Kisah Pedang Bersatu Padu 2

Eps 2 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.

"Hanya kenapa?"

Menegaskan si nona.

"Bocah itu berhati baik. Menantunya Bhok Kokkong juga pernah membantui kami."

"Tapi sebenarnya dia bukannya bersungguh-sungguh hati membantui kami!"

Berkata Cun Heng.

"Sebenarnya ialah enci Hee Lian menggunakan tipu daya memancing harimau meninggalkan gunungnya."

Lantas mereka itu tertawa. Sebab Cun Heng itu menjelaskannya terlebih jauh. Keng Sim menjadi mendongkol sekali.

"Aku telah membantu mereka tetapi sekarang aku ternyata dipermainkan sebagai si tolol!"

Pikirnya panas.

"Eh, Hee Lian,"

Menanya pula si nona.

"sebenarnya kenapa kau mengasihani mereka itu?"

"Bukan, nona,"

Si Hee Lian menyangkal.

"Kami cuma bekerja menuruti aturan kaum kangouw. Kami memberi ampun satu kali."

"Bagus!"

Seru si nona.

"Kau telah melepaskan mereka, kalau nanti untuk kedua kalinya kau menemukan mereka itu, pastilah sulit."

"Harta yang sudah dituliskan tidak nanti lenyap, nona!"

Kata Hee Lian, suaranya pasti.

"Siapa tahu kalau mereka justeru mengantarkannya sendiri?"

Hati Keng Sim terkesiap.

Menurut suaranya Hee Lian, mungkin mereka itu sudah ketahui yang ia berdua Bhok Lin berada di dekat mereka, dan mereka merasa pasti sekali akan berhasil mendapatkan barang bingkisan yang dilindunginya itu Selagi menantu hertog ini mendongkol, mendadak matanya melihat sinar terang.

Kiranya mereka telah sampai di batu renggangan, maka itu mereka dapat melihat ke atas.

Di situ.

di atas sebuah batu tawas yang besar, terlihat lima nona tengah berkumpul sambil berdiri.

Empat di antaranya ada nonanona berumur tak lebih daripada lima atau enam belas tahun.

Dan merekalah nona-nona tanggung yang diketemukan di tengah jalan di propinsi Kuiciu.

Nona yang ke lima berusia lebih tua tetapi lebih kurang baru dua puluh tahun.

Ia berdiri di tengah, bajunya berwarna kuning gading.

I"a cantik sekali, dalam kecantikannya itu ada pengaruh kegagahan.

"Selamat bertemu! Selamat bertemu!"

Berkata Keng Sim lantas seraja ia tertawa.

"Ketika itu hari kita bertemu di Kuiciu. sebenarnya hatiku tak tenang!"

Sengaja ia mengucap begitu karena ia mendongkol terhadap si nona.

Tapi ia bicara kepada ke empat nona yang ia kenali itu.

Hee Lian adalah nona yang terjangkung.

ia pun paling lincah, bahkan ia segera dapat membade nada suaranya si anak muda menantu Bhok Kokkong itu.

"Oh. Tiat Kongcu!"

Katanya tertawa "Sebenarnya kongcu.

kami belum menghaturkan terima kasih kepadamu.

Jikalau bukannya kau yang menghalau Poan Thian Lo, meskipun mungkin kami tidak bakal terluka cambuk gergajinya itu, teranglah tak gampang-gampang dapat kami berhasil dengan usaha kami."

Mendengar itu Keng Sim berkata.

"Sebenarnya kamu masih mesti belajar silat lagi beberapa tahun, baru kamu boleh masuk dalam dunia kangouw. Aku tidak mengerti kenapa nona kamu demikian tega membiarkan kamu keluar untuk melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu?..."

Satu nona yang ternyata bernama Hee Ho. berkata sembari tertawa geli.

"Aku juga tidak mengerti, selagi di dalam istana Bhok Kokkong ada banyak sekali sebawahannya yang pandai, kenapa ia justeru mengutus kamu beberapa anak sekolah yang tidak tahu apa-apa?"

"Aku mohon menanya,"

Berkata Bhok Lin.

"kenapa kita dibilang tidak tahu apa-apa?"

"Sebab beberapa kali kami sudah mengasi nasihat supaya kamu kembali, kamu tidak sudi dengar nasihat itu."

Menyahut nona yang bernama Cun Heng.

"Kenapa kamu masih hendak mengantarkan barang bingkisaa ke kota raja? Bukankah itu berarti bahwa kamu hendak membikin dirimu jatuh sendirinya?"

Keng Sim tertawa sambil melenggak.

"Aku kira tidak sedemikian gampang!"

Katanyajumawa.

"Jikalau kamu tidak percaya, nah, kamu coba-cobalah!"

Si nona yang sedari tadi berdiam saja, mendadak mengibas tangannya.

"Kamu semua mundur!"

Katanya. Terus ia berpaling pada Keng Sim, untuk mengatakan.

"Ajaranmu benar sekali! Memang mereka masih harus belajar lebih jauh beberapa tahun! Cuma mereka itu biasanya nakal, mereka gemar bergurau, tidak senang mereka jikalau mereka tidak membuat keramaian. Aku sendiri tidak sanggup melarang mereka. Syukur untuk mereka, selama mereka bekerja, mereka belum pernah menemui lawan yang lihay. karenanya mereka jadi jumawa. di depan matanya seperti tidak ada orang lainnya lagi!"

Kata-kata ini ada mengandung sindiran.

Di antara orang-orang yang Hee Lian berempat pernah ketemui di dalam pekerjaan mereka, Keng Sim terhitung satu di antaranya, dengan begitu, Keng Sim pun tak masuk dalam hitungan orang yang lihay itu.

Terdengarnya si nona menegur budak-budaknya tetapi sebenarnya.

Keng Sim disindir untuk kejumawaannya itu.

Tentu sekali Keng Sim mengerti maksud orang.

Ia menjadi tidak senang.

Ia hendak membuka mulutnya, atau si nona sudah berkata pula.

"Kamu berempat benar-benar tidak tahu diri!"

Katanya, menegur empat budaknya itu.

"Kenapa kamu berani mau menempurTiat Kongcu? Kamu masuk dalam dunia Kangouw. kamu mesti mengetahui aturan kaum Kangouw! Tahukah kau apakah aturan Kangouw yang nomor satu? Tong Bwee. kaulah yang bicara!"

"Di dalam dunia Kangouw, yang diutamakan ialah bertempur satu lawan satu,"

Menyahut budak yang dipanggil Tong Bwee itu, yang berdiri di paling belakang.

"Kalau kita mengutamakan orang banyak, artinya main keroyok, menang pun tidak ada artinya, itu menang tak gemilang."

"Enci Tong Bwee, kcteranganmu belum lengkap, ada satu yang kelupaan!"

Berkata Hee Ho. tertawa.

"Jikalau tingkat derajat orang tak sama. atau usianya terlalu lanjut atau terlalu muda. bedanya sangat jauh, maka itulah tak masuk hitungan."

"Nona benar."

Tong Bwee berkata lagi.

"dengan Tiat Kongcu mempunyai pedang di pinggangnya itu. di antara kami berempat, tidak satu jua yang dapat melayani dan memperoleh kemenangan."

Keng Sim bukan main mendongkol. Teranglah itu nona dan budak-budaknya lagi mempermainkan ianya Ke empat budak itu pun mau mengatakan, kalau mereka meluruk berbareng mustahil mereka tidak menang.

"Aku menghaturkan banyak terima kasih yang kamu menghargai aku."

Ia kata sambil tertawa lebar.

"Aku juga bukannya orang tukang menghina! Hanya aku ketahui, di bawahnya panglima yang kosen tidak ada serdadu yang lemah. Seperti di dalam halnya kamu. budaknya saja sudah berani merampas barang bingkisan untuk kaizar, maka itu. tentang si nona sudah dapat diduga sendiri! Baiklah, aku si orang she Tiat, aku tidak mengukur diriku sendiri, ingin aku meminta pengajaran dari nona kamu!"

Nona itu melihat orang gusar, ia tapinya bersenyum. Ia lantas memotes secabang pohon liu di sampingnya, ia menekuk itu hingga berkelung bundar.

"Apa?"

Kata Keng Sim mendongkol.

"Apakah aku si orang she Tiat tidak tepat untuk memohon pengajaran dari kau?"

Selagi si nona belum menyahuti. Tong Bwee sudah berkata.

"Tiat Kongcu, aku minta sukalah kau serahkan peti bukumu yang kecil itu kepada Siauwkongtia!"

Mendengar itu. Keng Sim melengak. Tong Bwee tidak menghiraukannya, ia tertawa dan berkata pula.

"Kalau sampai rusak mustika di dalam peti itu, bukankah sia-sia belaka nona kami meletihkan dirinya?"

Kata-kata ini berarti kepastian bahwa ia bakal kalah, maka juga Keng Sim menjadi bertambah murka.

Tapi ia pun ingat, memang celaka kalau sampai isinya peti itu rusak.

Maka itu, ia menahan sabar.

Ia lantas menyerahkan peti buku itu kepada Bhok Lin.

"Baiklah!"

Katanya seraya terus ia memberi hormat kepada si nona.

"Dengan begini kita sama-sama boleh melegakan hati. Jikalau kau menang, nona, aku akan persembahkan mustika di dalam peti itu kepadamu!"

Melihat suasana genting itu, Bhok Lin lompat maju.

"Cihu, kau pun melupakan aturan kangouw!"

Ia berkata.

"Kau tahu apa?"

Kata cihu itu muram.

"Benderanya Siauw Houw Cu!"

Bhok Lin memperingati. Lantas dia mengasi hormat kepada si nona seraya meneruskan berkata.

"Seorang sahabatku telah memberikan kami selembar bendera kecil, aku ingin untuk memperlihatkan dulu itu kepada nona Jikalau kedua pihak kenal satu pada lain. kalau kerukunan kita terganggu, bukankah itu tidak bagus? Mana kita bisa enak hati? Nona, sahabatku itu bernama Thio Giok Houw! Nona. apakah she dan namamu yang mulia?"

"Benar, dalam dunia kangouw memang ada itu aturan!"

Hee Ho menyeletuk.

"Siauwkongtia, kali ini kau mengenal aturan. Nona kami she Liong!"

Bhok Lin terperanjat, tanpa merasa mulutnya mengasi dengar suara perlahan.

"Mulut harimau melepas budi, naga sakti mendelik matanya! "Ah, nona kamu she Liong!"

Hertog muda ini ingin mendamaikan, siapa tahu ia lantas ingat pada bunyinya kata-kata surat peringatan yang ditancapkan dengan pisau belati. Maka ia menjadi tidak enak hati. Si nona she Liong tertawa.

"Tolonglah keluarkan bendera itu!"

Katanya nyaring.

Mulanya Keng Sim tidak niat mengasi lihat bendera Siauw Houw Cu itu, tetapi sejenak kemudian, ia mengambil putusan lain.

Ia ingin melihat sikap orang.

Ia lantas merogo sakunya, untuk terus mengibarkan bendera bersulam harimau itu.

Ia berkata dengan tawar.

"Sahabatku ini adalah orang yang baru muncul dalam dunia kangouw, maka jikalau kamu tidak kenal bendera ini, harap kamu tidak mentertawakannya."

Ia mengatakan demikian sedang di hatinya ia pikir.

"Siauw Houw Cu ialah pemimpin dari kaum Rimba Persilatan yang mengepalai perampasan barang bingkisan, kamu beberapa budak bukankah di bawah pimpinan dia?"

Keng Sim bukannya mau menggunakan pengaruh Siauw Houw Cu, ia hanya hendak menjengeki supaya orang menjadi jengah. Tapi si nona pun berlaku tawar.

"Benar-benar aku belum pernah mendengar orang semacam ini dalam dunia kangouw!"

Demikian katanya.

Ia nampak tenang sekali, tetapi mendadak ia menggeraki tangannya, cabang yangliu menyambar, lalu di lain detik, bendera itu kena tergaet dan terampas, terus saja ia robek menjadi dua potong, robekannya dibuang ke tanah!

Setelah berbuat begitu, ia tertawa dan kata pula dengan nyaring.

"Aku tidak mengambil perduli Kalangan Putih atau Kalangan Hitam! Serahkanlah itu bingkisan dari propinsi Inlam!"

Keng Sim bukan sembarang orang, tetapi bendera di tangannya dapat dirampas secara demikian gampang, maka mau atau tidak, ia terkejut juga. Bhok Lin kaget bukan main "Kau... kau..."

Serunya.

"kau merusak bendera ini?"

Si nona tidak menggubris hertog muda itu. ia mengawasi Keng Sim seraya tertawa.

"Apakah kau pernah bertempur sama Siauw Houw Cu?"

Ia menanya "Kenapa?"

Tanya Keng Sim tanpa merasa.

"Dalam berapa jurus dia mengalahkan kau?"

Si nona tanya pula.

"Hai, orang perempuan, buat apa kau banyak rewel!"

Membentak Keng Sim, yang menjadi panas.

"Sebenarnya kau mau atau tidak mengadu pedang denganku?"

Bhok Lin pun mendongkol.tanpa pikir lagi, ia berkata.

"Siauw Houw Cu mengalahkan dia dalam jurus yang ke sebelas! Untuk apa kau menanyakan itu?"

Nona itu tertawa manis.

"Aku menanya saja, tidak ada maksudnya!"

Sahutnya. Bhok Lin berdiam, atau mendadak ia berseru.

"Aku mengerti sekarang! Secara begini dengan diam-diam kau hendak mengadu kepandaian sama engko Siauw Houw Cu kami itu! Dia mengalahkan orang dalam sebelas jurus, sekarang aku mau lihat kau menggunakan berapajurus!"

"Sungguh kau cerdik!"

Hee Ho kata tertawa.

"Dengan sekali menerka saja kau dapat membade hati nona kami!"

Nona itu tidak menyangkal atau mengaku benar, ia memandang si Hertog muda sambil bersenyum. Lalu ia menanya pula.

"Engko Siauw Houw Cu dari kamu itu menggunakan senjata apa?"

Nona itu tidak menyangkal atau mengaku benar, ia memandang si Hertog muda sambil bersenyum. Lalu ia menanya pula.

"Engko Siauw Houw Cu dari kamu itu menggunakan senjata apa?"

Mendengar itu, darahnya Keng Sim meluap. Maka juga ia berlompat maju, kedua tangannya disilangkan, matanya mendelik.

"Pembicaraan kamu ini ada waktunya habis atau tidak?"

Ia tanya, bengis.

Dengan gerakannya ini, ia hendak membikin kabur matanya si nona, sebab ia tidak berani datang-datang menerjang dengan pedangnya.

Maksudnya pun untuk menghentikan kata-kata orang.

Si nona Liong seperti dapat menebak maksud orang, ia tidak berkelit, cuma kepalanya dimiringkan.

"Aku cuma menanya sepatah kata saja!"

Katanya pula.

"Lekas bilang dia menggunakan senjata atau tidak?"

Bhok Lin lantas menyahuti.

"Dia tidak menggunakan senjata! Adalah Cihu-ku yang menggunakan pedang mustika yang dapat menabas besi seperti menabas lumpur!"

Ia mengatakan demikian sedang di hatinya ia berpikir.

"Aku mau lihat kau berani atau tidak berkelahi dengan tangan kosong..."

Segera ia mendengar pula suara si nona, yang lebih dulu tertawa bergelak.

"Baiklah, aku sudah tahu!"

Demikian katanya Lalu dia mengawasi Keng Sim, tangannya menuding, mulutnya membentak.

"Masih kau tidak hendak menghunus pedangmu! Kau hendak menantikan apa lagi?"

Keng Sim tidak dapat menguasai lagi dirinya, maka ia maju menyerang dengan kedua tangannya.

Ia tidak perduli lagi bahwa ia lagi berhadapan sama seorang wanita, bahkan satu nona, jerij i tangannya mencari kedua mata sebagai sasaran!

Serangan ini menjadi lebih hebat karena mereka berada dekat sekali satu dengan lain.

Di waktu menyerang, Keng Sim lupa diri, tetapi ketika sudah menyerang, mendadak ia sadar, ia lantas menjadi menyesal sendirinya.

Tapi ia sudah menyerang, ia tidak dapat membatalkan nya.

Di luar dugaan, si nona sangat celi matanya dan sangat gesit tubuhnya.

Hanya dengan satu kaki bergerak, dia dapat berkelit, tubuhnya melesat ke samping!

Keng Sim kaget bukan main.

Ia kuatiryang ia nanti dibokong.

Ia lantas menggeser kakinya, ia menggeraki lebih jauh kedua tangannya, untuk menutup diri.

Ia tapinya kalah gesit.

Si nona sudah berkelebat pula dan segera berada di depannya lagi.

tangannya tambah serupa barang yang berkeredepan!

Sebab itulah pedangnya yang telah terhunus!

Pedang Cihong kiam!

Ke empat budak wanita itu lantas serempak menepuk tangan dan bersorak.

"Bagus!"

Pujinya Mukanya Keng Sim menjadi bersemu merah. Ia lantas mengulur tangan kirinya, lima buah jarinya dibuka, untuk menyengkeram pedang, guna dirampas. Itulah gerakan "Kimpa tamjiauw,"

Atau "Macan tutul emas menyengkeram."

"Memangnya pedang ini hendak aku berikan kepada kau, kenapakah kau tergesa-gesa?"

Kata si nona tertawa.

Dan dengan memutar pedang itu, ia menyodorkan gagangnya kepada si anak muda, untuk disesapkan ke dalam telapakan tangan!

Dalam sekejap itu, Keng Sim sadar.

Ia mengerti, karena ia tidak dapat menarik pedang itu.

si nona sengaja membuatnya demikian, supaya ia dapat menarik itu, seperti juga ialah yang menariknya sendiri.

Ia menganggap itulah penghinaan untuk dirinya, yang dipandang terlalu enteng.

Sebenarnya, menurut keangkuhannya, tidak sudi ia menerima pedang itu, akan tetapi buktinya, ia mengertak diri, dengan mendadak ia membetot keras, sesudah mana ia menghunusnya cepat sekali.

Terhadap Siauw Houw Cu itu hari, ia cuma mengharap mendapat kemenangan, tetapi terhadap si nona sekarang, ia bagaikan hendak mengadu jiwa.

Ketika ia mencabut pedangnya itu terdengar suaranya "Ser!"

Keras sekali, sebab gerakannya dibarengi sama serangannya, ialah jurus "Hoankang tohay"

Atau "Membalik sungai, menumpakan laut."

Itulah salah satu jurus terlihai dari Keng To Kiamhoat. Sinar pedangnya pun berkelebat berkilauan.

"Sungguh satu pedang mustika!"

Berseru si nona.

Agaknya dia terperanjat, tetapi tubuhnya mencelat ke samping, kedua belah tangannya dikibaskan, mengebut dengan tangan bajunya, hingga tangan baju itu bagaikan gerakan menari.

Tangan baju yang kiri menyambar ke kanan, dan tangan baju yang kanan bagaikan menggulung ke kiri.

Tiat Keng Sim heran menyaksikan gerakan itu.

Di dalam hatinya ia menjerit kaget dan kagum ketika tangan baju itu berkelebat di depan matanya, sedang gerakan pedangnya sendiri tidak mengasi hasil apa-apa.

Dengan sebat ia menarik pedangnya itu.

untuk sebaliknya dipakai menutup diri.

guna melindungi tubuhnya, sesudah mana barulah ia menyerang pula.

Ia tidak sudi terus menjadi si pembela diri.

Nona Liong menginsafi tajamnya pedang mustika orang, ia tidak mau berlaku sembrono.

Ia mengerti baik sekali, salah sedikit saja, tangan bajunya bakal terpapas kutung, la lantas mengasi lihat kelincahannya, untuk senantiasa menyingkir dari papasan atau tikaman pedang.

Maka biarnya Keng Sim bergerak dengan sangat cepat, ia tidak dapat melanggar saja baju si nona.

"Sungguh ilmu pedang bukan sembarang!"

Berkata si nona tertawa.

Tidak enak Keng Sim mendengar pujian itu, sebab nadanya rada mengandung sindiran.

Di dalam keadaan seperti biasa, tentunya ia sudah melepaskan pedangnya itu, guna melawan dengan tangan kosong, tetapi sekarang, tidak dapat ia berbuat demikian.

Lawannya ini.

walaupun hanya seorang nona, ada lihai luar biasa.

Di sini ada bergantung kehormatannya.

Sedang bingkisan yang ia lindungi itu pun istimewa.

Habis tertawa, si nona bergerak lebih jauh.

Keng Sim penasaran, ia membabat ke arah pinggang si nona.

Nona itu berkelit, lincah gerakan pinggangnya, sebat sampokan tangan bajunya.

Dan pedang suaminya Bhok Yan kena di bikin terpental nyamping!

Bukan main herannya Keng Sim.

Ia menjadi kaget ketika ujung tangan baju hampir melanggar nadinya.

Syukur ia cepat menghalau lengannya itu.

"Bagus! Bagus!"

Si nona memuji pula, sambil tertawa.

"Dengan beruntun kau dapat membebaskan diri dari tiga jurusku!"

Mendadak tubuhnya nona itu mencelat, kedua ujung bajunya dikibaskan pula.

Ia lantas mendesak.

Agaknya sia-sia belaka Keng Sim bersenjatakan pedang, ia kena dirangsak si nona.

Ia repot membela diri hingga tidak ada saatnya untuk ia mencoba melakukan penyerangan membalas.

Saban-saban pedangnya itu kena disampok mental.

Segera juga datang satu serangan, yang mengenakan pundak si anak muda, hingga ia terhuyung, tetapi saking sehatnya, dapat ia membalas menabas kutung sedikit dari ujung baju nona itu, ujung baju yang kanan.

Biar bagaimana, dengan bersenjatakan pedang tajam, sedang ia sebenarnya pun sangat gesit, pemuda ini tidak selamanya jatuh di bawah angin.

Adalah di luar sangkaan si nona yang ujung bajunya itu kena dilabas kutung.

Pula Keng Sim sendiri tidak menyangka yang ia bakal berhasil itu.

Segera setelah itu, anak muda ini kembali didesak lawannya.

Ia bagaikan tidak hendak diberikan ketika untuk bernapas.

Bhok Lin menonton dengan melongo.

Hebat gerakan pedang cihu-nya tetapi tak kurang hebatnya ujung baju menyambar-nyambar.

Ujung baju itu dapat dibikin lemas dan kaku sekehendak si nona.

Saking kagum, ia mengharap-harap pertandingan itu nanti berlangsung lama...

Lama-lama, hati Keng Sim menjadi ciut.

Ia mendapat kenyataan yang ia telah terdesak hebat sekali.

Si nona sebaliknya tetap lincah.

Kalau keadaan terus berlangsung demikian, setelah letih, mana sanggup ia melayani terlebih jauh?

Oleh karena ini, ia terpaksa mengubah pula ilmu silatnya Keng To Kiamhoat memang bukan sembarang ilmu pedang.

Kalau tidak, gurunya tidak akan tersohor sekali.

Kali ini ia mengambil sikap, daripada kalah baiklah bercelaka berdua!

Karena ini, ia menjadi seperti mendapat tenaga baru.

Sesudah menonton sekian lama Bhok Lin dapat melihat kenyataan.

Dalam tenaga dalam, nona itu kalah dari Siauw Houw Cu, sebaliknya dalam ringan tubuh, si nona menang daripada Keng Sim.

Dalam halnya gerakan yang luar biasa, nona itu seperti terlebih lihai daripada Siauw Houw Cu.

Mungkin si nona tak kalah dengan Sin Cu yang pandai dalam ilmu "Coanhoa Jiauwsi."

Kemenangan Keng Sim adalah berkat pedang mustikanya itu. Lantas saja Bhok Lin mendapat serupa pikiran.

"Kalau nona ini bertempur sama Siauw Houw Cu, alangkah menariknya! Tentu sekali mereka sama unggulnya..."

Tidak lama Keng Sim mengasi lihat perubahan pedangnya. Sebab ia telah keluarkan jurus "Samhoa kayteng,"

Atau "Tiga kuntum bunga menutupi batok kepala."

Pedangnya itu seperti saling susun menyerang si nona.

Bhok Lin kaget dan berkuatir.

Kasihan sekali kalau si nona, yang demikian cantik, mesti roboh di ujung pedang.

Kalau dia tidak terbinasa, mestinya dia bercacad.

Sungguh sayang...

Di lain pihak, kalau sang cihu yang kalah, hilanglah barang bingkisan itu!

Bagaimana dengan tanggungjawabnya nanti?

Bukankah akan gagal kepergian mereka ke kota raja?

Tengah Bhok Lin bingung, kupingnya mendengar tertawanya si pelayan yang bernama Ciu Kiok, yang pun berseru.

"Sungguh indah itu jurus "Tangan baju terbang mega melayang"!"

Pula si pelayan Tong Bwee, yang turut tertawa, juga berkata.

"Kau lihat gerakan nona! Bukankah indah jurusnya Tangan Baju Besi itu?"

Baru saja berhenti suaranya pelayan itu atau Keng Sim sudah mengasi dengar seruan tertahan.

Dengan tiba-tiba saja pedangnya terlepas dari cekalannya pedang itu mencelat ke tinggi, seperti terbang ke tengah udara!

Sebab berhasillah si nona dengan jurusnya "Tangan baju besi"

Itu dengan apa ia mengetok nadi si anak muda, hingga dia ini terkejut dan tanpa merasa kendorlah cekelan pada pedangnya, hingga ketika kena disampok ujung baju, lantas pedang itu terbawa terbang tinggi.

Hanya syukur, habis serangannya itu yang berhasil nona itu tidak mengulanginya menyerang pula.

Keng Sim berdiri menjublak, tak keruan rasanya, wajahnya pun pucat.

Ia kaget dan malu.

Bhok Lin juga berdiam, ia menyesal bukan main.

Tapi aneh juga si nona, sesudah menang, dia tidak tertawa, atau bersenyum, dia tidak bergirang, sebaliknya, dia menghela napas...

Hertog muda itu heran.

"Dia menang secara cemerlang, kenapa dia justeru bersusah hati?"

Pikirnya. Itu waktu lantas terdengar tertawanya Hee Ho. yang berkata.

"Walaupun nona mesti menggunakan dua jurus lebih banyak tetapi itulah karena perbedaannya ilmu silat, maka itu belumlah dapat dipastikan yang Sin Liong kalah dari Giok Houw!"

Mendengar ini barulah Bhok Lin mengerti.

"Sin Liong"

Atau si Naga Sakti ialah si nona, dan "Giok Houw"

Atau Harimau Kumala, ialah si anak muda atau Siauw Houw Cu, dan mereka itu telah menggunakan jurus yang berlainan.

Nona itu memperoleh kemenangan sesudah jurusnya yang ketiga belas.

Setelah berdiam sebentar, nona itu mengibaskan tangannya seraya berkata dengan tawar.

"Ambillah barang bingkisannya itu!"

Hee Ho tertawa, dia menghampirkan Bhok Lin.

"Siauwkongtia, maaf!"

Katanya seraya tangannya menjambret ke punggung si Herlog muda, mengambil itu kotak buku yang berwarna merah, sesudah mana ia berlalu bersama tiga kawannya, mengikuti nonanya.

Bhok Lin tercengang.

Jalan belum terlalu jauh, Hee Ho menoleh ke belakang kepada pengiring atau pelindung barang bingkisan itu, sambil tertawa, ia mengacungkan barang rampasannya, kemudian ia melanjuti perjalanannya.

Ketika itu tengah hari tepat.

Air mancur tertampak indah tertojoh sinar matahari, bagaikan bianglala.

Di seluruh gunung itu terlihat daun-daun hijau dari pohon teh, yang menghembuskan bau harum yang halus.

Keng Sim berdiri menyender pada sebuah pohon teh, ia mirip seorang sakit, yang telah kehabisan tenaganya.

"Cihu, pedangmu!"

Berkata Bhok Lin. Hertog ini memungut pedang iparnya itu, untuk dikembalikan. Keng Sim mengawasi air mancur, ia seperti mendengar dan tidak melihat. bahkan ia bersenandung perlahan.

"Bagaikan perahu menggeser ke muara, satu muara lewat lain muara, bertambah sukar, demikian habisnya sinar pedang... Kalau air mancur mengalir terus, maka bayangan matahari telah membeku..."

Anak muda ini berduka, hingga ia ingat itu pembilangan, gelombang yang di depan digempur ombak yang di belakang, bahwa benda itu senantiasa bertukar, sebagai juga anak muda terus muncul.

Rasanya baru beberapa tahun ia hidup merantau, atau sekarang sudah ada orang yang melomba...

Entah masih ada berapa banyak lagi orang yang jauh terlebih pandai daripadanya..."

"Itulah kejumawaan!"

Berkata Bhok Lin tertawa. Keng Sim berdiam, ia jengah sekali. Bhok Lin terus menggoda, dia tertawa pula.

"Jangan ngaco!"

Kemudian ipar itu membentak.

"Sudahlah, mari lekas kita menuju ke Siangjiauw,"

Kata Bhok Lin yang masih dapat tertawa.

"Kalau sebentar sang sore datang dan angin dingin meniup keras, hawa bakal menjadi bertambah dingin!"

Hatinya Keng Sim benar-benar tawar, akan tetapi ia masih ingat yang kedua guru silat yang menjadi kawannya tentu tengah menantikan di Siangjiauw.

maka itu, umpama kata ia mesti kembali ke Kunbeng, dua orang itu mesti diberitahu dulu.

"Baiklah,"

Katanya terpaksa.

Maka dengan lesu keduanya berangkat.

Tiba di Siangjiauw, hari sudah gelap.

Keng Sim mencari hotel yang paling besar.

Selagi ia menanya kalau-kalau di situ ada menumpang dua guru silatnya, si guru silat sendiri sudah lantas muncul.

Mereka ini memang tengah menantikan, sebab habis bersantap malam mereka belum melihat datangnya si Hertog muda dan menantunya Bhok Kokkong itu.

Heran kedua busu itu menyaksikan roman kucel dari si menantu Hertog.

"Apakah sudah terjadi?"

Diam-diam Yo Po menanya Bhok Lin.

"Jangan banyak omong!"

Keng Sim membentak.

"Mari kita bicara di dalam!"

"Ya,"

Sahut guru silat yang kedua.

"Kamar sudah disediakan. Di kamar sebelah selatan ada seorang tetamu tengah menantikan..."

Bhok Lin heran.

"Siapakah dia?"

Ia menanya.

"Kalau Siauwkongtia sudah menemui dia, nanti kau ketahui sendiri."

Bhok Lin mengawasi guru silat itu. yang tertawa secara aneh, hingga ia jadi bertambah heran.

"Di sini di mana aku mempunyai kenalan?"

Pikirnya. Mereka lantas masuk ke dalam.

"Tetamu itu ada di sini."

Berkata si guru silat tadi.

"Katanya dia mau bicarakan urusan penting sama Siauwkongtia, karenanya tidak usah kami turut masuk."

Keng Sim mendongkol.

"Siapakah yang main gila!"

Katanya.

Dengan keras ia menolak daun pintu kamar sebelah selatan itu.

Pintu tidak dikunci, maka itu, karena ditolak keras, daunnya lantas menjeblak.

Hampir si anak muda terjerunuk ke dalam karena ia telah menggunakan tenaga besar.

Di dalam kamar lantas terdengar tertawa dingin.

Itulah Siauw Houw Cu, yang tengah duduk bercokol, mukanya tersungging senyuman.

Mau atau tidak, Keng Sim menjadi melengak.

Bhok Lin lompat masuk.

"Siauw Houw Cu!"

Katanya berteriak.

"Kau bikin kami celaka!..."

Hertog muda ini mendongkol, maka ia lantas menyerang sahabatnya itu. Siauw Houw Cu menangkap tangan orang, ia menekan.

"Kenapa aku membikin kau celaka?"

Tanyanya.

"Benderamu itu!"

Kata si anak muda.

"Begitu aku mengasi lihat benderamu, bendera itu lantas disobek! Barang bingkisan kita juga dirampas! Kalau tidak ada benderamu itu, mungkin orang masih menimbangnimbang! Hm!"

"Ha!"

Bersuara sahabat itu.

"Jadi benar terjadi perampasan! Jadi benarlah, selama dua hari. mereka sudah merampas barang bingkisan dari Hokkian dan Inlam!"

Memang, baru tadi Siauw Houw Cu mendengar kabar hal bingkisan dari Hokkian telah ada yang rampas di tengah jalan.

Ia datang dengan cepat, maksudnya untuk melindungi Keng Sim dan Bhok Lin ini, siapa sangka, ia ketinggalan, sebab perampasan sudah terjadi di Buie San.

Bhok Lin sudah lantas tuturkan terjadinya perampasan itu.

Siauw Houw Cu mendengar dengan sabar, kemudian ia pentang kedua matanya.

"Sekarang pergilah kamu terus ke kota raja!"

Katanya kemudian.

"Untuk apakah?"

Kata Siauwkongtia "Apakah untuk orang tertawakan?"

"Bukan. hanya untuk memperlihatkan muka terang!"

Kata Siauw Houw Cu.

"Tentang bingkisan dari Inlam itu kau serahkan padaku, nanti aku yang merampas pulang! Asal kamu telah tiba di kota raja. aku ada mempunyai jalan untuk menyerahkan itu kepada kamu!"

"Benarkah itu?"

Tanya Bhok Lin. Dia lantas menjadi girang.

"Mustahil aku bicara main-main?"

Siauw Houw Cu membaliki.

"Bagus!"

Bhok Lin berkata pula.

"Kau seperti membagi aku obat untuk menenteramkan pikiran! Kau tahu, dia telah merobohkan Cihu dalam jurusnya yang ketiga belas! Aku percaya asal kau dapat cari dia kau bakal menang dengan hanya separuh jurus itu!"

Siauw Houw Cu tertawa "Aku mengerti!"

Katanya.

Lantas dia tertawa, sambil tertawa, dia lompat menembrak jendela, maka di lain saat.

menghilanglah dia!

III.

Harimau Kumala ketemu Naga Sakti Seberlalunya dari hotel, Siauw Houw Cu alias Thio Giok Houw telah melangsungkan terus perjalanan-nya maka di hari kedua tengah hari, tibalah ia sudah di Sianhee Leng, gunung yang menjadi perbatasan tiga propinsi Ciatkang, Kangse dan Hokkian.

Semasa jaman ahala Tong, di sana pemberontak Hong Cauw (Uy Cauw) telah membuka jalanan gunung panjangnya tujuh ratus li hingga sampai di Thongciu.

maka setelah diadakannya sebuah kota, Sianheekwan namanya itulah jalanan untuk kedua propinsi Ciatkang dan Kangse (Kangsay).

Thio Giok Houw mengatakan hendak menolongi Bhok Lin mendapati pulang barang bingkisan, sebenarnya di dalam hatinya ia bingung, la mesti meraba-raba!

Siapakah nona she Liong itu?

Kenapa si nona seperti menyaterukannya?

Apakah maksud si nona merampas barang bingkisan itu?

Sia-sia Giok Houw coba mencari keterangan.

Sebaliknya, ia memperoleh endusan, bahwa kiriman bingkisan tiga propinsi Ouwlam, Kangse dan Ouwpak, bakal lewat dalam beberapa hari ini.

Maka berpikirlah ia.

Ia menerka, sesudah kepalang si Nona Liong tentunya akan merampasjuga barang bingkisan ketiga propinsi ini.

Oleh karena ini ia menitahkan Ciu Ci Hiap, pembantunya itu, pergi ke Ciatkang, untuk memimpin perampasan pada barang bingkisan dari Kanglam.

ia sendiri hendak mencari Nona Liong itu, yang sepak terjangnya bagaikan naga sakti, yang nampak kepalanya, tidak ekornya...

Jalanan pegunungan ini adalah jalanan penting di antara kedua propinsi Ciatkang dan Kangse, maka itu, di situ tak sedikit orang yang berlalu lintas, hanya di antara mereka itu.

tidak ada yang Thio Giok Houw melihatnya mencurigai.

Bukan saja ia tidak melihat si Nona Liong, pula tidak ada seorang hamba negeri yang bisa disangka sebagai pelindung atau pengiring barang bingkisan.

Sampai tengah hari Giok Houw berjalan, tibalah ia di sebuah lembah di mana pun ada air mengalir.

Di sini, orang yang berlalu lintas menjadi jarang sekali, la lantas mempercepat jalannya, sampai mendadak kupingnya mendengar suara bentakan di sebelah depannya.

Ia lantas mengangkat kepalanya, memandang ke depan itu, hingga ia nampak sesuatu yang mendatangkan keheranannya.

Di depan itu ada berjalan dua orang yang dari kepala hingga di kakinya dibungkus dengan kain minyak.

Mereka itu berjalan sambil berlompat berjingkrak, setiap lompatannya sama dengan dua tindakan orang biasa, hanya lompatnya perlahan.

Di belakang mereka mengikuti dua orang dengan pakaian serba hitam, yang tangannya mencekal cambuk, yang saban-saban diayun.

Mereka ini berdualah yang terdengar suara bentakannya itu, seperti orang lagi menggebah, menyuruh orangjalan cepat.

Mereka ini pula menunjuki roman tawar...

"Bukankah ini yang dinamakan mayat hidup yang jalan selaksa li?"

Thio Giok Houw menduga-duga.

Ia memang pernah mendengar bahwa di Ouwlam Barat ada semacam kebiasaan.

Ialah kalau ada orang asing, artinya orang dari lain kampung atau propinsi mati.

karena sukarnya pengangkutan mayat, maka digunailah "ilmu"

Yang membikin mayat itu bisa berjalan, ada orang atau dukunnya yang mengantar, yang dapat memerintahkan mayat itu berjalan atau berhenti sekehendaknya si dukun.

Sampai belasan hari, mayat itu tidak akan berbau busuk.

Hanya ilmu itu adalah ilmu yang dirahasiakan dan juga banyak pantangannya.

Ada dibilang, kalau orang menemui mayat hidup itu, dia mesti lekas menjauhkan dirinya, terutama jangan berbicara sama si pengiring mayat itu.

Orang Kangouw hampir tak ada yang tak tahu hal kegaiban itu.

Thio Giok Houw tidak menjadi kecuali, tetapi ia barulah kali ini melihatnya dengan mata sendiri.

Tentu sekali ia menjadi heran dan bercuriga, tapi ia berhati besar, ia tidak takut, bahkan karena rasa ingin tahunya, ia lantas menguntit.

Sesudah mengintil sekian lama.

Giok Houw melihat di sebelah depan ada seorang yang bercokol tepat di tengah jalan sekali.

Orang itu mestinya mengetahui di situ ada mayat hidup tengah berlewat tapi dia tidak menghiraukannya, dia tidak mau minggir juga.

Dia membawa sikap seperti dia tidak melihatnya.

Juga kedua pengiring mayat hidup itu seperti tidak melihat ada orang mengandang di tengah jalan itu.

seperti biasa mereka jalan terus, cambuknya tetap sering diayun, bentak-bentakannya saban-saban terdengar.

Thio Gok Houw mengawasi pada orang di tengah jalan itu.

"Ah, rasanya aku seperti mengenal dia..."

Pikirnya.

"Di mana pernah aku menemukannya? Dia bernyali besar sekali. Coba aku lihat, apa bakal terjadi..."

Segera juga kedua mayat hidup sudah berlompat sampai di depan orang itu. Mendadak dia berlompat bangun, terus dia menegur kepada si kedua pengiring.

"Eh, apakah kamu berjalan tanpa membawa mata kamu? Kenapa kamu membiarkan dua mahluk sial ini melanggar aku?"

Te guran ini diikuti sama serangan sebelah tangannya!

Dua pengiring itu tetap tidak meladeni, air mukanya pun tidak berubah sedikit juga.

Mereka seperti manusia yang tak berperasaan, mirip dengan si mayat hidup, yang tidak perdulikan segala apa.

Tepat di saat tangan menyerang itu mengenai baju mayat hidup, mendadak dia berteriak keras, bagaikan orang kalap, dia terus berlompat berjingkrakan seperti mayat hidup itu, lompatnya lebih tinggi lagi.

Dia masih berjingkrakan terus sampai mendadak kakinya terpeleset, tubuhnya roboh terguling.

Celaka untuknya, diatergulingketepi jalanan di mana ada jurang, tidak ampun lagi, tubuhnya jatuh ke tempat yang dalam kira seratus tombak.

Berbareng dengan jatuhnya itu terdengar jeritannya yang menyayatkan hati.

Thio G.ok Houw bernyali besar akan tetapi mendengar jeritan itu, ia bergidik, hatinya berdenyutan.

Selagi ia heran, karena ia tidak tahu kenapa orang itu menjerit dan berjingkrakan, mayat hidup itu berserta pengiringnya terus berjalan maju seperti biasa, si mayat hidup berjingkrakan, dua pengiringnya membentak-bentak...

"Apakah benar ada mayat hidup?"

Thio Giok Houw berpikir keras.

"Benarkah di kolong langit ini ada keanehan ini?"

Ia lantas lari ke tepi jurang, akan melongok ke bawah.

Ia melihat orang tadi terbawa hanyut air solokan yang deras, tubuhnya nyangsang di sebuah batu besar.

Solokan itu pun berair dangkal.

Untuk dapat menolongi, ia lari ke hilir itu, terus turun ke bawah.

Kemudian dengan lompat jumpalitan, ia menaruh kaki di batu besar itu, tangannya menjambret tubuh orang, untuk diangkat dan dibawa lompat lebih jauh pula.

Maka kembalilah ia ke tepian bersama orang itu.

Ia lantas meletakkannya di tanah, untuk menatap muka orang, jang pakaiannya telah basah semua.

Mendadak ia terkejut.

"Eh, kaukah Lo Toako?"

Tanyanya.

Ia tidak memperoleh jawaban.

Orang itu sudah berhenti bernapas.

Sekarang ia mengenali betul, si Lo Toako ini ----kakak she Lo ----adalah Lo Ceng, pemimpin kedua dari kawanan dari benteng Cayhong Ce di gunung Sianhee Nia.

Kawanan dari Cayhong Ce ialah salah satu yang bertugas turut memegat dan merampas barang bingkisan pelbagai propinsi untuk raja di kota raja.

Ia memang berniat pergi ke benteng Cayhong Ce itu, untuk menanyakan keterangan hasil mereka siapa tahu di sini ia menemui pemimpinnya yang kedua yang menerima ajalnya secara aneh dan hebat sekali.

Selagi bengong mengawasi mayat orang sedang pikirannya bekerja tiba-tiba Thio Giok Houw merasakan tangannya gatal-gatal.

Ia menjadi heran dan bercuriga, dengan lantas ia merobek baju Lo Ceng di betulan dadanya.

Maka sekarang ia melihat tubuh orang matang biru seperti terkena racun.

"Ah!"

Ia berseru seorang diri.

Lantas ia mengeluarkan senjatanya dengan apa ia menusuk jeriji tengahnya, untuk memeras keluar darahnya, habis mana ia merogoh saku untuk mengambil obatnya peranti memunahkan racun, obat mana ia telan dengan cepat.

Ia tahu yang ia telah keracunan karena memegang tubuh Lo Ceng itu.

Sukur untuknya karena kecebur di air dan terhanyutkan, racun di baju Lo Ceng itu sudah hampir habis, maka ia cuma merasa gatal.

Kalau tidak, entah bagaimana jadinya, la pun lantas bersamedhi, guna meluruskan pernapasannya.

Tidak lama, dengan menguatkan hati, Thio Giok Houw meninggalkan mayat Lo Ceng itu.

Dengan merayap ia mendaki jurang.

Ia bertambah heran dan curiga, ia jadi ingin mengetahui duduknya hal, maka ia berlari-lari, akan menyusul mayat-mayat hidup itu serta dua pengiringnya yang aneh.

Syukur, belum terlalu lama, ia telah melihat punggung mereka itu.

Maka ia lantas menguntit pula.

Ketika itu sudah magrib, cuaca telah berubah menjadi guram.

Kuping Thio Giok Houw mendengar bentakanbentakan yang serupa tadi, dan matanya menampak kedua mayat hidup berjingkrakan, tanpa merasa, ia merasa seram sendirinya.

Mereka sekarang berada di tanah pegunungan yang sunyi sekali.

"Biarnya kamu mayat hidup tulen, akan aku mencari tahu terus,"

Thio Giok Houw telah mengambil putusan. Maka ia mengikuti, terus sampai di sebuah kuil tua. Sekarang ini jagat sudah mulai gelap. Ia pergi ke belakang kuil, hatinya bekerja.

"Tidak bisa salah lagi, Lo Ceng itu mesti terkena tangan jahat kedua mayat hidup itu,"

Pikirnya.

"Tapi kaki dan tangan mereka tertutup kain minyak, cara bagaimana mereka menurunkan tangannya? Aku tidak melihat gerakan mereka itu... Kenapa mereka menyamar sebagai mayat hidup dan begitu bertemu orang lantas menyerang hebat? Baik di kalangan Hitam maupun di kalangan Putih, belum pernah aku mendengar ada orang demikian ganas..."

Tidak lama lagi sang Puteri Malam mulai menaik tinggi, maka itu.

Giok Houw lantas melompati tembok masuk ke pekarangan dalam dari mana dengan hati-hati ia pergi ke depan.

Ia masuk ke dalam pendopo.

Di sini ia bersembunyi di belakang sebuah tihang yang besar.

Ia mendapat keleluasaan akan melihat ruang pendopo itu.

Segala apa sudah tua dan rusak di dalam pendopo itu.

Di atas meja ada patungnya Sang Buddha.

Di atas meja itu pun ada pelita, yang apinya berkelak-kelik.

Kelambu patung pun sudah tinggal separuh.

Kedua pengiring mayat hidup duduk bersila, dan kedua mayat hidup bersender di tihang.

Maka suasana di dalam kuil itu sungguh menjerikan hati.

Selagi Giok Houw terus mengawasi, mendadak ia mendengar kedua pengiring mayat hidup itu mengasi dengar suara kaget sendirinya.

"Ah, di sini seperti ada suara napasnya orang hidup!"

Berkata satu di antaranya. Giok Houw terkejut, ia tercengang.

"Benarkah orang telah mendengar aku?"

Pikirnya.

Ia heran sekali.

Kenapa orang mendapat dengar suara napas?

Sebagai juga jawaban untuk pengiring mayat itu, mereka lantas mendapat dengar suara tertawa geli di dalam ruang itu juga.

Mereka menjadi kaget, keduanya lantas berpaling.

"Siapa?"

Mereka menegur.

"Perlu apa di sini kau main gila seperti malaikat atau iblis?"

Tiba-tiba kelambu patung tersingkap, maka di atas meja nampak duduk bercokol seorang nona.

Selain dua orang itu, juga Giok Houw heran bukan main.

Tidak ia pernah menyangka bahwa di situ ada seorang lainnya lagi.

Dua pengiring itu tercengang.

Nona itu tertawa terkekeh.

"Aku justeru hendak mencari tahu siapa yang sebenarnya main gila seperti malaikat atau iblis!"

Katanya, mengejek.

Belum nona itu bicara habis, di situ telah terdengar bunyi menyambarnya senjata rahasia.

Ia lantas mengibaskan tangan bajunya.

Dua batang senjata rahasia menyambar ke arahnya.

Itulah serangan kedua pengiring mayat itu, yang menggunakan pusut beracun.

Sesudah menangkis, nona itu bercokol, tangannya menghunus pedang.

Ia berlompat ke depan salah satu mayat hidup, yang terus ia tikam!

Thio Giok Houw melihat nyata gerakan si nona, ia kagum sekali.

Caranya dia menangkis senjata rahasia, berlompat seraya menghunus pedang dan menikam, sebat luar biasa.

Seorang pengiring mayat hidup berseru.

"Di sini ada mayat hidup, orang hidup tidak boleh datang dekat! Kau mencari mampusmu sendiri?"

Tapi belum dia menutup mulutnya, pedang si nona sudah mengenai baju minyak dari si mayat hidup.

Berbareng dengan itu terdengarlah suara pedang mengenai batu atau kayu keras, bukannya mengenai tubuh yang berdarah daging.

Dan membarengi tikaman itu, di situ menghembus asap berwarna kuning!

Giok Houw kaget bukan main, dengan sebat ia menahan napas dan memasuki obat pemunah ke dalam mulutnya.

Selagi asap kuning itu berkebul, di situ pun terus terdengar suara beradunya senjata tajam.

Asap itu tidak berdiam lama, ketika dari luar ada angin bertiup masuk, buyarlah semua.

Thio Giok Houw lantas melihat suatu sinar terang berkelebat, atau tertampak robohnya dua orang-orangan kayu disusuli serta jatuh belarakannya batu-batu permata di lantai pendopo itu.

Di situ pun lantas tertampak si nona mulai dikepung oleh dua orang, melihat siapa, hati bisa berdenyutan keras.

Luar biasa dua orang itu.

Di leher mereka tergantung rencengan uang-uangan kertas, baju mereka ialah baju berkabung, sedang langan mereka memegang senjata yang berupa tangthung.

Dilihat seluruhnya, mereka mirip dengan mayat.

Menyaksikan itu semua, hatinya Giok Houw berdenyutan.

Ia pernah mengikuti Hek Pek Moko dan pernah melihat banyak macam barang permata tetapi ini yang bergeletakan di depan matanya benar-benar istimewa, beberapa di antaranya berharga seharganya sebuah kota.

Jadi itu bukanlah barangnya sembarang saudagar permata.

Di antara itu pun ada satu amplop besar yang tersegel.

Dengan matanya yang awas, Giok Houw melihat ceplokan cap dari pembesar negeri, yang warnanya merah.

Adalah setelah melihat surat itu, ia lantas mengerti duduknya hal.

Teranglah permata itu ada barang bingkisan dari propinsi Ouwlam dan kedua mayat hidup itu serta kedua pengiringnya adalah si pelindung.

Di dalam kain minyak dari mayat hidup itu ada disimpan juga dua orangorangan kayu itu.

Sungguh suatu pikiran bagus akan menyamar menjadi mayat hidup.

Memang, siapa berani mengganggu mayat hidup, sedang untuk melanggar saja orang takut?

Siapa akan menduga, barang bingkisan itu bisa berada di tubuh si mayat hidup itu?

Tapi sekarang ini yang menarik sangat perhatiannya Thio Giok Houw bukan lagi barang-barang permata atau upeti yang berharga besar sekali itu hanya si nona yang lagi menempur kedua mayat hidup.

Ia lantas menduga kepada nona yang disebutkan Bhok Lin.

Dia ini tentulah si Nona Liong itu.

Ia berdiam terus, ingin ia menyaksikan kesudahannya pertempuran itu.

Kedua mayat hidup itu berkelahi dengan tetap berjingkrakan, gerakan tangthung mereka luar biasa, itulah bukan ilmu silat tongkat atau toya yang biasa.

Sudah kira-kira tiga puluh jurus mereka bertempur, lalu mendadak si nona berseru.

"Apakah kamu masih tidak mau mengasi lihat wajah kamu yang sebenarnya? Kamu hendak menunggu sampai kapan lagi?"

Terus pedangnya berkelebatan cepat sekali, menikam ke kiri, membabat ke kanan.

Kedua mayat hidup itu nyata bukannya orang-orang lemah, mereka melawan dengan tidak kurang hebatnya.

Mereka pula dapat memainkan tangthung mereka dengan sempurna Demikian selagi dirangsek si nona, mendadak mereka menghajar dengan berbareng.

Kelihatannya si nona sudah sangat terdesak, untuknya seperti tidak ada ketika lagi buat menangkis atau berkelit.

Benar-benar dia lihai sekali, tubuhnya sangat lincah.

Hanya sedetik saja, dia dapat mengelit diri, kedua tangthung lewat di sampingnya.

Sebaliknya, selagi senjata lawan jatuh di tempat kosong, pedangnya bekerja terus.

Celaka mayat hidup yang di kanan, dia kena tertusuk.

Mayat hidup yang kiri mencoba menutup diri.

ia pakai senjatanya untuk berlindung.

Ia berhasil dengan tangkisannya, hanya berbareng dengan itu, gegamannya itu beradu dengan pedang, tertabas putus seketika juga.

"Bagus!"

Berseru Giok Houw di dalam hatinya memuji ilmu pedang si nona.

Mayat hidup yang di kanan itu tidak roboh, berbareng sama kawannya, yang tangthungnya putus, dia tertawa terbahak.

Sebab menyusuli kutungnya senjata itu, semacam tongkat hauwlam atau anak berbakti selama waktu upacara penguburan orang yang menjadi ayah atau ibunya, dari kutungan senjata menghembus hawa kuning bagaikan asap!

Giok Houw melihat hawa itu, dia kaget sekali.

Tubuh si nona yang lemas menggeliat, lantas dia roboh terguling!

Mayat hidup yang di kanan itu tertawa pula, tangthungnya menyusuli menyerang.

Hebat serangan ini, dengan suara nyaring senjata luar biasa itu mengenai lantai.

Oleh karena si nona yang gesit sekali, telah menggulingkan tubuhnya jauh kira-kira satu tombak.

"Ah!"

Giok Houw menghela napas lega.

Si nona syukur tidak terkena hawa beracun itu.

Satu bencana baru lewat, atau lain bencana menyusul.

Nona itu menggulingkan diri justeru ke arah kedua pengiring mayat hidup itu.

yang semenjak tadi berdiri menonton saja.

Mereka ini melihat saatnya yang baik, dengan lantas mereka menyambuti, menghajar nona itu dengan cambuk mereka.

Itulah cambuk kulit bukan sembarang cambuk.

Lagi-lagi Giok Houw terkejut, hanya kali ini ia terus turun tangan.

Ia menganggap si nona berada dalam ancaman bahaya Tanpa bersangsi lagi, ia menimpuk dengan dua batang jarumnyajarum Bweehoaciam, yang ia telah siapkan di dalam telapakan tangannya.

Si nona terancam bahaya tetapi mendadak dia tertawa panjang, tubuhnya mencelat dari tanah, menyingkir dari cambuk.

Bagaikan terbang, dia melewati atasan kepalanya dua penyerangnya itu, yang menghajar ia sambil tubuhnya sedikit membungkuk.

Si dua penyerang sebaliknya kaget dan kesakitan, hingga mereka berkaok.

Lengan mereka terkena jarum.

Lantaran ini, cambuk mereka pun nyasar dari sasarannya, terus mengenakan hiolouw hingga abu hio jadi muncrat berhamburan!

"Ah!"

Kata Giok Houw di dalam hatinya, kalau tahu dia begini lihai, tak perlu aku membantu dia dengan jarumku..."

Sementara itu.

gerakan si nona berlangsung terus.

Kembali terdengar tertawanya yang panjang.

Kali ini disebabkan dia berhasil bergantian menyontek mukanya kedua mayat hidup, yang memakai topeng, hingga tertampaklah wajah mereka yang asli.

"Haha!"

Demikian tertawanya si nona.

"Aku menyangka siapa, kiranya kamulah kedua Ciok Toaya dari Kiangsi Bun dari Sinciu!"

Kedua mayat hidup itu melengak sejenak.

Mereka memanglah Ciok Ciat dan Ciok Hu, dua saudara kembar dari Sinciu di propinsi Ouwlam.

Sinciu adalah kota di mana terdapat ilmu gaib, tempatnya dukun-dukun yang biasa disebut ciokyuko.

Kiangsi Bun berarti partai Mayat Kaku, atau lebih benar, mayat hidup.

Segala keanehan di sana, yang bersifat tahayul, tentu dilakukan dua saudara ini atau murid-muridnya.

Karena ilmu sesat mereka itu, kaum Rimba Persilatan juga malui mereka.

Sunbu dari Ouwlam hendak mengirim bingkisan ke kota raja, untuk menjamin keselamatan, tanpa merasa hina diri, ia mengundang dua saudara Ciok itu, untuk membantu ia melindungi bingkisannya itu.

Mereka ini, yang umumnya disebut tianglo, atau ketua, menerima tugas itu.

Untuk namanya keselamatan, mereka dapat memikir akalnya itu yang lihai.

Dua pengiringnya itu ialah murid-murid mereka yang dapat diandali.

Mereka sendiri berparas sebagai mayat, karena mereka selalu membawa dan mengenakan topeng.

"Hai, kedua mahluk aneh, untuk apa kamu melotot saja?"

Tanya si nona tertawa.

"Siapa yang takut kepada kamu?"

Dua saudara kembar itu menjadi gusar sekali.

"Oh, nona cilik yang tak tahu mampus!"

Membentak mereka yang terus terseru.

"Mari!"

Maka bersama kedua murid mereka, mereka mengurung nona itu.

Si nona benar bernyali besar.

Ia tidak menjadi jeri meskipun ia menghadapi empat musuh yang mempunyai senjata rahasia beracun itu.

Ia bahkan tertawa.

Dengan tiba-tiba ia membalingkan pedangnya.

Ciok Ciat berempat merasakan sambarannya hawa dingin dari pedang itu, seperti juga ujung pedang nempel di muka mereka.

Hampir berbareng mereka berlompat mundur.

Kemudian baru mereka maju menyerang.

Mereka tidak mendesak tetapi mereka bisa mengepung dengan baik.

karena mereka menggunakan senjata panjang terutama kedua murid itu dengan cambuk mereka.

Nona itu melayani dengan baik.

cuma sebab musuh berjumlah banyak dan tidak dapat dipandang ringan, pertempuran mengambil tempo yang lama.

Dengan cepat telah berlangsung seratus jurus tetapi mereka masih sama unggulnya.

Thio Giok Houw menonton dengan kekaguman.

Sekarang ia melihat tegas ilmu silat si nona adalah ilmu silat suatu partai tersendiri, sedang kelincahan tubuhnya tidak usah kalah dengan kelincahannya sendiri yang didapat dari ilmu "Coanhoa jiauwsi,"

Atau "Menembusi bunga, mengitari pohon."

Tengah mereka berkutat seru, sekonyong-konyong tubuh si nona mencelat ke belakang dari si kedua pengiring, yang berbaju hitam.

Mereka ini lantas menyambuk ke belakang tanpa memutar tubuh lagi.

Si nona berkelit seraya kakinya terus menyambar, membikin belasan mutiara di lantai bergerak bergelindingan.

Semenjak tadi semua mutiara itu terletak di tanah, tidak ada seorang yang berani menginjaknya.

Barang bundar dan licin, siapa menginjak itu, dia bisa terpeleset.

Sekarang si nona menendangnya.

"He, kau bikin apa?"

Membentak si kedua pengiring.

Mereka berlompat, akan menyingkir dari butir-butir mutiara itu.

Di luar dugaan, nona itu menyapu dengan kakinya dengan sengaja menyapu belasan butir mutiara itu yang besar-besar ke arah mereka.

Sebenarnya mutiara itu.

kalau baru satu kali keinjak, tidak nanti pecah, akan tetapi mereka, yang mengiringi barang bingkisan, cuma memikirkan barang-barang yang dilindunginya itu tidak rusak, maka itu, tak sempat mereka berpikir, justeru mereka berkelit, justeru mereka kena melanggar mutiara itu.

begitu kakinya menginjak, dua di antaranya lantas roboh terguling, ke empat kaki mereka menjulang ke atas!

Segera setelah itu, si nona maju sambil pedangnya berkelebat.

Ciok Ciat mengangkat senjatanya, tongkat koksong pang ialah semacam tangthung.

untuk menangkis.

Karena tangkisannya ini, kedua senjata beradu dengan menerbitkan suara.

Kesudahannya, ia kaget sekali.

Tongkatnya itu kena terbabat pedang dan kutung!

Menyaksikan itu, Thio Giok Houw berpikir.

"Hebat nona ini, dia baru dipedayakan atau dia telah bertindak pula!"

Tongkat Ciok Ciat yang putus itu lantas menyemburkan satu sinar terang serta segumpal hawa hitam, menyusul itu Ciok Ciat sendiri mengayun tangannya, untuk menerbangkan songbun teng, paku rahasianya yang lihai, yang ada racunnya.

Ia pun menimpuk dengan beberapa batang dalam sekali pukul.

Berbareng sama menyemburnya sinar terang dan hawa hitam itu, si nona mengibaskan tangannya yang panjang, hingga anginnya menghembus keras.

Maka itu sinar dan hawa hitam itu lantas tersampok balik ke arah Ciok Ciat.

Atas itu, tanpa bersuara lagi, Ciok Ciat roboh terguling tak sadarkan diri.

sedang tiga barang paku beracunnya juga berbalik menancap di badannya setiap lawan itu.

Menyaksikan itu barulah Thio Giok Houw sadar.

Jadinya nona itu sudah siap sedia, dia menangkis serangan beracun itu dengan sampokan Tiatsiu Sinkang, yaitu ilmu silat Tangan Baju Besi yang langka Si nona sendiri lantas tertawa terbahak seraya mengatakan.

"Kamu main gila kamu cari mampus sendiri! Jangan kamu sesalkan aku!"

Dua orang dengan baju hitam merayap bangun, dengan mata mendelik saking bencinya, ia mengawasi si nona, akan tetapi setelah mendapat kenyataan nona itu tidak hendak turun tangan terhadap mereka, lekas-lekas mereka mengangkat tubuh guru mereka, untuk digendong, buat segera dibawa lari ke luar kuil itu!

Hebat tetapi tak terdugalah kesudahannya pertempuran ini, sebab pihak Kiangsi Bun, partai Mayat Kaku, telah terbinasa dua guru dan dua muridnya.

Habis itu si nona menepuk tangannya dengan perlahan.

"Karena barang toh barang hanyut, sukalah aku berlaku sedikit dermawan!"

Ia kata.

"Mengingat kepada kedua batang jarum Bweehoa ciam itu, sukalah aku membagi dua bagian!"

Teranglah dengan kata-katanya itu si nona memaksudkan Thio Giok Houw, yang ia ketahui bersembunyi di luar kuil dan telah mengguna!

jarum rahasianya membantu secara diam-diam kepadanya.

Thio Giok Houw tertawa, ia bertindak keluar dari tempat sembunyinya la masuk ke dalam kuil.

"Aku datang ke mari bukannya dengan maksud meminta bagian dari kau!"

Katanya terus terang.

"Nona bukankah kau she Liong? Aku numpang tanya, gurumu itu ialah Cianpwee yang mana?"

Nona Liong tertawa terkekeh.

"Jadinya kau bukan datang untuk mendapat bagian!"

Katanya.

"Sang tempo masih banyak, maka itu kau tunggulah sebentar, hendak aku membereskan dulu barang-barang ini!"

Ia lantas bertindak, untuk mengangkat sambil menyontek dua lembar kain minyak yang ada gambarnya Mayat Kaku yang terletak di tanah.

Ia masih jalan dua tindak lagi ketika ia menoleh dan berkata sambil tertawa manis.

"Aku membuat capai kepada kau! Sukakah kau menolongi aku membenahkan itu?"

Sembari berkata, tangan kirinya merogoh ke sakunya, akan mengeluarkan sebuah kantung kulit, yang terus ia lemparkan kepada Giok Houw sambil ia berkata pula.

"Ouwlam ialah sebuah propinsi yang makmur, barang bingkisannya bukan sedikit! Kau tolong masuki itu ke dalam kantung ini. Palangan pit dari batu itu serta mutiara dan kopiah Hongkhoa, tolong kau pisahpisahkan!"

Setelah itu, masih ada aksi yang menyusul dari si nona. Tangannya menyentilkan sebutir obat pulung yang berwarna merah dadu ke arah pemuda she Thio itu seraya ia berkata pula.

"Kalau sebentar kau merasa dadamu penuh dan muak, aku minta sukalah kau makan obat ini!"

Giok Houw melengak, tetapi ia menyambuti obat itu Di dalam hatinya ia berkata.

"Pertemuan ini ada pertemuan yang pertama kali di antara kita berdua, dia sudah menaruh kepercayaan begini besar kepadaku, sama sekali dia tidak takut aku menyembunyikan sesuatu!..."

Untuk membuka kantung itu, supaya terbuka lebar, ia meniup ke mulut kantung.

Segera ia mendapatkan, di dalam situ ada beberapa lapisannya, yang merupakan kantung rahasia, yang terbuat dari kulit rase yang lemas.

Maka itu, kantung itu saja sudah bukan sembarang kantung.

Lantas ia bekerja, memungut dan memasuki barang-barang permata itu ke dalam kantung.

Ia bekerja dengan terliti.

seperti juga ia kuatir nanti membuatnya ada yang hilang.

Nona Liong sendiri pergi ke luar kuil.

ia tumpuk dua helai kain minyak itu di bawah sebuah pohon, lantas ia menyalakan api untuk menyulutnya buat membakar itu.

Begitu api telah bekerja di sana tersiar bau bacin, bau mana terbawa angin masuk ke dalam kuil.

Giok Houw membaui itu, lekas-lekas ia memasuki obatnya si nona ke dalam mulutnya untuk ditelan.

Cepat sekali ia merasakan hawa harum, yang seperti segera masuk ke dalam peparunya, makajuga lenyaplah bau bacin itu yang tak sedap.

Dengan begini tahulah Giok Houw yang kain minyak itu telah direndam di air racun, menjadi tidak heran yang pemimpin kedua dari Cihong Ce, karena kesentuh sedikit saja kain itu, telah mesti mengantarkan jiwanya.

Setelah api padam.

Nona Liong menggali sebuah lubang di dekat tempat pembakaran itu, di situ ia pendam abunya kain minyak yang beracun itu, kemudian baru ia masuk pula ke dalam kuil di mana ia mendapatkan Thio Giok Houw sudah selesai bekerja.

"Terima kasih! Terima kasih!"

Katanya tertawa seraya mengulur tangannya, guna menyambuti kantungnya. Akan tetapi Thio Giok Houw berkata.

"Kantung ini tidak dapat lantas dikembalikan kepadamu!"

"He, kenapakah?"

Si nona menanya heran.

"Bukankah katanya seorang ksatriya ada sebagai kuda jempolan diberikan satu cambukan? Bukankah kau telah mengatakan padaku bahwa kau tidak mengharapi barang bingkisan ini? Haha! Jikalau benar kau tak segan melanggar janjimu, baiklah, barang bingkisan ini suka aku menghadiahkan padamu!"

"Aku bukan menghendaki barang bingkisanmu ini,"

Menerangkan Thio Giok Houw.

"Aku cuma ingin menanya kau, kenapa kau merampas ini barang bingkisan?"

Nona itu mengawasi.

"Bukankah dua hari yang lalu kaulah yang merampas barang bingkisan dari dua propinsi Kwitang dan Kwisay?"

Ia menanya.

"Tidak salah!"

Menjawab Giok Houw terus terang.

"Bahkan pada bulan yang sudah aku telah merampas juga barang bingkisan dari sembilan propinsi!"

"Nah, kau lihatlah!"

Berkata si nona.

"Kau dapat merampas kenapa aku tidak? Sekarang aku mohon kau sudi memberikan alasannya!"

Giok Houw berdiam, karena ia bersangsi.

"Tentang asal-usulnya dia ini aku masih belum tahu."

Pikirnya.

"pantaskah kalau aku menjelaskan kepadanya bahwa perampasan barang-barang bingkisan itu ada untuk mengumpulkan rangsum untuk Ciu Peehu dan Yap Peehu?"

Masih anak muda ini berdiam sekian lama, baru akhirnya ia menyahuti juga.

"Nona,"

Katanya.

"ada apa-apa yang kau masih belum tahu. Aku merampas barang bingkisan itu bukannya untukku sendiri."

"Habis, untuk apakah itu?"

Si nona menanya, mendesak.

"Di dalam ini hal aku minta nona sukalah percaya aku."

Giok Houw menyahut pula.

"Pendeknya, barang bingkisan yang aku rampas itu. sedikit juga bukan untuk keperluan diriku sendiri."

Nona itu tertawa.

"Jadi kau maksudkan itu untuk orang banyak?"

Tanyanya.

"Benar,"

Jawab Giok Houw cepat.

"Nona Liong, maafkan aku omong terus terang. Kita berdua bukannya manusia-manusia yang kemaruk harta benda maka itu jikalau barang-barang rampasan ini kau tidak dapat menyerahkan kepada pihak yang sangat membutuhkannya, baiklah kau serahkan saja padaku."

"Apakah dapat aku mengandal hanya kepada katakatamu ini?"

Si nona menegaskan. Pemuda itu mulai menjadi tidak senang.

"Jikalau kau tidak percaya aku, aku tidak perlu banyak bicara lagi!"

Ia bilang.

"Sekarang aku hendaktanya singkat padamu Barang ini kau suka serahkan padaku atau tidak?"

Nona Liong itu mendadak tertawa geli.

"Kita baru bertemu kali ini, kau lantas menghendaki barang-barang yang demikian berharga supaya diserahkan padamu!"

Katanya.

"Ha! Umpamakan aku percaya kau dan aku pun tidak menanyakan kau, kau hendak gunai itu untuk apa. Tapi... tapi..."

"Tapi apa nona?"

Nona itu tertawa pula.

"Aku ingin ketahui dengan cara apa kau dapat membuktikan kepadaku bahwa kau tidak mementingkan dirimu sendiri?"

Ia tanya. Giok Houw menjadi gusar.

"Pulang pergi, nyatanya kau tidak percaya aku!"

Katanya keras.

"Sekarang ini aku tidak berdaya untuk menerangkannya tetapi lain kali kau bakal ketahui sendiri!"

Sedang lain orang panas hatinya dan menjadi gusar, si nona tetap sabar, bahkan lagi-lagi ia tertawa geli.

"Perlu apa menanti hingga di lain kali?"

Katanya.

"Sekarang juga aku sudah tahu!"

"Kau tahu apa?"

Giok Houw heran.

"Tahu bahwa kau benar-benar memenangkan dirimu sendiri!"

Parasnya si anak muda menjadi pucat, tangannya meraba gagang pedangnya.

"Apakah kau sengaja hendak menghinai aku?"

Ia menanya, suaranya dalam.

"Mana aku berani? Mana aku berani?"

Sahut si nona.

"Aku hanya memikir untuk menanyakan satu hal padamu..."

"Silahkan!"

"Menurut kata-kata kau. merampas barang-barang bingkisan karena ada keperluannya yang besar,"

Berkata si nona.

"Dan itu pun bukan untuk kepentingan pribadimu sendiri. Kalau begitu, maka semua barang bingkisan di kolong langit ini pastilah kau hendak merampasnya, bukan? Bukankah itu artinya cuma kau yang diijinkan merampas dan lain orang tidak boleh?"

"Tidak salah, nona. Memang semua barang bingkisan hendak aku merampasnya. Lain orang bukannya tidak boleh turut merampas, hanya perampasan itu mesti aku ketahui terlebih dulu!"

"Jikalau kau terlebih dulu tidak mendapat tahu?"

"Kalau sampai terjadi begitu maka teranglah sebabsebab dari perampasan itu tidak sama dengan sebabsebab perampasanku. Kalau begitu, tidak dapat aku tidak mencampurinya tahu! Nona, aku tidak tahu apa perlunya kau merampas barang-barang bingkisan itu, akan tetapi rasanya perlu aku memberitahukan kau, dengan perbuatanmu ini kau bakal membangkitkan amarahnya semua orang gagah di seluruh negeri!"

Nona itu masih tetap dengan sikapnya yang tenang. Ia tertawa pula "Jangan kau menggertak aku!"

Katanya.

"Aku tidak takut digertak! Umpama kata benar semua orang gagah di seluruh negara telah memilih dan mengangkat kau menjadi kepala perampasan bingkisan ini. itu masih belum dapat membuat aku puas!"

"Bagaimana, eh? Cobalah kau omong biar jelas! Sebenarnya di bagian manakah yang aku mementingkan diriku sendiri? Dan bagaimana caranya supaya aku dapat membikin kau puas?"

Nona itu tertawa tawar.

"Kau bilang kau hendak merampas semua barang bingkisan dari semua propinsi. Baik! Sekarang aku hendak tanya kau, kenapa kau bersikap lain terhadap barang bingkisan dari propinsi Inlam? Kenapa kau melepaskannya? Bahkan kenapa kau memberikan orang sehelai bendera sebagai perlindungan untuk barang bingkisan itu?"

Ditanya begitu, Giok Houw bungkam.

"Di antara aku dengan Keng Sim dan Bhok Lin ada hubungan yang sulit, mana dapat di dalam satu saat seperti ini aku menjelaskannya semua?"

Pikirnya Nona Liong tertawa terbahak.

"Bagaimana? Bukankah pertanyaanku tepat? Nah. cukup sudah! Aku tidak mau memperdulikan kau, maka kau juga jangan memperdulikan aku! Siapa yang mempunyai kepandaian, dialah yang merampas!-Eh, eh, dengar itu! Kembali ada langganan datang mengantarkan diri! Bagaimana sekarang, kau yang merampas atau aku?"

Giok Houw memasang kuping. Benar di luar kuil terdengar tindakan kaki orang. Ia segera melirik kepada si nona.

"Kita melihat dulu biar terang, baru kita bicara lagi!"

Sahutnya. Sembari berkata, ia berlompat ke gorden malaikat di dalam mana ia menyembunyikan dirinya, la mengambil tempat di belakang patung. Di dalam hatinya, ia kata.

"Kenapa di dalam satu malam beruntun ada datang dua rombongan barang bingkisan dari dua propinsi? Laginya di dalam kalangan Kangouw cuma ada satu partai Kiangsi Bun yang sesat itu! Apakah mungkin pengantar-pengantar dari lain-lain propinsi mau berlaku sebagai partai ini yang mondok justeru di dalam sebuah kuil tua?"

Giok Houw pun berpikir lebih jauh, karena si Nona Liong tidak mempercayai ia, ia juga sungkan mempercayai nona itu.

Tengah ia berpikir itu, mendadak hidungnya terhembuskan bau yang harum, hingga ia terperanjat.

Ia lantas mendapat tahu yang si Nona Liong pun turut menyembunyikan diri di belakang patung malaikat itu!

Tubuh patung bukannya kecil, akan tetapi dua orang mesti bersembunyi di situ, itulah lain.

Dengan begitu, tidak dapat orang tidak berdiri berendeng dan hampir nempel rambut di samping kuping dengan rambut di samping kuping!

Hati Giok Houw berdenyutan.

mukanya pun dirasakan panas.

Dengan lantas ia menggeser sedikit tubuhnya, atau si nona segera berbisik di kupingnya.

"Orang yang datang ini mungkin bukan sembarang orang. Aku hendak melihat dulu dengan jelas, baru kita bicara pula."

Adalah di itu waktu, dua orang terlihat bertindak masuk.

Kapan Thio Giok Houw telah melihat tegas dua orang itu, ia sedikit terkesiap.

Ia tahu mereka itu, seorang tosu atau imam, dan seorang mahasiswa usia pertengahan, ialah Ko In Tojin serta Ku Kiu Gi.

Memang mereka bukan sembarang orang, merekalah murid-murid paling kesohor dari Butong Pay.

Ciangbunjin, atau ketua dari partai itu, Kiu Ji Totiang, sudah berusia lanjut, kalau ada urusan, selamanya dua muridnya ini yang mengurusnya.

Lebihlebih si orang she Ku itu, dia paling dipercaya ketuanya, atau gurunya, hingga dia mirip dengan wakil ketua.

Hinggadi dalam kalangan Rimba Persilatan ada sebutan.

"Ingin menghadap Kiu Ji, bertemu dulu Kiu Gi."

Setibanya di dalam, Ko In Tojin memperdengarkan seruan kaget perlahan.

"Ku Sute. lihat!"

Katanya.

"Bukankah mereka ini orangorangan kayu dari Ciok Tianglo dari Kiangsi Bun? Mungkinkah sulap hantu mereka telah ada orang yang pecahkan?"

Mendengar itu.

Nona Liong menoleh kepada Thio Giok Houw, ia mengasi lihat roman Jenaka, lidahnya pun diulur.

Ialah yang menghajar dua orang itu.

Sekarang ia merasa bahwa pengetahuan atau pengalamannya tentang dunia kangouw masih berbatas, karena kedua mayat itu ia tidak sempat membereskannya dulu.

Ku Kiu Gi tertawa lebar.

"Permainan sulap kena dipecahkan masih tidak apa!"

Katanya.

"Hanya dua manusia kayu ini telah kena didodet perutnya, dengan hilang jantungnya, itulah hebat!"

Memang barang bingkisan dari propinsi Ouwlam telah disembunyikan di dalam itu manusia kayu, tentulah si orang she Ku itu maksudkan barang bingkisannya yang berharga besar seumpama kata seharga sebuah kota.

Thio Giok Houw hampir tertawa mendengar kata-kata si mahasiswa she Ku itu.

Ia kata di dalam hatinya "Perkataannya Kiu Gi ini menarik hati!

Sama-sama mahasiswa tetapi dia tidak memuakkan seperti Tiat Keng Sim!"

Ketika itu, air mukanya Ko In Tojin lantas berubah.

"Sute, mari kita pergi!"

Katanya keras. Agaknya perasaannya tegang sendirinya.

"Eh. suheng, apakah artinya ini?"

Tanya Kiu Gi.

"Apakah kau telah melupakan urusan yang dijanjikan kita dengan si dua orang she Ciok dari Kiangsi Bun itu?"

Menanya suheng itu. si kakak seperguruan.

"Biarlah mereka itu jalan di muka, untuk menolongi kita membuka jalan,"

Sahut Kiu Gi tenang.

"Kita harus membantu mereka, untuk saling membantu, benar begitu, bukan?"

"Tidak salah!"

Berkata Ko In.

"Sekarang ini barang bingkisan mereka telah kena orang rampas, ruparupanya si perampas masih belum pergi jauh, maka mungkin sekali, sedikitnya, kita dapat menyusul mereka. Umpama kata kita tidak dapat menyandak mereka, kita pasti akan bertemu sama kedua si Ciok itu, kepada mereka kita menjadi boleh meminta penjelasan."

"Apakah suheng memikir untuk merampas pulang barang bingkisan itu?"

Kiu Gi menanya kakak seperguruannya itu.

"Harus diingat dengan si Ciok tua kita tidak membuat itu macam perjanjian. Mereka itu menggunakan sulap hantu dari mayat hidup mereka, untuk melakukan perjalanan selaksa li, kalau mereka kehilangan barang bingkisan yang dilindungi mereka, pantas saja!"

"Ah, sute, tidak dapat kau bicara secara demikian,"

Berkata Ko In.

"Benar partai Kiangsi Bun itu tidak disukai kaum Rimba Persilatan, akan tetapi karena bersamasama mereka kita terhitung orang-orang yang melindunginya, setelah kita memberikan janji bantuan kita ----walaupun sebelumnya tidak ada dibikin perjanjian ----tanggung jawab toh kita mesti menanggungnya bersama."

"Kedua si Ciok itu bukannya orang-orang lemah,"

Berkata Kiu Gi.

"mereka pun mempunyai senjata mereka yang beracun, bahkan mereka diiring pula dua murid kepala mereka, maka kalau mereka toh sampai kena dirampas, pastilah si perampas mempunyai kepandaian yang tak di sebawahan kepandaian kita..."

"Kita perduli apa siapa mereka?"

Kata Ko In, suaranya tetap.

"Kita tidak dapat tidak memegang janji kita sebagai laki-laki, tidak perduli terhadap pihak Kiangsi Bun. Kalau kita melenyapkan kepercayaan, mana dapat kami disebut partai Butong Pay?"

Sebenarnya Kiu Gi masih hendak bicara pula, tetapi melihat ketegakan suheng itu, ia terpaksa mengalah.

"Jikalau pikiran suheng sudah tetap, baiklah, aku menurut,"

Katanya.

Giok Houw kaget juga.

Benarlah mereka ini ada pelindung-pelindung yang diundang untuk barang bingkisan propinsi Ouwpak itu.

Hanya aneh mereka.

Kecuali pedang mereka, mereka kelihatan tidak membawa barang lainnya, dan pakaian mereka juga tidak mencurigakan ----ditubuh mereka tidak ada sesuatu yang munjul.

Maka itu, bingkisan itu terdiri dari barang apa dan di manakah disembunyikannya?

"Bagus, sute!"

Berkata Ko In Tojin.

"Asal kita berdua bersatu hati dan bersatu tenaga, tidak perduli musuh bagaimana tangguh, belum tentu mereka sanggup menindih kita. Maka, apakah yang kita buat takut? Nah, mari kita berpisahan, kita mencari si perampas itu. Siapa yang melihat musuh, dia mesti memberi isyarat dengan bersiul panjang!"

Kiu Gi tertawa lebar.

"Buat apa kita mencari jauh-jauh?"

Katanya.

"Aku kuatir sahabat-sahabat perampas barang bingkisan itu masih berada di dalam kuil ini..."

Dan lantas dia berseru nyaring.

"Sahabat-sahabat, entah sahabat-sahabat dari kalangan mana, silahkan keluar untuk bertemu sama kita!"

Tidak heran kalau orang she Ku ini berseru demikian.

Giok Houw dan si Nona Liong berdesakan tanpa mereka merasa, mereka membikin gorden bergerak sedikit, dan Kiu Gi yang waspada dan matanya jeli lantas saja melihatnya dan menjadi bercuriga.

Hampir berbareng sama seruan orang itu, tuhuhnya Giok Houw berlompat keluar dengan pesat sekali.

"Sungguh dia sangat gesit!"

Pikir Ko In Tojin dengan kagum.

Tapi, setelah melihat rupa orang.

Ia agaknya tercengang.

Ia seperti mengenali anak muda ini tetapi tidak lantas mengingatnya.

Tidak demikian dengan Ku Kiu Gi, yang menjadi keheran-heranan.

"Kau! Kau Siauw Houw Cu?"

Tegurnya.

Kiu Gi berotak terang sekali, ingatannya kuat, dari itu segera ia kenali pemuda itu.

Kira-kira enam atau tujuh tahun dulu, tengah membuat perjalanan, Thio Tan Hong lewat di gunung Butong San.

Ketika itu ia ada bersama Siauw Houw Cu, yang ia ajak, maka ia ajak muridnya itu mampir di itu gunung menjenguk Kiu Ji Totiang, ketua Butong Pay.

Ko In dan Kiu Gi -senantiasa mendampingi guru mereka, mereka melihat Siauw Houw Cu, maka itu, setelah tercengang sejenak, Kiu Gi segera mengenalinya.

Thio Giok Houw merangkap kedua tangannya memberi hormat.

"Sudah lama kita tidak pernah bertemu, harap dua saudara baik-baik saja!"

Katanya sambil tertawa.

"Benar akulah Siauw Houw Cu yang dulu itu."

Ko In membalas hormat.

"Sekarang ini locianpwee Thio Tayhiap ada di mana?"

Ia menanya.

Ketika itu usianya Thia Tan Hong baru empat puluh kurang lebih, dia ada terlebih muda beberapa tahun dari ini imam, akan tetapi nama Tan Hong sangat terkenal dan dalam tingkat derajat, dia seimbang dengan Kiu Ji Totiang, gurunya, dari itu, Ko In memanggil locianpwee terhadapnya.

"Guruku masih ada di Chongsan di Tali,"

Sahut Giok Houw.

"Selama beberapa tahun ini suhu tidak pergi ke mana-mana."

"Eh, Thio Siauwhiap, mengapa kau bersembunyi di sini?"

Kemudian Ko In menanya pula.

"Bukankah tadi telah terjadi perampasan barang-barang yang dilindungi oleh Ciok Ciat dan Ciok Hu?"

"Benar,"

Giok Houw menjawab.

"Apakah kau melihatnya jelas?"

Kiu Gi pun bertanya.

"Dari mula hingga di akhirnya, semua aku melihat tegas sekali,"

Jawab Giok Houw pula. Mendengar begitu. Ko In Tojin berpikir.

"Perampas barang bingkisan itu mungkin lihai luar biasa, Siauw Houw Cu ini kebetulan saja melihatnya, karena kaget dia menjadi menyembunyikan diri..."

Kiu Gi sebaliknya girang.

"Saudara kecil, kau jadinya telah melihat semua!"

Katanya.

"Nah, siapakah perampas itu? Kau kenal dia atau tidak?"

Nona Long masih sembunyi di belakang patung, ia mendengar nyata semua pembicaraan itu, ia terperanjat juga, maka sambil menggigit giginya, ia kata dalam hatinya.

"Kau boleh sebut namaku, aku tidak takut! Hm, hm, aku tidak menyangka yang kau bakal membantui mereka menyaterukan aku!"

Lalu terdengar tertawa nyaring dari Giok Houw.

"Aku kenal dia, kenal sekali!"

Sahutnya.

"Siapakah dia?"

Tanya Ko In cepat. Siauw Houw Cu menunjuk pada hidungnya.

"Dialah aku sendiri!"

Sahutnya pula. Ko In dan sute-nya, si adik seperguruan, tercengang. Hanya sedetik, ia lantas tertawa lebar.

"Siauw Houw Cu, kau lagi bergurau!"

Katanya.

"Baiklah kau lekas mengantarkan aku pergi menyusul perampas itu!"

"Eh, eh, siapa bergurau denganmu?"

Berkata si anak muda.

"Apakah artinya ini dua mahluk aneh dari partai Kiangsi Bun? Buat bicara terus terang kepada kamu. Semua barang dari pelbagai propinsi pun aku yang rampas!"

Imam itu menjadi bersangsi. Benarkah orang omong terus terang? "Jikalau benar barang bingkisan itu kau yang rampas,"

Katanya kemudian, sabar.

"aku minta sukalah kau memandang aku, kau kembalikan barang itu kepada mereka."

"Itulah tidak dapat!"

Menjawab Giok Houw terus terang.

"Eh, anak, janganlah kau tidak tahu keadaan,"

Berkata Ko In.

"Kau berlakulah baik. kau pulangi itu kepadaku. Suka aku membantu kau merahasiakan perbuatan kau ini, aku tidak mungkin memberitahukarnya kepada gurumu."

"Walaupun kau mohon bantuannya guruku, tidak dapat aku menyerahkan barang bangkisan itu kepada kau!"

Kata pula Giok Houw. Hilang sabarnya si imam.

"Bagus betul!"

Serunya.

"Nama Thio Tan Hong terkenal di seluruh negara, aku tidak menyangka dia mempunyai murid semacam kau ini!"

"Eh, aku kenapakah?"

Giok Houw tanya.

"Kau berbuat sembarangan saja, kau tidak dapat membedakan apa yang baik apa yang buruk!"

Berkata Ko In.

"Apakah kau menyangka aku tidak berani mewakilkan Thio Tan Hong untuk memberi ajaran kepadamu?"

"Tunggu dulu, tunggu!"

Berkata Giok Houw tertawa.

"Aku masih ada bicara!"

Imam itu menyangka orang jeri.

"Baiklah!"

Katanya.

"Asal kau bisa membedakan yang baik dari yang buruk, aku tidak akan berlaku keterlaluan terhadapmu!"

"Mari aku tanya!"

Berkata Giok Houw tanpa memperdulikan sikap orang.

"Bukankah barang bingkisan yang kamu lindungi itu barang bingkisan dari propinsi Ouwpak? Sebenarnya barang itu barang apakah dan di mana kamu menyembunyikannya?"

Kembali Ko In menjadi gusar.

"Perlu apa kau menanyakan itu?"

Ia menegur.

"Maaf!"

Berkata si anak muda.

"Dengan memandang persahabatan di antara guru-guru kita, aku minta sukalah kamu mengeluarkan barang bingkisan itu untuk diserahkan padaku. Dengan begini tak usahlah keakuran kita menjadi terganggu..."

Kemurkaannya Ko In Tojin tak kepalang.

"Apa?"

Teriaknya.

"Juga barang yang dilindungi kami kau hendak rampas?"

"Terang terang itu ada semacam upeti untuk raja si bocah, kenapa kau membilangnya itu kepunyaan kamu?"

Berkata Siauw Houw Cu yang lagaknyajenaka itu.

"Sebenarnya, raja pun tidak terlalu menghargakan barang bingkisan dari sebuah propinsimu itu! Untuk aku. itu justeru ada besar faedahnya! Kau begini ngotot membelai raja, bagaimanakah kau masih omong tentang persahabatan denganku?"

Ko In Tojin menjadi sangat gusar.

"Ha, Siauw Houw Cu!"

Serunya.

"Berapa banyak tahun sudah latihanmu maka kau begini berani main gila terhadap aku?"

Ia mencabut pedangnya dan lantas menikam.

"Baiklah!"

Jawab Thio Giok Houw, secara menantang.

"Dengan memandang kau adalah pihak yang terlebih tua, suka aku mengalah untuk tiga jurusmu!"

Dengan satu gerakan "Hongtiamtauw,"

Atau "Burung hong mengangguk."

Pemuda ini membebaskan diri dari tikaman si imam. Karena serangannya gagal. Ko In Tojin maju dengan tindakannya "Tujuh buah bintang menaik,"

Pedangnya turut bergerak juga, dengan sabetan dua kali pergi dan pulang. Untuk partai Butong Pay. serangan ini serangan sangat berbahaya Itulah salah satu jurus simpanan.

"Suheng, jangan!"

Berseru Ku Kiu Gic.

menasihati.

Ia melihat kakak seperguruannya itu naik darah dan ia mencegah orang lantas menurunkan tangan kematian.

Ko ln sedang murka, tidak dapat ia menarik pulang serangannya itu.

Ia pun percaya serangannya tidak nanti gagal.

Akan tetapi Siauw Houw Cu dapat menyelamatkan dirinya.

Dengan gesit ia berkelit seraya terus menggunakan tipu silat enteng tubuh "Coanhoa jiauwsi."

Ialah ilmu "Menembusi bunga, mengitari pohon."

Itulah ilmu tubuh lincah yang menjadi keistimewaan ln Loei, yang telah diwariskan kepada Ie Sin Cu dan pemuda ini pun dapat mempelajarinya.

Kemurkaannya Ko In menjadi bertambah-tambah, bagaikan lupa diri.

ia mengulangi serangannya bertubitubi.

Ia menjadi sangat mendongkol dan penasaran sekali.

"Sudah cukup tiga jurus!"

Berkata Thio Giok Houw sambil tertawa, selama mana ia terus main berkelit.

"Maafkan aku yang aku tidak dapat mengalah pula!..."

Kata-kata ini dibuktikan dengan segera. Pemuda ini segera menggunakan sentilan Itci Siankang! Ko In Tojin terkejut, dengan sebat ia menarik pulang, pedangnya, untuk menutup diri. Tapi "Traang!"

Maka pedangnya itu telah kena disentil, suaranya pedang lantas mengalun.

Yang hebat, si imam merasai telapakan tangannya sakit.

Tapi dasarnya lihai, ia tidak menghiraukan itu, dengan bengis ia lantas menyerang pula.

Siauw Houw Cu tidak jeri untuk serangan ini, tidak perduli itu sangat berbahaya.

Ia bahkan menyambutinya dengan satu pukulan Taylek Kimkong Ciang atau Tangan Arhat yang ia diajarkan In Tiong.

Dengan sambutan ini ia membuatnya pedang lawan itu menjadi kacau sasarannya.

Ia tidak berhenti sampai di situ.

Ia membarengi maju satu tindak, guna meninju langsung ke dada orang.

Kali ini ia menggunakan tinju Liongkun atau kuntauw Naga ajarannya Hek Pek Moko.

Kembali terjadi bentrokan di antara pedang dan tangan kosong, kali ini telah terdengar suara yang jauh lebih nyaring daripada sentilan tadi.

Kesudahannya pun terlebih hebat pula.

Tubuh Siauw Houw Cu limbung karenanya Tapi lebih hebat adalah si imam, dia tergolek mundur tiga tindak!

Sampai di situ.

Thio Giok Houw hendak membuka mulutnya, untuk bicara, atau mendadak ia menampak berkelebatnya satu sinar hijau.

Sebab Ku Kiu Gi telah maju menyerang secara tiba-tiba.

Pula ia terperanjat akan melihat gerakan pedang, yang tak ketentuan tujuannya, ke kiri atau kanan.

"Ah, dia lebih lihai daripada kakak seperguruannya,"

Ia berpikir.

Ia sempat berkelit dengan tipunya "Coanhoa jiauwsi".

Sekarang ia tidak mau memandang ringan lagi, dengan lantas ia menghunus senjatanya, golok mustika yang menjadi golok pusaka.

Dengan menggunakan golok ini, tempo Kiu Gi menyerang pula ianya dengan jurus "Hunsim kiam"

Atau "Memecah Perhatian,"

Ia dapat menghalaunya sambil terus menghalau juga tikamannya Ko In, yang maju menyusuli sute-nya.

Pedangnya imam itu lantas kena dibikin terpental!

Thio Tan Hong lihai sekali dengan ilmu pedangnya, tetapi ialah seorang cerdas, karena Siauw Houw Cu, muridnya itu, bersenjatakan golok, ia lantas menciptakan Hian Ki Tohoat,"

Ilmu silat "Golok Hian Ki,"

Yang dasarnya iaambil dari Hian Ki Kiamhoat.

"Ilmu Pedang Hian Ki."

Biar bagaimana, dengan menggunakan pedang, Ie Sin Cu ada terlebih lihai daripada Siauw Houw Cu.

Bahkan dia pun menang dalam ilmu ringan tubuh dan kepandaian menggunakan senjata rahasia.

Kemenangan Siauw Houw Cu atas suci, atau kakak seperguruannya itu.

ialah dalam halnya tenaga, yang jauh lebih kuat dan beberapa pukulan istimewa ajarannya Hek Pek Moko dan juga ilmu yoganya.

Pertempuran itu, satu lawan dua, atau dua mengepung satu, dengan lantas menjadi seru.

Karena di samping Siauw Houw Cu lihai.

Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi tidak boleh dipandang enteng, sebab merekalah jagojago Butong Pay dari generasi kedua, orang-orang yang paling lihai di antara sepantarannya.

Kiu Gi sangat mahir dalam Lianhoan Toatbeng Kiam.

atau ilmu pedang berantai "Merampas Jiwa,"

Yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Inilah ilmu yang ia keluarkan untuk melawan muridnya Thio Tan Hong. Selagi bertempur itu, Thio Giok Houw tertawa lebar dan berkata dengan nyaring.

"Setelah merampas barang bingkisan belasan propinsi, baru ini hari aku bertemu sama dua orang yang benar-benar mempunyai kepandaian berarti! Haha! Inilah pertempuran yang paling menggembirakan, yang paling mempuaskan!"

"Sungguh satu mulut yang besar!"

Kata Kiu Gi, sambil ia menyerang.

Itulah serangan sangat berbahaya, sebab sasarannya adalah tiga anggauta tubuh.

Siauw Houw Cu tidak takut, bahkan dengan berani ia melawan keras dengan keras.

Ialah ia menyambut serangan dengan tangkisan goloknya.

Begitu lekas kedua senjata beradu hingga menerbitkan suara berisik, begitu lekas juga Ku Kiu Gi menjadi terkejut.

Ia mendapatkan telapakan tangannya sakit sekali dan nyer-nyaran dan pedangnya pun meninggalkan sebuah cacad.

Oleh karena ini, ia menjadi terlebih waspada.

Pertempuran berlangsung terus, Siauw Houw Cu tetap dikerubuti berdua.

Tanpa merasa mereka melalui seratus jurus tanpa ada kesudahannya.

Ku Kiu Gi tahu, sebagai muridnya Thio Tan Hong, Siauw Houw Cu mestinya lihai, hanya ia tidak menyangka orang ada lihai demikian rupa.

la menjadi penasaran.

Ia berpikir.

"Kita berdua, kalau kita tidak dapat mengalahkan satu bocah, sungguh' inilah suatu malu bagai perguruan kami!"

Karena ini, ia mulai menyerang dengan menggunakan pelbagai jurus dari ilmu pedangnya itu.

Siauw Houw Cu tahu orang mendesak keras, ia berlaku sabar dan tenang.

Ke mana juga pedang panjang dari Kiu Gi menuju, ke sana golok pusakanya menangkis.

Kelihatannya gerakan goloknya itu tidak ada yang luar biasanya tetapi hasilnya tidak pernah gagal.

Goloknya itu pun selalu menghalau pedangnya Ko In Tojin.

Di matanya Kiu Gi, Siauw Houw Cu bergerak sangat lincah seperti tidak menggunakan senjata akan tetapi kenyataannya anak muda itu mesti bersilat dengan sungguh-sungguh dan mengeluarkan banyak tenaga, sedang matanya dipentang awas dan kupingnya mendengari dengan saksama.

Lagi seratus jurus telah lewat.

"Inilah hebat,"

Akhirnya Siauw Houw Cu berpikir.

"Siapa sangka mereka ini benar-benar lihai sekali. Sayang tadi aku sudah lantas memunculkan diri, kalau kesudahannya aku tidak bisa mengalahkan mereka ini, tidakkah aku bakal ditertawai Nona Liong?"

Selagi Thio Giok Houw berpikir, Ku Kiu Gi melirik kepada suheng-nya, si kakak seperguruan, terus ia berseru keras, pedangnya dipakai menyontek ke perut lawannya itu.

Berbareng dengan itu Ko In Tojin juga membacok, dari atas ke bawah.

Maka juga kedua pedang dua saudara ini bergerak dengan sama cepatnya.

Hebat ancaman bahaya itu yang bisa merobek perut atau memapas kepala atau pundak.

Akan tetapi orang yang dikepung itu tidak takut bahkan dia tertawa.

Sambil berkelit Giok Houw menangkis pedangnya Kiu Gi.

Dengan satu suara nyaring, pedang itu kena dibikin mental.

Pedangnya Ko In membacok terus.

Pedang ini tidak ada yang mencegahnya, pundaknya yang diarah si imam.

Giok Houw berkelit dengan mengeluarkan ilmu yoga ajarannya Hek Pek Moko.

Ia tidak menyingkirkan diri, ia cuma menggeraki tubuhnya.

Ia membuatnya dagingnya melesak.

Maka ketika bacokan tiba, melainkan bajunya yang menjadi sasaran, jangan kata dagingnya, kulitnya pun tidak lecet.

Melihat kesudahan bacokannya itu, Ko In kaget sekali.

"Marilah upeti itu!"

Sekonyong-konyong Giok Houw berseru.

Ia membarengi melonjorkan tangannya yang kiri.

Kali ini ia menggunakan jurus Houwjiauw Kimna ajaran Tantai Biat Beng ---Tangkapan Kuku Harimau.

Ko In terancam bahaya.

Kalau dia kena disambar, celakalah dia, sedang Kiu Gi.

yang pedangnya mental, tidak dapat menolongi padanya.

Karena ini, ia telah mengeluh di dalam hatinya, semangatnya bagaikan terbang.

Di saat imam itu hampir menerima nasibnya, mendadak terdengar suara tertawa nyaring halus dari belakang patung, lantas satu nona berlompat keluar, tangan kanannya diulur, mencegah sambaran Giok Houw, tangan kirinya dikibaskan, untuk menangkis pedangnya Kiu Gi, yang mencoba untuk menolongi suheng-nya sambil menyerang lawannya.

Itulah Nona Liong, yang munculnya membuat dua-dua pihak heran.

Giok Houw sampai melengak.

Si nona tertawa tanpa memperdulikan keheranan orang.

"Eh, dua telur dungu, apakah kau masih tidak mau kabur?"

Kata nona itu.

"Apakah kamu hendak menunggu sampai orang dapat merampas barang antaran kamu?"

Ko In tersadar, ia mengeluarkan seman perlahan, habis mana dia lantas lari kabur. Kiu Gi tapinya masih membuka mulutnya.

"Kami kaum Boctorig Pay, kalau ada budi kami membalas budi, kalau ada sakit hati kami membalas sakit hati!"

Katanya.

"Aku mohon tanya she dan namamu, nona!"

"Aku melepas budi tanpa mengharapi pembalasan budi!"

Sahut si nona.

"Apakah kau tidak mau lantas menyusul kakak seperguruanmu itu? Apakah kau masih hendak menerima dua bacokan dari ini orang yang derajatnya lebih tua daripada kamu?"

Selagi berkata begitu, si nona sendiri berkelahi terus, tiga kali ia menangkis serangan Giok Houw, sebab pemuda ini menyerang kepada lawan yang belum mau menyingkir itu.

Belum pernah Kiu Gi mendapat ini macam penghinaan, ia jadi panas hati.

Terhadap si nona, ia gusar berbareng bersyukur.

Karena sangat terpaksa, dengan sengit ia kata.

"Baiklah, hitunglah hari ini aku roboh!"

Terus ia lompat, lari keluar dari kuil rusak itu. Giok Houw tidak mengejar tetapi ia lompat ke samping.

"Apakah artinya ini?"

Ia tanya si nona, matanya bersorot gusar. Nona Liong tertawa.

"Bukankah kau telah melihatnya jelas sekali?"

Sahutnya, membaliki.

"Bukankah aku telah melepaskan dua orang barusan?"

"Aku hanya hendak menanya kau, kenapa kau melepaskan mereka itu,"

Tegaskan si pemuda.

"Dengan itu barang bingkisan dari Ouwlam aku mau melepas budi kepada murid-murid Butong Pay,"

Si nona menjawab. Giok Houw mendongkol sekali.

"Aku tidak dapat melepas budi tetapi kau dapat!"

Katanya.

"Apakah hubunganmu dengan partai Butong Pay itu?"

Si nona tertawa.

"Hubungan itu pasti tidak ada terlebih erat daripada hubunganmu itu!"

Sahutnya.

"Sikapku ialah, bertemu yang lebih tinggi memberi hormat, bertemu yang lebih rendah, menginjak. Aku merasa dua orang itu mempunyai pengaruh besar dalam Butong Pay, aku pikir, pantas kalau aku melepas budi. maka itu, aku telah melakukannya!"

Giok Houw gusar bukan kepalang.

"Kalau begitu, marilah kita main-main!"

Ia menantang. Nona itu tidak gusar, dia bahkan tertawa terpinhkalpingkal, hingga pinggangnya melengking.

"Kau bergusar tanpa alasan!"

Katanya.

"Apakah cuma kau yang diijinkan melepas budi dan aku dilarang? Aku menjual muka kepada Butong Pay, ini jauh terlebih bagus daripada kau menjual muka kepada Bhok Kokkong!"

Giok Houw mendongkol tetapi sekarang barulah ia mengerti maksud perkataannya si nona barusan, yang menyindir padanya.

"Kau tahu apa?"

Katanya, keras.

"Aku benar melepaskan bingkisan dari Inlam tetapi itu bukannya untuk Bhok Kokkong!"

"Aku tidak perduli itu untuk siapa,"

Berkata si nona.

"Kau tidak sudi memberi keterangan, aku juga tidak mempunyai tempo untuk mendengarinya! Maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau!..."

Nona itu menjejak dengan kakinya, lantas tubuhnya lompat ke luar jendela, selagi keluar, dia berpaling, tertawa kepada si anak muda, tangannya pun diangkat.

Nyata di tangannya itu ada kantung bingkisan dari Ouwlam!

"Eh, kau pakai aturan atau tidak?"

Giok Houw tanya.

"Berhenti dulu, berhenti! Kita mesti omong jelas!"

Ia lantas lari mengejar. Sambil lari. Nona Liong tertawa.

"Ah, kau sangat rewel!"

Katanya.

"Di waktu begini, siapa mempunyai kesabaran akan mendengarimu?"

Giok Houw tidak menyahuti ia mengejar terus. Ia dalam hatinya, ia kata.

"Biar aku mengejar dulu, bicara belakangan!"

Boleh dibilang hampir berbareng dengan itu, terbawa oleh angin gunung, terdengar caciannya Ko In Tojin.

"Budak mau mampus! Budak mau mampus! Oh, kau bikin aku mati mendelu!..."

Mendengar itu, Giok Houw heran hingga ia melengak.

"Dia menolong mereka, kenapa sekarang mereka mendamprat dia?"

Tanya ia di dalam hatinya. Selagi berpikir, ia dengar suara kaki berlari-lari keras, disusul sama suaranya Ku KiuGi.

"Sudah! Buat apa mengejar terus padanya? Seorang laki-laki, dia dapat bengkok dan dapat lempang! Biarlah bocah yang masih berambut kuning itu puas sekarang! Biarlah kita bicara pula setelah nanti kita ketahui tentang asal usulnya!"

"Heran!"

Pikir pula Giok Houw.

"Jadi dia pun telah merampas bingkisan propinsi Ouwpak itu? Kenapa aku tidak dapat melihatnya?"

Itu waktu kembali terdengar suara tertawa terkekeh nyaring dari si nona, yang bayangannya berkelebat di satu tikungan bukit, karena mana.

Giok Houw berlompat untuk mengejar supaya ia tidak sampai kehilangan nona itu.

Mereka berdua lihai ilmunya enteng tubuh, dari itu, cepat sekali lari mereka, hingga di lain saat jauh sudah mereka meninggalkan Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi.

Di situ pun ada banyak pepohonan di kedua samping.

Nona Liong seperti juga mengandung maksud sengaja mengadu ilmu lari keras dengan Thio Giok Houw, biar bagaimana anak muda itu memanggil padanya, ia lari terus, tidak mau ia berhenti.

Karena itu, terpaksa Giok Houw mengeluarkan tenaganya untuk dapat mengejar terus.

Mereka berlari-lari terus hingga sang fajar menyingsing.

Baru sekarang nona itu memperlahankan tindakannya.

"Kali ini kita mengadu ilmu ringan tubuh, kita seri!"

Katanya tertawa, seraya menoleh.

"Kau letih tidak?"

Giok Houw melihat ke sekitarnya.

Tanpa ia merasa, mereka sudah melewati kota Sianheekwan.

Jadi sedikitnya mereka sudah melalui dua ratus li lebih.

Sendirinya, hatinya bercekat.

Kapan ia mengawasi nona itu, ia mendongkol berbareng kagum.

Nona itu tenangtenang saja sedang ia sendiri, dahinya mengeluarkan sedikit keringat.

Nona itu tertawa, ia berkata pula.

"Ada pepatah yang membilang, 'Mengantar tuan sampai seribu li. akhirnya toh mesti berpisah,' maka itu selagi kita adalah sahabatsahabat yang baru berkenalan, sedang kau telah mengantari aku beberapa ratus li, tidak berani aku membikin kau bercapai lelah lagi. Mengapa kau tidak memberi selamat berpisah? Apakah kau masih hendak mengantar aku lagi satu rintasan?"

"Sudah, jangan bergurau!"

Sahut Giok Houw.

"Mari serahkan upeti itu!"

"Upeti dari propinsi yang mana?"

Si nona menegasi. Tapi tanpa menanti jawaban, sambil tertawa, ia mendahului sendirinya.

"Benar! Upeti dari Ouwpak itu aku sendiri belum melihatnya tegas barang apa! Tunggu sebentar, aku lihat dulu, jikalau itu tak cocok dengan hatiku, nanti aku serahkan pada kau..."

Ia merogoh ke sakunya, ia mengeluarkan sehelai ikat pinggang yang bertaburkan kumala ikat emas. Melihat itu, Giok Houw heran.

"Ikat pinggang itu memang berharga tetapi bukannya mustika."

Pikirnya.

"Mustahilkah upeti dari Ouwpak cuma barang semacam ini?"

Sambil berpikir, pemuda ini terus mengawasi.

Si nona memencet pada ikat pinggang itu, yang lebih dulu ia awasi.

Nyata di situ ada dipasangi pesawat rahasia.

Begitu dipencet, ikat pinggang itu terbuka, maka dari situ keluarlah sinar mencorong berkilauan.

Sekarang terlihat tegas, isinya ikat pinggang adalah mutiara-mutiara yabengcu yang bundar-bundar dan besar-besar!

"Bagus!"

Berkata si nona tertawa. matanya pun memain.

"Kiranya barang bingkisan dari Ouwpak ini jauh lebih berharga daripada kepunyaan Ouwlam. Di sini ada semuanya tiga puluh enam butir, kalau ini dijual, aku lihat sebutirnya mungkin berharga sedikitnya sepuluh laksa tail perak! Pantaslah sunbu dari Ouwpak telah mengganggu murid-murid dari Butong Pay untuk melindunginya..."

Sekarang Giok Houw bisa menduga.

Rupanya selama di kuil tua itu, berbareng menolongi orang, nona ini sudah meloloskan ikat pinggang itu yang berada di pinggangnya Ko In Tojin.

Pantas imam itu jadi demikian gusar.

Sebagai muridnya Hek Pek Moko, Giok Houw pun tahu harga barang.

Benar seperti katanya si nona setiap mutiara mustika itu berharga sepuluh laksa tail perak.

Nona Liong merapikan pula ikat pinggang itu.

"Semua mutiara ini cocok sama hatiku."

Katanya, tertawa.

"dari itu tidak dapat aku menyerahkannya kepada kau. Tentang upeti dari Ouwlam, jikalau kau menghendakinya, suka aku membagi dua."

"Siapa main tawar menawar denganmu?"

Kata Giok Houw gusar.

"Semua barang yang kau rampas, tidak perduli dari propinsi yang mana, ingin aku mendapati semuanya!"

"Aha!"

Berseru si nona.

"Sungguh suara yang besar! Bagaimana dapat aku serahkan itu padamu! Mana orang! Tolong! Siang hari bolong ada orang hendak membegal!"

Giok Houw melengak. Ia masih belum sadar ketika dari samping, di mana ada rimba lebat, ia mendengar suara jawaban.

"Ya, nona, kami datang!"

"Bagus betul!"

Teriak Giok Houw.

"Kiranya di sini kau menyembunyikan kawanmu! Kau memanggil kawan, apakah kau kira aku takut?"

Belum habis si anak muda berbicara, dari dalam rimba sudah muncul dua nona, yang usianya rata-rata baru empat-atau lima belas tahun.

Melihat mereka itu, ia heran hingga ia tercengang.

Si nona tidak memperdulikan orang heran.

"Mana Cun Heng dan Tong Bwee?"

Ia menanya dua nona itu. Nona yang di sebelah kiri menyahuti.

"Enci Cun Heng dan Tong Bwee pergi merampas upeti dari Kangse. Katanya, setelah berhasil, mereka akan menanti siocia di Ciatkang."

"Bagus!"

Menjawab nona itu, yang dipanggil siocia ---jadi ialah nona majikan.

"Upeti dari dua propinsi Ouwlam dan Ouwpak ada padaku sekarang, aku letih, pergilah kamu yang bawa. Kamu juga menantikan aku di Ciatkang."

Giok Houw tercengang.

Ia ingat keterangannya Bhok Lin.

Jadi inilah kedua nona, atau budak, yang telah merampas upeti dari dua propinsi Inlam dan Kuiciu.

Selagi anak muda in; berpikir, kupingnya mendengar suara angin "Ser!"

Lalu matanya melihat gerakan kedua tangan si nona.

Tangan kirinya melemparkan kantung upeti dari Ouwlam kepada budaknya yang satu, tangannya yang lain menimpukkan sabuk upeti dari Ouwpak kepada budaknya yang lainnya.

Karena sangat mendongkol, Giok Houw menjejak tanah, ia lompat ke arah budak yang mau menyambuti upeti dari Ouwpak itu.

Itulah lompatan "Burung menyambar kelinci."

Si budak kaget, dia berteriak.

"Jangan takut, Hee Ho!"

Berseru si nona.

"Tidak nanti ada orang dapat merampas barangmu!"

Kata-kata ini dibarengi sama lompatnya si nona, yang berbareng pun mengibaskan tangan bajunya, maka itu belum sempat si pemuda dan si pemudi turun di tanah, tangan mereka sudah bentrok.

Nona itu menggunakan kebutan dengan ilmu silatnya "Tiatsiu kang"

Atau Tangan Baju Besi,"

Lengan Giok Houw kena dikibas, meski si anak muda tidak terluka, dia toh merasakan sakit, sedang si anak muda telah menggaet robek ujung bajunya si pemudi.

Maka itu, kesudahannya mereka seri, cuma Giok Houw gagal merampas sabuk mutiara itu.

Kedua budak itu sangat cerdik dan tubuh mereka pun sangat enteng dan lincah, selagi muda-mudi itu "bertempur"

Keduanya sudah lantas lari kabur, hingga di lain detik, bayangan mereka juga sudah tidak nampak. Si nona tertawa geli.

"Semua barang bingkisan sudah dibawa pergi!"

Katanya.

"Apakah kau masih ingin main-main denganku?"

"Aku cuma mau minta dari kau!"

Sahut Giok Houw kaku.

"Ah,"

Kata si nona menghela napas.

"benar aku lagi malang... Kenapa aku justeru bertemu sama kau? Sebenarnya pernah aku mendengar di kalangan Kangouw suka terjadi golongan Hitam makan golongan Hitam, tetapi belum pernah aku mendapatkan orang sebengis kau ini!"

Bukan main mendongkolnya si anak muda.

"Kau mau serahkan atau tidak?"

Dia menanya singkat.

"Aku tidak mempunyai tempo untuk kau gerembengi!"

"Eh, kau aneh sekali!"

Si nona tertawa.

"Sebenarnya, kau yang menggerembengi aku atau aku yang menggerembengi kau? Kau sudah merampas upeti dari belasan propinsi dan aku tidak minta suatu apa dari kau!"

"Sudah, sudah!"

Kata si anak muda, jang kewalahan mengadu omong.

"Kita jangan banyak omong lagi, mari kita lihat siapa menang siapa kalah!"

Nona itu mengawasi, tenang.

"Bicara dari hal peri kepantasan, kau tidak dapat melawan aku,"

Katanya.

"maka kau jadi hendak bertempur! Benarkah? Baiklah! Kau bicara tentang bertempur, aku bersedia! Bagaimana? Kau membilang hendak bertempur, kenapa kau tidak mau lantas turun tangan?"

"Aku seorang laki-laki, tidak dapat aku menghina wanita!"

Sahut Giok Houw.

"Kau maju lebih dulu!"

"Kalau pria, bagaimana sih?"

Tanya si nona.

"Aku toh berdiri di sini! Mana dapat dikatakan kau menghina aku?"

Nona ini membuat main tangan bajunya, matanya melirik.

Dia telah siap sedia, tetapi selama Giok Houw tidak bergerak, dia pun berdiam saja.

Pemuda itu kewalahan, terpaksa ia tidak mau pakai aturan kaum Kangouw lagi.

"Awas!"

Ia berseru seraya terus menyerang, dengan tipu silatnya "Tujuh bintang menembusi bunga,"

Yang menggertak berbareng menyerang benar-benar, datangnya dari samping.

Ia menyerang tetapi tidak dengan Seseluruh tenaganya dan gerakannya juga rada lambat.

Ia mau bersedia untuk perlawanan si nona.

Selagi anak muda ini menyerang setengah hati itu, mendadak dua tangan baju si nona sudah bergerak saling susul, ia pun berteriak.

"Awas!"

Kedua tangan bajunya itu panjang, yang kiri dibikin menggulung, yang kanan menyerang.

Giok Houw tidak menyangka, hampir saja tangannya kena digulung.

Ia berkelit dengan menggunakan satu jurus dari Coanhoa Jiauwsi.

Dengan tangannya terhindar dari bahaya, ia tidak bisa menolong pundaknya, yang disambar ujung baju, tapi ia tidak mendapat bahaya, karena dengan ilmu yoganya, ia masih dapat berkelit.

Ia segera membalas menyerang, hanya sasarannya ada tempat kosong, sebab si nona menghalau diri dengan gesit.

"Terima kasih untuk mengalahmu!"

Berkata nona itu, suaranya perlahan.

Kata-katanya itu diikuti tertawanya yang merdu.

Nyata Giok Houw mendengar suara itu di kupingnya.

Ia menguasai diri, untuk berlaku tenang.

Dengan sebat ia menyambar ke samping dengan cengkeramannya.

Tapi kembali ia menyambar sasaran kosong.

"Hebat nona ini,"

Pikirnya.

"Kelihatannya dalam ilmu ringan tubuh ia tak kalah dengan enci Sin Cu."

Sedang ia berpikir, kembali ia diserang si nona, yang kedua tangan bajunya menyambar-nyambar pula.

Giok Houw mempunyai banyak guru, pelajarannya pelbagai macam, tetapi menghadapi Nona Liong ini, ia heran sekali.

Tidak bisa ia menduga orang ada dari partai mana.

Belum pernah ia melihat ilmu silat orang ini.

Dalam tempo yang pendek, dua puluh jurus sudah lewat.

Pertandingan ini rada kipa.

Benar mereka bersama-sama bertangan kosong tetapi si nona menang karena tangan bajunya terlebih panjang dan tangan bajunya itu merupakan semacam senjata.

Dengan begitu, kedua tangan si anak muda menjadi seperti terlebih pendek.

Beberapa kali hampir ia kena dihajar.

"Apakah selanjutnya kau masih berani memandang enteng kepada bangsa wanita?"

Berkata di pemudi sambil tertawa geli. Giok Houw mendongkol sekali.

"Apakah kau menyangka benar aku tidak sanggup melawan kau?"

Katanya sengit.

Dengan tiba-tiba ia menyerang hebat sekali, sampai suara anginnya bersiur keras.

Ia telah menggunakan satu pukulan dari Taylek kimkong ciu.

Meski begitu, ia cuma menggunakan tenaga lima bagian.

Benar-benar gesit si nona.

Diserang demikian hebat, ia masih bisa menghalau dirinya, bahkan habis berkelit itu, ia membalas menyerang dengan sebat.

"Ah, tidak, seberapa lihai!"

Katanya tertawa.

Lalu kedua tangannya menyerang, pula saling susul, mengarah dada si pemuda.

Giok Houw menjadi penasaran, setelah berkelit, ia melanjuti serangannya.

Ia terus menambah tenaganya atas setiap serangannya itu, seperti juga ia tidak mengenal kasihan lagi.

Si nona melayani dengan air muka terus tersungging senyuman, tetapi di dalam hati, sebenarnya ia terperanjat.

Mulanya, hatinya terkesiap.

Ia tidak menyangka orang sebenarnya demikian lihai.

Sesudah mendesak hingga enam belas jurus.

Nona Liong nampak main mundur saja.

meskipun tangan bajunya yang panjang terus bergerak, ia seperti cuma dapat menangkis tetapi tidak dapat membalas menyerang.

Toh kelihatan tegas lincahnya tubuh dan tangannya serta tindakan kakinya.

Ia dapat mengimbangi serangan-serangan dahsyat itu.

Tidak pernah si anak muda dapat menyerang dengan berhasil.

"Dalam tenaga dalam, ia kalah dari aku,"

Akhirnya Giok Houw berpikir.

"hanya dalam ilmu ringan tubuh, aku benar harus menyerah."

Lantas pemuda ini mengguna siasat.

Mendadak saja ia menarik pulang tangannya, yang baru dipakai menyerang hebat itu.

Nona Liong merasakan kekosongan, karena lenyapnya desakan, tanpa merasa, tubuhnya terjerunuk ke depan.

Ia kehilangan keseimbangan dirinya.

Justeru itu, si pemuda mengubah cara menyerangnya.

Telapakan tangannya yang terbuka lantas ditekuk tiga buah jerijinya, yang sepasang lagi ia pakai menyerang dengan ilmu silat Tiatcikang jurus Tiatcihui atau Sampokan Jeriji Besi.

Ia menyambar tangan bajunya si pemudi, ketika ia menggores.

"Bret!"

Terdengar suara nyaring.

Tangan baju itu pecah terbelah dua, hingga nampak lengan yang putih halus dari nona itu!

Mukanya Nona Liong menjadi merah, ia jengah sekali.

Giok Houw menjadi tidak enak hati.

Ia menang satu jurus sesudah ia bekerja keras.

Ia sebenarnya mau menghaturkan maaf atau si nona sudah mendahului ia.

Mulanya nona itu memperlihat roman sungguh-sungguh, habis itu dia tertawa dan kata dengan tampan.

"Tidak apa! Benar kau menggunakan akal tetapi tetap kau menang satu jurus! Baiklah, sekarang aku mau belajar kenal dengan senjatamu."

Ia tidak menanti jawaban, ia mendahulukan mencabut pedangnya yang berkeredepan.

"Tunggu, tunggu dulu!"

Berkata Giok Houw.

"Kita harus omong dulu biar jelas. Umpama kata kau kalah, bagaimana? Kalau kita main merabu saja, itulah tidak ada artinya."

"Baiklah."

Menyahut si nona.

"Mari kita bertaruh."

"Taruhan apakah itu?"

Giok Houw menanya.

"Kita bertaruh dengan semua barang bingkisan dari semua propinsi,"

Jawab si nona. Mendengar itu, Giok Houw tertawa bergelak.

"Taruhan ini cocok dengan hatiku!"

Katanya.

"Kalau aku kalah, maka semua bingkisan dari belasan propinsi pun akan aku serahkan padamu!"

Akan tetapi si nona menggeleng kepala "Aku tidak menghendaki kepunyaanmu itu,"

Katanya.

"Bagaimana?"

Kata Giok Houw heran.

"Kau tidak menghendaki kepunyaanku sebaliknya aku menginginkan kepunyaanmu! Kalau begini, apakah artinya taruhan kita ini?"

"Kau dengar dulu aku,"

Berkata si nona sabar.

"Sebenarnya malam ini kita sudah melakukan dua rintasan. Yang pertama itu ialah mengadu ilmu enteng tubuh. Mulanya dalam seratus li lebih, kau ketinggalan, kau tidak dapat mengejar aku, kemudian lagi seratus li lebih, aku mulai tergesa-gesal. Coba kita tidak berhenti untuk beristirahat, setelah lari-larian lagi seratus li, ada kemungkinan kau bakal melombakan aku. Maka itu, aku mau anggap kita seri. Coba bilang, pertimbanganku ini adil atau tidak?"

Giok Houw berpikir. Sebenarnya ia kalah cepat, kalau ia toh dapat menyusul, itu disebabkan tenaga dalamnya yang menang, ia lebih ulet.

"Adil!"

Ia menyahut, menyeringai. Biar bagaimana ia rada likat.

"Hanya akulah seorang lelaki, di dalam halnya tenaga, aku menang unggul. Sebenarnya aku malu."

Tapi nona itu tertawa dingin.

"Kalau aku tidak akan menyebut-nyebut perbedaan di antara pria dan wanita!"

Katanya.

"Hm, hm! Apakah benar pria selamanya lebih menang dari wanita?"

Ia hening sejenak, lantas ia menambahkan.

"Barusan kau menggunakan akal, biar begitu, aku menganggapnya kau yang menang. Maka sekarang tinggal rintasan yang ketiga, umpama kata aku kalah, aku jadi kalah dua kali, aku tidak akan membilang apa-apa lagi, semua barang bingkisan dari sembilan propinsi, yang aku telah rampas, semua akan aku serahkan padamu. Andaikata kau yang kalah, kita anggap kita seri. Itu artinya, aku tidak menghendaki barangmu, kau jangan menghendaki barangku. Beginilah cara pertaruhan kita. Apakah kau puas?"

Pertaruhan itu ada menguntungi Giok Houw, meski begitu, anak muda ini toh berpikir.

"Sudah terang nona ini ada terlebih kepala gede daripada aku. Bukankah ia sengaja hendak mengalah?"

Demikian pikirnya. Melihat orang berdiam saja, nona itu menuding dengan pedangnya.

"Kau akur atau tidak?"

Dia tanya, sikapnya j umawa. Tapi dia tertawa. Giok Houw menghunus golok mustikanya. Ia pun tertawa.

"Akur!"

Sahutnya.

"Hanyahendak aku memberitahukan kau, golokku ini golok mustika!"

"Aku sudah tahu!"

Jawab si nona.

"Kau mulailah!"

Nona ini demikian jumawa hingga ia tak menghiraukan golok mustika.

"Tadi aku yang mulai, sekarang giliranmu."

Kata si pemuda.

"Aku tidak dapat menang sendiri."

"Baiklah!"

Kata si nona tanpa sungkan lagi. Ia membalingkan pedangnya, pedang Cengkong kiam, habis mana ia menikam dengan jurus "Bintang mengejar rembulan."

Ia mengarah muka. Di dalam hatinya. Giok Houw tertawa.

"Baru sekarang kau menggunakan kekerasan,"

Pikirnya.

"Baik aku melayani dengan tenang."

Akan tetapi si nona menggunakan akal. ia cuma menggertak, sebelum ujung pedangnya mengenai sasarannya, mendadak ia mengubahnya menjadi "Mega melintang di atas puncak Cin Na."

Serangan ini hebat akan tetapi Giok Houw tidak terlalu menghiraukannya.

"Ah, kiranya dia pun dari Butong Pay..."

Pikirnya.

Serangan si nona itu mestinya menyambar ke kiri, untuk membabat lengan kanan dari lawanan.

Giok Houw menggunakan belakang goloknya, untuk menyampok.

Tapi nona itu berlaku cerdik dan sebat, ia mengubah tujuannya, dari kiri ke kanan, terus ia menikam ke nadi.

Tentu sekali si anak muda menjadi terkejut, repot dia membela diri.

Serangan ini membikin dia mengeluarkan keringat dingin.

Dengan sukar saja dia dapat melindungi nadinya itu.

Setelah itu, si nona mendesak, menyusuli serangan yang kedua, lalu datang yang ketiga.

Yang kedua kali itu ada jurus dari ilmu silat Khongtong Pay yang dinamakan "Bengto cianli,"

Atau "Unta lari seribu li,"

Ujung pedang menikam ke bawah, mencari dengkul.

Giok Houw tidak mengerti banyak tentang ilmu silat Khongtong Pay, meski ia kenali jurus ini, ia tidak berani berlaku alpa.

Ia melindungi dengkulnya dengan jurus.

"Memindahkan gunung menguruk lautan."

Aneh ilmu silat si nona setelah bekerja, tikaman itu bukan lagi tikaman Khongtong Pay. Sebab datanglah serangan yang ketiga itu, yang berantai. Kali ini Giok Houw mengenali "Hokmo Kiamhoat,"

Ilmu pedang "Menakluki Siluman"

Dari Siauwlim Pay Utara Itulah jurus "Wi To hangmo,"

Atau "Malaikat Wi To menakluki hantu."

Ujung pedang membabat ke bawah. Untuk membela dirinya, Giok Houw menangkis dengan jurus "Dengan sebuah tihang menahan langit."

Kali ini, pemudi itu cuma menggertak, pedangnya ditangkis tetapi lolos.

Giok Houw menangkis sambil memutar tubuh, lalu ia merasakan hawa dingin di bebokongnya.

maka lekaslekas ia berkelit pula.

Hampir saja tulang punggungnya kena disontek pecah!

Si nona tertawa seraya berkata.

"Kalau harimau galak tidak ditaklukkan sekarang, hendak menanti sampai kapan lagi?"

Tentu sekali ia menjadi gusar, sebab ia telah dipermainkan. Segera ia menyerang secara bengis, sambil menyerang ia kata dengan dingin.

"Marilah lihat, aku dapat membekuk naga atau kau dapat mencekuk harimau!"

Giok Houw menang tenaga daripada si Nona Liong, ia hanya kalah enteng tubuh dan belum mengenal ilmu silat pedang orang yang luar biasa itu, tetapi sebagai seorang yang.

cerdas, setelah banyak jurus dilewatkan, ia bisa lantas mengambil keputusan.

Pikirnya.

"Aku boleh tak usah perdulikan lagi dia dari partai mana, cukup asal aku melayani dia dengan ilmu golok Hian Ki Tohoat. Pula tidak perlu aku mencapaikan hati untuk memecah setiap serangannya itu, hanya baiklah aku tonton dia mempunyai berapa banyak macam jurusnya yang anehaneh itu."

Putusan ini lantas diwujudkan.

Hian Ki Tohoat meminta tenaga besar tetapi Giok Houw dapat melayani itu, maka itu belum lama, kedua pihak menjadi sebanding.

Sama-sama mereka bisa menyerang dan membela diri.

Kedudukan Giok Houw menjadi teguh, bahkan kadangkala dengan golok mustikanya itu ia dapat mencoba untuk membentur pedang si nona.

Sembilan belasjurus telah dikasih lewat, selama itu Nona Liong sudah menggunakan juga sembilan belas macam jurus yang berlainan, yang terang ada dari sembilan belas partai, maka itu Giok Houw heran sekali.

"Nona ini berusia tak berbedajauh daripada usiaku, kenapa dia dapat menggunakan ilmu silat dari demikian banyak partai dan bahkan banyak pula perubahannya?"

Ia menanya dirinya sendiri. Habis sembilan belas jurus itu. Nona Liong masih dapat membuat perubahannya. Giok Houw berpikir keras sekali.

"Ah!"

Katanya pula dalam hatinya.

"Sekarang aku ingat, ini macam ilmu silat pedang campuran pernah aku melihatnya, hanya entah di mana..."

Oleh karena mengingat demikian, ia berpikir lebih jauh.

"Hok Thian Touw!"

Pikirnya tiba-tiba.

"Ya, Hok Thian Touw! Ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Thian Touw sudah dapat mengumpul ilmu pedang dari tiga belas partai, kemudian setelah dia memperoleh petunjuk dari guruku, hingga dia menginsafi sarinya Hian Ki Kiamhoat, dia dapat pula ilmu silatnya empat partai lain. Dengan begitu, sama sekali, dia telah dapat mencangkok pelajaran dari tujuh belas partai. Dan tahun yang baru lalu, menurut enci Sin Cu, Cio Keng To pun telah memberi pinjam kitab ilmu pedangnya, sedang Ceng Yang Cu telah memberikan dia salinan kitab pedang Cengshia Pay. Dengan begitu, semua-semua dia telah mendapatkan pelajaran dari sembilan belas partai. Maka itu, mungkinkah dia ini ada hubungannya sama Hok Thian Touw?"

Sampai di situ, pemuda ini dibuatnya ragu-ragu. Ia ingat satu hal lain.

"Nampaknya tak cocok,"

Demikian pikirnya pula.

"Selama diadakan rapat besar, Hok Thian Touw suami isteri telah diminta bantuannya, dan mengenai urusan merampas barang-barang bingkisan pelbagai prooinsi, mereka juga telah memberikan janjinya. Kalau nona ini ada hubungan sama mereka suami isteri, kenapa sekarang dia menentangi aku?"

Selama itu pertandingan berjalan terus.

Nona Liong, yang menang gesit, menang juga kedudukan.

Dengan kecerdikannya, dia mengambil tempat yang membelakangi matahari, yang dari fajar telah menaik tinggi.

Dengan pedangnya, dengan kesehatannya dia menyerang berulang-ulang.

Di sebelahnya, Giok Houw berlaku tenang.

Ia menangkis setiap kali ia diserang.

Ia tetap membawa sikap membela diri, ia berlaku waspada agar tak sampai salah tangan.

Kalau sewaktu-waktu ia berhasil membentur pedang si nona.

ia membuatnya tangan nona itu sakit dan sesemutan, nyer-nyeran.

Lama-lama kedua pihak saling mengetahui kelebihan atau kekurangan mereka tapi umumnya si nona yang kalah imbangan.

maka kalau dia bukannya membelakangi matahari, tentulah dia sudah kalah.

Giok Houw bisa melihat orang mulai kalah unggul, ia terus melawan dengan tenang tetapi dengan semangat terlebih mantap.

Adalah si nona yang gede kepala, penasaran kalau dia sampai kalah, maka dia mencoba untuk merubah keadaan kipa itu.

Dia mengeluarkan pula pelbagai jurusnya yang aneh-aneh.

Dengan begitu, banyak jurus telah dilewatkan pula.

Nona Liong mulai bernapas sengal-sengal.

Ia telah memaksakan tenaganya, maka itu keringan tubuhnya tidak dapat menolong terus padanya.

Inilah benar pertarungan "Naga berebutan, Harimau bergulat."

She nona itu, Liong, berarti "naga,"

Dan namanya si pemuda Houw, berarti "harimau."

Biar bagaimana.

Giok Houw mengagumi lawannya ini.

Semenjak dia muncul dalam dunia Kangouw, inilah lawannya satu-satunya yang paling tangguh.

Selama melayani itu, untuk berlaku waspada, Giok Houw beberapa kali melepaskan saatnya yang baik, adalah kemudian, mendadak ia berseru keras, goloknya menyambar ke kiri ke arah mana si nona berkelit.

Itulah serangan dari jurus "Memegat pedang hijau,"

Dan sasarannya ialah ujung pedang.

Nona Liong itu berkelit seraya terus mengelit juga pedangnya, setelah itu ia membalas, ia berbalik menikam jalan darah jiki hiat di rusuk kiri si pemuda.

Ia menggunakan jurusnya "Jarum emas menusuki benang."

Biarnya serangan ada sangat Iiehay, si Nona Liong masih bisa menghindarkan dirinya.

Karena ini, lagi sekali Giok Houw maju, tangan kirinya menjambak, tangan kanannya membacok.

Itulah bacokan "Burung bangau mementang sayap."

Ia percaya, kali ini ia tidak bakal gagal lagi.

Sudah lama mereka bertanding.

Giok Houw mulai mengerti ilmu silat si nona, maka itu ia telah cari saatnya yang baik itu.

Mendadak saja si nona menjerit, tubuhnya terhuyung ke depan, seperti mau roboh.

Giok Houw kaget.

"Ah, dia tak kenal jurusku ini!"

Pikirnya.

"Benarkah golokku ini melukai dia?"

"Tentu sekali ia merasa sayang kalau lengan si nona cantik itu sampai terbabat kutung... Kejadian itu ada cepat sekali, bagaikan kilat berkelebat. Dalam kagetnya, Giok Houw segera menarik pulang goloknya. Belum sempat ia melihat, si nona terluka di mana, mendadak nona itu tertawa haha-hihi, tubuhnya bangun berdiri, pedangnya menyambar! Dan belum sempat Giok Houw mengetahui apa, ujung ikat kepalanya telah terpapas kutung. Tentu sekali ia kaget bukan main.

"Terima kasih, kau telah mengalah!"

Berkata si nona perlahan, kembali tertawa.

"Apa artinya ini?"

Tanya Giok Houw setelah dia sadar.

"Maaf, kali ini akulah yang menang!"

Berkata si nona, tertawa.

"Selanjutnya kita merampas masing-masing, aku larang kau mengganggu aku pula!"

Giok Houw melongo mengawasi nona itu. Ia kalah karena diakali, tapi apa ia bisa bikin! Di dalam pertempuran, orang tidak dapat dilarang menggunakan tipu daya. Percuma ia penasaran.

"Aku tahu kau tentulah tidak puas!"

Berkata nona itu.

"Maka aku akan berikan kau ketika sekali lagi! Mari, mari, kita berjanji dengan menepuk tangan!"

"Apakah artinya itu?"

Si pemuda mendongkol tetapi ia menanya juga. Si pemudi tertawa.

"Kau jangan marah, bisakah?"

Ia kata, sabar.

"Dengan sikapmu ini, kau mensia-siakan maksud baik orang... Ah, benarkah ini yang disebut, 'Anjing menggigit Lu Tong Pin karena tak tahu hati baik manusia'?"

"Baiklah!"

Kata Giok Houw akhirnya.

"Kau bicaralah!"

"Kita menetapkan tempo tiga bulan, nanti kita bertemu pula di Pakkhia!"

Berkata si nona.

"Sampai itu waktu kita nanti membuat perhitungan, kita melihat barang rampasan upeti siapa yang terlebih banyak..."

"Jadi kau tetap hendak bertaruh denganku?"

Tanya Giok Houw panas.

"Apakah itu tetap atau tidak tetap?"

Kata si nona bersenyum.

"Apakah kau masih hendak memaksa aku. melarang aku merampas upeti?"

"Sebenarnya apa maksudnya pertaruhanmu ini?"

"Aku artikan, siapa yang merampas lebih banyak upeti dialah yang menang!"

Giok Houw mendongkol. Kata ia dalam hatinya.

"Bukankah dengan begini kau hendak mempersulit aku? Kau sudah dapat merampas banyak, masih kau hendak merampas lebih jauh! Bagaimana aku nanti dapat memberikan pertanggungan jawabku kepada semua orang gagah yang menghadiri rapat?"

Hampir pemuda ini tak dapat menguasai dirinya lagi. Baiknya si nona lantas berkata pula setelah dia tertawa cekikikan.

"Aku lihat kau kelabakan tidak keruan, maka itu aku hendak bertaruh lagi denganmu..."

Katanya.

"Aku hendak memberi ketika satu kali lagi. Kalau barang rampasanmu lebih banyak daripada barang rampasanku, maka semua barang rampasan itu akan aku serahkan pada kau. Sebaliknya demikian juga!"

Giok Houw mengawasi nona itu. Ia seperti tidak mau mempercayai kupingnya sendiri.

"Benarkah itu?"

Ia menegaskan.

"Jikalau kau tidak percaya, marilah kita bersumpah dengan menepuk tangan!"

Berkata si nona.

"Mari memastikan dulu!"

Kata Giok Houw.

"Kita menetapkan dari harganya semua upeti atau dari banyaknya setiap propinsi?"

"Dari banyaknya setiap propinsi!"

Giok Houw pikir, pertaruhan itu menguntungi pihaknya.

"Bagaimana? Kau masih memikirkan apa?"

Tanya si pemudi, mendesak.

"Apakah kau takut keok hingga kedua tanganmu menjadi kosong melongpong? Ah, aku tidak menyangka, kau sangat menghargai barang sampiran melebihkan segala apa!"

"Aku hanya meminta penetapan,"

Giok Houw menerangkan.

"Aku tidak mau menang unggul..."

"Nah, kau bicaralah!"

"Aku mempunyai banyak kawan dan barang rampasannya itu termasuk atas namaku."

"Siang-siang aku telah mengetahui itu! Aku sendiri mempunyai empat budak dan semua barang rampasan mereka terhitung rampasanku juga. Aku hanya kuatir budak-budakku yang kasar itu belum tentu kalah dari orang-orang gagahmu itu!..."

"Baiklah!"

Kata Giok Houw cepat.

"Seorang ksatria tidak omong main-main! Mari kita berjanji dengan menepuk tangan! Apakah kata-katanya janji itu?"

Si pemudi melonjorkan kedua tangannya, sembari tertawa ia kata.

"Kata-kata itu ialah. Menang senang, kalah puas, tak menyesal selama-lamanya!"

Giok Houw menepuk satu kali, ia menyebutkan janji itu.

Kemudian, memenuhkan tepukan tangan, mereka saling menepuk tiga kali lagi.

Selama tangan mereka beradu, Giok Houw merasakan ada hawa hangat yang pindah bersalur ke tangannya terus ke seluruh tubuhnya hingga hatinya goncang.

"Bagus!"

Berkata si nona.

"Sekarang aku hendak lekas pergi merampas barang-barang bingkisan beberapa propinsi di Kanglam, kita masing-masing mengeluarkan kepandaian sendiri-sendiri! Kau jangan ikuti aku ya!"

Ia tertawa, selagi tertawa tubuhnya berlari pergi, hingga kelihatan bajunya saja berkibar-kibar.

Giok Houw berdiri di atas batu yang tinggi, mengawasi orang berlalu.

Ia bingung, ia tidak tahu ia mesti berdongkol atau bergirang terhadap nona itu...

Tidak lama, pemuda ini pun berangkat, menuju kc propinsi Ciatkang.

Di sepanjang jalan ia masih terus ingat si nona.

Ia mengharap-harap di Ciatkang akan bertemu pula dengan dia itu.

Karena ini, urusan merampas upeti jadi seperti urusan yang nomor dua...

IV.

Gelombang di Laut Timur.

Beberapa hari kemudian maka di tepian telaga Seouw di Hangciu telah terlihat munculnya seorang muda yang pakaiannya sederhana mirip seorang tani, hanya biar bagaimana, dandanan itu tidak dapat melenyapkan romannya yang gagah.

Sebab ialah Siauw Houw Cu alias Thio Giok Houw yang tengah bertaruh sama Nona Liong, bertaruh siapa lebih banyak dapat merampas barang bingkisan propinsi untuk kaisar...

Di kota Hangciu ini Giok Houw telah mengatur orangnya hidup bersembunyi guna mencari tahu halnya upeti propinsi Ciatkang dan sekarang ia datang untuk menemui pembantunya itu.

Ia ingin ketahui, upeti sudah diberangkatkan atau belum dan siapa pengantarnya.

Ia ingin mendahului Nona Liong merampasnya.

Ketika itu ada di pertengahan musim semi, di manamana di telaga Seouw itu, bunga-bunga bwee dan li sedang mekar dan bunga bwee belum lagi rontok.

Maka indahlah pemandangan alam di situ.

Tapi Giok Houw tengah berpikir, ia tidak menghiraukan pemandangan itu, ia berjalan terus melewati beberapa tempat kesohor, terus menuju ke barat sampai di bukit Samtay San.

Tengah ia berjalan itu, ia mendengar tertawanya orangorang yang lagi pesiar.

Seorang yang dandan sebagai seorang mahasiswa, berkata.

"Tahun ini telaga Seouw tambah satu tempat kesohor, yang menambahkan bukan sedikit keindahannya telaga."

"Apakah kau maksudkan kuburannya Ie Kiam?"

Tanya seorang.

"Itukah tepat! Ie Koklo paling menyukai Seouw, maka ia memesan supaya dikubur di sini, untuk ia menemani kuburan Gak Hui. Mari kita menjenguk ke sana!"

Setelah matinya Ie Kiam, karena tahu rakyat tak puas, kaisar Eng Cong mengijinkan Co Thaykam menguburkannya dengan baik di tepi telaga Seouw itu.

Kemudian setelah tukar kaizar, kaizar yang baru mencuci penasarannya Ie Kiam itu, dia dianggap berjasa dan dihormati dan anak angkat Ie Kiam diperkenankan mendirikan rumah abu untuk Ie Kiam itu, rumah abu yang diberi nama Sengkong Si.

Maka di samping kuburannya pula ada rumah abunya.

Mendengar itu, Giok Houw mengingat suatu apa, maka ia kata dalam hatinya.

"Meski penasaran Ie Koklo dilampiaskan, sekarang toh anak dan menantunya masih terlunta-lunta, maka itu perbuatan raja ini masih palsu juga!"

Mahasiswa itu lalu bersenandungkan syairnya Ie Koklo yang memuji keindahan Seouw, sedang kawannya berkata pula.

"Setelah menutup mata, Ie Koklo dapat bersemayam di Seouw ini, ia tentu legajuga hatinya."

Diam-diam Giok Houw mengikuti dua orang itu sampai di kuburan Ie Kiam dan rumah abunya, di depan itu, yang merupakan lapangan, ada berkerumun banyak orang, entah apa yang dilihat.

Supaya tidak menarik kecurigaan orang.

Giok Houw tidak pergi menghunjuk hormat ke kuburan Ie Kiam itu.

Ia Cuma memuji di dalam hati, ia terus menghampiri orang banyak itu, yang ternyata lagi menonton tukang jual silat, rupanya kakak dan adiknya wanita.

Mereka itu mau bertanding dengan tangan kosong merebut golok.

Girang Giok Houw melihat dua orang itu, ialah orangorang yang ia justeru lagi cari.

Mereka itu bernama Cu Poo dan Cu Leng.

Mereka pun lantas melihat dia tetapi mereka berlagak pilon.

Dua orang itu memang asal tukang menjual silat, maka bisa sekali mereka berbicara rapi dan hormat, untuk menyenangkan para penonton.

Cu Poo kata, kalau pertunjukannya bagus dilihat, ia minat dibagi sedikit uang, kalau jelek, ia minta dimaafkan.

Setelah itu.

ia membacok kepala Cu Leng, adiknya.

"Aduh, engko!"

Si nona menjerit.

"Tega kau membacok aku!..."

Tapi ia berkelit sebat sekali, hingga bunga bwee saja yang ditancap di rambutnya ini yang kena terbabat.

Orang banyak kagum, sedang mereka yang mengerti silat, bersenyum, sebab itu dua sedang bergurau.

Lantas keduanya bertempur terus, dengan seru.

"Ah, engko, kau kejam sekali!"

Kemudian kata pula si nona, si adik, yang terus mencoba merampas golok orang.

Cu Poo melawan, ia meloloskan diri.

Mereka bertempur puluhan jurus, sampai banyak mata penonton kabur.

Kembali terdengar si nona menjerit, sebab goloknya sang kakak mengancam, hanya kali ini berkesudahan golok itu kena dirampas nona itu.

Nona itu berkata.

"Kau tidak berhasil membacok aku!"

Ia terus tertawa. Dan penonton pun pada tertawa, bersorak memuji. Sambil tertawa Cu Poo lantas menghadapi orang banyak, untuk memberi hormat dan mengucap terima kasih.

"Semua tuan memuji kau, lekas kau menghatur terima kasih!"

Kemudian katanya pada adiknya kepada siapa ia berpaling.

Cu Leng melepaskan sepasang goloknya, ia mengambil tetampan sebagai gantinya, sambil membawa itu kepada para penonton, kepada siapa ia pun memberi hormat, ia kata dengan manis.

"Terima kasih! Terima kasih!"

Beberapa penonton melemparkan uang ke dalam tetampan itu.

Selagi ucapan terima kasih si nona masih terdengar terus, mendadak seorang yang tubuhnya besar lompat masuk ke dalam gelanggang, untuk menegur Cu Poo.

"Kan bernyali besar! Kau berani melanggar undangundang!"

Cu Poo heran.

"Undang-undang apakah itu tuan? Benarkah orang dilarang menjual silat?"

Ia tanya.

"Kita di Hangciu melarang itu!"

Membentak orang itu.

"Tapi sudah beberapa kali kami membuka pertunjukan di sini,"

Kata pula Cu Poo.

"Banyak penonton di sini yang mengenali kami. Belum pernah aku mendengar ada larangan. Tuan, kau..."

"Perduli apa kau terhadapku!"

Bentak orang itu.

"Akulah yang mengurus kau! Mungkin kau tidak ketahui larangan itu, yang baru diumumkan hari ini!"

"Oh, begitu? Maaf, aku tidak tahu..."

"Tapi dapat kau lantas diberi ampun! Kamu berdua turut aku ke kantor!"

Menduga orang ada orang polisi, Cu Poo berkata pula.

"Baru hari ini kami datang pula ke mari, benar-benar kami tidak tahu larangan itu, maka itu, Toako, tolong kau maafkan kami..."

"Ya, siapa tidak tahu dia tidak bersalah,"

Kata beberapa penonton.

"Toako, kau maafkanlah mereka"

"Tidak bisa!"

Membentak orang itu.

"Benar-benarkah Toako mau paksa membawa kami ke kantor?"

Tanya Cu Poo.

"Kau lihat, kami belum dapat sebanyak satu tail perak! Apa guna membawa kami ke sana? Baik begini saja, uang ini Toako ambil untuk minum teh!..."

Cu Poo menunjuk uang saweran.

"Hm, siapakesudian uangmu itu!"

Kata orang itu, tetap galak. Tapi mendadak dia menyengir dan menambahkan.

"Memandang kepada itu nona, baiklah, aku ampunkan kau kali ini! Dengan apa kau akan membalas budi?"

"Budimu ini yang besar tidak nanti kita lupakan."

Kata Cu Poo terpaksa. Bukan main ia menahan sabar.

"Siapa kesudian ucapan terima kasih kosong!"

"Habis Toako menghendaki apa?"

"Aku ingin supaya adikmu ini menjadi budakku selama tiga bulan. Namanya saja budak, sebenarnya tidak nanti aku sia-sia dia! Kau jangan takut! Nona, sukakah kau mengikut aku?"

Lalu dengan ceriwis ia ulur tangannya untuk mencolek pipi si nona.

"Plok!"

Demikian suara keras, dari tangan Cu Leng yang melayang ke pipi orang itu, hingga dia kaget dan kesakitan dan menjadi gusar sekali.

"Budak kurang ajar!"

Teriaknya.

"Kau berani memukul aku!"

Dia mementang kedua tangannya, menubruk ke arah si nona. Cu Poo tak ingin berselisih, toh ia habis sabar.

"Kurang ajar! Kau berani menghina adikku?"

Katanya gusar. Dengan tangan kiri menolak tubuh adiknya, dengan tangan kanan ia meninju. Orang itu menangkis, hingga dua-duanya sama-sama mundur tiga tindak.

"Kurang ajar!"

Dia mendamprat, terus dia menyerang dengan jurusnya "Harimau hitam mencuri jantung."

Cu Poo menangkis dengan jurus "Ji Long memanggul gunung."

Lalu menyerang pula dengan "Tangan mementil piepee."

Tapi orang itu masih dapat berkelit, kembali dia menyerang. Maka itu, mereka jadi bertarung. Giok Houw menonton, ia heran.

"Kenapa Cu Poo tidak dapat mengalahkan orang ini?"

Pikirnya.

"Jangan-jangan orang ini bukan sembarang orang polisi..."

Di tempat ramai itu, tidak dapat Giok Houw sembarang memperlihatkan diri.

Lagi beberapa jurus, pundak Cu Poo kena tertinju.

Cu Leng jadi penasaran, ia mau maju membantu kakaknya itu.

Atau ada orang yang mendahului ia.

Dari luar kalangan orang itu berlompat masuk, terus dia kata.

"Lepas tukang silat ini! Mari bersamaku pergi menghadap sunbu!"

Orang itu muda, giginya putih, bibirnya merah, romannya tampan. Melihat dia itu, Giok Houw girang. Orang adalah Bhok Lin. Pantas dia segera mengajak pergi pada sunbu yaitu gubernur.

"Bhok Lin biasa tidak dapat mencegah mulutnya, aku tak boleh terlihat dia,"

Pikir Siauw Houw Cu. Maka ia mencoba menyembunyikan diri.

"Kau siapa, tuan? Kelihatannya mulutmu besar sekali!"

Kata si orang bertubuh besar itu, yang serangannya gagal. Ia mendongkol.

"Perlu apa kau tahu diriku siapa?"

Bhok Lin membaliki.

"Kau mau melepaskan orang ini atau kita menghadap sunbu?"

"Hm! Aku justeru menerima titah sunbu untuk menangkap dia!"

Seru orang itu.

"Kau jangan usilan!"

"Jadi kau menerima titah sunbu untuk menghina wanita muda?"

Kata Bhok Lin tertawa.

"Haha! Kalau begitu, tidak dapat aku tidak mengurusnya!"

Orang itu penasaran, ia menyambar pula ke si nona.

Bhok Lin pun tidak tinggal diam saja ia melindungi si nona dengan satu totokannya.

Tepat ia mengenai sasarannya, hingga orang itu terkejut.

Inilah dia tidak sangka, sebab dia mengira orang muda ini lemah.

Dia sengaja menggertak tapi orang tidak kena digertak.

Lekas-lekas dia membebaskan sendiri totokan itu.

Selagi dia berbuat begitu, tangannya si anak muda melayang ke kupingnya, hingga dia merasakan sakit, kupingnya lantas bengap.

Dia pun memuntahkan darah, karena dua giginya rontok.

Hajaran ini lebih hebat daripada gamparan Cu Leng tadi.

Bukan main gusarnya orang bertubuh besar ini.

Ia memang guru silat di kantor sunbu.

Tidak tempo lagi, ia menyerang pula.

Tangannya yang dijaga Bhok Lin ia telah mendahulukan menarik pulang.

Bhok Lin menghalau serangan itu.

Cu Poo hendak membantui tapi Bhok Lin, yang melihatnya, lantas berkata.

"Cu Toako. jangan kau merusak aturan kaum kangouw! Kalau kita mengepung dia, dia kalah tak puas!"

Mendengar ini, Giok Houw tertawa dalam hatinya.

"Baru ia dapat beberapajurus dari suhu, sekarang dia coba muncul di dunia kangouw. Ah, dia bakal merasakan banyak pahit getir!..."

Mereka lantas bertempur.

Benar seperti dugaan Siauw Houw Cu, putera Hertog dari Inlam itu lantas keteter.

Guru silat dari sunbu ternyata lihai, kalau tadi dia kena digaplok, itulah sebab dia seperti dibokong.

Selagi keadaan kipa itu, orang bertubuh besar itu menyerang semakin hebat.

Dia mendesak sangat kepada bagian yang lemah dari hertog muda itu.

Ketika kemudian dia menghajar bergantian dengan tangan kiri dan kanan, dan itu disusuli sama satu tendangan, Bhok Lin menjadi kelabakan.

Baru dengan menggunakan tipu berkelit "Coanhoa jiauwsi"

Ajarannya Sin Cu, bisa juga ia meloloskan diri dari rangkain itu di bagian atas, sedang di bagian bawah, ia terus terancam bahaya.

Adalah di saat sangat berbahaya untuk si hertog muda, ada terdengar seruan.

"Pouw Loji, jangan kurang ajar!"

Seruan itu disusul sama berlompat masuknya satu orang ke dalam kalangan.

Dia melompati kepala banyak penonton.

Tepat dia menaruh kaki di antara Bhok Lin dan penyerangnya itu, ketika dia menolak, si penyerang lantas roboh terlentang!

Giok Houw heran atas kejadian itu.

Orang yang datang sama tengah itu justeru Seng Hay San, adik seperguruan dari Tiat Keng Sim.

Tapi yang terlebih aneh lagi adalah munculnya Cio Bun Wan, isterinya Hay San itu, bersama seorang opsir kelas tiga.

"Toako,"

Kata isteri itu, yang menyesali suaminya.

"kenapa kau begini sembrono? Tidak dapatkah kau memisahkan saja? Kenapa kau lantas membuatnya orang roboh?"

Hay San menyeringai, kulit mukanya merah.

"Menyesal, aku terpaksa."

Sahutnya.

"Aku melihat suhu ini hebat sekali, aku kuatir Bhok Kongcu terluka, terpaksa aku menggunakan tenaga sedikit besar. Aku tidak menyangka dia tidak, dia tidak..."

Ia tidak meneruskan perkataannya itu, sebenarnya hendak dia meneruskan.

"...punya guna."

Orang bertubuh besar itu bangun dengan berlompat. Ia menjadi gusar sekali.

"Kelinci dari mana berani menghina Pouw Toaya?"

Katanya nyaring, dan ia mengawasi dengan bengis kepada Haj' San.

Justeru itu, matanya bentrok sama si opsir kelas tiga, yang berdiri mendampingi Hay San, maka hatinya jadi terkesiap.

Dia mengenali orang itu adalah Ong Ciauw, guru silat di kantor sunbu yang berbareng menjadi tongleng atau komandan dari barisan serdadu pengiringnya sunbu sendiri.

Dia bukan sebawahan opsir itu tetapi dia dapat diperintah ia itu.

Pula ialah yang tadi menyerukan dia jangan kurang ajar.

Untuk sekejap, Ong Ciauw memandang bengis kepada sersi itu, habis itu dia tertawa dan mengulurkan tangannya akan mengusap-usap bajunya Bhok Lin, yang penuh debu.

"He, kau bikin apa?"

Ia menanya.

"Bhok Kongcu, kau kaget!"

Kata Ong Ciauw tetap tertawa. Bhok Lin heran.

"Aku tidak kalah, aku kaget kenapa?"

Ia menanya pula. Karena tidak dapat muka, Ong Ciauw memandang pula si orang she Pouw.

"Eh, Pouw Loji, tahukah kau siapa tuan muda ini?"

Ia menanya suaranya bengis.

"Dialah Bhok Siauwkongtia, putera dari Bhok Kokkong dari Inlam! Kau tidak mau lekas-lekas menghaturkan maaf?"

Sersi itu menjadi ketakutan, maka juga ketika ia berbicara, suaranya menggetar.

"Maaf. Aku yang rendah Pouw Eng, aku mempunyai mata tetapi tidak mengenali gunung Taysan. Siauwkongtia, maaf."

"Aku tidak mau mempersalahkan kau,"

Kata Bhok Lin.

"Aku hanya mau minta ini saudara dan adiknya dimerdekakan."

"Boleh, boleh!"

Berkata Pouw Eng, yang terus memberi hormat pada Cu Poo berdua, sedang di atas tetampannya Cu Leng ia meletakkan sepotong uang perak.

Nona itu tertawa "Aku toh tak usah lagi menjadi budakmu, bukan?

Terima kasih!"

Katanya jenaka.

Cu Poo lantas membenahkan segala alat pertunjukkannya, yang ia gendol di pundaknya.

Melihat pertunjukan sudah berhenti, orang banyak lantas bubaran.

Cu Poo tidak membuang tempo, bersama adiknya dia berlalu dengan cepat.

Mereka ambil jalan tanah pegunungan.

Selagi lewat di samping Thio Giok Houw tadi, ia mengangkat pikulannya tiga kali, memberi tanda rahasianya, tandanya ia berada di Samthian Tiok.

Bhok Lin sendiri sudah lantas belajar kenal dengan Seng Hay San.

Ia kata.

"Bagus sekali gerakan tanganmu barusan. Bolehkah aku mengetahui she dan namamu yang besar?"

Putera Kokkong ini belum tahu Hay San ialah sute, adik seperguruan, dari Keng Sim.

"Namaku tidak berharga, tak usahlah dipikirkan."

Sahut Hay San.

"Inilah Seng Toako,"

Si opsir mengajar kenal.

"Ya, ya, ialah sahabatku."

Meski begitu, ia tidak mau menyebutkan namanya Hay San. Giok Houw heran.

"Seng Hay San dan isterinya adalah pembantu yang diandalkan Yap Toako,"

Pikirnya.

"Kenapa mereka berada di kota Hangciu ini dan menunjuki diri di tempat umum bahkan bergaul sama opsir tentera kelas tiga? Inilah heran..."

Tentu sekali, di waktu begitu, ia tidak dapat menemui Hay San.

untuk minta keterangan, bahkan ia lantas menyingkir dari orang she Seng itu.

Ia pergi ke Sengkong Si, di situ ia pinjam pit dan kertas dari biokong, penjaga rumah abu itu, kemudian ia lekas keluar lagi.

Ia melihat Hay San belum jalan jauh.

Lekas-lekas ia menulis alamatnya, terus ia meletakkan pitnya, kemudian dengan melesakkan kopiahnya hingga mukanya tak nampak nyata, ia menyusul dengan larinya limbung, tetapi lekas.

Tepat selagi lewat di samping Hay San, hingga tubuh mereka saling bentur perlahan, ia selipkan kertasnya di tangan orang.

"He, kau jalan tanpa mata?"

Membentak si opsir kelas tiga.

Ia melihat orang jalan terhuyung-huyung dan melanggar sahabatnya.

Giok Houw tidak meladeni, sekejap saja ia sudah pergi jauhi menikung di tikungan gunung, hingga opsir itu menjadi heran.

Orang bergerak bagaikan bayangan.

"Eh, orang itu seperti aku kenal!"

Mendadak Bhok Lin berseru. Ia pun melihat orang lewat.

"Tidak bisa jadi!"

Kata si opsir.

"Dia orang tani, mana Siauwkongtia kenal dia?"

Meski begitu, ia agaknya curiga. Bhok Lin lantas tertawa. Ia ingat sekarang.

"Ya, mataku kabur!"

Katanya.

"Dia mirip budakku. Tentu saja budakku tak dapat datang ke mari."

"Hanya orang dusun itu cepat sekali jalannya..."

Kata si opsir, yang masih curiga Giok Houw sendiri melintasi Lengin Si, dari barat ia mendaki bukit, untuk pergi ke Thianbun San, di mana di sekitarnya banyak puncak, yang umumnya disebut gunung Thiantiok San.

Itulah gunung yang menjadi pusat dari dua cabang gunung selatan dan utara dari pegunungan di Seouw itu.

Samthian Tiok adalah nama gabungan dari Siangthian Tiok, Tiongthian Tiok dan Heethian Tiok, ketiga kuil yang berada terpisah di dalam rimba lebat di gunung Thiantiok San.

Cu Poo mengangkat pikulannya tiga kali, yang dua kali rendah, yang satu kali tinggi, itulah isyarat hahwa ia tinggal di dekat kuil Tiongthian Tiok.

Mulai dari kuil Lengin Si, ke sana Giok Houw menuju.

Ia mendaki gunung, melintasi puncak Hoatin Hong, naik pula di bukit Hongsi Nia, terus ke puncak Tiongin Hong, sampai di Heethian Tiok.

Dari sini ia jalan kira seratus li, baru tibalah ia di Tiongthian Tiok, atau kuil Thiantiok Si Tengah.

Di tanah pegunungan ini, pepohonan tinggitinggi, pemandangan alam indah.

Dari depan Tiongthian Tiok dapat dipandang puncak Goatkui Hong dari mana tersiar harumnya bunga kui, sedang bunga-bunga liar tersebar di sana sini.

Menyaksikan keindahan alam yang mentakjubkan itu.

Giok Houw pikir.

"Hangciu benarlah daerah yang indah permai, dialah sorga di muka bumi. Pantas Ie Koklo telah memesan untuk dikubur di tepinya telaga Seouw."

Giok Houw berjalan di rimba di belakang kuil, tidak lama ia menemui sebuah rumah yang di tembok tanahnya ada dilukiskan sebuah bundaran.

Ia menghampirkan rumah itu.

Baru ia hendak mengetok pintu atau Cu Poo berdua adiknya sudah muncul.

"Tadi hampir terbit onar!"

Kata kawan ini tertawa.

"Apakah Tocu tidak terlihat siapa juga?"

"Tidak,"

Sahut orang yang ditanya, yang sebelumnya bertindak masuk menggusak dulu tanda bundaran itu.

Setelah berduduk, mereka memasang omong.

Nyatalah Cu Poo dan adiknya telah mendapat tahu adanya larangan dari wedana dari Hangciu, yang dilarang bukan cuma pertunjukan silat hanya segala macam pertunjukan lainnya dari orang kaum kangouw sampaipun segala tukang sulap dan lainnya lagi.

Cu Poo tahu Giok Houw bakal sampai, dia memilih muka kuburan Ie Koklo untuk membuka pertunjukannya itu.

Dia sengaja tidak memperdulikan larangan itu.

Giok Houw heran atas larangan itu.

"Kenapa kota Hangciu mengadakan larangan sekeras ini?"

Pikirnya.

"Kenapa orang kangouw dijaga begini keras? Apakah telah terjadi sesuatu? Aku mesti memperhatikannya."

Lantas ia menanyakan halnya bingkisan dari Ciatkang.

"Untuk itu telah diundang dua guru silat kenamaan,"

Sahut Cu Poo.

"Cuma sampai sekarang, barang belum diberangkatkan, entah apa sebabnya."

"Siapakah kedua pelindung itu?"

"Yang satu ialah Jitgoat Lun Touw Kong dan yang lainnya Imyang Ciu Tie Pa,"

Menyahut Cu Poo.

"Untuk dunia kangouw, mereka itu tergolong kelas satu,"

Berkata Giok Houw.

"Kalau sunbu telah mengundang mereka, kenapa keberangkatannya bingkisan diperlambat? Ah, jangan-jangan dia menggunakan akal. Terangnya jalan di Cianto, diamdiamnya menyeberang di Tinchong.' Dia sengaja mengundang kedua guru silat itu sebagai pelabi, agar orang mengetahui merekalah si pelindung, tetapi sebenarnya dia telah memakai lain orang dan barangnya sudah diberangkatkan..."

"Ini tidak mungkin,"

Menjelaskan Cu Poo.

"Aku telah mengunjungi pangcu dari ketiga partai Hayyang Pang, Cengko Pang dan Cihoay Pang, mereka itu banyak kupingnya, semua perahu dan kereta di dalam dan di luar kota Hangciu merekalah yang menguasainya tetapi mereka tidak pernah melihat orang yang mencurigai meninggalkan kota Hangciu. Juga menurut Pangcu dari Cihoay Pang, di antara barang hadiah itu ada sebuah sekosol kumala untuk mengukir mana baru dua hari yang lalu sunbu mengundang beberapa tukang ukir yang pandai untuk mengerjakannya."

"Raja naik di tahta sudah hampir tiga bulan, cara bagaimana hadiahnya masih belum di kirimkan?"

Kata Giok Houw.

"Kalau begitu, terpaksa kita mesti menanti tibanya dua sahabatku untuk minta keterangan dari mereka, mungkin tahu apa-apa mereka tentang ini."

"Siapakah itu yang dijanjikan. Tocu?"

"Dialah yang tadi memisahkan pertempuran. Dialah adik seperguruannyaTiat Keng Sim."

Tidak ada jalan lain, mereka lantas menantikan. Sampai magrib, orang yang ditunggu itu belum juga muncul. Kemudian ada terdengar siulan halus. Giok Houw segera membukai pintu.

"Kenapa baru sekarang kamu datang?"

Ia menanya. Itulah SengHay San dan isterinya. Mereka menemui dulu Cu Poo kakak beradik.

"Siauwkongtia itu lucu,"

KataHay San.

"Dia menanyakan aku panjang lebar, dia malah minta aku memberi petunjuk tentang ilmu silat. Maka itu, aku memerlukan waktu untuk dapat meloloskan diri."

"Memang begitu adatnya Siauwkongtia!"

Kata Giok Houw tertawa.

"Kalau, tidak begitu, aku pun tidak nanti menjadi sahabatnya."

Lantas mereka berduduk.

"Siauw Houw Cu,"

Kata Cio Bun Wan.

"Eh, salah, sekarang kaulah Congtocu! Ketika pertama kali aku bertemu denganmu, kaulah seorang kacung yang nakal sekali. Sekarang? Kaulah si pemimpin utama perampasan barang-barang hadiah untuk raja! Sungguh, seorang Enghiong asalnya ialah si orang muda! Tidak kecewa kau menjadi adik seperguruan dari enci Ie kami!"

"Apakah enci Ie baik?"

Giok Houw tanya.

"Baik! Ia bersama Yap Toako ketahui kau mengusahakan perampasan barang bingkisan itu, mereka berterima kasih, kepadamu. Hanya sayang bingkisan dari Ciatkang, tidak dapat kau merampasnya."

Giok Houw heran.

"Kenapa?"

Dia menanya.

"Apakah mereka hendak turun tangan sendiri?"

"Bukan, mereka hanya tidak mau merampas. Bahkan melarang lain orang merampasnya."

Giok Houw menjadi bertambah heran.

"Tidakkah dengan begitu mereka menjadi pelindungnya sunbu dari Ciatkang?"

"Begitulah kira-kiranya. Hanya ada satu batasnya, ialah batas laut Tanghay."

"Ah, mengapa begitu?"

Giok Houw tanya untuk ke sekian kalinya "Kau dengar keteranganku,"

Berkata Seng Hay San.

"Selama beberapa tahun ini, pekerjaan kita sulit sekali. Di satu pihak kita mesti menangkis perompak kate, di lain pihak kita mesti juga melayani tentera air dari pemerintah. Bukankah kau pun ketahui itu? Tapi paling belakang ini Thio Sunbu dari Ciatkang itu secara rahasia telah mengutus orangnya kepada kami, mengajaki membuat suatu perjanjian."

"Inilah aneh!"

Giok Houw tertawa "Bukankah sunbu itu hendak melakukan suatu tukar menukar dengan kita? Perdagangan apakah itu?"

"Memang! Mulanya kita pun heran. Kemudian ternyata dia minta supaya kita melindungi barang bingkisannya sampai di kota raja dengan selamat. Untuk itu dia berjanji, selama satu tahun dia tidak bakal menyerang kita."

Giok Houw menggeleng kepala.

"Cuma satu tahun?"

Tanyanya.

"Hm! Jual beli itu tidak dapat dilakukan!"

"Tetapi Yap Toako kami telah menerimanya!"

Berkata Seng Hay San.

"Yap Toako terlalu jujur, kali ini ia salah menghitung!"

Kata Giok Houw.

"Yap Toako mempunyai hitungan lain,"

Hay San menerangkan.

"Ia kata kita setiap tahun telah dipaksa bertempur dengan tentera negeri, dari kedua pihak mesti ada yang binasa imbangannya yaitu kita satu. pihak tentera sepuluh. Itulah imbangan setiap kali bertempur. Kalau dijumlah satu tahun, kematian dikedua pihak ialah beberapa ribujiwa. Menurut Yap Toako. kematian mereka itu sangat kecewa!"

"Mereka itu?"

Giok Houw mengulangi.

"Kau hendak mengatakan..."

"Benar! Dengan mereka itu Yap Toako maksudkan orang pihak kita berikut tentera negeri itu. Menurut toako serdadu negeri juga ada sama-sama bangsa kita Kita saling bunuh di antara bangsa sendiri, itulah terlalu menyedihkan. Setiap tahun telah terbinasa beberapa ribu jiwa. Alangkah baiknya jikalau mereka itu dapat dicegah kematiannya dan tenaganya dipakai untuk bersama-sama menangkis penghinaan dari luar?"

Giok Houw tertawa dingin.

"Tetapi pihak pembesar negeri tidak berpikir secara demikian! Mereka memandangnya dari sudut lain!"

"Yap Toako membilang juga, umpama kata mereka tidak dapat dipakai menangkis penghinaan dari luar, asal jiwa mereka dapat diselamatkan, itu masih lebih menang daripada mereka membuang jiwa secara sia-sia. Laginya dengan bertempur sama tentera negeri, meski juga perbandingan kerugiannya ada satu lawan sepuluh, di pihak kita tetap ada yang berkurban jiwa. Itu artinya kerugian yang sangat tidak berarti! Makajuga Yap Toako kata kalau pihak pembesar mau berjanji tidak berperang selama satu tahun, artinya mereka tidak, datang menyerang, itu berarti kita mendapat keringanan tak kehilangan beberapa ribu jiwa. Barang permata ada harganya, jiwa manusia tidak! Jiwa manusia tak tertaksirkan harganya! Kita memberi pinjam jalanan, kita membiarkan pengangkatan barang bingkisan lewat di wilayah kita. Dengan memberi jalan, kerugian kita cuma beberapa laksa tahil perak harganya barang-barang bingkisan itu. sebaliknya kita dapat menolong beberapa ribu jiwa manusia. Nah, bagaimana kau bisa bilang sikap kita ini tak dapat diambil?"

Giok Houw berdiam sekian lama, lantas dia menepuk meja.

"Yap Toako sangat mulia hatinya, aku kalah!"

Serunya.

"Dialah baru satu orang gagah yang budiman! Nyatalah kalau begini bagaimana cupatnya pandanganku."

"Kalau begitu Thio Siauwhiap,"

Menegaskan Hay San.

"kau toh meluluskan, berjanji tidak akan merampas barang-barang bingkisan negara itu?"

Anak muda itu tertawa "Aku masih akan merampasnya!"

Jawabnya. Hay San heran hingga ia mementang lebar matanya. Giok Houw tertawa.

"Tetapi aku tidak akan membikin sulit pada Yap Toako,"

Ia menambahkan.

"Bukankah kan telah membilang bahwa Yap Toako cuma memberikan tanggungannya selama barang hadiah itu masih berada di dalam bilangan laut Tanghay?"

"Benar. Karena daerah itu ialah daerah laut di mana kita dapat berkuasa. Selewatnya Laut Kuning maka itu ialah bilangannya beberapa rombongan bajak lainnya, tidak leluasa untuk pihak kita turut mencampurinya. Sebenarnya Sunbu dari Ciatkang itu mempunyai hitungannya sendiri yang dia jerikan adalah Yap Toako. Pihaknya beberapa rombongan bajak itu tidak dilihat mata. Sunbu pun telah mengundang dua piauwsu yang ilmu silatnya lihai..."

"Aku sudah tahu,"

Berkata Giok Houw.

"Kedua piauwsu itu ialah Jitgoat Lun Touw Kong si Roda Matahari Rembulan serta Kimkong Ciu Tie Pa si Tangan Arhat."

"Touw Kong bersama Tie Pa itu bukan melainkan ilmu silatnya lihai juga mereka pandai berenang dan selulup,"

Seng Hay San menjelaskan.

"Untuk membawa bingkisan itu. sunbu telah menggunakan sebuah perahu perang besar yang dia ambil dari pasukan laut negara. Katanya anak buah perahu perang itu terdiri dari tiga ratus tukang panah pilihan serta perahu perangnya diperlengkapi dengan meriam panah. Maka cobalah pikir, mana kawanan perompak biasa dapat mendekati mereka?"

"Kapankah keberangkatannya perahu perang itu?"

"Sebentar malam jam empat. Mungkin setelah terang tanah, dia akan sudah muncul di permukaan laut. Thio Sunbu sangat berhati-hati. Teluk Hangciu termasuk wilayah angkatan lautnya tetapi karena kuatir nanti ada bahaya, ia mau keluar dari wilayahnya itu sebelum fajar."

"Malam ini jam empat aku menghendaki sebuah perahu."

Kata Giok Houw pada Cu Poo.

"Apakah di antara tukang-tukang perahu di Seouw ada orang kita?"

"Ada."

Menjawab Cu Poo.

"Dari tepi jembatan Seleng Kio. kalau kita maju ke kiri, kita menghitung pohon yangliu yang ketiga, perahu di bawah pohon itu ialah perahu orang kita. Anak buahnya bernama Thio Hek. Dia kata dia kenal tocu."

"Bagus, aku menghendaki perahunya dia itu!"

"Eh, Thio Siauwhiap,"

Tanya Seng Hay San.

"apakah benar-benar kau hendak merampas perahu bingkisan itu? Ada situ hal yang aku belum memberitahukan kepada kau. Yap Toako bilang, karena semua bingkisan dari pelbagai propinsi hendak dirampas menurut keputusan rapat umum orang-orang gagah, mengenai itu ia telah memikirnya. Ia mengerti, karena ia melindungi bingkisan dari Ciatkang ini pihak kamu tentulah tidak merasa puas, sebaiknya, apabila kamu berhasil, sebagian dari hasil usaha kamu pasti bakal dibagi separuh kepadanya berhubung dengan itu. ia hendak memberi penjelasan, katanya sekarang juga ia menganggapnya ia sudah menerima bagiannya itu untuk mana ia menghaturkan terima kasihnya. Mengenai ini Yap Toako sudah omong jelas dengan semua saudara kita dan semua saudara menginsafinya dan rela akan tidak menerima bagian beberapa laksa tail itu. bahwa mereka relajuga hidup lebih menderita dari sebagaimana seharusnya asal tidak usahlah terjadi kehilangan beberapa ribu jiwa manusia. Thio Siauwhiap, Yap Toako telah memikir demikian jauh, dapatkah kau memberi sedikit muka kepadanya?"

Thio Giok Houw tertawa.

"Di samping itu kau harus ketahui, umpamakan aku tidak merampasnya, ada lain orang yang akan merampas juga. Tapi kau jangan kuatir, tetapkan hatimu! Telah aku bilang bahwa aku tidak bakal membikin sulit Yap Toako, inilah aku akan jaga baik-baik. Aku memikirnya merampas sebelumnya perahu pengangkut itu keluar dari teluk Hangciu. Atau jikalau perahu itu sudah keburu lewat, aku akan menyusulnya aku nanti turun tangan sesudah dia keluar dari wilayah laut Tanghay."

Seng Hay San berpikir. Kemudian ia kata.

"Dengan begitu, meskipun pihak pembesar negeri tidak dapat menyesalkan Yap Toako, peristiwa toh menjadi peristiwa juga!"

"Tidak!"

Kata Giok Houw.

"Baiklah kau mengerti, kalau aku berhasil merampasnya, bingkisan itu tetap aku akan peserahkan kepada Yap Toako. hingga ada terdapat alasan bahwa Yap Toako sudah merampasnya kembali. Bahkan dengan begitu, usaha kau ini jadi berharga lebih besar lagi. kau dapat menaiki harga, umpama pihak pembesar negeri itu dipaksa supaya dia tidak menyerang Yap Toako selama tiga tahun!"

Hay San mendengar alasan orang itu dan keputusannya pun telah menjadi keputusan, setelah berpikir sebentar, ia tidak mau mencegah lagi. Ia hanya tanya.

"Kabarnya semua bingkisan dari propinsi Tiangkang ke selatannya kaulah yang mengepalai perampasannya, benarkah itu?"

Giok Houw tertawa ketika ia memberikan jawabannya.

"Juga yang di Tiangkang dan utaranya, sampai di wilayah sungai Honghoo, aku hendak merampasnya. Tugas yang diberikan hanya tugas belaka berlebihan sedikit tidak ada soalnya. Umpama kata Kimto Cecu Ciu San Bin hendak pergi merampas bingkisan ke Selatan, mustahil aku dapat tidak mengijinkannya?"

"Kimto Cecu mana ada tempo luang untuk pergi merampas ke Selatan?"

Kata Hay San.

"Kau barusan membilang, jikalau kau tidak merampas, ada lain orang yang bakal merampasnya. Pasti orang itu bukannya Kimto Cecu, bukan?"

"Pasti bukan!"

Hay San menjadi heran.

"Siapakah dia?"

Tanya ia.

"Benarkah dia bukannya orang dari pihakmu?"

"Adakah kau kenal satu nona semacam begini?"

Giok Houw balik menanya. Ia melukiskan potongan nona itu, tinggi dan romannya, la menanya halnya si Nona Liong.

"Aku tidak kenal dia. Ah. mungkin kakakmu seperguruan mengenalnya. Dalam satu dua hari ini kakak seperguruanmu itu bakal tiba di sini, baiklah kau menantikan dia, untak minta keterangannya."

"Tidak dapat aku menunggu dia!"

Kata Giok Houw tertawa.

"Biarlah nanti, habis merampas, aku datang menemui kakakku itu."

Habis bersantap malam, setelah beristirahat sebentar, belum lagi jam tiga.

anak muda ini sudah pamitan, untuk berlalu dengan cepat.

Hay San dan isterinya tidak turut, mereka berdiam terus di rumah Cu Poo.

Belum Lama Thio Giok Houw sudah sampai di tepi Seouw atau Telaga Barat.

Ia dongak melihat langit, ia mendapatkan rembulan ada di tengah-tengah, menjadi masih ada waktu untuknya.

"Aku belum pergi menyambangi kuburan le Koklo, untuk mengunjuk hormatku."

Ia berpikir.

"Justeru masih ada tempo dan malam sunyi, baik aku pergi ke sana dulu". Oleh karena ini. ia tidak lantas mencari perahu dulu hanya pergi ke bukit Samtay San di mana berada kuburannya Ie Kiam. Malam itu rembulan indah sekali. Justeru itu di otaknya Giok Houw berpeta romannya Nona Liong yang cantik, yang sepak terjangnya membuat ia heran dan kagum. Ia mengelamun.

"Coba aku bisa berdiam bersama ia dengan memain perahu di malam indah seperti ini, bagaimana menariknya..."

Di malam seperti itu, di tep'ian Telaga Barat itu pula ada seorang lain yang keisengan seperti pemuda she Thio ini.

Dialah Tiat Keng Sim, kunma atau menantunya Bhok Kokkong dari Inlam.

Bahkan dia kelelap lebih dalam daripada Giok Houw, ia lagi memikirkan peristiwaperistiwa yang telah lalu...

Rumah tua dari Keng Sim ini berada di tepian telaga itu.

Mengenai rumahnya itu, ada satu urusan yang ia sukar untuk melupakannya.

Itulah bukan sebab di rumah itu ia telah melewatkan masa kanak-kanaknya yang menggembirakan, juga bukan karena itulah rumah tua warisan ayahnya, hingga ia dapat teringat kepada ayahnya yang jujur, hanya di rumahnya itu pernah satu malam Ie Sin Cu menumpangnya.

Dan adalah malam itu, oleh karena Sin Cu mendapat tahu ia telah membocorkan rahasia tentera rakyat, si nona berlalu dengan diam-diam dengan cuma meninggalkan surat...

Malam itu, untuk Keng Sim.

dirasai pahit-pahit manis.

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 1

Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger