Eps 1 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/.
Kisah Pedang Bersatu Padu (Liang Kiam Hong In) (Lian Kiam Hong In) Karya .
OKT (Oey Kim Tiang) I.
Kabar penting Kira-kira jam tiga pagi ketika sang Puteri Malam, yang sudah doyong ke arah barat, masih menyinari sebuah bangunan yang berukiran dengan jendela-jendela hijau dan pintu-pintu merah indah.
Sang malam pun sunyi sekali.
Gedung itu ialah yang dikenal sebagai Kunmahu, gedung menantu Bhok Kokkong.
Malam sudah larut demikian rupa akan tetapi sampai itu waktu di dalam istana itu, di atas loteng.
Ada seseorang yang masih belum tidur, dia bahkan -sambil menyender kepada loneng-tengah memandangi sebilah pedang dengan pikirannya bergelombang.
Siapakah dia?
Tak lain tak bukan, dialah Kunma, menantu yang manis, dari Bhok Kokkong ialah Tiat Reng Sim.
Keluarga Bhok itu bertugas melindungi keselamatan dan kesejahteraan propinsi Inlam, sebuah wilayah ditapal batas, dan telah turun temurun kedudukannya adalah sebagai kokkong atau hertog.
Semenjak Kaisar Beng Thaycouw yang bernama Cu Goan Ciang, Bhok Eng telah ianugerahkan gelaran raja muda Kimleng Ong, lalu puteranya, yang menjadi generasi kedua, memperoleh gelaran kokkong itu, terus turun temurun.
Hingga tiba pada okkong yang sekarang ini, sudah berjalan tujuh turunan.
Hertog yang sekarang bernama Cong dan ia memangku pangkatnya itu sudah dua puluh tahun.
Bhok Cong telah berulangkah mendirikan jasa, hingga dia dihargakan rajanya.
Sebab raja pun hendak mengambil hatinya, walaupun kedudukannya sebagai hertog belum dinaiki, disebabkan leluhurnya pernah menjadi raja muda (ong), dia diperkenankan menggunakan tata cara sebagai raja muda itu.
Bhok Cong ini mempunyai dua orang anak, satu lakilaki, satu lagi wanita.
Sang putera diberi namaLin, dan sang puteri, Yan.
Dan Tiat Keng Sim telah menikah sama Bhok Yan.
Maka itu.
menurut tata krama kaum pangeran (ong), dia menjadi kunma.
Adalah wajar, siapa menjadi kunma.
mestinya dia berbahagia sekali.
Dia berkedudukan mulia, makan pakainya melebihkan segala kecukupan.
Bahkan untuk Keng Sim ada kelebihannya lagi, ialah isterinya cantik dan sangat menyinta padanya.
Kenyataannya tapinya tidaklah demikian.
Dia merasakan suatu kekurangan dan karenanya dia seperti kehilangan kegembiraannya.
Kenapakah?
Adakah dia mencelah isterinya?
Tidak!
Bhok Yan cantik dan manis bagaikan bidadari, ia mengerti ilmu surat dan ilmu silat, ia sembabat bila dibanding sama Keng Sim.
Sifat mereka pun hampir bersamaan.
Dapat mereka menabu khim di bawah sinar rembulan atau main catur di ranggon mereka, ataupun bersama-sama melukis gambar di dalam taman.
Lebih daripada itu, mereka pun saling menyintai.
Tapi justeru segala kecukupan itu, semua penghidupan yang manis itu, yang mengganggu hatinya.
Ia merasa, oleh karena hidup bahagia dan mewah itu, hidup tenteram tetapi menganggur, cita-citanya yang luhur, semangatnya yang menyala-nyala seperti mendapat rintangan.
Demikianlah seorang diri itu, di malam yang indah tetapi sunyi itu, ia seperti menggadangi si Puteri Malam.
Ia pun mengawasi pohon-pohon bunga.
Sambil menghela napas, ia berkata seorang diri.
"Dengan tahun ini maka sudah tujuh musim semi aku lalui di dalam istana Kunmahu ini... Selama tujuh tahun itu, kecuali membuat syair dan karangan, ada apakah lagi?"
Maka terkenanglah ia kepada masanya ia masih merdeka, bagaimana ia mundar-mandir dalam dunia kangouw, bagaimana itu menggembirakannya.
Tengah ia ngelamun itu, tiba-tiba di otaknya berbayang wajahnya seorang nona.
Maka menyeringailah dia.
Katanya di dalam hatinya.
"Sin Cu menyamakan aku dengan bunga mawar di Kanglam. Sekarang ini benar bukannya di Kanglam. tetapi dengan berdiam di dalam istana kokkong. bukankah aku seperti bunga mawar juga?"
Masih kunma ini ngelamun tatkala ia merasakan hidungnya mengendus bau yang harum, hingga dengan sebat ia memutar tubuhnya, berbalik ke belakang, karena dari belakang datangnya bau semerbak itu.
Maka itu melihatlah ia isterinya.
yang berdiri dengan wajah tersenyum manis serta mata mengawasi kepadanya.
"Ah, adik Yan,"
Ia menanya.
"kenapa kau masih belum tidur?"
Bhok Yan tertawa.
"Karena aku memikirkan kau!"
Sahutnya, bunga hatinya.
"Sekarang sudah jam tiga, mengapa kau masih menggadangi rembulan? Eh ya, apakah kau mendapat suatu ilham untuk membuat sebuah syair yang indah?"
Keng Sim menyeringai.
"Selama yang belakangan ini aku merasakan kemunduranku,"
Ia menyahut.
"Apa yang telah aku tulis, aku sendiri melihatnya muak. Mana bisa aku mendapat ilham?"
Bhok Yan mengawasi suaminya itu.
"Keng Sim, adakah sesuatu yang kau pikirkan?"
Tanyanya sesaat kemudian. Ia menghela napas perlahan.
"Ada kau yang menemani aku seumur hidupku, ada apa lagi yang membuatnya aku tidak puas?"
Si suami balik menanya. Bhok Yan masih mengawasi, tajam. Ia tertawa.
"Keng Sim, jangan kau dustai aku!"
Katanya.
"Adik Yan, siapa... siapakah yang tidak mengagumi kita sebagai keluarga yang sangat berbahagia?"
Tanya Keng Sim.
"Aku... aku mana mempunyai pikiran lain?"
Isteri itu tertawa.
"Keng Sim, kau salah mendengar aku!"
Katanya.
"Aku bukannya membilang hatimu berubah. Hanya selama beberapa tahun ini. kau ada sangat kesepian. Cuma ada aku seorang yang menemani kau. cuma aku seorang yang dapat berbicara denganmu... Tanpa kau mengutarakannya, aku sudah tahu kesepian dalam hatimu itu. Kau tunggu sampai lewat hari raya Cengbeng nanti, aku akan menemani kau pergi ke Tali, untuk pesiar, di sana kau nanti dapat pasang omong dengan guruku sekalian kau mencari tahu tentang sahabatsahabatmu."
Kiamkek.
yaitu ahli pedang, nomor satu di jaman itu, Thio Tan Hong, pernah mengajarkan ilmu silat selama tiga bulan kepada Bhok Yan, benar ia tidak diterima resmi sebagai murid, tetapi puteri pangeran itu selalu memanggil guru kepada gurunya itu.
ia menyebut guru baik di depan maupun di belakang, Tan Hong menjadi Tayhiap, orang gagah dan penyinta negara juga, akan tetapi waktu itu, kedudukannya beda daripada yang sudah-sudah.
Saking terpaksa, pernah ia mengacau di istana hingga karenanya dia hendak ditawan raja, karena mana, disebabkan tak dapat menaruh kaki lagi di Kanglam, dia pergi ke Tali di mana dia menetap di gunung Chongsan.
Ketika itu wilayah Tali berada di bawah kekuasaannya Toan Teng Chong, kepala suku Pek.
Namanya saja Teng Chong menghamba kepada kerajaan Beng, nyatanya ia berdiri sendiri.
Tan Hong bersahabat kekal dengan Teng Chong, dia tinggal di Chongsan itu, sebenarnya, atas permintaannya "raja"
Tali itu.
Keng Sim ketahui baik tentang Thio Tan Hong itu, makajuga hatinya bercekat mendengar perkataan isterinya itu, hingga ia mau menduga apa isteri itu tengah memancing jawabannya.
Ia berdiam sekian lama, baru ia menyahuti.
"Thio Tayhiap itu tak bergaul rapat dengan aku,"
Jawabnya bersenyum.
"Laginya. ayahmu menjadi kokkong yang melindungi wilayah Inlam ini. dari itu kuranglah bagus kalau kita berkunjung ke Tali. Tentang pesiar ini baiklah belakangan saja kita bicarakan pula."
Di mulut Keng Sim mengatakan demikian, di hatinya ia berpikir lain.
Tak dapat dicegah yang pikirannya itu melayang pada peristiwa tahun dulu itu di kaki gunung Chongsan atau di telaga besar yang dinamakan "laut"
Ji May Di telaga itu, pada suatu malam terang bulan, ia telah bermain perahu bersama-sama Sin Cu.
Seng Lim dan lainnya.
Adalah di malam itu yang ia memperoleh kenyataan Sin Cu diam-diam menyintai Seng Lim sedang Nona Bhok Yan jatuh hati kepadanya.
"Aku tahu kau tidak puas,"
Berkata pula Bhok Yan sambil tertawa.
"Aku tahu guruku itu sangat menghargai Yap Seng Lim. sebaliknya dengan kau ia kurang perhatian. Sebenarnya mana dapat Seng Lim nempil denganmu? Seruas syair pun belum tentu ia mengerti? Aneh adalah enci Sin Cu, ia bolehnya penujui dia!"
Keng Sim merasakan kulit mukanya panas dan hatinya berdenyutan.
Biasanya, kalau ia bicara sama Bhok Yan, ia selalu menjauhkan diri dari pembicaraan mengenai Sin Cu.
tak ingin ia menyebut namanya Nona Ie, siapa tahu kali ini bicara hal niat pesiar ke Tali itu.
justeru Bhok Yan yang menyebutkannya.
Tapi hatinya lega juga melihat isteri itu bicara wajar, bukannya dengan niat menyinggung atau mengejek padanya.
"Sesuatu orang ada jodohnya sendiri."
Ia menyahut sembarangan.
"Benarkah itu?"
Tanya Bhok Yan bersenyum. Ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan.
"Sayang enci Sin Cu tidak berada di Chongsan. Kabarnya, habis menikah, ia turut suaminya pesiar tanpa tujuan, bahkan sampai sekarang ini belum ketentuan tempat tinggalnya lagi juga tidak ada kabar ceritanya Kau tahu. pada bulan yang lalu adik Lin telah pergi secara diam-diam ke Tali. untuk menemui suhu, baru beberapa hari yang lalu ia kembali. Aku belum sempat menanya dia, hingga belum diketahui ia dapat mendengar kabar atau tidak tentang enci Sin Cu itu."
Baru si nyonya menutup mulutnya, atau terlihat datangnya seorang ke arah mereka dan datangnya secara tergesa-gesa. Keng Sim dapat melihat orang itu, ia tertawa.
"Baru kita menyebut Co Coh atau Co Coh telah datang!"
Katanya.
"Kau lihat, apakah itu bukannya adik Lin?"
Bhok Yan heran.
"Tengah malam buta rata dia datang ke mari. apakah perlunya?"
Bilangnya. Yang datang itu benar Bhok Lin. Setibanya di taman, ia lantas berlari-lari naik ke loteng. Pula segera terdengar suaranya yang nyaring, yang penuh dengan kegembiraan.
"Enci! Cihu! Ada warta sangat penting untukmu!"
"Memang biasa kau berisik tidak keruan!"
Kata Bhok Yan sang enci, tertawa.
"Ah sampai kapankah kau bisa buang tabiatmu yang kekanak-kanakan ini?"
Mukanya Bhok Lin bersemu merah.
"Kali ini aku tidak mendustai kau, enci!"
Katanya rada jengah.
"Inilah benar satu kabar sangat penting yang di luar dugaan!"
"Apakah ayah telah menegurmu?"
Tanya Bhok Yan.
"Enci, kau selamanya suka menggoda aku!"
Kata sang adik, tidak puas.
"Kau mencuri pergi ke Tali, apakah ayah tidak memarahi kau?"
"Memang ayah tidak senang tetapi ia tidak mengatai aku. Apakah enci kira aku tetap bocah cilik? Sudah, enci, jangan kau, memotong perkataanku. Kabar ini benarbenar kabar sangat penting."
Bhok Yan tertawa.
"Nah kau bilanglah, kabar sangat penting bagaimana itu!"
"Kabar sangat penting, sangat besar, hingga menggemparkan dunia!"
Kakak itu menjadi ragu-ragu.
"Mari masuk, duduk di dalam!"
Ia panggil adiknya itu.
"Baik, sekarang kau bicaralah, hendak aku mendengar, kabar apa itu yang menggemparkan dunia..."
"Enci tahu, raja yang sekarang telah wafat pada bulan yang baru lalu,"
Bhok Lin memberitahu. Mendengar itu, Bhok Yan tertawa geli.
"Matinya seorang raja, apakah artinya?"
Katanya.
"Itu bukanlah kejadian sangat penting, tak usah kau kelabakan tidak keruan!"
Tapi ia menoleh kepada suaminya dan membilang.
"Hanya kalau kabar ini sampai kepada enci Sin Cu. dia tentulah akan bergirang luar biasa."
Ayah Sin Cu adalah Ie Kiam, menteri yang pintar, setia dan berjasa, pernah dia menolongi kerajaan Beng dari keruntuhan, tetapi bukan raja menghargai jasanya itu ia justeru dihukum mati.
Inilah sebabnya kenapa Bhok Yan mengatakan demikian.
Mukanya Bhok Lin merah.
"Enci, kau belum mendengar habis omonganku!"
Ia menegur.
"Nah, kau bicaralah!"
Kata enci itu, acuh tak acuh. la mengeringi cawan tehnya.
"Setelah raja wafat, putera mahkota segera naik di singgasana kerajaan,"
Sang adik berkata pula, meneruskan kabar yang dia katakan sangat penting itu hingga menggemparkan dunia.
"Putera mahkota ini, sebagai raja baru, lantas mengubah tahun kerajaan menjadi tahun Senghoa, maka mulai tahun ini ialah tahun Senghoa yang pertama."
Bhok Yan menganggap kabar itu sangat lucu hingga ia kesimpatan air tehnya, yang ia terus semburkan, sembari tertawa, dia berkata.
"Kalau raja yang lama wafat, sudah tentu mesti ada raja yang baru yang naik di tahta, setelah raja yang baru naik di tahta, sudah tentu dia akan mengubah nama tahun kerajaannya. Nah, apakah yang aneh dengan kabarmu yang sangat penting ini? Sebenarnya apakah yang menggemparkan dunia?"
"Tapi aku belum bicara habis enci!"
Sang adik berseru.
"Jikalau kau tetap main potong omonganku, aku tidak hendak bicara lagi!..."
Sang enci menukar lain cawannya, ia menghirup pula tehnya itu.
"Adikku, apakah aku tidak kena menyembur bajumu hingga basah?"
Katanya.
"Baiklah, aku tidak akan memotong lagi omonganmu. Hayo. kau bicara, kau bicaralah!"
"Tentang raja yang baru naik di tahta, kabarannya baru kemarin sampai di sini,"
Bhok Lin melanjuti.
"Tempat kita ini jauh di selatan, di tapal batas, jalannya banyak gunungnya dan sangat sukar, perhubungan jadi sulit,"
Menjelaskan Bhok Yan.
"Kabar dari kota raja sampai di sini dalam tempo satu bulan lebih, itu pun sudah lekas sekali."
"Aku bukan bicara dari hal kecepatan,"
Kata adik itu.
"Kau dengar!"
"Memangaku mendengari!"
Sang kakak tertawa.
"Kau benar, enci, akan membilang perjalanan sukar dan sulit, tetapi aku tidak maksudkan itu. Aku hanya mau mengatakan, di Tionggoan sendiri, pelbagai propinsi telah menerima pelbagai laporan."
"Itulah wajar. Semua propinsi itu, setiap gubernurnya, ada mempunyai wakilnya di kota raja, Pakkhia. Bahkan mungkin, sebelum tibanya laporan resmi, mereka sudah mengetahui terlebih dulu. Mereka dapat mengirimkan kabar istimewa cepat."
"Benar! Satu hari kaisar, satu hari menteri! Siapakah yang tidak hendak mendapat muka dari rajanya yang baru? Demikian, begitu maklumat diumumkan, gubernur pelbagai propinsi sudah lantas berlomba mengirimkan pemberian selamat mereka serta bingkisan pula. bingkisan yang mereka mengumpulinya dengan susah payah, dalam rupa barang-barang berharga atau batu permata."
Bhok Yan mengangguk.
"Itu pun sudah wajar,"
Ia membenarkan.
"Tak usahlah itu dibuat heran."
"Tak usah dibuat heran?"
Kata Bhok Lin, separuh berseru.
"Justeru di sinilah keheranannya! Semua bingkisan dari pelbagai propinsi itu, sebelumnya semua tiba di kota raja. sudah kena orang rampas!"
Bhok Yan terperanjat.
Keng Sim berdiam saja semenjak tadi, ia cuma bersenyum-senyum menontoni itu kakak dan adik mengadu mulut, akan tetapi, mendengar kata-kata yang paling belakang ini, ia pun terperanjat.
"Begitu?"
Ia bertanya. Bhok Lin menunjuki romannya sangat puas. Ia sudah menang! "Nah. bilanglah, apakah ini bukannya urusan sangat besar yang menggemparkan dunia?"
Ia tanya.
"Sampai sebegitu jauh yang telah diketahui, bingkisan yang telah dirampas itu ada barang-barang dari sembilan propinsi Shoasay, Siamsay. Kamsiok, Hoolam, Hoopak. Shoatang, Ouwpak, Anhui dan Ciatkang. Yang dari lain-lain propinsi masih dalam perjalanan, apa semua itu juga telah dibegal atau tidak, masih belum diketahui..."
"Siapakah perampas itu?"
Tanya Keng Sim.
"Adakah dia pria atau wanita?"
"Tentang pria atau wanita, inilah tidak jelas bagiku. Warta itu datangnya dari kota raja, di kirim sebagai warta kilat yang dinamakan 'kaburnya kuda delapan ratus li.' Maka juga warta itu tiba berbareng sama maklumat naik di tahtanya raja yang baru. Yang dicurigakan pemerintah ialah guru kita, karena mana ayah telah diberikan titah rahasia untuk secara diamdiam menyelidiki gerak-gerik suhu, terutama untuk dicari tahu, benar atau tidak suhu telah meninggalkan Tali. Pada setengah bulan yang lalu itu aku masih melihat suhu di Chongsan. kalau dihitung-hitung dengan saatnya, terang sudah ada hadiah dari beberapa propinsi yang kena dirampas, dengan begitu nyatalah perampasan itu bukan pekerjaan suhu. Karena itu aku telah memberitahukan ayah agar ayah tak usah mencapaikan hati lagi menyelidikinya suhu. Memang aku mencuri pergi ke Tali tanpa perkenan ayah, akan tetapi kebetulan sekali, aku jadi dapat memberikan keterangan yang berarti, dari itu walaupun ayah tidak puas. ayah toh tidak menegur atau mendamprat aku."
Bhok Lin berhenti sebentar, lalu dia menambahkan.
"Gubernur dari Hoolam, Hoopak, Shoatang dan Ciatkang adalah sahabat-sahabat ayah, mereka itu pun pada mengirimkan kabar kilat, kabaran mereka itu terlebih jelas daripada kabar dari pihak pemerintah itu. Hadiah dari Siamsay, Shoasay dan Kamsiok, dirampasnya di Louwkauwkio. Hadiah-hadiah dari Shoatang. Hoolam dan Hoopak, dibegalnya di Pootong. Dan hadiah dari Ciatkang, Ouwpak dan Anhui, dikerjakannya di Cio keechung. Dalam tempo tiga hari, dan di tiga tempat berbareng, telah dilakukan perampasan atas barangbarang dari sembilan propinsi itu, maka kabar dari semua kejadian itu tidak melainkan membikin gempar kota raja juga membuatnya semua gubernur dari pelbagai propinsi itu jadi kaget dan kelabakan, bingung bukan buatan!"
Bhok Yan tertawa cekikikan.
"Apakah kau melihatnya sendiri mereka kelabakan, bingung bukan buatan?"
Ia menanya, menggoda.
"Sungguh hebat caramu bicara ini!"
Bhok Lin tidak mengambil mumat yang ia digodai, la hanya kata.
"Aku berada di kamar tulis ayah, aku melihatnya sendiri ayah mundar-mandir seraya menghela napas panjang pendek. Ayah mengatakan, karena raja baru naik di tahta, hadiah itu ialah hadiah yang tak dapat ditiadakan, bahkan kita. yang menjadi kokkong turun temurun. sudah layaknya kita mengirim hadiah yang terlebih banyak daripada propinsi-propinsi lainnya. Tetapi telah terjadi perampasan itu, ayah menjadi bingung sekali. Bagaimana kalau hadiah kita pun dibegal di tengah jalan? Maka kau lihat, enci, apakah aku omong berlebihan? Ayah pernah mengalami pelbagai ancaman bencana, ayah toh masih berkuatir. apalagi itu segala gubernur, bagaimana mereka tidak menjadi kelabakan dan bingung bukan buatan?"
Sang kakak itu tertawa pula.
"Agaknya kau girang akan ancaman bahaya itu?"
Katanya. Sementara itu, Keng Sim berpikir.
"Memang inilah kabar penting yang menggemparkan dunia. Pada sepuluh tahun yang lalu Pit Kheng Thian lelah merampas uang negara sejumlah tiga puluh laksa tail. uang dari Ouwlam dan Ouwpak, perampasan itu menerbitkan badai dan gelombang dahsyat, tetapi kalau itu dibanding sama perampasan sekarang ini. sungguh tidak ada artinya. Sebenarnya siapakah yang telah makan hati serigala dan nyali harimau maka dia berani melakukan perampasan yang menggemparkan dunia ini?"
Tengah ia berpikir demikian, Keng Sim ditanya iparnya.
"Cihu, aku hendak memohon sesuatu kepadamu!"
La menjadi heran, hingga ia tercengang.
"Engku, kau menghendaki apa?"
Bhok Lin menyahuti dengan lantas. Katanya.
"Hadiah dari ayah bakal lekas diberangkatkan ke kota raja, maka itu. aku pikir, hendak aku meminta tugas untuk mengantarkan itu."
Keng Sim heran, sedang Bhok Yan tertawa lebar.
"Jangan kau ngimpi!"
Kata kakak ini.
"Mana ayah akan memberikan ijinnya untuk kau satu Toasiauwya yang manja pergi ke kota raja menempuh bahaya?"
"Ini pun sebabnya kenapa aku hendak minta bantuan cihu. supaya cihu yang membicarakannya sama ayah!"
Sang adik menjelaskan.
"Biasanya ayah mendengar katanya cihu. Di samping itu, bukankah ilmu silatku melebihi segala guru silat atau pahlawan yang berada di dalam kantor ayah? Cuma kau sendiri yang menyebutnya aku Toasiauwya yang dimanjakan! Mereka itu sebaliknya membilang, orang dengan ilmu silat semacamku ini. untuk dunia kangouw sudah langka."
Enci itu menutupi mulutnya untuk mencegah tertawanya, saking geli ia sampai terbungkuk-bungkuk.
"Enci. kau selalu memandang enteng padaku!"
Kata adik itu.
"Mana aku berani, mana aku berani..."
Berkata enci itu.
"Apakah kau menginginkan aku memuji kau seperti itu segala guru silat? Baiklah. Nah. kau dengarlah! Di dalam kokkonghu. jikalau semua pintu dikunci, kaulah si orang gagah nomor satu di kolong langit ini, tetapi di sini, di kunmahu. kau ialah..."
"Tentunya orang gagah nomor dua di kolong langit ini!"
Bhok Lin menambahkan, tertawa.
Tapi ia tertawa hanya sebentaran.
lantas ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh.
Ia kata' "Memang benar ilmu silatku tak dapat dibandingkan dengan ilmu silat cihu.
akan tetapi di dalam dunia kangouw, orang dengan kepandaian sebagai cihu ini, bukankah tak seberapa gelintir?
Di samping itu.
selama aku pergi ke Chongsan secara diam-diam itu, di sana pun suhu telah mengajari aku semacam ilmu silat pedang.
Enci, kau bukannya seorang pria.
kau tidak dapat mengerti.
Cita-citanya seorang laki-laki ialah di empat penjuru dunia!
Maka itu kau ijinkanlah aku pergi keluar, untuk merantau, guna mendapatkan pengalaman!"
"Ah!"
Seru si kakak sambil tertawa.
"Jadinya kau juga hendak minta bantuanku untuk bicara sama ayah?"
Di mulut puteri pangeran ini mengatakan demikian, di hatinya ia berpikir lain. Ia jadi ingat sikap suaminya. Pikirnya.
"Ya. cita-citanya seorang laki-laki ialah di empat penjuru dunia! Bukankah adik Lin pun mengatakan aku tidak tahu hatinya seorang laki-laki? Keng Sim senantiasa lenyap kegembiraannya, mungkinkah itu disebabkan dia selalu seperti disekap di dalam rumah?"
Tengah isteri ini ngelamun demikian itu. Keng Sim menekan meja sambil ia berbangkit berdiri.
"Adik Yan, aku pun hendak memohon sesuatu dari kau,"
Katanya. Isteri itu terkejut. Tapi ia rasanya dapat menerka. Maka ia tertawa.
"Bilanglah."
Katanya.
"Asal yang aku sanggup, tentu aku bersedia untuk menerimanya dengan baik."
"Bingkisan ayahmu itu tidak dapat tidak diantar,"
Berkata Keng Sim.
"Tapi sekarang telah terjadi itu pelbagai perampasan, sungguh itu suatu ancaman bahaya besar dan sangat menyulitkan kita. Aku berterima kasih kepada ayahmu, yang menghargai aku. maka itu, mana dapat aku tidak memikirkan soal itu? Ingin aku membagi kesulitannya itu..." * Bhok Yan tunduk.
"Kiranya kau, seperti adikku, ingin aku menjadi juru bicaramu."
Katanya perlahan.
"Benarkah?"
"Oleh karena di sini tidak ada lain orang yang terlebih cocok,"
Berkata pula Keng Sim.
"maka biarlah aku yang pergi mengantarkan, untuk ini satu kali saja."
Bhok Lin lantas menepuk-nepuk tangan, ia tertawa.
"Bagus'"
Katanya.
"Kalau cihu yang pergi mengantar sendiri, pasti ayah akan meluluskan! Cihu. kaulah pemimpin pengantar itu dan aku wakilmu!"
Selagi sang adik girang bukan kepalang, kakaknya sendiri mengerutkan kening, landanya ia masgul. Sekian lama ia berdiam saja. kemudian dengan perlahan ia kata.
"Keng Sim, karena kau telah berkeputusan tetap, baiklah, aku tidak mau menghalang-halangi kau."
"Kau pun tak usah berkuatir, adik,"
Kata Keng Sim juga perlahan.
"Asal di dalam hatimu ada aku. mustahil aku berkuatir?"
Kata isteri itu. Keng Sim sebenarnya hendak mengutarakan berbahayanya penghidupan dalam dunia Sungai Telaga, tetapi mendengar perkataan islerinya itu. ia membatalkan itu. Ia kata perlahan.
"Asal hatimu ditukar menjadi hatiku, kita pasti akan menginsafinya dengan baik. Suami isteri ada bagaikan satu tubuh, dua hati menjadi satu. dari itu. apa perlunya hati kita ditukar lagi?"
Bhok Lin sudah membuka mulutnya, hampir tertawa, baiknya kakaknya keburu mendelik mata kepadanya, la jadi berdiam.
"Kau telah pergi ke Chongsan dan dapat menemui suhu."
Berkata Bhok Yan.
"habis kau dengar kabar apa lagi?"
"Baru tahun yang lalu. Siauw Houw Cu telah keluar dari rumah perguruan."
Sang adik menyahut.
"Dia telah merantau, katanya dia sudah mulai mendapat nama..."
"Ada apa lagi?"
"Ouw Bong Hu suami isteri sudah kembali dari Kanglam. selama di Hayleng mereka telah melihat Yap Seng Lim bersama Ie Sin Cu berada di antara orang banyak tengah menonton gelombang laut."
"Sungguh besar nyali mereka!"
Kata Keng Sim tanpa merasa, saking heran.
"Memang mereka terlalu berani!"
Bhok Yan tertawa.
"Umpama kata mereka ketahuan dan kena ditawan, bukankah mereka bakal membualnya capai hati pada Tiat Kongcu yang mesti pergi menolonginya?"
Keng Sim bersenyum.
Ia tahu ia tengah digodai isteri itu tetapi ia tidak menjadi gusar atau kurang senang.
Pada tujuh tahun dulu pernah ia menolongi Seng Lim.
II.
Keluar pula Bhok Lin tidak berdiam lama bersama kakak dan iparnya itu.
dengan lekas ia mengundurkan dari, maka itu Bhok Yan dan Keng Sim kembali berada berduaan.
Di antara sinar api.
mereka saling pandang.
Setelah tujuh tahun hidup bersama, rukun dan manis, sekarang datang saatnya untuk berpisahan.
walaupun itu bukanlah perpisahan untuk selama-lamanya, meskipun benar sang suami mungkin akan menerjang bahaya..."
Mengamar piauw bukannya suatu pekerjaan ringan. Maka itu. mereka berpikir masing-masing. Beberapa saat pula lewat ketika Bhok Yan berkata dengan perlahan.
"Kau hendak membikin perjalanan, baiklah. Orang dulu pun membilang, membaca kitab selaksa
Jilid tak sama dengan membuat perjalanan selaksa li. Aku harap sedikitnya kau akan memperoleh bahan untuk membuat syair!"
"Adik Yan, sungguh kau baik sekali."
Kata Keng Sim dengan terharu.
"Bagaimana aku beruntung mempunyai isteri semacam kau!"
Isteri itu tertawa dan berkata.
"Ya, sekarang ini mulutmu manis sekali, aku kuatir. setelah berada di luaran, kau nanti bertemu entah Lihiap siapa..."
"Ah, adik Yan!"
Keng Sim memotong.
"Kenapa kau mengucap begini. Apakah kau tidak percaya aku?..."
Bhok Yan mengulur tangannya membekap mulut suaminya itu.
"Aku cuma main-main,"
Katanya.
"Mustahil aku tidak percaya kau? Nah, sekarang pergilah kau tidur, aku akan mempersiapkan segala keperluanmu."
Suami itu mengangguk.
"Biarlah aku pergi berlatih samedhi."
Kata dia.
"Hendak aku lihat apakah aku telah tidak menterlantarkan latihanku..."
Isteri itu mengangguk, walaupun sebenarnya, hatinya kurang tenteram.
Keng Sim pergi ke kamar latihannya, di sana ia duduk bersamedhi, seperti isterinya, hatinya pun berpikir.
Mereka bakal berpisahan.
entah untuk berapa lama, dari itu, sulit untuknya mententeramkan hatinya.
Ia juga memikirkan soal perampasan hadiah untuk kaisar itu.
"Hadiah pelbagai propinsi kena dirampas di tengah jalan, benarlah ini ada soal yang menggemparkan seluruh negeri,"
Demikian pikirnya.
"Apakah Ie Sin Cu dan Yap Seng Lim ambil bagian dalam urusan ini? Dan bagaimana dengan guruku, yang tidak ketahuan di mana adanya? Apakah suhu pun ada sangkut pautnya? Pada tiga puluh tahun dulu, suhu pernah mencuri pedang di istana kaisar..."
Dengan memikirkan Sin Cu, kunma ini jadi ngelamun.
"Entah Sin Cu masih memikirkan aku atau tidak..."
Demikian otaknya kacau.
Karena ini.
latihan jadi terganggu.
Sudah tujuh tahun ia seperti terkeram di dalam kunmahu, tidak heran kalau ia seperti putus hubungannya dengan dunia luar.
Maka itu sekarang yang ia bakal keluar pula.
hatinya ruwet berbareng bergoncang, bergoncang karena kegembiraan.
Ia mengharap nanti dapat bertemu sama Sin Cu..."
Tengah ia berpikir banyak itu, Keng Sim mendapat dengar suara berkelisik di atas genteng, di atas wuwungan.
"Inilah orang yang membuat perjalanan malam."
Pikirnya.
"Ah, ia berkepandaian tak rendah... Siapakah ia? Mau apa ia datang ke mari?"
Kaget dan heran.
Keng Sim bersedia untuk berbangkit.
Hendak ia pergi keluar, untuk melihat orang itu.
Adakah dia orang jahat atau orang yang dikenal?
Demikian ia berpikir terus.
Di saat menantu hertog ini hendak berlompat ke luar jendela, tiba-tiba ia mendengar satu suara sambaran senjata rahasia, disusul sama senjata rahasianya sendiri, yang mengasi lihat cahaya gemerlap, lalu disusul pula dengan suaranya senjata itu nancap di meja!
Segera Keng Sim maju untuk mencabut senjata itu, ialah sebuah pisau belati, yang ujungnya diberikutkan sehelai kertas.
"Siapakah main-main sama aku?"
Ia berpikir.
Inilah kebiasaan orang kangouw mengirim surat dengan perantaraan pisau belati...
Tanpa memperhatikan dulu kertas itu.
Keng Sim menjejak dengan kakinya, untuk mencelat ke jendela, guna berlompat keluar, maksudnya ialah buat melihat, siapa orang itu.
Ketika ia tiba di luar.
ia hanya dapat melihat suatu bayangan tubuh, yang melesat melintasi gunung-gunungan.
Samar-samar ia menampak punggungnya seorang perempuan, mungkin seorang wanita muda.
"Sin Cu!"
Demikian hendak ia berseru atau di saat yang tepat, ia dapat membatalkan niatnya memanggil itu.
Ia mendapat kenyataan, bayangan itu bertubuh kecil dan kurus, tak miripnya dengan potongan tubuhnya Nona Ie.
"Ah. benar-benar aku gila!"
Sejenak kemudian ia berpikir pula. Rupanya karena aku sangat memikirkan dia. lantas aku menduga sembarangan...
"Tetapi, siapakah dia? Apa perlunya dia mengirim surat secara begini padaku?"
Ia berpikir lagi, menerkanerka itu surat dan pisaunya.
Ia mengingat-ingat wanita, yang mirip dengan bayangan itu, tetapi ia tidak berhasil mengingatnya siapa juga.
Karena ini, ia lantas lari ke arah gunung-gunung itu, untuk menyusul.
"Aku mesti lewati dia,"
Pikirnya lebih jauh selagi ia mendekati. Ia hendak pegat orang itu. Atau mendadak ia mendengar.
"Keng Sim! Keng Sim!"
Itulah suara panggilannya Bhok Yan, sang isteri. Suara datangnya dari atas loteng dan agaknya puteri kokkong itu dalam keadaan kaget.
"Ya!"
Ia menyahuti, lekas dan keras.
Justeru itu bayangan yang ia kejar itu terlihat mencelat naik ke atas batu Thayouw cio di sebelah depan, gerakannya sangat lincah, lantas dia naik di tembok dari mana terdengar suara tertawanya, tertawa geli.
"Heran,"
Kata Keng Sim di dalam hatinya.
Sekarang ia dapat melihat terlebih tegas.
Paling banyak dia baru berumur lima belas tahun, kenapa ilmu ringan tubuhnya sudah begini mahir?...
Baru beberapa tahun aku menyekap diri, tidak tahunya dalam dunia kangouw telah muncul orang-orang baru..."
Ketika itu bayangan itu telah lenyap, maka Keng Sim.
yang tidak mengejar lebih jauh.
bahkan ia pun tidak lantas menghampirkan isterinya, lantas periksa pisau belati di tangannya, untuk melihat suratnya.
Di kertas itu ada kedapatan enam baris huruf.
Dengan suara tak terdengar, Keng Sim membaca.
"Harimau mengaung, macan tutul menderum Burung hong berbunyi di lembah sunyi Mulut harimau berbelas kasihan Macan tutul keramat mendeliki mata Kalau lancang memasuki dunia Sungai Telaga Menoleh kembali itu artinya bahagia..."
Dua baris yang paling belakang itu terang berarti nasihat untuk Keng Sim.
supaya ia jangan sembarangan memasuki dunia Sungai Telaga, dunia kangouw.
atau lebih tegas lagi, ia dilarang mengantar piauw yang berupa hadiah bingkisan untuk kaisar.
Hanya tentang dua baris paling atas.
di mana ada disebut-sebut harimau, macan tutul dan burung hong, entahlah itu diartikan tiga orang atau bukan.
Dan, apa artinya dua baris yang di tengah itu?
Kenapa disebut "mulut harimau berbelas kasihan"
Dan "Macan tutul mendeliki mata?"
Karena mesti berpikir, Keng Sim berdiri diam, hingga ia tidak segera pergi kepada isterinya. Di lain pihak, Bhok Yan sudah lantas tiba padanya.
"Keng Sim, ada terjadi apakah?"
Tanya isteri itu. lagu suaranya menandakan hatinya berkuatir.
"Tidak apa-apa,"
Sang suami menyahut sambil bersenyum. Surat dan pisau belati itu ia telah lantas simpan.
"Habis bersamedhi, aku mencoba berlatih berlari pesat."
Seingatnya belum pernah Keng Sim mendustai isterinya, inilah yang penama kali dan ia lakukannya pun dengan terpaksa.
Kalau Bhok Yan ketahui tentang adanya si orang-orang jalan malam, tidak banyak sedikit mesti isteri itu berkuatir, bahkan bisa terjadi.
ia bakal dicegah keberangkatannya.
Walaupun ada itu "nasihat."
Ia tidak memikir untuk membatalkan niatnya. Mendengar jawaban suaminya, isteri yang manis itu tertawa.
"Kau tidak mengabaikan ilmumu ringan tubuh, aku sebaliknya, hatiku jadi semakin kecil!"
Katanya.
"Maka itu ingatlah olehmu, nanti di waktu kau mengantar bingkisan ke kota raja. umpama kata di tengah jalan kau bertemu orang jahat, jikalau jumlah mereka lebih besar, jangan kau lawan mereka itu. lebih baik barang hilang daripada kau menempuh bahaya."
"Itulah urusan kaum kangouw, adikku,"
Sahut Keng Sim menghibur.
"Aku tahu apa yang aku harus lakukan, kau baiklah jangan kuatir, kau tetapkan saja hatimu."
Bhok Yan percaya suaminya ini, maka ia tidak membilang apa-apa lagi hanya ia ajak sang suami pulang.
Besoknya pagi, Keng Sim pergi menemui Bhok Kokkong, mentuanya.
Ia sudah menduga, ada kemungkinan ia mesti omong banyak, untuk membujuki mentua itu.
Di luar dugaannya, ia menghadapi kejadian yang melegakan hatinya.
Dengan segala senang hati.
mertuanya itu memberikan perkenannya.
Nyatanya ialah tadi pagi-pagi.
Bhok Lin sudah menghadap ayahnya itu, untuk membicarakan urusan mengantar bingkisan itu.
Ia minta supaya cihu-nya.
yaitu Keng Sim, diijinkan pergi melindungi, dengan ia turut bersama.
Memang mulanya Bhok Kokkong berkeberatan, tetapi setelah ia ingat, bingkisan toh mesti di kirim, ia tidak menentangi lagi puteranya itu.
Ia tahu Keng Sim gagah, karena mana, ia mendapat serupa harapan.
Bagaimana bagus andaikata Keng Sim berhasil tiba di kota raja dengan tidak kurang suatu apa.
Tentu raja melihatnya dan akan menghargai menantunya itu.
Pula, setelah puteranya mulai meningkat usianya, pantaslah putera ini membuat perjalanan, guna mencari pengalaman.
Bhok Lin adalah putera satu-satunya, yang di belakang hari bakal mewariskan kedudukannya sebagai Kokkong.
Sudah selayaknya saja apabila sang putera dapat menghadap kaisar.
Lain ketika baik sebagai ini sukar dicarinya Satu hal lain lagi ialah Kokkong ini tidak menguatirkan keselamatan puteranya itu.
Bukankah, sebegitu jauh diketahui, penjahat cuma merampas bingkisan, tidak mengganggu jiwa?
Ada baiknya sang putera bisa tiba di kota raja.
Syukur kalau bingkisan sampai dengan selamat, kalau tidak, tidak apa hilang barang berharga, ia toh tidak bakal dipersalahkan.
Bukankah ia sudah mengirim bingkisan?
Ini saja sudah bukti kuat yang ia menjunjung dan menghargai junjungannya itu.
Oleh karena ia berpikir begini, Bhok Kokkong jadi bersependapat dengan puterinya, bingkisan boleh hilang asal diri selamat.
Demikian, setelah memberikan ijinnya, Bhok Kokkong lantas memberi pesan dan nasihatnya pada mantunya.
Ia bilang bahwa bingkisan sudah disiapkan rapi, dari itu besok dapat mantu dan puteranya itu mulai berangkat.
Keng Sim girang bukan main.
habis mengucap terima kasih, ia lantas mengundurkan diri.
katanya untuk siap sedia.
Di luar ia bertemu Bhok Lin.
Sang ipar sudah lantas menarik ia ke samping.
"Cihu, tadi malam aku menemui kejadian yang aneh!"
Demikian kata-katanya yang pertama.
Dan tanpa menantikan orang menanya jelas, ia merogo ke sakunya akan menarik keluar sebatang pisau belati pada mana ada terlampir sehelai kertas.
Ia angsurkan itu.
Keng Sim menyambuti.
Ia tidak usah memeriksa lama akan mendapatkan pisau itu sama dengan pisau belati yang semalam ia terima.
"Kiranya tadi malam kau bertemu seorang nona muda belia yang meninggalkan kau pisau belati ini berikut surat,"
Katanya. Bhok Lin terkejut.
"Apa, cihu?"
Tanyanya.
"Kenapa kau ketahui itu? Benarkah nona itu seorang yang masih muda belia? Cantikkah dia?"
Memang, pengalaman putera Kokkong itu tadi malam sama dengan pengalamannya Keng Sim, ia pun sudah lari-lari keluar untuk mengejar, tetapi karena ia kalah lincah, tidak dapat ia menyandak, ia melainkan melihat punggung orang, bayangan orang itu lenyap di tempat gelap, hingga tak dapat ia mengenali, orang pria atau wanita.
"Cantik, sungguh cantik!"
Menyahut Keng Sim, untuk menggoda. Agaknya Bhok Lin girang sekali.
"Ia pun meninggalkan syair"
Katanya pula.
"Aku tahu,"
Kata Keng Sim, memotong.
"Tidak usah kau keluarkan, aku sudah tahu bunyinya."
Dan ia membacakan syair itu, yang ia ingat di luar kepala. Putera Kokkong itu tercengang.
"Ha!"
Seru ia sesaat kemudian.
"Kau pun tentunya menerima pisau dan surat sama seperti aku!"
Keng Sim mengangguk.
"Ya. Dan ia menasihati aku untuk jangan membuat perjalanan mengantar bingkisan itu."
Ia menerangkan.
"Adik Lin, kau takut atau tidak?"
"Sungguh menarik! Sungguh menarik!"
Berseni orang yang ditanya, yang tidak menjawab apa yang ditanyakan.
"Apakah yang menarik hati?"
Menanya Keng Sim, tertawa. Ia menduga orang tergila-gila si nona tukang keluar malam itu...
"Sebab si perampas piauw hadiah untuk kaisar itu, suatu hal yang menggemparkan dunia, adalah seorang nona!"
Sahut si anak muda.
"Atau, kalau toh si perampas bukannya dia, dia mesti salah satu orang yang turut ambil bagian! Tidakkah menarik yang satu nona dapat merobohkan orang-orang kosen pilihan dari pelbagai propinsi itu?"
Mendengar begitu. Keng Sim tertawa.
"Ha. kau lupa satu hal. engku yang baik!"
Ia berkata.
"Kau lupa bahwa semua perampasan telah terjadi di dalam wilayah propinsi Hoopak! Umpama benar nona itu turut di dalam perampasan itu, bagaimana dia dapat dengan begini lekas tiba di Inlam sini untuk mengirimkan nasihatnya itu yang berupa pisau belati dan syair? Lagi pula. sebenarnya hal itu tidak perlu sama sekali."
Bhok Lin berdiam. Ia berpikir.
"Habis,"
Katanya kemudian.
"apa artinya ia mengirim surat menasihati kita jangan mengantar piauw itu?"
"Aku tidak dapat berlaku sebagai kau,"
Ada jawabannya sang cihu.
"kau main duga-duga saja. Aku tidak dapat membade pikiran orang..."
Mukanya putera Kokkong itu menjadi merah. Tapi tidak lama, ia tertawa pula.
"Sungguh aneh!"
Katanya.
"Belum lagi kita berangkat, kita sudah menghadapi kejadian aneh ini. maka itu di belakang hari, sesudah merantau, entah kita bakal menemui berapa banyak orang aneh dan urusan yang tidak-tidak! Walaupun demikian, aku percaya, seandai kita tidak dapat mengantar barang sampai di kota raja, sedikitnya mata kita bakal terbuka! Tidakkah itu akan jadi sangat menarik hati?"
Sifatnya putera Kokkong ini beda dengan sifat kakaknya, kalau sang kakak puas akan kedudukannya yang sekarang ini.
cukup segala apa, penghidupan tak kekurangan, derajat tinggi, sang adik bercita-cita, ia dapat berkhayal, tak suka diam saja, bahkan ia ketarik sama segala apa yang aneh.
Ini pun sebabnya kenapa sebagai siauwkongtia.
ialah Kokkong cilik, ia minta ayahnya mengijinkan ia pergi ke kota raja, bahkan ia tak jerikan kisikan pisau belati dan syair dari nona yang tidak dikenal itu.
Keng Sim tidak dapat menemani lama-lama iparnya itu, maka sampai di situ mereka berpisahan.
Ia balik dengan lekas kepada isterinya.
untuk menyampaikan kabar girang yang Kokkong sudah meluluskan permintaannya, guna bersiap terlebih jauh.
Juga Bhok Lin perlu berkemas.
Besoknya, Bhok Kokkong benar telah menyiapkan bingkisannya untuk raja, ialah sebuah giokjiie.
dua belas butir mutiara yabengcu serta sepotong batu marmer yang atasnya ada lukisannya yang wajar, seperti juga ukirannya orang pandai.
Batu semacam ini, dalam beberapa ratus, tak ada sebuah juga, dari itu dapat dimengerti harganya yang tak terkirakan, sebagaimana harga giokjiie dan mutiara itu pun mirip dengan harganya sebuah kota...
Untuk berlaku hati-hati, Bhok Kokkong titahkan rombongan pengantar bingkisan ini bukan berangkat seperti kantor piauwkiok lagi mengantar piauw yang berharga, hanya Keng Sim dan Bhok Lin, puteranya itu, diperintah menyamar sebagai mahasiswa yang hendak pergi ke kota raja untuk turut dalam ujian ilmu surat.
Dua guru silat, atau pahlawan, dimestikan menyamar sebagai budak atau kacungnya dua mahasiswa itu, dan mereka mesti memikul peti yang termuatkan pakaian dan buku.
Ketiga barang berharga itu dicampur di dalam peti buku.
Kedua pahlawan itu ialah Thio Po dan Yo Gi, mereka tidak lihay tetapi luas pengetahuannya mengenai dunia kangouw.
Demikianlah Keng Sim berempat pamitan dari Kokkong semua, untuk meninggalkan kota Kunbeng, guna memulai dengan perjalanannya ke kota raja.
Jalanan yang diambil bukan jalanan yang memasuki propinsi Sucoan terus ke Siamsay, terus lagi ke Hoolam, akan tiba di Hoopak hanya jalanan lain.
ialah jalanan dari propinsi Kuiciu ke Kwisay dan Kwitang.
sepanjang pesisir laut, sampai di propinsi Hoopak.
Jalanan yang diambil itu ada banyak pegunungannya tetapi di situ telah disiapkan sesuatu untuk menggampangi perjalanan.
Di sepanjang jalan Bhok Lin nampak gembira sekali.
Ia tidak kenal takut, bahkan ia bersedia andaikata ada orang jahat yang hendak memegat, untuk merampas bingkisan di bawah perlindungannya itu.
Hari lewat hari, ia tetap bergembira.
Selama sepuluh hari, jangan kata begal besar, begal kecil pun tak ada di tengah jalan itu.
Setelah ini, selagi kedua pahlawan girang bukan main, Bhok Lin sebaliknya menjadi lenyap kegembiraannya...
Pada suatu hari tibalah mereka di tapal batas Inlam dan Kuiciu, di tempat yang disebut kecamatan Thianngo.
Di situ Yo Gi, yang menghela napas lega, berkata.
"Untuk Kuiciu, jalanan di sini paling sukar, banyak orang jahatnya. Di sini termasuk wilayah suku bangsa Biauw. Syukur sampai sebegitu jauh kita tidak nampak halangan apa-apa. Selewatnya Kwisay, kita akan sampai di Kwitang. Di Kwitang ini. gubernur jenderalnya adalah sahabat kongtia. Di harian kita mau berangkat, gubernur jenderal itu telah mengasi warta pada kongtia bahwa bingkisan dari Kuiciu dan Kwisay sudah sampai di Kwiciu dan tengah menantikan rombongan dari Inlam ini, untuk nanti dari Kwiciu mereka berangkat bersama menuju lebih jauh ke kota raja. Kitalah yang diminta suka berangkat bersama-sama. Dari itu, tinggal sedikit lagi. maka ke empat rombongan akan bertemu dan berkumpul. Dengan jalan bersama, kita tak usah takuti lagi segala orang jahat."
"Fui!"
Bhok Ling mengasi dengar suaranya apabila ia telah mendengar perkataannya pahlawan itu.
"Kenapa kamu bernyali kecil sekali? Kenapa kamu mau mengharapi bantuan tenaga lain orang?"
"Oh. siauwkongtia,"
Kata Thio Po. tertawa.
"Untuk kami. kami cuma mengharapi barang sampai di kota raja dengan tidak kurang suatu apa. dengan begitu kau bakal jadi si Enghiong kecil. Selama di dalam perjalanan, kami minta dengan sangat janganlah Siauwkongtia membawa tingkah temberang..."
Anak muda itu lagi tidak gembira.
Ia tidak mau melayani bicara.
Maka mereka berjalan terus.
Di waktu magrib, mereka sudah mendekati kota kecamatan tinggal kira-kira enam puluh li lebih.
Kedua pahlawan mengusulkan untuk singgah, supaya mereka tak usah jalan malam.
Usul itu diterima baik.
Begitulah mereka mondok di sebuah dusun di situ di mana ada pondokan dengan tiga kamar atas.
kamar yang satu sudah ada penyewanya.
Bhok Lin mengajaki Keng Sim mengambil sebuah kamar, sebuah kamar lagi buat kedua pahlawan, tetapi mereka ini menyamar sebagai budak, mereka pun ingin leluasa menjagai piauw, mereka mengalah, dari itu mereka minta sebuah kamar bawah saja.
Habis bersantap sore, orang hendak lantas beristirahat.
Justeru itu, di luar terdengar berisiknya suara kuda meringkik dan orang bicara, kemudian terlihat masuknya serombongan orang yang membawa bendera dari kantor sunbu propinsi Kuiciu.
Mereka itu hendak menumpang bermalam, jumlah mereka belasan.
Orang yang menjadi kepala ialah seorang Biauw asli, tubuhnya tinggi dan besar, dandanannya ialah seragam militer kelas empat.
Kelihatannya ia keren dan garang.
Begitulah setibanya di dalam, ia mengasi dengar suaranya yang nyaring.
"Pemilik pondokan, lekas bersihkan kamar atas untuk kami beramai!"
Pemilik pondokan muncul dengan lantas, terus dia menekuk lututnya.
"Kamar kami cuma tiga, dua sudah ada yang isi, tinggal yang satu lagi."
Ia berkata, menerangkan.
"Hamba mohon Tayjin suka maklum saja."
Pembesar Biauw itu benar-benar garang.
"Perduli apa aku dengan tetamu-tetamu itu!"
Bentaknya.
"Suruh mereka pergi!"
"Hebat ini pembesar cilik!"
Kata Bhok Lin.
Keng Sim tidak membilang apa-apa, hanya ia mengintai di sela pintu.
Ia terkejut setelah ia melihat si pembesar bangsa Biauw itu, sebab ia kenali orang adalah Poan Thian Lo murid kepala dari Ci Hee Tojin.
Ia tahu dia gagah, sedang pada belasan tahun yang lalu bahkan Yang Cong Hay, adik seperguruannya, terhitung satu di antara sutay kiamkek.
empat ahli silat pedang yang terbesar, yang namanya sama kesohornya seperti nama Thio Tan Hong, Ouw Bong Hu dan Cio Keng To.
Sebagai kakak seperguruan, orang bilang, dia lebih lihay daripada Yang Cong Hay.
Ia pernah ketemu Poan Thian Lo ini di gunung Ciat Hee Nia di Hangciu.
ketika dia membantui Yang Cong Hay dan rombongannya hendak menangkap Yap Seng Lim, itu waktu dia telah dua kali digaplok Siauw Houw Cu, siapa berbuat begitu atas titahnya Thio Tan Hong.
Tentu sekali.
Poan Thian Lo sebaliknya tidak mengenali ianya.
Melihat murid Ci Hee ini.
Keng Sim jadi heran sekali.
"Kenapa jahanam ini memangku pangkat militer?"
Ia tanya dirinya sendiri.
"Dengan mengandali pengaruh adik seperguruannya, dia dapat menjadi pahlawan kelas satu di dalam istana, kenapa sekarang dia lebih suka jadi opsir kelas empat, menjadi orang sebawahan di kantor sunbu di Kuiciu?"
Di belakang Poan Thian Lo ada seorang yang romannya luar biasa, macamnya seperti orang asing akan tetapi dandanannya seperti orang Biauw, sedang di kedua lengannya ada digantungi lima buah kelenengan perak, selagi dia berjalan, kelenengan itu berbunyi memperdengarkan suaranya.
"Dialah tentu Bong Goan Cu, adik seperguruan dari Poan Thian Lo,"
Kata Keng Sim dalam hatinya.
Ia telah mendengar dari Sin Cu halnya Siauw Houw Cu di wilayah orang Biauw ditipu hingga menikah sebab muridnya Ci Hee Tojin ingin mempelajari ilmu yoga dari bocah itu.
Bong Goan Cu ini ber-ibu orang Biauw dan berbapak orang asing, maka juga demikian macamnya dan dandanannya.
Di belakang Bong Goan Cu ada dua opsir kelas tujuh, sebagaimana ternyata dari seragam mereka.
Mereka ini masing-masing memondong sebuah peti besi ukuran sekaki persegi, rupanya peti itu berat sekali, sebab jalannya mereka seperti setindak demi setindak.
Keng Sim lantas menduga, isinya peti mesti logam sebangsa emas dan jumlahnya banyak.
"Dia berpangkat rendah tetapi tugasnya pasti sama dengan tugas kita,"
Kata si anak muda kepada Bhok Lin. Ia bicara perlahan sambil tertawa. Putera Kokkong itu tidak mengerti maksud orang.
"Siapa sejalan dengannya?"
Katanya.
"Apakah kau artikan mereka pun hendak pergi ke kota raja?"
Keng Sim tertawa, ia tidak menyahuti.
Ia lebih memperhatikan suasana di luar.
Ia ingat pada kejadian sepuluh tahun dulu ketika Ci Hee Tojin dan kawankawannya pergi ke Chongsan di Tali di mana dia hendak mengadu pedang dengan Hian Ki Itsu tetapi dia dikalahkan murid-muridnya Hian Ki.
sedang setahun kemudian, Yang Cong Hay, kena dipecundangi Hok Thian Touw, ahli pedang dari Thiansan.
hingga Cong Hay kehilangan juga pedangnya, karena mana saking malu orang she Yang ini meletakkan jabatannya sebagai congkoan istana kaisar dan ikut guru dan kakak seperguruannya pulang ke gunungnya untuk belajar lebih jauh.
Adalah sekarang, setelah lewat beberapa tahun, mereka itu mulai bergerak pula.
Kebetulan sekali sunbu dari Kuiciu hendak mengantar bingkisan untuk kaisar dan lagi mencari orang kosen sebagai pengantarnya.
Cong Hay ketahui hal itu.
tetapi kesehatannya belum pulih, maka ia ajukan Poan Thian Lo.
Poan Thian Lo ada orang Biauw, orang Biauw biasanya tidak suka memangku pangkat, tetapi Thian Lo beda.
dari kebanyakan orang bangsanya itu, sudah kurang pikir, ia pun ingin sekali menjabat pangkat, tidak heran, dengan datangnya ini saat baik.
ia lantas terima usulnya Cong Hay, hingga kejadian ia bekerja pada sunbu.
Sebagai permulaan, iadikasi kedudukan tingkat ke empat.
Ia percaya, dengan kepandaiannya itu, ia bakal tiba dengan selamat di kota raja bersama harta yang berada di bawah perlindungannya itu.
Ia telah membayangi, bagaimana namanya jadi kesohor setibanya ia di kota raja, bagaimana ia akan naik pangkat.
Untuk kepergiannya ini.
ia ajak Bong Goan Cu bersama.
Hanya, dasar orang kurang pikir, di sepanjang jalan dia berlaku temberang Demikian sudah terjadi, di tempat penginapan ini dia bersikap bengis terhadap pemilik pondokan.
"Aku tidak perduli mereka siapa!"
Katanya keren.
"Suruh mereka pergi!"
"Tetapi, Tayjin,"
Kata tuan rumah sambil berlutut dan mengangguk-angguk, suaranya pun menggetar.
"bagi kami pemilik pondokan, tetamu ada bagaikan ayah dan ibu kami, yang memberi kami makan dan pakai. Ini... ini..."
"Hm!"
Bersuara Poan Thian Lo, yang tidak perdulikan keberatan orang, bahkan kakinya lantas melayang kepada tuan rumah itu. Dia pun berseru.
"Anak kamu boleh turun tangan sendiri!"
Bhok Lin mendongkol sekali.
Justeru itu.
pintu kamarnya menjeblak dan dua orang serdadu nerobos masuk.
Ia menjadi gusar bukan main.
Ia menyambuti mereka, setelah mencekal, ia lemparkan mereka ke luar kamar!
Bong Goan Cu.
yang mengikuti kedua serdadu itu, mendapat lihat mereka dilemparkan terpelanting, ia jadi murka.
Lantas ia lompat maju.
Tapi ia segera menjadi heran.
Sebab di depannya ia melihat seorang muda belia yang cakap romannya, yang dandan sebagai anak sekolah, melainkan wajah orang nampak keren.
"Apakah di sini orang dapat main gila! Mana wet negara (hukum negara)?"
Demikian suara si anak muda, ialah Bhok Lin, habis dia melontarkan dua serdadu itu.
Sebagai siauwkongtia, hertog cilik, dia mempunyai juga keangkarannya seorang pangeran.
Bong Goan Cu tercengang.
Tapi ia berada di depan orang-orangnya, ia malu kalau ia tidak beraksi terus.
Ia pun sudah biasa berlaku galak dan garang.
Maka ia kata dengan tertawa dingin.
"Di sini wet negara (hukum negara)-padaku!"
Sambil berkata, ia menggeraki kedua tangannya, diulur ke arah si anak muda, untuk menyambar anak muda itu.
Bhok Lin berontak untuk meloloskan dirinya.
Ia menggunakan tipu silat "Melepaskan bunga meloloskan pakaian perang."
Ia pernah belajar silat dari Tan Hong, ilmu silatnya itu tidak sembarang, tetapi dibanding sama Bong Goan Cu.
ia masih kalah jauh.
Maka itu, tak dapat ia meronta meloloskan dirinya.
Cekalan lawan kuat bagaikan jepitan besi.
Tial Keng Sim menyaksikan itu, ia bersenyum, sembari bersenyum, ia bertindak keluar.
Terus ia menjura kepada Bong Goan Cu seraya berkata.
"Seorang budiman, dia menggeraki mulutnya, tidak tangannya jikalau tayjin hendak ada bicara silahkan bicara dengan baik-baik. Segala macam urusan masih dapat didamaikan..."
Belum lagi perkataan ini diucapkan habis, mendadak Bong Goan Cu menjerit, cekalannya terlepas.menyusul mana, Bhok Lin sudah lantas mengayun tinjunya ke arah muka lawannya itu, mengeluarkan tangan kirinya, untuk mencegah, sedang dengan tangan kanannya, ia menahan Bong Goan Cu.
"Segala apa dapat dibicarakan dengan baik-baik,"
Katanya pula, bersenyum.
"Dengan memandang mukaku, aku minta tuan berdua sudilah menahan tangan kamu."
Ia bicara kepada dua Goan Cu dan Bhok Lin.
Goan Cu mendorong orang yang menghalanginya itu, ia tidak dapat menolak tangan orang, tubuh siapa pun tidak bergeming.
Ia juga merasakan tangannya sakit.
Lekas-lekas ia tunduk, untuk melihatnya.
Di luar tahunya, telapakan tangannya telah terluka tergores.
Ia tidak merasa bahwa tadi, selagi Keng Sim menjura kepadanya, tangan si anak muda telah menyentuh tangannya itu, kukunya menggoresnya.
Ia menjadi kaget berbareng gusar.
"Kau siapa?"
Ia membentak.
Sementara itu Poan Thian Lo kaget di dalam hatinya Ia rada sembrono tetapi ia lebih lihay daripada adik seperguruannya itu.
dengan matanya yang tajam ia bisa melihat Keng Sim mestinya lihay, cuma romannya saja Keng Sim seperti anak sekolah yang lemah.
Ia pikir.
"Rasanya aku pun belum tentu dapat mengalahkan dia..."
Tengah Poan Thian Lo bersangsi, Keng Sim sudah tak menghalangi lagi tangannya Bong Goan Cu. Ia membungkuk dan berkata pula.
"Aku adalah siucay miskin yang mau pergi ke kota raja untuk turut dalam ujian, kalau sekarang tayjin mengusir aku, celakalah aku ini. Aku tidak punya uang untuk menyewa kamar di lain pondokan, bahkan mungkin aku bakal tidak mendapati lainnya pondokan lagi. Di samping itu aku bangsa anak sekolah, tidak dapat aku tidur di udara terbuka, maka itu, aku minta sukalah tayjin mengasihani aku dan memaafkannya."
Poan Thian Lo melirik si anak muda, lalu mendahului Goan Cu, ia berkata.
"Dengan memandang kau satu siucay, baiklah, kami tidak usir padamu."
Ia terus menoleh kepada dua opsir rendah lainnya, ia kata.
"Lekas bereskan itu dua kamar, sore ini biarlah kita tidur sedapatnya."
Bhok Lin mengawasi orang dengan mata mendelik tandanya ia masih panas hatinya.
"Adik Lin, jangan kita menerbitkan gara-gara."
Keng Sim membujuk, perlahan.
Ia menarik tangan orang, untuk diajak masuk.
Meski begitu, ia tidak merapati pintu, untuk melihat apa yang masih dapat terjadi.
Bong Goan Cu masih mendongkol, ia menghampirkan kamar yang kedua dan menendangnya, setelah pintu menjeblak.
dua opsir rendahan yang dititahkan Poan Thian Lo lantas saja nerobos masuk tanpa perdulikan siapa yang berada di dalam kamar itu.
Tiba-tiba dari dalam kamar itu terdengar suara plakplok beruntun-runtun.
kemudian terlihat dua nona muda belia berlompat keluar, gerakannya sangat sebat.
belum orang sempat mengawasi padanya, mereka sudah sampai kepada Bong Goan Cu, lalu tahu-tahu "Plakplok!
Plakplok!"
Terdengarlah suara nyaring, atau si orang galak itu kena digaplok empat kali oleh mereka itu.
mengenai kupingnya, menyusul mana, mereka memutar tubuh, untuk menendang kedua opsir rendah itu.
hingga keduanya terpelanting setombak jauhnya.
Keng Sim melihat itu semua, ia kaget dan heran.
Kedua nona muda itu dandan serupa, baju mereka berwarna kuning gading, rambut di kedua pinggirannya dibikin model kupu-kupu.
Mereka bertubuh kurus.
Satu di antaranya, mirip dengan potongan tubuh si nona yang meninggalkan pisau belati berikut surat...
Bong Goan Cu bukanlah seorang lemah, akan tetapi datangnya serangan sangat mendadak dan cepat luar biasa, maka itu ia menjadi kurban gaplokan berantai itu.
Tentu sekali ia menjadi murka bukan buatan.
Dalam murkanya segera ia menyerang dengan pukulannya ilmu silat Toasut payciu.
Bahwa pukulan ini hebat sudah bisa diduga dari menyambarnya angin yang keras sekali.
Kedua nona itu tidak takut, bahkan mereka saling memandang dan tertawa.
Kata yang satunya.
"Apakah kau hendak menghina orang dengan mengandali saja tenaga kerbaumu? Hm!"
Diserang hebat, mereka lantas perlihatkan kelincahan mereka.
Senantiasa mereka main berkelit indah gerakannya, bagaikan kupu-kupu selang-seling di antara bunga-bunga atau cecapung memain di air.
Ruang sempit dan di situ pun ada kursi meja akan tetapi mereka masih dapat bergerak dengan leluasa.
Mereka tidak mau berada berduaan saja, selalu mereka memisahkan diri, tubuh mereka licin seperti ikan berenang pergi datang di dalam air.
Sia-sia belaka Bong Goan Cu mengeluarkan Seluruh kepandaiannya, ia tidak memperoleh hasil, bahkan melanggar saja ujung baju si nona-nona, ia tidak mampu.
Celakanya ialah kalau ia diserang berbareng dari kiri dan kanan.
Saking sengitnya, ia tendang kursi meja hingga jadi jumpalitan, dengan begitu ia membuatnya ruang jadi lebih lega sedikit, tetapi juga sekarang ini, ia tidak berhasil menghajar nona-nona itu, yang tetap berlaku lincah, hingga akhirnya ialah yang matanya kabur dan kepalanya pusing...
Poan Thian Lo menyaksikan itu dengan masgul.
"Sute, kau mundur!"
Akhirnya ia berkata.
Kakak seperguruan ini belum menutup mulutn>a, atau kupingnya mendengar suara plak plok dua kali, suaranya nyaring-nyaring halus.
Sebab Bong Goan Cu kembali kena digaplok di kiri dan kanan!
"Siapa guru kamu?"
Poan Thian Lo menanya nyaring.
"Apakah orang berkelahi mesti mencari gurunya?"
Balik tanya nona yang di sebelah kiri. Nona yang di kanan tertawa, ia berkata.
"Apakah kau hendak memperdayai kami supaya kami mencari guru kami, supaya kamu dapat ketika untuk lari mengangkat kaki? Haha! Jikalau kau tidak berani, ya sudah saja, cukup asal kamu menghaturkan maaf sambil berlutut dan mengangguk-angguk tiga kali. Ingat, kamu mesti membungkuk hingga kepalamu mengenai batu dan berbunyi nyaring!"
Po Thian Lo tidak niat memancing nona-nona itu, ia hanya hendak mengetahui guru orang, guru yang lihay mestinya.
Dengan mengajukan pertanyaan, ia tidak berbuat sembrono, ia bisa menyingkirkan keruwetan di belakang hari.
Maka adalah di luar sangkaannya ia pun dipermainkan nona-nona itu.
hingga ia menjadi gusar.
Dengan lantas ia mengulur kedua tangannya, semua sepuluh jarinya dibuka, untuk menjambak.
Kuat sepuluh jarinya itu, kuat seperti gaetan Dengan satu gerakan "Burung Hong menggoyang kepala", nona yang di kiri lompat ke samping, lalu dari situ ia maju untuk menggaplok.
Ia berkelit lincah sekali, ia pun menyerang dengan dahsyat.
Ia percaya dengan kelitannya itu ia akan berhasil menyelamatkan dirinya.
Dan ia benar-benar berhasil.
Hanya ketika ia membalas menyerang, kesudahannya ia kaget luar biasa.
Selagi ia menduga, musuh tidak bakal bisa menyambar pula padanya, sekonyong-konyong tangan lawan sampai kepadanya.
Aneh gerakannya Poan Thian Lo.
tangannya seperti terulur lebih panjang daripada semestinya.
Pasti si nona tidak ketahui kepandaian orang itu.
kepandaian yang menjadi warisan istimewa dari Ci Hee Tojin.
Itulah yang dinamakan "Thongpek Wankang,"
Atau ilmu silat "Orang hutan tangan panjang."
Syukur untuk si nona. ia tidak menjadi gugup, ia lantas menyingkirkan diri, sedang kawannya, si nona di sebelah kanan, membarengi menyerang dengan "Dewi mengantar anak."
Yang disusul sama serangan "Bidadari melemparkan torak."
Tangan dan jari tangannya menyerang berbareng.
Poan Thiau Lo repot juga, dari itu tak sempat ia menyerang terus pada si nona di sebelah kiri itu, hingga nona itu dapat membebaskan diri!
Kedua nona itu, setelah bebas dari ancaman berbahaya, pada tertawa.
"Kau nyata terlebih pandai daripada si tolol dan gerubuk itu!"
Kata mereka, menggoda, sikapnya Jenaka.
Hanya meski demikian, selanjutnya mereka tidak mau alpa seperti tadinya.
Menghadapi lawan yang kosen, mereka berlaku waspada.
Kembali mereka menggunakan kelincahan tubuh mereka, kelit sana dan kelit sini.
Mulanya Poan Thian Lo menelad adik seperguruannya, ia menggunakan kekerasan, ia menggunakan tenaga dari Toasut payciu, habis itu, ia mengubah itu, ia menggunakan jurus-jurus dari Kimnahoat, untuk dapat menangkap kedua nona itu.
Ia menang tenaga dalam dari Bong Goan Cu, ia bisa berkelahi dengan ulat.
Demikian sudah terjadi, kedua nona kena didesak, hingga mereka dapat membela diri, tidak bisa mereka melakukan penyerangan membalas...
Pikirannya Tiat Keng Sim bersamaan dengan pikirannya Poan Thian Lo.
Yang paling penting ialah melindungi bingkisan hingga di kota raja dengan tidak kurang suatu apa.
Di belakang hari, di kota raja.
mereka toh bakal bertemu pula.
Jadi dia tidak ingin berkelahi.
Maka dia memikir untuk memperkenalkan diri, untuk menyudahi perselisihan itu.
Siapa tahu, Poan Thian Lo itu si gerubuk, karena murkanya, ia telah menantang, omongannya tidak menyedapkan telinga yang mendengarnya.
Di sebelah itu.
dia dibuatnya panas oleh kata-katanya kedua nona itu.
Terpaksa dia menghunus pedangnya.
"Kalau begitu,"
Berkata Keng Sim, tertawa.
"aku harus tidak mengenal diriku, aku mohon pengajaran dari Poan Tayjin, untuk beberapa jurus saja. Aku mohon sukalah Tayjin berlaku murah hati."
Poan Thian Lo sebaliknya membentak.
"Boleh jikalau kita tidak turun tangan, kalau kita turun tangan juga, tidak ada soal murah hati lagi!"
Demikian suaranya yang katak.
"Siapa kesudian berdamai denganmu?"
Dia menyangka benar-benar Keng Sim jeri.
Tapi dia telah melihatnya orang memperlihatkan kepandaiannya tadi, dia mengetahui orang bukanlah musuh yang ringan.
Maka dia geraki cambuknya, menyerang ke bawah dengan jurusnya "Laosu poankin"
Atau Pohon tua gempur akarnya,"
Bahkan dia membulang-baling terus tiga kali, hingga benar-benar dia tidak mau berlaku murah hati.
Mau atau tidak, Keng Sim mendongkol juga.
Tentu sekali, ia juga ingin mempertunjuki kepandaiannya.
Maka ketika cambuk hampir mengenai kakinya, sesudah ia berkelit beruntun dua kali.
ia membabat ke bawah, memapaki cambuk itu.
Keng Sim menggunakan pedangnya Cio Keng To, gurunya, pedang curian dari istana kaisar, yang diberi nama Cihong kiam atau Pedang Bianglala pedang yang tajam luar biasa, dapat menahas besi dan memutuskan rambut yang ditiupkan ke arah tajamnya.
Dari itu, ketika kedua senjata bentrok, terdengarlah suara "Sret!
Sret!"
Sedang sinarnya berkelebatan.
Kesudahan dari bentrokan itu membuatnya Poan Thian Lo kaget dan akhirnya menjadi gusar sekali, la bukannya berhasil menyapu orang, hanya gigi-gigi mirip gergaji dari cambuknya itu kena dipapas putus.
Sambil menjerit, ia menyerang pula dengan hebat, dengan tipu silatnya "Angin puyu membuatnya pohon liu menari."
Cepatnya bagaikan hujan angin dahsyat. Keng Sim tidak perdulikan hebatnya serangan lawan, ia melawan dengan tidak kalah bengisnya. Ia menggunakan jurus "Hujan angin di empat penjuru,"
Salah sebuah tipu silat dari Keng To Kiamhoat, ilmu pedang "Keng To" (Gelombang).
Di antara sinarnya yang berkilauan, terdengarlah suara nyaring berirama.
Kedua nona tadi lantas tertawa, tangannya ditepuktepuk.
"Merdu suara tetabuan ini, sungguh sedep didengarnya!"
Mereka memuji. Suara itu ialah suara pedang yang tajam membabat giginya cambuk, si nona-nona menganggap suara itu merdu... Untuk Poan Thian Lo, suara itu sebaliknya mengiris hati.
"Sungguh celaka!"
Dia menjerit dalam murkanya yang sangat.
Sebab hanya dalam beberapa jurus, habis sudah semua gigi cambuknya itu, semua habis terpapas pedang lawan.
C iehong kiam tidak mengasi hati pada gigi-gigi itu.
Tiat Keng Sim sebaliknya tertawa.
"Poan Tayjin, suka kau berlaku murah, bukan?"
Katanya. Poan Thian Lo sebaliknya menjadi seperti kalap.
"Akan aku mengadu jiwa denganmu!"
Bentaknya.
Dan ia menyerang pula, dengan hebat sekali, dengan cambuknya yang sudah tidak bergigi lagi.
Hebat serangan ini.
sebab dalam ilmu kepandaian, si Tayjin memang tak ada di bawahan Keng Sim.
Keng Sim juga tidak berani memandang enteng, dengan gigih ia membuat perlawanan, cuma sekarang ia tidak bisa berbuat seperti tadi.
dengan cepat meruntuhkan semua gigi cambuk.
Sekarang cambuk itu, yang dimainkan dengan lincah, tak gampang untuk dibabat kutung.
Cambuk itu memang terbuat dan otototot harimau, keras bisa keraskan lempang bagaikan toya, lunak bisa dilunakkan hingga dapat dililitkan di pinggang.
Pula celaka siapa kena dihajar atau dilibat.
Keng Sim seperti dipaksa menggunakan ilmu silat pedangnya, Keng To Kiamhoat itu, maka ia membikin pedangnya itu benar-benar seperti "gelombang yang mengagetkan" (kengto).
Karena Cio Keng To terhitung salah satu dari empat kiamkek, ahli silat terbesar, bisa dimengerti dia hanya berada di bawahan Thio Tan Hong.
Sebagai murid, Keng Sim telah paham ilmu pedang itu.
ditambah sama latihannya sudah tujuh atau delapan tahun, ia dapat mempergunakannya dengan mahir.
Ia pun murid yang paling disayang.
Di mana dua orang bagaikan berkelahi mati-matian, tidak heran pertempuran mereka jadi seru sekali, keadaan mereka pun berimbang.
Maka sampai sekian lama, mereka masih sama tangguhnya, tidak ada yang mau menyerah kalah.
Kedua nona nonton perkelahian belum lama, keduanya mendaki bukit, lalu mereka duduk berendeng di atas sebuah batu besar.
Dari atas dengan leluasa mereka dapat memandang ke bawah, sikap mereka tenang Mereka lalu merundingkan tentang dua orang yang lagi mengadu jiwa itu.
suara tertawa mereka sabansaban dibawa angin gunung hingga ke kupingnya si anak muda.
Keng Sim menjadi tidak senang hati.
"Aku berkelahi untuk mereka, mereka justeru menjauhkan diri,"
Katanya di dalam hati.
"Aku bukannya mengharap bantuan mereka, hanya aku tidak puas untuk sikapnya. Kenapa mereka menganggapnya enteng sekali kepada orang yang menolongi mereka?"
Poan Thian Lo sendiri sudah mulai bingung. Sia-sia belaka desakannya itu, ia tidak berhasil mengalahkan lawannya ini, yang tadinya ia tidak pandang terlalu tinggi. Juga Keng Sim, ia mulai mendongkol.
"Dia tidak mengenal keadaan, buat apa aku menaruh belas kasihan terhadapnya?"
Ia berpikir. Maka ia berseru, ia menggeraki pedangnya hebat sekali. Ia melawan keras dengan keras.
"Kena!"
Ia berseru kemudian.
Ia bukannya membabat cambuk, hanya setelah cambuk lewat di atasan kepalanya, untuk mana ia mendak, selagi bangun berdiri pedangnya diarahkan ke dada orang, di jalan darah Tantiong hiat.
Tidak ampun lagi, Poan Thian Lo menjerit keras, lalu tubuhnya roboh.
Habis merobohkan musuhnya, yang membuatnya lega hati.
Keng Sim mengangkat kepala melihat ke atas bukit.
Ia menampak kedua nona tertawa seraya bertepuk-tepuk tangan.
"Terima kasih!"
Terdengar suara mereka itu, nyaring tetapi halus.
"Inilah tidak berarti!"
Berkata Keng Sim.
"Orang Biauw galak ini telah aku robohkan, kamu boleh turun sekarang!"
"Terima kasih yang kau telah menolongi kami merobohkan dia!"
Berkata satu nona. ia tertawa begitu pun kawannya.
"Kedua enci-ku mungkin sudah berhasil dengan pekerjaan mereka, kami hendak pergi menyambut mereka itu. dari itu tidak dapat kami menemanimu lebih lama pula..."
Mendengar itu. Keng Sim terkejut.
"Oh, jadi benar kamu berkomplot untuk merampas bingkisan!"
Katanya Dua nona itu kembali tertawa.
"Orang membilangnya Tiat Kongcu cerdas, benarlah dugaanmu itu!"
Kata mereka. Keng Sim kaget bukan main. Hebat jawaban itu, yang melebihkan cacian, la menganggapnya dirinya pintar, ia toh kena dipermainkan kedua nona-nona itu. Ia telah dipancing dengan tipu daya.
"Memancing harimau turun dari gunung."
Bukankah mereka memincuk Poan Thian Lo keluar dari pondokan, lalu ia pergi menolongi mereka dengan begitu pondokan jadi kosong, lalu bekerjalah konco mereka?
Siapa bisa melawan mereka itu?
Anak muda ini menjadi serba salah.
Ingin ia mengubar ke atas, kepada kedua nona itu, ia kuatir barangnya sendiri nanti hilang.
Selagi ia diam mengawasi, nonanona itu tertawa pula, tertawa geli sekali.
Sembari mengulap-ulapkan tangannya, mereka berkata.
"Di dalam gudangnya si raja ada bertumpuk emas dan kumala, segala macam permata pun ada, toh kamu masih hendak menghadiahkan kepadanya! Maka kalau kami mengambil bingkisan ini. tidak ada artinya, bukan?"
Segera setelah ucapannya itu, mereka mengangkat kaki.
lari naik semakin tinggi ke atas bukit, hingga sebentar kemudian, mereka sudah melewati bukit itu.
Karena tidak ada harapan untuk mengejar.
Keng Sim lari balik ke hotel.
Selagi mendekatin, kupingnya sudah mendengar suara berisik sekali dari arah hotelnya.
Ia heran dan kaget, maka ia berlari-lari keras.
"Rupanya kawanan perampas belum mengangkat kaki,"
Ia menduga-duga.
Dengan cepat pemuda ini sampai di depan hotel, di mana ia menampak segala apa kalang kabutan.
Serdaduserdadu pengiring pada roboh menggeletakan, bekas dihajar perampas.
Bong Goan Cu, dengan mulut berkaokan, lagi melayani satu nona muda belia, sedang seorang nona lainnya lagi menggerayangi kedua peti besi yang memuat bingkisan.
Kedua peti kecil tetapi berat, sebagai ia mengetahuinya, dua opsir rendahan.
yang membawa itu, telah termege-mege karena mesti menggunakan tenaga berlebihan setiap peti itu beratnya mungkin seratus kati.
Sebaliknya nona itu, memegang peti dengan masingmasing tangannya, dia seperti tidak menggunakan tenaga.
Dua-dua nona itu berumur masing-masing baru empat atau lima belas tahun, mereka mirip dengan dua yang tadi.
hingga mulanya Keng Sim menduga mereka itulah yang telah mendahului ia tiba di hotel, setelah ia mengawasi, ia mendapat kenyataan mereka ini lebih gemuk sedikit, cuma pakaian mereka berempat sama.
ialah warna kuning gading dan di kepala mereka ada kupu-kupunya.
Juga senjata mereka serupa yaitu golok pendek dengan kepala naga-nagaan.
Kemudian si nona yang merampas bingkisan itu tertawa dan berkata sendirinya.
"Aku mengira benda apa y ang berharga luar biasa, kiranya cuma dua patung Buddha dari emas!"
Suaranya itu menyatakan ia sangat tidak memandang mata kepada dua patung emas itu. Sebenarnya pada waktu itu. Kuiciu ialah sebuah propinsi yang miskin, sampai ada pepatah yang berbunyi.
"Langit tidak ada tiga hari yang terang jernih, di bumi tidak ada tiga hari yang aman tenteram, dan di antara manusia, tak ada yang mempunyai emas tiga hun saja."
Toh telah terbukti, sunbu dari Kuiciu telah berhasil membuat tiga patung Buddha yang berat itu, dari itu dapat dimengerti bagaimana dia sudah memeras rakyatnya.
Bong Goan Cu mencaci kalang-kabutan, tetapi dia menggunakan bahasa Biauw.
Keng Sim melihat ke sekitarnya.
Di mana si nona cuma ada berdua, ia mau percaya barangnya sendiri belum sampai kena dirampas, karena itu.
hatinya menjadi sedikit lega.
Karenanya, ia merasa lucu juga mendengar ocehannya Bong Goan Cu itu.
Meski begitu, ia beraguragu.
Ia memikir-mikir, apa baik ia membantui Bong Goan Cu merampas pulang kedua patung emas itu.
Pertempuran berlangsung terus, selagi Keng Sim mengawasinya, mendadak ia melihat si nona telah menggores jidatnya Bong Goan Cu, hingga darahnya lantas keluar, mengalir turun.
Atas kejadian itu, yang membikin ia merasa sakit dan semakin gusar, Bong Goan Cu menggeraki kedua belah tangannya, melontarkan sepuluh gelang perak di lengannya itu.
Sebab gelang-gelang itu adalah senjata rahasia suku bangsa Biauw.
Hebat menyambarnya senjata rahasia itu, sampai hati Keng Sim terkesiap, karena ia sekarang menguatirkan keselamatannya si nona tanggung itu...
Si nona kecil tidak menjadi bingung.
Ia mengayunkan tangannya menerbangkan dua batang pisau belati.
Segera terdengar menyusulnya suara tangtingtong, suara yang tak hentinya.
Ternyata sembilan gelang dari Poan Thian Lo telah terpapas kutung menjadi dua potong, belum lagi buyar, sudah kena dihajar pisau belati itu.
semuanya menjadi kacau tujuannya, menjadi saling bentrok sendiri.
Tidak ada sebuah pecahan juga yang mengenai tubuh si nona.
yang main berkelit dengan lincah.
Nona yang lainnya telah menyambar kedua peti besi itu, untuk dibawa lari dengan pesat.
Dia justeru lari lewat di sampingnya Keng Sim.
Kalau ia mau, Keng Sim bisa mengulur tangannya, menyambar, merampas peti besi itu, atau ia hanya memegat, untuk merintangi.
Belum dia sempat berpikir, si nona sudah berkata dengan perlahan.
"Masing-masing baiklah menyapui saja salju di depan rumahnya sendiri, jangan perdulikan es di genting rumah lain orang!"
Tercengang Keng Sim mendengar suara itu.
ialah pemberian ingat untuk ia jangan usilan, supaya ia jangan mencampuri sepak terjangnya nona-nona itu.
Justeru itu terdengar teriakan berulang-ulang dari Bhok Lin dari pondokannya.
"Cihu, lekas! Lekas ke mari!"
Sebab ipar itu pun telah melihat sesuatu.
Oleh karena menguatirkan barang yang dilindunginya sendiri nanti lenyap, Keng Sim lantas lari pulang.
Dengan begitu ia menjadi membiarkan si nona lari terus.
Ketika ia tiba di muka pondokan, dengan sekali melirik saja, ia telah melihat muka Bong Goan Cu mandi darah, karena dia telah dihajar roboh si nona cilik.
Di rumah penginapan itu orang pada bersembunyi dengan tubuh mereka bergemetaran.
Tidak ada seorang juga yang berani mengasi dengar suaranya.
Cuma Bhok Lin yang gembira sekali, ia memegang tangan cihu-nya untuk ditarik masuk ke dalam kamar.
"Cihu,"
Katanya tertawa setibanya di dalam.
"banyak pengalamanmu dalam dunia kangouw tetapi kali ini kau salah mata, justeru terkaankulah yang benar! Nona-nona itu benarlah orang-orang yang merampas bingkisan untuk kaisar! Dan terhadap kita, mereka itu memandang mata, mereka melepas budi!"
Keng Sim menutup pintu kamar.
"Kenapa mereka melepas budi?"
Ia tanya iparnya itu.
"Kau lihat!"
Sahut Bhok Lin, tangannya menunjuk.
Keng Sim segera memandang ke arah yang ditunjuk itu, ialah peti buku mereka di dalam mana disimpan bingkisan mereka.
Di situ menancap sebatang pisau belati, yang ditusukkan sehelai kertas.
Tidak usah ditanya lagi, pastilah itu kertas dan pisau belati dari si nonanona.
"Mereka itu, begitu mereka masuk, lantas plak mereka menimpuk dengan pisau belati mereka,"
Bhok Lin menerangkan.
"dan mereka mengatakannya supaya kita jangan usilan. Sebenarnya aku berniat menempur mereka, akan tetapi karena mereka sudah lantas memakai cara kaum kangouw, aku membatalkan niatku itu, aku membiarkan mereka merdeka. Bukankah suatu keharusan, jikalau orang menghormati kita satu kaki, kita membalasnya hormat itu dengan satu tombak?"
Keng Sim tertawa dan mengatakannya.
"Aku kuatir justeru lain oranglah yang membiarkan kau!"
Lantas pemuda ini mencabut pisau belati itu. untuk mengambil suratnya. Di situ ada coretan beberapa huruf yang tak keruan, bunyinya begini.
"Kamu membelai apa yang tak adil, kami suka berbuat baik. Jikalau kamu tidak kenal keadaan. ketahuilah, bingkisanmu sukar sampai di kota raja!"
Habis membaca, Keng Sim berkata.
"Mana ini pemberian muka untuk berlaku baik kepada kita? Inilah ancaman belaka!"
"Bukankah barang kita tak disentuh sama sekali?"
Tanya Bhok Lin.
"Mereka hanya membilang, kali ini mereka tidak merampas, lain kali mereka akan mengulurkan tangan mereka,"
Keng Sim menjelaskan.
"Tapi kita tidak takut!"
Berkata Bhok Lin, berani.
"Kita empat orang dewasa, mustahil kita tidak dapat melawan empat orang nona bocah itu?"
Keng Sim berpikir.
Melihat kepandaian si nona, dengan sebatang pedangnya, ia sanggup melayani mereka itu, ia percaya, ia tidak bakal dikalahkan, tetapi yang ia kuatirkan ialah orang-orang di belakang nona-nona cerdik itu, mereka itu mestinya orang-orang yang lihay.
Kalau mereka tidak lihay, cara bagaimana mereka berani merampas bingkisan hadiah untuk raja?
"Cihu, kau pikirkan apa?"
Bhok Lin menanya, melihat cihu itu diam saja.
"Apakah benar-benar kau kasi dirimu kena digertak mereka? Benarkah kau takut?"
Keng Sim tertawa.
"Aku bukannya takuti mereka itu,"
Ia menyahut.
"aku hanya kuatir Poan Thian Lo sadar dan datang ke mari hingga dia melihat kita. Mana enak menghadapi pertemuan itu? Maka baiklah kita lekas berangkat!"
Benar-benar orang she Tiat ini bertindak.
Ia menyuruh kedua busu siap sedia, ia sendiri melakukan pembayaran kepada pemilik rumah penginapan.
Maka di lain saat mereka sudah mulai dengan keberangkatan mereka.
oo III.
Ketemu "Harimau Kuniala."
Melihat "Naga Sakti."
Perjalanan dilakukan Keng Sim selekas bisa.
Ia menginsafi ancaman bahaya di sepanjang jalan itu.
Bhok Lin sebaliknya, dia bahkan gembira sekali membicarakan urusan perampasan itu.
Agaknya dia menyesal yang dia tidak dapat ketika akan mencoba-coba dengan ke empat nona cilik itu.
"Ah, siauwkongtia-ku yang baik."
Berkata Thio Po si guru silat yang usianya sudah lanjut.
"untuk kita paling benar kitajangan bertemu pula dengan mereka itu!"
Di perjalanan itu mereka tidak menemui sesuatu, maka itu setelah melewati dua puluh hari lebih, mereka sudah melalui batas propinsi Kwisay dan sudah memasuki wilayah propinsi Kwitang.
Juga di sini mereka umpama kata tidak bertemu sama "setengah penjahat"
Jua.
Kedua guru silat mentaati pesan Bhok Kokkong, mereka minta Tiat Keng Sim menghadap congtok dari Liangkong, dari propinsi Kwisay dan Kwitang, yang gubernur jenderalnya hanya satu orang, supaya mereka dapat menggabungkan diri dan berjalan bersama-sama rombongan dari Kwisay-Kwitang itu, dengan begitu jumlah mereka jadi banyakan, tenaga mereka pun bertambah kuat.
Bhok Lin tidak senang dengan usul itu, akan tetapi itu adalah titah ayahnya, ia tidak berani membantahnya.
Dengan terpaksa ia pergi menjumpai Liangkong congtok.
Dengan mengunjungi congtok itu, mereka menjadi mendapat tahu rombongan pengantar bingkisan dari Kwisay sudah tiba beberapa hari lebih dulu dan mereka itu bahkan tengah menantikan mereka ini.
Congtok menyambut dan melayani Keng Sim dan Bhok Lin dengan manis budi, karena ia mengetahui mereka itu, yang satu ialah menantunya Bhok Kokkong dan yang lainnya putera hertog itu.
Sebaliknya ialah sikap dari busu atau guru-guru silat yang melindungi bingkisan dari kedua propinsi itu, di depan mereka menunjuki hormat mereka, di belakang mereka memandang enteng, hal mana ternyata dari air muka mereka.
Busu dari dua propinsi itu adalah ahli-ahli silat yang kenamaan, di mata mereka itu Keng Sim dan Bhok Lin adalah dua kongcu belaka, yang pasti tidak punya guna dan melainkan bertingkah saja, untuk menjual lagak.
Sebaliknya mereka mau percaya si kedua guru silat pengantarnya barulah orang-orang yang berarti, maka itu senang mereka bergaul dengan dua busu ini, yang mereka anggap ada sesamanya, gembira mereka memasang omong.
Keng Sim berdua Bhok Lin singgah dua hari di kantor congtok, lantas mereka pamitan untuk melanjuti perjalanan.
Mereka menjadi tiga rombongan yang menjadi satu, jumlah pengatarnya atau busu ada tujuh delapan orang dan pengiringnya empat atau lima puluh serdadu.
Dengan jumlah yang besar, mereka itu nampaknya mentereng sekali.
Melihat itu.
Keng Sim kurang puas.
Itulah terlalu mencolok mata.
Busu yang mengepalai rombongan dari Kwitang bernama Coa Hok Ciang, dialah keluaran Siauwlim Si, di masa mudanya pernah dia pesiar ke Utara, ke kota raja.
di mana dia pernah bertempur sama guru-guru silat dari barisan pahlawan Kimiewi, beruntun dalam satu hari dia berhasil mengalahkan tujuh guru silat.
Sekarang dalam usia mendekati enam puluh, dia nampaknya masih gagah.
Guru silat dari Kwisay ialah Wi Kok Ceng, umurnya lebih kurang empat puluh tahun, kedudukannya sebagai congpiuwtauw, kepala sersi dari kantor sunbu.
Ia pandai bersilat di atas kuda dan menggunakan panah, sedang senjatanya sendiri ialah toya cibiekun.
Dalam kalangan Bulim atau Rimba Persilatan di Kwisay, ia berkenamaan.
Di sepanjang jalan dua guru silat ini gembira sekali membicarakan urusan ilmu silat, tentang hidup mereka.
Kelihatan nyata mereka sama-sama memamerkan diri sendiri.
Bhok Lin tidak senang mendengar suara orang, kalau bukannya Keng Sim mencegah, tentulah ia sudah memukul sindir mereka itu.
Pada suatu hari rombongan yang besar ini tiba di Ciauwleng, tapal batas propinsi Hokkian.
Di sini mereka memasuki daerah pegunungan, maka dengan sendirinya mereka berlaku tambah berhati-hati.
Di waktu tengah hari, selagi Sang Surya ada di tengah-tengah langit, karena panas terik, manusia letih dan kuda lelah dan berdahaga, mereka mampir di tepi jalan di mana ada sebuah warung teh.
Coa Hok Ciang memberi ijin akan semua pengiring beristirahat, ia sendiri mengajak Keng Sim semua masuk ke dalam warung akan duduk berkumpul di dua buah meja.
Wi Kok Ceng, guru silat dari Kwisay, ada membekal panah, senjata itu tidak pernah lepas dari tangannya, selalu ia bawa-bawa.
demikian memasuki warung teh, ia terus bawa busurnya itu.
Bhok Lin jail, ia pegang busur itu, untuk mencoba-coba beratnya.
"Hati-hati, siauwkongtia!"
Berkata Kok Ceng, tergesa.
"jaga jangan kau merusak kesehatanmu!"
Bhok Lin tertawa haha-hihi, ia mengangkatnya.
"Mungkin busur ini beratnya lima atau enam puluh kati."
Katanya.
"Untuk mementang busur yang sangat besar ini, mesti diperlukan tenaga yang besar!"
Wi Kok Ceng heran mendapatkan si hertog muda kuat mengangkat busurnya itu.
"Ah, tak usah juga memakai tenaga besar!"
Katanya kemudian, tertawa.
"Busurku ini ialah dinamakan ngocio kiangkong. asal kedua lengan tangan mempunyai tenaga lima enam ratus kati juga sudah kuat untuk menggunakannya!"
Yang disebut ngocio kiangkong, atau busur yang berat lima karung adalah busur nomor satu, sengaja Wi Kok Ceng menyebut itu, guna membanggakan dirinya bertenaga besar.
Keng Sim bersenyum mendengar perkataan orang itu.
"Mempunyai tenaga lima atau enam ratus kati sudah bukannya terhitung tenaga kecil lagi!"
Berkata Bhok Lin, yang seperti tak tahu apa-apa. Wi Kok Ceng agak tercengang.
"Hertog muda ini besar mulut,"
Pikirnya.
"Tenaga lima enam ratus kati katanya bukan kecil lagi..."
Tapi ia tertawa dan berkata.
"Tenaga memanah adalah yang kedua, yang paling penting yaitu tepatnya incaran. Ada satu waktu yang aku memasuki sebuah gunung mengejar serombongan berandal, mereka berjumlah sembilan belas orang, panahku ada delapan belas batang. Satu demi satu anak panahku itu menemui sasarannya, delapan belas berandal roboh karenanya. Yang ke sembilan belas lari kabur. Dia beruntung tidak sampai binasa. Kemudian aku mendapat tahu dialah kepala dari kawanan berandal yang bertempat di selatan Kwisay. Semenjak itu bubarlah rombongannya tidak lagi dia berani melakukan usaha tanpa modal itu!"
Di sebelah meja mereka ada sebuah meja lain di mana ada berkumpul beberapa tetamu lainnya, mereka itu mendengar perkataannya guru silat ini, mereka agaknya heran dan kagum, hingga kedengaran pujian mereka, hanya nadanya bercampur sama penyesalan.
Coa Hok Ciang luas pengalamannya, mendengar suara mereka itu, ia merasa hatinya tidak tenang, tetapi ia dapat mengusai diri, ia tidak menuruti Kok Ceng bicara besar itu, ia bahkan sengaja menghela napas.
Ia mengangkat cawan tehnya.
"Hebat, hebat!"
Katanya.
"Mendengar perbuatan gagah itu, marilah dengan secawan teh ini menggantikan arak aku memberi selamat!"
Ia lantas mengeringi air tehnya itu, kemudian ia menurunkan cawannya dengan separuh dibanting, mulutnya masih mengasi dengar pujiannya.
"Hebat, hebat!"
Warung teh ini memakai cawan bukan dari gelas hanya dari logam, yaitu tembaga, sebabnya ialah agar cawannya tak gampang pecah.
Hok Ciang membanting cawannya itu, maka tempo ia mengangkatnya pula, di meja ada bekas melesaknya tiga dim.
"Ah!..."
Katanya, ketika ia melihat meja celong itu.
"aku melupakan diriku hingga aku membuatnya meja ini rusak, aku menyesal."
Ia lantas merogo sakunya, mengeluarkan uang dua renceng, katanya sebagai pengganti kerugian.
Wi Kok Ceng melihat perbuatannya Coa Hok Ciang ini, diam-diam ia merasa yang rekannya itu bertenaga lebih besar daripadanya, tetapi ia tidak takut, bahkan ia memikir nanti satu waktu mencari ketika untuk mempertontonkan ilmu panahnya yang lihay itu, yang menganggapnya tanpa tandingan.
Ingin ia membikin Hok Ciang turun derajat...
Orang-orang di meja satunya itu pada bungkam, sesaat kemudian barulah terdengar seorang mengatakan.
"Di dalam dunia ini ada kepandaian demikian lihay, sunggah kita si orang-orang desa bisa mati kaget..."
Tapi meskipun mereka mengatakan demikian, nada mereka mengandung sindiran.
CoaHok Ciang lantas melirik.
Ia dapat kenyataan, orang yang berbicara itu adalah seorang muda dengan sepasang alis gompiok dan bermata besar, sedang tiga yang lain mirip dengan petani-petani.
Habis minum teh, mereka itu berlalu lekas-lekas.
Wi Kok Ceng mendapat lihat kelakuan orang itu, ia menjadi curiga, tetapi ia tidak takut, memandangi belakang orang, ia kata sambil tertawa dingin.
"Jikalau aku ketemu orang jahat, akan aku kasih rasa mereka anak-anak panahku!"
Ia bicara dengan suara keras, ia sengaja supaya mereka itu mendapat dengar.
Sesudah dapat beristirahat, rombongan pengantar bingkisan ini mulai pula dengan perjalanan mereka.
Wi Kok Ceng sengaja jalan di paling depan, tangannya memegang busurnya, sikapnya gagah.
Keng Sim bersama Bhok Lin jalan di sebelah belakang busu itu, sikap mereka biasa saja.
CoaHok Ciang jalan di belakang, selaku pengiring atau pembantu.
Segera juga mereka telah melalui perjalanan belasan li.
Justeru itu mereka mulai memasuki mulut sebuah gunung.
Mendadak terdengar seman di sebelah depan, lalu seorang penunggang kuda nampak lari mendatangi ke arah rombongan mereka itu.
Dia mendatangi sembari tertawa berkakak, kepalanya dilenggakkan.
Nyata dialah si anak muda alis gompiok dan mata besar yang di warung teh tadi.
"Eh, kau bikin apa?"
Wi Kok Ceng menegur.
"Jikalau kau tidak lekas turun dari kudamu, nanti aku panah padamu!"
Anak muda itu tertawa pula, ia tidak turun dari kudanya.
"Aku justeru hendak mencoba panahmu!"
Katanya menantang.
"Kau ada membawa berapa batang anak panah?"
Menyusuli berhentinya perkataan si anak muda, yang suaranya keras, dari lamping gunung lantas terdengar suara berisik sekali, lalu tertampak munculnya serombongan orang jahat.
Mereka itu rupanya telah menyembunyikan diri semenjak tadi.
Keng Sim mengawasi, ia melihat sejumlah empat atau lima puluh orang.
Ia lantas berpikir.
"Melihat jumlah kita adalah berimbang, hanya aku kuatir ini beberapa busu bukannya lawan mereka itu..."
Wi Kok Ceng gusar bukan main sampai napasnya menghembus dari hidungnya.
"Ini hari tuan besarmu membawa anak panah cukup untuk kamu menerimanya, satu orang satu!"
Katanya nyaring.
"Kau juga ada bagianmu!"
Kata-kata ini disusul sama persiapan, tangan kiri memegang kayu busur, tangan kanan bersama anak panah menarik talinya, hingga busur itu tertarik melengkung sebagai bulan purnama.
Melihat sikapnya itu, benarlah dia seorang ahli panah.
Lantas saja terdengar suara menjepret dan anak panah itu meluncur ke depan, ke arah tenggorokan si anak muda penunggang kuda itu.
Luar biasa si anak muda, ia tertawa dengan tubuhnya tak bergeming.
Ketika anak panah hampir pada sasarannya, barulah sebelah tangannya digeraki.
Luar biasa sebat gerakan tangan itu, belum lagi Kok Ceng tahu apa-apa, anak panahnya itu telah kena ditangkap si anak muda, untuk diteruskan dipatahkan!
"Ilmu panah semacam ini mau dipertontonkan, hm!"
Mengejek anak muda itu, yang tertawa seraya menggeleng-geleng kepalanya.
Wi Kok Ceng jumawa, maka bisalah dimengerti kalau hatinya jadi panas sekali diperhina secara demikian.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia melepaskan anak panahnya yang kedua, disusul sama yang ketiga!
Bhok Lin menyaksikan cara orang menggunakan panah itu.
ia kata dalam hatinya.
"Pantas dia jumawa, dia benar ada mempunyai kepandaian!"
Cepat memanahnya Kok Ceng, sebat tangannya si anak muda. Dua batang anak panah itu kena disambuti. kena terus dibikin patah. Dalam penasarannya. Kok Ceng memanah terus menerus.
"Satu! dua tiga! empat! lima!"
Si anak muda berseruseru selagi ia menyambuti tiap anak panah itu.
"Enam! tujuh! delapan! sembilan! sepuluh'"
Dan ia masih menghitung terus sebab Wi Kok Ceng juga memanah dia tak hentinya, dengan kesehatannya yang luar biasa.
Hingga sebentar kemudian ia sudah menghitung hingga tiga puluh enam, yang mana berarti juga tiga puluh enam batang anak panah telah disanggapi dan dibikin patah!
Muka dan kupingnya Wi Kok Ceng menjadi merah.
Ia serba salah.
Anak muda itu tertawa berkakak.
"Masih ada berapa batang lagi?"
Ia menanya, sikapnya menantang.
Dalam murkanya yang sangat.
Kok Ceng menarik pula tali besarnya, menjepretkan tiga batang anak panahnya yang terakhir.
Ia mengerahkan tenaganya, ia mengincar dengan tepat, bahkan ia melepaskan berbareng tiga batang panah itu.
Inilah kepandaiannya yang istimewa.
Meski dilepaskan berbareng, anak panah itu tetapi menjurus ketiga tempat, ialah tenggorokan, dada dan pusar.
Selagi dipanah, anak muda itu tertawa dan berkata.
"Demikian anak panah telah dilepaskan, ini tiga yang terakhir boleh juga!"
Kalau tadi dia bertubuh tegak, secara gampang saja dia menghalau ancaman bahaya, kali ini dia menggeraki tubuhnya.
Selagi dia memutar tubuh, tangannya digeraki berputar juga.
Tepat sekali, ketiga batang anak panah kena dia sambar dan cekal semuanya!
"Apakah kau telah memanah habis?"
Bertanya anak muda itu, tertawa.
"Jikalau ada kedatangan tidak ada kepergian. itulah namanya bukan kehormatan, maka itu tiga batang anak panah ini dengan segala kehormatan aku membayarnya kembali!"
Dan ia segera menggeraki tangannya, bagaikan orang membandering.
Tiga batang anak panah itu meluncur ke arah pemiliknya.
Wi Kok Ceng terkejut, tetapi ia masih sempat berkelit dengan kelitannya "Menyembunyikan diri di dalam pelana."
Meski begitu, ia cuma dapat lolos dari sebatang panah, dua yang lain terus mengancam padanya. Di saat ia tidak berdaya itu, mendadak "traang triing!"
Maka kedua batang panah itu kacau dari tujuannya, melewati perut kuda.
jatuh di tanah.
Kok Ceng tidak tahu bahwa secara diam-diam Keng Sim sudah membantu meloloskan jiwanya dari marah bahaya, karenanya ia mendongkol sekali kepada si anak muda.
Setelah duduk pula tetap di atas kudanya, ia menarik toyanya, toya cibiekun yang terbuat dari tembaga, ia menyerang si anak muda sambil ia berlompat turun dari kudanya, setelah kudanya itu ia kasih maju mendekati lawannya.
Ia menghajar kepala orang.
Si anak muda mengangkat tangannya sambil tertawa dan berkata.
"Toya ini banyak lebih susah dibekuknya daripada anak panah..."
Dengan sebat tangannya itu menanggapi toya, yang terus ia cekal keras dan menarik sambil berseru.
"Lepaslah!"
Gagal serangannya Kok Ceng itu, toyanya kena dipegang lawan, ketika ia menahan tarikan keras itu, hampir ia menjerit.
Ia kesakitan karena telapakan tangannya itu terluka.
Dengan bandel ia pegang erat-erat toyanya itu, tidak perduli tangannya borboran darah.
Masih si anak muda tertawa.
"Mustika apakah ini hingga kau sayang melepasnya?"
Katanya tertawa terus.
Ia tidak menarik lagi seperti tadi, hanya ia kerahkan tenaga dari dua tangannya, maka selagi Kok Ceng menahan, toyanya itu lantas perlahanlahan mulai bengkok melengkung.
Mukanya Kok Ceng menjadi merah.
Dengan paksakan diri, ia memegang terus dengan keras toyanya itu.
Matanya lantas menjadi berkunang dan kepalanya pusing.
Ia tahu, ia bakal roboh tak sadarkan diri, bahwa ia bakal terluka di dalam, tetapi kepala besarnya sungkan mengalah, terus ia bertahan.
Ia lebih suka terbinasa daripada mendapat malu, maka ia cekal keras matimatian toyanya itu.
Keng Sim menjadi bersangsi walaupun sebenarnya ia hendak maju untuk menolongi busu itu.
Justeru itu Coa HokCiang menghampirkan ia untuk memberi hormat sambil menjura seraya berkata.
"Tiat Kongcu, pandai kau membawa dirimu, akan tetapi kali ini barang-barang hadiah ini cuma mengandal kau seorang untuk melindunginya! Di dalam rombongan begal itu mesti ada orang-orang yang lihay lainnya, dari itu aku mohon sukalah kau melindungi, nanti aku si orang tua pergi melayani mereka itu."
Ketika tadi Keng Sim menolongi Kok Ceng dengan menimpuk panah dengan butir-butir batu kecil, ia dapat mengelabuhi semua orang lainnya tetapi tidak busu she Coa itu seorang.
Karena Hok Ciang merasa pasti, Keng Sim ada jauh terlebih lihay daripada mereka semua, ia menjadi sudah minta bantuannya itu.
Keng Sim melihat bahaya mengancam, ia mengangguk.
Ia merasa Coa Hok Ciang cukup tangguh akan melayani musuh, maka untuk mencegah ada penjahat yang membokong, ia terpaksa memikul tanggung jawab atas keselamatannya semua bingkisan berharga itu.
Ketika itu toyanya Wi Kok Ceng sudah melengkung betul-betul, jiwanya si busu yang berkepala batu itu sudah terancam bahaya maut.
tetapi justeru si anak muda tertawa dan berkata kepadanya.
"Melihat kepada kebandalanmu ini, suka aku mengasih ampun. Nah, kau pergilah!"
Selagi anak muda itu berkata, dari rombongan busu maju dua orang dengan gerakan tubuh mereka gesit sekali.
Itulah Coa Hok Ciang, yang dibarengi Bhok Lin si hertog muda.
Putera Bhok Kokkong ini penasaran untuk tingkah laku si berandal muda itu.
Di antara dua orang ini, Bhok Lin adalah yang sampai terlebih dulu, maka berkelebatlah pedangnya, bagaimana bianglala panjang, menyambar tenggorokan si berandal.
Putera hertog ini belum lihay tetapi tusukan pedangnya itu ada buah pengajarannya Thio Tan Hong, maka itu.
hebat penyerangannya itu.
"Traang!"
Demikian satu suara nyaring.
Sebab dengan mengangkat toya musuh yang bengkok itu, si anak muda telah menangkis tikaman pedang.
Dengan begitu juga, Wi Kok Ceng menjadi tertolong dari ancaman bahaya.
Hanya celaka untuk ia, tanpa pegangan toya lagi, tubuhnya menjadi limbung, sambil terhuyung ia memuntahkan darah hidup.
Meski begitu, ia tetap masih mencekal toyanya.
Ia tahu Bhok Lin yang menolongi padanya, ia lantas menjura kepada putera hertog itu seraya berkata.
"Siauwkongtia, terima kasih!"
Biarpun kalah, busu ini tidak mendapat malu besar, sebab senjatanya tak terampas musuh, ia masih memegangnya erat-erat.
Ketika itu Bhok Lin dan si penjahat muda sudah bertempur hingga tiga jurus, dan pertempuran mereka masih dilanjuti.
Coa Kok Ciang tidak terus maju untuk membantu si hertog muda.
ia hanya mempepayang Wi Kok Ceng, untuk diajak balik ke dalam rombongan mereka Ia kaget berbareng girang.
Kaget sebab ia tidak menyangka musuh lihay sekali.
Ia girang karena ia tidak menduga putera hertog itu, yang masih begitu muda nyata gagah perkasa.
Demikian juga Tiat Keng Sim.
Tadinya ia melihatnya cuma dua anak sekolah yang lemah.
Coa Hok Ciang menyaksikan pertempuran itu.
Si berandal muda melayani dengan sepasang tangan kosong.
Benar Bhok Lin bersenjatakan pedang, setelah beberapa jurus, ternyata ia tidak dapat berbuat banyak, Coa Hok Ciang mendapat kenyataan, meski hertog muda itu lebih gesit daripada dia ia masih kurang latihan, kurang pengalaman.
Karena ini, busu ini menjadi berkuatir.
Bagaimana kalau si hertog muda terlukakan penjahat?
Maka terpaksa dia mengambil putusannya Tapi, selagi dia hendak maju, Tiat Keng Sim menarik lengannya Kalau Hok Ciang berkuatir Bhok Lin nanti terluka, Keng Sim sendiri terbenam dalam kesangsian, hingga ia menjadi heran dan curiga.
Ia pun dapat melihat Bhok Lin tidak bisa berbuat apa-apa terhadap musuh muda dan lihay itu, hertog muda ini kalah di dalam segala hal.
Tapi anehlah si anak muda.
Di saat dia mendapat menahan pedang Bhok Lin-yang mana terjadi beberapa kalibukannya dia terus membalas menyerang, untuk menurunkan tangan jahat, hanya dia menyerang depan berdepan, menurut cara yang biasa.
Di mata orang biasa, bisa disangka si anak muda takut menghadapi pedang, di matanya Keng Sim adalah lain.
Maka Keng Sim tidak mengerti, kenapa orang agaknya menaruh belas kasihan kepada kawannya itu.
Bhok Lin sendiri tidak dapat melihat musuh melayani ia secara separuh bermain-main itu, tetapi ia menginsafi yang ia menemukan lawan yang tangguh, karena hatinya lantas saja memukul, karena ia menjadi berkuatir.
Tapi ia berkepala besar, di depan orang banyak itu, tidak suka ia mengalah, maka ia berkelahi terus dengan sengit sekali.
Ia menggunakan semua kepandaiannya, ia mengarah segala bagian anggauta yang berbahaya di tubuhnya si anak muda Sembari berkelahi, si anak muda bersenyum.
Ia terus melayani dengan tenang tetapi gesit.
Sekarang ia berdaya untuk dapat merampas pedangnya si putera hertog.
Bhok Lin bertambah bingung, serangannya menjadi terlebih cepat.
Biar bagaimana ia berdaya, tetap ia tidak berhasil menikam lawannya itu.
Orang ada lincah sekali bagaikan naga, tubuhnya seperti berputaran di depannya.
Saking bingung, ia menjadi mulai kacau permainan pedangnya.
Sekarang hertog muda ini kena didesak lawan, saking bingung, ia menjadi nekat, maka menyeranglah ia dengan tipu silatnya.
"Menarik gelang berantai."
Ia mengarah dada lawannya tanpa ia menghiraukan lagi pembelaan diri.
Coa Hok Ciang kaget melihat kenekatannya si hertog muda, lupa pada cegahannya Tiat Keng Sim, ia lompat untuk memberikan bantuannya.
Si anak muda tapinya tertawa.
Ia bukannya membalas menyerang, ia hanya berkelit dari tikaman dahsyat.
Dengan gampang ia membebaskan dirinya dengan tipu silatnya.
"Angin besar meniup rontok bunga."
Tiga kali ia berkelit, lalu mendadak ia merapatkan diri, kedua tangannya bergerak berbareng, ke sikut lawan, ke arah gagang pedang.
"Lepas!"
Ia pun berseru.
Hampir di saat itu juga, pedang terlepas dari tangan Bhok Lin, pindah ke tangan lawannya, siapa kembali tertawa.
Tapi juga menyusul itu.
pedangnya itu diangsurkan ke arahnya.
Bhok Lin kaget dan bingung, saking tidak mengerti, la terdiri menjublak.
Coa Hok Ciang, yang baru tiba di dekat mereka, pun heran, hingga ia tercengang.
Cuma sebentar saja.
ia lantas maju.
"Siauwkongtia. silahkan balik,"
Ia berkata. Sambil mengucap itu, ia berlompat maju kepada si anak muda, tangan kanannya mengancam, mulutnya bersuara.
"Tuan, kau lihay sekali! Sukalah aku si orang tua menerima pengajaran dari kau!"
Pukulan itu ada pukulan Siauwlim Si, walaupun itu hanya ancaman belaka, si anak muda telah melihatnya, maka itu sikapnya segera menjadi lain.
"Pantaslah, jahe makin tua makin panas!"
Ia berkata.
"Coa Suhu, karena kau yang meminta, baiklah, aku mengiringinya "
Sembari berkata, ia melesat ke samping Bhok Lin, sebelum anak hertog ini tahu apa-apa, pedangnya sudah dikasih masuk ke dalam sarungnya!
Melihat orang berlompat, Hok Ciang kaget.
Itulah lompatan yang gesit luar biasa.
Karena ini ia lantas menyerang, maksudnya untuk menolongi Bhok Lin.
Si anak muda memutar tubuhnya, untuk menghadapi busu itu.
Ia membuka kedua tangannya, tangan kiri untuk menangkis, tangan kanan untuk menghantam lengan si anak muda.
Anak muda itu sebaliknya berkelit, untuk terus membalas menotok ke nadi.
Atas itu Hok Ciang menarik tangannya, lalu ia mengajukan duaduanya, untuk kembali menyerang.
Siauwlim Kun, yaitu ilmu silat Siauwlim, dipecah dalam enam bagian, yaitu kesatu Cim Siauwlim, kedua Teklouw Siauwlim, ketiga Bun Siauwlim, ke empat Yauwpou Siauwlim, ke lima Bu Siauwlim, dan ke enam, Sinhoa Siauwlim.
Di antara itu, yang pertama yang paling tangguh, ialah Cim Siauwlim, artinya "Serbuan Siauwlim."
Ilmu ini terdiri daripada tiga puluh tujuh jurus, dan jurus yang pertama yaitu "Chiongthian pauw"
Atau "Terjangan meriam."
Maka itu si bandit muda tidak berani lawan keras dengan keras, ia berkelit seraya memutar tubuhnya, sambil mendak juga.
tempo ia berbalik, sebelah tangannya bagaikan angin cepatnya membabat ke lutut lawannya.
Itu dia yang dinamakan pukulan Harimau Mendekam.
Coa Hok Ciang melonjorkan lutut kiri seraya menekuk lutut kanan, dengan begitu ia bebas dari babatan lawannya, berbareng dengan itu, ia pun menyerang.
Dengan cara ini.
berkelit sambil menyerang, ia bisa menghalau ancaman bahaya itu.
Ketika itu Bhok Lin telah kembali ke damping Keng Sim.
Ia lesu dan tunduk.
"Jangan kecil hati."
Sang ipar menghibur.
"Inilah pertempuranmu yang pertama kali, biarpun kesudahannya begini rupa, ialah orang mengalah terhadapmu, lumayan untukmu."
Bhok Lin heran dan bertambah malu mendengar sang cihu membilangnya bahwa orang mengalah terhadapnya.
"Sebenarnya ilmu silatmu tidak buruk,"
Kata pula sang cihu tertawa.
"Hanya tadinya kau cuma berlatih sendirian, itu mirip orang bicara tentang taktik perang di atas kertas, sekalinya orang berperang, segera ternyata banyak kekosongannya Satu atau dua kali orang gagal, nanti setelah delapan atau sepuluh kali, orang akan jadi berpengalaman. Jangan kau berduka. Nah, kau lihat itu Coa Suhu, dia bersilat dengan ilmu silat Siauwlim Kun yang umum, tetapi tenaganya mantap, dia membuatnya Kimnaciu dari si anak muda kewalahan."
Ketika itu Siauwlim Kun tersiar luas.
hampir tak ada orang yang tak mengetahuinya, cuma banyak orang yang mengenal luarnya saja, baru belajar beberapa j urus, sudah banyak tingkah.
Tidak demikian dengan Coa Hok Ciang.
Dia benar telah memahamkan Siauwlim Kun bagian Cim Siauwlim itu, latihannya sudah sepuluh tahun lebih, ia mahir sebenarbenarnya.
Tiat Keng Sim juga pernah meyakinkan Cim Siauwlim itu, maka untuk menghibur terus pada Bhok Lin, sang engku atau ipar, selagi Hok Ciang bertempur terus, ia memecahkan artinya beberapa jurus yang telah digunakan.
Bhok Lin memasang mata, saban-saban ia menyaksikan tepatnya petunjuk cihu-nya itu, ia jadi menginsafi sarinya ilmu silat itu, bahwa ia sendirinya baru mengerti kulitnya, belum isinya.
Keng Sim pun menonton dengan perhatian, maka kemudian ia merasa, sebab kedua pihak berkelahi secara demikian hati-hati, entah kapan akhirnya perkelahian mereka itu.
Itu waktu, sang matahari turun terus tanpa memperhatikan mereka yang lagi bertarung, turunnya makin rendah, hingga datanglah sang magrib.
Perubahan sang waktu ini membuatnya semua busu menjadi bingung.
Kalau sang malam datang, bukankah keadaan mereka jadi semakin berbahaya?
Juga Coa Hok Ciang, dia sendiri bergelisah.
Ia menang di atas angin tetapi ia tidak sanggup lantas merobohkan lawannya itu.
Lawan muda itu, lama-lama ia bisa kalah ulat, ia nanti keburu letih.
Di sana pun masih ada banyak kawannya si begal, mereka itu telah pada mengambil kedudukan mereka dan ada juga yang sudah mensiapkan anak panah tinggal dilepaskan saja.
"Tahan!"
Tiba-tiba ia berseru seraya lompat keluar dari dalam gelanggang.
"Ada apa, Coa Suhu?"
Tanya si begal muda sembari tertawa sikapnya sangat tenang.
"Kita ada orang-orang terhormat, kita tidak usah omong dusta,"
Berkata Hok Ciang.
"Tentang tugas kami ini, tuan-tuan telah mengetahuinya dengan jelas. Juga aku si orang tua, aku kiranya dapat membade maksud tuan-tuan."
Begal itu tertawa lebar.
"Karena kita kedua pihak sudah sama-sama mengerti, maka baiklah kitajangan omong mutar-mutar lagi!"
Katanya.
"Kamu melindungi barang bingkisan untuk kaisar, kami hendak merampasnya, untuk menyingkirkan pertempuran, silahkan bingkisan untuk kaisar itu kamu serahkan pada kami. Untuk kami, sebegitu saja cukup!"
"Melihat kepandaian kau, laotee, tidak dapat aku tidak mengasi muka kepadamu,"
Kata Hok Ciang, yang menahan sabar.
"cumalah dalam urusan ini, aku tidak dapat berkuasa sendiri."
Pemuda itu tertawa.
"Bicara pergi pulang, kita toh mesti bertempur juga!"
Katanya.
"Jikalau tuan-tuan paksa hendak merampasnya,"
Kata Hok Ciang.
"kami sebagai orang-orang kangouw sejati, tidak berani kami turun tangan, tetapi karena tuan-tuan memaksa, mari kita mengambil suatu cara."
"Bagaimana itu?"
Si begal muda tanya.
"Hari ini kita bertempur di sini untuk suatu keputusan,"
Berkata Hok Ciang.
"mari kita bertempur satu sama satu. Dengan kesetujuan kedua pihak, kita menetapkan beberapa giliran. Kalau apa untung kami yang menang, kami minta tuan-tuan menaruh belas kasihan untuk membiarkan kami lewat di sini."
Si begal muda tertawa nyaring.
"Jikalau kamu yang kalah?"
Ia tegaskan. Hok Ciang tertawa menyeringai. Katanya.
"Jiwa kami sudah dipertanggungkan kepada bingkisan yang kami lindungi ini, maka kalau kami yang kalah, terserah kepada keputusan kamu!"
Coa Hok Ciang telah memikir dalam ketika ia mengajukan usulnya ini.
Ia tidak menghendaki pertempuran kacau.
Kalau satu sama satu, ia harap ia memperoleh kemenangan dan Tiat Keng Sim pun menang.
Beberapa busu pun gagah, kalau satu sama satu, mungkin mereka tidak sampai kalah.
Keng Sim memuji di dalam hati kepada Coa Hok Ciang, yang ternyata sangat sabar dan pandai memikir jauh.
Permintaan itu pantas sekali, cocok dengan kebiasaan kaum kangouw.
permintaan itu lazimnya tak dapat ditolak.
Memang, kalau mereka berkelahi secara kacau, gampang saja bingkisan dibawa lari kawanan begal itu.
"Ha, begitu?"
Kata si begal muda, tertawa.
"Percuma kau menjelaskannya itu padaku. Sebenarnya aku hanya satu kacung!"
Mendengar itu, Hok Ciang heran, hingga ia melengak.
Pemuda itu demikian gagah tetapi dia menyebut dirinya cuma seorang kacung.
Siapa sangka bahwa di samping dia masih ada orang lainnya?
Di antara rombongan berandal terdengar seorang berseru.
"Sang waktu sudah tidak siang lagi, kenapa mesti banyak omong saja? Kalau orang bertempur satu sama satu, sampai kapan itu habisnya? Pihak pembesar tentera banyak akal muslihatnya, jangan kamu kena dipedayakan mereka!"
Penjahat yang berbicara itu pun bergelisah sendirinya karena si anak muda tidak memperoleh kemenangan, ia kuatir pihak sana tentu keburu datang bala bantuannya, dari itu ia pikir baiklah mereka meluruk saja.
Mendengar itu, Coa Hok Ciang tertawa saja "Aku menyangka tuan-tuan adalah orang-orang Rimba Hijau yang kenamaan, siapa sangka kamu sebenarnya segala kurcaci!"
Katanya mengejek.
"Baiklah, kalau kamu main keroyok, aku pun tidak takut! Nah, kamu majulah sebagai tawon gerumutan!"
Kawanan berandal jadi gusar sekali, mereka merasa dihinakan.
Lantas mereka menghunus senjata mereka.
Pihak busu pun siap sedia untuk menyambut serbuan.
Di saat sangat genting itu, dari atas gunung terdengar teriakan.
"Congtocu datang! Saudara-saudara, sabar!"
Begitu mendengar teriakan itu, semua berandal menghentikan tindakannya, sedang si begal muda lompat keluar dari gelanggang, dengan mengasi turun kedua tangannya, ia berdiri di samping untuk menyambut dengan hormat pada pemimpinnya itu.
Pihak berandal lantas jadi sunyi senyap.
Semua busu dan pengiringnya berdiri diam, dengan mata dibuka lebar mereka memandang ke depan, untuk mendapat ketahui siapa itu si kepala penjahat, yang nampaknya demikian dihormati.
Segera juga nampak kabur mendatanginya tiga penunggang kuda, dua yang di depan sambil membawa sebuah bendera besar, di bendera mana ada dilukiskan sekor harimau loreng yang bengis romannya.
Bendera itu berkibar-kibar dengan angkatnya.
Melihat bendera itu.
hati Keng Sim bercekat.
Mendadak ia ingat kepada ceritera tentang "Sin Liong Giok Houw."
Artinya "Naga Sakti dan Harimau Kumala."
Ia lantas menduga kepada Giok Houw.
si Harimau Kumala.
Penunggang kuda yang di tengah itu segera sampai bersama dua pelopornya itu.
si pembawa bendera.
Begitu melihat dia.
semua busu menjadi heran.
Mereka menyangka kepala berandal mestinya bertubuh tinggi besar dan keren romannya.
Tidak tahunya, dialah seorang muda belia, umurnya belum lebih daripada dua puluh tahun, romannya seperti kekanak-kanakan, cuma dia benar tampan.
Begitu sampai kepala berandal itu, yang dipanggil congtocu.
atau pemimpin besar, lantas mengangkat tinggi tangannya dan diulapkan.
"Aku datang terlambat!"
Katanya nyaring.
"Ciu Jiko, apakah kamu sudah berhasil? Semua itu bingkisan dari propinsi-propinsi mana?"
Melihat si pemimpin, Bhok Lin tercengang, hingga ia berseru.
"Oh!"
Tadinya ia hendak membuka mulut lebih jauh, atau mendadak Keng Sim menotok urat gagunya hingga suaranya berhenti tertahan.
Siapakah si pemimpin berandal yang muda itu?
Dialah orang yang dikenal Bhok Lin dan Keng Sim.
maka juga si hertog muda kaget.
Baiknya Keng Sim sabar, ia dapat mengambil sikapnya yang tenang, ia mencegah kongtia muda itu membuka mulutnya.
Penunggang kuda yang muda itu, yang baru tiba.
adalah Siauw Houw Cu.
Dialah putera dari bekas Gilimkun Tongnia Thio Hong Hu.
Karena Thio Hong Hu tidak sudi membantu Kaisar Ki Tin.
yaitu Kaisar Eng Cong.
ia telah dibinasakan secara kecewa dan kejam.
Mulanya Siauw Houw Cu berguru kepada Hek Moko dan Pek Moko, kedua orang India yang berilmu silat tinggi, yang umumnya dikenal sebagai Hek Pek Moko, baru kemudian ia menjadi muridnya Thio Tan Hong.
Pada tujuh atau delapan tahun yang lalu.
Bhok Lin melihat Siauw Houw Cu di gunung Chongsan di Tali, di saat mereka bertemu sama guru mereka.
Ketika itu Siauw Houw Cu baru berumur tiga atau empat belas tahun, usianya itu berimbang sama usia ini putera Bhok Kokkong.
Sebenarnya Bhok Lin berusia dua tahun terlebih tua, akan tetapi menurut peraturan rumah perguruan silat, ia masuk runtunan lebih muda, maka ia mesti memanggil siauwsuko.
yaitu kakak seperguruan yang kecil.
Sama-sama mereka berdua bergaul, mainmain.
mereka akrab sekali satu dengan lain.
Semenjak mereka berpisahan, Bhok Lin sangat mengharap-harap suko cilik itu, siapa sangka di sini, dalam cara luar biasa ini.
mereka dapat bertemu satu dengan lain, tidak heran ia menjadi heran dan lantas berseru memanggil.
Tapi Keng Sim berpikir lain, dia lantas mencegah dengan totokannya itu pada urat gagu.
Totokan ini tak diketahui yang lainnya, sebab perhatian orang lagi ditujukan kepada si kepala berandal yang muda dan tampan itu.
Bhok Lin sebaliknya mendongkol, tapi selagi ia bergusar, Keng Sim membisiki kupingnya.
"Adik Lin. ingat kedudukanmu! Kaulah hertog muda dan pula tengah mengantar bingkisan ke kota raja, sebaliknya di sana, Siauw Houw Cu kepala berandal yang hendak merampas bingkisan ini! Mana dapat kamu saling memperkenalkan diri? Jikalau hal ini diketahui umum, ayahmu bisa celaka!"
Hertog muda ini dapat dikasih mengerti, ia mengangguk, lenyaplah kegusarannya. Sampai di situ. Keng Sim menotok bebas urat gagu iparnya itu. Karena ia masih berkuatir, ia memesan pula.
"Kelihatannya Siauw Houw Cu masih memandang kepada kau, maka kalau sebentar kita bertempur, aku nanti maju merintangi dia, kau sendiri menyingkir dengan barang bingkisan kita."
Sementara itu si berandal muda sudah cecatur kepada pemimpinnya.
"Inilah bingkisan ketiga propinsi Kwitang, Kwisay dan Inlam."
Katanya. Dan itu Toasuhu menantang buat bertempur menurut aturan kaum kangouw, yaitu bertempur satu demi satu. Bagaimana pendapat congtocu?"
Si pemimpin muda tertawa terbahak.
"Ah. mengapakah begitu rumit?"
Katanya, lantang.
"Baiklah setiap propinsi mengajukan satu wakilnya, dia boleh menempur aku, siapa dapat menyambut seranganku sepuluh jurus, aku akan lepaskan dia lewat di sini!"
Di waktu ia berusia muda, Coa Hok Ciang beradat keras, setelah sekarang sudah tua, ia sabar sekali, tidak gampang ia dibangkitkan hawa amarahnya, akan tetapi mendengar suara jumawa si anak muda, ia jadi berpikir.
"Kau begini muda, berapa tinggi kepandaianmu? Walaupun kau banyak lipat lebih tangguh dari si berandal tadi, mungkinkah kau dapat merobohkan aku dalam sepuluh jurus?"
Ia tetap berlaku tenang, ia merangkap kedua tangannya. Katanya.
"Benarlah, gelombang yang di belakang mendampar gelombang yang di depan, orang gagah itu asalnya anak muda, aku sendiri sudah tua tidak berdaya, tetapi biarlah, dengan mengadu tulang-tulangku yang sudah tua ini, aku menyambut sepuluh jurusmu!"
Kata-kata itu halus tetapi sebenarnya menunjuki ketekadan, kepercayaan atas diri sendiri. Siauw Houw Cu ketahui itu. tetapi ia pun pikir dalam hatinya.
"Mustahilkah kau dapat melayani aku sampai sepuluh jurus?"
Segera juga Coa Hok Ciang memperlihatkan sikap siap sedianya.
Lebih dulu ia angkat tangan kirinya, limajarinya separuh dikepal, lama jari itu dimadapi ke atas.
Inilah tanda menghormat.
Menyusul itu ia mengepal tangan kanannya, diangkat dengan sikap "tangan mempersilahkan."
Tanda pembukaan dari ilmu silat Siauwlim Pay, sembari berbuat mana, mulutnya mengucap.
"Silahkan!"
Di dalam Siauwlim Pay, gerakan tangan kiri itu dinamakan "sianciu."
Atau "tangan baik."
Dan tangan kanan itu "okciu,"
Atau "tangan jahat."
Hok Ciang berlaku hormat begini, di satu pihak ia menghormati lawan, di lain pihak ia mau menunjuki ialah orang dari tingkat lebih tua.
dari itu ia mengundang pihak lawan, ialah Siauw Houw Cu, turun tangan terlebih dulu.
Siauw Houw Cu bersenyum.
"Maaf!"
Katanya seraya kedua tangannya diadu bagaikan orang bertepuk tangan.
Perlahan gerakannya itu, agaknya acuh tak acuh, akan tetapi menyusuli tepukan itu, mendadak tangan yang satu meluncur ke depan, anginnya mendesir, jari tangannya menyambar ke muka atau ke dada ke arah jalan darah soankihiat.
Sudah gerakan ini aneh.
itu terus dibarengi sama gerakan tangan kiri, yang menuju ke rusuk di mana ada jalan darah kibun hiat.
Coa Hok Ciang tangguh dan berpengalaman.
menyaksikan serangan lawan itu.
ia bingung juga, tak dapat ia menduga, lawan sebenarnya hendak menyerang ia di jurus yang mana Sebetulnya Siauw Houw Cu telah mempergunakan ilmu pedang "Pekpian Hian Ki Kiamhoat,"
Ialah ilmu pedang Hian Ki Itsu.
yang mempunyai seratus perubahan, hanya ini kali ia tidak menggunakan pedang, ia ubah itu menjadi ilmu silat bertangan kosong, tanpa senjata.
Sudah tentu Hok Ciang menjadi bingung karenanya.
Syukur ia berpengalaman, ia lantas melayani dengan ketenangan.
Ia menekuk tangan kanan ke dalam, tangan kiri ke luar, kakinya menindak dengan "Hankee pouhoat."
Yaitu tindakan "Ayam kedinginan."
Lalu ia membebaskan diri dengan tipu "Pekhoo liangci"-"Burung ho mementang sayap."
Itulah gerakan membebaskan diri sambil membela diri juga, sambil separuh menyerang.
"Bagus!"
Memuji Siauw Houw Cu. yang sambil berseru sambil menyerang, atau "Plak! plak! plak!"
Terdengar tiga kali suara tangan yang mengenai tubuh, tahu-tahu ahli silat yang telah berusia tua itu kena disambar tiga kali beruntun.
Hok Ciang kaget dan mendongkol, sambil berseru keras, ia menyerang dengan "Ciongkun,"
Ialah pukulan rangsakan yang dahsyat sekali.
Apa yang barusan terjadi itu membuatnya semua busu terperanjat.
Siapa sangka sekejap saja, Hok Ciang kena diserang, hingga busu ini jadi seperti kalap.
Siauw Houw Cu pun kagum.
Serangannya barusan mengenai lawannya tetapi tidak secara yang membahayakan, karena serangan itu diperingan oleh perlawanan.
"Pekho liangci "
Karena ini, ia berlaku waspada dan gesit.
Coa Hok Ciang sabar tetapi sekarang ia tidak mau mengandali kesabarannya itu.
Ia menginsafi musuhnya ini muda tetapi lihay, dari itu daripada membela diri.
pikirnya, ia lebih baik mendesak.
Demikian ia sudah merangsak hebat, hingga sebentar saja sudah lewat tiga jurus.
Segera datangnya serangan dahsyat dari Hok Ciang, yang terus berkelahi dengan bengis.
Menurut kebiasaan, Siauw Houw Cu mesti menyambuti, untuk keras melawan keras.
Untuk berkelit, itulah sulit.
Hanya aneh Hok Ciang merasakan, selagi ia menyerang itu, mendadak ada berkelebat sesuatu di depan matanya disusul sama desiran angin.
Yang aneh, yang berkelebat di depan, angin menyambar dari belakang, sebab sambil dengan kesehatannya mendahului mengancam, si begal muda sudah melejit ke samping terus belakang!
Keng Sim melihat gerakan begal lihay itu, ia pun terkejut.
Kali ini Siauw How Cu telah menggunakan ilmu silat ajarannya In Loei, yaitu "Coanhoa kiauwsu."
Atau.
"Menembusi bunga, menyiram pohon."
Itulah ilmu kegesitan tubuh yang luar biasa.
Keng Sim ketahui ini ketika dulu, untuk pertama kali ia bertemu dan bertempur sama le Sin Cu.
si nona telah mempermainkan ia dengan itu ilmu silat yang membuatnya kewalahan.
Karena ini.
ia pun menjadi ingat si nona...
Bhok Lin menonton pertempuran dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga.
Ia kagum bukan main menyaksikan Siauw Houw Cu begitu gesit dan lihay, hampir-hampir ia memperdengarkan seruan dari pujiannya, syukur Keng Sim keburu mencegahnya.
Selagi menonton terus, Keng Sim dan Bhok Lin melihat sebelah tangan Coa Hok Ciang melayang, akan tetapi sebelum hertog muda itu melihat tegas, mendadak ia mendengar Hok Ciang berseru keras dengan tubuhnya terhuyung hingga tiga tindak.
Kali ini Siauw Houw Cu menggunakan tipu silat "Itci Siankang."
Atau "Tusukan Sebuah Jari Tangan,"
Yang ia memperolehnya dari Ouw Bong Hu.
Ia memapaki serangan Hok Ciang, ia menusuk telapakan tangan penyerangnya itu.
Hok Ciang tidak menyangka, ia kalah sebat, telapakan tangannya itu kena tertusuk, maka dia menjadi kesakitan dan kaget, hingga dia mesti mundur.
Yang hebat sebelah tangannya itu menjadi seperti mati, tidak dapat dia menggerakinya pula.
Sedang itu waktu barulah jurus yang ke lima.
Hok Ciang penasaran sekali, mukanya merah, romannya sangat gusar, setelah kakinya terpasang tetap, dia mengawasi dengan bengis.
Siauw Houw Cu melenggak, melihat langit, lalu ia tertawa lebar.
"Sebenarnya hari sudah malam tetapi masih ada sisa lima jurus lagi."
Ia berkata, tenang-tenang saja.
"Karena kita sudah menggunakan banyak tempo, baiklah, aku memberikan ketika untuk kau beristirahat dulu, sebentar kita mulai pula. Apakah kau sudi aku menguruti tanganmu."
Hok Ciang melengak. Ia mendongkol kepada lawan muda ini tetapi ia toh mengagumi untuk hati besarnya dia itu, untuk sifat laki-lakinya.
"Tidak, tidak berani aku membuatnya kau capai,"
Katanya menyeringai.
"Asal kau dapat menyambut lima seranganku. maka ini bingkisan dari propinsi Kwitang bolehlah kau bawa pergi!"
"Aku kuatir kau nanti tak usah menggunakan lima jurusmu itu,"
Berkata Siauw Houw Cu, menyahuti.
Hok Ciang tidak menjawab, ia hanya mengerahkan tenaganya sambil mengusut-usut tangannya yang kaku itu, ia meluruskan jalan darahnya.
Selagi berbuat begitu, dengan mendadak ia menyerang kepada si anak muda, dengan jurus yang dinamakan Kepalan Meriam Kiri.
Itulah serangan dengan sepenuhnya tenaga, dengan tangan kiri yang tidak terluka, serangan itu dibarengi desirannya angin keras.
"Luar biasa!"
Siauw Houw Cu mengasi dengar pujiannya. Ia bukannya mundur, ia bukannya berkelit juga, hanya ia mengangsurkan kepalannya, menyambut kepalan lawan itu, maka kepalan lawan kepalan.
"Duk!"
Itulah namanya adu tenaga, bukan mengadu tipu daya, maka siapa yang terlebih kuat dialah yang seharusnya menang.
Hok Ciang kaget bukan main.
Ia merasakan sakit pada kepalannya itu, sebab ia seperti bukan memukul tangan lawan hanya menghajar besi yang berupa martil, sakitnya tidak cuma di lima jeriji tangan tetapi meresap ke ulu hati, sedang tangannya itu sendiri lantas mengeluarkan darah.
Akan tetapi ia menahan sakit, tanpa menanti lagi, ia menyerang pula, dengan tangan kanannya yang kaku tadi.
Untuk ini ia sampai mengertak giginya.
Ia telah menggunakan jurus "Lianhoan twi,"
Atau "Martil berantai."
Siauw Houw Cu seperti juga tidak menyangkanyangka bakal diteruskan dihajar secara demikian rupa, dadanya kena terhajar "Buk!"
Dan mulutnya mengeluarkan suara tertahan.
Sebab telak sekali serangan itu mengenai sasarannya.
Bhok Lin tadi melihat tegas sambutan Siauw Houw Cu kepada serangannya Coa Hok Ciang, ia kenali namanya jurus sambutan itu.
ialah "Liongkun"
Atau "Kepalan Naga"
Dari ilmu silat "Lohan Ngoheng Sinkun"
Atau Kuntauw Arhat.
Ilmu silat itu si anak muda memperolehnya dari Hek Pek Moko, dan selama mereka berdiam di Chongsan, Siauw Houw Cu pernah mengajarinya padanya.
Maka itu.
bukannya cuma kaget untuk Hok Ciang, ia pun diam-diam memuji siauwsukonya itu.
Tidak demikian dengan Tiat Keng Sim.
"Celaka Coa Hok Ciang!"
Keluhnya kaget.
Semua busu bersorak.
Nyata sekali mereka melihat telaknya serangan Hok Ciang, jago mereka itu.
Tapi hanya sejenak, lantas mereka berdiri diam, mata mereka melongo, mulut mereka terbuka.
Sunyi mereka semua Apakah yang telah terjadi?
Coa Hok Ciang memukul telak ke dada Siauw Houw Cu, hanya aneh, kepalannya itu lantas seperti tak dapat ditarik pulang, tubuhnya pun terjerunuk ke depan, sebagai kena terbetot, maka itu leluasa saja kepalan Siauw Houw Cu melayang ke pinggangnya, hingga segera dia roboh berlutut.
Beda daripada tadi-tadinya, sekarang Siauw Houw Cu menggunakan ilmu yoga dari India, ia membuatnya tubuhnya, yaitu kulit dan dagingnya, ngelepot ke dalam dan jadi licin, maski kena dihajar, kenanya tidak berbahaya.
Bahkan dengan itu ia memancing lawan hingga tubuhnya maju ke depan, supaya merdeka ia membalas menyerang.
Demikian di jurus ke delapan, robohlah busu yang tangguh itu.
Siauw Houw Cu memandang ke arah pihak lawan.
"Siapa lagi yang hendak melawan aku sepuluh jurus?"
Ia menantang.
Keng Sim menghunus pedangnya, ia maju.
Tapi justeru itu, ia dibarengi Wi Kok Ceng.
Busu ini menjerit sambil berlompat maju mengajak kawan-kawannya maksudnya untuk menerjang keluar.
Kawanan busu itu menginsafi tanggung jawab besar dari mereka, di balik itu, mereka jeri terhadap musuh ini yang tangguh.
Bukankah Coa Hok Ciang yang lihay itu roboh secara gampang?
Maka itu mereka pun menyangsikan kesanggupannya Tiat Keng Sim si anak sekolah.
Atau taruh kata Keng Sim dapat bertahan, dia pasti cuma bisa melindungi bingkisannya sendiri, bingkisan lainnya tak nanti terjamin olehnya.
Maka serentak mereka berpikiran, selagi Keng Sim bertempur, mereka mau nerobos keluar, membawa kabur bingkisan mereka..
Wi Kok Ceng maju di depan, panahnya dikasih bekerja.
Dua begal sudah lantas kena dirobohkan.
Siauw Houw Cu melihat aksinya kawanan busu itu, ia berlaku tenang.
Ketika Kok Ceng memanah pula ia mengayun tangannya, menerbangkan sebatang golok terbang, maka di lain saat.
biang panah si busu lantas saja terpapas kutung.
Menampak kesudahan itu.
Siauw Houw Cu berkata sambil tertawa.
"Ciu Jiko, kau bereskanlah ini kawanan ikan yang mau molos dari dalam jaring! Jaga baik-baik supaya kau tidak mencelakai jiwa orang..."
Kemudian ia memutar tubuhnya, akan menghadapi Tiat Keng Sim.
"Kau ini dari propinsi mana?"
Ia menanya.
"Nyalimu bukan kecil eh?"
Sengaja Siauw Houw Cu menanya demikian dan Keng Sim yang cerdik mengetahui itu.
Inilah semacam sandiwara agar orang tidak ketahui yang mereka kenal baik satu dengan lain, agar di belakang hari tak usahlah Keng Sim dan Bhok Lin menjadi menampak kesulitan.
Keng Sim berterima kasih tetapi di dalam hatinya ia berkata.
"Dengan kepandaianku ini, aku tidak percaya yang aku bakal kalah denganmu! Apa perlunya aku menerima budimu?"
Karena ini, ia lantas mengulapkan pedangnya.
"Tocu, silahkan kau menghunus senjatamu!"
Katanya nyaring.
"Aku Tiat Keng Sim, ingin aku belajar kenal denganmu, tak usah dibataskan sampai sepuluh jurus, asal kau dapat mengalahkan aku maka bingkisan dari lnlam ini akan akupeserahkan dengan kedua belah tanganku!"
Siauw Houw Cu tertawa dengan di dalam hatinya ia kata.
"Pantas kakak seperguruanku tidak menyenangi dia, kiranya setelah berselang beberapa tahun, dia tetap jumawa, sedikit juga tak ada perubahannya."
Maka dengan kedua mata memandang langit, ia menyahuti dengan tawar.
"Hari sudah sore. tak usahlah kita mengubah batas sepuluh jurus tadi! Kau boleh menggunakan pedangmu, aku tetap dengan sepasang tangan kosongku!"
Keng Sim heran berbareng mendongkol. Ia tidak menyangka yang Siauw Houw Cu lebih temberang daripadanya sendiri. Karenanya, ia menjadi tertawa sendirinya.
"Kau memberi batas sepuluh jurus, ingat, itulah bukan keinginanku!"
Ia kata. Lantas ia menyerang, dengan jurusnya "Naga sakti masuk ke laut,"
Atau "Sinliongjiphay."
Serangan ini berantai tiga kali, ialah setelah yang pertama gagal, menyusul yang kedua, lalu yang ketiga. Sembari menyerang, ia kata di dalam hatinya.
"Sebenarnya aku menyayangi kau bagaimana sukarnya kau belajar silat, tetapi anak bau, di depanku kau banyak tingkah!"
Maka hebatlah serangannya itu.
Keng Sim menganggap ia sudah bergerak dengan sebat sekali, di luar terkaannya, ia masih kalah sebat.
Dengan gesit sekali Siauw Houw Cu berkelit, menghalau diri dari ancaman bahaya itu, setelah mana, ia menunjuki kelincahannya terlebih jauh.
untuk mencoba menyerang sambil mendesak.
Setelah memecahkan tikamantikaman pedang, ia berbal ik merangsak.
Lincah sekali ia bergerak ke empat penjuru.
Segera Keng Sim heran dan kaget, hingga ia terkesiap.
Inilah ia tidak pernah menduga.
Terpaksa ia perlihatkan ilmu silat pedangnya, Keng To Kiamhoat, hingga pedangnya bergemirlapan di depannya bagaikan bianglala perak.
Ia hendak membataskan desakannya Siauw Houw Cu.
Gerakannya ini adalah perubahan dari jurusnya tadi.
"Sinliong jiphay,"
Namanya yaitu "Poyong Kimsan"
Atau "Gelombang merendam kuil Kimsan Si."
Dalam ilmu silat pedang, Tiat Keng Sim telah mewariskan KengTo Kiamhoat, yaitu ilmu silatnya Cio Keng To, gurunya, maka itu ia membuatnya pedangnya itu bagaikan gelombang pedang.
"Bagus!"
Memuji Siauw Houw Cu. Ia dirangsak tetapi ia tidak membiarkan dirinya kena terdesak. Untuk membuat perlawanan, ia keluarkan ilmu kelincahannya.
"Coanhoa jiauwsi,"
Atau "Menembusi bunga, melibat pohon."
Begitu lekas ia dapat membebaskan diri dari serbuan gelombang pedang itu, ia membalas dengan totokan Itcisian, mengarah lengannya lawan.
Keng Sim tidak mengenal ilmu totok Itci Siankang itu, akau tetapi ia selalu waspada, maka itu ketika ia ketahui ia ditotok.
ia tertawa dingin, pedangnya dipakai menahas jeriji tangan orang.
Hebat serangannya ini hingga Siauw Houw Cu mesti lekas-lekas menarik pulang tangannya itu.
Ia menjadi girang sekali, sebab ia telah berhasil.
Adalah di luar sangkaannya, bahwa dengan tabasannya ini di lain pihak ia telah membuat lowongan tanpa disengaja.
Siauw Houw Cu melihat nyata bagaimana ia ditabas, maka ia mengelit tangannya dengan cepat, begitu lekas tabasan lewat, ia maju, merangsak dengan serangan membalasnya, sebelum lawan keburu membalik atau menarik pedangnya itu.
Dan ini dilakukan dengan gencar, satu tinjuan dengan satu tinjuan.
untuk membuat lawannya itu repot.
Benar-benar Keng Sim kena dibikin, hingga dia kewalahan membela diri.
Siauw Houw Cu menyerang bertubi-tubi bukan dengan tinjunya yang serupa, hanya pelbagai macam, pelbagai cara.
Kecuali langsung dari gurunya, dari beberapa sahabat gurunya pun ia telah memperoleh pelbagai petunjuk yang berharga.
Memang benar, selama tujuh tahun tidak pernah Keng Sim mengabaikan ilmu silatnya tetapi pun benar bagi Houw Cu, yang juga telah memperoleh kemajuan pesat.
Maka kemajuannya bocah ini, oleh Keng Sim diimpikan pun tidak.
Segera dia merasa Siauw Houw Cu sekarang beda jauh dengan Siauw Houw Cu yang bengal dan nakal tujuh tahun yang lampau, pula beda daripada Sin Cu.
Dengan beruntun Siauw Houw Cu menggunakan serangan-serangan dari Liongkun.
Hokun.
Coakun.
Pekpian Hian Ki Cianghoat.
Itci Siankang.
Taylek Kimkong C iang dan yoga.
ia membuatnya Keng Sim mundur terus, setelah mana sambil berseru, ia mengirim serangannya yang terakhir, yang memutuskan, tubuhnya bergerak begitu cepat hingga mata Keng Sim berkunang, baru ia angkat pedangnya, untuk menutup diri.
atau ia merasakan lengannya sakit sekali bagaikan dibacok.
Adalah di itu waktu, sambil tertawa nyaring.
Siauw Houw Cu telah dapat merampas pedang orang, pedang Cihong kiam!
Heran dan kaget, Keng Sim berdiri menjublak Siauw Houw Cu mengawasi lawannya itu, lantas ia berkata.
"Aku membilang satu, satu, aku mengatakan dua, dua, tidak hendak aku memperdaya kau!"
"Pergilah kau ambil bingkisan itu. tak guna kau banyak omong!"
Kata Keng Sim setelah sadar. Ia malu dan putus asa, ia pun mendongkol. Ia pikir.
"Aku menyangka dia masih ingat persahabatan sama adik Lin. siapa tahu setelah menjadi kepala berandal, dia tidak sungkansungkan lagi!"
Siauw Houw Cu menggeleng kepala. Ia membalik pedang rampasannya, gagangnya ia angsurkan kepada lawannya itu.
"Tidak!"
Katanya tertawa.
"Mana dapat aku mengambil bingkisanmu itu? Kau tahu. kau telah dapat melawan aku hingga sebelas jurus!"
Keng Sim tidak ingat lagi pertempuran telah berjalan berapa banyakjurus.
Ia terdesak hebat hingga ia merasa kepalanya pusing dan matanya kabur.
Setelah mendengar perkataan orang, baru ia ingat janjinya Siauw Houw Cu itu serta perkataannya sendiri.
Ia sendiri tidak menghendaki batas sepuluh jurus.
Ia malu tetapi ia menyambuti pedangnya itu, lalu tanpa membilang suatu apa, ia memutar tubuh untuk mengangkat kaki.
Ketika itu pertempuran kacau sudah sampai di akhirnya, pihak busu telah dikalahkan.
Keng Sim pun tidak melihat Bhok Lin, maka tanpa pikir lagi, ia lari keluar dari lembah.
"Cihu. mari!"
Tiba-tiba ia mendengar panggilannya Bhok Lin.
"Syukur, Cihu. bingkisan kita tidak lenyap!"
Keng Sim berpaling. Ia melihat Bhok Lin, iparnya itu. di tepi jalan, tangannya mengangkat bingkisan yang mereka lindungi. Sambil berlari-lari, dia itu menghampirkan Cihu-nya.
"Sungguh berbahaya tadi!"
Katanya pula ipar ini sambil tertawa.
"Aku telah nerobos di antara orang-orang jahat itu. hampir aku kena dibacok hingga dua kali. Syukur tidak kena!..."
"Sebenarnya kawanan itu memandang kepada kepalanya."
Kata Keng Sim, yang dapat menduga.
"Apakah kau kira kau benar mempunyai kepandaian menerobos kepungan mereka itu?"
Bhok Lin tertawa pula.
"Sama-sama tahu saja!"
Katanya.
"Siauw Houw Cu pun berbuat baik terhadapmu! Kalau tidak, kau pun mana bisa nerobos keluar hingga kau tiba di sini?"
Keng Sim jengah, la malu akan memberitahukan iparnya ini duduknya hal yang sebenar-benarnya.
"Sudahlah!"
Kata Bhok Lin. lagi-lagi tertawa.
"kita jangan perdulikan dia berbuat baik atau tidak, sekarang kita sudah lolos dari bahaya. Sayangnya untukku, aku tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Siauw Houw Cu!"
Belum lagi berhenti suaranya Hertog muda ini atau di sana terdengar suara nyaring dari kelenengan kuda, ketika ia menoleh, ia melihat sekor kuda lagi dikasih lari larat ke arahnya.
"Ah, Siauw Houw Cu!"
Serunya.
Siauw Houw Cu.
si penunggang kuda, tiba dengan segera, la tertawa berkakak, tubuhnya mencelat jumpalitan dari atas kudanya, tiba di depan Hertog muda itu.
Nampak nyata kebinalannya seperti dulu hari.
Dia lantas memeluk erat-erat.
"Aku kira,"
Katanya, tertawa.
"setelah menjadi Hertog muda, kau tidak memperdulikan pula padaku!"
"Ah. Siauw Houw Cu!"
Bhok Lin pun berkata.
"Sungguh kau kosen sekali tadi! Aku mengira, sesudah menjadi congtococ. kau tidak kenal aku lagi! Haha, syukur kau masih mengenal persahabatan!"
Keduanya tertawa bergelak.
Keng Sim berdiri mcnjublak di pinggiran, ia serba salah, menanya salah, tidak menanya salah.
Orang pun seperti melupakan padanya.
Tapi sedangnya ia likat itu.
Siauw Houw Cu berpaling padanya.
"Tiat Kongcu, maaf, tadi aku telah berbuat salah terhadapmu!"
Katanya. Keng Sim malu dan mendongkol, mukanya menjadi merah.
"Di sana ada barang bingkisan, pergilah kau ambil!"
Katanya, mengambul. Siauw Houw Cu tertawa. Ia tidak gusar.
"Apakah kau tidak hendak memberi ketika padaku untuk pasang omong dengan Siauwkongtia yang menjadi sahabatku?"
Tanyanya.
"Laginya mana dapat aku menelan pula perkataanku? Kau toh telah dikalahkan sesudah jurus yang ke sebelas! Tidak. aku tidak menghendaki barang bingkisan, sebaliknya, hendak aku mengundang kamu naik ke gunungku berdiam sedikitma dua hari!"
Keng Sim berdiam. Kembali ia malu. Mestikah ia menampik undangan itu? Atau pantaskah ia berkeras terus? Bhok Lin segera datang sama tengah. Dia bertepuktepuk tangan.
"Bagus! Bagus!"
Katanya. Ia menerima baik undangan itu.
"Laginya,"
Berkata pula Siauw Houw Cu.
"kedua busu kamu sudah ada di atas gunungku! Tentunya tidak baik untuk kamu meninggalkan mereka, bukan? Tiat Kongcu, jikalau kau masih hendak mempersalahkan aku, baiklah, di sini aku menghaturkan maaf kepadamu!"
"Cihu."
Kata Bhok Lin sebelum orang sempat membilang sesuatu.
"kau telah dapat melayani sampai sepuluh jurus, itulah bagus, kau telah menang banyak daripada Wi Kok Ceng dan Coa Hok Ciang!"
Keng Sim dapat menggunakan otaknya, maka di akhirnya, ia tertawa.
"Memang untuk kalangan Kangouw, menang atau kalah tak ada artinya."
Demikian katanya.
"Kalau aku menampik undanganmu ini, nanti orang mengatakan aku cupat pandanganku!"
Siauw Houw Cu girang, begitupun Bhok Lin. Congtocu itu lantas bersiul panjang dan nyaring, itulah isyaratnya untuk orangnya membawa datang kuda tunggangan.
"Sungguh aku tidak menyangka kaulah si perampas pelbagai barang bingkisan dari sembilan propinsi!"
Kata pula Bhok Lin kemudian sambil tertaw a.
"Dengan bersendirian saja, aku pun tidak sanggup melakukan itu!"
Siauw Houw Cu mengaku.
Dia juga tertawa.
Ketika itu terlihat orang datang dengan membawa kuda.
Lekas-lekas Siauw Houw Cu berdiri berendeng sama Bhok Lin, sembari berbuat begitu, ia kata dengan perlahan-lahan.
"Siauw Bhok, kau perhatikan! Di sini kau boleh panggil aku Siauw Houw Cu, tidak ada halangannya, tetapi sebentar, setibanya di atas gunung, aku minta kau memanggil aku dengan namaku saja. Aku bernama Thio Giok Houw!"
Bhok Lin tertawa. Bagus nama kawan ini. Giok Houw berarti Harimau Kumala.
"Benar!"
Katanya.
"Kau sekarang ialah Congtocu! Baiklah, di depan orang banyak, aku tidak akan panggil Siauw Houw Cu padamu!"
Siauw Houw Cu bersenyum.
Tidak lama dari itu, mereka mulai mendaki gunung.
Keng Sim mendapatkan perkemahan kawanan berandal ini buruk sekali.
Itu hanya belasan petak rumah yang terbuat dari atap, yang rupanya dibangun secara darurat.
"Siauw... Siauw... eh. engko Houw,"
Berkata Bhok Lin.
"rupanya cuma untuk merampas barang-barang bingkisan maka kau telah membangun perkemahanmu ini?"
"Sedikitpun tidak salah,"
Thio Giok Houw menyahuti.
"Kali ini kau membuat perjalanan, kau lantas mengerti tak sedikit segala sesuatu mengenai kaum Kangouw! Lewat lagi dua hari, aku bakal meninggalkan tempat ini, aku mesti pergi merampas pula barang bingkisan dari lain-lain propinsi."
Malam itu Siauw Houw Cu menjamu Bhok Lin dan Keng Sim. I ladir di antara mereka si anak muda she Ciu, sebagai kawan. Setelah menenggak beberapa cawan arak. Siauw Houw Cu tertawa dan berkata.
"Sebenarnya sayang sekali barang bingkisan kamu dihaturkan kepada raja si iblis tua itu! Itu artinya mengilas-ilas barang yang sangat berharga! Coba kami mengambil itu, faedahnya bukan main besarnya! Bhok Lin, dapat kau memikir kefaedahannya itu?"
"Cobalah kau menjelaskannya."
Meminta Bhok Lin. Kembali Siauw Houw Cu tertawa.
"Siauw Bhok, kau ingatkah Yap Seng Lim Yap Toako?"
Ia tanya.
"Kenapa tidak? Kecuali kau, dialah yang aku paling ingat! Ya. mana dia enci Sin Cu? Apakah ia ada bersamasama Yap Toako?"
"Sabar."
Kata Giok Houw. tersenyum.
"nanti aku menjelaskannya."
Ia menuang pula araknya dan mencegluk itu.
"Kami merampas pelbagai barang bingkisan itu, sebagian untuk Yap Toako."
Katanya kemudian. Mendengar itu, hati Keng Sim bercekat. Ia lantas berkata di dalam hatinya.
"Dahulu hari aku telah menasihati Sm Cu supaya sekali-sekali jangan dia hidup dalam dunia Kangouw. Buktinya Seng Lim itu, dia tetap tidak dapat mengubah cara hidupnya. Menurut suaranya Siauw Houw Cu ini. terang Seng Lim telah menjadi kepala berandal! Dengan begitu sayang adik Sin Cu, dialah sekuntum bunga segar ditancap di antara najis..."
Bhok Lin sementara itu heran.
"Jadinya Yap Toako yang menitahkan kau merampas barang-barang bingkisan?"
Ia tanya.
"Bukan. Dia bahkan tidak tahu menahu!"
Sahut Siauw Houw Cu.
"Siauw Bhok, jangan kau memotong omenganku."
Lalu dia meneruskan.
"Dan sebagian lagi, itulah untuk orang tua dari Ciu Jiko ini."
Ia menunjuk pada si pemuda she Ciu.
"Kamu dengan saudara Ciu ini baharu pernah bertemu, sebaliknya suhu dan subo adalah sahabat keluarganya turun temurun. Tahukah kamu ia siapa? Kakeknya adalah orang yang pernah menggemparkan wilayah asing dan Tionggoan ialah Kimto Cecu Ciu Kian! Dan ayahnya ialah kepala ikatan kaum Rimba Hijau di wilayah Utara sekarang ini yakni Bengcu Ciu San Bin! Dia bernama Ci Hiap, yang sekarang ini dikena! di dalam kalangan kangouw sebagai Kimto Siauwhiap. Sayang hari ini kamu belum sempat melihat kepandaiaanya dalam ilmu golok Kimto..."
"Sudahlah!"
Berkata Ciu Ci Hiap tertawa.
"Congtocu, jangan kau mengangkat-angkat aku!"
Kemudian ia berpaling kepada Keng Sim, akan menambahkan.
"Tentang Tiat Kongcu ini, telah lama aku mendengar namanya yang besar yang menulikan kuping."
Keng Sim senang diangkat-angkat itu, akan tetapi ia merendahkan diri.
"Itulah pujian yang tidak berani aku terima,"
Katanya.
"Sebenarnya sudah lama aku mengundurkan diri dari kalangan kangouw, maka aku tidak menyangka masih saja ada orang-orang yang menyebut-nyebut namaku!"
Ia merendah tetapi ia masih mengutarakan kebanggaannya.
"Ketika aku pertama kali bertemu sama Toako Yap Seng Lim,"
Berkata Ci Hiap.
"kita telah merundingkan tentang orang-orang gagah di zaman ini, dan yang pertama disebut oleh Yap Toako itu ialah kau, kongcu, Yap Toako mengatakan bahwa kau pernah membantunya dengan menempuh bahaya."
Ketika itu Keng Sim membantui Seng Lim sebenarnya untuk Sin Cu, tetapi yang sekarang peristiwa itu ditimbuli, hal itu membuat hatinya senang juga.
"Itulah urusan kecil, tidak ada artinya!"
Katanya.
"Aku tidak nyana urusan dari tujuh atau delapan tahun yang lampau itu masih disebut mereka suami isteri."
Dari kata-katanya ini, nyata Keng Sim tak bersikap memusuhkan terus pada Seng Lim. Siauw Houw Cu menenggak pula araknya, kemudian ia berkata lagi.
"Sekarang ini bangsa Manchu tengah membangun di timur laut, sedang bangsa Tartar belum lagi nampak kelemahannya. Keadaan kita pun mempunyai sifatnya yang lain. Kakek dari Ciu Jiko ini telah lama menutup mata, usahanya itu dilanjuti oleh ayahnya. Sekarang Peehu Ciu San Bin mempunyai kekuatan beberapa laksa serdadu, ia tidak berani dipandang enteng oleh pemerintah, juga oleh bangsa Manchu dan bangsa Tartar itu. Di timur laut, di barat daya, di tempat seluas beberapa ribu li. Ciu Peehu malang melintang, ia membuatnya bangsa asing tidak berani pergi menggembala ke selatan. Maka itu meskipun benar Ciu Peehu menentang pemerintah, sebaliknya benar juga, nyatanya ia membantu kaizar Beng melindungi negara, bantuan itu lebih berharga daripada pembelaannya lenteranya yang di tempatkan di tapal batas."
"Kalau begitu,"
Berkata Bhok Lin.
"sudah sepantasnya kalau pemerintah mengangkat Ciu Peehu menjadi pangeran!"
"Aha, siauwkongtia kami!"
Tertawa Siauw Houw Cu alias Thio Giok Houw.
"sayang Ciu Jiko tidak berejeki besar seperti kau, sebab ayahnya itu bukan saja tidak menerima anugerah bahkan dia sering-sering diserang tentera pemerintah. Sudah begitu, ada lagi hal yang menyedihkan. Sekarang ini di perbatasan tanah belukar adanya, rangsum sulit dikumpulkannya maka juga sering kejadian tenteranya Ciu Peehu berperang dengan perut mereka kosong!"
Bhok Lin mementang lebar matanya. Dalam soal begini, ia tak tahu banyak.
"Oleh karena itu orang-orang gagah telah berhimpun,"
Berkata Thio Giok Houw terlebih jauh.
"mereka itu telah merundingkan soal memberi bantuan kepada Ciu Peehu. Mengenai itu akulah yang mengajukan usul untuk merampas saja barang-barang bingkisan dari pelbagai propinsi. Bukankah raja naik di tahta dan pelbagai propinsi akan menghadiahkan sesuatu kepadanya? Maka inilah ketika kita yang paling baik. Kita telah mendapat kesetujuan, separuh dari hasil rampasan itu bakal diserahkan kepada Ciu Peehu itu dan yang separuhnya lagi untuk Toako Yap Seng Lim. Sebab paman dari Yap Toako, ialah Siokhu Yap l'jong Liu, seperti Ciu Peehu, sedang berkumpul di ketiga belas kepulauan di Tanghay, di sana Yap Siokhu telah menghimpun orang-orang gagah serta nelayan-nelayan yang melarat di sepanjang pesisir untuk menentang perompak-perompak bangsa kate. Benar perompak kate itu pernah dilabrak pada sepuluh tahun yang lalu akan tetapi golongannya kaum ronin besar jumlahnya, mereka itu mengumpul diri menjadi perompak pula, mereka bergerak kembali. Yap Toako adalah pembantu berharga dari Yap Siokhu. dia sering bekerja sama enci Sin Cu, bekerja sama di pesisir."
Setelah memberikan keterangannya itu, Giok Houw menenggak pula tiga cawan, terus ia memandang Bhok Lin dan tertawa, menanya.
"Nah. Siauw Bhok, kau bilanglah, pantas atau tidak perampasan kami ini atas barang-barang bingkisan untuk raja itu?"
"Pantas! Pantas!"
Sahut Hertog muda itu tanpa berpikir lagi.
Keng Sim kaget, ia bergelisah.
Ia melirik tajam pada iparnya itu.
Di lain pihak, tidak berani ia mengawasi Siauw Houw Cu.
Bukankah ia sendiri lagi bertugas mengantar bingkisan untuk raja?
Thio Giok Houw mengerti keadaan orang.
Ia tertawa dan berkata.
"Sebenarnya aku pun hendak merampas barang bingkisan kamu, akan tetapi Yap Toako membilangi aku. mengingat yang Tiat Kongcu pernah membantu meloloskan tentera rakyat dari bahaya, baiklah kaujangan diganggu."
Mendengar ini, Keng Sim berlega hati, hingga kembali kejumawaannya.
"Dia toh memandang kepadaku!"
Pikirnya. Tapi ia tidak memikir terlebih jauh. walaupun adanya pesan dari Seng Lim itu. jikalau dia bukan berada bersama Bhok Lin, tentulah Siauw Houw Cu tidak ragu-ragu untuk merampasnya juga.
"Di dalam rapat itu juga telah lantas diambil keputusan,"
Berkata pula Thio Giok Houw, melanjuti.
"karena usul keluar dari aku, akulah yang diminta bekerja. Demikian untuk pertama kali di dekat kota raja, di luar dugaan mereka itu. aku telah merampas barang bingkisan dari sembilan propinsi. Berhubung dengan kejadian itu, sekarang di sekitar beberapa ratus li di kota raja itu telah di tempatkan pasukan-pasukan tentera. Tentu saja, karena itu, kami pun tidak turun tangan dengan menanti barang-barang sudah tiba di wilayah kota raja. Pelbagai propinsi terpisah jauh dari kota raja. kalau ada bingkisan di kirim, tentu sekali pengiriman itu tidak dapat diiring oleh pasukan besar, tentulah hanya dipilih pelindung-pelindung yang kosen. Oleh karena sikap pemerintah itu, aku lantas merubah rencanaku, ialah aku minta bantuan orang-orang gagah di pelbagai tempat, untuk mereka memegat dan merampasnya di wilayah mereka masing-masing. Siauw Bhok, hari ini aku mengundang kau ke gunungku ini, untukmu ada faedahnya yang besar, kalau tidak, meskipun kau berhasil lewat di daerahku ini, tidak nanti kau bebas dari wilayah lainnya."
Sembari berkata Siauw Houw Cu mengeluarkan sehelai bendera kecil, ia terus menyerahkan itu pada si Hertog muda.
"Kau bawalah benderaku ini."
Katanya.
"Bendera ini ada lebih menang daripada seratus busu pengiring! Dengan aku tanggung, di tengah jalan tidak bakal ada orang yang berani mengganggu bingkisanmu itu."
Keng Sim melihat bendera itu di mana ada disulamkan gambar sekor harimau. Itulah benderanya Siauw Houw Cu. Bhok Lin menyambuti itu bendera, lalu ia kasihkan pada Keng Sim.
"Cihu,"
Katanya.
"kaulah pengiring bingkisan kita, maka itu bendera ini baiklah kau yang bawa"
Tapi Keng Sim tidak senang, ia bahkan mendongkol.
"Siauw Houw Cu ini mahluk apa?"
Katanya dalam hatinya.
"Kenapa aku mesti berlindung di bawah pengaruhnya?"
Tapi cuma sejenak ia berpikir demikian, atau segera ia ingat.
"Asal aku sampai dengan selamat di kota raja, apakah artinya urusan sekecil ini?"
Maka ia menyambuti bendera itu.
"Ada beberapa nona-nona kecil, adakah mereka itu sebawahanmu?"
Kemudian Bhok Lin menanya Ia ingat nona-nona pengirim surat memakai pisau.
"Kenapa sekarang aku tidak melihat mereka itu?"
Semenjak mulai mendaki gunung, Bhok Lin sudah ingat halnya nona-nona itu dan hendak ia menanyakannya, barang sekarang datang saatnya. Ditanya begitu, Siauw Houw Cu melengak.
"Nona-nona macam apakah itu?"
Ia menanya.
Bhok Lin memberi keterangan halnya semasa di Kunbeng ia menerima surat budek yang ditancapkan pisau belati di waktu malam serta perampasan barang bingkisan propinsi Kuiciu oleh beberapa nona-nona.
Thio Giok Houw heran mendengar keterangan itu akan tetapi pada paras mukanya ia tidak mengentarakan keheranannya itu.
"Engko Houw,"
Berkata pula Bhok Lin habis berceritera.
"ilmu silatnya nona-nona itu tidak dapat dicela akan tetapi meski begitu, aku tidak mengerti kenapa kau berlega hati membiarkan mereka menghadapi Poan Thian Lo? Jikalau bukannya cihu memberikan bantuannya, mungkin dua nona kecil yang datang paling dulu bercelaka di bawah cambuk gergajinya Poan Thian Lo..."
"Oh begitu?"
Kata Siauw Houw Cu tertawa.
"Tiat Kongcoc, kalau begitu aku mesti menghaturkan terima kasih padamu walaupun aku tidak kenal mereka itu."
Bhok Lin heran.
"Apa? Kau tidak kenal mereka?"
Tanyanya.
"Jadi mereka itu bukan sebawahanmu?"
"Aku telah minta bantuannya orang-orang gagah di pelbagai tempat,"
Sahut Thio Giok Houw menjelaskan.
"mereka itu dapat bekerja sendiri-sendiri, dari itu mungkin nona-nona itu adalah anak-anak gadis mereka"
Siauw Houw Cu mengatakan demikian meskipun ia tahu siapa-siapa yang ia mintakan bantuannya dan mengetahui keadaan keluarga mereka tentang nonanona itu ia tidak tahu sama sekali, maka ia cuma dapat menduga, mereka mestinya dari suatu rombongan lain.
Hanya, rombongan siapakah itu?
Kenapa rombongan itu bernyali demikian besar berani merampas sendiri barang bingkisan?
Bukankah untuk perampasan itu, keputusannya telah diambil oleh suatu rapat umum dan pelaksanaannya diserahkan kepadanya sendiri?
Seharusnya, siapa hendak membantu, ia mesti ketahui, dan siapa yang ia tak kenal dan hendak membantu juga, mesti mohon perkenan dulu daripadanya.
Maka itu dari mana munculnya itu beberapa nona-nona?
Tentu sekali Siauw Houw Cu tidak dapat menampakkan segala apa pada Bhok Lin, oleh karena itu setelah menahan Bhok Lin dua hari di atas gunungnya, ia antarkan sahabat itu bersama Tiat Keng Sim turun gunung.
Bersama mereka pun dibebaskan kedua busu yang ditahan, bahkan mereka diberikan kuda tunggang yang baru.
Dengan adanya bendera kecil dari Siauw Houw Cu itu, perjalanan dapat dilakukan dengan aman.
Lima hari kemudian mereka sudah tiba di wilayah gunung Buie San, setelah nanti melintasi Huncuikwan di bukit itu, mereka akan sudah berada di perbatasan kedua propinsi Kangse dan Ciatkang dan memasuki propinsi yang belakangan itu.
Di situlah terletak kampung halamannya Tiat Keng Sim.
Sekian lama Keng Sim masgul dan mendongkol karena ia dikalahkan Siauw Houw Cu, baru sekarang ia dapat melegakan hati.
Buie San adalah sebuah gunung yang kenamaan dari Tiongkok.
Di situ ada terdapat tiga puluh enam puncak serta tujuh puluh dua karangnya yang curam, ada kalinya yang berliku-liku hingga disebut "Buie Kiukiok,"
Atau Sembilan Tikungan, karena mana, gunung itu ada kalinya, kali ada gunungnya Maka siapa keluar dari propinsi Hokkian, di mana gunung Buie San terletak, di mana adanya Huncuikwan, yang merupakan sebagai pintu kota.
di segala penjuru nampak pemandanganpemandangan alam indah permai.
Ada sangat melegakan hari dan menyenangi untuk bertunggang kuda sambil jalan perlahan-lahan di situ menikmati semua pemandangan itu.
Maka tempat ini tepat untuk orang sebagai Keng Sim.
yang di samping ilmu silat paham juga ilmu surat, hingga ia pun adalah seorang sasterawan.
Buie San tak terpisah jauh dari kampung halamannya tetapi belum pernah ia datang ke gunung ini, maka ia menjadi kagum sekali.
"Jikalau bukannya lagi mengantar bingkisan, pasti aku akan berdiam beberapa hari di sini,"
Katanya sambil tertawa. Senang ia dengan ini gunung terkenal, yang mengeluarkan teh Tiongkok paling terkenal (bohea tea). Bhok Lin pun gembira sekali. Ia bertepuk tangan dan berkata.
"Kita mempunyai benderanya Siauw Houw Cu, kita aman di perjalanan, aku lihat tidak ada halangannya untuk berdiam di sini barang dua hari."
Kedua busu pengantar sebaliknya tidak setuju. Mereka menganggap tugas mengantar bingkisan ada tugas berat, yang tidak boleh dialpakan.
"Kamu tidak gemar pesiar,"
Berkata Bhok Lin.
"baiklah kamu berangkat lebih dulu mengatur pondokan di Siangjiauw, di sana kamu boleh menantikan kami. Umpama kata kita bertemu sama orang jahat, kamu toh tidak dapat membantui kami..."
Kedua busu itu menjadi jengah sekali.
"Ya, baiklah Jiwi pergi dulu ke Siangjiauw untuk beristirahat dua hari di sana,"
Keng Sim pun berkata.
"Kedua kuda kami pun Jiw ie bawa bersama. Tentang barang bingkisan, biarlah kami yang membawanya. Kami ada membawa benderanya Siauw Houw Cu, mungkin tak ada orang jahat yang merampasm a. Di kolong langit itu ada berapakah Siauw Houw Cu?"
Mendengar suaranya Keng Sim itu, kedua busu tersebut tidak berani membantah, maka itu dengan membawa kuda Keng Sim dan Bhok Lin, mereka berangkat lebih dulu ke Siangjiauw.
Setelah berada berduaan, Bhok Lin dan Keng Sim masuk jauh ke pedalaman gunung.
Di atas itu ada hawa salju, puncak-puncak bagaikan ketutupan, maka tongkrongannya mirip dengan naga melingkar atau harimau mendekam.
Keindahan pun ditambah sama air mancur dan kali yang berlugat legot.
Mereka melintasi tikungan pertama (kiok kesatu) yang disebut Thio Sian Giam, tikungan kedua, Tiat Poan Ciang, lalu tikungan yang ketiga, Siauw Chong Hong.
Di sini ada sepotong papan, yang menjulang ke atas.
Menurut dongeng maka di jaman kerajaan Cin di sana ada seorang dewa yang bernama Bu Ie Kun yang selama hari raya Tiongciu, pertengahan musim rontok, sudah mengadakan pesta di antara dewa-dewa, habis berpesta diciptakan bianglala menjadi jembatan untuk masuk ke guha, makajadi adalah sisa peninggalan itu.
Mereka pun pergi ke tikungan yang ke empat, Tay Chong Hong, di bawah mana ada Go Liong Tam atau muara Naga Tidur.
Di samping muara itu.
di atas batu.
ada ukir-ukiran empat huruf "Liu Hee Hui Cui"
Dari Cu Hie, sasterawan jaman Song.
"Cu Hie sasterawan tetapi ia mengenal baik keindahan alam,"
Kata Keng Sim sambil tertawa pada Bhok Lin.
"Pernahkah kau baca syairnya yang memuji keindahan Buie Kiukiok ini?"
"Aku tidak terpelajar sebagai kau,"
Sahut sang ipar.
"Coba kau bacakan."
Keng Sim menurut, ia membacakan syair pujian itu. Baru ia mengapal sampai di pujian tikungan yang ke empat, mendadak ada terdengar suara bagaikan kumandang.
"Kalau bukannya sasterawan, mana dia lancang dapat menjelaskan begini rupa? Hebat, hebat!"
Mendengar suara itu, Keng Sim menjadi tidak senang.
Ia merasa dirinya diejek.
Maka ia lantas lari ke arah dari mana suara itu datang, dari dalam rimba, untuk mencari orangnya Akan tetapi ia tidak menemukan siapa juga di dalam rimba atau gunung yang luas itu.
"Sudahlah!"
Berkata Bhok Lin tertawa.
"Kalau nanti kita pulang, cihu tolongi saja aku menulis syair keindahan gunung ini. Lihat puncak itu, romannya aneh, mari kita mendakinya."
Ia menunjuk sebuah puncak di hadapan mereka.
Keng Sim mendongak, untuk mengawasi.
Ia mendapatkan sebuah puncak yang atasnya besar dan bawahnya kecil, mirip dengan pusut, maka anehlah puncak itu.
Di atas itu pun ada sebuah batu besar.
Luasnya puncak itu mungkin sepuluh bauw lebih dan tingginya dua sampai tiga puluh tombak.
Untuk naik ke atas, di tengah-tengah ada renggangan yang ada tangganya, tangga kayu, tangga mana pasti disediakan untuk orang pesiar naik.
Keng Sim berdua Bhok Lin lantas naik di tangga itu, yang terdiri dari tujuh undakan, yang berliku-liku.
Baru mereka sampai di tingkat ketiga,, kembali mereka mendapat dengar suara tertawa manis seperti yang tadi.
"Mesti orang itu berada di atasan dua undak,"
Keng Sim menerka.
Ia mendapat kenyataan, suara datang dari atasan mereka.
Ia lantas naik terus, karena di situ tidak dapat orang mengejar seperti di tanah datar.
Karena itu, hatinya tegang sendirinya.
Tiba-tiba terdengar pula suara, kali ini pertanyaan.
"Eh, Cu Heng, Hee Lian, orang macam apa itu yang mengantar barang bingkisan dari propinsi Hokkian!"
"Dialah seorang piauwsu tua,"
Terdengar suara jawaban, suaranya seorang nona diuga.
"Enci Hee Lian telah bergurau dengan dia itu, yang kumisnya telah dicabuti! Bingkisan itulah yang paling gampang dirampasnya"
Kata-kata ini disusuli dengan tertawa geli.
"Hee Lian, inilah kekeliruanmu!"
Berkata suara nona yang pertama.
"Sudah cukup yang barangnya dirampas. Kenapa kau pun menghina dia?"
"Tetapi nona tidak tahu,"
Berkata nona yang dipanggil Hee Lian itu.
"Piauwsu tua itu sangat bertingkah, sudah dia tidak memandang pada kami. kami pun dipermainkan, diganggu olehnya. Karena aku sangat mendongkol, aku cabut kumisnya supaya dia tahu rasa!"
Keng Sim terkejut.
Teranglah Cun Heng dan Hee Lian ini ada kedua nona yang di Kuiciu telah mempermainkan Poan Thian Lo.
Mendengar suaranya, mestinya merekalah budaknya nona yang suaranya terdengar paling dulu itu.
Inilah heran!
Mereka berdua sudah lihay, entah bagaimana nona majikannya itu!
Siapakah ini nona majikan?
Lalu terdengar pula suaranya si nona, yang tertawa.
"Kamu tidak mengecewakan aku yang telah mengajari silat beberapa tahun pada kamu!"
Demikian katanya.
"Satu kali saja kamu turun tangan, kamu telah berhasil merampas barang bingkisan dari beberapa propinsi! Hanya kenapa kamu mengasi lewat barang bingkisan dari propinsi Inlam?"
"Harap nona ketahui."
Terdengar jawabannya Hee Lian.
"bingkisan itu diantar oleh putera dan menantunya Bhok Kokkong sendiri..."
"Kalau Bhok Kokkong kenapa?"
Si nona tanya.
"Tidak kenapa-napa, nona,"
Menyahut Hee Lian.
"Mustahilkah kita takut akan pengaruh kekuasaannya? Hanya... hanya..."
Baca Juga: Pendekar Cacad 7
Baca Juga: Amanat Marga 8