Eps 15 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.
"Benar Baginda pernah berjanji, dalam jangka tiga bulan dia akan bertindak mencopot kedudukan menteri dorna Liong Bun-kong. Kini batas tiga bulan sudah hampir habis, bersama nona In kami ingin tiba di kota raja lebih dini."
"Kalian bagaimana?"
Tanya Ong Goan-tin kepada Kek Lamwi dan Toh So-so.
"Janji Tan-toako dengan Baginda Raja adalah janji pertemuan Pat-sian pula, Lim-toako dan Lok-toako pasti sudah menunggu kami di kota raja. Maka kami juga akan berangkat bersama Tan-toako."
"Apakah luka-lukamu tidak mengganggu?"
Tanya Ong Goan-tin.
"Sudah lama sembuh,"
Sahut Kek Lam-wi "Bahwa kalian sedang mengemban tugas, sudah tentu aku tidak enak menahan kalian disini. Nona Bu kuharap sementara kau tinggal disini saja."
Memangnya Bu Siu-hoa sekarang sudah sebatang kara, mendapat tempat berteduh sudah tentu dia senang, maka permintaan Ong Goan-tin dia terima dengan rasa senang dan lega.
000OOO000 Pendek kata.
Sepanjang jalan mereka tidak menghadapi rintangan apa-apa.
Hari itu mereka tiba di Pakkhia.
Untuk menjaga orang tidak mengenali mereka, sebelum masuk kota In San gunakan kepandaian tata riasnya yang dia pelajari dari Han Cin merobah wajah Tan Ciok-sing dan Kek Lam-wi menjadi dua pemuda sekolahan yang mau ujian ke kota raja, sementara dia sendiri bersama Toh So-so ganti berpakaian laki-laki, menyamar jadi kacung mereka.
Jalan raya lalu lintas padat, kereta gerobak berlalu lalang, kota raja masih seramai dulu, segala sesuatunya tiada perbedaan dengan tiga bulan yang lalu.
Tapi perasaan hati mereka yang jauh berbeda dibanding tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan yang lalu mereka bertekad meski gugur di medan lagajuga rela asal berhasil menemui raja, sudah tentu yang diharapkan usaha mereka sukses yaitu membunuh Liong Bun-kong sekalian.
Meski tujuan mulia, namun mereka harus bertindak secara menggelap, harapan cerah tidak pernah nampak di depan mata.
Kini mereka sudah sadar, umpama Baginda Raja tidak mau tunduk akan kehendak rakyat banyak namun keyakinan mereka untuk memberantas kaum dorna lebih besar, selaput gelap yang selama ini menyelubungi harapan masa depan sudah sirna tak berbekas lagi.
Waktu mereka tiba di kota raja kebetulan adalah hari terakhir dari batas waktu tiga bulan.
Malam itu mereka menginap di hotel, besok pagi mereka langsung menuju ke Say-san berkunjung ke markas cabang Kaypang.
Baru saja mereka keluar kota, terasa dua orang telah menguntit mereka.
Kedua orang ini berkepala kecil dengan muka panjang, mata kecil hidung pesek, dari tampang dan tingkah laku mereka, siapapun akan tahu bahwa kedua orang ini jahat dan menjijikan.
Lekas sekali kedua orang ini sudah memburu dekat.
Sekejap Tan Ciok-sing celingukan, dilihatnya kanan-kiri tiada orang, segera dia menyongsong kedatangan mereka.
"Saudara ini tentu sudah lelah."
Kedua orang itu berhenti, sekejap saling pandang lalu satu persatu mengawasi mereka, mimik mukanya kelihatan aneh. Akhirnya yang perawakan agak pendek berkata.
"Lelah sih tidak. Kalian jalan-jalan, kami juga jalan-jalan, kalau bilang lelah, tentunya kalian juga lelah."
Sengaja dia meninggikan suara, jelas berusaha menutupi suara aslinya supaya orang tidak kenal logat suaranya. Tan Ciok-sing berkata sinis.
"Jangan pura-pura, kalian ini kawan dari garis mana, lekas terus terang."
Yang perawakan besar berkata.
"Apa maksudnya kawan dari garis mana? Coba kau katakan dulu kau dari garis mana, supaya kami maklum apa yang kau maksud."
"Baik terus terang kuberitahu kepadamu. Aku adalah kawan dari garis yang sedang dicari oleh majikanmu,"
Di kala mengucap 'mu' dua jari tangannya yang terangkap tiba-tiba menutuk ke Hiat-to penggagu orang, dia tidak akan mengancam jiwa orang, maka gerakannya cukup gesit, orang biasa terang tak mungkin bisa meloloskan diri.
Tak nyana dengan mudah laki-laki ini berhasil menghindar, mulutnya malah berkaok.
"Lho, mulut bilang kawan tapi perbuatanmu tidak layak sebagai kawan."
Di kala Tan Ciok-sing turun tangan itu, laki-laki pendek di sebelahnya tiba-tiba tertawa cekikikan sambil menutup mulut. Katanya.
"Adik In masa kau tidak mengenalku lagi,"
Ujarnya.
"Toako jangan gegabah,"
Seru In San.
"diakan Han-cici..."
Hampir bersamaan In San berteriak dengan laki-laki pendek itu. Sekilas Tan Ciok-sing melenggong, hampir bersamaan pula diapun berteriak dengan lawannya.
"Toan-toako kiranya kau."
"Tan-hengte ternyata kau."
Ternyata dua orang yang menguntit mereka ini bukan lain adalah kawan baik mereka yaitu Toan Kiam-ping dan Han Cin. In San tertawa, katanya.
"Ooo, ternyata guruku telah datang, tak heran samaranku konangan,"
Maklum kepandaian riasnya dia pelajari dari Han Cin.
"Toan-toako,"
Kata Tan Ciok-sing bukankah kau sudah pulang ke Tayli? Kenapa secepat ini sudah berada di kota raja pula?"
"Janjimu tiga bulan dengan baginda, tidak pernah kulupakan,"
Ujar Toan Kiam-ping.
"Bukankah waktu itu orang banyak mengharap supaya kau melakukan usaha besar di kampung kelahiranmu, kurasa tidak perlu kau buru-buru meninggalkan kampung halaman..."
"Aku maklum maksudmu tapi jangan kau lupa, ayahku mati karena perbuatan Liong Seng-bu, mana bisa aku membiarkan kalian saja yang menuntut balas?"
Han Cin tertawa katanya.
"Untung kalian bertemu aku, markas Kaypang sudah pindah."
"Pindah kemana?"
Tanya Ciok-sing.
"Pindah ke Jui-hwi-hong. Mari kuajak kalian kesana,"
Ujar Toan Kiam-ping.
Setiba di markas Kaypang baru mereka tahu apa sebabnya mereka pindah yaitu karena di kalangan mereka terbongkar adanya musuh dalam selimut, ini bukan lain adalah Kwe Su-to yang pernah ditolong itu.
Waktu Kwe Su-to membawa pasukan besar pemerintah menggerebek Pit-mo-gay, untung orang-orang Kaypang sudah mendapat kabar, sebelum pasukan pemerintah tiba mereka sudah pindah ke lain tempat, sehingga tidak jatuh korban.
Kaypang Pangcu Liok Kun-lun memberi tahu dua hal tentang keluarga Liong, pertama, Liong Bun-kong mohon cuti dengan alasan badan kurang sehat, sampai hari ini belum pernah masuk istana menghadap raja.
Kedua, keponakannya yaitu Liong Seng-bu secara diam-diam mengawal separtai harta benda pulang ke Kwi-ciu ke kampung kelahirannya, seratus li setelah meninggalkan kota raja, di tengah jalan telah dibega!
orang.
"Yang berani membegal harta mereka tentu bukan kaum begal biasa,"
Kata Ciok-sing.
"Memang bukan begal biasa, menurut laporan mereka adalah Wi-cui-hi-kiau,"
Ujar Liok Kun-lun. Kek Lam-wi senang, katanya.
"O, jadi Toako juga sudah tiba, dimana mereka?"
"Dua hari lagi baru akan tiba. Mereka sudah mengirim kabar kepadaku,"
Sahut Liok Kun-lun pula.
"Pertemuanku dengan Baginda tidak bisa ditunda lagi, aku tidak akan menunggu mereka,"
Kata Tan Ciok-sing. Toan Kiam-ping berkata.
"Kali ini aku bersama adik Cin minta persetujuan kalian untuk ikut masuk ke istana."
Kek Lam-wi dan Toh So-so sebetulnya juga ingin ikut, tapi Liok Kun-lun bilang terlalu banyak orang tentu kurang leluasa, apa lagi mereka harus menunggu kedatangan anggota Patsian yang lain, terpaksa mereka terima nasihat Liok Kun-lun, urung ikut ke istana.
Malam kedua kira-kira kentongan ketiga Tan Ciok-sing berempat lantas berangkat menemui Baginda Raja sesuai janji tiga bulan yang lalu.
Tan dan In sebelumnya pernah kemari maka kali ini dengan mudah mereka dapat mengelabui para penjaga dan barisan ronda.
Di bawah petunjuk Tan Ciok-sing yang jalan di depan, sementara In San dan Han Cin menyamar Thaykam berjalan di belakang, sementara Toan Kiam-ping menguntit dalam jarak tertentu langsung menuju ke istana belakang.
Ginkang Toan dan Han memang agak asor tapi tarafnya juga sudah termasuk kelas tinggi, berjalan di atas genteng kaca yang licin mereka mengembangkan Ginkang laksana kecapung yang menclok dari satu wuwungan ke wuwungan istana yang lain tanpa mengeluarkan suara.
Tan dan In sudah punya pengalaman maka mereka berhasil mengelabui jago-jago silat pelindung istana, lekas sekali mereka sudah menyelundup ke Sia-hoa-wan disini mereka menghadapi kesulitan, tidak seperti dulu dapat maju dengan leluasa.
Kini kemana mereka harus menemui Baginda?
Istana raja sebesar dan seluas ini, gedung bangunannya entah-ada ratusan jumlahnya, hanya tempat tinggal permaisuri dan para selir raja saja kira-kira ada puluhan gedung, dari mana mereka tahu malam ini sang raja menginap di istana mana?
Kalau tempo hari mereka dibantu seorang thaykam yang selalu dekat di samping raja sehingga tanpa membuang banyak tenaga menemui raja, tapi Thaykam kecil itu sudah gugur dalam menunaikan tugas, kini tiada Thaykam yang akan menunjukkan jalan lagi.
Sebelum mereka mendapat akal dan perundingan diantara mereka belum selesai tiba-tiba didengarnya suara desiran aneh pelahan seperti selembar daun yang melayang ditiup angin, tapi jelas bukan daun yang jatuh karena ditiup angin.
Mereka adalah ahli silat, mendengar suaranya seketika melenggong.
Tan Ciok-sing berkata.
"Itulah suara senjata rahasia meluncur, tapi bukan Bwe-hoa-ciam."
In San berkata.
"Kalau suara krikil rasanya jauh lebih keras dan kasar.'"
Ciok-sing berkata.
"Kalau tidak salah dugaanku itulah sebutir lempung kecil."
Sampai disini tiba-tiba tergerak pikiran Tan Ciok-sing, diam-diam dia berpikir.
"Jikalau Wisu istana memergoki jejak kita tak perlu dia menyerang kita dengan senjata rahasia apalagi senjata rahasia itu ditimpuk miring ke samping kita bukankah membuat kita terkejut dan sadar? Tidaklah lebih baik dia berteriak mengundang kawankawannya?"
Karena itu segera dia hendak menyerempet bahaya, coba-coba dia berlari ke arah dimana senjata rahasia tadi meluncur.
Di depan sebuah gunung-gunungan mengadang jalan di waktu mereka kebingungan ke arah mana mereka harus melanjutkan arahnya, tiba-tiba terdengar pula suara desiran ringan halus tadi, kali ini Tan Ciok-sing sengaja tidak mau menuruti petunjuk senjata rahasia itu, tapi menuju ke arah lain.
Terdengar suara ledakan lirih seperti kacang yang dipecah kulitnya, disusul bubuk tanah yang berhamburan berjatuhan di atas kepalanya.
Senjata rahasia yang pecah di atas kepalanya memang adalah sebutir lempung.
Sebagai ahli silat sudah tentu Tan Ciok-sing maklum bahwa orang menggunakan Tamci-sin-thong.
Sebutir lempung dijentik pecah pada jarak tertentu yang telah diperhitungkan dengan tepat bukan saja ini memerlukan latihan juga harus tepat waktu yang ditentukan untuk menggunakan tenaga yang pas-pasan pula.
Mau tidak mau Tan Ciok-sing terkejut.
Tapi kejap lain diamdiam hatinya amat senang dan lega karena dia sudah paham, apa maksud timpukan lempung itu.
Tengah berpikir didengarnya pula suara desiran perlahan tadi, sebutir lempung meluncur di atas kepalanya tahu-tahu lempung itu berputar satu lingkaran terus meluncur ke sebelah kiri.
Dugaan Tan Ciok-sing memang tidak keliru, orang yang menimpukkan lempung secara diam-diam ini memang sedang menunjukkan arah jalan yang selamat bagi mereka.
Tanpa terasa mereka dituntun tiba di depan sebuah gedung.
Di depan gedung terdapat sebuah gunung-gunungan sekelilingnya dipagari pepohonan.
Sebutir lempung melayang lewat di atas kepala mereka, cepat sekali berputar arah lalu jatuh di atas kepala Ciok-sing.
Tan Ciok-sing tahu, maksudnya supaya mereka berhenti sampai disitu saja.
In San berbisik mepet telinga Ciok-sing.
"Tempat ini dinamakan Yang-sim-tiam, di tempat inilah Baginda Raja menerima para pembantunya, ada kalanya diapun sibuk memeriksa dokumen-dokumen penting disini. Mungkinkah Baginda Raja ada disini?"
Tan Ciok-sing sembunyi di belakang gunung-gunungan dengan seksama dia periksa keadaan sekitarnya.
Yang-simtiam adalah gedung bersusun dua, di sebelah atasnya terdapat sebuah baicon, sinar lampu tampak menyorot disana.
Bayangan orang tampak berpeta di jendela.
Sementara bayangan orang tampak mondar mandir diluar, jelas mereka adalah jago-jago kosen pengawal raja.
Ciok-sing kembangkan Ginkang tinggi secara diam-diam dia melompat ke atas pohon.
Dia melompat ke atas sesaat angin menghembus agak kencang sehingga daun pohon bergoyang gemerisik, tapi dahan dimana dia hinggap sedikitpun tidak bergeming, para Wisu yang berjaga diluar Yang-sim-tiam tiada satupun yang tahu.
Malam itu tiada rembulan, bintang yang kelihatan juga jarang-jarang, pohon dimana dia sembunyi daunnya rimbun, tepat untuk sembunyi.
Dari atas pohon yang tinggi dia dapat melihat keadaaan di atas loteng.
Yang berada didalam sebuah kamar di atas loteng adalah seorang pemuda berpakaian perlente dan seorang laki-laki setengah umur.
Pemuda perlente itu bukan lain adalah Baginda Raja yang berkuasa sekarang dan pernah bertemu dengan Ciok-sing, yaitu Cu Kian-sin.
Laki-laki setengah umur adalah komandan pasukan bayangkari Hu Kian-seng.
Kungfu Hu Kian-seng setaraf dengan kepandaian komandan pasukan Gi-lim-kun Bok Su-kiat, dalam kalangan Bulim terhitung jago kosen juga.
Diam-diam Tan Ciok-sing membatin.
"Ada orang ini di sampingnya, supaya tidak mengejutkan orang banyak jelas tidak mungkin."
Meski dirinya di tempat gelap, lawan di tempat terang tapi dia tidak yakin dalam sekali gebrak pasti dapat membekuk Hu Kian-seng, sesaat lamanya dia bimbang tidak berani bertindak gegabah.
Di kala dia mencari akal didengarnya sang raja telah membuka suara.
"Apakah kedua orang itu sudah masuk istana?"
Hu Kian-seng menjawab.
"Baginda ada janji, mana mereka berani datang terlambat, sudah lama mereka masuk. Apakah perlu mengundang mereka sekarang juga?"
Istilahnya mengundang, dari sini dapat diperkirakan bahwa kedudukan kedua orang itu tentu luar biasa. Tergerak hati Tan Ciok-sing.
"Kedua orang itu jelas bukan aku dan San, lalu siapa?"
Terdengar sang raja berkata.
"Nanti saja biar mereka terlambat setengah jam lagi. Aku ingin membaca laporan situasi dari laporan komandan kota Tay-tong. Entah bagaimana peperangan yang tengah berlangsung di Gan-bunkoan?"
Agaknya dia ingin tahu dulu situasi dan kondisi, baru nanti berkeputusan bagaimana bersikap terhadap utusan rahasia negeri Watsu. Hu Kian-seng berkata.
"Gelagatnya tidak menguntungkan. Laporan Lau-congping dari Tay-tong dikirim dengan kuda kilat, menjelang kentongan kedua tadi baru masuk istana. Aku sudah memeriksa dan kuletakkan di arsip-arsip surat. Silahkan Baginda memeriksanya."
Laporan itu khusus diselipkan di sebuah map yang ditindih singa-singaan terbuat dari tembaga setelah Cu Kian-sin membacanya tiba-tiba dia berseru heran.
Lekas Hu Kian-seng memburu maju ikut membaca, seketika rona mukanyapun berobah hebat.
Ternyata sepasang mata singa-singaan tembaga itu dibuat dari dua butir mutiara, kini kedua matanya ternyata bolong mutiaranya telah lenyap.
Orang yang sengaja mengorek buta singa-singaan tembaga ini secara langsung seperti mengolok Baginda Raja punya mata tapi buta, atau mungkin juga menghina laporan Lau-congping dari Thay-tong akan laporannya yang palsu.
Sebagai komandan bayangkari, Hu Kian-seng bertanggung jawab menjaga keselamatan raja, karuan keringat dingin berketes di atas jidatnya sesaat dia berdiri melongo.
Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah setelah membaca surat laporan itu wajah Cu Kian-sin tampak berubah pula, bentaknya.
"Hu Kian-seng dari mana datangnya surat laporan ini?"
Sang raja tidak mengusut kemana hilangnya sepasang mutiara yang menjadi mata singa-singaan tembaga, tapi tanya -asal-usul surat laporan yang sedang dibacanya sudah tentu hal ini jauh diluar dugaan Hu Kian-seng.
Sebetulnya bukan Cu Kian-sin tidak melihat atau tidak tahu maksud orang mencukil mutiara mata singa-singaan tembaganya, tapi surat laporan yang bermimpipun tidak pernah dia bayangkan ini, justru amat mengejutkan hatinya.
Hu Kian-seng keheranan katanya.
"Ini., apakah bukan surat laporan Lau-congping?"
"Coba kau periksa sendiri,"
Sentak Cu Kian-sin.
Surat laporan dari komandan militer kota Tay-tong itu dibungkus kain sutra kuning, bagian luarnya ditulis dengan tinta yang bermutu paling baik, di sebelah atas kiri diberi tanda nomor arsip dan di bawahnya terdapat tanda tangan Taykam penerima surat laporan itu yang tembusannya dikirim balik kepada si pengirim.
Tapi kertas lempitan yang sekarang dipegang dan dibaca Baginda ternyata dari kertas yang berkwalitet rendah, jadi tidak memenuhi syarat sebagai surat laporan lazimnya.
Sementara itu Cu Kian-sin sudah membuka lempitan surat dengan kertas kasar itu, lekas Hu Kian-seng menghampiri ke belakang, dari jarak yang agak jauh dia ikut membaca, tampak kertas kasar itu ditulisi huruf-huruf besar yang bergaya kuat dan indah, jadi tidak sesuai lagi sebagai laporan yang sudah ditentukan harus ditulis dengan huruf-huruf kecil yang rapi dan rajin.
Hu Kian-seng kaget, serunya.
"Ini. siapakah yang menukar surat laporan ini."
Cu Kian-sin gusar, bentaknya.
"Kau tanya aku malah? Coba baca inilah surat tulisan Kim-to Cecu yang ditujukan kepadaku."
Hu Kian-seng mendekat maju serta membaca lebih cermat, baru sekarang dia melihat jelas baris pertama tulisan di atas kertas kasar itu berbunyi.
"Ciu San-bin rakyat jelata dari kaum liar berani mati menyampaikan sepatah dua kata."
Saking kagetnya H u Kian-seng sampai gemetar, tiba-tiba dilihatnya di pojok sampul surat terdapat lempitan kertas lain yang terselip di dalamnya, lekas dia melolosnya keluar begitu melihat tulisan di atas kertas halus ini, tanpa terasa tangannya gemetar matanya melirik, agaknya dia tidak berani dan tidak ingin kertas tulisan ini dilihat atau diketahui oleh Sri Baginda.
Tapi Cu Kian-sin cukup tajam.
"Siapa punya? Serahkan kepadaku."
"Inilah surat laporan Laucongping yang asli, tapi..."
Belum habis dia bicara Cu Kian-sin sudah merebut surat laporan itu dari tangannya, setelah dibeber tampak di balik surat laporan ada huruf-huruf besar yang berbunyi demikian.
"Jerih melihat musuh seperti berhadapan dengan harimau, pandai membual lagi."
Cu Kian-sin membeber surat laporan komandan militer kota Tay-tong dan surat lempit Kim-to Cecu di atas meja lalu dicocokkan satu dengan yang lain.
Hu Kian-seng melayani dari samping, tampak junjungannya kadang mengerutkan alis, kejap lain berseri tawa lalu manggut-manggut, adakalanya menepekur sekian lamanya seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba mengetuk meja serta bernyanyi-nyanyi kecil entah apa yang sedang dipikir dalam benaknya.
Yang terang sikapnya kelihatan kaget, senang dan lega, namun dalam rasa senangnya terselip juga rasa risau dan masgul.
Walau Tan Ciok-sing tidak tahu apa isi surat itu, tapi dia membadek Kim-to Cecu pasti memberi nasehat dan memberi pengarahan situasi dan kondisi dalam negeri, membeber seluk beluknya serta menggambarkan bagaimana Sri Baginda harus bertindak.
dinasehatinya pula supaya dia tidak menyerah atau minta damai terhadap pihak Watsu.
Dalam hati Ciok-sing membatin.
"Bila dia mau mendengar nasehat Kim-to Cecu kali ini kurasa tidak perlu aku menemuinya secara langsung."
Tengah berpikir, dilihatnya Cu Kian-sin sudah angkat kepala, wajahnya masih mengulum senyum katanya kepada Hu Kian-seng.
"Beritanya sih lumayan."
"Berita tentang apa?"
Tanya Hu Kian-seng.
"Pihak Kim-to Cecu mendapat kemenangan gilang gemilang dalam pertempuran diluar Gan-bun-koan."
Hu Kian-seng heran, katanya.
"Tapi dalam laporan Laucongping..."
"Kemenangan dicapai oleh pihak Kim-to Cecu jadi tiada sangkut pautnya dengan Lau-congping. Sudah jelas bahwa laporan Lau-congping ini, hm, huh, memang betul membual dan menjilat belaka, situasi digambarkan sedemikian jelek dan buruk."
Hu Kieng-seng berkomentar.
"Dari tanggalnya kedua surat ini dikirim dalam waktu yang sama, jadi tidak mungkin dalam satu tempat dan waktu yang sama, pihak Watsu sama-sama menghadapi dua peperangan besar. Dan lagi dinilai keseluruhan dari peperangan itu, yang satu bilang menang gilang gemilang, yang lain justru bijang kalah total, ini, ini..."
"Lau-congping berhadapan dengan musuh seperti melihat harimau, ini memang benar, jadi laporannya ini terang palsu dan membual, dia mengharap Tim selekasnya mengirim bantuan tentara dan rangsum."
Diluar kesadarannya dia gunakan istilah Kim-to Cecu dalam mencemooh perbuatan Lau-congping.
Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Cu Kian sin lebih percaya kepada laporan Kim-to Cecu dari laporan dinas Komando militer kota Tay-tong.
Sampai disini, mau tidak mau hati Tan Ciok-sing amat girang, pikirnya.
"Gelagatnya raja muda ini masih tidak terlampau bejat."
Tak nyana tiba-tiba, didengarnya Cu Kian-sin menggumam dengan melamun.
"Yang Tim kuatirkan justru kelanjutan dari peperangan ini."
Kiriman surat Kim-to Cecu dia simpan, sementara surat laporan Komandan militer kota Tay-tong dia remas-remas lalu dilempar ke tempat sampah akhirnya dia menghela napas panjang.
Walau dia tidak melanjutkan perkataannya tapi Hu Kian-seng pandai melihat sikap dan rona muka orang menebak isi hatinya, diam-diam dia sudah tahu kemana kiblat pikiran junjungannya.
Hu Kian-seng yang sudah kelihatan tak berani banyak bersuara ini diam-diam bersorak dalam hati, katanya.
"Baginda cekatan bertindak dan bijaksana dalam menentukan sikap, Hamba ada pendapat yang mungkin kurang enak didengar kuping, sebelumnya mohon Baginda memberi ampun."
"Bukankah Tim sudah lama bilang kepadamu,"
Demikian ujar Cu Kian-sin.
"Tim memang memerlukan usul dan pendapat para pembesar jujur dan baik hati. boleh kau katakan saja."
"Harap Baginda periksa dan pikirkan, pasukan negeri kalah perang sebaliknya kaum berandal mencapai kemenangan di medan laga kukira hasilnya tidak akan membawa untung bagi Baginda."
"Pcndapatmu memang tepat. Memang itulah yang Tim kuatirkan,"
Ujar Cu Kian-sin.
"Memang Kim-to Cecu akan membantuku dengan setia bila Tim mau kerahkan pasukan besar negeri mengusir penjajah. Namun Tim masih sangsi akan kesetiaan dan kejujurannya. Dan masih ada lagi. Walau kali ini dia mendapat kemenangan besar siapa tahu lain kali..." .
"Betul."
Timbrung Hu Kian-seng.
"kalah menang di medan laga adalah kejadian logis, umpama benar Kim-to Cecu dapat menang perang betapapun dia adalah brandal yang menduduki satu pegunungan sebagai daerah kekuasaannya melulu, anak buahnya tidak lebih adalah kelompok campur aduk yang tidak karuan kalau bertempur sungguhan, mana mereka mampu menghadapi pasukan Watsu yang bersenjata lengkap? Kalau kita mengandal kekuatan kaum berandal ini, bila pihak Watsu mengerahkan seluruh kekuatan perangnya dan berhasil menumpas mereka, bukankah posisi kita serba repot dan runyam? Dalam keadaan kepepet seperti itu, mana mungkin mereka mau menerima permintaan damai kita."
Maklum Hu Kian-seng sudah disogok dan memperoleh banyak keuntungan dari duta Watsu, begitu ada kesempatan maka dia membesarkan kekuatan musuh dan meruntuhkan semangat juang pihak sendiri.
"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"
Tanya Cu Kiansin.
"Menurut pendapat hamba yang bodoh, mumpung memperoleh sedikit kemenangan ini kita adakan kontak dengan Watsu mengajaknya berunding, syarat yang kita ajukan mungkin bisa lebih menguntungkan bagi kepentingan kita."
Cu Kian-sin menepekur sejenak, katanya kemudian.
"Setelah menemui, utusan rahasia pihak Watsu, sebetulnya Tim akan merundingkan persoalan ini kepada pembesar lainnya dalam sidang balairung besok pagi. Kalau begitu baiklah kita laksanakan sesuai rencana semula."
"Betul. Mari kita lihat sikap dan pendapat utusan rahasia Watsu ini bagaimana kenyataan dari hasil peperangan di luar Yan-bu-koan. Baginda akan dapat mengambil kesimpulan lebih jelas dari mulut mereka. Apakah sekarang juga kita undang mereka kemari?"
"Baiklah, lekas kau suruh orang mengundang Tiangsun Co kemari."
Baru sekarang Tan Ciok-sing tahu.
"kiranya Tiangsun Co datang pula sebagai utusan rahasia. Maka seorang lagi yang akan diundang Baginda pasti adalah Milo Hoatsu."
Pada hal Hu Kian-seng masih berada di atas loteng, bila kedua jago kosen dari Watsu itu sudah tiba, bagaimana mungkin dia bisa berhadapan langsung dengan Sri Baginda.
Tengah dia bimbang, dilihatnya Hu Kian-seng melongokkan kepalanya memandang keluar jendela.
Ternyata Hu Kian-seng mendengar seseorang memanggil namanya, suaranya seperti mengambang dan tidak diketahui arah datangnya, sayup-sayup lagi seperti ada tapi juga tiada, entah itu suara manusia atau teriakan setan, tanpa sadar berdiri bulu kuduknya.
Melihat sikap dan rona muka orang agak ganjil Cu Kian-sin bertanya.
"Hu Kian-seng, apa yang kau lihat diluar?"
Setelah tersirap lekas Hu Kian-seng tenangkan hati, katanya.
"Tidak apa-apa. Hamba ingin memeriksa keadaan diluar, akan kukerahkan tenaga untuk memperkuat penjagaan diluar."
Diam-diam dia curiga kemungkinan Tan Ciok-sing secara sembunyi-sembunyi telah menyelundup masuk ke istana pula.
Di samping kuatir sang raja tidak berani menanda tangani surat perjanjian damai itu, tadi dia sudah kebacut omong besar, bila Tan Ciok-sing betul-betul menyelundup ke Yangsim-tiam ini, pamor dan kedudukannya sebagai komandan pasukan Bayangkari ini sih boleh tidak usah dipikirkan, celaka bila Sri Baginda menjatuhkan vonis berat akan kesalahannya.
Karena itu bila betul Tan Ciok-sing menyelundup masuk, sebelum dia menerjang kedalam Yan-sim-tiam dia sudah harus membekuknya.
Sudah tentu dia juga tahu bahwa In San pasti datang bersama Tan Ciok-sing, tapi dia yakin tenaga yang dia sebar di sekitar Yang-sim-tiam cukup kuat untuk menghadapi In San maka dia tidak perlu takut bila Tan Ciok-sing memancingnya keluar meninggalkan tempat tugasnya.
Cu Kiam-sin berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Bolehlah kau memeriksa keadaan diluar. Sudah saatnya Koksu dari Watsu dan Tiangcun Pwecu tiba disini, boleh kau wakili Tim menyambut kedatangan mereka."
Hu Kian-seng memanggil dua Wisu pembantunya masuk serta berpesan kepada mereka.
"Aku akan keluar menyambut kedatangan utusan Watsu, kalian disini hati-hati menjaga keselamatan Baginda. Kedua Wisu ini yang satu bernama Pek Ting, Ciangbunjin dari Eng-jiau-bun sekte utara. Seorang lagi bernama Kiang Swan, jago kosen yang liehay dalam permainan Pat-kwa-ciang. Kedua orang ini merupakan jagojago top di kalangan Wisu di istana raja, taraf Kungfu mereka hanya setengah urat di bawah Hu Kian-seng, boleh dikata termasuk jago di antara jago. Dengan adanya mereka berada di samping sang raja, betapapun cukup kuat hanya untuk menghadapi In San seorang, maka dengan lega hati Hu Kianseng berlalu. Baru saja dia keluar dan belum jauh meninggalkan Yangsim-tiam, tiba-tiba didengarnya suara "Seeer"
Yang lirih, mata kuping Hu Kian-seng setajam radar, kontan dia mengayun tangan memukul dengan Bik-khong-ciang, sebutir lempung kena dipukulnya hancur tapi mukanya kecipratan beberapa lempung lembut.
Sebagai seorang ahli silat, sudah tentu dia tahu kalau lempung tadi ditimpukkan oleh seorang ahli senjata rahasia.
Dia kira pembokong itu adalah Tan Ciok-sing, karuan hatinya gusar, pikirnya.
"Kau keparat ini berani mempermainkan aku."
Dia tidak ingin membuat ribut-ribut membuat kaget sang junjungan maka tanpa bersuara segera dia menubruk ke arah datangnya lempung.
Beruntun orang itu menimpuk tiga kali.
Hu Kian-seng selalu gagal menemukan jejaknya.
Tanpa terasa dia dipancing semakin jauh meninggalkan Yang-sim-tiam.
Karena tidak mendapat petunjuk selanjutnya dari orang itu, Tan Ciok-sing sedang berpikir apakah perlu sekarang dia menerjang kedalam Yang-sim-tiam, tiba-tiba dilihatnya dua orang telah muncul dikiar Yang-sim-tiam.
Sinar lampu yang menyorot keluar dari Yang-sim-tiam cukup benderang, maka Tan Ciok-sing yang sembunyi di atas pohon dapat melihat jelas.
Yang jalan di depan adalah seorang Taykam, dia bukan lain adalah samaran In San.
Tapi yang berjalan di belakang ternyata mengenakan pakaian seragam bangsa Watsu, dia bukan lain adalah utusan rahasia pihak Watsu, yaitu Tiangsun Co.
Tiga bulan yang lalu Ciok-sing pernah bertemu dengan dia, maka dia masih kenal tampangnya.
Mau tidak mau Ciok-sing heran.
Bagaimana bisa In San berada di samping Tiangsun Co?
Sudah tentu cepat sekali dia sudah menduga mungkin Tiangsun Co yang ini adalah samaran Han Cin?
Tapi Han Cin bersama ln San waktu menyelundup ke istana tadi sama-sama menyamar jadi Taykam.
Dalam waktu sesingkat ini dari mana dia bisa memperoleh seragam pakaian orang Watsu?
Apalagi pakaian kebesaran seorang Pwecu?
Di saat hatinya bimbang dan bertanya-tanya sementara In San bersama Tiangsun Co sudah tiba di depan Yang-sim-tiam.
Dugaan Tan Ciok-sing memang tidak meleset, yang menyamar Tiangsun Co bukan lain adalah Han Cin.
Ternyata diluar tahu Tan Ciok-sing, In San dan Han Cin yang sembunyi di belakang gunung-gunungan telah disambit sebutir malam bundar, setelah malam bundar itu dipecah, di dalamnya ada segulung lempitan kertas, setelah dibeber tampak kertas kecil itu bertuliskan empat patah kata.
"Masuk gua ganti pakaian."
Itulah pesan orang yang memberi petunjuk jalan. Tanpa ragu In San dan Han Cin menyelinap kesana memasuki gua, didalam gua memang ada seperangkat pakaian. Setelah diambil dan diperiksa, In San berkata.
"Hancici bukankah ini seragam pakaian orang Watsu?"
Han Cin cukup cerdik, segera dia paham, katanya.
"Orang itu suruh aku menyaru Tiangsun Co." 000OOO000 Perawakan Tiangsun Co termasuk pendek di kalangan Bangsa Watsu yang kekar besar. Tapi badannya masih lebih tinggi dari Han Cin. Tapi ditumpukan pakaian ini terdapat sepasang sepatu slop yang berukuran tinggi, di dalamnya disumbat kapas. Bila Han Cin memakai sepatu ini, maka tinggi badannya kira-kira sebanding dengan Tiangsun Co. Kepandaian merias Han Cin sekarang mungkin susah dicari bandingannya di dunia, dibalik pakaiannya dia sumbat lagi dengan gumpalan kapas sehingga tubuhnya kelihatan lebih besar, sehingga samarannya lebih mirip lagi. Selalu dibawanya bahan-bahan keperluan rias lagi, segera dia ganti pakaian serta merias diri sendiri dibantu In San pula, maka sekejap saja dia sudah ganti rupa menjadi Tiangsun Co sungguhan, katanya tertawa.
"Adik In, mirip tidak samaranku?"
"Jikalau tidak diamati dengan teliti siapapun takkan bisa membedakan, sekarang malam gelap lagi, yakin kawanan Wisu itu akan bisa dikelabui."
Dugaan memang tidak meleset, ada empat Wisu yang berjaga diluar Yang-sim-tiam, satu di antaranya pernah melihat Tiangsun Co, namun juga hanya melihat sekali saja, ternyata dia memang tidak curiga.
Diluar dugaannya kawanan Wisu itu memang tidak curiga kepada Tiangsun Co palsu, tapi justru curiga terhadap dirinya.
Siapa-siapa Thaykam kecil yang selalu berada di samping raja mereka tahu jelas dan kenal baik, sebaliknya Thaykam yang disamar oleh In San, selama ini mereka tidak kenal dan belum pernah lihat.
Pada hal urusan hari ini betapa penting artinya, Bong Tit kepala dari para Thaykam kenapa justru mengutus Thaykam kecil yang masih asing?
Tapi mereka hanya curiga saja, tidak berani menegur apa lagi memastikan bahwa Thaykam kecil ini adalah mata-mata yang menyelundup dari luar.
Maka Wisu yang pernah melihat Tiangsun Co itu maju menyapa.
"Harap Pwelek tunggu sebentar."
Lalu dia menoleh dengan dingin dia tanya kepada In San.
"Agaknya kami belum pernah melihatmu, apakah Bong-kokong ada memberi tanda bukti melaksanakan tugas kepada kau? Kau harus tahu siapapun malam ini yang mau memasuki Yang-sim-tiam harus memiliki medali tembaga."
Untung In San sudah siap, segera dia keluarkan kipas lempit bergagang emas itu serta digoyang-goyang, katanya.
"Coba kalian periksa dengan teliti apakah kipas ini tidak lebih berharga dari lencana tembaga Bong-kokong?"
Kipas gagang emas ini adalah kipas yang diberikan oleh sang raja kepada Siau-ong-ya dari Watsu tiga bulan yang lalu.
Di atas kipas ada lukisan kembang Cu Kian-sin serta sajak ciptaannya pula.
Waktu dihadiahkan kepada pangeran kecil Watsu itu, Cu Kian-sin ada membubuhi cap dan tanda tangannya.
Sudah tentu kawanan Wisu itu tiada yang tahu akan pemberian kipas ini, tapi mereka kenal cap dan tanda tangan junjungan mereka.
Kipas pribadi yang dibubuhi cap tanda tangan sang raja di tangan In San, sudah tentu jauh lebih kuat dan terpercaya dari pada lencana tembaga Bongkokong, kawanan Wisu tidak berani mempersulit dirinya.
Maklum jumlah Thaykam di istana ada ribuan, sudah tentu kawanan Wisu itu tidak mungkin kenal seluruhnya.
Wisu itu kira In San adalah Thaykam kecil yang belakangan ini mendapat kepercayaan sang raja, mana berani dia merintangi?
Mendengar utusan Watsu telah tiba agaknya Cu Kian-sin melengak, katanya.
"Lho cepat sekali kalian datang, kenapa Hu-congkoan tidak kelihatan."
Dua Wisu yang melindungi sang raja yaitu Pek Ting dan Kiang Swan jadi curiga, Pek Ting berkata.
"Bukankah Baginda menyuruh dia menyambut mereka, mungkin mereka tidak bertemu di tengah jalan?"
Cu Kian-sin berkata.
"Tiangsun Pwelek Tim pernah melihatnya kurasa siapa punya nyali sebesar itu berani menyaru dirinya."
In San serahkan kipas itu kepada Han Cin, sambil menggoyang kipas Han Cin segera berlenggang naik ke loteng serunya.
"Tiangsun Co, mohon bertemu dengan raja junjungan dynasti Bing."
Han Cin pernah tinggal di markas Kim-to Cecu, di markas itu ada tawanan orang Watsu maka dia meniru logat orang Watsu bicara dalam bahasa Han, tiruannya ternyata mirip delapan puluh persen.
Sudah tentu logat suara Tiangsun Co tidak pernah diperhatikan oleh Cu Kian-sin, cuma lapat-lapat dia masih kenal bentuk wajahnya, namun dalam waktu sesingkat ini mana bisa dia membedakan apakah ini barang tulen atau palsu?
Tapi melihat kipas emas itu, segera dia teringat akan kejadian yang menyenangkan dulu sehingga dia hadiahkan kipasnya itu kepada pangeran kecil bangsa Watsu.
Melihat kipas itu hatinya terasa riang dan bangga, pikirnya.
"Agaknya kipasku itu sengaja diserahkan kepada Tiangsun Co untuk diperlihatkan di hadapanku bahwa mereka menghargai karyaku, sungguh harus dipuji."
Dia kira orang sengaja menaruh hormat dan menghargainya maka cara ini memang amat berhasil dari pada menjilat dengan kata-kata.
Pepatah ada bilang kau menghargai aku satu kaki, aku menghormatimu satu tombak, apalagi Cu Kian-sin memang sudah sejak mula merasa jeri terhadap orang Watsu, sekarang dia anggap dirinya sebagai raja dari negeri yang lemah menyambut kedatangan utusan besar negeri kuat, maka bergegas dia berdiri, katanya.
"Dalam jangka tiga bulan Pwelek harus pulang pergi menempuh perjalanan jauh, sungguh melelahkan. Tidak usah sungkan silahkan duduk, silahkan duduk."
Melihat sang raja menyambut dengan riang dan mengucapkan kata-kata yang meyakinkan sudah tentu Pek Ting dan Kiang Swan tidak berani curiga lagi bahwa Pwelek yang satu ini tiruan?
Tersipu-sipu mereka menarik kursi membersihkan meja lalu memberi hormat menyilahkan tamunya duduk.
Dalam pada itu pintu kamar telah tertutup.
Baru sekarang Cu Kian-sin sempat melihat In San adalah Thaykam yang asing dan belum pernah dilihatnya, namun dia tidak ambil di hati, dia kira Thaykam ini adalah pembantu setia dan terpercaya dari Bong Tit, melihat bibirnya merah giginya putih rapi, hatinya agak senang dan ketarik katanya.
"Baiklah disini tiada urusanmu, kau boleh keluar."
In San mengiakan maju dua langkah memberi hormat, tibatiba tangannya bergerak membalik menutuk Hiat-to Pek Ting.
Dalam waktu yang sama Han Cin juga telah menutuk Hiat-to Kiang Swan dengan kipas lempitnya itu.
Kungfu kedua orang ini sebetulnya tidak lebih asor dari mereka, soalnya mereka sedang membungkuk, mimpipun tidak pernah menyangka, bahwa utusan Watsu ini bakal turun tangan membokongnya, mana mereka bisa menghindar, tanpa mengeluarkan suara keduanya roboh terkulai.
Sudah tentu kejadian membuat Cu Kian-sin kaget setengah mati, mukanya pucat.
"Ka... kalian si..."
Demikian katanya tergagap. Sebelum 'siapa' sempat diucapkan, In San sudah terima kipas lempit itu dari tangan Han Cin terus dibeber di depan mata Cu Kian-sin, katanya dengan tersenyum.
"Apakah Baginda masih ingat janji pertemuan denganku dulu? Mohon maaf Binli (perempuan jelata) datang terlambat beberapa hari. Kuharap Baginda tidak bicara keras-keras."
Kipas itu ada lukisan dan sajak tulisan Cu Kian-sin tapi di sebelahnya ada tulisan tangan Tan Ciok-sing pula yang berbunyi.
"Janji tiga bulan, harap Baginda selalu ingat. Mengingkari janji dan kebenaran, tidak terampunkan oleh yang Kuasa."
Sebelum meninggalkan istana tempo hari Tan Ciok-sing pernah meninggalkan pesannya ini di hadapan Cu Kian-sin sebagai peringatan tegas.
Mana Cu Kian-sin berani melupakan melihat huruf-huruf besar di balik kipas itu hatinya gugup seketika.
"Lalu dia ini..."
Matanya melirik ke arah Han Cin, baru sekarang dia sadar, makin diamati Tiangsun Co yang satu ini agak berbeda dengan Pwelek yang pernah dilihatnya tiga bulan yang lalu, tapi juga tidak mirip Tan Ciok-sing.
In San berterus-terang, katanya.
"Dia ini bukan Tiangsun Pwelek, dia adalah teman baikku nona Han."
Lega sedikit hati Cu Kian-sin, pikirnya.
"Pemuda itu tidak datang syukurlah."
"Nona In, kakekmu pernah membuat pahala besar bagi negara, ayahmupun menjadi pembesar teladan, keluargamu adalah keluarga pembesar setia bagi kerajaan, Tim tidak pernah melupakan jasa-jasa baik keluargamu. Ada persoalan apa boleh kau bicarakan di depanku, silahkan duduk."
"Memang ada persoalan yang ingin kubicarakan dengan kau maka aku datang pula kemari."
Tawar suara In San.
"Umpama aku mau membunuhmu sekarang, semudah aku membalikkan telapak tanganku saja?"
Setelah lenyap rasa kagetnya hati Cu Kian-sin menjadi tenang dan mantap, pikirnya.
"Bila kau tidak menbunuhku urusan sih gampang diselesaikan, maka dengan suara lembut dia berkata.
"Baik apa yang ingin kau utarakan, boleh kau kemukakan di hadapan Tim, Tim pasti menuruti kehendakmu."
"Apa yang perlu kukatakan didalam surat Kim-to Cecu sudah dijelaskan, sekarang tergantung sikap Baginda apakah kau mau menerima nasehat baiknya."
"Peperangan adalah urusan negara, menyangkut kehidupan urat nadi bangsa dan tanah air, soal ini kukira Tim masih harus berpikir secara cermat."
"Kami sudah memberi waktu tiga bulan untuk kau berpikir panjang, seorang laki-laki harus berani berkeputusan dalam sepatah kata, apalagi kau adalah raja yang berkuasa, apa pula yang membuatmu bimbang..."
Belum habis dia bicara tiba-tiba dilihatnya mimik Cu Kian-sin agak ganjil seperti hendak menekan atau menyembunyikan perasaan, tapi perasaan kaget dan senang itu tak kuasa dia tutupi.
Tergerak hati In San, mendadak dirasakan angin berkesiur ada orang membokong di belakangnya.
Pembokong ini adalah Pek Ting yang tadi telah ditutuk Hiattonya, ternyata Lwekang Pek Ting memang tangguh, tadi In San kurang teliti menutuk tidak dengan Jong-jiu-hoat, setelah mengatur napas dan mengerahkan Lwekang ternyata Pek Ting berhasil membebaskan tutukan jalan darahnya.
Sedikitpun In San tidak siaga, sergapan ini sebetulnya takkan bisa dia hindarkan, untung dia melihat mimik muka Cu Kian-sin aneh otaknya cukup cerdik lagi, meski belum tahu apa yang bakal terjadi secara reflek dia menggeser ke samping.
Dia berhadapan dengan raja berarti membelakangi Pek Ting.
Cengkraman Pek Ting memang mengincar tulang pundaknya.
kalau Bi-ba-kut kena dicengkram ilmu silatnya yang pernah diyakinkan In San akan punah seketika.
Gerakan menghindar ke samping tanpa sengaja justru tepat dan berhasil menyelamatkan dirinya.
"Krak"
Jari-jari Pek Ting mencengkram bolong meja.
Karena serangan luput, sigap sekali dia sudah membalik seraya mencengkram ke arah Han Cin.
Pek Ting adalah Ciangbunjin Eng-jiau-bun sekte utara, Kim-na-jiu-hoat yang diyakinkan jarang ketemu tandingan di Bulim.
Melihat jari lawan sekuat baja, mau tidak mau Han Cin tersirap kaget.
Cepat sekali In San sudah memutar tubuh, pedang sudah terlolos terus menusuk.
"Wut, wut"
Dua kali gerakan tangan Pek Ting menderu menyerang untuk membela diri Han dan In kena didesak mundur beberapa langkah.
Setelah mendengus baru saja dia hendak berteriak, tiba-tiba tubuhnya mengejang kaku seperti kena sihir saja berdiri mematung, kedua tangannya bergaya seperti hendak mencengkram, wajahnya beringas dengan mulut menyeringai, keadaannya kelihatan lucu menggelikan.
Tiada angin, tiba-tiba daun jendela terbuka sendiri, sesosok bayangan laksana panah tiba-tiba menyeplos masuk.
Pendatang ini adalah Tan Ciok-sing.
Sembunyi di atas pohon dari ketinggian dia dapat melihat jelas keadaan didalam rumah.
Melihat Pek Ting menyergap dari belakang In San segera dia bertindak, sebelum tubuhnya menerjang masuk senjata rahasianya telah bekerja, senjata rahasia yang digunakan adalah biji buah yang baru dipetiknya di atas pohon.
Gerakan Ciok-sing cepat dan seenteng daun melayang, dari pohon dia meluncur kedalam rumah tunpa mengeluarkan suara.
Sehingga kawanan Wisu yang jaga di bawah tiada satupun yang memergoki perbuatannya.
Tapi suara ramai di atas loteng, mereka sih sudah mendengarnya.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi di atas loteng, namun mereka tahu bahwa Baginda sedang berunding dengan utusan rahasia negeri Watsu, jikalau mereka tidak diminta naik ke loteng, betapapun mereka tidak berani gegabah bertindak.
Seorang Wisu berkata bisik-bisik.
"Agaknya orang Watsu berangasan dan kasar, karena gusar Baginda mendebatnya sehingga terjadi perang mulut. Suara tadi mirip orang yang menggebrak meja. Entah Baginda atau orang Watsu tadi yang menggebrak meja?"
Wisu lain berkata.
"Kalau demikian kurasa tidak perlu kita risaukan."
Wan Giap adalah Wisu tertua didalam pasukan bayangkari yang bertugas di istana, sudah puluhan tahun dia setia kepada kerajaan, sejenak dia berpikir, lalu katanya.
"Jikalau Baginda yang dihina orang Watsu, kurasa kita tidak boleh berpeluk tangan. Hu-congkoan tidak berada disini, umpama terjadi sesuatu diluar dugaan siapa di antara kita yang harus bertanggung jawab. Menurut hematku, satu di antara kita perlu naik melihat keadaan."
Tiga Wisu temannya cuma menggeleng, katanya.
"Mencuri dengar perundingan"
Baginda dengan utusan Watsu bisa dihukum mati, jikalau kau berani menanggung akibatnya boleh kau saja yang naik."
Seorang lagi bicara.
"Justru karena Hucongkoan tidak disini, kami tidak berani sembarangan bertindak tanpa mendapat perintahnya. Wan toako, kau berani, boleh kau mewakili kami naik ke atas. Ai, kami memang bernyali kecil yang kami harapkan hanya selamat, aku tidak ingin mengejar jasa."
Wan Giap yakin dirinya adalah Wisu tertua yang biasa mendapat kepercayaan dan disayang raja, terhadap sang junjungan dia memang amat setia, makin dia pikir hatinya makin kuatir, akhirnya dia menepuk dada, katanya.
"Baiklah biar aku naik ke atas."
Setelah menutuk Hiat-to kedua Wisu pula, lekas Tan Cioksing membalik tubuh merenggut Cu Kian-sin serta mengancam.
"Aku tidak bermaksud jahat kepada Baginda, tapi Baginda harus bertindak menurut petunjukku. Jikalau satu di antara kami ada yang cidera akupun tidak akan menjamin keselamatan Baginda. Saking ketakutan dan kaget muka Cu Kian-sin pucat pasi, katanya gemetar.
"Baiklah aku mendengar petunjuk Hiapsu."
Biasanya dia yang memberi perintah, kapan dia pernah tunduk kepada orang lain, selama hidup mungkin baru sekali ini dia bilang mau menerima petunjuk orang lain.
Tanpa sungkan Tan Ciok-sing segera berbisik di pinggir telinganya memberi petunjuk apa-apa.
Pada saat itulah terdengar derap langkah naik ke atas, Wan Giap si Wisu tua telah naik ke atas loteng.
Meski bernyali besar, namun Wan Giap tidak berani gegabah.
Didengarnya Cu Kian-sin membentak.
"Siapa diluar?"
Mana dia berani mendorong pintu, tersipu-sipu dia berlutut diluar pintu serta berseru.
"Hamba Wan Giap sengaja naik kemari untuk melayani Baginda."
Cu Kian-sin membentak.
"Kau adalah Wisu tertua, kenapa masih tidak tahu aturan. Tanpa Tim yang mengundang untuk apa kau kemari. Mengingat jasamu selama ini setia dan berbakti kepada kerajaan, kali ini tidak kutimpakan hukuman kepadamu lekas menggelinding ke bawah."
Wan Giap berkeringat dingin, tersipu dia mengiakan terus merangkak turun ke bawah loteng.
Meski kaget den ketakutan namun hatinya lega.
Karena dia sudah mendengar suara junjungannya jelas bahwa sang raja tidak kurang suatu apa.
Pada hal suara makian Cu Kian-sin juga gemetar.
Tapi karena Wan Giap sendiri juga gemetar mana dia memperhatikan secermat itu.
Kalau hati Wan Giap sudah lega, adalah perasaan Cu Kiansin makin tertekan.
Pada hal Tan Ciok-sing paling dia takuti, lalu apa yang akan dilakukan Tan Ciok-sing pada dirinya?
Tan Ciok-sing membimbingnya duduk, lalu memberi hormat, katanya.
"Aku terlambat beberapa hari, mohon Baginda memaafkan."
Walau hanya penghormatan biasa sebagaimana lazimnya yang terjadi di kalangan rakyat jelata, Cu Kian-sin merasa lega juga, pikirnya.
"Gelagatnya mereka tidak bermaksud jahat terhadap Tim"
Katanya.
"Hiapsu tidak usah banyak adat, Tim tidak akan menyalahkan kau. Entah kedatangan Hiapsu kali ini..."
Kalem suara Tan Ciok-sing.
"Percakapanmu dengan nona In tadi sudah kudengar jelas, kedatanganku kali ini hanya mengulang pertanyaan lama. Apakah harus angkat senjata melawan serbuan Watsu atau akan minta damai kepada mereka, apakah kau masih belum memutuskannya?"
Cu Kian-sin tertunduk diam, hatinya berpikir.
"Kenapa utusan Watsu belum juga tiba, Hu Kian-seng kenapa pergi begini lama?"
Pada hal setengah jam lebih lewat. Tan Ciok-sing berkata lebih lanjut.
"Kuharap Baginda tidak banyak curiga. Jikalau Kim-to Cecu ingin jadi raja, kenapa di saat pasukan Watsu menyerbu ke Tay-tong dia angkat senjata melawannya, tidak mengalihkan sasarannya merebut tahta kerajaan, pada hal kekuatannya ibarat telur menumbuk batu, betapa besar korban yang telah dideritanya? Kini mereka terpencil diluar Gan-bun-koan tapi masih gigih melawan musuh demi kemerdekaan nusa dan bangsa."
"Harap Baginda berpikir lebih cermat, mungkin Baginda berpendapat, minta damai dan terima dihina dapat bertahan hidup sementara sebaliknya menurut pendapatku, bangsa Watsu liar dan punya ambisi besar mereka tidak akan memberikan kehidupan tentram dan sejahtera kepadamu. kepada rakyat jelata yang hidup tertindas 'dalam kemiskinan. Bila tiba saatnya mereka menyusun kekuatan besar menyerbu datang mungkin singgasana Bagindapun takkan bisa dipertahankan lagi. Dari pada Baginda dihina dan ditipu oleh bangsa Watsu, mumpung sekarang ada kesempatan untuk mencapai kemenangan kenapa tidak kau bangkit melawannya."
Pidato Tan Ciok-sing memang tidak enak bagi pendengaran sang Raja, tapi tepat mengorek penyakit hati Cu Kian-sin, rasa curiganya terhadap Kim-to Cecu rada berkurang.
Di samping itu dia memang merasa keki dan penasaran melihat sikap pongah orang-orang Watsu meski dia bukan seorang raja besar yang memiliki kemampuan besar pula, tapi juga bukan raja lalim yang terlalu ceroboh, mendengar anjuran Tan Cioksing semangat terbakar jiwa patriotnya bangkit.
Akhirnya Cu Kian-sin manggut-manggut, katanya.
"Utusan Watsu sebentar lagi akan tiba, baiklah Tim akan menerima petunjuk."
"Bagaimana pula persoalan Liong Bun-kong?"
Tanya In San.
"Tim tahu dia adalah musuhmu, besok juga Tim akan pecat dia dari semua jabatan."
"Bangsat tua itu merugikan rakyat dan negara, tujuanku bukan melulu untuk menuntut balas sakit hati pribadi. Hukuman yang Baginda jatuhkan kepadanya kurasa terlalu ringan."
"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"
"Tolong Baginda memberi surat kuasa kepadaku, biar aku yang membekuk bangsat tua itu."
Ujar In San.
Cu Kian-sin masih ragu-ragu tapi akhirnya dia terima permintaan In San.
Semula dia masih ingin melindungi dan mempertahankan Liong Bun-kong tapi setelah dipikir lebih mendalam, bila kepala Liong Bun-kong terpenggal tapi dapat meredakan kemarahan masa bukankah ada manfaatnya juga bagi dirinya.
Maka dia berkata.
"Baik, boleh kau susun redaksinya nanti Tim yang tanda tangan dan dibubuhi cap pula."
Dalam kamar itu tersedia lengkap peralatan tulis, hanya beberapa kejap In San sudah rampung menulis surat kuasa itu. Pada saat itulah diluar tiba-tiba terjadi keributan. Seorang membentak.
"Kurang ajar, kalau aku bukan Tiangsun Pwelek, lalu siapa Tiangsun Pwelek?"
Ucapan bahasa Han orang ini amat fasih tapi logat suaranya terang dan nyata bahwa dia adalah Tiangsun Co, utusan rahasia Watsu yang tulen.
Suara seorang yang lain kedengaran amat jelek, seperti gesekan benda logam.
"Kalian sedang apa disini? Hayo tunjukan tempatnya aku akan bicara dengan rajamu. Hmm siapa berani menghadangku?"
Yang bicara bukan lain adalah Koksu negeri Watsu, Milo Hoatsu adanya.
Sengaja dia mau pamer Lwekangnya yang tangguh suaranya mendengung keras,, Cu Kian-sin yang ada di atas loteng merasa pekak telinganya.
Sebetulnya bujukan Tan Ciok-sing sudah termakan oleh Cu Kian-sin, kini mendengar utusan Watsu telah tiba hatinya menjadi gugup dan gelisah.
Tapi diapun merasa heran.
"Kemana sih Hu Kian-seng yang membawa mereka kemari?"
In San berkata.
"Baginda tidak usah gugup biar kami yang menghadapi mereka, supaya selanjutnya tidak berani bertingkah di hadapan Baginda." 000OOO000 Bagaimana In Sah akan melayani utusan Watsu, baiklah kukesampingkan dulu. Mari kita ikuti pengalaman Hu Kianseng. Mengudak jago kosen yang mempermainkan dirinya, tanpa terasa Hu Kian-seng terus mengudak sampai pojok Sia-hoa wan yang belukar dan jarang diinjak orang. Betapapun Hu Kian-seng adalah orang yang berpengalaman, akhirnya dia sadar, pikirnya.
"Kungfu Tan Ciok-sing pernah kusaksikan. Ilmu pedangnya amat tinggi, Ginkangnya juga tidak lemah. Tapi Ginkangnya tidak setinggi ini, mungkin aku salah raba orang yang mempermainkan aku bukan dia."
Mau tidak mau hatinya jadi tidak tentram.
"Walau aku sudah mengatur segala sesuatunya, tidak takut dipancing dari tempat dinasku, bila Tan Ciok-sing dan In San bergabung dengan ilmu pedang mereka menerjang masuk ke Yang-simtiam, Pek Ting dan Kiang Swan jelas bukan tandingan mereka. Em, ya, entah Milo Hoatsu dan Tiangsun Co sudah tiba di Yang-sim-tiam belum, bila mereka sudah tiba disana, Milo Hoatsu pasti dapat menghadapi mereka."
Tengah dia kebingungan sayup-sayup tiba-tiba didengarnya suara Milo Hoatsu yang lagi marah-marah.
Milo Hoatsu berkaok-kaok sambil berlari, pada hal mereka belum tiba di Yang-sim-tiam.
Tapi Hu Kian-seng dapat membedakan arah datangnya suara maka dia tahu bahwa Milo Hoatsu sedang menuju ke Yang-sim-tiam.
Milo Hoatsu memaki dengan bahasa Mongol sayup-sayup Hu Kian-seng hanya paham sepatah dua patah kata, karena pulang pergi dia memaki.
"Kurang ajar."
Karuan Hu Kian-seng melengak heran, pikirnya.
"Siapa yang berani berbuat kurang ajar kepada mereka?"
Karena tidak tentram, Hu Kian-seng tidak berani mengudak jago kosen yang misterius tadi.
Tapi baru saja dia putar badan, bayangan misterius itu mendadak muncul, terasa angin menyamber tahu-tahu orang telah menyergap di belakangnya.
Reaksinya Hu Kian-seng cukup cekatan, secara reflek dia membalik tangan mencengkram ke belakang.
Suaranya masih dekat di kupingnya, tak nyana cengkramannya mengenai tempat kosong.
Begitu Hu Kianseng menoleh, dilihatnya sesosok bayangan hitam menyelinap ke semak-semak kembang.
Orang itu sudah menampakkan diri, tapi Hu Kian-seng belum melihat bentuk wajahnya tapi akhirnya dia melihat juga bayangannya.
Dia seorang gembong silat, cengkramannya tidak berhasil namun dia sudah tahu bahwa Lwekang orang ini sedikit di bawahnya.
Tapi meski dia sudah tahu namun Ginkang sendiri jauh ketinggalan, bila kejar mengejar ini dilanjutkan, mungkin pihak sendiri yang bakal runyam.
Akhirnya dia sadar.
"Orang ini melibatku disini, jelas tujuannya menahanku selama mungkin, kenapa aku harus ditipunya."
"Setan alas, kau tidak berani keluar, memangnya aku harus melayanimu disini, biar malam ini kuampuni jiwamu."
Demikian bentak Hu Kian-seng. Orang itu tertawa, katanya.
"Setan alas, kau tidak berani mengejar, aku justru ingin bermain petak dengan kau."
Kali ini Hu Kian-seng sudah siaga, begitu merasa angin menyamber kedua tangannya segera bergerak, Pun-lui-ciang dilancarkan dengan sembilan puluh persen tenaganya.
"Aduh."
Orang itu menjerit. Hu Kian-seng kira orang itu terluka, hatinya girang. Tak nyana belum lenyap suara jeritannya, orang itu telah berkata pula.
"Syukur aku selamat. Tidak kena."
Begitu dia menoleh seperti tadi dia hanya melihat bayangan orang sekali berkelebat telah lenyap di balik rumpun kembang.
Meski berkepandaian tinggi bernyali besar, mau tidak mau Hu Kian-seng tersirap hatinya.
"Gerak gerik orang ini laksana setan gentayangan aku harus hati-hati jangan terbokong olehnya."
Kali ini dia sudah kapok dan tak berani menoleh lagi, segera dia angkat langkah seribu lari menuju ke Yang-simtiam.
Baru setengah jalan dia ketemu seorang Thaykam yang sedang lari kencang dengan napas sengal-sengal.
Hu Kianseng kenal Thaykam ini kepercayaan Bong Tit, kali ini Bong Tit mengutus Thaykam ini untuk menemani utusan Watsu menghadap kepada Baginda.
Hampir saja mereka bertumbukan, keduanya sama-sama kaget.
"Eh, Hu-congkoan, kenapa kau tidak berada di samping Baginda, koh berada disini malah?"
"Bukankah Bong-kokong mengutusmu menemani utusan Watsu menghadap Baginda? Kenapa seorang diri kau berlarilari sipat kuping."
Tanpa berjanji kedua orang sama mengajukan pertanyaan. Hu Kian-seng berkata.
"Semula tujuanku memang hendak ke tempatmu menyambut utusan Watsu, tadi kudengar suara Milo Hoatsu yang marah-marah. Aku tahu kalian sudah menuju ke Yang-sim-tiam, kukira kau telah temani mereka. Apakah yang telah terjadi?"
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi,"
Tutur Thaykam itu.
"kejadian memang aneh dan ganjil."
"Baiklah, coba kau jelaskan kejadian yang menimpa dirimu, nanti kita menganalisa bersama."
"Bukankah Baginda berjanji akan menerima utusan Watsu pada kentongan ketiga, akhirnya ditunda setengah jam lagi. Milo Hoatsu sudah kurang senang. Tak tahu..."
"Ada kejadian apa?"
"Tak nyana, tiba saat yang ditentukan Tiangsun Pwelek tidur di ranjang tidak bisa bangun."
"O, dia, dia dibokong orang?"
"Bukan begitu saja, pakaiannya malah dibelejeti orang."
Hu Kian-seng kaget, teriaknya.
"Wah celaka, pasti seseorang telah menyaru dirinya menemui Baginda."
Tanpa banyak bicara segera Hu Kian-seng berlari kencang meninggalkan si Thaykam berdiri terlongong.
000OOO000 Dengan marah-marah akhirnya Milo Hoatsu dan Tiangsun Co tiba di depan Yang-sim-tiam.
Sambil membusung dada Tiangsun Co berseru.
"Apakah raja kalian ada disini? Lekas beritahu padanya, aku sudah datang."
Kawanan Wisu yang dinas saling pandang, katanya seseorang.
"Tuan ini..."
Tiangsun Co naik pitam, sentaknya.
"Kau ini anggota bayangkari yang bertugas jaga disini malam ini?"
Wisu itu mengiakan sambil manggut. Tiangsun Co mendengus, rasa gusarnya makin bertambah.
"Kalau benar kau petugas jaga disini kenapa tidak tahu siapa yang malam ini akan diterima rajamu di Yang-sim-tiam ini? Aku inilah Tiangsun Pwelek dari Watsu."
Wan Giap, Wisu tertua tampil ke depan, katanya.
"Apa betul kau ini Tiangsun Pwelek? Lalu kenapa..."
Maksudnya mau tanya kenapa tiada Thaykam yang mengiringi mereka, karena menurut kebiasaan dan rencana yang telah disepakati, kedatangan mereka sebenarnya diiringi seorang Thaykam yang dapat dipercaya dengan membawa lencana tembaga sebagai tanda dinas.
Memangnya Tiangsun Co sudah marah dan penasaran, karuan dia tak kuat menahan gejolak penasarannya lagi, semprotnya.
"Bedebah, kalau aku bukan Tiangsun Pwelek lalu siapa Tiangsun Pwelek. Aku tidak maki kalian bertugas tidak genah, malah memeriksa diriku. Minggir, biar aku masuk sendiri menemui Cu Kian-sin, tak usah kalian memberi laporan."
Wan Giap adalah Wisu tua yang paling setia kepada raja, mendengar Tiangsun Co kurang ajar langsung menyebut nama junjungannya, hatinya marah juga, pikirnya.
"Umpama benar kau ini utusan Watsu, tapi petingkah dan seangkuh ini, betapapun aku tidak akan biarkan kau kurang ajar terhadap junjungan kita. Maka dia coba bicara halus.
"Maaf, dalam istana ada tata tertib, harap tuan tunggu sebentar."
Dengan menyeringai dingin Wan Giap mengadang di depannya. Tiangsun Co berjingkrak gusar.
"Tata tertib kentut anjing. Minggir."
Wan Giap memang sudah siap waktu mengadang di depan orang, kedua jarinya segera menutuk ke Lau-kiong-hoat di tengah telapak tangan lawan yang memukul tiba, sementara sisa tiga jarinya yang lain agak ditekuk, itulah salah satu gerakan liehay dari Liong-jiau-jiu.
Sebagai ahli silat, sekali turun tangan, lantas tahu apakah lawannya berisi.
Mau tidak mau Tiangsun Co kaget juga, insaf dirinya bukan tandingan Wan Giap lekas dia menarik tangan.
"Kalau benar tuan adalah utusan Watsu kuharap kau menjaga harga diri."
Demikian kata Wan Giap tawar sambil menarik gerakan Liong-jiau-jiu.
Tiba-tiba Milo Hoatsu melangkah lebar dalam matanya seolah-olah tiada Wan Giap yang berdiri di depannya.
Jari Wan Giap segera mencengkram, Milo mengebas lengan baju, kontan Wan Giap sempoyongan tujuh tindak, setelah berputar dua lingkar baru dia berhasil kendalikan dirinya.
Ternyata dalam kebutan lengan bajunya, Milo Hoatsu telah kerahkan tujuh lapis Liong-siang-kang.
Untung yang melawan adalah Wan Giap, kalau Wisu lain tanggung sudah jatuh terjengkang sungsang sumbel.
"Mutiara sebesar beras juga coba memancarkan cahaya."
Demikian jengek Milo Hoatsu.
"sudah tahu keliehayanku? Pwelek, mari kita masuk coba siapa berani merintangi?"
Pada saat itulah seorang Thaykam beranjak keluar sambil memegang kipas lempit. Thaykam ini jelas adalah samaran In San. Menuding dengan kipasnya In San membentak.
"Ada apa ribut-ribut disini?"
Wan Giap segera menyahut.
"Ada orang yang mengaku sebagai utusan Watsu minta bertemu dengan Baginda."
"Baginda sudah tahu. Baginda ada perintah suruh orang yang mengaku sebagai utusan Watsu masuk menghadap kepadanya."
"Kurcaci,"
Maki Tiangsun Co penasaran.
"aku ini jelas adalah utusan Watsu, kenapa dikatakan mengakui?"
Milo tahu di belakang kejadian ini pasti ada sebabnya maka dia berkata.
"Pwelek tak usah marah, setelah kita berhadapan dengan Cu Kian-sin nanti tanyakan persoalannya."
In San menuding pula dengan kipasnya.
"Yang diundang hanya orang yang mengaku sebagai utusan Watsu, Hwesio ini dilarang masuk."
Milo Hoatsu adalah Koksu negeri Watsu kedudukannya lebih tinggi dari Tiangsun Co mendengar Cu Kian-sin hanya mengundang Tiangsun Co, karuan gusarnya bukan buatan.
Sementara itu banyak Wisu telah lari mendatangi, Wan Giap segera memberi tanda Milo Hoatsu segera dikurung rapat.
Melihat dirinya dikurung, otak Milo Hoatsu malah menjadi jernih, pikirnya.
"Tidak sukar aku membunuh habis kawanan Wisu kentut busuk ini, bukankah urusan malah runyam? Baiklah hari ini aku telan penghinaan demi tercapainya rencana besar, biar hari ini aku mengalah, biar Tiangsun Co seorang diri menemui Cu Kian-sin. Asal perjanjian damai sudah ditanda-tangani, apapun kehendak kami dia harus tunduk dan melaksanakannya, coba saja apa dia berani menentang kehendakku untuk menghukum mati kawanan Wisu ini."
Bahwa Milo Hoatsu tidak berani mengumbar amarah, sudab tentu Tiangsun Co juga hanya menelan penasaran, seorang diri dia ikut In San naik ke loteng.
Han Cin yang menyaru Tiangsun Co sementara itu sudah berganti pakaian mengenakan seragam Thaykam, sementara Pek Ting dan Kiang Swan yang tertutuk Hiat-tonya masih berdiri kaku dengan gaya masing-masing yang lucu.
Tan Ciok-sing memang berpakaian sekolah, kini dia mengenakan serenceng kalung mutiara berdiri di belakang Cu Kian-sin pura-pura menjadi pelayan pribadinya.
Begitu In San membawa Tiangsun Co masuk ke kamar dinas dimana Cu Kiam-sim bekerja, daun pintu .yang tebal dan besar itu segera dia tutup dan kunci.
Tiangsun Co tidak tahu kalau Pek Ting dan Kiang Swan tertutuk Hiat-tonya, melihat gaya mereka amarahnya makin berkobar, pikirnya.
"Kurang ajar, Cu Kian-sin suruh kedua Wisu ini petingkah untuk menghinaku, memangnya aku gampang digertak?"
Dengan membusung dada segera dia berkata lantang.
"Khan Agung dari Watsu ada perintah untuk menyampaikan salam hormatnya kepada Raja dynasti Bing."
"O,"
Cu Kian-sin mengangguk.
"silahkan duduk."
Tak tahan Tiangsun Co menahan emosi serunya keras.
"Kedatanganku ini untuk membicarakan perjanjian damai, tolong tanya Baginda, orang-orangmu ini sedang main apa, bertindak..."
"Kurang ajar."
Belum sempat dia mengucapkan katakatanya, Tan Ciok-sing telah menghardiknya.
"Tiangsun Co, di hadapan Baginda Raja kau petingkah."
Tiangsun Co kira dia hanya sebagai pembantu sekretaris yang akan membuat notulen pembicaraan hari ini, hakikatnya dia tidak pandang sebelah mata, bentaknya.
"Aku belum menuding kalian, kalian malah menuding aku. Hm, kau ini barang apa, berani kau membacot disini."
Sikap kasar Tiangsun Co sudah diduga oleh Tan Ciok-sing, bagaimana dia akan menghadapinya juga telah dia rancang bersama Cu Kian-sin, segera dia memberi lirikan mata kepada Cu Kian-sin.
Pertama Cu Kian-sin memikirkan keselamatan jiwa sendiri, kedua melihat sikap Tiangsun Co yang jumawa, hatinya keki maka segera dia bertindak sesuai pesan Tan Ciok-sing tadi, bentaknya sambil menggebrak meja.
"Kau ini utusan Watsu yang mau minta damai terhadap Tim bukan?"
Begitu dia gebrak meja meski tidak keras tapi Tiangsun Co sudah dibuat kaget setengah mati, matanya mendelik, katanya.
"Betul. Aku membawa mandat penuh sebagai wakil Khan Agung, memangnya Baginda belum tahu?"
"Tim tahu. Tapi apa kau tahu siapakah Tan-haksu ini?"
Tiangsun Co kira, pemuda ini paling adalah pembesar kesayangannya, tetap angkuh dia berkata.
"Dia siapa? Omongnya kasar, kenapa Baginda membelanya?"
"Dia inipun sebagai wakil Tim sepenuhnya. Kau ingin damai boleh kau bicara dengan dia."
Kaget dan gusar pula hati Tiangsun Co, katanya.
"Soal ini menyangkut urusan besar nasib negara, kenapa Baginda mengajukan wakil, umpama perlu kumohon supaya Baginda mengganti seorang lain..."
"Siapa utusan Khan Agung kalian, Tim tidak peduli. Siapa wakilku yang akan berunding dengan kau kalianpun tidak perlu turut campur. Kau harus tahu di garis mana kau berbicara, disini kau harus tunduk kepadaku, Tim yang berkuasa."
Di bawah pengawasan Tan Ciok-sing dengan membesarkan nyali, petunjuk apa yang tadi Tan Ciok-sing berikan kepadanya sekarang dia bacakan seperti murid yang lagi menghapal pelajaran yang diberikan gurunya, sehingga suaranya sudah agak gemetar.
Tapi karena suaranya yang bergetar ini lebih menunjukkan bahwa dia seperti menekan emosi saking marahnya.
Mimpipun Tiangsun Co tidak menyangka bahwa Cu Kian-sin bakal menuding dirinya serta bicara sekeras dan seberani itu, mau tidak mau ciut nyalinya maka dia tidak berani banyak bicara lagi.
Maka Tan Ciok-sing menimbrung dengan suara dingin.
"Sebelum kau mengajukan permohonanmu untuk mengikat perdamaian, ingin aku bertanya kepadamu, entah kau tahu tidak akan dosa-dosamu?"
Mendelik Tiangsun Co, tanyanya.
"Aku punya dosa apa?"
"Sebagai utusan sebuah negara, sepantasnya kau tahu tata tertib seorang diplomat. Kenapa setelah berhadapan dengan raja kita, kau tidak segera berlutut?"
Lalu dia menghardik dengan suara kereng.
"Hayo berlutut."
Tangan diulur menekan tubuh orang.
Umpama Tiangsun Co mau berlutut, dalam keadaan seperti ini juga pasti melawan karena dipaksa secara kasar, saking gusar matanya menjadi gelap, kontan dia ulur jari menutuk Jiti-hiat disikut orang, maksudnya hendak membikin malu Tan Ciok-sing dengan tubuh terguling jatuh, supaya tak mampu merangkak berdiri lagi.
Tak nyana ujung jarinya seperti menumbuk dinding batu waktu menyentuh anggota badan Tan Ciok-sing, jelas jarinya telah menutuk Ji-ti-hiat, tapi sikap Tan Ciok-sing tetap wajar tidak berobah sama sekali, malah dia sendiri yang menjerit kesakitan.
Cepat sekali tangan Tan Ciok-sing sudah pegang pundaknya.
Karuan Tiangsun Co tidak tahan lagi, pundaknya seperti ditindih benda ribuan kati, tanpa kuasa kedua lututnya tertekuk sehingga dia jatuh berlutut.
"Bagus, sekarang boleh kau bicara. Bagaimana maksud damai negerimu?"
Pelan-pelan dia melepas pegangan dan tekanan tangannya di pundak orang. Kejut Tiangsun Co lebih besar lagi, pikirnya.
"Cu Kian-sin sengaja hendak menghina aku. Haksu apa orang ini, jelas dia seorangjago silat kosen yang menyamar jadi sekretaris raja. Seorang laki-laki harus bisa melihat gelagat, biarlah kubicarakan dulu soal perjanjian damai itu baru nanti berusaha membuat perhitungan."
Dia insaf gelagat tidak menguntungkan dirinya, perjanjian damai juga belum tentu dicapai namun betapapun harus dicoba. Maka dia angkat kepala, serunya membantah.
"Tiga bulan yang lalu, konsep perjanjian itukan sudah dibuat. Kedatangan kali ini hanya ingin tahu jawaban Baginda, kenapa sejauh ini perjanjian itu belum juga kau tanda tangani."
"Tan-haksu,"
Kata Cu Kian-sin.
"lemparkan kembali konsep perjanjian damai itu kepadanya."
Tan Ciok-sing mengiakan, lalu dia robek konsep perjanjian damai yang ditulis sendiri oleh Liong Bun-kong tiga bulan yang lalu serta dibuang di atas lantai.
Saking marah mata Tiangsun Co mendelik merah padam, katanya.
"Apa maksudmu Baginda?"
"Dari pada perang aku memang lebih cinta damai, tapi bagaimana perjanjian damai itu ditanda tangani, kalian harus tunduk akan kehendakku."
"Konsep perjanjian damai itukan sudah dirancang bersama oleh dua pihak setelah redaksinya diganti berulang kali, bila mau dirobah juga hanya mengganti beberapa huruf yang dirasa perlu saja,"
Demikian bantah Tiangsun Co.
"Tutup mulutmu!"
Bentak Tan Ciok-sing.
"kau sedang bicara dengan raja kami, mana boleh bersikap kasar, main bentak lagi. Ketahuilah konsep tetap konsep, jadi belum positip. Kami sudah tentu mempunyai maksud tujuan kami sendiri, mana boleh kau mencampuri kehendak kami."
Baru saja Tiangsun Co sudah merasakan keliehayannya, melihat Ciok-sing bicara dengan muka bengis dan bersikap gagah, mau tidak mau menciutkan nyalinya.
Sesaat kemudian baru dia menghela napas, giginya berkerutuk saking menahan emosi, katanya dingin.
"Baiklah lalu menurut pendapat kalian, bagaimana perjanjian damai ini harus ditanda tangani?"
Cu Kian-sin berkata.
"Tan-haksu silahkan kau bicarakan dengan dia."
Tan Ciok-sing berkata.
"Tiongkok adalah negara berbudaya tinggi, kalian kalah perang dan minta damai, kami mau tidak menerima adalah hak kami. Tapi Baginda memang arif bijaksana beliau mau menerima permohonan kalian, oleh karena itu cukuplah asal sebetulnya kalian mengirim pernyataan menyesal akan kesalahan yang telah dilakukan."
"Apa-apaan, kenapa kami harus menyesal dan minta maaf?"
"Kalian mengerahkan pasukan menyerbu dan menduduki wilayah kami, apakah tidak pantas kalian minta maaf dan mengaku salah, memangnya kami yang harus minta maaf malah?"
Tiangsun Co berkata.
"Memberi sedikit kelonggaran kepada kalian memang bukan mustahil, tapi kami mengajukan beberapa syarat yang harus dipatuhi. 1. Dua negeri kita harus bergabung memberantas kawanan brandal di perbatasan. 2. Dynasti Bing harus menarik mundur pasukannya dari Taytong. 3. Harus menyerahkan Coh-hun, Yu-giok dan beberapa daerah. 4...."
Belum habis dia bicara, Tan Ciok-sing sudah menggebrak meja serta menudingnya.
"Besar mulutmu, kalian kalah perang, daerah kita harus diserahkan kepadamu malah, menarik mundur tentara, minta damai segala? Syarat-syarat itu sepantasnya kalian sendiri yang harus memikulnya. Tapi sekarang kami cukup murah hati kami hanya menuntut kalian mohon maaf dan menarik mundur pasukan, persoalan boleh dianggap rampung, lalu apa pula kehendak kalian?"
"Baginda harus berpikir cermat,"
Tiangsun Co masih berusaha putar lidah.
"pemerintahmu terlalu mengandal kekuatan kaum brandal, itu jelas tidak akan mengangkat gengsi. Memang beberapa kali kami pernah mengalami kegagalan tapi bila kami mau mengerahkan pasukan besar."
Tan Ciok-sing menjengek dingin.
"Bila Khan Agungmu masih tidak sadar, mengerahkan tentara main kekerasan, terpaksa kami akan memberi hajaran setimpal kepadanya. Bila kalian berani mengerahkan pasukan besar boleh silahkan kapan saja akan kami sambut."
Mau tidak mau timbul curiga Tiangsun Co, pikirnya.
"Haksu yang satu ini bagaimana berani bicara sebebas ini di depan junjungannya? Baiklah peduli siapa dia, aku harus menakuti Cu Kian-sin..."
Segera dia menarik muka, katanya membusung dada dengan sikap temaha.
"Baginda, kau harus berani berkeputusan mencari jalan yang benar, jangan mudah kau dipermainkan kaum dorna, kalau tidak, hm, hm..."
Sikapnya yang sombong dan tengik justru menimbulkan reaksi tegas Cu Kian-sin, jengeknya sinis.
"Kalau tidak kenapa?"
"Jikalau pasukan besar kita sudah kerahkan batu jadepun bakal menjadi abu, kedudukanmu sebagai raja tidak akan berlangsung lama lagi."
Walau Cu Kian-sin takut terhadap Watsu kini dia tidak tahan lagi, serunya gusar.
"Kurang ajar! Kau sedang bicara dengan Tim tahu!"
Tiba-tiba Tan Ciok-sing mencengkram kuduk Tiangsun Co serta menjinjingnya ke atas, katanya.
"Utusan Watsu berani menghina Baginda, kalau bersalah tidak dijatuhi hukuman, akan menghilangkan pamor negeri besar kita."
Setelah amarahnya berkobar, diam-diam Cu Kian-sin kuatir bila bertindak terlampau jauh.
Tapi Tan Ciok-sing bertindak demi mempertahankan nama baik dan gengsinya, apalagi ada Tan Cioksing di sampingnya, sementara pasukan besar Watsu jauh ribuan li diluar perbatasan maka rasa takut terhadap Tan Ciok-sing sekarang jauh lebih besar bila pasukan besar negeri Watsu kenyataan menyerbu negerinya.
Maka samar-samar dia berkata.
"Tan-haksu memang betul hukuman apa yang harus dia terima, boleh terserah kepadamu saja."
Tan Ciok-sing mengiakan, pelan-pelan dia gunakan Hunkin-joh-kut-jiu-hoat, Tiangsun Co yang dijinjingnya dia lempar ke atas lantai.
Rasa sakit seperti meresap ke tulang sungsum, sekuatnya Tiangsun Co berusaha menahan sakit, bentaknya serak.
"Boleh buktikan kalian bisa berbuat apa terhadapku..."
Mulutnya masih ingin memaki tapi Hun-kin-joh-kut-jiu yang digunakan Tan liehay, tenaga yang disalurkan kedalam tulang sungsum tubuhnya baru sekarang mulai bekerja, kontan tubuhnya mengejang, seperti dicocoki ribuan jarum, meski sudah kertak gigi menahan napas, akhirnya tak tertahan dia merintih juga, rangkaian kata-kata yang siap dilontarkan tak kuasa diucapkan lagi.
Tan Ciok-sing berkata.
"Kau menghina Raja, semestinya hukumannya mati. Tapi mengingat kau ini seorang utusan negara asing hari ini kuampuni jiwamu."
Sampai disini sengaja dia merandek. Meski kesakitan namun dalam hati Tiangsun Co amat senang, pikirnya.
"Memangnya kau berani membunuh aku? Asal jiwaku selamat, kapan saja aku pasti menuntut balas."
Saking kesakitan dia tidak mampu bersuara, juga tidak berani bicara. Tapi rasa bangga dan puas tak urung tampil di wajahnya. Tan Ciok-sing berkata lebih lanjut.
"Hukuman mati boleh diperingan menjadi hukuman siksa. Baiklah, laksanakan pukulan empat puluh kali."
In San dan Han Cin mengiakan bersama.
Mereka tarik Tiangsun Co serta membalikkan tubuhnya hingga tidur tengkurap serta ditekan punggungnya, palang pintu memang tersedia di kamar buku itu, dengan palang pintu itulah pantat Tiangsun Co dihajar empat puluh kali.
Waktu Hu Kian-seng buru-buru kembali ke Yang-sim-tiam, anak buahnya masih mengurung Milo Hoatsu.
Melihat gelagat jelek ini, sungguh terkejut H u Kian-seng bukan main.
Lekas dia tarik Wan Giap ke pinggir serta tanya perlahan.
"Kenapa hanya Milo Hoatsu yang ada disini? Mana Tiangsun Co?"
"Baginda hanya mengizinkan Tiangsun Co saja yang menghadap."
Sahut Wan Giap. Hu Kian-seng tahu kedudukan Milo Hoatsu lebih tinggi, katanya.
"Bagaimana mungkin Baginda memberi perintah begitu. Apakah baginda sendiri yang memberi pesan kepadamu?"
"Bukan, seorang Thaykam keluar menyampaikan perintahnya."
Demikian tutur Wan Giap.
"Thaykam itu memegang kipas pribadi Baginda."
"Sebelum ini kalian belum pernah melihat Thaykam itu?"
Tanya Hu Kian-seng.
"Belum pernah melihatnya."
"Bagaimana dia bisa masuk?"
"Bukankah Bong-kokong yang mengutusnya mengantar utusan Watsu? Oh ya, hampir lupa aku memberitahu kepadamu, urusan agak ganjil, Tiangsun Co yang duluan memang tidak mirip Tiangsun Co yang belakangan."
Hu Kian-seng kaget, pikirnya.
"Ternyata ada orang yang menyaru."
Katanya gugup.
"Jangan kalian berbuat salah kepada Milo Hoatsu, Tiangsun Co yang datang bersama dia itu yang tulen. Sekarang aku harus segera menemui Baginda..."
Baru saja Hu Kian-seng beranjak di undakan loteng, dia sudah mendengar suara palang pintu menghajar pantat, rasa kejutnya bertambah besar, tapi dia belum berani memastikan bahwa Tiangsun Co yang dihajar pantatnya, lekas dia memburu ke atas serta berteriak.
"Baginda, Baginda..."
Ternyata kejadian selanjutnya menambah rasa kejutnya pula, baru dua kali dia berteriak, belum sempat dia mohon supaya menghentikan hukuman hajar pantat itu, suara junjungannya sudah membentak.
"Siapa berani naik ke atas tanpa kuperintah?"
Terpaksa Hu Kian-seng menghentikan langkah, serunya lantas.
"Hamba Hu Kian-seng sudah kembali."
Sebagai Komandan pasukan Bayangkari, biasanya selalu mendampingi raja, tadi atas kehendak raja dia keluar untuk menyambut kedatangan utusan Watsu.
Sekarang sudah kembali sebetulnya adalah kejadian yang logis, jadi hakikatnya tidak perlu harus dipanggil.
Maka setelah dia berteriak, dia harap Cu Kian-sin akan mengenal suaranya dan segera memanggilnya.
Tak nyana didengarnya suara Cu Kian-sin lebih beringas, bentaknya.
"Disini tak perlu tenagamu. Disana tenagamu diperlukan kenapa kau tidak kesana. beginikah rasa baktimu terhadap Tim?"
Saking kaget dan takut lekas Hu Kian-seng berlutut diluar pintu, serunya.
"Mohon Baginda memberi petunjuk."
"Ada apa di bawah loteng, kenapa ribut?"
Sentak Cu Kiansin.
"Ada, ada..."
"Jangan membela orang luar, apakah Koksu dari Watsu yang membuat onar?"
Terpaksa Hu Kian-seng memberi laporan.
"Ya, ya, Milo Hoatsu mohon izin untuk naik kemari, menemui Baginda."
Kereng suara Cu Kian-sin.
"Tim larang dia naik kemari, dia berani membuat keributan, memangnya dia masih memberi muka kepada Tim? Hu Kian-seng, tenagamu tidak diperlukan disini, tidak lekas kau turun ke bawah melarang dia membuat onar!"
Sudah tentu apa yang diucapkan Cu Kian-sin telah didikte oleh Tan Ciok-sing, mana Hu Kian-seng tahu bahwa di belakang peristiwa ini Tan Ciok-sing telah memegang peranan.
Namun demikian, rasa curiganya bertambah besar.
Sikap keras dan tindakan tegas Cu Kian-sin kali ini, tidak mirip keadaan biasanya yang dia ketahui benar.
Setelah pantatnya dihajar keras, meski tidak mampu bersuara, tak tertahan Tiangsun Co merintih-rintih.
Begitu mendengar suara Hu Kian-seng diluar pintu, segera dia berkaok-kaok kesakitan.
In San tidak berani menutuk Hiattonya.
Hu Kian-seng mendengar rintihan, namun dia tidak berani menerjang masuk.
Maklum setiap patah kata yang keluar dari mulut sang raja merupakan perintah yang tak boleh dibantah.
Dengan kupingnya sendiri dia mendengar Baginda marahmarah memaki Koksu negri Watsu kalau Koksunya juga dimaki, menghajar utusan Watsu juga menjadi urusan biasa.
Dia pikir bila dugaannya meleset, bila menghajar pantat utusan Watsu memang kehendak Baginda sendiri, kalau dirinya menerjang masuk berarti melanggar aturan, mana berani dia memikul dosa yang tidak terampun?
Karena itu dia tidak pingin mengejar pahala, syukurlah kalau awak sendiri tidak berbuat salah.
Dan lagi Hu Kian-seng memang seorang yang pandai menggunakan otak, berpandangan jauh dan luas, dia pikir bila Baginda menjadi sandera, kalau dirinya masuk bukankah keadaan Cu Kian-sin akan lebih berbahaya?
Kalau Baginda sudah dijadikan sandera, dirinya gegabah lagi, akibatnya tentu fatal, salah-salah jiwa sang raja bisa mati secara konyol.
Apa boleh buat terpaksa Hu Kian-seng mengiakan, buruburu dia lari turun ke bawah.
Ternyata keributan semakin besar di bawah.
Kiranya Milo Hoatsu sudah mendengar rintihan Tiangsun Co yang sedang disiksa di atas.
Melihat Hu Kian-seng keluar, Milo Hoatsu lantas membentak.
"Apa yang dilakukan raja kalian? Kenapa Tiangsun Pwelek merintih-rintih?"
Hu Kian-seng jeri bila padri asing ini benar-benar mengamuk, terpaksa dia membual.
"Koksu, mungkin kau salah dengar. Jangan banyak curiga, sabarlah, tunggu lagi sebentar."
"Apa, jadi kau tidak disuruh mengundangku naik ke atas?"
Semprot Milo Hoatsu.
"aku harus menunggu disini pula, kalian, hm, hm, termasuk raja kalian memangnya sudah tidak ingin hidup?"
Wan Giap paling setia kepada sang junjungan, tak tahan berkobar amarahnya, bentaknya.
"Kami menyambutmu dengan kehormatan, kalianpun harus tahu diri, mana boleh kau lancang dan petingkah disini,"
Kata-katanya mengobarkan pula amarah kawanan Wisu yang lain, serempak mereka bersorak terus merubung maju. Milo Hoatsu membentak.
"Aku, jijik melayani kalian, Hu Kian-seng, hayo temani aku naik ke atas."
Hu Kian-seng berkata perlahan.
"Maaf, atas perintah Baginda, aku disuruh turun menemani kau disini."
"Apa?"
Milo Hoatsu berjingkrak.
"kau juga melarang aku ke atas?"
"Bukan aku yang melarang, Baginda ingin supaya kau menunggu di bawah saja."
"Bedebah, aku justru ingin berhadapan dengan raja dan akan kutanya kepadanya, memangnya kalian mampu menahanku disini. Di tengah bentaknya kedua lengannya menggentak, dua Wisu terpental setombak lebih. Apa boleh buat, urusan sudah terlanjur sejauh ini, terpaksa Hu Kian-seng turun tangan. Milo Hoatsu mendorongkan telapak tangannya, terpaksa dia gunakan jurus Hud-in-jiu, pukulan lunak yang dapat memunahkan tenaga keras. Sayang Lwekangnya, memang setingkat lebih asor dibanding Milo Hoatsu apa lagi dia tidak berani kerahkan seluruh tenaganya, akibatnya meski pukulan Milo Hoatsu berhasil dipunahkan sebagian besar tak urung dia sendiri tergentak mundur beberapa langkah, setelah berputar satu lingkaran baru berdiri tegak. Wan Giap membentak.
"Berani kau betingkah lagi, biar aku adu jiwa dengan kau."
Kedua wisu tadi dilempar jatuh hingga kepalanya bocor tulang patah, karuan teman-temannya naik pitam, belasan orang segera merangsak maju.
Milo Hoatsu juga seorang ahli, gebrak percobaan dengan Hu Kian-seng tadi dirasakan bahwa lawannya belum menggunakan tenaga sepenuhnya, dia pikir bila terjadi pertempuran sengit, Hu Kian-seng dibantu belasan anak buahnya, pihak sendiri yang tetap dirugikan.
Terpaksa dia berdiri tegak di tempatnya, bentaknya beringas.
"Hu Kian-seng, sementara boleh aku memberi muka kepadamu, kau harus memberi penyelesaian kepadaku, apa yang terjadi di atas?"
"Aku tidak tahu."
"Kau melihat Tiangsun Pwelek tidak?"
"Tidak."
Karuan Milo kaget dan gusar, makinya sambil menuding Hu Kian-seng.
"Hu Kian-seng, lalu apa kerjamu?"
"Apa kerjaku memangnya kau tidak tahu, aku komandan bayangkari yang berkuasa disini, tahu!"
Akhirnya Hu Kian-seng naik pitam setelah dibentak dan dituding.
"Sebagai Komandan bayangkari yang berkuasa, ada musuh menyelundup kedalam istana kenapa tidak kau usut dan periksa."
Hardik Milo Hoatsu. Bercekat hati H u Kian-seng, tapi dia mengeraskan kepala, katanya.
"Darimana kau tahu ada mata-mata musuh menyelundup ke istana?"
"Tiangsun Pwelek telah dikerjai orang di penginapannya, pakaiannya diblejeti dan dicuri orang, setiba kami disini, anak buahmu ternyata mencurigai kami, coba kau berterus terang bukankah ada seorang Tiangsun Pwelek lain yang telah datang lebih dulu?"
Milo Hoatsu ternyata cukup teliti, walau dia tidak mendengar persoalan apa yang diucapkan Wan Giap dengan Hu Kian-seng, tapi bahwa seseorang telah menyaru jadi Tiangsun Pwelek sudah dalam dugaannya.
Maka dia duga Wan Giap melaporkan kejadian ini kepada Hu Kian-seng.
Hu Kian-Seng pentang kedua tangannya, katanya.
"Hoatsu, sabarlah, jangan marah-marah dengarkan penjelasanku."
"Tulen atau palsu sudah jelas, apa pula yang perlu dibicarakan?"
Seru Milo Hoatsu gusar. Lahirnya dia bersikap kasar dan garang, namun hatinya juga jeri menghadapi Hu Kian-Seng, setelah maju dua langkah dia berhenti pula.
"Seperti apa yang kau bilang,"
Demikian ujar Hu Kian-Seng.
"urusan pasti bisa diusut sampai terang, harap kau tunggu sebentar? Tiangsun Pwelek segera akan keluar."
Milo Hoatsu mendengus.
"Siapa tahu apa yang rajamu yang bodoh itu lakukan terhadap Tiangsun Pwelek. Bila kalian menganiayanya sampai mati, apa aku harus menunggunya seumur hidup?"
Wan Giap menyemprot gusar.
"Kata-katamu terlalu kurang ajar terhadap Baginda, jangan kau menyesal bila kami bertindak kasar terhadapmu."
Diam diam Hu Kian-seng panggil seorang Wisu serta memberi pesan apa-apa terhadapnya, tugasnya ialah mengundang bala bantuan sebanyak mungkin, diberitahukan pula bahwa ada mata-mata musuh berada di Sia-hoa-wan.
Sebelum kawanan Wisu tiba, Tiangsun Pwelek telah keluar.
Tapi bukan berjalan tegak, tapi dengan merintih-rintih dia terguling jatuh dari atas tangga.
Maklum empat puluh kali pukulan palang pintu cukup membuat pantatnya mekar, untung Lwekangnya sudah punya dasar kuat meski luka-luka luar cukup parah, sebetulnya masih cukup kuat.
Bahwa dia sengaja menggelinding jatuh dari atas loteng, tujuannya, adalah mau memancing kemarahan Milo Hoatsu, supaya sakit hati dan dendamnya terbalas.
Melihat keadaannya Milo Hoatsu memang naik pitam, amarahnya seperti api disiram bensin, teriaknya.
"Tiangsun Pwelek, siapa menghajarmu sampai begini?"
Tiangsun Pwelek merangkak, serunya serak.
"Siapa lagi kecuali raja anjing mereka!"
Sambil menggerung Milo Hoatsu lantas menerjang, bentaknya.
"Kalian berani menghina utusan negeri kita, biar aku membuat perhitungan dengan raja anjing kalian."
Mendengar Baginda dimaki "Raja anjing"
Amarah Wan Giap lebih berkobar, bentaknya.
"Peduli siapa dia, gampar mulutnya."
Dua orang Wisu lain juga tidak kuat menahan amarah, mereka menelat tindakan Wan Giap memburu kesana terus meringkusnya.
Lekas Milo Hoatsu tarikan sepasang telapak tangannya, Wan Giap kena dipukulnya jungkir balik, demikian pula dua Wisu yang lain kena ditendangnya mencelat.
Urusan amat mendesak Hu Kian-seng tidak banyak pikir lagi, terpaksa dia maju merintangi.
"Blang", mereka adu pukulan.
"Huuuaaaah", kontan Hu Kian-seng muntah darah. Taraf Lwekang mereka sebetulnya tidak terpaut jauh, sayang Hu Kian-seng tidak berani menggempur sekuat tenaga, maka dia yang kena rugi. Melihat pemimpin mereka muntah darah entah bagaimana luka-lukanya, kawanan wisu marah-marah. Mereka tidak hiraukan keselamatan sendiri, tidak peduli apa pula akibatnya, ganyang musuh lebih dulu, maka beramai-ramai mereka merangsak. Milo Hoatsu menanggalkan jubahnya, bentaknya.
"Siapa merintangi aku dia mati. Aku akan membuat perhitungan dengan Cu Kian-sin anak keparat itu."
Wan Giap yang terpukul jungkir balik itu, luka-lukanya lebih parah dari Hu Kian-seng, tapi mendengar Milo Hoatsu langsung menyebut nama sang raja serta memakinya pula, amarahnya tak terbendung lagi, entah dari mana datangnya kekuatan, segera dia meletik bangun, bentaknya.
"Hayo kawan-kawan, kita adu jiwa."
Milo Hoatsu sudah menyendal jubahnya laksana segumpal mega merah, jubahnya menggulung ke arah kawanan Wisu yang menyerbu dirinya.
Kawanan Wisu ini terhitung jago-jago kosen dalam istana, tapi dibanding Hu Kian-seng terang ketinggalan jauh, pula dibanding Milo Hoatsu.
Maka terdengarlah suara gemerantang yang ramai, gaman ketiga orang Wisu kena digulung lepas dan jatuh.
Di kala jubah Milo menggulung ke depan tiba-tiba terasa angin kencang menyamber, sinar kemilau menyilau mata, dari samping seorang Wisu menusuk dengan pedang secepat kilat.
Bercekat hati Milo Hoatsu.
"Siapa kira anak buah Hu Kianseng ada juga yang berkepandaian setinggi ini."
Tersipu-sipu dia memutar tubuh menghadapi serangan orang ini, sekaligus jubah yang menggulung ke depan disendai miring ke pinggir, sebelah tangan yang lain menyambut serangan Hu Kian-seng dan dua orang pembantunya.
Karena itu perhatian terpencar tenagapun tidak seimbang karena harus melayani dua pihak.
"cret"
Jubah kasanya yang tebal itu telah tertusuk bolong oleh pedang lawan.
Kasanya itu digunakan sebagai senjata setelah dilandasi kekuatan Lwekangnya, berkembang kencang laksana layar.
Kini mendadak tertusuk bolong, karuan seketika melambai lemas seperti ban kempes, sudah tentu kekuatannya seketika sirna.
Tadi Hu Kian-seng tidak gunakan tenaga sepenuhnya hingga mengalami rugi besar.
Kini menghadapi detik-detik mati hidup, mana berani dia berlaku ayal?
Blang, telapak tangan beradu, kali ini Milo Hoatsu tergempur mundur tiga langkah.
Terasa kerongkongannya anyir, darah yang sudah menyembur ke lehernya telah ditelannya pula bulat-bulat.
Maklum sebagai seorang Koksu yang berwatak tinggi hati, betapapun dia malu dikalahkan.
Hu Kian-seng berterima kasih kepada Wisu yang telah menolongnya, dalam keadaan genting seperti itu, tak sempat dia berpikir, di antara anak buahnya siapa yang memiliki kepandaian pedang seliehay itu?
Kini baru dia ada kesempatan, sekilas dia pandang Wisu di sebelahnya.
Hatinya lantas heran dan bertanya-tanya, karena Wisu ini bukan anak buahnya, agaknya diapun belum pernah melihat Wisu ini.
Saat mana Wan Giap baru saja melompat berdiri melihat Wisu ini diapun melengak, tanyanya.
"Siapa kau?"
Sikap setianya memang takkan luntur meski jiwanya hampir mampus, maka dalam keadaan seribut itu, dia masih tidak lupa memperhatikan lawan dan kawan.
Wisu ini bukan lain adalah samaran Toan Kiam-ping.
Seperti diketahui Toan Kiam-ping sembunyi di belakang gunung-gunungan siap menyambut dan membantu Tan Cioksing.
Mendengar Milo Hoatsu membuat keributan di depan Yang-sim-tiam, terpaksa dia keluar dari tempat sembunyinya.
Kedatangannya tepat pada waktunya, sehingga jiwa Hu Kianseng berhasil ditolong.
Satu hal yang tidak dia kira, dalam keadaan seribut ini, Wan Giap, Wisu yang setia kepada rajanya ini masih sempat memperhatikan dirinya.
Seluruh Wisu yang ada di istana semua kenal baik dengan Wan Giap hanya Wisu yang satu ini yang tidak dikenalnya.
Toan Kiam-ping sudah tahu, masih mungkin dia mengelabui Hu Kian-seng, tapi sukar ngapusi Wan Giap.
Dasar cerdik, hatinya tabah lagi, segera dia mengeluarkan sebentuk lencana terus diacungkan, katanya.
"Aku disuruh Bok-jongling kemari untuk membantu melindungi Baginda, inilah lencana pemberian Bong-kokong. Bok-jongling dan Bong-kokong sudah bilang, peduli siapapun, bila dia berani membuat onar di istana, kita harus mengusirnya."
Bok Su-kiat adalah komandan Gi-lim-kun, Gi-lim-kun adalah pasukan pribadi sang raja tugasnya melindungi keselamatan istana di bagian luar, bila sang raja mengadakan inspeksi ke daerah, menjadi tugas Gi-lim-kun untuk mengawal dan melindunginya.
Jadi jelas tugas Gi-lim-kun berbeda dengan pasukan Bayangkari, satu tugas diluar yang satu bertugas didalam, tanpa mendapat perintah raja Gi-lim-kun dilarang sembarang masuk ke istana.
Satu hal lagi, bahwa seragam pasukan Gi-lim-kun berbeda dengan seragam pasukan bayangkari.
Toan Kiam-ping mengaku seorang perwira Gi-lim-kun, tapi mengenakan seragam pasukan Bayangkari.
Sudah tentu Toan Kiam-ping tidak tahu akan seluk beluk ini, karena di hadapan komandan pasukan Bayangkari dan Wisu tua ini tidak mungkin dia mengaku sebagai anggota pasukan Bayangkari, sekenanya dia menyaru jadi anggota Gi-lim-kun.
Bualannya memang menyerempet bahaya dengan pengharapan lawan percaya, dan tidak sempat perhatikan dirinya lagi.
Ternyata dia berhasil.
Bukan Wan Giap tidak melihat kelemahan alasannya, tapi keterangannya yang membual itu, justru hampir cocok dengan kenyataan.
Janji pertemuan Cu Kian-sin dengan Tan Ciok-sing sebetulnya terjadi lima hari yang lalu, kuatir tenaga pasukan bayangkari masih belum kuat, pernah timbul niatnya hendak meminta kepada Bok Su-kiat untuk mengirim beberapa jago kosennya bantu bertugas didalam istana.
Persoalan ini dia serahkan kepada Hu Kian-seng, tapi Hu Kian-seng kurang senang jikalau Bok Su-kiat menginterfensi ke daerah kekuasaannya, maka dia simpan maksud atau kehendak sang raja dan tidak memberi tahu kepada Bok Su-kiat.
Yang terang sang raja hanya berpesan secara lisan, tiada bukti hitam di atas putih.
Beberapa hari kemudian, suasana tentram tidak terjadi apa-apa, Bagindapun telah melupakan akan hal ini.
Tapi Wan Giap tahu akan pesan raja, cuma dia tidak tahu bila Hu Kian-seng menahan pesan secara lisan ini.
Karena terdesak sekenanya Toan Kiam-ping membual, ternyata hampir cocok dengan kenyataan.
Lenyap rasa curiga Wan Giap, serta merta matanya melirik ke arah Hu Kian-seng.
Sudah tentu Hu Kian-seng tahu bahwa Toan Kiam-ping membual, tapi Toan Kiam-ping telah menolong jiwanya, sedikit banyak dia merasa hutang budi, maka dia segan untuk bertindak membalas kebaikan orang dengan membongkar asal-usulnya.
Apalagi dia harus menyimpan rahasia, jikalau perintah raja yang dia peti eskan sampai terbongkar kedudukannya tidak terjamin lagi, sudah kebacut salah biarlah salah lebih lanjut.
Apalagi dia belum mendapat laporan tentang asal-usul Toan Kiam-ping, kepandaian silatnya tinggi lagi, maka dia menduga bukan mustahil Bok Su-kiat memang mengutus dia masuk ke istana.
Hatinya maklum lirikan mata Wan Giap kepada dirinya adalah ingin memperoleh jawaban dari mulutnya.
Tapi dalam keadaan seperti ini, cara yang terbaik adalah pura-pura tidak tahu sementara diam sebagai jawaban.
Melihat Hu Kian-seng diam saja, Wan Giap kira dia membenarkan.
Maka sisa curiganya telah sirna.
Apalagi keadaan segawat ini, mana sempat dia tanya kepada Hu Kianseng.
Pembicaraan beberapa patah kata itu berlangsung amat singkat, tapi peluang ini telah dimanfaatkan oleh Milo Hoatsu untuk mengatur napas lalu melancarkan rangsakan pula.
Pelan-pelan dia mengembangkan kedua lengannya, terdengar ruas-ruas tulangnya berbunyi berkeretekan, sinar matanya tambah menyala, bentaknya.
"Kurang ajar, berani kau memaki aku gegabah? Hm, baiklah, coba buktikan, siapa yang akan terlempar keluar dari sini."
Belum lenyap suara bentakannya, kedua tangannya bekerja pula, kali ini membelah ke arah Wan Giap.
Jarak mereka ada satu tombak, telapak tangannya tidak mungkin mencapai Wan Giap, tapi perbawa Bik-khong-ciangnya ternyata sedahsyat gugur gunung.
Wan Giap tertindih oleh damparan angin pukulan, dadanya sesak seketika, sakit dan tak mampu bicara.
Toan Kiam-ping bertindak cekatan.
"Sret"
Pedangnya telah menusuk Lau-kiong-hiat di telapak tangan lawan.
Bila Laukiong-hiat tertusuk, betapapun tinggi Lwekangnya, bila hawa murni bocor Kungfunya akan punah.
Sudah tentu Milo Hoatsu tidak membiarkan telapak tangannya tertusuk tembus, jarinya tertekuk lantas menjentik.
Kungfunya memang sudah mencapai taraf tinggi, jentikannya tepat dan telak.
"Creng"
Pedang lawan kena diselentiknya pergi.
Telapak tangan Toan Kiam-ping pecah berdarah, getaran selentikan lawan ternyata hampir membuat dia tidak kuat memegang pedang.
Tanpa kuasa dia menjejak kaki, tubuhnya jumpalitan mundur beberapa tombak.
Hu Kian-seng sudah berada di damping Wan Giap, berdampingan mereka menyerang bersama, baru gempuran Milo Hoatsu berhasil dibendung.
Kekuatan tiga jago top menimbulkan getaran hawa yang cukup dahsyat, jendela tak jauh di samping mereka tergetar jebol.
Beberapa Wisu lain yang tidak terluka segera terjun ke arena pertempuran, sekuat tenaga mereka merintangi Milo Hoatsu yang hendak menerjang ke atas loteng.
Dalam pada itu Toan Kiam-ping sudah berdiri pula, dari jendela dia melongok keluar lapat-lapat di tempat sembunyi Tan Ciok-sing tadi kini muncul pula bayangan seorang.
Tapi jelas bukan Tan Ciok-sing, tapi adalah Han Cin.
Han Cin melambaikan tangan ke arahnya.
Walau dihajar empat puluh kali gebukan di pantatnya, lukaluka Tiangsun Co hanya di kulit dagingnya saja, diam-diam dia sudah merangkak bangun, terus menyergap seorang Wisu.
Wisu itu tercengkram tulang pundaknya, saking kesakitan dia menjerit sekali terus jatuh semaput.
Tapi di kala meronta seraya menyikut, sikutannya telah mengenai dada Tiangsun Co sehingga pandangannya berkunang-kunang tanpa kuasa dia menyurut mundur beberapa langkah dan jatuh terguling.
Toan Kiam-ping mencelat maju, pedang dipindah ke tangan kiri, dengan jurus Pek-hong-koan-jit, langsung dia menusuk ke arah Tiangsun Co.
Umpama segar bugar Tiangsun Co bukan tandingannya, apalagi sekarang luka ditambah luka, mana dia mampu melawan tusukan pedang secepat kilat ini?
Tahu dirinya tidak mampu berkelit, amarahnya malah berkobar, tidak mundur dia malah memapak maju, bentaknya.
"Berani kau membunuhku."
Dia pikir sebagai utusan negrinya, dalam keadaan kepepet dia jadi nekat.
Tapi belum habis dia bicara, dadanya sudah terasa dingin, serasa sudah terbang arwahnya, anehnya ternyata tidak merasa sakit sama sekali.
Ternyata ilmu pedang Toan Kiamping sekarang telah mencapai taraf sempurna, gerakannya dapat dikendalikan menurut perintah otaknya, begitu ujung pedang menyentuh tubuh lawan, segera dia robah serangannya menjadi tutukan ke Hiat-to lawan, yang diincar adalah Hiat-to pelemas di dada orang sehingga Tiangsun Co lunglai, seperti menjinjing kucing layaknya, Toan Kiam-ping merenggut Tiangsun Co terus dilempar ke arah Wan Giap, serunya.
"Bila dia berani membuat onar pula, pukul lagi bocah ini empat puluh kali."
Bukan kawanan wisu itu tidak mikir untuk menyandera Tiangsun Co, soalnya orang adalah utusan Watsu, maka mereka tidak berani bertindak secara gegabah.
Bahwa Toan Kiam-ping melempar Tiangsun Co ke arah Wan Giap, tepaksa Wan Giap menerimanya.
Begitu Tiangsun Co jatuh ke tangannya, keadaan seperti orang di punggung harimau, langkah yang tidak dia lakukan terpaksa juga harus dihadapinya.
Sudah tentu amarah Milo Hoatsu tak tertahankan lagi, langsung dia menubruk ke arah Wan Giap sambil membentak.
"Apa yang hendak kau lakukan terhadap Pwelek kami, hayo turunkan, kupuntir kepalamu."
Berulang kali dirinya dimaki dan terluka pula, akhirnya Wan Giap mata gelap dan nekat, Tiangsun Co diangkat terus diputar sebagai tameng, bentaknya balik.
"Baik, mari, kau puntir, coba buktikan kepala siapa yang kepuntir patah."
Lekas Hu Kian-seng menerobos ke tengah mereka, teriaknya.
"Hoatsu berhenti dulu, persoalan bisa dibicarakan. Wan Giap, jangan kau kurang ajar terhadap Tiangsun Pwelek, lekas turunkan dia."
Betapapun Hu Kian-seng adalah atasannya, karena dibentak terpaksa Wan Giap turunkan Tiangsun Pwelek, tapi jari-jarinya mencengkram punggungnya.
Meski amarah berkobar, tapi orang sendiri disandera lawan, Milo Hoatsu tidak berani sembarang bertindak lagi.
"Kalian berani menghina utusan kita, persoalan apa pula yang perlu dibicarakan?"
"Kalau kau tidak ribut, sudah tentu kami tidak akan bertindak kasar."
Wan Giap balas membentak.
"Sebetulnya apa kehendak kalian?"
Bentak Milo Hoatsu.
"Kami justru ingin tahu apa kehendakmu?"
Bantah Wan Giap pula.
"Wan Giap,"
Sentak Hu Kian-seng.
"jangan kurang ajar lekas bebaskan Tiangsun Pwelek."
"Paling tidak dia harus berjanji dulu tidak akan membuat keributan, baru aku akan membebaskan orangnya. Tiangsun Co memang sebagai utusan Watsu, tapi Baginda Raja kita berada disini, mana boleh kalian petingkah disini, sama-sama berlaku hormat kan juga harus dipatuhi kedua pihak."
Tekad setianya kepada raja memang harus dipuji, bila dia mengumbar adat, meski Hu Kian-seng adalah atasannya juga berani dibantah.
Sudah tentu makin murka Milo Hoatsu mendengar ocehan Wan Giap.
Tapi dalam keadaan kepepet begini, seorang diri jelas dirinya kewalahan, apalagi tadi dia mengerahkan Thianmo-ciang-lat yang teramat ganas, hawa murni sendiri sudah banyak dikorting, jikalau urusan belum beres dan harus bertempur lagi, umpama dirinya berhasil menerjang kepungan, dirinya pasti akan jatuh sakit parah.
Apalagi umpama dia berhasil lari, Tiangsun Co masih menjadi tawanan lawan.
Begitu menerima Tiangsun Co segera dia membebaskan tutukan Hiat-tonya, tanpa banyak bicara lagi terus beranjak keluar.
"Hoatsu, Pwelek,"
Teriak Hu Kian-seng.
"tunggu sejenak, biar aku menghadap Baginda, nanti kita bicara lagi. Kuyakin dalam kejadian ini pasti ada kesalah pahaman..."
Hu Kian-seng menduga pasti ada mata-mata musuh yang sengaja mengadu domba, sayang pihaknya tiada orang yang tepat diserahi tugas untuk memberi penjelasan kepada Milo Hoatsu.
Tapi urusan menjadi ribut sebesar ini memang diluar dugaannya.
Segera dia cwlingukan, Wisu yang tadi menolong dirinya sudah tidak kelihatan, sekarang baru dia paham duduknya perkara.
Tapi bila dia membongkar rasa curiganya ini.
Wan Giap tentu menyalahkan dirinya, kenapa tidak sejak tadi membeber soal ini.
Oleh karena itu, dia bertindak menurut perhitungannya sendiri, setelah dia menemui baginda, dan jelas duduk persoalan seluruhnya, baru akan memberi penjelasan kepada Milo Hoatsu.
Tapi tak pernah terpikir olehnya, setelah Tiangsun Co dihajar, Milo Hoatsu kebacut marah, apakah perhitungannya dapat dapat terlaksana?
Dengan muka merah padam, Milo Hotsu membentak.
"Hu Kian-seng, tiada yang perlu dibicarakan lagi. Kalau berani hayo bunuh kami berdua, memangnya kami harus kau tahan disini mendengar penghinaan kalian."
Sembari bicara kedua lengannya bekerja terus menerjang ke depan.
Para Wisu yang dibuat kaget dan melenggong mana berani merintangi.
Setelah Hiat-to dibebaskan, rasa sakit Tiangsun Co bertambah-tambah, dengan murka diapun berteriak serak.
"Beritahu kepada raja anjingmu, tunggulah pasukan besar Watsu kita menyerbu tiba."
"Tiangsun Co,"
Bentak Wan Giap.
"mulut anjingmu tidak tumbuh gading, berani-berani kau bermulut kotor, aku, aku..."
Belum habis dia bicara, mulutnya sudah didekap Hu Kian-seng. Sebetulnya Tiangsun Co juga sudah kapok, namun dia pura-pura temberang.
"Kau berani apa?"
Tersipu-sipu bersama Milo Hoatsu mereka meninggalkan Yang-sim-tiam. Kawanan Wisu tiada yang berani mengadang, terpaksa mereka dibiarkan pergi. Lega hati Wan Giap, katanya.
"Hu-congkoan, mari kutemani kau menghadap Baginda."
Terbeliak mata Hu Kian-seng, katanya.
"Kau kira urusan sudah beres? Hm, jangan kau mimpi, tak usah kau kuatir akan keselamatan Baginda, sekarang lekas sampaikan perintahku, kerahkan seluruh pasukan untuk mengudak jejak mata-mata."
"Mata-mata dari . mana datangnya? Macam apa mata-mata itu?"
Tanya Wan Giap, dia maklum Tiangsun Co yang datang duluan tadi pasti mata-mata, tapi Tiangsun Co tiruan itu sejauh ini belum dilihatnya keluar dari Yang-sim-tiam, buat apa mengejar jejaknya ke tempat lain?
Saking jengkel Hu Kian-seng membanting kaki, katanya.
"Aku tiada tempo menjelaskan, aku sendiri juga belum berhadapan dengan mata-mata itu, mana aku tahu bagaimana tampangnya? Pendek kata, melihat orang yang tidak kau kenal ringkus dia."
"Tapi Baginda sendiri..."
"Aku yang akan melindungi Baginda, kau tidak usah kuatir, lekas, lekas laksanakan."
Setelah komandannya sendiri yang berjanji akan menjaga keselamatan junjungannya, Wisu tua yang setia ini baru merasa lega, bergegas dia meninggalkan tempat tugasnya.
Hu Kian-seng sendiri belum tahu apakah Tiangsun Co tiruan sekarang masih berada di samping Baginda, dengan perasaan kebat-kebit, dengan langkah munduk-munduk dia naik tangga mendekati kamar buku, di depan pintu dia batukbatuk beberapa kali.
"Siapa diluar."
Cu Kiam-sin membentak dari dalam.
"Hamba Hu Kian-seng."
"Kenapa baru sekarang kau datang?"
Hu Kian-seng melenggong, katanya.
"Tadi hamba sudah kemari, tapi Baginda suruh hamba turun menemani Koksu dari Watsu."
Cu Kian-sin mendengus hidung, katanya lagi.
"Kedatanganmu sudah terlambat. Tahukah kau, orang yang Tim ingin temui telah kemari."
Setelah melihat Baginda, duduk persoalannya sudah terang bagi Hu Kian-seng, tapi Cu Kiam-sin sendiri masih kebat-kebit, perasaannya tidak tenang, seperti kehilangan apa-apa, tapi juga seperti memperoleh sesuatu.
Menurut rencananya semula dia hendak minta damai dengan pihak Watsu, tapi setelah bertemu dengan Tan Ciok sing, malah tak pernah dia bayangkan meski dalam mimpi setelah kejadian ini, rencananya semula mau tidak mau harus direnungkan kembali.
Dia sudah tahu bahwa Kim-to Cecu telah memperoleh kemenangan besar diluar Gan-bun-koan.
dia sudah menerima janji setia Kim-to Cecu yang diwakili Tan Ciok-sing, bersumpah bila dia angkat senjata melawan Watsu, Kim-to Cecu tidak akan memberontak.
Dengan tangannya sendiri dia membuang konsep perjanjian damai yang telah dirobek itu di depan Tiangsun Co, malah memaki Tiangsun Co pula yang berani kurang ajar dan mengancam dirinya.
Empat puluh pukulan di pantat Tiangsun Co itupun atas persetujuannya.
Walau dia setuju karena terpaksa karena dia disandera.
Tapi betapapun dia masih memiliki wibawa seorang raja, betapapun dia malu untuk membeber kenyataan yang dihadapi di hadapan orang Watsu, apa lagi mengaku dosa dan meminta maaf kepada Watsu.
Apalagi seperti yang dikatakan Tan Ciok-sing, bila Kim-to Cecu setia membantu dirinya, kenapa dia takut tidak kuat melawan Watsu.
Sebaliknya bila Kim-to Cecu memberontak, rakyat banyak pasti tunduk pada perintahnya, sama-sama angkat senjata melawan penjajah.
Bila hal itu terjadi, maka singgasananya yang sekarang telah agak kukuh ini akan goyah dan bukan mustahil akan terguling.
Satu hal lagi, kepandaian Tan Ciok-sing betul-betul amat menakjubkan, sehingga nyalinya pecah, Tan dan In boleh pergi datang seenak udelnya.
Bila gagal menangkap mereka, pasti akan meluruk datang pula.
Bila teringat peringatan.
"ingkar janji menghianati bangsa, Yang Kuasa tidak akan memberi ampun "
Hatinya goncang tubuh gemetar.
Apa boleh buat, terpaksa dia harus berani mengorbankan Liong Bun-kong, dan mencegah Hu Kian-seng turut campur.
Walau Hu Kian-seng tidak turut campur tapi Tan In berempat tidak seleluasa yang mereka duga untuk meninggalkan istana.
Waktu itu sudah menjelang pagi, cuaca sudah remangremang tampak sebarisan Gi-lim-kun memasang busur telah berjaga dan menanti di punggung kuda.
Ternyata pasukan jaga Gi-lim-kun yang berada diluar istana telah mendengar juga gema lonceng peringatan dari istana, tapi mereka tidak tahu apa yang telah terjadi didalam, tanpa diundang, mereka tidak berani masuk, terpaksa mempersiapkan diri, seluruh pasukan yang ada dikerahkan dan siap siaga, seluruh jalan keluar ditutup dan dijaga ketat.
Komandan Gi-lim-kun Bok Su-kiat saat mana kebetulan berada di Tang-hoa-bun.
Toan Kiam-ping berkaok-kaok.
"Minggir. Atas perintah Baginda, kita akan keluar kota, lekas memberi jalan."
Sembari berteriak lencana tembaga diangkat tinggi-tinggi. Tiba-tiba seorang membentak.
"Peduli siapa, harus berhenti."
Seorang penunggang kuda tampil dari barisan berkuda Gi-lim kun, suaranya keras membuat kuping mendengung pekak.
Pembentak ini bukan lain adalah Komandan Gi-lim-kun sendiri Bok Su-kiat adanya.
Melihat gelagat jelek, lekas Han Cin berteriak.
"Sedang menjalankan tugas, maaf kami tidak boleh menunda waktu."
Dia yakin Bok Su-kiat tidak akan berani merintangi, kuda tetap dikeprak menuju ke arah yang berlawanan. Diluar tahunya, Bok Su-kiat tidak pandang lencana Bong Tit, mengambil panah memasang busur.
"ser, ser, ser". Beruntun empat batang panah dia bidikan. Ke empat batang anak panah ternyata melesat bersama ke arah tujuan, dua mengincar ln San, dua lagi membidik Han Cin. Tidak sukar untuk memukul jatuh kedua anak panah itu, tapi ln San dan Han Cin, sekarang masih menyaru sebagai Thaykam, meski para Taykam di istana tidak sedikit yang bisa main silat, tapi tiada yang memiliki kepandaian tinggi. Daya luncuran panah berantai bidikan Bok Su-kiat amat kencang bidikkannyapun tepat, bila mereka memperlihatkan dirinya pandai silat, maka samaran mereka akan terbongkar. ln dan Han memang cerdik dan tangkas tanpa berjanji mereka berpikir.
"Betapapun besar nyali Bok Su-kiat, dia tidak akan berani memanah Thaykam pribadi junjungannya."
Maka mereka hanya sedikit menarik tali kendali, tapi tidak mengembangkan kepandaian menyambuti anak panah.
Gerakan mereka ternyata tepat.
Dua batang panah melesat terbang menyerempet pelipis mereka, mereka merasakan batang panah yang dingin, namun kulit mereka sedikitpun tidak terluka.
Betapa liehay dan menakjubkan kepandaian memanah Bok Su-kiat, tak urung mereka sampai kaget gemetar dan merinding, jantung mereka serasa hampir melonjak keluar dari rongga dada.
Tapi untung juga mereka memperlihatkan sikap gugup dan kaget, sehingga rasa curiga Bok Su-kiat agak berkurang.
Toan Kian-ping mengacungkan medali tembaga seraya berseru.
"Apakah Bok-jongling tidak percaya bahwa kami utusan Bong-kokong?"
"Untuk apa Bong-kokong mengutus kalian keluar?"
"Untuk itu, maaf kami tidak berani menjawab."
Sahut Han Cin. Bok Su-kiat mendengus, katanya.
"Kalian tidak mau menerangkan, aku tidak akan. izinkan kalian keluar."
Tan Ciok-sing menimbrung.
"Urusan memang tidak boleh ditunda. Kalau tidak percaya Bok-jongling boleh suruh orang tanya kepada Bong-kokong, biarlah kami berangkat lebih dulu."
"Tidak boleh. Aku pasti akan suruh orang tanya kepada Bong-kokong, tapi kalian harus tunggu jawabnya disini. Bila asal-usul kalian sudah genah, baru aku akan izinkan kalian pergi."
"Bok-jongling," ,ujar In San dingin.
"kau boleh tidak usah peduli apakah benar medali ini dikeluarkan oleh Bong-kokong, memangnya tanda kebesaran baginda juga kau tidak pandang sebelah mata."
Sembari bicara dia melebarkan kipas lempit emas yang ada tulisan dan tanda tangan serta cap pribadi baginda.
Bok Su-kiat kenal tulisan baginda, semula dia memang kaget, tapi rasa curiganya belum lenyap, dia tetap bandel tidak mau memberi jalan.
Dalam hati dia berpikir.
"Para Thaykam dan wisu di istana memang tidak seluruhnya kukenal, tapi urusan sebesar dalam suasana segenting ini, bila benar mereka mendapat tugas penting, yang diutus pasti juga Thaykam pribadi yang dipercaya oleh Raja. Demikian pula Wisu yang dipilih pasti seorang yang berkepandaian tinggi dan cekatan, kalau benar mereka, mana mungkin aku tiada satupun tidak kenal."
Tapi karena In San memperlihatkan kipas berkerangka emas itu, maka Bok Su-kiat tidak bercuriga bahwa mereka tiruan? "Aku tahu kipas itu milik Baginda, tapi itu bukan tanda kuasa,"
Kata Bok Su-kiat.
"O, jadi kau ingin melihat surat kuasa dari Baginda?"
Jengek Han Cin.
"Betul,"
Ujar Bok Su-kiat.
"dalam istana sedang terjadi keributan, aku sedang menjalankan tugas, lebih baik aku disalahkan baginda surat kuasa itu aku tetap ingin melihatnya."
Han Cin tertawa dingin, katanya.
"kau ingin lihat, boleh kuperlihatkan, tapi tak boleh kuserahkan kepadamu. Ini menyangkut urusan besar, Baginda berpesan supaya kami tidak membocorkan kepada siapapun."
Sembari bicara dia membeber gulungan kertas yang berisi surat kuasa untuk Tan Ciok-sing dalam memberantas anasir-anasir jahat kerajaan termasuk Liong Bun-kong yang jadi pentolannya.
Hanya sedikit yang dibuka Han Cin, dia memperlihatkan tanda tangan dan cap baginda.
Surat kuasa ini ditulis di atas kertas tebal yang mempunyai dasar warna biru dengan corak khusus yang diperuntukan raja saja orang lain tiada yang menggunakan kertas macam itu, hanya melihat kertasnya saja, sebetulnya Bok Su-kiat sudah percaya bahwa itulah surat kuasa, melihat cap dan tanda tangannya, maka dia yakin tidak salah lagi.
Sayang waktu Han Cin sedikit membuka gulungan kertas itu, meski redaksi surat kuasa tidak sampai terlihat, namun mata Bok Su-kiat memang jeli, sekilas dia sudah melihat di baris terakhir dari surat kuasa itu ada tercantum nama Liong Bun-kong.
Hubungan pribadi Bok Su-kiat dengan Liong Bun-kong amat intim, melihat surat kuasa ini ada mencantumkan namanya, diam-diam dia amat kaget, hatinya bimbang.
"Surat kuasa ini bermaksud baik atau membawa malapetaka baginya?"
Pada saat itulah, tiba-tiba didengarnya derap lari kuda, waktu Bok Su-kiat menoleh dilihatnya dua orang menunggang kuda sedang dibedal dari arah Tang-hoa-bun, kedua orang ini bukan lain adalah Milo Hoatsu dan Tiangsun Co.
Dalam kalangan Gi-lim-kun terbatas pada beberapa perwira saja yang tahu adanya utusan rahasia negeri Watsu yang masuk ke istana, anak buahnya boleh dikata tiada yang tahu asal-usul mereka.
Pasukan Gi-lim-kun sekarang dikerahkan atas perintah komandan mereka, siapapun, sebelum diperiksa identitasnya, dilarang keluar.
Oleh karena itu, meski mereka merasa heran melihat orang-orang Watsu ini, maka beramai-ramai mereka maju menghadang, bagaimana juga mereka tidak diijinkan keluar.
Memangnya hati sedang keki, Milo Hoatsu keprak kudanya terus menerjang, beberapa anggota Gi-lim-kun yang di depan barisan diterjangnya jatuh terguling, bentaknya.
"Siapa berani merintangi aku? Yang ingin hidup lekas menyingkir."
Seorang perwira yang jujur berangasan segera membentak gusar.
"Hayo turun, peduli kau ini anak kura-kura, siapapun tidak boleh mondar-mandir sesuka hatinya di daerah terlarang ini."
Sembari membentak tombak panjang terangkat terus menusuk kuda Milo Hoatsu.
Perwira ini hanya memiliki Kungfu biasa mana kuat dia melawan Milo Hoatsu?
Sambil tertawa dingin, sekali raih Milo Hoatsu telah merampas tombaknya, tahu-tahu perwira itu sendiri yang terjungkal roboh dari punggung kudanya termakan oleh tombaknya sendiri.
Sudah tentu kekasarannya menimbulkan amarah masai, umumnya anggota Gi-lim-kun memang membenci orangorang Watsu, soalnya mereka terikat disiplin dan selalu ditekan oleh atasan, maka rasa dendam mereka sukar terlampias.
Kini mumpung komandan mereka ada perintah, cukup kuat untuk dijadikan alasan, sebelum perintah dirobah, kedua orang Watsu ini bertingkah lagi, maka beramai-ramai mereka maju hendak menggasaknya.
Entah siapa yang memberi aba-aba, tiba-tiba anak panah berhamburan sederas hujan lebat.
Hujan anak panah seluruhnya dirontokkan oleh jubahnya yang lunak tapi kuat itu.
Sayang Tiangsun Co tidak memiliki kepandaian setinggi Milo Hoatsu, terluka lagi, karena Milo Hoatsu sedikit lena, paha Tiangsun Co terkena sebatang panah, kontan dia tersungkur ke bawah kuda.
Mau tidak mau Milo kaget dan kebingungan, terpaksa dia berteriak.
"Berhenti, berhenti. Kalian tidak kenal kami. Bok Sukiat kenal baik dengan aku, lekas suruh komandan kalian keluar minta maaf kepadaku."
Sebetulnya Bok Su-kiat masih ingin tanya kepada Tan Cioksing, tapi kejadian mendadak ini lebih menarik perhatiannya, mau tidak mau dia ikut gugup juga.
Lekas dia putar kuda serta dikeprak kesana, serunya.
"Berhenti, berhenti. Lekas hentikan."
Mendengar suaranya baru pasukan Gi-lim-kun menghentikan aksinya.
Karena paha terpanah, ditambah luka Tiangsun Co tidak mampu bangun lagi.
Untung meski luka luar cukup berat, tenaganya tidak lenyap seluruhnya.
Mumpung ada keributan, lekas Han Cin gulung pula surat kuasa itu terus keprak kudanya, berempat mereka bedal kuda keluar dari kota terlarang.
Dalam keadaan seperti itu.
Bok Su-kiat tidak sempat banyak tanya lagi, apalagi dia sudah percaya bahwa surat kuasa itu memang tulisan sang raja, maka dia tidak berani perintahkan anak buahnya mencegat mereka pula.
Tapi setelah anak buahnya menghentikan serangannya, sebelum dia minta maaf kepada Milo Hoatsu, tidak lupa dia panggil tiga orang perwira, kepada mereka Bok Su-kiat menyuruhnya lekas pergi ke sekretariat negara menemui Liong Bun-kong.
Bukan dia curiga akan surat kuasa tadi, tapi karena hubungan pribadi yang kental, maka anak buahnya ini disuruh mencari berita kesana bila ada kesempatan boleh bekerja mendahului surat perintah itu memberi kisikan kepada Liong Bun-kong.
Ketiga perwira itu cukup cerdik dan tangkas bekerja, tak perlu dijelaskan secara terperinci, mereka juga sudah maklum.
Melihat Bok Su-kiat muncul, baru Milo Hoatsu lega hati, katanya setelah mendengus.
"Kalian memanah Tiangsun Pwelek, sakit hati ini akan kucatat saja, kelak akan kuperhitungkan. Sekarang lekas kalian ganti dua ekor kuda, kau sendiri antar kami sejauh tiga puluh li."
Sekretariat negara dimana Liong Bun-kong menempati kantornya dibangun diluar kota lewat pintu barat, itulah daerah pariwisata yang indah dan permai pemandangannya.
Setelah mereka keluar dari pintu barat, tak lama kemudian, mereka mendengar derap lari kuda yang dibedal, tahulah mereka bahwa di belakang ada pengejar.
Begitu mereka men6leh, betul ada tiga perwira Gi-lim-kun tengah mengaburkan kudanya.
Sudah tentu ketiga perwira ini tidak berani menyusul mereka, mereka hanya menguntit dari jarak tertentu.
Kalau ditegur mereka punya alasan untuk mengatakan atas perintah atasan, secara diam-diam melindungi utusan raja ke tempat tujuan, cara itu memang tidak melanggar kedisiplinan.
Tapi walau Tan Ciok-sing dan kawan-kawannya tidak tahu tujuan mereka, mau tidak mau kebat kebit hati mereka.
Kalau putar balik menggasak ketiga perwira ini, kuatir terjadi onar yang lebih besar, bukan mustahil bisa menggagalkan rencana.
Sebetulnya ketiga perwira itu terus menguntit, entah kenapa beberapa kejap kemudian jarak mereka semakin jauh.
Setiba di suatu pengkolan jalan, waktu mereka menoleh pula ketiga perwira itu sudah tidak pernah kelihatan lagi.
Tan Ciok-sing berkata.
"Aneh, kuda tunggangan mereka tidak lebih lemah dari kuda yang kita naiki, kenapa mereka tidak menyusul pula?"
In San tertawa, ujarnya.
"Mungkin mereka insyaf bila bertindak diluar perintah mereka bisa celaka sendiri, apalagi kita membawa perintah raja, akhirnya mereka mundur teratur."
Yang benar, bukan mereka jeri mengingat surat perintah Baginda itu, tapi adalah karena kuda tunggangan mereka yang roboh tak bangkit lagi.
Setelah mengudak beberapa jauh kemudian, entah kenapa kuda mereka tiba-tiba tersengal-sengal mulutnya mengeluarkan buih dalam sekejap beruntun sama terjungkal roboh tak berkutik.
Tiga orang sama keheranan, tengah mereka memeriksa kuda masing-masing, tiba-tiba terdengar suara kelintingan dari belokan jalan di arah kiri muncul seorang penunggang kuda gagah, penunggangnya juga seorang perwira Gi-lim-kun.
Lekas sekali perwira penunggang kuda ini telah dekat, ketiga perwira yang duluan ini sama kaget, serempak mereka berdiri siap memberi hormat.
Ternyata Perwira yang duluan ini pangkatnya lebih tinggi, merupakan salah satu dari atasannya, karena dia adalah wakil Komandan Gi-lim-kun, jadi hanya di bawah Bok Su-kiat, namanya Ing Siu-goan.
"Apa yang kalian alami disini?"
Tanya Ing Siu-goan. Salah seorang menjawab.
"Lapor Tayjin, entah kenapa, kuda kami mendadak terserang penyakit, mulutnya berbuih tak mampu jalan lagi, sungguh mengherankan."
Seorang lagi berkata.
"Atas perintah Bok-tayin, kami disuruh pergi ke tempat kediaman Liong-tayjin, tak terduga mengalami kejadian menyebalkan ini, mohon Ing-tayjin memberi petunjuk, bagaimana sebaliknya?"
Seorang lain bertanya.
"Ing-tayjin, kenapa kaupun kemari?"
Orang ini lebih teliti dari dua temannya, agaknya dia menaruh curiga terhadap atasannya ini, meski sikap dan tutur katanya menghormat, namun sepasang matanya menatap tajam mengawasi mimik muka Ing Siu-goan.
Ing Siu-goan mendengus sekali, katanya.
"Untung aku keburu datang, kalau tidak urusan pasti terbengkelai. Bokjongling memang kuatir kalian mengalami sesuatu, maka aku disuruh menyusul kemari menyelesaikan soal ini. Kalian boleh pulang saja, ada tugas lain untuk kalian, temui langsung kepada Bok-jongling."
Dua perwira di antaranya memang ogah pergi ke tempat kediaman Liong Bun-kong, mendengar perkataan Ing Siugoan, kebetulan malah bagi mereka, diam-diam mereka berpikir.
"Seluk beluk dan lika-liku pemerintahan para pembesar memang scrb;i membingungkan. Bok-jongling, suruh kami memberi kabai, tujuannya jelas hendak menjilat kepada Liong Bun-kong, begitu Liong Bun-kong jatuh, Bok jongling punya jabatan tinggi, dia tidak perlu kuatir kedudukannya roboh, sebaliknya bila perkara diusut dan konangan kami yang memberi kabar kepada Liong Bun-kong, malapetaka bakal menimpa kami bertiga."
Karena itu dengan senang kedua orang ini berkata.
"Terima kasih akan perhatian Ing Tayjin, menyusahkan kau saja sampai harus menunaikan tugas sendiri."
Meski orang ketiga agak curiga, namun melihat kedua temannya tunduk akan petunjuk orang terpaksa dia tidak berani banyak bicara lagi.
Seperti pelari marathon yang lagi berlomba saja, ketiga perwira ini terpaksa pulang dengan lari.
Setelah mereka pergi jauh Ing Siu-goan mengulum senyum ejek, akhirnya dia putar kudanya mengejar rombongan Tan Ciok-sing.
Baru saja Tan Ciok-sing melewati suatu tegalan dan membelok keluar dari selat gunung, tiba-tiba terdengar lari kuda yang menyusul datang sekencang angin badai.
Waktu mereka menoleh.
tampak yang mengejar tiba hanya seorang perwira.
Tan Ciok-sing heran, katanya perlahan.
"Cakar alap-alap yang satu ini agaknya bukan ketiga orang yang tadi."
Setelah agak dekat In San melihat jelas wajah orang seketika hatinya kaget, diam-diam dia berbisik kepada Tan Ciok-sing.
"Aku kenal dia, dia adalah wakil Komandan Gi-limkun, namanya Ing Siu-goan."
Tan Ciok-sing berpikir.
Bahwa Gi-lim-kun mengutus Ing Siugoan wakil Bok Su-kiat untuk mengejar mereka, gelagatnya mereka sudah tahu akan tiruan mereka, bentrokan agaknya tidak bisa dihindari lagi, maka dia berkata.
"Biarlah nanti aku melihat dia, kalian boleh langsung pergi ke rumah keluarga Liong."
Lekas sekali kuda Ing Siu-goan sudah dibedal tiba, jaraknya tinggal puluhan langkah lagi. Tan Ciok-sing segera menarik kendali serta memutar balik, bentaknya.
"Kami adalah petugas yang sedang menjalankan perintah Baginda, siapa kau berani main terjang?"
Ing Siu-goan tidak menjawab, dia malah tertawa tergelakgelak, tiba-tiba dia mengayun sebelah tangan.
Tan Ciok-sing kira orang menyerang dengan senjata gelap, lekas dia melolos pedang, dengan jurus Hing-sau-liok-hap, dimana sinar pedang berkelebat, dia lindungi tubuhnya.
Tak nyana sebelum senjata rahasia itu dibenturnya jatuh, senjata rahasia itu sudah meledak sendiri, bubuk lempung berhamburan mengotori baju dan kepala Tan Ciok-sing.
Kiranya senjata rahasia adalah sebutir lempung.
Tergerak hati Tan Ciok-sing, di saat dia melenggong, In Siu-goan sudah tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Tan Siauhiap, selamat kau berhasil menunaikan tugas mulia. Tentunya kau tidak lupa pada orang yang semalam memberi petunjuk jalan bukan?"
Kaget dan terbeliak senang Tan Ciok-sing dibuatnya, tapi hati agak curiga, bagaimana mungkin wakil komandan Gi-limkun mau membantu mereka? Tiba-tiba Han Cin tertawa, katanya.
"Ah, aku sudah mengerti. Agaknya kau ini adalah wakil komandan Gi-lim-kun tiruan. Kepandaian meriasmu memang patut dipuji, hampir saja akupun kena kau kelabui."
Ing Siu-goan tiruan tertawa lebar, katanya.
"Han Lihiap memang seorang ahli, sekali pandang lantas tahu kalau aku ini tiruan."
"Sebetulnya akupun tidak bisa membedakan, cuma kulihat seragam yang kau pakai itu kelihatannya tidak cocok dengan perawakanmu, tapi bukan disitu letak kelemahannya jikalau kau tidak membongkar rahasia kejadian semalam, akupun tidak yakin bahwa kau ini adalah Ing Siu-goan tiruan."
Orang itu tertawa, katanya.
"Semoga tiruanku ini tidak konangan oleh orang-orang Liong Bun-kong."
Tan Ciok-sing senang, katanya.
"Jadi Locianpwe sengaja menyusul kami hendak membantu menghadapi bangsat tua she Liong itu."
Mereka bicara sambil jalan, orang itu mendekatkan kuda tunggangannya di samping Tan Ciok-sing, jadi jalan berjajar, katanya tertawa.
"Jangan kau memanggilku Cianpwe, kalau dibicarakan perguruanku ada sedikit sangkut pautnya dengan perguruanmu. Mungkin aku lebih tua beberapa tahun, biarlah aku panggil lote kepadamu, tapi terhadap saudara Toan Kiamping sepatutnya aku memanggil Toako. Tapi terhadap nona Han Cin bila diteliti silsilahnya, maka dia harus memanggil suheng kepadaku."
"Aku sudah tahu usiamu belum tua,"
Ujar Han Cin.
"maka tidak memanggilmu Locianpwe Tapi aku tidak menyangka bahwa kau dari aliran yang sama, tolong kau beri tahu sejelasnya siapakah kau sebenarnya."
Orang itu tertawa, katanya.
"Namaku, kusebutkan kalian juga tidak akan tahu. Tentang nama guruku, mungkin kalian pernah mendengarnya."
"Kepandaian saudara setinggi itu, gurumu tentu seorang cianpwe kosen yang pernah menggetarkan Kangouw."
Demikian ujar Tan Ciok-sing.
"Tolong saudara sebutkan siapa nama besar gurumu."
"Bicara tentang pengalaman berkecimpung di Kangouw, guruku masih jauh lebih lama dibanding jago pedang nomor satu Thio Tan-hong Thio Tayhiap. Adalah pantas kalau beliau disebut Cianpwe. Bicara tentang ketenaran, selama empat puluh tahun beliau memang pernah terkenal di kalangan Kangouw. Sayang belakangan beliau tidak mendapat nama baik. Maka sebutan Cianpwe kosen, baiklah aku wakili guruku menampiknya."
Seorang murid memberi komentar sedemikian rupa tentang gurunya, hal ini jarang terjadi. Mau tidak mau Tan Ciok-sing melongo. Orang itu seperti tahu perasaan mereka katanya lebih lanjut.
"Bukan aku sebagai murid berani bersikap kurang ajar terhadap guru, mungkin kalian tidak tahu. Guruku tidak suka diagulkan atau dipuji sanjung sebagai tokoh besar segala, bagi orang-orang yang seangkatan dengan beliau sama beranggapan beliau adalah orang yang tidak lurus, tapi juga tidak sesat, tidak peduli lurus atau sesat, setiap menyinggung nama beliau, delapan dari sepuluh orang pasti mengerutkan kening, karena itu Beliau merasa bangga, tidak lantaran kaum persilatan mengecapnya jelek lantas dia malu diri."
"Sebanyak itu komentarmu,"
Ujar Han Cin.
"kukira sudah saatnya kau menyebut she dan nama gelaran gurumu."
Maka orang itu berkata.
"Guruku she rangkap Siangkoan bernama Ling-hong."
Tengah Tan Ciok-sing berpikir, Toan Kiam-ping sudah berkata.
"O, jadi gurumu adalah.Biau-jiu-sin-tho Kok Tayhiap yang sudah terkenal sejak enam puluhan tahun yang lalu?"
"Betul."
Ujar orang itu.
"beliau memang maling sakti nomor satu di masa itu, tapi tiada orang yang pernah memanggilnya Tayhiap."
"Tak heran kau bilang perguruanmu ada sedikit hubungan dengan perguruan kami."
Demikian ucap Toan-Kiam-ping.
"Tan-toako gurumu Thio Tan-hong Thio Tayhiap mungkin belum pernah menjelaskan kepada kau, Kok-locianpwe ini adalah teman karib gurumu semasa masih hidupnya dulu, beliau memiliki tiga jenis ilmu tunggal yang terkenal, yaitu pandai mencuri, make up dan lempung menutuk Hiat-to."
"Aku adalah murid penutup guruku, di kala aku masuk perguruan, saatnya guruku ajal pula. Tentang kisah kepahlawanan guruku dimasa mudanya aku hanya mendengar cerita orang lain."
"Asal-usulmu aku sudah tahu."
Ucap orang itu.
"kedatanganku ini justru karena mengingat hubungan perguruan dimasa lalu maka ingin aku berteman dengan kau. Aku bernama Cin Tay-hun."
Tan Ciok-sing tertawa, katanya.
"Cin-heng, mata singa baja penindih kertas di meja baginda itu dikorek orang, demikian pula surat laporan komandan militer kota Tay-tong telah diganti surat pribadi Kim-to Cecu, kukira kedua kejadian ini adalah perbuatanmu?"
"Betul, memang aku yang melakukan. Kepandaian tak berarti, harap tidak ditertawakan,"
Demikian ucap Cin Tay-bun kikuk. Tan Ciok-sing berkata.
"Kali ini kau tidak mencuri pusaka raja, tapi telah memberikan hadiah berharga dari Kim-to Cecu kepada Baginda Raja, apalagi bisa bebas keluar masuk di Yang-sim-tiam, ini sudah menunjukkan keahlian dari perguruanmu, memang patut dipuji."
In San ikut menimbrung, katanya.
"Cin-toako, jadi atas perintah Kim-to Cecu kau lakukan semua ini? Sejak kapan kau datang ke markas? Kenapa aku tidak tahu?"
Maka Cin Tay-hun lantas bercerita.
Ternyata selama hidup gurunya Biau-jiu-sin-tho Siangkoan Ling-hong hanya suka mencuri dua macam barang, pertama ialah benda-benda pusaka tak ternilai harganya, kedua yaitu buku-buku rahasia pelajaran silat tingkat tinggi.
Sampaipun buku-buku pusaka pelajaran pukulan, ilmu pedang atau golok dan ajaran Lwekang dari berbagai perguruan besar kecil pernah dicurinya.
Oleh karena itu peduli golongan hitam atau aliran putih, pembesar, bangsawan atau orang kaya dalam kalangan Bulim, setiap membicarakan namanya pasti pusing kepala.
Sejak dia mengasingkan diri, hidup di pengasingan menghabiskan masa tuanya, baru dia insyaf dan menyadari kesalahannya, sebelum ajal dia memberi pesan kepada muridnya.
"Selama hidup terlalu banyak perbuatan jahatku, jarang berbuat baik dan bajik. Walau perbuatan jahatku tidak sampai menimbulkan korban yang tidak perlu, tapi perbuatan baikku juga tidak berarti, tidak setimpal dinilai."
"Walau kejahatan besar tidak pernah dilakukan, perbuatan baik juga tidak patut dinilai. Jadi kalau dipertimbangkan antara yang jahat dan yang bajik, perbuatan jahatku jauh lebih besar. Aku tidak ingin setelah aku ajal, namaku masih tetap dicap jelek, oleh karena itu hanya satu permintaan kepada kau, lakukanlah suatu kerja besar yang mengundang pujian orang banyak, baru dosa-dosaku masa lalu akan tertebus, supaya aku bisa tentram di alam baka."
Setelah menceritakan pesan gurunya, sengaja Cin Tay-hun berhenti, supaya para pendengarnya menerka-nerka dalam hati. Toan Kiam-ping berkata.
"Gurumu adalah seorang kosen aneh yang hidup di masa jayanya, kerja baik yang dia inginkan supaya kau melaksanakan tentu suatu tugas mulia yang luar biasa. Kukira urusan ada sangkut pautnya dengan Kim-to Cecu?"
"Betul,"
Ujar Cin Tay-hun.
"walau guruku mengasingkan diri, selama empat puluh tahun lepas dari urusan Kangouw. Tapi kejadian-kejadian besar diluar tetap diketahuinya dengan baik. Beberapa tahun terakhir ini, Kim-to Cecu dengan pasukan kecilnya berulang kali berhasil memukul mundur serbuan pasukan Watsu diluar Gan-bun-koan juga diketahui dengan baik. Maka beliau berpesan kepadaku.
"Selama hidupku teramat banyak koleksi benda-benda berharga yang kusimpan, aku ini bukan orang yang tamak harta, hanya hobby saja suka mengoleksi. Aku tahu hobbymu. tidak selaras dengan kesenanganku, maka benda-benda mustika itu tidak kuwariskan kepada kau. Setelah aku mati, boleh kau serahkan seluruhnya kepada Kim-to Cecu, biar dia jual untuk membeli rangsum dan senjata. Sementara buku-buku pelajaran silat hasil curianku itu boleh kuberikan kepada kau, sayang bakatku terbatas, terlalu tamak lagi sehingga latihan yang kucapai tiada satupun yang benar-benar sempurna. Semoga setelah kau mempelajari buku-buku silat itu dapat tekun belajar dan hasilnya jauh lebih tinggi dari apa yang pernah kucapai. Cuma aku tidak ingin kau meniru diriku, senang silat lalu mengkhususkan diri di bidang ini. Kuanjurkan kau belajar silat untuk mendarma baktikan tenagamu kepada Kim-to Cecu."
Tan Ciok-sing memuji.
"Tindakan gurumu memang patut dipuji, jauh lebih berguna dari pada mencuri untuk membantu yang miskin. Aku tidak berani bilang apakah gurumu pernah melakukan kejahatan besar, umpama benar dia pernah melakukan perbuatan buruk, pesannya kepadamu bila sudah dilaksanakan sudah cukup untuk menebus segala dosadosanya itu."
Tanpa terasa tahu-tahu mereka sudah tiba diluar gedung pribadi tempat kediaman Liong Bun-kong.
Melihat wakil komandan Gi-lim-kun bersama dua perwira dan dua Thaykam datang, sudah tentu orang-orang Liong Bun-kong amat kaget, lekas mereka berlari masuk memberi laporan.
Tak lama kemudian, pengurus rumah tangga keluarga Liong, Sa Thong-hay tersipu-sipu keluar menyambut.
Sa Thong-hay adalah seorang perwira tinggi anak buah Liong Bun-kong, setelah Liong Bun-kong minta cuti, dia melihat gelagat jelek, maka lekas-lekas dia mohon meletakkan jabatan, terima menjadi pengurus rumah tangga Liong Bunkong.
Umpama Liong Bun-kong berhasil mempertahankan jabatan tetapnya, kelak masih ada kesempatan untuk merehabilitir kedudukannya.
Menjadi pengurus rumah tangga keluarga Liong juga tiada jeleknya, jauh lebih aman, sederhana dan tentram dari pada berkecimpung di kalangan pemerintahan, celaka bila tahu-tahu dirinya difitnah lalu di copot kedudukannya serta dijebloskan kedalam penjara.
Dengan mimik heran dan kurang percaya dia mengawasi Cin Tay-hun yang menyamar wakil komandan Gi-lim-kun, katanya.
"Ing-tayjin, kuharap kau bisa membocorkan sedikit perintah raja kali ini, apakah menguntungkan atau merugikan kepada Liong-tayjin?"
Ternyata hubungannya dengan Ing Siugoan biasanya amat baik, seperti saudara kakak beradik.
Melihat orang tidak bisa membedakan tiruannya, diam-diam Cin Tay-hun amat senang dan bangga, sebagaimana lazimnya orang berpangkat, dia berkata.
"Surat perintah ini langsung diberikan oleh baginda, siapa berani membuka mencuri lihat. Jangan kata aku tidak tahu, umpama kau tanya kepada kedua petugas inipun mereka tidak tahu. Lekas kau suruh tuanmu keluar menerima perintah raja ini, bukan mustahil kabar baik yang menguntungkan dia."
Sa Thong-hay bersikap serba salah, katanya cemberut.
"Kalau demikian, hamba tak berani banyak tanya. Harap para Tayjin tunggu sebentar, biar hamba segera mengundang Liong-tayjin keluar."
Dia bilang sebentar, tapi Tan Ciok-sing harus menunggu hampir setengah jam lamanya Liong Bun-kong belum juga kunjung keluar.
Mereka tahu untuk menerima perintah raja siapapun diharuskan berdandan mengenakan pakaian kebesaran, tapi untuk berpakaian lengkap semestinya juga tidak akan selama ini.
Han Cin yang menyaru jadi petugas utama sudah akan marah-marah, ternyata Liong Bun-kong telah keluar.
Han Cin lantas membentak.
"Liong Bun-kong, berlutut, terima firman baginda."
Liong Bun-kong berlutut seluruh tubuhnya mendekam, mukanya menempel lantai. Dalam hati dia membatin.
"Aku ingin saksikan sandiwara apa yang sedang kalian mainkan? Kalian suruh aku berlutut malah kebetulan bagi aku."
Waktu kecil In San sering dolan ke rumah Liong Bun-kong, kini terasa wajah orang jauh lebih kurus ?
dan tua, namun bentuknya seperti tidak banyak berobah, orang sudah berlutut maka In San tidak menaruh perhatian lebih seksama.
Dengan suara lantang Han Cin membacakan firman raja.
Sebagai gadis belia, umumnya suara Thaykam juga sumbang dan banci, maka dia yakin samarannya tidak akan konangan.
"Sekretaris negara merangkap Kiu-bun-te-tok Liong Bunkong ada indikasi sekongkol dengan musuh menjual negara, membocorkan rahasia militer, biasanya menindas sesama pejabat, korupsi mengeduk harta benda rakyat jelata, bersama ini dinyatakan jabatannya dicopot dan harta bendanya dirampas menjadi milik negara, serah terima diserahkan kepada Tang-jio sebagai pelaksana, Tim sendiri yang akan memeriksa perkara ini. Selesai."
Habis mendengar firman raja, perlahan-lahan Liong Bunkong berdiri, katanya gemetar.
"Tayjin, bolehkah aku memeriksa firman raja di tanganmu itu."
Han Cin gusar.
"Liong Bun-kong besar nyalimu, berani kau mencurigai firman Baginda."
"Tidak berani,"
Sahut Liong Bun-kong menjura.
"menurut peraturan istana, sebagai pejabat tinggi aku berhak memohon grasi kepada junjungan."
Di antara lima orang, hanya In San kira-kira memahami tata tertib kalangan pejabat tinggi, tapi diapun tidak tahu apakah benar ada aturan seperti yang dituntut oleh Liong Bun-kong.
Dalam hati dia membatin.
"Firman raja itu memang bukan palsu, apa salahnya biar diperiksa olehnya?"
Maka dia berkata.
"Baiklah, biar dia memeriksa, Tay-wi, boleh kau serahkan firman itu supaya dia periksa, setelah dibaca boleh kau copot topi kebesaran di atas kepalanya."
In San tahu akan undang-undang ini, tapi kalau Liong Bunkong tidak menuntut sesuai pasal undang-undang istana ini In San juga tidak akan ingat lagi.
Bahwa dia suruh Tan Ciok-sing menyerahkan firman serta mencopot topi kebesaran memang sudah dalam perhitungannya yang cermat.
Andaikata Liong Bun-kong curiga dan menolak mengembalikan firman, Tan Ciok-sing akan mampu merebutnya kembali.
Kungfu Tan Ciok-sing sekarang sudah setaraf jago kosen kelas wahid, yang dapat mengalahkan dia sekarang bisa dihitung dengan jari.
Liong Bun-kong hanya pembesar sipil yang lemah berpenyakitan lagi, In San kira urusan tidak bakal runyam.
Tak nyana perobahan kejadian selanjutnya justru jauh diluar dugaannya.
Di waktu serah terima firman dari tangan Tan Ciok-sing kepada Liong Bun-kong itu, tiba-tiba Tan Ciok-sing merasa telapak tangannya kesemutan.
Koan-goan-hiat, Kik-ti-hiat dan Siau-siang-hiat tiga jalan darah dari aliran Siau-yang-king-meh sekaligus terasa panas.
Itulah Kek-but-thoan-kang, tingkat Lwekang yang paling sukar diyakinkan.
Bahwa Liong Bun-kong mampu menyalurkan Lwekang melalui secarik kertas tipis menggetar tiga Hiat-to penting di tubuh Tan Ciok-sing, betapa tangguh Lwekangnya, sungguh luar biasa dan susah dibayangkan.
Mimpipun Tan Ciok-sing tidak pernah menduga bahwa pembesar sipil yang kelihatannya lemah berpenyakitan seperti Liong Bun-kong ternyata memiliki Lwekang setangguh ini, jangan kata sebelumnya dia tidak siaga, mengerahkan tenaga melawan, umpama dia sudah mempersiapkan diri, juga mungkin sukar menahan sergapan diluar dugaan yang hebat ini.
Kejadian cepat sekali, tiba-tiba Liong Bun-kong menghardik keras.
Tan Ciok-sing telah diringkusnya terus ditutuk Hiat-to pelemasnya, badannya terus diangkat tinggi di atas kepala.
Kejadian diluar perhitungan, karuan In San, Han Cin, Cin Tay-hun dan Toan Kiam-ping sama berdiri kesima.
"Sret"
Kontan In San mencabut pedang seraya membentak.
"Siapa kau, berani menyaru jadi pembesar dorna yang akan dibekuk atas perintah firman raja."
Tan Ciok-sing disandera, In San kuatir dan ragu-ragu, meski Ceng-bing-kiam sudah dicabut, tapi dia tidak berani menusuk.
Baru saja Cin Tay-hun hendak melabrak maju melancarkan kepandaian mencurinya, merebut kembali firman raja itu, tibatiba ada beberapa gantang air tumpah dari atas menggerojok ke atas kepalanya, sebelum ini beberapa orang yang memiliki Ginkang tinggi telah dipendam di atas atap, setiap orang membawa segantang air penuh, di saat-saat menentukan itulah mereka menyiram air itu ke bawah.
Cin Tay-hun beramai sedang dalam pikiran kalut, betapapun gesit dan tangkas gerakan Cin Tay-hun, beberapa gantang air yang disiramkan ke tubuhnya itu bagaimana juga tak mungkin dihindarkan, sekujur badan kontan basah kuyup.
Demikian pula In San dan lain-lain juga kecipratan muka dan tubuhnya, sehingga penyamaran mereka terbongkar.
Liong Bun-kong tertawa tergelak-gelak katanya.
"Betul, aku ini adalah Liong-tayjin tiruan, tapi kalian juga Thaykam dan Wisu palsu."
Baru sekarang In San mengenali orang yang menyamar jadi Liong Bun-kong ternyata bukan lain adalah Sugong Go, Tang-hay-liong-ong yang pernah dikalahkan oleh ln San bersama Tan Ciok-sing di pesta ulang tahun Ong Goan-tin di Thay-ouw tempo hari.
Cin Tay-hun membentak.
"Sugong Go, kau kira kami menyamar petugas penyampai firman raja, kau salah. Firman itu tulen tulisan Sri Baginda sendiri, boleh kau suruh Liong Bun-kong keluar memeriksanya. Kalian berani menghina firman raja, meski kelak kalian bisa merat, bukan mustahil Liong Bun-kong bakal dibeslah seluruh kekayaan dan keluarganya dihukum mati seluruhnya. Liong Bun-kong, aku tahu kau sembunyi didalam, coba kau berpikir sebelum kasep."
Hanya sekejap dari dalam memang keluar satu orang, tapi bukan Liong Bun-kong. Orang ini tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Kau ini bocah keparat dari mana, nyalimu cukup besar juga, kau lihat siapa aku, kau berani menyaru tuan besarmu, bukan mustahil kaupun memalsu firman raja?"
Orang ini bukan lain adalah wakil komandan Gi-lim-kun Ing Siu-goan tulen.
Ternyata pengurus rumah tangga Liong Bun-kong yaitu Sa Thong-hay diam-diam sudah curiga waktu melihat wakil komandan Gi-lim-kun tiruan, setelah masuk menemui Liong Bun-kong, bersama Tang-hay-liong-ong mereka berunding mencari jalan keluar untuk menghadapi persoalan ini, maka akhirnya diputuskan, Tang-hay-liong-ong menyamar jadi Liong Bun-kong, di samping menyuruh orang menunggang kuda kilat mengundang Ing Siu-goan.
Cin Tay-hun tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Kenyataan memang sukar dibedakan yang palsu dan yang tulen, ada baiknya juga kita berkenalan."
Sembari bicara dia melompat maju, secepat kilat tangannya melancarkan serangan.
Pukulan Cin Tay-hun telak mengenai pundak orang, terasa pundak lawan empuk lembut seperti setumpuk kapas, mendadak pergelangan tangannya tergetar, tenaga perlawanan lawan sontak timbul dengan hebat, sehingga telapak tangannya terpental, lekas Cin Tay-hun gunakan Siphiong-kiau-hoan-hun, sebelum Ing Siu-goan sempat balas menyerang, dia sudah bersalto beberapa tombak jauhnya.
Sebelum kakinya berdiri tegak, tangannya telah terayun, katanya tawar.
"Firman raja itu dijatuhkan untuk Liong Bunkong, kukira biarlah Sa Thong-hay menyerahkan kepada Liong Bun-kong saja. Jikalau Liong Bun-kong bernyali besar berani menentang firman raja, atau merasa curiga akan firman itu, biar dia sendiri yang langsung menghadap baginda, tanyakan persoalannya supaya jelas."
Benda yang terayun di tangannya itu bukan lain adalah gulungan kertas yang berisi firman raja yang akan diberikan Liong Bun-kong dan tadi telah dirampas Tang-bay-liong-ong, setelah Ing Siu-goan datang, Tang-hay-liong-ong menyerahkan kepada Ing Siu-goan.
Dalam gerakan secepat kilat menyerang Ing Siu-goan serta memukul sekali di pundak lawan, ternyata Cin Tay-hun masih mampu menggerayang kantong lawan serta mencuri balik firman raja itu, karuan hadirin sama melongo dan berdiri menjublek.
Sementara Ing Siu-goan sendiri kaget dan ciut nyalinya diam-diam dia berpikir.
"Bila bocah keparat ini menusuk dadaku dengan senjata gelap yang beracun, bukankah jiwaku sudah mampus sekarang."
Di kala hadirin menjublek itu, kembali Cin Tay-hun bergerak tangkas, tahu-tahu dia sudah berada di depan Sa Thong-hay, bentaknya.
"Terimalah firman raja."
Saking kagetnya, secara reflek Sa Thonghay angkat kedua tangannya bersiaga, tiba-tiba terasa telapak tangannya seperti menyentuh sesuatu benda, kontan dia menangkapnya, tahutahu gulungan firman raja itu sudah disesepkan ke telapak tangannya.
Karuan Sa Thong-hay gusar.
"Anak keparat, berani kau mempermainkan aku."
Dia tidak berani merusak firman raja, tangannya tak mungkin dibuat menyerang, maka dia kerjakan kedua kakinya menendang dengan serangan berantai.
Sa Thong-hay adalah murid aliran Tam-tui yang terkenal di utara, kepandaian tendangan kakinya jauh lebih liehay dari ilmu pukulan.
Meski tendangannya secepat kilat, mana dia mampu menendang Cin Tay-hun?
Hanya membalik setengah lingkar, kembali tangannya terayun, kali ini dia menimpuk tiga keping mata uang tembaga ke arah Tang-hay-liong-ong.
Senjata rahasia lempung menutuk Hiat-to yang diyakinkan merupakan ilmu tunggal yang tiada bandingannya, kini dia ganti menggunakan mata uang, tenaganya jauh lebih kuat dan tepat.
Sejak tadi Tang-hay-liong-ong sudah memperhatikan gerak-geriknya, kuatir orang tahu-tahu menyerbu dan menggerayangi dirinya.
Kini melihat mata uang menyerang dirinya, dia hendak gunakan Tan Ciok-sing sebagai tameng, namun harapannya ternyata gagal, ketiga mata uang itu seluruhnya mengenai Hiat-tonya dengan telak.
Cin Tay-hun sudah kegirangan, tak nyana tiba-tiba didengarnya Tang-hay-liong-ong tertawa tergelak-gelak katanya.
"Mutiara sebesar beras juga berani memancarkan cahayanya."
Di tengah gelak tawanya, ketiga mata uang itu tiba-tiba secepat meteor melesat balik ke arah pemiliknya.
Tadi Cin Tay-hun menyerang dengan ayunan tangan, ketiga mata uang itu telah mengenai tubuhnya dan terpental balik dengan daya luncur dan tidak kalah kencangnya.
Kiranya Tang-hay-liong-ong meyakinkan Can-ih-cap-pwe-tiat, Lwekangnya entah berapa tingkat lebih liehay dibanding Ing Siu-goan, ilmunya ini sudah diyakinkan cukup sempurna.
Bukan saja dia sudah melatihnya sampai menyentuh pakaian kontan jatuh, senjata rahasia yang mengenai Hiat-tonya ternyata mampu diritul kembali untuk -menyerang pemiliknya.
Kejadian diluar tahu Cin Tay-hun, meski dia memiliki Ginkang tinggi, cara menghindarnya juga cukup runyam.
Mendekam ke bawah terus mencelat naik ke atas akhirnya menggelundung di tanah, ternyata pantatnya tetap terkena juga oleh mata uangnya sendiri.
Untung dia sudah menutup Hiat-to sendiri, maka hanya merasa sakit tapi tidak terluka apa-apa.
Sebetulnya Tang-hay-liong-ong tengah bergelak tawa, entah kenapa mendadak gelak tawanya putus seperti tenggorokannya keselek benda keras, menyusul dia meraung sekeras-kerasnya, Tan Ciok-sing yang sudah menjadi tawanannya tiba-tiba dilempar.
Lwekang Tan Ciok-sing memang tidak setangguh Tanghay-liong-ong, tapi dia memperoleh ajaran Lwekang murni langsung dari Thio Tan-hong, ilmunya itu ternyata memiliki segi-segi lain yang menakjubkan dari ilmu Lwekang umumnya, yaitu yang dinamakan Na-gi-hiat-to maksudnya tenaga tutukan Lwekang lawan yang menyumbat Hiat-tonya dipindah ke tempat lain, begitu tekanan tutukan itu berkurang, Hiat-to yang tertutuk itu pelan-pelan akan bebas sendiri dalam waktu singkat.
Ilmu ini tiada bedanya dengan cara mengerahkan hawa mumi menghimpun kekuatan untuk menjebol tutukan Hiat-to.
Di waktu mata uang Cin Tay-hun mengenai tubuh Tanghay-liong-ong, tutukan Hiat-to di tubuh Tan Ciok-sing pun sudah bebas.
Karena dia diangkat tinggi di atas kepala oleh Tang-hay-liong-ong.
tubuh bagian atas tak mampu mengerahkan tenaga karena dicengkram jari lawan, tapi kedua kakinya masih bebas bergerak.
Sekali ujung kakinya menendang, dengan telak menendang Hoan-tiau-hiat di lutut Tang-hay-liong-ong.
Lwekang Tan Ciok-sing sudah tentu jauh lebih tinggi dibanding Cin Tay-hun, meski Tang-hay-liong-ong memiliki ilmu Can-ih-cap-pwe-tiat, Hiat-to yang kena ditendang tak urung merasa kesemutan dan lemas, mendapat kesempatan sekaligus Tan Ciok-sing ayun tangan menabok batok kepalanya.
Kejadian diluar dugaan, sergapan mendadak lagi, demi menyelamatkan batok kepalanya dalam gugupnya tanpa pikir, terpaksa dia lemparkan tubuh Tan Ciok-sing.
Lwekangnya memang teramat tangguh, dalam sekejap, hawa murninya telah disalurkan tiga kali putaran, Hoan-tiauhiat yang tertutuk telah lancar kembali, rasa pegal linu di bagian tubuhnyapun sirna seketika.
Sambil menggerung gusar segera dia menubruk maju, maksudnya hendak meringkus Tan Ciok-sing.
Sudah tentu In San tidak tinggal diam, dengan jurus Hing-hun-toan-hong, Ceng-bing-kiam sudah bergerak menghadang di depan Tan Ciok-sing.
Begitu Tang-hay-liong-ong ulur tangan mencengkram.
"Cret"
Tahu-tahu lengan bajunya telah terpapas sobek, di tengah berkelebatnya sinar pedang sobekan kain lengan baju itu hancur beterbangan seperti kupu-kupu, kalau dia tidak lekas menarik tangannya, jari-jarinya pasti sudah terpapas putus oleh pedang mustika itu.
Kungfu Tang-hay-liong-ong sebetulnya jauh lebih tinggi dibanding In San, kalau dalam keadaan biasa, dengan tangan kosong dia masih mampu merebut pedang In San dan dia pasti tidak akan dirugikan.
Tapi baru saja Hiat-tonya bebas, geraknya kurang leluasa, maka hampir saja dia terluka oleh ln San.
Baru saja Cin Tay-hun gunakan keledai malas menggelinding terus mencelat berdiri tahu-tahu tendangan berantai Sa Thong-hay telah melayang datang pula ke tubuhnya.
Secara kebetulan, Tan Ciok-sing yang dilempar Tang-hayliong-ong dengan daya lempar keras itu tepat meluncur ke arah Sa Thong-hay, gerak kakinya lebih cepat lagi.
"Blang"
Sebelum tendangan Sa Thong-hay mengenai sasaran, mendadak tubuhnya mencelat sendiri tertendang oleh Tan Ciok-sing, tubuhnya terbanting keras, kepala bocor membentur lantai.
Tang-hay-liong-ong meraung gusar.
"Bawa kemari senjataku."
Dari dalam berlari keluar empat busu keluarga Liong, dua orang memanggul Ban-ci-toh senjata khusus Tanghay-liong-ong, empat busu berholopis kuntul baris serentak melempar sepasang senjata itu ke arah Tang-hay-liong-ong.
Sementara itu Tan Ciok-sing sudah keluarkan senjatanya berdiri jajar bersama In San.
Setelah menyekal sepasang senjatanya, Tang-hay-liongong membentak.
"Baiklah, dengan sepasang gamanku ini kembali aku menempur sepasang pedang kalian. Sesuai keinginan kalian, bertanding secara adil satu babak."
"Kau seumpama seorang jendral yang telah kalah perang di medan laga, kalau tidak terima, apa halangannya bertempur sekali lagi?"
Demikian ejek Tan Ciok-sing. Tang-hay-liong-ong gusar, dampratnya.
"Tempo hari kalian menang dengan akal licik, masih berani juga bermulut besar? Buat apa aku ribut mulut, nah sambutlah."
Maka terdengarlah dering ramai dari benturan keras antara sepasang pedang dengan Ban-ci-toh Tang-hay-liong-ong, benturan tidak kurang dari dua puluhan kali, kembang api berpijar benderang.
Dengan kertak gigi Tang-hay-liong-ong bertekad merebut kemenangan untuk membalas kekalahannya di Tong-thing-san tempo hari, malah dalam pertempuran kali ini, dia betul-betul sudah kerahkan setaker tenaganya, seluruh kemampuan yang pernah dia yakinkan pada sepasang senjatanya dia boyong seluruhnya, maka perbawa serangannya jauh lebih hebat dari dulu.
Makin lama pertempuran tiga orang ini makin sengit, serang menyerang dengan gencar getaran senjata mereka sekeras guntur, sinar pedang laksana kilat menyilaukan mata.
Tanpa terasa dalam arena setombak lebih di sekitar gelanggang terjalin pusaran angin kencang sehingga orang lain tidak berani maju mendekat.
Di saat pertempuran kacau balau berlangsung, tiba-tiba dari dalam rumah berlari keluar satu orang, Tan Ciok-sing kenal orang yang muncul belakangan ini, dia adalah anak buah Liong-bun-kong pula, perwira tinggi bernama Ciok Khong-goan, Ciok Khong-goan dan Sa Thong-hay adalah dua perwira tinggi yang paling setia kepada Liong Bun-kong.
Sikap Ciok Khong-goan kelihatan tegang dan gugup, katanya.
"Sugong-thocu, mengingat nona In ini pernah ada hubungan anak dan ayah dengan Liong-tayjin, maksud beliau supaya hubungan tidak retak, maka diberikan kelonggaran supaya kau memberi kesempatan untuk mereka pergi. Sugong-thocu harap kau bermurah hati, sekarang juga kau dipanggil untuk menemui Liong-tayjin, mereka tidak perlu dihiraukan lagi."
Sudah tentu Tan Ciok-sing heran mendengar perkataan Ciok Khong-goan, tapi tidak bisa tidak mendadak dia teringat akan pepatah yang mengatakan bila pohon roboh kerapun bubarlah.
Setelah bertempur sekian lamanya, tetap tak berhasil mengalahkan kedua lawannya, diam-diam Tang-hay-liong-ong juga sudah merasa kesal, mumpung ada alasan mengundurkan diri, mendadak dia menggertak sekali terus putar tubuh.
Hawa amarah membakar dada In San, teriaknya.
"Bangsat tua she Liong, kalau berani kau keluar. Keluargaku telah kau bikin porak poranda, sebelum membunuhmu, tak terlampias dendamku."
Tang-hay-liong-ong tertawa, katanya.
"Nona In, lekas kau pergi saja. Jelek-jelek Liong-tayjin adalah..."
Belum habis dia bicara In San sudah melabraknya dengan menusukan pedang, seolah-olah segala dendam kesumatnya selama ini ingin dilampiaskan kepada Tang-hay-liong-ong.
Lekas gaman 'di tangan kanan Tang-hay-liong-ong diangkat dengan gaya Ki-hwe-liau-thian, bentaknya.
"Budak tidak tahu di untung, kau..."
"Trang"
Api berpijar, dengan gerak burung dara jumpalitan, tubuh In San jumpalitan mundur ke belakang.
Tan Ciok-sing kaget, lekas dengan jurus Tiang-hong-kingthian, sinar pedangnya tampak berkembang memanjang tak ubahnya laksana lembayung dari samping mencegat di antara Tang-hay-Liong-ong dengan In San.
Dalam sekejap itu Tang-hay-liong-ong merasa kepalanya silir semilir, ternyata di waktu In San jumpalitan mundur, dimana pedangnya bergerak, rambut kepalanya telah dipapasnya secomot.
Selama ini Tang-hay-liong-ong agak jeri menghadapi Tan Ciok-sing, In San bahwasanya tidak dipandang sebelah matanya, tak nyana lawan yang dianggap enteng seperti In San kini mampu memapas secomot rambut di atas kepalanya karuan kagetnya bukan kepalang, tanpa banyak bersuara lagi, lekas dia merat kedalam serta menutup pintu.
Waktu Tan Ciok-sing menoleh, dilihatnya ujung kaki In San baru menutul lantai, tubuhnya limbung dua kali, tak usah Tan Ciok-sing memapahnya dia sudah berdiri tegak pula.
Melihat kekasihnya tidak terluka, legalah hati Ciok-sing.
"Adik San, seorang Kuncu membalas dendam sepuluh tahun belum terlambat, apalagi kekuasaan bangsat tua itu sudah runtuh, kukira kita tak usah menunggu sepuluh tahun lagi, biarlah kita memberi kelonggaran beberapa hari lagi biar bangsat tua itu hidup lebih lama."
Setelah tenang gejolak perasaannya. In San juga maklum, untuk menuntut balas seketika terang tidak mungkin. Pikirnya.
"Entah apa yang sedang direncanakan oleh bangsat tua itu, tapi Tang-hay-liong-ong dipanggil masuk, apapun yang terjadi, masih menguntungkan kami untuk menerjang keluar. Memang untuk menuntut balas sepuluh tahun belum terlambat. Sekarang lebih penting kami meloloskan diri."
Maka dia manggut bersama Tan Ciok-sing sepasang pedang mereka membuka jalan, setelah bergabung dengan Toan Kiam-ping, Han Cin dan Cin Tay-hun mereka menerjang keluar dari rumah keluarga Liong.
Tengah mereka melarikan diri, tiba-tiba tampak dari depan datang serombongan barisan kuda membawa panji Gi-lim-kun, dua perwira dengan seragam berlapis baja menunggang kuda tinggi gagah bukan lain adalah Bok Su-kiat dan Hu Kian-seng.
Jabatan kedua orang ini sejajar dan setingkat, tapi lantaran tugas masing-masing berbeda, sepantasnya Hu Kian-seng menjaga keselamatan baginda raja didalam istana, kapan dia pernah keluar istana meninggalkan tugasnya.
Kini justru bersama pasukan Gi-lim-kun membawa pasukan menuju ke rumah keluarga Liong, jelas urusan agak genting.
Ada pula kejadian yang lebih mengejutkan hati Tan Cioksing, tampak anggota Gi-lim-kun tengah dipencar mengudak kawanan pengemis yang lari serabutan ke segala penjuru di sawah ladang yang baru saja panen.
Cin Tay-hun membentak.
"Apakah Gi-lim-kun memang digunakan untuk berperang melawan kajem (kaum jembel)? Sungguh memalukan, hayo lekas hentikan."
Dandanannya sekarang masih menyamar Ing Siu-goan sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, meski obat rias di mukanya agak luntur karena tersiram air, sehingga tampangnya kelihatan lucu dan menggelikan, tapi perawakannya memang sedikit mirip Ing Siu-goan, apalagi seragam yang dipakainya juga pakaian kebesaran Gi-lim-kun.
Demikian pula Tan Ciok-sing dan Toan Kiam-ping masih berpakaian wisu, sementara In San dan Han Cin berpakaian Thaykam.
Melihat rombongan mereka, sudah tentu anggota Gi-limkun merasa heran, yang tidak tahu persoalan malah ada yang berteriak.
"He, Ing-hujongling, kenapa kau menjadi begitu."
Tapi lain pandangan Hu Kian-seng dan Bok Su-kiat, lekas Bok Su-kiat membentak.
"Kurcaci bernyali besar, di hadapanku berani memalsu wakilku. Perhatikan, mereka itu tiruan semuanya, hayo tangkap."
Maksud Cin Tay-hun dan Tan Ciok-sing memang hendak memancing pasukan Gi-lim-kun untuk menghadapi mereka. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.
"Semalam kami sudah bertemu, seharusnya kau maklum bahwa petugas seperti diriku ini bukan tiruan."
Hu Kian-seng melengak, bentaknya.
"Omong kosong, hari ini kau harus diringkus."
Di mulut dia bersikap garang, namun dalam hati ragu-ragu dan jeri, apakah betul dia hendak membekuk Tan Ciok-sing dan kawan-kawannya?
Kali ini Hu Kian-seng dan Bok Su-kiat memang menerima perintah raja untuk menangkap Liong Bun-kong, menyita harta dan menyegel rumahnya, jadi merekalah petugas tulen yang harus menjalankan firman raja.
Dalam keadaan kebat kcbit Cu Kian-sin semula masih bimbang, tapi urusan sudah terlanjur sejauh ini, menyesal juga tidak berguna, apalagi utusan Watsu yaitu Tiangsun Co dan Milo Hotasu sudah lari meninggalkan istana.
Setelah Tiangsun Co dihajar empat puluh pukulan di pantatnya, umpama Cu Kian-sin sendiri sekarang menyusulnya keluar kota minta maaf kepadanya juga tidak akan merobah situasi, hubungan buruk sudah terjalin, apalagi sebagai raja sudah tentu Cu Kian-sin tidak sudi merendahkan diri.
Tan dan In juga sudah tidak kelihatan, Kim-to Cecu menjadi tulang punggung mereka, laskar rakyat Kim-to Cecu baru saja mencapai kemenangan perang diluar perbatasan.
Bila Kim-to Cecu sampai menyebar luaskan konsep perjanjian damai itu, lalu angkat senjata menghasut rakyat dengan semboyan melenyapkan raja lalim, melawan musuh luar, betapapun Cu Kian-sin tidak akan mampu melayaninya.
Ditimbang-timbang dan dipilih berat dan ringannya, apa boleh buat, terpaksa Cu Kian-sin berani menyerempet bahaya meski terpaksa harus bersalah terhadap pihak Watsu, maka siap dia menerima syarat-syarat yang diajukan Kim-to Cecu.
Pertama yang harus dia korbankan sudah tentu adalah Liong Bun-kong.
Hu dan Bok punya hubungan baik dengan Liong Bun-kong, bukan saja mereka mengerek panji menabuh tambur memimpin tiga ratusan pasukan Gi-lim-kun berbondongbondong menuju ke rumah Liong-Bun-kong, sebelum berangkat mereka telah mengutus orang untuk memberi kabar kepada Liong Bun-kong, itulah sebabnya kenapa Liong Bunkong secara mudah mau memberi kelonggaran kepada Tan Ciok-sing serta menarik mundur Tang-hay-liong-ong.
Sa Thong-hay dan lain-lain lebih penting ditarik balik untuk melindungi dirinya melarikan diri mana sempat menempur Tan Ciok-sing pula.
Tapi Hu Kian-seng juga tidak menyangka, sebelum tiba di tempat tujuan, di tengah jalan mereka sudah kepergok dengan Tan Ciok-sing.
Melihat Cin Tay-hun semirip itu menyaru wakil komandan mereka, mereka sama heran dan melenggong, setelah mendengar perintah atasannya, serempak mereka berkaokkaok ?
terus menyerbu.
Maksud Tan Ciok-sing tercapai karena orang-orang Kaypang bebas dari pengejaran.
Cin Tay-hun malah bikin barisan kuda Gi-lim-kun kocarkacir, dengan Ginkangnya yang tinggi dia terobosan di antara kaki-kaki kuda yang simpang siur menyerbu dirinya.
Sudah tentu anggota Gi-lim-kun yang berkuda itu tidak segesit dan setangkas gerak-geriknya, ada beberapa orang yang tidak sempat menarik kendali malah saling tumbuk dan injak.
Bok Su-kiat gusar, bentaknya.
"Kalian minggir, biar aku ringkus dia."
Cin Tay-hun tahu keliehayannya, lekas dia merebut seekor kuda, terus dicemplaknya dibawa kabur.
Dari seorang anak buahnya Bok Su-kiat merebut sebatang tombak sekali ayun tombak itu dia lemparkan ke arah Cin Tay-hun.
Tombak besar, panjang dan berat, tenaga lemparan besar lagi, maka tombak itu mendesing kencang.
Cin Tay-hun sempat memutar kepala sambil melelet lidah dan membelalak mata dan menyengir hidung, teriaknya.
"Haya celaka, kau tidak hiraukan sesama kolega, terpaksa aku akan sembunyi ke istana raja akhirat melaporkan kejahatanmu,"
Tiba-tiba tubuhnya menyelinap turun sembunyi di bawah perut kuda, tombak panjang itu melesat lewat di atas punggung kuda.
Celaka adalah seorang anggota Gi-lim-kun yang kebetulan berada di sebelah depan, dia keprak kuda pikirnya mau mencegat, tak nyana tombak lemparan Bok Su-kiat tahu-tahu meluncur ke arah dadanya, tanpa mengeluarkan suara tombak amblas menembus dadanya, dia terguling mati diinjak-injak kuda lagi.
Bok Su-kiat tambah murka, hardiknya.
"Bangsat cilik, lari kemana kau,"
Mengeprak kuda segera dia mengudak.
Sementara itu Toan Kiam-ping juga sudah merebut seekor kuda, segera dia keprak kudanya maju membantu Cin Tayhun.
Bok Su-kiat angkat tombak besinya, dengan jurus Kiongliong-jut-hay.
Sekuat tenaga dia menusuk.
Lwekang Toan Kiam-ping tidak setangguh lawan, begitu dia menangkis dengan pedang.
"Trang"
Lelatu api berpijar.
Ceng-kong-kiam di tangan Toan Kiam-ping sampai melengkung.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, lekas Han Cin maju membantu.
Pertempuran berjalan seru alias setanding.
Siang-kiam-happik Tan dan In sebaliknya berhasil memukul mundur Hu Kianseng lekas sekali mereka sudah bergabung dengan Toan dan Han terus menerjang keluar dari kepungan.
Bok Su-kiat masih ingin mengudak, lekas Hu Kian-seng membisikinya.
"Biarkan mereka pergi."
Bok -Su-kiat melengak, katanya.
"Kukira bocah itu sudah kehabisan tenaga, kenapa tidak mumpung ada kesempatan meringkusnya?"
Hu Kian Seng tertawa, katanya tersenyum.
"Keluar rumah harus pandai melihat cuaca, cuaca hari ini tidak menguntungkan kita, biarlah mereka pergi saja."
Bok Su-kiat juga seorang licik, cepat sekali dia sudah paham maksud Hu Kian-seng, katanya.
"Betul juga, kita mendapat perintah Baginda untuk menangkap Liong Bunkong, biarlah bocah-bocah itu pergi saja."
Segera dia memberi aba-aba menarik pasukannya.
Setiba Tan dan In di atas gunung, sementara murid-murid Kaypang yang lari berpencar itupun sudah berdatangan.
Murid Kaypang dipimpin Hu-thocu mereka, yaitu Lian Toa-ki untuk memberi bantuan dimana perlu, tak nyana di tengah jalan mereka kepergok pasukan Gi-lim-kun, tapi hanya beberapa orang yang luka-luka ringan.
Cin Tay-hun tiba-tiba berkata.
"Aku ingin pulang ke rumah keluarga Liong menyerapi berita. Kali ini aku tidak menyamar Ing Siu-goan, biarlah menjadi anggota Gi-lim-kun biasa."
"Seorang diri terlalu bahaya bagi dirimu,"
Ujar Tan Cioksing. Cin Tay-hun tertawa, katanya.
"Berkelahi dengan orang, aku tak bisa menandingi kau, tapi untuk berlari aku berani bertaruh dengan kau. Aku bukan mencari Bok Su-kiat untuk diajak berkelahi, maksudku setelah pasukan Gi-lim-kun ditarik mundur, baru aku akan menyelundup ke rumah Liong Bunkong. Bila jejakku kenangan, aku akan segera lari."
Tan Ciok-sing tahu kepandaiannya, katanya.
"Baiklah, kau harus bertindak melihat gelagat, nanti malam kita jumpa di markas lagi."
Setiba di markas Kaypang sudah menjelang kentong kedua.
Mereka langsung memberi laporan kepada Kaypang pangcu Liok Kun-lun, baru saja mereka selesai membicarakan Cin Tayhun, tiba-tiba Liok Kun-lun membentak.
"Kalau kawan boleh silakan masuk,"
Belum lenyap suaranya terasa angin berkesiur, api lilin bergoyang-goyang.
Waktu In San membelalakan mata, di depannya telah berdiri seseorang, siapa lagi kalau bukan Cin Tay-hun?
"Cin-lote, hebat Ginkangmu,"
Puji Liok Kun-lun tertawa.
"Banyak terima kasih, Wanpwe Cin Tay-hun menyampaikan hormat kepada Cianpwe."
Liok Kun-lun tertawa, katanya.
"Gurumu Siangkoan Linghong setingkat lebih tinggi dari aku, waktu aku keluar kandang, gurumu sudah menggetar Kangouw belasan tahun. Kau menyebut aku Cianpwe, akulah yang tidak berani terima."
Wi-cui-hi-kiau juga hadir, setelah saling sapa dan basa-basi ala kadarnya, baru diketahui perguruan mereka satu sama lain memang ada ikatan, karuan suasana tambah gembira.
Cin Tay-hun mulai berceritera.
"Pasukan Gi-lim-kun itu ternyata hendak menangkap Liong Bun-kong."
"Apa benar?"
Liok Kun-lun kaget.
"jadi Liong Bun-kong telah ditangkap mereka?"
"Tidak. Sebelumnya Hu Kian-seng sudah suruh orang memberitahu, apalagi pasukan Gi-lim-kun mengerek panji menabuh tambur, jangan kata Liong Bun-kong, anak buahnya yang sedikit punya kedudukan dan simpananpun telah hengkang tak karuan parannya. Jadi yang ditangkapi pasukan Gi-limkun hanyalah tukang kembang, koki, dayang kacung atau tukang kuda, orang-orang yang tidak berdosa. Setelah membekuk orangnya, harta disita, rumah disegel."
Lim Ih-su berkata.
"Kalau demikian mana boleh dikata mereka pergi menangkap Liong Bun-kong."
Liok Kun-lun berpikir sejenak, katanya tertawa.
"Agaknya mereka bukan pura-pura, memang kerja mereka kepalang tanggung."
"Kepalang tanggung bagaimana?"
Tanya Lim Ih-su. Liok Kun-lun menjelaskan.
"Karena terdesak oleh situasi, terpaksa raja harus mengorbankan Liong Bun-kong untuk menentramkan hati rakyat, sekaligus untuk mempertanggung jawabkan janjinya kepada Kim-to Cecu. Dia mengeluarkan firman dan rakyat banyak mengetahui, ini tidak boleh dibilang pura-pura, tapi dia membiarkan Hu Kian-seng dan kampratkampratnya bersekongkol dengan Liong Bun-kong, jadi dalam prakteknya ada permainan pura-pura pula. Meski kejadian kepalang tanggung, kurasa masih lebih baik dari pada tidak terjadi apa-apa."
Rasa dongkol Lim Ih-su masih belum terlampias, katanya.
"Mereka mementingkan hubungan pribadi, secara diam-diam membebaskan Liong Bun-kong, betapapun bangsat tua itu harus kita bekuk."
In San berkata.
"Bangsat tua itu adalah musuh besarku, hukuman untuk bangsat tua ini boleh serahkan saja kepada aku dan Ciok-sing."
"Kalian jangan rebutan tugas, yang terpenting sekarang adalah mencari tahu ke arah mana bangsat tua itu melarikan diri?"
In San berkata.
"Kukira dia tidak akan berani lari ke kampung halamannya."
Cin Tay-hun berkata.
"Aku sembunyi di hutan di belakang gedung keluarga Liong orang-orang yang tidak sempat lari semua ditangkap Gi-lim-kun. Tapi ada dua orang yang lari paling akhir, meski melihat mereka orang-orang Gi-lim-kun ternyata diam saja berpeluk tangan. Coba kalian terka siapa kedua orang ini?"
"Kurasa dia bukan orang sembarangan."
Ujar Tan Ciok-sing.
"Mereka adalah Liong Seng-bu dan Poyang Gun-ngo."
"O, jadi Poyang Gun-ngo selama ini sembunyi di rumah keluarga Liong, pada hal utusan rahasia Watsu berada di kota raja, dia tetap menyembunyikan diri."
In San seperti memikirkan sesuatu, katanya kemudian.
"Dia sembunyi di rumah bangsat she Liong, kukira untuk berjagajaga menghadapi bencana hari ini."
"Pendapatmu betul,"
Ujar Cin Tay-hun.
"Hu Kian-seng dan Bok Su-kiat jelas kenal baik dengan Liong Seng-bu, tapi begitu melihat Poyang Gun-ngo memapahnya keluar, mereka lantas pura-pura tidak melihat, waktu itu ada beberapa orang Gi-limkun yang berjaga di pintu belakang, ternyata mereka telah dipindah ke lain tempat oleh Bok Su-kiat."
Lok In-hu berkata.
"Sebulan yang lalu keparat Liong Sengbu kena kupukul luka parah, ternyata masih kuat bertahan hidup, boleh juga dia."
"Aku justru tidak habis mengerti, setelah dia terluka parah, kenapa pamannya tidak segera memindahkannya ke tempat lain lebih dulu, kok malah ditinggal paling akhir baru lari."
"Kurasa tidak sukar kutebak,"
Ujar Lok In-hu.
"justru karena dia terluka, kuatir menambah beban, maka pamannya meninggalkannya kepada Poyang Gun-ngo. Bukankah Hu Kian-seng, Bok Su-kiat tidak berani bertindak kepada Poyang Gun-ngo?"
"Bahwa Poyang Gun-ngo selama ini tinggal di rumah bangsat she Liong kurasa bukan hanya bertugas melindungi Liong Seng-bu. Bahwa Liong Seng-bu harus lari paling akhir kurasa bukan lantaran sang paman lebih mementingkan diri sendiri, maka dia yang sudah luka-luka tidak dihiraukan lagi."
Lok In-hu bertanya.
"Lalu bagaimana pendapatmu?"
"Menurut yang kutahu,"
Ujar In San.
"biasanya Liong Sengbu menyimpan dan mengurus surat penting pamannya."
Liok Kun-lun menimbrung.
"Maksudmu Liong Seng-bu punya tugas untuk membakar surat-surat penting yang tidak sempat dibawa kabur itu. Padahal betapa banyak dokumentasi yang tersimpan, di antara sekian banyak dokumentasi itu. Dia harus memilih mana yang harus dibawa dan mana yang harus dibakar, sehingga mereka terlambat melarikan diri."
"Betul, begitulah dugaanku,"
Sahut In San.
"Aku bisa membuktikan bahwa dugaanmu tepat,"
Ujar Cin Tay-hun.
"dari tubuh keparat itu aku berhasil mencuri selembar dokumen, yaitu peta militer di daerah Liang-ciu, kukira peta gambar ini boleh termasuk dokumen rahasia,"
Lalu dia keluarkan peta gambar itu serta dibeber di hadapan orang banyak, gambar peta ini amat bagus dan teliti, lengkap dengan tanda-tanda dan penjelasannya, dimana ada berapa pasukan, bagaimana persenjataannya, semua dijelaskan dengan terperinci.
Liok Kun-lun keki setelah melihat peta itu, katanya.
"Kecuali sekongkol dengan bangsa asing, Liong Bun-kong ternyata sudah ada niat menjual nusa dan bangsa. Sebagai sekretaris negara dia memanfaatkari fasilitas maka kekuatan tentara pada setiap kota-kota besar diketahuinya dengan jelas. Peta militer seperti ini kukira bukan hanya selembar ini. Mungkin dia hendak menjualnya kepada pihak Watsu."
"Memang dalam kantong bajunya menyimpan setumpukan surat-surat, sayang ada Poyang Gun-ngo di sampingnya, aku hanya berhasil mencuri selembar saja,"
Demikian tutur Cin Tay-hun.
"Poyang Gun-ngo memapahnya jalan,"
Demikian ujar Lok In-hu.
"bagaimana kau bisa turun tangan?"
Setelah Cin Tay-hun menceritakan pengalamannya, orang banyak tertawa terpingkel-pingkel.
Wajah Cin Tay-hun sudah tidak menyamar Ing Siu-goan, tapi dia masih mengenakan seragam perwira Gi-lim-kun, secara diam-diam dia menguntit dibelakang Poyang Gun-ngo dan Liong Seng-bu, setiba di tempat sepi baru dia unjukkan diri, dengan sikap angkuh dia maju memeriksa.
Sebetulnya Poyang Gun-ngo dan Bok Su-kiat sudah ada intrik, tak nyana sekarang mengejar datang seorang perwira, sudah tentu dia menjadi blingsatan.
"Apakah Bok Su-kiat hendak melaporkan sesuatu kepadaku, maka mengutus kemari menemui aku?"
Demikian bentak Poyang Gun-ngo. Cin Tay-hun pura-pura bingung seperti orang linglung, katanya.
"Siapa kau, berani menyebut langsung nama besar pemimpin kita? Aku ditugaskan membekuk keluarga buronan."
Poyang Gun-ngo berpikir.
"Kiranya orang linglung, tak heran tidak menghiraukan perintah atasannya, diam-diam mau mencari keuntungan sendiri di tempat sepi."
Sekali pukul dia menghancurkan sebuah batu, bentaknya.
"Aku ini Busu kelas satu Poyang Gun-ngo dari Watsu, teman baik Bokjongling kalian."
Cin Tay-hun pura-pura kaget, katanya.
"Oh. ya,ya, aku salah mengenal orang. Maaf, Liong-siauwya, aku salah mengenalmu,"
Sengaja dia pura-pura mau menjilat kepada Liong Seng-bu, tapi diluar tahu orang diam-diam dia telah kembangkan kepandaian copetnya. Setelah reda gelak tawa orang banyak, Liok Kun-lun berkata.
"Tadi kita telah melukiskan keadaan kemana kira-kira Liong Bun-kong bakal lari, sayang unsur penting yang satu ini tidak kita pikirkan sebelumnya."
Lim Ih-su berkata.
"Betul, melihat gelagatnya, kemungkinan bangsat tua itu sudah lari ke Watsu."
Hasil dari perundingan, hadirin setuju mengutus Tan dan In pergi ke Watsu untuk menyelidik sekaligus membunuh Liong Bun-kong.
Sebelum berpisah sudah tentu perasaan amat tertekan, terutama Kek Lam-wi, Toh So-so Toan Kiam-ping dan Han Cin berat untuk berpisah.
Toan dan Han akan kembali ke Tayli, sementara Kek Lam-wi dan Toh So-so akan kembali ke Thayouw memberi kabar kepada Ong Goan-tin.
Tiba-tiba Cin Tay-hun berkata.
"Kek-jithiap, Toh Lihiap, apakah kalian bermusuhan dengan Thian-liong-kiam-kek Liu Jiu-ceng?"
"Betul,"
Toh So-so menjawab.
"putranya Kangouw Longcu Liu Yau-hong pernah kurusak mukanya, kenapa?"
"Kabarnya mereka akan menuntut balas kepadamu, ibu Liu Yau-hong bergelar Yan-Lo-sai bernama Bing Lan-kun, adalah gembong iblis perempuan di masa lalu, dia terlalu memanjakan putranya, mungkin dia yang paksa suaminya turun gunung untuk membuat perhitungan dengan kalian, kalian harus hati-hati."
"Terima kasih atas perhatianmu, kami akan berlaku hatihati,"
Kata Kek-lam-wi, seperti ingat sesuatu tiba-tiba dia tertawa, katanya pula.
"Tan-toako, semoga kita lekas bertemu lagi."
Tan Ciok-sing kira orang hanya mengucap hiburan sebelum berpisah, maka dia tidak ambil di hati, tidak lama kemudian haripun telah terang tanah.
Setelah pamitan pada orang banyak Tan dan In berangkat naik kuda ke utara.
Diluar dugaan, sepanjang jalan mereka tidak pernah mengalami apa-apa, tapi juga tidak berhasil mengejar Liong Bun-kong atau menemukan jejak mereka.
Hari itu mereka tiba di kampung kelahiran In San, yaitu kota Tay-tong.
Setelah ditimpa perang, kota Tay-tong jauh lebih parah lagi, beberapa hotel dan restoran besar banyak yang telah menghentikan usahanya.
Setelah malam tiba tentara negeri yang mondar mandir di jalan raya lebih banyak dari penduduk yang melancong di jalanan.
Rumah In San ada di Tay-tong, setiba di Tay-tong sudah tentu In San amat rindu dan haru.
Rumahnya sudah disegel, harta peninggalan ayahnya juga disita habis.
Waktu memasuki kota hari mulai petang.
Tan Ciok-sing mengajak cari penginapan, tiba-tiba In San berkata.
"Tak usah cari penginapan."
Tan Ciok-sing maklum, katanya.
"Betul, nginap di hotel mungkin menarik perhatian orang. Tapi kemana kita harus berteduh?"
In San tertawa, katanya.
"Kau lupa rumahku ada disini?"
"Sudah dua tahun rumahmu disegel, mungkin sekarang sudah dilelang."
"Apa salahnya kita kesana. Kalau sudah menjadi milik orang lain, nanti kita cari tempat lain."
Diluar dugaan, meski segel di atas pintu sudah luntur, tapi kertas segel itu masih menempel kencang, berarti rumah itu masih dalam kekuasaan yang berwenang, diluar juga tidak dijaga.
Mereka masuk melewati tembok, ternyata pekarangan juga terawat baik, tidak seperti yang diduga In San, tumbuh rumput dan alang-alang liar.
Waktu In San masuk ke kamar tidurnya, pajangan dan keadaan sesuatunya ternyata tidak ada perobahan, demikian pula kamar buku, dan kamar-kamar lainnya, semua dalam keadaan teramat bersih.
Kaget dan riang hati In San, katanya.
"Agaknya ada orang sering membersihkan rumah ini."
Tan Ciok-sing berkata.
"Rumah yang telah disegel masakah mereka mau merawatnya begini baik, kejadian cukup mencurigakan."
In San tertawa, katanya.
"Kita toh hanya menginap semalam, peduli apa sebabnya, bermalam disini kan lebih mending dari pada menginap di hotel."
Tengah malam, tiba-tiba terdengar kuda dan kereta mendatangi, ternyata berhenti di depan rumah In San.
"Eeh, mereka mendorong pintu dan masuk kemari, siapa yang bernyali sebesar ini?"
Tengah mereka bertanya-tanya, terdengar sebuah suara yang sudah dikenal berkata.
"Rumah keluarga In ini kusuruh walikota Tay-tong untuk merawatnya baik-baik, pesanku ternyata dipatuhi dengan baik. Ai. tapi sekarang aku..."
Yang bicara ini bukan lain adalah keponakan Liong Bun-kong, yaitu Liong Seng-bu.
Maklum sejak bertemu pertama kali Liong Seng-bu sudah kasmaran kepada In San, kala itu pernah dia merangkai muslihat hendak ngapusi In San menjadi isterinya, karena itu, meski rumah keluarga In disegel dan hartanya disita, namun secara diam-diam dia masih suruh orang merawat rumah ini baik-baik.
Masih terbetik harapan dalam benaknya bila kelak dia benar-benar berhasil mempersunting In San, sang isteri akan diajak pulang ke rumahnya supaya dia kaget dan senang.
Sekarang In San memang kaget dan senang, rasa senangnya jauh lebih besar dari rasa kaget, tapi rasa senang yang diluar dugaan ini jauh berlawanan dengan rasa senang yang diharapkan oleh Liong Seng-bu.
Senang karena dicari susah-susah tidak ketemu, tahu-tahu ketemu tanpa membuang tenaga.
Bangsat kecil yang dicari jejaknya tidak ketemu tahu-tahu malah mengantar jiwanya sendiri.
Maka seseorang berkata.
"Buat apa Kongcu susah, musibah yang menimpa pamanmu ini hanya sementara saja, setiba di Holin, Khan Agung pasti memanfaatkan tenaga dan pikirannya. Memangnya Kongcu kuatir tidak akan bisa hidup senang dan foya-foya? Kelak bila Pak-khia berhasil kita rebut, pamanmu tidak akan hanya menjadi sekretaris belaka,"
Logat bahasa Han orang ini agak kaku, dia bukan lain adalah Poyang Gun-ngo yang menyelundup di rumah Liong Bun-kong. Suara lain yang sudah dikenal bersuara.
"Ting-congping yang berkuasa di Tay-tong dulu adalah pamanmu yang mengangkat, kukira umpama sekarang Kongcu pergi ke markas militernya sana. diapun akan menyambutmu dengan tangan terbuka,"
Orang ini adalah Huwan Liong, tertua dari Huwan bersaudara. Liong Seng-bu tertawa getir, katanya.
"Situasi sekarang beda dengan masa lalu, sebagai jendral yang berkuasa di perbatasan, berita yang dia terima tentu cukup luas dan cepat, kau kira setelah dia mendengar kabar jelek tentang musibah yang menimpa keluargaku masih mau mengingat hubungan baik masa lalu?"
Huwan Liong berkata.
"Justru karena berita yang dia peroleh cepat dan luas kukira Bok-jongling sudah mengirim orang memberitahu kepada dia. Umpama dia tidak peduli hubungan masa lalu, paling tidak dia harus memikirkan nasibnya kelak bila Lo-tayjin suatu ketika memperoleh kekuasaannya kembali. Bahwa sejauh ini Lo-tayjin masih segar bugar di daerah Tay-tong ini, kuyakin pasti juga karena jasa baiknya. Kalau Lo Tayjin sudah diberi fasilitas sehingga keluar dengan selamat, memangnya dia bakal mencelakai kau Kongcu?"
"Bukan kuatir diketahui orang, tapi takut dilihat orang, kalau secara terang-terangan kita mampir ke markas besarnya sikapnya tentu serba runyam. Maka lebih baik kita menyingkir saja. Karena itu aku lebih senang menyobek segel ini, meski melanggar hukum, biarlah aku menginap di rumah keluarga In semalam saja."
Huwan Liong tertawa, katanya.
"Kongcu memang berpandangan jauh, teliti lagi, bermalam disini tiada yang mengganggu, yah memang lebih menyenangkan dari pada menginap di hotel,"
Sembari bicara mereka sudah memasuki ruang tamu.
Huwan Kiau menyulut lentera terus memimpin jalan di sebelah depan.
Tiba-tiba terdengar jengek tawa dingin sinar pedang menyilau mata, In San sudah menerjang keluar lebih dulu, bentaknya.
"Di sorga ada jalan kau tidak mau kesana, akJiirat tiada pintu kau justru menerjangnya masuk. Liong Seng-bu pentang mata anjingmu, lihat siapa aku?"
Tampak In San berdiri jajar dengan Tan Ciok-sing sambil menyoreng pedang. Karuan kaget Liong Sengbu bukan kepalang.
"Kongcu lekas lari,"
Teriak Huwan Liong gugup. Huwan Kiau melempar lentera yang dipegangnya.
"ting, ting, ting"
Secepat kilat empat bersaudara ini melolos pedang membentuk barisan. Poyang Gun-ngo berteriak.
"Kongcu, kalau kau tidak bisa lolos, lekas kau hancurkan dokumen itu. Biar aku pergi mengundang bantuan,"
Dia kuatir Tan dan In tidak akan membiarkan dirinya pergi maka sengaja dia bilang bahwa dokumen-dokumen penting berada di badan Liong Seng-bu, pada hal surat-surat yang paling penting sudah berada di sakunya.
Sudah tentu Liong Seng-bu gugup dan gusar pula, tapi sebelum dia sempat bertindak sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, disusul dering suara ramai, pedang panjang Huwan bersaudara telah terpapas kutung oleh sepasang pedang mustika Tan Ciok-sing dan In San.
Liong Seng-bu terluka delapan goresan dan tusukan, lima luka di badannya lantaran tergores dan tertusuk kutungan pedang Huwan bersaudara yang terpental balik.
Dengan jeritan menyayat hati dia terjungkal roboh berkelejetan, darah membanjir dari luka-lukanya, jiwanya jelas takkan tertolong lagi.
Setelah menyeka noda darah di pucuk pedangnya, In San sarungkan kembali pedangnya, katanya.
"Inilah ganjaran setimpal seorang jahat. Nasib Liong Seng-bu bangsat durjana ini patut kalian jadikan contoh."
Tan Ciok-sing menambahkan.
"Mengingat kalian hanya diperalat, belum pemah melakukan kejahatan besar, maka hari ini kami ampuni jiwa kalian, semoga selanjutnya kalian tahu diri, membina diri kembali ke jalan yang benar, nah silakan kalian pergi."
Huwan bersaudara tidak sangka bahwa Tan Ciok-sing mengampuni jiwa mereka, lekas Huwan Liong menjura, katanya.
"Terima kasih akan budi kebaikan Tan-siauhiap mengampuni jiwa kami, kami akan patuh petuah dan nasehat siauhiap, selanjutnya tidak akan berkecimpung di kalangan Kangouw lagi."
Hari hampir terang tanah, In San menghela napas, katanya.
"Marilah kita melanjutkan perjalanan saja,"
Dengan perasaan berat terpaksa dia meninggalkan rumah dan kampung halaman tempat kelahirannya.
"Dari pembicaraan mereka dapat kita simpulkan, bahwa bangsat tua she Liong diam-diam telah dibebaskan keluar perbatasan, Kim-to Cecu berada di Gan-bun-koan, mari kita mampir ke markasnya memberi laporan."
Sekeluar dari Tay-tong, sepanjang jalan tiada kejadian apaapa, bagi In San merupakan kembali ke tempat yang pernah dikunjungi, maka dia yang menuntun jalan.
Mendapat laporan, bergegas Kim-to Cecu keluar menyambut sendiri, katanya.
"Tan-siauhiap, bikin kalian capai saja. Sudah dua tahun aku menunggumu, hari ini baru bisa bertemu dengan kau. Kau membuat pahala besar di kota raja, aku sudah tahu, tindakanmu patut dipuji, setulus hati aku haturkan banyak terima kasih kepadamu."
"Semua itu juga berkat rencana Cecu yang baik, aku hanya melaksanakan tugas saja, mana berani menerima jasa segala? Namun meski Baginda sudah menerima beberapa syarat yang kita ajukan, aku kuatir dia tidak akan melaksanakan janjinya dengan sepenuh hati. Ada beberapa persoalan ingin kulaporkan kepada Cecu."
Kim-to Cecu tertawa, katanya.
"Sudah logis kalau urusan tidak akan berjalan lancar, pihak kerajaan tidak akan sepenuh hati melawan penjajah, itupun sudah dalam dugaanku. Marilah kita bicara didalam saja."
Dalam perjamuan yang diadakan khusus untuk menyambut kedatangan Tan Ciok-sing, Tan Ciok-sing ceritakan pengalamannya bertemu dan berunding dengan Baginda, serta ceritakan pula pengalaman dan apa yang dilihatnya sepanjang jalan setelah dia keluar dari kota raja.
Kim-to Cecu berkata.
"Bukankah kalian hendak meluruk ke Watsu membalas dendam kepada Liong Bun-kong disana? Aku tidak menentang kalian menuntut balas, tapi aku berpendapat kalian harus menunggu saat yang tepat, sekarang kukira belum tiba saatnya."
In San berkata.
"Kami akan pergi ke Thian-san, sekalian lewat Watsu. Jikalau kesempatan ada, kami akan turun tangan. Kalau tidak paling ya hanya lewat Holin saja langsung menuju ke Thian-san. Paman tidak usah kuatir, aku sudah belajar rias dari Han-cici, di Watsu belum tentu kami bisa bertemu orang yang kenal kami."
Tan Ciok-sing bertanya.
"Situasi terakhir bagaimana? Mungkin terjadi peperangan pula."
Kim-to Cecu berkata.
"Watsu baru saja mefngalami kekalahan total di medan laga, rencana permohonan damai raja dynasti Bing gagal lagi, menurut pengalaman dan menganalisa keadaan, mereka perlu membangun pula pasukannya dan mempersenjatainya lebih lengkap, itu memerlukan waktu hampir setahun, yakin dalam jangka selama itu, mereka tidak akan berani mengadakan invansi lagi."
"Kalau begitu, jangka setahun ini sudah cukup untuk kami pulang pergi ke Thian-san. Siau-tit adalah murid penutup Thio Tan-hong Thio Tayhiap, tentunya paman sudah tahu."
"Apakah sebelum gurumu meninggal ada meninggalkan pesan supaya kau pergi ke Thian-san, menemui saudara seperguruanmu?"
Tanya Kim-to Cecu.
"Menemui sesama seperguruan adalah tugas sampingan. Di masa tuanya guruku berhasil menciptakan ilmu pedang baru, kupikir akan kuserahkan kepada Toa-suheng."
Kim-to Cecu manggut-manggut, katanya.
"Ya, memang sepantasnya."
Lalu menambahkan.
"Toa-suhengmu Toh Thian-tok adalah cikal bakal Thian-san-pay dan sekarang menjabat Ciangbunjin, sekarang dia diakui umum sebagai jago pedang nomor satu di seluruh jagat ini. Aku tahu gurumu' meninggal di kala kau masuk perguruan, bila ada kesempatan kau menemui Toa-suheng dan mohon petunjuknya memang baik."
Setelah urusan dinas dibicarakan, tiba-tiba Kim-to Cecu teringat seseorang, katanya.
"Kebanyakan rakyat Watsu dan bala tentaranya tidak ingin berperang, menurut apa yang kuketahui, di Watsu ada delapan jendral yang masing-masing menguasai satu divisi tentaranya, salah satu jendral besarnya bernama Abu. Jendral Abu paling getol menentang politik perang junjungannya, dia lebih cenderung hidup berdampingan dengan damai dengan berbagai bangsa tetangga. Bila dipandang perlu, setiba disana boleh kalian berusaha menemuinya."
Hari kedua Tan Ciok-sing ikut In San sembahyang di depan makam ibu In San, lalu berpamitan dan berangkat naik kuda.
Setelah tiba di gurun sahara, alam semesta beda pula bentuknya, setelah kepanasan di gurun pasir kini mereka berada di dunia salju.
Hari itu mereka lewat di bawah sebuah gunung bersalju, bentuk gunung salju ini mirip sebuah menara, tingginya menembus mega, sehingga pucuk gunung yang lurus tegak ke langit itu mirip sebuah tonggak bumi yang menyanggah langit, di lereng gunung tampak sejalur garis kemilau yang memancarkan cahaya cemerlang warna kebiruan, kelihatannya mirip sebuah aliran sungai, tapi dari kejauhan tidak nampak airnya mengalir.
Tapi mereka tahu itulah Ping-joan atau sungai es.
Mereka terpesona menyaksikan keindahan panorama yang belum pernah mereka lihat.
Di saat mereka menjublek itulah, tiba-tiba dari arah hutan lari keluar seekor kuda yang ketakutan, di belakangnya mengudak seekor badak bercula tunggal berkulit putih.
Perawakan badak putih ini jauh lebih besar dari lembu air yang paling besar yang pernah Tan Cioksing lihat.
Lari badak secepat terbang, dalam sekejap lagi kuda itu jelas bakal tercandak, penunggang kuda adalah pemuda berusia enam belasan tahun, saking ketakutan sambil keprak kudanya, mulutnya berkaok-kaok minta tolong.
Tan Ciok-sing tidak banyak pikir lagi.
"Tar, tar". Dua kali cambuknya melecut kuda, serta dibedalnya mengejar kesana. Tapi cepat sekali badak bercula itu sudah berhasil menyusul kuda tunggangan si pemuda, mungkin saking ketakutan, kuda itu menjadi binal dan liar, mendadak dia melonjak-lonjak sehingga si pemuda dilempar, jatuh dari punggungnya. Lekas Tan Ciok-sing juga menyendal kaki, tubuhnya melesat terbang ke depan, dengan Ginkangnya yang luar biasa, tubuhnya meluncur melebihi kecepatan anak panah, di tengah udara tubuhnya bersalto berulang kali pedang mustikanya telah terlolos di tangan, dari atas dia menukik dengan terjangan dahsyat, pedangnya menusuk ke arah si badak. Keadaan sedemikian gawat, jiwa si pemuda sudah di ujung tanduk, syukur Ciok-sing berhasil menubruk, tusukan pedang Tan Ciok-sing dengan telak menusuk mata si badak, berbareng tangan kiri bekerja mendorong si pemuda. Tenaga yang dipergunakan sudah diperhitungkan sehingga pemuda itu hanya terguling-guling di atas salju, namun kebetulan lolos dari serudukan badak, hampir saja tubuhnya terinjak remuk. Karena matanya buta badak itu jadi meraung gusar dan main terjang membabi buta.
"Blang"
Akhirnya menumbuk batu besar sehingga cula putus kepala pecah, namun tidak seketika mati, dengan suaranya yang mengerikan berguling-guling akhirnya jatuh kedalam selokan gunung dan terbanting hancur.
Rasa kejut si pemuda belum lenyap, meski tidak terluka sedikitpun, saking kaget dan ketakutan, kakinya terasa lemas dan tidak mampu merangkak bangun.
Lekas Tan Ciok-sing memapahnya berdiri, katanya dengan bahasa Mongol yang baru saja dipelajari.
"Badak liar itu sudah mati, sudah aman, kau..."
Tiba-tiba dia merasa wajah pemuda ini seperti sudah amat dikenalnya, sesaat lamanya mereka saling pandang dengan melongo, lalu berteriak senang bersama.
Bertemu dengan kawan lama, senang si pemuda bukan main, dengan kencang dia pegang lengan Tan Ciok-sing, katanya dengan bahasa Han yang fasih.
"Tan-toako kau masih ingat padaku? Soat-li-ang pemberianmu itu masih kupelihara, sekarang ocehannya lebih baik lebih merdu lagi."
Pemuda ini bukan lain adalah Siau-ongya dari Watsu yang dulu ikut ayahnya pergi ke Pakhia waktu ayahnya bertugas sebagai duta rahasia.
Hari itu bersama anak buahnya dia bertamasya di tembok besar, di Pat-tat-nia bertemu dengan Tan Ciok-sing kebetulan Tan Cioksing menangkap seekor burung yang jarang bisa ditangkap manusiaj burung Soat-liang (merah dalam salju), Siau-ongya amat menyenangi burung itu, maka Tan Ciok-sing berikan burung itu.
"Siau-ongya, kau baik."
Sapa In San dengan tertawa. Sesaat lamanya Siau-ongya pandang In San, akhirnya berkata dengan tertawa.
"Tan-toako, temanmu ini ternyata seorang nona secantik ini, hampir aku tidak mengenalnya lagi,"
Seperti diketahui, waktu bertemu di tembok besar dulu In San menyamar laki-laki. In San keluarkan kipas lenipit gagang emas itu, katanya sambil diacungkan.
"Kado yang kau berikan kepada Tantoako, dia minta aku menyimpannya. Kipas ini tidak sedikit membantu kami, aku harus berterima kasih kepadamu."
"Ah, terhitung apa,"
Ujar Siau-ongya.
"kipas itu pemberian raja kalian, lalu kuberikan lagi kepada Tan-toako."
Sejak kecil dia sudah diajar membaca bahasa Han, maka bicaranya juga amat lancar.
"Siau-ongya,-kenapa seorang diri kau berada di atas pegunungan liar ini, tidak membawa pengikut?"
Tanya In San. Siau-ongya bertanya.
"Apakah kalian perriah dengar suatu dongeng bahwa di puncak gunung salju ini ada istana es?"
"Dari kaum gembala aku pernah mendengarnya, tapi itu hanya dongeng saja,"
Ujar Tan Ciok-sing.
"Tidak, aku justru percaya bahwa istana es kenyataan memang ada."
Melihat orang bicara tegas dan penuh keyakinan, Ciok-sing jadi heran, tanyanya.
"Dari mana kau tahu?"
"Ayahku yang bilang. Tapi aku mencuri dengar pembicaraan ayah, hanya sedikit yang kutahu. Kali ini diluar tahu ayah diam-diam aku pergi kesini."
Maka dia menceritakan kejadiannya.
"Sudah lama aku mendengar dongeng itu maka ingin aku membuktikan sendiri, tapi tiada orang berani mengantar aku, suatu ketika pernah aku nyatakan isi hatiku, ayah menghajarku malah. Katanya jangan kata berita tentang istana es itu hanya obrolan orang belaka, umpama benar ada istana es seperti yang disebar luaskan itu, akupun dilarang menempuh bahaya. Maka sejak itu aku tak berani menyinggung soal itu. Tapi semakin dilarang semakin benar tekadku. Semalam, tak sengaja aku mencuri dengar pembicaraan ayah dengan seorang Wisu yang baru datang, agaknya ayah menyuruh dia pergi mencari seseorang, orang ini sedang pergi ke istana es di puncak salju ini, diamdiam aku menguntit Wisu itu, tak nyana di pegunungan sepi ini aku kesasar, badak liar itupun hampir saja menyerudukku mampus. Tan-toako, syukur kau menolongku."
Tan Ciok-sing berkata.
"Sekarang kau telah melihat puncak salju yang menembus mega itu, apa yang dikatakan ayahmu memang tidak salah, umpama benar di atas gunung ada istana es, jelas kau takkan mampu naik kesana, lebih baik kau pulang saja."
Setelah mengalami berbagai penderitaan pangeran kecil ini memang sudah kapok dan agak menyesal, katanya menghela napas.
"Jangan kata aku tidak mampu naik ke puncak gunung salju itu, jalanan gunung yang lika-liku dan tidak rata inipun sudah cukup membuatku kepayahan, bila kepergok lagi binatang liar macam badak tadi, kemana aku harus mencari penolong? Jejak Wisu itu tak karuan parannya, terpaksa aku harus pulang. Apakah kalian akan mampir ke Holin, aku harap suatu ketika aku bisa menyambut kedatangan kalian."
Tan Ciok-sing tertawa, katanya.
"Umpama kami pergi ke Holin, kami juga tidak bisa mencarimu di istana ayahmu."
Siau-ongya menepuk kepalanya sendiri, katanya.
"Iya, kenapa aku jadi pikun, aku hanya anggap kalian adalah teman baikku, kenapa lupa bahwa kalian pernah bentrok dengan Milo Hoatsu dan Wisu-Khan kita yang bernama Poyang Gun-ngo, ayahku adalah teman mereka, sudah tentu kalian tidak bisa tinggal di rumahku. Tapi kalau kalian tiba di Holin. aku bisa mengatur suatu tempat lain untuk tempat tinggal kalian."
"Terima kasih akan maksud baik Siauongya, ada satu hal ingin mohon bantuanmu."
"Tan-toako, tadi kau menolong jiwaku, mumpung aku sedang bingung bagaimana harus membalas budi pertolonganmu. Coba katakan, bila aku mampu lakukan, apapun yang kau suruh pasti kulaksanakan sekuat kemampuanku."
"Jangan kau ceritakan kepada siapapun akan pertemuan dengan aku disini."
"Jangan kuatir Tan-toako, aku tahu maksudmu."
Kuda yang ditunggangi siauongya adalah kuda perang yang sudah dilatih baik, setelah bebas dari pengejaran badak, tampak dia sudah lari keluar dari hutan.
Siauongya segera cemplak ke punggung kudanya, setelah menghatur terima kasih pula atas pertolongan Tan Ciok-sing baru dia pergi.
Tan dan In melanjutkan perjalanan, tiba-tiba tampak dua orang sedang lari dikejar empat orang berkedok muka.
Seorang pemuda yang lari di sebelah kiri kecandak oleh seorang berkedok, lekas sekali, teman pemuda itu sudah dikepung tiga orang berkedok yang lain.
Orang yang dikoroyok tiga itu agaknya memiliki kepandaian tinggi, meski dikeroyok dia masih mampu balas menyerang.
Sementara pemuda yang kecandak itu berteriak.
"Aku tidak salah dan tidak pernah bermusuhan dengan kalian, kenapa kalian mengudak dan hendak membunuhku?"
Orang berkedok yang mengudak itu tertawa tergelak-gelak, katanya.
"Memang kau tidak punya permusuhan pribadi dengan aku, tapi siapa suruh kau menjadi anak Jendral Abu?"
Mendengar 'Jendral Abu', lekas Tan Ciok-sing keprak kudanya memburu kesana.
Orang berkedok sudah menyusul si pemuda, tiba-tiba dia menjejak kaki tubuhnya melejit tinggi ke atas, seperti elang menyambar kelinci, tangannya mencengkram ke kuduk si pemuda.
Kuda Tan Ciok-sing berlari kencang, kedatangannya tepat waktunya.
Tan Ciok-sing sudah melompat ke depan mengadang di depan orang berkedok.
Melihat Ginkang orang ini cukup tinggi tanpa ayal dia menusuk dengan pedang seraya membentak.
"Biar kutabas cakar anjingmu."
Orang itu menukik dengan tubrukan kencang, sebenarnya sukar menghindar.
Tak nyana lengannya tahu-tahu bisa melengkung selemas ular, tusukan pedang Ciok-sing mengincar pergelangan tangannya, dia yakin sasarannya pasti kena telak, diluar dugaan tusukannya meleset.
Gerakan kedua pihak secepat kilat, sebelum kaki menyentuh bumi, cakar orang itu sudah beralih mencengkram tulang pundak Tan Ciok-sing, serangannya menggunakan Hun-kin-joh-kut-hoat tapi gaya dan permainannya agak aneh dan lucu, gaya dan gerakannya itu jelas amat berbeda dengan ilmu sejenis yang dipelajari oleh cabang persilatan df Tionggoan, belum pernah Tan Ciok-sing melihat ilmu seaneh itu.
Sudah tentu Tan Ciok-sing juga tidak mudah dicengkram, sedikit berputar, selicin belut dengan jurus Jit-sing-poan-gwe, sambil berkelit sekaligus dia menusuk tujuh Hiat-to di tubuh lawan.
Orang itu kena sekali tusukan pedangnya, tahu keliehayan Tan Ciok-sing, segera dia kabur.
Sayang tusukan Tan-ciok-sing tidak mengenai Hiat-to, namun dia merasa takjub juga melihat keliehayan Kungfunya.
Tujuan Tan Ciok-sing hanya menolong orang, tak sempat dia mengudak, teriaknya.
"Adik San..."
Dia ingin supaya In San mencegat orang itu, tak nyana sebelum In San turun tangan orang itu sudah mati.
Mati dibunuh oleh teman si pemuda.
Orang itu terdesak kewalahan dikeroyok tiga lawannya, entah bagaimana, mendadak dia meraung serta memperlihatkan kemahirannya, sekaligus tiga pengoroyoknya kena dibunuh, kejadian hanya sekejap mata belaka.
Orang ke empat yang lari setelah tertusuk pedang Tan Ciok-sing juga dikejarnya, saking kaget orang berkedok itu berteriak.
"Buyung Ka, kau..."
"Bles"
Tahu-tahu pedang sudah menusuk jantung, jiwanya melayang seketika di bawah pedang orang itu. Tan Ciok-sing membimbing si pemuda, pemuda itu memperkenalkan diri.
"Aku bernama A Kian, terima kasih akan pertolongan Congsu..."
Belum habis dia bicara, tiba-tiba dilihatnya orang berkedok yang tadi memburu dirinya jatuh terguling dari atas lereng, kedok mukanya kecantol duri sehingga tertanggal dan kelihatanlah wajah aslinya, tak sempat bicara dengan Tan Ciok-sing, dia berteriak kaget.
"Hah, kiranya kau..."
"Siau-ya,"
Sentak temannya itu, agaknya dia berusaha mencegah si pemuda mengatakan nama orang itu. A Kian tertawa, katanya.
"Dia tuan penolong jiwaku, kenapa tidak boleh kukatakan, orang ini adalah Busu kelas satu dari Yu-hian-ong, bernama Jik Thian-tek."
"Tak heran dia memiliki Kungfu seliehay itu,"
Ujar Tan Cioksing.
"Kau orang Han bukan?"
Tanya A Kian.
"kau juga tahu Yuhian-ong?"
"Nama besar Yu-hian-ong siapa tidak kenal, dalam negerimu dia hanya di bawah Khan Agung, sebelum aku berkunjung ke negerimu, aku sudah tahu."
Dalam hati diamdiam dia tertawa.
"bukan hanya kenal saja, aku malah musuh besarnya."
A Kian segera memperkenalkan orang itu.
"Dia ini Wisu ayahku, bernama Buyung Ka."
Buyung Ka berkata.
"Terima kasih akan pertolonganmu kepada Siauya,"
Sembari bicara dia ulur tangan berjabatan tangan.
Tan Ciok-sing tahu orang sengaja hendak menjajal Kungfunya, diam-diam dia jabat uluran tangan orang.
Buyung Ka kerahkan tenaganya sampai sembilan puluh persen, tenaganya seperti kecemplung laut tidak berbekas, lawan juga tidak kerahkan tenaga balas menyerang.
Sebagai ahli silat, dia insyap bahwa kepandaian Tan Ciok-sing masih lebih tinggi, lekas dia lepas tangan dan berkata.
"Kagum, kagum."
A Kian kegirangan, katanya.
"Apa kalian mau ke Holin?"
Tan Ciok-sing mengiakan.
"Ada urusan apa?"
"Kami mengungsi, ingin mencari pekerjaan."
A Kian kegirangan, katanya.
"Ayah memang sedang mencari pelindung, jikalau kau sudi boleh..."
Lekas Tan Ciok-sing berkata.
"Kebetulan malah bagi aku yang sedang nganggur ini,"
Dalam hati dia membatin.
"Tanpa membuang waktu, aku bakal bertemu dengan Jendral Abu."
"Kau sudah tahu siapa ayahku bukan?"
Tanya A Kian.
"Tadi kudengar dari mulut kawanan jahat tadi, ayahmu ternyata Jendral Abu."
"Betul,"
Ujar A Kian.
"Setelah memasuki wilayah negerimu, sepanjang jalan aku mendengar orang menyanjung puji Jendral Abu, tak nyana disini aku bertemu dengan Kongcu."
"Kau adalah penolongku, jangan sungkan. Nona ini..."
"Dia adikku,"
Tan Ciok-sing memperkenalkan.
"Baiklah, kuundang kalian kakak beradik mampir ke rumahku. Ayahku berbeda dengan para Jendral yang lain, terhadap orang Han atau orang Mongol dipandang sama rata."
Melihat A Kian bersikap sebaik itu, terpaksa Buyung Ka ikut bersikap baik pula.
"Siauya,"
Ujar Buyung Ka.
"kejadian hari ini, sepulangmu nanti hanya boleh kau beritahu kepada ayahmu saja. Kepada orang lain, sekali-kali kau jangan bercerita."
"Aku tahu,"
Sahut A Kian.
"Tan-heng, tolong kalianpun ikut merahasiakan kejadian ini."
Tan Ciok-sing pura-pura tidak paham, tanyanya.
"Entah boleh tidak aku bertanya?"
"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan,"
Kata A Kian "Bahwa Wisu Yu-hian-ong hendak membunuhku, maka kau merasa heran bukan?"
Tan Ciok-sing manggut-manggut.
"Yu-hian-ong amat iri terhadap ayahku, bahwa hari ini dia berani suruh anak buahnya hendak membunuhku, akupun merasa diluar dugaan."
Kuda Tan Ciok-sing dan ln San adalah pemberian Kim-to Cecu, demikian pula kuda tunggangan A Kian dan Buyung Ka adalah kuda jempolan dari Tay-hoan, hari kedua mereka sudah tiba di Holin.
Setiba di rumah A Kian, melihat dia mengajak dua orang Han pembantu tuanya keheranan, katanya.
"Lo-ciangkun sedang iatihan di belakang, kalian boleh tunggu disini. Siauya, mari kau kutemani mengundang beliau."
"Kenapa susah-susah."
Ujar A Kian.
"kedua orang Han ini adalah temanku, mereka bukan orang luar, Kungfunya liehay pula, biar aku ajak mereka ke belakang melihat ayah latihan, ayah tidak akan menyalahkan aku."
Lalu A Kian menoleh kepada Tan Ciok-sing.
"sepuluh tahun bagai satu hari, bila ayah tidak sakit, setiap hari dia harus latihan dua kali,"
Lalu dia bawa Tan dan In diam-diam menuju ke taman belakang.
Tampak seorang Jenderal usia lima puluhan lebih sedang memutar sebatang golok baja berpunggung tebal sekencang kitiran, angin menderu menimbulkan angin lesus, daun-daun pohon dan kembang di sekitarnya rontok beterbangan seperti disambar lesus.
Dengan seksama Tan Ciok-sing memperhatikan, permainan golok Jenderal Abu gesit dan tangkas, perobahannyapun banyak ragamnya, diam-diam dia berpikir.
"Jikalau dia bukan seorang Jendral dalam kalangan Bulim, taraf kungfunya boleh terhitung seorang jago kosen tapi diapun heran.
"walau belum pernah menyaksikan ilmu goloknya itu, tapi dalam permainan sepuluh jurus, ada tiga sampai lima jurus seperti sudah amat kukenal, kelihatannya tidak mirip Kungfu dari aliran Se-ek, lebih mirip ajaran silat dari tiong-toh, banyak jurus meski perobahannya berbeda, namun sumber utamanya jelas dapat dijajaki. Saking bernafsu permainan ilmu golok Jendral Abu.
"Cras"
Tiba-tiba sebatang pohon sebesar paha bayi kena ditabas oleh Abu, karena gerak goloknya terlampau cepat, tahu-tahu batang pohon yang tertabas itu kutung menjadi tiga potong.
Tanpa kuasa Tan Ciok-sing berseru memuji.
"Ilmu golok bagus."
Jendral Abu memeluk golok berdiri tegak, katanya.
"A Kian, kau sudah kembali. Saudara ini..."
"Sahabat orang Han ini adalah tuan penolong jiwa anak."
Kata A Kian. Setelah mendengar putranya, dengan sinar tajam Abu pandang Tan Ciok-sing, katanya tiba-tiba.
"Anak Kian, keluarlah dan beri pesan kepada Timanor, siapapun dilarang masuk. Waktu kembali, tutup sekalian pintu taman."
"Tan-heng, apa betul lantaran mau cari kerja kau bersama adikmu ini datang ke Holin?"
Tanya Abu.
"Bicara terus terang,"
Kata Tan Ciok-sing.
"kami adalah teman baik Kim-to Cecu."
Terbelalak kaget dan girang Abu, katanya.
"Sudah lama aku ada kontak dengan Kim-to Cecu, sayang tiada kesempatan bertemu."
"Kim-to Cecu juga amat mengagumi Ciangkun, sering dia membicarakan Ciangkun dengan kami."
"Apa yang dia katakan?"
"Beliau bilang Ciangkun adalah teman bangsa Han kita sejati, pembesar tinggi dalam negrimu yang punya pandangan dan pengetahuan paling luas."
Abu geleng-geleng, katanya ramah.
"Kim-to Cecu terlalu memuji aku."
"Bukan pujian kosong belaka, dengan kedudukan Ciangkun, apa lagi menyerukan kerja sama dan menjalin persahabatan antara Mongol dengan bangsa Han, doktrinmu memang harus dipuji."
"Harus bersahabat dengan bangsa Han adalah petuah para leluhur kita."
Demikian kata Abu.
"walau kami belum pernah datang ke tempat kediaman orang-orang Han, tapi keluarga kami boleh dikata ada punya hubungan erat dengan bangsa Han kalian."
Sementara itu A Kian sudah kembali berdiri di samping ayahnya, katanya.
"Apa betul, kenapa ayah tidak pernah ceritakan hal ini kepadaku."
Tiba-tiba Abu menoleh ke arah Tan Ciok-sing, tanyanya.
"Golok kilat dari keluarga Hong di negrimu apakah sekarang masih ada keturunannya?"
Tan Ciok-sing melengong, katanya.
"Pengetahuan wan-pwe masih cetek, banyak aliran golok cepat di Tiong-toh yang ternama, yang kutahu hanya golok kilat keluarga Beng dan golok kilat keluarga Ciok. Golok kilat keluarga Hong belum pernah kudengar."
Jendral Abu menghela napas, katanya.
"Kalau begitu tentu sudah putus turunan."
Lalu bertanya pula.
"Dalam kalangan Bulim di negrimu adakah kau pernah dengar tentang kisah Hong-in-lui-tian?"
Tan Ciok-sing adalah murid penutup Thio Tan-hong, Thio Tan-hong adalah maha guru silat terbesar pada jaman ini, pengetahuannya tak terukur dalam dan luasnya, sayang Cioksing tidak lama masuk perguruan, gurunya lantas wafat, maka tentang sejarah perkembangan kaum persilatan jarang yang diketahui, demikian pula tentang kisah Hong-in-lui-tian, sudah tentu belum pernah dengar.
Malah In San yang teringat, katanya.
"Kisah Hong-in-luitian aku pernah dengar dari ayah. Mereka adalah empat jago kosen yang ternama di Bulim tiga ratus tahun yang lalu, betul tidak?"
"Betul,"
Sahut Abu.
"O, jadi Hong-in-lui-tian terdiri empat orang."
"Hong adalah Hong Thianyang, pernah menciptakan Cuihong-to To-hoat, In adalah ln Tiong-yan, seorang perempuan, terkenal karena ilmu pedang dan ginkangnya. Lui adalah seorang laki laki bernama Ling Tiat-wi bergelar Hong Thian-lui, Lwekangnya paling ampuh. Tian sudah tentu juga nama julukan, yaitu San-tian-kiam Geng Tian, empat orang ini adalah pendekar besar di jaman Lam-song bertahta, konon Hong dan In adalah sepasang suami istri, sayang setelah beberapa ratus tahun berselang, ilmu ciptaan mereka mungkin sudah putus turunan." (tentang Hong In Lui Tian ini baca Si Angin Puyuh atau Hong In Lui Tian) "Masih jelas nona In mengenang sejarah masa lalu, tapi tahukah kau orang suku apa In Tiong-yan itu?"
"Apa dia bukan orang Han? Ayah tidak menjelaskan, mungkin karena terlalu lama, ayah sendiripun tidak tahu."
"In Tiong-yan adalah tuan putri bangsa Mongol kita,"
Demikian tutur Abu.
"In Tiong-yan adalah nama yang dia pakai dari bahasa Han, dengan Hong Tayhiap dia saling jatuh cinta, tantangan keluarga, tradisi dan pantangan kerajaan tidak dihiraukan, dia minggat dan hidup sampai tua dengan kekasih yang dicintainya."
Tergerak hati In San dia mengerti, katanya.
"Ciangkun, ilmu golok yang kau mainkan tadi, apakah hasil dari warisan Hong Tayhiap?"
"Betul. Tiga ratus tahun lalu, kakek moyangku adalah sahabat baik Hong Tayhiap, istrinya adalah dayang pribadi tuan putri Mongol yang menggunakan nama In Tiong-yan. Suami isteri leluhurku itu pernah ikut In Tiong-yan pergi ke Tiongkok, demikian pula Hong Tayhiap pernah berkunjung ke rumah kami, keluargaku ada janji dengan keluarga Hong, selanjutnya turun temurun kedua keluarga harus terus ada kontak dan saling berhubungan. Sayang kira-kira seratus tahun lebih yang lampau, karena peperangan kedua keluarga kita tidak bisa lagi menepati janji, sehingga hubungan putus demikian saja."
In San berkata.
"Pesan leluhur Ciangkun ternyata punya kisah yang begitu menarik, bila kami pulang ke Tionggoan akan kami bantu menyirapi apakah keluarga Hong sampai sekarang masih ada keturunannya."
Abu tertawa, katanya.
"Persahabatan antar bangsa yang kekal abadi dalam kisah itu memang mengharukan, tapi sekarang lebih penting kita membicarakan situasi yang kita hadapi. Oh, ya, aku belum tanya kalian, apakah kalian diutus Kim-to Cecu?"
"Bukan,"
Ujar In San.
"tapi tujuan kami kali ini pernah kami utarakan kepada Kim-to Cecu, beliaupun menyetujui rencana kami."
"Maaf aku lancang tanya, bolehkah aku tahu rencana kedatangan kalian?"
"Hal ini memang ingin kami laporkan kepada Ciangkun,"
Sahut Tan Ciok-Sing, lalu dia ceritakan pengejarannya kepada Liong Bun-kong sehingga tiba di Holin. Abu berkata.
"mereka memang sudah sampai di Holin, kini tinggal di rumah Yu-hian-ong, yang kuketahui, bangsat tua she Liong yang kalian katakan itu sekarang sedang menunggu undangan Khan Agung untuk menghadapinya."
"Dia pasti akan menghasut khan kalian untuk mengerahkan pasukan menyerbu ke Tiongkok."
"Itu sudah jelas. Tentunya kalian juga sudah tahu, Yu-hianong adalah orang yang paling getol menyuarakan perang, kedatangan Liong Bun-kong memang kebetulan bagi dia."
Kata A Kian menggertak gigi.
"Manusia rendah yang menjual negara dan bangsa, tidak heran kalian begitu membencinya. Bukan saja dia menjual bangsa Han, setiba di Holin bangsa Mongol kitapun bakal ketimpa malang dan bencana oleh peperangan itu."
In San bertanya.
"Ikut dengan bangsat tua she Liong itu ada seorang bergelar Tang-hay-liong-ong Sugong Go, apa Ciangkun sudah tahu?"
"Tahu, konon ilmu silatnya tidak kalah dibanding Koksu Watsu yang bergelar Milo Hoatsu. Ketenarannya di Holin sekarang tidak di bawah Liong Bun-kong lagi."
"O, lantaran apa namanya begitu tenar?"
Tanya In San.
"Belum lagi majikannya Liong Bun-kong diundang oleh Khan kita, dia malah sudah pamer kepandaian di hadapan Khan Agung."
Ternyata Khan besar Watsu sedang membangun angkatan perang dan memilih jago-jagonya dengan berbagai pertandingan, hobbynya suka mengadu kekerasan yang berdarah, jiwa manusia dianggap permainan, dalam istananya tidak sedikit memelihara binatang-binatang buas, seperti singa, harimau, macan tutul dan lain-lain, bila senggang dan timbul seleranya, dia suruh para Busunya bertanding dengan binatang-binatang buas itu, delapan belas Kim-tiang Busunya itu juga hasil pilihannya setelah diadu dengan binatang buas.
"Tang-hay-liong-ong telah pamer kepandaiannya yang hebat, belum ada setengah jam, dia sudah membunuh tiga ekor singa, lima ekor macan tutul dan dua ekor harimau, hasil yang gemilang itu sudah tentu memecahkan rekor selama pertandingan manusia dan binatang itu diadakan."
Demikian tutur Abu.
"Membunuh binatang buas bagi Tang-hay-liong-ong memang tidak perlu membuang banyak tenaga."
"Itu belum hebat. Belakangan Khan besar suruh dia bertanding satu persatu dengan delapan belas jago pengawalnya, tiada satupun dari pengawalnya itu yang menang.
"Dia terlalu egois untuk menuntut kemenangan, umpama mendapat pujian dan kepercayaan Khan besar, yang terang para Busu yang dikalahkan itu pasti iri dan dendam kepadanya."
"Memang, hari kedua kawanan Busu itu mengundang Milo Hoatsu, menghasutnya untuk menantang dan mengalahkan Tang-hay-liong-ong."
"Bagaimana akhir dari pertandingan itu?"
Tanya In San ketarik.
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan Khu Lung
Baca Juga: Lembah Patah Hati Lembah Beracun 2