Eps 7 Pendekar Cacad - Gu Long
Baca online Pendekar Cacad - Gu Long
Cersil Pendekar Cacad - Gu Long.
"Hui-hun-wan merupakan benda yang amat penting artinya bagi Hiat-kiam-bun kita, oleh sebab itu semua masalah telah Pinni atur sedemikian rupa hingga terlihat rapi dan tertata secara baik, harap Buncu tak usah kuatir, nah, Pinni mohon diri lebih dahulu."
Maka berangkatlah Keng-tim Suthay dengan membawa empat orang Hubuncu serta puluhan anggota Hiat-kiam-bun kembali ke kota Lok-yang.
oo Dalam waktu singkat, kuil Keng-koan sudah berubah menjadi pusat komando perguruan Hiat-kiam-bun, sekali pun kekuatan Hiat-kiam-bun untuk wilayah Hopak tidak terlalu besar, tapi di bawah pimpinan Bong Thian-gak, kuil Keng-koan telah diubahnya bagaikan sebuah sarang naga gua harimau.
Dalam tujuh hari, nama besar ketua Hiat-kiam-bun, Jianciat-suseng Bong Thian-gak telah menggetarkan seluruh dunia persilatan.
Yang paling membuat umat persilatan tercengang dan sama sekali tidak menyangka adalah Jian-ciat-suseng ternyata tak lain adalah ketua Hiat-kiam-bun, berita itu membuat pihak Put-gwa-cin-kau dan Kay-pang merasa amat terperanjat.
Pada dasarnya Hiat-kiam-bun memang sudah merupakan suatu perkumpulan yang sangat misterius dalam Bu-lim, tapi semenjak Bong Thian-gak menjadi ketuanya, setiap anggota Hiat-kiam-bun yang berada dalam Bu-lim tidak lagi menutup wajah mereka dengan kain kerudung merah, mereka semua muncul dengan raut wajah asli.
Ketika mereka mulai memperlihatkan paras muka aslinya, pihak Put-gwa-cin-kau serta Kay-pang baru tahu bahwa di antara para Huhoat Hiat-kiam-bun ternyata terdapat pula anggota perkumpulan mereka.
oo Kegelapan telah mencekam seluruh jagad.
Daerah tujuh li di sekitar kuil Hong-kong-si merupakan tempat paling gelap, sepi dan rawan.
Pada saat itulah terlihat ada sesosok bayangan orang sedang berlari mendekati dari arah barat.
Mendadak suara bentakan keras menggema memecah keheningan.
"Siapa di situ?"
Si pejalan malam yang datang dari arah barat telah menghentikan langkah dan mengangkat kepala sambil mengawasi keadaan sekeliling tempat itu dengan seksama.
Di tengah jalan rupanya telah berdiri seseorang, gelak tawa nyaring tadi berkumandang dari mulut si penghadang itu.
Di tengah gelak tawanya, dia maju beberapa langkah, katanya lantang.
"Sam-kaucu, selamat bersua, baik-baikkah kau selama berpisah."
Orang yang datang dari barat itu nampak terkejut mendengar teguran itu, sorot matanya yang tajam untuk mengawasi tempat itu.
Lawannya adalah seorang lelaki berperawakan sedang berjubah merah, dia berwajah lebar dan berlengan besar, raut mukanya seperti pernah dikenal, tapi tak teringat olehnya dimanakah mereka pernah bertemu.
Setelah hening sesaat, pejalan malam itu tertawa seram.
"Hehehe, dari dandananmu itu, rupanya kau adalah anggota Hiat-kiam-bun?"
"Betul,"
Jawab lelaki berjubah merah itu sambil tertawa tergelak.
"aku adalah pelindung hukum Hiat-kiam-bun."
"Aku seperti kenal raut wajahmu,"
Seru si pejalan malam dingin. Lelaki berjubah merah turut tertawa.
"Sam-kaucu, mengapa kau mudah lupa? Aku she Ang bernama Teng-siu!"
Berubah hebat paras muka pejalan malam itu, dia berseru tertahan dan berkata.
"Oh, rupanya kau adalah komandan pengawal Ji-kaucu, Ang Teng-siu."
"Betul, memang aku Ang Teng-siu."
Tiba-tiba pejalan malam itu menarik muka, kemudian ujarnya.
"Ang Teng-siu, kau pengkhianat, berani amat kau halangi jalanku."
"Sam-kaucu,"
Kembali Ang Teng-siu tersenyum.
"mengapa kau punya jalan ke surga enggan dilalui, tiada jalan ke neraka kau terobos."
Sepasang mata pejalan malam yang tajam mendadak mengawasi sekejap keadaan sekitar situ, kemudian berkata dingin.
"Ang Teng-siu, berapa orang yang kau bawa malam ini?"
Ang Teng-siu tertawa terbahak-bahak.
"Ketua Hiat-kiam-bun serta sepuluh pelindung hukum telah hadir semua di sini."
Pejalan malam itu terkejut, dia segera bertanya dengan gelisah.
"Dimanakah Jian-ciat-suseng sekarang? Suruh dia keluar menemuiku."
"Thia Leng-juan, harap tahu diri, malam ini kami memang sengaja menunggu kedatanganmu, kau tak usah kurangajar."
Agaknya Thia Leng-juan sudah merasa gelagat malam ini sangat tidak menguntungkan pihaknya, dia masih berusaha mempertahankan ketenangan, pelan-pelan ujarnya.
"Biar naik ke bukit golok atau terjun ke kuali berminyak mendidih, aku sudah pernah merasakan semuanya, memangnya kalian masih mempunyai cara lain yang bisa membuat pecah nyaliku?"
"Sudahlah, kau tidak usah banyak bicara lagi, ketua kami segera akan berjumpa denganmu, lebih baik turuti kami a)a, kalau tidak, terpaksa kami akan berbuat kasar kepadamu."
"Jian-ciat-suseng berada dimana sekarang?"
Sebelum Ang Teng-siu menjawab, dari balik kegelapan Mudah muncul sesosok bayangan orang menjawab dengan suara dingin, ierlun dan keren.
"Thia Leng-juan, aku berada di sini."
"Mengapa kau tidak segera kemari?"
"Aku segera akan datang."
Belum habis perkataan itu, sesosok bayangan orang berkelebat ke hadapan Thia Leng-juan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Thia Leng-juan cekatan sekali, dengan cepat dia menggeser badan menghindar ke sisi kiri.
Biarpun dia menghindar dengan gerakan cukup cepat, namun gerakan tubuh pendatang itu jauh lebih cepat lagi, tahu-tahu lengannya sudah bergerak dan "Plak!!"
Thia Leng-juan mendengus tertahan, kemudian orangnya sudah roboh tak sadarkan diri.
Sewaktu Thia Leng-juan sadar dari pingsannya, ia menjumpai dirinya sudah duduk di atas kursi.
Duduk di hadapan seorang pemuda berjubah merah berlengan tunggal, berwajah pucat dan bermata tajam bagaikan sembilu.
Di sisi kiri dan kanan pemuda berjubah merah itu masingmasing berdiri sepuluh orang laki-laki berjubah merah, mereka semua berwajah kereng, bermata tajam dan kelihatan sangat gagah.
Bergidik Thia Leng-juan menyaksikan semua itu, dengan cepat dia teringat akan perbuatannya membunuh Kauhubuncu Hiat-kiam-bun di kamar tujuh Hong-tok-ciu-lau tempo hari.
Ia pernah berjumpa dengan Jian-ciat-suseng Bong Thiangak ketika berada di Hong-tok-ciu-lau, bahkan sewaktu terjadi peristiwa berdarah itu, Jian-ciat-suseng hadir pula di tempat kejadian.
Siapa sangka Jian-ciat-suseng tak lain adalah ketua Hiatkiam-bun, pemuda berjubah merah berlengan tunggal itu.
Terpaksa Thia Leng-juan harus mengeraskan hati menegur.
"Apa maksudmu membawa aku kemari?"
"Demi menyelamatkan jiwamu,"
Jawab Bong Thian-gak hambar. Thia Leng-juan tertegun.
"Menyelamatkan aku? Apa maksudmu?"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Asal kau bersedia menjawab beberapa pertanyaan dengan jujur, aku bersedia menyelamatkan jiwamu, kalau tidak, perbuatanmu membunuh Kau-hubuncu perguruan kami itu, tentu hanya ada jalan kematian bagimu."
Thia Leng-juan mulai berpikir.
"Bagaimana pun juga kepandaian silatku tidak mungkin bisa menandingi Jian-ciatsuseng."
Maka dia pun bertanya.
"Jawaban apa yang harus kuutarakan?"
"Bagaimana caramu memasuki Put-gwa-cin-kau?"
Thia Leng-juan tertegun, lalu berdiri melongo, lama kemudian baru dia balik bertanya.
"Buat apa kau menanyakan hal itu?"
"Kau cukup menjawab pertanyaanku, hati-hati, salah bicara bisa berakibat hilangnya nyawamu,"
Ancam Bong Thian-gak sambil tertawa dingin tiada hentinya. Thia Leng-juan termenung lama sekali, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Setelah tertawa dingin, Bong Thian-gak berkata.
"Bukankah kau telah membunuh kawanan jago persilatan golongan putih untuk merebut kepercayaan Cong-kaucu sehingga kau diterima menjadi anggota Put-gwa-cin-kau."
Gemetar keras sekujur badan Thia Leng-juan mendengar itu, bentaknya.
"Aku tak pernah membunuh jago mana pun dari Bu-lim Bengcu, aku sama sekali tidak melakukan pembunuhan apa pun."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, dia segera mendesak lebih jauh.
"Lantas mengapa Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau menaruh kepercayaan padamu? Kau pernah menjadi musuh bebuyutan Put-gwa-cin-kau, apakah kau mempunyai sesuatu persyaratan yang dapat membuat perempuan jalang itu percaya serta tunduk kepadamu?"
"Benar, tentu saja aku mempunyai syarat-syarat tertentu,"
Kata Thia Leng-juan.
"Apa syaratnya? Cepat katakan!"
Hardik Bong Thian-gak.
"Tidak sulit bila ingin kukatakan, hanya kau harus menerangkan dulu kepadaku, apa maksudmu menanyakan persoalan itu?"
"Thia Leng-juan, coba kau lihat wajahku baik-baik, tahukah kau siapa aku?"
Thia Leng-juan tertawa dingin.
"Hm, siapa lagi? Tentu kau adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
"Kau masih ingat dengan seorang sahabatmu yang bernama Ko Hong tiga tahun berselang?"
Begitu mendengar nama Ko Hong, gemetar tubuh Thia Leng-juan dibuatnya, matanya membelalak, kemudian mengamati wajah Bong Thian-gak dengan seksama, seakanakan dia sedang berusaha mencari sesuatu.
Tentu saja yang dicari olehnya adalah bekas-bekas yang telah menghilang.
Mendadak paras muka Thia Leng-juan berubah pucat-pias seperti mayat, kemudian gumamnya.
"Kau adalah Ko Hong, benarkah kau adalah Ko Hong?"
"Benar, aku adalah Ko Hong,"
Jawab Bong Thian-gak nyaring.
"aku adalah Ko Hong yang bersama-sama kau dan Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bertiga bertarung membunuh Samkaucu Put-gwa-cin-kau yang telah menyaru sebagai Ku-lo Hwesio."
Thia Leng-juan tak dapat membendung air matanya lagi, ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Bong Thian-gak tidak habis mengerti apa sebabnya dia menangis, padahal seorang Enghiong tak akan melelehkan air mata dengan mudah bila tidak sedang bersedih hati.
"Thia-tayhiap, kau tentunya tahu bukan persoalan apakah yang hendak kutanyakan kepadamu!"
Kembali Bong Thian-gak bertanya dengan suara dingin. Mendadak Thia Leng-juan mendongakkan kepala, kemudian teriaknya.
"Ko Hong, bunuhlah aku! Biarpun mati, aku akan mati dengan mata meram!"
Bong Thian-gak berkerut kening, sebab sikap lawan, dia dapat pula merasakan kesedihan hatinya, dia membentak kembali.
"Thia Leng-juan, bila kau benar-benar seorang Enghiong, benar-benar seorang leleki sejati, ayolah bicara lebih jelas!"
Thia Leng-juan tidak menjawab, dia hanya membungkam. Melihat lawan membungkam, Bong Thian-gak bertanya kembali.
"Thia Leng-juan, dengarkan baik-baik, aku hanya ingin mengetahui nasib Ho Put-ciang, Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok sekalian."
Thia Leng-juan mendongakkan kepala memandang wajah Bong Thian-gak dan termangu, air matanya belum mengering sehingga wajahnya nampak sangat mengenaskan. Tiba-tiba ia menghela napas, lalu berkata.
"Mereka semua telah meninggal dunia."
Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, gemetar keras sekujur badan Bong Thian-gak karena menahan emosi, kembali ia membentak.
"Apa yang menyebabkan kematian Toa-suhengku sekalian? Siapa yang telah membunuh mereka?"
Gemetar keras tubuh Thia Leng-juan, tanyanya.
"Kau menanyakan Toa-suhengmu? Apakah Ho Put-ciang kakak seperguruanmu?"
"Kau tak usah bertanya lagi,"
Tukas Bong Thian-gak.
"cepat katakan, apa yang menyebabkan kematian Toa-suheng sekalian?"
Pada saat itulah tiba-tiba Thia Leng-juan teringat akan sesuatu, dia berseru tertahan.
"Oh Ciang hu mempunyai empat orang murid, salah seorang di antaranya bernama Bong Thian-gak, Ah! Kalau begitu kau adalah murid Oh Ciong-hu Locianpwe yang bernama Bong Thian-gak."
Sinar tajam penuh napsu membunuh memancar dari balik mata Bong Thian-gak, bentaknya.
"Thia Leng-juan, kau belum menjawab pertanyaanku, jika kau tidak menjawab dengan sejujurnya, aku akan membunuhmu sekarang juga."
Sembari berkata, dia mengangkat telapak tangannya pelanpelan.
Kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiam-bun yang berdiri mengelilingi arena mengerti, dalam keadaan demikian asal Thia Lengf-juan salah bicara sepatah kata saja, niscaya dia akan tewas dihajar oleh ketua mereka.
Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi oleh suasana tegang dan mengerikan.
Thia Leng-juan menggetarkan bibirnya seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang terucap keluar, jika dilihat dari kerutan wajahnya serta tubuhnya yang mengejang keras, dia sedang merasakan kengerian yang luar biasa dalam menghadapi kematian.
Namun akhirnya Thia Leng-juan berhasil menenangkan diri, ia menjawab pelan.
"Akulah yang telah mencelakai mereka semua."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Bong Thian-gak telah berteriak.
"Mengapa kau harus mencelakai mereka?"
Telapak tangannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan kilat.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, badan Thia Leng-juan mencelat ke udara dan melayang keluar lewat daun jendela, kemudian.
"Bluk", terbanting ke atas lantai. Secepat sambaran petir Bong Thian-gak melejit ke udara dan menyusul dari belakang. Thia Leng-juan telah terkapar di atas tanah, dia berusaha meronta bangun, namun tak berhasil. Dengan kasar Bong Thian-gak mencengkeram bajunya, lalu mengangkatnya ke atas, bentaknya.
"Ayo cepat katakan, mengapa kau membunuh mereka?"
Sementara itu paras muka Thia Leng-juan pucat-pias seperti mayat, tampangnya kelihatan sangat mengerikan, darah segar mengalir keluar lewat ujung bibirnya seperti sumber mata air, membasahi pakaiannya dan menetes pula ke atas lantai.
Pukulan dahsyat Bong Thian-gak telah mengguncang isi perutnya, membuat dia sadar kematiannya sudah dekat.
"Bong ... Bong Thian-gak, sempurna amat tenaga pukulanmu, aku ... aku gembira sekali kau memiliki pukulan tenaga dalam sedemikian sempurna."
"Apakah kau tidak takut mampus?"
Seru Bong Thian-gak agak tertegun mendengar perkataan itu. Kembali Thia Leng-juan tertawa pedih.
"Pukulanmu barusan telah mengantar aku tak jauh dari kematian, aku ... aku merasa bersalah terhadap segenap rekan-rekan umat persilatan, walau mati, aku mati dengan rela, sekarang ... sekarang aku ingin memberitahukan beberapa hal kepadamu."
Ketika berbicara sampai di situ, secara beruntun dia muntah darah beberapa kali, dengan matanya yang sayu dia pun mencoba memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya bimbang.
"Di ... dimanakah aku sekarang?"
Bong Thian-gak agak tercengang dan sama sekali tak menduga sikap Thia Leng-juan itu, seandainya dia benarbenar seorang licik yang berakal bulus, mengapa sikapnya dalam menghadapi kematian begitu wajar?
"Tempat ini adalah ruang depan kuil Hong-kong-si, Hongkong Hwesio dan muridnya berdiam di ruang belakang, sayang sekali mereka tak akan mendengar jeritanmu tadi, sudah barang tentu mereka pun tak akan kemari untuk menyelamatkan jiwamu."
Ucapan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan suara datar dan hambar. Thia Leng-juan berseru tertahan.
"Ah! Kau ... kau juga tahu kalau aku tengah bersekongkol dengan Hong-kong Hwesio beserta muridnya?"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Beberapa malam berselang, semua pembicaraanmu dengan Long Jit-seng di ruang belakang telah kudengar semua."
"Kalau begitu kau ... kau juga sudah mengetahui pertemuanku dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau/' kembali Thia Leng-juan bertanya dengan sedih. Kembali Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Tentu saja, aku pun sempat melihat kau seperti ular yang patut dikasihani, tunduk di bawah selangkangannya. Hm, pada saat itu aku malu melihat perbuatanmu, juga merasa kasihan untuk nasibmu, sungguh tak kusangka kau adalah seorang yang tak berguna."
Tiba-tiba dua baris air mata bercucuran membasahi pipi Thia Leng-juan, bisiknya lirih.
"Umpatanmu memang benar, umpatanmu memang tepat sekali."
Sesudah mengucapkan perkataan ini, tubuh Thia Leng-juan semakin lama semakin lemah, kerongkongannya mulai gemerutukan. Dia berbisik lagi dengan suara yang sangat lirih.
"Kemungkinan besar Ho Put-ciang sekalian belum ... belum mati, kau ... kau harus bekerja sama dengan Hong-kong Hwesio."
Bergetar keras perasaan Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, tanyanya.
"Apa kau bilang? Toa-suhengku sekalian belum mati? Katakanlah cepat kau, katakan!"
Beberapa kali teriakan beruntun, namun Thia Leng-juan sudah tak sanggup menjawab.
Thia Leng-juan telah menemui ajalnya, tewas seketika.
Tenaga serangan yang maha dahsyat Bong Thian-gak agaknya betul-betul sudah mehancurkan isi perutnya.
Kata-kata terakhir Thia Leng-juan justru menenangkan gejolak perasaan Bong Thian-gak yang sedang dipengaruhi oleh emosi.
Ia tak habis mengerti apa sebabnya Thia Leng-juan mengakui Ho Put-ciang sekalian tewas di tangannya, tapi kemudian dikatakan pula bisa jadi mereka belum tewas.
Bong Thian-gak hanya berdiri termangu sambil mengawasi jenazah Thia Leng-juan, dia tidak habis mengerti apa gerangan yang yang telah terjadi.
"Omitohud!"
Suara pujian sang Buddha tiba-tiba berkumandang seperti suara lonceng berdentang.
Bong Thian-gak sadar dari lamunannya, ia mengangkat kepala.
Tahu-tahu sudah berdiri empat orang.
Mereka adalah tiga orang Hwesio dan seorang kakek berbaju hitam yang kurus kecil.
Kakek berbaju hitam itu cukup dikenal Bong Thian-gak, sebab dia tak lain adalah Long Jit-seng.
Dari ketiga orang Hwesio lainnya, orang yang berada di tengah adalah seorang Hwesio tua berwajah kuning emas yang memelihara jenggot sepanjang dada, kedua alis matanya juga memanjang ke telinga.
Yang aneh adalah kulit badan Hwesio tua ini pun berwarna kuning keemas-emasan, alis mata serta jenggotnya juga berwarna kuning emas, tak bisa disangkal lagi orang itu adalah Hong-kong Hwesio, si pedang sinar kuning.
Di sisi kiri dan kanan Hwesio tua itu masing-masing berdiri seorang Hwesio tua yang jenggotnya hitam sepanjang dada, Bong Thian-gak tahu kedua orang ini tentu murid Hong-kong Hwesio, hanya tak pernah disangka kedua muridnya pun berusia setengah abad lebih.
"Omitohud! Siancay, Siancay ... ternyata Sicu telah membunuh Thia-tayhiap."
Hong-kong Hwesio berbicara dengan suara rendah dan berat, sikap yang serius dan setiap patah katanya cukup menggetarkan perasaan Bong Thian-gak.
Sementara kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiambun telah berdatangan secara beruntun, mereka menempatkan diri di kedua sisi Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak memandang sekejap mayat Thia Leng-juan yang tergeletak di atas tanah, kemudian ujarnya dingin.
"Apabila Hong-kong Hwesio mengetahui asal-usulnya, tentu kau akan beranggapan bahwa kematian Thia leng-juan sudah semestinya dia terima."
"Siancay, Siancay! Sicu telah salah membunuh orang,"
Ucap Hong-kong Hwesio dengan suara dalam.
"Sesungguhnya Thia Leng-juan adalah seorang Enghiong sejati, dia dapat direndahkan, dapat pula menyesuaikan diri dengan keadaan. Pembunuhan yang Sicu lakukan terhadap dirinya sungguh merupakan suatu kejahatan yang patut disesalkan."
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Aku membunuhnya karena perbuatan jahat yang ia lakukan sudah kelewat batas. Kalau kau menuduh aku salah membunuhnya, apakah perbuatannya mencelakai sahabat serta saudara-saudaranya bukan suatu perbuatan yang keji?"
Long Jit-seng yang berdiri di sisi arena mendadak tertawa seram, lalu menimbrung.
"Bong Thian-gak, apakah kedatanganmu ini bermaksud hendak mengajak aku masuk Hiat-kiam-bun?"
Bong Thian-gak segera menarik muka.
"Hiat-kiam-bun tak akan membiarkan manusia licik yang berbicara lain di mulut lain di hati semacam kau untuk tetap hidup di dunia ini."
"Orang she Bong,"
Long Jit-seng tertawa dingin.
"Kau tidak seharusnya membunuh Thia Leng-juan di kuil Hong-kong-si."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sejak beberapa hari lalu, aku sudah tahu kau hendak memperalat kekuatan Hong-kong Hwesio dan muridnya untuk melenyapkan aku, itulah sebabnya sudah beberapa hari aku membuat persiapan di sekitar kuil Hong-kong-si untuk menanti Thia Leng-juan masuk perangkap, kemudian dengan cara demikian akan kupancing keluar Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya. Coba kau bayangkan? Apakah rencana dengan memasang perangkap semacam ini merupakan perbuatan yang keliru."
Diam-diam Long Jit-seng terkejut, tapi dengan cepat dia telah tertawa licik kembali, sahutnya.
"Betul, memang tak keliru, aku yang telah memandangmu terlalu rendah."
"Omitohud!"
Sekali lagi Hong-kong Hwesio memuji keagungan sang Buddha.
"bila Long Jit-seng bermaksud memancing kemunculan kami guru dan murid membuka pantangan membunuh, mungkin Hong-kong Hwesio tak akan memenuhi harapannya, namun Sicu telah membunuh Thia tayhiap, jadi terpaksa kami guru dan murid benar-benar akan membuka pantangan membunuh."
"Mana ... mana, sebagai seorang pendeta, kau ingin mencampuri pula urusan pertikaian dunia persilatan, cepat atau lambat pasti akan kau langgar juga pantangan membunuh itu."
"Sudah hampir lima puluh tahun lamanya Pinceng menutup diri hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan, sungguh tak disangka orang-orang Bu-lim telah berubah menjadi lebih buas dan ganas."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Kalau hidup mengasingkan diri dalam lingkungan masyarakat, siapakah yang bisa melepaskan diri dari keramaian dunia? Tak heran kau mungkin bersembahyang setiap hari, namun belum bisa melepaskan diri dari pikiran keduniawian."
Hati Hong-kong Hwesio bergetar mendengar perkataan itu, mencorong tajam matanya mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat.
"Siancay, Siancay! Bila kuamati panca-indra Sicu serta pancaran kegagahan dari wajahmu, sama sekali tidak mirip seperti manusia buas yang berhati keji, tapi mengapa Sicu justru membunuh Thia-tayhiap?"
Tiba-tiba Bong Thian-gak menarik muka, kemudian berkata dengan suara lantang.
"Biarpun Thia Leng-juan terhitung anak murid Siau-lim-pay, tapi perbuatannya justru merusak nama baik perguruan, dia telah berkhianat serta mengabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau membantu kaum sesat dan kaum laknat melakukan berbagai kejahatan mencelakai umat persilatan dan membunuh kaum pendekar, apakah aku tak pantas membunuh manusia semacam ini?"
"Omitohud, apakah Sicu mempunyai bukti yang meyakinkan?"
Tanya Hong-kong Hwesio.
"Tiga tahun berselang, Thia Leng-juan telah berkhianat dan menjual Ho Put-ciang serta puluhan jago persilatan yang berada dalam gedung Bu-lim Bencu, apakah bukti ini belum cukup kuat?"
Hong-kong Hwesio segera menggeleng kepala, katanya.
"Apakah Sicu mengetahui dengan pasti kisah yang sebenarnya sampai seluruh orang dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong ditumpas orang pada tiga tahun berselang?"
Bong Thian-gak tertegun mendengar pertanyaan itu, kemudian dengan kening berkerut dia berkata.
"Aku memang tidak mengetahui apa sebabnya gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong sampai tertumpas, namun menurut hasil penyelidikanku, kecuali Thia Leng-juan, segenap jago dalam gedung Bu-lim Bengcu pada waktu itu tidak diketahui nasibnya, sampai sekarang mati hidup mereka pun tetap merupakan teka teki."
"Oleh karena itu Thia Leng-juan menjadi orang yang paling dicurigai membunuh kawanan jago itu, apalagi sebelum ajalnya tiba tadi, Thia Leng-juan juga mengakui bahwa dialah yang telah membunuh Ho Put-ciang serta yang lain-lain."
"Ai, Sicu betul-betul telah salah membunuh orang,"
Hongkong Hwesio menghela napas sedih.
"Thia Leng-juan pernah menceritakan kisah yang sesungguhnya sampai gedung Bu-lim Bengcu ditumpas orang, ai, kematian Thia-tayhiap benarbenar kelewat mengenaskan!"
Helaan napas berulang kali Hong-kong Hwesio membuat perasaan Bong Thian-gak bergetar keras, diam-diam dia bertanya pada diri sendiri.
"Mungkinkah aku telah salah membunuh? Mungkinkah Thia Leng-juan adalah seorang baik?"
Dengan cepat Bong Thian-gak membayangkan kembali setiap gerak-gerik, setiap perkataan yang diucapkan Thia Leng-juan menjelang ajalnya tiba.
Dia memang merasa banyak hal yang mencurigakan, akan tetapi Bong Thian-gak tidak habis mengerti, bila Thia Lengjuan memang bersih dan tidak merasa bersalah, apa sebabnya dia pasrah kepada nasib dan bersedia menerima kematian?
Mungkin Thia Leng-juan mempunyai kesulitan yang tak mungkin bisa diutarakan?
Tapi bukankah dia sendiri mengakui telah membunuh Toa-suheng sekalian?
Bong Thian-gak benar-benar merasa amat resah, masgul dan murung, terutama sekali terhadap kata-kata terakhir Thia Leng-juan menjelang ajalnya tadi.
" ... besar kemungkinan Ho Put-ciang sekalian belum mati."
Yang membuatnya ragu dan tak menentu sekarang adalah perkataan Thia Leng-juan itu, benarkah?
Atau omong kosong?
Sekarang Bong Thian-gak sedikit menyesal, dia menyesalkan apa sebabnya tidak membuat duduk persoalan menjadi jelas lebih dulu sebelum menindak Thia Leng-juan.
Padahal Bong Thian-gak sendiri sama sekali tidak menyangka Thia Leng-juan bakal tewas di tangannya.
Thia Leng-juan pun terhitung seorang jago persilatan kelas satu dalam Bu-lim, kendatipun dia tak bisa meloloskan diri dari serangan Bong Thian-gak, namun mustahil dia bisa tewas hanya dalam satu gebrakan saja.
Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian bertanya.
"Hong-kong Locianpwe, benarkah aku telah salah membunuh Thia Leng-juan?"
Hong-kong Hwesio menghela napas.
"Thia-tayhiap tak seharusnya tewas dalam keadaan demikian, dia harus mengungkapkan kenyataan sebenarnya peristiwa dunia persilatan sebelum mati."
"Dapatkah Hong-kong Locianpwe menerangkan duduk persoalan ini lebih jelas lagi?"
Tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut kencang. Tiba-tiba mencorong sinar membunuh yang amat tebal dari balik mata Hong-kong Hwesio, dia berkata.
"Sicu telah membunuh Thia-tayhiap, apa lagi yang bisa dibicarakan sekarang?"
Bong Thian-gak dapat pula menangkap sorot mata Hongkong Hwesio itu, maka dia pun balik bertanya.
"Hwesio tua, apa yang hendak kau lakukan?"
"Nyawa manusia tak ternilai harganya, Sicu telah membunuh orang, maka kau harus memberi keadilan pula bagi umat persilatan."
"Bila Lohwesio ingin membalas dendam bagi kematian Thia Leng-juan, kuanjurkan lebih baik urungkan saja niatmu itu,"
Ucap Bong Thian-gak dingin.
"Rupanya Sicu beranggapan Lolap tak sanggup menghabisi nyawamu?"
"Bila Lohwesio ingin membunuh aku, kemungkinan besar kau harus mengorbankan tenaga yang amat besar, namun sebelum aku roboh ke atas tanah, mungkin kau sudah kehabisan tenaga untuk menghadapi musuh tangguh yang datang dari luar."
Baru selesai Bong Thian-gak berbicara, mendadak terdengar suara gelak tawa yang amat keras bergema memenuhi seluruh ruangan, gelak tawa itu mulanya berasal dari atas atap rumah, tahu-tahu di tengah halaman telah berdiri seorang lelaki kekar.
Orang itu bukan lain adalah jago nomor tiga Kay-pang, Han Siau-liong.
Setelah berdiri tegak, Han Siau-liong berkata dengan lantang.
"Ketajaman mata Jian-ciat-suseng sungguh mengagumkan sekali, hahaha, hari ini aku Han Siau-liong akan menantang kau berduel."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Mana ... mana, hari ini berapa banyak jagoan yang telah Han-heng bawa serta?"
Setelah tertegun, Han Siau-liong menyahut sambil tertawa.
"Kurang lebih seratus orang dan sekarang seluruh kuil Hongkong-si telah kami kepung."
"Apabila Han-heng bermaksud mencari Long Jit-seng, orangnya berada di sini sekarang, Han-heng boleh menangkapnya dengan segera,"
Ucap Bong Thian-gak tertawa. Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Jian-ciatsuseng betul-betul memahami taktik perang."
"Jangan kelewat sungkan, bila Han-heng tidak turun tangan dengan segera, bila Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau sampai menyusul kemari, belum tentu pihakmu mempunyai kemampuan untuk membekuk Hek-ki-to-cu."
Kembali Han Siau-liong tertawa kering.
"Kau anggap pihak Put-gwa-cin-kau pasti ada orang yang akan muncul ke sini?"
"Telinga umat persilatan saat ini dibentangkan lebar-lebar, rahasia Hong-kong Hwesio bersama Hek-ki-to-cu mengenai rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong sudah bukan rahasia pribadi lagi."
"Kalau begitu, aku seharusnya turun tangan terlebih dahulu,"
Han Siau-liong tertawa.
"Tampaknya Han-heng kuatir orang she Bong akan menjadi nelayan yang beruntung?"
"Betul, aku memang menguatirkan hal ini."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bila Han-heng tidak turun tangan lebih dulu, kemungkinan besar kau akan didahului orang lain."
"Siapa yang akan mendahului diriku?"
Tanya Han Siau-liong.
"Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian."
Selesai perkataan itu, dari tengah ruangan telah berkumandang suara seorang bernada dingin.
"Bocah keparat, kau betul-betul sangat lihai, sampai-sampai jejakku pun kau ketahui."
Suara itu hanya melambung di angkasa, tak nampak sesosok bayangan orang pun yang muncul.
Paras muka Hong-kong Hwesio serta Han Siau-liong yang berada di tengah arena berubah hebat, nama besar Mo Huithian cukup termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini.
Kembali Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, suaranya keras dan memekakkan telinga, kemudian dia berkata.
"Hahaha, semenjak beberapa hari lalu aku sudah tahu Molocianpwe ada maksud mencari diriku, oleh sebab itu untuk menghindari usaha Toa-cengcu melancarkan serangan keji, terpaksa aku pun menguntitmu lebih dulu. Hahaha, Toacengcu seperti sudah terpikat oleh harta karun Mo-lay-cingong sehingga lupa menyusahkan diriku."
Hong-kong Hwesio memuji keagungan sang Buddha, kemudian pelan-pelan berkata.
"Mo Hui-thian, sudah puluhan tahun kita tak bersua, Lohwesio kangen sekali kepadamu."
Dari keheningan udara kembali berkumandang suara Toacengcu Kim-liong-kiam-san-ceng.
"Hwesio tua sahabat karibku, aku dengar peta harta karun itu berada di sakumu, entah bersediakah kau meminjamkan sebentar kepada sahabatmu ini?"
"Omitohud, siapa bilang tak boleh? Kalau sobat karib yang meminjam, aku yakin tentu akan dikembalikan."
Mendadak Han Siau-liong berkata kepada Bong Thian-gak.
"Bong-N buncu, tampaknya untuk sementara waktu kita harus menyingkirkan semua perselisihan pribadi di antara kita."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Han-heng, aku lihat watakmu sudah banyak berubah."
"Ya, keadaan dan suasanalah yang memaksaku berbuat demikian,"
Ucap Han Siau-liong. Kembali Bong Thian-gak tersenyum.
"Pihak Hiat-kiam-bun kami sama sekali tidak tertarik pada peta harta karun itu, tapi ... kami pun enggan membiarkan peta harta karun itu terjatuh ke tangan partai atau perguruan mana pun, oleh karena itu dia adalah musuh Hiat-kiam-bun kami, jika Han-heng berniat merebut peta harta karun itu, bukankah kita akan segera berubah menjadi musuh bebuyutan?"
"Bagus, bagus sekali,"
Han Siau-liong tertawa lebar.
"pendapat Bong-buncu memang persis seperti pendapatku, tapi berbicara dari situasi yang kita hadapi sekarang, tampaknya kita harus menjalin kerja sama."
"Bagaimana cara kita menjalin kerja sama?"
"Pertama-tama kita harus mencegah peta harta karun itu jangan sampai terjatuh ke tangan siapa pun."
"Tapi peta harta karun itu berada di tangan siapa sekarang?"
Menghadapi pertanyaan itu Han Siau-liong tertegun, ia balik bertanya.
"Bukankah peta itu berada di tangan Hongkong Hwesio?"
Mendadak dari tengah udara berkumandang lagi suara teriakan Mo Hui-thian.
"Hwesio tua sahabat karibku, mengapa kau tidak berhasil menemukan peta harta karun itu?"
"Omitohud, Mo-cengcu, sampai sekarang mengapa kau masih belum juga menampakkan diri?"
Hong-kong Hwesio berkata. Tiba-tiba Han Siau-liong berpaling ke arah Bong Thian-gak dan bertanya sambil tertawa.
"Bong-buncu, apakah kau tahu Mo-loji dimana bersembunyi?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Menurut berita dalam Bu-lim, Toa-cengcu ibarat naga sakti di balik mega yang nampak kepala tak nampak ekor, setelah berjumpa hari ini terbukti bahwa namanya memang bukan nama kosong belaka, hingga sekarang aku masih belum menemukan tempat persembunyiannya, artinya kita berdua telah menderita kekalahan di tangannya malam ini."
Mendengar ucapan itu, Han Siau-liong tertawa terbahak.
"Hahaha, bila ia tidak juga menampakkan diri, selamanya jangan harap dia bisa melepaskan serangan pedangnya untuk melukaiku."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Menurut cerita orang, selama bertarung Mo Hui-thian tidak pernah melancarkan serangan kedua, sebab saat dia menampakkan diri, musuh sudah roboh terlebih dahulu karena tertusuk, konon kecepatan gerak pedangnya tidak berada di bawah kemampuan Liu Khi."
"Aku dengar Liu Khi sudah bertarung melawan Bonglumen?"
Tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.
"Aku tak lebih hanya mencoba pisau terbang daun Lilinya -aja/' kata Bong Thian-gak tertawa.
"Liu Khi dari partai kami memiliki jurus serangan yang nangat lihai dan kelihaiannya terletak pada permaianan golok mustika ynnK tersoreng di pinggangnya itu."
"Ya, aku pun pernah mendengar orang membicarakan hal itu,"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Menurut pendapat Bong-buncu, mungkinkah antara Hongkong Hwesio dengan Mo-loji telah terjalin suatu hubungan yang sangat akrab dan sehidup semati?"
"Ah, aku rasa mereka hanya saling memanfaatkan kelebihan lawan, padahal keduanya sama-sama mempunyai rencana tertentu,"
Jawab Bong Thian-gak sambil sengaja meninggikan suaranya. Han Siau-liong tertawa.
"Hahaha, kalau begitu di antara kita tak ada seorang pun yang berani turun tangan."
"Apakah Han-heng masih sanggup menahan diri dan menunggu lebih lama?"
"Bila Siaute sudah memperoleh persetujuan Bong-buncu, tentu saja tak akan menunggu lebih lama."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Dengan kekuatan kita berdua, rasanya hanya mampu untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya, apakah Han-heng tidak kuatir Mo Hui-thian akan menjadi si nelayan yang beruntung?"
"Siaute tidak percaya Hong-kong Hwesio dan muridnya begitu sukar dilawan."
Bong Thian-gak tertawa ringan.
"Kalau begitu dengan kemampuan Han-heng seorang pun sudah cukup untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya, buat apa kau mesti mengajak aku bekerja sama?"
"Yang kukuatirkan adalah Mo Hui-thian yang berada di sisi arena."
"Bukankah dari pihak kalian masih ada Liu Khi?"
Tegur Bong Thian-gak sambil tersenyum. Han Siau-liong tertegun mendengar perkataan itu, kemudian katanya sambil tertawa kering.
"Wah, tampaknya Bong-buncu bukan orang tolol."
"Mana ... mana,"
Bong Thian-gak mengangguk.
"tahu diri, tahu keadaan lawan, setiap pertarungan baru bisa dimenangkan dengan sukses dan gemilang."
"Sekali pun Bong-buncu tak bersedia bekerja sama, dengan kemampuanmu seorang rasanya juga susah menguasai keadaan."
Bong Thian-gak tertawa.
"Seandainya aku bekerja sama dengan Mo Hui-thian atau Hong-kong Hwesio beserta muridnya untuk melawan kalian, mungkinkah bagi Han-heng serta Liu Khi meraih keuntungan besar?"
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, sayang sekali Bong-buneu telah membunuh Thia Leng-juan, kalau tidak, aku memang patut menguatirkan kerja samamu dengan Hong-kong Hwesio."
Sekali lagi Bong Thian-gak tersenyum.
"Biarpun Hong-kong Hwesio ingin membalas dendam bagi kematian Thia Leng-juan, namun peta harta karun jauh lebih penting artinya daripada membalas dendam, oleh sebab itulah hingga sekarang Hong-kong Hwesio masih belum berani bertindak secara sembarangan, masakah Han-heng tidak melihat?"
Sesungguhnya Han Siau-liong telah berusaha keras memeras otak menarik Bong Thian-gak demi kepentingan pihaknya, selain dipakai juga untuk menghadapi Hong-kong Hwesio, tapi Bong Thian-gak bukan orang bodoh, ia cukup memahami maksud dan tujuan Han Siau-liong yang sebenarnya.
Alhasil usaha Han Siau-liong pun menjadi sia-sia belaka.
Di pihak lain, Hong-kong Hwesio sendiri pun bukan orang sembarangan, ia cukup tahu setiap orang yang bersembunyi di sekitar kuil Hong-kong-si pada malam ini merupakan jagojago persilatan yang lihai.
Bila dia berani menyerang satu di antaranya, niscaya pihaknya akan menjadi sasaran pengeroyokan orang lain.
Setelah melalui pengamatan seksama, ia dapat merasakan bahwa musuh yang paling tangguh saat ini tak lain adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.
Sementara itu dari tengah udara kembali berkumandang suara Mo Hui-thian.
"Hwesio sahabat karib, sudah hampir enam puluh tahun kita berkenalan, masa kau tidak bersedia membagi sebagian harta itu kepadaku? Keadaan sekarang sudah jelas, dengan kemampuan kalian beberapa orang rasanya sulit untuk mempertahankan peta harta karun itu, asal Lohwesio menyetujui, aku pun bersedia mengerahkan semua kekuatan kami guna bersama-sama menghadapi partai pengemis, Put-gwa-cin-kau serta Hiat-kiam-bun."
Baru selesai perkataan Mo Hui-thian tadi, dari sisi sebelah barat wuwungan rumah tiba-tiba melintas cahaya putih secepat sambaran kilat menyambar ke atas pohon waru tepat di hadapannya.
Kecepatan cahaya itu sangat luar biasa, sekilas tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata.
Mendadak dari atas pohon waru berkelebat kembali sesosok bayangan orang yang melayang turun ke tengah halaman.
Baik Bong Thian-gak maupun Han Siau-liong mendongakkan kepala.
Ternyata orang yang baru saja melayang turun adalah seorang kakek berbaju abu-abu berbadan bungkuk, menyoreng sebilah pedang antik serta mengenakan kaca mata berbentuk antik.
Dari potongan badannya, siapa pun akan menduga dia adalah Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng yang sudah puluhan tahun termasyhur dalam dunia persilatan dan lebih dikenal orang sebagai si Naga di balik mega Mo Hui-thian.
Agaknya Mo Hui-thian kena dipaksa menampakkan diri oleh lintasan cahaya putih tadi, dia nampak marah sekali, dengan suara dingin menyeramkan dia membentak.
"Liu Khi, malam ini aku telah merasakan kelihaian pisau terbangmu, mengapa kau tak menampakkan diri mencoba sejurus pedang terbangku?"
Sementara itu di atas wuwungan rumah sesosok bayangan orang berbaju hitam berdiri kaku di sana, tidak terlihat bagaimana dia menekuk lutut, tahu-tahu dia sudah melayang turun dan hinggap di sisi Han Siau-liong.
Kemudian dengan pandangan dingin dia memandang sekejap ke arah Mo Hui-thian, setelah itu katanya.
"Mo-loji, kau bisa menghindari pisau terbangku dengan selamat, hal ini sungguh membuat aku merasa sangat kagum."
Han Siau-liong yang berada di samping segera menimbrung pula sambil tertawa.
"Liu-susiok, aku dengar ilmu silat Mo Huithian sangat hebat, tapi yang paling menonjol adalah kemampuannya melukai orang secara diam-diam dengan pedangnya. Sekarang dia telah dipaksa oleh pisau terbang Susiok menampakkan diri, aku pikir, inilah kesempatan baik bagiku untuk mencoba ilmu pedangnya."
Seraya berkata, Han Siau-liong segera melintangkan pedang baja raksasanya di depan dada, lalu teriaknya.
"Motoacengcu, Han Siau-liong dari partai pengemis ingin mencoba kepandaian ilmu pedangmu yang konon dianggap orang sebagai ilmu pedang nomor wahid di kolong langit."
Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian memang pernah disebut orang sebagai jagoan nomor wahid di dunia, Han Siau-liong ternyata berani menantangnya bertarung, boleh dibilang tindakan ini sangat berani.
Mo Hui-thian sama sekali tidak menggubris Han Siau-liong, malah mengawasi Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak dari ujung kepala hingga kaki, kemudian dengan acuh tak acuh dia berkata.
"Ilmu pedangmu masih belum pantas melawanku, kau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri."
Han Siau-liong mendongakkan kepala, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kalau aku belum pantas, siapa yang pantas?"
Mo Hui-thian menuding Bong Thian-gak sambil menjawab.
"Dia masih cukup pantas bertarung beberapa jurus melawanku."
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu tersenyum.
"Ah, terlalu sungkan, sungguh tak kusangka Mo-toacengcu memandang tinggi diriku."
"Sudah semenjak tadi aku tertarik kepadamu, beberapa puluh hari lalu kau pernah mengalahkan putra sulungku, maka aku berencana membayar dengan sebuah tusukan pula kepadamu."
"Aku akan menerima petunjukmu itu dengan senang hati,"
Bong Thian-gak menjawab dingin.
Dalam waktu singkat situasi di tengah arena berubah, kini Bong Thian-gak sudah menjadi musuh Hong-kong Hwesio serta Mo Hui-thian.
Han Siau-liong serta Liu Khi dari Kay-pang merupakan orang-orang yang berakal tajam, mereka tahu situasi yang mereka hadapi sekarang sudah menguntungkan pihaknya, maka sambil berpeluk tangan mereka menantikan perubahan selanjutnya dari sisi arena.
Sepuluh pelindung hukum Hiat-kiam-bun masing-masing telah melolos pedang yang bersinar tajam dari pinggangnya, serentak mereka bergerak membentuk barisan berbentuk setengah lingkaran untuk melindungi Bong Thian-gak.
Pada dasarnya kesepuluh orang pelindung hukum Hiatkiam-bun merupakan jago-jago kelas satu di Bu-lim, apalagi selama beberapa hari belakangan ini Bong Thian-gak telah mewariskan serangkaian ilmu pedang yang aneh kepada mereka, boleh dibilang orang-orang itu sudah terlatih menjadi seorang pengawal yang sangat tangguh.
Tapi Bong Thian-gak cukup tahu bahwa kesepuluh orang pelindungnya masih belum cukup mampu untuk melawan tokoh sakti seperti Mo Hui-thian.
Maka dia segera membentak dengan cepat.
"Sepuluh pelindung hukum, harap mundur!"
Baru saja dia berseru, mendadak Mo Hui-thian telah berseru lebih dulu sambil tertawa dingin.
"Sayang terlalu lambat!"
Baru selesai dia berkata, tubuh Mo Hui-thian sudah menerjang kemuka. Cahaya pedang berkelebat dan ...
"Blum". Jeritan ngeri berkumandang memecah keheningan malam, seorang pelindung hukum Hiat-kiam-bun sudah tertusuk perutnya, darah segar segera menyembur keluar seperti pancuran, setelah tubuhnya gontai beberapa kali, akhirnya dia roboh tak bernyawa lagi. Berhasil membacok seorang korban, Mo Hui-thian maju selangkah ke depan, cahaya tajam kembali berkelebat menyapu seorang yang lain. Oleh karena serangan pedang yang dilancarkan Mo Huithian kelewat cepat, pada hakikatnya Bong Thian-gak serta para pelindungnya tak sempat lagi memberikan pertolongan.
"Blus", lagi-lagi seorang korban roboh bergelimpangan di tanah dengan perut robek dan usus berhamburan kemanamana, darah segar berceceran membasahi seluruh permukaan tanah. Pelindung hukum kedua telah roboh binasa. Pada saat korban pertama roboh, korban kedua menyusul pula roboh terkapar, boleh dibilang peristiwa itu hampir pada saat yang bersamaan. Kaki kanan Mo Hui-thian maju setengah langkah, pedangnya berputar kembali dan kali ini membacok pelindung hukum ketiga yang berdiri di sebelah kanan. Tapi Mo Hui-thian kali ini tidak berhasil dengan sasarannya, sebab baru saja jurus pedangnya dilancarkan, sebuah lengan seperti cakar burung garuda telah mencengkeram pergelangan tangan kanannya. Bagi orang yang belajar ilmu silat, urat nadi adalah bagian penting yang mematikan di tubuh manusia, di samping dua jalan darah kematian lainnya, apalagi kelima jari tangan yang mencengkeramnya membawa desingan angin serangan yang tajam dan menyayat bagaikan bacokan pedang. Oleh sebab itu mau tak mau Mo Hui-thian menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur. Ketika mendongakkan kepala, tampak Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak dengan wajah kereng dan serius sedang mengawasi dua sosok mayat yang terkapar di tanah, kemudian terdengar ia bertanya dengan suara pelan.
"Ang Teng-siu, apakah yang menjadi korban adalah Pui Se-hiong serta Lay Siong-han?"
"Lapor Buncu,"
Segera jawab Ang Teng-siu dengan sedih.
"mereka Pui Se-hiong serta Lay Siong-han."
"Selama Pui Se-hiong dan Lay Siong-han menyusup ke dalam Put-gwa-cin-kau, entah berapa kali mereka harus menghadapi ancaman bahaya maut dan berada di antara hidup dan mati, namun setiap kali mereka selalu berhasil menyelamatkan diri, sungguh tak kusangka baru pertama kali turut aku terjun ke gelanggang, mereka harus menemui ajal secara mengenaskan, aku ... aku merasa amat bersalah dan malu terhadap mereka."
Ketika mengutarakan kata-katanya yang terakhir, suara Bong Thian-gak terdengar gemetar, dari sini bisa diketahui betapa sedih dan murungnya dia.
Sepasang mata Ang Teng-siu pun turut berkaca-kaca, tapi dia sempat berkata dengan suara nyaring.
"Harap Buncu jangan bersedih, kami sepuluh pelindung hukum sudah bersumpah akan mendampingi Buncu hingga titik darah penghabisan, setiap saat kami rela berkorban demi Buncu."
Dari balik mata Bong Thian-gak mendadak mencorong sinar mata tajam yang menggidikkan, ditatapnya wajah Mo Huithian lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan suara dingin.
"Mo Hui-thian, Hiat-kiam-bun sudah bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu."
Terkesiap Mo Hui-thian menyaksikan sorot mata Bong Thian-gak yang menggidikkan hati itu, ia berpikir dalam hati.
"Oh, betapa mengerikan sorot mata orang ini!"
Berpikir demikian, dia lantas tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, kemudian serunya.
"Sejak kau berhasil mengalahkan putraku, aku sudah mempunyai ikatan dendam sedalam lautan dengan Hiat-kiam-bun."
"Mo Hui-thian, mengapa kau tidak mengangkat pedangmu untuk membacok kemari?"
"Kau anggap aku tak berani?"
Jengek Mo Hui-thian sambil tertawa dingin.
Tubuhnya secepat anak panah menerjang tiba.
Cahaya pedang berkelebat, pedang di tangan kanannya segera membacok ke muka, desingan angin tajam menyapu tiba dari sisi sebelah kiri.
Pada hakikatnya jurus serangan yang dipergunakan olehnya itu sangat aneh, sakti dan luar biasa.
Terutama sekali dalam hal kecepatan, boleh dibilang sukar membuat orang melihat dengan jelas bagaimanakah serangan itu dilancarkan.
"Sret", bayangan orang tahu-tahu telah melejit dari bawah cahaya pedang. Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak sudah melompat mundur, pakaian bagian dadanya sudah tersambar robek, koyakan kainnya berkibar ketika terhembus angin. Mo Hui-thian memandang sekejap mata pedang di tangan kanannya dengan pandangan tertegun, wajahnya penuh rasa kaget dan keheranan, setelah itu katanya dengan suara sedingin salju.
"Sastrawan cacat, kau adalah orang pertama dalam Bu-lim yang berhasil meloloskan diri dari jurus seranganku."
Mo Hui-thian disebut orang sebagai jago pedang kelas satu dalam Bu-lim, sudah barang tentu kematangan dan kesempurnaannya dalam permainan pedang luar biasa hebat, tapi setiap jago yang berada dalam arena dapat menyaksikan bahwa permainan pedangnya ternyata masih jauh lebih lihai dari apa yang dibayangkan semula.
Mo Hui-thian memang cukup pantas disebut orang sebagai jago pedang nomor wahid dalam Bu-lim.
Sejak Han Siau-liong, Liu Khi serta Hong-kong Hwesio sekalian menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo Hui-thian untuk menyerang Bong Thian-gak, boleh dibilang semua sependapat.
Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa nyaring.
"Hahaha, ilmu pedang bagus, ilmu pedang bagus, malam ini aku orang she Han benar-benar telah bertambah pengalaman."
Setelah berhenti sejenak, dia menyambung.
"Motoacengcu, dapatkah kau memberitahukan kepada kami, jurus pedang apakah yang kau pergunakan itu?"
Sambil tertawa bangga sahut Mo Hui-thian.
"Itulah ilmu pedang Wi-liong-kiam-hoat (ilmu pedang ekor naga), satu di antara tiga belas jurus ilmu pedang ekor naga hasil ciptaan orang she Mo."
"Lihai, benar-benar sangat lihai,"
Seru Han Siau-liong sambil tertawa.
"bila serangan pedang tadi sedikit maju, niscaya usus Jian-ciat-suseng sudah berhamburan kemanamana."
"Biarpun dia mampu meloloskan diri dari serangan pertama, kedua dan selanjutnya dari ilmu pedang ekor nagaku, tapi jangan harap dia bisa lolos dari ketiga belas jurus ilmu pedang ekor naga yang kuciptakan ini."
Han Siau-liong tertawa lebar.
"Wah, kalau begitu Jian-ciat-suseng sudah dapat dipastikan akan mampus."
"Asal aku berhasrat membunuhnya, aku rasa dia memang sulit untuk lolos dalam kematian."
Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa dingin.
"Mo-toacengcu, aku pikir kau mesti menyiapkan langkah mundur bagi perkataanmu itu."
"Mengapa harus begitu?"
Sekali lagi Han Siau-liong tertawa mengejek.
"Seandainya Jian-ciat-suseng terbukti tidak mampus oleh tiga belas jurus ilmu pedang ekor nagamu, apakah Mo-toacengcu berani mengatakan bahwa engkaulah yang tidak tega membunuhnya?"
Mo Hui-thian mendengus dingin.
"Han Siau-liong,"
Ia berteriak.
"jika kau tidak percaya dengan ilmu pedangku, mengapa tidak kau coba sendiri turun ke gelanggang."
"Mo-toacengcu tak usah terburu napsu, cepat atau lambat pihak Kay-pang pasti akan berhadapan denganmu."
Sementara itu Bong Thian-gak masih berdiri tegak di tempat semula dengan wajah sedingin es setelah ia menerima serangan kilat Mo Hui-thian tadi.
Dia seolah-olah sedang memikirkan suatu masalah atau bisa jadi nyalinya sudah dibuat keder atas kelihaian musuh.
Sementara Han Siau-liong dan Mo Hui-thian masih berbincang-bincang, dia hanya berdiri tanpa bicara ataupun melakukan sesuatu perbuatan.
Tiba-tiba sekilas perasaan girang melintas di wajah Bong Thian-gak, dia seperti orang yang tersesat di tengah gurun pasir dan secara kebetulan menemukan sumber mata air yang bening, mukanya berseri-seri dan semangatnya berkobar kembali.
Mendadak ia berteriak nyaring.
"Mo Hui-thian, mengapa kau tidak lagi melancarkan seranganmu yang kedua?"
Dengan cepat Mo Hui-thian berpaling, hatinya kontan bergetar keras menyaksikan perubahan mimik Bong Thiangak, segera pikirnya.
"Kalau dilihat dari raut wajahnya yang berseri-seri dan nampak sangat gembira, jangan-jangan dia telah berhasil memecahkan perubahan jurus pedangku?"
Berpikir demikian, dengan sikap sangat hati-hati namun ingin tahu, Mo Hui-thian bertanya lagi.
"Apakah kau sudah menemukan sesuatu rahasia?"
"Betul,"
Bong Thian-gak mengangguk.
"aku telah berhasil tahu rahasia jurus pedang ilmu ekor nagamu itu."
"Hehehe, masakah begitu? Aku kurang percaya,"
Jengek Mo Hui-thian sambil tertawa seram.
"Ilmu pedang ekor nagamu berdasarkan kecepatan dan keanehan dalam gerakan, kalau dibilang cepat, kecepatannya sanggup membuat orang tidak percaya, dibilang aneh, keanehannya mencapai taraf yang luar biasa sekali. Bagi seorang yang belajar silat, memang sulit untuk melatih diri hingga mencapai tingkat kecepatan serta keanehan seperti apa yang kau miliki sekarang, bahkan berlatih sampai mati pun belum tentu sanggup mencapainya, kenyataan kau mampu melakukannya. Kau sungguh pintar, ternyata bisa menggunakan teknik dan taktik yang tinggi untuk menggenggam pedangmu secara bergantian antara tangan kiri dan kanan."
Han Siau-liong yang mendengar perkataan Bong Thian-gak itu segera manggut-manggut seakan-akan baru memahami akan sesuatu, dia menyela.
"Ya, betul, ilmu pedang ekor naga milik Mo-toacengcu memang merupakan teknik pertukaran antara genggaman tangan kiri dan kanan."
Berubah paras muka Mo Hui-thian mendengar perkataan itu, pelan-pelan dia berkata.
"Sungguh tak kusangka kau telah berhasil memahami teknik permainan pedangku, hehehe, sayangnya, walaupun kau sudah tahu rahasia pergantian tangan kiri dan kananku, namun bagaikan sedang bermimpi bila ingin lolos dari serangan ketiga belas jurus ilmu pedang ekor nagaku dengan selamat."
"Kalau memang begitu, silakan saja kau lancarkan seranganmu!"
Tantang Bong Thian-gak sambil tersenyum. Mo Hui-thian tertawa dingin.
"Sekali pun kau ingin mampus, buat apa mesti terburuburu? Tunggu sebentar lagi."
"Mo Hui-thian,"
Ujar Bong Thian-gak kemudian dengan suara sedingin salju.
"sebetulnya dengan jurus pedangmu yang aneh dan hebat, kau masih bisa mengalahkan diriku dengan suatu serangan mendadak yang tidak terduga, tapi sekarang kau sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengungguli diriku."
"Kau yakin mampu menghindarkan diri dari ketiga belas ilmu pedangku?"
Tanya Mo Hui-thian dengan nada tidak percaya.
"Aku takkan memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan ketiga belas jurus serangan, pada saat kau melepaskan serangan yang pertama, kemungkinan besar pedangku telah berhasil merenggut nyawamu."
Seolah-olah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat menggelikan, Mo Hui-thian tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung dalam bu-lim, tak pernah seorang pun sanggup mengungguli satu jurus serangan pun dariku, ingin kulihat pada malam ini, apa yang kau andalkan untuk mengungguliku?"
Baru selesai perkataan itu, jurus pedang Mo Hui-thian telah dilancarkan.
"Sret", cahaya pedang tahu-tahu sudah terhadang di tengah jalan oleh kilatan cahaya pedang berwarna merah.
"Cring", desingan nyaring yang memekakkan telinga bergema, sambil menarik kembali pedangnya, Mo Hui-thian melompat mundur. Bong Thian-gak berdiri sambil menghunus pedang darah, hawa pedang yang menyelimuti senjata itu mengepul seperti kabut yang menyelimuti pedang itu.
"Mo Hui-thian, baju bagian dadamu sudah kena tertusuk sebanyak tiga buah oleh mata pedangku."
Paras muka Mo Hui-thian pada saat itu benar-benar amat tak sedap dipandang, ia amat tekejut, ngeri, takut, sedih, kesal dan berbagai perasaan lainnya.
Mo Hui-thian menundukkan kepala memeriksa, tentu saja dia tahu baju bagian dadanya telah bertambah dengan tiga buah lubang pedang, sebab pada saat itu dia merasa kulit badan dan bagian dadanya terasa perih dan sakit, bahkan ada cairan pekat yang membasahi tubuhnya, sudah jelas banyak darah yang bercucuran dari mulut luka itu.
Tapi dari sudut manakah pedang itu menyerang masuk ke dalam tubuhnya?
Sekarang Mo Hui-thian baru betul-betul bisa merasakan bahwa Jian-ciat-suseng memang benar-benar seorang musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, bisa jadi nama besar yang telah dipupuknya selama ini akan hancur di ujung pedang Jian-ciat-suseng itu.
Teringat akan hal itu, air muka Mo Hui-thian segera berubah serius dan amat kereng, pedang disilangkan di depan dada, semua kekuatan dihimpun dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Dengan menggenggam pedang darah di tangan tunggalnya, Bong Thian-gak berkata lagi dengan hambar.
"Mo Hui-thian, tadi kau telah berhasil menusuk robek pakaian di bagian perutku dan sekarang aku pun berhasil melubangi baju bagian dadamu, menang kalah di antara kita pun aku rasa sudah menjadi seri. Tapi kau mesti ingat, dalam bentrokan berikut ini, bisa jadi di antara kita berdua bakal menderita kekalahan total."
"Betul,"
Jawab Mo Hui-thian dengan suara sedingin es.
"dalam bentrokan berikut, bisa jadi seorang di antara kita bakal menemui ajal."
Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu bertanya dengan suara pelan.
"Mo-toacengcu, yakinkah kau mampu mengalahkan diriku?"
Mo Hui-thian tertawa dingin.
"Paling tidak harus makan banyak tenaga."
"Di saat kau berhasil mengalahkan aku, tentunya kau tak akan mampu lagi menghadapi Liu Khi serta Han Siau-liong."
Perkataan itu tepat mengenai pikiran dan perasaan Mo Huithian, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia terbungkam. Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Bong-buncu memang sangat pandai menggoyahkan mental dan iman orang lain, perkataanmu barusan sungguh merupakan pukulan batin yang paling berat baginya, cuma ... tujuan kita semua pada malam ini adalah demi peta rahasia harta karun, bisa jadi kita semua harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk pertarungan antara hidup dan mati."
"Han-heng, tahukah kau peta harta karun itu berada dimana?"
Tanya Bong Thian-gak. Sambil tertawa Han Siau-liong menjawab.
"Persoalan ini cukup kau tanyakan kepada Hong-kong Hwesio, dia pasti tahu."
"Kalau memang begitu, sudah sepantasnya bila Han-heng segera turun tangan terhadap Hong-kong Hwesio dan muridnya."
"Bong-buncu tak perlu kuatir,"
Han Siau-liong tertawa.
"seratus orang lebih jagoan lihai dari Kay-pang telah mengepung rapat kuil Hong-kong-si ini, jadi setiap orang yang berada dalam kuil Hong-kong-si jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."
"Oh, rupanya Han-heng sudah membawa bala bantuan yang begitu besar, tak heran kau tampak sangat tenang dan yakin bakal berhasil."
"Ah, mana ... mana,"
Han Siau-liong tertawa.
"Bong-buncu bakal bekerja sama dengan Hong-kong Hwesio serta Motoacengcu untuk menghadapi Kay-pang?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bagi orang yang tahu keadaan dan bisa mempertimbangkan untung ruginya, dia memang harus berbuat demikian."
Mendengar perkataan ini, Han Siau-liong tertawa terbahakbahak dengan nada menyeramkan.
"Hahaha, sayang seribu kali sayang, antara Bong Thian-gak dan Hong-kong Hwesio maupun Mo-toacengcu sudah terjalin keretakan serta permusuhan, ibarat api dengan air yang tak mungkin bisa digabung."
"Hiat-kiam-bun dengan pihak Kay-pang pun ibarat api dengan air,"
Bong Thian-gak tertawa.
"Kalau begitu Buncu sudah menjadi musuh besar beramairamai, . kita bisa bekerja sama lebih dulu untuk menghilangkan kau dari muka bumi."
"Tapi sayang, kalian tak berani berbuat demikian,"
Bong Thian-gak menjengek sambil tertawa.
"Mengapa?"
Bong Thian-gak tertawa dingin, lalu katanya.
"Sebab siapa saja di antara kalian bila ada yang berani menyerang diriku lebih dulu, maka dia bakal terluka paling dulu di ujung pedangku ini."
Bong Thian-gak telah berdiri pada posisi menguntungkan, Pek-hiat-kiam disilangkan di depan dada, sementara dari posisinya secara lamat-lamat memancar hawa membunuh yang amat mengerikan.
Kalau tadi tiada orang yang memperhatikan hal itu, maka sekarang semua orang telah memperhatikan posisi Bong Thian-gak dengan seksama, diam-diam mereka terkejut.
Terutama Mo Hui-thian, tanpa terasa ia membatin.
"Sungguh berbahaya, kalau aku melancarkan serangan lagi tadi, bisa jadi akan kalah total!"
Setiap jago yang hadir dalam arena sekarang rata-rata merupakan jagoan kelas satu dalam Bu-lim, siapa saja dapat melihat Bong Thian-gak yang berdiri dengan pedang melintang, merupakan posisi ilmu pedang tingkat tinggi yang mengandung kekuatan luar biasa.
Mendadak Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian katanya.
"Sejak Hiat-kiam-bun berdiri, kami tak pernah mengganggu atau menyerang partai dan perguruan mana pun lebih dahulu, kedatangan kami di kuil Hong-kong-si malam ini pun sama sekali tidak berniat untuk mengincar atau memperebutkan peta harta karun Mo-lay-cing-ong, terlebih kami pun tidak bermaksud memusuhi siapa pun, tentu saja aku pun tidak bermaksud membantu pihak mana pun. Sekarang semua keterangan telah kuutarakan secara jelas, tentunya kalian pun tidak usah merasa waswas terhadap Hiatkiam-bun kami!"
"Sungguhkah perkataan Bong-buncu itu?"
Tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.
"Han-heng boleh mencari peta harta karun itu dengan lega!"
"Bong-buncu, seandainya kau tidak berniat mendapatkan peta harta karun itu, aku siap menurunkan perintah kepada anak buahku agar memberi jalan kepada kalian meninggalkan kuil Hong-kong-si ini."
"Untuk meninggalkan kuil Hong-kong-si, bisa segera kami lakukan, tetapi jiwa dua orang pelindung hukum perguruan kami tak dapat dikorbankan dengan sia-sia di tangan Mo Huithian."
"Asal Bong-buncu bersedia meninggalkan tempat ini, aku orang she Han bersedia pula membantu kalian menuntut balas atas kematian kedua orang pelindung hukummu."
"Terima kasih Han-heng, sayang sekali urusan Hiat-kiambun harus diselesaikan pula oleh orang-orang Hiat-kiam-bun sendiri."
"Kalau memang demikian, mengapa Bong-buncu tak melancarkan serangan terhadap Mo-toacengcu?"
"Sebab aku menguatirkan sesuatu, itulah sebabnya hingga sekarang masih belum berani turun tangan."
Mendadak Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya.
"Apakah Bong-buncu menguatirkan kami?"
"Sedikit kuatir saja, yang terutama aku kuatir penyerbuan secara besar-besaran dari pihak Put-gwa-cin-kau."
"Bong-buncu benar-benar seorang yang berotak panjang, cuma saja perhitunganmu malam ini keliru besar, hingga sekarang orang-orang Put-gwa-cin-kau masih belum mengetahui peta harta karun itu."
Kontan Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Pengetahuan Hanheng juga kelewat sedikit. Bila dugaanku tidak salah, bisa jadi orang-orang Put-gwa-cin-kau sudah menyerbu masuk ke dalam kuil Hong-kong-si ini."
"Perkataan Bong-buncu sungguh sukar dipercaya."
"Musuh tangguh sudah di depan mata, biarpun Han-heng tidak percaya pun sekarang harus mempercayainya juga."
Baru selesai perkataan itu diutarakan, dari ujung gedung pelan-pelan berjalan keluar seseorang.
Gerak-gerik orang ini sama sekali tidak menimbulkan suara, di tengah kegelapan hanya sepasang matanya yang nampak mencorong terang seperti bintang timur, dalam sekejap saja orang itu sudah sampai di tengah halaman.
"Si-hun-mo-li."
Long Jit-seng yang pertama menjerit kaget lebih dahulu.
Betul, orang yang baru menampakkan diri tak lain adalah gadis berbaju biru berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.
Tatkala Bong Thian-gak menyaksikan pendatang itu adalah Si-hun-mo-li, paras mukanya berubah hebat.
Mendadak Han Siau-liong berkata.
"Liu-susiok, biar aku pergi menengok keadaan To Siau-hou."
Belum habis ia berkata, Bong Thian-gak telah menghela napas panjang, selanya.
"Tidak usah ditengok lagi! Aku kira sebagian besar anak murid kaum pengemis yang bersembunyi di sekeliling kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah."
"Darimana Bong-buncu bisa tahu?"
"Anak murid kaum pengemis yang bersembunyi di seputar kuil Hong-kong-si dipimpin oleh To Siau-hou, dengan kecerdasan dan kepandaian silatnya, tak mungkin dia membiarkan musuh menyerbu ke dalam kuil Hong-kong-si sedemikian mudahnya, tapi ia telah berjumpa dengan Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Belum habis perkataan Bong Thian-gak, Han Siau-liong sudah berubah hebat air mukanya, dia berseru tertahan, kemudian seperti burung bangau terbang di udara, dia meluncur keluar gedung.
"Han-heng, hati-hati dengan Si-hun-mo-li,"
Mendadak dia berteriak.
Ketika teriakan Bong Thian-gak masih mengalun di tengah udara, Han Siau-liong sudah menjerit kaget, tubuhnya melejit ke tengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali, dia melayang kembali ke tempat semula.
Rupanya di saat Han Siau-liong sedang berlari keluar, Sihun-mo-li yang semula berdiri kaku di tengah halaman gedung sudah menyongsong kedatangannya dengan cepat, bahkan telapak tangannya yang berwarna merah dihantamkan secara langsung ke dada Han Siau-liong.
Bagaimana pun juga Han Siau-liong merupakan seorang jago persilatan berilmu tinggi, sudah barang tentu dia cukup mengetahui kelihaian pukulan itu, serta-merta dia menjatuhkan diri dan berguling di atas tanah untuk menghindarkan diri dari sergapan kilat Si-hun-mo-li itu.
Gagal dengan sergapan mautnya, Si-hun-mo-li segera melejit ke tengah udara dan berjumpalitan beberapa kali secara indah dan manis, kemudian dengan lembut dan enteng dia melayang ke depan menerjang Han Siau-liong.
Seperti guntur membelah bumi Han Siau-liong membentak keras, pedang bajanya disertai gulungan angin serangan yang amat dahsyat langsung membacok ke depan.
Si-hun-mo-li berteriak seperti kicauan burung nuri, tubuhnya yang lembut seperti seekor ular menggeliat, memutar badan menghindarkan diri dari bacokan pedang lawan, kemudian begitu melayang turun di hadapan Han Siauliong, telapak tangannya yang indah menawan itu langsung dihantamkan ke dada lawan.
Kelihatannya saja serangan itu seperti lemah tidak betenaga, namun dalam pandangan seorang ahli, kecepatan gerak serangan itu benar-benar seperti sambaran petir.
Han Siau-liong berseru tertahan, sekujur tubuh berikut pedangnya dijatuhkan ke sisi sebelah kiri, telapak tangan Sihun-mo-li itu pun menggelincir lewat di bawah iga kirinya.
Han Siau-liong ternyata sanggup menghindar dari sergapan maut Si-hun-mo-li, hal ini menunjukkan kepandaian silatnya cukup tangguh.
Akan tetapi perubahan jurus serangan Si-hun-mo-li pun pada hakikatnya cepat sukar dibayangkan.
Terlihat lengannya yang telah menerobos ke muka itu tibatiba menekuk terus menggaet, jari-jari tangannya yang lembut tahu-tahu sudah menghantam pinggang sebelah kanan Han Siau-liong.
Dalam anggapan para jago yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena, kali ini Han Siu Liong tak bakal mampu menghindar lagi dari serangan itu.
"Sret, sret", dua kali desingan tajam mendengung, dua kilatan cahaya putih telah meluncur dari tangan Liu Khi, langsung mengarah jalan darah tenggorokan serta urat nadi tangan Si-hun-mo-li. Senjata rahasia pisau terbang Liu Khi memang termasyhur sebagai senjata rahasia yang tiada duanya di kolong langit. Setiap kali pisau terbangnya dilancarkan, sudah pasti musuh akan terhajar secara telak hingga tewas atau paling tidak terluka dan selama ini tidak pernah meleset, Si-hun-mo-li pun tak dapat menghindarinya. Tapi situasi dalam sekejap telah berubah. Pada saat kedua bilah pisau terbang Liu Khi meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba berkelebat pula serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata menyongsong sambaran itu. Di tengah dentingan nyaring dan percikan bunga api yang memancar kemana-mana, tahu-tahu pisau terbang yang mengancam tenggorokan Si-hun-mo-li sudah terpental dan mengenai tempat kosong. Menyusul kemudian terdengar jerit kesakitan tertahan. Pisau terbang yang lain berhasil menancap di lengan kiri Sihun-mo-li, darah segar pun segera bercucuran dengan derasnya. Di tengah jeritan kagetnya, Si-hun-mo-li segera melompat mundur beberapa tombak. Bagaimana pun juga pisau terbang Liu Khi telah berhasil menyelamatkan jiwa Han Siau-liong dari bencana maha besar. Sedangkan Bong Thian-gak juga telah menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li. Rupanya cahaya bianglala yang berkelebat tadi tak lain adalah serangan pedang Bong Thian-gak. Dengan serangan itu dia telah merontokkan pisau terbang yang mangancam tenggorokan Si-hun-mo-li. Mimpi pun kawanan jago yang berada dalam halaman itu tak mengira Bong Thian-gak bakal turun tangan menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li dari ancaman maut. Liu Khi tertawa dingin, lalu jengeknya.
"Wah, cepat benar gerakan pedang Bong-buncu!"
Sedangkan Han Siau-liong turut membentak pula dengan keras.
"Bong-buncu apa-apaan kau? Si-hun-mo-li adalah musuh besar segenap umat persilatan, mengapa kau malah membgntu dirinya?"
"Biarpun Si-hun-mo-li adalah musuh kita semua,"
Kata Bong Thian-gak.
"akan tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian mencelakai jiwanya."
"Mengapa?"
Teriak Han Siau-liong setengah menjerit.
"Kesadaran Si-hun-mo-li telah punah,"
Ucap Bong Thiangak dengan suara dalam.
"ia membunuh orang, mencelakai orang, karena semua perbuatannya itu bukan muncul atas kehendaknya sendiri, dia pribadi sebetulnya hanya seorang yang mengenaskan dan pantas untuk dikasihani."
Sementara pembicaraan berlangsung, Si-hun-mo-li yang berada di samping arena tertawa seram, tiba-tiba dia menerjang ke arah Bong Thian-gak.
Melihat datangnya terjangan itu Bong Thian-gak menggerakkan Pek-hiat-kiam melepaskan sebuah tusukan ke samping, tujuannya tidak lain untuk membendung gerakan Sihun-mo-li yang mendekati tubuhnya, itulah sebabnya tenaga yang disertakan dalam serangan itu pun tidak terlalu besar.
Siapa tahu Si-hun-mo-li segera menggoyang pinggulnya dan tiba-tiba saja menerobos masuk melalui bawah pedang, lalu telapak tangannya dengan kelima jari tangan mirip cakar maut mencengkeram alat kelamin Bong Thian-gak.
Jurus-serangan semacam ini pada hakikatnya merupakan sebuah jurus serangan mematikan, kecepatan gerakannya pun luar biasa.
Dalam terkejutnya Bong Thian-gak segera mengayunkan kaki kanannya melepaskan tendangan kilat ke arah lengan perempuan itu.
Sampai kini kesadaran Si-hun-mo-li belum pulih, dia seolaholah cuma tahu menyerang musuh dan tidak mengira musuh bakal melancarkan serangan balasan ke arahnya, oleh sebab itu lengannya segera termakan tendangan kilat Bong Thiangak.
Tendangan itu persis menghajar mulut lukanya, diiringi jerit kesakitan Si-hun-mo-li memegang tangan kirinya dengan tangan kanan dan secara beruntun mundur tiga-empat langkah.
Darah segar segera bercucuran dengan derasnya dari lengannya, Bong Thian-gak menjadi tidak tega menyaksikan rasa sakit yang memancar dari wajah perempuan itu, tanpa terasa dia berseru lirih.
"Thay-kun, maafkanlah aku!"
Dari balik mata Si-hun-mo-li memancar sinar buas menggidikkan hati, akan tetapi mendengar panggilan "Thaykun"
Dari Bong Thian-gak itu perasaannya seakan-akan bergetar keras, sepasang matanya yang jeli dan indah segera mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dia seakan-akan sedang membayangkan suatu kenangan yang telah begitu lama dilupakan olehnya.
Agaknya sorot mata maupun suara Bong Thian-gak masih tersisa setitik bekas dan kesan dalam benak Si-hun-mo-li, oleh sebab itu untuk beberapa saat lamanya Si-hun-mo-li menghentikan gerak serangannya.
Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak berseru kembali dengan suara mengenaskan.
"Thay-kun, masih ingatkah kau padaku? Aku adalah Ko Hong."
"Ko Hong", begitu dua patah kata itu meluncur, paras muka Si-hun-mo-li segera berubah hebat. Kini paras mukanya berubah menjadi sedih, murung dan amat mengenaskan sekali.
"Oh ... Ko Hong ... wahai Ko Hong, dimanakah kau berada? dimanakah kau berada? Sungguh mengenaskan kematian itu."
Sejak Si-hun-mo-li terjun kembali ke dalam Bu-lim, selama ini tak pernah seorang pun yang pernah mendengar perempuan itu berbicara.
Tapi malam ini, dia telah berbicara seorang diri.
Ucapannya amat memilukan, membuat orang pedih, seakan-akan suara gumaman orang yang sedang mengigau.
Dengan suara rendah Bong Thian-gak berkata lagi.
"Thaykun, aku adalah Ko Hong, aku belum mati, hanya kehilangan sebuah lengan saja. Thay-kun, aku pasti akan menyembuhkan kesadaranmu yang telah punah itu."
Ketika mendengar perkataan itu, dengan sepasang matanya yang jeli dan bening Si-hun-mo-li mengamati wajah Bong Thian-gak beberapa saat, mendadak dia menggeleng perlahan, sekulum senyuman genit yang membetot sukma tahu-tahu tersungging di ujung bibirnya.
Senyuman itu penuh mengandung daya tarik yang luar biasa, membuat Bong Thian-gak jadi tertegun dibuatnya.
Segenap jago yang berada di halaman gedung itu pun turut tertegun dan termangu-mangu dibuatnya.
Sementara senyuman yang manis memukau hati orang masih menghiasi wajah Si-hun-mo-li, pada saat itu pula tibatiba dia menggerakkan kakinya dan selangkah demi selangkah berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak.
Gerak-geriknya itu dilakukan dengan lemah lembut, sama sekali tiada niat permusuhan, bahkan senyuman yang tersungging di bibirnya pun nampak begitu damai, lembut dan nikmat.
Tapi pada saat itulah tiba-tiba Si-hun-mo-li mengangkat telapak tangan kanannya ke tengah udara dan pelan-pelan ditekan ke atas dada Bong Thian-gak.
Pada saat bersamaan berkumandang pula suara pujian kepada sang Buddha yang keras seperti suara genta di fajar buta.
"Omitohud!"
Serta-merta Bong Thian-gak yang berdiri termangu seperti orang kehilangan ingatan, segera sadar kembali.
Walaupun begitu, suara pujian kepada Buddha itu berkumandang sedikit rada terlambat.
Di saat Bong Thian-gak mendusin dari rasa kagetnya, telapak tangan kanan Si-hun-mo-li sudah menghantam dada Bong Thian-gak secara pelan-pelan.
Dengusan tertahan bergema dari bibir Bong Thian-gak, dadanya serasa dihantam oleh batu raksasa yang beratnya ribuan kati dan matanya berkunang-kunang, tenggorokan terasa, anyir dan darah segar tahu-tahu sudah menyembur dari mulutnya.
Berbareng itu sekujur tubuhnya terlempar beberapa tombak dari tempat semula.
Si-hun-mo-li tertawa seram, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia langsung menerkam ke depan anak muda itu.
"Thay-kun,"
Jerit Bong Thian-gak dengan suara keras.
"kau ... kau benar-benar kehilangan kesadaranmu."
Bong Thian-gak melayang mundur lagi. Sewaktu mendengar jeritan keras itu, sekujur badan Sihun-mo-li tampak gemetar keras, sekali lagi dia berdiri tak bergerak di tempat.
"Omitohud, Sicu sudah terkena pukulannya, berarti tiada obat yang bisa menyembuhkan jiwamu lagi,"
Kata Hong-kong Hwesio sambil berjalan ke samping Bong Thian-gak.
Melihat Hong-kong Hwesio mendekatinya, Bong Thian-gak segera menggerakkan pedang di tangan kanannya menciptakan sebuah gerakan serangan yang ampuh, kemudian sambil tertawa dingin katanya.
"Hwesio tua, aku tidak bakal mati, bila kau ingin membalas dendam bagi kematian Thia Leng-juan, kau mesti menyambut beberapa jurus seranganku lebih dahulu."
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang dan menggeleng kepala, katanya.
"Lolap tak bermaksud bertarung, berhubung aku mempunyai suatu masalah yang tak kupahami, maka mumpung Sicu belum mati, aku ingin menanyakan sampai jelas, harap Sicu bersedia menjawab pertanyaanku itu."
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak berseru.
"Aku tidak bakal mati, bila kau ingin menanyakan sesuatu cepat utarakan!"
Pelan-pelan Hong-kong Hwesio bertanya.
"Belum pernah ada seorang pun yang bisa lolos dalam keadaan hidup setelah terhajar secara telak oleh serangan Si-hun-mo-li, keadaan Sicu saat ini benar-benar berbahaya sekali, ai! Adapun persoalan yang ingin Lolap tanyakan adalah sebutan *Ko Hong' yang Sicu pergunakan tadi, benarkah Sicu adalah orang yang bernama Ko Hong?"
Bong Thian-gak tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, dia berkata.
"Hwesio tua, aku tidak bakal mati dan sekali aku bilang tak akan mampus aku tetap tak akan mampus. Ilmu pukulan paling lihai yang diandalkan Si-hunmo-li adalah ilmu sakti Soh-li-jian-yang-sinkang, padahal Sihun-mo-li hanya berhasil melatih ilmu pukulan Soh-li-jianyang-sin-kang pada tangan kiri. Sedangkan serangan yang bersarang di tubuhku tadi berasal dari telapak tangan kanannya, oleh sebab itu aku tidak bakal mati, aku hanya menderita luka parah isi perutku saja."
Mendengar penjelasan ini, Hong-kong Hwesio berkata.
"Kalau demikian Sicu memang benar-benar adalah Ko Hong, kalau tidak, mustahil kau bisa mengetahui asal-usul Si-hunmo-li sedemikian jelas."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang, Bong Thian-gak barulah namaku yang sebenarnya, Hwesio tua, ada keperluan apa kau menanyakan tentang hal ini?"
Setelah menghela napas panjang, Hong-kong Hwesio berkata.
"Pernahkah Bong-sicu mengira, semasa hidupnya dulu Thia Leng-juan pernah meminta kepada Lolap untuk mencarikan seseorang yang bernama Ko Hong."
"Thia Leng-juan menyuruh kau mencari aku? Apakah dia meminta kau untuk membunuhku?"
Sekali lagi Hong-kong Hwesio menghela napas panjang.
"Ai, Bong-sicu kau salah besar! Ketika Thia Leng-juan Tayhiap meminta Lolap mencarimu, dia meminta Lolap membantu segala sesuatu bagimu, dia berkata kau adalah murid penutup Ku-lo Sinceng dari Siau-lim-pay, sebelum beliau menutup mata, kau pun pernah mempelajari ilmu Tat-mo-khi-kang sehingga kaulah satu-satunya orang yang bisa mematahkan serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li. Di samping menyerahkan pesannya itu kepada Lolap, Thia Lengjuan juga pernah menjelaskan segala sesuatu alasannya menggabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau."
Tatkala mendengar semua itu, sekujur badan Bong Thiangak gemetar keras, dengan sedih dia menyela.
"Jadi Thia Leng-juan tidak pernah menyeleweng dari kebenaran?"
Hong-kong Hwesio menghela napas sedih.
"Sejak permulaan sampai akhir Thia Leng-juan tak pernah menyeleweng dari kebenaran. Untuk menghadapi cengkeraman iblis yang mulai meluas di seluruh dunia persilatan, dia tak segan-segannya mengorbankan diri. Biarpun di luar dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau, padahal sebetulnya dia adalah musuh dalam selimut, itu hanya sebagian saja dari kecerdasan otaknya, ai, dalam keadaan begini, Lolap tidak ada waktu untuk menerangkan segala sesuatunya kepadamu secara jelas, Thian sungguh adil, Thiatayhiap memang benar-benar pahlawan sejati, pendekar perkasa harus mengorbankan jiwanya secara demikian mengenaskan."
Dalam pada itu dalam benak Bong Thian-gak seakan-akan terlintas semua gerak-gerik serta ucapan Thia Leng-juan menjelang ajalnya tadi.
Tiba-tiba sepasang matanya menjadi merah, dengan terbata-bata dia berbisik.
"Aku sangat menyesal, aku telah bertindak gegabah."
Sambil bergumam, selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri jenazah Thia Leng-juan, kemudian menjatuhkan diri berlutut dan berkomat-kamit entah apa yang didoakan.
Dia amat menyesal atas kecerobohan sendiri.
Dia merasa amat sedih, kesal dan murung.
Tiba-tiba dari samping tubuhnya berkumandang suara pujian syukur kepada sang Buddha, kemudian Hong-kong Hwesio berkata pelan.
"Omitohud! Ai, Sicu tak perlu menyesal, kematian Thia-tayhiap bukan seluruhnya dikarena kecerobohan Sicu ... aku masih ingat perkataannya kepadaku tempo hari, 'Bila Ko Hong masih hidup, maka di saat dia muncul lagi dalam Bu-lim, Thia Leng-juan merasa tiada kepentingan lagi untuk tetap hidup di dunia ini'. Dari katakatanya itu bisa disimpulkan bahwa Thia-tayhiap memang sudah mempunyai rencana untuk mengakhiri hidupnya setelah mengetahui bahwa Sicu adalah Ko Hong."
"Mengapa dia berencana mengakhiri hidupnya setelah berjumpa dengan diriku?"
Tanya Bong Thian-gak pedih.
"Kesulitan Thia-tayhiap tidak mungkin bisa Lolap terangkan dengan sepatah dua patah kata saja, lebih baik kita bicarakan lagi di kemudian hari. Sekarang yang penting Sicu harus bersiap menghadapi kawanan musuh tangguh!"
Sementara mereka sedang berbincang, di sekeliling halaman itu telah bermunculan bayangan orang dengan cepat, rombongan orang berbaju hitam itu mengepung dengan menggenggam tombak.
Dari kemampuan mereka berjalan tanpa menimbulkan suara serta gerak-geriknya yang aneh dan misterius, bahwasanya rombongan itu betul-betul merupakan sekelompok musuh tangguh yang lihai.
Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memperhatikan sekejap orang-orang yang berada di sekeliling tempat itu, kemudian dengan cepat dia melompat bangun sambil bisiknya.
"Ah, mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau."
"Betul,"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang.
"mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau, sungguh tak kusangka dia pun sudah muncul di wilayah Hopak."
"Dia? Siapa yang kau maksud?"
Tanya Bong Thian-gak keheranan. Hong-kong Hwesio memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian katanya.
"Sicu, tahukah kau, manusia manakah yang merupakan musuh terlihai di dalam Put-gwacin-kau?"
"Cong-kaucu serta Ji-kaucu?"
Dengan cepat Hong-kong Hwesio menggeleng kepala berulang kali, katanya cepat.
"Biarpun Ji-kaucu serta Congkaucu sangat lihai, kedua orang itu tidak menakutkan."
Mendengar perkataan itu sekali lagi Bong Thian-gak mengawasi orang-orang berbaju hitam yang berada di sekeliling tempat itu, mendadak ia berseru tertahan sambil serunya.
"Ah, tampaknya rombongan orang ini berasal dari pasukan pengawal tanpa tanding?"
"Ya, betul,"
Hong-kong Hwesio mengangguk.
"mereka adalah pasukan pengawal tanpa tanding dari Put-gwa-cinkau."
Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian tanyanya.
"Apakah orang paling lihai dari Put-gwa-cin-kau yang kau maksudkan adalah komandan nomor satu pasukan pengawal tanpa tanding ini?"
"Betul, dialah yang kumaksudkan."
"Apakah dia pun berada di sini?"
"Belum, tapi dia pasti akan muncul di tempat ini, sebab ketiga belas pengawalnya sudah muncul."
Sementara itu Han Siau-liong yang menyaksikan kemunculan ketiga belas orang berbaju hitam itu makin percaya bahwa kawanan jago Kay-pang yang ditugaskan menjaga di luar kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah.
Han Siau-liong berpaling ke arah Liu Khi, lalu katanya.
"Susiok, aku rasa kita harus turun tangan lebih dulu untuk menguasai keadaan."
Sejak muncul hingga sekarang, Liu Khi jarang berbicara, pada saat itulah dia menjawab dengan suara dingin.
"Siauliong, kau harus dapat mengendalikan diri, pertarungan yang bakal berkobar dalam kuil Hong-kong-si hari ini, bisa jadi akan merupakan pertarungan mati-matian yang jarang terjadi Bulim, barang siapa bisa mempertahankan hidup dalam pertarungan nanti, dialah yang mungkin akan mendapat harta karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong."
Beberapa patah kata Liu Khi menggerakkan hati kawanan jago yang berada di dalam arena, semua orang seolah-olah dapat merasakan juga bahwa di dalam kuil Hong-kong-si yang kecil itu bisa jadi akan berkobar pertempuran berdarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bersambung j ilid 2
Jilid 2 Tiba-tiba Mo Hui-thian tertawa kering, kemudian berkata.
"Apabila pihak Kay-pang ingin mengangkangi sendiri harta karun Mo-lay-cing-ong, hanya dengan mengandalkan kemampuan Liu Khi serta Han Siau-liong saja hal itu jauh tidak cukup."
"Bagaimana pun juga kemampuan Kay-pang rasanya masih jauh lebih mengungguli kemampuan perkumpulan Kiam-liongkiam-san-ceng."
Liu Khi balas mengejek.
"Hehehe, perkataan Liu-heng memang tepat,"
Mo Hui-thian tertawa kering.
"cuma pedang Lohu ini bukanlah pedang yang bisa dihadapi seenaknya."
"Aku tahu, pedang Mo-loji paling tidak masih mampu membacok batok kepala beberapa anggota Put-gwa-cin-kau, kami Kay-pang ingin meminjam pedangmu itu."
"Mana ... mana, mengapa Liu-heng tidak mulai terlebih dahulu?"
"Atas dasar kemampuan kita bertiga, rasanya masih belum cukup untuk menghadapi orang-orang Put-gwa-cin-kau,"
Jawab Liu Khi dingin.
"Omitohud!"
Tiba-tiba Hong-kong Hwesio memuji keagungan Buddha.
"perkataan Liu-sicu memang benar, perubahan situasi yang kita hadapi sekarang membutuhkan kerja sama untuk menghadapi musuh tangguh Put-gwa-cinkau, kita wajib menghancurkan dan mematahkan mereka terlebih dahulu."
Mo Hui-thian tertawa, selanya.
"Seandainya beberapa orang di antara kita bersedia bekerja sama, aku yakin kekuatan yang kita himpun ini sanggup untuk menghadapi serbuan pihak Put-gwa-cin-kau, sayang, kita semua masih belum seia-sekata."
Selesai berkata, dia berpaling dan memandang sekejap Bong Thian-gak. Tentu saja Bong Thian-gak memahami maksud Mo Huithian itu, maka ujarnya kemudian dengan suara hambar.
"Biarpun pihak Kay-pang serta perkumpulan Kim-liong-kiamsan-ceng mempunyai dendam kesumat dengan Hiat-kiam-bun, tapi permusuhan itu tidak sedalam permusuhan kami dengan pihak Put-gwa-cin-kau."
"Kalau begitu kita bisa bersatu-padu sekarang,"
Ujar Mo Hui-thian sambil tertawa.
"Nah, kita turun tangan lebih dulu menggasak habis manusia-manusia cecunguk itu."
"Yang perlu kita musnahkan pertama-tama adalah Si-hunmo-li,"
Kata Liu Khi tiba-tiba.
Selesai berkata, lengan tunggalnya segera diayunkan ke depan, dua batang pisau terbang yang telah disiapkan sejak tadi disambitkan ke muka.
Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Tunggu sebentar!"
Mo Hui-thian tertawa dingin, jengeknya.
"Beberapa kelompok di antara kita ini memang selamanya tak mungkin bisa bersatu."
"Barang siapa di antara kalian berani memukul Si-hun-moli, Pek-hiat-kiam di tanganku ini tak akan memberi ampun kepadanya,"
Ancam Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Sembari berkata, Pek-hiat-kiam di tangannya segera disilangkan di depan dada, kemudian dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh dia mengawasi semua orang dengan seksama.
Suasana di halaman gedung itu seketika tercekam dalam keheningan, rasa tegang dan napsu membunuh yang menggidikkan menyelimuti benak setiap orang.
Han Siau-liong segera menimbrung.
"Bong-buncu, kau sudah merasakan sendiri betapa lihainya Si-hun-mo-li, seandainya perempuan itu tidak kita lenyapkan lebih dulu, kemungkinan besar kita semua akan terluka oleh pukulan Sohli-jian-yang-sin-kangnya."
"Perkataanku tadi sudah cukup jelas,"
Kata Bong Thian-gak dengan wajah serius.
"aku tak mengizinkan orang melukainya, bila Liu Khi berani melepas pisau terbangnya, maka Pek-hiatkiam ini akan segera memenggal pula batok kepalanya."
Liu Khi yang mendengar perkataan itu tertawa dingin.
"Sekali pun pisau terbang Liu Khi sudah dicekal dalam genggaman, tak pernah berlaku dalam kamusku untuk menyimpannya kembali."
"Aku tahu kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tapi pada saat kau melepaskan pisau terbangmu itu, mustahil bisa menghindar dari babatan Pek-hiat-kiam, maka kunasehati kepadamu, lebih baik jangan menyerempet bahaya."
Mendadak Mo Hui-thian mengangkat pedangnya dan dari kejauhan diarahkan pada Bong Thian-gak, setelah itu katanya sambil tertawa kering.
"Sebetulnya aku merupakan penengah, tapi setelah diperhitungkan untung ruginya, aku lebih condong berpihak ke Liu-heng, dengan posisi demikian apakah Bong Thian-gak masih tetap bersikeras melindungi Si-hun-mo-li?"
"Omitohud!"
Tiba-tiba Hong-kong Hwesio berkata memuji keagungan Buddha.
"kuminta Sicu sekalian jangan bertindak kelewat gegabah, lebih baik kita bersama-sama merundingkan cara pemecahan yang bijaksana."
Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata.
"Kuharap kalian bersedia mendengarkan perkataanku, sesungguhnya Si-hun-mo-li adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, aku Bong Thian-gak pernah berhutang budi kepadanya, oleh sebab itu bila kalian berharap bantuanku malam ini untuk menghadapi orang-orang Putgwa-cin-kau, maka kalian harus memenuhi syaratku lebih dulu, yakni tidak boleh mencelakai jiwa Si-hun-mo-li."
Baru selesai perkataan itu, mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan berkumandang dari sudut halaman gedung, menyusul kemudian seseorang berkata dengan suara sedingin salju.
"Dengan mengandalkan kemampuan kalian, aku rasa masih belum mampu membunuh Si-hun-mo-li."
Mendengar perkataan itu, para jago segera berpaling, dari sudut halaman sebelah utara pelan-pelan muncul dua orang.
Orang pertama adalah sastrawan berbaju hijau yang sangat dikenal Bong Thian-gak, yakni Ji-kaucu.
Sedangkan orang kedua adalah seorang kakek berbaju panjang berwarna hitam yang pada bagian dadanya tersulam seekor naga emas yang sedang melingkar.
Orang itu seperti tidak membawa senjata, dia hanya bertangan kosong, namun Bong Thian-gak yang melihat sorot mata dan gerak-geriknya yang mantap, kontan keningnya berkerut kencang.
la merasa kelihaian ilmu silat orang ini mungkin sudah mencapai tingkat yang tak terhingga, bahkan di antara kawanan jago persilatan yang pernah dijumpai olehnya, boleh dibilang kakek baju hitam inilah yang memiliki kepandaian silat paling hebat.
Perasaan ini hanya Bong Thian-gak yang dapat merasakan.
Mungkinkah dia adalah komandan nomor satu pasukan pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau?
Kakek berbaju hitam itu berjalan bersanding dengan Jikaucu, sambil melangkah ke arena, dia menyapu pandang sekejap para jago yang hadir, katanya dengan suara dingin.
"Liu Khi, bila kau tidak percaya, silakan kau timpukkan pisau terbangmu itu, coba kita buktikan apakah Si-hun-mo-li benarbenar akan mampus di ujung pisau terbangmu itu?"
Dalam keadaan demikian, secara tiba-tiba Liu Khi menarik kembali kedua pisau terbang yang semula dicekal dalam genggamannya, kemudian setelah tertawa, katanya.
"Kau ingin menyaksikan aku melepaskan pisau terbang? Boleh saja, tapi tunggu sampai kita berhadapan nanti, bisa kau buktikan dengan mata kepalamu sendiri!"
Kakek berbaju hitam tertawa dingin.
"Selama ini dalam Bulim tersiar berita yang mengatakan Liu Khi adalah seorang ahli senjata rahasia nomor wahid di kolong langit, sayang aku justru tak mau percaya dengan ucapan itu!"
"Bagaimanakah kemampuan Liu Khi dalam melepaskan pisau terbang, mengapa tidak kau tanya sendiri kepada Jikaucu?"
Liu Khi berkata sambil berkata. Ji-kaucu yang berada di sisi kiri lantas tersenyum.
"Biarpun pisau terbangmu lebih cepat setingkat pada tiga tahun berselang ketika kita beradu di wilayah Sucwan, namun pertandingan itu sesungguhnya belum dapat menentukan secara tepat siapa yang unggul."
"Kalau begitu dengan cara apa kita baru dapat mengetahui secara tepat siapa sesungguhnya yang lebih unggul di antara kita?"
"Aku pikir, kita harus mengulangi pertarungan penentuan untuk membuktikan siapa sesungguhnya yang lebih unggul,"
Jawab Ji-kaucu dengan wajah membesi dan suara hambar.
"Ya, tentu saja dengan senang hati akan kulayani pertarungan ulangan itu."
Mendadak terdengar Hong-kong Hwesio berseru dengan suara keras.
"Sim Tiong-kiu, masih ingat dengan aku si Hwesio tua?"
"Biar kau si keledai gundul sudah berubah menjadi abu pun aku masih mengenali dirimu,"
Jawab kakek baju hitam itu dengan keras.
"Omitohud, Sim-sicu! Kuanjurkan padamu, lebih baik lepaskan saja golok pembunuhmu! Biarpun pelajaran Buddha tak bertepian, namun Hud-co pasti akan mengampuni semua dosa-dosa Sicu di masa lampau bila kau bersedia bertobat."
Kakek berbaju hitam itu tertawa dingin.
"Keledai gundul, apakah kau sudah menyadari bakal mati pada malam ini, maka sekarang memohon Lohu untuk memberikan jalan hidup bagimu?"
"Omitohud,"
Kata Hong-kong Hwesio.
"bila Sim-sicu masih juga tak mau bertobat dan menyesali semua kejahatan yang pernah kau lakukan, jangan menyesal nanti."
"Hong-kong Hwesio,"
Tukas kakek berbaju hitam ketus.
"sekali pun kau menghadap dinding dan berlatih tekun selama lima puluh tahun lagi masih bukan tandinganku, siapa orangnya yang mampu mencabut nyawaku?"
Perkataan kakek berbaju hitam ini sangat takabur dan sombong bukan alang-kepalang, ia benar-benar tidak memandang sebelah mata terhadap orang lain, seakan-akan dialah manusia paling hebat di kolong langit dan tiada orang kedua yang mampu mengungguli dirinya.
Sudah barang tentu semua jago yang hadir dalam arena merasa mendongkol.
Mendadak Han Siau-liong tertawa tergelak, kemudian serunya.
"Kesombongan dan kejumawaanmu benar-benar membuat perasaan orang tidak enak, biarpun aku hanya seorang yang berkepandaian cetek, namun ingin sekali kucoba sampai dimanakah kemampuan orang yang menganggap dirinya paling wahid di kolong langit ini."
"Bila kau tidak percaya, silakan saja mencoba,"
Jengek kakek baju hitam itu hambar.
"Oh, tentu saja aku akan mencoba,"
Han Siau-liong tertawa lebar. Selesai berkata, dengan pedang terhunus selangkah demi selangkah Han Siau-liong maju ke muka. Melihat Han Siau-liong tampil, buru-buru Hong-kong Hwesio berkata.
"Han-sicu, harap berhenti dulu."
"Hahaha,"
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hwesio tua, biarpun aku bisa menahan diri dan membiarkan cecunguk itu pamer kesombongannya, sayang, orang lain tidak memiliki kesabaran sebesar itu."
Liu Khi sendiri pun dapat merasakan kepandaian silat kakek berjubah hitam itu lihai sekali dan Han Siau-liong bukan tandingannya, tapi batinnya.
"Tenaga dalam Han Siau-liong amat sempurna, sekali pun kakek baju hitam itu ingin mengunggulinya, hal ini tak akan terjadi dalam satu-dua gebrakan saja ... biar saja dia turun tangan menguji kemampuannya."
Karena pikiran ini, maka dia pun membiarkan Han Siauliong meneruskan langkahnya.
Baik Bong Thian-gak maupun Mo Hui-thian sama-sama ingin mengetahui sampai dimanakah kemampuan kakek berjubah hitam itu, dengan mata tak berkedip mereka mengawasi langkah Han Siau-liong menuju ke depan.
Tentu saja Han Siau-liong memiliki kepandaian amat lihai, sepintas dia nampak seperti pemuda yang tinggi hati dan jumawa, padahal dia tak berani menganggap enteng setiap lawannya.
Dengan langkah tegap dan mantap, selangkah demi selangkah dia maju ke depan, semua jago yang berada di arena rata-rata mengetahui, secara diam-diam Han Siau-liong telah menghimpun tenaga dalam dan dihimpun ke lengannya, dari lengan disalurkan ke pedang bajanya.
Selain itu semua orang juga tahu bahwa serangan pedangnya yang pertama nanti, Han Siau-liong pasti akan melepaskan sebuah serangan maha dahsyat.
Menghadapi serangan Han Siau-liong itu, si kakek baju hitam tetap acuh tak acuh, dengan sikap amat tenang dia menantikan Han Siau-liong menghampirinya selangkah demi selangkah.
Mendadak suara bentakan keras memecah keheningan, pedang baja Han Siau-liong disertai deru angin yang amat hebat langsung menyambar dan membacok tubuh si kakek berbaju hitam.
Serangan pedang yang dilancarkan olehnya ini boleh dibilang disertai kecepatan luar biasa dan kekuatan yang sanggup membelah bukit karang.
Ketika kawanan jago itu melihat datangnya serangan tadi, semuanya beranggapan sama, kecuali menghindarkan diri, rasanya sulit bagi Sim Tiong-kiu untuk menyambut datangnya ancaman itu dengan kekerasan.
Tak disangka, tindakan yang dilakukan Sim Tiong-kiu sama sekali di luar dugaan semua orang.
Bukannya menghindar atau melompat mundur, tahu-tahu Sim Tiong-kiu malah melompat ke muka dan melepaskan sebuah tendangan dengan kaki kirinya mengarah datangnya ancaman pedang itu.
Sambil mendesak ke muka, kakek baju hitam itu berseru lantang.
"Enyah kau dari sini!"
Tahu-tahu tendangan itu bersarang di dada lawan, Han Siau-liong mendengus tertahan, tubuhnya terpental ke tengah udara.
Berbareng dengan mencelatnya Han Siau-liong, mendadak tampak titik-titik cahaya tajam yang menyilaukan mata menyambar ke tubuh kakek berbaju hitam itu.
Rupanya titik-titik cahaya itu tidak lain adalah pisau terbang yang disambitkan secara tiba-tiba oleh Liu Khi.
"Hm, kau anggap pisau terbangmu itu mampu melukai diriku?"
Jengekan dingin bergema di udara.
Bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Sim Tiong-kiu telah berdiri kembali di tempat semula, hanya pada jari tangan kirinya kini telah bertambah dengan dua pisau terbang yang memancarkan cahaya tajam.
Pisau terbang milik Liu Khi sebenarnya terhitung sangat hebat, jarang ada orang yang mampu menghindarkan diri dari sergapannya, tapi kenyataan sekarang pisau terbang itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang berbaju hitam itu.
Dalam pada itu Han Siau-liong yang mencelat ke belakang berikut pedangnya, kini sudah menggeletak di tanah dan tidak berkutik lagi.
Bong Thian-gak dan Mo Hui-thian serentak maju mendekatinya.
Tampak oleh mereka, Han Siau-liong sudah tergeletak di tanah dengan wajah pucat-pias seperti mayat, rupanya dia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Han Siau-liong adalah jagoan lihai nomor tiga dalam Kaypang, sampai dimana kepandaiannya Bong Thian-gak pernah menyaksikan sendiri, bahkan pemuda itu terhitung jago lihai dalam Bu-lim.
Tapi kenyataan sekarang jagoan itu dibikin keok dan tak sadarkan diri dalam satu gebrakan saja, boleh dibilang peristiwa semacam ini sungguh menggidikkan.
Itu berarti juga Sim Tiong-kiu benar-benar merupakan seorang jagoan hebat.
Untuk beberapa saat lamanya para jago bergidik dengan perasaan bergetar keras, mereka hanya bisa saling pandang dan mulut membisu.
Suara dingin, ketus dan sombong Sim Tiong-kiu kembali berkumandang di sisi telinga para jago, terdengar ia berkata.
"Apakah masih ada orang lain yang ingin mencoba kepandaian silatku?"
Tantangan yang begitu sombong dan takabur semacam ini pada hakikatnya cukup membuat orang tidak tahan. Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian tertawa seram, katanya.
"Mo Hui-thian ingin sekali mencoba kepandaian silatmu."
"Mo-cengcu dikenal sebagai pendekar pedang nomor wahid di kolong langit, aku memang sudah lama ingin mencoba kepandaian ilmu pedangmu itu,"
Jawab Sim Tiong-kiu hambar.
"Mo-cengcu, harap kau suka menahan diri, jangan kau lakukan tindakan gegabah,"
Hong-kong Hwesio berseru dengan suara dalam. Mo Hui-thian berpaling dan memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, katanya.
"Hwesio tua, apakah dengan kemampuan yang kumiliki masih belum mampu menyambut sejurus serangannya?"
"Apakah Mo-cengcu dapat "melihat pukulan yang menyebabkan Han Siau-liong terluka parah?"
Tanya Hongkong Hwesio dengan wajah serius.
Mendengar pertanyaan itu, semua jago serentak mengangkat kepala dan menengok ke arah Hong-kong Hwesio.
Memang sampai sekarang tak seorang pun di antara yang hadir mengetahui luka apakah yang diderita Han Siau-liong.
Mo Hui-thian tertawa rikuh, lalu dia balik bertanya.
"Apakah kau tahu, pukulan apa yang menyebabkan Han Siau-liong terluka?"
Hong-kong Hwesio menggeleng kepala.
"Hingga kini Lolap masih belum tahu ilmu sakti apakah yang telah dilatih Simsicu, tapi Lolap tahu, dewasa ini sedikit sekali ada yang bisa menghindarkan diri dari serangannya itu."
Mo Hui-thian tertawa dingin, serunya.
"Hei, Hwesio tua, kau tahu berapa orang di kolong langit ini yang mampu menghindarkan diri dari serangan pedangku?"
"Sekali pun serangan pedangmu sangat lihai dan luar biasa, jarang ada orang yang sanggup menghadapinya, akan tetapi pernahkah Mo-cengcu bayangkan bahwa musuh pada hakikatnya tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan serangan."
Hati Mo Hui-thian bergetar keras, dia segera bertanya.
"Hwesio tua, apakah maksudmu berkata demikian?"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang.
"Ai, musuh yang akan menyerang lebih dahulu, bukan kau yang melancarkan serangan menyergap lawan."
Mo Hui-thian tercekat, dengan cepat ia bertanya.
"Barusan bukankah Han Siau-liong yang telah melancarkan serangan lebih dahulu terhadap lawan?"
"Tentu saja tidak,"
Seru Hong-kong Hwesio sambil menggeleng.
Jawaban ini dengan cepat menimbulkan tanda tanya besar bagi kawanan jago itu.
Sudah jelas terlihat tadi bahwa Han Siau-liong melancarkan serangan lebih dahulu, bagaimana mungkin bisa dikatakan Sim Tiong-kiu yang menyerang lebih dulu?
Setelah tertawa dingin Mo Hui-thian bertanya.
"Hwesio tua, bisakah kau terangkan bagaimana cara musuh melancarkan serangan lebih dulu?"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang.
"Ai, Lolap bisa menerangkan, tentu saja bisa pula mematahkan jurus serangan yang mematikan dari Sim Tiong-kiu itu."
"Huh, pada hakikatnya kau hanya ngaco-belo belaka, aku justru tidak percaya dengan segala takhayul!"
Jengek Mo Huithian sambil tertawa kering.
Sembari berkata, pedangnya segera diangkat, kemudian pelan-pelan diturunkan ke depan dada, setelah itu ia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan dan "Crit", tubuh berikut pedangnya tahu-tahu meluncur ke depan Sim Tiong-kiu dan menusuk tubuhnya.
Kawanan jago di arena saat ini boleh dibilang rata-rata adalah jagoan persilatan yang berilmu tinggi, setelah menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo Hui-thian, tanpa terasa masing-masing pihak berpekik lirih.
"Ah, ilmu pedang terkendali!"
Yang disebut ilmu pedang terkendali adalah semacam ilmu pedang tingkat atas yang paling sukar dipelajari, bila kepandaian itu sudah mencapai puncaknya, maka serangan pedang bisa dikendalikan dari jarak jauh, bila demikian keadaannya maka memenggal batok kepala orang dari kejauhan bukan suatu pekerjaan yang amat sukar.
Tiba-tiba saja Mo Hui-thian memepergunakan kepandaian maha sakti ini untuk menyerang musush, pada hakikatnya kejadian itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang luar biasa.
Hawa pedang yang tajam bagaikan sembilu diiringi deru angin tajam segera melintas dan menusuk ke tubuh Sim Tiong-kiu.
Tapi bersamaan dilancarkannya serangan itu, jeritan kaget serta suara bentrokan nyaring bergema memecah keheningan.
Tubuh Mo Hui-thian seperti layang-layang putus benang terpental di udara dan berjumpalitan sebanyak tiga kali, kemudian jatuh terbanting ke tanah.
Bong Thian-gak menghampiri orang itu.
Tampak paras muka Mo Hui-thian pucat-pias seperti mayat, napasnya tersengal-sengal, ia mengangkat kepala memandang ke arah Bong Thian-gak sambil menggerakkan bibirnya yang gemetar seperti hendak memberitahukan sesuatu kepada Bong Thian-gak, namun tak sepatah kata pun yang terdengar.
Dengan cepat Bong Thian-gak menempelkan telapak tangan kanannya ke jalan darah Mi-bun-hiat di tubuh Mo Huithian.
Secara beruntun Mo Hui-thian muntah darah sebanyak tiga kali, tiba-tibanya kulit mukanya mengejang keras, kemudian roboh dan tidak sadarkan diri.
Hanya dalam sekali gebrakan saja secara beruntun Sim Tiong-kiu telah berhasil merobohkan dua jago persilatan yang berilmu tinggi, kehebatannya itu dengan cepat menghebohkan dan menggidikkan hati setiap orang.
Kembali Bong Thian-gak mengangkat kepala, ia lihat Sim Tiong-kiu masih tetap tegak berdiri di tempat, wajahnya dingin bagaikan es, selapis hawa dingin yang menggidikkan seakanakan menyelimuti tubuhnya.
Waktu itu ujung baju lengan kirinya telah robek separo, tampaknya terpapas robek oleh sambaran hawa pedang yang dipancarkan oleh Mo Hui-thian tadi.
"Masih ada siapa lagi yang ingin mencoba kepandaianku?"
Suara yang dingin dan sombong Sim Tiong-kiu sekali lagi berkumandang.
Sudah jelas Sim Tiong-kiu hendak mempergunakan kepandaian rahasianya yang maha sakti, hendak melukai kawanan jago yang hadir di arena satu demi satu.
Itulah sebabnya ia menantang lagi para jago lain untuk mencoba kepandaian silatnya.
Sementara itu Bong Thian-gak telah menggeser badan, kemudian ujarnya.
"Kepandaian silat yang kau miliki memang sangat hebat, aku percaya tak bisa menandingi kehebatanmu itu, meski demikian aku ingin juga menjajal kepandaianmu itu."
"Bong-sicu, kau tidak boleh bertindak secara gegabah."
Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian katanya dengan suara nyaring.
"Hari ini kita sudah berhadapan dengan lawan, cepat atau lambat pertarungan tak bisa dihindari lagi, kau suruh aku jangan bertindak sembarangan, apakah kau hendak menyuruh aku menerima kematian begitu saja?"
Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, kemudian katanya.
"Kedua orang murid Lolap mungkin sanggup menahan serangannya, Bong-sicu, harap kau jangan turun tangan lebih dulu!"
Dalam pada itu kedua murid Hong-kong Hwesio telah maju bersama ke depan. Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah kedua anak buah Hong-kong Hwesio yang berjenggot hitam itu, lalu dia bertanya.
"Apakah Siancu berdua punya keyakinan dapat menahan serangannya?"
Mendengar pertanyaan itu, kedua Hwesio berjenggot hitam itu menggeleng kepala, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kembali Bong Thian-gak berkata.
"Bila Siancu berdua memang tidak punya keyakinan, lebih baik mundurlah untuk sementara waktu."
"Bong-sicu,"
Terdengar Hong-kong Hwesio berkata.
"kedua orang muridku ini selain bisu juga tuli, semua perkataanmu itu tak mungkin didengarnya."
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang, segera pikirnya.
"Oh, rupanya kedua orang ini bisu tuli, tak heran selama ini tak kudengar ucapan mereka barang sepatah kata pun."
Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, lalu berkata.
"Kalau kedua murid Hwesio tua bisu tuli, mereka lebih-lebih tidak seharusnya dikirim ke arena untuk melangsungkan pertarungan itu!"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang.
"Ai, biarpun kedua muridku ini bisu tuli, namun ketajaman mata serta kecerdasan otak mereka jauh melebihi orang biasa, bahkan boleh dikatakan kelewat tajam dan cerdik. Bong-sicu tak perlu kuatir, siapa tahu kedua muridku itu mampu mematahkan ilmu rahasia andalan Sim Tiong-kiu."
Pada saat itulah terdengar Sim Tiong-kiu berkata sambil tertawa dingin.
"Keledai gundul, bila kau menginginkan kedua murid cacatmu bisa mematahkan ilmu maha saktiku, tunggu saja bila matahari terbit dari langit barat."
"Walaupun kedua orang itu tidak mempunyai keyakinan untuk membendung kesaktian silat Sicu, tapi pada puluhan tahun berselang kedua orang itu sudah mulai melatih diri secara tekun dan berhasil menciptakan sejenis ilmu silat yang dapat mematahkan jurus sakti Sim-sicu."
"Kalau memang begitu, suruh saja mereka berdua kemari mengantar kematian!"
Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru.
"Tunggu sebentar!"
Tubuhnya berkelebat cepat dan menghadang di hadapan kedua Hwesio berjenggot hitam itu.
"Bong-sicu, masih ada urusan apa lagi?"
Tanya Hong-kong Hwesio.
"Ada sebuah persoalan yang ingin kutanyakan kepada kau."
"Bila Sicu ada persoalan, harap diutarakan saja."
"Kau pernah bertarung melawan orang itu?"
"Ya, kami pernah bertarung,"
Hong-kong Hwesio mengaku.
"Sudah bentrok berapa kali?"
Kembali Bong Thian-gak bertanya.
"Tiga kali."
"Taysu, apakah setiap kali kalian bertarung Ji-kaucu selalu hadir di arena?"
Pertanyaan ini membingungkan Hong-kong Hwesio, dia menggeleng sambil berkata.
"Ji-kaucu tak pernah hadir di arena. Bong-sicu, apa maksudmu menanyakan hal ini?"
Sebelum Bong Thian-gak menjawab, terdengar Ji-kaucu tertawa dingin sambil katanya.
"Dia curiga kalau aku telah melepaskan racun dan meracuni orang secara diam-diam."
Rupanya Bong Thian-gak menaruh curiga atas kejadian itu, hingga kini dia masih belum dapat melihat dengan jelas bagaimana Sim Tiong-kiu melukai lawannya. Maka dia pun mulai berpikir.
"Mungkinkah Ji-kaucu yang telah melepaskan racunnya secara diam-diam dari tepi arena untuk membantu Sim Tiong-kiu sehingga akibatnya orang yang diserang Sim Tiong-kiu selalu menderita luka secara membingungkan?"
Tapi jalan pikiran itu dengan cepat tersapu lenyap dalam tanya-jawab dengan Hong-kong Hwesio, sekarang dia yakin Sim Tiong-kiu benar-benar memiliki sejenis ilmu silat maha sakti.
Bong Thian-gak termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata lagi.
"Hwesio tua, mungkin aku dapat menyambut sebuah pukulannya tanpa harus mati. Harap Hwesio tua memerintahkan kepada kedua muridmu agar segera mengundurkan diri!"
"Bong-sicu, kau tak usah keras kepala,"
Tampik Hong-kong Hwesio sambil menggeleng. Bong Thian-gak kembali tersenyum.
"Biarpun aku belum punya keyakinan untuk bisa mematahkan jurus serangan lawan, tapi aku percaya tak bakal tewas di bawah telapak tangannya,"
Kata Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Bila kulangsungkan pertarungan jarak dekat, mungkin bisa kupatahkan jurus serangannya yang tangguh itu."
Sim Tiong-kiu tertawa seram.
"Ji-kaucu, orang inikah yang bernama Jian-ciat-suseng?"
"Ya, dialah orangnya."
"Bukankah Cong-kaucu telah menurunkan perintah agar kita membekuknya hidup-hidup?"
"Benar, tapi kepandaian silat yang dimiliki orang ini sangat lihai, tampaknya komandan Sim membutuhkan tenaga yang cukup besar untuk dapat membekuknya."
Mendadak Bong Thian-gak berkata sambil tertawa dingin.
"Saudara, bersiap-siaplah menerima seranganku!"
"Kalau berniat melancarkan serangan, lancarkan saja seranganmu itu,"
Kata Sim Tiong-kiu hambar.
Bong Thian-gak menggenggam Pek-hiat-kiam dengan tangan tunggalnya, kemudian maju selangkah demi selangkah mendekati lawan.
Gerak langkah kakinya lamban sekali, ternyata Bong Thiangak telah mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khi-kang untuk melindungi badannya.
Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat penyakitan, kini telah berubah merah bercahaya.
Sim Tiong-kiu tetap berdiri tegak, matanya bersinar tajam bagai bintang timur mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang menyeramkan, Sim Tiong-kiu bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung menerjang ke arah Bong Thian-gak.
Sejak tadi Bong Thian-gak sudah mengetahui Sim Tiong-kiu memiliki ilmu silat yang amat hebat, tapi demi menjaga teknik 'dengan tenang mengatasi gerak', Bong Thian-gak sama sekali tidak melepaskan serangan pedangnya.
Oleh sebab itu Sim Tiong-kiu segera mendesak lebih ke depan dan sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke dada Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak memang telah bersiap menerima serangan itu, ia tidak menghindar maupun berkelit, dadanya malah dibusungkan untuk menyambut datangnya ancaman itu.
"Blam", diiringi benturan yang keras sekali, serangan itu bersarang di dada anak muda itu. Ilmu Tat-mo-khi-kang yang memancarkan daya kemampuan dahsyat itu segera menciptakan selapis tenaga pantulan tanpa wujud yang segera menggetarkan tubuh Sim Tiong-kiu sehingga tergetar mundur sejauh tiga langkah. Pada detik yang bersamaan itulah Pek-hiat-kiam yang berada dalam genggaman Bong Thian-gak segera dibabatkan dan menusuk ke dada Sim Tiong-kiu. Padahal taktik yang diambil Bong Thian-gak ini telah berhasil ditebak musuh secara tepat. Tentu saja serangan yang dilancarkan olehnya itu amat cepat bagaikan sambaran kilat, hawa sakti Tat-mo-khi-kang yang melindungi badannya pun tak mampu lagi melindungi seluruh tubuhnya. Serangan dahsyat musuh pun dilontarkan lagi. Bong Thian-gak hanya merasakan jari telunjuk tangan kiri musuh menyambar pelan ke atas dadanya, serangan jari tangan tanpa wujud bersarang telak di atas bahu kanannya. Dengusan tertahan bergema, Bong Thian-gak tidak mampu lagi melawan serangan jari itu, tubuhnya segera terbanting ke tanah. Gelak tawa seram penuh kebanggaan bergema memecah keheningan malam, tubuh Sim Tiong-kiu bagaikan sukma gentayangan mendesak maju ke muka, bersamaan itu pula cakar tangan kanannya mencengkeram urat nadi pada lengan tunggal Bong Thian-gak.
"Crit, crit", dua kali desingan tajam bergema. Tahu-tahu Liu Khi telah melepaskan dua bilah pisau terbangnya ke depan. Golok terbang Liu Khi memang sangat termasyhur di kolong langit, khususnya mengancam tenggorokan orang, barang siapa terserang tak mungkin tertolong lagi. Itulah sebabnya Sim Tiong-kiu tidak berkesempatan lagi untuk melanjutkan ancamannya atas urat nadi Bong Thiangak. Tangan kirinya cepat diputar, ternyata kedua pisau terbang itu sudah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah. Pada saat itulah terdengar Liu Khi berseru lagi dengan suara lantang.
"Sekarang silakan kau rasakan bacokan golokku yang sesungguhnya."
Selesai bicara Liu Khi segera melolos golok panjangnya, Topit-coat-to yang membuat Liu Khi termasyhur di kolong langit.
Begitu serangan golok dilancarkan, ancaman itu benarbenar menggetarkan perasaan setiap orang.
Jerit kesakitan segera berkumandang memecah keheningan.
Darah segar menyembur, telapak tangan kanan Sim Tiongkiu sebatas pergelangan tangan tahu-tahu sudah terpapas kutung oleh bacokan golok itu.
Tapi bersamaan dengan terpapas kutungnya pergelangan tangan kanan Sim Tiong-kiu, tangan kirinya telah melancarkan serangan pula ke depan.
Liu Khi menjerit kaget, tubuhnya terlempar dan jatuh terduduk di atas tanah.
Ia sama sekali tidak pingsan, akan tetapi luka yang dideritanya cukup parah, dia terduduk di atas tanah dengan sekujur badan gemetar keras, untuk beberapa saat tak mampu bangkit kembali.
Sorot mata Liu Khi penuh dengan pancaran sinar kaget dan keheranan, hingga detik ini dia masih belum mengetahui dengan jelas bagaimana hal ini bisa terjadi hingga ia terluka oleh jurus serangan lawan.
Beberapa kejadian beruntun itu berlangsung hampir bersamaan, berhubung gerak tubuh mereka kelewat cepat.
Sejak pergelangan tangannya terpapas kutung, Sim Tiongkiu menaruh perasaan dendam yang amat besar, ia menerkam lagi ke arah Liu Khi yang masih tergeletak di depan sana.
Dalam pada itu Liu Khi sudah lemas dan tidak berkekuatan lagi untuk memberikan perlawanan setelah tubuhnya terhajar oleh serangan jari lawan, kulit mukanya segera mengejang keras, pikirnya.
"Habis sudah riwayatku kali ini, sungguh tak nyana Liu Khi harus mampus di tangannya."
Belum habis ingatan itu melintas, sekilas cahaya pedang berwarna merah telah berkelebat di depan mata.
Liu Khi segera memusatkan perhatian dan menengok.
Ternyata Pek-hiat-kiam di tangan kanan Bong Thian-gak sedang diarahkan ke tubuh Sim Tiong-kiu, dia melancarkan tiga buah serangan berantai, memaksa Sim Tiong-kiu terdesak mundur.
Baik Liu Khi maupun Sim Tiong-kiu sama sekali tidak menyangka Bong Thian-gak masih memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan walaupun sudah terkena pukulan dahsyat Sim Tiong-kiu secara telak.
Pertarungan cepat akhirnya terhenti dan hening kembali.
Pek-hiat-kiam di tangan Bong Thian-gak terkulai menghadap tanah, dengan senjata itu dia mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
Sementara itu Ji-kaucu telah menghampiri Sim Tiong-kiu dan secara beruntun menotok urat nadi pada lengan kanan Sim Tiong-kiu yang kutung untuk mencegah agar tidak banyak darah yang mengalir dari mulut lukanya.
Hong-kong Hwesio menghampiri Bong Thian-gak serta Liu Khi, ia segera bertanya.
"Parahkah luka yang kalian derita?"
"Hwesio tua, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menangkis ataupun mematahkan jurus serangan musuh,"
Kata Liu Khi sambil tertawa pedih. Bong Thian-gak berkata pula sambil menghela napas sedih.
"Hwesio tua, jurus serangan lawan yang hebat itu terletak pada jari telunjuk tangan kirinya, berhubung serangan itu tidak memperlihatkan gejala apa-apa, maka hampir tiada orang yang berhasil mengetahui rahasia itu dengan jelas."
Mendengar penjelasan itu, Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Lolap memang pernah menduga, bahwa jurus serangan dahsyat lawan bisa jadi berasal dari satu di antara sepuluh jari tangannya, namun aku tak pernah bisa menebak dengan cara bagaimana dia merobohkan lawan-lawannya, sebab pada saat serangan dilancarkan, hal ini merupakan suatu masalah yang tak bisa dipecahkan."
Liu Khi menyesal setengah mati setelah mendapat penjelasan ini, dia menghela napas dan mengeluh.
"Seandainya serangan golokku tadi membacok pergelangan tangan kirinya, urusan pasti akan beres dengan sendirinya."
"Seandainya tanpa serangan golokmu tadi, mungkin aku sudah tewas terhajar serangannya,"
Kata Bong Thian-gak dengan perasaan amat berterima kasih. Liu Khi lebih berterima kasih lagi, katanya.
"Serangan pedang Bong-laute yang benar-benar telah menyelamatkan jiwaku, aku merasa berterima kasih sekali."
Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian katanya.
"Hwesio tua, sekarang tergantung pada dirimu."
"Sekarang pergelangan tangan Sim Tiong-kiu telah terpapas kutung, semangat tempurnya sudah luluh, agaknya Lolap mampu menandinginya."
Liu Khi menghela napas sambil berkata.
"Keadaan saat ini, kekuatan pihak Put-gwa-cin-kau sama sekali belum menderita kerugian apa-apa, agaknya nasib kita malam ini lebih banyak buruknya daripada untungnya."
Betul, dari pertarungan yang berlangsung barusan, pihak Put-gwa-cin-kau hanya menderita kerugian Sim Tiong-kiu seorang yang telah kehilangan pergelangan tangannya, sedangkan Ji-kaucu beserta Si-hun-mo-li dan ketiga belas orang berjubah hitam itu pada hakikatnya belum turun tangan.
Sebaliknya di pihak lain, Han Siau-liong dan Mo Hui-thian secara beruntun telah terluka oleh serangan jari tangan Sim Tiong-kiu dan hingga kini belum sadarkan diri, sedangkan Liu Khi dan Bong Thian-gak telah menderita luka pula.
Pada saat ini mereka yang sanggup melangsungkan pertarungan dengan musuh tinggal kedelapan pelindung hukum Hiat-kiam-bun, Hong-kong Hwesio beserta murid serta Long Jit-seng.
Bila diperbandingkan kemampuan yang dimiliki kedua belah pihak, tampaknya Hong-kong Hwesio bertiga sulit untuk menandingi kemampuan Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu serta Si-hunmo-li.
Mendadak Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian bertanya.
"Bong-buncu, masih mampukah kau melanjutkan pertarungan?"
"Bahu kananku makin lama semakin kaku, agaknya sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi, mungkin sampai waktunya aku sudah tak mampu lagi menggenggam pedang,"
Ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum. Paras muka Liu Khi berubah hebat, katanya kemudian.
"Kalau begitu kita benar-benar akan tewas di tempat ini."
Bong Thian-gak kembali tertawa.
"Sebelum ajal tiba, aku rasa masih ada sisa kekuatan untuk membunuh beberapa orang musuh lagi, apakah Liu-locianpwe sudah tidak mempunyai kemampuan lagi?"
Hati Liu Khi bergetar keras, ia tertawa terbahak-bahak.
"Apakah Bong-buncu tidak percaya aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan pertarungan?"
"Kalau tadi, mungkin benar-benar sudah tak punya lagi, tapi sekarang aku lihat Liu-locianpwe seperti telah menemukan cara untuk mengobati luka yang kau derita."
"Bila Bong-buncu tidak mempercayai diriku lagi, aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi,"
Ucap Liu Khi sambil tertawa. Sambil menarik muka Bong Thian-gak berkata lagi.
"Sebentar lagi Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu akan melancarkan serangan terhadap kita, bila Liu-locianpwe tidak segera mengobati luka yang diderita Han Siau-liong serta Mo Huithian, bisa jadi kita benar-benar akan tewas hari ini di sini."
Liu Khi kembali menggeleng kepala berulang kali.
"Saat ini aku benar-benar sudah tidak mempunyai kekuatan lagi sekalipun untuk menyembelih ayam, bila beruntung bisa memulihkan kembali kekuatanku, mungkin hal ini baru kualami beberapa jam kemudian. Sekarang terpaksa aku harus menggantungkan perlindungan terhadap Hong-kong Hwesio sekalian serta Bong-buncu."
Mendengar perkataan ini, Bong Thian-gak mengerutkan dahi, kemudian pikirnya.
"Barusan tampaknya aku seperti melihat Han Siau-liong telah membuka mata satu kali setelah memperoleh pertolongan Liu Khi."
Mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan hati dari Ji-kaucu bergema memotong jalan pikiran Bong Thiangak.
"Ko Hong, hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri dari jaringan langit yang diatur oleh Put-gwa-cin-kau."
I Pedang di tangan Bong Thian-gak masih tetap tergeletak di tanah, ketika mendengar perkataan itu dia tertawa dingin.
"Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang, pada saat ini aku adalah ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
Dia tertawa dingin tiada henti, kemudian melanjutkan.
"Jikaucu, bila kalian ingin membunuhku pada hari ini, mungkin pengorbanan yang sangat besar harus kalian bayar untuk itu, jika kau tidak percaya, silakan saja bertindak!"
Bong Thian-gak dengan memancarkan sinar mata tajam yang menggidikkan mengawasi wajah Ji-kaucu dengan penuh gusar dan perasaan dendam yang membara.
Tak terkira rasa terkesiap Ji-kaucu menyaksikan sorot mata Bong Thian-gak itu, pikirnya.
"Sekarang dia sudah terkena pukulan Ji-gwat-soh-hun-ci dari Sim Tiong-kiu, namun luka yang diderita nampaknya tidak begitu parah, oh ... sungguh mengejutkan tenaga dalam orang ini... bukan hanya Ji-gwatsoh-hun-ci yang tidak berhasil melukainya, ilmu pukulan Sohli-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li pun tampaknya tak dapat melukainya, entah kepandaian silat apakah yang berhasil dilatih olehnya."
Bukan hanya Ji-kaucu seorang yang berpendapat demikian, bahkan Hong-kong Hwesio serta sekalian jago pun merasa curiga di samping kagum atas kelihaian ilmu silat Bong Thiangak.
Tiba-tiba Sim Tiong-kiu melompat bangun dari atas tanah, kemudian berseru.
"Lohu tidak percaya kalau kau masih mempunyai kemampuan untuk melukai musuh dengan pedangmu itu."
"Kalau tidak percaya, mengapa tidak datang kemari mencobanya sendiri?"
Jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Waktu itu Sim Tiong-kiu telah kehilangan telapak tangan kanannya, sehingga dengan demikian dia menjadi manusia cacat.
Dengan begitu Bong Thian-gak, Sim Tiong-kiu dan Liu Khi tiga orang berlengan tunggal saling berdiri berhadapan dengan sikap bermusuhan.
Sorot mata Sim Tiong-kiu memancarkan sinar kebencian dan perasaan dendam ditujukan ke arah Liu Khi yang duduk bersila di atas tanah, sebaliknya Bong Thian-gak mengawasi gerak-gerik Sim Tiong-kiu tanpa berkedip.
Dia tahu tujuan serangan yang mematikan Sim Tiong-kiu saat ini tak lain adalah Liu Khi.
Di pihak lain, Hong-kong Hwesio telah berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu berkata.
"Sim-sicu, di antara kita berdua masih terjalin dendam dan hutang lama, apakah Sim-sicu tidak akan menagih hutang itu kepada aku si Hwesio tua?"
Sim Tiong-kiu memandang sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, kemudian bertanya.
"Kau tak usah berharap bisa meninggalkan kuil Hong-kong-si lagi dalam keadaan hidup, biar kau punya sayap pun jangan mimpi bisa meninggalkan tempat ini. Buat apa aku memusingkan diri dengan hutang lama kita?"
"Sim-sicu, tentunya kau tidak akan memberikan keuntungan yang amat besar kepada aku si Hwesio tua bertiga bukan?"
"Biarpun lenganku kutung semua, aku masih mampu melayani kalian bertiga,"
Jengek Sim Tiong-kiu dengan suara sedingin es.
"Sim-sicu, tidakkah kau merasa bahwa perkataanmu itu kelewat takabur?"
"Kau si Hwesio tua termasuk juga seekor rase tua yang licik dan banyak tipu muslihat, siapakah yang tidak tahu kau memang lebih suka membiarkan orang lain turun ke gelanggang lebih dulu, sedangkan kalian guru dan murid akan duduk sebagai si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya?"
Ketika mendengar perkataan kedua orang itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya.
"Ya, sejak awal hingga sekarang Hong-kong Hwesio bertiga tak pernah menggerakkan tangan biar satu gebrakan saja, mungkinkah si Hwesio tua ini seperti apa yang dikatakan Sim Tiong-kiu barusan. Berakal busuk, banyak tipu muslihat dan mempunyai tujuan pribadi tertentu? Siapa tahu dia memang sengaja membiarkan aku serta pihak Kay-pang turun gelanggang terlebih dulu sebagai panglima pembuka jalan untuk menghadapi Put-gwa-cin-kau?"
"Omitohud!"
Hong-kong Hwesio berkata.
"setelah Sim-sicu berkata demikian, rasanya aku si Hwesio tua bertiga tidak boleh cuma berpeluk tangan belaka."
"Soal dendam dan permusuhan yang terjalin di antara kita, sesungguhnya kau harus sudah mulai melancarkan serangan sejak tadi,"
Jengek Sim Tiong-kiu dingin.
Sembari berkata, Sim Tiong-kiu mengulap tangan kirinya ke tengah udara.
Tiga belas orang yang selama ini berdiri mengepung arena itu serentak menyiapkan tombak dan bergerak mempersempit kepungan mereka.
Biarpun langkah ketiga belas orang berbaju hitam itu dilakukan sangat lambat, akan tetapi Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu paras mukanya berubah hebat.
Ternyata dia telah mengetahui ketiga belas orang berbaju hitam yang bersenjata tombak itu rata-rata memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahkan kemampuan mereka rasanya tidak di bawah kemampuan seorang tokoh Bu-lim.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak ...
dia tahu dalam pertarungan malam ini, sukar bagi pihaknya untuk mengungguli lawan, berarti satu-satunya jalan yang tersedia bagi pihaknya adalah berusaha meloloskan diri dari kepungan.
Berpikir sampai di sini tiba-tiba Bong Thian-gak berbisik kepada Ang Teng-siu.
"Ang-huhoat, dengarkan, tatkala aku menyerang Si-hun-mo-li nanti, kalian harus menghimpun segenap kekuatan untuk melindungi aku agar lolos dari kepungan."
Baru saja perkataan itu selesai, mendadak tampak Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu telah mengundurkan diri ke arah timur, sebagai gantinya ketiga belas orang berbaju hitam bertombak itu membentuk sebuah barisan yang sangat aneh dan mengepung para jagoan di tengah gelanggang.
Mendadak Ji-kaucu yang telah berada di luar arena berteriak aneh.
"Mo-li, mengapa kau tak mengundurkan diri?"
Teriakan itu diutarakan dengan suara tinggi melengking dan menusuk pendengaran, diutarakan dengan sangat lamban.
Tatkala mendengar suara itu, bagi Si-hun-mo-li seruan itu seakan-akan mengandung daya iblis yang luar biasa, sekujur badannya gemetar keras, dengan cepat dia membalikkan badan dan berjalan menuju ke arah Ji-kaucu.
Pada saat itulah tubuh Bong Thian-gak secepat sambaran kilat telah berkelebat ke depan dan mendorong tubuh Si-hunmo-li ke belakang.
Kini Pek-hiat-kiam telah disarungkan kembali.
Bong Thiangak dengan lengan tunggalnya yang lebih cepat daripada kilat dan lebih tajam daripada pedang telah menyambar ke muka.
Sementara itu telapak tangan kanannya sudah menyentuh tiga buah jalan darah penting di punggung Si-hun-mo-li.
Seruan tertahan bergema, jalan darah Mi-bun-hiat di punggung Si-hun-mo-li sudah kena terhajar.
Tapi pukulan itu tidak membuatnya tak sadarkan diri, setelah bergemanya jeritan kaget, Si-hun-mo-li membalikkan badan sambil melepaskan sebuah pukulan pula ke jalan darah Ciang-hiat di dada Bong Thian-gak.
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Si-hun-mo-li sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan Hut-hiat-sengmeh-jiu-hoat yang dilepaskan olehnya, dalam tertegunnya lekas dia mengegos ke samping untuk menghindarkan diri.
Tentu saja serangan balasan Si-hun-mo-li mengenai tempat kosong, tapi dia pun segera melompat ke depan dan melayang pergi.
Dalam pada itu empat tombak panjang telah menusuk ke tubuh Bong Thian-gak.
Hong-kong Hwesio beserta kedua muridnya yang gagu dan tuli turut menerima serangan pula, sudah jelas para jago dikepung dalam pusat barisan tiga belas orang berbaju hitam.
Bong Thian-gak memang sudah mengetahui kelihaian ketiga belas orang baju hitam itu, bila mereka sampai terkurung dalam barisan itu, biarpun dia dan Hong-kong Hwesio belum tentu terkena musibah, namun para pelindung hukum perguruannya bakal menemui celaka atau tertumpas sama sekali.
Itulah sebabnya Bong Thian-gak segera membentak keras, secepat kilat tangan kanannya melolos Pek-hiat-kiam, lalu "Trang", percikan bunga api beterbangan ke empat penjuru.
Biarpun keempat tombak itu berhasil ditangkis ke samping, namun sebatang tombak yang lain meluncur ke punggung Bong Thian-gak dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Sedemikian cepatnya tombak itu hingga pada hakikatnya hampir tiada orang yang bisa menghindarkan diri.
Ang Teng-siu yang berada di sisinya segera berteriak kaget.
"Hati-hati Buncu!"
Padahal teriakan Ang Teng-siu itu tidak ada gunanya, biarpun Bong Thian-gak bermaksud menghindar, namun sudah dapat dipastikan ia akan tewas di ujung tombak itu sejak tadi.
Kepandaian silat Bong Thian-gak benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan, tanpa berpaling lagi kaki kirinya maju setengah langkah ke samping, tombak tadi segera menyambar lewat dari bawah ketiaknya.
Jeritan ngerl yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, sebutir batok kepala orang berbaju hitam segera terbang ke udara.
Tapi dengan bergemanya suara jeritan itu, secara beruntun bergema pula empat kali jeritan ngeri dan dengusan tertahan lainnya.
Bong Thktn-gak memandang ke arena, ternyata empat orang pelindung hukumnya tertembus oleh empat tombak tajam pada bagian dadanya, darah segar segera berhamburan kemana-mana, jiwa mereka pun lenyap seketika.
Tak terlukiskan rasa kaget Bong Thian-gak, ia segera membentak.
"Ang Teng-siu, kalian tak usah bertarung lagi!"
Di tengah bentakan, Bong Thian-gak melompat mundur, pedang segera diayunkan membabat empat orang berbaju hitam.
Gerakan keempat orang berbaju hitam itu cepat tak terlukiskan, baru saja serangan Bong Thian-gak dilancarkan, tombak mereka sudah dicabut dari tubuh mayat, kemudian serentak diayunkan ke muka untuk menangkis datangnya ancaman pedang Bong Thian-gak itu.
Di satu pihak Bong Thian-gak terancam mara bahaya, di pihak lain Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya juga mengalami nasib yang sama, mereka menghadapi serangan demi serangan dari orang-orang baju hitam dan tombaknya yang menyerang secara gencar.
Sedemikian bertubi-tubinya ancaman yang datang, membuat ketiga orang itu hanya bisa menangkis belaka, pada hakikatnya sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan serangan belasan.
Sesungguhnya kepandaian silat Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya sangat hebat, tenaga dalam yang mereka miliki pun mengejutkan orang, tapi serangan tombak musuh amat gencar, ini membuat suasana segera dikuasai lawan.
Jurus-jurus serangan tombak kawanan jago berbaju hitam memang hebat dan tangguh, serangan-serangan mereka atas lawan bukan serangan tunggal yang terpotong-potong, melainkan serangan berantai yang betul-betul hebat.
Setelah tusukan itu lewat, tusukan lain kembali meluncur datang dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka yang berantai seakan-akan ada seribu batang tombak yang menyerang tiada hentinya.
Kepandaian silat yang dimiliki Bong Thian-gak termasuk amat lihai, seandainya dia berniat meloloskan diri dari kepungan musuh, hal itu dapat dilakukan secara mudah, tapi dia tak bisa berbuat begitu, dia wajib melindungi keselamatan jiwa keenam anak buahnya yang saat itu sudah terkepung di tengah barisan lawan.
Dalam sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Bong Thian-gak mengendus segulung bau harum yang aneh sekali.
Dengan terkejut dia pun segera berteriak.
"Hati-hati dengan racun jahat!"
Baru saja bentakan itu dikumandangkan, Ang Teng-siu berenam sudah bertumbangan ke tanah.
Hong-kong Hwesio dan muridnya turut sempoyongan pula seakan-akan setiap saat bakal roboh.
Dari luar lingkaran pengepungan, dengan cepat bergema gelak tawa menyeramkan dari Ji-kaucu, kemudian ia berseru penuh kebanggaan.
"Untuk membekuk kalian, merupakan pekerjaan yang amat mudah. Hahaha, sekarang seluruh halaman gedung ini telah dipenuhi oleh asap dupa beracun Khi-hiang-gi-tok, akan kulihat siapa lagi yang mampu meninggalkan halaman ini barang selangkah pun."
Sementara itu Bong Thian-gak telah menutup pernapasannya, tapi berhubung dia sudah mengendus segulung bau racun, benaknya mulai terasa kalut dan rasa pusing tiba secara bertubi-tubi.
Diiringi pekik nyaring yang menusuk pendengaran, Bong Thian-gak menghimpun tenaga dalamnya terus melejit ke udara, lalu dengan cepat dia menerjang keluar lingkaran pekarangan.
Bayangan orang segera berkelebat di udara, tiga orang berbaju hitam dengan menyilangkan tiga batang tombak menghadang jalan pergi anak muda itu.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti benak Bong Thian-gak sekarang, pedangnya kontan dibacokkan kian kemari.
Pek-hiat-kiam memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata, hujan darah pun berhamburan.
Tiga sosok mayat orang berbaju hitam segera rontok dari tengah udara, sedangkan Bong Thian-gak sendiri juga ikut terjatuh.
Ternyata serangan pedang yang dilancarkan Bong Thiangak tadi merupakan serangan hawa pedang tujuh langkah melukai musuh, merupakan ilmu tingkat paling tinggi dalam ilmu pedang.
Begitu serangan pedang dilancarkan, biarpun ada seratus orang terkumpul dalam lingkungan tujuh langkah dari posisinya, semua akan tewas dengan kepala terpenggal dan darah bercucuran, kelihaiannya luar biasa.
Tapi ilmu pedang semacam ini juga boros dalam penggunaan tenaga dalam, itulah sebabnya Bong Thian-gak turut terjatuh.
Dengan mengendorkan hawa murni secara tiba-tiba, Bong Thian-gak kembali menghirup segulung udara.
Pada saat itulah Liu Khi yang berada di sisi arena berseru sambil tertawa.
"Kebenaran satu depa lebih tinggi, satu tombak lebih tebal, biarpun racun dupa harum Ji-kaucu sangat lihai, sayang sekali tidak manjur bagi orang she Liu."
Bong Thian-gak menyaksikan beberapa titik cahaya putih memancar dari tangan Liu Khi dengan kecepatan tinggi.
Dimana cahaya putih berkelebat, jeritan ngeri bergema susul-menyusul.
Dalam pada itu tubuh Bong Thian-gak sudah mulai gontai, namun dia masih dapat menyaksikan sisa kesembilan orang berbaju hitam itu satu demi satu terhajar golok terbang dan tergeletak di atas tanah.
Tenaga dalam Liu Khi yang begitu mengejutkan membuat Bong Thian-gak merasa terperanjat sekali.
"Hahaha, Liu Khi, sekarang tinggal kau seorang. Rasanya kau tak akan mampu menandingi kami, bukan?"
Liu Khi tertawa dingin, balasnya.
"Ji-kaucu, perhitunganmu salah besar, Toa-cengcu Kim-liong-seng-kiam-ceng Mo Huithian serta Han Siau-liong dari partai kami telah sehat walafiat kembali, kekuatan kami cukup untuk bertarung melawan kalian."
Ketika mendengar itu, Bong Thian-gak mendongakkan kepalanya, benar juga Han Siau-liong serta Mo Hui-thian telah bangkit semua. Sambil tertawa dingin Mo Hui-thian berkata.
"Sim Tiongkiu, Ji-gwat-soh-hun-ci (ilmu jari pengunci sukma) tak bisa membunuh orang. Hehehe, padahal kau terlalu percaya pada kemampuanmu sendiri, kau anggap Mo Hui-thian itu siapa? Memangnya bisa dibunuh oleh serangan jarimu itu?"
Sekarang Bong Thian-gak baru sadar bahwa Liu Khi dan Mo Hui-thian memang benar-benar mempunyai tujuan pribadi, rupanya dia dan Hong-kong Hwesio sekalian memang sengaja diatur agar bisa menahan kekuatan Put-gwa-cin-kau paling dulu, kemudian merekalah yang akan menjadi si nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya.
Kelicikan dan kemunafikan orang-orang di dunia persilatan memang sungguh menakutkan.
Secara lamat-lamat Bong Thian-gak menyaksikan pula bagaimana Liu Khi, Mo Hui-thian serta Han Siau-liong sekalian melangsungkan pertarungan sengit melawan Ji-kaucu dan Sim Tiong-kiu sekalian.
Sayang racun dupa sudah semakin menyerang kesadarannya, lambat-laun Bong Thian-gak mulai pudar kesadarannya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Bagaimana hasil pertarungan berdarah antara Liu Khi sekalian dengan Put-gwa-cin-kau?
Tentu saja dia tak dapat melihat dengan mata kepala sendiri.
oo Angin berhembus kencang, putaran roda kereta bergema memecah keheningan.
Ketika Bong Thian-gak sadar dari pingsannya, dia lihat keempat anggota badannya sudah dirantai orang, rantai yang amat besar dan berat.
Kini dia sedang berbaring dalam kereta kuda yang gelap-gulita hingga tak nampak kelima jari tangannya.
Tatkala baru mendusin dari pingsannya tadi, Bong Thiangak merasakan sekujur badannya linu dan sakit.
Badannya terasa kaku dan kesemutan, maka itu dia berbaring saja tanpa bergerak untuk sementara waktu, telinganya menangkap suara derap kaki dan roda kereta, segera menyadarkan dia bahwa dirinya sedang berada dalam perjalanan.
Selang beberapa saat, Bong Thian-gak coba untuk menyalurkan hawa murninya mengelilingi badan, ternyata semuanya berjalan normal.
Semua ini membuat hatinya lega.
Dia mencoba untuk duduk, ternyata rantai yang membelenggu anggota tubuhnya diikat pada lantai kereta, karena itu biarpun dia bisa duduk tegap, namun sama sekali tak sanggup menggeser tubuh barang setengah langkah pun.
Dengan mengerahkan ketajaman matanya, Bong Thian-gak mencoba memperhatikan rantai yang besarnya seibu jari itu.
Dia tahu, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sulit rasanya untuk mematahkan rantai itu.
Maka setelah menghela napas panjang, terpaksa dia hanya duduk tenang dalam kereta, pikirnya.
"Orang-orang Put-gwacin-kau berhasil membekukku, hendak dibawa kemanakah diriku?"
Membayangkan hal itu, tanpa terasa Bong Thian-gak memicing mata dan mengintip lewat sela-sela lantai kereta.
Yang terlihat olehnya hanya padang rumput yang sangat luas, tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa sehingga timbul perasaan jemu bagi siapa pun yang melihatnya.
Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya, mengintip dari sudut lain.
Kali ini dia berhasil melihat kereta yang ditumpanginya dihela oleh enam kuda yang tinggi besar dan gagah, tampak di bagian kusir duduk tiga orang sais.
"Hei, mengapa aku tidak mencoba bertanya kepada mereka?"
Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.
Belum lenyap ingatan itu, suara bentakan bergema, menyusul terdengar pula suara ringkik kuda.
Kereta kuda yang sedang dipacu kencang itu seketika terhenti.
Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan pandangan matanya keluar celah-celah dinding kereta.
Mendadak dia saksikan dua titik cahaya putih menyambar datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Menyaksikan kedua titik cahaya itu, Bong Thian-gak menjadi amat terkejut, diam-diam dia berpekik dalam hati.
"Golok sakti berlengan tunggal!"
Ternyata dia mengenali kedua titik cahaya putih itu sebagai sambaran pisau terbang milik Liu Khi yang menggetarkan seluruh jagat.
"Bila pisau terbang Liu Khi sudah disambit keluar, sudah pasti kedua kusir di atas kereta akan tewas dalam keadaan mengerikan!"
Pikir Bong Thian-gak dalam hati. Kenyataan suasana di sekeliling tempat itu memang amat sepi dan hening. Tapi selang beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara Liu Khi.
"Kalian berdua bisa menghindarkan diri dari sambaran pisau terbangku, ini membuktikan ilmu silatmu pasti luar biasa, ayo cepat sebutkan siapa namamu?"
Bong Thian-gak terkejut bercampur keheranan setelah mendengar ucapan itu, pikirnya.
"Aku sudah pernah menyaksikan kehebatan pisau terbang Liu Khi, kenyataan sekarang kedua kusir itu mampu menghindar dari sambaran pisau terbangnya, terbukti ilmu silat mereka memang hebat."
Dalam pada itu satu di antara kedua kusir kereta itu telah berkata diiringi suara tawanya yang menyeramkan.
"Tampaknya kau adalah Liu Khi."
Bong Thian-gak yang mengintip dari balik celah-celah kereta dapat melihat dengan jelas bahwa di antara jalan raya, berdiri tegak seorang jangkung bertubuh ceking dan berjubah hitam, orang itu jelas Liu Khi adanya.
Cahaya mata yang tajam dan menggidikkan mencorong dari balik mata Liu Khi, diawasinya kedua orang yang berada di atas kereta itu, kemudian setelah tertawa seram, katanya.
"Betul, akulah Liu Khi, kau anggap ada orang yang berani menyaru sebagai diriku?"
Baru selesai perkataan itu, dari atas kereta bergema lagi gelak tawa panjang.
"Sudah lama kudengar pisau terbang Liu Khi konon akan membawa bencana bila dilepaskan, selamanya tidak pernah meleset, tapi kenyataannya pada malam ini ... hahaha ...."
Suara gelak tertawa panjang yang sinis dan mengandung nada penghinaan segera bergema. Sementara itu Liu Khi menanti dengan tenang, sampai gelak tawa mereka reda, dia berkata dengan hambar.
"Biarpun kalian berdua bisa menghindarkan diri dari pisau terbangku, apakah dapat juga menghindarkan diri dari bacokan golok yang terselip di pinggangku sekarang?"
"Silakan saja dibuktikan,"
Ucap orang yang berada di atas kereta itu seram.
"Bagus sekali."
Begitu kata terakhir diutarakan, Liu Khi sudah berkelebat ke depan dengan kecepatan tinggi. Mendadak dari atas kereta berkumandang suara seruan kaget serta jerit kesakitan.
"Blam", diiringi suara benturan keras, papan kereta bagian depan telah jebol sebuah lubang besar, percikan darah segar segera berhamburan dari dalam kereta, menyusul hancuran kayu berserakan kemana-mana. Sekarang Bong Thian-gak bisa menyaksikan wajah Liu Khi yang berdiri di depan kereta dengan lebih jelas, dua sosok mayat yang berlumuran darah kelihatan tergeletak di sisi sebelah kiri. Tampaknya satu di antara mereka belum menemui ajal, dengan suara mengerikan ia berseru.
"Golok saktimu ... sungguh cepat, aku ...."
Sebelum selesai perkataan itu, orangnya sudah menghembuskan napas penghabisan.
Bong Thian-gak duduk dalam ruangan kereta tanpa bergerak, rupanya dia pun dibuat terperanjat oleh kecepatan golok Liu Khi.
"Sebenarnya dengan cara bagaimanakah dia menghabisi nyawa kedua orang itu?"
Berbagai ingatan menyelimuti benak Bong Thian-gak.
Pada saat itu Liu Khi masih berdiri tanpa menggenggam goloknya, ini membuktikan setelah ia mencabut senjatanya membunuh kedua lawannya tadi, golok itu disarungkan kembali ke sisi pinggangnya.
Dalam pada itu Liu Khi dengan sorot mata yang menggidikkan juga sedang mengawasi Bong Thian-gak yang berada dalam kereta, ujarnya hambar.
"Bong-buncu, kalau kau sudah sadar, mengapa tidak berusaha melepas dirimu sendiri?"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Memangnya kau datang kemari untuk menolongku?"
Dia balik bertanya.
"Aku datang untuk membunuhmu."
"Kalau demikian, mengapa belum juga turun tangan?"
"Aku sedang mencari kesempatan."
"Kini anggota tubuhku dirantai, bukankah kesempatan baik ini sukar dijumpai?"
Ketika mendengar ucapan itu, Liu Khi segera mengawasi badan Bong Thian-gak dengan lebih seksama, kemudian dia baru manggut-manggut seraya ujarnya.
"Aku tidak melihat kaki tanganmu dirantai orang, andaikata kulancarkan serangan dengan membabi-buta tadi, sudah pasti akan kusesali sepanjang zaman."
"Mengapa menyesal?"
"Kau anggap membunuh orang yang sama sekali tak bisa berkutik adalah suatu perbuatan yang membanggakan?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Kalau dibicarakan soal untung-ruginya, aku rasa hal itu tak perlu diperhatikan lagi."
Mendadak Liu Khi menarik wajah dan berkata dengan suara sedingin es.
"Bong Thian-gak dengarkan baik-baik. Selagi berada dalam kuil Hong-kong-si, kau pernah menyelamatkan jiwaku satu kali, malam ini aku telah membantumu pula lolos dari kesulitan dengan menghabisi nyawa mereka, berarti di antara kita berdua sudah impas, siapa pun tidak berhutang kepada siapa."
"Tapi kau belum membantuku membuang semua belenggu yang membebani tubuhku?"
"Betul!"
Liu Khi tertawa dingin.
"Sekarang juga aku akan memapas kutung rantai itu."
Selesai berkata, cahaya golok kembali berkelebat tiga kali.
Bong Thian-gak merasa kulit badannya tersambar angin dingin, disusul suara gemerincing nyaring, tahu-tahu rantai yang membelenggu kaki tangannya sudah rontok ke atas tanah.
Ketika ia mendongakkan kepala, tampak golok panjang itu sudah tersoreng kembali di pinggang Liu Khi.
Dengan perasaan kaget dan heran Bong Thian-gak menghela napas panjang, katanya.
"Ilmu golokmu benarbenar tidak ada tandingannya, lagi pula golok yang tersoreng di pinggangmu itu sudah pasti senjata mustika yang dulu diandalkan panglima kenamaan."
Sembari berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berdiri dari lantai kereta. Mendadak Liu Khi berkata dengan suara dalam.
"Perhatikan baik-baik, setiap saat aku akan melolos lagi golokku untuk mencabut nyawamu."
"Sungguhkah itu?"
Tanya Bong Thian-gak dengan wajah tertegun.
"Buat apa aku berbohong?"
Liu Khi tertawa dingin. Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, sikapmu yang sebentar bersahabat sebentar bermusuhan, benar-benar membuat aku tidak habis mengerti."
"Asalkan Bong-buncu bersedia mempersembahkan hartakarun itu, aku bersedia bekerja sama dengan pihak kalian,"
Kembali Liu Khi berkata dengan suara hambar.
"Peta harta-karun?"
Bong Thian-gak mengerutkan dahi.
"Kau maksudkan peta harta-karun peninggalan Mo-lay-cinong?"
"Betul, peta harta-karun inilah yang kumaksudkan,"
Liu Khi berkata sambil tertawa dingin.
"Hong-kong Hwesio bilang, benda itu sudah berada di tangan Bong-buncu."
Sambil tertawa Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Liu-sianseng telah dibohongi Hong-kong Hwesio rupanya, aku berani bersumpah tak pernah mendapatkan peta hartakarun itu."
"Bong-buncu adalah orang yang pertama kali datang di kuil Hong-kong-si, kenyataan sekarang peta harta-karun itu tidak berada di tangan Hong-kong Hwesio dan muridnya lagi. Lantas berada di tangan siapa kalau bukan berada di tanganmu?"
Kata Liu Khi. Bong Thian-gak menggeleng kepala lagi.
"Sewaktu berada di kuil Hong-kong-si, bukankah Liusianseng telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana aku terkena racun dupa Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau dan roboh tak sadarkan diri, hingga setengah jam berselang aku baru mendusin dari pingsanku. Ai, apakah Liu-sianseng bersedia menerangkan bagaimana akhir pertarungan di kuil Hong-kongsi?"
"Hong-kong Hwesio, Mo Hui-thian, Han Siau-liong, dan aku berempat berhasil menerjang keluar kepungan,"
Ucap Liu Khi dingin.
"Bagaimana dengan para pelindung hukum perkumpulan kami?"
"Enam orang pelindung hukum bersama kedua murid Hong-kong Hwesio telah menemui ajal dalam pertarungan."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang dengan sedih.
"Ai, kerugian yang diderita partai kami semalam betul-betul besar sekali!"
Liu Khi tertawa dingin.
"Kecuali kau dan aku berdua yang tidak menderita luka dalam yang parah, Hong-kong Hwesio beserta Han Siau-liong dan Mo Hui-thian terluka parah."
"Kalau begitu pertolongan yang Liu-sianseng berikan sekarang adalah demi peta harta-karun itu?"
"Boleh dibilang begitu."
"Kalau begitu aku Bersedia mengajakmu pergi mencari peta harta-karun itu."
"Kau hendak membawa aku kemana?"
"Soal ini tak perlu kau tanyakan, kini Hong-kong Hwesio berada dimana?"
"Bong-buncu, bila kau tidak bersedia untuk bekerja sama denganku, jangan salahkan bila aku orang she Liu turun tangan keji kepadamu!"
Ancam Liu Khi sambil tertawa dingin. Bong Thian-gak kembali menghela napas panjang.
"Seandainya peta harta-karun itu benar-benar berada di sakuku, dan aku sudah dibekuk orang sekian lama, kau anggap peta itu masih utuh di sakuku?"
"Betul!"
Liu Khi manggut-manggut.
"Orang-orang Put-gwacin-kau mustahil tidak melakukan penggeledahan atas dirimu, tapi kau pun tak bakal sebodoh ini dengan menyembunyikan peta harta-karun itu dalam sakumu!"
Bong Thian-gak segera menggeleng kepala.sambil tertawa getir.
"Liu-sianseng benar-benar sudah ditipu habis-habisan oleh Hong-kong Hwesio. Bila kau tidak percaya, mari kita bersama-sama berangkat ke tempat tinggalnya untuk menanyakan persoalan ini kepadanya."
"Tidak usah,"
Tampik Liu Khi sambil tertawa dingin. Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, benda mustika di kolong langit hanya dimiliki oleh mereka yang berjodoh, aku sama sekali tidak berniat mendapatkan harta karun itu."
"Hehehe, siapa yang mau percaya ucapanmu itu?"
"Bila Liu-sianseng tidak percaya, aku pun tak bisa berbuat apa-apa."
Mendadak Liu Khi menarik wajah, lalu berkata.
"Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku selalu kuatir tak mampu menghabisi nyawamu dalam sekali ayunan golok."
"Di antara kita berdua boleh dibilang tiada dendam sakit hati apa pun, aku rasa kita tak perlu menyelesaikan persoalan ini dengan mempergunakan kekerasan."
"Tapi bagi umat persilatan pun tidak selalu harus membunuh orang dikarenakan ada hubungan permusuhan ataupun dendam."
"Betul,"
Bong Thian-gak mengangguk.
"tapi aku rasa tiada kepentingan bagi kita berdua melangsungkan duel menentukan mati-hidup."
"Memang begitulah kenyataannya, maka dari itu aku harus mohon diri dulu.". Selesai berkata, Liu Khi segera melejit ke tengah udara dan berlalu dari sana. Mimpi pun Bong Thian-gak tak pernah menyangka kalau Liu Khi bakal angkat kaki begitu selesai mengatakan hendak pergi, sementara dia masih tertegun, bayangan tubuh Liu Khi sudah lenyap dari pandangan mata. Menanti Bong Thian-gak berjalan keluar dari ruang kereta, mendadak muncul seseorang di hadapannya. Di bawah cahaya bintang, tampak orang itu mengenakan pakaian berwarna putih bersih, rambutnya juga berwarna putih, rambut yang panjang itu hampir menyentuh permukaan tanah. Melihat kemunculan orang tak diundang ini, Bong Thiangak merasa amat terperanjat, dia segera menghardik.
"Siapakah kau?"
Bong Thian-gak kuatir lawan itu setan atau sukma gentayangan.
Padahal kemunculan orang itu amat misterius dan sama sekali tidak menimbulkan suara, apalagi rambut putihnya yang terurai hampir menyentuh tanah, membuat bentuk orang itu mirip bayangan setan yang muncul di tengah kegelapan.
Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, orang berambut putih itu berdiri di hadapannya, kendati begitu sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan, sinar tajam itu mencorong dari matanya yang tertutup rambut putih dan mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera menegur.
"Hei, mengapa kau tidak bersuara?"
Orang berbaju putih itu masih saja membungkam, namun Bong Thian-gak dapat melihat tubuhnya bergerak seperti sukma gentayangan, tubuhnya tidak bergoyang, lututnya tidak menekuk, namun dia bergerak mendekatinya.
Melihat cara lawan menggerakkan tubuh, Bong Thian-gak terkesiap, dia sadar lawan memiliki ilmu silat yang sangat dahsyat.
Dalam terkesiapnya, cepat Bong Thian-gak mengerahkan hawa sakti Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh badannya.
Pada saat itulah tiba-tiba orang itu bergerak maju lagi.
Ketika segulung angin berkelebat, rambut putih yang panjang dan terurai ke bawah itu tiba-tiba bergerak dan langsung menggulung ke tubuh anak muda itu.
"Blam", bunyi ledakan yang keras bergema. Rambut panjang yang menggulung datang mengikuti hembusan dingin tadi segera terhajar oleh segulung hawa sakti tanpa wujud yang membuatnya terpental balik. Orang berbaju putih itu segera memutar tubuhnya sebanyak tiga kali seperti gangsingan, lalu jeritnya.
"Siapakah kau?"
"Ban-lau-loan-sin-kang (tenaga lembut selaksa serat) milikmu betul-betul pantas disebut ilmu manunggal di kolong langit,"
Ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Seandainya aku tidak mempersiapkan diri sebelumnya, saat ini tubuhku pasti sudah penuh lubang berdarah dan tewas sejak tadi."
Ternyata sapuan rambut putih yang menggulung cepat tadi merupakan sejenis ilmu silat yang sangat hebat dalam persilatan, ketika lawan melontarkan rambutnya yang lembut tadi, sesungguhnya ibarat beribu-ribu batang jarum lembut dan pedang tajam yang menyapu tiba.
Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan, orang itu segera bertanya.
"Hawa Sin-kang apakah yang telah kau pergunakan untuk mematahkan Ban-si-ciam (selaksa jarum lembut) tadi?"
Sekarang Bong Thian-gak dapat melihat jelas raut wajah lawan, ternyata orang itu berwajah pucat seperti salju, bentuk mukanya mirip monyet dan usianya antara enam puluh tahun.
Sambil berkerut kening Bong Thian-gak bertanya.
"Siapakah nama besarmu?"
"Mengapa kau tidak menjawab dulu pertanyaanku?"
Kata orang berambut putih. Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Hm, dilihat dari caramu melancarkan serangan keji tadi, mungkin kau telah mengetahui asal-usulku. Mengapa aku mesti memberitahukan lagi kepadamu?"
Orang berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Hehehe, betul, kau pasti Jian-ciat-suseng atau si Golok sakti berlengan tunggal, bukan?' "Aku adalah Jian-ciat-suseng,"
Jawab Bong Thian-gak.
"Ehm, aku sendiri adalah Pek Kau-kim (siluman monyet putih) dari gunung Thian-san,"
Orang berambut putih itu memperkenalkan diri.
"Kau bernama Pek Kau-kim?"
Tanya Bong Thian-gak sambil berkerut kening.
"Aku she Pek bernama Kau-kim, kalau tidak bernama Pek Kau-kim, lantas mesti bernama apa?"
"Rasanya di antara kita tak pernah terikat dendam kusumat atau sakit hati apa pun, bukan?"
Tanya Bong Thian-gak. Sekali lagi Pek Kau-kim tertawa terkekeh.
"Kau bukan yang membunuh kedua orang itu?"
"Bukan, bukan aku pembunuhnya,"
Bong Thian-gak menggeleng.
"Kalau bukan kau, lantas siapa yang telah membunuh mereka?"
Tiba-tiba Pek Kau-kim membentak. Bong Thian-gak termenung sebentar, kemudian dia balik bertanya.
"Boleh aku tahu, apa hubungan antara kedua korban itu dengan dirimu?"
"Mereka adalah muridku."
"Aduh celaka!"
Keluh Bong Thian-gak dalam hati.
"Kalau kedua orang itu adalah muridnya, bisa celaka!"
Berpikir sampai di situ, katanya kemudian sambil menghela napas panjang.
"Locianpwe, murid-muridmu bukan tewas di tanganku, bila kau tidak percaya, silakan meneliti kembali bekas-bekas luka mereka."
Pek Kau-kim tertawa seram.
"Kedua orang muridku ini diam-diam kabur turun gunung ketika aku sedang menutup diri, mereka memang pantas mampus. Cuma dengan kematian mereka, aku harus mencari seorang murid yang lain untuk menggantikan mereka berdua. Hm, Lohu ingin menerima kau sebagai muridku, ayo cepat ikut aku pulang ke gunung!"
Mendongkol bercampur geli Bong Thian-gak setelah mendengar perkataan itu, kemudian ujarnya.
"Walaupun aku merasa sangat gembira dapat menjadi muridmu, tapi hatiku bergidik sendiri melihat sikapmu yang acuh tak acuh dan sama sekali tidak menaruh perasaan iba mengetahui murid-muridmu mati terbunuh."
Mendadak Pek Kau-kim melotot, ia mengawasi Bong Thiangak tanpa berkedip, lalu tanyanya.
"Apakah kau menyuruh aku membalas dendam kematian mereka?"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bila murid terbunuh, sebagai guru kau wajib membalas dendam bagi kematian muridmu."
"Kalau begitu, kau memang benar-benar harus mati."
Di tengah pembicaraan itu, Pek Kau-kim segera menggetarkan tubuh, rambutnya yang panjang dengan dahsyat dan kecepatan tinggi langsung menusuk Bong Thiangak dari atas ke bawah.
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka lawan bakal melancarkan serangan sekali lagi, kali ini dia belum sempat menghimpun hawa murni Tat-mo-khikang untuk melindungi seluruh badan, maka ia terpaksa menghindar.
Tiba-tiba Bong Thian-gak merasakan dadanya amat sakit, dia menjerit kesakitan.
Bong Thian-gak terguling jatuh dari atas kereta dan tergeletak di atas tanah.
Gelak tertawa yang aneh memanjang dan penuh nada kebanggaan bergema, Pek Kau-kim mendesak maju dengan cepat, tangan kanannya secepat kilat menyambar tubuh Bong Thian-gak sambil bentaknya.
"Aku tidak percaya kau masih bisa meloloskan diri dari serangan jarum serat Pek Kau-kim!"
Baru selesai perkataan itu, Bong Thian-gak yang sudah tergeletak di atas tanah itu, mendadak melompat sambil melepaskan sebuah tendangan dengan kaki kanannya.
Jeritan aneh seperti pekikan monyet segera berkumandang, tubuh Pek Kau-kim mencelat, lalu "blam", roboh terjungkal di tanah.
Pek Kau-kim tak pernah bisa merangkak bangun kembali dari tanah.
Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun tak mampu merangkak bangun untuk sementara waktu, lengan tunggalnya digunakan untuk memegangi dada, sedangkan wajahnya pucat memperlihatkan rasa kesakitan, dia harus bergerak beberapa kali ke kiri dan kanan sebelum dapat merintih.
Setelah suara rintihan itu, rasa sakit yang menusuk dada Bong Thian-gak pun mereda dengan sendirinya.
Ia sadar bahwa dirinya selamat.
Ternyata setelah terkena babatan rambut panjang Pek Kaukim tadi, ada tujuh-delapan buah jalan darah di dada Bong Thian-gak yang nyaris tersumbat, ini menyebabkan hawa darah yang berada dalam dada berhenti untuk sesaat, napas pun ikut berhenti, membuat anak muda itu nyaris roboh tak sadarkan diri.
Ketika Bong Thian-gak berhasil menghirup udara, mendadak dari kejauhan sana muncul sesosok bayangan manusia.
Belum lagi bayangan tubuhnya berjalan mendekat, bau harum aneh yang amat menusuk penciuman telah berhembus mengikuti angin gunung.
Tatkala Bong Thian-gak menghirup udara lagi, ia sudah merasakan bau harum seperti bau bunga anggrek, air mukanya berubah hebat, dengan cepat ia melompat bangun.
Sorot matanya segera dialihkan ke arah datangnya bau harum bunga anggrek tadi.
Beberapa tombak di hadapannya kini berdiri seorang perempuan cantik bertubuh montok.
Ia mengenakan pakaian puth yang halus, rambutnya disanggul dan di atasnya dilingkari tiga butir mutiara yang memancarkan sinar gemerlapan.
Wajah perempuan itu tampak begitu angker dan serius, angkuh dan berwibawa seperti seorang ratu, terutama sorot matanya yang jeli dan tajam.
Gemetar keras sekujur tubuh Bong Thian-gak menyaksikan kehadiran perempuan itu, serunya dengan suara gemetar.
"Kau ... kau adalah Cong-kaucu."
Bong Thian-gak sudah pernah bersua dengannya, malah bagian lubuhnya yang paling rahasia pun pernah dilihatnya dengan jelas dan nyata, sudah barang tentu dia kenal Congkaucu Put-gwa-cin-kau yang amat termasyhur.
Perempuan cantik itu tertawa, tertawa amat manis.
Setelah itu ia mulai tertawa cekikikan, suaranya kian lama kian jalang, seperti suara pelacur yang sedang memperoleh puncak kenikmatan.
"Jian-ciat-suseng, kau masih mengenali aku, mengapa wajahmu pucat-pias? Hihihi, jangan harap kau dapat meloloskan diri dari cengkeramanku hari ini."
Dengan lemah-gemulai dan pinggul bergoyang, selangkah demi langkah ia berjalan mendekati Bong Thian-gak.
Sekarang Bong Thian-gak sadar, biar dia punya sayap pun, jangan harap bisa lolos dari cengkeramannya.
Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip, ia mengawasi perempuan itu berjalan hingga tiba di hadapannya, mendadak perempuan itu mengayun tangan kanannya.
Tiga jalan darah penting di tubuhnya seketika tertotok, kemudian upa yang terjadi tak teringat lagi olehnya.
Dalam lamat-lamatnya suasana, Bong Thian-gak menangkap suara seorang perempuan yang sedang berkata dengan lembut, merdu dan manis.
"Jian-ciat-suseng, kau telah menelan sebutir pil Siau-hun-wan. Siau-hun-wan merupakan pil dewa bagi manusia, khasiatnya boleh dibilang tak terlukiskan dengan kata-kata."
Dalam keadaan tubuh yang lemah-lunglai dan kesadaran yang masih samar-samar, Bong Thian-gak membuka mata lebar-lebar.
Ternyata dia sedang berbaring di atas ranjang yang terletak dalam sebuah kamar dengan cahaya lentera berwarna merah.
Selembar wajah cantik, tapi memancar senyuman genit dan jalang terpapar tepat di depan mata.
Bong Thian-gak masih mempunyai kesadaran yang jernih, dia dapat mengenali raut wajah itu, Cong-kaucu Put-gwa-cinkau.
Tatkala sinar matanya dialihkan ke bawah, hatinya kembali berdebar, ternyata perempuan itu hanya menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selembar kain sutera berwarna putih yang amat tipis.
Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan kembali sorot matanya ke arah lain, tanyanya cepat.
"Obat apa yang telah kau cekokkan kepadaku?"
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh dengan suaranya yang amat jalang.
"Hihihi, pil Siau-hun-wan. Satu jam kemudian kau akan mengetahui dengan sendirinya manfaat obat itu."
Pucat-pias wajah Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, lalu katanya.
"Kumohon kepadamu, bunuhlah aku!"
Rupanya Bong Thian-gak tahu Siau-hun-wan merupakan sejenis obat perangsang yang bisa mengalutkan orang.
Sebagai orang pandai, sudah tentu dia tahu akibat obat itu bila mulai bekerja, dia bakal menjadi seorang berhati binatang yang kehilangan akal budi, saat itu dia hanya tahu bagaimana melampiaskan napsu birahi.
Sambil tertawa merdu Cong-kaucu kembali berkata.
"Membunuh kau? Oh, tak semudah itu. Aku harus mempermainkan dirimu sampai puas sebelum menghabisi nyawamu, sebab aku kelewat membenci dirimu, boleh dibilang kau adalah lelaki yang paling kubenci di kolong langit dewasa ini."
Dalam keadaan demikian, Bong Thian-gak terbayang kembali bagaimana dia menghina dan mencemooh perempuan itu.
Tiba-tiba Bong Thian-gak meronta bangun, tapi entah mengapa sekujur badannya terasa lemas seolah-olah tak bertenaga, keempat anggota badannya lemas, tak setitik tenaga pun yang tersisa dalam tubuhnya.
Merasakan hal itu, Bong Thian-gak baru tahu segala sesuatunya bakal berakhir.
Diiringi gelak tertawa merdu, Cong-kaucu melanjutkan kata-katanya.
"Tempo hari kau telah membiarkan aku merasakan bagaimana tersiksanya oleh kobaran api birahi, maka hari ini aku pun menyuruh kau merasakan juga bagaimana enaknya penderitaan itu."
"Siau-hun-wan adalah pil perangsang yang akan membuktikan hawa napsu kaum lelaki. Satu jam kemudian obat itu akan mulai bekerja, saat itu kau akan berubah seperti binatang yang sedang birahi, kau hanya tahu bagaimana melampiaskannya, tapi kau tak akan pernah bisa memadamkan kobaran api birahimu itu, sebab Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang mengandung racun jahat, barang siapa berani mengadakan hubungan kelamin denganmu, maka perempuan itu akan mengisap sari racun tubuhmu yang akan berakibat kematian baginya. Oleh karena itu kau harus merasakan penderitaan kobaran api birahi untuk waktu lama tanpa memperoleh kesempatan melampiaskan.
"Penderitaan akan datang berulang-ulang. Saat kau menelan Siau-hun-wan ketiga, api birahi akan merusak semua syarafmu, saat itu kau pun akan berubah menjadi manusia tanpa sukma, tanpa pikiran, kau hanya akan menuruti perintahku, selama hidup akan tunduk dan menuruti perkataanku."
Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi badan Bong Thian-gak srtelah mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, lalu kitanya.
"Apakah Thay-kun juga menderita akibat perbuatanmu ini?"
"Benar,"
Cong-kaucu tertawa cekikikan.
"Dia pun pernah merasakan siksaan itu hingga menyebabkan kejernihan otaknya punah."
"Aku kuatir obat beracunmu itu bakal ketemu batunya dan tidak manjur seperti yang kau harapkan,"
Jengek Bong Thiangak sambil tertawa dingin. Sekali lagi Cong-kaucu cekikikan.
"Siau-hun-wan adalah obat mujarab yang diciptakan Gi Jian-cau, khasiatnya luar biasa dan selama hidup tidak akan meleset."
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak menghela napas panjang, biarpun ia belum pernah bersua Gi Jian-cau, tapi dia pun termasuk anggota Hiat-kiam-bun.
Mengapa orang itu bersedia menciptakan obat beracun dan membantu Congkaucu mencelakai umat persilatan?
Tiba-tiba Cong-kaucu bangkit, lalu dengan lemah-gemulai beranjak keluar dari dalam kamar.
Bong Thian-gak berbaring di atas pembaringan dengan tenang, sedang benaknya mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari cengkeraman iblis itu.
Dia meronta dan berusaha merangkak kabur, akan tetapi sayang sekali tubuhnya lemas dan sama sekali tidak bertenaga.
Mendadak terdengar suara derap kaki manusia mendatangi, Bong Thian-gak segera menoleh.
Dari balik ruangan tiba-tiba muncul tiga orang perempuan, dua gadis berdandan genit dan seorang lagi perempuan berusia empat puluh, tubuhnya montok dan bahenol.
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 15
Baca Juga: Pedang Ular Emas 1