Eps 11 Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id
Baca online Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id
Cersil Pukulan Naga Sakti - Khu Lung Tjan Id.
Dengan terjadinya perubahan ini maka pertahanan serta penyerangan yang ketat dan kokoh itu segera menjadi lemah akibat keserakahan Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan yang kelewat mementingkan diri sendiri.
Ciu Tin tin segera mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk melaksanakan rencananya.
Dengan sorot mata setajam sembilu, dia awasi terus gerak gerik dari Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan.
Tatapan yang tenang dan berwibawa ini membuat Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan menjadi ngeri, semangat tempurnya hilang, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya dan banyak kesalahan yang dia lakukan.
Sekali lagi Ciu Tin tin berpekik nyaring, tubuhnya melejit ketengah udara, kemudian telapak tangan kanannya diayunkan ke depan menghamtam batok kepala Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan.
Merasa tak mampu untuk menghindar atau melarikan diri, terpaksa Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan harus mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya dan menyambut ancaman mana dengan kekerasan.
"Blaaammm....!"
Benturan keras yang menimbulkan amukan angin puyuh segera melanda seluruh jagad, keadaannya sungguh mengerikan hati.
Tampak Ciu Tin tin melejit ditengah udara dan melayang turun dihadapan tiga orang kakek yang sedang bertarung melawan Sam ku sinni serta Pek leng siancu So Bwe leng, tiba tiba saja dia turun tangan menotok jalan darah seorang kakek.
Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan telah terlempar sejauh delapan depa akibat dari bentrokan kekerasan itu.
"Blammm!"
Tubuhnya terbanting keras keras diatas tanah.
Wajahnya nampak pucat pias, ke empat anggota tubuhnya mengejang keras darah kental mengucur keluar amat deras, akhirnya tak selang berapa saat kemudian ia menemui ajalnya.
Dengan kematian dari Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, serentak kawanan kakek itupun menghentikan serangannya, mereka mengundurkan diri ke depan pintu ruangan lalu mulai berunding.
Sedangkan Pek leng siancu So Bwe leng sembari menyeka keringat yang membasahi tubuhnya, dia berpaling ke arah Ciu Tin tin dan berkata dengan perasaan amat kagum.
"Cici tenaga dalammu sungguh luar biasa, siau moay sungguh merasa kagum sekali."
Mendadak dia teringat kembali akan si Pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu, tanpa banyak berbicara lagi tubuhnya segera melejit ke udara dan menyusul ke arah Seng kiong pat cun.
Dengan cepat Seng kiong pat cun merentangkan diri sambil menghadang jalan pergi Pek leng siancu So Bwe leng.
Baru saja Pel leng siancu So Bwe leng tertawa dingin dan belum sempat mengumpat, mendadak terasa angin lembut berhembus lewat, dari depan pintu melayang masuk sesosok bayangan manusia.
Ketika pendatang itu menyaksikan mayat dari Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, dia segera berseru sambil mendepak depakkan kakinya berulang kali .
"Siapa yang telah membunuhnya? Aaaai... bikin kacaunya urusan saja..."
Kemunculan orang itu segera disambut semua orang yang hadir dalam ruangan dengan seruan terkejut, rupanya pendatang tersebut adalah seorang Bu im sin hong Kian Kim siang pula.
Sebenarnya dia mempunyai kewajiban untuk menggantikan kedudukan Kian Kim siang gadungan itu untuk menyusup ke dalam istana Ban seng kiong dan menggabungkan diri dengan Keng thian giok cu Thi Keng sekalian didalam usahanya membunuh Hian im Tee kun,dengan terjadinya peristiwa ini maka dalam pertarungan mengerubuti Hian im Tee kun di sana mendatang hanya tiga orang saja yang dapat menampilkan diri.
Ketika Ciu Tin tin menyaksikan orang itu adalah Bu im sin hong Kian Kim siang, buru buru dihampirinya orang itu sembari berkata .
"Boanpwe lah yang telah membinasakan dia, apakah tindakanku ini tidak benar?"
Bu im sin hong Kian kim siang seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun perkataan itu tak sampai diutarakan keluar, hanya ujarnya kemudian sambil menghela napas .
"Aaaai... perhitungan manusia memang tak bisa menangkan kemauan Thian, kalau toh dia sudah mati, yaa sudahlah."
"Kian cianpwe"
Bu Im berjalan menghampiri.
"setelah meninggalkan tempat tersebut mengapa kau malah melupakan kami semua?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menggelengkan kepalanya berulang kali katanya.
"Persoalan ini tak habis diterangkan hanya sepatan dua patah kata saja, yang penting sekarang adalah selesaikan dulu situasi yang sedang kita hadapi."
Kemudian dengan kening berkerut dia menambahkan .
"Apakah kalian berdua saja yang muncul?"
"Tidak, kami keluar berempat."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat .
"Apakah dia telah pulih kembali seperti sedia kala?"
"Caranya belum ditemukan, namun dialah yang bersikeras hendak muncul dari situ."
"Aaah.. kalian benar benar pikun! Mana orangnya sekarang?"
Seru Bu im sin hong tertegun.
"Dalam pertemuan malam ini hanya boanpwe dan Bu cianpwe yang ikut ambil bagian."
Semenjak pemunculannya, Bu im sin hong Kian Kim siang hanya berbincang bincang dengan Ciu Tin tin seorang.
Sesungguhnya Sam ku sinni adalah sobat lama Bu im sin hong namun dalam keadaan begini dia tak sempat untuk turut menimbrung apalagi Pek leng siancu So Bwe leng.
Selain itu, dari pembicaraan mereka pun secara lamat lamat seperti dapat menangkap sesuatu, tapi bila dipikir kembali seperti pula tak tahu apa yang sedang dibicarakan.
Akhirnya Pek leng siancu So Bwe leng tak sanggup menahan diri lagi, dia menyelinap ke depan lalu memperkenalkan diri sendiri.
"Boanpwe So Bwe leng, tolong tanya locianpwe, kau telah menghantar engkoh ku ke mana?"
Bu im sin hong Kian Kim siang memperhatikan wajah Pek leng siancu So Bwe leng berapa saat, kemudian ia tertawa terbahak bahak.
"Daripada bertanya kepadaku, lebih baik tanyakan saja kepada dia,"
Sambil berkata dia menuding ke arah Ciu Tin tin. Pek leng siancu So Bwe leng jadi tertegun.
"Cici, kau.."
Belum habis dia berkata, dari depan pintu gerbang telah muncul serombongan manusia.
"Bukankah Thi Eng khi berada disini!"
Salah seorang diantara rombongan tersebut berseru.
Serentak semua orang berpaling, tapi apa yang kemudian terlihat membuat paras muka mereka berubah hebat.
Rupanya Thi Eng khi berada dibawah cekalan dua orang lelaki bertubuh kekar yang menggusurnya masuk ke dalam ruangan, di belakang mereka mengikuti tiga orang kakek.
Ciu Tin tin maupun Pek leng siancu So Bwe leng segera berteriak hampir bersama .
"Adik Eng!" ''Engkoh Eng!"
Serentak mereka menerjang ke muka. Kakek yang berada di belakang Thi Eng khi segera menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Pek hwee hiat ditubuh sang pemuda, kemudian bentaknya keras keras .
"Tampaknya kalian sudah tidak menghendaki jiwanya lagi!"
Ancaman mana kontan membuat Ciu Tin tin serta Pek leng siancu So Bwe leng menjadi kaget dan buru buru mengundurkan diri ke posisi semula, kemudian menyingkir ke samping dan menyaksikan Thi Eng khi diseret masuk ke ruang dalam tanpa mampu berbuat apa apa.
Kelima orang itu segera menyeret Thi Eng khi masuk ke dalam ruangan, menyeret sebuah kursi dan menyuruhnya duduk.
Dua orang lelaki kekar itu masih berdiri di sisi kiri kanannya, sedang kakek yang menempelkan telapak tangannya yang besar diatas jalan darah Pek hwee hiat dari Thi Eng khi pun masih tetap berdiri di belakang Thi Eng khi tanpa merubah posisinya.
Bukan begitu saja, bahkan kakek lain yang berdiri disebelah kiripun tetap berjaga di posisinya semula tanpa bergeser, sementara sepasang matanya yang tajam dan jeli mengawasi seluruh ruangan dengan seksama, nampaknya penjagaan dilakukan sangat ketat.
Sebenarnya ada tiga orang kakek yang masuk bersama ke dalam ruangan itu, dua orang kakek memusatkan perhatiannya dengan mengawasi gerak gerik Thi Eng khi, sedangkan seorang kakek lain yang bertubuh jangkung, berwajah hitam seperti pantat kuali dan bertubuh kurus kering itu bertindak sebagai juru bicara.
Dia berdiri di tengah ruangan sambil mengawasi rekan rekannya yang tewas dan terluka, sewaktu sorot matanya menemukan mayat Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan yang terkapar diatas tanah, keningnya segera berkerut.
Kemudian ditatapnya wajah Bu im sin hong Kian Kim siang dengan sorot mata setajam sembilu, setelah itu serunya dengan gusar .
"Siapakah kau? Berani benar menyaru sebagai Kian Tongcu dari pihak kami untuk menerbitkan keonaran disini, besar amat nyalimu!"
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak.
"Haaahhhh.... haaahhh.... haahhhh.... mengapa kau tidak melepaskan topeng kulit manusia dari wajah mayat itu serta memeriksa dulu paras mukanya sebelum bertanya siapakah lohu!"
Kakek itu segera membungkukkan badannya siap melepaskan topeng kulit manusia dari wajah Bu im sin hong Kian Kim siang gadungan, tapi sebelum hal ini dilakukah, si kakek yang tadi bertarung melawan Bu Im itu sudah melayang kehadapannya sembari berseru.
"Tunggu dulu!"
Kemudian dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga si kakek kurus kering tersebut, tampaknya dia sedang mengisahkan sesuatu kepadanya.
Paras muka si kakek kurus kering itu berubah hebat, dia memandang sekejap ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang lalu mendengus dingin, kemudian sambil berpaling ke arah Ciu Tin tin katanya .
"Hei budak, sekarang Thi Eng khi telah terjatuh ke tangan lohu sekalian, apa lagi yang hendak kalian ucapkan?"
Sementara itu, Ciu Tin tin sedang menggunakan ilmu menyampaikan suara berunding dengan Thi Eng khi.
Sedangkan Thi Eng khi yang sedang bersandiwara harus berlagak terus, dengan menggunakan kerdipan mata dia memberikan tanggapannya.
Agaknya pendapat mereka berdua tidak seragam, oleh sebab itu, Ciu Tin tin kelihatan agak gelisah, akibatnya dia pun tidak mendengar jelas apa yang sedang dikatakan kakek kurus tersebut.
Dia hanya mengiakan kemudian tidak memberikan tanggapannya lebih jauh....
Pek leng siancu So Bwe leng pun sangat menguatirkan keselamatan Thi Eng khi, bahkan rasa cemasnya tidak berada dlbawah Ciu Tin tin.
Menyaksikan Thi Eng khi mengerdipkan matanya berulang kali, dia mengira pemuda tersebut sedang memberi tanda sesuatu kepadanya, dia tak tahu kalau sesungguhnya si anak muda tersebut sedang berunding dengan Ciu Tin tin.
Akhirnya karena tidak mengetahui apa yang dimaksudkan, dia berteriak keras .
"Engkoh Eng, jika ada persoalan mengapa tidak kau gunakan ilmu menyampaikan suara?"
Mungkin lantaran gelisah, maka gadis itu teringat untuk memperingatkan Thi Eng khi, tapi lupa kalau tidak seharusnya dia berteriak secara terang terangan.
Sementara itu si kakek kurus kering itu mendongkol karena perkataannya tidak mendapat tanggapan dari Ciu Tin tin, setelah mendengar perkataan dari Pek leng siancu, segera serunya sambil tertawa dingin .
"Tenaga dalam yang dimiliki Thi sauhiap telah punah, sekalipun dia berniat untuk berbuat demikian, sayang tenaganya tidak memadahi, teriakanmu itu bukankah hanya akan menyedihkan hatinya saja?"
Oleh karena Pek leng siancu So Bwe leng tidak tahu kalau tenaga dalam Thi Eng khi telah punah, disangkanya si kakek kurus itu telah mempergunakan siasat licik untuk mencelakai Thi Eng khi.
Amarahnya kontan saja berkobar kobar tanpa memperdulikan apa pun dia langsung menerkam kakek jangkung tersebut dan mengajaknya beradu jiwa.
Kini pihak Ban seng kiong sebagai pemegang kartu, sudah barang tentu mereka tak sudi melayani serangan gadis itu.
Mendadak kakek kurus itu membentak dengan suara menggeledek .
"Barang siapa berani bertindak secara sembarangan, jangan salahkan kalau kami akan segara membacok mampus Thi Eng khi."
Sesungguhnya Pek leng siancu So Bwe leng adalah seorang gadis yang tidak takut langit tidak takut bumi tapi dia amat menguatirkan keselamatan jiwa Thi Eng khi.
Mendengar ancaman tersebut, dia benar benar dibikin ketakutan setengah mati bahkan matapun tak berani melotot lagi, cepat cepat dia mundur kembali ke posisi semula.
Sebaliknya Ciu Tin tin segera berseru lantang.
"Syarat apakah yang kalian kehendaki? Katakan saja, asal kami bisa mendapatkan dia kembali, syarat apapun akan kami pertimbangkan."
"Syarat?"
Kakek kurus itu tertawa licik.
"Thi sauhiap adalah tamu agung Tee kun kami, bila kalian ingin menginginkan pertukaran syarat, silakan saja dibicarakan dengan Tee kun kami."
Ciu Tin tin mencoba untuk mengawasi sekejap keadaan situasi yang terbentang di depan mata, dia tahu pada hakekatnya mustahil bagi mereka untuk merampas kembali Thi Eng khi dari tangan mereka, akan tetapi dia pun merasa tidak berlega hati membiarkan Thi Eng khi dikirim ke istana Ban seng kiong.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia berhasil menemukan suatu cara yang ideal baginya namun sesungguhnya bukan suatu cara yang terlalu baik.
Dengan kening berkerut serunya tiba tiba .
"Aku akan menemaninya pergi ke istana Ban seng kiong!"
Berhubung Pek leng siancu So Bwe leng belum pernah berjumpa dengan Ciu Tin tin, dia pun tidak kenal dengan gadis tersebut, maka hatinya menjadi tidak karuan setelah menyaksikan sikap Ciu Tin tin yang begitu hangat dan mesra terhadap Thi Eng khi semenjak kemunculan anak muda tersebut.
Ketika mendengar kalau Ciu Tin tin hendak menemani engkoh Eng nya menuju istana Ban seng kiong, tak kuasa lagi serunya dengan perasaan hati yang kecut.
"Seharusnya tugas menghantar engkoh Eng pergi ke istana Ban seng kiong merupakan tugasku meski kungfu enci ini bagus, orangnya juga baik, namun aku tak berani merepotkan kau."
Ciu Tin tin melirik sekejap ke arah Pek leng siancu So Bwe leng, tentu saja dia pun sungkan untuk menerangkan identitas sendiri di hadapan orang, maka ucapan mana membuatnya tersipu sipu dan cuma bisa tertawa getir saja.
Untunglah Thi Eng khi segera memperingatkan Pek leng siancu So Bwe leng pada waktu itu .
"Adik Leng, bagaimana sih kau ini? Masa begitu tak tahu aturan caramu berbicara dengan enci Tin?"
Betul, Pek leng siancu So Bwe leng belum pernah bersua muka dengan Ciu Tin tin namun paling tidak ia pernah mendengar Thi Eng khi membicarakan tentang soal ini, dia pun tahu akan watak Ciu Tin tin serta hubungannya dengan Thi Eng khi.
Ciu Tin tin memang salah seorang gadis yang sudah lama ingin dijumpainya, sungguh tak nyana kalau enci yang berilmu silat jauh lebih tinggi dihadapannya sekarang adalah Ciu Tin tin.
Kalau dibayangkan kembali, Pek leng siancu So Bwe leng sungguh amat jengah, tapi dia memang sudah terbiasa mencari menangnya sendiri, dia pun tak ambil perduli di saat apa dan sedang berada dimana, apa yang dipikirkan langsung saja disampaikan.
Dengan perasaan mendongkol dia segera menegur kepada Thi Eng khi .
"Mengapa tidak kau katakan sedari tadi!"
Sikapnya yang polos, lincah dan manja ini kontan saja menimbulkan gelak tertawa dari semua orang yang hadir.
Tapi gadis itu tidak memperdulikan hal hal semacam itu, sambil mendepakkan kakinya berulang kali dia berseru keras .
''Apa sih yang menggelikan?"
Kemudian sambil melompat ke hadapan Ciu Tin tin, katanya lagi .
"Enci Tin, mari kita bersama sama menemani engkoh Eng menuju ke istana Ban seng kiong!"
Sesungguhnya Thi Eng khi memang berniat untuk membiarkan pihak lawan menangkap orang orang itu semua, sebab jika Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng dapat ikut pula menuju ke istana Ban seng kiong, maka hal ini akan sangat menguntungkan bagi dirinya.
Namun diluarannya, dia harus menunjukkan sikap menampik, karena dengan begitu baru cocok dengan keadaan yang sebenarnya.
Maka dia sengaja menghela napas, lalu katanya .
"Janganlah disebabkan kepentinganku seorang, sehingga kalian pun ikut menyerempet bahaya, kalian harus tahu diatas bahu kalianlah tergantung nasib dari segenap umat persilatan yang ada di dunia ini, kalian cepat pergi dari sini."
"Adik Eng,"
Kata Ciu Tin tin sedih.
"aku tak bisa membiarkan kau pergi ke istana Ban seng kiong seorang diri!"
"Engkoh Eng,"
Pek leng siancu So Bwe leng berteriak keras pula.
"kalau harus mati, mari kita mati bersama sama, tanpa kau kita semua tak bisa hidup."
"Sudah, sudah cukup, kalian tak usah ribut lagi."
Seru kakek kurus itu mendadak sambil tertawa seram.
"segala sesuatunya lakukan saja menurut perintah lohu!"
Pek leng siancu So Bwe leng segera mendengus .
"Hmmmm! Kau ini manusia macam apa? Mengapa kami harus menuruti perkataanmu?"
Sambil menuding ke arah Thi Eng khi, kakek kurus itu berkata lagi .
"Bila kalian tidak memperdulikan mati hidupnya Thi sauhiap lagi, silahkan saja pergi sendiri, cuma... heeehhh.... heeehhh... jangan menyesal kalian pada akhirnya!"
Kendatipun Pek leng siancu So Bwe leng keras kepala, tentu saja ia tak berani menggunakan jiwa Thi Eng khi sebagai barang taruhan, maka dia membungkam dalam seribu bahasa dan tak berani banyak bertingkah lagi.
Dengan sangat bangga kakek kurus itu berkata lagi .
"Bukan hanya kalian berdua saja yang harus mengikuti lohu menuju ke istana Ban seng kiong, pokoknya setiap orang yang hadir di arena sekarang harus menyerahkan diri dan menuruti perintah kami, bila tak mau menurut, jangan salahkan bila lohu akan menghabisi nyawa Thi sauhiap."
Kemudian setelah berhenti sejenak kemudian tambahnya dengan suara dalam .
"Sekarang aku akan menberi waktu selama setengah perminum teh bagi kalian untuk berpikir, pertimbangkan dulu jawabanmu!"
Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni serta Bu Im sama sama tertegun, perasaan hati mereka terasa amat berat.
Ciu Tin tin mengerutkan pula dahinya, kemudian termenung dan berpikir beberapa saat lamanya.
Tapi kemudian dia dapat melihat kalau kakek kurus itu cuma menggertak sambal belaka, tak mungkin dia berani melukainya secara bersungguh sungguh.
Apalagi Thi Eng khi merupakan orang yang dikehendaki Hian im Tee kun, bagaimana mungkin si kakek kurus itu berani mengganggu seujung rambutnya?
Atau dengan perkataan lain asalkan semua orang tidak berusaha menolong Thi Eng khi dengan menggunakan kekerasan, sekalipun semua orang berlalu dari situpun si kakek kurus kering itu tak berani berbuat apa apa terhadap Thi Eng khi.
Begitu teori tersebut berhasil dipahami olehnya, Ciu Tin tin segera menggunakan ilmu menyampaikan suara memberitahukan hal tersebut kepada semua orang dan menyuruh mereka selekasnya pergi meninggalkan tempat itu, kalau bisa mereka pergi mencari bala bantuan untuk mengusahakan pertolongan.
Pada mulanya, Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni sekalian enggan menyelamatkan diri dengan begitu saja, mereka bersikeras hendak mendampingi Ciu Tin tin dan So Bwe leng menuju ke istana Ban seng kiong.
Tapi akhirnya karena tak tahan menghadapi bujuk rayu dari Ciu Tin tin, mereka bertiga baru menyetujui usul itu dengan paksa.
Saat itulah, tiba tiba Pek leng siancu So Bwe leng teringat akan nasib si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu yang terjatuh di tangan lawan, mengapa mereka tidak diminta dan diserahkan kepada Bu im sin hong Kian Kim siang agar terhindar dari siksaan orang orang Ban seng kiong.
Berpikir demikian, dia lantas menyampaikan maksud hatinya itu kepada Ciu Tin tin dengan ilmu menyampaikan suara.
Mendengar ucapan mana Ciu Tin tin segera memuji .
"Adik Leng, kau memang hebat, sedikit kerugianpun nampaknya kau enggan derita, baiklah, akan kuturuti kehendakmu."
Pek leng siancu So Bwe leng segera merasakan semangatnya bangkit kembali, dengan sepasang mata yang dibelalakkan lebar lebar, ditatapnya kakek kurus itu, kemudian ujarnya sambil tertawa .
"Nonamu paling tidak takut dengan ancaman apalagi gertak sambal, sedangkan engkoh Eng kami pun bukan seorang manusia yang takut menghadapi kematian, kau anggap kami semua adalah orang orang tolol....? Siapa yang tidak tahu kalau kau pun tak berani melukai engkoh Eng kami barang seujung rambut pun? Kami bersedia menemani engkoh Eng menuju ke istana Ban seng kiong karena hal ini muncul atas kemauanku sendiri, kau jangan salah menganggap, apalagi kalau sampai mengira kami jeri kepadamu!"
Suara pembicaraannya makin lama semakin keras, bahkan akhirnya ditambah dengan sebuah dengusan berat.
"Baik! Kita akan membuktikan untukmu sekarang, akan kulihat kau bisa mengapakan engkoh Eng kami!"
Dia membalikkan badan kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut.... Menyusul kemudian, Bu im sin hong Kian Kim siang turut tertawa terbahak bahak pula.
"Haaaahhh... haaaahhh.... haaaahhh... nona Leng memang amat cerdik, ucapanmu itu bagaikan membangunkan orang dari impian, hampir saja kami terkecoh olehnya."
Dengan cepat dia mengikuti dibelakang Pek leng siancu So Bwe leng dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Tak selang berapa saat kemudian, Sam ku sinni ikut beranjak keluar dan dibelakangnya mengikuti Bu Im.
Sambil tertawa Ciu Tin tin berseru kemudian .
"Jika semua orang tidak jadi pergi ke Ban seng kiong, tampaknya aku pun tak bisa pergi juga."
Dia berjalan dipaling belakang.
Berbicara soal kepandaian silat, jangan harap orang orang dari Ban seng kiong dapat menghalangi kepergian mereka.
Kakek kurus kering itu masih saja tak tahu diri, dengan suara menggeledek bentaknya .
"Jika kalian tidak berhenti lagi, jangan salahkan kalau lohu akan turun tangan keji!"
"Seandainya kau berani melaksanakan ancamanmu, sudah sejak tadi kau lakukan."
Kata Ciu Tin tin sambil berpaling dan tertawa. Tiba tiba nada suara kakek kurus itu berubah melunak, katanya kemudian .
"Walaupun lohu tak berani membunuh Thi sauhiap tapi untuk menyiksanya sepanjang jalan tentu boleh bukan!"
Menyusul kemudian terdengar Thi Eng khi menjerit keras, sudah jelas ada orang sedang menyiksanya.
Serentak Ciu Tin tin sekalian menghentikan langkahnya dan berpaling, tampak paras muka Thi Eng khi berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras.
Sambil tertawa seram kakek kurus itu berseru .
"Lohu dapat mengetahui bahwa diantara kalian beberapa orang, paling tidak ada dua orang yang tak akan tega untuk meninggalkan tempat ini."
Pek leng siancu So Bwe leng segera membalikkan tubuhnya dan menerjang ke arah kakek kurus tersebut, saking bencinya merah membara sepasang matanya.
"Jika kau berani menyiksa engkoh Eng lagi, nonamu akan beradu jiwa dengan kau."
Tampaknya kakek kurus itu dapat mengetahui kalau Pek leng siancu So Bwe leng berwatak keras hati, dalam hati kecil dia benar benar takut bila persoalan menjadi terbengkalai.
Bila sampai bentrok, sekali pun dia dapat membunuh Thi Eng khi, tapi pahalanya karena berhasil menangkapnya hidup hidup akan sia sia belaka apalagi jika ada yang melaporkan kejadian ini kepada Hian im Tee kun, bila Tee kun sampai marah, bukankah dia bakal berabe sendiri?
Oleh sebab itu, setelah menyaksikan kenekatan dari Pek leng siancu So Bwe leng, dia malah tak berani bertarung sungguh sungguh dengannya, namun diluarnya mau tak mau dia harus mempertahankan kebuasannya.
Maka dengan suara menggeledek bentaknya .
"Budak, kau berani!"
"Mari kita beradu jiwa bersama sama, siapapun jangan harap bisa hidup meninggalkan tempat ini!"
Tubuhnya yang sedang melakukan gerakan tubrukan sama sekali tidak melambat. Untung saja Ciu Tin tin segera menyelinap ke depan dan menghadang dihadapan Pek leng siancu So Bwe leng, serunya .
"Adik Leng, kau jangan bertindak gegabah, bila ada persoalan marilah kita bicarakan secara pelan pelan."
Setelah berhasil membujuk Pek leng siancu So Bwe leng, Ciu Tin tin segera berpaling ke arah si kakek kurus jangkung itu dan berkata lagi dengan suara dingin .
Jilid 39
"Sekarang kau harus memandang jelas duduknya keadaan, bila sampai mengambil jalan kekerasan, maka siapa pun jangan harap bisa mendapatkan kebaikan, apa yang kau takuti sudah kami ketahui dengan jelas, lebih baik kita bicarakan persoalan ini secara terang terangan saja. Sebetulnya kau hendak menempuh jalan yang mana? Mau sama sama menderita rugi ataukah bisa kembali ke istana Ban seng kiong dengan lancar dan tanpa halangan sesuatu pun?"
Ketika rahasia hatinya dibongkar, kakek bertubuh kurus itu menjadi mengenaskan sekali keadaannya, dia termenung sebentar lalu tanyanya pelan .
"Kalian hendak mengajukan syarat apa?"
"Serahkan kedua orang itu kepada kami dan biarkan mereka meninggalkan tempat ini."
Sebelum kakek kurus itu memberikan pernyataannya, kakek yang pernah bertarung melawan Bu Im itu sudah berseru .
"Tidak boleh, kalian ingin pergi kalian boleh segera pergi, pokoknya kami berjanji tak akan menyiksa Thi sauhiap sepanjang perjalanan ....!"
Mendengar perkataan tersebut, kakek kurus itu segera mengajak kakek yang menampik itu untuk berunding, katanya .
"Saudara Liu, kedua orang bocah perempuan ini berpengaruh besar sekali terhadap Thi Eng khi, sulit bagi kita untuk mendapatkan kesempatan sebaik ini untuk menguasai mereka."
Kakek she Liu itu segera berkemak kemik mengemukakan pula pendapatnya dengan ilmu menyampaikan suara .
"Saudara Oh, tenaga dalam yang dimiliki dua orang budak ini sangat lihay, terutama sekali orang she Ciu itu, pada hakekatnya memiliki kepandaian yang tiada taranya di dunia ini, apabila kita harus mengajak serta mereka, bukankah sepanjang hari kita harus menguatirkan mereka serta mencari kesulitan bagi diri sendiri?"
"Pendapat saudara Liu memang benar, tapi siaute rasa kita masih mempunyai cara lain."
Kata kakek kurus she Oh lagi dengan ilmu menyampaikan suara.
Pek leng siancu So Bwe leng yang menyaksikan mulut mereka berkemak kemik segera tahu kalau orang orang itu sedang berunding, tak tahan lagi serunya sambil tertawa dingin .
"Kalau hanya menghadapi persoalan sekecil ini saja sukar untuk mengambil keputusan, buat apa kalian munculkan diri, untuk membuat malu saja."
Kakek kurus she Oh itu segera berkata .
"Kecuali kalian berdua bersedia membiarkan jalan darah kalian ditotok hingga sepanjang jalan kami pun dapat berlega hati. Kalau tidak, lebih baik kalian pergi saja, lohu pun tak ingin menahan kalian lebih jauh."
Permintaan seperti ini sesungguhnya sudah berada dalam dugaan Ciu Tin tin serta Pek leng siancu So Bwe leng, maka paras muka mereka sama sekali tidak menunjukkan kaget atau tercengang meski telah mendengar perkataan itu, untuk dapat merawat dan melayani kebutuhan Thi Eng khi sepanjang jalan, tentu saja mereka tak pedulikan tentang persoalan tersebut.
Apalagi kedua orang itu tak ingin dirinya didahului oleh yang lain, maka serentak mereka menyanggupi permintaan itu.
Sedangkan Thi Eng khi sendiri, untuk lebih memperlihatkan kesungguhannya, dia menunjukkan sikap yang lebih gugup dan menderita, bahkan berdaya upaya untuk membatalkan keputusan mereka berdua itu.
Bu im sin hong Kian Kim siang maupun Sam ku sinni juga mencak mencak saking cemasnya, mereka segera berseru berulang kali .
"Tolol! Pikun! Mengapa kalian menyanggupi persyaratan mereka? Apakah kalian tidak takut kalau kawanan gembong iblis itu mengingkari janji dan memberi penderitaan lain kepada kalian?"
Pek leng siancu So Bwe leng tidak menyahut, sebaliknya berseru sambil memandang kearah kakek she Oh itu .
"Nah, sudah kalian dengar perkataannya itu?"
Dengan cepat kakek she Oh berseru .
"Istana Ban seng kiong merupakan suatu perkumpulan besar didalam dunia persilatan, lohu menggunakan nama baik perkumpulan kami sebagai jaminan untuk menghantar kalian bertiga hingga tiba di istana Ban seng kiong dengan selamat!"
"Nona percaya dengan perkataanmu itu,"
Dengan cepat Ciu Tin tin menanggapi.
Demi memperoleh kesempatan untuk merawat dan menjaga Thi Eng khi, sekalipun orang lain akan mengingkari janji pun dia tidak ambil peduli.
Sebaliknya Pek leng siancu So Bwe leng segera berkerut kening sembari serunya .
"Aku masih mempunyai sebuah syarat lagi!"
"Nona So masih ada syarat apa lagi?"
Tanya kakek she Oh itu dengan suara dalam. Pek leng siancu So Bwe leng segera menunjuk kearah si Pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu, kemudian serunya .
"Serahkan mereka kepada guruku agar diajak pergi!"
"Tentang soal ini ....."
Kakek she Oh itu termenung sampai lama sekali tanpa bisa menjawab. Dengan kening berkerut Pek leng siancu So Bwe leng berseru lagi.
"Apa itu ini, bila kalian benar benar memiliki kepandaian, apakah tak bisa untuk menangkap mereka kembali?"
Ucapan tersebut penuh nada cemoohan dan menghina, sudah barang tentu si gembong iblis tersebut dapat menangkapnya.
Bayangkan saja, bagaimana tak mendongkol hatinya sesudah mendengar perkataan tersebut, apalagi syarat yang diajukan pun tidak kelewatan.
Maka sambil menggigit bibir menahan diri, serunya.
"Baik! Akan lohu kabulkan permintaanmu itu!"
Kemudian sesudah berhenti sejenak, kembali dia berkata .
"Tapi kau harus membiarkan kami untuk menotok jalan darah Ki tong hiat mu lebih dulu."
Kali ini Pek leng siancu So Bwe leng tidak menampik, bahkan serunya sambil manggut manggut .
"Silahkan saja turun tangan!"
Kakek she Oh itu segera menggerakkan tangan kanannya, seketika itu juga jari telunjuk dan jari tengahnya berubah menjadi hitam pekat menyeramkan sekali.
Paras muka Bu im sin hong Kian Kim siang berubah hebat, serunya dengan cemas .
"Iblis tua itu menggunakan ilmu jari Hek seng thian kang ci, nona Leng, kau tidak boleh membiarkan tubuhmu tertotok, lebih baik kita rundingkan kembali persoalan ini."
Perlu diketahui, ilmu jari Hek seng thian kang ci yang dilatih dengan racun jahat, apabila sampai tertotok, sekalipun bisa mengerahkan tenaga untuk menembusi jalan darah pun tak ada gunanya.
Thi Eng khi berkerut kening, kemudian serunya pula dengan suara gemetar .
"Adik Leng, perbuatanmu itu hanya membuat aku merasa tidak tentram saja."
Pek leng siancu So Bwe leng segera tertawa .
"Engkoh Eng, aku bersedia berbuat demikian atas dasar kerelaanku sendiri, soal ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu...."
Lalu dengan wajah berubah serius, kembali ujarnya kepada kakek she Oh itu .
"Mengapa kau tidak berani turun tangan?"
Mencorong sinar buas dari balik mata kakek she Oh tersebut, serunya kemudian .
"Kalau begitu terpaksa aku harus melakukan kesalahan!"
Dia melejit ke tengah udara lalu menotok jalan darah Ki tong hiat pada tubuh So Bwe leng.
Tampak diantara desingan angin jarinya lamat lamat terlihat ada segaris hitam yang meluncur kearah jalan darah Ki tong hiat di tubuh Pek leng siancu So Bwe leng.
Sambil menggertak gigi menahan diri, Pek leng siancu So Bwe leng sama sekali tidak mendengus ataupun mengeluh, namun seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat dingin.
Sesudah menotok jalan darah Ki tong hiat ditubuh Pek leng siancu So Bwe leng, kakek she Oh itu baru tertawa terbahak bahak.
"Haaahhhh.... haaahhhh..... haaahhhh..... Hek seng thian kang ci memiliki kegunaan yang tak terkirakan, asal kau tidak mengerahkan tenaga, tanggung kau bisa bergerak dengan sekehendak hatimu tanpa merasakan penderitaan apapun."
Agaknya penderitaan yang dialami Pek leng siancu So Bwe leng pun hanya berlangsung dalam waktu singkat, kini paras mukanya telah pulih kembali seperti sedia kala, kembali dia berkata dingin .
"Sekarang adalah waktu kalian untuk melepaskan orang!"
Kakek she Oh itu segera mengulapkan tangan sembari berseru .
"Lepaskan Go Jit dan Siu Cu!"
Lotoa dari Seng kiong pat cun segera turun tangan membebaskan jalan darah dari si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu.
Dengan lemah tapi penuh rasa terharu, kedua orang itu segera merangkak bangun sembari berseru .
"Nona Leng!"
Tak tahan lagi airmatanya jatuh bercucuran membasahi wajah, saking terharunya mereka sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun ....
Pek leng siancu So Bwe leng segera menunjukkan sekulum senyuman di ujung bibirnya, dia berkata .
"Kalian tidak usah berterima kasih kepadaku, aku hanya berbuat demikian sambil lalu, sekarang ikutlah suhuku untuk berlalu dengan cepat dari sini!"
Baik si pencuri sakti Go Jit maupun Siu Cu, kedua duanya cukup mengetahui akan tabiat dari Pek leng siancu So Bwe leng, bersama itu dia pun tidak memperkenankan mereka mengucapkan kata kata berterima kasih, terpaksa sambil mengeraskan hati mereka berjalan menuju ke hadapan Sam ku sinni untuk bersama sama berlalu dari situ.
Ciu Tin tin lantas berkata kepada Bu im sin hong Kian Kim siang dengan suara pelan.
"Kian locianpwe, harap kau membawa mereka segera meninggalkan tempat ini."
Menyaksikan keadaan telah berkembang menjadi begini, Bu im sin hong Kian Kim siang hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, katanya .
"Kalian harus baik baik menjaga diri."
Kemudian serunya kepada Sam ku sinni .
"Sinni, lebih baik kita segera berlalu untuk melaksanakan pekerjaan kita sendiri, ayo berangkat!"
Dengan langkah lebar dia lantas beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Siapa sangka, pada saat itulah mendadak meluncur datang seseorang dari luar dan langsung menerkam kakek she Oh tersebut .....
Semua orang adalah tokoh tokoh persilatan yang berilmu tinggi, sekalipun gerakan tubuh orang itu sangat cepat, namun dalam sekilas pandangan saja setiap orang dapat mengenalinya sebagai Bu Nay nay....
Tanpa mengambil peduli keadaan di sekitar, Bu Nay nay segera mengumpat dengan penuh kegusaran .
"Kalian manusia manusia keparat, Thi sauhiap telah kalian bawa kemana?"
Bersamaan dengan seruan tersebut, Bu Nay nay menerjang datang, lalu sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan menciptakan selapis bayangan serangan yang segera mengurung seluruh tubuh kakek she Oh tersebut.
Dengan cekatan kakek Oh berkelit ke samping menghindarkan diri dari ancaman Bu Nay nay dan segera terlihatlah Thi Eng khi yang semula dihalangi oleh tubuhnya.
Bu Nay nay segera memandang kedepan, dengan cepat dia menyaksikan seorang kakek yang lain sedang menempelkan telapak tangan kanannya diatas jalan darah Pek hwee hiat ditubuh Thi Eng khi dan memandang kearahnya sambil tertawa seram.
Tertawanya itu ternyata jauh lebih unggul daripada gertak sambal atau pun kata ancaman yang lain, dengan ketakutan cepat cepat Bu Nay nay menarik kembali serangannya dan melompat mundur sejauh lima depa dari posisi semula.
Ketika dia berpaling kembali, terlihatlah Ciu Tin tin sedang berdiri di sana sambil mengulumkan senyuman terpaksa.
Tampaknya tak usah diterangkan pun dia sudah tahu dengan jelas bahwa semua orang yang hadir disitu telah diancam oleh orang orang Ban seng kiong dengan Thi Eng khi sebagai sandera.
Pada saat inilah Bu Nay nay baru menyesali perbuatan sendiri, gara gara ingin mencari menangnya sendiri, akibatnya dia terkena siasat memancing harimau turun gunung, meski dalam pertarungannya melawan kakek Oh sebanyak dua ratus gebrakan lebih berhasil dimenangkan olehnya, namun setelah kembali ke rumah penginapan, dia dapatkan Thi Eng khi telah diculik orang.
Dengan susah payah dia mencari hingga menemukan tempat tersebut namun sayang keadaannya sudah terlanjur memburuk sehingga mustahil bisa diselamatkan lagi.
Apalagi semua akibat tersebut terjadi gara gara keteledorannya, semacam perasaan berdosa segera menghantui perasaannya.
Bu Nay nay adalah seorang manusia yang berjiwa berangasan, mendadak sambil melotot besar teriaknya keras keras .
"Tin tin! Nay nay telah melakukan kesalahan terhadap dirimu ....!"
Dia membalikkan badannya lalu dihantamkan keatas ubun ubun sendiri.
Ciu Tin tin sudah cukup mengetahui akan watak Bu Nay nay, maka sementara dia masuk ke sana, segenap perhatian Ciu Tin tin telah ditujukan kearahnya.
Tatkala dia mengucapkan kata "Tin tin"
Tadi, gadis itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya ke lengan kanan sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Menanti dia menggerakkan tangan kanannya, Ciu Tin tin segera melancarkan sentilan jari ke udara dan menotok jalan darah Cian keng hiat si nenek.
Menyusul kemudian, bayangan manusia berkelebat lewat, dia sudah berada dihadapan Bu Nay nay seraya menegur .
"Nenek, inginkah kau menyaksikan Tin tin tetap hidup di dunia ini?"
Bu Nay nay mengangguk, namun seperti sungkan untuk menjawab. Kembali Ciu Tin tin berkata .
"Nay nay, bila kau menginginkan Tin tin hidup terus, maka kaupun harus hidup terus demi Tin tin!"
Ciu Tin tin mengetahui dengan jelas watak dari Bu Nay nay, daripada menghiburnya adalah lebih baik memegang titik kelemahannya, ternyata tindakan tersebut memang menampakkan hasilnya.
Tampak Bu Nay nay menunjukkan sebentar luapan emosinya, kemudian manggut manggut.
Ciu Tin tin segera membebaskan jalan darah Bu Nay nay, kemudian katanya .
"Nay nay, harap kau mengikuti mereka berlalu dari sini!"
"Mengapa kau tidak turut serta?"
Tanya Bu Nay nay agak tertegun keheranan. Ciu Tin tin menundukkan kepalanya rendah rendah sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Bu Im segera berjalan mendekat, lalu ujarnya .
"Cici, nona Tin hendak menemani Thi sauhiap untuk berangkat ke istana Ban seng kiong."
Mendengar itu, Bu Nay nay segera mendongakkan kepalanya sembari berseru .
"Tin tin, Nay nay pun akan menemani kau untuk menuju ke istana Ban seng kiong, akan kulihat manusia macam apakah Hian im Tee kun tersebut, apa pula yang bisa dia lakukan terhadap kita?"
"Nay nay, kau tak boleh turut,"
Buru buru Tin tin mencegah. Bu Nay nay segera melotot gusar.
"Kalau kau boleh pergi mengapa Nay nay tidak boleh turut pergi ....?"
Si kakek Oh yang selama ini membungkam, mendadak berseru lagi dengan suara sedingin es .
"Barang siapa ingin turut kami pergi ke istana Ban seng kiong maka dia harus bersedia untuk ditotok dulu jalan darah Ki tong hiatnya dengan ilmu jari Hek seng thian kang ci."
"Enak amat jalan pemikiranmu itu,"
Teriak Bu Nay nay dengan penuh amarah.
"Mari! Mari! kita mencoba saling beradu tenaga dalam, coba kita lihat nanti kau yang berhasil menotok jalan darah Ki tong hiat ku ataukah aku yang berhasil menotok jalan darah Ki tong hiatmu ...."
Sikap kakek she Oh tersebut bertambah angkuh lagi, kembali dia berkata .
"Seorang lelaki yang cerdas tak akan beradu kekuatan dengan kerbau, boleh saja bila kau ingin turut menuju ke istana Ban seng kiong, tapi tiada jalan lain kecuali membiarkan lihu menotok dulu jalan darah Ki tong hiatmu."
Bu Nay nay segera mendengus dingin.
"Hammm, bagus sekali, nenekmu akan membuktikan kelihayanku kepadamu!"
"Kalau kurang percaya, tanyakan saja kepada nona Ciu."
Bu Nay nay segera berpaling kearah gadis tersebut sembari bertanya keheranan .
"Tin tin, apa maksud dari kesemuanya ini?"
Terpaksa Ciu Tin tin harus mengisahkan kembali semua kejadian yang telah dialaminya itu kepada Bu Nay nay. Selesai mendengar kisah mana, Bu Nay nay segera tertawa tergelak dengan seramnya .
"Benar benar suatu tindakan yang keji. Hmmm.... Wahai manusia manusia Ban seng kiong, dengarkan baik baik, suatu hari aku si nenek pasti akan menguliti kalian semua."
Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata .
"Mari! Sekarang kita boleh turun tangan!"
Kakek she Oh tersebut memandang sekejap kearah Ciu Tin tin, lalu katanya .
"Lohu akan segera turun tangan!"
Sebenarnya dia ingin memperhatikan dulu sikap maupun mimik wajah Ciu Tin tin sebab kepandaian silat yang dimiliki Ciu Tin tin terlampau hebat, dia kuatir sekali apabila gadis itu bertindak diluar dugaan.
Tapi ucapan mana segera memancing ejekan dan cemoohan Bu Nay nay.
"Hmmmm.... Hanya mengandalkan sepatah kata saja sudah cukup membuat hatiku ketakutan? Hmmm, siapa menyuruh kau tidak turun tangan ....?"
Berhubung Ciu Tin tin tahu kalau Bu Nay nay merasa amat berdosa kepadanya, diapun tak tega menampik kehendak hatinya, terpaksa sambil mengeraskan hati dia manggut manggut.
Kakek she Oh tersebut segera turun tangan dengan cepat menotok jalan darah Ki tong hiat di tubuh Bu Nay nay.
Akibat dari totokan tersebut, Bu Nay nay menjadi kesakitan setengah mati hingga wajahnya hijau membesi dan peluh dingin bercucuran keluar, seperti pula Pek leng siancu So Bwe leng, ia sama sekali tidak mengeluh.
Bukan begitu saja, bahkan ia sempat melotot kakek she Oh itu lekat lekat, membuat orang yang dipandang itu menjadi bergidik dan ngeri sekali, ia benar benar kuatir apabila suatu ketika Bu Nay nay sungguh sungguh mengkuliti badannya.
Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian telah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Akhirnya Ciu Tin tin pun tidak melawan ketika kakek she Oh itu menghadiahkan pula sebuah sodokan jari Hek seng thian kang ci keatas jalan darahnya.
Dengan lemas dan tak bersemangat Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian meninggalkan kuil Thian che bio, belum pernah sepanjang hidup mereka mengalami mati kutu seperti apa yang dialaminya hari ini.
Ketiga orang tua itu merasa kehilangan muka, maka siapapun tak bersemangat untuk berbicara, si pencuri sakti Go Jit maupun Siu Cu pun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Yang terdengar kini hanya ujung baju yang terhembus angin, mereka berangkat menuju ke luar kota Tin kang dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya Bu im sin hong Kian Kim siang menghentikan perjalanannya, kemudian setelah menghela napas panjang katanya .
"Sinni, persoalan mengenai Go tayhiap dan nona Siu Cu harap kau suka memperhatikan."
"Aaaai, tampaknya kita memang harus kembali ke partai Thian liong pay,"
Ucap Sam ku sinni. Kemudian setelah berhenti sejenak, dia balik bertanya .
"Kian tua, apakah kau tak akan menuju ke Thian liong pay?"
"Aku harus pergi mencari Keng thian giok cu Thi Keng untuk berupaya menolong Thi sauhiap."
Sam Ku sinni yang tidak mengetahui keadaan sesungguhnya menjadi sangat terkejut, segera serunya .
"Kian tua, buat apa kau harus mencari penyakit bagi diri sendiri? Mau apa kau mencari Thi tua? Apalagi dia hanya seorang Tongcu, aku kuatir kalau dia tak mampu banyak berkutik."
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa lebar .
"Sinni, bukankah kau telah bersua dengan seorang lohu yang lain ....?"
Dengan cepat Sam ku sinni menyadari hal yang sebenarnya, dia lantas berseru .
"Oooh, rupanya Thi tua yang berada dalam istana Ban seng kiong adalah Thi tua gadungan?"
Setelah menghela napas, dia melanjutkan .
"Thi tua memang aneh, entah kemana larinya semangat serta kebesaran jiwanya yang pernah mengagumkan segenap umat persilatan dimasa lalu? Dia begitu bersabar diri membungkam dalam seribu bahasa, membuat kami sobat sobat lamanya menjadi bingung dan tidak memahami suara hatinya."
"Thi tua mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan, lebih baik kita bicarakan persoalan ini dikemudian hari saja, sekarang lohu ingin mohon diri lebih dulu."
Setelah memberi hormat kepada Sam ku sinni, dia lantas mengajak Bu Im untuk menempuh perjalanan bersama dia.
Sedangkan Sam ku sinni dengan mengajak serta si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu berangkat kembali ke partai Thian liong pay.
Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang yang mengajak Bu Im menempuh perjalanan bersama telah melakukan perjalanan mereka dengan cepat, siang dan malam menuju ke markas besar istana Ban seng kiong di bukit Wu san.
Sepanjang jalan, Bu Im bertanya kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, apa sebabnya sepeninggalnya dari bukit Bu gi san, lantas tiada kabar beritanya lagi.
Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang segera membeberkan rencana empat tokoh besar di dalam usahanya menyusup ke istana Ban seng kiong, bahkan dia pun membeberkan bagaimana Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni telah menyaru sebagai komplotan iblis tersebut dan menyusup ke dalam markas musuh.
Mengetahui akan hal ini, dengan perasaan risau Bu Im lantas berkata .
"Aaaai, kalau begitu sayang sekali orang yang menyaru sebagai cianpwe telah dibunuh nona Tin, apakah kejadian ini amat berpengaruh terhadap rencana yang telah cianpwe sekalian susun?"
Bu im sin hong Kian Kim siang menghela napas panjang .
"Aaai, bukan cuma berpengaruh, pada hakekatnya rencana kami bisa jadi akan hancur berantakan."
"Aaah, sedemikian seriusnya?"
Seru Bu Im terkejut.
"Penyaruan dari Thi tua sekalian sudah mulai dicurigai orang, sesungguhnya kedatanganku kemari adalah untuk menghabisi nyawa orang yang menyaru sebagai diriku itu sehingga dapat menyelundup ke istana Ban seng kiong dan melenyapkan Hian im Tee kun dari muka bumi, sebab kami kuatir persoalan yang berlarut larut dapat menyebabkan usaha kami selama ini terbengkalai."
Perjalanan yang harus ditempuh bukan sehari dua hari saja, walaupun mereka telah menempuh perjalanan cepat dengan sepenuh tenaga, dan mereka pun percaya pasti dapat mendahului Thi Eng khi sekalian, akan tetapi perasaan gelisah yang mencekam perasaan mereka kian hari kian bertambah besar.
Hari ini, sampailah mereka di kota Swan cong.
Dalam keadaan lelah dan gelisah, dua orang tokoh persilatan ini telah berubah menjadi kurus lagi kuyu.
Setelah masuk kota, sebenarnya mereka hendak mencari rumah penginapan untuk beristirahat.
Malahan mereka sudah hampir masuk ke dalam sebuah rumah penginapan waktu itu, namun tiba tiba saja Bu im sin hong Kian Kim siang menghentikan langkahnya sambil berubah muka, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menarik Bu Im dan diajak kabur meninggalkan tempat tersebut.
Bu Im menjadi kebingungan dan tidak habis mengerti, tanyanya kemudian .
"Kian tua, memangnya di rumah penginapan itu ada setannya? Mengapa kau melarikan diri terbirit birit?"
Tampaknya Bu im sin hong Kian Kim siang tidak bernapsu untuk menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya celingukan kesana kemari, kemudian berbelok tikungan masuk keluar gang sempit, bahkan perjalanan ditempuh amat cepat sekali, dimana pada akhirnya dia malah kabur dengan mengerahkan ilmu Hu kong keng im yang diandalkan.
Seandainya dia bukan terpaksa harus berhenti untuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya lebih dulu, nyaris Bu Im ketinggalan jauh dan tak mampu menyusulnya.
Bu Im semakin keheranan lagi, dia tidak habis mengerti apa sebabnya Bu im sin hong Kian Kim siang menunjukkan sikap yang membingungkan tersebut hari ini.
Sementara itu, matahari telah tenggelam di langit barat, senja pun menjelang tiba.
Bagaikan diuber setan saja, kedua orang itu melakukan perjalanan yang sangat cepat menelusuri jalan bukit yang terjal dan bergerak ke depan tiada hentinya.
Suatu ketika mendadak Bu im sin hong Kian Kim siang mendongakkan kepalanya dan memperhatikan posisi rembulan, setelah itu katanya sambil menghela napas .
"Untung saja kita tak sampai menyia nyiakan waktu!"
"Kian tua, sebenarnya apa yang terjadi?"
Bu Im keheranan setengah mati.
"tentunya dapat kau terangkan kepadaku bukan?"
Bu im sin hong Kian Kim siang bertindak sangat berhati hati sekali, sekalipun berada di daerah tanpa penghuni, ia tetap berbicara dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suara .
"Tempat ini sudah dekat letaknya dari bukit Wu san, mata mata pihak Ban seng kiong tersebar dimana mana, untuk keuntungan dan keamanan kita sendiri, lebih baik setiap pembicaraan kita lakukan dengan ilmu menyampaikan suara."
Walaupun Bu Im menertawakan sikap kelewat berhati hati dari rekannya, namun ia menyahut juga dengan ilmu menyampaikan suara .
"Bu Im akan turut perintah!"
Walaupun Bu Im dan empat tokoh dunia persilatan berasal dari jaman yang sama, namun kemunculannya justru terlambat dua puluh tahun lamanya, apalagi dia pun tidak memiliki prestasi maupun nama besar yang bisa diandalkan, itulah sebabnya dia cukup tahu diri dan berhati hati dalam setiap perkataan.
Saat itulah Bu im sin hong Kian Kim siang baru menghembuskan napas panjang, katanya .
"Aku telah melihat tanda bahaya yang ditinggalkan oleh Tiang pek lojin!"
"Kalau begitu So tua berada disekitar tempat ini?"
Seru Bu Im terkejut. Bu im sin hong Kian Kim siang segera manggut manggut.
"Yaa, setelah melihat tanda bahaya tersebut, aku telah mengikuti tanda rahasia yang ditinggalkannya sepanjang jalan hingga sampai di sini, kemungkinan besar dia berada disekitar tempat ini."
"So tua menghadapi masalah gawat apa?"
"Tanda rahasianya amat sederhana dan tidak menerangkan apa apa tapi diterangkan bahwa tengah malam nanti akan berlangsung suatu pertarungan mati hidup disekitar tempat ini."
Mendengar itu, Bu Im lantas berpikir .
"Dengan kepandaian silat yang dimiliki So tua pun masih mengirim tanda bahaya, sudah jelas kalau persoalan ini bukan suatu masalah sederhana."
Tampaknya Bu im sin hong Kian Kim siang sedang dicekam pula oleh pelbagai masalah besar, dia hanya membungkam dalam seribu bahasa sambil mengawasi rembulan di angkasa.
Bu Im merasa kurang leluasa untuk mengusik ketenangannya, maka dia hanya berdiri tenang saja di samping arena.
Segulung angin bukit berhembus lewat.....
Menyusul kemudian terdengar suara ujung baju terhembus angin berkumandang datang, dua sosok bayangan manusia nampak bergerak mendekat dengan langkah cepat, nampaknya sambil berjalan mereka sedang membicarakan sesuatu.
Sebagai jago kawanan yang berpengalaman, sudah barang tentu kedua orang jago kita tidak berdiam diri saja, setelah saling berpandangan sambil tertawa, mereka segera menyelinap ke balik hutan belantara.
Tak selang berapa saat kemudian, sampailah pendatang tersebut ditempat mereka semula berdiri, sinar rembulan kebenaran mencorong diatas wajah mereka.
Tatkala menjumpai raut wajah orang orang itu, Bu Im nampak seperti tertegun, kemudian bisiknya .
"Aku kenal dengan mereka berdua."
"Siapakah mereka?"
"Entahlah!"
Bu im sin hong Kian Kim siang jadi tertawa geli.
"Bu lote"
Ia berkata.
"aku jadi bingung oleh perkataanmu....!"
"Berapa bulan berselang, ketika aku sedang mengambil buah Hian ko, hampir saja aku tewas diujung telapak tangan mereka."
Bu im sin hong Kian Kim siang cukup mengetahui akan kemampuan Hua lik sinking milik Bu Im, kalau ia bisa berkata demikian berarti kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu luar biasa sekali...
Usia kedua orang itu sudah menanjak tua, diantara enam tujuh puluh tahunan, wajah mereka yang kuning hangus berbentuk segitiga, mukanya bagaikan pinang di belah dua, sudah jelas kalau mereka adalah saudara kembar.
Perawakan kedua orang itupun tidak terlampau tinggi atau terlalu rendah, tidak gemuk ataupun kurus, seandainya wajah mereka yang berbentuk segitiga itu diganti dengan wajah yang lebih menarik, niscaya orang akan menganggap mereka sebagai dua orang enghiong.
Tapi kesan yang diberikan oleh bentuk wajahnya adalah seram, licik dan memuakkan.
Setelah berdiri sesaat, salah seorang di antaranya lantas berkata pelan .
"Sebenarnya siapa sih yang harus kita hadapi hari ini? Maka kami berdua yang diutus untuk menghadapinya?"
Kalau didengar dari nada pembicaraannya itu, seakan akan dia memandang kelewat tinggi kedudukan sendiri.
"Loji, kau jangan menganggap kedudukan Lei san siang hiong (sepasang orang gagah dari bukit Lei san) kelewat tinggi, berbicara yang sebenarnya tingkat ke berapa sih kedudukan kita berdua dalam istana Ban seng kiong?"
Lei san siang hiong yang terdiri dari sang lotoa Ang sah ciang (Pukulan pasir merah) Phang Put jin dan loji Hek sah ciang (Pukulan pasir hitam) Phang Put gi.
Mereka sudah termashur puluhan tahun lamanya di dalam dunia persilatan sebagai sepasang gembong iblis yang buas dan berhati keji.
Walaupun Bu im sin hong Kian Kim siang belum pernah bersua dengan mereka, paling tidak toh pernah mendengar juga nama kedua orang itu, mau tak mau dia harus berkerut kening juga dengan kenyataan tersebut, sekarang dia baru mulai mengenali ketakutan yang sesungguhnya dari pihak Ban seng kiong.
Sementara itu, sang loji Hek sah ciang Phang Put gi telah berkata lagi dengan nada tak senang hati .
"Dengan kedudukan kita sekarang tidak sepantasnya bila ditugaskan untuk berada di bawah seorang wakil tongcu dan menerima perintah mereka!"
"Loji, keliru besar bila kau berkata demikian,"
Kata Lotoa Ang sah ciang Phang Put jin.
"kau harus tahu kalau Tee kun sangat menghargai kita serta menganggap kita sebagai orang kepercayaannya, di dalam ini aku dapat merasakan kesulitan serta kehendak Tee kun dalam keputusannya ini, tidak pantas kalau kita menganggap hal ini sebagai suatu sakit hati, perlu diketahui bila urusan telah berhasil nanti kekuasaan yang sesungguhnya masih tetap berada ditangan kita...."
"Hmmm, tapi sekaranglah aku yang tak tahan!"
Hek sah ciang Phang Put gi mendengus.
"Sebagai seorang lelaki yang sejati, dia harus bisa mengulur bisa pula menyusut, aku harap selanjutnya kau bisa sedikit menguasai diri, perlu kau ketahui nama besar Tee kun tak mungkin bisa kita tandingi dengan begitu saja."
Berbicara sampai disitu, mendadak ia berbisik .
"Ada orang datang!"
Mereka berdua segera berdiri menghadang ditengah jalan.
Bagaikan segulung angin, tampak tiga sosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Orang yang berjalan didepan adalah Tiang pek lojin So Seng pak, sedangkan dibelakangnya mengikuti dua bersaudara Cia yang lebih dikenal sebagai Boan san siang koay.
Begitu menyaksikan kemunculan Tiang Pek lojin So Seng pak, Lei san siang hiong segera menyingkir ke samping sambil memberi hormat, serunya cepat .
"Hamba menyambut kedatangan Tongcu!"
"Hmmm... siapa sih yang menjadi Tongcu Ban seng kiong kalian?"
Dengus Tiang pek lojin So Seng pak sambil berkerut kening.
"lohu adalah So Seng pak yang asli dan suci."
"Sejak kapan kau sudah tidak menjadi tongcu kami lagi?"
Seru Lei san siang hiong agak tertegun. Tiang pek lojin So Seng pak segera tertawa terbahak bahak .
"Haaahhh..... haaahhh.... Haahhh.... Kapan sih lohu pernah menjadi Tongcu kalian? Harap kalian jangan salah melihat orang...!"
Sang loji dari Lei san siang hiong yang berwatak paling berangasan menjadi naik pitam dengan suara menggeledek dia segera membentak keras .
"Aku tak ambil perduli siapakah kau, pokoknya sebagai anggota istana kami, siapa pun dilarang menaiki bukit ini!"
"Lohu datang kemari untuk memenuhi undangan,"
Seru Tiang pek lojin sembari melotot besar.
"kalau toh aku dilarang untuk naik ke atas bukit, baiklah, jangan salahkan kalau lohu mengingkar janji lagi!"
Dia berpaling dan serunya kepada Boan san siang koay .
"Lote berdua, mari kita pergi saja!"
Dia membalikkan badan siap meninggalkan bukit tersebut. Lei san siang hiong tertegun, cepat cepat lotoa menghadang jalan pergi Tiang pek lojin sambil berseru.
"Kalau memang So tua datang untuk memenuhi undangan, silahkan saja naik ke bukit."
Baru selesai dia berkata, kembali terlihat ada dua sosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Orang yang berjalan dipaling depan ternyata bukan lain adalah Tiang pek lojin So Seng pak.
Yang lebih aneh lagi pakaian maupun dandanannya sama sekali tidak berbeda jauh dengan Tiang pek lojin yang datang lebih duluan tadi...
Tiang pek lojin yang datang lebih duluan itu segera berpaling ke arah Lei san siang hiong, kemudian ujaraya sembari tertawa terbahak bahak .
"Haaahhh... haaahhh.... Haaahhh.... coba kalian saksikan! Bukankah lohu bisa menciptakan diri menjadi beribu bagian? Mau kulihat sekarang apa yang bisa kalian lakukan?"
Tiang pek lojin So Seng pak yang datang belakangan segera tertawa seram .
"Heehhh... heeehhh.... heeehhhh... justru lohu sengaja mengundangmu kemari untuk menyelidiki penyaruanmu tersebut, bila punya nyali mari naik ke atas bukit, tak perlu banyak ngebacot lagi di sini."
Dalam pada itu,Bu Im yang berada di tempat persembunyianpun dibuat kebingungan setengah mati, kepada Bu im sin hong Kian Kim siang segera tanyanya .
"Diantara kedua orang itu, siapa sih yang merupakan So tua sesungguhnya?"
"Tentu saja Tiang pek lojin yang datang lebih duluan adalah Tiang pek lojin yang asli!"
Sahut Bu im sin hong Kian Kim siang tanpa berpikir panjang lagi. Menyaksikan jawabannya begitu meyakinkan, Bu Im semakin terkejut bercampur ke-heranan, kembali dia bertanya .
"Kian tua, mengapa kau bisa membedakannya di dalam sekali tebakan saja?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menunjuk ke atas sebuah jarum pentul yang berada dipakaian sendiri, setelah itu sahutnya .
"Sebab dia pun mengenakan ini!"
Bu Im segera menyadari apa gerangan yang telah terjadi, serunya dengan cepat .
"Oooh...rupanya kalian sudah mengadakan perjanjian sebelumnya."
"Bila terjadi pertarungan nanti, kau jangan sampai salah membantu yang lain,"
Pesan Bu im sin hong Kian Kim siang. Sambil tertawa Bu Im manggut manggut .
"Tak usah kuatir Kian tua, setelah adanya tanda tersebut, aku tak bakal salah lagi."
Dalam pada saat itu Lei san siang hiong sedang mengawasi Tiang pek lojin yang datang belakangan sambil termangu, lama sekali mereka belum juga berbicara tampaknya kedua orang gembong iblis tersebut sudah dibuat kebingungan setengah mati.
Akhirnya loji Hek sah ciang Phang Put gi membentak keras, sambil melompat ke depan Tiang pek lojin yang datang belakangan, dia berseru dengan suara rendah.
"Siapakah kau sebenarnya? Kau harus tahu, lohu berdua bukan manusia yang gampang dipermainkan semaunya sendiri!"
Tiang pet lojin yang datang belakangan segera menunjukkan sikap sedingin es, katanya tiba tiba .
"Lohu adalah Pek hou tongcu adanya!"
Sembari berkata dia mengeluarkan sebuah lencana berwarna putih perak dan diayunkan didepan mata.
Terbentur batunya loji dari Lei san siang hiong merasa gusar bercampur mendongkol, namun dia pun tak berani mengumbarnya keluar, malah dengan sikap yang menghormat dia berkata .
"Silahkan Tongcu!"
Dengan gaya yang sok Tiang pek lojin So Seng pak gadungan berjalan menuju ke hadapan Tiang pek lojin So Seng pak asli kemudian setelah mendengus katanya .
"Lohu akan menantikan kedatanganmu di atas bukit, harap kau jangan melarikan diri dari sini!"
Setelah mengutarakan perkataan maka tanpa banyak berbicara lagi dia melejit ke udara dan melesat lebih dulu menuju ke atas bukit tersebut.
Tiang pek lojin So Seng pak yang tulen segera mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, dengan membawa Boan san siang koay dia pun meluncur ke atas puncak bukit.
Sepeninggal kedua orang itu, loji dari Lei san siang hiong baru meludah ke atas tanah, kemudian serunya dengan gemas .
"Suatu ketika lohu pasti akan menyuruh kau rasakan kelihayan dari kami berdua!"
Mendadak terdengar seseorang tertawa dingin sembari menegur .
"Percuma saja kalian berdua menjadi pembantunya Tee kun, karena kalian tak pernah memahami perasaan atasan dan selalu saja menggerutu sambil mengomel, cara kerja kalian semacam ini paling kubenci. Hmmm! Lohu hendak menjatuhi hukuman untuk kalian berdua!"
Lei san siang hiong segera menyebarkan diri sambil melompat mundur sejauh satu kaki kemudian membalikkan badan sembari bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Tampak Hian bu Tongcu Bu im sin hong Kian Kim siang serta seseorang yang wajahnya terasa pernah dikenal, sedang mengawasi mereka berdua sambil tertawa dingin.
Lei san siang hiong merasa terkesiap, bergidik seluruh tubuh mereka...
Ternyata Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im telah selesai berunding, mereka hendak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk melenyapkan Lei san siang hiong dari muka bumi.
Hal ini dilakukan sebagai persiapan suatu langkah mundur yang aman dan selamat...
Bersama itu pula dia telah menduga kedua gembong iblis ini belum mendapat kabar tentang kematian dari Bu im sin hong gadungan, oleh sebab itu, dia berhasrat untuk menggertak mereka serta membuat pikiran mereka jadi kacau, dengan begitu apabila sampai terjadi pertarungan maka lebih mudah baginya untuk meraih hasil.
Walaupun Lei san siang hiong merupakan manusia manusia buas yang tidak takut langit tidak takut bumi, terhadap Hian im Tee kun nyatanya takutnya setengah mati.
Tindakan dari Bu im sin hong Kian Kim siang barusan pada hakekatnya telah membuat mereka menjadi ketakutan setengah mati.
Terutama sekali sang lotoa Ang sah ciang Phang Put jin, dia kuatir sekali perkataan dari loji tersebut akan menggusarkan Bu im sin hong Kian Kim siang, buru buru serunya sembari menjura.
"Harap Kian tua jangan salah paham, sesungguhnya rasa mendongkol adikku hanya tertuju untuk Tiang pek lojin gadungan, kami sama sekali tak berani bersikap tak puas terhadap Tee kun."
Mencorong sinar setajam sembilu dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim siang, ditatapnya wajah Hek sah ciang Phang Put gi lekat lekat, kemudian serunya dengan suara dalam .
"Benarkah maksud tujuanmu yang sesungguhnya persis seperti apa yang diutarakan lotoa mu?"
Menghadapi sikap yang begitu jumawa dan takabur macam begini, jangan lagi manusia yang berangasan, sekalipun tak gampang marahpun akan dibuat naik pitam juga.
Paras muka Hek sah ciang Phang Put gi kontan saja berubah menjadi merah jengah, tak selang berapa saat kemudian berubah kembali menjadi hijau membesi, dadanya naik turun tak menentu, sudah jelas amarah orang ini sudah mencapai pada puncaknya dan dia hendak berbuat nekad.
Ang sah ciang Phang Put jin yang menyaksikan keadaan adiknya itu segera menghampiri Hek sah ciang Phang Put gi kemudian dicengkeramnya urat nadi adiknya agar ia tak bisa mengerahkan tenaga.
Sesudah itu dengan ilmu menyampaikan suara dia baru memperingatkan .
"Seorang lelaki sejati tak akan mencari kerugian yang berada di depan mata, di sekitar tempat ini terdapat banyak sekali jago lihay istana kita, bila benar benar sampai bertarung, niscaya sulit buat kita untuk melanjutkan hidup."
Hek sah ciang Phang Put gi memang berangasan orangnya, namun bukan berarti dia adalah manusia yang sama sekali tak berotak, setelah diberi petunjuk lotoanya, dia pun mendongakkan kepala sambil tertawa terbahak bahak, rupanya dia menggunakan gelak tertawa tersebut untuk melampiaskan keluar semua perasaan mendongkolnya.
Setelah puas tertawa, dia baru membungkukkan badannya memberi hormat seraya berkata .
"Kian tongcu harap menjadi periksa, hamba tidak mempunyai maksud begini."
Bu im sin hong Kian Kim siang pun segera berubah sikapnya, dengan senyum dikulum dia pun berkata .
"Lohu juga tahu kalau kalian berdua amat setia kepada Tee kun tapi berhubung akupun sedang memangku tugas jadi mau tak mau setiap kecurigaan mesti dilakukan pemeriksaan. Bila ucapanku tadi telah menyinggung perasaan kalian, harap kalian berdua suka memaafkan."
Betapa girangnya Lei san siang hiong setelah rneyaksikan perubahan sikap dari Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan wajah gembira mereka seru bersama .
"Aaah, Tongcu kelewat merendah, dikemudian hari kami masih membutuhkan petunjuk dari Tongcu."
"Kalian berdua kelewat sungkan! Kalian berdua kelewat sungkan..."
Seru Bu im sin hong Kian Kim siang berulang kali. Mendadak ia menepuk bahu Bu Im, kemudian serunya lagi .
"Apakah kalian berdua kenal dengan sobat ini?"
Lei san siang hiong tidak mengetahui maksud tujuan Bu im sin hong Kian Kim siang yang sesungguhnya, tanpa terasa ia menjadi tertegun dibuatnya.
Tapi dengan cepat mereka pun teringat kembali akan perbuatan yang pernah berlangsung akibat sebiji buah Hian ko tempo hari, tanpa terasa perasaan yang telah menjadi tenang kini bergolak kembali.
Untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu benar benar tak tahu bagaimana mesti menjawab, namun mereka pun tak bisa berlagak pilon terus, maka sikap maupun gerak geriknya menjadi serba runyam dan tersipu sipu.
Setelah tertawa tergelak Bu im sin hong Kian Kim siang oerseru kembali.
"Air bah menerjang kuil raja naga, sebagai orang sekeluarga ternyata tidak saling mengenal...haaahhh... haaahhh...haaahhh.... ini namanya tidak bertarung tidak saling mengenal. Bu lote, kejadian yang sudah lewat biarkan saja lewat dan tak usah dipikirkan didalam hati, mari! Mari! Mari! Biar aku sebagai juru damai saja, berjabatan tanganlah kalian untuk damai!"
Bu Im segera maju ke depan sembari berseru .
"Siaute Bu Im, bila masa lalu banyak melakukan kesalahan terhadap kalian gara gara sebiji buah Hian ko, harap kalian sudi memaafkan!"
Dia mengulurkan tangan kanannya sambil berjalan menuju ke hadapan Lei san siang hiong, dia telah bersiap siap untuk berjabatan tangan dengan mereka.
Tergerak hati Lei san siang hiong menyaksikan hal itu, lotoa segera memberi tanda kepada loji, dan loji pun mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam tangan kanan sambil menyambut uluran tangan Bu lm tersebut.
Menanti dia merasa kalau Bu Im sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya, dengan perasaan lega katanya kemudian sambil tertawa lebar .
"Baik, baik, siaute bersedia mengikat tali persahabatan dengan saudara Bu!"
Dengan cepat ke dua orang itu saling berjabatan tangan dengan akrabnya seakan akan dua orang sobat lama saja.
Waktu itu, sebenarnya Ang sah ciang Phang Put jin telah mengerahkan tenaganya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Melihat loji dan Bu Im saling berjabatan tangan dengan tenteram, maka sewaktu tiba gilirannya berjabatan tangan dengan Bu Im pun dia telah mengendorkan kewaspadaannya.
Dengan cepat kedua orang itu saling berjabatan tangan, siapa tahu di saat ini pula Bu Im membalikkan jari tangannya sambil mencengkeram urat nadinya, segulung hawa panas dengan cepat menyerang ke dalam tubuhnya dengan dahsyat.
Menanti Ang sah ciang Phang Put jin menyadari akan datangnya bahaya dan ingin menghimpun tenaga dalamnya, sayang keadaan sudah terlambat, dia lantas berseru.
"Saudara Bu, kau...."
Bu Im tidak menyahut, sebaliknya lakasna sambaran kilat dia membalikkan tangannya menotok jalan darah Jit kan hiat di tubuh Ang sah ciang Phang Put jin.
Ang sah ciang Phang Put jin yang sudah banyak melakukan kejahatan ini segera menemui ajalnya dalam keadaan yang mengenaskan.
Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu singkat, menanti Hek sah ciang Phang Put gi merasa kalau gelagat tidak menguntungkan serta bersiap sedia melancarkan serangan, telapak tangan kanan Bu im sin hong Kian Kim siang telah menempel diatas jalan darah Pay sim hiatnya.
"Kau pun sudah cukup banyak melakukan kejahatan!"
Seru Bu im sin hong Kian Kim siang kemudian.
Tenaga pukulannya segera dimuntahkan keluar, tubuh Hek sah ciang Phang Put gi segera mencelat sejauh beberapa kaki dan tewas dengan isi perut hancur tak karuan.
Untuk melenyapkan kedua orang gembong iblis ini tanpa mengejutkan anggota istana Ban seng kiong lainnya mau tak mau mereka harus menggunakan sedikit siasat, dengan begitu lenyaplah nyawa Lei san siang hiong tanpa menimbulkan suara berisik apapun.
Berhasil dengan pekerjaannya, mereka saling berpandangan sambil tertawa, kemudian meluncur keatas puncak bukit.
Dibawah sinar rembulan, tampak ada tiga pasang bayangan manusia sedang melangsungkan pertarungan seru diatas puncak bukit itu.
Selain itu, terdapat pula empat orang kakek berjubah kuning yang masing masing berada disatu sudut sambil mengawasi jalannya pertarungan ditengah arena.
Tampaknya Tiang pek lojin gadungan adalah seorang yang ingin menang, ternyata dia turun tangan sendiri untuk melangsungkan pertarungannya melawan Tiang pek lojin.
Pertarungan berlangsung amat seru dan gencar, untuk beberapa lamanya kedua belah pihak sama sama belum berhasil untuk meraih satu kemenangan.
Setelah menyaksikan situasi yang dihadapinya, diam diam Bu im sin hong Kian Kim siang berunding sebentar dengan Bu Im kemudian masing masing mengincar seorang kakek berjubah kuning dan menyusup ke arah mereka.
Berhubung disekeliling bukit itu sudah dilakukan penjagaan yang berlapis lapis maka keempat kakek berjubah kuning itu sama sekali tak menyangka bakal ada orang yang menyergap mereka, waktu itu segenap pikiran maupun perhatian mereka ditujukan ke tengah arena guna menghadapi segala kemungkinan.
Itulah sebabnya walaupun Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im telah berhasil menyelundup ke belakang tubuh mereka pun, kakek berjubah kuning tersebut belum merasakan juga datangnya ancaman bahaya tersebut.
Ilmu meringankan tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang boleh dibilang tiada tandingannya dikolong langit diluar Thi Eng khi maupun Ciu Tin tin, maka seandainya kakek berjubah kuning itu tidak menyadari akan kehadirannya, keadaan tersebut masih bisa dibilang mendingan.
Namun, kalau sampai kehadiran Bu Im pun sama sekali tidak mereka sadari, pada hakekatnya hal ini merupakan yang paling mengenaskan.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera melejit ke tengah udara, dari situ dia lancarkan sebuah totokan ke arah punggung salah seorang diantara kakek berjubah kuning itu.
Tiga orang kakek berjubah kuning lainnya yang berada pada arah lain tentu saja dapat menyaksikan datangnya sergapan tersebut namun belum sempat berteriak untuk memberi peringatan, kakek berjubah kuning itu sudah terkena serangan kilat yang dilancarkan Bu im sin hong Kian Kim siang tepat pada jalan darah Siau yau hiatnya, tak ampun dia jatuh tak sadarkan diri.
Tiga orang kakek berjubah kuning lainnya menjadi tertegun menghadapi situasi semacam ini.
Bu Im yang menyaksikan kesempatan yang sangat baik mendadak melompat ke depan dan menotok pula jalan darah seorang kakek berjubah kuning lainnya.
Dua orang kakek berjubah kuning yang masih segar tak sempat melihat jelas berapa banyak musuh yang turut didalam penyergapan tersebut, mereka tak berani meninggalkan posisi masing masing untuk Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im.
Dengan suatu gerakan yang cepat mereka membalikkan badan untuk memeriksa keadaan disekeliling sana, setelah tahu kalau yang datang hanya dua orang, mereka baru melejit ke udara dan menerjang Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im secara garang.
Sekarang, lima pasang sosok bayangan manusia yang berada dipuncak saling bertarung dengan sengitnya.
Dengan kepandaian silat yang dimiliki Bu im sin hong Kian Kim siang, ternyata untuk beberapa saat lamanya belum berhasil menaklukkan lawan lawannya.
Boan san siang koay telah menunjukkan gejala tak kuat untuk bertarung lebih lanjut, posisinya telah berada dibawah angin, rupanya sebentar lagi pun mereka akan roboh.
Pertarungan semacam ini lebih menguntungkan jika diselesaikan dalam waktu singkat, karena bila keadaan berlarut larut, sekalipun dapat meraih kemenangan mutlak, toh akan kehilangan tujuan mereka yang sebenarnya maka dari itu Bu im sin hong Kian Kim siang merasa sangat gelisah.
Kakek berbaju kuning yang bertarung melawan Bu im sin hong Kian Kim siang benar benar keteter hebat.
Dibawah serangan Bu im sin hong yang ketat dan dahsyat meski sudah berada dalam posisi dibawah angin tapi mustahil bisa dilakukan dalam dua tiga puluh jurus mendatang.
Lagipula kakek berjubah kuning itupun amat cekatan, selain mengambil posisi bertahan, dia berpekik panjang tiada hentinya untuk mengundang datangnya bala bantuan.
Menghadapi situasi semacam ini, angin pukulan yang dilancarkan Bu im sin hong Kian Kim siang bertambah gencar dan rapat, namun perasaannya pun ikut bertambah tegang.
Dalam situasi yang amat kritis inilah mendadak dari sisi tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang berkumandang suara bisikan dari Keng thian giok cu Thi Keng yang dipancarkan dengan ilmu menyampaikan suara .
"Waktu amat kritis dan mendesak, siaute segera akan turun tangan membantumu."
Betapa girangnya Bu im sin hong Kian Kim siang setelah mendengar bisikan itu, serunya pula dengan ilmu menyampaikan suara .
"Bagus sekali kedatangan Thi tua, sekarang kita sedang menghadapi manusia manusia buas yang berbahaya bagi umat persilatan, kita tak perlu mempersoalkan gengsi atau nama baik lagi, siaute akan menyambut bantuanmu dengan senang hati."
Baru saja dia selesai berkata, mendadak dijumpainya gerak serangan dari kakek berjubah kuning itu menjadi lebih lamban, jelas ia sudah termakan sergapan jari sakti yang dilancarkan Keng thian giok cu Thi Keng secara diam diam.
Sebagai seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi, tentu saja Bu im sin hong Kian Kim siang tidak menyia nyiakan kesempatan yang sangat baik itu, dengan jurus Ci thian hua tee (nenuding langit menggaris bumi) dia totok tubuh kakek berjubah kuning itu.
Berhasil dengan serangannya, Bu im sin hong Kian Kim siang tak sempat untuk memeriksa lagi bagaimana keadaan kakek berjubah kuning itu sesudah terkena serangannya, dia membalikkan badan dan balik menubruk ke arah kakek berjubah kuning yang sedang bertarung dengan lotoa dari Boan san siang koay tersebut.
Setelah Bu im sin hong Kian Kim siang menerjang ke arah kakek berjubah kuning yang lain, kakek yang bertarung melawannya tadi baru roboh terjengkang ke tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Disamping itu, tampaknya Bu Im juga memperoleh bantuan diluar dugaan, secara lancar dan gampang ia berhasil menaklukan kakek berjubah kuning yang menjadi lawan bertarungnya, begitu berhasil diapun menerkam kakek berjubah kuning yang bertarung melawan jikoay Cia Gun.
Hampir pada saat yang bersamaan, dari belakang batu cadas melompat keluar Keng thian giok cu Thi Keng yang langsung menghantam tubuh Tiang pek lojin gadungan.
Berada dalam posisi semacam ini, rasanya mustahil baginya untuk menghindarkan diri lagi dari serangan Thian liong ciang yang dilancarkan Keng thian giok cu Thi Keng.
Terdengar Tiang pek lojin gadungan mendengus tertahan lalu roboh terkapar di tanah dengan batok kepalanya hancur berantakan, hancur termakan pukulan maut dari Keng thian giok cu Thi Keng.
Sekarang tinggal dua orang kakek berjubah kuning yang masih bertarung namun dibawah kerubutan banyak orang, mereka pun tak bisa bertahan terlalu lama, tak selang berapa saat kemudian merekapun terluka parah dan kehilangan kemampuan.
Dua orang kakek berjubah kuning yang terakhir ini nampak terperanjat sekali setelah menyaksikan Keng thian giok cu Thi Keng turun tangan membunuh Tiang pek lojin gadungan, segera serunya tertahan .
"Thi tongcu, kau...."
Dengan kening berkerut Keng thian giok cu Thi Keng berseru .
"Cia lote berdua, tolong bantulah lohu untuk melenyapkan bibit bencana dikemudian hari!"
"Terima perintah!"
Sahut dua bersaudara Cia dari Boan san bersama sama.
Mereka berdua turun tangan menghajar kedua orang kakek berjubah kuning yang terluka itu sehingga tewas seketika.
Memandang kedua sosok jenasah tersebut, Keng thian giok cu Thi Keng segera menjura dalam dalam sembari berkata .
"Sukma kalian berdua di alam baka tentu tahu, harap maafkan lohu yang mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan, mau tak mau terpaksa kami harus bertangan keji dengan menyingkirkan kalian dari muka bumi ini."
Keng thian giok cu Thi Keng memang seorang manusia yang berjiwa besar sekalipun dengan keji dia telah membunuh orang namun sikapnya masih cukup membuat kagum orang lain.
Setelah minta maaf kepada dua sosok mayat dari kakek berjubah kuning itu, tidak sempat menyapa semua orang lagi, segera perintahnya lagi kepada Boan san siang koay .
"Lote berdua, kalian masih harus membantu kami dengan menghantar jenasah dari gembong iblis yang menyaru sebagai So lote ini sebagai So lote yang sesungguhnya. Hantarlah dia turun dari bukit ini."
Mula mula Boan san siang koay agak tertegun namun dengan cepat mereka dapat memahami maksud hati dari Thi Keng. Terdengar Keng thian giok cu Thi Keng berkata lagi .
"Sedangkan So lote sendiri harus menyaru pula sebagai So lote gadungan di dalam istana Ban seng kiong!"
Sebagai jago kawanan yang sangat berpengalaman dalam dunia persilatan, tentu saja Boan san siang koay memahami maksud hati dari Thi Keng, yakni mereka disuruh menganggap jenasah jenasah gembong iblis tua itu sebagai Tiang pek lojin asli dan membawanya melarikan diri turun bukit.
Dengan wajah serius, mereka lantas berkata .
"Kami berdua memahami maksud hati Thi lo, harap kau tak usah kuatir, setelah meninggalkan bukit ini gembong iblis tersebut adalah So toako kami"
"Kecuali lote berdua, lebih baik jangan sampai ada pihak ketiga yang mengetahui rencana ini,"
Pesan Tiang pek lojin So Seng pak lagi. Boan san siang koay segera menjura kepada semua orang lalu berkata .
"Kami ingin mohon diri lebih dulu, moga moga kalian suka menjaga diri baik baik demi kesejahteraan dan keamanan umat persilatan pada umumnya!"
Dengan ji koay yang membopong jenasah Tiang pek lojin gadungan, berangkatlah kedua orang itu meninggalkan bukit. Mendadak Bu im sin hong Kian Kim siang membentak keras .
"Harap kalian berdua suka berhenti sebentar!"
Boan san siang koay membalikkan badannya dan balik kembali ke tempat semula, kemudian ujarnya .
"Kian tua ada petunjuk apa?"
Sambil menunjukkan arah jalan dimana ia lalui sewaktu naik gunung, Bu im sin hong Kian Kim siang berkata .
"Kalian berdua boleh turun gunung melewati jalan ini, semua penghadang sepanjang jalan telah lohu dan Bu lote bersihkan, dengan begitu kalian pun bisa mengurangi banyak kesulitan."
"Terima kasih!"
Sahut Boan san siang koay bersama sama. Sekali lagi mereka melejit ke udara dan meluncur turun ke bawah bukit..
Jilid 40 Sepeninggal kedua orang itu, Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengenalkan Bu Im kepada Keng thian giok cu Thi Keng serta Tiang pek lojin So Seng pak.
Semua orang adalah tokoh tokok termashur dalam dunia persilatan, berada dalam keadaan dimana waktu adalah emas, mereka tidak banyak berbicara lagi, kedua belah pihak pun saling menganggukkan kepalanya sebagai tanda perkenalan.
Secara ringkas Bu im sin hong Kian Kim siang menceritakan kisah tertangkapnya Thi Eng khi kepada Thi Keng.
Mendengar penuturan tersebut, dengan kening berkerut Keng thian giok cu Thi Keng berpikir beberapa saat, kemudian katanya sambil menghela napas .
"Belakangan ini, menurut hasil laporan yang diterima di istana Ban seng kiong, jago jago kepercayaan dari gembong iblis tua tersebut berhasil menjebak kawanan jago persilatan kenamaan di bukit Cian san, bahkan tak lama lagi akan dibawa pulang ke istana bila kita ingin melaksanakan rencana pertolongan, maka yang penting adalah menolong jago jago persilatan tersebut lebih dulu, tentang cucuku, dia toh sudah kehilangan tenaga dalamnya sekali pun kita selamatkan jiwanya tak bakal bermanfaat bagi keadaan, aku rasa lebih baik biarkan saja dia ditawan."
Begitu Keng thian giok cu Thi Keng menyelesaikan kata katanya, Bu im sin hong Kian Kim siang yang bersusah payah datang dari tempat jauh untuk menolong Thi Eng khi ini menjadi kecewa sekali.
Namun berhadapan dengan manusia yang berjiwa luhur dengan mengutamakan kepentingan umum lebih dulu sebelum kepentingan pribadi, timbul juga perasaan kagum dan hormatnya.
Ia merasa kurang leluasa untuk mendesak lebih jauh maka ia pun membungkam dalam seribu bahasa.
Thi Eng khi adalah cucu menantu Tiang pek lojin, sudah barang tentu Tiang pek lojin pun merasa kurang leluasa untuk banyak berbicara.....
Saat inilah Bu Im segera mengusulkan.
"Menurut pendapat Bu Im, kalau toh didalam melaksanakan rencana semula cianpwe sekalian kekurangan Kian cianpwe seorang sehingga sukar dilaksanakan dengan sempurna, sedangkan usaha untuk menolong para jago kenamaan yang tertawan dibukit Cian san pun belum tentu akan berhasil dengan sukses, menurut Bu Im mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan yang ada sekarang untuk membawa Kian lo serta Bu Im memasuki istana Ban seng kiong dan mencari kesempatan untuk menolong mereka secara diam-diam? Entah bagaimanakah menurut pendapat kalian?"
Bu im sin hong Kian Kim siang segera bertepuk tangan memuji, serunya dengan cepat .
"Usul dari Bu lote memang dapat dilaksanakan, mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan ini untuk menyelundup ke dalam istana Ban seng kiong? Harap Thi lo memutuskan."
Dengan wajah berseri Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata .
"Kalau begitu kita harus membuat dosa terhadap lote berdua..."
Berbicara sampai disitu, dia lantas turun tangan menotok jalan darah Bu im sin hong Kian Kim siang serta Bu Im. Sambil tertawa Tiang pek lojin So Seng pak segera berkata.
"Thi toako, aku akan segera membebaskan jalan darah keempat orang itu."
Tubuhnya berkelebat ke depan dan telapak tangannya diayunkan berulang kali, dalam waktu singkat dia telah membebaskan jalan darah dari keempat kakek berjubah kuning yang tertotok itu.
Semenjak jalan darahnya tertotok, keempat orang kakek berjubah kuning itu selalu berada dalam keadaan tak sadar.
Setelah mendusin mereka pun tidak mengetahui kalau Tiang pek lojin So Seng pak yang berada dihadapan mereka sekarang bukanlah Pek hou tongcu yang tadi, begitu melompat bangun dari atas tanah, serentak mereka bertanya kepada Tiang pek lojin So Seng pak.
"Tongcu, apakah orang yang menyaru sebagai tongcu itu sudah dimusnahkan?"
Tiang pek lojin So Seng pak menghela napas panjang .
"Aaaai.., hampir saja kita terkecoh hari ini, coba kalau Thi tongcu tidak datang tepat pada saatnya dan berhasil membinasakan orang yang menyaru sebagai diriku serta membekuk dua orang lainnya, entah bagaimanakah keadaannya nanti?"
Salah seorang diantara keempat kakek berjubah kuning itu segera bertanya .
"Lantas ke mana perginya jenasah dari orang yang menyaru sebagai tongcu?"
"Jenasah telah dilarikan oleh Boan san siang koay."
Ketika satu diantara kakek berjubah kuning itu menyaksikan Bu im sin hong Kian Kim siang tergeletak ditanah, dengan perasaan tercengang ia lantas berseru .
"Hei, bukankah orang ini adalah Kian tongcu?"
"Siapa tahu? Kami tidak dapat memastikannya dengan begitu saja, terpaksa harus dibawa pulang dulu ke istana kemudian baru diselidiki lebih jauh!"
Berbicara sampai disitu, dia lantas menitahkan kepada kedua orang kakek berjubah kuning itu agar membopong tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im.
Baru saja akan turun gunung, segulung angin berhembus lewat disusul munculnya seseorang.
Orang tersebut bukan lain adalah Ban li tui hong (selaksa li pengejar angin) Cu Ngo yang sudah lama tak nampak batang hidungnya, dia menuju ke hadapan Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian agak tak tenang lapornya .
"Thi ciangbunjin serta para jago kenamaan dari berbagai partai telah sampai dalam istana harap tongcu berdua segera kembali ke istana untuk berunding."
Keng thian giok cu Thi Keng dan Tiang pek lojin So Seng pak saling berpandangan sekejap, seakan akan mereka sedang bilang .
"Begitu cepat mereka sudah dibawa kesini!"
Suasana di atas puncak Wu san puncak Wang soat hong istana Ban seng kiong nampak diliputi kegembiraan yang meluap luap.
Siapa pun tak menyangka, dunia persilatan berhasil dikuasai oleh pihak Ban seng kiong hanya didalam semalaman saja.
Dalam seharian ini, secara beruntun Hian im Tee kun telah membuat tiga macam surat perintah.
Surat perintah yang pertama merupakan suatu pengumuman yang menggembirakan semua anggota perguruannya, isi pengumuman tersebut adalah begini "Segenap ciangbunjin dari berbagai perguruan dan orang orang kenamaan dari seantaro jagad, besok lusa tengah hari akan datang ke istana kami untuk bergabung dengan kami semuanya, disamping itu ciangbunjin dari Thian liong pay Thi Eng khi akan berkunjung pula ke istana untuk melebur permusuhan menjadi persahabatan, kemudian bersama sama ciangbunjin dari pelbagai perguruan besar dan orang kenamaan dari seantero jagad akan melangsungkan pesta perjamuan untuk merayakan hari yang damai..."
Surat perintah kedua menitahkan kepada segenap anggota istana Ban seng kiong agar dalam dua hari selesai menghiasi jalanan sepanjang sepuluh li menuju ke istana untuk menyambut kedatangan para jago persilatan itu sebagai tamu agung, selain pula mengundang jago jago lainnya agar ikut menghadiri perayaan mana.
Sedangkan surat perintah ketiga berbunyi dalam pesta perayaan yang bakal diselenggarakan nanti akan diadakan pembagian hadiah menurut pahala yang dibuat setiap orang.
Dalam pada itu, dibagian belakang istana Ban seng kiong, dibalik sebuah ruangan yang mungil dikelilingi gunung gunungan dan kolam, duduklah dengan tenang tiga tokoh sakti dari dunia persilatan.
Mereka adalah Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak.
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im yang ditawan, setelah dibebaskan jalan darahnya secara diam diam oleh Keng thian giok cu Thi Keng.
kemudian diserahkan kepada anggota Ban seng kiong lainnya agar disekap sambil menunggu dijatuhi hukuman.
Maka Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im menjadi tawanan dari istana Ban seng kiong, mereka tak dapat hadir dalam ruangan megah bersama Keng thian giok cu Thi Keng sekalian untuk bersama sama merundingkan tindakan yang bakal diambil untuk menghadapi kejadian besar esok pagi.
Sekilas pandangan, Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga seakan akan sedang bersemedi dalam keadaan lupa segala galanya.
Padahal pada saat itu, mereka sedang mempergunakan ilmu Hu hi sim ing (irama hati suara perut) yakni semacam ilmu sakti setingkat lebih tinggi dari ilmu Coan im ji mi untuk merundingkan siasat guna menolong orang dan menaklukan musuh.
Kekuatan yang dimiliki pihak Ban seng kiong benar benar diluar dugaan mereka semula.
Dilihat dari hal ini, bisa disimpulkan bahwa rencana mereka untuk mengerubuti Hian im Tee kun tak akan bisa terwujud.
Dari keempat kekuatan yang semula disiapkan, kini berkurang dengan Bu im sin hong Kian Kim siang seorang, berbicara soal kekuatan sudah jelas merupakan suatu pukulan yang cukup berat, mereka telah kehilangan keyakinan untuk bisa meraih kemenangan dan justru inilah merupakan salah satu alasan mengapa rencana tersebut dibatalkan.
Tapi masih ada satu alasan yang lain lagi, yakni pada hakekatnya mereka tidak pernah memperoleh kesempatan yang baik untuk mengerubuti Hian im Tee kun.
Entah disaat dan keadaan apapun Hian im Tee kun tak pernah menerima mereka bersama tanpa membawa pengawal, oleh sebab itu kekuatan mereka pun tak pernah dapat terhimpun untuk mengerubuti gembong iblis tua tersebut.
Bila sedang berada dalam suatu pertemuan yang dihadiri jago, tentu saja mustahil bagi mereka untuk turun tangan, jangan dikata kelihayan dari gembong iblis itu sendiri, ke delapan kakek berjubah merah yang selalu mendamping Hian im Tee kun pun memiliki kemampuan yang tak boleh dianggap enteng.
Sekalipun kekuatan gabungan dari mereka berdelapan belum tentu bisa mengungguli empat tokoh sakti ini, namun untuk menaklukkan mereka paling tidak mereka harus bertarung sampai ratusan gebrakan lebih dahulu.
Apalagi jika harus dua lawan satu, keempat orang tokoh sakti itu makin tak akan peroleh keuntungan apa apa.
Dan sekarang, mereka bertiga pun tidak berhasil menemukan suatu cara yang paling baik dan paling besar kemungkinannya untuk berhasil dengan sukses.
Sekalipun mereka bisa menggabungkan Bu im sin hong Kian Kim siang dan Bu Im dengan mereka semuapun, belum tentu kemenangan bisa diperoleh secara gampang.
Sementara mereka bertiga masih memutar otak mendadak seorang gadis cantik berbaju hijau munculkan diri dalam ruangan dan memotong pembicaraan mereka.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, gadis berbaju hijau itu segera melapor .
"Tee kun mengundang tongcu bertiga agar masuk ke ruang semedi untuk berunding."
Selesai berkata, gadis berbaju hijau itu segera mengundurkan diri. Sepeninggal nona berbaju hijau itu, dengan wajah berseri Tiang pek lojin segera berseru.
"Oooh, rupanya Thian masih melindungi umat persilatan untuk hidup dengan merdeka!"
"So lo sicu jangan keburu bergembira dulu,"
Cegah Sim ji sinni dengan cepat.
"dengan mengandalkan gabungan tenaga kita bertiga dapatkah menaklukan gembong iblis tersebut, hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, apalagi siapa yang bisa menduga apakah dia telah mempersiapkan gembong iblis lainnya didalam ruang tersebut atau tidak."
"Sebagai seorang Kun cu, yang penting adalah berusaha sedapat mungkin, soal keberhasilan atau kegagalan, hal tersebut merupakan masalah kedua,"
Sambung Keng thian giok cu Thi Keng dengan semangat yang berkobar kobar.
"Toako,apakah kita memerlukan bantuan dari Bu im sin hong saudara Kian dan Bu lote?"
Tanya Tiang pek lojin So Seng pak.
"Waktu tidak mengijinkan kita untuk berbuat sampai ke situ, untung saja aku telah membebaskan jalan darah mereka, dengan kecerdasan Kian lote, semestinya dia dapat mengusahakan suatu upaya untuk lolos dari kurungan, maka aku pikir lebih baik kita kerjakan dulu pekerjaan yang sedang kita hadapi."
Kemudian tanpa berbicara lagi mereka bertiga bersama sama keluar dari ruangan dan berangkat menuju ke ruang semedi dari Hian im Tee kun.
Di dalam ruang semedi, tampak Hian im Tee kun berdiri seorang diri di situ dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman dikulum...
Melihat hal mana dengan emosi yang bergolak ketiga orang itu segera berpekik di hati "Oooh...
Thian!"
Tak terlukiskan gejolak emosi yang mereka alami sekarang, mereka mengira inilah kesempatan yang sangat baik buat mereka untuk melenyapkan Hian im Tee kun dari muka bumi.
Apabila mereka bertiga berhasil menaklukan gembong iblis tua ini maka dunia persilatan pasti akan terselamatkan, atau sekalipun tak mampu mempertahankan diri, mereka masih dapat memaksakan suatu pertarungan adu jiwa.
Keng thian giok cu Thi Keng setelah melangkah masuk ke dalam ruangan segera bergerak menuju ke lima depa disisi kiri Hian im Tee kun, Sim ji sinni menuju ke kanan sedangkan Tiang pek lojin berada di tengah pintu...
Dengan cepat mereka membentuk posisi mengepung dari tiga penjuru...
Hian im Tee kun berlagak seakan akan tidak melihat keadaan tersebut, bahkan dengan senyuman dikulum katanya .
"Lusa adalah hari yang paling gembira bagi istana kita karena itu sengaja kuundang kedatangan tongcu bertiga untuk membicarakan suatu masalah."
Keng thian giok cu Thi Keng menganggap saatnya yang paling baik telah tiba, dia enggan untuk banyak berbicara lagi dengan Hian im Tee kun, setelah memberi tanda dengan kerlingan mata ke arah Sim ji sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak, hawa murninya yang berada dalam pusar segera dihimpun.
Siapa tahu baru saja hawa murninya terhimpun, mendadak nadinya terasa linu dan hawa murni yang telah berkumpul itupun membuyar secara tiba tiba...
Betapa terkejutnya Keng thian giok cu Thi Keng setelah menyaksikan kejadian tersebut, dia segera berpekik dihati.
"Aduh, celaka aku!"
Tanpa terasa dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Sim ji sinni serta Tiang pek lojin, paras muka mereka berdua berubah menjadi pucat pias seperti mayat atau dengan perkataan lain kedua orang rekannya sama sama dicelakai orang secara diam diam.
Sambil tertawa terkekeh kekeh Hian im Tee kun berseru .
"Ambilkan kursi!"
Tiga orang nona berbaju hijau muncul dari pintu luar sambil membawa tiga buah kursi, kemudian diletakkan dihadapan Hian im Tee kun, setelah itu seorang satu membimbing ketiga tokoh sakti itu untuk duduk.
Dengan suara menggeledek Keng thian giok cu Thi Keng segera berteriak .
"Lohu sekalian lebih suka mengakhiri hidup saja."
"Thi lo, buat apa kau mesti memandang persoalan ini amat serius,"
Ujar Hian im Tee kun sambil tertawa licik.
"seandainya lohu benar benar berniat mencelakai kalian, tak nanti akan kuperlakukan kalian sampai hari ini sebagai tamu agungku, bahkan akupun tak usah bersusah payah untuk menciptakan Hua kong san (bubuk pembuyar tenaga) untuk menghadapi kalian."
Hua kong san adalah sejenis bubuk beracun yang tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau, barang siapa terkena racun tersebut, asal tidak mengerahkan tenaga dalam maka meski sedang bersemedi pun tak akan merasakannya.
Bila didalam dua puluh empat jam setelah keracunan, sipenderita tidak mengerahkan tenaga dalam daya kerja racun itu akan punah dengan sendirinya tanpa bekas.
Oleh sebab itu, dalam dua puluh empat jam setelah keracunan, si penderita tak boleh marah atau mengerahkan tenaga sehingga memancing bekerjanya racun itu.
Cara penggunaannya pun sangat sederhana, bubuk racun itu cukup diletakkan didalam ruangan, orang akan menghisapnya ke dalam tubuh tanpa sadar dan mereka pun akan keracunan tanpa terasa pula.
Tak heran kalau ketiga orang tokoh sakti itu tertipu mentah mentah.
Keng thian giok cu Thi Keng bertiga belum pernah merasakan sendiri racun semacam itu, tapi mereka pernah mendengar racun itu dari cerita orang persilatan, sungguh tak nyana mereka bertiga harus merasakan sendiri hari ini.
Ketiga orang itu tidak berbicara apa apa lagi, namun keenam buah mata mereka saling bertukar pandangan, mereka tahu Hian im Tee kun pasti hendak memperalat mereka untuk melalukan perbuatan yang memalukan sehingga mereka dimaki dan dicela orang lain.
Daripada mengalami nasib tragis seperti itu, mereka mengambil keputasan untuk bunuh diri agar terbebas dari segala malapetaka....
Seperti mempunyai hubungan batin yang amat erat, mereka bertiga segera menggigit lidah sendiri untuk menghabisi nyawa sendiri.
Rupanya Hian im Tee kun selain waspada dan mengawasi perubahan wajah ketiga orang itu dengan seksama, baru saja Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga menggerakkan tulang gerahamnya untuk menggigit putus lidah sendiri, sambil tertawa seram Hian im Tee kun telah mengayunkan jari tangannya dan menotok jalan darah Ya si hiat mereka bertiga......
Sekarang tiada kesempatan lagi bagi Keng thian giok cu sekalian bertiga untuk menghabisi nyawa sendiri.
Selesai menotok jalan darah Ya si hiat mereka, Hian im Tee kun berhenti tertawa dingin, kemudian sambil melompat bangun dan menggunakan gaya mengejek, dia berjalan bolak balik di depan Keng thian giok cu bertiga, serunya sambil tertawa bangga .
"Tahukah kalian sejak kapan lohu mengetahui jika kalian sedang menyusun rencana keji?"
Berhubung jalan darah Ya si hiat dari Keng thian giok cu bertiga sudah tertotok, mulut mereka tak dapat bergerak, otomatis merekapun tak dapat menjawab dengan jelas, namun sikap mereka tetap serius dan angker.
Memandang sikap mereka yang serius tersebut, Hian im Tee kun tahu kalau orang orang itu tak bakal menjawab pertanyaan, padahal dia memang tidak bermaksud untuk menantikan jawaban mereka, maka setelah tertawa terbahak bahak katanya sambil menuding kearah Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni .
"Sejak kalian berdua memasuki istana Ban seng kiong, lohu sudah tahu kalau kalian adalah orang yang sesungguhnya."
Tergetar perasaan Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni, setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa mereka menarik napas dingin. Setelah tertawa seram Hian im Tee kun berkata lagi.
"Di atas topeng kulit manusia yang lohu kenakan pada ketiga orang yang menyaru sebagai kalian, diam diam telah kubuat kode rahasia yang tidak diketahui oleh mereka sendiri, kode rahasia itu sangat halus dan berbeda beda letaknya, bahkan jauh lebih sempurna ketimbang kode jarum perak yang kalian pergunakan dengan sangat menyolok ini."
Sembari berkata dia melepaskan jarum perak dari pakaian Tiang pek lojin dan dibuang keluar jendela sesudah diamati sekejap, sikapnya amat sinis dan menghina.
Merah padam selembar wajah Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, mereka merasa yaa malu yaa menyesal.
Setelah puas menggoda, tiba tiba Hian im Tee kun menarik wajahnya, kemudian berkata .
"Lusa adalah saat para jago dari pelbagai daerah datang bergabung dengan perkumpulan kami, sampai waktunya kalian bertiga harus bekerja dengan baik dan jangan menimbulkan urusan, kalau tidak jangan salahkan jika pun Tee kun akan menghadapi kalian dengan cara yang lebih keji lagi."
Keng thian giok cu sekalian bertiga sama sekali tidak menggubris ocehan dari Hian im Tee kun, mereka hanya duduk tak berkutik tanpa memperlihatkan perlawanan.
"Bersediakah kalian? Kalau bersedia segera mengangguk sebagai tanda setuju,"
Bentak Hian im Tee kun lagi.
Tiga orang tokoh besar dari dunia persilatan itu masih saja membungkam dalam seribu bahasa.
Menyaksikan hal ini, Hian im Tee kun segera memperdengarkan suara tertawa dingin yang menggidikkan hati, teriaknya menyeramkan .
"Bagus! Bagus! Bagus! Tampaknya kalian memang keras kepala, tampaknya aku harus memberikan sedikit kelihayan untuk kalian rasakan...."
Selesai berkata, tiba tiba saja Hian im Tee kun mengayunkan tangannya dan menotok jalan darah Sin bun hiat, pek hwee hiat, hapi kok hiat, kwan goan hiat, heng kian hiat, lwee kwan hiat, tiong kek hiat, kau kut hiat, tay wi hiat dan Mia bun hiat sepuluh buah jalan darah penting ditubuh Tiang pek lojin.
Baik Keng thian giok cu Thi Keng maupun Sim ji sinni, kedua duanya merupakan tokoh silat dari dunia persilatan, ketika mereka saksikan jalan darah yang ditotok Hian im Tee kun sebagian besar adalah jalan darah yang menimbulkan rangsangan pada syaraf dan bagi badan mereka jalan darah tersebut tidak akan menimbulkan perubahan apa apa, untuk beberapa saat lamanya mereda tidak mengetahui permainan busuk apakah yang sedang dilakukan oleh Hian im Tee kun?
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mereka telah menyaksikan perubahan pada wajah dan sikap Tiang pek lojin, ternyata kakek itu menunjukkan sikap yarg munduk munduk dan menghormat sekali.
Hian im Tee kun segera menotok bebas jalan darah Ya si hiat pada pipi Tiang pek lojin, kemudian ujarnya kepada Tiang pek lojin .
"Sekarang, bawa kemari Bu im sin hong Kian Kim siang!"
"Baik!"
Sahut Tiang pek lojin dengan hormat.
Kemudian setelah memberi hormat lagi kepada Hian im Tee kun, dia membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Terkesiap sekali Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni setelah menyaksikan kejadian itu, paras mukanya segera berubah hebat, diam diam mereka membenci Hian im Tee kun, terutama dengan caranya bekerjanya.
Pelan pelan Hian im Tee kun berkata .
"Didalam kitab pusaka Hian im hui goan keng tercantum semacam kepandaian sakti untuk mengendalikan jalan pikiran orang, kepandaian tersebut disebut Si im ko heng (cuci otak merubah watak). Kalian berdua tidak pernah menyangka bukan?"
Setelah berhenti sejenak, dengan gembira dia berseru kembali .
"Heeehhhh.... heeeehhh... heeehhhh..... mulai sekarang, empat tokoh sakti dari dunia persilatan akan menjadi pelindung yang setia dari istana Ban seng kiong."
Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni sangat terkesiap, dalam keadaan demikian mereka hanya bisa pasrah kepada nasib.
Tak lama kemudian, Tiang pek lojin telah membawa Bu im sin hong Kian Kim siang menghadap.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menangkap kegelisahan yang menghiasi wajah Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinnie.
Sementara dia masih tidak habis mengerti, Hian im Tee kun telah memandang kearahnya sambil tertawa seram.
Sebagaimana diketahui, jalan darah Bu im sin hong Kian Kim siang yang tertotok telah dibebaskan oleh Keng thian giok cu Thi Keng secara diam diam, sesungguhnya dia berada dalam keadaan bebas kini.
Sebagai orang yang berotak cerdas, dengan cepat dia sudah melihat kurang beresnya keadaan, maka diambilnya keputusan cepat.
Mendadak ia membalik telapak tangannya balas mencengkeram urat nadi Tiang pek lojin, kemudian didorongnya tubuh Tiang pek lojin kearah Hian im Tee kun.
Sedang ia sendiri lantas melejit keluar dari ruangan itu dengan gerakan ikan leihi menembusi ombak.
Mimpi pun Hian im Tee kun tidak menyangka kalau Bu im sin hong Kian Kim siang bakal bertindak cekatan dengan mendorong tubuh Tiang pek lojin untuk menghalangi jalan perginya, menanti dia bersiap untuk turun tangan, keadaan sudah terlambat.
Dengan perasaan mendongkol ia berpekik nyaring, dia tahu para jago lihay dari istananya pasti akan turun tangan untuk menghalangi jalan pergi Bu im sin hong.
Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Hian im Tee kun, dia telah mengambil keputusan untuk meloloskan diri dari situ, maka ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im nya yang lihay segera digunakan mencapai pada puncaknya.
Berada dalam keadaan demikian, dia memutuskan untuk rnenghindari pertarungan yang tak ada gunanya maka setiap peluang kosong dimanfaatkan olehnya dengan tepat.
Didalam istana Ban seng kiong memang terdapat banyak jago lihay, andaikata Bu im sin hong Kian Kim siang harus menyerbu dengan kekerasan, jangan lagi seorang sepuluh orang pun jangan harap bisa lolos dari situ dengan selamat.
Tapi tindakan Bu im sin hong Kian Kim siang yang kabur tanpa melayani pertarungan justru mendatangkan keuntungan baginya.
Didalam situasi yang serba kalut karena kurangnya persiapan dari kawanan iblis istana Ban seng kiong, dia berhasil meloloskan diri dari Ban seng kiong dengan selamat.
Kaburnya Bu im sin hong Kian Kim siang menimbulkan kekacauan yang luar biasa bagi istana Ban seng kiong meskipun Hian im Tee kun tidak senang hati namun dengan kemenangan yang sudah berada di depan mata, apalagi diapun menganggap kekuatan Bu im sin hong Kian Kim siang tak akan menjadi suatu ancaman baginya, persoalan itupun disudahi sampai disitu saja.
Tapi yang paling apes adalah Bu Im, Hian im Tee kun segera mengirim orang untuk menotok jalan darahnya, membuat rencananya yang telah di susun rapi menjadi berantakan tak karuan.
Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah melarikan diri dari istana Ban seng kiong, dia baru menghembuskan napas lega setelah dilihatnya tiada orang yang mengejar dirinya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im, dia sengaja memilih jalanan yang terpencil dan curam untuk menghindari pengejaran musuh.
Entah berapa saat dia sudah berjalan dan entah berapa jauh dia sudah kabur...
Menanti dia merasa sudah berada ditempat yang aman, Bu im sin hong Kian Kim siang baru mencari sebuah gua kecil untuk beristirahat.
Pelan pelan gejolak perasaan hatinya dapat dikendalikan kembali....
Namun pikirannya justru menjadi amat kalut dan tak karuan bentuknya lagi.
Sekarang, dia mencoba untuk membayangkan kembali keadaan di dalam kamar semedi Hian im Tee kun.
Kalau dilihat dari kegelisahan yang terpancar dari wajah Keng thian giok cu Thi Keng serta Sim ji sinni, sudah jelas mereka sedang menguatirkan keselamatan jiwanya, tapi mengapa Tiang pek lojin tidak memberi bisikan terlebih dahulu kepadanya?
Mungkinkah Tiang pek lojin tak berani berbicara apa apa kepadanya karena menguatirkan keselamatan jiwa dari kedua orang sahabat karibnya?
Bu im sin hong Kian Kim siang teringat kembali sewaktu dia balik mencengkeram urat nadi Tiang pek lojin dan mendorongnya untuk menghalangi Hian im Tee kun.
Dia merasa Tiang pek lojin begitu lemah dan sama sekali tak bertenaga sedikitpun, hal ini tak seharusnya dijumpai dalam tubuh seorang jago silat kenamaan.
Sebab walaupun Tiang pek lojin mempunyai niat untuk mengorbankan diri dan tidak memberikan perlawanan, namun reaksi dari seorang persilatan bila menghadapi serangan seharusnya dimiliki.
Tapi kenyataannya Tiang pek lojin tidak memberikan reaksi apa pun, untuk kejadian tersebut rasanya hanya bisa dijelaskan kalau kepandaian silatnya telah dipunahkan orang.
Teringat sampai disitu, diapun lantas menduga kalau Keng thian giok cu Thi Keng dan Sim ji sinni telah mengalami nasib yang sama.
Berpikir sampai ke situ, Bu im sin hong Kian Kim siang lantas beranggapan bahwa keadaan dunia persilatan sudah berada dalam keadaan yang tak dapat ditolong lagi, dia menghela napas sedih.
Sekalipun ia masih tersekap dalam pohon cemara dimasa lampau pun belum pernah ia rasakan keputus asaan seperti hari ini.
Dalam keadaan kekecewaan yang besar inilah akhirnya dia tertidur didalam gua.
Entah berapa lama dia sudah tertidur.
Mendadak Bu im sin hong tersentak kaget dan mendusin dari tidurnya....
Ketika membuka mata, tampak suasana dalam gua itu gelap gulita, tampaknya malam hari telah menjelang tiba.
Mengikuti hembusan angin gunung, dia menangkap ada suara ujung baju yang terhembus angin lewat didepan mulut gua.
Setelah mendusin dari tidurnya sekarang, Bu im sin hong Kian Kim siang merasakan kekecewaannya telah mereda, dengan semangat yang berkobar kobar dia melompat keluar dari gua itu.
Angin malam berhembus kencang, bintang bertaburan di angkasa, namun tak nampak ada manusia yang lewat disitu.
Bu im sin hong Kian Kim siang termashur karena ilmu meringankan tubuhnya yang tiada bandingan didunia ini, tentu saja dia enggan menyerah dengan begitu saja, bagaikan segulung asap dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan mulai melakukan pencarian.
Alhasil tidak dijumpai sesuatu apapun.
Disaat dia hendak kembali ke gua kecil itu, mendadak terdengar olehnya ada orang sedang berbicara.
Suara pembicaraan tersebut berkumandang dari balik semak belukar tak jauh dari gua kecil itu.
Sambil menghela napas panjang, diam diam Bu im sin hong Kian Kim siang berpikir .
"Aaaa..i makin tua, aku semakin tak becus, masa badut kecilpun berani mengejek didepan hidungku."
Dengan kepandaiannya yang tinggi, dalam beberapa kali gerakan saja dia telah mendekati semak belukar itu tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Dipasangnya telinga baik baik untuk menyadap pembicaraan tersebut dengan cepat dia merasa kalau suara pembicaraan orang itu sangat dikenal olehnya.
Tanpa terasa dia menerjang lebin ke depan lagi.
Sembari meluncur ke muka, ia lantas menegur .
"Sinni, sejak kapan kau sampai disini? Lohu Kian kim siang berada di sini!"
Setelah menembusi semak belukar, disitu muncul sebuah mulut gua, karena dia yang bersuara lebih dulu maka orang yang berada dalam gua itu tidak menghalanginya untuk menerobos masuk ke dalam.
Sinar obor menyoroti tiga lembar wajah yang asing sekali baginya.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menghentikan gerakan tubuhnya dan tak berani masuk lebih ke dalam, sambil berdiri didepan pintu gua, bentaknya keras keras .
"Siapakah kalian?"
Salah seorang diantaranya segera melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya, lalu berseru .
"Aaaah, rupanya benar benar Kian tayhiap! Pinni adalah Sam ku....."
Kemudian kepada dua orang lainnya dia perintahkan .
"Cepat kalian lepaskan topeng kulit manusia yang kalian kenakan itu..."
Setelah melepaskan topeng kulit manusia yang dipakai, maka diketahui kalau kedua orang itu adalah pencuri sakti Go Jit serta nona Siu Cu.
Sambil tertawa Bu im sin hong Kian Kim siang menghampiri mereka semua, lalu tegurnya .
"Mengapa kalian sampai disini pula?"
"Nona Siu Cu dan Go tayhiap tak mau menyelamatkan diri untuk kepentingan sendiri, maka mengandalkan kemampuan mereka yang hapal dengan situasi disekitar istana Ban seng kiong, mereka bermaksud untuk ikut menyumbangkan tenaga demi kepentingan umum."
Mendengar perkataan tersebut, Bu im Sin hong Kian Kim siang segera menghela napas panjang.
"Aaai, segala sesuatunya sama sekali diluar dugaan, tampaknya kita sudah tidak berdaya lagi."
Sam ku sinni menjadi tercengang setelah medengar ucapan itu, segara tegurnya .
"Kian tayhiap, maksudmu berkata demikian?"
Bu im sin hong Kian Kim siang tidak merahasiakan apa yang telah dialaminya lagi, dia lantas membeberkan kegagalan mereka didalam usahanya menjalankan rencana baik untuk menaklukan Hian im Tee kun, siapa tahu malah kena dipecundangi oleh musuh.
Selesai mendengar penuturan itu, Sam ku sinni segera bermuram durja, dengan sedih sekali dia menundukkan kepalanya rendah rendah.
Si pencuri sakti Go Jit pun berjalan bolak balik sambil menggendong tangan, tak sepatah kata pun yang diutarakan.
Paras muka Siu Cu pun berubah beberapa kali, akhirnya sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah dia berseru .
"Locianpwe bertiga harap menunggu sebentar didalam gua, boanpwe akan mencoba menyusup ke dalam istana untuk mencari kabar."
Selesai berkata dia lantas menerobosi kegelapan dan lenyap dari pandangan mata.
Sejak peristiwa yang pahit itu, dimana Bu im sin nong Kian Kim siang hampir saja tertipu oleh Hiau im Tee kun, tanpa terasa dia meningkatkan kewaspadaannya untuk menghadapi segala masalah, atas persetujuan semua orang, dia pun berpindah ke gua kecil miliknya sambil menunggu kedatangan Siu Cu.
Sam ku sinni serta pencuri sakti Go Jit sangat menguatirkan pula keselamatan dari Siu Cu, maka atas persetujuan dari Bu im sin hong mereka pun ikut pindah ke gua kecil milik Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut.
Malam berlalu dengan cepat, kini fajar pun menyingsing.
Di tengah lapisan kabut pagi yang tebal, nampak dua sosok bayangan manusia meluncur ke arah gua rahasia dibalik semak belukar itu dengan kecepatan tinggi.
Dari kejauhan Bu im sin hong Kian Kim siang telah melihat akan kehadiran bayangan manusia tersebut.
Dengan kening berkerut dia memberi tanda kepada Sam ku sinni serta pencuri sakti Go Jit, kemudian mereka melompat keluar dan melakukan pengepungan.
Siu Cu muncul dengan membawa seorang lelaki bertubuh kekar, begitu masuk ke dalam gua dia lantas berseru tertahan .
"Aaah, ke mana mereka pergi?"
"Nona Siu Cu,"
Lelaki kekar itu segera menegur.
"tak nyana kalau kau masih punya kegembiraan untuk bergurau dengan aku Cu Ngo, kalau begitu jangan salahkan kalau aku Cu Ngo akan bertindak tak sungkan kepadamu."
Ternyata lelaki kekar itu adalah Ban li tui hong Cu Ngo yang pernah ditolong oleh pil sakti Thian liong pay. Buru buru Siu cu menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru .
"Harap Cu tayhiap jangan salah paham, persoalan ini..... persoalan ini....."
"Ke mana mereka telah pergi? Masa kau tidak tahu?"
Siu Cu tak dapat menjawab, namun kegelisahan dan rasa jengah telah menghiasi wajahnya.
Di luar gua, Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Siu Cu kembali sambil membawa seseorang, pun menjadi tidak habis mengerti.
Sebenarnya dia hendak menampakkan diri tapi segera dicegah oleh si pencuri sakti Go Jit.
"Jangan Ban li tui hong Cu Ngo adalah sahabat karib boanpwe, biar boanpwe saja yang menampakkan diri untuk berbincang bincang dengannya kemudian locianpwe baru bertindak menurut keadaan."
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni mengangguk tanda setuju, dengan langkah lebar si pencuri sakti Go Jit segera munculkan diri dari balik gua.
Suara langkah kakinya dengan cepat mengejutkan Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu Cu, cepat mereka membalikkan badan sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Setelah mengetahui kalau yang muncul adalah pencuri sakti Go Jit, Ban li tui liong Cu Ngo baru menghembuskan napas panjang dan membuyarkan tenaga dalamnya.
Siu Cu lebih girang lagi, dia lantas berseru .
"Go tayhiap, kedatanganmu kebetulan sekali, hampir saja Cu tayhiap hendak menyerang diriku!"
Walaupun pencuri sakti Go Jit adalah sahabat karib Ban li tui hong Cu Ngo namun berhubung mereka berdiri pada posisi yang berbeda, maka dia tak berani bersikap terlampau dekat dengan bekas sahabatnya.
Sambil tertawa hambar pencuri sakti Go Jit berkata .
"Cu tayhiap, kau ada urusan apa?"
Ucapannya ketus dan sama sekali tidak berperasaan. Meskipun ia tidak menganggap Cu Ngo sebagai musuh, namun dia pun tidak mencerminkan sikap persahabatan. Dengan wajah sedih Ban li tui hong berkata .
"Saudara Go, mengapa kau bersikap seperti ini terhadap siaute....?"
"Paling tidak kedudukan kita sekarang adalah berbeda!"
"Dahulu siaute tak berani mengungkap rahasia hatiku, tapi sekarang setelah kau berkhianat terhadap Ban seng kiong, siaute bermaksud untuk berkata secara terang terangan."
Mendengar itu, pencuri sakti Go Jit tertawa dingin, katanya .
"Aku si pencuri tua menganggap lebih baik menjadi pengkhianat Ban seng kiong daripada menjadi kaki tangan Ban seng kiong!"
Ban li tui hong Cu Ngo tertawa getir.
"Saudara Go, harap kau jangan memotong pembicaraanku lebih dulu, ucapan siaute belum selesai!"
Pencuri sakti Go Jit segera mendengus dingin, dia menunggu kata kata selanjutnya dari Ban li tui hong Cu ngo. Dengan airmata berlinang, Ban li tui hong Cu Ngo berkata .
"Sejak hari pertama siaute bergabung dengan Ban seng kiong, sejak saat itu pula aku merupakan musuh dalam selimut bagi pihak Ban seng kiong, harap saudara Go suka mempercayai kesulitan siaute ini...."
Tampaknya pencuri sakti Go Jit dibikin terharu oleh ucapan Ban li tui hong Cu Ngo, dengan nada suara yang jauh lebih lembut dia berkata .
"Harap kau suka berbicara yang lebih jelas lagi!"
Secara ringkas Ban li tui hong Cu Ngo menceritakan kisahnya bagaimana dia mengirim surat undangan, terluka, ditawan Huan im sin ang dan dipaksa menuruti perintahnya dengan ancamaa mati hidup Thi Eng khi, lalu bagaimana dia terpaksa berbakti kepada pihak Ban seng kiong...
Akhirnya dengan sedih dia menambahkan .
"Siaute bersedia untuk berkawan dengan musuh karena aku ingin mencari kesempatan untuk membalas budi pertolongan dari Thi sauhiap, kini tuan muda dari Thian liong pay telah mengalami nasib yang tragis, peristiwa ini sungguh membuat siaute amat sedih, oleh karena itulah sengaja siaute datang kemari bersama nona Siu Cu untuk mengajak saudara Go sekalian merundingkan persoalan ini."
Semestinya pencuri sakti Go Jit harus percaya dengan perkataan dari Ban li tui hong Cu Ngo, tapi dia masih merasa sangsi dan merasa wajib untuk membongkar persoalan itu sampai jelas, maka kembali ujarnya .
"Tempo hari, kau menyuruh aku si pencuri tua mencuri pil Tay tham wan, sebenarnya apa tujuanmu?"
"Siaute pernah menelan pil Toh mia kim wan milik Thian liong pay, maka akupun ingin membalas kebaikan tersebut dengan menghadiahkan sebutir pil Tay tham wan untuk Thi sauhiap."
"Mengapa pula kau bisa berhubungan dengan nona Siu Cu?"
Kembali pencuri sakti bertanya.
"Keadaan nona Siu Cu tidak jauh berbeda dengan keadaan lo heng, dia merupakan penghianat yang berhadiah besar bila dapat diringkus, oleh sebab itu tatkala siaute melihat dia menyusup kembali ke istana Ban seng kiong, maka akupun lantas mencari kabar tentang diri kalian..."
"Mengapa nona Siu Cu dapat percaya kalau kau mempunyai maksud tujuan lain?"
"Persoalan ini merupakan masalah nona Siu Cu sendiri, siautepun tak bisa menjelaskan."
Tidak menanti si pencuri sakti bertanya kepadanya, Siu Cu segera berkata cepat .
"Sesungguhnya aku tidak percaya kepadanya, maka itulah aku mengajaknya kemari dan kalianlah yang memutuskan nasibnya!"
Pencuri sakti Go Jit segera menghela napas panjang .
"Nona seandainya Cu loji meninggalkan kode rahasia sepanjang jalan, bukankah kita akan mati semua tanpa tempat kubur?"
Katanya. Siu Cu menjadi amat terkesiap, serunya kemudian agak tergagap .
"Tentang soal ini...."
Tiba tiba pencuri sakti mengalihkan pembicaraan, katanya dengan suara mantap .
"Tapi aku si pencuri tua, percaya kalau Cu Lo Ngo bukan seorang manusia yang sudi menjual teman untuk mencari pahala."
Rasa tegang yang semula menghiasi wajah Siu Cu kini mengendor kembali, dengan cepat dia menghembuskan napas lega. Dengan penuh emosi dan rasa haru Ban li tui hong Cu Ngo berseru pula keras .
"Terima kasih atas kesediaan saudara Go untuk memahami keadaanku...!"
"Sesungguhnya hal ini dikarenakan daya pengaruh dari Thi sauhiap, entah mengapa sejak kau menyinggung tentang dia, aku si pencuri pun merasakan sesuatu perasaan yang aneh, tentu saja aku harus memahami perasaanmu lebih dulu sebelum mempercayai ucapanmu."
Kemudian dia berpaling dan serunya lagi .
"Cianpwe berdua, bagaimanakah menurut kalian atas pendapat boanpwe ini?"
Angin lembut berhembus lewat dari luar gua, seorang pendeta wanita dan seorang kakek munculkan diri.
Begitu berjumpa dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, dengan terkejut Ban li tui hong Cu Ngo berseru .
"Kian tongcu, kau...."
Di dalam istana Ban seng kiong memang berlaku suasana yang serba misterius dan rahasia, dihari hari biasa banyak tersiar berita sensasi tentang tokoh tokoh silatnya.
Cerita tentang asli dan percaya Bu im sin hong Kian Kim siang memang tersiar pula di dalam istana, namun jarang sekali ada orang yang menyaksikan dengan kepala sendiri maka dari itu tak heran kalau ia terkejut sekali menyaksikan munculnya tokoh sakti tersebut.
Mungkin terpengaruh oleh berbagai cerita kosong atau kelihayan dari Kian Kim siang, oleh sebab itu Ban li tui hong Cu Ngo pun merasa terperanjat sekali sesudah berjumpa sendiri dengan tokoh yang disegani ini.
Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang menggoyangkan tangannya berulang kali mencegah Ban li tui hong Cu Ngo melanjutkan kembali kata katanya.
Kemudian dengan suara lembut dia berkata .
"Lohu bukan Tongcu dari Ban seng kiong, harap Cu tayhiap jangan menaruh curiga selain itu lohu pun tak ada waktu untuk memberi penjelasan lagi kepadamu, bila ingin tahu tanyakan saja di kemudian hari kepada Go tayhiap."
Setelah berhenti sejenak dan melihat Ban li tui hong Cu Ngo berhasil menenangkan kembali hatinya, ia baru melanjutkan kembali kata katanya .
"Dengan menyerempet bahaya Cu tayhiap datang kemari, entah rahasia apakah yang hendak kau sampaikan?"
Ban li tui hong Cu Ngo segera berkata langsung .
"Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin setelah dikuasai jalan pikirannya oleh Hian im Tee kun, besok mereka dipersiapkan untuk melakukan suatu tindakan yang bakal menghancurkan nama besar mereka."
"Perbuatan apakah yang akan menghancurkan nama besar mereka...?"
Tanya Bu im sin hong Kian Kim siang dengan perasaan cemas dan tak tenang.
"Tengah hari besok, mereka bertiga akan mewakili segenap umat persilatan yang ada dikolong langit untuk mengangkat sumpah dan menyatakan kesetiaannya terhadap Ban seng kiong, bahkan akan mengalunkan pula kata kata pujian."
Berbicara sampai disitu dia menghela napas panjang, dengan wajah sedih terusnya .
"Bila hal ini sampai terjadi, maka ketiga orang locianpwe itu akan kehilangan muka untuk bertemu orang lagi, itulah sebabnya boanpwe merasa gelisah sekali, sengaja aku datang kemari untuk mengajak locianpwe sekalian merundingkan masalah ini, kita harus berupaya untuk menyelamatkan nama baik ketiga orang tua tersebut."
"Lohu telah mencoba kalau kepandaian silat mereka telah punah, tapi tidak habis mengerti dengan cara apakah Hian im Tee kun bisa menguasahi jalan pemikiran mereka?"
Ban li tui hong Cu Ngo menggelengkan kepalanya berulang kali sebagai pernyataan bahwa diapun tak tahu. Siu Cu dengan kening berkerut segera berkata .
"Suatu ketika, tanpa sengaja boanpwe pernah mendengar Cun Bwee Seng li membicarakan tentang semacam ilmu si sim ko heng (cuci otak merubah watak) yang konon tercantum dalam kitab pusaka Hian im huan goan keng. Bisa jadi ketiga orang locianpwe itu sudah terkena ilmu tersebut....."
Tanpa berpikir panjang Bu im sin hong Kian Kim siang segera bertanya .
"Apakah nona Siu Cu mengetahui cara pertolongannya?"
"Adakah sesuatu cara untuk menolong pengaruh tersebut, boanpwe tak pernah mendengar Cun Bwee seng li membicarakannya."
"Sekarang keadaan sudah sangat kritis, sekalipun mengetahui cara pertolongannya lalu apa gunanya?"
Ujar Sam ku sinni.
"Seandainya didalam kitab pusaka Hian im hwee goan keng tersebut memang tercantum cara pertolongan, maka kita meminta bantuan Go lote untuk mendemontrasikan kelihayannya dengan mendapatkan kitab pusaka Hian im huan goan keng tersebut, asal Thi lo sekalian bisa mendapatkan kejernihan pikirannya lagi, urusan lain dapat dibicarakan belakangan."
"Belakangan ini suasana dalam keraton sangat ramai, manusia yang berlalu lalang amat kacau, memang tepat sekali untuk menyusup ke dalam istana."
Sambil bertepuk dada pencuri sakti Go Jit berseru .
"Selama hidup aku si pencuri sakti memang pekerjaannya mencuri, tiap kali turun tangan tentu merugikan orang menguntungkan diri, sekarang kesempatan baik bagiku untuk berbakti kepada dunia persilatan telah tiba, meski sampai tertawan dan menerima hukuman mati, akupun rela dan pasrah.
"Andaikata dalam kitab pusaka Hian im huan goan keng tersebut tidak terdapat cara pertolongan?"
Tanya Sam ku sinni tiba tiba.
Bu im sin hong Kian Kim siang termenung beberapa saat lamanya, mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya.
Semua orang mengira dia menemukan cara yang lebih baik, dengan wajah berseri mereka lantas memasang telinga dan siap mendengarkan usulnya itu.
Siapa tahu ibarat bola yang kempes, dengan wajah lesu dan sedih Bu im sin hong Kian Kim siang berkata .
"Kita tak boleh menggunakan cara seperti ini untuk menghadapi Thi lo sekalian."
"Kian lo, apa yang kau penuju? Utarakan saja secara blak blakan agar kita dapat membincangkannya bersama sama."
Dengan cepat Bu im sin hong Kian Kim siang menggelengkan kepalanya berulang kali .
"Seandainya lohu mengutarakan usulku ini berarti lohu berbuat salah kepada Thi lo bertiga."
Tentu saja Pencuri sakti Go Jit, Ban li tui hong Cu Ngo dan Siu Cu bertiga ingin mengetahui juga apa usul dari Bu im sin hong Kian Kim siang itu namun dibandingkan dengan Kian Kim siang, kedudukan mereka masih selisih jauh, Sam ku sinni saja terbentur batunya, tentu saja mereka semakin tak berkeberanian untuk buka suara lagi.
Tapi wajah dan pancaran mata mereka memancarkan sinar pengharapan, perasaan tersebut terlihat jelas pada wajah mereka.
Sambil tersenyum tiba tiba Sam ku sinni berkata .
"Padahal sekalipun tidak kau katakan, pinni juga sudah menduganya sejak tadi..."
Bu im sin hong Kian Kim siang hendak tertawa tergelak, tapi Sam ku sinni kembali mencegah .
"Kian tua, hati hati kalau sampai membocorkan rahasia jejak kita ...."
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menyadari akan kesilafannya tapi berhubung gelak tertawanya sudah mulai, maka usahanya untuk menahan tertawa ini membuat wajahnya kelihatan lucu sekali.
Tapi dalam keadaan situasi seperti ini meski semua orang dibikin geli oleh sikapnya yang lucu, rasa geli itu tak dapat melenyapkan suasana murung yang menyesakkan napas.
Setelah berhasil menahan rasa gelinya, dengan wajah serius Bu im sin hong Kian Kim siang berkata .
"Sinni, kalau toh pendapat kita sama mari kita laksanakan menurut rencana tersebut!"
Ban li tui hong Cu Ngo dibuat kebingungan setengah mati, agak tersipu dia bertanya .
"Siasat bagus apa sih yang locianpwe berdua dapatkan? Cepatlah diutarakan, agar boanpwe sekalian pun bisa turut bergembira...."
Bu im sin hong Kian Kim siang, melirik sekejap orang orang itu, melihat Pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu tersenyum dikulum seperti telah mengerti, maka kepada Siu Cu katanya sambil mengangguk .
"Nona Siu Cu, bagaimana kalau kau mewakili lohu untuk mengutarakannya keluar?"
"Tapi boanpwe tak tahu jalan pikiran boanpwe ini betul atau salah...."
"Kalau kulihat dari paras mukamu, sudah tak bakal salah lagi."
Maka kepada Ban li tui hong Cu Ngo, Siu Cu berkata .
"Menurut pendapat locianpwe berdua, jikalau kita tak sanggup menolong ketiga orang locianpwe itu, maka demi menjaga nama baik serta pamor mereka di mata umat persilatan, lebih baik kita cepat cepat mengirim mereka pulang ke nirwana!"
Ban li tui hong Cu Ngo sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya .
"Tapi.... kita mana boleh turun tangan mencelakai jiwa ketiga orang locianpwe itu.... hal ini.... hal ini tak boleh sampai terjadi...."
"Asalkan tindakan tersebut dapat melindungi nama baik ketiga orang locianpwe itu, boanpwe bersedia mewakili umat persilatan untuk melaksanakannya, biar orang memakiku tapi tindakanku ini justru akan kutujukan untuk membalas budi kepada Thi sauhiap."
Seru pencuri sakti Go Jit dengan gagah.
"Go Jit, apakah kau sudah edan?"
Bentak Ban li tui hong Cu Ngo dengan mata melotot. Siu Cu menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya .
"Cu tayhiap, coba kau pikirkan lebih mendalam, seandainya pelbagai usaha kita tak berhasil menolong ketiga orang locianpwe itu, sehingga membiarkan mereka lakukan perbuatan perbuatan tanpa sadar yang akan merusak nama baik mereka, apakah tindakan semacam ini mencerminkan kasih sayang kita kepada mereka? Toh lebih baik kita melindungi nama baik mereka sebagai pernyataan rasa kasih kita terhadap mereka?"
Ban li tui hong Cu Ngo adalah seorang lelaki berdarah panas, tadi ia dapat berkata begitu karena belum memahami sampai lebih mendalam, tapi setelah dijelaskan oleh Siu Cu sekarang dia menjadi paham, katanya kemudian .
"Betul! Ucapan kalian memang betul, melindungi nama baik mereka bertiga memang jauh lebih penting daripada melindungi keselamatan jiwa mereka, aku Cu lo ngo tak akan ketinggalan, biar orang lain salah paham kepadaku, akupun bersedia ambil bagian didalam rencana ini..."
"Boanpwe pun bersedia memikul tanggung jawab dan tugas yang tak nanti bisa dimaafkan orang lain ini,"
Sambung Siu Cu pula dengan gagah perkasa. Bu im sin hong Kian Kim siang segera manggut manggut .
"Beginipun ada baliknya juga, kalian seorang bertanggung jawab satu korban bila mana keadaan memaksa, terpaksa kita harus menempuh jalan yang memedihkan hati ini."
Maka keputusan pun segera diambil, si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu tetap ditugaskan untuk menyusup kembali ke istana Ban seng kiong dan berusaha bersama sama mencuri kitab Hian im huan goan keng milik Hian im Tee kun.
Seandainya dalam kitab itu tidak tercantum cara pertolongan atau kitab Hian im huan goan keng tak berhasil diperoleh maka sebelum upacara dimulai besok, ditugaskan kepada Ban li tui hong Cu Ngo, pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk melakukan pembunuhan terhadap Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak serta Sim ji sinni.
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Sam ku sinni ditugaskan sebagai penyambut atau pembantu bilamana diperlukan, seandainya salah satu diantara Cu Ngo bertiga tak mampu melaksanakan tugas dengan lancar, mereka harus membantu dari samping hingga sasarannya tercapai.
Kemudian setelah mereka merundingkan kembali masalah masalah kecil yang dianggap perlu, barulah Ban li tui hong Cu Ngo mengajak si pencuri sakti Go Jit dan Siu Cu untuk bersama sama kembali ke istana Ban seng kiong.
Sebelum berangkat kembali Ban li tui hong Cu Ngo meninggalkan empat lembar topeng kulit manusia yang dibagikan kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni, pencuri sakti Go Jit serta Siu Cu empat orang.
"Omitohud...."
Bisik Sam ku sinni sambil menerima topeng itu "Cu sicu benar benar membawa persiapan yang lengkap, tidak sedikit topeng yang kau bawa rupanya."
Ban li tui hong Cu Ngo tertawa .
"Selama bertugas dalam istana Ban seng kiong, setiap saat setiap keadaan boanpwe perlu untuk menyaru muka dalam menghadapi setiap keadaan. oleh sebab itu Huan im sin ang Ui Sam ciat telah menyerahkan banyak sekali topeng kulit manusia kepadaku, sungguh tak disangka topeng topeng tersebut bermanfaat sekali untuk situasi seperti ini."
Memegang topeng kulit manusia tersebut.
Saat terbayang kembali bagaimana dia harus memakai topeng untuk membohongi orang, Sam ku sinni merasa murung, sedih bercampur kesal.....
Sementara itu, Thi Eng khi bersama Pek leng siancu sekalian telah tiba pula di istana Ban seng kiong sehari sebelum upacara dimulai, karena Hian im Tee kun mempunyai maksud dan tujuan lain terhadap mereka, maka ia tidak membawa mereka secara langsung ke dalam istana Ban seng kiong.
Untuk itu secara rahasia mereka ditempatkan disuatu tempat yang sepi dan terpencil dibawah bukit Wong soat hong yang jauh dari keramaian manusia.
Tatkala Ciu Tin tin bersama Pek leng siancu So Bwe leng membimbing Thi Eng khi nemasuki sebuah gua besar yang dijaga secara ketat, tampak dalam gua tersebut banyak disekap jago jago persilatan.
Tak salah lagi, meraka adalah kawanan jago persilatan yang dipermainkan oleh Cun Bwee di lembah Hu liong kok bukit Cian san tempo hari.
Rupanya dalam keadaan dahaga dan lapar yang luar biasa, mereka berhasil ditawan semua oleh jago jago lihay dari istana Ban seng kiong.
Oleh Hian im li Cun Bwee jalan darah mereka ditotok secara khusus hingga tenaga dalamnya tersumbat dan menjadi seekor domba yang menanti dijagal.
Disaat suasana tak puas meliputi seluruh gua tersebut, dari luar gua muncul Thi Eng khi, Ciu tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay.
Dibawah sorotan para jago, suasana dalam gua itu semakin gaduh dan kalut.
Pada mulanya ada yang menaruh salah paham dengan mengira Thi Eng khi menerima bujukan dari Keng thian giok cu Thi keng sehingga bergabung pula dengan pihak Ban seng kiong, dan sekarang mendapat tugas untuk membujuk mereka.
Maka suara desisan mengejek berkumandang dari seluruh gua tersebut.
Menghadapi suasana seperti ini, Thi Eng khi hanya tertawa hambar tanpa menggubris.
Sedangkan Ciu Tin tin menundukkan kepalanya dengan sedih.
Pek leng siancu So Bwe leng mendongkol sekali, dengan gemas diapun mendepak depakkan kakinya ke atas tanah.
Hanya Bu Nay nay seorang yang tak sanggup menahan amarahnya, dengan mata melotot segera bentaknya .
"Sungguh memalukan! Tahukah kalian demi seluruh dunia persilatan Thi sauhiap sudah banyak menderita dan tersiksa, tapi sekarang kalian menghadapinya dengan sikap demikian, hmmm! Sungguh memalukan! Sungguh memalukan! Benar benar memalukan sekali!"
Para jago persilatan itu menjadi tertegun oleh umpatan tersebut, dan suara desisan mengejek pun segera berhenti.
Pada saat itulah salah seorang iblis dari Ban seng kiong yang berada dalam gua segera mengejek .
"Thi ciangbunjin, orang baik tidak memperoleh pembalasan yang baik, mereka benar benar kawanan manusia yang lapuk, percuma saja sauhiap berkorban untuk mereka."
"Ini urusan kami sendiri, tak usah kau campuri!"
Umpat Bu Nay nay lagi sambil melotot gusar. Iblis tersebut angkat bahunya sambil tertawa seram.
"Aku mah cuma tidak puas menyaksikan ketidak tahuan aturan mereka masa aku salah berbicara?"
Segera diajaknya mereka menuju ke sebelah kanan, membuka pintu berterali besi dan membawa mereka ke dalam ruang batu di dalamnya, kemudian setelah mengunci kembali pintu tersebut, mereka berlalu.
Jilid 41 Dalam anggapan orang orang Ban seng kiong, tenaga dalam yang dimiliki kawanan jago persilatan itu sudah punah dan tidak berdaya lagi untuk melawan, untuk menghindari umpatan serta caci maki mereka, maka kawanan iblis itu bersama sama mundur dari gua dan hanya berjaga di mulut gua saja.
Dengan demikian mereka sama sekali tidak mau tahu terhadap kejadian yang berlangsung dalam gua tersebut.
Sepanjang jalan, Thi Eng khi sama sekali tidak memberitahukan kepada Ciu Tin tin ataupun So Bwe leng dan Bu Nay nay kalau ilmu silatnya sudah pulih kembali.
Tak heran kalau mereka merawat dan melayani kebutuhan Thi Eng khi dengan hangat dan penuh kasih sayang, justru karena itu pula kawanan iblis dari Ban seng kiong semakin percaya kalau Thi Eng khi benar benar sudah kehilangan kepandaian silatnya.
Itulah sebabnya mereka mengurungnya bersama sama kawanan jago persilatan lainnya, dengan demikian banyak membantu Thi Eng khi sehingga bisa bertindak lebih leluasa.
Setelah kawanan gembong iblis dari Ban seng kiong mengundurkan diri, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, mereka datang mendekati terali besi dan menjumpai ciangbunjinnya.
Thi Eng khi tidak leluasa untuk mengucapkan sesuatu terhadap mereka, maka setelah berbincang bincang sebentar, dengan alasan lelah karena menempuh perjalanan jauh, dia menitahkan kepada mereka agar mengundurkan diri.
Dengan kejadian ini maka ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang yang sebenarnya ingin datang menghibur, menjadi mengurungkan niatnya, mereka hanya menyapa dari kejauhan sebagai adat kesopanan saja.
Dengan disekapnya Thi Eng khi bersama para jago lainnya, tanpa diberi penjelasan lagi semua kesalah pahaman orang terhadap dirinya hilang lenyap dangan sendirinya.
Dalam gua tiada penerangan maka setelah larut malam, suasana ditempat itu menjadi gelap gulita.
Sebagaimana diketahui, jalan darah dari kawanan jago persilatan itu sudah tertotok, dengan demikian kepandaian mereka untuk melihat dalam kegelapan pun tak dapat digunakan, tak heran kalau mereka macam terkena buta ayam saja, tak dapat melihat siapa siapa.
Bahkan tidak terkecuali pula dengan Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng serta Bu Nay nay.
Satu satunya orang yang tidak mengalami keadaan tersebut hanyalah ketua Thian liong pay Thi Eng khi, meskipun dia terkena totokan pula oleh orang lain, tapi dengan kemampuan tenaga dalamnya yang sempurna, bila bukan Hian im Tee kun yang turun tangan sendiri, maka hakekatnya tiada orang yang mampu untuk menguasahi dirinya.
Dengan tenang dia memeriksa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, kemudian setelah manggut manggut katanya .
"Sekarang, aku tak dapat berpura pura terus."
Dia memandang sekejap ke arah Ciu Tin tin yang sedang tidur bersandar diatas dinding, timbul perasaan menyesal dalam hatinya, kemudian dengan ringan dia berkelebat ke depan, ternyata Ciu Tin tin tidak merasakan hal ini.
Thi Eng khi segera menutupi bibir Ciu Tin tin dengan tangannya, ketika gadis itu tersadar dan hendak berteriak, ia sudah tak mampu bersuara lagi, pada saat itulah dia mendengar suara bisikan Thi Eng khi yang dipancarkan dengan ilmu menyampaikan suara .
"Enci Tin, sesungguhnya ilmu silat yang siaute miliki sudah pulih kembali sejak semula, tapi oleh karena aku hendak menciptakan suatu kesempatan yang dapat membuat Hian im Tee kun gugup dan gelagapan maka termasuk enci sendiri pun kutipu sampai sekarang, harap kau sudi memaafkan."
Meskipun Ciu Tin tin tak dapat berbicara, setelah mendengar kabar gembira tersebut gemetar keras seluruh tubuhnya karena girang, dia segera menggenggam lengan Thi Eng khi kencang kencang.
Sementara air matanya bagaikan hujan gerimis jatuh bercucuran tiada hentinya.
Harapannya muncul kembali, semua kesedihan dan kepedihan yang mencekam perasaannya selama inipun hilang lenyap tak berbekas.
Thi Eng khi menunggu sampai gejolak perasaan dari Ciu Tin tin menjadi tenang kembali, kemudian dia baru berkata lebih lanjut .
"Enci Tin, harap kau jangan berbicara dulu, siaute hendak membebaskan jalan darahmu dan memulihkan kembali tenaga dalammu....."
Sembari berkata, dia menarik kembali tangannya yang dipakai untuk menutupi mulut Ciu Tin tin itu.
Berhubung Ciu Tin tin tidak mengetahui sampai dimanakah kemajuan yang dicapai Thi Eng khi dalam kepandaian silatnya, tanpa terasa satu ingatan melintas dalam benaknya .
"Adik Eng, mampukah kau?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, angin jari yang dipancarkan Thi Eng khi sudah menotok tujuh buah jalan darah kematiannya secara beruntun menyusul kemudian pemuda itu menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiatnya.
Segulung hawa murni yang segar dan hangat dengan cepat menembusi badannya.
Ciu Tin tin merasakan bagian jalan darahnya yang tertotok itu menimbulkan suara nyaring, seakan akan batu yang menyumbat jalan darahnya itu sedang dicukil orang, menyusul kemudian peredaran hawa murninya menjadi segar dan lancar kembali, hawa murninya mengumpul dan mengikuti petunjuk dari Thi Eng khi berputar tiada hentinya secara teratur.
Setelah mengatur napas tiga kali, tenaga dalam yang dimiliki Ciu Tin tin telah pulih kembali seperti sedia kala.
Sekarang dia sudah dapat mengajak Thi Eng khi untuk berbicara dengan ilmu menyampaikan suara.
Pertama tama dia tertawa dulu, kemudian baru serunya .
"Adik Eng, enci memang sangat bodoh padahal ketika kau membantu Bu Im cianpwe untuk menembusi urat nadi Jin dan tok mehnya, aku sudah seharusnya dapat menduga kalau tenaga dalammu sudah pulih kembali seperti sedia kala."
Thi Eng khi tersenyum.
"Oleh sebab enci terlalu memperhatikan dan percaya kepada siaute maka kau tidak membiarkan kecurigaanmu itu berkembang menjadi besar, siaute sangat berterima kasih kepadamu, hanya gara gara kejadian ini maka enci Tin lah yang susah!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh .
"Namun bila kau benar benar tak tahu kalau siaute berhasil mendapatkan kembali kepandaianku, sudah pasti dalam sikap maupun gerak gerikmu tadi mudah untuk mengendalikan diri secara wajar, siapa tahu gara gara hal itu usahaku akan menjadi sia sia dan berantakan tak karuan."
Ciu Tin tin tersenyum.
"Kau memang selalu punya alasan..."
Kemudian setelah berhenti sejenak sambil cemberut, katanya lagi kepada Thi Eng khi .
"Tentunya kau tak akan membiarkan adik Leng menderita terus bukan....."
Semu merah selembar wajah Thi Eng khi oleh perkataan tersebut, ia segera berkata .
"Tentang Bu Nay nay, terpaksa aku mesti merepotkan diri enci..."
"Aku belum pernah mempelajari ilmu membebaskan jalan darah...!"
Thi Eng khi segera menerangkan kepada Ciu Tin tin bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan, kemudian dia baru membantu Pek leng siancu So Bwe leng untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan.
Tak terlukiskan rasa gembira Pek leng siancu So Bwe leng setelah mendengar kenyataan tersebut, dengan ilmu menyampaikan suaranya dia lantas mengomeli si anak muda itu panjang lebar.
Thi Eng khi harus membujuk Pek leng siancu So Bwe leng sampai setengah harian lamanya sebelum dapat membuatnya menjadi tenang kembali.
Kemudian Thi Eng khi menyuruh mereka tetap tinggal dalam ruangan batu untuk menanti, sedang dia sendiri mendekati pintu berterali besi, mengerahkan hawa murninya dan mengorek gembokan diatas pintu baja tadi.
Bagaikan sedang bermain sulap saja tanpa menimbulkan cedera atau pun suara, kunci itu berhasil dibongkar.
Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi sekarang, sekalipun jago jago silat yang berada dalam gua itu belum kehilangan tenaga dalamnya pun, jangan harap mereka berhasil mengetahui gerak geriknya.
Sekarang, tentu saja dia semakin dapat bergerak leluasa diantara orang orang tersebut.
Mendadak dia mempercepat gerakan tubuhnya, sepasang tangannya digerakkan ke kanan ke kiri, dalam waktu singkat dari dua puluh sembilan jago lihay yang berada dalam gua, sudah ada dua puluh delapan orang diantaranya yang tertotok jalan darah tidurnya.
Sekarang yang masih tetap sadar hanya ketua Bu tong pay, Keng hian totiang seorang.
Thi Eng khi segera menghentikan gerakan tubuhnya persis di hadapan ketua Bu tong pay Keng hian totiang, setelah itu bisiknya lirih .
"Totiang! Totiang! Eng khi berada di sini!"
Seperti diketahui, ketua Bu tong pay Keng hian totiang sudah kehilangan daya penglihatannya dalam kegelapan semenjak tenaga dalamnya dipunahkan, ketika mendengar bisikan Thi Eng khi secara tiba tiba, ia nampak terkejut sekali dan segera membuka matanya lebar lebar.
Tapi berhubung gua itu sangat gelap maka sulit baginya untuk melihat wajah Thi Eng khi.
Setelah menghela napas panjang, dia pun bergumam.
"Mungkinkah pinto sedang bermimpi?"
Thi Eng khi terharu sekali menyaksikan seorang ciangbunjin dari suatu partai besar harus mengalami nasib yang begini tragis, agak emosi dia berkata .
"Baik baikkah ciangbunjin selama ini? Thi Eng khi berdiri dihadapanmu!"
Sembari berkata dia memegang bahu Keng hian totiang. Gemetar keras sekujur badan Keng hian totiang menghadapi kejadian ini, dia segera membentak lirih .
"Kau betul betul adalah Thi ciangbunjin?"
Oleh karena dia tidak mempersiapkan batinnya secara baik, walaupun mendengar suara dari Thi Eng khi, namun dia masih tidak percaya kalau orang yang sedang berdiri di hadapannya adalah Thi Eng khi yang asli.
"Aku benar benar adalah Thi Eng khi!"
Kembali pemuda itu berkata sambil menghela napas.
Keng hian totang segera mengangkat tangannya bersama sama memegang lengan Thi Eng khi yang sedang memegang bahunya itu, sementara rasa haru membuatnya menjadi gemetar .
"Sungguh tak nyana kita menjadi tawanan semua pada hari ini, Thi ciangbunjin. Baik baikkah kau selama ini? Bukankah kepandaian silatmu .... aaaai! Setelah terjatuh ke tangan orang orang Ban seng kiong, tentu saja kaupun kehilangan semua tenaga dalammu, pinto.... pertanyaan pinto betul betul terlalu bodoh."
"Terima kasih banyak atas perhatian totiang, tenaga dalamku telah pulih kembali seperti sedia kala!"
Bisik Thi Eng khi dengan suara lirih. Keng Hian totiang yang mendengar ucapan tersebut menjadi tak terlukiskan girangnya dia sampai berseru tertahan .
"Kau..."
Dengan cepat Thi Eng khi menutup mulut Keng hian totiang dengan tangannya, kemudian menjawab .
"Harap totiang jangan berisik,jangan sampai mengecutkan orang orang Ban seng kiong."
Kemudian selesai berpesan dia menarik kembali tangannya.
Keng hian totiang benar benar diliputi oleh emosi, apalagi setelah tahu kalau ilmu silat Thi Eng khi masih utuh, sambil melompat bangun dan mencengkeram bahu si anak muda itu, serunya dengan gembira .
"Terima kasih langit! Terima kasih bumi, akhirnya kami tertolong juga......."
Tapi setelah berhenti sebentar, tiba tiba dia menghela napas sedih seraya berkata .
"Sayang sekali kami semua telah tertotok jalan darah Hian ki dan Khi bun hiat oleh Hian im li Cun Bwee dengan ilmu Kok kiong ting meh jiu hoat (ilmu melewati nadi memantek urat) sehingga kepandaian silat kami punah, kami tak dapat membantu ciangbunjin lagi..."
Urat nadi Keng hian totiang sudah cukup lama tertotok, ditambah pula dia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, kesemuanya ini membuat badannya menjadi lemah.
Setelah berbicara dengan terburu napsu, napasnya mulai tersengkal sengkal macam orang yang kehabisan tenaga.
Lama sekali dia harus berhenti untuk mengatur napas kemudian ujarnya kembali .
"Thi ciangbunjin, walaupun tenaga dalammu sangat hebat, namun satu tangan sukar menghadapi tiga lengan, menurut pendapat pinto, lebih baik kau menyelamatkan diri lebih dahulu, terjanglah keluar dari sini, kemudian kumpulkanlah segenap orang gagah dari berbagai perguruan untuk membalaskan dendam bagi kami!"
"Totiang, harap kau jangan berbicara lagi,"
Seru Thi Eng khi dengan suara dalam.
"Sekarang aku hendak memulihkan dahulu tenaga dalammu sebelum kita berbincang lebih jauh!"
"Hian im kok kiong ting meh jiu hoat merupakan ilmu yang beracun yang tiada taranya didunia ini,"
Kata Keng hian totiang tidak percaya.
"konon ilmu ini tak bisa dibebaskan siapapun, Thi ciangbunjin..."
"Aku tak berani rnengatakan pasti bisa, tapi aku bersedia membantu totiang,"
Tukas Thi Eng khi tersenyum.
"Terima kasih banyak Thi ciangbunjin!"
Dia lantas duduk bersila, merapatkan sepasang matanya dan siap menunggu Thi Eng khi turun tangan.
Berbicara soal ilmu Hian im kok kiong ting meh jiu hoat dan Hek sin thian kang ci, bila kedua ilmu tersebut dibandingkan maka yang muka jauh lebih lihay.
Hian im kok kiong ting meh jiu hoat tersebut selain ganas lagipula beracun sekalipun ada jago lihay dapat memunahkan ilmu ting meh jiu hoat tersebut, tidak gampang untuk menghapuskan hawa dingin yang sudah terlanjur merasuk ke dalam badan.
Bukan begitu saja, selain tak dapat memulihkan kembali hawa murninya, bisa jadi malah akan membuatnya cacad seumur hidup ....
Seandainya Thi Eng khi tidak memperoleh penemuan aneh sekali lagi, mungkin dia sendiripun tidak mampu untuk memberikan pertolongan, tapi sekarang sekalipun ilmu Hian im kok kiong ting meh jiu hoat lebih ganas dan beracun pun, hal mana tak akan sampai menyulitkan dirinya.
Tampak dia mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari tengah dan telunjuknya dengan senyuman dikulum, kemudian setelah berputar mengitari Keng hian totiang sebanyak tiga kali, dia menotok sebuah jalan darah Keng hian totiang, ketika berputar dua puluh tujuh lingkaran, Thi Eng khi sudah habis menotok jalan darah Pek hwee hiat, Pi liang hiat, Jin tiong hiat, Jit kan hiat, In thian hiat, Tui ko hiat, Pay sim hiat dan Wi ciau hiat, sembilan buah jalan darah penting.
Selesai menotok ke sembilan buah jalan darah tersebut, dengan tenaga dalam yang begitu sempurna dari Thi Eng khi pun tak urung berubah juga paras mukanya menjadi semu merah.
Ia menarik napas panjang lalu duduk bersila dibelakang tubuh Keng hian totiang, telapak tangannya segera ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng hian totiang.
"Sekarang aku hendak mempergunakan ilmu Tun yang cing kik untuk membantu totiang dalam usaha mengusir keluar sisa racun hian im tok dari tubuhmu!"
Seusai berkata, segulung hawa murni yang amat panas segera menyusup masuk ke dalam tubuh Keng hian totiang.
Tenaga dalam yang dimiliki Keng hian totiang memang sangat sempurna, di bawah petunjuk dari Thi Eng khi, tidak sampai setengah perminum teh kemudian seluruh sisa racun hian im tok yang bersarang dalam tubuhnya sudah dapat diusir keluar semua.
Kedua orang itu serentak menarik kembali tenaganya bersama sama sambil melompat bangun, kemudian sembari menggenggam tangan Keng hian totiang berdiri dengan sepasang mata berkaca kaca, dia benar benar terharu sekali.
"Sangat beruntung aku dapat mewujudkan keinginan totiang tanpa melesat,"
Kata Thi Eng khi kemudian sambil tertawa.
"sekarang aku harus membantu Ci long siansu ketua Siau lim pay..."
Kali ini Thi Eng khi membebaskan dahulu totokan dari ketua Siau lim pay Ci long siansu sebelum membebaskan totokan pada jalan darah tidurnya.
Begitu tersadar dari tidurnya, ketua Siau lim pay Ci long taysu menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia berdiri di hadapannya, karena kaget hampir saja dia bersuara.
Tapi ketua Bu tong pay, Keng hian totiang segera mencegahnya dengan berbisik .
"Siansu, jangan berisik dulu, aku adalah Keng hian dan Thi ciangbunjin!"
"Thi ciangbunjin....,"
Bisik ketua Siau lim pay Ci long siansu gugup.
"bukankah dia disekap di ruangan yang lain?"
"Aku telah melakukan kesalahan besar sehingga membuat siansu banyak menderita, oleh sebab itu kami sengaja datang kemari untuk minta maaf!"
Sela Thi Eng khi cepat.
"Oooooh...."
Belum sempat ketua Siau lim pay Ci long siansu berkata lebih jauh, ketua Bu tong pay Keng hian totiang sudah menyela kembali .
"Siansu tak perlu banyak curiga, sekarang Thi ciangbunjin telah membantu siansu untuk terlepas dari pengaruh totokan, asalkan sari racun Hian im tok yang bersarang dalam tubuhmu sudah terusir keluar, niscaya tenaga dalammu akan pulih kembali seperti sedia kala."
"Harap siansu mengerahkan hawa murnimu, aku akan membantu siansu dari belakang,"
Kata Thi Eng khi cepat.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, dia lantas menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat di punggung Ci long siansu.
Ketika tenaga dalam yang dimiliki ketua Siau lim pay Ci long siansu dapat dipulihkan kembali, Thi Eng khi merasakan wajahnya menjadi panas, jelas perbuatan ini banyak mengorbankan tenaga dalamnya.
Hanya saja keadaan tersebut sama sekali tidak diketahui oleh ketua Bu tong pay Keng hian totiang maupun ketua Siau lim pay Ci long siansu.
Selanjutnya Thi Eng khi turun tangan pula memulihkan tenaga dalam dari Manusia aneh bermata sakti Ku Kiam ciu dari bukit Tay pek san, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, si unta sakti Lok It hong, Tiang cun siusu Li Goan, ketua Kay pay si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, Hui cun siucay Seng Tiok sian, Giok koay popo Lo ko ci, Soh sim tocu si Bidadari penyebar bunga Leng Cay soat, Ci tiok an cu Beng seng suthay, ketua Hoa san pay si sastrawan berbaju putih Cu Wan mo sekalian sepuluh orang.
Setelah menyembuhkan kesepuluh orang ini, Thi Eng khi benar benar merasakan kepalanya pening dan matanya berkunang kunang, dia merasa hawa murninya tak mampu dikerahkan lagi.
Terpaksa dia harus mengatur napas dan bersemedi beberapa saat lamanya sebelum dapat meneruskan pekerjaannya menolong Phu thian toa tiau Kay Poan thian.
Saat itu yang mengikuti di belakang Thi Eng khi hanya ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po dan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berempat.
Lainnya atas nasehat dari Thi Eng khi telah mengatur napas dan bersemedi sebagai persiapan menghadapi pertarungan besok pagi .....
Ketua Siau lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sekalian bertiga memang menaruh kesan baik terhadap Thi Eng khi, mereka bersikeras hendak mendampingi pemuda tersebut kemana pun dia hendak pergi.
Dulu Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong pernah menaruh banyak prasangka terhadap Thi Eng khi, prasangka semacam ini membuat dia menaruh perasaan yang sinis terhadap pemuda ini.
Atau dengan perkataan lain, entah berapa pun besarnya pengorbanan Thi Eng khi terhadap umat persilatan, dalam pandangan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, dia tetap menganggap Thi Eng khi tidak melakukan apapun.
Tapi sejak dia dipulihkan kembali tenaga dalamnya oleh Thi Eng khi, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong seolah olah baru merasa matanya menjadi melek, dia benar benar memahami kebesaran jiwa serta ketulusan hati pemuda ini.
Terbentuk dari dasar liangsimnya, waktu itu dia tidak mengutarakan rasa terima kasihnya, melainkan berkata begini .
"Thi ciangbunjin, dengan sikapku di masa lampau terhadapmu, banyak berbicara pun sama sekali tak ada gunanya, yang jelas setelah hari ini dalam hati kecilku hanya ada kau seorang."
Maka dia pun bersikeras mengikuti Thi Eng khi kemanapun anak muda tersebut pergi, bagaimana Thi Eng khi membujuk dan menasehatinya, dia tetap menguntil dibelakang anak muda itu.
Akhirnya atas pertolongan Thi Eng khi dengan sepenuh tenaga, Phu thian toa tiau Kay Poan thian pun berhasill memperoleh kembali tenaga dalamnya.
Baru sekarang Thi Eng khi menunjukkan tanda tanda kelelahan, dan gejala itupun tak pernah dapat mengelabuhi orang orang yang mengikutinya.
Sebenarnya Cang ciong sin kian Sangkoan Yong merupakan musuh bebuyutan dari Thi Eng khi, tapi sejak dia takluk kepada pemuda tersebut, penampilannya kelihatan luar biasa besarnya.
Dengan semangat yang menyala nyala tiba tiba dia berseru .
"Bagaimana kalau sisanya yang lain serahkan saja kepada lohu sekalian untuk menolong?"
"Saudara Thi."
Ucap si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po pula.
"cepat beritahu kepada kami bagaimana caranya membebaskan pengarih totokan tersebut!"
Thi Eng khi merasa serba salah, dia tak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan dari kedua orang itu, sebab tenaga dalam yang dimiliki Hian im li Cun Bwee jauh lebih lihay daripada mereka, sekalipun mereka mengetahui cara membebaskan jalan darah tersebut, belum tentu sanggup untuk membebaskan pengaruh totokan dari Hian im li Cun Bwee.
Thi Eng khi termenung sebentar, lalu ujarnya .
"Boleh saja siaute utarakan bagaimana caranya membebaskan pengaruh totokan tersebut, Cuma ..... Cuma ..... tak usah merepotkan kalian semua."
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong maupun pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po sama sama tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, katanya kemudian hampir berbareng .
"Apakah kau hendak memeras tenaga sampai mampus?"
Thi Eng khi sungkan untuk menyatakan bahwa tenaga dalam yang mereka miliki belum memadai sehingga tak mampu banyak membantu, tapi diapun tak dapat menemukan cara yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya, dengan wajah murung dia menjadi kelabakan sendiri.
Pada saat itulah mendadak dari belakang tubuhnya bergema suara dari Ciu Tin tin .
"Adik Eng, menurut kau apakah tenaga dalamku cukup untuk membebaskan jalan darah mereka?"
Rupanya Ciu Tin tin yang menyaksikan Thi Eng khi yang pergi sudah begitu lama belum juga kembali, meski dia tahu pemuda itu sedang membantu rekan rekan yang lain memulihkan kembali tenaganya, toh gadis itu merasa kuatir.
Sampai Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po mengucapkan kata "kau hendak memeras tenaga sampai mampus", dia baru menyadari bahwasannya Thi Eng khi tentu sudah banyak mengorbankan tenaga dalamnya.
Dalam kuatirnya, ia tak bisa menahan diri lagi dan segera berjalan keluar dari ruang batu.
Dengan diutarakannya kata kata tersebut, Thi Eng khi semakin rikuh lagi untuk berbicara.
Sekarang Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong dan pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po baru mengerti kalau tenaga dalam yang mereka miliki belum memadai untuk membantu, maka kedua orang itu pun tidak berbicara lagi.
Thi Eng khi memperkenalkan Ciu Tin tin kepada semua orang, kemudian sambil manggut manggut dia berkata ;
"Enci Tin, besok kaulah yang merupakan kekuatan utama dalam menghadapi Hian im Tee kun, hari ini kau tak perlu mengorbankan tenaga dengan percuma."
Dengan perkataan dari Thi Eng khi ini, berarti nilai dari Ciu Tin tin pun meningkat beberapa kali lipat, sebab dengan kemampuannya menghadapi Hian im Tee kun, mau tak mau ketua Siau lim pay sekalipun memandang lain kearahnya.
Dipandang seperti ini oleh semua jago, Ciu Tin tin menjadi rikuh sendiri, katanya kemudian sambil tertawa ;
"Adik Eng, bagaimana dengan kau? Kau ingin mungkir? Aku bukan tandingan dari Hian im Tee kun!"
"Sekarang siaute sudah banyak membuang tenaga dalamku, kekuatan yang tersisa sudah tidak cukup untuk menghadapi Hian im Tee kun lagi. Enci Tin, sekalipun dewasa ini kau belum mampu mengungguli Hian im Tee kun, namun sudah cukup untuk bertarung ratusan gebrakan melawannya, bila ditambah dengan yaya sekalian, sudah pasti kemenangan berada di pihak kita."
Setelah Thi Eng khi mengungkapnya soal Keng thian giok cu Thi Keng sekalian dengan nada begini, bukan cuma ketua Siau lim pay sekalian dibikin melongo, bahkan Ciu Tin tin sendiripun ikut tertegun dibuatnya.
Tanpa terasa pembicaraan merekapun beralih keatas masalah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian.
Kini Thi Eng khi sudah merasa kalau saat untuk menentukan siapa menang siapa kalah sudah tiba, sedang waktu yang dinantikanpun sudah matang, dia tak ragu lagi untuk mengungkapkan keadaan yang sesungguhnya, bahkan dengan nada membangkitkan semangat semua orang, dia menerangkan bagaimana Keng thian giok cu Thi Keng berempat membenamkan diri dalam lumpur dengan tujuan hendak menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran.
Keterangan ini bukan saja mengharukan semua jago termasuk Ci long siansu sekalian yang berada di sekitar itu, bahkan mereka lebih menaruh hormat lagi kepada Keng thian giok cu Thi Keng sekalian.
Bukan begitu saja, malah kawanan jago lihay yang baru saja pulih kembali tenaganya berkat pertolongan dari Thi Eng khi pun tanpa terasa menghentikan semedi masing masing untuk datang mengucapkan beberapa kata kagum sebelum balik dan melanjutkan kembali semedinya.
Sampai disini, pembicaraanpun beralih kembali pada usul Ciu Tin tin untuk membantu para jago lainnya memulihkan kembali kekuatan yang dimiliki.
Ciu Tin tin nampak agak keras kepala, dengan cepat dia berkata lagi .
"Untuk menghadapi Hian im Tee kun, aku rasa hal ini merupakan tugasmu, pokoknya aku hendak membantumu untuk memulihkan kembali kekuatan mereka."
Ucapan ini hanya dapat mewakili perasaan sayang dan kuatir gadis ini terhadap kekasihnya, tidak diikuti maksud maksud lainnya.....
Thi Eng khi tidak tega untuk menampik maksud baik gadis itu, dia lantas memutar otak, kemudian sambil tertawa ujarnya kemudian kepada pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po .
"Engkoh tua, masih ada berapa orang lagi yang belum dapat memulihkan kekuatannya?"
Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po menghitung sebentar, kemudian menyahut "Kami semua berjumlah dua puluh sembilan orang, yang berhasil memperoleh kembali kekuatan baru tiga belas orang, berarti masih ada enam belas orang yang belum pulih."
Thi Eng khi lantas bergumam .
"Kecuali Wong tianglo dan Lim tianglo dari partai kami, masih ada empat belas orang yang perlu memperoleh kembali tenaga dalamnya ..."
Dia sudah menyatakan kalau kekuatan yang dimilikinya amat terbatas sehingga untuk sementara waktu terpaksa harus mengesampingkan dahulu orang sendiri.
Mendengar ucapan mana, tanpa terasa ketua Siau lim pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang saling berpandangan sekejap.
Kemudian Ketua Bu tong pay Keng hian totiang berkata .
"Dua orang sute kami Keng it dan Keng ning tak perlu Thi ciangbunjin pikirkan di dalam hati!"
Menyusul kemudian ketua Siau lim pay Ci long siansu berkata pula .
"Ci kay dan Ci liong sute dari partai kami pun tak usah Thi ciangbunjin risaukan."
Thi Eng khi cukup memahami keterbatasan kekuatan yang dimilikinya maka dia pun tidak sungkan sungkan lagi, kepada kedua orang ciangbunjin tersebut katanya dengan nada menyesal .
"Ciangbunjin berdua harap maklum dan untuk kesediaan ini kuucapkan banyak terima kasih."
Lalu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata lagi kepada Ciu Tin tin.
"Sekarang tinggal sepuluh orang, dengan tenaga dalam yang dimiliki enci paling banter hanya bisa membantu lima orang, bagaimana dengan lima orang lainnya?"
Dari ruang dalam secara beruntun muncul Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe leng, dengan cepat dia menyela .
"Bagaimana kalau sisanya kami yang kerjakan?"
"Waaah, kalau sampai begitu maka kita tak punya panglima perang lagi,"
Seru Thi Eng khi sambil berkerut kening.
Walaupun ucapan tersebut kelewat berat untuk didengar, namun memang merupakan suatu kenyataan, bila tiada Thi Eng khi, Ciu Tin tin, Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe leng sekalian, mungkin dari perguruan besar lainnya tak akan mampu untuk menandingi Hian im ji li sekalipun.
Oleh karena semua orang menyadari hal ini, maka tak seorang pun yang memberi komentar.
Setelah menghela napas panjang, Ciu Tin tin berkata .
"Apakah kau masih mempunyai kekuatan untuk memulihkan kembali kekuatan dari kesepuluh orang tersebut?"
"Harap kalian semua sudi membantu kekuatan kepadaku, dengan begitu rasanya masih dapat memulihkan kembali kekuatan dari kesepuluh orang tersebut. Kini waktunya sudah tidak banyak lagi, selesai memulihkan tenaga dalam kesepuluh orang itu, siaute perlu bersemedi kembali, dengan begitu aku baru memiliki kemampuan untuk menghadapi pertarungan esok pagi."
Selesai berkata dia berjalan menuju kehadapan Im tiong hok Teng Siang dan mengerahkan tenaga untuk membebaskan jalan darahnya, tatkala telapak tangannya menempel diatas jalan darah Pay sim hiat di tubuh Im tiong hok Teng Siang, Pek leng siancu So Bwe leng segera menyelinap datang dan menempelkan telapak tangannya ke atas jalan darah Pay sim hiat di punggung Thi Eng khi ....
Sambil tertawa Thi Eng khi berpaling dan berkata .
"Adik Leng, kau bersama enci Tin dan Bu Nay nay tetap berada di belakang saja untuk membantuku!"
Pek leng siancu So Bwe leng memahami apa yang dimaksudkan Thi Eng khi, dia menghendaki orang yang bertenaga dalam paling sempurna berada di barisan terbelakang untuk membantunya, dan sekarang masih belum membutuhkan bantuan mereka.
Sambil tertawa mereka lantas mundur dari situ.
Sudah barang tentu para jago lainnya dapat memahami maksud hati dari Thi Eng khi tersebut.
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera menggantikan kedudukan dari Pek leng siancu So Bwe leng, telapak tangannya dengan cepat ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat pada punggung Thi Eng khi, serunya .
"Biar lohu maju duluan!"
Demikianlah dengan mempergunakan kemampuan yang terbesar, pengorbanan yang paling besar, bahkan berada dalam keadaan hampir saja menghancurkan diri sendiri, Thi Eng khi membantu sepuluh orang yang terakhir untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya...
Tapi setelah pekerjaan berat itu, Thi Eng khi sudah kehabisan tenaga sehingga wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, suara untuk berbicara pun lemah sekali.
Oleh Ciu Tin tin dan So Bwe leng, dia segara dibimbing kembali ke kamar untuk beristirahat, selain itu, pintu terali besi dikunci kembali seperti sedia kala.
Atas peristiwa tersebut, semua jago pun benar benar merasa terharu sekali atas pengorbanan dari Thi Eng khi, mereka semakin menaruh hormat terhadap jago muda tersebut.
Seandainya pada saat ini ada orang mengucapkan kata yang tak menguntungkan bagi Thi Eng khi, mungkin segera akan muncul manusia yang beradu jiwa dengannya.
Lambat laun, suasana dalam gua pun pulih kembali dalam keheningan.
Semua orang sama sama beristirahat sambil mengatur napas guna menyongsong datangnya pertarungan yang akan berlangsung besok...
Keesokan harinya, pagi sekali, suara gemuruh yang keras membangunkan semua orang dari tidurnya.
Ternyata pintu besar di mulut gua sudah dibuka orang, serentetan cahaya matahari pagi mencorong masak ke dalam gua dan menerangi seluruh ruangan tersebut.
Menyongsong datangnya cahaya matahari nampak Hian im ji li munculkan diri dengan senyuman dikulum.
Mereka muncul dengan langkah yang santai dan membawa suasana yang ramah, begitu masuk ke dalam gua, sambil tertawa merdu serunya lantang .
"Engkoh tua dan enci sekalian, siaumoay berdua datang menjenguk kalian!"
"Hmmmm! Hmmm! Hmmm....."
Dengusan dingin bergema tiada hentinya dari hidung para jago sebagai pertanda rasa muak dan benci mereka yang meluap luap.
Hari ini Hian im ji li menunjukkan watak yang jauh lebih baik, bukan saja berlagak tidak mendengar, bahkan senyuman mereka jauh lebih lembut dan hangat.
"Engkoh tua dan enci tua sekalian,"
Demikian gadis itu berkata.
"benarkah kalian tidak dapat memaafkan siaumoay sekalian?"
Dua orang nona dengan perawakan tubuh yang indah itu segera berdiri tegak di tengah ruang gua.
Setelah memandang sekeliling tempat itu dengan sorot mata yang jeli, Cun Bwee segera berkerut kening sambil tertawa dingin.
Suara tertawa dinginnya ini dengan cepat menimbulkan perasaan benci dan kesan buruk dalam hati semua orang, bahkan ada diantara mereka segera berpikir .
"Hmm, jika kau berani berlagak sok lagi, hari ini pasti akan kujagal kau sampai hancur berkeping keeping."
Ternyata Cun Bwee tertawa dingin bukan terhadap mereka, melainkan terhadap rekannya Ciu Lan. Terdengar dia sedang menegur dengan wajah keren .
"Ji moay, beginikah cara kita orang orang Ban seng kiong dalam melayani tamu?"
"Yaa, betul, aku memang benar benar bodoh sehingga membuat malu kita orang orang Ban seng kiong saja, biar siaumoay bertanya siapa yang bertugas disini, nanti orang itu harus dijatuhi hukuman yang setimpal."
Sembari berpaling ke luar, segera teriaknya keras keras .
"Mana petugas disini?"
Suara mengiakan bergema menyusul munculnya seorang lelaki berpakaian ringkas berwarna hitam, sambil membungkukkan badan memberi hormat orang itu berkata .
"Hamba Hek bin bu pah (raja bengis berwajah hitam) To Thi gou siap menerima perintah dari Seng li!"
"Kaukah yang bertugas melayani kebutuhan dari para tamu agung ini?"
Tegur Ciu Lan dengan kening berkerut.
Raja bengis berwajah hitam To Thi gou adalah manusia yang termashur namanya di dalam dunia persilatan belakangan ini, dia berdarah panas dan kasar.
Tapi sekarang, dihadapan Ciu Lan boleh dibilang mati kutunya, bernapas keras keras pun tak berani.
"Hamba tidak tahu perbuatan salah apakah yang telah dilakukan, mengapa Seng li marah marah besar?"
Katanya sambil merendahkan suaranya. Ciu Lan tertawa dingin.
"Heehhhh..... heeehhhh.... heeehhh... percuma manusia macam kau dijadikan petugas menerima tamu, mengapa tidak memakai otak untuk berpikir, tempat sekotor ini mana boleh dipakai untuk menyambut tamu agung kita? Kau tahu mereka adalah para ciangbunjin dan jago kenamaan dalam dunia persilatan dewasa ini. Hmmm, perbuatan mu sungguh membuat kami orang orang Ban seng kiong kehilangan muka!"
Sebagai orang kasar tentu saja Raja bengis berwajah hitam To Thi gou tak dapat berpikir dengan menggunakan akalnya, ketika mendengar teguran tersebut dia nampak tertegun, kemudian serunya agak tergagap .
"Soal ini... tentang soal ini..."
"Apa ini itu?"
Bentak Ciu Lan semakin gusar.
"kau sudah berani menyiksa tamu agung kami, apakah kau belum sadar kalau salah?"
Sudah barang tentu Raja bengis berwajah hitam To Thi gou tak dapat menebak maksud hati dari Hian im ji li.
Oleh karena dia merasa memperoleh perintah untuk bertugas demikian, kontan saja amarahnya meledak.
Dengan mata melotot besar dan muka merah membara, teriaknya keras keras .
"Hamba tidak bersalah!"
Ji li Ciu Lan semakin marah, kembali dia membentak .
"Manusia bedebah yang bernyali besar berani amat bersikap kurang ajar kepadaku? Hmmm, apabila aku tidak menjatuhi hukuman yang setimpal kepadamu, orang pasti akan memandang rendah Ban seng kiong!"
Sembari berkata lantas membalikkan jari tangannya dan langsung menyodok ke bawah ketiak si Raja bengis berwajah hitam To Thi gou.
Pada dasarnya si Raja bengis berwajah hitam To Thi gou adalah seorang lelaki yang berdarah panas, tapi karena salah langkah dia berhasil ditarik Huan im sin ang Ui Sam ciat untuk bergabung dengan Ban seng kiong, atas hal mana dia sudah lama merasa menyesal.
Sekarang Hian im ji li ada maksud untuk mengorbankan dirinya, serangan yang dilancarkan pun keji dan tidak kenal ampun.
Dalam keadaan yang tak siap dan sama sekali tak menduga, bagaimana mungkin Raja bengis berwajah hitam To Thi gou dapat menghindarkan diri dari desakan jari tangan Ciu Lan.
Tak ampun lagi dia telah terhajar telak dadanya dan tewas seketika itu juga.
Selesai menghabisi nyawa Raja bengis berwajah hitam To Thi gou, Ciu Lan tertawa cerah, setelah memberi hormat kepada para jago katanya .
"Menyesal sekali orang kami tak becus sehingga membuat kalian harus tersiksa semalaman suntuk, atas kesalahan mana siaumoay telah menghukum mati orang kami, harap kalian sudi memakluminya."
Membunuh orang dalam suasana begini sebagai jago kawanan yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan tentu saja para jago dapat menebak maksud dan tujuannya.
Maka ada diantara mereka yang tidak bisa menahan amarahnya lagi, beberapa orang diantaranya segera tertawa dingin.
Dengan kening berkerut, Hiam im li Ciu Lan berlagak seakan akan tidak mendengar, tiba tiba teriaknya kearah luar gua itu .
"Bawa masuk hadiah yang telah dipersiapkan!"
Seseorang mengiakan dari luar gua dan menggotong masuk sejumlah barang kemudian meletakkan sebuah bungkusan dihadapan setiap orang.
Empat bungkus yang terakhir dibawa oleh seseorang langsung menuju ke ruang batu berterali besi yang dihuni Thi Eng khi sekalian.
Hian im ji li berlagak seakan akan tidak mengetahui apa yang terjadi, mereka berjalan menuju ke pintu terali besi dan melongok ke dalam, kemudian sambil menjerit kaget mereka membukakan pintu dan minta maaf tiada hentinya kepada Thi Eng khi bahkan menyerahkan sendiri keempat buntalan tersebut kehadapan mereka.
Dengan suara dingin Pek leng siancu So Bwe leng segera menegur .
"Ciu Lan kau masih kenal dengan nonamu?"
Tanpa terasa Ciu Lan tertawa rikuh, kemudian sahutnya .
"Enci harap kau sudi memaafkan adikmu, dalam kejadian yang sudah lewat memang akulah yang bersalah, sekarang kita sudah sekeluarga, sekalipun harus melayani kau sepanjang hiduppun adik rela."
Melihat ketidak tahuan malu orang itu, Pek leng siancu So Bwe leng menjadi kehilangan napsunya untuk bersilat lidah dengannya, sambil melengos dia berseru .
"Huuuh, siapa yang kesudian satu keluarga denganmu? Hmmmm....!"
Hian im li Ciu Lan sama sekali tidak acuh terhadap ejekan orang bahkan marah pun tidak. Hian im li Cun Bwee segera bertepuk tangan dua kali, kemudian serunya .
"Apakah setiap orang memperoleh satu bungkusan?"
"Memangnya matamu robek tidak bisa melihat sendiri?"
Umpat seseorang. Kemudian suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya dari sana sini. Hian im li Cun Bwee sedikit pun tidak mempersoalkan masalah tersebut, kembali ujarnya sambil tertawa .
"Tampaknya engkoh tua sekalian kurang tidur dan makan tak enak selama dua hari belakangan ini maka api napsunya kelewat besar. Yaa, pertanyaan siaumoay memang terlalu berlebihan, sudah seharusnya siaumoay memeriksa sendiri!"
Sorot matanya yang tajam segera menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil mengangguk katanya lagi .
"Didalam menempuh perjalanan jauh kemari, Tee kun kuatir pakaian yang kalian kenakan menjadi kotor atau robek, maka beliau sengaja mengutus siaumoay untuk menghadiahkan satu stel jubah dan sepasang sepatu untuk saudara sekalian, harap kalian sudi menerimanya dengan senang hati!"
Giok koay popo Li Ko ci adalah perempuan tua yang paling jelek wataknya, sejak semula dia sudah mendongkol sekali, agaknya dia lupa kalau tenaga dalam yang dimilikinya sudah pulih kembali, tanpa mempertimbangkan lagi bagaimanakah akibatnya, pertama tama dia yang tak sabar lebih dulu.
Sambil menendang bungkusan yang berada di hadapannya, dia berteriak keras keras .
"Siluman rase berwajah tertawa, siapa yang kesudian menerima hadiahmu itu!"
Kena tendangannya bungkusan tersebut segera menggelinding sejauh empat lima kali dan mencapai satu kaki lebih.
"Ooooh"
Hian im li Ciu Lan berseru tertahan.
"taci, aku lihat si nenek ini sangat mencurigakan."
Setelah berbuat Giok koay popo Li Ko ci baru menyesal atas keberangasan sendiri, bila mereka sampai tahu kalau tenaga dalam nya telah punah kembali, kendatipun berhasil membunuh kedua orang perempuan Hian li ini, tapi rencana semua orang untuk menyusup ke dalam istana Ban seng kiong akan hancur berantakan.
Jika rencana tersebut sampai gagal total, berarti dialah yang mesti memikul tanggung jawabnya.
Berpikir sampai disini, tanpa terasa peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, sedang selembar wajahnya turut berubah pula menjadi pucat pias seperti mayat.
Dengan sorot mata yang tajam Hian im li Cun Bwee mengawasi Giok koay setengah harian lamanya kemudian sambil tertawa ujarnya .
"Jimoay tak banyak curiga, enci tua ini menendang dengan sepenuh tenaga, kalau bisa menendang sebuah bungkusan sejauh satu kaki, lantas apalah artinya?"
Sembari berkata dia lantas bergerak ke depan dan langsung mendekati Giok koay popo Li Ko ci.
Semua orang yang menyaksikan kejadian ini menjadi ikut tegang, mereka sadar nasib dunia persilatan selanjutnya tergantung pada tindakan yang akan dilakukan Giok koay popo berikut ini.
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong paling gelisah, dengan berdasarkan hubungannya yang akrab di hari hari biasa, dia lantas memperingatkan Giok koay popo Li Ko ci dengan ilmu menyampaikan suaranya .
"Hei nenek, lebih baik bersabarlah diri, jika kau bertindak secara sembarangan, harapan kita semua akan pudar sampai di sini saja!"
Sementara itu Giok koay popo Li Ko ci sedang menyaksikan Hian im li Cun Bwee sedang menerkam kearahnya lalu mendengar pula peringatan dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dia menghela napas di hati dan mengambil keputusan untuk pasrah dengan nasib.
Dengan cepat Hian im li Cun Bwee sampai di hadapan tubuhnya, ujung jarinya yang runcing sudah berada diatas jalan darah Jit kan hiat pada dadanya, bila jalan darah tersebut sampai tertotok, niscaya dia akan mati.
Sesungguhnya Giok koay popo masih mempunyai kemampuan untuk berkelit, tapi sekarang dia tak mungkin bisa menghindarkan diri lagi.
Tatkala serangan maut sudah berada di depan mata, diam diam ia berpekik di hati .
"Habis sudah riwayatku!"
Sambil memejamkan matanya rapat rapat dia bersiap sedia menerima kematian.
Serangan yang dilakukan oleh Hian im li Cun Bwee ini dilakukan dengan gerakan yang tidak cepat, karena tujuannya yang terutama adalah untuk menyaksikan dari Giok koay popo dalam menghadapi ancaman bahaya maut.
Setelah Giok koay popo memejamkan matanya siap menerima kematian, tentu saja Hian im li tak dapat sungguh sungguh menotok jalan darahnya, dengan cepat hawa murninya dibuyarkan, dia hanya bermaksud menowel ujung kulitnya saja tanpa menimbulkan luka pada sang korban.
Giok koay popo hanya merasakan tubuhnya agak kaku, namun sama sekali tidak merasakan gejala lain.
Selesai menutul badan Giok koay popo, Hian im li Cun Bwee melayang kembali ke posisinya semula, lalu katanya sambil tertawa .
"Nah jimoay, kau masih curiga?"
Dengan kening berkerut Hian im li Ciu lan menyahut .
"Sewaktu toaci turun tangan tadi, Cang ciong sin kiam Sangkoan tayhiap mengkomat kamitkan bibirnya, entah dia sedang memberi peringatan entah mengapa?"
Bergetar keras seluruh tubuh badan Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan perasaan terkejut.
"Budak ini sungguh lihay, ternyata dia teliti dan sukar ditipu, tampak lohu harus mengorbankan diri ..."
Berpikir demikian, diapun berseru .
"Omong kosong, untuk menguatirkan keselamatan Li tayhiap saja tak mampu ..."
"Bila ada yang mencurigakan maka kecurigaan tersebut tak boleh dibiarkan begitu saja,"
Tukas Hian im li Cun Bwee sambil tertawa.
"aku harus melakukan penyelidikan sejelas jelasnya ..."
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong segera berteriak keras .
"Tenaga dalam lohu sudah dikuasai, aku tak punya kemampuan untuk melawan, yaa, terserah apa pun yang ingin kau katakan..."
Hian im li Cun Bwee tertawa.
"Tee kun pernah mewariskan semacam ilmu jari kepadaku, barang siapa tertotok maka kesadaran otaknya akan punah dan dia akan mandah diperintah. Tapi sayangnya kepandaian ini mempunyai kekurangan, yakni bila orang yang hendak ditotok jalan darahnya itu menghimpun dulu tenaga dalamnya untuk melindungi jalan darah Sam im ciau, hap kok can Tiong kek, totokan itu akan mengalami kegagalan total."
Sudah jelas perkataan tersebut dimaksudkan oleh Hian im li Cun Bwee untuk memberitahukan kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, asal dia melindungi sam im ciau, Hap kok dan Tiong kek tiga buah jalan darah penting, maka dirinya akan bebas dari pengaruh totokan tersebut.
Perlu diketahui, bagi umat persilatan yang berpandangan luas, soal mati atau hidup dapat ditentukan dengan cepat, tapi kalau dia diharuskan mati tidak hiduppun tidak, hal itu jelas tak akan bisa ditahan oleh siapapun.
Adapun maksud tujuan Hian im li Cun Bwee sekarang adalah hendak mempergunakan gertakan tersebut untuk mencoba reaksi dari Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.
Waktu itu Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah ketakutan setengah mati, wajahnya pucat pias dan keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.
Para jago lainnya pun sama sama menunjukkan sikap marah, apalagi menyaksikan kekejaman dan kebuasan hati dari Hian im li tersebut, mereka bertekad apabila ada kesempatan maka kedua orang perempuan tersebut akan dibunuh lebih dulu.
Thi Eng khi sendiripun merasa gusar sekali, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong .
"Hian im li berhati kejam dan buas, Sangkoan tayhiap tak usah melakukan pengorbanan yang tak berarti, yang terpenting sekarang adalah melindungi keselamatan sendiri."
Dengan sepasang mata berkaca kaca Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong memandang sekejap kearah Thi Eng khi dengan perasaan berterima kasih, tapi sambil menggertak gigi dia menyahut dengan ilmu menyampaikan suara .
"Masalah ini menyangkut kejadian yang amat besar, terpaksa lohu akan pasrah kepada nasib!"
Sementara itu jari tangan Hian im li Cun Bwee sudah menotok beberapa buah jalan darah penting di tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.
Dengan cepat paras muka Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong berubah menjadi bimbang dan kosong, agaknya kesadaran orang ini berhasil dikendalikan oleh Hian im li Cun Bwee.
Mencorong sinar kemerah merahan dari balik mata Thi Eng khi, dia berhasil melihat jelas gerakan tangan dari Cun Bwee.
Sebagai orang yang mahir ilmu pertabiban, ditambah pula pernah memperoleh seluruh ilmu silat dan kepandaian sakti dari Cu sim ci cu Thio Biau liong, boleh dibilang ilmu yang dipergunakan Hian im li Cun Bwee itu sama sekali tak berhasil menakuti hatinya.
Dia tertawa hambar, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara, ujarnya kepada para jago .
"Harap saudara sekalian suka bersabar dan menahan diri, kepentingan yang lebih besar harus diutamakan, untuk itu Thi Eng khi mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua. Soal ditotoknya jalan darah Sangkoan tayhiap, hal mana tak akan menyusahkan diriku, jadi saudara sekalian tak usah kuatir."
Setelah mendengar perkataan itu, kemarahan para jago baru mulai mereda. Dengan kening berkerut, Hiam im li Cun Bwee segera berseru kembali .
"Sangkoan loji, bunuhlah Thi Eng khi sekarang juga!"
Sekali lagi para jago merasakan hatinya bergetar keras, rasa gelisah dan cemas menyelimuti wajah setiap orang.
Sementara itu, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sudah menerima perintah dan bergerak menghampiri Thi Eng khi.
Thi Eng khi sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalamnya, malah sambil tertawa ujarnya lantang .
"Walaupun tenaga dalamku sudah punah, aku bukan manusia yang gampang digertak orang, tenaga dalam yang dimiliki Sangkoan tayhiap pun sudah kalian kendalikan, kau anggap dia mampu untuk membunuh diriku?"
Hian im li Cun Bwee tertawa.
"Kau memang pintar sekali, padahal aku hanya bermaksud menakut nakuti semua orang saja."
Kemudian sambil berpaling, serunya lagi kepada Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong .
"Sangkoan loji, kau tak perlu turun tangan lagi terhadap Thi Eng khi!"
Ternyata Cang cong sin kiam Sangkoan Yong menuruti perkataannya dan segera mundur kembali ke tempat semula.
Sekarang para jago baru dapat menghembuskan napas panjang, namun rasa bencinya terhadap Hian im li Cun Bwee pun semakin merasuk ke tulang sumsum.
Dengan wajah serius Hian im li Cun Bwee berkata kepada para jago .
"Bagaimana? Kalian bersedia memberi muka dengan menerima hadiah dari Tee kun?"
Para jago saling berpandangan sekejap, ternyata tak seorang pun yang mengemukakan pendapatnya. Sambil menuding ke arah ketua Bu tong pay Keng hian totiang, Hian im li Cun Bwee segera menegur .
"Ayo cepat jawab, kau menerima hadiah dari Tee kun atau tidak...?"
Ketika dilihatnya semua orang tidak menjawab, lagipula diapun kurang leluasa untuk turun tangan dengan kekerasan, maka pertanyaan pun diajukan satu persatu kepada mereka yang bersangkutan.
"Bu liang siau hud!"
Bisik ketua Bu tong pay Keng hian totiang pelan.
"maksud hati nona sudah terutarakan, tapi sayang pinto bukan manusia yang takut menghadapi kematian, kecuali Thi ciangbunjin setuju untuk menerima hadiah ini, kalau tidak, sulitlah untuk memaksa pinto menerima hadiah tersebut."
Sementara Hian im li Cun Bwee tertegun dan ragu, ketua Siau lim pay Ci long siansu sudah berseru pula .
"Omitohud! Lolap pun akan mengikuti keputusan yang diambil oleh Thi ciangbunjin!"
Hian im li Cun Bwee mengalihkan sorot matanya ke wajah Thi Eng khi, namun ucapannya tetap ditujukan kepada ketua Siau lim pay sekalian .
"Mengapa sih kalian begitu takluk dan percaya kepada dirinya ...?"
"Diantara sekian jago persilatan yang berada di dunia ini, hanya Thi ciangbunjin seorang yang memiliki kemampuan untuk melawan kelaliman Hian im Tee kun, pinceng sekalian tidak percaya kepada Thi ciangbunjin lantas mesti percaya dan takluk kepada siapa?"
Serentak para jago lainnya berseru bersama .
"Kami semua akan mendukung setiap keputusan yang diambil oleh Thi ciangbunjin."
Sambil tersenyum Hian im li Cun Bwee segera berpaling ke arah Thi Eng khi sembari berkata .
"Thi ciangbunjin, mati hidup semua orang sudah berada ditanganmu sekarang, semuanya tergantung pada keputusan yang bakal kau ambil."
Thi Eng khi tersenyum.
"Inilah kegagahan serta kebanggaan semua orang dalam persatuan dan persekutuan dalam menghadapi Tee kun sekalian."
"Tak usah banyak berbicara lagi,"
Tukas Hian im li Cun Bwee dengan kening berkerut.
"jawab saja sekarang, hadiah dari Tee kun ini kau terima atau tidak?"
Dengan wajah serius Thi Eng khi berkata .
"Aku harus mengetahui lebih dahulu mengapa Tee kun kalian memberi hadiah kepada kami?"
"Karena beliau hendak mengundang kalian makan siang bersama..."
"Untuk itu aku akan mengajukan satu syarat, kalau tidak, lebih baik mati saja daripada menerimanya."
Menyaksikan kegagahan Thi Eng khi yang tak sudi tanduk pada keadaan, tanpa terasa Hian im li Cun Bwee manggut manggut, katanya kemudian .
"Apa syaratmy itu? Coba katakan dahulu!"
"Syaratku sangat sederhana, cukup asal Tee kun kalian bersedia turun gunung dan menyambut sendiri kedatangan kami semua ..."
Tanpa berpikir panjang, Hian im li Cun Bwee segera menyahut .
"Kami adalah orang kepercayaan dari Tee kun, baik, syarat ini akan kuterima."
"Kau dapat mengambilkan keputusan?"
Terlintas kecurigaan dalam hati kecil Thi Eng khi. Hian im li Ciu Lan segera tertawa.
"Toaci kami mempunyai kedudukan yang istimewa sekali dalam istana Ban seng kiong, dia dapat mengambilkan setiap keputusan yang penting, jadi kau tak usah kuatir."
Thi Eng khi tidak berbicara lagi, dia membungkukkan badannya membuka buntalan tersebut dan mengenakan jubah baru yang berada dalam buntalan tadi.
Jilid 42 Setelah Thi Eng khi bertindak, maka semua orangpun mengikuti jejaknya dengan mengenakan pakaian baru pemberian dari Hian im Tee kun.
Ketika Hian im ji li melihat begitu tunduknya semua jago kepada Thi Eng khi maka sikap mereka terhadap Thi Eng khi pun semakin menghormat lagi.
Thi Eng khi memandang sekejap ke arah Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang masih dikuasai kesadarannya, kemudian berkata ketus .
"Sekarang tentunya nona sudah bisa membebaskan pengaruh totokan pada diri Sangkoan tayhiap bukan?"
"Apakah ini pun terhitung syarat yang kauajukan?"
Tanya Hian im li Cun Bwee.
"Ini termasuk tata kesopanan yang perlu diperhatikan pihak Ban seng kiong kalian terhadap kami sebagai tamu, jadi bukan merupakan permintaan atau syaratku."
Hian im li Cun Bwee termenung dan berpikir sejenak, kemudian dia baru mengangguk .
"Baiklah! Aku akan memberi muka lagi untukmu, cuma akupun berharap agar kau tahu diri."
Thi Eng khi tertawa, dengan perhatian khusus dia memperhatikan bagaimana cara Hian im li Cun Bwee membebaskan pengaruh totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong.
Begitu Hian im li Cun Bwee selesai membebaskan pengaruh totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kepada Hian im li Ciu Lan ujarnya sambil tertawa .
"Jimoay, lebih baik kita bersikap lebih terbuka lagi dengan mengembalikan senjata mereka, dengan begini kehadiran mereka dalam upacara pun akan kelihatan lebih angker dan mentereng...."
Hian im li Ciu Lan segera mengiakan dan melaksanakan perintah tersebut. Tiba tiba Thi Eng khi berseru sambil tertawa dingin .
"Kalian toh mengetahui bahwa tenaga dalam kami telah punah, sekalipun ada senjata juga tak mampu banyak berkutik, huuh terhitung perbuatan macam apakah itu? Jikalau kalian benar benar ingin berjiwa besar bebaskan pula totokan pada tubuh kami semua."
Hian im li Cun Bwee segera tertawa .
"Sekarang kau tak usah memanasi hatiku dulu, asal kalian berkemauan baik dan bersedia untuk bekerja sama, bukan cuma jalan darah kalian saja yang akan dibebaskan, bahkan tenaga dalam Thi ciangbunjin yang berhasil dibuyarkan oleh getaran Tee kun kami pun akan dipulihkan kembali."
"Waah, kalau sampai demikian adanya aku pasti akan berterima kasih sekali kepadamu!"
"Kau benar benar akan berterima kasih kepadaku?"
Hian im li Cun Bwee memutar sepasang biji matanya.
"Aku yakin apa yang kuucapkan pasti akan kuwujudkan!"
Hian im li Cun Bwee segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Thi Eng khi dan memandangnya lekat lekat, setelah itu serunya .
"Baik! Kita tetapkan dengan sepatah kata ini, soal mendapatkan kembali tenaga dalammu serahkan saja tanggungjawabnya keatas pundakku!"
Sementara itu senjata tajam milik para jago telah dibawa kemari oleh kawanan iblis dari Ban seng kiong dan dibagikan kepada pemiliknya.
Menerima kembali senjata tajam andalan masing masing, para jago merasakan jantungnya berdebar keras sekali sehingga hampir saja mau melompat keluar lewat mulut.
Tiba tiba Hui cun siucay Seng Tiok sian tampil ke depan sambil berseru .
"Mana kuda hitamku?"
"Waaah, kau sungguh pelit sekali,"
Seru Hian im li Cun Bwee sambil tertawa.
"masa kedua ekor kuda itu untuk kami dua bersaudara pun keberatan!"
Dengan wajah gelisah bercampur murung, Bu im sin hong Kian Kim siang serta Sam ku sinni menunggu selama sehari semalam, menjelang fajar menyingsing mereka baru menyaksikan si pencuri sakti Go Jit pulang dengan tangan hampa.
Sambil melepaskan topeng kulit manusia wajahnya, si pencuri sakti Go Jit menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudah puluhan tahun boanpwe berkelana dalam dunia persilatan tapi belum pernah kualami kegagalan total seperti hari ini,"
Keluhnya sedih.
"jangan lagi mencuri kitab Hian im kui goan keng milik Hian im Tee kun, untuk menemukan tempat rahasia untuk menyimpan kitab tersebut pun tak berhasil, aaaai.... mulai hari ini malu aku memakai sebutan si pencuri sakti lagi."
Dalam keadaan yang sama sama kecewanya, dengan kedudukan Bu im sin hong Kian Kim siang dalam dunia persilatan mau tak mau dia mesti tersenyum guna menghibur hati si pencuri sakti Go Jit .
"Hian im Tee kun adalah manusia yang paling tangguh dalam dunia persilatan dewasa ini, gagal ditangannya bukan merupakan sesuatu kejadian aneh, jadi tidak termasuk suatu peristiwa yang memalukan. Kau sudah sehari semalam tanpa istirahat, sekarang beristirahatlah dahulu, dengan begitu kita dapat selekasnya sampai di istana Ban seng kiong."
"Boanpwe sedang kalut percuma bersemedi, toh aku tak bisa menenangkan pikiranku dengan sempurna, lebih baik sekarang juga kita berangkat ke istana Ban seng kiong..."
"Langkah selanjutnya adalah langkah yang penting sekali artinya,"
Sela Sam ku sinni cepat.
"lebih baik Go tayhiap memulihkan dulu kondisi badanmu yang penat, agar dengan begitu kita tak usah mengalami kegagalan lagi."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa si Pencuri sakti Go Jit harus menguasai gejolak perasaannya dan mulai bersemedi mengatur pernapasan.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, si pencuri sakti Go Jit telah selesai bersemedi dan melompat bangun dari atas tanah.
Tatkala Bu im sin hong Kian Kim siang melihat rekannya baru dapat memulihkan tujuh delapan bagian kesegaran badannya, dia sebenarnya berniat untuk menyuruhnya bersemedi kembali, tapi oleh karena wajah si pencuri sakti diliputi perasaan gelisah dan tak sabar, akhirnya niat tersebut diurungkan.
Mereka bertiga segera mengenakan kembali topeng kulit manusia masing masing kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, berangkatlah menelusuri jalan raya menuju ke istana Ban seng kiong.
Untung saja pada saat itu muncul banyak sekali jago persilatan yang berbondong bondong berangkat ke istana Ban seng kiong, dengan mencampurkan diri di antara mereka, dengan cepat ketiga orang itu berhasil masuk ke dalam istana dengan selamat.
Semenjak pihak Ban seng kiong berhasil menjaring semua inti kekuatan dari dunia persilatan, mereka sudah tidak memandang sebelah mata lagi terhadap kawanan jago lainnya.
Mereka menganggap di kolong langit dewasa ini sudah tiada manusia lagi yang dapat melawan kekuasaan mereka, itulah sebabnya mereka tidak memandang sebelah matapun terhadap para jago persilatan yang hadir di sana.
Bukan hanya tidak dibatasi jumlahnya, bahkan merekapun diperbolehkan masuk keluar dengan semaunya sendiri, agaknya hal ini sengaja dilakukan untuk mencerminkan kebesaran jiwa orang orang Ban seng kiong.
Justru karena itulah, Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian dapat bergerak ke sana kemari dengan lebih leluasa lagi tanpa kuatir gerak geriknya itu akan mengundang kecurigaan orang lain terhadap mereka.
Pukul delapan sudah menjelang tiba, lapangan luas di depan pintu gerbang Ban seng kiong sudah penuh dengan manusia yang berkumpul dari seantero penjuru dunia, mereka sedang menunggu saat munculnya tokoh persilatan yang amat lihay itu.
Sementara semua orang sedang menanti dengan perasaan gelisah, dari atas ruangan istana tiba tiba berkumandang suara tambur dan genta yang dibunyikan bertalu talu.
Menyusul suara genta tersebut, dari balik pintu berjalan keluar seorang kakek berwajah kemala yang memakai jubah kebesaran, gayanya dibuat buat dan gerak geriknya sangat menjemukan.
Sementara semua orang masih mengawasi orang tadi, entah darimana munculnya suara tertawa kegelian, menyusul kemudian terdengar seseorang berseru .
"Huuuuh, monyet kesiangan juga diberi pakaian kebesaran, sungguh menggelikan hati!"
"Siapa sih orang itu?"
Segera ada yang bertanya. Setelah tertawa sinis orang itu menyahut lagi .
"Siapa lagi? Dia tak lain adalah Sau tee bun su (sastrawan penyapu lantai) Lu toaya, masa kalian tidak kenal?"
Tampaknya si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini mempunyai nama besar yang cukup termashur, buktinya walaupun tidak banyak yang pernah menjumpainya, namun sedikit sekali yang tidak mengetahui tentang dia.
Tatkala para jago mendengar kalau orang yang menampilkan diri adalah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji, kontan saja semua orang menjengek sinis.
"Huuuhhh, dasar setan hidup."
Dengan gaya yang dibuat buat, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji berdiri di depan pintu gerbang, kemudian setelah mendeham beberapa kali, dengan suara lantang dia berseru.
"Siaute hendak menyampaikan sebuah kabar gembira untuk saudara sekalian, untuk menunjukkan rasa hormat Tee kun, beliau telah berangkat ke tengah bukit Wang swan tay untuk menyambut sendiri kehadiran para jago dari perguruan perguruan kenamaan yang kali ini sengaja hendak menyatakan takluk mereka kepada istana kami!"
"Grrrr....!"
Suasana menjadi gempar dan semua orang bersama sama berdesakan menuju ke Wang swan tay untuk menyaksikan peristiwa itu.
Pencuri sakti Go Jit turut berebut mencari tempat yang strategis.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkata .
"Go lote, jangan terburu napsu, Hian im Tee kun adalah manusia licik yang banyak tipu muslihatnya, kita jangan gampang tertipu oleh akal bulusnya, sekalipun hendak kesana, kita harus menunggu sampai gembong iblis tua itu menampakkan diri..."
Dalam pada itu, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji telah berteriak kembali dengan suara lantang .
"Tee kun tiba, harap saudara sekalian bertepuk tangan sebagai pernyataan hormat!"
Dengan cepat dia menyingkir ke samping lalu menunjukkan sikap yang hormat kearah balik ruangan bahkan kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia bertepuk tangan keras keras....
Para penonton keramaian yang berkumpul di sekitar lapangan segera turut ketularan dengan bertepuk tangan pula keras keras, ditambah pula para gembong iblis Ban seng kiong yang sudah menyusup ke balik kerumunan orang banyak membuat suara tepuk tangan yang bergema makin bertambah nyaring.
Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan pencuri sakti Go Jit sama sama memperlihatkan juga sikap yang jahat.
Di tengah suara tepuk tangan yang gegap gempita, sambil tertawa dan manggut manggut kepalanya, Hian im Tee kun tampil di depan pintu gerbang.
Dibelakang gembong iblis tersebut mengikuti Keng thian giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Sim ji sinni.
Di paling belakang adalah kawanan manusia yang merupakan kerabat kerabat Hian im Tee kun.
Sikap maupun gerak gerik Keng thian giok cu Thi Keng sekalian yang berpandangan kosong macam orang yang tak sadar, membuat Bu im sin hong Kian Kim siang semua merasa amat sedih.
Bahkan si pencuri sakti Go Jit merasa kuatir sekali bila tiada kesempatan untuk turun tangan, ia merasa sangat tegang dan hatinya berdebar keras.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyadari keadaan rekannya itu segera memperingatkan berulang kali .
"Go lote, kau harus menenangkan hatimu, tolong sampaikan pula kepada Cu Ngo sekalian agar jangan turun tangan secara sembarangan sebelum ada tanda rahasia dariku!"
Pencuri Sakti Go Jit termasuk jago kawakan yang sudah berpengalaman sangat luas, dalam situasi semacam ini seharusnya ia dapat mengendalikan diri, tapi kenyataannya dia seolah olah telah kehilangan ketenangan hatinya.
Hal ini menandakan kalau pengaruh dari Hian im Tee kun cukup membuat para jago merasa keder hatinya.
Pencuri sakti Go Jit segera menerima perintah dan berlalu dari situ untuk menyampaikan kepada Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu Cu.
Sedangkan Bu im sin hong Kian Kim siang segera menarik tangan Sam ku sinni dan bersama sama mendesak ke barisan paling depan....
Setelah menyaksikan Hian im Tee kun membawa anak buahnya berjalan lewat dari hadapannya, Bu im sin hong segera mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya memberi bisikan kepada Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga.
Siapa tahu bisikan tersebut sama sekali tidak memperoleh tanggapan dari Keng thian giok cu Thi Keng sekalian, yang membuatnya lebih putus asa adalah tindakan selanjutnya dari Keng thian giok cu Thi Keng yang melaporkan isi bisikan tadi kepada Hian im Tee kun.
Tapi Hian im Tee kun cuma tertawa hambar belaka sama sekali tidak menanggapi dengan serius.
Sikap hambar dan mcmandang rendah dari Hian im Tee kun itu segera ditanggapi Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian sebagai suatu penghinaan yang luar biasa.
Untung sekali Bu im sin hong Kian Kim siang bukan seorang manusia berangasan bukan menjadi marah sebaliknya dia malahan meningkatkan kewaspadaan sendiri.
Menyusul di belakang kawanan iblis dari Ban seng kiong mengikuti serombongan besar para penonton keramaian yang bersama sama berangkat manuju ke Wang swan tay.
Yang dinamakan Wang swan tay adalah sebuah tanah perbukitan kecil yang terletak diujung tikungan sebuah bukit dipunggung gunung, jaraknya dari istana Ban seng kiong cuma sepuluh li.
Walaupun sangat dekat, namun oleh karena permukaan tanah yang tinggi rendah tak menentu, maka walaupun orang berdiri di atas Wang swan tay, istana Ban seng kiong tidak nampak dalam pandangan mata.
Di dekat bukit itu terbentang sebuah sungai dengan arus yang amat deras, air mengalir turun ke bawah tebing dengan arus yang amat derasnya, benar benar suatu pemandangan yang sangat indah.
Di sekeliling tanah perbukitan itu sudah penuh berdiri kawanan jago yang menonton keramaian, karenanya sisa tempat untuk tuan rumah menjadi sempit sekali.
Tak lama setelah Hian im Tee kun sekalian tiba di Wang swan tay, dari kejauhan nampak serombongan manusia pelan pelan bergerak naik ke atas bukit.
Yang berjalan di paling depan adalah Hian im ji li, Cun Bwee serta Ciu Lan.
Menyusul dibelakangnya adalah Thi Eng khi beserta sekalian jago kenamaan dari dunia persilatan.
Pada barisan yang paling belakang mengikuti kawanan iblis dari istana Ban seng kiong.
Tatkala para jago hampir tiba di Wang swan tay, Hian im ji li segera melesat ke depan dan naik ke Wang swan tay lebih dulu, kemudian tampak Cun Bwee membisikkan sesuatu di sisi telinga Hian im Tee kun.
Selesai mendengar bisikan tersebut, Hian im Tee kun segera tertawa terbahak bahak, serunya.
"Setelah terjadi pertarungan antara lohu melawan Thi ciangbunjin dari Thian liong pay, dimana untuk membalas budi kebaikan dari lohu yang telah mengampuni jiwanya, dia telah membujuk para ciangbunjin dari berbagai perguruan besar serta jago jago termashur dari kolong lanqit untuk bersama sama menggabungkan dengan kami, untuk kesediaan mereka ini harap kalian sudi bertepuk tangan sebagai tanda hormat!"
Suara tepuk tangan yang gegap gempita pun segera berkumandang memecahkan keheningan.
Di tengah tepuk tangan yang gegap gempita pun, Thi Eng khi dan sekalian jago bersama sama memasuki Wang swan tay.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang membaurkan diri diantara kerumunan orang banyak dapat menyaksikan disebelah kanan Thi Eng khi berdiri Ciu Tin tin, disebelah kirinya berdiri Pek leng siancu So Bwe leng, sedangkan dibelakangnya adalah Bu Nay nay.
Dibelakang Bu Nay nay mengikuti pula seorang sastrawan muda yang gagah, namun Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengenal siapakah dia.
Barulah dibelakang sastrawan muda itu menyusul ketua Siau lim pay Ci long siansu serta ketua Bu tong pay Keng hian totiang .....
Yang paling aneh adalah Ci kay dan Ci liong taysu dari Siau lim pay, Keng ik dan Keng ning totiang dari Bu tong pay, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, bukannya mengikuti dibelakang ketua masing masing mereka malah membaurkan diri diantara kawanan jago lainnya.
Beberapa kali Bu im sin hong hendak menyapa Thi Eng khi dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, bahkan hendak memberitahukan kepada Thi Eng khi kalau kakeknya Keng thian giok cu Thi Keng sekalian sudah dikuasai kesadarannya oleh Hian im Tee kun.
Akan tetapi, ketika teringat olehnya akan nama baik Keng thian giok cu sekalian serta teringat akan tindakan yang bakal dilakukan olehnya, dia merasa lebih baik jangan berterus terang dengan si anak muda.
Padahal kecuali kata kata tersebut, dia merasa tiada persoalan lain yang perlu dibicarakan lagi.
Maka Bu im sin hong Kian Kim siang segera membatalkan niatnya untuk berbicara dengan Thi Eng khi.
Sementara itu, Thi Eng khi bersama Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng, Bu Nay nay dan si sastrawan muda yang mengikuti di belakang Bu Nay nay telah meninggalkan rombongan mendekati Wang swan tay.
Sekarang jarak Hian im Tee kun dengan mereka tinggal beberapa kaki saja.
Berdiri tegak didepan musuhnya Thi Eng khi nampak gagah, perkasa dan penuh berwibawa.
Dia menjura lebih dulu sebagai tata kesopanan, kemudian baru menyapa .
"Hian kun....!"
Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan sikap kehormatan.....
Sambil berkerut kening, Hian im ji li (dua gadis Hian im) tertawa getir.
Nyatanya Hian im Tee kun sama sekali tidak menggubris akan sikap lawannya, malahan sambil tertawa terbahak bahak dia berkata .
"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh... jauh jauh Thi Sauhiap berangkat kemari untuk membaktikan diri dengan istana kami, tujuan dan maksudmu benar benar patut dikagumi untuk itu lohu akan menghormati tiga cawan arak kepadamu sebagai pertanda sambutan hangat dari istana kami."
Bersama dengan selesainya perkataan itu muncul seorang gadis berbaju hijau yang membawa sebuah baki kemala putih, diatas baki terletak tiga cawan arak, perempuan itu langsung berjalan menuju ke hadapan Hian im Tee kun.
Dengan sikap yang bersungguh sungguh Hian im Tee kun memenuhi sendiri ketiga cawan tersebut dengan arak, kemudian kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak sekalian yang berada di belakangnya dia menitahkan .
"Harap tongcu bertiga sudi mewakili diriku untuk menghormati secawan arak untuk Thi sauhiap!"
"Hamba terima perintah!"
Sahut Keng thian giok cu Thi Keng sekalian dengan sikap yang hormat sekali.
Hian im Tee kun segera melirik sekejap kearah Thi Eng khi, seolah olah dia hendak melihat bagaimanakah perubahan mimik wajah si anak muda tersebut.
Seandainya ketiga cawan arak itu diberikan sendiri oleh Hian im Tee kun, maka sebagai tamu Thi Eng khi pasti akan menerimanya tanpa ragu.
Tapi dengan sikap Hian im Tee kun yang menyuruh anak buahnya mewakili dia, hal ini sama artinya dengan menganggap Thi Eng khi sebagai anak buahnya pula.
Itu berarti penghormatan arak ini bukan hormat seorang tuan rumah terhadap tamunya, melainkan arak pujian seorang atasan terhadap bawahannya.
Ditambah lagi orang yang menghormati arak kepadanya adalah Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, menurut aturan Thi Eng khi harus meneguknya juga.
Tapi bila ketiga cawan arak itu benar benar diteguk olehnya, bila Thi Eng khi hendak menyangkal kalau dia adalah anak buah Hian im Tee kun dikemudian hari, hal mana jelas tak akan mudah.
Menghadapi situasi yang serba rikuh ini, bukan Thi Eng khi yang mesti mengatasinya, melainkan Keng thian giok cu sekalian, karena saat ini sudah mencapai saat yang paling kritis dimana pertarungan tak dapat dihindari lagi.
Thi Eng khi segera mengalihkan sorot matanya kearah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga, ketika dilihatnya ketiga orang itu sama sekali tidak bermaksud turun tangan terhadap Hian im Tee kun, diam diam dia menghela napas panjang, pikirnya .
"Sudah pasti ketiga orang tua itu telah mengira ilmu silatku punah, demi keselamatan jiwaku mereka tak tega melakukan tindakan yang memalukan ini.... aai mengapa aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada mereka agar mereka dapat turun tangan menghadapi Hian im Tee kun?"
Begitu ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, dengan ilmu menyampaikan suara dia lantas berseru .
"Yaya!"
Keng thian giok cu Thi Keng nampak tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Thi Eng khi. Sebelum pemuda itu berkata lebih jauh, Hian im Tee kun telah berkata lagi.
"Tongcu bertiga, kalian harus menyampaikan salam hormat tiga cawan arak ini kepada yang berkepentingan!"
"Bila hamba tak mampu melaksanakan tugas ini, kami rela menerima hukuman berat,"
Sahut Keng Thian giok cu Thi Keng dengan cepat.
Kemudian dia maju mendekati Thi Eng khi dengan langkah lebar...
Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat gelisah, saking cemasnya dia sampai lupa menggunakan ilmu menyampaikan suara, teriaknya cepat .
"Yaya, sekarang adalah saat bagi kita untuk turun tangan....
"Turun tangan? Apa maksudmu?"
Keng Thian giok cu Thi Keng berseru kembali tanpa menghentikan langkahnya. Dengan suara lantang Thi Eng khi berteriak .
"Kepandaian silat yang cucunda miliki belum hilang, harap kalian bertiga bertindak sesuai dengan rencana semula."
Siapa tahu Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, dengan suara keras dia berteriak .
"Kau jangan mengaco belo secara sembarangan, apakah kau senang menyaksikan yayamu disebut orang yang tidak bersetia kawan...."
Thi Eng khi semakin tertegun lagi, dia belum sempat mengartikan ucapan dari Keng thian giok Thi Keng, ketika secara tiba tiba gadis berbaju hijau yang membawa baki itu sudah mengayunkan tangannya dan melemparkan baki tersebut ke wajah Thi Eng khi.
Menghadapi serangan yang mengancam tiba itu, dengan cekatan Thi Eng khi berkelit ke samping.
Tapi sebelum si anak muda itu bertindak lebih jauh, gadis berbaju hijau itu sudah menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian kepada Thi Eng khi bentaknya keras keras .
"Thi Eng khi, kau berani turun tangan?"
Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, benar juga dia tak berani menitahkan kepada Ciu Tin tin untuk turun tangan.
Dengan cepat gadis berbaju hijau itu membawa Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga kembali ke hadapan Hian im Tee kun.
Kemudian baru menarik kembali telapak tangannya yang menempel diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng dan menyingkir ke samping.
Keng thian giok cu sekalian bertiga segera memberi hormat kepada Hian im Tee kun sembari berkata .
"Hamba sekalian tak mampu melaksanakan tugas secara baik, harap Tee kun sudi melimpahkan hukuman kepada hamba sekalian....."
Dengan cepat Hian im Tee kun mengulapkan tangannya.
"Kejadian ini berlangsung diluar dugaan dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian, sekarang menyingkirlah lebih dahulu sambil menantikan perintah selanjutnya!"
Keng thian giok cu Thi Keng, Sim Ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak segera mengundurkan diri ke samping dengan sikap yang menghormat sekali.
Kejadian tersebut membuat Thi Eng khi semakin kebingungan dan tidak habis mengerti.
Hian im Tee kun segera tertawa seram .
"Heeeehhh.... heeeehhh...... heeeehhh.... Thi Eng khi, kau jangan berbicara yang bukan bukan, lohu tidak percaya kalau kau mampu melepaskan diri dari pengaruh ilmu Hek sin thian kang ci ...."
Sambil mengerahkan tenaga dalamnya Thi Eng khi tertawa terbahak bahak, kemudian serunya .
"Coba dengarkan baik baik, berapa bagian tenaga dalamku yang telah pulih kembali!"
Mendengar gelak tertawa orang, dengan wajah tertegun Hian im Tee kun segera berpaling ke arah kakek Oh Yun yang berdiri dibelakangnya, kemudian menegur ketus .
"Oh Yun, bukankah kau melaporkan sudah menotok jalan darah Ki tong hiatnya dengan ilmu jari Hek sin thian kang ci?"
Dengan gugup dan ketakutan setengah mati kakek she Oh itu menyahut .
"Betul, hamba sendiri yang turun tangan dan tidak bakal salah lagi...."
"Mengapa dia dapat memperoleh kembali kepandaian silatnya....?"
Tegur Hian im Tee kun dengan suara menggeledek.
"Soal ini..... soal ini..... hamba...."
Thi Eng khi segera tertawa tergelak, tukasnya .
"Aku mempunyai kemampuan untuk membebaskan sendiri pengaruh totokan tersebut, sekalipun kau yang turun tangan sendiripun tak nanti bisa menyusahkan aku."
Hian im Tee kun segera tertawa dingin .
"Lohu tidak percaya dibalik kesemuanya ini, sudah pasti terdapat hal hal yang tidak beres!"
Sekali lagi Thi Eng khi tertawa bahak bahak.
"Haaaahhh.... haaaahhh... haaahhh..... iblis tua, masih banyak persoalan yang tidak dapat kau percayai!"
Sembari berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali dan berpekik nyaring lebih dahulu.
Menyusul kemudian pekikan demi pekikan nyaring bergema keluar dari mulut para jago yang dalam anggapan kaum iblis Ban seng kiong sudah kehilangan ilmu silatnya itu.
Di dalam waktu singkat suara pekikan nyaring sudah menggema memenuhi angkasa dan menggetarkan seluruh bukit Wu san tersebut....
Berubah hebat paras muka para iblis yang berkumpul di Wang swan tay, mereka dibuat gelagapan setengah mati, jelas perubahan yang sama sekali diluar dugaan ini telah memberikan pukulan batin yang cukup berat bagi mereka semua.
Hian im Tee kun segera berpaling kearah Hian im li Cun Bwee sambil memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat sinis, kemudian jengeknya .
"Kaulah yang harus memikul tanggung jawab ini!"
Dengan gemas Hian im li Cun Bwee melotot sekejap kearah Hian im Tee kun, kemudian serunya pula .
"Hmmmmmm.... kau sendiripun tak akan terlepas dari tanggung jawab ini!"
Dari pembicaraan tersebut dapat didengar kalau mereka sedang saling melemparkan tanggung jawab sehingga bagi yang tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, hal ini tentu saja kedengarannya agak mengherankan.
Untung saja perkataan tersebut tidak sampai kedengaran orang lain, karena pada saat itu suara pekikan nyaring dari para jago telah menutupi seluruh ruangan disekitar sana sehingga tentu saja tiada seorang manusiapun yang memperhatikan kejadian kecil ini.
Suara pekikan yang menggetarkan seluruh jagad ini berlangsung kurang lebih setengah perminum teh lamanya sebelum berhenti dan sirap kembali.
Disaat berakhirnya suara pekikan itu dan tatkala perhatian semua orang belum terpusatkan menjadi satu, mendadak dari sisi Wang swan tay melayang keluar tiga sosok bayangan manusia yang segera menerkam ke arah Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak bertiga.
Berhubung ketiga orang itu muncul dari arah belakang dan disaat para iblis dari istana Ban seng kiong terpecah perhatiannya maka terjangan tersebut menimbulkan kepanikan bagi semua iblis bahkan setelah ketiga sosok bayangan manusia tersebut sudah hampir tiba disisi tubuh Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak, mereka baru menyadari.
Tapi pada saat itulah tiga sosok bayangan manusia yang berhasil membekuk Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni, Tiang pek lojin So Seng pak telah menerjang kehadapan Thi Eng khi dengan gerakan cepat.
Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay melompat kemuka membiarkan ketiga orang itu lewat.
Kemudian mereka bertiga sama sama melancarkan serangan yang maha dahsyat untuk membendung serbuan para iblis dari belakang.
Bersamaan waktunya dari arah samping muncul kembali dua sosok bayangan manusia yang bersama sama tiga orang yang berhasil menyambar tubuh Keng thian giok cu Thi Keng sekalian tadi melayang turun dihadapan Thi Eng khi.
Thi Eng khi dan Hui cun siucay Seng Tiok sian yang berada dibelakangnya segera mengira kedua orang itu sebagai kaum iblis Ban seng kiong yang hendak melakukan pengejaran, dengan cepat mereka mengayunkan telapak tangannya melancarkan serangan dahsyat untuk menyongsong kedatangan mereka.
Baru saja Thi Eng khi melancarkan serangan, tampak orang itu sudah berkelit ke samping dengan ilmu Hu kong keng im, kenyataan ini membuat Thi Eng khi merasa terkejut sekali.
Baca Juga: Hong Lui Bun 6
Baca Juga: Anak Berandalan Khu Lung