Kisah Dua Saudara Seperguruan 6

Eps 6 Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen.

Iapun ingin tarik Angie Liehiap, karena di dalam Giehoo-toan ada pasukan perempuan, yang kemudian diberi nama Hongteng-tjiauw, Sinarnya Lentera Merah, pasukan mana membutuhkan pelatih yang pandai silat.

Kiang Ek Hian ada gagah, tetapi setelah usianya lanjut, ia kekurangan semangat pendirian.

Sebenamya ia menyayangi Tjoe Hong Teng, tetapi ia tak berani percaya murid ini sanggup bekerja besar.

Di sebelah itu, ia pusatkan perhatiannya kepada cucu perempuannya, yang ia ingin sekali carikan satu pasangan yang setimpal.

Karena ini, ia tak jadi punya keinginan akan hadapi badai dan gelombang dari dunia Kangouw.

Begitu maka ia sudah tolak undangannya sang murid, hingga Tjoe Hong Teng jadi masygul.

Ini pun berarti, Kiang Hong Keng mesti sclalu dampingi cngkongnya, hingga tak dapat dia ikut memasuki Giehoo-toan.

Saking masygul, Tjoe Hong Teng jadi bcrkesan.

Sungguh sulit akan rubuhkan pemerintah Boan, banyak orang jerih mendengar perkataan "berontak", sampaipun gurunya sendiri tidak mau pusingkan diri....

Karena ia tak dapat bantuan gurunya, Tjoe Hong Teng mau lantas pamitan pulang, tetapi Kiang Ek Hian minta murid itu suka berdiam untuk dua hari.

Ia melul uskannya, karena ia pun dapat pikiran untuk melihat apa di Kota Pooteng itu, ada orang "berarti"

Dalam Rimba Persilatan, yang ia boleh harapkan bantuannya.

Adalah kebetulan, di saat Tjoe Hong Teng berdiam di Pooteng, hari itu Kiang Hong Keng karena pukul harimau sudah kena dikurung serombongan pemburu, sampai dia dapat ditolong oleh Teng Hiauw.

Nona ini tidak berterima kasih kepada anak muda itu oleh karena dia menyangka, gum-guru silat Keluarga Soh itu adalah kawan si anak muda, dia tidak tahu, Teng Hiauw melainkan ketahui guru-guru silat itu, hubungan lainnya tidak ada.

Ketika Hong Keng puiang dan berccrita kepada cngkongnya, Hong Teng dengar itu, dia lantas merasa pasti, Teng Hiauw bukannya tergolong guru-guru silat itu, kalau tidak, si anak muda tidak nanti berikan bantuannya.

Maka itu, ketika Teng Hiauw satroni Keluarga Kiang, Hong Teng sengaja sembunyikan diri dan memegat di tengah jalan, untuk mempermainkan, buat patahkan kepala besar orang, untuk tarik perhatiannya dia itu.

Kesudahan dari itu membuat Hong Teng girang.

Ia dapat kenyataan, Teng Hiauw masih muda sekali tetapi berani dan gagah, ilmu silat pedangnya sudah bisa layani ilmunya yang dilatih dua atau tiga puluh tahun, Iapun lihat, anak muda ini, ada lain daripada ayahnya.

Maka itu, justru Teng Hiauw masygul karena ayahnya hendak paksa ia menikah.

Hong Teng ajak Hong Keng pergi satroni dia di rumahnya dan meninggalkan surat itu, guna "tarik"

Ini anak muda ke pibaknya.

Setelah si anak muda buron, Tjoe Hong Teng lantas menguntit, akan lihat sepak-terjangnya.

untuk sekaJian melindungi padanya.

Hong Teng sebaliknya tak mau segera perkenalkan diri, karena ia sengaja hendak latih lebih jauh pemuda ini.

Demikian, karenanya, telah terjadilah hal-hal lucu, disebabkan Teng Hiauw masih hijau daiam pengalaman.

Tjoe Hong Teng mengeluh ketika .

ia lihat si anak muda ditawan polisi.

la tidak mat mem ben pertolongan dengan kekcrasan, ia lantas dapat akal, sesudah kirim pesan untuk tjongto di Anpeng kemana ia percaya barisan Boan ini bakal lewat Kebetulan, itu waktu pun ada satu sahabat karibnya, yang berada di pusat di Anpeng, ia sekaJian minta sahabat itu bantu ia.

Sesudah itu, ia hampirkan Teng Hiauw, yang ia akui sebagai adik misan, hingga ia pun mandah dicekuk.

Maka kemudian, terjadi pemegatan tadi atau pertempuran di Tjiasek-kong, hingga tentara negeri harus menyerah.

Baharu setelah itu, Teng Hiauw ketahui, Tjoe Soesiok adalah pendiri dan Ketua Pusat dari Giehoo-toan.

Ia lantas hendak menghaturkan terima kasih, untuk sekalian tanyakan hal-hal, yang masih gelap baginya, tetapi scbclum ia buka mulut,*Hong Teng goyangi tangan dan dului ia berkata.

"Tunggu, aku akan perkenalkan kau pada satu orang...."

Ia belum tutup mulutnya,-atau ia dengar orang telah tertawa dan dului ia.

"Tak usah kau perkenalkan lagi! Mustahil aku tidak kenal padanya?"

Teng Hiauw segera menoleh, hingga ia tampak seorang dengan thungsha sutera putih dan tangan mencekal kipas, satu mahasiswa, ialah orang yang memegat tentara negeri, yang meminta beelouw-tjhie atau uang sewa jalan....

Ia tercengang, ia heran kenapa orang itu kenal ia.

Ia toh baharu pernah merantau, baharu sekali ini ia lihat orang itu.

Ia berniat menanyakan, akan tetapi orang itu sudah tertawa pula dan menanyakannya.

"Bukankah ayahmu ada Sianpwee Teng Kiarm Beng Ketua dari Thaykek-boen? Bukankah namamu sendiri, Sieheng, ada Hiauw sepatah kata, yang berarti "terang tanah"? Begitu Iekas lihat kau mainkan ilmu tombak Thaykek-tjhio, aku lantas ketahui siapa kau ada! Aku cuma dengar nama besar dari ayahmu, tetapi tentang ilmu silat kaummu, tentang murid-muridnya, aku tahu juga...."

Tjoe Hong Teng tertawa mendengar kata-kata orang itu, ia segera memotong.

"Oh, orang bermata pancalongok, katakata kau benar adanya! Tapi kau sendiri, dengan dandananmu yang tidak pernah ditukar, kau juga gampang sekali dikenali orang!"

Sembari mengucap demikian, Hong Teng awasi Teng Hiauw, akan lihat, pcmuda ini ketahui atau tidak si mahasiswa itu.

Tapi Teng Hiauw tidak kenal orang ini, yang ia cuma duga ada seorang Kangouw yang ulung.

Di saat ia hendak tanya Tjoe Hong Teng tcntang nama orang itu, tiba-tiba ia ingat Kim Hoa, yang pernah tuturkan dia tcntang orang-orang Kangouw.

Separuh bcrseru, segera ia bertanya.

"Tjianpwee, apakah Tjianpwee bukannya Looenghiong Thiebian Sieseng Siangkoan Kin?"

Mendengar demikian, dari atas kudanya, Tjoe Hong Teng tertawa bcrkakakan.

"Nah, apa aku kata! Sekalipun ini anak, yang baharu pertama kali injak dunia Kangouw, begitu dia lihat dandananmu, ia segera kenal kau! Aku lihat, baiklah kau salin pakaian, supaya kau tidak terlalu mencolok mata!"

Siangkoan Kin tidak gubris godaan kawan itu, ia tarik tangan si anak muda.

"Kau ketahui namaku, siapakah yang beritahukan itu kepadamu?"

Ia tanya.

"Baik kau ketahui, tidak suka aku disebut-sebut tjianpwee atau looenghiong, karena untuk itu, belum sampai waktunya aku bertingkah-polah!"

Baharu setelah itu, ia menoleh pada Tjoe Hong Teng, akan kata.

"Dandananku ini adalah merek hidupku, aku tidak takut segala kawanan anjing kenali aku! Jikalau mereka mempunyai kepandaian, mereka boleh bekuk aku, aku tak takut!"

Kata-kata ini ditutup sama tertawa bergelak-gelak yang nyaring.

Tjoe Hong Teng kerutkan alisnya.

Ia tak setujui anggapan sahabamya itu.

Tapi sang sahabat sedang bergirang, ia tidak mau ganggu kegembiraan orang itu.

Thiebian Sieseng Siangkoan Kin ada seorang luar biasa dalam kalangan Kangouw, sampaipun asal-usulnya, sedikit sekali orang yang ketahui, lebih-lcbih mengenai sumber ilmu silatnya.

Orang melainkan duga, dia ada sioetjay yang gagal dalam ujian, yang lantas tukar ilmu surat dengan ilmu silat Dengan sebenarnya, Siangkoan Kin ada putera dari satu keluarga anak sekolah di Boesek, Kangsouw.

Propinsi ini, seperti Tjiatkang, memang ada tempatnya kaum sasterawan.

Maka juga, sejak masih .kecil, dia sudah dimestikan mempelajarinya.

Dalam umur baharu sepuluh tahun lebih, karena amat cerdasnya, Siangkoan Kin sudah pandai membaca kitab-kitab Soesie Ngokeng di luar kepala, hingga gurunya, dan orang tuanya, percaya dia bakal peroleh kemajuan, akan tetapi dugaan itu meleset, sebab beberapa kali dia turat ujian, saban-saban dia gagal -tak pcmah dia berhasil.

Ketika ayahbundanya menutup mata, dia baharu berumur dua puluh tahun, dia tetap tak peroleh gclaran atau pangkat.

Keluarga Siangkoan Kin bukannya keluarga berharta, dia tidak punya uang atau pengaruh, maka itu, waiaupun ilmu suratnya Sempuma, dia seperti tidak ada di matanya kepaia badan ujian, siapa cuma lihat uang, -bukannya kcpandaian.

Di waktu hendak menutup mata, masih Siangkoan Kindipesan, dianjuri ayahnya, untuk bclajar tcrus dengan rajin dan ulet.

untuk turut pula dalam ujian.

Ayah ini tak put us harapan puteranya nanti menjulet pangkat, untuk angkat naik derajat keluarganya.

Tapi, sehabisnya bcrkabung, ketika untuk satu kali lagi Siangkoan Kin lurut juga dalam ujian, sendirinya, semangatnya untuk peroleh gelaran atau pangkat sudah padam terlebih dahulu.

Inilah sebabnya kembali dia rubuh, .dan yang keluar sebagai pemenang ada seorang bemama Hee Kie Tong.

Beberapa kali Siangkoan Kin dikecewakan, dia bersusah hati, tetapi dia tidak penasaran sebagai mi kali.

Dia heran dan penasaran, karena kaygoan baru ada si orang she Hee itu, yang ada calon sioetjay, yang biasanya kesohor paling tak punya guna.

Di waktu biasa, karangannya, saking buruk, Siangkoan Kin sendiri tak sanggup mengubah atau memperbaikinya, sampai perriah dia mengejek.

"Karangan lain orang, apabila dilempar ke tanah, bisa bersuara nyaring bagaikan emas, tetapi karangan kau, suaranya mirip dengan tambur yang jatuh bergeiindingan dari atas gunung...."

Toh aneh, sekarang si pemenang adalah orang yang karangannya seperti tambur yang bergeluntungan itu!

Yang lebih mengherankan, Hee Kie Tong ini ada keluarga lebih mi skin daripada Keluarga Siangkoan, hingga pasti dia tidak bisa sogok si kepaia ujian itu.

Orangnya bodoh, uangnya tidak ada, tetapi dia lulus.

Saking heran, Siangkoan Kin pergi pada sahabatnya itu, untuk minta keterangan.

Hee Kie Tong tertawa ketika ia menjawab.

"Saudara Siangkoan Kin, kita sama-sama tidak punya uang, untuk menghormati kepaia ujian. Aku sendiri lulus, kau tidak, maka itulah ada bukti yang karanganku ada terlebih baik daripada karanganmu! Maka sekarang kata-kata kau ten tang "tambur yang bergeiindingan dari atas gunung tinggi"

Haruslah dihaturkan kcmbali kepadamu!"

Siangkoan Kin mendongkol bukan kepalang, ia tak dapat berbuat apa sclain ngeloyor pulang dengan perut panas.

Ia tetap gelap dengan duduknya hal, sampai....

Kepala examen itu diutus dan ditugaskan di Boesek atas putusan boetay.

Ia girang sekali.

Ketika ia mau berangkat ke Boesek, dia kunjungi berbagai pembesar, untuk pamitan, akan ambil selamat jalan.

Ia pun kunjungi boetay, sebagai pembesar tertinggi.

Ia berlaku sangat hormat pada pembesar ini, yang pesan ia harus , baik-baik lakukan kewajibannya di Kangsouw, tempat kaum terpelajar.

Selagi beri pesannya itu, tiba-tiba boetay kerutkan alisnya, ia menyingkir ke samping.

Kepaia examen ini kira boetay hendak tinggalkan pesan perseorangan, ia mendekati, ia pasang kupingnya, atas mana, boetay kata.

"Tidak lainnya lagi, heekhi-tong."

Tadi malamnya boetay makan besar, pencernaannya kurang baik, mendadakan ia ingin buang angin busuk, maka ia minggir dari orang banyak, tetapi si kepaia examen kelira sangka, dia mendekati, dari itu, ia jawab tidak apa-apa.

Katakata "heekhie-tong"

Itu ada kata-kata halus untuk angin busuk. Si kepaia examen keliru dengar, dia sangka boetay pesan untuk perhatikan orang nama "Hee Kie Tong,"

Ia ingat itu baik-baik.

Demikian sudah terjadi, ketika ada calon sioetjay nama Hee Kie Tong, tanpa banyak rewel, ia kasih lulus si tolok ini sebagai kay goan, hingga kesudahannya, Siangkoan Kin jadi mendelu!

Sebagai keharusan, Hee Kie Tong kunjungi kepala examen, untuk hunjuk hormatnya, buat menghaturkan terima kasih.

Setelah pemberian hormat, kepala examen itu tarik tangannya si kaygoan baru dan tanya dengan pelahan.

"Sieheng, kau ada punya hubungan apa dengan Boetay Taydjin?"

Ditanya begitu, Hee Kie Tong melengak, tak mampu ia menjawab. Masih si kepaia examen tak engah, ia puas karena ia sudah angkat "orangnya"

Boetay.

Ketika kemudian ia pula ke ibukota propinsi, selagi menghadap boetay, untuk berikan laporan kesudahan ujian, ia tambahkan bahwa ia sudah lakukan pesan boetay itu mengenai Hee Kie Tong, yang ia kasih lulus jadi kaygoan.

Boetay tercengang.

"Apa kau bilang? Siapa itu yang kau tolong?"

Dia tanya. Kepaia examen ini kira boetay lupa, dia terangkan.

"Ketika dulu akan pamitan, Taydjin toh bilang padaku.

"Tidak lainnya lagi, heekhie-tong"

Mendengar demikian, dari melengak, boetay, tertawa besar.

"Ah, kau benar tolol!"

Ia kata tanpa perdulikan di situ ada hadir lain-lain orang lagi.

"Itu waktu aku sebut "

Heekkie-tong"

Tetapi itu bukan namanya orang, itu ada kata halus untuk gantikan angin busuk dan dalam perut...."

Kepaia examen itu mukanya merah, ia temganga.

Ia benarbenar tidak ingat kata-kata sopan itu untuk gantikan angin busuk.

la pun menyesal, karena dengan begitu.

Ia bikin lenyap uang sogokan, yang mestinya akan masuk ke dalam sakunya, sedikitnya di atas seribu tail perak....

Ia ada begitu menyesal dan penasaran, tanpa pikir panjang, ia utarakan kemenyesalannya kepada beberapa rekannya.

Tapi justru ini, rahasia bocor, dari sepuluh mulut kepada seratus mulut, dcmikian selanjutnya, sampai kabar pun tersiar sampai di Boesek, karena itu berarti kejadian sangat lucu.

Kapan akhimya cerita itu sampai di kupingnya Siangkoan Kin, dia ini tercengang, mulutnya ternganga, matanya terpentang iebar, ia diam sckian lama, akan kemudian, ia tcrtawa terbahak-bahak, lantas ia berseru.

"Hei! sioetjay angin busuk, kaygoan angin busuk, tjonggoan pun angin busuk! Jadi semua. ponggan, tamhoa, itokkoen, boetay, haksoe, semuanya angin busuk juga! Ya, semua-semua angin busuk, maka tak usahlah aku repoti angin busuk!"

Sadarlah sekarang Siangkoan Kin akan keburukan ujian ilmu surat, padam semangatnya, tak lagi ia sudi bikin examen, untuk kehidupannya, ia buka rumah perguruan, karena ia tak punya lain kepandaian.

Tapi ia ada sioetjay yang gagal, tak ada orang hartawan yang suka masuki anak-anaknya belajar kepadanya, maka ia cuma dapati beberapa murid anaknya orang miskin....

Pada suatu sore, sehabis lepas sekolah, ia minum arak seorang diri.

Ia berada sendirian, ia menjadi kesepian.

Arak itu pun ada antaranya dari satu muridnya.

Saking iscng, tiba-tiba ia perdengarkan cabutan dari syairnya Ek-ong Tjio Tat Kay, itu pemimpin Thaypeng Thiankok yang bergelar pangeran.

"Penjahat besar juga ada lurunannya, yang Kitab Soesie tak menghargainya. Emas kuning bagaikan tanah tak berharga, nyali keras bagaikan besi...."

Dia belum habis ucapkan itu, atau tiba-tiba ada scruan.

"Sungguh bersemangat!"

Menyusul mana satu orang, bertindak masuk ke dalam rumahnya!

Siangkoan Kin terkejut, ia menoleh dengan segera, hingga ia lihat, orang itu ada orang sesama kampungnya, si tukang besi yang usianya sudah lanjut.

Dengan sendirinya, hatinya menjadi lega, pikirannya menjadi tetap pula.

Ketika itu belum cukup dua puluh tahun sejak runtuhnya Kerajaan Thaypeng Thiankok, dengan diiam-diam syairnya Tjio Tat Kay itu masih tetap tersiar di antara rakyat, tidak perduli itu ada termaksud dalam larangan pemerintah Boan.

Siangkoan Kin nyanyikan itu tanpa merasa, tidak heran, suaranya si empeh membikin ia terkejut.

Di lain pihak, sekarang ia heran i si empeh tukang besi itu.

Empeh ini ada orang satu kampung dengan ia, akan tetapi, asalnya, dia ada orang perantauan dari lain tempat, yang datang ke kampungnya selang sepuluh tahun yang lampau.

Dia ada ramah-tamah, dia pun pandai membuat segala rupa barang dari besi, juga gendewa dan peluru untuk anak-anak menjepret burung dan untuk petani petani kepung kelinci, semacam tempuling terbuat dari kayu Tjoh.

Lama-kelamaan, orang kampung pandang dia sebagai orang kampung sendiri.

Di mata Siangkoan Kin, dia ada satu tukang besi, maka adalah heran, sekarang tiba-tiba dia pun kagumi syairnya Tjio Tat Kay.

"Rupanya Empeh mengerti syair,"

Kata ia, dengan sikap menghormat. Orang tua itu bersenyum.

"Aku ada seorang kasar, mana aku mengerti syair?"

Ia baliki.

"Aku dengar suaramu menarik hati, begitulah aku datang!"

Ia lihat pelbagai kitab di atas meja, ia agaknya heran.

"Siangkoan Sinshe, apakah kau ajarkan anak-anak dengan kitab-kitab ini?"

Tanya ia. Pertanyaannya pun tiba-tiba.

"Kenapa kau tidak ajarkan mereka syair yang barusan kau nyanyikan?"

Juga pertanyaan ini aneh, hingga bertambahlah keheranan sinshe ini.

"Pelajaran pelbagai kitab ini bisa dipakai sebagai alat mendapatkan pangkat,"

Ia menyahut dengan sengaja.

"Syair yang aku nyanyikan barusan, walaupun bagus, tidak ada kegunaannya."

"Pangkat?"

Dan orang tua itu tertawa.

"Bukankah Sinshe telah baca ini pelbagai kitab? Kenapa Sinshe sendiri tak peroleh pangkat?"

Kembali Siangkoan Kin menjadi heran.

Ia terdesak oleh pertanyaan si empeh ini, satu tukang besi.

Sesaat ini, dia tak lagi mirip dengan satu orang pertukangan!

"Empeh, sebenarnya kau ada dari golongan apa?"

Akhimya ia tanya.

Empeh itu dongak, ia tertawa pula "Aku orang apa?

Buat apa kau mempcrdulikannya?

Tapi aku tahu itu orang syair siapa barusan kau nyanyikan.

Dia pemah lulus sebagai sioetjay, hingga ia berkedudukan lebih tinggi satu t ingkat daripadamu.

Akan tetapi dia tak perdulikan gelarannya ilmu surat itu!"

Guru sekolah desa ini terperanjat.

Teranglah sudah, si empeh maksudkan Ek-ong Tjio Tat Kay, pendekar kebangsaan yang gagah-pcrkasa dan pandai ilmu sastera.

Semasa umurdua puluh.

namanya Ek-ong sebagai sastcrawan telah kesohor di Selatan dan Utara Sungai Besar.

Tidak tempo lagi, ia menjura dalam tcrhadap tetamunya yang tidak diundangitu.

"Lootjianpwee, maafkan aku karena mataku lamur"

Ia memohon.

"Sudah belasan tahun, aku tak dapat kenali padamu. Rupanya Lootjianpwee mengerti baik sekaii syair Ek-ong ini."

"Mengerti baik?"

Kata si orang tua, sambil tertawatiba-tiba.

"Sang waktu telah lewat lama, aku sudah tak ingat puia. Tapi aku pemah. lihat sendiri ketika dia menulis syairnya itu."...."

Alangkah heran Siangkoan Kin, hingga ia lari ke pintu, untuk tutup pinitu. Ia kembali dengan ccpat, ia angkat tangan bajunya, lantas ia tekuk lutut di depan orang tua ini.

"Teetjoe adalah korban ujian ilmu surat,"

Berkata ia, yang mengaku terus terang.

"karena itu tak lagi teetjoe punya keinginan untuk mengharap pangkat. Tapi teetjoe adalah orang yang paling kagumi Ek-ong. Lootjianpwee, maukah Lootjianpwee beritahukan aku, Lootjianpwee sebenarnya ada Ek-ong empunya apa? Jikalau Lootjianpwee tidak memandang kebodohanku, teerjoe ingin sekaii Lootjianpwee memberikan sesuatu pengunjukan kepadaku...."

Orang tua itu tidak singkirkan diri, dia terima pemberian hormat itu, kemudian dengan ulur kedua tangannya, ia angkat bangun guru sekolah itu.

Siangkoan Kin masih hendak menjura puia, tetapi tanpa ia merasa, tubuhnya kena diangkat secara enteng sekaii.

"He, Lauwtee, apa artinya ini?"

Ia dengar si orang tua tegur ia.

"Lekas bangun, tak berani aku terima hormatmu, tak berani aku!"

Di mulutnya, orang tua ini mengucap demikian, di hatinya, ia puas, sebagaimana air mukanya kelihatan terang.

Ia bersenyum berseri-seri, tanpa tunggu sampai Siangkoan Kin ulangi pertanyaannyaJ tidak ragu-ragu lagi, cmpch tukang besi ini beritahukan tentang dirinya yang sebenar-benarnya.

Nyata dia ada sal ah satu pahlawan dari Ek-ong Tjio Tat Kay, yang senantiasa berdiri mcndampingi pahlawan pencinta ncgcri itu, hingga bukanlah heran apabila ia telah saksikan sendiri ketika Ek-ong menulis syairnya yang dibuat kenang-kenangan itu.

Ek-ong Tjio Tat Kay ada panglima perang kenamaan dari Thaypeng Thiankok, ia pernah berperang di sana-sini melalui medan perang beberapa Iaksa lie jauhnya, hingga ia telah menggetarkan pemerintah Boan, tetapi ketika ia mcninggalkan Kimleng (Lamkhia) dengan pimpin tentara tunggalnya ke Soetjoan, se lama mana ia banyak mendcrita di sepanjang jalan, karena meluapnya Sungai Kimsee-kang, hingga ia tak sanggup sebcrangi Kali Taytou w-hoo, ia kena ditawan dan kemudian menemui ajalnya karenanya, dalam usia baharu tiga puluh tiga tahun.

Scbagian besar dari tentaranya berkorban di medan perang, sebagian yang kecil, dapat meloloskan diri.

Dan Poei Hok Han, ialah namanya si tukang besi itu waktu, juga berhasil meluputkan diri dari bahaya.

Tidak lama kemudian, Thaypeng Thiankok runtuh Poei Hok Han merantau, hidup dalam penyamaran.

Ketika ketegangan mulai reda, ia sampai di Boesek, akan hidup sebagai tukang besi di desa yang kecil.

Dua puluh tahun lewat dengan cepat, Hok Han telah menjadi satu empeh-empeh, akan tetapi semangatnya masih belum kunjung padam, dalam kesunyiannya, ia masih kenangkenangi pergerakannya, karena tcrpaksa, ia kcndalikan diri, untuk mana, kadang-kadang ia suka menepas air mata sendiri.

Dalam usia yang lanjut, Hok Han dapat pikiran untuk mendapati mu-rid, guna wariskan ilmu silatnya.

Ini ada urusan yang sulit.

Selama sepuluh tahun umpetkan diri, belum pemah ia dapati murid yang ia cari.

Ia ingin dapati murid yang berbakat dan dapat dipercaya.

Kebetulan sekaii, selagi lewat di depan rumah Siangkoan Kin, ia dengar nyanyian orang, tak bersangsi puia, ia masuk, akan kctcmui guru sekolah desa itu.

Sejak itu, dengan diam-diam, Siangkoan Kin angkat si tukang besi menjadi gurunya.

Ia sendiri, tetap menjadi guru sekolah.

Tak ada orang tahu yang ia lagi belajari silat.

Di mata penduduk lainnya, mereka ada satu sioetjay melarat dengan satu tukang besi miskin, yang menjadi sahabat kekal karena mereka senasib.

Tidak ada satu penduduk juga yang mencurigai mereka.

Siangkoan Kin berotak sangat terang, kalau orang lain membutuhkan tempo satu tahun, ia cuma tiga bulan, tidaklah heran, dalam tempo lima tahun, ia sudah dapatkan dasamya sempurna, pelajarannya telah maju jauh.

Pada suatu malam terang bulan, seperti biasa, Poei Hok Han datang ke rumah muridnya, ia saksikan sang murid lagi melatih diri dalam ilmu pukulan "Bittjong-koen,"

Setelah murid itu selesai bersilat, ia menghela napas, ia kata.

"Kita drang telah berkumpul lima tahun lamanya, aku khawatir kita orang segera akan berpisah...."

Mendengar itu, Siangkoan Kin terkejut.

"Kenapa, Soehoe?"

Tanya ia.

"Karena di kolong langit tidak ada pesta perjamuan yang tidak ada saat bubarnya,"

Sahut sang guru.

"Kau pun, selama lima tahun, sudah mewariskan semua kepandaianku, bakatmu ada sangat bagus. pelajaranku sebaliknya sangat rendah. tak sanggup aku mend idik kau terlebih jauh. Kau tahu, aku ada seorang perantauan, aku ada seorang gelap. Terpaksa aku hidup menyendiri. Di sebelah itu, usiaku sudah lanjut, tak banyak tempo lagi untuk aku tewati. Semcntara itu, masih ada urusan yang aku belum selesaikan.... Sekarang aku memikir untuk mencari satu orang, aku masih ingin tengok pula keadaan di luar...."

Siangkoan Kin mengerti perasaan cinta negeri dari gurunya, yang tetap tak mau padam, yang sukar untuk dilupai, maka ia percaya, masih ada cita-citanyaguru ini.

Tiba-tiba ia pun dapat pikiran.

Maka ia kata pada guru itu.

"Soehoe, muridrrra juga ingin merantau sebagai kau, harap Soehoe ajak aku, untuk aku peroleh pengalaman."

Poei Hak Han pandang muridnya.

"Kau tak dapat,"

Jawab ia.

"Kenapa, Soehoe?"

Sang murid tegaskan.

"Aku ada orang yang dicari pemerintah Boan, walaupun banyak tahun sudah lewat, namun aku tetap tcrancarn bahaya. Tidak demikian dengan kau, anak tunggal, yang belum bcrumah tangga. Bagaimana aku bisa bawa kau untuk menghadapi bencana?"

Mendengar gurunya sebut hal rumah tangga, mukanya Siangkoan Kin merah bahna likat, tapi ia segera berbangkit, dengan hormai, dan dengan sungguh-sungguh ia kata pada gurunya itu.

"Soehoe, mustahil sampai sekarang Soehoe masih tetap tak mempercayai aku? Jikalau aku jerih akan kesukaran dan takut akan ancaman malapetaka, tidak nanti aku berani ikuti kau! Soehoe, aku bersumpah akan teladan kau selama aku masih bernyawa, aku akan musuhkan pemerintah Boan! Tak mundur aku walaupun mesti binasa berlaksa kali! Cita-citaku masih belum tercapai, cara bagaimana bisa aku memikirkan rumah tangga? Harap Soehoe jangan bersangsi pula, mari kita pergi bersama!"

Menampak ketetapan hati orang itu, Poei Hok Han .tertawa.

"Jikalau demikian, tujuan kita sama!"

Kata ia.

"Baik, aku nanti ajak kau!"

Kemudian ia tepuk-tepuk pundaknya, dengan roman sungguh-sungguh ia tambahkan.

"Barangkali dengan perjalanan ini aku bisa sekalian carikan satu guru yang pandai untuk kau!"

"Kau sangat berbudi, Soehoe, mana aku tega akan tukar guru?"

Sahut sang murid. Orang tua itu mengawasinya, alisnya dikerutkan.

"Kenapa kau pun jadi seperti orang biasa saja?"

Tanya ia.

"Kau harus tahu, pelajaran tidak ada habisnya, pelajaran hams diyakinkan terus, hingga jadi scmpurna! Tak boleh orang kukuh i satu golongan saja, i tulah kebiasaan buruk dalam kalangan Rimba Persilatan. Ada lagi, yang kukuhi diri sendiri, tidak maul mengajarkan lain pihak, atau tidak mau pelajarkan kepandaian lain orang. Aku hendak carikan kau guru yang pandai, yang lebih liehay sepuluh kali lipat daripada aku. Aku hanya sangsi, orang itu sudi terima kau atau tidak...."

Siangkoan Kin melongo, ia pandang gurunya itu.

"Siapa orang itu, Soehoe, yang Soehoe demikian hargakan?"

Iatanya. Poei Hok Han tidak lantas menjawab, ia tertawa.

"Kau ingat tidak, dalam salah satu syairnya Ek-ong Tjio Tat Kay ada disebutkan hal meloloskan pedang dari pinggang, untuk haturkan itu kepada lain orang?"

Siangkoan Kin heran sekali.

"Aku ingat itu, Soehoe. Kenapakah?"

Ia tegaskan. Ia lantas membacakan syair itu di luar kepala.

"Mengangkat kepalanya, naga tua perdengarkan suara Mahasiswa berduka berkehendak mcmbasmi pengkhianat Sesudah sampai di jalan buntu, masih ingin bersahabat Persembahannya adalah ribuan tail emas berharga". Mendengar itu, si empeh buat main kumisnya, nampaknya ia terharu sekali, seperti ia ingat apa-apa yang telah lalu.

"Guru yang aku niat carikan untuk kau itu,"

Kata ia kemudian, dengan pelahan.

"adalah itu orang yang di saat buntu kepada siapa Ek-ong loloskan pedangnya untiik dihaturkannya. Aku ada Ek-ong empunya pahlawan, dia adalah sahabatnya-Ek-ong..."

Ia berhenti sebentar, selagi sang murid awasi ia, ia lanjuti.

"Dia adalah t sahabatnya Ekong, akan tetapi cita-cita mcrcka berdua beda satu dari lain. Sejak Ek-ong meninggalkan Kimleng, akan melakukan perjalanan peperangan jauh selaksa lie, dia sendiri mcnuju ke lain arah, dia tidak ikuti lebih jauh pada Ek-ong...."

Siangkoan Kin heran. Ia ada orang yang paling kagumi Ekong, mendengar ada sahabatnya raja muda itu, yang beda faham, ia merasa tidak mufakat. Ia lantas tanya gurunya.

"Sudah terang dia bercita-cita tain dan Ek-ong, kenapa Ek-ong haturkan pedangnya kepadanya, kenapa Soehoe pun sangat hargai dia?"

"Kau pandang urusan sangat sederhana!"

Sang guru tertawa.

"Faham berlainan bukan berarti bahwa orang mesti bertentangan. Ek-ong benar ada satu orang luar biasa tetapi itu bukannya bcrarti sesuatu dari sepak-terjangnya benar semua."

Sampai di sini, Hok Han tuturkan muridnya perihal sahabatnya Tjio Tat Kay itu dan hubungannya dengan si raja muda.

"Dia adalah Soekong Tjiauw, dia pun ada seorang luar biasa. Dia sangat kagumi Ek-ong untuk Ek-ong empunya kepintaran ilmu surat dan ilmu silat, ilmu pcrang yang mahir. yang bisa dibandingkan dengan panglima-panglima perang pandai di zaman dahulu. Begitulah, dengan ikhlas hati, ia kasih dirinya dipekerjakan Ek-ong. Sejak Ek-ong dalam usia dua puluh tiga tahun dianugerahkan sebagai pangeran, ia mendampinginya saja dalam kemah sebagai penasihat Ek-ong pun sangat hargai dia dan sangat percaya padanya. Adalah kapan datang suatu saat yang maha penting, keduanya nyata berbeda paham. keduanya lantas saja berpisahan...."

Suaranya si empeh jadi pelahan, airmatanya berlinang.

"Itulah urusan yang membikin Thaypeng Thiankok dari makmur menjadi lemah, hingga suatu usaha demikian besar dan menggetarkan , dunia., lantas jadi hancur. Karcna bentrokan di dalam, buyarlah semua-semua.."

Empeh ini menghela napas, suaranya sangat sedih.

"Apakah Soehoe maksudkan bentrokan antara Yo Sioe Tjeng dengan Wie Tjiang Hoei?"

Siangkoan Kin tegaskan.

"Benar,"

Jawab sang guru, setelah menghela napas panjang.

Pada masa Thaypeng Thiankok mengangkat berbagai raja muda (pangeran) adalah Tong-ong Yo Sioe Tjeng yang kedudukannya paling agung.

Tong-ong ini terlalu agulkan jasanya, ia sampai menindih Iain-lain rekannya, sampaipun Thian-ong Ang Sioe Tjoan sendiri, ia tidak lihat mata.

Di sebelah pangeran yang jumawa itu, ada Pak-ong Wie Tjiang Hoei yang kouwkatie, yang irikan kedudukan orang.

Selagi Tong-ong agui-agulan demikian rhacam, hingga dia tak disenangi Thian-ong dan Iain-Iain pangeran, Pak-ong mengatur siasatnya yang buruk.

Dibokong dalam suatu pesta, Tong-ong kena dibinasakan.

Sesudah ini, Pak-ongjuga bunuh habis keluarganya serta sebawahan yang berjumlah dua puluh ribu jiwa lebih.

Ini ada perbuatan kcterlaluan.

Walaupun bisa dianggap Tong-ong keliru, diamasih tak dapat dihukum mati, apa pula keluarga dan sebawahannya itu.

Orang-orang sebawahan itu adalah anggota-anggota berharga dari Thaypeng Thiankok.

Dengan pembasmiannya itu, Pak-ong seperti membantu besar sekali kepada musuh untuk memperlemah diri sendiri.

Karena itu, Ek-ong sudah lantas buru-buru berangkat ke Kota Raja, untuk cegah pcmbunuhan itu..

Ketika Ek-ong baharu berumur dua puluh enam tahun tapi dia telah jadi seperti jiwanya Thaypeng Thiankok, dia ada pegang kekuasaan besar atas bala tcntara, namanya pun kesohor di dalam dan di luar negeri.

Wie Tjiang Hoei khawatir kapan ia ketahui pangeran itu pulang; ia jadi dapat niatan akan bunuh juga rekan ini.

Beruntung buat Ek-ong, ia dengar selentingan, malam-malam juga ia kabur, ia loloskan diri dari Kota Raja.

Tapi Pak-ong tak mau bekerja setengah jalan, dia pun basmi keluarganya Ek-ong.

Ek-ong berjasa, dia terima nasib celaka itu, dia jadi gusar dan mendongkol.

Thian-ong khawatir Ek-ong gusar dan nanti berontak, dia sudah lantas hukum mati pada Pak-ong Wie Tjiang Hoei, tetapi di sebelah itu, ia pakai orang-orang yang tak disukai Ek-ong, hingga perhubungannya dengan Ek-ong menjadi renggang.

Ek-ong ketahui ini, hatinya jadi tawar.

Maka di akhirnya, Ek-ong ambil putusan, dengan bawa beberapa laksa serdadunya, ia mcninggalkan kota Kimleng, dia menuju ke barat, untuk cari suatu pangkalan baru, untuk berusaha sendiri, untuk bisa berdiri berendeng dengan Thaypeng Thiankok, guna saling bantu.

Di harian Ek-ong berikan titah-titah unjuk, walaupun Thianong keberangkatannya ke barat, Soekong Tjiauw menangis sangat sedih, ia cegah tindakannya Ek-ong, ia menasihatinya berulang-ulang.

Ia menyia-nyiakannya, tetapi Thaypeng Thiankok sendiri tak boleh kehilangan Ek-ong, bahwa kepergian pangeran ini berarti memecah tenaga sendiri, hingga gampanglah scsuatu dari mereka diserang rusak tentara Boan.

Mulanya, Ek-ong tertarik juga oleh nasihat itu, akan tetapi di akhirnya, kepercayaan atas dirinya sendiri demikian besar, hingga ia tak menghiraukannya.

Tidak gentar dia terhadap musuh Boan.

Malah ia hunus pedangnya dan sambil berbangkit, ia kata.

"Di dalam tentara Boan, yang paling gagah adalah Saudara-saudaraTjan, tetapi mereka, mendengar namaku hatinya rontok, melihat bayanganku mereka lari simpang-siur! Kau lihat nanti, dari Tionggoan aku akan menyapu ke Barat dan Selatan, untuk meletaki dasar dan mendirikan usaha buat laksaan turunan guna Thian-ong!"

Sampai di situ, Soekong Tjiauw tidak berani bilang suatu apa pula, dia cuma berlinang air mata, laiu tanpa pamitan lagi, dia pergi.

meninggalkan raja muda itu.

Ek-ong berangkat ke barat, ia lakukan perjalanan laksaan lie bersama beberapa puluh laksa serdadunya, tetapi akhirnya, tepat kata-katanya Soekong Tjiauw, ia telah tidak bcrhasil.

karena tenaganya telah terpecah.

Ketika ia hendak memasuki Propinsi Soctjoan, tidak saja tentara di Kimleng terancam bahaya, ia sendiri jadi semakin lemah.

Tujuh tahun ia sudah berperang, sembilan propinsi ia telah sampaikan -ialah Kangsee, Tjiatkang, Hokkian, Ouwlam, Kwiesay, Kwietang, Koeitjioe, Ouwpak dan Soetjoan -tenaganya jadi berkurang, otot-ototnya lemah, di saat ia berada di Kali Taytouw-hoo, di depan ia menghadapi tempat berbahaya, di belakang ada musuh mengejar padanya.

Di saat yang sangat mengancam itu, sekonyong-konyong Soekong Tjiauw muncul pula di hadapan Ek-ong; untuk menasihati raja muda ini bubarkan tentaranya, untuk menyingkir sambil menyamar.

"Coba pikir, bagaimana Ek-ong bisa turut nasihat itu?"

Kata Poei Hok Han sambil menghela napas pada muridnya.

"Itu malam dengan pedang di tangan, aku damping! Ek-ong, aku dengar pembicaraan mereka berdua. Dengan keras Ek-ong kata.

"Aku bertanggung jawab atas seluruh tentaraku, kewajibanku adalah berperang sampai binasa, tak dapat aku menyingkirkan diri! Aku telah keliru ambil jalan, aku telah bawa semua saudara ke tempat buntu, maka aku mesti cari kehidupan dalam kematian, untuk menerobos keluar! Mana bisa aku bubarkan tentaraku untuk biarkan mereka dikejar dan dibinasakan oleh bangsa Boan? Khongtjoe toh bilang hams sempumakan perikemanusiaan dan Bengtjoe mengatakan untuk pilih kebijaksanaan. Semangatnya satu orang, di tempat berbahaya itu mesti makin ternyata. maka dari itu, pasti sekali, tidak nanti aku lari. Untuk sekian lama, Soekong Tjiauw tak kata suatu apa, adalah kemudian, dengan paksakan diri, ia bilang.

"Aku telah keliru memberi nasihat. Karen a Ek-ong tak sudi menyingkir, maka aku ingin temani Ek-ong binasa bersama."

Akan tetapi Ek-ong larang ia bertindak demikian.

Ek-ongmenyatakan.

*Kaudengan aku adalah lain.

Aku ada kepala perang, tanggung jawabku ada jauh terlebih berat daripada tugasmu.

Sudah pasti aku ingin binasa, kau sendiri tak dapat.

Kau hams, dengan tubuhmu yang berharga, selesaikan tugasmu yang belum rampung."

Habis berkata demikian, Ek-ong loloskan pedang sendiri, serahkan pada sahabatnya itu,-serta ia tulis syaimya yang barusan kau ulangi di luar kepala."

Mendengar cerita sang guru sampai di situ, tak tertahan lagi, air mataSiangkoan Kin berlinang.

"Habis sekarang, di mana adanya Soekong Tjiauw itu?"

Tanya ia, dengan suara sesenggukan.

"Ek-ong tak sanggup seberangi Kali Tayhouw-hoo, dia berperang hingga dia kena ditawan,"

Hok Han jawab muridnya.

"Dengan gagah ia telah terima kebinasaannya. Sejak itu hingga kini sudah bcrsclang dua puluh tahun lebih, tidak pernah aku ketemu di mana adanya Soekong Tjiauw. Adalah baharu bcbcrapa hari yang lal u tiba-tiba aku terima surat satu sahabat yang menulis bahwa Soekong TjiauW tinggal sembunyi di Gunung Seegak H oa-san, bahwa dia mengharap untuk bisa bertemu dengan aku...."

Inilah keterangan yang sangat menggirangkan Siangkoan Kin.

Begitulah di hari kedua, Poci Hok Han ajak Siangkoan Kin merantau, untuk sekalian cari Soekong Tjiauw.

Dari Kangsouw Utara, mereka masuk ke Shoatang, terus ke Hoopak di mana mereka pesiar di Kota Raja, dari sana dengan ikuti Gunung Thayheng-san, mereka pergi ke Shoasay, sampai di Kota Tongkwan di tapal batas Siamsay-Shoasay.

Dari situ mereka sudah lantas lihat Gunung Hoa-san yang tinggi agung.

Ini adalah untuk pertama kali Siangkoan Kin bikin perjalanan, dia telah meninggalkan wilayah Kanglam di mana tiang-tiang layar bagaikan rimba dan layar-layarnya sendiri berbayang di permukaan air yang jernih indah, tapi sekarang ia memasuki daerah Utara dengan sawah-ladangnya ribuan lie dan tanah datarnya yang luas lebar, jalan di lamping-lamping gunung yang penuh bahaya.

Tepian Thayheng-san ada berlugat-legot laksana cacing, ribuan lie panjangnya, lampingnya mirip dengan tembok kota.

Ada kalanyadia memasuki lembah atau selat yang sempit dan gelap.

Semua itu membuat hatinya si guru sekolah jadi terbuka, hingga insyaflah ia sekarang, merantau ribuan lie benar ada menang daripada membaca laksaan kitab....

Buat dua puluh tahun lebih Poei Hok Han hidup tersembunyi, wajahnya sekarang sudah berubah, benar ia tidak tarik perhatian orang banyak, hingga merdeka ia mengajak muridnya merantau, akan akhimya sampai di Hoasan, gunung yang sejak zaman dahulu dipanggil Seegak, yang ada punya lima puncak dan tempat yang permai pemandangannya.

Ia terus ajak sang murid memasuki rimba, menembusi pepohonan oyot, mendaki sampai di atas puncak tertengah, Lianhoa-hong.

Di sini pun banyak pepohonan yang tinggi dan rumput yang lebat dan tinggi sependirian manusia, angin meniup keras, hawa udara dingin.

Siangkoan Kin bertubuh ulet tapi ia toh merasai sejuknya hawa.

Ia jalan dengan hati-hati tetapi ia lihat, gurunya jalan sewajarhya saja, tak perduli jalanan sukar dan berbahaya.

Diam-diam ia insyaf bedanya kepandaian mereka berdua.

"Itulah puncak utama dari Lianhoa-hong!"

Akhir-akhirnya Poei Hok Han kata seraya menunjuk ke depan, ke puncak tertinggi.

"Soekong Tjiauw dirikan gubuknya di situ} sungguh dia menderita...."

Siangkoan Kin angkat kepalanya, untuk dongak melihat, tapi tiba-tiba gurunya cekal ia seraya membisikinya.

"Mendekam, lekas!"

Dan ia lantas ditarik ke gombolan.

untuk sembunyi.

Sekejab saja, di tempat terpisahnya dua puluh tumbak lebih dari mereka, tiga orang melesat lewat, pakaiannya semua abu-abu, dan sekejab juga, mereka lenyap.

Mereka itu telah gunai ilmu lari "Tengpeng touwsoei"

Atau "Menyeberang sungai sambil injak kapu-kapu". Siangkoan Kin heran, tak terkecuali gurunya. la hendak tanya gurunya itu, atau Hok Han dului ia dengan berbisik.

"Kau ikuti aku, hati-hati! Mari kitasusul mereka, mereka"

Itu menuju ke puncak pusat Lianhoa-hong ini. Masih belum ketahuan. mereka sahabat atau musuh"

Hok Han segera berloncat dengan pesat, untuk lari menyusul, agaknya pepohonan oyot dan duri tak menjadi rintangan bagi ia, maka kasihan Siangkoan Kin, yang tidak punya keentengan tubuh dan kegesitan sebagai gurunya itu.

Dua* kali ia tersangkut oyot, sampai bajunya robek, sampai tcrpaksa ia minta gurunya tunggui ia.

."Siapkan scnjatamu, tetap waspada "Hok Han pesan muridnya.

Mereka menyusul dengan tak tcrlihat tiga orang di dcpan itu, karena jarak jauh juga dari mereka kedua pihak..Sebab rumput tebai dan tinggi, Hok Han juga tidak dapat I ihat mereka itu, maka dari itu, ia berlaku hati-hati sekaJi.

Selagi si empch tukang besi ini memasang mata, tiba-tiba ia dengar suara pelahan tidak jauh di depannya.

Ia lantas pasang teiinganya, untuk mendengari.

Ia segera kenali satu suara, yang ia seperti kenal, akan tetapi kata-katanya ia tidak dengar nyata.

Maka itu, ia bisiki Siangkoan Kim "Mereka berada di samping kiri kita, terpisahnya mungkin tiga puluh tumbak kira-kira, mari ikut aku, kita ambil jalan kanan, akan mutar ke belakang mereka.

Kita mesti ada di sebeTah belakang mereka, kita mesti jaga agar mereka tak dapat meiihat kita."

Kebetulan angin meniup keras, suaranya berisik, Hok Han barengi loncat ke samping.

Siangkoan Kin ikuti gurunya itu.

Sebentar kemudian, mereka sudah sampai di belakang orang-orang yang dikuntit, Hok Han, yang berada di depan, telah kisiki muridnya, yang lagi-lagi hendak menanya dia.

Guru ini berkata.

"Dia orang ada orang-orang Kangouw yang pandai, mereka datangi Lianhoa-hong yang penuh ancaman bahaya, mesti merekrii hendak berurusan dengan Soekongl Tjiauw.... a Dari tempat mereka sembunyi, guru dan murid ini bisa lihat nyata] tiga orang itu, yang berkumpul sambil | jalan mondarmandir, sambil bicara juga dengan suara keras, angin bersiursiur.

"Kepala hantu ini sembunyi di pusat tertinggi dari Hoasan, wj demikian Hok Han dengar.

"maka itu ada sangat sukar untuk cari dia. Baharu dalam tahun ini, kita dengar tentang dia, tetapi sudah beberapa kali kita cari dia di sini, tak juga dia dapat diketemukan. Ini hari kita dapat cari guha tempat mengcramnya, akan tetapi dia tidak ada di sarangnya! Apakah kita bukannya menyia-nyiakan waktu saja?"

"Kepala hantu itu sangat licin,"

Mengulangi yang lain pula.

"Nampaknya dia sudah ketahui ketika kita datang pada dua kali yang pertama.... Aku kuatir dia sudah berlalu dari ini. Entah ke mana lagi dia sembunyikan diri...."

"Aku percaya, dia belum menyingkir pula,"

Kata orang yang ketiga.

"Dua kali kita datang, kita mencari di sekitarnya gunung ini, lata belum sampai di puncak tertengah ini. Kita pun datang malam dan berlalu sebelum terang tanah, cara bagaimana dia bisa mendapat tahu?"

"Walaupun demikian, Sha-tee, tak dapat kita tidak berjagajaga,"

Kata orang yang pertama.

"Siapa tahu jikalau ia telah atur bayhok atau ia telah minta datang bala bantuan untuknya? Mari kita mencari pula di sekitar ini. Awas, jangan sampai kita kenadiakali."

Dua kawan itu mufakat, lantas mereka mencari pula, dengan berpencaran.

Diam-diam, Hok Han kaget dan berkuatir.

Terang sudah, Soekong Tjiauw lagi hadapi musuh-musuhnya.

Ia juga kuatir, seorang diri, sahabatnya itu nanti tidak sanggup melayani musuh-musuhnya itu.

Scmcntara itu, ia ingat semakin nyata lagu suara orang, yang ia rasa kenal.

Ia pikirkan itu, ia berpikir keras.

Tiba-tiba, ia terkejut sendirinya dan heran.

"Apakah mungkin dia pun telah jadi budaknya bangsa Boan?"

Akhimya ia tanya dirinya sendiri.

Satu di antara tiga orang itu mencari ke arah Hok Han dan muridnya sembunyi, makin lama dia datang makin dekat.

Siangkoan Kin siapkan pedangnya di satu tangan dan senjata rahasia di tangan yang lain, meski demikian, tidak urung ia keluarkan keringat dingin.

Ini ada pengalamannya yang pertama.

Poei Hok Han pun siap sedia, malah ia sudah pikir untuk menerjang lebih dahuhi.

Orang itu maju terus, gerak-geriknya hati-hati.

Bcnar di saat Hok Han hendak lompat menyerang atau ia dengar suara bentakan orang itu "Siapa?

Berhenti!"

Suara itu disusul sama lompat munculnya satu orang, yang dengan suara dalam dan seram. balik menanya.

"Kau siapa? Aku ada penduduk gunung sunyi ini! Adakah aku mengganggu pada kau? Aku lagi cari kelinci atau buah-buahan hutan, sebegitu jauh, aku beium memperolehnya, hingga aku berdahaga dan lapar, lalu aku hendak pulang untuk dahar momo setclah mana, aku hendak keluar pula. Kau suruh aku berhenti -apakah kau mau? Itulah Soekong Tjiauw! Hok Han tidak jadi keluar, ia sembunyi terus, akan pandang sahabatnya itu dan si orang tidak dikenal. Selang dua puluh tahun lebih, roman orang she Soekong itu sudah berubah, nampaknya tindakannya kurang tegap lagi, matanya kurang bersinar, pakaiannya pun cobak-cabik, rambutnya dan kumisjenggotnya telah putih semua. Tidak lagi ia beroman gagah seperti dulu. Cuma karena lagu suaranya. dan gerak-geriknya, maka Hok Han dapat kenali sahabatnya ini. Orang asing itu, seorang tua dengan pakaiannya abu-abu, bicara pula.

"Soekong Tjiauw, di hadapan sahabat, jangan lagi kau berpura-pura pi Ion! Mustahil kau senang untuk bikin sahabatmu nampak kesulitan?"

Soekong Tjiauw berdin diam, sikapnya sangat sabar.

"Apakah Kong"apakah Tjiauw?"

Tanya ia.

"Sahabat, katakata kau tak dapat aku mengertikan! Aku ada seorang gunung. Gunung ini tinggi, rimbanya lebat, di sini ada serigalanya, harimaunya banyak, jurangnya dalam, jalanannya sukar dan bcrbahaya. Untukku, yang biasa tinggaJ di guha. semua itu ada umum, tidak demikian dengan kau, Tuan yang terhormat. Ada urn sari apa kau datang kemari? Untuk apa kau berdiam lama-lama di sini? Di sini bukannya tempat pesiar yang indah. Buat apa kau panjat Hoa-san yang tinggi ini?"

Selagi Soekong Tjiauw bicara, tiba-tiba muncul seorang tua lain, yang warna pakaiannya serupa dengan yang pertama itu. Dia maju ke depan, lalu dengan suara dingin dia kata.

"Saudara Soekong Tjiauw, sudah lama kiia orang tidak pernah bertemu, apa kau ada banyak baik? Saudara, apakah kau masih ingat sahabat kekalmu ini dari Kimleng dari dua puluhtahun yang lampau?...."

Soekong Tjiauw awasi orang itu tetap akhirnya, ia goyanggoyang tangannya.

"Maafkan aku,"jawab ia sambil tertawa dingin.

"aku ada seorang gunung, seorang hutan, mana aku ada punya sahabat mewah seperti kau? Oh, Thayya sekalian, harap kau orang tidak mengganggu aku!...."

Orang tua itu gusar karena dijawab demikian rupa, dia anggap dia dipermainkan, hingga tak bisa ia mengendalikan hawa amarahnya. Kedua biji matanya lantas saja melotot.

"Soekong Tjiauw!"

Ia berseru.

"Aku masih ingat pcrsahabatan kita, aku ingin buka jalan hidup untuk kau, aku tidak mau berlaku kejam, kenapa kau bersikap begini macam terhadapku? Ingat, jangan kau cari susah send in"! Jangan kau andali saja kegagahanmu, hingga kau jadi berani membangkang! Lihat tjoekongmu, Tjio Tat Kay! Bagaimana dia pandai dan liehay, tidak urung dia tertawan dan dapatkan kebinasaannya! Apa pengaruhnya Thaypeng Thiankok?"

Bukankah gerakan itu pun buyar bagaikan es?

Kau sendiri, apa kau bias bikin?

Soekong Tjiauw, aku sudah bicara, maka hayolah kau pikir.

Jikalau kau suka secara baik bersama-sama kita pulang ke Kota Raja, aku tanggung pemerintah nanti perlakukan baik kepadamu, kau bakal dipakai dan dihargai, tetapi jikalau tidak, terpaksa kita nanti bekuk padamu!

Kau dengar terang atau tidak?

Kita ada sahabat-sahabat lama dari Kimleng, aku kenal kau Soekong Tjiauw, kau pun kenal aku Tang Siauw Tong, kita ada bangsa laki-laki, sekarang aku tunggu jawabanmu!"

"Memang dia!"

Pikir Poei Hok Han di tempat sembunyinya.

Ia memang segera kenali orang tua itu.

Tang Siauw Tong ada orang kepereayaan paling setia dari Pak-ong Wie Tjiang Hoei, sebilah goloknya Tan-too telah menjagoi di lima propinsi Utara, belum pernah dia temui tandingan, ketika terjadi bentrokan antara Wie Tjiang Hoei dan Yo Sioe Tjeng, dia telah membantu membinasakan Tongong, kemudian ketika Pak-ong dihukum mati, dia pergi kepada Ang Djin Kan, saudara Thian-ong Ang Sioe Tjoan.

Supaya dia diterima, dia kasih keterangannya, bahwa dulu dia cuma turut titahnya Pak-ong Wie Tjiang Hoei, bahwa dia sebenarnya tetap setia kepada Thian-ong.

Thian-ong Ang Sioe Tjoan bersatu pendirian dengan Ek-ong Tj io Tat Kay, dalam bentrokan Wie Tjiang Hoei dengan Yo Sioe Tjeng, yang bersalah adalah Wie Tjiang Hoei sendiri, jadi semua orang sebawahannya tak ada sangkut-pautnya.

Karena ini, Thian-ong tidak tarik panjang halnya Tang Siauw Tong.

Kemudian, ketika Kota Kimleng jatuh dan Thaypeng Thiankok hancur-lebur tidak ketahuan ke mana kabumya orang she Tang ini, Hok Han tidak pernah mendengarnya, sampai tahu-tahu dia muncul hari ini.

Maka itu Hok Han percaya, dengan sikapnya itu, orang she Tang ini pasti telah jadi kaki-tangannya pemerintah Boan.

Selagi Poei Hok Han berpikir demikian tcntang orang she Tang itu dengan penuh amarah, adalah ia dapatkan Soekong Tjiauw sendiri bersikap tenang.

"Tang Siauw Tong?"

Kata ia sambil tertawa, dengan dingin.

"Ya, tidak salah! Memang dulu aku ada punya satu sahabat dengan itu nama, tetapi dia sudah mafi lama.... Di harian jatuhnya Kota Kimleng, semua orang peperangan Thaypeng Thiankok dengan gagah telah mengorbankan dirinya dan Tang Siauw Tong ada satu laki-laki sejati, mana dia bisa mencuri hidup, akan menjadi budaknya si budak, akan jadi gundalnya si gundal? Kau siapa? Kenapa kau bcrani pakai namanya sahabatku itu?"

Soekong Tjiauw tidak sudi kenal orang she Tang ini, ia berbuat demikian dengan disengaja.

Ini cara ada lebih hebat daripada dampratan langsung.

Tidak heran jikalau si orang she Tang jadi gusar bukan kepalang.

"He, pithoe, begini tajam lidahmu?"

Ia membentak.

"Kau tidak tahu diri! Jangan kau sesalkan aku jikalau aku tidak ingat pula persahabatan kita! Terpaksa aku mesti undang kau turut pergi bersama-sama kita! Soekong Tjiauw tertawa pula secara dingin sekali.

"Aku sudah duga, binatang, kau memang bisa mencari pangkat dengan jual sahabatmu!"

Kata 1a.

"Kau sekarang jadinya hendak ambil darah hidupkan untuk celup merah Icopiahmu? Tak demikian gampang, Sahabat! Kau gerakilah tanganmu! Tidak perduli kau sendirian, atau kau maju bersama semua kawanmu, aku Soekong Tjiauw bersedia untuk melayaninya!"

Ketika itu kawan yang ketiga dari t Tang Siauw Tongjuga sudah datang, bersama kawannya, dia dampingi Siauw Tong, mereka tidak senang mendengar ejekan-ejekan Soekong Tjiauw.

"Sahabat Soekong, jangan kau pandang terlalu hina kepada kita!"

Kata satu di antara mereka.

"Tidak nanti kita rebut kemenangan dengan cara keroyokan! Di antara kita bertiga, kau boleh pilih salah satu! Kita hendak bikm kau puas dan mati tanpa penyesalan!"

Berdua mereka bcrdiri dengan sikap jumawa sekali.

Dua kawan dari Tang Siauw Tong ini bukan orang-orang sembarangan.

Yang satu ada TjianlieTwiehong See Beng Wan si Pengejar Angin, yang ada murid utama dari Keluarga Lou, segolong ilmu silat kesohor di Shoasay.

Dia tidak saja telah mewariskan Keluarga Lou punya ilmu gembolan Samleng Touwkah-twie, yang terdiri dari delapan puluh satu jurus saling beruntun, ilmu entengi tubuhnya pun sangat terkenal.

Dia bekerja kepada pemerintah Boan dengan pertolongan Jenderal Tjoh Tjong Tong.

Ini jenderal she Tjoh, bersama-sama dengan pengkhianat besar Tjan Kok Hoan, adalah menteri-menteri yang kenamaan.

See Beng Wan "dibeli"

Ketika Tjoh Tjong Tong bawa pasukannya ke Sinkiang.

Or-ang yang kedua ada Peng Tjeng It, seorang dari suku Hweehwee, yang bekerja sebagai pahlawan pilihan dalam Keraton Boantjioe, kepandaiannya adalah ilmu toyasulgj bangsanya dan senjata rahasia.

Bertiga mereka sangat percaya kegagahan mereka, mereka tidak berniat keroyok Soekong Tjiauw.

Mereka percaya betul yang mereka akan berhasil.

Bukankah kalau yang satu sedang bertempur, yang dua bisa memasang mata?

Mereka sudah rencanakan, dalam keadaan terpaksa, baharu mereka akan gunai senjata rahasia atau turun tangan bersama.

Soekong Tjiauw tidak sambut tantangan itu, sebaliknya dia yang tanya, siapa di antara mereka bertiga yang hendak maju paling dulu.

Tidak tempo lagi, Tang Siauw Tong enjot tubuhnya, akan mencelat maju ke depannya musuh.

"Aku!"

Ia berseru seraya terus ulur kepalan kanannya ke arah muka.

Soekong Tjiauw kasih dengar tertawa panjang, selagi tangan musuh menjurus, iageser kaki kirinya ke kiri dari sini ia angkat sebelah tangannya, akan gempur lengan orang itu.

"Bagus!"

Berseru Siauw Tong, yang dengan sebat gunai tangan kirinya, akan halau gempuran musuh itu, sedang tangan kanannya segera ditarik pulang, buat dipakai mencengkram muka orang dengan pukulan "Kimliong tamdjiauw"

Atau "Naga emas ulur kuku".

Ini ada semacam serangan yang liehay, tcrutama saking cepatnya.

Soekong Tjiauw berkelit, untuk luputkan diri, hingga serangan musuh mengenai tcmpat kosong, sesudah itu, tidak kurang gesitnya, ia menyerang dengan tangan kanan, untuk hajar kanan lawan.

Sekali ini ia gunai tipu "Totiam kiamteng"

Atau "Rubuhkan lampu emas".

Tang Siauw Tong bcrada di dalam ancaman, akan tetapi ia mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, untuk tolong diri, ia lekas-lekas mengendap sambil putar tubuhnya dalam gerakan "TjhongHong kianbwee"

Atau "Naga melilit ekor", menyusul mana, kakinya diulur, untuk meradak kuda-kuda lawan.

Soekong Tjiauw tahu serangannya gagal dan ia berbalik terancam, untuk menyelamatkan diri, ia berloncat dengan "Koaybong hoansin"

Atau "Ular naga jumpalitan".

Tapi ia tidak berhenti dengan berkelit saja.

Ia pun segera balas menyerang pula.

Ia telah menyerang dengan berbareng, dengan tangan kanan dan kaki kiri.

Ia bersedia akan adu tangan dan kakinya kepada musuh.

Tang Siauw Tong meradak dengan radakan "Poanliong djiauwpou"

Atau "Naga mendekam menggcser kaki".

itu sebenamya bukan kepandaiannya yang istimewa Sekarang radakan itu gagal, ia balik diserang pula, tidak ada jalan lain, ia tolong diri sambil lompat ke belakang jauhnya beberapa tindak.

Di sini baharulah ia perbaiki ia punya diri, sesudah itu, baharu ia hadapi pula musuh, akan mulai saling serang pula.

Hok Han kagum melihat caranya dua orang itu bertanding sedemikian hebat, saling berganti mereka hadapi ancamanancaman bencana.

Pertempuran berlangsung, sampai tiga puluh jurus lebih, sesudah mana, Soekong Tjiauw lantas mendesak, kecuali tubuhnya melesat ke kiri dan kanan, kedua tangannya menyambar-nyambar dengan kadang-kadang diikuti tendangan.

Temyata ia telah gabungkan Sippat Lohan-tjhioe dari Siauwlim-pay serta dia sendiri ilmu totok Tiamhiattjhioenya, dengan ini cara, dia berhasil mendesak lawan itu.

Tang Siauw Tong terpaksa main mundur saking hebatnya desakan, tetapi ia juga tidak mau menyerah kalah mentahmentah, maka kemudian, sambil berseru keras ia keluarkan ilmu silatnya "Thianliong Sippat-tjhioe", yang terdiri dari delapan belas jurus, setiap jurusnya bisa terpecah pula jadi sembilan gerakan susulan, hingga semuanya jadi ada seratus enam puluh dua jurus.

Maka itu, kembali mereka jadi berimbang.

Jurus-jurus dikasih lewat dengan cepat, masing-masing dengan serangan-serangannya yang berbahaya.

Menurut mata umum, kclihatan nyata Tang Siauw Tong dcsakannya kcras, ialah orang yang mcrasa mendongkol dan penasaran, akan tctapi di matanya ahli, ia justru yang mulai terdesak Sippat Lohan-tjhioc adalah ilmu pukuian istimcwa dari Siauwlim-pay, yang tidak sembarang murid dapat pclajarkan, yang tidak sembarang dipakai.

di sebelah itu, Soekong Tjiauw pandai Tiamhiat-hoat, ilmu menotok jalan darah.

Tang Siauw Tong scbaiiknya, walaupun ia liehay dcngan Thianl iong Sippat-tjiangnya.

ia kurang pandai dalam ilmu totokan, karena itu, ia jadi mcndapat rintangan sendirinya.

Rupanya Tang Siauw Tong merasakan sendiri bahwa ia mulai tcrdcsak.

dari itu, ia lantas menyerang berulang-ulang, saling susul dcngan "Samboan togoat" -Tiga libat mcngikat rem bu I an.

"Lengwan hianko" -Orang-hutan sakti mcnyuguhi buah, dan "Paysan oentjiang" -Menolak gunung dengan telapakan tangan. Sockong Tjiauw tidak jadi keteter karcna desakan musuh ini, dengan tenang ia mclayani, menangkis atau berkelit. Paling belakang, ketika tangan musuh sampai, ia sedot pemteya hingga jadi kosong. Cuma beda setengah dim, jeriji tangan lawan akan mengenai sasarannya. Justru itu, luar biasa gesit, orang she Soekong ini gunai tangan kanannya, akan gempur pundak kanan orang, akan cari jalan darah "Djiekhie-hiat. Siauw Tong tidak sangka, terdesak demikian rupa, musuh masih bisa menyelamatkan diri dan segera membalas menyerang, ia terperanjat, lekas-lekas ia buang tubuhnya ke belakang, dengan jejakan kaki, ia mencelat jumpalitan. loncat beberapa tindak jauhnya. Tapi ia masih kalah gesit, sambaran angin mcngcnai juga pundaknya, hingga ia merasakan kesemutan.

"Kurang ajar!"

Ia berseru dalam hatinya, sebelah tangannya segera terayun.

Segera ada beberapa cahaya berkeredepan yang menyambar kearah Soekong Tjiauw.

Itulah senjata rahasia panah tangan!

Soekong Tjiauw telah bcrlaku waspada, ia lihat gerakan pundak orang, lantas ia berkelit, ke kin dan kanan, cara dcmikian, bcbcrapa batang panah tangan itu tidak mcngcnai sasarannya.

Bukan maksud Tang Siauw Tong akan bokong lawannya itu, kalau dia t oh menyerang dengan senjata rahasia, itu adalah untuk bela dirj.

Dia khawatir nanti disusul, untuk digerebek, dari itu, dengan panah tangan itu, dia hendak mcnccgahnya.

Secara begini pun dia jadi dapat kesempatan akan hunus golok Ganleng-too nya yang pernah menggetarkan lima propinsi Utara.

Di waktu dihuntis, golok Tan-too ini bersinar berkilauan, lalu tak tunggu tempo lagi, Tang Siauw Tong lompat maju, akan mendahului serang musuh selagi dia ini repot berkelit dari scrangan panah tangan.

"Pemberontak, lekas hunus senjatamu!"

Siauw Tong menantang.

Dia bukannya ingat persahabatan hingga dia tidak mau membokong, tetapi dia percaya benar dia punya ilmu golok.

Sebab selainnya dari sikapnya ini, adalah tempo bcrtiga mcrcka bcrangkat dari Pakkhia, mereka dipesan sedapatdapatnya agar musuh mi dibujuk menakluk atau sedikitriya ditawan hidup-hidup.

Adalah keinginan dari pemerintah Boan akan korek keterangan dari Soekong Tjiauw tentang di mana sembunyinya ahli waris Kerajaan Beng.

Bukan main panas hatinya Soekong Tjiauw apabila ia saksikan sikapjumawa dari lawan she Tang ini.

Teranglah Siauw Tong tidak cuma rela jadi budak Boan tapi dia pun tak hormati lagi persahabatan kaum Kangouw.

Adalah satu kebiasaan, dalam keadaan seperti Siauw Tong, diasudah mesti mengaku kalah.

Tapi, gusar atau tidak, ia sudah tidak punya kesempatan lagi.

Sinar golok itu telah berkeredep berulang-ulang menyilaukan mata.

Golok Siauw Tong ada golok terbuat dari baja pilihan, rambut putus bila difiupkan ke arah tajamnya.

Itulah golok yang dipakai membelai Wie Tjiang Hoei, untuk binasakan Yo Sioe Tjeng.

Soekong Tjiauw juga ada punya pedang pilihan, ialah pedang "Lionggim-kiarn"

Had iah, atau tanda mata dari Ek-ong Tjio Tat Kay, yang tak kalah tajamnya dengan golok Tang Siauw Tong.

Pedang ini ia kebetulan tidak bawa, sebab biasanya, ia simpan gegaman itu.

Kalau ia lihat Lionggimkiam, ia jadi bcrduka, karcna ia lantas teringat kepada Ek-ong.

Lainnya sebab lagi adalah ia paling tidak gemar merebut kemenangan dengan gunai senjata, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa.

Bcgitu, ia terus hadapi musuh ini dengan tangan kosong, ia cuma waspada, ia mundur.

"Kau masih tidak mau kcluarkan senjatamu?"

Tang Siauw Tong membentak.

"Kau hendak tunggu apa lagi? Apa kau mau terima binasa di ujunggolokku?** Ditantang secara dcmikian takabur, bukannya dia naik darah, Soekong Tjiauw scbaiiknya tertawa besar dan lama, kemudian dengan tiba-tiba ia melejit ke samping jauhnya beberapa tumbak di mana ia hampirkan sebuah pohon yang besarnya sepelukan, ia jambret scbatang cabang, untuk potes yang panjangnya satu tumbak lebih, yang besarnya sebesar lengan seorang tua, kemudian dengan putar itu, ia hadapi orang jumawa itu. Cabang pohon itu ia hendak gunai sebagai toya Houwbwee-koen -Ekor Harimau -Iguna layani golok Gan leng-too. Tang Siauw Tong tertawa di dalam hatinya apabila ia tampak orang hendak lawan iadengan gunai hanya sebatang pohon.

"Tcrang dia mau can"

Mampifs sendiri!"

Pikir ia.

"Walaupun kau gunai toyabesi, aku tak takut, apalagi segala kayu!"

Dan ia segera loncat maju, untuk mulai dengan serangannya.

Soekong Tjiauw putar toyanya, hingga mcncrbitkan suara angin menderu-deru, dengan itu ia hendak] sampok golok orang.

Siauw Tong tidak kasih goloknya dihajar, ia mempunyai kegesitan luar biasa dalam hal bcrsilat dengan scnjata ini.

Ia kasih lewat toya, lantas ia barcngi, akan mcmbabat, untuk membikin kutung.

Tubuhnya bcrada di sampi ng.

Scnjata toya ada panjang, tetapi menghadapi gcgaman pendek, digunainya rada sulit, karena kurang kegesitan.

Soekong Tjiauw pandai Umu entengi tubuh, tidak urung, ia merasakan juga sedikit kesukaran.

Adalah karena ia sudah bcrpcngalaman, ia masih bisa luputkan diri dari papasan golok lawan.

Pertarungan bcrlangsung dengan Soekong Tjiauw berada di pihak terdesak, goloknya Tang Siauw Tong ada sangat gesit, sambarannya tidak putus-putusnya, maka juga, scsudah lewat beberapa jurus, tiba-tiba kedua senjata beradu dengan keras, lantas toya putus dengan getas, hingga tinggal scparuhnya masih dicckal.

Siauw Tong tidak mau kalah, ia loncat terus, akan babat sekalian lengannya orang itu!

Soekong Tjiauw menangkis dengan toya buntungnya, maka lagi sekali, kcdua senjata beradu keras, golok ada sangat tajam, toya kena dipapas!

atas itu, dia berlompat mundur tiga tumbak.

Apabila ia lihat toyanya, ujungnya itu pun telah jadi runcing....

Poei Hok Han mcnonton dengan asyik sekali, hatinya tegang, ia tahu sahabatnya liehay tetapi ia tcrpcranjat mendapati sahabat itu kena didcsak dcmikian macam, hingga ia pikir, sudah datang saatnya untuk ia memberi bantuan.

Tapi, bclum sampai ia sempat kcluar dari tempat sembunyinya, ia tampak sahabatnya sekarang berubah sikap.

Scbal i knya dari pada jcrih, Soekong Tjiauw tertawa tcrbahak-bahak.

"Pcngkhianat, jangan kau merasa puas!"

Dia menegur.

"Lihat tombakku!"

Dengan sebenarnya, karena ujungnya runcing, toya kayu itu merupakan jadi tombak, karena mana, Soekong Tjiauw mcndahului maju.

Dia sekarang bersilat dengan ilmu tombak "Kimtjhio Djiesiesie".

Tang Siauw Tong tertawa dingin.

"Dengan toyamu tinggal sepotong, kau masih berani layani aku?"

Tanya ia dengan sikap menantang, mcnghina.

"Lebih baik kau turut saja aku pulang ke Kota Raja, dengan pandang kau sebagai sahabat kekal, tidak nanti aku bikin susah padamu."

Soekong Tjiauw tidak gubris bujukan yang diberikuti ancaman itu, ia malah lantas mcnusuk perut orang bahagian "Khieboen-hiat".

Tang Siauw Tong membabat, dengan maksud menabas pula toya runcing itu, tetapi sebat sekali, Soekong Tjiauw bcrkelit ke kiri seraya barengi menikam lengan kanan orang.

Mcnampak dcmikian, dengan tidak kurang scbatnya, Siauw Tong menangkis, malah dengan tepat, hingga lagi-lagi ia kena papas sedikit ujung toya orang itu.

Soekong Tjiauw tetapi tidak menjadi jcrih meski juga bcrulang-ulang toyanya kena dibikin tambah pendek, scbal iknya, ia berkelahi terus dengan semakin gesit, di sebelah ancaman serangannya, sekarang lajaga agar senjata tidak lagi menjadi korban golok musuh.

Dcmikian mcrcka bertarung terus, sampai Tang Siauw Tonglcewalahan juga, tetapi dia tidak mau mengerti, dia toh tidak takuti toya, goloknya ada tcrlalu tajam untuk itu, dia menyerang dengan scngit, hingga lagi-lagi, dia dapat babat ujung toya orang hingga cabang pohon itu jadi makin pendek, karena papasan berulang-ulang.

Hok Han mengawasi dengan tercengang, hatinya tegang bukan main.

Terangiah kawannya sudah terdesak sekali "Kena!"

Mcndadakan terdengar seruannya Tang Siauw Tong, menyusul mana, kembati toyanya Soekong Tjiauw kenadibabat, hingga sekarang senjata sembatan itu jadi pendek sekali.

Poei Hok Han keluarkan keringat dingin.

Kcmbali ia berniat iompat keluar, akan bantui kawart itu.

Tapi lagi sekali ia urungkan niatnya!

Di antara suara tertawa yang keras dan panjang, ia tampak Soekong Tjiauw Iompat tinggi, di sebelah atasan kepala lawan, akan turun di belakangnya musuh ini, toyanya tak ada sepanjang ruyung, dan ketika Tang Siauw Tong putar tubuh, akan hadapi dia, dia kata.

"Terima kasih kepadamu yang telah persembahkan sepotong senjata ini kepadaku!"

Soekong Tjiauw telah gunai toya yang tcrlalu besar dan panjang, walaupun ia ada sangat gesit, senjata istimewa itu tak tepat untuknya, maka itu, selagi ia terdesak, dengan separuh disengaja, ia biarkan senjatanya saban-saban kena ditabas kutung dan dipapas sempiak, sampai akhirnya toya itu jadi sangat pendek, seperti ruyung saja, hingga cukup untuk ia pegang dengan sebeiah tangan.

Sekarang sampailah saatnya untuk ia bikin perlawanan Icbih jauh.

karena toya panjang itu sudah merupakan sebagai Poankoan-pit.

Dia ada ahli menotok jalan darah, inilah senjata yang surup untuknya.

Tang Siauw Tong tahu orang ada ahli totok tetapi ia tidak mau lantas percaya sang lawan bisa gunai punning toys itu, maka juga dengan tertawa dingin, ia kata.

"Sockong Tjiauw, akal apa kau scdang gunai? Apakah dengan punning itu kau hendak gertak aku? Soekong Tjiauw, apabila kau ingin lindungi jiwamu, lekaslah kau menyerah!"

Diancam secara demekian, Soekong Tjiauw ulapkan senjatanya dan tertawa besar.

"Kematian sedang menghampirkan kau, kau masih omong besar?"

Ia balasi.

"Mari maju, untuk kita orang mencoba-coba pulaJ"

Dan dengan senjatanya itu, ia menggertak, ia pun melirik. Naik darahnya Tang Siauw Tong, yang menganggap dirinya dipcrmainkan, sedang waktu itu ia percaya betul ia sudali bcrada di at as angin.

"Baik aku habiskan sajajiwanya!"

Demikian ia pikir saking murkahnya.

"Tidak apa apabila aku bunuh dia schingga aku tak akan dapat upah lebih besar daripada dia ditangkap hiduphidup! Tak dapat aku antapkan diriku dipcrhinakan dia!"

Segera ia maju, untuk menerjang.

Sckarang ia sudah ambiI keputusan akan bikin mampus saja ini sahabat dari dua puluh tahun yang lampau....

Selama bertempur, walaupun dia ada di pihak tcrdcsak, kelihatan Soekong Tjiauw tenang saja, tidak demikian dengan si penonton Poei Hok Han, yang hatinya berdebar-de-bar, saking khawatimya.

Kcdua kawannya Tang Siauw Tong tetap menaruh perhatian besar, mcrcka pun heran menampak sikap luar biasa dari orang yang mcrcka kepung-kepung, tanpa mcrasa, mcrcka siap benar dengan masing-masing senjata mereka.

Mereka mencurigainya!

Hok Han mengerti bahwa sahabatnya sudah nekat, sahabat itu sudah bersedia untuk jual jiwanya, karena itu, separuh berbisik, ia pesan Siangkoan Kin.

"Mungkin sebentar aku muncul untuk adujiwaku dengan jahanam itu, kesudahannya bisa aku beruntung, bisa jadi juga tulang-tulang dan dagingku bakal dikubur di udara terbuka di gunung sunyi ini, akan tetapi tak perduli bagaimana kesudahannya, aku larang kau sembarang bergerak! Umpama kata orang kemplang aku hingga mati, kau tetap tidak boleh to long i aku! Kcpandaianmu masih sangat jauh dari kesempurnaan, dengan munculkan diri, itu berarti kau antari jiwa..... Begitu lekas kau angkat kaki dari gunung ini, barangkali selama nyawaku belum putus, aku bisa gerecoki mereka hingga kau dapat ketika untuk meluputkan diri. Siangkoan Kin, dengarkah kau kata-kataku ini?"

Tak dapat Siangkoan Kin setujui putusan gurunya itu, mulutnya akan utarakan tak mufakatnya itu, akan tetapi iatak bisa buka mulutnya, sang guru sudah awasi ia dengan tajam sekali, hingga ia ragu-ragu.

Juga Poei Hok Han tidak dapat mcngawasi terus muridnya itu, untuk peroleh jawaban, karena hatinya ada pada pertempuran.

Demikian ia sudah lantas berpaling pula, kepadadua orang yang lagi adu jiwa.

Ia ingin ketahui, sampai di mana adanya bahaya yang mengancam sahabatnya.

Akan tetapi, setelah ia melihat, ia menjadi heran, hingga ia berdin tercengang, mulutnya ternganga, matanya terbuka lebar!

"Medan perang"

Telah berubah seperti dalam sekejab, segera kelihatan perbedaannya antara tuan rumah dan tetamunya.

Dengan Poankoan-pit puntung toyanya, Soekong Tjiauw telah jadi lain daripada Soekong Tjiauw yang bcrsenjatakan toy a-yang panjang, besar dan berat.

Dari didesak, ia sckarang yang menggantikan merangsang lawan.

Dengan puntung toya itu, ia jadi sebat dan tangkas bukan main.

Tang Siauw Tong terkejut apabila ia saksikan perubahannya silat dari lawan ini.

Inilah ia tidak pemah sangka dari satu sahabatnya dari puluhan tahun yang telah siiam.

Segera ia merasa bahwa ia lagi terancam bahaya, tidak perduli ia sanggup geraki goloknya dengan sempuma.

ia pun bersangsi meskipun ia ingat kepada kedua sahabatnya, bantuan siapa ia boleh harap.

Kulit mukanya ada terlalu tipis untuk segera minta bantuan sahabat-sahabat itu.

ia pun masih sangat kemaruk sama jasa, ia masih sayang akan membagi jasa kepada kedua kawannya itu.

Maka, dalam saat-saat sehabat itu, ia terus berkelahi scorang diri.

Demikian lah ia berseru beberapa kali, ia geraki goloknya sccara sangat sebat dan berbahaya.

Soekong Tjiauw tidak perdulikan liehaynya musuh, ia berkelahi dengan menunj ukkan kegesi tanny a, ia kurung ini dengan loncatannya ke empat penjuru, kiri dan kanan, depan dan belakang, tangannya pun menyambar-nyambar bagaikan halilintar bcrkclcbatan, saban-saban ujung "Poankoan-pit"

Mencari jalan darah....

Ia pun, saban-saban perdengarkan tertawanya, mengejek.

Sckian lama lagi,Tang Siauw Tong layani musuh yang liehay ini, lantas ia punya keringat membasahkan jidatnya, matanya berkunang-kunang, kepalanya mulai pusing.

la insyaf benar-benar akan bahaya yang mengancam padanya.

Sckonyong-konyong ia mainkan tipu pukulan "Pcngscc lokgan"

Atau "Ganlok pengscc", goloknya ditunuikan, lalu ia membabat pundak terus ke lengan.

ke nadi!

Soekong Tjiauw perdengarkan seruan panjang apabiia ia lihati serangan hebat itu, lekas-lekas ia turunkan pundak kanannya sambil Ikaki kirinya menggeser, untuk mundur sedikit, kcmudian setelah bacokan musuh lewat, ia maju pula, dengan serangannya dengan tipu silat "Siankouw songtjoe"

Atau "Dewi mengantar anak".

Pit istimcwanya mencari jalan darah "Hoetjoei-hiat".

Tang Siauw Tong segera bcrkclit, menyusul mana, goloknya dari bawah mcnyambar ke atas, akan scrang tangan musuh.

Atas ini Soekong Tjiauw berkelit, tetapi kemudian, scpcrti tadi, ia tcrusi mcrangsang pula, tangan kanannya mencari jalan darah "Hoakay-hiat".

Sekarang tangan kirinya turut mengancam dengan cengkraman, untuk cekuk tangan lawan.

Sambil perdengarkan jcritan "Aya!"

Orang she Tang itu lompat mundur.

Ia bcrlaku sangat cepat, tetapi lebih cepat lagi gerakannya lawan, selagi ia loncat, lawan itu loncat juga, akan susul ia.

Ia bclum tctap dengan kakinya, tangannya masih bclum siap, ujung Poankoan-pit sudah menyambar.

Di saat dari kematian itu, mcndadakan satu tubuh lompat maju, menghadang di antara dua musuh ini, hingga mau atau tidak, Soekong Tjiauw mesti batalkan serangannya dan lompat ke samping, untuk hindarkan dirt.

Kelika ia sudah mengawasi, ia kcnali See Beng Wan, sahabatnya musuh itu.

Ia jadi sangat mendongkol.

| "He, orang busuk dari Rimbai Pcrsilatan!"

Ia membentak sambil ia tuding orang she See itu.

"Sungguh kau membikin malu pada kaum Kangouw! Apakah scbenarnya siasat kau orang? Kau orang hendakj berkelahi dengan bergiliran sebagai roda atau hendak main keroyok?"

Tapi See Beng Wan tidak menjadi malu karena teguran itu, sebaliknya, ia tertawa haha-hihi.

"SoekongTjiauw,"

Kata ia dengan menebal.

"jikalau ini hari kau masih* bisa mengharap loloskan diri, itulah sulit -itulah lebih sukar dari pada naik ke langit! Kau adalah pemberontakdi matanya Pemerintah Agung, maka siapakah yang kesudian bicara tcntang. kehormatan kaum Kangouw dengan kau?"

Setelah iamengucapkan demikian, See Beng Wan lantas menyerang, akan bcrsama-sama Tang Siauw Tong kepung musuh ini.

Tang Siauw Tong sendiri tidak, pcrdulikan lagi kehormatan kaum Kangouw itu.

Soekong Tjiauw sangat mendelu melihat orang ada demikian tak tahu malu, maka itu, sambil tertawa dingin, ia layani mereka bcrdua.

Sama sekali ia tidak merasa jerih.

Pertempuran kali ini pun ada membawa perubahan.

Gembolannya See Beng Wan Samleng Touwkoet-twie adalah sebuah senjata yang langka, jarang sekali orang Kangouw yang bisa gunai itu, sedang gelarannya "Tjianlie Twiehong"

Atau si Pengejar Angin, atau lebih benar.

"mengejar angin scribu lie jauhnya", sudah mengunjuki keentcngan tubuhnya dan kegesitan, yang ada mclcbihkan Tang Siauw Tong. Kewalahanjuga Soekong Tjiauw melayani dua musuh yang tangguh itu. Sulitnya, puntung ruyung tak dapat diadu dengan golok atau dengan gembolan kedua musuh itu, ia melainkan bisa andali kegesitannya. Maka di akhirnya, ia menjadi nekat. Ia mesti berlaku cepat untuk mengakbiri pertempuran itu. Demikianlah, selagi ia berkelit dari serangannya See Beng Wan, setelah menyampingkan diri, ia terusi totok muka Tang Siauw Tong. Orang she Tang itu bcrkclit ke samping. Selagi musuh berkelit, Soekong Tjiauw tidak mendesak, hanya di lain pihak, ia loncat ke kiri, di mana ada Sec Beng Wan, yang habis terjang ia, lain ia totok jalan darahnya "Thiantie-hiat"

Musuh.

See Beng Wan tidak berkelit atas datangnya serangan itu, sebaliknya, ia angkat tangan kanannya, untuk balas menyerang, dengan membarengi.

Soekong Tjiauw tidak mau adu senjata, ia mundur sambil putar tubuh, scsudah mana ia loncat, hingga ia berada di beiakang dua musuh itu.

"Pemberontakjangan lari! Masih ada aku di sini!"

Demikian satu teriakan tiba-tiba selagi baharu saja Soekong Tjiauw lolosdari kepungan. Seruan itu disusui sama berkeredepnya beberapa cahaya berkilau, yang datang menyambar.

"Tapi juga masih ada aku di sini!"

Sekonyong-konyong datang lain seruan sebelum teriakan itu habis diucapkan.

Soekong Tjiauw lihat serangan senjata gelap, ia segera berlompat berkelit, tetapi ternyata, semua senjata itu tak menjurus tepat, hingga ia jadi heran, apapula setelah ia tampak.

dua tubuh muncul saiing susul.

Itulah PekTjeng It dan Poei Hok Han.

Pek Tjeng It telah pasang mata, ia siap dengan Djoanpiannya, ruyung lemas, yang ia bisa gunai sebagai toya.

Ketika ia lihat Soekong Tjiauw mau loloskan diri, ia tidak mau mcmbiarkannya, maka itu, lantas ia gunai senjata rahasianya, yang ia biasa tak sembarang gunai yaitu jarum bcracun Wietok Tjitsat-teng.

banyaknya tiga batang.

Ia menimpuk bcruntun terus.

Ia ada liehay dalam ilmu ini, tapi kesudahannya bikin ia heran dan penasaran.

Sebab "cengcorang menangkap tonggcret, tak tahunya di belakangnya, ada| burung gereja".

Poei Hok Han juga siap sembarang waktu, kctika ia lihat muncul pula satu musuh, yang bokong Soekong Tjiauw, dengan terpaksa, ia pun keluar dari tcmpat sembunyinya, untuk gagalkan bokongan, ia scrang orang itu dengan tiga batang panah tangan.

Pek Tjeng It dapat tahu ada serangan gclap untuk ia, ia bcrkclit, tetapi justru itu, ia pun lagi bokong Soekong Tjiauw, dari itu sendirinya, scrangannya jadi tidak tepat kepada sasarannya.

Maka itu, Soekong Tjiauw jadi teriuput dari bahaya.

Ia pun memangnya dapat kctika untuk berkelitjuga.

Pek Tjeng It gusar sekali terhadap orang yang bokong ia, yang bikin ia gaga].

"Binatang dari mana berani mengacau kita?"

Ia membentak sambil ia terns menyerang dengan Djoan-piannya.

Poei H ok Han tidak berdiam saja, ia tangkis serangan itu, ia bikin perlawanan.

Soekong Tjiauw jugasudah asyik bertcmpur pula, karcna Tang Siauw Tong dan Sec Beng Wan sudah Iantas knnmg pula padanya, untuk dikepung lebih jauh.

Ia tetap tidak takut, meski juga kedua musuhnya menyerang dengan seru, tapi sekarang pcrhatiannya tertarik oleh pertempuran di sebelahnya, karcna ia segera kenali, siapa itu yang lagi layani musuhnya yang ketiga.

Bertempur belum lama, Poei Hok Han sudah lantas ketcter, tidak perduli ia telah mainkan sungguh-sungguh ilmu silatnya golok LiokhapJ, too.

Musuh ini, sclainnya liehay, pun ada sedang gusar karena) pembokongannya terhadap Soekong Tjiauw dirintangi hingga jadi gaga!.

Bcbcrapa kali goloknya kena dililit hingga sampai hampir terlepas dari cckalan.

Lagi bcbcrapa jurus, lantas iacuma sanggup menangkis, tidak lagi, bisa menyerang.

Iasebenarnyagagah, kalau tidak, tidak nanti dia jadi pahlawannya Ek-ong Tjio Tat KayJ akan tetapi kawannya Tang Siauw Tong itu ada salah satu pahlawan pilihannya pemerintah Boan.

Pek Tjeng It lihat bagaimana ia adaj di pihak unggul, ia segera perkeras desakan nya untuk rebut kemenangan.

Hok Han tahu ia lagi menghadapi bencana, scdapat mungkin ia bcrikan perlawanan sungguh-sungguh, demikian satu kali, ia paksakan membacok Pek Tjeng It dengan tipu bacokan "Pekgan sieleng"

Atauj "Burung belibis putih sisirkan bulu".

Pek Tjeng It berkelit seraya putar tubuhnya, dengan begitu Djoan-piannya bisa diteruskan dipakai menyerang, karcna ia berkelit sambil mengendap, sekarang serangan] membalasnya ke bawah, bagaikan gcrakan uNaga malas bergulingan di tanah".

Ruyungnya menyerempet di tanah sampai menerbitkan suara.

inn ada suatu serangan dari ilmu toya Sat hwee hwee-koen yang dinamakan "Ouwliong kauwtjoe"

Atau "Naga hitam melilit tiang".

Untuk tolong diri, Hok Han mcloncat, akan tetapi oleh karena ituj Djoan-pian, yang diputar terus, kembali menyambar padanya.

Dan justru ia berada di saat berbahaya itu, mati atau hidup, tiba-tiba ada sambaran senjata gelap yang mengenai Djoan-piannya, sehingga Pek Tjeng It jadi kaget dan lantas; menunda penyerangannya lebih jauh.

"Siapa berani membokong aku?"

Membentaknya.

Teguran itu disusul sama munculnya satu anak muda dari gombolan di samping mcreka ini, pemuda itu berlari-lari menghampiri mcreka dengan pedang di tangan.

Hok Han tercengang dan mukanya pucat apabila ia tampak pemuda itu, karena dia adalah Siangkoan Kin, mu rid nya yang tcrsayang itu.

Ia tidak sangka murid ini abaikan pesannya dan justru muncul sekali.

ltulah bcrbahaya untuk si murid, setagi ia sendiri, si guru, tidak bcrdaya.

Tent u saja Siangkoan Kin tidak bisa berdiam saja, atau lari kabur, selagi ia lihat gurunya terancam bahaya maut, melupakan segala apa, ia menyerang dengan beberapa panah tangan, sehingga merepotkan Pek Tjeng It, untuk menghalau itu.

Sesudah membokong, ia segera keluar dari tempatnya sembunyi, maka di lain pihak, ia sudah hadapi musuh liehay itu.

"Siangkoan Kin, mundur!"

Hok Han teriaki muridnya, seraya ia sendiri loncat maju untuk mcnghalangi.

"Ini bukan urusan kau, jangan kau campur tahu!"

Kemudian ia tambahkan pada Pek Tjeng it.

"Sahabat, kau layani aku saja! Mari kita bertempur sampai salah satu mati!"

Pek Tjeng It tertawa menghina bcrulang-uiang.

"Ini eng-hiong muda berani membokong dengan senjata rahasia, aku ingin coba-coba dengannya!"

Jawabnya sangat jumawa. Kemudian sambil tertawa dingin ia kata pada si anak muda sendiri.

"Aku izinkan kau membokong! Aku sendiri tidak sudi menipumu! Kau ada punya senjata apa lagi? Hayo segera keluarkan itu!"

Dia menantang karena dia bisa duga, anak muda ini tentu masih hijau.

I a buka mulut dengan tidak dipikir lagi, ia lupa, ia sendiri baharu saja membokong Soekong Tjiauw.

Poei Hok Han ada sangat berkuatir, hingga melupai segala apa, ia loncat akan terjang lawan yang liehay ini, pertama ia menyerang dengan "Tay-san apteng"

Atau "Gunung Tay-san mcnindih kcpala", kemudian ia membabat dengan "Taypeng tiantjie"

Atau "Burung garuda pentang sayjtp".

Ia bcrlaku matimatian!

Pek Tjeng It melihat kenekatan orang, ia tertawa mengejek.

Menggeraki Djoan~pian ke atas, ia tangkis serangan dari atas itu, kcmudian setelah ia ditabas, ia pun terusi menangkis ke samping.

sesudah mana ia ambil ketika akan balas mcnycrang.

Sesaat saja, ia telah bikin repot si empeh tukang besi.

Siangkoan Kin ada scumpama anak kerbau yang tak takuti harimau, begitulah melifaat gurunya terancam bahaya.

ia lompat mcnycrang, akan tikam iga kanan orang itu.

Akan tetapi pcdangnya bcntrok dengan Djoan-pian, yang dipakai menangkis padanya, tahu-tahu tangannya sakit, sesemutan, pedangnya teriempar, mcnyusul mana, ia pun 1 imbung dan rubuh dengan tak dapat ditahan lagi.

Itu adalah akibat gcrakan scbat, kcras dan libatan senjata Pek Tjeng It.

Poei Hok Han kaget bukan kepalang, ia kuatir muridnya disusuli serangan lain, ia loncat, ia serang musuh itu dengan tipu-bacokan "Benghouw pabwee"

Atau "Harimau galak menggoyang ekor".

Ia arah mukanya musuh.

Pek Tjeng It lihat serangan orang tua mi, sambil putar sedikit tubuhnya.

ia menangkis, Djoan-piannya dibikin meiibat, sesudah mana, ia membctot dengan kaget dan keras.

Goiok Liokhap-too terbentur dengan menerbitkan suara nyaring, lantas teriempar dari cekalan, teriempar jauh!

Syukur untuk Poei Hok Han, waiaupun goloknya terlepas dan ia terkejut, kuda-kudanya teguh, ia tidak kena turut terbetot, dari hu, dengan tidak perdulikan goloknya lagi, ia loncat kepada muridnya, tubuh siapa ia angkat, terus ia ajak muridnya itu lari!

"Menyerah kau!"

Pek Tjeng It bcrscru sambil ia lompat, untuk mengejar.

Tapi ia menguber baharu beberapa tindak, sekonyong-konyong ia dengar suara mengaung di atas pepohonan, suaranya tedas dan panjang.

Mendengar ini, ia segera tahan t indakannya, ia terkejut Karena segeralah ia ingat, ia kenal i suara apa itu.

Ia tidak usah tercengang lama atau di scbclah depan ia, dari gegombolan, ia lihat munculnya satu niekouw tua di tangan siapa ada tercekal sebatang kebutan Tiat-hoedtim.

Ia kaget, sampai hatinya berdebaran.

Itulah pendeta wanita nama siapa ia telah dengar lama, yang orang Kangouw sangat takuti -ialah Sim Djie Sinnie.

Mclainkan romannya niekouw ini, yang sabar, beda daripada apa yang orang buat ceritaan.

Niekouw tua itu menghampirinya sambil berkata.

"Kamu sekalian bertarung di atas Gunung Seegak ini, apakah kamu tidak kuatir itu nanti merusak keindahan gunung ini? Baiklah kamu kedua pihak segera berhentikan pertempuranmu ini. Pinnie ada seorang beribadat, dari itu pinnie tidak mau memusingi di antara kamu siapa yang benar, siapa yang salah."

Pada saat itu juga, Soekong Tjiauw sudah sangat terancam oleh kedua musuhnya, akan tetapi kapan kupingnya dengar suara mengaung itu, hatinya jadi girang dengan tiba-tiba.

Dia kenal baik suara itu.

Dia ada muridnya Hoei Beng Sintjeng, pendeta suci di perbatasan, dan Sim Djie itu adalah soetjienya.

Bedanya adalah sang niekouw menjadi murid sepuluh tahun lebih dahulu daripadanya, dan kepandaiannya jauh melebihkan diajuga Sang guru kesohor gagah dan mu I ia, maka dari itu, orang sebut dia "sintjeng", seperti Sim Djie dipanggil "sinnie".

Dengan kebutannya, Sim Djie pandai menotok jalan darah, sedang piauw Bouwnie-tjoenya, ada liehay sekali, suaranya mengaung.

Hatinya Soekong Tjiauw menjadi besar, dengan tiba-tiba saja ia desak Tang Siauw Tong, yang ada lebih lemah daripada See Beng Wan, kapan musuh ini berkelit mundur, segera ia gunai ketika akan loncat keluar dari kepungan, untuk lari ke arah si pendeta wanita.

Itu waktu, Sim Djie sudah bicara terlebih jauh dengan Pek Tjeng It, yang masih tercengang, ia mendesak agar dia ini meletaki senjatanya dang angkat kaki dari gunung itu.

Desakan ini membuat Pek Tjeng It jadi nekat, dari jerih, ia jadi berani.

Ia merasa dirinya gagah, dengan niekouw itu ta belum pernah bertempur, ia cuma pernah dengar nama besarnya, sekarang ia mempunyai kawan-kawan kosen, ia anggap, apa perlunya ia takut.

Adalah ketika ia hendak bikin pcrlawanan, ia tampak Soekong Tjiauw lari ke arah ia dengan dua kawannya Tang Siauw Tong dan See Beng Wan sedang mengejar.

Soekong Tjiauw telah lantas datang dekat, ia lari dengan awasi soetjienya, dari itu ia dapat lihat orang gcraki kebutannya, yang mana ada satu tanda rahasia untuk ia tidak segera kenalkan soctjie itu, maka ia lantas bcrpura-pura tidak kenal entjiej seperguruan itu.

Scbaliknya dari hampirkan terus sang soetjie, dia terusi lari kepada Poei Hok Han, puntung toyanya ia lemparkan di tengah jalan.

Pada waktu itu, Hok Han sudah tidak berlari-lan lagi, hanya bersama muridnya, ia berdiri diam dengan napas scngalscngal.

Ia ada sahabat karib dari Soekong Tjiauw tetapi ia tidak tahu, sahabat ini ada soetee dari Sim Djie Sinnie.

Pek Tjeng It sudah lantas bcrkumpul dengan bersama dua kawannya.

Pasti sekali mereka ada sangat mendongkol.

Sudah tiga kali mereka satroni Gunung Hoa-san, sekarang maksud mereka bakal tercapai tetapi mendadakan ada orang yang rintangi mereka See Beng Wan, dengan gcmbolannya di depan dada, tertawa dingin.

"Niekouw tua, kau takabur sekali!"

Kata ia, yang awasi pendeta wanita itu.

"Kau ada punya hak apa untuk campur tabu urusan kita yang lagi melakukan firman untuk membekuk pemberontak?"

Kemudian ia menoleh pada dua kawannya, untuk tambahkan.

"Kitajangan perdu! ikan dia! Lckas bekuk si pemberontak!"

Sim Djie tidak tunggu sampai or-ang mulai bergerak, ia awasi mereka bcrtiga, ia angkat kebutannya "Siapa juga kau orang hcndak tawan, kau orang ada mcrdcka untuk lakukan ini!"

Kata ia sambil tertawa dingm juga.

"Akan tctapi untuk itu, lcbih dahulu kau orang mcsti lewati kebutanku mi!"

Ia maju. akan menghalangdi antara mereka dan Soekong Tjiauw dan kawan-kawannya. V Tang Siauw Tong bertiga jadi gusar sekali.

"Jadinya kau hendak campur tahu urusan kita ini?"

Tegaskan See Beng Wan seraya ia ulapkan gembolannya.

"Kau boleh gertak lain orang, lain orang boleh jerih terhadapmu, kita tidak. Aku justru ingin coba-coba kau!"

Tjianlie Twiehong segera pasang kuda-kudanya, untuk menantikan serangan.

"Kau orang ada orang-orang gagah, pinnie girangdapat menemui kau orang!"

Kata Sim Djie sambil tertawa tawar.

"Pinnie sudah bilang, tak dapat kau orang berkelahi di sini, siapa tidak puas. dia boleh maju. sekarang kau orang ingin bclajar kenal, baik. pinnie bcrscdia untuk menemaninya. Kau orang bcrtiga, tak sempat pinnie akan layani kau orang satu demi satu, dari itu, silakan kau orang maju berbareng saja, agar pinnie tidak berabe lagi!"

See Beng Wan melirik, karena kcjumavvaan orang itu.

"Oh, niekouw yang baik!"

Kata ia, yang mendongkol bukan main.

"Scndirian saja kau hendak layani kita bcrtiga? Kau terlaiu menghina kita! As"al kau sanggup rubuhkan aku seorang, maka dua kawan, atau kita tiga saudara, pasti suka turut segala titahmu!"

"Dua orang bertempur berhadapan ada sangat tidak menarik hati,"

Pendcta wanita itu bilang.

"Jikalau satu saja kurang dari kau orang bcrtiga, pinnie tidak bersedia untuk melayaninya! Akur? Hayo majuij Jikalau tidak, pergilah kau orang kabur turun gunung! Pinnie sudah berusia lanjut, akan tctapi untuk layani baharu kau orang bcrtiga, masih belum ada artinya! Bagaimana? Jika tetap kau orang masih tidak hendak maju, jangan nanti scsalkan pinnie tidak sungkan-sungkan!"

See Beng Wan bcrtiga jadi meluap hawa amarahnya.

"Baik! Karena kau yang menghendaki, kita nanti mengiringinya! Silakan!"

Sim Djie tidak tunggu sampai orang tutup mulut atau kebutan sudah bergerak terhadap si orang she See, untuk mana, tubuhnya mencelat maju.

See Beng Wan tahu musuh ada liehay, ia menggeser tubuh dengan gerakan "Poanliong djiauwpou"

Atau "Naga melingkar memutar kaki", ia pindahkan kaki kiri ke kiri, lalu selagi tangan kanan menangkis, tangan kirinya menyerang.

Sepasang gembolannya dikasih bekerja dengan berbareng.

Ia menangkis berbareng menyerang.

Sim Djie berlaku sangat gesit, begitu lekas serangannya tidak memberikan hasil, tidak tunggu sampai lengannya kena dihajar, ia tarik pulang itu, kakinya bergerak, hingga ia bisa dekati Pek Tjeng It, siapa terus ia serang.

Ia mencari jalan darah "Kwan-goan-hiat", sambil menyerang, ia tertawa dingin.

Pek Tjeng It berkelit ke kanan, dari situ ia balas menyerang dengan Djoan-piannya.

Ia arah kedua kakinya si pendeta wanita dengan serangan "Gioktay bekyauw"

Atau "Angkin kumal a mcl ibat pinggang".

Sim Djie tank pulang kebutannya sambil ia berlompat tinggi, selagi Pek Tjeng It hendak bangun berdiri, untuk susuli serangannya, ia sudah turun ke depannya Tang Siauw Tong dalam gerakan "Tjieyang liangpo"

Atau "Burung walet menyambar gelombang".

Benar sebagai burung saja, dia serang lawannya ini.

Di mana orang turun dari atas, Tang Siauw Tong menangkis dengan geraki goloknya Ganleng-too ke atas; tapi kebutannya Sim Djie terus saja melilit, tidak pcrdul i golok itu tajam bagaikan mcstika.

Ia mengendap, ia mencoba menarik pulang goloknya itu.

Nyata ia kalah gesit, si pendeta wanita sudah dului ia membctot, hingga iarasai sakit pada telapakan tangannya.

Syukur untuk ia, Pek Tjeng It yang berdiri di dekatnya, sudah serang Sim Djie, hingga niekouw ini mcsti lolosi libatan kebutannya dan berkelit.

Ia luput dari bahaya tctapi tubuhnya limbung, ia mundur beberapa tindak, baharu ia bisa berdiri tegak.

Sim Djie tidak berhenti sampai di situ, lagi ia maju, akan serang tiga lawan itu, dengan bergantian, untuk tidak beri kesempatan untuk mereka kurung padanya.

Selagi angin meniup-niup, kebutannya juga perdengarkan suara, karena kebutan ini digeraki sebagai pedang Ngoheng-kiam dan dimainkan dalam ilmu pedang Tat Mo-kiam yang terdiri dari seratus delapan jurus, yang kadang-kadang dicampur dengan totokan-totokan kepada jalan darah.

Ia ada tenang sekali, tapi gerakan tubuhnya sangat gesit, gerak-gerakan tangannya sangat sebat.

Coba ketiga musuh bukannya orang-orang liehay, pasti siang-siang mereka sudah tak berdaya.

Poei Hok Han bersama-sama Siangkoan Kin menyaksikan dengan tercengang pertandingan itu.

Tadi mereka sudah dibikin kagum dengan perlawanannya Soekong Tjiauw terhadap tiga musuh itu, sekarang mereka saksikan kepandaian yang jauh terlebih liehay.

Pengalaman mereka ini mirip dengan orang yang untuk pertama kali mendaki Gunung Seegak Hoa-san.

Melihat Puncak Tjiauwyang-hong, orang anggap itu adalah puncak tertinggi dari Hoa-san, karena ujung puncak sudah menempel sama awan.

Kapan orang sudah panjat puncak ini, orang lantas lihat Puncak Gioklie-hong lebih tinggi di depannya.

Di depan Gi ok he-hong ini ada lagi Puncak Lianhoa-hong yang terlebih tinggi pula.

Demikian juga ilmu silat, tidak ada ujung pangkalnya, siapa yang lebih yak in dan ulet, dia yang terlebih liehay.

Tiga-tiga senjatanya rombongan dari Tang Siauw Tong pun ada menerbitkan sambaran angin yang keras.

Ganleng-too berkeredepan bagaikan ular perak, Djoan-pian bergerak-gerak seperti naga mumbul di udara, dan gembolannya See Beng Wan berkilauan antara sinar matahari.

Hebat adalah kapan datang saatnya Sim Djie kena dikurung, hingga ia seperti tak tertapak tubuhnya.

"Bagaimana Saudara Soekong?"

Akhirnya Poei Hok Han tanya sahabat karibnya itu. MApa perlu kita maju untuk membantui? Aku kuatir niekouw tua itu tidak sanggup lawan lebih lama tiga orang jahat itu..."

Soekong Tjiauw bersenyum sikapnya. seperti biasa, sangat tenang.

"Jangan sibuk, jangan khawatir kata ia.

"Apakah kau tidak Hhat, dia sekarang sudah jadi terlebih unggul?"

Hok Han mengawasi, tetapi, di ma tanya. pertempuran masih sama seperti tadi, Sim Djie masih terkurung, tubuh mereka berempat bergerak-gerak bagaikan bayangan saja.

"Apakah benar dia terlebih unggul?"

Akhirnya ia tegaskan.

"Kenapa tidak?"

Soekong Tjiauw baliiki.

"Segera tiga orang itu tak dapat bertahan lagi. Lihat saja, lagi sebentar kau akan dapat menyaksikannya."

Sambil mengucapkan demikian, Soekong Tjiauw pandang sahabatnya, kepala siapa masih berkeringatan, sikapnya tegang sekali.

"Apakah Saudara tidak ketahui siapa pendeta wanita ini?"

Ia tanya.

"Ia ada Sim Djie Sinnie yang kenamaan dalam dunia Kangouw."

"Aku tahu dia ada Sim Djie Sinnie akan tetapi tiga lawannya semua liehay..."

Hok Han bilang. Soekong Tjiauw tertawa.

"Kau belum pernah saksikan Sinnie bertempur, tidak jikalau kau jadi sibuk sendiri,"

Ia kata.

"Mereka bertiga memang liehay, tapi apabila satu lawan satu, satu per satu dari mereka, aku sanggup pukul rubuh. Mereka bisa kepung aku tadi karena mereka bertiga. Sim Djie Sinnie ada jauh terlebih liehay daripada aku, pasti dia sanggup lawan mereka itu...."

Soekong Tjiauw baharu tutup mulutnya atau ia berseru.

"Lihat!"

Hok Han segera menoleh kepada orang-orang yang lagi bertempur, baharu sekejap, kalau tadi ia Hhat si niekouw terkurung, sekarang tcrtampak nyata tubuhnya dia itu.

Beng Wan bertiga, terpecah ke tiga jurusan, telah mulai mundur, tetapi bukannya untuk angkat kaki; sesudah pisahkan diri, tak mengurung rapat lagi, mereka silih berganti bergerak ke kiri dan kanan, depan dan belakang.

Dan Sim Djie, sesudah tidak dikurung rapat lagi -anehnya!

-sudah lantas berdiri diam di tcngah-tengah mereka, sikapnya tenang sekali.

Hok Han jadi heran, ia menjadi masygul.

"Inilah tidak ada artinya!"

Kata Soekong Tjiauw, yang lihat sikap bcrkuatir dari orang itu.

"Mereka itu lihat sulit untuk mereka merangsang tcrus, sengaja mereka ambil sikap renggangkan diri. Lihatlah gerakan mereka dan jarak tcratur. Maksud mereka adalah untuk pancing Sim Djie Sinnie serang salah satu dari mereka, bila itu terjadi, dua yang lain jadi mcrdeka, hingga merdeka j uga mereka menyerang dengan membokong atau pun dengan gunai senjata rahasia. Cara berkelahi ini biasanya membutuhkan latihan, terutama mesti digunai oleh orang-orang yang liehay* jikalau tidak, scrangan pembokongan pasti kurang sebat."

Hok Han heran.

"Jikalau begitu, perlu kita berikan bantuan kita,"

Ia utarakan pula.

"Dengan adanya bantuan kita, kita orang jadi satu lawan satu, secara demikian, Sim Djie Sinnie jadi merdeka untuk layani satu musuhnya...."

"Lihat!"

Kembali Soekong Tjiauw berseru, memotong sahabatnya.

Sim Djie, yang sadari tadi diam saja, mengawasi aksi musuh, yang hendak memancing ia untukia terjang salah satu di antaranya, sekarang kelihatan telah lepaskan sikap diamnya itu, dengan sekonyong-konyong tubuhnya melesat maju, tangannya pun dikasih bergerak, dan belum sampai kakinya menginjak tanah, kebutannya sudah menyambar.

Hok Han belum sempat melihat nyata, segera ia dengar suara keras, dari kebutan yang mengenai batu besar di samping mereka yang lagi bcrtanding.

Sim Djie loncat jauh beberapa tumbak, ia hajar batu gunung sampai batu itu pecah dan muntahkan lelatu api.

Dan belum Hok Han tahu apa-apa, ia dengar Pek Tjeng It berseru, menyusul mana belasan rupa barang berkeredepan melesat menerjang si niekouw tua.

Ia lantas tahu, itulahj jarum Tjitsat-teng yang liehay, yang tadi tiga batang di antaranya telah dipakai menyerang Soekong Tjiauw.

Ia kaget, segera tangannya meraba panah tangannya, akan tetapi, sebelum ia sempat meraba, kupingnya lantas dengar suara mengaung, menyusul mana.

barang berkcredepan itu pada melunik jatuh sendirinya.

Tapi ini belum semua, masih ada susulan jeritan-jeritan dari kesakitan, akan akhirnya, kelihatan satu tubuh lompat Ian"

Ke samping, lenyap di antara gombolan.

Ketika itu sudah mulai maghrib, sinar matahari ada sinar iayung.

Begitu lekas pertempuran berhenti.

Kecuali siuran angin, Gunung Hoa-san menjadi tenang-sunyi seperti biasa.

Adalah Poci Hok Han dan Siangkoan Kin yang tercengang atas kesudahannya pertempuran yang dahsyat itu, yang diakhiri dengan sinar berkeredepan, suara mengaung, jeritan dan sunyi-senyap.

Tapi mereka bertindak begitu lekas Soekong Tjiauw mengajaknya.

Tang Siauw Tong rebah menggeletak di tanah, tubuhnya tidak bergerak, goloknya terletak di sampingnya.

nancap di sebuah batu.

Di samping dia, Pek Tjeng It juga rebah sebagai mayat, senjatanya terletak di pinggir tubuhnya.

Sim Djie Sinnie sambil bersenyum, bertindak dengan pelahan, akan hampiri tiga orang itu.

"Dasar sudah tua, aku sudah tak punya guna lagi,"

Kata ia.

"Kau telah bikin lolos See Beng Wari dan dengan keliru sudah binasakan Tang Siauw Tbng...."

Barusan pendeta wanita ini sudah gunai ilmu silatnya "Thiankie moin"

Atau "Mementang sayap meraba mega", suatu ilmu kepandaian dari Khong Khong Djie.

Ketika tubuhnya mencelat dan kebutannyaj menyambar, ia telah lihat goloknya Tang Siauw Tong dan tarik itu terlepas, berbareng mana, totokannya mengenai sasarannya.

Ia arah jalan darahnya Siauw Tong "Oenhian-hiat", untuk tawan hiduphidup gundal Boan ini, tapi kebutannya ditangkis Ganleng-too, sebab Siauw) Tong bukannya orang biasa saja, maka itu, totokan jadi nyasar mengenai "Bengboen-hiat", tidak ampun lagi, Tang Siauw Tong binasa seketika.

Pek Tjeng It adalah orang yang membokong dengan jarumnya yang berbisa, karena itu, Sim Djie Sinnie gunai piauw Bouwnie-tjoe, coba ia tidak gunai Tjitsat-teng, ia bisa ketolongan jiwanya, biarpun untuk!

sesaat lain.

Ia membokong, niekouw itu punahkan jarumnya dengan piauw, kemudian, dengan enam buah piauw lain, yang diarahkan ke dua jurusan, ia diserang langsung, begitu j uga See Berig Wan.

Ketiga tiga piauw menjurus ke atas, ke tengah dan ke bawah.

Pek Tjeng It tercengang ketika ia dapatkan kenyataan semua jarumnya kena dipatahkan musuh, justru ia sedang bengong, piauw datang menyerang ia.

Ia menangkis, ia sangat .

terdesak, tapi dua piauw, yang halus sekali, ia masih bisa sampok, adalah yang ketiga, yang lolos, yang tembusi jalan darahnya "Tjietong-hiat", hingga ia rubuh binasa.

See Beng Wan ada seorang yang licin, ia mempunyai kegesitan istimewa, ia pun pandai dengar dan kenali suara senjata rahasia, maka ketika ia dengar piauw Bouwnie-tjoe mengaung, ia berlompat tinggi enam atau tujuh kaki, hingga segcra ia luput dari piauw ke atas, sedang dengan ujung sepatunya, ia dupak jatuh piauw yang kedua.

Untuk tolong diri dari piauw yang ketiga, ia berkelit sambil berlompat, iakabur ke dalam gombolan rumput sambil bergulingan.

Untung baginya, piauw cuma bikin bolong bajunya dan mengenai sedikit saja kulit dagingnya, hingga ia jadi terluka enteng.

Maka tepatlah ia dengan gelarannya "Tjianlie Twiehong"

Si Pengejar Angin. Sesudah itu, ia menghilang dengan gunai ilmu lari Tengpeng touwsoei.

"Untuk zaman ini, sukar dicari lain orang-orang Kangouw dengan kepandaian yang dipunyakan mereka bertiga,"

Kata pula Sim Djie pada soeteenya seraya ia menghela napas.

"Sayang sekali mereka jadi gundal-gundal pemerintah Boan hingga pinnie mesti langgar pantangan membunuh. Sungguh pinnie malu yang pinnie telah meloloskan satu musuh...."

"Kenapa Soetjie tidak disusuli dengan piauw beruntun, untuk kejar dia?"

Soekong Tjiauw tanya.

"Aku ingat benar, Soetjie bisa lepas piauw beruntun sampai tiga belas biji, untuk menyerang tiga belas jalan. Dengan susulan piauw beruntun"

Orang yang bagaimana liehay juga ilmunya entengi tubuh, mana dia dapat luputkan diri?"

Sim Djie bersenyum.

"Pinnie telah keliru menaksir musuh, pinnie telah nampak kegagalan,"

Ia akui.

"Pinnie percaya, seranganku tak pernah melesct, dari itu untuk layani orang-orang buruk, biasa pinnie gunai tiga batang piauw saja, tetapi barusan, tidak disangka, binatang itu ada gesit luar biasa, karena ia lolos, pinnie tidak ingin susul dia...."

Pendeta ini berlaku murah hati, ia tidak duga bahwa karenanya, di belakang hari, gelombang telah mengancam hebat....

Mengetahui Soekong Tjiauw dan Sim Djie ada dari satu perguruan, Poei Hok Han kembali memberi hormat pada pendeta pcrempuan itu, yang jadi termasuk orang yang terlebih tinggi tingkatannya.

Ia pun dapat tahu dari pembicaraan terlebih jauh, setiap lima tahun sekali, Sim Djie suka kunjungi soeteenya di Hoa-san, untuk bikin pertemuan, dan sekali ini, kedatangannya itu kebetulan sekali, hingga dia bisa bantui itu saudara muda.

Habis itu Poei Hok Han tarik mu-rid ini memberi hormat pada Sim Dj ie Sinnie.

Mclihat pemudaitu, sang niekouw kata.

"Anak ini ada punya bahan untuk belajar silat, dan sinar matanya, sikapnya, gerak kakinya, pasti dial sudah beiajar sedikimya tujuh atau delapan tahun...."

"Sinnie terlalu memuji,"

Kata Hok Han sambil tertawa.

"la ikuti aku baharu lima tahun."

"Benar-benar bagus!"

Pendeta itu kagum.

"Kau harus didik ia baik-baik!"

"Justru karena untuk bocah ini, aku telah datang ke Hoasan ini untuk menemui SoekongToako,"

Hok Han kata.

"Kebisaanku ada rendah sekali, dan"

Itu, ada bocah berbahan baik tetapi guru pandai tidak ada, aku kuatir menyia-nyiakan bakatnya, maka aku berniat minta Soekong Toako ambil dia jadi muridnya.

Barusan aku telah bilang sama Toako tapi belum aku peroleh jawabannya.

Daiam hal ini baiklah Sinnie tolong bicarakan pula."

Sim Djie lantas berpaling kepada soetenya.

"Apakah kau tidak puas dengan bocah ini?"

Ia tanya sambil tertawa. Soekong Tjiauw tertawa, ia memandang langit, yang sudah sore, angin sedang meniup-niup, burung-burung lagi berterbangan pulang. Ia lantas tunjuk guha.

"Dengan tidak disangka-sangka, rombongan binatang barusan telah ganggu tempo kita,"

Kata ia.

"Kita orang sudah letih, mari masuk dulu ke sana, untuk beiastirahat."

Sim Djie setuju, maka beramai, mereka memasuki guha.

Sederhana sekali adalah guha batu itu, karena melainkan scbuali pembaringan kayu melintang di| pinggiran.

Beberapa lembar kulit macan tutul ada tergantung di tembok.

Soekong Tjiauw turunkan beberapa lembar, untuk digelardi tanah, sesudah nyalakan api, ia silakan semua tetamunya duduk.

Kemudian lagi, ia kcluarkan rangsum kering, ia sediakan scbuah cupu-cupu air minum, untuk ia jamu tctamutctamunya itu.

"Aku tinggal di gunung, di dalam guha, dengan sendirinya aku telah jadi orang hutan,"

Berkata Soekong Tjiauw kemudian.

"Poei Lauwhia, sudah dua puluh tahun kita orang tidak pernah saling bertemu, aku mengucap terima kasih untuk kebaikan kau yang dari tempat ribuan lie datang mengunjungi aku, aku sebaliknya cuma bisa dengan caraku ini menyambut kau."

Poei Hok Han tercengang.

"Ah, Toako, kenapa kau berlaku begini sungkan terhadapku?"

Kata ia.

"Aku bukannya sungkan, aku hanya hendak perlihatkan kau keadaanku ini,"

Kata Soekong Tjiauw dengan sungguhsungguh.

"Bukankah kau hendak serahkan muridmu padaku? Bukankah Sim Djie Soetjie pun puji bakatnya muridmu itu? Benar aku telah bcrusia lanjut, akan tetapi mataku masih belum lamur, aku pun bisa lihat Siangkoan Sieheng ini berbakat bagus sekali, dari itu, dengan dapatkan murid seperti dia, bagaimana aku bisa tak puas? Akan tetapi, di sebelah itu, melihat romannya, dia mestinya berasal satu anak orang senang, maka dari aku kuatir dia tidak nanti tahan sengsara...."

Poei Hok Han hendak kasikan keterangannya, perihal keuletannya murid itu, akan tetapi Siangkoan Kin sudah mendahului akan berlutut di dcpannya sahabat kekal itu, untuk paykoei berulang-ulang, sambil dengan gembira, dia berkata.

"Soehoe, jikalau melainkan ini kesangsian Soehoe, harap Soehoe jangan buat kuatir! Teetjoe memang tidak punya kemampuan apa-apa akan tetapi mcnahan sengsara adalah kebiasaanku."

Hok Han segera tuturkan pada sahabatnya itu halnya Siangkoan Kin bukannya satu anak hartawan atau bangsawan, hanya dia ada satu sioetjay urung. Kemudian ia tambahkan.

"Anak ini paling kagumkan Ek-ong, ketika aku beritahukan dia bahwa kau adalah sahabatnya pangeran yang gagah perkasa itu, dia telah memaksa aku biar bagaimana juga supaya aku ajak dia mengunjungi kau."

Mendengar disebutnya Ek-ong Tjio Tat Kay, air mukanya Soekong Tjiauw menjadi guram dengan tiba-tiba, air matanya lantas saja mengembeng, tetapi, dengan lantas ia awasi itu anak muda.

"Cita-citanya Ek-ong, untuk merampas pulang dan membangunkannya pula Kerajaan Beng barangkali adalah kau orang anak-anak muda yang dapat rnewujudkannya!"

Kata ia.

"Memang teetjoe berangan-angan akan melanjuti citacitanya Ek-ong,"

Nyatakan Siangkoan Kin.

"hanya halnya berhasil atau tidak, itulah terserah!"

Soekong Tjiauw lantas saja tertawa.

"Bagus!"

Ia berseru.

"Dengan punyakan cita-cita ini, tidak kecewa kau menjadi muridku!"

Begitulah.

secara resmi, Soekong Tjiauw terima Siangkoan Kin sebagai muridnya, hingga kecuali Siangkoan Kin sendiri, juga Poei Hok Han turut merasa gembira.

Setelah itu, bertiga orang-orang gagah itu pasang omong.

Sim Djie Sinnie dan Poei Hok Han bcrdiam beberapa hari di atas gunung, mereka bicara banyak, mereka nikmati keindahan gunung yang kenamaan itu.

Bicara dari hal duludulu, Soekong Tjiauw masygul, ia sesalkan dirinya.

Ia kata.

"Ketika dahulu Ek-ong meninggalkan Lamkhia bersama angkatan perangnya beberapa puluh laksa jiwa, menuju ke Seetjoan yang jauh, itu memang ada kekeliruannya, akan tetapi akuj aku pun keliru sudah turuti adatku sudah meninggalkan dia karena kita orang berbeda pendapat, coba aku tidak bertindak demikian dan aku tetap dampingi dia, barangkali aku masih bisa lakukan scsuatu apa untuknya...."

Siangkoan Kin terharu mendengar penyesalannya guru itu.

Kcmudian, ialah berselang beberapa hari, baharulah Sim Djie dan Poei Hok Han pamitan, akan berpisahan dengan soetee dan sahabatnya itu.

Tapi Hok Han sendhi, secara diamdiam, sudah cari orang-orang dari Thaypeng Thiankok, untuk bikin pertemuan dengan mereka itu.

Siangkoan Kin berdiam dengan gembira di atasgunung, ia tak hiraukan penghidupan sengsara.

Iabelajarsilat dengan sungguh-sungguh karcna ia bertubuh lemah, ia utamakan kegcsiian tubuh dan Tiamhiathoat yaitu ilmu menotok jalan darah atau unu.

Di sebelah itu, Soekong Tjiauw ada satu guru yang pandai, yang ketahui sifat-sifarnya muridnya.

Begitu, mulai dengan teori di atas gam bar, murid ini diajar berlatih dengan orang-orangan dari kulit, sesudah sang murid bisa menotok sambil meram, lalu ia lebih jauh diajarkan senjata rahasia, juga alat senjata biasa, untuk menotok juga.

Memang, Tiamhiai-hoatnya Soekong Tjiauw ada sama Iichaynya dengan Hoedhiat-hoatnya Sim Djie, sedang dalam hal Gwa-kang, dia telah sampaikan batas kesempurnaan, hingga untuk melatih muridnya, dia sendiri kasih dirinya dijadikan sasaran.

Sebab ia tabu, andaikata ia kena dhotok, ia pun bisa tolongi dirinya sendiri.

Laginya.

ia tak gampang tcrtotok celaka, tubuhnya, apabila perlu, bisa dibikin lemas bagaikan kapas.

Begitulah, di bawah pendidikan guru yang liefaay, Siangkoan Kin peroleh kemajuan dengan pesat, baharu berselang lima tahun, ia sudah jadi Hehay.

Selama itu waktu, pernah satu kali Poei Hok Han, gurunya yang lama, datang mengunjungi ia.

Guru ini girang bukan main akan ketahui muridnya terdidik sempurna.

Pada suatu hari Soekong Tjiauw turun gunung dengan libatiba, ketika ia kembali, ia bawa bersama ia sebuah cupu-cupu besar yang memuat arak, terus saja ia ajak muridnya duduk minum, di tengah-tengah "pelesiran"

Itu, sekonyong-konyong ia keluarkan dua rupa barang, yang mana ia letaki di depan muridnya.

Itu adalah sebatang pookiam, atau pedang, yang panjangnya kurang iebih tiga kaki, dan sebuah kipas yang dipanggil kipas Biauwkim Sietjoe.

"Coba hunus pedang itu,"

Ia titahkan Siangkoan Kin.

Murid ini menurut.

Ketika pedang dicabut dari sarungnya, dia perlihatkan sinar bcrkilauan, sampai ruangan sepcrti bercahaya.

Tubuh pedang itu bcrgurat-gurat merupakan naga, sedang sarung pedang terbuat dari bat u giok serta tertabur beberapa butir mutiara yang indah.

Jadi dua-dua, pedang dan sarungnya, ada berharga sangat besar.

Menampak itu, Siangkoan Kin tercengang, ia menjublek.

Sang guru tertawa, tertawa meringis, tanda dari sedihnya hati.

"Inilah pedangnya Ek-ong sendiri yang dihadiahkan kepadaku,"

Soekong Tjiauw jelaskan muridnya.

"Pedang mustika ini, Lionggim-kiam, bisa dipakai membabat barangbarang logam. Ek-ong ada sangat sungkan, ketika ia haturkan ini padaku, ia menulis syair yang mengatakan hadiahnya berharga seribu tail perak. Tentu saja, harga yang sebenarnya entah berapa ribu tail."

Siangkoan Kin masih diam mengawasi dengan mulut ternganga.

"Sekarang angkatlah kipas itu, hati-hati,"

Sang guru menitah pula.

Siangkoan Kin menurut, ia angkat kipas itu dengan pelahan.

Itu ada suatu kipas yang berat, sebab terbuat dari baja tulen, warnanya hitam mengki lap, panjangnya kirasatu kaki, sedang kedua sampingnya, yang berkeredepan, dibikin tajam seperti pinggiran pisau.

Ketika ia beber kipas logam itu, ia tampak beberapa baris tulisan yang huruf-hurufhya indah sekali dan bunyinya merupakan cita-citanya Ek-ong.

Tanda tangannya ada tanda-tangan Tjio Tat Kay sendiri.

"Oh, Soehoe, jadi ini ada barang-barang peninggalan Ekong?"

Ia tanya bahna heran dan kagum.

"Memang!"

Sahut sang guru, suaranya, sikapnya, menunjuki dia ada sangat masygui dan terharu.

"Ketika dulu aku ada minta Ek-ong nil is tulisannya mi. Tatkala kcmudian Ek-ong meninggai dunia, aku sayang pakai pedangnya, aku pakai kipas ini sebagai gantinya senjata. Ini kipas terbuat dari baja tcrpilih. Sampai sebegitu jauh, aku tidak ada ketika untuk pakai itu."

Ia berhenti, akan keringi cawan araknya, ia menceguk beberapa kali. Lalu, ia mclanjuti.

"Lima tahun kita orang berkumpul bcrsama, j odoh kita bukannya jodoh sembarangan, akan tetapi di dalam dunia ini, tidak ada pesta yang tidak ada akhimya, maka itu, haruslah kau mengerti, pclajaranku aku sudah turunkan kepadamu, kau masih muda, bukan tempatnya untuk kau tinggal terus di tanah pegunungan, hingga kau kubur dirimu seumur hidup. Kau kagumi Ek-ong, maka sudah scharusnya apabila kau pergi, akan mewujudkan cita-cita Kaum Thaypeng Thiankok."

Ia berhenti pula, ia tunjuk kipas, lalu ia tambahkan.

"Kedua benda ini adalah miliknya Ek-ong, yang"dihadiahkan kepadaku selaku tanda peringatan, sekarang aku haturkan dua-duanya kepadamu!"

Siangkoan Kin terharu.

"Cara bagaimana aku bisa terima itu, Soehoe?"

Kata ia. Soekong Tjiauw goyang tangannya.

"Aku belum bicara habis,"

Ia bilang.

"Semua dua rupa barang ini aku hadiahkan kepadamu, akan tetapi bukan duaduanya aku inginkan kau gunai. Kipas ini aku berikan kepadamu, untuk kau gunai sebagai senjata, tctapi pcdang Lionggim-kiam fni ada untuk dititipkan buat sementara waktu padamu."

"Kipas ini saja sudah lebih dari culcup, cara bagaimana teetjoe bcrani lancang gunai pedangnya Ek-ong?"

Kata sang murid.

"Hanya di bclakang hari, kcpada siapa pcdang ini harus tcctjoc pasrahkan?"

Soekong Tjiauw tidak lantas jawab mundnya.

"Ada sebabnya kenapa aku tidak berikan pcdang ini kepada kau,"

Kemudian 1a kasih keterangan.

"Pertama-tama kau bcrtenaga agak lemah, tidak surup untuk kau gunai ini, sedang untuk digunai sekalian menotok jalan darah, kipas ini ada paling tepat. Kedua, pedangnya Ek-ong ada berarti besar sekali, walaupun kau muda dan gagah, kau belum punyakan derajat untuk pakai itu. Aku pikir untuk titipkan ini pada kau, guna tunggu nanti sampai diketemukannya seorang gagah yang dapat wakilkan Ek-ong untuk mcwujudkan cita-citanya. Aku percaya kau punyakan mata cukup jeti akan can orang scmacam itu."

Guru ini tenggak araknya, ia bersenyum.

"Muridku, kita ada bertabiat serupa, lata ada rada-eada menuruti adat!"

Berkata dia.

"Kita bukanlah itu orang-orang yang bisa berusaha besar dan aku kuatir kau nanti jadi terlalu temberang, maka itu, aku harap, sukalah kau bisa kendalikan diril"

Siangkoan Kin girang berbareng kaget, terutama pesanan guru itu ada berat sekali.

Ia mengerti, ini adalah pesta perpisahan dan gurunya itu.

Ia tidak dapat menolak, ia terima putusan itu tanpa banyak omong.

Maka besoknya, sesudah memberi hormat kepada gurunya itu, ia ambil seiamat berpisah, ia turun gunung, buat terus mulai dengan perantauannya, pergi ke mana saja hatinya memerintah, akan cari orang yang gurunya angan-angankan.

Belum terlalu lama sejak ia ceburkan diri dalam dunia Kangouw, namanya lantas saja mulai terkenal, tetapi walaupun ia telah tukar pclajaran dan telah berhasil meyakinkan ilmu silat, cara dandannya tetap bagaikan sioetjay.

Inilah suatu tanda kaum Kangouw berikan iajulukan Thiebian Sieseng, si Mahasiswa Muka Besi.

Sclama beberapa tahun, banyak orang gagah yang Siangkoan Kin ketemui, tetapi belum ada satu yang ia anggap cocok untuk diwariskan pedang Ek-ong itu, adalah ketika ia sampai di Shoatang, ia ketarik sama orang yang kemudian berdirikan Perkumpulan Rahasia Giehoo-toan, yaitu Tjoe Hong Teng.

Ketika itu Tjoe Hong Teng belum jadi Ketua Giehootoan tetapi namanya sudah kesohor dan di Shoatang, pengaruhnya ada besar.

Mulanya Siangkoan Kin anggap Tjoe Hong Teng kesohor melainkan namanya, ia tidak terlalu memandang mata.

Di Shoatang, ia bawa adat bcrandalannya, sampai satu kali, ia bentrok dengan satu orang terkenal dari kalangan terlebih tua, sebabnya ada kcliru mengerti, perkara jadi demi kian memuncak, Tjoe Hong Teng lantas datang sama tengah, dengan pengaruhnya, ia bisa damaikan mercka bcrdua.

Habis itu, Siangkoan Kin pasang omong sama jago Shoatang ini, mereka bicara satu malaman, lantas ia insyaf, Tjoe Hong Teng ada bercita-cita Iuhur, sedang ilmu silat mereka berdua ada berimbang.

Karena ini, keduanya jadi cocok satu pada lain, Siangkoan Kin ada berscdia akan bantu Tjoe Hong Teng mewujudkan cita-citanya membangunkan pula Kerajaan Beng.

Ia telah serahkan pedang Liong-gim-kiam kepada itu sahabat baru, Ketua dari Giehoo-toan.

Ia sendiri melanjuti pengembaraannya, ia tak betah berdiam di rumah atau hidup bertani, sembari merantau, ia can kawan-kawan guna bantu Tjoe Hong Teng.

Selagi pengalamannya bertambah, namanya pun jadi makin kesohor.

Demikian, sampai terjadi pertempuran di Heksek-kong di tempat lima puluh lie di luar Kota Anpeng di mana Tjoe Hong Teng telah labrak sepasukan tentara negeri hingga tentara negeri itu dapat ditaklukkan.

Siangkoan Kin ketarik sekali terhadap Teng Hiauw.

Ia ingat hal lelakon hidupnya sendiri di waktu masih muda, malah sekarang, ia dapatkan, pemuda she Teng ini terlebih muda daripada ia dahulu, dan tanpa pengalaman juga.

Begitulah ia tarik Teng Hiauw padanya, ia ajak jalan berendeng, ia tanya ini dan itu.

Teng Hiauw bergembira berbareng heran dan hati kebatkebitjuga, karena ia berada dalam rombongan tentara rakyat, yang ada sangat asing bagi ia.

Ia ada satu pemuda yang masih hijau sekali, pun ia belum mengerti hal pergerakan kebangsaan.

Walaupun dalam gclap-gulita, tentara Giehoo-toan jalan dengan rapi dan tertib, kapan mereka melalui jalan gunung yang sukar dan sempit, mereka turun dari kuda mereka, yang mereka tuntun.

Di tengah jalan, saban-saban ada terdengar tanda-tanda rahasia dan muncul bayangan dari kawan-kawan yang menyambut.

Di matanya Teng Hiauw, semua itu adalah mengherankan.

Orang telah lewati tanjakan dan rimba, di akhimya, orang jalan mudun, menghampirkan lembah yang penuh dengan pepohonan.

Di dalam lembah ini, yang datar, ada terlihat sebuah dusun besar, yang bertembok bentengan.

Karena inilah "sarangnya"

Kaum Giehoo-toan itu, Pusat Cabang Anpeng.

Waktu sudah jauh malam akan tctapi seluruh dusun, afau san-tjhung, masih belum tidur, api obor dipasang terangterang, di sana-sini ada orang-orang Giehoo-toan yang melakukan penjagaan.

Semua orang sangat"

Gembira melihat Tjoe Hong Teng, yang mereka sambut dcngan hangat sekali.

Teng Hiauw heran melihat bagaimana orang hormati dan cintai Ketua Giehoo-toan itu.

Begitu memasuki markas, yang paling dulu Tjoe Hong Teng lakukan ialah pesan pihaknya akan pernahkan tentara Boan yang menakluk itu, supaya mereka di per lakukan baik dan segera diberikan barang makanan, daging dan arak.

Tindakan ini membikin girang hatinya semua serdadu itu.

Selama di tengah jalan, mereka pun tidak ditelikung, tidak dikemplangi, tidak dibentak pergi-datang juga.

Hanya kemudian mereka ragu-ragu, kaum mi pakai aturan tentara atau tidak.

Kebiasaan dalam tentara Boan adalah, kalau tentara taklukan dihadiahkan pesta, itu artinya mereka bakal dihukum mati....

Benar selagi orang bersangsi, Tjoe Hong Teng datang pada tentara taklukan itu.

"Hari ini kau orang bercapai lelah,"

Kata pemimpin ini dengan manis budi.

"maka sebentar, sehabisnya dahar, pergilah kau orang tidur. Besok, siapa yang suka turut kita, dia boleh ikut kitadengan tetap berdiam di sini, siapa yang tidak sudi, dia boleh pergi pulang."

Baharu Tjoe Hong Teng berhenti bicara.

atau semua serdadu itu berseru sambil berlutut memberi hormat, tidak tunggu lagi sampai besok, mereka nyatakan suka turut pemimpin ini.

Karcna ini, Tjoe Hong Teng| kemudian perintah atur persiapan, ia ajak tentara taklukan itu pergi bersembahyang, di antara asap dupa yang bergulung-gulung, orang membakar hoe dan bcrmantcra.

Teng Hiauw hcran akan saksikan pengalaman itu.

Sehabisnya upacara, kira jam t iga lewat, dusun yang sunyi jadi riuh dengan tempik sorak, sctclah itu, kcmbali sunyi pula.

Lalu Tjoe Hong Teng ajak Teng Hiauw ke dalam scbuah kamar bcrsih di mana bcrtiga bcrsama Siangkoan Kin, mereka duduk pasang omong.

Seperti Thiebian Sieseng, ia ada gembira.

Tapi tidak lama, ia diantar ke kamarnya, untuk ia tidur.

Walaupun tadi siang ia dapatkan pengalaman luar biasa, yang bikin ia kaget dan keluarkan banyak tenaga, Teng Hiauw tak dapat tidur pulas.

Ia gulak-gulik di atas pembaringannya.

Kemudian di saat ia layap-layap, ia dengar suara orang bicara, di antaranya, samar-samar ia dengar.

"Umpama Teng Hiauw, itu anak.-..."

Ia hcran, lantas ia pasang kuping. Ia kcnali suaranya Tjoe Hong Teng. Ia tidak mengerti, kenapa Ketua Giehoo-toan itu omongkan tentang dirinya. Setclah mendengari lebih jauh, nyata Tjoe "Soesiok"

Itu menutur hanya hal pertemuannya dengan ia sejak bermula, sama sekali ia tidak diceritakan.

"Lihat, Siangkoan Lauwhia,"

Selang tidak lama terdengar pula suaranya Tjoe Hong Teng, sambil dia mcnghcla napas.

"walaupun guniku sendiri, meski juga aku yang minta, ia masih tak mau turut ambil bagian, ia nampaknya jerih, apalagi lain orang?"

"G urumu tidak hendak turut serta, hal itu tidak dapat membuat kita tawar hati,"

Terdengar suaranya Siangkoan Kin.

"Maafkan aku omong terus terang, meskipun gurumu ada kenamaan, dengan kurang dia satu orang, gerakan kita tidak bakal jadi terganggu."

Lalu terdengar suara sungguh-sungguh dari Tjoe Hong Teng.

"Tidak, Lauwhia, dalam hal ini, Guruku tidak bersendirian. Masih ada banyak orang lain, asal dia dengar nama Giehoo-toan, hatinya mengkeret! Kenapa? Sebab mereka jerih terhadap bendera kita yang berbunyi "Hoetjeng Hokbeng\ atau.

"Rubuhkan Kerajaan Tjeng untuk bangunkan pula Ahala Beng". Tiga ratus tahun lebih pemerintah Boan memerintah kita, akamya telah jadi kuat dan teguh, orang ngcri bila dengar, hukuman untuk pemberontak adalah hukuman mati sampai pada sanak-beraya tingkat kcscmbilan. Jadi lebih banyak orang suka bersabar, asal selamat. Selama beberapa tahun, Giehoo-toan kita sudah punyakan pengaruh tetapi kemajuannya masih belum berarti, dari itu aku kuatir, perlu kita orang menukar siasat...."

"Bagaimana itu?"

Thiebian Sieseng tanya.

"Kita ubah.

"Hoetjeng Hokbeng"

Menjadi"Hoetjeng Biatyang"l"

Sahut Tjoe Hong Teng dengan suara tetap.

"Hoetjeng Biatyang"

Berarti "Membantu Kerajaan Tjeng membasmi bangsa asing. Siangkoan Kin berjingkrak bangun "Begitu?"

Ia berseru dengan pcrtanyaannya.

"Apakah itu bukan berarti kita ubah tujuan kita?"

Teng Hiauw dengar suara orang agak menggetar, ia insyaf tegangnya hati si Mahasiswa. Sebaliknya. Tjoe Hong Teng berlaku tenang dan tertawa.

"Sabar, sahabatku,"kata ia.

"Aku tak ubah tujuan, melainkan siasat. Dengan perubahan ini, kita bisa besarkan pengaruh kita, sebab orang toh tak jerih lagi memasuki perkumpulan kita dan berbareng, redalah tindakannya pemerintah Boan memusuhkan kita. Dengan menunjang Kerajaan Tjeng bukan berarti kita sudi jadi budak atau gundalnya, tetapi kedudukan kita ada sama rata. Lihat saja diri kita sendiri! Kita toh tidak percaya segala dewa-dewa? Tapi kenapa kita adakan upacara sembahyang? Inilah tak lebih tak kurang, untuk menarik perhatian umum, agar mereka ada pegangannya"

"Pemerintah Boan dan bangsa asing termasuk satu golongan, bukan? Kau hendak mcmbasmi bangsa asing, apa pemerintah Boan menyetujuinya?"

Tjoe Hong Teng tertawa.

"Aku tidak tahu!"jawabnya.

"Diluar kelihatannya mereka akur, di dalam, ganjalan ada hebat. See Thayhouw tidak ingin orang asing campur urusannya."

Siangkoan Kin menghela napas.

"Saudara Tjoe, aku percaya kau,"

Ia bilang.

"Jikalau dcmikian kau pikir, aku menurut saja, cuma aku merasa bahwa tindakan demikian ada berbahaya."

Kekuatirannya Thiebian Sieseng ada beralasan.

Mulanya benar, Giehoo-toan peroleh kemajuan pesat, akan tetapi belakangan, sebab lemahnya Lie Lay Tiong dan ia sendiri memandang pemerintah Boan terialu ringan, usahanya gagal, pemerintah Boan justru gunakan pengaruh asing untuk menindas pcrgcrakannya itu.

Salah satu sebab lam adalah masuknya orang-orang tak setia, yang mcrusak persatuan.

Mendengar pembicaraan itu, Teng Hiauw tidak puas.

Ia masih terlalu muda untuk kenai siasat.

Ia tidak setujui perubahan siasat itu.

Ia pun anggap lucu akan bersembahyang seperti orang-orang Giehoo-toan.

Malta ia pun dapat anggapan, turut Giehoo-toan ada berbahaya.

Begitulah besoknya, ketika Tjoe Hong Teng tanya ia.

"Saudara Muda, kau mufakat atau tidak turut serta Giehoo-toan?"* Ia jawab.

"Aku belum pikir untuk berdiam di sini. Kcpandaianku masih terialu rendah. Aku mcrantau juga untuk cari Thaykek Tan, guha angkat dia jadi guruku."

Ini ada jawaban yang Tjoe Hong Teng tak sangka-sangka.

Ia kerutkan alis.

Tapi ia masih mencoba, untuk membujuki.

Teng Hiauw tctap sama putusannya, ia menampik, hingga ketua itu jadi putus asa dan mengantapkannya.

Adalah kemudian, sesudah ia peroleh kepandaian, Teng -Hiauw ceburkan diri dalam Giehoo-toan, tetapi dengan kedudukan sebagai separuh anggota dan separuh tetamu yang dihormati.

Setelah itu, Teng Hiauw utarakan niatnya untuk pamitan.

VI Tjoe Hong Teng merasa bcrat akan tetapi ia tidak dapat menahan, ia tetap sayangi anak muda ini, dari itu, ia telah berikan pelbagai pengunjukan tentang keadaan kaum Kangouw, ia hadiahkan dua pcrangkat pakaian, uang sepuluh tail serta seekor kuda pilihan.

Teng Hiauw terima kuda tetapi tampik pakaian dan uang.

"Kau dandan sebagai satu pemuda agung, kalau kaum Rimba Persilatan lihat kau, mereka bias kerutkan alis,"

Kata Tjoe Hong Teng sambil tertawa.

"Tentang uang, umpama kau sungkan terima, baiklah, aku pinjamkan saja itu padamu."

Didcsak demi kian, tcrpaksa Teng Hiauw terima semua pemberian itu, untuk mana ia haturkan terima kasihnya.

Karena ia repot, Tjoe Hong Teng tidak antar jauh pemuda ini.

Teng Hiauw pun minta ketua itu tidak bcrlaku sungkan padanya.

Ia berangkat dengan kesangsian.

di satu pihak ia hargai Ketua Giehoo-toan itu, di lain pihak ia bercuriga; baginya masih belum jelas, Tjoe Hong Teng sebenamya orang macam apa Satu hal sudah pasti, ialah ia berterima kasih terhadap Tjoe "Soesiok"

Ini.

Baharu Teng Hiauw jalan lima atau enam lie jauhnya, tibatiba ia dengar orang teriaki ia, untuk minta ia tunggu dulu, apabila ia bcrpaling, ia lihat Siangkoan Kin bcrlari-lari ke arah dia, larinya pesat sekali.

Ia terkejut Baharu sekarang ia ingat, tadi ia lupa ambil sclamat tinggal dari si Mahasiswa.

Maka ia pikir perlu ia menghaturkan maaf.

Tapi Siangkoan Kin yang tertawa haha-hihi, telah dului ia "Oh, Adikku, kemana kau hendak pcrgi?

Sekejab saja kau seperti lenyap!"

Demikian Thiebian Sieseng.

"Tjoe Toako juga alpa sekali, dia sampai lupa beritahukan kau satu hal paling penting!...."

"Perkara apa itu?"

Teng Hiauw tanya. Ia tercengang karena orang bilang urusan paling penting.

"Bukankah kau hendak cari Thaykek Tan?"

Teng Hiauw kerutkan alis. Ia rada mendongkol berbarcng lucu. Inilah urusan yang dikatakan paling penting? Toh hal itu, pernah ia bcritahukan kepada si Mahasiswa. Tapi ia manggut.

"Bukankah kau ada put era Teng Kiam Beng dan cucunya Thaykek Teng?"

Siangkoan Kin tanya pula. Mau atau tidak, Teng Hiauw pentang lebar kedua matanya "Siangkoan Tjianpwee!"

Kata ia.

"kenapa kau tanyakan aku tentang leluhurku? Bukankah kau sudah ketahui tentang asalusul turunanku"

Thiebian Sieseng tertawa geii.

"Adikku kecil, bukannya aku sengaja menanyakan ini untuk menggoda kau,"

Ia jawab.

"Aku hendak beritahukan kau bahwa pasti Thaykek Tan tidak bakal terima kau sebagai murid."

"Cara bagaimana Tjianpwee kctahui dcmikian pasti?"

Tanya Teng Hiauw, yang menjadi heran.

"Sebab kau ada cucunya Thaykek Teng,"

Terangkan Siangkoan Kin.

"Kau baharu pertama kali mcrantau. kau tidak kenal keadaan dalam dunia Kangouw di mana sesuatu kaum biasa menyingkir dari lain kaum. Kau berlaku sembrono, aku percaya kau pasti bakal ketemu batunya!"

Teng Hiauw melongo. Siangkoan Kin tertawa, melanjuti.

"Dalam dunia Rimba Persilatan. orang biasa umpetkan ilmu kepandaiannya, waJaupun guru silat terpandai, dia tak luput dari kebiasaan ini, yang menjadi sifat umum. Thaykek Tan, seperti Thaykek Teng, tidak sembarangan mewariskan kepandaiannya kepada orang luar, apapula kau ada dari pihak Thaykek Tan, mana Thaykek Tan bisa tcrima kau sebagai murid?"

Teng Hiauw ada seorang hijau, dia mana tahu segala aturan atau kebiasaan di dalam kaiangan Rimba Pcrsilatan itu, akan tetapi ciia-citanya kuat, ia tidak hiraukan kclcrangan itu, melainkan ia sangsi juga.

Siangkoan Kin tapuk-tepuk pundak orang.

"Adik Kecil, aku kagum betul dengan niatmu mencari guru,"

Kata ia "Sebenarnya kau orang dari pihak Teng dan Tan ada sama-sama kesohornya, jikalau kau orang bisa ubah kebiasaan dan kedua pihak suka saling tukar kepandaian, untuk disatu-padukan, aiangkah baiknya itu.

Sebenarnya aku pun bcrharap sangat yang cita-citamu akan terwujud.

Hanya aku kuatir kalau-kalau pihak Thaykek Tan menyangka jelek pada kau, kalau kau nanti d isangka hendak curi kepandaianya, kesudahannya itu kau akan kecewa sekali.".

Maka disini aku telah tulis sepucuk surat untuk kau bawa, apabila benar sampai terjadi kesulitan seperti aku duga, surat ini kau perlihatkan pada Thaykek Tan, untuk dia baca.

Dengan surat ini aku tidak berani tanggung kau nanti diterima sebagai murid.

tetapi aku percaya bahwa kau t idaklah nanti menampak kesukaran hebat."

Teng Hiauw bersyukur berbareng tak puas, karena nyata Siangkoan Kin anggapdia sebagai bocah cilik, akan tetapi ia insyaf, kepandaiannya masih be I urn berarti, ia kurang pcngalaman, dari itu, ia sambuti surat itu, yang terus diangsurkan kepadanya.

Ia menghaturkan icrima kasih sccara tawar.

Ia masuki surat itu ke dalam sakunya secara sembarangan.

Habis itu, ia memberi hormat, ia pamitan, untuk meneruskan perjalanannya.

I Scsudah pengalamannya sebegitu jauh, setelah peroleh pelbagai pengunjukan dari Tjoe Hong Teng dan Siangkoan Kin, dalam perantauannya lebih jauh, tidak lagi Teng Hiauw terbitkan hal-hal iucu dan mcnyul i tkan dia, kecuali satu atau dua kali, yang tidak berarti.

Sclagi memasuki wilayah Propinsi Hoolam dan mclcwati sebuah dusun, yang disebut Samrjee-ek, Teng Hiauw dengar orang omong tentang satu guru silat Kaum Tjionglam-pay bernama Kongsoen Giap, yang dikatakan liehay sekali.

lajadi ketarik, ia lantas kunjungi guru silat itu, tapi ia dicurigai, dia disangka hendak mencoba-coba, guru silat itu mendahului ajak ia bertanding, hingga ia terdesak dan menerimanya dengan terpaksa.

Baharu dua-tiga gebrak, nyata Kongsoen Giap bagus namanya saja, ia kena dihajar rubuh sampai tak bisa merayap bangun.

Orang-orang lainnya dalam rumah perguruan itu jadi gusar mereka hendak keroyok si anak muda, atas mana, Teng Hiauw angkat kaki, ia takut untuk melayani.

Pcngalaman ini menginsyafkan si anak muda benarnya keterangan bahwa di kaiangan Kangouw orang tak boleh sembarangan menaruh kepercayaan besar.

"Entah bagaimana dengan Thaykek Tan..."

Pikir ia kemudian.

"A pa benar dia liehay, atau dia pun cuma namanya saj a kesohor? Tapi Ayah dan Siangkoan Kin bilang dia benarbenar liehay. Rupanya, yang benar adalah dia ada beda daripada guru-guru silat yang kebanyakan...."

Teng Hiauw jalan lebih jauh, sampai ia memasuki Hoolam dua atau tiga ratus lie.

Ketika itu ada lewat tengah hari.

Jalanan ada rusak, dekat gunung .dan air, banyak pepohonannnya.

Menembusi pepohonan, sinar matahari ada merah kekuning-kuningan.

Lebih jauh, jalanan semakin sukar, bersisi dengan tebing tinggi.

Tiba-tiba terdengarlah suara bcrisik dari atas tebing, lantas satu batu besar jatuh, lewat di sampingnya anak muda ini, nyemplung ke dalam jurang yang berair hingga menerbitkan suara besar dan airnya muncrat.

Ia telah berkelit, kalau tidak, ia bisa kelanggar.

Menyusul itu ada batu koral dan pasir bcrhamburan "Rupanya ada orang bertempur di atas,"

Pikir ia.

Tidak tempo lagi, ia cari jalan untuk manjat, tetapi ia umpctkan diri antara gombolan, hingga ia bisa melihat segala apa tanpa lain orang pergoki ia.

Di atas tanjakan, yang tanahnya datar, ada lima orang scdang kepung satu pemuda umur dua puluh lebih.

Pemuda ini, yang bersenjatakan pedang, yang gerakannya tangkas, gunai ilmu silat Thaykek-pay, melainkan bebcrapa tipu-tipunya ada beda, maka tanpa mcrasa, Teng Hiauw jadi heran, ia jadi sangat ketarik, ia terus pasang mata.

Selang bebcrapa lama, anak muda itu, walaupun ia gagah, mulai mundur, undur ke arah tempat sembunyinya si orang she Teng.

Biar bagaimana, dia kewalahan melayani banyak musuh, yang tidak kurang liehaynya, dari itu, ia kena terdesak.

Di antara lima pengepung, satu yang bergegaman sepasang golok ada yang paling kosen, rupanya dia jadi kepala, scmbari menyerang, dia scmbari serukan kawankawannya.

Si anak muda nampaknya gusar tetapi ia tetapi mundur.

Sekonyong-konyong, anak muda itu kirim satu serangan hebat, tetapi lawannya berlaku licin, dia berkelit, dia menyerang ke kiri dan ke kanan.

Kalau satu sama satu, kelihatannya dia sukar tandingi si anak muda Ia pun jerih akan bentur pedangnya orang.

Si anak muda ilmu silatnyapun kelihatan belum terlatih sempurna.

Setelah menonton sekian lama, hingga hatinya teriarik untuk bcrpihak kcpada si anak muda, yang ilmu si latnya ada dari satu golongan, diam-diam Teng Hiauw ambil putusan akan bcrikan bantuannya.

Dengan diam-diam juga, ia siapkan Kimtjhie-piauwnya.

Segera si anak muda hadapi saat yang berbahaya.

Dia telah menyerang dengan satu tikaman, apa mau, lawannya coba libat pedangnya dengan Djoan-pian, sedang di lain pihak, sebuah golok menyambar langsung kepadanya, untuk membabat kutung lengan kanannya.

Ia insyaf bahaya, ia bcrseru keras ketika ia gunai tenaga besar, akan tarik lolos pedangnya, sambil berbuat begiiu, iapun loncat ke samping.

Tapi musuh yang mencekal golok rupanya sudah menduga.

selagi orang loncat, iapun loncat menyusul, goloknya disabetkan ke arah bebokong bahagian pinggang!

Dalam keadaan sangal bcrbahaya itu, si anak muda masih sempat memperbaiki diri, tangannya digeraki, untuk menangkis ke bclakang, akan tetapi, bclum ia sempat menangkis, atau mendadakan ia dengar jeritan "Aduh!"

Yang disusul sama goloknya si penycrang teriepas sendirinya, terlempar, karena waktu itu, golok itu scdang diayun, setclah itu, terdengar pula dua jeritan kesakitan, dari dua musuh yang lain, yang lantas pegangi jidatnya.

hingga karenanyaj pemimpin mereka itu lantas berseru.

"Angin keras!"

Itulah tanda ada bahaya, untuk angkat kaki Si anak muda tcrpcranjat, ia hcran, tetapi ia mengerti, terang ada orang yang bantu ia secara sembunyi.

Karena iapun letih, mclihat lima musuhnya kabur, ia tidak kejar mereka itu.

Sckcjab saja, tempat pertempuran itu jadi sunyi-scnyap, kecuali siurnya angin.

Untuk cari orang yang tolongi dia, anak muda itu lantas mclihat ke sekitarnya.

Ia tak usah membuang tempo akan tampak munculnya satu anak muda dari gombolan di sampingnya, akan dapati si anak muda bcrmuka putih dan cakap, usianya ada terlebih muda dari ia scndiri, rupanya belum dua puluh tahun.

Hingga ia menjadi hcran dan sangsi, hingga dalam hatinya, ia tanya.

"Apa mungkin dia inilah yang bantu aku?"

Maka ia terus mengawasi. Menampak orang tercengang, Teng Hiauw menghampirkan sambil hunjuk air muka berseri-seri.

"Saudara, bagus sekali permainan pedangmu!"

Mencgur ia dengan manis, dengan pujiannya.

"Kenapa Saudara bertempur sama mereka itu? Apa Saudara suka beri tahukan aku she dan namamu, dan siapa adanya guru Saudara?"

Masih anak muda itu mengawasi, kemudian ia haturkan terima kasihnya. Ia menyimpang untuk pertanyaan orang, ia hanya kata.

"Hengtay, pandai sekali kau gunakan piauwmu! Jikalau tidak kau bantui aku, barangkali masih sekian lama aku mesti layani kawan itu, walaupun mereka tak dapat membuat suatu apa, toh aku bakal pusing sekali. Aku nanti ingat baikbaik budimu ini. -Kita belum kenal satu dengan lain, mengapa Hengtay begitu baik hati sudi membantui aku?"

Ia balas tanya.

"Perihal namaku, guruku, dan perm us uh an kita, malu aku untuk memberitahukannya. Aku ada murid dari suatu guru ternama tetapi aku kena dipcrmainkan oleh kawanan kurcaci itu, inilah sangat memalukan, dari itu, baiklah aku tidak menjawabnya...."

Tidakl ah anch apabila pemuda ini bersangsi untuk bcrikan jawabannya.

Teng Hiauw masih hijau mengenai pengalaman dalam pergaulan, iaada terlalu polos akan dengan tiba-tiba majukan pcrtanyaannya itu.

Si anak muda, scbaliknya, ada jauh terlebih bcrpcngalaman daripadanya.

Lagu suaranya pun seperti menunjuki ia ada orang yang terlebih tua ti ngkatannya, hingga orang bisa tak senang mendengamya.

Maka mau atau tidak, iajadi dicurigai.

Teng Hiauw tidak menyangka bahwa orang curigai ia.

Pertanyaannya pun ada contoh yang tidak hargai kau.

Dengan sebenarnya, aku malu akan sebut nama guraku, sedang tentang diriku, benar-benar tak ada kepentingannya akan Saudara mengetahui.

Percaya, aku akan ingat betul bantuanmu mi.

Kepandaianku tak berharga, tapi apabiladi belakang hari Saudara membutuhkannya, pasi aku akan suka bantu kau.

Sebenarnya, kita orang baharu saja bertemu, aku jadi tak dapat bicara scjujurnya.

Aku lagi punya urnsan, maafkan aku, tak dapat aku temani Saudara lama-lama.

Lagi satu hal aku hendak tunjuk, siapa merantau, dia tak boleh andali kegagahannya dan karcna itu lantas mcmandang kurang berharga kcpada lain orang!"

Teng Hiauw jadi gusar.

"Siapa bicara tentang jasa! Siapa harap pembaiasan budi?"

Ia kata dengan nyaring. Anak muda itu tertawa, ia putar tubuhnya, akan lari turun gunung, sambil berkata.

"Jangan gusar, Hengtay! Sampai ketcmu pula!"

Menampak demikian, Teng Hiauw jadi mendongkol dan cemas, hatinya jadi tawar.

Ia tidak nyana, ia tolong orang, akhirnya jadi demikian.

Maka ia pun lanjuti perjalanannya.

Lewat beberapa hari, ia sampai di Kota Hoaykeng, setelah cari hotel, ia lantas mulai cari keterangan jalanan untuk pergi ke Tankee-kauw.

"Apakah Tuan hendak kunjungi Thaykek Tan?"

Tanya jongos yang ditanya, sambil dia mengawasi.

"Benar. Kenapa kau tahu aku hendak can Thaykek Tan?"

"Sebab Tuan ada orang asing tapi Tuan tanyakan jalanan ke Tfcnkee-kauw, aku lantas bisa menduga. Ke sini memang sering datang orang-or-ang yang cari Thaykek Tan. Hanya saban-saban aku lihat, siapa kcmbali dari sana, dia tentu tidak gembira....",Teng Hiauw melengak.

"Kenapa begitu?"

Tanya ia.

"Apakah Tuan tidak tahu?"

Balik tanya jongos itu.

"Ilmu silat Thaykek-koen dari Keluarga Tan di Tankee-kauw itu tidak diturunkan kepada orang luar, kecuali pernah satu kali dicuripelajarkan oleh Yo Louw Si an, sampai dia ini berhasil."

Teng Hiauw tahu hal itu, dari Siangkoan Kin, maka itu, ia tidak jadi terlalu heran.

Ia percaya, mengandal kepada ketulusan dan kcsujutannya, mustahil Thaykek Tan tega tolak ia juga.

Dari itu, ia tegaskan Ictaknya Tankee-kauw, yang terpisah cuma enam puiuh lie lebih dari Kota Hoaykeng.

Lebih dahulu orang sampai di Dusun Samgic-tin, lagi kira lima lie, baharu Tankee-kauw.

Ia haturkan tcrima kasih padajongos itu.

"Aku mesti siapkan barang antaran,"

Kemudian ia pikir.

Tapi memikir ini, ia kebentrok sama keuangannya.

Ia tidak punya banyak uang bekalan, dan pcmberian Tjoe Hong Teng tidak cukup buat ongkos sampai di Hoaykeng.

Dalam bingungnya, ia pikir baik beli saja beberapa dus manisan dan roti, di rumahnya Thaykek Tan tentu ada anak kecil....

Besoknya, dengan tunggang kudanya Tjoe Hong Teng, Teng Hiauw menuju ke Tankee-kauw, cuma dalam satu jam, ia sampai di Sam-gie-tin, habis cari pondokan dan titipkan kudanya, dengan jalan kaki, ia terus bcrangkat lebih jauh.

Jongos agaknya hendak tanyakan keterangannya tetapi iasudah bertindak pergi dengan cepat.

Ia anggap, pergi can guru tak layak sambil menunggang kuda.

Tidak sukar akan cari rumahnya Thaykek Tan.

Ketika Teng Hiauw bertindak ke rumah ahli silat Thaykek-koen itu, sejumlah anak-anak ikuti ia, semua mereka ketarik melihat ada "bocah tuaan"

Yang bawa manisan dan roti.

Segera sesampainya di depan pintu, Teng Hiauw bicara sama satu bujang, untuk minta diwartakan kcdatangannya, untuk bertemu dengan tuan rumah.

Ia tidak sebut shenya sendiri, ia sengaja pakai she Kiang, asal orang Hoopak.

Ia sudah pikir untuk tidak menyebut nama ayahnya dan tak akan perlihatkan juga kepandaian silat Thaykek Teng, ia ingin teladan Yo Louw Sian.

Ia pakai she Kiang sebab ia kebetulan ingat Kiang Hong Keng.

Bujang itu awasi tetamunya ini, ia nampaknya heran.

Ia duga orang datang untuk berguru, akan tetapi barang bawaannya adalah barang bawaan yang biasa dihaturkan kepada sanak sendiri.

Ia pun mau duga, tctamu ini ada suatu sanak jauh, tetapi ketika Teng Hiauw sebutkan she dan asalkampungnya, cocoklah dugaannya yang pertama.

Teng Hiauw pun bcri tahukan lebih jauh, dia memang berniat berguru.

Akhirnya bujang ini tertawa dan goyang-goyang kepala.

"Kau keliru datang kemari!"

Kata ia.

"Majikan kita tidak buka rumah perguruan, ia tidak tcrima murid. Baiklah kau lekas pulang, supaya kau tidak jadi pusing, agar kau tidak siasiakan uang bekalmu. Apabila kau keputusan ongkos dan jadi terkatung-katung di sini, Thaykek Tan tak dapat memusingkanmu...." . Teng Hiauw tidak jadi kurang senang, scbal iknya, ia tertawa.

"Tolong kau bcri tahukan saja hal kedatanganku ini,"

Ia minta dengan sangat. Melihat orang demikian mendesak dan sikapnya pun sabar, bujang itu kcwalahan. Ia sambuti karcis nama orang.

"Baiklah, aku nanti menanyakan majikanku,"

Kata ia akhirnya.

"Hanya, majikan suka menemui kau atau tidak, aku tidak campurtahu...."

Ia masuk ke dalam, ia tidak pergi pada majikannya, hanya setelah berdiam sesaat, ia keluarpula.

"Majikan bilang, barang antaran dan karcis nama, ia tidak berani terima,"

Ia kata pada tetamunya.

"Majikan bilang ia tidak pilar untuk jadi guru orangT* "Ah, kau tolonglah,"

Teng Hiauw mcmohon pula.

"Kau tolong mintakan agar majikanmu suka menemui aku...."

"Ah,"

Bujang itu menghela napas.

"Engko kecil, kau aneh sekali. Majikanku tidak mau menemui kau, apa perlunya kau mendesak meminta bantuanku?"

"Aku datang dari tempat ribuan lie sebab aku kagumi majikanmu,"

Katanya.

"Kau tolong sampaikan saja maksud keinginanku ini."

Bujang itu terdiam,ia isi hoentjweenya, ia sulut itu, ia lalu menyedot berulang-ulang, kemudian, sambil tertawa, tetapi dengan dingin, ia kata.

"Datang dari tempat ribuan lie? Ah, sudah terlalu banyak aku lihat prang datang dari tempat jauh untuk berguru, sudah umum! Kau dating dari Hoopak, itulah tak bcrarti! Kau tahu, ada lain-Iain orang yang dating dari tempat terlcbih jauh lagi, semua mereka itu, majikanku tak suka menemuinya. Teng Hiauw putus asa.

"Kalau begitu, baiklah aku nanti pulang saja,"

Ia biiang. Tapi barang antaranku ini, tolong kau terimakan, tidak perduii majikan kau suka terima atau tidak, bjtung-hitung sebagai tanda penghormatanku."

Bujang itu kebulkan asap hoentjweenya, ia awasi bungkusannya.

"Majikanku bakal bikin pesta shedjit besar, cara bagaimana kau hendak haturkan ia manisan?"

Katanya.

"Tapi kalau kau hendak tinggal ini di sini, baiklah, nanti aku bagi-bagikan pada anak-anak saja."

Ia sambuti manisan itu, ia lantas memanggi I.

"Djie Houw, Djie Houw!"

Djic Houw itu ada anaknya yang berkumpul antara bocahbocah tadi, yang ikuti Teng Hiauw.

Bocah itu lantas datang menghampirinya sambil diturut sama kawan-kawannya, malah mereka lantas saja gaur itu manisan dan roti!

Menampak demikian, Teng Hiauw mendongkol hingga ia tak dapat bcrkata-kata, ia putar tubuhnya, ia bcrlalu dcngan sangat cepat, akan pulang ke hotelnya di Samgie-tin.

Jongos hotel lihat air muka orang, i a dapat menduga.

"Tuan, apakah kau ketemu batunya di Tankee-kauw?"

Tanya ia sambil tertawa.

"Guru silat itu"

Memang sulit untuk diangkat jadi guru.

Buat pelajarkan Thaykek-koen, kenapa kau mesti can Thaykek Ian sendiri?

Tadi aku hendak bicara sama kau, untuk memberi tahu sesuatu tetapi kau pergi dengan terburu-buru...."

Teng Hiauw heran.

"Apakah artinya perkataanmu ini?"

Tanya ia. Jongos itu tertawa "Thaykek Tan memang tidak terima murid, tidak demikian dengan adik misannya, Gouw Soeya,"

Ia kasih kctcrangan.

"Baik kau pergi pada Gouw Soc-ya itu, untuk bclajar, dia mencrima murid. Thaykck-kocn dari Gouw Soeya, ada warisan Thaykek Tan. Kabamya siapa bertubuh lemah dan belajar sama Gouw Soeya, dalam tempo tidak setengah tahun, tubuhnya akan lantas jadi sehat dan mukanya bersinar merah dadu!"

Teng Hiauw heran.

Thaykek Tan tidak mau terima murid, kenapa sekarang ada orang yang bcrikan pelajaran Thaykek koen?

Kenapa dia antap orang buka perguruan Thaykek-koen?

Ia tidak tahu, dalam hal ini, ada scbabnya.

Sebenarnya Thaykek Tan kcwalahan dan sebal sebab tak putus-putusnya datang orang untuk bcrguru padanya, orang jauh dan orang dekat juga, hingga kcmudian, ia gunai akal.

Begitulah ia bcrikan pelajaran pada misannya Gouw Hong Hoe, tetapi pelajaran ada batasnya, ialah cuma untuk bikin sehat dan kuat tubuh, kalau pelajaran itu dipakai berkelahi, tidak seberapa artinya.

Inilah pelajaran yang mirip dengan yang d id apatkan oleh Yo Lou w Sian, cuma bagus untuk ditonton.

Ia kasih kemcrdekaan untuk saudara misan itu buka rumah perguruan, akan terima murid-murid.

Walaupun kepandaiannya Gouw Hong Hoe tidak bcrarti, karena ia selalu berlatih, bam belasan orang biasa saja sukar untuk rubuhkan dia.

Gouw Hong Hoe miskin, hidupnya sulit, setelab ia jadi guru silat, penghidupannya lantas berubah menjadi lumayan.

Demikian, secara tidak langsung, Thaykek Tan sudah tolong sanaknya itu.

Orang luar tidak tahu siasatnya Thaykek Tan.

Siapa belajar pada Gouw Hong Hoe, dengan lekas mereka peroleh hasil.

Siapa bertubuh lemah, setelah belajar setengah atau satu tahun, lantas tubuhnya jadi sehat dan kuat; sikapnya gagah, romanhya bercahaya.

Inilah sebabnya, kenapa si jongos pujikan Hong Hoe pada Teng Hiauw.

Malah, habis berkata begitu, ia pun mempertunjuki dua jurus Thaykek-koen, yang ia pemah dapatkan dari guru silat she Gouw itu.

Ia tambahkan.

"Lihat, inilah yang aku dapatkan dari Gouw Soeya!** Hampir Teng Hiauw tertawa melihat permainan silat orang itu, yang banyak sekali cacatnya. Karena ini ia sangsi, apa kepandaiannya Thaykek Tan bukan melainkan obrolan saja. Tetapi ia tetap ingin ketemui Thaykek Tan, ia belum pikir akan pergi pada Gouw Hong Hoe. Demikianlah di hari kedua, ia pergi pula ke Tankee-kauw. Ini kali ia tidak bawa bingkisan, cuma selembar kartu nama yang lebar.

"Ah, Kiang Toako, kau datang pagi-pagi sekali!"

Menyambut bujang yang kemarin.

"Kenapa kau tidak bawa manisan?"

Ia berlaku manis, tapi tempo Teng Hiauw minta ia wartakan kedatangannya pada tuan rumah, dia ganda diam saja.

"Pergi kau wartakan kedatanganku!"

Kata Teng Hiauw akhirnya, ia menjadi tidak senang. Juga bujang itu mcnjadi mendongkol.

"Kiang Toako, belum pemah aku dapat orang sebagai kau!"

Katanya dcngan ketus.

"Apa begini caranya orang hcndak cari guru? Apa berguni bisa memaksa? Majikanku tidak sudi ketemui kau, habis pcrkara. siapa bisa tolong kau?"

Kcduanya lantas saja adu mulut, sampai rramcul seorang umurkurang-lebih tiga puluh tahun.

"Eh, Lauw Thio, kau ribut sama siapa?"\dia lanya.

"Sama dia ini!"

Bujang itu jawab seraya tuding Tcng Hiauw.

"Dia menyebalkan! Dia memaksa minta kcdatangannya dikabarkan pada Loo-ya-tjoe, yang dia kata hcndak angkat jadi guru!"

"Kau nama apa? Kau orang mana?"

Tiba-ttba Teng Hiauw ditanyanya.

"Aku yang muda ada Kiang Djit Giauw dari Pooteng, Hoopak,"

Sahut Teng Hiauw, dengan sikap menghormat, ia sengaja ubah dan pecan namanya "Hiauw"

Mcnjadi dua huruf "Djit Giauw".

"Kau ada orang she Kiang dari Pooteng, dengan Keluarga Kiang dari Bweehoa-koen kau ada punya sangkutan apa?"orang itu tanya pula, matanya mengawasi dengan tajam. Ditanya begitu, Teng Hiauw melengak.

"Aku tidak kenal keluarga itu,"

Kemudian ia jawab.

"Tolong kau ajak aku menemui Thaykek Tan."

Orang itu kcrutkan keningnya, baharu ia bcrkata.

"Saudara Kiang, kau hendak"belajar silat, kenapa kau lepaskan yang dckat, untuk cari yang jauh? Kau ada orang Hoopak, di Pooteng ada banyak guru silat, umpama Kiang Ek Hian dari Bweehoa-koen dan Koan Ie Tjeng dari Banseng-boen, yang semua kesohor. Untuk Thaykek-kocn, di sanapun ada Teng Kiam Beng, ahli waris yang kenamaan, yang membuka rumah pcrguruan. Kenapa kau datang ke desa yang sepi ini, buat cari pelajaran kampungan?"

Teng Hiauw menyangka orang curigai ia, lekas-lekas iamenjawab.

"Aku yang rendah datang kemari karcna pangeni nama,"

Katanya.

"Aku tahu Tan Soehoe ada punyai kepandaian yang berarti, yang unggul dalam kalangan Rimba Persilatan, bukannya scperti kebanyakan orang Kangouw yang punyakan cuma nama kosong."

Teng Hiauw mengucap seperti tidak dipikir, tanpa ia merasa, ia membuat orang semakin curigai padanya.

Sebab nama-nama yang orang itu sebutkan bukanlah nama nama sembarangan, sebab Kiang Ek Hian bertiga adalah ahli-ahli silat sejati.

"Apakah benar-benar Saudara Kiang hargai ilmu silat kita orang pegunungan?"

Tanya orang itu.

"Aku kuatir tidak...."

Ia tertawa tawar. Teng Hiauw hcndak membantah tapi orang itu dului ia, dengan kata.

"Tak perduli bagaimana kau bersungguhsungguh, Saudara Kiang, lebih baik kau kembali saja. Pernah datang orang-orang dengan bingkisan istimewa, tetapi kebanyakan mereka ada orang-orang jumawa atau yang mendendam permusuhan, yang ingfn belajar melulu guna mencari balas, syukur kita tidak terima murid, dengan begitu kita terluput dari kepusingan. Kau sendiri, Saudara Kiang, tentu bukannya orang seperti mereka itu, tetapi kita tidak dapat terima kau. Bukankah kita tidak kenal dan tidak kctahui satu pada lain? Umpama kcadaan kitadibalik, kau juga nistjaya tidak bisa terima kita."

Mukanya Teng Hiauw mcnjadi mcrah.

Selain ia telah ditampik, r u pan y a orang juga anggap ia ada orang Kangouw yang kebanyakan, atau orang jahat.

Ia sampai tidak bisa kata apa-apa.

Maka ia lantas putar tubuhnya, untuk bcrtindak pergi.

Melihat sikapnya orang, orang itu bcrbalik hati.

Ia lantas mcnyusul.

"Jangan kecil hati, Saudara Kiang,"

Kata ia, suaranya sabar.

"Looyatjoe kita memang tidak terima murid, bukan terhadap kau saja ia ambil sikap begini. Untuk belajar silat, baik Saudara pergi pada Gouw Soeya, dia buka rumah perguruan, dia terima murid. Dia pun ada dari Golongan Thaykek-koen. Silakan Saudara pergi padanya."

Teng Hiauw jalan terus, ia menjawab tetapi tanpa menoleh lagi.

"Terima kasih untuk kebaikan kau,"

Demikian katanya.

"Ilmu silat kau orang Kaum Keluarga Tan adalah mustika, tak berani aku memintanya!"

Kata-kata ini tidak ada jawabannya, Teng Hiauw cuma dengar orang tertawa dua kali, lalu terdengar suara pintu digabruki, mendengar mana, ia jadi semakin mendongkol.

Ketika ia kembali di hotel, otaknya bekerja keras.

Mulanya ia ingin kubur saja niatnya berguru pada Thaykek Tan; kemudian ia ingat, kecewa ia Iakoni perjalanan jauh tetapi tanpa hasii.

Ia pun malu, umpama ia pulang, untuk menemui Tjoe Hong Teng dan Siangkoan Kin kepada siapa ia telah utarakan niatnya yang keras akan berguru terlebih jauh.

Ia terus berpikir, sampai sekonyong-konyong ia tepuk meja.

"Baiklah aku pergi dulu ke Gouw Soeya,"

Demikian ia dapat pikiran.

"Biar aku berdiam di sana setcngah atau satu tahun, selama itu aku boleh berdaya akan menemui sendiri pada tua bangka Thaykek Tan itu. Gouw Soeya belajar pada Thaykek Tan, baik aku lihat, apa bedanya pelajarannya dengan pelajaranku."

Karena ini, ia lantas teriaki jongos, akan tanya, bagaimana aturannya untuk berguru pada Gouw Soeya, terutama orang harus bayar berapa tail. Sang jongos puas mendengar tetamunya ingin can Gouw Soeya.

"Ah, Tuan, coba kau dengar aku, tak usah kau pusingi din,"

Katanya.

"Untuk berguru pada Gouw Soeya, cukup kau haturkan karris nama. Iantas kau diterima sebagai murid, uang bclajamya adalah tiga bulaii satu kali bayar, sctiap kali bayar cuma scpuluh tail perak, hanya makanan, kau mengurus scndiri. Sesudah tiga bulan, andaikata kau hendak belajar tcrus, kau bolch bayar lagi, demikian seterusnya."

Teng Hiauw mengucapkan terma kasih pada jongos itu, kemudian ia berpikir pula.

Uang belajar sepuluh tail, sekarang uangnya tak cukup sejumlah itu, bagaimana?

Selagi ia bcrpikir, ia dengar kudanya berbenger, sinar matanya tiba-tiba berkilauan.

"Apa di sini ada pasar kuda?"

Ia tanya.

"Di tempat kecil sebagai ini, tidak ada pasar kuda,"

Sahut sang jongos.

"hanya kalau kita mau jual kuda, pembclinya mesti ada. Apa Tuan hendak jual kuda? Kudamu bagus, asal dituntun ke pasar timur dan kau berdiri di sana, aku tanggung sebentar saja ada pembelinya. Tuan mau belajar silat pada Gouw Soeya, memang kau tak membutuhkan kuda, kudamu itu boleh dijual saja."

Jongos ini mengucapkan demikian separuh disebabkan kuatir tetamunya tak dapat membayar uang sewa kamardan makanan....

Tidak tempo lagi, Teng Hiauw pergi ke pasar timur.

Benar saja, Iantas ada orang yang tawar kudanya itu.

Tapi ia tidak tahu harganya, ia bingung, akhirnya ia tunjuki dua jari, ia mau artikan dua puluh tail.

Ia ingat, dulu ia beli kclcdainya yang kurus cuma dua belas tail, kuda ini bagus, ada harga sebegitu, dan uang dua puluh tail melebihkan ongkos belajar tiga bulan.

Calon pembeli itu awasi kuda itu, ia mengusap-usapnya.

"Turut pantas, harga yang kau minta tidak mahal,"

Kata dia kemudian.

"cuma di sini, tidak ada orang yang kuat bayar itu. Coba kau pergi ke Kayhong, buat harga lebih tinggi juga tentu ada pembelinya. Buat di sini, kau harus kurangi scdikit...."

Teng Hiauw sibuk juga.

"Habis, berapa kau berani?"

Tanya ia.

Kalau kurang dari dua puluh tail, itulah hebat.

Tapi ia masih tidak sebutkan jumlah dua puluh tail ityia Orang itu agaknya malu had.."Kudamu memang kuda baik, tidak seharusnya aku minta harga kurangan,"

Kata ia.

"hanya aku, hari ini uangku tidak cukup. Beginilah, kau kurangi sedikit. Kau minta dua ratus tail, aku bayar seratus ljma puluh. Apabila kau akur, sekarang juga kita jadikan."

Teng Hiauw melengak, bukan main I girangnya.

Ia maksudkan dua puluh tail, lain orang artikan dua ratus tail.

Tapi ia cerdik, Iantas saja ia berikan putusannya.

Ia tidak insyaf, kudanya itu adalah kuda pi lihan, yang harganya mahal.

Setelah terimauang, ia pulang dengan kegirangan.

Lebih dahulu ia bcrcskan uang hotel, ia pun persen jongos, lalu ia ajak jongos itu sebagai orang pcrantara untuk kunjungi Gouw Soe Gouw Soeya lihat orang ada bertubuh gesit, matanya bersinar, ia tanya, orang she Teng ini pernah belajar silat atau bclum.

Teng Hiauw jawab ia belum pemah belajar.

Guru itu sangsi, akan tetapi ia tidak pernah sangka bahwa anak muda itu adalah ahli warisnya jago Thaykek-pay lainnya.

Ia pun belum dapat membedakan gerak-gerik orang, karcna ia kurang pengalaman.

Baharu beberapa hari Teng Hiauw ikuti Gouw Soeya belajar silat, segera kesangsiannya muncul.

Ia dapati beberapa cacat dalam pelajaran gurunya, itu adalah pelbagai kelemahan atau lowongan.

Ia menduga-duga, kalau bukan kepandaiannya Thaykek Tan nama belaka, tentu pemandangannya sendiri yang keliru.

Kalau Teng Hiauw sangsikan gurunya, sang guru curigai ia.

Ia mengaku belum pernah belajar silat, tapi saban gerakan tangan atau kaki, atau tubuh, ia lakukan itu sewajamya, ia lupa peranannya sendiri, apabila Gouw Soeya perbaiki, baharu ia insyaf, seperti ia baharu sadar dari mimpinya.

Kejadian ini terulang beberapa kali.

Daiam hat my a Gouw Soeya kata.

"Nampaknya Klang Djit Giauw bukan orang tolol, kenapa sering aku kasih mengerti, ia saban-saban bikin salah pula?"

Pada suatu hari Gouw Hong Hoe ada punya urusan dan mangkir membcri pelajaran, ia diwaki Ikan olch Lauw Hek Sam, salah satu muridnya yang sudah belajar tiga atau empat tahun, siapa bertubuh kekar, kaki-tangannya sudah gapah, orang biasa saja, ia sanggup lawan tiga sampai lima.

Dia memang sering mewakiIkan gurunya.

Karcna ia mirip dengan kodok dalam tempurung, dengan sendirinya ia ada jumawa.

terhadap saudara-saudaranya seperguruan yang lebih muda, ia biasa bersikap keras.

Demikian hari itu kembali Teng Hiauw lakukan kekeliruan, ia telah kcluarkan gerakan dari ilmu silatnya sendiri.

Hek Sam tidak puas, ia anggap orang salah, sambil memberi pengunjukan, untuk membetutkan, ia pun bicara keras, ia membentak-bentak.

Teng Hiauw insyaf pula kckeliruannya ia sabarkan diri, ia tidak meladeni.

Ia antap kesalahannya dibetulkan.

Gerakan sebenarnya sama, tapi gcrakannya Thaykek Tan memang diubah sedikit, Gouw Soeya ikuti perubahan ini, demikianpun Hek Sam, tetapi sekarang Hek Sam lihat lain orang "salah", ia tidak puas, dengan keras ia kata pula.

"Kenapa kau begini tolol? Aku sudah ajarkan, kembali kau bikin salah! Man, aku ajari padamu, supaya kau lihat! Scgebrak saja, kau akan rubuh!"

Laludengan "Lamtjiak-bwee"

Atau "Mencekal ekor bunuig gereja", ia menycrang.

Teng Hiauw khawatir dibikin rubuh, ia mendahului, akan sambar lengan orang itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya dipakai mcmbarengi mendorong dengan keras.

Hak Sam mcnjcrit kesakitan, tubuhnya terpental mundur dan rubuh terbanting, hingga kepalanya pusing, matanya kekunangan, karena mana.

dengan susah-payah baharulah ia bisa merayap bangun, akan duduk bersila, untuk beristirahat.

Kejadian itu membuat lain-lain tertawa riuh.

Memangnya mereka sebal tcrhadap ini soeheng she Lauw, yang jumawa Hanya kemudian, salah satu datang menghampirinya, untuk mcmimpin bangun.

"Soeheng, kau terluka atau tidak?"

Dia ini tanya.

"Eh, Kiang Soetee, mengapa kau tidak mengalah terhadap Soeheng? Lihat, kau bikin Soeheng rubuh hebat sekali!"

Hek Sam tidak menyahuti, hanya ia paksakan berbangkit, mukanya merah-padam seperti tiekhoa, hati babi. lagusar.

"Kiang Djit Giauw, kau kurang ajar!"

Ia berseru.

"Kenapa sedikitpun kau tklak menaruh hormat kepada orang yang terlebih tua? Aku lagi ajarkan kau, selagi aku tidak bersiap* kau bokong aku!"

Teng Hiauw ternganga sadari tadL Iapun tidak sangka, sccara demikian gampang wakil gurunya itu kena dibikin rubuh.

Ia menduga, soeheng] ini mcmpunyai siasat lain.

Ia jadi berpikir, apa demikian macam ilmu kepandaiannyaThaykek Tan?

Jikalau benar, sungguh pcrcuma ia datang dari tempat jauhnya ribuan lie....

Ia baharu sadar seteiah ia dibentak.

Maka kembali ia insyaf akan kcsalahannya, ia kerutkan alisnya.

SambiI menahan sabar, ia menghampirkan, untuk memimpin bangun soeheng itu.

"Soeheng, maafkan aku,"

Ia mohon.

"Aku tidak sengaja bikin kau jatuh. Kau jatuh sendiri karena tanah licin."

Melihat sikap orangnya itu, Hek Sam tak bergusar terlebih jauh.

Sore itu juga, kejadian terscbut sampai di kupingnya Gouw Hong Hoe.

Kapan guru ini sclidiki kcterangan terlebih jauh, ia terkejut.

Ia lantas pcrcaya, orang she Kiang itu ada satu ahli silat bukannya seorang yang masih hijau dan lagi mencari pclajaran, bukankah orang datang untuk rubuhkan dia, untuk angkat nama?

Ia pikiri ini, sampai ia jerih sendinnya.

Akhirnya, ia perintah orang panggil Teng Hiauw.

"Kau liehay, Lauwtee, kau ada muridnya siapa?"

Ia tanya, sikapnya manis budi.

"Maukah Lauwtee memberi kcterangan padaku?"

"Aku tidak mengerti ilmu silat, Soehoe,"

Kiang Djit Giauw menyangkal. Tapi Lauw Hek Sam, yang pun curiga, terus awasi ia. Gouw Soeya tertawa besar.

"Dengan jawaban kau ini, Lauwtee, kau bukannya satu lakilaki!"

Kata ia.

"Kita orang harus berlaku terus terang. Umpama kau pandai boegee dan kau sengaja can aku, aku tidak nanti sesalkan kau atau persalahkan padamu. Pada waktu pertama kau datang, melihat gerak-gerikmu, aku sudah menduga, sckarang kau telah buktikan dugaanku itu. Jikalau kau tetap menyangkal, kau sama juga pandang orang lain sebagai satu bocah tolol!"

Sebagai seorang jujur, Teng Hiauw kena didesak.

"Sebenarnya aku pernah pelajarkan Bweehoa-koen dalam tempo pendek sekali,"

Akhirnya ia jawab.

"Karena aku belajar scmbarangan saja pada guru orang desa, aku jadi tidak berani omong terus terang."

Wajahnya Gouw Soe-ya berubah, akan tetapi ia tahan sabar. Ia batuk-batuk, lalu ia tertawa.

"Sebenarnya, Lauwtee, aku tak berderajat untuk jadi guru,"

Kata ia kemudian.

"Aku buka rumah perguruan ini karena Thaykek Tan pusing orang senantiasa can ia, untuk belajar silat, sedang ia tidak buka rumah perguruan, ia suruh aku yang wakilkan ia dan aku tak dapat tolak itu, maka dengan tebalkan muka, aku jadi guru di sini. Selama beberapa tahun, tak pernah aku hadapi halangan, karena orang, umpama kata dia tak memandang aku tetapi melihat pada Thaykek Tan."

Teng Hiauw awasi guru silat itu, ia tidak mengerti.

Ia belum dapat tangkap maksudnya Gouw Hong Hoe, yang peringati dia untuk jangan mengacau.

Iapun anggap, muka merah dari guru itu disebabkan dia habis minum arak....

"Aku tidak mengerti kata-kata kau, Soehoe,"

Kata ia sambi I tertawa.

"Ilmu silatnya Thaykek Tan tersohor di kolong langit, aku datang dari tempat jauh justru untuk belajar kenal dengannya."

Teng Hiauw bicara sewajamya saja, tapi kata-kata itu tajam terdengamya di kupingnya Hong How.

"Ingin belajar kenal"

Diartikan sebagai keinginan untuk mencoba-coba.

Kembali ia jadi mendongkol.

Tapi ia jerih.

Kepandaiannya tidak scberapa.

sedang Hek Sam rubuh dalam segebrakan saja.

Ia jadi serba salah.

Melayani, ia kuatir; tidak mclayani.

ia malu, Teng Hiauw pun ada bocah belum umur dua puluh tahun, umpama ia menang, ia tak akan terpuji, kalau ia kalah, ia akan malu besar.

Maka akhirnya, ia dapat pikiran.

"Lauwtee, kau bersemangat,"

Demikian katanya.

"Baiklah, aku nanti upaya akan supaya kau dapat bertemu dengan Thaykek Tan."

Pembicaraan berhenli sampai di situ, laludi malam kedua, sehabisnya murid-murid berlatih, Gouw Soe-ya t idak kasih Teng Hiauw undurkan diri.

"Lauwtee,"

Kata ia sambil tertawa.

"Thaykek Tan telah dengar kau bcgini muda dan gagah, ia ingin belajar kenal dengan boegeemu, ia girang sekali, maka sore ini ia suruh aku ajak kau pergi kepadan ya. Apa perlu kau bikin persiapan dulu?"

Scbagai scorang masih hijau, Teng Hiauw girang mendengar kctcran cannya Hong Hoe.

Ia lantas saiin pakaian dan ikut guru ini.

Sama sekali ia tidak taruh curiga apa juga.

Ia bcium punyai pengalaman kaum Kangouw.

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 9

Baca Juga: Imbauan Pendekar 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger