Dua Musuh Turunan 9

Eps 9 Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen

Baca online Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen

Cersil Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen.

"Asal saja orang akan merasa beruntung, tidak ada artinya kalau kita sendiri rugi sedikit....."

Kembali In Loei melengak.

"Nona ini baharu kenal aku, kenapa dia bergurau begini rupa?"

Ia pikir.

Tapi ia merasa bahwa orang rupanya bersungguh-sungguh, maka ia menatap, hingga sinar kedua pasang mata jadi bentrok satu pada lain.

Ia lantas lihat bahwa pada senyuman nona itu ada apa-apa yang dingin.

Nona Keng Beng ada cerdik sekali, melihat wajahnya In Loei, ia menduga bahwa orang masih bercuriga, maka itu, ia gigit kedua baris giginya dengan keras, untuk menguasai dirinya, guna cegah berdenyutnya jantungnya.

"Kakakmu adalah satu laki-laki, entjie, hanya sayang ia sedikit keras kepala,"

Ia bilang. Kembali heran In Loei akan dengar kata-kata itu, akan tetapi kakaknya dipuji, ia lantas tertawa. Apakah kau hanya punya satu kakak?"

Keng Beng tanya pula, secara mendadak.

"Ya, aku hanya punya seorang kakak,"

In Loei jawab.

"Apakah ada lain orang lagi dalam rumahmu?"

Lagi-lagi Keng Beng tanya.

"Masih ada ibuku, tetapi sekarang ia berada di Mongolia, entah di mana,"

In Loei jawab.

"Di belakang hari, akan aku cari ibuku itu....."

"Kecuali ibu, apakah tidak ada lagi sanak terdekat?"

Keng Beng tanya pula. Ia seperti tak habisnya menanya.

"Tidak ada lagi. Kakakku masih belum menikah."

"Oh, entjie belum punya enso?"

Sampai di situ, keheranan In Loei bersalin rupa.

Terang si nona tengah mencari jalan untuk bicara tentang kakaknya.

Mulanya ia menyangka, nona itu menaruh hati kepada Tan Hong, tapi nyatanya sekarang bahwa dia sebenarnya memperhatikan kakaknya itu.

Hampir saja ia mengatakannya.

"Jikalau kau sudi jadi enso-ku, itulah baik sekali!"

Tapi masih dapat ia mengatasi diri, terhadap seorang yang baharu dikenal, tidak berani ia sembarang bergurau. Hanya pada alisnya sajalah tampak tegas kegirangannya. Ia awasi nona itu, ia bersenyum.

"Ya, aku masih belum punya enso....."

Ia jawab.

In Loei tidak tahu bahwa sebenarnya, dengan paksakan diri, Keng Beng ucapkan kata-katanya melulu untuk melenyapkan kecurigaan, atau cemburu terhadap ia.

Di antara sinar rembulan, yang nyeplos antara daun-daun pohon-pohonan, kelihatan kedua nona itu saling menjabat tangan, keduanya bertindak dengan perlahan dengan hati mereka masing-masing bergoncang sendirinya.

Mereka berjalan di tepi pengempang teratai, hingga di lain saat, di antara tedengan gorden, mereka lihat suatu bayangan tubuh.

"Tan Hong masih belum tidur!"

Kata Keng Beng sambil tertawa.

"Dia tengah menantikan kau, entjie1."

"Cis"

Seru In Loei, yang segera merasakan mukanya panas sendirinya.

Ketika tadi ia keluar dari kamar In Tiong memang hatinya pepat, ingin ia melegakannya.

Ia bimbang.

Adalah niatnya untuk menyingkir dari Tan Hong, akan tetapi, adalah niatnya juga, untuk tengok anak muda itu, maka ia telah bertindak ke arah pengempang.

Adalah di luar dugaannya bahwa rahasia hatinya itu dapat dibade Keng Beng.

Maka ia menjadi jengah.

Keng Beng sudah lantas tertawa geli, ia terus putar tangannya untuk dapat terlepas dari cekalannya si Nona In, setelah mana, ia lari mutar ke gunung-gunungan akan kemudian lenyap dalam semak-semak pohon bunga.

In Loei awasi orang menyingkir.

Kapan kemudian ia menoleh ke arah paseban di tengah empang, ia tampak Tan Hong sudah pentang daun jendela dan kepalanya ditongolkan keluar.

"Adik kecil! Adik kecil!"

Demikian suaranya anak muda itu, perlahan tetapi tedas di antara kesunyian malam itu.

In Loei tidak jawab panggilan itu.

Ia seperti terhilang rasa, tetapi dengan perlahan-lahan, ia bertindak ke arah empang teratai itu.

Keng Beng dari tempatnya sembunyi saksikan pemandangan itu, ia menjadi girang berbareng sedih, hingga tanpa merasa, ia mengucurkan air mata.

In Tiong sementara itu dapat tidur nyenyak selama satu malam, ketika keesokannya ia mendusi, ia tampak matahari sudah naik tinggi.

Ia ingat kepada lukanya, ia lantas menggerak-gerakkan lengannya yang sakit.

Untuk kegirangannya, ia dapat bergerak dengan leluasa, seperti biasa.

Melainkan tubuhnya, ia rasakan masih sedikit lemah.

Ia berdahaga, ia lantas ceguk secawan air.

Kemudian ia berbangkit akan rapikan pakaiannya, untuk bertindak keluar dari kamar, dengan begitu dengan lantas ia dapat saksikan keindahannya Tongteng Santjhoeng dengan gunung dan gua palsunya, dengan tamannya, dengan pengempangnya dan lain-lainnya lagi.

Dengan pikiran terbuka, In Tiong jalan terus, tindakannya lambat.

Ketika ia tiba di depan gunung-gunungan, tiba-tiba ia dengar suara orang bicara di arah belakang gunung palsu itu.

Suara itu keras.

Itulah suara orang bertengkar, berebut omong.

"Harta simpanan ini telah kita jagai untuk iaotjoekong selama beberapa turunan,"

Demikian satu orang.

"kenapa sekarang harta itu hendak diserahkan kepada musuhnya, kepada kaisar keluarga Tjoe? Di alam baka, pastilah Iaotjoekong tak akan meram mata!" ("Laotjoekong"

Ialah "majikan atau junjungan yang tua").

"Duduknya hal tidak demikian,"

Terdengar satu suara orang tua, yang tegas dan nyata.

"Benar seperti katanya siauwtjoe, dahulu adalah dua keluarga memperebutkan negara, akan tetapi sekarang adalah suatu bangsa asing hendak datang menyerbu! Dalam hal ini kita mesti menimbang berat dan entengnya, maka itu mestilah kita bersatu hati dan bersatu tenaga, untuk menangkis musuh luar!"

Seorang lagi berkata.

"Aku tidak percaya kaisar keluarga Tjoe hendak bersungguh-sungguh hati menangkis serangan musuh luar itu!"

Kembali terdengar suara angker dari si orang tua tadi.

"Dalam keadaan hebat seperti ini, dia tidak melawan juga tak mungkin! Kita harus ingat, di samping kaisar itu, ada Ie Kiam dan lain menteri besar yang setia kepada negara. Sekarang telah pasti keputusanku, hendak aku turut perkataannya siauwtjoe, maka kamu semua jangan banyak omong pula!" ("Siauwtjoe"

Ialah "tuan atau junjungan yang muda." ) In Tiong kenali, orang tua itu adalah Tongteng Tjhoengtjoe, tuan rumah dari Tongteng Santjhoeng itu, maka yang lainnya tentulah orang-orangnya si tuan rumah.

Hatinya lantas saja bercekat.

"Sri Baginda telah menganggap Thio Tan Hong mencari harta simpanan dan peta bumi itu hendak dipakai memberontak melawan pemerintah,"

Ia berpikir.

"tetapi sekarang buktinya, harta besar itu justeru hendak dipersembahkan kepada Sri Baginda!"

In Tiong merasa aneh, ia menjadi kagum, hatinya goncang keras. Dalam saat seperti itu, ia tak bisa berbuat lain daripada berdiri terpaku bagaikan patung. Atau mendadak.

"Hai Tjonggoan thaydjin kau pun telah datang kemari?"

Demikian satu teguran, yang datangnya dari arah lorong, teguran mana diberikuti suara tertawa.

Dengan terkejut In Tiong menoleh.

Maka dilorong itu, ia tampak dua orang tengah mendatangi ke arahnya.

Ia segera kenali, mereka itu adalah si ibu dan anak daranya yang ia ketemukan di warung teh.

Tentu saja sekarang tahulah ia siapa ibu dan anak itu.

"Peebo"

Ia lantas memanggil sambil terus memberi hormat. Tamtay Toanio lantas tertawa.

"Bagaimana, kau telah sembuh?"

Tanya nyonya itu.

"Sungguh kau beruntung!"

Dan si nona atau Tamtay Giok Beng, telah bawa kejenakaannya. Ia tertawa haha-hihi ketika ia berkata kepada ibunya.

"Aku telah dengar entjie mengatakan bahwa kemarin dia masih berlagak menjadi satu laki-laki!....."

Paras In Tiong menjadi merah sendirinya.

Nona yang jail itu tidak memperdulikannya, dia malah tertawa dingin sekarang.

Dengan sebat dia rogo sakunya, untuk tarik keluar sehelai saputangan tersulam, dengan satu gerakan tangan, ia kibaskan itu yang membuatnya terbeber, maka di dalam saputangan itu tertampaklah sulaman dari sepuluh tangkai bunga merah, yang berkibar secara menyolok mata!

In Tiong lihat saputangan dengan sulaman bunganya itu, kembali hatinya bercekat.

Tamtay Toanio tertawa.

"Anak Beng, jangan kau bikin kaget tetamumu!"

Dia kata. Masih Giok Beng tertawa cekikikan. Dengan dua jari tangannya yang sebelah, ia gulung tujuh tangkai bunga merah itu, sambil menggulung ia berkata dengan wajar.

"Ini tujuh butir telur busuk yang hendak bikin celaka toako Tan Hong telah aku petik! Tinggal tiga lagi tetapi Toako Tan Hong larang aku mengganggunya, di larang sekalipun disentuh saja!....."

In Tiong bercekat pula. Ia tahu, tiga tangkai itu dimaksudkan terhadap dia bersama Tiatpie Kimwan dan Samhoa Kiam. Tamtay Toanio tertawa pula.

"Sejak di paseban teh telah aku lihat In Siangkong adalah orang baik-baik,"

Ia bilang.

"Sudahlah, anak Beng, aku larang kau bergurau pula!"

Keluarga Tamtay ini bertugas melindungi harta simpanan, oleh karena itu Tongteng Tjhoengtjoe Tamtay Tionggoan telah wajibkan diri menduduki Tongteng San Barat itu.

Selaku persiapan, bagaikan mata-mata, telah diadakan warung teh itu, yang dilakukan Tamtay Toanio serta puterinya, untuk mengawasi setiap orang yang mendaki bukit di tengah telaga itu.

Sebelum ia masuk ke Tongteng Santjhoeng, Tan Hong sendiri tidak tahu bahwa nyonya dan nona itu adalah isteri dan anaknya Tamtay Tionggoan.

Tamtay Toanio tidak pedulikan orang heran atau bingung.

"In Siangkong,"

Ia berkata pula kepada tetamunya itu.

"mari aku ajak kau melihat-lihat sesuatu!"

Dalam keadaan seperti itu, tak dapat tidak, In Tiong lantas ikuti nyonya itu.

Mereka jalan di lorong, memutari gunung-gunungan, sampai di suatu tempat di mana -begitu berkilau sinar terang mengkilap -In Tiong tampak tumpukkan emas dan perak, dari barang-barang permata lainnya!

Di sana pun berdiri Tongteng Tjhoengtjoe bersama beberapa petani, mendampingi harta besar itu.

"Ha, In Thaydjin, bagus kau datang!"

Seru tuan rumah begitu ia tampak tetamunya itu. Kemudian, menoleh kepada satu orangnya, ia menitahkan.

"Pergi kau undang Thio Siangkong datang kemari!"

Tongteng Tjhoengtjoe biasa memanggil siauwtjoe, tuan muda, kepada Thio Tan Hong, akan tetapi Tan Hong keras menampik, maka kesudahannya dia mengubahnya panggilan itu, dari siauwtjoe menjadi siangkong.

Tidak berselang lama, tampak Tan Hong datang bersama-sama In Loei.

Mereka itu bertindak di antara jalanan yang berbariskan pohon-pohon bunga.

Waktu In Loei lihat kakaknya, ia segera kendorkan tindakannya, dari berendeng, ia jadi ketinggalan di sebelah Tan Hong.

In Tiong saksikan pemandangan itu, diam-diam ia menghela napas, ia merasa likat sendirinya.

Tapi sekarang ia tidak lagi bergusar seperti kemarinnya.

"Bagaimana dengan lukamu, saudara In?"

Tanya Tan Hong begitu lekas ia telah datang dekat. Sebenarnya In Tiong tidak niat menjawabnya, akan tetapi kesopanan memintanya, maka ia manggut dengan tawar.

"Tak usah kau kuatirkan, aku masih hidup,"

Ia jawab. Tan Hong tidak marah, ia malah bersenyum.

"Bagus!"

Katanya.

Ia menanya pun dengan sengaja, karena ia tahu kemujaraban obatnya, yang begitu dipakai tentu bakal menyembuhkan lukanya.

Tongteng Tjhoengtjoe tidak pedulikan ketegangan di antara kedua anak muda itu.

"Harta ini aku telah menjaganya selama beberapa turunan,"

Ia berkata, maka sekarang telah tiba saatnya untuk aku melepaskan pikulanku yang beratnya ribuan kati!

In Thaydjin, aku minta sukalah kau beristirahat sedikitnya dua hari lagi di sini, setelah itu hendak aku mohon agar kau angkut harta ini ke kota raja, untuk dipersembahkan kepada junjunganmu supaya dipakai sebagai belanja tentera.

"Tan Hong tidak tunggu jawabannya In Tiong lagi, berkata.

"Apa yang dikatakan Anghoat Yauwliong kemarin bukan kedustaan belaka,"

Ia bilang.

"Telah aku peroleh kabar pasti, angkatan perang Watzu benar-benar sudah menerjang ke Ganboenkwan, di sana telah terbit perang di antara kedua negeri!"

In Tiong dengar itu, ia menjadi sangat gusar, hingga dengan tangannya ia sampok batu gunung-gunungan dihadapannya.

"Jikalau aku tidak sapu habis tentara Watzu, aku sumpah tak akan jadi manusia!"

Tiba-tiba ia terhuyung, dari mulutnya ia muntah-kan darah hidup. In Loei kaget, ia lompat akan tubruk kakak itu, untuk pegangi tubuhnya Tan Hong pun sambar tangan orang akan periksa nadinya.

"Jangan kuatir,"

Kata ia setelah memeriksa.

"Ini cuma disebabkan kemurkaan disatu saat. Saudara In,"

Ia tambahkan.

"lagi dua hari, kau akan sembuh pula. Jangan kau pikirkan tentang bahaya perang, walau keadaan sangat genting, peperangan bukannya urusan dua tiga hari. Yang penting adalah harta besar ini, di waktu diangkut, kau harus mohon bantuannya Tjhoengtjoe, supaya nanti di tengah jalan tak sampai ada yang begal!"

"Dan kau?"

Tongteng Tjhoengtjoe tanya anak muda itu, menegasi.

"Aku masih punyakan lainnya yang jauh lebih penting dari harta ini,"

Jawab Tan Hong.

"Ah, peta bumi, kau maksudkan?"

Tanya Tongteng Tjhoengtjoe.

"Benar,"

Sahut Tan Hong.

"Sekarang ini musuh tangguH dan kita lemah, peta itu penting bagi pihak kita. Bukankah kita jadi berada di tempat terang dan musuh di tempat gelap? Itu artinya lebih berfaedah daripada tambahan sepuluh laksa serdadu!"

Mendengar itu, Tongteng Tjhoengtjoe tiba-tiba menggeleng kepala, pada wajahnya pun lantas tampak roman berduka.

"Kenapa ha?"

Tanya Tan Hong.

"Thio Siangkong,"

Sahut orang tua itu.

"walaupun kau gagah dan cerdas, dengan kau hanya seorang diri, hatiku tidak tenteram. Peta itu ada mengenai nasibnya negara kita, dan dorna Ong Tjin telah ketahui halnya itu! Benar rombongannya Anghoat Yauwliong telah dapat kita tumpas, tetapi tak dapat kita pastikan bahwa dia tidak akan mengirim lain rombongan lagi! Perjalanan ada ribuan lie jauhnya, kau berjalan seorang diri, jikalau terjadi sesuatu di tengah jalan kami tentunya tidak ketahui itu....."

Tan Hong rupanya menginsyafi itu, ia bungkam.

"Selayaknya aku titahkan orang untuk temani siangkong,"

Tongteng Tjhoengtjoe berkata pula.

"akan tetapi, sayang aku tak dapat lakukan itu. Orang-orang di sini, semua kepandaiannya ada di bawahan siangkong, maka jikalau siangkong menghadapi musuh tanggu, siangkong tidak ada orang yang membantuinya....."

"Memang juga perjalananku kali ini agak berbahaya,"

Tan Hong akui.

"tetapi aku cuma membawa sehelai peta bumi, itu tidaklah terlalu menyolok mata. Adalah kau, yang mengangkut harta besar, kau memerlukan banyak tenaga. Maka untuk aku, janganlah kau memecah-mecah tenaga."

In Tiong yang mendengar orang "adu mulut"

Jadi berpikir keras. Tapi lekas sekali ia telah dapatkan pikiran. Maka ia angkat kepalanya.

"Adik Loei, kau pergilah bersama dia!"

Tiba-tiba dia kata, suaranya nyaring.

Mendengar itu, semua orang tercengang.

In Loei sendiri girang berbareng kaget, hatinya goncang.

Inilah ia tidak sangka.

Rupanya In Tiong tahu keheranan semua orang, berikut adiknya itu.

"Aku tahu kamu berdua mempunyai ilmu silat pedang yang tergabung menjadi satu,"

Ia tambahkan.

"maka itu, walaupun musuh ada jauh terlebih liehay, masih kamu dapat melayaninya. Dengan kau yang pergi, hatiku tenang."

Dengan "ilmu silat pedang yang tergabung menjadi satu"

Itu, In Tiong maksudkan "Siangkiam happek,"

Yang ringkasnya.

"sepasang pedang terangkap."

Tan Hong segera menjura dalam kepada orang she In itu.

"Terima kasih, saudara In!"

Ia mengucap.

"Hm!....."

In Tiong perdengarkan suara dingin.

"Terima kasih apa? Aku tidak memikir untuk kau!"

"Aku tahu maksudmu kepada peta bumi,"

Sahut Tan Hong.

"Bagaimana jikalau aku menghaturkan terima kasih kepadamu atas namanya negara kerajaan Beng?"

"Baik!"

Jawab In Tiong.

"Karena kau hendak bekerja untuk Kerajaan Beng, suka aku membalas hormatmu!"

Dan ia lantas menjura. Mau atau tidak, In Loei jadi bersenyum.

"Loei, mari!"

In Tiong panggil adiknya itu.

In Loei hampirkan kakaknya, lalu berdua, sambil bergandengan tangan, mereka bertindak ke arah pohon-pohon yang lebat.

Di sini In Tiong usap-usap rambut yang halus dari adiknya itu, sinar matanya pun menyatakan ia sangat mengasihi adik itu.

"Adikku, adakah kau gusar kepadaku?"

Ia tanya, perlahan, suaranya halus.

"Koko, aku justeru sangat girang!"

Sang adik jawab.

"Sejak kita berpisahan, tiada satu saat yang aku tidak pikirkan kau,"

Kata kakak itu pula.

"Aku kangen terhadap kau, Loei, sehingga kadang, aku bermimpi menemui kau..... Aku mimpikan kau bagaikan kau baharu berumur tiga tahun, dengan tiga untai kuncirmu, bagaimana dipadang rumput kau mengawasi ibu mengembala kambing....."

In Loei girang dan terharu, hingga ia mengeluarkan air mata.

"Koko, aku tahu, kau memang menyayangi aku, mengasihi aku....."

Katanya. In Tiong menghela napas panjang.

"Kemudian,"

Katanya, meneruskan.

"tatkala untuk pertama kali kita bertemu di Tjengliong Kiap, ketika itu kau menyamar sebagai laki-laki, kau justeru membantui musuh menentang pihakku. Itu waktu aku telah berpikir, di mana pernah aku lihat orang ini? Ah, dia mirip dengan saudaraku..... Karena itu juga waktu itu aku tidak memikir untuk berlaku telengas."

"Ya, kita yang bersaudara, perasaan kita memang sama."

Kata In Loei.

"Ketika itu, koko, aku juga berpikir seperti kau pikir itu."

"Kemarin,"

Tiba-tiba In Tiong bicara getas.

"tahulah aku bahwa kau adalah adikku, aku jadi sangat girang, tetapi berbareng akupun berduka, sakit hatiku..... Ya, kau nampaknya bergaul sangat erat dengan dia itu!"

Hati In Loei memukul, ia lantas tunduk, air, matanya pun segera mengucur dengan deras.

"Adikku,"

In Tiong berkata pula.

"ilmu pedangmu sudah cukup untukmu menjelajah dunia kangouw, hanya sayang, hatimu terlalu lemah. Kau sebagai gadisnya keluarga In, sekarang aku ingin supaya kau kuatkan hatimu dan jawab satu hal."

Parasnya In Loei menjadi pucat, tetapi ia menyahuti.

"Silahkan bilang, koko,"

Katanya. In Tiong awasi adik itu.

"Sakit hati terhadap Thio Tan Hong boleh aku tidak membalasnya,"

Ia bilang.

"akan tetapi, walau bagaimanapun, dia tetap seorang putera dari musuh kita yang kakek paling bencikan, maka itu kau, selama hidupmu sekarang, di jaman ini, tak dapat kau dan dia menjadi suami isteri! Kalau sekarang kau pergi bersama ia, untuk mengantarkannya, itu melulu untuk mengantar peta bumi itulah untuk Kerajaan Beng kita yang terbesar! Selama di tengah jalan, tak dapat kau kasi dirimu ditipu dengan kata-katanya yang manis. Jikalau sampai kejadian kau benar-benar sukai dia, baiklah persaudaraan kita kakak beradik dibacok kutung saja menjadi dua potong! Loei, sekali lagi aku peringatkan aku larang kau dan dia menjadi suami isteri! Ini adalah apa yang hendak aku katakan. Dapatkah kau meluluskan atau tidak? Bilang, bilanglah! Bilanglah!"

In Loei jadi sangat serba salah.

Iapun ada sangat berduka.

Kalau kakak itu bicara seperti kemarin, keras dan kasar, mungkin ia segera berikan jawabannya yang sama kerasnya, menuruti napsu amarahnya.

Tapi sekarang.....

sekarang kakak ini menatap ia dengan sinar mata yang memohon sangat.....

Ia mencoba kuatkan hatinya.

Ia angkat kepalanya, untuk membalas menatap kakak itu.

Di akhirnya, ia menjawab dengan perlahan.

"Baiklah, koko, aku berjanji....."

Sehabis bersantap pagi, Thio Tan Hong bersama In Loei pamitan dari orang banyak, mereka turun dari bukit, untuk menyeberangi telaga.

Keluarga Tamtay, ayah dan gadisnya, mengantar sampai di tepi telaga.

Sebuah perahu telah tersedia di tepi telaga, di bawah sebuah pohon yanglioe, itulah sebuah perahu yang enteng, yang di dalamnya itu telah disiapkan arak harum buatan Tongteng San, berikut daging kering dari ayam dan lainnya.

Semua itu adalah hasil dari perhatian yang besar dari Tongteng Tjhoengtjoe.

Tamtay Keng Beng, dengan tangan memegangi cabang yanglioe yang meroyot turun, mengawasi orang naik keperahu.

Dengan perlahan sekali, ia mengucapkan.

"Ribuan oyot yanglioe tak dapat mengikat menghentikan sebuah perahu yang berlayar....."

Wajahnya tampak suram.

"Entjie Keng Beng,"

Berkata In Loei kepada nona itu.

"tolong kau perhatikan kakakku! Lain hari nanti kita bertemu pula di kota raja!"

Keng Beng tertawa.

"Entjie In Loei,"

Ia menjawab.

"tolong kau perhatikan siauwtjoe kami!"

Tongteng Tjhoengtjoe juga nimbrung.

"Aku pujikan supaya kamu selamat di perjalanan, supaya peta bumi dapat dibawa ke kota raja, supaya tidak sia-sialah yang keluarga kami telah melindunginya selama beberapa turunan!"

Di mukanya In Loei tertampak warna merah, tetapi tjhoengtjoe itu bicara secara sungguh-sungguh, ia lantas angkat kedua tangannya, untuk membalas hormat sambil mengucapkan terima kasih.

Thio Tan Hong telah kenyang melawan gelombang, sekarang dapat ia berkumpul berdua dengan In Loei, ia girang bukan kepalang.

Maka juga, selagi membuatnya perahunya laju, ia menepuk-nepuk irama untuk bernyanyi.

Tapi, ketika ia menoleh ke tepi tadi, ia tampak Tamtay Keng Beng masih memegangi cabang yanglioe dan matanya si nona mengawasi kepadanya.....

"Eh, saudara kecil, mengapa kau tidak tertawa?"

Tanya Tan Hong, yang lihat orang diam membungkam.

"Apakah yang mesti ditertawainya?"

Tanya In Loei sambil membuat main tali bajunya.

"Kita dapat membuat perjalanan bersama, apakah itu bukan suatu hal yang menggirangkan?"

Tanya Tan Hong.

"Jaraknya perjalanan tapinya terlalu pendek,"

Kata si nona. Untuk sejenak, Tan Hong melengak. Tapi segera ia insyaf. Maka ia pikir dalam hatinya.

"Memang, perjalanan hidup manusia ada jauh tetapi perjalanan kita terlalu pendek....."

Lalu ia kata.

"Tidak usah kau mengatakannya, aku dapat menerka apa katanya kakakmu kepadamu. Tentang itu kau tidak usah kuatir. Tujuan kakakmu sama dengan tujuan kita, mungkin akan datang waktunya yang ia nanti ijinkan kita melakukan perjalanan jauh bersama-sama....."

Mendengar ini, hati In Loei tergerak.

"Memang, sikap kakak kemarin dan hari ini beda sekali,"

Pikir ia.

"Sebelumnya ia sangat keras mencegah aku berjalan bersama Tan Hong. Dahulu ia membenci sangat Tan Hong, ia berkukuh hendak membalasnya, tetapi sekarang, permusuhan itu telah berkurang banyak. Benar seperti kata toako, dalam dunia ini tak ada benda yang selamanya tak berubah....."

Baharu nona ini berpikir demikian, atau lain pikiran datang pula.

"Apa yang pagi ini koko katakan, semuanya beralasan,"

Demikian pikirnya pula.

"Aku kuatir setelah ini, untuk selanjutnya, ia tak dapat mengalah lebih jauh....."

Karena ini, ia jadi bertambah duka.

Tapi, hendak ia hiburkan diri.

Maka ia pikir, baiklah ia ke sampingkan dahulu urusan pernikahan, lebih baik ia mementingkan kejadian yang ia hadapi.

Bukankah sudah cukup asal ia sering bertemu muka sama Tan Hong, bertemu muka bukan sebagai musuh?

Tan Hong biarkan orang berpikir, ia mengawasi sambil bersenyum.

Ia telah menerka apa yang si nona pikirkan, ia sengaja membiarkannya saja, tak mau ia mengganggunya.

Dengan membungkam, orang bisa dapatkan sesuatu yang baik.....

Di waktu magrib, kedua anak muda ini telah seberangi telaga Thayouw.

Mereka bermalam di kota Souwtjioe.

Ketika pertama kali ia mendaki Tongteng San, Tan Hong telah titipkan kudanya, Tjiauwya saytjoe ma, pada satu keponakannya Tamtay Toanio, sekarang ia ambil kudanya itu, untuk di hari kedua ia bersama In Loei lakukan perjalanan ke Utara.

Di sepanjang jalan mereka lihat banyak kuda kereta berjalan bererot mengangkut rangsum, tahulah mereka artinya kegentingan ketenteraan.

Begitu lekas mereka memasuki wilayah propinsi Hoopak, Tan Hong dan In Loei saksikan suasana yang terlebih tegang.

Mereka yang menuju ke Utara sedikit sekali, sebaliknya mereka yang menuju ke Selatan, makin lama makin banyak, mereka menyingkir untuk mengungsi.

Lagi dua hari mereka berjalan, kecuali mereka berdua, tidak tampak orang lainnya lagi.

Di jalan besar, di jalan kecil, sampai di gili-gili sawah, yang tampak adalah mereka yang tengah mengungsi, berisik suara mereka itu.

Orang-orang tua dipayang, anak-anak kecil dituntun.....

Dan anak-anak yang lebih kecil ada yang memanggil-manggil ayah dan ibunya.....

Mereka itu sangat mengharukan dipandangnya.

Kabar angin juga berbareng ada tersiar luas.

Ada yang mengatakan bahwa pasukan perang Mongolia sudah menerjang masuk ke kota Kieyongkwan atau telah tiba di Hoaydjoe atau Bitin, dua kecamatan di utara kota raja.

Ada lagi yang bilang musuh sudah lintasi Patatleng.

Yang lebih hebat lagi adalah kabar burung bahwa ibu kota Pakkhia sudah dikurung musuh.

Sejumlah rakyat pengungsi itu ketika ketahui Tan Hong berdua hendak pergi ke Pakkhia, semua mereka menunjukkan roman heran dan kaget, lalu mereka memberi nasehat untuk keduanya mengurungkan niat mereka, sebab katanya itulah perjalanan mengantarkan jiwa.....

Mau atau tidak, Tan Hong jadi berduka juga.

Ia mesti pergi ke Pakkhia, walaupun keadaan genting dan berbahaya.

Tidak bisa lain, ia ubah ambil jalan, yaitu ia tak lagi ambil jalan besar, ia hanya ambil jalan kecil untuk memotong jalan ini, baharu dua hari, mereka sudah tidak bertemu seorang jua.

Di kampung-kampung dalam sepuluh, sembilan orang telah pergi menyingkir.

Terang sudah, siapa yang dapat mengungsi, dia telah singkirkan dirinya dari daerah perang.

Segera Tan Hong dan In Loei tiba di sebuah desa dekat Pong San.

Di sini mereka berputar-putar mencari rumah penduduk yang ada penghuninya, setelah setengah harian, baharu mereka ketemui satu keluarga tani yang belum mengungsi.

Keluarga ini terdiri dari satu nyonya tua dan satu anak muda, ibu dan anak.

Si ibu sudah tua dan lemah, tak kuat jalan, dan si anak tak tega meninggalkannya.

Tan Hong minta dikasi menumpang.

Nyonya tua itu baik budi, suka ia memberi tempat meneduh, tetapi ia bilang, tak dapat ia menyediakan beras atau nasi.

"Tidak apa,"

Kata Tan Hong, yang terus berikan separuh dari bekalan sekantong berasnya.

Malah iapun obati nyonya itu, yang dapat sakit mejen.

Ia memang ada membekal obat-obatan.

Si orang tua bersyukur, karena dengan lekas ia telah sembuh dari sakitnya itu.

Ditanya tentang keadaan perang, nyonya tua itu tidak dapat memberi keterangan kecuali katanya menurut kabar bahwa kota Hoaydjoe sudah jatuh, sedang kota itu terpisah dari kampungnya cuma kira-kira seratus lie.

Kabar itu ia dengar dari sanaknya yang lewat mengungsi di kampungnya itu.

Nyonya rumah tidak punya kamar lebih, Tan Hong dan In Loei terpaksa rebahkan diri di kamar yang dijadikan gudang kayu.

In Loei telah menyamar sebagai satu pemuda, ia tak usah kuatir mendatangkan kecurigaan orang.

Tetapi mereka tak dapat tidur pules, mereka kuatirkan urusan negara.

Tepat jam tiga, Tan Hong dengar pintu depan didobrak terbuka, ketika ia lompat keluar, ia dapati tuan rumah yang muda sedang dicekal keras oleh satu perwira yang mukanya berlumuran darah.

"Lekas masak nasi untukku, atau aku bunuh kau!"

Demikian si perwira mengancam.

"Berlakulah murah hati, tuan, lepaskan anakku,"

Memohon si nenek.

"Baik, tapi lekas masak nasi!"

Kata perwira itu.

"Di sini ada dua ekor kuda, mari kasikan yang satu padaku. Anakmu pun mesti gendol barangku!.....

"Akan aku masak nasi, tuan,"

Kata pula si nenek.

"Tapi kasihani anakku yang tinggal satu-satunya ini. Dari tiga anakku, yang dua sudah dipaksa dibawa pergi oleh kamu. Kasihani kami, tuan, bebaskanlah dia....."

"Tua bangka tolol"

Bentak perwira itu.

"Tentara Mongolia sudah menerjang, siapa juga mesti pergi perang!.....

Tiba-tiba ia menoleh, ia lihat Tan Hong di pojokan yang suram, karena api pelita yang kelak-kelik.

Ia lantas saja tertawa, terus ia kata.

"Hai, babi tua, kau mendustai Lihat di sana, apa bukan masih ada satu lagi anakmu?"

Sambil pegangi tangan si anak muda, yang ia pencet nadinya, perwira itu maju kepada Tan Hong, untuk jambak pemuda kita itu. Tan Hong mengawasi dengan dingin.

"Bukannya kau pergi berperang, kau sebaliknya mengganggu rakyat!"

Katanya dengan bengis.

Ia menangkis sambil berniat cekal tangan perwira itu.

Si perwira tarik tangannya, ia lantas menyerang.

Tapi Tan Hong dapat menangkis pula.

Setelah dua tiga gebrak, Tan Hong heran.

Ilmu silat si perwira ternyata adalah ilmu silat dari Tiamtjhong Pay.

Terpaksa ia mendesak, untuk bikin perwira itu lepaskan cekalannya kepada tuan rumah, setelah mana, ia mendesak lebih jauh.

Masih si perwira melawan, sampai kemudian dia berteriak "Aduh!"

Dan tubuhnya rubuh terguling, karena tak dapat dia bertahan lama.

"Eh, eh, kau toh Thio Tan Hong?"

Dia berseru selagi dia rebah dan matanya mengawasi orang yang merubuhkan padanya.

"Kau, kau..... ampunilah aku, jangan kau tangkap aku dan bawa ke Mongolia!....."

Tan Hong heran, ia mengawasi.

"Jangan ngaco!"

Katanya.

"Siapa mau tangkap kau untuk dibawa ke Mongolia?"

Ia maju akan cekal tangan orang, untuk menyeka mukanya yang penuh darah itu, setelah meneliti, iapun melenggak. Perwira itu nyata adalah Taylwee Tjongkoan Kong Tiauw Hay, pantas dia liehay.

"Memang, segala pembesar banyak yang galak....."

Kata si nenek. Ia menghela napas.

"Tapi kasihan dia ini, dia terluka begini rupa....."

Tubuh Tiauw Hay itu terlukakan belasan anak panah, dua antaranya belum tercabut. Kecuali mukanya, pakaiannya pun berlepotan darah. Dia ada sangat lelah, kedua matanya pun hilang sinarnya.

"Dia benar tangguH, walanpun dia terluka parah, masih sanggup dia melayani aku beberapa jurus,"

Pikir Tan Hong. Tapi, ketika ia periksa luka orang, kebanyakan luka itu tidak berbahaya, kecuali dua yang anak panahnya masih menancap. Ia lantas cabut terus ia memberikan obat.

"Apakah dia sahabatmu?"

Si orang tua tanya.

"Ya,"

Sahut Tan Hong sembarangan. Tapi ia jengah untuk mengucap demikian. Di dalam hati kecilnya, ia berkata.

"Apabila orang tahu dia ini Taylwee Tjongkoan, sekalipun raja akan turut dapat malu....."

Setelah itu, si nenek hendak pergi masak nasi.

"Tidak usah,"

Tan Hong cegah.

"nanti aku sendiri yang layani dia."

Benar-benar Tan Hong pergi untuk memasak nasi.

"Kong Tjongkoan, kau dahar seadanya saja,"

Ia bilang kemudian.

Di waktu pieboe, Tiauw Hay telah menitahkan orang bekuk Tan Hong, sekarang ia lihat orang bersikap baik, kepadanya dengan diobati dan dikasi makan, tidak berani ia banyak omong.

Ia dahar dengan cepat dan banyak, hingga dengan cepat juga ia mulai pulih kesegaran tubuhnya.

"Kong Tjongkoan, kenapa kau tidak ikuti Sri Baginda?"

Tanya Tan Hong kemudian.

"Kenapa kau menyingkir seorang diri kemari?"

Tjongkoan itu perlihatkan rupa berduka.

"Panjang untuk berceritera,"

Ia jawab. Ia menghela napas.

"Sebenarnya aku memang mengiringi Sri Baginda, tentera kita berjumlah lima puluh laksa jiwa, tetapi pasukan itu termusnah semua, jikalau aku tidak lekas lari, sudah pasti jiwaku pun turut lenyap....."

Tan Hong terkejut, hingga ia memotong.

"Apa?"

Tanyanya.

"Benarkah kau ikuti Sri Baginda? Mungkinkah tentara Mongolia sudah masuk ke Pakkhia?"

"Bukan,"

Tiauw Hay jawab, cepat.

"Sebenarnya Sri Baginda mengepalai sendiri angkatan perangnya, sekarang dia berada di luar kota Hoaydjoe di mana dia telah dikurung rapat-rapat oleh musuh....."

Kembali Tan Hong terkejut.

"Apa? Sri Baginda pimpin sendiri angkatan perang?"

Dia tanya.

"Usul siapakah itu?"

"Itulah kehendak Ong Kongkong....."

Sahut Tiauw Hay. Tan Hong ada demikian gusar hingga ia hajar meja di depannya sehingga ujung meja itu pecah.

"Ong Tjin, itu jahanam!"

Teriaknya.

"Sunguh dia sangat jahat!"

Tiauw Hay tidak berani buka mulut, ia bungkam. In Loei, yang sejak tadi diam saja, datang menghampirkan.

"Jangan kau bergusar,"

Ia menyabarkan.

"Cobalah tanya dia lebih jauh."

"Kenapa tidak dititahkan Ie Kiam Ie Thaydjin yang mengepalai angkatan perang?"

Tan Hong tanya.

"Itu ada urusan pemerintah, aku tahu apa?"

Tiauw Hay jawab.

"Apa yang aku dengar, orang mengatakan Ie Kiam adalah menteri sipil, dia tidak mampu memimpin tentara."

"Hm! Sekarang mereka itu yang pegang pimpinan, bagaimana dan jadinya?"

Tiauw Hay tidak menjawab, tetapi dia menutur.

"Sri Baginda bersama Ong Kongkong yang pegang pimpinan, mereka berangkat dari Pakkhia pada tanggal enam belas bulan tujuh, tanggal sembilan belas mereka lewat di Kieyongkwan, tanggal dua puluh tiga tiba di Soanhoa, lalu pada tanggal satu bulan delapan mereka memasuki kota Taytong. Selama itu, beberapa hari lamanya, terbit hujan angin besar, tentara menderita kedinginan. Karena tidak ada persiapan baju dingin. Di kota Taytong itu, beberapa laksa jiwa mati beku, maka belum mereka menghadapi musuh, barisan itu sudah kacau sendirinya. Celakanya, Pengpou Siangsie Kong Tim telah jatuh dari kudanya dan terluka parah. Oleh karena kejadian-kejadian tidak diingin itu, Hoepouw Siangsie Ong Tjo mengusulkan untuk menarik pulang angkatan perang. Ong Kongkong tolak usul itu, malah ketika angkatan perang diberangkatkan lebih jauh, Hoepouw Siangsie dihukum berlutut di tanah berumput. Pada tanggal dua bulan delapan, Sianhong Tjio Heng telah mulai menghadapi tentara Watzu di Vanghookauw, dia kalah dan barisannya musnah. Pangeran Boetjinpek Tjoe Bian merangkap tjongpeng dan Pangeran Seelenghouw Song Eng merangkap tjongtok dari Taytong telah terbinasa bergantian dalam pertempuran itu. Atas itu Tjongpeng Kwee Teng dari Taytong mengasi pikiran kepada Sri Baginda untuk mundur dari kota Tjiekengkwan, tetapi kembali Ong Kongkong menolak. Ong Kongkong adalah orang asal Wietjioe, dia hendak ajak Sri Baginda pergi ke rumahnya, karena mana, angkatan perang lantas di pimpin ke kota Wietjioe itu. Orang baharu jalan empat puluh lie, tiba-tiba tujuan diubah ke arah timur, alasannya ialah Ong Kongkong kuatirkan sawah ladangnya nanti ludas terinjak-injak pasukan tentera. Kesudahannya orang ambil jalan bekas, untuk kembali ke Soanhoa. Ketika pada tanggal sepuluh pasukan tentara tiba di kota Soanhoa, pasukan musuh telah dapat menyandak. Pertempuran terjadi di bukit Yauwdjieleng. Di sinilah angkatan perang kena dipukul rusak dan buyar. Baharu kemarin dahulu Sri Baginda menyingkir ke Touwbokpo. Pasukan depan dari musuh sementara itu, dengan ambil jalan kecil, sudah mendahului Sri Baginda, maka itu pasukan musuh itu dapat balik kembali, untuk terus melakukan pengurungan."

Thio Tan Hong menjadi terlebih-lebih gusar.

Tahulah ia sekarang bahwa orang yang menganjurkan raja maju perang sendiri, yang pimpin tentara, yang mengajaknya mundur, semua adalah dorna Ong Tjin seorang.

Terang sudah, Ong Tjin sudah merencanakan semua itu, hingga karenanya, angkatan perang Kerajaan itu menjadi hancur lebur.

Selagi anak muda ini mencoba menenangkan diri, Kong Tiauw Hay telah bicara pula.

Kata dia.

"Syukur aku dapat melihat gelagat, diam-diam di waktu malam, aku nerobos keluar dari kepungan. Seandainya aku terus terkurung di Touwbokpo itu, jikalau aku tidak terbinasa dalam peperangan, tentulah aku mati kelaparan....."

Tan Hong perdengarkan suara dingin "Hm!"

"Di bebokongmu ini ada tergendol bungkusan besar yang agaknya berat, barang apakah itu?"

Ia tanya sambil menunjuk ke belakangnya tjongkoan itu.

Kong Tiauw Hay tidak segera menjawab, tetapi mukanya menjadi pucat.

Sebet bagaikan kilat, tangannya Tan Hong menyambar ke bebokong orang, hingga dalam sedetik bungkusan itu telah berpindah tangan, lalu terus si anak muda membantingnya di tanah, sehingga bungkusan itu pecah dan isinya berhamburan.

Untuk herannya semua orang, isi bungkusan itu adalah goanpo atau uang emas potongan semua.

Tan Hong tertawa dingin.

"Jadinya kaburmu ini ialah untuk harta besar ini!"

Katanya. Kong Tiauw Hay turut tertawa.

"Harta ini semua adalah hadiah Sri Baginda kepadaku,"

Ia berikan, keterangan.

"Semua ini bukannya harta tidak halal. Hari ini kau telah tolong aku, suka aku untuk kita membagi dua harta ini....."

Kembali Tan Hong tertawa dingin. Tapi setelah itu, mendadak ia unjuk roman bengis.

"Kecewa kau menjadi Taylwee Tjongkoan1. Kecewa kau menyebut-nyebut budinya Sri Baginda!"

Kata dia.

"Sri Baginda telah berlaku baik hati terhadap kau, kenapa di saat Sri Baginda terancam bahaya, kau tinggal dia lari?"

Kong Tiauw Hay melengak.

Ia tahu Thio Tan Hong ini musuh raja, maka ia heran kenapa anak muda itu menegur ia secara demikian.

Ia berani majukan usulnya itu pun karena menganggap pemuda ini musuh junjungannya.

"Malam ini kau berdiam di sini,"

Kata Tan Hong.

"Besok pagi kau turut aku pergi ke Touwbokpo."

"Apa? Pergi untuk mengantarkan jiwa?"

Tiauw Hay tanya.

"Kau gegares gaji negara, sekalipun nyata-nyata ada untuk antarkan jiwa, itu sudah seharusnya!"

Tan Hong bilang.

"Kenapa kau takut? Kau toh antarkan jiwa bukannya sendirian saja? Kamipun antarkan jiwa bukannya sendirian saja? Kamipun turut antarkan jiwa bersama?"

Wajahnya Tiauw Hay menjadi pucat sekali.

Ia tidak bilang apa-apa lagi, hanya lantas ia membungkam, untuk terus punguti uang goanpo itu, untuk dikumpulkan.

Tan Hong bersama In Loei tertawa dingin, mereka mengawasi tanpa mencegah.

Kuda putih dari Tan Hong dan kuda merah dari In Loei berada didekat mereka, ada goanpo yang mencelat ke kuda itu, maka Tiauw Hay terus punguti semua uangnya.

Di saat ia datang dekat kuda putih, mendadak ia lompat akan sambar lehernya kuda itu!

Tjiauwya saytjoe ma bukan kuda sembarangan, dia kaget dan berontak, lantas dia menyentil berulang-ulang, dia meringkik tak hentinya.

"Hai, apa kau bikin"

Bentak Tan Hong. Tiauw Hay tidak menjawab, karena dia tidak bisa takluki kuda putih itu, ia terus lompat naik ke bebokongnya kuda merah. Ia lantas saja tertawa.

"Aku Kong Tiauw Hay masih ingin hidup senang lagi beberapa tahun, maka maafkan aku, tidak dapat aku antarkan kamu!"

Kata dia, yang terus gunakan goloknya menumblas kempolan kuda, saking kaget dan sakit, kuda itu sudah lantas berlompat lari, kabur keluar, hingga sesaat kemudian kuda dan penunggangnya lenyap di malam yang gelap itu.

In Loei jadi kaget.

"Toako, mari kita kejar!"

Dia berteriak. Tan Hong tapinya menggeleng kepala.

"Orang semacam dia, dicandak pun tidak ada faedahnya....."

Ia bilang. Ia terus menarik napas panjang, dengan lesu ia jatuhkan diri ke kursi, ia kata.

"Dahulu Gak Boe Bok pernah bilang, 'Pembesar sipil doyan duit, pembesar militer sayang jiwa, kalau begitu, apakah artinya urusan penting?1 Dan sekarang ini, pembesar sipil, pembesar militer, semuanya doyan duit! Kejahatannya Ong Tjin itu nyata tak kalah daripada kejahatannya Tjin Kwee, karenanya aku kuatir hikayat Ahala Song bakal terulang pula, kehinaannya Baginda Hwie Tjong dan Baginda Kim Tjong, yang tertawan musuh, akan terlihat pula hari ini!....."

"Di dalam kerajaan ada Tjin Kwee, di sana pun ada Gak Boe Bok,"

Berkata In Loei.

"Di mana Ie Kokloo tidak kalah daripada Gak Boe Bok itu, aku harap toako tidak menjadi tawar hati."

"Hanya sayang Ie Kokloo itu tidak punya kekuasaan atas tentara,"

Bilang Tan Hong, yang masih berduka.

"Menyesal aku tidak punya sayap untuk terbang ke Pakkhia, supaya aku bisa bantu Ie Kokloo itu....."

Dua anak muda ini jadi sangat bersusah hati.

Karena ini, tidak tunggu sampai pagi, mereka sudah lantas pamitan dari si nenek dan anaknya, dengan menunggang kuda putih, mereka berangkat pergi.

Belum lama mereka jalan mereka lantas dengar suara tambur dan terompet yang datangnya dari arah depan.

Tan Hong larikan kudanya mendaki tanjakan, dari situ ia memandang jauh ke depan, hingga ia tampak banyak bendera, boleh dibilang di seluruh bukit dan tegalan, tertampak tentara Mongolia.....

"Tidak dapat kita lewati mereka itu....."

Kata In Loei, lesu.

"Aku ada akal,"

Kata Tan Hong.

"Kau turunlah dan tunggu di sini."

In Loei menurut.

"Kau umpetkan diri,"

Tan Hong kata pula.

Lalu ia larikan kudanya turun gunung, ia menghampirkan dan masuk ke dalam pasukan musuh!

In Loei kaget bukan main, mukanya pucat sekali.

Syukur ia tak usah ketakutan terlalu lama.

Sebab segera juga ia lihat Tan Hong telah kembali bersama dua perwira bangsa Watzu.

Tentu saja, ia sekarang menjadi sangat heran.

Nona In tidak ketahui bahwa Tan Hong pandai bahasa Mongolia, bahwa di dalam sakunya pemuda ini ada menyimpan sehelai lengtjhie, bendera pertandaan militer, yang dia curi ketika dahulu dia keluar dari Mongolia, untuk menyusup masuk ke Tionggoan.

Sekarang lengtjhie itu dia gunakan, dia akui bahwa dirinya adalah mata-mata Watzu yang diutus ke Tionggoan semenjak sebelumnya perang.

Dan dia dipercaya dua perwira Mongolia itu.

Tan Hong mendusta terlebih jauh, katanya di bukit itu dia lihat seorang yang mencurigakan, dia ajak kedua perwira, untuk memeriksa, maka itu, mereka datang bersama.

Tapi, begitu lekas mereka sudah mendaki bukit di mana In Loei berada, dengan sekonyong-konyong dia hajar dua perwira itu hingga mereka rubuh binasa sebelum tahu apa-apa.

Bukit itu terpisah dari barisan Mongolia beberapa lie jauhnya, maka itu, tidak ada satu serdadu Mongolia yang lihat apa yang terjadi dengan kedua perwira mereka.

In Loei telah saksikan kejadian itu, ia lantas muncul.

"Bagus!"

Kata Tan Hong kepada kawannya itu.

"Sekarang mari kita menyamar sebagai dua perwira Mongolia ini. Bukankah kau belum lupa akan bahasa Mongolia?"

"Ya, aku masih belum lupa!"

Sahut In Loei sambil tertawa.

"Aku tidak sangka bahwa sekarang bahasa itu berguna bagi kita..."

"Aku telah cari keterangan jelas,"

Tan Hong berkata pula.

"Mereka ini adalah pasukan tangga ketiga dari resimen kedua, dan kemarin, barisan ini baharu saja melakukan pertempuran hebat. Mungkin barisan ini telah bentrok dengan Gielim koen di bawah Thio Hong Hoe dan mendapat kerugian besar maka sekarang mereka sedang disiapkan untuk dipersatukan dengan pasukan lainnya. Maka cocoklah kalau kita menyamar jadi kepala barisan mereka. Ingat, kau bernama Hawa dan aku Talai."

In Loei manggut, ia bersedia akan iringi kawannya itu.

Keduanya lantas lucuti seragam kedua perwira Mongolia itu, untuk mereka pakai.

Syukur bentuk tubuh mereka tidak beda jauh.

Tan Hong tunggu sampai sudah magrib, baharu ia ajak In Loei turun dari tempat sembunyi itu, untuk larikan kuda mereka ke dalam barisan Mongolia itu, untuk campurkan diri.

Mereka tidak tampak kesukaran, karena pemuda she Thio itu ketahui baik segala aturan tentara Mongolia.

Mereka dapat tempat dalam satu pasukan yang baharu saja disusun rapi.

Keesokan paginya, barisan ini sudah lantas dimajukan pula.

Mereka di kirim ke Touwbokpo sebagai bala bantuan.

Lewat tengah hari, mereka tiba di medan perang.

Begitu melihat keadaan pihak Beng, Tan Hong kaget sekali.

Barisan Beng itu telah kena dihajar hingga hancur menjadi sejumlah barisan-barisan kecil, yang berserabutan ke timur dan barat.....

-ooo00dw00ooo-Bab XX Dengan berisik terdengarlah suara terompet di dalam pasukan perang Watzu, disusul gemuruhnya suara tambur perang, lalu di atas gunung terlihat berkibarnya sehelai bendera besar dengan tanda hurufnya "Komandan."

Dan satu perwira Mongolia,yang dandan sebagai pangeran, kelihatan bercokol di atas kudanya di atas gunung itu.

Dengan cambuknya, pangeran itu menunjuk ke arah depan.

Dia itu adalah Thaysoe Ya Sian, orang yang pegang kekuasaan besar atas bala tentera Watzu.

Dia sedang pimpin barisannya, akan hajar tentera kerajaan Beng itu, yang dicegat sana sini, hingga tentera itu jadi kalut sekali.

Dalam keadaan kacau itu, sekonyong-konyong di sebelah timur, muncul satu pasukan Beng yang mengibarkan bendera naga, ketika tentera Watzu lihat bendera itu, mereka lantas saja berteriak-teriak.

"Ha, raja Bengtiauw ada di sana!"

Menyaksikan itu Tan Hong kertek gigi.

"Sungguh Ong Tjin jahat sekali!"

Kata dia dalam hatinya.

"Nyatalah dia masih kuatir musuh tidak tahu di mana adanya Sri Baginda!"

Sebab maksud dikibarkannya bendera raja itu adalah untuk memberi tanda kepada musuh, agar musuh ketahui di mana adanya raja.

Kaisar Kie Tin dari Kerajaan Beng telah terkurung satu hari dan satu malam di benteng Touwbokpo, ia berkuatir bukan main.

Ia telah saksikan angkatan perangnya telah dihajar rusak oleh musuh, sampai ia tidak sanggup mengumpulkan dan menyusunnya pula dengan sempurna.

Ia sekarang hanya mengandalkan kepada Thio Hong Hoe serta pasukan pengawalnya sendiri.

Begitulah ia ajak komandan dari Kimie wie itu membicarakan soal menoblos kurungan musuh.

Raja dan pahlawannya ini tengah berbicara tatkala mereka lihat Ong Tjin berlari-lari datang dengan muka terpucat-pucat, dan begitu tiba di hadapan raja, orang kebiri itu perdengarkan suaranya yang tak wajar.

"Sri Baginda, celaka! Tentera lapis besi musuh sudah sampai di muka kubu-kubu! Lekas Sri Baginda titahkan Thio Tongnia pergi menangkis mereka!....."

Selagi raja tercengang, Thio Hong Hoe sudah perdengarkan suaranya.

"Jangan kaget, Sri Baginda!"

Demikian pahlawan ini.

"Hari ini, meski mesti kurbankan jiwa, hambamu akan lindungi Sri Baginda menoblos kurungan!"

Sehabis mengucap demikian, pahlawan ini segera lari keluar, untuk wujudkan kata-katanya, guna memukul mundur musuh.

Seberlalunya pahlawan itu, tiba-tiba saja Ong Tjin tertawa menyeringai.

Tidak lagi ia bermuka pucat dan beroman sangat ketakutan seperti tadi.

Ia malah bergembira.

"Sri Baginda,"

Berkata dia.

"hari ini habis sudah harapan kita, kecuali kita menyerah dan menakluk, tidak ada lain jalan hidup pula. Hambamu mohon agar Sri Baginda sudi pergi ke tangsi Watzu untuk mohon perdamaian....."

Kaisar kaget bukan main mendengar perkataan hambanya ini.

"Cara bagaimana aykeng dapat mengatakan begini?"

Dia tanya.

"Aykeng"

Berarti "menteri yang dicintai."

Ong Tjin tidak menjawab rajanya itu, yang masih menghargai padanya. Dengan tiba-tiba ia perlihatkan roman bengis.

"Mana pahlawanku?"

Dia memanggil.

Atas panggilan itu, dari luar kemah muncul pahlawan dorna kebiri itu, dan raja, tanpa berdaya, sudah lantas saja diringkus.

Hong Hoe sendiri, selekasnya dia tiba di luar kemah, dia kaget bukan main.

Dia telah saksikan dikereknya bendera naga.

Seperti Tan Hong, segera dia insyaf akan akal muslihatnya Ong Tjin yang jahat itu.

Sebenarnya ingin dia kembali ke dalam kemah, akan tengok junjungannya, akan tetapi tentara Watzu benar-benar sudah menerjang, terpaksa ia maju terus, untuk melakukan perlawanan.

Hebat untuknya, dengan lekas ia telah kena dikurung musuh, yang telah memutuskan jalannya kembali kepada rajanya.

Sementara itu, darah In Loei bergolak-golak saking murkanya.

"Toako, mari kita bunuh Ong Tjin, untuk menolong Sri Baginda!"

Ia ajak Tan Hong.

Bersama-sama Tan Hong, In Loei ini memimpin satu barisan tengah, dari itu, di depan mereka terdapat lain barisan, yang berjumlah besar, maka, untuk bisa menyerbu ke arah kaisar Beng, adalah sulit sekali.

Mungkin mereka tidak mampu berbuat demikian sekalipun mereka mempunyai kuda-kuda jempolan.

Tan Hong tertawa meringis.

"Di saat seperti ini tidak lagi kita dapat berlaku nekat,"

Katanya, masgul.

"Mari kita naik ke tempat tinggi, untuk melihat keadaan....."

Dan dari tempat yang tinggi, mereka saksikan Ong Tjin menaikkan Kaisar Kie Tin ke atas kuda dengan tubuh terbelenggu.

Dengan tangannya sendiri, dorna kebiri itu mengangkat naik bendera putih, untuk dilambai-lambaikan, hingga bendera tanda menakluk itu berkibar-kibar di antara sampokan angin.

Beberapa pahlawan yang setia telah mencoba maju, untuk menolongi raja, akan tetapi mereka dirintangi oleh pahlawan-pahlawannya si dorna.

Dipihak lain, barisan musuh sudah datang mendekati raja yang tak beruntung itu.

Dalam saat seperti itu, sekonyong-konyong terdengar suara teriakan keras bagaikan guntur, lalu tertampak Hokwie Tjiangkoen Hoan Tiong, dengan sepasang gembolan di tangan, mengaburkan kudanya ke arah raja.

Panglima ini seperti kalap, tak lagi ia menghiraukan dirinya.

Tapi ia pun segera dicegat dan dikepung oleh pahlawan-pahlawannya Ong Tjin dibantu tentara watzu yang melepaskan anak panah.

Hoan Tiong mengenakan lapisan baja di depan dadanya dan kopiah di kepalanya, kedua belah anggota tubuh itu bebas dari anak-anak panah, tidak demikian dengan pundak dan bebokongnya, maka itu, belasan anak panah, telah menancap di tubuhnya itu, tetapi ia tangguh sekali, ia tak rubuh karenanya.

Ia paksa maju terus ke arah junjungannya, hingga ia datang dekat si dorna kebiri.

Ong Tjin terkejut menyaksikan kegagahan orang itu.

"Hoan Tjiangkoen, marilah kita bicara!"

Ia serukan. Ia sangat berkuatir. Jawaban Hoan Tiong adalah teriakan berguntur.

"Hari ini aku akan mewakili negara membasmi penghianat!"

Dan teriakan itu dibarengi dengan turunnya sebilah gembolannya yang berat itu, menimpa Ong Tjin, hingga tubuh si dorna rubuh dari atas kudanya.

Sementara itu, dia sendiri pun tidak bebas dari beberapa bacokan musuh.

Dalam keadaan luka parah itu, Hoan Tiong tertawa berkakakan, lalu tiba-tiba ia ayunkan gembolannya ke arah kepalanya sendiri, maka sedetik saja, ia rubuh dari kudanya dengan kepalanya pecah, jiwanya melayang.

Ia lebih suka bunuh diri daripada tertawan atau terbinasa ditangan musuh.

Bagaikan air bah, demikian serbuan tentara Watzu, maka sejenak kemudian, kaisar Beng yang sudah tidak berdaya itu telah menjadi orang tawanan, sedang menteri-menterinya, yang turut ke medan perang, seperti Siangsie Kong Tim, Ong Tjoh, Haksoe Tjo Teng dan Thio Ek, pangeran Enqkok-kong Thio Hoe dan lainnya, telah berkurban untuknya.

Juga di antara pahlawan-pahlawan Ong Tjin, ada delapan atau sembilan yang terluka dan terbinasa.

Kejadian yang menyedihkan dalam hikayat Kerajaan Beng ini adalah yang dinamakan "Peristiwa di Touwbok."

Thio Hong Hoe telah lihat junjungannya tertawan, mendadak saja ia muntahkan darah hidup.

Kemurkaannya tak terkira.

Dengan nekat ia lantas terjang musuh, dalam tempo pendek ia telah rubuhkan belasan musuhnya, tetapi ia pun tetap terkurung, jumlah musuh yang besar membikin mereka merupakan seperti tembok besi dinding tembaga, tidak dapat ia pecahkan kurungan itu.

Akhir-akhirnya ia berteriak.

"Raja terhina, menteri terbinasa!"

Dan ia balikkan goloknya, untuk menabas batang lehernya sendiri.

Tapi anak panah musuh mendahului ia, lengannya kena terpanah, goloknya terlepas dari cekalan, jatuh ke tanah, hingga di lain saat, ia pun menjadi orang tawanan.

Dengan kemenangan besar itu, dengan membunyikan gembreng, tentera Watzu telah menyelesaikan peperangan.

Daerah Touwbokpo itu yang luasnya beberapa ratus lie lantas dibersihkan dari musuh, di situ didirikan kemah.

Segera pun babi dan kerbau disembelih, untuk membikin pesta besar, untuk merayakan kemenangan.

Di dalam tentera itu, terdapat Thio Tan Hong dan In Loei.

Mereka tak dikenal dalam penyamaran mereka.

Maka itu mereka dapat mendengar pembicaraan di antara beberapa perwira.

"Malam ini di dalam kemah jenderal akan diadakan keramaian yang istimewa,"

Kata satu perwira.

"sayang aku hanya berpangkat kapten, aku tak berhak untuk turut hadir dalam pesta itu....."

"Keramaian apakah itu?"

Tanya satu perwira lain. Perwira yang pertama bicara itu menyahuti.

"Aku dengar malam ini jenderal kita hendak paksa kaisar Beng menjadi pelayannya, untuk melayani dia minum arak. Tidakkah itu luar biasa bagus?"

"Ya, benar bagus!"

Kata perwira yang menanya.

"Kaisar Beng telah kita tawan, aku lihat peperangan akan segera berakhir, dengan begitu, lekas juga kita akan pulang,"

Berkata satu perwira lain lagi.

"Kita akan merayakan tahun baru kita!"

"Tetapi kita masih belum masuk ke Pakkhia,"

Kata satu perwira rekannya.

"Tionggoan itu luas tanahnya, banyak rakyatnya, mereka tak dapat dibunuh habis, maka itu tidak mudah urusan peperangan ini dapat diselesaikan?"

Perwira yang pertama itu tertawa.

"Bangsa Han pandang rajanya sebagai naga sejati,"

Kata dia pula.

"kalau rombongan naga tidak ada kepalanya, mana mereka dapat berperang? Kalau rajanya itu sayangi jiwanya, dia mesti menakluk dengan baik-baik, dia mesti umumkan pernyataannya suka menjadi taklukkan kita. Setelah itu baharulah negara Beng itu menjadi kepunyaan kita."

Mendengar pembicaraan itu, hati Tan Hong panas berbareng duka.

"Memang sungguh celaka kalau Sri Baginda suka menyerah,"

Pikir dia.

"Aku harap saja Sri Baginda bukannya raja yang takut mati....."

Perwira yang pertama berbicara itu masih mengatakan pula.

"Tentera Beng itu tidak harus dibuat takut. Lain halnya dengan Kimtoo Tjeetjoe di luar kota Ganboenkwan, dia masih saja bergelandangan di luar kota itu, sebentar muncul, sebentar menghilang, sukar untuk menumpas padanya. Dia baharulah yang dinamakan bahaya di dalam tubuh!"

Tapi satu perwira lain tertawa.

"Tapi pesanggrahannya telah kita serbu hingga rata dengan tanah!"

Katanya.

"Bangsat tua Kimtoo itu serta anaknya, meskipun mereka dapat lolos, mereka tak lebih tak kurang seperti penyakit di kulit saja! Lagi pula sekarang Jenderal Tantai telah menempatkan tenteranya di kota Ganboenkwan, sudah pasti dia tidak akan dapat mengacau pula, maka itu, untuk apa kita kuatirkan dia?"

Mendengar pembicaraan itu, lega juga hati Tan Hong dan In Loei.

Sekarang mereka ketahui halnya Tjioe Kian ayah dan anak, yang tak kurang suatu apa, sedang mereka pun mendapat tahu di mana adanya Tantai Mie Ming.

Pada waktu itu kaisar Beng sebagai tawanan musuh, oleh Yasian, perdana menteri Watzu, telah di tempatkan di dalam kemah yang terjaga kuat hingga tiga lapis, sedang di dalam kemah sendiri, dia diawasi oleh tiga pahlawan pilihan, yang setiap saat meletakkan tangan di gagang pedang.

Di antara tiga pahlawan itu, yang satu adalah Ngochito, pahlawan harimau dari Yasian sendiri.

Dia ini selainnya liehay ilmu silat pedang Hongloei kiam yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus, orangnya pun cerdik sekali.

Maka itu, berduka kaisar itu, yang melihat tidak mempunyai harapan untuk kabur.

Tapi yang membikin Kie Tin sangat berkuatir adalah ketika ia dengar malam itu Yasian hendak mewajibkan dia melayani perdana menteri itu minum arak.

Dia jadi mendongkol dan malu, dia jadi sangat bingung.

"Aku hadiri pesta itu atau jangan?"

Dia tanya dirinya berulang-ulang.

Dia insyaf, kalau dia hadir, dia akan jadi kedua Kaisar Hwie Tjong dan Kim Tjong dari ahala Song, yang mesti hinakan diri di hadapan musuh.

Perbuatan itu tidak saja merendahkan dirinya dan negaranya, dia pun akan menjadi buah tertawaan berabad-abad.

Kalau dia tidak hadir, dia kuatirkan keselamatan jiwanya.....

Tengah kaisar ini berputus asa, tiba-tiba di luar kemah terdengar suara panggilan, katanya.

"Thaysoe undang Jenderal Ngochito datang ke markas untuk berbicara!"

"Thaysoe"

Adalah sebutan untuk Perdana Menteri Yasian.

Berbareng dengan itu satu perwira bertindak masuk dengan tangannya menyekal sebatang lengtjhie, panah titahan.

Ngochito sangat teliti, ia sambut lengtjhie itu untuk diperiksa dulu, hingga ia peroleh kenyataan keasliannya.

Panah titahan itu cuma dipakai oleh pembesar paling tinggi dalam suatu angkatan perang, sebab itu adalah hadiah dari raja Watzu sendiri, terbuatnya pun dari kemala hijau.

Percaya bahwa Yasian mempunyai urusan penting hendak dibicarakan dengannya, Ngochito lantas saja tinggalkan kemah jagaannya itu.

Perwira yang membawa lengtjhie itu, begitu ia lihat Ngochito sudah pergi jauh, dengan mendadak ia putar tubuhnya sambil mengayunkan kedua tangannya, masing-masing diarahkan kepada kedua pahlawan lainnya, yang berdiri dekat dengannya.

Luar biasa sebat gerakannya, tidak peduli kedua pahlawan itu liehay, mereka toh kena ditotok, tanpa bersuara lagi, keduanya jatuh rubuh.

Lekas sekali si perwira pembawa lengtjhie membuka kopiahnya, sambil bersenyum, dia kata kepada Kie Tin.

"Sri Baginda, masih ingatkah Sri Baginda kepadaku?"

Raja Beng memang heran atas kejadian itu, ia mendelong mengawasi perwira itu.

Akhirnya, ia jadi terperanjat.

Ia lantas kenali siapa orang itu yang berdiri dihadapannya, ialah Thio Tan Hong.

Ayahnya Tan Hong, yaitu Thio Tjong Tjioe, menjadi Yoesinsiang, Menteri Muda dari raja Watzu, dengan begitu kedudukannya seimbang dengan kedudukan To Huan, Tjosinsiang, yang menjadi ayahnya Yasian.

Mereka sama pengaruhnya, mereka disayangi Raja Watzu, dan keduanya pun berkuasa mencampuri urusan ketenteraan.

Maka itu raja memberikan mereka masing-masing sebatang lengtjhie dengan apa mereka berhak memanggil setiap perwira menghadap mereka.

Adalah kemudian, setelah kedudukan To Huan turun kepada puteranya, Yasian, pengaruhnya ini meningkat, hingga dia mengangkat dirinya menjadi Thaysoe, Mahaguru.

Thio Tjong Tjoe sebaliknya, untuk menjaga dirinya, tidak perhatikan urusan tentera, maka itu, sudah sepuluh tahun belum pernah ia pakai lengtjhie itu.

Ketika Tan Hong berlalu dari Watzu, dia curi lengtjhie ayahnya itu, tidak pernah ia menyangka, kali ini, di sini, dapat dia pakai panah titahan itu untuk mengelabui Ngochito.

"Di harian pieboe di atas loeitay, telah aku kirimkan kau sepucuk surat, sudahkah kau baca itu?"

Tan Hong tanya pula.

"Kau? Kau jadinya Thio Tan Hong?"

Raja tegaskan, suaranya menggetar.

"Tidak salah!"

Tan Hong jawab..

"Aku adalah musuhmu yang kau hendak tawan!"

"Baiklah!"

Kata raja itu, yang hatinya menjadi mantap.

"Hari ini aku terjatuh ke dalam tanganmu, tidak usah kau banyak omong lagi, lekas-lekas kau bunuh aku!"

Tapi Tan Hong tertawa.

"Jikalau aku hendak bunuh kau, apa kau kira aku menanti sampai hari ini?"

Kata dia.

"Sekalipun aku memakai pakaian asing, hatiku adalah hati Han!"

"Kalau begitu, kau tolonglah aku!"

Kata raja. Kie Tin seperti lupa bahwa ia tengah dikurung berlapis-lapis. Bagaimana gampang untuk buron..... Tan Hong awasi raja itu, ia tertawa pula.

"Sri Baginda,"

Katanya.

"hari ini cuma kau sendiri yang dapat menolong dirimu."

Raja heran.

"Apakah kau kata?"

Dia tanya.

"Malam ini Yasian akan memaksa kau menyatakan menakluk,"

Kata Tan Hong.

"Jikalau kau menakluk, bukan saja dengan itu kau lenyapkan negara Kerajaan Beng yang terbesar yang luasnya sembilan laksa lie, juga jiwamu sendiri tidak akan terjamin. Tapi jikalau kau menolak, maka Kokloo Ie Kiam akan membangun angkatan perang suka rela, untuk berperang membelai negara. Di dalam negara Watzu tidak ada persatuan, maka itu Yasian akan terserang musuh dalam dan luar. Hal ini diketahui baik sekali oleh Yasian, karenanya, mana dia berani bunuh kau? Oleh karena itu, sekarang ini, kau bersabarlah, kau pertahankan diri untuk menderita. Dengan bersabar, bukan saja negara akan dapat dilindungi, kami juga kemudian akan mendapat jalan untuk menolongi kau. Kau bukannya seorang tolol, hal ini tentunya kau dapat pikir sendiri....."

Raja tidak menjawab, ia perdengarkan suara perlahan sekali.

"Harta pusaka leluhurku berikut peta buminya, telah berhasil aku cari dan mengambilnya,"

Tan Hong beritahu.

"harta dan peta itu tengah diangkut ke Pakkhia, bersama dengan itu, aku sendiri akan menghabiskan tenagaku untuk membantu Ie Kokloo. Masih ada lagi yang kami dapat lakukan, dari itu, jangan kau berduka."

Thio Tan Hong perlihatkan sinar matanya yang tajam, yang menandakan kekerasan hatinya, yang membuatnya orang menaruh kepercayaan terhadap dirinya.

Bibir raja sudah bergerak seperti ia hendak mengucap sesuatu, tetapi ia urung.

Tan Hong awasi raja itu, matanya mencilak.

"Menteri besarmu In Tjeng telah menggembala kuda di negara asing selama dua puluh tahun, selama itu dari awal hingga akhirnya, ia tidak bertekuk lutut!"

Katanya dengan nyaring.

"Kau adalah orang yang paling agung dari satu negara, apakah kau mesti kalah dengan menterimu?"

Raja pun mengawasi.

"Baik!"

Dia jawab akhirnya.

"Aku juga tidak akan pikirkan pula kehidupanku, akan aku perbuat seperti katamu!"

Tan Hong masih hendak berbicara ketika.

"Bret!"

Dan robeklah tenda kemah, terbelah dua, dari situ tampak Ngochito lompat masuk, pesat bagaikan angin puyuh. Ketika dia lihat siapa yang rebah di tanah, kemurkaannya bertambah meluap.

"Bangsat bernyali besar, mari makan pedangku!"

Dia mendamprat sambil menikam dengan pedangnya, dengan tipu silat "Geledek menyambar batok kepala".

Tan Hong terkejut ketika ujung pedang menjurus ke tenggorokannya.

Ia pun tidak menyangka Ngochito bisa kembali demikian lekas, walaupun ia tahu, ia hanya dapat mengabui untuk sementara waktu saja.

Sudah dibilang, Ngochito adalah seorang yang cerdik.

Baharu saja ia sampai di luar kemah, ia lantas dapat pikiran.

Ia telah berpikir.

"Thaysoe menghendaki aku mengawasi kaisar Beng. Tidakkah tugas itu sangat penting? Mungkinkah dia hendak menukar tugasku itu? Lagi pula perwira pembawa lengtjhie itu sangat asing untukku. Kalau Thaysoe mengutus orang membawa lengtjhie padaku, ia mestinya menitahkan orang di kiri kanannya, yang ia percayai. Juga, kenapa perwira itu tidak turut aku keluar? Inilah mencurigakan....."

Keras Ngochito berpikir, kecurigaannya jadi semakin besar, maka akhirnya ia putar tubuhnya, untuk balik ke dalam kemah, begitu sampai, ia tidak lagi ambil jalan pintu kemah, tapi ia merobek kain tenda.

Karenanya ia segera dapat lihat kedua kawannya rebah di tanah.

Ia lantas menduga, mereka itu tentu telah kena ditotok, bahwa si perwira mestinya orang jahat, dari itu, ia menyerang tanpa buang tempo lagi.

Tan Hong kaget tetapi ia tidak gugup, dengan sebat ia berkelit.

"Sungguh Hongloei Kiamhoat yang liehay?"

Ia serukan.

Ilmu silat pedang Ngochito benar-benar liehay.

Lolos tikaman yang pertama, segera menyusul yang kedua, yang ketiga, cepat dan bengis.

Tan Hong menjadi repot juga.

Ia tidak sempat membuat perlawanan, ia selalu egoskan diri.

Apamau kemah itu tidak terlalu luas, tak merdeka ia berlompat ke kiri dan ke kanan.

Sementara itu di luar pun segera terdengar suara riuh.

Mestinya itu adalah bala bantuan untuk Ngochito.

"Trang!"

Demikian terdengar sekonyong-konyong.

Ujung pedang Ngochito telah mengenai kopiah perang Tan Hong, tetapi serangan itu tidak tepat, pedang meleset ke samping.

Tan Hong telah menggunakan tipu yang berbahaya.

Ia sengaja memberikan kopiahnya ditikam, selagi tertikam, ia miringkan kepalanya.

Karena pedangnya meleset, Ngochito tak dapat unjuk kesehatannya untuk segera menarik pulang, malah saking heran, ia melengak sebentar.

Ketika yang baik itu digunakan Tan Hong dengan sebat sekali, selagi ia ditikam, ia gunakan kesempatan akan menghunus pedangnya, pedang Pekin kiam hadiah dari gurunya, pedang mana tadi tak sempat ia mencabutnya karena ia didesak terus-menerus.

Sekarang, setelah menghunus pedang, ia teruskan itu, ia pakai menabas ke arah pedang musuh.

"Trang!"

Kembali suara terdengar, tetapi tak sekeras, tadi.

Karena kali ini, kedua pedang beradu sepintas lalu, dan ujung pedangnya Ngochito kena tertabas kutung!

Panglima Watzu itu kaget tidak terkira.

Ia tahu tajamnya pedangnya, yang terbuat dengan campuran bahan emas, sudah tajam, pedang itu jauh lebih berat daripada pedang-pedang seumumnya.

Tapi pedang itu kutung dengan satu kali bentrok saja!

Tan Hong gunakan ketikanya, ia tunjukkan kecerdikannya.

Selagi lawan berdiam, ia lompat ke samping sambil memutar pedangnya.

Dengan satu tabasan saja, ia bikin tenda terbelah, menyusul mana, selagi dengan tangan kiri ia menyambar, akan pentang tenda itu, tubuhnya mencelat lebih jauh, noblos keluar dari lobang pecahan itu.

Ngochito heran menampak kecerdikan musuh, untuk kesehatannya itu.

Mengertilah ia bahwa musuh ini liehay sekali.

Tapi ia pun satu pahlawan Watzu, tidak sudi ia menunjukkan kelemahannya.

Maka sambil memutar pedangnya, ia juga noblos keluar dari liang tenda dari mana Tan Hong nerobos keluar.

Setibanya di luar, ia lihat musuh sudah melintasi dua undakan kemah.

"Tangkap penjahat!"

Ia berteriak. Ia lompat, untuk mengejar.

"Sar ser!"

Demikian terdengar suara ketika Ngochito lihat musuh memutar tangannya ke belakang, terayun, menyusul mana tertampak sinar-sinar kecil berwarna perak menyambar ke arahnya.

Itulah senjata rahasia jarum dari Tan Hong, yang ia gunakan untuk menahan musuh yang mengejarnya.

Ngochito insyaf kepada malapetaka itu, ia putarkan pedangnya, untuk menangkis.

Gagal serangan Tan Hong itu.

Gagal separuhnya.

Sebab dengan repot menangkis, majunya Ngochito tercegah, hingga terlambat.

Dan kelambatan ini digunakan Tan Hong untuk lari lebih jauh, ke lapis tenda yang ketiga.

Cuaca malam itu gelap, cuaca ini menolong banyak pada Tan Hong.

Ia dengar suara riuh dari tanda bahaya, ia lari terus.

Segera juga anak-anak panah menyambar saling susul, tetapi tidak ada satu yang mengenai sasarannya.

Ia terus lari, hingga melintasi belasan tenda.

Ngochito mengejar terus, tapi ia kalah dalam ilmu enteng tubuh, ia tidak dapat menyandak, meski begitu, Tan Hong toh repot, sebab suara tanda bahaya telah membangunkan tentera Watzu dipelbagai tangsi, sedang seluruh tangsi luasnya kira-kira seratus lie.

Ketika ia sudah melewati puluhan tangsi, Tan Hong tiba di suatu tempat yang merupakan tanah kosong, di situ ada dua baris tangsi, yang berjejer di kedua tepi.

Di tenda, atau kemah sebelah depan, api dipasang terang-terang, samar-samar tertampak serdadu ronda.

Apa yang beda, dari tangsi di depan itu tidak merubul serdadu-serdadu Watzu seperti dari tangsi-tangsi lainnya.

Heran juga Tan Hong, karena ia tahu, tata tertib tentera Watzu biasanya keras sekali, begitu ada pertandaan, semuanya mesti bergerak.

Tetapi ini satu tidak.

"Mungkinkah di sini ada dua jenderal yang masing-masing memegang pimpinan?"

Bertanya hati kecilnya.

"Walaupun ada dua pemimpin, mereka tetap berada di bawah satu pemerintah, tidak seharusnya mereka berlainan pimpinan....."

Tidak peduli ia heran atau bersangsi, Tan Hong insyaf ia tidak boleh membuang-buang tempo, maka itu, ia lompat, untuk lari terus.

Ia dapat kenyataan, di belakangnya ada pengejar-pengejar yang menunggang kuda.

Ia tiba di tengah tegalan itu di mana terdapat banyak tumpukan rumput yang tinggi bagaikan bukit kecil.

Itulah tumpukan rangsum kuda, yang tentera Watzu paksa penduduk setempat mengumpulkannya.

"Baiklah aku menyusup kesalah satu tumpukan, untuk sembunyikan diri,"

Pikir Tan Hong.

"Aku mesti tunggu, sampai semua sudah sirap, baharu aku berlalu dengan diam-diam."

Tan Hong pikir, kalau toh tumpukan-tumpukan rumput itu hendak digeledah, orang mesti menggunakan banyak serdadu, karena ia memakai seragam tentera Watzu, ia mengharap akan ada kemungkinan untuk bercampur dengan mereka itu, untuk turut menggeledah bersama-sama.....

Demikian ia nelusup masuk ke dalam sebuah tumpukan, akan menantikan saatnya.

Tapi, begitu ia masuk, begitu lekas juga ia terkejut.

Kupingnya telah menangkap suara tertawa geli, dekat sekali, menyusul mana bebokongnya terasa ditekan barang keras bagaikan besi, yang dingin seperti es.

"Aku telah nantikan lama padamu!"

Demikian sekonyong-konyong ia dengar suara, yang halus dan menggiurkan.

"Jangan kau bergerak! Bila kau bergerak, akan aku menjerit-jerit!....."

Tan Hong kaget dan heran.

Ia berada di medan perang, di dalam tangsi, dari mana datangnya satu wanita, mungkin satu nona?

Karena itulah suaranya seorang perempuan.

Ia merasa lega juga, karena orang mengancam secara lunak.

"Baik, aku tidak akan bergerak,"

Ia jawab. Wanita itu tertawa pula, dengan terlebih geli. Sekarang ia lemparkan sebuntal pakaian.

"Lekas kau loloskan seragammu,"

Ia kata.

"Lekas kau tukar itu dengan pakaian ini. Kau tunggu sebentar, aku akan segera kembali."

Habis berkata, wanita itu keluar dari tumpukan rumput.

Segera terdengar suara berisik, dari serdadu-serdadu dan kuda mereka.

Suara berisik itu melintasi tegalan, tiba ke dekat tumpukan di mana Tan Hong menyembunyikan diri, tempat dari mana barusan si wanita muncul.

"Keke, adakah keke melihat satu perwira lari lewat di sini?"

Demikian Tan Hong dengar pertanyaan satu orang.

"Ya, aku lihat dia,"

Jawab si wanita tadi.

"Dia lari sangat cepat, aku tak dapat menyandak dia. Dia lari dari sini, terus kesana. Mungkin sekarang dia sudah melewati tangsi wanita dan telah sampai di depan."

Dengan berteriak-teriak.

"Mari! Mari!"

Serdadu pengejar itu lari ke arah yang ditunjuk, sebentar saja, suara mereka menjadi kurang berisiknya dan akhirnya lenyap, hingga kesunyian kembali di situ.

Tan Hong dapat menenangkan diri, ia mengintai dari tumpukan rumputnya itu.

Ia ditolong oleh cahaya api dari tangsi yang terdekat.

Ia periksa pakaian yang diberikan kepadanya.

Ia kenali itu adalah seragam dari serdadu wanita Mongolia.

Ia menjadi heran.

Teringat akan panggilan tentera tadi kepada si wanita, ia pun menjadi bingung.

Ia tahu apa artinya panggilan "keke"

Itu.

Orang Mongolia, begitupun orang Manchu, kalau ia memanggil nona anggauta keluarga raja, maka mereka memanggilnya keke.

Jadi wanita itu, nona itu, adalah dari keluarga agung.

Sementara itu, ia bersangsi untuk pakaian itu.

"Apakah aku mesti menyamar sebagai serdadu wanita?"

Ia berpikir. Tapi ia ingin lolos dari kepungan, ia tidak bersangsi lama.

"Apakah kau sudah salin?"

Tak lama ia dengar suara si nona.

"Nah, sekarang kau sudah boleh keluar."

Tan Hong buntal pakaiannya, sambil bawa itu, ia munculkan diri. Si nona tertawa geli sekali.

"Mari turut aku!"

Katanya.

Terus dia bertindak.

Sekarang Tan Hong merasa bahwa ia seperti kenal nona ini, bahwa pernah ia melihatnya, hanya entah di mana, sesaat itu, tidak dapat ia mengingatnya.

Nona itu pergi kesebuah kemah ke dalam mana ia terus bertindak masuk.

Di dalam situ, semuanya adalah serdadu-serdadu wanita.

Sekarang baharulah Tan Hong insyaf kenapa ia disuruh salin pakaian.

Di tangsi wanita, tak boleh ada pria mencampurkan diri.

Pantas tadi pengejar-pengejarnya tidak menggeledah di situ.

Hanya sekarang, biar bagaimana, ia merasa jengah juga sebab begitu banyak mata wanita mengawasi padanya, agaknya mereka itu heran.

Terpaksa ia tunduk.

"Oh, keke sudah kembali?"

Demikian si nona ditanya beberapa serdadu wanita itu.

"Ada terjadi apakah di luar?"

"Kabarnya mereka menawan satu orang jahat,"

Jawab si nona.

"Kamu jangan usilan!"

Serdadu-serdadu wanita itu mengawasi pula Tan Hong tetapi mereka tidak ada yang berani menanyakan sesuatu.

Nona itu ajak Tan Hong ke sebuah kemah lain, begitu tenda dipentang, dari situ tersiar bau harum semerbak, yang membuat hatinya jadi terbuka.

Tan Hong lihat sebuah pedupaan kayu gaharu.

Di situ ada sebuah meja marmer serta satu meja kecil dari batu pekgiok.

Di atas meja kecil itu ada beberapa tangkai bunga bwee dalam sebuah tempat bunga.

Orang berada di tangsi tentera, tapi kemah diperlengkapi bagaikan kamar wanita, hanya sederhana.

Begitu berada di dalam, nona itu membuka ikat kepalanya.

Ia berpaling kepada si anak muda, matanya berkerling hidup.

"Tan Hong, masihkah kau kenal aku?"

Tiba-tiba ia menanya.

Tan Hong memandang dengan tercengang.

Sinar lilin di situ terang sekali, wajah si nona tampak tegas.

Orang tengah mengawasi ia dengan sunggingan senyuman berseri-seri.

Dengan lantas ia ingat.

"Kaulah Topuhua!"

Ia jawab. Nona itu manggut.

"Benar,"

Sahutnya.

"Sudah banyak tahun sejak kita berpisah, kau masih belum melupakan aku!"

Di dalam hatinya, Tan Hong mengeluh.

Topuhua adalah puterinya Yasian, kepala perang Watzu itu.

Dimasa kecilnya, Tan Hong pernah bermain-main bersama nona ini.

Setelah umur mereka tiga atau empat belas tahun, baharu mereka berpisahan.

Sebabnya ialah, di antara Thio Tjong Tjioe dan Yasian, mereka cuma baik di mulut, di hati berlainan, sedang mereka -Tan Hong dan Topuhua -sudah mulai mengerti urusan orang dewasa.

Nona itu tertawa ketika ia berkata.

"Aku ingat betul suatu kejadian semasa kita kecil. Itu hari aku dan kau pergi berburu di tepi air Yuching di kaki bukit Wuwang, selagi memandang air di mana ada bayangan kita, kau mengatakannya aku mirip pria dan aku bilang kau mirip wanita. Ingatkah kau itu?"

"Ya" , sahut Tan Hong, cara sembarangan saja. Baharu saja ia menyahuti atau tiba-tiba si nona menarik tangannya, untuk membawa ia ke muka kaca.

"Kau lihat!"

Katanya sambil tertawa.

"Sekarang kau pakai pakaianku, kau lebih mirip lagi dengan wanita! Lihatlah!"

Wajah Tan Hong menjadi merah. Di dalam hatinya, ia kata.

"In Loei salin pakaian menjadi pria, aku justeru menyamar jadi wanita, jikalau dia ketahui perbuatanku ini, tidakkah ia mentertawakan aku?"

Topuhua tertawa pula.

"Pada malam di muka keberangkatan angkatan perang kita, ia berkata.

"aku telah dengar kabar kau sudah mencuri masuk ke Tionggoan. Hal kepergian kau itu ditanyakan kepada Thio Sinsiang, dia tidak mau memberi keterangan. Aku telah menyangka, selama hidup kita ini, kita tidak akan bertemu pula satu dengan lain, akan tetapi Allah telah memberkahinya, kita justeru bertemu di sini. Sudah banyak tahun kita tidak pernah bertemu, maka itu kali ini kau mesti berdiam untuk beberapa hari bersama aku di sini."

Tan Hong terperanjat.

"Mana dapat itu dilakukan?"

Katanya.

"Kenapa tidak?"

Topuhua tanya.

"Aku jamin tak akan ada orang yang ketahui kau! Umpama ada juga yang mengetahuinya, mereka semua ada orang kepercayaanku, tidak nanti mereka berani membuka rahasia."

Tan Hong menggoyangkan tangannya berulang-ulang. Mendadak saja nona itu perlihatkan roman sungguh-sungguh.

"Jikalau kau menampik, sekarang juga aku berteriak!"

Ia kata. Pemuda itu tidak membiarkan dirinya digertak.

"Baik, kau berteriaklah!"

Ia kata.

"Dengan sebenarnya aku beri tahu padamu, hari ini aku menjadi musuhmu, kau boleh belenggu aku, kau boleh serahkan aku kepada ayahmu! Aku telah memberanikan diri mendatangi tangsi tenteramu, karena aku tidak memikirkan pula jiwaku!"

Mendengar itu, si nona tertawa pula, nampaknya ia sangat manis dan menarik.

"Kau tertawakan apa?"

Tanya Tan Hong, gusar.

"Kau masih tetap bawa sifatmu semasa kanak-kanak,"

Sahut Topuhua.

"Kau selamanya suka jaili aku. Kau bilang kau adalah musuhku, aku sebaliknya tidak pandang kau sebagai musuh. Kau bilang kau tidak sayangi jiwamu, baiklah, sekarang aku tanya, kau pikirkan jiwa ayahmu atau tidak?"

Diam-diam Tan Hong terkejut.

"Ayahku masih ada di Watzu, dan di sana Yasian-lah yang berkuasa,"

Ia berpikir.

"Lagi pula, kalau nanti aku hendak mengacaukan bahagian dalam dari Watzu, aku membutuhkan bantuannya ayahku. Mengurbankan diri adalah perkara gampang, untuk membangun negara sesungguhnya sulit. Baiklah, aku bersabar."

Ia lantas tunduk. Topuhua mengawasi, ia menyangka orang telah menurut, kembali ia tertawa.

"Sebenarnya, apa sih yang tak baik untukmu tinggal bersama aku di sini?"

Dia tanya, suaranya manis.

"Tempatku ini, di mana juga dalam kalangan tentera Watzu, tidak nanti kau dapatkan keduanya terlebih menyenangkan."

Tan Hong berjingkrak.

"Apa?"

Tanyanya.

"Kau hendak suruh aku berdiam di sini?"

"Jikalau kau tidak tinggal di sini, habis di mana lagi?"

Si nona tertawa pula.

"Apakah kau hendak tinggal di luar rumah bercampur dengan serdadu-serdadu wanita? Kau tak usah takut ditertawai!"

Tan Hong berpikir keras.

Ia benar menghadapi kesulitan.

Memang, kalau mesti berdiam di dalam tangsi, ia mesti berdiam sama si nona.

Ia lantas ingat pula In Loei, kembali ia mengeluh dalam hatinya.

Topuhua lantas teriaki satu serdadunya untuk ambil setahang air panas.

"Pergi kau mandi di belakang kemah ini", katanya pada anak muda kita.

"Kau bersihkan tubuhmu dari kotoran tanah dan rumput, supaya tidak ada orang yang mencurigai kau. Tak usah kau malu-malu, di sini tidak ada orang melihat padamu."

Ia menarik tenda dari apa yang disebut kemah belakang itu, ke situ ia tolak masuk tubuh Tan Hong, habis mana, tenda itu ditutup pula rapat-rapat, sampai angin pun tak dapat masuk.

"Sekarang baharulah hatiku tetap!"

Masih menggoda si nona.

"Kalau sebentar kau telah selesai mandi, aku masih hendak bicara denganmu."

Tan Hong sementara itu mengasah otaknya, guna memikirkan daya untuk meloloskan diri.

Sekian lama ia telah berpikir, belum juga ia memperoleh akal.

Hal ini membuatnya ia masgul.

Pada waktu itu ia dengar tanda waktu dalam tangsi, kentongan dibunyikan dua kali.

Jadi sudah jam dua.

Berbareng dengan itu, satu serdadu wanita bertindak masuk.

"Keke, Thaysoe datang menjenguk,"

Dia memberitahukan.

"Silakan Thaysoe masuk", sahut Topuhua. Baharu saja serdadunya keluar, nona ini sudah tertawa pula.

"Kau jangan terbitkan suara apa-apa, aku tak akan memberitahukan ayah tentang kau!"

Ia kata. Tentu saja kata-kata ini ditujukan kepada si anak muda. Jantung Tan Hong memukul. Ia memasang kuping. Sebentar kemudian terdengarlah tindakan kaki. Itulah Yasian.

"Ayah,"

Topuhua sambut ayahnya itu.

"kabarnya malam ini ayah hendak menyuruh raja Beng melayani kau minum arak, kenapa sekarang kau sempat menjenguk aku? -Ah, ada urusan apakah, ayah? Kau nampaknya tidak gembira....."

Tan Hong menahan napas. Ia dengar suaranya Yasian.

"Apa yang terjadi malam ini sungguh di luar dugaanku!"

Kata menteri itu.

"Bagaimana, ayah?"

"Aku tadinya anggap kaisar Beng seorang yang takut mati,"

Berkata pula Yasian.

"aku percaya, bila dia sudah menakluk, dapat aku gunakan ia sebagai kaisar untuk mempengaruhi menteri-menterinya. Aku pikir, itu waktu, kita sudah punyakan wilayah kerajaan Beng. Tapi dugaanku itu keliru. Dia membangkang atas titahku itu, dia tidak menghadiri pesta....."

Topuhua heran.

"Benarkah dia begitu bernyali besar?"

Dia tanya.

"Benar,"

Jawab sang ayah.

"Sungguh aku tidak sangka."

Mendengar itu, Tan Hong girang bukan kepalang.

"Kie Tin masih punyakan semangat,"

Ia berkata di dalam hatinya.

"Dia menang banyak dibanding dengan dua kaisar ahala Song. Nyata dia tidak mensia-siakan lelahku ini."

"Tidak sukar bagiku membinasakan dia,"

Yasian berkata pula.

"hanya aku kuatir, jikalau aku binasakan dia, itu bisa mengakibatkan kemurkaan rakyat Beng, hal mana pasti akan memperlambat peperangan ini. Untuk kita, perang lama pun belum tentu ada manfaatnya. Aku dengar Atzu Tiwan sekarang ini sedang mengumpulkan tentera diam-diam, rupanya dia pikir, selagi aku pergi perang di tempat jauh, hendak dia rampas kekuasaanku. Hal itu membuatnya hatiku tidak tenteram."

Yang disebut Tiwan Atzu itu adalah si pangeran Mongolia yang diutus ke Pakkhia.

"Ayah, kau gagah perkasa, buat apa kau kuatirkan hal itu?"

Kata sang puteri.

"Lagi pula hari ini kita telah peroleh kemenangan besar, maka tidak selayaknya kau mengucapkan kata-katamu ini."

Yasian tertawa.

"Kau benar, anakku!"

Ia kata.

"Sekarang hendak aku bicara dengan kau tentang hal yang akan membuatnya kau girang. Ya, apakah kau masih ingat Thio Tan Hong puteranya Thio Tjong Tjioe?"

Kaget Tan Hong mendengar perkataan itu.

"Kenapa, ayah?"

Topuhua balas menanya.

"Meskipun Thio Tjong Tjioe tidak hendak memberitahukannya, tetapi telah aku peroleh endusan, Thio Tan Hong sebenarnya telah menyusup ke Tionggoan,"

Sahut sang ayah.

"Hal itu membuatnya aku curiga....."

"Kenapa begitu, ayah?"

"Keluarga Thio itu dengan kaisar Beng adalah musuh turunan, karenanya tidak ada alasan untuk mencurigai Tan Hong nanti membantu musuhnya itu,"

Menerangkan Yasian.

"tetapi sejak aku menggerakkan angkatan perang sampai pada hari ini, sudah berselang satu bulan, Thio Tan Hong yang berada di Tionggoan itu, kenapa dia tidak datang padaku untuk melaporkan sesuatu? Sebenarnya inilah waktu yang paling baik untuk ia menuntut balas bagi permusuhan turun temurunnya."

"Mungkin dia terhalang karena berhadapannya kedua pasukan perang dan ia belum mendapatkan kesempatannya,"

Topuhua utarakan dugaannya. Ia main komedi dengan ayahnya itu.

"Kalau nanti ayah sudah rampas Tionggoan, mustahil dia tak muncul?"

Yasian tertawa.

"Sampai itu waktu, itulah sudah pasti!"

Ia kata.

"Kau tahu, kali ini aku menerjang ke Tionggoan, maksudku untuk menawan dua orang....."

"Siapakah kedua orang itu?"

"Yang pertama yaitu kaisar Beng,"

Jawab sang ayah.

"Dengan ditawannya kaisar itu, meskipun dia tidak sudi menakluk, sisa tentera Beng pasti masih ragu-ragu, lambat laun, negara Beng itu akan jadi kepunyaanku juga."

"Dan yang kedua, ayah? Siapa dia?"

"Yang kedua ialah Thio Tan Hong."

"Ayah hendak tawan dia, apakah ayah persalahkan dia karena dia telah menyusup masuk ke Tionggoan?"

Sang anak tanya pula.

"Ya dan bukan,"

Yasian jawab.

"Apakah artinya itu, ayah?"

"Thio Tan Hong itu gagah dan pintar, dia sangat berguna,"

Yasian berikan keterangan pula.

"Jikalau aku telah menangkap dia, umpama kata dia tidak sudi tunduk padaku, akan aku dakwa dia telah lancang menyusup ke Tionggoan, akan aku bunuh dia. Tindakan ini ialah untuk mencegah bahaya di belakang hari."

"Ah....."

Topuhua berseru tertahan.

"Tidakkah itu terlalu kejam?"

Yasian tertawa.

"Dia bermusuh dengan kerajaan Beng, dalam sepuluh, sembilan bagian sudah pasti dia akan turut aku!"

Dia kata.

"Anakku, itulah maksud urusanku yang menggirangkan!"

Topuhua berpura-pura likat.

"Ah, ayah, kembali kau mengejek aku!....."

Katanya. Yasian tertawa berkakakan.

"Ayahmu bukannya seorang tolol!"

Ia kata.

"Sudah sejak siang-siang aku lihat kau sukai Thio Tan Hong si bocah itu! Sekarang ini kau sudah berusia dua puluh tiga tahun, menurut adat istiadat kita bangsa Watzu, kau seharusnya sudah membuat aku mengempo cucu! Banyak pangeran telah meminangmu, kau selalu menampik, ayahmu juga tidak hendak memaksa. Kenapa sikapku itu? Itulah karena aku tahu kau menantikan Thio Tan Hong! Baiklah, akan aku bikin kau menjadi puas!"

Topuhua tunduk, ia diam, tetapi hatinya girang bukan kepalang.

"Hanya malam ini, bangsat itu!"

Tiba-tiba Yasian berseru keras.

"Dia benar-benar bernyali besar! Dia telah menyusup ke dalam kemah harimau, dia mencoba untuk membawa buron kaisar Beng, malah dia juga mempunyai lengtjhie kumala! Aku agak sangsi....."

"Siapa yang kau sangsikan, ayah?"

Tanya Topuhua.

"Aku kuatir penjahat itu adalah Thio Tan Hong....."

Si nona heran.

"Bukankah ayah sendiri yang mengatakan dia bermusuh dengan kaisar Beng?"

Dia tanya.

"Itulah yang menyebabkan kesangsianku. Sebegitu jauh yang aku ketahui, lengtjhie itu diberikan mendiang Sri Baginda kepada tiga orang, ialah kesatu ayahmu, kedua Thio Tjong Tjioe, dan ketiga Pangeran Atzu. Aku duga penjahat itu, kalau dia bukannya Thio Tan Hong, dia mesti orangnya pangeran itu. Mungkin pangeran itu juga berniat menculik kaisar Beng, supaya dia dapat bersaing denganku. Tapi soal ini tidak terlalu sukar, kalau nanti aku sudah pulang perang, akan aku selidiki. Umpama kata perbuatan itu adalah perbuatannya Thio Tan Hong, walaupun kau menyayangi dia, terpaksa aku harus singkirkan padanya!"

Topuhua terkejut, di dalam hatinya, ia mengeluh.

Ia bersyukur yang ia belum sampai memberitahukan ayahnya hal Tan Hong ada bersama dengannya.

Yasian berpaling ke meja kecil, untuk menuang teh, tiba-tiba ia tampak tenda bergerak perlahan, samar-samar terdengar suara.

"Siapa di dalam tenda?"

Ia menegur. Terus ia menoleh pula, melihat puterinya tengah mengipas dengan kipas kayu cendana.

"Di mana ada orang di sini, ayah?"

Kata anak itu sambil tertawa.

"Mungkinkah ayah dibikin kaget penjahat itu maka sekarang ayah menjadi kurang tenteram hati hingga ayah menjadi bercuriga tidak keruan?"

Wajah ayah itu berubah, akan tetapi mendadak ia tertawa besar. Topuhua tetapkan hatinya, ia mengipas dengan terlebih keras.

"Hawa udara di Tiongkok beda dengan kita di Mongolia,"

Berkata Yasian kemudian.

"Dalam bulan sembilan yang berhawa sejuk, di sana sudah turun salju, di sini sebaliknya hawa masih panas. Kiranya kipas kau yang membikin tenda itu bergerak-gerak, hingga aku menyangka yang bukan-bukan..."

Habis mengucap, ayah ini tertawa pula, ber-gelak-gelak.

Ia tidak tahu, Topuhua mengipas sesudah tenda bergerak, hanya puterinya ini mengipas dengan cepat, sedang iapun tengah berpaling, ia tidak engah.

Di dalam hatinya, Topuhua sesalkan Tan Hong, yang menganggap telah berlaku tidak hati-hati.

"Sekarang ini aku telah mengumumkan titahku,"

Berkata Yasian kemudian.

"yaitu kecuali dengan titah yang tertulis dengan tanganku sendiri serta ditandai dengan cap kebesaran panglima perang tertinggi, siapa juga dilarang datang dekat kepada kaisar Beng. Aku pun telah menarik dua belas pahlawan ke Kemah Harimau, untuk bantu membuat penjagaan. Maka, tidak peduli penjahat liehay luar biasa, tidak nanti dia dapat menyusup masuk ke dalam kemah kaisar itu. Kau tahu kita pun telah dapat menawan Thio Hong Hoe, komandan Gielim koen kerajaan Beng itu. Tentang dia, aku telah dengar dari Tantai Mie Ming, sekarang telah aku saksikan sendiri, dia benar gagah, dari itu aku harap dapat aku bujuk dia menakluk kepada kita, apabila dia suka menyerah, dia pasti lebih berharga daripada dua belas pahlawan itu. Dia telah terluka panah, dia tidak membutuhkan banyak orang untuk menjaganya karena itu aku telah menarik kedua belas pahlawan itu."

Atas kata-katanya ayah ini mengenai Thio Hong Hoe, Topuhua tidak menaruh perhatian, ia menyahuti secara sembarangan saja, ia hanya sedang pikirkan keras perihal jodohnya dengan Thio Tan Hong.

"Apakah ayah telah mendapat persetujuan dengan Thio Tjong Tjioe?"

Ia tanya. Inilah hal yang penting baginya. Kalau kedua orang itu sudah cocok satu dengan lain, tidak usah ia kuatirkan apa-apa lagi.

"Sebenarnya aku tidak bercidera dengannya,"

Yasian jawab puterinya itu.

"kita cuma kurang cocok sedikit dalam hal pendapat. Aku percaya, sesudah nanti kita menjadi besan, perhubungan kita akan menjadi lebih baik pula."

Ia tertawa, lalu ia menambahkan.

"Aku percaya Thio Tjong Tjioe tidak akan lolos dari kekuasaanku. Keluarga Thio itu sudah turun temurun membantu negara kita dalam hal tata tertib negara, bisa dianggap dia berjasa besar, cuma mereka telah memikir yang tidak-tidak, yaitu mereka berniat meminjam angkatan perang kita untuk membangun pula Kerajaannya, yaitu Kerajaan Tjioe. Tentu saja, itu bukannya satu urusan yang sederhana sebagaimana yang mereka pikir. Sekarang ini aku biarkan Thio Tjong Tjioe berdiam di dalam negeri. Sikapnya nampaknya aneh. Yang dia pikirkan siang dan malam adalah untuk kembali ke negerinya, untuk membangun kerajaannya, itu artinya, ia harapkan masuknya angkatan perang kita ke Tionggoan. Sekarang ini angkatan perang kita sudah bergerak, kita sudah masuk ke dalam wilayah Tionggoan, tetapi heran, ketika aku minta ia berdiam di dalam negeri, ia tidak menentangnya. Kelihatannya ia girang-girang saja. Kenapa begitu sikapnya? Hal ini membikin aku sulit menerka hati Tjong Tjioe itu. Tapi dia adalah seorang pandai, maka aku pikir jikalau nanti telah selesai aku merampas Tionggoan dan mengangkat diriku menjadi raja, hendak aku berikan dia kedudukan sebagai perdana menteri. Oh, anakku, dengan aku menjadi raja, kau akan menjadi puteri!"

Ketika itu terdengar kentongan tiga kali.

"Ayah, waktu sudah larut malam,"

Kata Topuhua sambil tertawa.

"Sekarang sudah waktunya ayah beristirahat. Besok ayah akan melanjutkan memimpin pasukan perang, untuk menyerang kota Pakkhia, setelah kota itu dapat dirampas, baharu ayah menjadi raja dan aku menjadi puteri!"

Yasian tertawa.

"Kau benar, anak!"

Ia kata, hatinya gembira.

Setelah mencium puterinya ia meninggalkan tangsi wanita itu.

Begitu ayahnya berlalu, lekas juga Topuhua bernapas lega.

Ia merasakan bagaimana keringatnya telah membasahi baju dalamnya.

Ia lantas salin pakaiannya, sambil dandan dan tertawa, ia kata.

"Engko Thio, kau lihat, bagaimana baik hati ayahku! Maka kau bolehlah legakan hatimu..."

Dari kemah dalam tidak ada penyahutan.

"Ayahku sudah pergi!"

Kata pula Topuhua sambil tertawa.

"Kau lekas mandi! Apakah airnya sudah dingin? Apakah kau ingin tukar itu dengan air panas yang baru?"

Dari dalam tenda itu tetap tidak ada jawaban, tidak ada suara apa-apa.

"Engko, engko Thio, ah, kenapa kau tidak menjawab?"

Tanya Topuhua.

Sekarang ia mulai merasa heran.

Ketika ia tetap tidak peroleh penyahutan, ia kerutkan alis.

Ia lantas bertindak menghampirkan tenda.

Tapi ia tidak berani lantas memegangnya, untuk menariknya, buat membukanya.

Ia kuatir si anak muda tengah membuka pakaian.

"Engko Thio, engko Thio!"

Ia memanggil pula, dua kali.

Masih saja tidak ada jawaban dari Tan Hong.

Sampai di situ, Topuhua menjadi curiga.

Ia pun menjadi tidak senang, hingga ia kertek giginya.

Sekarang ia tidak pikirkan apa-apa lagi, ia sambar tenda dengan kedua tangannya dan menariknya dengan keras!

Bukan main herannya Topuhua begitu lekas tenda sudah terpentang.

Tenda itu kosong, Thio Tan Hong tidak ada di dalamnya!

Maka ia masuk ke dalam, untuk memeriksa.

Segera ia menjadi terkejut.

Tenda itu rapat, tidak ada jalan keluar di sebelah belakang, tetapi sekarang telah terbuka satu lowongan, yaitu tenda pecah bekas dipotong!

Itulah tanda yang Tan Hong telah memotong tenda itu, akan membuka jalan untuk buron!

Topuhua melengak, ia mendongkol berbareng menyesal, ia menjadi bingung dan berduka.

"Dasar aku yang tolol,"

Ia pikir kemudian.

"Tidak selayaknya aku mengijinkan dia membawa-bawa pedang."

Selagi tunduk, Topuhua tampak corat caret di tanah. Itulah surat yang ditulisnya dengan ujung pedang. Ia lantas membaca.

"Terima kasih untuk pertolonganmu, lain waktu akan aku balas budi ini. Sekarang aku sangat kesusu, tidak ada ketika untuk kita pasang omong. Di mana kedua negara sedang berperang, sekarang pun bukan saatnya untuk berunding, maka itu, aku pergi dahulu!"

Di bawahnya tertera tanda tangan Tan Hong. Dengan hati panas, Topuhua pergi keluar. Ia tanyakan keterangan pada serdadunya yang menjaga di luar.

"Dia pergi sudah lama,"

Ia dapat jawaban.

"Kenapa kau tidak cegah padanya?"

Si nona tanya.

"Dia masuk bersama nona,"

Sahut serdadu itu.

"dan nona pun pesan supaya kami jangan banyak omong, karena itu, kepergiannya, mana kami berani menghalanginya?"

Bukan main mendongkolnya Topuhua, akan tetapi ia tidak dapat berkata suatu apa.

Dengan mendongkol dan masgul, ia kembali ke dalam kemahnya.

Sementara itu, di lain kemah, Thio Hong Hoe pun dapat meloloskan diri.

Ditahan di dalam kemah, Hong Hoe dijaga dua pahlawan.

Sejak ia ditawan, ia sudah memikir tidak ingin hidup, tetapi ia dibelenggu, tidak ada jalan untuknya akan membunuh diri, maka itu, ia mogok makan.

Yaitu dikasi makanan apa juga, ia tolak, hingga atas titahnya Yasian, ia dipaksa dicekoki kuwah jinsom, sedang lukanya telah diobati.

Lukanya tidak berbahaya, setelah diobati dan makan kuwah jinsom, kesehatannya telah pulih dengan cepat.

Sekarang ia bisa gunakan otaknya.

"Kalau toh aku mesti mati, aku harus menukar jiwaku dengan beberapa jiwa!"

Demikian ia berpikir.

Karena ini, seterusnya suka ia dahar.

Pembahan sikap ini membikin girang kedua pahlawan penjaganya, karena mereka tak usah main paksa orang minum dan dahar.

Mereka tidak menyangka, dengan suka bersantap, Hong Hoe hendak pelihara diri, untuk mengumpulkan tenaganya.

Demikian malam itu, kira-kira jam tiga, selagi seluruh tangsi terbenam dalam kesunyian, Hong Hoe empos semangatnya, ia pusatkan tenaganya, habis itu, ia gerakkan kedua tangannya yang terbelenggu rantai.

Ia bertenaga besar, siapa tahu, rantai ada tangguh sekali, rantai itu tidak terputus, hanya menerbitkan suara nyaring, hingga kedua penjaganya kaget.

"Hai, kau bikin apa?"

Tegur dua pahlawan itu.

Hong Hoe tidak menjawab, dia hanya kerahkan pula tenaganya, kali ini ia berhasil membikin sehelai rantai putus, suaranya semakin nyaring.

Kaget kedua pahlawan itu, mereka hunus golok mereka, untuk mengancam.

Ingin mereka mencegah orang buron.

Hong Hoe mendelik, hingga ia nampaknya menjadi bengis sekali.

"Mampus dia yang mendekati aku!"

Teriaknya.

Ia lompat, ia merabu dengan rantainya.

Kedua pahlawan itu mundur, bukan saja serangan hebat, mereka pun tidak berani membunuh tawanan ini, mereka lompat berkelit, niat mereka adalah menyerang dari samping ke arah kaki tawanan itu.

Hong Hoe liehay, dia ganas, selagi dia hendak dibacok, dia mendahului, hebat sabetannya dengan rantai.

"Aduh!"

Teriak satu pahlawan, yang rubuh seketika, kakinya patah di bagian dengkul kena rabuan rantai.

Pahlawan yang kedua kaget tapi ia lantas membacok.

Ia insyaf akan ancaman bencana.

Hong Hoe rubuhkan diri, sambil rebah celentang, ia menyapu dengan kakinya, yang pun terbelenggu.

Tapi pahlawan itu liehay, dapat dia berkelit, terus dia membacok pula, untuk mencegah orang berbangkit bangun.

Hong Hoe bergulingan, atas mana, ia disusul bacokan berturut-turut, hingga tak ada ketika baginya untuk lompat bangun.

Dalam keadaan sangat berbahaya itu, selagi pundaknya terancam akan terbabat kutung, mendadak terdengar satu suara keras, dari bentroknya senjata-senjata tajam, lantas golok si pahlawan terlepas jatuh.

Hong Hoe menjadi kaget, lekas-lekas ia lompat bangun, untuk berdiri, berbareng mana, ia tampak menyerbu masuk, dua orang yang mukanya bertopeng.

"Lekas bekuk tawanan ini!"

Teriak si pahlawan.

Ia lihat, dua orang itu adalah kawannya.

Ia lantas lompat, untuk menjumput goloknya yang barusan terlepas.

Untuk itu, ia membungkuk.

Tapi di luar dugaannya, kedua orang itu, yang memakai seragam perwira Mongolia, tahu-tahu dengan berbareng telah membabat dengan pedang mereka, hingga tanpa menjerit lagi, tubuh pahlawan itu terputus dua dan rubuh dengan berlumuran darah.

"Kau?"

Teriak Hong Hoe ketika ia lihat, kedua orang itu. Kedua orang itu membuka penutup muka mereka.

"Ya, aku!"

Jawab yang satunya, sambil tertawa.

Mereka itu tidak lain daripada Tan Hong dan In Loei.

Tan Hong mendengar dari Yasian, di mana adanya Hong Hoe, maka itu, selagi Yasian dan puterinya berbicara, ia berlalu dengan cepat.

Dengan mudah ia akali serdadu wanita, yang menjaga tenda, karena ia masih dandan sebagai seorang wanita, habis itu, ia salin seragam serdadu Mongolia, ia lekas lari pulang ke tangsinya, untuk mengajak In Loei, bersama siapa, ia pergi ke kemah di mana Hong Hoe ditahan, malah tepat sekali di saat tongnia Gielim koen itu menghadapi bahaya, hingga ia dapat memberikan bantuannya.

Dengan cepat Tan Hong dan In Loei gunakan pedang mereka yang tajam, guna memutuskan semua belenggu Hong Hoe, tapi mereka masih terlambat, di depan kemah sudah lantas terdengar suara berisik, sebab tadi, pengawal kemah telah dengar keributan di dalam, dia lari untuk memberi kabar.

Hong Hoe tertawa besar.

"Bagus!"

Dia berseru.

"Akan aku adu jiwaku! Dengan membunuh satu jiwa, pulang modalku! Membunuh dua jiwa, aku sudah untung! Tapi hari ini, hendak aku binasakan sedikitnya sepuluh, tak boleh kurang!"

Dia lantas sambar golok seorang pahlawan, untuk dipakai berlaku nekat. Tiba-tiba Tan Hong totok komandan Gielim koen itu.

"Kau... kau..."

Hong Hoe berseru tertahan, kaget. Ia cuma dapat mengucap demikian, terus kedua matanya rapat, tubuhnya rubuh. In Loei heran, ia lirik kawannya itu.

"Tak dapat dia dibiarkan nekat,"

Kata Tan Hong.

"Mari!"

Anak muda ini mengangkat tubuh orang, untuk dipanggul.

In Loei mengerti, ia lantas mengikuti.

Tidak ada lain jalan, mereka pergi ke depan, untuk menghadapi musuh.

Tanpa tanda apa-apa lagi, keduanya maju menerjang, untuk membuka jalan.

Segera pedang mereka berkelebat, segera terdengar suara beradunya pelbagai senjata tajam.

Untuk kagetnya musuh, senjata mereka semua terpapas kutung, hingga terpaksa mereka lompat minggir.

Tan Hong dan In Loei gunakan ketikanya, selagi jalanan terbuka, mereka maju dengan cepat.

Terus mereka babat kutung senjata musuh, terus mereka nerobos, sampai mereka dapat dekati tenda dan lompat naik ke atasnya.

Itulah pahlawan-pahlawan kelas dua, karena yang dua belas, yang kelas satu, sudah ditarik ke tengah, untuk menjaga raja Beng.

Maka itu, mereka semua tak berdaya menghadapi pasangan anak muda itu, hingga, begitu lekas mereka berdua sudah lompat naik ke tenda, lekas sekali keduanya dapat lolos dengan jalan melintasi pelbagai tenda lainnya.

Begitu lekas mereka sudah berada di luar kalangan berbahaya, Thio Tan Hong lantas perdengarkan suitannya yang nyaring, suitan mana disambut dengan ringkikan kuda di arah kiri mereka.

"Kita bebas!"

Kata Tan Hong dengan girang apabila ia telah dengar suara kuda itu.

"Mari!"

Ia ajak kawannya.

In Loei ikuti kawan ini.

Mereka hampirkan kuda Tjiauwya saytjoe ma, yang sudah menantikan mereka sambil menggoyang-goyangkan ekornya.

Bertiga bersama Hong Hoe, Tan Hong menyingkir dengan kudanya itu, yang lari keras.

"Biarkan dia tidur!"

Kata Tan Hong pada kawannya ketika ia mengikat Hong Hoe diperut kuda.

Komandan Gielim koen itu masih belum sadar, sebab ia belum ditotok pula.

Tan Hong mempunyai dua macam ilmu totok, ialah yang membahayakan jiwa dan tidak.

Hong Hoe ditotok urat tidurnya, dengan begitu ia pingsan tanpa terganggu jalan napas dan jalan darahnya.

Mulanya In Loei bersangsi akan naik bersama atas seekor kuda, hingga Tan Hong desak dia.

"Naiklah, adik kecil!"

Katanya.

Ia bersangsi sejenak, kemudian ia lompat naik ke atas bebokong kuda.

Ia mesti insyaf, mereka perlu lekas menyingkir jauh dari musuh.

Meski begitu, tak dapat ia cegah mukanya menjadi merah dan kulit mukanya dirasakan panas, saking jengah.

Mau atau tidak mereka harus tempelkan tubuh mereka satu dengan lain.

Dengan perdengarkan suara yang nyaring, Tjiauwya saytjoe ma berlompat lari, dia membikin tentera Watzu tidak berdaya walaupun mereka ini dengar suaranya.

Dapat dikatakan tak sampai satu jam, kuda putih yang jempolan itu sudah meninggalkan tangsi Watzu terpisah jauh di belakangnya.

Kerap kali di tengah jalan beberapa serdadu ronda dari Watzu mencegat akan tetapi menghadapi Tan Hong dan In Loei, mereka itu tidak dapat berbuat apa-apa, dengan gampang kedua anak muda itu dapat melalui mereka.

Mereka yang berani dengan segera menjadi kurban pedangnya pasangan itu.

Lega hati Tan Hong begitu lekas ia lihat mereka sudah lolos dari ancaman bahaya.

Mereka telah berada kira-kira empat puluh lie jauhnya dari daerah tangsi Watzu di Touwbokpo.

Ia menjadi sangat girang.

Satu kali ia tertawa tak disengaja ketika rambut halus dan bagus dari In Loei menyampok hidungnya, yang membuatnya ia merasa geli.

"Toako, coba perlahankan kuda putihnya,"

In Loei minta kemudian.

Tan Hong meluluskan, maka sesaat kemudian, Tjiauwya saytjoe ma sudah lantas bertindak perlahan.

Ini membuatnya si anak muda lantas merasakan keindahan sang malam dengan rembulannya yang permai.

Ia seperti sadar sesudah ia berpikir sebentar.

Baharu sekarang ia ingat, malam itu adalah malam Tiong Tjioe -bulan delapan tanggal lima belas!

Tanpa merasa, ia tertawa.

"Adik kecil!"

Katanya.

"tahun ini Tiong Tjioe dilalui dengan berkesan!"

"Memang benar!"

Sahut In Loei, yang hendak menggoda.

"Hari raya Tiong Tjioe dinamakan juga Toan Wan Tjiat, artinya Bundar dan Bulat, dan kau bersama puterinya Yasian telah berada bersama bagaikan manusia dan rembulan lama bundar bulatnya!"

Tan Hong terperanjat, ia segera lirik nona itu. Ia tampak In Loei tertawa manis, bersenyum simpul, dari mulutnya pun tersiar bau harum, maka hatinya goncang sendirinya.

"Adik kecil,"

Katanya, sambil tertawa.

"bukankah pribahasa mengatakan, 'Di medan perang menyaksikan rembulan permai, di atas kuda merasakan keindahan Tiong Tjioe?' Adik kecil, semoga kita setiap tahun merasakan malam-malam seperti malam ini! Apa yang kau katakan memang benar, malam ini manusia dan rembulan sama bundar-bulatnya, maka juga puteri Yasian itu, apabila dia melihat kau, dia pasti mengiri!..."

Tan Hong balas menggoda, yang mengandung maksud. Dengan samar ia telah utarakan cintanya. Tanpa merasa, In Loei menjadi jengah, ia likat sekali.

"Ah, toako, kau jail sekali!"

Dia kata.

"Jikalau kau terus menggoda aku, akan aku lompat turun dari kuda ini, tak mau aku menunggangnya bersama-sama kau!"

Tan Hong menoleh, akan pandang si nona.

Ia tampak suatu paras seperti girang seperti gusar, hatinya menjadi goncang.

Ia tidak jawab nona itu, sebaliknya, ia lantas bersenanjung perlahan.

Rembulan tanggal lima belas itu adalah bahan sasarannya.

"Eh, toako, kau angot?"

Tegur In Loei, heran. Masih Tan Hong tidak menjawab, ia hanya bersenanjung terus, dengan perlahan.

"Semoga manusia hidup kekal. untuk bersama-sama merasakan keindahan alam seribu lie."

Dengan "keindahan alam"

Itu ia maksudkan seorang wanita cantik manis. Tanpa merasa, In Loei menimpali, perlahan ia bersenanjung.

"Manusia mempunyai kedukaan, kegirangan, perpisahan, berkumpul, seperti juga mendung, ada terang, ada bundar, ada sempoaknya. Hal itu, sejak dahulu hingga sekarang, tak pernah sempurna. Toako, jangan kau ingat saja bahagian yang kau ambil, bagian belakang, kau melupakan bahagian ini..."

Habis berkata, wajah si nona menjadi suram.

Tan Hong lihat keindahan malam itu, ia mengharap supaya ia dapat hidup bersama In Loei sehingga tua, akan tetapi si nona, walaupun hatinya tergerak, dia tidak melupakan kata-kata kakaknya, maka dia utarakan bahwa penghidupan manusia itu tak kekal tak sempurna selamanya.

Karenanya, ia jadi berduka.

Justeru itu segumpal awan lewat, mengalingi si puteri malam, yang sinarnya menjadi guram.

Menampak itu, In Loei paksakan untuk tertawa.

"Nah, toako, kau lihat!"

Ia kata.

"Di dalam dunia ini mana ada manusia hidup berbahagia selamanya, mana ada rembulan purnama terus menerus?"

Mau atau tidak, Tan Hong turut tertawa.

"Adik kecil, ingatkah kau pada syairnya Tjoe Siok Tjin itu penyair wanita?"

Ia tanya.

"Bahagian yang manakah itu, toako?"

In Loei balas menanya.

"Itu syair yang dibuatnya di malam Tiong Tjioe,"

Sahut Tan Hong.

"Malam itu Tjoe Siok Tjin melihat rembulan dialingi mega, lalu teringatlah ia kepada nasibnya sendiri, lantas ia menulis syairnya."

Terus Tan Hong perdengarkan syair itu.

"Malam ini rembulan tak diijinkan bercahaya, Maka tahulah aku Thian tidak mengasihaninya. Kenapa kalau sang mega disingkirkan, Agar rembulan bercahaya selaksa lie?"

Tjoe Siok Tjin adalah satu di antara dua penyair terkenal dari Ahala Song.

Yang satu lagi adalah Lie Tjeng Tjiauw.

Kalau Lie Tjeng Tjiauw dapat menikah dengan satu suami sempurna, Tjoe Siok Tjin dapat pasangan satu suami desa, maka juga seumurnya ia senantiasa berduka, maka syairnya itu menandakan kedukaan hatinya.

Maka juga kumpulan syairnya diberi berjudul "Tuan chang tsi"

Artinya.

"Kumpulan Usus Putus."

Mendengar nyanyian Tan Hong itu, hati In Loei bercekat, tanpa merasa, ia berpikir.

"Tjoe Siok Tjin dapat pasangan tidak kebetulan, ia hidup selalu berduka, maka aku, mustahillah aku bakal menelad dia?..."

Tan Hong, sambil tertawa, sudah berkata pula.

"Syair Tjoe Siok Tjin mengandung banyak kedukaan, hanya ini satu, yang tidak berduka seluruhnya. Syair ini mengandung harapan besar! Dia tahu, Thian tidak mengasihaninya, tapi ia masih mengharap agar mega disingkirkan, supaya sang rembulan dapat bercahaya pula. Tjoe Siok Tjin adalah satu nona lemah, dia tidak berdaya menyingkirkan mega, kau sebaliknya bukan seorang lemah! Tjoe Siok Tjin cuma dapat mengharap, kau sebaliknya dapat berusaha, bekerja!"

Mendengar itu, hati In Loei berdebar. Ia berpikir.

"Kakakku melarang aku bersahabat dengan Tan Hong, itu sama saja dengan syairnya Tjoe Siok Tjin yang mengatakan, 'Malam ini rembulan tak diijinkan bercahaya', maka tahulah aku Thian tidak mengasihaninya. Tapi kata-kata kakak itu, apakah aku mesti anggap seperti kehendak Thian? Mega yang menutupi rembulan itu mesti disingkirkan... akan tetapi, bagaimanakah cara menyingkirkannya?"

Ketika ia angkat kepalanya, nona ini dapatkan mega justeru melintas dan sang rembulan bersinar permai lagi seperti tadi!

Kedua anak muda ini telah menempuh gelombang, banyak pengalamannya yang penuh bahaya, sekarang mereka bersama dapat menaiki seekor kuda, bersama-sama mereka menggadangi sang rembulan, walaupun hati mereka berlainan, mereka toh mengicipi bayangan penghidupan manis dari manusia.

Rambut di samping kuping mereka beradu, mereka dengar napas masing-masing, tubuh mereka pun melekat satu pada lain...

Mereka saksikan bagaimana di langit sang rembulan naik dan turun...

Mereka menyesal, seolah-olah mereka mempunyai laksaan omongan tetapi tak dapat mereka keluarkan itu semua...

Sebenarnya, untuk apa mereka mengatakannya?

Bukankah hati mereka sama, mereka sama-sama telah mengerti maksud hati masing-masing?

Kuda putih berjalan terus, perlahan-lahan sampai tanpa merasa, cuaca telah menjadi terang.

Dan di depan mereka, jauh, samar-samar, tampak tangsi tentera Watzu.

Nyatalah, Yasian telah memusatkan angkatan perang besarnya di Touwbokpo, sebaliknya pasukan depannya sudah mendekati Pakkhia.

Maka itu di sepanjang jalan sejauh dua ratus lie lebih, setiap delapan atau sepuluh lie, telah kedapatan tangsi atau benteng tentera Watzu itu.

"Sekarang bolehlah kita turunkan Thio Hong Hoe,"

Berkata Tan Hong akhirnya.

Hong Hoe di perut kuda masih belum sadar akan dirinya.

Tan Hong turunkan tubuh orang dengan perlahan-lahan, habis itu, ia menepuknya.

Boleh dibilang dalam sekejap saja, Hong Hoe lantas sadar, malah segera ia merasa kesegarannya pulih, ia merasa sehat betul.

Ia lantas memandang kesekitarnya, ia merasa heran sekali.

"Tempat apakah ini?"

Dia tanya.

"Tempat ini telah terpisah mungkin seratus lie dari Touwbokpo,"

Sahut Tan Hong. Hong Hoe menghela napas.

"Tan Hong,"

Katanya.

"kenapa kau cegah aku menghabiskan jiwaku untuk menunaikan tugasku?"

Tan Hong menatap dengan tenang. Kematianmu adalah urusan kecil,"

Ia kata.

"akan tetapi kalau setiap orang mengurbankan jiwanya untuk raja, habis siapa lagi yang hendak kurbankan dirinya untuk negara? Jikalau seorang raja menutup mata, masih ada yang menggantikannya, tetapi kalau negara jatuh ke dalam tangan bangsa asing, sungguh sulit untuk mengambilnya kembali! Kau tahu, rajamu sendiri masih belum mati!"

Hong Hoe insaf dengan cepat.

"Habis bagaimana kita dapat tiba di Pakkhia?"

Ia tanya akhirnya.

-ooo00dw00ooo-Bab XXI Justeru itu terdengar suara kuda lari mendatangi.

Tan Hong semua berpaling.

Mereka lihat dua serdadu Watzu, yang rupanya tengah meronda.

Menampak dua serdadu itu, Tan Hong tertawa.

"Mengandal kepada mereka berdua, aku tanggung kau akan sampai di Pakkhia,"

Ia kata.

Kedua serdadu Watzu sementara itu nampaknya heran.

Mereka lihat dua perwira Watzu bersama satu perwira Han.

Maka segera mereka menghampiri.

Tan Hong berdua In Loei bertindak sangat cepat.

Sekejap saja mereka sudah sampok terlepas senjata kedua serdadu Watztu itu, lalu diancamkan pedangnya ke batang leher mereka.

"Kamu mau hidup atau mati?"

Tan Hong mengancam.

"Mau hidup..."

Sahut kedua serdadu, yang putus asa.

"Baik!"

Kata Tan Hong.

"Adik kecil, bawa dia seratus tindak jauhnya, tanyakan padanya pertandaan hari ini."

In Loei menurut, ia tarik serdadu yang satu.

"Bagus!"

Kata pula Tan Hong, suaranya keras.

"Sekarang mari kita mulai tanya mereka! Jikalau penyahutan mereka berbeda, itu tandanya mereka mendusta, maka adik kecil, kau boleh lantas tabas padanya!"

Dengan sempurnanya Iweekang-nya, walaupun mereka terpisah seratus tindak, suara Tan Hong itu dapat didengar jelas sekali oleh In Loei.

Coba Tan Hong ada lain orang, tidak nanti suaranya itu dapat terdengar.

Hong Hoe kagumi anak muda ini.

"Tan Hong benar teliti,"

Kata dia dalam hatinya.

"Jikalau mereka ini tidak dipisahkan, umpama mereka menyahuti secara palsu, sulit untuk mengetahui kedustaan mereka."

Tan Hong sudah tanya si serdadu dan ia telah peroleh jawabannya.

"Bagaimana?"

Dia tanya In Loei.

"Dia kata tanda-kata hari ini adalah bidadari,"

Jawab In Loei. Bangsa Watzu juga tahu tadi malam adalah malaman Tiong Tjioe untuk bangsa Han, mereka sengaja pakai kata-kata "bidadari"

Untuk tanda kata mereka.

"Akur!"

Berseru Tan Hong.

"Mereka tidak mendustai"

In Loei segera kembali bersama serdadu itu. Tan Hong bertindak terlebih jauh, dengan sebat ia buka seragam kedua serdadu itu, setelah mana, ia ikat mereka itu di atas pohon.

"Maafkan kami,"

Ia kata pada mereka.

"Kalian boleh menunggu di sini sampai sahabat-sahabatmu nanti datang menolong kamu."

Ia tidak tunggu jawaban lagi, terus ia berkata pada Hong Hoe.

"Silakan kau pakai seragam ini."

Hong Hoe menurut, dengan cepat ia salin pakaian.

"Sekarang mari!"

Mengajak pula Tan Hong.

Dan kali ini, dengan masing-masing menunggang seekor kuda -untuk mana kudanya kedua serdadu Watzu itu mereka rampas -ia ajak kedua kawannya mengaburkan kuda mereka.

Hong Hoe kenal baik jalanan itu, ia mengajaknya ambil jalan kecil, untuk memotong jalan.

Secara begini dapat mereka menyingkir dari tiap-tiap tangsi bangsa Watzu.

Benar mereka kerap kali bertemu serdadu ronda, tetapi dengan mengucapkan perkataan "Bidadari!"

Mereka selalu bebas dari pemeriksaan.

Maka akhirnya, sebelum matahari turun, mereka telah tiba di luar kota Pakkhia.

Di sana pasukan depan bangsa Watzu sudah mengatur persiapan untuk bertempur, karena mereka tengah berhadapan dengan tentera Beng.

Di antara mereka terdapat tanah perbatasan yang kosong, yaitu no man's land.

Dengan berani Hong Hoe bertiga menerobos dari kalangan tentera Watzu, untuk melintasi tanah kosong, guna menghampiri tentera Han.

Mereka lantas disambut hujan panah oleh tentera Beng, akan tetapi mereka maju terus, mereka sampok jatuh setiap anak panah.

Pasukan Beng itu di kepalai oleh Yo Wie, hoetongnia dari Gielim koen, serta Kiekie Touwoet Hoan Tjoen, belum lagi Hong Hoe datang dekat, mereka itu sudah melihat dan mengenali, maka itu dengan lekas mereka larang serdadunya melepaskan panah terlebih jauh, mereka sendiri lantas maju, untuk menyambut.

"Bagaimana sikap tentera?"

Tan Hong tanya. Inilah pertanyaan yang pertama. Yo Wie menyahut dengan perlahan.

"Kami telah mendengar kabar angin bahwa Sri Baginda telah ditawan musuh di Touwbokpo, kabar itu telah membuatnya hati tentera sedikit goncang..."

"Berita mengenai Sri Baginda ditawan musuh bukan kabar angin belaka, itulah kejadian benar,"

Kata Tan Hong.

"Sekarang lekas kamu antar kami masuk ke dalam kota untuk menghadap Ie Thaydjin."

"Mana kakakku?"

Tanya Hoan Tjoen. Ia maksudkan Hoan Tiong.

"Kakakmu sudah mengurbankan dirinya untuk negara,"

Jawab Hong Hoe.

"Aku harap kau nanti meneruskan cita-citanya, untuk melindungi kota Pakkhia!"

Lantas komandan Gielim koen ini tuturkan kegagahannya Hoan Tiong, yang telah menghajar mampus dorna Ong Tjin dengan gembolannya, habis mana, sekalipun dia terbinasa, Hoan Tiong tidak sudi menakluk pada musuh.

Hoan Tjoen berduka, tetapi hatinya terhibur.

Yo Wie pun berduka, ia terharu berbareng puas juga.

Sampai di situ, Yo Wie persilakan ketiga orang itu salin pakaian, sesudah mana, ia antar mereka masuk ke dalam kota.

Di mana-mana di dalam kota terlihat rakyat, dalam rombongan-rombongan kecil, berbisik-bisik, untuk satu dengan lain menanyakan keadaan dari medan perang.

Pada wajah mereka tampak roman berkuatir dan tegang.

Hong Hoe bersama Tan Hong dan In Loei menuju ke gedung Ie Kiam.

Ketika itu sudah jam tiga tetapi gedung menteri itu masih terang benderang.

Tan Hong maju di muka, untuk mengetok pintu, guna memohon menghadap.

Tidak lama, pintu besar dipentang, kuasa rumah muncul untuk mengatakannya.

"Thaydjin ada di ruang tengah, silakan kamu masuk!"

Ketika Tan Hong tiba di lorak, ia tampak Ie Kiam seorang diri sedang jalan mondar-mandir.

"Ie Thaydjin, kami telah kembali!"

Tan Hong segera berkata.

"Ah, kamu telah kembali..."

Kata menteri itu, yang masih mondar-mandir terus. In Loei menjadi heran.

"Ie Kiam dengan Tan Hong bersahabat kekal,"

Ia berpikir.

"dia pun perlakukan kami seperti keponakan atau anak, sekarang kita kembali, mengapa sikapnya begini tawar?"

Karena ini, ia campur bicara, katanya.

"Kami pun telah membawa pulang peta bumi. Tentang harta besar dari leluhurnya Thio Toako, itu pun akan diangkut kemari!"

Pada wajah Ie Kiam terlihat sorot kegirangan, tetapi alisnya masih tetap mengkerut.

"Benarkah itu?"

Tanyanya, menegaskan.

"Aku kuatir sudah terlambat..."

Dan kembali ia jalan mondar-mandir.

Tan Hong dapat menerka orang sedang menghadapi kesulitan, ia kedipkan matanya kepada In Loei untuk mencegah nona ini berbicara pula.

Ia lantas memandang ke sekitarnya.

Ia lihat di bawah lorak ada tumpukan kapur tembok dan di kedua tepinya telah banyak yang runtuh.

Di dalam hatinya, ia menghela napas.

"Jikalau tidak melihat sendiri, siapa sangka Ie Kokloo demikian melarat,"

Katanya dalam hati kecilnya.

"Rumahnya sudah begini tua, untuk membetulkan temboknya, ia cuma menitahkan orangnya sendiri..."

Ia angkat kepalanya, ia tampak sebuah syair yang digantung di dalam ruangan itu. Ia baca.

"Seribu kali gali, selaksa kali gempur, digali keluar dari dalam gunung, Dengan api yang berkobar besar dibakar, bukan main hebatnya, Tulang-tulang boleh jadi abu, tubuh lebur, tetapi hati tak gentar, Asal dapat pernahkan nama putih bersih di dalam dunia ini."

Di bawah itu, di sebelah kiri, terdapat tambahan huruf-huruf halus yang berbunyi.

"Dicatat pula di harian tentera Watzu mengurung kota, sebagai kesan."

Di bawah itu ditulis nama Ie Kiam, penulisnya. Tergerak hati Tan Hong, hingga dengan keras ia berkata.

"Ie Thaydjin, oleh karena kau tidak gentar tulang-tulang dan tubuhmu hancur lebur, kenapa kau jeri akan segala ocehan tidak keruan atau fitnahan pembesar hikayat?"

Ie Kiam terperanjat, hingga kedua matanya bersinar dengan tiba-tiba. Ia angkat kepalanya, memandang langit.

"Hiantit,"

Katanya kemudian.

"cuma kau seorang yang ketahui isi hatiku. Tapi urusan ini sangat besar, untukku tulang hancur dan tubuh lebur adalah soal kedua, hanya aku kuatir, di belakang hari, aku nanti mengalami perkara penasaran yang tak dapat dilampiaskan..."

Tan Hong mendesak.

"Sekarang ini Sri Baginda sudah ditawan musuh,"

Kata dia.

"maka itu thaydjin harus memikirkan negara, mesti thaydjin segera mengambil putusan. Sekarang telah tiba saatnya! Umpama kata benar di belakang hari raja toh mempersalahkannya, tetapi thaydjin telah pernahkan nama bersih di antara rakyat, nama itu akan teringat laksaan tahun, akan tercatat untuk selamanya dalam hikayat. Apakah yang harus digentarkan pula?"

Alisnya Ie Kiam bergerak pula, ia sudah lantas ambil putusannya. Ia keprak meja ketika ia berseru.

"Hiantit benar! Besok aku angkat raja baru, akan aku basmi kawanan dorna, lalu aku akan mengepalai sendiri angkatan perang untuk melawan musuh!"

Memang Ie Kiam telah mendengar berita mengenai raja sudah tertawan musuh, hal mana membuatnya ia menyesal, berduka dan berkuatir.

Ia sudah menerka, bangsa Watzu pasti akan menggunakan raja itu sebagai alat untuk memaksakan segala permintaannya, maka itu, ia memikirkan daya upaya untuk menghadapinya.

Ia sudah ketahui, jalan satu-satunya ialah mengangkat raja baru, untuk menunjukan bahwa ia hendak mempertahankan diri, guna membela negara, hanya ia bersangsi sebab ia sendiri bukannya anggauta kerajaan, kalau ia sendiri saja yang mengepalai pengangkatan raja baru itu, tanggung jawabnya terlalu besar dan berat.

Ia pun kuatirkan serangan kawanan dorna, sedang dalam kalangan keluarga raja, banyak yang berpendirian tak tetap.

Di samping itu ia pikirkan juga, umpama kata raja yang tertawan itu mendapat kemerdekaannya kembali dan telah pulang ke dalam negeri, ada kemungkinan raja itu tak akan mengerti sikapnya itu, hingga ia akan terancam kebinasaan berikut seluruh keluarganya.

Maka itu, sudah satu hari satu malam ia berpikir keras, masih saja ia belum dapat mengambil putusan.

Sampai sekarang ini Tan Hong telah bicara dengan tandas, baharu ia dapat mengambil ketetapannya itu.

Di hari kedua, Ie Kiam buktikan perkataannya.

Ia himpunkan para menteri besar, ia utarakan keputusannya dan beritahukan rencananya untuk melawan musuh.

Paling dahulu ia angkat adiknya kaisar Kie Tin, yaitu Kie Giok, menjadi raja, menjadi kaisar Tay Tjong, sedang Kie Tin diangkat menjadi Tahongsiang.

Habis itu dikeluarkan perintah akan membunuh semua kambrat Ong Tjin.

Setelah Kie Giok naik tahta, ia pakai gelaran negara Keng Tay, lalu dengan menuruti nasihat Ie Kiam, dalam satu hari itu, telah menghukum mati kambratnya Ong Tjin yang berjumlah tiga ratus jiwa lebih.

Segera Ie Kiam diangkat merangkap menjadi Pengpou Siangsie, menteri perang, dengan diberi kekuasaan untuk memimpin angkatan perang guna melawan musuh.

Ie Kiam sudah lantas bertindak sebagai kepala perang, ia kumpulkan tentera, ia kobarkan semangat rakyat, maka di dalam kota Pakkhia itu, ia berhasil membangun barisannya, untuk memulai perlawanan terhadap musuh.

Demikian peperangan telah dimulai pula.

Sebab Yasian, yang telah berhasil menawan kaisar Kie Tin, meleset dalam dugaannya.

Ia mulanya menyangka, dengan kaisar musuh dapat ditawan, kota Pakkhia akan dapat dirampas dengan mudah, dengan begitu seluruh Tionggoan akan terjatuh ke dalam pelukannya, siapa nyana, Ie Kiam telah bangkit pula.

Maka ia menjadi kaget berbareng gusar.

"Maju!"

Demikian ia serukan tenteranya, untuk mengurung kota Pakkhia.

Pada bulan sepuluh tanggal sembilan, Yasian dapat memukul pecah kota Tjiekengkwan, pada tanggal sebelasnya, pasukan depannya sudah tiba di luar pintu kota Saytit moei di barat kota Pakkhia.

Kie Giok tidak punya pendirian, ia sudah lantas usulkan untuk memohon perdamaian, akan tetapi Ie Kiam menentangnya, menteri perang ini menganjurkan perlawanan terus, ia sendiri yang pimpin tenteranya.

Hebat pertempuran yang berlaku lima hari lima malam itu.

Tentera Watzu berhasil memukul pecah pintu-pintu Tjianggie moei dan Tekseng moei, akan tetapi tentera Beng melawan terus, tak peduli banyak sekali kurban yang rubuh.

Mereka telah dibantu rakyat penduduk kota raja, wanita dan pria, tua dan muda, menggulung tangan baju bersama, akan pertahankan negara mereka.

Mereka itu turut naik ke tembok kota, akan melawan serbuan musuh.

Anak panah tidak cukup, tanpa ragu-ragu mereka merusakkan rumah mereka, mereka pakai batunya untuk melontar musuh.

Maka selama lima hari lima malam itu, hebat suara pertempuran itu, demikian pula jalannya pertempuran.

Tentera Watzu gagah, tetapi menghadapi perlawanan musuh itu, gentar juga hati mereka.

Pada hari ke enam telah datang sejumlah tentara suka rela, yang datang dari beberapa tempat, bendera mereka tertampak ramai dari atas kota Pakkhia.

Segera Thio Hong Hoe pimpin pasukan Gielim koen, akan menyerbu keluar kota.

Dengan cepat ia telah binasakan tiga perwira musuh yang tanggu.

Menampak demikian, Ie Kiam berikan titahnya untuk menyerbu, maka tentera dan tentera rakyat segera pentang pintu kota, mereka maju menerjang musuh.

Yasian saksikan nekatnya musuh, ia lantas berikan titahnya untuk mundur.

Ia kuatir nanti sampai pula bala bantuan dari pelbagai tempat, apabila itu sampai terjadi, ada kemungkinan jalan mundurnya nanti tertutup, hingga ia terkurung.

Hebat kerusakan Yasian karena pengundurannya ini.

Pada tanggal sebelas ia masuk ke Saytit moei, tetapi ketika ia mundur pada tanggal tujuh belas, ia menderita kerugian sebanyak kira-kira delapan laksa serdadu yang luka dan binasa, ia mundur tanpa peroleh hasil!

Pada tanggal delapan belas, di luar kota Pakkhia sudah bersih dari musuh.

Sebaliknya dari Thongtjioe dan Hoolam telah datang beberapa pasukan suka rela.

Sebenarnya jumlah bala bantuan itu, cuma beberapa laksa, tidak berarti apabila dibandingkan dengan besarnya angkatan perang Watzu, tetapi semangat tentera dan rakyat kota Pakkhia telah berkobar-kobar, sehingga menyebabkan musuh mundur terpaksa.

Maka itu, semua orang sangat bergembira, semua berseru-seru kegirangan.

Ie Kiam sambut dengan baik setiap bala bantuan suka rela itu.

Yang membuatnya ia kagum adalah ketika ia dapatkan satu pasukan yang datang jauh sekali dari propinsi Kangsouw.

Itulah pasukan suka rela di bawah pimpinan In Tiong, pasukan yang berasal dari tjhoengteng atau penduduk tani ketua dari Tamtay tjhoeng dan mulanya cuma terdiri dari beberapa ratus jiwa, tapi di sepanjang jalan mereka dapat mengumpulkan lagi kawan-kawan hingga jumlah mereka semua meliputi seribu jiwa lebih.

Ketika barisan ini tiba di kota raja, jumlahnya tinggal kira-kira separuh.

Sebab di tengah jalan mereka telah bertempur dengan musuh, banyak di antara mereka terbinasa dan luka, malah In Tiong sendiri terpisah dari mereka, dari itu, sekarang pasukan itu dipimpin oleh Tiatpie Kimwan Liong Tjin Hong.

Yang paling penting dari barisan suka rela dari Kangsouw ini adalah mereka sudah tidak mensia-siakan tugas yang dipercayakan kepada mereka oleh Thio Tan Hong.

Yaitu mereka sudah mengiringi dengan selamat harta warisan Thio Soe Song sampai di Pakkhia.

Dalam kegembiraannya, Ie Kiam lantas undang Liong Tjin Hong dan Samhoa Kiam Hian Leng Tjoe membikin pertemuan dengan Tan Hong dan In Loei.

Nona In terperanjat mendengar kakaknya lenyap, maka ia lantas tanya, bilamana dan bagaimana itu terjadinya.

"Itu terjadi kemarin,"

Sahut Tiatpie Kimwan, menerangkan.

"In Tjonggoan titahkan kita menerjang musuh untuk melindungi harta, ia sendiri bertanggung jawab di bahagian belakang, guna merintangi kalau-kalau musuh mengejar. Nona Tamtay bersama belasan tjhoengteng pun membantu melindungi dari sebelah kiri. Kami tahu, tindakan itu berbahaya, tapi karena harta mesti dilindungi, kami tidak bisa berbuat lain. Kejadianlah yang rombongan kita kena dipotong tentera Watzu. In Tjonggoan sungguh gagah, ia telah membuka jalan, sayang di tengah-tengah pertempuran dahsyat itu, sebatang anak panah mengenai Nona Tamtay, hingga dia tak menerjang terlebih jauh. In Tjonggoan segera kembali ke belakang, untuk menolongi nona itu. Demikian maka mereka itu jadi terpisah dari kami, yang dapat membuka jalan dan menuju terus kemari."

In Loei jadi sangat berkuatir dan berduka.

"Syukur musuh telah mundur sekarang,"

Berkata Ie Kiam.

"nanti aku titahkan untuk mencari di sekitar luar kota ini. Aku percaya mereka dapat diketemukan."

Hati In Loei menjadi sedikit lega, tapi ia masih tetap memikirkan kakaknya itu.

Bagaimana keadaannya si kakak, yang menolongi Nona Tamtay itu?

Ia jadi lebih berkuatir karena si Nona Tamtay tengah terluka, entah lukanya itu hebat atau ringan.

Hari itu In Tiong telah menempuh bahaya, ia tunjukkan kegagahannya.

Begitu ia lihat Tamtay Keng Beng terluka panah, segera ia pergi menghampiri untuk menolongi.

Ia putar golok Toanboen too-nya, untuk melindungi si nona dan untuk membelai dirinya.

Dengan tangan kiri, dengan pukulan-pukulan Taylek Kimkong Tjioe, ia rubuhkan atau mundurkan setiap musuh yang datang dekat.

Tapi musuh berjumlah banyak, mereka terus terkurung.

Kematian beberapa puluh musuh tidak berarti apa-apa.

Di saat In Tiong mulai lelah, mendadak ia dengar suara tambur dan gembreng musuh disusul dengan suara terompetnya, lalu disusul pula dengan mundurnya barisan musuh.

Dengan begitu In Tiong mendapat keringanan, segera ia membuka jalan darah, untuk meloloskan diri dari kepungan.

Ia tidak tahu bahwa mundurnya musuh disebabkan Yasian membutuhkan bantuan, untuk angkatan perang Watzu itu mundur seluruhnya.

Selang setengah jam, In Tiong sudah lari cukup jauh, bersama Tamtay Keng Beng, ia jadi berada jauh dari pasukan musuh.

Ia bernapas lega.

Ia hanya kaget ketika ia tampak wajah pucat pasi dari si nona.

"Bagaimana kau rasakan?"

Ia tanya nona itu.

"Tidak apa-apa,"

Sahut si nona. Di mulut Keng Beng mengucapkan demikian, akan tetapi les kuda yang ia pegang tak kencang lagi dan tubuhnya pun bergoyang-goyang seperti hendak rubuh. Mau atau tidak, In Tiong bersenyum.

"Adik Tamtay,"

Ia berkata.

"Ketika dulu aku terluka, banyak aku terima budimu. Bukankah kau telah menasihati agar aku jangan paksakan diri berkuat-kuat. Ingatkah kau akan hal itu?"

Di mulut In Tiong berkata begitu, sepak terjangnya adalah lain.

Gesit luar biasa ia lompat dari kudanya ke kuda si nona, untuk duduk di belakang nona itu, les kuda siapa ia sambar, untuk mewakilkan memegang kendali, untuk sekalian menjagai tubuh si nona supaya tubuh itu tidak rubuh terguling.

"Adik Tamtay, kau harus beristirahat,"

Ia berkata pula.

"Mari kita cari satu rumah penduduk untuk menumpang beberapa hari kalau nanti lukamu sudah sembuh, baharu kita berdaya untuk pergi masuk ke Pakkhia."

Tamtay Keng Beng tidak berkesan baik terhadap In Tiong, akan tetapi sekarang ia saksikan sikap orang yang lemah lembut dan sangat perhatikan kepadanya, dengan sendirinya, hatinya tergerak juga.

Maka ia biarkan orang bawa padanya.

Sibuk juga In Tiong sesudah ia mencari-cari rumah penduduk di sekitar itu.

Dusun itu telah rusak, penduduknya tidak ada.

Dengan sangat berduka dan, berkuatir, ia mencari terus, sampai di depannya ia tampak sebuah rumah yang letaknya pada lereng bukit.

Dari jauh kelihatan rumah itu masih utuh juga.

"Thian tidak memutuskan jalan makhlukNya,"

Ia berseru.

"Akhir-akhirnya kita menjumpai juga sebuah rumah!"

Tapi Tamtay Keng Beng menggelengkan kepalanya.

"Aku kuatir itu bukannya rumah penduduk baik-baik,"

Ia utarakan kesangsiannya.

"Saudara In, kau mesti berhati-hati..."

"Dalam keadaan seperti kita ini, tak dapat kita terlalu bercuriga,"

In Tiong jawab.

"Yang penting adalah kau mesti beristirahat!"

Maka ia larikan kudanya ke arah rumah kampung itu. Setibanya di situ, ia bantui Keng Beng turun dari kudanya, habis mana terus ia mengetok pintu, yang tertutup rapat.

"Siapa?"

Terdengar suara keras dari dalam rumah. In Tiong heran. Ia seperti kenali suara itu.

"Aku adalah serdadu suka rela dari Kangsouw,"

Ia lantas menjawab.

"Aku hendak numpang menginap."

Dengan berani ia bicara terus terang. Dengan menerbitkan suara, pintu segera di-pentang. Berbareng dengan itu, dari dalam terdengar suara pula.

"Oh, kiranya In Tjonggoan1."

Hanya kali ini suara itu sedikit menggetar, seperti dikeluarkan oleh seorang yang tengah terkejut berbareng kegirangan.

Itulah di luar dugaan In Tiong, apapula ketika ia lihat tegas orangnya yang berbicara itu, yang berdiri di muka pintu, berendeng bersama orang lain.

Untuk tercengangnya, ia kenali Low Beng dan Low Liang, kedua boesoe atau guru silat dari istana kaisar.

"Saudara-saudara Low, mengapa kamu masih berada di sini?"

In Tiong tanya.

"Pada setengah bulan yang lalu,"

Low Beng menyahut.

"ketika aku lihat musuh datang menyerbu, aku minta ijin cuti, maksudku ialah mengantarkan keluargaku pulang ke kota raja untuk melindungi mereka. Di luar dugaan kami, musuh datang terlalu cepat, kami tercegat, perhubungan kami terputus, hingga kami tak dapat pergi terus ke kota raja, terpaksa kami menunda di sini. Ah, apakah nona gagah ini pun serdadu suka rela? Dia terluka, lekas ajak dia masuk! Kami mempunyai obat luka yang mustajab."

"Djiewie, baiklah minum dulu air teh panas,"

Berkata Low Liang, yang terus menyuruh orangnya menyuguhkan air teh. Tamtay Keng Beng adalah seorang yang berhati-hati, ia segera berpikir.

"Mereka ini adalah guru-guru silat negara, kenapa di saat gentingnya peperangan, mereka diijinkan cuti? Dengan mundurnya tentera Watzu, di mana tentera itu lewat, ayam dan anjing pun tidak aman, rumah-rumah musnah, maka aneh, kenapa cuma mereka ini yang tetap utuh?"

Oleh karena kecurigaannya itu, Keng Beng memandang seluruh rumah.

Ia dapatkan di thia ada pelbagai macam alat senjata.

Ia jadi bertambah curiga.

In Tiong rupanya tidak menyangka suatu apa, ia angkat cawan teh, untuk di minum, tetapi Keng Beng, yang lihat itu, segera kedipkan mata padanya.

In Tiong seperti tidak lihat kedipan mata itu, ia bawa terus cawan teh ke mulutnya.

Bukan main kuatirnya si nona, hampir ia menjerit.

Tiba-tiba terdengar satu suara keras dan nyaring, tahu-tahu cawan jatuh dan pecah, air tehnya tumpah berhamburan.

"Ah."

In Tiong berseru.

"Celaka! Maafkan aku,"

Ia terus mohon.

"Tolong ditukar cawannya..."

In Tiong belum tutup rapat mulutnya, atau air teh yang melimpah itu kelihatan bercahaya seperti api.

Itulah tanda air teh itu telah dicampurkan racun.

Hal ini mengejutkan kedua tuan rumah dan tetamunya.

In Tiong pun bercuriga.

Ia lantas ingat, Low Beng dan Low Liang adalah kepercayaannya dorna kebiri Ong Tjin.

Ia memang belum tahu yang Ong Tjin selama di Touwbokpo sudah dihajar mampus oleh Hoan Tiong tapi ia tahu baik kejahatannya dorna kebiri itu, maka umpama kata Nona Tamtay tidak memberi tanda padanya, ia sudah berhati-hati sendirinya.

Karenanya ia sengaja melepaskan cangkir teh itu, hingga jatuh pecah dan rahasia kedua saudara Low itu terbuka!

Low Beng dan Low Liang berseru, dengan lantas mereka lari ke tempat alat senjata, untuk menyambar gegaman mereka masing-masing, habis mana mereka tidak membuang tempo untuk mengurung tetamunya itu, ialah In Tiong.

Low Beng bersenjatakan sebatang pedang panjang dan Low Liang tameng besi.

Dan pedang Low Beng itu memain di antara gerak-geriknya tameng, yang perdengarkan suara angin menyambar-nyambar.

Itulah ilmu tameng Koengoan pay yang tersohor.

In Tiong bela dirinya dengan tangan kiri, dengan pedang di tangan kanan, ia siap melayani musuh-musuhnya.

"Apakah kamu, kedua saudara hendak memberontak?"

Ia tegur mereka itu. Low Beng tertawa bergelak-gelak.

"Tidak salah!"

Sahutnya, jumawa.

"Memang kami hendak memberontak! Kau tahu, kau masih dalam mimpi, kau masih belum tahu berapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi!"

"Apa kau bilang?"

In Tiong tegaskan.

"Hendak aku tanya kau,"

Jawab Low Liang.

"Kau bawa pasukan suka rela ke kota raja, bukankah itu untuk menunjang raja?"

"Memang!"

Sahut In Tiong sambil mendesak tiga kali, setelah mana, ia tangkis tameng dan pedang kedua lawannya. Low Liang tertawa terbahak-bahak.

"Rajamu yang tua bangka itu sudah sejak siang-siang menjadi tawanan bangsa Watzu!"

Katanya separuh mengejek.

"Bukankah kau kenal peribahasa, siapa kenal gelagat dialah seorang cerdik? Maka itu baiklah kau lekas letakkan senjatamu, mari kau turut kami menakluk kepada bangsa Watzu! Dengan menakluk, kau masih mempunyai harapan memangku pangkat dan hidup senang, tetapi sebaliknya, kau bakal celaka! Lihat angkatan perang Watzu yang berada di daerah ini! Kau adalah Boetjonggoan dari kerajaan Beng, umpama kata kami tidak membunuh kau, kau toh sukar lolos dari kematianmu!"

In Tiong menjadi sangat gusar. Mana bisa ia dibujuk secara demikian? Tapi masih dapat ia kendalikan diri. Ia tertawa dingin.

"Kiranya kamu berdua adalah orang-orang yang kenal selatan!"

Katanya.

"Maaf, maafkan aku..."

Low Beng menduga bahwa orang telah tergerak hatinya, ia maju mendekati.

"Bagaimana pikiran kau, saudara In?"

Ia tanya. Dengan sekonyong-konyong saja In Tiong berteriak keras sekali.

"Pikiranku adalah untuk mengambil jiwa anjingmu!"

Demikian jawabannya yang dibarengi dengan satu bacokan hebat.

Low Beng kaget, ia menangkis.

Tapi kagetnya bertambah apabila ia dapat kenyataan pedangnya telah tertabas kutung dan gagang pedang itu hampir saja terlepas dari cekalannya!

In Tiong sedang gusar, ia ulangi bacokannya yang tidak kurang hebatnya.

Kali ini goloknya itu bentrok keras dengan tamengnya Low Liang, yang menggantikan saudaranya menangkis.

Ia terkejut.

Juga lawannya terperanjat.

Kedua-duanya merasakan telapakan tangan mereka sakit, panas dan kesemutan.

"Kau mempunyai kepandaian apa maka kau berani pentang bacot lebar?"

Tegur Low Liang, sambil terus mengulangi serangannya dengan tamengnya, yang turun dari atas ke bawah, dalam gerakan "Taysan apteng" -"Gunung Taysan menimpa batok kepala."

Tameng adalah senjata berat, Low Liang pun bertenaga besar sekali, tidak heran apabila serangannya kali ini sangat mengancam. In Tiong tidak jeri, dengan berani ia menangkis pula.

"Trang!"

Demikian satu suara sangat nyaring, yang disusul dengan meletiknya lelatu api.

Hebat kesudahan dari bentroknya kedua senjata itu.

Tameng Low Liang sempoak sedikit dan golok In Tiong pun bengkok ujungnya.

Keduanya menjadi kaget, dengan sendirinya mereka masing-masing mundur tiga tindak.

Low Beng dari samping tidak mengambil peduli orang sedang mundur, ia maju untuk membarengi menyerang musuhnya.

Tapi ia bukannya maju kepada In Tiong, atau membantu Low Liang, saudaranya, hanya ia lompat kepada Tamtay Keng Beng, yang ia tikam dengan tiba-tiba, sinar pedangnya berkilauan!

Nona Tamtay sedang terluka, waktu itu ia pun tengah merasakan sakit yang sangat karena lukanya itu, tenaganya hilang banyak, maka waktu diserang, walaupun ia melihat dan dapat menangkisnya, tetap ia terancam bahaya.

Ia telah terpelanting, hingga rubuh.

In Tiong saksikan musuh berlaku rendah, ia menjadi sangat gusar hingga ia menjerit, habis mana ia lompat kepada Low Beng itu, untuk menyerang padanya.

Ia tidak pedulikan yang Low Liang, dengan tamengnya, mencoba merintanginya.

Ia dapat mendekati Keng Beng, untuk melindungi nona itu.

Ia sudah berlaku seperti nekat ketika ia coba mendesak kedua saudara Low itu hingga mereka mesti mundur dulu.

Keng Beng dapat kesempatan untuk menyingkir ke ruang dalam.

"In Toako, layani saja musuh-musuhmu itu!"

Kata si nona kepada si anak muda.

"Kau bikin habis mereka semua, tak usah kau kuatirkan aku!"

Inilah anjuran berharga bagi In Tiong. Pemuda ini membuang napas, lantas ia menerjang pula. Low Beng tertawa dingin.

"Ha, kau benar, sebelum kau sampai di tengah sungai Hong Hoo, kau belum insyaf."

Katanya mengejek, menghina.

"Sebelumnya melihat peti mati, kau tidak mengucurkan air mata! Kau harus diperkenalkan pada marah bencana. Lihat pedangku!"

Bagaikan bisa ular menyambar-nyambar, demikian gerakan pedang orang she Low ini, yang diimbangi, gerak-gerik tamengnya, hingga In Tiong selalu diserang di bahagian yang berbahaya.

Tapi pemuda itu memutar goloknya, hingga ia seperti terkurung sinar perak yang berkelebatan, berkilauan, dan golok itu pun kadang-kadang menembus tameng untuk mencari sasarannya.

Kedua pihak sama-sama terancam bahaya, disebabkan sempitnya ruangan, yang membuatnya mereka tak dapat bergerak dengan leluasa.

Pasangan saudara Low ini memang liehay, tameng dan pedang mereka terlatih sempurna.

Demikian di kota raja, pernah mereka melayani Thio Hong Hoe dan Thio Hong Hoe tak dapat berbuat banyak terhadap mereka.

In Tiong kalah dari Hong Hoe, tidak heran kalau ia lekas terdesak, apapula ia sudah keluarkan terlalu banyak tenaga.

Setelah lewat seratus jurus, tenaganya tak dapat mengiringi lagi kehendak hatinya, sulit untuknya melakukan penyerangan pembalasan.

Lagi dua puluh jurus, kedua saudara itu nampaknya semakin gagah.

"In Tiong, apakah kau masih tidak hendak menyerah?"

Tanya Low Beng sambil tertawa.

"Jikalau sekarang kau letakkan golokmu dan mengaku kalah, kita dapat memberi ampun daripada kematian..."

In Tiong mendongkol tak terkira, ia kertek giginya, ia menyerang dengan sengit. Setelah beberapa bacokan, yang tidak memberi hasil, ia menjadi lemah pula, hatinya pun menjadi dingin.

"Walaupun aku mesti terbinasa, tidak nanti aku sudi menerima penghinaan,"

Ia berpikir. Ia sudah hendak sambarkan goloknya ke lehernya tetapi ia ingat sesuatu, hingga ia berpikir pula.

"Jikalau sekarang aku terbinasa, bukankah adik Tamtay ini akan terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat ini?"

Ia lantas melirik kepada Keng Beng, ia tampak nona itu tengah mengawasi kepadanya, ia lihat sinar mata orang yang mengandung kedukaan dan kekuatiran tercampur rasa syukur, pada mana pun berpeta anjuran dan kepercayaan, pengharapan besar.

Tiba-tiba semangatnya jadi terbangun pula.

"Mundur kamu!"

Sekonyong-konyong ia berteriak, sambil menyerang dengan tangan kirinya dan mengerahkan semua tenaganya.

Itulah serangan hebat dari Taylek Kimkong Tjioe yang dibarengi dengan seruan bagaikan guntur menggelegar.

Tidak kurang hebatnya adalah suara yang menyusuli seruan itu.

Karena serangan dahsyat itu tepat mengenai tamengnya Low Liang, maka dia menjerit keras sekali!

Dia kaget terkena gempuran Taylek Kimkong Tjioe itu, hingga tamengnya terlepas dan mental, telapak tangannya dirasakan sakit dan mengeluarkan darah, sedang sebelah lengannya kehabisan tenaga, tak dapat digerakkan lagi!

Selain Low Liang, Low Beng juga kaget tidak terkira.

Inilah di luar dugaan mereka, sebab waktu itu, musuh sudah terdesak dan nampaknya kehabisan tenaga.

In Tiong di lain pihak dapat tambahan semangat, ia tidak berhenti sampai di situ, ia malah melanjutkan serangannya -sambil berseru pula, ia menyerang kembali sehebat tadi.

Kali ini tangannya yang liehay itu menyambar ke pinggang Low Beng.

Orang she Low ini cerdik dan licin, ia berkelahi dengan waspada, waktu serangan tiba, ia berkelit dengan cepat.

Ia memang gesit.

Akan tetapi In Tiong tidak mau kalah gesit, habis menggempur yang tidak mengenai sasarannya ia putar tangannya, kali ini dipakai menyambar pedang lawan!

Percuma saja Low Beng terkejut dan mencoba akan menyingkirkan pedangnya, senjata itu sudah lantas kena dirampas, akan di lain saat terdengar suara terpatah.

Karena dalam sengitnya, In Tiong tekuk pedang itu, hingga senjata orang itu jadi terkutung dua!

Kedua saudara Low itu terkesiap hatinya, bagaikan sudah berjanji, dengan serentak mereka lompat keluar rumah, untuk singkirkan diri.

Mereka insyaf, tanpa senjata, mereka tak dapat berkelahi terlebih lama pula.

Hanya, begitu lekas mereka berada di luar, tiba-tiba terdengar mereka tertawa besar.

In Tiong heran hingga ia berdiri melengak.

Di saat ia hendak lompat menyusul, ia dengar teriakan kaget dari Keng Beng.

"Celaka!"

Sebab seolah-olah rumah itu bergerak keras, terputar, sejenak saja, kedua anak muda itu terbenam dalam kegelapan, tubuh mereka pun turut terbalik.

Akhirnya terdengarlah suara sangat berisik.

Ternyatalah ruang itu telah dipasangi alat rahasia, dilapis di sebelah dalam dengan papan-papan tembaga, yang bergerak turun, maka di saat itu juga, In Tiong berdua Tamtay Keng Beng sudah menjadi orang-orang kurungan.

Dalam murkanya, In Tiong serang tembok tembaga yang mengurung mereka itu, ia telah gunakan tenaganya.

Kesudahannya, ia mesti tarik kembali tangannya yang dirasakan sakit bukan main, tangannya menjadi semper, sedang kurungannya tidak bergeming sedikit juga.

Dari sebelah luar lantas terdengar tertawa mengejek dari Low Beng dan Low Liang berdua!

"In Tiong, jangan kau umbar hawa amarahmu!"

Low Beng mengejek pula.

"Kau berdiam di dalam dengan tenang untuk beberapa hari! Harap saja kau suka memberi maaf kepada kami yang tidak dapat melayani kamu!..."

In Tiong mendongkol dengan tidak berdaya.

Terang sudah kedua saudara Low itu hendak mengurung mereka supaya mereka kelaparan selama beberapa hari.

Untuk kedua saudara Low, kebetulan saja mereka bertemu dengan In Tiong dan Keng Beng.

Mereka baharu buron dari kota raja, disebabkan mereka merasa panas, mereka kuatir nanti kena dibekuk karena aksi dari Ie Kokloo yang berbareng dengan mengangkat raja baru telah menangkapi konco-konconya si dorna kebiri Ong Tjin.

Mereka sering keluar masuk di gedung Ong Tjin, semua orang tahu mereka adalah kambratnya dorna kebiri itu, karenanya, mereka mendahului kabur.

Adalah maksud mereka untuk pulang dulu ke rumah mereka, untuk mencari suatu pahala untuk nanti dibawa kepada bangsa Watzu kepada siapa mereka hendak menakluk, maka datangnya In Tiong berdua adalah sebagai kurban-kurban yang mengantarkan diri...

Di dalam gelap itu, In Tiong meraba-raba.

"Aku di sini,"

Keng Beng perdengarkan suaranya. Ia menduga si anak muda mencari padanya. Dengan tindakan perlahan, In Tiong mendekati, tangannya masih meraba-raba.

"Aduh"

Tiba-tiba si nona menjerit. Karena si anak muda telah menyentuh lukanya.

"Maaf!"

In Tiong memohon. Lalu ia menambahkan.

"Nona Tamtay, tidak harus disayangi jikalau aku mesti mati di sini, hanya aku menyesal, aku telah membawa kau ke tempat celaka ini..."

Tadinya Keng Beng berniat menegur kesembronoan orang, akan tetapi mendengar suara orang yang halus, ia merasa tak enak sendirinya.

"Bukan kau, aku justeru yang bikin kau celaka!"

Katanya cepat.

"Sebenarnya, sendirian saja kau dapat menyingkir dari sini."

In Tiong tak tenang hatinya.

"Bagaimana dengan lukamu? "

Ia tanya.

"Sakitkah itu?..."

"Oleh karena kita akan mati, tak perlu aku pedulikan rasa sakit atau tidak,"

Jawab Keng Beng.

"Bukan begitu,"

Kata In Tiong.

"Tidak ingin aku melihat kau bersengsara..."

In Tiong berkata-kata tanpa melihat si nona, kecuali sinar matanya.

Keng Beng berdiam.

Semakin berkuranglah kesannya yang kurang baik terhadap si anak muda, tanpa merasa, hatinya tergerak oleh sikap orang yang halus dan memperhatikannya itu.

Di tempat gelap itu, ia masih tundukkan kepalanya.

"Coba kau buka bajumu,"

In Tiong minta.

"Hendak aku pakaikan obat pada lukamu itu."

Baharu sekarang si anak muda ingat akan luka orang itu. Sambil mengucap demikian, ia pun ulurkan tangannya perlahan-lahan. Ia menambahkan.

"Kau pegang tanganku ini, kau bawa ke tempat yang luka itu."

Keng Beng rasakan mukanya panas.

Tetapi mereka berada di tempat gelap, ia anggap tidak ada halangannya untuk membuka bajunya.

Ia pun memang seorang yang polos.

Maka ia tidak tolak tangan In Tiong.

Setelah membuka bajunya, ia bawa tangan sahabat itu pada lukanya.

Nona ini tidak punyakan cuma satu luka.

Luka yang pertama di bahu dan yang lainnya di punggung.

Kedua luka itu diobati In Tiong, siapa merasakan kulitnya yang halus.

Pemuda ini mendapat suatu perasaan aneh ketika tangannya menyentuh tubuh orang.

"Kau muda dan gagah, kau pun telah berkedudukan tinggi,"

Berkata si nona selagi orang mengobati dia.

"kalau sekarang kau terbinasa secara begini kecewa, apakah itu tidak harus disayangi?"

"Harta pusaka Thio Tan Hong, yang keselamatannya dibebankan kepadaku, hari ini mesti tiba di kota raja,"

Sahut In Tiong.

"Aku berbuat segala apa untuk negara, kalau untuk tugas sekecil ini aku mesti korbankan diriku, aku tidak menyesal."

Kembali tergerak hati si nona, sejenak itu, kembali berkurang pula kesannya yang kurang manis terhadap pemuda itu. Di dalam hati kecilnya, ia berkata.

"Anak ini agak kukuh, pandangannya pun agak cupat, akan tetapi dia mencintai negara dan polos, ia mempunyai bahagian-bahagian sifatnya yang baik..."

Sementara itu, tanpa merasa, mereka sama-sama melewatkan sang waktu di dalam ruang yang gelap itu, entah sudah berapa lama, tatkala mereka dengar berisiknya suara kuda di arah luar.

Terang sudah yang datang bukannya cuma satu penunggang.

"Inilah hebat,"

Berkata In Tiong.

"Sekarang ini kota Pakkhia tengah dikurung musuh, yang datang ini mestinya tentera Watzu, ada kemungkinan besar kita bakal ditawan mereka... Apabila itu sampai terjadi, aku minta kau suka maafkan aku, tidak sanggup aku menolong kau terlebih lama pula, hendak aku bunuh diri, sebab tak sudi aku tertawan dan terhina!"

Mendengar itu, sebaliknya dari kaget dan berkuatir atau berduka, Nona Tamtay justeru tertawa.

"Jikalau kau terbinasa, apakah kau kira aku akan hidup sendirian saja?"

Demikian katanya.

"Jikalau aku terus tinggal hidup, aku mensia-siakan pengharapan Thio Tan Hong!"

In Tiong berpikir apabila ia dengar perkataan orang itu. Pun agak luar biasa lagu suaranya si nona selagi dia menyebut nama Tan Hong. Itulah lagu suara tak sewajarnya.

"Kiranya dia lebih menghargai Tan Hong daripada aku,"

Pikirnya pula.

Suara kuda di luar terdengar datang semakin dekat, akhirnya tiba di muka rumah dan lalu berhenti.

Menyusul itu terdengar tindakan kaki orang yang mendatangi.

Tanpa merasa, In Tiong pegang tangannya si nona dan menyekalnya dengan keras, yang mana dibalas oleh si nona.

Keduanya membungkam.

Segera juga terdengar suara pertanyaan dari luar, suara yang kaku.

"Siapa yang terkurung di dalam kamar rahasia ini?"

Terkejut In Tiong, akan kenali suara itu. Ia segera berbisik di kuping si nona.

"Dialah Tantai Mie Ming, pahlawan Watzu!..."

"Ya, aku pun kenali suaranya itu,"

Jawab Keng Beng.

"Dialah kakakku sepupu. Pada bulan lima yang baharu lalu dia pernah datang secara diam-diam ke Souwtjioe, untuk beberapa hari dia tinggal bersama kita di Tongteng Santjhoeng."

In Tiong heran dan beragu-ragu. Ia memang belum ketahui halnya keluarga Tamtay ini. Maka ia berpikir dalam hatinya.

"Tantai Mie Ming gagah perkasa, jikalau aku tertawan dia, sudah pasti aku tak akan dapat kesempatan untuk membunuh diri..."

"Kau jangan bersuara,"

Keng Beng kata dengan perlahan. Dia rupanya menyangka si anak muda akan mengucapkan sesuatu.

"Hari ini kita tidak akan nampak bahaya. Coba kau dengar apakah katanya kakakku itu terhadap mereka?"

Mereka dengar suaranya Low Beng.

"Harap Tjiangkoen ketahui, orang-orang yang terkurung di dalam sini bukannya orang-orang biasa saja..."

"Orang-orang macam apakah mereka itu?"

Mie Ming tanya.

"Pasti Tjiangkoen akan jadi girang sekali apabila aku mengatakannya, kata pula orang she Low itu.

"Yang satu adalah In Tiong, Boetjonggoan baru. Dia pernah jadi tongnia dari Gielim koen. Ketika dulu Tjiangkoen datang ke kota raja, pasti Tjiangkoen pernah bertemu dengannya. Di dalam kalangan Gielim koen, dia sekarang ini cuma berada di bawahan Thio Hong Hoe. Bukankah dia seorang yang penting? Yang lainnya adalah satu nona, katanya ia ada punggawa suka rela yang datang dari Kangsouw. Tjiangkoen tahu, ia adalah satu nona yang cantik sekali! Sebenarnya aku telah merencanakan untuk mengurung mereka selama beberapa hari, kemudian akan aku bekuk dia, si nona sendiri hendak aku serahkan kepada Tjiangkoen, maka kebetulan sekali, sekarang Tjiangkoen telah tiba. Silakan Tjiangkoen ambil putusan sendiri mengenai mereka itu."

"Satu nona yang datang dari Kangsouw?"

Tantai Mie Ming tegaskan.

"Tahukah kau she-nya?"

"Belum sempat kami periksa dia, Tjiangkoen,"

Jawab Low Beng.

"Sekarang Tjiangkoen ada di sini, Tjiangkoen saja yang periksa dia itu. Umpama kata Tjiangkoen penuju nona itu, tinggallah dia di sini. Mengenai ini, tidak nanti aku buka rahasia terhadap Thaysoe..."

Dengan Thaysoe itu, Low Beng maksudkan Yasian.

Berani Low Beng dan Low Liang, mereka hendak persembahkan nona itu kepada kakaknya si nona sendiri!

Mendengar itu, Tamtay Keng Beng mendongkol berbareng merasa lucu.

Segera terdengar suaranya Tantai Mie Ming.

"Baiklah, sekarang kamu keluarkan mereka, hendak aku melihatnya!"

Boleh dibilang baharu panglima itu mengucapkan perkataannya, atau mendadak In Tiong dan Keng Beng dengar satu suara nyaring yang disusul dengan berputarnya ruangan dengan keras, lalu daun jendela terbuka.

Maka sekejap saja mereka itu melihat pula sinar terang dari langit.

Dengan lekas pintu pun terpentang.

Hingga di muka pintu terlihat tubuh Tantai Mie Ming yang besar dan tegap, wajahnya dingin dan bengis.

"Adakah ini mereka itu?"

Dia menegaskan.

"Ya Tjiangkoen, benar mereka,"

Jawab Low Beng. Ia terkejut ketika ia tampak wajah panglima itu, hingga ia menambahkan.

"Eh eh, Tjiangkoen, apakah yang kurang beres?..."

Pertanyaan itu belum habis diucapkan ketika Tantai Mie Ming, dengan kesehatannya yang luar biasa, sudah menyambar Low Beng dan Low Liang dengan kedua tangannya dan sebelum orang tahu apa-apa, kepala mereka telah diadukan satu dengan lain, hingga sambil keluarkan jeritan tertahan, tubuh mereka rubuh dengan bermandikan darah, sebab kepala mereka pecah, polonya berhamburan!

Tamtay Keng Beng girang bukan kepalang, hingga ia lompat akan tubruk kakaknya itu sambil berseru.

"Kokol"

"Bukankah kau terluka panah?"

Kakak itu berkata.

"Mari perlihatkan lukamu itu! -Ah, tidak apa-apa!"

Ia segera menambahkan.

"Kali ini kau sangat menderita. Kau kurang pengalaman, kau telah terjebak dua saudara Low itu. Pasti kau kaget, bukan? Tapi anak muda menderita, ia dapat pengalaman, inilah baik juga sebagai latihan..."

In Tiong berdiri melengak di samping. Ia awasi Keng Beng dan Mie Ming bergantian,tak dapat ia berkata suatu apa. Ia masih berdiam saja sampai Mie Ming berpaling kepadanya dan tertawa.

"Saudara In Tiong, sungguh kebetulan!"

Demikian katanya.

"Kita rupanya berjodoh maka di sini kita bertemu pula! Hanya kali ini kau tak usah mengadu jiwa lagi denganku..."

Ia tertawa pula. Terus ia menanya lagi.

"Saudara, kau telah datang ke Souwtjioe, apakah kau telah ketemu Thio Tan Hong?"

"Ya, aku bertemu dengannya,"

Sahut In Tiong, meski sebenarnya ia heran.

"Apakah permusuhan di antara kamu kedua keluarga telah dapat dihapuskan?"

Tantai Mie Ming tanya. Anak muda itu berdiam, ia tidak menjawab. Keng Beng sebaliknya, menggelengkan kepalanya terhadap kakaknya. Mie Ming berkata pula.

"Ini adalah urusan kamu berdua keluarga, aku adalah orang luar, tak dapat aku mencampuri urusan itu, akan tetapi ingin aku memesan kau, bila kau nanti bertemu pula dengan Tan Hong, tolong kau sampaikan padanya agar ia melegakan hatinya, karena pengurungan atas kota Pakkhia sudah buyar dan angkatan perang Watzu dalam tempo beberapa hari lagi mungkin akan sudah berangkat kembali ke negerinya."

Mendengar itu, girang Tamtay Keng Beng.

"Ah, benarkah itu?"

Dia tanya.

"Koko, adakah itu Yasian yang mengatakannya padamu?"

"Tidak nanti dia dapat memberitahukannya sendiri hal itu kepadaku,"

Jawab sang kakak.

"Hanya aku melihat gelagat, tak dapat tidak, mesti dia bawa kembali pasukan perangnya itu. Sebenarnya aku tengah menerima titah dari Yasian itu, ialah dia yang menugaskan aku menjaga kota Ganboenkwan... Yasian kuatir tentera suka rela pihak Beng nanti memutuskan perjalanannya kembali, dia menitahkannya, sambil menjaga kota Ganboenkwan itu, aku harus memecah pasukanku untuk memapak dia. Sementara itu diam-diam aku telah kisiki Kimtoo Tjeetjoe supaya, di harian aku berangkat, dia datang menyerbu kota Ganboenkwan itu. Kemarin dahulu aku terima warta, bahwa tentera Watzu yang menjaga kota Ganboenkwan itu sudah bentrok dengan tentera suka rela di luar tembok kota, kesudahannya tentera itu telah dirusak separuhnya oleh Kimtoo Tjeetjoe. Yasian tidak menyangka tindak tandukku ini, dia hanya menduga, karena kepergianku tenaga tenteranya di Ganboenkwan menjadi kurang banyak, karena mana, tenteranya itu jadi kalah perang. Kekalahan itu membuatnya angkatan perang Watzu goncang. Sudah begitu, keadaan di dalam negeri pun nampaknya tak tenang. Aku lihat, tidak sampai setengah bulan, dia akan sudah mundur sendirinya."

In Tiong dengar perkataan orang itu, dia berdiri menjublak. Sungguh ia tidak pernah sangka sikapnya Tantai Mie Ming ini, yang secara diam-diam sudah membantui pihak Beng.

"Bagaimana sekarang dengan tjoekong kita?"

Keng Beng tanya pula kakaknya. Dengan "tjoekong"

Yaitu "junjungan,"

Nona Tamtay maksudkan Thio Tjong Tjioe, ayahnya Tan Hong.

In Tiong ketahui ini, ia menjadi bertambah heran, hingga jantungnya memukul.

Nyata mereka ini sudah bicarakan musuh turunannya itu.

Ia menjadi bingung.

Tantai Mie Ming menyeringai sebelum ia menjawab adiknya itu.

"Selama ini pikiran tjoekong kita itu kusut sekali,"

Demikian penyahutannya.

"Tak hentinya ia memikirkan soal merampas kembali kerajaan Beng, untuk itu ia menghendaki bangsa Watzu menduduki Tionggoan. Hanya ia bersangsi akan akibatnya nanti. Pikirannya itu tengah bertentangan sendiri. Tidak berhasil aku membujuk dia untuk bersabar dan menetapkan hati."

Habis berkata, Mie Ming lihat langit.

"Aku dititahkan Yasian untuk mengajak pulang Low Beng dan Low Liang,"

Ia berkata pula.

"sekarang tidak ada jalan lain, aku harus memberi laporan bahwa mereka telah terbinasa di tangan musuh. Sekarang hari sudah malam, aku mesti pergi."

Ia pamitan dari adiknya dan In Tiong, terus ia bertindak keluar, akan mengajak orang-orangnya berlalu dari rumah kedua saudara Low itu.

Selekasnya kakaknya dan barisannya pergi, Tamtay Keng Beng ajak In Tiong berlalu juga.

Mereka menunggang kuda mereka, untuk kabur ke arah Pakkhia.

Benar-benar kota Pakkhia sudah terlepas dari kurungan, di sekitar kota sampai beberapa puluh lie jauhnya, tidak terdapat seorang musuh jua.

Mereka baharu melalui tiga puluh lie, lantas mereka bertemu dengan barisan Beng, yang lantas mengajak mereka masuk ke dalam kota, untuk segera bertemu dengan Tan Hong.

Bukan main girangnya In Tiong.

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan Khu Lung

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger