicintainya.

Gara-gara itu dia sampai harus bentrok dengan Han Pwee Eng, sahabat baiknya.

"Benarkah aku menyukai Seng Liong Sen? Bukankah karena ketamakanku ingin menjadi isteri seorang Bu-limbeng-cu hingga aku menikah dengan Liong Sen?"

Pikir Ci Giok Hian yang mulai bingung dan tidak tenang.

Ketika itu udara agak mendung seperti akan turun hujan, suasana saat itu sangat lembab.

Sekarang Seng Liong Sen pun diam.

Dia tidak mengajak isterinya bicara lagi.

Sambil berjalan mereka sama-sama tutup mulut.

Saat tiba dijalan yang sangat curam dan sempit di sebuah lereng gunung, mereka melihat seorang berpakaian mirip pengemis.

Dia sedang tidur melintang di tengah jalan.

Mungkin itu seorang pengemis tua yang kelelahan tanpa sadar tertidur di tempat berbahaya itu.

Letak jalan itu berada di tepi jurang, sudah tentu tubuh orang itu menghalangi jalan yang akan dilewati suami-isteri tersebut.

Jika orang itu membalikkan tubuhnya, sungguh berbahaya.

Dia akan terjatuh ke dalam jurang dan binasa.

Pengemis itu tidur di tepi jurang beralaskan sebuah bantal batu.

Melihat lagak dan tingkah pengemis yang seolah menghalangi jalan mereka, Seng Liong Sen yang memang sedang dongkol jadi bertambah mendongkol.

Tanpa pikir panjang Seng Liong Sen mendamprat ke arah pengemis yang sedang tidur itu.

"Hai pengemis tua yang sudah mau mampus! Aku tak peduli jika kau mau terjun ke dalam jurang hingga mampus di sana! Tapi jangan kau halangi jalan kami!"

Kata Seng Liong Sen sengit.

"Huus! Sabar sedikit, bangunkan saja,"

Bisik Ci Giok Hian menasihati suaminya.

"Malah sebaiknya kau lindungi dia agar tidak terjatuh ke dalam jurang!"

"Kau sangat baik, kenapa kau suruh aku meladeni dia?"

Kata Liong Sen kurang senang.

"Dia tidur di tempat yang berbahaya, cara dia tidur pun sangat aneh!"

Kata Ci Giok Hian.

"Ingat kata-kata Buddha, menolong satu jiwa sama dengan membangun sebuah pagoda setinggi tujuh tingkat. Apalagi kita pun tidak harus tergesagesa?"

"Baik, akan kuturuti permintaanmu,"

Kata Seng Liong Sen.

Sekalipun menurut, tapi hati Seng Liong Sen dongkol karena isterinya terlalu menaruh perhatian pada si pengemis itu.

Seng Liong Sen menghampiri pengemis tua itu, dia mencoba membangunkannya.

Tapi si pengemis tua seperti tuli, seolah fia sedang tertidur lelap.

Dia tidak menghiraukan panggilan Seng Liong Sen yang berulangulang itu.

"Apa kubilang, dia tidur seperti orang mati! Agar tidak buang waktu, mari kita lompati saja dia!"

Kata Liong Sen. Saat itu pengemis tua itu bangun dan duduk hingga Ci Giok Hian kaget. Tiba-tiba pengemis tua itu menggerutu.

"Sedang enak-enaknya tidur, kalian datang mengganggu. Dasar tidak tahu aturan!"

Kata pengemis tua itu.

"Sial, kami baik ingin menolongimu, kau malah memaki kami!"

Kata Seng Liong Sen.

"Tadi, kau bilang aku seperti orang mati, bukan?"

Kata si pengemis tua sengit.

"Kaulah yang mau mampus, mana sudi aku kau tolongi!"

Seng Liong Sen gusar. Dia berniat menyerang pengemis itu, tapi Ci Giok Hian mencegahnya.

"Sudah, jangan kau layani dia. Jika dia tidak mau menerima kebaikan kita, mari tinggalkan saja dia!"

Kata Ci Giok Hian. Pengemis tua itu mengambil tempat arak dari kulit labu. Dia membuka tutupnya hingga tercium bau harum ke manamana.

"Ternyata kau sangat baik, Nona, mari kusuguhi kau arak!"

Kata si pengemis.

"Siapa yang menginginkan arakmu, lekas minggir!"

Kata Seng Liong Sen gusar.

"Jika ada orang yang minta arakku ini, belum tentu dia akan kuberi! Tapi kau si bocah busuk, kau berani kurang ajar padaku! Kalau begitu pergi kau dari sini!"

Kata si pengemis tua.

"Liong Sen, sudah jangan bertengkar dengannya,"

Kata Ci Giok Hian sambil menarik tangan suaminya.

"Memang siapa yang mau ribut dengan pengemis bau ini?"

Kata Seng Liong Sen. Ci Giok Hian menarik tangan suaminya, agar segera meninggalkan pengemis tua yang masih menggerutu itu. Sesudah agak jauh Seng Liong Sen kelihatan masih kurang senang.

"Sudah kubilang kau jangan pedulikan pengemis bau itu,"

Kata Seng Liong Sen pada isterinya.

"Ternyata bukan berterima kasih, dia malah mengejek kita!"

"Liong Sen, kau jangan begitu, siapa tahu dia orang gagah kalangan Kang-ouw. Jika bukan, masakan dia berani tidur di tepi jurang yang berbahaya? Kata-katanya pun mencurigakan,"

Kata Ci Giok Hian.

Tawaran arak si pengemis tua membuat Ci Giok Hian sedikit curiga, tapi Seng Liong Sen tidak merasakannya.

Mungkin karena dia merasa sebagai pewaris Bun Yat Hoan, ditambah lagi dia memang orang daerah Kang-lam.

Maka itu di depan isterinya dia tidak mau mengaku salah.

"Aku rasa dia bukan orang gagah, jadi jangan sembarangan mengira dia orang gagah!"' kata Seng Liong Sen. Mereka melanjutkan perjalanan, tapi tak lama Ci Giok Hian mendengar suara orang menggeros sedang tidur. Ketika sampai ke tempat suara itu Ci Giok Hian kaget.

"Lihat Liong Sen!"

Kata Ci Giok Hian.

Ternyata di depan mereka terlihat si pengemis tua tadi, dia sedang tidur dengan bantal batu seperti saat di jurang tadi.

Yang membuat Ci Giok Hian bingung, karena dia dan suaminya sudah menempuh jarak beberapa li jauhnya.

Sekarang dia lihat si pengemis tua itu malah sudah ada di depan mereka.

Saat menyusul mereka pasti si pengemis tua itu telah menggunakan gin-kang yang tinggi.

Anehnya dalam waktu sesingkat itu dia sudah bisa mendahului mereka.

Melihat hal itu Ci Giok Hian kelihatan kaget dan bingung.

"Tenang! Mungkin kau benar dia lihay, bahkan tadi aku memakinya. Tapi aku kira di daerah Kang-lam ini nama Guruku bisa menjadi jaminan. Dia tidak akan marah kepadaku, percayalah!"

Kata Seng Liong Sen menenangkan hati isterinya.

"Lo Cian-pwee, aku minta maaf tadi aku bersikap kurang sopan padamu,"

Kata Seng Liong Sen sambil memberi hormat. Tiba-tiba pengemis tua itu bangun, dia mengawasi kedua muda-mudi itu dengan sorot mata gusar.

"Hm! Kiranya kalian lagi! Kenapa sih kalian selalu mengganggu orang yang sedang enak-enak tidur?"

Kata si pengemis tua.

"Maaf, Lo Cian-pwee. Kenapa kau menggoda kami?"

"Siapa punya waktu menggoda kalian, aneh sekali!"

Kata si pengemis tua.

"Katakan padaku, Bu Yat Hoan itu apamu?"

"Beliau Guruku,"

Jawab Seng Liong Sen.

"Aku sudah menduga, pasti kau Seng Liong Sen, pewaris dari gurumu!"

Kata si pengemis tua.

"Seng Cap-si Kouw itu Bibimu, bukan?"

"Benar, beliau Bibiku. Apa kau juga kenal padanya, Lo Cianpwee!"

Kata Seng Liong Sen.

"Pantas kau congkak sekali karena gurumu Bu-lim-beng-cu di Kang-lam dan bibimu, orang yang disegani!"

Kata si pengemis tua.

"Oh maaf, boan-pwee (hamba yang rendah) tidak berani bersikap congkak di depanmu,"

Kata Seng Liong Sen coba merendah sambil memberi hormat.

Pengemis tua itu meminum arak dari tempat araknya.

Tapi tiba-tiba arak yang ada di mulutnya yang bercampur dengan ludah, dia semburkan ke muka Seng Liong Sen.

Karuan saja Seng Liong Sen terperanjat bukan kepalang.

Perbuatan si pengemis tua itu membuat Seng Liong Sen berang sekali.

"Aku tak mau tahu siapa kau, mari kita adu jiwa!"

Kata Seng Liong Sen pada si pengemis tua.

Seng Liong Sen sudah diajari ilmu silat oleh dua orang guru, Bun Yat Hoan dan Seng Cap-si Kouw, pasti ilmu pedang dan totokkannya lihay.

Ketika dia menyerang ke arah tujuh jalan darah lawan, si pengemis tua malah tertawa terbahakbahak.

"Hm! Jangankan pedangmu, poan-koan-pit gurumu pun aku tak takut! Kau berani mempertontonkan kepandaian rendahmu di depanku ya? Ibarat sebuah pepatah, kau main kapak di depan tukang kayu kawakan!"

Kata si pengemis tua mengejek.

Mereka sudah langsung bertarung tapi pedang Seng Liong Sen selalu tertangkis oleh sentilan si pengemis tua itu.

Saat Seng Liong Sen hendak mengulangi serangannya, tahu-tahu Seng Liong Sen telah tertotok oleh si pengemis tua itu.

Ci Giok Hian menghunus pedangnya untuk membantu suaminya.

Tapi melihat suaminya kalah, niatnya dibatalkan.

"Lebih baik aku minta maaf, mungkin pengemis itu marah karena kesombongan suamiku?"

Pikir Ci Giok Hian. Baru saja Ci Giok Hian akan maju untuk minta maaf, pengemis tua itu sudah langsung berkata.

"Kau isterinya, kan? Ternyata kau lebih baik dari suamimu!"

"Lo Cian-pwee mohon kau maafkan suamiku demi memandang muka gurunya, Bun Yat Hoan,"

Kata Ci Giok Hian.

"Hm! Aku tidak bisa kau gertak dengan nama Bun Yat Hoan, untuk apa aku harus mengalah kepadanya?"

Kata si pengemis tua.

"Tapi, karena kau yang meminta maaf, baiklah."

"Terima kasih, aku mewakili suamiku untuk minta maaf padamu, Lo Cian-pwee...."

Pengemis tua itu tertawa.

"Kalian sudah menikah, kan? Tapi aku tahu kalian belum menjadi suami-isteri yang sejati. Apa kau suka kepadanya?"

Kata pengemis tua itu pada Ci Giok Hian. Wajah nona Ci jadi merah padam.

"Kau jangan menggodaku, aku menikah dengan apa dan siapa-pun, aku harus setia pada suamiku!"

Kata Ci Giok Hian.

"Baiklah, aku ingin bertanya padamu. Tapi kau harus menjawabnya dengan jujur!"

Kata si pengemis.

"Silakan,"

Kata Ci Giok Hian.

"Aku tidak percaya pada suamimu, maka itu aku bertanya padamu. Tentang lukisan Hiat-to-tong-jin, seberapa banyak yang kau ketahui?"

Kata si pengemis itu.

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"

Kata Ci Giok Hian.

"Aku baru kali ini mendengarnya."

"Masakan Seng Cap-si Kouw tak pernah mengatakannya padamu?"

Kata si pengemis.

"Tidak pernah, malah sejak aku menikah belum pernah aku bertemu dengannya,"

Kata Ci Giok Hian.

"Sebelum kau menikah?"

"Aku hanya pernah tinggal semalam, ketika aku baru kenal pada bibinya. Jadi mana mungkin rahasia itu diberitahukan kepadaku,"

Kata Ci Giok Hian.

"Satu lagi, apakah kau kenal dengan isteri kedua Ciauw Goan Hoa bernama Kho Siauw Hong?"

Kata si pengemis.

"Aku pernah mendengar nama Ciauw Goan Hoa, tapi belum pernah bertemu dengannya,"

Kata Ci Giok Hian.

"Apalagi dengan isteri keduanya!"

Sesudah termenung sejenak pengemis tua itu berkata lagi.

"Baiklah, untuk sementara ucapanmu kuanggap benar. Tapi untuk sementara kalian terpaksa harus kusandera!"

Katanya.

"Kau mau menahan kami? Maaf, kami masih ada urusan yang harus diselesaikan, tolong bebaskan kami!"

Kata Ci Giok Hian.

"Aku memang baik padamu,"

Kata si pengemis.

"Tapi aku tidak mau tahu tentang urusanmu. Jika kau mau pergi, silakan tapi kau boleh pergi tanpa suamimu!"

"Jika suamiku kau tahan, sudah tentu aku pun tidak akan pergi! Tapi katakan apa alasannya kau menahan kami?"

Kata Ci Giok Hian.

"Kau tanya alasannya? Baiklah itu akan kukatakan. Jika aku hanya menghadapi bibinya, aku pun tidak takut. Tapi bibinya bersahabat dengan Han Tay Hiong. Jika mereka sampai bergabung dengannya, aku bukan tandingan mereka. Tapi jika keponakannya ada di tanganku, bibinya pun harus berpkir dua kali, jika dia akan mencelakaiku!"

Kata si pengemis tua.

"Ada permusuhan apa Lo Cian-pwee dengan bibinya?"

"Kau cerewet dan banyak bertanya! aku katakan terus terang, aku tidak akan memaksamu harus ikut aku, jika mau pergi silakan saja. Jika kau sayang pada suamimu lebih baik kau ikut dengan kami!"

Kata si pengemis tua. Sesudah itu dia seret Seng Liong Sen seperti dia menyeret bangkai binatang. Melihat begitu Ci Giok Hian terpaksa ikut.

"Tolong katakan, siapa namamu Lo Cian-pwee?"

"Kau gadis cerewet, panggil saja aku pengemis tua, beres!"

Katanya.

Giok Hian akhirnya diam.

Sekalipun membawa seorang tawanan pengemis tua itu bisa berjalan cepat.

Sedangkan Ci Giok Hian yang mengerahkan seluruh kemampuannya pun tetap tertinggal di belakang.

Si pengemis tua pun sadar pada kemampuan Ci Giok Hian, maka itu dia tidak ingin meninggalkannya terlalu jauh.

Dia tetap menjaga jarak sehingga Ci Giok Hian bisa mengikutinya.

Saat mengikuti pengemis tua yang membawa suaminya, tiba-tiba Ci Giok Hian ingat sesuatu.

Dia mengambil kotak perhiasannya, di sana terdapat pemerah bibir.

Diam-diam dia menulis surat di sehelai saputangan untuk ditinggalkan di tengah jalan.

Isi tulisan itu demikian "Kami tertangkap seorang pengemis tua!

Jika ada yang mene-mukan saputangan ini, tolong antarkan pada Ong Ceecu.

Upahnya tusuk kundai emas ini."

Tertanda Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen.

Surat itu ditulis sambil berjalan dengan tergesa-gesa.

Tidak heran jika tulisan itu tidak karuan macamnya.

Diamdiam surat itu dia tancapkan di sebatang pohon.

Harapan untuk bisa ditemukan, memang sangat tipis.

Tapi Ci Giok Hian berharap, siapa tahu ada orang yang menemukannya?

Dia tidak minta saputangannya dikirim ke Bun Tay-hiap, karena jarak dari situ ke tempat Elun Yat Hoan cukup jauh.

Sebaliknya ke Ong Cee-cu jaraknya lebih singkat.

Selain itu daerah yang dia lewati memang termasuk kekuasaan Ong Cee-cu Ong It Teng.

Kelihatan pengemis tua yang membawa suaminya mendaki, Ci Giok Hian pun ikut 1424 mendaki.

Tak lama mereka sudah melihat rumah batu di atas bukit.

Begitu sampai mereka mendengar suara seseorang.

Ternyata orang itu tidak bisa bicara alias gagu.

Suara orang itu berisik.

Orang itu seorang pemuda berusia sekitar tujuh atau delapan belas tahun, dia memakai baju kulit binatang.

Tubuh pemuda itu kekar.

Tingginya hampir sama dengan pengemis tua.

Saat itu si pemuda sedang mendukung seekor harimau kumbang yang cukup besar.

Begitu besarnya hingga kaki harimau kumbang itu menjulur ke tanah dan agak terseret-seret.

"Dasar bandel, kau kusuruh menjaga rumah malah berburu macan kumbang,"

Orang tua itu mengomeli si anak muda. Pemuda itu tak menghiraukan teguran si orang tua. Entah dia tuli atau tidak. Tapi sikapnya seperti anak dungu. Ci Giok Hian mengawasinya saja.

"Dia muridku, harap maklum dia gagu! Dia tidak berniat jahat padamu. Kau jangan takut!"

Kata pengemis tua itu pada Giok Hian. Pemuda itu terus mengawasi Ci Giok Hian.

"Hai bocah, apa yang kau perhatikan? Dia isteri orang, kenapa kau awasi terus?"

Bentak si pengemis tua. Anak muda itu ah-ah-uh-uh, entah apa yang ingin dia katakan.

"Nona, dia bilang kau cantik!"

Kata si pengemis tua. Saat itu Ci Giok Hian sedang berpikir.

"Dia mampu membunuh harimau kumbang yang begitu besar, berarti anak muda ini lihay. Jadi tanpa si pengemis pun kami tak bisa berbuat apa-apa?"

Pikir Ci Giok Hian. Tak lama mereka sampai di rumah batu lalu masuk ke dalam rumah. Si pengemis tua lalu menyeret Seng Liong Sen dan dimasukkan ke sebuah kamar.

"Kau diam di kamar itu sampai bibimu datang dan memohon kepadaku, baru kau akan kubebaskan!"

Kata pengemis tua.

Lalu orang tua itu membuka jalan darah Seng Liong Sen yang tertotok.

Seng Liong Sen tidak pernah mendapat hinaan seperti itu seumur hidupnya.

Bukan main marahnya Seng Liong Seng, dia mendengus.

"Jika kau berani bunuh saja aku!"

Kata Seng Liong Sen. Tapi tak lama dia mengaduh kesakitan. Rupanya Seng Liong Sen diserang hingga kesakitan.

"Tak ada gunanya kubunuh kau, tapi jika kau tak mau berhenti bicara, akan kusiksa kau lebih hebat lagi!"

Kata si pengemis.

Mendengar ancaman itu Ci Giok Hian cemas, dia memohonkan ampun untuk suaminya pada si pengemis tua.

Sambil tertawa pengemis itu berkata, 'Baiklah, karena permintaanmu, nona, aku ampuni dia!"

Sesudah itu sambil tertawa pengemis itu berkata lagi.

"Sekalipun totokanku sudah kubebaskan, tapi akibat nyerinya masih terasa, dia masih kesakitan. Jika dia mau, minum arakku agar bebas dari kesakitan. Sayang arakku ini sudah terkena ludahku,"

Kata si pengemis sambil menjatuhkan tempat araknya.

Sekalipun jijik dan mual mendengar arak itu sudah terkena ludah si pengemis, namun karena tak tahan sakit Seng Liong Sen meraih tempat arak itu.

Dia minum 1426 beberapa teguk.

Tibatiba pengemis tua itu merebut tempat arak dari tangan Seng Liong Sen.

"Huss! Jangan kau habiskan, sekalipun aku pengemis kotor menjijikan, tapi aku sayang pada arakku itu!"

Kata si pengemis. Selang sesaat Seng Liong Sen memang merasakan tubuhnya mulai nyaman. Dia kaget merasakan totokan khas si pengemis tua itu. Sekarang tidak berani banyak bicara.

"Nona, bila kau bersedia merawat suamimu di sini, baiklah. Di sini kau bisa bebas bergerak. Mau pergi pun kau tak akan kuhalangi asal kau tidak membawa dia!"

Kata si pengemis. Sesudah itu orang tua itu menoleh pada si gagu, muridnya.

"Kau dengar kata-kataku tidak?"

Kata si pengemis tua. Pemuda itu mengangguk.

"Saat aku pergi dan dia mau kabur, patahkan saja kakinya. Tapi jika Nona Ci yang mau pergi, jangan kau ganggu atau menghalangi dia!"

Kata si pengemis tua lagi.

"Uh, uh!"

Pemuda itu mengangguk tanda mengerti. Sesudah berpesan pengemis tua itu pergi. Dengan wajah kemerah-merahan Liong Sen berkata pada Ci Giok Hian.

"Adik Giok Hian, sekalipun kau ingin mengabdi sebagai isteriku, tetapi kita jadi suami-isteri hanya pura-pura saja. Jika kau mau, kau jangan ikut menderita bersamaku, pergilah!"

Kata Seng Liong Sen.

Ucapan suaminya itu sungguh mengagetkan Ci Giok Hian, padahal dia tulus ingin menemani sang suami.

