Eps 1 Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/.
2 saudara perguruan Thay Kek Kie Hiap Toan Karya .
Liang Ie Shen Saduran .
OKT Seri 1 Pada tiga puluh tahun yang lalu, dengan sebuah kereta keledai, penulis berangkat ke luar daerah perbatasan.
Ialah pada bulan kesembilan dari musim ketiga, tanah datar ada belukar, hingga bumi nampaknya nempel dengan langit.
Sesudah melalui beberapa puluh lie, sang maghrib telah mendatangi.
Di sekitar kita tidak ada rumah orang.
Selagi kita mulai sibuk, tiba-tiba kita dengar tindakan kaki kuda di sebelah belakang.
Dua penunggang kuda lagi mendatangi.
Tapi, setelah mendekati kita, suara tindakan jadi kendor.
Nyata orang tidak lewati kita.
Diam-diam kita kuatirkan orang jahat.
Dari dua penunggang kuda itu, yang kita lihat selagi kita menoleh ke belakang, yang satu berumur empat puluh tahun lebih, yang lainnya, tiga puluh lebih, dua-dua romannya keren, samar-samar kelihatan pedangnya masing-masing.
Selagi kita berkuatir, tiba-tiba mereka liwati kita, kudanya dikaburkan, selagi liwat, mereka menoleh.
Nampaknya mereka heran tapi mereka kabur terus.
Belasan lie lagi kita sudah pergi, kita tetap tidak melihat rumah orang.
Sekarang sang maghrib sudah datang, kita jadi bingung, lebih-lebih setelah melihat dua orang tadi.
Di mana kita mesti bermalam?
"Lihat!"
Tiba-tiba kusir berseru, seraya tangannya menunjuk ke depan.
Sebuah bukit kecil berada di depan kita, di tengah itu, nampak satu kuil tua.
Di situ banyak pepohonannya.
Kita segera menuju ke sana, dan berhenti di antara pepohonan.
Kita mendaki sedikit akan hampirkan kuil itu.
Kita mengetok pintu sekian lama, baharu kita dengar jawaban seorang tua.
"Pintu tidak dikunci, masuk saja!"
Pekarangan dalam dan pendopo ada sunyi.
Beberapa ekor lawa-lawa beterbangan sambil cecowetan.
Di tengah pendopo, duduk bersila seorang niekouw, ialah pendeta perempuan yang usianya sudah lanjut.
Dia duduk diam bagaikan patung.
Selagi menantikan, kita lihat sebuah pohon besar, besarnya kira-kira sepelukan.
Yang aneh ialah, di batang pohon itu ada dua buah tapak tangan yang dalam, tapak seperti dikorek.
Sekian lama kita menunggu, niekouw itu tetap diam saja, maka dengan hati-hati, kita nanjak di tangga, selagi kita hampirkan bagian belakang orang alim itu, sekonyongkonyong dia menoleh dan kata sambil tertawa.
"Tuan-tuan tentulah sudah letih."
Sedetik saja kita lihat, sepasang mata yang tajam dan bersinar, sebuah muka yang sudah keriputan, akan tetapi, kita percaya di masa mudanya, niekouw itu mesti cantik luar biasa.
"Pinnie masih belum selesai,"
Kata pula niekouw itu.
"silakan Tuan-tuan menantikan sebentar di kamar samping sana."
Kita masuk ke kamar yang ditunjukkan, kamar itu tak berperabot kecuali sebuah meja dengan beberapa patungnya.
Di situ ada sebuah tokpan yang luar biasa dengan setangkai bunganya, yang harum.
Di pojok tembok, ada sekumpulan rumput, entah pepohonan apa.
Heran aku pikir, di tempat suci seperti ini, ada sebuah kuil dengan pendetanya perempuan.
Sembari menantikan si pendeta, aku keluarkan se
Jilid kitab Wei Mo Tjhing, untuk dibaca guna menenteramkan hati.
"Sungguh kau rajin, Tuan!"
Tiba-tiba aku dengar suaranya si pendeta selagi aku membaca belum lama.
"Apakah kau merasa aneh bahwa di tempat sesunyi ini ada sebuah kuil serta pendetanya? Mari kita pergi ke ruangan sana. Pinnie telah sediakan thee pahit untuk melenyapkan dahaga. Sembari minum, nanti pinnie tuturkan satu dan lain mengenai keadaanku."
Kita terima baik undangan itu, sambil keringkan dua cawan thee.
Segera juga niekouw tua ini bicara tentang agama Budha serta agama Lhama, yang ada suatu cabang dari Budhisme, hanya Lhamaisme ada kecampuran kebiasaan-kebiasaan setempat yang zaman modern anggap tahayul.
Umpama satu pendeta dari Tionggoan, sukar tancap kaki di Tibet apabila dia tidak turut segala kepercayaan kaum Lhama.
Atau kalau dia tidak mengerti ilmu "telan golok muntahkan api", dia mesti punya suatu kepandaian lain yang istimewa, umpama obatobatan.
"Dan guruku adalah suatu niekouw, murid dari angkatan ketiga dari satu pendeta yang merantau ke Mongolia dan Tibet pada seratus tahun yang lampau. Guru besar itu dapatkan kedudukannya di sini karena ia bisa letaki burung di telapakan tangannya tanpa burung itu mampu terbang pergi. Maka akhirnya, guru besar itu bisa dirikan tiga buah biara, antaranya ini yang sekarang pinnie tempati...."
Selagi pendeta ini berkata demikian, hujan, yang sudah mulai turun sekian lama, menghembuskan angin ke dalam, menyingkap selembar kain penutup patung-patung di atas meja hingga kelihatanlah di situ sebuah patung lelaki yang romannya cakap dan gagah.
Pendeta itu terkejut, matanya bersinar, tapi lekas juga menjadi tenang pula.
"Jangan heran Tuan, itulah gambarnya tunanganku,"
Katanya kemudian. Kenapa satu niekouw mempunyai tunangan? Pendeta itu berikan keterangannya tanpa diminta lagi.
"Tunanganku telah terbinasa pada tiga puluh tahun yang lalu, binasa teraniaya di tangannya satu musuh,"
Demikian penjelasannya.
"Dia ada satu murid dari Golongan Silat Thay Kek Pay, sejak muda ia telah merantau, tapi kemudian ia binasa di tangannya satu manusia rendah. Oh, tak sanggup aku menutur terlebih jauh. Cukup kalau pinnie terangkan, untuk tunanganku itu, sudah tiga puluh enam tahun lamanya, pinnie lakoni ini macam penghidupan sunyi........."
Angin di luar meniup makin keras, hujanpun tambah besar, suaranya terdengar nyata di pohon besar di luar kuil.
Sekonyong-konyong tampangnya si pendeta berubah, agaknya terkejut.
Ia lantas ambil beberapa biji tasbih, ia timpukkan itu keluar, ke udara.
Mulanya ia menimpuk satu biji, lantas nyusul yang kedua.
Ini yang belakangan kebentrok sama yang pertama, yang lagi jatuh turun.
Keduanya lantas perdengarkan satu suara nyaring.
Enam biji dia timpukkan, tiga kali terdengar suara beradu itu.
Cuaca gelap, tapi semua tasbih bisa beradu satu dengan lain, itu menunjukkan ilmu kepandaiannya niekouw ini.
"Tasbih pinnie ini, dahulu di kalangan Kang-ouw, ada juga namanya yang kecil,"
Kemudian si niekouw bersenyum.
"Ini dia yang dinamai piauw Bouw-nie-tjoe. Orang yang datang malam ini, sahabat atau lawan, mestinya kenal baik piauw pinnie ini!........."
Sebelum ucapan itu berhenti, dari atas pohon besar berkelebat dua bayangan orang seraya terdengar suaranya juga.
"Soehoe, jangan lepas piauw! Inilah kita anak-anak yang datang!"
Bagaikan burung melayang, dua orang segera sampai di depannya niekouw tua itu.
"Aku tahu maksud kedatangan kau orang!"
Kata si niekouw.
"Aku mesti turut kau orang untuk tugasku yang lagi belum selesai!"
Dua orang itu adalah dua penunggang kuda, yang tadi diketemukan di tengah jalan. Setelah dua orang itu memberi hormat dan duduk, niekouw itu melanjutkan kata-katanya.
"Kebenaran sekali Tuan datang ini malam! Besok pinnie sudah mesti ikut mereka ini, entah buat hidup terus atau terbinasa. Baiklah malam ini pinnie gunakan untuk memberi penuturan, agar anak-anak inipun sekalian mendapat tahu. Umpama kita terbinasa, Tuan, kau nanti boleh siarkan tentang aku ini, perihal hebatnya balasmembalas di kalangan Rimba Persilatan........."
Dan niekouw tua itu tuturkan riwayatnya, yang merupakan ceritera kita ini.
Demikian Liang Yusheng, si penulis, akhirkan permulaannya.
I Distrik In-koan di perbatasan kedua Propinsi Shoatang dan Hoopak, dulu pernah jadi aliran dari Sungai Hong Hoo ke laut, ketika kemudian aliran itu digeser, air toh masih menggenang di situ, luasnya beberapa ratus lie, di situ orang masih mondar-mandir untuk pengangkutan di muka air, sedang di bagian-bagian yang dalam, permukaan air penuh dengan gelagah, ganggang dan rumput air lainnya.
Inilah dia Muara Kho Kee Po yang kesohor.
Di sini Touw Kian Tek berpusat di zaman Kerajaan Soei, namanya sama kesohornya seperti Wa Kong Tjee dari Tjin Siok Po dan Thia Kauw Kim beramai.
Di tepi Muara Kho Kee Po ini, ada satu dusun kecil, Kim Kee Tjoen namanya -Dusun Ayam Emas.
Di belakang dusun ini ada sebuah bukit kecil tetapi indah.
Sedangkan di atas bukit itu, di tanah yang datar, pada pagi itu dalam musim Tjoen yang permai, dua pemuda dan satu pemudi, asyik berlatih silat dengan gembira.
Mereka ada Yo Tjin Kong, Tjoh Ham Eng serta Lioe Bong Tiap; yang pertama dan kedua ada murid yang kedua dan ketiga dari Lioe-kauwsoe Lioe Kiam Gim, guru silat kenamaan dari cabang Thay Kek Pay, dan yang ketiga ada gadisnya guru silat itu, satu nona cantik dan gesit.
Ham Eng dan Bong Tiap asyik "adu kepandaian"
Dan Tjin Kong sedang menonton sambil bersandar di cabang pohon, tampangnya berseri-seri.
Cara berlatihnya kedua saudara seperguruan itu ada luar biasa.
Ham Eng berlari-lari terputar-putar, tangannya mencekal tambang yang diikati dua belas butir bola pualam yang kecil mungil, kalau tambangnya digentak atau dikedut, tambangnya lantas jadi lempang dan kaku bagaikan toya, dua belas bola kecilnya lantas bergerak-gerak, bersinar menyilaukan mata.
Setelah lari dua putaran, dengan larinya makin keras, Ham Eng lantas berseru.
"Soemoay, kau juju dan seranglah!"
Lioe Bong Tiap mengejar, tangannya mencekal beberapa biji piauw besi -namanya piauw besi, sebenarnya itu ada uang tang-tjhie zaman Kaisar Ham Hong.
Ini ada gantinya Kim-tjhie-piauw, yang tajam di kedua muka, yang Lookauwsoe Lioe Kiam Gim dapatkan dari Thay-kek Teng di Shoatang.
Thay-kek Teng ada satu ahli silat she Teng dari cabang Thay Kek Pay juga.
Atas seruan soehengnya, sebelah tangannya Bong Tiap lantas bergerak, disusul sama menyambarnya sebiji piauw besi, tetapi si nona sendiri berseru.
"Yang ketiga!"
Gerakan tangannya adalah yang dinamai "Hong hong tian tjie"
Atau "Burung hong pentang sayap."
Segera terdengar satu suara keras, atas mana, Ham Eng berhenti berlari, akan lihat bola pualamnya.
Ia dapatkan benar sekali, bolanya yang ketiga yang telah kena dihajar sampai ikatan kawat halusnya putus dan bolanya jatuh.
"Bagus!"
Ia berseru dengan pujiannya sambil tertawa, sesudah mana, ia lari lagi. Bong Tiap mengejar pula tanpa bilang suatu apa, ia berlarilari dengan gunai ilmu entengi tubuh yang dinamai "Pat pouw kan sian"
Atau "Delapan tindak mengejar tonggeret", lalu sembari lari ia menimpuk tiga kali, sekali ini sambil berseru.
"Yang kesatu! Keempat! Kedelapan!"
Sembari menyambit, ia berlompatan dengan tipu silat "Koay bong hoan sin"
Atau "Ular naga jumpalitan".
Lalu beruntun terdengar dua suara beradu, dua bola jatuh ke tanah.
Tapi piauw yang ketiga dijepit antara dua jerijinya Ham Eng, siapa berbuat demikian sambil tertawa besar.
Mukanya Bong Tiap menjadi merah.
Dia telah menimpuk membikin tiga piauw bersinar sebagai tiga buah bintang.
Ham Eng ketahui liehaynya sambitan itu, tapi dia pun hendak perlihatkan kepandaiannya, dia sengaja sambar yang ketiga dan tangkap itu.
Untuk ini, ia berkelit dahulu, selagi piauw mendekati tenggorokannya, ia angkat tangan kirinya, jari telunjuk dan tengahnya lantas menjepit!
Melihat demikian, Yo Tjin Kong serukan supaya mereka berhenti berlatih, kemudian ia berikan pertimbangannya dengan berkata.
"Soemoay punya permainan piauw sudah sempurna, hanya yang ketiga barusan, ditimpuknya secara terlalu terburu nafsu. Kau, Sam-soetee, masih banyak kelemahannya, gerakan Tiat-poan-kiomu masih lambat. Adalah lebih baik kau berkelit dengan Yan Tjeng Sip-pat-hoan. Dalam pertempuran, orang mesti berhati tenang tapi juga gesit."
Meski adanya pertimbangan dari sang soeheng itu, Bong Tiap tidak puas.
"Dari tiga piauw, cuma dua yang mengenai, aku tetap kalah!"
Katanya.
"Sam-soeheng, mari kita berlatih pula, dengan tangan kosong!"
Ia kepal tangannya, dan menghampirinya. Tjoh Ham Eng angkat pundak.
"Kau sudah menang, Soemoay, kenapa kau masih belum puas?"
Katanya.
"Kau tidak lelah tetapi aku yang sudah letih. Biar besok saja aku layani pula padamu...."
"Tidak, Soeheng!"
Mendesak si nona.
Usianya dua pemuda dan pemudi ini tidak berjauhan, Bong Tiap baharu enam belas, Ham Eng baharu delapan belas.
Bong Tiap ada anak tunggal, atau anak macan, biar dia dididik keras, dia tetap sangat disayang ayahnya, hingga ada kalanya, keinginannya mesti diluluskan.
Murid kepala dari Lioe Kauwsoe sudah lulus dan sudah merantau sejak sepuluh tahun yang lalu, umurnya sudah tiga puluh lebih, dan murid kedua, Yo Tjin Kong, sudah mendekati usia tiga puluh tahun.
Bertiga mereka ini biasa berlatih bersama-sama.
Bong Tiap belum insyaf perbedaan antara lakilaki dan perempuan, ia tak merasakan apa-apa, ia suka turuti adatnya, sedang Ham Eng di lain pihak, kadang-kadang suka godai soemoay ini.
Demikian barusan, ia sengaja tangkap piauwnya Bong Tiap.
Bong Tiap tak perduli orang mengalah, ia lantas saja menyerang dengan pukulan "Tjit seng tjiang"
Atau "Telapakan Tujuh Bintang". Ham Eng sudah bersiap, baharu ia hendak menangkis, atau Yo Tjin Kong telah berseru.
"Jangan gaduh, he! Lihat, siapa itu datang?"
Tangannya pun menunjuk.
Bong Tiap tarik pulang kepalannya, ia menoleh seperti juga Ham Eng, ke arah yang ditunjuk.
Sebuah perahu kecil dan enteng lagi mendatangi di tengah muara, memecah gelagah, lajunya sangat pesat.
Perahu itu tidak pakai layar dan angin ada angin melawan.
Terang itu bukan perahu nelayan.
Di atas perahu itu ada seorang lelaki dengan tubuh yang besar.
Begitu lekas kendaraan itu mendekati pinggiran, penumpang itu enjot tubuhnya, lalu membarengi majunya perahu seperti berlompat, tubuhnya sendiri sudah meloncat ke darat, dengan tidak perdulikan lagi perahunya, dia berlari-lari terus ke arah rumah.
"Apakah Lioe Kiam Gim, Lioe Loo-soehoe ada di rumah?"
Dia tanya sembari menghampirkan tiga saudara seperguruan itu.
"Kau siapa? Ada urusan apa kau cari Lioe Loo-soehoe?"
Ham Eng balik menanya. Orang itu kepriki pakaiannya.
"Jangan kau orang tanya aku siapa,"
Ia menjawab.
"Asal aku sudah ketemu sama Lioe Loo-soehoe, dia pasti akan kenali aku. Aku cari Lioe Loo-soehoe untuk satu urusan sangat penting, yang mengenai nama baiknya perguruan kita. Hal ini, taruh kata aku beri tahu pada kau orang, tidak nanti kau orang bisa segera mengerti!"
Tiga orang itu melengak atas jawaban itu, tetapi Yo Tjin Kong, yang sudah punya sedikit pengalaman Kang-ouw, nampak kegesitan tubuh dan sikap orang itu, percaya orang tidak bermaksud jahat.
"Loo-soehoe ada di rumah,"
Ia segera berkata.
"Tuan hendak menemui Loo-soehoe, silakan ikut siauwtee."
Soeheng ini pun minta soemoaynya lekas pulang, akan memberi kabar. Orang itu manggut, ia lantas ikut Tjin Kong, yang sengaja mengajaknya ambil jalanan yang sukar, akan mendaki tempat yang penuh batu.
"Awas, jalanan licin,"
Katanya sesampainya di jalanan yang batu-batunya berlumut.
Ia hendak uji orang itu, ia sengaja bikin tubuhnya seperti terpeleset, supaya ia bisa betot ujung baju orang, untuk mana, ia gunakan kedua tangannya.
Ia harap, umpama kalau ia tak mampu bikin orang terpeleset, sedikitnya tubuh dia itu akan seloyongan atau miring.
Di luar dugaannya, orang itu tetap berjalan dengan tubuh tetap, melainkan mulutnya mengucap.
"Ya, jalanan licin, hati-hati!"
Berbareng dengan itu, dari sebelah atas seorang lompat turun, tubuhnya melayang dengan pesat, turunnya di sampingnya Yo Tjin Kong, tangan kanannya dipakai menarik si murid, tangan kirinya dengan jeriji terlonjor, dengan tipu "Soen soei twie tjouw"
Atau "Menolak perahu mengikuti aliran air,"
Menotok pada tetamu yang tidak dikenal, yang pakai baju abu-abu.
Orang itu terperanjat dengan serangan yang tiba-tiba itu, belum sempat lihat orang punya muka, ia sudah enjot tubuhnya, akan loncat ke samping, dari sini baharulah ia mengawasi, tapi sebelum ia bisa melihat tegas, orang yang baharu sampai itu sudah mendahuluinya, ia berseru.
"Oh, kau, Kim Hoa?"
Sekejab saja, orang itu sudah maju untuk paykoei.
"Soepeh, maafkan siauwtit,"
Katanya sembari memberi hormat sambil berlutut.
"Siauwtit belum sempat menemui Soepeh tetapi Soepeh sudah mendahului menemui padaku...."
Orang itu adalah Lioe Kiam Gim, si guru silat, yang telah datang dengan lekas karena kecerdikan dan kegesitannya Bong Tiap, yang sudah pulang dengan cepat, akan dului soehengnya memberi laporan, hingga ayahnya ini menyangka, orang asing itu barangkali ada seorang Kang-ouw, yang datang untuk mencari gara-gara, hingga dia anggap baiklah ia mendahului menemui di luar rumahnya.
Siapa tahu, tetamu itu adalah soetit, atau murid keponakan.
Kim Hoa hendak bicara sama itu soepeh, tapi si soepeh pegat ia.
"Sabar, mari kita bicara di rumah saja,"
Demikian kata Lioe Loo-kauwsoe.
Maka mereka bertiga, menuju ke rumah, tetapi, sesampai di sini, Kiam Gim ajak orang pergi ke latar di mana ada banyak pohon yang lioe, di bawah mana ada meja dan bangkubangku dari batu, piranti duduk berangin.
Kim Hoa lantas duduk di sebelah bawah, tapi tidak menunggu sampai soepeh itu menegurnya, ia mendahului keluarkan sepucuk surat, untuk dihaturkannya.
Kiam Gim baca surat itu, sesudah mana, air mukanya berubah dengan segera.
Surat itu datangnya dari Teng Kiam Beng, anaknya Thaykek Teng.
Kiam Beng ada soeteenya atau adik seperguruan, menurut runtunan murid-murid, tetapi di lain pihak, soetee ini adalah ahli waris dari Thay Kek Pay, sebab dialah yang diangkat jadi tjiang-boen-djin, orang yang mewariskan dan meneruskan pegang pimpinan dari kaum atau golongannya.
Bunyinya surat ada demikian penting, hingga guru silat ini jadi terkejut.
Untuk ketahui duduknya perkara, baik kita mundur sedikit dari cerita ini.
Ayah dari Lioe Kiam Gim ada suatu sanak jauh dari Shoatang Thay-kek Teng, akan tetapi, di sebelah itu, mereka tinggal bertetangga, mereka cocok satu sama lain, maka pergaulan mereka jadi rapat.
Maka juga, ketika Kiam Gim berumur tujuh atau delapan tahun, ayahnya minta Thay-kek Teng suka ajarkan silat pada anak ini.
Kiam Gim ada bertubuh kurus dan lemah luar biasa, karena itu Thay-kek Teng tidak lantas didik dia seperti murid-murid lain, hanya dia diperintahkan yakinkan Thay-kek-koen, guna lebih dahulu kuati tubuh.
Tapi dia rupanya berjodoh sama ilmu silat, di sebelah rajin berlatih apa yang diajarkan, diam-diam ia perhatikan pelajarannya lain-lain murid.
Hanya, belajar baharu satu tahun, oleh ayahnya, ia diajak pindah ke distrik tetangga, sebab ayah itu, yang tak berhasil hidup sebagai petani kecil, sedang pajak ada berat, pindah untuk bekerja membantui satu kenalannya, yang hendak tolong padanya.
Empat tahun lewat dengan cepat.
Pada suatu hari selagi Teng Loo-kauwsoe dan beberapa muridnya asyik pasang omong di depan rumahnya, jauh beberapa puluh tindak dari mereka, dua ekor kerbau tengah berkelahi, lantas yang satu, yang kalah, lari kabur, dan yang menang mengejarnya.
Sedang begitu, di jalan besar, satu anak tanggung lagi berlari-lari mendatangi, ia agaknya tak perhatikan kedua ekor kerbau yang sedang main udak-udakan itu.
Melihat demikian, Thay-kek Teng terperanjat, sampai ia menjerit, karena cepat sekali, itu bocah hampir ketabrak.
Guru silat ini lantas loncat lari, untuk menolongi.
Tapi, belum ia sampai kepada mereka, tiba-tiba ia dengar satu suara keras, kedua kerbau terpental masing-masing, dan dengan matanya yang liehay, ia telah saksikan sebabnya itu.
Dengan "Ya ma hoen tjong", atau "Kuda liar memecah suri", suatu ilmu pukulan dari Thay-kek-koen, bocah itu tolak kerbau yang di depan dengan tangan kirinya dan kerbau yang di belakang dengan tangan kanannya, hingga dua binatang itu tak saling kejar pula, yang di depan terpental minggir, yang di belakang terdorong mundur.
Gerakan kedua tangan itu, ada dengan "pinjam tenaga lawan".
"Ah!"
Berseru Thay-kek Teng, apabila ia sudah awasi bocah itu, seraya menghampiri.
"Kenapa kau ada di sini? Bagaimana caranya kau jadi peroleh tenaga besar dalam kepandaianmu ini?"
Itu bocah adalah Lioe Kiam Gim, yang sendirinya dengan rajin dan sungguh-sungguh meyakini terus pelajaran yang ia dapati dari gurunya, sampai ia insyaf sendiri, bahwa ia bisa berlatih dengan sempurna sambil insyaf sudah, akan kepentingannya.
Hanya apa lacur, beberapa hari yang sudah, ayahnya telah menutup mata, karena mana, menurut pesan ayahnya, ia pulang untuk cari Thay-kek Teng.
Apa mau, kebetulan sekali dua ekor kerbau adu tenaga, hingga ia telah perlihatkan tenaganya.
Thay-kek Teng kagum sekali, tapi selagi ia hendak tanyakan keterangannya bocah itu, mendadak ada orang berlompat ke depan mereka dan orang itu -satu bocah lebih kecil dari Lioe Kiam Gim -datang menyerang anak piatu ini.
Kapan ia telah lihat bocah kecil ini, ia tidak mencegah, ia malah berdiri sambil usut-usut kumisnya dan bersenyum.
Lioe Kiam Gim tidak sempat berbuat apa-apa, terpaksa ia layani penyerang itu.
Dengan "In liong sam hian", atau "Naga mega muncul tiga kali", anak kecil itu desak Lioe Kiam Gim, dada siapa ia serang.
Ia ini tunggu sampai orang punya kepalan kiri hampir mengenainya, lantas ia pukul orang punya lengan.
Ia gunai tipu silat "Lam tjiak bwee"
Atau "Mencekal ekor burung gereja".
Tapi dengan gesit, si penyerang tarik pulang tangannya, akan mulai dengan desakan lain.
Kiam Gim melayani sekian lama, ia merasakan hebatnya desakan musuh, tapi ia melayani terus, sampai tiga puluh gebrak, di waktu mana, Teng Loo-kauwsoe lantas berseru.
"Cukup! Cukup! Sudah, Beng-djie, sudah cukup!"
Anak itu, yang dipanggil Beng-djie atau "anak Beng", perhentikan serangannya dengan lantas, tapi setelah itu, ia sambar tangannya Kiam Gim, untuk ditarik sambil ia berseruseru dengan kegirangan.
"Aku dapat kawan! Aku dapat kawan!"
"Bagus, Anak, bagus!"
Thay-kek Teng puji bocah she Lioe itu.
"Kau bisa layani anakku, bagus! Kau ada punya harapan besar!"
Kiam Gim lebih tua dua tahun dari Teng Kiam Beng, Kiam Beng dapat didikan langsung, tetapi toh ia bisa tandingi anaknya itu, ini membuktikan ia mempunyai bahan baik dan keuletan, maka guru silat itu jadi sangat girang.
Sejak itu Thay-kek Teng terima Kiam Gim sebagai murid yang sah, malah Kiam Beng diperintah panggil soeheng padanya, sebab usianya yang lebih tua.
Ia mengasih pelajaran yang sungguh-sungguh, malah ia turunkan tiga macam kepandaiannya yang liehay, ialah Thay-kek-koen, ilmu pedang Thay-kek-kiam dan ilmu melemparkan senjata rahasia Kimtjhie-piauw.
Kiam Gim pun sangat bersyukur pada gurunya ini yang ia pandang sebagai ayah sendiri, maklum ia ada anak yatim-piatu.
Sepuluh tahun lebih Thay-kek Teng didik murid dan anaknya itu, ketika datang saatnya ia hendak menutup mata, ia pesan mereka dengan kata.
"Kita Kaum Thay Kek Pay, sejak kita diwarisi ilmu silat oleh guru besar kita Thio Sam Hong, ditugaskan untuk menolong yang lemah, maka itu, sadari bangsa Boan-tjioe merampas Tionggoan dan memerintah kita bangsa Han dengan sangat menindas, aku larang kau orang bekerja untuk bangsa Boan-tjioe, sedang di kalangan Kangouw, selagi merantau, aku ingin kau orang tindas yang galak dan bengis. Di lain pihak terhadap sesama kaum Boe-lim, Rimba Persilatan, jangan kau orang bertengkar, jangan bersikap keras, inilah akan menyebabkan hatiku tidak tentaram. Kau, Kiam Gim, kau harus bisa pimpin soeteemu!"
Itu waktu dua-dua Kiam Gim dan Kiam Beng sudah berumur dua puluh tahun lebih, tidak heran kalau mereka jadi tidak betah berdiam di rumah saja, maka kemudian, mereka pergi merantau, akan cari pengalaman.
Di akhir pergerakan "Thay Peng Thian Kok"
Yang gagal, di sana-sini masih ada perserikatan-perserikatan rahasia "Melawan Tjeng-tiauw untuk membangunkan Kerajaan Beng", masih ada guru-guru silat yang mendidik murid-muridnya tidak perduli Kaisar Kee Keng melarang keras kepada rakyat membuka rumah-rumah perguruan silat, sebabnya ialah raja ini kuatir rakyat Han nanti berontak pula.
Tapi kemudian, pemerintah Tjeng ubah haluan dengan coba membaiki guruguru silat, ia anjurkan orang-orang bangsawan dan pembesarpembesar negeri bergaul dan bersahabat sama ahli-ahli silat.
Inilah politik pemerintah Tjeng hingga akhirnya muncul pergerakan Pahkoentauw atau Boxer.
Karena adanya sikap pemerintah itu, Kiam Gim dan Kiam Beng dapat keleluasaan dalam perantauannya, mereka jadi dapat banyak kenalan dan penghargaan, terutama di Shoatang dan Hoopak, di Hoopak, pusatnya adalah Kota Pooteng.
Di sini kedudukan mereka berimbang sama kedudukannya Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay, Kiang Ek Hian dari Bwee Hoa Koen dan Koan Ie Tjeng dari Ban Seng Boen.
Sikap pemerintah itu sebaliknya menyebabkan perpecahan diantara ahli-ahli silat, yang terbagi dua.
mereka yang tetap mencinta negeri (Kerajaan Beng), dan mereka yang suka atau kena dilagui oleh politik mengambil hati itu.
Sebab pihak yang pertama jadi benci atau tak menyukai pihak kedua, yang dianggap sebagai golongan pengkhianat.
Kiam Gim dan Kiam Beng taat kepada pesan guru mereka, mereka tak sudi dilagui oleh pemerintah Tjeng, akan tetapi di sebelah itu, di antara mereka, segera timbul perubahan.
Kalau Kiam Gim adalah tetap ramah-tamah, Kiam Beng menjadi kepala besar, sebab ia anggap, dia adalah ahli waris dari Thay Kek Pay, dan ia puas benar dengan kepandaiannya, ia tak sudi mengalah terhadap siapa juga, hingga ia telah bentrok dengan Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Koen.
Dalam hal ini, sia-sia saja Lioe Kiam Gim memberi nasihat pada itu soetee.
Mengenai bentrokan dari Kiam Beng dan Tjiong Hay Peng, halnya dimulai oleh kejadian yang berikut.
Pada suatu tengah malam, seperti biasa Teng Kiam Beng melatih diri.
Waktu itu, bulan dan bintang sedang guram.
Tiba-tiba ia dengar sambaran angin lewat, disusul sama berkelebatnya satu bayangan di atas genteng tetangganya.
Ia heran di waktu demikian ada kelayapan satu ya-heng-djin -ialah orang yang biasa keluar malam.
Ia segera menyangka bayangan itu ada satu penjahat atau tukang ganggu orangorang perempuan.
Ia pun jadi tidak senang, sebab di sebelah kecurigaannya, ia anggap orang tidak pandang mata padanya.
Maka terus ia loncat naik ke atas genteng, untuk menyusul, guna cari tahu bayangan itu siapa adanya atau apa maksudnya.
Ia lantas dapat mencandak.
Hanya anehnya, bayangan itu seperti punya mata di belakang.
Ia tidak menoleh ke belakang, tetapi ia seperti ketahui ada orang kuntit padanya, lantas ia lari dengan keras sekali, hingga kali ini, percuma Kiam Beng mengejar, tak perduli bagaimana dia pandai berlari cepat, dia tak mampu mencandak lagi, dia tetap ketinggalan beberapa tumbak jauhnya.
Dengan tidak merasa, mereka sampai di luar Kota Pooteng.
Di sini, bayangan itu lari masuk ke dalam pekarangan lebar dari suatu gedung besar, yang banyak pepohonannya.
Segera bayangan itu menepuk tangan, satu kali.
Sambil bersembunyi di belakang sebatang pohon, Kiam Beng pasang mata.
Ia lihat munculnya bayangan yang kedua, siapa lantas saling berbisik dengan bayangan yang pertama.
Habis itu, mereka hampirkan tembok pekarangan, loncat naik ke atas sebuah ranggon kecil.
"Terang mereka hendak cari tahu keadaan,"
Pikir Kiam Beng, yang lalu maju sedikit, untuk bisa datang lebih dekat kepada mereka itu. Ia terus memasang mata dan kuping. Ia sembunyi di atas pohon dekat ranggon itu.
"Anak ayam itu berada di lauwteng ketiga,"
Kata bayangan yang satu.
"Baharu saja aku tiupkan asap Ngo-kouw Hoanhoen-hio, sekarang dia tentu sudah pingsan...."
Kiam Beng dengar kata-kata itu, menjadi gusar dengan tiba-tiba.
Ia memang paling benci penjahat perugul orang perempuan.
Ngo-kouw Hoan-hoen-hio adalah hio, yang asapnya bisa menyebabkan orang tak sadar akan dirinya.
Tidak tempo lagi, ia keluar dari tempat sembunyinya dan loncat ke ranggon itu.
Dua bayangan itu terkejut dan loncat turun, tetapi jago Thay Kek Pay itu terus susul mereka dengan turun loncat ke bawah, hingga ia bisa datang dekat kepada mereka itu.
Dua-dua bayangan itu memakai topeng hitam, hingga kelihatan saja sepasang mata mereka masing-masing, yang mencorong.
"Eh, makhluk apa berani campur urusan tuan-tuan besarmu?"
Mereka itu menegur.
"Ah, kawanan manusia rendah, sampai Teng Kiam Beng kau orang tidak kenali!"
Berseru jago Thay Kek Pay ini.
"Lihat tanganku!"
Dua bayangan itu tidak takut, sebaliknya, yang satu mencabut pedang, yang lain mengeluarkan sepasang Poankoan-pit, yang panjangnya kira-kira tiga kaki, dengan apa mereka mendahului menerjang.
Dengan tangan kosong, Kiam Beng lawan dua bayangan itu.
Ia tidak takut sekalipun ia tidak bersenjata.
Ia lantas berdaya, akan rampas gegaman orang itu.
Dua bayangan itu ada liehay, inilah ternyata dari gerakgerakan mereka.
Kiam Beng lihat orang bermula mainkan Tatmo Kiam-hoat dari Siong Yang Pay, ujung pedang sabansaban menikam ke arah tempat-tempat kematian.
Dan Poankoan-pit, itu senjata yang mirip dengan pit atau potlot, ujungnya senantiasa mencari satu di antaranya tiga puluh enam jalan darah yang berbahaya.
Ia gunai "Khong tjhioe djip pek djim", ilmu dengan tangan kosong melawan senjata tajam, suatu ilmu dari Thay-kek-tjiang, tetapi ia tidak peroleh hasil, tak pernah ia mampu sambar senjata musuh, malah apa yang ia rasai aneh, terang-terang ia bakal tertikam atau tertotok, tiba-tiba dua bayangan itu tarik pulang senjata mereka, akan ditukar dengan gerakan lain.
Hal ini terjadi beberapa kali, hingga ia anggap, orang rupanya jerih terhadapnya.
Ia tidak tahu, coba ia berkelahi dengan satu lawan satu, ia bisa menang, tetapi ia dikepung dua musuh tangguh, kalau hendak dibikin celaka, ia sudah akan rubuh siang-siang.
Ia tidak pernah menyangka bahwa orang ada kandung suatu maksud.
Pertempuran sementara itu sudah mengagetkan orangorang di dalam gedung, segera datang serombongan orang yang bersenjata, yang pun bawa obor dan lentera, berikut teriakan mereka berulang-ulang.
"Tangkap penjahat! Tangkap penjahat!"
Hanya sesudah datang dekat, mereka tidak berani menyerang, mereka mengurung dari jauh-jauh saja, kecuali dua orang yang dandan sebagai kepala tjinteng, yang satu memegang tumbak, yang lain sepasang golok.
Mereka ini tidak punya guna, baharu mereka hampirkan kedua bayangan, dua-duanya kena disapu kakinya hingga mereka rubuh terpental!
Teng Kiam Beng tidak harap bantuannya sekalian tjinteng itu, dengan sepasang tangan kosong, ia terus layani musuhmusuhnya, hingga mereka telah bergebrak lebih dari lima puluh jurus.
Segera datang satu serangan Poan-koan-pit kepada pundak kanan Kiam Beng, sepasang senjata itu bergerak dengan berbareng.
Guru silat ini mendak, kakinya menggeser, sebelah tangannya balas menotok, tapi, belum sampai ia peroleh maksud, pedang menyambar dari belakangnya, hingga ia mesti kelit ke kiri, tubuhnya diputar, dengan begitu ia bisa balas menyerang si pemegang pedang itu, ia mengarah muka.
Penyerang itu buang mukanya ke belakang, tubuhnya turut, tapi begitu lekas pindahkan kaki kanan ke kanan, pedangnya menyabet kakinya orang itu.
Ia menyerang sambil mendekam.
Dengan tabah Kiam Beng loncat untuk berkelit.
Berbareng dengan itu, si pemegang pedang berseru.
"Misah!"
Ini adalah ucapan rahasia, yang berarti "menyingkir".
Ia pun terus loncat mundur, akan lari, ke pepohonan yang lebat, perbuatannya diturut oleh kawannya.
Sikapnya dua bayangan itu ada mengherankan, karena dalam pertempuran, mereka menang di atas angin.
Apa yang mengancam mereka ialah rombongannya tuan rumah tetapi mereka ini tidak mengurung untuk menyerang.
Kiam Beng tidak pikirkan itu, ia hanya maju, untuk mengejar.
Ia baharu bergerak atau mendadak beberapa cahaya berkeredepan dari tempat lebat, menyambar kepadanya.
Ia tahu adanya senjata rahasia, ia berkelit dengan lompat jumpalitan "Yan Tjeng Sippat-hoan"
Atau "Yan Tjeng jumpalitan delapan belas kali", disusul sama "Koen tee tong", atau "Bergulingan di tanah"
Begitu lekas tubuhnya mengenai bumi.
Ia bergerak sangat gesit, tidak urung paha kanannya toh ketusuk sebatang senjata rahasia, yang membikin ia kaget, karena ia rasai kakinya jadi kaku dan gatal.
Di lain pihak, di detik itu juga, kedua bayangan, yang bertopeng, lenyap di tempat lebat itu.
"Kejar! Kejar!"
Berulang-ulang berseru kawanan tjinteng, yang aksinya baik, tapi untuk nyerbu ke tempat lebat, mereka tidak berani.
Seorang berumur kurang-lebih lima puluh tahun, yang dandan sebagai satu sasterawan, lantas hampirkan Kiam Beng kepada siapa ia memberi hormat sambil menjura dengan dalam seraya terus mengatakan.
"Tuan, terima kasih untuk bantuan kau ini, yang aku tak nanti lupakan...."
Kiam Beng lekas-lekas membangunkan orang tua itu.
"Mari, Tuan, mari mampir!"
Kemudian kata si tuan rumah, yang terus saja pimpin jago Thay Kek Pay itu, untuk diajak masuk ke dalam, di mana orang melayaninya dengan hormat dan telaten, ada yang suguhi thee, ada yang sediakan hoentjwee.
Teng Kiam Beng tidak gemar bergaul sama orang-orang sebangsa hartawan ini, setelah hirup thee, ia berniat pamitan, apa mau, baharu saja ia bangun untuk berdiri, tiba-tiba ia rasai kakinya lemas, tanpa ia ingin, ia rubuh sendiri.
Untuk bisa bangun, orang mesti pepayang padanya.
Sekarang baharu ia insyaf, tadi ia sudah terkena senjata rahasia, terus ia raba pahanya, dari mana ia cabut senjata rahasia itu, yang masih menancap, tatkala ia periksa senjata itu, ia berseru.
"Oh, Tok-tjie-lee!"
Karena itu ada senjata rahasia yang dipakaikan racun.
"Senjata apa itu? Adakah itu berbahaya?"
Tanya tuan rumah yang agaknya kaget.
"Ini ada senjata rahasia yang dipakaikan racun,"
Sahut Teng Kiam Beng sambil kerutkan alis, air mukanya pucat, suaranya separuh merintih.
"Di kalangan Kang-ouw, ini ada satu senjata jahat, racunnya ada racun dari Tanah Biauw, atau Sin-kiang, racunnya segera bekerja begitu mengenai darah! Luka ini tak dapat disembuhkan kecuali dengan obat kepunyaan si penyerang gelap sendiri. Rasanya aku tak dapat lagi keluar dari rumah ini...."
Tuan rumah periksa senjata rahasia itu dan juga lukanya.
"Tin-djie, pergi lekas ke lauwteng belakang pada Djie-ienio!"
Ia berkata.
"Kau minta obat Pek-giok Seng-kie Poat-tokkoh, kita nanti coba itu!"
Kemudian pada Kiam Beng, ia tambahkan.
"Di masa muda, aku pernah pangku suatu pangkat kecil di Pakkhia, di sana aku kenal satu thaykam tua siapa presen aku setengah botol kecil obat itu. Itu ada obat di dalam istana, katanya untuk sembuhkan segala racun atau gigitan binatang berbisa, juga buat obati luka-luka senjata rahasia. Di istana orang sediakan obat ini guna berjaga-jaga, kuatir ada penyerangan gelap. Sebegitu jauh aku belum pernah pakai obat ini, sekarang marilah kita coba."
Tidak ada jalan, Kiam Beng terpaksa pakai obat itu, hanya aneh, begitu lekas lukanya dipakaikan kohyo itu, ia merasakan hawa adem, sampai ke hatinya, lalu kakinya itu, ia bisa gerakgerakkan juga.
"Sekarang silakan Tuan tinggal sama aku di sini,"
Kemudian tuan rumah berkata pula.
"Selama racun belum punah semua, Tuan mesti beristirahat di sini, buat beberapa hari, kalau tidak, luka akan kumat lagi dan itulah berbahaya."
Kiam Beng tahu liehaynya racun itu, terpaksa ia terima baik undangan itu, untuk mana ia menghaturkan terima kasih.
Karena ia tinggal menumpang, lantas ia dapat tahu, bahwa tuan rumahnya ada Soh Sian Ie, hartawan di Poo-teng, yang punya beberapa ribu bauw sawah.
Selama beberapa hari, Kiam Beng dirawat dengan sempurna, tuan rumah senantiasa temani ia, untuk pasang omong, dari ilmu surat sampai segala urusan di Kota Raja.
Ia memang mengerti sedikit tentang syair, sedang sawah ia punyai sejumlah bauw.
Ia pun lihat orang itu manis budi.
Malah beberapa kali ada orang-orang melarat datang untuk mohon derma, beras, peti mati, dan lainnya, dan semua orang itu disambut sendiri oleh Sian Ie, yang luluskan semua permintaan.
Maka ia percaya, hartawan ini juga budiman.
Di hari keempat, setelah sembuh betul, Teng Kiam Beng pamitan, Soh Sian Ie serta orang-orangnya antar dia sampai tiga lie, selagi ia mengucapkan terima kasih,, Sian Ie sendiri berulang-ulang panggil dia "enghiong besar".
"tuan penolong yang baik hati", dan "Ini budi besar tidak nanti aku lupakan!"
Katanya.
Dia tanya alamatnya, dia tanya, jago itu suka atau tidak bersahabat sama dia....
Tentu saja Kiam Beng menjawab bahwa ia suka bersahabat, karena ia sudah terima budi.
Hanya, selagi ia berjalan pulang dengan bersyukur, di rumahnya Soh Sian Ie, hartawan itu sendiri lagi duduk berkumpul dalam kamar rahasianya bersama dua orang yang itu malam jadi bayangan dan memakai topeng, yang berpura-pura menjadi penjahat tukang perugul orang perempuan.
Karena Soh Sian Ie sedang main sandiwara!
Dua orang bertopeng itu ada "tauw-teng wie-soe", pahlawan kelas satu, dari istana Kerajaan Tjeng.
Yang bersenjatakan pedang, Boan Eng Tjin, dan yang pegang Poankoan-pit ada Ouw It Gok.
Mereka sengaja dipinjam oleh Tjongtok Tee Kie dan Tit-lee, buat jalankan peranan, akan pedayakan Teng Kiam Beng, supaya ahli silat Thay Kek Pay ini bisa ditempel agar nanti tenaganya bisa dipakai oleh negeri guna hadapi musuh-musuh gelap bangsa Han.
"Teng Kiam Beng rubuh dalam tipu-daya kita!"
Kata Bong Eng Tjin sambil bertepuk tangan dan tertawa gembira.
"Dia jadi ahli Thay Kek Koen bukan namanya, dia benar-benar liehay, jikalau bukan kita berdua, dia tak dapat dilayani...."
"Teng Kiam Beng memang bukan orang sembarangan, tetapi ia tak ada di atasan kita,"
It Gok turut bicara.
"Coba aku merdeka, akan turuti hatiku, tidak nanti aku tak ada di atasan Kiam Beng,"
It Gok perkenankan ia berlaku jumawa.
"Kalau tidak Tee Tjongtok memesan wanti-wanti, aku pasti bikin dia mampus!"
"Kalau dia mampus runtuhlah daya-upaya kita!"
Soh Sian Ie tertawa.
"Laginya, buat apa menyingkirkan hanya dia seorang? Bukankah kita hendak pakai tenaganya untuk buyarkan persatuan dari kaum pencinta negeri kalangan Kangouw di Shoatang dan Hoopak ini? Aku kagumi kau orang berdua, terutama kau, Saudara Ouw, karena senjata rahasiamu tepat mengenai anggotanya yang tak membahayakan jiwanya. Sedang kau, Saudara Bong, sempurna sekali gunai ilmu pedang Heng Ie Pay dan Boe-kek kiam-hoat yang kau dapat curi pelajari, hingga dengan begitu, kau pasti akan bikin Kiam Beng bingung mengenai boegeemu!"
"Dan aku kagumi kau, Loosianseng!"
Bong Eng Tjin tertawa pula.
"Pandai sekali kau dengan angkatanmu, enghiong besar dan tuan penolong, hingga dia tidak curiga suatu apa terhadap kau, hingga kau sekarang bisa jadi sahabatnya!"
Tiga orang itu tertawa dengan gembira sekali.
Selagi tiga orang beriang-gembira, Kiam Beng sampai di rumahnya dengan tidak lama kemudian, datang orang-orang menyambanginya, karena selama tiga hari ia lenyap dengan tiba-tiba, orang jadi heran, sibuk dan berkuatir juga, di antara sahabat-sahabat itu ada Tjiong Hay Peng, Kiang Ek Hian dan Koan Ie Tjeng, semua mereka ini menanyakan, apa yang sudah terjadi.
"Aku telah hadapi orang-orang jahat tidak dikenal,"
Kiam Beng kata, dan ia tuturkan pengalamannya.
"Dua orang itu ada liehay sekali, coba bukan aku, tidak saja aku akan cuma terkena senjata rahasia, jiwakupun bisa melayang di tangan mereka, di pedang atau Poan-koan-pit!"
Mendengar keterangan itu, semua tetamu menjadi heran.
Rata-rata mereka itu nyatakan bahwa mereka belum pernah dengar perihal dua tjay-hoa-tjat itu -penjahat tukang perkosa orang perempuan.
Mereka juga menduga dengan sia-sia belaka.
Teng Kiam Beng turut berpikir, ketika mendadak ia tanya Tjiong Hay Peng.
"Di antara murid-murid Heng Ie Pay mu ada atau tidak seorang yang jangkung-kurus, yang pandai mainkan ilmu pedang Boe-kek Kiam-hoat?"
Tjiong Hay Peng, Ketua dari Heng Ie Pay, terperanjat.
"Apa? Murid dari Heng Ie Pay?"
Ia tegaskan dengan mata melotot.
"Belum pernah ada orang Heng Ie Pay yang jadi tjayhoa-tjat!"
Dijawab secara demikian, Kiam Beng tertawa dingin.
"Ada atau tidaknya muridmu yang jadi tjay-hoa-tjat, aku tidak tahu!"
Katanya.
"Tapi itu orang bertopeng, yang bersenjatakan pedang dan pakai topeng di waktu melawan aku, terang-terang telah gunai Boe-kek Kiam-hoat!"
Ia berdiam sebentar, lalu ia teruskan.
"Bukan melainkan orang itu yang memegang Poan-koan-pit juga gerak-gerakan tubuh seperti pelajaran golonganmu!"
Dalam sengitnya, Kiam Beng sudah utarakan juga sangkaan belaka. Tjiong Hay Peng jadi sangat gusar, sehingga ia keprak meja.
"Teng Kiam Beng, terang kau sengaja memfitnah aku!"
Ia berseru. Kiam Beng pun gusar.
"Aku melihat dengan mata sendiri, bagaimana itu bisa jadi keliru?"
Ia membalik.
"Hm, kalau tidak tangan kosongku ini yang liehay, siang-siang aku telah mesti tewas di tangan mereka!"
Melihat kedua pihak telah jadi sangat panas, yang lainnya maju sama tengah, untuk menyabarkan mereka. Tjiong Hay Peng tidak puas.
"Aku akan segera membikin penyelidikan!"
Kata Ketua Heng Ie Pay ini dalam murkanya.
"Aku nanti segera kirim kabar pada semua muridku, pada sahabat-sahabat juga, jikalau ada muridku yang berbuat jahat, atau memperkosa orang perempuan, aku nanti kutungi tubuh mereka jadi delapan potong dan tikamkan mereka tiga lobang! Kalau tidak, kau mesti haturkan maaf pada Heng Ie Pay dengan adakan perjamuan!"
Setelah kata begitu, jago Heng Ie Pay ini lantas ngeloyor pergi.
Demikianlah sebab-sebab permulaan dari perselisihan antara Kiam Beng dengan Tjiong Hay Peng, orang-orang lain tak dapat menghindarkannya.
Selama itu, persahabatan antara Kiam Beng dan Soh Sian Ie menjadi tambah kekal setiap hari, karena hampir setiap hari Sian Ie kirim orangnya untuk menyampaikan bingkisan apa saja atau dia diundang untuk dijamu.
Lioe Kiam Gim lihat sikapnya itu saudara angkat, ia pernah berikan peringatan atau nasihat, ia minta saudara ini waspada, agar dia tak sampai terjebak.
Ia kata.
"Keluarga Soh ada hartawan dari Poo-teng, orang sebangsa dia yang budiman sukar dipatinya, sebaliknya kita orang Kang-ouw, kita biasa tolong si lemah yang tidak berdaya, cara bagaimana kita boleh bersahabat sama dianya? Saudara, aku harap karena sikapmu ini, jangan kau terbitkan kerenggangan di antara kita kaum Kang-ouw!"
"Kau terlalu kukuh, Saudaraku!"
Kiam Beng sahuti saudaranya itu.
"Keluarga Soh betul-betul dermawan! Mustahil di antara mereka itu benar-benar tidak ada yang hatinya sucimurni?"
Selang beberapa hari, Soh Sian Ie bikin pesta shedjit, atau ulang tahun yang ke-51, pesta dirayakan di dalam taman bunga, selagi pesta berjalan, hartawan inipun membagi amal, pada orang-orang tua yang melarat.
yang berumur lima puluh lebih mendapat dua tjhie perak, siapa berumur enam puluh lebih, didermakan lima tjhie, dan siapa berumur di atas tujuh puluh, memperoleh satu tail perak.
Kiam Beng saksikan amal orang itu, maka sepulangnya dari pesta, ia kata kepada Kiam Gim.
"Kau lihat, kalau dia ada markis, bagaimana dia bisa begitu dermawan terhadap orangorang tua miskin itu, yang malah ia sangat hormati?"
Kiam Gim tidak mau bantah saudara muda itu, tapi selang tiga hari, dia hampirkan soetee itu seraya bawa satu bocah umur enam atau tujuh tahun, dengan sikap beda dari biasanya, ia kata.
"Soetee, sejak kecil kau hidup dalam keluarga yang berada, kau tidak kenal kesengsaraannya orang miskin! Kau lihat ini bocah, kau tahu dia siapa? Dia ini adalah bocah yatim-piatu dari kuli taninya Soh Sian Ie! Ayahnya garap tiga bauw sawahnya Soh Sian Ie, syukur buat ia, kalau dia sanggup membayar cukai saja. Lagi tahun yang sudah, karena musim paceklik, ayahnya terpaksa pinjam sepuluh tail perak dari Soh Sian Ie, bunganya begitu berat, belum satu tahun, jumlah itu naik jadi lima puluh tail. Mati daya, ayah itu telah gantung diri hingga binasa. Sudah begitu, rumahnya yang bobrok pun disita Soh Sian Ie, karena rumah itu adalah milik pertanggungan. Dia ini sudah tidak punya ibu, maka itu, sebab tidak punya tempat bernaung lagi, aku bawa ia pulang. Ini adalah kejadian yang aku kebetulan dapat tahu, entah berapa banyaknya yang di luar tahu kita!"
Kiam Gim berhenti sebentar, lalu ia tambahkan.
"Apakah Soetee ketahui, bagaimana Keluarga Soh itu dirikan rumah tangganya yang mewah? Dia sudah berkongkol sama pembesar-pembesar negeri, dia telah selundupkan candu, setelah punya banyak uang, ia beli pangkat, ia memangku jabatan, hingga kembali ia bisa kumpulkan banyak uang, buat dipakai beli sawah dan kebun, hingga kekayaannya jadi bertambah-tambah. Ia bisa dapatkan nama dermawan karena kecerdikannya, karena ia keluarkan sedikit uang, seperti buat betuli jembatan atau jalan besar, atau ia mengamal pada orang-orang tua melarat! Apa artinya akan dermakan sedikit uang kalau di lain pihak, dengan sedikit uang, ia coba mengamal untuk kelabui orang banyak? Memang Soh Sian Ie tidak menagih sendiri uang atau hasil uang yang dipinjamkannya dan uang sewaan tanahnya, diapun tidak aniaya kuli-kuli taninya, ia boleh bersikap sebagai orang budiman, tetapi orang-orangnya atau gundal, mereka ini bersikap sangat telengas dan kejam!"
Bukti atau keterangan yang dimajukan soeheng ini ada kuat, walaupun demikian, Kiam Beng anggap saudaranya telah terlalu bersikap keras, hingga Kiam Gim jadi kewalahan, ia pulang dengan ajak itu bocah yatim-piatu, yang ia jadikan muridnya dan rawat dengan baik, hingga di belakang hari, bocah ini jadi muridnya yang terpandai.
Lewat setengah bulan sejak Tjiong Hay Peng pulang dengan ngambek, guru-guru silat dan piauwsoe dari Kota Pooteng kesohor telah terima undangan dari jago Heng Ie Pay itu, untuk hadirkan suatu pesta perjamuan.
Kiam Beng pun terima undangan.
Ia menyangka buahnya tuduhan terhadap orang she Tjiong itu, meskipun demikian, ia kirim balasannya, dan di harian pesta, ia datang bersama beberapa sahabatnya.
Setelah pertemuan dimulai, Tjiong Hay Peng angkat bicara.
"Aku tidak punyai kepandaian suatu apa tetapi aku toh ditugaskan untuk memimpin kaumku Heng Ie Pay,"
Demikian katanya.
"Dengan sebenarnya, aku tidak sanggup pegang pimpinan, maka syukur Heng Ie Pay mempunyai aturan-aturan yang dipegang keras, yang pun ditaati oleh kaum kita. Begitu sejak pegang pimpinan, kaum kita belum pernah lakukan apaapa yang mendatangkan malu bagi Heng Ie Pay, sedang terhadap kaum Kang-ouw, kita semua bisa hidup damai. Maka sayang sekali, pada setengah bulan yang baru lewat, karena kejar tjay-hoa-tjat, Toako Teng Kiam Beng, sudah kena dilukai dan dihinakan orang dan dalam hal itu, ia menuduh kita Kaum Heng Ie Pay. Seperti aku sudah janji, aku sudah lantas bertindak, akan cari tahu tuduhan itu. Tentang kedua tjayhoa-tjat, aku tidak dengar suatu apa, tetapi dari berbagai pihak kaumku, aku telah terima laporan, tidak ada orangku yang main gila. Di Kota Poo-teng sendiri, Teng Toako mestinya percaya aku, tapi sebaliknya ia sangsikan kejujuranku. Di sebelah itu, mestinya percaya tidak nanti ada muridku, atau cucu muridku, yang punya kepandaian akan pecundangi ahli waris dari Thay Kek Pay, meskipun dengan cara curang! Oleh karena itu sekarang aku adakan pertemuan ini untuk bersihkan diri, guna minta Teng Toako menghaturkan maaf kepada pihakku!"
Teng Kiam Beng tercengang atas ucapan tajam dari Tjiong Hay Peng.
Memang, itu adalah hebat.
Kalau ia tetap sangka Hay Peng, itu membuktikan Heng Ie Pay, itulah terlebih celaka pula, karena ia kena dirubuhkan oleh angkatan muda Heng Ie Pay.
Meskipun demikian, ia toh tidak gampang-gampang hendak menyerah kalah.
"Kau menyangkal, kau punya bukti-buktinya,"
Ia kata kemudian.
"Tapi aku, aku telah saksikan sendiri bagaimana orang telah bersilat dengan caranya Heng Ie Pay dan Boe-kek Kiam-hoat. Pendeknya, kecuali dua orang bertopeng itu dapat ditangkap, untuk dihadapkan ke muka kita beramai, aku tak sudi menghaturkan maaf!"
Mendengar demikian, dengan tidak buka lagi baju luarnya yang gerombongan, Tjiong Hay Peng hampirkan Teng Kiam Beng, sembari angkat kedua kepalannya, untuk memberi hormat, ia kata.
"Kalau tetap Teng Toako tidak niat haturkan maaf, baiklah kita turut saja aturan umum, aku mohon pengajaran dua-tiga gebrak dari kau!"
Itu ada tantangan untuk pieboe, adu kepandaian.
"Kalau Tjiong Toako berniat berikan pengajaran padaku, mustahil aku berani tak terima!"
Kata Kiam Beng sembari tertawa jumawa.
Tapi, belum ia tutup mulutnya, tangannya Tjiong Hay Peng sudah bergerak, menyerangnya.
Semua tetamu lain jadi terperanjat, mereka tidak sangka, pertempuran sudah lantas dimulai secara demikian getas, hingga mereka tak sempat lagi malang di tengah.
Tjiong Hay Peng mulai dengan "Tok pek Hoa San"
Atau "Dengan sebelah tangan membelah Gunung Tay San".
Adalah kepalan kanannya, yang mengarah batok kepalanya Teng Kiam Beng.
Kiam Beng elakkan kepalanya sambil lompat ke samping kiri, tapi dari sini, sambil putar sedikit tubuhnya, ia mendesak dengan tangan kanan melintang sebagai ancaman dan tangannya kiri menyerang pundak lawan.
Hay Peng turuti geser tubuh.
Dengan "Lek tok tjian kim", atau "Tenaga melawan seribu kati", ia singkirkan tangan kanan lawan, lalu dengan membarengi, ia sodok iga kanannya Kiam Beng dengan kepalan kirinya.
Dengan "Tjiam liong tjhioe", atau "Tangan menabas naga", Kiam Beng babat lengan orang yang menyerangnya.
Ini adalah tangkisan yang berupa serangan yang berbahaya sekali.
Dalam saat yang hebat itu, selagi kedua tangan hampir kebentrok satu dengan lain, tiba-tiba seorang lompat kepada mereka, nyelak sama tengah, kedua tangannya dipakai menangkis dua-dua serangan.
Tangkisan ini ada berbahaya tetapi pun hebat, kapan tangannya kedua lawan bentrok dengan dua tangannya ini orang ketiga, mereka pada mundur sendirinya.
Tjiong Hay Peng menjadi gusar setelah ia kenali orang yang nyelak sama tengah itu ialah Lioe Kiam Gim, soeheng dari Teng Kiam Beng, karena ia lantas sangka, soeheng ini niat bantui soeteenya, akan tetapi, sebelum ia sempat bertindak apa-apa, Kiam Gim sudah mendahului menjura terhadap dia, dengan suara nyaring, orang she Lioe ini kata.
"Kita Kaum Thay Kek Pay belum lakukan pembukaan secara resmi di Kota Poo-teng ini, kita belum punya murid yang menjadi ahli waris kaum kita, maka itu sekarang aku, sebagai soeheng dari Teng Kiam Beng, aku wakilkan golonganku akan menghaturkan maaf pada Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay!"
Pernyataan Lioe Kiam Gim itu bikin suasana jadi reda dengan sekejab.
Tjiong Hay Peng lantas membalas hormat sambil ucapkan kata-kata merendah.
Kenapa Ketua dari Heng Ie Pay berbuat demikian?
Itulah pertama karena Kiam Gim punya sikap laki-laki, sedang tadinya, dia memang hargai orang she Lioe itu, dan kedua, itu ada cara pemecahan yang ia memang inginkan, karena dengan begitu, mukanya Kaum Heng Ie Pay menjadi terang pula.
Sebagai soeheng, Kiam Gim berhak bertindak secara demikian.
"Tepat, Lioe Lauwtee,"
Kiang Ek Hian dari Bwee Hoa Pang berseru.
"Bagus sekali tindakan kau ini! Sebenarnya, urusan ini kecil sekali dan tidak ada harganya untuk diperbesar. Kiam Beng bilang, dua binatang itu pergunakan Boe-kek Kiam-hoat, aku percaya kebenarannya itu. Memang, di antara orangorang Kang-ouw, suka ada mereka yang curi beberapa jurus ilmu silat orang dan dua binatang itu, entah dari mana mencaploknya! Saudara Kiam Beng belum pernah yakinkan Heng Ie Pay, bisa sekali dia kena dikelabui, hingga ia keluarkan tuduhannya. Dan Tjiong Lauwtee, bisa dimengerti yang dia jadi tidak senang karena tuduhan itu mengenai kehormatan dia punya golongan. Di mana perdamaian telah didapat, baik hal ini tidak dibuat ganjelan, hanya mari, bersama-sama kita lanjutkan usaha kita akan cari tahu siapa adanya dua binatang itu! Saudara-saudara, hayo kita minum!"
Dan Kiang Ek Hian padukan cawannya Kiam Beng dan Hay Peng.
Jago she Kiang ini menduga benar dengan kata-katanya itu, karena betul, dua orang bertopeng itu gunakan beberapa jurus tipu-silat curiannya.
Biarpun perdamaian telah didapat, tampangnya Teng Kiam Beng masih pucat, saking tidak puas.
Ia ada ahli waris dari Thay Kek Pay, sekarang soehengnya wakilkan ia menghaturkan maaf, inilah yang ia sangat tidak setujui.
Ia pun masih mendongkol karena Tjiong Hay Peng berlaku galak demikian terhadapnya di depan sekian banyak tetamu.
Ia anggap bahwa ia sudah kena dibikin rubuh.
Hanya, karena orang banyak anggap pemecahan itu ada tepat, terpaksa ia tutup mulut.
Sejak itu, perhubungan di antara Kiam Beng dan Hay Peng jadi renggang sendirinya, malah persahabatannya dengan yang lain-lain juga jadi semakin tawar, tetapi di sebelah itu, pergaulannya dengan Soh Sian Ie jadi bertambah rapat, setiap dua atau tiga hari, mesti ada orangnya Keluarga Soh yang datang kepada Kiam Beng, atau Sian Ie sendiri yang datang berkunjung, untuk pasang omong.
Soh Sian Ie cerdik sekali, kalau dia dengar Kiam Beng utarakan mendongkolnya pada Hay Peng, ia jawab dengan ringkas.
"Mengenai kau orang kaum Rimba Persilatan, aku tidak berani omong suatu apa...."
Akan tetapi, pada suatu hari, selagi mereka bicara dengan asyik, sekonyong-konyong Soh Sian Ie tanya.
"Lauwhia, namanya ilmu silat Thay Kek Pay ada sangat kesohor, kenapa di Poo-teng sini, Lauwhia tidak mau resmikan adanya golonganmu?"
Kiam Beng manggut-manggut waktu ia menjawab.
"Sebenarnya aku telah pikirkan itu hanya sekarang belum sampai waktunya. Aku masih mesti merantau, akan cari pengalaman. Aku membutuhkan dasar yang kuat betul sebelumnya aku angkat diri. Begini juga ada pikiran soehengku, yang ingin kita tidak bertindak secara sembrono."
Soh Sian Ie tertawa berkakakan atas keterangan itu.
"Tetapi peribahasa mengatakan. Macan tutul mati meninggalkan kulit, manusia mati meninggalkan nama!"
Katanya.
"Lauwhia ada turunan sah dari Thay Kek Pay, sudah seharusnya Lauwhia angkat diri, guna wakilkan leluhur, supaya Thay Kek Pay ada ahli warisnya, supaya sekalian leluhurmu itu pun bisa dimuliakan namanya. Harus diakui, bahwa soehengmu ada kesohor jujur dan namanya terjunjung, tetapi biar bagaimana, ia tetap ada orang luar, ia tak dapat menjadi anak berbakti atau cucu bijaksana...."
Teng Kiam Beng ketarik hatinya mendengar kata-kata yang beralasan itu.
Kalau Thay Kek Pay mesti punyai tjiang-boendjin, ahli waris yang menjadi ketua golongan, orang yang sah untuk itu adalah dia sendiri.
Kiam Gim ada soeheng tetapi ia dari lain she, kecuali bila sudah tidak ada turunan dari Keluarga Teng.
Demikian, dengan tidak pikir panjang lagi, ia lantas turut sarannya Soh Sian Ie.
Untuk ini, Sian Ie membantu banyak sekali, dengan tenaga, dengan uang, dan dengan pengaruh pembesar negeri, malah dengan angkat juga orang she Teng ini menjadi penasihat ilmu silat, atau Kok-soet Kouw-boen, dari Istana Tjongtok dari Tit-lee.
Kiam Beng coba tampik keangkatan itu, tetapi ia semakin hargakan Sian Ie sebagai sahabat yang jujur dan setia.
Mengenai tindakannya Kiam Beng yang angkat diri jadi tjiang-boen-djin dari Thay Kek Pay, golongan ahli silat lainnya tidak ada yang taruh perhatian besar, sedikit sekali kaum Rimba Persilatan yang kunjungi dia, buat memberi selamat atau mengutarakan pujian, malah Lioe Kiam Gim sendiri, nampanya tidak ada perhatiannya, saudara ini tidak bilang suatu apa.
Hanya pada suatu malam -malaman besoknya soetee ini hendak resmikan pendiriannya -Lioe Kiam Gim datang dengan tiba-tiba.
Saudara ini ada gendol satu pauwhok kecil, di pinggangnya tergantung pedangnya, dengan air muka sungguh-sungguh yang tercampur kemasygulan, dia berkata.
"Soetee, aku kasih selamat pada kau karena kau hendak angkat namanya kaum kita. Mengenai tindakanmu aku tidak bisa bilang suatu apa. Seperti Soetee ketahui sendiri, aku dipiara dan dididik Soehoe sampai aku berusia dewasa, budinya Soehoe tak dapat aku lupakan. Hanya, mengenai kau ini, aku hendak sampaikan anggapan umum terhadapmu. Kau dianggap sudah nanjak ke cabang yang tinggi karena kau andali pengaruh pembesar negeri, karena kau berniat menjagoi sendiri. Aku tidak percaya omongan orang itu, aku percaya kau bukan bangsa penjilat dan jumawa, tetapi aku toh ingin sekali, janganlah kau kasih dirimu diangkat-angkat hingga kau jadi tersesat, lupa pada diri sendiri! Aku pun hendak beritahukan padamu, mendirikan kaum sendiri bukan pekerjaan gampang. Buat terima murid, akan angkat diri jadi soehoe, kau mesti ber-hati-hati, kau mesti jaga jangan sampai kau dipermainkan oleh murid yang buruk, sebab bisa jadi ada bangsa kurcaci, yang nanti datang buat berguru pada kau, lalu di belakang hari, dia cemarkan nama perguruan. Aku kuatirkan ini, dari itu, aku minta kau waspada. Soetee, bukankah dulu kau pernah tanya aku, aku sudi atau tidak menjadi tjiang-boen-djin akan gantikan kedudukan Soehoe? Pasti sekali aku tidak berani terima itu, kesatu aku belajar belakangan dari kau, kedua sudah seharusnya sebagai anak, kaulah yang mewariskannya. Di sebelah itu kau ketahui sendiri, aku jadi soeheng pun disebabkan usiaku lebih tua dua tahun daripadamu. Soetee, mengenai kita, paham di antara kaum Kang-ouw mesti ada kekeliruannya, apabila aku tetap berdiam di sini, itu bisa jadi lebih hebat pula, maka itu, sekarang juga aku hendak pulang ke Shoatang. Gelombang di kalangan Kang-ouw, aku telah rasai cukup, dari itu aku pikir baiklah aku pulang ke kampungku, akan beristirahat. Soetee, sampai di sini saja, aku berangkat!"
Baharu Kiam Beng hendak mencegah, atau soeheng itu sudah meloncat untuk pergi dengan cepat. Tapi ia coba menyusul. Justeru itu, kelihatan Kiam Gim balik pula seraya terus kata.
"Barusan aku lupa kasih tahu sepatah kata pada kau, yaitu untuk selanjutnya kau jangan cari persetorian pula!"
Habis itu, soeheng ini kabur pula, tanpa sang soetee dapat candak ia.
Hingga soetee ini kembali masygul.
Sejak angkat diri menjadi tjiang-boen-djin dari Thay Kek Pay, setelah berselang dua puluh tahun, di sebelah namanya jadi tambah kesohor, Teng Kiam Beng juga bisa bawa diri, jarang ia mencoba-coba kepandaian orang lain.
Akan tetapi, di samping itu, pergaulannya sama Soh Sian Ie terus bertambah rapat, malah kemudian, ia bergaul juga sama pembesarpembesar negeri.
Di sebelahnya Kiam Beng, Lioe Kiam Gim pulang ke Shoatang dan terus menikah.
Kiam Beng sendiri sudah menikah, dengan nona yang dipilih oleh ayahnya.
Isterinya Kiam Gim ada Lauw In Giok, gadisnya Lauw Tian Peng dari Kaum Ban Seng Boen.
Ia tinggal bersama isterinya, di rumah mertuanya, di dalam Dusun Kim Kee Tjoen di Kho Kee Po, yang berada di perbatasan Hoopak.
Dua puluh satu tahun telah lewat sejak Kiam Gim beristirahat, selama itu, ia telah punyakan tiga murid, sedang muridnya yang kepala adalah Law Boe Wie, itu bocah yatim-piatu anak petaninya Soh Sian Ie di Poo-teng.
Nama Boe Wie ini, Kiam Gim yang sengaja berikan, artinya.
jangan takut.
Dia toh anak yang dipungut dari dunia kesengsaraan.
Boe Wie sudah merantau sejak delapan tahun yang lalu.
Di dalam tiga tahun yang pertama, masih ada kabar-ceritanya, tapi selanjutnya, setelah terkabar bahwa ia menuju ke Liauw-tong, ia seperti lenyap, sia-sia saja gurunya coba cari tahu tentang dia.
Muridnya Kiam Gim yang kedua ada Yo Tjin Kong, dia diperkenalkan oleh pihak Lauw, pihak mertuanya.
Diapun pernah merantau tetapi lebih banyak berdiam di rumah.
Murid ketiga adalah si anak muda yang kita kenal dalam pasal pertama, yaitu Tjoh Ham Eng, yang lagi berlatih silat sama Lioe Bong Tiap, puteri satu-satunya dari Lioe Kauwsoe.
Ham Eng adalah anak nomor tiga dari Toa-kauwsoe Tjoh Lian Tjhong, yang ada sahabat kekal dari Kiam Gim, siapa percayakan anaknya kepada ahli silat Thay Kek Pay itu.
Ia adalah satu anak yang baik dan disayang oleh gurunya.
Demikian, Kiam Gim tidak hidup kesepian bersama dua murid dan satu puterinya itu.
Begitulah, dua puluh satu tahun telah lewat tanpa terasa, sampai hari itu mendadak Lioe Kiam Gim kedatangan Kim Hoa, murid kepala dari Teng Kiam Beng.
Kim Hoa ini murid yang datang belajar sesudah ia sendiri mengerti silat, maka itu, ia terlebih tua daripada murid-muridnya Kiam Gim.
Dan ia datang membawa kabar yang penting dan hebat, yang menyebabkan soepehnya kaget.
"Eh, Kim Hoa, kenapa perkara jadi hebat begini?"
Tanya Kiam Gim kemudian.
"Dari mana munculnya barang upeti itu? Kenapa perampasan terjadi di Djiat-hoo? Kenapa gurumu boleh menyangka kepada Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay? Hayo kau cerita biar jelas, dalam suratnya ini, gurumu suruh aku tanyakan keteranganmu saja...."
Lioe Bong Tiap sangat ketarik hatinya, hingga ia campur bicara.
"Tapi, Ayah, coba kasih tahu lebih dahulu, apa soesiok bilang dalam suratnya?"
Tanya ia. Kiam Gim suka jawab anaknya itu.
"Menurut soesiokmu,"
Katanya, seraya letakkan suratnya Kiam Beng.
"pada sebulan berselang, soesiokmu mengantarkan barang upeti ke Djiat-hoo, untuk disampaikan kepada Istana Lie Kiong di Sin-tek, tetapi belum sampai di Sintek, baharu sampai di luar Kota Hee-poan-shia, gangguan sudah datang. Kota Hee-poan terpisah kira-kira dua ratus lie dari Sin-tek, dan tempat kejadian itu ada kira tiga puluh lie dari Kota Hee-poan itu. Perampasnya adalah seorang tua dengan lidah Liauw-tong, yang datang bersama sejumlah muridnya. Soesiok coba susul mereka sampai di tempat yang dinamakan Sha-tjap-lak Kee-tjoe, di sana orang tua itu dan rombongannya bisa melenyapkan diri secara tiba-tiba. Tidak lama sekembalinya soesiokmu ke Poo-teng, dia lantas terima surat pengumuman kaum Kang-ouw, yang ingin usir dia dari Poo-teng! Yang hebat adalah bendera Thay-kek-kie dari Golongan Teng Pay, atau Thay Kek Piauw, sudah kena dirampas oleh perampas itu! Entah orang dari golongan mana, yang sudah datang menerbitkan gara-gara itu!"
"Apa yang terjadi di Hee-poan, siauwtit tidak lihat sendiri,"
Kim Hoa menambahi soepehnya itu.
"Ketika itu, siauwtit tidak turut. Soehoe ajak djie-soetee dan sam-soetee serta dua boesoe, guru silat, untuk temani dia. Mengenai barang upeti itu, ceritanya panjang. Bukankah Soepeh masih ingat itu orang yang bernama Soh Sian Ie, yang sering kunjungi Soehoe? Dia sekarang sudah berumur tujuh puluh lebih, dan selalu keram diri dalam rumahnya, akan icipi keberuntungannya orang hidup mewah, hingga ia jarang datang pula kepada Soehoe. Anaknya Soh Sian Ie yang ketiga, namanya Tjie Tiauw, yang kerja dalam kantor Tjongtok. Dia ini pada suatu hari datang pada Soehoe, buat minta Soehoe pergi lindungi barang upeti kepunyaannya Tjongtok, buat di bawa ke Istana Raja di Sintek. Ini tahun, seperti biasanya Raja pergi ke Sin-tek untuk menyingkir dari musim panas di Kota Raja, untuk sekalian berburu di musim rontok. Di Sin-tek, Raja Boan ada punya satu daerah hutan yang besar, piranti raja berburu. Pemburuan inipun ada satu ketika untuk raja-raja Boan berlatih menunggang kuda dan memanah. Sebenarnya Tjongtok serahkan tugas kepada Soh Tjie Tiauw, untuk antar upeti itu, tetapi Tjie Tiauw, dengan pakai nama ayahnya, sudah minta pertolongan Soehoe...."
Selagi Kim Hoa baharu bicara sampai di situ, tiba-tiba Lioe Kauwsoe angkat kepalanya dengan mata mendelik, dengan bengis, ia berseru.
"Sahabat baik, turunlah!"
Menyusul seruan itu, dari atas sebatang pohon, meloncat turun seorang, yang tubuhnya melayang.
Dan menyusul turunnya orang itu, Kim Hoa di kiri sudah lantas lompat menyerang dengan tiga buah Kim-tjhie-piauw, tapi yang dipakai ada "Lauw Hay say kim tjhie"
Atau "Lauw Hay menyebar uang emas", tiga batang piauwnya menyambar ketiga jurusan, atas, tengah dan bawah. Orang itu bertubuh sangat gesit, dengan gerakan "Yan tjoe tjoan in"
Atau "Walet tembusi mega", ia loncat tinggi dua tumbak, dengan begitu, ia meloloskan diri dari dua piauw, sedang piauw yang ketiga, ia jejak dengan kakinya, hingga piauw itu jatuh ke tanah!
Nyata, dia pakai sepatu besi!
Kim Hoa, yang menyerang, datang terlebih lambat daripada ketiga piauw, dengan "Tjin pouw tjit seng"
Atau "Tindakan tujuh bintang", tangan kanannya membabat kedua kaki orang itu.
Cepat luar biasa, sambil membungkuk, orang itu tangkis serangan berbahaya ini, kemudian, sebelum Kim Hoa sempat ubah jalan persilatannya, ia mendahului lompat jumpalitan tinggi, akan turun di belakangnya orang itu maka itu, Kim Hoa segera putar tubuhnya, lalu dengan "Tek seng hoan tauw", atau "Mengambil bintang untuk menukar bintang", ia menyerang dengan berbareng, tangan kanan ke arah embunembunan, tangan kiri ke arah dua mata.
Gesit luar biasa orang itu kelit tubuhnya, tapi sekarang sambil berseru.
"Tahan! Tahan! Aku ada murid Heng Ie Pay yang ingin bertemu sama Lioe Tjianpwee!"
Kim Hoa tidak sempat menunda penyerangannya, ia merangsek dengan gencar, atas mana orang itu bela diri dengan gerak-gerakan ilmu silat Heng Ie Pay yang dia sebutkan.
"Berhenti!"
Lioe Kiam Gim berseru!
Kim Hoa hentikan penyerangannya dengan lantas, atas mana orang itu lantas saja menjura di hadapan guru silat itu seraya mengucapkan bahwa ia, orang yang terlebih muda tingkatannya, menghormati orang yang terlebih tua derajatnya itu.
Lioe Kiam Gim menghampiri sambil empos semangatnya dengan "Thay kek seng liang gie"
Atau "Thay-kek menciptakan im dan yang", ia ulur kedua tangannya mencekal kedua bahunya orang itu yang ia angkat seraya berkata.
"Silakan bangun! Silakan bangun!"
Enteng tampaknya, tubuh orang itupun telah terangkat naik.
Lantas orang itu perkenalkan diri sebagai Ong Tjay Wat, keponakan murid dari Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay, kemudian dengan cara merendah tapi pun mengandung kejumawaan, ia kata.
"Soesiokku dengar Lioe Lootjianpwee hendak campur tahu urusan ini, dari itu sengaja dia utus aku untuk menyampaikan kata-kata bahwa, kalau Lootjianpwee hendak mengulurkan tangan, seharusnya kita orang undurkan diri, hanya mengingat yang soeteenya Lootjianpwee sudah mengekor pada pembesar negeri, hingga dia melupai kehormatan kaum Kang-ouw, Soesiok percaya, Lootjianpwee pastinya tidak akan suka turut kecipratan air butek. Tapi, andaikata Lootjianpwee hendak mengulur tangan juga, maka apabila di belakang hari ada terjadi suatu apa, harap Lootjianpwee tidak sesalkan kita!"
Lioe Kiam Gim tidak jadi gusar karena ucapan itu, di lain pihak dia tanya Ong Tjay Wat tentang keadaan Tjiong Hay Peng selama belakangan ini, perihal lain-lain jago Heng Ie Pay itu, tentang kebahagiaannya Tjay Wat sendiri, hingga Tjay Wat jadi bingung sendiri karenanya.
Dalam terdesaknya, Tjay Wat sampai cuma bisa kata.
"Lootjianpwee, aku mengharap sepatah kata balasan dari kau...."
"Jangan kesusu, jangan kesusu!"
"Kau datang dari tempat jauh, biar bagaimana aku mesti minta kau beristirahat di sini untuk satu malam, besok aku temani kau mengunjungi soesiokmu."
"Maafkan aku, Lootjianpwee, tapi aku masih punya lain urusan penting untuk mana aku mesti segera berlalu dari sini,"
Ong Tjay Wat tetap menolak.
"Kalau begitu,"
Kata Lioe Kauwsoe dengan sungguhsungguh.
"tolong kau sampaikan pada Tjiong Soehoe, pasti sekali aku si orang she "
Lioe nanti bertindak dengan ikuti tata tertib kita, kaum Kang-ouw!"
Lantas jago tua ini antar tetamunya keluar, kemudian sekembalinya ke dalam, ia tanya muridnya.
"Kau orang lihat, apakah benar-benar dia dari Heng Ie Pay?"
","Dia ada dari Heng Ie Pay,"
Sahut Tjin Kong, sedang Kim Hoa bilang.
"Aku dengar dia serukan berhenti, tapi aku sengaja masih serang dia, dengan begitu, bukan maksudku akan tempur terus adanya. Menurut aturan, memang aku mesti lantas berhenti menyerang. Karena ia sebut diri dari pihak Heng Ie Pay, aku jadi hendak mencoba terlebih jauh. Dari gerak-gerakannya itu, dia benar dari Heng Ie Pay."
"Selagi Soemoay dan Kim Soeheng menyerang, aku sengaja tidak turut ambil bagian,"
Yo Tjin Kong tambahkan.
"dengan begitu, aku hendak saksikan gerak-gerakannya. Gerakan tubuhnya enteng, kelitannya, tangkisannya, semua ada dari Heng Ie Pay. Kenapa Soehoe menanyakan ini? Apakah Soehoe dapat lihat apa-apa yang luar biasa?"
Lioe Kiam Gim urut-urut kumis-jenggotnya, ia bersenyum.
"Memang tidak gampang untuk . melihat dasar ilmu silat orang,"
Ia menyahut.-"Siapa peroleh ilmu curian sekedarnya, dia memang bisa gunai itu untuk bertempur, hanya cara menggunakannya tak leluasa seperti ilmu silat kaumnya sendiri.
Untuk melihat itu, kita mesti guna.
tempo ketika ia sedang terdesak, itu waktu akan terbukti ketangkasannya.
Tadi dia didesak oleh Kim Hoa, sehabis dia elakkan piauw dari Tiap-dj ie.
Dia elakkan diri bukan dengan tipu Heng Ie Pay, hanya dengan tipu berkelitnya Gak Kee Koen, dari Kaum"Keluarga Gak.
Piauw dari Tiap-djie tak dapat dicela, cuma masih kurang latihan dan pengalaman, siapa sempurna ilmu kegesitannya "Keng kong tee tjiong soet", ia bisa egos tubuhnya dengan gampang.
Aku pun sangsikan dia selama aku angkat dia bangun...."
Kim Hoa berempat berdiam. Mengenai soal ini, tentu saja mereka punya pengetahuan atau pengalaman masih sangat kurang.
"Besok aku turut kau pergi ke Poo-teng,"
Kemudian Lioe Loo-kauwsoe kata kepada keponakan muridnya, setelah ia berdamai sama anak dan murid-muridnya.
"Aku lihat, soal ini sulit sekali. Umpama kaum Kang-ouw musuhkan gurumu karena gurumu mengekor pada pembesar negeri, aku nanti coba datang sama tengah, untuk mengakurkannya. Samasama kaum Rimba Persilatan, tak boleh kita orang saling bentrok. Sudah lama aku undurkan diri tetapi aku percaya, Tjiong Hay Peng beramai nanti masih sudimemandang kepadaku."
Lioe Kiam Gim buktikan kata-katanya ini pada besok paginya.
Ia berangkat bersama Kim Hoa sesudah pesan murid-muridnya akan baik-baik berdiam di rumah.
Lioe Toanio, Lauw In Giok antar suaminya sampai di luar rumah.
Kiam Gim pergi dengan hati tetap, sebab ia percaya, isterinyaakan sanggupjaga rumah, sedang Yo Tjin Kong sudah wariskan kepandaiannya tujuh atau delapan bagian.
Dan Ham Eng dan Bong Tiap, sekalipun belum sempurna, mereka rasanya sudah bisa bantu In Giok dan Tjin Kong.
Tak pemah ia sangka bahwa ombak bakal bergelombang hebat!
II Sejak berangkatnya Lioe Kiam Gim, Lioe Toanio mesti wakilkan suaminya mengurus seantero rumah tangga.
Di bagian luar, Yo Tjin Kong bantu soebonya.
Si nona kecil, Bong Tiap, setiap hari berlatih atau bermain-main saja sama Ham Eng, sam-soehengnya, tapi sekarang mereka jadi terlebih "binal", hingga leluasa sekali mereka pergi ke hutan mengacau sarang burung atau ke muara akan main perahu.
Toanio dan Tjin Kong mengantapkan saja, Cuma kadang-kadang mereka merasa sedikit kuatir.
Setelah ia sekarang berusia delapan belas tahun.
Ham Eng suka merasa kehilangan apabila untuk sedikit waktu dia tidak lihat atau berkumpul sama Bong Tiap, sementara si nona tetap merasa merdeka, tidak pernah dia merasa likat, malah ada waktunya dia tepuk si suheng apabila si suheng bengong sambil berkata.
"Eh, eh, kenapa sih kau nampaknya tolol?...."
Sesudah ditegur secara demikian, baharu Ham Eng sadar dengan gelagapan.
Demikianlah hari itu, Bong Tiap dan Ham Eng main perahu di Kho Kee Po.
Mereka singkirkan gelagah dan ganggang, mereka gayuh perahu sampai ke tengah muara di mana ada beberapa pulau, dari sana mereka dengar datangnya nyanyian kaum nelayan, rupanya nona-nona tukang ikan bemyanyi saling sahut-sahutan.
Di udara ada burung-burung laut yang berterbangan.
Ham Eng bengong mendengar nyanyian dan matanya mengawasi ke udara.
"Soemoay, soemoay,"
Tiba-tiba dia bertanya.
"di sini ada begini permai, maukah kau kalau kita berdua selamanya bermain-main seperti sekarang ini?...."
Bong Tiap tertawa cekikikan mendengar pertanyaan itu.
"Selamanya bermain-main seperti sekarang ini?"
Ia ulangi.
"Kau sering bilang aku ada satu bocah cilik, tapi lihat sekarang, apa kau sekarang bukan terlebih cilik daripadaku? Tunggu sebentar, apabila perutmu sudah ngericik karena lapar, apa kau tidak nanti lekas-lekas lari pulang akanmintamakan! Bagaimana kita bisa selamanya main-main disini?"
Soemoay itu tidak mengert., maka Ham Eng lebih-lebih melengaknya!
Bong Tiap tertawa, sambil tertawa ia gayuh perahunya yang laju pesat, sesudah maju sampai beberapa puluh tumbak, sekonyong-konyong ia dengar suara ribut di sebelah depan, hingga ia angkat kepalanya akan mengawasi.
Di sebelah depan sana ada beberapa perahu nelayan dengan nelayan-nelayannya lagi menjaring, sedangnya begitu, sebuah perahu kecil, dengan digayuh keras, nyerbu antaraperahu-perahu nelayan itu, air jadi berombak keras dan muncrat ke atas.
Itu ada suatu gangguan untuk tukangtukang tangkap ikan itu, karena sekalipun ikan yang sudah masuk ke dalam jaring tentu pada lari kelu"ar pula.
Maka itu, nelayan-nelayan itu jadi kaget dan gusar, hingga mereka mendamprat dan menegur pada orang-orang di atas perahu kecil itu.
Nampak demikian, Bong Tiap dan Ham Eng turut menjadi gusar.
"Soeko, mari kita ajar adat pada mereka itu!"
Kata sang soemoay.
"Mereka tak dapat diantap main gila di Kho Kee Po ini! Kenapa mereka ganggu itu kawanan nelayan? Soeko, pergi kau lawan dia, aku nanti bersiap dengan Kim-tjhie-piauw! Lihat, mereka lagi mendatangi kemari, mari "kitapegat!"
Selagi Ham Eng belum sahuti si nona, perahu di depan sudah datang dekat dan terus melesat melewati perahu mereka, air muncrat tinggi, hjngga mengenai dua anak muda ini.
Dalam murkahnya, Bong Tiap sudah lantas gunaigala gaetannya, akan sam-bar cartel kendaraan air orang, hingga perahu jadi tiba-tiba berhenti dengan tiba-tiba, sedang Ham Eng segera putar kemudinya untuk bikin kedua perahu jadi berhadapan.
Di dalam perahu itu ada empat orang.
Yang berdiri di muka ada seorang berumur tiga puluh lebih.
Yang bercokol di buntut perahu ada si jurumudi, seorang muda usia dua puluh lebih.
Dua yang lain, lagi rebah dengan anteng di dalam perahu, roman mereka tidak kelihatan tegas, mereka seperti juga tak tahu bahwa telah terjadi suatuapa....
Adalah orang.
di kepala perahu, yang menjadi gusar.
"Eh, bocah-bocah cilik, apakah kau orang hendak cari mampus?"
Dia membentak.
"Kalau kau orang hendak pelesiran, pergilah pulang dan pelesiran dengan soeniomu tapi jangan di sini kau orang cari malu untuk orang tuamu...."
"Oh, orang-orang tidak tahu aturan!"
Ham Eng segera membaliki.
"Nanti tuan kecilmu ajar adat pada kau orang! Lekas angkat kaki dari Kho Kee Po ini, atau apabila tidak, kepalannya tuan kecilmu ini nanti tidak kenal orang!"
"Baik, aku justeru mau kenal kepalannya si tuan kecil!"
Jawab orang itu, yang segera loncat ke perahunya dua anak muda itu, hingga perahu ini jadi goncang dan limbung.
Tapi Bong Tiap segera pentang kedua kakinya, ia menancap kuda-kuda hingga perahu jadi diam, tak bergeming.
Itu ada kuda-kuda "Kim Han tan tjiang"
Atau "Kaki kecil injak pelatok"
Dan gerakan "Lek to tjian kin"
Atau "Tenaga menekan seribu kati".
Sengaja Lioe Kiam Gim ajarkan kedua ilmu ini karena ia kuatir gadisnya, sebagai orang perempuan, nanti kurang tenaga.
Dan hari ini, kepandaian itu telah diuji.
Orang itu sampai untuk segera menerjang, gerakannya sangat gesit, ia hendak jambak Ham Eng untuk diangkatdan dilemparkan ke muka air!
Kelihatannya ia tak pandang sama sekali bocah itu.
Kecerobohan orang itu adalah apa yang Ham Eng inginkan.
Dia muda, tapi Ham Eng ada satu puteranya satu ahli silat dan telah terpimpin baik oleh Lioe Kiam Gim -ia sudah belajar enam atau tujuh tahun, maka tak dapat ia dipandang sebagai bocah yang kebanyakan.
Melihat serangan itu, dengan gesit ia mendak, sebelah kakinya dimajukan, hingga ia jadi nyelundup di bawah tangan musuh, Sementara tangannya sendiri dipakai menangkap, menanggapi lengan kanannya itu, lalu dengan tidak kalah sebatnya, ia gunai tipu "Soen tjhioe tjian oh"
Atau "Mengulur tangan menuntun kambing", untuk membetot dan melepas!
Ini adalah suatu gerakan yang tidak disangka-sangka, maka itu orang menjadi kaget, sia-sia saja ia coba berontak, tahutahu tubuhnya telah terangkat dari perahu dan terlempar, tercebur ke dalam air!
"Byaar!"
Demikian suara di muka air.
"Ha-ha-ha-ha!"
Ham Eng tertawa.
"Kau hendak kenal tuan kecilmu, sekarang kau telah belajar kenal!...."
Tapi sebelum pemuda ini tutup mulutnya, atau seorang lain sudah loncat pula ke perahunya.
Ini orang tidak sembrono seperti yang pertama, ia terus berdiri mengawasi pemuda itu, kemudian baharulah ia berkata.
"Sahabat kecil, kau liehay juga! Adakah ini pelajaran yang kau dapat dari soeniomu?"
Perkataan -"soeniomu"
Atau -"gurumu" -telah dikeluarkan dengan lagu suara menghina.
"Aku juga ingin belajar kenal denganmu!"
Habis kata begitu, orang itu buka kedua tangannya seraya pasang bhe-sie.
Ham Eng tidak kenal sikap orang itu, tapi baharu saja secara getas ia rubuhkan satu musuh, ia jadi berani sekali, tanpa berkata apa-apa, ia maju menyerang dengan tangan terbuka-dengan "Tjin-pou Tjit-sen-tjiang"
Atau "Majukan tujuh bintang".
Lawan itu berlaku tenang, tetapi sebat.
Begitu lekas tangannya si pemuda sampai, ia geser sedikit sebelah kakinya ke samping depan, jangannya dipakai menabas lengan Ham Eng.
Syukur Ham Eng pun awas dan cerdik, ia lekas-lekas singkirkan bahaya dengan "Tjhioe hoei pie pee"
Atau "Tangan mementil piepee".
Sampai-di situ, keduanya lantas saling menyerang, dasar Ham Eng masih bungasan, ia kalah ulet dan cerdik, ia lantas nampak keteter.
Sejak tadi Bong Tiap mengawasi saja, tangannya telah jadi gatal, sekarang melihat soehengnya terdesak, tidak tempo lagi ia buktikan janjinya untuk membantu.
Ia keluarkan tiga batang Kim-tjhie-piauw, dengan cepat sekali ia menyerang ke arah tiga jurusan.
Satu ke tenggorokan, dua ke kiri dan kanan!
Serangan itu di luar sangkaan musuh, apapula si nona menyerang dengan sebelah tangan, dengan sebat ia berkelit ke kanan, dengan begitu tenggorokannya luput dari bahaya, demikian pun anggotanya sebelah kanan, akan tetapi lengan kirinya segera menjadi korban, malah segera juga ia rasai tangannya itu jadi gemetaran dan kaku.
Ia kaget dan gerakannya turut jadi kendor karenanya, tidak heran apabila ia kena didesak Ham Eng dan kakinya si pemuda bikin ia terpental, nyebur ke air, hingga terdengarlah suara menyebur yang keras dibarengi dengan muncratnya air muara!
"Ah, perempuan tidak tahu malu!"
Demikian terdengar cacian dari perahu lawan.
"Sudah tidak mampu melawan, kau main senjata gelap! Kau punya senjata rahasia, apakah aku tidak? Nah, kau sambutlah!"
Ltuiah suara si pengemudi anak muda, ia mendamprat seraya tangannya diayun, hingga terlihatlah beberapa benda berkeredepan menyambar ke arah Tjoh Ham Eng.
Nyata ia sudah gunai Thie-lian-tjie atau "biji terataf emas".
Ham Eng kaget bukan rriain, ia sebenarnya belum sempat tarik pulang kakinya, ketika serangan datang, di luar kehendaknya sendiri, iamenjerit.
"Celaka aku!"
Dalam keadaan berbahaya bagi Ham Eng itu, sekonyongkonyong ada sambaran suara nyaring dan Thie-lian-tjie lantas meluruk jatuh ke muka air, karena Bong Tiap kembali perlihatkan kepandaiannya menggunai Kim-tjhie-piauw, ini kali ia gunai tipu sambitan "Lauw Hay say kim tjhie"
Atau "Lauw Hay menyebar uang emas".
Maka Thie-lian-tjie tidak mengenai sasarannya dan runtuh di tengah jalan.
Ham Eng jadi lega hatinya, ia bersyukur.
Di pihak lawan sekarang orang anteng, di dalam perahu, lantas munculkan diri.
"Tahan! Tahan!"
Ia berseru berulang-ulang.
"Untuk layani dua bocah kenapa mesti pakai senjata rahasia?"
Si pengemudi muda lantas berdiarn, dan Bong Tiap juga segera awasi orang yang baharu perlihatkan diri ini, ialah seorang tua umur kurang lebih lima puluh tahun, kumis dan jenggotnya panjang, matanya tajam, romannya keren.
"Anak-anak, tidak ada celaannya benar-benar permainanmu itu!"
Kata orang tua itu sambil tertawa seraya urut-urut kumisjenggotnya.
"Hanya melainkan dengan kepandaianmu itu, buat jadi orang-orang Kang-ouw tukang campur urusan lain orang, itulah tidak gampang! Mari kau orang maju berdua, dan kau Nona, kau boleh keluarkan Kim-tjhie-piauw! Dari pihakku, aku tak nanti izinkan orang gunai sebelah saja dari senjata gelapnya!"
Ham Eng setujui itu tantangan.
Soehoe dan soehengnyajuga, memang sering omong perihal bertempur satu sama satu, itulah aturan atau keharusan di kalangan Kang-ouw, bahwa siapa mau kerubutan, harus malu sendiri.
"Soemoay, kau mundur!"
Ia teriaki Bong Tiap.
"Biar aku yang belajar kenal sama ini enghiong tua!"
Bong Tiap menjebi.
"Bukankah mereka itu kalah satu datang satu?"
Mengejeknya.
"Memang juga siapa kesudi an gunai senjata rahasia? Mereka mendahului tek pakai aturan tapi sekarang mereka berani menegur kita-cis!" _ Sekalipun demikian, nona manis ini mundur si orang tua tertawa berkakakan. Di antara suara tertawa orang tua itu lompat melesat ke perahunya Ham Eng, akan hampirkan ini anak muda. Ham Eng tidak puas dengan itu sikap jumawa, yang sangat memandang enteng kepadanya. Ia pun segera ingat keterangan gurunya berhubung sama pertempurannya Kim Hoa, sang soeheng, dengan Ong Tjay Wat. Bahwa paling tepat menyerang musuh selagi berlompat dan belum sempat taruh kaki. Maka sekarang, justeru orang lompat, ia pun lompat maju, tangan kanannya membabat kedua kaki si orang tua. Di luar dugaan bocah ini, lawan tua itu terlebih liehay daripada Ong Tjay Wat, dia tidak berkelit untuk babatan itu, hanya kakinya yang kanan didahului dipakai menendang mukanya Ham Eng! Ham Eng terperanjat, ia berkelit, dengan begitu serangannya jadi batal sendirinya, hingga tubuh si orang tua bisa turun terus ke perahu, kaki kirinya segera menginjak papan perahu, hingga kaki kanannya dapat menyusul turua, akan tetapi, gesit luar biasa kaki kirinya melayang naik umpema kilat, atas mana tak ampun lagi Ham Eng terdupak terpelanting ke muka air! Karena itu adalah tipu "Wan yoh hoan twie"
Atau tendangan "Kaki burung wan-yoh saling susul".
Bong Tiap kaget berbareng gusar, hingga ia lupakan "aturan Kang-ouw", maka kembali ia menyerang dengan senjata rahasianya.
Tapi si orang tua itu gesit bagaikan "angin", tubuhnya berkelit berkelebatan, hingga semua piauw jatuh ke air, sesudah mana ia berdiri diam sambil tertawa berkakakan dan akhirnya kata.
"Ah! Tidak ada yang kena!...."
Selagi orang tua ini tertawa terbahak-bahak, karena ia sangat puas bisa ejek Bong Tiap, kelihatan satu ".
perahu sedang mendatangi pesat sekali ke arah mereka, hingga perahu itu sampai dengan luar biasa cepat.
Di kepala perahu itu ada berdiri seorang laki-laki umur kira-kira tiga puluh tahun, kepalanya mirip dengan kepala macan tutul, mukanya berewokan lebat, kedua tangannya berpeluk tangan, kedua matanya terbuka lebar dan sorot matanya tajam bercahaya, sikapnya keren.
Si orang tua berhenti tertawa dengan tiba-tiba, ia mengawasi orang yang baharu datang itu.
Ia, seperti tiga kawannya, yang sudah berkumpul pula di atas perahu mereka, agaknya heran atau tidak mengerti.
Mereka tidak kenal orang ini.
Mereka tahu, dalam Keluarga Lioe, tidak ada murid atau orang semacam ini.
Mereka menduga-duga, orang itu ada penumpang perahu biasa sajaatau dm hendak campur urusan orang lain.
Maka semua lantas mengawasi.
Ham Eng sudah lantas naik ke perahunya.
Tapi, seperti soemoaynya, diapun diam.
mengawasi saja perahu yang lagi mendatangi itu.
Setelah perahu datang cukup dekat, si orang tua, yang mengawasi dengan tajam, dengan mendadak kasih dengar suaranya yang keras dan nyaring umpama guruh.
"He, siapa sih? Mau apa kau datang kemari?"
Orang itu berdiri sedakap di atas perahunya, romannya tenang, malah dingin.
"Ada urusan apa maka kau orang bertempur di muka air?"
Dia tanya.
"Aku telah lihat kau orang dari jauh-jauh! -Eh, orang sudah jenggotan? Eh, kenapa kau layani segala bocah cilik? Apakah mereka berlaku kurang ajar terhadap kau, Lauwko? Nanti aku bikin kau orang akur! Apakah kau tidak takut ditertawai orang Kang-ouw kalau kau layani segala bocah?"
Sejak tadi ia menegur, orang tua itu telah lihat tubuhnya dari kepala sampai di kaki, dari itu, ia segera lihat caranya dia berdiri, hingga ia jadi terkejut.
Sikap itu mirip dan tidak mirip dengan sikapnya Kaum Thay Kek Pay tetapi sudah terang aneh seorang umur kurang-lebih tiga puluh tahun, bisa bersikap demikian.
"Paling tinggi umumyabaharutiga puluh tahun tapi dia seperti keluaran latihan dua atau tiga puluh tahun...."
Pilar orang tua ini.
"Murid siapakah diaini?"
Bong Tiap juga awasi orang itu, ia heran dan mengingatingat. la rasa pernah lihat orang ini tapi lupa, entah di mana. Orang asing itu tertawa dingin melihat si orang tua diam saja.
"Sahabat baik, bagaimana?"
Dia menegur, sembari tertawa tawar.
"Coba omong terus terang, kau sudi sudahi urusan ini atau tidak? Apakah kau tetap hendak perhinakan dua bocah ini?"
Mukanya si orang tua jadi keren, baharu sekarang ia tertawa menyindir.
"Mendengar lagu suaramu, Lauwko, kau seperti hendak campur tahu urusan kita ini!"
Katanya.
"Baik aku jelaskan padamu, kita ada punya urusan kita sendiri, urusan itu tidak mengenai Lauwko seorang luar, dari itu tak sudi aku bikin pakaianmu kecipratan air kotor dari muara ini! Baik Lauwko kembali dengan perahu, supaya selanjutnya kita menjadi sahabat. Belum pernah di kalangan Kang-ouw aku ketemu orang nganggur seperti Lauwko ini, aku kuatir, rase kau tak dapat cekuk, kau akan ketempelan baunya yang tidak sedap!"
Orang asing itu gusar.
"Orang di kolong langit mesti campur tahu orang di kolong langit!"
Jawabnya.
"Aku melainkan tahu toelai perbuatan tidak pantas, aku larang sikuat perhinakan si lemah, yang banyak menindas yang sedikit, si tua Bangka ganggu si muda! Sahabat, bagaimana pikiranmu?"
Matanya si orang tua jadi mendelik.
"Oh, aku tidak sangka, Lauwko, kau hendak urus urusan di dunia!"
Ia berseru.
"Nah, terserah kepada kau, kita bersedia akan turut segala perintahmu!"
Ucapan ini ditutup sama gerakan tubuh seperti kilat, tahutahu si orang tua dari perahunya Bong Tiap sudah mencelat tinggi, hendak berlompat ke perahu orang asing itu, sedang si orang asing dari perahunya sendiri melesat ke perahunya si nona, malah dia ini mendahului sampai!
Maka segeralah terdengar satu suara nyaring di perahunya Bong Tiap, papan perahu siapa, bagian atasnya, lantas terbelah, karena keinjak oleh tubuh yang besar dan berat dari si orang tua, tubuh siapa sudah kebentrok keras dengan tubuh si orang asing!
Orang tua itu segera gulingkan tubuhnya di atas perahu, kapan ia telah enjot bangun, segera ia enjot bangun, untuk lompat ke perahunya sendiri.
Ia rupanya insyaf, perahunya si nona terlalu sempit untuk suatu pertempuran.
Si orang asing turun ke perahunya Bong Tiap dengan tidak rubuh, kapan ia lihat si orang tua pindah kendaraan air, tak terlambat lagi, ia loncat menyusul, hingga sekarang ia berada bersama dalam perahu si tua itu!
Malah dengan lantas, keduanya sudah mulai saling menyerang.
Segera juga ternyata, orang tua itu bergerak-gerak dalam ilmu silat Pak Pay, Golongan Utara, tangannya mainkan ilmu "Pek-kwa-tjiang", sedang si orang asing, yang berkepala mirip macan tutul (pa-tjoe-tauw), campur-aduk permainannya, yaitu ilmu Thay Kek Pay teraduk dengan "Sha-tjap-lak kim-na-hoat"
Dari Golongan Eng Djiauw Boen si Kuku Garuda dari Kwangwa dan Ban Seng Boen punya ilmu golok "Ngo-houw toanpek-tjiang"
Ialah"Limaharimau merampas roh".
Dan pada itu juga tercampurlagi dengan Tiam-hiat-hoat atau ilmu menotok jalannya darah.
Hingga orang tua itu jadi heran, cara bagaimana seorang berumur kurang lebih tiga puluh tahun sudah punyakan semua kepandaianmu.
Maka tidak perduli, Maka tidak perduli, bagaimana dia liehay danberpengalaman, selang lima puluh gebrak kira-kira, orang tua itu lantas saja kewalahan, dari pihak si penyerang, ia sekarang jadi pihak sipembeladiri.
Pek-kwa-tjiang dari Golongan Utara adalah ilmu piranti mendesak, sekarang dia berbalik kena didesak, dari itu terpaksa ia mesti melakukan penjagaan saja.
Sekalipun demikian, ia tetap terdesak, karena lawan itu agaknya tidak sudi mengasih kelonggaran padanya.
Dia ini gerakkan dua-dua tangan kiri dan kanannya secara hebat.
Mula dengan tangan kirinya dipakai membacok tangan kanannya itu orang asing, orang asing itu mengancam dengan kaki kanannya disusul dengan sambaran tangan kanan.
Tujuannya ialah perutnya siorang tua, dia ini gerakkan tangan kanannya untuk punahkan tangan musuh, dilain pihak perutnya dibikin kempes dengan disedot kedalam, sekalipun demikian perut ini masih mendapat tekanan keras.
Pa tjoe-tauw atau si kepalan macan tutul telah mendesak lebih jauh dengan tangan kirinyakearah muka lawan.
Orang tua itu gerakkan kedua tangannya ke atas, untuk menggencet tangan kiri musuh itu, tetapi tangan kiri ini ditarik turun dengan cepat, disusul sama sambaran tangan kanannya ke arah pipi, dalam gerakan "Tiam-tjoe-twie"
Atau "Tusukan pahat".
Sekali ini orang tua itu tak sempat menangkis pula, dia kalah gesit, maka pipinya itu kena terhajar, dari itu ketika disusul dengan satu dorongan pada tubuhnya, tubuhnya jadi limbung, sebagai layangan putus, tubuh itu terpental, kecebur ke muka air!
Hingga air menerbitkan suara berisik dan muncrat tinggi dan lebar!
Selagi Ham Eng dan Bong Tiap kagum menyaksikan pertempuran dahsyat itu, sekonyong-konyong mereka dibikin terkejut dengan limbungnya perahu mereka yang tersundul naik sebab diluar dugaan setelah siorang tua tercemplung kedalam air, ia selulup dan menyundul perahu mereka.
Di saat kedua anak muda itu hampir terjerunuk ke muka air karena mereka tidak bisa pertahankan diri lebih lama, tiba-tiba si orang asing lompat pada mereka, klu dengan masingmasing sebelah tangannya, ia angkat mereka melompat.
ke perahunya sendiri, untuk ditempatkan di dalam perahunya, kemudian sambil serukan.
"Lekas kau orang pergi pulang!"
Ia sendiri segera terjun ke air, hingga, di antara muncratnya air, tubuhnya lantas terlenyap ke dalam air, akan di lain saat, ia muncul di dekat si orang tua, yang telah perlihatkan diri di dekat perahunya kediia anak muda itu.
Sambil perdengarkan bentakan, orang tua itu bikin gerakan hingga air menyambar si orang asing.
Ternyata ia bikin perlawanan di dalam air, ia mencoba menyerang terlebih dahulu.
AJkan tetapi orang asing itu lolos dari serangan, karena ia melesat tiga .tumbak jauhnya, ke arah perahunya si orang tua, di mana ia selulup, atas mana, -sesaat saja -terdengarlah suara berisik.
Karena perahunya si orang tua telah disundul naik, terbalik dan karam, hingga tiga orang di dalam perahu itu, tak ampun lagi, tercebur ke dalam air, hingga dua antaranya mesti mandi pula!
Orang asing itu membik1"
Pembalasan untuk si pemuda dan si pemudi, hanya, kalau kendara* aimya dua anak muda ini tidak samPa karam, adalah kepunyaan si orang sudah terbalik.
Kepandaian berenangdan selulup si orang asing itu begitu liehay hingga musuhnya tidak dapat dekati padanya.
Itu waktu sejumlah perahu nelayan telah mendatangi mereka lagi bertarung di muka air, dia orang itu ada mendongkol karena tadi mereka sudah diganggu oleh empat orang yang tidak dikenal orang itu, malah beberapa nelayan muda lantas saja menimpuk dengan tempuling mereka, untuk bantu si orang asing yang jadi pembela mereka.
Maka empat orang tidak dikenal itu jadi repot, mereka mesti kelit sana dan kelit sini.
Si orang tua jadi sibuk, ia mengerti bahwa mereka terancam bahaya.
Untuk layani si orang asing saja ada sukar, sudah di situ ada kedua anak muda, Kim-tjhie-piauw siapa harus dimalui, juga sekarang ada nelayan-nelayan itu dengan tempulingnya.
"Angin keras! Berhenti!"si orang tua segera berseru, dalam bahasa rahasianya orang Karig-ouw, kaum Sungai-telaga. Itu berarti bahwa bahaya lagi mengancam mereka. Ia pun segera mendahului, akan selulup, akan menghilang pergi, hingga tiga kawannya lantas susul padanya. Si orang asing muncul di muka air.
"Pulang! Lekas pulang!"
Katanya pada Ham Eng dan Bong Tiap, yang masih saja mengawasi mereka sesudah mana, ia silam.
Cepat sekali, kedua anak muda ini lihat orang telah saling kejar jauh sekali jaraknyadari mereka, sedang di depan mereka, air lantas jadi tenang pula.
Ham Eng merasakan dirinya seperti lagi mimpi, ia tampak pakaiannya basah dan tubuhnya merasa dingin, tapi lekas ia pegang kemudi, akan gayuh perahunya pergi.
"Mari kita lekas pulang!"
Katanya pada Bong Tiap. Had sudah fnulai sore. Bong Tiap manggut la pun kuatir ibunya meng-harap-harap. Selagi mendekati pinggiran, dua anak muda ini segera dengar suara panggilan.
"Bong Tiap! Bong Tiap! Ham Eng! Ham Eng!"
Dan suara itu seperti suara mendesak.
"Ya!"
Ham Eng menyahuti. Ia kenali suara dari djisoehengnya.
"Ah, Ham Eng,"
Soeheng yang kedua itu kemudian kata.
"Kau kenapa? Kenapa kau nyebur ke air?"
"Hebat, Soeheng,"
Sahut Ham Eng, yang terus tuturkan kejadian barusan.
"Kalau begitu, mari lekas pulang!"
Kata djie-soeheng itu.
"Perihal ini perlu segera diberitahukan pada Soebo!"
Tiba-tiba.
"Bong Tiap! Bong Tiap! Ham Eng! Ham Eng!"
Itulah suara sang soebo atau Lioe Toanio, maka segera Bong Tiap menyahuti.
"Ibu! Ibu, orang telah permainkan kita!...."
Lioe Toanio tidak lantas jawab puterinya, ia hanya awasi Ham Eng.
"Ah, kau bertempur di air?"
Nyonya guru itu kata.
"Tentu kau telah dibikin kecebur! Lihat,celanamu pecah! Apakau kau tidak terluka?"
"Benar, Soebo,"
Ham Eng menyahut, seraya terus tuturkan kejadian tadi.
"Cukup, Anak!"
Lioe Toanio berkata.
"Sekarang marilah pulang! Kau mesti lekas salin pakaian, atau kalau kau terluka, lekas kau pakai obat gosok! Tjin Kong, pergi kau layani saudaramu ini. Kau, Anak, man ikut aku!"
Sampai di situ, berempat mereka pulang.
Adalah di rumah, sebelumnya siap dengan barang daharan, Lioe Toanio suruh anak dan muridnya ulangi penuturan mereka yang jelas.
Yang terutama menarik adalah halny a si orang asing dengan kepala seperti kepalamacan tutul.
Bong Tiap dengan bernafsu puji orang asing itu, yang ia katakan kepandaiannya ia belum pernah lihat, hingga ia lupa bahwa ayahnya justeru seorang guru silat yangliehay!
"Dan yang aneh, Ibu,"
Kata si nona akhirnya.
"gerakgerakannya mirip dengan apa yang Ayah dan Ibu ajarkan kepadaku -Thay Kek Pay kecampur Ban Seng Boen...."
Lioe Toanio berdiam, ia berpikir, sambil ngoceh sendirinya.
"Oh, orang berkepala mirip macan tutul, berewokan, umurnya kurang lebih tiga puluh tahun!...."
Ia agaknya bersangsi, ia seperti ingat suatu apa.
"Dan ia bicara dengan lidah apa?"
Tanyanya kemudian.
"Hoo-pak atau Shoatang?"
"Apakah Ibu kenal orang itu?"
Bong Tiap balik tanya.
"Dia bukan berlidah Shoatang atau Hoo-pak, entahlah lagu suara mana, rasa-rasanya dia bicara dengan lagu suaranya si saudagar djinsom dari Kwan-gwa yang duluan datang beli djinsom dari Ayah...."
Nyonya itu berdiam pula.
"Aku hendak duga seseorang, tetapi lagu suaranya, boegeenya, bikin aku sangsi,"
Katanya.
"Tapi mereka yang ganggu kau orang, aku tahu asal-usulnya mereka."
"Siapa mereka, Ibu?"
Bong Tiap tanya.
"Apakah mereka ada Ong Tjay Wat dan persaudaraan Lo?"
Tjin Kong turut tanya sebelum guru perempuannya sahuti si nona.
"Kalau bukan mereka, siapa lagi?"
Sahut sang soebo sambil manggut.
"Kau tidak tahu, Anak, selagi kau bertempur di muara, aku juga dapat kunjungan "tetamu yang tidak diundang..""
Bong Tiap dan Ham Eng terkejut, si nona lantas minta keterangan, tanyanya kemudian.
"Hoo-pak atau Shoatang?"
"Apakah Ibu kenal orang itu?"
Bong Tiap balik tanya.
"Dia bukan berlidah Shoatang atau Hoo-pak, entahlah lagu suara mana, rasa-rasanya dia bicara dengan lagu suaranya si saudagar djinsom dari Kwan-gwa yang duluan datang beli djinsom dari Ayah...."
Nyonya itu berdiam pula.
"Aku hendak duga seseorang, tetapi lagu suaranya, boegeenya, bikin aku sangsi,"
Katanya.
"Tapi mereka yang ganggu kau orang, aku tahu asal-usulnya mereka."
"Siapa mereka, Ibu?"
Bong Tiap tanya.
"Apakah mereka ada Ong Tjay Wat dan persaudaraan Lo?"
Tjin Kong turut tanya sebelum guru perempuannya sahuti si nona.
"Kalau bukan mereka, siapa lagi?"
Sahut sang soebo sambil manggut.
"Kau tidak tahu, Anak, selagi kau bertempur di muara, aku juga dapat kunjungan .tetamu yang tidak diundang...."
Bong Tiap dan Ham Eng terkejut, si nona lantas minta keterangan.
"Tetamu tidak diundang"
Itu bukannya suatu ahli silat, dia malah satu bocah ialah Ong Siauw Sam, anak tunggal dari OngToa-ma, tetangganya LioeToanio, yang bekerja di sebuah warung arak kecil di Kim-kee-tin.
Biasanya bocah ini pulang setiap tengah bulan dengan menenteng sedikit oleh-oleh untuk ibunya, karena ia berbakti.
Biasanyajarang ia mampir pada Lioe Toanio, tapi kali ini ia berkunjung.
Lioe Toanio ada manis budi, ia girang menerima bocah itu, ia tanya ini dan itu dengan gembira, tapi Siauw Sam, setelah menjawab beberapa pertanyaan dengan ringkas lantas bilang.
"Toanio, ada satu tetamu yang minta aku sekalian sampaikan sepucuk surat untuk kau."
Dan lantas, ia serahkan surat itu. Toanio kaget menerima surat itu, dan kaget setelah membacanya.
"Tetamu macam apakah orang itu?"
Ia tanya Siauw Sam.
"Kemarin kita kedatangan tetamu-tetamu dari satu rombongan,"
Siauw Sam kasih keterangan.
"Mereka ada yang tua ada yang muda, sembari minum arak mereka tanya aku kenal atau tidak pada Lioe Loo-kauwsoe, setelah aku kata kenal, seorang tua di antaranya lantas minta kertas, pit dan bak, terus menulis surat dan ia minta aku yang sampaikan, kalau tidak ada Loo-soehoe sendiri, boleh pada Toanio."
Demikian Lioe Toanio, yang terus bacakan surat yang ia maksudkan itu. Itulah surat yang ringkas-terang dan kasar. Begini bunyinya.
"Kauwsoe Lioe Kiam Gim, suami-isteri! Soeteemu, Teng Kiam Beng, telah menentang kita kaum Kang-ouw, ia tempel pembesar negeri, hingga kita jadi tidak puas, maka itu di Djiat-hoo, kita ajar sedikit adat padanya. Kabamya Kauwsoe niat campur tahu urusan ini, dari itu kita telah dikirim untuk datangi kau orang. Tak usah kita orang banyak bicara, biarlah kepandaian kita yang nanti memberi putusan. Besok sore jam Hay-sie, kita menantikan di dalam rimba pohon lioe di depan rumahmu! Jangan kau orang ajakajak Sam-boen djin-ma, atau ancaman bencana akan jadi terlebih hebat. Kau orang pasti mengerti aturan kita kaum Kang-ouw. Juga Loo-kee Soe Houw tak dapat lupai budi pengajaran pada dua puluh tahun yang lampau, mereka pun datang untuk sekalian membalas budi ini! Nah, sampai besok malam, Hormat, Lo Toa Houw Ong Tjay Wat, dkk "
"Mefeka ada kawanan tidak tahu mampus!"kataLioeToanio kemudian dengan sengit "Kiam Gim tidak ada di rumah tapi aku bersedia akan sambut mereka, aku akan bikin mereka tidak kecewa!"
Habis itu, Lioe Toanio lantas tuturkan permusuhannya sama Loo-kee Soe Houw, Empat Harimau Keluarga Lo, karena mana iapun jadi kenal Lioe Kiam Gim dan akhirnya jadi menikah.
Itu adalah kejadian pada dua puluh tahun yang lampau.
Ketika itu Lioe Toanio atau Nona Lauw In Giok, baharu berumur dua puluh dua tahun.
Dia ada gadis tunggal yang disayangi dari Kauwsoe Lauw Tian Peng, Ketua dari Golongan Ahli Silat Ban Seng Boen.
Dia telah dapat warisan ilmu silat keluarganya dan sering ikut ayahnya merantau.
Begitu pada suatu hari, ia turut pergi ke Hauw-gie di Shaosay, akan sambangi suatu sahabat.
Selagi lewat di Djie-tjoe, mereka saksikan sekawanan berandal lagi begal serombongan saudagar, mereka tolongi kawanan saudagar itu.
Apa mau, rombongan berandal itu ada liehay, terutama lima antaranya.
Mereka kena terkurung hingga sukar mereka loloskan diri, hanya dengan belakang madapi belakang, mereka bisa terns bikin perlawanan.
Selagi mereka mandi keringat, datanglah bala-bantuan yang tidak disangkasangka.
Satu penunggang kuda kabur mendatangi.
Dia berusia kirakira tiga puluh tahun, dia menggendol satu pauwhok kecil serta pedang di pinggangnya.
Ia tahu apa artinya pertempuran itu, ia kagum melihat In Giok punya permainan golok Ban Seng Boen, sedang dengan Koan Ie Tjeng, Ketua dari Ban Seng Boen di Poo-teng, Hoo-pak, ia kenal balik.
Maka tidak tempo lagi ia loncat turun turun dan kudanya, hunus pedangnya ceburkan diri dalam pertempuran itu.
Ia ambil pihaknya itu ayah dan anak.
Lekas sekali jalannya pertempuran jadi berubah.
Dengan orang asing ini menyerang dari luar perhatian berandal jadi terpecah, dan Lauw Tian Peng serta puterinya telah lantas dapat semangat baru, tenaga mereka tambah dengan seKejab.
Mulai dari kaburnya kawanan liauwlo, juga lima pemimpin mereka segera turut angkat kaki.
Untuk ini mereka berikan satu tanda rahasia, ialah suitan mulut.
Nona Lauw ikuti ayahnya sejak umur enam belas, belum pernah ia tampak kekalahan, sekarang ia kena didesak, tidak heran ia ada sangat mendongkol dan gusar, maka satu kali terlepas dari kurungan, ia umbar nafsu amarahnya, Ia kejar lima musuhnya, ia candak satu, yang lari paling belakang, kapan ia telah loncat menyambar sama goloknya, musuh itu bingung dan menjerit, sebelah lengannya putus dan jatuh ke tanah!
Lauw Tian Peng lihat puterinya kejar musuh, iahendakmencegah, apa mau ia sudah terlambat, musuh sudah kena dibacok, malah selagi tubuh orang sempoyongan hendak rubuh, In Giok pun telah membarengi dengan tendangannya pada dada orang itu, sedang sepatunya berujung besi!
Tian Peng sambar anaknya untuk ditarik mundur, sehingga musuh dapat kesempatan akan panggul pergi Kawannya yang terluka, sedang salah satu musuh, sambil lari dengan mata melotot, berseru.
"Nona, kau kejam sekali! Selama masih hidup, Loo-kee Ngo Houw akan ingat baik-baik budi kebaikan ini!...."
"Ah, Bocah!"Tian Pengsesalkan anaknya -dia bukannya gusar pada musuh.
"Kenapa kau kejar musuh dan kutungi juga sebelah tangannya? Kau tahu hebatnya kaum Kang-ouw dan bahwa musuh tak dapat ditanam bibit permusuhannya!"
Memang, seumumya, Lauw Tian Peng, belum pernah sudi lukai orang secara hebat, maka itu ia tidak sangka, gadisnya justeru berbuat demikian.
Tapi, karena hal sudah terjadi, jago ini tak sesalkan puterinya lebih lama, hanya segera ia hampirkan penolongnya, untuk haturkan terima kasihnya yang hangat.
Nyata penolong itu murid kepala dari Thay Kek Teng ialah Lioe Kiam Gim, hingga tidaklah heran kalau ilmu goloknya liehay sekali.
Karena perkenalan ini, Kiam Gim pun jadi tahu, bahwa Lauw Tian Peng ada terhitung angkatan terlebih tua, dan pernah pamannya, sebab dia adalah paman jauh dari Koan Ie Tjeng.
Dan Ketua Ban Seng Boen ini juga kenal Thay Kek Teng, gurunya.
Tatkala itu Lioe Kiam Gim baharu habis berpisahan dengan soeteenya Teng Kiam Beng, ia merantau untuk pesiar, siapa tahu, ia ketemu sama Lauw Tian Peng, ia telah bantui jago ini dan justeru Nona Lauw In Giok masih merdeka, Tian Peng lantas jodohkan puterinya pada pemuda ini, hingga selanjutnya, berdua mereka menjadi suami-isteri.
Kemudian Kiam Gim dan In Giok dapat tahu, bahwa Lo-kee Ngo Houw, atau Lima Harimau dari Keluarga Lo, adalah persaudaraan berandal yang mengacau di Soe-tjoan Barat dan sekitarnya, belakangan mereka pindah ke Utara, pernah mereka satrukantentara negeri, mengganggu kaum saudagar pelancongan dan memeras rakyat, hingga mereka diterima menakluk oleh negeri, hanya entah kenapa, tahu-tahu mereka bersarang di gunung di Djie-tjoe ini menjadi berandal pula.
Kemudian lagi, Kiam Gim dan isterinya tinggal menetap di Kho Kee Po.
Ini adalah atas kehendak Lauw Tian Peng, supaya ayah ini atau mertua ini, kalau perlu, bisa lindungi keselamatan mereka dari gangguan musuh.
Itu waktu Tian Peng telah dapat tahu, Lo-kee Ngo Houw sudah berubah menjadi Lo-kee Soe Houw, karena Harimau Ketiga, Lo Sam Houw, korbannya In Giok, sudah binasa, jiwanya tak tertolong dari luka hilang sebelah lengannya dan dadanya tertendang sepatu besi.
Katanya Empat Harimau itu kabur ke Djiat-hoo di mana mereka umpetkan diri, tetapi Tian Peng tak ketahui, bahwa mereka sebenarnya bemaung dalam Keraton Sin-tekkiong menjadi pahlawannya Kaisar Boan.
Dua puluh satu tahun lamanya Lioe Kiam Gim tinggal di Kho Kee persaudaraan Lo juga berlatih terus, hingga sekarang Toa Houw jadi liehay begini.
Baharu sekarang nyonya mi berpikir untuk tidak ngotot melayani terus, ia insyaf bahayanya akan bertempur lebih lama pula, di satu pihak jadi kuatirkan Bong Tiap dan rumahnya.
di lain pihak, ia takut semua musuh nanti turun tangan"
Bagaimana la bisa melawan kalau mereka meluruk semua?
Sekonyong-konyong Lioe Toanio dengar tindakan kaki yang berlari-lari, ke arah rumahnya.
Rupanya musuh tukar siasal setelah dapat kenyataan, nyonya ini sudah bisa dibikin terpatek di situ ia menjadi gusar!
Jadi nyata dugaannya, musuh mengarah dua tujuan kepada ia sendiri, kepada rumahnya Itulah berbahaya!
Di sebelah kekuatiran"nya, bukan kepalang gusarnya Lioe Toanio, hingga dengan hebat ia menyerang.
Ia pun segera mcnegur "Oh.
orang-orang tak punya muka, kau orang bikin rusak kaum Kang-ouw!
Kau orang boleh satrukan aku, kenapa kau orang juga arah rumahku?"
"Ha-ha-ha!"
Lo Toa Houw menyambutnya dengan berkakakan.
"Dugaanmu tepat! Inilah maksudku, uiilah tindakanku! Aku justeru hendak menghina anak daramu! Apa kau mau? Hutang darah dua puluh tahun rnesu dilunaskan berikut bunga! Toanio bisa tertawa nyaring, tetapi hatinya, melainkan dia yang tahu sendiri. Kalau ayam biang sangat sayangi anaknya, apa pula manusia, satu ibu? "Baik, aku akan adu jiwakul"
Demikian teriakannya. Ia segera menyerang seperti kalap dengan goloknya, yang senantiasa kecampuran ilmu-ilmu tikaman Thay-kek-kiam. Ia keluarkan serangannya "Pwee lak Tjap sie"
Afau delapan kali delapan jadi cnam puluh empat bacokan dan tikaman, guna singkirkan kedua musuhnya.
Lo Toa Houw tidak takut, ia mainkan tumbaknya dcngan sempuma akan menghalau sesuatu serangan, selama itu, saban-saban ia tertawa terbahak-bahak, sedang di sebelahnya, Ong Tjay Wat mendesak tidak kurang serunya.
Orang Heng Ie Pay ini jadi| dapat angin karena berkawan dengan toako dari Keluarga Lo.
Tumbaknya Lo Toa Houw jadi liehay sekali, saban-saban senjata itu mencoba akan keprak terlepas goloknya si nyonya atau ujungnya mencari jalan darah, untuk menotok.
Apabila berhasil, dua-dua macam serangan akan bikin nyonya itu tidak berdaya.
"Bagus!"
Nyonya Lioe Kiam Gim berseru kapan ia saksikan cara menyerang orang itu. Ia tidak takut, ia mendesak terus. Dengan "Peh tjoe tjoet tong"
Atau "Ular putih keluar dan guha", ia mencoba babat jeriji tanganorang yang mencekal pedang.
"Ayo!"
Berseru Lo Toa Houw, yang terpaksa musti mundur seraya tarik pulang tumbaknya, tapi tidak urung ia kalah gesit, jeriji mania dari tangan kanannya telah kena terbabat Ikuturtg, hingga ia merasakan saktt dan kaget sampai ia bikin terlepas tumbaknya itu.
Toanio lihat orang mundur, ia barengi berlompat tinggi akan lewati kepalanya Tjay Wat, untuk tarik pulang.
"Pegat dial Pegat dia!"
Toa Houw berseru dengan kaget kapan ia tampak musuh hendak kabur dengan tangan berketel-ketel darah, ia berjongkok akan jumput tumbaknya.
Ong Tjay Wat tidak sangka orang bisa loncati dia, dia jadi sangat mendongko!.
Ia anggap sial-dangkalan diloncati orang perempuan -ia percaya benar akan tahayul.
Maka ia lantas berlompat akan susul nyonya itu.
Dalam boegee, ia kalah daripada Lo Toa Houw, tetapi dalam keng-kong-soet, ilmu entengi tubuh, ia menang jauh.
Kegesitannya sudah ternyata selama ia kelit tiga batang Kim-tjhie-piauw dari Lioe Bong Tiap.
Ada sulit untuk Lioe Toanio menyingkir pulang.
Benar iaberhasil loncati Ong Tjay Wat, akan tetapi, baharu kakinya injak tanah, dua musuh pegat ia dengan babatan golok mereka masing-masing, hingga ia rnesu* layani mereka ini.
Ia baharu lewat tiga jurus, Tjay Wat sudah sampai di belakangnya, akan terjang pula padanya.
Maka di lain saat, ia sudah terkurung pula.
Dua pemegat dari Lioe Toanio ada berumur masing-masing dua puluh dan tiga puluh tahun.
Mereka mi adalah yang pernah tempur Ham Eng dan Bong Tiap di tengah muara Boegee mereka tidak rendah, tapi menghadapi istermya Lioe Kiam Gim, mereka mesti main mundur apabila mereka tidak mau jadi korban golok, Hanya, si nyonya lagi lagi kena dirongrong oleh Ong Tjay Wat yang licik.
Dua-dua Toa Houw dan Ngo Houw sudah bebat luka-luka mereka, mereka ini merangsek pula.
Sekarang Toa Houw majui tangan kirinya di muka.
Oleh karena mereka sudah terluka, sekalipun berkelahi, mereka tidak garang lagi seperti semuia.
Maka itu, dikepung berempat, Toanio tidak terdesak sebagai tadi.
Hanya untuk loloskan diri, inilah sulit.
Cuma dengan pelahan-lahan, dapat ia mendekati bahagian luar dari rimba itu.
Dua orang yang memegat sedikit ketinggalan di belakang, yang mudaan lantas keluarkan Thie-lian-tjte, untuk bokong si nyonya, tapi ia tidak sepandai Bong Tiap dengan piauwnya, duri besinya itu tidak mendatangkan hasil.
Sekarang Lo Toa Houw pun kena ditinggal si nyonya, hingga tinggal Ong Tjay Wat yang larinya pesat, yang bisa menyusul, malah ujung pedangnya sudah ancam bebokongnya musuh.
Ia bisa berbuat begini karena larinya yang pesat, hingga ia dapat candak musuhnya.
Lioe Toanio dengar angin menyambar di belakangnya.
Ia menduga pada serangan musuh.
Dengan tiha-tiba ia loncat nyamping kakinya menahan.
lalu sambil putar sedikit tubuh, ia menikam balik, ke arah tenggorokan.
Ini ada suatu gerakan yang liehay.
yang meminta kegesitan.
Oag Tjay Wat lihat serang an musuh, ia hendak menangkis, hanya sayang.
daiam hal mainkan senjata ia kalah eesit, ia tidak segesit ilmunya entengi tubuh atau lari pesat.
Ia terkesiap hatinya.
"Rata! Maju! Maju!"
Demikian tiba-tiba Lo Toa Houw berseru-seru seraya tumbaknya dipakai menangkis goloknya si nyonya.
Ia telah memburu dan mencandak lawan.
Lauw In Giok tidak tabu musuh hendak berbuat apa, karena itu, untuk sedetik, ia berlaku aval, dengan begitu, Tjay Wat jadi terluput dari bahaya.
seiagi dia ini keluarkan keringat dingin saking kaget, Toa Houw telah berdiri di dampingnya.
Cepat sekali, Lioe Toanio sudah lari sampai di iuar rimba.
Ia masih menduga-duga apa maksudnyajeritan musuh barusan.
Selekasnyaberada di luar, dari mana ia bisa memandang ke rumahnya, ia kaget bukan main.
Di sana asap menggulung naik, api telah berkobar, meskipun belum besar.
Ia insyaf apa artinya itu, maka itu, matanya menjadi merah.
Ingin ia bisa terbang, akan segera sampai di rumahnya, akan basmi musuh, guna lampiaskan kesengitannya.
"Tahan! Kau hendak lari kemana?"
Sekonyong-konyong suara membentak di depannya Lioe Toanio, seiagi ia berlari pulang. Suara itu ada suara dalam, dari seorang yang Toa Houw, dari belakang, teriaki.
"Djieko, awas! Pegat itu perempuan busuk!"
Toanio gusar, tan pa buka suara lagi. ia maju membabat tangan musuh. Ia gunai "Hong hong tian tjie"
Atau "Burung hong pentang sayap".
Musuh di depan itu, yang membentak, tidak gentar dengan itu babatan, hanya ketika golok mendatangi, tiba-tiba ia gcscr tubuhnya seraya tangannya bergcrak, tahu-tahu pedangnya dari atas membacok ke bawah, untuk menabas kutung lengannya si nyonya gagah.
Lioe Toanio tidak sangka musuh ada demikian liehay, ia lekas tarik pulang goloknya, tidak urung kedua senjata telah beradu keras, sampai si nyonya limbung!
Baiknya ia cerdik, segera ia terusi, akan lompat jauh, sampai setumbak lebih.
Adalah di sini, scmbari putar tubuh dan goloknya di depan dada, ia lantas mengawasi musuh itu.
"Eh, Djieko, kenapa tidak segera turun tangan?"
Menegur Lo Toa Houw, yang sudah lantas sampai di dekat orang yang mencoba rintangi Lioe Toanio itu.
Itu waktu Lauw In Giok sudah bisa lihat tegas orang ini.
yang bersenjatakan sebatang pedang panjang la tadinya menyangka pada Lo Djie Houw, sebab orang toh dibahasakan "djieko", tidak tahunya, orang ini ada seorang tua yang tubuhnya jangkung dan kurus sedang sepasang matanya ada bersorot tajam, dengan mata itu ia diawasi.
Ia lantas mengerti, ia bukan lagi hadapi orang sebangsa Persaudaraan Lo itu.
Orang tua itu hunjuk sikap jumawa, waktu Lo Toa Houw dekati dia, dia suruh jago she Lo itu mundur, begitupun semua kawannya dia ini.
"Melawan mi perempuan busuk, kenapa mesa"
Pakai banyak orang?"
Demikian suaranya, yang katak.
"Mundur! Mundur"
Mukanya Lo Toa Houw menjadi merah, satu tanda ia ada mendongkol, tetapi scpcrti orang di bawah pengaruh, ia terpaksa mundur, bersama orang-orangnya, ia berdin diam saja, mengawasi ke depan.
Orang tua ini adalah orang yang sarankan akan pancing keluar pada Lioe Toanio sambil berbarengdi lain pihak satroni orang punya rumah.
Kalau Lo Toa Houw ada jadi pahlawan keraton peristirahatan kaisar di Sin-tek, Sin-tek Lie-kiohg, dia adalah pahlawan istimewa dari Keraton Kerajaan Tjeng.
Sekarang tak dapat Lioe Toanio menahan sabar, sebagai jago betina dari Ban Seng Boen, ia merasa terhina oleh sikap musuh tidak dikenal itu.
dari itu, tanpa ayal lagi, malah dengan tidak mengucap suatu apa, ia segera maju menyerang dengan golok Toan-boen-toonya.
Musuh itu benar-benar liehay.
Dengan tenang, tetapi dengan sungguh-sungguh, ia menangkis serangan.
Pedangnya, dengan berat tetapi sebat, mengelakkan sesuatu bacokan atau babatan.
Dengan caranya ini, ia bikin golok lawannya jadi tidak berdaya.
Lioe Toanio menjadi sibuk kapan ia dapat kenyataan musuh tak dapat didesak.
jangan kata dikalahkan.
terutama karena dia sudah mulai lelah.
Justcru itu, musuh pun menukar siasat.
Berbareng dengan satu seruan.
orang tua itu mulai dengan rangsekannya, pedangnya mainkan ilmu "Tat Mo Kiam-hoat"
Dari Siong Yang Pay.
Serangannya itu adalah yang dibilang hebat bagaikan turunnya hujan besar.
Dan sesuatu tusukan senantiasa mengarah bahagian anggota-anggota yang berbahaya!
Sebenamya, kepandaian antara dua musuh ini tidak beda seberapa, hanya yang hebat bagi Lauw In Giok adalah dia sudah letih; sesudah gagal dengan desakannya, ia sekarang dibikin repot dengan rangsekan musuh.
Sudah terang, musuh ini menggunai siasat yang bermula ia kasih dirinya didesak dan baharu sekarang ia lakukan serangan membalas Dalam ancaman lawan itu, Lioe Toanio berlaku nekat.
Selagi terdesak, dengan tiba-tiba ia gunai serangan "Koay niauw hoa in"
Atau "Burung ajaib membalik mega". Ia putar goloknya dan membabat. Sang lawan lagi mainkan tipu tikaman "Loo souw hie kirn"
Atau "Orang tua mcncntcng kirn"
Kctika si Nyonya Lioe menyerang secara dcmikian mendadak dan hebat, ia tetap tenang, dengan sabar ia mundur, pcdangnya yang panjang dipakai merapati golok musuh, scsudah mana, dengan tipu.
silat "Soen soei twie tjouw"
Atau "Menolak pcrahu dengan ikuti aliran air", pcdangnya itu ia serodoti maju, untuk ujungnya yang tajam menikam tenggorokan lawan!
Lioe Toanio insyaf pada bahaya, hatinya terkesiap, cepat sekali, ia mencelat mundur dua tindak, bcrbareng dengan mana, tangannya yang mencekal golok, terayun, hingga segeraiah nienyusui mclesatnya golok itu.
Sebab ia telab berlaku nekat, ia menyambit musuh dengan golok!
Musuh tua itu kelihatan terkejut, matanya bersinar, akan tetapi dia pun bisa lompat mundur dengan tidak kurang gesitnya, hingga akhirnya, golok cuma lewat di atas pundaknya, hingga ia luput dari bahaya.
Tapi ia mendongkol karena serangan yang hebat itu, ia segera balas menyerang dengen beberapa biji senjata rahasianya Tok-tjie-leeyang beracun.
Ketika tadi ia habis menyerang, Lauw In Giok telah tcrusi loncat pu la, dari itu, ia jadi telah pisahkan diri enam-tujuh tumbak dari musuh itu, maka sekarang, melihat datangnya serangan gelap, ia dapat ketika untuk egos tubuh, ke kiri dan kanan, akan elakkan sesuatu senjata rahasia itu; walaupun ia sudah lelah, ia masih dapat hindarkan diri dari bahaya maut.
Lo Toa Houw sementara itu jadi berada dekat dengan nyonya ini, sadari tadi ia memang nonton saja, maka sekarang, melihat ada ketikanya, dengan sekonyong-konyong ia loncat pada nyonya itu sambil teruskan menyerang dengan tumbaknya, hanya sekarang ia pakai tipu pukulan toya "Houw-bwee-koen"
Atau "Ekor Harimau".
Tipu pukulan ini, kecuali menikam, pun bisa mengetok jalan dengan t iam-h iat, totokan jalan darah.
Bukan kepalang kagetnya Lioe Toanio, ia tak dapat berkelit lagi, maka untuk tolong diri, ia pertahankan ambekannya, ia menahan napas.
Ia tidak kena tertikam tetapi ia telah terbentur, dengan sendirinya, ia lantas merasai tubuhnya jadi sedikit gemetaran dan beku....
Puas sekali hatinya Lo Toa Houw dengan hasilnya itu, dari itu ia segera maju pula, untuk ulangi serangannya selagi si nyonya sudah tidak berdaya j itu.
Satu kali saja ia dapat menikam, akan habislah lelakon hidupnya jago perempuan itu..Dalam saat berbahaya bagi Lauw In Giok itu, tiba-tiba satu bayangan loncat melesat dari samping.
Rupanya bayangan itu datang dari tegalan, tetapi tanpa ketahuan.
Bayangan itu melesat bagaikan burung, enteng dan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah sampai pada si orang she Lo, selagi ia lewati si nyonya, tangannya menyambar kepala orang.
Lo Toa Houw tertegun, ia gelagapan, tanpa merasa lagi, ia rubuh terguling!
"Oh, Anak, kiranya kau!"
Demikian teriakannya Lioe Toanio, yang heran berbareng girang ketika ia telah lihat rupanya bayangan itu, yang menjadi tuan penolongnya.
Ia menjadi berdiri tercengang, hingga ia lupa bahwa ia seharusnya lekas pulang, untuk tengok rumahnya.
Tidaklah aneh jikalau Nyonya Lioe Kiam Gim menjadi bagaikan dipagut ular itu.
Orang yang tolong dia adalah orang yang dia tidak pernah sangka-sangka.
sebab ia ini adalah orang yang sudah meninggalkan rumahnya hampir sepuluh tahun lamanya, yang kabarnya sudah pergi ke Liau w-tong dan kemudian tidak ada kabar ceritanya lagi -ialah murid kepala dari Lioe Kiam Gim -murid yang diterima di Poo-teng pada lebih daripada dua puluh tahun yang lalu.
Yaitu Law Boe Wie!
Dengan terbitkan satu suara nyaring, Law Boe Wie hunus pedang panjangnya, yang bersinar laksana perak, lalu dengan pedangnya itu, ia menuding pada musuhnya.
"Soenio, beberapa ekor anak kelinci ini serahkanlah kepada muridmu! Silakan Soenio pulang lebih dahulu!"
Katanya pada isteri gurunya yang berbareng pun menjadi gurunya.
Kemudian ia sontek tumbaknya Lo Toa Houw dengan kakinya, hingga tumbak itu mencelat pada sang soenio, siapa sambut itu dengan gapah.
Hingga sekarang nyonya ini jadi dapatkan ganti dari golokknya, yang tadi ia pakai menyambit musuhnya, si orang tua yang iiehay.
Baharu sekarang Lioe Toanio dapat pulang ketabahannya, sedang tubuhnya pun sudah tidak sesemutan lagi.
"Muridku, kau hati-hati!"
Ia segera pesan.
"Jangan kuatir, Soenio,"
Sahut sang murid sambil tertawa.
Nyonya guru itu lantas putar tubuhnya, untuk pergi.
Sementara itu, kedatangannya orang Ssing ini telah membuat musuh jadi tercengang, tetapi selagi sang murid dan soenionya bicara, Lo Ngo Houw sudah berlompat kepada kandanya Toa Houw, apabila ia sudah tengok kanda itu, ia kaget hingga ia keluarkan jeritan.
Toa Houw rebah sebagai mayat, batok kepalanya pecah remuk, darahnya melulahan!
Sakit rasa hatinya Ngo Houw, tapi ia segera geraki goloknya, ia niat rintangi Lioe Toanio, akan tetapi Law Boe Wie mendahului menangkis goloknya, hingga mau atau tidak, ia mesti layani ini "bayangan"
Yang tangguh.
Di antara saudara-saudaranya, Ngo Houw ada yang terlemah, sudah begitu, ia pun sedang terluka, dari itu, sebelum si orang tua sempat datang padanya, baharu dua gebrak, pedangnya Boe Wie sudah sampok tcrpcntal goloknya dan kakinya "bayangan"
Ini sudah menyapu patah berisnya hingga ia rubuh sambil keluarkan jeritan hebat dan mcngenkan, sekctika juga, ia pingsan!
Lioe Toanio masih sempat saksikan itu pertempuran yang hebat tetapi sekejaban saja, bukan main kagum dan girangnya akan muridnya itu, maka dengan bawa tumbaknya, ia tcrus berlalu dengan had lcga sekal i.
Hanya ia mesti pulang dengan bcrlari-lari lekas, karena ia lihat, asap sudah mulai mengepul tebal dan api lagi mulai bcrkobar.....Sampai di situ, majulah si orang tua, malah dengan satu tikamannya.
Law Boe Wie tangkis itu serangan, dengan keras sekali, hingga kedua senjata beradu dengan hebat, hingga menerbitkan suara nyaring sekali, lelatu api sampai muncrat meletik.
Berhubung dengan itu, si orang tua mundur duatindak, ia rasai telapakan tangannyasakit.
Di lain pihak, lawan yang baharu itu berdiri tegak dihadapannya.
Tapi ia tidak jadi jerih, ia malah lantas menuding.
"Mendengar suaramu,"
Berkata ia.
"kau adalah muridnya Lioe Kiam Gim. Sekalipun soeniomu bukan tandinganku, maka perlu apa kau banyak tingkah di sini? Baik kau angkat kaki siang-siang! Kita datang untuk menuntut balas, kau tidak punya urusan di sini! Pergi ambil jalanmu yang lurus, kita tidak akan ganggu kau!"
Boe Wie tidak gubris kata-katanya orang itu, ia mengawasi dengan tajam.
"Eh, kau kiranya pandai menimpuk dengan Tok-tjie-lee!"
Katanya, dengan mcngejek.
"Kau bisa mainkan Tat Mo Kiamhoat! Malah kau pun pandai menggunai beberapa jurus ilmu pedang Heng Ie Pay asal curian! Hm! Kau sangka aku .tidak kenal kau? Jangan harap aku nanti angkat kaki siang-siang! Malah kau, apabila kau hendak berlalu, aku tidak akan izinkan!"
Melihat romannya atau usia, dan duduknya hal, pula melihat gerak-gerakan tangan orang itu, muridnya Lioe Kauwsoe ini segera menduga pada orang yang dulu gurunya cari tetapi tak dapat diketemukan.
Maka itu, cara bagaimana ia hendak gampang-gampang kasih lolos orang ini?
Orang tua itu tidak hendak banyafc omong pula, ia lompat maju dengan serangannya.
Ia pun telah menduga-duga, siapa orang ini, karena Lo Soe Houw pemah omong tentang seorang dengan roman sebagai dia ini, yang merintangi pihak mereka selama pertempuran di muka muara.
Ia insyaf bahwa orang ini pandai silat dan berenang, buktinya ia saksikan barusan saja -nasibnya Toa Houw dan Ngo Houw.
Ia heran, bagaimana Lioe Kiam Gim mcmpunyai murid liehay begini.
Ia belum pernah menempur Kiam Gim sendiri, hanya pernah layani Teng Kiam Beng, soetee dari Kiam Gim, dan sekarang, ia dapati "bayangan"
Ini tak di bawahnyaTeng Kiam Beng itu.
Tapi Boe Kek Kiam-hoatnya belum pernah ketemu tandingannya, ia hendak coba ilmu pedangnya itu akan layani si kepala bagaikan kepala macan tutul ini.
Pertarungan sudah lantas ambil tempat.
Orang tua itu mengerti musuh ada liehay dan tenaganya bcsar, ia segera hunjuk kepesatan tubuhnya dan kegesitan main pedangnya.
Ia lompat ke kiri dan ke kanan, ia menikam atau menyabet, gerakannya bagaikan kilat berkelebat Sama sekali ia tidak kasih ketika akan pedangnya kebentrok pedang musuh itu.
Pertempuran telah berjalan sekian lama, tidak perduli si orang tua hunjuk kdiehayannya, ia sama sekali tak dapat desak Law Boe Wie, siapa telah perlihatkan kepandaian seperti mengikuti kebisaan orang.
Boe Wie gunai beberapa macam ilmu pukulan yang luarbiasa, yang berbedaan sadari lain, tetapi dasarnya tetap ada Thay-kek-koen (yang pun disebut Bian-koen -lemas tetapi ulet dan keras).
Berselang lagi sekian lama.
walaupun ia belum terdesak, si orang tua sudah mulai bernapas sengal-sengal, keringatnya sudah mulai mengalir, jtdatnya basah paling dulu.
Ia mengerti bahwa ia terancam bahaya.
maka itu, lekas ia ben tanda kepada Ong Tjay Wat supaya kawan itu membantunya.
Sekarang ia tidak lagi jumawa, dan ia pun lepaskan janjinya tadi bahwa orang mesti bertempur satu sama satu, tidak boleh main keroyok.
Ong Tjay Wat telah rasai desakan goloknya Lioe Toanio, nyalinya telah menjadi ciut, sampai itu waktu, ia masih belum cukup beristirahat, sekarang ia saksikan liehaynya orang tidak dikenal itu, ia jerih bukan main, tetapi si orang tua sudah berikan tanda, dengan terpaksa ia maju juga, hanya ia berkelahi dengan lebih banyak membela diri.
Ia sudah pikir, begitu lekas orang tua itu keok.
ia akan mendahului angkat langkah panjang!
Demikianlah pikirannya Ong Tjay Wat Apalagi kedua kawannya, malah mereka ini sengaja berpurapura tidak lihat tandanya si orang tua, mereka berdiri diam saja di kejauhan.
Mereka pun pikir, asal si orang tua kalah.
mereka akan kabur.
Melainkan yang satu menyiapkan beberapa potong senjata rahasia Thie-Kan-tjie, untuk dipakai membarengi menyerang andai kata orang tua itu peroleh kemenangan!
Law Boe Wie tidak gentar melihat Ong Tjay Wat datang mengepungnya, sebaliknya, ia geraki pedangnya dengan terlebih sebat dan keras.
Di sebelah itu, tangannya yang kirij"eriji tengah dan jeriji manisnya, senantiasa turut main juea.
akan cari jalan darah untuk ditotok.
Dua jarinya ini malah terlebih liehay daripada pedangnya yang tajam itu.
Sebentar saja Boe Wie telah mengcrti bahwa Tjay Wat jerih dan licik, oleh karena itu, ia lebih banyak pusatkan pcrhatiannya kepada si orang tua.
Kembali iewat beberapa jurus, sampai di sini, si orang tua mesti ambil putusan bukan untuk rubuhkan musuh atau nekat.
hanya guna ulur kedua kaki panjangnya.
Ia insyaf, berkclahi lebih jauh tidak menguntungkan, babkan bakal mencelakai dirinya.
Ia anggap, angkat kaki paling selamat.
Law Boe Wie lihat orang hendak tinggalkan, ia tidak mau mengerti, selagi orang putar tubuh untuk menyingkir, ia barengi menyerang, kakinya berlompat, pedangnya menikam.
Itu adalah gerakan "Liong tjoa tjie tjauw"
Atau "Naga dan ular lari berbareng".
Ujung pedang sudah lantas menghampirkan batok kepala musuh.
Si orang tua lihat ancaman bahaya itu, dengan sangat terpaksa putar tubuh, ia menangkis, maka tak dapat dicegah pula yang kedua senjata jadi bcradu, hingga terdcngar suara yang nyaring.
Begitu lekas kedua senjata kebentur satu dengan lain, Law Boe Wie segera putar ugel-ugclan tangannya sambil menarik ke samping, menyusul mana pedang panjang dari lawan jadi terlepas dari cekalan dan terpental.
Tapi ia tidak berhenti sampai di situ.
Ia pun merangsek, dua jari tangan kirinya disodorkan bagaikan kilat berkelebat.
Si orang tua terkejut karena pedangnya terlepas dan terlempar, selagi ia belum sadar apa yang bakal tcrjadi terlebih jauh, dua jari musuh sudah mengenai samping iganya, tak sampai ia menjcrit, tubuhnya lantas sempoyongan.
Boe Wie masih belum mau berhenti, ia maju pula, akan susul tubuh musuh itu, yang ia segera jambak dengan tangan kirinya scsudah mana, ia angkat tubuh orang itu!
Orang tua jangkung kurus itu tetap tidak bcrsuara, iapun tidak berdaya, karena ia sudah kena ditotok jalan darahnya"Hoen-hian-hiat", hingga ia jadi min"p dengan satu mayat, apabila ia tak segera ditolong, dalam tempo enam jam baharu ia bisa sadar sendiri.
Di pihak orang tua ini, dua kawannya yang "memasang mata", sudah lantas ambil langkah seribu, begitu lekas mereka lihat jagonya itu memutar tubuh, sedang Ong Tjay Wat, yang semangatnya seperti terbang karena menyaksikan cabang atasnya itu mati kutunya, pun angkat kaki tanpa ayal-ayalan lagi.
Law Boe Wie lihat orang lad, ia tidak hendak mengejar, karena ia tahu, dengan itu jalan ia bakal sia-siakan tempo.
Ia percaya, Tjay Wat itu bisa lari keras, sukar untuk ia dapat mcncandak dalam sedetik.
Maka ia rogoh sakunya dan keluarkan dua potong pisau belati kecil -tidak ada lima dim panjangnya -yang ia lekas pakai menimpuk, kemudian samar-samar ia dengar jeritannya musuh itu, siapa rupanya terluka tidak hebat, sebab dia masih bisa lari terus ke dalam tempat lebat.
Sampai di sini, medan pertempuran itu jadi sunyi-senyap, langit pun guram, sedang angin adalah angin dingin yang halus sambarannya.
Law Boe Wie bersenyum puas, akan tetapi ia tidak dapat berdiam lama di situ.
Ia lihat cahaya api di arah rumah gurunya, itu ada tanda bahaya untuknya.
Ia pun mendugaduga, soebonya sudah berhasil atau belum dalam menolong rumahnya itu.
Maka ia perlu membantu terlebih jauh.
Tapi ia masih cekali si orang tua.
Bisakah ia berlari-lari dengan bawabawa musuh itu?
Ia bersangsi sesaat, lantas ia turunkan tubuhnya musuh itu, dikasih berdiri, lalu tangan kanannya merogoh ke dalam sakunya si orang tua.
Ia ambil entah barang apa, yang ia sesapkan ke dalam sakunya sendiri.
Sesudah ini segera ia lari ke arah rumah gurunya.
Benarlah dugaannya, sang soebo, bersama soemoaynya, masih belum lolos dari mara bahaya....
Sementara itu, siapakah si orang yang liehay itu?
Dia adalah pemegang peranan pada kejadian dua puluh tahun yang lampau, ketika Teng Kiam Beng kena dipancing datang ke gedung Soh Sian Ie.
Si pemancing menyamar sebagai dua tjay-hoa-tjat, penjahat cabul, yang memakai topeng, hingga orang she Teng itu kena terjebak, hingga karenanya, Kiam Beng jadi bentrok sama Tjiong Hay Peng, sampai ia pun berpisah dari soehengnya.
Seperti sudah dijelaskan di sebelah atas, dia ada pahlawan dari Raja Boan.
Dia adalah Bong Eng Tjin, sedang kawannya yang bersenjatakan Poan-koan-pit, ada Ouw It Gok.
Kebisaannya beberapa jurus ilmu pedang Heng Ie Pay ada hasil curiam, dia sendiri sebenarnya ada murid yang murtad dari Thio Tjeng Kie, tjiang-boen-djin atau ahli waris turunan ketiga dari Siong Yang Pay.
Barang-barang upeti yang dilindungi Teng Kiam Beng bukannya dibegal oleh kawanan Bong Eng Tjin, melainkan pcrbuatannya orang tain, tetapi kawanan ini punya rencana lain.
Tugas mereka adalah mencegah Lioe Kiam Gim datang ke Utara, untuk bantu saudaranya, agar jago she Lioe ini tidak mcrusak maksud mereka memecah-belah kaum Rimba Persilatan.
Demikian mereka Sudan datang mengacau, atau mengganggu, Keluarga Lioe, dcngan caranya yang licik tapi hebat.
Jikalau di dalam rimba yanghoe sudah terjadi suatu pertarungan yang dahsyat, di rumah Keluarga Lioe sendiri sudah lerjadi pertempuran yang tidak kurang hebatnya, dan kalau pertarungan di dalam rimba selcsai dengan cepat, adalah di rumah itu masih bcrlaku sampai sekian lama lagi.
Bong Eng Tjin sudah atur rencana penycrangannya secara begini.
la pecah rombongannya menjadi dua.
Lebih dahulu daripada itu, ia kirim surat undangan akan menantang berkelahi satu dengan satu, secara or-ang-orang terhormat.
Rombongan yang pertama adalah yang melakukan pertandmgan di rimba yanglioe, yang kedua adalah yang satroni rumahnya Lioe Kiam Gim.
Kecuali Lioe Toanio, ia pandang tak mata juga murid-muridnya, dari itu ia sendiri pimpin Qng Tjay Wat.
Lo Toa Houw dan Lo Ngo Houw serta dua kawan lagi, dan Lo Djie Houw serta Lo Soe Houw pimpin beberapa kawan pula.
Tapi rencananya ini justeru menolong Yo Tjin Kong.
Malam itu, seperti diketahui, yang berdiam di rumah Lioe Kiam Gim ada sang puteri sendiri, Bong Tiap, bersama sang keponakan, Lauw Hie Hong,dan kedua murid, YoTjin Kong danTjoh Ham Eng.
Ketikaitu,mereka mempunyai masingmasing pikirannya sendiri.
Hie Hong diminta bantuannya oleh bibinya, ia tahu, ia mesti tanggung jawab atas keselamatan keluarga bibinya itu.
Bagaimana bila ia gagal?
YoTjin Kong sibuk sendirinya, iapun berkuatir.
Toa-soeheng mereka tidak ada, maka itu, iapun bertanggung jawab.
Biar Hie Hong ada sanak dekat, ia sendiri ada wakil murid kepala, ia tidak dapat bebaskan diri.
Hie Hong pun bukannya murid Kaum Thay Kek.
Bong Tiap sebaliknya ada bergembira, ia bersemangat, ia hanya merasa tegang sendiri kapan ia ingat, bahwa ini ada pertempurannya yang pertama kali.
Ham Eng juga bersemangat, hanya di sebelah itu, ia pikiri sang soemoay, ia kuatir soemoay ini nanti terluka atau kena diculik....
Cuma satu perasaan ada pada empat anak muda ini, ialah mereka mesti siap akan nantikan serangan "badai dan hujan lebat", karena mana, mereka lalu berdamai akan atur penjagaan, di atas genteng dan di dalam rumah.
Untuk menjaga genteng, Tjin Kong dan Hie Hong saling berebut, tapi akhirnya, si orang she Yo yang naik ke atas, karena ia kemukakan alasan.
"Urusan Kaum Thay Kek mesti muridmurid Thay Kek Pay sendiri yang menanggung jawabnya, dari itu, Saudara Lauw, kau baik menjaga di dalam rumah saja."
Hie Hong akhirnya mengalah, tetapi ia tidak puas, dalam hatinya, ia kata.
"Oh, kau bicara tentang kaum! Apakah kau sangka aku Kaum Ban Seng Boen tidak sanggup menempuh badai dan gelombang?"
Seberangkatnya Lioe Toanio, empat anak muda itu lantas mulai dengan penjagaan mereka.
Mereka pasang mata dan kuping, sedikit saja suara berkelisik menyebabkan mereka bersiap.
Mereka mesti menanti lama juga, akhir-akhirnya musuh telah datang!
Mereka itu muncul hampir bareng temponya dengan dikepungnya Lioe Toanio di dalam rimba.
Yang muncul paling pertama ada Lo Soe Houw, Harimau Keempat dari Persaudaraan Lo.
Ia datang dari bclakang, terus saja ia loncat naik ke atas genteng, ketika Yo Tjin Kong ketahui datangnya, ia sudah beradadi belakangnya pemuda ini.
"Musuh datang!"
Tjin Kong segera beri tanda, dengan suitan dan teriakannya, setelah mana, ia tidak sempat buka mulutnya lebih jauh.
Soe Houw sudah lantas menerjang dengan sepasang tempulingnya, Ngo-bie Hoen-tjoei-tjie.
Menurut rencana, Tjin Kong mesti lekas turun, akan bersatu dengan .
soemoaynya sekalian, tetapi sekarang, ia tidak bisa jalankan rencana itu.
Di luar sangkaan, lagi beberapa orang, turut loncat naik; sedang Soe Houw merintanginya, dari itu, ia mesti lawan musuh itu, terutama Soe Houw sendiri, yang mendahului serang ia.
Senjata Soe Houw, yang sesuatunya bercagak figa, mirip dengan sha-tjee, semua ujungnya sangat tajam.
Biasanya senjata Ini dipakai di dalam air, tetapi si Harimau Keempat bisa pakai itu di dalam air dan di darat.
Sulit untuk Tjin Kong lawan musuh she Lo itu, tidak perduli ia sudah wariskan enam sampai tujuh bagian kepandaian gurunya, karena di sebelah kurang pengalaman pertempuran, ia juga tidak kenai gegaman musuh itu.
Dari itu, setelah beberapa gebrakan, ia melainkan bisa gunai kepandaiannya mainkan pedang untuk lebih banyak bela diri.
Sedangkan Tjin Kong sibuk, satu bayangan lain mencelat naik, tapi bayangan ini segera perdengarkan suaranya.
"Saudara Yo, jangan takut! Siauwtee nanti bantu kau!"
Itulah Lauw Hie Hong dengan goloknya Toan-boen-too.
Sembari berkelahi, Tjin Kong kerutkan alis.
Tak puas ia atas datangnya sahabat ini.
Ia duga Hie Hong datang tentu disebabkan orang she Lauw ini sangka ia jerih karena tadi ia berteriak dengan pertandaannya.
Tapi datangnya sahabat ini, ia duga, Hie Hong datang tentu disebabkan itu dugaan, ia hanya ingin menunjukkan ilmu silatnya Kaum Ban Seng Boen.
la tidak senang tadi Tjin Kong menyebut-nyebut golongan, sedang ia sendiri anggap, Thay Kek Pay dan Ban Seng Boen ada seperti segolongan saja Atas datangnya bala bantuan itu, Tjin Kongtidak bilangsuatuapa, Hie Hong sendiri, sebaliknya tidak dapat membantuorangshe Yo itu, karenaia segeradiserbu oleh duakawannya Soe Houw, kawan siapa ada lima, sedang yang tiga lagi, terus loncat turun ke bawah genteng.
Dari tiga musuh yang loncat turun ini, yang satu ada muridnya Bong Eng Tjin, yang dua ada murid-muridnya Lo Toa Houw, kepandaian mereka tidak lemah.
Ketika mereka sampai di bawah, mereka lantas diserang oleh Lioe Bong Tiap dan Tjoh Ham Eng, yang sudah siap sedia di saat mendengar pertandaan dari Yo Tjin Kong.
Tandingan dari Bong Tiap ada seorang dengan tubuh besar dan tinggi melebihi si nona.
Sesudah bebcrapa jurus, nona ini jadi gembira.
Nyata ia tak kena didesak "musuh yang dari tubuhnya bukan tandingannya.
Maka itu, ia lantas saja pikir untuk lekas rubuhkan musuhnya itu.
la segera mendesak.
Ilmu silat pedang dari Thay Kek Pay berpokok dengan ketenangan, atau lebih tegas.
"Musuh diam, kita diam; musuh bergerak, kita mendahuluinya". Kalau orang hendak mendahului bergerak, ia sudah mesti pandai betul. Tidak demikian dengan Nona Lioe ini. la belum mengatasi kesempurnaan, sekarang ia bergerak terlebih dahulu, maka ia dengan sendirmya hunjuk kelemahan terhadap musuh. Dengan "Kie hoh liauw thian", atau "Mengangkat api untuk menyuluhi langit", Bong Tiap hendak tikam tenggorokan orang. Justeru itu waktu, sang lawan lagi siapkan "Teng yang tjiam", atau "Jarum pedoman". Dari Tat Mo ICiam-hoat dari Siong Yang Pay, maka ia telah bersiap untuk menyambut tikaman. Ketika ujung pedang mendatangi, ia mundur satu tindak, kaki kirinya dikesampingkan, berbareng dengan itu, tangan kanannya -ialah pedangnya -menyambar ke kuping kanan orang itu. Tidak ada ketika atau jalan lagi, untuk Bong Tiap menangk i s, terpaksa ia mundur dengan gugup. Selagi ia mundur, kaki kiri musuh sudah icrangkat, ujung kakinya segera mengenai dengkulnya, atas mana, tidak ampun lagi, nona itu kena terdupak terpental sampai lima-enam tindak dan rubuh dengan terbanting keras, sambil menerbitkan suara juga. Lawan itu tidak berhenti sampai di situ saja, menampak musuh rubuh, ia lompat maju, untuk susuli penyerangannya terlebih jauh, tetapi belum sampai ia menyerang, beberapa Kim-tjhie-piauw, dengan berkeredepan, telah menyambarnya. Sebab Nona Lioe itu, walaupun dia sudah jatuh, masih dapat kesempatan menimpuk dengan senjata rahasianya itu, yang ia siapkan dengan cepat. Sambil keluarkan seruan kaget, musuh itu loncat mundur pula. Serangan piauw dari jarak dekat, kepandaiannya Bong Tiap sudah boleh juga, akan tetapi musuh ini bukan orang sembarangan. Dengan "Tjay hong sie ek", atau "Burung hong mementang sayap", ia menangkis ke kiri dan kanan, ia sampok jatuh dua batang piauw, hanya apa celaka, senjata rahasia itu datang di tiga jurusan, selagi ia berlompat, piauw yang ketigajusteru mengenai pahanya, hingga ia perdengarkan seruannya babna kaget dan sakit, karena ia terluka, tetapi karena ia ada tangguh, ia mclainkan sempoyongan saja, tidak sampai ia rubuh. Selama itu, Tjoh Ham Eng sibuk bukan main,"selagi ia mesti lay an i dua musuh, ia kuatirkan soemoaynya, ketika melihat Bong Tiap rubuh, ia kaget sampai berseru, berbareng dengan mana, ia berlompat mundur, niatnya untuk tolongi adik seperguruannya. Tapi kedua lawannya mencegahnya, keduanya menghalangi, menyerang dengan berbareng. yang satu dengan ruyung lemasnya, Djoan-pian, yang lain dengan toya besinya, mereka datang dari kiri dan kanan. Ham Eng mesti bela diri, ia menangkis dengan cepat tetapi, hampirhampir pedangnya kena dilibat dan disampok terlepas oleh ruyung musuh. Dalam saat berbahaya itu dari Bong Tiap dan Ham Eng, dari atas genteng ada berlompat turun beberapa bayangan, yang saling menyusul, semuanya memburuh ke dalam rumah. Yang pertama ada Hie Hong, yang kedua, Tjin Kong, dan yang ketiga, Lo Soe Houw. Di belakangnya hari mau ini ada konco-konconya. Di atas genteng barusan, kedua musuh yang rintangi Hie Hong bukannya orang-orang liehay, mereka ada sebawahan Soe Houw, dari itu,| orang she Lauw itu bisa desak mereka, sesudah mana, Hie Hong loncat pada Tjin Kong, untuk serang musuhnya dia ini. Atas ini, Soe Houw lompat mundur, hingga karenanya Tjin Kong jadi terlepas dari kepungan.
"Saudara Lauw, turun, turun!"
Tjin Kong lalu serukan kawannya.
"Paling perlu adalah melindungi soemoay! Kenapa kau tinggalkan dia?"
"Ah, kau tidak kenal budi!"
Pikir Hie Hong, yang tidak puas akan sikap orang itu.
Akan tetapi Tjin Kong omong dari hal yang benar.
Dua kawannya di bawah adalah orang-orang dengan usia terlalu muda, sedang Bong Tiap ada adik misannya -piauw-moay -kalau adik itu bercelaka, bagaimana nanti iabertemu sama bibinya?
Maka itu, dengan tidak bilang suatu apa, ia pergi loncat turun.
Begitu lekas sudah datang defeat.
Hie Hong gunai goloknya akan serang musuh yang bersenjatakan Djoan-pian.
Musuh itu benar-benar liehay.
ketika golok Toan-boen-too menyambar, ia tidak kelit, hanya ia rintangi itu dengan ruyungnya yang lemas, ia melibat.
la bersenjatakan panjang, musuh pendek, ia menangdi atas angin.
Dengan sebat, ia menarik, ia hendak bikin goloknya Hie Hong terbetot tcrlepas, orangnya nibuh.
Lauw Hie Hong ada keluaran Ban Seng Bocn, ia punyakan pelajaran Iwee-kang dan gwakang dengan berbareng.
terutama gwakang, hingga tenaganya besar sekali, maka itu, kuda-kudanya tangguh.
Ia telah lihat sikapnya musuh, ia lalu gunai akal.
Demikian, ia sengaja antap goloknya kena dilibat, selagi ia berdiri tcgar.
ia tunggu musuh betot ia, ketika ia tampak tangan dan kaki musuh bcrgerak, ia lalu mcndahului membctot dengan keras.
Musuh tidak sangka gerakan macam ini dari lawannya, kuda-kudanya digempur, ia kena tertarik hingga ia sempoyongan dan ngusruk ke depan lawan, dari itu Hie Hong bisa gunai ketikanya akan hajar pundak orang dengan belakang golok.
"Aduh!* musuh itu menjerit, ruyungnya teriepas, tubuhnya rubuh, ia pingsan. Adalah di waktu itu, Tjin Kong dan See Houw serta dua kawannya dia ini, loncat turun, akan menyusul. Maka bersama-sama Tjin Kong, Hie Hong persatukandiri dengan Ham Eng dan Bong Tiap. Mereka mundur ke tembok, untuk pertahankan diri di situ. Ini ada rencana mereka apabila mereka terdesak. Lawannya Bong Tiap, yang terluka piauw, telah maju pula, akan tetapi Tjin Kong desak ia, selagi ia repot kclabakan, Ham Eng dupak ia rubuh sampai bergelindingan beberapa tindak. Tjin Kong ada berempat, senjata mereka ada tiga pedang panjang dan sebuah golok. Di sebelah itu, asal ada ketika Bong Tiap pun gunai senjata rahasianya. Penyerang ada berjumlah lebih besar, akan tetapi mereka tidak sanggup berbuat banyak, terutama sebab rumahnya sempit, hingga mereka tak dapat bcrgerak dengan leluasa. Akan tetapi mereka ini bukannya bangsa tolol, dari itu, mereka lantas mencari akal. Begitulah satu musuh lari, ke belakang, di sana mereka nyalakan api, untuk membakar rumah, hingga di lain saat, api mulai berkobar, asap lantas mengebul. Dengan ini jalan, mereka pun hendak paksa penghuni rumah noblos keluar, supaya mereka bisa kepung dia orang itu. Ini daya keji telah memberi hasil. Tatkala asap menghembus ke dalam, orang mulai batukbatuk, air mata meleleh keluar, sukar untuk membuka mata dengan merdeka.
"Oh, kawanan terkutuk!"
Yo Tjin Kong mendamprat saking mendongkolnya.
"Janji adalah satu pertempuran secara lakilaki, kenapa sekarang kau orang berkawan dan turunkan ini tangan jahat? Manusia-manusia tak punya muka!"
Lo Soe Houw sambut dampratan itu dengan tertawaaya bergelak-geiak.
"Bocah, api belum berkobar besar, kenapa kau sudah panas terlebih dahulu?"
Ia mcmbaliki.
"Kau sabar saja, tunggu lagi sebentar, nanti ada yang layani kau satu sama satu! Kita tidak kuatir kau nanti bisa kabur!"
"Itulah tak akan terjadi!"
Demikian dengan sekonyongkonyong terdengar suara jawaban -suaranya seorang perempuan tetapi cukup angker.
"Di sini masih ada aku! Aku tidak akan membiarkan kau orang kecele, sahabat-sahabat baik!"
Lo Soe Houw kaget, apapula kapan ia lihat berkelebatnya satu bayangan, hingga dengan lekas-lekas ia berkelit, kemudian ia putar tubuhnya, untuk awasi bayangan itu, roman siapa menyebabkan ia bergidik!
"Dia?
Kenapa dia bisa ada di sini?
Bukankah dia sedang dirongrong di dalam rimba yanglioe?
Mustahil, di bawah kepungan, dia masih bisa loloskan diri?
Kenapa tidak ada yang kejardiaini?"
Demikian kata-kata dalam hati Harimau Keempat itu, yang kenali Lioe Toanio -si bayangan dengan seruannya yang angker.
Sedang yang menambah kagetnya adalah gegaman di tangan Nyonya Lioe itu -bukannya Toan-boen-too hanya sebatang tumbak, malah pun tumbaknya Lo Toa Houw, kandanya!
Tapi ia menjadi sangat gusar.
"Perempuan busuk!"
Ia segera mencaci."Kenapa kau bisa pulang dengan masih hidup? Mana toakoku?"
Lauw In Giok tidak jadi gusar karena cacian itu, sebaHknya, ia tertawa.
"Kau punya toako?"
Ia kata.
"Toakomu ada di sana! Dia telah bingkiskan aku tumbak ini disertai satu batok kepala manusia!"
Soe Houw kaget berbareng sangsi. akan tetapi keadaan sudah sampai di puncaknya kehebatan, maka itu, ia kertak gigi, ia lantas menyerang dengan tcmpulingnya. Ia ada sangat sengit.
"Kau bisa kabur pulang ke rumahmu tetapi kau tak nanti dapat lolos dari rumahmu ini!"
Ia berseru membarengi tikamannya.
Lo Soe Houw kehendaki jiwa orang, tetapi di luar dugaanya, Nyonya Lioe ini bisa gunai tumbaknya bagaikan "ular naga keluar dari laut, atau ular raksasa melilit cabang pohon", hingga ia jadi sangat terkejut "Sungguh dia liehay sekali!"
Katanya dalam hati.
Karena ini, segera ia perdengarkan suitannya, atas mana Lo Djie Houw loncat turun dari atas genteng, buat serbu si nyonya rumah.
Dia ini menggunai golok yang berat Lioe Toanio sebal melayani semua musuh itu.
"Anak-anak, maju!"
Ia berteriak dengan tiba-tiba, ia sendiri mendahuiui mendesak.
Ham Eng dan Bong Tiap sambut itu anjuran, mereka merangsek, di samping mereka, Tjin Kong dan Hie Hong turut membukajalan.
Ketika rombongan ini sampai di thia depan, yang lebih lega, mereka kembali kena dikurung musuh, yang telah candak mereka.
Soe Houw dan Djie Houw kerubuti Lioe Toanio, orangorang merangsek Tjin Kong berempat, sckarang ini keadaan mereka hampir berimbang.
Pcgangannya Lioe Toanio ada golok Kaum Ban Seng Boen, tetapi ia pun bisa gunai segala macam alat lainnya, sedang pengalamannya, pendcngarannya, ada luas, dari itu, ia bisa gunai tumbaknya Lo Toa Houw, malah ia keluarkan ilmu tumbak "Kim-tjhio Djie-sie-sie"
Yang punyakan dua puluh empat tipu serangan.
Ia menangkis, ia pun bias balas menyerang, hanya ia tidak bias gunai itu seperti Toa Houw, yang dengan itu berbareng bisa menotok jalan darah.
Di sebelah itu, ia sudah letih, bekas layani Bong Eng Tjin beramai, bekas ia berlari-lari jauh.
Benar ia tidak mampu rubuhkan dua lawannya ini, tetapi kedua lawannyapun kewalahan untuk bikin ia tidak berdaya.
Selama pertempuran itu, api berkobar bertambah besar.
sudah mulai berkobar ke sebelah dalam, hingga rumahnya Lioe Kiam Gim sudah seperti terkurung saja oleh si ayam jago merah, bcberapa kali terdengar suara nyaring dari bambu yang terbakar meledak, hingga suaranya saru dengan suara beradunya berbagai senjata tajam.
Apabila pertarungan berjalan terus lagi sekian lama, bisabisa mereka jadi korbannya api, sebab pihak penghuni tak dapat nerobos keluar, pihak lawan coba terus mempertahankan, mencegah.
Dalam saat yang sangat berbahaya itu, sekonyong-konyong ada datang satu orang baru, yang muncul di antara asap menebul, tangan kirinya mengangkat satu tubuh manusia, tangan kanannya mencekal sebatang pedang panjang, malah pedang ini segera dipakai menerjang Lo Soe Houw.
Harimau Keempat elakkan diri dengan lompat mundur, matanya dipentang guna lihat si penyerang, sesudah mana, ia menjadi kaget bukan kepalang.
Oleh sebab pcnyerang itu adalah bekas musuh tangguhnya di muka muara, yang kepalanya mirip dengan kepala macan tutul, sedang tubuh di tangan kirinya ia kenali ada pemimpinnya si jago tua kurus dan jangkung -Bong Eng Tjin!
Maka seteiah keluarkan satu teriakan, ia putar tubuhnya, ia loncat keluar, untuk sipat kuping.
Bukankah ia ada pecundangnya si kepala macan tutul itu dan ia telah dikejar di air jauhnya belasan lie dan melulu karena kelicinannya, ia bisa loloskan diri?
Sekarang mana ia berani lawan pula musuh itu?
Lo Djie Houw adalah lain, apapula ia tampak, orang ada gunai hanya sebelah tangan.
Ia maju menyerang, ia harap bisa tolong pemimpinnya itu.
Siapa tahu, baharu satu kali saja ia ditangkis, ia sudah terkejut, tangannya terpental dan sesemutan.
Selagi ia kaget, orang telah teruskan serang ia, dengan tusukan "Lie Kong sia tjio"
Atau "Lie Kong memanah batu", mengarah tenggorokannya.
Ia tidak bisa menangkis, maka itu, sambil berseru, ia loncat mundur.
Tapi ia mundur ke dekat Lioe Toanio, yang lagi merangsek, nyonya ini segera tusuk ia dengan "Pek tjoa touw sin"
Atau "Ular putih muntahkan bisa".
"Rubuh kau!"
Berseru si nyonya.
Benar-benar Harimau Kedua ini rubuh, karena tanpa berdaya, dadanya sudah jadi tameng tumbaknya Lo Toa Houw, tumbaknya sang kanda, maka dengan mandi darah, ia rubuh dengan tidak bisa berkutik lagi.
Sampai di situ, pertempuran jadi berubah lain.
Semua musuh jadi kaget dan keder, dengan ketakutan, mereka berlomba singkirkan diri, tapi dalam kekalutan itu Hie Hong dan Tjin Kong berhasilmerubuhkan lagi seorang satu.
Coba tidak Lioe Toanio mencegah, musuh hendak dikejar terus.
Oleh karena api telah menghebat, semua orang kumpul di pekarangan depan, yang merupakan sebuah tegalan.
Di waktu sang fajar mendekati, mereka awasi saja apt lagi makan habis seluruh rumah.
Di sini Yo Tjin Kong baharu lihat tegas tuan penolongnya, hingga ia tercengang.
"Kiranya kau, Soeheng!"
Ia berseru. Bong Tiap sebaliknya berseru.
"Ibu, inilah hoohan yang kemarin ini bantu kita di muara!...."
Tapi sang ibu tarik tangan puterinya itu.
"Kau tidak kenali Toa-soehengmu ini?"
Ibu itu kata.
"Di waktu masih kecil, ia suka empo-empo kau!"
Nona itu melengak.
Tidak heran kalau ia tidak ingat soeheng ini, sebab di waktu Law Boe Wie meninggalkan Keluarga Lioe, ia baharu berumur lima atau enam tahun.
Sedang Ham Eng, dia datang selang beberapa tahun sesudah berlalunya soeheng ini.
Boe Wie sudah lantas hunjuk hormatnya pada soebonya, dan Tjin Kong semua sebaliknya mengasih hormat pada soeheng ini.
Lioe Toanio akhirnya tertawa besar.
"Dengan dapati murid semacam kau, biarpun rumahku hangus ludas, aku puas!"
Katanya.
"Anak,kali ini kita bergantung kepada kau! Boe Wie hendak jawab guru perempuannya itu, ketika mendadakan ia lihat sang soebo rubuh sendirinya, hingga ia kaget bukan main, begitupun Bong Tiap dan yang lain-lain. Ternyata Nyonya Lioe Kiam Gim sudah jadi korbannya pertarungan ini. Ia telah berkelahi melewati batas, sudah begitu, ia pemah ditotok oleh Toa Houw, hingga ia peroleh lukadi dalarn, benar lukanya tidak hebat, tapi tadi ia berlari-lari jauh, sesampainya di rumah, ia pun dikepung Djie Houw dan Soe Houw, melulu dengan kuatkan hati, ia masih sanggup pertahankan diri. Di sebelah itu, ia ada gusar dan sangat mendongkol, sedang akhirnya, ia gi rang luar biasa, lantaran ia tcrtawa besar, seluruh anggotanya bergerak, begitupun asabatnya, maka dengan sekonyong-konyong ia mata gelap dan rubuh. Bong Tiap tubruk ibunya, ia memanggi 1-manggil, tempo ia dapati ibu itu diam saja dan kedua matanya rapat, ia mcnangis menggerung-gerung. Boe Wie bercmpat merubungi soebo itu, semua sangat berkuatir, tapi kemudian, kapan sang toa-soeheng sudah awasi air mukanya Nyonya Lioe, ia kata.
"Jangan kuatir! Soenio tidak kenapa-apa, ia melainkan terlalu lelah. Kalau sudah dapat beristirahat, Soenio akan dapat pulang kesehatannya."
Tapi toa-soeheng ini masih belum tahu, soebo itu telah dapat luka di dalam badan.
Lalu-diambil putusan akan tolong Lioe Toanio dengan bawa ia ke rumahnya Louw Hie Hong di kampung tetangga, seperjalanan perahu kira-kira setengah jam, Tjin Kong akan ditinggalkan untuk ia urus rumah yang terbakar itu.
Selama itu sudah banyak penduduk kampung yang keluar, mcreka bantu padamkan api.
Mereka tahu ada pcrtempuran, saking takut, mereka umpetkan diri, sesudah dengar suaranya Tjin Kong, yang kasih mereka bangun, semua lantas bangun dan keluar.
Lioe Toanio lantas dipondong, dibawa ke perahu.
Ia masih belum sadar, maka Boe Wie suruh Bong Tiap coba uruti dia, walaupun dcmikian, ia tetap diam saja, cumakarena ia masih bcrnapas dan nadinya jalan baik, hati mereka tidak terlalu berkuatir lagi.
Nyonya itu lantas diantap, untuk dapat mengaso.
Perahu adakecil, di situ bcrkumpul Hie Hong, Bong Tiap dan Ham Eng, tubuh Lioe Toanio pun direbahkan, sudah begitu, Boe Wie ada bawa-bawa korbannya si tua, yang jangkung kurus.
"Soeheng, buat apa bawa-bawa dia, bukankah berabe?"
Tanya Bong Tiap.
"Bukankah lebih baik dupak saja dia ke dalam sungai?"
Boe Wie awasi itu soemoay.
"Itulah tidak dapat dilakukan,"
Ia jawab."Dia ini ada punya kepentingan besar dengan Loo-soehoe. Justeru karena dia, aku telah datang kemari...."
Semua orang heran, semua awasi soeheng ini.
Boe Wie bisa mengerti keheranan sekalian saudara seperguruan itu, memang ia datang secara sangat tiba-tiba, begitupun halnya ia bantu Ham Eng dan Bong Tiap dalam pertempuran di muara.
Halnya Bong Eng Tjin ini pun pasti ada sangat menarik perhatiannya sekalian saudara angkat itu.
Ia harus menerangkannya semua itu.
Akan tetapi, lebih penting adalah tentang Boe Wie sendiri, yang pergi seperti menghilang, maka sebelum menutur terlebihjauh, baik kita ikuti dia dahulu.
Sudah diketahui, Law Boe Wie ada anaknya seorang tani di luar Kota Poo-teng, yang ditolong Lioe Kiam Gim semasa ia berumur enam-tujuh tahun, bagaimana ia sudah dipelihara dan dididik dalam ilmusilat.
Ia terlatih sempurna sesudah Lioe Loo-kauwsoe undurkan diri dan tinggal menyendiri di Kim-keetjoen di Kho Kee Po.
Ketika ia masuk umur dua puluh tahun, ia sudah belajar tiga atau empat belas tahun lamanya, hingga delapan atau sembilan bagian kepandaian gurunya, ia sudah wariskan, sedang dari Lauw In Giok, sang soebo, ia peroleh kepandaian dari Ban Seng Boen.
Dalam usia semuda itu, ia sudah punya kepandaian dari dua cabang ilmu silat yang kesohor, maka orang gagah sebagai ia jarang ada.
Walaupun ia sudah undurkan diri, semangatnya Lioe Kiam Gim belum padam, melulu disebabkan sikap dari soeteenya Teng Kiam Beng, ia jadi sungkan muncul pula, maka ia bersyukur, yang ia dapatkan murid sebagai Boe Wie, siapabisadiperintah merantau untuk wakilkan ia, untuk si murid sendiri cari pengaiaman dan persahabatan.
Demikian ketika murid ini sudah berumur dua puluh lima tahun, ia pilih suatu han baik, untuk murid itu meninggalkan rumah perguruan.
Itu hari ra pesan murid ini supanya menjunjung cita-cita Thay-kek Teng, buat perhatikan pesanannya, terutama supaya sang murid jangan sekali-sekali bekerja pada bangsa Boan.
"Hanya kalau ada ketikanya, tidak ada halangannya untuk kau pergi ke Poo-teng dan sambangi soesiokmu Teng Kiam Beng,"
Demikian pesannya terakhir.
Begitulah Boe Wie merantau.
Seiama sepuluh tahun, iaturut pesan gurunya, tapi pun ada kalanya, ia jalan sendiri.
Yang terang adalah ia benci bangsa Boan atau pemerintahnya, karena mana, ia pun tak sudi sambangi soesioknya Teng Kiam Beng.
Salah satu sebab dari ini adalah kebentjiannya kepada Soh Sian le, si hartawan Boan yang kejam, justeru dari, orang Boan ini ada sahabat kekal dari sang soesiok.
Merantau belum lama, Boe Wie telah tertarik oleh salah satu sahabatnya, hingga ia masuk menjadi anggota dari "Pie Sioe Hwee"
Perkumpulan rahasia Pisau Belati. yang utamakan pembunuhan kepada pembesar-pembesar rakus dan jahat."
Di zaman pergerakan mulai Thay PengThian Kok, Pie Sioe Hwee turut ambil bagian sebagai anak cabang, setelah gerakan Thay Peng itu gagal, Pie Sioe Hwee turut umpetkan diri, anggotanya semuajadi "orang gelap", selanjutnya mereka bekerja secara diam-diam.
Sebagai anggota Pie Sioe Hwee, beberapa kali pernah Boe Wie lakukan penyerangan gelap pada pernbesar-pembcsar kejam yang dimusuhi, hanya saban-saban ia nampak kegagalan; satu kali ia dapat binasakan satu tiehoe, tapi berbareng dengan itu, ia meninggalkan korban dua kawannya, sedang di lain harinya, menyusul lain-lain korban lagi, sebab di hari kedua itu, pembcsar negeri melakukan pembersihan, seratus lebih rakyat tak bersalah-dosa, kena ditawan.
Kemudian di han ketiga, datang tiehoe yang baru, dia ini ternyata ada lebih kejam pula, karena orang-orang baharu tersangkasaja, dia telah jatuhkan hukuman mati.
Korbankorban rakyat itu membuat Boe Wie menangis di dalam hati.
Sesudah ini, Boe Wie juga lantas dicari oleh pembesar negeri.
Di antara kaki-tangan pembesar negeri ada orangorang yang pandai, yang kesudian jadi pengkhianat bangsa Han, dari itu, ia jadi nampak kesulitan.
Sekarang ia tidak lagi merantau, ia hanya mengungsi, ia jadi pelarian.
la mesti pergi ke sana dan sini.
Oleh karena Derduka, tubuhnya jadi kurus.
Paling belakang, ia menyingkir jauh ke Djiat-hoo di Barat-Selatan.
Pada suatu malam, ia menumpang di rumah satu penduduk di kakinya Bukit Yan San.
Tuan rumah ada satu anggota Pie Sioe Hwee yang tidak pernah muncul, karena tugasnya adalah menyembunyikan kawan-kawan dalam pengungsian.
Berada seorang diri, dengan kupingnya dengar suara berbagai binatang alas di atas gunung, dengan sang angin menghembus-hembus, Boe Wie pikirkan penghidupan tak ketentuan itu, hingga ia tidak tahu, bagaimana nanti hari depannya.
Ia pun pikirkan tujuannya Pie Sioe Hwee.
Apa tidak ada Iain jalan dari pad a selalu mesti lakukan pembunuhan gelap?
Tidakkah pembunuhan gelap bukan suatu daya sempurna?
Maka iajadi bersangsi.
Tiba-tiba ia mendengar ketokan pada jendela.
Bercekat hatinya pelarian ini, hingga segera ia pikir, untuk meloncat keluar.
Tapi justeru itu, ia dengar suara rendah tapi angker, suaranya seorang tua.
"Bunga merah dan daun hijau adalah satu keluarga...."
Mendengar ini, Boe Wie tercengang. Tapi ia segera tanya.
"Kapankah, berbuahnya? Kapankah mekarnya?"
Suara yang dalam itu menjawab.
"Berbuah pada Pee-gwee Tjap-gouw, mekar pada Tjhia-gwee Tjap-gouw"*... Bunga merah dan daun hijau saling bercahaya seperti orang bersemangat dan orang berhati mulia adalah sekeluarga...."
Mendengar itu, Boe Wie bertepuk tangan satu kali, ia tertawa satu kali juga, atas mana, terlihatkan seorang tua, dengan kumis ubanan, mencelat masuk ke dalam rumah.
Sebab kata-kata mereka adalah kata-kata rahasia dari Pie Sioe Hwee.
Dengan tajam Boe Wie awasi orang tua itu, yang bajunya wama biru ada gerombongan, sedang itu waktu, di pcrmulaan musim dingin, bulan sepuluh, angin Utara ada dingin sekali.
Dari kumisnya yang putih, ia menduga pada usia atas enam puluh tahun.
Ia pikir, bagaimana orang ini punyakan tubuh kuat.
Maka ia percaya, dia ini mesti ada mcmpunyai kepandaian tinggi, hanya ia tidak ingat Pie Sioe Hwee mempunyai anggota .
tertua seperti orang ini.
Orang tua itu juga mengawasi Boe Wie akanakhirnya ia bersenyum.
"Apakah kau dari Golongan "Hok"?"
Ia tanya.
"Benar,"
Sahut Boe Wie, yang terus turunkan kedua tangannya, sebagai tanda hormat.
"Bagaimana Tjianpwee ketahui itu?"
Orang tua itu tertawa. llKau tidak kenal aku, aku sebaliknya kenal kau!"
Ia jawab.
"Kau toh ketahui, bukan, di antara tiga pendirinya Pie Sioe Hwee ada satu yang dipanggil In Tiong Kie?"
Hatinya Boe Wie jadi bercekat.
"Jadinya Tjianpwee adalah Loo-tjianpwee In Tiong Kie?"
Ia tegaskan. Memangdalam kalangan Pie Sioe Hwee ada pemecahan golongan atau tingkatan untuk anggota-anggotanya, terbagi delapan, dengan kata-kata "Kim auw hok kouw, Han tjok tiong kong", artinya.
"Tanah daerah kembali kuat, kebangsaan Han bercahaya pula". Dan In Tiong Kie -yang berarti "Keanehan dalam Awan" -masuk dalam Golongan "Kim". Dan dahulu pemah bunuh satu pwee-lek, pangeran bangsa Boan, dalam satu malam, melawan empat pahlawan istana, ia sudah binasakan tiga antaranya, karena hendak ditangkap, ia buron cntah kemana, hingga orang sangka ia sudah meninggal dunia, siapa tahu, malam ini ia muncul di Djiat-hoo lagi. Tidak berayal lagi, Boe Wie hunjuk hormat pula, setelah mana ia tanyakan maksud kedatangan tjianpwee ini -orang yang terlebih tinggi tingkatannya -hingga ia ketahui, orang benar datang untuk ia sendiri.
"Ketika dahulu aku pun mesti menyingkirkan diri seperti kau sekarang ini, aku ketemu satu sahabat asal Kwan-gwa,"
In Tiong Kie terangkan.
Baca Juga: Pendekar Gelandangan 2
Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 7