Eps 8 Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Dua Saudara Seperguruan - Liang Ie Shen.
Pembesar itu tidak bilang apa-apa, tetapi ia minta Ek Hian cari dua hartawan atau saudagar, yang suka bcrikan tanggungan untuk dirinya. Dengan roman likat, dia kata.
"Kau ada satn guru silat tetua, kau juga ada penduduk lama, yang kenamaan baik, tak bisa kita tidak memandang padarnu, tetapi kami lagi menjalankan titah. terpaksa kami berlindak begini. Harap kau suka memberi maaf pada kami."
Pasti sekali Ek Hian tidak ketahui sebabnya kenapa orang tanyai Tjoe Hong Teng padanya.
Inilah karcna tindakannya kedua Tjongtok dari Titlce dan Hoolam bcrhubung dengan perampasan orang-orang tawanan -antaranya Teng Hiauw -di Heksek-kong, di mana sejumlah serdadu dari Anpeng kena ditawan Kaum Giehoo-toan.
Sebab di Kota Anpeng ada perbatasan Titlee dan Hoolam, kepala pemenntah kedua propinsi itu jadi sibuk, titah dikeluarkan untuk cari Tjoe Hong Teng.
Di Pooteng ada beberapa orang polisi yang usianya lanjut, ingat Kiang Ek Hian ada punya murid she Tjoe, dari itu, Ek Hian jadi dapat kunjungan dan pertanyaan.
Syukur ia ada penduduk kenamaan, ia pun bersikap tenang, orang tidak curigai ia.
Hanya yang sulit ia dimestikan cari dua penanggungjawab.
Sebagai guru silat, sahabatnya adalah guru-guru silat juga, sekarang ia diminta cari hartawan atau saudagar, sukar untuk ia mendapatkannya.
Ada beberapa, yang ia kenal, tapi mereka i tidak berani bertanggung jawab, sebab urusan katanya ada berhubung sama Gerakan Giehoo-toan.
Di itu zaman, orang jerih terhadap undangundang bengis dari pemenntah Boan terhadap pengkhianat atau pemberontak.
Dua hari sudah Kiang Ek Hian berputaran mencari penanggung, ia tidak berhasil, karena temponya tinggal lagi satu hari, sore itu ia sibuk bukan main.
Terus sampai malam, ia tidak lantas dapat tidur.
Maka ketika ada suara berkeresek di luar jendela, iasegera dapat dengar itu.
"Sahabat, siapa itu di luar?"
Ia menegur seraya berbangkit, mukanya menghadapt jendeia.
"Marilah masuk dan bicara!"
"Baiklah,"
Sahut satu suara dalam, menyusul mana, jendela terpen tang dan satu orang lompat masuk. Tuan rumah tercengang apabila ia sudah lihat tctamunya itu, ialah Teng Kiam Beng.
"Tengah malam kau datang kemari, kau ada punya pengajaran apa untuk aku?"
Ia tanya.
"Tolong kau jelaskan!"
Ia duga orang jengkel terhadapnya dan sekarang hendak cari gara-gara, lantas saja ia bersiap untuk sesuatu penyerangan. Teng Kiam Beng tertawa, ia hampirkan kursi dan duduk dengan bebas.
"Orang tua, dengan sebenarnya aku tidak puas terhadap caramu melayani aku kemarin ini,"
Kata tetamu tidak diundang ini.
"akan tetapi sekarang aku datang tan pa maksud jahat. Kau pernah usir aku, supaya aku tak datang pula ke rumahmu ini, maka kalau sekarang aku toh datang tanpa undangan dari kau, inilah sebab aku tidak sudi lihat orang scsama kaum mendapat celaka!...."
Ek Hian berlaku tenang, walaupun ia heran dan hatinya goncang. Dengan sabar ia ambil kursinya.
"Marilah kalau kau ada pembicaraan,"
Kata ia.
"Selama dua hari ini aku memang lagi alami kesulitan, akan tetapi meskipun dcmikian, aku masih tidak niat mmta bantuan kau, Lauwhia...."
Kiam Beng kerutkan alisnya, tandanya ia masygul.
"Dengan scbenamyaaku memang tidak punya tenaga untuk bantu kau,"
Kata jago Thaykek-pay mi.
"tetapi aku toh datang, dengan satu maksud lain, pemerintah Boan telah dapat tahu, Tjoe Hong Teng ada muridmu, dia bakal kirim orang liehay untuk tawan kau, maka, kau waspadalah. Aku ada seorang dari Rimba Persilatan, maka itu tak senang aku lihat seorang Rimba Persilatan, dibekuk oleh pemerintah Boan! Tentang perselisihan paham di antara kita, tinggu sajalah sampai nanti, sesudah kau lewati bencana mi, umpama kau hendak memberikan pelajaran padaku, aku bersedia untuk menerimanya."
Matanya Ek Hian bersinar. Mau atau tidak, ia heran.
"Bagaimana kau ketahui iiu?"
Tanya ia. Kiam Beng berbangkit, ia tertawa dingin.
"Kau percaya atau tidak, terserah padamu,"
Ia kata.
"Tak usah kau tanya melit-melit padaku! Aku cuma ingin jangan kau pandang orang terlalu enteng. Aku telah bicara, sekarang tinggal kau pikir. Kau mesti bertindak lekas!"
Kiam Beng tompat keluar dari jendela, akan lenyapkan dirinya di tempat gelap.
Ek Hian antar tetamunya sampai di pekarangan, di situ ia lamas berdiri bengong.
Tak dapat ia sangsikan orang she Teng itu.
Tanpa merasa.
matanya mengembeng air.
la, satu jago tua....
Ia ingin asingi din.
hidup sunyi dan tentaram, tetapi suasana tidak mengizinkan, ia terbawa juga arus.
ia pun mcnycsal keliru anggap terhadap Kiam Beng, yang ia tadinya percaya sudah jadi budak pembesar negen, tidak tahunya, dia tetap masih seorang Kangouw yang, terhormat.
Ia hanya masih tidak mengerti, kenapa Kiam Beng bersahabat kekal sama Keiuarga Soh, seorang Boan yang telah ternyata terang ada kejam.
Ia tidak tahu, Sian le ada sangat licin dan Kiam Beng telah kenadikelabui.
Tapi justru Kiam Beng bersahabat sama Sian le, ia jadi tahu jago she Kiang itu ada terancam bahaya.
Duduknya hal ada begini.
Itu hari Sian le jamu Kiam Beng, selagi bersantap, ia tanya ini jago silat tentang hubungan di antara Kiang Ek Hian dan Tjoe Hong, Teng Kiam Beng tahu tapi ia bcrpura-pura tidak tahu.
Sebenarnya satu putera dari Sian le bekerja dalam Kantor Tjongtok dari Titlee, dia datang untuk minta bantuannya Kiam Bcng, yang dia tahu tidak akur dengan Kiang Ek Hian.
Kiam Bcng menampik untuk mcmbcrikan bantuannya, atas mana, Sian ie dan anaknya tidak mendesak.
Karena ini, perjamuan itu ditutup dengan lenyapnya kegembiraan, Kiam Beng pulang dengan pikiran ruwet tapi malam itu ia toh pergi pada Ek Hian, untuk berikan kisikan.
Sian le sendiri tidak puas, tapi ia tidak berani desak Kiam Bcng, ia kuatir jago silat ini nanti gusar, hingga selanjutnya ia tidak bisa gunai lagi tenaganya.
Lama Ek Hian masih berdiri diam di dalam pekarangan, akhirnya ia ambil putusan yang getas.
Kctika itu sudah jauh malam, ia tak dapat bcrlambat lagi.
Scgcra ia masuk ke dalam, akan kasih bangun pada Hong Keng.
"Lekas benahkan pauwhok, sekarang juga kita berangkati"
Kata ia pada cucunya itu. Begini malam, Engkong?"
Tanya cucu.
"Ke mana kita pergi?"
Iago tua itu menghela napas.
"Aku ingin kau hidup tentaram, sekarang aku ton mesti bikin kau jalanan jauh,"
Jawab ia.
"Mari kita pergi.... Ke mana? Aku masih belum tahu.... Mari kita jalan saja...."
Ia tuturkan adanya ancaman bahaya.
"Kenapa tidak pada Tjoe Soesiok?"
Kata Hong Keng.
"Di sana pun ada banyak orang dan ramai!"
Engkong itu manggut. Tapi ia segera goyang kepala "Nanti saja di tengah jalan, kita bicara pula"
Kata ia.
Wajahnya muram sekali.
Hong Keng tidak tanya melit lagi, ia lantas bcbcnah dan dandan, habis itu, ia ikut engkongnya keluar dari rumah.
Mereka ambil jalan dari pintu bclakang, di situ ada sebuah kali, mereka jalan di sepanjang tepi.
Itulah tcmpat di mana dulu Tjoe Hong Teng menggoda Teng Hiauw.
"Di bclakang hari masih ada ketika untuk kau kembali ke rumah kita ini...."
Kata Ek Hian sembari jalan.
"Aku sendiri, tidak."
Orang tua ini berati rumahnya itu.
Hong Keng menoleh pada rumahnya, hingga ia teringat pada saat Hong Teng permainkan Teng Hiauw, hingga ia pun jadi bayangi romannya si anak muda yang gagah dan cakap itu.
Karena ini, ia jalan sedikit ayal.
"Hong Keng, kau awasi apa?"
Tanya sang engkong.
"Mustahil ada orang sembunyi di situ!"
Ek Hian curiga pada musuh. Ia belum dapat jawaban dari cucunya, lantas ia lihat dua bayangan berkelebat, keluar dari tempat gelap. la segera dengar tertawa cekikikan, yang disusul sama kata-kata.
"Kiang Loosianseng, sekarang sudah begini malam, ke mana kau hendak pergi bersama Nona Kiang ini?"
Ek Hian lantas lihat dua orang melintang di depannya, mereka mencekal golok dan pedang masing-masing.
Ketika ia mengawasi, ia seperti kenali satu di antaranya.
Ia hendak mcndckat i, ketika Hong Keng berseru.
"Kiranya kau, jahanam!"
Seruan si nona ini disusul sama gerakan menyerang. Kiang Ek Hian pun segera kenali orang itu, ialah Kimtoo Hek Tjit, pahlawan kesatu dari Keluarga Soh.
"Hong Keng, jangan ladeni dia, mari kita ambil jalan kita,"
Ia cegah cucunya^ Seruan engkong ini terlambat, swrangannya sang cucu tak dapat dicegah lagi.
Hong Keng memang benci sekali pahlawan itu, yang baru-baru mi sudah kcpung dia.
Ia lompat I uar biasa pesat, segera ia tabas lengan kiri orang.
Hek Tjit terkejut.
Serangan si nona ini tidak ia sangka.
Dalam gugup ia menangkis.
Tapi Hong Keng tidak menyerang kepalang tanggung, ia menyusuli dengan lain scrangan, satu tikaman "Pekhong koandjit"
Atau "Bianglala putih menggalang langit".
Tidak tempo lagi, pahlawan Sian le rubuh dengan mandi darah, jiwanya melayang.
Kawannya Hek Tjit kaget, tidak berlambat lagi, ia memutar tubuh untuk lari.
Tapi sambil lari ia kasih dengar suara panjang, seperti suatu pertanyaan Hong Keng sedang sengit, ia tidak berhenti sampai di situ.
"Awas!"
Dia berseru, seraya tangannya diayun, atas mana tiga buah Thielian-tjie segera menyamber sambil perdengarkan suara mengaung, hingga dalam tempo sedetik saja, kawannya Hek Tjit itu sempoyongan, terus rubuh di atas pasir di tepi kali itu.
Hek Tjit dan kawannya datang untuk pasang mata terhadap Kiang Ek Hian, guna jaga Tcng Kiam Beng, yang dikuatirkan nanti sekongkol sama Ek Hian.
Biarbagaimana, Sian le curiga terhadap Kiam Beng.
Hek Tjit datang bersama dua kawan lain, yang baharu datang dari Kota Raja, tapi dua kawan ini sengaja jalan misah, sebab sudah diatur agar Hek Tjit tak usah bcrtcmu muka sama Kiam Beng yang dikenal.
Lacur bagi Hek Tjit, dia pergoki Ek Hian, hingga ia jadi korban pedangnya Nona Kiang yang benci dia.
"Ah, anak sembrono,"
Ek Hian sesalkan cucunya "Buat apa layani mereka? Tidak keruan-keruan, kita jadi timbulkan perkara darah...."
"Memang Engkong terlalu murah hati,"
Kata sang cucu.
"Engkong bisa ampuni orang, tapi orang lain belum tentu...."
Suaranya si nona belum berhenti atau ia dengar suara panjang seperti suaranya Hck Tjit tadi, lalu di antara rcmbulan, kclihatan bayangan orang bcrlari-iari mcndatangi, sebcntar saja, bayangan iiu sudah sampai di dcpannya mi cngkong dan cucu.
Nyata mcrcka ada dua pahlawan yang dikinm dari Kota Raja, untuk mcnawan jago tua she Kiang itu.
Yang satu mencekal golok Hoathong-too dcngan scbuah kantong piauw di pinggang.
maianya bersinar, yang satu pula.
bermata besar dan beralis gomplok, tangannya mencekal ruyung Tjengtong-gan.
"Sahabat, kau dalam perkara!"
Tiba-tiba dpa orang itu berkata.
"Sahabat. tolong kau buka jalan untuk aku si orang tua lewat,"
Kata Ek Hian dengan sabar.
"Aku bukannya tidak niat urns perkara ini tetapi apa mau, golok di tanganku tidak hendak iringi aku. Umpama kata kau hendak berkeras, lihat di sana kawanmu itu!"
La tunjuk mayatnya Hek Tjit. Dua orang itu jadi gusar. ^JPcmberontak!"
Mcrcka bentak.
"Kau berani lawan pemerintah!"
Orang yang bersenjata goiok lantas tcrjang Ek Hian, dan kawannya serang Hong Keng.
Dengan golok di tangan, Ketua Bweehoa-koen berdiri secara agung, kutnis-jenggotnya yang panjang memain di sampokan angin, begitu lekas serangan sampai, ia egos tubuh ke samping, goloknya dipakai menangkis.
Juara nyaring adalah susulannya tangkisan itu, lelatu api pun bersimbahan.
Si penyerang terkejut, goloknya terpental, telapakan tangannya sakit.
Dengan terpaksa ia lompat mundur.
Ek Hian tidak mau berlaku telengas, ia tidak menyerang lebih jauh.
"Keng-djie, mari lekas pergi!"
Ia teriaki cucunya.
Ketika ia berpaling pada Hong Keng, justru terdengar suara senjata beradu dengan nyaring.
Nyatalah Hong Keng dapati tandingannya.
Ada maksudnya ini cngkong, akan bantu sang cucu, tapi baharu ia maju, ia dengar seruan.
"Lihat piauw!"
Lahxj tiga batang piauw dari pecundangnya menyambar di tiga jurusan, kiri, kanan.
dan tengah.
Sambil berseru juga, Ek Hian tangkis semua serangan itu, hingga tiga-tiga batang piauw terpental, dua diantaranya jatuh ke kali, hingga menerbitkan suara di air.
Ia jadi gusar, maka menerusi gerakannya, ia lompat pada musuh tukang bokong itu, siapa jadi tercengang karena mclihat kegesitan dan liehaynya orang itu.
"Kau sambut golokku!"
Seru jago Bweehoa-koen, selagi orang hendak jumput pula piauw di kantongnya.
Dalam keadaan tanggung sepcrti itu, pahlawan Boan itu cekal goloknya dengan tangan kiri, untuk menangkis, ia tidak sempat geser golok ke tangan kanan, maka ia terpaksa menangkis dengan tangan kiri itu.
Di pihak lain, turunnya golok dengan tipu bacokan "Tay-san apteng".
ada hebat sekali, maka ketika dua senjata beradu, golok pahlawan itu terkutung dua.
Goloknya Ek Hian tidak dapat ditahan, golok itu terus turun ke arah pundak.
"Aduh!"
Menjerit itu pahlawan, pundak siapa terbacok hebat sekali, dan sebelah tangannya terpisah dari tubuhnya, rubuh di tanah, jiwanya melayang dengan lantas.
Sudah terlanjur, Ek Hian jadi berlaku bengis.
Setelah itu, ia segera menoleh pada cucunya.
Terus ia mengawasi.
Karena Hong Keng lagi bcrtempur dengan seru dengan lawan yang bersenjata ruyung Tjengtong-gan itu.
Biar bagaimana, ia malu untuk kepung musuh yang sendirian itu.
Musuh mainkan sepasang genggamannya dengan baik, senjata itu berat, dan itu temyata tenaga orang itu ada besar, Hong Keng kalah tenaga tapi ia menang gesit, ia pun ccrdik untuk singkirkan pedangnya dari senjata musuh karena cara berkclahi ini, pertempuran mereka jadi meminta tempo.
"Keng-djie, buat apa layani ia lama-lama?"
Akhirnya sang engkong berseru.
"Lawan dia dengan ilmu tangan kosong melawan golok, terjang bahaya sambil majukan pedangmu, apa itu tidak akan lekas bereskan dia?"
Ek Hian bisa melihat tegas, maka ia tahu kelemahannya orang itu.
Hong Keng sadar kapan ia dengar kisikan engkongnyaitu, ia lantas ubah caranya bersitat.
Dengan berani la menyerang, tangan kirrnya, yang kosong, dipakai menyerang berulangulang.
Dengan gesit, ia kelit atau mendesak.
Tangan kanannya, dengan pedang Liongboen-kiam, saban-saban mencan jalan.
Dengan caranya ini, ia bikin lawan jadi repot dan terdesak.
terutama karena orang bcrsenjatakan gegaman yang berat, maka dengan sengit, musuh itu gunai ketika, akan menyerang dengan berbareng dengan sepasang senjatanya.
Tangan kanan menyabet ke arah pinggang, tangan kiri menyerang dari atas ke bawah, kepada batok kepala.
Nona Kiang tertawa dingin.
Dengan mencelat mundur, ia bebaskan din dari dua-dua ancaman, habis itu, dengan sebat ia maju pula, untuk merangsek.
"buat terus tabas lengan kiri dari musuh. Pahlawan Boan itu berseru bahna kaget, lekas-lekas ia putar keluar ruyung Tjengtong-gannya, untuk kelit, tapi selagi ia menolongi diri, tangan kiri si nona mengetok tangan kanannya, begitu telak, hingga senjatanya iantas jatuh dengan menerbitkan suara nyaring. la kaget dan kesakitan, segera ia loncat mundur, untuk singkirkan diri. Tapi Hong Keng tidak mau bekerja kepalang tanggung, sambil berlompat, ia menyusul, melewati kepala orang, hingga di lain saat, ia telah beradadi dcpan orang itu. Si pahlawan dengar angin nienyambar di belakangnya, ia duga si nona kejar ia, saking jerih, ia tidak menoleh, ia lari terus. Ia terkejut, ketika tahu-tahu si nona sudah berada di depannya dan pedangnya nona itu menikam ia.
"Lihat pedang!"
Nona itu berseru.
Tidak ada tempo untuk si pahlawan angkat kcpala, atau pcdang sudah menyamber tenggorokannya, dari itu, dengan satu jcritan tcrtahan, ia rubuh, j iwanya melayang.
Hong Keng susut pedangnya, untuk terus dimasuki ke dalam kerangkanya "Engkong, manis sekali tipumu ini,"
Kata ia, yang merasa sangat puas. Kiang Ek Hian unit kumisnya, ia bersenyum. Ia pun puas. Tapi iamasih hendak kasih keterangan pada cucunya itu ketika mendadak ia menoleh, agaknya ia heran.
"Eh, siapa lagi itu yang liehay?"
Kata ia, suaranya dingin. Hong Keng pun berpaling dengan segera Dari samping mereka, dari gombolan, keluar satu orang.
"Inilah menyenangi, tapi empat jiwa telah melayang!"
Kata orang itu sambil tertawa. Ek Hian kenali Teng Kiam Beng, hatinya jadi lega. Tapi ia mengawasi lagi dengan siap sedia.
"Ada apa lagi, Teng Toako?"
Ia melihat orang nampaknya masih sangsikan dia, Kiam Beng tertawa pula.
"Aku tidak datang untuk menjaili kau, Kiang Looenghiong,"
Kata ia.
"Turunkan golokmu. Aku maiah hendak mohon pertolongan kau."
Sekeluarnya dari rumah Ek Hianjj Kiam Beng mau pulang, tapi segera ia lihat beberapabayangan mendatangr, iajadi curiga, lantas ia umpetkan diri seraya pasang mata.
Hatinya berkuatir melihat orang menuju kc rumah jago Bwee Hoan Koen, maka ia menguntit.
Karena ia terus sembunyikan diri, tidak heran Ek Hian dan cucunya, yang asyik layani musuh, tidak lihat padanya, sampai ia munculkan diri.
Selama itu, ia telah saksikan kedua pertempuran itu.
"Aku telah kuntit mereka ini,"
Kiam Beng cerita, sambil tertawa.
"Kepandaian mereka tidak berarti, mereka tidak tahu aku membayangi mereka. Terang mereka datang untuk antari jiwa saja. Kau orang pun bertangan besi!"
Melihat sikap orang dan mendengar omongan itu, lantas hi lang kecurigaan Ek Hian, ma I ah pandangannya terhadap Ketua Thaykek-pay itu pun turut berubah.
Ia tidak sangka, Kiam Beng sebenarnya tetap masih seorang Kangouw asli, sedang orang umumnya pandang rendah padanya karena pergaulannya dengan Soh Sian Ie.
Maka itu, ia lantas haturkan terima kasih.
Kemudian ia tanya, dalam hal apa ia bisa berbuat jasa terhadap jago pooteng ini.
"Itulah urusannya anakku,"
Sahut Kiam Beng dengan roman jengah.
"Usiaku sudah lanjut, anakku itu adalah anak satusatunya, tetapi dia telah minggat, aku jadi kesepian. Tak malu aku menerangkan kepada kau, Lootjianpwee, selama ini, aku sampai tak bcrnafsu makan. Dengan lancang aku telah kunjungi kau, aku membuat kau gusar, dalam hal itu, harap kau maafkan aku. Apa yang aku ingln minta adalah, dengan perjalanan Lootjianpwee, toiong kau dengar-dengar tentang anakku itu. Tidak nanti aku lupakan kebaikan kau ini umpama aku bisa dengar kabar anakku dari kau."
Kiang Ek Hian terharu.
Ia sangat sayangi cucunya, tidak heran kalau Kiam Beng tidak bisa lupakan putcranya.
Tanpa merasa, matanya menjadi merah sendinnya.
Ia lantas saja jabat tangannya jago Thaykek-pay itu.
"Saudara Teng, pasti aku akan dengar-dengar perihal puteramu itu!"
Ia berikan janjinya.
"Aku sangat berterima kasih untuk pertolongan kau ini!"
Kiam Beng pun cekal keras tangan orang -suatu tanda dari persahabatan.
Tapi kedua-duanya ada kurang gembira, sebab yang satu memikir anaknya, yang lain mesti tinggalkan rumahnya tanpa tujuan, dengan mesti iringi satu cucu perempuan.
Setelah itu, kedua orang itu berpisahan.
Hong Keng belum insyafi sikap engkongnya.
"Engkong, apa benar-benar kau hendak cari Teng Hiauw?"
Ia tanya.
"Umpama kau dapat temukan Teng Hiauw, jangan kau kasih dia pulang ke rumahnya. Ayahnya itu bo-tjeng-iie, tak tepat perbuatannya! Kenapa dia hendak paksa putcranya menikah sama gadisnya satu hartawan?"
Tanpa ia sadar, Nona Kiang tak senang Teng Hiauw dipaksa menikah.
Di lain pihak, ia ingin pemuda itu bisa terbang merdeka bagaikan burung, untuk memasuki Giehootoan.
Sang engkong awasi cucunya dengan tajam.
"Anak yang baik,"
Katanya dengan perlahan.
"tunggulah nanti, sesudah kau punyakan anak lelaki atau perempuan, baharu kau insyaf bagaimana sayangnya satu ayah atau ibu terhadap anaknya."
Wajahnya si nona menjadi merah. Tapi engkong itu lantas tertawa.
"Anak yang baik, kau jangan kuatir!"
Berkata ia.
"Tidak nanti aku bersikap sebagai ayahnya Teng Hiauw itu, yang paksa puteranya menikah dengan seorang perempuan yang tidak dikcnal! Jikalau kau pilih cucu-mantu. aku nanti pilih yang aku penuju dan kau pun setujui.... Kembali mukanya si nona bersemu merah.
"Ah, Engkong!"
Memprotes dia. Tidak keruan-keruan, kau godai aku...."
Engkong itu tertawa.
"Tapi aku omong dan hal yang benar, Anak,"
Katanya. Sclama itu. mcrcka sudah bcrjalan, terus. hingga mereka berada di luar kota Pooteng. Hong Keng ulangi usulnya untuk can Tjoe Soesiok. Orang tua itu berpikir, ia menghela napas.
"Sebenarnya tak ingin aku cari Tjoe Hong Teng,"
Kata dia.
"aku tak ingin yang kau, untuk seumurmu, nanii hidup dalam gelombang penghidupan yang berbahaya. Kau ada satu gadis baik-baik, tak tenang hatiku akan antap kau mencampuri gerakan mereka itu. Tapi kau mendesak, Anak, dan akupun telah janjikan Teng Kiam Beng akan cari si Hiauw, baiklah, man kita pergi. Aku kira anak itu terada dalam kalangan Gichoo-toan. Nah, man kita mcnuju ke Shoatang!"
Hatinya Hong Keng lega, gembira ia ikuh engkongnya itu.
Sclama di perjalanan, hatinya Ki-ang Ek Hian tidak ten I cram, ia kuatir nanti ada orang polisi yang susul mereka, maka itu, kcmudian ia suruh Hong Keng menyamar jadi lelaki, hingga di lain saat, nona itu telah merupakan diri sebagai satu pemuda yang cakap.
Meskipun begitu, mereka ton selalu ambil jalanan kecil dan sepi.
ika kemudian mereka sampai di Shoatang, terjadilah sesuatu yang membikin Ek Hian ubah tujuannya.
Pada suatu hari, sudah maghrib,.
engkong dan cucu ini sampai di sebuah dusun kecil, terpaksa mereka ambil pondokan tanpa pilih-pilih lagi.
Rumah penginapan pun kecil, kamarnya cuma beberapa buah.
Kebetulan, kamar mereka berhadapan sama kamar yang penumpangnya ada satu anak muda yang cakap dan ganteng."dan di waktu mereka masuk ke dalam kamar itu, si anak muda mengawasi dengan tajam, hingga sinar matanya dia bentrok sama sinar matanya orang tua ini.
Itu waktu, anak muda itu telah berkata seorang diri.
"Hari sudah gelap, sudah mestinya nyalakan api!"
Lantas ia tambah minyak pada lampunya, ia pasang itu secara terang sekali, scsudah mana, dia rebahkan diri di atas pembaringan, moeilie dia tidak kasih turun.
Ek Hian ada seorang Kangouw yang berpengalaman.
Adalah kebiasaannya satu orang yang lakukan perjalanan seorang diri, selagi singgah di hotel, dahar sore-sore dan terus beristirahat, supaya besok bisa bangun pagi-pagi untuk melanjuti perjalanan.
Maka aneh ada sikapnya anak muda ini, yang nyalakan api besar-besar, bukan untuk membaca buku, tapi untuk rebah-rebahan dengan moeilie pun tidak digantung!
Ia menduga orang ada kandung suatu maksud.
Tanpa hunjuk gerak-gerik suatu apa, Ek Hian minta jongos adakan teh dan barang santapan.
Ia pun tidak turunkan moeilicnya, ia sengaja nyalakan api terang-terang.
Kemudian ia duduk dahar sama-sama cucunya.
"Kamar ini kurang hawa udara, biarkan moeilie digantung supaya angin masuk,"
Begitu dia ngoceh seorang diri.
Tapi dengan diam-diam, ia pasang mata terhadap si anak muda, hingga iadapati, orang pun scnantiasa incar pada mereka.
Setelah kata-kata si orang tua, pemuda itu berbangkit dan menguap.
"Sudah wakfunya tidur,"
Kata dia seorang diri, lantas ia bertindak ke pintu, akan turunkan moeilie.
Di waktu berbuat demikian, ia pun incar Hong Keng.
Ek Hian lihat sikap orang, ia jadi semakin curiga.
Iamau percayasi anak muda berpura-pura saja, untuk singkirkan kecurigaan.
Tapi, melihat tingkah-lakunya, ia percaya pemuda itu bukan orang baik-baik.
Diam-diam ia perhatikan Hong Keng.
Pada sikapnya cucu ini tidak nampak apa-apa yang luar biasa.
Nona ini, mirip satu pemuda, sulit untuk kenalkan dirinyayangasli.
gff Orang tua she Kiang ini ada berpengalaman, akan tetapi satu kali ini, dugaannya kcliru.
Pemuda itu, walaupun demikian rupa lagu-lagunya, dia tidak menghunjuki keceriwisan.
Dia bukannya orang dari golongan rendah.
Dia adalah Tan Poo Beng, keponakan Thaykek Tan.
Dan dia sedang bertugas ke Hoolam, atas titahnya Tjoe Hong Teng.
Memangnya dia ada teliti, sekarang dia lagi punya tugas penting, sudah tentu saja dia berlaku hati-hati luar biasa.
Dia ketarik dengan tubuh tegak dari Ek Hian, yang usianya lanjut tapi masih gagah.
Ketika engkong dan cucu itu lewat di muka kamarnya, ia lihat sebelah kupingnya Hong-Keng berlobang, ia jadi heran.
Karena ini, ia man menyangka, orang tua itu ada suatu hamba negeri.
Ia memang belum kenal jago Bweehoa-koen dari Pooteng itu.
Demikian, kedua pihak saling curiga-mencurigai.
Malamnya, kapan cucunya sudah pulas, dengan perlahanlahan Ek Hian berbangkit Ia berniat selidiki si anak muda.
Tapi tiba-tiba ia dengar suara apa-apa dari kamar di depannya ia.
Diam-diam, ia bersenyum.
Dengan cepat ia singkapkan moeilie, ia buka pintu, akan mendahuiui keluar dari kamarnya, terus hampirkan ti imtjhee.
untuk loncat naik ke atas genteng.
untuk sembunyi di atas genteng di atasan kamarnya si anak muda.
Menyusul itu, si anak muda celingukan di muka pintu kamar.
kemudian dengan cepat ia keluar.
Ia pun naik ke atas genteng, ke lain sebelah dari kamarnya Ek Hian.
Di sini, tidak tempo lagi, ia cantel kaki di payon rumah, akan lepaskan diri tergantung dengan kakinya itu, akan melongok dan jendela.
membclakangi Ek Hon, ia tidak tahu halnya si orang tua lagi awasi padanya.
Ek Hian tertawa dalam hatinya melihat lagaknya si anak muda Lekas-lekas ia turun dari alas genteng, akan scgera memasulci kamarnya anak muda itu, yang pintunya tidak dikunci.
Di terobok ada scbatang pcdang, dan saiu kantong piauw, di situ tidak ada pauwhok.
"Heran,"
Pikir orang tua ini.
"Rupanya dia tidak bermaksud jahat. Dia toh tidak bawa pedang dan piauwnya....""
Lekas ia keluar pula, akan naik kembali ke genteng.
Ia awasi pula si anak muda.
Justru Poo Beng menoleh ke belakang, agaknya ia terkejut, terus dia celingukan ke sekitarnya.
Ek Hian lckas-lekas tank kepalanya, laiu ia menimpukdengan sepotong batu ke dalam kamarnya si anak muda.
Dia ini dengar suara itu, dia kaget, dengan lamas dia lompat tarun, akan menghampirkan kamarnya.
Gunai ketika orang berlalu, Ek Hian pun lompat turun untuk masuk dalam kamarnya sendiri.
Ia lihat Hong Keg masib tidur nyenyak, ia tidak baui asap pulas, hatinya lega.
Bila Poo Beng bekal senjata dan melakukan tindakan sembrono, bisa ia binasa di tangannya jago tua ini.
Sekarang jago tua ini berpura-pura dengan ber-pura mencari air ten.
ia terbitkan suara sediktt keras hingga Poo Beng, yang dengar itu, jadi terperanjaL Pemuda ini heran sekali, tadi si orang tua tidak ada di dalam kamar, atau sekarang sudah terdengar suaranya.
Karena ini, terus semalaman itu, ia tak dapat tidur pulas.
Besoknya pagi, Ek Hian kasih bangun cucunya, kemudian dengan sengaja, ia kata dengan keras.
"Keng-djie. ini hari kita pergi memburu kelinci!*"
Heran Hong Keng. hingga ia tercengang.
"Engkong, bagaimana kau ada punya kegcmbiraan untuk berburu?" , tanyanya. Engkong itu perlihatkan jarflj tangannya. ■"Hus, jangan tanya-tanya, kau ikut saja aku!"
Iajawab. Poo Beng dengar itu, ia mcndongkol. Ia tahu, orang tua itu anggapdia ada seekor kelinci. Dalam hatinya, ia kata.
"Kau tidak cari aku, aku memang hendak cari kau! Lihat saja, siapa yang nanti diburu!...."
Ia lantas saja dandan dan bayar uang hotel, terus ia keluar.
Ketika ia menoleh, ia dapat isi orang tua dengan kawannya pun sudah keluar dari hotel, kelihatannya mereka lkuti ia.
Pagi itu, dengan angin halus, ada nyaman, menggembirakan untuk bikin perjalanan.
Poo Beng jalan terus, sampai ia mulai menanjak di sebuah tanjakan.
la sedang jalan terus tatkala ia rasai pundaknya ada yang bentur, hingga ia terjerunuk, hampir ia jatuh.
Segera ia menoleh, lalu ia lihat si orang tua sedang berdiri sambil tcrtawa dan tangannya urut-urut kumis-jenggotnya.
"Kenapa kau ganggu aku?"
Ia menegur, dengan gusar.
"Kau ada satu anak muda, kenapa jalanmu ayal sekali?"
Ek Hian baliki.
"Kau bikin aku tidak keburu tahan kakiku, hingga hampir aku kcscrimpat! Kenapa kau justru tegur aku? Justru kau yang hendak main gila sama aku! Kenapa tadi malam kau datang mengintai di kamarku?"-."
Mukanya Poo Beng menjadi merah, bahna malu, hingga, karenanya, tak dapat ia kendalikan diri lagi. Dengan mendadak, ia menyerang, dengan tipunya "Pahouw twiesan"
Atau "Harirnau dan macan tutul menolak gunung".
Jago tua itu bcrscnyum, lalu ia sedot napasnya, akan bikin dadanya melembung dan perutnya kempes, berbareng dengan itu, tangan kanannya di lapis di bawahan lengan, yang menolak tubuhnya, tangan kirinya dilonjorkan akan menyambar kuping pemuda itu.
Poo Beng terkejut, baharu segebrak, ia sudah kena dipunahkan.
Lekas-lekas ia mundur, untuk ubah gerakannya.
Menampak gerakan orang, Ek Hian segera mengetahui ia berhadapan dengan orang dari Kaum Thaykek-koen.
Ia kagum atas ketenangan pemuda ini.
Sekarang iatak pikir lagi untuk berlaku telengas, tempo Poo Beng mulai serang ia pula, ia melayani dengan sabar, hingga setelah banyak jurus, nampaknya mereka berdua bukan bertempuT hanya lagi berlatih.
Poo Beng melawan terns meskipun ia merasa bahwa ia bukan tandingannya orang tua itu yang tidak dikenal.
Hong Keng menyaksikan pertempuran itu dengan merasa heran.
Ia tidak mengerti kenapa engkong itu mempunyai kesempatan untuk layani si anak muda.
Sedangnya nona ini keheranan, mendadak Poo Beng lompat mundur, akan kcluar dari kalangan, tetapi setelah itu, segera ia berkata.
"Lootjianpwee. aku bukan tandingan kau, aku menyerah kalah. Akan tetapi aku mohon tanya, dalam hal apa aku berbuat salah terhadap kau?"
Memang, setelah melalui tiga puluh jurus, pemuda ini dapati ia tidak sanggup menangkan orang tua itu, sebaliknya si orang tua, selama beberapa ketika baik, sudah tidak teruskan penyerangannya terhadapnya hingga ia luput dari bahaya.
Karena ini ia percaya orang tua ini bukannya kaki tangan pemerintah Boan, maka tanpa malu-malu lagi, ia mengaku kalah.
Ek Hian tertawa, ia tidak menyerang lebih jauh.
"Anak muda. kau bisa mengalah, aku tak hendak desak kau,"
Ia kata.
"Sekarang aku ingin kau jawab dua pertanyaanku. Yang pertama, kenapa tadi malam kau intai kamarku? Kedua, kau sebenamya ada murid Thaykek-pay siapa?"
Mukanya Poo Beng menjadi merah sampai ke kupingkupingnya.
ia sangsi untuk berikan jawabannya yang sebenamya.
Bukankah orang tua ini ada seorang yang asing baginya?
Orang tua itu mendckati, matanya bersinar.
"Hal apa yang mcnyulitkan kau bicara?"
Ia tcgaskan. Masih Poo Beng berdiam, ia ada sangat bcrsangsi. Sedangnya orang bingung, Hong Keng mendekati.
"Aku lihat ilmu silatmu sama dcngan kepunyaannya satu sahabatku she Teng,"
Ia kata.
"Apakah kau belajar silat dengan Teng Kiam Beng?"
Ek Hian awasi cucunya, untuk cegah dia turut bicara. Akan tetapi, mendengar itu, hatinya Poo Beng menjadi lega, hingga berkuranglah keraguraguannya.
"Apakah kau maksudkan Teng Hauw?"
Anak muda ini tanya.
"Aku tidak beiajar silat pada ayabnya dia tetapi dia benar ada soeteeku."
Mendengar ftu, Ek Hian heran.
"Kalau begitu, kau tentu ada keponakannya Thaykek Tan,"
Ia tanya "Kapannya Teng Hiauw telah ke Tankee-kauw??"
Ek Hian menanya demikian karena ia tahu benar, Thaykekkoen adal kepunyaannya salah satu kaum, Teng atau Tan.
"Sebenamya aku membuat malu kepada kaumku,"
Poo Beng mengakui dengan likat.
"Thaykek Tan adalah pamanku. Teng Hiauw datang ke Tankee-kauw sudah kira-kira setengah tahun."
Kiang Ek Hian tertawa berkakakan.
"Kau jangan malu, kau kalah terhadap aku, itu bukan hal yang mcnurunkan derajat,"
Ia bilang.
"Jikalau bicara tentang tingkarand ayahmu itu, apabila ia dibanding dengan aku, ia masih lebih muda satu tingkat."
Poo Beng terperanjat, saking heran. Ia hendak minta penjelasan, atau Hong Keng dului ia.
"Jadinya Teng Hiauw ada di rumahmu, bukannya pada Gichoo-toan?"
Demikian si nona tanya.
Pertanyaan ini membuat dua-duanya, EkHian dan Poo Beng terkejut Tidak keruan-keruan Giehoo-toan disebut-sebut.
Coba di situ ada lain orang, yang punyakan kepentingan?
Maka Ek Hian segera awasi cucunya itu, kemudian ia kata pada Poo Beng.
"Tan-heng, anak ini suka ngaco-belo, harap kau jangan buat tertawaan. Dia biasa anggap siapa saja ada orang-orang Giehoo-toan. Dasar bocah!"
Kembali engkong itu awasi cucunya dengan tajam, untuk cegah si cucu banyak omong lebih jauh. Tapi Poo Beng tidak perdulikan perkatannya si orang tua.
"Kiranya Lootjianpwee berdua kenal baikhal-ihwalnya Teng Hiauw,"
Kata ia.
"Dia belum masuk da lam Giehoo-toan. Tapi aku kenal beberapa anggota Giehoo-toan itu, umpama kata Djiewie hendak pergi kepada mereka, aku bersedia untuk menjadi perantara."
Ek Hian tahu bagaimana hams bersikap.
"Terima kasih untuk kebaikan kau, Engko Tan Kecil,"
Kata ia, sikapnya keren.
"Aku tidak niat pergi kepada mereka, juga aku tidak membutuhkan perantaraan kau."
Pemuda itu tidak puas.
Ia pun seperti diguyur air dingin.
Hong Keng pun tidak puas, maka ia telah menjebi.
Ek Hian hendak berlaku hati-hati, dari itu, walaupun terhadap turunan Keluarga Tan, ia tidak hendak sembarang perkenalkan diri.
Poo Beng pun mengerti suasana, tapi ia ingin sekali ketahui nama orang.
"Aku masih belum tanya nama besar dari Lootjianpwee,"
Kata ia.
"Apa...."
Tapi Ek Hian potong ia.
"Kita bertemu secara kebetulan, tak usah aku menyebutkan nama. Engko Kecil, pergi kau lanjuti perjalananmu, kita sendiri masih hendak kembali."
Poo Beng mengerti salatan, ia manggut, lantas ia putar tubuhnya.
"Tunggu dulu!"
Tiba-tiba EkHian memanggil.
"Aku hendak minta bantuan kau dalam dua hal. Pertama-tama, tolong kau sampaikan kepada Teng Hiauw bahwa ayahnya ada sangat mengharap-harapkan dianya...."
"Oh..."
Poo Beng memutus.
"Dan yang kedua?"
Orang tua itu tertawa "Kau lupa barusan aku tanyakan kau dua urusan,"
Ia jelaskan.
"Aku tanya kau, kenapa kau intai kita dan kau ada murid siapa. Kau telah jawab pertanyaan yang satu, belum yang lain."
Biar bagaimana, Poo Beng toh mcndelu. Ia anggap Orang tua ini terlalu agulkan ketuaannya.
"Kau mendcsak, Lootjianpwee. baiklah aku menjelaskannya."
Ia jawab.
"Sebenarnya aku heran terhadap ini Saudara -"
Ia tunjuk Hong Keng.
"Kenapa pada kupingnya ada tanda bekas anting-anting? Karena ingin tahu, aku pergi intip kau orang. Sekarang Lootjianpwee boleh hukum aku, aku menyerah...."
Ek Hian tercengang, tapi segera ia tertawa.
"Engko kecil, kau terlalu bercuriga!"
Kata dia.
"Cucuku ini bertubuh lemah, aku kuatir dia tak dapat menjadi besar, sebagai kias, sedari masih kecil dia didandani sebagai orang perempuan. Keng-djie. man, hayo kau belajar kenal dengan Saudara Tan ini. Mendengar perkataan orang itu. Poo Beng menoleh pada Hong Keng.
"Terima kasih untuk kebaikan kau, Lootjianpwce, aku tak hendak ganggu kau orang lebih lama,"
Kata ia, yang terus saja memutar tubuh, untuk berlalu dengan cepat.
Nyata ia masih mcndongkol.
Sikapnya Ek Hian ada terlalu asing baginya.
Ia agaknya sungkan tolongi orang, akan sampaikan warta keluarga pada Teng Hiauw.
Ia tahu kenapa Teng Hiauw kabur dan rumahnya, ia tak setujui sikapnya Kiam Beng sudah jadi kaki-tangan pcmerintah Boan.
Tentang si orang tua, ia tidak percaya dia ada kaki-tangan Boan, tapi ia condong kcpada terkaan bahwa orang tua ini ada benci Giehoo-toan-Tidak pernah ia mimpikan bahwa Ketua Giehoo-toan justro ada muridnya orang tua ini!
Poo Beng malu atas pengalamannya ini, tcntang itu ia tidak pemah omongkan pada siapa juga, ia pun bungkam mengenai Teng Hiauw dicari ayahnya.
Maka itu, ketika Tjoe Hong Teng cari gurunya, sampai beberapa tahun beruntun, ia masih belum pernah menemukannya.
Sementara itu, Kiang Ek Hian ambil jalanan kembali.
Hong Keng jadi heran sekali.
Engkong itu mengawasi, agaknya jamasygul.
Anak, aku tidak niat cari Tjoe Soesiokmu,"
Ia menyahaj kcmudian.
"Aku tadinya sangka Teng Hiauw ada dalam Giehoo-toan sekarang terbukti, dugaanku itu keliru, dan itu, tak usah kita tergesa-gesa| pergi pada Giehoo-toan itu. Aku pun tidak niat cari Teng Hiauw. Dia berada sama Thaykek Tan, dalam tempo tidak beberapa tahun, dia bakal jadi seorang yang liehay. Pun, di Sana, dia tidak akan terancam bahaya. Aku telahl minta pertoloogannya keponakan dam Thaykek Tan, akan sampaikan warta itu kepada Teng Hiauw, dengan begitu, aku juga tidak menyia-nyiakan | pesannya Kiam Beng. Di samping itu, aku belum mengerti sikapnya Tjoe Soesiokmu. Kabarnya dia tclali ubSh tujuan dari menentangi pcmerintah Boan menjadi menunjangnya. Tidakkah kau lihat sendiri, sekarang sesuatu koentjiang dibuka secara umum? Itu tanda sahnya rumah perguruan silat itu. Hong Teng bernyali besar, sepak-terjangnya luar biasa, aku kuatir dia keliru bertindak, apabila itu sampai terjadi, aku pun bakal tak luput dari kesulitan...."
Orang tua ini hunjuk sepak-terjang bertentangan.
Mulanya ia takut ikuti Tjoe Hong Teng berontak, ia kuatir cucunya kerembet-rembet dan eclaka, tapi sekarang ia tak setuju murid itu menghamba pada Kerajaan Tjeng.j Karena kejujurannya, iajadi tidak mau memikir jauh, ia tidak kenal politic Dengan sikapnya ini, ia pun terang belum mengenai habis sifat muridnya.
Ek Hian tidak mengerti sikapnya Hong Teng, Hong Keng sebaliknya tak mendalam memikirkan itu.
Nona ini melainkan gembira kalau bisa "membasmi orang asing".
Inilah sebab ja telah saksikan sendiri perbuatan-perbuatan jahat dan kcjam dari pengikut-pengikutnya agama asing, mereka itu gemar sckali mentndas rakyatjelata.
Iajuga tak setujui cita-cita membantu Kerajaan Boan.
Maka itu, ia tidak pikirkan lainnya, keeuali akan ikuti sang engkong, orang yang paling ia andali.
Adalah engkong ini yang rawat dan didik ia.
"Anak, aku bikin kau lelah | mengikuti aku,"
Sahut engkong itu.
"Kita jalan memularkan H oolam, kita nanti keluar dari Tongkwan untuk menujuke Siamsay."
Ek Hian mempunyai sahabat karib, Koan Ie Tjcng, Ketua dari Banscng-boen, yang pernah datang ke Pootcng, pada dua puluh tahun yang lalu ia sudah kembali ke Siamsay, sejak itu, mereka tidak pernah sating dengar suatu apa, mereka pun tidak pemah surat-menyurat, sekarang ia ingat sahabatnya itu, dia ingin pergi menyambanginya.
Hong Keng iringi sang engkong.
Ek Hian sudah berpengalaman dalam hal bikin perjalanan, ketika itu ada di akhir musim Tjhioe atau permulaan Musim Tang, maka itu untuk cucunya, ia belikan sebuah tudung lebar, hingga dipakainya itu bisa sekalian mengalingi kupingnya si nona.
"Selanjutnya, Keng-djie, mesti kau hati-hati dengan gerakgerikmu,"
Ia pesan "Jikalau kau ketemu pula Poo Beng kedua, kau nanti banyak berabc..."
I Hong Keng bersenyum untuk nasihat ho, yang ia terima dengan baik Dcmikian engkong dan cucu ini bikin perjalanannya yang jauh.
melintasi gunung dan bukit, melaWan sampokannya angin musim dingin.
Makin keutara, hawa udara jadi makin meresap ke tulang-tulang.
Pasir pun mengganggu mata.
Hong Keng asing dengan pengaruh alarm itu, tetapi ia masih dapat melayaninya.
Mereka tcrus bertaku hati-hati; mereka toh telah jadi pemburon.
Mereka sudah binasakan dua pahlawannya Soh Sian Ie dan juga dua pahlawan Boan, mengenai itu.
pasti pembesar negeri di Pooteng sudah siarkan selebaran buat cari dan bekuk mereka.
Syukur mereka tak pemah dicurigai orang.
Engkong dan cucunya ini mesti mcrasai penderitaan, tatkala di akhimya mereka sampai di Siamsay, mereka kecele dan menyesal.
Mereka tidak berhasil menemui Koan Ie Tjeng.
Jago Banseng-boen itu sudah meninggal dunia, kedudukannya sebagai Ketua Banseng-boen telah diwariskan kepada Lauw In Eng, anak dari guru silat Lauw Tian Beng, yang terhitung tetua dalam kalangannya.
Karena ini, Pusat Banseng-boen jadi dipindahkan keShoasay.
Di Siamsay ini, Ek Hian tidak punya kenalan lain, dari itu ia lak dapat bcrdiam lama-lama di situ, tetapi dia juga tidak dapat kembali ke Selatan.
Sejak memasuki Siamsay, samarsamar ia merasakan ada orang atau orang-orang yang seperti menguntit mereka.
Ia tidak jerih akan tetapi ia tak inginkan itu.
Maka saban-saban ladan cucunya coba menghilang dari si penguntit itu.
Karena tak ingin berdiam di Siamsay dan juga tak sudi kembali ke Selatan, Ek Hian akhimya menuju ke Barat-utara.
Dari Tongkwan, mereka ikuti Sungai Wie-soei terus sampai di Pookce, lalu melintasi Kota Taysan-kwan, memasuki Propinsi Kamsiok.
Mereka tetap saban-saban ambil jalan kampung atau pegunungan, ialah tempat-tempat yang sepi.
Kebetulan musim dingin, hawa udara ada jauh teriebih dingin, di sebelahnya sang angin, yang meniup pasir berhamburan, juga ada gangguan salju membeku, yang merintangi perjalanan.
Penderitaan ini ada hebat bagi Hong Keng, maka.juga, baharu memasuki Propinsi Kamsiok beberapa ratus lie, sesampainya di Thiansoei, ia rubuh karena sakt.
Thiansoei, atau Sungai Thian-soei, ada bahagian hulu dari Sungai Wie.
Di arah timur-selatannya, ialah Gunung Bektjek-san, dahulu adalah Negara Goei Di Zaman Tong, itu ada daerah paling maju dari agama Budha, maka walaupun sudah selang beberapa ribu tahun, di sana masih ada peninggalanpeninggalan, atau sisanya, rumah-rumah berhala tua.
Dan Ek Hian terpaksa mampir pada sebuah kuil tua yang tidak terawat dan sepi, di sini Hong Keng beristirahat, ia sendiri pergi nyalakan api, untuk masak air.
Ia pun singkirkan salju di dekat-dekatnya.
Setelah dapat minum air panas, kesegaran Hong Keng kembali, cuma kedua belah pipinya masih tetap merah, tanda hawa panas masih belum berlalu.
Ek Hian sibuk juga.
"Kau rebah saja,"
Ia kata pada cucunya itu.
Ia gelar bekalannya dua potong permadani dan pakaikan baju kulit kambing pada sang cucu.
Mulanya Hong Keng tidak mau beristirahat tapi sang engkong bujuki ia, malah kemudian, ia pulas sendirinya.
Ek Hian pergi ke depan, akan jalan mondar-mandir di depan pintu kuil.
Ia lihat tegalan di sekitamya, yang penuh salju, yang gemerlapan antara sinar rembulan.
Karena sang malam telah datang dengan cepat, hawa udara jadi semakin dingin.
Dari jauh, samar-samar, ia dengar suara terompet penjaga tembok kota.
Ia teringat kepada rumahnya sendiri, tanpa merasa, ia jadi terharu.
"Terang aku lagi apes..."
Kata ia seorang diri.
"Di hari tuaku, kenapa aku tak dapat bcristirahat secara aman? Kenapa aku pun mesti bikin si Keng ikut menderita?"
"Eh, Engkong masih belum tidur?"
Tiba-tiba terdengar suara si nona.
"Apa Engkong menontoni salju? Dengan siapa Engkong bicara?"
Nona itu telah terjaga dan merayap bangun-"Kenapa kau tidak tidur saja?"
Gang engkong balik mencgur.
"Kau sedang sakit, mengerti? Jangan kau tak dengar kata, nanti engkongmu berkuatir...-"
"Pikiranku pepat, Engkong! Aku dengar Engkong bicara seorang diri...."
"Setan cilik, kau dengar apa?"
Kata engkong itu dengan tertawa menyengir. Sang cucu tidak perdul ikan teguran itu, iakata.
"Engkong, kau tidak lagi apes. Aku Iihat, memangnya dunia tak antap seorang hidup dengan tenang-tenteram. Siapa tidak campur urusan usilan, nanti urusan usiIan datang cari sendiri padanya. Dalam urusan kecil, lihat saja buktinya denganku. Aku tidak kenal Kaum Kcluarga Soh, aku tidak punya sangkut-paut suatu apa dengan mereka, kenapa mereka justru ganggu aku? Dan dalam urusan besar, lihat Tjoe Soesiok dan kawan-kawannya. Apa mungkin mereka bukannya orang baik-baik? Bukankah dengan tanpa scbab mereka dicari oleh orang-orang pemerintah? Engkong, selama ini aku telah dapat menyaksikan sendiri, rakyat jelata itu, di atas kepalanya ada pembesar negeri, disampingnya ada orang-orang asing, hingga mereka tertindih, hebatnya, mclcbihkan penderitaan kita mi! Coba pikir, di antara rakyat itu, siapa yang tak sudi hidup damai? Tapi, bisakah mereka hidup dengan tenang?"
Tercengang Ek. Hian mendengar kata-katanya cucu ini, tapi, segera ia tertawa.
"Nonaku yang baik, kau nyata mengerti suasana!"
Berkata ia.
"Tak dapat aku menang melawan kau bicara! Tapi, mengenai pokok pembicaraanmu ini, aku jauh lebib mengerti dari pada kau, aku telah dapat mclihat teriebih banyak pula. Manusia hidup hams sabar, apa yang masih bisa dilakoni, harus dilakoni. Aku tak dapat bekerja sebagai Hong Tcng dan rombongannya itu, untuk mengadu jiwa, hingga setiap saaf mereka mesti hadapi kejadian-kejadian yang mengagetkan dan menakuti...."
Hong Keng kerutkan alts apabila ia dengar kata-katanya engkong ini. Ia hendak berkata-kata pula ketika mendadakan.
"Keng-djie, lekas masuk! Jangan lepaskan senjata rahasiamu! Ada orang sedang mendatangi!...."
Demikian ada pemberian ingat dari engkongnya.
X Selagi gumpalan-gumpalan mega memaindi atas udara dan bunga-bunga salju turun bcrhamburan antara tiupannya angin malam yang keras.
dan kqauhan ada tcrdengar suara keiencngan kuda, yang lagi mcndatangi.
Itulah usaha yang mcnyebabkan Ek Hian peringati cucu perempuannya, dia sendiri lanias berdiri menanukan seraya cekal goloknya.
Scmakin lama suara kelenengan terdcngar scmakin dckat, sampai di akhirnya, di antara salju putih yang mcnggciari bumi, tertampak sampainya beberapa penunggang kuda, yang bcrhcnti tepat di depan jago nia kita, untuk sekalian pcnunggangnya lompat turun seraya berbareng melcpaskan les kudanya masing-masing.
Tua dan muda, sama sekali Ek Hian iihat lima orang, yang bertubuh besar.
Lalu orang yang menjadi kepaia, seorang dengan usia setengah tua, datang mendekati, untuk segera menegun "Kiang Kauwsoe, jauh sekali ke Barat-utara ini, kau datang, sungguh bukan suatu perjalanan gampang!"
Demikian suaranya itu.
"Bukankah ini ada gunung belukar yang miskin? MarUah kau ikut kita orang kembali sajal"
"Siapakah kau orang?"
Kiang Ek ian tanya.
"Apakah maksud kau >rang maka kau orang menguntit aku sampai disini?"
Tak ^ubris ajakan, orang Kj^menegur. Orang yang menjadi kepaia itft tertawa menyengir.
"Kiang Kauwsoe, mustahil kau tidak kenali kita?"
Jawab dia.
"Di dalam dunia Kangouw, Samliong Djiehouwdari lima propmsi Utara toh ada punya nama, walaupun kecil..., Kiang Kauwsoe, kita lima saudara datang menyambut sendiri kepada kau, tidakkah ini ada setimpal dengan, derajat kehormatanmu?"
"Samliong Djiehouw" -Tiga Naga dan Dua Harimau Kiang Ek Hian tidak usah berpikir lama akan ingat lima orang ini, ialah dua Keluarga Lok dan Tong. Tiga Saudara Lok ada Saypak Samliong, dan dua Saudara Tong ada Saypak Djiehouw; dulu mereka ada jago-jago Rimba Hijau, belakangan katanya menerima tjiauwan, menghamba kepada pcmcrintah Boan, tidak dinyana secara tiba-tiba begini, sekarang mereka muncul di sini. Cumalah, sekalipun ia pernah dengar orang punya nama, Ek Hian tidak tahu jelas orang punya keadaan. Maka ia terus saja berpura-pura tidak tahu.
"Oh, kiranya Saudara-saudara Lok dan Tong...."
Kata ia sambil manggut.
"Maaf, maafkan aku, aku numpang tanya di mana saudara-saudara berkedudukan? Nanti aku si orang tua pergi bcrkunjung. Tidakkah Rimba Hijau dan Rimba Persilatan, sebagai bunga merah dan daun hijau, ada dari satu keluarga? Saudara-saudara, ada pengajaran apakah dari kau orang kepadaku". Toako tetua dari Keluarga Lok, Lok Hoei Liong, tertawa seraya ayun carnbuk-niyungnya.
"Aku tak tahu, tua bangka she Kiang, kau sedang bcnarbcnar atau jagi berpura-pura saja?"
Berkata ia.
"Tetapi kita, memang sudah sejak lama, kita undurkan diri dari usaha kita. Di mana pcpatah ada mcmbi lang.
"Bclajar ilmu kcpandaian, dijual kepada raja", dcmikianlah kita, kendati kita bodoh, di dalam pasukan perang di Barat-utara, ada juga nama kita yang kecil. Atas titahnya Tjongtok dari Siamsay kita sengaja telah melewati tapal batas untuk undang kepadamu!"
Mendengar demikian, scpasang mata bundar dari Kiang Ek Hian terputar, lalu ia tertawa panjang.
"Maaf, maaf,"
Kata dia pula.
"kiranya Samliong Djiehouw telah berubah menjadi.
"Sameng Djiekian" -gundal-gundalnya pembesar Boan! Jangan kau orang lihat saja usiaku yang lanjut tetapi aku -tulang-tulangku masih terlebih keras daripada tulang-tulangmu!"
Kata-kata "Engk ian"
Dari Sameng Djickian bcrarti gundal pembesar ncgcri, tidak heranjikalau, mendengar itu, lima orang itu menjadi sangat gusar. Lok Hoei Liong lompat maju seraya geraki tangannya.
"Saudara-saudara, maju!** ia berseru.
"Tua bangka ini tidak sudi minum arak kehormatan, dia lebih suka tenggak arak dendam!"
Lantas sepasang cambuk-ruyungnya turun dengan Tay-san apteng"
Atau "Gunung Tay San menindih batok kepaia".
Kiang Ek Hian pun gusar bukan kcpalang, maka bcrbarcng dengan berkelit, ia geraki goloknya Ganleng-too untuk balas menyerang.
Sampai di situ, scmua lima Saudara Lok dan Tong itu turun mengepung!
Jago tua itu tidak banyak berpikir walaupun ia dikepung bcrlima, ia mainkan tipu-tipu dari Bweehoa-too untuk melayani semua penyerangnya.
Lima musuh ini ada kenamaan, bisa dimengerti jikalau kepandaian mereka pun berarti, di samping itu, mereka ada sangat cerdik, maka sambil mengeroyok, mereka gunai akal, ialah mengurung dengan rapat.
Belum tcrlalu lama, mendadakan ada penjahat yang berteriak.
"Awas! Senjata rahasia!"
Segera menyusul menyambamya barang berkeredepan.
Mereka lantas pencarkan diri keempat penjuru.
Si orang tua lihat cahaya berkeredep itu, ia dengar jeritan orang ia terkejuL Itulah artinya, cucu perempuannya tubuh siapa sedang sakit, telah keluar untuk membantui ia!
Maka itu bisa dimengerti jikalau ia jadi bcrkuatir.
Maka tidak tempo lagi, ia lompat maju, untuk cegah cucu itu.
Tetapi gerakannya terlambat, tak dapat ia segera tolongi sang cucu.
Sebab juga musuh-musuhnya bertindak sangat cepat.
Samliong dan Djiehouw tak inginkan sang cngkong dan cucu gabungi diri.
Mereka mendahului untuk memecah.
Demikian ketiga Naga, Lokkee Samliong, maju pula, untuk pcgat Kiang Ek Hian, dan kedua H arimau, Tongkee Djiehouw, lompat mcnerjang Angic Liehiap yang barusan bokong mereka dengan senjata rahasia, Tliielian-tjie.
Dalam kcadaan seperri biasa, Hong Kcng sanggup layani kedua harimau, telapi sekarang dengan tubuh lemah dan kcpala bcrat, begitu serangan yang pertama gagal, ia sudah lanias jadi sibuk sendirinya.
Matanya pun seperti tak melihat dengan jelas.
Ketiga Naga mcncoba mcndesak si orang tua, mereka tak hiraukan go I ok Ganlcng-too mengancam secara hebat, masing-masing dengan ruyungnya Tjmjiat-pian, golok Poat hong-too dan tongkat Tiatkoay-thung, mereka bcrpencaran dan merangsek bcrgantian.
Sambil bertempur, Kiang Ek Hian saban-saban curt lihat cucunya, keadaaraiya si nona membikin ia kuatir dan gusar dengan berbarcng Iagusar untuk gangguan Lokkee Samliong, dan berkuatir buat terkepungnya sang cucu oleh Tongkee Djiehouw.
"Jahanam, aku nanti adu jiwaku!"
Atu kali Kiang Ek Hian berseru raya ia terus menyerang hebat sekali kepada ketiga musuh.
Tiga Saudara Lok, dengan semua berat, tidak jerih akan adu senjata dengan senjata, mereka melayani tetap, dengan waspada dan gesit.
Mereka justru harap-harap musuh mereka gusar, supaya dia lekas lelah, karena walaupun tua, musuh mereka ini ada ulet sekali.
Dalam keadaan sengit itu, tongkatnya Lok Kim Liong bentur golok Ganleng-too, selagi begitu, Kiang Ek Hian teruskan ayun goloknya ke arah muka lawan dengan gerakannya "Tjayhong sieie"
Ataui "Burung hong buka sayap", hingga ujung golok memain di mukanya tiga Saudara Lok itu, hingga mereka ini repot bukan main, terpaksa mereka masing-masing berdaya untuk 1 indungi ini.
Mendapat ketika baik ini, jago tua itu mclanjuti serangannya dengan "Tjheeliong pabwee"
Atau "Naga hijau menggoyang ekor", dari atas, golok menyambar ke bawah.
Lok Kim Liong, yang diancam, menjadi terkesiap, tak sempat ia menangkis, ia lantas loncat untuk berkelit.
Dengan ini jalan ia bisa luputkan kedua kakinya dari babatan golok, akan tetapi di luar sangkaan, kakmya jago tua itu terangkat, lalu dengan satu dupakan, tubuhnya terpental, rubuh terbanting, hingga bergulingan di atas salju!
Selagi Kiang Ek Hian berhasil, golok besar dari Lok Pek Liong menyambar hebat sekali, bagaikan Gunung Tay-san turun menindih, mengarah batok kepala.
Jikalau bacokan hebat itu mengenai sasarannya.-Akan tetapi engkongnya Hong Keng lihat serangan datang, dengan sebat sekali, dia berkelit ke samping, kakinya dimajukan sedikit, kemudian sambil angkat tubuh, sebelah kakinya turut terangkat naik, melayang keras, hiflgg3 Pek Liong rubuh terpelanting sebagai saudaranya yang kedua, rebah di atas salju.
Setelah rubuhnya dua lawan ini, baharu Kiang Ek Hian bisa bernapas lega, dengan tinggalkan Hoei Liong, ia lari kepada cucunya, yang ia niat tolongi.
Lok Hoei Liong kaget melihat dua saudaranya kena dijatuhkan, tapi ia tak jerih, malah dengan gusar, ia menghalang di depan jago tua itu, guna cegah dia ini dekati si nona.
"Kau mau mampus?"
Berteriak Kiang Ek Hian dalam murkanya, ketika ia tcrjang penghalang itu, hingga sekarang, mau atau tidak, Hoei Liong kena didesak mundur.
Selagi sang engkong berhasil, tidak demikian dengan Hong Keng, si cucu perempuan.
Nona ini telah jadi sedemikian lelah, hingga tubuhnya mulai limbung, ia mandi keringat.
Ia repot bukan kepalang.
Baharu bandring Lioeseng-twie dari Tong Toa Houw dikasih lewat, lalu menyambar toyanya Tong Djie Houw.
Masih ia dapat perbaiki diri, malah ia bisa membalas sabetan penyerangnya yang kedua ini.
Syukur buat Tong Djie Houw, ia keburu kelit, sedang senjata engkongnya sudah menyambar pula, untuk tolongi dia, hingga Hong Keng mesti lekas-lekas tarik pulang pedangnya, pedang Tjengkong-kiam.
Apa lacur untuk nona ini.
ia terlambat, pedangnya kena kebentur, keras sekali, maka selagi tenaganya telah jadi berkurang, senjata itu terlepas dari cekalan, terlempar jauh.
Dalam kagetnya, si nona empos semangatnya, untuk loncat mundur, dengan pikiran menyingkir dari serangan lawan.
Ia benar-benar sudah lelah sekali, tubuhnya menjadi demikian cnteng dan hiiang pcrimbangannya, hingga dalam sekejab saja, ia rubuh, tak sadar akan dirinya.
"Ha, budak perempuan, kemana kau hendak lari?"* tertawa Tong Toa Houw, yang perdengarkan ejekan nyaring. Ia terus lompat, bandringnya, yang merupakan gembolan, diayun berbarcng. Ia niat lukai si nona, untuk dibekuk, guna dijadikan tanggungan hidup... Akan tetapi, selagi ia berlompat dan suaranya belum berhenti, ia dengar jeritan di arah belakangnya serta lihat berkelebatnya satu cahaya terang, hingga ia kaget, ia terus putar tubuh sambil menangkis. Tapi walaupun bagaimana sebat ia bergerak, ia masih, berayal, pundaknya telah kena terbacok, hingga darahnya muncrat! Menyusul itu satu bayangan putih loncat ke arah dia sambil pcrdcngarkan bentakan.
"Jahanam, makan pedangku!"
Pada Ha waktu, dcngan toyanya, Tong Djie Houw maju akan nntangi bayangan purih ini.
Pada waktu itu juga, Kiang Ek Hian masih dirintangi oleh Lok Pek Liong, yang sudah lantas bcrbangkit, untuk maju lebih jauh, hingga jago tua ini bcrbiji mata merah karcna mcndongkol, dan sibuk.
Tong Djie Houw maju mcnghalang cuma bikin si bayangan mcnycrang dcngan bcruntun-runtun, mcngarah tenggorokan, pundak, dada dan kedua Icngannya, hingga Harimau yang kcdua dan Say-pak itu mcnjad i repot, hingga iaditertawai lawannya, siapa, sambil tertawa, terus kcrjakan pcdangnya untuk meminta korban!"
Di aniara satu suara tabasan pcdang yang tedas, darah merah muncrat, membikin salin rupa pada salju yang putih, dua potong tubuh rubuh hampir berbareng, terpisahnya ebatas batang Ieher, sang kcpala sampai bergelindingan!
Tapi bayangan putih ini tak berhenti sampai di situ, habis rubuhkan Djie Houw, dia lompat terus pada Toa Houw, untuk mcnycrang terlcbih jauh, gcrakannya sangat gcsiL Tong Toa Houw sedang kaget ketika ia lihat datangnya serangan, dcngan terpaksa ia menangkis, tetapi ia pun scgera didesak, lalu dalam kagct, ia dengar seruan.
"Kau pun serahkankepalamu!"
Mcnyusul berkelebatnya satu bayangan bagaikan kilat, kepala or-ang terpenta!
jatuh, satu tubuh menyusul rubuh, hingga dengan demikian, Harimau Kesatu dari Saypak pergi susul roh adiknya ke laindunia....
Sampai di sftu, lawan yang gagah itu, yang dalani sedctik mcrubuh kan dua musuh, beriompat ke arah Kiang Ek Hian, siapa telah lihat kedatangan orang, malah ia scgera kenali, siapa orang itu, hingga, dalam kegirangan bcsar dia berteriak.
"Oh, kau, Soetee!" **Ya, Soeheng!"
Menjawab orang itu, yang tak bcrhcnti sampai di situ.
"Man bcrcskan dahulu ini bcbcrapa anjing!"
Dan pedangnya sudah lantas menyambar Lok Pek Liong, Naga yang Kedua dari Keluarga Lok.
Pek Liong masih mcrasakan sakit bekas tendangannya Kiang Ek Hian tadi, gerakannya tak terlalu leluasa, maka itu, berbareng kaget karena datangnya lawan baharu itu, hatinya pun telah ciut mcnampak dua kawannya rubuh saling susul, scgera ia menangkis, lalu ia beriompat, untuk menyingkir dari serangan.
Akan tetapi si penycrang sepcrti sudah duga maksudnya, sctclah mcnghalau tangkisan golok Poathong-too, dia pun mcncclat akan menyusul, maka di lain saat Pek Liong perdengarkan jeritan, tubuhnya terguling, rohnya pergi kepada Raja Akhirat!
Dua Harimau dari Keluarga Tong telah terbinasa, begitupun satu Naga dari Keluarga Lok, dengan begitu, di situ sekarang ketinggalan Lok Hoei Liong seorang, Naga Kesatu, siapajadi sangat sibuk dan kuatir, hingga lekas-lekas ia berlompatan mundur, akan tetapi Kiang Ek Hian tidak suka antapkan musuh yang tadi ganas luar biasa ini, lolos dia mendesak, dia menerjanghebat Hoei Liong bikin perlawanan seru, tetapi secara kalut, hingga senjata lawannya sepcrti berkelebatan di seputar tubuhnya.
Dalam keadaan terdesak itu, mendadakan ia berjongkok, akan sambarkan kaki lawannya dengan tipu tendangan "Kouwsie kianteng"
Atau "Pohon tua dililit rotan".
Kiang Ek Hian berkelit dengan beriompat Scgera ia mengerti, musuh telah jadi nekat.
la beriompat sambil perdengarkan seruan panjang, tubuhnya mencelat tinggi setumbak lebih, lalu dari atas, ia ayun goloknya kebawah!
Lok Hoei Liong baharu berbangkit seraya geraki cambuknya ketika ia tampak golok lawan mendahului menyambar ia, ia menjadi sangat gugup, sebab sukar untuk ia berkelit atau menangkis, malah bclum sempat ia menjerit, golok telah mengenai hebat tubuhnya yang menjadi terbelah dcngan lantas!
Kiang Ek Hian susut goloknya kepada ujung sepatunya, ketika ia menoleh pada penoiongnya, yang lagi awasi ia sambil bersenyum, ia bersenyum juga.
"Dasar sudah tua, kaki-tanganku hilang kegesitannya, aku kalah dengan kau, Soetee!"
Kata ia sambil tertawa. Soetee itu hendak menyaKutieketika matany a melihat suatu apa.
"Soeheng, di sana masih ada satu .orang!"
Ia berseru sambil menunjuk dengan pedangnya. Kiang Ek Hian segera menoleh dengan segera.
"Oh, aku lupa!"
Ia berseru.
"Aku tolol, babat rumput mesti berikut akarnya, dia tak boleh dikasih lolos!...."
Ia hendak lompat, untuk mengejar, atau soetee itu mencegah.
"Soeheng, kasih siauwtee saja yang wakilkan kau,"
Kata saudara muda ini.
"Kau baik tolongi dia itu...,"
Dia menunjuk pada Hong Kcng.
yang masih rebah di atas salju.
Ia masih bclum tahu, pemuda itu adalah satu orang perempuan, cucunya sang soeheng.
ltulah Kim Liong, yang sedang mencoba lari untuk tolongi diri sesudah ia dapatkan habis semua kawannya, sedang ia scndiri sudah tidak berdaya, ia sendirian saja dan terluka.
Kiang Ek Hian sangat kagum melihat gerakan gesit dari soeteenya, maka itu, dengan hati memuji-muji, ia hampirkan Hong Keng, siapa itu waktu sudah sadar dari pingsannya.
cuma mukanya dingin sekali-Cucu itu sudah lantas duduk di atas salju.
"Bagaimana kau rasai, Keng?"
Engkong ini tanya.
"Apa kau terluka?"
"Tidak.tidak apa-apa, Yaya!"
Hong Keng mcnyahut sambii tertawa.
"Aku terpelesct hingga pingsan, scbcntar saja. Bagaimana dengan musuh-musuh kita? Apa mcrcka sudah ha bis semua?"
Ek Hian pimpin bangun cucunya itu, yang ia terus kerebongi dengan baju luarnya sendiri.
"Dasar kau!"
Kaianya, menyesali.."Aku larang kau keluar, kau keluar juga. Coba tidak Socsiok-tjouwmu telah datang, kau tentu sudah habis"
Hong Keng hcran, ia pentang lebar kedua matanya.
"Soesiok-tjouw?"
Tanyanya.
"Soesiok-tjouw yang mana? Mana dia Soesiok-tjouw itu?"
Sang engkong tidak lantas roenyahuti, ia hanya pasang kuping, kemudian sambii tarik sebelah tangannya sang cucu. ia menunjuk ke depan seraya berkata.
"Lihat di sana, Socsioktjouwmu lagi mendatangil"
Hong Keng memandang ke arah yang ditunjuki. dari mana kelihatan satu bayangan hitam lari mendatangi, makadi lain saat tampaklah satu tubuh manusia yang kumis-jenggotnya panjang.
"Soeheng, syukur aku tak sia-siakan pengharapanmu, dengan Hoei-too akan berhasil membinasakan jahanam itu!"
Demikian kata orang yang baharu sampai itu seraya ia bersenyum.
Memang Lok Kim Liong tak sempat lari jauh atau ia telah kena dicandak, ia pun mencoba kabur dengan terpaksa, dengan melawan sakit di iganya, di mana dua buah tulangnya telah patah akibat t endangannya Kiang Ek Hian.
Ek Hian girang bukan main, karena di sebelah semua lima musuh telah terbinasa, ia pun sekarang bertemu sama soeteenya dengan siapa ia sudah berpisah tiga puluh tahun lebih.
"Keng-djie, mari kasih hormat dahulu pada Socsioktjouwmu!"
Kata ia seraya ia tarik tangan sang cucu, buat dekati adik seperguruannya itu.
Tadinya Hong Keng mengawasi I saja dengan tercengang, baharu setelah kata-kata engkongnya, ia sadar, lekas-lekas ia memberi hormat sambii Iiamdjim seraya mengucap.
"Tcrima kasih untuk pertolongan Soesiok-tjouw, terimalah hormatku...."
Ek Hian lantas menambahkan pada soeteenya itu, katanya.
"Soetee tentu belum pemah ketemu dia ini, cucu perempuanku satu-satunya. Setelah Tjeng Koen menutup mata, ketinggalanlah dia sendiri saja menemani aku. Maafkan dia, karena dia rubuh pingsan, tadi dia tidak lantas kasih hormat padamu."
Orang tua itu mengawasi, lalu ia tertawa.
"Oh,kiranya dia dalam penyamaran, sampai aku tidak mengenaHnyaf?"
Kata ia.
"Sudah, sudah, jangan pakai banyak adat-peradatan...."
Tapi ia tampak si nona masih diam saja, iatambahkan.
"Apa engkongmu belum pernah sebut-sebut aku kepadamu? Aku adalah sam-soetee engkongmu...."
Dia belum tutup mulutnya, atau Ek Hian telah dului padanya.
"Ya, inilah To Soesiok-tjouwmu."
Orang tua itu tertawa pula, ia kata.
"Dengan engkongrnu ini, aku telah berpisah tiga puluh tahun lamanya, ketika itu, sekalipun ayahmu masih belum menikah.... Maka jangan heran jikalau kau tidak kenal aku!"
Memang juga, orang tua itu adalah To Poet Hoan, adik scperguruan yang kct iga dari Ek Hian, yang semuanya puny akan lima saudara satu guru, dan sekarang tinggal mereka berdua.
Poet Hoan ccrdik dan bcrbakat, ia dapat wariskan sempuma iimu Bweehoa-koen dan pedang Bweehoa-kiam, kebetulan ci ta-citanya mul ia, ia beda daripada Iain-lain saudaranya.
Ketika empat puluh tahun yang lalu ia keluar dari perguruan, itu ada saat kemunduran hebat dari Pergerakan Thaypcng, tempo ia bemiat pergi ke Thiankhia (Lamkhia atau Nanking), ibukota Kaum Thay Peng, kota itu justru terjatuh dalam tangan pemerintah Boan, hingga iajadi sangat mcnycsal.
Tapi menggantikan Kaum Thay Peng ini, yang sisanya berpencaran, ada muncul Kaum "Giapkoen"
Yang mulanya bergerak di Propinsi-propinsi Shoatang, Kangsouw dan Anhoei, dengan kepalanya ada Loa Boen Kong dan Tan Tek Tjay, bekas panglima dari Eng-ong Tan Giok Seng dan ThaypengThiankok.
Mulai dari satu pasukan kecil, setelah satu perjalanan di empat Propinsi Anhoei, Hoolam, Ouwpak dan Siamsay, pasukannya jadi tcrdiri dari sepuluh laksa jiwa, malah di TahunTong Tie keempat, di Shoatang mereka telah gempur pecah satu angkatan perang Boan, hingga Boantjioe punya pangeran yang kenamaan, Tjin-ong Kek Lim Tjim, sampai kena dibinasakan.
Itu waktu.
To Poet Hoan berada di Shoatang, ia lantas persatukan diri dengan gerakan rakyat itu.
Ek Hian sendiri, oleh gurunya, telah diangkat jadi Ahli Waris Bweehoa-koen.
Tempo To Poet Hoan masuk dalam Giap Koen, tentara rakyat itu justru dipecah jadi dua Rombongan Timur dan Barat, Loa Boen Kong kepalai Rombongan Timur dengan kedudukan di Shoatang, Rombongan Barat dipimpin Thio Tjong le, dan Hoolam menyerang Siamsay.
Di pihak Boan, Tentara Hoay dari Lie Hong Tjiang telah ditugaskan menghadapi Rombongan Timur.
dan Tentara Siang dari Tjoh Tjong Tong dipcrintah menumpas Rombongan Barat Dalam saat genting itu, To Poet Hoan ikut Rombongan Barat memasuki Siamsay.
Itu waktu ada Tahun Tong Tie kelima (1866).
Sejak To Poet Hoan ikuti tentara Giap Koen pergi ke Siamsay, untuk tiga puluh tahun Kiang Ek Hian tidak pernah dengar pula perihai soeteenya itu, tadinya ia sangka soetee ini terbinasa di tangannya Tjoh Tjong Tong, lalu belakangan terkabar sang soetee menyingkirke Kamsiok Barat.
adalah karena pendengaran ini, sekarang ia menuju ke Kamsiok untuk sekalian dengar-dengar perihal adik seperguruan itu.
Selama tiga puluh tahun itu, sebenamya, banyak pengalamannya To Poet Hoan, secara nngkas, dapat itu dituturkan sebagai berikut.
Di dalam Propinsi Tjenghay, Kamsjok, Siamsay dan Lenghee, ada hidup bercampur orang Han dan Hwee, selama tentara Giap Koen belum memasuki Barat-utara, pemerintah Boan telah adu dombakan kedua golongan suku bangsa itu, hingga orang Hwee itu, terhadap pemerintah Boan tidak puas, terhadap orang Han, memusuhkan.
Begitulah terjadi bentrokan antara kedua suku bangsa itu di See an dan Taylee dan sekitarnya, sampai ada puluhan orang Han yang rubuh sebagai korban.
Tapi setelah tentara Giap Keen datangi Barat-utara, Suku Hwee diajak kerja sama hingga merupakan satu pasukan utara yang kuat, cuma sampai begitu jauh, keakuran belum merata, karena akibat racun saling curiga yang disebar oleh Tjoh Tjong Tong yang licin, yang sengaja pusatkan diri di Yauwtjioe, Siamsay.
Selama To Poet Hoan bercampuran sama orang Hwee, ia mencintai Ma Hong Kouw, satu nona Hwee yang gagah, dalam hal ini, ia ditentangi banyak orang Hwee lainnya, hingga pernikahan mereka terus tertunda, sampai kemudian, dua-dua rombongan Hwee dan Giap Koen kena dilabrak pasukannyaTjoh Tjong Tong.
Dengan kelicinannya, Tjoh Tjong Tong pun berhasil membujuk menakluk Kauwtjoe Ma Hoa Liong, Ketua dari KaumHwee Golongan Pek San Kauw, kemudian Ma Hoa Liong ditugaskan kumpuli rombongan-rombongan Hwee dari pelbagai tempat, untuk berpusat di Kimtjek-po di Siamsay Utara, setelah senjata mereka ini dirampas, mereka semua disrrang, dibunuh habis sampai tak ada seorang yang hidup.
Inilah, kata Tjoh Tjong Tong, ada tindakannya yang paling memuaskan baginya.
Karena kejadian itu, orang Hwee jadi scmakin benci orang Han.
Maka itu, ketika To Poet Hoan cari Hong Kouw, ia ditolak oleh bangsanya si nona.
Hong Kouw tak berdaya, tapi sebagai protes, ia tak suka menikah sama lain orang.
To Poet Hoan berduka bukan main, terutama usahanya mengakuri kedua golongan bangsa, hampir ia putus asa dan nekat.
Ia insyaf, gara-gara dara itu adalah bangsa Boan.
Ia berdaya terus.
Pernah satu kali, dengan sejumlah pasukan, ia bantu rombongan ayahnya Hong Kouw melawan pasukan Boan, tapi mereka kena dikalahkan hingga kabur ke pegunungan di Kamsiok Utara.
Adalah setelah usahanya yang terakhir ini, orang Hwee tak anggap lagi dia sebagai musuh.
Tapi sementara itu, Nona Ma Hong Kouw sudah terbinasa dalam peperangan, belasan tahun telah lewat.
Ia niat dinikahkan dengan lain nona bangsa Hwee, ia menolak....
Sesudah kekuatan bangsa Hwee lebur, Tjoh Tjong Tong tank pulang pasukan perangnya, karena ini, sisa-sisa rombongan Hwee jadi bisa taruh kaki mereka dengan aman.
Begitulah To Poet Hoan bersama rombongan bangsanya Hong Kouw, tetap tinggal bersama hidup bersama.
Tanpa mcrasa, lagi dua puluh tahun telah dikasih lewat, maka sama sekaii, tiga puluh tahun lamanya sudah To Poet Hoan tak pernah kembali ke Tionggoan, hingga pernah ia kenangi kampung halamannya sendiri, sahabat-sahabatnya, mengingat mana, ia cuma bisa menghela napas....
Penghidupan di Barat-utara ada sulit, apa pula orang-orang Hwee ini, yang mesti hidup mencil.
Untuk mendapati barangbarang kebutuhan rombongannya, satu atau dua kali setahun, To Poet Hoan pergi ke Kamsiok Timur, perjalanan ada jauh dan sulit, usianya sudah mulai lanjut.
tetapi ia ada punya tubuh kekar, ia sangguplakoni itu.
Karena ia ada orang Han, ada lcluasa untuk ia belanja di dalam kota di antara saudagarsaudagar Han.
Kemudian datanglah saat yang kebetulan.
Seperti biasanya, To Poet Hoan pergi kekota, untuk beli sesuatu, scsampainya ia di Thiansoei, di luar kota, ia bertemu sama Samliong Djichouw, yang lagi kaburkan kuda mereka.
Melihat roman mereka, ia jadi curiga, ia menduga pada kaki-tangan Boan, yang lagi can sisa Kaum Giapkoen, maka diam-diam.
Poet Hoan menguntit, terus sampai di Gunung Pektjek-san.
Demikian itu malam, ia saksikan lima orang tak dikenal itu kepung Kiang Ek Hian dan Kiang Hong Keng, maka tak siasialah dayanya membayangi mereka itu.
Poet Hoan ada bekal obat, ia berikan obat pada Hong Keng.
"Jangan kuati r, Soeheng, besok dia akan sembuh,"
Poet Hoan menghibur apabila ia luiat, schabis minum obat, si nona terus tidur pulas dengan nyenyak.
Habis itu, soeheng dan soetee ini duduk pasang omong, mengenai segala apa sejak perpisahan mereka.
Di akhirnya, Poet Hoan ajaki sang soeheng ikut ia pergi pada orang Hwee, untuk tinggal bersama-sama ia, sampai keadaan reda.
"Tempatku itu mencil dan sunyt, hidup di sana sengsara, tetapi sangat aman, bagaikanTaman Ton saja,"
Poet Hoan kasih tahu.
"Aku datang ke Kamsiok ini untuk cari kau. benar-benar maksudku kesampaian,"
Sahut Ek Hian.
"oleh karena itu, jangan kau undang, walaupun tidak, pasti aku akan pergi ke sana. Rita bukan bangsa bangsawan, apa mesti jerihkan kesengsaraan? Baiklah, aku akan ikut kau!"
Poet Hoan girang sekali. Besoknya pagi, Hong Keng bangun dengan tubuhnya segar, sakitnya lenyap. -Kita akan turut Soesiok-tjouwmu,"
Sang engkong kasih tahu. Nona itu berdiam saja, sampai sekian lama.
"Anak yang baik, tak untuk selamanya kita akan tinggal di sana,"
Ek Hian membujuk.
"Kemudian kita nanti pulang kcmbali. Kau tak usah bersusah hat"
Jago tua ini hibur cucunya; di dalam hatinya, ia pun sebenarnya berduka.... Hong Keng bisa mengcrti engkongnya itu, ia berpura-pura tertawa.
"Aku tidak bersusah hati, Engkong,"
Kata ia.
"Baiklah, man kita turut Soesiok-ijouw! Bukankah pergi Sana berarti menambah pengalarnaa? -Ya, Soesiok-tjouw, apakah namanya tempat kediamanmu Kau tentu heran apabila kau mendengar namanya tempat itu,"
Sahut To Poet Hoan sambil tertawa.
"Itu ada Yamtjoantjoe, sumber garam, akan tetapi airnya pahit. Kau tentunya tak tahu, semakin jauh ke Barat-utara, semakin sukar rnencari sumber air. Kalau di sana kedapatan sumur, tak perduli airnya manis atauj pahit, orang akan pandang itu sebagai sumber air penawar saja. Di dekat-dekat Yamtjoan-tjoe ini masih ada nama-nama tempat luar biasa lainnya seperti Malian-tjoe, Yam-soei dan Kongpo-tjoan. Yang paling anehj adalah Tiauwtiauw-soei, sebab namaj "tiauwtiauw"
Itu disamakan dcngan "tik tik", ialah suara menetesnya air. Karena keluarnya airpun menetes, setetes demi setetes...."
"Oh, begitu?"
Tegasi Hong Keng dengan keheranan.
"Benar, Nona!"
Poet Hoan tertawa.
"Jangan kuatir tinggal di sana, sebab selama dua puluh tahun ini kita sudah punyakan sumur dan telah bercocok tanam juga. Bcbcrapa sumur kita telah gali, untuk kumpulkan salju di musim Dingin, untuk airnya nanti dipakai di musim Tjocn dan Panas. Kau hams kctahui, di mana ada manusia, di situ ada daya, dan semakin banyak jumlahnya manusia, semakin gampang kita berdaya!"
Nona Kiang tertawa.
"Jikalau begitu, tentunya Tjoe Soesiok pun bisa berdaya!"
Kata ia.
"Orangnya makin hari makin bertambah!"
Poet Hoan heran.
"Kau sebut Tjoe Soesiok -Tjoe Soesiok yang mana?"
Ia tanya.
Ek Hian tuturkan tentang Tjoe HongTeng dari Giehoo-toan.
Poet Hoan kurang puas mendengar Giehoo-toan bertujuan "Hoetjeng Biatyang" -membantu bangsa Boan menumpas bangsa asing.
Ia sudah saksikan sendiri bagaimana tentara Boantjioc menindas orang Han dan Hwee.
Ia belum kenal siapa adanya Tjoe Hong Teng itu, yang lagi mainkan siasat, dari itu, ia kurang percaya walaupun ada penjelasannya Ek Hian.
Ia mau percaya, soeheng ini lagi menangi muridnya.
Hanya ia merasa aneh, kenapa pemerintah Boan lagi cari Tjoe Hong Teng, untuk ditawan dan disingkirkan.
Karena ini, selanjutnya ia membungkam.
Demikian tiga orang ini, sambil bicara, mulai dengan perjalanannya ke tapal batas, Cuma selang beberapa hari, mereka sudah sampai di Yamtjoan-tjoe.
Orang-orang Hwee girang menampak kembalinya mereka, terutama akan dcngar orang tua itu ada sochengnya Poet Hoan dan si nona pun gagah.
Sejumlah nona Hwee lantas saja bicara dcngan asyik dengan Hong Keng.
Ek Hian girang melihat ramah-tamahnya orang-orang Hwee itu, karenanya, ia jadi betah berdiam bersama mereka.
Pada mulanya, jumlah penduduk Hwee ini tidak ada tiga ratus jiwa, tapi selang dua puluh tahun, sekarang jumlah itu meningkat jadi lima ratus, dengan begitu, tempat mereka telah merupakan satu kampung.
Tanpa merasa, empat tahun sudah sejak Ek Hian berdiam di Yamtjoan-tjoe, apa yang sekarang ia pikirkan adalah jodohnya Hong Keng, yang sudah berusra dua puluh dua tahun.
Ia tak tahu, selama itu, Giehoo-toan sudah melar ke utara, malah di Kamsiok Timur, sudah ada gerakan itu.
Hanya berbareng dengan itu, pemerintah Boan pun keras kcinginan ny a akan menumpas gerakan kebangsaan Han ini, melainkan dia belum berani lancang turun tangan, hingga untuk sementara Giehoo-toan masih dianggap sah dan hendak dipakai tenaganya guna-hadapi bangsa asing.
Ketika Kaisar Kong Sie tahun ke-25 (1899) kebanyakan penduduk Shoatang telah memasuki Giehoo-toan, hingga pengaruh Giehoo-toan di sana jadi sangat besar, justru itu, timbullah bentrokan di antara mereka dengan penduduk yang mcnganut agama baru, yang sclalu dimanja-manja oleh pendeta-pendetanya, Di matanya rombongan pendeta itu, Giehoo-toan adalah pemberontak-pemberontak.dan mereka anjuri pengikut-pengikumya untuk berikan perlawanan.
Tidak demikian saja, sekali an ambassador asing.
dikepalai oleh Ambassador Amerika, sudah paksa pemerintah Boan tukar Soenboe dari Shoatang, Yok Hian, dengan Wan Sic Kay, penjagal terlebih besar.
Wan Sie Kay im, pemimpin golongan penjilat asing, ada punya tentara "privee"
Yang berjumlah bcsar dan kuat.
Begitu ia masuk ke Shoatang, lantas Giehoo-toan tcrbcnam dalam lautan darah.
Scgera dia kcluarkan dclapan aiuran mclarang Gichoo-toan, antaranya siapa bclajar silat dan setujui Giehootoan, tak ampun lagi, akan dihukum man".
Maka juga, ia ditentang oleh Giehoo-toan di Shoatang.
Aksi memusuhi Giehoo-toan dari pemerintah Boan terus menjalar, sampai di beberapa propinsi di Barat, Propinsi Kamsiok tak terkecuali.
"Poet Hoan sering pergi belanja ke Kamsiok Timur. Ia dengar tentang aksi pemerintah Boan itu, iapun lihat bagaimana di sana-sini ada tempat-tempat pemujaan koentjiang Kaum Gichoo-toan, yang asap hionya mengepul bergulung-gulung, dan ia tampak juga orang-orang Giehootoan dengan dandanannya yang mcncolok, kepala dilibat pelangi kuning dan diiilit angkin merah, yang biasa mondarmandir di jalan besar. la dengar cerita hal bentrokan telah terjadi di Shoatang di antara pihak pemerintah Boan dan Giehoo-toan, tahu di Kamsiok bakal dilakukan penangkapan besar-besaran. Penduduk Kamsiok Timur bingung karena segala warta itu tetapi orang-orang Giehoo-toan tetap tenang, tak sedikit pun mereka jerih. Pada suatu hari sekembalinya dari Yamtjoan-tjoe, To Poet Hoan membawa kabar itu kepada Kiang Ek Hian. Mereka bergembira, mereka merasa gelap.... Ek Hian kagum untuk.. Tjoe Hong Teng, yang benar ada satu laki-laki sejati, jadi tak salah penglihatannya. Ia pikiri, ia akan I tcrluput atau tidak dari gerakan pembersihan pihak pemerintah itu. To Poet Hoan telah terbangun scmangatnya, ia ingin turun tangan, tetapi ia ingin kctahui lebih tegas ; sepak-terjangnya Giehootoan. Kapan penduduk Hwee dibcritahukan pcrihal aksi pemerintah Boan, sendirinya mereka merasa tidak tentcram, lantas mereka bcrsiap-siap, mereka minta To Poet Hoan sering-sering scrcpi kabar. Pada akhir tahun, seperti biasa, Poet Hoan berangkat ke Kamsiok Timur. Ek Hian tidak turut, ia berdiam di Yamtjoantjoe, bersama cucunya, ia membantu melakukan penjagaan. Pada suatu malam, selagi salju turun secara hebat, hingga segala apa tertampak bagaikan kumala berkilauan, Kiang Ek Hian keluar untuk mcronda. Ia lihat rembulan ada indah, bintang-bintang berkelap-kelip. Diam-diam ia kenangi, empat tahun sudah ia bcrdiam di daerah perbatasan ini.... Jago tua ini meronda terus sampai dari jauh-jaub, ia dengar suatu suara. Segera ia sembunyi seraya memasang mata. Ia segera tampak satu bayangan mendatangi dengan cepat, memasuki kampung, loncat naik atas sebuah rumah. Tidak ayal lagi, ia muncul, untuk menyusul, akan mendekati.
"He, kau siapa?"
Ia lantas menegur.
"Inilah kampung miskin, yang tak ada harganya untuk dikunjungi!"
Orang itu memutar tubuh kapan ia dipergoki, akan tetapi ia tak jerih, sebaliknya ia tertawa.
"Ya, kampung miskin!"
Katanya.
"Tapi ada luar biasa, di sini ada naga bersembunyi, ada harimau mendekam!"
Ek Hian awasi orang itu, yang berusia empat puluh Icbih, sikapnya gagah, dandanannya pakaian malam, di pinggiran tubuhnya ada terkempit kantong senjata rahasia.
"Malam-malam kau datangi kampung kita, apa maksudnya?"
Ia tanya. Ia tidak bisa pastikan, orang bcrmaksud buruk atau baik. Dengan lagaknya yang angkuh, orang itu tidak menyahuti. Sebaliknya, ia tanya.
"Apa aku boleh ketahuishe dan namamu?"
Orang tua itu tertawa secara dingin.
"Kita ada rakyat gunung, nama apa kita ada punya?"
Jawab ia. Hanya umpama kata kau berniat melakukan apa di sini, kita masih punyakan orang yang nanti sambut padamu!"
Orang angkuh itu tertawa berkakakan.
"Apa benar demikian?"
Ia menegaskan.
"Jikalau tuanmu jerih, tidak nanti dia datang kemari! Malam ini aku memang bernijat melihat-lihat kampungmu ini."
Lantas dia mencelat sampai tiga-empat tumbak jauhnya, dengan tidak gubris pula si orang tua mi, ia berlari-lari kesebelah dalam kampung.
Kiang Ek Hian gusar sekali atas pcrlakuan itu, selagi iahendak iompat, Untuk menyusul, mendadakan ada berkelebat cahaya merah di sebelah depan ia, yang memegat orang itu, hingga ia terperanjat.
Karena ia kenali cucu perempuannya, yang kerebongi diri dengan mantel merah yang lebar dan tangannya mencekal pedang!
Orang itu tidak maju terus, ia berdiri diam, mengasih ketika kepada dirinya untuk dikepung oleh itu cucu dan engkongnya.
"Ah, kiranya masih ada orang perempuan yang liehay!"
Berkata ia seraya ia pandang si nona dengan tajam.
Hong Keng ada bertabiat aseran, tidak sesabar engkongnya, atas itu sindiran, segera saja ia loncat maju dengan tikamannya kepada dada orang.
Orang yang diserang bertubuh sangat gesit, sebenarnya ia ada menggendol golok di bebokongnya, ia sudah tidak hunus itu, hanya ia paksa pemerintah Boan tukar Soenboe dari Shoatang, Yok Hian, dengan Wan Sie Kay, penjagal terlebih besar.
Wan Sie Kay ini, pemimpin golongan pcnjilat asing, ada punya tentara "privee"
Yang berjumlah bcsar dan kuat.
Begitu ia masuk ke Shoatang, lamas Giehoo-toan tcrbcnam dalam lautan darah.
Segcra dia keluarkan dclapan aturan meiarang Giehoo-toan, antaranya siapa bciajar silat dan sctujui Giehootoan, tak ampun lagi, akan dihukum mati.
Maka juga, ia dittentang oleh Giehoo-toan di Shoatang.
Aksi mcmusuhi Giehoo-toan dari pemerintah Boan terus menjalar, sampai di beberapa propinsi di Barat-utara, Propinsi Kamsiok tak terkecuali.
To Poet Hoan sering pergi belanja ke Kamsiok Timur, ia dengar tentang aksi pemerintah Boan itu, ia pun lihat bagaimana di sana-sini ada tempat-tempat pemujaan koentjiang Kaum Giehoo-toan, yang asap hionya mengepui bergulung-gulung, dan ia tampak juga orang-orang Giehootoan dengan dandanannya yang mcncolok, iaiah kepala dilibat pelangi kuning dan pinggang diliiit angkin merah, yang biasa mondar-mandir di jalan besar.
Ia dengar cerita hai bentrokan telah terjadi di Shoatang di antara pihak pemerintah Boan dan Giehoo-toan, bahwa di Kamsiok bakal diiakukan penangkapan besar-besaran.
Penduduk Kamsiok Timur bingung karena segala warta itu tetapi orang-orang Giehoo-toan tetap tenang, tak sedikit pun mereka jerih.
Pada suatu hari sekembalinya dari Yamtjoan-tjoe, To Poet Hoan membawa kabar itu kepada Kiang Ek Hian.
Mereka bergembira, mereka merasa lega...
Ek Hian kagum untuk Tjoe Hong Teng, yang benar ada satu laki-laki sejati, jadi tak salah penglihatannya.
Ia pikiri, ia akan terluput atau tidak dari gerakan pembersihan pihak pemerintah itu.
To Poet Hoan telah terbangun semangatnya, ia ingin turun tangan, tetapi ia ingin ketahui lebih tegas sepak-terjangnya Giehoo-toan.
Kapan penduduk Hwee diberitahukan perihal aksi pemerintah Boan, sendiri nya mereka mcrasa tidak tenteram, Ian t as mereka bersiap-siap, mereka minta To Poet Hoan sering-sering serapi kabar.
Pada akhir tahun, sepcrti biasa, Poet Hoan berangkat ke Kamsiok Timur.
Ek Hian tidak turut, ia bcrdiam di Yamtjoantjoe, bersama cucunya, ia membantu melakukan penjagaan.
Pada suatu malam, sclagi salju turun sccara hebat, hingga segala apa tertampak bagaikan kumaia berkilauan, Kiang Ek Hian kcluar untuk meronda.
la lihat rembulan ada indah, bintang-bintang berkceak-kelik.
Diam-diam ia kenangi, empat tahun sudah ia berdiam di daerah perbatasan ini....
Jago tua ini meronda terus sampai dari jauh-jauh, ia dengar suatu suara.
Segera ia sembunyi seraya memasang mata.
Ia segera tampak satu bayangan mendatangi dengan cepat, memasuki kampung, loncat nark atas sebuah rumah.
Tidak ayal lagi, ia muncul, untuk menyusul, akan mendekati.
"He, kau siapa?"
Ia lantas menegur.
"Inilah kampung miskin, yang tak ada harganya untuk dikunjungi! "
Orang itu memutar tubuh kapan ia dipergoki, akan tetapi ia tak jcrih, sebaliknya ia tertawa.
"Ya, kampung miskin!"
Katanya.
"Tapi ada luar biasa, di sini ada naga bersembunyi, ada hari man mendekam!"
Ek Hian awasi orang itu, yang berusia empat puluh lebih, sikapnya gagah, dandanannya pakaian malam, di pinggiran tubuhnya ada terkempit kantong senjata rahasia.
"Malam-malam kau datangi kampung kita, apa maksudnya?"
Ia tanya. Ia tidak bisa pastikan, orang bcrmaksud buruk atau baik. Dengan lagaknya yang angkuh, orang itu tidak menyahuti. Sebaliknya, ia tanya.
"Apa aku boleh ketahui she dan namamu?"
Orang tua itu tertawa secara dingin.
"Kita ada rakyat gunung, nama apa kita ada punya?"
Jawab ia.
"Hanya umpama kata kau berniat melakukan apa di sini, kita masih punyakan orang yang nanti sambut padamu!"
Orang angkuh itu tertawa berkakakan.
"Apa benar demikian"
Ia menegaskan.
"Jikalau-tuanmu jerih tidak nanti dia datang kemari! Malam mi aku memang berniat melihat-lihat kampungmu ini!"
Lantas dia mencelat sampai tiga-empat tumbak jauhnya, dengan tidak gubris pula si orang tua ini, iaberlari-lari ke sebelah dalam kampung.
Kiang Ek Hian gusar sekali atas periakuan itu, selagi ia hendak lompat, untuk menyusul, mendadakan ada berkelebat cahaya merah di sebelah depan ia, yang memegat orang itu, hingga ia terperanjat.
Karena ia kenali cucu perempuannya, yang kerebongi diri dengan mantel merah yang lebar dan tangan nya mencekal pedang!
Orang itu tidak maju terus, ia bcrdiri diam, mengasih ketika kepada d i ri nya untuk d ikepung oleh itu cucu dan cngkongnya "Ah, kiranya masih ada orang perempuan yang liehay!"
Berkata ia seraya ia pandang si nona dengan tajam.
Hong Keng ada bertabiat aseran, tidak sesabar engkongnya, atas ini sindiran, segera saja ia loncat maju dengan tikamannya kepada dada orang.
Orang yang diserang bertubuh sangat gesit, sebenarnya ia ada menggendol golokdi bebokongnya, ia sudah tidak hunus itu, hanya ia menggeser tubuh, untuk berkclit, sesudah mana, ia ulur sebelah tangannya sambil maju, menyusul mana, sebelah kakinya tabu-tahu terangkat naik dalam rupa satu sambaran hebat!
Mukanya Hong Keng merah sendirinya saking jengah karena orang perdayakan ia, karena mi dengan scngu ia membabat, akan bikin sapat kaki orang!
Orang ifu mencelat mundur sambil jumpalitan.
!tu ada gerakan dari suatu ilmu enteng tubuh yang liehay sekali.
"Jangan kau orang bertingkah galak!"
Bcrkata ia seraya ia putar tubuhnya.
"Lain hari tuan besarmu bakal datang puia kemari!"
Habis itu, ia putar tubuh puia, sekali ini untuk kabur keluar kampung. Hong Keng gusar, ia penasaran, ia hendak mengejar.
"Jangan"
Mencegah Kiang Ek Hian Jago tua ini diam saja sadari tadi, untuk menyaksikan.
Apa puia selama orang layani cucunya dengan tangan kosong, ia malu untuk turun tangan.
Dcngan begitu pun ia jadi bisa saksikan jelas kepandaiannya orang itu.
Ia pun tidak mau mengejar, kesatu ia belum kenal orang itu.
kedua ia kuatir nanti kena dipancing.
"Jangan omong hal ini kepada siapa juga,"
Tapesan cucunya.
"Turut pengiihatanku, orang barusan datang bukan dengan maksud baik. Dia juga ada bcrkepandaian tinggi, kepalanya ada besar. Aku harap saja dia bukan gundalnya pemerintah Boan. Kita mesti cegah orang kampung berkuatir tidak kcruan." , Ek Hian bersikap sangat tenang, akan tetapi, di dalam hatinya, ia bcrpikir keras. Jauh ia pergi, untuk mcnyi ngkir, toh masih ada orang yang) bayang-bayangi dia. Hong Keng turut itu engkong, ia tutup mulut. Sebaliknya, dengan diam-diam, cucu dan engkong ini terns bikin penjagaan. Tigamalam berturut-turut mereka sudah memasang mata, tidak ada tcrjadi suatu apa, orang tidak dikenal itu tidak datang puia. Pada malam keempat, sedangnya ia Iclah dan duduk bcrscmedhi, hampir saja ia kepulasan, tiba-tiba Kiang Ek Hian dengar satu suara perlahan di atas wuwungan rumahnya, mirip seperti jatuhnya daun rontok tcrtiup angin. Lantas saja ia ngocch sendirinya.
"Dasar sudah tua, hati pun jadi tak seperti di masa muda, mendengar burung terbang lewat, disangka orang saja, hingga buat satu malam aku tidak bisa tidur...."
Tapi, selagi mulutnya membilang demikian, tubuhnya bergerak turun dari pembaringan untuk menghampirkan jendela, dengan pen uh semangat, ia memasang kuping tcrlcbih jauh, matanya diarahkan keluar.
Cuma sebentar jangkanya, segera tcrlihat satu bayangan hitam bergerak di sebelah luar jendela, benar seperti burung menyambar.
Tak ampun lagi, Ek Hian geraki tubuhnya, sambil menolak daun jendela, ia loncat keluar, akan segera kejar bayangan itu.
Tubuhnya enteng dan liehay, akan tetapi ada sulit akan tandingi jago Bweehoa-koen ini, yang sudah lantas dapat mencandak setelah mcrcka saling kcjar sampai di luar kampung.
"Sahabat, berhenti dulu!"
Ek Hian menegur.
"Kau telah datang dari tempat jauh, mustahii sebelum menemui tuan rumah kau sudah pergi pula? Mari omong-omong!"
Orang asing itu rupanya telah menduga, maka begitu dengar teguran, dengan sekonyong-konyong, ia berhenti berlari dan putar tubuhnya, akan terus tertawa terbahakbahak.
"Benar-benar aku telah bcrhasil memancing!"
Bcrkata ia, dengan lagu suara jumawa.
"01 eh karena kau telah mengundang kita, baiklah kau undang juga sekali an saudaraku!"
Habis ini ia pcrdengarkan satu suara suitan panjang -suara seperti pekiknya burung malam!
Segera Kiang Ek Hian memasang mata ke sekitarnya.
Dari arah depan, belasan tindak jauhnya, dari belakang tumpukan salju, lantas muncul tiga orang, yang scmuanya mengenakan pakaian malam serta scmua kepaia mereka dibungkus dengan kain hitam.
Mereka jalan dengan berbaris menghampirkan orang tidak dikcnal akan menghadapi Ketua Bweehoa-koen ini.
Satu diantaranya yang jangkungkurus, lantas tertawa berkakakan.
"Apakah ada baik, Kiang Looenghiong?"
Tanya ia dengan sikapnya sembarangan.
"Kiranya kau telah menyingkir jauh ke tanah perbatasan ini! Pasti kau merasakan banyak kesukaran di sini! Setelah beberapatahun, malam ini kitaorang bertemu di sini, maka, tak ada omongan lain, mari kau ilcut kita orang!"
Ek Hian terus mengawasi. lamasih sangsikan orang ada sahabat atau lawan.."Siapa kau orang?"
Akhimya ia tanya.
"Tolong beritahukan namamu semua...."
Orang yang datang pcrtama, yang memancing, tiba-tiba gerak-geraki tangannya ke arah pundaknya, atas mana, dengan terbitkan satu suara nyaring, ia hunus sebatang pedang yang tajam.
"Kau benar-benar ada Kiang Ek Hian, si iblis tua!"
Ia berseru.
"Bagaimana dengan jiwanya Samhong dan Djiehouw? Baiklah kau putuskan sendiri saja!1"
Kata-kata itu membuat Ek Hian gusar sekali.
"Kawanan tikus, jangan banyak tingkah!"
Ia membentak.
"Jikalau aku si orang she Kiang tidak perlihatkan dirinya kepadamu sekalian, sia-sia saja nama Bweehoa-koen!"
Segera jago tua ini hunus golok Gan-Ieng-toonya, dengan itu ia berlompat maju, untuk menyerang dengan gerakannya "Tokpek Hoa-san"
Atau "Membacok Gunung Hoa-san".
"Pundak rata, maju!"
Demikian seruannya orang yang diserang, yang segera menangkis, atas mana, kawankawannya semua hunus senjata mereka masing-masing, untuk terus bergerak, akan kurung orang tua ini Ek Hian segera kena dikurung, akan tetapi ia coba gempur kepungan itu.
dengan sebatang goloknya ia layani gaetan Houwtauw-kauw, musuhmusuhnya punya pedang Shongboen-kiam, golok Poathongtoo dan tongkat Tengtjoa-pang.
Ia sangat mendongkol ketika telah habiskan tiga puluh jurus, ia masih belum peroleh hasil.
Dengan ragam dan ulet, empat musuh itu kurung ia sccara rapat.
Maka dalam murkanya, ia menyerang dengan terlebih seru.
Empat musuh itu mengurung dengan mulut mereka tidak diam saja, suara senjata pun sering terdengar beradunya, maka itu, di lain saat, ke sana mendatangi sejumlah dua atau tiga puluh penduduk kampung, di antara siapa Kiang Hong Keng maju dimuka.
Ma Potjoe adalah yang pimpin orang-orangnya, mereka datang sambil membawa obor, hingga sang malam jadi terang-benderang.
Di antara mereka ini ada yang menunggang kuda, dan itu, suara kuda dan manusia tercampur jadi satu.
Menampak ada bala bantuan untuk pihak musuhnya, sedang merekal scndiri sampai sebegitu jauh masih belum mendapatkan hasil, lawan yangj mcnjadi kcpala segera beri tanda pada kambratnya.
Ia gunai kata-katfi rahasia, untuk mundur dulu, buat cari kawan yang terlebih liehay, setelah itu, hampir berbareng, mereka lompat mundur, kemudian mereka gunai scnjata rahasia untuk tangkis dan mundurkan pengejaran.
Kiang Ek Hian gunai goloknya, untuk singkirkan sesuatu scnjata rahasia, ia tidak mengejar, ia larang pihaknya mcngubcr, maka itu, lekas sekali, empat musuh lenyap di tempat gelap.
Hong Keng dan Ma Potjoe sudah lantas datang mcnghampirkan.
■ "Kiang Loocngh iong, mengapa kau tidak memberikan tanda suatu apa?"
Ketua kampung orang Hwee sesalkan.
"Kcnapa kau perbahayakan diri sendiri untuk layani mereka itu? Jikalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana nanti kita menyesal?"
"Tidak apa-apa!"
Ek Hian tertawa.
"Segala kurcaci, buat apa aku bikin kau kaget, Potjoe?"
Ma Potjoe kerutkan alis.
"Men unit cucu Loocngh iong, mereka sebenarnya pernah datang mengintip kita,"
Berkata dia.
"Kita ada di kampung miskin, apa mereka hendak cari? Aku kuatir mereka ada kandung maksud Iain! Apa mereka bukannya gundal pemerintah Boan?"
Ma Potjoe menduga jitu sekali.
Memang empat orang itu ada orang-orangnya pemerintah Boan, iaJah kaki-tangan yang liehay dari Tjongtok dari Siamkam, Siamsay dan Kamsiok, di antaranya ada pahlawan dari Istana Boan.
Sebab sejak lenyapnya Sam-Liong Djie-Houw di Tektjek-san;, pembesarpembesar Boan ada kinm lain rombongan untuk mencari.
Karen a menduga kctiga Naga dan kedua Harimau menuju ke Kamsiok, orang telah menuju ke tapal batas Barat-utara ini Maksud tujuan dari pemerintah Boan bukan melainkan bekuk orang-orang Gichoo-toan atau mereka yang mencntangi pemerintahnya, maksud mereka ada sekalian cari orang-orang gagah yang suka kasih dirinya digunai sebagai perkakas.
Untuk ini, tugas diserahkan kepada Tektcng Patouwlouw Kek Touw Im, satu pahlawan kelas satu, serta Too La Lhama dari Seetjhong.
Kepada mereka ini, Tjongtok dari Siamsay dan Kamsiok serahkan belasan pahlawannya untuk mem bantu.
Mereka bekerja dengan memencarkan diri.
Demikian yang menuju ke Kamsiok Utara terdiri dari lima orang dengan pemimpinnya ada Ong Tjay Wat Ong Tjay Wat ini, seperti diketahui, ada salah satu pahlawan dari Istana Boan.
Ialah yang dahulu gagal di Lioetjhung ketika bersama-sama Lokee Ngohouw, Lima Harimau Keluarga Lo, ia kepung LioeToanio, karena ia kena dilabrak oleh Law Boe Wie serta nyonya Lioe itu.
Melulu karena liehaynya ilrnu entengi tubuh ia lolos dan bahaya maut"
Sekembalinya ke Kota Raja, ia malu sendirinya, dari itu, ia lantas mmta tugas di luar.
Maka di akhirnya, ia dikirim kepada Tjongtok dari Siamsay dan Kamsiok, karena mana, sekarang ia memimpin empat kawannya di antara siapa ada satu yang liehay, yang menjadi tangan kanannya Tjongtok itu.
Dia ini ada Kan Tay Him, satu begal tunggal dari Hoopak, setelah menerima tjiauwan, dia dikirim ke dalam tentara di Barat utara.
Sclama di Hoopak, pernah beberapa kali ia bertemu sama Kiang Ek Hian, dari itu, ia diperbantukan pada Ong Tjay Wat untuk selidiki lenyapnya Samliong Djiehouw serta di mana beradanya Ek Hian.
Oleh karena penyelidikan dilakukan secara seksama, walaupun Yamtjoan-tjoe ada satu tempat mencii dan tempat kcdiamannya orang Hwee, tempat itu pun tak luput dari perhatian.
Begitulah yang datang pertama kali, dia ada Ong Tjay Wat Dia ini tidak sangka di tempat sekecii itu ada orang liehay, dengan berani ia layani Hong Keng dengan tangan kosong, setelah terdesak, baharu ia insyaf ancaman bahaya.
Maka lantas ia angkat kaki.
Ia percaya, selagi sinona ada dcmik ian iichay, orang yang lanjut usianya mcsti tcrlebih Iichay pula la pan jadi henui dan curiga, maka ia lantas pulang untuk beritahukan itu pada kawan-kawannya, hingga mereka lalu berunding.
Kesudahannya mercka undang Too La Lhama, untuk membaniu.
maka kejadiannya.
Too La Lhama datang berempat.
Tiga yang lain adalah Ong Tjay Wat scndiri, Kan Tay Him dan Tat Tck Tjiang.
Sengaja mereka memakai topeng untuk kcpung Kiang Ek Hian, yang lebih dahulu dipancmg keluar kampung.
Too La Lhama ada kesohor untuk Seetjhong.
dia cuma ada di sebawahannya Lhama Besar Kat Pou Djie.
akan tetapi sekarang, menghadapi Ketua Bweehoa-koen, dia repot, dia tidak mampu perlihatkan kegagahannya.
Dia toh mengepung bcrsama-sama kawan-kawannya.
yang semua liehay.
Begitulah ketika datang bala bantuan untuk Ek Hian, mereka angkat kaki.
Sdama itu, Kan Tay Him sudah lantas kenali.
musuh mereka yang tua ada Kiang Ek Hian, hal ini ia beritahukan pada Too La Lhama.
"Dia tentuiah yang singkirkan Samiiong Djiehouw, maka baiklah kita minta bala bantuan,"
Nyatakan lebih jauh itu bekas begal tunggal.
Too La Lhama malu sendirinya akan minta bantuan.
Ia pun anggap, Yamtjoan-tjoe hanya satu kampong kecil.
Tapi, setelah memikir, ia kirim juga Ong Tjay Wat pulang kr Siamsay, untuk undang Kek Touw Im, guna tangkap Kiang Ek Hian.
Scmcntara itu, di Yamtjoan-tjoc Ma Potjoe dan Kiang Ek Hian ada I bikin penjagaan hati-hati.
Mcrcka tidak bisa minta bantuan dari mana-mana, mereka bcrdaya-upaya scndiri.
Daya penjagaan mereka juga tak lain tak bukan, cuma memasang tambahan kawat perintang di pagar bentengan serta am par duri-duri besi dan pecahan batu di sckitar kampung.
Hatinya Kiang Ek Hian tidak tcntcram ketika ia dapat kenyataan, untuk banyak hari To Poet Hoan, yang pcrgi ke Kamsiok Timur, belum juga kcmbal i.
scdang biasanya kawan itu sudah mcsti kembali.
Dcmikian, lagi tujuh atau delapan hari telah dilewatkan, selagi Poet Hoan tetap belum kembali, Kek Touw Im telah mendahului datang!
Pada suatu malam, lewat jam tiga, selagi Ma Potjoe dan Kiang Ek Hian berjaga-jaga, tiba-tiba datang laporan perihal tertampaknya musuh mendatang, dalam rupa satu pasukan berkuda.
"Ah!"
Berseru Ma Potjoe, yang terus lemparkan cawannya.
"Mari siap"
Masih dua-tiga kali datang warta beruntun perihal mendatanginya musuh, kemudian sedang orang berkumpui di atas panggung benteng, kelihatanlah obor terang-terang, dari satu pasukan serdadu yang datang dengan cepat Segera sesampainya di muka kampung, atau benteng, barisan itu lantas mengatur diri.
Di antara cahaya api, Kiang Ek Hian tampak kepala barisan itu, scorang bcrtubuh tinggi tujuh kaki lebih, alisnyagomplok, matanya gede, hidungnya seperti hidung barongsay, mulutnya bagaikan mulut harimau, tubuhnya ditutup dengan kasee atau jubah merah yang lebar, tangannya mencckal sebatang senjata ist imewa, yang berujung lancip dan banyak durinya.
Scbab dia adalah Tekteng Patouwlouw Kek Touw Im, pahlawan istimewanya Istana Boan.
Ma Potjoe segera berseru menanyakan maksud kedatangan orang.
Kek Touw Im tertawa berkakakan, ia maju pula kapan ia menjawab.
"Kau tentu ada potjoe dari ini kampung kecil! Kaudengar! Kcnapa kau berani sembunyikan pemburon ncgara? Turut aturan, kampungmu ini mcsti dibikin musnah, tapi pintjeng ada murah hati, pintjeng suka mengasih ampun! Kita suka bcrikanjalan hidup pada kau orang asal kau serahkan pemburon negara itu!"
"Siapa pemburon yang kau maksudkan itu?"
Tanya Ma Potjoe.
"Itn dia!"
Berseru Kek Touw Im dengan jawabannya, seraya ia tuding Kiang Ek Hian yang dampingi Ma Potjoe.
"Angin busuk!"
Ma Potjoe membentak, dengan kumisnya bergerak-gerak, alisnya bangun berdiri. Kawanan bangsat anjing penindas, bangsa Hwee walaupun kita hanya seorang dan seckor kuda, kita nanti lawan padamu!"
Lhama itu tertawa.
"Kau berani lawan tentara negen? Kau berani layani kita bertempur?"
Iamenantang.
"Balk! Memangnyaaku datang kemari dengan niatan bertempur, untuk bikin kendor dan sehat otot-ototku!"
Lalu ia tambahkan berseru.
"Eh, Kiang Ek Hian, pemburon tak maumati, kenapa kau scmbunyi saja?"
Ek Hian gusar bukan kepaiang, ia hendak turun akan sambut tan tangan, tapi itu waktu, Ma Potjoe telah dului ia.
Potjoe ini jujur dan laki-laki, ia anggap adalah keharusannya sebagai tuan rumah akan sambut tantangan.
Sembari maju, ia berseru.
"Urusan kampung ini ada menjadi tanggung jawabku! Mari kau tempur dulu atai!"
"Aha, kau berani lawan aku?"
Kek Touw Immenantangsccarajumawa.
"Saykee punya Djitgoat-thong ini biasa dipakai kcmplang orang-orang Kangouw kenamaan, kau sendin belum punya derajat untuk menerimanya!"
Lalu ia menoleh ke pihaknya, akan segera tambahkan secaramenghina.
"Hayo, anak-anak! Siapa saja satu di antaramu boleh keluar akan layani kurcaci ini!"
Satu orang sambut seruan itu, dia adalah stewie atau pahlawan, dari Kantor SiamkamTjongtok, tangannya mencekal golok berkepala naga-nagaan, sebab dia adalah A Mo Liang, seorang Turfan, yang berkhianat kepada bangsa sendiri, yang kesudian mcnjadi gundal pemerintah Boan.
Tanpa kata apaapa ia terus tikam Ma Potjoe, yang tak pandang mata.
Ma Potjoc bcrsenjatakan toya Samtjiat-koen, dengan itu ia menangkis, ia sampok golok musuh dengan keras, sampai golok itu icrpcntal.
Dalam kalangan bangsa Hwee, ilmu toya atau tongkat yang kesohor adalah Sathwehwee Koen-hoat.
Sat ini ada seorang dari zaman Kaisar Kee Keng, namanya tidak diketahui, dia hidup berkelana, maka orang panggil dia "Hweehwee"
Saja.
Sudah sejak empat puluh tahun yang lalu, Sat Hweehwee menutup mata, tapi wansan ilmu toyanya masih kcsohor di Barat-utara.
Ilmu silat Samtjiat-kocn dan Ma Potjoc ada warisan Sat Hweehwee, mclainkan sayang Potjoe ini tak dapatkan sampai sempuma.
Hanya kebetulan saja, bertemu sama To Poet Hoan, Poet Hoan bantu padanya dengan ajarkan dia gerakan dari golok Bweehoa-too.
A Mo Liang tercengang akan hadapi musuh yang tangguh, ia jadi pcnasaran, ia jadi sengit, dari itu, ia ulangi serangannya secara hebat Ia mendesak keras.
Kemudian, dengan Tanhong gengtjoen", atau "Burung hong menyambut musim semi", dari bawah ia menyontek ke atas, keulu hati.
Dengan lompat ke samping, Ma Potjoe kelit dari serangan berbahaya itu, habis itu, ia membalas dengan serbu kedua kaki orang, hingga A Mo Liang jadi kaget, lekas-lekas ia berlompat.
Tapi ia penasaran, sambil lompat, ia membacok.
Ma Potjoe lihat gerakan musuh, ia menangkis, keras sekali, hingga kedua senjata bcradu tak dapat dihalau lagi oleh A Mo Liang, sekejap saja, goloknya trrlrmpar dari cekalan, mental jauh.
"Biarlah kau rasai liehaynya kampung kecil ini!"
Ma Potjoe mengejek A Mo Liang lekas-lekas undurkan diri, tapi di sebelah dia, Kek Touw Im tertawa dingin.
"Jangan bertingkah!"
Kata pendeta lhama ini.
"Kau toh baru menghadapi satu di antara cucu murid!"
Kemudian, sambil menoleh, ia berseru.
"Anakku Tat, kau keluar, kau bereskan ini binatang!"
Seruan itu disambut dengan mnnculnya seorang, senjata siapa ada luar biasa, senjata itu perdengarkan suara nyaring.
Dia ini adalah Tat Tek Tjiang, salah satu dari empat pahlawan yang beberapa malam yang lalu kepung Kiang Ek Hian.
Senjatanya ada sepasang gelang, yang dikeling dengan gelang lain, yang dipakaikan ujung tajam.
Jadi senjata itu bisa dipakai berbareng untuk merampas genggaman lawan.
Dalam umur lima puluh tahun lebth, belum pernah Ma Potjoe berkelana, dari itu, ia asing dengan senjata musuh ini, ketika musuh datang dekat, lantas ia menyerang ke arahdada.
Tat Tek Tjiang tertawa menghina, ia angkat Djitgoat Sianghoan, untuk menangkis, tapi ia menangkis dengan keras sekali, ketika kedua senjata beradu, terdengarlah suara nyaring.
Berbarcng, Ma Potjoe pun terkejut, karena kedua tangannya tergetar,"
Toyanya terpental , baiknya tak terlepas.
Tapi karena ini, ia jadi berlaku hati-hati.
Kembali keduanya sating serang.
Tat Tek Tjiang berlaku tenang, tidak dcmikian dengan Ma Potjoe, yang penasaran, yang hendak membalas.
Ia menunggu dengan sabar, kapan kembali ia diserang dengan hebat, ia nyamping, dari sana, ia menyampok dengan gelangnya.
Ini kali, pahlawan Boan itu berhasil.
Samtjiat-koen kena diserang begitu rupa.
hingga mcnjadi patah tiga!
Dengan air muka pucat, Ma Potjoe lantas saja mundur.
"Kau hendak menyingkir kc mana? Serahkan jiwamu!"
Berseru Tat Tek Tjiang sambil putar sepasang gelangnya dan tubuhnya lompat mencelat, untuk mengejar.
Dalam saat mengancam untuk Ma Potjoe, dari atas benteng melayang turun satu tubuh merah, yang bersenjatakan pedang berkilauan, hingga, menampak mana, matanyaTat Tek Tjiang menjadi siJau, hingga ia berdiri diam mengawasi saja "Jangan bertingkah, di smilah nonamuJ"
Demikian bayangan merah itu, satu nona cantik.
Pahlawan Boan itu heran, apapula akan saksikan kegesitan orang.
Dia tidak kenal Angie Uehiap Kiang Hong Keng, yang belajar silat sejak umur empat belas tahun, yang dalam umur cnam belas bcrani merantau sendin, dan selama empat tahun ini, berkelana mengikuti engkongnya.
Kecuali Iatihan, nona ini telah wariskan semua ilmu silat Bweehoa-koen.
Walaupun demikian, Tat Tek Tjiang tidak takut la anggap, sampai di mana saja keuletannya satu nona.
Demikian, keluarkan berbareng sepasang gelangnya, ia menyerang dengan tipunya "Goeng tjinie"
Atau"Garuda lapar geraki sayap".
"Bagus!"
Menyambut Hong Keng, yang segera mendahului, akan menikam dada, hingga lawannya jadi repot sekali, lekaslekas dia batal menyerang, diapakai gelangnya untuk menangkis, untuk sekalian menggalang pedang lawan itu.
Hong Keng bukannya Ma Potjoe, ia tak kasihkan pedangnya ditempel, lekas-lekas ia menarik pulang, akan dipakai menyerang pula, sekali ini dengan gerakannya "Kenghong hielioe"
Atau "Angin berputar permainkan cabang yangtioe".
Lebih dahulu ia sampok gelang, lalu ia menusuk.
Tek Tjiang mundur sambfl putar diri, sesudah itu, baharu ia maju pula.
Baharu sckarang ia tak pandang enteng lagi kepada si nona manis itu....
Nona Kiang perlihatkan kegesitan tubuhnya, scbatnya pedang sambar-mcnyambar, dcngan itu cara, ia mcncoba mendesak musuh,hingga ia bildn pcnglihatan mata lawan menjadi seperti kabur.
Sia-sia saja Djitgoat Sianghoan dipakai untuk menyerang, buat bcla diri, dia kena terkurung cahaya pedang.
Dengan satu gerakan "Wie To hongtjie"
Atau "Malaikat Wie To persembahkan tongkat", Tat Tek Tjiang hendak rubuhkan si nona, atau sedikitnya pecahkan desakan, akan tetapi sebelumnya Hong Keng men dahu I ukan, dia ini incrangsck dan menikam dcngan "Kimliong hiehay"
Atau "Naga emas memainkan lautan", satu tusukan tak dapat dihalau! "Aduh!"
Menjerit Tek Tjiang, yang tangan kirinya sapat jarinya kena terbabat pedang.
Kek Touw Im, yang menonton sejak setadian, mclupai derajatsendiri apabila ia saksikan pihaknya kembali kena dipecundangi, dalam murkanya ia lompat maju seraya menyambar dengan Djitgoat-thongnya kepada Nona Kiang.
Ia bersikap teiengas sekali, katerta genggaman istimewanya itu beratnya kira-kira enam puluh kati.
Hong Keng tabu bahwa tak dapat ia melawan dengan tenaga, maka itu tatkala senjata sampai, ia berlompat berkelit dalam gerakannya "Yantjoe tjoanin"
Atau "Burling walet tcmbusi mega".
Ia Ioncat tinggi dua tumbak Iebih, melewati musuh yang beitubuhj besar, kemudian turun di bclakang musuh, ia putar tubuhnya sambil menikam pundak kanan orang.
Lhama itu liehay, gesit juga gerakannya, segera ia mcmutar tubuhjj senjatanya digeraki ke bclakang, untuk dipakai menangkis, maka sckali ini, tak ampun lagi, pedangnya si nona kena tersampok sebelum ia sempat menariknya pulang.
Kaget Hong Keng karcna tangannya sampai scsemutan, lckaslckas ia Ioncat mundur.
Dalam sengitnya, Kek Touw Im] hendak rangsek si nona, akan tetapi di belakang ia, ia segera dengar bentakan.
"Keledai botak, tak punya muka, bagaimana kau menghina satu anak perempuan? Jikalau kau ada punyakan kepandaian, mari sambut golokku!"
Lhama ini menoleh dengan segera, hingga ia tampak Kiang Ek Hian lagi mendatangi. Jago tua ini ada sangat gusar karcna cucu pcrempuannya dipcrhina.
"Aku dengar kau ada Ahli Warisnya Bweehoa-koen, Tjoe Hong Tengjuga ada muridmu, saykee ingin sckali belajar kcnal dengan kau!"
Menantang pendeta lhama mi.
"Di kolong langit ini, saykee punya Djitgoat-thong belum ada tandingannya, mari aku belajar kenat dengan golokmu!"
Habis mengucap demikian, Kek Touw Im segera mulai dengan penyerangannya, dengan gerakan "Hengsauw tjiankoen"
Atau "Mel intang menyapu ribuan tcntara".
Nama saja dari gerakan itu sudah menunjuki rabuhan ke arah bawah!
Bcrbarcng dengan itu, Hong Keng kembali ke bentengnya.
Kiang Ek Hian awasi bergeraknya genggaman musuh, yang ia tunggui, begitu lekas senjata itu hampir sampai, ia angkat tubuh sambil bcrjingkrak, kaki kanannya dipakai menjejak senjata itu, lalu dengan pinjam tenaga kaki, ia jumpalitan, akan Ioncat Icwati kepala lawan, selagi berbuat demikian, tanpa tunggu kedua kakinya injak pula bumi, goloknya dibabatkan kepada kepala orang dengan tipunya "Tok j pek Hoa-san".
Kek Touw Im menyerang dengan hebat, ia terkejut kapan ia saksikan gerakan luar biasa dan sebat sekali dari lawan itu, tak perduli usianya yang sudah Ianjut, maka lekas-lckas ia mengendap, seraya memutar tubuh, ia menangkis ke atas.
Ia tidak hendak buang diri tapi ia ingin lindungi batang lehernya.
Gerakan kedua pihak ada berbareng, satu bentrokan tak dapat dicegah lagi, si pendeta bisa tolong batang lehernya, akan tetapi ujung senjatanya kena terpapas kutung oleh Ganleng-too yang tajam, hingga lenyaplah dua buah gantilannya.
Setelah ini baharulah Kek Touw Im tidak berani pula memandang rendah kepada lawan itu, lahi jj melayani berkelahi dengan sungguh-sungguh, dengan gesit tetapi waspada.
Benar-benar ia ada gagah sekali nampaknya ia tidak ada di sebawahaimya See Beng Wan.
Ek Hian pun dianwham kagum melihat musuh yang liehay ini, tetapi ia tidak jerih sambil perdengarkan seruan, ia keluarkan ia punya kepandaian, untuk melayani la tidak mau kalah sebat atau gesit, baik di waktu menyerang maupun di saat berkelit.
Sebentar saja, kedua pihak telah lewatkan tujuh sampai delapan puluh jurus, saking scbatnya pertempuran mereka.
Terang sekali kelihatan tenaga yang besar dari si pendeta, tubuh yang enteng dari Ketua Bweehoa-koen, hingga mereka jadi merupakan satu tandingan yang setimpal.
Kek Touw Im ada sangat penasaran, karena ia pun ada satu Tekteng Patouwlouw, bukannya ia lekas peroleh kcmenangan, secara seumumnya, ia ada sedikit terdesak, maka itu, diam-diam ia telah ambit putusan.
Karena ini, ia terus main mundur.
Kiang Ek Hian heran melihat sikap orang itu.
Ia tahu ia menang di atas angin, lawan telah terdesak, tetapi orang masih belum kalah, kenapa orang main mundur terus!
Selagi ia menduga-duga seraya ia tak pemah lengah, mendadakan ia lihat orang loncat keluar kalangan, tangannya ditudingkan, dari mulutnya terdengar seruan.
"Anak-anak. Masnahkanlah kampung ini!"
Demikian titahnya, titah yang telengas sckali!
Metihat gerakan tangan dari pemimpinnya, pasukan dari seratus lebih serdadu Boan itu sudah perdengarkan sambutan mereka, disusul dengan gerakan mereka bagaikan arus banjir.
Lekas sekali mereka lepaskan panah api, hingga sang malam jadi terang-benderang!
Di dalam bentcng, orang kaget dan menjerit, belum sempat mereka berdaya.
beberapa orang telah rubuh scbagai korbannya panah api.
Syukur buat Hong Keng, bcrsama-sama Ma Potjoe, ia keburu berkelit, ia dapat menangkis serangan, setelah mana, tcrpaksa mereka mundur.
Semua orang pun dipcrintah lekas mcnyingkir.
Panah api ada iiehay, yang mana tidak mengenai sasaran manusia, lantas membakar kayu kcring dan lainnya, sehingga di Iain saat, api pun berkobar-kobar, sedang malam itu, kebetulan ada angin menyambar-nyambar.
api menyambar ke arah rumah-rumah, tanpa ada daya pertolongan, karena di kampung orang Hwee itu kekurangan air.
Kampung jadi sangat berisik dan kalut, terutama orangorang perempuan dan anak-anak.
Semua orang kampung repot menolongi mereka itu.
Pintu benteng telah dibuka, untuk orang mcnyingkir keluar, buat meloloskan diri.
Too La Lhama berlaku bengis, ia pimpin barisannya untuk mengejar, buat menyerang kalang-kabutan, karena pihak Hwee tidak diam saja, mereka jadi bcrtempur secara kalut.
Orang-orang Hwee itu ada terlatih baik, dulu pun mereka pemah dibasmi pasukannya Tjoh Tjong Tong, yang usir mereka dari Kamsiok Timur ke Kamsiok Uiara, maka itu sekarang, mereka mclawan sccara be rani Di bawah pimpinan To Poet Hoan, dari umur belasan sampai umur enam puluh tahun, mereka belajar silat, maka itu, sekarang mereka sanggupj satu lawan bcbcrapa orang.
Melulu lantaran dibokong panah api, mereka tcrpaksa jadi kacau.
Setelah di lawan sccara sungguh-sungguh, barisannya Too La Lhama tidak mampu berbuat banyak.
Beruntung bagi Too La Lhama, bersama ia ada belasan kawannya yang liehay.
Ma Potjoe dan Kiang Hong Keng lakukan perlawanan, tctapi dalam kekalutan sepcrti itu, pihak Hwee kalah angin.
Too La Lhama tahu Nona Kiang Iiehay, bersama dua pahlawan dari Siam-Kam Tjongtok, ia kepung si nona, yang ia desak.
Tombaknya Shong-boen-kek ada iiehay, maka itu, dibantu dua tenaga lain, ia bikin si nona terkurung dan mandi keringat Untuk melawan terus, Hong Keng sampai kertak gigi.
Too La Lhama berlaku bengis, ia tahu orang sudah lelah, ia merangsek dengan hebat.
Selagi Hong Keng menghadapi ancaman malapetakaitu, riba-tiba ke situ datang tiga penunggang kuda, yang datang dengan kaburkan kudanya masing-masing, sebentar saja, mereka sudah sampai di medan pertempuran.
Pada waktu itu, dengan gerakan Hong Keng tikam tenggorokannya satu musuh yang bersenjatakan toya besi.
Ia ingin rubuhkan salah satu pembantunya Too La Lhama, supaya ia dapat keringanan.
Lawan ini bukannya orang lemah, dengan toyanya, ia tangkis pedang.
Si nona meneruskan, selagi pedangnya kesampok, ia menikam dari kiri, kepada iga orang.
Tapi, sedangnya ia hendak tusuki pedangnya, di belakang ia, tombaknya Too La mcnyambar, dan goloknya kawannya yang kedua, pun perdengarkan suara angin.
Dalam saat yang mengancam itu, mendadakan Too La menjerit keras, tombaknya menyambar ke lain arah, kawannya pun terkesiap hatinya, gagal bacokannya, cuma karenanya, Hong Keng sendiri pun batal menikam lawannya.
Ia segera menoleh dengan tercengang.
Kejadian iuar biasa ini disebabkan Penunggang kuda itu, yang baharu datang, sudah lantas loncat turun dari kuda mereka, untuk campurkan diri dalam pertempuran.
Mereka adalah dua orang tua dan seorang muda, dan dan kedna orang tua, yang satu ada To Poet Hoan yang diharap-harap Dua yang lain juga bukan orang-orang sembarangan, sebab yang tua ada Lioe Kiam Gim, ahli Thaykek-koen, dan yang muda adalah Teng Hiauw yang gabungkan ilmu kepandaian kedua Thaykek Teng dan Thaykek Tan.
Begitu lekas loncat turundari kuda-kuda mereka, Lioe Kiam Gim awasi pertempuran, lalu ia kata kepada kedua kawannya.
"Kasihlah aku iayani itu pendeta jahat! Kauorang berdua pergi bebaskan orang-orang Hwee itu!"
Teng Hiauw sementara itu segera kenali Kiang Hong Keng dengan pakaiannya serba merah, ia lantas saja maju seraya berkata kepada To Poet Hoan.
"To Lootjianpwee, silakan tolongi orang-orang Hwee itu, aku hendak bantui si nona!"
To Poet Hoan bersenyum, ia manggut-manggut Teng Hiauw maju sekali Hong Keng terancam bahaya, tidak ayal lagi, ia kirim piauw yang Iiehay, yang mengenai nadi kanan Too La Lhama, tidak heran kalau pendeta itu, tak perduli dia gagah, lantas saja menjerit Tapi dia tidak segera rubuh, dari itu Teng Hiauw kirim piauw yang kedua serta yang ketiga.
Kimtjhie-piauw yang kedua.
Too La dapat egoskan, akan tetapi yang ketiga mengenai jidatnya, hingga dia lantas saja mandi darah.
lajadi sangat gusar, ia tinggalkan si nona, ia hampirkan Teng Hiauw untuk diserang secara kalap, karena dua-dua tangannya masih sanggup cekal sepasang tombak Shongboen-kek.
Menampak orang, demikian garang, Teng Hiauw tidak mau adu pedang Thaykek-kiam, selagi ia diserang, ia berkelit dengan pesat, lalu dari samping, ia kirim bacokan, ia kenakan senjatanya, hingga ujung tombak kena dibabat putusl Too La scperti kalap, ia maju terus dengan serangannya yang hebat akan tikam tenggorokan orang.
Teng Hiauw bcrlaku awas dan gesit, ia tidak tunggu sampainya tikaman itu.
ia mendahului, akan membacok dari kiri, tajamnya pedangnya diserodoti di atasan tombak, untuk lengan orang.
Ini ada bacokan "Soensoei twietjioe"
Atau "Mendorong perahu mengikuti aliran air".
Lhama itu benar liehay, ia masih sempat geser kakinya, untuk berkelit sambil tarik pulang tangannya yang terancam bahaya itu, lalu dari sini, ia baias memukul.
Teng Hiauw lekas-lekas tarik pulang pedangnya, yang ia masih elak adu dengan tombak cagak, habis itu, kembali ia balas menikam, kepada iga kanan dari pendeta itu.
Ia gunai tipu "Hoeiyan touwlim"
Atau "Burung walet terbang masuk ke dalam rimba".
Too La rupanya nekat, ia tidak mau kelit, dengan tombaknya, ia menangkis seraya terusi menikam pula.
Teranglah sudah ia hendak adu jiwa, untuk mereka binasa bcrdua.
Ia ingin, selagi ujung pedang nancap di iganya, tombaknya nanti panggang dada musuh!
Kiang Hong Keng nampak itu ancaman bahaya, saking kaget, ia sampai menjerit!
Akan tetapi Teng Hiauw tidak mau turut-urutan nckat, ccpat luar biasa, ia tarik pulang pedangnya, untuk dipakai menyampok tombak musuh, sctclah mana, si nona mclainkan tampak tubuhnya berputar, lalu pedangnya dipakai membacok pula!
Tombaknya Too La menusuk tempat kosong, karena ia gunai seluruh tenaganya, tubuh maju ke depanJ justru itu, bacokan pedang sampai, tidak ampun lagi, ia kcluarkan jeritan hebat, ia mandi darah, tubuhnya rubuh tcrbant i ng hingga menerbi tkan suara keras dan berisik!....
Hong Keng lari menghampirkan si anak muda, napasnya sengal-sengal, mukanya pucat.
Teng Hiauw tarik pedangnya, ia memberi honnat.
"Jangan kuatir, Nona, musuh telah terbinasa,"
Kata ini anak muda. Nona Kiang mengawasi, wajahnya berubah dengan lantas. Ia bersenyum, tetapi ia menyesali.
"Kenapa mesti adu jiwa dengannya?.... Menampak kau menghadapi* bencana, aku berkuatir sekali.-Dia sudah tcrluka piauw, apa dia bisa bikin? Kau layani dia, coba kau kena dilukai, apa jadinya? Bukankah itu tak ada harganya?...."
Teng Hiauw bersenyum kctika dengar kata-kata itu.
Inilah untuk kedua kalinya ia tolongi si nona.
Yang pertama adalah dahulu, ketika si nona dikepung pahlawan-pahlawannya | Soh Sian Ie.
Tapi kalau dulu ia digusari, sekarang si nona menaruh belas kasihan atas dirinya....
Masih saja si nona berdiam mengawasi ia, hingga ia perlu lekas cari kata-kata.
"Kau baik, Nona,"
Kata ia.
"Lihat di sana, To Lootjianpwee sudah bereskan serdadu musuh!"
Hong Keng berpaling ke arah musuh, ke sekitarnya.
Mcmang benar, tentara Boan telah di bikin kocar-kacir, lari serabutan ke empat penjuru.
To Poet Hoan telah mengamuk hebat tanpa ada yang bisa merintangi.
Dengan begitu, Ma Porjoe dan orang-orang kampungnya pun jadi bisa berkelahi dengan hati tetap.
Di kedua pihak, pertempuran sudah sampai di akhirnyai akan tetapi disana, rombongan yang ketiga, Pertandingan masih berlangsung di antara Lioe Kiam Gim dengan Kek Touw Im, pendeta lhama yang menjadi pahlawan Boan kelas istimewa!
XI Hong Keng lantas hampiri To Poet Hoan.
"Soesiok-tjouw ada seperfr malaikat saja,"
Ia puji jago tua itu.
"Melihat ilmu pedang Soesiok-tjouw baharu sekarang mataku terbuka!"
Poet Hoan tertawa.
"Budak cilik, kau bisa sekali menyenangi hati orang!"
Kata ia sambii tertawa. Lalu ia menunjuk, akan meneruskan.
"Lihat di sana! Soepeh dari Teng Hiauw itu baharulah orang pandai! Jikalau kau hendak buka matamu, hayo lekas saksikan, nanti kau tak keburu!"
Hong Keng lantas saja menoleh.
Teng Hiauw pun memandang ke arah soepchnya Dengan pedang Tjcngkong-kiam, Lioe Kiam Gim bikin gerakan seperti garuda berputar-putar di udara atau naga permainkan air laut, ia bergerak sangat cepat dan tetap, iaseperti kurung Kek Touw Im dengan sinar pedang itu.
Kiang Ek Hian sedang repot betul tatkala tahu-tahu tentara Boan yang kurung ia terpencar sendiri, lalu ia tampak seorang tua dengan pedang di tangan menyerbu menghampirkan ia, sembari berseru.
"Kiang Lootjianpwee, serahkan kawanan anjing ini kepada aku si orang she Lioc!"
Dan Iain si orang itu mcnerjang tcrlcbih jauh kepada tentara Boan itu.
Tapi segera ia dikepung oleh Kek Touw Ini scrta nga pahlawan Boan lainnya yang masing-masing bcrscnjatakan toya, golok dan gactan, hingga cmpat rupa senjata lantas mcmbanjiri padanya.
Ek Hian mengawasi, akhimya ia jadi girang sekali.
Ia segera kenali Lioe KiamGim.
Pada dua puhib tahun yang lain, di Pooteng.
mcrcka berdua h idup scbagai sahabat, hanya sejak Kiam Gim hidup menyendiri di Khokee-po.
kedua pihak tak pemah bertemu pula dan tak salmg mendengar satu dari lain, maka adalah di luar dugaan, sekarang mereka bertemu, dalam saat-saai beg ini gentingl la memang sudah lelah, maka datangnya pcnolong itu membikin hatinyajadi sangat lega.
la pun terima bantuan tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Terima kasih!"
Ia nyatakan, lalu ia undurkan diri, akan bcrikan ketika sahabat itu gantikan ia, iasendiri lalu herbal ik mclabrak tentara imisuh.
Mclayani Kiang Ek Hian, Kek Touw lm sudah penasaran, karena sampai sekian lama, ia tak mampu rubuhkan jago Bweehoa-koen itu, maka sckarang, menghadapi Lioe Kjara Gim, ia jadi sangat mendongkol.
Maka bersama-sama kawannya, dengan sengit ia serang musuh baru.
Loe Kiam Gim tidak mundur terhadap kepungan musuh musuhnya, sebaliknya, ia coba desak mereka.
llmu silat Thaykek Sipsani-kiam telah diperlihatkan sungguh-sungguh, hingga cahaya pedangj berkilauan, menyambar-nyambar mengikut i pedangnya sendiri.
Satu lawan yang memegang toya kena didesak, kawannya dia ini, yang mencckal gactan, yang berada di sebeiah kiri, segera menolongi, dengan bacokannya dari bclakang.
Tapi Kiaml Gim lagi gunai gertakan, kapan ia lihat ancaman dari bclakang, dengan mendadakan ia memutar tubuh scraya menangkis dengan keras, hingga kedua senjata beradu sambil mencrbitkan suara nyaring.
Kesudahannya penyerang dengan gactan itu kaget sekali, lantaran duar dua senjatanya terlepas, terpental jauh.
Selagi dia tercengang Tjngkong-kiam menyambar tangan kanannya, pcrcuma ia egosi diri, pedang itu mendahului menabas kutung, hingga ia perdengarkan suara hebat, tubuhnya rubuh.
Kiam Gim segera rangsek pula lawan dengan toya itu.
Dia ini kaget, hatinya gentar, kena didesak, dia jadi repot.
Maka itu, ketika toyanya disampok dan ujung pedang menyambar terus, tidak ampun lagi, dia menjerit dan rubuh, jiwanya melayang seperti kawannya barusan.
Kek Touw lm lompat menyerang dengan Djitgoat-thongnya, tetapi Lioe Kiam Gim keburu tarik pulang pedangnya, dengan begitu, jago Thaykek-koen ini jadi bisa layani padanya.
Segera juga Kek Touw lm merasakan betul liehaynya lawan, Icarena mi, ia tidak berani berlaku sembrono.
Ia lantasjagadiri baik-baik, sembari berbuat demikian, ia cari ketika untuk turun tangan.
Ia putar senjatanya dengan gesit untuk menghalau ancaman-ancaman pedang.
Tapi ia tidak bisa berkelahi terlalu lama, ia kalah hati, kemudian ia memikir jalan, untuk angkat kaki.
Kiam Gim tak mengurangi rangsekannya, dengan ini, ia tidak kasih ketika buat lawan peroleh ketika akan menyingkirdari hadapannya.
Selama itu, pihak Hwee telah berbalik menang di atas angin.
Di pihak negeri, Ong Tjay Wat berlaku licik.
Ia lihat pihaknya ketcter, ia tidak mau tunggui datangnya bahaya untuknya.
Rupanya ia memikir.
"Kabur ada paling sclamat!"
Maka diam, dia mundur, lantas ia buka langkah panjang.
Hong Keng, yang berdiri didampingi dengan Tcng Hiauw, lagi asyik menonton pertempurannya Lioe Kiam Gim tatkala ia dapat lihat musuh yang licin itu angkat kaki.
"Lekas kejar!"
Dia tcriaki Teng Hiauw, tubuh siapa pun diatolak.
"Itu adalah si orang jahat yang paling dulu datang menyatroni kita dan kemudian datang pula bersama barisannya ini!"
Teng Hiauw mengerti, tanpa minta keterangan lagi, ia lompat untuk mengejar.
Dengan satu enjotan tubuh saja, ia telah melcsat dua-tiga tumbak.
sembari lompat, ia rogoh kantong piauwnya, hingga di lam saat, kedua bclah tangannya masing-masing sudah menggenggam riga batang.
Ia mengejar terus, lalu ia ayun kedua tangannya itu, hingga bagaikan bintang-bintang berkeredepan, enam buah Kimtjhiepiauw menyambar ke arah si orang licik.
Ong Tjay Wat kabur dengan disusul oleh satu kawannya, yang memegang sebatang golok, mereka bcrlan-lari saling susul, karena itu, Teng Hiauw menyerang dengan dua tangan dengan berbarcng.
Mereka itu sedang kabur, tidak berdaya terhadap enam batang senjata rahasia.
apa pula penyerangnya adalah ini pemuda she Teng.
Tjay Wat menjerit, ia rubuh, demikian juga kawannya.
Karena ini, mereka segera kena dicandak Teng Hiauw, siapa tak kasih ampun lagi, dengan tusukan pedangnya bergantian, ia rampas jiwanya dua orang itu.
Demikian, sejak kabur dari Lioe-tjhung, sebab dia tak pemah kapok, Ong Tjay Wat menemui ajalnya di kampung orang Hwee mi, malah dia terbinasa di tangannya murid Thaykek-pay.
Tentara Boan sudah lantas kabur semua.
To Poet Hoan tidak mau kejar mereka.
Di situ tinggal Kek Touw Im, yang terpaksa masih layani Lioe Kiam Gim.
Jago Thaykek-pay ini libat or-ang sudah lelah permainan silatnya pun mulai rancu, ia lantas tunggu ketika.
"Awas!"
Ia berscro, kapan akhimya sang ketika riba.
Kek Touw Im tangkis satu tusukan, dalam lelahnya, ia gunai setaker tenaganya, tapi lawan segera tank pulang pedangnya, untuk ditcraskan membabat dengan cepat sekaJi.
Ia terkejut, tetapi ia tak sempat tarik pulang senjatanya, dan ia pun tidak keburu berkelit, maka tah u-tahu, pcdang teiah mcnyambar batang lehemya, hingga lehernya itu putus seketika, kepalanya terlempar jatuh, tubuhnya rubuh terbanting, darahnya muncrat berhamburan.
Sampai di situ, legalah semua hati orang.
Penduduk Yamtjoan-tjoc jadi sangat berduka, di antara mereka, lebih banyak orang pcrcmpuan dan anak-anak yang terbinasa dan terluka daripada orang-orang lelakinya.
Lantas mereka urus yang luka dan kubur mayat-mayat.
Mereka pun singkirkan mayat musuh, pekerjaan mana dilakukan sampai fajar.
"Jangan berduka, jangan putus asa"
To Poet Hoan lantas menghibur.
"Pihak kita tidak terbasmi semua, kita masih bisa berdayal Satu dusun kita habis, kita boleh berdirikan sekali dual"
Ma Potjoe akur, ia lantas kasih perintah akan periksa orangorangnya sendiri, buat dihitung jumlahnya, untuk didaftarkan, perbaiki diri.
Kiang Ek Hian telah bercapai-lelah, akan tetapi ia puas dengan kcsudahan itu.
Tapi di samping itu, ia pun berduka, karena rusaknya kampung orang Hwee ini ada disebabkan urusannya sendiri."
"Ma Potjoe, masukilah namaku!"
Ia berseru, ketika ia dengar orang mengasih titah untuk membuat daftar, sembari berseru demikian, ia lari kepada Ma Potjoe, tubuhnya limbung.
Belum ia sampai pada Potjoe itu sekonyong-konyong ia rubuh!
Ia sudah berusia lanjut, ia lelah sekali, hatinya pun penasaran dan berduka, kejadian ada terlalu hebat untuknya, ia tak kuat pertahankan itu.
Semua orang terkejut Poet Hoan yang berada paling dekat, lompat menghampirkan.
Ek Hian rubuh untuk tcrus gerakij kaki-tangannya, ia hendak bangun pula.
Hong Keng lari menghampirkan, ia terus pegangi engkong itu, untuk dikasih bangun.
"Tidak apa-apa...."
Kata Ek HianJ tetapi napasnya masih memburu.
"Soesiok-tjouw, coba lihat Engkong,"
Hong Keng minta kepada Poet Hoan.
"Tidak apa-apa, Soeheng cuma terlalu lelah,"
Kata Poet Hoan, habisnya ia periksa nadi orang.
Akan tetapi, selagi menyahut demikian, ia enyingkir dari pandangan mata si nona.
Ia tahu, karena usianya yang tua dan terlalu banyak mengeluarkan tenaga, Ek Hian adaseumpama lampu Icekeringan minyak.
Mclulu karena kuat hati, Ketua Bweehoakoen itu masih dapat bertahan.
poet Hoan mengerti ilmu obat-obatan, di samping menghiburi Hong Keng, ia uruti saudara seperguruannya itu, untuk bikin lemas urat-uratnya, ia bawa sikap seperti tidak ada bahaya mengancam.
Ma Potjoe dan sejumlah orang Hwee, yang ingat bantuannya jago she Kiang itu, datang mcrubung, untuk menanyakan, buat sekalian menghibur.
"Pergi kau orang bekerja mendirikan rumah, kalau tidak, di mana kita bisa meneduh,"
Ek Hian kata pada mereka itu. Poet Hoan pun kata;
"Kita layani Kiang Looenghiong, maka Potjoe beramai pergilah urus rumah, untuk kita mondok."
Ma Potjoe harus dibujuki, baharu ia mau ajak orangorangnya berlalu.
Yamtjoan-tjoe ada tempat belukar, akan tetapi di situ orang tidak kekurangan balok dan papan.
Di situ ada hutan pohon lioe, yang pada dua puluh tahun yang lalu ditanami oleh tentaranya Tjoh Tjong Tong.
Semua orang Hwee bekerja keras, untuk tenda, mereka rampas kepunyaan tentara Boan, yang telah ditinggal pergi.
Maka itu, tidak terlalu lama, Ek Hian telah dipepayang ke dalam sebuah tenda.
"Kau baik sekali, terima kasih,"
Kata Ek Hian dengan lemah. Ia kata, rumah, pakaian dan perabotan mereka sudah musnah terbakar, sebaiknya mereka tolong dulu diri sendiri.
"Looenghiong, janganlah tcrlalu memandang asing kepada kita,"
Kata Ma Potjoe scraya linangkan air mata.
"Kau telah bela kita, kita semua pandang kau scbagai orang sendiri, apa artinya gubuk semacam ini? Harap Looenghiong tidak berlaku sungkan."
Mendengar demikian, Ek Hian tidak berkata-kata lebih jauh.
Setelah dapat beristirahat, Ek Hian jadi terlebih segar, maka itu, ia bisa menghaturkan terima kasih kepada Lioe Kiam Gim dengan siapa ia terus pasang omong.
"Lioe-heng,"
Kata ia kemudian, sambil tertawa.
"selama di Pooteng, aku sebenarnya tidak puas terhadap Thaykek-pay Golongan Teng, maka adalah di luar sangkaanku, setelah aku buron, aku telah dapat pertolongan dari soctccmu. Dan sekarang, di saat menganeam seperti ini, kau sendiri tolongi kita Lioe-hcng, coba kau kasih kctcrangan, kenapa kau bisa datang kemari di saat tepat ini? Dan..."
La pandang Teng Hiauw, lalu ia lanjuti "Bagaimana dengan Soeteemu sekarang? Apakah kau telah dapat ketemui Teng Hiauw? Soeteemu itu teiah pesan aku wanti-wanti untuk can putcranya itu...."
Mendengar kata-kata ini, Teng Hiauw mengucurkan air mata. Matanya Kiam Gim pun menjadi merah dcngan tibariba.
"Eh, apakah artinya ini?"
Tanya Ek Hian, yang heran sekali.
"Kiang Lootjianpwee, panjang untiik aku bcrcerilera,"
Kata Kiam Gim.
"Sekarang baik kau beristirahat dulu, nanti aku bcrikan keterangan kcpada kau."
"Ya, Soeheng, kau terlalu capai, kau tidurlah dulu,"
Poet Hoan membujuk.
"Saudara Lioe pun lelah, biar ia juga beristirahat sebentar."
Ek Hian ada seorang dcngan banyak pengalaman, iaduga tentu ada terjadi suatu apa, akan tctapi ia insyaf, ia tidak mau mendesak, dari itu, terus ia meramkan matanya.
Tentu saja ia tak dapat tidur pulas, karena pikirannya terus bekerja.
Teng Hiauw telah lanjuti pelajaran silatnya di rumah Keluarga Tan.
Empat tahun lewat dcngan cepat, karcna dua Saudara Tan bcrikan pelajaran sungguh-sungguh, ia telah peroleh kemajuan pesat, dapat juga ilmu silat dari kedua Golongan Thaykek-pay.
Untuk ia, yang kurang adalah latihan terlebih jauh.
Pada suatu hari, Thaykek Tan panggil muridnya dan kata.
"Kau telah bcrhasil menggabung pelajaran kedua Thaykekpay, maka sekarang sudah sampai waktunya untuk kau mengembara, guna meluaskan pengalamanmu. Perhubungan kita ada bagaikan ayah dan anak saja, tak tega aku berpisah dari kau, akan tetapi aku tak bisa pegangi kau dan rriernbikih kau bcrdiam sampai tua di sini; Bukankah kau ingin teladan Tjianpwee kita Yo Louw Sian, yang telah mengembara untuk perkembangkan pelajaran Thaykek-pay kita?"
Teng Hiauw memang selalu ingat Kiang Hong Keng dan juga pikirkanj ayahnya, benar ayahnya mcnycbabkan ia minggat, tapi dasar ayah dan anak, ia tak bisa melupakan ayahnya itu, ia ingin dapat pulang, akan tengok sang ayah, maka sekarang, mendengar kata-katanya guru itu, ia jadi sangat bersyukur.
Ia nyatakan suka tcrima baik anjurannya guru itu, tetapi ketika ia bcrsiap dan] ambil selamat berpisah, ia tclah kucurkan air mata.
"Jangan bcrduka, Teng Hiauw,"
Kata Thaykek Tan sambil tertawa.
"Di dunia kita ini, tidak ada pesta tanpa penutupnya. Kau boleh berterima kasih kepadaku, yang sudi berikan pelajaran padamu, tetapi aku pun ingat kebijaksanaanmu, yang telah bersedia membeber Tengsie Thaykek-koen kepadaku. Namanya kita ada guru dan murid, sebenarnya kita seperti ayah dan anak, inilah kau hams mengerti. Kalau nanti kau telah sampai di rumahmu dan menemui ayahmu, sampaikan hormatku padanya, bilang bahwa aku bersyukur yang ayahmu sudah buka rumah perguruan umum untuk sebar Thaykek-koen. Aku sendiri barangkali akan pikir untuk teladan perbuatannya itu, Melainkan satu hal aku ingin sampaikan juga, ialah supaya ayahmu insyaf yang di kalangan Rimba Persilatan, adaorang-orang yang tidak puas mengenai tingkah-laku atau sepak-terjangnya, aku harap dia tak-lebih lama lagi berdekatan sama segala hartawan dan pembesar negeri, supaya terhadap sesama kaum, dia nanti bergaul bagaikan orang sendiri. Bilang pada ayahmu, aku kagumi dia sejak lama, dari itu, bcrani aku memberi pesan ini terhadapnya. Jikalau nanti ada kctikanya, barangkali aku sendiri akan pergi kunjungi dia di Pooteng."
Teng Hiauw bersyukur untuk nasihat ini, ia janji akan sampaikan itu pada ayahnya.
Ia memberi hdrmat lagi sekali, dengan air mata berlinang-linang, ia pamitan dan berangkat Selama empat tahun, pengetahuannya Teng Hiauw bertambah luas, terutama Thaykek Tan telah tuturkan ia banyak hal-ihwal kaum Kahgouw, ten tang ilmu silatnya pelbagai kaumlainnya.
Begitu berangkat dari Tankee-kauw, maksudnya Teng Hiauw yang pertama adalah pulang ke Pooteng, akan sambangi ayahnya, untuk sekalian tengok Angie Liehiap Kiang Hong Keng, kemudian baharu pergi ke Shoatang, akan kunjungi Tjoe Hong Teng.
la masih belum pikir untuk memasuki Giehoo-toan tapi ia tak bisa lupakan budi kebaikannya,ia hendak haturkan terima kasihnya.
Pada suatu hari sampailah Teng Hiauw di Thongtjioe.
Dan kota ini ke Pooteng tinggal seperjalanan beberapa hari lagi.
Ketika itu di Thongtjioe, di-mana-mana, orang bertemu dengan orang-orang yang berpelangi kuning, yang memakai ikat pinggang merah, yang bersenjatakan tombak panjang.
Itulah tanda dari Kaum Giehoo-toan.
Maka ia insyaf, betapa besar pengaruhnya kaum pecinta ncgara itu.
Ia pun lihat, orang ada sangat akur-rukun satu dengan lain, karena mana, tanpa kuatir apa-apa, ia memasuki kota sepcrti ia sedang pulang ke rumahnya....
Akan tetapi orang-orang Giehoo-toan heran melihat anak muda ini, sebab dia menyoren pedang,, romannya gagah, sedang dia bukan perwira, bukannya anggota Giehoo-toan, juga bukan orang dari Kalangan Hitam.
Waktu itu, pihak Giehoo-toan dan tentara Boan sedang bentrok satu dengan lain, maka pemuda ini merasa curiga.
Akhirnya, selaku pcnilikan, tauwbak peronda tegur Teng Hiauw ia sebenarnya ada dari golongan mana "Aku sendiri tidak tahu aku ada dari golongan apa,"
Sahut Teng Hiauw sambil tertawa.
"Yang terang aku adalah sahabat kekal dari Ketua Umum kau orang Tjoe Hong Teng!"
Mcndcngar jawaban itu, tauwbak terscbut heran.
ia tak dapat mempercayainya.
Mustahil orang semuda dia ada sahabat ketua umum mcreka?
Maka ia majukan pula lain-lain pcrtanyaan, mengenai Giehoo-loan.
Dalam hal ini, Teng Hiauw tak dapat menjawab.
"Apakah kau. hendak memasuki Giehoo-toan?"
Dia ditanya pula.
"Bukan,"
Dia jawab.
Tentu saja ia jadi dicurigai, maka akhimya ia hendak dibawa ke Pusat Gichoo-toan, untuk d ihadapi kepada Toatauwbak Thio Tek Seng.
Atas pertakuan ini, ia jadi tidak puas.
Karena mi, ia diterangkan, Kota Thongtjioc berada dalam waktu perang, jadi perlu pemeriksaan jelas.
Sampai di situ, baharu ia suka diajak ke pusat la anggap, di pusat ia bisa omong dengan orang yang berhak.
Kapan Thio Tek Seng diberitahukan datangnya si anak muda, yang sikapnya luar biasa, ia scndiri keluar untuk mcnyambut, karena ini, Teng Hiauw suka bicara banyak dengannya.
Pcmuda ini terangkan bahwa ia ada puteranya Teng Kiam Beng, mundnya Thaykek Tan dan sahabatnya Tjoe Hong Teng, dengan siapa ia bertemu pada lima ahun yang lampau di Pooteng, bahwa ia berhasil berguru dengan Thaykek sebab dapat surat perantaraannya Siangkoan Kin, sahabatnya Tjoe Hong Teng.
Thio Tek Seng heran, tetapi ia suka percaya semua keterangan itu, hanya ketika ia hendak undang si tetania bcrduduk.
buat hormati dia, tiba-tiba; dari pcdalamankantor keluar seorang tua yang terus kata dengan nyaring.
"Thio Toako, orang ini mendusta! Kasihlah aku si orang tua yang periksa padanya!"
Teng Hiauw awasi orang itu, yang usianya kira-kira sudah cnam puliih, tubuhnya lima kaki tinggi, rambut-kumisnya sudah ubanan, mukanya bersemu merah, kedua matanya taj am, hingga ia percaya, orang ada satu ahli silat.
Dengan bisa kcluar-masuk dengan mcrdcka di kantor itu, orang ini mestj ada punya pcngaruh, sedang sikapnya Thio Tek Seng terhadapnya pun ada hormat, malah toa-tauwbak itu segera lulusi pcrmintaannya dan pcrsi lakan dia duduk.
Tetapi orang itu bcrsikap aneh, dia tidak mau duduk, dia awasi Teng Hiauw dengan tajam, ketika ia bertindak mcndckati si anak muda, sambil tertawa dingin, dia kata.
""Kau satu bocah ada muridnya kedua golongan Thaykek-pay? Aku sekarang tak mau omong banyak, hayo kau keluarkan kepandaianmu! Aku akan percaya kau jikalau kau mampu layani aku tiga jurus!"
Teng Hiauw mendongkol.
Orang boleh liehay, tapi apa mungkin ia tak bisa melawan sampai tiga jurus?
la sering berlatih dengan Thaykek Tan, maka mustahil dia ini ada terlebih liehay daripada gurunya itu?
Maka, dengan menahan dongkolnya, ia kata.
"Aku ada orang muda dan tolol, walaupun guruku ada termasyhur, mana aku sanggup layani Tjianpwee? Tapi tak boleh aku langgar titah yang terlebih tua, maka silakan Tjianpwee mulai dengan penyeranganmu! Jikalau Tjianpwee bisa rubuhkan aku, aku bersedia untuk angkat kau sebagai guru.. Tjianpwee boleh menyerang tanpa batas tiga jurus!"
Segera setelah mengucap demikian, ia siap dengan kudakudanya. Orang tua itu masih mengawasi, secara tawar sekali.
"Tak memikir aku untuk jadi gurumur"
Ia kata dengan dingin.
"Aku melainkan hendak lihat sanggup atau tidak kau melayani aku tiga jurus. Jikalau kau sanggup, baharulah aku hendak percaya kau ada muridnya Thaykek Tan, puteranya Teng Kiam Beng dan sahabatnya Siangkoan Kin!"
"Sudahlah, Tjianpwee jangan omong saja, silakan mulai!"
Teng Hiauw menantang. Telah habis kesabarannya.
"Tak biasanya aku turun tangan terlebih dahului"
Ia bilang.
"Jikalau kau tidak hendak memulainya, apa kau hendak bikin aku si orang tua jadi menghina si anak muda? Dalam hal ini, aku dapat dipersalahkan umum!"
Teng Hiauw kena didesak, terpaksa menyerang terlebih dahulu, dengan Pokbian Tjitseng-tjiang"
Atau "Tangan bintang tujuh menyambar muka". Bagaikan kilat cepatnya, ia serang si orang tua. Orang tua itu bersenyum.
"Bagus!"
Ia berseru seraya ia geraki kedua tangannya, untuk menangkis dengan tipunya"Shiakwa tanpian", atau "Dengan miring menggantung cambuk tunggal".
Setelah itu, dengan sebat ia buka kedua tangannya, untuk balas menyerang, dengan "Pekho liangtjie"
Atau "Burung ho putih pentang sayap".
Inilah salah satu pukulan pokok dasar dari Thaykek-koen.
Teng Hiauw kenali tipu pukulan ini, ia hendak pecahkan itu dengan "pinjam tenaga untuk memukui tenaga", setelah itu, mengubah gerakannya menjadi "Soensoei twietjioe"
Atau "Mendorong perahu dengan ikuti aliran", ia sambar pinggang orang itu.
Orang tua tidak dikenal itu benar-benar liehay, gesit sekali gerakannya.
Ia tidak tunggu lagi sampainya serangan, ia geraki tangannya dengan tipu "Tjitseng-tjiang"
Atau "Tangan Bintang Tujuh". Secara begini, tidak saja ia telah pecahkan penyerangannya si anak muda, malah dengan sendirinya, ia jadi pihak si penyerang. Ia mendesak sambil berseru.
"Apakah kau tidak hendak tarik pulang tanganmu?"
Teng Hiauw terkejut, kedua tangannya sepertt kena ditutup, sampai ia tak dapat bergerak.
malah untuk menarik pulang saja, ia tak sanggup.
Tentu sekali.
ia menjadi bingung.
Orang tua itu tidak menyerang, dia hanya tertawa.
"Mundurlah kau!"
Ia kata, seraya ia buka kedua tangannya.
Secara begtni, baharulah Teng Hiauw bisa tank pulang kedua tangannya, bcrbarcng dcngan mana, ia mcncelat mundur setumbak lebih.
Ia malu sekali, percuma ia wariskan ilmu kepandaian asli dari kedua Kaum Thaykek-pay, tapi sekarang terbukti, ia tidak sanggup layani si orang tua dalam tiga gebrak!
Orang tua itu tidak loncat mengejar, hanya dengan icnang, ia kata pada Thio Tek Seng.
"Anak ini dapat layani aku tiga gebrak, ia tidak rubuh, dia tidak mendusta, dia benar ada Ahli Waris Thaykek Tan dan Teng Kiam Beng, jangan kau persulit dia...."
Mendengar itu, tanpa bilang suatu Teng Hiauw hampirkan si orang tua, sambil manggut, ia menjura, terus epa kata.
"Tjianpwee ada sangat liehay, maka terimalah hormatnya teetjoe sebagai muridmu."
Orang tua itu telah berduduk dengan sikap agung, ia terima orang paykoei delapan kali.
"Ada harganya aku terima bormatmu ini,"
Kata ia kemudian.
"Kau tahu aku siapa? Aku adalah soepehmu, dari itu mana dapat kau angkat aku jadi gurumu?"
Tek Seng di samping tertawa.
"Inilah yang dibilang, air banjir menyerbu ke kuilnya si Raja Naga!"
Kata ia.
"Orang sendiri tidak kenali orang sendiri!"
Teng Hiauw terperanjat.
"Apakah Tjianpwee ada Lioe..."
Kata ia, suaranya tak tedas.
"Ya, akulah Lioe Kiam Gim,"
Memotong si orang tua.
"Ketika dulu aku berpisah dengan ayahmu, kau masih bocah tak tahu apa-apa."
Ilmu silat Lioe Kiam Gim adalah lebih atas dari ilmunya Teng Kiam Beng, dengan kepandaiannya Thaykek Tan baharulah berimbang, akan tetapi, kenapa Teng Hiauw tak sanggup layani dia tiga gcbrak saja?
Inilah tak lain tak bukan, karena Teng Hiauw layani Thaykek Tan dalam latihan.
gurunya layani ia dengan tenang, hatinya tak tegang, tapi melayani Kiam Gim, ia sedang gusar, walaupun ia coba kendalikan diri, maka hilanglah ketenangannya, sifat yang paling dibutuhkan oleh Thaykek-koen, scdang Kiam Gim pun bcrlaku sebat luar biasa.
Kiam Gim sendiri, walaupun dia tidak masuk Giehoo-toan secara rcsmi, akan tetapi pihak Giehdo-toan sangat percaya dan hormati dia, dia dipandang sebagai tetamu agung.
Dia toh ada sahabat kekal dari Tjoc Hong Teng.
Sedang datangnya dia ke Thongtjioe adalah karena undangannyaTjoe Hong Teng sendiri, untuk dia bantu Thio Tek Seng.
Memang, selama berdiam di Pooteng, ia kenal baik semua orang Kangouw Han Rimba Persilatan di seluruh propinsi Hoopak, semua orang harga, dia Tadi dia dengar orang omong Liang kedatangannya satu pemuda dengan sikapnya yang luar biasa, ia curiga, ia lantas mencuri mendengan pembicaraannya si anak muda dengan Thio Tek Seng.
Ia terperanjat berbareng girang kapan ia dengar pemuda itu ada puteranya Teng Kiam Beng dan muridnya Thaykek Tan.
Jadi inilah pemuda yang ia hendak cari, untuk memenuhi pesannya Kiam Beng, soeteenya.
Tapi ia sendiri masih belum kenal Teng Hiauw, ia ingin mendapat bukti, dari itu, sengaja ia membawa tingkah jumawa dan menantang, untuk uji kepandaian orang, setelah ujian itu, baharu ia percaya pemuda ini ada keponakannya sendiri, kepandaian siapa sudah liehay, cuma kurang latihan saja.
Ia girang karena Thaykek-pay punyakan ahli waris dalam dirinya anak muda ini.
Tetapi kemudian ia nampaknya lesu.
"Sekarang kau hendak pergi ke mana?"
Kemudian orang tua ini tanya "Kebetulan saja aku lewat di Thongtjioe ini, maksudku adalah pulang ke Pooteng untuk melongok rumah,"
Teng Hiauw jawab.
"Aku justru hendak tanya Soepeh, apa selama yang paling belakang ini Soepeh pernah ketemukan ayahku dan di mana adanya Ayah sekarang?"
Wajahnya Kiam Gim berubah lebih jauh, menjadi guram.
"Tak usah kau cari pula ayahmu,"
Kata ia, dengan perlahan, suaranya tidak tegas.
"Ayahmu itu, dia, dia.... tak dapat menemui pula kau..."
Teng Hiauw kaget bukan kepalang. hatinya bercekat.
"Soepeh, Soepeh, apakah artinya ini?"
Tanya ia, dengan bernafsu.
"Orang telah curangi dia, diatelah meninggal dunia,"
Sahut Kiam Gim dengan sedih."
Ya, dia menutup mata secara sangat mengenaskan__"
Teng Hiauw diam dengan mendelong, sampai sekian lama, baharulah ia bisa menangis, sesenggukan.
Dulu ia gusar, karena ayahnya hendak paksa ia menikah, tetapi ia tetap ada satu anak, maka mendcngar kematiannya sang ayah, ia jadi sangat berduka, apapula kematian itu katanya sebab perbuatan curang dan dalam keadaan mengenaskan.
"Sudah, jangan kau berduka,"
Kiam Gim menghibur seraya terus ia tuturkan duduknya kejadian.
"Apakah Ayah ada pesan apa?"
Tanya Teng Hiauw sambil menangis terus. Kiam Gim pandang pemuda itu, ia menghcla napas.
"Hiantit, ketika ia hendak menutup mata, kau adalah orang yang ia paling buat pikiran,"
Ia jawab.
"Dia bilang padaku, umpama aku ketemu sama kau, dia tak lagi hendak desak kau dalam urusan pemikahanmu, dan dia minta supaya kau jangan gusar padanya...."
Air matanya Teng Hiauw mcngucur dcngan deras.
Ia sangat menyesal talc dapat mencmui pula ayahnya itu, untuk mcmohon ampun.
Sampai selang sekian lama, baharu ia bcrhcnti sesenggukan, ia angkat kepalanya.
"Di Pooteng ada satu Kiang Lootjianpwee, apakah Soepeh kenal dia?"
Ia tanya.
"Bagaimana keadaannya Kiang Lootjianpwee itu sekarang?"
"Kiang Lootjianpwee itu ada sahabat karibku, bagaimana aku tidak kenal dia?"javvab orang yang ditanya.
"Akan tctapi dia sckarang sedang dicari pcmcrintah Boan. dia telah ajak cucu pcrempuannya menyingkir entah kemana. Tjoe Hong Teng pun sudah can dia kelilingan tanpa hasil. Ya, sekarang ini, rakyat telah dipaksa untuk berontak, hingga orang mesti bersikap sebagai Tjoe Hong Teng, mengangkat senjata, atau dia luar biasa, mereka mirip dengan ayahmu serta Kiang Lootjianpwee itu, mereka dianiaya atau dikepung-kepung! Sekarang ini sulit untuk orang menjaga diri baik-baik."
Ketika mengatakan itu, Kiam Gim ingat dirinya sendiri, sulit untuk ia menjaga diri suasana menyebabkan ia terombangambing.
Sekonyong-konyong, Teng Hiauw lompat bangun, ia hadapi Thio Tek Seng kepada siapa terus ia menjura.
Tek Seng terkejut, ia segera menyingkir kesamping.
"Saudara Teng, apakah artinya ini?"
Tanya ia, keheranan.
"Aku ingin masuk Giehoo-toan Toako!"
Kata Teng Hiauw.
"Sulcakah kau terima aku?"
"Saudara hendak masuk menjadi v anggota, inilah yang kita harap betul"
Jawab Tek Seng.
"Sebenarnya, untuk meminta dari kau, aku tidak beranL Tapi kau ada sahabatnya Tjongtauwbak, maka itu, kenapa kau tidak hendak menemui dulu Ketua Umum kita itu?"
"Dahulu aku masih terlalu muda, aku belum tahu apa-apa, pengalamanku sangat sedikit,"
Teng Hiauw akui.
"Karena itu, tempo Tjoe Soesiok ajak aku menjadi anggota, aku sangsi untuk menerimanya. Sekarang ada lain, sekarang aku sudah insyaf, aku ingin turut kau, Toako, maka itu, tak perlu aku menemui dulu Tjoe Soesiok."
Thio Tek Seng girang bukan main.
"Bagus, bagus!"
Ia berseru.
"Saudara Teng, kau adalah saudara kita!"
Begitulah Teng Hiauw menjadi anggota Gichoo-toan, hingga untuk sekian lama ia tcrus berdiam di Thongtjioe, akan kemudian ia ikuti Lioe Kiam Gim, sang soepeh, pcrgi ke Shoatang di mana ia bcrtemu sama "Tjoe Soesioknya".
Hong Teng girang melihat bocah mi telah jadi satu pemuda yang gagah dan cerdik.
"Apakah kau mengandung pikiran untuk pergi ke Pooteng?"
Hong Teng "Aku sudah tidak punya rumah, pulang buat apa"
Teng Hiauw baliki "Tetapi kau harus pulang!"
Hong Teng kata.
"Apakah kau tahu perihal Kaum Thaykek-paymu sendiri?"
Teng Hiauw heran.
"Kenapa, Soesiok?"
Ia tanya "Ayahmu mempunyai banyak murid, setelah ia menutup mata, mu-rid-murid itu jadi seperti rombongan naga tanpa kepalanya/"terangkan Tjoe Hong Teng.
"Kim Hoa ada murid kepala, boegeenyamelebihi yang Iain-lain, tetapi dia lemah, dia tak sanggup mengatasi saudara-saudaranya. Murid kepala dari soepehmu ada Law Boe Wie, dia liehay, di bawah desakan ayahmu, dia terima kedudukan sebagai ahli warts, dia telah pcrgi ke Pooteng, untuk pegang pimpinan, akan tetapi umumnya murid-murid ayahmu tak puas terhadapnya, antaranya dikatakan dia pernah berguru kepada lain perguruan, tak cocok buat dia jadi pengganti kctua. Mcrcka pun tidak mau mempercayaj keterangan bahwa ayahmu telah angkat Boe Wie jadi ahli waris, Karena ini,Boe Wie jadijengah sendirinya, ia lantas bejlalu dari Pooteng. Maka itu sekarang, perlu kau pulang, untuk pegang pimpinan, kalau tidak, aku kuatir nanti ada murid-murid tersesat, yang kenai digunai oleh musuh, hingga mereka bisa mendatangkan perpecahan dan bencana besar. Jikalau kau pulang, dengan dapat kendalikan mereka, kau bisa memberikan tenaga bantuan besar untuk kita."
Teng Hiauw tercengang.
"Belum pernah aku bertemu sama Law Soeheng, akan tetapi aku telah dengar dia liehay sekali,"
Kata ia.
"Dengan nama besarnya, Law Soeheng tidak dapat mempengaruhi murid-murid Ayahku, bagaimana nanti dengan aku?"
Pemuda ini bersangsi.
"Meskipun demikian, kau ada lain,"
Kata Hong Teng sambil bersenyum.
"Kau ada ahli waris yang sah, kau pun liehay, jikalau kau pulang, mereka tcntu akan terima kau dengan baik. Umpama tetap ada yang tidak puas terhadapmu, kau boleh ajar adat padanya. Boe Wie tidak berani bcrbuat secara begitu karena kedudukannya yang lemah."
"Ya, kau harus pulang, kau mcsti pegang pimpinan,"
Kiam Gim pun turut bujuk Teng Hiauw.
Sampai di sini, Teng Hiauw tidak bersangsi pula, malah segera ia berangkat ke Pooteng di mana, paling dulu, ialah pcrtama kali, ia cari Kim Hoa, untuk beritahukan maksud kedatangannya, buat minta murid kepala ayahnya itu nanti panggil bcrkumpul semua murid.
Kemudian, ketika ia datang untuk kedua kalinya, ia datang bersama Lioe Kiam Gim Kali ini, dengan sang soepeh yang kepalai, ia adakan upacara untuk keangkatannya sebagai Tjiangboendjin, Ahli Waris, menggantikan ayahnya almarhum.
Benar dugaannya Hong Teng, ada beberapa tnurid yang tidak puas, tetapi untuk menguji, mercka minta Teng Hiauw ajarkan mereka beberapa jurus ilmu kepandaian gabungan kedua Golongan Thaykek-koen.
"Baiklah,"
Jawab Teng Hiauw.
Ahli waris bam ini tidak minta orang maju satu-satu, ia hanya suruh mereka kepung ia beramai-ramai, sampai scpuluh orang, lalu dalam beberapa gcbrak saja, ia bikin mereka semua terpcntal jatuh-bangun, hingga ada yang separuh pingsan.
Tapi ini justru mcmbuat orang kagum dan takluk, hingga tidak ada lagi yang menentangnya.
Setelah itu, Teng Hiauw balik ke Shoatang.
kemudian, ketika ia datang untuk ketiga kalinya ke Pooteng, ia minta murid ayahnya itu memasuki Gichoo-toan.
Masih ada beberapa murid, yang terscsat, yang diam-diam bikin perhubungan dengan pembesarnegeri, yang minta si pembesar ambil tindakan, akan tetapi pengaruh Gichoo-ioan di dalam Kota Pooteng telah jadi sangat besar, tidak ada pembesar yang berani turun tangan, tidak sckalipun dengan diam-diam.
Kemudian Teng Hiauw dengar hal ini, tidak ampun lagi, ia pecat dan usir itu beberapa murid.
Karena ini, namanya jadi tersohor, hingga selanjutnya, di sampingnya Lioc Kiam Gim, ia jadi pembantu yang dihargai Tjoe Hong Teng.
Untuk tugasnya, Teng Hiauw sering mondar-mandir di antara kedua propinsi Hoopak dan Shoatang.
Kemudian,* tidak lama berselang, datanglah saatnya Wan Sie Kay Soenboe dari Shoatang, di bawah desakan pemerintah Boan, yang kena dipengaruhi negara-negara serikat asing, bertindak keras, kejam, terhadap Giehoo-toan.
Gubemur ini bangunkan sendiri dua puluh batalion pasukan berkuda, lalu ia bekerjasama-sama tentara Jerman di Tsingtao serta barisan sukarcla pelbagai gcrcja, untuk ambil pihak Giehoo-toan.
Titahnya adalah.
"Asal ketemu orang Giehoo-toan, segera tembak!"
Dalam hal ini, rakyat tak dapat dibedakan dari orang Gichoo-toan, karena Gichoo-toan pun tcrdiri dari rakyat jelata.
Jadi perbuatannya Wan Sie Kay adalah sah kalau dia basmi satu koentjiang, rumah perkumpulan Giehoo-toan, atau kapan ia sapu sebuah kampung.
Karena ini, banyak rakyat jelata, yang tidak bersalah-dosa, yang rubuh sebagai korban.
Giehoo-toan telah dapat pukulan .hebat ketika dalam satu pertempuran, Tjoe Hong Teng terkena peluru nyasar dan terbinasa karenanya.
Tapi ia masih sempat meninggalkan pesan supaya tentara besamya di Shoatang semua dibawa ke Hoopak, sedang sebagai wakil ia angkat tiga orang ialah Toatauwbak Lie Lay Tiong, Toa-tauwbak Thio Tek Seng dan Toatauwbak Tjo Hok Thian, dengan kedudukan masing-masing di Siamsay, Hoopak dan Shoatang.
Baharulah belakangan, Lie Lay Tiong menggantikan Tjoe Hong Teng sebagai Tjongtauwbak, ketua umum.
Lie Lay Tiong ini pada asalnya ada perwira sebawahan Tang Hok Siang, salah satu jenderal Boan, setelah masuk Giehoo-toan, ia pendiriannya limbung, ia terbujuk Ibusuri See Thayhouw, dia bawa angkatan perangnya ke Pakkhia,di mana, dalam satu pertempuran, ia pun binasa.
Selama ceburkan diri dalam Giehoo-toan, Lioe Kiam Gim dan Teng Hiauw tidak pernah bcrdiam tetapi di suatu propinsi atau kota, mereka senantiasa mcngcmbara, karena tugas mereka kcbanyakan sebagai penghubung atau pcnasihat, sebagai penganjur.
Adalah jalankan titah dari Lie Lay Tiong, yang paling bclakang, untuk mereka bcrangkat ke Propinsi Siamsay (Shensi).
Pada suatu hari, Kiam Gim dan Teng Hiauw kaburkan kuda mereka laksana terbang, hingga dalam satu hari, mereka bisa lalui empat ratus lie lebih, hingga mereka kena lewatkan tempat mondok, karena mana, terpaksa mereka numpang singgah di rumahnya satu penduduk bangsa Hwee.
Dia ini heran orang datang malam-malam dan romannya kesusu tapi ia toh terima tefamu-tetamu itu, yang dilayani dengan ramah-tamah.
Karena lelah sehabis berlarian satu hari, begitu rebahkan diri, Teng Hiaaw lantas jaruh pulas Tidak dernikian dengan Lioe Kiam Gim, yang duduk bcrscmcdi sambil rapatkan kedua mata.
Beginilah kebiasaan jago Thaykek itu, yang juga tidak berani sembarang tidur.
Malam ada sunyi ketika Kiam Gim dengar suara samberan angin di wuwungan rumah, mirip dengan suara jatuhnya daun rontok, tidak tempo lagi ia loncat kc jendcla, untuk terus pergi keluar rumah.
Dalam malam yang guram, ia tampak berkc Icbatny a satu bayangan, ia jadi mendongkot, scgcra ia bcr I ompat, untuk mengejar.
Di dalam kamar, Teng Hiauw mendusin karena gerakannya sang soepeh, ia lantas sambar pcdangnya, ia loncat keluar, akan susul soepeh itu.
Menguber tidak terlalu lama, Kiam Gim dapat dekati bayangan di dcpanriya itu, ialah scorang dengan pakaian putih.
Warna pakaian itu ada menyolok mata, sebab biasanya, pakaian malam, yaitu yahcng-ie, ada berwarna hitam.
Rupanya sengaja bayangan itu pakai ini macam pakaian.
Kiam Gim tidak jerih, cuma di waktu mengejar terus, ia berlaku waspada.
Ia menduga pada kaki-tangannya pemerintah Boan.
"Siapa itu di sebelah depan?"
Akhirnya ia tanya dengan seruannya.
"Kau hcndak can si orang she Lioe, aku ada di sini sekarang! Silakan kau terangkan dinmu, jangan kau main scmbunyi-sembunyi, itu bukan perbuatannya satu hoohan!"
Pun, sambil berseru demikian, Kiam Gim menimpuk dengan scbatang piauwnya, scraya ia tambahkan.
"Sahabat, kau sambutlah piauwku!"
Bayangan di depan itu, sambil berlari, ulur tangan kanannya ke belakang.
"Ah, satu piauw yang bagus!"
Tcrdcngar suaranya.
Ia sambuti piauw itu dan lari terus.
Kiam Gim heran dan terperanjat, karena ia tahu liehaynya timpukannya tapi sekarang orang sambuti itu sccara sederhana sekali.
Karena ini, ia lantas loncat sambil menyerang pula.
Ini kali ia gunakan timpukan "Hoanpek impiauw"
Atau "Timpukan lengan berbalik", suatu ilmu Tengsie Thaykek-koen.
Sasarannya adalah jalan darah "Sinteng-hiat".
Sekonyong-konyong orang di depan itu tertawa, ia ulur tangannya yang kiri, untuk sambuti piauw seperti tadi tangan kanannya, kemudian ia ayun bcrbareng kedua tangannya itu sambil berseru.
"Jikalau ada kunjungan tidak dibalas, itu tandanya kurang hormat!"
Nyata dia balas menycrang dengan dua piauwnya Kiam Gim.
Jago Thaykek-pay ini berkelit, ia lompat lebih jauh, hingga ia berada di depan orang tidak dikenal itu, tanpa biiang apaapa lagi, ia menycrang ke arah dada.
Ia gunai "Kimpa tamdjiauw"
Atau "Macan tutul emas ulur ccngkramannya".
Orang itu menyamping seraya menangkis, akan luputi diri dari serangan.
Kiam Gim tak berhenti sampai di situ, memutar tangannya, ia menyerang pula, kali ini dengan "Poatin kiandjit"
Atau "Menyingkap mega untuk melihat matahari". Itu adalah pukulan "Siauwthian-tjhec"
Atau "Bintang kecil". Orang itu berkelit dengan mencelatkan diri, ia perdengarkan seruan "Ah!"
Kemudian ia tanya.
"Kau ada Lioe Kiam Gim atau"
Thaykek Tan? Di antara ahli-ahli, kecuali mereka berdua, tidak ada yang melebihkan lagi!"
Kiam Gim heran, ia tidak menyerang lebih jauh. Ia mengawasi dengan tajam.
"Aku adalah Lioe Kiam Gim,"
Ia perkenalkan diri.
"Kau siapa, sahabat? Kau ada dari golongan mana?"
Orang itu tertawa, lalu ia kasih turun kedua tangannya.
"Maaf, maafkan aku!"
Ia memohon.
"Sudah lama aku dengar namamu yang besar, aku tidak sangka di sini kita bisa bertemu! Aku ada To Poet Hoan, soetee dari Kiang Ek Hian. Tentunya Saudara Lioe pemah dengar namaku?"
Kiam Gim perdengarkan seruan tertegun, lantas ia maju, untuk member!
hormat.
Ia tahu siapa adanya orang she To ini, karena dalam lima saudara seperguruan dari Kiang EkHian, dia inilah yang paling liehay, cuma di masa mudanya; Poet Hoan berkelana di Barat-utara, hingga tidak ada ketika untuk mereka berkenalan satu dengan lain-Dalam hal derajat, Poet Hoan pun ada terlebih tinggi setingkat "Maaf, Lootjianpwee,"
Kata ia.
"Kenapa malam-malam Lootjianpwee main-main denganku?"
Poet Hoan tertawa.
"Kenapa sih kau tcrburu nafsti?"
Tanya dia "Kenapa datangdatang kau limpuk aku dengan senjata rahasiamu yang mencari jalan darah?"
Kiam Gim melengak tapi sebentaran saja.
"Rupanya kita ada sama pendapat!"
Kata ia sambil tertawa.
"Kita rupanya saling curigai masing-masing ada gundalnya pemerintah Boan!"
Poet Hoan tertawa.
Dugaan, atau kecurigaan itu, benar adanya.
Jago Bweehoa-koen ini pergi ke Kamsiok Timur untuk bikin penyelidikan, ia lihat suasana kalut, dari itu, ia pergi terus ke Siamsay Utara, akan sambangi Ma Sioe San, seorang gagah suku bangsa Hwee.
Itu lohor, di tengah jalan, ia Iihat Kiam Gim dan Teng Hiauw kaburkan kuda mereka.
Baca Juga: Kedele Maut 9
Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 7