Eps 11 Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen
Baca online Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen
Cersil Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen.
Eng Eng heran. Ia juga tidak berani turun tangan. Dari perkataan orang, rupanya orang tua ini sudah kenal gurunya.
"Teetjoe tidak tahu aturan tjianpwee di sini,"
Katanya sambil memberi hormat.
"teetjoe tidak ketahui orang dilarang memasuki rimba dengan membawa pedang, harap tjianpwee memberi maaf kepada teetjoe yang lancang ini." -ooo00dwkz00ooo-(bersambung
Jilid 3) CATATAN halaman 449 -Puteri Ie Kiam, Ie Sin Tjoe kelak akan menjadi murid Thio Tan Hong dan In Loei, Ie Sin Tjoe adalah salah satu peran utama dalam cerita-cerita berikutnya, Pendekar Wanita Penyebar Bunga (Sanhoa Lihiap) dan Kisah Pedang Bersatu Padu (Liankiam Hongin).
halaman 452 -Taman Koaywa Lim (Saycu Lim) ini kelak terpaksa dijual Thio Tan Hong (dalam cerita Liankiam Hongin), dan dalam cerita Pendekar Pemetik Harpa (Khongling Kiam), anak keturunan Kiutauw Saytjoe (Singa Kepala Sembilan) In Thian Sek muncul lagi dan menguasai kembali taman tsb.
Karena dendam pada Thio Tan Hong, keturunan Kiutauw Saytjoe membalas dendam kepada keturunan/ murid dari Thio Tan Hong dan In Tiong.
Seri ke 2 Thiansan Karya .
Liang Ie Shen Saduran .
OKT Sumber txt otoy Ebook oleh .
Dewi KZ
http.//kangzusi.com atau
http.//dewikz.byethost22.com
Jilid 3 Tetapi nyonya tua itu tidak sudi pakai aturan.
"Tidak bisa!"
Katanya dengan kaku. Dia menjadi semakin gusar.
"Hunus pedangmu, mari kita mencoba-coba!"
Dia mendesak dan memaksa. Yap Eng Eng menjadi kewalahan, ia sudah cukup merendah tetapi tidak ada hasilnya, terpaksa ia cabut pedangnya.
"Kalau tjianpwee memaksa, silakan tjianpwee beri pengajaran padaku,"
Ia kata. Perempuan tua itu ambil sebatang bambu, ia raut itu dengan telapakan tangannya hingga menjadi serupa pedang-pedangan.
"Baiklah!"
Katanya.
"Jikalau kau sanggup menahas kutung selembar bambu ini, akan aku ijinkan kau turun gunung, kalau tidak, mesti kau berdiam di sini untuk menemani aku, sampai nanti gurumu datang untuk mengajak kau pulang!..."
Biar bagaimana, Yap Eng Eng juga ada semangatnya, dari itu, ia mendongkol juga akan kejumawaan orang. Dalam hati kecilnya, ia pikir.
"Pekpian Hian Kee Kiamhoat-ku sudah liehay sekali, mustahil aku tidak mampu menabas kutung pedang bambu ini? Sebenarnya aku hormati kau, orang tua! Apakah kau sangka aku jeri terhadapmu?"
Sampai di situ, mereka sudah lantas bertarung.
Baharu saja bergebrak, Yap Eng Eng sudah mendesak hingga tiga kali beruntun, membabat ketiga jurusan, sebab keras sekali keinginannya untuk menabas pedang bambu itu.
Nyonya tua itu nyata liehay sekali, ia sangat gesit.
Pedangnya seperti dikurung sinar, lantas ia selamatkan diri sambil berbalik mendesak, untuk merapatkan pedang lawan, yang dibikin seperti membayanginya.
Yaitu dengan mengikuti gerak-gerik pedang Eng Eng.
Tidak peduli ia sudah tunjukkan kesehatannya, Eng Eng tidak berhasil menghalau pedang bambu itu.
Juga baju lawan, ia tidak sanggup menyentuhnya.
Ia menjadi kaget, heran dan kagum.
Ia menjadi penasaran, ia mencoba bergerak lebih cepat lagi.
Orang tua itu berkelahi cepat, tetapi ia berlaku tenang.
Semua serangan dapat ia singkirkan.
Berulangkah ia tertawa mengejek.
"Begini saja ilmu pedang Hian Kee Itsoe!..."
Ia menyindir.
"Kelihatannya kau sudah ditakdirkan berdiam di sini menemani aku si tua bangkai..."
Selagi bertempur, Hoeithian Lionglie melihat cuaca berubah.
Tengah hari sudah mulai mendatangi.
Ia menjadi tegang sendirinya, mendongkol dan masgul, juga berkuatir...
Ia tidak dapat membabat pedang musuh, ia pun tidak mampu meloloskan diri.
Maka akhirnya, ia keluarkan seruling istimewanya dan meniupnya.
"Hai, menarik serulingmu ini!"
Berkata si nyonya tua.
"Kenapa di dalam rimbaku ini tidak terdapat bambu yang bagus seperti serulingmu? Merdu suara serulingmu, bolehkah aku meminjamnya?"
Eng Eng tidak pedulikan perkataan orang itu, yang mengejek sambil berkelahi terus, masih ia meniup serulingnya, meniup dengan terlebih keras lagi, hingga suara seruling itu mengalun jauh.
Oleh karena permintaannya tidak digubris, sekarang si nyonya tua berkelahi sambil mencoba merampas seruling orang.
Dua belas tahun Eng Eng bersemedhi menghadapi tembok, kecuali memahamkan lebih jauh ilmu pedangnya, ia juga meyakinkan dua macam ilmu lainnya yang liehay.
Yang pertama dinamakan "Lioein Kiamhoat", yaitu ilmu pedang "Mega Melayang".
Yang dinamakan pedang tetapi bukannya pedang melainkan ujung tangan baju, kalau tangan baju itu dipakai mengibas atau menyambar, ia dapat melibat senjata musuh, untuk dirampas.
Yang kedua ialah "Kioeseng Tengheng Tjiam"
Atau "Jarum Sembilan Bintang" , jarum mana bisa dipakai menyerang sekaligus, dengan jalan darah sebagai sasarannya.
Sekarang Yap Eng Eng melihat orang hendak merampas serulingnya, ia menjadi habis sabar, terpaksa ia kibaskan tangannya, untuk menyambar pedang bambu itu.
Ia pikir, kalau berhasil melibat, ia hendak patahkan pedang itu.
Tiba-tiba terdengar suara memberebet, untuk kagetnya Eng Eng dapatkan tangan bajunya berlobang dan robek, terkena dua jari tangan si nyonya tua, berbareng mana, serulingnya pun kena dirampas.
"Inilah kepandaianmu yang baik,"
Berkata si uwak.
"sayang latihan tenaga dalamnya masih kurang. Kau masih belum berhasil mematahkan pedangku! Maka tidak ada lain jalan, kau mesti berdiam di sini untuk temani aku bermain!"
Eng Eng tidak berhasil mematahkan pedang bambu si uwak, tapi ia dapat melibat sebentar dan menyampok pedang itu, ke samping.
Di samping itu, ujung bajunya robek, serulingnya berpindah tangan.
Ini berarti, dia kalah, si nyonya tua yang menang di atas angin.
Tapi di samping itu, ia termasuk kaum muda, si nyonya kaum tua, tinggi kedudukannya, ia tak usah malu.
Nyonya tua itu diam-diam mengagumi juga lawan yang muda ini.
Walaupun dia kalah Hoeithian Lionglie tidak berhenti sampai di situ.
Ia juga penasaran sekali.
Sekarang ia melanjutkan menggunakan kepandaian yang kedua.
Ia menuding dengan jari tangannya, lalu memanah dengan sembilan batang jarumnya.
Sehabis merampas seruling itu, si nyonya tua bawa seruling itu ke mulutnya.
"Menarik seruling ini,"
Katanya.
"nanti aku tiup..."
Lalu ia meniup, memperdengarkan suara yang halus, lebih sedap didengarnya daripada lagunya Eng Eng.
Tapi yang heran, angin seruling itu pun berbareng meniup kembali ke sembilan batang jarum rahasia, hingga tak sebatang jua yang mengenai si uwak itu.
"Ilmu senjata rahasiamu belum terlatih sempurna,"
Kata pula si uwak sambil tertawa.
"Mari kita mengadu pedang lagi seperti bermula..."
Dia segera menyerang.
Ketika Hoeithian Lionglie melayani, pedangnya terkurung pula seperti tadi.
Selama pertempuran itu, sang waktu telah berlalu terus.
Eng Eng berkuatir sekali.
Ia pikirkan Thian Hoa.
Mungkin soeheng itu sudah tiba di tempat yang dijanjikan mereka.
Adakah Thian Hoa mendengar suara seruling itu?
Inilah sangat diharapkan.
Kalau Thian Hoa datang, ia percaya ia dapat ditolong.
Begitu, dalam saat ketegangannya itu, ia lihat orang berlompat kepada mereka.
Mulanya ia menyangka Tjia Thian Hoa, tidak tahunya, orang itu adalah muridnya yaitu In Loei, bersama satu pemuda yang cakap tampan.
Ia tidak kenal anak muda itu, akan tetapi melihat roman orang, ia percaya orang itu gagah, mungkin melebihi muridnya.
In Loei heran menyaksikan gurunya tidak sanggup melawan nyonya tua itu, ia melirik kepada Tan Hong, terus ia maju.
"Soehoe,"
Ia berkata kepada gurunya.
"suka muridmu berbuat sesuatu untuk soehoe, dari itu harap soehoe perkenankan muridmu main beberapa jurus bersama lootjianpwee ini, supaya muridmu dapat menambah pengetahuan..."
Hoeithian Lionglie bersangsi, hingga ia awasi murid serta kawannya itu. Ia sendiri kalah, apakah muridnya dapat mengalahkan orang tua itu? Apakah murid itu tidak tahu "langit tinggi"
Dan "bumi rendah"? Oleh karena datangnya kedua anak muda itu, si nyonya tua lantas lompat mundur, hingga pertempuran terhenti.
"Bagus"
Katanya sambil tertawa.
"Aku memang senang pada anak-anak muda yang nyalinya besar! Adakah kamu murid-murid golongan ketiga dari Hian Kee Itsoe? Pelajaran apa saja yang kamu telah yakinkan? Hayo kamu coba, ingin aku menyaksikannya!"
Hoeithian Lionglie mengeluarkan napas lega.
Dari kata-kata si orang tua itu, teranglah dia tidak mengandung maksud jahat, hingga ia percaya, terhadap sepasang anak muda itu dia tidak akan berlaku kejam.
"Baiklah,"
Katanya kepada muridnya dan kawannya.
"pergi kamu melayani lootjianpwee untuk beberapa jurus. Kamu harus berlaku hati-hati!"
Nyonya tua itu, dengan sembarangan saja, sudah siap dengan pedang bambunya, yang dia bawa ke depan dadanya.
"Eh, mengapa kamu masih belum mulai?"
Ia tegur mereka apabila ia lihat orang masih berdiam saja. Tan Hong dan In Loei, dengan pedang ditangan-nya masing-masing, lantas memberi hormat.
"Harap lootjianpwee memberikan pengajaran kepada kami,"
Berkata Tan Hong.
Lalu, dengan sebat sekali, dengan berbareng, keduanya menggerakkan pedang mereka.
Mulanya pedang dibuka ke kiri dan kanan, lalu dirapatkan satu pada lain, habis mana, dengan secara tiba-tiba, keduanya dipakai menyabet ke arah pinggang!
Nyonya tua itu memandang enteng.
Bukankah mereka itu dari generasi ketiga dari Hian Kee Itsoe?
Biar mereka pandai, sampai di manakah kelihayan mereka itu?
Maka ia bersikap acuh tak acuh.
Tapi, setelah penyerangan datang bagaikan kilat, baharulah ia terperanjat.
Ia pun kaget karena jarak antara mereka dekat sekali.
Ia juga tidak sempat lagi menangkis.
Maka dengan terpaksa ia lompat mencelat tinggi!
Menampak demikian, dengan sikutnya, Tan Hong bentur In Loei, sampai si nona terhuyung mundur, ia sendiri mundur juga.
Nyonya tua itu, yang telah menginjak bumi pula di hadapan mereka, tertawa manis.
"Bagus, anak-anak muda! Nah, marilah kamu maju pula!"
Dia melompat tinggi untuk menolong dirinya, habis itu dia turun sambil membabat dengan pedangnya, tetapi dia kecele, karena kedua lawannya sudah mundur pula.
Mau atau tidak, dia mesti puji kecerdikan kedua lawan itu.
Dia tidak mendongkol, sebaliknya, dia senang melihat orang cerdas.
Tan Hong lihat cara orang berlompat, ia mengerti ancaman bahaya akan segera datang, karenanya, ia bentur In Loei, sebab lain jalan daripada itu sudah tidak ada lagi.
Mulanya In Loei heran tetapi segera dia mengerti, maka dia tidak berkecil hati.
Setelah itu si nyonya tua maju untuk menyerang, begitu lekas sepasang anak muda itu melayani dia, dia mencoba mempengaruhi pedang orang.
Dia sekarang insaf akan keliehayan kedua anak muda itu, maka tidak mau dia berlaku sembarangan, malah sebaliknya, dia lebih bersungguh-sungguh daripada waktu melawan Hoeithian Lionglie tadi.
Oleh karena ini, Tan Hong dan In Loei mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Setelah melalui kira-kira lima puluh jurus, si nyonya tua masih tak dapat menang di atas angin.
Juga Hoeithian Lionglie berdiri menjublak mengawasi sepasang anak muda itu.
Ia kagum dan heran melihat Tan Hong, yang ilmu pedangnya demikian tepat mengimbangi pelbagai gerakan In Loei, muridnya itu.
Semua gerakan si anak muda itu wajar, seperti boleh melatih.
"Ah, rasanya aku kenali ilmu silat pemuda ini..."
Pikirnya kemudian. Ia kenal tetapi tak dapat ia menyebutkannya.
"Dahulu soehoe mempunyai dua macam ilmu pedang, ia ajarkan itu masing-masing kepada Thian Hoa dan aku dan kita dilarang saling mengajari satu pada lain. Apakah ilmu pedang anak ini, ilmu pedangnya Thian Hoa, yang belum pernah aku lihat?..."
Pertempuran masih berlangsung terus, adalah setelah itu, dengan perlahan-lahan baharulah si nyonya tua mulai menang di atas angin, pedangnya -walaupun pedang bambu -mulai memperlihatkan pengaruhnya.
Tan Hong dan In Loei menjadi heran.
Sejak mereka kenal satu pada lain, dengan paduan ilmu pedang mereka Siangkiam Happek, belum pernah mereka menemui tandingan, sekalipun Ouw Bong Hoe dan Kimkauw Siantjoe Lim Sian In bergabung menjadi satu, kedua pihak sama tangguhnya, mereka tidak sangka nyonya tua ini sangat liehay.
Semua serangan mereka dengan mudah dapat dielakkan.
Mereka menjadi berkuatir ketika mereka tak dapat lagi melakukan penyerangan membalas, malah untuk membela diri saja, mereka kewalahan.
Pada saat Tan Hong memikir untuk menyerah saja, tiba-tiba ia dengar bentakan si nyonya tua.
"Siapa itu yang datang? Letakkan pedangmu!"
Lalu nyonya itu lompat, untuk menyambar daun bambu dengan apa dia mulai menyerang dengan rapat, seperti "boanthian hoaie,"
Atau "seluruh langit penuh dengan hujan bunga."
Menyusul itu terdengar suara bentroknya daun-daun bambu itu, yang terus jatuh berserakan, menampak mana, si nyonya tua menjadi heran.
Nyata dia tengah menghadapi orang yang terlebih liehay daripada Hoeithian Lionglie.
Bahwa orang mestinya kosen, inilah sudah diduga, karena itu, dia lantas menyerang dengan hebat.
Setelah serangan daun bambu itu, di atas tembok terlihat munculnya seorang yang terus lompat turun dengan gerakan enteng sekali.
Ketika Hoeithian Lionglie melihat orang itu, ia tercengang bahna herannya.
Itulah orang yang selama dua belas tahun ia pikirkan tak sudahnya.
Yaitu Tjia Thian Hoa, soehengnya dan orang yang dicintainya.
"Soemoay, kau baik!"
Tegur Thian Hoa selagi ia bertindak menghampiri.
"Shako, kau baik!"
Ia membalik.
"Apakah shako telah bertemu djiesoeheng?"
Baharu Thian Hoa hendak menjawab adik seperguruannya, atau si nyonya tua telah menegur padanya.
"Apakah kau juga muridnya Hian Kee Itsoe? Mari, mari, kau pun boleh mencoba-coba denganku!"
Tjia Thian Hoa tertawa.
"Soemoay,"
Ia kata pada Yap Eng Eng.
"baik kita tunda pembicaraan tentang kita, mari kita penuhi dahulu kehendak nyonya yang terhormat ini yang sangat pandai, sambil melatih pedang kita. Tan Hong, kamu bukan tandingan lootjianpwee ini, kenapa kamu tidak hendak lantas mengaku kalah?"
Tan Hong dengar perkataan gurunya itu, berbareng dengan In Loei, ia menarik kembali pedangnya sambil berlompat mundur.
Dengan tetap menyekal pedangnya, mereka memberi hormat kepada si nyonya tua sambil berkata.
"Terima kasih banyak untuk pengajaran Lootjianpwee, hingga tak sedikit kami peroleh kefaedahan."
Nyonya tua itu bersenyum.
"Kamu dapat melayani aku sampai lima puluh jurus, kamu bukannya kalah,"
Katanya dengan tenang.
"Baiklah, kamu boleh mundur, untuk digantikan oleh gurumu!"
"Kami juga akan maju berdua,"
Berkata Hoeithian Lionglie, yang mendapat ketika untuk beristirahat.
"Itulah baik sekali,"
Jawab si orang tua.
"Memang aku ingin menyaksikan kepandaian murid-murid Hian Kee Itsoe."
Thian Hoa tidak lantas maju, hanya sambil mengawasi nyonya tua itu, ia berkata.
"Lootjianpwee, sudikah kau memberitahukan kami tentang hubungan lootjianpwee dengan guru kami?"
Demikian ia tanya. Tiba-tiba si nyonya tua menunjukkan roman gusar.
"Hian Kee Itsoe agulkan dirinya sebagai orang nomor satu di kolong langit ini, aku si tua bangka, mana berani aku bersahabat dengannya?"
Sahutnya, kaku.
"Kamu juga tak usah menyebut-nyebut tentang persahabatan, baik kamu keluarkan saja semua kepandaianmu yang telah kamu peroleh dari Hian Kee Itsoe!"
Hoeithian Lionglie heran.
Dari kata-kata orang tua ini, mestinya antara dia dan guru mereka ada sesuatu sangkutan, hanya entah urusan apa itu.
Thian Hoa tidak menjadi gusar atau kecil hati karena suara keras itu, ia malah bersenyum.
"Kalau begitu, kami turut perintah saja,"
Katanya.
"Harap lootjianpwee memberi maaf kepada kami..."
Kata-kata ini disusul dengan gerakan pedang yang pertama, yang sebat sekali, yang diturut pula oleh Yap Eng Eng.
Hoeithian Lionglie bersilat seperti biasa, ia tidak harap dengan satu kali gebrak saja akan peroleh kemenangan, akan tetapi Siangkiam Happek benar-benar liehay, ketika kedua pedang bergerak berbareng, tanpa merasa si nyonya tua yang liehay itu mesti mundur tiga tindak.
Eng Eng menjadi girang sekali, di dalam hatinya, ia berkata.
"Ilmu pedang ciptaan soehoe ini benar-benar istimewa!..."
Ilmu pedang yang Thian Hoa dan Eng Eng gunakan adalah sama dengan ilmu pedang Tan Hong dan In Loei, akan tetapi perbedaan di antara mereka besar sekali, dan itu disebabkan latihan atau tenaga dalam mereka.
"Sekarang baharu aku saksikan kepandaian Hian Kee Itsoe!"
Berkata si nyonya tua setelah dia maju pula, sambil memainkan pedang bambunya.
Lalu terlihatlah tubuhnya bergerak-gerak dengan sangat lincah, tangan bajunya seperti berkibar-kibar.
Thian Hoa tidak menjadi gugup, ia juga berlaku gesit untuk melayani orang tua itu.
Erat kerja samanya dengan Yap Eng Eng, hingga karenanya, pertandingan menjadi sangat seru.
Kedua pihak sangat gesit, hingga dalam sekejap saja, lima puluh jurus telah lewat.
"Maaf!"
Seru Thian Hoa, yang lantas saja mengubah gerakannya, hingga ia menjadi lebih gesit, dalam hal mana, ia terus diimbangi Yap Eng Eng.
Dalam gerakan kali ini, terdengarlah suara dari beradunya pedang-pedang dan, memberebetnya suara baju robek.
Itulah suara pedang bambu dari si nyonya yang tertabas kedua pedang lawannya, hingga pedang itu terkutung menjadi empat, dan robeknya kedua ujung baju si nyonya!
"Maaf!"
Berkata pula Thian Hoa, dan Yap Eng Eng, sambil menarik kembali pedang mereka. Nyonya tua itu melemparkan sisa pedang bambunya.
"Tak dapat aku menahan kamu, pergilah!"
Berkata-dia, yang romannya menjadi lesu.
Beberapa puluh tahun dia telah keram diri di rimba pohon bambu ini, dia percaya dia akan dapat menandingi Hian Kee Itsoe, tidak disangka, dia rubuh di tangan murid orang.
Thian Hoa berempat memberi hormat, tanpa bilang apa-apa lagi, mereka mengundurkan diri dari rimba bambu itu.
"Liehay ilmu silat nyonya tua itu,"
Berkata Eng Eng di tengah jalan.
"Kita masih berbeda jauh sekali daripadanya. Aku lihat di jaman kita ini kecuali guru kita dan Siangkoan Thian ya, dialah jago yang ketiga."
"Bila mereka itu mengadu kepandaian, itulah baharu suatu pertandingan yang hebat,"
Berkata In Loei.
"Mungkin mereka pernah mengadu kepandaian,"
Kata Thian Hoa sambil tertawa.
"Sayang kita dilahirkan belakangan hingga kita tidak dapat menyaksikan mereka!"
"Aku rasa dia mempunyai perhubungan erat dengan guru kita,"
Eng Eng utarakan dugaannya.
"Shako, mendengar perkataanmu tadi, kau agaknya ketahui siapa nyonya tua itu..."
"Di pihak kita,"
Sahut Thian Hoa.
"yang mengetahui tentang dia, selainnya soehoe, mungkin toasoeheng. Pernah aku dengar samar-samar toasoeheng mengatakan, pertentangan antara soehoe dengan Siangkoan Thian Ya, tidak hanya disebabkan perebutan menjadi kepala dari kaum Rimba Persilatan, tetapi juga tersangkut hal seorang nona yang gagah luar biasa. Aku telah minta penjelasan padanya tetapi toasoeheng sungkan memberitahukannya. Toasoeheng tidak sudi berkata-kata perihal soehoe."
"Bagaimana dengan toasoeheng sendiri?"
Tanya Eng Eng.
"Sudah lama aku tidak melihat dia,"
Jawab Thian Hoa.
"Aku dengar desas-desus, kamu semua telah mendapat salah pengertian terhadapku..."
"Itulah benar,"
Yap Eng Eng akui.
"Sepuluh tahun lamanya kau berdiam di negeri Watzu, sebenarnya apa saja yang kau kerjakan di sana? Kenapa kau pernahkan dirimu di bawahan Thio Tjong Tjioe?"
Tjia Thian Hoa tertawa. Ia tidak jawab pertanyaan itu.
"Tan Hong, mari aku ajar kau kenal!"
Katanya kepada muridnya.
"Soemoay, dia adalah puteranya Thio Tjong Tjioe, ialah murid yang aku terima di Watzu."
Tan Hong lantas maju, untuk memberi hormat. Eng Eng menjadi heran.
"Kau telah mendapatkan murid yang pandai!"
Kata dia.
"Pantas tadi dia bersama-sama In Loei sanggup melayani orang tua itu selama lima puluh jurus..."
Hoeithian Lionglie merasa heran sekali, ia menjadi curiga.
Mustahil cuma sebab hendak mengambil satu murid, Thian Hoa jadi tidak merasa terhina untuk bekerja di bawahannya Thio Tjong Tjioe, orang Han yang menjadi menteri bangsa asing itu?
Thian Hoa dapat menduga kecurigaan soemoay itu.
"Ceritaku panjang, maka itu, marilah kita cari dulu soeheng kita,"
Berkata Thian Hoa.
Berempat mereka turun gunung.
Untuk melanjutkan perjalanan, In Loei ajak gurunya naik di atas kudanya, dan Tan Hong bersama gurunya naik atas Tjiauwya saytjoe ma, maka itu, dengan cepat mereka dapat lakukan perjalanan mereka, belum sampai setengah jam mereka sudah tiba di luar Ganboenkwan di tempat di mana mereka sudah berjanji untuk bertemu.
Akan tetapi di situ, mereka tidak lihat Tiauw Im Hweeshio.
"He, ke mana perginya djiesoeheng?"
Kata Eng Eng.
"Kuda kita dapat lari keras, mari kita cari padanya,"
Mengajak Thian Hoa.
"Mari kita cari dia di sekitar sini."
"Baiklah kita mencari dengan berpencaran,"
Tan Hong usulkan.
"Tak usah kau terus turut kita,"
Kata Thian Hoa pada muridnya.
"Di dalam negeri Watzu akan terjadi suatu perubahan besar, mungkin ayahmu berada dalam bahaya. Kalau tidak untuk bertemu dengan djiesoeheng, tidak nanti aku datang kemari. Kau pergilah bersama In Loei, kudamu dapat lari keras."
Tan Hong menjadi berkuatir.
"Ada ancaman bahaya apa, soehoe?"
Tanyanya.
"Yasian mencurigai ayahmu berhati dua,"
Thian Hoa jelaskan.
"maka itu setelah dia menarik kembali angkatan perangnya, niatnya menjadi semakin keras untuk merampas pemerintahan. Cita-citanya sebagai Soema Tjiauw, semua orang telah mengetahuinya. Aku hanya kuatir, niatnya itu akan diwujudkan dalam satu hari satu malam..."
Tan Hong menjadi berkuatir.
Memang ayah terancam bahaya, apapula ayah itu mengandung maksud membantu kerajaan Beng.
Karena ini, tak sempat ia bertanya banyak-banyak, habis memberi hormat kepada gurunya dan juga kepada Yap Eng Eng, ia segera berlalu dengan mengajak In Loei.
Tjia Thian Hoa awasi kedua anak muda mengaburkan kuda mereka.
"Mereka lebih beruntung daripada kita!"
Katanya sambil bersenyum.
Muka Yap Eng Eng menjadi bersemu dadu.
Ia merasa, Tan Hong dan In Loei itu bagaikan bayangan mereka berdua -ia dan Thian Hoa.
Tan Hong bersama In Loei melarikan kuda mereka sekeras-kerasnya, maka dengan segera mereka memasuki daerah Watzu, setelah tujuh hari, tibalah mereka di tanah datar Tjumushentji, sesudah melintasi tanah datar ini, kira-kira dua ratus lie lagi, mereka akan sampai di kota raja negara Watzu itu.
"Lagi dua hari, kita sudah akan sampai!"
Kata Tan Hong sambil bersenyum, karena setelah berjalan demikian jauh, hatinya mulai menjadi lega.
Ia tahu benar, kudanya, dan kuda In Loei juga, bisa lari setiap hari lima ratus lie.
Ia tarik sebuah buli-buli yang digantung di pelana kudanya, di dalamnya ia simpan minumannya yang dinamakan "manaitjiu"
Atau arak susu kuda, yang dapat dibeli di sepanjang jalan. Ia menambahkan.
"Sudah sekian lama aku tidak pernah merasakan pula minuman ini. Adik kecil, apakah kau hendak minum juga sedikit?"
Keluarga Thio ini sudah lama tinggal di Watzu, maka itu tahulah Tan Hong segala makanan atau minuman bangsa asing itu, dan manaitjiu ini meskipun tidak dapat melawan arak Tiongkok tetapi rasanya boleh juga.
In Loei menggelengkan kepala.
"Tidak, aku tidak mau,"
Jawabnya.
"Tak suka aku pada sarinya yang asam."
Tan Hong buka sumpal buli-buli itu, lalu ia bawa buli-buli itu ke mulutnya sendiri, untuk digelogokkan isinya.
"Lihat, adik kecil, bagaimana indahnya pemandangan alam di sekitar sini,"
Ia kata kepada kawannya. In Loei tertawa.
"Lihatlah, salju tengah beterbangan,"
Katanya.
"Sekarang sudah jauh musim dingin, perjalanan akan menjadi lebih sukar, maka marilah kita mengejar waktu!"
Tan Hong pun tertawa.
"Sekarang sudah jauh musim dingin, itu artinya musim semi akan segera datang!"
Katanya. Ia tenggak pula minumannya, terus ia bernyanyi. Ia menyanyikan syair "Berperang ke Barat"
Dari Gim Som.
"Di negeri Hsiungnu, rumput kuning artinya kuda sedang gemuknya, di Barat bukit Kim San tampak debu beterbangan, itu tandanya jenderal besar bangsa Han tengah maju berperang ke Tanah Barat! Hai, adik kecil, meskipun kita, bukannya jenderal besar Han itu, tetapi pentingnya perjalanan kita ini tak kalah dengan majunya jenderal besar itu!"
In Loei pun tertawa, ia berkata.
"Siapa berandalan, siapa gagah, dialah orang kenamaan. Siapa bisa menangis, siapa bisa bernyanyi, dia melebihi orang biasa. Kau bukannya orang kenamaan, kau hanya seorang gagah, tidakkah itu sayang?"
Tan Hong tertawa pula.
"Berapa harganya orang kenamaan? Menjadi orang gagah pun aku sungkan!"
Kata dia.
"Aku hanya ingin bekerja menuruti kehendak hati sendiri, supaya di saat ajal hampir tiba jangan meninggalkan penyesalan. Dengan begitu tidaklah kecewa kita hidup!..."
Dengan ini samar-samar Tan Hong menunjuk kepada perjodohannya dengan In Loei, supaya jodoh itu dilangsungkan secara wajar, jangan sampai terhalang karena rintangan lain orang, hingga karenanya mereka jadi melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati sendiri.
Mendengar itu, In Loei membungkam.
"Eh, adik kecil, apa yang kau pikirkan?"
Tegur Tan Hong. Si nona paksakan diri untuk tertawa.
"Aku sedang pikirkan... aku sedang pikirkan..."
Sahutnya, tak lancar.
"Ya, kita telah berjalan selama beberapa hari, tapi kita tidak pernah melihat pengembala-pengembala yang pergi ke Selatan untuk menghindarkan diri dari musim dingin. Bukankah syair Gim Som itu mengatakan di Barat bukit Kim San tampak asap dan debu beterbangan? Kenapa kita cuma melihat debu yang beterbangan saja dan asapnya tidak?"
Di Mongolia itu, setiap musim dingin, biasanya rakyat pengembala pergi mengungsi ke Selatan, untuk menyingkir dari penderitaan hawa dingin, sambil mengungsi mereka berusaha mengumpulkan barang keperluan sehari-hari untuk pada musim semi membawa pulang barang itu untuk dijual.
Sebenarnya, Tan Hong pun heran karena selama beberapa hari itu, ia tidak pernah melihat mengungsi kaum pengembala, sedang biasanya, yang tampak paling dahulu adalah kuda mereka yang berkelompok.
Ia mesti benarkan pendapat In Loei itu, tetapi walaupun demikian, ia toh memikirkan pula.
Tiba-tiba mereka dengar suara kelenengan.
"Nah, lihat, lihat itu!"
Serunya sambil tertawa.
"Bukankah itu kaum pengembala yang tengah menuju ke Selatan?"
Ia lantas palingkan kepalanya.
In Loei segera menoleh.
Di kejauhan mereka tampak seekor onta tengah mendatangi.
Itulah binatang yang perdengarkan suara kelenengan.
Berombongan dengan onta itu ada beberapa ekor kuda.
"Kelihatannya yang mengungsi itu cuma satu keluarga,"
Berkata si nona.
"Biasanya mereka membuat perjalanan dalam rombongan-rombongan besar."
"Lihat!"
Kata TanHong.
"Lihat di belakang mereka itu, masih ada rombongan lainnya... Eh, mereka bukannya kaum pengembala, hanya serdadu Mongolia!"
Memang, dengan menerbitkan debu mengepul-ngepul, belasan serdadu Mongolia tengah mendatangi.
Atau lebih tepat lagi, serdadu-serdadu itu sedang mengejar rombongan gembala di sebelah depannya.
Mereka mengaburkan kuda mereka, tidak heran jikalau mereka segera dapat menyusul.
Dan mereka sudah lantas bersikap keras terhadap rombongan itu, yang rupanya mau ditangkapi, mereka main tarik.
Maka sejenak itu terdengarlah ratap tangis dari lelaki atau perempuan dari rombongan pengungsi itu.
"Eh, itulah paksaan ketentaraan!"
Seru In Loei. Kenapa wanita hendak ditangkap juga? Kita telah saksikan mereka, tak dapat kita diam saja!"
Nona ini menjadi sangat mendongkol. Tan Hong, yang telah dipengaruhi sedikit oleh araknya, menyahuti.
"Baiklah! Mari kita binasakan beberapa serdadu Mongolia, kita rampas kudanya untuk diberikan kepada kaum pengembala itu!"
"Jangan, jangan kau binasakan mereka!"
Mencegah In Loei.
"Seorang serdadu pun jangan kau binasakan. Kita usir saja mereka!"
Tan Hong bersenyum. Ia tahu In Loei pemurah hati, ia pun bicara dengan maksud bergurau.
"Baiklah, aku turut kau!"
Katanya.
Lalu mereka larikan kuda mereka, akan menghampiri rombongan serdadu Mongolia serta pengungsi itu.
Pada saat itu seorang serdadu telah menangkap seorang wanita, dan beberapa serdadu lainnya, dengan panahnya, sedang mengancam dua pria.
"Kenapa kamu tidak mendengar titah Thaysoe?"
Demikian terdengar satu serdadu.
"Kenapa kamu lancang?"
Dua pengungsi pria itu, yang satu sudah berusia lanjut, yang lainnya masih muda.
"Baik, kami akan turut kamu kembali,"
Berkata yang tua.
"Akan tetapi anakku ini tak dapat kamu tangkap!"
Ia maksudkan anak perempuannya.
"Kamu telah melanggar titah Thaysoe, kamu semua akan dihukum!"
Bentak serdadu tadi. In Loei dengar pembicaraan itu, ia menjadi lebih gusar. Ia keprak kudanya untuk maju mendekati.
"Ah, itulah dua ekor kuda yang bagus!"
Berseru serdadu Mongolia itu.
"Eh, ada lagi dua orang Han!..."
Lalu mereka maju, untuk mendekati In Loei berdua.
"Apakah kamu menghendaki kuda ini?"
Tanya Tan Hong sambil tertawa.
"Nanti aku menghadiahkannya kepadamu! Hanya aku kuatir kamu tidak nanti sanggup mengendalikan kuda ini..."
Kuda Tjiauwya saytjoe ma sudah lantas mengamuk.
Ia terjang serdadu-serdadu Mongolia itu, ia mendupak sana-sini, hingga serdadu-serdadu itu jatuh bangun.
Orang yang menjadi kepala tak memandang mata kepada In Loei, ia maju kepada si nona, dengan mengulurkan sebelah tangannya, ia hendak menangkap nona itu.
In Loei tangkis tangan orang itu, begitu keras, hingga perwira itu terjungkal dari atas kudanya.
"Benar-benar kamu berani mengganas!"
Bentak Tan Hong.
"Lihatlah kuda ini!"
Dan ia ayunkan tangannya, tampaknya ia tidak memakai tenaga, tetapi kuda si perwira lantas saja rubuh dengan batok kepalanya pecah.
Semua serdadu Mongolia itu kaget, hingga mereka berdiri menjublak.
Itulah tangan yang liehay sekali.
In Loei, yang kemurkaannya sudah berkurang, tertawa menampak tingkah serdadu-serdadu itu.
"Kenapa kamu masih tidak hendak pergi dari sini?"
Ia tanya mereka.
"Apakah kamu hendak mencari mampus?"
Benar-benar rombongan serdadu itu menjadi sangat ketakutan, dengan satu teriakan mereka lari kepada kuda mereka masing-masing untuk segera kabur.
Celaka bagi si perwira, yang kudanya telah terbinasa, saking takutnya ia pun angkat kaki, larinya terhuyung-huyung.
Si pengembala tua lantas menghampiri Tan Hong, untuk memberi hormat, untuk menghaturkan terima kasih mereka.
"Mereka tadi menyebut-nyebut titah dari Thaysoe, titah apakah itu?"
Tanya Tan Hong.
"Sekembalinya Thaysoe dari luar negeri, ia telah mengumumkan sebuah titah,"
Sahut si pengembala.
"Dengan titah itu, sejak musim dingin, kami dilarang pergi mengungsi ke Selatan, katanya kami mesti menunggu sampai selesainya pengumpulan tentera baru. Sekarang ini sudah banyak anak-anak muda yang telah diambil dengan paksa, untuk dijadikan serdadu. Aku telah berusia lanjut, anakku cuma satu laki-laki satu perempuan, jikalau anakku yang lelaki diambil, pasti sekali bersama anakku yang perempuan aku akan mati sengsara. Oleh karena itu, dengan terpaksa kami melarikan diri. Jika perbuatan kami ini diketahui, pasti kami akan dituduh sudah berangkat mengungsi, dan itu artinya, kami akan kehilangan jiwa kami. Tapi kejadian tadi adalah lain, rombongan serdadu itu bukannya menuduh aku telah melanggar titah, tetapi mereka justeru hendak merampas gadisku..."
Mendengar keterangan itu, Tan Hong segera dapat pikiran, dengan mengumpulkan tentera baru, terang sudah Yasian, si thaysoe, telah mengandung maksud untuk berontak, guna merampas tahta kerajaan Watzu.
Karena ini, ia kuatirkan keselamatan ayahnya.
Karena ini juga, ia tidak mempunyai kegembiraan lagi untuk bertanya banyak pada pengembala itu, ia ingin segera pamitan...
Akan tetapi tidak demikian dengan In Loei.
"Kamu orang mana?"
Tanya si nona In, sambil memegangi tangan gadis pengembala tua itu.
"Siapakah namamu?"
Kedua matanya menatap tajam wajahnya gembira.
"Kami dari suku Ngolo,"
Sahut nona itu.
"Kami tinggal di lembah selatan gunung Tangkula. Namaku Tjitjelo..."
"Tjitjelo Anmei!"
Kata In Loei, meneruskan.
"Entjie Anmei, kau baik!"
Gadis pengembala itu menjadi heran, hingga ia berdiri tercengang, kemudian ia tatap wajah Nona In.
Ia heran kenapa orang mengetahui namanya dan memanggil ia entjie (kakak).
Ia mencoba akan mengingat-ingat akan tetapi sejenak itu, tak dapat ia mengingatnya.
Tan Hong pun heran, maka ia awasi kawannya itu.
In Loei menunjukkan roman sangat tegang, ketika ia bicara pula, suaranya pun menggetar.
"Bagaimana dengan Antjilo, nyonya tua Mi In?"
Demikian pertanyaannya pula.
"Apakah nyonya tua itu masih ada di sana?"
Nona Ngolo itu masih mengawasi.
"Apakah kau maksudkan nyonya tua yang menikah dengan seorang Han?"
Dia tegaskan.
"Benar,"
Sahut In Loei dengan cepat.
"Oh!..."
Seru si nona tertahan.
"Kau jadinya In... In..."
"Ya, aku In Loei !"
Jawab Nona In.
"Masih ingatkah kau padaku? Waktu kita masih kecil, bersama ibuku sering aku pergi ke lembah menyaksikan kamu menggembala kambing..."
In Loei meninggalkan Mongolia dalam usia tujuh tahun, maka itu, segala apa ia ingatnya samar-samar.
Nona pengembala ini adalah kawannya semasa kecil.
Dan nyonya tua Antjilo Mi In itu, yang ia tanyakan adalah ibunya.
Selama ayahnya, In Teng menyembunyikan diri di Mongolia, ayah itu telah menikah dengan satu nona Ouw, ialah sukunya nona pengembala ini.
In Teng pandai sekali menyimpan rahasia, sampaipun isterinya tak diberitahukan hal kepergiannya itu.
Bukan main girangnya si nona pengembala, melihat kawan semasa kecilnya sekarang sudah menjadi seorang nona yang gagah, hanya bila ia dengar In Loei bertanya tentang ibunya, ia nampaknya bersusah hati.
"Ketika tahun itu kamu lenyap secara mendadak,"
Berkata si orang tua, yang mewakili gadisnya.
"ibumu telah menangis siang dan malam sampai kedua matanya rusak hingga ia tak dapat melihat dengan terang. Kepala bangsa kita merasa kasihan melihat nasib ibumu itu, ia telah memberikan pekerjaan sebagai tukang pelihara kuda padanya. Sekarang ini mungkin ibumu itu masih ada di rumah kepala bangsa kita itu. Karena ini kepala bangsa kita mengatakan bahwa semua orang Han tak dapat dipercaya, sejak itulah ia mengumumkan larangan, wanita-wanita bangsanya menikah dengan orang Han."
In Loei lantas saja menangis menggerung-gerung. Pilu rasa hatinya mendengar penderitaan ibunya itu, ia lantas bayangkan bagaimana ibunya hidup sengsara.
"Sabar, adik kecil,"
Tan Hong menghibur.
"Tunggu sampai kita sudah selesai dengan tugas kita, kemudian kita cari ibumu itu. Syukur yang peebo masih ada di dalam dunia ini dan kita telah mendengar perihalnya, inilah suatu keuntungan dalam kesusahan... Sudahlah, jangan kau menangis."
In Loei tatap Tan Hong.
Ia nampaknya mendongkol, akan tetapi, ia suka mendengar nasihat orang itu, maka ia seka air matanya, setelah pamitan dengan bekas kawannya, orang tuanya dan saudaranya, ia naik ke atas kudanya, untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Lenyap kegembiraan Tan Hong.
Ia pun berduka, menyesal sekali, mendengar nasib ibu In Loei itu.
Ia insaf, penderitaan Nyonya In itu, biar bagaimana, disebabkan karena sikap ayahnya dahulu.
Maka diam-diam ia ambil putusan untuk melakukan sesuatu guna menebus kesalahan ayahnya itu.
Di sepanjang jalan ke Utara itu, Tan Hong dan In Loei tampak semakin banyak tentera Mongolia, akan tetapi karena kuda mereka dapat lari pesat, mereka senantiasa menyingkir dari mereka itu, walaupun mereka dapat dilihat serdadu-serdadu itu, untuk mengejarnya, mereka itu tidak sanggup.
Selang dua hari lagi, tibalah pemuda dan pemudi ini di kota raja negara Watzu.
Mereka itu sudah salin pakaian, mereka telah dandan sebagai kaum pengembala yang memasuki kota untuk belanja musim dingin...
Untuk dapat bertinggal, Tan Hong menyewa kamar di sebuah rumah penginapan kaum pertengahan, setelah pernahkan kuda mereka, mereka keluar dari hotel.
Tan Hong hendak pergi ke rumah, yang ada sebuah sianghoe-nya, yaitu gedung menteri muda, yang letaknya didekat istana, di bahagian depannya terdapat jalan perapatan di mana banyak kendaraan berlalu lintas, hingga jalan besar itu menjadi ramai sekali.
Akan tetapi hari itu, sedikit sekali orang yang mondar-mandir di situ, hingga keadaan menjadi sangat sunyi.
Menginjak jalan perapatan itu, hati Tan Hong tegang sendirinya, ia mendapat suatu perasaan luar biasa.
Di dalam hati kecilnya ia berseru "Celaka!..."
Sebenarnya, bila ia lintasi jalan besar itu, Tan Hong akan segera tiba di gedungnya, akan tetapi ia sudah lantas dapat pikiran, maka ia tarik tangan In Loei, untuk membawa kawan ini memasuki sebuah gang kecil di mana keduanya seperti bersembunyi di pojok.
Dari sini Tan Hong dapat memandang ke depan sianghoe, hingga ia dapat melihat sejumlah serdadu yang rupanya bertugas menjaga di situ.
Apa yang ia anggap luar biasa ialah, tidak ada seorang serdadu juga yang ia kenali.
Jadi mereka itu bukanlah serdadu-serdadu dari gedung itu.
Kembali Tan Hong menarik tangan si Nona In, untuk mengajak nona ini melintasi beberapa jalan, dan akhirnya mereka berhenti di sebuah warung arak.
"Marilah kita dahar dan minum dahulu,"
Katanya pada kawannya. In Loei manggut, ia menurut. Tan Hong pesan sekati daging serta dua kati arak Mongolia yang paling kesohor, yang dinamakan "arak merah rumput wangi."
"Menyesal sekali, di sini tidak tersedia arak itu,"
Kata pelayannya.
"Kalau begitu, pergi tolong belikan,"
Kata Tan Hong, yang terus menyerahkan sepotong perak.
Pelayan itu heran mendapatkan seorang pengembala dengan banyak uang, tetapi ia pergi tanpa bilang suatu apa, waktu ia kembali, ia sudah lantas sajikan arak yang diminta itu.
Selagi hendak mengembalikan uang kembaliannya, ia berkata.
"Arak ini harganya sekati satu tail empat tjhie, maka itu dua kati jadi..."
"Tak usah kau kembalikan, ambil saja untukmu,"
Kata Tan Hong memotong.
Kembali pelayan itu menjadi heran.
Jumlah harga arak itu cuma dua tail delapan tjhie, tapi uang perak tadi berharga sepuluh tail, maka persenan itu besarnya tujuh tail dua tjhie.
Tidak heran kalau ia menjadi girang luar biasa, berulang-ulang ia haturkan terima kasihnya.
Kebetulan waktu itu tidak ada lain-lain tetamu, hanya ia dapat mendampingi kedua tetamu itu, untuk siap sedia melayani terlebih jauh.
Tan Hong keringkan beberapa cawan arak.
"Gedung di depan itu gedung siapa?"
Ia tanya jongos itu, sikapnya acuh tak acuh.
"Oh, tuan tidak mengetahuinya?"
Si pelayan balik menanya, agaknya ia heran.
"Itulah gedung dari Yoesinsiang Thio Tjong Tjioe."
"Ah, pantas gedungnya besar dan mentereng!"
Kata Tan Hong dengan tingkah dibikin-bikin tapi tampaknya wajar.
"Di depan gedung itu juga terdapat banyak serdadu yang menjaga, sampai orang tidak berani lewat di depannya. Tentu mereka yang dagang di dekat situ mengalami nasib malang, bukan?"
"Dulunya tidak ada penjagaan demikian banyak serdadu,"
Berkata si pelayan.
"Katanya Thaysoe Yasian yang mengirim serdadu-serdadu penjaga itu..."
"Begitu? Mungkinkah Thio Sinsiang berbuat sesuatu kesalahan terhadap Thaysoe maka gedungnya itu dijaga?"
"Tentang itu, aku tidak tahu,"
Pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Hanya aku lihat masih saja ada hamba-hamba gedung itu, dengan ditilik serdadu-serdadu, pergi keluar untuk berbelanja sayuran dan lainnya. Kabarnya Thio Sinsiang masih ada di dalam gedung itu."
"Ah, kau pandai mendengar kabar!"
Tan Hong puji. Si pelayan, girang sudah dipersen besar, sekarang dipuji juga.
"Karena kami cuma terpisah satu jalan besar dengan sianghoe, kami bisa dianggap juga sebagai tetangga,"
Berkata ia pula.
"Biasanya, kalau Thio Sinsiang hendak pergi ke istana, dia mesti lewat di depan rumah makan kami, tetapi sudah sejak beberapa hari, kita tidak pernah lihat Sinsiang pergi ke istana. Sinsiang suka sekali akan hati kambing, selama beberapa hari ini dia masih tetap membeli pada kami."
Lega juga hati Tan Hong mendengar keterangan ini.
"Jikalau begitu, ayahku tentu telah ditahan secara halus oleh Yasian,"
pikirnya.
"Yasian tidak menurunkan tangan jahat, apa perlunya ia mengurung ayah secara begini?
Itulah penahanan rumah...
Untuk sementara, keterangan itu sudah cukup, maka habis dahar dan minum, Tan Hong ajak In Loei kembali ke hotel.
Selama di rumah makan tadi, In Loei kebanyakan diam saja.
"Adik kecil,"
Berkata Tan Hong.
"sekarang pergilah kau ke rumah penginapan di sebelah untuk minta sebuah kamar. Sebentar malam, apabila tidak terjadi sesuatu, akan aku pergi padamu untuk mengajak kau menyelidiki sianghoe."
"Kenapa kau bertindak begini?"
Tanya In Loei, yang kurang mengerti.
"Bersiap sedia ada terlebih baik daripada tiada,"
Jawab Tan Hong.
"Adik kecil, kau dengar saja perkataanku."
"Kalau begitu, baiklah,"
Si nona menurut.
"Malam ini akan aku nantikan kau. Tapi untuk pergi ke rumahmu, aku tidak mau..."
Tan Hong tahu orang menjadi malu, ia tertawa.
"Baik,"
Katanya.
"Hal itu nanti saja kita bicarakan pula. Sekarang aku hendak minta kau melakukan sesuatu. Yaitu kau mesti secara diam-diam meninggalkan tanda-tanda di tembok-tembok dari rumah-rumah di sekitar jalan besar dan gang-gang di sini."
In Loei terima tugas ini, maka Tan Hong ajarkan dia tanda-tanda yang mesti dicoretkan itu, ialah tanda dari perguruan si pemuda.
Waktu itu juga si nona mengundurkan diri.
Habis bersantap, waktu sudah magrib.
Tan Hong hendak mencari In Loei ketika jongos memberitahukan ada tetamu pembesar negeri yang datang berkunjung padanya.
"Heran..."
Pikir pemuda ini. Ketika pintu kamar dipentang, di situ muncul satu perwira. Dia adalah Ngochito pahlawannya Yasian.
"Thio Tan Hong, kau sungguh bernyali besar!"
Kata pahlawan itu sambil tertawa.
"Bagaimana kau berani datang kemari?"
Tan Hong juga tertawa.
"Kau juga bernyali besar sekali!"
Jawabnya.
"Bagaimana kau berani datang ke sini! Telah sembuhkan lukamu?"
Di pesanggrahan See To, Ngochito telah dilukai Tan Hong, dan dia pun telah dihajar Tjio Eng, tidak peduli dia mengenakan baju berlapis baja, dan karena lukanya dia harus merawat diri hampir setengah bulan, tetapi sekarang dia telah sembuh kembali.
"Terima kasih untuk hadiahmu!"
Sahutnya sambil bersenyum.
"Syukur tulang-tulangku masih dapat pertahankan diri, hingga tak usahlah aku sampai ditertawakan kau..."
Tan Hong pun bersenyum.
"Apa kehendakmu sore ini kau datang kemari?"
Ia tanya.
"Disini bukannya tempat untuk bertempur."
"Aku datang bukan untuk mencari kau guna menuntut balas,"
Jawab Ngochito.
"Tentu saja, bila kau menghendakinya, di belakang hari mungkin kita akan melakukan pertempuran pula. Aku datang untuk memberi selamat padamu!"
"Selamat untuk apakah itu?"
Tan Hong tegaskan.
"Kau sungguh beruntung, bocah!"
Kata Ngochito sambil tertawa.
"Thaysoe telah ketahui segala tindak tandukmu, dia bersikap sangat murah hati terhadapmu, maka malam ini dia undang kau menghadiri perjamuannya."
"Ha! Mengundang aku berjamu?"
Tanya Tan Hong.
"Benar! Lekas kau salin pakaian! Sampai sekarang ini, tak usah kau main sembunyi-sembunyi lagi, tak usah kau menyamar terus sebagai satu pengembala!"
Tanpa ragu-ragu, Tan Hong sudah lantas tukar pakaian.
"Sungguh liehay kuping dan mata thaysoe1."
Katanya selagi salin pakaian. Ngochito tertawa.
"Kau cerdik, lain orang tidak tolol!"
Katanya.
"Thaysoe kata kau cerdas seumur hidupmu, tetapi suatu waktu kau pun berlaku sembrono!"
"Bagaimanakah itu?"
"Kau menggunakan tanganmu terlalu sembronoiBukankah kau telah mencari keterangan dari seorang jongos rumah makan? Dia telah memikirkan sikapmu itu? Dapatkah dia tidak memberi laporan kepada pihak polisi?"
Tan Hong tidak terkejut. Kejadian itu telah diduganya. Ia malah menduga, mungkin Yasian akan mengundang padanya. Maka itu, siang-siang ia sudah menyuruh In Loei memisahkan diri.
"Eh, ke mana nyonya manismu?"
Tanya Ngochito.
"Kau ngaco! Dia adalah soemoay-ku!"
"Peduli apa dia isterimu atau soemoay-mu Mana dia!"
Thio Tan Hong tidak segera menjawab, ia hanya tertawai pahlawan itu.
"Thaysoe pandai menghitung-hitung, apakah dia tidak dapat menghitung-hitung tentang soemoay-ku itu?"
Dia tanya.
"Soemoay-ku itu jauh terlebih cerdik daripadamu! Aku sendiri telah datang kemari dengan pertaruhkan jiwaku, akan tetapi dia, dia masih sayangi jiwanya untuk beberapa tahun lagi -dia takut nanti terbawa-bawa olehku, siang-siang dia telah angkat kaki!"
Ngochito sudah cari keterangan, dia dapat kepastian, In Loei telah pergi sejak tadi siang, maka itu, dia percaya akan perkataan Tan Hong ini. Ia tertawa.
"Memang dia sangat cerdas, akan tetapi pastilah Thaysoe tidak mengijinkan dia berdiam di kota raja ini! Mari kita berangkat! Thaysoe berlaku baik sekali terhadapmu, tidak usah kau mengadu jiwamu!..."
Tan Hong telah selesai salin pakaian, ia tidak usah membayar lagi uang sewa kamar, sudah ada Ngochito yang mendahului membereskannya, maka itu ia lantas keluar dari hotel di depan mana sudah menantikan beberapa pahlawan lainnya, yang datang bersama-sama Ngochito itu.
Ia segera naik kereta kuda yang disiapkan untuk menyambut padanya.
Tidak sampai setengah jam, tibalah mereka di gedung perdana menteri, yang jauh terlebih mentereng daripada gedung Menteri Muda Thio Tjong Tjioe.
Di sini, pintu luarnya tiga lapis, pintu dalamnya juga tiga lapis, dan ke enam pintu itu berkunci besi.
"Tetamu telah tiba!"
Seru seorang pahlawan setelah mereka memasuki pintu ke enam.
Segera juga pintu tengah dipentang, di dalam tampak cahaya api bergemerlapan.
Di dalam ruangan itu pun di bahagian tengah, tampak Thaysoe Yasian tengah berduduk.
"Silakan tetamu itu masuk!"
Dia berikan titahnya, di mana disampaikan oleh pengiringnya. Dengan bersikap tenang dan wajar, Tan Hong bertindak diundakan tangga. Seorang pahlawan datang menghampiri, untuk memimpin.
"Undakan tangga di sini tinggi, hati-hati sedikit!"
Berkata pahlawan itu. Tan Hong bermata celi, ia lihat gerakan tangan Taylek Engdjiauw kang-nya, maka itu, ia bersenyum.
"Aku dapat berjalan sendiri, kaulah yang berhati-hati!"
Katanya.
Ia kerahkan lengannya yang dicekal, atas mana pahlawan itu mundur beberapa tindak dengan tubuhnya terhuyung.
Meski begitu, di bagian lengan yang dicekal itu, si anak muda merasakan sakit.
Maka mau atau tidak, ia bercekat di dalam hatinya.
Teranglah pahlawan ini lebih liehay daripada Ngochito, siapakah pahlawan ini?
Lalu, tanpa memberi tanda apa-apa, ia bertindak terus mendaki tangga sampai di ruangan tengah.
Segera juga terdengar tertawanya Yasian.
"Baharu dua tahun kita tidak bertemu, kau telah menjadi begini besar, hiantit1.' berkata perdana menteri itu.
"Kau telah pandai dalam ilmu surat dan silat, sungguh kau harus diberi selamat!"
Tan Hong berikan hormatnya kepada menteri agung itu.
"Dua tahun kita tidak bertemu, Thaysoe pun telah bertambah agung!"
Ia menimpali, dengan suara nyaring tetapi sikapnya wajar.
"Thaysoe telah berkedudukan tinggi dan berpengaruh besar, hingga rakyat cuma tahu ada Thaysoe tetapi tidak Sri Baginda Raja! Sungguh Thaysoe juga harus diberi selamat!"
Tepat kata-kata Tan Hong itu, akan tetapi untuk mereka yang tahu, itu justeru suatu ejekan.
Yang pertama untuk kegagalan Yasian menyerbu ke Tionggoan, dan kedua untuk cita-citanya merampas tahta kerajaan.
"Bagus, bagus!"
Berkata Yasian sambil tertawa.
"Hiantit telah kembali dari tempat yang jauh, silakan duduk, mari minum!"
Di samping Yasian duduk seorang pendeta yang tubuhnya tinggi dan besar, dia telah menuang penuh sebuah cawan, sambil berbangkit, dia berkata.
"Mari, lebih dahulu aku beri selamat kepada Thio Kongtjoe1."
Dia pegang cawan itu dengan kedua jari tangannya, dia putar cawan itu, yang isinya penuh, akan tetapi arak itu tidak tumpah keluar, lalu diangsurkan ke muka si anak muda.
Tan Hong heran menyaksikan gerakan tangannya, itulah tenaga yang dikerahkan pada jari-jari tangan.
Lekas-lekas ia menyambuti.
"Maaf, aku belum ketahui gelaran tayhoatsoeV berkata ia. Ia buka tangannya, untuk menyambut cawan itu dengan telapak tangannya, lalu dengan melemahkan telapak tangan itu, ia buyarkan tenaga menekan orang. Begitu lekas ia menyekal cawan, terus saja ia minum. Wajah si pendeta berubah dengan tiba-tiba, tetapi dalam sejenak itu, Tan Hong juga telah menunjukkan roman heran, karena ia rasakan tenaga dalam orang yang hebat sekali. Bila ia tidak mendapat latihan menurut "
Hiankong Yauwkoat,"
Niscaya ia bisa terluka serangan gelap dari si pendeta itu, atau sedikitnya, arak itu akan tumpah keluar.
"Ah, dia terlebih liehay pula dari si pahlawan tadi..."
Katanya dalam hatinya.
"Pahlawan itu masih aku sanggup layani, tetapi dia ini, sukar mengatakannya. Entah dari mana Yasian kumpulkan orang-orang kosen ini?"
Belum lagi si pendeta menjawab, Yasian sudah mendahuluinya.
"Hiantit, mari aku ajar kenal,"
Demikian katanya.
"Inilah Tjeng Kok Hoatsoe dari Ang Kauw dari Seetjhong, dan ini,"
Ia menoleh, akan menunjuk pahlawan yang tadi.
"adalah Ma I Tjan, orang kosen suku Tuyuhun!"
Bersama dua orang itu, Tan Hong keringkan secawan arak.
Sekarang tahulah dia, si pendeta berasal dari Agama Merah (Ang Kauw) dari Thibet (Seetjhong), dan si pahlawan adalah orang Tuyuhun.
Masih Yasian berkata pula.
"Aku tadinya menduga hiantit pesiar jauh hingga lupa pulang! Tentu banyak tempat yang hiantit telah kunjungi?"
"Dari utara ini aku berangkat ke Kanglam,"
Sahut Tan Hong sambil tertawa.
"di sana aku dapat kenyataan Tionggoan adalah daerah makmur dan rakyatnya jelita. Sungguh Tionggoan adalah satu dunia yang indah, suatu negara bersulam. Maka sayang bagi Thaysoe yang baru saja tiba di luar Pakkhia sudah lantas kembali pulang."
Wajah perdana menteri itu berubah mendengar perkataan orang itu.
"Tanah Tionggoan itu pastilah lain kali akan aku kunjungi pula untuk membuka mataku!"
Berkata dia kemudian.
"Hiantit, aku akan minta kau turut serta untuk menjadi pengantarku."
"Hm!"
Tan Hong perdengarkan suara perlahan, lalu ia kata.
"Tadi malam dalam mimpiku aku telah pergi pula ke Tionggoan, hanya sayang mimpiku itu tidak lama, lantas aku sadar."
Yasian dapat kendalikan dirinya, ia tertawa. Ia tutupi kelikatannya dengan menenggak araknya.
"Hiantit, kau menjadi lebih pandai bicara,"
Ia kata.
"Usiaku telah lanjut, apa yang aku pikir lantas aku ucapkan, maka itu aku minta hiantit jangan menaruh kata-kata itu dalam hati bila tidak pantas didengarnya..."
"Tidak apa, Thaysoe,"
Jawab Tan Hong.
"Silakan Thaysoe katakan apa yang hendak diucapkan. Senang sekali aku menerima pengajaran dari Thaysoe."
"Hiantit baharu saja kembali, kau tentunya belum bertemu dengan ayahmu,"
Berkata perdana menteri itu.
"sekarang aku mendahului ayahmu menyambut kau, aku percaya ayahmu tidak akan menjadi kurang senang hati."
"Sebaliknya, hendak aku mewakilkan ayahku untuk menghaturkan terima kasih untuk budi kebaikan Thaysoe,"
Kata Tan Hong. Yasian heran, hingga ia mengawasi pemuda itu.
"Menghaturkan terima kasih untuk apakah?"
Ia tanya.
"Seumur hidupnya ayahku selalu repot,"
Sahut Tan Hong.
"tapi sekarang dengan kecintaan Thaysoe , dia telah dibebaskan dari tugasnya, hingga dia mendapat ketika untuk berdiam di rumah, untuk beristirahat. Sebenarnya inilah suatu hal yang tak dapat diminta, dari itu, bagaimana aku bisa tidak menghaturkan terima kasih kepada Thaysoe?"
Mendengar itu, Yasian tertawa terbahak-bahak. Tan Hong perlihatkan roman heran.
"Mungkinkah keponakanmu telah keliru berbicara hingga Thaysoe mentertawakannya?"
Ia tanya.
"Hiantit tidak salah omong, hanya kau pandai sekali berbicara,"
Sahut perdana menteri itu.
"Benarlah bunyi pribahasa, yang kenal anak tak ada yang melebihi ayahnya, sebaliknya, yang kenal ayah juga tak ada yang melebihi anaknya. Memang aku berniat pergi ke Tionggoan, akan tetapi ayahmu itu, bagaimana bisa dia tak menghendaki pulang ke negeri asalnya? Hiantit, marilah kita bicara secara terus terang. Dapat atau tidaknya ayahmu pulang ke Tionggoan, itulah tergantung padamu sendiri!"
Tan Hong berlaku tenang.
"Silakan Thaysoe bicara dengan jelas,"
Ia minta.
"Kali ini aku pergi ke Pakkhia, sia-sia saja hasilnya, Yasian akui.
"Kebandelan Ie Kiam si Bantjoe sungguh di luar sangkaanku, sedang suasana di dalam negara kita juga adalah salah satu sebab lain yang memaksa aku mesti lekas pulang kembali. Hiantit, kau seorang diri, tidak ada halangannya untuk aku menjelaskannya."
"Adakah ayahku yang Thaysoe maksudkan dengan suasana di dalam negeri itu?"
Tanya Tan Hong. Yasian tertawa.
"Aku bukan maksudkan ayahmu, aku bicara mengenai Tiewan Atzu,"
Ia terangkan.
"Di Barat, Atzu mempunyai tentera sendiri, tapi dia tidak mentaati titah pusat. Apakah benar hiantit masih belum tahu halnya dia itu?"
"Aku baharu saja pulang, aku masih belum tahu,"
Jawab si anak muda yang di panggil hiantit itu. (Hiantit = keponakan) "Sekarang ini Watzu terpecah dalam tiga bahagian,"
Yasian berbicara terlebih jauh.
"Sri Baginda sangat lemah, tak dapat dia mengendalikan negara, maka itu untuk dapat menjagoi di luar tapal batas, untuk memberi minum kuda di sungai Tiangkang, hanya aku atau Atzu-lah yang dapat melakukannya..."
Tan Hong tidak bilang suatu apa, ia cuma tertawa tawar.
"Atzu itu gagah tetapi ia tidak berbudi,"
Berkata pula Yasian.
"Bukannya aku tekebur, untuk menggunakan kata-kata bangsa Han, orang gagah yang sebenarnya adalah Lauw Pie bersama Tjo Tjoh. Aku tidak pandai tetapi aku berani membandingkan diriku dengan Tjo Tjoh itu..."
"Habis, siapakah yang menjadi Lauw Pie itu?"
Tan Hong tegaskan.
"Ayahmu yang terhormat itu ialah Lauw Pie,"
Yasian jelaskan.
"Ayahmu adalah boenbee tjoantjay, sudah lama dia memegang kekuasaan, dia tahu betul keadaan dalam negeri Watzu, maka bila dia berserikat bersamaku, tak sukar untuk kita bersama-sama menyingkirkan Atzu, sesudah itu baharulah kita bersama-sama juga memimpin angkatan perang kita ke Selatan. Sampai waktu itu pastilah ayahmu yang terhormat itu akan dapat memberi minum kudanya di Tiangkang, hingga terwujudlah cita-citanya untuk pulang ke negaranya sendiri."
Tan Hong gusar mendengar perkataan itu, tetapi ia masih dapat atasi dirinya. Selagi ia menahan sabar, Perdana Menteri itu sudah melanjutkan pula pembicaraannya.
"Pada lima hari yang lalu, pernah aku menulis surat secara rahasia kepada ayahmu, untuk mengajak dia berdamai,"
Demikian perdana menteri itu.
"akan tetapi sampai sekarang, ayahmu masih belum memberikan jawabannya. Hiantit, kau adalah seorang yang cerdas, maka itu telah aku pikir untuk meminta bantuan kau, supaya bila nanti kau pulang ke rumah, sukalah kau mewakilkan aku untuk membujuk ayahmu itu."
Sekarang jelaslah bagi Tan Hong, Yasian hendak bersekutu dengan ayahnya untuk bersama "menghukum"
Atzu, untuk menyingkirkan pangeran yang dipandang sebagai musuh itu.
Terang sudah, habis itu, Yasian akan mengangkat dirinya menjadi raja Watzu dengan jalan merampas tahta.
Inilah sebabnya, atau lebih tepat lagi karena ayah belum memberikan jawaban, hingga ayah dikenakan tahanan rumah.
Oleh karena ini, ia lantas berpikir keras.
Ia insyaf, kekuasaan berada di tangan Yasian itu artinya, juga jiwa ayahnya berada dalam genggaman perdana menteri ini.
Kalau sekarang ia bersikap keras, ancaman bencana di belakang hari tak dapat dipikirkan besarnya.
Pada itu pun tersangkut nasibnya Tionggoan.
Maka haruslah ia berhati-hati.
"Sekarang ini, Pangeran Atzu bukanlah tandingan Yasian,"
Ia berpikir lebih jauh.
"umpama kata Yasian tidak bersekutu dengan ayah, dia pun masih dapat mewujudkan cita-citanya untuk mengangkat dirinya menjadi raja. Bahwa dia toh minta bantuan ayah, itulah tak lebih tak kurang agar dia dapat memastikan berhasilnya usaha itu. Tidak ada lain jalan, sekarang perlulah aku menggunakan siasat memperlambat diri, untuk menunggu sampai Ie Kokioo sudah selesai dengan penyempurnaan ketenteraannya. Maka itu, andaikata Yasian telah berhasil, dia tak usah dikuatirkan."
Yasian sementara itu menantikan jawaban, ia mendesak.
"Kedua pihak telah bersahabat turun temurun, antara kita tak ada kata-kata yang tak dapat diucapkan,"
Demikian perdana menteri itu.
"Bagaimana pikiranmu, hiantit? Aku minta sukalah kau menjelaskannya."
Sekonyong-konyong saja Tan Hong tertawa bergelak.
"Rembulan demikian permai, arak lezat tengah menanti, kalau sekarang kita bicarakan urusan besar dari negara, tidakkah kita telah mensia-siakan malam yang indah ini?"
Berkata Tan Hong.
"Marilah kita keringkan dahulu tiga cangkir! Thaysoe, mari, aku beri selamat kepadamu dengan tiga cawan! Silakan minum!"
Yasian tercengang, hatinya tak puas.
Akan tetapi untuk kesopanan, tidak dapat ia menolak, maka itu, terpaksa ia tenggak araknya hingga tiga cawan.
Habis minum, baharu ia hendak bicara, atau kupingnya mendengar suara beradunya gelang tangan dibarengi dengan tersingkapnya gorden, lalu muncul satu nona yang cantik, yaitu puterinya, Topuhua.
"Ah, Thio Toako, benar-benar kau!"
Berkata si nona sambil tertawa. Sama sekali ia tidak tunjukkan sikap likat.
"Aku tadinya menyangka ayah memperdayakan aku!..."
Nona ini berbicara dengan sungguh-sungguh.
Ayahnya mengetahui rahasia hatinya, ayah itu menjanjikan akan merekoki jodohnya dengan Tan Hong, untuk itu, ayahnya hendak mencari Tan Hong, tetapi dia kalah perang, dia mesti berangkat pulang.
Topuhua sudah menyangka, seumurnya ia tidak akan bertemu pula dengan Tan Hong, hal itu membuatnya ia berduka, lalu mendadak, malam itu ayahnya memberitahukan padanya bahwa "orang yang ia hendak menemuinya itu akan datang menghadiri pesta,"
Hingga ia menjadi girang berbareng ragu-ragu, ia sangsi kalau-kalau ayah itu mendustai padanya, tetapi buktinya sekarang, ia lihat si pemuda pujaannya itu!
Sebenarnya Yasian telah pesan puterinya, kalau nanti pesta mendekati akhirnya, baharu si nona boleh muncul, akan tetapi Topuhua tak sanggup mengendalikan hatinya, maka juga belum sampai waktunya, ia sudah keluar.
Tan Hong tidak terkejut dengan datangnya si nona, malah untuknya, inilah ketika yang baik sekali.
Selagi nona itu berlaku demikian polos, ia pun lekas-lekas berbangkit, untuk memberikan hormatnya.
Lalu ia berkata.
"Sungguh beruntung yang hari ini aku dapat bertemu pula dengan nona! Terlebih dahulu aku mesti memberi selamat padamu dengan tiga cawan!"
Dan segera ia isikan cawannya.
Topuhua tertawa, wajahnya jadi sangat terang.
Dengan tidak malu-malu, ia terima pemberian selamat si anak muda itu, dengan diiringi pemuda itu, ia minum araknya.
Selama itu terus menerus ia bersenyum manis.
Tan Hong benar-benar gunakan ketikanya.
Ia tidak berikan Yasian ketika untuk membuka mulutnya, kemudian ia berkata pula.
"Aku bersyukur untuk pelayanan kau selama di Touwbokpo, maka untuk itu, silakan kau keringkan tiga cawan pula!"
"Tetapi kau mesti temani aku minum!"
Kata Topuhua dengan manis.
"Tentu!"
Sahut Tan Hong. Lantas ia isikan pula tiga cawan, bersama si nona, ia keringkan cawannya sendiri. Yasian kerutkan alisnya melihat kelakuan puterinya ini.
"Anakku, jangan minum terlalu banyak, nanti kau pusing,"
Katanya.
"Nanti toakomu tertawai kau, kau akan dikatakan tidak tahu adat..."
Perdana menteri ini bicara kepada anaknya, tetapi maksud yang sebenarnya adalah untuk menegur Tan Hong. Topuhua tak dapat menangkap maksud ayahnya itu, ia tertawa.
"Cuma beberapa cangkir arak, mana dapat membuatnya aku pusing!"
Katanya.
"Aku justeru girang sekali yang Thio Toako demikian baik hati..."
Tanpa malu-malu nona ini memanggil "toako" -artinya "engko" -kepada si anak muda, terutama ayahnya pun menyebut "toako"
Juga. Kembali Yasian kerutkan alisnya, ia masgul dan bingung.
"Ah, ayah!"
Kata Topuhua, ketika melihat roman ayahnya itu.
"Baiklah, aku tidak akan minum pula. Thio Toako, hendak aku membalas memberi selamat tiga cawan kepadamu!"
"Bagus, bagus!"
Kata Tan Hong tanpa menunggu orang menuangkan arak untuknya.
"Akan aku terima kebaikanmu ini!"
Terus ia isi cawannya, terus ia minum, hingga tiga cawan. Topuhua sangat girang hingga ia seperti melupakan dirinya.
"Sungguh kau manis, Thio Toako1."
Ia berkata.
"Aku kata, kau mesti minum lagi tiga cawan! Semasa di Touwbokpo kau berlalu tanpa pamitan. Tidakkah untuk itu kau harus didenda?"
"Memang! Memang aku harus didenda!"
Sahut Tan Hong, yang menerima salah... Ia sambar poci arak, yang hendak diambil si nona, ia tuangkan isinya, lagi sekali ia tenggak habis tiga cawan pula! "Arak sudah cukup!"
Akhirnya Yasian campur bicara. Ia heran menampak sikap wajar dari Tan Hong. Tidakkah pemuda dan pemudi itu berada dihadapannya? "Mari kita dahar sup ikan untuk menghilangkan sedikit pengaruh arak!"
Mendadak Tan Hong buka kancing bajunya, terus ia tertawa besar.
"Jikalau arak bertemu penggemarnya, seribu cawan juga masih kurang!"
Katanya.
"Sebaliknya, kalau kata-kata tak cocok, setengah patah juga terlalu banyak! Ya, ya, kalau kata-kata tidak cocok, setengah patah juga terlalu banyak! Lihat, seribu cawan arak masih belum cukup, apakah aku sudah hendak dilarang meminumnya terlebih jauh?"
"Ah, Thio Sieheng sudah mabuk!"
Berkata Yasian. Tan Hong mainkan kaki tangannya.
"Siapa kata aku sudah mabuk?"
Katanya.
"Siapa kata aku sudah mabuk? Lihat, akan aku minum pula, kamu saksikan!"
Ia lantas sambar poci arak. Yasian kedipkan matanya kepada pahlawannya, Ma I Tjan, atas mana, pahlawan itu maju, untuk mencegah.
"Kongtjoe sudah, jangan minum pula!"
Kata dia. Ia tekan tangan orang.
"Hai, kau berani melarang aku minum?"
Tan Hong membentak, tangannya dipakai mengibas, atas mana, pahlawan itu mesti mundur tiga tindak. Poci arak pun terlepas dan jatuh. Karena ini merah muka dan kuping si pahlawan.
"Hiantit, hati-hati,"
Kata Yasian.
"Arak dapat merusak badan, baik kau jangan minum pula!"
Tan Hong tertawa berkakakan.
"Sejak jaman purbakala hingga sekarang ini,"
Katanya.
"aku cuma dengar tuan rumah yang menganjurkan tetamunya minum arak tetapi belum pernah aku dengar tuan rumah mencegah tetamunya minum! Inilah tidak ada aturannya! Haha-haha! Haha nana!"
"Ah, benar-benar Thio Sieheng sudah mabuk,"
Berkata pula Yasian.
"Lekas sajikan hidangan yang dapat melenyapkan pengaruh arak itu!"
Tan Hong gerak-gerakkan kaki tangannya, seperti orang menari-nari, ia berlaku berandalan.
"Aku belum mabuk! Aku belum mabuk!"
Katanya berulang-ulang, akan tetapi lagaknya seperti orang sinting.
Mendadak pula ia rubuh, dari mulutnya keluar air liur, lalu keluar juga arak yang tadi ia tenggak.
Maka bau arak itu membuatnya orang hendak muntah-muntah!
Yasian menggeleng-gelengkan kepala.
"Ah, anak yang baik, kau berpura-pura mabuk!"
Katanya perlahan.
"Apakah dengan keadaanmu begini rupa akan aku lepaskan kau?"
"Eh, ayah, kau bilang apa?"
Tanya Topuhua.
"Inilah bukan urusanmu,"
Sahut orang tua itu.
"Bila dia suka dengar aku, tidak nanti aku bunuh padanya!"
Si nona terkejut.
"Walaupun dia tidak dengar kata, tidak selayaknya dia dibunuh!"
Katanya.
"Sudah, jangan banyak bicara!"
Berkata ayah itu.
"Sekarang lekas kau suruh bawa dia ke kamar belakang untuk beristirahat."
Tan Hong masih rebah di lantai, tubuhnya nampak lemas, mulutnya menganga, dari situ tersiar baunya susu macan.
Mukanya telah menjadi merah seluruhnya, hingga mirip dengan setan arak yang lupa daratan...
Tetapi, meskipun demikian, ia sebenarnya sadar.
Demikian ia dengar suara tindakan ketika Tjeng Kok Hoatsoe dengan perlahan-lahan menghampiri padanya, tangan pendeta itu merabah nadinya.
Ia lantas saja mainkan ambekannya menurut pengajaran kitab "Hiankong Yauwkoat,"
Dengan begitu, ia tutup jalan napasnya, ia buat main, hingga nadinya jadi berdenyut tidak keruan, jalan napasnya pun menjadi kacau.
"Ah, benar-benar bocah ini sudah mabuk!"
Berkata pendeta itu setelah ia periksa nadinya.
"Bocah ini sangat licin, aku lihat mungkin dia sengaja meloloh dirinya,"
Berkata si pahlawan Ma I Tjan.
"Ayahnya berada dalam genggamanku, aku tidak kuatir dia nanti dapat terbang pergi,"
Berkata Yasian.
"Sekarang dia mabuk, besok toh dia mesti memberi jawaban padaku. Perintahkan dua orang gotong dia ke belakang! Anak Hua, pergilah kau rawat dia..."
"Baik, ayah,"
Terdengar si nona berikan penyahutan.
Menyusul itu Tan Hong rasakan dua orang memegang kaki dan tangannya, untuk mengangkat tubuhnya, untuk dibawa pergi.
Diam-diam ia tertawa dalam hatinya.
Ia lantas sengaja membikin dirinya seperti tengah tidur nyenyak karena mabuknya itu, ia perdengarkan suara menggeros yang keras.
"Tjeng Kok Hoatsoe, selama beberapa hari ini aku telah membuat kau cape,"
Terdengar suara si perdana menteri.
"Bukankah di dalam istana tidak ada apa-apa yang menimbulkan kecurigaan?"
Tan Hong dengar itu, hendak ia mendengarkan terlebih jauh, maka ia lantas mengerahkan kepandaiannya supaya tubuhnya menjadi berat. Itulah ilmu yang dinamakan "Tjiankin twie = Jatuh seribu kati."
Kesudahannya hebat bagi kedua pahlawan yang menggotong tubuhnya itu, mereka sampai sukar bertindak, karena malu terhadap Yasian dan kuatir nanti dikatai tidak berguna, mereka memaksa menggotong terus, tapi tindakannya sangat ayal.
Tjeng Kok Hoatsoe menjawab perdana menteri itu.
Ia kata.
"Istana berada di bawah pengawasanku, perhubungan antara dalam dan luar telah terputus, maka itu tidak ada orang yang berani datang masuk untuk membuat pembicaraan rahasia dengan Sri Baginda. Tentang itu, jangan Thaysoe kuatir."
Hati Tan Hong bercekat.
"Nyata, benar-benar Yasian berniat merampas tahta kerajaan,"
Pikirnya.
"Dia sampai berani bertindak begini macam, hingga raja Watzu pun dikekang kemerdekaannya!"
Lalu terdengar pula suara Yasian, sambil tertawa.
"Aku percaya dia pun tidak akan berani membuat perhubungan dengan pihak luar, tapi meskipun demikian, berlaku hati-hati adalah terlebih baik. Maka malam ini baiklah kau dan Ma I Tjan berdua yang bergilir menjaga istana. -Eh, kenapa kamu jalan perlahan sekali? Apakah kamu kuatir nanti melukai dia?"
Perkataan yang belakangan ini merupakan teguran kepada kedua pahlawan yang ditugaskan menggotong Tan Hong, yang masih saja sangat ayal tindakannya.
Tapi begitu lekas Yasian berhenti bicara, begitu lekas pula Tan Hong menghentikan pengerahan tenaganya, maka tubuhnya menjadi enteng pula seperti biasa, hingga kedua pahlawan itu menjadi lega hatinya.
Mereka ini lantas menjawab perdana menteri itu.
"Benar, Thaysoe. Thio Kongtjoe sudah mabuk, kami kuatir nanti melukai dia..."
"Apa yang mesti dikuatirkan?"
Terdengar pula Yasian.
"Dia pandai ilmu silat, tubuhnya telah terlatih! Apakah kamu sangka dia bertubuh dari kertas?"
Kedua pahlawan itu menyatakan mengerti, lalu mereka berjalan dengan cepat, membawa Tan Hong ke kamar belakang.
Di dalam hati, mereka itu mencaci si anak muda, yang dikatakan sudah main gila.
Biar bagaimana, mereka adalah pahlawan pilihan, kalau tidak, Yasian tidak akan pakai mereka, hanya mereka adalah yang terendah, maka itu, meskipun mereka curigai Tan Hong, tidak berani mereka membuka rahasia atau memberitahukan itu kepada Yasian.
Mereka malu, mereka hanya bisa mendongkol saja...
Tan Hong merasa senang rebah di atas pembaringan di atas mana ia diletakkan.
Pembaringan itu empuk, sepre atau kelambunya menyiarkan bau harum.
Ia pun merasakan hangat.
Maka di dalam hatinya, ia tertawa.
"Sungguh senang orang-orangnya Yasian,"
Kata ia di dalam hatinya.
"Kamar mereka pun harum sekali."
Belum lama Tan Hong rebah, atau Topuhua telah bertindak masuk ke dalam kamar itu, si nona sudah lantas menghampiri pembaringan di tepi mana ia duduk.
"Apakah benar kau mabuk sampai begitu rupa?"
Katanya, dengan suara manis.
Tan Hong berpura-pura pules, tidak ia menyahuti, akan tetapi hidungnya telah mencium bau harum yang hebat, hingga mau atau tidak, lantas saja ia berbangkis.
Si nona sudah memberikan ia semacam wangi-wangian buatan Mongolia, wangi-wangian mana adalah untuk melenyapkan pengaruh air kata-kata.
"Bangun, bangun!"
Kata si nona sambil tertawa.
"Aku akan suguhkan kau sup untuk menghilangkan mabukmu."
Tan Hong telah membalik tubuhnya. Ia perdengarkan suara tidak nyata. Lalu ia tertawa.
"Ha, malam ini aku tidak dapat berangkat!"
Katanya seorang diri.
"Di luar, tulang-tulang manusia bertumpuk bagaikan gunung... Aku takut, aku takut!..."
"Eh, kau bangunlah!"
Si nona berkata pula.
"Di sini bukannya Touwbokpo! Di sini di mana ada tumpukan tulang-tulang manusia?"
"Siapa bilang ini bukannya Touwbokpo?"
Kata Tan Hong, yang masih terus bersandiwara.
"Kau dengar! Bukankah di luar orang-orang sedang berperang dengan hebat?" -ooo00dw00ooo-Bab XXV Topuhua tertawa.
"Suara berisik itu adalah suaranya pahlawan-pahlawan yang sedang bekerja,"
Ia bilang.
"Kau jangan takut."
Ia merabah jidat orang untuk rasai kepalanya si anak muda panas atau tidak.
Sekonyong-konyong Tan Hong muntah, keluarlah barang makanan yang tadi ia dahar, muntah itu mengenai pakaiannya si nona, justru pakaian baharu yang dia paling sayang.
Selagi muntah, tangannya menarik, memegang baju, hingga baju itu menjadi robek!
Karena itu, kotoran pun mengenai dada yang putih halus dan montok dari si nona itu.
Walau bagaimana, nona ini mengerutkan alisnya juga.
"Ah, mengapakah kau mabuk hingga begini?"
Katanya. Tak dapat ia gusar, ia menjadi masgul. Ia pencet hidung orang, ia mencekoki adukan air jinsom. Tan Hong menolak dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Aku mabuk, ingin aku tidur, pergilah kau!"
Ia berkata.
"Oh, oh, kalau kau tidak hendak pergi, mari, mari kita minum pula tiga cawan!..."
Air jinsom kena tersampok, tumpah ke pakaiannya si nona, cangkirnya pun jatuh pecah.
Karena tangannya kena tersampok, Topuhua rasai tangannya itu sakit.
Tan Hong letakkan kepalanya di atas bantal, ia tidur secara sembarangan, kedua tangannya rapa-repe ke tepi pembaringan.
"Hebat mabuknya dia, obat yang manjur pun masih tidak memberikan hasil..."
Berkata si nona di dalam hatinya. Oleh karena pakaiannya pecah dan kotor, baunya pun keras sekali, terpaksa akhirnya ia undurkan diri.
"Buka jendela!"
Terdengar suaranya Tan Hong, bagaikan ngelindur.
"Jangan padamkan api! Aku takut kepada gelap petang, kau tahu?"
Topuhua menoleh, justru Tan Hong muntah pula.
"Ah!..."
Mengeluh nona ini, yang terus bertindak keluar.
Tapi ia suruh pelayannya untuk bersihkan kotoran bekas muntah itu...
Bukan main leganya hati Tan Hong setelah ia dapat kenyataan ia sudah terlepas dari libatannya nona puterinya perdana menteri Watzu itu, akan tetapi, begitu lekas ia ingat sepak terjangnya Yasian, lenyap kegembiraannya itu.
Ia berbalik mesti berpikir keras.
Sudah terang keras sekali minatnya Yasian untuk merampas negara.
Itu pun berarti ancaman bahaya juga bagi kerajaan Beng.
Untuk sementara itu, tak dapat ia memikir jalan guna menentangi tindakannya perdana menteri ini.
Ia jadi berduka.
Ia pikir, mungkin tak sukar untuk ia bunuh Yasian, tetapi kesudahannya pasti itu tidak akan membawa banyak perubahan, dan di antara kedua negeri, peperangan tidak akan dapat dihindarkan.
Lagipun dengan begitu, kaisar Beng yang tertawan musuh, mungkin akan terlebih sukar untuk dimerdekakan.
Tan Hong sendiri, begitu juga Ie Kiam, bercita-cita supaya kedua negara hidup akur dan rukun.
Karena ini, tak sudi Tan Hong ambil peranan sebagai satu pembunuh terhadap Yasian itu.
Terus Tan Hong rebahkan dirinya sambil terus berpikir.
Sama sekali tak dapat ia tidur.
Begitulah ketika kentongan berbunyi tiga kali, ia dengar pertanda waktu itu.
Ia memandang ke arah jendela, ia tampak si Puteri Malam yang baharu muncul.
Pada pepohonan ada gerakan dari angin halus.
Masih ia tidak peroleh daya.
Tiba-tiba terlihat cabang pohon di muka jendela bergoyang, lalu satu bayangan orang berkelebat, belum sempat si anak muda membuka mulutnya, untuk menegur, bayangan itu sudah berdiri di depannya.
Luar biasa sehatnya bayangan itu.
Akan tetapi ketika Tan Hong telah melihat roman orang, ia girang tak kepalang.
Bayangan itu adalah gurunya sendiri.
"Aku lihat tanda-tanda kau di dalam kota,"
Berkata Tjia Thian Hoa dengan perlahan, mendahului muridnya itu kepada siapa ia menggoyangkan tangan.
"menuruti tanda-tanda itu, aku dapat ketemui In Loei, dari dia tahulah aku ke mana kau telah pergi, hingga aku ketahui juga kau sedang tertahan di sini. Sekarang tidak dapat kita berayal pula, mari lekas kau turut aku!"
"Sebenarnya, asal aku menghendaki, sejak tadi sudah dapat aku berlalu dari sini,"
Tan Hong bilang, agaknya ia ragu-ragu.
"Habis, apakah yang kau pikir?"
Gurunya tanya.
"Apakah soesoesiok sudah datang?"
Murid itu balik menanya. Dengan "soesoesiok,"
Paman guru yang ke empat, ia maksudkan Hoeithian Lionglie Yap Eng Eng.
"Dia sudah datang, sekarang dia ada di rumah penginapan tengah menemani In Loei,"
Thian Hoa jawab.
"Dan djiesoepee?"
Tan Hong tanya pula. Thian Hoa menghela napas.
"Aku tak dapat bertemu dengannya,"
Ia beri-tahu. Agaknya ia hendak bicara banyak akan tetapi tak dapat ia mengutarakannya itu.
"Sekarang telah aku dapatkan akal untuk meloloskan diri,"
Berkata Tan Hong kemudian.
"besok pasti aku akan keluar dari sini. Maka besok saja kita bicara pula. Sekarang ini harap soehoe tidak berlambat lagi, akan bersama Yap Soesiok segera berangkat ke istana raja!"
Tiba-tiba saja nampaknya pemuda ini menjadi gelisah. Thian Hoa tidak mengerti.
"Untuk apakah?"
Dia tanya.
Tan Hong segera berbisik di kupingnya guru itu, setelah mana, dengan cepat Thian Hoa angkat kaki.
Seberlalunya guru itu, baharu Tan Hong merasa hatinya lega, demikianlah ketika ia rebahkan diri, dapat ia tidur nyenyak.
Ia tidak tahu berapa lama ia sudah tidur, hanya tahu-tahu ia terbangun dengan terkejut disebabkan satu suara nyaring.
Ketika ia buka matanya, ia tampak Yasian telah berada di dalam kamarnya itu.
Maka lekas-lekas ia berbangkit, untuk berduduk.
Ia lihat sinar matahari, yang molos di jendela, maka tahulah ia, itulah di pagi keesokannya...
"Thaysoe bangun pagi-pagi sekali!"
Ia bilang.
"Ya, selamat pagi!"
Sahut perdana menteri itu.
"Apakah telah lenyap mabukmu?"
"Tadi malam aku berlaku kurang hormat, harap Thaysoe memaafkannya,"
Tan Hong minta. Dengan itu ia telah berikan jawabannya. Perdana menteri itu perdengarkan suara di hidung.
"Apakah kau telah dapat memikir?"
Ia bertanya.
"Apakah kamu, ayah dan anak, sudah bersedia untuk bekerja sama dengan aku menyingkirkan Atzu, untuk sama-sama kita hidup bahagia?"
"Aku telah dapat memikir,"
Sahut Tan Hong.
"Aku justeru hendak bicara kepada Thaysoe."
Tan Hong lihat wajahnya perdana menteri itu, yang sepasang alisnya dikerutkan, romannya tawar bagaikan membeku.
Diam-diam ia tertawa di dalam hatinya, karena ia bisa duga apa yang tengah dipikirkan perdana menteri ini.
Tadi malam Tjeng Kok Hoatsoe dan Ma I Tjan, seperti biasanya, seperti ditugaskan Yasian, sudah pergi melakukan pengawasan di istana.
Kira jam tiga, tengah mereka berjaga-jaga, mereka lihat berkelebatnya dua bayangan orang, yang mencelat keluar dari dalam istana.
Dengan lantas mereka keluar dari tempat sembunyinya akan mencegat dan merintangi dua bayangan itu, guna ketahui siapa adanya kedua bayangan itu.
Kesudahannya adalah di luar dugaan mereka.
Dua bayangan itu sebat sekali, sebat kaki tangannya, kalau tadi mereka bisa berlari dan berlompat dengan pesat, kali ini, gerakan tangan mereka bagaikan kilat menyambar.
Sebelum Ma I Tjan tahu apa-apa, kepalanya telah kena ditabas kutung!
Tjeng Kok Hoatsoe ada terlebih liehay daripada kawannya ini, akan tetap baharu dia bertempur dua jurus, kupingnya telah kena dipapas kutung!
Bayangan itu, atau lebih benar lawannya, sambil tertawa terus berkata padanya.
"Suka aku memberi ampun kepada jiwamu! Sekarang pergilah kau melaporkan kepada Yasian! Katakan padanya, jikalau dia hendak menjadi raja Watzu, kami tidak menghiraukannya, tetapi jikalau setelah berhasil merampas tahta dia hendak menyerang Tionggoan, maka tak dapat kami beri ampun kepadanya!"
Dari perkataannya bayangan itu, terang sudah bahwa mereka adalah orang-orang Han.
Sehabis berkata begitu, keduanya segera menghilang.
Ketika Yasian telah diberitahukan kejadian itu, ia kaget dan gusar sekali, di akhirnya, ia jadi sangat masgul.
Bagaimana ia tidak menjadi kaget karena ia tahu liehaynya Tjeng Kok Hoatsoe, seorang Ihama dari Agama Merah yang kenamaan?
Bagaimana ia tidak jadi kaget akan dengar kebinasaannya Ma I Tjan, sebab pahlawan ini tak kurang liehaynya, cuma berada di bawahan Ngochito?
Kalau kedua pahlawan itu bisa secara demikian gampang dirubuhkan musuh, yang tidak dikenal, umpama musuh itu datang satroni ia di sianghoe, siapa sanggup rintangi mereka itu?
Dengan perbuatannya itu, terang sudah mereka itu secara diam-diam tengah melindungi raja Watzu.
Karena ini, ia jadi berduka.
Kelihatan nyata, untuk ia mewujudkan niatnya merampas kerajaan, ia pasti akan menghadapi kesulitan.
Tentu saja ia jadi mendongkol, ia jadi gusar.
Tan Hong awasi perdana menteri itu, ia tertawa.
"Thaysoe,"
Katanya.
"kau adalah seorang peperangan yang berpengalaman, kau seharusnya mengarti baik ilmu perang..."
"Habis kenapa?"
Tanya Yasian heran.
"Sebab ilmu perang ada membilang,"
Sahut Tan Hong.
"Bersiap terlalu banyak, menjadi terbagi, tenaga kurang, mestinya kalah. Yang paling dipantang ialah berperang berbareng di beberapa garis perang. Lihat saja di jaman peperangan Tjoen Tjioe di Tionggoan dahulu hari, sesuatu jago, sesuatu negeri, semua memperebuti negara kawan, untuk bersekutu, semua memikir mendapatkan kawan berbareng mengurangi musuh. Inilah sarinya ilmu perang itu."
"Mustahil aku tidak mengerti tentang itu?"
Berkata Yasian, yang tidak mau kalah.
"Itu juga sebabnya kenapa aku memikir untuk bergandengan tangan denganmu. Aku pikir, paling dulu harus aku persatukan Watzu, setelah itu baharu kita bicara pula."
Tan Hong tertawa.
"Tetapi Thaysoe harus mengerti, tenaganya aku ayah dan anak ada sangat berbatas, sebaliknya kekuatannya Tionggoan tiada batas habisnya!"
Ia kata. Yasian bungkam.
"Aku telah menyusup masuk ke Tionggoan, di sana aku telah melihat tegas,"
Berkata pula Tan Hong, melanjutkan.
"Melihat Tionggoan, aku jadi sangat tertarik hatiku. Tionggoan itu luas sangat tanah daerahnya, banyak sekali rakyatnya. Maka jikalau Tionggoan itu dapat digunai dengan tepat, jangankan baharu satu, walaupun sepuluh negara Watzu sekalipun tidak nanti mampu menggoncangkan dia!"
Yasian awasi anak muda itu.
"Apakah kau bicara untuk Tionggoan?"
Dia tanya. Kembali Tan Hong tertawa.
"Apakah Thaysoe masih belum ketahui tentang diriku?"
Ia balik tanya.
"Bagaimana aku dapat bicara untuk Tionggoan? Jikalau aku sebagai wakilnya Tionggoan, jikalau aku hendak bicara untuk Tionggoan, pasti aku akan bicara juga untuk Watzu, tentu akulah yang terlebih dahulu membuka pembicaraan dengan Thaysoe1."
Agaknya Perdana Menteri itu kena terdesak.
"Baiklah,"
Katanya kemudian.
"Kau bicaralah!"
"Sekarang ini Ie Kiam memegang kekuasaan di Tionggoan, dia telah atur kuat angkatan perangnya,"
Berkata Tan Hong.
"Pertama kali Thaysoe menyerbu ke Tionggoan, Thaysoe masih dapat menyerang sampai di Pakkhia, akan tetapi kalau satu kali lagi Thaysoe menyerbu pula, mungkin untuk dapat sampai ditapal batas sajapun sukar. Itu masih belum semua. Umpama Tionggoan mendapat tahu Thaysoe berniat merampas tahta kerajaan, untuk menjadi jago, ada kemungkinan dia nanti majukan tenteranya ke Utara, untuk berserikat dengan Pangeran Atzu, untuk sama-sama menumpas pemberontakan di Watzu. Kalau itu sampai terjadi, Thaysoe hendak berbuat apakah?"
Hatinya Yasian bercekat.
Apabila Tan Hong bicara begini pada setengah tahun yang sudah lewat, pasti dia akan mentertawainya tak hentinya.
Itu waktu Yasian beranggapan dapat ia memastikan sembarang waktu untuk menakluki Tionggoan, ia sangat tidak memandang mata terhadap angkatan perang Kerajaan Beng.
Adalah sesudah berperang di Pakkhia, baharu ia insyaf bahwa Tionggoan tak gampang untuk ditelannya.
Dan paling belakang ini, sesudah perlawanannya Ie Kiam yang dapat mengatur tenteranya, yang juga mengandalkan peta bumi dari Pheng Hoosiang, setelah beberapa kali bertempur, ia kena dipukul mundur, hingga ia mundur pulang ke dalam negerinya, baharu ia terkejut.
Sekarang ia insyaf, memang benar tentera Tionggoan dapat berbalik mempengaruhi padanya.
Dan sekarang mendengar perkataannya Tan Hong itu, pada wajahnya ia tidak menunjukkan perubahan, seperti juga ia tidak mempedulikannya, namun di hati ia kaget dan jeri.
Tan Hong biarkan orang berdiam, ia melanjutkan.
"Setelah aku masuk dalam ke Tionggoan, dapat aku menyaksikan semangat rakyat yang terbangun, hingga mereka tak lagi dapat dipandang enteng. Raja mereka itu telah tertawan di Touwbokpo, kejadian itu membuatnya mereka, yang di atas dan di bawah, merasa bahwa itulah suatu hinaan besar, yang membuatnya mereka merasa sangat malu. Aku kuatir, Thaysoe, belum lagi kau sempat memimpin angkatan perang untuk berangkat ke Selatan, mereka sendiri akan mendahului maju ke Utara, guna menuntut balas. Memang benar Thaysoe ada punya angkatan perang yang tangguh tetapi aku sangsikan kau akan sanggup menangkis serbuan tentera Tionggoan itu, karena selain penyerbuan dari luar itu, di dalampun ada perlawanan dari Pangeran Atzu..."
Dua kali Yasian batuk-batuk, kali ini wajahnya berubah sedikit. Tapi, masih ia mencoba akan besarkan kepala.
"Aku masih punyakan tentera sepuluh laksa jiwa dan ribuan panglima perang!"
Demikian katanya.
"Umpama benar Tionggoan dan Atzu menyerang berbareng dari luar dan dalam, akibatnya paling sedikitnya batu kemala dan batu koral akan musnah bersama! Satu laki-laki, jikalau dia tidak dapat menjadi satu jago, jikalau dia terbinasa, sedikitnya dia mesti terbinasa sebagai setan jagoan! Maka itu, ada apa yang harus dibuat takut?"
Tan Hong tertawa gelak-gelak.
"Jikalau belum lagi orang keluar perang, lalu dia terbinasa tidak keruan, apa jadinya?"
Ia tanya.
"Bahwa orang berhasil dan menjadi raja, orang gagal dan menjadi berandal, itulah sudah umum. Mengenai kau, Thaysoe, kau anggap dirimu sebagai satu enghiong, tetapi orang lain, belum tentu dia mau mengakuinya kau sebagai Tjo Beng Tek..."
Yasian kena terdesak.
"Apakah benar kerajaan Beng ada demikian membenci aku hingga dia akan mengirim algojonya untuk membunuh aku?"
Dia tanya.
"Menurut apa yang aku ketahui, pemerintah Beng memang benar ada kirim utusannya yang berupa kiamkek,"
Sahut Tan Hong.
"hanya halnya kiamkek itu bisa atau tidak membunuh kau, itulah bergantung daripada tindak tandukmu sendiri, Thaysoe..."
"Kiamkek"
Adalah jago yang bersenjatakan pedang.
Yasian lantas ingat kejadian tadi malam, tanpa merasa, bulu romanya pada bangun berdiri.
Tetapi ia masih tidak sudi tunjuk kelemahannya, ia paksakan diri untuk tertawa wajar.
"Pemerintah Beng ada punya kiamkek yang liehay, apakah kau sangka aku tidak punya orang kosen yang sanggup membunuh ular naga dan menakluki harimau?"
Begitu katanya. Kembali Tan Hong tertawa bergelak-gelak.
"Orang kosenmu itu, Thaysoe, adalah bangsa gentong arak dan kantong nasi!"
Ia bilang dengan berani.
"Aku kuatir, jikalau dia berhadapan dengan orang gagah sejati, dalam satu jurus saja, dia akan dibikin terbang batok kepalanya!"
Yasian berjingkrak saking kagetnya.
"Eh! Apakah kau ketahui kejadian semalam?"
Tanyanya kaget.
"Kejadian apakah itu?"
Tanya Tan Hong, tenang.
"Aku cuma bicara saja. Apakah benar-benar pahlawan Thaysoe telah orang binasakan dalam satu jurus saja?"
Yasian masih ingat kejadian semalam itu, ia bergidik sendirinya.
"Tadi malam dia mabuk arak dan rebah bagaikan mayat, tidak pernah dia keluar dari kamarnya ini, tidak setindakpun jua,"
Ia berpikir.
"mungkin benar dia cuma bicara saja... Tetapi, apa yang dia katakan itu benar adanya..."
"Pahlawan yang mana itu yang telah kena dibinasakan?"
Tan Hong tanya sambil tertawa.
"Ah tidak..."
Kata perdana menteri itu, separuh menghibur dirinya.
"Tadi malam ada datang orang jahat, tapi dia telah dapat diusir pergi. Dipihak kita cuma satu dua orang terluka..."
Tan Hong tertawa pula.
"Itulah untung kamu yang bagus!"
Katanya pula.
Ia tertawa sebab apa yang tadi malam terjadi di sianghoe, gedung perdana menteri, adalah menurut rencananya.
Kebinasaannya Ma I Tjan dan hilangnya kuping Tjeng Kok Hoatsoe adalah perbuatannya Tjia Thian Hoa berdua Yap Eng Eng.
Di mulutnya, Yasian bicara makin lama makin keras, tanda bahwa ia bernyali besar, akan tetapi, di dalam hatinya ia justeru makin jeri.
"Thaysoe, rencanamu sekarang ini bukannya suatu rencana yang baik,"
Kata Tan Hong kemudian. Dengan berani anak muda ini berikan pengutaraannya itu.
"Apakah kau mempunyai daya yang bagus?"
Perdana menteri itu tanya. Tan Hong hendak buka mulutnya tatkala ia dengar suara berisik di luar gedung. Yasian, dengan alis dikerutkan, perdengarkan suaranya, memanggil orang masuk.
"Ada kejadian apakah?"
Ia tanya.
"Ada beberapa pengemis mencoba memaksa masuk ke dalam gedung untuk meminta amal,"
Sahut pengawal yang masuk atas panggilannya majikan itu.
"Mereka itu sangat menjemukan!"
Kembali Yasian kerutkan alisnya.
"Mereka toh boleh diberikan saja sedikit uang atau diusir,"
Katanya.
"perlu apa sampai mesti menerbitkan keributan?"
Dan ia kibaskan tangannya, akan beri tanda supaya hambanya itu undurkan diri. Tan Hong segera ingat sesuatu, ia lantas saja berpikir.
"Thio Sieheng, kau ada punya daya apa yang baik?"
Yasian mengulangi pertanyaannya selagi anak muda itu berdiam. Tan Hong bersenyum, ia bawa sikap dengan tenang sekali.
"Thaysoe,"
Katanya.
"jikalau Thaysoe hendak mengamankan pihak dalam maka sudah selayaknya terlebih dahulu Thaysoe membuat perdamaian dengan pihak luar. Secara demikian baharulah Thaysoe akan terluput dari gencetan pihak luar dan dalam. Tionggoan luas tanah daerahnya dan subur hasil buminya, jikalau Watzu tidak terlebih dahulu serbu dia, tak mungkin dia akan datang menyerang kemari. Maka itu, menurut pendapatku, baiklah Thaysoe antar rajanya pulang ke negerinya, lalu Thaysoe membuat perjanjian persahabatan dengannya. Inilah daya yang paling utama."
Yasian bungkam, ia berpikir. Tan Hong mengawasi, ia tertawa pula.
"Ketika baharu ini Thaysoe tawan raja Beng itu di Touwbokpo,"
Katanya.
"tak lain tak bukan, Thaysoe hanya ingin bikin raja itu menjadi orang tawanan, supaya dia bisa dijadikan perkakas untuk menuruti kehendak Thaysoe, supaya cita-cita Thaysoe dapat terwujud. Demikian Thaysoe telah gunai segala macam tipu daya. Tetapi sekarang adalah lain. Ie Kiam sudah angkat raja yang baru, dengan begitu tidak ada gunanya lagi akan menahan terlebih lama kepada raja tawanan itu, malah sebaliknya, itu justeru meninggalkan bencana di belakang hari bagi kedudukan Thaysoe..."
Yasian pikir kata-katanya pemuda ini benar.
"Telah beratus kali aku bertempur dengan pemerintah Beng, pertempuran besar dan kecil, selamanya aku lebih banyak menang, sedikit kalahnya,"
Berkata dia.
"Mungkinkah aku mengantarkan kaisar Beng itu ke negerinya sambil aku harus memohon perdamaian dari Ie Kiam?"
Lagi-lagi Tan Hong tertawa. Perkataannya perdana menteri itu berarti dia telah menyetujuinya perdamaian, tapi untuk muka terangnya, dia masih membawa lagak.
"Jikalau kedua negara membuat perdamaian, keduanya harus berhubungan sebagai saudara di antara saudara,"
Ia kata.
"karena itu, ada apakah yang harus dibuat malu? Jikalau Thaysoe tidak hendak memulai mengusulkan perdamaian itu, baiklah Thaysoe minta supaya Tionggoan yang terlebih dahulu mengirimkan utusannya datang kemari untuk membicarakan urusan itu. Ini toh boleh, bukan?"
Yasian menatap orang sambil biji matanya berputar.
"Sebenarnya siapa kau ini?"
Dia bertanya.
"Kenapa kau agaknya berani mewakilkan Ie Kiam merundingkan soal perdamaian ini?"
Tan Hong balik mengawasi, ia tertawa.
"Biarlah aku omong terus terang saja,"
Ia menyahut.
"Sebenarnya, sebelum aku pulang ke Watzu ini, lebih dahulu aku telah bertemu Ie Kiam. Apa yang aku katakan barusan adalah karena aku percaya aku tidak bakal bertentangan dengan pendapat Ie Kiam itu."
Yasian jatuhkan diri di kursi, ia nampaknya sangat lesu. Sekian lama ia berdiam saja. Baharu kemudian ia angkat kepalanya, akan menatap si anak muda.
"Apakah benar kau telah lupa akan sakit hatimu yang turun temurun itu dan sekarang hendak jual tenagamu terhadap keluarga Tjoe kaisar dari ahala Beng itu?"
Dia tegaskan. Untuk kesekian lamanya, Tan Hong tertawa. Ia tertawa besar.
"Aku tidak jual tenagaku kepada siapa juga!"
Ia jawab, nyaring.
"Aku hanya bekerja untuk Tionggoan dan Watzu! Ingin aku tanya Thaysoe, umpama kata perdamaian dapat dicapai, apakah itu bukan berarti keselamatannya kedua negara?"
Kembali Yasian bungkam. Ia mesti berpikir keras.
"Seandainya perdamaian telah dapat diwujudkan, kelak kau akan berdiam di mana?"
Ia tanya kemudian. Rupanya perdana menteri ini memikir jauh dan ingin ia peroleh kepastian.
"Aku adalah orang Han, sudah tentu aku pulang ke Tionggoan,"
Sahut Tan Hong dengan terus terang.
"Bukankah itu berarti kau hendak menjadi satruku?"
Yasian menegaskan pula.
"Jikalau Thaysoe tidak pimpin angkatan perangmu menyerbu Tionggoan, tak mungkin aku akan menjadi satrumu!"
Jawab si anak muda.
"Bagaimana dengan ayahmu?"
Masih perdana menteri itu tanya.
"Pasti aku akan bujuk ayah untuk pulang ke negerinya, untuk lewatkan hari-hari selanjutnya,"
Sahut pula si anak muda.
"Apakah kamu ayah dan anak tidak kuatir nanti dibunuh kaisar Beng?"
Tan Hong tertawa.
"Jikalau itu sampai terjadi, ikhlas hatiku!"
Ia jawab.
"Tentang itu tidak usahlah Thaysoe memusingkan kepala!"
Yasian jalan mundar-mandir, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia berpikir terlebih keras pula.
Ia merasa bahwa benarlah apa yang dikatakan Tan Hong itu.
Memang, jikalau ia hendak kangkangi Watzu untuk dipersatukan, tidak selayaknya ia memusuhi Tionggoan.
"Thio Tjong Tjioe ayah dan anak ini pintar dan gagah,"
Ia berpikir terlebih jauh.
Sekarang ia ingat Tjong Tjioe dan anaknya ini.
Jikalau mereka tinggal di Watzu, percuma saja, mereka tak dapat aku gunai tenaganya untukku, bahkan sebaliknya, mereka bisa menjadi penambah tenaga bagi pihak musuh.
Oleh karena itu, lebih baik aku biarkan mereka pulang ke negerinya, supaya di sana mereka hidup tenang dan senang.
Di kemudian hari, apabila aku berhasil mempersatukan betul-betul negara Watzu ini serta sudah mempunyai angkatan perang yang kuat serta rangsum cukup, perjanjian persahabatan itu boleh aku langgar sembarang waktu, itu waktu aku ada merdeka untuk menyerbu pula Tionggoan.
Sampai itu waktu, perlu apa aku jeri lagi Thio Tan Hong menjadi musuhku?
Hanya bagaimana dengan jodohnya anakku?"
Tan Hong lihat orang terus berpikir, ia memotong.
"Satu laki-laki harus dapat dengan sepatah katanya mengambil keputusan, karena itu masih ada apa lagi yang Thaysoe ragu-ragukan?"
Ia mendesak. Kedua matanya Yasian menjadi bersinar, rupanya ia telah dapat mengambil keputusan.
"Baik, akan aku turut perkataanmu!"
Katanya, nyaring.
"Aku Yasian, aku bukannya orang yang dapat diperhina sembarang orang! Kalau pemerintah Beng kirim orangnya untuk membokong mati kepadaku, akan aku segera kerahkan seluruh kekuatanku, akan aku titahkan angkatan perangku meluruk ke Selatan, supaya, tak peduli kemala atau batu biasa, biar semuanya musnah bersama!"
Tan Hong bersenyum. Tahulah ia, Yasian tetap kuatirkan keselamatan dirinya.
"Orang Tionggoan paling hargakan kehormatannya,"
Dia berkata.
"maka kalau Thaysoe hendak berdamai dan bersahabat dengan sesungguh hati, tak mungkin Tionggoan akan kirim orangnya untuk membunuh Thaysoe1."
"Baiklah,"
Kata Yasian akhirnya.
"Dengan ini kita mengambil ketetapan. Akan aku tunggu tibanya utusan dari kerajaan Beng, itu waktu aku nanti membuat perjanjian perdamaian. Sekarang, coba bentangkan padaku, daya apa kau punya untuk menindas Pangeran Atzu?"
"Kami ayah dan anak sudah berketetapan untuk pulang ke negeri kami,"
Jawab Tan Hong.
"oleh karena itu, mengenai urusan di dalam negeri Watzu, kami tidak hendak campur tangan pula."
"Baik!"
Yasian mengatakan pula.
"Asal kamu pernahkan diri di luar kami, aku juga tidak hendak mengganggu pula pada kamu. Sekarang pergilah kau pulang, boleh kau anjurkan ayahmu untuk besok menghadap di istana, untuk dia sendiri yang majukan permohonannya meletakkan jabatan."
Tan Hong girang sekali. Sekian lama ia memutar otak, baharu sekarang ia berhasil "menundukkan"
Perdana menteri itu. Karena itu, ia berlaku hormat, ia undurkan diri sebagai seorang yang usianya terlebih muda. Ia baharu melangkah di pintu tempo ia ingat suatu apa, ia lantas merandek.
"Apakah kau masih hendak mohon sesuatu?"
Tanya Yasian, yang lihat sikap orang itu.
"Apakah itu?"
"Jikalau Thaysoe sudi memperkenankannya, aku ingin sekali ini saja menemui raja Beng,"
Ia jawab. Yasian berpikir sebelum ia berikan ijinnya.
"Baik,"
Demikian sahutnya.
"Kau boleh sekalian bicara kepadanya, untuk beritahu sikapmu, supaya ia mengetahui maksud baik dari aku."
Perdana menteri ini sudah lantas panggil dua pahlawannya kelas satu, ia hendak titahkan mereka antarkan anak muda ini, akan tetapi mendadak ia ubah pikirannya itu.
"Lebih baik kita pergi bersama!"
Ia bilang.
Kedua pahlawan itu heran atas sikapnya perdana menteri ini tetapi mereka tidak berani bilang suatu apa.
Tan Hong sendiri tak berkeberatan akan pergi bersama.
Kaisar Beng yang menjadi tawanan Yasian itu, yaitu Kaisar Eng Tjong yang bernama Kie Tin, telah ditahan di dalam sebuah pagoda batu di dalam gedung perdana menteri, pagoda mana diperuntukkan memuja Sang Buddha.
Tangga dari pagoda itu terdiri dari tiga undak, setiap undak terjaga oleh pahlawannya perdana menteri.
Bahwa tempat tahanan itu ada sangat dirahasiakan, sekalipun raja Watzu sendiri tak mengetahuinya.
Tiga bulan sudah sejak Kie Tin dikurung di dalam pagoda, dapat dibayangkan penderitaannya itu.
Ia adalah satu junjungan dari satu negara besar tetapi sekarang ia kehilangan kemerdekaannya, ia hidup terkurung dan di bawah pengawasan keras.
Hari itu, kaisar ini tengah berduka sekali.
Ia dengar menderunya hebat angin Utara, ia lihat burung-burung belibis dari Utara terbang ke Selatan, sambil terbang mereka itu perdengarkan suaranya yang mengharukan hati, maka itu, ia pun bersedih sendirinya.
Memandang dirinya sendiri, sakit hatinya Kie Tin, bajunya telah robek, sedang hawa udara di Utara itu dingin sekali.
Ia kedinginan akan tetapi Yasian tidak berikan ia baju baharu untuk salin.
Maka ingatlah ia akan jaman jayanya, di dalam keraton ia ada punya enam selir, hidupnya sangat mewah.
Selagi kaisar ini menungkuli diri, tiba-tiba ia dengar pintu dibuka, lantas ia lihat Yasian bertindak masuk bersama Thio Tan Hong, keduanya jalan berendeng.
Ia menjadi sangat terperanjat.
"Kenalkah kau pada dia ini?"
Yasian lantas menanya sambil menunjuk Tan Hong.
Kaisar Beng ini tidak tahu maksud kedatangan Tan Hong, ia ragu-ragu, iapun belum hilang kagetnya, maka itu, ketika ia menyahut, suaranya tidak tegas.
Yasian mengawasi sambil tertawa.
"Dia ini adalah musuhmu, dia juga tuan penolongmu!"
Berkata perdana menteri ini.
"Tahukah kau?"
Tidak tunggu sampai kaisar menjawab, Tan Hong kata pada perdana menteri itu.
"Aku mohon Thaysoe ijinkan aku bicara berduaan dengannya, sebentar saja."
"Baik, bicaralah,"
Sahut Yasian.
"Kamu orang-orang Tionghoa, apa yang kamu lakukan, tak dapat aku menerkanya. Kamu berdua keluarga telah perebutkan dunia tetapi sekarang kamu berdua hendak pasang omong!..."
Lantas perdana menteri ini undurkan diri pergi keluar, buat bicara dengan pahlawan-pahlawannya.
Kie Tin dibiarkan di dalam kamarnya itu bersama si anak muda she Thio itu.
Tidak tenang hatinya kaisar Beng itu berada berdua Tan Hong.
Ia telah saksikan bagaimana dengan sinar mata yang tajam, anak muda itu pandang ia pulang pergi.
Ia ditatap.
Kemudian dengan tiba-tiba saja, Tan Hong tertawa.
"Kau biasa menjadi kaisar, kau belum pernah merasakan kegetiran hidupnya seorang rakyat jelata!"
Kata Tan Hong kemudian.
"Maka itu, baiklah yang kau satu kali merasakannya!"
Mendengar itu, raja ini menjadi gusar.
"Jadinya dahulu hari itu kau berpura-pura saja berbaik hati!"
Dia menegur.
"Aku memang tahu, permusuhan di antara rakyat jelata mudah dibereskan tetapi pertentangan di antara raja sukar didamaikan! Karena kau adalah orang kepercayaannya Yasian, tidak lain, aku cuma mau minta supaya aku diberikan mayat lengkap dan utuh! Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah lekas! Kau harus insyaf, raja tak dapat diperhina!"
Tan Hong mengawasi dengan air mukanya tertawa bukan tertawa, ia tidak gubris permintaan itu.
"Kau telah menderita begini rupa, maka di belakang hari, sebagai raja, layak kau ketahui keharusanmu!"
Ia kata pula.
"Kalau nanti kau kembali ke istanamu, jangan sekali kau lupakan kesengsaraanmu hari ini!"
Kie Tin melengak.
"Apa kau bilang?"
Ia tanya. Mendadak saja ia lompat mencelat.
"Paling lama tak beberapa bulan lagi, kau akan dapat pulang ke negerimu!"
Kata Tan Hong, tawar. Kie Tin seperti juga tidak mempercayai kupingnya sendiri.
"Apa kau bilang?"
Ia tegaskan.
"Adakah itu benar? Apakah Yasian sendiri yang mengatakannya itu padamu? Benarkah dia hendak membiarkan aku pulang ke negeriku, untuk aku naik pula atas tahtaku? Ha! Naik pula di atas tahta!..."
"Bukannya Yasian yang menginginkan kau kembali ke negerimu,"
Tan Hong terangkan, tetap dengan sikapnya yang tawar.
"Adalah Kokloo Ie Kiam yang akan sambut kau pulang!"
Kembali Kie Tin menjadi heran.
Kalau tadi ia dapat bersenyum, sekarang lenyap pula kegembiraannya.
Ia seperti diguyur air dingin.
Setelah itu, di antara roman lesu dari putus asa, ia nampaknya jadi gusar sekali.
Terus ia tuding anak muda di depannya.
"Walaupun aku terkurung, tetap aku adalah satu raja!"
Ia berseru.
"Beranikah kau berulangkah mempermainkan aku?"
Tan Hong awasi raja itu. Ia mendongkol berbareng merasa lucu dan kasihan.
"Jikalau kau mengharap musuh nanti merdeka-kanmu dan membiarkannya kau pulang ke negerimu, seumur hidupmu, janganlah kau harap itu!"
Katanya, tegas-tegas.
"Hanya bila rakyat Tionggoan yang menghendaki kau pulang, baharulah ada ketikanya untuk kau hidup terus! Apakah kau menyangka cuma Yasian seorang yang mempunyai kekuasaan untuk hidup atau matimu? Mari aku katakan terus terang padamu! Sekarang ini jiwamu berada di dalam genggamannya Kokloo Ie Kiam! Asalkan Ie Kokloo bilang kau bisa pulang, lantas kau dapat pulang!"
Kie Tin awasi anak muda itu, sinar mata mereka bentrok satu pada lain.
Lantas ia dapat perasaan bahwa Tan Hong itu dapat dipercaya, bahwa perkataannya si anak muda tak dapat disangsikan pula.
Tanpa merasa, ia jadi kalah pengaruh.
"Sebenarnya, apakah artinya ini?"
Dia tanya akhirnya, suaranya tak tegas.
"Itulah sebab kau, jelek atau bagus, kau tetap raja dari satu negara!"
Berkata Tan Hong dalam jawabannya.
"Sebab kau ada satu raja, jikalau kau tetap berada di tangan musuh, itu artinya satu kehinaan untuk Tionggoan! Itupun sebabnya kenapa sekarang kami menghendaki kau pulang ke negeri sendiri! Dengan ada Tionggoan yang menjadi tulang punggungmu, cara bagaimana Yasian berani tidak melepaskan kau pulang?"
Kie Tin heran, ia tetap mengawasi. Ia ingin sangat satu penjelasan. Sampai di situ, Tan Hong tuturkan raja ini tentang duduknya urusan. Kie Tin menjadi girang berbareng heran.
"Jikalau aku bisa pulang dan naik pula di atas tahta kerajaan, akan aku anugerahkan kau pangkat yang besar!"
Ia berkata. Hampir tanpa merasa, ia berikan janji hadiahnya itu.
"Katakanlah, kau ingin pangkat apa? Pangkat tongnia dari Gielim koen atau Kioeboen Teetok? Atau pangkat Menteri Perang? Pasti sekali aku akan membuat kau merasa puas, supaya tercapai segala cita-citamu!"
Tan Hong bawa sikap tenang.
"Jikalau nanti kau sudah pulang ke dalam negeri,"
Ia berkata, tawar.
"kau bisa atau tidak tetap menjadi raja pula, itulah tergantung kepada suasana di dalam istanamu dan urusan keluargamu sendiri, mengenai itu aku bersama Ie Kiam tidak akan campur tahu! Aku sendiri tidak mengharapkan pangkat dari kau!"
Kie Tin menjadi putus asa, hingga ia jadi seperti menggerutu.
"Bisa pulang, itulah baik! Bisa pulang, itulah baik..."
Demikian ia ngoce sendiri, suaranya tidak tegas. Lalu ia ingat sesuatu, hingga ia nampaknya jadi bersemangat. Maka berkatalah ia seorang diri dengan lebih keras.
"Di dalam istana, kebanyakan menteri boen dan boe adalah orang-orang kepercayaanku, tidak nanti Kie Giok dapat rampas tahtaku! Kalau nanti aku telah pulang, dia akan mengalah dan membiarkan aku menjadi yang dipertuan pula! Kau tidak hendak pangku pangkat, tidak apa, aku bersedia akan iringi segala kehendakmu, akan aku memberikan hadiah kepadamu!"
Tan Hong menjadi sangat sebal.
"Apa juga aku tidak menghendakinya!"
Katanya dengan dingin.
"Aku hanya hendak minta satu hal!"
"Apakah itu?"
Kie Tin tanya.
"Semuanya akan aku meluluskannya!"
"Setelah nanti kau pulang, bilamana kau tetap menjadi raja, bagaimana sikapmu terhadap Ie Kiam?"
Tan Hong tanya. Inilah pertanyaan yang Kie Tin tak sangka-sangka.
"Aku..."
Katanya, lalu terhenti, karena Tan Hong memotongnya.
"Setelah kau kena ditawan musuh, Ie Kiam telah angkat raja baru,"
Tan Hong menerangkan.
"Kau tentunya sangat benci dia karena perbuatannya itu! Benarkah itu?"
"Tidak, tidak!"
Sahut raja.
"Begitu lekas aku pulang, akan aku naikkan pangkatnya tiga tingkat!"
Dalam keadaan seperti itu, tengah terdesak, raja ini bicara tanpa berpikir pula.
Ie Kiam adalah Lweekok Haksoe, karena mana ia dipanggil Kokloo, kedudukannya itu sudah mirip dengan perdana menteri, di samping itu, ia merangkap menjadi Pengpou Siangsie, Menteri Perang, ia jadinya berada di tingkat tertinggi, dari itu, pada dasarnya, ia tak dapat dinaikkan pula pangkatnya apapula sampai tiga tingkat.
Maka itu, mendengar kata-kata raja ini, Tan Hong mendongkol berbareng merasa lucu.
"Ie Kokloo bukanlah satu orang yang temaha akan pangkat tinggi atau keagungan,"
Berkata anak muda ini.
"Aku hanya menginginkan bila nanti kau sudah pulang, kau berlaku murah hati terhadapnya, kau beri dia ampun dari kematian..."
"Itulah pasti, itulah pasti!"
Kata Kie Tin berulang-ulang. Kembali ia tidak memikir-mikir lagi.
"Adakah ini benar?"
Tanya Tan Hong. Mendadak saja ia keraskan suaranya, hingga ia bentak raja itu. Kie Tin melengak. Inilah ia tidak sangka.
"Satu raja tidak bicara main-main!"
Ia jawab kemudian.
Iapun segera menjawab begitu lekas ia sadar.
Tan Hong bersenyum.
Tadinya ia hendak bicara pula tapi ia membatalkannya.
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar, suaranya pengemis yang menyanyikan lagu "Lian Hoa Lok" = "Bunga Bwee Rontok."
Tentu saja ia menjadi bercekat.
"Setangkai, secabang bunga teratai,"
Demikian ia dengar nyanyian itu.
"Raja pun pernah dipanggilnya pengemis. Raja itu bergantian jadinya, maka juga lain tahun ada gilirannya keluargaku. Di sini ada disimpan mustika yang indah, maka itu hendak aku memohonnya!"
Nyanyian itu disusul oleh suara berisik, seperti juga orang tengah mengusir pengemis yang bernyanyi-nyanyi itu. Menyusuli suara berisik itu, lalu terdengar teriakan.
"Ada orang jahat!"
Lalu menyusul pula suara nyaring dari rubuhnya tubuh manusia.
Satu pahlawan, yang lompat keluar jendela, belum sempat dia berlompat terus naik ke atas payon, sudah kena dihajar rubuh!
Tan Hong terkejut.
"Sungguh liehay pengemis itu!"
Pikirnya.
Tapi iapun tak sempat berpikir lama-lama.
Dengan cepat telah terdengar pula satu suara keras dan nyaring, ternyata daun jendela kamar kurungan kaisar Beng itu terhajar terpentang, disusul dengan lompat masuknya satu pengemis, tangan kanannya memegang tongkat, dengan tangan kirinya segera dia sambar Kie Tin.
"Aduh!"
Teriak raja itu yang kagetnya tidak terkira. Tan Hong tidak sempat cabut pedangnya, dengan tangannya ia membacok tangannya si pengemis.
"Kau, Thio Tan Hong?"
Berseru pengemis itu, agaknya ia terkejut.
Ia sudah lantas tarik pulang tangan kirinya itu, tubuhnya pun berkelit ke samping.
Tapi ia tidak berhenti sampai di situ, dengan cepat ia ayun sebelah kakinya, menjejak ke arah dengkulnya kaisar Beng.
Tan Hong pun kaget.
"Ah, kiranya Pit Lootjianpwee]"
Ia berseru ketika segera dapat mengenali pengemis itu, terutama dari suaranya.
Tapi kaisar berada dalam bahaya, tidak dapat ia diam saja, dari itu dengan terpaksa ia angsurkan tangannya, untuk menekan dengan perlahan kakinya jago tua yang jejakannya hebat itu.
Dalam gerakannya ini, Tan Hong gunai tenaga Taylek Kimkong Tjioe.
Pit To Hoan lompat mundur, hingga ia menyender pada tembok, napasnyapun memburu keras.
"Thio Tan Hong, menyingkir kau!"
Ia berseru.
"Lootjianpwee, marilah kita bicara secara baik-baik,"
Tan Hong berkata, dengan sabar.
"Aku harap kau tidak membuatnya kaget pada raja yang tengah bersengsara ini..."
"Bagaimana hei?"
Bentak To Hoan.
"Apakah kau menjadi anjing penjaga pintunya Yasian?"
Kali ini jago tua itu menyerang dengan genggaman ditangannya.
Tan Hong tahu tak sempat ia berbicara banyak, terpaksa ia hunus pedangnya -pedang Pekin kiam -untuk menangkis.
Ia telah gunai belakangnya pedang.
Maka kedua senjata bentrok dengan keras, sampai muncratlah lelatu apinya.
Bentrokan itu membuatnya kedua pihak kesemutan tangannya.
"Lootjianpwee, mohon kau berlalu dulu dari sini!"
Tan Hong berkata pula.
"Kau boleh sebutkan satu tempat, nanti aku kunjungi padamu untuk menerima pengajaran darimu!"
Pit To Hoan tapinya seperti orang kalap, tanpa menjawab, ia menyerang pula beruntun tiga kali, untuk mendesak anak muda itu, lalu setelah itu kembali dengan tangan kirinya menyambar pula Kie Tin.
Teranglah ia ingin sangat dapat menyengkeram raja Beng itu.
Di luar, di bawah pagoda, ketika itu pun telah terdengar suara berisik sekali, suara yang bercampurkan beradunya pelbagai alat senjata, hingga kuping rasanya menjadi ketulian.
Dari luar kamar juga terdengar teriakannya Yasian, akan tetapi apa katanya itu, Tan Hong tidak dapat mendengar nyata.
Lalu, menyusuli itu, pintu kamar segera terpentang, dari mana terlihat masuknya dua pahlawan dengan golok di tangan masing-masing.
Meninggalkan Tan Hong atau kaisar, Pit To Hoan papaki dua pahlawan itu.
Ia maju dengan gerakan "Poanliong djiauwpou" = "Naga mendekam menggerakkan kakinya melingkar,"
Sedang tangannya, ialah senjatanya, ia mainkan dari kiri ke kanan, atas mana goloknya kedua pahlawan itu lantas saja kena dibikin terlepas dan terbang!
"Yang menyingkir selamat!
Yang menghalang celaka!"
To Hoan kemudian berteriak dengan bengis, sepasang matanya lebar, terputar. Ia bergelar "Tjinsamkay" = "Menggetarkan Tiga Dunia,"
Tidak heran kalau bentakannya itu dahsyat sekali.
Dengan terpaksa kedua pahlawan itu undurkan diri, karena senjata mereka pun sudah hilang.
Dari luar masih terdengar suara berisik, kali ini dari tindakan kaki yang berat dan kekar, disusuli bersama jeritan teraduh-aduh, dari bentroknya alat senjata.
Teranglah itu ada tanda dari orang yang dari bawah mendaki tangga pagoda sambil menyerang naik.
Pit To Hoan sudah mundurkan kedua musuhnya, kembali ia menghampirkan Kie Tin.
Ia dihalangi-halangi Tan Hong, karenanya, ia mencoba akan paksa melewati anak muda itu.
"Untuk apakah kau hendak menawan dia?"
Tan Hong tanya.
"Apakah kau telah lupa akan sakit hatinya leluhurmu?"
To Hoan membaliki.
"Jahanam ini tidak surup untuk menjadi raja! Untuk apa kau melindungi padanya? Kita harus bekuk dia, untuk dibawa pulang ke Tionggoan, nanti di sana kita bangunkan suatu pemerintah baru!"
Mendengar itu, Tan Hong melengak.
Dengan begitu orang tua ini masih ada punya semangat untuk mendirikan suatu pemerintah.
Ia hendak berkata pula ketika kembali terdengar satu suara keras, ialah dari terbukanya dengan paksa pintu dari pagoda undakan ketiga.
Dan suara itu disusul dengan munculnya satu orang, yang segera pentang mulutnya yang lebar, akan perdengarkan suaranya yang nyaring.
"Ha, bagus benar! Kau juga ada di sini? Marilah rasai tiga ratus tongkatku!"
Untuk herannya Tan Hong, ia kenali Tiauw Im Hweeshio, sang soepee yang gurunya dan Yap Eng Eng telah sia-sia saja mencarinya.
Sementara itu ia masih sempat melirik ke arah Yasian, yang umpetkan diri di satu pojok dari mana perdana menteri itu sedang berikan titahnya kepada pahlawan-pahlawannya untuk mencegat jalan mundur orang.
"Inilah hebat..."
Pikir Tan Hong, yang menjadi berkuatir.
"Djiesoepee sembrono, urusan akan menjadi kacau kalau ia sampai kemplang mampus pada Yasian. Perdana menteri ini ada punya putera dan perwira sebawahannya, ia masih punyakan beberapa puluh laksa serdadu, kalau karena kejadian di sini jadi terbit perang di antara kedua negara, itulah hebat, pasti akan terjadi darah tumpah mengalir di daerah luasnya ribuan lie..."
Anak muda ini menjadi masgul.
Hendak ia menerjang keluar, tapi ia dihalang-halangi Pit To Hoan dengan ruyung panjangnya -Hangliong pang.
Sekarang meski ia jauh terlebih gagah daripada jago tua itu, akan tetapi ia sungkan melawannya, ia juga tidak hendak melukai orang.
Dalam keadaan sangat tegang itu, mendadak ia berseru dengan tegurannya.
"Tjinsamkay, kau masih punya kehormatan kangouw atau tidak?"
Heran jago tua itu, hingga ia tercengang.
"Apa kau bilang?"
Ia berbalik menanya.
"Untuk merampas dunia, itulah bukannya tugasmu. Kau tidak tepat!"
Berkata anak muda itu dengan jawabannya.
Di waktu Tan Hong pertama kali masuk ke Tionggoan, ia ada bawa warisan leluhurnya -ialah peta dari tempat disimpannya harta pendaman leluhurnya itu di Souwtjioe.
Ketika itu, dalam pertandingan dengan Pit To Hoan, keduanya telah membuat perjanjian, kalau Pit To Hoan kalah, untuk selanjutnya suka ia dengar segala perkataannya si anak muda.
Janji itu ada mengandung maksud, jikalau di kemudian hari Thio Tan Hong hendak rampas negara dari tangan kerajaan Beng, Pit To Hoan cuma harus membantu, tidak dapat ia menentanginya.
Karena itulah maka sekarang dalam keadaan sangat terpaksa itu, Tan Hong menagih janji.
Mendengar itu, walaupun sangat bertentangan dengan hatinya, Hangliong pang dari Pit To Hoan menjadi bergerak dengan perlahan, lalu di akhirnya, sambil menghela napas, ia berkata.
"Baiklah, aku mengalah terhadapmu!..."
Setelah mengucap begitu, dengan gesit sekali ia lompat keluar jendela!
Kie Tin takut bukan main, mukanya pucat pasi hingga seperti tidak ada darahnya.
Ia mendekam di suatu pojok, napasnya memburu.
Tan Hong tidak sempat perhatikan lagi raja itu, dia lompat keluar kamar, hingga dia dapatkan Tiauw Im Hweeshio, paman guru yang kedua itu, tengah kerahkan tenaganya, mengamuk hebat dengan tongkatnya, yang menjadi lawannya adalah Ngochito serta dua pahlawan lainnya Ngochito bukannya seorang yang lemah akan tetapi menghadapi pendeta itu, walaupun ia dibantu dua pahlawan, ia kewalahan juga.
Tiauw Im liehay dengan gwakang-nya, ilmu bahagian luar, liehay juga ilmu tongkatnya, Hokmo Thunghoat, yang terdiri dari seratus delapan jurus, dengan ilmu tongkat ini dia desak tiga lawannya itu.
Di akhirnya, Ngochito cuma bisa bela diri, tak sanggup balas menyerang.
Beruntung bagi Tiauw Im Hweeshio, Yasian telah kehilangan dua pahlawannya yang ia paling andalkan, ialah Tjeng Kok Hoatsoe dan Ma I Tjan, yang kepandaiannya tidak ada di bawahannya pendeta ini, yang tadi malam telah rubuh di tangannya Tjia Thian Hoa dan Yap Eng Eng yang liehay dengan cara bertempurnya siangkiam happek, hingga yang satu terluka, yang lainnya binasa, bila tidak demikian, pasti sekali Pit To Hoan dan Tiauw Im tak akan dapat bergerak dengan leluasa seperti ini.
Yasian lihat munculnya Tan Hong, segera ia perdengarkan suaranya yang dingin.
"Hm, bagus ya! Kamu orang-orang Han, kamu tidak punya kehormatan!"
Tan Hong dengar ejek-ejekan itu, ia tidak mempedulikannya, hanya terus ia lompat kepada Tiauw Im, dengan ulur sebelah tangannya, ia sambar tongkatnya djiesoepee itu, si paman guru yang kedua.
Tiauw Im lihat keponakan murid itu, ia jadi sangat gusar, hingga ia berteriak .
"Ya kamu berdua guru dan murid semua bukannya manusia benar!"
Justeru itu ia tengah menyerang Ngochito secara hebat sekali, sampai pahlawannya Yasian itu putus asa.
Maka beruntung bagi pahlawan ini, Tan Hong muncul di waktu yang tepat, selagi si pendeta egoskan tongkatnya dari tangan si anak muda, ia lantas lompat keluar kalangan, perbuatan ini ditelad dua kawannya.
"Tan Hong, kau berani lawan yang tuaan!"
Membentak Tiauw Im dalam murkanya.
"Lagi sekali kau merintangi aku! Lihat kalau-kalau aku tidak kemplang mampus padamu dengan tongkatku ini!"
Tan Hong tapinya telah tetap dengan putusannya.
"Sekalipun kau bunuh aku, aku tetap menghendaki kau mundur dari sini!"
Demikian jawabannya.
Dalam kalapnya, Tiauw Im segera serang keponakan murid itu.
Tan Hong tidak berani layani paman guru ini terus dengan tangan kosong, terpaksa ia cabut pedangnya, maka itu keduanya bertarung dalam ruang itu.
Pada waktu pertama kali Tan Hong masuk ke Tionggoan, kepandaiannya Tan Hong berimbang dengan paman gurunya, akan tetapi setelah mempelajari Hiankang Yauwkoat, ia telah peroleh kemajuan pesat sekali, maka sekarang ia sudah dapat lampaui paman gurunya itu.
Belasan kali sudah Tiauw Im mendesak dengan tongkatnya yang liehay, yang tadi membuatnya Ngochito bertiga kewalahan, tapi kali ini, tidak mampu ia membuat keponakan muridnya itu mundur setindak juga, malah sebaliknya, setiap kali si anak muda menggerakkan pedangnya, ia seperti tak sanggup gerakkan tongkatnya yang liehay itu!
Bukan kepalang mendongkolnya pendeta ini, hingga matanya jadi mendelik.
"Tan Hong, apakah masih ada orang yang tertua di depan matamu?"
Ia menegur sambil berteriak sekeras-kerasnya. Ditegur begitu, anak muda ini cuma bersenyum.
"Maaf, soepee. Walau bagaimanapun, sekarang aku minta soepee mundur dulu dari sini! Untuk bicara, nanti lain kali saja, sekalian aku haturkan maafku!"
Perkataannya Tan Hong ini membuatnya semua pahlawan kaget dan heran.
"Ha, kiranya mereka adalah paman guru dan keponakan murid!..."
Seru mereka sambil tertawa.
"Hahaha, sungguh lucu! Di sini ada soepee yang tidak sanggup lawan keponakan muridnya! Benar-benar tidak punya guna, sampai pengaruh si tua dipakai untuk menindih si muda! Sungguh tidak tahu malu!"
Ejekan itu ditambahkan pula oleh tertawa dingin yang riuh. Mukanya Tiauw Im menjadi merah padam, lalu pucat pias, Kegusarannya tak terkirakan.
"Binatang cilik, lain kali akan aku membuat perhitungan terhadapmu!"
Ia berteriak, lalu dengan menyeret tongkatnya, ia lompat keluar kalangan, untuk angkat kaki dari pagoda itu.
Maka celakalah beberapa pahlawan yang berada diundakan tangga, mereka telah dilabrak oleh pendeta yang sedang mungsang-mangsing itu!
Tan Hong lompat ke jendela, untuk melongok keluar.
Ia tampak Pit To Hoan, dengan memimpin tiga pengemis, tengah menerobos kepungan.
Liehay tiga pengemis itu, beberapa puluh pahlawan masih tidak sanggup merintangi mereka.
Tiauw Im sudah lantas gabungkan diri pada empat orang itu, berlima mereka membuka jalan untuk menjauhkan diri.
"Beberapa pengemis itu liehay,"
Pikir Tan Hong.
"Entah bagaimana caranya mereka bekerja, sehingga mereka mendapat tahu raja dikurung di sini..."
Ketika itu, Yasian pun menghampirkan jendela, sambil menyender, ia melongok keluar. Sekarang dapat ia bernapas lega. Ketika kemudian ia menoleh, ia lantas dengar suaranya Tan Hong.
"Aku minta Thaysoe suka memberi maaf padaku,"
Demikian anak muda itu.
"Soepee-ku itu menyangka aku sedang terkurung di sini, maka itu telah terbit salah paham. Akan aku cari dia, untuk memberi penjelasan. Aku berani tanggung dia tidak akan datang pula mengacau kemari!"
Yasian dapat kesan baik terhadap anak muda ini.
Ia telah saksikan sendiri bagaimana hebatnya orang tahan desakannya si pendeta serta kawan-kawannya itu, hingga ia jadi terbebas dari ancaman marah bahaya.
"Sudahlah!"
Katanya sambil tertawa.
"Sekarang mari kita bekerja seperti apa yang kita sudah damaikan tadi. Kau tidak usah kuatirkan apa-apa."
"Terima kasih,"
Tan Hong ucapkan.
"Nah silakan masuk pula, untuk tengok rajamu,"
Yasian berkata pula.
Meskipun ia mengatakan demikian, perdana menteri ini tapinya jalan berendeng dengan pemuda itu masuk ke kamarnya Kie Tin.
Kaisar Beng terpucat-pucat mukanya, ia menyender di tembok, tubuhnya menggigil keras.
Nyata ia sangat ketakutan.
Yasian bersenyum melihat keadaannya raja musuh itu.
"Biarlah dia pulang untuk jadi raja pula, dia mungkin akan memberi kebaikan terhadapku..."
Demikian ia pikir. Lantas ia tertawa dan kata.
"Kau tentunya dapat kekagetan! Inilah ada baiknya untukmu, sebab ini berarti, habis pahit, datang manis! Kau tunggu saja, kalau nanti telah tiba utusan negaramu, kau boleh ikut pulang ke negerimu untuk hidup senang pula seperti biasa. Mudah-mudahan kau tidak akan lupakan kebaikanku!..."
Hati Kie Tin lega, hingga ingin ia menghaturkan terima kasih kepada perdana menteri Watzu itu.
Tetapi Tan Hong telah mengedipkan mata padanya, atas mana segera ia insyaf akan dirinya.
Bukankah ia seorang raja dari suatu negara besar dan Yasian tak lebih tak kurang sebagai perdana menteri dari Watzu?
Jikalau ia haturkan maafnya, ia jadi menghina diri sendiri.
Maka ia lantas angkat dada.
"Tidak usah kau menyebutnya, budi kebaikanmu ini telah aku ingat!"
Demikian ia berikan jawabannya.
"Thaysoe, masih hendak aku memohon sesuatu darimu,"
Tan Hong berkata. Ia seperti tidak menghiraukan pembicaraannya kedua orang itu.
"Apakah itu? Silakan sebutkan,"
Yasian jawab. Tan Hong loloskan mantel kulit di pundaknya -itulah mantel kulit rase yang halus dan enteng -sambil berbuat begitu, ia berkata.
"Aku mohon Thaysoe ijinkan aku kasihkan mantelku ini kepadanya."
Dengan "padanya"
Itu, pemuda ini maksudkan raja Beng. Yasian segera perlihatkan roman terperanjat.
"Ah, saking repot, aku sampai melayaninya kurang sempurna!"
Katanya.
"Orang-orangku pun alpa! Kami sampai lupa untuk menyiapkan pakaian baharu untuk junjungan kamu! -Mana orang?"
Perdana menteri ini menjadi repot agaknya, ia perintah orangnya ukur tubuhnya Kie Tin, untuk segera dibuatkan pakaian baru, pakaian dari kulit.
Ia juga pesan, barang hidangan harus dibikin lebihan, supaya sekalian dapat dihidangkan kepada raja tawanan itu.
Setelah itu, ia bertindak keluar.
Tan Hong mengikuti perdana menteri itu, tetapi mantel kulitnya ia tinggalkan di situ.
Selagi bertindak, ia melirik kepada raja, ia tampak matanya raja itu mengembeng air.
"Agaknya hatinya telah tergerak juga,"
Pikir anak muda ini.
"Semoga ia nanti ingat pengalamannya yang pahit di sini, supaya nanti sepulangnya ke negerinya, ia nanti tidak mendatangkan kesulitan bagi Ie Kokloo..."
Tan Hong lantas ingat Topuhoa, ia kuatir digerembengi pula oleh si nona, maka itu, begitu keluar dari menara batu itu, ia lantas pamitan dari Yasian.
Ia segera menuju ke tempat penginapannya In Loei.
Akan tetapi di sana ia tidak dapat menemui si nona.
In Loei cuma meninggalkan sehelai surat untuknya.
Ringkas saja suratnya In Loei itu.
Ia pesan, kalau nanti Tan Hong sudah selesaikan segala urusannya, anak muda itu harus segera pergi kebukit Peklo San di luar pintu timur, untuk mereka bertemu di sana.
-ooo00dw00ooo-Bab XXVI Peklo San adalah bukit kenamaan, letaknya dekat dengan kota raja.
Di atas bukit, yang indah pemandangannya, ada berdiri beberapa rumah penduduk.
Tan Hong ketahui itu, makanya ia menjadi heran akan bunyinya surat kawannya itu.
"In Loei belum pernah datang ke kota raja bangsa Watzu ini, dia masih asing di kota ini, kenapa dia dapat mendaki bukit Peklo San?"
Demikian ia berpikir.
Ia juga merasa pusing sedikit.
Ia dipesan mencari ke atas bukit tetapi di dalam surat tidak dituliskan alamat yang terang.
Ke mana ia harus mencari?
Tidakkah itu sulit?
Berbareng iapun menjadi berkuatir juga.
In Loei pindah, agaknya dengan cara kesusuh, apakah itu bukan disebabkan si nona hendak menyingkir dari matanya Yasian?
Oleh karena ia tidak dapat menemui si nona, terpaksa Tan Hong pulang dulu ke rumahnya.
Kali ini ia dapat kenyataan pahlawan-pahlawannya Yasian, yang ditugaskan mengawasi rumahnya itu, sudah ditarik pulang.
Adalah Tantai Mie Ming, yang muncul membukakan pintu.
Maka itu, girang keduanya akan pertemuan ini.
Mie Ming berkata.
"Beberapa hari yang lalu kami telah dikurung di dalam gedung, aku sebal sekali. Kalau menuruti adatku, pasti aku sudah menerjang keluar! Tjoekong telah membujuki aku untuk jangan gunai kekerasan."
"Memang ada terlebih baik jangan menerjang keluar,"
Kata Tan Hong sambil tertawa.
"Mana ayahku?"
"Tjoekong ada di kamar tulis,"
Sahut Tantai Mie Ming.
"Selama ini, hati tjoekong pepat, bagus kau telah pulang."
Tan Hong lantas pergi ke kamar tulis. Perlahan tindakan kakinya. Ia tampak ayahnya tengah berduduk diam seorang diri sambil bertopang dagu. Ayah itu seperti sedang memikiri sesuatu.
"Ayah!"
Ia memanggil, dengan perlahan.
"Oh, kau telah kembali!"
Menyahut ayah itu. Ia menoleh.
"Aku tadinya menyangka bahwa kita sukar untuk dapat bertemu pula satu dengan lain..."
Air matanya orang tua itu lantas saja menetes turun.
"Anakmu yang poethauw pulang untuk memohon ampun,"
Kata Tan Hong. Ayah itu tidak pedulikan akan kebaktian anaknya itu.
"Aku dengar dari Tantai Tjiangkoen, benarkah kau telah tiba di Souwtjioe?"
Tanyanya.
"Justeru untuk itulah anakmu memohon ampun,"
Jawab Tan Hong.
"Harta pendaman dan peta bumi simpanan leluhur kita sudah aku gali, semua itu aku telah berikan kepada Ie Kiam dari kerajaan Beng, untuk digunakan membantu kaisar dari Keluarga Tjoe memukul mundur angkatan perang Watzu..."
"Tentang sepak terjangmu itu, dari mulut Tantai Tjiangkoen telah aku dengar sedikit,"
Berkata sang ayah.
"Dengan tindakanmu ini, terhadap Tionggoan kau telah unjukkan jasamu, tetapi karena itu, kita kaum keluarga Thio, untuk selama-lamanya akan tidak punya lagi ketika yang baik untuk memperebutkan dunia..."
Tan Hong bungkam. Ia dapat merasai kedukaannya ayah itu. Ketika ia memikir, untuk menghibur ayahnya, ia dengar ayah itu menghela napas seraya terus berkata.
"Hidup tak ingin menjadi tihang negara, mati tak sudi menjadi Raja Akherat. Sekalipun Raja Akherat, selagi ia memutuskan orang menjadi setan, hatinya sering tak tega, sedang menjadi tihang negara, yang mencintai rakyatnya, kewajibannya menjadi bertambah-tambah banyak... Setelah perubahan besar ini, dengan perlahan-lahan habis sudah tergosok semangatku yang besar. Menjadi perdana menteri aku tidak menghendaki lagi, apapula untuk menjadi raja yang pasti memusingkan kepala. Oleh karena kau sendiri sudah tak ingin menjadi raja yang memulai membangun negara, aku juga ingin mengakhiri hidupku di negara asing ini. Semua yang kau telah lakukan, tidak aku buat menyesal, tidak aku persalahkan kau!"
"Ayah,"
Berkata putera itu.
"Daun itu rontok jatuh ke akarnya, dari itu, aku masih mengharap kau nanti pulang ke negeri kita..."
Thio Tjong Tjioe menghela napas, ia hempaskan tangannya.
"Selama ini kau banyak letih, pergilah kau beristirahat dulu,"
Katanya.
"Sebentar malam nanti kita bicara pula."
Tan Hong tidak berani mendesak, ia lantas undurkan diri.
Sorenya, sehabis bersantap malam, anak ini bersama ayahnya jalan-jalan di dalam taman.
Di bawah sinarnya si Puteri Malam, pohon-pohon bunga menciptakan bayangan-bayangan.
Menarik hati memandang loneng-loneng yang terukir.
Di dalam keindahan sang malam itu, ayah dan anak berhadapan berdiri sambil mereka menyenderkan tubuh di loneng.
Sampai lama, mereka tak bicara satu pada lain.
Akhirnya, Tan Hong petik setangkai bunga bwee.
"Kali ini bunga bwee mekar terlebih indah daripada tahun yang lalu,"
Kata dia. Ia mulai pecahkan kesunyian.
"Benarkah itu?"
Tanya ayahnya.
"Kau telah sampai di istana lama di Souwtjioe, bagaimana kau lihat keadaan di sana?"
"Istana itu telah dijual oleh negara, telah dijadikan tamannya satu okpa,"
Sahut si anak.
"Ukiran huruf-huruf di tembok pun sudah pada runtuh..."
Tjong Tjioe tidak bilang suata apa, ia cuma menghela napas.
"Tetapi ayah jangan berduka,"
Tan Hong menghibur.
"Tempat kita itu telah anakmu menangkan kembali."
Tjong Tjioe heran.
"Apa katamu?"
Ia tanya.
Tan Hong segera beri keterangan halnya itu hari ia menangkan pertaruhan dengan Kioetauw Saytjoe hingga ia dapat pulang Koaywa Lim, tamannya itu, dan hal apa yang ia telah lakukan terlebih jauh mengenai taman itu.
Ayah itu tengah berduka tetapi mendengar penuturan puteranya, ia tertawa berkakakan.
Itulah tanda ia setujui sikap anaknya itu.
"Anakmu poethauw, ayah,"
Tan Hong berkata pula.
"Sekarang ini anakmu mengharap ayah suka pulang, supaya di taman sendiri ayah bisa tinggal dengan damai dan tenang..."
Tjong Tjioe kembali tidak menyahuti, ia cuma menghela napas. Kelihatannya ia sangat lesu.
"Ayah, justeru adalah paling baik kau gunai ketika ini untuk keluar dari segala keruwetan,"
Tan Hong membujuk pula. Lalu ia tuturkan apa yang ia bicarakan tadi pagi dengan Yasian. Ia tambahkan.
"Telah aku melancangi ayah menerima baik sarannya Yasian itu, maka itu baiklah besok ayah ajukan permohonanmu untuk meletakkan jabatan, supaya ayah tak usah lagi menjadi menterinya Watzu yang memusingkan diri ini."
"Untuk undurkan diri, itulah memang cocok sama cita-citaku,"
Berkata ayah itu.
"Sudah dua puluh tahun lebih aku menjadi menteri, aku telah merasa letih sekali. Dahulu juga aku tidak punya niatan untuk menjadi menteri."
"Memang, ayah, mega itu tak ada niatnya untuk muncul dari antara puncak-puncak, dan burung, setelah letih beterbangan, tahu akan pulang ke sarangnya,"
Kata Tan Hong.
"Maka, ayah, untuk kita adalah terlebih baik jikalau kita pulang ke kampung halaman kita."
Tjong Tjioe menghela napas.
"Memang, mega itu tak ada niatnya untuk muncul dari antara puncak-puncak, dan burung setelah letih beterbangan tahu akan pulang ke sarangnya,"
Ia ulangi kata-kata puteranya.
"Itulah dua runtunan kata-kata yang tepat sekali dari To Van Beng. Pulang, pergi, kembali! Ya, sekarang adalah waktunya untuk pergi pulang..."
Tan Hong menjadi sangat girang.
"Kalau begitu baiklah besok ayah ajukan permohonanmu meletakkan jabatan,"
Ia kata.
"Sesudah itu kita menanti saja tibanya utusan kerajaan Beng, setelah perdamaian beres selesai, kita lantas pulang ke negeri kita."
Tapi Tjong Tjioe menggeleng-geleng kepalanya.
"Apa yang aku katakan dengan pergi pulang itu bukanlah seperti yang kau maksudkan pulang ke negeri kita sendiri!"
Katanya, dengan suaranya yang dalam. Tan Hong heran, hingga ia tercengang.
"Bagaimana, ayah ?"
Ia tanya.
"Arak habis, perjamuan bubar, orang pergi pulang,"
Sahut ayah itu.
"Demikian kemuliaan, kementerengan, itulah impian kosong belaka. Di dalam dunia ini aku telah hidup enam puluh tahun, dari itu sudah seharusnya aku pergi pulang..."
Kali ini suaranya itu lain daripada biasanya. Nyata dengan "pergi pulang"
Itu ia maksudkan pergi pulang ke alam baka. Karena ini, ketika sang anak berkata pula, suaranya rada-rada menggetar.
"Ayah semakin sehat, masih jauh ayah ke usia seratus tahun, kenapa ayah mengucapkan kata-kata yang tak beralamat baik ini?"
Ia tanya. Tjong Tjioe tertawa meringis.
"Bukankah di dalam dunia ini tidak ada pesta yang tidak bubar?"
Ia balik tanya.
"Kanglam itu indah, itulah justeru tempat untuk ayah beristirahat!"
Kata Tan Hong, gugup. Tapi sang ayah jawab.
"Apakah aku masih ada muka untuk kembali ke Kanglam? Dahulu hari Tjouw Pa Ong sungkan melintasi sungai Ouw Kang, itu artinya dia tak ingin menjumpai pula penduduk Kangtong!"
Tan Hong menjadi sangat berduka, ia berkuatir.
"Ah, mengapakah ayah membuat bandingan ini?"
Ia kata. Ia masih berniat membujuk, tetapi ayahnya telah menggoyangkan tangannya.
"Putusanku sudah tetap, tak usah kau banyak omong lagi!"
Kata orang tua itu.
"Boleh aku letakkan jabatanku sebagai menteri akan tetapi tanah daerah leluhurku tak sudi aku menginjaknya pula!"
"Kalau begitu, ayah,"
Tanya Tan Hong.
"apakah ayah anggap keliru tentang perjalananku ke Tionggoan ini?"
Tjong Tjioe berdongak memandang langit. Dari kejauhan, dengan lapat-lapat, terdengar suaranya terompet huchia. Sekian lama ia membisu, baharu ia bersuara pula.
"Jikalau usiaku muda empat puluh tahun, aku juga dapat melakukan seperti apa yang kau telah perbuat,"
Ia berkata.
"Mengandalkan orang untuk melakukan sesuatu adalah sangat tak boleh diharap, sekarang insaflah aku bahwa pikiran akan pinjam tenaga bangsa Watzu untuk membangunkan pula Kerajaan Tjioe kita yang besar adalah suatu pikiran yang keliru."
Mendengar ini, Tan Hong girang berbareng berduka.
"Ayah..."
Katanya pula.
"Tak usah kau omong banyak lagi!"
Sang ayah memotong.
"Hanya ingin aku menyadarkan kau. Yasian itu adalah seorang yang sangat licik, terhadapnya kau mesti waspada kalau-kalau dia berbalik berpikir. Dengan sesungguhnya aku mengharap-harap lekas tibanya utusan dari pemerintah Beng! Bilamana aku menutup mata di negara Watzu ini, tidak nanti aku melupakan Tionggoan... Turut katamu itu, Ie Kiam adalah seorang menteri bijaksana yang sukar dicari keduanya selama seratus tahun ini. Mudah-mudahan, sejak saat ini, Tionggoan kelak akan menjadi makmur dan kuat. Aku merasa senang juga apabila aku dapat melihat utusannya."
Luar biasa perasaannya Tan Hong sesaat itu.
Mereka berada dekat tapi mereka seperti terpisah jauh satu dari lain...
Tan Hong seperti merasakan bahwa jantung ayahnya berdenyut keras, berdenyut dengan tak dapat diartikan maksudnya...
Karena ini, pikirannyapun menjadi kacau.
Sekonyong-konyong di antara kelompok pohon di depan mereka, satu bayangan orang tampak berkelebat, berbareng dengan itu terdengar bentakannya Tantai Mie Ming.
"Siapa bernyali begini besar berani menyusup masuk ke dalam sianghoe?"
Bentakan itu disusul dengan serangan sebelah tangan, lalu menyusul satu suara berisik dari rubuhnya sebuah pohon kembang, disusul pula dengan lompat keluarnya satu orang mengenakan pakaian warna abu-abu.
Tantai Mie Ming sendiri terlihat terhuyung beberapa tindak, baharu dapat ia pertahankan tubuhnya.
Tan Hong kaget sekali.
Siapa orang itu, yang demikian kosen sanggup membuat Tantai Mie Ming terhuyung?
Mendadak ia dengar tertawa yang nyaring diiringi pertanyaan.
"Ah, Tan Hong, kau telah kembali?"
Baharu sekarang Tan Hong melihat tegas, orang itu adalah toasoepee-nya, Tang Gak.
Maka itu, ia jadi girang luar biasa.
Ia lantas memberi hormat pada paman gurunya yang paling tua itu, siapa ia segera ajar kenal dengan ayahnya.
"Mari kita duduk di dalam,"
Kemudian ia mengajak. Demikianlah mereka pergi ke ruang tamu. Tang Gak irup air teh yang disuguhkan, terus ia tertawa.
"Tantai Tjiangkoen, kepandaian Tiat Piepee-mu telah menjadi terlebih liehay daripada dulu-dulu!"
Ia memuji. Tantai Mie Ming pun tertawa.
"Dan Taylek Kimkong Tjioe darimu pun sukar sekali untuk dilayani!"
Ia balik memuji. Tjong Tjioe menghaturkan terima kasih pada tetamunya yang tidak diundang itu.
"Anakku telah dapat perlindunganmu, aku sangat berterima kasih,"
Kata ia pada paman guru puteranya itu.
"Dan akupun bersyukur kepada kau yang selama sepuluh tahun sudah melindungi soetee-ku,"
Tang Gak pun berkata, ia maksudkan Thian Hoa. Kemudian, sambil tertawa pula, ia menambahkan.
"Sinsiang, baharu sekarang aku tahu hatimu! Nyata tidaklah salah apa yang dikatakan soetee-ku itu! Aku merasa bersyukur yang aku tidak sampai berlaku sembrono..."
Tan Hong pun dengan diam-diam bersyukur juga.
"Baiknya ia dapat dengar pembicaraan ayahku barusan,"
Katanya di dalam hati.
"Kalau dia sebagai djiesoepee, entah apa yang akan terjadi... Apakah soepee telah ketemu guruku?"
Ia terus tanya toasoepee itu.
"Ya, telah aku ketemu padanya,"
Sahut Tang Gak.
"Tjia Sianseng sudah pergi untuk banyak hari,"
Tjong Tjioe turut bicara.
"Mulanya aku tidak tahu apa yang dia niat lakukan, aku berkuatir. Dia telah kembali, mengapa dia tidak turut bersama datang kemari?"
Tang Gak irup pula tehnya, ia tidak lantas menjawab.
"Pahlawan-pahlawannya Yasian sudah dibubarkan, meski demikian sukar dijamin bahwa ia tidak akan mengirim orang lagi untuk memata-matai kita,"
Berkata Tantai Mie Ming.
"Nanti aku pergi ke depan untuk melihat-lihat."
Tan Hong tertawa atas kepergiannya jenderal itu.
"Tantai Tjiangkoen telah memikir terlalu banyak,"
Katanya.
"Dia kuatir di antara kita mungkin hendak membicarakan sesuatu yang tak dapat dilakukan di depannya, maka itu ia berlalu..."
"Ia benar,"
Tang Gak bilang.
"Apa yang hendak aku bicarakan justeru adalah urusan gurunya."
Gurunya Tantai Mie Ming ialah Siangkoan Thian Ya, justeru adalah lawan dari Hian Kee Itsoe. Maka mendengar soepee ini, Tan Hong menjadi heran.
"Apa?"
Tanyanya "Bukankah Siangkoan Thian Ya Si kepala iblis tua itu sudah lama mengumpetkan diri? Mungkinkah sekarang dia muncul pula?"
"Dia tidak keluar dari gunungnya akan tetapi kita hendak pergi mengunjungi padanya!"
Kata Tang Gak.
"Bagaimana sebenarnya soepee?"
Tanya pula Tan Hong, heran.
"Tak tahu bagaimana jalannya, iblis kepala yang tua itu telah mendengar yang kami beberapa saudara telah datangi negara Watzu ini,"
Tang Gak beri keterangan.
"dan ia segera kirim orang untuk memberitahukan kami supaya kami pergi ke gunungnya untuk menghadap padanya."
"Apakah maksudnya?"
Tan Hong tanya pula.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin dia hendak uji kepandaian kami. Dia adalah satu lootjianpwee, dia telah berikan titahnya, tidak dapat kami tidak turut titahnya itu."
"Apakah Tantai Tjiangkoen tidak ketahui urusan ini?"
Tan Hong tanya. Ia jadi berpikir keras.
"Jikalau dia tidak mengatakan apa-apa, jangan kau timbulkan urusan ini kepadanya,"
Tang Gak pesan.
Ia tidak jawab keponakan murid itu, ia bicara secara sungguh-sungguh.
Di dalam kalangan kaum Rimba Persilatan ada aturan yang harus dihormati, yaitu jikalau pada kedua pihak kaum tertua ada perselisihan, maka murid-murid mereka itu meskipun mereka bersahabat satu pada lain, harus si murid saling menjauhkan diri.
Tan Hong tahu aturan itu, ia sebenarnya kurang memperhatikannya, tetapi sebab ia lihat soepee ini bicara demikian rupa terpaksa ia tidak berani banyak omong.
Tang Gak melanjutkan kata-katanya.
"Begitulah pada kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, guru kami bersama Siangkoan Thian ya itu telah melakukan pertempuran di atas gunung Ngobie San, sampai tiga hari tiga malam lamanya, mereka tidak menang dan tidak kalah. Pertempuran itu telah disudahi dengan mereka saling berjanji, bahwa lagi tiga puluh tahun kemudian mereka bertemu pula. Tidak lama sehabisnya itu, keduanya menjauhkan diri dari muka umum, mereka menyembunyikan diri, yang satu di Tionggoan, yang lain di tapal batas Mongolia. Sejak itu, keduanya tidak pernah berhubungan lagi satu sama lain. Aku telah anggap urusan akan sudah habis sampai di situ. Tak disangkanya pada tahun ini di permulaan musin semi, aku dengar omongannya seorang sahabat kaum Rimba Persilatan, bahwa katanya Siangkoan Thian Ya hendak mewujudkan janji dahulu hari itu. Oleh karena ini, lekas-lekas aku berangkat untuk menyampaikan kabar kepada soetjouw-mu. Soetjouw-mu itu tidak mengatakan, suka atau tidak ia menyambut Siangkoan Thian ya itu, ia hanya titahkan kami pergi terlebih dahulu ke Watzu. Sampai sekarang ini aku tetap belum tahu soetjouw-mu itu hendak datang atau tidak..."
"Turut apa yang aku dengar dari soehoe,"
Berkata Tan Hong.
"jurus silat pedang siangkiam happek ciptaan soehoe adalah diperuntukkan melawan iblis tua itu. Mungkin, karena itulah soetjouw tidak niat turun tangan sendiri."
"Tentang liehaynya siangkiam happek itu belum pernah aku saksikan,"
Kata Tang Gak.
"Samsoetee dan soemoay memang cerdas sekali, mereka jauh lebih menang daripada aku, akan tetapi jikalau mereka hendak diajukan untuk melayani iblis tua itu, rasanya bedanya masih terlalu jauh..."
Tan Hong tahu liehaynya siangkiam happek, tak percaya ia akan kata-katanya paman guru yang tertua itu, akan tetapi terhadap toasoepee ini ia tidak berani sembarang omong, ia juga tidak hendak pertontonkan ilmu silat pedang gabungan itu, maka ia membungkam.
"Eh, Tan Hong, mana sahabatmu yang muda?"
Tiba-tiba Tang Gak tanya.
Baharu sekarang ia ingat In Loei.
Hatinya Tan Hong bercekat.
Tentang In Loei, ia belum omong kepada ayahnya, ia anggap belum tiba saatnya, tapi sekarang toasoepee itu menimbulkannya, hatinya menjadi kebat-kebit.
Lekas-lekas ia mengedipkan mata kepada paman guru itu.
"Apakah kau tidak memikiri dia?"
Tanya pula toasoepee itu, dia agaknya tak mengerti tanda kedipan mata dari keponakan murid itu.
"Anak Hong,"
Berkata Tjong Tjioe, setelah ia dengar perkataannya Tang Gak itu.
"kau datang bersama sahabatmu itu, ajaklah dia menemui aku."
"Ia ada urusan, ayah, dia telah pergi terlebih dahulu,"
Tan Hong terpaksa mendusta.
"Bukankah dia hendak pergi ke lembah selatan dari gunung Tangkula untuk cari ibunya?"
Tanya lagi Tang Gak. Dengan "dia", paman guru ini maksudkan "dia"
Wanita. Kembali Tan Hong bercekat.
"Ha, toasoepee ini!"
Katanya dalam hati kecilnya.
"Rupanya toasoepee telah ketemu In Loei, jikalau tidak, tidak nanti ia ketahui In Loei hendak cari ibunya itu..."
Di samping itu, girang juga Tan Hong, hingga sinar matanya menjadi bercahaya.
Ia ada seorang cerdas, tahulah ia bahwa Tang Gak tentunya campur dalam halnya In Loei pergi mencari ibunya itu.
Tjong Tjioe sementara itu nampaknya heran.
"Sahabat macam apa dia itu?"
Ia tanya.
"Satu sahabat yang jujur."
Sahut Tan Hong.
"Kalau begitu, lain hari mesti kau ajak dia ke rumah kita,"
Kata ayah itu.
"Baik, ayah,"
Sahut si anak. Di dalam hatinya, ia ada sangat berduka. Bukankah In Loei telah menyatakan tak ingin menemui ayahnya itu? Sampai di situ, Tang Gak berbicara pula.
"Si iblis Siangkoan itu berdiamnya di puncak tertinggi dari gunung Tangkula sebelah utara,"
Demikian katanya.
"Jikalau dari lembah sebelah selatan, di mana ada bertinggal suku bangsa Ngolo, kita pergi kesebelah utara, lalu mendaki puncak utara yang tinggi itu, perjalanan ada sekira lamanya tiga hari. Tadi Thio Thaydjin menanyakan halnya Thian Hoa, dia sebenarnya sudah pergi terlebih dahulu kesana."
"Kapan Siangkoan Thian Ya menyuruh soepee beramai pergi mengunjungi padanya?"
Tan Hong tanya.
"Harinya masih belum ditetapkan,"
Sahut Tang Gak.
"Sebelumnya Tjengbeng, Thian Hoa sudah berangkat. Akulah yang menyuruh dia pergi, sebab ia mesti sambangi dulu satu sahabat Rimba Persilatan. Adalah kehendakku, di saat yang perlu, sahabat itu harus muncul untuk menjadi si juru pemisah. Di mana djiesoepee-mu? Aku dengar dia telah tiba juga. Bersama Thian Hoa, aku belum menemui dia."
"Djiesoepee ada bersama Tjinsamkay Pit To Hoan" , Tan Hong beritahukan. Dan ia tuturkan kejadian tadi malam. Mendengar itu, Tang Gak tertawa.
"Tabeatnya Tiauw Im masih tetap saja aseran seperti dulu-dulu,"
Kata dia.
"Baiklah, akan aku berdiam di sini beberapa hari, untuk mencari dia, setelah bertemu dengannya, baharu kita bicara pula."
"Kalau begitu, besok aku mesti berangkat?"
Berkata Tan Hong kemudian. Tjong Tjioe terperanjat.
"Eh, anak Hong!"
Katanya.
"Kau baharu pulang, bagaimana kau sudah hendak berangkat pula?"
"Inilah perlu, ayah,"
Anak itu jawab.
"Di sini ada mengenai urusan penting dari guruku, sebagai murid, layak aku berbuat sesuatu untuk soehoe. Kalau soehoe pergi menghadapi bencana, layakkah aku tidak menyusulnya?"
Tjong Tjioe berdiam. Ia dapat membenarkan perkataan anaknya ini. Bukankah Tan Hong telah dididik sempurna oleh Thian Hoa, gurunya itu? Maka tak dapat ia mencegahnya.
"Mana kudamu, Tjiauwya saytjoe ma?"
Kemudian ia tanya.
"Kuda itu dibawa oleh sahabatku yang disebutkan tadi,"
Sahut Tan Hong.
"Ah!..."
Tjong Tjioe berseru perlahan. Di dalam hatinya, ia kata.
"Pasti persahabatannya anak ini dengan sahabatnya itu bukan persahabatan biasa saja..."
Oleh karena ini semakin keraslah niatnya untuk bertemu dengan orang yang dimaksud itu. Keesokan paginya, Tan Hong pamitan dari ayahnya, juga kepada Tang Gak, toasoepee itu.
"Mari aku antar kau keluar,"
Berkata Tjong Tjioe, yang terus pegang tangan anaknya. Mereka berjalan dengan perlahan-lahan. Tantai Mie Ming ada bersama, ia menemani Tang Gak. Berdua mereka telah mendahului tiba di pintu depan.
"Ayah, kau masuklah,"
Tan Hong minta.
"Ayah masih harus pergi ke istana."
"Surat perletakan jabatan telah aku tulis selesai tadi malam, karenanya tak usah aku kesusuh,"
Sahut sang ayah.
"Sejak sekarang ini, dengan tidak memangku pangkat, aku jadi merdeka. Aku hanya harapkan kau lekas kembali."
"Jangan ayah pikirkan aku. Bersama-sama soehoe pasti aku akan kembali."
"Hanya aku kuatir, setelah kembali, kamu nanti pergi pula,"
Menyatakan pula ayah itu akan kesangsiannya.
"Kalau nanti kau pulang, mungkin utusan kerajaan Beng pun telah tiba."
"Kenapa ayah tidak hendak bersama-sama pulang ke Tionggoan?"
Tan Hong tanya pula. Ia mengulangi.
"Semalam telah kita bicarakan urusan itu, maka sekarang tak usah banyak dibicarakan pula!"
Kata ayah itu, ringkas. Tan Hong menurut, tetapi tiba-tiba ia tanyakan lainnya hal.
"Ayah,"
Demikian katanya.
"apakah ayah masih ingat In Tjeng, itu utusan kerajaan Beng yang dahulu hari?"
Tjong Tjioe melengak. Tan Hong rasakan telapak tangan ayahnya basah tiba-tiba dengan keringat, tangan itu gemetar. Selang sesaat baharulah Tjong Tjioe seperti sadar, terus ia menghela napas.
"Ya, sudah tiga puluh tahun..."
Katanya, seperti kepada dirinya sendiri.
"Urusan dari tiga puluh tahun seperti terbayang di depan mata... Utusan In itu adalah satu laki-laki yang seumurku baharu pernah menemuinya! Bagaimana aku tidak ingat kepadanya? Kalau tidak salah, sejak dia pulang ke negerinya, sepuluh tahun sudah berselang..."
"Hanya nasibnya harus disayangkan,"
Tan Hong tambahkan.
"Dia pulang ke negerinya, baharu saja dia tiba di pintu negeri, dia sudah dianiaya hingga binasa oleh Ong Tjin yang telah menggunakan firman palsu!"
Tjong Tjioe agaknya terkejut.
"Kejadian itu pernah aku mendengarnya,"
Ia bilang.
"Ah, itulah disebabkan kesalahanku. Ketika itu aku masih bersemangat muda, aku sangat benci raja Beng, karenanya, aku benci juga semua orang yang bersetia kepada kerajaan Beng itu. Karena itu juga maka In Tjeng telah aku kirim ke tepi telaga yang seperti berlangitkan es dan berbumikan salju, hingga lamanya dua puluh tahun dia mesti mengembala kuda. Selama dua puluh tahun dia minum es dan mengemu salju, toh selama itu tetap dia bersetia kepada kaisar dari Keluarga Tjoe itu. Dia adalah musuhku tetapi aku sangat kagum terhadapnya. Selama tahun-tahun yang belakangan ini, apabila aku ingat padanya, aku jadi bersusah hati. Inilah kesalahanku, ya kedosaanku yang pertama-tama selama hidupku... Aku harap utusan kerajaan Beng yang akan datang itu nanti ada sebagai In Tjeng jantannya!"
"Ayah tahu tidak,"
Kata Tan Hong pula.
"kabarnya In Tjeng itu ada punya dua cucu, yang satu pria, yang lain wanita, keduanya usianya tak berjauhan dengan usiaku."
"Benarkah itu?"
Tanya Tjong Tjioe.
"Aku harap yang aku bisa dapat bertemu dengan mereka itu."
"Ayah, umpama ada sesuatu yang mereka hendak mohon darimu, sudikah kau menerimanya?"
Tan Hong berkata pula.
"Kau adalah mustikaku,"
Sahut orang tua itu.
"kalau untuk mereka itu, meski aku kehilangan kau, aku ikhlas sekali!"
Tiba-tiba ia menghela napas. Ia menambahkan.
"Jikalau mereka itu masih hidup dan telah menjadi dewasa, pasti sekali mereka ketahui peristiwa engkong-nya itu, pasti sekali mereka akan pandang aku sebagai musuhnya. Oleh karena itu, cara bagaimana mereka hendak meminta sesuatu dari aku?"
Lega hatinya Tan Hong akan dengar kata-kata ayahnya ini. Ia tahu, itulah kata-kata yang keluar dari hati yang putih murni.
"Bagaimana caranya maka kau ketahui tentang dua anak itu?"
Kemudian Tjong Tjioe tanya pula. Sebenarnya ingin Tan Hong tuturkan pergaulannya dengan In Loei, atau mendadak ia pikir baiklah ia bersabar dulu.
"Aku dapat mendengar pembicaraan di antara sahabat-sahabat kaum kangouw,"
Demikian ia jawab.
"Kabarnya mereka itu sudah ikuti satu guru silat yang terkenal dari siapa mereka telah pelajari kepandaian. Cucu lelaki dari In Tjeng itu mungkin bekerja pada pemerintah."
"Kalau benar begitu, senang hatiku,"
Berkata Tjong Tjioe.
"Aku harap saja, utusan Beng yang akan di kirim kemari itu adalah cucunya In Tjeng itu."
Tan Hong lihat ayahnya benar-benar bergembira. Sementara itu, mereka sudah sampai di samping pintu.
"Ayah baik-baiklah di rumah,"
Tan Hong bilang. Lalu, bersama Tang Gak ia keluar dari pintu belakang. Tjong Tjioe senderkan tubuh di pintu, ia masih mengawasi, sinar matanya suram.
"Sungguh soetee Thian Hoa sabar dan jauh pandangannya,"
Berkata Tang Gak.
"Sekarang mengertilah aku kenapa dia sudi tinggal di rumahmu sampai sepuluh tahun. Oleh karena ayahmu suka membantu Tionggoan, nampaknya Yasian tidak akan mampu terbitkan sesuatu gelombang."
Atas ucapannya soepee itu, Tan Hong hanya angguk-anggukkan kepala.
"Sekarang kita menuju ke mana?"
Ia tanya.
"Tentu saja ke Peklo San!"
Sahut paman guru itu.
"Adik kecilmu tengah memikirkanmu..."
"Oh, jadinya soepee adalah yang menitahkan dia pergi ke Peklo San?"
"Di atas Peklo San itu ada satu sahabatku,"
Jawab Tang Gak.
"In Loei tinggal di rumah penginapan, itulah tidak sempurna, maka itu aku suruh dia pergi menumpang di rumah sahabatku itu."
Keduanya berjalan dengan cepat, maka tidak lama sampailah mereka di kaki gunung Peklo San itu.
Hawa ada sangat dingin, daun-daun kuning seperti mengampari bukit itu.
Tan Hong sangat bergembira, pemandangan itu baginya adalah seperti pemandangan di musim semi...
Di tengah gunung ada sebuah rumah, temboknya dari tanah liat.
Kelihatan rumah itu terawat baik.
Di pintu depan, sambil menyender, ada satu nona.
Dialah In Loei.
"Adik kecil! Adik kecil!"
Tan Hong segera memanggil.
"Adik kecil, aku sudah kembali!"
In Loei menyahuti dengan tawar, ia nampaknya lesu. Tang Gak lihat sikap orang itu, ia menggeleng kepala, ia kata dengan perlahan.
"Kamu berdua adalah sepasang musuh..."
"Telah aku bicara dengan ayah perihal peristiwa dulu-dulu, ia sangat menyesal,"
Kata Tan Hong. Ia ingin beritahukan In Loei perihal ayahnya mengharap sangat bertemu dengan dia dan kakaknya, tapi In Loei dengan dingin mengatakannya lebih dahulu.
"Aku pun menyesal..."
"Menyesal? Apa yang kau sesahnya?"
"Kakekku dahulu mengembala kambing,"
Jawab si nona.
"Kalau nanti aku bersama kau pergi melihat ibuku, tidak tahu apa yang harus aku katakan..."
Tan Hong menghela napas. Pantas kalau In Loei menyesal untuk ibunya itu -ibu yang telah terlunta, sangat menderita. Mengawasi sepasang anak muda itu, Tang Gak tertawa.
"Kamu anak-anak muda, kamu bertemu untuk saling menghela napas, kamu membuatnya aku si tua bangka jadi sangat tidak mengerti!"
Katanya, Jenaka.
"Kalau ada omongan, mari masuk ke dalam, di sana kita membicarakannya."
Masih Tan Hong menghela napas.
"Untukku, walaupun harus menginjak api, akan aku turut kau mencari ibumu itu,"
Ia kata pada In Loei.
"Kalau nanti kita sudah bertemu, apa juga kata ibumu, bagaimanapun ia tegur aku, akan aku terima saja..."
Tiba-tiba saja In Loei tertawa geli.
"Untuk apa ibuku tegur kau?"
Tanya dia.
"Ibuku itu, seumurnya belum pernah menegur orang!"
Satu kali si nona tertawa, maka sang awan gelap seperti juga lantas tersapu sinarnya Batara Surya!
Maka dengan hati lega, mereka masuk ke dalam rumah.
Sahabatnya Tang Gak itu adalah seorang ahli silat suku bangsa Hui yang tinggal di Mongolia ini, seorang yang ramah tamah sekali.
Begitu ia sambut tetamunya, lantas ia pergi ke belakang, untuk mencuci dan mensesel dagingnya seekor kambing hutan yang kemarinnya ia dapat dari memburu, untuk di matangi, dengan apa ia jamu tetamunya itu.
Tak lupa ia menyediakan araknya.
"Samsoepee dan soehoe telah lewat di sini kemarin,"
Kata In Loei selagi mereka duduk bersama.
"Tentang itu telah aku beritahukan Tan Hong,"
Kata Tang Gak.
"Sekarang aku masih hendak berdiam beberapa hari di sini, untuk cari djiesoepee-mu serta Pit To Hoan, setelah, menemukan mereka baharu aku akan langsung kepuncak selatan dari gunung Tangkula, untuk menghadiri pertemuan. Kau, In Loei, setelah kau dapat cari ibumu, harus kau lekas bersama Tan Hong menyusul ke sana. Mungkin sekali kita, orang-orang tua dan muda dari dua tingkat turunan, akan bersama-sama menempur iblis tua bangka itu!"
"Apakah benar si tua bangka iblis itu ada demikian liehay?"
In Loei tanya.
"Sekalipun kita kepung padanya, aku sangsikan kemenangan ada di pihak kita!"
Sahut Tang Gak.
"Kalau begitu, bukankah dia jadi ada terlebih liehay daripada si wanita tua dari hutan bambu?"
Tanya pula si nona. Tang Gak heran, ia melengak.
"Wanita tua siapakah yang kau maksudkan itu?"
Ia menegaskan. In Loei pun segera ingat perkataannya Thian Hoa bahwa kecuali cuma toasoepee ini yang ketahui hal ihwalnya si wanita tua, maka itu ia lantas menjelaskannya.
"Dia adalah seorang tua yang tak sudi memberitahukan she dan namanya,"
Demikian penyahutannya. Dia pandai menggunai senjata rahasia yang berupa daun bambu. Toasoepee, tahukah siapa dia itu?"
Nona ini lalu menjelaskan pertemuan di hutan bambu itu.
"Ah, aku tidak sangka lootjianpwee itu masih ada di dalam dunia ini"
Berkata si paman guru setelah ia dengar semua.
"Nyata dia masih tak melupai segala kejadian dahulu hari itu. Oleh karena dia muncul, di belakang hari mungkin dia campur tangan, dan itu artinya urusan bisa menjadi bertambah sulit..."
"Sebenarnya siapakah dia?"
In Loei tanya pula.
"Dia itu bersama soetjouw-mu serta si tua bangka iblis ada punya suatu urusan, hanya kita yang menjadi anak muda, tak tepat untuk kita membicarakan urusan mereka itu. Di belakang hari kau akan ketahui sendiri."
Demikian jawaban Tang Gak.
In Loei tidak berani mendesak untuk menanyakannya terlebih jauh.
Tentu saja, sendirinya ia jadi masgul.
Sehabis bersantap, sang waktu sudah tengah hari.
Keras sekali niatnya In Loei untuk mencari ibunya, maka ia desak Tan Hong untuk segera berangkat.
Karena itu, sebentar kemudian keduanya sudah pamitan dari tuan rumah serta toasoepee mereka, untuk berangkat terlebih dahulu.
Sudah sekian lama Tjiauwya saytjoe ma dibawa In Loei ke gunung Tangkula ini, dan sekarang kuda itu melihat Tan Hong, lantas saja ia angkat kepalanya dan meringkik keras dan panjang.
Tan Hong usap-usap lehernya binatang tunggangannya itu.
"Sekarang aku membutuhkan kau pula!"
Katanya sambil tertawa.
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 8
Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 1