Tapi dia heran kenapa malah dicemooh demikian oleh 1427 suaminya?

Tak heran jika akhirnya Ci Giok Hian pun jadi berduka.

"Kita sudah menikah dengan sah, kenapa kau masih berkata begitu, suamiku?"

Kata Ci Giok Hian.

"Kita ditawan dan ada di tangan orang, bersabarlah, suamiku!"

"Kau sangat baik padaku, Adik Giok Hian. Entah bagaimana aku membalas budimu?"

Kata Seng Liong Sen.

"Kita suami-isteri, kau jangan berkata begitu,"

Kata Giok Hian.

Sesudah Ci Giok Hian tahu sifat suaminya, pikiran Ci Giok Hian pun melayang jauh.

Dia ingat pada Kok Siauw Hong yang ramah dan sopan.

Akhirnya dia jadi murung sekali.

Tapi nasi sudah jadi bubur, lalu mau menyalahkan siapa dia?

Dikisahkan saat itu Ci Giok Phang sedang ada di tempat Ong It Teng di Thay-ouw (Telaga Besar).

Dia sedang cemas karena adik perempuan dan iparnya Seng Liong Sen belum tiba juga di tempat itu.

Saat Ci Giok Phang kebingungan, hari itu datang seorang pengemis dari golongan Kay-pang ke tempat Ong It Teng.

Pengemis itu mengenakan baju tambal delapan dan mengaku bernama Tay Ek.

Ci Giok Phang dan Kong-sun Po diperkenalkan oleh Ong It Teng pada pengemis itu.

"Aah kebetulan!"

Kata Tay Ek.

"Apa yang kebetulan?"

Tanya Ong It Teng.

"Bukankah adik Tuan Ci itu bernama Ci Giok Hian?"

Kata Tay Ek pada Ci Giok Phang.

"Ya, apa Tay Hiang-cu mengetahui dia ada di mana?"

Tanya Giok Phang.

"Benar, kau lihat ini!"

Kata Tay Ek. Pengemis itu menunjukkan sebuah tusuk kundai dan saputangan pada Ci Giok Phang. Sesudah memeriksa barangbarang itu Ci Giok Phang terperanjat.

"Benar benda-benda itu milik adikku!"

Kata Giok Phang.

"Bagaimana Tay Hong-cu mendapatkan benda-benda itu?"

"Beberapa waktu ini di Siong-hong-nia muncul seorang pengemis tua yang aneh. Dia sering tidur di tepi jalan setapak yang berbahaya,"

Kata Tay Ek menjelaskan.

"Muridku pernah bertemu dengannya. Muridku mengira pengemis itu dari golongan tua Kay-pang kami. Tetapi rupanya dia bukan orang dari golongan kami. Karena curiga lalu kuselidiki. Kebetulan adik perempuanmu dan suaminya pun sampai di sana."

Ci Giok Phang mengangguk sambil memperhatikan saputangan adiknya. Ong It Teng pun melihat tulisan di sapu tangan itu.

"Jadi mereka ditawan oleh pengemis tua itu!"

Kata Ong It Teng.

"Apa dia tak tahu kalau Seng Siauw-hiap murid Bun Tay-hiap? Lalu berapa tinggi ilmu silat pengemis tua itu?"

"Karena kepandaian silatnya tinggi, aku tidak berani bertindak. Karena aku takut adik perempuanmu salah duga, nanti dia mengira pengemis tua itu dari Kay-pang. Maka itu aku harus melapor pada Ketua kami. Sayang sekarang Pangcu kami sedang ada di wilayah Utara. Maka itu untuk memenuhi permintaan adikmu itu, aku datang ke mari untuk menyampaikan benda ini pada Ong Cee-cu!"

Kata Tay Ek mengisahkan pengalamannya.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Kata Ong It Teng.

"Pengemis itu lihay, jika kita datang beramai-ramai akan membuat musuh kaget. Sebaiknya kita cari tokoh silat untuk menghadapi dia!"

"Kalau begitu, kami bertiga saja yang pergi ke sana,"

Kata Ci Giok Phang mengajukan diri."

Aku harap Tay Hiang-cu mau menjadi penunjuk jalan!"

Ong It Teng mengangguk setuju.

Dia yakin Giok Phang, Kong-sun Po dan Wan Say Eng sanggup menghadapi pengemis tua itu.

Tidak berapa lama merekapun berangkat.

Di tengah perjalanan Ci Giok Phang berkata pada Tay Ek.

"Berapa jauh dari sini ke tempat pengemis tua itu?"

"Dalam dua hari kita akan sampai di sana,"

Jawab Tay Ek.

"Jika demikian kita akan sampai dalam empat hari, tapi apakah si pengemis tua itu masih ada di sana?"

Kata Ci Giok Phang.

"Aku kira dia akan tetap ada di sana, aku pun tahu persembunyiannya,"

Kata Tay Ek.

"Kau tahu persembunyiannya?"

"Tahu!"

Kata Tay Ek.

"Aku pernah mengintainya dan aku hampir dihajar oleh pengemis gagu."

"Jadi dia punya murid?"

Kata Wan Say Eng.

"Benar, aku tak tahu berapa tinggi ilmu silat bocah gagu itu?"

Kata Tay Ek.

"Tempo hari ketika muridku mencari bahan obat. Tiba-tiba dia mendengar auman harimau kumbang. Dia lihat bocah gagu itu sedang bertarung dengan harimau kumbang, dan mampu mengalahkannya. Malah ketika diikuti, muridku melihat persembunyian mereka di sana!"

"Saat pengemis gagu itu kepergok muridku, dia mengancam dan menyuruhnya pergi. Dia mendemontrasikan kekuatannya dengan membenturkan kepalanya ke batu hingga hancur. Muridku itu cerdas, dia 1430 memberi tanda, bahwa dia ingin bersahabat dengan si gagu. Muridku lalu memberinya kue yang dia bawa. Tapi bocah gagu itu menolak dan meminta agar muridku segera pergi. Muridku tahu apa maksud si gagu, dia seolah mau bilang bahwa guru dia keras dan tidak mau ada orang lain mengetahui tempat tinggalnya."

"Kalau begitu adikku pasti disekap di persembunyiannya itu,"

Kata Ci Giok Phang.

"Tapi kenapa dia memusuhi adikku?"

"Mungkin saja suami adikmu musuh dia!"

Kata Tay Ek.

"Sudah jangan ribut, bukankah kita sudah akan sampai?"

Kata Wan Say Eng.

Ci Giok Phang menggelengkan kepalanya karena bingung.

Tapi sesudah lewat sehari dia tahu jawabnya.

Mungkin karena Seng Liong Sen keponakan Seng Cap-si Kouw, pengemis tua itu memusuhinya.

-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-Ci Giok Hian tidak dijaga keras seperti suaminya, dia bisa bebas bergerak ke mana dia suka.

Malah di saat bocah gagu itu sedang masak, dia juga ikut membantu memasak.

Pada suatu hari saat Ci Giok Hian pergi mencari kayu bakar untuk masak, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda.

Saat diperhatikan Ci Giok Hian melihat seorang pria berpakaian hijau sedang memacu kudanya ke alas bukit ke arah Giok Hian berada.

"Siapa orang itu? Apakah dia tamu si pengemis tua?"

Pikir Ci Giok Hian. Saat Giok Hian berpapasan pemuda berbaju hijau itu berpikir.

"Oh cantiknya gadis ini, dia ternyata lebih cantik dari puteri pulau Beng-shia-to!"

Gerutu pemuda itu.

Nona Ci mendengar gerutuan itu.

Dulu jika ada lelaki yang mengawasinya pasti Ci Giok Hian akan marah, tapi ketika itu dia diam saja.

Dia terus mengumpulkan kayu bakar yang akan dibawa pulang.

"Siapa Nona Wan yang dikatakannya, apakah dia wanita yang ke Kang-lam bersama Kakakku seperti kata seorang budak tua tempo hari padaku?"

Pikir Ci Giok Hian. Begitu sampai Ci Giok Hian menaruh kayu bakar, dan nona Ci masuk ke kamarnya. Tak lama dengar derap kaki kuda sedang mendatangi. Kemudian terdengar suara pengemis tua itu bicara.

"Oh, kau datang! Aku sudah mengira pasti Jie Siauw-ya akan menyuruhmu datang ke mari,"

Kata pengemis tua itu.

"Aku dengar Seng Cap-si Kouw datang ke Istana Perdana Menteri, hingga Jie Siauw-ya mendapat kesulitan, bukan?"

Mendengar kata-kata itu Ci Giok Hian bertambah bingung saja. Mengapa seorang Perdana menteri punya hubungan dengan para pengemis? Pikir nona Ci.

"Benar, kedatanganku atas perintah Jie Siauw-ya. Si Iblis Perempuan itu memang menunggumu di sana!"

Kata orang itu.

"Lebih baik kau kembali, suruh dia datang menemuiku di sini!"

Kata si pengemis tua.

"Ke sini?"

Tanya si baju hijau.

"Ya. Dulu tempat ini memang kurahasiakan padanya, sekarang tidak! Silakan kau kembali, katakan pada Siauwya, aku tak sempat ke sana. Kutemui dia di sini saja!"

Kata si pengemis.

"Baik, kalau begitu aku mohon diri,"

Kata si baju hijau.

"Tunggu, jangan tergesa-gesa. Ada yang akan kusampaikan kepadamu. Duduklah dulu,"

Kata si pengemis tua.

"Apa yang ingin kau katakan? Apa kau mau bilang kau sudah punya murid perempuan?"

Kata si baju hijau sambil tertawa.

"Siapa bilang? Oh, pasti tadi kau bertemu dengannya,"

Kata si pengemis.

"Dia isteri keponakan si Iblis Perempuan, Nyonya Seng!"

Seng Liong Sen dan Ci Giok Hian tahu, mereka sedang membicarakan Seng Cap-si Kouw, bibi Seng Liong Sen.

"Hm! Cantiknya nyonya muda itu!"

Kata si baju hijau.

Sekarang si baju hijau sadar, mengapa si pengemis tua itu berani menyuruh si Iblis Perempuan datang ke persembunyiannya.

Rupanya sekarang dia sudah punya tawanan sebagai jaminan keselamatannya.

"Selama ini kau selalu bersama Jie Siauw-ya, bagaimana apakah ilmu silatnya sudah ada kemajuan?"

Tanya si pengemis tua.

"Beberapa waktu yang lalu Jie Siauw-ya bertarung dengan anak muda, sayang Jie Siauw-ya kalah oleh pemuda itu. Terutama ilmu totoknya yang aneh dari pemuda musuhnya itu!"

Kata si baju hijau.

"Mungkin "Keng-sin-cihoat"

Milik Jie Siauw-ya belum sempurna. Tadinya Jie Siauw-ya akan menemuimu, tapi karena kedatangan si Iblis Perempuan itu dia tak kadi datang!"

Jelas sudah si pengemis tua ini guru Han Hie Sun, sedang si baju hijau bernama An Tong, pelayan Jie Siauwya Han Hie Sun.

"Hm! Jadi Jie Siauw-ya kalah. Siapa nama pemuda itu?"

Kata si pengemis tua.

"Namanya Kong-sun Po,"

Kata An Tong.

"Apa? Kong-sun Po? Apa dia anak Kong-sun Khie?"

Kata si pengemis tua.

"Aku kenal Kong-sun Khie, tapi dulu ilmu totoknya tidak hebat sekali!"

"Yang aneh ilmu totoknya sama dengan milikmu!"

Kata si baju hijau.

"Kenapa bisa begitu? Baik akan kuselidiki pemuda itu!"

Kata si pengemis.

"Apa ada masalah lain?"

"Ada! Kong-sun Po datang bersama yang lain!"

"Siapa mereka itu?"

"Yang pria she Ci dari Pek-hoa-kok, sedang yang wanita she Wan dari Beng-shia-to!"

Kata si baju hijau agak pelan. Ci Giok Hian masih mendengarkan dengan jelas.

"Oh, yang dia bicarakan pasti kakakku Giok Phang!"

Pikir Ci Giok Hian.

"Yang perempuan sangat cantik, hanya adatnya jelek,"

Kata An Tong menjelaskan tanpa diminta. Pengemis tua itu tertawa.

"Aku tahu sekarang, rupanya Han Hie Sun menginginkan bocah perempuan itu, maka itu dia dihajar!"

Kata si pengemis tua. An Tong mengangguk, tapi dia membela majikannya.

"Itu salah Bong Sian dan Teng Kian si penjilat itu! Dia ingin menyenangkan Jie Siauw-ya malah menyusahkan. Dibanding Nyonya Seng jelas Nona Wan kalah jauh!"

Kata An Tong.

"Aku memang ingin muridku punya isteri yang cantik, tapi aku tak mau dia berbuat kurangajar. Katakan pada Jie Siauwya, aku sudah punya pilihan. Sesudah masalah Seng Cap-si Kouw beres, urusan itu akan kuurus juga!"

Kata si pengemis tua.

"Baik,"

Kata An Tong. An Tong pun pamit. Sesudah An Tong pergi Ci Giok Hian bingung, siapa nona yang dikatakan An Tong pada si pengemis.

"Nona Ci, mari!"

Kata si pengemis memanggil Ci Giok Hian. Ci Giok Hian keluar dari kamar menemuinya.

"Ada apa Lo Cian-pwee?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Aku sudah tahu penyakit suamimu, bahkan aku yakin dia tak bisa diobati lagi,"

Kata si pengemis tua.

"Maksud Cian-pwee?"

"Kau masih muda, apakah kau tetap ingin jadi janda seumur hidupmu?"

Kata si pengemis tua.

"Kau kira aku ini perempuan apa? Sudah kau jangan bicara soal itu!"

Sentak Ci Giok Hian.

"Aku bicara demi kebaikanmu, aku punya murid putera kedua Perdana Menteri...."

Sebelum pengemis tua itu selesai bicara, Giok Hian langsung memotong.

"Aku tawananmu, kalau kau mau membunuhku silakan saja. Jika kau memaksaku, aku bisa bunuh diri!"

Kata Ci Giok Hian. Pengemis tua itu tertawa.

"Ternyata kau setia, Nona Ci! Jika kau tak mau ya sudah, aku tidak memaksa! Cuma aku kasih tahu, suamimu 1435 ini tidak berguna. Aah, sudahlah jika sudah tenang kau pikir-pikir saja dulu..."

Kata si pengemis tua. Dengan jengkel Ci Giok Hian kembali ke kamarnya, dia lihat suaminya mengawasi di bibirnya terlihat senyuman pahit.

"Ada apa? Apa hari ini kau merasa baikan?"

Kata Giok Hian.

"Kau tertimpa rejeki besar, kenapa kau tolak?"

Kata Seng Liong Sen yang rupanya mendengarkan kata-kata si pengemis tua. Mendengar sindiran itu Ci Giok Hian jengkel.

"Hm! Kau anggap aku ini perempuan apa? Aku tak butuh kesenangan, sekarang kita berada di tangan orang, kita tidak bisa meninggalkan tempat ini. Tunggu sampai kita bebas, tanpa kau usirpun aku akan pergi sendiri!"

Kata Ci Giok Hian sengit. Melihat Ci Giok Hian marah suaminya menunduk.

"Maaf, aku emosi mendengar ucapan pengemis tua itu. Dia benar, murid anak perdana menteri, ilmu silatnya tinggi. Dibanding aku, aku ini suami apa. Dia juga lebih baik dariku!"

Kata Liong Sen.

"Tadi jika kau mendengar pembicaraanku dengan pengemis itu, kau seharusnya mendengar juga apa jawabanku!"

Kata Giok Hian.

"Ini malah kau mencurigaiku! Sekalipun kau kesal, kau tak pantas mengejekku!"

"Sudah, aku minta maaf. Aku salah bicara, mari kita bicarakan soal lain saja. Tadi si pengemis akan mengundang Bibiku, ya kan?"

"Ya. Dari nada ucapannya aku kira dia dan bibimu punya masalah!"

Kata Ci Giok Hian.

"Jika Bibi datang, kita tidak perlu cemas lagi,"

Kata Liong Sen.

"Dia lihay, aku khawatir bibimu pun tak akan sanggup melawannya?"

Kata Ci Giok Hian.

"Jangan cemas, ilmu pedang Bibiku lihay sekal. Dia juga ahkli racun terkenal. Jika dia datang kita punya harapan bisa pergi dari sini!"

Kata Seng Liong Sen.

"Ilmu totok si tua sangat lihay, kau juga sudah mencobanya. Betapa lihaynya, bukan?"

Kata Ci Giok Hian.

"Aku punya cara lain, tapi apa kau bisa membantuku?"

Tanya Seng Liong Sen.

"Baik, aku mau. Tapi apa bisa berhasil, tenaga dalamku lain dengan yang kau pelajari?"

Kata Giok Hian.

"Kau ingat saat kita mau menikah, bukan?"

"Ya."

"Waktu itu Kok Siauw Hong datang. Aku kira dia hendak mengacau, ternyata tidak. Malah dia memberi hadiah padaku."

Kata Seng Liong Sen.

"Maksudmu hadiah apa?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Hadiah itu sebenarnya bukan dari dia, tapi dari orang lain,"

Kata Liong Sen.

"Hadiah dari Kang-lam Tay-hiap sebuah kitab Tay-hang-pat-sek. Ilmu silat yang jadi idaman semua jago persilatan di kalangan Kang-ouw."

"Bukan main berharganya hadiah itu!"

Kata Ci Giok Hian.

"Lalu kenapa tidak ..."

"Maksudmu kenapa aku tidak bilang padamu?"

Kata Seng Liong Sen.

"Itu karena aku takut kau selalu ingat padanya!"

Ci Giok Hian mengangguk mengerti.

"Sayang aku belum sempat melatihnya,"

Kata Seng Liong Sen.

"Sekalipun sederhana delapan jurus itu lihay sekali!"

"kau benar,"

Kata Ci Giok Hian.

"Untuk melatih ilmu ini harus menggunakan tenaga dalam. Tapi tenaga dalamku tidak kupelajari dari guruku, aku belajar dari Bibiku tenaga dalam ilmu sesat. Itu yang membuat aku bingung."

Kata Seng Liong Sen.

"Bagaimana, bisakah aku membantumu?"

Tanya Giok Hian. Seng Liong Sen mengangguk karena tak ada cara lain dia harus berterus terang pada Giok Hian.

"Tahukah kau kenapa Kang-lam Tay-hiap meminta Siauw Hong menyampaikan hadiah itu padaku?"

Kata Liong Sen.

"Tidak,"

Jawab Ci Giok Hian.

"Maksud beliau agar aku belajar bersama Siauw Hong, tapi Siauw Hong rupanya tidak tertarik. Maka itu dia berikan hadiah itu padaku."

Kata Liong Sen.

"Jadi semua dia berikan padamu?"

Kata Ci Giok Hian.

"Ya, malah Kang-lam Tay-hiap dengan tegas mengatakan hadiah itu untukku, tetapi Siauw Hong boleh ikut mempelajarinya,"

Kata Seng Liong Sen.

"Baik! Katakan bagaimana aku bisa membantumu?"

Kata Ci Giok Hian.

"Aku dengar kau yang mengobati Nona Han."

"Ya. Juga dengan bantuan arak keluarga kami!"

Kata Ci Giok Hian mulai mengerti maksud suaminya.

"Selain dengan arak, tentu masih ada cara lain?"

Kata Seng Liong Sen.

"Ya, aku mengerti sedikit "Siauw-yang-sin-kang"

Dari Kok Siauw Hong,"

Kata Ci Giok Hian.

"Maaf, aku harap kau tidak salah paham,"

Kata Liong Sen.

"Mungkin Kang-lam Tay-hiap menyuruhku belajar bersama Kok Siauw Hong, ya karena "Siauw-yang-sinkang"

Yang dia miliki itu!"

"Jadi kau ingin kuajari "Siauw-yang-sin-kang"? Baik, kenapa tidak kau katakan terus-terang saja sejak tadi!"

Kata Ci Giok Hian.

"Tapi tidak kujamin karena pengetahuanku tentang lwee-kang itu belum sempurna!"

Saat Ci Giok Hian mengajari suaminya, dia jadi sadar betapa liciknya Seng Liong Sen. Saat itu dia ingat betapa bedanya sifat Siauw Hiong dengan suaminya.

"Aah, jika saja aku tidak serakah dan ingin menjadi isteri seorang Beng-cu, aku tidak akan menjadi isteri Siauw Hong!"

Pikir Giok Hian.

Berpikir tentang Kok Siauw Hong, Ci Giok Hian jadi malu sendiri.

Selang beberapa lama sesudah berlatih Siauw-yangsin-kang, tenaga Liong Sen sudah mulai pulih kembali.

Tentu saja kemajuan ini tidak mereka tunjukkan pada si gagu yang sering mengantar makanan untuk mereka.

Suatu hari ketika Seng Liong Sen sedang berlatih dan konsentrasi, dia mendengar suara bibinya bicara.

"Thay Thian, aku dalang memenuhi undanganmu!"

Kata Seng Cap-si Kouw dengan nyaring. Mendengar suara itu, Seng Liong Sen kaget juga girang.

"Bibi datang!"

Bisik Seng Liong Sen dengan girang. Si bocah gagu yang melihatnya, segera memberi isyarat pada Liong Sen dan Giok Hian agar mereka tidak sembarang bergerak.

"Huss! Jangan girang dulu, bocah itu mengancam. Saatnya belum tiba..."

Bisik Ci Giok Hian pada suaminya. Seng Liong Sen menuruti nasihat isterinya.

"Aaah, sudah lama kita tidak saling bertemu,"

Kata pengemis tua sambil tertawa.

"Silakan masuk!"

"Jangan banyak aturan, kita kawan lama. Mari keluar kita bereskan urusan lama kita!"

Kata Seng Cap-si Kouw. Dia tak segera masuk. Ini pun disadari oleh si pengemis, mungkin Iblis Perempuan itu takut terperangkap.

"Urusan lama yang mana?"

"Hai, jangan berlagak lupa dan pura-pura bodoh!"

Kata si Iblis Perempuan.

"Keluarkan lukisan tubuh itu, kenapa kau kangkangi sendiri?"

"Jadi masalah itu!"

Kata si pengemis tua.

"Ya. Kali ini kau tak bisa menghindar lagi! Ilmu muridmu pasti dari lukisan itu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Kau benar, memang muridku belajar dari lukisan itu. Aku kagum kau pandai menyelidik, kau benar-benar lihay!"

Kata si pengemis tua.

"Maka itu jangan kau remehkan aku!"

Kata si Iblis.

"Sekarang segera kau serahkan benda itu padaku! Kau sudah menyimpannya selama duapuluh tahun, sekarang giliranku!"

"Sabar!"

Kata si pengemis tua.

"Aku masih ingin bicara!"

"Bicaralah segera! Aku tak mau buang waktu di sini!"

Kata si Iblis Perempuan.

"Tahukah kau, mengapa kau kuundang masuk?"

"Kenapa?"

Tanya Seng Cap-si Kouw.

"Karena aku punya seseorang yang akan kutunjukkan padamu!"

Kata si pengemis.

"Siapa dia?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Aku kira pasti kau ingin menemuinya!"

Kata si pengemis tua.

"Siapa dia? Katakan!"

Desak Seng Cap-si Kouw.

"Dia keponakanmu!"

"Jangan ngawur, mana mungkin keponakanku datang ke tempatmu!"

Kata si Iblis Perempuan.

"Untuk apa aku membohongimu? Jika kau tidak percaya, kupanggil dia keluar!"

Sesudah itu pengemis tua itu memerintah si gagu menyeret Seng Liong Sen keluar dari kamar tahanannya.

Si gagu menyeret Seng Liong Sen keluar, dia menurut saja seolah tenaga dia belum pulih.

Sedangkan Ci Giok Hian mengikuti dari belakang suaminya.

Sampai di depan pintu Liong Sen berteriak.

"Bibi tolongi aku!"

Kata Seng Liong Sen.

"Lihatlah, bukan saja keponakanmu, tapi isterinya juga ada di sini!"

Kata si pengemis tua "Houw Jie, sudah! Gusur dia ke dalam!"

"Hm! Kau orang terhormat, kenapa kau tak tahu malu menyiksa seorang pemuda?"

Bentak Seng Cap-si Kouw.

"Hm! Ha, ha, ha! Jangan menghina, kau juga menggunakan muridku untuk mengorek rahasiaku, lalu kenapa aku tidak boleh mengundang keponakanmu ini?"

Ejek si pengemis tua.

Tiba-tiba Seng Cap-si Kouw maju, tapi ditangkis oleh si pengemis tua di depan pintu.

Sambutan si pengemis membuat Seng Cap-si Kouw mundur beberapa langkah.

Tapi tak lama sudah maju lagi.

Melihat lawan bisa menyerang sesukanya, si pengemis tua meladeninya.

"Sesudah kau kubantu mendapatkan lukisan itu, tapi kenapa kau menipuku, sungguh keterlaluan,"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Terpaksa kulakukan, sekarang tinggal pilih! Kau ingin keponakanmu dan isterinya, atau lukisan itu?"

Kata pengemis tua.

Saat adu bicara Iblis perempuan itu melepaskan senjata rahasianya.

Tak lama terdengar suara ledakan dan asap bersama jarum halus menyerang ke arah lawan.

Tapi si pengemis tua sudah siap, dia menangkis dengan kedua tangannya hingga jarum dan racun tak mengenainya.

"Hai Iblis tua, aku memang tahu kau lihay ilmu racun, tapi untuk itu aku sudah siap!"

Kata si Pengemis tua.

"Aku sudah minum Pek-leng-tan buatan Thian-san. Sudahlah, kau jangan mencoba menyerangku dengan senjata rahasiamu itu! Jika kau mau, bertarung secara ksatria saja!"

"Baik, mari kita bertarung, kau kira aku takut padamu?"

Kata Seng Cap-si Kouw. Tiba-tiba Iblis Tua ini menerjang, tongkat bambu hijaunya menyambar ke jalan darah lawan. Diserang begitu si pengemis tertawa.

"Hm! Kau Iblis tak tahu diri, rupanya kau mau pamer kepandaian di depanku, ya?!"

"Tutup mulutmu! Kau siksa keponakan dan isterinya, aku tidak tinggal diam!"

Kata si Iblis Perempuan.

"Gampang jika kau ingin membawa pulang mereka,"

Kata si pengemis tua.

"Jika kau bersumpah, bahwa kau tidak akan meminta Hiat-tong-tong-jin di tanganku, dia boleh pergi dari sini!"

"Hm! Majulah dan gunakan kepandaianmu!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Hari ini kita bertarung untuk menentukan siapa yang kalah dan menang!"

Saat itu si pengemis tua tak besenjata, padahal dia harus melawan si Iblis Perempuan yang bersenjata tongkat bambu hijau yang lihay.

Tak heran jika si pngemis tua itu sulit mendekati lawannya.

Sebaliknya Seng Cap-si Kouw pun sulit mendekati lawannya yang lihay itu.

Saat bertarung pengemis tua tahu lawan hendak mencari kesempatan dia lengah dan ingin merampas tawanan.

Maka itu dia langsung menyerang dengan dahsyat ke arah Iblis Perempuan itu.

Tapi yang diserang dengan mudah memunahkan serangan si pengemis tua.

"Hm! Thay Thian, sekalipun jurus Hok-mo-ciang-hoatmu sudah lihay, tapi melawanku tak ada apa-apanya!"

Kata Seng Cap-si Kouw, Melihat serangannya selalu gagal pengemis tua itu berseru.

"Awas aku akan menggunakan tongkat pemukul anjingku untuk menghajarmu!"

Kata si pengemis.

"Silakan, mau apa saja aku ladeni!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Sekali pun bukan anggota Kay-pang, tetapi pengemis tua itu lihay ilmu tongkat pemukul anjingnya.

Keduanya samasama lihay, baik tongkat bambu Seng Cap-si Kouw maupun pentungan pemukul anjing si pengemis.

Serangan mereka masih berimbang dan berbahaya.

Saat kedua senjata mereka bentrok, Seng Cap-si Kouw kaget.

Buru-buru dia ubah ilmu silatnya meladeni lawan.

Tapi serangan totokan tongkat si pengemis sungguh lihay sekali.

Kelihatan Seng Cap-si Kouw hampir kewalahan.

-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 52 Seng Liong Sen Melarikan diri; Seng Cap-si Kouw Contra Beng Cit Nio Pertarungan antara Seng Cap-si Kouw dengan pengemis tua masih berlangsung.

Untuk menghindari serangan dari pengemis tua itu, Iblis Perempuan ini terpaksa bergerak kian ke mari dengan gesit.

"Ilmu yang dia cangkok dari lukisan itu sungguh lihay,"

Pikir Seng Cap-si Kouw.

"Totokannya demikian hebat hingga sulit kuhindari."

Iblis Perempuan itu bisa saja kabur seenaknya, tapi dengan demikian dia gagal memperoleh lukisan tubuh itu, sedang keponakan dan isterinya ada di tangan pengemis tua.

Berpikir begitu akhirnya dia memutuskan untuk bertarung mati-matian.

Seng Liong Sen tidak bisa menyaksikan pertarungan hebat itu, dia hanya bisa mendengar suara pertempuran itu dari jauh.

Seng Liong Sen berpikir, sekarang sudah tiba 1444 saatnya untuk melarikan diri.

Maka itu dia berpura-pura sakit dan merintih.

"Saudara gagu, tolong beri air untuk suamiku,"

Kata Ci Giok Hian pada si gagu.

Tanpa sangsi si gagu mengambilkan air untuk Seng Liong Sen.

Saat si gagu lengah Seng Liong Sen menotok bocah gagu itu.

Secangkir teh di tangannya tanpa sengaja terlempar dan airnya menyiram muka Seng Liong Sen.

Ci Giok Hian kaget secara reflek dia totok si gagu hingga terjungkal tidak berdaya ke lantai.

"Luar biasa, hampir saja aku celaka..."

Kata Seng Liong Sen.

"Jika kau tak berhasil menotoknya, aku bisa celaka!"

"Apa kau sudah bisa bergerak bebas, Liong Sen?"

Kata Ci Giok Hian.

"Maksudmu lari?"

"Ya!"

Kata Ci Giok Hian.

"Mungkin bisa, tapi...."

Seng Liong Sen tak meneruskan kata-katanya. Ci Giok Hian mengerti.

"Aku tahu maksudmu, kau mengkhawatirkan Bibimu, tapi aku juga tidak yakin bisa membantu Bibimu!"

Kata Ci Giok Hian.

"Sudahlah, kita harus segera pergi dari sini. Bibi hebat ilmu meringankan tubuhnya, jika dia tak sanggup melawan pasti dia bisa meloloskan diri!"

Kata Seng Liong Sen.

Mendengar jawaban itu Ci Giok Hian mengangguk, sekarang dia lebih tahu sifat suaminya yang licik, tapi dia tidak banyak bicara.

Dia turuti saja kemauan suaminya itu.

Langkah kaki suami-isteri itu terdengar oleh si pengemis tua.

"Houw Jie!"

Dia memanggil muridnya. Panggilan itu tak dijawab, tahulah dia apa yang telah terjadi atas diri muridnya.

"Hm! Aku berikan kebebasan padamu, ternyata kau malah melukai muridku!"

Kata si pengemis.

"Bagus, menantuku! Kalian lari jauh-jauh!"

Teriak Iblis Perempuan itu.

Saat itu si nenek sedang terdesak, mendengar keponakan dan menantunya bisa lolos dia girang.

Saat itu dia menyerang si pengemis tua dengan hebat.

Serangan Seng Cap-si Kouw yang gesit dan berbahaya membuat si pengemis tua kerepotan dan tak sempat mengejar Seng Liong Sen dan isterinya yang kabur.

"Hm! Boleh saja mereka kabur, tapi kau harus tetap di sini!"

Kata pengemis tua pada Seng Cap-si Kouw, Tiba-tiba dengan ganas dia serang Seng Cap-si Kouw, jika perlu membunuhnya.

Dia pikir jika tidak sekarang, kelak Iblis Perempuan itu akan tetap menjadi gangguan baginya.

Dia gunakan tongkatnya untuk terus mendesak Seng Cap-si Kouw dengan hebat Saat Ci Giok Hian dan Liong Sen mengetahui tidak ada yang mengejar lagi, mereka girang.

"Kita lolos, semua ini berkat bantuanmu, Giok Hian,"

Kata Seng Liong Sen. Tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda sedang mendatangi, dua penunggang kuda sedang melarikan kudanya.

"Salah seorang dari mereka pernah datang ke mari!"

Bisik Ci Giok Hian pada suaminya. Tak lama mereka sudah sampai. An Tong, yang pernah datang itu melihat Ci Giok Hian dan Liong Sen sedang berdiri. Dia sudah langsung bicara pada kawannya.

"Jie Siauw-ya, orang cantik yang kumaksudkan itu dia orangnya!"

Kata An Tong sambil menunjuk ke arah Ci Giok Hian.

"Aah heran mereka bisa meloloskan diri?"

Han Hie Sun mengawasi Seng Liong Sen dan Ci Giok Hian, lalu mengangguk.

"Apa yang kau katakan benar,"

Kata Han Hie Sun.

"Dia lebih cantik dari Nona Wan!"

Han Hie Sun melompat dari kudanya, Liong Sen langsung membentak.

"Bagus! Jadi kau murid si pengemis tua itu!"

Kata Seng Liong Sen.

"Rupanya kau cari mampus sendiri!"

Seng Liong Sen sudah tahu, dia murid seorang jago silat.

Tapi karena Han Hie Sun anak seorang Perdana Menteri, Liong Sen mengira ilmu silatnya tidak selihay gurunya.

Maka itu Seng Liong Sen tidak pandang sebelah mata.

Begitu maju dia serang lawannya dengan sebuah cengkraman.

Di luar dugaan Seng Liong Sen, ternyata Han Hie Sun lihay, dia sudah berhasil mencangkok kepandaian si pengemis tua dengan baik.

Kiranya Seng Liong Sen bukan tandingan Han Hie Sun yang lihay itu.

Han Hie Sun bergerak cepat, dia totok jalan darah Liong Sen hingga terdengar Liong Sen mengeluh dan akhirnya tidak berdaya.

"Bukan aku, tapi kau yang mau mampus!"

Kata Han Hie Sun. Dia mau melemparkan tubuh Seng Liong Sen ke jurang.

"Kurang ajar!"

Kata Ci Giok Hian yang segera menghunus pedangnya dan menyerang Han Hie Sun ke bagian kakinya.

Niat Han Hie Sun melemparkan Liong Sen batal karena dia harus menyelamatkan kakinya dari serangan lawan.

Lalu dia tertawa terkekeh.

"Dia suamimu?"

Kata Hie Sun.

"ternyata ilmu silatmu lebih baik dari suamimu!"

Saat Han Hie Sun menghindari serangan Giok Hian, An Tong baru saja turun dari kudanya.

"Sabar Nona Ci, dia calon suamimu! Jie Siauw-ya pun tertarik pada... Aduh!"

Teriak An Tong.

Belum habis ocehan An Tong, Ci Giok Hian sudah menusuk lehernya.

Tak ampun lagi An Tong pun menjerit kesakitan dan bergulingan di tanah.

Giok Hian mengira An Tong lihay seperti majikannya.

Dia tak mengira dengan mudah dia berhasil membunuh orang itu.

Saat Ci Giok Hian kaget, Han Hie Sun membentak.

"Tak kusangka kau begitu kejam, Nona!"

Kata Han Hie Sun.

"Tapi hm! Aku malah sangat tertarik padamu!"

"Tutup mulutmu! Awas pedanglu!"

Kata Ci Giok Hian yang kembali menyerang lawannya. Tetapi serangan itu tak membuat Han Hie Sun gentar. Segera dia buka kipasnya dipakai menangkis. Pedang Ci Giok Hian pun tersampok berubah arah.

"Bagaimana nona cantik?"

Kata Han Hie Sun.

Pertanyaan itu oleh Giok Hian tidak dijawab, tapi yang datang tiga serangan beruntunnya.

Serangan itu tertuju ke arah tiga sasaran jalan darah lawan.

Ternyata Han Hie Sun bukan lawan yang ringan.

Dia lipat kipasnya, lalu balas menyerang dengan hebat.

Terpaksa Ci Giok Hian mundur beberapa langkah menghindari serangan lawan.

"Bagaimana nona manis, apa sudah kau pikirkan kalau nyawa suamimu berada di tanganku?"

Kata Han Hie Sun mwengejek.

"Suamimu tertotok totokan khasku, dan kau telah membunuh budakku, apa kau rela jiwa suamimu menjadi ganti budakku?"

Ucapan Han Hie Sun membuat Ci Giok Hian kaget. Dia tidak bisa menerka apakah ucapan pemuda itu hanya gertakan atau sebenarnya. Ternyata kelihatan Seng Liong Sen tergeletak tidak berdaya di tanah.

"Jika aku mampu mengalahkannya, bagaimana aku bisa menyelamatkan suamiku?"

Pikir Ci Giok Hian kebingungan. Terpaksa Ci Giok Hian bertanya.

"Apa maumu?"

Han Hie Sun tertawa terbahak-bahak.

"Kau telah membunuh budakku, seharusnya kau mengganti dengan jiwa suamimu! Jika kau mau minta ampun untuknya, aku bersedia mengampuninya. Asal kau turuti kehendakku!"

Kata Han Hie Sun sambil tersenyum.

"Apa maumu?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Aku dengar kau cuma menikah pura-pra, karena suamimu tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai suami. Benarkah begitu?"

Kata Han Hie Sun.

"Selanjutnya, karena kau sudah menolong jiwanya, maka aku pikir sebagai isteri kau sudah memenuhi kewajibanmu dengan baik. Selanjutnya tidak perlu aku jelaskan apa mauku! Mungkin 1449 Guruku pun pernah mengatakan padamu, mengenai apa mauku!"

Mendengar kata-kata pemuda itu, amarah Seng Liong Sen meluap sampai ke ubun-ubunnya. Tapi apa mau dia tidak berdaya, memakipun dia tak bisa.

"Bedebah, tutup mulut kotormu!. Kami suami-isteri sekalipun harus mati di tanganmu, kami tidak menyesal!"

Kata Ci Giok Hian.

Ucapan Ci Giok Hian melegakan hati Seng Liong Sen.

Dia sadar Ci Giok Hian seorang wanita setia.

Saat itu Ci Giok Hian menyerang dengan ilmu silat andalan keluarga Ci.

Kepandaian Han Hie Sun memang lebih lihay, namun karena serangan Giok Hian dilakukan dengan nekat, tak urung Hie Sun terdesak juga.

"Aah, tidak kusangka kau wanita sejati dan sangat setia pada suamimu,"

Kata Han Hie Sun sambil tertawa mengejek.

"Begitu berhargakah dia hingga kau bela dia mati-matian? Aku iri pada suamimu yang mendapatkan isteri begitu setia!"

Sambil berkata Han Hie Sun terus membalas serangan Giok Hian, dia berharap tenaga Giok Hian lama-lama akan terkuras juga.

Tapi Giok Hian cerdik, dia tahu cara lawan menangkis dan menyerang, maksudnya untuk menghabiskan tenaga dia.

Dia bisa kabur, tapi bagaimana dengan Liong Sen?

Dia tidak tega meningalkan suaminya begitu saja.

Jika dia terus bertarung, lama-lama dia akan kehabisan tenaga.

Tapi karena tidak ada pilihan lain, terpaksa dia harus bertarung matimatian.

Dia pikir jika dia kalah, dia akan bunuh diri.

Maka itu dia terus bertarung sampai akhirnya kehabisan tenaga......

Dikisahkan Ci Giok Phang, Kong-sun Po, Wan Say Eng dan Tay Ek.

Mereka telah sampai di tempat tujuan.

Baru 1450 saja tiba mereka sudah mendengar suara bentrokan senjata tajam dari kejauhan.

"Ternyata ada orang yang berani datang ke mari dan bertarung di sini!"

Kata Tay Ek.

Mereka semua berlari menuju ke arah suara pertarungan itu.

Di sana mereka menyaksikan Seng Cap-si Kouw sedang bertarung melawan pengemis tua.

Mereka kaget juga.

Saat itu Seng Cap-si Kouw sedang terdesak.

Melihat kedatangan Kong-sun Po dan kawan-kawannya, Seng Cap-si Kouw kaget.

Melawan si pengemis tua saja dia hampir kalah, apalagi sekarang Kong-sun Po datang bersama temantemannya.

Saat Seng Cap-si Kouw sedang bimbang, dia diserang oleh pengemis tua hingga tidak berani meninggalkan kalangan karena kuatir terluka oleh serangan si pengemis tua yang ganas.

"Kita harus membantu siapa?"

Tanya Wan Say Eng.

"Hadapi pengemis tua itu dulu,"

Kata Giok Phang.

"Jangan! Aku akan membantu si Iblis Perempuan, kalian masuk ke rumah itu. Cari adikmu dan iparmu!"

Kata Kongsun Po.

Sebenarnya Seng Cap-si Kouw sudah mau kabur dengan risiko terluka oleh si pengemis tua.

Tiba-tiba Kong-sun Po masuk gelanggang dia membantu si Iblis Perempuan.

Pengemis tua itu kaget mendapat lawan baru ini "Kau dari mana anak dungu?

Kenapa kau ikut campur urusan kami?"

Kata si pengemis. Pengemis tua itu menggunakan tongkatnya menyerang Kong-sun Po, tapi dengan cepat pemuda itu menangkis dengan payungnya.

"Trang!"

Terdengar benda beradu kera. Pengemis itu kaget, dia tidak mengira kalau payung itu terbuat dari besi baja atau benda pusaka.

"Siapakah pemuda ini?"

Pikir pengemis itu..

Betapapun gesitnya gerakan si pengemis, tapi karena dia dikeroyok oleh Kong-sun Po dan Seng Cap-si Kouw, tentu saja dia jadi kewalahan.

Kesempatan ini digunakan oleh si Iblis Perempuan untuk menyerang jalan darah si pengemis tua ke hampir jalan darah-nya yang penting.

Akhirnya pengemis tua ini harus berusaha menghindar dan mundur agar tidak menjadi korban lawannya.

Pengemis tua sudah tahu bagaimana lihaynya gin-kang Seng Cap-si Kouw.

Sekalipun dia sudah mengeluarkan Kengsin-ci-hoat yang dipelajari dari gambar peta tubuh, namun dia belum mampu mengalahkan Iblis Perempuan itu.

Kong-sun Po pernah mempelajari ilmu itu dari Bu-lim Thiankiauw, jurusnya tidak berbeda dengan Keng-sin-cihoat si pengemis tua.

Maka itu ketika diserang dia bisa menghindari serangan pengemis tua itu.

Melihat gerakan Kong-sun Po yang mirip dengan dirinya, selain heran pengemis tua itu pun kaget juga.

Melihat pengemis itu kebingungan Seng Cap-si Kouw mengejeknya.

"Hm! Ternyata kau belum lihay, anak muda saja tak mampu kau lawan!"

Ejek Seng Cap-si Kouw.

Bukan main panas hati si pengemis tua mendengar ejekan itu.

Dia serang Seng Cap-si Kouw dengan serangan bertubitubi dan dahsyat.

Iblis Perempuan ini kaget hingga dia harus membela diri mati-matian.

Melihat Iblis 1452 Perempuan itu terdesak, Kong-sun Po tak tinggal diam.

Payungnya menotok ke punggung si pengemis tua.

Tapi si pengemis tua lihay, dia tangkis serangan itu dengan tangan kanannya.

Saat serangannya tidak mengenai sasaran, dan pukulan si pengemis tua pun datang, Kong-sun Po kaget.

Dia terdorong hebat beberapa langkah ke belakang.

"Sungguh lihay!"

Kata Kong-sun Po.

"Memang aku tak mampu mengalahkannya dengan cepat, tapi kenapa kau sendiri minta bantuan dia?"

Ejek si pengemis tua pada Seng Cap-si Kouw. Mendengar ejekan itu hati si Iblis Perempuan dongkol bukan main.

"Memang benar kata dia, jika aku menang melawan si pengemispun tidak terhormat. Sedang dengan anak muda itu, aku pun masih punya ganjalan. Ditambah lagi akan muncul Nona Wan dan Ci Giok Phang, tidak mustahil mereka tak akan menyulitkan aku!"

Pikir Seng Cap-si Kouw. Saat itu pengemis tua sedang sibuk menangkis serangan Kong-sun Po. Melihat kesempatan ini oleh Seng Cap-si Kouw dipakai untuk kabur jauh-jauh.

"Bagus, kau mau kabur ya?"

Kata si pengemis tua.

"Aku tak ingin mengeroyokmu, sekarang kau hadapi saja dia, kelak kita bertemu lagi!"

Kata si Iblis Perempuan.

"Baik, sampai jumpa lagi kelak,"

Kata si pengemis tua.

"Sekarang kau boleh pergi!"

Lain di mulut lain di hati, sebenarnya dia senang Seng Capsi Kouw pergi.

Dengan demikian dia hanya menghadapi Kongsun Po seorang saja.

Benar saja sekarang 1453 karena bertarung satu lawan satu, Kong-sun Po sering terdesak, walau masih sulit untuk dijatuhkannya.

"Hm! Jadi kaulah orang yang pernah bertarung dengan muridku itu, ya?"

Kata si pengemis tua.

"Kalau iya, kenapa?"

Kata Kong-sun Po.

"Siapa gurumu?"

Kata si pengemis.

"Kau sendiri belajar dari mana?"

Balas Kong-sun Po.

"Hm! Anak kecil jangan banyak bicara! Apakah kau juga ingin memiliki lukisan itu? Aku kira kau masih bocah, jadi tidak pantas ikut campur dalam masalah ini!"

Kata si pengemis tua. Pengemis tua itu terus mendesak, untung saat itu Wan Say Eng dan Ci Giok Phang muncul.

"Mana si Iblis Perempuan itu?"

Kata Ci Giok Phang.

"Apa adikmu ketemu?"

Kata Kong-sun Po.

Melihat Kong-sun Po terdesak, Wan Say Eng dan Ci Giok Phang maju untuk membantu.

Karena dikeroyok si pengemis tua itu terdesak juga.

Pengemis tua itu kaget bukan main dan tidak mengira lawan yang masih muda itu ternyata lihay semua.

Ci Giok Phang yang sedang cemas karena takut adiknya berada dalam bahaya, lalu bertanya.

"Pengemis tua, mana adikku?"

Kata Ci Giok Phang.

Sambil bertanya Giok Phang menyerang dengan hebat.

Tapi pedang Ci Giok Phang yang menusuk ke arah pengemis tua itu disam-pok baju si pengemis tua.

Dengan tongkatnya dia menangkis serangan payung Kong-sun Po.

"Mereka sudah kabur dari tempatku,"

Kata si pengemis tua.

"Bohong! Aku tidak percaya, kecuali jika aku melihatnya sendiri!"

Kata Ci Giok Phang.

"Siapa yang minta kau percaya padaku?"

Kata si pengemis.

Ucapan Ci Giok Phang membuat si pengemis tua yang angin-anginan itu gusar.

Dia serang Ci Giok Phang dengan membabi-buta.

Serangan pengemis yang dahsyat membuat Kong-sun Po terdesak.

Begitupun Ci Giok Phang, dia hanya bisa bertahan saja.

Sedangkan Wan Say Eng yang ilmu silatnya belum sempurna benar terdesak lebih parah.

Kong-sun Po masih memiliki ilmu simpanan dari keluarga ibunya, dengan ilmu silat Tay-hang-pat-sek dia menggempur pengemis tua itu.

Dia gunakan jurus "Penakluk harimau dan naga".

Usaha Kong-sun Po ternyata berhasil.

Si pengemis mulai terdesak.

Dengan demikian Kong-sun Po berhasil menolongi dua kawannya yang terdesak itu.

"Celaka, jika harus bertarung lebih lama, aku bisa kalah oleh mereka!"

Pikir si pengemis saat dia mulai terdesak.

"Dari mana datangnya setan-setan kecil ini?" -o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-Saat itu di tempat lain Han Hie Sun, murid si pengemis tua sedang di atas angin karena berhasil mendesak Ci Giok Hian.

"Nona, kenapa kau melawanku mati-matian, aku mencintaimu. Maukah kau?"

Kata Han Hie Sun sambil tertawa.

Bukan main dongkolnya Ci Giok Hian, dia serang Han Hie Sun dengan serangan mautnya; jika perlu dia siap untuk mati bersama lawannya.

Ci Giok Hian memang sudah nekat sekali.

"Jangan sia-siakan jiwa dan wajahmu yang cantik, Nona Ci!"

Ejek Han Hie Sun.

"Jika kau suka padaku, jiwa suamimu pun bisa selamat!"

"Jangan banyak bicara!"

Kata Ci Giok Hian yang terus menusukkan pedangnya. Ketika itu keadaan Ci Giok Hian sangat kritis, tapi di saat sangat berbahaya muncul seorang pemuda.

"Hai, ternyata kau Giok Hian!"

Kata pemuda itu.

Ci Giok Hian mengenali suara itu, ternyata dia Kok Siauw Hong.

Saat Tay Ek melapor ke Thay-ouw, Kok Siauw Hong tidak ada di tempat.

Dia dengar Ci Giok Phang, Wan Say Eng dan Kong-sun Po pergi mencari Ci Giok Hian dan suaminya.

Kok Siauw Hong yang diberi tahu oleh Ong It Teng jadi kaget.

Sekalipun dia merasa canggung jika bertemu dengan Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen, tapi dia tak bisa tinggal diam.

Dia minta diberi tahu jalan pada Ong It Teng.

Malam itu juga Kok Siauw Hong memacu kudanya menyusul ke Siong-hong-nia.

Ketika sampai Kok Siauw Hong tersesat.

Dia tidak datang dari depan, tapi dari belakang bukit itu.

Ketika itu dia dengar suara senjata beradunya senjata.

Segera dia menuju ke arah suara itu.

Ternyata dia lihat Ci Giok Hian sedang dalam bahaya.

"Mana Liong Sen, kok dia sendirian?"

Pikir Kok Siauw Hong.

Dalam keadaan kritis, Ci Giok Hian yang tidak mengira akan bertemu dengan Kok Siauw Hong.

Dia kaget melebihi Kok Siauw Hong.

Dia bingung dan bengong saja.

Saat itu Han Hie Sun tak menyia-nyiakan kesempatan baik itu.

Saat Ci Giok Hian lengah, Han Hie Sun maju.

"Roboh!"

Kata Han Hie Sun.

"Giok Hian, awas!"

Teriak Kok Siauw Hong.

Ketika Kok Siauw Hong melompat akan menolongi Giok Hian, tiba-tiba terdengar suara robekan baju.

Baju Ci Giok Hian yang terkena ujung kipas Han Hie Sun yang tajam itu robek!

Tapi Ci Giok Hian sudah mundur saat diperingati oleh Kok Siauw Hong.

Dengan demikian hanya baju bagian dadanya saja yang terobek dan tidak melukai kulit dada Giok Hian yang putih mulus.

Namun, karena robekan pakaiannya itu kulit dadanya terlihat jelas, hingga mau tak mau Giok Hian menunduk malu.

Panggilan mesra Kok Siauw Hong saat memperingatinya sudah lama tidak dia dengar.

Baru sekarang dia mendengarnya lagi.

Maka itu mau tak mau Ci Giok Hian terkenang masa lalunya, yaitu saat mereka masih bersamasama dan hidup bahagia.

Saat Ci Giok Hian menoleh ke arah Seng Liong Sen yang terbaring tidak berdaya, Ci Giok Hian kaget!

Mata sang suami ternyata sedang mengawasi ke arahnya.

Buru-buru Giok Hian merapikan bajunya yang robek itu.

Saat itu Kok Siauw Hong sampai, tapi kedatangannya disambut oleh serangan kipas Han Hie Sun yang lihay.

Melihat keadaan berbahaya itu, tanpa pikir panjang Ci Giok Hian ingin menolongi Kok Siauw Hong, sekalipun saat itu Seng Seng Liong Sen kurang senang karena bergabung dengan Kok Siauw Hong.

Maka tanpa pikir panjang Giok Hian maju, tak lama mereka sudah bertarung mengepung Han Hie Sun yang lihay kipasnya itu.

"Adik Ci, tinggalkan aku! Biar aku yang menghadapi orang ini, kau istirahat saja,"

Kata Kok Siauw Hong.

Ketika itu sayup-sayup Ci Giok Hian mendengar suara dari hidung Seng Liong Sen yang cemburuan.

Saat Ci Giok 1457 Hian tahu Kok Siauw Hong mampu menghadapi Han Hie Sun, dia mundur teratur.

Saat itu seharusnya Giok Hian mendekati suaminya yang tergeletak tidak berdaya.

Tapi entah mengapa timbul rasa kurang senang Giok Hian pada sikap Liong Sen yang kasar dan hatinya kurang bersih itu.

Maka itu saat mundur dia berdiri jauh-jauh dari kalangan tanpa menghiraukan Seng Liong Sen yang tergeletak tak berdaya.

Saat itu Siauw Hong maju, pedangnya terayun ke arah kepala Han Hie Sun.

"Hm! Kau berani melawanku...."

Kata Han Hie Sun.

Pedang Siauw Hong sudah dekat, buru-buru dia menghindar.

Hampir saja mukanya terbabat oleh pedang lawan.

Bukan main kagetnya Han Hie Sun, hampir saja kepalanya putus oleh pedang lawannya.

Ilmu totok Han Hie Sun lihay dan bukan tandingan Siauw Hong, namun kegesitan Kok Siauw Hong lebih baik dari Han Hie Sun.

Ditambah lagi tenaga Han Hie Sun sudah terkuras saat dia melawan Ci Giok Hian.

Serangan Kok Siauw Hong yang menggunakan Cit-siukiam-hoat membuat Han Hie Sun kewalahan, waktu masih mampu bertahan.

Kok Siauw Hong pun kaget menyaksikan kehebatan lawannya.

Tiba-tiba Kok Siauw Hong menusuk dengan pedangnya.

Ketika itu Han Hie Sun menghindari serangan itu dengan kipas bajanya.

Pedang Siauw Hong yang tajam menyambar dan hampir melukai tangan Han Hie Sun.

Melihat tangannya akan terpapas pedang, bukan main kagetnya Hie Sun.

Terpaksa Hie Sun melemparkan kipas bajanya.

"Hm!"

Ejek Kok Siauw Hong.

Han Hie Sun yang kehilangan kipas segera kabur.

Kok Siauw Hong tidak mengejarnya, tapi dia berjalan menemui Ci Giok Hian.

Saat sudah berhadapan keduanya berdiri terpaku, seolah tidak bisa bicara.

Selang sesaat baru terdengar Kok Siauw Hong bicara.

"Adik Giok Hian, Kakakmu mencarimu, apa kau sudah bertemu dengannya?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Apa Kak Giok Phang datang? Tapi aku belum bertemu dengannya,"

Jawab Ci Giok Hian.

"Lalu bagaimana kau bisa bebas dari tangan si pengemis?"

Tanya Siauw Hong.

"Mari kita cari Kakakmu, pasti dia ada di tempat si pengemis tua itu!"

"Kakakku tidak ada di sana, saat aku melarikan diri aku hanya melihat Seng Cap-si Kouw sedang bertempur dengan pengemis tua!"

Kata Ci Giok Hian.

"Mari kita ke sana!"

Kata Siauw Hong.

"Tidak! Aku tak mau ke sana karena dia..."

Ci Giok Hian tak bisa meneruskan kata-katanya dia hanya menunduk, Siauw Hong tersentak.

"Ya, ke mana suamimu?"

"Dia ditotok oleh Han Hie Sun, dia ada di sana...."

Kata Giok Hian sambil menunjuk ke tempat Liong Sen tergeletak.

Kok Siauw Hong mengawasi ke arah yang ditunjuk Giok Hian.

Di sana Seng Liong Sen tergeletak tidak berdaya.

Bukan main kagetnya Seng Liong Sen, sedikit pun dia tidak mengira kalau dia akan bertemu dengan Kok Siauw Hong, saingan dalam perebutan kekasih.

Kok Siauw Hong 1459 menghampiri Seng Long Sen, setiba di dekat suaminya, Giok Hian berkata pada Siauw Hong.

"Siauw Hong, tolong bebaskan totokannya! Dia baru saja mempelajari Siauw-yang-sin-kang, tapi..."

Giok Hian tak meneruskan bicaranya. Kok Siauw Hong langsung tahu apa yang diinginkan "bekas kekasihnya"

Itu, dia mengangguk.

"Akan kucoba,"

Katanya.

Dia mengerahkan tenaga dalam untuk membebaskan totokan Han Hie Sun pada Seng Liong Sen.

Sekalipun sudah berusaha sekuat tenaga namun Kok Siauw Hong belum berhasil membebaskan totokan Seng Liong Sen.

Saat itu Ci Giok Hian kelihatan gelisah bukan main.

Dia sangat cemas.

Tak lama Liong Sen muntah darah.

"Liong Sen, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Tanya Giok Hian khawatir. Seng Liong Sen berusaha bangun dan berkata dengan suara patah-patah.

"Aku tidak memerlukan bantuanmu, lebih baik aku..."

Seng Liong Sen tak mampu meneruskan kata-katanya. Tubuhnya limbung dan ambruk lagi ke tanah. Melihat sikap kaku suaminya, tampak Giok Hian jadi serba salah.

"Liong Sen, dia baik padamu, kenapa kau bicara begitu?"

Kata isterinya.

"Apa kau lupa, jika totokan itu tidak terbuka, dalam tiga hari kau akan celaka! Kau harus minta maaf pada Kok Toa-ko!"

Semula Seng Liong Sen mengira totokan atas dirinya sudah punah, ternyata belum.

Sekarang pun rasa sakitnya bertambah hebat.

Sekalipun malu akhirnya dia minta maaf 1460 pada Kok Siauw Hong, karena jika tidak nyawanya bisa melayang.

"Sudah jangan diambil hati, aku pun sudah berusaha keras tapi tidak berhasil,"

Kata Kok Siauw Hong.

Mendengar ucapan itu Seng Liong Sen berpikir lain.

Dia mengira Kok Siauw Hong tidak mau membantunya lagi.

Maka marahlah dia.

Saat Seng Liong Sen mau memaki Siauw Hong, tiba-tiba mereka mendengar Kok Siauw Hong berkata girang.

"Bisa!"

"Apa yang bisa?"

Tanya Ci Giok Hian.

"Dengan cara lain,"

Jawab Siauw Hong.

"Orang she Han itu belajar dari si pengemis tua, bukan? "Ya,"

Jawab Giok Hian.

"Mari kita cari Giok Phang,"

Kata Siauw Hong.

"Apa maksudmu mau mencari dia, aku kira dia juga tidak akan bisa memunahkan totokan itu!"

Kata Ci Giok Hian.

"Bukankah Kakakmu bersama Kong-sun Po? Aku yakin Kong-sun Po mampu mengobati suamimu!"

Kata Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hong berpikir begitu karena dia sudah tahu tentang lukisan tubuh manusia yang diperebutkan di kalangan Kang-ouw dari Wan Say Eng.

Jika si pengemis tua guru Han Hie Sun, dia yakin ilmu totoknya dicangkok dari Hiat-to-tongjin itu.

Tentang cerita lukisan itu Siauw Hong sudah tahu dari Ong It Teng yang mendapat keterangan dari nona Wan.

Sedang Siauw Hong tahu Kongsun Po bisa ilmu tersebut.

Maka itu Kok Siauw Hong 1461 mengajak Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen untuk mencari Ci Giok Phang, Wan Say Eng dan Kong-sun Po.

Sambil membawa Seng Liong Sen yang berjalan dengan disanggah, di sebelah kiri dan sebelah kanan, mereka menuju ke tempat pengemis tua.

Seng Liong Sen yang tidak berdaya diperlakukan demikian jadi merasa malu dan terhina sekali.

Saat sampai mereka segera mendengar bentrokan senjata tajam.

"Oh, ternyata mereka sedang bertarung, Kok Toa-ko. Dugaanmu tepat sekali!"

Kata Ci Giok Hian. Saat tiba mereka menyaksikan si pengemis tua sedang dikeroyok oleh Kong-sun Po, Ci Giok Phang dan Wan Say Eng. Saat itu Kok Siauw Hong berteriak memanggil Ci Giok Phang.

"Ci Toa-ko, Giok Hian ada di sini bersamaku!"

Teriak Kok Siauw Hong dengan ilmu mengirim suara dari jarak jauh.

"Kalian ada di mana?"

Kata Giok Phang juga dengan ilmu suara jarak jauh..

"Segera ke mari!"

"Jaga Liong Sen,"

Kata Kok Siauw Hong.

Dia tinggalkan Liong Sen yang dijaga oleh isterinya, lalu dia memburu ke arah suara pertempuran itu.

Ketika Siauw Hong tiba, pengemis tua itu sedang menyerang Kong-sun Po dan Kong-su Po mencoba menahan serangan pengemis itu.

Tapi karena Ci Giok Phang kehilangan konsentrasi, dia agak tertekan oleh serangan lawan.

Dengan tidak banyak bicara lagi Kok Siauw Hong menghunus pedangnya, lalu menikam si pengemis tua dengan serangan mautnya.

Tapi dengan tenang pengemis tua menangkis pedang Kok Siauw Hong dengan tongkatnya.

Saat senjata mereka beradu Kok Siauw Hong kaget, karena dia merasakan serangan itu cukup dahsyat.

Tangannya terasa kesemutan.

Tapi Kok Siauw Hong cerdik, saat pedangnya tertekan tongkat lawan, dia meneruskan serangan itu ke bagian bawah hingga terpaksa pengemis itu harus mundur beberapa langkah menghindari serangan itu.

Kelihatan pengemis tua itu terperanjat menerima serangan Kok Siauw Hong tersebut.

"Aneh, muncul lagi anak muda yang ilmu silatnya lain, mereka masing-masing memiliki keistimewaan sendiri-sendiri!"

Pikir pengemis tua.

"Aah, aku tidak boleh buang waktu di sini, kalau tidak aku bisa celaka!"

"Ci Toa-ko, silakan kau mundur, biar aku yang menghadapinya,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Giok Hian ada di mana?"

Tanya Ci Giok Phang.

"Itu mereka sudah tiba!"

Jawab Kok Siauw Hong.

Sambil menyanggah tubuh Seng Liong Sen, Ci Giok Hian sedang berjalan menghampiri mereka.

Ci Giok Phang segera menyongsong mereka.

Sesudah saling bertemu Ci Giok Phang girang sekali, begitu juga Ci Giok Hian.

Di tengah gelanggang pertempuran pengemis tua itu melancarkan serangan dahsyat ke arah Kong-sun Po.

Saat Kong-sun Po mundur, kesempatan itu digunakan oleh pengemis tua untuk meloloskan diri.

"Nah adik perempuanmu sudah kau temukan, mau apa lagi kalian?"

Kata pengemis itu mengejek. Saat Kong-sun Po hendak mengejar, Ci Giok Phang mencegahnya.

"Sudah, jangan dikejar. Dia sudah kalah untuk apa dikejar lagi?"

Kata Ci Giok Phang. Sesudah pengemis tua itu kabur Kok Siauw Hong berkata pada Kong-sun Po.

"Seng Siauw-hiap tertotok oleh totokan pengemis tua, Saudara Kong-sun, tolong kau bebaskan dia dari totokan itu,"

Kata Kok Siauw Hong.

Saat Kong-sun Po hendak memeriksa keadaan Seng Liong Sen, mereka dikagetkan oleh suara pintu didobrak dari dalam.

Tak lama muncul si gagu.

Ternyata tenaga dalamnya lihay dia mampu membebaskan totokan lawan.

Dengan perasaan murka dia awasi Ci Giok Hian.

Tapi sambil tertawa Ci Giok Hian berkata dengan sabar.

"Kau jangan marah padaku, karena aku mau meloloskan diri dari kalian, terpaksa kau kutotok!"

Kata Giok Hian.

"Gurumu sudah pergi, segera kau susul dia!"

Sesudah mendapat penjelasan dari Ci Giok Hian kelihatan si gagu tidak marah lagi.

Dia segera menyusul gurunya.

Kemudian Kong-sun Po mengobati Seng Liong Sen dari totokan si pengemis tua.

Sesudah berusaha sekian lama dia berhasil.

Seng Liong Sen dengan sikap malu-malu mengucapkan terima kasih pada Kong-sun Po.

"Jangan sungkan."

Kata Kong-sun Po.

"Kau tidak perlu berterima kasih, kita semua sahabat!"

"Kak dari mana kalian tahu kami ada di sini?"

Tanya Giok Hian.

"Dari tanda yang kau berikan, saputanganmu ditemukan oleh Tay Ek, Hiang-cu dari Kay-pang dan disampaikan pada Ong Cee-cu di Thay-ouw,"

Jawab Ci Giok Phang.

"Jadi kalian dari sana?"

Kata Giok Hian.

"kami berdua sebenanya hendak ke tempat Ong Cee-cu!"

"Bagus,"

Kata Giok Phang.

"Jadi kalian mau ke sana?"

"Tidak, aku tidak mau ikut!"

Kata Seng Liong Sen.

"Kenapa?"

Tanya Ci Giok Phang.

"Rasanya aku terluka dalam, oleh karena itu aku harus segera pulang untuk minta diobati oleh Guruku,"

Jawab Seng Liong Sen.

Mendengar ucapan suaminya, Ci Giok Hian sadar, bahwa jiwa suami-nya memang sempit.

Jika dia membujuknya agar ikut pergi bersama-sama, pasti Liong Sen mencurigainya bahwa dia ingin bersama-sama dengan Kok Siauw Hong.

Maka itu Ci Giok Hian yang bijaksana lalu berkata.

"Baik, kita sama-sama pulang saja!"

Kata Giok Hian. Tetapi dalam benak Ci Giok Hian berpikir.

"Ternyata pikiran suamiku sempit, entah bagaimana aku bisa aku bisa hidup bersama dengannya untuk selamanya?"

Pikir Ci Giok Hian bingung.

"Karena kau terluka, aku dan Wan Say Eng akan mengantarkan kalian pulang,"

Kata Ci Giok Phang.

"Jika ada pesan dari Gurumu, katakan saja, minta bantuan Siauw Hong untuk menyampaikannya pada Ong Cee-cu!"

Sebenarnya Ci Giok Phang telah menangkap apa maksud Seng Liong Sen yang menolak pergi ke Thay-ouw. Tapi dia berpura-pura percaya karena dia pikir bagaimana pun Liong Sen adik iparnya.

"Baiklah,"

Kata Liong Sen.

"Adik Giok Hian tolong kau sampaikan pesan Guru pada Kok Siauw-hiap, suaraku belum pulih. Lebih baik kau saja yang menjelaskannya!"

Ci Giok Hian heran melihat sikap kaku suaminya, tapi sekalipun agak kikuk dia terpaksa menurut. Dia menyampaikan semua pesan guru Seng Liong Sen pada Siauw Hong.

"Baik, akan kusampaikan,"

Kata Kok Siauw Hong.

Sesudah berbincang sebentar akhirnya mereka berpisahan.

Ci Giok Phang bersama Wan Say Eng ikut ke Hang-ciu bersama Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen, sedangkan Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong kembali ke Thay-ouw.

Sesudah berjalan berdua saja bersama Kong-sun Po, Kok Siauw Hong tampak murung.

"Saudara Kok, ada apa? Kelihatan kau sedang memikirkan sesuatu?"

Tanya Kong-sun Po pada kawannya.

"Tidak! Sudahlah jangan hiraukan aku,"

Kata Siauw Hong.

"Jangan bohong, tak seperti biasanya, kau selalu banyak bicara, sekarang kau seperti malas bicara. Aku kira kau terkenang pada Nona Han, kan?"

Kata Kong-sun Po. Mendengar nama nona Han disebut-sebut, tiba-tiba Kok Siauw Hong tersentak karena ada yang dia lupakan. Ternyata dia lupa menyampaikan titipan Han Pwee Eng untuk Ci Giok Hian.

"Wajar saja kau rindu kepadanya, kalian kan pernah mengalami guncanganh hebat! Sekarang kalian sudah akur kembali. Malah ketika aku mau ke mari, Nona Han 1466 berpesan agar aku mencari tahu tentang kau,"

Kata Kongsun Po.

"Di antara sahabatku, kau yang paling polos. Tetapi kau sekarang bisa bergurau juga,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Benar kan kau terkenang pada Nona Han?"

Kata Kongsun Po sambil tertawa.

"Sebagian dugaanmu memang benar, sebenarnya aku sedang memikirkan nasib ayahnya,"

Jawab Kok Siauw Hong.

"Apa yang kuketahui Paman Han sedang berobat di rumah Seng Cap-si Kouw, tapi aneh karena sekarang si Iblis Perempuan itu ada di Kang-lam. Lalu dibawa ke mana Paman Han, ya?"

Kata Kong-sun Po yang juga heran dan bingung.

"Gara-gara tidak diketahui di mana keberadaan ayahnya itulah maka Nona Han jadi cemas sekali,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Giok Hian bilang dia ada di tempat pengemis tua, sayang kita tidak bertemu dengannya!"

"Sebenarnya tadi aku bertemu dengannya, tapi jika sekarang bertemu lagi pun kita tidak bisa mendapat keterangan apa-apa darinya,"

Kata Kong-sun Po.

"Jika bertemu lagi dengannya, walau dia tidak mau memberi keterangan pun paling tidak kita bisa tahu jejak Paman Han,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Sekarang entah kabur ke mana dia?"

Kata Kong-sun Po. Mereka terus melanjutkan perjalanan. Saat menuruni bukit dari jauh mereka mendengar suara beradunya senjata tajam.

"Eeh! Siapa yang sedang bertarung? Apa si pengemis tua, tapi siapa lawannya? Aku kira Giok Phang dan kawannya 1467 berjalan ke arah lain, aku kira bukan mereka yang sedang bertarung!"

Kata Kong-sun Po. Mereka segera mempercepat langkah masing-masing dengan menggunakan gin-kang tinggi. Dari jauh Kong-sun Po seolah mengenali salah seorang dari orang yang sedang bertarung itu.

"Itu sepertinya Seng Cap-si Kouw!"

Kata Kong-sun Po.

Ketika sudah dekat memang benar itu Seng Cap-si Kouw yang sedang bertarung.

Tapi lawannya bukan si pengemis tua melainkan Beng Cit Nio.

Jago perempuan ini memang berangkat ke Kang-lam dengan maksud mencari Seng Capsi Kouw, khususnya dia ingin mencari Han Tay Hiong.

Maka itu dia mengikuti jejak si Iblis Perempuan, akhirnya mereka bertemu di tempat itu.

"Beng Cit Nio, puluhan tahun kita menjadi saudara misan, tapi sekarang kita bentrok gara-gara Han Tay Hiong. Ingat kita semua sudah tua, apa kau pikir Han Tay Hiong masih mau padamu?"

Kata Seng Cap-si Kouw mengejek. Sambil mengejek Seng Cap-si Kouw tidak menghentikan tongkat bambu hijaunya yang dahsyat itu menyerang ke arah Beng Cit Nio.

"Tutup mulutmu! Apa kau kira aku sedang memperebutkan seorang pria tua denganmu? Aku datang hanya untuk bertarung dan mengadakan perhitungan denganmu!"

Kata Beng Cit Nio.

"Eeh, apa maksudmu?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Aku ingin bertanya, isteri Han Tay Hiong mati diracun oleh siapa? Kau pembunuhnya, tapi aku yang dituduh sebagai pembunuhnya!"

Kata Beng Cit Nio sengit.

"Kau salah, isteri Han Tay Hiong meninggal karena sakit, dan tidak ada hubungannya denganku! Sebenarnya Han Tay Hiong pun tidak menuduhmu, kenapa kau bilang begitu?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Jadi kau masih mau menyangkal? Cara kau menaruh racun luar biasa,"

Kata Beng Cit Nio.

"Orang yang kau racun tidak berbekas. Tetapi Han Tay Hiong mencurigai pembunuh isterinya itu, jika bukan aku pasti kau! Di depanku dia tidak menuduhku, tapi anak perempuannya jelas menuduhku. Oleh sebab itu masalah ini harus diusut sampai tuntas!"

Ketika Kok Siauw Hong dan Kong-sun Po tiba, sebenarnya Kok Siauw Hong akan segera menampakkan diri.

Tapi hal itu tidak dilakukannya dan dia mencegah Kong-sun Po.

Tapi kinii dia kaget setelah mendengar pertengkaran kedua nenek itu.

Sedikitpun dia tidak menyangka kalau ibu Han Pwee Eng mati diracun oleh Seng Cap-si Kouw, si Iblis Perempuan yang ganas itu.

"Jadi kau terus menuduhku?"

Ejek Seng Cap-si Kouw dengan gemas.

"Sekarang terserah kau saja! Tapi jika kau ingin membunuhku, hm! Jangan harap kau bisa. Tapi jika aku membunuhmu, kau jangan menyesal!"

Kata Seng Cap-si kouw. Tiba-tiba si Iblis Perempuan mengayunkan tongkatnya menyerang Beng Cit Nio. Pertarungan pun kembali terjadi. Kali ini walau Beng Cit Nio terdesak, dia masih mampu melawan.

"Eeh! Tidak kusangka tenagamu sudah pulih lagi, tapi jangan harap kau bisa melawanku. Maka itu aku sarankan, sebaiknya kau bunuh diri saja!"

Ejek Seng Cap-si Kouw.

Sekarang ilmu silat kedua wanita tua itu seimbang.

Tapi karena Beng Cit Nio pernah dibokong oleh Seng Cap-si 1469 Kouw saat dia bertarung dengan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya, dia terluka dalam.

Sekarang kesehatannya belum pulih benar.

Beng Cit Nio pun sadar, lawannya sangat kejam.

Jadi untuk menghadapi Seng Cap-si Kouw yang ganas itu, terpaksa Beng Cit Nio bertarung dengan matimatian.

Malah kalau perlu dia akan menggunakan ilmu menyiksa diri agar mampu menambah kekuatan dirinya dalam sesaat.

Dia sudah nekat bila perlu dia akan mati bersama-sama dengan lawannya.

Saat itu keduanya mendengar langkah kaki dua orang yang menuju ke arah mereka.

"Hai Iblis Perempuan kejam, ternyata kau ingin mengacau lagi di sini!"

Bentak Kok Siauw Hong.

Tiba-tiba Kok Siauw Hong dan Kong-sun Po mendengar suara jeritan keras dari Beng Cit Nio.

Dia langsung muntah darah.

Tak lama dia limbung dan akhirnya roboh.

Kiranya Beng Cit Nio terluka oleh ilmu menyakiti diri atau ilmu yang disebut "Thian-mo-tee-tay-hoat"-nya sendiri.

Rupanya munculnya Kok Siauw Hong dan Kong-sun Po tadi telah mengganggu konsentrasinya saat dia sedang mengerahkan ilmu itu.

Dengan cepat Kok Siauw Hong maju, pedangnya di arahkan ke tubuh Seng Cap-si Kouw.

"Hai kau berani padaku?!"

Bentak Seng Cap-si Kouw.

Tongkat bambu hijaunya dia sabetkan ke belakang, ke arah pedang Kok Siauw Hong.

Tak lama terdengar suara bentrokan kedua senjata bertubi-tubi.

Sekali pun Kok Siauw Hong gagah, namun menghadapi Seng Cap-si Kouw cukup berat juga.

Kok Siauw Hong merasakan serangan Seng Capsi Kouw yang ganas mampu mendorong tubuhnya.

Serangan si nenek datang bergelombang saling susul-menyusul tidak hentinya.

Melihat Kok Siauw Hong kewalahan, Kong-sun Po datang membantu.

Dia menggunakan payungnya untuk menangkis serangan tong;at bambu hijau Seng Cap-si Kouw.

Benturan kedua senjata itu menimbulkan lelatu api yang berhamburan bagaikan kembang api saja.

Melihat anak muda yang lain bersenjata payung, Seng Cap-si Kouw kaget juga.

Apalagi saat dia mengetahui payungnya ternyata ampuh.

Mungkin saja itu sebuah benda pusaka terbuat dari baja mumi.

Terpaksa si nenek menggunakan tongkatnya dijadikan seolah pedang menyerang ke arah Kong-sun Po.

Kok Siauw Hong cemas melihat keadaan Beng Cit Nio yang muntah darah dan terduduk tadi.

"Beng Kouw-kouw (Bibi Beng), bagaimana keadaanmu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Aku tidak apa-apa, bunuh saja perempuan iblis itu!"

Jawab Beng Cit Nio.

Hati anak muda ini jadi lega, maka itu dia maju lagi dan berkonsentrasi untuk mengalahkan Iblis Perempuan itu.

Padahal Kok Siauw Hong tak tahu sebenanya Beng Cit Nio terluka parah.

Beng Cit Nio bersandar di sebuah pohon, napasnya tersengal-sengal kepayahan.

Sekalipun dikeroyok ternyata Seng Cap-si Kouw lebih menang dibanding Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong yang mengepungnya.

Dia masih mampu menyerang secara ganas dan bertubi-tubi.

Tentu saja dua anak muda itu kaget bukan kepalang.

Jika mereka kalah maka Beng Cit Nio pun akan celaka juga.

Saat Kok Siauw Hong kebingungan, Beng Cit Nio memberi petunjuk.

"Kok Siauw-hiap bergerak ke Kian, duduki daerah Kim!"

Kata Beng Cit Nio.

Kok Siauw Hong maupun Kong-sun Po mengikuti petunjuk Beng Cit Nio, ternyata mereka berhasil menghindari serangan lawan, bahkan Kong-sun Po sempat menggoyahkan tongkat si Iblis Perempuan.

"Beng Cit Nio padahal saat mampusmu sudah tiba, tapi kenapa kau masih berani banyak bicara!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Tanpa mempedulikan ejekan Seng Cap-si Kouw, dengan bersemangat Beng Cit Nio memberi petunjuk pada kedua anak muda itu.

Tak lama terlihat perubahan besar.

Jika tadi dua anak muda itu terdesak, sekarang mereka malah mendesak lawannya.

"Dulu kami pernah menyelamatkan kau, sekarang pun kami tidak ingin mencelakaimu, tapi jawab pertanyaanku. Jika kau menolak, jangan harap kau bisa lolos!"

Bentak Kong-sun Po.

"Katakan, di mana kau sembunyikan Paman Han?"

Kata Kok Siauw Hong. Seng Cap-si Kouw tertawa terbahak-bahak.

"Jadi kau datang untuk mencari mertuamu?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Aku dengan dia sahabat baik, kau jangan khawatir!"

"Tutup mulutmu, katakan di mana beliau berada? Jika tidak jangan harap kau bisa lolos!"

Kata Kok Siauw Hong. Saat itu Seng Cap-si Kouw dalam keadaan terkepung oleh kedua anak muda itu. Di luar dugaan tiba-tiba nenek ini muntah darah.

"Hm! Anak ingusan kalian berani mengancamku?"

Kata Seng Cap-si Kouw dengan nyaring.

Tiba-tiba dia menyerang dengan hebat, tentu saja hal ini membuat kedua anak muda yang mengepungnya keheranan.

Payung Kong-sun Po tersampok miring, begitu pun pedang Kok Siauw Hong.

Tiba-tiba tongkat si nenek itu langsung mengarah ke tubuh Kok Siauw Hong.

Kong-sun Po yang menyaksikan kawannya dalam bahaya dia kaget bukan main.

Dia gunakan payungnya untuk menyelamatkan Kok Siauw Hong dari bahaya maut itu.

Tibatiba Seng Cap-si Kouw menghentikan serangan mautnya.

"Karena kalian pernah membantuku, sekarang kuampuni kalian! Beng Cit Nio jika kau tidak mati, kelak kita bertemu lagi!"

Kata Seng Cap-si Kouw. Sesudah itu dia mencelat dan pergi.

"Aaah, sayang dia kabur!"

Kata Beng Cit Nio lemah. Kiranya sesudah mengerahkan ilmu hitamnya, Beng Cit Nio terluka parah. Kedua anak muda itu menghampiri Beng Cit Nio.

"Bibi Beng, bagaimana keadaanmu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Dia sudah pergi, biar kelak kita adakan perhitungan lagi dengannya!"

Beng Cit Nio tertawa perlahan, wajahnya tampak pucatpasi. Dia terlihat kepayahan.

"Bagaimana kedaanmu, Bi?"

Kok Siauw Hong mengulangi pertanyaannya.

"Rasanya aku tidak akan tahan lebih lama lagi...."

Jawab Beng Cit Nio. Tiba-tiba dia muntah darah lagi.

"Kenapa kau, Bibi?"

Kata Siauw Hong. Tapi Beng Cit Nio diam saja, wajahnya merah membara.

"Dia keracunan ilmunya sendiri,"

Kata Kong-sun Po yang paham ilmu racun.

"Untung belum parah, mungkin kita masih bisa mengobatinya."

"Bagaimana caranya?"

Tanya Kok Siauw Hong.

"Mari kita kerahkan hawa murni kita untuk menolonginya,"

Kata Kong-sun Po. Keduanya lalu mengerahkan tenaga dalam mereka untuk menolongi Beng Cit Nio. Bantuan tenaga dalam itu membuat Beng Cit Nio sadar kembali.

"Cukup, terima kasih,"

Kata Beng Cit Nio. Napas Kok Siauw Hong terengah-engah, karena memang lwee-kangnya kalah tinggi dari Kong-sun Po.

"Siauw Hong, kenapa kau tolongi aku, padahal aku tahu pasti kau pun dendam kepadaku,"

Kata Beng Cit Nio.

"Bukankah saat aku masih kecil Kouw-kouw yang menyelamatkan jiwaku?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Ketika itu aku tergelincir dari pohon dan jatuh ke sungai yang airnya deras. Aku masih ingat semua kejadian itu!"

"Jadi kau masih mengingatnya, nak?"

Kata Beng Cit Nio.

"Aku ingat, saat Pwee Eng menuduhmu sebagai pembunuh ibunya, aku pun menyangkal dan membelamu, karena aku tahu kau orang baik,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Baik, terima kasih jika kau mempercayaiku,"

Kata Beng Cit Nio.

"Sebenarnya aku tidak sebaik yang kau kira. Aku telah banyak melakukan kesalahan. Aku pernah bergabung dengan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya untuk mencelakai Paman Han-mu!"

"Yang telah lewat jangan kau pikirkan, Bibi. Paman Han masih hidup, Pwee Eng pun selamat,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Akan kuceritakan kejadian yang sebenarnya padamu,"

Kata Beng Cit Nio yang napasnya tiba-tiba sesak.

"Sudah, Bibi harus istirahat saja dulu,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Tidak, jika hal itu belum aku ceritakan, aku belum tentram,"

Kata Beng Cit Nio. Kok Siauw Hong tidak bisa mencegah Beng Cit Nio yang mulai bercerita.

"Ketika kami masih muda, aku dan Seng Yu Ih (Seng Cap-si Kouw) sama-sama menyukai Han Tay Hiong,"

Kata Beng Cit Nio.

"Aku tahu Han Tay Hiong lebih menyukai Seng Cap-si Kouw, tetapi dia mengira Han Tay Hiong malah menyukaiku. Akhirnya kami berdua kecewa! Ternyata Han Tay Hiong lebih mencintai ibu Han Pwee Eng. Padahal aku tahu, baik ilmu silatnya maupun kecantikan kami berdua, sebenarnya tidak kalah oleh ibu Han Pwee Eng!"

Beng Cit Nio berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Sebaliknya Siauw Hong berpikir lain.

"Mungkin budi pekerti dan hati ibu Pwee Eng lebih baik dari kalian,"

Pikir Kok Siauw Hong.

"Di belakang rumah Han Tay Hiong terdapat bukit yang sunyi, dan sangat tersembunyi. Tempat itu sulit ditemukan oleh siapa pun. Jalan ke tempat itu pun harus melalui air terjun, karena pintu masuknya ada di balik air terjun itu!"

Melanjutkan Beng Cit Nio.

"Tanpa diduga aku menemukan tempat itu! Maka itu aku tinggal di sana. Maksudku tinggal di sana hanya ingin dekat saja dengan rumah Han Tay Hiong. Tidak kuduga Seng Cap-si Kouw berpendapat lain. Diam-diam dia mendekati keluarga Han dan meracuni isteri Han Tay Hiong dengan keji. Sesudah berhasil dia membalikkan fakta dan memfitnah aku sebagai pembunuh isteri Han Tay Hiong. Sedang kisah selanjutnya kaupun sudah tahu....'"

"Paman Han orang baik dan bijaksana, pasti dia tahu masalah ini,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Semoga saja begitu. Tapi bagaimana keadaan Pwee Eng?"

Kata Beng Cit Nio.

"Aku dengar kau ada masalah dengannya, benarkah itu? Dia nona yang baik, jaga dia baik-baik!"

"Tak lama lagi dia sudah akan menikah dengan Nona Han,"

Kata Kong-sun Po ikut bicara.

"Benarkah? Syukur kalau begitu!"

Kata Beng Cit Nio.

"Pwee Eng mengkhawatirkan keadaan ayahnya, maka itu dia minta aku menyelidiki keadaannya,"

Kata Kok Siauw Hong.

"Aku juga begitu, selama Han Tay Hiong ada di tangan perempuan jahat itu,"

Kata Beng Cit Nio.

"Sayang dia sudah pergi, kalau tidak kita akan tahu di mana Paman Han berada!"

Kata Kok Siauw Hong. Beng Cit Nio termenung, tiba-tiba wajahnya jadi cerah.

"Aah, aku ingat sekarang. Di Ouw-lam ada sebuah tempat persembunyian Seng Cap-si Kouw. Aku yakin Han Tay Hiong disembunyikan di sana. Jika kita akan mencarinya aku harus ikut kalian ke Ouw-lam,"

Kata Beng Cit Nio.

"Bagaimana dengan kesehatanmu?"

Kata Kok Siauw Hong.

"Tidak masalah. Jika hanya untuk berjalan saja aku masih bisa. Jika aku tidak ikut kalian ke tempat itu, mungkin kau tidak akan sampai ke sana,"

Kata Beng Cit Nio.

"Tapi kami harus kembali dulu ke Thay-ouw untuk melapor pada Ong Cee-cu, apakah kau mau ikut bersama kami?"

Kata Kong-sun Po menjelaskan. 'Tidak! Aku tidak ingin menemui Ong Cee-cu, jika kalian mau kita harus berangkat sekarang juga!"

Kata Beng Cit Nio. Kedua anak muda itu bingung sampai akhirnya Kok Siauw Hong mengambil jalan tengah.

"Kalau begitu biar aku dan Bibi Beng yang pergi ke Ouwlam, sesudah urusan Kong-sun Toa-ko selesai di Thayouw, kau susul kami ke Ouw-lam. Di sepanjang jalan aku akan memberi tanda panah, supaya kau mudah menemukan kami!"

Kata Kok Siauw Hong.

"Baik,"

Kata Kong-sun Po menyetujui saran Kok Siauw Hong.

Maka berpisahlah mereka, dua ke Ouw-lam yang seorang ke Thay-ouw.

-o0~DewiKZ~Aditya~aaa~0o-BAB 53 Mengikuti Jejak Kok Siauw Hong; Ciauw Siang Hoa Bertemu Ayahnya Setelah berpisahan dengan Beng Cit Nio dan Kok Siauw Hong, Sekarang Kong-sun Po berjalan sendirian.

Dia menuju ke Thay-ouw.

Saat sendiri Kong-sun Po jadi iseng.

Dia ingin segera sampai ke Thay-ouw, agar bisa segera menyusul Beng Cit Nio dan Kok Siauw Hong ke Ouw-lam.

Maka itu dia mempercepat jalannya.

Keesokan harinya menjelang petang dia sudah sampai di Thay-ouw.

Saat itu dia ingat pada berbagai kejadian yang dialaminya.

"Siauw Hong dan Nona Han sudah rujuk kembali, semoga kepergiannya bersama Beng Cit Nio bisa menemukan jejak calon mertuanya."

Pikir Kong-sun Po.

"Giok Phang dan Nona Wan sudah bertundangan, entah di mana Mi Yun sekarang?". Ingat pada Kiong Mi Yun yang bersedia berkorban baginya, nona ini rela bentrok dengan ayahnya demi dia, Kong-sun Po senang. Ingat Kiong Mi Yun dia pun ingat sahabat masih kecilnya, yaitu nona Wan Say Eng yang sudah punya calon suami, yaitu Ci Giok Phang. Sekarang hanya dia dan Kiong Mi Yun yang belum punya kepastian, ketika mereka masih saling mencari di mana keberadaan mereka masing-masing? Dia pun tidak tahu entah kapan dia bisa bertemu lagi dengan Kiong Mi Yun. Setiba di Tong-teng-san Barat, di tempat Ong It Teng sudah tengah malam. Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu tuan rumah, tapi malah Ong It Teng;ah yang datang menemuinya malam itu juga.

"Aku tidak mengira kau akan segera kembali,"

Kata Ong It Teng pada Kong-sun Po.

"Apa ada masalah?"

Kata Kong-sun Po.

"Ada dua sahabat datang mencari Ci Giok Phang dan Wan Say Eng, sekarang mereka masih ada di sini,"

Kata Ong It Teng.

"Kemarin juga ada orang mencarimu, karena kau tidak ada di sini, dia langsung pergi. Eeh, ke mana yang lain, kok kau pulang sendiri saja?"

Kong-sun Po menceritakan pengalamannya.

"Siapa yang mencari Ci Giok Phang dan Nona Wan, apa dia juga kenal padaku?"

Kata Kong-sun Po.

"Salah seorang mengaku bernama Ciauw Siang Hoa, putera Ciauw Goan Hoa dari Ouw-lam, dia datang bersama tunangannya yang bernama Yo Kiat Bwee!"

Jawab Ong It Teng. Nama kedua orang itu memang pernah di dengar dari Ci Giok Phang, maka itu dia jadi keheranan.

"Nona Kiat Bwee pernah menjadi pelayan Seng Cap-si Kouw, nasibnya sangat buruk. Katanya dia akan ke Kim-keeleng, tapi aneh kenapa dia datang ke sini. Lalu siapa orang yang lain yang mencariku?"

Kata Kong-sun Po. Tiba-tiba Ong It Teng menegurnya.

"Apa kau punya hubungan dengan orang-orang dari Sungai Huang-hoo?"

Kata Ong It Teng.

"Tidak!"

Jawab Kong-sun Po.

"Orang yang mencarimu itu, salah seorang dari mereka!"

Kata Ong It Teng.

"Dia mengaku bernama Chu Tay Peng!"

"Dia bernama Chu Tay Peng!"

Kata Kong-sun Po.

"Oh dia! Dia ingin agar aku segera ke tempatnya!"

"Benar, dia bilang beitu! Dia bilang kau jangan lupa pada janjimu!"

Kata Ong It Teng.

"Memang ada urusan apa dengan mereka?"

Kong-sun Po menjelaskan pengalamannya, saat kawankawan Chu Tay Peng diserang oleh Pouw Yang Hian.

Atas usul Kiong Mi Yun yang meminta agar Chu Tay Peng dan kawankawannya mengabdi pada perjuangan rakyat melawan serangan musuh.

Sesudah lewat satu tahun Kong-sun Po akan mengobati luka mereka.

Sekarang hampir setahun sudah.

"Kalau begitu kau harus menepati janjimu,"

Kata Ong It Teng.

"Dia benar, tapi saat ini aku sedang menghadapi masalah sulit sekali!"

Kata Kong-sun Po.

"Masalah apa?"

Kata Ong It Teng.

"Masalah Kok Siauw Hong. Aku berjanji akan menyusul dia ke Ouw-lam,"

Kata Kong-sun Po.

"Menurut Beng Cit Nio, Han Tay Hiong disembunyikan di Ouw-lam. Maka itu aku harus menyusul Kok Siauw Hong ke Ouw-lam!"

"Bagaimanajanjimu dengan Chu Tay Peng?"

Kata Ong ItTeng.

"Waktunya masih berapa lama lagi, sih?"

"Setengah bulan lagi,"

Jawab Kong-sun Po.

Ong It Teng jadi ragu-ragu mengingat waktunya sangat singkat.

Dari dalam rumah muncul Ciauw Siang Hoa dan Yo Kiat Bwee menemui mereka.

Melihat mereka muncul Kong-sun Po mengawasi untuk mengingat-ingat, apakah dia pernah bertemu dengan mereka atau belum.

"Mungkin kau lupa, kita pernah bertemu,"

Kata Kiat Bwee alias Tik Bwee.

"Benarkah?"

Kata Kong-sun Po.

"Di mana dan kapan itu? Aku benar-benar lupa!"

"Bukankah kau yang dulu bertarung dengan See-bun Souw Ya di depan air terjun? Ketika itu kau tidak mengetahui, aku melihatmu dari balik batu."

Kata Kiat Bwee.

"Jadi kalian sudah saling mengenal,"

Kata Ong It Teng.

"Aku belum pernah bertemu dengan Kong-sun Siauwhiap, tapi namamu sering kudengar dari Ci Toa-ko. Aku mengagumimu,"

Kata Ciauw Siang Hoa. Sesudah mengisahkan pengalamannya, Kong-sun Po menanyakan bagaimana Kiat Bwee bisa bertemu dengan Seng Liong Sen dan Ci Giok Hian.

"Kami bertemu ketika mereka akan menikah,"

Kata Kiat Bwee.

"Saat mau ke mari pun kami bertemu dengan mereka di tengah jalan."

"Jadi Ci Giok Phang dan Nona Wan bersama-sama dengan mereka, bukan?"

Kata Kong-sun Po.

"Kami hanya bertemu dengan Seng Liong Sen dan isterinya, merekalah yang menyuruhku menemuimu di sini!"

Kata Kiat Bwee.

Saat bertemu di tengah jalan, Seng Liong Sen ingin membunuh Kiat Bwee yang mencelakakannya, tapi karena sedang terluka dia tidak berdaya.

Sebenarnya Ci Giok Hian pun benci pada Kiat Bwee, tapi sekarang dia kurang senang pada sifat suaminya yang kurang jujur.

Ditambah lagi Kiat Bwee memang harus dikasihani.

Jika dia memusuhi Kiat Bwee, itu pun tak ada gunanya.

Sedangkan obat pemunah untuk suaminya, Kiat Bwee pun tidak memilikinya.

Maka itu Ci Giok Hian menyuruh Kiat Bwee pergi ke tempat Ong It Teng di Thay-ouw untuk bertemu dengan Kong-sun Po.

"Aah, masalah jadi semakin gawat. Padahal masalahku belum selesai, sekarang ada masalah baru lagi. Entah ke 1481 mana perginya Ci Giok Phang dan Wan Say Eng?"

Kata Kong-sun Po.

"Mungkin mereka mengurus masalah lain. Mengingat kepandaian mereka, kau jangan mencemaskannya,"

Kata Ong It Teng.

"Sebenarnya masalahmu yang harus kau segera urus."

"Mengenai masalah apa, bisa kau beritahu kami?"

Kata Ciauw Siang Hoa.

Kong-sun Po menjelaskan, dia harus memenuhi janjinya pada Chu Tay Peng cs.

Tapi sekarang dia harus menyusul Kok Siauw Hong ke Ouw-lam.

Dengan demikian masalah itu jelas tidak bisa diselesaikan bersama-sama.

Tiba-tiba Kiat Bwee tertawa.

"Jangan cemas, biar aku saja yang ke Ouw-lam Barat, aku memang ingin menemui Beng Cit Nio,"

Kata Kiat Bwee.

"Aku senang mendengar usulmu. Tapi adat Beng Cit Nio keras. Apalagi dia bilang masalah ini jangan diberitahukan pada siapa pun. Jika kau pergi ke sana, lalu...."

"Jangan khawatir,"

Kata Kiat Bwee.

"Aku bekas budak Seng Cap-si Kouw dan bertetangga dengannya, aku tahu dia juga sayang kepadaku." ' "Apa kau tidak takut jika di sana bertemu dengan Seng Cap-si Kouw?"

Kata Kong-sun Po. Dengan sikap gagah Kiat Bwee alias Tik Bwee berkata.

"Justru kamilah yang ingin mencari dia untuk menuntut balas!"

Sesudah mendengar cerita ibu Ciauw Ciang Hoa, Kho-si, tahulah Tik Bwee, dia diculik dan dijadikan budak oleh Seng Cap-si Kouw dan hal itu bukan kejadian kebetulan.

Nasib buruk Ciauw Siang Hoa dan dia justru ada kaitannya dengan Seng Cap-si Kouw.

Paling tidak si Iblis Perempuan itu tahu masalahnya.

Kong-sun Po akhirnya setuju karena dia yakin Ciauw Siang Hoa dan Kiat Bwee mampu menghadapi Seng Cap-si Kouw.

Sesudah ada kesepakatan esok paginya mereka berangkat bersama-sama menyeberangi Thay-ouw dengan diantar oleh anak buah Ong It Teng.

Perahu mereka didayung ke tengah, tapi sesampai di tengah danau yang luas, mereka melihat sebuah sampan meluncur cepat.

Di atas sampan itu terlihat sepasang muda-mudi sedang asyik menyaksikan pemandangan Thay-ouw yang indah.

Ternyata Kiat Bwee mengenali sepasang muda-mudi di atas sampan itu, lalu dia memanggilnya.

"Liong Cici, kau juga ada di sini?"

Kata Kiat Bwee.

"Akh saudara Bu kiranya kau!"

Kata Ciauw Siang Hoa.

Memang itu Bu Hian Kam dan Liong Thian Hiang, dua mudamudi yang mereka kenal.

Tampaknya mereka gembira sekali.

Sesudah perahu-perahu mereka ke tepi, dari cerita Liong Thian Hiang, tahulah Kiat Bwee bahwa sepasang muda-mudi itu baru pulang dari rumah Ciauw Siang Hoa karena hendak mencari mereka.

Sekarang kebetulan mereka bertemu di tengah danau.

Nona Liong bercerita, mereka tahu keluarga Ciauw sudah pindah dari tetangga Ciauw Goan Hoa.

"Aneh? Ayah dan Ibuku tidak memberitahuku mereka akan pindah?"

Kata Siang Hoa.

"Ke mana mereka pindah?"

"Tetanggamu tidak mengatakan ke mana mereka pindah!"

Kata nona Liong.

"Sudah,"

Kata Kiat Bwee.

"Mungkin ayahmu pindah untuk menghindari gangguan dari si Iblis Perempuan yang ganas itu!"

"Tapi ke mana pindahnya, kenapa aku tidak diberi tahu?"

Kata Siang Hoa. Pemuda itu kelihatan berduka dia ingat bagaimana Ciauw Goan Hoa menyayangi dirinya.

"Tenang, mungkin kau hanya berpisah untuk sementara saja, kelak kau pun akan bertemu lagi dengan beliau,"

Hibur Kiat Bwee.

"Mari kita tanya Liong Cici, bagaimana dia bisa sampai ke mari?"

"Kami kira kalian pergi ke Kim-kee-leng, maka itu kami bermaksud menyusul kalian ke sana,"

Kata nona Liong. Tiba-tiba wajahnya berubah kemerah-merahan.

"Kami sudah bertunangan,"

Kata Bu Hian Kam.

"Oh selamat! Selamat!"

Kata Kiat Bwee maupun Siang Hoa.

"Kami harap kalian pun meniru kami, segera bertunangan,"

Kata Liong Thian Hiang menggoda.

"Aah, kau jangan bergurau Liong Cici, bicaralah soal yang penting-penting saja,"

Kata Kiat Bwee menunduk malu.

"Apa itu tidak penting?"

Kata Liong Thian Hiang.

"Baik, akan kujelaskan bagaimana kita bisa bertemu di sini. Aku mendapat keterangan tentangmu secara kebetulan saja. Ketika kami sedang minum di sebuah warung teh di tepi jalan, kami bertemu dengan kenalan lama. Dia Chan It Hoan, budak Nona Han!"

"Aku dengar dari Kok Siauw Hong, orang itu ada di tempat Bun Tay-hiap,"

Kata Kong-sun Po.

"Dia diutus oleh Bun Tay-hiap ke Kim-kee-leng menemui, Liu Beng-cu!"

Kata Bu Hian Kam.

"Saat bertemu kami dia baru saja pulang dari Kim-kee-leng. Dari It Hoan kami tahu kalian tidak ada di sana. Lalu kami meninggalkan kedai minum hingga muncul kejadian yang tidak kami duga-duga...."

"Apa yang terjadi?"

Tanya Kiat Bwee.

"Kami bertemu seorang yang berpakaian seperrti tabib, pakaiannya kotor dan lapuk. Dia membawa sebuah lonceng dan langsung minta uang pada kami,"

Kata Bu Hian Kam.

"Kenapa heran, tabib pengembara seperti itu sama dengan pengemis saja,"

Kata Kiat Bwee sambil tertawa.

"Biasanya mereka menjual obat palsu dan menawarkannya pada seseorang, tapi ini tidak! Dia minta uang pada kami,"

Kata Hian Kam.

"Ketika itu aku memang sedang kesal, lalu bergurau dengannya. Aku bertanya apakah dia punya obat mujarab tidak. Tahukah kau apa jawab dia, jawabannya membuat aku kaget!"

"Dia bilang apa?"

Kiat Bwee mendesak ingin tahu.

"Dia bilang dia hanya menjual obatnya pada orang lain, tidak akan menjualnya kepadaku! Dia bilang dia hanya akan menjual khabar padaku. Lalu aku tanyakan khabar apa? Dia bercerita. 'Suatu hari saat aku sedang beristirahat aku mendengar percakapan kami."

Katanya.

Lalu dia bertanya pada kami.

'Apa kalian sedang cari itu orang yang masih muda.

Dan yang perempuan she Yo sedang yang pria she Ciauw?' "Jelas yang dia katakan khabar itu justru tentang kami berdua,"

Kata Ciauw Siang Hoa.

"Aneh sekali, aku tidak kenal dengannya."

"Dia membawa tempat arak berwarna merah atau tidak?"

Kata Kong-sun Po yang menduga si tabib pengemis di Sionghong-nia.

"Aku tidak melihatnya,"

Kata Bu Hian Kam. Bu Hian Kam kemudian memetakan wajah tabib berpakaian rudin itu pada mereka.

"Kalau begitu bukan si pengemis di Siong-hong-nia!"

Kata Kong-sun Po.

"Tapi kami senang karena kami mengetahui tentang keberadaan kalian,"

Kata Bu Hian Kam.

"Dia bilang dia melihat kalian minum di kedai itu!"

"Aneh?"

Kata Kiat Bwee.

"Aku tidak pernah melihat dia, di mana warung itu berada?"

"Di Hek-hoo-wan,"

Kata Bu Hian Kam.

"Kami tidak pernah ke sana,"

Kata Siang Hoa.

"apalagi minum!"

"Heran dia bisa menggambarkan wajah kalian dengan tepat, dia bilang dia bertemu kalian tiga hari yang lalu,"

Kata Bu Hian Kam.

"Kalian sedang membicarakan Ong Cee-cu. Dia heran, karena kalian masih muda, tapi sudah kenal dengan Ong Cee-cu."

"Berapa usia orang itu?"

Tanya Kiat Bwee.

"Sekitar limapuluh tahun lebih, maka itu kalian dianggap masih bocah,"

Kata Bu Hian Kam.

"Aneh! Sekalipun dia omong kosong, tapi jejak kami diketahuinya,"

Kata Ciauw Siang Hoa.

"Waktu itu aku pun tidak percaya padanya,"

Kata Hian Kam.

"Tapi aku pikir Ayahku juga baik dengan Ong Ceecu, apa salahnya aku ke tempatnya. Akhirnya kita bertemu di sini dengan kalian..."

"Menurut kalian, dia tokoh persilatan, bukan?"

Kata Sun Po.

"Sulit menduganya, dia berjalan pincang. Barangkali dia bisa silat!"

Kata Bu Hiang Kam.

"Rasanya sulit menebaknya,"

Kata Kiat Bwee.

"Mari kita lanjutkan saja perjalanan kita!"

"Baik, kita berpisah di sini saja,"

Kata Kong-sun Po. Sesudah itu mereka membuat perjanjian dengan tanda apa mereka bisa saling berkomunikasi.

"Jika kalian mau ke Ouw-lam, perhatikan tanda "panah"

Yang diberikan oleh Kok Siauw Hong. Di batu atau di atas pohon. Kalian boleh mengikuti "tanda panah"

Itu!"

Kata Kong-sun Po. Sesudah Kong-sun Po meninggalkan mereka, Kiat Bwee tertawa.

"Kalau begitu kalian mau pulang kampung!"

Kata Kiat Bwee.

"Ouw-lam dekat dengan tempat tinggal kalian!"

Memang rumah Ciang Hoa dan Hian Kam ada di Ouwlam, tapi tempat pertemuan dengan Kok Siauw Hong entah di mana?

Dua hari kemudian keempat muda-mudi itu melakukan perjalanan ke Ouw-lam Barat.

Sesudah menempuh jarak sekitar tiga puluh li, mereka belum juga menemukan tanda yang diberikan Kok Siauw Hong.

"Kenapa tidak ada tandanya? Apa barangkali telah terjadi sesuatu pada mereka?"

Kata Kiat Bwee cemas.

"Heran! Tapi barangkali kita kurang awas hingga tidak melihat tanda panah itu,"

Kata Bu Hian Kam.

"Menurut Kong-sun Po di tempat-tempat yang mudah terlihat Kok Siauw Hong membuat tanda,"

Kata Kiat Bwee.

"Bagaimana jika kita lacak ulang kembali lagi ke asal,"

Kata Liong Thian Hiang. Sesudah bolak-balik mereka tetap tidak menemukan tanda itu.

"Kita berjalan di kiri dan mencari tanda itu, jika sudah 30 li tak menemukan apa-apa, kita balik lagi lewat sebelah kanan,"

Kata Liong Thian Hiang.

Mereka mengikuti saran Liong Thian Hiang, tapi sudah dijalani 30 li, mereka tidak menemukan tanda tersebut.

Ternyata sampai sore pun mereka belum menemukan tanda tersebut.

Akhirnya mereka kembali lagi.

Lalu menyusuri jalan di sebelah kanan.

Sesudah berjalan beberapa li dalam keadaan cuaca yang mulai remang-remang.

Akhirnya mereka menemukan sebuah batu yang kelihatannya seperti ada tandanya.

"Aah, ternyata kau cerdas, akhirnya ketemu juga tanda tersebut,"

Kata Kiat Bwee.

"Sabar, coba kalian perhatikan, tanda panah ini agak aneh bentuknya,"

Kata Bu Hian Kam. Mereka segera memeriksa tanda itu dengan teliti. Memang mereka menemukan tanda aneh.

"Sepertinya dirusak dengan tangan,"

Kata Kiat Bwee.

"Ya, orang yang merusak tanda ini menggunakan jurus "jari sakti Kim-kong-cee-lek aliran Siauw-lim atau jurus It-ci-siankang kaum Buddha,"

Kata Ciauw Siang Hoa.

"Tanda yang diberikan Siauw Hong menggunakan ujung pedang, dia tidak bisa jurus jari sakti,"

Kata Kiat Bwee.

"Kalau begitu yang membuat "tanda"

Orang lain, apa akan kita ikuti atau jangan?"

Kata Liong Thian Hiang.

"Kita tidak kenal orang itu, jangan-jangan ini perangkap,"

Kata Bu Hian Kam.

"Tetapi kita tidak menemukan tanda lain,"

Kata Thian Hiang.

"Bagaimana jika kita ikuti saja tanda itu, kita coba saja,"

Kata Bu Hian Kam.

Merasa tidak punya pilihan, sekalipun ragu-ragu mereka ikuti tanda itu.

Akhirnya mereka sampai ke daerah pegunungan.

Hari itu mereka tiba di sebuah hutan, mereka tidak menemukan tanda, maupun jalan yang pernah dilewati oleh manusia.

"Nama tempat ini Bukit Oh-kwie (Bukit Setan). Ini daerah paling tandus di Ouw-lam. Aku khawartir orang itu sengaja memancing kita ke mari,"

Kata Bu Hiang Kam yang tampak cemas sekali. Tiba-tiba Kiat Bwee berkata.

"Lihat!"

Saat mereka berpaling ke tempat yang ditunjuk Kiat Bwee, di sana mereka lihat ada batu besar seolah temoat duduk atau sebuah altar, di atasnya tampak menumpuk tengkorak manusia.

Setiap tumpuk ada tiga buah tengkorak.

Yang paling atas menyeramkan, giginya menyeringai.

Semua kaget dan merasa ngeri.

Tapi karena Bu Hian Kam orang Ouw-lam, dia mengerti adat-istiadat setempat.

"Di daerah ini banyak agama sesat, tumpukan tengkorak ini mungkin bekas upacara salah satu agama sesat itu!"

Kata Bu Hian Kam menjelaskan. Ketika suasana sedang mencekam itu, terdengar suara seruling, iramanya tidak menentu. Suara seruling itu membuat bulu kuduk berdiri karena seramnya.

"Tenang, jangan gugup!"

Kata Bu Hian Kam.

"Kita tunggu apa mau mereka?"

Tak lama muncul serombongan wanita bangsa Biauw, salah seorang mengenakan kerudung sutera halus.

Tubuhnya kelihatan setengah telanjang.

Pada kedua telinga orang itu terlihat anting-anting besar.

Pakaian yang dikenakannya sangat berbeda dari yang lainnya.

Agaknya dia pemimpin kaum wanita Biauw tersebut.

Sedang wanita Biauw yang lain membawa bumbung bambu, entah untuk apa?

Rombongan orang Biauw itu terkejut ketika melihat keempat muda-mudi itu.

Mereka langsung mengepung, dan terdengar suara seperti suara makian.

"Apa yang mereka katakan?"

Kata Liong Thian Hiang.

"Kata pemimpin mereka, kita telah memasuki daerah terlarang milik mereka!"

Kata Bu Hian Kam.

"Mereka pun bilang yang perempuan akan dijadikan budak, sedang kami yang laki-laki akan mereka bunuh!"

"Segera jelaskan kepada mereka, kita tersesat dan tidak sengaja ke mari,"

Kata Liong Thian Hiang.

Merasa mampu berbicara dengan bahasa Biauw, Bu Hian Kam melaksanakan usul Liong Thian Hiang.

Dia berjalan mendekati pemimpin wanita Biauw itu.

Tapi tibatiba kepalanya pening karena mencium bau yang aneh.

"Tahan napasmu, itu pasti udara beracun,"

Kata Kiat Bwee.

Kiat Bwee melompat mencoba menarik Bu Hian Kam, lalu memasukkan sebuah pil ke mulut pemuda itu.

Dia memberikan pil pada kawannya yang lain.

Memang saat itu Liong Thian Hiang maupun Siang Hoa merasakan kepalanya pening.

"Maaf, kami tersesat dan tidak sengaja memasuki wilayah kalian,"

Kata Kiat Bwee.

"Kami tidak mau tahu, kenapa kalian memasuki wilayah terlarang kami, maka itu kalian harus dihukum mati!"

Kata pemimpin wanita Biauw itu.

Mereka kaget, rupanya wanita Biauw yang jadi pemimpin rombongan itu bisa bahasa Han.

Dengan tidak menghiraukan permohonan Kiat Bwee, si pemimpin memerintahkan menangkap keempat orang yang mereka kepung itu.

"Karena kalian mendesak kami, maka kami pun terpaksa tidak memakai aturan,"

Kata Kiat Bwee.

Kiat Bwee mengibaskan bajunya, segumpal asap menyambar membuat wanita Biauw yang berada paling depan kaget.

Mereka melompat mundur.

Tak lama terdengar teriakan wanita Biauw yang kelihatan tubuhnya kegatalan.

Kiranya Kiat Bwee menyebar obat bubuk yang membuat orang kegatalan.

Pemimpin mereka menangkis serangan Kiat Bwee.

"Lepaskan si hijau agar menyerang mereka!"

Kata si pemimpin.

Kiat Bwee terperanjat, dia lihat wanita-wanita Biauw yang membawa bumbung bambu itu membuka tutup bumbungnya.

Tak lama terdengar desisan ular hijau.

Salah seekor menyambar ke arah Kiat Bwee.

Kiat Bwee melompat mndur bersama Ciauw Siang Hoa, juga kawan-kawannya.

Serempak mereka menghunus senjata untuk membunuh setiap ular hijau yang menyerang mereka.

Banyak ular hijau yang terbunuh oleh senjata keempat anak muda itu.

Melihat serangan mereka tidak berhasil, seolah mengerti ular hijau itu menghentikan serangan mereka.

Tetapi tak lama ular hijau itu terus bertambah.

Ini membuat keempat muda-mudi itu cemas bukan kepalang.

Bu Hian Kam yang kesehatannya telah pulih, berbisik pada kawan-kawannya.

"Jika ingin menaklukkan mereka, kita harus menangkap pemimpin mereka!"

Bisik Bu Hian Kam.

"Ya, kita tangkap pemimpinnya dulu,"

Jawab Kiat Bwee. Sekarang mereka sedang dikepung kawanan ular hijau, sekalipun gagasan Bu Hian Kam itu baik, mereka sulit menembus kepungan ular hijau itu.

"Saudara Siang Hoa, kau bawa batu api tidak?"

Kata Bu Hian Kam.

"Memang kenapa. Aku bawa!"

Jawab Siang Hoa.

"Kau nyalakan!"

Perintah Bu Hian Kam.

Ciauw Siang Hoa tidak tahu apa gunanya api bagi Bu Hian Kam, tapi dia menurut dan membuat api dengan batu api.

Saat api memancar dan lelatunya berpencar, Bu Hian Kam menyebarkan jarum Bwee-hoa-ciam yang halus ke arah ularular itu.

Dengan bantuan cahaya api itulah Bu Hian Kam berhasil membunuh ular hijau itu beberapa ekor.

Saat itu oleh Bu Hian Kam digunakan untuk meloloskan diri dari kepungan ular hijau.

Kiat Bwee pun ikut melompat keluar kepungan bersama Hian Kam.

"Hm! Kalian berdua cari mampus, ya?"

Kata si pemimpin.

Tiba-tiba dia serang Kiat Bwee dan Hian Kam dengan sepuluh buah cincin yang ada di tangan wanita Biauw itu.

Cincin itu jadi senjata rahasia yang ampuh.

Tak lama terdengar suara siulan, dan ular-ular itu pun bergerak memperketat kepungan ke arah Ciauw Siang Hoa dan Liong Thian Hiang.

Bu Hian Kam dan Kiat Bwee menerjang ke depan sambil memutarkan goloknya.

Tak lama terdengar suara beradunya senjata beberapa kali.

Cincin si wanita Biauw pun berjatuhan ke tanah.

Kiat Bwee tak tinggal diam, dia sebar kembali obat gatalnya.

Melihat hal itu para wanita Biauw itu mundur karena takut terkena lagi.

Tapi yang tak sempat menghindar menjeritjerit kegata-lan.Mereka lari dan menceburkan diri ke dalam sungai.

Si pemimpin maju menyerang Yo Kiat Bwee.

Melihat lawan datang, Kiat Bwee menusukkan pedangnya.

Sayang tidak kena.

Bahkan baju bagian bahunya terkoyak oleh lawan.

Untung Kiat Bwee mengelak dan tidak tercengkram.

Bu Hian Kam datang membantu, sekarang pemimpin wanita Biauw itu dikeroyok berdua oleh Kiat Bwee dan Bu Hian Kam.

"Bukan minta maaf, malah kalian berani menyerangku!"

Kata wanita Biauw itu.

Saat itu golok pemimpin wanita Biauw bergerak.

Hian Kam dan Kiat Bwee kaget menyaksikan kehebatan ilmu golok wanita Biauw itu.

Bu Hian Kam mencoba menghindar, dia membabat tangan wanita Biauw itu dengan golok.

"Lepas senjatamu!"

Kata Hian Kam. Ternyata wanita Biauw itu lihay, dia mampu menghindari tebasan golok Bu Hian Kam. Bahkan membalas sambil berteriak.

"Coba senjata siapa yang lepas lebih dulu!"

Katanya. Tiba-tiba golok berbentuk sabit wanita Biauw itu meluncur ke arah tangan Hian Kam. Dengan tenang Hian Kam melayani serangan itu. Kembali senjata mereka bentrok.

"Trang! Trang!"

Kiat Bwee memutar pedang, dia babat lengan wanita Biauw itu. Melihat serangan berbahaya dari Kiat Bwee, dia melompat mundur.

"Nona Yo, layani dia dengan taktik berputar-putar!"

Kata Bu Hian Kam.

Kiat Bwee menurut, dia berputar-putar sambil menyerang.

Karena serangan Kiat Bwee gencar, sekarang wanita Biauw itu mulai terdesak dan hanya bisa menghindar saja.

Memang cara menggunakan golok wanita Biauw itu berbeda sekali dengan ilmu golok yang dipelajari Hian Kam.

Tak heran semula mereka terdesak.

Sekarang karena bekerjasama dengan Kiat Bwee mereka berhasil mendesak wanita Biauw itu.

"Kami tidak ingin menyusahkanmu, lekas singkirkan semua ular-ularmu!"

Kata Hian Kam.

"Sudah hampir mati saja, kau masih banyak bicara,"

Ejek wanita Biauw itu. Saat Kiat Bwee dan Hian Kam mendesak, tiba-tiba ada orang bicara.

"Tik Bwee, apa kau masih mengenaliku atau tidak?"

Kata suara itu nyaring sekali. Mendengar suara itu Tik Bwee atau Kiat Bwee yang sudah lama mengenal suara itu jadi terperanjat sekali. Ternyata orang itu Seng Cap-si Kouw adanya.

"Sam Kiong-cu, kau tangkap orang yang dikepung ularmu, biar kedua orang ini aku yang meladeninya. Yang perempuan budakku yang melarikan diri dariku, akan kuhukum dia!"

Kata Seng Cap-si Kouw pada "Sam Kiong-cu"

Atau Puteri Ketiga bangsa Biauw itu.

"Seng Kouw-kouw, dugaanmu benar. Mereka tiba tepat waktu,"

Kata wanita Biauw itu.

Tik Bwee alias Kiat Bwee tahu siapa Seng Cap-si Kouw.

Maka daripada mati konyol, dia bertekad akan melawan matimatian.

Tanpa banyak bicara Kiat Bwee menyerang Iblis Tua itu.

Tapi dengan mudah serangan itu disampok oleh Seng Cap-si Kouw dengan tongkat bambu hijaunya.

"Kau mau memamerkan ilmu silat ajaranku di depanku, ya?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Sampokan bambu hijau Seng Cap-si Kouw hampir saja menjatuhkan pedang di tangan Kiat Bwee.

Melihat kawannya dalam bahaya, Hian Kam maju membacok, tapi Seng Cap-si Kouw dengan gesit membalikkan tongkat bambu hijaunya menangkis serangan Hian Kam.

Maka golok Hian Kam pun terpental kena sampokan itu.

Tapi Bu Hian Kam pun tak tinggal diam, kembali dia menyerang.

Dengan demikian pertarungan jadi tambah seru.

Seng Capsi Kouw heran, dia belum mampu mengalahkan pemuda itu.

"Tik Bwee, aku bunuh kaupun tak ada gunanya. Bagaimana jika kau ikut aku pulang, maka jiwamu akan 1495 kuampuni. Tapi jika kau tertangkap, maka nyawamu tidak tertolong lagi!"

Kata Cap-si Kouw. Bukan main ngerinya Kiat Bwee.

"Dari pada tertangkap lebih baik aku bunuh diri,"

Pikir Kiat Bwee.

Di tempat lain Ciauw Siang Hoa dan Liong Thian Hiang sedang dikepung ular hijau, karena ular-ularnya sebagian sudah mati, kepungan ular hijau mulai agak longgar.

Tidak terduga wanita Biauw itu datang menyerang mereka.

Sekarang mereka bertarung, tapi kedua muda-mudi itu harus waspada pada gigitan ular-ular berbisa.

Wanita Biauw itu terus mendesak.

Saat Siang Hoa dan nona Liong terdesak, wanita Biauw itu berteriak.

"Bibi Seng, bagaimana? Apa kubunuh mereka atau biarkan hidup?"

Kata wanita Biauw itu.

"Ditangkap hidup-hidup lebih baik,"

Jawab Seng Cap-si Kouw.

"Akan kucoba,"

Kata wanita Biauw itu.

Dia memutarkan golok lengkungnya menyerang dengan hebat.

Dengan taktik mencoba memisahkan Ciauw Siang Hoa dengan nona Liong, wanita Biauw ini menyerang dengan gencar.

Setiap saat ular hijaupun terus mengancam Siang Hoa maupun nona Liong.

Jarak antara nona Liong dan Bu Hian Kam tidak terlalu jauh.

Saat Hian Kam melihat seekor ular menyambar ke arah calon isterinya, dia kaget, karena itu serangannya pada Seng Cap-si Kouw jadi kacau.

Kesempatan ini tak disiasiakan oleh si Iblis Perempuan.

Dia menyabet dengan tongkat bambu hijaunya, dan celakanya golok Hian Kam 1496 pun terlepas dari tangannya.

Tiba-tiba tongkat hijau menotok jalan darah Hian Kam.

Si Iblis Perempuan menoleh ke arah bekas budaknya.

"Tik Bwee, aku mau tahu bagaimana kau bisa meloloskan diri dariku!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Apa kau masih akan mencari bantuan Kok Siauw Hong dan Beng Cit Nio! Dengar baik-baik, mereka semua sudah ada di tanganku. Jika kau mau menemuinya, akan kupertemukan!"

Kiat Bwee kaget bukan kepalang.

Tak ada jalan lain dia harus bunuh diri daripada tertangkap oleh si Iblis Perempuan.

Saat dia akan bunuh diri dia mendengar suara suitan.

Alat suitan itu biasanya terbuat dari batang gelagah, ini kebiasaan bangsa Biauw.

Bukan Kiat Bwee saja yang kaget, Seng Cap-si Kouw pun kaget mendengar suara suitan itu.

"Eeh, siapa orang itu? Beraninya dia main gila di sini!"

Kata Seng Cap-si Kouw.

Suitan itu ternyata membuat semua ular hijau itu diam dan tidak bergerak seolah ketakutan.

Tak lama semua ular hijau itu menggeleser masuk ke dalam hutan tidak mau mendengar perintah para wanita bangsa Biauw itu.

Baik pemimpin wanita Biauw maupun anak buahnya diam tertegun.

Mereka pun akhirnya berbalik dan kabur ke dalam rimba.

Sekarang tinggal Seng Cap-si Kouw seorang.

Melihat semua kabur Seng Cap-si Kouw tertegun keheranan.

Dia tidak menyangka wanita Biauw yang begitu taat itu, semua telah meninggalkannya.

Tiba-tiba dia dengar langkah orang dari dalam hutan.

Saat dia menoleh, dia lihat seorang tabib berpakaian rombeng, berjalan menghampiri mereka.

Melihat tabib itu Liong Thian Hiang senang bukan kepalang.

Tetapi dia juga khawatir, apakah tabib itu kawan atau malah lawan.

Tiba-tiba mereka dengar Seng Cap-si Kouw bicara.

"Siapa kau?"

Bentak Seng Cap-si Kouw.

"Mengapa kau ikut campur urusan kami?"

Tabib berpakaian aneh itu tertawa terkekeh.

"Aku tahu siapa kau. masa kau sudah lupa siapa aku?"

Kata si tabib aneh itu. Seng Cap-si Kouw mencoba mengingat-ingat wajah orang itu. Bukan main kagetnya dia, saat dia ingat siapa orang itu.

"Jadi.... jadi kau Ciok ....Oh jadi kau belum mati ya?"

Kata Seng Cap-si Kouw.

"Beruntung memang, aku belum mati,"

Kata si tabib aneh.

"Ditambah lagi aku pun tidak ingin buru-buru mati! Aku harus balas-dendam, mana boleh aku buru-buru mati? Sekalipun bukan kau yang mencelakaiku, tapi kau ikut ambil bagian. Maka itu sebaiknya masalah itu kita selesaikan sekarang!"

"Kau pernah lolos sekali dariku, sekarang tidak! Mungkin kau sudah bosan hidup? Sekarang saatnya kau menghadap Giam Lo Ong (Si Raja Akherat)!"

Kata Seng Cap-si Kouw sambil mengetukkan tongkat bambu hijaunya ke tanah.

Dia serang si tabib aneh itu dengan serangan mautnya, di luar dugaan tabib itu sudah siaga.

Begitu tongkat hijau sampai, si tabib menggunakan loncengnya menangkis.

"Trang!"

Gerakan si tabib luar biasa. Dia gunakan jurus Boat-in-kianjit"

Atau "Menyibak awan melihat matahari".

Tak lama keduanya sudah mulai bertarung dengan hebat.

Seranganserangan tabib aneh dengan lonceng bergagang panjang dirasakan sangat merepotkan Seng Cap-si Kouw.

Sekarang dia mulai terdesak mundur.

"Aneh jurus orang ini, dulu dia kalah olehku, tapi sekarang dia luar biasa,"

Pikir si Iblis Perempuan.

Selain lihay munculnya si tabib aneh ini mengejutkan Seng Cap-si Kouw.

Saking gugupnya Seng Cap-si Kouw jadi terdesak lawannya.

Ditambah lagi tenaganya sudah agak terkuras.

Siang Hoa dan Liong Thian Hiang yang sudah bebas dari kepungan musuh jadi bernafsu menyerang.

"Mari kita serang Seng Cap-si Kouw!"

Kata Siang Hoa. Kiat Bwee seolah tersedar dari kejutnya.

"Benar, mari kepung si Iblis Perempuan itu!"

Kata Kiat Bwee.

"Hm! Kau pikir gampang merintangiku, aku bisa pergi dan datang sesuka hatiku,"

Kala Seng Cap-si Kouw mengejek.

Karena sudah kewalahan menghadapi tabib aneh itu, sebenarnya Seng Cap-si Kouw akan meninggalkan pertempuran.

Ketika ada kesempatan baik, dia langsung kabur.

Sedang orang-orang tidak mengejarnya.

Saat itu Nona Liong berusaha menolong membuka totokan pada Bu Hian Kam, tapi gagal.

Kiat Bwee membantunya juga gagal.

Melihat hal itu si tabib aneh tersenyum.

"Biar aku coba menolongnya,"

Katanya. Dia mencoba mengurut Bu Hian Kam, dan berhasil.

"Terima kasih atas pertolongannya,"

Kata Bu Hian Kam.

"Jangan see-ji (segan),"

Kata si tabib.

"Nanti kau akan tahu sendiri, siapa aku ini..."

Siang Hoa mengawasi tabib itu, dia merasa seolah kenal dengan tabib aneh itu.

Dia heran sekali.

Tabib aneh itu pun sedang mengawasi ke arah Ciauw Siang Hoa.

Ketika diperhatikan tampak tabib aneh itu seperti mengeluarkan air mata.

"Aneh, siapa sebenarnya kau? Bagaimana kau tahu tentang kami, bahkan kau memancing kami seolah kau tahu banyak tentang kami!"

Kata Ciauw Siang Hoa pada si tabib.

"Ooh, ternyata kau lupa padaku, Nak,"

Kata si tabib aneh.

"Sekarang jawab, benarkah di bawah ketiakmu ada tahi lalat? Saat rumahmu diserang, bukankah kau dibawa lari oleh Ong Sam?"

"Ooh jadi.... Jadi kau Ayahku!"

Teriak Siang Hoa.

"Benar! Kau jangan menangis, nak,"

Kata si tabib saat dia lihat Siang Hoa menangis.

"Kita harus gembira karena bisa bertemu lagi!"

"Ayah, tahukah kau siapa Nona ini?"

Tabib itu mengangguk.

"Aku tahu, aku pun pernah mencari ayahnya, maka aku tahu keluargamu tertimpa malang. Aku mencemaskan dirimu, Nona Yo! Tidak kukira hari ini kita bisa berkumpul, ternyata kalian juga kenal dengan anakku."

Kata si tabib. Sesudah tertegun sejenak tabib itu berkata lagi.

"Namaku Ciok Leng, sahabat baik Yo Tay Ceng, ayah Nona Yo! Apa kau tahu, Nona Yo?"

Kata si tabib.

"Aku tahu, ketika masih kecil Ayahku pernah bilang tentang Paman Ciok. Baru-baru ini aku juga mendengar tentang Paman dari seseorang. Tidak kukira kita bisa saling bertemu lagi...."

Kata Kiat Bwee.

"Kalian kira aku sudah mati, bukan?"

Kata Ciok Leng.

"Nona Yo diculik dan dijual pada Seng Cap-si Kouw dijadikan budaknya,"

Kata Siang Hoa menjelaskan pada ayahnya.

"Aku tahu, tapi aku tidak yakin kau puteri Yo Toa-ko, padahal aku pernah mengikuti kalian, sedangkan kalian tidak mengetahuinya,"

Kata ayah Siang Hoa.

"Kenapa Ayah tak sejak dulu menemui kami?"

Kata Siang Hoa.

"Ketika itu saatnya belum tiba,"

Kata sang ayah.

"Karena masih ada yang belum jelas bagiku. Apa kalian pernah mendengar tentang peta tubuh Hioat-to-tong-jin? Nasib buruk keluarga kita ada kaitannya dengan lukisan itu!"

"Kami pernah mendengarnya dari Kho-si, ibu keduaku,"

Jawab Siang Hoa.

"Yang kau maksud Kho Siauw Hong, isteri Ciauw Goan Hoa, bukan?"

"Ya. Dia sangat baik padaku,"

Kata Siang Hoa.

"Tapi sayang dia sudah meninggal dunia."

"Dia juga bernasib buruk dan menyedihkan,"

Kata Ciok Leng.

"Ayahnya dulu kawan ayah juga, saat mengawal lukisan dia coba berbuat curang dan gagal Tak diduga dia jadi ibu angkatmu, Nak."

"Untuk menghidar dari kejaran Kiauw Sek Kiauw, ibu rela menjadi isteri kedua ayah angkatku, Ciauw Goan 1501 Hoa!"

Kata Siang Hoa.

"Tapi tidak dinyana dia dipersulit oleh Kiauw Sek Kiang dan Seng Cap-si Kouw!"

Ayah Siang Hoa terharu.

"Kebetulan aku pun bisa selamat,"

Kata Ciok Leng.

"Saat bertarung melawan Kiauw Sek Kiang, aku terluka oleh anak buahnya. Bekas luka di mukaku ini akibat serangan anak buahnya itu."

"Sakit hati ini kita harus balas, Ayah,"

Kata Siang Hoa.

"Benar,"

Kata Ciok Leng.

"Saat aku terluka aku roboh, Kiauw Sek Kiang mengira aku sudah mati. Sesudah mereka pergi, aku kabur dan bersembunyi di sebuah goa. Aku lari ke Kui-ciu dan tinggal di kampung suku Biauw, lalu menyamar jadi tabib keliling. Aku sering berhasil mengobati orang Biauw dengan pengetahuan obatku. Kepala suku Biauw adalah sahabat Ayah."

"Pantas kau mengerti cara mengusir ular suku Biauw, Paman Ciok!"

Kata Bu Hian Kam.

"Aku juga tahu cara meniup seruling dari gelagah untuk mengumpulkan orang Biauw,"

Kata Ciok Leng.

"Saat aku meniup seruling itu, wanita-wanita Biauw itu mengira kepala suku mereka datang. Segera mereka kabur!"

"Sesudah tahu mereka dikelabui, pasti mereka akan datang lagi."

Kata Bu Hian Kam."Aku juga ingin tahu bagaimana Sam Kiong-cu bisa kenal dengan Seng Cap-si Kouw?"

"Mereka tinggal jauh dari sini, jika mau datang lagi akan makan waktu,"

Kata Ciok Leng.

"Mari kita pergi, di sepanjang jalan kita bisa bincang-bincang!"

"Benarkah ucapan Seng Cap-si Kouw, bahwa Beng Cit Nio dan Kok Siauw Hong sudah menjadi tawanan dan 1502 disembunyikan di perkampungan suku Biauw?"

Kata Kiat Bwee.

"Benar, maka itu kita akan menyelidikinya,"

Kata Ciok Leng.

"Aku sering keluar masuk daerah Biauw, dengan penyamaran wajahku yang kuubah hingga tidak dikenali. Saat aku menyamar jadi tabib dan mengembara ke berbagai tempat aku jadi orang lain. Malah aku beruntung tahu Seng Cap-si Kouw terlibat dalam pencurian lukisan itu. Dia tidak kenal pada Kiauw Sek Kiang, tapi dia kenal pada Kho Kiat, ayah Kho Siauw Hong, ibu angkat Siang Hoa!"

Semua mendengarkan dan mulai mengetahui masalah itu.

"Rupanya Kho Kiat mencintai Seng Cap-si Kouw,"

Melanjutkan Ciok Leng.

"Tapi Seng Cap-si Kouw sangat angkuh, karena dia lebih menyukai Han Tay Hiong. Maka itu dia tidak meladeni cinta Kho Kiat. Kho Kiat yang tergila-gila sendiri dia berusaha memikat hati Iblis Perempuan itu. Dia memberi tahu tentang peta tubuh dan meminta bantuan pada si Iblis Perempuan itu. Bahkan dia berjanji, jika peta itu berhasil dia dapatkan, dia akan menghadiahkan peta kepada si Iblis. Si Iblis Perempuan senang sekali, tapi dia tidak muncul dan hanya mengatur siasatnya saja. Obat bius yang dipakai mengerjai kami itu pemberian Seng Cap-si Kouw!"

"Kho Siauw Hong mengira obat bius itu diperoleh ayahnya dari Kiauw Sek Kiang."

Kata Kiat Bwee.

"Agar hubungan dan rahasianya tidak diketahui puteri dan isterinya, Kho Kiat malah tega membunuh isterinya sendiri, karena dia berniat menikahi Seng Cap-si Kouw!"

Kata Ciok Leng.

"Aku juga pernah mencari Kho Kiat dengan maksud balas dendam. Saat aku menemukannya dia dalam keadaan sudah sangat parah. Kiranya dia terluka 1503 oleh Kiauw Sek Kiang. Sebelum Kho Kiat mati, dia menceritakan perbuatannya padaku, dan aku percaya saja."

"Lalu kenapa wanita Biauw itu tunduk pada Seng Cap-si kouw?"

Tanya Kiat Bwee.

"Di kampung suku Biauw ini ada orang Han bernama Bong Tek Cie, dia punya anak perempuan tiga orang yang masingmasing bernama Say Giok, Say Goat dan Say Hoa. Maka itu Say Hoa dipanggil Sam Kiong-cu. Di daerah ini sering timbul penyakt, terutama di musim semi. Puteri ketiga Tek Cie terserang hawa beracun. Kebetulan datang Seng Cap-si Kouw si akhli racun. Dia berhasil menyembuhkan Say Hoa hingga dianggap malaikat penyelamat."

"Tidak heran jika Seng Cap-si Kouw menyembunyikan Han Tay Hiong di tempat ini. Apa kau tahu keadaan dusun mereka itu, Paman Ciok?"

Kata Kiat Bwee.

"Karena aku kenal dengan ketua suku Biauw di Kui-ciu, maka aku pun mengetahui keadaan desa mereka cukup baik,"

Kata Ciok Leng.

"Aku tahu jalan kecil menuju ke kampung mereka!"

Mereka berbincang sambil berjalan menyusuri jalan setapak melewati hutan bambu. Tiba-tiba mereka mendengar desiran angin meniup daun bambu.

"Eeeh,"

Desis Ciok Leng.

"Kau mendengar sesuatu, Ayah?"

Tanya Siang Hoa.

"Tenang saja, aku jalan di muka tapi kalian harus waspada,"

Kata Ciok Leng. Saat berjalan di depan Ciok Leng tersentak.

"Si Iblis Perempuan baru kukalahkan, tidak mungkin dia berani mengikutiku! Apa barangkali ada orang lain yang lebih lihay?"

Pikir Ciok Leng. Selewat hutan bambu ternyata tidak terjadi apa-apa. Ciok Leng mendekati puteranya.

"Siang Hoa, apa Kho-si memberitahumu ada di tangan siapa lukisan itu? Semula aku kira orang bertopeng itu Kiauw Sek Kiang, ternyata bukan. Sudah lama masalah ini aku selidiki, tapi belum juga terungkap!"

Kata Ciok Leng.

"Ibu angkat mengira orang itu Khu Kong, Su-heng Wan Ceng Liong dari Beng-shia-to. Oleh sebab itu ibu angkat pernah mencuri sebuah kitab ilmu tiam-hiat milik Khu Kong, ternyata salah dan itu bukan lukisan yang dicari!"

Kata Siang Hoa.

"Lukisan itu telah menelan banyak korban, Yo Toa-ko dan Kho Kiat, untung aku selamat sampai sekarang. Tetapi sampai saat ini aku belum bisa mengungkap siapa orang bertopeng itu?"

Kata Ciok Leng.

"Paman, masalah itu sudah bisa diketahui,"

Kata Kiat Bwee.

"Benarkah? Siapa orang itu? Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?"

Kata Ciok Leng.

"Sebenarnya aku juga sudah tahu, Ayah,"

Kata Siang Hoa sambil tertawa.

"Orang bertopeng itu ternyata si pengemis tua di Siong-hong-nia. Dia telah bertemu dengan Seng Cap-si Kouw. Malah Kok Siauw Hong pun pernah bertarung menjajal kepandaiannya,"

Kemudian Siang Hoa mengisahkan hal itu dengan jelas apa yang dia dengar dari Ong It Teng yang mendapat laporan dari Kong-sun Po. Ciok Leng kaget dan heran sekali.

"Kalau begitu dia bukan komplotan Kiauw Sek Kiang, lalu mengapa Seng Cap-si Kouw pun memusuhinya?"

Kata Ciok Leng.

Sebelum pertanyaan itu dijawab, mereka sampai di depan jurang yang sangat dalam.

Untuk menyeberang memang terdapat sebuah jembatan batu alam.

Lebar jembatan itu hanya setengah meter.

Orang harus menyeberang secara seorang demi seorang.

"Biar aku dulu yang ke seberang!"

Kata Ciok Leng. Sebelum Siang Hoa bertanya pada ayahnya, kenapa begitu, Ciok Leng telah melompat sambil berseru.

"Siapa kawan yang bersembunyi di sana? Silakan keluar!"

Kata Ciok Leng.

Tak lama muncul dari bawah jembatan seorang pengemis tua yang membawa tempat arak dari kulit.

Da bersembunyi di bawah jembatan batu.

Menyaksikan kegesitan si pengemis tua melompat ke atas jembatan, Ciok Leng terperanjat.

Sesudah melihat dengan jelas orang itu, Ciok Leng tampak gusar.

Rupanya Ciok Leng mengenali orang itu sebagai si orang bertopeng itu.

Ketika itu dia memang sempat bertarung sebelum terluka.

"Hm! Kebetulan aku sedang mencarimu!"

Bentak Ciok Leng. Orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Kiranya kau, Ciok Leng. Aku kira kau sudah mampus, aku juga sedang mencarimu. Dengar dulu apa yang akan kukatakan...."

Kata pengemis tua itu.

Ciok Leng sedang gusar dia tidak mau menghiraukan omongan orang itu.

Dengan cepat dia angkat senjata kelenengannya dan menyerang pengemis itu dengan hebat.

Karena pertarungan terjadi di atas jembatan batu yang sempit, sulit bagi keduanya bisa bergerak dengan leluasa.

Maka itu datangnya suara kelenengan lawan tidak dikelit, melankan tangan pengemis tua itu menangkap senjata Ciok Leng tersebut dengan gesit.

"Lepaskan!"

Kata si pengemis tua. Tapi mana mau Ciok Leng mengalah, dia mengubah serangannya sambil membentak.

"Terjun kau ke bawah!"

Kata Ciok Leng.

Keduanya sama kuat dan ulet, saat pertarungan berlangsung, suara kelenengan itu terus terdengar.

Tapi sial gagang kelenengan itu patah jadi dua.

Ciok Leng melemparkan senjatanya ke jurang, dia menyerang dengan tangan kosong.

Untuk menghindari serangan lawan mengenai wajahnya, pengemis tua itu celentang ke belakang.

Dia gunakan jurus "Tiat-pan-kio" (Jembatan Besi Melintang).

Sesudah serangan Ciok Leng luput, dia sambar tangan Ciok Leng yang hendak dia putar untuk dipatahkan.

Dia membentak dengan nyaring.

"Roboh!"

Kata pengemis tua.

"Mana bisa!"

Kata Ciok Leng.

"Ternyata kau hebat sekarang, Saudara Ciok!"

Kata si pengemis tua sambil tertawa.

Ciauw Siang Hoa dan Kiat Bwee sudah sampai ke ujung jembatan.

Menyaksikan pengemis tua itu menotok ayahnya, Siang Hoa kaget.

Dia tahu totokan si pengemis 1507 tua sangat lihay.

Saat sedang cemas sekali, Siang Hoa mendengar ayahnya berkata nyaring.

"Biar aku adu jiwa denganmu!"

Kata Ciok Leng.

Bagai golok yang tajam telapak tangan Ciok Leng menebas leher pengemis tua itu.

Serangan itu memaksa si pengemis tua harus menyelamakan diri dari bacokan tangan itu.

Buruburu dia merunduk, sambil menunduk dia menotok tangan Ciok Leng yang terasa jadi kesemutan.

Ciok Leng mengerahkan tenaga dalamnya, dalam sekejap jalan darahnya pulih kembali.

"Anak muda itu puteramu, kan?"

Kata pengemis tua pada Ciok Leng.

"Selamat kau sudah berkumpul kembali dengan anakmu! Tapi kenapa kau mau mengadu jiwa denganku? Jika aku mati di tanganmu, aku ini si pengemis sebatang kara!"

"Kaulah yang menyebabkan kami sengsara, maka aku akan adu jiwa denganmu!"

Kata Ciok Leng. Dia sadar si pengemis tua ingin berbaikan dengannya.

"Melihat caramu berkelahi, rupanya kau mengingnkan kita mati bersama-sama!"

Kata si pengemis tua.

"Benar, mati bersama-sama juga tidak jadi soal,"

Kata Ciok Leng sengit.

Menyaksikan perkelahian tingkat tinggi yang dahsyat itu kedua pasang muda-mudi itu kagum dan cemas.

Pengemis tua itu tak banyak bicara, dia menyerang semakin hebat.

Tiba-tiba terdengar suara keras.

"Plaak!"

Dua pasang telapak tangan mereka beradu keras sekali.

Saat itu kedua orang tua yang sedang bertarung itu berdiri tegak seolah mereka terpantek di tengah jembatan batu yang curam itu.

Keadaannya semakin menegangkan, karena mereka sedang mengadu tenaga dalam.

Itu adalah saat yang paling berbahaya bagi keduanya.

Akibatnya jika salah injak sudah bisa dibayangkan, keduanya akan terjatuh dari jembatan dan akan terluka parah atau paling tidak salah satu akan binasa.

"Ayah, hentikan! Berdamai saja dengannya!"

Teriak Siang Hoa dari seberang jembatan.

Pertarungan mereka hanya bisa dipisahkan, jika ada yang melerai dan orang itu pun ilmu silatnya jarus tinggi.

Seruan Siang Hoa membuat Ciok Leng sadar, tapi dia harus tetap waspada jika dia tidak ingin celaka.

Rupanya si pengemis tua pun menyadari apa yang ada di benak Ciok Leng.

Maka itu dia berkata perlahan.

"Saudara Ciok, bagaimana? Apa sebaiknya kita berdamai saja?"

Katanya. Saat bertarung Ciok Leng kaget, si pengemis masih bisa berkata-kata.

"Hebat, dia hebat sekali. Padahal sudah duapuluh tahun aku berlatih tenaga dalam, tapi tak sehebat dia!"

Pikir Ciok Leng. Saat itu Ciok Leng merasakan dorongan tenaga dalam si pengemis tua terasa berkurang, barulah Ciok Leng bisa bicara.

"Apa masih ada yang bisa kita bicarakan antara kau dan aku?"

Kata Ciok Leng.

"Kau jawab dulu pertanyaanku ini, Saudara Ciok!"

Kata si pengemis.

"Kau lebih membenciku atau membenci Kiauw Sek Kiang?"

Ciok Leng terkenang kejadian yang lalu. Dia tertotok oleh si pengemis, tapi yang membuat sanak dan keluarganya berantakan justru bukan dia, tapi Kiauw Sek Kiang yang keji itu.

"Aku sakit hati pada Kiauw Sek Kiang sedalam lautan, tapi jika bukan gara-gara kau mencuri lukisan itu, mungkin aku tidak akan bermusuhan dengannya demikian hebat!"

Kata Ciok Leng.

"Jadi dendammu pada Kiauw Sek Kiang lebih dalam daripada kepadaku,"

Kata si pengemis tua.

"Sekalipun aku tahu kau tidak akan memaafkan aku, tapi bagaimana perasaanmu pada Seng Cap-si Kouw, kau benci tidak padanya?"

"Dasar bodoh, sudah tahu kenapa bertanya lagi?"

Kata Ciok Leng.

"Jadi kau juga benci padanya?!"

"Ya, Kiauw Sek Kiang musuh nomor satuku, dan Seng Capsi Kouw yang kedua!"

Jawab Ciok Leng.

"Kau adalah..."

"Musuhmu yang ketiga, bukan?"

Meneruskan si pengemis.

"Benar,"

Kata Ciok Leng.

"Jika hari ini kau tidak membunuhmu, kelak aku pun akan mencarimu..."

"Baik! Aku setuju, aku kau anggap musuhmu yang ketiga. Kelak kau mau mencariku, itu urusan nanti saja."

Kata si pengemis.

"Tapi aku girang hari ini kau bersedia berunding denganku!"

"Berunding tentang apa?"

Kata Ciok Leng.

"Apa kau yakin kau bisa mengalahkan Seng Cap-si Kouw?"

"Jika belum tentu menang, aku juga tidak akan mudah dikalahkannya,"

Kata Ciok Leng.

"Anggap saja kau bisa mengalahkannya, jika dia sendirian! Tapi bagaimana jika dia dibantu oleh orang-orang Biauw?"

Kata si pengemis tua.

"Aku yakin kau akan kalah olehnya. Jika kau bermaksud menolongi kawankawanmu, aku tidak yakin kau akan berhasil!"

"Tak peduli aku akan berhasil atau tidak, apa urusannya denganmu?"

Kata Ciok Leng.

"Ada sangkut-pautnya denganku!"

Kata si pengemis tua.

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 8

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger