Eps 9 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id
Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id
Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.
Belum sempat mereka berbicara, Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng sudah berjalan masuk ke dalam ruang tengah.
Thi Eng khi memandang sekejap wajah tercengang dari semua orang, kemudian sambil tersenyum dan menjura katanya .
"Thi Eng khi sengaja datang untuk menjumpai kalian semua!"
Pek leng siancu So Bwe leng yang berada di samping Thi Eng khi segera menjura pula kepada semua orang sambil berkata .
"So Bwe leng datang untuk berkunjung, terimalah hormat dariku ....
"Dia tak mau menyebut dirinya sebagai boanpwe, hal ini menunjukkan kalau dia tak ingin melemahkan kedudukan sendiri di hadapan orang sehingga nantinya bisa berbicara dengan tingkat kedudukan yang sama.
Berhubung munculnya Thi Eng khi sangat cepat, pelbagai ketua partai pun tak sempat merundingkan langkah bersama mereka berikutnya, ada diantara mereka yang segera berdiri untuk membalas hormat, tapi ada juga yang masih tetap duduk berdiam diri saja berlagak sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar.
Ci long taysu, ketua Siau lim pay dan Keng hian totiang, ketua Bu tong pay segera tertawa terbahak bahak dan bangkit bersama, kemudian mempersilahkan Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng untuk memasuki ruangan tengah.
Setelah mengambil tempat duduk, mereka baru bertanya sambil tertawa .
"Thi ciangbunjin benar benar seseorang yang pegang janji, kedatanganmu cepat sekali, tentunya kabar baik yang hendak disampaikan kepada kami bukan?"
"Ya, aku dan Pek leng siancu So Bwe leng bersedia mendampingi kalian untuk bersama sama memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan!"
"Thi ciangbunjin benar benar berpandangan luas, inilah keberuntungan buat umat persilatan,"
Seru Keng hian totiang kemudian sambil tersenyum ramah.
"Omitohud!"
Seru Ci long taysu pula dengan cepat.
"tindakan dari Thi ciangbunjin ini benar benar merupakan suatu keberuntungan untuk dunia persilatan, lolap amat memuji!"
Keputusan dari Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng untuk bergabung dengan para pendekar sejati dengan cepat disambut pula dengan gembira oleh setiap orang.
Tapi setelah berbicara sampai ke masalah bagaimanakah kerja sama itu harus dilakukan, maka berbagai pendapat segera diusulkan.
Ada yang mengusulkan agar Thi Eng khi menampilkan diri untuk mencegah kerja sama yang akan diselenggarakan pihak Thian liong pay dengan Ban seng kiong tengah hari nanti.
Ada pula yang mengusulkan agar Thi Eng khi menghindari pertemuan tengah hari nanti sehingga pihak partai partai besarlah yang akan munculkan diri untuk mencegah diselenggarakannya pertemuan mana.
Ting Kong, ketua Cing sia pay yang pada mulanya berniat untuk menyandera Thi Eng khi dan digunakan untuk memaksa Keng thian giok cu Thi Keng membatalkan kerja samanya dengan pihak Ban seng kiong, kini bangkit berdiri sambil berkata lagi.
"Menurut pendapatku, kalau toh Thi ciangbunjin bersedia untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, mengapa kita tidak meminta kepada Thi ciangbunjin untuk berlagak seakan akan sudah ditangkap oleh kita agar Thi tua bisa dipaksa untuk membatalkan niatnya itu?"
Mendengar perkataan tersebut, Pek leng siancu So Bwe leng segera mendengus dingin, wajah memperlihatkan perasaan tak senang hati.
Thi Eng khi segera mengerling sekejap memberi tanda kepada Pek leng siancu So Bwe leng agar tetap menahan sabar, sedangkan dia sendiri tetap tersenyum belaka, seakan akan berlagak seperti tidak mendengar perkataan itu.
Ketika Keng hian totiang mendengar perkataan dari Ting Kong, ketua Cing sia pay itu, dengan cepat dia mengemukakan pendapatnya .
"Apa yang dipikirkan Ting ciangbunjin memang amat sempurna dan seharusnya pinto ikut mendukung usulmu itu, sayang sekali pinto masih ada dua hal lain yang perlu memohon petunjuk dari kalian semua."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan .
"Pertama, Thi sauhiap merupakan seorang ciangbunjin dari suatu perguruan besar, bila kita harus bersikap seakan akan berhasil menawannya, hal ini bisa jadi akan menyebabkan timbulnya amarah dari segenap anggota Thian liong pay lainnya sehingga akibatnya akan muncul suatu kejadian yang justru kebalikan dari apa yang kita harapkan. Kedua, kita sebagai jago jago persilatan yang mengutamakan keterbukaan dan kejujuran, apakah tindakan semacam ini tak akan menodai kejujuran kita semua? Aku harap kalian sudi mempertimbangkan kembali akan persoalan ini."
"Siaute setuju dengan pendapat dari Keng hian toheng ini!"
Seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po cepat. Ketua Tiong lam pay, Ku tiok siu Yap Han san segera berkata pula .
"Menurut aku, pendapat dari Keng hian toheng itu sudah kuno dan kurang mencerminkan suatu ketegasan yang kita butuhkan, aku rasa paling baik kalau kita gunakan cara yang diusulkan oleh Ting ciangbunjin saja, selain daripada itu ...."
Sorot matanya dialihkan ke atas wajah Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian membungkam dalam seribu bahasa.
Keng hian totiang sama sekali tidak menjadi gusar oleh ucapan ketua Tiong lam pay, Ku tiok siu tersebut, tanyanya sambil tertawa .
"Saudara Yap, selain daripada itu kenapa lagi?"
Ku tiok siu Yap Han san nampak agak tersipu, setelah termenung beberapa saat kemudian, dia baru minta maaf lebih dahulu kepada Thi Eng khi sembari berkata .
"Apabila ucapanku nanti kurang sedap didengar, harap Thi ciangbunjin sudi memakluminya."
Thi Eng khi tertawa.
"Apabila Yap ciangbunjin ingin mengucapkan sesuatu, silahkan saja diutarakan, aku tidak akan tersinggung oleh perkataan itu ..."
Sekali lagi Ku tiok siu Yap Han san mendeham pelan sebagai pernyataan bahwa perkataan tersebut amat sulit untuk diutarakan keluar, akhirnya sesudah termenung beberapa waktu, dia baru berkata lagi .
"Pepatah kuno bilang . Meskipun kita tak boleh mempunyai pikiran jahat, tapi pikiran jahat orang lain tak bisa tidak harus kita cegah. Berhubung Thi lo dan So lo mempunyai hubungan yang luar biasa dengan mereka berdua, maka aku rasa perlu buat kita untuk sedia payung sebelum hujan. Bila Thi ciangbunjin bersedia menerima usul dari Ting ciangbunjin, hal ini baru mencerminkan kesungguhan hatimu untuk bekerja sama dengan kita semua."
Pek leng siancu So Bwe leng menjadi mencak mencak saking gusarnya, segera teriaknya .
"Bila kau tak percaya dengan kami, sekarang juga aku akan pergi dari sini!"
Thi Eng khi jauh lebih berjiwa besar, sambil tersenyum katanya kepada gadis tersebut .
"Adik Leng, jangan menimbrung dulu, Ci long siansu hendak berbicara....."
Dengan wajah bersungguh sungguh Ci long siansu segera berkata .
"Pinceng jamin Thi ciangbunjin seia sekata lahir maupun batin, ia benar benar memiliki jiwa yang besar untuk melawan kakeknya sendiri....."
Kalau didengarkan sesungguhnya, maka perkataan dari ketua Siau lim pay, Ci long siansu ini terlalu menyakinkan bahkan Thi Eng khi sendiri pun merasakan nyalinya terlampau besar, namun dia juga merasa terharu sekali sehingga tanpa terasa melemparkan pandangan penuh rasa terima kasih kepadanya.
Sementara itu para lainnya sudah berseru tertahan dan bersama sama mengalihkan pandangan matanya kearah pendeta itu dengan harapan ia bisa menjelaskan lebih jauh.
Setelah tersenyum kepada Thi Eng khi, ketua Siau lim pay Ci long taysu baru berkata lagi.
"Tindak tanduk yang dilakukan Thi ciangbunjin dalam kuil kami di kota Phu tian, oleh sute lolap Ci Kong telah dilaporkan kepadaku dengan memakai ilmu menyampaikan berita tercepat. Menurut surat Ci kong sute, tenaga dalam yang dimiliki Thi ciang bunjin sudah mencapai tingkat yang luar biasa dan mampu menanggung tanggung jawab untuk melawan Hian im tee kun, entah ucapan ini benar atau tidak?"
Sambil tertawa Thi Eng khi segera membungkukkan badannya menjura kemudian serunya .
"Ci kong taysu terlalu memuji, aku benar benar tidak berani menerimanya ....!"
Untuk menghilangkan kecurigaan semua orang, secara ringkas Ci long taysu lantas menceritakan semua tindak tanduk yang telah dilakukan Thi Eng khi sewaktu berada di kuil Siau lim si cabang Phu tian di propinsi Hok-kian.
Setelah mendengar semua kisah itu, semua orang baru membungkam dalam seribu bahasa, pandang mereka terhadap Thi Eng khi pun secara otomatis mengalami perubahan yang sangat besar.
Sesungguhnya mereka tidak menaruh pandangan apa apa terhadap Thi Eng khi, kecurigaan mereka terhadap si anak muda itupun tanpa dasar.
Untung saja mereka semua adalah jago jago persilatan yang punya nama maka perbedaan pendapat tadi pun segera menjadi lenyap dan masing masing pihak pun tidak kukuh lagi terhadap tuntutan masing masing.
Si Unta sakti Lok It hong segera melompat bangun, kemudian sambil mencengkeram sepasang tangan Thi Eng khi serunya .
"Lolap bersikap kurang hormat kepada mu selama ini, harap Thi ciangbunjin sudi memaafkan!"
Menyusul kemudian, Ting kong ketua dari Cing sia pay, Ku tiok siui Yap Han san ketua dari Tiong lam pay dan Cu Wan mo ketua Hoa san pay sekalian datang meminta maaf.
Gara gara peristiwa itu, hubungan mereka semua pun terasa jauh bertambah akrab.
Jilid 31 Tentu saja perubahan ini menunjukkan kalau semua orang amat mempercayai atas jaminan dari Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay ini, disamping boleh dibilang hal ini pun berkat sikap Thi Eng khi yang menghadapi persoalan dengan tenang tanpa emosi, kegagahan dan kebesaran jiwanya segera mempengaruhi hasil yang akhirnya berhasil diraih.
Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang merasa paling gembira, dia ada maksud agar Thi Eng khi mendemonstrasikan sedikit kepandaiannya dihadapan orang banyak agar meningkatkan tingkat kedudukan dalam dunia persilatan, maka segera usulnya .
"Aku si pengemis tua mempunyai sebuah usul agar usulku ini bisa dipertimbangkan oleh para tayhiap sekalian dari berbagai partai."
"Cu pangcu mempunyai usul apa? Katakanlah, kami akan memasang telinga baik baik dan mendengarkan dengan seksama!"
Kata ketua Siau lim pay Ci long siansu sambil tertawa.
"Walaupun pertemuan hari ini disponsori oleh ketua Siau lim pay dan ketua Bu tong pay untuk bersama sama mencegah Thian liong pay bergabung dengan Ban seng kiong, namun kedua orang ciangbunjin ini sama sekali tidak menawarkan diri sebagai pemimpin para jago, bila kita merupakan sebuah rombongan tanpa kepala, menurut pendapat aku si pengemis tua rasanya kurang tepat, maka kita harus memilih seorang pemimpin yang mengatur strategis dan tindakan kita semua agar kekuatan kita terhimpun dan tak sampai tercerai berai, entah bagaimana menurut pendapat saudara sekalian?"
Begitu usul diutarakan, yang lain segera mendukung, semua orang merasa perkataan dari pengemis tua ini masuk diakal.
Thi Eng khi bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menebak maksud hati dari engkoh tuanya itu, tapi berada dalam posisinya sekarang, sesungguhnya dia merasa ada kesulitan untuk menerima tawaran mana, maka cepat cepat dia bangkit berdiri sambil berseru .
"Ketua Siau lim pay Ci long taysu merupakan seorang tokoh persilatan yang berkedudukan paling tinggi di dalam dunia persilatan, sepantasnya bila kita pilih dia sebagai pemimpin kita semua."
Sebelum semua orang memberikan pendapatnya, ketua Siau lim pay Ci long taysu sudah menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata .
"Jangan, jangan pilih lolap, yang bisa menjadi seorang pemimpin di dalam peristiwa ini adalah mereka yang memiliki tenaga dalam dan ilmu silat yang amat tinggi, lolap pernah dikalahkan oleh Tiang pek lojin, jadi kurang cocok buat lolap untuk memangku jabatan ini, harap kalian sudi memilih orang lain saja."
Ketua Bu tong pay, Keng hian totiang segera tertawa .
"Kalau berbicara soal tenaga dalam serta kelihayan dalam ilmu silat, maka kemampuan Thi ciangbunjin lah yang benar benar sudah mencapai ke tingkatan tersebut, bila pinto tak salah melihat tak seorang pun di antara kita yang hadir disini sekarang mampu untuk menandingi kemampuannya itu."
Sesudah berhenti sejenak, ia melanjutkan .
"Cuma, kalau berbicara tentang masalahnya meskipun Thi ciangbunjin memiliki kecerdasan dan kepandaian yang sanggup memimpin kita semua, ditambah pula dengan semangat dan keberaniannya untuk mengorbankan cinta daripada kepentingan umum, tapi tujuan kita sekarang adalah membawa Thi tua kembali ke jalan yang benar mengingat jasa-jasanya dahulu bagi umat persilatan, tidak sepantasnya bila kita membiarkan Thi ciangbunjin melakukan suatu tindakan yang tidak berbakti dengan melawan kakeknya sendiri. Oleh sebab itu, menurut pendapat pinto, Thi ciangbunjin tidak baik kalau diserahi tanggung jawab ini, daripada Thi ciangbunjin yang harus berjuang demi menegakkan keadilan dan kebenaran, dia harus melakukan perbuatan yang justru akan membuatnya menyesal sepanjang masa, bila sampai demikian, maka hilanglah maksud kita yang sebenarnya untuk menyayangi Thi ciangbunjin."
Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po kontan saja merasa bermandikan keringat dingin, diam diam pikirnya .
"Ooooh, sungguh berbahaya, hampir saja aku memberikan sebuah rantai kematian untuk saudara cilik!"
Pada dasarnya Thi Eng khi memang menaruh perasaan yang menghormat terhadap ketua Bu tong pay, Keng hian totiang, kini setelah mendengar uraiannya yang begitu memperhatikan kepentingan serta kesulitannya, dia merasa bertambah terima kasih lagi.
Terdengar Keng hian totiang berkata lebih jauh .
"Thi ciangbunjin memiliki kepandaian silat yang amat lihay, dalam hal ini kita tak boleh melupakan kemampuannya, tapi Ci long siansu pun tak dapat menampik lagi untuk menerima tugas berat ini!"
Ucapan yang amat tepat dan bijaksana ini segera memperoleh persetujuan dan pujian dari setiap orang.
Ketua Siau lim pay Ci long siansu pun merasa tak baik untuk berkata apa apa lagi, terpaksa dia harus menerima jabatan tersebut dan memimpin para jago.
Sekarang semua orang menunggu Thi Eng khi mendemonstrasikan kepandaian silatnya yang lihay.
Thi Eng khi yang dihadapkan dalam posisi yang cukup pelik, seandainya dia tak mau mendemonstrasikan kepandaian silatnya, kendatipun para jago sudah bisa menghilangkan kecurigaan terhadap dia, namun bobotnya di dalam pandangan mereka masih tetap terbatas sekali.
Oleh sebab itu, dia tidak membantah lagi, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke ruang tengah, dibawah sorot mata para jago, dia menggunakan sekali tarikan napas untuk melambung tinggi lima depa secara pelan pelan, kemudian berhenti mengambang di tengah udara, tidak naik, tidak pula turun kebawah.
Ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang melambung di udara ini paling sulit justru terletak pada ketidak bergeraknya di tengah udara, kesulitan mana pada hakekatnya beberapa kali lipat lebih sulit daripada ilmu meringankan tubuh Leng khong siu tok itu sendiri.
Berbicara sampai kemampuan yang dimiliki kawanan ciangbunjin pelbagai partai yang hadir disini sekarang, jago jago tangguh seperti Keng hian totiang, ketua Bu tong pay maupun Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay pun belum berhasil mencapai ke tingkatan ilmu Leng khong siu tok, apalagi untuk berdiri tak bergerak di tengah udara seperti apa yang dilakukan Thi Eng khi sekarang.
Semua yang hadir adalah jago jago lihay dari dunia persilatan, sudah barang tentu semuanya tahu akan mutunya suatu kepandaian silat, kontan saja tepuk sorak berkumandang memecah keheningan.
Demonstrasi Thi Eng khi tidak sampai disitu saja, ketika tepuk sorak sudah mulai mereda, dia pun berkata .
"Silahkan seorang ciangbunjin diantara kalian maju untuk melepaskan sebuah pukulan ke atas tubuhku!"
Untuk dapat berdiri tak bergerak di tengah udara, kebanyakan orang mengandalkan pada himpunan tenaga dalam yang disatukan dalam pusar, dalam keadaan begini yang merupakan pantangan terbesar adalah berbicara.
Tak heran kalau semua orang menjadi kaget bercampur tercengang sampai matanya terbelalak dan mulut pada melongo, siapa pun tak tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki si anak muda tersebut.
Yang membuat orang tidak habis mengerti adalah dia masih minta kepada orang lain untuk menyerangnya, entah apa yang menjadi tujuannya?
Maka tak seorang pun yang berani menanggapi permintaannya itu.
Melihat semua orang pada membungkam dan tak seorang pun yang bersedia turun tangan, terpaksa Thi Eng khi berkata kepada Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay itu .
"Ilmu pukulan peh poh sin kun dari Siau lim pay sudah lama termashur dalam dunia persilatan, silahkan ciangbunjin menghadiahkan sebuah pukulan untukku."
Mendengar ucapan tersebut, timbul juga rasa ingin menang dalam hati Ci long taysu, disamping dia pun tidak percaya kalau Thi Eng khi sanggup menerima pukulannya dari tengah udara.
Maka sambil mengebaskan ujung bajunya, pendeta itu berseru .
"Kalau begitu, biarlah lolap memperlihatkan kejelekanku!"
Dengan gaya Li san ta gou (memukul sapi dari bukit seberang), dia melepaskan sebuah pukulan ke arah Thi Eng khi dari kejauhan.
Thi Eng khi segera merangkap sepasang tangannya untuk menyambut datangnya serangan dahsyat dari ketua Siau lim pay Ci long taysu, tampak dia pelan pelan mendorong sepasang tangannya itu ke depan.
Tampak dua gulung tenaga pukulan saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakan yang amat keras, segulung hawa pukulan yang amat dahsyat segera timbul akibat benturan itu dan menghamtam keatas langit langit rumah sehingga jebol dan muncul sebuah lubang yang besar sekali.
Tubuh Ci long taysu, ketua dari Siau lim pay ini sama sekali tidak bergerak, akan tetapi kakinya yang berpijak ditanah telah melesak sedalam lima hun ke dalam tanah.
Ketika semua orang memandang pula kearah Thi Eng khi, tampak sikapnya amat tenang, sama sekali tidak berkutik dari posisi semula, ternyata ia sudah menerima sebuah pukulan Pek poh sin kun dari ketua Siau lim pay ini dari tengah udara.
Kesempurnaan tenaga dalam yang didemonstrasikan ini benar benar luar biasa hebatnya sehingga tak terlukiskan dengan kata kata.
Semua orang dibikin terperanjat sampai membelalakkan matanya lebar lebar dan untuk sesaat malah tak mampu mengeluarkan sedikit suarapun.
Kembali Thi Eng khi berkelebat lewat, entah gerakan tubuh apakah yang dia pergunakan, tahu tahu tubuhnya sudah balik kembali ke tempat duduknya semula bahkan sambil menjura berulang kali dia berseru .
"Tontonan jelek! Tontonan jelek!"
Sekarang semua orang baru sadar kembali dari lamunan, tepuk sorak sekali lagi bergema memecahkan keheningan.
Kini, semua orang benar benar merasa takluk dan kagumnya bukan kepalang, secara otomatis rasa kuatir mereka terhadap keampuhan Hian im Tee kun pun menjadi semakin kecil.
Pek leng siancu So Bwe leng sendiripun baru pertama kali ini menyaksikan Thi Eng khi mendemonstrasikan kesempurnaan tenaga dalamnya, dia pun bertepuk tangan dengan gembiranya, sambil tertawa terbahak bahak serunya .
"Engkoh Eng, aku lihat tenaga dalammu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali, bahkan jauh lebih hebat beberapa kali lipat bila dibandingkan dengan dulu!"
Sementara orang sedang memuji dan menyampaikan selamat kepada Thi Eng khi, mendadak dari depan pintu berjalan masuk seorang anggota Hoa san pay yang secara langsung mendekati ketuanya Cu Wan mo dan membisikkan sesuatu dengan suara lirih.
Begitu selesai mendengar bisikan tersebut, paras muka ketua Hoa san pay Cu Wan mo segera berubah menjadi pucat pias, gerak geriknya menjadi sangat tidak tenang.
Setelah menjura kepada semua orang, buru buru katanya .
"Berhubung aku ada urusan penting, maaf kalau tak bisa menghadiri pertemuan tengah hari nanti, harap saudara, kalian sudi memaklumi!"
Dengan amat tergesa gesa dia segera mengundurkan diri dari tempat tersebut.
Siapa tahu belum lama setelah ketua Hoa san pay Cu Wan mo berlalu, kembali muncul seorang anggota Tiong lam pay yang membisikkan sesuatu ke sisi telinga ketua Tiong lam pay Ku tiok siu Yap Han san.
Dengan perasaan gelisah dan cemas ketua Tiong lam pay Yap Han san pun segera mohon diri dan mengundurkan diri dari situ.
Berikutnya, keadaan yang sama pun menimpa dua orang ketua partai lainnya, mereka adalah .
Ketua Cing sia pay, Ting Kong ci Ketua kuil Ci tiok an, Beng sin taysu Mereka mengundurkan diri tanpa mengungkapkan alasannya mengapa harus mengundurkan diri, hal ini membuat mereka yang tetap tinggal menjadi bingung dan penuh diliputi tanda tanya.
Yang masih tinggal di dalam ruangan sekarang tinggal ketua Siau lim pay Ci long taysu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, unta sakti Lok It hong, Ci song taysu dan Ci kay taysu dari Siau lim pay, Keng it dan Keng ning totiang dari Bu tong pay serta Thi Eng khi dan Pek leng siancu So Bwe leng.
Mendadak dari luar ruangan muncul kembali seorang pengemis tua yang berlari masuk dengan napas terengah engah.
Begitu mengenali kalau pengemis tua itu adalah Kim kay (pengemis emas) Ui Hui, salah satu diantara Ngo heng kay, dengan wajah tertegun pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berteriak keras.
"Ui sute, apa yang telah terjadi?"
Pengemis emas Ui Hui tidak menjawab, melainkan berjalan ke hadapan pengemis sakti bermata harimau, kemudian baru bersiap sedia memberikan laporannya.
Sambil tertawa nyaring pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera berseru.
"Tiada persoalan yang tak boleh didengar orang, bila Ui sute ada persoalan, utarakan saja dihadapan semua orang!"
Terlintas selapis rasa malu diatas wajah pengemis emas Ui hui, dengan agak tergagap katanya .
"Lapor pangcu, toya mestika tujuh ruas Jit ciap po ciang dari perkumpulan kita telah hilang!"
"Apa?"
Seru pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan perasaan terperanjat.
"Jit ciat po siang telah hilang? Apa kerja kalian semua ....?"
Perlu diketahui, Jit ciat po ciang merupakan toya yang menjadi kekuasaan seorang pangcu dari Kay pang, kini benda mestika tersebut telah hilang, apabila ketua Kay pang sekarang Cu Goan po tak berhasil menemukannya kembali, bukan saja tak dapat menjadi pangcu lagi, bahkan bisa jadi akan berakibatkan dijatuhkannya hukuman yang berat terhadap dirinya.
Kontan saja datangnya berita ini membuat pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menjadi amat gugup, oleh karena itu tanpa terasa lagi dia mengumpat dan mencaci maki pengemis emas Ui Hui habis habisan ....
Dengan kepala tertunduk rendah rendah, pengemis emas Ui Hui berbisik dengan lirih.
"Yaa, tecu sekalian memang pantas untuk mati!"
Mendadak pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghela napas panjang.
"Aku tak dapat menyalahkan kalian, aku pikir mundurnya para ciangbunjin pelbagai partai tadi juga disebabkan peristiwa yang sama, kalau begitu perbuatan ini sudah pasti merupakan hasil karya dari Hian im Tee kun.... !"
Sesudah menghela napas panjang, tiba tiba ia tertawa seram dan melanjutkan .
"Aku si pengemis tua tak dapat memikirkan banyak persoalan lagi, terpaksa kita harus berjalan selangkah diperhitungkan selangkah, sekarang saudara cilik sedang membutuhkan bantuan, aku tak bisa meninggalkan dia dengan begitu saja."
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya .
"Cepat panggil Ngo heng kay untuk datang menerima perintah, sedangkan tentang hilangnya toya mestika Jit ciat po ciang kita bicarakan nanti saja."
"Baik!"
Jawab pengemis emas Ui Hui cepat.
Setelah memberi hormat kepada Thi Eng khi, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari sana.
Thi Eng khi benar benar merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan kebesaran jiwa pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po yang bersedia mengesampingkan masalah besar partainya demi membantu dia, kehangatan dan kebijaksanaannya ini membuat emosinya meluap.
Tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suara pekikannya membuat seluruh jagad seakan akan bergetar keras.
Empat puluh delapan ekor kuda dan sebuah kereta yang sangat indah sedang menelusuri jalan raya yang lebar menuju ke arah gedung Bu lim tit it keh.
Diatas empat puluh delalan ekor kuda itu, duduklah lelaki dan perempuan dalam jumlah yang seimbang.
Dua puluh empat lelaki kekar berpakaian ringkas warna merah bergerak dimuka membuka jalan.
Dua puluh empat gadis cantik berpakaian ringkas dengan mantel warna hijau mengikuti dibelakang kereta indah tersebut.
Kereta kuda itu berjalan sangat cepat dan menimbulkan suara yang gaduh, bagaikan sepasukan tentara yang bersiap siap melancarkan serbuan.
Rombongan tersebut tak lain adalah para utusan dari gedung Ban seng kiong yang dikirim ke gedung Bu lim tit it keh untuk mencaplok perguruan Thian liong pay.
Kini, mereka sudah berada hanya dua puluh li saja dari gedung Bu lim tit it keh tersebut.
Di depan sana merupakan sebuah bukit kecil yang menonjol dengan pepohonan yang rimbun, tempat itu merupakan sebuah kebun buah yang luasnya mencapai puluhan hektar.
Dalam waktu singkat, rombongan besar dari Ban seng kiong itu sudah sampai di atas bukit kecil tersebut.
Baru saja rombongan besar itu sampai diatas bukit kecil, mendadak terdengar suara ringkikan kuda dan teriakan manusia yang ramai, disusul kemudian seluruh rombongan berhenti berjalan.
Rupanya di tengah jalan telah muncul sepasang muda mudi yang tampan dan cantik menghadang jalan pergi mereka.
Di belakang sepasang muda mudi ini berjajar pula sepuluh orang pendeta, sepuluh orang tosu, enam orang pengemis, seorang nikou ditambah dengan dua orang kakek berusia enam puluh tahun.
Sepuluh orang pendeta dipimpin oleh ketua Siau lim pay Ci long taysu, dengan menyusun kesembilan orang jago lihaynya, mereka membentuk sebuah barisan Siau lo han tin yang tangguh.
Sepuluh tosu dipimpin oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang, mereka membentuk Jit seng kiam tin yang ampuh, sedangkan sisa tiga orang yang ada melakukan pelindungan dari luar untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Enam orang pengemis dipimpin oleh pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, dia menitahkan Ngo heng kay untuk membentuk sebuah barisan Ngo heng tin yang tangguh.
Seorang nikou, tentu saja Sam ku sinni adanya.
Dua orang kakek berusia enam puluh tahunan adalah pencuri sakti Go Jit dan Sam ciat jiu Li Tin tang.
Sedangkan pemuda tampan di barisan terdepan adalah Thi Eng khi, di sebelah kirinya tak lain adalah Pek leng siancu So Bwe leng.
Kini, mereka sedang berusaha untuk menghadang orang orang Ban seng kiong agar tak dapat melalui bukit tersebut.
Dua puluh empat orang lelaki kekar dari Ban seng kiong itu segera memencarkan diri ke arah dua sisi, sementara dua puluh empat orang gadis cantik bermantel hijau dengan mengawal kereta indah tersebut bergerak ke ujung barisan dan berhenti dihadapan Thi Eng khi serta So Bwe leng.
Dari antara kedua puluh empat orang gadis bermantel hijau itu, segera melompat turun dua orang yang berlari ke depan kereta dan menyingkap kain tirai.
Dari dalam kereta segera muncul dua orang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.
Yang seorang berpakaian merah, sementara yang lain memakai baju hijau, Thi Eng khi mengenali mereka sebagai Hian im ji li (dua gadis Hian im) yang berada dalam istana Ban seng kiong dewasa ini.
Terutama sekali Ciu Lan yang mengenakan pakaian berwarna hijau, dia pernah menyaru sebagai Pek leng siancu So Bwe leng dan pernah pula mengumpat Thi Eng khi habis habisan dalam istana Ban seng kiong sehingga hampir saja membuat pemuda itu putus asa dan menemui jalan buntu.
Begitu bertemu dengannya, pancaran sinar gusar segera mencorong keluar dari balik mata Thi Eng khi.
Rasa bencinya yang membara membuat dia ingin sekali membacoknya sampai mati untuk melampiaskan rasa benci dan dendam di hati.
Ciu Lan bersikap amat tenang, sama sekali tidak menganggap sebelah matapun terhadap kegusaran Thi Eng khi, malah sambil tertawa manis sapanya .
"Thi sauhiap benar benar kelewat banyak adat, kita kan orang sendiri, mengapa kau harus menyambut kedatangan kami dari jauh? Sungguh membuat kami merasa rikuh sekali, bagaimana kalau kita meneruskan perjalanan bersama dengan naik kereta saja."
Thi Eng khi tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu mempunyai ketajaman mulut yang begitu lihay, baru buka suara sudah merebut posisi diatas angin.
Setelah tertawa dingin segera tegurnya .
"Darimana kau bisa tahu kalau kedatanganku untuk menyambut kedatanganmu?"
Ciu Lan pura pura terkejut, kemudian serunya .
"Thi sauhiap, sejak kapan kau sudah meninggalkan perguruan Thian liong pay?"
Dengan gusar Thi Eng khi membentak keras .
"Akulah ciangbunjin dari Thian liong pay, siapa yang bilang kalau aku sudah melepaskan diri dari perguruan Thian liong pay?"
Ciu Lan tertawa ringan.
"Wah, ini membuat orang semakin tidak habis mengerti, bergabungnya partai Thian liong pay ke dalam lingkungan Ban seng kiong sudah menjadi masalah besar yang diketahui setiap orang, kau sebagai seorang ciangbunjin Thian liong pay bukan datang untuk menyambut kedatangan kami, tentunya sudah diusir oleh yaya mu sehingga menjadi seorang murid murtad atau cucu durhaka."
Kemudian sesudah menghela napas panjang, terusnya .
"Aaai.... aku sudah tahu kalau kau adalah seorang manusia yang tak bisa menghormati orang tua, kalau toh sudah diusir oleh yaya mu, apakah kau anggap masih pantas untuk menyebut dirimu sebagai anggota Thian liong pay?"
Saking gusarnya, Thi Eng khi tertawa seram .
"Heeeh..... heehhh.... Heeehhh.... Kau tak usah bersilat lidah denganku lagi, aku tidak mengijinkan kalian lewat, mau apa kalian!"
Jelas amarahnya sudah memuncak sampai pada batas kemampuannya. Pek leng siancu So Bwe leng segera maju selangkah ke depan, kemudian katanya sambil tertawa .
"Engkoh Eng, jangan marah, budak siaumoy ini memang seorang manusia rendahan yang tak pernah memperoleh didikan, biar siaumoy saja yang memberi pelajaran kepadanya."
Kemudian sambil menuding kearah Ciu Lan, serunya .
"Kau menuduh orang lain tak tahu hormat, bagaimana dengan kau sendiri? Tentunya kau mengerti tentang perbedaan tingkat kedudukan bukan? Setelah seorang budak menjumpai nonanya, mengapa kau tidak berlutut untuk menyambut kedatanganku?"
Sewaktu Ciu Lan berada di rumah Tiang pek lojin, dia telah melayani Pek leng siancu So Bwe leng sebagai seorang dayang.
Jadi apa yang dikatakan sebenarnya merupakan suatu kenyataan.
Ciu Lan sama sekali tidak menyangka kalau gara gara dia banyak berbicara sehingga berakibat Pek leng siancu So Bwe leng mengorek kembali borok dalam tubuhnya, kontan saja dia mendengus dingin.
"Apa yang terjadi dimasa lampau tak lebih hanya suatu taktik belaka, memangnya kau angggap sungguhan?"
Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh..... siapa yang mengharapkan kau bersungguh sungguh? Aku tak lebih hanya ingin mempermalukan dirimu saja, terus terang kuberitahukan kepadamu sekarang bukan waktunya lagi untuk bersilat lidah, apabila kalian mempunyai kepandaian untuk menangkan kami, tentu saja kami akan lepaskan kalian pergi, kalau tidak lebih baik kalian sipat ekor dan cepat cepat kembali ke istana Ban seng kiong."
Paras muka Ciu Lan berubah menjadi dingin seperti es, sahutnya kemudian .
"Baik! Pun kiongcu akan membacok mampus kau si budak yang bermulut tajam lebih dulu."
Ujung bajunya segera dikibaskan dan jari tangannya yang tajam langsung mencengkeram keatas wajah Pek leng siancu So Bwe leng.
Dimana serangannya dilancarkan segera terasa hawa dingin Hiam im cing khi memancarkan keluar melalui ujung jari tangannya.
Diam diam Pek leng siancu So Bwe leng merinding, coba kalau dia belum pernah menelan pil Tay tham wan dari Siau lim pay dan dibantu Thi Eng khi untuk menembusi kedelapan urat nadinya, mungkin dalam satu gebrakan saja dia sudah akan dibikin keok.
Akan tetapi Pek leng siancu So Bwe leng yang sekarang adalah seorang perempuan yang memiliki kepandaian silat ajaran dari Tiang pek lojin dan Sam ku Sin, ditambah lagi nadi Jin meh dan Tok meh nya sudah berhasil ditembusi, ilmu kiu coan hian kang dari Tiang pek lojin dan Budhi ceng lek dari Sam ku sinni juga sudah dikuasai penuh hingga tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat, pada hakekatnya kepandaian silat yang dimilikinya sekarang sama sekali tidak berada di bawah kepandaian dari Sam ku sinni.
Maka sambil tertawa dingin serunya .
"Budak ingusan, apabila nonamu tidak memberi pelajaran yang setimpal, rasanya kau pun pasti akan bertambah jumawa sehingga tak tahu diri!"
Diantara getaran sepasang bahunya, dia melayang maju sejauh lima depa dari posisi semula, begitu lolos dari cengkeraman Ciu Lan, dia segera membalikkan badan sambil melancarkan sebuah bacokan dengan ilmu Budhi ceng lek.
Angin pukulan yang menggulung keluar bagaikan sebuah gelombang dahsyat saja, langsung menyapu kearah pinggang Ciu Lan.
"Sebuah serangan yang amat bagus!"
Seru Ciu Lan sambil tertawa riang.
Ujung bajunya dikebaskan berulang kali, jari tangan dan telapak tangan dipergunakan bersama sama, dalam waktu singkat dia sudah melancarkan empat buah serangan berantai.
Pek leng siancu So Bwe leng menjadi sangat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau gerak serangannya dari Ciu Lan yang disertai dengan kobaran hawa murni Hian im cing khi tersebut nyatanya tidak berada di bawah ilmu Bu dhi ceng lek ajaran gurunya.
Padahal Ciu Lan sendiripun merasa amat terperanjat dengan kenyataan tersebut, dia mengetahui paling jelas tentang tenaga dalam yang dimiliki Pek leng siancu So Bwe leng, walaupun dalam pandangan sementara umat persilatan, perempuan itu termasuk seorang jagoan kelas satu, tapi didalam pandangannya, perempuan itu masih belum berkemampuan apa apa untuk ikut mencantumkan namanya di dalam dunia persilatan.
Tapi setelah terjadi pertarungan sekarang, dia baru merasa bahwa tenaga dalam yang dimiliki gadis tersebut bukan saja dapat dijajarkan dengan deretan nama nama jago tangguh dalam dunia persilatan bahkan selisihnya dengan apa yang dimiliki menjadi tak banyak, hal inilah yang segera membuatnya menjadi terperanjat dan kebingungan setengah mati .....
Sekali lagi kedua sosok bayangan manusia itu saling bersatu untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat, serangkaian serangan cepat melawan cepat berkobar amat serunya dalam waktu singkat ratusan gebrakan sudah lewat, kedua belah pihak masih tetap bertahan dengan seimbang, ternyata untuk beberapa waktu sulit rasanya untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Semakin lama waktu berlarut, pertarungan yang berlangsung pun semakin mengendor dan tidak segencar tadi lagi, bayangan tubuh kedua orang itu pun lambat laun semakin kelihatan jelas.
Tatkala Sam ku sinni menyaksikan muridnya bisa bertarung dengan mantap, tenaga dalamnya pun makin sempurna sehingga tidak kalah dengan kesempurnaan sendiri.
Dalam gembiranya dia lantas berbisik kepada Thi Eng khi dengan ilmu menyampaikan suara .
"Keberhasilan anak Leng pada hari ini tak lain merupakan berkah dari sauhiap, pinni sungguh merasa berterima kasih sekali."
Dengan ilmu menyampaikan suara pula Thi Eng khi menjawab .
"Locianpwe, kesemuanya itu merupakan jasa cianpwe yang telah memberi pendidikan kepadanya serta daya kasiat pil Tay tham wan dari Siau lim pay, apa yang boanpwe lakukan tak lebih hanya menyempurnakan apa yang sudah ada, harap cianpwe jangan berkata bagitu, boanpwe akan merasa malu sekali dibuatnya."
Sementara itu, Ci long taysu ketua dari Siau lim pay dan Keng hian totiang ciangbunjin Bu tong pay yang menyaksikan pertarungan antara So Bwe leng dengan Ciu Lan, diam diam menghela napas panjang, mereka merasa semakin malu lagi.
Di samping mereka merasa sedih akan ketidak mampuan partai partai kaum lurus dalam kepandaian silat, di pihak lain mereka pun merasa putus asa sekali atas ketangguhan kekuatan pihak Ban seng kiong.
Mendadak dua orang yang sedang bertarung dengan tangan kosong ditengah arena itu saling berpisah satu sama lainnya, kemudian kedua belah pihak sama sama meloloskan senjata tajam masing masing.
Pek leng siancu So Bwe leng mencabut keluar sebuah senjata Tangan Buddha kemala hijau sepanjang satu depa delapan inci, inilah senjata tajam andalan Sam ku sinni ketika masih berkelana di dalam dunia persilatan dulu, Hun hoa giok ci (jari kemala pemisah bunga) yang menggetarkan dunia persilatan.
Sebaliknya Ciu Lan menggunakan sebuah senjata yang berbentuk seperti telapak tangan, seluruh benda tersebut berwarna merah darah, kelima jari bertekuk membentuk gaya mencengkeram, panjangnya satu depa dan rupanya lebih pendek delapan inci kalau dibandingkan dengan senjata Hun hoa giok ci dari Pek leng siancu So Bwe leng tersebut.
Sam ku sinni merasa terperanjat sekali setelah menyaksikan senjata telapak tangan berwarna merah yang berada di tangan Ciu Lan itu, kuatir kalau Pek leng siancu So Bwe leng tertipu, dengan suara lantang dia pun berseru .
"Leng ji, hati hati! Senjata telapak tangan berwarna merah yang berada di tangan Ciu Lan itu merupakan senjata beracun di dunia ini. Benda tersebut bernama Hian im kui jiu (tangan setan angin dingin), tampaknya cuma satu, tapi setelah dipergunakan maka setiap saat bisa memanjang sampai tiga depa lebih, selain daripada itu, pada ujung jari tangan tersebut tersimpan jarum Hian im ciam yang lembut seperti bulu kerbau, apabila tombol rahasianya di pencet maka jarum tersebut bisa meluncur untuk melukai orang. Jarum mana khusus untuk memecahkan ilmu hawa khikang pelindung badan, kau harus bertindak sangat hati hati."
Bukan saja perkataan tersebut sengaja ditujukan kepada Pek leng siancu So Bwe leng, diapun sekalian memberitahukan hal ini kepada Thi Eng khi.
Mendengar keterangan tersebut, Thi Eng khi segera berkerut kening, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.
Sambil mengawasi senjata Hian im kui jiu di tangan Ciu Lan, dia tak berani bertindak secara gegabah.
Sementara Sam ku sinni masih berbicara lagi, kedua belah pihak telah terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang amat seru.
Tampak senjata Kun hoa giok ci yang berada di tangan Pek leng siancu So Bwe leng berubah menjadi segulung cahaya hijau yang bermain di tengah udara saja, segera mengurung seluruh badan Ciu Lan dan berputar tiada hentinya.
Cahaya berwarna merah yang terpancar dari balik senjata Hian im kui jiu dari Ciu Lan pun bergerak kian kemari di tengah kepungan cahaya hijau yang berlapis lapis, walaupun keampuhannya tidak melebihi cahaya hijau yang terpancar keluar dari senjata hun hoa giok ci tersebut, akan tetapi jurus serangan yang dipancarkan sedikitpun tidak kalah dibandingkan dengan pihak lawan.
Tampaknya Pek leng siancu So Bwe leng sudah dibikin tertarik sekali oleh jalannya pertarungan, dia seperti melupakan pesan dari Sam ku sinni saja, jurus serangan yang dipergunakan pun semakin ganas, dia lebih banyak meneter musuhnya untuk memaksakan suatu kemenangan dalam waktu singkat.
Sebaliknya Ciu Lan pun menghadapi desakan musuhnya dengan suatu pertarungan ganas dan sadis.
Pada saat itulah Ciu Lan sedang menusuk jalan darah Khi bun hiat ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng dengan jurus Jau ci huang swan (dari jauh menunjuk akhirat).
Pek leng siancu So Bwe leng segera menjatuhkan tubuh bagian atasnya kebelakang, kemudian senjata Hun hoa giok ci nya menggunakan jurus Ban hoa eng cun untuk menyongsong datangnya serangan dari senjata Hian im kui jiu tersebut.
"Kraaak...."
Mendadak senjata Hian im kui jiu di tangan Ciu Lan tersebut bukan saja telah bertambah panjang dua depa, bahkan setelah tiba ditengah jalan mendadak saja gerak serangan itu menjadi miring ke bawah dan langsung menotok jalan darah Hu ciat hiat diatas lambung Pek leng siancu So Bwe leng.
Tiba tiba saja Pek leng siancu So Bwe leng menjadi amat terperanjat, sekarang dia baru teringat dengan pesan gurunya, buru buru tubuhnya berputar sembari tarik napas panjang panjang, badannya dipaksakan untuk bergeser satu depa kesamping, nyaris sekali dia termakan oleh sodokan senjata Hian im kui jiu dari Ciu Lan.
Siapa tahu duduknya persoalan tak segampang itu saja, mendadak Pek leng siancu So Bwe leng merasakan pinggangnya menjadi kaku, entah sedari kapan rupanya Ciu Lan telah membidikkan jarum Hian im ciang yang secara telak menghantam sisi jalan darah Thian ci hiatnya.
Jarum Hian im ciang tersebut bukan hanya khusus dipakai untuk mematahkan pertahanan hawa khikang belaka, bahkan mengandung racun yang sangat jahat, begitu tubuhnya kesemutan, Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan pandangan matanya berkunang kunang dan tubuhnya gontai, setelah itu roboh terjengkang ke belakang.
Semenjak awal pertarungan tadi, Thi Eng khi sudah berjaga jaga di samping Pek leng siancu, walaupun tenaga dalamnya amat sempurna, toh pengalamannya masih kurang.
Sewaktu menyaksikan So Bwe leng berhasil meloloskan diri dari sergapan senjata Hian im kui jiu dari Ciu Lan tadi, dia menganggap ancaman bahaya untuk Pek leng siancu So Bwe leng sudah lewat, sehingga tak urung pikirannya ikut bercabang pula.
Siapa tahu, pada saat itulah Pek leng siancu So Bwe leng telah termakan oleh sergapan gelap.
Di saat tubuh Pek leng siancu So Bwe leng masih gontai inilah anak muda tersebut segera melayang maju ke depan dan menyambar pinggang si gadis yang hampir roboh terjengkang ke tanah itu, kemudian tak sempat menggubris Ciu Lan, dia segera mengundurkan diri kearah belakang.
Semua gerakan tubuhnya dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tidak sempat terlihat bagaimana dia maju, tahu tahu semua orang menyaksikan dalam bopongannya sudah bertambah dengan seseorang.
Tampaknya tidak seorang manusia pun yang tahu dengan cara apakah dia telah menyelamatkan jiwa Pek leng siancu So Bwe leng dari ancaman bahaya maut.
Hian im li Ciu Lan lebih tertegun lagi, sepasang matanya sampai terbelalak lebar lebar dengan mulut melongo, untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa memandang kearah Thi Eng khi dengan wajah kebingungan dan tidak habis mengerti.
Sam ku sinni segera melayang kesisi tubuh Pek leng siancu So Bwe leng, kemudian dengan wajah serius katanya .
"Leng ji sudah terkena jarum Hiam im ciam, jarum Hiam im ciam amat beracun dan tiada obat penawarnya ...... aaaai, bagaimana baiknya sekarang?"
Thi Eng khi segera menotok jalan darah Ciang bun hiat, Thian keng hiat, Kay khong hiat, Jit kan hiat, Cu cing hiat, Kwa pang hiat, dan Kay khong hiat , tujuh buah jalan darah penting di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng.
Kemudian dari sakunya dia mengambil pil Kim khong giok leng wan dan menjejalkan tiga butir ke dalam mulut Pek leng siancu So Bwe leng.
Setelah menyerahkan kepada Sam ku sinni, katanya .
"Soal racun yang mengeram dalam tubuh adik Leng, kini sudah tak perlu dikuatirkan lagi, harap locianpwe berusaha untuk mencabut keluar jarum Hian im ciam tersebut dari luka mulut adik Leng. Boanpwe akan menghadapi sendiri siluman perempuan itu!"
Selesai berkata dia lantas menerjang ke hadapan siluman perempuan Ciu Lan dan berseru gusar .
"Hatimu kelewat kejam, aku tak bisa membiarkan manusia seperti kau tetap hidup di dunia ini."
Tidak menunggu sampai siluman perempuan Ciu Lan sempat memberikan jawabannya, dia segera turun tangan melancarkan sebuah totokan ke tubuh perempuan tersebut.
Sedemikian cepatnya serangan tersebut meluncur datang, ditambah lagi Hiam im li Ciu Lan berada dalam keadaan tidak bersiap sedia, dengan gugup dia lantas menyelinap ke samping untuk meloloskan diri.
Walaupun dia berhasil menghindari sergapan terhadap jalan darah Hian ki hiat nya tersebut namun kekuatan jari tangan nya itu toh sempat menghantam jalan darah Ngo li hiatnya juga.
Begitu lengannya terasa kesemutan, segenap kekuatan yang dimiliki pun menjadi punah, tak ampun lagi senjata Hian im kui jiu tersebut terlepas dari genggaman nya dan terjatuh ke tanah.
Berada dalam keadaan demikian, Ciu Lan tak berani memunggut kembali senjata Hian im kui jiu nya lagi, dengan gugup ia mengundurkan diri sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
Thi Eng khi amat membenci terhadap senjata tajam yang keji dan berbahaya itu, dengan gemas ia menginjak Hian im kui jiu tersebut keras keras, hawa murninya segera disalurkan lewat telapak kaki dengan maksud untuk menghancurkan senjata mana.
Dengan cepat dia dapat merasakan bahwa senjata Hian im kui jiu tersebut dari baja asli yang kuat sekali, pada hakekatnya sukar untuk dirusak.
Pada saat itulah, Hian im li Ciu Lan segera berpaling, melihat perbuatan pemuda tersebut, dia lantas mengejek sambil tertawa dingin .
"Hian im kui jiu merupakan senjata mustika dari perguruan kami, tak nanti senjata tersebut bisa dihancurkan dengan mengandalkan kekuatan luar, aku lihat lebih baik tak usah membuang tenaga dengan percuma lagi ...."
Ejekan mana sinis sekali, senyuman dan suara tertawanya juga amat menusuk pendengaran.
Thi Eng khi mendengus dingin, dia sama sekali tidak menggubris perkataan orang, ujung kakinya segera mencukil senjata Hian im kui jiu tersebut hingga mencelat setinggi tiga kaki lebih, lalu tangan kanannya menggapai dan senjata Hian im kui jiu tersebut tahu tahu sudah terisap kedalam genggamannya.
Setelah itu anak muda tersebut berpekik amat nyaring, ditengah pekikan mana, hawa murninya dikerahkan sampai mencapai dua belas bagian lebih .....
Begitu selesai bersuit, dengan wajah bersungguh sungguh serunya .
"Sekarang juga aku akan menghancurkan Hian im kui jiu tersebut, apabila aku tak mampu melakukannya, kalian boleh lewat dengan sekehendak hati sendiri!"
Hian im li Ciu Lan segera tertawa terkekeh kekeh dengan suara yang tinggi melengking dan amat tak sedap didengar.
"Heeehhhh.... heehhhhh..... heeehhh...... Toa ci, nampaknya waktu untuk kita tak akan akan terbengkalai!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi, sepasang tangannya segera mencengkeram senjata Hian im kui jiu tersebut kencang kencang, lalu sambil mengerahkan tenaga dalamnya ia tekuk senjata yang terbuat dari baja asli itu sehingga patah menjadi dua bagian, setelah membuang gagang senjata, dia segera mencengkeram senjata berbentuk telapak tangan setan itu dan ditekan dengan kedua belah telapak tangannya.
Di dalam waktu singkat, senjata tersebut telah berubah menjadi segumpal besi rongsokan.
Demonstrasi tenaga dalam yang demikian sempurnanya ini kontan saja membuat Hiam im ji li (dua wanita Hian im) menjadi pucat pias lantaran terperanjat, tanpa terasa peluh dingin pun jatuh bercucuran dengan amat derasnya.
Tentu saja ketua dari Siau lim pay dan ketua dari Bu tong pay yang tidak mengetahui sampai dimanakah kerasnya senjata Hian im kui jiu tersebut sama sekali tidak menunjukkan perasaan kaget yang luar biasa, mereka berdua hanya membungkam diri tanpa memberi komentar apa apa.
Selang sesaat kemudian, dua perempuan Hian im tersebut sudah berbisik bisik dengan suara lirih, nampaknya mereka sedang merundingkan situasi yang sedang dihadapi saat ini.
Menyusul kemudian Hian im li Cun Bwee mengebaskan ujung baju merahnya, empat puluh delapan orang lelaki perempuan itu segera melompat turun dari punggung kuda masing masing sembari meloloskan senjata tajam.
Sedangkan Hian im li Cun Bwee juga telah meloloskan sebuah senjata Hian im kui jiu.
Rupanya Hian im kui ji tersebut semuanya terdiri dari dua buah, oleh Hian im tee kun kedua senjata tersebut diberikan kepada dua orang perempuan tersebut seorang satu.
Kini Hian im li Ciu Lan telah berganti menggunakan ruyung lemas berwarna warni untuk menggantikan senjata Hian im kui jiu nya yang telah musnah.
Mendadak Hian im li Cun Bwee bersuit nyaring, keempat puluh delapan orang lelaki perempuan itu segera bergerak ke depan.
Empat lelaki empat perempuan berpisah membentuk satu regu dengan enam kelompok manusia yang terbagi bagi arahnya, mereka sama mendekati Thi Eng khi ......
Ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera membentak keras, dengan membawa Ngo heng ngo kay nya dia menyerbu ke hadapan Thi Eng khi, serunya kemudian .
"Saudara cilik, harap kau mundur selangkah, biar kami yang hadapi kerubutan mereka itu!"
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Thi Eng khi memandang sekejap wajah orang orang itu, kemudian sahutnya .
"Harap engkoh tua mundur, hari ini mereka datang untuk mencari gara gara dengan Thian liong pay, sudah sewajarnya bila siaute yang menghadapi mereka, apabila aku sudah tak mampu untuk mempertahankan diri saja kalian baru menggantikan kedudukanku ini. Sekarang, silahkan saja engkoh tua dan ciangbunjin berdua menjaga mereka semua, jangan sampai ada diantara mereka yang berhasil lolos dari bukit ini."
"Omitohud!"
Seru ketua Siau lim pay, Ci long taysu dari kejauhan sana.
"walaupun barisan Siau kiu tan goan tin dari kuil kami tak bisa dibandingkan ketangguhannya dengan barisan Lohan toa tin, namun pinceng percaya mereka tak akan mampu untuk menerjang keluar dari kepungan kita!"
Keng hian totiang, ciangbunjin dari Bu tong pay segera menyambung pula .
"Thi ciangbunjin tak usah kuatir, barisan pedang Jit seng kiam tin dari partai kamipun bersiap sedia untuk menciduk setiap orang yang berusaha kabur dari sini."
Dalam keadaan demikian, terpaksa pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po hanya bisa berpesan kepada Thi Eng khi .
"Kau harus berberhati hati!"
Kemudian dengan mengajak Ngo heng ngo kay mengundurkan diri ke posisinya semula.
Thi Eng khi segera mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im untuk menerjang ke muka, tidak menunggu lelaki perempuan anggota perkumpulan lawan menyerbu datang, dia sudah melakukan tindakan lebih dahulu dengan menerjang orang orang tersebut.
Gerakan tubuhnya amat cepat, diantara kelebatan tubuhnya, jari tangannya menyodok ke timur menotok ke barat, dengusan tertahan segera berkumandang silih berganti, tak selang beberapa saat kemudian kawanan lelaki perempuan itu sudah bertumbangan ke atas tanah.
Jangan toh memberikan perlawanan, untuk melihat jelas wajah musuhnya pun tak sempat, tahu tahu saja tubuh mereka sudah dirobohkan oleh Thi Eng khi.
Menyaksikan hal mana, sisanya menjadi ketakutan setengah mati dan bersama sama mengundurkan diri kebelakang tubuh kedua perempuan Hian im tersebut.
Thi Eng khi segera tertawa keras.
"Haahhhs..... haaahh..... haaahh..... kalau dengan mengandalkan kepandaian seperti inipun kalian ingin memperlihatkan kejelekan dihadapan Thian liong pay kami, hmm... apakah orang persilatan d dunia ini tak akan memandang rendah orang orang dari Ban seng kiong kalian?"
Padahal kedua orang perempuan Hian im itu tahu kalau keempat puluh delapan orang anggota mereka rata rata merupakan jagoan lihay yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan tapi berhubung jumlah mereka terlampau banyak dan kepandaian silat yang dimiliki tak mampu dikembangkan ditambah pula tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi amat sempurna, gerakan tubuhnya pun cepat bagaikan sambaran kilat, itulah sebabnya kemenangan berhasil diraih oleh si anak muda tersebut secara mudah.
Sementara itu, kedua orang perempuan Hian im tersebut sudah mulai menaruh perasaan bergidik terhadap Thi Eng khi.
Jangankan dibelakang Thi Eng khi sekarang masih terdapat sepuluh orang pendeta, sepuluh orang tojin, enam orang pengemis dan seorang nikou, sekalipun hanya Thi Eng khi seorang pun mereka lebih banyak berada di pihak yang kalah daripada menang.
Setelah berunding sebentar, mereka memutuskan untuk tidak mengundurkan diri dengan begitu saja.
Kedua orang perempuan Hian im tersebut segera menunjuk tujuh orang lelaki dan bersama mereka berdua, sembilan orang bersama sama terjun kearena untuk mengurung Thi Eng khi.
Kepandaian silat yang dimiliki dua orang perempuan Hian im tersebut pada dasarnya memang amat lihay ditambah pula tujuh orang lelaki itu merupakan jago pilihan, dengan membentuk barisan Hian im kiu ciat tin, mereka segera mengurung Thi Eng khi rapat rapat.
Thi Eng khi tentu saja tak perlu kuatir atau takut menghadapi ilmu barisan tersebut nanum dia dapat merasakan bahwa barisan yang dibentuk oleh kesembilan orang itu sekarang, sudah pasti jauh lebih lihay daripada kerubutan orang orang banyak tadi.
Ciu Lan, salah seorang dari dua perempuan Hian im tersebut segera menengok ke wajah Thi Eng khi, kemudian jengeknya .
"Thi ciangbunjin, apabila kau sanggup mengungguli ilmu barisan kami ini, hari ini kami semua akn segera menarik diri dari tempat ini!"
Sementara Cun Bwee segera memutar senjata Hian im kui jiu nya sebanyak tiga kali diatas kepala.
Kemudian dengan memimpin delapan orang lainnya, mereka mulai mengurung Thi Eng khi sambil berputar mengelilinginya.
Thi Eng khi segera mendengus dingin.
"Hmmm, aku justru kuatir kalau sampai waktunya, kalianlah yang tak mampu untuk meninggalkan tempat ini!"
Mereka sudah berputar sebanyak delapan lingkaran, pada saat berputaran yang kesembilan kalinya itulah barisan Hian im kui ciat tin akan segera mencapai pada puncak Kehebatannya, bila serangan dilepaskan pada saat itu maka kedahsyatannya tak akan terbendung oleh siapa saja.
Siapa sangka disaat itulah, mendadak dari kejauhan sana berkumandang seruan seseorang dengan suara yang tak begitu nyaring, tapi dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas .
"Thi sauhiap memiliki ilmu sakti Heng kian sinkang Cu sim ci cu Thio Biau liong, kalian semua bukan tandingannya, ayo cepat mundur semua!"
Berbareng dengan seruan mana, segera terlihatlah sesosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Thi Eng khi kuatir semua orang tidak mengetahui siapa gerangan manusia yang barusan menampakkan diri itu, maka menggunakan kesempatan tersebut segera teriaknya .
"Ooooh, rupanya Hian im Tee kun, telah berkunjung sendiri kemari, tak heran kalau dalam sekilas pandangan saja kau sudah mengenali asal usul dari sinkang yang kugunakan."
Hian im Tee kun segera mengawasi Thi Eng khi beberapa saat lamanya, kemudian tertawa terbahak bahak .
"Haaahh... haaahh.... haaahh... sudah seratus tahun lamanya lohu tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, sungguh tak kusangka dan hari ini bisa berjumpa dengan seorang yang secara dipaksakan masih dapat menandingi lohu!"
Walaupun perkataannya itu bernada sangat angkuh, jumawa dan amat tekebur, namun maksud yang sesungguhnya tak lain adalah mengangkat derajat Thi Eng khi dalam pandangannya.
Sepanjang perjalanan menuju ke utara Thi Eng khi sudah banyak mendengar tentang segala sesuatu mengenai Hian im tee kun tersebut dari mulut Sam ku sinni.
Diapun sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu sudah mencapai taraf yang luar biasa sekali, mungkin dikolong langit dewasa ini sulit untuk menemukan seorang manusia pun yang mampu untuk menandingi kehebatannya.
Thi Eng khi sendiri memang berbakat bagus, dia pun sudah cuci otot dengan mempergunakan empat macam obat mestika yang dicari oleh keempat orang paman gurunya terutama setelah berhasil mempelajari ilmu Heng kian sinkang, boleh dibilang seluruh manfaat obat mestika yang masih tersisa dalam tubuhnya telah terhisap dan termanfaat semua.
Semuanya itu masih ditambah lagi dengan ilmu sim hoat perguruan yang lihay, sehingga keberhasilan yang berhasil dicapainya sekarang, pada hakekatnya tidak diketahui dengan jelas oleh dirinya sendiri.
Hal ini tak bisa dikatakan ia bodoh, berhubung pelajaran itu diajarkan semasa ia masih muda, ditambah lagi kemajuan yang berhasil dicapainya pun diluar kemampuan orang biasa.
Hal ini pun yang membuat dirinya tak sanggup untuk mengenali kemampuannya sendiri.
Dengan perkataan dari Hian im Tee kun sekarang, maka tak salah lagi kalau dia telah menyamakan keberhasilan yang berhasil diraih Thi Eng khi sekarang sudah hampir menghadapi taraf kemampuan sendiri.
Thi Eng khi pribadi masih tidak terpengaruh oleh ucapan tersebut, namun sepuluh pendeta, sepuluh tosu, enam pengemis, seorang nikou dan Sam ciat jiu Li Tin tang serta pencuri sakti Go jit sekalian merasakan hatinya seperti terombang ambing di tengah awan, seolah olah pujian dari Hian im tee kun itu ditujukan kepada mereka.
Sebab kini mereka sudah tahu kalau dalam dunia persilatan, akhirnya muncul juga seseorang yang mampu untuk menandingi kemampuan Hian im Tee kun.
Berhadapan dengan manusia buas yang berilmu tinggi ini walaupun Thi Eng khi merasa hatinya sangat tegang, namun dia sama sekali tak berani gegabah, sekuat tenaga dia berusaha untuk menenangkan diri dan tak sampai membuat perhatiannya menjadi bercabang, setelah itu sahutnya dengan lantang .
"Terima kasih banyak atas pujianmu itu aku tak berani menerimanya...."
Kemudian sesudah berhenti sejenak, dengan wajah serius katanya lebih jauh .
"Cuma aku sama sekali tidak merasa bangga oleh pujianmu itu!"
Hawa amarah segera berkobar didalam dada Hian im Tee kun, namun amarah tersebut tak sampai diperlihatkan diatas wajahhya, memincingkan mata dan tertawa ujarnya .
"Belum pernah ada seorang pemuda yang berusia sebaya dengan kau berhasil mencapai tingkatan yang begini tinggi apalagi yang belum membuatmu merasa puas?"
"Apabila badai dan bencana yang mengancam dunia persilatan dapat kuhilangkan saat itulah aku baru merasa amat bangga!"
Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak sesudah mendengar perkataan itu.
"Haaahh.... haaahhh.... haaahhh.... agaknya pendapat seorang enghiong memang selamanya sama, apa yang menjadi cita cita Thi sauhiap tak lain adalah apa yang lohu pikirkan, apabila kita bersedia untuk bekerja sama, rasanya tak sulit untuk menghilangkan bibit bencana dari dunia persilatan, dengan demikian, bukankah apa yang kau harapkan pun akan segara tercapai?"
Apa yang dikatakan Hian im tee kun tersebut kedengaran masuk akal dan sulit sekali untuk dibantah.
Untuk sesaat lamanya Thi Eng khi menjadi termenung, ia sedang menyusun kalimat untuk membongkar maksud jahat Hian im Tee kun tersebut.
Siapa sangka pencuri sakti Go Jit salah mengira Thi Eng khi sedang mempertimbangkan tawaran dari Hian im Tee kun tersebut.
Sebagai seorang yang berasal dari Ban seng kiong, tentu saja dia cukup mengetahui akan rencana busuk Ban seng kiong untuk menguasai dunia persilatan.
Kuatir kalau Thi Eng khi termakan oleh bujukan lawan sehingga mengalutkan rencana dan merugikan dirinya sendiri, buru buru serunya dengan suara lantang .
"Thi ciangbunjin, kau jangan mau berkomplotan dengan harimau, apalagi mendengar bujuk rayunya!"
Mencorong sorot mata tajam dari balik mata Hian im Tee kun, ditatapnya wajah si pencuri sakti Go Jit tajam tajam, kemudian dengan gusar menegur keras .
"Kaukah yang bernama pencuri sakti Go Jit?"
Seperti apa yang diketahui, jumlah anggota yang bergabung dengan Ban seng kiong banyak sekali, meskipun pencuri sakti Go Jit merupakan seorang jago tua yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan, akan tetapi kedudukannya dalam istana tidak begitu penting, ia pun bukan seorang manusia yang mempunyai keahlian khusus.
Oleh sebab itu, ditinjau dari pertanyaan yang diajukan oleh Hian im tee kun tersebut bisa diketahui kalau jarak hubungan diantara mereka amat jauh, bahkan pemimpin dari Ban seng kiong ini tidak begitu mengenal dirinya.
Sewaktu sorot mata Pencuri sakti Go Jit saling berbenturan dengan tatapan mata dari Hian im Tee kun, tanpa terasa tubuhnya menjadi bergidik.
"Hamba.."
Mungkin disebabkan terpengaruh oleh kewibawaan Hian im Tee kun, maka tanpa disadari ia telah membahasai diri sebagai "hamba"
Kembali. Tapi begitu ucapan mana diutarakan, dia baru merasa kalau keadaan tidak benar, cepat cepat gantinya.
"Yaa, betul, akulah Go Jit!"
Dengan nada suara yang amat datar kembali Hian im Tee kun berkata .
"Kau adalah orang pertama yang berani berkhianat terhadapku semenjak pun Tee kun mendirikan Ban seng kiong, hmm... tampaknya nyalimu benar benar amat besar!"
Dibalik nada suara yang datar, lamat lamat terselip hawa napsu membunuh yang benar benar menggetarkan sukma.
Pencuri sakti Go Jit tak berani membantah, namun paras mukanya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Kembali Hian im Tee kun berkata sambil tertawa .
"Memandang diatas wajah Thi saubiap, pun Tee kun bersedia memberi pengampunan untuk kesalahanmu itu, sekarang ayo kembali ke samping Kiongcu berdua."
"Terima kasih atas budi kebaikan Tee kun!"
Sahut Pencuri Go Jit dengan suara gemeter.
Sungguh aneh sekali kalau dibicarakan, ternyata dia segera bergerak maju tanpa melawan, sama sekali beda dengan peringatan yang diberikan kepada Thi Eng khi tadi.
Sam ciat jiu Li Tin tang segera menarik lengannya sembari membentak keras .
"Saudara Go, jangan ke situ!"
Pencuri sakti Go Jit tertawa rawan.
"Inilah budi kebaikan yang dilimpahkan Tee kun kepada siaute, kalau tidak siaute bisa jadi akan terperosok dalam keadaan yang benar benar mengenaskan"
Hian im Tee kun yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa, sambungnya dengan cepat .
"Kau memang menurut sekali, nanti pun Tee kun bersedia untuk mempertimbangkan kembali akan kesalahan itu!"
Pencuri sakti Go Jit segera membalikkan badan dan menjura kepada sepuluh pendeta, sepuluh tosu, enam pengemis dan seorang nikou itu, lalu katanya .
"Go Jit hanya punya awal tak ada akhir, moga moga tak sampai mengecewakan kalian semua."
Kemudian dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke arah Hian im ji li berdiri. Thi Eng khi segera membentak dengan suara menggeledek .
"Asal jiwa ksatria mu masih tetap ada sekalipun diancam dengan golokpun tak perlu kuatir. Go tayhiap, apa yang kau takuti."
Pencuri sakti Go Jit menghentikan langkahnya, kemudian menyambut dengan perasaan kuatir .
"Kematianku seorang tak perlu disayangkan, tapi dengan demikian akan memancing datangnya bencana bagi semua sobat yang hampir di arena sekarang, itulah yang tidak dikehendaki oleh Go Jit!"
"Apa yang kau ucapkan tersebut sudah berada di dalam dugaanku, bila aku tak bisa turut membagi kesulitan dengan Go tayhiap buat apa aku menjadi sahabatmu selama ini."
Kalau didengar dari nada pembicaraannya, jelas dia sudah bertekad untuk menghadapi situasi macam apapun tanpa perasaan menyesal.
Pencuri sakti Go Jit benar benar merasa terharu sekali, menyusul kemudian dia pun menghela napas panjang.
"Aaaai, setelah Thi ciangbunjin berkata demikian, aku merasa semakin harus bagi diriku untuk pergi kesana!"
Selesai berkata, kembali dia beranjak pergi dari situ. Thi Eng khi menjadi melongo.
"Go tayhiap,"
Segera teriaknya.
"mengapa perkataanmu saling bertentangan satu sama lainnya? Aku benar benar dibikin kebingungan!"
Pencuri sakti Go Jit membuka mulutnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi dia pun segera merasa tidak seharusnya mengutarakan perkataan mana, akhirnya setelah mengurungkan niatnya, dengan membusungkan dada dia berjalan maju lebih jauh.
Hian im tee kun segera memanggil si pencuri sakti Go Jit, kemudian katanya .
"Pun Tee kun mengijinkan kepadamu untuk mengungkapkan peraturan dari istana kita kepada Thi sauhiap!"
Dengan suara lantang pencuri sakti Go Jit segera berseru .
"Peraturan ke lima dari Ban seng kiong berbunyi . Barang siapa berani berkhianat terhadap istana, bila tertangkap maka dia akan dijatuhi hukuman berat Ban ciat lun hui, apabila dia tak mau menyerah dan mencoba untuk melarikan diri maka segenap sahabat baiknya akan turut dijatuhi hukuman tersebut."
Jilid 32 Dari ucapan mana bisa disimpulkan bahwa bukan orang yang berkhianat saja yang akan dijatuhi hukuman mati, bahkan semua orang yang berada bersamanya akan turut mengalami nasib tragis yang sama.
Selesai membacakan pasal peraturan itu, dengan wajah yang amat sedih si pencuri sakti Go Jit berkata lebih jauh .
"Aku si pencuri tua tak ingin menyusahkan rekan-rekan sekalian, harap kalian sudi memaafkan!"
Kembali dia melanjutkan perjalanannya kearah Hian im ji li berdua.
Thi Eng khi tahu kalau keputusan tersebut terpaksa diambil oleh pencuri sakti Go Jit demi keselamatan rekan rekannya, apalagi setelah menyaksikan keteguhan hatinya itu, anak muda tersebut sadar bahwa rekannya ini tak mungkin bisa dibujuk dengan sepatah dua patah kata saja apalagi saat itu memang tiada banyak waktu untuk mengajaknya banyak berbicara, maka sambil tertawa terbahak bahak katanya .
"Haaahhh. ..haaahhh....haaahhh.... Go tayhiap, selama aku Thi Eng khi masih berada di sini, jangan harap rencanamu untuk mengorbankan diri bisa terwujud seperti apa yang kau inginkan!"
Belum selesai dia berkata, tampak bayangan manusia berkelewat lewat, tahu tahu pencuri sakti sudah kena dicengkeram oleh Thi Eng khi dan dilemparkan kearah Keng it totiang dari Bu tong pay.
"Harap lindungi keselamatan Go tayhiap dengan barisan Jit seng kiam tin perguruan kalian!"
Selesai berkata, dia sudah melayang balik ketempat semula.
Hian im Tee kun sama sekali tidak berkutik dari posisinya semula meskipun dia menyaksikan Thi Eng khi mencengkeram orang dan dilemparkan kedalam barisan Jit seng kiam tin.
Menanti si anak muda itu sudah balik kembali ke tempatnya semula, dia baru berkata sambil tertawa .
"Patung lumpur hendak menyeberang jalan, untuk melindungi keselamatan sendiri pun tak mampu, masih ingin menyelamatkan jiwa orang ..... Hmmm! Thi sauhiap, apakah kau tidak kuatir kalau tindakanmu itu akan menimbulkan bencana bagi orang orang Siau lim pay dan Bu tong pay?"
Mendengar perkataan tersebut, Thi Eng khi menjadi tertegun, kemudian pikirnya .
"Kalaupun aku sendiri tidak memikirkan persoalan ini, memang tidak seharusnya menyeret orang lain dalam keadaan seperti ini. Yaa, tindakan yang kuambil sekarang memang kelewat ceroboh!"
Perasaan menyesal segera timbul dalam hati kecilnya, baru saja dia akan berpaling untuk minta maaf kepada rekan rekan dari Siau lim pay dan Bu tong pay, mendadak terdengar Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay sudah terkata dengan ilmu menyampaikan suara.
"Suatu persahabatan sejati tidak memperhitungkan soal untung rugi, apalagi musuh tangguh berada didepan mata sekarang, harap Thi ciangbunjin jangan memecahkan perhatian sehingga situasi kena ditunggangi musuh."
Dari ucapan mana sudah jelas terdengar kalau mereka semua siap sedia untuk menghadapi bencana bersama sama, disamping memperingatkan kepada Thi Eng khi untuk meningkatkan kewaspadaannya.
Thi Eng khi menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia berusaha untuk menenangkan pikirannya, kemudian menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, setelah itu dengan sikap tak acuh katanya sambil tertawa hambar .
"Aku tidak kuatir untuk menghadapi banyak persoalan, lihat saja nanti akan hasilnya."
Hian im Tee kun betul betul gusar sekali, namun diluar dia tetap bersikap lembut dan lunak, kembali dia berkata .
"Thi ciangbunjin memang seorang enghiong hohan, pun Tee kun paling suka dengan pemuda seperti kau, lebih baik tak usah kita bicarakan lagi tentang masalah yang memuakkan hati itu, bagaimana kalau kita berbincang kembali dari awal untuk mencoba menjajaki suatu kerjasama diantara kita berdua?"
Dengan cepat Thi Eng khi menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tiada persoalan yang dibicarakan lagi diantara kita berdua, aku bersedia menerima petunjuk dari Tee kun!"
Meledaklah amarah dalam hati Hian im Tee kun, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahhh.... haaahhh... haaahhh.... kau, kau...., kau anggap kepandaian yang kau miliki itu sudah mampu untuk menandingi pun Tee kun? Pada seratus tahun berselang pun Tee kun sudah pernah mencoba kehebatan dari ilmu Heng kian sinkang tersebut akhirnya yang mampus bukan pun Tee kun melainkan pihak lawan. Huuuh, dengan mengandalkan hasil latihanmu selama dua puluh tahun, sekalipun balik pada seratus tahun berselang pun paling banter hanya bisa bertarung seimbang denganku, tapi hari ini .... hmmm, kuanjurkan kepadamu, lebih baik janganlah keblinger oleh kata kata pujianku tadi sehingga tak tahu diri!"
Paras muka Thi Eng khi berubah pula menjadi amat serius, katanya dengan wajah bersungguh sungguh .
"Selama kebenaran berada ditanganku, tak akan kuhindari semua kenyataan yang ada, sekalipun harus mempertaruhkan selembar jiwa pun. Kini hanya sebuah jalan yang bisa kita tempuh, yakni kalau bukan kau yang mampus, akulah yang binasa."
Seusai berkata, dia memandang sekejap ke arah dua orang perempuan Hian im tersebut, lalu terusnya .
"Mereka semua bukan tandinganku, apabila Tee kun merasa jeri untuk melangsungkan pertarungan, aku pun bersedia untuk memberi kelonggaran dengan memberi kesempatan bagi kalian pada hari ini untuk kembali ke istana Ban seng kiong."
Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Hian im Tee kun segera lenyap tak berbekas, serunya cepat .
"Kau benar benar seorang manusia yang tak tahu diri, aku akan mengalah tiga jurus untukmu!"
Dengan cepat Thi Eng khi melepaskan tiga pukulan ke tengah udara, lalu menyahut .
"Mengingat usiamu sudah lanjut, tiga jurusmu itu sudah kuterima....."
Bayangan tubuh berkelebat, dia sudah menerjang ke depan, pedang Thian liong kim kiamnya dicabut keluar dan menggunakan jurus Tiang hong koan jit (pelangi panjang menutupi matahari) langsung menusuk jalan darah Hu ciat hiat di lambung Hian im Tee kun.
Menghadapi musuh yang demikian tangguhnya ini, Thi Eng khi masih belum mengerti apakah kemampuannya sanggup untuk menghadapi lawan atau tidak, maka dia tak berani bertindak gegabah.
Untung saja dia berusia lebih muda daripada musuhnya sehingga tak usah lagi menjaga nama dan kedudukan, itulah sebabnya begitu turun tangan dia lantas mencabut keluar pedang Thian liong kim kiamnya.
Maju sembari mencabut pedang, berkelebat sambil melancarkan serangan, keempat gerakan itu dilakukan berbarengan waktunya, membuat orang tak sempat untuk melihat jelas gerakan tersebut.
Seandainya musuhnya bukan Hian im Tee kun mungkin jarang sekali ada yang mampu untuk menyambut serangannya itu.
Sebab gerakan tubuhnya terlampau cepat bagaikan sambaran petir saja, tahu tahu ujung pedangnya sudah berada dua inci saja diatas jalan darah Hu ciat hiat dari Hian im Tee kun.
Hian im Tee kun memang bukan manusia sembarangan, menyaksikan datangnya tusukan pedang Thian liong kim kiam dari Thi Eng khi tersebut, dia segera tertawa dingin kemudian jengeknya .
"Gerakan tubuhnya mah cukup bagus, sayang sekali dalam pandangan pun Tee kun hal itu masih belum terhitung seberapa!"
Dia segera membalikkan telapak tangan kirinya dan menggunakan sisi telapak tangannya dia sambut datangnya ancaman pedang dari Thi Eng khi tersebut.
Segulung tenaga pukulan yang amat kuat dengan cepat menggerakkan pedang Thi Eng khi sehingga miring ke samping dan menusuk ke tempat yang kosong disamping kanan pinggangnya.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Thi Eng khi harus melayang pergi dari situ.
Hian im Tee kun sama sekali tidak berkutik, tapi nyatanya dia telah berhasil meloloskan diri dari serangan pertama Thi Eng khi.
Di dalam bentrokan mana, Thi Eng khi memang tidak berniat untuk melakukan tindakan untung untungan, kegagalannya untuk menusuk tubuh Hian im Tee kun juga sudah berada dalam dugaannya semula, maka dia tidak merasa apa apa.
Hanya disadari bahwa kesempurnan tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun benar benar mengerikan sekali.
Berbeda sekali dengan apa yang dirasakan oleh Hian im Tee kun, walaupun ia sudah tahu kalau Thi Eng khi memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, toh dia masih menilai musuhnya terlampau rendah.
Dia tidak menyangka kalau kelihayan si anak muda itu jauh diatas apa yang di duganya semula, bahkan dengan dia sendiri pun tidak terpaut banyak, bayangkan saja bagaimana mungkin hatinya tidak merasa terperanjat sekali?
Sekarang, dia sudah tak berani bertindak secara gegabah lagi, sembari memutar sepasang telapak tangannya, dia berseru .
"Nah, kau pun boleh mencoba kelihayan dari pun Tee kun!"
Bahu tanpa bergoyang, badan tanpa bergerak, entah dengan cara bagaimana dia bergerak, tahu tahu sudah mendesak kehadapan Thi Eng khi, bahkan telapak tangan nya segera diayunkan ke depan langsung menghantam keatas dada si anak muda itu.
Serangan mana dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tidak membawa desingan suara, namun keganasan dan kelihayan benar benar luar biasa.
Thi Eng khi yang lihay segera dapat menangkap bahwa serangan kilat tersebut meski disertai dengan angin pukulan yang dahsyat tapi yang berbahaya justru adalah deru angin dingin yang menusuk tulang dibalik ancaman mana.
Thi Eng khi tak berani menghadapi ancaman tersebut secara gegabah, hawa murninya segera dihimpun dari Tan tian untuk melindungi seluruh rongga dadanya agar hawa dingin itu tak sampai menyusup kedalam tubuhnya.
Setelah itu dia berputar cepat menggunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang disertai dengan gerakan Thian liong coan sin, tangan kirinya dari serangan pukulan berubah menjadi serangan cakar untuk mencengkeram pergelangan tangan lawan, sementara pedang Thian liong kim kiam ditangan kanannya menyapu keluar dengan jurus Tha yang jut seng (matahari baru terbit).
"Sebuah serangan yang sangat bagus!"
Seru Hian im Tee kun sambil tertawa seram.
Sepasang telapak tangannya segera berputar, dalam waktu singkat telapak tangan maupun pedangnya sudah melancarkan tiga belas jurus serangan dahsyat.
Dalam pada itu, jarum Hian im ciam yang bersarang ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng telah berhasil diangkat keluar oleh Sam ku sinni, apalagi telah menelan pil Kim Khong giok lek wan pemberian Thi Eng khi, pada hakekatnya racun keji tersebut berhasil dipunahkan dan keselamatan jiwanya juga tidak terancam lagi.
Setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, gadis itu telah menjadi segar kembali.
Ketika dia membuka matanya dan menyaksikan Thi Eng Khi sedang bertarung melawan seorang kakek berjubah hijau, bahkan pihak lawan dengan mengandalkan tangan kosong telah berhasil menahan serangan pedang Thian liong kim kiam dari Thi Eng khi, dengan perasaan terperanjat pemudi ini menjerit lengking .
"Suhu, siapakah dia? Begitu sempurna tenaga dalam yang dimilikinya .....!"
Sam ku sinni segera mencegah Pek leng siancu So Bwe leng untuk berteriak serunya .
"Leng ji, jangan keras keras! Hati hati kalau sampai memecah perhatian dari Thi sauhiap, orang itu adalah Hian im Tee kun!"
Pek leng siancu So Bwe leng menarik napas dingin, dia mengenggam tangan sendiri kencang kencang dan mengikuti jalannya pertarungan itu dengan melotot, saking tegangnya dia sampai tak mampu bernapas.
Bukan cuma gadis itu saja, bahkan semua jago yang mengikuti jalannya pertarungan itupun seakan akan melupakan keselamatan sendiri, seluruh perhatian mereka telah dicurahkan ketengah arena dan menonton jalannya pertarungan dengan hati berdebar.
Dalam pemunculannya yang terakhir di dalam dunia persilatan, semua orang memang sudah tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Thi Eng khi telah memperoleh kemajuan yang amat pesat tapi sampai dimanakah kemajuan tersebut, orang masih bertanya tanya dalam hati.
Sekarang orang baru tahu kalau pemuda itu amat tangguh, terutama sekali dalam pertarungannya melawan Hian im Tee kun, baik serangan maupun pertahanan di luar secara bagus sekali, bahkan kekuatan serangan yang dipergunakan juga dahsyat, ditinjau dari keadaannya sekarang, sudah jelas kalau kekuatan mereka berdua seimbang.
Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng yang menjumpai hal ini benar benar merasa gembira serta memuji tiada hentinya.
Apalagi Sam ciat jiu Li Tin tang, saking terharunya air mata sampai jatuh bercucuran dengan derasnya.
Di tengah pertarungan, tampak kedua orang yang sedang bertarung cepat itu, sekarang mulai melambankan gerakan masing masing dan saling mundur sejauh satu kaki lebih, gerakan yang digunakan pun amat lamban.
Pertarungan jarak jauh ini sepintas lalu tampak seperti mainan saja, sedikitpun tak nampak berbahaya.
Padahal pertarungan itu sudah meningkat pada tahap yang paling berbahaya, mati hidup mereka berdua justru akan ditentukan dari hasil pertarungan ini.
Waktu itu, pedang Thian liong kim kiam dari Thi Eng khi sedang diputar sembari melakukan tusukan, serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata segera memancar keluar dari balik ujung pedang itu dan langsung menyerang ke hadapan Hian im Tee kun.
Sebaliknya Hian im Tee kun mengerahkan tenaganya tanpa menimbulkan sedikit suarapun, akan tetapi ditengah udara secara lambat lambat terlihat selapis hawa berwarna hijau keputih putihan yang menggulung kemuka.
Tampak kedua belah pihak sudah meningkatkan pertarungan itu menjadi suatu pertarungan beradu tenaga dalam.
Tampak Sam ciat jiu Li Tin tang menjerit kaget bercampur gembira, kemudian sambil menari nari gumannya .
"Aaaah.... aaah.... ini dia jurus Jit tin tiong thian (Matahari tepat di tengah angkasa) dari Thian liong kiam hoat, ternyata dia telah berhasil mencapai ke tingkatan melukai orang dari seratus langkah .... Oooh, mungkin suhu dia orang tua pun akan merasa kagum setelah menyaksikan peristiwa ini."
Menyusul kemudian sambil menghela napas panjang terusnya .
"Aaai..... iblis tua ini memang sangat lihay, dengan ilmu Jit tin tiong thian yang begitu hebat pun ternyata tak mampu untuk melukai dirinya!"
Perlu diketahui dalam hal tenaga dalam Thi Eng khi telah memperoleh kemajuan berkat ilmu Heng Kian sin kang peninggalan Cu sim ci cu Thio Biau liong tapi berhubung waktu yang amat singkat, hal ini membuat pemuda tersebut belum berhasil menemukan kepandaian kepandaian lain di balik ilmu tersebut.
Tapi berhubung dia pintar, maka ilmu Heng kian sinkang tersebut telah dileburnya menjadi satu dengan ilmu Sian thian bu khek ji gi sin kang dari Thian liong pay sehingga kekuatannya menjadi makin bertambah.
Akan tetapi, dalam setiap pertarungan yang berlangsung, dia belum dapat memisahkan diri dari ilmu silat aliran Thian liong pay serta ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang ......
Berbicara soal tenaga dalam, Thi Eng khi memang masih kalah dengan Hian im Tee kun, tapi berhubung dia mengandalkan Thian liong kim kiam yang memancarkan hawa pedang untuk melawan Hian im Tee kun yang bertangan kosong, maka untuk sementara waktu perlawanan masih bisa diberikan secara ketat.
Dalam waktu singkat, kedua belah pihak telah bertarung sampai duaratus gerakan lebih.
Meski dua ratus gerakan sudah lewat, kenyataannya Hian in Tee kun belum juga berhasil menguasai keadaan sebaliknya Thi Eng khi dengan cahaya emas melingkari tubuhnya, selalu berhasil mengimbangi musuhnya tanpa memperlihatkan gejala akan kalah.
Padahal Hian im Tee kun adalah seorang jagoan yang menganggap dirinya nomor wahid dikolong langit, dengan kedudukan dan kemampuan yang dimilikinya, jangankan kalah ditangan Thi Eng khi, sekalipun bertarung dalam keadaan seimbang pun sudah cukup membuat dia kehilangan muka.
Tentu saja diapun dapat mengetahui kalau alasan yang menyebabkan Thi Eng khi tidak sampai kalah adalah tajamnya pedang Thian liong kim kiam tersebut.
Sekalipun begitu, diapun merasa rikuh dan malu untuk mencabut senjata tajamnya dalam keadaan seperti ini.
Apalagi didalam perjalanannya kali ini menelusuri dunia persilatan, dia selalu menganggap ilmu silatnya tiada tandingan dikolong langit sehingga senjata andalannya Hian im kui jin telah diserahkan kepada Hian im ji li.
Maka walaupun dia tidak kuatir ditertawakan orang pun, tak mungkin baginya untuk mencabut senjatanya lagi.
Keadaan yang membuatnya kehilangan muka ini kontan saja membangkitkan kemarahan yang luar biasa dari gembong iblis tersebut, dia mulai berpekik dengan kerasnya mengikuti pergolakan emosi yang membara dalam dadanya, paras mukanya pun berubah dari putih menjadi hijau, lalu dari hijau berubah menjadi merah, kini dia sudah mengerahkan tenaga dalam Hian im ceng lek nya hingga mencapai dua belas bagian.
Thi Eng khi ibaratnya anak macan yang baru turun gunung, dia tidak jeri barang sedikit pun menghadapi lawannya, setelah mempunyai pengalaman bertarung sebanyak dua ratus gebrakan, rasa jeri yang semula mencekam dadanya, lambat laun berhasil dikendalikan kembali.
Maka sewaktu dilihatnya paras muka Hian im Tee kun telah berubah hebat, sadarlah dia kalau pihak lawan sudah bersiap siap untuk mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk membunuh dia.
Pemuda ini cukup tahu diri, ia mengerti kemampuannya untuk bertahan sebanyak dua ratus gebrakan pun boleh dibilang telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, kalau dibilang apakah dia masih mampu untuk membendung serangan Hian im Tee kun yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu, rasanya harapan mana tipis sekali.
Walaupun tahu kalau bukan tandingan lawan, apakah dia harus menyerah kalah dengan begitu saja?
Tidak!
Thi Eng khi bukan seorang manusia yang gampang menyerah dengan begitu saja, dia mempunyai tekad yang amat teguh dan niat yang tak akan berubah sekalipun tak akan mampu menahan serangan dari Hian im Tee kun, dia tetap akan memberikan perlawanan dengan sekuat tenaga.
Apabila dipaksakan suatu pertarungan yang berakibat sama sama terluka, tentu saja hal ini lebih baik lagi kalau tidak dia pun harus merontokkan kewibawaan dan rasa percaya pada diri sendiri dari lawannya, sehingga dengan begitu, pengorbanannya menjadi sama sekali tidak sia-sia.
Maka dia pun mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya hingga mencapai pada puncaknya.
Namun justru karena dia sudah mempunyai tekad untuk memaksa musuhnya sama sama terluka, maka sewaktu mengerahkan tenaga dalam pun dia dapat mengatur tenaganya secara tepat.
Atau dengan perkataan lain, dia berusaha untuk melukai musuhnya separah mungkin dan menghindarkan diri dari luka yang seringan mungkin sehingga tak sampai Kehilangam nyawa.
Kini, kedua belah pihak sama sama telah menghentikan pertarungan, empat mata saling bertatap pandang, mulut membungkam, badan tak berkutik, tapi begitu bergerak maka sudab pasti akan terjadi suatu pertarungan yang amat luar biasa.
Sam ku sinni segera dapat menangkap situasi yang tidak beres maka dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, dia berbisik kepada ketua Siau lim pay, ketua Bu tong pay dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po.
"Pertempuran yang berlangsung saat ini sangat berpengaruh atas nasib dunia persilatan dimasa mendatang, menurut pendapat pinni, walaupun tenaga dalam yang dimiliki Thi sauhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, namun apabila diadu dengan gembong iblis tua tersebut maka dia masih kalah dalam pengalaman, pinni kuatir segala sesuatunya akan berlangsung di luar dugaan. Sekarang aku minta kepada ciangbunjin berdua dan Cu pangcu untuk melepaskan pikiran kalian untuk mencegah larinya musuh, cepat himpun segenap kekuatan yang ada ikuti gerakan dari pinni. Bilamana perlu kita harus mengorbankan diri, yang terpenting adalah selamatkan Thi sauhiap dari ancaman bahaya!"
Ketua Siau lim pay, ketua Bu tong pay dan Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera mengiakan, mereka tahu bila usaha mereka untuk menyelamatkan Thi Eng khi gagal, maka segenap kekuatan mereka akan tumpas disini pada hari ini juga.
Menyusul kemudian barisan Siao kit tan goan Lo han tin dari Siau lim pay dan Jit seng kiam tin dari Bu tong pay dan Ngo heng ngo kay dari pihak Kay pang bersama sama mengikuti Sam ku sinni untuk merapat ke belakang tubuh Thi Eng khi.
Tiba tiba Pek leng siancu So Bwe leng bertanya kepada Sam ku sinni dengan suara lirih .
"Suhu, mengapa kau nampak kegitu tegang?"
Sekalipun Pek leng siancu So Bwe leng memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, namun berhubung kekurangan pengalaman, maka dia masih belum dapat menyaksikan ancaman bahaya maut yang berada didepan mata.
Dengan ilmu menyampaikan suara, Sam ku sinni segera memperingatkan kepada Pek leng siancu So Bwe leng .
"Leng ji, apabila terjadi sesuatu yang di luar dugaan dalam pertarungan nanti, bawa tubuh Thi Eng khi dan menyelamatkannya dari sini merupakan tugasmu."
Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan pula betapa seriusnya situasi yang mereka hadapi, maka dengan ilmu menyampaikan suara pula, dia segera bertanya .
"Bagaimana dengan kalian?"
"Kau tak usah mencampuri urusan kami, pokoknya kau harus ingat, menyelamatkan Thi sauhiap berarti menyelamatkan seluruh umat persilatan dari ancaman bahaya maut, asal Thi sauhiap bisa hidup, sekalipun kau sendiri harus mengorbankan diri juga tak mengapa, pokoknya yang paling penting dia harus tetap hidup."
"Suhu, kau tak usah kuatir"
Sahut Pek leng siancu So Bwe leng dengan kening berkerut.
"bagi anak Leng, aku dan engkoh Eng hanya terdiri dari selembar nyawa!"
"Bagus sekali! Kau...."
Belum sempat Sam Ku sinni menyelesaikan perkataannya, terdengar Hian im Tee kun sudah membentak keras .
"Bocah keparat, lihat serangan!"
Mendadak tubuhnya meluncur ketengah angkasa setinggi dua kaki enam tujuh depa lalu dengan gerakan Cong eng phu toh (burung elang menubruk kelinci) dengan membawa segulung hembusan angin dingin menerkam keatas kepala Thi Eng khi, pada saat itulah sepasang telapak tangannya baru didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang mengerikan sekali keadaannya.
Disaat Hian im Tee kun dengan gerakan burung elang menubruk kelinci, Thi Eng khi telah membuang pedang Thian liong kim kiamnya ke samping kiri dimana tak nampak manusia, lalu dengan telapak tangan kosong menyongsong datangnya serangan maut itu.
Thi Eng khi tahu kalau tenaga dalamnya sukar untuk melawan serangan dari Hian im Tee kun yang dilepaskan dengan sepenuh tenaga itu, apalagi baru saja dia membuang pedangnya dengan mempergunakan ilmu pedang terbang, halmana membuat tenaganya untuk membela diri semakin bertambah lemah.
Tapi Thi Eng khi tidak merasa gentar, dengan suatu tekad yang membawa kecerdasan dan keberanian yang luar biasa, sambil mengerahkan tenaganya untuk melindungi jantung, dia pun turut melejit ke udara menyambut datangnya tubrukan dari Hiam im Tee kun tersebut, bahkan kehebatannya sama sekali tak kalah jika dibandingkan dengan gerakan Hian im Tee kun tersebut.
Sewaktu dua sosok bayangan manusia itu saling membentur ditengah udara, dua gulung kekuatan yang maha hebat pun segera saling membentur satu sama lainnya.
Thi Eng khi mendengus tertahan dan terjatuh kembali ke tanah, sepasang kakinya menancap sampai sedalam beberapa depa, wajahnya berubah dari hijau menjadi merah darah, tapi sekulum senyuman dingin masih tetap menghiasi ujung bibirnya, sehingga hal ini membuat orang tak bisa menduga apakah luka yang dideritanya itu berat atau ringan.
Hian im Tee kun juga segera memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan.
Disaat Thi Eng khi melayang turun ke tanah dalam keadaan terluka dan Hian im tee kun baru saja tertawa seram inilah, pedang Thian liong kim kiam yang dilontarkan Thi Eng khi ke arah sebelah kiri itu sudah berputar satu lingkaran ditengah udara dan menyambar datang dari arah belakang tubuh Hian im Tee kun.
Belum habis Hian im Tee kun tertawa seram, tubuhnya sudah terpercik darah segar ia segera berpekik seram, dengan jurus Im li huan sin (membalikkan badan di tengah mega) melayang balik keposisinya semula.
Ketika telapak tangan kirinya diperiksa, darah sudah membasahi seluruh lengannya ternyata lengan itu sudah terpapas hilang separuh bagian.
Sementara itu pedang Thian liong kim kiam itu pun sudah melayang kembali ke tangan Thi Eng khi.
Dengan tangan kanannya Hian im Tee kun menotok jalan darah di tangan kirinya untuk menghentikan aliran darah dan rasa sakitnya, awan hitam seakan akan menyelamati seluruh wajahnya, sambil memperdengarkan suara tertawa dingin yang mengerikan selangkah demi setangkah dia berjalan mendekati Thi Eng khi.
Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng sekalian berada dibelakang Thi Eng khi kontan saja menjadi kacau balau tak karuan, mereka segera melaksanakan rencana semula dan bersama menerjang ke depan, yang bertugas menghadang musuh segera menghadang musuh dan menolong orang.
Siapa tahu pada saat itulah Thi Eng khi membentak keras.
"Berhenti!"
Suaranya amat nyaring dan penuh dengan hawa murni, ternyata keadaannya tidak mirip dengan orang yang sedang terluka parah.
Mendengar bentakan tersebut, tanpa terasa Sam ku sinni sekalian segera menghentikan langkah masing masing dna berkumpul kembali di belakang Thi Eng khi.
Hian im Tee kun juga kelihatan tertegun, rasa kaget menyelimuti wajahnya, ternyata dia tak berani maju lagi.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi Eng khi, dengan gagahnya dia berdiri dengan pedang Thian liong kim kiam ditangan lalu sambil menuding ke arah Hian im Tee kun, bentaknya .
"Iblis jika kau berani maju selangkah lagi aku akan menggunakan sisa kekuatan yang kumiliki untuk beradu jiwa denganmu?"
Paras muka Hian im Tee kun berubah berulang kali, tampaknya dia dibikin keder juga oleh keangkeran Thi Eng khi sehingga rasa percaya pada dirinya sendiri menjadi goyah.
Apalagi setelah menyaksikan telapak tangan kirinya yang terpapas separuh oleh bacokan pedang Thian liong kim kiam tersebut, dia nampak semakin ragu ragu lagi.
Akhirnya dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
"Haaahh...... haaahhh.... haaahhhh.... sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mampu menerima seranganku dengan sepenuh tenaga, beruntung sekali kau tak sampai mampus. Dengan kedudukan lohu sekarang, masa aku akan turun tangan lagi kepadamu? Hari ini aku mengampuni jiwamu, setiap saat kunantikan kedatanganmu di istana Ban seng kiong, saat itulah kita boleh menentukan lagi siapa yang lebih jagoan diantara kita."
Selesai berkata, dia lantas melompat naik keatas sebuah kuda kosong dan perintahnya kepada Hian im ji li .
"Memandang diatas wajah Thi sauhiap panggil kembali empat toa tongcu, kita urungkan dulu masalah Thian liong pay!"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Hian im ji li melompat pergi meninggalkan tempat itu.
"Ayo berangkat!"
Hian im Tee kun segera membentak keras sambil mengebaskan ujung bajunya.
Debu beterbangan keangkasa, Hian im Tee kun diiringi para begundalnya segera berlalu dari situ.
Thi Eng khi masih tetap berdiri tegap bagaikan bukit karang, mendadak saja paras mukanya berubah menjadi kaku, lalu terlihat darah kental mengucur keluar dari bibirnya dan mengotori pakaian yang dikenakan...
Menanti Hian im Tee kun sudah pergi jauh, semua orang baru menghembuskan napas panjang, mereka segera berpaling dan siap siap memberi hormat kepada Thi Eng khi.
Akan tetapi setelah menyaksikan keadaan dari Thi Eng khi tersebut semua orang baru merasa terperanjat dan tercengang sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka membungkam dalam seribu bahasa.
"Engkoh Eng, kenapa kau?"
Teriak Pek leng siancu So Bwe leng sambil menubruk tubuh Thi Eng khi.
Begitu tubuh Thi Eng khi kena ditubruk oleh Pek leng siancu So Bwe leng, pedang emasnya segera terlepas dari cekalan dan terjatuh ke atas tanah, tubuhnya turut terjengkang pula kebelakang dan roboh ke atas tanah.
Untung Sim ku sinni bertindak cepat, dia segera menyelinap kedepan dan menyanggah badannya, kemudian setelah memeriksa sebentar denyutan nadinya dia berkata .
"Dengan luka dalam yang parah rupanya Thi sauhiap telah mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki untuk membuat kabur Hian im Tee kun, tapi justru gara gara perbuatan itu, dia telah melenyapkan harapan sendiri untuk melanjutkan hidup, pengorbanan ini benar benar mengagumkan dan patut dikagumi."
"Uhu ....."
Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru dengan amat sedih.
"Kau mengatakan engkoh Eng akan..... akan pergi? Aku ....aku ....."
Belum habis berkata, dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
Sam ku sinni harus menahan tubuh Thi Eng khi, maka melihat Pek leng siancu So Bwe leng jatuh tak sadarkan diri, dia menjadi gelisah sampai mendepak depakkan kakinya berulang kali sambil mengomel panjang lebar .
"Thi sauhiap belum lagi putus nyawa, bocah ini sudah tak mampu menahan diri. Aaaai.... benar benar keterlaluan."
Padahal dia sama sekali tidak menyangka kalau beberapa patah katanya tadi betul betul membuat kecewanya hati orang. Sam ciat jiu Li Tin tang segera menerima tubuh Thi Eng khi sembari berkata .
"Harap locianpwe menyadarkan nona Leng lebih dahulu, kemudian kita baru berupaya untuk merundingkan pertolongan ini dengan para ciangbunjin ...."
Sam ku sinni memandang sekejap kearah Thi Eng khi kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali dengan perasaan sedih, akhirnya dia menyingkir untuk mengurusi Pek leng siancu So Bwe leng.
"Omitohud!"
Ci long taysu, ciangbunjin dari Siau lim pay memuji keagungan Sang Buddha.
"Ci kay sute, kau segera pulang ke bukit Siong san dan bawa pil Tay tham wan yang terakhir menuju ke gedung Bu lim tit it keh!"
"Baik!"
Sahut Ci kay taysu dengan cepat.
Dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Sementara itu Keng hian totiang, ketua dari Bu tong pay telah mengeluarkan sebuah botol porselen dan mengambil sebutir pil berwarna hijau, sambil diletakkan di atas telapak tangannya, ia berkata .
"Pil ini merupakan pil Ci kim wan dari partai kami, harap Li tayhiap segera memasukkan ke dalam mulut Thi ciangbunjin!"
Sam ciat jiu Li Tin tang menjadi girang sekali sesudah mendengar perkataan itu, segera ujarnya .
"Ci kim wan merupakan pil mestika, pil pelindung nyawa bagi ciangbunjin partai kalian, bagaimana.... bagaimana, mungkin partai kami.... boleh.... boleh menerimanya!"
Sekalipun dimulut ia berkata demikian, namun toh segera membuka geraham Thi Eng khi untuk menjejalkan obat tersebut ke dalam mulut pemuda itu.
Perlu diketahui, pil Ci kim wan merupakan obat mestika yang tiada nilainya bagi aliran Bu tong pay, sekalipun daya kerja obat tersebut tak bisa dibandingkan dengan Tay tham wan dari Siau lim pay atau Toh mia kim wan dari Thian liong pay, namun obat tersebut memang merupakan obat penyembuh luka yang amat mustajab dalam dunia persilatan....
Di dalam partai Bu tong pay sekarang pun tinggal sebutir saja yang selalu digembol ciangbunjin sebagai obat pelindung nyawa.
Biasanya, kendatipun anak murid sendiri yang terancam bahaya maut pun mereka tidak berhak untuk menikmati pil mana.
Tapi sekarang Keng hian totiang dari Bu tong pay tak segan mengorbankan Ci kim wannya, dari sini bisa diketahui betapa pentingnya Thi Eng khi buat mereka.
Lagipula, ketika Ci kim wan tersebut terjatuh ke tangan Keng hian totiang, jumlahnya tinggal sebutir saja, hanya sama sekali tidak mengetahui akan hal ini.
Setelah Thi Eng khi menelan pil Ci kim wan dari Bu tong pay itu, ternyata paras mukanya belum juga menunjukkan perubahan apa apa.
Sementara itu, Pek leng siancu So Bwe leng sudah sadar kembali, tapi ia menangis dan tertawa silih berganti hal Ini membuat semua orang merasakan pikirannya menjadi kalut, ternyata semua orang lupa kalau dalam saku Thi Eng khi masih terdapat obat kim khong giok lok wan yang hebat.
Seandainya obat Ci kim wan digabungkan dengan pil Kim khong giok lok wan tersebut maka kendatipun luka yang diderita Thi Eng khi lebih parah pun, seharusnya selembar jiwanya tak akan sampai terancam oleh bahaya maut.
Tapi sayangnya, justru pada waktu itu tak seorang manusia pun yang teringat akan hal ini.
Awan kelabu segera menyelimuti seluruh bukit tersebut, terpaksa semua orang memutuskan untuk membawa Thi Eng khi untuk balik dulu ke Gedung Bu lim tit it keh sebelum menyusun rencana lebih jauh.
Thi Eng khi dipayang oleh Sam ciat jiu Li Tin tang berjalan didepan, sedang dibelakangnya mengikuti sebaris jago jago silat yang semuanya diliputi oleh perasaan sedih dan berat.
Tatkala semua orang baru saja turun dari tebing dan memasuki sebuah hutan, mendadak dari sisi hutan tersebut melayang keluar sesosok bayangan manusia yang bergerak menggunakan ilmu Hu kong keng im.
Dia menyambar lewat melalui samping tubuh Sam ciat jiu Li Tin tang yang tak pernah menduganya itu.
Didalam sekali gebrakan saja, bayangan manusia tersebut telah berhasil menyambar tubuh Thi Eng khi dari tangan Sam ciat jiu Li Tin tang, kemudian sekali berkelebat sudah berlalu dari sana.
Peristiwa ini berlangsung amat cepat dan sama sekali diluar dugaan siapa pun, selain dari pada itu tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat lihay, terutama sekali ilmu meringankan tubuhnya, boleh dibilang tiada orang yang dapat melampauinya.
Belum sempat Sam ciat jiu Li Ti tang melihat jelas paras muka serta bentuk badan orang itu, tahu tahu tubuh Thi Eng khi telah berpindah tangan.
Saking kagetnya, dia jatuh tak sadarkan diri.
Hanya Sam ku sinni seorang yang sempat melihat jelas paras muka orang itu, dia segera berteriak keras .
"Aaaaah, dia adalah Bu im sin hong (angin sakti tanpa bayangan) Kian tayhiap!"
Menanti dia hendak melompat ke depan untuk melakukan pengejaran, orang tersebut sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula, untuk menyusulnya jelas sudah tak mungkin lagi.
Saking gemasnya dia sampai mendepak depakkan kakinya berulang kali, tapi apa pula yang bisa dilakukan?
Pada saat itulah, terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang berkata dengan ilmu menyampaikan suara .
"Sekarang, lohu butuh untuk menyelamatkan jiwa orang, tak ada waktu untuk ribut lagi dengan kalian, terpaksa segala sesuatunya tak bisa diterangkan lagi!"
Di dalam kenyataan, semua orang tidak ada yang tahu kalau sebetulnya Bu im sin hong Kian Kim siang hanya dicatut namanya oleh pihak Ban seng kiong untuk dijadikan salah seorang dari ke empat Toa tongcu, dalam keadaan demikian, sekalipun dia memberi keterangan sampai lidahnya putus pun, jangan harap semua orang bisa dibikin percaya dan menyerahkan Thi Eng khi untuk dibawanya pergi.
Itulah sebabnya, terpaksa dia harus mempergunakan cara seperti ini untuk mencapai maksudnya.
Sementara Sam ku sinni masih berdiri tertegun, Pek leng siancu So Bwe leng sudah menjerit lengking, kemudian tanpa memperdulikan persoalan apapun melakukan pengejaran ke depan.
"Leng ji!"
Sam ku sinni segera berteriak keras.
Dia pun ikut lari ke depan untuk menyusul Pek leng siancu So Bwe leng yang sedang kabur didepan.
Sesungguhnya ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im yang dimiliki Bo im sin Hong Kian kim siang memang tiada duanya di kolong langit dewasa ini, ditambah pula tenaga dalamnya jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan Pek leng siancu So Bwe leng maupun Sam ku sinni, bayangkan saja bagaimana mungkin ke dua orang itu dapat menyusulnya?
Tidak sampai empat lima li kemudian, kedua orang itu sudah kehilangan jejaknya.
Dalam keadaan begini, Pak leng siancu So Bwe leng segera berhenti mengejar dan menangis tersedu sedu, untuk sementara waktu dia tak tahu apa yang mesti dilakukannya.
Sam ku sinni segera maju menghampiri dan menghiburnya dengan beberapa patah kata.
Akhirnya dengan susah payah dia dapat juga mengajaK Pek leng siancu So Bwe leng untuk kembali ke gedung Bu lim tit it keh....
Rencana Thian liong pay untuk bergabung dengan pihak istana Ban seng kiong pun menjadi batal dan berakhir sampai disitu.
Ke empat toa tongcu yang dikirim pihak Ban seng kiong ke partai Thian liong pay pun mendapat perintah untuk meninggalkan partai Thian liong pay.
Ternyata Hian im Tee kun memang cukup dapat dipercaya perkataannya, dia membuktikan untuk tidak menyulitkan anak murid partai Thian liong pay lagi.
Keng thian giok cu Thi Keng merasakan peristiwa itu datangnya sangat mendadak bahkan tidak sempat memberi petunjuk kepada Pit tee jiu Wong Tin pak lagi, bersama Hian im ji li, mereka segera mengundurkan diri dari situ.
Pit tee jiu Wong Tin pak lebih kebingungan lagi, dia merasa seakan akan sedang mendapatkan sebuah impian buruk.
Menanti Sam ciat jiu Li Tin tang bersama para jago dari Siau lim pay, Bu tong pay dan pihak Kay pang sudah sampai semua di gedung Bu lim tit it keh, semua orang baru mengetahui sebab musabab pihak Ban seng kiong menarik diri dari situ.
Tapi setelah mengetahui kalau Thi Eng khi terluka patah dan dilarikan orang, seluruh anggota partai Thian liong pay terjerumus kembali dalam suasana yang sedih dan murung.
SEMENTARA itu, setelah Bu im sin hong Kian Kim siang berhasil meloloskan diri dari pengejaran Pek leng siancu So Bwe leng dan Sam ku sinni, dia segera mencari sebuah gua dan mengeluarkan botol berisi Kim khong giok lok wan dari sakunya, sekaligus dia memberi tiga butir pil ke dalam mulut Thi Eng khi serta mengerahkan tenaganya untuk menguruti sekujur tubuhnya.
Tak selang berapa saat kemudian, Thi Eng khi telah berhasil disadarkan kembali.
Kemudian sambil menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Tan tian hiat dipusar Thi Eng khi, Bu im sin hong Kian Kim siang berkata lagi .
"Saudara cilik, sekarang cobalah untuk mengatur napas, lohu akan membantumu."
Segulung hawa panas segera mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Selang beberapa saat kemudian, Thi Eng khi menggelengkan kepalanya dan menghela napas ucapnya .
"Percuma! Aku tak dapat mengumpulkan kembali segenap tenaga dalamku...!"
Sebenarnya dia tidak seharusnya mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki untuk menghardik Hian im Tee kun sehingga kabur karena takut, sebab tindakannya itu sudah melanggar pantangan yang paling besar bagi seorang jago persilatan.
Sekarang walaupun ada obat mustika yang membantu dirinya dan menyelamatkan jiwanya namun hawa murninya juga turut putus bersamaan dengan bentakan tadi.
Di dalam hal ilmu silat maupun ilmu pertabiban, Thi Eng khi mempunyai pengetahuan yang amat luas, dia bukannya tidak mengetahui bahaya dari perbuatannya itu, namun dia terpaksa harus berbuat demikian sebab apabila ia tak mau mengorbankan diri, besar kemungkinan kalau peristiwa tersebut akan memancing datangnya bencana yang jauh lebih besar dan jauh lebih mengerikan lagi.
Apakah Hian im Tee kun dapat melepaskan mereka semua?
Sudah jelas hal itu tak mungkin bisa terjadi.
Namun Thi Eng khi tetap bersikap amat tenang, dia sama sekali tidak merasa sedih karena hawa murninya tak dapat terhimpun kembali, malah sembari mengawasi Bu im sin hong Kian Kim siang, dia bertanya sambil tertawa hambar .
"Kian tua, kau tak usah membuang tenaga dengan percuma, aku tahu kalau harapanku bisa sembuh tipis sekali. Tapi begini pun boleh juga, bisa memulihkan kembali bentuK asliku yang tidak pandai silatpun dapat membuat hatiku menjadi lega!"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menarik kembali tenaga dalamnya, mula mula dia menggeleng dulu, kemudian ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh .
"Aku tahu kalau kau tak akan berlega hati, apakah kau lupa akan keadaan kakekmu bersama kami beberapa orang tua bangka?"
Satu ingatan dengan cepat terlintas dalam benak Thi Eng khi katanya kemudian sambil tertawa .
"Kalau begitu, kau benar benar adalah Kian tua!"
Ternyata dia masih menaruh perasaan curiga terhadap Bu im sin hong Kian Kim siang dan sekarang kecurigaan tersebut telah berhasil dihapus, karena bila dia bukan Kian Kim siang yang sebenarnya, dari mana bisa mengetahui keadaan dari ke empat orang tua tersebut?
Bu im sin hong Kian Kim siang memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, lalu sambil tertawa dan manggut manggut katanya .
"Kau sekarang lebih berpengalaman, lagi aku ingin bertanya kepadamu, tahukah kau akan tugas dan tanggung jawab sekarang?"
"Sekalipun tahu, apalah gunanya?"
Dengan wajah bersungguh sungguh kembali Bu im sin hong Kian Kim siang berkata .
"Kalau toh kau sudah mengetahui akan tugas dan tanggung jawabmu, lohu menginginkan kau untuk membangkitkan kembali semangatmu!"
Thi Eng khi segera tertawa getir.
"Sekarang apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Aku menghendaki kau pergi mengadu nasib, jangan lupa akan gua tempat tinggal dari Cu sim ci cu Thio locianpwe!"
Begitu menyinggung tentang gua pertapaan Thio Biau liong, dalam benak Thi Eng khi segera terlintas kembali berbagai obat obatan dan kitab pusaka yang tersimpan di situ, hatinya segera tergerak, pikirnya kemudian .
"Tiada jalan buntu didunia ini, dengan kemampuan yang dimiliki Thio locianpwe, siapa tahu kalau dia mempunyai suatu kemampuan untuk menolong keadaanku?"
Maka dia pun tidak memberikan pernyataan apa apa lagi sebagai pertanda kalau dia sudah menyetujui.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak sambil membopong tubuh Thi Eng khi, dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju bukit Bu gi san.
Sepanjang jalan Thi Eng khi merasa amat rikuh karena harus minta digendong terus, dia mengusulkan agar berganti memakai kereta saja tapi usul tersebut segera ditolak oleh Bu im sin hong Kian Kim siang.
Dikatakan olehnya bahwa waktu pada saat ini amat berharga sekali bagaikan emas, bagaimana mungkin kecepatan lari kuda bisa dibandingkan dengan kecepatan larinya dengan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im.
Ia bersikeras untuk membopong Thi Eng khi melanjutkan perjalanannya menuju ke bukit Bu gi san.
Menyaksikan kehangatan dan kerelaan orang tua untuk berkorban, terpaksa Thi Eng khi hanya menurut saja.
Perjalanan tak mungkin bisa ditempuh dalam sehari saja, namun semua waktu waktu yang penuh kesulitan tersebut berhasil mereka atasi dengan sebaik-baiknya.
Akhirnya bukit Bu gi san pun muncul di depan mata.
Melihat tempat tujuan mereka sudah berada didepan mata, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mempercepat larinya ke depan.
Dalam waktu singkat mereka sudah memasuki daerah pegunungan tersebut dan tidak lama kemudian telah berada dibawah bukit Sam yang hong .....
Setelah berunding sebentar, mereka memutuskan untuk masuk kedalam gua melalui sumur Cu sim cing di kebun belakang kuil Sam sim an.....
Thi Eng khi tahu kalau didalam kuil Sam sim an tinggal Ciu Tin tin, cuma dalam keadaan seperti ini dia tak ingin bersua muka dengannya.
Pertama, hal ini disebabkan dia tak ingin Ciu Tin tin merasa sedih setelah menyaksikan keadaannya sekarang.
Ke dua, dia sudah terlalu banyak berhutang budi kepadanya, maka ia merasa agak rikuh untuk berjumpa muka dengannya.
Tampaknya Bu im sin hong Kian Kim siang juga kuatir kalau kehadiran Ciu Tin tin bisa mempengaruhi perasaan Thi Eng khi, oleh sebab itu dia setuju kalau Thi Eng khi jangan bertemu dahulu dengan gadis tersebut untuk sementara waktu.
Maka mereka pun mencari suata tempat yang tersembunyi untuk beristirahat sambil menunggu datangnya malam hari untuk berangkat ke kebun belakang kuil Sam sim an.
Tapi sewaktu mereka tiba di kuil Sam sim an, apa yang terlihat membuat perasaan mereka tertegun dan amat sedih, sampai setengah harian lamanya kedua orang itu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Ternyata kuil Sam sim an telah terbakar sampai habis.
Memandang puing puing yang berserakan serta asap yang masih mengepul, bisa diduga kalau peristiwa kebakaran tersebut baru berlangsung dua hari berselang.
Sedangkan sumur Cu sim cing di kebun belakang pun sudah dihantam orang sampai ambruk separuh.
Disamping itu, batang pohon dan daun yang rontok telah bercerai berai melapisi permukaan tanah, ini menunjukkan kalau di sana telah berlangsung suatu pertarungan sengit.
Dalam keadaan demikian, mau tak mau Thi Eng khi harus memikirkan kembali keselamatan jiwa dari Ciu Tin tin, dia merasa wajib untuk menye!idiki keadaan ini sampat jelas.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengabulkan permintaan Thi Eng khi untuk mencari jejak si nona.
Dia menurunkan anak muda itu dan melakukan pencarian dibalik reruntuhan kuil yang telah mengarang tersebut, akhirnya dia berhasil menemukan sesosok mayat yang telah terbakar menjadi arang....
"Orang ini sudah terbakar hingga hancur sama sekali, bagaimana mungkin bisa diketahui siapakah dia?"
Kata Bu im sin hong Kian Kim siang kemudian. Dengan jantung berdebar keras Thi Eng kbi berseru .
"Di dalam kuil itu hanya berdiam Bu nay nay dan enci Tin berdua, mungkinkah mayat ini adalah salah satu diantara mereka berdua?"
Tentu saja dia berharap mayat tersebut bukan salah satu diantara mereka berdua. Dengan kening berkerut Bu im sin hong Kian Kim siang berkata kemudian .
"Bila disaksikan dari keadaan yang terbentang didepan mata sekarang, sudah pasti nenek Bu dan nona Ciu dipaksa berada dibawah angin, kalau tidak tak mungkin kuil Sam sim an bisa dibakar orang sehingga ludas menjadi begini rupa, moga-moga saja mayat ini bukan mayat mereka."
Kedua orang itu terbungkam beberapa saat, perasaan mereka amat sedih dan siapa pun tidak tega untuk meninggalkan tempat tersebut.
Mendadak mencorong sinar mata yang amat tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang, dia berpaling ke arah sebelah kiri, kemudian bentaknya keras keras .
"Siapa disitu? Ayo cepat menggelinding keluar!"
Bersama dengan bentakan tadi, dari sepuluh kaki disisi arena nampak sesosok bayangan manusia berkelebat keluar dari tempat persembunyian dan langsung meluncur ke muka.
Orang itu mengenakan baju serba hitam tapi berwajah putih, begitu bertemu dengan Bu im sin bong Kian Kim siang dan Thi Eng khi, agaknya kemarahan orang itu sudah tak terkendalikan, tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepasang tangannya segera dipisahkan ke samping, kemudian dengan jurus Coo yu kay kiong (Kiri kanan mementang busur) dia lepaskan dua pukulan dahsyat ke tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi.
Tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah punah, tentu saja dia tak mampu menahan serangan orang, untung saja ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang sudah amat sempurna, dengan cepat dia menyelinap ke depan Thi Eng khi kemudian melepaskan sebuah pukulan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Bu im sin hong Kian Kim siang merasa gusar kepada orang itu karena tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah melancarkan serangan untuk melukai orang, dia berniat untuk memberi peringatan kepadanya, maka serangan yang dilepaskan itu dilancarkan dengan tenaga sebesar enam bagian.....
Tenaga pukulan yang dilancarkan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan tenaga sebesar enam bagian ini benar benar luar biasa sekali, kekuatannya benar benar hebat dan tidak kalah dengan seorang jagoan lihay.
Tapi begitu ke dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, Bu im sin hong Kian Kim siang segera merasakan tenaga pukulannya menjadi ringan seakan akan batu yang tenggelam di tengah samudra, hilang lenyap dengan begitu saja.
Sebaliknya tenaga pukulan orang itu masih sempat menyambar tiba dan menghantamnya sampai seluruh tubuhnya bergoncang keras.
Untung saja tenaga pukulan orang itu sudah berkurang banyak karena benturan dengan pukulan Bu im sin hong Kian Kim siang tadi, dengan demikian tak sampai pula melukai tubuhnya.
Namun keadaan tersebut sudah cukup membuat Bu im sin hong Kian Kim siang merasa amat terperanjat, tanpa berpikir panjang lagi dia segera menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian untuk melepaskan sebuah pukulan dahsyat .
"Kau pun harus merasakan juga sebuah pukulanku ini!"
Sebuah pukulan yang disertai dengan tenaga yang amat dahsyat langsung menggulung ke arah orang tersebut. Orang itu segera tertawa dingin.
"Heeehh... heeehhh... heeehh.... sekali pun tenaga pukulanmu tidak lemah, sayang tak akan mampu untuk berbuat banyak terhadap lohu!"
Sepasang telapak tangannya diputar lalu menghisap, desingan angin tajam segera terhenti dengan begitu saja dan tenaga serangan yang dipancarkan Bu im sin hong Kian Kim siang pun segara tersapu lenyap hingga tak berbekas.
Bu im sin hong Kian Kim siang adalah seorang jago tua yang berilmu tinggi, begitu menyaksikan gerakan melingkar sambil menghisap yang dilakukan orang itu, dengan perasaan terkejut segera serunya .
"Aaaah, inilah hua lik sin kang (ilmu sakti pemunah tenaga), siapakah kau?"
Orang itupun nampak agak tertegun setelah menyaksikan Bu im sin Hong Kian Kim siang berhasil menyebutkan nama dari ilmu silatnya secara tepat, sahutnya kemudian .
"Lohu adalah Bu Im, hari ini akan kusuruh kalian kawanan manusia laknat merasakan dahsyatnya ilmu pukulan Hua lik sin kang ku ini ....."
"Weeess.....!"
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ketubuh Bu im sin hong Kian Kim siang.
Agaknya Bu im sin hong Kian Kim siang mengetahui betapa lihaynya tenaga pukulan Hua lik sinkang tersebut, sekalipun ilmu pukulan yang dimilikinya jauh lebih hebat pun, jangan harap bisa melukainya, bila dia harus bertarung melawannya maka lebih banyak dipukulnya daripada memukul, maka tidak menanti serangan mana mencapai sasaran, dengan ilmu langkah Hu kong keng im segera mundur selangkah, kemudian sambil membopong tubuh Thi Eng khi meloloskan diri dari pengaruh pukulan lawan ......
Ketika serangan yang dilancarkan oleh Bu Im itu tidak berhasil mengenai tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan membawa desingan angin pukulan yang amat dahsyat langsung menghantam diatas sebuah batu cadas.
Seketika itu juga batu cadas tersebut hancur menjadi empat lima bagian.
Menyaksikan serangannya tidak melukai Bu im sin hong Kian Kiam siang, dengan cepat Bu Im melanjutkan dengan serangkaian serangannya, seketika itu juga angin pukulan dan bayangan telapak tangan beterbangan kian kemari, secara beruntun dia lancarkan tujuh delapan buah pukulan ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang.
Tapi semua ancaman tersebut berhasil dihindari secara mudah dan cepat oleh gerakan tubuh Hu kong keng im yang digunakan Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut.
Dengan cepat Bu Im pun dapat merasakan akan kelihayan dari gerakan tubuh Hu kong keng im yang dipergunakan oleh Bu im sin hong Kian Kim siang tegurnya .
''Siapakah kau?
Mengapa bisa mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahh... haaahh..... haaahhh.... Hu kong keng im merupakan mereka terdaftar dari lohu, bila kau mengetahui ilmu gerakan tersebut, tentunya bisa menduga bukan siapakah diriku ini.... ?"
"Ooooh, jadi kau adalah Bu im sin hong?"
Bu im sin hong Kian Kim siang manggut manggut.
"Betul! Lohu adalah Kian Kim siang."
Bu Im nampak agak tertegun, mendadak dengan wajah berubah menyeringai seram bentaknya .
"Kaki tangan Ban seng kiong, lohu akan beradu jiwa denganmu!"
Sepasang telapak tangannya segera diayunkan dan melancarkan tubrukan Ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang.
Ternyata, seperti apa yang diketahui, Bu Im telah memperoleh hadiah buah mestika Tiang kim ko dari Ciu Tin tin sehingga berhasil menghilangkan racun yang mengeram dalam tubuhnya, meski kemudian dia telah menghadiahkan ilmu Hua lik sin kang tersebut untuk Ciu Tin tin, namun dia tetap merasa kalau tindakannya itu belum dapat membayar budi kebaikan dari gadis tersebut.
Maka dia lantas teringat ketika mencari obat mujarab untuk mengusir racun dulu, pernah menemukan sebuah buah Hian ko yang bisa menghimpun tenaga dalam seseorang.
Tapi berhubung buah tersebut belum masak waktu itu, maka daripada merusak kasiat buah tadi, hingga kini dia baru mengambilnya dan ingin dihadiahkan kepada Ciu Tin tin sebagai hadiah yang terbaik untuk gadis tersebut.
Itulah sebabnya dia lantas meninggalkan bukit Sam yang hong mengunjungi lembah tersebut dengan bersusah payah dan mempertaruhkan jiwa raganya, buah yang dicari itu berhasil didapatkan.
Pada saat inilah dengan amat gembira dia lantas berangkat kembali ke kuil Sam sim an.
Siapa tahu belum lagi dia mencapai tempat tujuan, jejaknya telah diketahui oleh Bu im sin hong sehingga terpaksa harus munculkan diri, kemudian diapun menyaksikan kuil Sam sim an telah dibakar orang, dia lantas menduga perbuatan ini sudah pasti merupakan hasil karyanya dalam keadaan gusar dia pun segera turun tangan terhadap mereka.
Ilmu Hua lik sin kang milik Bu Im tersebut berhasil mencapai sedikit keberhasilan berkat bantuan dari obat obatan, tapi berhubung terbentur pada soal bakat, sulit baginya untuk mencapai ketingkatan yang paling tinggi.
Oleh sebab itu, ketika bertarung melawan Bu im sin hong Kian Kim siang, oleh sebab tenaga dalam lawan lebih sempurna, tenaga pukulannya berat dan dahsyat, maka dia pun terpaksa harus menggunakan tenaga dalam yang besar untuk melancarkan serangan kilat.
Akhirnya setelah melihat Bu im sin bong Kian Kim siang menggunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im dan mengetahui asal usul diri lawannya itu, dia baru semakin terperanjat, tapi rasa benci dan gusarnya pun makin menjadi jadi.
Sebab berita tentang bergabungnya empat tokoh besar dunia persilatan sebagai empat Toa tongcu dari istana Ban seng kiong telah tersebar luas di seluruh dunia persilatan tentu saja Bu Im juga sudah mendengar tentang hal ini.
Padahal dia pun tahu kalau orang orang Ban seng kiong adalah kawanan manusia keji yang bisa melakukan perbuatan apa saja, sekalipun Sim ji sinni juga merupakan salah satu diantara ke empat Toa tongcu tersebut mengapa tidak mungkin lantaran encinya dan nona Ciu tak mau bergabung dengan pihak Ban seng kiong, akhirnya mereka berdua ditewaskan juga oleh perbuatan keji mereka.
Itulah sebabnya tanpa berpikir panjang lagi, dia bertekad hendak beradu jiwa, diterjangnya Bu im sin hong Kian Kim siang secara ganas.....
Bi im sin hong Kian Kim siang sendiri, lantaran dirinya dimaki sebagai kaki tangan Ban seng kiong, ia benar benar dibikin mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak dapat.
Cuma, diapun segera tahu kalau Bu Im bukan musuh dari pihak kuil Sam sim an.
Kalau bukan musuh, tentu saja tidak ada kepentingan untuk beradu jiwa, dia harus berusaha untuk mencari kesempatan dan menguraikan masalahnya sampai jelas.
Itulah sebabnya dengan langkah Hu kong keng im, dia segera menyelinap sambil menghindarkan diri, bentaknya sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Tunggu sebentar, lohu ada persoalan yang hendak diutarakan!"
Bu Im segera tertawa dingin, sambil menghentikan gerakan tubuhnya dia mengejek .
"Kaupun terhitung seorang manusia ternama, masa takut menghadapi kematian?"
Bu im sin hong Kian Kim siang kembali tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh.... haahhh..... haahhh.... ilmu pukulan Hua lik sin kang mu itu kurang sempurna, untuk sementara waktu sudah pasti bukan tandingan lohu, apakah benar demikian atau tidak, tentunya kau jauh lebih memahami dari pada lohu sendiri bukan?"
Bu Im menjadi terkesiap sesudah mendengar perkataan itu, dengan suara keras segera bentaknya .
"Hmmm! Kau jangan terlalu yakin dengan kemampuanmu sendiri!"
Meskipun di mulut dia berkata demikian namun semangat tempurnya sudah jauh berkurang.
Bu im sin hong Kian Kim siang melirik sekejap kearah Bu Im, kemudian sambil menurunkan kembali Thi Eng khi, katanya sambil tersenyum.
"Aku ingin bertanya kepadamu, sebetulnya kau adalah sahabat Sam sim an atau musuh?"
"Yaa teman! Yaa lawan!"
Bu im sin hong Kian kim siang menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini, serunya kemudian .
"Kalau berbicara harap yang lebih jelas, lohu tidak memahami perkataanmu itu!"
Bu Im berkerut kening.
"Ciu Tin tin adalah tuan penolong lohu yang telah menghadiahkan obat mestika kepadaku, boleh dibilang dia adalah sahabat lohu"
Setelah berhenti sejenak, sambil mendengus sambungnya .
Jilid 33
"Tapi Sim ji loni tidak tahu diri, disaat menjelang akhir usianya berbuat jahat dengan menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong, seperti juga dengan kau si setan tua, membuat orang tak dapat menghormati dirimu saja. Bukan saja kalian adalah musuh lohu, bahkan merupakan pula musuh umum dari setiap umat persilatan di dunia ini......"
Bu im sin hong Kian Kim siang yang dituding orang sambil dicaci maki habis habisan cuma bisa berdiam diri belaka, namun pandangan terhadap Bu Im juga turut berubah.
Hanya sayang keadaan yang sebenarnya tak dapat diterangkan kepadanya maka sambil menuding ke arah Thi Eng khi katanya .
"Kalau begitu, dalam hati kecilmu sudah menuduh lohu berdua sebagai musuhmu? Tapi dia adalah Thi Eng khi, Thi sauhiap, ciangbunjin dari Thian liong pay saat ini, dalam pandanganmu dia adalah seorang teman? Ataukah seorang musuh?"
Bu Im mengira Bu im sin hong Kian Kim siang ada maksud untuk membohonginya, dengan gusar dia lantas berseru .
"Thi ciangbunjin ada seorang enghiong hohan, mana mungkin dia akan melakukan perjalanan bersamamu? Bila kau berani bersikap kurang hormat lagi terhadap lohu, jangan salahkan kalau lohu akan membinasakan dirimu lebih dulu!"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa.
"Entah dia adalah Thi ciangbunjin atau bukan, bila kau berani turun tangan keji kepadanya, maka bisa diketahui sampai dimanakah watakmu yang sebenarnya!"
Bu Im menjadi semakin gusar sehingga mencak mencak, sekali lagi dia menerjang ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang keras keras.
"Untuk membereskan dirimu lebih dulu pun sama saja!"
"Weeesss!"
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang.
Dengan cekatan Bu im sin hong Kian Kim siang berkelit ke samping, pada saat itulah dia menyaksikan ada dua sosok bayangan tubuh sedang meluncur datang, segera bentaknya keras keras .
"Jangan bertarung dulu, ada orang datang!"
Belum habis dia berseru, Bu Im telah membalikkan badan sambil menyongsong kedatangan ke dua orang tersebut, terdengar dia berseru dengan amat girang .
"Nona Ciu, Cici! Setelah bertemu dengan kalian, siaute pun merasa berlega hati, kuil Sam sim an kalian apakah telah dibakar oleh setan tua she Kian ini?"
Rupanya yang datang adalah nenek Bu dan Ciu Tin tin, nenek Bu memandang sekejap ke arah Bu Im, kemudian sambil menghela napas katanya .
"Adik Im, jangan bersikap kurangajar terhadap Kian cianpwe!"
Kemudian sambil menggape ke arah Bu Im, dia berjalan menghampiri Bu im sin hong Kian Kim siang serta Thi Eng khi.
Sementara kakak beradik itu sedang bertanya jawab, Ciu Tin tin sudah melihat bagaimana Thi Eng khi berdiri menyendiri dibelakang tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang.
Ketika menyaksikan gadis itu muncul, mendadak saja dia melengos ke samping, dia tak tahu kalau Thi Eng khi berbuat demikian karena merasa menyesal kepadanya, dianggapnya pemuda itu malu untuk berjumpa dengannya karena pemuda itu tidak dapat memahami perasaannya.
Padahal selama ini dia tak dapat melupakan Thi Eng khi barang sekejap mata pun, maka setelah berjumpa muka sekarang, diapun terpaksa harus mengeraskan kepalanya untuk melayang turun dihadapan Thi Eng khi kemudian panggilnya dengan sedih .
"Adik Eng..... !"
Kemudian setelah hening sejenak, terusnya lagi .
"Apakah kau belum bersedia memaafkan diriku?"
Dari balik biji matanya yang jeli segera meleleh keluar dua titik air mata, Thi Eng khi menjadi terharu dan malu setelah menyaksikan hal tersebut, serunya agak tergagap .
"Enci Tin! Aku merasa bersalah kepadamu.... sudikah kau untuk memaafkan aku?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ciu Tin tin, serunya kejut bercampur girang .
"Adik Eng, apa kau bilang?"
"Dalam peristiwa yang lampau, akulah yang salah, aku mohon kau sudi memaafkan diriku!"
Jawab Thi Eng khi dengan nada bersungguh sungguh.
Sebetulnya Ciu Tin tin adalah seorang gadis yang alim dan tenang, akan tetapi sesudah mendengar perkataan dari Thi Eng khi, tanpa merasa malu lagi, dia segera menubruk ke pelukan Thi Eng khi.
Siapa tahu lantaran tenaga terjangannya kelewatan besar, apalagi tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah punah bagaimana mungkin dia bisa menahan terjangannya itu "Blaaamm...!"
Tidak ampun lagi ke dua orang tersebut segera jatuh terjungkal ke atas tanah.
Mendengar suara benturan itu, Bu Nay nay, Bu Im dan Bu im sin hong Kian Kim siang sama sama melompat mendekat dengan perasaan terperanjat.....
Sambil memayang bangun tubuh Thi Eng khi, Ciu Tin tin segera menegur dengan wajah penuh tanda tanya .
"Adik Eng, kenapa kau!"
Thi Eng khi kuatir kalau Ciu Tin tin merasa amat sedih setelah mengetahui tenaga dalamnya punah, maka dengan wajah memerah dia segera menyahut .
"Aaah, tidak apa apa, siaute lah yang kurang waspada, aku tidak menyangka....."
Paras muka Ciu Tin tin berubah menjadi merah padam karena jengah, kuatir kalau pemuda itu melanjutkan kata katanya sehingga membuat posisinya bertambah rikuh, buru buru dia menukas .
"Adik Eng, mari kuperkenalkan seorang cianpwe kepadamu!"
Dia segera memperkenalkan dia kepada Bu Im.
Nama besar Thi Eng khi sudah menggemparkan seluruh dunia persilatan, tentu saja Bu Im pernah mendengar namanya dan menjadi amat girang setelah saling bertemu muka.
Mendadak ia teringat akan peristiwa tadi, dimana Thi Eng khi selalu digendong Bu im sin hong, dia segera merasa kalau di balik kesemuanya itu pasti ada hal hal yang tidak beres, maka dengan perasaan ingin tahu dia bertanya .
"Thi sauhiap, kau tidak dapat berjalan sendiri, apakah...."
"Aaah, tidak apa apa, tidak apa apa!"
Cepat cepat Thi Eng khi menukas dengan perasaan jengah.
Saking gugupnya ternyata dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Ciu Tin tin paling menguatirkan keadaan dari Thi Eng khi, apalagi bila teringat Thi Eng khi segera roboh begitu tersentuh olehnya tadi, kesemuanya itu membuat dia semakin curiga.
Maka sambil menarik tangan Thi Eng khi serunya .
"Adik Eng, ada persoalan apakah yang sengaja kau kelabui diriku....?"
"Tiii...tidak ada apa apa...tidak ada apa apa.....,"
Sahut Thi Eng khi.
Dia segera melontarkan sorot mata mohon bantuan kepada Bu im sin hong Kian Kim siang.
Tentu saja Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengetahui mengapa Thi Eng khi tak mau menceritakan kenyataan yang sedang dialaminya itu kepada orang lain, tapi lantaran orang lain berbuat demikian dan tentunya mempunyai suatu maksud tertentu, maka dia segera membantu Thi Eng khi untuk berbohong.
"Ooooh, persoalan begini, sewaktu lohu dan saudara cilik datang kemari dan menyaksikan kuil Sam sim an telah terbakar, saudara cilik segera menguatirkan keselamatan diri nona Ciu, siapa tahu karena kurang berhati hati dia telah dipagut oleh ular berbisa. Disaat dia sedang mengerahkan tenaganya untuk memaksa keluar bisa tersebut, Bu lote telah datang, lohu kuatir Bu lote melukai saudara cilik, maka aku pun segera membopong saudara cilik untuk bertarung melawan Bu lote, sungguh tak disangka kecermatan Bu lote telah mengundang kecurigaan hatimu..."
Kemudian ia sengaja berpaling ke arah Bu Im sambil bertanya lebih lanjut .
"Bu lote, bukankah demikian?"
Bu Im tidak memberikan pertanyaan apa apa, dia tidak membenarkan juga tidak menyalahkan melainkan cuma mendengus. Dengan memutar biji matanya yang jeli, tiba tiba Ciu Tin tin berseru keheranan .
"Tapi disini sama sekali tiada ular berbisa?"
Bu im sin hong Kian Kim siang maupun Thi Eng khi sama sama merasa terperanjat, pikirnya hampir bersama .
"Aduuuh... celaka!"
Tapi belum habis ingatan tersebut, terdengar Bu Nay nay sudah tertawa berbahak bahak.
"Haaahhh... haaah... haaahhh... kawanan iblis itu mampu untuk melakukan pekerjaan apapun, kemungkinan besar mereka telah melepaskan ular beracun disini!"
Sehabis mendengar perkataan itu, Bu im sin hong Kian Kim siang maupun Thi Eng khi sama sama menghembuskan napas lega.
Semua kecurigaan Ciu Tin tin juga segera menjadi hilang lenyap tak berbekas, dengan perasaan kuatir katanya kepada Thi Eng khi.
"Adik Eng, bagaimana keadaan mu sekarang? Tidak membahayakan bukan...?"
Walaupun Thi Eng khi tidak terbiasa berbohong, tapi setelah peristiwa berkembang menjadi begini rupa, terpaksa dia pun mengikuti kisah cerita dari Bu im sin hong Kian Kim siang tadi sembari menjawab .
"Aaaah, hanya seekor ular beracun saja, bagaimana mungkin bisa melukai siaute? Harap enci Tin jangan kuatir, sebentar kemudian siaute juga akan sembuh kembali seperti sedia kala!"
Bu im sin hong Kian Kim siang kuatir kalau kelewat banyak bicara bisa membocorkan rahasia mereka, cepat cepat dia mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya .
"Siapa yang telah menghancurkan Sam sim an?"
Kontan saja Bu Nay nay melototkan sepasang matanya bulat bulat, sahutnya penasaran.
"Siapa bilang kalau kami tidak becus? Coba kalau bukan nona Tin tak ingin membunuh kelewat banyak, aku ingin sekali membasmi mereka sampai tumpas semua!"
Ternyata peristiwa itu berlangsung pada dua malam berselang, waktu itu Bu Nay nay dan Ciu Tin tin sedang bersemedi didalam kamar, mendadak muncul belasan orang manusia berkerudung, ketika Ciu Tin tin berdua memburu ke depan pintu, mereka berdua sudah dikepung rapat rapat oleh kawanan manusia berkerudung tersebut.
Berhubung belasan orang itu munculnya sangat mendadak dan lagi belum diketahui apa maksud kedatangan mereka, maka Ciu Tin tin yang berbelas kasihan, menasehati Bu Nay nay agar jangan melukai orang di tempat suci itu sehingga merusak peraturan dari gurunya.
Maka itulah dalam pertarungan mereka tak berani bertindak kelewat ganas dan kejam.
Ditambah pula belasan orang itu hampir semuanya merupakan jago lihay kelas satu dari dunia persilatan, disaat bertarung pun mereka seakan akan lupa akan mati hidup sendiri, setelah bertarung sekian waktu, akhirnya hampir saja mereka tak mampu mempertahankan diri.
Disaat yang kritis itulah terpaksa Bu Nay nay harus bertidak keji dengan melukai salah seorang diantara mereka, sebelum dia dan Ciu Tin tin berhasil meloloskan diri dari ancaman.
Mereka berdua pun segera bersembunyi ditempat kegelapan, mereka saksikan bagaimana orang orang itu turun tangan membakar kuil Sam sim an, kemudian bagaimana melemparkan orang yang terluka parah itu ke dalam lautan api.
Sebenarnya Bu Nay nay ingin keluar dari tempat persembunyiannya untuk beradu jiwa lagi namun usaha tersebut segera dicegah oleh Ciu Tin tin .
"Siapa yang berhutang, dia harus membayar, aku lihat mereka hanya manusia manusia yang diperalat untuk membunuh, apa gunanya harus membunuh mereka. Lebih baik kita catat saja hutang ini di dalam hati dan lain kali memperhitungkannya kembali dengan orang orang dari pihak Ban seng kiong."
Saat itulah Bu Nay nay baru terpaksa menahan diri dan membiarkan orang orang itu berlalu dari sana. Ketika berbicara sampai di situ, dengan wajah keheranan Bu Im segera berseru .
"Bukankah Sim ji sinni telah menjadi salah seorang diantara Toa tongcu dari Ban seng kiong? Mengapa dia tak mampu untuk melindungi kuil Sam sim an nya sendiri?"
Ternyata Bu Nay nay harus membeberkan bagaimana Hian im Tee kun mengurus orang untuk menyaru sebagai ke empat tokoh silat tersebut kepada Bu Im.
Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bu Im menjadi malu bercampur menyesal buru buru dia minta maaf kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, rasa hormatnya terhadap Bu im sin hong dan Sim ji sinni pun segera pulih kembali seperti sedia kala.
Kemudian Bu Nay nay segera bertanya kepada Bu Im .
"Apakah racun yang mengeram dalam tubuhmu telah pulih kembali? Mengapa tidak sering sering datang menjenguk kami?"
"Terima kasih banyak atas buah Tiang kim ko dari nona Ciu, kini semua racun yang mengeram di dalam tubuh siaute telah punah sama sekali. Cici, bukankah kau bisa saksikan bagaimana paras mukaku telah pulih kembali seperti sedia kala."
Kemudian dengan kening berkerut segera sambungnya lebih jauh .
"Sebenarnya bakat dari siaute amat terbatas, ilmu Hua lik sinkang yang kumiliki hanya mencapai enam bagian saja sulit rasanya untuk maju selangkah lagi."
Bu im sin hong Kian Kim siang segera mendorong dengan memberi semangat dari samping .
"Lote, kau tak boleh putus asa, tiada persoalan yang sukar di dunia ini, yang penting ada niat atau tidak? Asal kau bersedia untuk berjuang lebih jauh, sudah pasti akhirnya akan sukses!"
Sementara berbicara, dengan matanya dia mengerdip ke arah Thi Eng khi, sudah jelas ucapan tersebut sesungguhnya ditujukan untuk Thi Eng khi..... Bu Im menghela napas panjang, tiba tiba ia berkata .
"Padahal, sekalipun ilmu Hua lik sin kang yang kumiliki bisa dilatih hingga mencapai sepuluh bagian pun, tak nanti bisa menjadi nomor satu di dunia, sebaliknya kendatipun aku hanya mempunyai enam bagian tenaga murni, rasanya juga sudah merasa puas."
"Apa maksud dari perkataanmu itu?"
Tanya Bu Nay nay dengan perasaan heran.
"Apabila Hua lik sinkang digunakan untuk menghadapi seorang jagoan lihay yang memiliki tenaga dalam lebih sempurna, maka bila pertarungan tersebut berlangsung terlampau lama, maka yang bakal rugi adalah sipemakai ilmu Hua lik sinking itu sendiri, sebab tenaga dalamnya pasti akan punah. Atau dengan perkataan lain, ilmu Hua lik sinkang membantu yang tangguh tidak membantu yang lemah, jikalau orang yang tangguh mempelajari ilmu Hua lik sin kang ini maka keadaannya ibarat macam tumbuh sayap. Sebaliknya bila orang yang lemah mempelajari ilmu Hua lik sin kang tersebut, keadaannya ibarat memanggul bukit Thay san, bukan memperoleh keuntungan justru banyak kerugian yang akan didapatkan."
"Kalau toh kau sudah memahami akan teori tersebut, mengapa kau harus pertaruhkan jiwamu untuk mempelajari ilmu Hua lik sinkang tersebut?"
"Teori ini baru kupahami ketika aku berhasil menguasai ilmu Hua lik sinkang, apa lagi sehabis bertarung melawan Kian cianpwe barusan, aku semakin dapat membuktikan akan kelemahan dari ilmu Hua lik sinkang tersebut, jikalau secara beruntun Kian cianpwe melepaskan puluhan serangan berantai dengan sepenuh tenaga kepadaku maka lama kelamaan aku pasti tak akan mampu menghadapinya dan terakhir akan tewas juga....."
Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sudah punah, namun pengetahuannya tentang ilmu silat masih tetap ada, mendadak dia menimbrung .
"Belum tentu demikian!"
Bu Im segera mendengar kalau dibalik ucapan tersebut masih ada ucapan lain, dengan girang dia segera berseru .
"Harap Thi sauhiap suka memberi petunjuk."
"Tenaga dalam Kiu coan hian kang dari Tiang pek lojin So yaya bisa digunakan secara beruntun tanpa ada tanda kehabisan tenaga mesti harus bertarung lama, jikalau bisa dikombinasikan dengan ilmu tersebut sekalipun tak bisa dikatakan tiada tandingannya dikolong langit, namun lebih dari cukup untuk melindungi diri."
Mendengar perkataan tersebut, Bu Im hanya menghela napas saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, tentu saja dia tak berani menyimpan harapan tersebut.
Menyaksikan kecemasan Bu Im, Thi Eng khi segera berkata lebih jauh .
"Boanpwe yang menyaksikan locianpwe sewaktu mengerahkan tenaga dalam tadi, kusaksikan kalau jalan darah Ing tong hiat mu mencekung ke dalam, keadaan mana menunjukkan kalau nadi Jin dan tok mu belum bisa ditembusi, itulah yang menjadi sebab utama mengapa tenaga dalammu tak bisa berkembang lebih maju."
Bu lm menjadi kagum sekali sesudah mendengar perkataan tersebut, serunya cepat .
"Pengetahuan dari Thi sauhiap benar benar sangat mengagumkan dan tertuju pada sasaran secara tepat, apakah ada cara untuk menolong keadaan seperti ini?"
Thi Eng khi menjadi lebih bersemangat untuk berbicara sehingga lupa kalau tenaga dalam sendiri telah punah, katanya dengan cepat .
"Ilmu Pek hwe tiau yang dari partai kami dapat menyempurnakan kekurangan dari locianpwe tersebut."
Bu Im segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Bu Nay nay, dia merasa sangat terharu, namun tidak berani untuk memohon secara langsung kepada Thi Eng khi. Sambil tertawa Ciu Tin tin berkata .
"Setelah adik Eng mengucapkan sendiri hal tersebut, tentu saja dia berniat untuk membantumu Bu locianpwe!"
Sekarang Thi Eng khi baru merasakan hatinya bergetar keras, dia tahu telah salah berbicara sehingga mendatangkan kesulitan baginya.
Kalau dihari hari biasa, sekalipun Ciu Tin tin tidak membuka suara pun, dia akan memenuhi keinginan dari Bu Im, tapi sekarang, tenaga dalamnya telah punah, sekalipun dia berniat, sayang kekuatannya tak ada, untuk sesaat dia menjadi tersipu sipu dan membungkam dalam seribu bahasa.
Tidak berbicara tentu saja tidak menyanggupi.
Sesungguhnya kakak beradik Bu memang tidak mempunyai hubungan apa apa dengan Thi Eng khi, apalagi semua orang juga tahu kalau membantu orang untuk menembusi Jin meh dan tok meh merupakan suatu pengorbanan tenaga yang cukup besar, jarang sekali ada orang persilatan yang bersedia untuk melakukan pengorbanan tersebut.
Tentu saja Bu Im berdua juga memahami akan hal ini, sehingga penolakan mana sama sekail tidak mereka pikirkan didalam hati.
Hanya Ciu Tin tin yang mengetahui kalau Thi Eng khi bukan manusia semacam itu, sehingga dia lantas menghubungkan persoalan tersebut dengan masalah lain, dia mengira Thi Eng khi masih menaruh perasaan tak senang terhadapnya sehingga sengaja membuat kesulitan baginya.
Tak ampun lagi sepasang matanya menjadi berkaca kaca dan hampir saja menangis tersedu sedu.
Padahal Thi Eng khi mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan dengan sedih dia berseru .
"Enci Tin!"
Ciu Tin tin yang sedang mendongkol sama sekali tidak menggubris suara panggilan tersebut.
Bu Im yang paling rikuh diantara orang orang itu, dia merasa tak enak untuk berdiam terlalu lama disana, maka dengan cepat dia mengambil sebuah kotak putih dari sakunya, membuka penutup kotak tersebut dan didalamnya terdapat sebutir buah kuning sebesar mata uang dengan sembilan buah garis hijau, garis hijau tadi membagi buah tersebut menjadi sepuluh bagian.
Karena gampang untuk dibedakan, lagi pula semua yang hadir di arena juga merupakan jago jago persilatan maka tanpa penjelasan dari Bu Im, semua orang sudah tahu kalau buah itu merupakan buah Hian ko yang dapat mengumpulkan kembali hawa murni yang telah membuyar.
Tak kuasa lagi semua orang segera berseru tertahan.
Terutama sekali Bu im sin hong Kian Kim siang, dia paling emosi, setelah memandang sekejap ke arah Thi Eng khi yang sementara itu masih tetap bersikap tenang, hampir saja dia hendak melompat ke depan untuk merampasnya.
Tapi bagaimana juga dia adalah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi, bagaimanapun emosinya dia namun hal mana tidak sampai diutarakan keluar.
Thi Eng khi yang pernah menpelajari ilmu pertabiban, tentu saja dia juga tahu kalau buah Hian ko tersebut bisa memulihkan kembali tenaga dalam yang punah.
Tapi, bagaimana mungkin dia bisa mengutarakan hal tersebut?
Terpaksa dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.
Bu Im membawa buah Hian ko itu ke hadapan Ciu Tin tin, kemudian ujarnya .
"Untuk membalas jasa atas budi kebaikan nona Tin yang telah menghadiahkan buah Tiang kim ko tersebut kepadaku, harap nona sudi menerima pembalasan budiku ini dengan buah Hian ko tersebut."
Tentu saja Ciu Tin tin tak mau menerima kebaikan itu, dia segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menampik .
"Buah ini sangat langka dan berkasiat luar biasa, boanpwe tidak berani menerima kebaikan tersebut, apalagi bila locianpwe yang menelan buah tersebut akan menambah tenaga dalammu, siapa tahu tanpa bantuan dari luar pun nadi jin meh dan tok meh mu bisa ditembusi?"
"Tidak, lohu bermaksud baik dan aku telah memberikan buah ini untuk nona, justru apabila nona Tin tak mau menerima buah tersebut, lohu akan menyesal sepanjang masa,"
Paksa Bu Im lagi dengan kukuh. Bu Nay nay segera menerima buah Hian ko tersebut dan diberikan kepada Ciu Tin tin, katanya .
"Terimalah pemberian ini, semuanya ini tumbuh atas dasar hati yang jujur, harap nona Tin jangan menampik kebaikan orang, jika kau tak mau menerimanya, tentu aku jadi turut marah."
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Ciu Tin tin mengucapkan terima kasih kepada Bu Im dan menerima buah Hian ko tersebut.
Pada saat itulah, sekulum senyuman baru menghiasi wajah Bu Im.
Pada saat inilah mendadak Thi Eng khi mempunyai satu ingatan aneh, dia merasa apabila Ciu Tin tin sudah menelan buah Hian ko, kemudian dia mewariskan ilmu Heng kian sinkang tersebut kepadanya, mungkin gadis itu bisa menggantikan kedudukannya untuk membasmi kaum laknat dari muka bumi dan menegakkan kembali keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan.
Seperti apa yang diketahui, dia merasa berhutang budi terhadap Ciu Tin tin maka dia berharap bisa menciptakan gadis itu sebagai seorang jagoan yang amat tangguh.
Maka dia lantas berkata kepada Ciu Tin tin.
"Enci Tin, setelah kau telan buah Hian ko tersebut, siaute akan mewariskan ilmu Pek hwe tiau yang tersebut kepadamu, dengan demikian kaupun bisa membantu Bu Im cianpwe untuk menembusi Jin meh dan tok meh nya, hal ini merupakan suatu persoalan yang amat bagus sekali, cepatlah kau makan!"
Tatkala Ciu Tin tin mendengar setelah makan buah Hian ko tersebut dapat membantu Bu Im untuk menembusi Jin meh dan tok meh nya, dengan cepat hatinya tergerak.
Tapi teringat bagaimana Thi Eng khi suruh dia mempelajari ilmu Pek hwe tiau yang tayhoat tersebut, sebenarnya dia merasa tak ingin mempelajarinya, sebab yang dia cintai adalah Thi Eng khi nya, bukan ilmu Pek hwe tiau yang tayhoatnya.
Karena timbul perasaan curiga, maka untuk beberapa saat dia menjadi sangsi dan tidak berani menelan buah Hian ko tersebut.
Tampaknya Thi Eng khi dapat menembusi suara hati Ciu Tin tin, dengan wajah memerah dan memberanikan diri, dia segera berkata .
"Semua perkataan siaute itu muncul dari hati yang tulus, harap enci Tin suka mempercayai diriku, aku sama sekali tidak mempunyai maksud tujuan lain."
"Lantas mengapa kau tidak turun tangan sendiri untuk menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh dari Bu cianpwe?"
"Siaute mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan, harap enci Tin jangan tanya lagi, selain itu harap jangan dulu marah kepadaku."
Wajahnya yang bersungguh hati ketika mengucapkan perkataan itu, membuat siapa saja tak akan menaruh curiga lagi kepadanya, maka Ciu Tin tin juga tidak banyak berbicara lagi.
Sekarang, sekalipun Thi Eng khi berbohong kepadanya, dia juga tak akan tidak mempercayai perkataannya.
Ciu Tin tin segera mengeluarkan buah Hian ko tersebut dan siap ditelan.
Dalam keadaan demikian Bu im sin hong Kian Kim siang tak mampu menahan diri lagi.
Dengan suara keras segera bentaknya .
"Nona Tin, kau tak boleh makan buah Hian ko tersebut!"
Karena diutarakan dengan suara panik, maka semua orang jadi tertegun dan tidak memahami apa maksud sebenarnya. Bu Im yang pertama tama menunjukkan perasaan tak senang, serunya dengan segera .
"Kian cianpwe apakah kau menganggap di dalam buah Hian ko tersebut terdapat racunnya?"
Sebetulnya Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mempunyai tujuan apa apa diapun tidak mempersiapkan alasan apapun, maka oleh perkataan dari Bu Im tadi, dia menjadi tertegun dan tak mampu memberi penjelasan lagi.......
Sementara itu Ciu Tin tin sudah berkata sambil tertawa .
"Boanpwe tidak takut obat beracun!"
Dengan cepat dia memasukkan buah Hian ko tersebut ke dalam mulutnya,,... Dengan parasaan cemas, sekali lagi Bu im sin hong Kian Kim siang berseru .
"Cepat kau tumpahkan keluar buah itu!"
Ciu Tin tin bukannya memuntahkan buah tadi sebaliknva sambil tertawa malah menelan buah Hian ko tersebut ke dalam perut.
Bu im sin hong Kian Kim siang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi sangat gusar, dia segera menampar wajah Thi Eng khi sambil mengumpat .
"Bedebah! Sebenarnya kau sedang bermain gila apa?"
Thi Eng khi yang kena ditampar oleh Bu im sin hong Kian Kim siang itu hanya bisa meraba wajahnya sambil tertawa getir .
"Kian tua, siaute mempunyai rencana lain, harap kau jangan marah marah......."
Tapi Bu im sin hong Kian Kim siang hanya bisa mencaci maki tiada hentinya dengan perasaan gusar. Ciu Tin tin menjadi kebingungan menyaksikan peristiwa tersebut, segera tegurnya .
"Kian locianpwe, sebenarnya kesalahan apakah yang diperbuat adik Eng? Mengapa membuat kau orang tua marah marah besar?"
Bu im sin hong Kian Kim siang melotot sekejap ke arah Ciu Tin tin dengan gusar, lalu serunya mendongkol .
"Kau benar benar telah menelan buah Hian ko tersebut?"
Pertanyaan tersebut sesungguhnya suatu pertanyaan yang berlebihan, karena di dalam gusarnya dia hanya bisa mengajukan pertanyaan itu saja.....
"Boanpwe toh tidak dapat melakukan permainan sulap? Tentu saja sudah kutelan,"
Jawab Ciu Tin tin.
Bu im sin hong Kian Kim siang benar benar merasa amat putus asa, dia tak mampu bertindak lain kemudian menghentakkan kakinya ke atas tanah sambil menghela napas.
Thi Eng khi yang menyaksikan hal tersebut, sambil tersenyum dia lantas berkata .
"Harap Kian tua suka membantunya agar dia dapat menghisap semua sari dari Hian ko itu secepatnya!"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menengok ke arah Ciu Tin tin, kemudian serunya dengan dingin .
"Cepat bersila dan atur napas, lohu akan membantumu!"
Ciu Tin tin memandang sekejap ke arah Thi Eng khi, ketika dilihatnya paras muka si anak muda itu diliputi emosi, dia tidak berbicara lagi dan segera menurut untuk duduk bersila mengatur pernapasan.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menempelkan telapak tangannya ke atas jalan darah Pek hwee hiat ditubuh Ciu Tin tin, tenaga dalam yang amat sempurna pun segera mengalir masuk ke dalam tubuh gadis tersebut.
Waktu itu Jin meh dan tok meh dari Ciu Tiu tin sudah tembus apalagi memperoleh bantuan tenaga dalam dari Bu im sin hong, tidak selang berapa saat kemudian dia telah berhasil menghisap semua intisari buah Hian ko tersebut ke dalam tubuhnya sehingga membuat hawa murninya memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Thi Eng khi yang menyaksikan Ciu Tin tin berhasil mendapatkan penemuan tak terduga itu turut merasa gembira, hatinya terasa terhibur sekali atas keberhasilannya untuk memenuhi harapan hatinya.
Tidak selang berapa saat kemudian, mereka berdua segera menarik kembali tenaga masing masing.
Akan tetapi paras muka Bu im sin hong Kian Kim siang masih saja diliputi oleh perasaan tak senang.
Menyaksikan hal ini, Ciu Tin tin segera bertanya .
"Locianpwe, apakah kau benar benar masih marah dengan diri boanpwe?"
Bu im sin hong Kian Kim siang menghela napas panjang.
"Aaaai, aku sedang marah kepada adik Eng mu itu!"
Sahutnya.
"Kesalahan apakah yang telah dilakukan oleh adik Eng sehingga membuat kau menjadi gusar sekali?"
"Adik Eng mu telah melakukan suatu perbuatan yang tidak bertanggung jawab terhadap dunia persilatan."
Ciu Tin tin menjadi tertegun, serunya kemudian .
"Aaaah, masa sedemikian seriusnya?"
Dengan sorot mata yang tajam dia segera mengawasi wajah Thi Eng khi, kemudian ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh .
"Adik Eng! Sebenarnya kau telah melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab apa?"
Tentu saja Thi Eng khi menjadi rikuh untuk memberi penjelasan, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, tak sepatah kata pun yang diutarakan.
Ciu Tin tin merasakan hatinya hancur dan remuk rendam, mendadak dia menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu sedu.
Bu im sin hong menjadi gugup setelah melihat gadis itu menangis, serunya sambil menghentakkan kakinya berulang kali .
"Aaaai..... aku toh belum menyelesaikan perkataanku!"
Ciu Tin tin segera mengangkat kepalanya lagi untuk mendengarkan perkataan dari Bu im sin hong Kian Kim siang lebih jauh.
Sebenarnya Thi Eng khi ingin mencegah Bu im sin hong Kian Kim siang untuk membeberkan kalau tenaga dalamnya telah punah, tapi setelah berpikir lebih jauh, apalagi sejak kini diapun akan berkumpul dengan Ciu Tin tin, bila akhirnya rahasia tersebut sampai terbongkar, justru keadaannya akan bertambah rikuh maka dia pun membiarkan Bu im sin hong berkata lebih jauh.
Setelah menghela napas panjang, Bu im sin hong Kian Kim siang baru berkata .
"Aaaai, sebetulnya tenaga dalam yang dimiliki adik Engmu sudah punah, ia justru sangat membutuhkan buan Hian ko tersebut untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya!"
Ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong saja, kontan membuat semua orang merasa terkesiap.
Sekarang Bu Im dan Bu Nay nay baru mengerti apa sebabnya Thi Eng khi tidak bersedia membantu Bu Im untuk menembusi jalan darah Jin meh dan tok meh nya.
Ternyata penolakan tersebut bukan dikarenakan si anak muda tersebut tak mau membantu orang lain, sebaliknya karena dia sudah tidak berkemampuan lagi, hal mana menunjukkan kalau dia telah salah menuduh anak muda tersebut.
Ciu Tin tin yang paling sedih dan menyesal, untuk sesaat dia menjadi tertegun seperti orang yang kehilangan pikiran, lama kemudian ia baru menarik tangan Thi Eng khi sambil menangis tersedu sedu serunya .
"Kau...mengapa tidak kau katakan sejak tadi? Aku...aku benar benar amat menyesal!"
Sembari terisak dia segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Thi Eng khi. Sementara itu, sikap Thi Eng khi masih tetap tenang seperti air dengan suara yang lembut katanya.
"Enci Tin, kau jangan bersedih hati, kedatangan siaute ke puncak Sam yang hong pun tanpa mengetahui jika disini akan bertemu dengan buah Hian ko tersebut, jadi ada tidaknya buah Hian ko sama sekali di luar perhitungan kami, padahal soal pulih tidaknya tenaga dalam siaute sudah ada perhitungan lain, jadi bukan berarti sama sekali tiada harapan lagi, kau harus menguatkan hati dan membantu siaute untuk melepaskan diri dari kesulitan ini!"
Tadi Ciu Tin tin menjatuhkan diri ke dalam pelukan Thi Eng khi, hal ini dilakukan oleh dorongan emosi, sekarang setelah perasaannya menjadi tenang kembali, timbul perasaan rikuh dalam hatinya, maka dengan wajah merah dia mendorong tubuh si anak muda tersebut dan berseru dengan mendongkol .
"Siapakah yang telah mencelakai dirimu sehingga kehilangan tenaga dalam? Aku tidak akan mengampuni orang tersebut dengan begitu saja....!"
"Aku rasa kau tak akan berani mengusik orang itu!"
Kata Bu im sin hong Kian Kim siang sambil tertawa.
"Hmmm, sekalipun sri Baginda sendiripun, aku tetap akan menghadiahkan sebuah pukulan ke tubuhnya!"
Dengan wajah serius, Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata .
"Orang yang melukai adik Eng mu itu bukan orang lain, dia adalah Hian im Tee kun, si gembong iblis yang menganggap sudah tiada tandingannya dikolong langit!"
Mendengar perkataan itu, semua orang menjadi tertegun dan berdiri melongo.
Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang segera menceritakan bagaimana Thi Eng khi bertarung melawan Hian im Tee kun.
Dia pun bercerita bagaimana dalam keadaan luka parah, Thi Eng khi mengorbankan tenaga dalamnya untuk menggertak mundur Hian im Tee kun demi menyelamatkan jiwa para jago silat yang hadir disitu.
Mendengar kesemuanya itu, Ciu Tin tin berhenti menangis tapi air matanya masih mengembang dalam kelopak matanya, ditatapnya wajah si anak muda itu dengan termangu, kemudian serunya gemetar .
"Adik Eng! Adik Eng!"
Untuk sesaat lamanya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Bu Nay nay serta Bu Im juga berdiri dengan wajah serius, terhadap Thi Eng khi pun mereka menaruh sikap yang jauh lebih hormat dan kagum...
Sambil tertawa hambar Thi Eng khi segera berkata .
"Kejadian yang sudah lewat biarkan saja lewat kita tak usah membicarakannya lagi justru siaute merasa malu dan menyesal karena tak mampu membunuh Hian im Tee kun, sekarang siaute mempunyai suatu permintaan dan mohon persetujuan dari enci Tin, apakah enci Tin bisa menyetujuinya?"
"Apa yang kau katakan pasti akan enci Tin turuti, nah katakanlah ...!"
Ujar Ciu Tin tin dengan suara amat pedih. Thi Eng khi termenung sejenak, kemudian ujarnya dengan suara amat nyaring .
"Sebelum tenaga dalam yang siaute miliki pulih kembali, harap enci Tin suka memikirkan keselamatan umat persilatan di dunia ini dengan memikul tanggung jawab untuk mengendalikan ulah dan kebuasan dari Hian im Tee kun!"
"Asalkan aku mempunyai kemampuan tersebut, permintaanmu itu pasti akan kukabulkan!"
Jawab Ciu Tin tin tegas.
"Enci Tin tak usah kuatir, kau telah makan buah Hian ko, maka tidak sulit bagimu untuk melatih diri dan memiliki kepandaian sakti untuk menaklukkan Hian im Tee kun!"
Ciu Tin tin termenung sambil berpikir sejenak, kemudian serunya keras .
"Adik Eng, rupanya kau memang bermaksud untuk membantuku!"
Thi Eng khi tidak menjawab, namun sekulum senyuman dengan cepat menghiasi raut wajahnya, dia berpaling ke Bu im sin hong Kian Kim siang dan berkata .
"Kian tua, lebih baik kau saja yang membawaku turun ke bawah!"
Bu im sin hong Kian Kim siang memandang sekejap ke arah Bu Nay nay dan Bu Im tanpa menjawab, dia pun tidak membopong Thi Eng khi, jelas terlihat kalau dia masih sangsi.
Tentu saja Thi Eng khi mengetahui sebab musabab keraguan dari Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut, mungkin dia masih teringat dengan pesan Cu sim ci cu Thio Biau liong yang melarang untuk membocorkan tempat pertapaannya itu kepada orang lain, maka dia pun enggan mengajak dua bersaudara Bu untuk turut memasuki gua tersebut.
Maka katanya kemudian sambil tertawa .
"Siaute adalah majikan baru dari gua tersebut, tentu saja aku berhak untuk menerima tamuku. Kian tua, kau tak usah kelewat kolot lagi, harap membawa aku turun ke dalam gua!"
Kemudian sambil berpaling ke arah dua bersaudara Bu, terusnya .
"Di dalam sumur Cu sim cing adalah gua pertapaan dari Cu sim ci cu Thio Biau liong, silahkan locianpwe berdua ikut masuk ke dalam dan menjadi tamu agung dari boanpwe."
Mula mula dua bersaudara Bu itu menunjukkan paras kejut bercampur gembira, menyusul kemudian mereka berbisik bisik merundingkan sesuatu sampai setengah harian lamanya, dan akhirnya Bu Nay nay menggelengkan kepalanya seraya berkata .
"Biarlah maksud baik sauhiap, aku si nenek dan adikku menerima di dalam hati saja, biar kami melindungi mulut sumur ini dari atas....!"
Thi Eng khi tahu kalau kedua orang tua ini berusaha untuk menghilangkan kecurigaan orang, maka ujarnya kemudian kepada Ciu Tin tin sambil tertawa .
"Enci Tin, kau pun terhitung separuh majikan, tamu yang tak mampu diundang oleh siaute terpaksa harus mohon bantuanmu."
Ketika Ciu Tin tin mendengar Thi Eng khi menyebutnya sebagai separuh majikan bahkan segala maksud dan arti yang mendalam tersimpul di dalam kata kata tersebut, kontan saja raut wajahnya berseri seri, kepada Bu Nay nay katanya kemudian dengan manja .
"Bila Nay nay tak mau pergi, Tin ji pun tidak akan turut turun kebawah!"
Setelah melihat kesungguhan hati dari Thi Eng khi dan Cui Tin tin, sedang dia pun tak ingin tidak mengurusi si nona, akhirnya dia pun manggut manggut.
Maka Bu im sin hong Kian Kim siang membopong tubuh Thi Eng khi masuk lebih dahulu ke dalam gua Cu sim cing dan membuka pintu rahasia, kemudian menyambut kedatangan Ciu Tin tin sekalian masuk ke dalam lorong tersebut, setelah menutup pintu barulah mereka bersama sama melangkah turun kebawah lorong.
Setiap sepuluh langkah dalam lorong rahasia itu terdapat sebutir mutiara Ya beng cu sebagai penerangan, lebih kurang setelah berjalan satu jam lebih, sampailah mereka didasar lorong itu.
Dengan pengalaman dari Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang berdua, seharusnya mereka sudah sampai di pintu depan ruangan batu bawah tanah.
Terutama sekali Bu im sin hong Kian Kim siang, sewaktu keluar dari gua tempo hari, dia telah memperhatikan daerah di sekeliling tempat itu dengan seksama.
Tapi sekarang, bagaimanapun mereka telah berusaha untuk mencari pintu gua itu, nyatanya gua tersebut belum berhasil juga ditemukan.
Tapi, pada saat ini ternyata mereka tak berhasil menemukan pintu masuk menuju ke dalam gua itu.
Sampai setengah harian lamanya ke dua orang itu mencari, namun mulut gua belum juga ditemukan, kejadian ini dengan cepat membuat Thi Eng khi maupun Bu im sin hong Kian Kim siang berdua menjadi kebingungan setengah mati.
Namun dibawah lorong sana masih terdapat jalan tembus menuju ke bawah, bahkan nampaknya masih cukup panjang.
Terpaksa Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi harus berjalan lebih ke bawah mengikuti lorong tersebut.
Entah berapa saat kemudian mendadak semua orang mengendus bau udara segar, mereka lantas mempercepat langkah kaki nya dan tembus di mulut gua yang lain.
Keluar dari gua itu, tampak bintang bertaburan di angkasa, kabut malam menyelimuti permukaan tanah, ternyata mereka sudah tiba didasar lembah dimana Bu im sin hong Kian Kim siang tersekap dulu.
Sungguh aneh sekali, padahal mereka belum melalui kamar rahasia dari Cu sim ci cu Thio Biau liong, bagaimana mungkin bisa tiba didasar lembah tersebut?
Kemana perginya ruang rahasia dari Cu sim ci cu Thio Biau liong....?
Persoalan tersebut hanya bisa dipecahkan mereka dengan satu jawaban yakni ada orang lain yang berhasil pula menemukan rahasia dari gua tersebut, kemudian menggunakan alat rahasia di dalam gua untuk merubah lorong rahasia di dalam sini sehingga mereka tak berhasil menemukan ruang rahasia tersebut, melainkan tiba didasar lembah.
Maka Bu im sin hong Kian Kim siang membalikkan badan dan segera lari menuju ke jalan semula.
Tak selang berapa saat kemudian, tampak dia berjalan kembali lagi dengan wajah murung dan sedih.
Tidak menanti sampai dia membuka suara, Thi Eng khi telah menegur dengan wajah serius .
"Kian tua, apakah kau telah menyaksikan kalau jalan tembusnya sudah hilang?"
"Darimana kau bisa tahu?"
"Aku hanya menduga saja, kalau toh ada orang yang membohongi kita turun, tentu saja orang itu tidak akan membiarkan kita pergi dari tempat ini..."
Bu im sin hong Kian Kim siang segera memhela napas sedih.
"Aaaai, sudah puluhan tahun lamanya lohu tersekap di dalam lembah ini, sungguh tak kusangka kalau memang beginilah nasibku, akhirnya aku toh menceburkan diri lagi ke dalam perangkap alam ini."
Ciu Tin tin segera menghibur semua orang, katanya .
"Aku lihat kalian tak usah gelisah lebih dulu, tunggu saja sampai terang tanah nanti, kita baru pelan pelan mencari akal untuk mengatasi persoalan ini!"
Mendadak dia teringat akan satu hal segera tanyanya kepada Thi Eng khi .
"Adik Eng, sewaktu kau masuk ke dalam gua tempo hari bagaimana caramu menemukan pintu gua tersebut?"
Otak Thi Eng khi sesungguhnya tidak lebih lamban daripada Ciu Tin tin, setelah mendengar pertanyaan tersebut, dia pun segera memahami maksud hatinya, maka sahutnya kemudian dengan kening berkerut .
"Siaute berhasil menemukan cara keluar dari gua tersebut melalui selembar peta situasi gua yang terdapat disana, waktu itu kami ingin cepat cepat meninggalkan gua sehingga tak sempat mempelajari seluruh situasi dengan lebih seksama, mungkin hanya akan mengecewakan enci Tin saja...."
"Tak ada salahnya untuk dicoba, siapa tahu kalau kita akan berhasil menemukan sesuatu?"
"Moga moga saja demikian!"
Ciu Tin tin itu segera membimbing Thi Eng khi menuju ke belakang tebing yang bisa digunakan untuk berteduh dari hujan dan angin, kemudian membenahi tempat tersebut untuk tempat tidur sang pemuda tersebut.
Sebab tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang telah punah, ia sudah tidak berkemampuan lagi untuk melawan hawa dingin, maka dilepasnya jubah luar dan ditutupkan diatas badan Thi Eng khi, sementara dia sendiri duduk disisinya.
Sambil duduk bersila untuk mengatur napas, telapak tangannya ditempelkan ke atas ubun Thi Eng khi dan pelan pelan menyalurkan hawa murninya untuk membantu Thi Eng khi mengusir hawa dingin.
Berada dalam keadaan seperti ini, Thi Eng khi tentu saja tak bisa tidur, disamping memikirkan kebaikan dan kasih sayang Ciu Tin tin kepadanya selama ini dia pun teringat akan perbuatan perbuatannya selama ini yang telah membuatnya sedih.
Disamping itu juga dia berusaha untuk mengingat ingat kembali peta situasi yang pernah dilihat dalam gua tersebut tapi akhirnya dia tak berhasil menemukan apa apa, bahkan fajar pun sudah mulai menyingsing....
Saking lelahnya pula, tanpa terasa pemuda itu pun terlelap tidur dengan nyenyaknya.
Menanti dia sadar kembali, siang hari telah menjelang tiba.
Kabut didalam lembah tersebut sangat tebal, sinar matahari sukar untuk menembusi tempat itu, namun didasar lembah ini pun tidak terlampau gelap, hanya tak akan secerah diatas bukit sana.
Selama ini, Ciu Tin tin berada di sisi Thi Eng khi terus tanpa bergeser, maka menyaksikan si anak muda itu bangun dari tidurnya, sambil tertawa dia lantas menegur.
"Adik Eng, kau sudah berpikir semalaman apakah berhasil menemukan sesuatu gejala?"
Hanya Thian yang tahu apa saja yang telah dipikirkan Thi Eng khi sepanjang malam, tanpa menjawab dia hanya tertawa dan menggelengkan kepelanya berulang kali.
Sementara itu Bu im sin hong Kian Kim siang telah berjalan mendekat dari luar sana, begitu sampai dia lantas berkata .
"Saudara cilik, aku sudah melakukan pencarian hampir setengah harian lamanya dibelakang batu besar dimana pintu gua itu terdapat, kenyataannya gua kecil itu tak kutemukan, nampaknya kita benar benar sudah terkurung di sini."
Thi Eng khi melakukan pencarian lagi dibantu yang lain, namun hasilnya nihil, pintu tersebut belum juga ditemukan.
Terpaksa mereka harus mencari sebuah gua dan berdiam untuk sementara waktu disana, sambil berusaha terus untuk menemukan gua pintu masuk menuju tempat pertapaan Thio Biau liong.
Thi Eng khi pun mencoba untuk memahami situasi dalam gua dan mewariskan ilmu Sian thian bu khek ji gi sinkang dari Thian liong pay dan heng kian sin kang dari Thio Biau liong kepada Ciu Tin tin.
Sebelum Thi Eng khi berhasil menemukan sesuatu cara untuk memasuki gua itu, ilmu Sian thian bu khek ji gi sinkang dan Heng kian sinkang yang dipelajari Ciu Tin tin sudah mencapai beberapa bagian kesempurnan.
Sebagaimana diketahui Ciu Tin tin memang memiliki bakat alam yang sangat baik, ditambah lagi nadi jin meh dan tok meh nya sudah tembus, dibantu lagi oleh pengaruh Hian ko, keberhasilan dari Ciu Tin tin sekarang boleh dibilang sama sekali diluar dugaan.
Dalam waktu singkat tiga bulan sudah lewat, ilmu Heng kian sin kang dari Ciu Tin tin pun telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, keberhasilannya sekarang boleh dibilang hanya selisih dua bagian saja daripada tenaga dalam yang pernah dimiliki Thi Eng khi sebelum lenyap dahulu.
Tapi kesempurnaan yang dimiliki sekarang sudah cukup membuat orang merasa terkejut bercampur kagum.
Sebaliknya bagi Thi Eng khi sendiri, waktu selama tiga bulan ini benar benar telah terbuang dengan percuma, bukan saja usahanya untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya tidak memperoleh kemajuan apa apa, bahkan berhubung dia harus mengajarkan ilmu silatnya kepada Ciu Tin tin, kelelahan yang melampaui batas membuat tubuhnya makin lama semakin lemah, membuat setiap orang menjadi kuatir.
Ciu Tin tln sendiripun cukup mengetahui akan hal tersebut, namun kuatir akan mempengaruhi perasaan Thi Eng khi, maka rasa murung dan sedihnya tak pernah diperlihatkan dengan terus terang, seringkali dia hanya menangis bila tiada orang lain.
Sementara semua orang merasa bingung dan murung, siapa pun tak ada yang menyangka kalau buah cemara yang mereka makan selama ini sebetulnya memiliki kasiat khusus terhadap kesehatan badan Thi Eng khi.
Dengan mengandalkan buah cemara ini lah, Bu im sin hong Kian Kim siang telah mempertahankan hidupnya selama puluhan tahun lebih, sesungguhnya dia sendiri telah melupakan kasiat dari buah cemara itu, sesungguhnya hal ini boleh dibilang amat tragis.
Hari ini, setelah selesai melatih ilmu Heng kian sinkang nya seorang diri, Ciu Tin tin berdiri sambil menengok gua pertapaan dari Thio Biau liong itu dengan pandangan termangu mangu.
Kemudian, entah sejak kapan tiba tiba saja dia sudah hilang lenyap tak berbekas.
Waktu itu tiada orang yang menaruh perhatian kepadanya, sebab selama beberapa waktu ini semua orang sedang sibuk melatih ilmu silat masing masing, maka satu dua jam tidak nampak batang hidung seseorang, boleh dibilang hal mana merupakan suatu kejadian yang lumrah.
Kabut makin lama semakin bertambah tebal, tak lama kemudian haripun menjadi gelap.
Namun Ciu Tin tin belum juga nampak disana, saat itulah semua orang baru merasa gelisah.
Mula mula mereka mencari dahulu diseluruh dasar gua, namun tidak nampak juga jejak Ciu Tin tin.
Menyusul kemudian mereka mulai berpikir kearah yang jelek .
Jangan jangan Ciu Tin tin telah disergap oleh pendatang dalam gua dan kini tersekap dalam gua tersebut?
Sebab cara berpikir semacam ini memang kemungkinan besar bisa berubah menjadi suatu kenyataan.
Rasa murung dan kuatir yang amat tebal akhirnya membangkitkan rasa marah dihati masing masing.
Dengan penuh kegusaran Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghantam ke atas batu besar didepan mulut gua itu keras keras.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Rupanya sewaktu Ciu Tin tin sedang berlatih ilmu Heng kian sinkang tadi, tanpa disengaja dia menyaksikan ada sesosok bayangan putih menyelinap ke belakang batu besar di depan pintu gua pertapaan Thio Biau liong kemudian lenyap tak berbekas.
Menanti dia menyusul ke depan gua besar tersebut, tak sesosok bayangan pun yang terlihat lagi.
Dia merasa agak curiga, jangan jangan saking tegangnya pikiran ketika itu sehingga timbul suatu pemandangan yang bukan bukan.
Maka setelah berdiri termangu mangu beberapa saat didepan batu besar itu, akhirnya dia menghela napas panjang, dan siap membalikkan badan untuk meninggalkan tempat itu.
Mendadak dari bawah tanah sana berkumandang suara nyaring disusul munculnya sebuah kejadian aneh.
Rupanya pada dinding batu setinggi dua depa, dimana menurut Thi Eng khi dan Bu Iim sin hong Kian Kim siang sebagai letak mulut gua tersebut tahu tahu melesak ke dalam dan muncul sebuah gua kecil.
Ciu Tin tin ragu sejenak, untuk sesaat dia tak tahu haruskah masuk sambil menyerempet bahaya ataukah memanggil semua orang untuk masuk bersama sama?
Pada saat itulah, dari balik mulut gua tersebut muncul sebuah tangan kecil berwarna putih yang menggapai ke arahnya.
Atas kejadian mana, Ciu Tin tin tidak sangsi lagi, dia segera meluncur masuk ke dalam gua kecil itu.
Ternyata dalam gua itu terdapat sebuah ruang besar yang lebar dan luas serta terang benderang bagaikan ditengah hari saja.
Apa yang disaksikan olehnya sekarang, memang persis dengan apa yang dituturkan oleh Thi Eng khi.
Di dalam girangnya dia lantas membalikkan badan siap memberitahukan berita gembira ini kepada Thi Eng khi sekalian, siapa tahu apa yang kemudian terlihat membuat hatinya amat terperanjat.
Ternyata mulut gua yang kecil tadi, kini sudah hilang lenyap tak berbekas.
Sebaliknya terdapat sepasang monyet kecil berbulu putih sedang menjura dihadapannya dengan amat hormat, kesemuanya ini membuat hatinya menjadi amat keheranan.
Kemudian, dia memahami akan hal tersebut, segera gadis itu menduga kalau bayangan putih yang tarlihat olehnya tadi sudah pasti salah satu diantara mereka.
Kalau toh mereka dapat membuka pintu untuk mengundangnya masuk, tentu saja dapat pula membukakan pintu untuk mengundang kedatangan Thi Eng khi sekalian.
Ciu Tin tin tidak tahu apakah mereka mengerti ucapan manusia atau tidak, maka katanya pelan pelan .
"Bukakan pintu gua, aku akan mengundang teman temanku untuk masuk kemari!"
Siapa tahu sepasang monyet putih itu seperti mengerti maksud perkataannya, mereka goyangkan tangannya berulang kali, berteriak dan melompat lompat.
Jelas mereka seperti hendak menyampaikan sesuatu kepada gadis tersebut.
Sayang sekali nona tersebut tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh kera kera itu.
Lama kelamaan Ciu Tin tin menjadi gelisah sekali, teriaknya keras keras .
"Cepat membuka pintu gua!"
Di samping itu, dia sudah bersiap sedia turun tangan untuk membekuk salah satu diantara monyet monyet itu dan memaksa nya untuk membukakan pintu gua.
Ketika monyet monyet putih itu menyaksikan hawa amarah sudah menyelimuti wajah Ciu Tin tin, mereka nampak semakin gelisah lagi hingga mencak mencak tak karuan sambil berlari menghampiri gadis itu, mereka menarik ujung baju si nona dan menyeretnya masuk ke dalam gua.
Ciu Tin tin memang seorang gadis yang cerdik, dengan cepat dia menyadari kalau tingkah laku monyet monyet putih itu pasti mempunyai maksud tertentu maka dia urungkan niatnya untuk memaksa mereka membukakan pintu dan berjalan menuju ke dalam sebuah ruangan batu kecil.
Diatas langit langit ruangan tersebut terdapat sebutir Ya beng cu sehingga ruangan tersebut menjadi terang benderang.
Ruangan itu kosong melompong tiada sesuatu benda apapun tapi diatas dinding ruangan yang mengelilingi ruangan tersebut terukir beribu ribu patah tulisan yang kecil kecil.
Sepasang monyet putih itu berkaok kaok tiada hentinya, kemudian salah seekor di antaranya melompat dan menuding kearah sebuah huruf yang tertera diatas dinding tersebut, kemudian menuding huruf yang lain secara bergantian.
Dengan cepat Ciu Tin tin menyadari apa gerangan yang sebenarnya terjadi, rupanya monyet monyet itu tak pandai berbicara namun bisa menggunakan huruf untuk menyampaikan maksud hatinya, dari sini bisa diketahui betapa pintarnya monyet monyet itu, tapi yang hebat tentu saja pemilik monyet tersebut, karena nyatanya ia bisa mendidik mereka untuk mengenal tulisan.
Ketika Ciu Tin tin berhasil merangkai tulisan yang ditunjuk monyet tersebut, maka terbacalah kalimat tersebut sebagai berikut .
"Kami bernama Siau soat dan Siau pek, yang mempunyai tahi lalat merah di telinga sebelah kiri bernama Saiu soat, yang bertahi lalat merah di telinga sebelah kanan bernama Siau pek."
"Majikan tua telah meninggalkan pesan agar kami menjaga gua ini, bila dikemudian hari ada yang berhasil mempelajari Ilmu Heng kian sinkang, dialah majikan baru dari gua dan kami berdua."
"Kau pandai ilmu Heng kian sinkang, kau adalah majikan baru kami semua ...."
Sesudah memahami maksud hati mereka, dengan cepat Ciu Tin tin menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru .
"Aku tak bisa terhitung sebagai majlkan baru gua ini, majikan baru kalian adalah adik Eng!"
Siau soat kembali menunjuk huruf huruf diatas dinding dan merangkainya lagi menjadi sebuah kalimat .
"Bukan kau yang memasuki gua ini tempo hari?"
Ciu Tin tin segera tertawa .
"Benarkah aku atau bukan, masa kalian tak tahu? Kalian sedang menjaga gua apa?"
Siau pek dan Siau soat segera menggaruk garuk mukanya, setengah harian lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Ciu Tin tin mendesak lebih jauh .
"Apakah kalian telah mencuri bermain ke luar?"
Siau pek segera mendorong dorong Siau soat, agaknya dia menyuruh Siau soat yang menjawab.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Siau soat menuding huruf huruf diatas dinding dan merangkainya menjadi satu kalimat .
"Tempo hari kami sedang mengejar seekor kelinci, tatkala balik kembali baru kuketahui kalau ada orang yang telah berkunjung kemari dan berhasil mempelajari ilmu Heng kian sinkang. Maka kami pun menunggu sampai majikan balik kembali."
Selama ini mereka selalu menyebut Ciu Tin tin sebagai majikan. Ciu Tin tin segara bertanya .
"Kalau toh kalian sedang menunggu kami, mengapa tidak melepaskan kami masuk sedari tadi?"
Siau soat menuding huruf dan menjawab .
"Sebab pada waktu itu majikan tidak menggunakan ilmu Heng kian sinkang, maka kami tidak tahu kalau majikan telah kembali."
"Aku sudah tiga bulan lamanya berlatih ilmu Heng kian sinkang dalam lembah ini,apakah sampai hari ini kalian baru mengetahuinya?"
Seru Ciu Tin tin dengan mendongkol. Melihat Ciu Tin tin marah, cepat cepat Siau soat menuding huruf dan menjawab .
"Majikan tua telah berpesan, kami hanya boleh keluar dari gua ini setiap sepuluh tahun sekali, dihari hari biasa dilarang berada di luar, harap majikan jangan marah."
"Mengapa hanya mengijinkan kepada kalian untuk keluar dari gua setiap sepuluh tahun sekali?"
Kali ini monyet putih itu tidak menuding huruf lagi, mereka hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda kalau tidak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya.
Ciu Tin tin juga tidak mendesak lebih jauh tapi dia menerangkan kepada mereka kalau Thi Eng khi lah yang berkunjung ke sini tempo hari, karena terkena pukulan orang jahat sehingga kehilangan tenaga dalam maka ilmu Heng kian sinkang tersebut diwariskan kepadanya, itulah sebabnya Thi Eng khi lah yang seharusnya disebut majikan baru dari gua ini.
Sepasang monyet kecil itu bercuit cuit beberapa lama setelah mendengar perkataan dari Ciu Tin tin itu, akhirnya mereka menerima usul dari Ciu Tin tin untuk menyambut Thi Eng khi masuk ke dalam gua.
Namun mereka pun bersikeras untuk menjaga peraturan dari majikan tua dan melarang mereka yang tidak mempelajari ilmu Heng kian sinkang untuk memasuki gua dimana jenasah majikan tuannya tersimpan.
Ketika Ciu Tin tin menyaksikan monyet monyet itu begitu lincah, bahkan amat setia terhadap majikan tuanya, terpaksa dia mengabulkan dan bersama sama keluar dari gua untuk menyambut kedatangan dari Thi eng khi sekalian.
Sementara itu malam yang gelap sudah tiba diluar gua, tampak diluar gua tempat tinggal Thi Eng khi terdapat sebuah api unggun besar, ditengah api unggun nampak bayangan manusia berkelebat kesana kemari, seakan akan telah terjadi suatu peristiwa besar.
Agar orang lain tahu kalau dia sudah kembali, Ciu Tin tin berpekik nyaring lebih dulu, kemudian baru mengajak Siau pek dan Siau soat mendekati gua tersebut.
Munculnya kembali Ciu Tin tin disana seharusnya disambut semua orang dengan gembira.
Tapi rasa girang diwajah orang orang itu hanya terlintas sebentar saja kemudian lenyap kembali, bahkan wajah semua orang diliputi oleh rasa murung dan sedih yang amat tebal.
Ciu Tin tin menjadi terkesiap, dia seperti memperoleh firasat jelek, kepada Bu Nay nay segera tegurnya .
"Nay nay, apa yang telah terjadi?"
"Kau telah pergi ke mana?"
Bu Nay nay balik bertanya. Kemudian tidak menanti Ciu Tin tin menjawab, sambil menggelangkan kepala dia sudah menambahkan .
"Agaknya Thi sauhiap sudah tak bisa dipertahankan lagi!"
Ciu Tin tin menjadi terperanjat setengah mati hingga paras mukanya berubah menjadi pucat pias, dengan cepat dia meluncur masuk ke dalam gua.
Tampak paras muka Thi Eng khi berubah menjadi merah padam seperti orang mabuk, napasnya lemah dan udara yang keluar lebih banyak daripada yang masuk.
Dalam kagetnya Ciu Tin tin segera menempelkan telapak tangannya di atas pusar si anak muda itu, kemudian mengerahkan hawa murninya dan menyalurkan ke tubuh Thi Eng khi.
Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin saat ini amat sempurna, orang yang hampir mati pun nyawanya akan diserobot separuh bila berhasil disaluri hawa murninya.
Namun Thi Eng khi sama sekali tidak bereaksi atas saluran hawa murni yang menyusup ke dalam tubuhnya itu.
Bukan saja Thi Eng khi tidak nampak berubah malahan Ciu Tin tin merasakan hawa murninya yang disalurkan ke dalam tubuh si anak muda itu seakan akan batu besar yang tercebur di tengah samudra saja, lenyap tak berbekas dengan begitu saja.
Tujuan Ciu Tin tin sekarang hanyalah menolong orang, dia tidak ambil perduli apakah harus menderita rugi dalam tenaga dalamnya atau tidak, segera disalurkan hawa murni tiada hentinya ke dalam tubuh si anak muda tersebut.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian itu, dengan wajah lesu segera memperingatkan .
Jilid 34
"Di dalam tubuh saudara cilik telah mengalami suatu perubahan aneh, lohu telah mengorbankan sebagian besar tenaga dalamku, namun tidak berhasil membangkitkan kembali harapan hidup bagi saudara cilik. Nona Tin, aku lihat kau harus segera menarik kembali hawa murnimu dan merundingkan cara lain untuk menolong saudara cilik dari ancaman mara bahaya, daripada kehabisan tenaga dalam, toh tiada manfaatnya barang sedikitpun jua."
Air mata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah Ciu Tin tin, katanya kemudian .
"Apabila adik Eng mati, akupun tak akan hidup sendiri, aku akan menemaninya untuk berangkat bersama!"
Gadis itu tak menggubris ucapan orang dan mengerahkan terus tenaga dalamnya ke tubuh Thi Eng khi. Bu Nay nay segera memperingatkan pula .
"Tin tin, jangan nekad kau harus tahu bahwa perbuatanmu ini akan membuat Thi sauhiap menjadi semakin sedih, Thi sauhiap berniat untuk menjadikan kau sebagai seorang yang lihay, apakah kau anggap ia meminta kepadamu untuk mengiringinya berangkat mati?"
Sesungguhnya Ciu Tin tin merupakan seorang gadis yang cukup mengetahui keadaan, sejak bertemu dengan Thi Eng khi untuk pertama kali, dia sudah mengetahui akan maksud hati si anak muda itu, apalagi setelah mendengar teguran dari Bu Nay nay, hatinya semakin terkesiap lagi...........
Sebelum dia mengucapkan sesuatu, terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang berkata lagi .
"Nona, apakah kau baru keluar dari gua Thio locianpwe? Di dalam gua itu penuh dengan obat mustika, harapan hidup bagi Thi sauhiap mungkin harus tergantung pada obat mustika milik Thio locianpwe itu!"
Bagaikan baru sadar dari impian, Ciu Tin tin segera menarik kembali tenaga dalamnya sambil melompat bangun, kemudiannya .
"Aaaah, betul! Gara gara kebodohan boanpwe hampir saja aku melalaikan suatu masalah besar, sekarang juga aku akan kembali ke gua untuk mengambil obat."
Kemudian serunya keras keras .
"Siau soat, Siau pek!"
Ketika berpaling ia tidak nampak kedua monyet tersebut berada disitu, maka ia segera lari keluar dari gua.
Baru tiba di mulut gua, dari depan sana tampak bayangan putih berkelebat lewat, Siau soat dan Siau pek tahu tahu sudah muncul didepan mata dan hampir saja bertubrukan dengan Ciu Tin tin.
Dengan suara keras Ciu Tin tin segera berseru .
"Mari kita balik ke gua untuk mencari obat!"
Tanpa berhenti dia lari ke depan, Siau soat dan Siau pek bercuit cuit tiada hentinya, lalu tampak bayangan putih berkelebat dan tahu tahu satu di kiri yang lain dikanan mereka sudah menarik ujung baju Ciu Tin tin dan menggoncang goncangkan tiada hentinya.
Ciu Tin tin hendak menegur mereka, tapi tiba-tiba saja dia menyaksikan Siau soat telah membawa sebuah botol porselen, saat itulah dia baru menjadi sadar kembali.
Rupanya ketika Siau soat dan Siau pek menyaksikan keadaan Thi Eng khi gawat, tanpa diperintah, mereka sudah balik ke dalam gua untuk mengambil obat.
Dengan penuh berterima kasih Ciu Tin tin membelai kepala Siau soat dan Siau pek kemudian balik kembali ke dalam gua.
Tak sempat memeriksa tabel diatas botol tersebut, dia mengeluarkan dua butir pil berwarna putih dan dijejalkan ke dalam mulut Thi Eng khi....
Seketika itu juga suasana dalam gua tersebut berubah menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, empat manusia dua ekor monyet dengan ke dua belas matanya sama sama mengawasi wajah Thi Eng khi sambil menunggu reaksi dari obat, tersebut padahal waktu tidak berlangsung lama namun di dalam perasaan mereka bagaikan beribu ribu tahun.
Akhirnya Thi Eng khi nampak bergerak, wajah yang memerah dan sepasang matanya membuka kembali, menengok ke arah Ciu Tin tin serunya .
"Enci Tin aku mengira sudah tak bisa bertemu lagi denganmu...!"
Kata yang pertama dari Thi Eng khi ternyata bernada mesrah bagi pendengaran Ciu Tin tin hal ini benar benar membuatnya terharu sekali, sekarang dia mempunyai tempat yang penting dalam hati Thi Eng khi.
Dengan air mata yang bercucuran dengan deras Ciu Tin tin menggenggam tangan Thi Eng khi kencang kencang, kemudian bisiknya dengan suara lembut .
"Adik Eng, sekarang kita sudah dapat memasuki gua pertapaan Thio locianpwe!"
"Siapa yang telah mengangkangi gua tersebut?"
Tanya Thi Eng khi dengan cepat "Apakah kalian telah bertarung melawannya?"
Ciu Tin tin segera menggapai dua ekor monyet itu agar maju ke depan kemudian menyahut .
"Rupanya kedua ekor monyet penjaga gua Thio locianpwe telah menaruh kesalahan paham terhadap kita, sehingga ia menutup pintu dan tidak membiarkan kita masuk"
Ciu Tin tin segera menyuruh ke dua ekor monyet itu maju ke depan dan menerangkan kalau si anak muda tersebut adalah majikan baru mereka ....
Monyet monyet itu memang pintar, menirukan lagak manusia saja, mereka segera maju dan menjura kepada Thi Eng khi.
Menyaksikan tingkat laku si monyet yang lucu, Thi Eng khi jadi lupa dengan penyakit yang dideritanya dan tertawa terbahak bahak.
Siapa tahu begitu ia tertawa wajahnya segera meringis, kemudian terbatuk batuk dan memuntahkan darah kental berwarna merah kehitam hitaman....
Semua orang menjadi terkejut!
"Adik Eng, kenapa kau?"
Dengan gugup Ciu Tin tin menjerit kaget sekeras kerasnya. Thi Eng khi terengah engah kemudian setelah tertawa tenang katanya .
"Aku sudah rada baikan!"
Menyusul kemudian tanyanya kepada Ciu Tin tin .
"Obat apakah yang telah kau berikan kepadaku tadi?"
Ciu Tin tin tertegun, kemudian sahutnya dengan perasaan agak rikuh .
"Obat tersebut diambil oleh Siau soat dan Siau pek, aku sendiripun tidak tahu."
Sekarang dia baru teringat kalau diatas botol porselen tersebut terdapat labelnya maka sambil tertawa rikuh dan untuk menutupi kecerobohan sendiri, dia membaca label di depan botol tersebut .
"Obat ini khusus untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh suatu wabah diluar gua dan di dasar lembah, mereka yang minum obat ini bila meninggalkan lembah sebelum penyakit menjadi sembuh maka dia akan tewas."
Kecuali itu, disitu tidak dicantumkan keterangan serta nama obat tersebut.
Thi Eng khi sudah pernah mempelajari kitab ilmu tabib yang berada dirumah Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, boleh dibilang ilmu pertabibannya sangat lihay tergerak hatinya sesudah mendengar perkataan tersebut, pikirnya .
"Jangan jangan di dasar lembah ini terdapat semacam hawa jahat yang bisa melukai tubuh manusia? Tapi bukankah Bu im sin hong Kian tua sudah tersekap selama puluhan tahun di sini? Mengapa dia tidak jatuh sakit? Sedangkan mereka yang lain pun tidak menderita penyakit apa apa ....?"
Berbagai pertanyaan itu segera berkecamuk di dalam benaknya.
Setelah muncul pertanyaan tersebut, otomatis dia pun berusaha untuk menemukan jawabannya, berhubung ilmu pertabiban yang dimilikinya memang sangat lihay, maka tak lama kemudian semua pertanyaan tersebut telah berhasil dipahami olehnya.
Dengan cepat dia mengambil kesimpulan .
Di dasar lembah ini sudah pasti terdapat semacam hawa beracun yang bisa melukai orarg secara lambat, manusia maupun binatang yang terlalu lama berdiam disini pasti akan keracunan dan mati.
Berhubung Bu im sin hong Kian Kim siang bersembunyi di dalam pohon cemara Bwe siong, dan didalam pohon cemara Bwe siong tersebut tentu memiliki kemampuan untuk melawan hawa racun, maka dia tak sampai menderita luka apa apa.
Sedang orang yang datang bersama samanya kali ini berhubung semuanya memiliki tenaga dalam yang sempurma, sehingga otomatis kondisi badannya lebih tangguh, maka hawa racun itu tak mampu berbuat apa apa terhadap mereka, maka mereka pun tidak sampai kejangkitan penyakit tersebut tapi lama kelamaan mereka akan kena juga.
Sebaliknya dia sendiri terkena karena tenaga dalamnya telah punah dan kondisi badannya menjadi lemah, maka dialah yang pertama tama kejangkitan lebih dulu daripada yang lain.
Akan tetapi, dia pun sudah menelan pil kim khong giok lok wan, semestinya tak mungkin akan kejangkitan racun, tapi mengapa dia bisa keracunan?
.....
ini berarti hawa racun yang berada di sana istimewa sifatnya dan tak bisa dilawan dengan daya kerja pil kim khong giok lok wan tersebut.
Pikir punya pikir, Thi Eng khi menjadi terseret dalam keadaan lupa akan segala galanya, ia menjadi terkesima.
Ciu Tin tin yang menyaksikan sikap termangu dari Thi Eng khi itu segera berseru dengan gelisah .
"Adik Eng! Adik Eng! Mengapa pula kau?"
Diputus lamunannya oleh teguran tersebut, Thi Eng khi segera tersadar kembali namun dengan tenang dia berkata .
"Enci Tin, coba kau lihat, menurut keterangan yang tercantum diatas botol ini, sekarang aku masih belum bisa masuk ke dalam gua, lebih baik kau dan mereka masuk kedalam gua lebih dulu!"
Ciu Tin tin menjadi tertegun.
"Adik Eng, mengapa pula kau menjadi terpukul? Kau adalah majikan dari gua ini, bila kau tidak masuk, siapa pula yang berani memasuki gua tersebut?"
Bu im sin hong Kian Kiam siang maupun Bu Nay nay dan Bu Im juga menyatakan tidak setuju, bila Thi Eng khi tidak masuk ke dalam gua maka mereka semua juga tidak akan masuk.
Melihat semua orang menunjukkan sikap serius, Thi Eng khi tahu bila duduknya persoalan tidak dibikin jelas, mungkin mereka tak akan meninggalkan tempat ini dengan begitu saja.
Terpaksa dia harus membeberkan jalan pemikiran yang kurang matang itu kepada mereka, bahkan suruh mereka berlega hati setelah mempunyai obat dari Thio Biau liong, tak mungkin selembar jiwanya akan terancam mara bahaya.
Selain itu, sebelum kesehatan badannya pulih kembali, dia tak akan bisa meninggalkan dasar lembah, juga tak akan berhasil memulihkan tenaga dalamnya yang telah punah, apa salahnya bila kesempatan ini dimanfaatkan dengan sebaik baiknya, selain merawat sakit, juga mencari sumber dari penyebab celaka itu daripada orang lain terkena kembali .....
Mereka semua sama sama merupakan jago persilatan, soal berdebat siapapun tak bisa mengungguli Thi Eng khi, terpaksa mereka menuruti perkataannya dan pindah dulu ke dalam gua.
Ciu Tin tin dengan alasan Thi Eng khi masih sakit, perlu perawatan dan lain lainnya ....
pokoknya kalau digabungkan ada selaksa lebih alasan untuk tidak meninggalkan Thi Eng khi, tapi akhirnya toh harus pindah juga ke dalam gua.
Namun, Thi Eng khi harus menyetujui untuk setiap hari bertemu sekali dengannya di mulut gua.
Begitulah Thi Eng khi pun berdiam seorang diri di dasar lembah dan berusaha untuk menyelidiki rahasia alam yang berada disekitar sana.
Hari demi hari dapat dilewatkan dengan tenang, walaupun Thi Eng khi tidak berhasil memperoleh sesuatu, tapi berkat obat obatan dari Thio Biau liong, kondisi badannya sudah jauh lebih sehat dan kuat.
Menggunakan waktu senggang yang ada dia pun banyak membaca kitab kitab simpanan milik Thio Biau liong, tentu saja kitab kitab tersebut dikirim oleh Ciu Tin tin sesuai dengan permintaannya.
Ketika Bu im sin hong Kian Kim siang menyaksikan kehidupan dari Thi Eng khi bisa dilewatkan dengan aman tenteram, dia tergoda kembali untuk melihat keadaan dunia persilatan maka ia berangkat kembali meninggalkan gua tersebut.
Sedangkan Thi Eng khi telah memeriksa seluruh dasar lembah itu namun tak berhasil menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan, hampir saja dia mencurigai jalan pemikiran sendiri.
Di saat ia sedang putus asa itulah, akhirnya Thian telah memberikan suatu kesempatan yang baik kepadanya untuk mengungkapkan rahasia dari dasar lembah tersebut.
Di sebelah tenggara pohon bwe siong terdapat sebuah tanah berumput yang sangat indah dan menawan.
Thi Eng khi sering membaca buku disitu, beristirahat ataupun berbaring di sana melihat awan di angkasa dan menghilangkan rasa kesal dalam hatinya.
Suatu hari, dia berbaring diatas tanah berumput itu dan tertidur, ketika bangun, waktu menunjukkan saat baginya untuk minum obat.
Maka dia pun mengeluarkan botol obat itu dan mengambil sebutir pil diantaranya, ketika pil itu akan dimasukkan kedalam mulut, mendadak matanya mendelong, dia telah menyaksikan suatu pemandangan yang sangat aneh.
Ternyata pil yang berada di tangannya itu dari warna putih kini secara pelan pelan sedang berubah menjadi warna merah....
Thi Eng khi yang menguasai ilmu pertabiban segera menyadari kalau dibalik kesemuanya ini tentu ada hal hal yang amat luar biasa....
Dia lantas menunda untuk minum pil tersebut, melainkan beranjak dan meninggalkan tanah berumput tadi.
Sungguh aneh sekali begitu dia meninggalkan tanah berumput itu, pil yang berada di tangannya juga segera berubah menjadi putih kembali.....
Menanti dia balik ke tanah berumput itu pil tersebut kembali berubah menjadi merah.
Thi Eng khi melakukan percobaan sampai beberapa kali, akhirnya dia berkesimpulan kalau tanah berumput itulah letak keanehan tersebut maka pil tadi segera ditelan.
Kemudian dia mencabut beberapa batang rumput dan diperiksa dengan seksama tapi ia tak berhasil menemukan sesuatu perbedaan antara rumput tersebut dengan rumput pada umumnya, normal dan tiada keanehan, hal mana tentu saja membuat hatinya tertegun bercampur keheranan.
Kemudian, satu ingatan melintas di dalam benaknya, segera pikirnya di dalam hati .
"Jangan jangan di balik rerumputan tersebut ada persoalan yang tak beres...?"
Berpikir demikian, dia mencabuti rerumputan itu sampai gundul sebagian, tapi tanah dibawah rumput seperti juga tanah biasa, tiada sesuatu perbedaan.
Ia lantas mematahkan sebuah ranting kering dan menggali sebuah lubang kecil, sekarang dia baru menemukan tanah semu merah kurang lebih lima inci dibawah permukaan.
Penemuan yang tak terduga ini hampir saja membuat Thi Eng khi melompat saking gembiranya.
Sebab dari semu merah yang muncul di atas lumpur tersebut, dia sudah mengetahui apa gerangan yang terjadi.
Sambil tersenyum dia lantas mencongkel lumpur dan dicicipi, setelah itu gumamnya .
"Benar, lumpur ini manis rasanya, memang ciri khas dari Ing in ci toh (tanah berseri hawa langit dan bumi), tenaga dalamku ada harapan untuk pulih kembali seperti sedia kala!"
Ternyata Ing in ci toh adalah sari hawa yang terbentuk dari gabungan langit dan bumi, sari hawa ini terbentuk didaerah pertemuan antara udara bersih dengan udara kotor.
Kebetulan sekali, lembah tanpa nama ini merupakan pusat pertemuan antara udara bersih dan udara kotor.
Karena tertutup oleh lembah dan kabut yang menyempit dan tebal maka campuran udara mana tak mudah menyebar dari situ.
Maka udara yang bersih memupuk tumbuhnya Si toan Kim khong dan pohon cemara Bwe siong.
Sebaliknya udara yang kotor tetap membeku didalam lembah dan berubah menjadi hawa jahat yang mencelakai manusia, sedangkan tanah Ing in ci toh mempunyai kasiat menghisap sari udara langit yang bersih dan udara bumi yang kotor hingga terwujud menjadi sari hawa yang terserap ke dalam tanah, coba kalau tiada tanah yang melakukan penyerapan sudah pasti makhluk apapun yang masuk ke lembah tersebut akan mati lemas.
Sekarang, rasa gembira Thi Eng khi tak terlukiskan lagi dengan kata kata, dia melompat dan menari seperti orang gila, kemudian sambil tertawa terbahak bahak serunya .
"Aku akan memberikan suatu kejutan kepada enci Tin agar dia menjadi kejut bercampur girang!"
Karena berpikiran demikian, maka untuk sementara waktu ia tidak menceritakan tentang tanah Ing in ci toh tersebut kepada Ciu Tin tin.
Sekembalinya ke dalam gua, dia mengambil pedang Thian liong kim kiam dan menggunakan tenaga besar menggali sebuah lubang yang cukup besar, kemudian memendam tubuhnya didalam tanah sampai sebatas leher.
Kurang lebih satu jam kemudian, dia merasakan munculnya semacam tenaga hisapan yang amat besar yang melumat tubuhnya seakan akan berubah menjadi berpuluhan ribu keping kemudian melalui pori pori menyusup keluar.
Disusul kemudian dia merasakan pikirannya kosong dan tubuhnya seakan akan melumer jadi satu dengan tanah, kesadarannya seketika hilang tak berbekas.
Menanti dia sadar kembali, tengah malam sudah lewat.
Thi Eng khi merasakan seluruh tubuhnya basah kuyup, sedangkan udara yang segar dan nyaman menyusup ke dalam tulang sumsumnya membuat ia merasa nyaman sekali.
Bahkan terasa pula segulung hawa dingin yang segar menyusup melalui pori pori disekujur badannya dan mengalir masuk ke dalam tubuhnya, kemudian menyebar ke mana mana.
Hawa dingin tersebut menyusup ke dalam semua urat nadi dan jalan darahnya dan tak lama kemudian sudah tersebar di seluruh badan, sedang didalam badannya pun sudah mulai muncul segulung hawa hangat.
Saat itulah Thi Eng Khi baru mencoba untuk mengatur napas dan menghimpun kembali hawa murninya.
Setetes demi setetes, setitik demi setitik, hawa murni itu mulai terhimpun kembali, dia mulai merasakan hawa murninya mulai bergerak dan menempuh kehidupan baru.
Dari sedikit akhirnya membukit, dari pelan akhirnya menjadi cepat, tanpa disadari ia sudah bersemedi tujuh puluh dua jam dengan tiga puluh enam putaran, atau dengan perkataan lain ia telah mengubur diri dalam tanah Ing in ci toh tersebut selama tiga hari tiga malam.
Selama tujuh puluh dua jam ini, Thi Eng khi sudah berganti tulang rasanya, semuanya ikut berubah dan menjadi satu satunya manusia didunia ini yang dipenuhi sari hawa langit dan bumi.
Perlu diketahui, tubuh manusia sesungguhnya terbentuk dari sari udara langit dan sari hawa bumi, baik buruk cerdik bodohnya seorang manusia pun tergantung dari berapa banyakkah sari udara bersih dan kotor yang terkandung ditubuh manusia.
Bagi orang yang terdiri dari delapan sembilan bagian udara bersih, dia akan menjadi orang pandai.
Sebaliknya bila terdiri dari delapan sembilan bagian udara kotor, maka dia akan menjadi orang bodoh.
Thi Eng khi merupakan manusia berbakat aneh yang jarang di jumpai dalam ratusan tahun belakangan ini, dia hampir sembilan puluh persen terdiri dari udara bersih dan hanya satu bagian saja terdiri dari udara kotor jadi bisa dibilang ia amat cerdas.
Tapi sekarang setelah sari pukulan Hian im ciang dari Hian im Tee kun yang kotor dan tertinggal dalam tubuhnya terhisap keluar oleh tanah Ing in ci toh, kemudian sari udara bersih menyusup ke dalam tubuhnya, maka pertukaran mana membentuknya sebagai seorang manusia yang benar benar amat hebat.
Bukan saja seluruh tenaga murninya telah pulih kembali seperti sedia kala, bahkan gara gara bencana menjadi mujur, dia telah berhasil mencapai tingkatan tertinggi sebagai seorang manusia.
Bagi umat persilatan yang belajar silat, entah berasal dari aliran manapun, hampir semuanya berusaha untuk mencapai taraf yang disebut Ban gwan Kui tiong (selaksa aliran kembali pada sumbernya), yang dimaksudkan taraf tersebut adalah menambah udara bersih dalam tubuhnya dengan membuang semua udara kotor yang terkandung dibadan sehingga mencapai tingkat dimana seluruh tubuh terdiri dari udara bersih.
Barang siapa makin banyak menghimpun udara bersih, maka dia juga yang akan berhasil mencapai tingkatan yang lebih tinggi.
Thi Eng khi yang kena terhajar oleh pukulan Hian im Tee kun membuat hawa murninya menjadi buyar berhubung hawa jahat yang dilontarkan Hian im Tee kun masih tertinggal dalam tubuh Thi Eng khi maka hal mana membuat hawa murni yang dimiliki Thi Eng khi tersebar ke seluruh anggota badannya, sedemikian tercerai berainya hawa murni itu membuat Thi Eng khi tak sanggup untuk menghimpun kembali dan jadilah dia sebagai manusia biasa.
Sesungguhnya, sisa hawa pukulan Hian im ciang yang mengeram ditubuh Thi Eng khi itu tak dapat dihilangkan dengan bantuan dari obat apapun.
Sekalipun Thi Eng khi menelan buah Hian ko yang dihadiahkan Bu Im kepada Ciu Tin tin, hal itupun tidak akan berpengaruh terlalu banyak, sebagai orang yang memahami ilmu pertabiban, Thi Eng khi tentu saja mengetahui akan teori tersebut, hanya saja tidak sampai diutarakan keluar saja .....
Maka satu satunya cara yang bisa dipakai untuk menolong Thi Eng khi adalah harus ada orang yang memiliki tenaga dalam lebih tinggi dari Hian im Tee kun yang rela mengorbankan diri untuk menyalurkan hawa murninya ke tubuh Thi Eng khi dan melenyapkan sisa hawa pukulan Hian im ciang yang mengeram ditubuh anak muda tersebut.
Jikalau kekuatan yang menghambat berkumpulnya hawa murni itu bisa dilenyapkan, saat itulah Thi Eng khi baru punya harapan untuk menghimpun kembali hawa murninya.
Tapi, kesempatan semacam itu boleh dibilang kecil sekali, atau lebih tepat dikatakan pada hakekatnya tiada kemungkinan tersebut.
Thi Eng khi cukup memahami akan hal tersebut, tapi untuk menghibur Bu im sin hong Kian Kim siang yang berjiwa hangat, dia tidak menampik usulnya untuk membawanya ke bukit Bu gi san padahal dia sudah bertekad untuk mengasingkan diri selamanya disitu.
Maka itulah, dia baru punva niat untuk mendidik dan membentuk Ciu Tin tin sebagai seorang jagoan.
Siapa tahu, kalau nasibnya memang lagi mujur, dia berdiam di lembah terpencil yang sesungguhnya mengandung Ing in ci toh, bukan saja penyakit yang dideritanya bisa dipunahkan, bahkan tenaga dalamnya bisa pulih kembali seperti sedia kala.
Begitulah, Thi Eng khi mengalirkan hawa murninya mengelilingi tubuhnya sampai tiga puluh enam kali putaran, dia merasa semangatnya menjadi segar, hawa murninya penuh dan kekuatannya pulih kembali seperti sedia kala.
Dalam sekali lompatan saja, dia telah melepaskan diri dari dalam tanah.
ketika ujung bajunya dikebaskan, segulung hawa murni yang dahsyat memancar ke empat penjuru dan menggulung pasir yang berada disekitar sana mengumpul kembali dalam liang tersebut.
Thi Eng khi pada saat itu penuh dengan pancaran hawa murni yang segar, namun hatinya tetap tenang dan lembut, seakan akan sudah tiada kobaran api napsu lagi dalam hatinya.
Malam yang gelap menyelimuti seluruh dasar lembah Hong im hong, namun Thi Eng khi dapat menyaksikan segala sesuatu dengan jelas seperti di siang hari saja.
Waktu itu, dia amat merindukan diri Ciu Tin tin, pikirnya di dalam hati .
"Sudah tiga hari kami tak bersua, apakah dia pun merindukan diriku ...?"
Dengan langkah yang pelan dia berjalan ke depan dan tanpa terasa menuju ke mulut gua.
Ia tahu pintu gua pasti tertutup, namun pemuda itu toh tak tahan untuk melongok juga ke depan gua.
Kepada diri sendiri dia memperingatkan .
"Asal tidak mengganggu, hanya menengok saja rasanya juga tak menjadi masalah toh setelah fajar nanti kami akan bersua kembali."
Ketika masih beberapa kaki dari gua, mendadak ia menyaksikan ada sesosok bayangan manusia sedang memandang ke tempat kejauhan sana dengan termangu.
Dia adalah Ciu Tin tin, entah sudah sedari kapan berdiri tertegun disitu?
Mungkin karena sudah tiga hari tak pernah bersua dengan Thi Eng khi, dia pun tak ingin melanggar perjanjiannya dengan Thi Eng khi untuk mendatangi lembah mencarinya, terpaksa dia hanya menunggu di depan guanya siang dan malam.
Thi Eng khi benar benar merasa terharu sekali, dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun dia menyelinap ke depan serta menghampirinya, dengan tenaga dalam Ciu Tin tin yang begitu sempurna pun ternyata ia tidak merasakan apa apa.
Tak selang berapa saat kemudian, Thi Eng khi sudah berdiri dibelakang tubuh Ciu Tin tin, sebenarnya dia hendak menegurnya tapi niat tersebut segera diurungkan, tiba tiba ia menggelengkan kepalanya, tersenyum dan mundur kembali.
Akhirnya setelah berputar satu lingkaran, dia muncul di depan Ciu Tin tin dan berjalan mendekatinya.
Suara langkah yang berkumandang segera mengejutkan Ciu Tin tin, dia segera menegur .
"Adik Eng kah disana?"
Dengan suatu kecepatan luar biasa dia menerjang ke hadapan Thi Eng khi. Sengaja Thi Eng khi mundur selangkah, kemudian serunya terkejut .
"Siapa?"
Saat ini, Ciu Tin tin sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, yang ada tinggal rasa cinta dan perhatian yang besar, digenggamnya tangan Thi Eng khi, kemudian ujarnya dengan sedih .
"Adik Eng, ke mana saja kau pergi selama berapa hari ini? Mengapa tidak datang ke gua untuk menjengukku? Aku benar benar merasa cemas sekali....!"
Thi Eng khi meremas remas tangan Ciu Tin tin yang halus, lalu berbisik dengan lembut .
"Sudah lamakah kau menunggu aku?"
Ciu Tin tin tersenyum .
"Tidak lama, bukankah kita berjanji akan bertemu setiap malam? Sejak saat itu lah aku datang menantimu."
Begitu besarnya perhatian gadis itu untuk menunggu Thi Eng khi, waktu yang sudah berhari hari lamanya itu dianggap sebagai sebentar saja.
Padahal kalau dihitung yang sebenarnya dia sudah menunggu selama tiga hari tiga malam.
Dengan perasaan tercengang Thi Eng khi segera bertanya .
"Sudah begini lama kau berdiri didepan gua, apakah mereka tidak menyuruh kau kembali?"
"Agaknya mereka sudah menyuruh masuk, tapi aku sama sekali tidak menggubris, sudah pasti Bu Nay nay akan merasa gusar sekali."
Segenap perhatiannya boleh dibilang telah dipusatkan pada Thi Eng khi, sehingga masalah yang lain boleh dibilang sama sekali tidak diperhatikan.
Untuk menunggu Thi Eng khi, gadis tersebut sudah menunggu selama tiga hari tiga malam didepan gua, tapi Bu Nay nay sendiripun harus berdiri pula di belakang gua selama tiga hari tiga malam juga untuk menjaga kesehatannya.
Sementara itu, Bu Nay nay juga sudah mendengar suara penbicaraan mereka dan memburu ke depan, tapi setelah menyaksikan sikap mereka yang mesrah, tak urung agak rikuh juga dibuatnya sehingga tanpa terasa ia berhenti berlari dan siap untuk balik kembali.
Tapi Ciu Tin tin segera memanggilnya .
"Bu Nay nay, adik Eng telah kembali!"
Ucapan itu tidak penting bahkan berlebihan, tapi oleh sebab dia terlalu gembira, dia pun ingin orang lain turut mencicipi kegembiraannya, maka dalam anggapannya ucapan mana tidak merupakan ucapan yang terlalu berlebihan.
Bu Nay nay segera berhenti dan tertawa getir, kemudian katanya .
"Tin Tin, kalau toh sudah berjumpa kembali dengan Thi sauhiap, kau sudah seharusnya pergi beristirahat!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Thi Eng khi, omelnya .
"Aaaai, anak muda, mengapa kau tidak berpikir untuk enci Tin? Tahukah kau, sudah tiga hari tiga malam dia menantikan dirimu disini!"
Thi Eng khi hendak minta maaf kepada Bu Nay nay, tapi Ciu Tin tin sudah keburu berseru .
"Bu Nay nay, kau memang pandai membuat kejutan, kapan sih aku menunggu selama tiga hari tiga malam? Kesehatan adik Eng belum pulih kembali, kau jangan membuatnya terkejut!"
Bu Nay nay menjadi tertegun, lalu katanya sambil tertawa .
"Baik, baik! Anggap saja aku telah salah berbicara, sekarang kau boleh pergi beristirahat bukan?"
"Tidak, kami belum berbicara berapa patah kata, bila ingin kembali, kau boleh kembali dulu!"
Thi Eng khi benar benar dibikin terharu sekali, katanya kemudian dengan cepat .
"Enci Tin, siaute menyesal sekali kepadamu karena sudah membuatmu tersiksa, harap kau sudi memaafkan kesalahanku!"
"Adik Eng, lagi lagi kau anggap orang luar diriku,"
Seru Ciu Tin tin cemberut.
"asal kau sudah sembuh dari penyakitmu, aku tak akan mengacuhkan yang lain."
Kenyataannya, dia memang tidak menegur Thi Eng khi mengapa tidak datang bertemu dengannya seperti saat yang telah dijanjikan. Thi Eng khi segera menarik tangan Ciu Tin tin sambil berseru .
"Ayoh jalan! Enci Tin, aku akan menemanimu kembali kedalam gua...!"
Hampir saja Ciu Tin tin tidak mempercayai pendengaran sendiri, kejut dan girang segera menyelimuti hatinya .
"Adik Eng, apa kau bilang?"
Thi Eng khi tertawa .
"Penyakit yang siaute derita telah sembuh, sekarang aku sudah dapat meninggalkan lembah ini dan hidup bersama sama kalian di dalam gua...."
Saking gembiranya air mata sampai jatuh bercucuran membasahi wajah Ciu Tin tin, digenggamnya tangan Thi Eng khi dan digoyangkan berulang kali, kemudian serunya .
"Ooooh.... ooooh.... penyakitmu telah sembuh! Penyakitmu telah sembuh.... kita tidak akan berpisah lagi.... kita tak akan berpisah lagi untuk selamanya."
Bu Nay nay juga turut gembira, serunya dari samping .
"Thi sauhiap, mengapa tidak kau katakan sedari tadi? Ayoh cepat masuk, cepat kembali ke dalam gua, kesehatan tubuhmu baru saja sembuh jangan sampai masuk angin hingga bikin orang menjadi gelisah dan kuatir kembali."
Tanpa membuang banyak waktu lagi, dia segera menarik tangan Ciu Tin tin dan menyeret Thi Eng khi lari masuk ke dalam gua.
Sejak Thi Eng khi kembali ke dalam gua dalam waktu singkat satu bulan lebih sudah lewat.
Dia tidak menceritakan kepada Ciu Tin tin kalau tenaga dalamnya telah pulih kembali, mula mula dia hanya bermaksud membuat kejutan bagi Ciu Tin tin, tapi sekarang dia justru ada niat untuk mengatur segala sesuatunya di dalam siasatnya untuk menghadapi Hian im Tee kun.
Selama sebulan ini, dia hanya berusaha keras untuk membaca semua kitab pusaka yang disimpan oleh Thio Biau liong selama ini serta memperketat usahanya untuk menurunkan ilmu silat yang hebat kepada Ciu Tin tin.
Walaupun Ciu Tin tin menguatirkan keadaan Thi Eng khi yang dianggapnya masih kehilangan tenaga dalam, namun setelah menyaksikan kondisi badan Thi Eng khi yang tambah hari bertambah sehat, dia pun mengambil pemikiran selangkah mundur ke belakang.
Sekarang dia tidak berburu buru lagi untuk memaksakan pengobatan bagi Thi Eng khi, kuatir kalau pemuda itu tak bisa memecahkan pemikiran mana, sebaliknya malah menghibur terus hatinya dengan mempergiat latihan ilmu silat agar memancing kegembiraan tersebut.
Thi Eng khi tentu memahami maksud hati dari nona tersebut, namun dia juga tidak mengungkapnya, namun semakin mesrah sikapnya terhadap gadis itu membuat sang dara menjadi kegirangan.
Kemajuan yang dicapai Ciu Tin tin dalam ilmu silat benar benar amat pesat, bukan saja ilmu silat ajaran Sim ji sinni seperti Boan yok sinkang dan ilmu sakti Thian liong pay yang dipelajari, bahkan ilmu Heng kian sinkang peninggalan Thio Biau liong serta ilmu silat aliran partai lain pun berhasil dikuasai olehnya.
Kemampuannya sekarang sama sekali tidak berada dibawah kemampuan Thi Eng khi sewaktu bertarung melawan Hian im Tee kun tempo hari, itu berarti dia sudah mempunyai modal utama untuk bertarung satu lawan satu melawan Hian im Tee kun.
Namun taraf kemajuan yang berhasil dicapai pun merupakan taraf yang tertinggi, dia memang bisa maju selangkah lagi namun hal mana bisa dicapai dalam beberapa hari saja.
Saat itulah, Ciu Tin tin teringat kembali dengan janjinya kepada Bu Im untuk menembusi jalan nadi Jin meh dan tok mehnya, dia pun merundingkan hal ini dengan Thi Eng khi untuk dicoba.
Berbicara menurut kesempurnaan tenaga dalam, Cu Tin tin masih sanggup untuk menghadapi, yang dikuatirkan sekarang tinggal soal pengalaman dari gadis tersebut, sebab bila salah bertindak bisa jadi akan berakibat kedua belah pihak sama sama menderita kerugian besar.
Itulah sebabnya Thi Eng khi merasa amat tidak lega hati.
Ciu Tin tin telah makan buah Hian ko pemberian orang, hal ini membuat hatinya selalu merasa masgul.
Sehari dia belum berhasil membantu Bu Im untuk menembusi jalan darah Jin meh dan tok mehnya, sehari pula dia tak akan tenteram, dia bersikeras hendak menyerempet mara bahaya tersebut.
Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Thi Eng khi harus menyanggupi permintaannya itu.
Tatkala Bu Im menerima kabar tersebut, sudah barang tentu ia merasa sangat kegirangan.
Segala sesuatunya segera dipersiapkan menurut petunjuk dari Thi Eng khi.
Bu Im diminta untuk duduk bersila diatas sebuah kasur tempat duduk.
Ciu Tin tin dan dia masing masing menggunakan tenaganya secara bergantian, kemudian gadis itu berdiri dihadapan Bu Im dan jari telunjuk tangan kanannya ditempelkan diatas jalan darah soh liau hiat diujung hidung Bu Im, sementara jari telunjuk tangan kirinya ditempelkan diatas jalan darah Seng ciang hiat.
Dengan cepat Ciu Tin tin mengerahkan tenaga dalam yang telah dihimpun dalam pusarnya, dua gulung tenaga lembut masing masing menyusup masuk ke dalam tubuh Bu Im melalui jalan jalan Soh liau hiat dan Seng ciang hiat kemudian setelah bergabung dengan hawa murni yang berada dalam tubuh Bu Im sendiri, segera berputar mengitari badan sebanyak tiga kali putaran.
Kemudian dari Jin meh mengalir ke bawah melewati jalan darah Liau swan hiat, Thian toh hiat, Hoa kay hiat, Giok tong hiat, Tiong teng hiat, Sang wan hiat, Kian li hiat, Hun sui hiat, Im ciau hiat, Sik bun hiat, pin goan hiat, tiong kek hiat, dan Ci kut hiat dua puluh tiga buah jalan darah penting dan terhimpun dalam Hwee im hiat.
Sebaliknya yang melalui Tok meh mengalir berputar menembusi jalan darah Sin ting hiat, Pek hwe hiat, Hong hu hiat, ya lun hiat, tay hway hiat, sin cut hiat, leng tay hiat, ci yang hiat, tiong ci hiat, Mia bun hiat, Yang kwan hiat dan Yau gi hiat dua puluh tujuh buah jalan darah penting sebelum mencapai Tian jiang hiat.
Asal jalan darah hwee im hiat di urat Jin meh dan jalan darah tiang jiang hiat di urat Tok meh berhasil menembusi, berarti mereka sudah melewati sebuah pos yang penting, kemudian bilamana tenaga mereka dihimpun lagi dalam jalan darah Seng jiat hiat di Jin meh dan Gin ciau hiat di urat Tok meh, sehingga ke dua buah jalan darah ini berhasil ditembusi, berarti usaha mereka untuk menembusi urat nadi Jin meh dan Tok meh akan mencapai keberhasilan.
Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin memang lihay sekali, jalan darah Hwee im hiat dan Tiang jiang hiat ternyata berhasil dia tembusi tanpa mengalami kesulitan apupun, dengan cepatnya tanpa hambatan jalan darah tersebut berhasil ditembusi tapi setelah hawa murninya mencapai jalan darah Ing tong hiat, disitulah terletak sumber penyakit yang menyebabkan urat nadi Jin meh dan tok meh milik Bu Im tak berhasil ditembusi.
Tampak paras muka Bu Im berubah menjadi pucat pias, hawa murni yang berada dalam tubuhnya segera punah dan buyar, ternyata dia tak berani menggunakan hawa untuk menembusi jalan darah tersebut.
Hal ini menunjukkan ketika hawa murninya mencapai darah Ing tong hiat, oleh karena jalan nadinya terlalu sempit dan kecil maka apabila diterjang kelewat keras, bisa jadi akan berakibat meletus dan pecah.
Sebaliknya apabila penggunaan tenaga terlalu lemah, maka usaha untuk menembusi jalan darah tersebut akan mengalami kegagalan total.
Di sinilah terletak titik kelemahan yang membutuhkan bantuan dari Ciu Tin tin dengan Pek hwe tiau yang tayhoat yang belum lama dipelajarinya itu.
Dengan demikian, disamping Ciu Tin tin harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi jalan darah Ing tong hiat agar jangan sampai pecah, disamping itu dia pun yang memancing hawa murni dari Bu Im untuk berubah dari air bah menjadi aliran yang lembut, meski berubah menjadi aliran lembut namun memiliki kekuatan air bah guna menembusi jalan darah Seng ciang hiat dan Gin ciau hiat.
Paras muka Bu Im berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur tubuhnya turut gemetar keras.
Sebaliknya paras muka Ciu Tin tin berubah menjadi merah padam seperti orang mabuk, uap putih mengepul dari ubun ubunnya, jelas dia pun sedang berada dalam keadaan yang sangat payah.
Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian tersebut segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Bu Nay nay, kemudian katanya .
"Aku lihat enci Tin sudah hampir tak sanggup untuk mempertahankan diri lebih jauh!"
Bu Nay nay adalah seorang ahli ilmu silat, sudah barang tentu diapun tahu hal Ciu Tin tin serta Bu Im terjerumus dalam posisi yang serba sulit, asal kekuatan mereka tidak tercapai seperti apa yang diharapkan, maka bisa jadi keselamatan kedua orang ini bakal terancam.
Sayangnya, sekalipun dia mengetahui akan gejala tersebut namun tak mampu memberikan bantuannya maka dia menjadi gelisah sekali macam semut didalam kuali panas.
Baca Juga: Kait Perpisahan 3
Baca Juga: Kereta Berdarah 5