Ceritasilat Novel Online

Pukulan Naga Sakti 10

Eps 10 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.

Selang berapa saat kemudian, dia baru berseru dengan perasaan gugup bercampur cemas .

"Sekarang, apa yang harus kulakukan sekarang? sekarang apa yang harus kulakukan..?"

Dari dalam sakunya Thi Eng khi mengeluarkan sebatang jarum emas, kemudian katanya.

"Harap Bu Nay nay sudi membantu diriku, boanpwe akan menggunakan jarum emas untuk membantu mereka agar lolos dari bahaya ini!"

Thi Eng khi kehilangan tenaga dalamnya tentu saja dia tak dapat mengerahkan hawa murninya untuk memberi bantuan.

"Kau yakin akan berhasil?"

Tanya Bu Nay nay sambil memandang ke wajah pemuda tersebut dengan wajah tercengang.

"Asal kau Bu Nay nay membantu dengan tenaga dalam, boanpwe yakin sudah pasti akan berhasil."

Mendengar ucapan mana, Bu Nay nay segera menghela napas panjang.

"Aaai..., nampaknya kita memang harus menyerempet mara bahaya tersebut......"

Seraya berkata dia lantas menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah pay sim hiat dipunggung si anak muda itu, kemudian menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuhnya.

Thi Eng khi yang memperoleh kembali tenaga dalamnya, tentu saja sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari Bu Nay nay, namun dia justru hendak menggunakan cara demikian untuk merahasiakan keadaannya yang sebenarnya.

Begitulah, sambil tersenyum dia lantas menuju jalan darah Khi suat hiat,Thian suan hiat dan Cian cing hiat di tubuh Ciu Tin tin dengan jarum emas tersebut.

Berbareng itu juga, dia menggerakkan jari telunjuknya untuk menekan diatas gagang jarum yang menempel diatas jalan darah Thian suan hiat dan menyalurkan hawa murni yang melalui jarum emas tersebut menyusup ke dalam tubuh Ciu Tin tin.

Dengan bantuan tenaga dalam tersebut, Ciu Tin tin segera merasakan semangatnya menjadi segar, tenaga murninya serasa bertambah lipat ganda.

Pada saat itulah dari dalam tubuh Bu Im tiba tiba saja berkumandang suara nyaring, disusul kemudian sekujur tubuhnya gemetar keras, paras mukanya yang semula pucat pias kini mulai nampak warna darah kembali.

Tampaknya urat nadi Jin meh dan tok meh didalam tubuhnya telah berhasil ditembusi.

Ciu Tin tin menghembuskan napas panjang, ia segera menyingkir ke samping dan duduk mengatur pernapasan di sana.

Thi Eng khi sendiripun mencabut keluar jarum emas dari dalam tubuh Ciu Tin tin kemudian sambil memandang ke arah Bu Nay nay, katanya sambil tertawa .

"Terima kasih nay nay atas bantuanmu!"

Bu Nay nay segera mengerdipkan matanya berulang kali, katanya kemudian .

"Sauhiap, setelah kehilangan tenaga dalammu, ternyata kau masih sanggup melakukan tindakan pertolongan seperti ini, aku si nenek benar benar merasa kagum kepada mu!"

Tak selang berapa saat kemudian, Ciu Tin tin telah menyelesaikan semedinya dan melompat bangun, dia segera berterima kasih kapada Bu Nay nay dan Thi Eng khi.

Tatkala sepasang matanya yang jeli dia lihatkan ke wajah Thi Eng khi, dari balik matanya itu terlihat suatu sinar kebimbangan yang amat tebal, dia seakan akan sudah berhasil mengetahui rahasia dari Thi Eng khi tersebut, namun tidak berani untuk mempercayai jalan pemikiran sendiri.

Thi Eng khi tidak berani saling bertatapan muka dengan gadis itu, buru buru serunya agak jengah .

"Enci Tin, perlukah siaute pun menurunkan ilmu tusuk jarum ini kepadamu?"

Ciu Tin tin memandang sekejap kearah pemuda itu kemudian tersenyum manis.

"Sungguh tidak kusangka kalau adik Eng adalah seorang manusia yang sengaja merahasiakan kepandaiannya!"

Thi Eng khi menjadi tertegun dan tak tahu apa yang harus diucapkan olehnya.

Pada saat itulah Bu Im telah menyelesaikan semedinya dan datang mengucapkan terima kasih.

Pertemuan antara Thi Eng khi dengan Hian im Tee kun yang berlangsung belum lama berselang, meski pemuda itu berhasil dikalahkan namun kekalahan tersebut diperoleh secara terhormat, saat itu nama besarnya sudah makin menanjak tinggi dan merupakan simbol dari kegagahan kaum wanita jaman itu.

Dalam satu malaman saja, nama besar partai Thian liong pay turut menanjak dan pulih kembali kejayaannya seperti dahulu.

Sekalipun Keng thian giok cu Thi Keng telah menggabungkan diri dengan pihak Ban seng kiong, namun kejadian tersebut sama sekali tidak mempengaruhi pandangan orang persilatan serta sikap hormat mereka terhadap Thian liong pay.

Sebab pertarungan yang berlangsung amat seru tersebut disaksikan sendiri oleh ketua Siau lim pay, ketua Bu tong pay serta ketua Kay pang, merekalah yang kemudian memberikan penjelasan serta menyebar luaskan cerita tersebut ke seluruh dunia persilatan.

Cuma sayangnya, Thi Eng khi lenyap tak berbekas, siapa pun tidak tahu pemuda tersebut telah dibawa lari oleh Bu im sin hong Kian Kim siang menuju ke tempat mana.

Hal ini membuat semua orang sama sama merasa cemas, rindu dan bingung untuk menemukan kembali jejaknya.

Terutama sekali Hian im Tee kun yang telah menganggap Thi Eng khi sebagai satu satunya lawan yang paling tangguh, jejak sang pemuda yang hilang lenyap tak ketahuan kabar beritanya ini membuat dia semakin tak tenang untuk makan maupun tidur, setiap hari dia harus menanggung perasaan kuatir yang amat mendalam.

Hal mana dengan cepat mempengaruhi pula rencananya untuk melakukan pembasmian terhadap partai partai serta perguruan besar lainnya dalam dunia persilatan, kini dia mengalihkan segenap kekuatan dari Ban seng kiong untuk menelusuri jejak dari Thi Eng khi.

Oleh sebab itu, peristiwa mana memberikan kesempatan bagi pelbagai partai dan perguruan besar untuk menghimpun kekuatan, bersekongkol dengan kekuatan lain untuk menggalang persatuan yang lebih mantap di dalam usahanya menanggulangi ancaman bahaya maut yang bakal tiba.

Selain itu, mereka pun bersama sama menyelenggarakan pertemuan Bu lim tay hwee untuk membahas usaha mereka bersama didalam perlawanannya terhadap kekuatan Ban seng kiong.

Tentu saja orang orang yang diundang untuk menghadiri pertemuan besar tersebut hampir semuanya merupakan orang orang yang punya nama dan kedudukan dalam dunia persilatan.

Kalau bukan seorang pentolan persilatan dari suatu daerah tentunya dia adalah seorang ketua dari suatu partai perguruan atau perkumpulan yang berpengaruh besar.

Hal ini membuat suasana pertemuan tersebut beberapa kali lipat lebih angker daripada pertemuan yang diselenggarakan dibukit Siong san tempo hari, bahkan kerahasiaan pertemuan ini jauh melebihi kerahasiaan pertemuan yang diselenggarakan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong di dalam perkampungan Ki hian san ceng nya tempo hari.

Orang orang yang berangkat dari Bu lim tit it keh, markas besar partai Thian liong pay untuk menghadiri pertemuan tersebut terbagi menjadi dua rombongan.

Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim mewakili partai Thian liong pay dan sudah berangkat lebih duluan.

Sedangkan Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng dengan kedudukan lain baru berangkat keesokan harinya.

Sementara ini, Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng sudah lima hari menempuh perjalanannya dan seperti yang direncanakan semula, mereka telah tiba di Kota Tong tay.

Tong tay merupakan sebuah tempat yang cukup besar, suasana amat ramai sekali, namun mereka tidak memasuki kota, seperti pengumuman yang dibaca, mereka menelusuri kaki kota dan berjalan sejauh lima li sebelum tiba di depan sebuah kuil nikou kecil.

Sewaktu mereka mengetuk pintu,yang muncul bukan seorang nikou melainkan seorang nenek berambut putih.

Dia menerima surat undangan dari Sam ku sinni, mengajukan pertanyaan sampai setengah harian lamanya, dan pada akhirnya meminta kepada Sam ku sinni untuk mendemonstrasikan kepandaian silatnya sebelum menyerahkan sebuah peta perjalanan untuk mereka.

Setelah Pek leng siancu So Bwe leng dan Sam ku sinni meninggalkan kuil tersebut, dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng membuka peta perjalanan sambil memeriksanya.

Tak selang berapa saat kemudian, dia sudah mengumpat dengan perasaan mendongkol .

"Sungguh menjengkelkan!"

"Anak Leng, apakah peta itu ada yang tidak beres?"

Tanya Sam ku sinni dengan perasaan terperanjat. Sambil mencibirkan bibirnya yang kecil Pek leng siancu So Bwe leng berseru dengan gemas .

"Orang ini benar benar sialan, mereka hanya suruh kita menempuh perjalanan dengan sia sia belaka, suhu, coba bayangkan apakah kejadian ini tidak membuat hati orang merasa mendongkol?"

"Dimana sih letak pos kedua yang harus kita tuju?"

"Ngo hoo!"

Jawab Pek leng siancu So Bwe leng singkat.

"Bukankah terletak tak jauh dari Hway in?"

"Itu dia, disinilah yang membuat hati orang menjadi mendongkol, mengapa tidak mereka katakan kepada kita agar segera menuju ke Ngo hoo saja?"

"Kau tak bisa menyalahkan si penyelenggara pertemuan ini,"

Kata Sam ku sinni dengan perasaan tenang.

"sejak Huan im sin ang mengacau perkampungan Ki hian san ceng tempo hari, maka kali ini mau tak mau kita harus bersikap jauh lebih berhati hati, apabila kita melakukan perjalanan yang lebih jauh berarti akan menyulitkan orang orang dari Ban seng kiong untuk menyelidiki tempat pertemuan kita, sekalipun berhasil mereka ketahui pun belum tentu mereka sempat mendatangi tempat pertemuan tersebut tepat pada waktunya, siapa tahu ketika mereka sampai disitu, kita sudah pada bubaran?"

Pek leng siancu So Bwe leng sudah takluk dalam hatinya, namun mulutnya masih belum mau berhenti berbicara, sekali lagi dia mengomel .

"Aku paling tidak setuju dengan segala macam perbuatan yang kasak kusuk mencurigakan!"

Sam ku sinni tertawa.

"Untuk menghadapi manusia yang luar biasa, kita harus menggunakan cara yang luar biasa pula, kejadian semacam ini tak bisa dianggap sebagai suatu perbuatan kasak kusuk, dalam hal ini kau harus bisa membedakan nya secara jelas."

Pek leng siancu So Bwe leng termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia berseru.

"Aku tak ingin menghadiri pertemuan rahasia tersebut!"

"Apalagi yang sedang kau pikirkan didalam hati kecilmu?"

Seru Sam ku sinni agak tertegun.

"Aku hendak mencari engkoh Eng, dia sudah terluka parah, sudah pasti ia membutuhkan seseorang untuk merawatnya!"

Mendengar perkataan tersebut, Sam ku sinni segera tertawa getir, serunya .

"Perkataan ini sudah kau ulangi sampai beribu kali, tapi ke manakah kau hendak pergi untuk mencarinya?"

"Entahlah!"

Sahut Pek leng siancu So Bwe leng sambil berkeras kepala.

"pokoknya aku hendak mencarinya sampai dapat, sekalipun harus mencarinya diseantero jagad."

Sam ku sinni segera menghela napas panjang.

"Kita harus menemukan jejak Thi sauhiap, tapi kita pun lebih lebih harus menghadiri pertemuan rahasia tersebut?"

"Mengapa?"

"Bagaimana kalau kekuatan seorang dibandingkan dengan kekuatan orang banyak? Kita toh bisa meminta bantuan dari mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk bersama sama mencari jejaknya."

Mendengar perkataan ini, Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa, katanya kemudian .

"Suhu, kalau memang begitu, mari kita segera berangkat!"

Kalau bisa dia ingin secepatnya pergi menghadiri pertemuan tersebut, kemudian minta bantuan dari para jagoan untuk menemukan kembali jejak engkoh Eng nya.

"Buat apa kau mesti terburu napsu? Bukankah diatas peta sudah jelas diterangkan saatnya? Sekalipun datang lebih awal, lantas apa pula gunanya?"

Pek leng siancu So Bwe leng tidak menggubris ucapan tersebut, dia segera mengajak Sam ku sinni untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan menempuh perjalanan dengan cepat, mereka tiba di Ngo hoo tiga hari lebih awal.

Ngo hoo tidak jauh letaknya dari Hway lm namun termasuk dalam propinsi An hwee, oleh karena dekat dengan telaga Ang ci ou, maka jalan air disekitar sana amat ramai.

Berhubung mereka sampai ditempat tujuan tiga hari lebih awal, maka kedua orang itu tidak segera langsung menuju ke tempat yang telah ditentukan.

Mereka mencari sebuah rumah penginapan kecil dalam kota Ngo hoo lebih dulu untuk beristirahat.

Sebagaimana diketahui, Sam ku sinni adalah seorang rahib yang telah lanjut usia, sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng adalah seorang nona yang belum berumur dua puluh tahunan, maka pemilik rumah penginapan itu berbaik hati dengan mempersiapkan sebuah kamar didalam gedung pribadinya serta menyuruh anak bininya melayani sendiri keperluan ke dua orang tamunya ini.

Sikap yang sangat baik ini membuat kedua orang itu menjadi rikuh sendiri.

Malam itu tiada kejadian apa apa, keesokan harinya dengan perasaan tak sabar kembali Pek leng siancu So Bwe leng merecoki gurunya untuk mengajak dia mangunjungi tempat yang telah ditetapkan.

Dalam hati kecilnya dia berharap bisa segera menemukan orang yang ditugaskan menerima kedatangannya itu dan berharap bisa memperoleh pengertian dari orang itu agar menunjukkan kota berikutnya yang harus mereka datangi.

Memang beginilah penyakit dari kaum muda pada umumnya, tidak terkecuali pula pada diri Pek leng siancu So Bwe leng.

Terhadap murid yang satu ini, Sam ku sinni benar benar dibikin apa boleh buat, dia sama sekali tak mampu memperlihatkan sikap angkernya sebagai seorang guru, sebab dia memang terlampau menyayangi muridnya yang satu ini.

Padahal, kepandaian silat yang dimiliki Pek leng siancu So Bwe leng sekarang jauh lebih tangguh daripada gurunya, seandainya Sam ku sinni terlalu ketat mendidiknya, bisa jadi gadis itu akan minggat secara diam diam.

Bila sampai terjadi begini, maka pada akhirnya Sam ku sinni pun tak akan mampu untuk berbuat banyak.

Begitulah, oleh karena Sam ku sinni tak sanggup menghadapi Pek leng siancu So Bwe leng yang merecokinya terus menerus, terpaksa dia harus mengabulkan permintaannya dengan paksa.

Begitulah, mereka pun segera berangkat meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Tempat yang ditentukan bagi mereka kali ini bukan diluar kota, melainkan di sebuah gedung besar yang terletak dalam kota.

Pintu gerbang gedung itu berwarna merah dengan sepasang singa batu setinggi manusia berdiri dikedua belah sisi pintu, dua baris pohon kui yang lebat dengan daun yang rindang menjuat keluar dari balik dinding pekarangan.

Begitu megah dan menterengnya bangunan gedung tersebut, membuat Pek leng siancu So Bwe leng yang selamanya tidak takut langit tidak takut bumi pun menjadi kuatir kalau salah mendatangi tempat orang lain, sehingga untuk sesaat dia tak berani maju ke depan.

Melihat sikap anak muridnya ini, Sam ku sinni segera berseru kepadanya sambil tertawa "Huuuuh, kau benar benar seorang manusia yang tak becus!"

Dia lantas berjalan lebih dulu di depan dan segera mengetuk pintu gerbang. Pek leng siancu So Bwe leng membelalakkan matanya lebar lebar sambil berebut ke depan, katanya sambil tertawa merdu .

"Suhu saja tidak kuatir kehilangan muka apa pula yang mesti ditakuti oleh Leng ji?"

Dia segera mengetuk tiga kali diatas gelang pintu gerbang yang berwarna kuning keemas emasan itu.

"Siapa?"

Dari dalam gedung terdengar seseorang menegur. Pintu gerbang dibuka dan muncul seorang kakek bungkuk, dia mengamati Sam ku sinni sekejap, lalu katanya .

"Maaf, gedung kami tidak berjodoh dengan kaum rahib atau pendeta, silahkan suthay berpindah ke tempat lain saja."

Rupanya dia telah menganggap Sam ku sinni berdua sebagai orang yang mencari derma.

"Omitohud....."

Bisik Sam ku sinni sambil tersenyum kecut. Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, sambil tertawa Pek leng siancu So Bwe leng telah berkata lebih dulu .

"Rupanya kau orang tua salah melihat, kami bukan datang untuk mencari derma!"

Ucapan tersebut membuat kakek bungkuk itu menjadi rikuh sendiri, katanya kemudian sambil tertawa .

"Ooooh, nampaknya lohan telah bersikap kurang hormat, tolong tanya ada urusan apa kalian datang kemari?"

Pek leng siancu So Bwe leng yang teringat akan peraturan yang telah ditetapkan untuk bertanya jawab, dengan cepat dia berseru .

"Gedung utara gedung selatan bagaikan air mengalir...."

Ucapan tersebut merupakan kata sandi yang harus diucapkan terhadap mereka yang ditugaskan untuk menyambut mereka, dan seandainya kakek bungkuk ini adalah orang yang mereka cari, maka seharusnya dia akan menyahut kata tersebut dengan kata sandi pula .

"Tampak kawanan burung manyar datang setiap hari."

Entah karena saat yang ditetapkan belum tiba atau karena kakek bungkuk itu sengaja tak mau menjawab, atau mungkin juga kakek itu sama sekali tidak mengetahui artinya, tampak dia berdiri dengan wajah kebingungan, kemudian tegurnya .

"Nona, apa yang kau ucapkan? Lohan sama sekali tidak mengerti!"

Pek leng siancu So Bwe leng masih belum mau menyerah dengan begitu saja, kembali serunya .

"Kau benar benar tidak mengerti, ataukah berpura pura tidak mengerti...?"

Kakek bungkuk itu tertawa getir.

"Lohan kalau tidak tahu selamanya mengatakan tidak tahu, apa yang nona katakan benar benar tidak lohan pahami."

Melihat itu, tanpa berpikir panjang lagi Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru .

"Kami datang kemari untuk mencari orang!" ''Ooooh....rupanya nona sedang mencari orang, entah siapakah yang sedang kalian cari? Sebutkan saja siapa namanya, lohan akan segera mengundang keluar."

Menyaksikan kakek bungkuk itu tidak mempersilahkan mereka untuk masuk, Pek leng siancu So Bwe leng merasa semakin mendongkol lagi, serunya kemudian agak gemas .

"Kami datang untuk mencari majikan kalian, apakah kami tidak dipersilahkan untuk masuk?"

Dengan perasaan terkejut buru buru kakek bungkuk itu menjura dalam dalam, sahutnya berulang kali .

"Baik, baik.... harap kalian sudi menyebutkan nama kalian berdua, hamba akan segera melaporkan kepada majikan agar datang untuk menyambut kedatangan kalian"

Tampaknya kakek bungkuk itu sudah dibikin keder oleh sikap Pek leng siancu So Bwe leng, sehingga dia kuatir menyalahi tamu tamunya ini....

Pek leng siancu So Bwe leng segera menyebutkan nama gurunya dan nama sendiri.

Tak selang berapa saat kemudian, kakek bungkuk itu muncul kembali didepan pintu, hanya kali ini sikapnya berubah menjadi sangat angkuh, katanya ketus .

"Majikan kami tidak kenal dengan kalian berdua, sedang lohan juga tak punya waktu, silahkan..."

"Blaaamm....."

Pintu gerbang segera di tutup keras keras.

Sebagaimana diketahui, Pek leng siancu So Bwe leng dibesarkan diluar perbatasan, sejak kecil ia sudah merupakan cucu kesayangan dari Tiang pek lojin, tentu saja tak pernah diperlakukan orang dengan cara seperti ini.

Kontan saja dia naik pitam, telapak tangannya segera diayunkan siap menghajar pintu gerbang tersebut.

Seandainya pintu tersebut kena dihantam olehnya, niscaya pintu tersebut akan hancur berantakan dan roboh ke tanah.

Dengan Sam ku sinni berada disampingnya, sudah barang tentu rahib tua tersebut tidak memperkenankan gadis tersebut untuk menerbitkan keonaran, cepat cepat dia menahan telapak tangan si nona sambil berbisik .

"Anak Leng, bersabarlah sebentar!'' Dia segera menarik tangan muridnya dan berlalu dari situ. Dengan gemas Pek leng siancu So Bwe leng melotot sekejap lagi ke arah pintu gerbang, kemudian baru berlalu dari situ dengan wajah uring uringan. Baru saja ke dua orang itu sampai di tikungan gedung mana, mendadak terlihat ada seekor kuda yang tinggi besar berlari mendekat dan berhenti didepan pintu gerbang, lalu dari atas punggung kuda itu melompat turun seorang bocah lelaki yang berparas tampan. Dengan gerakan tubuh yang sangat lincah bocah lelaki itu melayang turun dari kudanya, begitu enteng dan cekatan kepandaiannya sehingga pada hakekatnya tidak sebanding dengan usianya.

Jilid 35 Sam ku sinni serta Pek leng siancu So Bwe leng yang menyaksikan kejadian tersebut semakin merasa berat untuk meninggalkan tempat itu, mereka segera menyembunyikan diri sambil mengintip ke arah pintu gerbang.

Tampak bocah lelaki itu berjalan menuju ke depan pintu gerbang kemudian mengetuk beberapa kali, ketika tidak memperoleh jawaban, dia segera berteriak keras .

"The bungkuk, ayo buka pintu, sebentar nona Kan akan segera sampai disini!"

Entah siapakah nona Kan tersebut, tak lama kemudian tampak kesibukan yang luar biasa didalam gedung tersebut, semua penghuni bermunculan untuk menyambut kedatangan dari nona Kan tersebut.

Berapa saat kemudian, terdengar suara derap kaki kuda bergema tiba, kemudian tampaklah empat orang lelaki berpakaian ringkas dan delapan orang kakek berjenggot putih muncul mengiringi sebuah kereta yang amat indah bentuknya.

Tatkala tiba didepan pintu gerbang, orang orang yang menunggang kuda itu serentak berlompatan turun, sebaliknya kereta tersebut langsung menembusi pintu gerbang dan bergerak masuk ke halaman dalam.

Dengan demikian Sam ku sinni serta Pek leng siancu So Bwe leng tak sempat untuk menyaksikan macam apakah orang yang dinamakan nona Kan tersebut.

Tapi mereka sempat mendengar suara yang amat merdu berkumandang keluar dari balik ruang kereta itu .

"Hadiahkan satu tahil emas murni untuk setiap orang!"

Pek leng siancu So Bwe leng menjadi tertegun, dengan cepat dia merasa kalau suara tersebut sangat dikenal olehnya.

Seorang lelaki berpakaian ringkas muncul dengan membawa sebuah kentongan besar, setiap orang yang muncul di depan pintu gerbang untuk menyambut kedatangan nona Kan segera diberi hadiah satu keping emas murni seberat sepuluh tahil tiap orang.

Benar benar suatu tindakan yang luar biasa, tak heran kalau orang orang itu begitu senang menyambut kedatangan nona Kan tersebut.

Mendadak Pek leng siancu So Bwe leng mendepak depakkan kakinya berulang kali sambil berseru .

"Hmmm! Sekarang aku sudah tahu siapa gerangan keparat tersebut....!"

Sam ku sinni tak tahu apa sebabnya Pek leng siancu So Bwe leng menjadi sewot, buru buru tegurnya dengan wajah tertegun .

"Leng ji, jangan bertindak sembrono!"

Menyaksikan gurunya menjadi begitu gelisah, Pek leng siancu So Bwe leng segera mengulum sekulum senyuman diujung bibirnya, katanya kemudian .

"Siapa yang akan bertindak sembrono? Mari kita pulang saja ke penginapan!"

Setelah mendengar ajakan tersebut, Sam ku sinni baru menghembuskan napas lega, bersama Pek leng siancu So Bwe leng, berangkatlah mereka kembali ke rumah penginapan.

Sekembalinya ke rumah penginapan, pertama tama yang dilakukan oleh Pek leng siancu So Bwe leng adalah mencari tahu siapakah pemilik gedung tersebut.

Ternyata gedung tersebut milik seorang dari marga The yang bernama Kongtiong, dia merupakan satu satunya orang terkemuka dari kota Ngo hoo, sudah lama menjadi pembesar pemerintah dan baru tahun berselang mengundurkan diri dari jabatannya untuk kembali ke desa.

Pada hakekatnya mereka sama sekali bukan anggota persilatan seperti apa yang diduganya semula.

Pek leng siancu So Bwe leng merasa agak kecewa namun dia pantang menyerah dengan begitu saja, kembali tanyanya kepada pemilik rumah penginapan tersebut, apakah ia tahu tentang urusan nona Kan dari gedung keluarga The.

Menyinggung soal nona Kan dari keluarga The, pemilik penginapan itu nampak bersemangat sekali, katanya dengan suara keras .

"Aaah, berbicara tentang nona Kan dari The loya tersebut, dia benar benar seorang nona yang luar biasa, mana wajahnya cantik, supel lagi, cukup berbicara dari perbuatan mulia yang banyak dilakukan olehnya, sulit rasanya untuk menemukan orang ke dua semacam itu di wilayah Ngo hoo..."

Kemudian setelah menelan air liur, pujinya lebih lanjut .

"Terhadap siapa saja, sikapnya selalu ramah tamah dan halus berbudi terutama fakir miskin, apa saja yang diminta pasti dikabulkan, hampir setiap orang di kota Ngo hoo ini tahu kalau dia adalah seorang nona berwajah cantik berhati pousat, luar biasa, dia memang seorang nona baik yang luar biasa!"

Mendengar perkataan tersebut, Pek leng siancu So Bwe leng merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku dan merinding, selanya tiba tiba dengan suara dingin .

"Apakah dia adalah penduduk Ngo hoo?"

Tampaknya pemilik rumah penginapan tersebut tak menyangka akan memperoleh pertanyaan tersebut, ia menjadi tertegun beberapa saat kemudian baru berkata .

"Tidak! Entah dia berasal dari mana?"

Sudah jelas dia merasa kurang bergairah karena nona itu bukan penduduk kota Ngo hoo. Sambil tertawa, Pek leng siancu So Bwe leng berkata lagi .

"Kalau bukan penduduk kota ini, mengapa bisa menjadi nona dari keluarga The?"

Pemilik rumah penginapan itu bertambah asyik untuk bercerita, katanya kemudian .

"Dalam perjalanan pulang setelah pensiun sebagai pembesar, The loya telah menjumpai sekawanan perampok yang membunuh orang tanpa berkedip, para pengawalnya telah dibunuh habis hingga tak seorangpun yang dibiarkan hidup, sementara perampok tersebut hendak membunuh The loya, pada saat itulah muncul nona Kan yang menunggang seekor kuda cepat, ia segera melayang turun di depan The loya, hanya dalam beberapa gebrakan saja nona tersebut telah berhasil menghajar kawanan perampok tersebut sehingga pada minta ampun."

"Kemudian dia telah melepaskan kawanan perampok itu bukan?"

Jengek Pek leng siancu So Bwe leng sambil tertawa dingin.

"Nona Kan adalah seorang nona yang berbelas kasihan, tentu saja dia tak akan membunuh orang, sudah barang tentu kawanan penjahat tersebut dibebaskan semua setelah diberi nasihat."

Mendadak Pek leng siancu So Bwe leng menguap, kemudian gumamnya .

"Aduuuuh mak, lelah benar, kejadian selanjutnya aku sudah tahu, terima kasih banyak atas penjelasanmu, tak usah kau lanjutkan lagi kisah ceritamu itu."

Pemilik rumah penginapan tersebut segera tertawa cekikikan .

"Sebentar, bila nona ingin mengajukan suatu pertanyaan lagi, panggilah hamba, hamba akan segera tiba!"

Kemudian sambil tertawa ia segera berlalu dari sana.

Pek leng siancu So Bwe leng dan Sam ku sinni juga segera kembali ke dalam kamar mereka.

Setibanya dalam ruangan, Sam ku sinni segera menegur sambil tertawa lebar .

"Leng ji, nampaknya kau akan berbuat nakal lagi?"

Paras muka Pek leng siancu So Bwe leng telah berubah menjadi murung sekali katanya tiba tiba .

"Suhu, kita semua telah termakan oleh tipu muslihat orang orang Ban seng kiong!"

Sam ku sinni menjadi terperanjat sekali setelah mendengar perkataan tersebut, serunya tanpa terasa .

"Leng ji, apa maksud perkataanmu itu?"

"Pertemuan besar Bu lim tay hwee yang diselenggarakan kali ini sesungguhnya adalah pertemuan yang sengaja diatur oleh orang orang Ban seng kiong....."

Kata Pek leng siancu So Bwe leng menegaskan. Sam ku sinni kembali tertawa terkekeh kekeh.

"Anak Leng, sampai di mana sih kau melantur? Sudah jelas pertemuan besar Bu lim tay hwee yang diselenggarakan kali ini timbul atas prakarsa dari Ci long taysu dari Siau lim pay serta Keng hian totiang dari Bu tong pay selagi masih berada dalam gedung Bu lim tit it keh, bagaimana mungkin bisa kau katakan sebagai tipu muslihat dari orang Ban seng kiong?"

"Waktu itu toh belum diputuskan secara bersungguh sungguh, sedangkan surat undangan yang disebarkan kali ini tanpa tanda tangan, bukankah kejadian ini sedikit agak aneh?"

Sam ku sinni segera berkerut kening, sesudah termenung beberapa saat lamanya, dia berkata lagi .

"Nak, kau tak usah banyak curiga, tanpa dicantumkan nama karena untuk menjaga kerahasiaan pertemuan tersebut, bayangkan saja siapa yang telah menghantarkan surat undangan tersebut untuk kita? Tidak sepantasnya kalau menaruh curiga terhadap orang itu, aku ingin bertanya kepadamu, berapa orang Ci kay taysu sih yang berada di dunia pada saat ini?"

Pek leng siancu So Bwe leng berpikir sejenak, sebenarnya dia telah berhasil menemukan banyak sekali alasan untuk menumbangkan perkataan dari Sam ku sinni tersebut, akan tetapi semua perkataan tersebut tidak sampai diutarakan keluar.

Kembali dia berubah pikiran, setelah menghela napas panjang katanya lagi .

"Suhu, malam ini anak Leng akan memberikan sebuah bukti yang jelas untukmu."

"Kau tak usah mencari keonaran lagi, suhu tidak mengharapkan bukti apapun,"

Tampik Sam ku sinni sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau toh suhu tak mengharapkan bukti, biarlah anak Leng menyelidiki gedung keluarga The seorang diri!"

Sam ku sinni kuatir kalau Pek leng siancu So Bwe leng menerbitkan keonaran disana, tentu saja dia tidak akan membiarkan gadis tersebut pergi seorang diri, buru buru serunya lagi .

"Baik, baik! Suhu akan menemani mu untuk melakukan penyelidikan di dalam gedung keluarga The!"

"Kalau begitu, suhu memang benar benar amat menyayangi Leng ji!"

Seru Pek leng siancu So Bwe leng kemudian sambil tertawa. Dengan gemas Sam ku sinni memukul pelan lengan anak muridnya ini, kemudian omelnya .

"Yaa, siapa suruh suhu berhutang kepadamu!"

Malam harinya, Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng telah menyelinap masuk kedalam gedung keluarga The dan menyembunyikan diri diatas ruang tengah.

Dalam ruangan tamu tampak ada empat lima buah meja perjamuan yang telah dipersiapkan.

Duduk di kursi utama adalah seorang lelaki yang bertingkah laku seperti seorang pembesar, sedang disebelah kanannya duduk seorang gadis yang genit.

Dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suara, Pek leng siancu So Bwe leng segera berbisik .

"Suhu, coba kau lihat siapakah gadis tersebut!"

Ditinjau dari nada suaranya, sudah jelas ucapan mana bukan merupakan suatu pertanyaan, melainkan sudah yakin siapakah gadis tersebut.

Sam ku sinni mengamati sekejap raut wajah gadis itu kemudian serunya tertahan .

"Aaaah, rupanya Ciu Lan siluman perempuan itu!"

Pek leng siancu So Bwe leng sudah pernah menderita kerugian besar ditangan Hian im li Ciu Lan, tidak heran kalau rasa bencinya terhadap perempuan tersebut sudah merasuk sampai ke tulang sumsumnya.

Kini, setelah berhadapan dengan musuh besarnya, dia menjadi geram sekali dan siap menerjang ke bawah.

Bisiknya sambil menahan rasa gusar dan bencinya.

"Suhu, tecu akan segera turun ke bawah untuk membunuh dan membalas dendam sakit hatiku!"

Buru buru Sam ku sinni menarik tangan Pek leng siancu So Bwe leng, bisiknya sembari menggelengkan kepalanya berulang kali .

"Anak Leng, jangan bertindak gegabah!"

"Kenapa?"

Tanya Pek leng siancu So Bwe leng sambil menahan rasa geram di hatinya.

Sudah jelas kalau benaknya telah dipengaruhi oleh kobaran hawa amarah yang membara sehingga hampir saja dia tak sanggup untuk mengendalikan diri.

Sebagai orang yang sudah lama bergaul dengan gadis itu, tentu saja Sam ku sinni cukup memahami watak dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia tidak menjawab melainkan menarik tangannya sambil diajak keluar dari gedung keluarga The.

Sepanjang jalan, Pek leng siancu So Bwe leng mengomel terus.

"Suhu, kau benar benar tidak memakai aturan!"

Sam ku sinni tertawa.

"Siapa yang bilang tidak pakai aturan? Seandainya suasana tadi kena kau kacau hingga tak karuan, baru tak tahu aturan namanya, mengerti ....?"

Pek leng siancu So Bwe leng adalah seorang gadis yang cerdik, tadi dia tak sanggup mengendalikan diri karena hatinya terbakar oleh perasaan benci yang membara sehingga sama sekali tidak mempertimbangkan akibat dari tindakan yang dilakukan.

Setelah ditegur kembali oleh Sam ku sinni sekarang, dengan cepat dia menjadi sadar kembali akan kesilafannya.

Sambil tersenyum jengah, gadis itu segera berkata .

"Selama berada bersama sama suhu, Leng ji masa tak tahu aturan? Menurut pendapat suhu, cara apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi keadaan seperti itu?"

"Kau jangan malas, lebih baik kau saja yang mengajukan usahamu itu, sekarang tenangkan dulu pikiranmu lalu dipikirkan secara pelan pelan!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera membuat muka setan terhadap gurunya, setelah mencibirkan bibirnya ia menyindir .

"Mungkin inilah yang menjadi kesempatan sang guru untuk memberikan pendidikannya?"

"Kau masih berusia muda, sudah sepantasnya kalau lebih banyak mempergunakan otakmu!"

Pek leng siancu So Bwe leng tertawa sesudah termenung beberapa saat lamanya, dengan kening berkerut katanya kemudian .

"Setelah Leng ji berpikir pulang pergi, rasanya hanya ada satu cara saja yang bisa digunakan agak sesuai!"

"Apakah tiada cara lain yang lebih bagus lagi?"

"Kita mengetahui kejadian ini rada terlambat, tak sempat untuk mencari akal guna menghadapi seluruh perubahan situasi, yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan diri sendiri lebih dulu, kemudian baru mencari akal guna menghadapi setiap perubahan!"

Sam ku sinni manggut manggut.

"Perkataanmu itu memang masuk diakal semua, tapi bagaimanakah cara untuk menyelamatkan diri itu?"

"Terpaksa kita harus berlagak seolah olah tidak tahu, kita temukan dulu tempat berkumpul, kemudian secara diam diam memberitahukan kepada semua orang dan barsama sama menerjang keluar dari tempat yang berbahaya itu, yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan dahulu kekuatan dari umat persilatan. Setelah itu baru memperhitungkan persoalan lainnya."

"Ucapan Leng ji memang benar, jalan permikiranmu ini persis seperti apa yang kupikirkan, coba bayangkan saja seandainya kita melakukan pengacauan tadi sehingga mereka sadar kalau rencana busuk mereka sudah kita ketahui, bisa jadi kita tak akan berhasil menemukan tempat untuk berkumpul itu, ada lagi tentang keadaan lainnya..."

Sepanjang jalan ke dua orang itu berunding, kemudian memperhitungkan pula kemungkinan kemungkinan yang bakal terjadi atas peristiwa tersebut serta bagaimana cara untuk menanggulanginya.

Kemudian mereka pun memutuskan untuk bersabar diri menunggu sampai saat yang telah ditentukan, kemudian barulah berangkat kembali ke gedung keluarga The.

Ketika pintu diketuk, ternyata yang membukakan pintu bagi mereka masih tetap si kakek bungkuk tersebut.

Begitu berjumpa dengan Sam ku sinni berdua, kakek bungkuk itu segera tertawa dingin, serunya .

"Lagi lagi kalian yang datang kemari!!"

Selesai berkata tanpa menggubris ke dua orang itu lagi, dia siap untuk masuk dan menutup pintu.

Dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng maju selangkah ke depan dan meluruskan kaki kanannya ke dalam pintu, kemudian tangan kirinya direntangkan menahan pintu gerbang tersebut.

Kakek bungkuk itu kembali bersikeras hendak menutup pintu gerbangnya, ketika usahanya itu tidak berhasil, dengan amat gusar dia lantas mendamprat .

"Ditengah hari bolong begini, apakah kalian membuat keonaran disini....?"

Pek leng siancu So Bwe leng menekan telapak tangan kirinya ke depan, tubuh si kakek bungkuk itu segera terpental sejauh beberapa kaki ke belakang, pintu gerbang pun segera terpentang lebar kembali.....

Dengan langkah lebar guru dan murid berdua langsung berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dengan cepat kakek bungkuk itu merangkak bangun dan menerjang lagi ke hadapan mereka, teriaknya tiba tiba .

"Hei, kalian cepat datang kemari, ada perampok yang datang mencari gara gara...."

Pek leng siancu So Bwe leng benar benar merasa gusar sekali, dengan perasaan mendongkol bentaknya .

"Tua bangka yang tak tahu diri, bila kau berani mengaco belo lagi, jangan salahkan nonamu tak akan bertindak sungkan sungkan lagi....!"

Sembari berseru dia membalikkan tangan melepaskan sebuah pukulan ke atas pintu gerbang.

Dengan cepat di atas pintu mana muncul sebuah bekas telapak tangan yang amat nyata.

Kakek bungkuk itu menjerit kaget, sambil memegangi kepala sendiri dia segera lari terbirit birit masuk ke dalam ruangan.

Tak selang kemudian, dari dalam gedung muncul dua orang kakek, kedua orang ini adalah dua diantara delapan kakek yang datang mengiringi Hian im li Ciu Lan tersebut.

Tampak kakek bungkuk itu mengikuti dari kejauhan sana, dengan penuh ketakutan dia menuding ke arah Sam ku sinni berdua sambil berseru .

"Mereka berdua yang membuat keonaran di sini...."

Dengan langkah lebar ke dua orang kakek itu berjalan menuju ke hadapan Sam ku sinni, setelah mengamati ke dua orang itu beberapa saat, salah seorang diantaranya segera menjura sambil menegur .

"Apakah kalian berdua datang kemari untuk mencari teman?"

Tampaknya dia sengaja membukakan jalan buat Sam ku sinni berdua.

"Omitohud..."

Bisik Sam ku sinni, katanya kemudian dengan kata kata sandi.

"gedung utara gedung selatan bagaikan air mengalir....."

"Tampak kawanan burung manyar datang setiap hari!"

Sahut ke dua orang kakek itu sambil tertawa terbahak babak. Kemudian salah seorang diantaranya segera berseru .

"Sudah lama kami berdua menantikan kedatangan dari sinni sekalian...."

"Omitohud, bila muridku berbuat kasar, harap kalian berdua jangan mentertawakan!"

Seru Sam ku sinni kemudian sambil merangkap tangannya di depan dada. Sekali lagi kedua orang kakek tersebut tertawa terbahak bahak, katanya kemudian .

"Nona Leng, sempurna amat ilmu Budhi cing lek yang kau miliki, hari ini lohu berdua benar benar merasa terbuka sepasang mata kami."

Sungguh tak disangka, ternyata mereka pun mengenali Pek leng siancu So Bwe leng dengan jelas. Dengan kening berkerut, Pek leng siancu So Bwe leng segera menegur .

"Tolong tanya, siapakah nama kalian berdua?"

Kedua orang kakek itu saling berpandangan sekejap, kemudian salah seorang diantaranya berseru .

"Maaf, hari ini kami sedang menjalankan tugas, menurut peraturan tidak diperkenankan saling menanyakan nama. Bila berjumpa lagi di kemudian hari bagaimana kalau saat itulah nama kami baru diucapkan?"

Sam ku sinni tertawa.

"Leng ji?"

Katanya kemudian.

"cepat berikan benda tersebut agar diperiksa ke dua orang lotiang ini!"

Pek leng siancu segera mengambil keluar peta tersebut dan diserahkan kepada ke dua orang kakek itu.

Ke dua orang kakek itu melakukan pemeriksaan sekejap dengan seksama, kemudian tatkala sepasang tangannya digetarkan, peta tersebut sudah dihancur tamatkan menjadi berkeping keping.

Tidak mempersilahkan Sam ku sinni berdua untuk masuk ke dalam gedung lagi, di tepi pintu itu juga dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain dan diserahkan kepada Sam ku sinni sambil tertawa .

"Di dalam buntalan ini terdapat tiga peta yang berwarna merah, kuning serta biru, mula pertama Sinni harus memeriksa dahulu peta berwarna merah itu, kemudian baru diperiksa peta yang berwarna kuning dan biru, sampai waktunya pasti ada orang yang akan menyambut kedatangan kalian. Kini Lohu sekalian hanya bertindak sebagai tamu disini, bila pelayanan kami kurang baik harap kalian berdua jangan marah....."

Waktu itu, Pek leng siancu So Bwe leng memang ingin cepat cepat meninggalkan tempat tersebut, maka tanpa banyak berbicara lagi dia segera menarik tangan Sam ku sinni dan berlalu dari situ tanpa banyak membuang waktu lagi.

Ternyata kedua orang kakek itu tidak ambil peduli, malahan mereka justru tertawa terbahak bahak ....

Sekembalinya ke rumah penginapan, Pek leng siancu So Bwe leng dan Sam ku sinni membuka peta berwarna merah itu lebih dulu, dalam peta mana dikatakan bahwa mereka diharuskan mencari seorang kakek penjual obat di kota Lak hap dan suruh kakek penjual obat itu yang membukakan peta berwarna kuning tersebut, setelah itu mereka baru diperbolehkan meneruskan perjalanan sesuai dengan apa yang tercantum dalam peta kuning tersebut.

Sebenarnya Pek leng siancu So Bwe leng berdua ingin membuka ketiga lembar peta tersebut dan dilakukan penelitian, akan tetapi berhubung mereka tidak mengetahui siapa gerangan kakek penjual obat tersebut dan tambahan apakah yang akan diberikan olehnya atas peta berwarna kuning itu, mereka tak berani membuka secara sembarangan, kuatir hal tersebut menimbulkan kecurigaan orang dan memotong jalan selanjutnya....

Tentu saja mereka lebih lebih tak berani membuka peta yang berwarna biru itu.

Setibanya dikota Lak hap dengan cepatnya mereka telah berhasil menemukan kakek penjual obat tersebut.

Kali ini tanpa kata sandi, mereka cukup menggenggam peta berwarna kuning itu di tangan dan berjalan menelusuri kota, tanpa diundang kakek penjual obat itu sudah muncul sendiri dan mengadakan hubungan kontak dengan mereka.

Berhubung sebelumnya mereka sudah tahu kalau orang yang bakal mengadakan hubungan kontak dengannya adalah seorang kakek penjual obat, maka tanpa berpikir panjang lagi mereka serahkan peta berwarna kuning itu kepada si kakek penjual obat tersebut.

Ketika kakek penjual obat itu menyaksikan peta berwarna kuning tersebut masih tertutup segel, sambil tertawa dia manggut manggut dan merobek sampul peta kuning itu dan diserahkan kembali kepada mereka, tanpa diberi tambahan dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dengan begitu saja dia berlalu dari situ.

Pek leng siancu So Bwe leng yang menyaksikan kejadian ini menjadi amat menyesal omelnya .

"Suhu, tahu begini, kita pun tak usah melakukan perjalanan jauh dengan sia sia, mengapa kita tidak membuka sendiri peta kuning tersebut dan diperiksa isinya?"

Sam ku sinni segera tertawa.

"Siapa sih yang bisa menduga akan peristiwa semacam ini? Aku lihat lebih baik kita bertindak lebih jujur saja daripada menimbulkan kecurigaan orang lain."

Pek leng siancu So Bwe leng menjadi gemas sekali sehingga menggigit bibirnya kencang kencang, menurut petunjuk yang tercantum dalam peta kuning tersebut mereka diharuskan kembali ke kota Poo ing dan mencari seorang nona penjual bunga mawar.

Kota Poo ing letaknya jauh lebih dekat dengan kota Hway im...

Sepanjang jalan Pek leng siancu So Bwe leng yang teringat bagaimana mereka sia sia berangkat ke kota Lak hap, semakin dipikir hatinya merasa semakin mendongkol, dalam marahnya timbullah satu ingatan untuk membongkar peta biru itu lebih dahulu.

Maka menggunakan kesempatan disaat mereka sedang menginap dirumah penginapan, secara diam diam ia menggunakan sapu tangan yang dibasahi dengan air untuk membuka sampul surat tersebut, ia bertindak sangat berhati hati sekali sehingga sampul tersebut tak sampai robek.

Tentu saja dia sengaja berbuat demikian agar bilamana perlu, peta biru tersebut masih bisa dikembalikan pada wujud yang sebenarnya, dan digunakan untuk mencari si nona penjual bunga mawar.

Akan tetapi, ketika dia membaca isi peta biru tersebut, hampir muntah darah gadis tersebut saking mendongkolnya, ia segera berteriak keras .

"Suhu, lagi lagi kita tertipu oleh akal muslihat orang lain!"

Sebenarnya Sam ku sinni tidak menaruh perhatian terhadap apa yang dilakukan oleh Pek leng siancu So Bwe leng, maka mendengar teriakan tersebut, saking terkejutnya dia sampai menyelinap ke samping muridnya itu, kemudian dengan terkejut tegurnya .

"Anak Leng, apa yang terjadi?"

Ketika dilihatnya peta biru tersebut sudah dibuka, dengan wajah serius ia lantas menegur .

"Anak Leng, kau telah berbuat nakal!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera menyerahkan isi peta berwarna biru itu ke tangan Sam ku sinni, katanya dengan sedih .

"Coba suhu periksa,seandainya aku nakal sedari dulu urusan toh lebih menguntungkan!"

Sam ku sinni segera mengambil peta berwarna biru itu dan terbaca olehnya .

"Tujuan kalian adalah gedung Bu lim tit it keh!"

Begitu membaca tulisan mana, untuk sesaat lamanya Sam ku sinni tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Ketika dibaca lebih lanjut, maka isi surat itu berikutnya hanya tercantum tulisan yang bernada ejekan .

"Haaahhh... haaaahhh ..... haaaahhh..."

Sudah jelas, tulisan itu mengartikan suatu tertawa ejekan yang penuh bernada sindiran.

Untuk beberapa saat lamanya ke dua orang itu menjadi murung dan amat kesal sekali.

Akhirnya Pek leng siancu So Bwe leng mendepak depakkan kakinya diatas tanah sambil berseru .

"Suhu, mari kita kembali ke Ngo hoo dan membinasakan siluman perempuan tersebut!"

"Kauanggap dengan kembali ke Ngo hoo kita masih akan menemukan mereka?"

Kata Sam ku sinni memperingatkan.

Sebenarnya Pek leng siancu So Bwe leng mengucapkan perkataan tarsebut tanpa disertai dengan pertimbangan yang masak, ucapan mana diutarakan dalam keadaan mendongkol hingga diutarakan dengan begitu saja.

Padahal begitu ucapan tersebut diutarakan, dia segera dapat berpikir juga bahwa orang lain tak akan bertindak bodoh dengan menunggu kedatangan mereka kembali untuk mencari gara gara.

Akhirnya setelah dia berpikir sejenak, katanya kemudian .

"Kalau begitu, kita pun tak usah pergi ke Poo ing lagi!"

Menurut jalan pemikirannya, dia dapat menduga kalau di kota Poo ing sudah pasti tidak terdapat nona penjualan bunga seperti apa yang dimaksudkan itu.

"Tapi sekarang, kita harus pergi kemana?"

Tanya Sam ku sinni setelah termenung beberapa saat lamanya.

"Kita harus menemukan tempat mereka berkumpul."

"Jagad begini luas, sedikit jejak pun tidak berhasil kita temukan, akan ke manakah kita harus mencari diri mereka ?"

"Asalkan kita bisa menemukan salah seorang yang diundang, secara diam diam kita bisa mengikuti dibelakangnya."

Sam ku sinni segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Apakah kau bisa menduga siapa saja yang diundang oleh mereka?"

Serunya. Pek leng siancu So Bwe leng menjadi terbungkam dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Mendadak wajahnya berseri, kemudian sambil bertepuk tangan serunya keras .

"Suhu, anak Leng berhasil menemukan sebuah cara yang bagus sekali."

Menyaksikan gadis itu begitu gembira dengan wajah bersungguh sungguh Sam ku sinni segera berseru .

"Bagaimana caranya? Ayo cepat kau katakan!"

Dengan wajah berseri Pek leng siancu berkata .

"Sekarang kita kembali dulu ke gedung Bu lim tit it keh, kita cari si pencuri sakti Go Jit, dengan ilmu mencurinya yang hebat, tidak sulit baginya untuk mengetahui siapa yang boleh diintil dan siapa yang tak boleh diikuti."

Sebagaimana diketahui, si Pencuri sakti Go Jit sangat kuatir kalau orang orang Ban seng kiong datang mencari gara gara dengannya, oleh sebab itu, sampai sekarang dia masih berada di dalam gedung Bu lim tit it keh sebagai tamu partai Thian liong pay.

Oleh karena itulah, Pek leng siancu So Bwe leng segera teringat akan dirinya.

Sam ku sinni sendiri memang tidak berhasil menemukan sebuah cara yang lebih baik, maka dia pun menyetujui usul Pek leng siancu So Bwe leng untuk kembali ke gedung Bu lim it it keh dan meminta bantuan dari si pencuri sakti Go Jit.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, tak sampai sehari mereka sudah tiba kembali di kota Hway im.

Berhubung usaha menemukan tempat pertemuan tersebut penting sekali artinya, maka mereka tak berani berdiam terlalu lama dalam gedung Bu lim tit it keh.

Secara ringkas mereka lantas menceritakan rencana busuk dari orang orang Ban seng kiong itu kepada Yap Siu ling, ibu Thi Eng khi kemudian mohon kepadanya untuk mengirim orang guna memberitahukan persoalan ini kepada berbagai partai besar agar mengatasi masalah tersebut.

Kemudian dengan mengajak si pencuri sakti Go Jit, buru buru mereka berangkat meninggalkan gedung Bu lim tit it keh.

Menuruti berbagai gejala dan pengalaman yang ditemuinya, ketiga orang itu membuat analisa secara kasar, lalu memutuskan untuk berangkat ke kota bandar Tin kang sambil mencari orang persilatan yang mungkin bisa diikuti jejaknya.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat mereka berangkat menuju ke kota Tin kang, disebuah persimpangan jalan utama mereka mencari rumah penginapan, kemudian pencuri sakti Go Jit mulai dengan operasinya....

Setiap umat persilatan yang gerak geriknya menimbulkan perhatian, baik dia dikenal atau tidak, semuanya merupakan sasaran dari penggeledahan pencuri sakti Go Jit.

Apabila benda yang diperoleh tidak benar, maka secara diam diam harus dikembalikan lagi kepada pemiliknya.

Dengan demikian, si pencuri sakti Go Jit menjadi kerepotan setengah mati oleh tugas itu.

Sayang sekali, walaupun sudah sibuk selama dua hari, ternyata mereka tidak berhasil menemukan seorang manusia pun yang diundang untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Waktu itu, Pek leng siancu So Bwe leng sudah merasa tidak sabar lagi, dia kuatir tak dapat menghadiri pertemuan itu sehingga membengkalaikan masalah besar.

Oleh karena itu dia menjadi paling sibuk sendiri untuk masuk keluar di antara gerombolan manusia sambil berusaha untuk menemukah sasaran yang baru.

Sementara dia sedang sibuk mencari sasaran, mendadak muncul sebuah tangan yang kecil dan putih menarik ujung bajunya.

Mengikuti arah datangnya tarikan tersebut, Pek leng siancu So Bwe leng segera berpaling, ternyata dia adalah seorang bocah lelaki berusia sebelas dua belas tahunan, sambil menggapai ke arahnya, bocah itu segera berlompatan menuju ke sisi seorang nenek.

Pek leng siancu So Bwe leng segera mendekati pula ke depan nenek tersebut.

Belum sampai dia bersuara, nenek itu sudah memperlihatkan giginya yang kuning lebih dulu sambil tertawa, katanya .

"Nona, apakah kau telah kehilangan suatu benda?"

Rupanya dia mengira Pek leng siancu So Bwe leng sedang mencari sesuatu benda yang terjatuh, tapi bila diduga kalau dia telah menemukan sesuatu benda, maka nenek tersebut bisa mengajukan pertanyaan seperti itu.

Sementara Pek leng siancu So Bwe leng hendak menjawab kalau dia tidak kehilangan suata benda apapun, si nenek tersebut sudah mengeluarkan sebuah sampul surat dari dalam sakunya.

Kalau dilihat dari bentuk sampul itu terasa amat dikenal sekali olehnya.

Bukankah sampul itu merupakan sampul berisi peta yang dipergunakan orang orang Ban seng kiong untuk menjebak orang?

Pek leng siancu So Bwe leng menjadi girang setengah mati, buru buru katanya .

"Ooooh, rupanya nenek telah menemukan benda milikku yang terjatuh, terima kasih banyak!"

Seraya berkata dia bersiap siap hendak menerima sampul surat tersebut. Mendadak nenek itu menarik kembali tangannya sambil berseru .

"Tunggu sebentar, dapatkah nona menyebutkan lebih dulu tulisan apakah yang tercantum diatas sampul surat ini?"

Merah padam selembar wajah Pek leng siancu So Bwe leng karena jengah, ia benar benar dibikin terbungkam oleh ucapan tersebut.

Pada dasarnya sampul surat itu memang bukan miliknya, bayangkan saja bagaimana mungkin dia bisa menyebutkan tulisan yang berada diatas sampul mana?

Mendadak satu ingatan melintas di dalam benaknya, ia segera berpikir .

"Seharusnya diatas sampul surat itu tiada tulisan apa apa, aaah! Betul jangan jangan si nenek sedang menggunakan akal untuk menjebak diriku...."

Dengan pikiran untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan, ia segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Kembali nenek itu bertanya lagi .

"Kau maksudkan diatas sampul surat ini tiada tulisannya?"

Terpaksa sambil mengeraskan kepalanya Pek leng siancu So Bwe leng mengangguk. Pada saat itulah si nenek segera menyerahkan sampul surat tersebut ke tangan So Bwe leng, kemudian katanya .

"Kalau begitu, sudah pasti surat ini milik nona, harap nona sudi memaafkan bila aku si nenek banyak curiga!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera menerima sampul surat itu, ia tidak ambil perduli lagi bagaimana sikap orang terhadapnya, kini dia hanya berharap bisa cepat cepat meninggalkan tempat itu dan memeriksa isi dari sampul peta tersebut.

Maka setelah mengucapkan terima kasih, dia membalikkan badan lalu berlalu dari situ.

Tapi karena ia membalikkan badan terlalu cepat, mimpi pun tak disangka kalau bocah lelaki itu sedang berada dibelakang tubuhnya, hampir saja tubuhnya menerjang ke atas tubuh bocah lelaki tersebut.

Berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki Pek leng siancu So Bwe leng, apabila tubrukan tersebut sampai terjadi, sudah dapat dipastikan kalau bocah lelaki itu bakal mampus.

Saking kagetnya Pak leng siancu So Bwe leng menjerit lengking, cepat cepat dia menggunakan jurus menarik kuda dari pinggir jurang untuk menahan gerak maju tubuhnya secara paksa.

Ketika ia berpaling lagi kearah si bocah lelaki tersebut, ternyata dia pun ikut berkelit ke samping dengan suatu gerakan yang sangat gesit dan cekatan.

Benar benar sangat aneh, ternyata gerakan tubuh dari bocah lelaki itu sangat dikenal olehnya.

Dalam tertegunnya, dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng jadi teringat kembali kalau gerakan tubuh dari bocah lelaki tersebut mirip sekali dengan gerakan tubuh dari Hiam im ji li.

Tak ampun lagi dia menjerit tertahan, kemudian berpaling ke arah si nenek tersebut.

Tampak olehnya nenek itu sudah menggandeng si bocah lelaki tersebut berjalan sejauh beberapa kali dari tempat semula.

"Berhenti!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera membentak keras.

Bersamaan dengan suara bentakan tersebut, tubuhnya seperti sambaran anak panah yang terlepas dari busurnya sudah menerjang ke arah si nenek tersebut.

Begitu menyaksikan Pek leng siancu So Bwe leng mengejar datang, mendadak nenek itu menyambar si bocah lelaki tersebut dan melemparkannya ke tengah udara, sedangkan ia sendiri segera melarikan diri diiringi suara tertawa dingin yang menyeramkan.

Pek leng siancu So Bwe leng tak akan melepaskan musuhnya dengan begitu saja, dia pun enggan mengurusi si bocah lelaki tersebut, dengan satu gerakan cepat ia mengejar ke arah si nenek tersebut.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, secepat sambaran petir mareka berdua berkelebat menuju ke luar kota.

Dalam waktu singkat, mereka sudah memasuki sebuah hutan yang cukup lebar.

Mendadak nenek itu berhenti sembari membalikkan badannya, kemudian sambil menatap wajah Pek leng siancu So Bwe leng lekat lekat, katanya sambil tertawa dingin .

"So Bwee leng, seandainya kau mendesak aku terus dan tidak tahu diri, jangan salahkan bila nonamu tak akan bersikap sungkan lagi...!"

Sembari berkata dia lantas melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya sehingga muncullah seraut wajah yang cantik jelita.

Pek leng siancu So Bwe leng berdiri tertegun, ternyata dia tidak mengenali siapa gerangan perempuan tersebut.

Sementara dia masih tertegun, gadis cantik itu sudah berkata lagi .

"Semua yang ingin kau ketahui sudah berada dalam sampul surat tersebut, bila kau ingin pergi, sekarang masih ada waktu, aku harap kau jangan menyia nyiakan ke sempatan yang ada!"

Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa tergelak.

"Ooooh....rupanya sampul surat itu memang khusus ditujukan kepadaku? Kalau begitu aku pun sudah dapat menduga apa isinya, paling banter kalian hendak memberitahukan kepadaku kalau kalian sudah tahu bahwa aku telah menemukan rencana busuk kalian, karena kuatir aku akan merusak pekerjaan besar kalian, maka kalian tak mengijinkan aku menghadirinya.... bukan begitu? Hmmm, lebih baik surat ini tak usah kuperiksa lagi isinya!"

Dia segera melumat kertas itu menjadi satu, lalu digosok dengan telapak tangannya hingga hancur menjadi bubuk kuning dan disebarkan ke atas tanah.

"Hmmmm, kau terlalu berlagak sok pintar"

Seru gadis cantik itu kemudian.

"dengan dihancurkannya sampul surat itu, maka jangan harap kau bisa memperoleh rahasia kami."

Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa.

"Sesungguhnya nonamu memang mempunyai banyak masalah yang perlu ditanyakan, tapi aku tak butuh dengan surat tersebut, toh ada kau yang bisa membantuku untuk memberikan jawaban atas semua persoalan tersebut?"

"Hmmm, tak nanti aku akan memberitahukan persoalan tersebut kepadamu, walau hanya sepatah katapun!"

"Sampai waktunya, kau toh akan berbicara juga!"

Jengek Pek leng siancu So Bwe leng dingin. Mendengar perkataan itu, si gadis cantik itu tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh.... haaahhh..... haaaahhh.... kematian sudah berada di depan mata, kau masih membayangkan yang bukan bukan, sungguh perbuatan dari seorang manusia yang tak tahu diri!"

Mendadak dia mendesak maju ke muka, jari tangannya bagaikan sebuah tombak langsung menyodok jalan darah Bi sim hiat diatas tubuh Pek leng siancu So Bwe leng.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, angin jari tersebut tahu tahu sudah berada di atas batok kepala Pek leng siancu.

Sejak ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang amat pesat, sudah barang tentu Pek leng siancu So Bwe leng tak memandang sebelah matapun terhadap ancaman yang tiba tersebut, serunya sambil tertawa hambar .

"Kau masih selisih jauh ...."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, tiba tiba ia menjerit tertahan, jelas gadis itu merasa agak terperanjat.

Rupanya Pek leng siancu So Bwe leng terlalu memandang enteng musuhnya, dia tidak menganggap serangan jari tangan dari gadis cantik tersebut sebagai suatu ancaman serius, maka dalam anggapannya dengan mengegoskan sedikit kepalanya, niscaya serangan tersebut dapat dihindari secara mudah.

Siapa tahu kepandaian silat yang dimiliki gadis cantik itu jauh melebihi apa yang diperkirakan semula, dimana angin serangannya menyambar lewat, seutas rambutnya segera terbabat kutung.

Dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng menarik kembali keangkuhannya, sekarang ia tak berani memandang enteng musuhnya lagi.

Padahal gadis cantik itu pun merasa amat terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka kalau Pek leng siancu So Bwe leng dapat menghindari angin serangannya itu secara bagus.

Sebab pada setahun berselang, Pek leng siancu So Bwe leng tak mampu menandingi dirinya, apalagi sejak Hian im Tee kun menjadi pemimpin istana Ban seng kiong, dia mendapat perhatian khusus dari Hian im Tee kun sehingga dipilih menjadi salah seorang Hiam im su siu, kepandaian silatnya telah memperoleh kemajuan pesat.

Ditambah lagi Hian im Tee kun telah membantunya untuk menembusi urat jin meh dan tok meh nya, boleh dibilang kepandaian silat yang dimilikinya sekarang amat hebat sekali.

Dalam anggapannya, dengan kepandaian silat yarg dimiliki sekarang maka dia tak usah memandang sebelah mata pun terhadap Pek leng siancu So Bwe leng.

Itulah sebabnya tatkala serangan jari tangannya gagal untuk merobohkan gadis tersebut, rasa kaget yang mencekam perasaannya sungguh tak terlukiskan dengan kata kata.

Dalam keadaan sama sama terkejut inilah ke dua belah pihak saling mundur beberapa langkah dan sekali lagi memberi analisa baru terhadap kemampuan lawan.

Karena harus menghindari pengamatan orang lain, waktu itu mereka berdua sama sama tidak membawa senjata, terpaksa pertarungan pun dilangsungkan dengan menggunakan tangan kosong belaka.

Pek leng siancu So Bwe leng termashur sebagai seorang manusia yang sukar untuk dihadapi.

Begitu berhenti sejenak, kembali dia menerkam ke muka sambil berseru penuh amarah.

"Sungguh tak kusangka, dalam istana Ban seng kiong masih terdapat joga muda selihay kau kecuali Hian im ji li. Sekarang rasain dulu sebuah pukulan nonamu ini!"

Telapak tangannya diayunkan kedepan langsung menghantam dada gadis cantik itu. Si nona cantik tersebut tertawa dingin .

"Ban seng kiong penuh dengan jago lihay, persoalan yang berada di luar dugaan masih banyak sekali!"

Jengeknya.

Tubuhnya berputar cepat membiarkan angin pukulan Pek leng siancu So Bwe leng berkelebat lewat dari sampingnya, kemudian secepat kilat dia melepaskan sebuah pukulan pula mengancam pinggang Pek leng siancu.

Dengan cekatan Pek leng siancu So Bwe leng menggerakkan pinggulnya ke samping kemudian menyelinap ke belakang punggung gadis cantik itu, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan.

Begitulah, suatu pertempuran sengit segera berkobar ditempat itu, ke dua belah pihak sama sama mengandalkan gerakan tubuh yang ringan untuk saling menyambar dan menerjang dengan hebat.

Lama kelamaan....

meski kepandaian silat yang dimiliki gadis cantik itu cukup hebat dia toh bukan tandingan dari Pek leng siancu So Bwe leng.

Lambat laun dia keteter sehingga berada dibawah angin, gejala untuk kalah pun terlihat semakin jelas.

Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak mengendorkan gerakan tubuhnya, malah sebaliknya dia mempercepat gerakan tubuh dan serangannya hingga makin gencar.

"Aduuuuh....!"

Mendadak gadis cantik itu menjerit kesakitan.

Sebuah pukulan dari Pek leng siancu So Bwe leng persis menghajar diatas pipinya membuat dia muntahkan darah segar, dengan wajah merah membengkak, cepat cepat gadis itu mundur sejauh satu kaki lebih ke belakang.

Pek leng siancu So Bwe leng mendengus dingin, katanya kemudian .

"Sekarang kau boleh melepaskan topeng kulit manusia yang lain dari atas wajahmu itu!"

"Jangan mimpi, lihat serangan!"

Teriak gadis itu.

Tubrukan maut segera dilancarkan, tampaknya tamparan keras dari Pek leng siancu So Bwe leng barusan telah membangkitkan hawa amarahnya, sehingga dia bertekad hendak beradu jiwa.

Pek leng siancu So Bwe leng tak sudi untuk beradu jiwa dengan lawannya itu, dengan cepat dia mengegos ke samping, apalagi dia mempunyai rencana lain untuk membekuknya hidup hidup.

Maka sambil tertawa dingin katanya .

"Nona mu bukan seorang yang berhati lemah dan penuh berbelas kasihan kepada orang lain!"

Dia turun tangan sekali lagi, kali ini ke dua belah pihak bergerak dengan kecepatan tinggi, mereka berusaha untuk saling merebut posisi yang menguntungkan guna mendesak lawannya.

Tak selang berapa saat kemudian Pek leng siancu So Bwe leng membentak keras .

"Roboh kau!"

Rupanya Pek leng siancu So Bwe leng berhasil menemukan setitik kelemahan di tubuh nona cantik itu, dengan menggunakan jurus Bu dhi siankang dia melepaskan sebuah totokan kilat menghajar jalan darah Cian keng hiat diatas bahu lawan.

Sesungguhnya gadis cantik itu memang bukan tandingan dari Pek leng siancu So Bwe leng, justru karena dia nekad dan selalu mengajak beradu jiwa maka dia dapat bertahan hingga kini.

Walaupun begitu, bagaimana mungkin dia bisa menahan serangan berat dengan ilmu Bu dhi siankang tersebut?

Kuda kudanya segera tergempur dan dia tak mampu berdiri tegak lagi, sesudah mundur sejauh empat lima langkah dengan sempoyongan .....

"Blaaammmm!"

Tubuhnya roboh terduduk diatas tanah.

Dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng menotok pula beberapa buah jalan darahnya sehingga pihak lawan tak mampu berkutik, kemudian dia baru melepaskan topeng kulit manusia ke dua dari atas wajah perempuan itu.

Dengan cepat muncullah sebuah raut wajah yang sangat dikenal oleh Pek leng siancu So Bwe leng.

Sesudah tertegun beberapa saat lamanya, Pek leng siancu So Bwe leng berseru .

"Aaaah, rupanya kau.... Cun Lan!"

Rupanya gadis cantik tersebut bukan lain adalah Cun Lan, salah seorang dayang kepercayaan Pek leng siancu So Bwe leng dikala ia dipaksa menjadi tuan putri dalam istana Ban seng kiong dulu.

"Sekarang aku tidak bernama Cun Lan lagi!"

Seru gadis itu dengan suara dingin.

"Aku tak ambil peduli siapa namamu, tapi memandang diatas hubungan kita di masa lalu, akan kubebaskan jalan darahmu itu!"

"Sekarang aku adalah salah satu dari Hian im su siu dalam istana Ban seng kiong, atas kemurahan hati Tee kun, aku diberi nama Siu Cu, hmmm.... lebih baik tak usah kau bebaskan jalan darahku, sebab sekalipun jalan darahku kau bebaskan, aku pun tak akan menerima kebaikan hatimu itu."

Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa .

"Aku tak ambil peduli apakah kau akan menerima kebaikanku ini atau tidak, sebab itu urusanmu sendiri, yang penting aku telah melakukan apa yang kuinginkan, padahal hubungan antara manusia dengan manusia lain memang sukar untuk dibicarakan, misalkan saja Huan im sin ang, dia bersikap cukup baik kepadaku malah memberi banyak pelajaran ilmu silat kepadaku, aku toh menerima juga kebaikannya itu?"

Sembari berkata, dia lantas menepuk bebas jalan darah dari Siu Cu. Dengan cepat Siu Cu melompat bangun, kemudian katanya .

"Waktu itu Huan im sia ang hendak memperalat dirimu maka kau tak usah menerima kebaikan hatinya!"

Berbicara sampai disitu, dia segera beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Padahal Pek leng siancu So Bwe leng memang berniat untuk memperalat Siu Cu, hanya saja oleh karena rahasia hatinya sudah terlanjur dibongkar oleh Siu Cu, maka dia menjadi rikuh untuk banyak berbicara lagi dan membiarkan dia berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggang Siu Cu yang menjauh, dia mendepak depakan kakinya berulang kali sambil menyumpah.

"Budak sialan, sungguh tak disangka aku So Bwe leng kena disudutkan oleh ucapanmu!"

Perasaan mangkel dan apa boleh buat segera menghiasi raut wajahnya yang cantik itu.

Sementara dia masih menyesali tindakan sendiri yang kurang tega dan kurang keji, dari kejauhan sana berkumandang suara ujung baju terhembus angin kemudian tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Ternyata orang itu tak lain adalah Siu Cu yang telah berjalan kembali.

"Mau apa kau datang kembali?"

Pek leng siancu So Bwe leng segera menegur dengan gusar.

"Tiba tiba saja aku merasa kalau nona memang bersungguhsungguh hati melepaskan aku, oleh sebab itu aku tak tahan untuk balik kembali ke sini dan menyampaikan sepatah kata untukmu."

"Apa yang hendak kauucapkan? Katakan saja! Lebih baik diutarakan secepatnya, sebelum aku berubah pikiran dan menahanmu lagi"

Dengan wajah bersungguh sungguh Siu Cu berkata .

"Mungkin nona ingin mencari tahu tempat yang dijanjikan Tee kun untuk mengadakan pertemuan dengan para jago bukan? Menurut dugaanku yang kuperoleh secara tanpa sengaja, aku rasa tak ada salahnya bila nona melakukan penyelidikan disekitar bukit Cian san!"

Selesai berkata, dia melejit kembali ke udara dan kabur ke dalam hutan sana dengan wajah gugup. Pek leng siancu So Bwe leng menjadi sangat kegirangan, segera teriaknya.

"Enci Cun Lan, dapatkah kau memberikan penjelasan yang lebih terperinci lagi?"

Siu Cu berhenti sejenak diatas dahan pohon lalu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan nada menyesal .

"Apa yang kuketahui terbatas sekali, apa yang bisa kuberitahukan kepada nona pun hanya sebatas ini saja ...."

Selesai berkata, kembali dia melejit ke udara dan melesat ke arah depan, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Pek leng siancu So Bwe leng segera mengucapkan terima kasihnya dengan ilmu menyampaikan suara, kemudian balik kembali ke kota Tin kang.

Di atas bukit Cian san yang penuh dengan tebing curam, terdapat sebuah lembah yang bernama lembah Hu liong kong.

Di luar lembah tersebut merupakan sebuah hutan lebat yang hampir menutupi seluruh mulut lembah tersebut, sehingga orang lain tak dapat menyaksikan keadaan didalam lembah tersebut dengan jelas.

Tapi kalau dilihat dari tiga buah tebing tinggi yang mengelilingi tempat tersebut, bisa diduga berapa berbahaya dan rahasianya keadaan dalam lembah tersebut.

Di tengah sebuah senja yang gelap, tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dari kejauhan sana dan berhenti sejenak didepan hutan lebat dimuka mulut lembah tersebut.

Kemudian setelah berseru tertahan, ia bergumam .

"Aneh mengapa tiada orang yang menyambut kedatanganku di sini...?"

Sementara orang ini masih celingukan memandang ke sekeliling tempat itu, kembali terdengar ujung baju terhembus angin berkumandang datang, lagi lagi nampak sesosok tubuh manusia mendekati hutan tersebut.

Orang yang datang lebih dulu itu segera membalikkan badan, kemudian sambil memandang ke arah pendatang, bentaknya keras keras .

"Aku adalah Cang ciong sin kiam Sangkon Yong, siapa yang datang....?"

"Oooh, rupanya Sangkoan tayhiap"

Seru pendatang itu.

"siaute adalah Yap Han san!"

Ku tiok siu (kakek bambu kering) Yap Han san segera melayang ke depan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kemudian sembari menjura katanya lagi .

"Siaute tak berani merepotkan Sangkoan tayhiap untuk menyambut kedatanganku, tolong tanya apakah kita harus masuk ke dalam lembah dengan menembusi hutan ini?"

Rupanya dia telah menganggap Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sebagai petugas penerima tamu. Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera tertawa.

"Siaute sendiri pun baru tiba, jadi tidak kuketahui haruskah menembusi hutan lebih dulu sebelum menuju ke lembah tersebut?"

Ku tiok siu Yap Han san tertawa rikuh.

"Aaaaah, kalau begini siaute telah bersikap kurang hormat, harap Sangkoan tayhiap sudi memaafkan, kalau toh tiada orang yang bertugas sebagai penerima tamu bagaimana kalau kita memasuki hutan bersama sama...?"

Baru saja Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dan Ku tiok siau Yap Han san hendak memasuki hutan bersama sama, mendadak muncul kembali dua orang manusia mendekati tempat tersebut.

Ketika diamati, ternyata mereka adalah kenalan lama semua, yang seorang adalah Tay pek it khi (manusia aneh dari tay pek) Ku Kiam ciu, sedangkan yang lain adalah Tiang cun siusu (pelajar berusia panjang) Li Goan.

Selanjutnya menyusul pula jago jago lihay lainnya seperti .

Giok koay popo (nenek bertoya kumala) Li Ko ci Im tiong hok (bangau di tengah awan) Teng Siang Sin tou (si Unta sakti) Lok It hong Hui hou li (perempuan pelangi terbang) Lu Cing lian, Wancu dari perkampungan ciang hong wan Soh Sim tocu yang bergelar San hoa sian cu (dewi penyebar bunga) Leng Cay soat Hong im siu (kakek angin dan awan) Siang Thong dari bukit Bong san To pit thian ong (Raja langit berlengan banyak) Tong Lian hoat, seorang ahli senjata rahasia dari Szuchuan.

Tiang siau mi lek (Mi lek tertawa) Kong sun Cong.

Phu thian toa tiau (rajawali raksasa penubruk langit) Kay Poan thian Pang bok long tiong (Pengembara bermata juling) Nyoo Cun Tan ciang kay san (tangan tunggal pembelah bukit) Cu Eng Ketua Kay pang, sipengemis sakti bermata harimau Cu Goan po Ketua Cing sia pay, Ting Kong ci Beng sin suthay dari kuil Ci tiok an Hud sim giam ong (raja akhirat berhati Buddha) Bu kay siancu Hui cun siausu (pelajar penolong manusia) Seng Tiok sian....

dia datang dengan menunggang seekor kuda hitam dan membawa kuda hitam lain.

Ketua Hoa san pay, Peh ih siusu (pelajar berbaju putih) Cu Wan mo Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay.

Kedua orang ini termasuk mereka yang datang paling lambat.

Bagi mereka yang sudah kenal, tentu saja pertemuan ini diiringi dengan pembicaraan dan percakapan yang ramai, sekalipun ada yang tak pernah kenal mereka pun diperkenalkan satu per satu, sehingga suasana menjadi ramai sekali.

Waktu itu, pamor Thian liong pay telah berubah dan menanjak tinggi terutama setelah ketuanya Thi Eng khi bertarung melawan Hian im Tee kun.

Kini semua jago memandang lain terhadap perguruan besar yang telah menggetarkan dunia persilatan itu.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sendiri, atas bujukan dari Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu, di samping itu juga atas penampilan dari Thi Eng khi selama ini, pandangan jeleknya terhadap Thi Eng khi juga lambat laun berubah.

Mula mula dia menyatakan sikap persahabatannya lebih dulu dengan Pit tee jiu Wong Tin pak, kemudian menanyakan kabar berita tentang Thi Eng khi dengan penuh perhatian.

Hui cun siusu Seng Tiok sian juga berjalan mendekat sambil menuntun seekor kuda hitam tersebut sambil menyatakan rasa menyesalnya atas kesalahan pahamnya terhadap Thi Eng khi tempo hari.

Rupanya mereka telah mendapatkan bukti yang jelas bahwa kematian dari Hao hao sianseng Ting tayhiap sesungguhnya terkena serangan gelap dari Huan im sin ang.

Setelah menyadari akan kesalahan pahamnya terhadap Thi Eng khi, maka Hui cun siusu Seng Tiok sian sengaja membawa kuda hitam tersebut ke sana dengan maksud hendak diserahkan kepada pihak Thian liong pay...

Sungguh tak nyana ditempat inilah mereka telah berjumpa dengan Pit tee jiu Wong Tin pak, maka dia pun menyerahkan kuda hitam tersebut kepada Wong Tin pak agar menyerahkannya kepada Thi Eng khi dikemudian hari.

Begitulah, semua orang lantas membicarakan tentang watak Thi Eng khi yang sebenarnya disamping menghibur hati Pit tee jiu Wong Tin pak, bahkan mereka pun bersumpah akan mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk menemukan kembali jejak Thi Eng khi.

Waktu itu, semua orang mengira pertemuan yang diselenggarakan kali ini atas prakarsa dari Siau lim pay dan Bu tong pay.

Oleh sebab itu, hampir semua orang memuji akan persiapan dan perencanaan yang matang atas pertemuan kali ini.

Terhadap tidak munculnya orang orang Siau lim pay dan Bu tong pay mereka pun tidak memberikan perhatian khusus, di dalam anggapan mereka orang orang dari kedua partai pasti sudah menunggu di depan lembah tersebut.

Maka dipimpin oleh ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan Po dan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, berangkatlah mereka menuju ke dalam hutan.

Baru saja rombongan manusia itu akan berangkat, tiba tiba muncul kembali tiga sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.

Semua orang mengenali ketiga orang itu sebagai ketua Bu tong pay, Keng hian totiang bersama ke dua orang sutenya Keng it totiang dan Keng ning totiang.

Kemunculan mereka segera menimbulkan rasa heran dari semua jago, tanpa terasa mereka sama sama berhenti.

"Bu liang siu hud!"

Seru Keng hian totiang begitu sampai ditempat tujuan.

"ketua Siau lim pay Ci long siansu memang benar benar seorang yang mempunyai maksud, persiapan yang dilakukan olehnya disini benar benar amat sempurna. Coba kalau pinto yang disuruh mempersiapkan keadaan seperti ini, tak mungkin bisa kulakukan sedemikian cermatnya."

Didengar dari nada pembicaraan tersebut, tampaknya Bu tong pay tidak tahu menahu tentang persiapan pertemuan tersebut.

Maka semua yang hadir disitu pun menjadi gaduh dan bersama sama membicarakan persoalan tersebut.

Sebagaimana diketahui, di dalam pandangan semua orang pertemuan yang diselenggarakan kali ini adalah atas prakarsa dari pihak Siau lim pay dan Bu tong pay.

Terutama sekali ada sebagian diantara mereka yang menerima surat undangan tersebut dari anggota Bu tong pay, hal mana membuat orang orang itu mulai berpikir yang bukan bukan.

Sikap tak tenang yang diperlihatkan orang orang tersebut tentu saja menimbulkan perhatian dari Keng hian totiang, dengan cepat dia berseru .

Jilid 36

"Saudara sekalian hendak membicarakan soal apa dengan pinto?"

Ada orang hendak menjawab pertanyaan itu namun perhatian mereka segera tertarik oleh munculnya tiga orang pendeta yang sedang berjalan mendekat dengan langkah cepat.

Kemunculan dari ke tiga orang pendeta itu kontan saja membuat pikiran semua orang bertambah kalut.

Rupanya mereka adalah Ci long siansu, ketua Siau lim pay yang datang bersama sama Ci kay taysu dan Ci liong taysu.

Aneh, mengapa si penyelenggara pertemuan tersebut baru datang pada saat para undangan telah datang.

Bukankah mereka yang menyelenggarakan pertemuan ini?

Mengapa mereka tidak datang lebih dulu untuk membuat persiapan disana?

Berbagai pertanyaan ini segera memancing perhatian semua orang untuk dialihkan ke wajah ke tiga orang pendeta dari Siau lim pay.

Tatkala ketua Siau lim pay, Ci long siansu menyaksikan berpuluh-puluh pasang mata ditujukan bersama ke arahnya, dengan perasaan menyesal ia lantas berseru .

"Omitohud! Pinceng bertiga datang kemari dengan menuruti petunjuk dari Keng hian totiang, sebab dalam surat undangan dikatakan aku harus sampai pada permulaan kentongan ke tiga."

Setelah mendongakkan kepalanya memandang posisi rembulan, ia berkata lebih jauh .

"Untung saja kedatanganku tidak sampai melewati saat yang telah ditentukan!"

Dengan ucapan tersebut bukan saja dia telah menyatakan kalau kedatangannya juga karena diundang, bahkan waktu tiba untuknya telah diatur orang lebih dulu.

Kejadian ini segera menimbulkan perasaan bingung dan tidak habis mengerti dari semua orang.

Orang pertama yang merasakan ketidak beresan didalam pertemuan kali ini adalah ketua Bu tong pay, Keng hian totiang, dengan ucapan bernada kaget ia berseru .

"Bila didengar dari perkataan siansu tampaknya kau pun merupakan orang yang telah mengundang kedatanganmu itu?"

Mendengar pertanyaan dari Keng hian totiang mengandung nada yang tak beres. Ketua Siau lim pay Ci long siansu menjadi tertegun, kemudian serunya .

"Lhoo.... jadi bukan totiang yang mengundang kedatangan kami? Waaahh...., aneh kalau begitu?"

Dengan wajah serius Keng hian totiang segera berkata lagi .

"Sewaktu berada di gedung Bu lim tit it keh tempo hari, pinto dan siansu memang pernah berunding untuk menyelenggarakan suatu pertemuan puncak para jago, sungguh tak nyana sebelum perundingan kita menjadi matang, ternyata ada orang yang telah memanfaatkan kesempatan yang mudah menimbulkan kesalahan paham ini untuk mengundang kita kemari, jangan jangan Hian im Tee kun yang sengaja untuk menyusun rencana busuk ini untuk menjebak kita? Hanya herannya ..... bagaimana mungkin jalan pikiran kita ini bisa diketahui oleh Hian im Tee kun? Kejadian ini sungguh aneh dan membuat orang tidak habis mengerti."

Sementara pembicaraan berlangsung, sorot matanya segera dialihkan dari wajah ketua Kay pang si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po ke atas wajah Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liau sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, sebelum akhirnya berbalik kembali ke wajah ketua Siau lim pay, Ci long siansu.

Orang orang yang kena dipandang oleh sorot matanya itu segera merasa kalau dirinya sedang dicurigai, apa mau dibilang mereka pun tak bisa memberikan bantahan sehingga sikapnya menjadi tersipu sipu.

Keng hian totiang dari Bu tong pay segera menarik kembali sorot matanya, kemudian setelah tertawa getir berkata lagi .

"Pinto suheng te bertiga pun tak bisa terlepas dari kecurigaan ini.... !"

Cang ciong sin kian Sangkoan Yong segera tertawa nyaring, katanya dengan cepat .

"Menurut pendapatku, sekarang bukan waktunya untuk menyelidiki tentang persoalan itu, tentang bagaimana mungkin peristiwa yang sedang berlangsung sekarang bisa terjadi, lebih baik kita rundingkan dikemudian hari saja, entah bagaimanakah menurut pendapat totiang dan siancu?"

"Perkataan dari Sangkoan tayhiap memang benar"

Sahut ketua Siau lim pay Ci long siansu cepat.

"kita..."

Belum habis dia berkata, mendadak dari balik hutan sana terdengar seseorang tertawa merdu, kemudian berkata .

"Kalian semua memandang persoalan ini terlalu serius, padahal maksud Tee kun mengundang kehadiran kalian disini pun tidak mempunyai maksud jelek!"

Menyusul perkataan itu, nampak seorang gadis cantik berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, sesudah memberi hormat kepada semua orang, dia berkata .

"Cun Bwee mendapat perintah dari Tee kun untuk mengundang para ciangbujin dan lo enghiong sekalian agar masuk ke dalam lembah!"

Para jago saling berpandangan sekejap, untuk sesaat mereka tampak ragu untuk mengambil keputusan.

Hian im li Cun Bwee segera mencibirkan bibirnya dan memperdengarkan suara tertawa hambarnya yang sinis, setelah itu katanya lagi .

"Tee kun telah berpesan, apabila kalian tak berani memasuki lembah maka dia pun tak akan menyulitkan kalian semua, silahkan saja kalian untuk kembali ke rumah!"

Kebanyakan umat persilatan menghargai nama baik sendiri melebihi nyawa, apalagi mereka kalau bukan seorang ciangbunjin, tentunya merupakan pentolan dari suatu perkumpulan, bayangkan saja bagaimana mungkin mereka bisa tahan menghadapi cemoohan dan sindiran dari Hian im li Cun Bwee tersebut?

Dalam keadaan demikian, jangan kan baru memasuki lembah, sekalipun harus naik ke bukit golok atau terjun ke kuali minyak pun mereka tak akan mengerutkan dahinya.

Terutama sekali partai Siau lim dan partai Bu tong yang selama ini dianggap sebagai tulang punggungnya dunia persilatan, tentu saja mereka tak sudi dicemooh orang lain.

Maka ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang segera berseru bersamaan .

"Biar disuruh naik ke bukit golok, pinceng tak akan gentar!"

"Walaupun harus terjun ke lautan api, pinto tak akan menolak!"

Ke dua orang itu segera tampil ke depan dan berdiri dimuka perempuan tersebut kemudian serunya kepada Hian im li Cun Bwee .

"Harap nona suka membawa jalan!"

Dengan sepasang matanya yang jeli Hian im li Cun Bwee melirik sekejap ke arah mereka, kemudian serunya .

"Kalian benar benar tidak takut?"

Si unta sakti Lok It hong tertawa dingin, serunya dengan penuh kegusaran .

"Bila kau ngebacot terus, jangan salahkan kalau lohu tak akan bersikap sungkan sungkan lagi!"

Paras muka Hian im li Cun Bwee sama sekali tidak berubah, katanya lagi .

"Lok tayhiap, buat apa kau harus ribut dengan siauli? Kalau toh kalian memang tidak takut biarlah siauli akan membawa kalian menuju ke dalam lembah tersebut!"

Tidak nampak gerakan apa yang dilakukan olehnya, tahu tahu tubuhnya sudah menyelinap menuju ke dalam hutan tersebut.

Ketua Siau lim pay dan Bu tong pay segera mengikuti di belakang Hian im li Cun Bwee menuju ke dalam hutan tersebut.

Di belakang ke dua orang itu, mengikuti pula kawanan jago persilatan yang rata rata sudah punya nama besar itu.

Pada dasarnya hutan itu memang gelap karena sinar rembulan tertutup awan namun bukan berarti suasana gelap disana sedemikian gelapnya sehingga untuk melihat kelima jari tangan sendiri pun sukar.

Sekalipun begitu, andaikata mereka tidak mengerahkan tenaga dalamnya untuk mempertajam pandangan mata mereka, sulit juga untuk menelusuri hutan tersebut.

Jalanan dalam hutan itu berliku liku dan penuh dengan tikungan yang amat banyak mendadak terdengar seseorang berseru tertahan .

"Aaaaah, jangan jangan hutan ini diatur menurut suatu posisi ilmu barisan?"

Hian im li Cun Bwee segera tertawa, sahutnya .

"Benar di dalam hutan ini memang penuh dengan alat jebakan serta barisan yang hebat bagi mereka yang ingin kembali ke tempat semula, silahkan untuk berputar ke kiri setiap melalui tujuh batang pohon dan berbelok ke kanan setiap melalui delapan batang pohon, dengan begitu kalian akan sampai di luar hutan ini."

Perempuan tersebut memang cerdas sekali, setiap kali dia selalu menggunakan kata kata semacam itu untuk memancing gejolak perasaan dalam hati para jago, hal ini membuat orang orang tersebut menjadi nekad dan meneruskan perjalanannya dengan mempertaruhkan selembar jiwa raganya.

Sepintas lalu hutan nampaknya tidak begitu luas, namun mereka harus menghabiskan waktu selama setengah jam untuk bisa menembusinya dan tiba di mulut lembah.

Sementara itu rembulan sudah muncul dari balik awan, selapis cahaya keperak perakan memancar ke empat penjuru membuat pemandangan di dalam lembah tersebut dapat terlihat secara lamat lamat.

Rupanya lembah tersebut dikelilingi oleh dinding bukit yang terjal dan menjulang tinggi ke angkasa, keadaannya mirip sekali dengan sebuah sumur.

Hian im li Cun Bwee berhenti sejenak di luar lembah tersebut, kemudian katanya .

"Sekarang kita akan memasuki lembah ini !"

"Omitohud !"

Seru ketua Siau lim pay Ci long siansu.

"nona tak usah banyak bertingkah, lebih baik kita melanjutkan perjalanan secepatnya!"

Hian im li Cun Bwee tidak banyak berbicara lagi, sambil tertawa dingin ia melanjutkan perjalanan menuju ke dalam lembah.

Setelah memasuki mulut lembah tersebut maka terbentanglah sebuah selat sempit yang memanjang dan berbahaya sekali, panjangnya mencapai beberapa li, suasana di sekitar tampak gundul dan tak nampak tertumbuhan apapun.

Kecuali batuan cadas yang berbentuk aneh, boleh dibilang tiada sesuatu benda pun yang nampak di situ, hal mana mendatangkan perasaan seolah olah mereka hanya bisa pergi dan tak mungkin untuk kembali lagi.

Menyusul kemudian, pemandangan yang terbentang di depan mata berubah, diantara sekeliling batu aneh tersebut nampak sebuah tanah lapang yang luasnya mencapai puluhan kaki, berapa puluh lentera menyinari tempat tersebut sehingga terang benderang.

Di tengah tanah lapang terdapat empat buah meja dengan hidangan yang masih panas, diantaranya terdapat sebuah meja perjamuan dengan hidangan yang pantang barang berjiwa, rupanya memang khusus disediakan bagi orang orang Siau lim pay dan Bu tong pay.

Anehnya, tiada seorang pun yang melayani tempat tersebut.

Hian im li Cun Bwee mengajak para jago menuju ke depan meja perjamuan tersebut, kemudian dengan penuh sopan santun dia memberi hormat seraya berkata .

"Selama menempuh perjalanan, kalian tentu sudah merasa lelah sekali, malam ini silahkan bersantap seadanya lebih dulu, besok Tee kun pasti akan menyelenggarakan perjamuan yang lebih besar untuk menjamu kalian. Maaf, untuk sementara waktu siauli ingin mohon diri lebih dahulu !"

Selesai berkata, dia lantas melayang ke belakang sebuah batu besar dan lenyap di situ.

Berlalunya Hian im li Cun Bwee membawa pergi pula kegagahan dari para jago, yang tertinggal sekarang hanya rasa seram dan bergidik yang tiba tiba muncul didasar hati masing masing.

Bahkan napas mereka pun seakan akan dibawa oleh Hian im li Cun Bwee.

Sebab suasana tenang tanpa terjadinya suatu perubahan yang terbentang dihadapan mereka sekarang, justru mendatangkan daya tekanan yang berlipat kali lebih besar daripada suasana pertarungan sengit.

Di tengah tanah lapang, kini berdiri dua puluh sembilan orang jago persilatan yang sedang diliputi perasaan kalut, bayangan tubuh mereka tertera memanjang jauh ke depan sana di bawah sorot cahaya lentera.

Tiada orang yang buka suara untuk memecahkan keheningan disitu, tiada orang yang memasuki meja perjamuan untuk duduk.

Mendadak dari belakang batu besar berkumandang lagi suara Hian im li Cun Bwee yang sedang berseru sambil tertawa .

"Tee kun mengundang kalian datang dengan maksud baik, hidangan yang tersedia di meja pun merupakan hidangan kenamaan bikinan koki ternama diutara maupun selatan sungai besar, silahkan kalian untuk menikmatinya dengan perasaan lega."

Si Unta sakti Lok It hong segera tertawa terbahak bahak serunya dengan nyaring .

"Pengemis Cu, setiap hari kau mengemis makanan dari rumah ke rumah, aku tahu kalau kau jarang sekali makan dengan kenyang. Coba kau lihat begitu banyak hidangan yang sudah tersedia di sana, tak usau kau menyia nyiakan kesempatan baik ini dengan begitu saja, mari, mari! Lohu temani kau minum sampai mabuk!"

Dengan langkah lebar dia lantas menuju ke meja perjamuan sebelah kanan dan duduk. Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po tertawa terbahak bahak .

"Haaahhh... Haaahhh.. haaahh.. baiklah aku si pengemis tua akan meminjam bunga menyembah Buddha, akan kuhormati saudara Lok dengan tiga cawan arak!"

Sesudah berjalan ke hadapan si Unta sakti Lok It hong, dia duduk lalu memenuhi enam cawan dengan arak wangi.

Biasanya kalau sang pelopor sudah turun tangan maka yang lain pasti akan turut bereaksi.

Tak selang berapa saat kemudian gelak tertawa berkumandang memecahkan keheningan, dengan cepat para jago membuang semua kerisauan dalam hatinya dan bersama sama mencari tempat duduk untuk makan minum dengan lahapnya.

Di tengah perjamuan, Keng hian totiang dari Bu tong pay segera mengerahkan ilmu menyampaikan suara untuk berunding dengan para jago yang hadir di situ katanya .

"Tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun sangat lihay, ditambah lagi Keng thian giok cu Thi Keng sekalian empat tokoh sakti membantunya melakukan kejahatan, pinto rasa pertarungan yang yang bakal berlangsung besok merupakan suatu pertarungan yang berbahaya sekali. Kendati pun kita semua bertekad untuk bertarung sampai dengan titik darah penghabisan, namun bila naga tanpa kepala, ibaratnya sebaki pasir yang tak bisa bersatu, andaikata sampai terjadi, suasana tentu kalut sehingga andaikata ingin mundur secara teratur pun bukan suatu pekerjaan gampang."

"Pinto usulkan bagaimana kalau jika kita mengangkat ketua Siau lim pay Ci long siansu sebagai pemimpin kita yang akan memimpin kita semua dalam gerak maju atau mundur. Apabila kita dapat bersatu padu, siapa tahu kalau kekuatan gabungan kita dapat mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi sekarang? Entah bagaimanakah pendapat kalian semua?"

Para jago yang hadir disitu segera menyatakan persetujuannya atas usul dari Ketua Bu tong pay Keng Hian totiang tersebut.

Dalam keadaan gawat semacam ini, tentu saja ketua Siau lim pay Ci long siansu pun tak bisa menampik usul tersebut, Oleh sebab itu, terpaksa dia harus menerima tugas berat tersebut tanpa membantah.

Namun dia pun mengusulkan agar ketua Bu tong pay Keng hian totiang membantu usahanya itu.

Sudah barang tentu Keng hian totiang pun tidak beralasan untuk menampik usul mana, maka dia pun menerima usul mana tanpa banyak berbicara lagi.

Selesai bersantap semua orang duduk berkumpul, lalu dengan ilmu menyampaikan suara merundingkan berbagai cara untuk mengatasi kejadian yang berada didepan mata, kemudian masing masing baru duduk bersila untuk mengatur napas.

Sementara itu, puluhan lentera tersebut sudah kehabisan minyak sehingga kehilangan cahayanya lambat laun semakin suram sebelum akhirnya menjadi gelap gulita.

Kegelapan menjelang tibanya fajar biasanya memang tak akan berlangsung terlalu lama.

Para jago memang cukup memahami situasi yang sedang dihadapi, Hian im Tee kun menganggap kepandaian silatnya sudah tiada tandingannya di dunia ini, kedudukannya amat tinggi dan terhormat, walaupun cara kerjanya agak rahasia dan misterius, namun bila kesempatan untuk memperlihatkan kelihayannya sudah tiba, tak nanti dia tak akan memberi kesempatan bagi mereka untuk turun tangan.

Oleh sebab itu, semua orang mengatur napas dengan perasaan lega, mereka berusaha untuk menghimpun tenaganya sambil bersiap sedia melangsungkan pertarungan mati matian.

Sementara itu sang surya mulai merambat naik dari balik bukit itu.

Meski sinar matahari belum sempat menyorot masuk ke dalam lembah namun langit sudah terang dan suasana dalam lembah itu sudah amat cerah.

Dua puluh orang jago persilatan yang sedang duduk bersila di tengah tanah lapang sama sekali tidak menghentikan semedinya karena langit yang telah terang, dengan suatu ketenangan yang mengagumkan mereka sedang menantikan gerak gerik dari Ban seng kiong.

Sikap tenang seperti ini tentu saja jauh berbeda dengan sikap gugup semalam, hal mana membuat anggota Ban seng kiong yang mengikuti gerak gerik mereka dari tempat persembunyian mereka tertarik dan amat kagum.

Pelan pelan dari belakang batu cadas itu muncul delapan orang lelaki berpakaian ringkas yang datang untuk membereskan sisa sayur dan meja kursi dari situ, mereka mengangkuti barang dengan melalui kawanan jago, namun tak seorang pun diantara kawanan jago tersebut yang menggerakkan kelopak matanya.

Hiam im li Cun Bwee berdiri di atas sebuah batu cadas ditengah dinding tebing sambil melongok ke bawah, menyaksikan keadaan mereka, ia segera tertawa dingin, jengeknya.

"Hmmm, penampilan kalian pada hari ini cukup menyakinkan!"

"Omitohud....!"

Seru ketua Siau lim pay Ci long siansu.

Tampaklah para jago yang duduk bersila diantara itu bersama sama membuka matanya lalu bangkit berdiri, gerak gerik mereka serentak dan sangat teratur.

Hian im li Cun Bwee segera berkerut kening setelah menyaksikan kejadian tersebut.

Ketua Siau lim pay Ci long siansu membereskan pakaian yang dikenakan, kemudian katanya .

"Pinceng atas nama para jago mengundang Hian im Tee kun untuk berbicara!"

"Siansu mewakili para jago dan aku mewakili Tee kun, ada persoalan apa yang hendak kau sampaikan? Sampaikan saja kepadaku,"

Sahut Hian im li Cun Bwee. Ci long siansu berkerut kening, kembali katanya .

"Dengan tipu daya kalian telah membawa pinceng sekalian datang kemari, tolong tanya apa maksud hati kalian yang sebenarnya?"

Hian im li Cun Bwee tertawa .

"Soal ini, meski tidak taysu tanyakan, aku juga bakal memberitahukan kepada kalian, cuma sebelum kuterangkan segala sesuatunya, terlebih dahulu kalian mendongakkan kepala dan coba memperhatikan dulu keatas dinding bukit di sebelah sana."

Para jago bersama sama mendongakkan kepalanya dan menengok ke arah dinding bukit seperti apa yang dituding Hian im li Cun Bwee ....

Apa yang kemudian terlihat, kontan saja menggetarkan hati para jago, mereka berseru tertahan dan berdiri melongo.

Rupanya dua puluh kaki diatas batu dinding dimana Hian im li Cun Bwee berdiri sekarang terdapat sebuah batu hijau yang amat besar, diatas batu itulah tergantung berbagai macam benda, rupanya benda benda inilah yang merenggut ketenangan para jago.

Benda benda apakah itu sehingga begitu merisaukan hati para jago lihat itu?

Rupanya benda itu kalau bukan berupa tanda pengenal dari pelbagai perguruan atau partai, tentu merupakan benda mestika partai partai mereka, atau ada juga yang merupakan senjata kenamaan.

Diantara benda benda tersebut tampak antara lain .

Lukisan Kun eng siang milik Thi Eng khi yang hilang di perkampungan Ki hian san ceng.

Lencana kemala hijau Pek giok pay dari Siau lim pay Lencana pedang baja Thi kiam leng dari Bu tong pay Pedang Cing biu kiam dari perkampungan Ki hian san ceng Peluru naga sakti milik Tay pek it khi Ku Kiam ciu Kipas berserat perak milik Tiang cun siusu Li Goan Payung baja tulang naga milik Ciong lam pay Tusuk konde hitam milik Giok koay popo Li Ko ci Cincin kemala Poan giok ci miliki Im tiong hok Teng siang Cawan kemala sembilan naga milik si Unta sakti Lok It hong Pakaian berbulu Cian sah yu ih milik Ciang hong wan Lentera Po lian teng milik pulau Soh to Hiolo emas Ci kim im teng dari keluarga Tong di propinsi Szechuan Kipas besar milik Tiang siau bi lek Kongsun Cong Panah tangan berekor merak Ang wi to jiu ciam milik Phu tian toa tiau Kay Poan thian Tembaga angin milik si pengembara bermata juling Nyoo Can Panji Ceng wi piau milik Tan cing kay san Chu Eng Tongkat beruas sembilan Kiu ciat po ciang milik Kay pang Pedang Liu yap kiam milik partai Cing shia Patung Kwan im bambu merah Ci tiok kwan im milik kuil Ci tiok an Kipas Cui hui giok pan dari Hong im siu Ko Thong Kaos kutang Cun go luan ka milik Raja akhirat berhati Buddha Bu kay siansu Katak buduk kemala hijau milik Giam long heng Kwik Keng thian, serta mutiara Kiu ci thian cu milik Hoa san pay.

Boleh dibilang hampir setiap orang yang diundang ke sana pasti terdapat sebuah benda mestika miliknya yang telah terjatuh ke tangan pihak Ban seng kiong.

Padahal mereka memang sudah tahu kalau benda mestika miliknya telah dirampas oleh Ban seng kiong, oleh sebab itu menyaksikan benda mestika milik mereka dipamerkan di depan mata, kendatipun hatinya agak emosi, toh sama sekali tidak merasa kaget.

Tapi ada pula diantara mereka yang sama sekali tidak tahu jika benda mestika miliknya telah hilang, maka setelah menyaksikan benda mestika miliknya itu sudah berada diatas dinding batu tersebut, rasa kaget dan marah mereka tak terlukiskan dengan kata kata.

Sebagaimana diketahui, benda benda mestika itu menyangkut nama maupun pamor dari suatu partai atau perguruan dalam dunia persilatan.

Dalam keadaan demikian, kendatipun pihak Ban seng kiong membuka mulut lembah untuk mempersilahkan mereka pergipun, mungkin mereka tak akan mengangkat kaki dengan begitu saja.

Sebab siapa pun ingin merebut kembali benda mestika miliknya, karena bila benda mana tak berhasil didapatkan kembali berarti mereka tak bisa menancapkan kaki kembali dalam dunia persilatan.

Itulah sebabnya para jago merasa agak bimbang dan kuatir.

Ketua Siau lim pay Ci long siansu segera dapat merasakan ancaman bahaya yang berada di situ, dengan cepat dia menghimpun tenaga dalamnya dan memperdengarkan suara auman singa yang amat keras.

Kontan saja para jago tersadar kembali dan buru buru menekan perasaan gusar tersebut ke dalam hati.

Sementara itu, Hian im li Cun Bwee telah berkata lagi dengan nada berat bertenaga .

"Hari ini kalian semua mempunyai kesempatan yang sama untuk merebut kembali benda mestika milik sendiri!"

Sekali lagi emosi para jago terpancing sehingga bergolak kembali dengan keras .... Buru buru ketua Bu tong pay Keng hian totiang memperingatkan semua orang dengan ilmu menyampaikan suara .

"Harap kalian jangan terlalu emosi, kendorkan pikiran dan kendorkan juga sikap tegang kalian!"

Terdengar Hian im li Cun Bwee berkata lebih jauh .

"Seandainya diantara kalian ada yang bersedia untuk mengikat tali persahabatan dengan pihak kami, tanpa bersusah payah kalian bisa mendapatkan kembali benda milik kalian itu."

Dari gerombolan para jago segera terdengar seseorang berseru keras sambil tertawa dingin .

"Hmmm! Jangan bermimpi di siang hari bolong, bila kalian menginginkan kami berteman dengan pihak Ban seng kiong, kalian tunggu saja bila matahari bisa terbit dari langit sebelah barat!"

Hian im li Cun Bwee tertawa.

"Kalau bukan teman berarti musuh, masih ada jalan bagi kalian, yakni dibuktikan dengan kepandaian silat yang kalian miliki sekarang..."

Dengan kening berkerut Cang ciong Sangkoan Yong maju ke depan, serunya sambil tertawa nyaring .

"Apabila ingin bertarung silahkan saja datangkan para jago lihay dari istana Ban seng kiong kalian!"

Dengan cepat Hian im li Cun Bwee menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hari ini, pihak kami tidak bermaksud untuk mengajak kalian bertarung, semua barang telah digantungkan diatas tebing tersebut, bila kalian berniat untuk mendapatkannya kembali, silahkan saja mencoba untuk mengambilnya sendiri, aku pasti tak akan berusaha untuk menghalanginya."

Semua orang mendongakkan kepalanya ke atas, tampak benda benda itu berada dua tiga puluh tingginya dari bawah permukaan tanah, sadarlah mereka bahwa tiada berkemampuan bagi mereka untuk menaiki tebing mana dan mengambil sendiri benda benda itu, untuk sesaat mereka jadi tersipu sipu dan tak mampu menjawab.

Hian im li Cun Bwee tertawa ringan, sambil menuding sebuah pintu batu di belakangnya ia berkata .

"Di dalam pintu terdapat tiga macam alat untuk mencoba taraf kepandaian silat kalian, apabila kalian dapat melewati ketiga alat tersebut secara baik, kami akan mengembalikan benda mestika tersebut kepada pemiliknya!"

"Lohu bersedia untuk mencoba lebih dulu!"

Kembali Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berseru.

"Silahkan saja Sangkoan tayhiap!"

Kata Hian im li Cun Bwee dengan cepat.

Dia segera menyingkir ke samping sehingga muncullah sebuah pintu batu dibelakangnya.

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah bersiap sedia untuk menerjang ke muka tapi Ciang hong wancu Lu Cing lian segera mencegah kepergiannya.

"Sangkoan tayhiap, harap kau berpikir tiga kali sebelum bertindak, tidak mungkin ada persoalan yang begitu gampang seperti apa yang dia katakan, jangan sampai kita tertipu oleh lawan sehingga terperangkap dalam jebakannya."

"Bila hendak kesana kita harus berangkat bersama sama, jangan sekali kali kita pencarkan kekuatan yang ada."

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong agak tertegun, akhirnya dia manggut manggut .

"Yaa, perkataan dari Wancu memang ada benarnya juga, untuk sesaat lohu tidak berpikir ke sana ...."

Hian im li Cun Bwee yang berada di atas bukit segera berseru lagi .

"Sekalipun pihak kami tak punya orang pintar, tak nanti akan kami gunakan siasat membunuh ayam mengambil telur seperti itu, apabila kalian tidak melihat keselamatan dari orang pertama yang bisa keluar lagi dengan selamat, orang kedua toh bisa saja mengurungkan niatnya!"

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera tertawa terbahak bahak .

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... lohu percaya dengan perkataanmu itu!"

Tanpa membuang banyak waktu lagi, dia melompat naik ke atas dinding bukit setinggi tujuh delapan kaki itu dan masuk ke dalam pintu batu tersebut.

Sementara para jago yang berada dibawah lembah menanti dengan perasaan tegang, menunggu hasil percobaan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.

Ketika tiba di depan pintu batu tersebut, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia, dengan cepatnya dia melewati sebuah lorong panjang dan tiba di dalam sebuah ruangan batu.

Ditengah ruangan batu itu berdiri sebuah patung ji lay yang berperut besar, di atas perut yang buncit itu terteralah beberapa tulisan yang berbunyi begini .

"Dengan sebuah pukulan atau pukulan telapak, getarkan patung Ji lay ini sehingga bergeser, bila berhasil maka berarti percobaan pertama telah berhasil!"

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong terhitung juga seorang enghiong yang berpengalaman luas, dia cukup mengetahui tentang kemahiran dari Hian im Tee kun, tentu saja dia pun tak berani memandang rendah patung ji lay yang ada.

Hawa murninya segera dihimpun ke dalam tangan kanannya kemudian sambil melepaskan sebuah pukulan bentaknya .

"Kena!"

Dengan sekuat tenaga dia hantam perut buncit dari Ji lay tersebut.

Termakan oleh pukulan Cang ciong sin kiam yang maha dahsyat itu, patung Ji lay tersebut bergetar keras dan bergeser ke arah kiri, dimana patung itu bersandar pada dinding batu dan tidak bergerak lagi.

Dengan berpindahnya patung Ji lay tersebut maka tampaklah dibelakang patung tersebut muncul pula sebuah manusia besi yang bertangan kosong, diatas pada patung besi itu tertempel pula selembar kertas yang bertuliskan.

"Dalam tiga jurus menentukan menang kalah, pemenang boleh melewati pos kedua ini."

Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong cukup mengetahui akan kelihayan dari manusia besi tersebut, bisa jadi kelihayannya tak jauh berbeda dengan kehebatan cap pwee lo han dari ruang lo han tong di kuil Siau lim si.

Sebagai seorang yang berpengalaman luas sebelum pertarungan dilakukan, terlebih dahulu ia teliti posisi patung besi itu serta kemungkinan yang bakal digunakan tangan dan kaki patung itu untuk melancarkan serangan.

Setelah melakukan penelitian yang seksama, dia menjadi terperanjat sekali.

Rupanya posisi kaki dari patung besi tersebut mengandung langkah Tay khek yang sangat lihay, sehingga baik ke arah empat arah maupun delapan penjuru, patung besi itu bisa bergerak secara bebas dan leluasa .....

Ketika diteliti pula posisi tubuh dibagian atasnya, tangan kaki berada di depan dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam, posisi ini disebut Keng thian it cu (tonggak sakti penunjang langit) sedangkan tangan kanannya diangkat sejajar alis dengan telapak tangan menghadap keatas sikut agak ditekuk ke bawah.

Posisi ini aneh sekali dan luar biasa, demikian anehnya posisi mana membuat manusia berpengalaman seperti Cang ciong sin kiam pun tidak mengetahui nama posisi itu.

Pokoknya ditinjau dari posisi patung besi itu, baik atas bawah kiri kanan maupun empat arah delapan penjuru dilindungi secara rapat sekali bahkan dapat pula melancarkan serangan menuju ke berbagai arah secara leluasa.

Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berubah hebat, jangankan bertarung, untuk turun tangan saja tak mampu.

Akhirnya setelah menghela napas panjang dia mengundurkan diri dari gua tersebut dan melompat turun ke bawah.

Ciang hong wancu Li Cing lian segera menyongsong kedatangannya sambil menegur .

"Bagaimana Sangkoan tayhiap?"

Dengan wajah lesu dan murung, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong menggelengkan kepalanya berulang kali .

"Malu bagi lohu untuk menjawab pertanyaan itu, lebih baik kalian masuk ke dalam dan melihat sendiri."

Karena dia telah menjawab begitu, maka semua orang pun tidak leluasa untuk mengajukan pertanyaan lebih jauh.

"Omitohud, kalau begitu biar lolap yang naik ke atas untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya,"

Kata ketua Siau lim pay Ci long siansu kemudian.

Dia segera melompat naik ke atas tebing dan masuk ke dalam gua batu tersebut.

Tapi tak selang berapa saat kemudian, ia telah mengundurkan kembali kebawah.

Sejak masuk ke dalam gua hingga muncul kembali, pendeta itu hanya membuang waktu amat singkat, hal ini membuat semua orang merasa keheranan dan tidak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Rupanya Ci long siansu dari Siau lim pay ini memahami jalan pikiran orang banyak maka sambil menghela napas panjang, katanya .

"Lolap sebagai murid Buddha tak berani turun tangan memukul patung Jilay hud tersebut, oleh sebab itu untuk melewati pos yang pertama saja tak mampu."

Sekalipun wajahnya diliputi perasaan menyesal namun tidak ditemukan perasaan sedih.

Pit tee jiu Wong Tin pak merupakan oranh ke tiga yang tampilkan diri untuk mencoba.

Wong Tin pak bergelar Pit tee jiu (pukulan sakti pembelah bumi) dengan kekuatan tenaga pukulannya yang dahsyat, tentu saja bukan masalah yang pelik baginya untuk menembusi pos pertama.

Ketika dia menyaksikan posisi yang diambil oleh patung besi pada pos ke dua, dia pun tertawa penuh arti, segera pikirnya .

"Ooooh, rupanya gaya yang dipakai oleh patung besi ini adalah jurus Jigi su siang, tak heran kalau Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong tak berani untuk mencoba."

Dengan menggunakan ilmu silat dari Thian liong pay, dia segera bertarung sebanyak tiga jurus dengan patung besi itu.

Oleh karena jurus serangan yang digunakan patung besi itu juga jurus serangan dari Thian liong pay, maka dengan mudah sekali dia berhasil menembusi pos kedua.

Cuma dia tidak sempat untuk berpikir lebih jauh, apa sebabnya pihak Ban seng kiong menggunakan jurus serangan dari Thian liong pay untuk menyulitkan para jago lainnya.

Pada pos ketiga merupakan sebuah tempat duduk yang terbuat dari batu kemala asal orang yang duduk diatas tempat duduk tersebut dapat menekan alas duduknya sehingga rata dengan tanah, maka dia akan dianggap sebagai pemenang.

Pit tee jiu Wong Tin pak segera naik keatas tempat duduk itu lalu dengan menggunakan hawa murninya, dia gunakan ilmu bobot seribu untuk menekan alas duduk tersebut.

Nyatanya walaupun dia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki pun alas duduk tersebut belum juga berhasil ditekan sehingga sejajar dengan tanah.

Sementara dia masih kebingungan dan tak tahu apa yang mesti diperbuat, mendadak di sisi telinganya berkumandang suara bisikan yang amat lirih sekali .

"Cepat kerahkan ilmu Sian thian bu khek ji gi sinkang dengan menghimpun kekuatan ke bawah, dengan kekuatan Sian thian sinkang, alas duduk itu pasti akan tertekan ke bawah."

Oleh karena suara bisikan tersebut terlampau lirih, sehingga sulit sekali untuk mengetahui siapa gerangan yang telah membisikkan ucapan mana.

Tapi kalau didengar dari nada suaranya, besar kemungkinan orang itu adalah anggota perguruannya.

Pit tee jiu Wong Tin pak mengira gurunya yang memberi petunjuk secara diam diam maka tanpa berpikir panjang ia segera melaksanakan seperti apa yang diucapkan.

Aneh sekali, kasur tempat duduk batu kemala yang tak berhasil ditekan dengan ilmu bobot seribu itu, dibawah tekanan Sian thian sinkangnya segera tertekan ke bawah sehingga rata dengan permukaan tanah.

Baru saja dia menarik kembali hawa murninya sambil bangkit berdiri, dari atas langit langit gua berkumandang suara gemuruh, menyusul kemudian muncul sebuah gua kecil disana.

Di balik gua itulah tampak sebuah benda terjatuh ke bawah dan meluncur ke tangannya.

Begitu benda tersebut dia terima dan memeriksanya dengan seksama, dengan penuh perasaan gembira ia berteriak .

"Hooree, aku berhasil mendapatkan kembali lukisan Kun eng siang!"

Dengan cepat dia lari keluar dari ruangan itu dan melompat turun ke dasar lembah.

Ketika para jago dibawah lembah menyaksikan dinding batu dibawah lukisan Kun eng siang tersebut tahu tahu turun ke bawah dan muncul sebuah mulut gua, mereka semua sudah tahu kalau besar kemungkinannya Pit tee jiu Wong Tin pak telah berhasil melampaui ke tiga pos penjagaan tersebut.

Oleh sebab itu, disaat Pit tee jiu Wong Tin pak melompat turun dengan wajah berseri semua orang segera maju ke depan dan menyampaikan selamat kepadanya.

Suara tertawa dingin segera berkumandang ditengah ucapan selamat dari para jago, tampak Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong melengos ke arah lain.

Waktu itu Pit tee jiu Wong Tin pak sedang bergembira, meski diapun menyaksikan rasa iri dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, namun berhubung ada banyak orang menanyakan keadaan dalam gua kepadanya, maka dia pun tidak sempat menggubris keadaan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong lagi.

Dengan maksud agar para jago yang lain pun berhasil mendapatkan kembali benda mestikanya, Pit tee jiu Wong Tin pak segera membeberkan rahasia jurus silat yarg dipakainya untuk mematahkan jurus serangan dari patung besi itu kepada para jago.

Dalam gembiranya, Im tiong hok Teng siang segera melompat naik ke atas tebing dan memasuki gua itu sebagai orang ke empat.

Siapa tahu tak selang beberapa saat kemudian dia sudah muncul kembali dengan tangan kosong belaka sepatah katapun tidak diucapkan, dengan wajah hijau membesi dia melihat sekejap ke arah Pit tee jiu Wong Tin pak dengan penuh kebencian.

Phu thian toa tiau Rajawali raksasa penerjang langit Kay Poan thian dengan Im tiong hok (bangau dibalik awan) Teng Siang termashur dalam dunia persilatan sebagai Lak hok pak tiau (bangau selatan rajawali utara) diwaktu biasa hubungan pribadi mereka sangat akrab.

Ketika menyaksikan si Bangau dibalik mega Teng Siang pulang dengan tangan hampa dia segera bertanya dengan penuh perhatian .

"Saudara Teng, bagaimana keadaan di dalam gua?"

"Tiada suatu yang bisa dianggap luar biasa!"

Sahut si Bangau dibalik awan Teng Siang dengan gusar.

"hanya aku sudah terjebak oleh tipuan sobat karib kita Wong tayhiap."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, sorot mata semua jago bersama sama dialihkan ke wajah Pit tee jiu Wong Tin pak.

Sesungguhnya Pit tee jiu Wong Tin pak bisa berhasil karena memperoleh petunjuk orang secara diam diam, pada hakekatnya dalam hati kecil orang ini memang ada penyakitnya maka tatkala semua orang mengalihkan sorot matanya ke arahnya, kendatipun dia sebagai seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, toh dibikin gelagapan juga.

Oleh sebab itu dengan suara rendah, dalam dan sama sekali tak bertenaga ia berkata.

"Saudara Teng, apabila terjadi suatu kesalahan paham, harap diutarakan saja secara blak blakan, siaute bersedia menerima kritik petunjuk."

Dengan berangnya si Bangau dibalik mega Teng Siang berseru .

"Menurut keteranganmu, jurus serangan yang dilakukan manusia besi itu adalah jurus Ji gi su siang dari partai kalian, bukan begitu?"

"Benar!"

Sahut Pit tee jiu Wong Tin pak tanpa berpikir panjang.

Sambil tertawa dingin si Bangau di balik awan Teng Siang memasang kuda kuda dan melakukan gerak serangan Im seng yang tong seperti apa yang diajarkan oleh Pit tee jiu Wong Tin pak tadi, kemudian kembali dia berseru .

"Bagaimana dengan jurus lm seng yang tong yang kupergunakan ini...?"

Pit tee jiu Wong Tin pak manggut manggut.

"Baik soal tenaga maupun arah sasarannya tepat sekali, jauh lebih unggul daripada siaute."

Im tiong hok Teng Siang mendengus dingin.

"Hmmmm, tapi jurus tersebut tidak berhasil mematahkan jurus Ji gi su siang dari manusia besi itu, Wong tayhiap bagaimana penjelasanmu tentang hal ini?"

"Aaah, masa iya?"

Pit tee jiu Wong Tin pak nampak tertegun.

Im tiong hok Teng Siang betul betul sangat mendongkol, tidak ambil perduli apakah perbuatannya memalukan atau tidak, tak sampai melepaskan kancing pakaiannya lagi dia segera menarik bajunya hingga robek.

Segera terlihatlah lengan kirinya merah membengkak, sambil mengangkat lengannya yang terluka itu tinggi tinggi, sehingga setiap orang dapat menyaksikan dengan jelas, dia berseru lagi dengan suara keras .

"Dorongan telapak tangan dari manusia besi itu hampir saja menghancur lumatkan tulang lenganku ini, masa aku membohongimu?"

Pit tee jiu Wong Tin pak segera berkerut kening, lalu dengan wajah memerah dan tersipu sipu serunya .

"Jangan jangan manusia besi itu sudah berganti posisi dan tidak mempergunakan jurus Ji gi su siang lagi?"

Kemarahan Im tiong hok Teng siang semakin menjadi setelah mendengar ucapan tersebut, teriaknya dengan keras .

"Setan alas! Kau anggap sepasang mataku sudah buta dan tak bisa melihat lagi? kenyataan tertera didepan mata, siapa pun bisa membuktikan perkataanmu itu."

Pit tee jiu Wong Tin pak adalah seorang kakek yang jujur, sudah barang tentu dia tak bisa menangkan perkataan Im tiong hok Teng siang tersebut, ia menjadi gelagapan .

"Soal ini.... soal.. ini.."

Sekian lamanya dia bergumam namun tak sepatah kata pun yang sanggup dikeluarkan.

Ketua Kay pang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Thi Eng khi, tentu saja ia tak bisa membiarkan tianglo dari Thian liong pay dicemooh orang dengan begitu saja.

Namun dia sendiri belum pernah memasuki gua tersebut, sehingga mau menengahi persoalan itupun tak dapat maka sambil tertawa terbahak bahak dia menarik perhatian orang lebih dulu, kemudian sambil melompat ke dalam gua serunya keras .

"Biar aku pengemis tua yang melakukan pemeriksaan untuk tayhiap berdua!"

Seusai berkata, dia sudah menyelinap masuk ke dalam ruang batu itu....

Kurang lebih seperminum teh kemudian toya mestika beruas sembilan yang tergantung diatas dinding tebing itu meluncur ke arah bawah, menyusul kemudian si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po melayang turun dari atas gua dengan wajah berseri.

"Aku si pengemis tua dengan mengikuti pentunjuk dari Wong tayhiap telah berhasil mendapatkan tongkat mestika beruas sembilan ini, kenyataan ini membuktikan kalau perkataan Wong tayhiap tidak salah."

Kemudian setelah berhenti sejenak dia menambahkan lebih jauh .

"Hanya untuk melewati persoalan yang ketiga, siaute telah mempergunakan sim hoat tenaga dalam dari perguruanku sendiri."

Ucapan tersebut kontan saja disambut para jago dengan suasana yang amat gaduh. Im tiong hok Teng Siang hampir muntah darah saking gusarnya, dengan cepat dia berteriak keras .

"Apakah kalian semua tidak percaya dengan perkataanku?"

Phu thian toa tiau Kay Poan thian juga berseru dengan suara yang lantang .

"Tak usah kuatir saudara Teng, Thian liong pay punya teman, kau tak usah takut sendirian, siaute akan segera masuk ke gua untuk membuktikan sendiri!"

Sebagaimana dengan julukannya, Kay Poan thian memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay, badannya yang melambung ke udara persis seperti seekor rajawali raksasa yang mementang sayapnya.

Begitu badannya berputar keudara dengan suara gerakan aneh, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata...

Tak selang berapa saat kemudian, terdengar Phu thian toa tiau Kay Poa thian meraung gusar dari dalam gua .

"Perkataan saudara Teng tepat sekali, Wong Tin pak tidak jujur, si pengemis tua busuk pun berbohong!"

Belum habis perkataan tersebut diutarakan, tubuhnya sudah melayang turun dihadapan para jago dengan kecepatan luar biasa bahkan perkataannya yang terakhir ditujukan langsung ke arah pengemis tua tersebut...

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po adalah seorang ketua Kay pang, soal kedudukannya dalam dunia persilatan, ia lebih tinggi berapa tingkat dibandingkan dengan Phu thian toa tiau, sikap keras dan kurang ajar yang diperlihatkan oleh Phu thian toa tiau Kay Poan thian sekarang sudah jelas sangat merugikan pamornya didalam dunia persilatan.

Sebagai seorang pemimpin yang berkedudukan tinggi didalam dunia persilatan, tentu saja pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po merasa tidak terima kalau dirinya dituding hidungnya sambii dicaci maki oleh Phu thian toa tiau Kay Poan thian.

Dengan penuh amarah dia segera membentak .

"Phu thian toa tiau, kalau berbicara harus ada bukti yang jelas, aku si pengemis tua tak rela kalau diriku dicaci maki orang dengan semaunya sendiri!"

"Breeeet!"

Phu thian toa tiau Kay Poan thian merobek ujung baju tangan kirinya dan memperlihatkan bekas luka yang sama dengan apa yang diderita Im tiong hok, kemudian serunya keras keras .

"Lengan kiriku yang terluka ini apakah belum cukup untuk membuktikan bahwa ucapan kalian semuanya bohong!"

Kembali si pengemis sakti bermata harimau Co Goan po mendengus dingin.

"Hmmm, perkataan dari Wong tayhiap diucapkan kepada khalayak umum, sementara apa yang aku si pengemis tua dengar juga persis seperti apa yang kau dengar, kalau kau sampai terluka pada percobaan yang ke dua, hal ini menandakan kalau tenaga dalammu yang tak becus, kau hendak menyalahkan siapa sekarang?"

"Hmmm! Hmmm! Siapa yang tidak tahu kalau kau Cu tayhiap adalah kawan Persekongkolan dari Thian liong pay."

Pau thian toa tiau Kay Poan thian balas mengumpat.

"Wong tayhiap tentu saja harus melindungi dirimu dari serangan, siapa tahu kalau secara diam diam dia telah pergunakan ilmu menyampaikan suara untuk memberitahukan rahasianya kepadamu?"

Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po benar benar gusar sekali sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah, serunya dengan penuh kemarahan .

"Kurang ajar. Benar benar kurang ajar. Bila kau masih saja ngebacot terus tak karuan, aku si pengemis tua akan bersumpah tak ada habisnya denganmu."

"Daripada tunggu tunggu sampai lain hari, sekarang juga aku siap menantikan petunjukmu!"

Seru Phu thian toa tiau Kay Poan thian lagi sambil tertawa dingin.

Perselisihan antara ke dua orang ini benar benar sudah mencapai pada puncaknya, suatu pertarungan sengit nampaknya segera akan berlangsung disitu.

Mendadak dari atas tebing sana berkumandang suara tertawa ringan dari Hian im li Cun Bwee, suara tertawa yang penuh dengan ejekan itu kontan saja membuat para jago merasa amat bersedih hati.

Ketua Bu tong pay, Keng hian totiang segera menyelinap ke depan dan berdiri di antara pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dengan Phu thian toa tiau Kay Poan thian, setelah itu bujuknya ke sana ke mari .

"Harap kalian berdua suka menenangkan pikiran dan dinginkan perasaan, kita harus bersatu padu dalam keadaan seperti ini, jangan sampai musuh yang menunggangi kita dalam suasana begini, bila ada persoalan kita bisa rundingkan persoalan ini secara baik baik."

"Benar,"

Kata ketua Siau lim pay Ci long siansu pula.

"lolap ingin mengingatkan kepada saudara sekalian, pihak Ban seng kiong mempunyai banyak akal busuk dan tipu muslihat, kita jangan sampai termakan oleh siasat adu dombanya sehingga menyesal kemudian tak ada gunanya."

Begitulah, setelah kata nasebat berhamburan dari sana sini, akhirnya percekcokan tersebut dapat diredakan untuk sesaat.

Kendatipun suasana menjadi tenang kembali, namun secara lamat lamat terasa munculnya suatu pertentangan pendapat yang makin lama terjalin semakin meluas.

Setiap kali ada seseorang telah memasuki ruangan batu itu, perpecahan di antara para jago pun bertambah jelas.

Karena kejadian yang dialami masing masing orang berbeda satu sama lainnya, hal ini membuat mereka yang mengalami kegagalan segera berprasangka yang bukan bukan.

Diantara sekian jago yang hadir, mereka yang berhasil memperoleh kembali barangnya antara lain adalah .

Ketua Bu tong pay Keng hian totiang, Pit tee jiu Wong Tin pak dari Thian liong pay, Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po ketua Kay pang, Hui hong li Lu Cing lian ketua Ciang hong wan, si unta sakti Lok It hong serta Hui cun siucay Seng Tiok sian sekalian berenam.

Sedangkan sisanya mengalami kekalahan total, cuma diantara mereka yang gagal terdapat juga kawanan jago yang berpikiran lebib luas dan berhasil mengatasi rasa irinya, sikap dan tindak tanduk mereka masih tetap jujur dan terbuka.

Diantaranya adalah ketua Siau lim si Ci long siansu, ketua Hoa san pay Pek ih siusu Cu Wan ho, Hud sim giam lo Bu kay siansu, Beng siy suthay dari Ci tiok an, ketua Cing shia pay Ting Kong ci, It khi siu bok Ku Kiam ciau dari Thay pek san dan Tiang cun siusu Li Goan sekalian beberapa orang.

Sisanya dengan pimpinan oleh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong secara terang terangan menuduh orang orang yang berhasil mendapatkan kembali barang mestikanya itu sebagai komplotan Thian liong pay sedangkan Thian liong pay bersekongkol secara diam diam dengan pihak Ban seng kiong sehingga karena hal inilah barang barang mestika mereka berhasil diperoleh kembali.

Oleh karena pandangan tersebut maka dari ke dua puluh sembilan orang yang hadir segera terbagi menjadi dua kelompok manusia yang saling bertentangan.

Suatu persekutuan yang semula kokoh seperti baja, sekarang telah dibuyarkan seperti segenggam pasir.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Tentu saja tak lain tak bukan orang orang Ban seng kiong lah yang telah melakukan permainan busuknya di dalam ruangan batu.

Dengan lihay, mereka justru menggunakan titik kelemahan para jago yang banyak menaruh curiga itu untuk mempermainkan mereka, kemudian mengendalikan secara diam diam.

Apa yang selanjutnya berkembang, hampir semuanya berlangsung seperti apa yang direncanakan pihak Ban seng kiong.

Dan kini, saat yang mereka nantikan sudah hampir mencapai pada puncaknya.

Hian im li Cun Bwee yang berdiri di atas tebing sambil rnenahan rasa gelinya itu akhimya toh tertawa sesaat kemudian dia baru menghimpun tenaga dalamnya dan mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring.

Begitu pekikan panjang berkumandang, hawa sakti yang terpancar keluar ibaratnya beribu ribu batang jarum yang menusuk nusuk telinga semua orang, kontan saja membuat para jago merasakan telinganya amat sakit.

Dari sini dapat diketahui kalau kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini masih jauh diatas kepandaian yang dimiliki setiap jago di arena.

Dari sekian jago yang hadir, ada berapa diantara mereka yang hadir dalam pertarungan antara Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun tempo hari, oleh karena itu mereka juga mengetahui akan kemampuan dari Hian im ji li, itulah sebabnya mereka tidak memperlihatkan rasa kaget maupun tercengang.

Tapi mereka yang belum pernah menyaksikan kepandaian dari Hian im ji li, rasa kagetnya benar benar tak terlukiskan dengan kata kata.

Selesai berpekik nyaring, dengan senyum dikulum, kembali Hian im li berkata dengan suara yang merdu dan lembut .

"Setiap perkataan dari Ban seng kiong dapat dipercaya, bagi para tayhiap yang telah berhasil mendapatkan kembali benda mestikanya, sekarang dipersilahkan meninggalkan lembah ini, bila undangan kami kali ini kurang memadai, harap kalian sudi memaafkan!"

Lagi lagi perempuan iblis itu menyulut sumbu bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Betul juga, begitu perkataan dari Hian im li Cun Bwee selesai berkata, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong telah membentak dengan penuh kegusaran .

"Ada rejeki dinikmati bersama, ada bencana ditanggulangi bareng, siapa pun dilarang meninggalkan tempat ini walau hanya selangkah pun ...."

Begitu selesai berkata, dia segera menyelinap ke depan dan menghalangi jalan pergi para jago lebih dulu.

Menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat, mereka yang merasa iri hati segera bergerombol menutup jalan lewat menuju ke arah mulut lembah, bahkan semuanya telah meloloskan senjata sambil bersedia menghadapi terjangan orang.Padahal beberapa orang jago lihay yang berhasil mendapatkan kembali benda mestika miliknya itu sama sekali tidak berhasrat untuk pergi lebih dulu, namun setelah nenyaksikan sikap Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sekalian yang begitu menghina orang dan bertindak semena mena, timbul juga perasaan gusar didalam hati orang orang itu....

Si Unta sakti Lok It hong paling berangasan, dia tak kuasa menahan perlakuan semacam itu, saking habis kesabarannya dia segera meloloskan sepasang senjata kapak kecil berwarna hitam yang jarang dipakainya itu kemudian sambil berjalan menuju ke mulut lembah, bentaknya keras keras .

"Lohu ingin tahu siapa yang mampu untuk menghalangiku keluar dari lembah ini!"

Giok koay popo Li ko ci segera merentangkan tongkat kemalanya di depan dada, kemudian sambil menghalangi jalan pergi si Unta sakti Lok It hong, serunya .

"Hei, setan unta, aku si nenek tua paling jemu melihat sikap seperti ini, rasain pukulan toyaku!"

Dengan jurus Thay san ya teng (bukit Thay san menindih kepala), dia hantam batok kepala si Unta sakti Lok It hong sekeras kerasnya ....

Kapak kecil ditangan kiri si Unta sakti Lok It hong segera menyapu ke arah pinggang lewat dengan jurus Go kong hu kwei (Go Kong menyerang kui).

Sementara tangan kanannya dengan jurus Ki hwee sau thian (mengangkat obor membakar langit) menyambut datangnya serangan toya dari si nenek.

Tapi disaat ke dua macam senjata itu hampir membentur satu sama lainnya itulah tubuhnya merendah secara tiba tiba dan kapaknya ganti membacok ke atas wajah Giok koay popo dengan jurus Ing hong long gwat (menyambut angin mengusir rembulan).

Sambil tertawa dingin Giok koay popo berseru .

"Heeehhh.... heeeehhh... heeeehh.... kalau cuma Sam pan hu dari Thia Kau cim mah belum bisa mengapa apakan aku si nenek..."

Toyanya membentuk satu lingkaran cahaya putih dengan jurus Pat hong hong hi (angin hujan di delapan penjuru), lalu secara beruntun menghantam ke atas sepasang kapak dari si Unta sakti Lok It hong.

"Traang....!"

Benturan nyaring yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan, akibatnya ke dua orang itu sama sama terdesak mundur sejauh lima langkah ke belakang.

Begitu tubuh mereka berdua saling berpisah mendadak bergema suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring .

"Omitohud!"

Ci long siansu, ketua Siau lim pay yang berperawakan tinggi besar itu sudah melayang turun diantara ke dua orang itu sambil merangkap tangannya di depan dada.

"Lolap berharap sicu berdua segera mengakhiri pertarungan ini, jangan disebabkan suatu kesalahan paham kecil saja hingga berakibat kerugian di semua pihak."

"Tapi sikap maupun tindak tanduk mereka amat menjemukan, lohu benar benar merasa tak tahan!"

Kata si Unta sakti Lok It hong cepat. Giok koay popo tak mau kalah, sambil tertawa dingin ia berkata .

"Heeehhh.... heeehhh..... heeehhhh..... menjual teman mencari pahala, aku si nenek paling benci dengan manusia semacam ini...!"

"Siapa yang menjual teman mencari pahala?"

Teriak Si Unta sakti Lok It hong dengan gusar.

"Hei, kalau berbicara harap yang lebih jelas lagi."

"Kalau yang kumaksudkan kau, mau apa kau?"

Tantang Giok koay popo sambil mengejek.

Kembali si Unta sakti Lok It hong siap menerjang ke muka, tapi Ci long siansu dari Siau lim pay segera mencegahnya.

Dalam pada itu, Keng hian totiang dari Bu tong pay telah melompat ke depan dan menarik pula si Unta sakti Lok It hong agar mundur dari arena.

Ci long siansu, ketua Siau lim pay segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil menghela napas .

"Aaaai.... bila kita tak dapat bersatu padu pada hari ini, mungkin lembah Ou liong kok ini merupakan tempat untuk mengubur jenasah kita semua!"

"Yang dipentingkan bagi orang persilatan adalah solidaritas dan persatuan, buat apa kita mesti berkompromi dengan sampah masyarakat tersebut?"

Tukas Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong cepat. Ci long siansu, ketua Siau lim pay segera berseru pula .

"Bila kalian cekcok sendiri, mka si nelayanlah yang meraih keuntungannya, dalam situasi seperti ini apakah kalian tak bisa berpandangan lebih terbuka?"

Tampaknya Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dibikin terharu oleh ketua Siau lim pay tersebut, dia berkata kemudian sambil menghela napas panjang .

"Aaaai, kalau mereka dapat melepaskan ingatan yang serakah dan kelewat mementingkan diri sendiri, dengan begitu lohu baru dapat menasehati para jago agar menahan diri."

Diam diam Ci long siansu berkerut kening, segera pikirnya .

"Ucapan tersebut sudah jelas amat mengejek, orang yang tak marah pun akan menjadi marah juga dibuatnya, aaai..... lolap sampai dibikin berabe ...."

Untuk beberapa saat dia menjadi gelagapan dan bingung sendiri, ia tak tahu bagaimana harus berkata kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.

Walaupun Ci long siansu dibikin serba salah, toh langkahnya bergeser juga untuk berdiri dekat dengan si Unta sakti Lok It hong sekalian....

Ketua Bu tong pay, Keng hian totiang dapat menyaksikan kesulitan yang sedang dihadapi Ci long siansu, dengan suara nyaring dia lantas berseru .

"Yang penting adalah menoong keadaan, soal dicemooh orang mah boleh dipikirkan nanti saja."

"Kebesaran jiwa kalian benar benar suatu keberuntungan bagi umat persilatan, lolap mewakili segenap umat persilatan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu,"

Kata Ci long siansu kemudian dengan wajah lebih cerah.

Jilid 37 Sikap mengalah seperti ini, seharusnya dapat merubah suasana tegang menjadi suasana yang lebih santai dan damai, tapi entah maksud tujuan apa yang sedang direncanakan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, ternyata dia mulai mengutak atik kembali perkataan yang baru saja diutarakan ketua Bu tong pay Keng hian totiang tersebut.

Akhirnya setelah diadakan pembicaraan yang ramai diantara komplotan mereka, orang orang itu berkesimpulan kalau ucapan yang diutarakan Keng hian totiang barusan jelas berarti sebaliknya yakni secara diam mengumpat mereka, sebagai pengacau yang sengaja mencari gara gara dan tidak tahu pentingnya kerja sama.

Anggapan semacam itu segera ditanggapi sebagai suatu penghinaan yang mencoreng moreng wajah mereka, oleh sebab itu mereka bersikeras menuntut kepada Keng hian totiang untuk mencabut kembali perkataan yang telah diutarakan.

Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay ini menjadi repot untuk mendamaikan kembali ke dua belah pihak, namun sekarang diapun dapat merasa bahwa Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sekalian sesungguhnya lagi mencari gara gara.

Akhirnya dia berkata sesudah termenung sejenak .

"Harap saudara sekalian sudi memberi muka kepadaku, setelah persoalan ini beres kita semua harus membicarakan kembali pangkal persoalan yang sesungguhnya!"

Sambil tertawa dingin, Giok koay popo segera menegur .

"Toa ciangbunjin, apa kau sudah tak sabar lagi?"

Nada suaranya amat tidak bersahabat. Begitu mendengar perkataan dari Giok koay popo tersebut, bergidik hati Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay ini, segera pikirnya dengan cepat .

"Aduuuh celaka, rupanya mereka pun sudah menaruh..."

Belum selesai dia berkata, Phu thian toa tiau Kay Poan thian telah maju selangkah ke muka sambil berkata .

"Kembali ke pangkal persoalan bukan masalah sepihak saja, entah apa maksud dari perkataan ciangbujin ini? Tampaknya kau hendak melimpahkan semua tanggung jawabnya dipihak kami? Hmmmm, bila siansu memang berpendapat demikian maka perkataan selanjutnya lebih baik tak usah dilanjutkan!"

Terbukti sekarang kalau mereka pun mempunyai pandangan negatif terhadap ketua dari Siau lim pay ini.

"Eeeehhh... eeehh.... harap kalian jangan salah paham!"

Buru buru Ci long siansu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"aku minta kalian jangan salah menanggapi perkataanku, lolap sama sekali tidak mempunyai maksud lain!"

Soh sim tocu dewi penyebar bunga Leng Cay soat segera tertawa melengking .

"Hwesio tua, aku percaya kalau kau tidak berpikiran untuk lebih condong ke satu pihak!"

Berhubung dia sudah cukup lama menjadi pendeta, lagi pula termasuk salah seorang yang tercantum gambarnya dalam lukisan Kun eng siang, maka caranya berbicara pun berlagak sok tua.

Walaupun Ci long siansu merasa lagak berbicaranya kelewat besar, toh ia sempat menghembuskan napas lega juga setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian .

"Siancu mau tahu tentang keadaan lolap hal ini sungguh membuat lolap merasa lega hati!"

"Tapi"

Kembali si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat berseru keras.

"percaya tak dapat menggantikan kenyataan, semua orang telah menitipkan semua pengharapannya atas dirimu, semoga kau dapat memikirkan kepentingan diri segenap umat pesilatan dan melenyapkan pertikaian hari ini."

Untuk sementara waktu, Ci long siansu tidak dapat menduga apa maksud dan tujuan dari perempuan tersebut berkata demikian, ia menjadi tertegun kemudian baru ujarnya.

"Lolap hanya berharap kalian semua jangan bentrok sendiri hanya dikarenakan urusan sepele, tentang soal ini siancu tak usah kuatir....."

"Kalaucmemang begitu, aku hendak mengajukan sebuah usul untuk menyelesaikan pertikaian hari ini, asalkan kau dapat menundukkan perasaan mereka, aku tanggung kami semua tak akan menaruh curiga lagi terhadap pihak mereka."

"Lolap akan berusaha dengan segala kemampuan"

Kata Ci long siansu serius.

"bila ada persoalan harap siancu utarakan secara terang terangan saja, daripada waktu yang larut akan menimbulkan ingatan jahat dari pihak Ban seng Kiong."

Tiba tiba Hian im li Cun Bwee yang berada diatas tebing ikut menimbrung sambil tertawa.

"Siansu tak usah kuatir, kalau aku mah tak akan seperti kalian, apa maksud tujuan kedatangan kalian kemari pun sama sekali tidak diketahui."

Ucapannya sangat menyakitkan hati, membuat siapa pun yang mendengar segera merasakan rendah diri.

Soh sim tocu, si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat sama sekali tidak menggubris terhadap ejekan dari Hian im li Cun Bwee, sambil menebalkan muka dia berkata .

"Aku rasa untuk menyelesaikan pertikaian ini, satu satunya jalan adalah serahkan semua benda mustika yang berhasil mereka peroleh kembali itu agar kusimpankan untuk sementara waktu, dengan begini bukan saja dapat membuktikan kebersihan dan kejujuran mereka, lagipula dapat pula melenyapkan kecurigaan kami, Hwesio tua, bagaimana menurut pendapatmu?"

Ci long siansu, ketua dari Siau lim pay itu harus berkerut kening setelah mendengar perkataan tadi, mau tertawa ia tak bisa, mau menangis pun sungkan, dia sama sekali tak menyangka kalau tokoh persilatan perempuan tersebut bisa bisanya punya muka untuk berkata demikian, pada hakekatnya hal ini benar benar melupakan suatu tindakan yang kelewat memojokkan posisi orang dan sama sekali tak tahu adat.

Namun, usul perempuan tersebut dengan cepat mendapatkan dukungan sepenuhnya dari segenap anggota komplotan.

Padahal, sebelum perkataan tersebut disampaikan oleh Ci long kepada rekan rekan lainnya, Keng hian totiang sekalian sudah dapat mendengar sendiri perkataan tersebut dengan amat jelasnya, tentu saja mereka menjadi naik darah.

Pit tee jiu Wong Tin pak menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, tiba tiba dia menarik Ngo Liu sianseng Lim Biau lim ke samping, kemudian diajaknya berunding .

"Lim sute, menurut pendapatmu bagaimana kalau kita serahkan saja lukisan Kun eng siang tersebut?"

Penyerahan ini jelas merupakan suatu tindakan pengorbanan diri, dia berharap dengan diserahkannya lukisan Kun eng siang tersebut, maka pertikaian ditubuh mereka sendiri dapat segera teratasi.

Akan tetapi, berhubung tindakannya ini menyangkut pamor serta nama baik Thian liong pay di masa mendatang, maka dia tak berani mengambil keputusan sendiri.

Ngo liu sianseng Lim Biau lim segera tersenyum, katanya dengan cepat .

"Suheng, silahkan saja kau yang mengambil keputusan, siaute akan mendukung setiap keputusanmu."

Airmata segera jatuh berlinang membasahi wajah Pit tee jiu Wong Tin pak saking terharunya, dia segera mengenggam sepasang tangan Ngo liu siauseng Lim Biau lim setelah itu serunya dengan suara gemetar .

"Terima kasih banyak atas dukungan dari sute, semoga saja tindakan yang ih heng lakukan sekarang sama sekali tidak keliru!"

"Apa yang pernah dilakukan ciangbunjin dulu, demi keselamatan umat persilatan pada umumnya kita boleh melakukan sekali lagi, toh tindakan seperti ini bukan suatu aib bagi perguruan,"

Hibur Ngo liu sianseng Lim Biau lim sambil membakar semangat rekannya.

"jikalau pertikaian pada hari ini benar benar bisa dipunahkan dengan tindakan kita ini siapa bilang kalau kita telah melakukan perbuatan yang salah...?"

Pit tee jiu Wong Tin pak segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil tertawa nyaring dia berjalan menuju kedepan Ci long siansu yang sedang mengalami kesulitan tersebut, dengan langkah lebar kemudian sambil menyerahkan lukisan Kun eng siang tersebut kepada sang pendeta, katanya .

"Aku bersedia menyerahkan lukisan Kun eng siang ini untuk menunjukkan kebersihan hati kami, harap siansu menerimanya dan diserahkan kepada tayhiap tersebut untuk menyimpannya sementara waktu."

Tindakan tersebut bukan saja sama sekali di luar duga Soh sim tocu Dewi penyebar bunga Leng Cay soat, seluruh jago yang hadir di situ pun turut berubah wajahnya, semacam perasaan yang tak terlukiskan dengan kata kata segera muncul didalam hati kecil mereka.

Tindakan yang sama sekali tidak memperdulikan nama dan kedudukan, bersedia mengorbankan diri demi kepentingan orang lain ini ternyata telah dilakukan oleh Pit tee Jiu Wong Tin pak, seorang murid Thian liong pay, hal mana segera menimbulkan reaksi yang luar biasa bagi kawanan jago lainnya.

Seketika itu juga banyak yang dibikin terharu oleh peristiwa tersebut, mereka mulai memeriksa diri sendiri apakah tindakan yang telah dilakukannya barusan betul atau salah.

Sementara itu, Ci long siansu dari Siau lim pay telah menggoyangkan tangannya berulang kali seraya serunya .

"Wong tayhiap, lebih baik kita rundingkan kembali persoalan ini secara baik baik lolap...lolap...."

Berbicara sesungguhnya sudah sejak lama Soh sim tocu si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat menaruh minat untuk mengangkangi lukisan Kun eng siang tersebut, sudah barang tentu dia tak akan melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja.

Sambil mengulumkan senyuman palsunya dia segera berkata .

"Siapa yang bias menyesuaikan diri dengan keadaan dialah seorang pendekar sejati, kita tak boleh menyia nyiakan pengorbanan dari Wong tayhiap ini, baiklah, untuk sementara waktu biar aku saja yang menyimpan lukisan ini untukmu!"

Seraya berkata dia lantas mengulurkan tangannya siap menerima lukisan Kun eng siang tersebut dari tangan Pit tee jiu Wong Tin pak. Mendadak..., pada saat itulah terdengar seseorang membentak keras .

"Tunggu sebentar!"

Dari kumpulan para jago muncul Hong ceng gi siu (kakek aneh penggetar angin) Siang Thong dari bukit Mong san, kemudian sambil tertawa terbahak bahak katanya .

"Haaahhh.... haaahhhhh.... haaahhhh.... Wong tayhiap, berdasarkan kesetiaan kawanmu ini, memangnya kau anggap kami benar benar menghendaki lukisan Kun eng siang milikmu ini? Aaaah, jangan suruh orang persilatan menertawakan kami saja! Harap kau simpan kembali lukisan Kun eng siang tersebut!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius dia berkata lebih jauh .

"Mari kita bersama sama menghilangkan prasangka yang bukan bukan terhadap mereka, entah bagaimanakah menurut pendapat kalian semua...?"

Sebenarnya lukisan Kun eng siang tersebut sudah hampir berpindah ke tangan si Dewi penyebar bunga Leng Cay soat, tapi setelah diganggu oleh Si Kakek aneh penggetar angin Siang Thong dari bukit Mong San ini, usahanya kontan saja mengalami kegagalan total, serunya kemudian dengan mendongkol .

"Siang tayhiap, kau..."

Belum habis dia berkata, sudah kedengaran banyak jago yang menyetujui serta mendukung usul dari kakek aneh penggetar angin Siang Thong tersebut, suasana menjadi hiruk pikuk sekali .

"Pendapat Siang tayhiap tepat sekali, bila keributan ini harus dibiarkan berlangsung terus, pastilah kita akan kehilangan sifat persatuan diantara kita semua."

"Yaa, betul! kita harus bersatu padu kembali, dengan demikian kita semua masih bisa mempertahankan diri!"

"Asal kita bisa bersatu padu kembali musibah hari ini baru dapat kita tanggulangi bersama."

"Yaa, pihak Ban seng kiong sudah jelas mempunyai maksud jelek, kita semua harus menyadari akan kebusukan serta kelicikan mereka."

Begitulah, ucapan demi ucapan segera bermunculan kembali, liang sim dan kebenaran seolah olah bangkit kembali dalam hati kecil mereka.

Dewi penyebar bunga Leng Cay soat tahu kalau pendapat umum tak boleh dilawan maka ucapannya yang baru sampai setengah jalan itu buru buru dirubah .

"Siang tayhiap, kau..... kau memang pandai menebak suara hatiku, aku pun hanya bermaksud untuk mencoba ketulusan hati Wong tayhiap saja!"

Menyusul kemudian ia perdengarkan suara tertawa terbahak bahak yang terlampau dipaksakan.

Kelompok manusia yang semula terpecah belah, kini pun telah bersatu kembali.

Namun secara diam diam terdapat tiga orang yang kabur keluar lembah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun jua.

Ci long siansu yang menyaksikan kejadian mana segera menghela napas panjang, gumamnya .

"Aaaaai, Sangkoan tayhiap benar benar berpikiran picik!"

Belum habis dia berkata, mendadak dari arah mulut lembah situ berkumandang suara ledakan yang amat memekikkan telinga.....

"Blammmmmm!"

Asap hitam yang amat tebal membubung tingggi ke angkasa, menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan manusia melompat mundur kembali dari balik asap tebal dalam keadaan yang amat mengenaskan.

Tampak pakaian mereka compang camping, wajahnya penuh debu sudah jelas baru saja menderita kerugian besar.

Dibelakang Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong mengikuti Phu thian toa tiau Kay Poan thian serta Im tiong hok Teng siang.

Dari kejauhan sana, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong telah meraung dengan penuh kegusaran .

"Ban seng kiong, kalian benar benar berhati keji dan licik, mengapa kalian menyumbat mati mulut lembah tersebut?"

Hian im li Cun Bwee yang berada diatas tebing segera tertawa cekikikan berulang kali, jengeknya kemudian .

"Aku lihat kalian sudah cukup lelah bercecok, sekarang silahkan untuk beristirahat dulu."

Kemudian sambil menuding ke arah berbagai macam benda mestika diatas dinding bukit itu, kembali dia berkata .

"Perkataan dari orang orang Ban seng kiong bisa dipercaya, syaratnya juga tidak berubah, silahkan kalian mencoba kemampuan sendiri! Cuma sayangnya siau moay sudah tidak punya waktu untuk menemani kalian lagi."

Perempuan itu sama sekali tidak bergeser dari posisinya semula, tampak tebing yang menonjol keluar tersebut pelan pelan bergerak meluncur masuk kebalik dinding bukit.

Sambil tertawa nyaring, Giok koay popo Li Ko ci segera membentak keras .

"Budak setan, setelah mengadu domba kami, apakah kau hendak kabur dengan begitu saja?"

Toya kemalanya membentuk gerakan lingkaran besar diatas kepalanya, lalu dengan menggunakan kekuatan dari perputaran tersebut tubuhnya langsung menerjang naik ke atas dinding tebing tersebut.

Sambil tertawa dingin, Hian im li Cun Bwee tersebut .

"Walaupun kalian terhitung jago jago yang memimpin suatu perguruan atau daerah tertentu, namun berbicara soal tenaga dalam, belum tentu kalian sanggup untuk mengungguli nonamu."

Telapak tangannya segera diayunkan ke depan dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah si nenek.

Dengan cepat Giok koay popo menghentikan gerakan tubuhnya sambil berjumpalitan meluncur ke bawah katanya kemudian sambil menghela napas panjang .

"Aaaaaaai, tenaga dalam yang dimiliki budak setan itu benar benar amat sempurna, aku tak mampu untuk menembusinya."

Orang lain bertenaga dalam sempurna, mendapat keuntungan lagi dari keadaan medan, sekalipun yang hadir disana rata rata berilmu tinggi, namun siapa saja jangan harap bisa menerjang ke atas.

Di dalam waktu singkat inilah, tampak Hian im li Cun Bwee sudah menyelinap masuk ke dalam gua tersebut, sementara tonjolan batu karang tadi persis menutupi mulut gua tersebut.

Dari jauh memandang, diatas dinding bukit tinggal tergantung berbagai macam benda mestika dari pelbagai perguruan yang belum mampu diperoleh kembali, karena tiada tempat untuk berpijak, maka orang harus mampu mendaki setinggi tiga puluhan kaki bila ingin mendapatkan kembali semua benda mestika tersebut.

Dinding tebing setinggi tiga puluhan kaki boleh dibilang merupakan suatu ketinggian yang tak mungkin bisa dicapai oleh jago silat dari mana pun meski memiliki kepandaian yang melebihi batas batas kemampuan, sebab siapa pun jangan harap bisa mencapai ketinggian seperti ini dengan kekuatannya.

Soal mendapatkan kembali mestika tersebut bisa diselesaikan belakangan, tapi kalau dilihat dari keadaan situasi yang terbentang didepan mata sekarang, untuk keluar dari lembah ini pun sudah bukan merupakan masalah yang gampang.

Mendekati tengah hari, cahaya matahari telah mencorong ditengah angkasa dan memancarkan sinarnya yang amat terik, rasa haus mulai menghantui semua jago, menyusul kemudian perut terasa lapar sekali......

Di dalam keadaan begini, semua orang hanya bisa saling berpandangan satu sama lainnya.

Kau memandang ke arahku, dan aku pun memandang ke arahmu, mereka semua mulai nampak gelisah, murung dan sedih.

Bila keadaan begini harus dialami sampai berapa hari, apa pula yang akan terjadi?

Waktu itu jangankan tenaga untuk melakukan perlawanan, untuk bangkit berdiri saja mungkin akan sulit.

Bila hal ini sampai terjadi bukankah pihak Ban seng kiong akan membekuk mereka semua dengan mudah?

Hasil terbesar yang diperoleh Thi Eng khi dari dalam gua Yang sim tong milik Thio Biau liong dibawah puncak Sam yang hong bukanlah segenap kepandaian silat dari Thio Biau liong melainkan keteguhan imam serta batinnya.

Sehingga hal ini membuat penampilannya nampak lebih halus, lebih saleh dan sederhana.

Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin pun tak akan memperoleh kemajuan lagi dalam waktu singkat, kemampuan yang berhasil dicapainya sekarang, bagi pandangan jago silat pada umumnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, apabila dilanjutkan maka taraf kemampuannya akan mencapai suatu tingkatan yang tak berwujud.

Bu im sin hong Kian Kim siang telah pergi dan tak kembali lagi, sehingga sampai dimanakah kekacauan yang diperbuat pihak Ban seng kiong boleh dibilang sama sekali tak jelas.

Thi Eng khi sangat memikirkan keselamatan dunia persilatan ketika dilihatnya keberhasilan yang dicapai setiap orang dalam gua Yang sim tong telah peroleh kemajuan pesat, dia pun tidak berhasil untuk berdiam lebih jauh disitu.

Suatu dorongan dengan semangat berkobar mendesaknya untuk muncul kembali di dalam dunia persilatan, melenyapkan bencana dalam dunia dan membangun kembali nama baik Thian liong pay.

Ciu Tin tin sangat menguatirkan keadaan Thi Eng khi yang dianggapnya masih belum berhasil memulihkan tenaga dalamnya, dia sangat tidak menyetujui usal dari si anak muda tersebut.

Namun dia tak dapat melawan Thi Eng khi yang menggunakan semua kitab obat obatan dan kitab ilmu pertabiban dari Thio Biau liong sebagai bukti yang menunjukkan kalau kehadirannya terus di gua Yang sim tong tak akan memperoleh kemungkinan untuk mendapatkan tenaga dalamnya kembali.

Dia pun menganjurkan kepada gadis itu untuk lebih baik bekerja sama saja membuat suatu pekerjaan besar bagi umat persilatan.

Dalam keadaan demikian, terpaksa Ciu Tin tin harus mengabulkan permintan dari Thi Eng khi, maka berempat berangkatlah meninggalkan gua Yang sim tong untuk terjun kembali ke dunia persilatan.

Selama ini, Thi Eng khi masih tetap menunjukkan sikapnya seolah olah dia masih kehilangan tenaga dalamnya dan segala sesuatunya membutuhkan perlindungan dari Ciu Tin tin serta kakak beradu Bu.

Tapi penampilannya dipihak lain justru sangat luar biasa, hal ini membuat kakak beradik Bu tak berani mengurangi rasa hormatnya kepada pemuda tersebut karena ia kehilangan tenaga dalamnya.

Sepanjang jalan, mereka memakai kereta untuk menggantikan perjalanan dengan berjalan kaki.

Berapa hari kemudian,mereka telah muncul kembali diwilayah Kang siok...

Saat itu, kendatipun merupakan saatnya orang orang Ban seng kiong menyebar ke dalam dunia persilatan untuk mencari jejak Thi Eng khi, namun mereka justru berhasil meloloskan diri dari pengintaian mata mata Ban seng kiong.

Tentu saja kesemuanya ini berkat pengalaman yang matang dari kakak beradik Bu yang pandai melihat situasi serta tindakan Thi Eng khi sendiri yang telah merubah dandanannya.

Tapi keadaan yang sesungguhnya adalah pihak Ban seng kiong hanya menggunakan usahanya untuk menemukan jejak Thi Eng khi sebagai tipu muslihat guna menutupi rencana busuknya dimana segenap kekuatan utamanya telah dialihkan ke bukit Cian san guna menjebak para jago lihay dan pelbagai perguruan.

Dalam keadaan seperti itulah, Thi Eng khi sekalian berhasil lolos memasuki daerah Kang siok tanpa diketahui siapa pun.

Sepanjang jalan mereka tidak menjumpai hadangan hadangan dari orang orang Ban seng kiong, bagi Thi Eng khi pribadi hal ini justru sebaliknya membuatnya kecewa bercampur terkejut.

Dengan perasaannya yang tajam, secara lamat lamat dia dapat merasakan kalau pihak Ban seng kiong sedang melaksanakan suatu rencana busuk yang amat besar.

Maka dengan mempercepat perjalanan, mereka segera kembali ke gedung Bu lim tit it keh di kota Hway im.

Yap Siu ling yang menyaksikan putranya pulang dengan selamat, kendatipun tenaga dalamnya belum pulih kembali, segera menyambut mereka dengan kegembiraan yang meluap, paling tidak baginya putra tunggalnya ini bisa pulang dengan selamat.

Di saat Thi Eng khi mendapat tahu tentang kabar berita mengenai Pek leng siancu So Bwe leng, dia segera mengajak Ciu Tin tin sekalian untuk melanjutkan perjalanan lagi menyusul ke arah kota Tin kang.

Jalanan yang mereka tempuh menuju ke kota, sangat kebetulan tidak melalui arah perjalanan yang dijaga oleh Pek leng siancu So Bwe leng, karenanya mereka tidak bersua muka.

Di kota tersebut, mereka memilih sebuah rumah penginapan yang sepi dan terpencil untuk tinggal disitu.

Thi Eng khi tetap tinggal di rumah penginapan, sementara Ciu Tin tin dan dua bersaudara Bu bertugas melakukan pencarian terhadap jejak Pek leng siancu So Bwe leng.

Bu Nay nay maupun Bu im belum pernah bersua muka dengan Pek leng siancu So Bwe leng, mereka mencari orang hanya berdasarkan gambaran dari Thi Eng khi, bisa dibayangkan betapa sulitnya pencarian tersebut dilakukan.

Hal ini mengakibatkan mereka sekalipun sudah bertatapan muka dengan Pek leng siancu So Bwe leng, namun kedua orang itu tak dapat mengenalinya.

Ciu Tin tin sudah pernah bertemu sekali dengan Pek leng siancu so Bwe leng, tapi pertemuan tersebut terjadi tidak saling bertatapan muka, waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng masih sebagai kiongcu dari istana Ban seng kiong dan sedang diperalat oleh Huan im sin ang untuk memaksa Tiang Pek lojin bergabung dengannya.

Setelah berpisah sekian lama, dia pun tak tahu berapa tinggikah gadis tersebut kini?

Apakah paras mukanya mengalami perubahan?

Dalam pikiran Ciu Tin tin, dia sendiripun tidak begitu yakin apakah dalam sekilas pandangan saja ia sudah dapat mengenali dirinya.

Di saat Ciu Tin tin sedang berjalan seorang diri ditengah jalan, dengan paras mukanya yang cantik serta sikapnya yang anggun, siapa pun tak akan menduga kalau gadis tersebut sesungguhnya adalah seorang Kwan im penolong umat persilatan yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi.

Namun disaat dia melakukan perjalanan bersama dua bersaudara Bu, berhubung paras muka kakak beradik she Bu itu mengerikan, terutama sekali sorot mata mereka yang tajam dan menganggap gadis itu bagaikan tuan putri, pandangan orang lain terhadapnya segera turut berubah pula.

Kini, mereka bertiga telah memasuki sebuah rumah makan yang terletak ditempat paling ramai dari lalu lintas kota.

Tamu yang berada disitu kebanyakan adalah manusia manusia kasar, sudah barang tentu kehadiran seorang gadis cantik macam bidadari dari kahyangan ini segera menimbulkan suasana gempar disitu.

Tatkala ia naik ke atas loteng, mula mula berkumandang suara jeritan kaget, lalu semua orang seolah olah dibikin tertegun.

Rakyat rakyat biasa yang hadir disana segera dibikin kegelagapan dan tak tenang oleh keanggunan gadis tersebut, mereka merasa rendah diri hingga akhirnya satu per satu ngeloyor pergi dari situ.

Yang masih tertinggal sekarang hanyalah manusia manusia dari dunia persilatan.

Tak bisa dikatakan kalau orang orang itu mempunyai sesuatu ambisi terhadap Ciu Tin tin, kehadiran mereka di sana tak lebih hanyalah ingin menarik perhatian gadis itu saja..

Maka orang orang itu pun berusaha menampilkan segala tingkah laku yang menurut anggapan mereka bisa menarik perhatian orang.

Disamping itu terdapat pula tiga orang dengan enam matanya melalui tiga arah yang berbeda mengawasi Ciu Tin tin sekalian tanpa berkedip....

Ciu Tin tin yang bermata jeli segera dapat menangkap keadaan tersebut, dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas berbisik kepada dua bersaudara Bu .

"Apakah kalian berdua memperhatikan ke tiga pasang mata yang mencurigakan itu?"

Bu Nay nay melototkan matanya bulat bulat lalu berseru .

"Aku hendak mengorek sepasang mata mereka!"

Sumpit yang berada ditangannya segera digetarkan keras keras, sayur yang kebetulan lagi disumpit olehnya itu segera patah menjadi tiga bagian dan meluncur ke tiga arah yang berlainan.

Oleh karena perkataannya tadi diutarakan dengan suara keras hal mana segera meningkatkan kewaspadaan ke tiga orang tersebut, namun mereka bertiga sama sekali tak menyangka kalau Bu Nay nay bisa memotong sayur tersebut menjadi tiga bagian lalu digetarkan ke tiga arah yang berlainan.

Menanti mereka merasakan datangnya cahaya tajam didepan mata, untuk menghindari sudah tak sempat lagi.

"Ploook!"

Tak ampun batok kepala mereka terhajar telak.

Kekuatan yang disertakan dalam serangan itu sesungguhnya tidak besar lagipula tak sampai melukai mereka, namun suara yang nyaring cukup menggetarkan pendengaran semua tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu.

Berpuluh pasang mata serentak dialihkan ke arah ketiga orang itu, buat mereka jadi malunya setengah mati.

Merasa kehilangan muka dengan geramnya ketiga orang itu berpekik nyaring kemudian dari tiga arah yang berlawanan mereka berjalan menghampiri meja yang ditempati Ciu Tin tin itu.

Dengan wajah berubah dua bersaudara Bu mengebutkan ujung bajunya siap melukai orang.

Buru buru Ciu Tin tin mencegah perbuatan mereka dengan ilmu menyampaikan suara .

"Hanya badut badut kecil, buat apa mesti digubris?"

Mendengar itu, Bu Im berdua segera mengurungkan niatnya dan membiarkan ketiga orang itu muncul di depan meja mereka.

Usia ketiga orang itu tidak terlalu besar, kurang lebih berumur dua puluh tahunan, berbaju perlente dan tampaknya merupakan satu rombongan, tapi entah mengapa mereka jadi duduk saling berpencar tempat....

Kini mereka bertiga berdiri berjajar kalau dilihat dari langkah mereka yang sigap, jelas kalau orang orang itu merupakan jagoan lihay dari kaum muda, hanya sayang sekali bila dibandingkan dengan Ciu Tin tin, mereka masih selisih jauh sekali.

Walaupun sudah dipecundangi orang, ketiga pemuda tersebut belum nampak puas hal ini memperlihatkan kalau mereka kurang berpengalaman atau sesuatu yang mereka andalkan sehingga nyalinya menjadi lebih besar.

Yang lebih aneh lagi adalah meski serangan tersebut dilakukan Bu Nay nay, namun mereka justru melotot Ke arah Bu Im sambil menegur .

"Go Jit! Tengah malam nanti, kuil Thian che bio diluar kota menantikan laporanmu!"

Bu Im tertegun. Bu Nay nay juga terperana, segera tegurnya .

"Siapa yang bernama Go Jit?"

Tiga orang pemuda tersebut hanya tertawa dingin, tanpa menjawab lagi mereka segera membalikkan badan dan mengundurkan diri dari tempat tersebut. Dengan gusar Bu Nay nay segera membentak .

"Bila kalian tak menjelaskan perkataan tadi, jangan harap bisa pergi dari sini!"

Dia lantas menyentilkan jari tangannya dan menotok jalan darah ke tiga orang pemuda tersebut. Tapi dengan cepat Ciu Tin tin mengebaskan tangannya untuk memunahkan totokan tersebut, kemudian serunya .

"Nay nay biarkan mereka pergi, kita hadir saja di situ seperti yang dijanjikan, bukankah hal ini jauh lebih baik daripada menahan mereka sekarang?"

Dengan perasaan bingung, Bu Nay nay menggelengkan kepalanya berulang kali .

"Aneh, benar benar sangat aneh, mengapa mereka dapat menganggap adik Bu sebagai Go Jit?"

Dengan kening berkerut Ciu Tin tin berpikir sejenak, kemudian sahutnya .

"Sam ku sinni, nona So dan Go Jit melakukan perjalanan bersama, sedangkan kita pun kebetulan bertiga juga, kemungkinan besar mereka telah salah melihat orang."

"Yaa, bagaimana juga dia toh tidak seharusnya menganggap diriku sebagai Sam ku sinni!"

Kata Bu Nay nay sambil tertawa.

"Cici, pengalaman mereka terlalu cetek,"

Sela Bu Im sambil tertawa pula.

"mungkin kau dianggapnya sebagai pendeta yang memelihara rambut, bukankah keadaan tersebut bukan suatu yang aneh di dalam dunia persilatan?"

"Yaa, tampaknya kita memang harus berpendapat demikian saja,"

Ciu Tin tin segera berguman lagi .

"Kepandaian silat yang dimiliki Sam ku sinni dan nona So cukup tangguh, tapi mereka begitu berani melakukan tantangan, rupanya mereka telah melakukan persiapan. Malam nanti kita tak boleh bertindak kelewat gegabah, apalagi menganggap enteng mereka."

Dia lantas menyuruh Bu Nay nay dan Bu lm untuk kembali dulu ke rumah penginapan dan menyampaikan hal tersebut kepada Thi Eng khi.

Tentu saja Thi Eng khi setuju kalau mereka pergi memenuhi janji tersebut.

Ciu Tin tin kuatir Thi Eng khi menjumpai hal hal yang tak diinginkan didalam rumah penginapan, maka dia lantas meminta kepada Bu Nay nay untuk menjaga anak muda tersebut, sementara dia sendiri bersama Bu Im berangkat ke kuil Thian che bio sebelum kentongan ke tiga...

Bila Ciu Tin tin dibandingkan dengan Pek leng siancu So Bwe leng, maka cara kerja gadis ini lebih teliti dan penuh perhitungan yang matang.

Sebelum memenuhi janji, dia melakukan pemeriksaan lebih dulu disekitar kuil Thian che bio, hal ini membuktikan akan ketelitiannya.

Kuil Thian che bio merupakan sebuah kuil bobrok yang sudah banyak tahun terbengkalai tiada orang yang berziarah ke sana lagi, itulah sebabnya sekeliling kuil tersebut penuh dengan tumbuhan ilalang setinggi manusia.

Biasa tumbuhan ilalang liar yang lebat merupakan tempa t penyergapan yang paling baik, berhubung Ciu Tin tin berniat melakukan penyelidikan, maka dia mengajak Bu lm untuk merundingkan persoalan tersebut lebih dulu.

Akhirnya ditetapkan gadis itu akan menyusul masuk lebih dulu, sedang Bu Im memasuki kuil tersebut melalui jalan raya pada tengah malam nanti.

Ciu Tin tin segera menggunakan ilmu gerakan tubah Ku kong keng im ajaran Thi Eng khi untuk berkelebat meninggalkan tempat tersebut, dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya, apalagi ditengah kegelapan malam pada hakekatnya tiada orang yang sampai melihat jelas gerakan tubuhnya itu.

Paling bantar orang hanya akan merasakan ada sepulung angin lembut yang berhembus lewat saja.

Dengan kemampuan seperti ini, sekali pun dia berkelebat melalui atas kepala penjaga, belum tentu mereka akan menyadari akan hal tersebut.

Bu Im sendiripun baru pertama kali ini menyaksikan dia bergerak dengan sepenuh tenaga, dengan kemampuan yang dimiliki Bu Im saja dia hanya merasakan angin berhembus lewat dan tahu tahu kehilangan jejaknya, apa lagi orang lain, tentu saja tak usah dikatakan lagi.

Dengan tanpa membuang tenga yang kelewat banyak Ciu Tin tin telah berhasil menyelundup masuk ke dalam kuil Thian che bio.

Ruang tengah kuil tersebut sudah disapu amat bersih, empat penjuru dipasang obor yang membuat suasana dalam ruangan menjadi terang benderang.

Dibelakang sebuah meja altar terdapat tiga buah kursi utama, sementara di sisi kiri dan kanan masing masing terdapat pula empat buah kursi utama.

Waktu itu, di dalam ruangan hanya terdapat delapan orang pemuda, tiga pemuda yang pernah berjumpa dengan Ciu Tin tin di rumah makan pun hadir pula disana, hanya saja tindak tanduk mereka sangat tidak leluasa.

Agaknya kedelapan orang itu mempunyai hubungan yang baik sekali.

Terdengar seorang pemuda berusia dua puluh empat lima tahunan yang paling tua diantara sekian pemuda, sedang menghibur mereka dengan kata lembut.

"Lak te, jit te, sekalipun kalian salah mengundang orang, itu pun bukan suatu yang luar biasa, dengan kedudukan kita berdelapan didepan Tee kun, memangnya Kian tongcu bisa mengatakan kita semua? Apalagi kita toh sama sekali tidak melepaskan sasaran yang sesungguhnya, membunuh tiga orang lebih banyak pun bukan sesuatu yang luar biasa!"

Dengan perasaan sungkan dan rikuh, tiga orang pemuda itu berkata .

"Toako jangan berkata begitu, bila kita benar benar didamprat oleh Kian tongcu, kita bersaudara akan kehilangan muka, yang paling menguatirkan siaute adalah Tee kun belum pernah mengutus kita melakukan pekerjaan, bila baru pertama kali di tugaskan sudah melakukan kesalahan, bukankah hal ini akan mengecewakan Tee kun?"

Sang toako menghela napas panjang.

Pengalaman sesungguhnya tak bisa disamakan dengan kepandaian silat, aku pikir Tee kun tak akan menganggap entah kita semua asalkan penampilan kita semua baik dan hari ini membuat pahala, aku pikir tiada persoalan lagi untuk kita semua."

Ketiga orang pemuda tersebut tak dapat berkata apa apa lagi, terpaksa mereka hanya mengucapkan terima kasih kepada toako mereka sambil membangkitkan kembali semangatnya.

Pada saat itulah dari luar ruangan berkumandang suara langkah kaki manusia yang ramai.

Menyusul kemudian dari balik pintu berjalan masuk serombongan manusia...

Orang yang berjalan dipaling depan amat menyolok sekali, dia adalah Bu im sin hong Kian Kim siang.

Sedangkan dua orang yang berada di belakangnya merupakan kakek kakek yang berusia hampir setaraf dengan Kiam Kim siang.

Di paling belakang mengikuti pula delapan orang kakek yang paling muda berusia lima puluh tahunan.

Bu im sin hong Kian Kim siang duduk dikursi utama disebelah tengah, dua orang dibelakangnya duduk di kiri dan kanannya.

Sedangkan delapan orang kakek lainnya duduk dikursi yang berderet di kedua belah sisi ruangan.

Sementara delapan orang pemuda tersebut berdiri berderet dibelakang Bu im sin hong Kian Kim siang.

Ciu Tin tin mengetahui kalau Bu im sin hong Kian Kim siang terdiri dari yang tulen dan gadungan, namun ia tak mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang gadungan.

Untuk sesaat hatinya terasa kalut, dia kuatir menganggap yang asli sebagai palsu, bila urusan sampai menjadi runyam, bisa dia akan ditertawakan oleh adik Eng.

Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan tersebut, mendadak terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang berseru.

"Hadapkan Siau Cu!"

"Hadapkan Siau Cu!"

Dari luar ruangan terdengar seseorang berseru nyaring.

Suasananya waktu itu seperti dalam suasana pengadilan, namun tidak seserius pengadilan sesungguhnya.

Dari luar pintu nampak seorang gadis berjalan masuk, wajahnya sayu dan sepasang tangannya terkulai lemas ke bawah, sudah jelas jalan darahnya tertotok sehingga tak mampu bergerak.

Setelah berada di dalam ruangan, tubuh si gadis tersebut gemetar semakin keras lagi, jelas kalau dia sedang merasa ketakutan setengah mati.

Bagaimana pun juga, dia masih melanjutkan langkahnya menuju ke depan meja altar.

Bu im sin hong Kian Kim siang manggut manggut, maka kakek berusia lima puluh tahunan yang duduk dikursi utama paling ujung kiri bangkit berdiri dan menepuk punggungnya Siu Cu untuk membebaskan jalan darah yang tertotok.

Saat itulah Siu Cu baru berkata dengan nada memohon .

"Harap Tongcu sudi menghadiahkan kepuasan bagi hamba!"

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, mungkin karena terkena getaran suara tertawanya yang keras, cahaya lilin dalam ruangan itu sampai bergetar dan seolah olah hendak padam.

Setelah tertawa setengah harian lamanya disaat suasana dalam ruangan hampir menjadi gelap gulita, mendadak suara tertawa itu terhenti ditengah jalan bahkan sedikit suarapun tidak tertinggal lagi.

Demonstrasi ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimilikinya, tapi justru meninggalkan kesan sesat dan memuakkan bagi Ciu Tin tin.

Setengah harian sudah Bu im sin hong Kian Kim siang berhenti tertawa, namun suasana dalam ruangan tersebut masih tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun tak tampak ada orang yang berani berbicara dan Kian Kim siang sendiri pun tetap membungkam.

Lama kelamaan semua orang mengira telah kedatangan tamu tak diundang, maka serentak mereka berpaling ke arah pintu gerbang namun hasilnya tidak ditemukan sesuatu apapun.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh ruangan inilah, Bu im sin hong Kian Kim siang kembali tertawa, ujarnya.

"Baik! Baik! Asal kau bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku secara jujur, maka lohu tak akan memberi siksaan hidup kepadamu, bahkan akan memberikan kepuasan bagimu!"

Siu Cu adalah anggota lama dari istana Ban seng kiong, tentu saja dia pun tahu akan hebatnya siksaan hidup, tanpa ragu segera jawabnya .

"Tongcu kalau ingin bertanya, hamba pasti akan menjawab!"

"Akan kau jawab semuanya?"

Sambung Bu im sin hong Kian Kim siang cepat.

"Benar!"

Dengan wajah berubah amat keren, Bu im sin hong Kiam Kim siang bertanya .

"Bagaimanakah hasil pertarunganmu dengan Pek leng siancu So Bwe leng didalam hutan?"

"Hamba menderita kekalahan!"

"Mengapa budak tersebut bersedia melepaskan kau dengan begitu saja....?"

Tanya Bu im sin hong Kian Kim siang lagi.

"Hamba pernah menjadi budaknya Pek leng siancu....!"

"Hmmmm, panggil budak itu!"

Dengus Bu im sin hong Kian Kim siang dengan cepat.

"Benar! Benar! Hamba pernah menjadi pelayannya budak tersebut, mungkin budak itu memandang pada hubungan kami dimasa lalu sehingga tak sampai menyusahkan hamba."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang, ditatapnya wajah Siu Cu lekat lekat, kemudian katanya .

"Dengan watak dari budak tersebut, mungkinkah hal ini bisa terjadi..."

"Hamba berbicara dengan sejujurnya?"

Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa seram .

"Kalau begitu, memandang pada hubungan kalian dimasa lalu, tentunya kau juga memberitahukan sesuatu rahasia kapada budak tersebut bukan...?"

Siu Cu kuatir menerima siksaan keji dari pihak Ban seng kiong daripada mati setelah disiksa, lebih baik mati secepatnya dengan berterus terang, apalagi mau dirahasiakan pun tak mungkin bisa, karenanya dia lantas berkata secara terus terang .

"Hamba memberitahukan kepada budak itu, besar kemungkinannya pertemuan besar para jago persilatan dari golongan lurus yang diselenggarakan Tee kun ada disekitar bukit Cian san..."

"Mungkin berada di bukit Cian san?"

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa kering.

"mengapa tidak kau beritahukan saja tempat yang sebenarnya secara lengkap?"

Siu Cu sungguh ketakutan sekali.

"Hamba benar benar tidak mengetahui letak yang setepatnya"

Dia berseru. Bu im sin hong Kian Kim siang segera manggut manggut.

"Seandainya kau mengetahui alamat lengkap, sudah pasti alamat tersebut telah kau sampaikan kepadanya bukan."

"Hamba...hamba...tidak tahu."

Paras muka Bu im sin hong Kian kim siang berubah hebat, dengan setengah meraung teriaknya .

"Soal ini bahkan lohu....."

Sebenarnya dia hendak mengatakan "soal ini bahkan lohu sendiripun tak tahu", tapi setelah ucapan mana sampai diujung bibir, mendadak teringat olehnya kalau dia sedang berperan sebagai salah seorang dari empat toa tongcu, aneh bila seorang toa tongcu tidak mengetahui alamat yang sebenarnya dari pertemuan itu.

Maka setelah berhenti sejenak, dia pun berkata lagi .

"Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?"

Pucat pias paras muka Siau Cu, agak gemetar sahutnya .

"Tiada... tiada orang yang ... yang memberitahukan kee... kepada hamba..."

Setelah bertanya setengah harian lebih, Bu im sin hong Kian Kim siang baru sempat menangkap sebuah titik kelemahan dari Siu Cu, sambil tertawa lebar dia lantas berseru .

"Kau kuatir merempet sampai ke orang lain bukan?"

Siu Cu semakin ketakutan lagi, sukma serasa melayang meninggalkan raganya.

"Benar!"

Jawabnya tanpa sadar. Tiba tiba dia merasa salah menjawab, maka buru buru serunya lagi dengan cepat .

"Bukan!"

Dari jawaban Siu Cu yang mencla mencle, Bu im sin hong Kian Kim siang tahu kalau pertanyaan diajukan lebih gencar, maka tak sulit baginya untuk mengungkap keadaan yang sebenarnya, saking gembiranya dia tertawa terbahak bahak.

"Haaaaah...haaaahhh...haaaahhh.... kalau begitu, siapa orangnya? Ayo cepat jawab dengan sejujurnya, mungkin lohu bisa memberi kematian yang lengkap untukmu!"

Siu Cu tahu bahwa dosa yang dilanggar olehnya cukup untuk menerima hukuman mati, dia tahu mustahil Bu im sin hong Kian Kim siang akan mengampuninya dengan begitu saja.

Mendadak dari luar ruangan terdengar ada orang tertawa cekikikan kemudian menyambung .

"Benar benar seorang mannsia yang tidak tahu diri, benarkah kau mempunyai kekuasaan sebesar ini?"

"Siapa yang berada di luar?"

Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseru dengan terkejut.

"Tak usah gugup, aku bukan anggota Ban seng kiong, aku pun tak bakal mencari pahala dari majikan kalian itu!"

Dari luar pintu segera menyelinap masuk tiga sosok bayangan manusia....

Sam ku sinni berjalan dipaling depan, Pek leng siancu So Bwe leng berada ditengah sedangkan si Pencuri sakti Go Jit berada di paling belakang.

Orang yang barusan berbicara dengan suara yang merdu dan nyaring itu tentu saja tak lain adalah Pek leng siancu So Bwe leng.

Tapi setelah mereka bertiga memasuki ruangan dan melihat jelas siapa gerangan orang yang sedang berbicara, serentak ketiga orang itu berseru kaget .

"Ooooh, rupanya kau!"

Mimpipun mereka tidak menyangka bakal bertemu dengan Bu im sin hong Kian Kim siang disitu.

Terutama sekali Pek leng siancu So Bwe leng yang teringat bahwa Thi Eng khi telah dilarikan orang ini setelah terluka parah tempo hari, tak terlukiskan rasa girang dalam hatinya.

Sembari maju selangkah ke depan, dia tuding Bu im sin hong Kian Kim siang yang duduk di kursi utama sembari berseru .

"Thian memang punya mata akhirnya nonamu berhasil juga menemukan kau!"

Bu im sin hong Kian Kim siang tidak menjawab pertanyaan dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia segera mengulapkan tangannya agar Pat cun yang berdiri dibelakangnya segera tampil ke depan dan menggusur pergi Siu Cu dari situ.

Dua orang dari Pat cun tersebut segera melompat ke hadapan Siu Cu dan siap mencengkeramnya.

Mendadak terasa bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu Pek leng siancu So Bwe leng telah mendahului mereka dengan menarik pergi Siu Cu dari situ.

Kemudian dia mengebaskan ujung bajunya melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat ke arah dua diantara delapan manusia gagah tersebut.

"Siapa yang berani mendekat?"

Hardiknya Sesungguhnya Seng kiong pat cun merupakan delapan orang jago muda yang dilatih Hian im Tee kun secara khusus, ibaratnya anak macan yang tidak takut kepada siapapun, apalagi Pek leng siancu So Bwe leng masih lebih muda daripada mereka meski sudah lama mendengar nama besarnya, namun mereka tidak memikirkan hal tersebut didalam hati.

Menyaksikan datangnya kebasan ujung bajunya itu, serentak mereka mengayunkan pula telapak tangannya melancarkan balasan.

"Budak, kau pingin mampus"

Hardiknya serentak.

Begitu tiga gulung tenaga pukulan saling membentur ditengah udara, Pek leng siancu So Bwe leng merasakan sepasang bahunya bergoncang keras, sebaliknya dua pemuda dari Seng kiong Pat cun itu tergetar mundur sejauh satu langkah lebih.

Ternyata kebasan ujung baju Pek leng siancu So Bwe leng berhasil menekan dan melenyapkan tenaga serangan dahsyat dari Seng kiong Pat cun tersebut.

Sekalipun demikian Pek leng siancu So Bwe leng pribadi pun diam diam merasa terkejut sekali, dengan mengandalkan tenada dalam yang dimilikinya ternyata dia hanya mampu mendepak mundur dua pemuda tersebut sejauh selangkah, dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki Seng kiong Pat cun bukan sembarangan.

Seandainya ke delapan orang itu sampai maju bersama sama, sudah pasti dia tak akan berhasil meraih keuntungan apa apa.

Dengan cepat Pek leng siancu So Bwe leng memutar biji matanya, kemudian berpikir lagi .

"Hari ini, aku tak boleh menunjukkan kelemahanku, kalau tidak, sudah pasti sukar untuk mengundurkan diri dari sini dengan selamat."

Berpikir demikian, sambil berkerut kening dan melototkan sepasang matanya bulat bulat dia awasi kedua orang pemuda tersebut tanpa berkedip....

Kedua orang pemuda itu sendiri menunjukkan pula sikap tak puas, tampaknya mereka pun bersiap sedia melancarkan serangan lagi.

Namun berhubungan mereka sedang menjalankan perintah untuk menggusur pergi Siu Cu, maka kedua orang pemuda tersebut tak berani melayani Pek leng siancu So Bwe leng secara gegabah.

Diam diam mereka mengerlingkan matanya ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang sambil meminta petunjuknya.

Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa seram, kemudian berseru dengan lantang .

"Lebih baik kalian mengundurkan diri! Tak menjadi soal, toh mereka tak akan lolos dari sini!"

Dua orang pemuda tersebut segera mengundurkan diri dari lapangan dan kembali ke rombongannya.

Sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng juga menyerahkan Siu cu kapada gurunya Sam ku sinni, kemudian sambil berpaling memandang wajah Bu im sin hong Kian Kim siang dengan hawa pembunuh yang menyala, bentaknya .

"Tua bangka celaka, kau telah melarikan engkoh Eng ku ke mana...?"

Bu im sin hong Kian Kim siang tertegun sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu paras muka jago-jago lainnya telah menunjukan sikap tercengang, bahkan bersama sama berpaling ke arahnya.

Perlu diketahui, ketika Hian im Tee kun mengutus orang untuk menyaru sebagai empat tokoh sakti dunia persilatan dna menjabat sebagai empat Toa tongcu sekalian, Hian im ji li serta Huan im sin ang saja yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, orang orang yang lain sama sekali tidak mengetahui akan hal ini, karenanya semua orang jadi tercengang juga setelah mendengar ucapan tersebut.

Bu im sin hong Kian Kim siang sendiri pun tidak tahu kalau Thi Eng khi telah tertolong, dengan kebingunggn dia berseru .

"Budak ingusan, kau tak usah mengaco belo, siapa yang telah menculik Thi Eng khi sibocah Keparat itu?"

Pek leng siancu So Bwe leng tertawa dingin.

"Sekalipun menyangkal juga tak ada gunanya, pokoknya jika kau tidak serahkan kembali engkoh Eng kepadaku hari ini, kalau bukan kau yang mampus tentu aku lah yang tewasl"

Ditinjau pembicaraan yang sedang berlangsung, Ciu Tin tin yang bersembunyi ditempat kegelapan segera mendapat tahu kalau Bu im sin hong Kian Kim siang yang berada dihadapannya sekarang adalah Kian Kim siang gadungan.

Untuk sementara waktu tidak berkutik ataupun melakukan suatu tindakan apa apa, dia hendak menunggu sampai datangnya waktu yang lebih menguntungkan untuk membantu Pek leng siancu So Bwe leng melepaskan diri dari ancaman bahaya maut.

Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan telah berpikir sebentar, kemudian dia mendapat kesimpulan bahwa Thi Eng khi telah ditolong oleh Kian Kim siang asli.

Penemuan ini merupakan suatu kabar berita yang berharga sekali, sebab dengan mengandalkan berita ini, dia dapat menuntut pahala dari Hian im Tee kun.

Kini diapun tidak menyangkal lagi, dengan berganti nada pembicaraan katanya .

"Kau berani melindungi murid penghianat dari perkumpulan kami, dosanya tak terlukiskan besarnya, kau anggap masih bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat?"

Waktu itu Pek leng siancu So Bwe leng hanya menguatirkan keselamatan jiwa Thi Eng khi seorang, bahkan dia pun sudah melupakan persoalan tentang bukit Cian san.

Terdengar gadis itu sedang berseru lagi dengan penuh bernapsu .

"Ayo jawab, kau telah menculik engkoh Eng ke mana?"

Bukan saja Pek leng siancu So Bwe leng tak mau melepaskan kesempatan itu bahkan kawanan kakek yang hadir dalam ruangan pun ada pula yang berseru dengan ilmu menyampaikan suara .

"Bukankah pihak kita sedang mencari jejak Thi Eng khi? Terhadap perkataan dari budak ini harap tongcu suka melakukan penjelasan daripada menimbulkan kerugian bagi orang banyak". Diam diam Kian Kim siang gadungan tertawa dingin, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya dulu kepada rekan rekannya itu .

"Persoalan ini sudah diatur sendiri segala sesuatunya oleh Tee kun, lohu kurang leluasa untuk memberi penjelasan, harap kalian jangan menanyakan masalah itu lagi."

Dengan mencatut nama Hian im Tee kun benar juga, serentak semua orang membungkam dalam seribu bahasa.

Memandang paras muka semua orang yang hadir diarena, diam diam Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menunjukkan wajah bangga, namun didalam waktu singkat rasa bangga telah lenyap kembali.

Kepada Pek leng siancu So Bwe leng, serunya kemudian dengan suara yang menyeramkan .

"Tidak sulit bila kau ingin mengetahui jeiak dari Thi Eng khi, cukup asal kau mengikuti aku menuju ke istana Ban seng kiong, tanggung kau tak bakal kecewa di situ!"

Waktu itu, Pek leng siancu So Bwe leng mempunyai jalan pemikirannya sendiri, setelah kebasan ujung bajunya yang sanggup memukul mundur kedua orang pemuda tersebut, hal itu menimbulkan perasaan terkejut didalam hatinya, dia pun tahu jika sampai berkobar pertarungan, sudah pasti dia tak akan memperoleh keuntungan apa apa.

Tapi oleh karena dia sangat menguatirkan keselamatan jiwa dari Thi Eng khi, maka timbullah satu ingatan aneh dalam hati kecilnya, secara berani sekali dia mengangguk.

"Baik! Aku akan mengikuti kau menuju ke istana Ban seng kiong, cuma saja..."

Mimpi pun Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan tidak menyangka kalau Pek leng siancu So Bwe leng benar benar akan menyanggupi permintaannya untuk mengunjungi istana Ban seng kiong.

Tidak menanti hingga dia menyelesaikan kata katanya, dengan gembira tukasnya .

"Cuma kenapa?"

Siam ku sinni yang menyaksikan hal itupun segera berseru dengan amat gelisah .

"Leng ji, kau sudah edan rupanya?"

"Suhu"

Kata Pek leng siancu So Bwe leng dengan wajah sedih.

"bagi tecu asal dapat bersua muka dengan engkoh Eng, biar mati pun rela, aku tahu kalau mereka mempunyai maksud tidak baik, tapi aku tetap ingin pergi ke situ!"

Nada suaranya tegas, ini membuktikan kalau tekadnya telah bulat.

Sam ku sinni cukup memahami watak dari So Bwe leng ini, semua keputusan yang telah diambil olehnya tak mungkin bisa dirubah lagi meski didesak oleh bapaknya sendiri.

Diapun tak tega untuk mencegah niat muridnya ini karena dia kuatir hal tersebut malah akan menimbulkan gelak tertawa serta cemoohan dari orang orang Ban seng kiong.

Begitulah, dengan wajah serius Pek leng siancu So Bwe leng berkata lagi kepada Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan .

"Cuma, aku mempunyai sebuah syarat!"

"Apa syaratmu?"

"Kau harus mengijinkan guruku untuk membawa pergi Gi tayhiap dan Siu Cu dari sini!"

"Aaaah, kalau cuma soal itu mah gampang, tapi bagaimna dengan kau sendiri ? Apakah Kau tak akan mengingkar janji?"

Seru Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan sambil manggut manggut.

"Kau anggap nonamu menyesal?"

"Bagus sekali, kalau memang begitu, mari kita bertepuk tangan sebagai ikatan janji!"

Sambil berkata dia lantas melepaskan sebuah pukulan ke arah Pek leng siancu So Bwe leng dari tempat kejauhan.

Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak berkerut kening, dia pun melepaskan sebuah pukulan ke depan untuk menyambut datangnya serangan lawan.

Belum sempat dua gulung angin pukulan tersebut saling membentur satu sama lain, mendadak dari luar ruangan meluncur masuk seseorang dan melepaskan sebuah pukulan ke udara untuk membuyarkan kedua gulung angin pukulan tersebut.

Setelah itu sambil melayang turun ke hadapan Pek leng siancu So Bwe leng katanya sambil tertawa .

"Nona, kau jangan percaya dengan obrolannya. Thi sauhiap tidak berada di dalam istana Ban seng kiong!"

Pek leng siancu So Bwe leng seperti merasa terkejut bercampur gembira untuk sesaat dia seperti tertegun .

"Lotiang, sungguh perkataanmu itu? Sekarang, dia berada di mana....!"

"Nona tak usah kuatir,"

Orang itu manggut manggut.

"lohu jamin kau akan peroleh seorang engkoh Eng yang utuh!"

Pada hakekatnya Pek leng siancu So Bwe leng merasa girangnya setengah mati, untuk berapa saat dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah menggebrak meja sambil membentak penuh kegusaran.

"Siapa yang datang?"

Dengan sinis dan pandangan menghina, pendatang itu menatap wajah Bu im sin hong Kian Kim siang, lalu katanya .

"Kau benar benar tidak mengetahui siapakah lohu? Tak heran kalau kau setelah pergi tak pernah kembali lagi, rupanya kau telah merasakan banyak keuntungan dari Hiam im Tee kun!"

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menjadi marah sekali, bentaknya keras .

"Lohu tidak kenal kau, aku lebih tak mengerti atas obrolan edan mu itu."

Pendatang tersebut segera tertawa terbahak bahak .

"Haaahhhh.... Haaahhhh.... Haahhhh..... tampaknya hebat sekali permainan sandiwaramu itu, tapi bagi lohu mah tidak kuatir untuk memberitahukan namaku sekali lagi, nenek moyangmu bernama Bu Im!"

Jilid 38 Bu Im bukan seorang jagoan termashur dari dunia persilatan, tapi Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan tetap tertegun, agaknya dia pun tak bisa menduga asul usul lawan.

Bu Im sendiripun tidak begitu mengerti tentang persoalan empat tokoh persilatan yang dicatut namanya oleh Ban seng kiong, tentu saja dia sama sekali tidak menyangka kalau Bu im sin hong Kian Kim siang yang dijumpainya sekarang, sesungguhnya bukan Bu im sin hong Kian Kim siang yang pernah dijumpai dulu, melihat sikap orang yang begitu angkuh dan tak pandang sebelah matapun terhadap dirinya, hampir saja dia muntah saking muaknya.

Sementara itu Pek leng siancu So Bwe leng telah mengundurkan diri ke samping gurunya, kemudian berkata dengan pelan.

"Suhu, pernahkah kau mendengar tentang nama orang tua ini?"

Sam ku sinni mengangkat bahunya sembari menggeleng.

"Usianya sudah tidak kecil, kepandaian silatnya tidak berada dibawah kepandaian kita, namun belum pernah kudengar namanya disebut orang dalam dunia persilatan, aku benar benar dibikin kebingungan olehnya..."

Segulung angin lembut berhembus lewat, tahu tahu didalam ruangan telah bertambah dengan seorang gadis cantik berbaju putih, sambil tertawa merdu gadis itu berseru .

"Bu cianpwe, jangan kau bikin kulit perut orang jadi pecah karena mendongkol sesungguhnya orang itu adalah seseorang yang mencatut namanya dan menyaru sebagai Kian cianpwe, buat apa sih kau mesti marah kepada orang tersebut? Bukankah hal tersebut sama sekali tak ada harganya?"

Bu Im segera mengenali gadis cantik itu sebagai Ciu Tin tin, maka katanya pula sambil tertawa .

"Darimana kau bisa tahu kalau dia adalah Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan?"

Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan yang berada ditengah ruangan telah menggebrak meja keras keras kemudian berseru penuh amarah .

"Omong kosong, siapa bilang kau lohu bukan Kian Kim siang?"

Ciu Tin tin tertawa manis.

"Kau mengatakan kalau dirimu adalah Kian locianpwee, tapi mengapa tidak kenal dengan Bu cianpwe?"

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan segera saja berteriak keras keras .

"Siapa bilang kalau aku tidak kenal dengannya?"

Kalau didengar dari nada pembicaraan Ciu Tin tin mestinya antara Bu im sin hong Kian Kim siang dengan Bu Im mempunyai hubungan yang cukup akrab.

Itulah sebabnya mau tak mau Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan harus menebalkan muka dengan mengakui bahwa dia kenal dengan Bu Im.

Pek leng siancu So Bwe leng yang menyaksikan hal ini, tak tahan lagi segera mengejek sambil tertawa dingin .

"Tadi saja kau mengatakan tidak kenal dengan Bu cianpwe tersebut, sungguh tak nyana begitu cepatnya kau telah berubah pikiran, hal ini membuktikan kalau anggota Ban seng kiong terdiri dari manusia manusia yang lain dimulut dan lain dihati!"

Sekalipun Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan diperankan oleh seorang iblis tua, tak urung merah padam juga selembar wajahnya cepat dia berseru .

"Lohu sedang melaksanakan tugas khusus, mana ada waktu untuk berbincang bincang dengan Bu Im?"

Kontan saja Pek leng siancu So Bwe leng mencibirkan bibirnya yang kecil, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu lagi nanum berhubung Ciu Tin tin telah menengok ke arahnya sambil tertawa terpaksa kata kata tersebut ditelannya kembali.

Dengan senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, Ciu Tin tin segera berkata .

"Semenjak kapan kau berpisah dengan Bu cianpwee?"

Bu Im sin hong Kian Kim siang gadungan segera menarik mukanya kemudian berseru .

"Mengapa lohu harus menjawab pertanyaanmu itu?"

Ciu Tin tin sama sekali tidak menjadi marah, kembali dia berkata .

"Kalau kau enggan menjawab yaa sudah lah, hanya ingin mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu, kenalkah kau dengan nonamu?"

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menjadi tertegun, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup menjawab pertanyaan itu.

Bila dikatakan kenal, dia pun kuatir tak cocok dengan kenyataan, setelah termenung sekali lama dalam keadaan serba salah, akhirnya dia berkata .

"Mengapa lohu harus mengenal dirimu?"

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Ciu Tin tin, kini lenyap tak berbekas, katanya kemudian .

"Kalau toh kau tidak kenal dengan nonamu, dari sini dapat diketahui kalau kau bukan Kian locianpwe, sebab belum lama Kian locianpwe berpisah dengan kami, dia tak mungkin akan pelupa seperti dirimu itu."

Karena terpojokkan posisinya oleh keadaan, terpaksa Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan tertawa terbahak bahak.

"Haaaahhhh... haaaaahhhhh..... haaaahhh... apakah lohu kenal dengan dirimu atau tidak, apa sangkut pautnya dengan kedudukan lohu sekarang? Kalau kau sendiri yang ditipu orang, mengapa malah mencurigai diri lohu. Sungguh menggelikan sekali perbuatanmu itu, hampir pecah perut lohu saking gelinya, haaahhhh... haaaahhh.... haaahhhh...."

Ciu Tin tin membiarkan dia tertawa tergelak tiada hentinya, gadis itu bersikap acuh tak acuh dan tidak memperdulikan dirinya.

Namun diantara anak buahnya ada yang mulai menaruh curiga, dengan ilmu menyampaikan suara mereka segera menegur .

"Harap tongcu suka memberi penjelasan."

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan terpaksa menghentikan gelak tertawanya, kemudian dergan ilmu menyampaikan suara bisiknya kepada mereka .

"Tee kun telah mempersiapkan segala sesuatunya, harap kalian jangan banyak bertanya terus, asalkan seorang pun diantara beberapa orang ini tak berhasil lolos dari sini, maka hal ini akan berpengaruh besar sekali terhadap posisi pihak kita selanjutnya, harap kalian suka turun tangan dengan sepenuh tenaga nanti."

Sementara itu, Ciu Tin tin telah memandang kembali ke wajah Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan sambil tertawa, kemudian ujarnya lembut .

"Sedang merundingkan cara untuk menghadapi kami? Sudah selesai belum perundingan itu? Kami akan segera pergi dari sini."

Dia membalikkan badan lalu berjalan kembali ke arah Pek leng siancu So Bwe leng sekalian.

Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak pernah berjumpa dengan Ciu Tin tin, oleh karena itu, dia tidak kenal dengannya.

Melihat gadis tersebut berjalan menghampirinya, dengan amat gembira serunya dengan cepat .

"Cici, bolehkah aku mengetahui namamu?"

Sebenarnya Ciu Tin tin hendak menyebutkan nama sendiri, tapi dia berpikir kembali seandainya Pek leng siancu So Bwe leng menjadi mengambek setelah mengetahui namanya, bukankah urusan akan menjadi berabe?

Oleh sebab itu, dia tak ingin mengambil resiko dalam keadaan seperti ini.

Setelah tertawa, katanya .

"Aku mempunyai banyak persoalan yang hendak disampaikan kepadamu, sebentar akan kusampaikan semuanya kepadamu."

"Kau tahu akan diriku?"

Seru Pek leng siancu So Bwe leng sembari membelalakkan matanya.

"Sekalipun kau tidak kenal dengan aku namun aku sedikitpun tidak merasa asing terhadap kau."

Pek leng siancu So Bwe leng menjadi tertegun dan bingung sekali sehabis mendengar perkataan ini, untuk sesaat lamanya dia jadi termangu mangu.

Pada saat itulah, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan telah membentak lagi dengan suara lantang .

"Beberapa orang itu adalah buronan yang dicari oleh Tee kun, entah mati atau hidup kalian harus berusaha untuk menahan mereka di tempat ini."

Serentak bayangan manusia berkelebatan lewat, dalam waktu singkat orang orang itu sudah menduduki posisi yang menguntungkan serta menghadang jalan pergi mereka.

Setelah ditolong tadi, Siu Cu telah memperoleh bantuan dari Sam ku sinni, dengan tenaga dalamnya untuk memulihkan kembali kondisi tubuhnya, pada saat itulah Pek leng siancu So Bwe leng bertanya dengan penuh rasa kuatir .

"Enci Cu, sudah baikan kah keadaanmu?"

Siu Cu merasa sangat terharu.

"Bila budak dapat meloloskan diri dari bencana pada hari ini maka kesemua ini merupakan pemberian dari nona, selama hidup kami tak akan pernah melupakannya kembali."

"Kau tak usah mengucapkan kata kata seperti itu, persoalan yang terpenting sekarang adalah sudah pulihkan kondisi tubuhmu? Dan berapa bagian tenaga dalammu yang telah pulih kembali?"

"Budak merasa seluruhnya telah pulih kembali seperti sedia kala!"

Sahut Siu Cu dengan semangat yang berkobar. Pek leng siancu segera berpaling ke arah gurunya sambil berseru .

"Suhu, mari kita berdua bertindak sebagai pembuka jalan!"

Sebagai gadis yang terbuka, apa yang dipikirkan segera pula dilakukan, tanpa berunding dulu dengan Ciu Tin tin sekalian dia menerjang lebih dulu arah pintu gerbang.

Dengan cepat Sam ku sinni berkerut kening, kemudian berpaling ke arah Ciu Tin tin dengan sorot mata minta maaf.

Sambil tertawa Ciu Tin tin segera berseru .

"Pendapat adik Leng sesuai dengan pendapat boanpwe, biarlah boanpwe serta Bu cianpwe bertindak sebagai pelindung!"

Sam ku sinni segera menyusul Pek leng siancu So Bwe leng, Si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu berada ditengah dan Ciu Tin tin serta Bu Im berjalan dipaling belakang.

Waktu itu, Sam ku sinni telah meloloskan senjata kebutan Jian si hud timnya, Pek leng siancu So Bwe leng meloloskan sebuah senjata Pek giok hud jiu, sedangkan si Pencuri sakti Go Jit meloloskan pedang mestika usus ikannya.

Siu Cu tidak bersenjata karena senjata tajamnya telah disita, terpaksa dia harus bersilat tangan kosong.

Ciu Tin tin dan Bu Im tidak bersenjata pula, mereka pun bertarung dengan tangan kosong belaka.

Orang yang menghadang didepan pintu gerbang tak lain adalah delapan kakek yang duduk dikedua belah sisi meja altar tadi.

Kedelapan orang kakek itu sangat latah dan sombong.

Dari antara mereka hanya muncul dua orang saja, seorang menghadang Sam ku sinni, sedangkan yang lain menghadang Pek leng siancu So Bwe leng.

Sambil tertawa dingin Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru .

"Mampukah kau untuk menyambut satu jurus serangan nonamu?"

Senjata Pek giok hud jiu ditangannya segera membentuk sekilas cahaya berwarna hijau dan langsung menyambar bahu kakek di hadapannya. Kakek itu tertawa hambar.

"Bila kau sudah bosan hidup, silahkan!"

Ejeknya.

Semula dia menghadang di depan Pek leng siancu So Bwe leng hanya bertangan kosong belaka, tapi begitu selesai ucapan tersebut diutarakan, tahu tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebuah huncwee besar, disambutnya ancaman senjata Pek giok hud jiu dari Pek leng siancu So Bwe leng itu dengan sebuah totokan.

Melihat kalau jumlah musuh amat banyak, Pek leng siancu So Bwe leng telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertarungan itu secepatnya.

Dia pun berharap dalam satu gebrakan saja senjata huncwee kakek itu hendak digetarkan lepas dari genggaman maka sewaktu menyerang hawa murninya yang disalurkan ke tangan kanan segera ditambah dengan dua bagian lagi.

Begitu senjata huncwee tersebut saling membentur dengan senjata Pek giok hud jiu dari Pek leng siancu So Bwe leng, kedua orang itu sama sama merasakan hatinya bergetar keras.

Pek leng siancu So Bwe leng tetap berdiri pada posisinya semula, namun lengannya terasa kaku dan kesemutan.

Sebaliknya kakek berhuncwee itu kena terhantam sehingga mundur sejauh satu langkah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepandaian silat yang dimiliki Pek leng siancu So Bwe leng meski jauh lebih tinggi daripada si kakek tersebut, namun kelihayannya juga terbatas.

Tanpa banyak berbicara lagi, kedua orang itu segera saling menyerang dan saling menyambar dengan sengitnya, untuk beberapa saat sulit rasanya untuk menentukan siapa yang lebih unggul.

Dipihak lain Sam ku sinni telah terlibat pula dalam suatu pertarungan yang seru, jagoan yang dihadapinya memiliki tenaga dalam yang cukup tangguh, untuk berapa saat Sam ku sinni pun dibuat kewalahan dan tak banyak berkutik.

Menyaksikan pertarungan yang berlangsung di arena, Ciu Tin tin segera berkerut kening, dia tidak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki orang tua orang tua itu begitu hebatnya.

Dia lantas sadar bahwa pertarungan yang berlangsung hari ini tidak mungkin bisa diunggulkan dengan mudah.

Padahal, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan pun diam diam merasa terkejut, sebagai seorang Tongcu ternyata dia mengetahui kemampuan dari anak buahnya, diapun tidak menyangka kalau anak buahnya memiliki kepandaian silat sehebat itu.

Namun dari hal ini pula, dia mendapat pengertian yang setingkat lebih mendalam atas maksud dan tujuan Hian im Tee kun.

Sesungguhnya, tindakan Hian im Tee kun di dalam mengatur orang orangnya dari istana Ban seng kiong pun didahului dengan suatu pemikiran serta penyusunan yang cermat.

Dengan menggunakan berbagai cara serta tindakan, ia telah memperalat berapa orang gembong iblis untuk berbakti dan menjual tenaga baginya, namun dia pun menyuruh orang orang kepercayaannya yang berilmu tinggi untuk mengawasi gembong gembong iblis tersebut.

Di hari hari biasa, tentu saja para jago diperintahkan agar tidak terlalu menonjolkan diri bahkan kedudukan yang diberikan kepada mereka pun sangat rendah serta tidak terpandang, kebanyakan disusupkan dalam cabang cabangnya dan berperan sebagai manusia manusia berilmu rendah, padahal justru orang orang inilah yang sesungguhnya merupakan kekuatan inti yang paling diandalkan.

Andaikata Hian im Tee kun benar benar berhasil dengan siasatnya itu dan menjaring semua jagoan yang ada untuk berpihak kepadanya, menyapu jagad, merajai dunia persilatan bukanlah pekerjaan yang mustahil baginya.

Siapa tahu dunia persilatan dewasa ini telah menjadi kekuasaannya....?

Bila hal ini sampai terjadi, maka walau pun Thi Eng khi memiliki kepandaian silat yang hebat pun jangan harap bisa menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran.

Untungnya saja Hian im Tee kun masih pengaruh oleh perasaan bangga dan gila nama, sehingga dia telah menyia nyiakan sebuah kesempatan yang sangat berharga.

Dengan berbagai cara dia berusaha merebut simpatik dan perhatian dari para jago golongan lurus agar mau berpaling dan berpihak kepadanya, alhasil dia telah menyia nyiakan banyak waktu diapun memperlambat usahanya untuk menguasai seluruh dunia persilatan.

Kesemuanya ini justru memberi kesempatan emas kepada Thi Eng khi untuk tumbuh semakin kuat dan pada hakekatnya dia seperti sedang memelihara seorang musuh yang menakutkan.

Sementara itu, pertarungan yang berkobar di tengah arena telah mencapai pada puncaknya.

Lotoa dari Seng kiong pat cun segera menyelinap ke hadapan Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, kemudian serunya .

"Harap diturunkan perintah kepada hamba agar menangkap penghianat Go Jit serta Siu Cu!"

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan segera tertawa tergelak .

"Haaahhh.... haaahhhhh....haaahhh.... ibaratnya barang dalam saku, setiap saat juga dapat diambil, kenapa kita musti terburu napsu? Asal kalian mengawasi saja gerak gerik kedua orang itu sehingga tak sampai kabur sudah lebih dari cukup."

Terpaksa pemimpin dari Seng kiong pat cun membalikkan badan dan mengundurkan diri. Kepada dua orang kakek yang berada disisinya, kembali Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan berkata .

"Aku lihat manusia tak bernama Bu Im dan budak tersebut memiliki ilmu silat yang tangguh, kekuatan mereka tak boleh dipandang enteng, paling baik lagi jika kita turun tangan mendahului mereka."

"Ucapan Tongcu memang masuk diakal!"

Sahut dua orang kakek itu segera.

Mereka segera menyelinap kedepan dan menerjang ke arah Bu Im dan Ciu Tin tin.

Kakek yang menerjang ke arah Bu Im itu menyerbu ke depan dengan garangnya belum lagi tubuhnya mencapai sasaran, angin pukulannya sudah dilepaskan lebih dulu.

Segulung argin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar ke atas kepala Bu Im dengan hebatnya.

Bu Im tidak ambil diam sambil mengerahkan ilmu Hua lek sinkang, dia lepaskan pula sebuah pukulan ke depan serta memunahkan ancaman lawan sehingga hilang lenyap tak berbekas.

Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan kakek tersebut, cepat dia menyelinap ke samping kanan, kemudian sambil melotot besar ke arah Bu Im serunya .

"Beranikah kau menyambut tiga jurus serangan lohu dengan kepandaian sejati?"

Rupanya dia tidak mengenali ilmu Hua lik sinkang dari Bu lm, dianggapnya Bu Im telah mempergunakan mestika atau ilmu hitam lainnya untuk memunahkan angin pukulannya.

Semenjak Bu Im mempelajari ilmu pukulan Hua lik sinkang, baru pertama kali ini dia jumpai seorang lawan yang bisa dipakai untuk mencoba kemampuannya tanpa harus kuatir salah melukainya, sambit tertawa terbahak bahak karena gembira serunya .

"Manusia kecil yang berpengetahuan picik, siapa bilang kalau lohu tidak menggunakan kepandaian sesungguhnya?"

Dampratan "manusia kecil yang berpengetahuan picik"

Kontan saja membuat kakek itu seperti kehilangan muka, untuk beberapa saat dia seperti berdiri tertegun.

Tapi kakek yang lainnya segera menyelinap ke hadapan Bu Im bagaikan hembusan segulung asap, katanya sembari menyeringai .

"Apa sih hebatnya dengan ilmu Hua lik sinkang mu itu? Lihat serangan...!"

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke hadapan Bu Im.

Agak terkejut juga Bu Im ketika menyaksikan kelihayan kakek itu, terutama kemampuannya untuk mengenali ilmu Hua lik sinkang tersebut dalam sekilas pandangan saja.

Belum sempat dia berbuat sesuatu, angin pukulan musuh telah menekan ke dadanya.

Cepat dia lepaskan sebuah pukulan sambil berseru .

"Anggap saja ketajaman matamu memang hebat, dan rasakan pula kelihayan ilmu Hua lik sinkang ku ini."

Baru saja dia lepaskan pukulannya, siapa tahu kakek itu menarik kembali serangannya secara tiba tiba dan tidak melayani pertarungan kekerasan.

Bukan begitu saja, bahkan dia pun segera menyelinap ke belakang punggung Bu Im sembari melancarkan sebuah pukulan lagi.

Menanti Bu Im membalikkan badan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut, kembali dia menarik ancamannya sambil berganti posisi.

Tampaknya dia berusaha agar tidak melakukan bentrokan kekerasan dengan Bu Im dalam keadaan begini, kendatipun Bu Im memiliki kepandaian Hua lik sinkang, juga tak mampu banyak berkutik lagi.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kakek tersebut nampaknya sangat lihay, dia selalu berputar ke sana kemari dengan lincah, membuat Bu Im bukan saja tak mampu menggunakan kelihayan Hua lik sinkangnya bahkan dibikin kerepotan juga.

Untuk beberapa saat pertarungan mereka berlangsung seimbang, siapa pun tak dapat mengungguli lawannya.

Sedangkan si kakek yang semula hendak menyerang Bu Im itu sudah mengalihkan sasarannya menerjang Ciu Tin tin dan mengerubuti gadis tersebut habis habisan, apalagi setelah melihat rekannya yang bertarung melawan gadis itu kerepotan serta bukan tandingan lawan.

Ternyata pada mula pertarungan itu berlangsung, Ciu Tin tin masih mengambil sikap tidak tega turun tangan keji tapi setelah menyaksikan ilmu Hua lik sinkang milik Bu Im dikenali orang, bahkan memaksa Bu Im hingga mati kutu, dia baru terperanjat dan menyesali kesilafan sendiri.

Berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan, terpaksa gadis itu harus menarik kembali sikap belas kasihannya, dengan perhitungan seorang musuh dapat dilukai berarti mengurangi sebagian penghadang, dia lancarkan jurus serangan yang mematikan.

Dengan kemampuan Ciu Tin tin yang begitu dahsyat, tak sampai dua tiga gebrakan kemudian, dia telah memaksa gembong iblis tua itu keteter hebat dan tak mampu melawan lagi.

Walaupun kemudian ia dibantu rekannya, itupun hanya memberi kesempatan baginya untuk mengatur napas sebentar, sebab tenaga gabungan mereka berdua tetap masih bukan tandingan dari Ciu Tin tin.

Dari pihak Ban seng kiong, kecuali Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, masih terdapat pula sepuluh orang kakek.

Dari sekian banyak jago, sudah ada lima orang diantaranya yang terjun ke arena pertarungan.

Dari kelima orang ini tampaknya kepandaian silat si kakek yang bertempur melawan Bu Im terhitung paling tinggi, dia pula satu satunya orang yang tidak terperosok pada posisi dibawah angin.

Sedangkan empat kakek lainnya yang bertarung melawan Sam ku sinni, Pek leng siancu So Bwe leng dan Ciu Tin tin semuanya telah terdesak pada posisi dibawah angin.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan mengulapkan tangannya, kembali ada empat kakek terjun ke arena pertarungan, seorang menyerang Sam ku sinni, seorang menyerang Pek leng siancu So Bwe leng dan dua orang menyerang Ciu Tin tin.

Tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin dahsyat sekali, kendatipun ada empat jago yang mengerubutnya, dia tetap berada pada posisi di atas angin, cuma dia sendiri pun sukar untuk melukai musuhnya di dalam waktu singkat.

Berbeda keadaannya dengan Sam ku sinni dan Pek leng siancu So Bwe leng, dari posisi unggul kini malah terdesak pada kedudukan dibawah angin.

Dengan kepandaiaa silat mereka semua ternyata tak mampu untuk menangkan sekawanan jago yang lebih rendah kedudukannya daripada Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, bila persoalan ini sampai tersiar luas mungkin tiada orang yang akan mempercayainya.

Disinilah sebenarnya terletak kehebatan dari Hian im Tee kun yang patut ditakuti serta diperhitungkan, tata susunannya tersebut membuat suasana Ban seng kiong pun semakin diliputi hawa kemisteriusan.

Kesemuanya ini membuat orang lain tak berani membedakan tinggi rendahnya ilmu silat anggota Ban seng kiong dari tinggi rendahnya kedudukan yang dijabat, akibatnya mereka pun tak berani turun tangan secara sembarangan.

Berkerut kening Ciu Tin tin setelah menyaksikan rekan rekannya mulai keteter dan terperosok pada posisi tidak menguntungkan, mendadak dia berpekik nyaring, Heng kian sinkangnya dikerahkan mencapai sepuluh bagian, dengan mata melotot, telapak tangan kanannya segera disapu ke depan menghajar pinggang seorang kakek yang berada disisi sebelah kanannya.

Kakek itu seperti tak menyangka kalau Ciu Tin tin bakal menyerang seganas itu terhadapnya, dia mencoba menyambut ancaman tersebut dengan kekerasan......

Siapa tahu tatkala kedua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu di angkasa, kakek tersebut mendengus tertahan, tubuhnya mencelat sejauh satu kaki, kemudian setelah muntah darah segar segera tergeletak mati di atas tanah.

Bagaimana pun juga Ciu Tin tin adalah seorang anak gadis, selama hidup belum pernah dia membunuh orang, melihat si kakek tersebut tewas akibat serangannya, tak urung timbul juga perasaan tak tega dihati kecilnya, oleh karena itu, diapun tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk membunuh tiga orang kakek lainnya.

Disaat ingatan berbelas kasihan itu melintas lewat, kembali ada seorang kakek menerjunkan diri ke arena dengan begitu posisi berubah lagi menjadi empat melawan satu.

Keempat kakek itu menjadi hampir semuanya merupakan antek anteknya Hian im Tee kun, kelihayan tenaga dalam mereka boleh dibilang melebihi kehebatan seorang ciangbunjin dari suatu partai besar tapi masih kalah bila dibandingkan empat tokoh dunia persilatan.

Selihay lihaynya tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin, tenaga dalam Hian im Tee kun masih jauh mengungguli dirinya, apalagi diapun tidak tega untuk mengeraskan hati dan membinasakan musuhnya, maka untuk sementara waktu dia telah menyia nyiakan satu kesempatan baik untuk meraih kemenangan.

Kini suasana dalam ruangan tersebut telah berubah menjadi kacau balau dan tak karuan.

Sementara semua orang sedang mencurahkan perhatiannya untuk melangsungkan pertarungan, Siu Cu dan pencari sakti Go Jit secara diam diam telah saling bertukar pandangan, kemudian dengan nekad mengadu jiwa, mendadak saja si Pencuri sakti Go Jit lari ke arah Ciu Tin tin, sedangkan Siu Cu lari menuju ke arah Pek leng siancu So Bwe leng, secara nekad mereka masing masing menyerang seorang kakek tersebut.

Dengan kemampuan yang dimiliki mereka berdua, tentu saja bukan tandingan dari kakek kakek tersebut, akan tetapi mereka pun berhasil meraih keberhasilan dari tindakannya itu.

Ketika mereka sedang dilukai oleh musuh musuhnya, Pek leng siancu So Bwe leng serta Ciu Tin tin telah manfaatkan kesempatan yang ada untuk melukai seorang lawannya pula.

Terutama sekali Pek leng siancu So Bwe leng dia menyerang tak kenal ampun, begitu berhasil melukai seorang musuhnya, memanfaatkan kesempatan dikala musuhnya yang lain terkejut, ia menyerang dengan jurus yang mematikan lagi menghadiahkan sebuah kemplangan dengan Giok hud jiu ke atas tubuh lawan.

Setelah berhasil dengan usahanya, tanpa berpaling lagi dia langsung menubruk ke arah dua orang kakek yang sedang bertarung sengit melawan Sam ku sinni itu.

Sekarang dia sudah nekad dan mata gelap, ibarat seekor harimau kecil yang sudah kalap,diterjangnya musub musuh tersebut secara ganas, kembali senjata Giok hud jiu nya berhasil melukai seorang kakek yang sedang bertarung melawan Sam ku sinni.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat menanti dua orang kakek yang lain datang membantu, Pek leng siancu So Bwe leng dan gurunya telah bekerja sama memantapkan posisinya.

Di pihak lain, oleh karena bantuan dari si pencuri sakti Go Jit, Ciu Tin tin berhasil pula memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melukai seorang kakek.

Namun Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan segera menerjang datang menggantikan posisi tersebut, dengan demikian kedudukannya tetap merupakan empat lawan satu.

Situasi pertarungan telah berubah sekarang, dari pihak Ban seng kiong telah kehilangan seorang kakek dan empat lainnya terluka.

Dari tiga belas kakek yang ada sekarang pun tinggal delapan orang yang masih mampu bertempur.

Pihak Bu Im yang paling mantap posisinya, pertarungan masih berlangsung seimbang, menang kalah pun belum bisa diketahui.

Sedang Pek leng siancu So Bwe leng dan gurunya bersama sama melawan tiga orang kakek, posisi mereka pun tetap berimbang.

Sedangkan Ciu Tin tin yang harus menghadapi kerubutan empat jagoan lihay, meski nampak agak kepayahan namun tidak menunjukkan pertanda akan kalah.

Padahal dia mempunyai kesempatan untuk meraih kemenangan, asal dia tega membunuh orang kesempatan baginya banyak sekali.

Sayang wataknya yang belas kasihan dan saleh itu membuatnya tak tega berbuat demikian, serangan dalam keadaan gusar tadi sehingga mengakibatkan terlukanya seorang musuh pun telah membuat kesedihan setengah hari, tentu saja dia tak tega untuk melancarkan serangan mematikan lagi.

Akibatnya dia tak bisa memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyelesaikan pertarungan itu dengan segera.

Andaikata Pek leng siancu So Bwe leng mempunyai tenaga dalam seperti Ciu Tin tin, mungkin kemenangan berhasil diraihnya semenjak tadi.

Pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu yang terluka pun telah diseret ke samping arena oleh dua orang anggota Seng kiong pat cun, bahkan menotok pula jalan darah mereka.

Sebab mereka kuatir mereka membuat ulah lagi atau bunuh diri sehingga dapat menghindari pihak Ban seng kiong.

Dalam menghadapi pertarungan yang penuh resiko ini pada hakekatnya Seng kiong pat cun tidak berkesempatan untuk turut ambil bagian, karena itu mereka hanya mendapat bagian menonton dari samping arena pertarungan.

Setelah waktu berlarut makin lama akhirnya api amarah berkobar juga didalam dada Ciu Tin tin.

Tenaga serangan yang digunakan pun tiba tiba saja berubah semakin dahsyat.

Setelah terjadinya bentrokan maut belum lama berselang, para pengerubutnya telah mengetahui akan kelihayan Ciu Tin tin, maka dengan jantung berdebar keras karena cemas mereka hadapi serangan musuhnya dengan berhati hati.

Kali ini, nampaknya Ciu Tin tin berniat untuk menangkap pentolannya baru membasmi begundalnya, maka dia memilih Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan sebagai sasarannya.

Diam diam segenap tenaga dalamnya dikerahkan ke dalam telapak tangan, begitu kesempatan yang dinantikan tiba maka dia akan menyerang dengan sekuat tenaga serta membinasakan musuhnya yang paling tangguh itu.

Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan adalah seorang manusia licik, dari sorot mata Ciu Tin tin yang selalu ditunjukan kearahnya, dia sudah dapat menduga maksud hati gadis tersebut.

Terkesiap hatinya menghadapi kejadian tersebut, oleh karena kuatir kalau terbunuh ditangan gadis itu, buru buru teriaknya dengan suara lantang .

"Kalian berhati hati lagi, budak ini akan menyerang!"

Seharusnya, setelah mengetahui akan maksud hati Ciu Tin tin, mereka harus menahan dan mengurung gadis itu semakin ketat dan gencar, sayangnya Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan takut mati.

Walaupun dia berteriak gagah, padahal tujuannya yang terutama adalah memanfaatkan kekuatan orang lain untuk melindungi keselamatan sendiri, bahkan kalau bisa dia akan mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari situ.

Baca Juga: Kuda Binal Kasmaran Gu Long

Baca Juga: Harimau Kemala Putih 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert