Kisah Dua Saudara Seperguruan 2

Eps 2 Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen.

"Sahabat ini telah ajak aku menyingkir lebih jauhke Liauw-tong. Sahabatku itu juga ada seorang luar biasa. Ia tidak setujui tujuannya Pie Sioe Hwee, yang main lakukan pembunuhan gelap. Sesudah satu hari dan satu malam kita berunding, akhimya aku dapat dibikin insyafdan, aku lepaskan cita-citaku, karena mana, aku terns tidak kembali pada Pie Sioe Hwee. Sahabatku itu tidak berhati dingin, dia hanya lagi tunggu ketika, akan bergerak pula. Paling belakang ini, aku dengar Pie Sioe Hwee ada punya satu anggota angkatan muda, yang ada gagah dan berani, yang katanya ada ahli waris dari Thay Kek Pay, siapa berulangulang sudah terjang bahaya. Aku sayangi pemuda itu, aku kuatir dia menjadi korban, justru aku pikir untuk cari dia, datang kabar bahwa ia lagi diuber-uber pembesar negeri, maka itu, aku lantas berangkat untuk cari dia...."

Mendengar ini, Boe Wie awasi dengan tajam pada orang tua itu, matanya bercahaya.

"Apakah Loo-tjianpwee suka ulangi padaku kat-katanya itu orang luar biasa yang menjadi sahabat Loo-tjianpwee?"

Tanyaia.

"Tanpa pembunuhan gelap habis kita ada mempunyai daya apa lagi?"

In Tiong Kie tertawa berkakakan.

"Aku sudah duga, pasti kau bakal menanya begini, Lauwtee!"

Berkata ia Boe Wie pasang kupingnya, matanya terns mengawasi.

"Ketika aku bertemu orang luar biasa itu, itu adalah di Gunung Siauw Hin An Nia,"

Si orang tua lantas bercerita.

"Aku sudah ditunjuki suatu pemandangan yang luar biasa sekali, yang sangat menarik hati. Itu adalah pertempurannya semut yang kecil dengan serigala yang besar...."

Boe Wie heran hingga ia pentang matanya dan memotong.

"Bagaimana semut bisa berkelahi melawan serigala?"

Ia tanya.

"Tapi itulah benar terjadi,"

Jawab In Tiong Kie sambil tertawa.

"Aku pun tak percaya itu apabila aku tak menyaksikannya sendiri. Kejadian pun ada sangat kebetulan. Beberapa ekor serigala mendekam beristirahat di bawah sebuah pohon, rupanya mereka terpisah dari kawan dan sedang lelah, di situ memang ada banyak semut hitam. Sekcjab saja, beberapa ekor serigala itu telah dikerumuni rombongan semut itu, mereka mengamuk hebat, tetapi semut datang semakin banyak, sampai tubuh mereka seperti tidak kelihatan, apa yang tertampak ada gumpalan hitam .saja. Serigala-serigala itu bergulingan, tetapi ini tidak menolong. Lewat sekian waktu, tubuh mereka berdiam, akan kemudian, tinggallah mereka punya tulang-tulang yang putih...."

Boe Wie. ulur lidahya.

"Begitu liehay semut itu.... kalau tidak, kita pun bisa jadi korbannya kawanan semut itu. Aku tercengang dan kagum atas apa yang aku saksikan itu. Setelah itu, sahabaku itu bilang padaku.

"Semut ada satu binatang kecil sekali, dengan dipencet dua jari, dia akan sudah terbmasa remuk-hancur, akan tetapi, apabila dia dapat kawan dan berombongan besar, mereka jadi sangat liehay. Inilah buktinya! Kalau rombongan semut ada demikian liehay, apapula manusia?"

Orang tua ini berhenti sebentar, ia pandang pemuda di depannya.

"Sampai di situ, Lauwtee,"

Kemudian ia menyambung lagi.

"Sahabatku si orang luar biasa itu hunjuk, manusia, apabila ia cuma terdiri dari beberapa orang, tidak perduli mereka gagah dan pandai bagaimana, sukar untuk mereka robohkan satu kerajaan yang sudah dalam dan kuat dasarnya. Pembunuhan gelap? Cuma satu pembcsar yang binasa, lalu datang lagi; beberapa pembesar, demikian seterusnya, .tidak terhitung jumlahnya. Kau sendiri umpamanya, berapa pembesar kau pernah binasakan? Sahabatku itu lalu menunjuk pada hikayat, pada pergerakannya Lie Giam di akhir Kerajaan Beng, pada pergerakan Kaum Thay Peng kita. Benar pemerintah tak dapat digempur tetapi toh sudah tergoncang juga. Tidak demikian kalau kita bekerja dengan seorang atau dua orang dengan rombongan yang sangat kecil."

Boe Wie memandang dengan berdiam, terang otaknya sedang bekerja.

"Jadinya Loo-tjianpwee inginkan aku juga meninggalkan Pie Sioe Hwee?"

Akhimya ia kata In Tiong Kie urut-urut kumisnya yang putih.

"Ya, Lauwtee, demikianlah ada maksudku"

Ia jawab.

Agaknya ia merasa pasti bahwa setelah dengar perkataannya itu, si anak muda akan dengar nasihatnya itu.

Akan tetapi, di luar dugaannya, Law Boe Wie berpikir Iain.

Setelah hidup terkatung-katung, pemuda ini jadi waspada, ia bercuriga terhadap siapa juga.

Bukankah In Tiong Kie -walaupun dia ada salah satu pendin Pie Sioe Hwee -sudah lama keluar dari perkumpulan itu?

Dan siapa tahu, apa gawenya sekarang ini bekas jago tua?

Kalau In Tiong Kie insyaf tujuan Pie Sioe Hwee keliru, kenapadiadiam saja, kenapa dia tidak kemukakan itu kepada perkumpulannya?

Dan kenapa In Tiong Kie justeru bemaung di Djiat-hoo, tanah airnya bangsa Boan?

Maka, apa tidak bisa jadi, sekarang In Tiong Kie sudah berserikat sama bangsa Boan itu?

Apakah bukan ia sedang hendak diperdayakan?

Dugaan Boe Wie terhadap In Tiong Kie adalah meleset.

Benar jago tua itu sedang undurkan diri tetapi dia memang ada berpemandangan lebih luas daripada orang-orang Pie Sioe Hwee.

Dia memang bermaksud baik dengan nasihatnya ini terhadap ini anak muda.

Adalah si anak muda sendiri, yang pikirannya lain.

Sesudah mengawasi dengan dingin, Boe Wie kata.

"Terima kasih banyak, Loo-tjianpwee, ke Kwan-gwa tak nanti aku pergi!"

In Tiong Kie tercengang, sikapnya jadi tawar. Lalu, iapun menghela napas dengan tiba-tiba.

"Jikalau begini putusanmu, Lauwtee, baiklah, aku hendak pergi saja!"

Berkata iakemudian.

"Umpama kata di lain waktu kau sudah sadar, kau boleh cari aku di Oey-See-Wie di Samseng, Ielan. Andaikata di sana kau tak dapat cari aku, kau bilang saja bahwa kau hendak cari Pek-djiauw Sin Eng Tokkoh Loo-enghiong, pasti kau akan menemui dia itu. Asa] kau ketemu loo-enghiong itu, kau bilang bahwa kau hendak can aku, itu sudah cukup! Nah, Lauwtee, kau pikirlah pula baikbaik. aku hendak pergi sekarangi"

Pengutaraan selamat tinggal itu ditutup dengan satu loncatan tenang tetapi gesit sekali, hingga selanj utn ya cuma suara angin yang terdengar pula, begitu pun suaranya binatang-binatang alas di atas gunung.

Boe Wie berdiri bagaikan patung, matanya mengawasi keluar, kemudian ia pergi ke pekarangan depan, akan awasi sang salju sampai sekian lama.

Besok paginya, ini anak muda rubuh karena serangan demam yang hebat, rupanya tadi malam ia kemasukan angin jahat dan jadi jatuh sakit.

Syukur buat dia, tuan rumahnya yang bemama The Sam, serta isterinya, ada baik hati dan suka rawat ia dengan sungguh-sungguh, maka selang dua hari, panasnya lenyap separuhnya, hanya karena itu, tubuhnyajadi lemah.

Selama dua hari itu Law Boe Wie senantiasa pikirkan katakatanya In Tiong Kie si orang tua itu, ia pun kuatirkan munculnya orang-orang polisi.

Benar ia tidak takut yang ia nanti kena dibekuk, tetapi ia kuatir tuan rumahnya nanti terembet-rembet.

Maka ia telah ambil putusan, asal sudah segar lagi sedikit, ia hendak angkat kaki.

Di lain malamnya, Boe Wie rasai panasnya jadi lebih banyak kurang, dari itu ia mulai pikir akan berangkat besok saja.

Apa mau, malam itu ada membawa lelakon.

Habis makan obat, ia rebahkan din, ia ingin tidur agar dapat beristirahat, siapa tahu, karena senantiasa ingat besok ia hendak merantau pula, ia sukar pulas.

Sampai tengah malam, sesudah lelah, baharulah ia Iayap-layap.

Matanya meram melek, tidak demikian dengan kupingnya yang jeli.

Tiba-tiba ia dengar suara berkeresek, suara itu pelahan akan tetapi segera ia dapat kenali, itu bukan suaranya daun rontok, hanya tindakan kaki satu ya-heng-djin, ialah orang biasa berjalan di waktu malam, kepandaian siapa belum sempurna betul, baharu jadi tujuh atau delapan bagian.

Di saat murid Thay Kek Pay ini hendak berbangkit, sekonyong-konyong ada menyambar angin dari jendela, dari mana pun berkelebatsatu cahaya putih bagaikan rantai perak, menuju pada pembaringannya, pada tubuhnya sendiri.

Ia kaget tetapi ia tabah, ia tidak lupai kcpandaiannya, maka ia ulur tangannya, akan tanggapi benda putih itu ketika si benda lewati sedikit padanya.

Nyata itu ada sebuah piauw.

Begitu lekas senjata rahasia itu sudah tergenggam dalam tangan kanannya, dengan gerakan "Lee hie ta teng"

Atau "Ikan trambra meletik", ia berloncat turun dari pembaringannya, tangannya dibarengi diayun ke arah jendela.

"Sahabat, ini aku kembalikan bingkisanmu!"

Katanya.

Di luar segera terdengar suara nyaring, tanda bahwa timpukan itu tidak mengenai sasarannya dan jatuh ke tanah, hanya setelah itu, di luar jendela lantas berpeta dua bayangan orang serta terdengar suara tertawanya nyaring, disusul sama ucapan.

"Ha, benar-benar dia ada di sini!"

Menyusul kata-kata itu, dua bayangan tersebut lompat masuk ke dalam!

Law Boe Wie segera menduga pada orang polisi, bahna kaget, ia sampai keluarkan keringat dingin.

Ia segera teringat pada tuan rumahnya, yang ia kuatir nanti dapat susah karena urusannya sendiri.

Tapi bahaya sudah datang, ia tidak boleh berayal, ia tidak bisa banyak pikir lagi maka ita, segera ia hunus pedangnya yang selamanya belum pernah terpisah jauh dari tubuhnya.

Dengan si-apkan senjatanya, ia awasi dengan tajam pada dua bayangan itu.

Dua orang itu berpotongan sedang, roman mukanya rada minp satu dengan lain, boleh jadi mereka engko dan adik.

Mereka masing-masing bersenjatakan Thie-tjio dan scbatang golok Tan-too, ialah dua macam gegaman yang biasa dipakai oleh orang-orang polisi.

"Sahabat, kau telah kepergok,"

Demikian salah seorang berkata.

Dia .berusia pertengahan."Baik kau berlaku gagah sebagai orang Kang-ouw sejati, kau turut aku pergi ke kantor pembesar ncgeri, supaya kau tidak membikin sukar pula pada kita duasaudara...."

Boe Wie memandang dengan mata melotot. Tahu pastilah ia sekarang bahwa ia lagi berhadapan sama orang-orang polisi. Maka ia jadi mendongkol.

"Ngaco!"

Ia membentak.

"Kau orang bangsa elang dan anjingnya pembesar negeri mau bicara tentang kehormatan orang Kang-ouw? Hm! Di sini toaya ada, jikalau kau ada mempunyai kepandaian, kau orang boleh bawa pergi!"

Sembari mengucap demikian, Boe Wie maju dengan matanya mengawasi dengan tajam. Dua orang itu benar berani, mereka tertawa pula.

"Jikalau demikian, sahabat baik, berkata mereka.

"harap kau tidak mengatakan aku dua Saudara Giam ada berlaku kasar kepadamu!"

Mendengar disebutnya Persaudaraan Giam, Boe Wie berdiri diam.

"Oh, kiranya kau orang ada Giam-kee Heng-te, Persaudaraan Giam!"

Is tegaskan.

"Kau orang jadinya ada orang-orang polisi Pakkhia yang kcnamaan! Maafkan aku yang sudah tidak kenali kau orang! Dari tempat ribuan lie kau orang telah susul aku, benar-benar kau orang telah bercapelelah.... Sahabat-sahabat baik, cara bagaimana aku bcrani membuat kau orang kcccle?"

Sahabat-sahabat, aku bersedia akan iringi kau orang, supaya kau orang peroleh kcnaikan pangkat dan kebahagiaan, hanya..."

Ia bersenyum ewah, ia angkat tangannya, yang mcncekal pedang.

"... hanya sayang sekali, senjataku ini menampik!"

Dua saudara Giam itu juga tertawa tawar.

Dua saudara ini, Tjin San dan Tjin Hay, memang terkenai, tetapi Boe Wie tidak takuti mereka, apapula ia memang paling benci hamba-hamba wet.

Ia tidak jerih sekalipun ia sedang sakit.

"Sahabat baik, kau manis sekali!"

Kata Tjin San.

"Kau mempunyai senjata, kitajuga! Baiklah, Sahabatku, lain tahun pada hari ini harian sembahyang kau satu tahun!"

Habis berkata begitu, dua saudara Giam itu geraki senjata mereka, akan tetapi Boe Wie mcndahului dengan "Peh tjoa touw sim"

Atau "Ular putih mcnghcmbuskan bisa"

Untuk tikam dadanya orang yang mcnjadi kanda. Dengan "Heng kee kirn Hang"

Atau "Melintang di atas penglari emas", Giam Tjin San tangkis tusukan itu, tetapi setclah senjata mereka beradu, keduanya mundur beberapa tindak.

"Aku tidak sangka, penyakitan seperti dia, punya tenaga begitu besar,"Tjin San berpikir. Sedang Boe Wie pun tidak nyana, hamba wet dari Pakkhia ini ada dcmi k ian tangguh. Habis mundur, Giam Tjin San maju pula, maka itu, keduanya sudah lantas bcrtcmpur. Giam Tjin Hay maju akan bantui engkonya. Thie-tjio dari Tjin San ada liehay, tidak kurang 1 iehaynya tan-too dari Tjin Hay, sebab dia ini mainkan itu dengan tangannya yang kiri. Sang adik ini adalah seorang "kidal". Dan mclayani seorang kidal memang rada sulit.... Boe Wie sedang sakit, tetapi kepandaiannya ilmu Thay Kek Pay mcnolong dia. Ilmu silat ini berpokok tenang, maka itu dengan ketenangan, kesabaran, ia bisa layani musuh. Coba ia tidak sedang sakit, dengan gampang ia bisa kalahkan dua orang polisi itu. Syukur tadi ia telah keluarkan keringat, dengan begitu, ia jadi dapat tenaga-Tapi, dasar lemah, ia kurang keuletan, tubuh kosong membuat asabatnya lemah juga, ia lantas merasakan pusing. Sesudah kira-kira lima puluh gebrak, Boe Wie merasai ia semakin lemah, karena ini, ia memikir untuk gunai tipu, kalau tidak, ia bisa celaka di tangan dua hamba negeri itu. Di waktu ia menangkis ke kanan, ia sengaja berlaku ayal, dengan begitu dadanya jadi terbuka. Giam Tjin San lihat lowongan itu, ia tidak bersangsi, akan dengan "Koay bong hoan sin"

Atau "Ular naga jumpalitan", dengan Thie-tjionya menyerang dada musuh itu.

Boe Wie tidak menangkis, ia mclainkan tarik tubuhnya ke belakang sedikit, tapi di sebelah itu, gesit luar biasa, ia putar balik tangan kanannya, pedangnya, dari luar ke dalam.

Ini adalah "Hoei ma kiam", atau "Loh-bee"

Pedang.

Lalu dengan "Giok lie touw tjiam", atau "Bidadari melempar jarum", ia teruskan menikam ulu hatinya.

Tjin San kaget, ia pun tidak sempat gunai pula senjatanya, terpaksa ia egos kaki kanannya, akan buang diri ke kanan dengan mundur sedikit, hingga tubuhnya jadi sempoyongan, sekalipun demikian, ia masih kurang sebat, ujung pedang telah mengenai lengannya, hingga darahnya lantas bercucuran; dengan kesakitan, ia jatuhkan diri, akan menyingkir sambil bergulingan ke arah pintu.

Boe Wie niat susul musuh itu, akan tetapi, seumpama "cengcorang hendak menawan tonggeret, burung gereja ada di belakangnya", demikian Tjin Hay si kidal,dia ini menyambar 4engan goloknya, untuk tolongi saudaranya.

Dia membacok bebokong dengan tipu "Lian-hoan Tjin-pou-samtoo"

Atau "Tiga bacokan saling susul". Murid Thay Kek Pay itu dengar sambaran angin di belakang, ia tidak sempat putar tubuhnya lagi, maka untuk singkirkan bahaya, kembali ia gunai "Hoei-ma-kiam"

Dengan apa ia tangkis golok lawan.

Karena ini, sekarang ia mesti layani satu sama satu pada si orang she Giam yang kedua.

Tapi iatetap lelah, kepalanya pusing, kakinya limbung....

Tjin San lolos dari ancaman kepungan, dengan hati lega, ia lompat bangun.

Ia Iupai lukanyadi lengan, ia balik maju, akan bantu adiknya mengepung musuh.

Bukan main sibuknya Law Boe Wie.

Untuk satu Giam Tjin Hay, ia sudah kewalahan, bagaimana kalau Giam Tjin San kerubuti ia?

Selagi Tjin San mendatangi dekat, dengan tiba-tiba ia menjerit dan rubuh terguling, hampir berbareng dengan mana, Tjin Hay juga menjerit, dia ini segera loncat keluarkalangan.

The Sam dan isterinya sudah tidur ketika pertcmpuran dimulai, suara berisik menyebabkan mereka tersadar, maka mereka kaget sekali dan berkuatir, kapan mereka mengintip dan lihat kawan mereka, si penumpang, lagi dikepung musuhmusuh.

Mereka tidak punya kepandaian berarti, nyali mereka suami-isteri ada kecil, dari itu mereka tidak lantas maju, untuk membaniui.

Di matanya dua saudara Giam, mereka jugadisangka ada pcnduduk biasa saja, mereka tidak dicurigai.

Siapa tahu, mereka ini cerdik, mereka tunggu waktu, di saat Boe Wie tcrancam, selagi musuh-musuhnya membelakangi mereka, keduanya muncul dengan berbareng, dengan pisau belati mereka menimpuk.

Tjin San kena tertikam bebokongnya, itulah sebabnya kenapa ia rubuh sendirinya.

la jadi korbannya nyonya The Sam.

Pisaunya The Sam scndiri mengenai lengannya Tjin Hay, lcngan kanan, yang tens mcngucurkan darah.

Kanda itu tidak binasa karenanya, malah ia jadi sangat gusar, maka dengan kuati hati, ia lompat bangun, ia terjang suami-isteri pembokong itu.

Percuma saja tuan dan nyonya rumah mencoba bikin perl a wan an.

sambil keluarkan jeritan mengerikan, mereka rubuh saiing ganti di bawah hajaran sepasang Thie-tjio dari si orang polisi dari Pakkhia.

Boe Wie kuatir tuan rumahnya turut bercelaka karena ia, siapa tahu, sekarang mereka itu berkorban sekali.

Ia menyesal, karena lelahnya, sebab kepala pusing, ia tidak dapat menolong suami-isteri itu.

Tapi ia pun sengit, hingga seperti kalap, ia terjang Tjin Hay siapa sedang kesakitan, sampai goloknya tak dapat digunai sebagai bermula, hingga dalam repotnya, dia kena dibabat pedang beberapa kali, hingga dia rubuh dengan mandi darah.

Cepat Boe Wie lompat pada The Sam dan isteri; untuk perihnya hati, iadapati mereka sudah mandi darah, tubuh mereka rebah di samping tubuhnya Tjin San.

Rupanya dia ini, sehabis lampiaskan sakit hatinya pada suami-isteri itu, rubuh pula saking lelah dan sakit.

"Sahabat baik, kau menang...."

Kata Tjin San dengan lemah, matanya separuh tertutup. Ia lihat musuhnya dan mengenalinya.

"Tapi kau jangan berpuas hati, karena sarangmu di Kang-lam sudah digulung! Percaya, kau juga tidak terus bakal lolos...."

Habis kata begitu, Tjin San tarik napasnya yang penghabisan, mukanya kasih lihat senyuman iblis. Boe Wie hampirkan The Sam akan raba tubuhnya.

"Aku sudah tidak berdaya lagi,"

Kata tuan rumah dengan suara pelahan sekali.

"Pergilah kau, lekasan! Aku belum kasih tahu kau tentang kabar yang aku dapat kemarin.... Memang sarang kita di Shoatang sudah kena diubrak-abrik! Pergilah kau, lebih baik ke Liauw-tong!...."

Ia berkelejat kaki tangannya, ia pun susul Tjin San kelain dunia.

Rohnya Nyonya The Sam sendiri sudah pergi terlebih dahulu....

Melihat mayat-mayat itu, air mata Boe Wie meleleh keluar.

Ia sudah bebas, tapi ia telah celakai tuan rumah suami-isteri.

Dengan begini menjadi lebih nyata, ia benar tak dapat berdiam lebih lama pula di Kwan-lwee!

Maka ia jadi ingat In Tiong Kie serta kata-katanya orang tua itu.

"Biar aku pergi ke Shoatang akan lihat apa aku bisa bikin di sana..."

Begitu ia ambil putusan.

Maka setelah siap, malammalam juga ia angkat kaki....

IV Sesampainya di Liauw-tong, Boe Wie telah lewati tempo beberapa bulan untuk pergi sana dan pergi smi, baharu ia sampai di Oey-see-wie, di mana ia berhasil-menemui Tok-koh It Hang, jago tua yang bergelar Pek-djiauw Sin Eng, si Garuda Malaikat Seratus Cakar.

Di sini tak usahlah dituturkan perihal perantauannya beberapa bulan itu.

Hanya, selama berada di Liauw-tong, berubahlah pandangannya terhadap bangsa Boan seumumnya.

Nyata bangsa itu berbeda sikap daripada pemerintahnya.

Mereka hidup bertani, raj in dan ramahtamah, sama seperti bangsa Han sendiri.

Yang busuk atau jahat, adalah golongan pembesar negeri atau tuan tanah, dan golongan ini pun dibenci mereka.

Sekarang tak lagi ia merasa heran, kenapa In Tiong Kie menyingkir ke daerah perbatasan ini dan betah berdiam di sini.

Mulanya bertemu sama Tok-koh It Hang, Boe Wie tidak sebut-sebut In Tiong Kie, iapun tidak pakai cara kunjungannya orang Kang-ouw, sebaliknya ia berpura-pura sebagai satu pengungsi.

Sebab sudah biasanya bagi ia untuk waspada.

Selama itu, ia belum tahu, jago tua itu ada orang macam apa.

Tok-koh It Hang bukan melainkan pandai silat, pengalamannya pun luas, matanya tajam, satu kali saja ia lihat tampangnya si pelarian ini, ia percaya orang bukannya orang sembarangan.

Ia terutama lihat tegas sinar mata yang tajam dari orang ini.

Maka ia pun curiga dan sangka orang hendak can tahu hal-ihwalnya.

Karena ini, tidak ayal lagi, ia ajak Boe Wie main-main untuk beberapa jurus saja.

Tadinya Boe Wie menampik, ia merendah, tetapi iasebenarnyaingin ketahui kepandaiannya jago tua itu, maka akhirnya, ia terima tantangan.

Adalah setelah keduanya bergebrak, Boe Wie mengerti, lawan tua ini ada jauh lebih liehay daripada ia, terpaksa siang-siang ia keluarkan kepandaiannya -ilmu Thay Kek Pay -untuk bisa melayani terlebih jauh.

Setelah berselang sedikit waktu.

Boe Wie insyaf benarbenar bahwa ia bukan tandingannya jago tua itu.

Jangan kata tubuhnya, bajunya saja ia tidak mampu langgar.

Di sebelah itu, ia sendiri merasai tangannya sesemutan, entah dengan cara bagaimana ia diserangnya.

Dengan sendirinya, ia keluarkan keringat dingin.

Di saat muridnya Lioe Kiam Gim hendak loncat keluar kalangan, mcndadakan si orang tua berseru.

"Kau sebenamya keluaran Thay Kek Pay mana? Lekas bilang supaya tidak terbit salah mengerti!"

Sampai di situ, Boe Wie tunduk benar-bcnar. maka ia terus perkcnalkan dirinya, mendengar mana, si orang tua tertawa berkakakan.

"Jadinya kau ada mund kepala dan Lioe Kiam Gim? Pantas kau begird liehay!"

Bcrkata ia.

"Sudah beberapa puluh jurus aku lawan kau, baharulah di dua jums yang terakhir aku bisa atasi padamu. Dalam halnya kau ini, bukannya ilmu silat Thay Kek yang kurang sempurna, itu adalah latihan kau sendiri yang masih kurang."

Keduanya sekarang bicara secara asyik sekali, sampai Boe Wie tanya, Pek-djiauw Sin Eng ada punya perhubungan apa dengan In Tiong Kie. Ditanya begini, Tok-koh It Hang heran, ia mengawasi dengan tajam.

"Apakah kau ada dari pihak Pek Sioe H wee?-akhimya ia tegaskan. Boe Wie cuma bersangsi-sebentaran, ia lantas manggut.

"Benar,"

Ia jawab.

"Teetjoe ada dari Golongan Hok. Bagaimana Lootjianpwee bisa menduga begitu jitu?"

Jago tua itu tertawa.

"In Tiong Kie pernah beritaliukan aku, bahwa kau ada satu angkatan mudayang gagah dari Pie Sioe Hwee,"

Ia jawab.

"Karena tcrkabar kau lagi diarah oleh pemerintah Boan, pada beberapa bulan yang lalu, In Tiong Kie sudah pergi ke Kwangwa untuk can kau. Kau sebut dia itu, mestinya kau telah bertemu dengannya. Sekarang kau telah sampai di sana, baik untuk sementara kau jangan pulang dulu."

Boe Wie berpikir -ia berpikir dengan keras, lalu ia berbangkit, akan terus menjura pada tuan rumahnya.

"Taruh kata tee-tjoe berniat pulang, itu tak dapat dilakukan lagi,"

Kata ia "Sekarang tee-tjoe insyaf, teetjoe tidak pikir pula untuk lakukan pembuhuhan-pembunuhan gclap.

Malah teetjoe ingin tetap tinggal di sini.

Tee-tjoe mohon Lootjianpwee tcnma aku sebagai murid, untuk aku menambah pengetahuan...."

Boe Wie hendak berlutut, tapi Tok-koh It Hang segera mencegahnya dengan cepat cekal lengannya, untuk dikasih bangun.

"Tidak, Lauwtee, tak berani aku terima kau sebagai muridku,"

Berkata ia.

"Aku tidak punya kepandaian untuk diturunkan kepada kau. Aku belum kenal pribadi dengan Lioe Loo kauwsoe, tetapi dia adalah orang yang aku kagumi, dari itu, tak dapat aku terima murid kepalanya, sebagai muridku. Aku tidak bisa."

Walaupun orang menolak, Boe Wie masih mendesak.

Ia kata ia bukan hendak meninggalkan Lioe Kiam Gim sebagai guru, tetapi ia tak ingin kembali ke Kwan-lwee, ia ingin tetap tinggal di Kwan-gwa ini, dari itu, pantas kalau ia yakinkan ilmu silat terlebih jauh, sedang buat cari guru yang pandai, itulah sukar sekali.

Ia juga hunjuk, dahulu gurunya pernah pesan untuk ia menambah pelajaran dari Iain-lain cabang kaum persilatan, jadi tidak ada halangannya untuk ia berguru pada lain ahli silat.

Oi dalam kalangan persilatan, memang ada aturan umum, bi la dengan pcrsctujuannya sang guru, sang murid boleh bclajar lebih jauh pada Iain-lain guru.

Lioe Kiam Gim taat pada itu aturan, maka itu, ia berikan kemerdekaan dan izinnya pada murid kepalanya ini.

Tok-koh It Hang bukannya tak sudi dapat murid sebagai Law Boe Wie, adalah itu aturan umum, yang ia tidak berani langgar, tapi sekarang ia dengar keterangannya pemuda ini -yang ia percaya-hatinya jadi girang.

Hanya karena Boe Wie benar-benar lichay, ia tidak pandang dia sebagai murid yang biasa, ia pandang sebagai separuh kawan saja.

"Kau tidak ingin kembali kepada Pie Sioe Hwee, itulah tepat, Lauwtee,"

Kemudian ia kata.

"Pembunuhanpembunuhan gelap bukannya daya untuk mewujudkan usaha besar. Hanya, apabila kau jadi tawar karenanya, itu pun keliru. Tanpa menumpahkan darah, cara bagaimana bangsa Ouw itu bisa digulingkan dan diusir? Tanpa tindakan itu, bagaimana bisa ditumpas itu segolongan orang-orang berpengaruh yangjahat dan kejam? Darah mesti dikucurkan secara berharga, bukan seperti caranya Pie Sioe Hwee."

Boe Wie ketarik dengan perundingannya ini guru baru, hatinya jadi terbuka.

"Aku ada lagi satu contohnya,"

Tok-koh It Hang berkata lebih jauh.

"Berbatasan dengan daerah Liauw-tong ini ada sebuah negeri yang dinamakan Rusia, rajanya dipanggil czar. Raja itu ada kejam, banyak rakyatnya yang dibuang ke batas Liauw-tong, ialah Siberia, dari itu, ada di antara rakyat itu yang nyelundup ke Liauw-tong. Menurut pelarian ini, Russia juga punyakan semacam perkumpulan mirip Pie Sioe Hwee, yang bertujuan menggulingkan rajanya. Kau harus mengerti, perkumpulan rahasia itu ada terlebih besar dari perkumpulan kita. Kita hanya binasakan satu-dua pembesar negeri, tapi dia bisa binasakan rajanya Itu telah terjadi belum seberapa lama ini. Tapi, satu raja telah binasa, Iain raja muncul sebagai gantinya, perkumpulan itu tetap tak dapat capai maksudnya. Maka kemudian orang Rusia namakan pembunuh gelap yang berani itu sebagai pendekar lacur yang tak berharga satu sen!"

Mendengar ini, Boe Wie menyengir.

Demikian selanjutnya, Boe Wie tinggal menumpang sama Tok-Koh It Hans, yang terima dirinya sebagai separuh guru, hingga ia sendiri jadi sebagai "separuh murid", tapi toh ia telah terima pelajaran sepenuhnya.

Tok-koh It Hang bergelar Pek-Djiauw Sin Eng, bisa dimengerti kepandaiannya yang tinggi.

Ilmu silatnya berdasarkan Golongan "Eng Djiauw Boen" -Cakar Garuda, di sebelah itu, ia ciptakan sendiri ilmu pukulan kim-na-tjhioe-hoat yang terdiri dan delapan kali delapan -enam puluh empat jums.

Ia utamakan kegesitan tubuh, seperti garuda melayang menyambar.

Tapi kim-na-hoat ini scbaliknya da ri pad a Thaykek-koen.

Kalau Thay-kek-koen ada "dengan lemas melawan yang keras", kim-na-hoat adalah "sambil menyerang, membela diri".

kim-na-hoat gabungkan "luar"

Dan "dalam"

Jadi satu.

Ia dapati julukannya justeru karena kegesitannya itu bagaikan garuda Tok-koh ada she atau nama keluarga asal orang asing (Ouw) tetapi itu -dari barat-selatan -telah masuk ke Tionggoan sejak AhalaTong, hingga di zaman itu sudah diakui sebagai nama keluarga orang Han.

Umpama ma-tua dari Tong Thay-tjong Lie Sie pin, ia ada orang she Tok-koh.

Tok-koh It Hang ada asal Kwan-Iwee, karena singkirkan diri, ia jadi tinggal menetap di Liauw-tong.

Ia pun tadinya beranggapan sebagai Boe Wie, ia duga sukar untuk ia tinggal sekian lama di tempat baru ini, anggajjjlflfiya jadi berubah.

Sebab urnumnyaroRyat Boan ada sama seperti di Tionggoan, rupanya ini disebabkan, penduduk Liauw-tong adalah bangsanya sendiri dan dari itu, tidak perlu ditilik keras.

Beberapa tahun Law Boe Wie tinggal bersama Tok-koh It Hang, tidak pernah ia abaikan ilmu silatnya, tidak heran, kalau ia peroleh kemajuan.

Di samping itu, ia terus suka berunding s%na gurunya itu, terutama mengenai pemerintah Boan serta sepak-terjang kebangsaan dari rakyat Tiongkok asli, umpama Lie Tjoe Sen dan Ang Sioe Tjoan dari Thay Peng Thian Koife Itu waktu, sehabis kegagalan Kaum Thay Peng, kedudukan pemerintah Boan makin kuat, karena bangsa asing mcmbantu padanya.

Cita-citanya Tok-koh It Hang adalah mengumpul kawan, tidak fcekerja sama-sama pemerintah, flfnenunggu waktu, buat justeru bikin terguling pemerintah itu.

Boe Wie memang sudah punya dasar baik, dalam tempo empat-lima tahun saja, ia telah bisa wariskan Tok-koh It Hang punya enam puluh empat j"uros kim-na-tjhioe-hoat, serta tujuh puluh dua jalan ilmu pedang "Hoei Eng Tjiong-soan Kiam"

Atau "Burung garuda terbang berputaran".

Malah dari In Tiong kie, yang dating kepadanya setelah setengah tahun ia sampai di Liauw-tong, ia dapat pelajaran kepandaian "mengenai senjata rahasia dengan mendengar suara anginnya saja.

Dua-dua Tok-koh It Hang dan In Tiong Kie kagumi dan hormati Lioe Kiam Gim, tetapi mercka tidak sukai Teng Kiam Beng, soeteenya orang itu, apapula sekembalinya dari Kwan-I wee -Tionggoan -In Tiong Kie telah bawa cerita bahwa ahli waris Thay Kek Pay itu -yang kesohor Thay-kek-kiamnya, Thay-kek-koen dan Kim-tjhie-piauw sudah jadi angkuh terhadap kaum Kang-ouw dan telah bergaul rapat dengan pihak pembesar negeri, hingga dengan sendirinya dia itu jauhkan diri dari Rimba Persilatan.

Pun ada banyak orang Kang-ouw yang tidak puas terhadap orang she Teng jtu.

"Pastilah akan ada satu hari, dengan sepasang telapakan tanganku yang hanya berdaging ini, aku nanti coba-coba semua tiga macam kepandaiannya itu!"

Kata Tok-koh It Hang sambil tertawa apabila ia dengar keterangan sahabatnya.

Law Boe Wie dengar perkataannya jago tua ini, hatinya bercekat, akan tetapi ia diam saja.

Ia memang tidak puas terhadap sepak-terjangnya soesioknya itu, sudah begitur, ia juga tidak ketahui jelas keadaan orang.

Lima tahun sudah lewat sejak Boe Wie ikuti Tok-koh It Hang, perubahan telah banyak terjadi.

Sarangnya Pie Sioe Hwee telah digulung sejak lama, maka itu pengawasan pembesar negera terhadap perkumputan rahasia itu telah jadi kurangan, apa pula Boe Wie yang tadinya dikepung-kepung, seperti lenyap dari muka bumi.

Karena ini, dengan tidak sangsi-sangsi, Boe Wie bersedia akan kembal i ke Kwan-Iwee, ketika gurunya tugaskan dia merantau akan cari kawan-kawan sekerja.

Hanya, bcgitu lekas ia mcmasuki Kwan-lwee, ia dengar satu perkara penting sebab mana ia terpaksa tunda dulu tugasnya.

Perkara apakah yang penting itu?

Itu adalah halnya itu perampasan barang upeti yang dilindungi Teng Kiam Beng, yang kena dibegal di tempat tiga puluh lie di Hee-poan-shiadi Djiat-hoo, bahwa yang lakukan itu ada scorang tua dengan lidah Liauw-tong.

Kejadian itu ada menggemparkan, karena Teng Kiam Beng, ahli waris Thay Kek Pay, kena dibikin malu.

Caranya adalah, si orang tua asal Liauw-tong bertangan kosong tetapi Kiam Beng sudah gunai pedangnya, kepalannya, dan piauwnya juga dengan sia-sia.

Kemudian menyusul kabar bahwa Lioe Kiam Gim, soeheng dan Teng Kiam Beng, yang telah hidup menyendiri di Kho Kee Po, sudah berangkat ke Utara, untuk mana.

Lioe Kiam Gim telah minta bantuannya orang-orang tua yang kenamaan.

Kejadian itu telah jadi buah pembicaraan urnum, terutama karena orang menduga-duga, siapa si orang .

tua Liauw-tong itu, apa Lioe Kiam Gim bakal adu kepandaian sama orang tua itu, dan bagaimana nanti kesudahannya, siapa menang, siapa kalah?

Oleh karena si begai tua disebut asal Li auw-tong.

Law Boe Wie segera juga sangka "separuh gurunya"

Tok-koh It Hang.

Jago tua ini pemah kata ia hendak coba-coba Teng Kiam Beng deagan tangan kosong saja.

Kalau ini dugaan benar, itulah hebat, scbab dua-dua Kiam Gim dan It Hang adalah gurunya sendiri.

Kalau dua harimau berkelahi.

sal ah satu mesti celaka.

Dan kedua guru itu sama-sama liehay!

"Orang lain boleh menonton, tetapi aku tidak!"

Pikir Boe Wie.

"Aku mesti damaikan mereka!"

Lantaran ini, seteiah bersangsi lama, Boe Wie ambil putusan akan pergi ke Djiat-hoo.

akan can dua-dua gurunya itu, akan tetapi, justcru beg-itu, mendadakan ia tcrima satu kabar Iain, hingga ia mesti batalkan dahulu keberangkatannya ke Djiat-hoo dan mesti segera pergi ke Kho Kee Po!

Selama bikin perjalanan ini.

Law Boe Wie tidak pakai namanya Tok-koh It Hang.

Sebabnya ialah.

kesatu, Tok-koh It Hang sudah asing dengan keadaan di Tionggoan, dan kedua, di sebelah itu, namanya Boe Wie ada tersohor dan dia sudah punya banyak kenalan atau sahabat, karena, dia adalah tokoh terkenal dari Pie Sioe Hwee.

Boe Wie terima kabar penting itu selagi ia berada di pusat Hay Yang Pang di Pou-tay, Shoatang, sebagai tetamu dari wakdl kepala kaum itu, sebab pemimpinnya lagi berpergian.

Untuk berpisah dari satu sahabat itu, guna cegah rahasia bocor, ia tidak berani sebut terang-terang hendak pergi ke Djiat-hoo.

Hoe-totjoe atau wakil Ketua dari Hay Yang Pang bernama Ie Tjee Ban, ia sudah berumur lima puluh tahun lebih tapi dengan Boe Wie, ia berbahasa.-..

cngko dan adik, pcrhubungan yang rapat ini bukan sebab pcrkcnalan saja hanya mereka pcrnah saling bantu, dan wakil ketua itu sangat hargai Boe Wie yang kosen dan djiatsim, scbagaimana Boe Wie meenghargai kejujuran orang.

Sebenarnya Boe Wie belum tahu jelas asal-usulnya Ie Tjee Ban kecuali ia dengar, dia ini ada keluarga golongan RimbaHijau.

Law Boe Wie mesti berangkat dengan tiba-tiba, tapi Ie Tjee Ban tak izinkan dia pergi sebelum mereka dahar dan minum arak dulu, maka kesudahannya, berdua mereka duduk berjamu.

Mereka masing-masing tenggak beberapa cawan, mereka dahar dan mengobrol dengan asyik, sampai satu kali, tuan rumah timbulkan satu soal.

"Lauwtee,"

Demikian kata tuan rumah itu.

"kau muda dan gagah, dimana-mana orang hormati kau, tetapi aku, si tuabangka, orang pandang tak berguna. Ada orang ajak aku bckerja untuk dianya, orang bujuki aku bahwa hari depanku penuh pengharapan. Terang orang tak lihat aku karena aku jadi wakil dari suatu kawanan kecil.... Aku hilang muka!"

"Urusan apakah itu, Lauwko?"

Tanya Boe Wie dengan heran.

"Kenapa Lauwko mesti hi lang muka? Kita toh merdeka, kita tidak mcngandal i pangreh-praja?"

"Kau benar, Lauwtee, tetapi orang telah bujuki aku, katanya sayang aku jadi wakil saja. Sebaliknya, mereka ingin aku bckerja untuknya, katanya, hari depanku penuh pengharapan.... Teranglah dengan itu orang pandang enteng padaku!"

Boe Wie tidak mengcrti, ia minta keterangan.

"Itulah ketuaku yang lama, yang ajak aku!"

Kata Ie Tjee Ban kemudian.

"Sebaliknya aneh! Ketua itu telah menghilang dua puluh tahun lebih, atau sekarang ia muncul sebagai pahlawan dari Istana Raja Boan. Dia ajak aku bekerja ke Inkoan, katanya sebab aku ketahui baik Propinsi Shoatang ini."

Hatinya Boe Wie bercekat.

In-koan ada distrik di mana ada tinggal gurunya.

Lioe Kiam Gim.

Kho Kee Po masuk dalam wilayah distrik itu.

Ia tidak ketahui jelas hati Ie Tjee Ban, dari itu, ia pun tidak tahu hal ketua lama dari sahabat ini.

"Untuk apa minta bantuan Lauwko diminta?"

Ia tanya.

"Siapa tahu?"

Jawab Ie Tjee Ban.

"Dia tidak mau menerangkarmya, dia cuma kata urusan penting. Aku percaya, itu ada hal untuk bikin orang celaka...."

Meski demikian, Ketua Muda Hay Yang Pang ini berikan keterangannya lebih jauh.

"Kau pasti tidak tahu, karena itu mengenai hal dua puluh tahun yang lalu, ketika kau masih kecil,"

Kata ia.

"Itu waktu di daerah Seetjoan Barat, Lo-kee Ngo Houw, atau Lima Saudara Harimau She Lo, ada sangat kesohor. Dan aku ada salah satu kacungnya. Mereka berkepandaian ti nggi tapi aku tidak tahu hal-ihwal mereka, mereka mirip dengan orang Rimba Hijau. Di Seetjoan Barat, mereka tidak bisa tancap kaki, mereka buron ke Utara, tapi di sini, mereka bisa bekerja sama pembesar negeri, kedua pihak tidak saling ganggu, bila mereka peroieh hasil, mereka bagi hasil itu kepada pangreh-praja setempat. Mereka biasa membegal dan memeras penduduk. Belakangan aku dengar di Djie-tjoe, Shoasay, mereka kena dilabrak satu nona, malah Lo Sam Houw, hilang jiwanya. Kejadian mi membuat rombongan mereka buyar, maka kemudian, aku masuk dalam Hay Yang Pang. Karena hilang satu saudaranya, Lo-kee Ngo Houw berubah jadi Lo-kee Soe-houw -Empat Harimau She Lo. Mereka menghilang, sampai tahu tahu, sekarang mereka jadi pahlawan Raja Boan. Sebenarnya aku jemu bercampur pula sama mereka, apa mau, mereka telah datang can aku, mereka hen dak gunakan aku scbagai pcrkakas. Coba tidak bukan pada kau, Lauwtee, sungguh aku tak sudi merijeiaskan ini...."

Tapi keterangan itu pun sudah cukup untuk Boe Wie.

la malah ketahui lebih banyak tentang permusuhan antara Keluarga Lo dan Keiuaiga Lioe Kiam Gim dan In Giok bersama Lauw Tian Peng adalah hajar Lima Harimau Keluarga Lo itu.

Kebinasaan Sam Houw di tangan In Giok menyebabkan orang katakan si nona ada nona gagah yaag ajaib!

Pun, waktu hendak mulai pergi merantau, Kiam Gim pesan muridnya ini sekalian dengar-dengar perihal pcrsaudaraan Lo itu, maka kebetuIan sekali, sekarang ia dengar kabar penting itu.

"Ini tahun ada tahun luar biasa untuk aku!"

Kata Ie Tjee Ban, sesudah ia tenggak beberapa cawan pula.

"Sudah aku ketemui ketua lamaku,. juga ketuaku sendiri telah dapat maiu dari seorang tua yang tidak dikenal, sesudah mana orang datarg untuk bersahabat sama dia."

UPantas kemarin ini Toa-totjoe pergi dan terus tidak kembali,"

Boe Wie kata.

"Ya, itulah sebabnya,"

Ie Tjee Ban bilang.

uIa mau pergi ke pusat kita di Lek-shia, akan can tahu tentang orang tua itu.

Lauwtee tentu belum tahu duduknya hai, nanti aku tuturkan.

Toa-totjoe telah terima laporan ada beberapa orang asing, yang rornannya mencurigai, lagu-suaranya beda satu dari lain, dandanannyajuga berlainan.

Mereka tidak bawa barang berharga tetapi sembunyikan senjata.

Mereka tidak memasuki Kota Pou-tay untuk mondok, hanya pergi ambil tempat di kuil rusak beberapa lie di luar kota.

Atas itu, Toa-totjoe larang orang banyak omong, ia sendiri ajak dua kawan, untuk pergi bikin penyel jdjkan secara diam-diam ke kuil itu.

Kebetulan dari Lek-shia ada datang dua saudara kita, yang ilmu silatnya boleh diandali.

Siapa tahu, sesampainya di kuil, mereka kena dipermainkan.

Mereka bcrtiga memang tak dapat dibandingkan dengan kau, Lauwtee, tetapi mereka boleh diandalkan, tapi mereka toh kecele.

Malam itu tidak ada cahaya rembulan.

Mereka sampai kira-kira jam tiga lewat.

Dari atas genteng di mana mereka mendekam, mereka dengar suara menggeros keras.

Dengan gelantungi tubuh di payon, Toa-totjoe mengintip ke dalam.

Kuil ada gelap, ia tidak lihat suatu apa.

Tiba-tiba ia rasakan sebelah kakinya, yang dicanteldi payon, ada yang tank, maka segera-ia putar tubuhnya, akan naik pula ke genteng.

Antara berkesiurnya angin dengar suara anjing dari kejauhan.

Tidak jauh daripadanya, dua kawannya lagi memandang ke sekelilingnya.

IaJantas tanya dua kawan itu, mereka Jiflm apa dan kenapa mereka tarik kakinya.

Ditanya begitu, kedua kawan itu mengawasi, mereka kelihatannya heran dan duka.

Mereka tidak tarik kakinya Toa-totjoe, malah mereka sendiri mcrasa scperti ada kebut dengan pelahan.

Bertiga, rnerekajadi melengak.

Justeru itu, dari samping, mereka dengar satu suara dalam dari seorang tua.

"Aku di sini, kau orang nyata tak dapat lihat padaku! Buat apa kau orang keheranan tak keruan?"

Mereka terperanjat, mereka menoleh dengan segera. Mereka lihat seorang tua berdiri di dekat mereka! Orang tua ini lantas tertawa, ia kata pula.

"Bukanlah gampang bahwa Tuan yang terhormat datang dari tempat yang jauh, silakan kita turun ke pekarangan kosong di bawah sana untuk mainmain! Kenapa eh -kenapa kau orang bersangsi? Apa kau orang takut? Apa kau orang jerih melihat banyak kawanku? Tidak, asal aku suruh seorang saja bantui aku, aku berlaku tak pantas pada kau orang, sahabat-sahabatku!"

Bercerita sampai di situ, Ie Tjee Ban berhenti sebentar, ia hirup pula araknya.

"Atas tantangan itu, Toa-totjoe jadi gusar dan terpaksa menerimanya,"

Kemudian ia melanjutkan.

"Mereka turun ke tanah dan lantas bertempur. Belum ada sepuiuh jurus, Toatotjoe sudah dibikm sibuk dan mandi keringat oleh pedangnya orang itu yang sambar sana dan sambar sini, ke bagian anggota-anggota yang berbahaya, tapi toh tidak pemah ujung pedang mengenai sasarannya. Di sebelah itu, sambil bertempur, orang tua itu saban-saban ngoceh, menganjurkan kedua kawan Toa-totjoe maju akan bantu Toa-totjoe mengepung padanya. Tentu saja kedua kawan itu jadi gusar, hingga mereka tak takut nanti ditertawai orang, mereka maju, akan mengerubuti. Mereka bertiga, tapi akhirnya, mereka sendiri yang kena dibikin repot, sampai sukar untuk mereka meloloskan diri. Sementara itu, rombongannya si orang tua muncul semua, mereka berdiri menonton, mereka pada tertawa, tidak ada satu yang bantui orang tua itu. Untuk setengah jam, Toa-totjoe bertiga di buat pcrmai nan, selagi mereka sangat malu, jengkel dan mendongkol, tiba-tiba si orang tua menghentikan pertandingan dan mengajak ikat persahabatan. Dia mengaku dari Heng Ie Pay, bahwa dia kebetulan lewat di Pou-tay, sama sekali mereka tidak bcrniat kurang baik. Orang tua itu tanya kedudukannya Toa-totjoe di dalam Hay Yang Pang, habis itu dia nyatakan, sama-sama orang Kang-ouw, ia harap kedua pihak suka saling bantu. Secara begini, Toa-torjoe terlolos dari bahaya, ia menghaturkan maaf, kemudian ia ajak dua kawannya pulang. Ketika ditanya she dan namanya, orang tua itu menampik, ia hanya bilang, bila ada ketikanya, ia akan.datang mengunjungi. Orang tua itu ngaku dari Heng Ie Pay, ia benar perlihatkan bebcrapa jurus pukulan kaum itu, tetapi dua sahabatnya Toatotjoe bilang, permainannya tidak terlalu lancar, sebab kalau didcsak, dia itu keluarkan ilmu silat Siong Yang Pay. Entah apa sebabnya itu-? Mendengar itu, Boe Wie agaknya terperanjat "Oh!"

Ia berseru dengan tiba-tiba.

"Bukankah orang tua itu jangkung-kurus dan pedangnya ada Tjit-seng-kiam yang panjang?"

Ia tanya. Ie Tjee Ban letakkan cangkir araknya, ia terkejut "Benar! Eh, bagaimana Lauwtee kenal dia?"

Dia pun tanya.

"Selama beberapa tahun merantau, aku pernah dengar orang omong tentang orang tua itu,"

Sahut Boe Wie.

"Dia itu katanya teiah peroleh kesempumaannya ilmu pedang Tat-mokiam dari Siong Yang Pay serta telah berhasil mcncuri pclajari beberapa jurus ilmu pedang Boe-kek-kiam dari Heng Ie Pay, kalau iasedang bertempur, selamanya ia gunai dulu ilmu pedang curiannya itu. Orang yang Lauwko sebutkan itu mirip dengan orang tua tersebut, dari itu aku menanyakannya. Aku cuma pernah dengar namanya belum pemah aku ketemu padanya."

Otaknya Ie Tjee Ban sudah terpcngaruh arak, ia tidak menanyakan lebih jauh, maka itu, sctclah bicara pula scbcntaran, untuk kasih sclamat jalan pada Boe Wie, mereka masuk tidur.

Tapi malam itu Boe Wie tidak bisa tidur pulas, ia melek mata tcrus sampai terang tanah.

Selama itu, ia sudah susun rapi keterangannya Ie Tjee Ban.

Lo-kce Soe Houw hendak bckcrj a di In-koan, tidak salah lagi, mereka itu tcntu hendak menuntut balas terhadap Keluarga Lioe.

Si orang tua gagah itu muncuk berbarcngan, dia pun hendak ajak orang bekerja, mestinya dia ada punya hubungan sama Lo-kee Soe Houw.

Ia pun percaya, orang tua itu mesti ada si orang tua yang dulu di rumahnya Soh Sian Ie sudah pancing soesioknya Teng Kiam Beng, karena mana, Teng Kiam Beng jadi bercidera dengan Tjiong Hay Peng, ahli waris atau Ketua dari Heng Ie Pay.

Distrik Pou-tay ini memang ada jalan terusan ke In-koan.

"Soehoe telah pergi ke Utara, dengan begitu, Soenio mesti berada sendirian di rumah,"

Pilar ia terlebih jauh.

"Soenio ada wariskan kepandaian golok Ngo-houw Toan-boen-too dari Ban Seng Boen, akan tetapi ia berscndirian saja, mana ia sanggup layani banyak musuh jahat?"

Sampai itu waktu, Boe Wie tidak pikir bahwa Yo Tjin Kong masih berguru dan Bong Tiap sudah tambah usianya, di scbelah siapa pun tambah Ham Eng.

Maka itu ia jadi tambah joiatir, hingga ia rebah gulak-gulik saja, ia tak dapat tidur, hingga iamenyesal tidak bisa segera sampai di Kho Kee Po.

Demikiari sebabnya, ia membatalkan dulu perj alanannya ke Djiat-hoo, Law Boe Wie sudah segera menuju ke In-koan di mana ia sampai di Muara Kho Kee Po, di saat ia dapat tolong Bong Tiap dan Ham Eng dari gangguannya musuh-musuhnya Keluarga Lioe, sampai itu malam ia telah tolongi juga soenionya, dengan ia berhasil menawan Bong Eng Tjin si orang tua yang licin.

Sayang, karena liciknya musuh, rumahnya Lioe Kauwsoe telah habis dimakan api dan Lioe Toanio, saking lelah, mendongkol dan karena 1ukanya di dalam, akhimya turut rubuh juga.

"Biar bagaimana aku toh datang sedikit teriambat, kata Boe Wie di akhir penuturannya sambil mcnghcla napas.

"Aku tidak sempat kisiki Soemoay untuk bersiap hingga Soenio mesti bercapek-lelah. Aku percaya, setelah beristirahat Soenio akan dapatkan kesegarannya pula, dari itu, tak usah Soemoay kuatir,"

Ia menghibur. Bong Tiap sudah mengerti keadaan, maka itu sambil memberi hormat, ia haturkan terima kasih mewakilkan ayah dan ibunya.

"Beruntung kau datang, Soeheng,"

Katanya.

"Bila tak ada kau, entah bagaimana jadinya dengan kita semua...."

Boe Wie sibuk karena soemoay itu paykoei terhadapnya, sedang untuk mencegah, dengan cekal tangannya si nona, ia likat la tak dapat empo dan pondong si soemoay seperti duludulu."

"Soemoay, Soemoay..."

Katanya "Ini ada urusan kecil, kita ada di antara orang sendiri, jangan kau pakai adatperadatan...."

Lantas Boe Wie ingat pengalamannyadi waktu masih kecil, ketika ia berkumpul sama guru dan soenio serta soemoay dan soeteenya. sama-sama berlatih silat, sampai belasan tahun ia merantau.

"Tahun dan bu Ian mengejar-ngejar manusia, sekarang aku telah tambah usia!"

Katanya pula.

Ia menghela napas.

Tapi ia toh baharu berumur tiga puluh tahun.

dan sedang gagahnya.

Rupanya ia terpengaruh pengalamannya dan sekarang Hiat soemoay itu sudah jadi gadis remaja!

"Soeheng, kau keliru Tjin Kong kata.

"Kau belum tua, hanya kepandaiamu yang bertambah! Romanmu menghunjukkan kemudaanmu, begitupun caranya kau gunai pedangmu barusan!"

Dan soetee ini tertawa.

Boe Wie turut tertawa.

Sementara itu orang telah sampai di rumahnya Hie Hong, di mana Lioe Toanio dipernahkan.

Lioe Toanio masih tetap belum sadar, maka Boe Wie minta Bong Tiap unut pula padanya, sedang Tjin Kong cekok ia dengan obat yang dicampun arak.

Tiga atau empat jam kemudian, tiba-tiba Lioe Toanio ingat akan dirinya.

"Tiap-djie, Tiap-djie!"

Ialah kata-katanya yang pertama keluar dan"

Mulutnya.

Ketika ia geraki tubuhnya, nyata ia tidak bisa bangun.

Maka ia cuma bisa pentang kedua matanya, akan awasi semua orang di sekitamya.

Matanya bercahaya, rupanya, ia segera ingat pertempuran tadi.

"Bagaimana, Ibu?"

Bong Tiap tanya. Lioe Toanio coba geraki tubuhnya, ia merasakan lemas, hingga ia jadi kaget sendirinya, sampai ia keluarkan keringat dingin, hatinya mencelos. Ia pentang pula matanya.

"Kau orang semua mundur dulu, kecuaii Tiap-djie, aku hendak bicara sama ia,"

Katanya. suaranya dalam.

"Coba buka bajuku,"

Kata Lioe Toanio pada gadisnya, sesudah mcreka berada berdua saja.

Bong Tiap menurut, tapi lantas saja ia terkejut ketika ia lihat sebuah titik hitam di bawah tete kin dari ibunya.

hu ada tanda darah man pada jajandarah "Djie-khie-hiat".

Itu ada bagian anggota yang kena serangannya tumbak dari LoToa Houw.

Lioe Toanio lamas kasih jalan napasnya akan kumpul semangamya, akan tetapi ia tak berhasil menyingkirkan tanda matang biru itu.

Ia insyaf artinya itu, karcna ia ada satu ahli silat, dari itu, mukanya lantas jadi pucat.

"Ludeslah sekarang kepandaian silatku,"

Kata ia sambil bersenyum pada anak daranya.

"Umpama kata aku bisa diobati scmbuh, aku tetap bercacat, aku tak lagi bisa bersilat. Totokan dari Lo Toa Houw ada iiehay sekali, dia telah gempur rusak khiekangku. Kalau aku ditolong pada waktu baharu saja terluka, dengan diunit saja, akibatnya tidak sehebat ini. Aku telah bcrkelahi melewati batas, cara bagaimana tubuhku tidak jadi lemah? Ah, Anak, sayang kepandaianku dari beberapa puluh tahun...."

Bong Tiap berduka bukan main, tetapi meski demikian, ia terhibur juga, karena jiwa ibunya masih tertolong.

"Anak, pergi kau ambil golokku Ngo-houw Toan-boen-too,"

Kemudian sang ibu surah anaknya. Bong Tiap kaget.

"Ibu, buat apakah itu?"

Tanya ia. Lioe Toanio tertawa meringis.

"Anak toloH"

Katanya.

"Mustahil aku hendak berlaku nekat! Aku tidak tega meninggalkan kau! Pergi ambil golokku hu, aku hendak lihat satu kali lagi. Kau kembaii bersama mereka semua."

Bong Tiap menurut, ia lekas undurkan diri, ketika ia batik bersama Ngo-houw Toan-boen-too, Boe Wie bertiga ikuti dia, tetapi ketiga murid ini semua hunjuk roman duka, karena mereka sudah dapat tahu, jago betina itu tidak lagi menjadi jago betina.

Mereka semua berdiam mengawasi soebo mereka.

Sinar matanya Lioe Toanio bersinar ketika iasuruh gadisnya bawa golok kepadanya.

Itu adalah senjata yang untuk banyak tahun tidak pemah berpisah darinya.

Dan Bong Tiap agak bergemetaran ketika ia serahkan golok itu pada ibunya.

Lioe Toanio berniat bangun, tetapi ia tak dapat geraki tubuhnya, maka itu, ia cuma ulur tangan kanannya.

Ia minta gadisnya bantu ia.

Ia raba goloknya, ia sentil itu, hingga sang senjata terbitkan suara nyaring.

"Bagus, bagusl"

Katanya, tetapi napasnya mengorong. Golok itu tajam dan mcngkilap. Lioe Toanio gapekan Hie Hong, supaya keponakan itu datang dekat padanya.

"Golokku ini telah temani aku berberapa puluh tahun lamanya,"

Berkata ia.

"dipadu dengan KiamGim, dia adalah kawanku yang terlebih tua jangan kau orang tidak pandang mata pada golokku ini, ada sejumlah orang gagah dari kalangan Kang-ouw yang telah tunduk di bawahnya. Umpama Lo Djie Houw, lengannya adalah aku yang bikin locot! Adalah engkongnya Tiap-djie yang berikan golok itu kepadaku, ia bikinnya ketika aku berumur satu tahun lantas setiap tahundilebur dan dilebur lagi, saban-saban ditambah beratnya, setelah aku masufcumur sepuhih tahun, baharu aku diizinkan menggunakannya. Golok ini bukannya mustika, tapi tajamnya bukan main, apabila dipakai melukai orang, darahnya tidak menjadi karatan. Dan sekarang aku tak dapat pakai lebih jauh golok ini...."

Lioe Toanio berhen ti bicara untuk bernapas.

"Sebenamya aku niat wariskan golok ini pada Tiap-djie,"

Ia menyambungi kemudian.

"tetapi Tiap-djie sudah punyakan pedang tajam buatan ayahnya sendiri, sedang Boe Wie sudah punyakan senjatanya juga, sedang Kaum Thay-kek biasa wariskan pedang saja, maka golokku ini, sekarang aku serahkan pada Hie Hong saja. Dia ada turunan Ban Seng Boen. dan Ngo-houw Toan-boen-too adalah goloknya Kaum Ban Seng Boen sendiri. Golok ini aku tidak dapat bawa ke lobang kubur, dengan aku berikan pada Hie Hong, aku bisa balas budinya, tadi malam dia sudah bantui kita-Hie Hong, man!"

Hie Hong girang berbarcog berduka, dengan menjura, ia samburi golok dari bibinya itu.

"Tidak nanti aku sia-siakan pengharapan kau. Loodjinkee katanya dengan janjinya.

"Aku akan simpan baik-baik golok ini"

"Bagus, Anak,"kata Lioe Toann?. yang napasnya memburu.

"Coba kau sentil sekali lagi, kasih aku dengar! -Nah, sudah, kau simpanlah!"

Semua orang menjadi sangat terharu.

"Dasar Soenio mcnyayangi keponakan sendiri pikir Yo Tjin Kong, murid kcdua dari Lioe Kiam Gim. la mcrasa tidak enak scndirinya Tadi malam, ia juga tclah adu jiwanya tapi sekarang soenio ini tidak sebut-sebut dia. Ia rada jelus, ia harapkan golok itu, hingga untuk sesaat, ia lupa Toan-boentoo ada goloknya Kaum Ban Seng Boen, yang tak dapat diberikan pada orang dari lain kaum. Benar Lioe Toanio ada guru perempuannya tapi ia sendiri ada muridnya Lioe Kiam Gim dari Thay Kek Pay, seharusnya ia bersenjatakan pedang. Setelah bcrdiam sekian lama. Lioe Toanio menghela napas pula.

"Beginilah penghidupan,"

Katanya.

"Sejak hari ini, untuk selama-lamanya aku akan pisahkan diri dari Rimba Persilatan. Sekarang kau orang insyaf bagaimana liehaynya geiombang dan badai dalam kalangan Sungai-Telaga. maka selanjutnya. kau orang harus lebih waspada dan berhati-hati. Sayang sekali aku tidak tahu dengan kepergiannya ini, entah bagaimana dengan Kiam Gim.... Tak bisa aku tak pikirkan dia...."

Air matanya nyonya ini meleleh keluar, ia batuk-batuk dua kali, setelah diam sesaat ia berkata pula.

"Bicara halnya Kiam Gim pergi ke Utara ini. aku jadi ingat halnya soesiok kau dahutu telah jadi korban dua musuhnya yang memakai topeng. Boe Wie bilang, satu dari dua musuh itu adalah si orang tua yang semalam bersenjatakan pedang panjang, maka setelah dia kena ditangkap, pergi kau orang dengar pengakuannya! Pergilah kau orang, kecuali Tiap-djie, yang mesti temani aku."

Nyonya itu rapati matanya, tapi mulutnya tertawa meringis....

Lioe Toanio Lauw In Giok ceburkan diri dalam dunia Kangouw sejak umur enam belas tahun, sampai umur dua puluh dua, baharu ia menikah sama Lioe Kiam Gim, setelah mana, ia tinggal menyendiri di Kho Kee Po.

Selama enam tahun, dengan goloknya Ngo-houw Toan-boen-too, ia telah ketemui banyak orang gagah.

Kalau ia undurkan diri karena pernikahannya, tidak demikian dengan suaminya.

Kiam Gim mundur bcrduka karena sikap soeteenya.

Tapi sekarang si nyonya mesti mundur betul-betul, karena lukanya yang hebat itu, maka itu, ia ada masygul dan menyesal bukan main.

Boe Wie berempat undurkan diri dengan masing-masing sangat bersusah had, mereka pergi tengok orang tawanan mereka.

Sejak tadi malam kena ditotok jalan darahnya "Oen-hianhiat", untuk lima jam, Bong Eng Tjin mesti rebah bagaikan mayat saja.

Kalau dia diantap terus enam jam, dia bakal sadar sendirinya, tapi kalau dia ditolongi, dia bisa mendusindi segala saat.

Sekarang, lima jam telah berlalu, maka itu, dengan sendirinya, ia sadar dengan layap-layap.

ia tahu ia berada dalam tangan musuh tetapi ia ada berkepala batu, atas pertanyaannya Boe Wie, ia tidak mau omong terus terang, percuma orang bujuk dia.

Akhir-akhirnya Boe Wie bersenyum ewah.

"Apakah kau tetap menyangka aku tidak tahu halihwalmu?"

Kata muridnya jago tua dari Thay Kek Pay kemudian.

"Kau adalah murid murtad dari Siong Yang Pay! Kau ada anjingnya bangsa Boan! Kau adalah manusia cabul dari kaum Kang-ouw! Dahulu soesiokku mengasih ampun kepada kau, sekarang aku tidak!"

Dicaci secara demikian, Bong Eng Tjin menjadi gusar.

"Ya, aku ada orang Siong Yang Pay! Habis kau mau apa?"

Ia berseru.

"Ha, bocah, matamu picak! Cara bagaimana kau berani bilang aku ada manusia cabul dari kaum Kang-ouw? Dengan kepandaianmu, kau kalahkan aku, aku tidak akan bilang suatu apa, tetapi janganlah kaungaco-belo! Kau bilang dahulu soesiokmu kasih ampun padaku? Hm! Jangan membabi-buta! Pergilah kau tanya dia, siapa yang ketika itu dikasih ampun!"

Lantas Eng Tjin tutup pula mulutnya, ditanya bagaimanapun juga, ia bungkam.

Akan tetapi dengan begitupun sudah cukup untuk Law Boe Wie mendapat kepastian, benarlah mi orang yang telah permamkan soesioknya, maka diam-dtam ia kedipi mata pada tiga kawannya, untuk mereka undurkan diri, kemudian ia tutup pjntu.

Lalu, dengan sekonyong-konyong, ia dekati orang tua itu.

"Kau ada satu laki-laki maka coba kau bilang, kau punya perhubungan apa dengan Keluarga Soh dari Poo-teng?"

Ia tanya.

"Apa itu Keluarga Soh dari Poo-teng? Aku tidak tahu!"

Sahut Bong Eng Tjin sambil ia mendelik.

"Ha, kau tidak kenal Keluarga Soh dari Poo-teng?"

BoeWie tertawa.

"Aku lihat rupanya kau tetap tidak kenal walaupun jiwamu secara kecewa akan dipakai menebus dosanya! Apakah kau ketahui, kenapa Ouw Toakomu tidak datang? Apa benar kau tidak tahu, bahwa kaulah yang disuruh jual jiwamu?"

Mendengar demikian, Bong Eng Tjin melengak.

"Eh, apa kau bilang?"

Ia tanya.

"Apa yang aku bilang adalah apa yang aku bilang!"

Jawab Boe Wie dengan tertawa sindirnya.

"Di kalangan Kang-ouw, siapa berkorban untuk sahabatnya, pengorbanan itu ada harganya, akan tetapi lain dengan kau-kau bakal terbinasadengan tidak keruan juntrungannya! Kau barangkali tidak menyayangi jiwamu. tidak demikian dengan aku -aku sebaliknyaberkasihan..."

Sambil berkata demikian, diam-diam Boe Wie lirik air muka orang.

Tampangnya Bong Eng Tjin mcnjadi sebentar merah dan scbcntar pucat, terang ia terperanjat dan hcran.

Mcnampak demikian, sambil terus tertawa menyindir, Boe Wie tambahkan.

"Baik aku omong terus terang kepadamu! Kau mestrnya ketahui baik bahwa soesiokku serta Keluarga Soh, ayah dan anak, ada bersahabat kekai seperti saudara angkat. Dan kau mestinya ketahui baik, orang she Soh itu ada mcmpunyai perhubungan macam apa dcngan pembesar negeri! Orang she Soh itu dan pembesar negeri, yang berkongkol saw dcngan lain, sengaja kirimkan kcmari untuk kau ju-al jiwamu! Bersama itu sejumlah sisa kantong nasi -ialah orang-orang tidak berguna -kau dikirim kemari guna bokong Keluarga Lioe, berbareng dengan itu, soesiokku telah dibentahukan agar ia sampaikan warta kemari untuk kita siap sedia! Ini dia yang dinamakan meminjam goiok untuk mcmbunuh orang. Apakah benar kau tidak mengerti tipu daya teji itu? Inilah kelicmannya Ouw Toakomu! Apa betul-betul kau tidak mengerti? Kau toh ditugaskan juga meniliki lain orang?"

Boe Wie sudah karang satu cerita, tetapi ceritanya ini beralasan.

Itulah sebab tadi malam, dari tubuhnya Bong Eng Tjin, ia-tdah dapatkan sepucuk surat rahasia Itu adalah suratnya Soh Tjie Tjiauw dan Ouw It Gok dengan mana Bong Eng Tjin diperintah bokong Keluarga Lioe berbareng memasang mata kepada satu pahlawan Iain yang mendapat suatu tugas.

Boe Wie berpengalaman luas, ia tahu, di an tar a pah 1 a wan-pah I a wan Boan ada kccurigaan atau kcjclusan, bahwa mereka itu saling intip satu dengan lain.

Itu ada suatu tipu daya dari si Raja Boan, untuk dia bisa kcndalikan semua pahlawannya.

Dan ini adalah suatu rahasia dari Eng Tjin.

Mukanya Bong Eng Tjin jadi guram, ia percaya betul obrolannya Boe Wie.

"Saudara yang baik, terima kasih untuk keterangan kau ini!"

Katanya akhirnya.

"Baiklah, kau dengar aku! Kau bilang Keluarga Soh dan soesiokmu ada seperti saudara angkat! Oh, Sahabat, itu dugaan yang meleset sangat jauh! Keluarga itu sengaja tempel soesiokmu supaya dengan begitu, soesiokmu jadi renggang perhubungannya sama kaum Kang-otfw. Soesiokmu niat ajak gurumu, hal itu tidak disetujui sama Keluarga Soh, akan tetapi belakangan, keluarga itu tukar sikap, maka ia lantas menyetujuinya. Keluarga itu tidak takut, asal gurumu hendak lakukan suatu apa, yang tidak baik untuk mereka, dengan lantas gurumu tak akan lolos dari gcnggaman tangan mereka! Kelihatannya, kau dan soesiokmu, telah digunai juga oleh Keluarga Soh, apabila itu benar, aku juga hendak nasihati kepada kau orang untuk waspada!"

Dari berjongkok, Boe Wie berlompat bangun setelah mendengar keterangan orang itu. Ia bersenyum ewah.

"Terima kasih untuk keteranganmu! Terima kasih untuk nasihatmu!"

Katanya, yang kembali dekati jago tua itu, akan dengan tiba-tiba totok tubuh orang dengan jeriji tangannya, atas mana, Bong Eng Tjin segera bergulingan mampet jalan napasnya.

Akan tetapi, walaupun demikian, mukanya masih hunjuk senyuman iblis.

Boe Wie telah berikan orang totokan Djie-khie-hiat yang liehay, yang mcminta korban jiwa, sesudah mana, ia panggil saudara-saudaranya, akan urus mayat musuh itu.

Segera Boe Wie beritahukan saudara-saudaranya tentang bahaya yang mengancam guru mereka, di sebelah itu, ia berkuatir buat sepak-teigangnya Tok-koh It Hang, guru setengah itu -ia kuatir mereka nanti bergebrak.

Kekuatiran lain adalah sang guru nanti kena dijebak oleh Keluarga Soh yang licin dan licik.

"Perlu aku lekas susul Soehoe,"

Ia menyatakan kemudian.

"Aku suka ikut, Soeheng,"

Kata Bong Tiap, yang kuatirkan ayahnya.

Ia juga ingin bantu soeheng itu, agar si soeheng tidak bersendirian.

Perihal ibunya, ia sudah dapat kepastian ibu ini telah menjadi cacat, ia jadi tak usah kuatirkan apa-apa lagi.

Berbareng dengan itu, dengan perjalanan ini ia jadi bakal dapat pengalaman.

Melihat si nona hendak ikut pergi, Ham Eng juga nyatakan suka turut.

Bong Tiap deliki saudara seperguruan itu.

"Buat apa kau turut?"

Kata dia "Baiklah kau diam di rumah untuk temani Ibu! Bukankah Ibu sangat sayangi kau? Kenapa kau tidak hendak kawani Ibu?"

Ham Eng berdiam tetapi terang ia tidak senang diam di rumah. Boe Wie pandang dua anak muda itu dengan bergantian, segera ia berkata.

"Baik juga kalau Ham Eng turut! Tentang Socnio, kau jangan kuatir, aku bisa atur!"

Ia lantas berpaling pada Hie Hong dan kata.

"Saudara Lauw, aku serahkan Soenio kepada kau! Bukankah kau pernah bilang bahwa kau hendak pergi ke Shoasay pada pamanmu? Kau boleh sekalian ajak Soenio ke sana."

Memang pernab Hie Hong menyatakan demikian, karena ia lihat rumah bibinya sudah musnah dan ia kuatir pihak Lo nanti datang untuk menuntut balas, dengan pergi pada Lauw In Eng, adik kandungdari Lioe Toanio, yang sekarangjadi ahfi waris Ban Seng Boen, kekuatirannya bisa diperkurang, karena In Eng ada kenamaan.

Hie Hong setujui pikirannya Boe Wie.."Baik, Saudara Law", ia nyatakan.

"Dengan andali golok Ngo-houw Toan-boen-too yang Bibi hadiahkan padaku dan dengan periindungan saudara-saudara sekaumdi sepanjang jalan, aku percaya aku bisa mcngantar dengan tidak kurang suatu apa sampai di Shoasay."

"Aku suka kawani Saudara Lauw pergi antara Soebo!"

Bcrkata Yo Tjin Kong, yang sadari tadi diam saja.

Tapi scbenamya la kuarir Hie Hong tidak sanggup melindungi soenionya itu dan ia ingin sekalian perlihatkan kcpandaian Kaum Thay Kek Pay.

Pcngutaraannya Tjin Kong membuat Bong Tiap bertiga jadi girang, hati mcreka menjadi iega.

Dcmikian diputuskan, Hie Hong dan Tjin Kong mengiringi Lioe Toanio beristirahat di Shoasay, sedang Law Boe Wie bersama Bong Tiap dan Ham Eng bcrangkai ke Utara.

Dua-dua pihak tidak pcrnah menyangka bahwa hampir-hampir ia orang berpisahan untuk tidak bertemu pula....

V Ketika hari itu Lioe Kiam Gim bersama keponakan muridnya, Kim Hoa, berangkat ke Utara, mereka tokukan perjalanan cepat sekali.

Selang belasan hari, dengan tidak tampak suatu halangan, mereka telah sampai di Poo-teng.

Sesudah lewat dua puluh tahun lebih, kelihatan Kota Poo-teng jadi berubah.

adajalan-jalan yang lebih ramai, adajalan-jalan yang jadi lebih sunyi.

Ada sahabatsahabatnya guru silat ini, yang sudah tidak berada Iagi di kota itu.

"Scgala apa telah berubah, kecuali sewenang-wenangnya bangsa Ouw..."

Kata Lioe Kiam Gim sambi 1 menghela napas, seraya urut-urut kumisnya. Dan ketika ia berhadapan sama Kiam Beng, ia sampai tidak lantas dapat mcngucapkan katakata hanya air matanya menetes jatuh.

"Soetee, apa kau ada baik?"

Dcmikian pcrkatannya yang ringkas sekali ketika kemudian ia bisa juga buka mulutnya.

Ia ada sangat terharu.

Teng Kiam Beng ada bcroman sangat kucel, tidak tampak sifat jumawanya, mirip dengan seorang habis sakit, atau seperti ayam jago pecundang.

Terang dia likat menemui saudara seperguruannya ini.

"Kau kcnapa, Soetee?"

Kemudian Kiam Gim tanya pula.

"Apakah kau tidak terluka?"

Ditanya demikian, sepasang matanya Kiam Beng bcrsinar dengan tiba-tiba.

"Soeheng,"

Katanya.

"walaupun orang telah rusaki nama Thay Kek Pay, akan tetapi dengan kepandaian yang aku punyakan, tidaklah gampang-gampang untuk orang cclakai aku, hanya sayang, bendera Thay Kek Kie, orang telah cabut!"

Kiam Beng masih bclum insyaf bahwa orang tidak niat lukai dia, bahwa iahendakdigoda saja, diganggu. Lioe Kiam Gim menghela napas.

"Soetee,"

Katanya.

"bukan aku hendak membangkitbangkit, tetapi coba dulu dengar perkataanku, tidak nanti sampai terjadi seperti ini. Dengan bersahabat dengan Keluarga Soh, bukankah kau jadi seperti cari pusing sendiri? Benar kau melindungi upeti akan tetapi aku percaya, orang melainkan tidak puas dan karenanya orang hendak coba-coba padamu!"

La tidak mau menyesali terlebih jauh, karena mereka sudah sama-sama berusia lima puluh tahun lebih. Maka ia tambahkan.

"Soetee, aku menyesal dahulu kita berpisahan, karena diantara kita terbit perbedaan faham. Sekarang aku datang untuk mencari jalan perdamaian, guna lenyapkan ketegangan."

Kiam Beng jengah, akan tetapi ia kata.

"Soeheng benar, akan tetapi di sebelah itu, aku telah terima budinya pihak Soh. Coba dulu sewaktu terluka senjata rahasia beracun tidak ada dia yang tolong obati aku, pasti sekarang lukaku itu tidak dapat dikcmbalikan. Menjadi manusia, orang mesti bisa bedakan kebaikan dari kejahatan, karena orang telah tolong aku, mana bisa aku tidak balas bantu padanya? Selama dua puluh tahun, pihak Soh tidak pernah berbuat tak selayaknya terhadap aku, hanya siapa tahu, sekarang telah terjadi ini gangguan kepadaku!"

Menampak orang tidak mau akui semua kekeliruannya, Kiam Gim tidak mau mendesak lebih jauh, ia hanya minta adik seperguruanttu tuturkan duduknya kejadian.

Kiam Beng tidak mau menuturkan dengan jelas, ia bilang saja bahwa ia sudah dibegal di tempat tiga puluh lie di luar Kota Hee-poan-shia di Djiat-hoo, bahwa begalnya ada seorang rua yang bicara dengan lidah Liauw-tong, kepandaian siapa "tidak tercela"

Tetapi tidak diketahui dari golongan mana.

Kiam Gim terima keterangan itu sambil bersenyum.

la tahu baik perangainya soetee ini, yang angkuh, yang suka bicara banyak dalam hal kepuasan tetapi tak mau banyak omong dalam hal kegagalan.

tetapi karena urusan ini ia anggap penting,ia toh masih menanyakan melit tentang kepandaiannya si orang tua, bagaimana gerak-gerakannya.

Apabilasang soetee telah jelaskan.

pihak lawan hanya menggunai tangan kosong, akhimya soeheng mi berkata.

"Itu adalah ilmu silat bahagian dalam dan luar yang telah tergabung menjadi satu, adalah tenaga Siauw-thian-seng atau Bintang Kecil yang dipergunakan untuk singkirkan segala seranganrnu. Kepandaian itu mirip dengan Sha-tjap-lak-tjhioe Kim-na-hoat dari Golongan Eng Djiauw Boen Bicara tentang Kaum Eng Djiauw Boen, di Hoolam ada Tang Kie Eng dan d, Hoo pa kada Hek Eng Ho-Di Liauw-tong, tidak pernah aku dengar ada or-ang yang paham kim-na-hoat. Aku kenal Tang Kie Eng dan Hek Eng Ho, aku pemah berunding dengan mereka, aku tahu benar, kepandaian mereka berimbang sama kepandaian kita, tapi sekarang ada orang yang melebihkan Soetee, dia mesti ada orang luar biasa dari Eng Djiauw Boen. Dia ada satu lawan yang tangguh, Soetee, tetapi walaupun demikian, tidak usah kita jadi gentar."

Kiam Gim percaya, apabila ia berhadapan sama lawannya Kiam Beng, umpamanya ia tidak bisa peroieh kemenangan, i a toh tidak nanti sampai kena dikaiahkan.

Tapi, mendengar pcngutaraannya itu, ia lihat muka saudaranya jadi pucat, ia mengerti, saudara itu malu, maka ia iekas ubah pcmbicaraannya.

"Eh, Soetee, bagaimana dengan Tee-hoe? Berapakah anakanakmu?"

Ia tanya. Ditanya begitu, air mukanya Kiam Beng pulih dengan cepat.

"Isteriku telah meninggal dunia sejak beberapa tahun yang lata,"

Ia menyahut.

"Kita orang terpisah terlalu jauh, hingga aku tidak dapat kesempatan untuk mengabarkan kau, Soeheng."

Tiba-tiba, air mukanya kerabali berubah, agaknya ia sangat berduka "Anakku melainkan satu, ia sekarang telah pergi mencari jaiannya sendiri.

Soeheng, ketika kita orang berpisah, anak itu sudah bisa memanggil peh-hoe kepadamu.

Selama dua puluh tahun, aku cuma dapati ia seorang, tetapi sekarang, entah dia ada di mana...,"

Kiam Gim heran.

"Setelah satu anak menjadi dewasa, kita yang menjadi ayah-bunda tidak ketahui lagi cita-citanya,"

Ia menyahut.

"Di waktu kecilnya, Hiauw ada dengar kata, akan tetapi tambah tinggi usianya, tambah berubah perangainya. Pada suatu hari ia meninggalkan rumah-tangga, ia pergi jauh, tanpa pamitan lagi, ia melainkan meninggalkan sepucuk surat dalam mana ia nyatakan, ia tidak sudi berdiam nganggur di Poo-teng, bahwa ia ingin pergi mencari pengetahuan dan pengalaman. Ia kata ia tak sanggup menungkuli hari-hari yang tawar. Sebenarnya, dalam usia muda, siapa yang tidak ingin terbang merdeka bagaikan burung garuda? Bukankah kita bcrdua, dahulupun ada sangat bersemangat, ingin merantau dan ciptakan nama dalam dunia Sungai-Telaga? Hanya kita orang dapat keluar sesudah dapat perkenan dari guru kita! Tidak demikian dengan Hiauw, tanpa mengucap sepatah kata, ia angkat kakinya! Dia pergi dalam usia dua puluh satu tahun, aku pun sudah tunangkan dia, kepergiannya itu membikin aku berduka...."

Suaranya Kiam Beng makin lama jadi makin perl ah an, nyata ia terharu scndirinya.

Kiam Gim bisa mengarti kesukarannya soetee ini sebagai satu ayah, maka itu, ia tidak mau omong terlebih banyak tentang anaknya, ia melainkan menghiburi.

Putera dari Teng Kiam Beng ada bernama Teng Hiauw, dia ada lebih tua sepuluh tahun daripada Lioe Bong Tiap, karena ia sudah masuk umur dua puluh enam tahun, Kiam Beng menikah lebih dahulu daripada soehengnya.

Teng Hiauw ada berpendapat lain daripada ayahnya.

Selagi ia masih kecil, karena ayahnya "terpisah"

Dari kaum persilatan lainnya, ia jadi kckurangan kawan, hingga ia jadi kcsepian.

Tapi ia tetap kenal beberapa anak muda, dari siapa ia telah dengar tentang persahabatan ayahnya dengan Soh Sian Ie, ia jadi tidak senang terhadap sikap ayahnya itu.

Di lain pihak, ia tidak puas dengan putusan ayahnya, yang sudah tunangkan ia dengan gadisnya satu hartawan sedang ia sebenarnya menaruh hati pada cucu percmpuan dari Kiang Ek Hian dari kalangan Bwee Hoa Koen.

Mengenai cita-citanya ini, yang terintang, ia jadi makin tidak puas.

Maka akhirnya, karena tak dapat bersabar lebih jauh, ia berlalu tanpa perkenan lagi.

Ia tidak membutuhkan pesan atau surat perantaraan dari ayahnya lagi, ia hendak merantau dengan andali diri sendiri.

Demikianlah, mengetahui kesukaran hati sang soetee, Kiam Gim kemudian bicarakan soal kedatangannya ini ke Utara.

"Soetee,"

Tanyanya.

"sama sekali ada berapa orang kawannya begal itu? Sesudah berhasil dengan perampasannya, karena mereka ada bawa banyak barang, mereka pasti tidak terlalu leluasa dengan kepergiannya, maka itu, apa Soetee tidak dapat cari tahu tentang mereka?"

Ditanya begitu, Kiam Beng kerutkan sepasang alisnya.

"Aku menyangka padaTjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay!"

Iamenjawab.

"Aku duga, mereka adalah orang-orang jahat yang dianjur-anjurkan oleh Tjiong Hay Peng! Bukankah Soeheng ketahui, Hay Peng tidak senang terhadap aku? Itu hari, dia sendiri tidak muncul. Si orang tua beriidah Liauw-tong itu cuma berkawan kira-kira sepuluh orang, akan tetapi mereka semua bukannya orang-orang sembarangan, sebagaimana dua guru silat dan dua muridku, yang turut aku, semua kena mereka bikin tidak berdaya. Jangan bicarakan pula tentang pegawai-pegawai negeri yang turut mengiringi...."

Rupanya Kiam Beng anggap ia sudah angkat terlalu tinggi pada musuhnya, maka bicara sampai di situ, lekas-lekas ia menambahkan, suaranya keras.

"Walaupun demikian, aku tidak takut pada mereka! Aku telah kuntit mereka itu! Hanya, apa yang aneh, sesudah mengikuti sampai jauhnya seratus lie lebih dari Kota Hee-poan-shia, dengan tiba-tiba mereka lenyap di tempat yang dipanggil Sha-tjap-Iak Kee-tjoe. Kau barangkali tidak ketahui, Soeheng, rumahnya Tjiong Hay Peng justeru bcrada di Sha-tjap-lak Kee-tjoe itu!"

Kiam Gim perdcngarkan suara "Oh!"

Tetapi ia terus tutup mulut. Kiam Beng tidak puas melihat sikapnya soeheng mi.

"Kau lihat, Soeheng,"

Ia tanya.

"apa yang mcncurigai dalam hal ini?"

"Jadinya kau telah sangka Tjiong Hay Peng,"

Soeheng itu jawab.

"Sctelah itu, kau pcrnah atau tidak pergi padanya, untuk menanyakan?"

"Kenapa tidak, Soeheng?"

Sang soetee jawab.

"Aku telah kunjungi padanya, tetapi ia tidak sudi menemui aku, ia kata, seumur hidupnya, ia tidak suka berteman sama pegawai negeri!"

Sepasang alisnya Kiam Gim bergerak apabila ia telah dengar keterangan itu.

"Habis, ada atau tidak kau pcrnah ben tahukan pembesar negeri tcntang sangkaan kau itu?"

Ia tanya. Air mukanya Kiam Beng berubah pula untuk kesekian kalinya.

"Ah, Soeheng, mengapa kau pun lihat begini macam padaku?"

Tanyanya.

"Biarpun aku bodoh. aku bukannya satu siauwdjin! Umpama kata benar pembegalan itu telah dilakukan oleh Tjiong Hay Peng, aku punya pedang dan piauw untuk memaksa minta pulang barang-barang upeti itu! Atau sedikitnya aku undang sahabat-sahabat dari Rimba Persilatan guna memutuskan siapa yang bersalah, siapa yang benar. Di dalam halnya kita kaum Rimba Persilatan, bukankah kita punya tata kehormatan sendiri? Maka itu, tidak I ah perlu digunainya pengaruh pembesar negeri!"

"Kau keiiru, Soetee,"

Kiam Gim kata dengan cepat.

"Sama sekali aku tidak pandang rendah padamu. Aku cuma tanya padamu. Aku justeru kuatirkan pembesar negeri campur tahu urusan ini karena yang tersangkut adalah barang-barang upeti. Kau benar, Soetee, dalam urusan kita kaum Rimba Persilatan, pembesar negeri tidak perlu campur tahu."

Hatinya Lioe Loo-kauwsoe menjadi lega sekali, scdang tadinya ia kuatir, karena kesesatan di satu waktu, soetee itu nanti seret tangannya pangreh praja.

Sekarang temyata, soetee itu masih punyakan kehormatannya, dia cuma dipengaruhi oleh keangkuhannya.

Lantas soeheng ini berpikir, ia angkat tangannya kejidatnya.

"Soetee,"

Katanya kemudian.

"kau telah curigai Tjiong Hay Peng, terutama karena kejadian ada di tempat yang termasuk kalangan pengaruhnya, karena itu -sangkaan kita benar atau tidak -dia harus dikunjungi. Siapa tahu, di sana kita justeru akan peroleh keterangan. Sekarang begini saja. Besok mari kita pergi ke Djiat-hoo, dengan andali mukaku, aku percaya dia tidak akan tidak terima padaku."

Kiam Gim urut-urut kumisnya, ia menambahkan dengan cepat.

"Soetee,"

Demikian katanya.

"kau antar upeti, kau bakal lewat di kalangan pengaruhnya Tjiong Hay Peng, seharusnya, sebelumnya itu, kau mesti kirim salah satu muridmu pergi membawa karcis nama padanya. Dengan jalan ini, kita sudah tidak berlaku tidak hormat. Kau sebaliknya kunjungi dia sesudahnya kejadian, bisa mengerti yang dia merasa kurang puas. Soetee tentu lebih mengerti daripada aku, siapa merantau, dia paling dulu mesti utamakan tata kehormatan, siapa melulu andali boegee, itulah keliru."

Kiam Beng jengah, tetapi ia toh menyahut.

"Meskipun demikian,"

Katanya.

"pada mulanya aku tidak berniat berlaku demikian...."

Begitulah dipastikan, besok soeheng dan soetee itu bakal pergi ke Djiat-hoo.

Pada itu malam, ada datang orangnya Keluarga Soh, yang menanyakan, perlu atau tidak pihak Soh kirim orang untuk pergi bersama.

Entah bagaimana caranya, Keluarga Soh itu sudah lantas saja ketahui niat keberangkatannya orang itu.

Di sebelah itu, wakil itu pun undang Lioe Kiam Gim untuk satu perjamuan.

Kiam Gim dengan lantas wakilkan soeteenya tampik itu tawaran bantuan dan undangan juga.

Tapi ia bicara dengan manis serta jelaskan, dalam urusan di kalangannya Kang-ouw, kepergiannya banyak orang adalah tidak perlu.

Ia mengucap terima kasih atas undangan itu.

Bantuan pihak Soh ditolak, tetapi dua guru silat, yang dulu tunrt Kiam Beng dan mendapat luka juga, mendesak mohon diajak.

Sebelumnya menerima baik, Kiam Gim cari tahu dulu tentang mereka itu, yang kemudian ternyata ada Lie Kee Tjoen mnridnya Tjiang Han Tek dari Kaum Ngo Heng Koen dan Hoo Been Yauw muridnya Tjian Djie Sianseng dari Kaum Ouw Tiap Tjiang, dua-dua ada dari pihak golongan kenamaan.

Juga murid kedua dan murid ketiga dari Kiam Beng, diajak bersama, sedang Kim Hoa, si murid kepala, ditinggai untuk jaga rumah.

Demikian di hari kedua, rombongannya Kiam Gim ini berangkat, Hawa udara di Djiat-hoo beda dengan iklim di Kanglam.

Orang keluar dari Selat Hie Hong Kauw, jalan di sepanjang Sungai Loan Hoo, melewati Lo-sie-boen, dari situ menuju ke Hee-poan-shia.

Ketika itu ada di bulan ketigadari musim Tjoen.

Di waktu demikian di Kanglam, pohon dan bunga sedang segarnya, burung-burung gembira beterbangan, akan tetapi di Kwan-gwa ini, angin dingin sedang membadai, hujan dari salju sedang turunnya, atau kadang-kadang angin keras diseling dengan terbang berhamburannya batu halus atau pasir.

Meski juga hawa udara ada demikian buruk, rombongannya Kiam Gim lakukan perjalanan dengan tetap bersemangat.

Sesudah melalui perjalanan sepuluh hari iebih, rombongannya Kiam Beng sampai di Hee-poan-shia pada waktu Icwat tengah hari.

Coba udara ada terang, dengan iarikan kuda mereka, di maghrib itu, mereka bakal sampai di Sha-tjap-lak Kee-tjoe, ditempat kediamannya Tjiong Hay Peng, akan tetapi mereka tidak berbuat demikian.

Dan mereka juga tidak singgah di dalam kota.

Mereka hanya jalan terus.

dengan perlahan-lahan,sampai di luar kota, di tempat pembegaJan.

Di sini baharulah mereka berhenti, untuk Lioe Kiam Gim perhatikan letaknya tempat itu.

Itu adalah suatu tanah pegunungan, cabang dari Gunang Yan San, yang banyak pengkolannya, sedang di sampingnya ada aliran Sungai Loan Hoo.

Tempat itu merupakan satu selat mirip dengan piring.

Di sini, hawa udara agak hangat, salju telah pada lumer.

Di kedua tepi ada rimba dengan pepohonan dan rumput, yang daun-daunnya, atau cabangnya, memain dengan sampokan angin, daun dan pasimya pada rontok dan jatuh ke tanah.

Di atas kudanya, Kiam Gim memandang ke empat penjuru, sedang Kiam Beng, mengawasi jauh ke depan, air mukanya menjadi merah dan padam bergantian, suatu tanda ia malu dan mendongkol dengan berbareng, karcna teringatlah ia pada saat pembegalan.

Sesudah lewat sckian lama, tiba-tiba Kiam Gim tahan kudanya dan sambil menoleh pada adiknya seperguruan, ia berkata.

"Soetee, kecurigaan kau beralasan!"

Kiam Beng pun tahan kudanya dengan tiba-tiba, ia mengawasi sambii hunjuk roman heran.

"Kau lihat apakah, Soeheng?"

Ia tanya. Kiam Gim lantas gerak-geraki tangannya, akan rnenunjuknunjuk.

"Lihatlah tempat ini,"

Sabut dia.

"Di Timur, tempat ini menyambung dengan Kota Koan-shia, di Barat dengan Sintek, di Sclatan dengan Liong-hin, dan Utara dengan Pengtjoan. Sin-tek dan Koan-shia adalah kota-kota yang ramai dari Djiat-hoo, maka itu, kawanan begal tak nanti da tang dari arah dua kota itu dan juga tidak akan menyingkir ke arah sana. Kawanan itu Jberlldah Liauw Tong semua, sedang kau orang sendiri datang dari Selatan, dari itu, mereka juga tidak mestinya muncul dari Liong-hin. Jadinya, jalan satu-satunya untuk mereka adalah jalan Utara, yaitu Peng-tjoan. Dan Shatjap-lak Kee-tjoe justeru bcrada di antara Peng-tjoan dan Heepoan-shia. Bukankah kawanan begal benar datang dari sana?"

Kiam Beng nampaknya gusar.

"Kalau begitu, Soeheng,"

Katanya.

"apakah tidak boleh jadi, perbuatan itu ada perbuatannya Tjiong Hay Peng? Jadinya sangkaanku tidak meleset?"

Kiam Gim berdiam, dia berpikir.

"Biar bagaimana, aku masih belum mau percaya Tjiong Hay Peng bisa berbuat demikian,"

Ia menjawab kemudian.

"Hanya, paling sedikitnya, dia mcsti ketahui baik tentang kawanan begal itu. Orang-orang yang tempur kau bukannya orangorang Kang-ouw dari tingkat sembarangan. Kalau benar mereka datang dari arah Sha-tjap-lak Kee-tjoe, tidak ada alasan yang dia tidak mendapat tahu. Mari, Soetee, malam ini juga kita orang mesti sampai di Sha-tjap-lak Kee-tjoe!"

"Di saat rombongan ini hendak cambuk kuda mereka, untuk di larikan, tiba-tiba mereka dengar suara kelenengan yang datangnya dan dalam rimba, suara mana disusul dengan berketoprakannya kaki kuda. Lie Kee Tjoen bersama Teng Kiam Beng dan muridmuridnya menjadi terperanjat, mereka lantas bcrsiap, untuk loncat turun dari kuda, guna hunus senjata mereka masingmasing. Kiam Gim sebaliknya berlaku tabah, ia mencegah.

"Jangan sembarangan, jangan geraki senjata!"

Katanya, yang goyangi tangan.

Hampir berbareng dengan perkataan Lioe Loo-kauwsoe ini, gombolan rumput di muka rimba kelihatan tersingkap, dari situ muncul beberapa orang.

Kiam Beng semua mengawasi dengan tajam, mereka siap sedia.

Lioe Kiam Gim berlaku tcnang, ia turun dari kudanya, ia lepaskan lesnya, lalu ia bertindak maju, untuk papaki orangorang itu, sedang yang jalan di muka ada seorang yang tubuhnya kekar.

Ia ini maju untuk angkat rapat kedua tangannya, buat memberi hormat, seraya terus menegur.

"Apakah di sini ada Lioe Loo-kauwsoe, Lioe Kiam Gim Sianseng?"

Suaranya ada terang. Cuma bersangsi sedetik saja, lalu Lioe Kiam Gim membalas hormat.

"Aku adalah Lioe Kiam Gim yang rendah,"

Ia menyahut.

"Aku numpang tanya, Saudara-saudara ada urusan apa denganku?"

Mendengar jawaban itu, rombongan itu lantas loncat turun dari kuda mereka.

Kiam Gim mundur satu tindak.

sikapnya tetap tenang.

Orang itu, dan kawan-kawannya, lantas memberi hormat pula, sambil menjura, menyatakan bahwa mereka hunjuk hormat mereka Mereka sebut dirinya "boan-pwee", ialah orang-orang yang lebih muda tingkatannya.

Kembali Lioe Loo-kauwsoe membalas hormat, dengan tergesa-gesa, seraya menyatakan bahwa ia tidak berani terima kehormatan itu.

Selagi ia hendak tanya, siapa adanya mereka dan guru mereka, orang tadi dengan cara sangat menghormat sudah maju akan serahkan sebuah peti kecil yang memuat karcis nama.

"Guru-kita, Tjiong Hay Peng, mendengar kabar bahwa Lioe Loo-kauwsoe sudah datang, telah utus kita hendak menyambut sambil haturkan hormatnya,"

Demikian pemimpin rombongan itu.

Lioe Kiam Gim tidak segera sambuti peti ita, hanya dengan cara yang menghormat sekali.

ia Tanya mereka tentang kewarasannya Tjiong Hay Peng.

Dengan mi ia hunjuk bahwa ia mengerti adat-istiadat, sopan-santun.

Kemudian baharulah ia sambuti peti itu.

Tapi, di saat tangannya diangsurkan untuk menyambuti, dengan tiba-tiba Teng Kiam Beng serukan muridnya yang kedua.

yang berbarengpun ia kedipi mata.

"Kenapa kau tidak lekas wakilkan Soepeh untuk sambut peti itu?"

Atas itu, belum sempat Kiam Gim menoleh, turut mencegah, sang mu-id.

ialah Loei Hong, sudah mencelat ke depaanya, untuk hadapi rombongan utusan, sambil hunjuk separuh-kehormatan, ia ulur kedua tangannya seraya berkata.

"Aku Loei Hong, murid Thay Kek Pay, dengan ini mewakilkan Soepeh kita menyambuti kehormatan!"

Utusan itu pandang Loei Hong, tetapi ia serahkan peti kecil itu.

Lioe Kiam Gim juga awasi murid soeteenya, ia nampaknya kurang puas.

Dalam kalangan Kang-ouw, orang ada sangat hargai adatistiadat.

Tjiong Hay Peng kirim karcis nama, utusannya itu pasti ada orangnya dari tingkatan lebih rendah, tetapi meskipun demikian, si utusan toh ada wakilnya Tjiong Hay Peng, dengan Lioe Kiam Gim ada asal satu derajat, sama tingkatannya, sudah seharusnya kalau yang sambut peti kecil itu adalah muridnya Kiam Gim atau orang yang lebih muda tingkatannya.

Kalau Kiam Gim yang sambuti sendiri, itu adalah tanda penghormatan luar biasa.

Kalau yang sambut ada orang lebih muda, itulah yang dibilang.

"guru terhadap guru, murid terhadap murid". Kiam Beng tidak inginkan kehormatan luar biasa itu, maka ia suruh muridnya yang menyambuti. Karena ini ada cara menghormat yang pantas, biarpun utusannya Tjiong Hay Peng merasa tidak puas, ia toh tidak bisa bilang suatu apa. Kiam Gim ada seorang yang halus budi bahasanya, ia hendak hunjuk keluhuran mertabatnya, itulah sebabnya kenapa ia tidak puas dengan perbuatan soeteenya, akan tetapi karena soeteenya tidak salah, terutama di muka umum itu, ia tidak mau menegurnya. Ia melainkan tidak puas, di saat dan tempat seperti itu, soetee ini masih saja kukuhi adatperadatan. Iapun tidak bisa cegah Loei Hong, karena kalau ia cegah, ia jadi hunjuk bahwa ia tidak menghargakan soeteenya. Demikian ia mendeluh di dalam hatinya, karena ia mesti hunjuk air muka berseri-seri. Begitulah dengan cara hormat, ia sambuti peti dari Loei Hong, sedang pada sekalian tetamunya -tetap dengan cara hormat -ia haturkan terima kasih.

"Sekarang juga kita akan datang mengunjungi!"

Ia tambahkan.

Rombongan itu lantas sajajalan di depan, Kiam Gim beramai mengikuti.

Di waktu maghrib, mereka sudah I lantas lihat Sha-tjap-lak Kee-tjoe.

Selagi berjalan, dengan tiba-tiba Teng Kiam Beng ucapkan beberapa patah perkataan pada Hoo Boen Yauw, guru silatnya dari Kaum Ouw Tiap Tjiang, atas mana orang she Hoo !

itu larikan kudanya keluar kalangan, hingga Lioe Kiam Gim dan orang-orangnya Tjiong Hay Peng pada tahan kuda mereka dan menoleh, Boen Yauw itu hunjuk hormatnya seraya kata.

"Aku mesti urus suatu apa di kota dusun, silakan Tuan-tuan jalan terus, sebentar aku akan hunjuk hormat belakangan kepada Tjiong Loo-kauwsoe!"

Lalu, dengan tidak tunggu jawaban lagi, ia larikan kudanya untuk pisahkan diri.

Orang berjalan pula, berselang setengah jam, sampailah mereka di.

muka rumahnya Tjiong Hay Peng, .Ketua dari Heng Ie Pay.

Rumah itu terletak di muka rimba, di depannya ada bukit yang digali dan dipapas, untuk dibikin jadi lapangan piranti berlatih silat.

Belakang rumah hampir nempel sama rimba.

Umpama orang jahat yang tinggal di situ, setiap"

Saat dia bisa lari sembunyi ke dalam rimba.

Tidak menunggu sampai di depan rumah sekali, Kiam Gim sudah ajak rombongannya turun dari kuda mereka dan minta supaya kedatangannya itu diwartakan terlebih dahulu, kemudian selagi menantikan, ia tarik tangan bajunya Teng Kiam Beng, untuk dengan roman sungguh-sungguh memesan.

"Soetee, sebentar di dalam, aku mohon dengan sangat agar kita terlebih dahulu hunjuk kehormatan kita, kita harus bersikap merendah, jangan sekali menuruti nafsu amarah, apabila sampai terbit pula gara-gara tidak diingin, sungguh, aku tidak dapat mengurus terlebih jauh!...."

Kiam Beng tidak.

mengucap sepatah kata, terang ia ada merasa sangat tidak puas berbareng malu.

Sementara itu Kiam Gim heran, kenapa Tjiong Hay Peng bisa demikian cepat dapat ketahui kedatangannya, sedang Kiam Beng tidak senang, karena dalam hatinya, ia kata.

"Ketika aku datang, kau tidak perdulikan aku, tapi sekarang Soeheng datang, kau menyambut dan membaiki secara begini rupa."

Ini pun ada salah satu sebab kenapa dia suruh Loei Hong wakilkan Kiam Gim sambuti karcis nama.

Selagi itu soeheng dan soetee berpikir masing-masing, pintu rumahnya Tjiong Hay Peng sudah dipentang dan tuan rumah kelihatan muncul dengan tindakannya agak tenang.

la pakai baju bulu, nampaknya sabarsekali.

Tuan rumah dan tetamunya segera juga bcrdiri berhadapan dan saling member!

hormat, kemudian pihak tetamu diundang masuk ke niangan tetania, di mana.

sambil berdiri rapi, kelihatan-bcberapa orang, yang tidak salah lagi mcsti muridmurid Heng Ie Pay.

Baharu saja orang bcrduduk, satu muridnya Hay Peng muncul dengan satu nenampan batu pualam yang besar.

atas mana ada sepuiuh cawan yang berukirkan sansoei yang berwama merah.

Walaupun muridnya yang membawa nampan untuk menyuguhkan, bukannya si murid yang melakukannya, tetapi Tjiong Hay Peng yang sambuti cawan teh, dan dia sendiri yang mcnyuguhkannya secara biasa, tetapi ketika cawan untuk Kiam Beng dihaturkan, maka terjadilah suatu hai yang hebat.

Selagi Tjiong Hay Peng dengan cawan di tangan datang mendekati, Teng Kiam Beng bangkit untuk menyambuti.

Mereka berdua tcrpisah satu dari lain jauhnya dua-tiga kaki, dan selagi si tetamu menyambuti sambil merendah, dengan sekonyong-konyong, cawan itu melesat ke tinggi, terus saja pecah sendirinya, dan airnya lantas menyiram arah Teng Kiam Beng punya muka, berbareng dengan mana, menyambar juga pecahannya.

Kiam Beng terperanjat bukan main, akan tetapi walaupun ia tidak sepandai soehengnya, ia masih sempat gunai tangan kanannya, untuk menangkis sambil menyampok keras air dan pecahan cawan itu, hingga ia terluput dari serangan gelap itu.

Hanya lacur ada Loei Hong, si murid kedua, yang berada di samping, benar ia masih sempat berkelit dari pecahan cawan, tapi air toh mengenai mukanya yang jadi basah!

Berbareng dengan kejadian itu, Tjiong Hay Peng hunjuk rupa kaget, sembari lempar ke samping itu nenampan kumala, ia berseru.

"Ah, ini cawan teh tidak kuat! Aku pun sudah tua, aku kesalahan membuatnya pecah, hingga aku kena bikin kaget tetamuku.... Tuan, harap maaf, maafkanaku!"

Selagi nenampan terlempar, satu muridnya Tjiong Hay Peng bergerak, untuk menyanggapinya, akan tetapi, Lioe Kiam Gim berlaku lebih sebat dari murid itu, dengan berlompat, ia maju akan tanggapi nenampan itu, hingga malah pun sisa delapan cawannya yang lain, tidak turut jatuh, airnya tidak tumpah!

Untuk ini, Lioe Loo-kauwsoe gunai hanya dua jeriji tangannya.

"Semua cangkir yang indah, kalau sampai rusak, sungguh sayang!"

Katanya.

Kemudian, ia wakilkan Tjiong Hay Peng akan haturkan semua teh itu kepada sekalian hadirin.

Teng Kiam Beng tidak hunjuk kemurkaan.

Ia tahu Tjiong Hay Peng sedang pertontonkan kepandaiannya.

la pun telah lihat lirikan soehengnya.

Tapi, berbareng dengan itu, ia mesti kagumi lawan punya kepandaian yang liehay.

Di lain pihak, Tjiong Hay Peng juga insyaf, jago Thay Kek Pay itu benar-benar tidak boleh dipandang enteng, apapula kepandaian luhur dari Lioe Kiam Gim.

Dengan sikapnya yang merendah, Hay Peng mcnghaturkan maaf, akan tetapi diam-diam, ia masih ingin mencoba satu kali lagi.

Di antara sinar bulan, yang memain antara cahaya api, Tjiong Hay Peng lantas adakan pertemuan untuk sekalian tetamunya itu.

Kiam Beng bersangsi, ia ragu-ragu tuan rumah itu menjamu dengan sungguh-sungguh atau itu adalah semacam pesta "Hong Boen".

Hay Peng sudah lantas kasih pertunjukan pula.

Tadi ia suguhkan teh kepada tetamu-tetamunya, sekarang ia hendak menyuguhkan arak.

Tadi ia gunai cangkir yang indah, tetapi sekarang ia pakai tempat arak yang besar dan kasar, ialah guci arak terbuat dari besi yang beratnya dua atau tiga puluh kati.

Dan, melewati Lioe Kiam Gim, ia lantas saja menyuguhi pada Teng Kiam Beng.

Sebagai alasan, ia bilang, di mana ia sendiri ada Ketua dari Heng Ie Pay, sudah sepantasnya ia hormati dulu Ketua dari Thay Kek Pay.

Tapi sebenamya, dengan ini cara, ia hendak menyingkir dari Lioe Loo-kauwsoe.

Kiam Beng sudah menduga orang tidak bermaksud baik, ia senantiasa waspada.

Ketika tuan rumah dekati ia, ia lantas berbangkit, untuk sambuti arak, tidak tahunya, belum ia berdiri betul, Tjiong Hay Peng sudah dorongkan gucinya dengan arah orang punya dada.

Guci itu.

bersama araknya ada kira-kira lima puluh kati beratnya.

Segera ia angkat kedua tangannya, tubuhnya berdiri tegar, kemudian dengan sebelah tangan mencekal mulut guci, ia kata.""Jangan seedjie, aku bisa ambil sendiri!"

Oleh karena ini, guci arak jadi kena ditahan di tengahtengah di antara kedua orang itu, yang dengan diam-diam telah gunai mereka punya tenaga dalam atau khie-kang.

Serangan gelap dari Hay Peng ini, apabila tidak sampai membinasakan.

akan bikin orang tcrluka hebat di bagian dalam badan dan menjadi tapadakpa.

Kiam Beng bisa duga itu, ia sengaja tidak mau terima suguhan, ia hanya tahan mulutnya guci itu.

Maka kejadiannya, Hay Peng tidak.

bisa menolak, iapun .tidak mau melepaskannya.

Karena ini, duadua lantas keluarkan keringat dingin pada jidatnya masingmasing.

Pertentangan itu ada hebat Karena kedua pihak sama tangguhnya, lama-lama keduanya akan terluka masing-masing sendirinya, kecuali ada pihak ketiga, yang datang sama tengah.

"Sudan, kau orang berdua janganlah terlalu seedjie!"

Berkata Lioe Kiam Gim sambii tertawa, seraya ia hampirkan dua orang itu.

"Soetee, jikalau kau tidak ingin terima suguhannya Tjiong Toako, man kasih aku yang mewakilkannya!"

Sambii bcrkata begitu, Kiam Gim gunai sepasang sumpirnya, akan jepit tutup guci, dcngan gunai sumpitnya itu, ia buka tutup tersebut, kemudian dengan sebat sekali, ia teruskan jepit lehernya guci itu, hingga guci jadi terlepas dari cekalannya Tjiong Hay Peng, tergantung di antara dua sumpit itu.

Kemudian lagi, dengan tangan kiri, ia pakai cawan akan sendok isi guci, akan hirup araknya!

Setelah masing-masing lepaskan tangannya, dua-dua Teng Kiam Beng dan Tjiong Hay Peng mundur sendirinya, dengan limbung, tubuh mereka jatuh duduk di kursinya masingmasing.

Kedua-duanya tidak bisa keiuarkan kata-kata!

Adalah kemudian, Tjiong Hay Peng berloncat bangun, jempolnya dipertunjuki.

"Lioe Toako, sungguh kau liehay!"

Ia memuji.

"Aku harus didenda tiga cawan!"

"Dengan scbenarnya, Tjiong Toako, aku hams kasih selamat pada kau!"

Kata Lioe Kiam Gim sambii tertawa.

Ia terus bersikap sewajarnya saja.

Dengan agak likat, Tjiong Hay Peng terima tiga cawan.

Sampai di situ, mereka lantas mulai pasang omong.

Dengan sikapnya yang merendah, Lioe Kiam Gim utarakan maksud kedatangarinya, sebaliknya daripada menyangka Hay Peng, ia mohon tuan mmah suka bantu ia.

Ia tanya kalaukalau Ketua Heng Ie Pay itu ketahui siapa orangnya yang sudah uji Teng Kiam Beng.

Sesudah keduanya berpisah dua puluh tahun lebih, Tjiong Hay Peng tidak lagi manis budi seperti dulu-dulu, tidak perduli pihak tetamu berlaku demikian ramah-tamah, ia berpura-pura tidak ketahui hal pembegalan itu, ia malah hunjuk roman terperanjat, ia berlaga menghela napas, akan akhirnya, seraya tepuk tangannya, ia berseru.

"Oh, benar-benar ada terjadi demikian? Ah, kenapa aku tidak dapat tahu?"

Sikap ini membuat Kiam Gim jadi mclcngak, memang ia tidak pandai bicara.

"Ah, apakah benar-benar Tjiong Toako tidak ketahui kejadian itu?"

Demikian ia cuma bisa tegaskan. Tjiong Hay Peng tertawa seperti sewajarnya.

"Bukan, melainkan aku tidak pernah memikirnya!"

Demikian jawabannya.

"Siapa sangka Ketua dari Thay Kek Pay, yang mewariskan tiga rupa kepandaian liehay dari Thay-kek Teng, Teng Kiam Beng yang namanya menggetarkan dunia Kangouw, ialah Teng Toako, telah kena dipermainkan oleh satu tua bangka! Malah tua bangka itu cuma gunai tangan kosong yang berdaging melulu!"

Kiam Beng jadi sangat gusar, sampai ia tak dapat kendalikan pula dinnya. Ia gedruki cangkir araknya seraya kata dengan nyaring.

"Ya, aku Teng Kiam Bcng belajar silat tidak sempurna, sampai orang telah kena pecundangi! Habis, kau mau apa? Tapi kau sendiri, Tjiong Toako, kau Ketua dari Heng Ie Pay, yang pandai ilmu pedang Boe-kek-kiam, dalam Rimba Persilatan -kenapa toh ada orang Kang-ouw, yang lewat di sini, orang itu sudah tidak lakukan kunjungan kehormatan kepadamu, malah dia berani lakukan kejahatan di dalam daerah pengaruhmu ini? Kenapa dia bisa mondarmandir dengan merdeka? Kenapa orang tidak pandang mata sama sekali kepada Tjiong Toako?"

Tjiong Hay Peng tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa tawar.

"Begitu, Teng Toako, kau pikir?"

Ia tanya.

"Tapi aku tidak merasa hilang muka! Dengan kepandaianku yang tidak berarti, aku hanya dapat nama kosong belaka. Dengan kegagahan, aku tidak bisa menindih orang, dengan kebijaksanaan, aku tidak mampu bikin orang tunduk, maka adalah selayaknya saja apabila orang tak lihat mata padaku! Hanya kalau sampai Teng Toako sendiri orang tidak pandang, hingga orang berani tangkap kutu di kepala harimau, ah, inilah, sungguh, aku tidak bisa bilang suatu apa!"

Kembali Teng Kiam Beng kena tersindir.

Sebelum suasana menjadi lebih hebat, Kiam Gim sudah lantas berbangkit, menghadapi tuan mmah, ia menjura, hingga Hay Peng dengan tersipu-sipu mesti balas hormatnya itu.

"Tjiong Toako,"

Berkata Lioe Loo-kauwsoe, dengan suaranya yang sabar.

"kita ada orang-orang yang sudah berusia hampir enam puluh tahun, kita ada saudara-saudara dari bebcrapa puluh tahun, maka itu, ada berapakah orang yang hidup scumur kita ini? Dari itu umpama kita tidak ingat sesama orang Rimba Persilatan, kita toh harus ingat persahabatan kita dari bebcrapa puluh tahun itu. Toako, kalau ada ganjalan sesuatu, sehamsnya itu dikasih lewat, tidak seharusnya kita orang bersikap sebagai sesama orang-orang asing. Toako, aku percaya kau, aku percaya, kau tidak ketahui suatu apa mengenai itu pembegalan. Akan tetapi, di samping itu, aku hendak mohon kau bantu sedikit kepadaku. Kau ada penduduk sini, kau berkenalan luas, aku minta kau suka capaikan hati akan turut dengar-dengar, siapakah yang telah lakukan perbuatan itu. Tidak perduli orang itu ada tertua dari golongan mana, akan tetapi kita hanya hendak tanya, perbuatan apa yang kelini dari kita, untuk setelah itu, kita orang menghaturkan maaf agar perkara dapat dibikin habis. Jikalau tetap kita tidak ketahui kekeliruan kita, umpama kita tnesti binasa, sungguh kita tak tahu suatu apa, kita bakal binasa secara kecewa" . Tjiong Hay Peng kena dibikin tergerak hatinya oleh perkatannya orang she Lioe ini, sikap siapa ada merendah tetapi pun sungguh-sungguh, malah ada bersifatkeras. la insyaf. jikalau ia tidak ubah haluan, urusan bisa jadi kacau. Ia pun mengerti, tidak dapat ia terus bcrpura-pura tidak ketahui tentang pembcgalan itu, yang di kalangan Kang-ouw sudah jadi buah pembicaraan. Benar dcngan Teng Kiam Beng iamengganjal hati, tetapi dengan Lioe Kiam Gim ia ada bersahabat kekal, hingga sedikitnya ia hams memandang ,mata pada sahabat ini. Satu hal masih ia sangsikan, yaitu sesudah berpisah dua puluh tahun lebih, ia tidak tahu, Kiam Gim ada bersatu haluan dengan Kiam Beng atau mereka dua saudara seperguruan masih tetap berlainan paham. Tentang Kiam Beng, ia tahu benar, dia ini masih tetap berada di pihak pembesar negeri.

"Dengan sebenarnya aku tidak tahu siapa itu orang yang telah iawan Teng Toako,"

Akhirnya ia menjawab.

"Satu hal aku bisa terangkan, di Liauw-tong ada beberapa orang kenamaan yang ingm bertemu sama Lioe Toako dan bertjita-tjita main-main dengan Teng Toako. Karena orang bicara dengan lidah Liauw-tong, baiklah Toako tanyakan beberapa tetua dari Liauw-tong itu, pastilah Toako akan peroleh keterangan."

Kiam Gim heran kenapa ada orang Liauw-tong, yang hendak bikin pertemuan dengan ia, walaupun demikian, ia tidak jerih.

"Tidak berani aku menerimanya, apabila ada beberapa tetua itu menghendaki menemui aku,"

Kata ia dengan merendah.

"akan tetapi, karena mereka ada bercita-cita demikian, umpama kata mereka tidak sampai datang padaku, sudah pasti sekali aku sendiri akan kunjungi mereka. Tjiong Toako, tolong kau tetapkan suatu hari untuk aku berk unj ung kepada mereka."

Habis berkata begitu, Lioe Kiam Gim berbangkit, untuk segara pamitan.

"Tunggu dulu, Toako!"

Mencegah Tjiong Hay Peng, romannya sibuk.

"Sudah dua puluh tahun kita orang tidak bertemu, dan kau pun datang dari tempat yang jauh sekali, cara bagaimana Toako hendak kembali secara tergesa-gesa begini? Apakah Toako ccla gubukku buruk hingga tidak surup untuk menyambut Toako? Biar bagaimana, aku mohon Toako suka berdiam padaku untuk beberapa hari."

Dua kali Kiam Beng merasa terhina, karena itu, ia tak dapat singkirkan kemendongkolannya, makajuga, sebelumsaudaranyajawab tuan rumah, ia mendahului pamitan. Ia kata.

"Terima kasih untuk kebaikan kau, Tjiong Toako. Di Sha-tjap-lak Kee-tjoe ini aku ada beberapa sahabat, karena kita memangnya sudah bersiap, menyesal aku tidak bisa berdiam di sini, atau kalau tidak, aku jadi mcnsia-siakan sahabatku itu. Sampai lain hari saja, kalau itu beberapa tetua dari Liauw-tong sudah sampai, aku nanti datang pula bersama-sama soehengku ini!"

Setelah kata begitu, Kiam Beng pakai mantelnya, terus ia bertindak keluar, rombongannya turut sikapnya itu.

"Jikalau demikian, aku tak dapat menahan lagi kepada kau orang,"

Kata Tjiong Hay Peng yang berbangkit, untuk antar sekalian tetamunya itu, tetapi ketika mereka sampai di pintu, kembali ia uji kepandaian orang, ialah selagi menjura, untuk memberi selamat jalan, ia gunai tenaga tangannya, yang anginnya menyambar dengan keras.

Kiam Beng balas menjura seraya iapun gunai kepandaian dari Thay Kek, untuk tangkis itu serangan gelap, hingga Hay Peng tak dapat berbuat apa-apa; hanya terang, kepandaian mereka berdua ada berimbang.

Seberlalunya dari rumah Keluarga Tjiong itu, Kiam Gim semua menuju ke pasar, ke rumah penginapan, yang tadi Kiam Beng suruh Boe-soe Hoo, Boen Yauw dari Ouw Tiap Tjiang pergi urus siang-siang.

Selama di tengah jalan, Kiam Beng masih saja mendongkol, hingga ia menggerutu dan caci Tjiong Hay Peng.

Kiam Gim sebaliknya, berdiam saja, ia berlaku tenang sekali.

Hanya, ketika mereka mendekati pasar, atau dusun, tiba-tiba ia berbalik dan kata pada saudaranya itu.

"Soetee, pergilah duluan ke rumah penginapan, aku ada punya suatu urusan!"

Kiam Beng tanya, soeheng itu ada mempunyai urusan apa, ia nyatakan suka ikut.

"Untuk ini aku tidak bisa berjalan bersama-sama kau,"

Kiam Gim bilang.

"Kau jangan kuatir, urusan ini akan ada baiknya untuk kau!"

Setelah kata begitu, Kiam Gim loncat turun dari kudanya, terus saja ia berlari-lari, hingga ia lenyap dari pemandangan saudaranya sekalian, lenyap dalam sang malam.

Nyata Kiam Gim hendak kembali ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, akan menemui sendiri pada Tjiong Hay Peng.

Ia insyaf, urusan tidak ada sedemikian sederhanaseperti tapikir pada mulanya.

Ia percaya, di situ mesti ada salah faham, terutama mengenai soeteenya.

la dapat kenyataan, Kiam Beng tetap masih suka bercampur sama pembesar negeri dan tabiatnya tetap keras, adatnya tinggi dan suka diangkat-angkat, hingga karenanya, tindakannya sembrono Di sebelah itu, soetee ini belum sampai "berkhianat"

Terhadap kaum Kang-ouw, dan tidak kandung niatan menghamba pada Kcrajaan Tjeng.

Oleh karena itu, ia anggap perlu ia ketemui sendiri pada Tjiong Hay Peng, untuk peroleh pengertian satu dengan lain, akan lenyapkan salah paham.

Dcmikian, dengan gunai ilmu lari yang keras.

dengan yaheng-soet, ilmu lari di waktu malam, ia kembali ke rumahnya Ketua dari Heng le Pay.

Ia sampai dengan cepat.

Selagi ia mendekati jalanan gunung, yang tinggi di kiri dan di kanan, yang bergunduk-gundukan dan banyak pepohonannya, tiba-tiba ia tampak berkelebatnya dua bayangan di sebelah kanan, disusul sama suara tertawa dingin.

Ia segera berhentikan Itindakannya, ia mengawasi.

Dalam gelap-gulita, ia tidak lihat suatu apa.

Hanya kemudian, ia kembali dengar beberapa kali tertawa dingin, tertawa menghina.

Besar nyalinya.

dan dengan tidak perdulikan pantangan kaum Kang-ouw.

"bertemu rimba tak boleh lancang memasukinya", Kiam Gim tekuk kedua lututnya, untuk melompat kedepan, akan mencelat masuk ke tempat pepohonan itu. Ia bersikap "Liong heng tjoan tjiang", bagaikan naga saja, tangan kanan di depan, tangan kiri di dada. Sembari berlompat, iapun berseru.

"Sahabat siapa main-main di sini? Dengan main sembunyi-sembunyi, apakah artinya itu?"

Benar selagi tubuhnyajago Thay Kek Pay ini mencelat, dari kiri dan kanan, dengan sekonyong-konyong, ada menyambar masing-masing sebatangioya, yang anginnya sampai menerbitkan suara menderu-deru.

Ia tidak kaget, hatinya tidak terkesiap.

Dengan loncat terus, ia lolos dari kemplangan itu, tapi begitu lewat, ia tahan tubuhnya, ia berputar diri.

Sebaliknya kedua penyerang, yang menyerang secara sangat hebat, menjerunuk tubuhnya ke depan, toya mereka masingmasing mengenai tempat kosong.

Justeru itu, sebat luar biasa, Kiam Gim menyapu kepada dua orang itu, hingga dengan saling susul, mereka itu rubuh dengan tubuh terpelanting, hingga mata mereka jadi berkunang-kunang, kepala mereka pusing, hingga untuk sedetik, mereka tak mampu bcrbangkit.

Sampai di situ, Kiam Gim mengawasi dengan tak maju lebih jauh.

"Ada permusuhan apa di antara aku si orang she Lioe dengan Tuan-tuan berdua hingga Tuan-tuan, di waktu malam gelap begini, sudah memegat dan membokong kepadaku?"

Tanya ia dengan sabar.

"Aku ingin sekali belajar kenal dengan Tuan-tuan."

Belum dua orang itu menyahuti, atau dari dalam pepohonan terdengar suara tertawa bergelak-gelak yang disusul dengan kata-kata.

"Jangan gusar, Lioe Loo-enghiong! Duabocah ini hendak menemui orang yang tertua, apabila mereka tidak ambil sikapnya, cara bagaimana mereka dapat terima pengajaran dari kau? Mereka pun tidak sampai mengganggu walaupun selembar rambut Loo-enghiong!...."

Itu adalah suara dengan lidah Liauw-tong, yang Kiam Gim kenali dengan baik, maka itu, segera ia memandang ke arah pepohonan dari mana suara datang.

Ia tidak usah menantikan lama akan tampak munculnya dua orang tua dengan rambut dan kumis-jenggot ubanan.

Cahaya lemah dari rembulan dan banyak bintang membuat jago tua ini bisa melihat jauh terlebih tegas.

Demikian ia lihat nyata, orang tua yang satu berbaju biru dan gerombongan, yang kedua romannya keren, tinggi tubuhnya enam kaki, mukanya bersemu merah, pakaiannya serupa, kumis-jenggotnya panjang, matanya tajam.

Lekas sekali, jago Thay Kek Pay ini tekapi kedua tangannya.

"Djiewie Soehoe, bukankah kau orang ada orang-orang yang pada bulan yang lalu telah memberikan ajaran kepada soeteeku? Djiewie, terimalah hormatnya Lioe Kiam Gim!"

Dan jago ini hunjuk hormatnya.

"Di sini tidak ada bicara tentang soeheng dan soetee!"

Sahut si orang tua yang mukanya bersemu merah.

"Kita melainkan mohon terima pengajaran dari Lioe Looenghiong buat dua atau tiga gebrak saja!"

Dalam hatinya, Kiam Gim ada mendongkol sekali.

Kenapa orang ada begini kasar?

Kenapa, tanpa sebab dan alasan, orang berniat "menghajar kalang-kabutan pada satu kuali bubur"?

Akan tetapi, ia atasi dirinya sendiri.

"Kebisaanku si orang she Lioe ada tidak berarti, bagaikan sinar kunang-kunang saja, mana aku berani terima pengajaran dari satu ahli?"

Kata ia.

"Aku si orang she Lioe belum pernah bertemu dengan Djiewie, dari itu, entah kapan dan di mana pernah aku berlaku tidak selayaknya kepada Djiewie?"

Orang tua muka merah itu tertawa berkakakan.

"Lioe Loo-enghiong terlalu merendahkandiri!"

Berkataia.

"Kita memohon pengajaran dengan sungguh-sungguh, untuk berlatih, samasekalikitatidakkandungmaksud jahat! Suddh lama kita dengar hal boegee dari Thay Kek Teng serta tiga rupa kepandaiannya yang| menggetarkan Rimba Persilatan, di luar dugaan kita, nama Ketua dari kaummu itu ada namakosong belaka, makaitu, tidak dapat tidak, kita harus mohon pengajaran dari kau sendiri, Lioe Loo-enghiong!"

Mencoba-coba kepandaian di kalangan Kang-ouw atau Rimba Persilatan ada hal umum, hanya cara dua orang ini adalah terlalu mendadakan dan mereka juga tidak pakai aturan yang biasa, mereka bcrlaku kasar, dari itu, justeru di sini ada mengenai nama baik guru atau rumah perguruannya, Kiam Gim bersedia untuk mengiringi.

la insyaf bahwa ia lagi hadapi orang pandai tetapi ia tidak jerih.

"Jikalau Djiewie memaksa hendak mcmbcri pengajaran kepadaku, baiklah, aku si orang she Lioe bersedia untuk menemani,"

Kata ia dengan nyaring.

"Salah satu yang mana akan maju terlcbih dahulu atau Djiewie akan maju dua-dua dengan berbareng?"

Si orang tua muka merah melirik dengan tajam. ia tertawa terbahak-bahak.

"Nyata Lioe Loo-enghiong terlalu memandang orang enteng sekali!"

Ia kata.

"Rita dua saudara walaupun bodoh tetapi baharu dua-tiga gcbrak masih bisa juga melayani...."

Dua orang itu adalah Pek-djiauw Sin Eng Tok-koh It Hang serta In Tiong Kie, Ketua dari Pie"Sioe Hwee, Kumpulan Pisau Belati.

Jadi dugaannya Law Boe Wie adalah tidak keliru, adalah Tok-koh It Hang yang dengan tangan kosong telah uji Teng Kiam Beng, untuk punahkan tiga rupa ilmu kepandaiannya.

Akan tetapi kedatangan mereka ke Djiat-hoo ini bukan melulu untuk coba Teng Kiam Beng, mereka sekalian niat ikat tali persahabatan dengan kaum Rimba Persilatan di Kwan-Iwee (Tionggoan).

Sudah sejak lama mereka kagumi Lioe Kiam Gim, hanya mereka belum tahu, orang she Lioe ini ada bertabiat sama atau tidak dengan Teng Kiam Beng, dari itu, merekaingin mencoba-coba juga, terutama Tok-koh It Hang yang selama beberapa puluh tafiun belum pemah ketemu tandingan, sekarang ia ingin uji Kiam Gim untuk sekalian bersahabat dengannya, asal Kiam Gim beda daripada Kiam Beng.

Dengan scnjata mereka memegat di tengah jalan itu.

Tok-koh It Hang ingin mencoba terlebih dahulu, akan tetapi In Tiong Kie pegat ia.

"Toako, tinggallah kau di belakang,"

Kata ketua Pie Sioe Hwee ini.

"Biar siauwtee maju lebih dahulu, apabila akan gagal, baharulah kau sambungi aku...."

Setelah mengucap demikian, tanpa tunggu jawaban lagi, si Keanehan-dalam-Awan segera mendahului lompatmaju ke depannyaKiam Gim, dengan tekap kedua tangannya, ia memberi hormat.

"Lioe Loo-enghiong, kita cuma ingin berlatih, maka itu, apabila terjadi siapa kalah dan siapa mcnang, biar kita sambut itu dengan tertawa, jangan kita orang buat pikiran!"

Ia kata. Lioe Kiam Gim balas hormat itu.

"Djiewie ada baik sekali hendak memberikan pengajaran kepadaku, terang Djiewie ada sahabat-sahabat baik,"

Sahut ia dengan merendah.

"oleh karena kita bukan bertempur untuk mati atau hidup, memang menang atau kalah bukanlah soal. Bukankah "bunga merah dan daun hijau asal ubi teratai putih dan tiga agama pokoknya satu"? Kita ada or-ang-orang Rimba Persilatan, cara bagaimana kita orang tidak bersahabat? Nah, Sahabat baik, silakan kau mulai lebih dahulu!"

In Tiong Kie tidak bilang suatu I apa, setelah berdiam sesaat, tiba-tiba dari pinggangnya, iatarik keluar suatu penda yang melibat pinggangnya itu, dan di antara sambaran angin, benda itu memperlihatkan diri sebagai cambuk "Kauw-kin Hong-liong-pian".

Itu adalah rotan keluaran Timur-utara yang ulet, yang dilibat dengan urat-urat ular, hingga bisa digunai sebagai cambuk dan ruyung berbareng untuk melibat golok atau pedang lawan.

Baharu sekarang ia kata, sambil tertawa haha-hihi.

"Sudah lama aku dengar liehaynya Thay Kek Tjapsha-kiam, sekarang dengan tidak tahu tenaga sendiri, aku ingin Lioe Loo-enghiong ajarkan aku barang satu atau dua jurus!"

In Tiong Kie tidak liehay bersilat tangan kosong, barusan pun ia saksikan sendiri, dalam satu gebrak saja, Lioe Kiam Gim telah rubuhkan dua muridnya Tok-koh It Hang, dari itu untuk tidak mendapat malu, ia ingin adu senjata; biamya ia tahu, ilmu pedangnya lawan ada kesohor akan tetapi ia andali betul senjatanya sendiri yang istimewa, yang ia telah yakinkan beberapa puluh tahun lamanya.

Ia percaya, umpama kata ia tak peroleh kemenangan, tidak nanti sampai ia kena dikalahkan.

Kiam Gim tidak terperanjat melihat orang kehiarkan ruyung atau cambuk istimewa itu, setelah dengar ia ditantang untuk gunai pedang; lantas saja ia bersenyum.

Terus ia bilang.

"Sudah beberapa puluh tahun aku tidak berlatih lagi dengan golok atau pedang, aku jadi sangat asing dengan semua senjata itu, dari itu biarlah dengan sepasang tanganku yang berdaging ini, aku main-main dengan kau, Loo-soehoe. Hanya lebih dahulu aku ingin minta, sukalah kau mengalah sedikit, oleh karena tulang-tulangku taktahan dengan pemukul.... Silakan, silakan! -Eh, kenapa kau tidak lantas mulai?"

In Tiong Kie berdiam, dengan hati yang panas. Segera ia simpan cambuknya.

"Lioe Loo-enghiong, kenapa kau begini tidak pandang mata pada orang?"

Tanya ia dengan suara keras. Kiam Gim tidak lantas menjawab, ia hanya bersenyum pula.

"Mana, mana aku berani tak memandang mata kepada kau, Loo-soehoe?"

Kata ia, dengan sangat merendah.

"Harap Loosoehoe ketahui baik-baik bahwa sesuatu orang mempunyai senjata kesukaannya sendiri! Loosoehoe mempunyai cambukmu, aku punya sepasang tanganku ini, soeteeku, Tjiang-boen-djin dari Thay Kek Boen dari Keluarga Teng, telah dirubuhkan Tuan-tuan dengan tangan kosong, dari itu sekarang aku mengharap pengajaran dengan tangan kosong jugaJ"

Diam-diam hatinya In Tiong Kie tergetar.

Secara begini, terang Lioe Kiam Gim tidak dapat dipersalahkan, karcna dia hendak mcmul ihkan muka soeteenya yang orang rubuhkan dengan tangan kosong.

Dengan itu cara orang jatuhkan pamomya Thay Kek Pay, dengan itu cara j uga, nama Thay Kek Pay hendak diangkat kembali.

Itulah sudah seharusnya.

Jadinya bukan orang tak pandang mata kepadanya.

Hanya ia merasa mcnyesal, karcna Kiam Beng rubuh di tangannya Tok-koh It Hang dan sekarang Kiam Gim hendak menuntut balas dari ia.

Ini dia yang dibilang anjing kuning dapat makanan, anjing putih yang dapat bencana".

Karcna ia pun ada satu j ago tua, In Tiong Kie tidak suka mundur, hanya sekarang ia ambil ketetapan akan pakai terus cambuknya, sebab ia pun sangsi, dengan tangan kosong, orang she Lioe ini sanggup layani ia.

Maka kembali iakeluarkan cambuknya itu.

"Jikalau demikian, Lioe Loo-enghiong, maafkanlah aku!"

Berkata ia Lioe Kiam Gim tidak menjawab, ia hanya mengawasi Iawan, dengan sikap yang .anteng sekali.

Tapi satu ahli niscaya ketahui dengan baik, ia sebenarnya sedang bersedia, perhatiannya sedang dipcrsatukan.

Sampai di situ, In Tiong Kie tidak berayal lagi.

Dengan "Sin Hong djip hay", atau "Naga malaikat masuk ke laut", ia mulai dengan penyerangannya, dari atas.

Kiam Gim berlaku gesit, tidak tunggu sampai cambuk menghampirkan ia, ia sudah angkat kedua pundaknyadan kaki kanannya menggeser ke kanan.

Melainkan hampir saja, cambuk mengenai sasarannya.

Menampak gagalnya serangan itu, In Tiong Kie pun kirim susulan saling beruntun.

"Lian hoan sam pian" -runtunan tiga kali, serta "Keng hong sauw lioe"

Atau "Angin besar menyapu daun yanglioe".

Cambuk bergerak dengan sebat, sampai menerbitkan suara angin, bayangannya turut bergerak menyambar.

Kiam Gim lihat ancaman bahaya, ia tidak hendak lawan dengan keras, dengan geraki pinggangnya, dalam gerakan "Yan tjoe tjoan in", atau "Waletserbu mega", ia mencelat tinggi sampai dua tumbak, akan turun di belakang lawan, begitu lekas sudah mcndekati tanah, tangan kanannya disodorkan kepada bebokong orang, dalam gerakan membacok!

In Tiong Kie itu, kecuali ilmu cambuknya ini yang liehay, pandai jugamengenali berbagai alat-senjata dengan mendengari saja sambaran anginnya, sebagaimana Law Boe Wie telah peroleh pelajaran darinya.

Maka sekarang, ia segera ketahui lawan lagi serang ia.

Malah ia pun bisa duga, lawan ada di arah mana.

Begitulah, sembari memutar tubuh, berbareng berkelit, ia pun menyabet dengan Kiauw-kin Hongliong-pian!

Berbahaya kedudukannya Lioe Kiam Gim, ini melulu disebabkan kegesitan lawan.

Tapi, ia juga tak mau kalah gesitnya, ia hendak hunjuk kcpandaiannya.

Ia tidak mcnangkis, ia berkelit, bukan dengan lompat mundur, hanya dengan membungkuk tubuh, begitu rupa, hingga cambuk lewat sedikit di atasannya!

Sesudah ini, dengan sebelah kaki maju, sambil angkat tubuhnya, ia barengi menyerang, bagaikan "angin taufan"

Atau "gelombang hebat".

Atas ini, baharulah In Tiong Kie loncat mundur.

Secara demikian,-mereka lanjuti pcrtcmpuran.

Mereka ada seumpama dua tukang main catur yang liehay, atau setengah kati adalah delapan tail.

Dua-dua gesit, cepat gerakannya.

Setelah mundur dan maju bergantian, In Tiong Kie perlihatkan serangannya "Kioe kioe pat-sip-it"

Atau "Scmbilan kali sembilan menjadi delapan puluh satu", cambuknya itu menyabet, menyapu, melibat, menindih saling susul, tidak henti-hentinya.

Lain dari itu, ia jaga diri dengan baik, ia tidak mau izinkan lawan desak ia.

Maka itu, ia menjaga diri berbareng lebih banyak menyerang.

Beberapa puluh jurus telah lewat dengan cepat.

Walaupun ia didesak, Lioe Kiam Gim tidak kasih dirinya dibikin repot, tubuhnya, bagaikan bayangan, mengikuti sesuatu gerakan cambuk istimewa itu.

Di sebelah itu, ia juga tidak dapat ketika untuk rapatkan tandingan itu.

Maka di akhimya, dua-dua merasa heran sendirinya, mereka saling mengeluh, In Tiong Kie menjadi jengah, cambuknya, yang ia sudah fahamkan beberapa puluh tahun, sekarang kena dibikin tidak berdaya oleh sepasang tangan darah dan daging melulu, malah ia kadang-kadang kena didesak.

Kiam Gim pun tidak mengerti, kenapa ilmu silat tangan kosongnya -ilmu silat Thay Kek Pay yang kenamaan -tidak sanggup rampas cambuk lawan itu dan sudah ia tidak mampu merangsang, ia pun beberapa kali musti menyingkir dari serangan-serangan sangat berbahaya, tetapi sekarang ia mengerti kenapa Kiam Beng, soeteenya, rubuh di tangan musuh, tidak tahunya, musuh ada demikian liehay.

Lawan ini sajasudah jauh lebih liehay daripada soeteenya, maka ia percaya, orang tua yang lain itu jangan-jangan akan melebihkan ia liehaynya.

Kapan sudah lewat tiga puluh gebrak, Kiam Gim ubah caranya bertempur.

la sekarang gunai tangan kanan saja, akan layani cambuk musuh, dengan tangan kirinya, yang dibikin keras bagaikan tumbak cagak.

ia cari jalan darahnya In Tiong Kie.

Sepasang tangannya yang tak bersenjata itu ia bikin jadi seperti senjata tajam saja -tangan kanan mirip dengan pedang Ngo-heng-kiam, tangan kiri mirip dengan tusukan Tiam-hiat-kwat.

Adalah setelah itu, pihak lawan baharulah kena didesak.

Lioe Kiam Gim telah pikir, jikalau ia tidak lekas rebut kemenangan, apabila ia main ayal-ayalan, ia akan terancam bahaya, karena di luar kalangan, lawan yang satunya selalu pasang mata ke arah dia, dia itu senantiasa perhatikan ilmu silatnya.

Itulah ada tidak baik untuk pihaknya.

Tiba-tiba, selagi In Tiong Kie menyabet ke atas, di tiga jurusan, Kiam Gim bcrkclit akan singkirkan diri dari serangan, tubuhnya membungkuk, berbareng dengan mana, ia maju, lalu sebelah kakinya, dikasih mclayang.

Kaki kanannya yang menyambar, kaki klrinya pasang kuda-kuda.

Serangan ini ada serangan berbahaya.

untuk pihak penyerang, karena gerakannya yang mendesak dipaksakan.

In Tiong Kie lihat itu, hatinya girang.

Ia pikir.

"Hm, tua bangka ini tidak lagi berpokok pada ketegaran dari Thay Kek Boen, mustahil sekali ini ia tidak rubuh?...."

Maka ketua Pie Sioe Hwee mi lantas geser tubuhnya ke kiri, buat kasih lewat kaki kanan lawan itu, sehingga karenanya, keduanya jadi saling melewati.

hingga mereka seperti bebokong menghadap bebokong.

Lalu, menggunai ketika ini, tanpa bcrpaling pula, melulu andalkan kepandaiannya mengenali angin, ia putar tangannya, ia menyabet ke belakang, dari atas ke bavvah.

Sembari menyabet hatinya gembira bukan main, ia percaya, ia akan berhasil, karena mereka terpisah dekat sekali, ia sangka lawan tak akan keburu menghalau diri.

Dugaannya In Tiong Kie ada dugaan belaka, ia keliru, karena dengan majukan serangan sembrono itu, Kiam Gim justru menggunai tipu daya.

Jago Thay Kek Pay ini justeru harap-harap sabetan lawannya itu, selagi cambuk menyambar, ia segera berkelit ke kiri, tangan kanannya dengan tipu "Siauw-thian-tjhee", atau "Bintang cilik", diterusi dipakai menekan cambuk, lalu gesit luar biasa, ia mendesak rapat, tangan kirinya menyusul bagaikan tumbak cagak, akan totok jalan darah orang Leng-tay-hiat, betulan hati.

In Tiong Kie kaget bukan main, sampai ia keluarkan jeritan, menyusul mana, ia enjot tubuhnya, akan loncat mundur, akan tetapi, walaupun ia gesit, Kiam Gim ada terlebih sebat pula, jeriji tangannya jago Thay Kek Pay ini sudah lantas mengenai sasarannya.

Hanya, dasar ia ada satu jago tua, kendatipun tangannya lawan mengenakan sasaran, ia tidak sampai nampak bencana.

Sebab dalam saat genting itu, ia telah menyedot dada dan perutnya, hingga kesudahannya, jari tangan Kiam Gim mengenai baju saja, tidak sampai ke kulit atau daging.

Setelah itu, In Tiong Kie loncat mundur terlebih jauh, cambuknya tidak terlepas, mukanya tidak merah, napasnya tidak mengorong, tubuhnya pun tetap!

Lioe Kiam Gim menyesal bukan main, karena di saat ia hendak bergirang, iajadi kecele.

Iatahu, kalau pertempuran dilanjuti, entah sampai kapan akhirnya itu.

Tapi, selagi ia mengawasi dengan tajam, tiba-tiba In Tiong Kie simpan cambuknya, dengan kedua tangan dirangkap, ketua Pie Sioe Hwee itu memberi hormat seraya berkata.

"Lioe Looenghiong, kau benar liehay, aku menyerah kalah!"

Jago Thay Khek Pay itu melengak sekejap, lalu lekas-lekas ia memberi hormat.

"Kau mengalah, Lauwhia, kau mengalah,"

Kata ia.

"Lauwhia ada liehay sekali, aku kagumi kau!"

Sekali ini Kiam Gim bukan merendah, ia bicara dari hatinya yang tulus.

In Tiong Kie ada satu laki-laki, walaupun ia tidak rubuh, bisalah dianggap dia sudah keteter dan ia berani akui itu.

Sementara itu, Tok-koh It Hang bertindak menghampirkan, ia tertawa.

Ia maju sampai di depannya Kiam Gim sekali, terus ia berkata dengan pujiannya.

"Lioe Loo-enghiong ada liehay sekali, tidak kecewa kau mewariskan ilmu silat Thay Kek Pay, akan tetapi barusan Loo-enghiong belum keluarkan seturuh kepandaianmu, maka itu aku, yang tidak tahu diri, ingin sekali terima pelajaran dan kau!"

Sembari berkata demikian, jago Liauw-tong ini angsurkan kedua belah tangannya yang tidak memegang senjata apa jua.

Jadi artinya, ia hendak benempur.

tangan kosong lawan tangan kosong!

Seumurnya Tok-koh It Hang, kepandaian "Pwee pwee laktjap-sre Kim-na Tjhioe-hoat", atau ilmu "Delapan-kali-delapan menjadi enam puluh empat gerakan", dari Eng Djiauw Boen, belum pernah ketemu tandingan, barusan ia saksikan kepandaiannya Lioe Kiam Gim, ia percaya orang tak ada terlebih liehay daripada ia, dari itu, iajadi ingin coba-coba.

Ia percaya, ia bakal sanggup rebut kemenangan.

Ini juga sebabnya kenapa ia bilang, Kiam Gim belum keluarkan seluruh kepandaiannya.

Kiam Gim menjadi terkejut berbareng mendongkol.

Ia merasakan bahwa orang berlaku hormat sambil memandang enteng kepadanya secara samar-samar.

"Jikalau Loo-soehoe sudi memberikan pengajaran kepadaku, sudah tentu sekali aku si orang she Lioe girang menemaninya,"

Ia menjawab.

"Hanya kita kauro Kang-ouw, sudah seharusnya, satu patah kata-kata kita adalah satu patah kata-kata. Maka, Sahabat, mengenai kejadian di Djiat-hoo itu,sudikah kau menanggung jawab? Aku si orang she Lioe tidak ingin, setelah aku layani kau sampai setengah malaman. tapi alhasil aku tidak memperdia untuk layani apa!"

Kiam Gim gunai kata-kata yang tajam, akan tetapi Tok-koh It Hang ada hiehay sekali, mendengar itu, ia tertawa berkakakan.

Ia rangkap pula kcdua tangannya, untuk membcri hormat "Bagaimana kau sebut-sebut perkaranya soeteemu?"

Ia .tanya.

"Soeteemu itu sahabat-sahabatnya adalah golongan pembcsar negeri dan mulia, bangsa raja-raja muda atau kaum saudagar besar, maka aku si orang gunung, cara bagaimana aku mempunyai jodoh untuk bertemu dengan dia! Dan umpama kata aku ton sampai bertemu dengannya, cara bagaimana aku berani main gila terhadapnya? Lioe Looenghiong, harap kau tidak sebut-sebut soeteemu yang bagaikan must ika itu. Malam ini ada malam yang indah, apa kau tidak kuatir menyia-nyiakan malam yang indah ini hingga lenyap kegembiraan kita? Loo-enghiong, man, mari, mari kita orang main-main, akan menghibur lara!"

Mendengar itu, Kiam Gim segera mengerti bahwa pada soal adiknya seperguruan itu benar-benaradasalah paham.

Bukankahterang-terangjago Liauw-tong ini menyindir.tentang persahabatannya Kiam Beng dengan segala pembesar negeri atau orang besar?

"Tentang adikku seperguruan itu, sukar untuk dijelaskan,"

Ia kata, dengan nyaring.

"Untuk itu, kita membutuhkan pembicaraan yang lama. Tapi, apabila Loo-enghiong kehendaki, aku nanti ajak saudaraku itu datang untuk menghaturkan maaf kepadamu. Hanya sekarang bisalah aku terangkan, soeteeku bukanlah itu orang sebagaimana yang Loo-enghiong scbutkan. Kedatanganku sekarang ini bukan untuk mencari pulang barang upcti, aku hanya hendak cari sahabat, untuk bicara dari hati ke hati, akan buka masingmasing hati kita!"

Selagi orang bicara, Tok-koh It Hang mengawasi dengan tajam, antara sinar rembulan, ia tampak orang beroman sungguh-sungguh, hingga hatinya jadi tergerak, hingga ia pikir, jago Thay Kek Pay ini benar-benar hams dijadikan sahabat.

Ia berpikir cepat, lantas ia berikan tanda rahasia pada In Tiong Kie kepada siapa ia kata.

"Kalau kau ada punya urusan, pergilah lebih dahulu, biara kutemani Lioe Looenghiong main-main di sini, sccara begitu, Loo-enghiong pun jadi tak usah berhati tak tentaram, karena lihat jumlah kita yang banyak."

In Tiong Kie menurut, ia berlalu dengan segera.

Lioe Kiam Gim saksikan itu semua, ia lihat sikap bemafsu dari jago Liauw-tong ini, mata siapa pun bersinar, ia jadi agak mendongkol, maka, dengan tertawa dingin, ia bilang.

"Sahabat, jikalau pasti kau ingin memberikan pengajaran kepadaku, baik, aku tak berdaya, aku bersedia |untuk layani kau."

Baharu Lioe Kauwsoe tutup mulutnya, atau Tok-koh It Hang sudah bergerak. Mula-mula ia maju dengan kedua tangannya dipentang, dalam gerakan "Tjhong eng peng tjie"

Atau "Garuda mementang sayap", setelah itu ia mendak, agaknya ia hendak sambar kedua lengan orang, untuk disergap.

Kiam Gim hunjuk kegesitannya, ialah dengan geser tubuhnya ke kiri, berbareng dengan itu, dengan Thay Kek Pay punya "Shia kwa tan pian"

Atau "Menggantung ruyung sebatang", ia bacok nadi orang, gerakanrtya tak kurang sebatnya.

Tok-koh It Hang tidak mundur walaupun serangan sehebat itu, ia pun tidak menangkis, hanya mengubah tangan terbuka menjadi kepalan, ia teruskan gunai "Heng sin pa touw"

Atau "Melintangkan tubuh untuk menghajar harimau", akan serang iga orang!

Gagal dayanya Kiam Gim akan serang nadi orang, ia sebaliknya kena didesak, terpaksa ia geser pula kaki kiri ke kiri, untuk terus berlompat enam atau tujuh kaki jauhnya, setelah kakinya itu injak tanah, ia barengi untuk memutar tubuh.

Ia percaya pihak lawan susul ia, ia terus menyerang dengan "Tjit-seng-tjiang"

Atau "Tangan tujuh bintang", mengarah iga kanan.

Jago Liauw-tong itu tarik pulang tangannya, juga tubuhnya, untuk selamatkan diri.

Tapi Kiam Gim tidak berhenti sampai di situ, dengan majukan tubuh kesebelah kiri, ia gunai tangan kirinya dalam tipu "Ngo-heng-kiam", menotok dahi kiri orang, sedang tangan kanannya, dengan "Kim liong hie soei"

Atau "Naga cmas memain air", ia coba babat dengkul kanannya lawan.

Ini ada serangan hebat, ke atas dan ke bawah dengan berbareng.

Nampaknya Tok-koh It Hang sibuk, hampir ia kena terserang, atau berbareng dengan itu, ia berseru.

"Sebat benar!"

Dan tubuhnya mencelat nyamping, hanya, setelah lolos dari serangan, sesudah injak tanah, terus ia enjot tubuhnya, akan lompat maju lagi, untuk balas menerjang, gerakannya mirip dengan sambaran garuda.

Kiam Gim memutar tubuh, untuk saksikan orang punya gerakan sangat cepat maju bagaikan kera lompat di cabang, mundur seperti naga atau ular melesat kabur, lompat laksanaburung menerjang langit, loncatturun umpama harimau menerkam.

Lawan ini maju menyerang, mundur membela diri, tubuhnya berputar seperti angin puyuh, berkelebatnya bagaikan kilat.

Dalam sekejap, musuh bergerak di delapan penjuru!

Mau atau tidak, Lioe Kiam Gim diam-diam keluarkan keringat dingin!

Tok-koh It Hang digelarkan "Pek Djiauw Sin-eng"

Atau "Garuda Malaikat Seraius Cakar", maka itu, gerak-geriknya mirip dengan burung garuda.

Di sebelah itu, ia mempunyai enam puluh gerakan "menawan", yaitu kim-na-hoat, dari itu, cara menyerangnya benar-benar luar biasa.

Adalah keinginan dari Lioe Kiam Gim akan bertempur dengan cepat, akan segera akhirkan "pieboe"

Itu, siapa tahu.

pihak lawan ada gagah sekali, hingga ia jadi heran berbareng kaget.

Belum pernah ia ketemu orang semacam ini cii kalangan Sungai-Telaga.

Tapi ia ada seorang berpengalaman, matanya tajam, segera ia insyaf dengan menyerang hebat, ia tak bakai peroleh hasil.

Ia juga ingat pembilangan.

"Menyingkir dari musuh tangguh, menyerang kelemahan musuhnya"

Dan kim-na-hoat lawannya ini sebaliknya dari Thay Kek Koen. Kalau Thay Kek Koen berpokok "dengan kelemasan mclawan kekerasan", adalah kim-na-hoat.

"menyerang sambil berbareng membeladiri". Kelihatan nyata, lawan ini tidak takuti serangan. Maka itu ia pikir, ia mesti gunai latihannya dari puluhan tahun, dengan keuletan, akan layani jago Liauwtong ini. Segera juga Lioe Kiam Gim bikin perubahan. Ia berdiri tegar bagaikan gunung, ia membela diri, ia tidak sembarang bergerak. Dalamhal ini, ia tidak gubris lawan hunjuk kegesitan, dengan berputaran seperti burung berterbangan, bengis bagaikan harimau galak, gesit seperti sang kera. Ia tidak mau menerkam, dan kalau lawan pancing ia, ia tidak mengejar. Ia pegang pokok "apabila lawan tidak bergerak, berdiam, dan satu kali lawan bergerak, mendahului". Rahasianya Thay Kek Koen memang adalah bergerak dengan ikuti salatan lawan. Demikian, dari mana saja Tok-koh It Hang menyerang, ia melayani dengan tenang. Begitulah pertempuran berjalan, antara orang-orang gagah yang langka, yang satu menyerang, yang lain menjaga, keduanya telah sampaikan batas kesempumaan kepandaiannya masing-masing. Jago dari Eng Djiauw Boen telah gunai juga keistimewaan ilmunya.

"Hoei-eng Keng-soan Kiam-hoat", ialah ilmu pedang "Garuda terbang berputaran", yang ia ubah menjadi tangan kosong, ia selipkan ini di sebelahnya enam puluh empat pukulannya kim-na-hoat, akan tetapi Lioe Kiam Gim tetap berdiri bagaikan gunung batu antara serbuannya arigin santar dan gelombang dahsyat, tubuhnya tenang, dan"

Ilmu pukulannya Thay-kek-tjiang dipakai punahkan sesuatu serangan.

Ia ikuti salatan, ia pinjam tenaga akan pecahkan tenaga lawan sendiri.

Tok-koh It Hang ada liehay dan berpengalaman, tapi beberapa kali, ia toh berlaku sangat bemafsu karena ketenangan musuh, hingga beberapa kali hampir-hampir ia kenaterserang disebabkan kelancangannya sendiri.

pleh karena ini, baharu sekarang -dengan diam-diam ia bergidik, baharu sekarang ia insyaf, Lioe Kiam Gim ada beda sangat jauh dari soeteenya, teng Kiam Beng.

Dan sejak itu, walaupun ia tetap mendesak, tidak lagi ia berani turuti hawa nafsunya.

Karena cara bertempur itu, bukan lagi puluhan, hanya dua ratus jurus lebih telah dikasih lewat tetapi kedua-duanya masih belum memperoleh hasil.

Sesudah kewalahan, akhir-akhirnya, Tok-koh It Hang loncat mundur, akan gunai ketika untuk meraba ke pinggangnya di mana ia buka suatu benda yang mclibat, apabila ia telah tank itu, nyata ia sudah keluarkan sebatang djoan-kiam, atau pedang lemas, yang bersinar bcrkcrcdcpan sebagai emas, karena gegaman itu terbuat dengan campuran emas putih keluaran Hek-liong-kang.

Pedang ini, disimpan bisa dilibat bagaikan ikat pinggang, digunai lalu menjadi pedang, dengan tajamnya luar biasa.

"Jikalau terus kita bertanding secara begini, sampai terang tanah juga sukar didapati kepastiannya menang atau kalah,"

Kata ia, setelah ia siap dengan pedangnya yang istimewa itu.

"Bertempur secara begini tidak menarik hati, tidak ada artinya, maka itu baiklah kita gunakan pedang untuk aku terima pelajaran ilmu Thay Kek Tjap-sha-kiammu berikuti hoei-piauw yang berbayang berkelebatan, di antara sinar pedangmu!"

Tegasnya, dengan "Hoei-eng Keng-soan-kiam", jago tua dari Liauw-tong ini hendak uji ilmu pedang orang dan senjata rahasia yang kesohor, sebab ilmu silat tangan kosongnya ia sudah jajal sempurna.

Lioe Kiam Gim tidak berayal untuk sambut tantangan itu, tetapi karena ia tahu pihak lawan ada sangat tangguh, ia tetap waspada, ia tidak mau berlaku serampangan.

sesudah hunus pedangnya sendiri dan pasang kuda-kudanya dengan tenang seperti biasa, ia mengundang.

"Silakan!"

Atas undangan itu, tubuhnya Tok-koh It Hang segera bergerak, akan tetapi bukannya ia terus menerjang, ia hanya berputar ke belakangnya orang itu dari mana baharulah ia kinm satu tikaman.

Menuruti gerakan lawan, Kiam Gim memutar tubuh, begitu tikaman datang, ia berkelit, tapi sambil berkelit.

ia pun terus putar tubuhnya, hingga sekarang adalah ia yang beradadi arah belakang jago Liauw-tong itu, untuk ia balik menerjang.

Berbareng dengan berkelebatnya satu sinar, ujung pedang menusuk pundaknya si jago tua, pada bagian jalan darah Hong-hoe-hiat.

Tipu totokan yang dipakai pun ada "Giok lie tjoan tjiam"

Atau "Bidadari menusuk jarum"

Tok-koh It Hang sendiri, sesudah serangannya mengenai tcmpat kosong, sudah lantas bergerak dalam tindakan "Liong heng hoei pou", atau "Tindakan naga terbang", akan pindahkan tubuh ke kanan lawan, dari sini pedangnya, yang telah ditarik pulang, diicruskan dipakai menyambar muka lawan dengan tipu serangan "Hoan sin hian kiam", ialah "Mempcrsembahkan pedang sambil memutar tubuh".

Kiam Gim batal dengan serangannya, yang tidak mengenai sasaran, maka itu, melihat gerakan lawan yang berbahaya itu, ia menjejak tanah, untuk loncat mclcsat jauhnya dua-tiga tumbak hingga ia lolos dari ancaman bahaya.

Menampak gerakan lawan itu, bagaikan gerakannya bayangan, Tok-koh It Hang lompat mengejar, berbareng dengan itu, ia teruskan menyerang tiga kali saling susul, dengan tipu-tipunya "Wan khauw tjin koh"

Atau "Orang hutan menyucuhkan buah".

"Sian djin tjie louw", atau "Dewa menujuki jalan", dan "Beng kee tok siok"

Atau "Ayam galak mematok gaba".

Itulah ada scrangan seperti hujan deras antara angin hebat!

Lioe Kiam Gim sudah tahu liehaynya musuh, tidak pern ah ia abaikan diri, maka itu, tidak perduli hujan serangan ada bagaimana hebat, ia menangkis dengan tenang, ia berkelit dengan sebat, sama sekali ia tidak berikan ketika untuk lawan desak ia.

Hanya kemudian, sclang seratus jurus lebih, ia pun insyaf, jikalau terus-terusan mereka bertempur saja, tanpa ada keputusannya, entah mereka akan bertempur sampai di waktu apa.

Maka dia akhirnya, sesudah berpikir, ia buka satu lowongan, terus ia mencelat keluar kalangan, tak perduli pedang lawan mengancam bebokongnya, bagaikan burung, tubuhnya lompat melesat.

"Sahabat, jangan pergi!"

Berseru Tok-koh It Hang, yang tampak orang keluar dari kalangan.

"Sambutlah ini!"

Dan tubuhnya melesat menyusul, ujung pedangnya terus menusuk!

Lioe Kiam Gim loncat dengan satu maksud, sambil lompat, ia pasang kuping.

Ia dengar sambaran angin, ia menduga pada susulan musuh serta tusukan pedang, tidak menunggu sampai ujung pedang mengenai sasaran, dengan sekonyongkonyong ia putar tubuhnya dalam gerakan "Koay bong hoan sin"

Atau "Ular siiuman jumpalitan", pedangnya sendiri dipakai menangkis dalam tipu silat "Kim peng tian tjie"

Atau "Garuda emas membuka sayap". Ia telah gunai tenaga yang besar, akan bentur pedang lawan itu, sedang tangan kirinya, dengan tenaga "Siauw thian tjhee"

Atau "Bintang kecil", dipakai menotok dadanya lawan itu.

Dalam keadaan seperti itu, Tok-koh It Hang tidak dapat ketika akan elakkan diri pula, maka terpaksa, ia antap kedua senjata saling beradu, hingga menerbitkan"

Suara yang nyaring keras, sedang di lain pihak, guna luputkan serangan tangan kiri lawan itu, ia juga gunai "Siauw thian tjhee", hingga juga tangan mereka turut beradu satu dengan lain.

Dua-dua bentrokan itu ada hebat, dengan tak dapat ditahan lagi, masing-masing mereka tak dapat menahan tubuh mereka, yang rubuh terpelanting, hanya begitu jatuh, keduanya segera lompat bangun pula, akan berdiri dengan tegar, hanya selagi rubuh, dalam hatinya, masing-masing merasa malu sendirinya.

"Sahabat, sambutlah pula ini!"

Berseru Tok-koh It Hang, yang tidak mau sia-siakan ketika lagi.

Ia pun ada mendongkol.

Dalam cuaca gelap itu, tiga buah Thie-lian-tjie, atau "teratai besi", menyambar ke arah tiga jurusan anggota, ialah jalan darah "Kie-boen-hiat".

"Hong-hoe-hiat"

Dan "Kiauw-im-hiat".

Kiam Gim lihat sambarannyatiga buah senjata rahasia itu, yang menyusul seruannya lawan, sambil memutar tubuh untuk berkelit, pedangnya dipakai menyampok.

Dua buah Thie-lian-tjie lewat di tempat kosong, yang ketiga kena disampok jatuh ke tanah.

Sambil elakkan diri secara demikian, jago Thay Kek Pay ini juga tidak diam saja, sebat luar biasa, tangan kirinya merogoh sakunya, akan keluarkan "Kiam-eng Hoei-piauwnya", sekali raup saja, ia telah keluarkan duabelas batang, lalu antara berkelebatnya cahaya pedang, ia baias menyerang lawan itu, hingga umpama bintang berjalan, semua piauw itu menyambar saling susul!

VI "Bagus!"

Berseru Tok-koh It Hang, yang lihat lawannya baias menyerang ia dengan senjata rahasianya itu yang kesohor, berbareng dengan mana, dengan "It hoo tjhiong thian", atau "Seekor burung hoo menerjang langit", ia lompat tinggi sampai setumbak lebih, hingga piauw, yang mengarah ke tengah dan ke bawah, lolos semuanya, hingga tinggal empat buah lagi, yang menyerang ke atas.

Kiam Gim sudah duga, lawannya akan bisa menyingkir dari piauw dua arah tengah dan bawah, belum tentu dengan arah atas, tetapi Tok-koh It Hang benar-benar liehay, karena sebat luar biasa, ia tanggapi empat buah ke arah atas itu, selagi ia turun ke bawah -sebelum kakinya injak tanah -ia sudah baias menyerang sambil tertawa dan serukan.

"Aku kembalikan piauwmu ini, yang aku tidak biasa pakai!"

Jago Thay Kek Pay itu terperanjat, akan tetapi ia sanggup kelit dari serangan empat piauw itu.

Tok-koh It Hang menginjak tanah untuk segera simpan djoan-kiamnya, segera ia rangkap kedua tangannya.

untuk memberi hormat, sambil bersenyum, ia berkata.

"Tiga-tiga kcpandaian dari Loo-enghiong, aku telah pcrsaksikan, sungguh hehay, luar biasa! Lioe Loo-enghiong, sampai kita bertemu pofa!"

Lioe Kiam Gim buru-buru simpan pedangnya.

"Sahabat, tunggu dahulu!"

Ia berseru. Ia tahu orang berniat angkat kaki, Akan tetapi tubuhnya jago Liauw-tong itu sudah mencelat ke dalam Irimba, cuma suaranya masih terdcngar, katanya.

"Tak dapat kita bicara dengan sepatah kata saja, di bclakang hari, kau akan mendapat tahu! Sckarang silakan cari kawanmu dahuluP Lioe Loo-kauwsoe jadi bcrdiri tercengang. Ia sama sekali tak ketahui sikapnya jago Liauw-tong itu, yang lagi mcrantau untuk cari kawan, guna sekalian cari tahu perihal tujuannya dan perhubungannya dengan Teng Kiam Beng. sang soetee, yang di mata kaum Kang-ouw katanya telah bersahabat, atau berkenalan. dengan golongan pembesar negeri. Tok-koh It Hang telah ketahui hal Kiam Gim, tapi ia ingin membuktikan sendiri, terutama sejak undurkan diri ke Kho Kee Po, K-iam Gim sudah diamkan diri hingga orang tak dengar apa-apa perihal sepak-terjangnya. Pertempuran barusan memang telah diatur, untuk mana, Tok-koh It Hang bekerja sama-sama dengan Tjiong Hay Peng, dan temyata, daya-upaya itu bcrhasil membuat Lioe Kiam Gim muncul. Kiam Gim benar-benar tidak mengetti maksud orang. Tapi ia bisa berpikir, maka itu, bcrdiam belum lama, scgera ia buka ti ndakannya, akan menuju terus ke rumahnya Tjiong Hay Peng. Ketika sebentar kemudian ia tiba, ia sudah lantas loncat naik ke atas rumah, dengan llmu mengentengi tubuh, ia kitarkan rumah itu. Malam itu, seluruh rumah Hay Peng ada gelap-gulita, kecuali dari kamar samping sebelah timur, ada molos sedikit cahaya api, ketika Kiam Gim menghampirkan ke situ, untuk melihatnya, ia tampak dalam lamar ada dinyalakan sebatang lilin besar dan satu orang asyik duduk di samping lilin itu. Dan orang itu bukan lain daripada tuan rumah sendiri.

"Kenapa sampai begini waktu dia masih belum juga tidur?"

Kiam Gim menduga-duga.

"Tapi inilah kcbctulan, aku hendak bicara sama ia, ia justcru berada sendirian...."

Meskipun ia berpikir demikian, Kiam Gim tidak lantas turun, akan ketemui sahabat itu, dan iapun tidak memanggil, atau berikan tanda perihal kedatangannya.

Dengan hati-hati, ia cantelkan kakinya di payon, kemudian dengan menyedot napas terlebih dahulu, dengan tiba-tiba ia meniup ke arah lilin, hingga lilin itu padam seketika, hingga kamar jadi gclappetang.

Ia percaya, Hay Peng akan kaget karenanya.

Akan tetapi, di luar sangkaannya, Hay Peng justeru tertawa berkakakan, seraya terus berkata.

"Saudara Lioe, oh, kau baharu sampai?"

Dalam herannya, Kiam Gim pikir, orang rupanya asyik tunggui ia, maka itu, ia tidak mengerti, kenapa tuan rumah itu jadi demikian liehay, mengetahui kedatangannya.

Ia tidak tahu bahwa In Tiong Kie, yang tadi tinggalkan mereka, sudah mendahului datang pada orang she Tjiong ini untuk berikan kisikan.

Sebentar saja, api lilin di dalam kamar, nyala pula.

Kiam Gim tidak sia-siakan tempo akan loncat turun.

Hay Peng muncul untuk sambut tetamunya ini.

"Saudara Lioe, aku memang sudah duga kau bakal segera kembali!"

Berkata jago Heng Ie Pay itu sambil bersenyum. Kiam Gim membalas hormat.

"Bagaimana kau ketahui aku bakal datang pula?"

Ia tanya. Tjiong Hay Peng bersenyum.

"Marilah duduk,"

Mengundang ia, yang simpangi pertanyaan orang. Kiam Gim terima itu undangan, maka berdua mereka ambil kursi.

"Dengan sebenarnya, soetee kau ada dicurigai oleh kaum Rimba Persilatan,"

Kata Hay Peng kemudian.

"Melulu karena masih ada yang dipandang, orang jadi belum ambil tindakan. Tapi, Lioe Loo-enghiong, di mana soeteemu itu ada jadi gundal pembesar negeri, apa kau hendak bela dia dan ingin dapat pulang barang upeti yang dirampas itu?"

Keduamatanya orang she Lioe itu bersinar. Tapi ia masih cukup sabar.

"Saudara Tjiong,"

Berkata ia.

"sudah dua puluh tahun lebih kita| orang tidak bertemu/tetapi kau hams ketahui, hatiku tidak pemah berubah! Apakah kau percaya aku kesudian jadi kaki-tangan pemerintah Boan, jadi gundal? Jangan kata aku sendiri, walaupun soeteeku, dia juga tak nanti, dia hanya gelap pikiran, dia seperti orang tolol!"

Lantas Kiam Gimjelaskan sifamya Kiam Beng, yang baik sama pembesar negeri karena adanya urusan dengan Keluarga Soh.

"Saudara Tjiong,"

Ia tegaskan.

"umpama benar soeteeku itu menghamba pada pemerintah Boan, untuk hidup mewah saja, tidak nanti aku lakoni pcrjalanan ribuan lie ini ke Djiat-hoo! Aku datang bukan untuk saudaraku itu, tetapi untuk kaum Kang-ouw sendiri, apabila kita orang sendiri bentrok, apakah itu tidak memalukan kaum kita?"

Hay Peng angkat kepalanya, ia pandang tetamunya.

"Saudara Lioe, di sini bukan soal bentrokan melulu..."

Katanya. Tapi Lioe Kiam Gim memegat.

"Aku mengerti kesembronoannya soeteeku, hingga ia terbitkan kecurigaannya kaum Rimba Persilatan, tetapi orang dengan kelakuan mirip soeteeku ini. sekarang ini bukan dia saja scorang dm! Jikalau kita lancang curigai semua, apa ito bukannya berarti memperlemah tenaga sendiri?"

Hay Peng bcrbangkit.

"Saudara Lioe, kau bicara soal memperlemah tenaga sendiri!"

Ia bilang, sikapnya mendesak.

"Bukankah kalau tenaga dipersatukan, itu besar faedahnya? Saudara Lioe, apa kau rnasih memikir untuk mcmulihkan dandanan kita| yang lama, untuk membangkitkan kita bangsa Han?"

Didesak sccara dcmikian, Kiam Gim bersangsi. la ingat sebabnya kenapa sudah dua puluh tahun lebih ia asingkan diri.

"Kalau kita cuma andali tenaga kita kaum Kang-ouw saja, apa kita bisa pcrbuat?"

Ia tanya.

"Sudah dua ratus tahun bersclang, sejak bangsa Ouw masuk kemari, pokok dasamya telah jadi kuat sekali, scdang selama beberapa puluh tahun ini, bangsa asingpun tunjang padanya! Bisakah kita gempur dia?" *Tapi kita bisa bcrdaya, saudara Lioe,"

Hay Peng bilang.

"Ada orang yang sedang dayakan itu__. la terus tuturkan hal sepak-terjangnya Tok-koh It Hang, si jago tua, yang hendak persatukan kaum Kang-ouw, ia hanya tidak sebutkan namanya. Kiam Gim nampaknya ketarik.

"Saudara Tjiong, siapa dia itu?"| tanyanya dengan bemafeu.

"Apakah aku bisa bertemu dengan dia?"

"Lioe Loo-enghiong,"

Berkata ia.

"kau sebenamya sudah bcrtemu sama dia, malah sudah bcrtempurjuga! Kau orang sudah bertempur selama setengah ma lam an, apakah kau masih beium ketahui siapa adanya dia itu?"

Kiam Gim Iantas bisa mengerti.

"Dia ada Tok-koh It Hang,"

Hay Peng beritahu, seraya beber hal-fliwalnya orang itu.

"Apakah dia masih ada di sini? Apakah aku bisa pasang omong dengan dia?"

Kiam Gim tanya kemudian. Kembali Hay Peng tertawa, ia urut-urut kumisnya.

"Siapa tidak bertempur, dia orang tidak berkenalan!"

Kata ia, sembari tertawa terus.

"Cuma Tok-koh It Hang yang sanggup lawan kau, Saudara Lioe, melainkan kau yang mampu layani kim-na-hoatnya! Inilah yang dibilang, orang hutan menyayangi orang hutan, pantas Saudara bemiat segera menemui dia! Sayang dia tidak ada di sini sekarang, dia bemiat pulang ke Liauw-tong...."

Kiam Gim tercengang, ia merasa kecewa.

"Tempatku ini, Sha-tjap-lak Kee-tjoe, benar-benar sunyi,"

Tjiong Hay Peng kasih kcterangan lebih jauh.

"akan tetapi tempat ini tidak sentosa, saking jaraknya yang terlalu dekat dengan Sin-tek, di mana ada Istana Kaisar Boan. Pasti akan menyolok mata apabila kita kumpul ramai-ramai di sini. Maka itu Tok-koh It Hang hendak pulang dahulu ke Liauw-tong, di Sam-she Oey-see-wie di Ie-lan, | untuk melakukan persiapan. Di sana orang bisa berkumpul dengan merdeka. Di sini Tok-koh It Hang minta aku yang bantu ia mengundang Orang-orang kaum kita, tapi untuk ini, kita berdua harus bekerja sama-sama...."

Soal ini membikin Kiam Gim berpikir.

Ia tidak lantas terima baik, iapun tidak menolak.

Ia bukannya jerih, ia hanya kuatir namanya nanti sudah tidak mempunyai pengaruh pula disebabkan pengasingan diri selama dua puluh tahun lebih.

"Aku juga hendak minta Saudara Lioe pergi menemui Ketuadari Bwee Hoa Koen,"

Kemudian Tjiong Hay Peng tambahkan.

"Untuk apa itu?"

Kiam Gim, tanya.

"Saudara Lioe tinggal di Shoatang, mustahil Saudara tak ketahui tentang perkembangannya Bwee Hoa Koen selama tahun-tahun yang bclakangan ini?"

Hay Peng balik tanya.

"Bwee Hoa Koen, yang juga disebut GieHoo Koen, paling belakang sudah dirikan rombongan Gie Hoo Toan, yang bukan saja di Shoatang berpengaruh besar, juga di lima propinsi Utara."

"Sudah dua puluh tahun aku berdiam di tengah muara, aku tak tahu jelas lagi keadaan di luaran,"

Kiam Gim akui.

"Aku melainkan dengar apa-apa dari beberapa sahabat yang satu waktu suka kunjungi aku, pemah antarany a ada yang omong tentang Gie Hoo Toan itu, katanya rombongan ito berpusat di delapan ratus enam puluh lebih desa di Jim-pcng di mana ada lebih daripada delapan ratus boe-koan. Orang pun bilang, setelah ketuanya Bwee Hoa Koen, yaitu Ki-ang Ek Hian, menutup mata, karena puteranya berkepandaian biasa saja, dia ini tak dapat bikin tunduk orang banyak, karena mana belakangan orang angkat Tjoe Hong Teng dari angkatan muda sebagai ahli waris kaum itu. Apa benar, dia ini adalah yang bangunkan Gie Hoo Toan?"

Tjiong Hay Peng be nark an itu pcrtanyaan.

"Walaupun dcmikian, bersama-sama Tok-koh It Hang, aku masih belum ambil putusan untuk gabungi diri atau tidak dengan dia itu,"

Ia manambahkan.

Lantas tuan rumah ini menutur hal Gie Hoo Toan, antaranya ada yang Kiam Gim sudah ketahui, banyak juga yang ia belum tahu.

Gie Hoo Toan ada satu cabang kecil dari Pat Kwa Kauw dari Pek Lian Kauw, agama Teratai Putih.

Di akhir zaman Goan Tiauw, pemimpin Pek Lian Kauw ada Lauw Hok Tong, tapi kepala agamanya ada Han Lim Djie, puteradari Han San Tong.

Lim Djie disebut juga Siauw Beng Ong.

Di dalam pasukan sukarela Pek Lian Kauw ini; Tjoe Goan Tjiang ada salah satu pemimpin, adalah Tjoe Goan Tjiang yang berhasil mengusir bangsa Goan (Mongolia) dan berdirikan Kerajaan Beng.

Setelah jadi kaisar, Tjoe Goan Tjiang mcnindih Pek Lian Kauw.

Di akhir Kerajaan Beng ini, Pek Lian Kauw pun disebut Pek Lian Hwee, Kumpulan Teratai Putih, pengaruhnya tersebar di Shoalang, Tit-lee, Shoasay, Hoolam, Siamsay, dan Soe-tjoan, kepala agamanya ialah Ong Som, kepala agamanya men utup mata, dia digantikan oleh putcranya, Ong Ho Hian dan Tjie Hong Djie; dengan pimpin dua juta serdadu, mereka lawan pemcrintah Beng, mereka tidak berhasil tetapi pengaruh mereka sudah meresap antara rakyat jelata.

Adalah setelah Kerajaan Tjeng musnakan Kerajaan Beng, dan menggantikan memerintah Tionggoan, dan bangsa Han ditindas, bangsa ini bergerak pula, dan sclama tahun pert ama dari Kaisar Kee Keng, ketua Pek Lian Kauw, yaitu Lauw Tjie Hiap, serukan rakyat "Rubuhkan Kerajaan Tjeng untuk bangunkan pula Kerajaan Beng"

Dan "karena pemerintah menindas, rakyat berontak".

Bendera dan pakaiannya kaum ini ada serba putih.

Selama tahun ke-17 dari Kaisar Kee Keng, Thian Lie Hwee ialah Pat Kwa Kauw, satu cabang dari Pek Lian Kauw, dengan bekerja sama-sama Lie Boen Seng dari Tjin Kwa Kauw dan Lim Tjeng dari Kim Kwa Kauw, sudah serang Istana Raja Boan di Pakkhia serta niat rampas Tit-lee, Shoatang dan Hoolam.

Bertiga mereka berjanji, kalau mereka berhasil, mereka akan bagi anggota mereka satu bauw tanah untuk sctiap anggota.

Mereka ini gagal tapi pembcrontakan mereka telah menggetarkan seluruh negeri.

Kemudian, terus sampai zaman Kaisar Kong Sie, Kaum Pek Lian Kauw dan lainnya masih bekerja sccara rah as i a.

Tjoe Hong Teng itu ada asal satu pemimpin kecil dari Pat Kwa Kauw, ia be 1 ajar silat pada Kiang Ek Hian, setelah Kiang Ek Hian menutup mata, ia menggantikan jadi ahli waris Bwee Hoa Koen, terus ia dirikan Gie Hoo Toan.

Ia ada orang dari To-tjioe, Shoatang, ia mengakui ada turunan kaisar-kaisar Beng, seruannya ada "Hoan Tjeng Hok Beng", yaitu "Rubuhkan Tjeng Tiauw".

Ia ajarkan orang "Sin Koen", yaitu ilmu silat "Malaikat", katanya, ada dewa atau malaikat yang bantu ia, hingga tubuhnya jadi tidak mempan senjata tajam, tak dapat ditembak.

Ia tidak bisa abui orang cerdik tapi toh ada sebahagian orang yang percaya padanya.

Mendengar sampai di situ, Kiam Gim tanya Hay Peng.

"Gie Hoo Toan dari Tjoe Hong Teng bercita-cita "Hoan Tjeng Hok Beng", tapi kenapa pemerintah Tjeng tidak larang padanya, malah sebaliknya, kenapa dia diizinkan kumpulkan barisan serdadu rakyat yang dinamai "Koen-bin"? Kenapa di Jim-peng saja sampai ada delapan ratus lebih cabang kaum itu?"

Ditanya begitu, Hay Peng tepuk meja.

"Ini dia bagiannya yang rada sulit,"

Katanya.

"Ini ada suatu siasat. Bukankah Saudara ketahui, bagaimana sewenangwenangnya bangsa asing sekarang? Untuk itu, dengan pelahan-lahan Gie Hoo Toan ubah seruannya dari "Hoan Tjeng Hok Beng"jadi "HoeTjeng Biat Yang"."

"Hoe Tjeng Biat Yang"

Berarti "menunjang Kerajaan Tjeng untuk memusnahkan bangsa asing".

Inilah gcrakan yang menyebabkan delapan bangsa asing kepung Pakkhia, sehingga Kerajaan Tjeng bikin jatuh pamor Tiongkok.

Setelah Perang Candu di tahun 1840, Tiongkok tutup diri, tapi bangsa asing gempur pintunya dengan tembakan meriam dari kapal perang.

Segera datanglah paderi-paderi Kristen, untuk mengajarkan agama.

agamanya sendiri ada lain, adalah segala penganutnya, yang main gila, mereka jadi pemeras rakyat jelata, pengganggu kehormatan kesucian orang perempuan, kalau terbit perkara mereka dilindungi, hingga umumnya rakyat jadi benci mereka.

Maka itu, Tjoe Hong Teng dengan Gie Hoo Toannya, lantas jadi pembela rakyat yang bercelaka itu.

pemerintah Boan lihat ancaman bahaya, lantas See Thayhouw, Ibusuri, dengan turuti sarannya Yok Hian, Soenboe dari Shoatang, ubah sikap, ialah dari dimusuhkan, Gie Hoo Toan dibaiki.

Tjoe Hong Teng suka bekerja sama-sama, ia harap, setelah usir bangsa asing, ia nanti bisa bikin terjungkal bangsa Boan.

Sikapnya Tjoe Hong Teng ini menyebabkan ragu-ragu di antara rakyat, sampai Tok-koh It Hang sendiri turut bersangsi.

Maka Tok-koh It Hang, dengan perantaraannya Tjiong Hay Peng, ingin ketahui sikapnya Lioe Kiam Gim.

Jago Thay Kek Pay ini, yang tinggal di Shoatang, ada kenal baik pemimpin tua dari Bwee Hoa Koen, ialah Kiang Ek Hian.

Setelah dengar keterangan lebih jauh itu, Kiam Gim jadi berpikir.

Ia memang tidak puas terhadap Kerajaan Tjeng, tapi sudah lama ia undurkan diri, hatinya sudah mulai tentaram.

Sekarang, hatinya jadi goncang.

Dt akhirnya, ia nyatakan suka ketemui Tjoe Hong Teng, untuk ketahui jelas sikapnya Ketua Gie Hoo Toan ini, untuk -apabila bisa -baliki tujuannya Tjoe Hong Teng menjadi pula "Hoan Tjeng Hok Beng".

Dua sahabat ini bicara dengan asyik, sampai tahu-tahu, sang fajar telah datang, sinar terang muncul dari arah Timur.

Justeru itu, dari antara jalanan gunung, ada berlari-lari satu orang ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, untuk sesampainya, menggedor pintu rumahnya Tjiong Hay Peng.

Dia temyata ada Lie KeeTjoen, muridnya Tjiang Han Tek dari Ngo Heng Koen, ialah boesoe atau guru silat dari rombongannya Teng Kiam Beng yang atas titahnya Kiam Beng, hendak cari Lioe Lookauwsoe.

Karena sesudah jauh malam Kiam Gim belum kembali, Kiam Beng sangka saudara itu pergi pada Hay Peng, dan karena kuatir saudara itu alami hal tak disangka-sangka, Kee Tjoen dikirim untuk menyusul.

Atas gedoran, pintu dibuka oleh beberapa muridnya Tjiong Hay Peng.

Kee Tjoen tanya hal Kiam Gim, mu-rid ini menyangkal.

Mereka mcmang tidak tahu, Hay Peng dengan beruntun telah kedatangan In Tiong Kie dan Lioe Kiam Gim, malah Kiam Gim asyik pasang omong dengan gurunya, scbaliknya mereka jadi gusar, mereka sangka Kee Tjoen ada gundalnya pembesar negcri dan datang untuk cari rahasia.

Syukur, sebelum mereka bertempur.

Hay Peng dan Kiam Gim muncul, hingga murid-murid itu jadi hcran dan melengak.

"Ada urusan apa?"

Kiam Gim tanya Kee Tjoen.

Orang she Lie ini mclongo, di depannya Tjiong Hay Peng, ia tidak bisa bcrikan jawaban, sedang tampangnya tuan nunah pun sudah lantas berubah.

Kiam Gim-tertawa, sambil uruti kumisnya, ia kata.

"Lauwtee, Tjiong Loo-tj lanpwec ini ada sahabatku dari beberapa puluh tahun, kau jangan kuatir apa-apa! Bukankah kau orang kuatir aku kena ditahan di sini maka kau datang untuk papak aku?"

Tjiong Hay Peng pun tertawa dan bcrkata.

"Jangan kuatir, Lauwtee! Lioe Soepehmu ini, dengan bcrdiam di rumahku, tidak nanti terhilang lenyap!"

Lie Kee Tjoen menjadi gugup, romannya kuatir.

"Maaf, Lootj ianpwee, tctapi tidak demikian maksud kita..."

Berkata ia, dengan tidak lancar.

"Hanya, hanya..."

Ia terus memandang Kiam Gim dan meneruskan."... hanya Teng Soesiok minta Soepeh lekas kembali, sebab tadi malam kita telah kedatangan satu tetamu tidak diundang...."

Kiam Gim heran.

"Tetamu siapa itu? Dari mana datangnya?"

Ia tanya.

"Teetjoe tidak kenal orang itu,"

Sahut Lie Kee Tjoen.

"Dia bicara lama sekali dengan Teng Soesiok, kemudian baharulah Soesiok titahkan aku susul Soepeh di sini untuk disambut pulang...."

Kiam Gim hcran, karena itu, ia lantas pamitan dari Hay Peng, terus ia ikut Kee Tjoen.

Di tengah jalan, ia ada bersemangat, meskipun satu malaman ia tidak tidur sama sekali.

Ia bicara sama Kee Tjoen, ia tanya, siapa sebenarnya tetamu itu.

"Entahlah, tapi ia datang dari Sin-tek,"

Kee Tjoen jawab.

"Begitu bertemu sama Teng Soesiok, dia kata dia datang langsung dari Sin-tek dan dengan ter-buru-buru, dia tidak berhenti-henti di tengah jalan."

Tetamu dari Sin-tek?"

Kata Kiam Gim, yang ulangi itu berulang-ulang.

Ia-menduga-duga dengan sia-sia, ia rnasygul.

Sin-tek ada daerahnya Istana Boan.

Apakah orang itu datang dengan suatu kabar penting, yang berbahaya?

Atau dia ada orangnya pembesar negeri yang lagi lakukan penyelidikan?

Dugaannya Kiam Gim ini benar dan tidak benar.

Benar karena tetamu itu betul ada dari pihak pembesar negeri.

Tidak benar karena dia datang bukan untuk cari tahu perihal ia dan orang yang belum ketahui, dari pihak yang bcrtcntangan, ia sekarang ada sahabatnya Tok-koh It Hang.

Tetamu itu ada orangnya Keluarga Soh.

Seberangkatnya Kiam Beng dan Kiam Gim, Soh Sian Ie dan anaknya pun segera berangkat ke Sin-tek dan ayah dan anak ini bisa sampai lebih dulu.

Dengan lantas mereka ini berembukan sama wie-soe, atau pah law an dari istana Sin-tek dan pahlawan dari Istana Pakkhia, kemudian mereka lantas bikin penyelidikan.

Dengan lekas mereka dapat tahu yang Kiam Beng bcramai sudah pergi ke Sha-tjap-lak Kee-tjoe, pada Keluarga Tjiong, justeru Keluarga Tjiong ini mereka curigai ada mempunyai sangkutan dengan perampasan upeti, sedang mereka juga tahu, Lioe Kiam Gim ada bersahabat rapat dengan Tjiong Hay Peng.

Di sebelah itu, mereka juga telah dengar selentingan hal adanya beberapa orang yang tidak dikenal yang suka berkumpul di Hee-poan-shia.

Bangsa Boan mcmang paling jenh kalau or-ang-orang kaum Rimba Persilatan mengadakan persatuan.

Soh Sian Ie pun tidak ingin Kiam Gim berhasil dengan perjalanannya ini, ia ingin Kiam Beng terus terpisah dan kaummnya, untuk mengatur terus jaring.

Dan tetamunya Kiam Beng itu ada salah satu pahlawannya Sian Ie, yang dengan Kiam Beng ada bersahabat kekal.

Kapan Kiam Gim sampai di ru man penginapan, ia dapatkan Kiam Beng sudah dandan rapi, sudah siap untuk suatu perjalanan, di sampingnya soetee ini ada seorang dari usia pcrtcngahan yang matanya m i rip mat a tikus dan hidungnya bengkung bagaikan gactan.

"Eh, Soetee, kau hendak bikin apa?"

Kiam Gim segera tanya seraya ia tarik tangan orang.

"Kau hendak pergi ke mana?" . Kiam Beng tidak segera menjawab, hanya sambil tarik orang di sampingnya, ia kata untuk memperkenalkan.

"Soeheng, ini ada Saudara Yap Teng Tjeng dari Pat Kwa Tjiang atau pahlawan dari Keluarga Soh, ia mengabarkan tentang upeti yang dibegal sudah ada kabamya, ia sekarang ajakkita segera berangkat ke Sin-tek!"

Teng Tjeng maju seraya hunjuk hormatnya.

"Tentang upeti itu, Loo-enghiong tak usah capaikan hati lagi,"

Berkata ia.

"Kita orang sudah dapat keterangan, barang pun telah didapat pulang, maka sekarang lata tinggal menunggu kembalinya Tcng Loo-enghiong untuk membereskannya."

Tentu saja ada dusta belaka yang barang upcti telah didapat pulang, itu ada alasan melulu guna pancing mcrcka kembaii, Kiam Bene boleh kena diakali, tidak Kiam Gim.

Dia ini awasi pahlawan Keluarga Soh itu, ia tidak bilang suatu apa, hanya kemudian, menarik tangannya sang soetee.

ia kata dengan sabar.

"Untuk kembaii ke Sin-tek, tak usah kita tergesa-gesa. Biarlah tctamu kita ini menunggu sebentar, aku ingin bicara dahulu sama kau.w la terus menoleh pada Lie Kee Tjoen seraya teruskan berkata.

"Tolong kau tcmani dahulu tctamu kita ini."

Kemudian pada tctamunya, ia bilang.

"Maaf, Tuan, maafkan kita si orang desa!"

Dengan tidak perdulikan, bahvva orang pentang matanya lebar-lebar, Kiam Gim terus tarik Kiam Beng ke dalam.

"Sebenarnya ada apa, Soeheng?"

Kiam Beng tanya.

"Kenapa kita tak bicara di tengah jalan saja?"

Soetee inipun heran, soehengnya yang paling kenal tata sopan santun, tetapi sekarang bersikap sebaliknya. Kiam Gim pandang soetee itu dengan tajam, lantas ia uruturut kumisnya.

"Soetee, kau seharusnya bisa membeda-bedakan,"

Kata ia.

"kau bisa bedakan satu orang gagah dari satu kurcaci. Apakah satu kurcaci mesti dipandang sebagai orang gagah dan kau hendak bertaku hormat kepadanya?"

Mukanya soetee itu menjadi merah.

"Aku lihat dia ada satu laki-laki..."

Berkata ia.

Ia merasa tidak enak hati, karena ini adalah yang pertama kali soehengnya bicara demikian tandas kepadanya.

Kiam Gim sendin merasa tidak enak ia telah bicara sedemikian rupa terhadap soetee itu, tetapi ia tidak mengerti, kenapa sang soetee begitu percaya orangnya Keluarga Soh itu.

"Tentang barang upeti, aku telah dapat keterangan,"

Kata ia, yang mclanjuti, untuk simpangi pembicaraan, kemudian ia tuturkan hal pertemuannyasamaTok-koh It Hang dan Tjiong Hay Peng.

"Barang itu berada di tangannya orang Liauw-tong itu. Itulah bukan maksudnya Tok-koh It Hang akan kangkangi barang itu, tetapi sekarang tidak ada soal untuk mendapatinya kembaii, guna dipulangkan pada Raja Boan. Di scbelah itu, kita justeru diundang untuk satu pertemuan di le-lan."

Walaupun ia menerangkan demikian, Kiam Gim masih tidak sebut cita-cita "memberantas pemerintah Boan", tetapi ini justeru menyebabkan Kiam Beng keliru mengerti.

Dengan sepasang alisnya berdiri, soetee ini kata.

"Soeheng, jikalau kau hendak pergi ke Liauwtong, pergilah kau sendiri! Aku hendak pergi ke Sin-tek. Terus terang aku sangsikan Tok-koh It Hang. Kenapa dia tidak memandang-mandang lagi, kenapa dia rampas juga benderaThay Kek Kie? Kenapa diapun sampai uji pada Soeheng? Lebih celaka ada si tua bangka Tjiong Hay Peng, sama sekali dia tidak pandang pula Kaum Thay Kek Pay, kita datang dengan cara hormat, dia justeru uji aku berulangulang! Aku percaya, karena mereka jerih terhadap kita, mereka pakai akal memancing kita datang ke Liauw-tong!...."

Kiam Gim coba redakan soetee ini tetapi Kiam Beng panas hatinya, maka di akhimya, ia pikir, baik ia ikut soetee ini.

Untuk pergi ke Liauw-tong, ia masih punya tempo.

Ia pikir, di Sin-tek pun ia"bisa dengar-dengar kabar.

"Kalau begitu, Soetee, baiklah, aku nanti iringi kau,"

Kata ia akhimya.

Demikian, dengan diantara Yap TengTjeng, mereka berangkat ke Sin-tek.

Selang dua hari sesampainya Kiam Beng di Sin-tek, Soh Sian Ie ayah dan anak undang mereka untuk satu pertemuan.

Kiam Gim tidak niat iringi saudaranya, tetapi karena ia kuatir untuk saudara itu, akhimya ia turut bersama.

Ia tetap curiga, meskipun Kiam Beng hunjuk Sian Ie sudah berusia tujuh puluh lebih dan sudah lama mengasihngi diri.

Ia curiga, kenapa Sian Ie yang tua datang sendiri ke Sin-tek, toh cukup kalau dia diwakili puteranya saja, Soh Tjie Tiauw.

"Kau mesti waspada, Soetee, baik kau bawa pedangmu dan piauw,"

Baca Juga: Tengkorak Maut 5

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger