Eps 3 Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Baca online Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Cersil Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen.
"Aku mohon sukalah kau menerimanya dengan baik. Pesanku adalah, kalau nanti dia telah berusia dewasa dan menikah, anaknya yang pertama mesti diberi she Tiat, supaya dia bisa mewariskan keturunanmu. Anaknya yang kedua barulah diberi she Kongsoen, supaya ibu mertuaku peroleh suatu turunan untuk keluarga Kongsoen. Kalau nanti dia dapat anak yang ketiga maka anak itu barulah boleh diberi she Kim..."
Permohonan Kioe Nio ada luar biasa, ia adalah bekas isteri muda dari Hoei Liong tetapi ia minta supaya anaknya dijadikan cucunya.
Inilah disebabkan karena anak itu didapat dari Kongsoen Loei, jadi tidak bisa anak itu langsung diberi she Tiat.
Tetapi juga Hoei Liong, dalam keadaan seperti itu, tidak dapat berpikir terlalu dalam.
Dalam sekejab itu, jago tua ini ingat kepada isterinya yang telah meninggal dunia, karena itu, supaya San Ho ada yang merawat, ia telah mengambil anaknya tukang jual silat ini sebagai isteri muda.
Ketika itu, ia tidak ingat lagi akan perbedaan usia antara ia dan Kioe Nio.
Ia pun mengharap ada wanita yang menemani padanya, hingga ia juga tak pedulikan sifat atau perangai mereka berdua, cocok atau tidak.
Sudah begitu, meski ia nikah Kioe Nio, walaupun isterinya telah menutup mata.
ia tidak mau akui Kioe Nio sebagai isteri sah.
ia pandang Kioe Nio tetap sebagai isteri muda.
Tentu saja.
hal ini merendahkan derajatnya Kioe Nio.
"Sebenarnya dia tak setuju menjadi isteri mudaku,"
Demikian ia ingat.
"dan selama belasan tahun ia hidup bersamaku, belum pernah dia merasakan kesenangan yang berarti, tidak heran kalau dia memikir untuk bercerai dari aku... Hanya sayang, dia telah keliru memilih orang, hingga sekarang ia memperoleh akibat yang hebat ini. Memang dia telah dibikin celaka oleh Kongsoen Loei. akan tetapi kalau dipikir, mulanya yang salah bukanlah aku... ?"
Kioe Nio mengawasi denggan matanya yang guram kepada bekas suami tua itu, ia seperti tak mempunyai harapan tetapi ia masih menantikannya.
"Laotia, apakah kau masih membenci aku?"
Dia tegaskan.
"Tidak!"
Sahut Hoei Liong lekas.
"Aku juga hendak mohon supaya kau jangan membenci aku."
"Aku tidak membenci kau. Sukalah kau terima anakku ini?"
Tanyanya.
"Akan aku pandang dia sebagai cucuku,"
Jawab Hoei Liong. Kioe Nio merasa sangat puas, ia lantas meramkan kedua matanya.
"Dia telah pergi..."
Kata Giok Lo Sat. Hoei Liong berdiam, air matanya mengalir turun.
"Ayah, aku juga hendak bicara!"
Mendadak Peng Teng berkata. Sejak tadi dia diam saja mengawasi pemandangan yang mengharukan itu.
"Ah, kau juga memanggil sama seperti aku?"
Giok Lo Sat tanya.
"Sabar dulu! Kau berikan ketika untuk aku mendugaduga maksudmu... Kau memikir untuk mengangkat ayah kepada ayah angkatku ini?"
"Keponakanku ini adalah cucunya Iootjianpwee. coba kau pikir, apakah tidak pantas jikalau aku panggil ia ayah?"
Tanya Nona Kek. Hoei Liong lantas tertawa berkakakan.
"Aku kematian satu anakku, sekarang aku mendapat tambahan sampai dua!"
Katanya gembira.
"Dan aku pun lantas peroleh cucu! Aku tidak sangka di saat setua ini, penghidupanku berubah menjadi begini rupa!..."
Peng Teng tahu, itulah tanda terkabulnya permintaannya, maka ia lantas jatuhkan diri, akan beri hormat sambil manggut-manggut kepada ayah angkat itu. Dengan girang, Hoei Liong mengangkat bangun.
"Cukup!"
Kata ayah angkat ini.
"Marilah kita kubur soeko dan ensomu itu..."
Dan bertiga mereka lantas bekerja, mengggali lubang di bawah pohon hoay yang hendak dijadikan tempat pekuburan bagi Kongsoen Loei dan Bok Kioe Nio.
Selagi ia menggali tanah, mendadak Giok Lo Sat merandak.
"Ada orang!"
Katanya.
"Apakah benar?"
Tanya Peng Teng heran. Ia tidak dengar suara apa-apa, pun tidak lihat siapa juga. Si Raksasi Kumala tertawa.
"Telah banyak tahun aku menjadi bandit, yang lainnya tidak aku pelajarkan, kecuali ilmu mendekam dan memasang kuping di tanah!"
Katanya.
"Dalam ilmu kepandaian ini. belum pernah aku gagal-seratus tidak satu!"
"Berapa orang yang datang?"
Tanya Hoei Liong. Si nona memasang kuping pula.
"Empat orang, semuanya menunggang kuda,"
Ia jawab.
"Tentulah mereka orang-orang suruhannya ibuku untuk memanggil aku pulang,"
Kata Peng Teng.
"Jangan kau kuatir, adikku."
Giok Lo Sat menghibur.
"Biarlah aku yang mewakilkan kau berurusan dengan mereka itu."
"Tetapi ingat, jangan kau binasakan mereka..."
Giok Lo Sat tertawa.
"Aku tahu."
Sahutnya.
"Apakah kau juga menyangka aku sebagai hantu wanita yang tak segan-segan membunuh orang? Bila di antara mereka tidak ada yang berkongkol dengan bangsa asing untuk menjual negara, dapat aku memberi mereka keampunan dari kematian!"
Tidak lama antaranya terdengarlah kaki-kaki kuda sudah sampai di muka pintu. Maka Hoei Liong dan Giok Lo Sat lantas masuk ke kamarnya Kioe Nio tadi. Segera juga terdengar pintu diketok.
"Kiongtjoe, kiongtjoe! silakan buka pintu!"
Demikian suara memanggil. Memang di dalam keraton, Peng Teng dipanggil "kiongtjoe"
Karena kedudukannya mirip dengan kedudukan "kongtjoe"-puteri.
Peng Teng pergi keluar, untuk membukakan pintu.
Benar saja, yang datang ada empat orang, ke empat-empatnya pengawal pribadi dari ibunya, yang di kepalai oleh Oey Pioe, tjongkoan atau kuasa dari Lengnio hoe.
"Mau apa kamu datang kemari?"
Tanya "puteri"
Ini.
"Kami menerima titah dari Hong Seng Hoedjin untuk mengundang kiongtjoe pulang,"
Sahut Oey Pioe. Peng Teng tertawa dingin, ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak hendak pulang!"
Katanya pasti. Tjongkoan itu menjura.
"Hong Seng Hoedjin senantiasa memikirkan kiongtjoe hingga ia tak napsu dahar,"
Berkata dia.
"maka itu jikalau kiongtjoe tidak pulang, dikuatirkan ia menjadi sakit karenanya."
Peng Teng terharu.
"Kamu datang dari tempat jauh baik kamu beristirahat dulu,"
Katanya.
"Coba kau tuturkan padaku segala apa yang terjadi di keraton selama belakangan ini."
Nona ini memang ingin ketahui hal ikhwal di istana terutama mengenai ibunya.
Lega juga hatinya Oey Pioe.
Ia menyangka si nona tidak lupa pada penghidupan mewah di dalam keraton maka sikapnya dengan lekas menjadi lunak, la lantas ambil tempat duduk.
Ia pun tetawa.
"Kiongtjoe memang seorang yang cerdas,"
Kata dia, mengangkat-angkat.
"Di kolong langit ini, tidak ada anak yang tidak menyayangi orang tua. Maka itu, paling baik untuk kiongtjoe kembali."
Hatinya Peng Teng tergerak juga. Memang, orang mesti ingat orang tua.
"Selama ini pengaruhnya Goei Kongkong jadi semakin besar saja,"
Berkata Oey Pioe pula.
"Beberapa tokboe dari beberapa propinsi telah memintanya dia mengangkat mereka itu sebagai anak-anak pungut, untuk itu mereka menghaturkan bingkisan-bingkisan berharga. Meski demikian, nampaknya kongkong tak begitu suka menerima permohonan tokboe itu... Sekarang ini baik di dalam keraton maupun di istana, semua orang memanggil Kioetjianswee kepada Goei Kongkong. Goei Kongkong juga memikirkan kiongtjoe, karenanya ia memesan supaya kiongtioe diundang pulang."
Coba Oey Pioe tidak menyebut-nyebut Goei Tiong Hian, mungkin hatinya Peng Teng jadi semakin ketarik, tetapi ia telah menyebut si orang kebiri, si penghianat bangsa, nona ini menjadi jemu.
"Kalau aku pulang ke istana dan melihat cara hidupnya ibuku dan dorna itu, hm, lebih baik aku mati di sini!"
Pikirnya.
Oey Pioe lihat orang tidak menjawab ia, hanya mukanya berubah menjadi merah.
Ia tampak nona itu sedang berduka atau tengah bergusar.
Maka ia niat menghiburnya.
Dengan tiba-tiba Peng Teng berbangkit, tangannya digerakkan, mengibas tangan bajunya.
"Tolong kamu sampaikan kepada ibuku supaya ibu baikbaik merawat dirinya,"
Ia kata.
"Sudah pasti tidak ingin aku pulang!"
Oey Pioe bingung, ia lompat bangun.
"Kiongtjoe, kiongtjoe!"
Katanya.
"Bagaimana... bagaimana dapat aku memberi kabar kepada Hong Seng Hoedjin dan Goei Kongkong?"
Ketiga pengawal lainnya pun segera bangun, mereka berdiri demikian rupa hingga Peng Teng seperti terkurung.
Sebelum si nona bertindak apa-apa, dari dalam kamar terdengar suara tertawa dingin, disusul dengan keluarnya Giok Lo Sat bersama Tiat Hoei Liong.
"Apakah kamu hendak menculik orang?"
Tanya si Raksasi Kumala sambil tertawa mengejek.
"Kamu lihat, kakek moyangnya si bandit ada di sini! Bukalah matamu lebih lebar! Untuk menculik, kamu lebih dahulu mesti minta izinku!"
Ke empat pengawal itu terperanjat. Kedua orang ini pernah mengacau istana, semua pengawal atau pahlawan mengetahuinya, mereka menjadi heran melihat orang tahutahu ada di rumah Peng Teng.
"Anak Siang, jangan kau membikin mereka kaget,"
Kata Hoei Liong dengan sabar.
"Tuan-tuan, kamu telah datang dari tempat jauh, silakan duduk dulu, silakan! Kamu tahu, Peng Teng ini adalah anak pungutku, sekarang kamu undang dia, apakah kamu tidak mengundang aku?"
Ia tertawa.
"Anakku ini diundang pulang ke istana, untuk dijadikan puteri, itulah bagus, hanya tolong kau katakan, kalau anakku pergi, kepada siapakah aku mesti senderkan diri? Maka itu jikalau kamu hendak mengundang, undanglah aku sekalian!"
Si Raksasi Kumala tertawa.
"Benar!"
Dia turut bicara.
"Peng Teng adalah adik angkatku, aku dengan dia ada bagaikan saudara kandung saja, tak tega aku berpisah daripadanya, maka jikalau kamu hendak mengundang, kamu harus mengundang aku juga, sebab aku ingin pergi bersama ia! Taman raja indah sekali, gembira untuk pelesiran di sana. Dulu kamu tidak mengundang aku, tetapi aku datang juga ke sana, maka sekarang, apabila kamu mengundangnya dan adik Peng Teng tidak pergi, akan aku pergi juga!"
Oey Pioe kaget.
Sama sekali ia tidak pernah menyangka Peng Teng telah akui kedua orang itu sebagai ayah dan entjie angkat.
Ia berdiam, parasnya pucat dan biru.
Sampai sekian lama, baru ia dapat bicara.
"Jikalau djiwie hendak turut bersama, tunggu saja nanti aku melaporkan dulu kepada Goei Kongkong, supaya kongkong undang kamu..."
Katanya. Si Raksasi Kumala tertawa pula..
"Siapa sudi pedulikan Goei Kongkong kamu itu!"
Katanya.
"Kami adalah rombongan yang pertama,"
Oey Pioe terangkan.
"Menyusul kami ada satu rombongan lain, yang akan menyambut kiongtjoe dengan resmi. Mereka itu adalah orang-orang yang pernah bertempur dengan djiewie, karenanya aku anggap tidaklah leluasa untuk djiewie menemui mereka. Adalah terlebih baik kami saja yang nanti memberikan penjelasan."
Oey Pioe sangat berkuatir, ia takut Hoei Liong dan Giok Lo Sat lantas turun tangan, maka itu sengaja ia menyebut hal rombongan yang kedua itu, guna meredakan suasana.
Giok Lo Sat tertawa pula, dengan dingin.
Oey Pioe awasi si nona, meski begitu, ia kecolongan juga.
Tanpa merasa, tongkatnya, tongkat Liongheng pang, telah disambar si nona, yang tangannya sangat sebat.
"Apakah kamu hendak pakai nama Goei Tiong Hoan untuk gertak kami?"
Tanya si nona secara mengejek.
"Hm! Aku tidak takut!"
Mukanya Oey Pioe menjadi pucat seperti tak ada darahnya.
"Anak Siang, mari serahkan tongkat guna mengemplang anjing itu padaku!"
Hoei Liong minta.
"Inilah bukan tongkat untuk mengemplang anjing!"
Kata Giok Lo Sat sambil tertawa.
"Inilah gegamannya tuan pahlawan istana yang terhormat dan biasanya, dipakai menghajar manusia!"
Tetapi Hoei Liong menyodorkan tangannya, akan mengambil tongkat itu, yang diangsurkan anak angkat itu, dan begitu lekas dia memegang dengan kedua tangannya, tongkat itu patah dengan segera!
"Aku sangat benci terhadap anjing-anjing busuk dari kaum bangsawan!"
Katanya dengan sengit.
"Karena tongkat besi ini bukan untuk mengemplang anjing, apa perlunya untuk disimpan?"
Dan ia lemparkan kedua potong tongkat itu ke lantai.
"Sekarang pergilah kamu!"
Titah Peng Teng kepada Oey Pioe berempat.
"Tak sudi aku pulang ke istana!"
"Apakah kamu tidak hendak lantas pergi?"
Giok Lo Sat tegaskan, melihat orang beragu-ragu.
"Apa kamu hendak tunggu kami ayah dan anak mengantarkan kamu?"
Oey Pioe tidak berani banyak omong pula, tak berani ia ayal-ayalan lebih jauh, setelah memberi hormat pada Kek Peng Teng, ia ajak tiga kawannya berlalu dengan cepat.
Ia insaf, kata-kata lunak dari si Raksasi Kumala adalah ancaman untuk mereka.
Giok Lo Sat dan Hoei Liong saling mengawasi, keduanya tertawa berkakakan.
"Aku kuatir mereka datang menggerecok pula,"
Kata Peng Teng.
"Tak dapat kita berdiam lebih lama pula di sini."
"Baik,"
Sahut Hoei Liong.
"Nah, marilah kita pergi segera!"
Jago tua ini bertindak ke dalam kamar, untuk menggendong bayinya Kioe Nio, yang wajahnya mirip dengan wajah sang ibu.
Anehnya, dalam gendongannya sang engkong, bayi itu anteng sekali, ia tidak nangis.
Tiga orang itu sudah lantas meninggalkan rumahnya Anghoa Koeibo, keesokan harinya tibalah mereka di Sianghoan.
Di sini mereka singgah satu malam, kemudian mereka lanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat.
Dua hari sudah mereka berada dalam perjalanan, sekarang mereka menghadapi jalan pegunungan, di kiri dan kanan mereka terdapat puncak-puncak gunung.
"Itulah Boetong san!"
Kata Tiat Hoei Liong.
"Anak Siang, bukankah ayahmu tak ingin membawa kau ke tempat yang keliru?"
Giok Lo Sat sudah tahu maksud ayah angkat itu membawa ia ke Boetong san, akan tetapi, melihat gunung itu dan mendengar perkataan sang ayah, hatinya memukul juga.
la mengawasi gunung itu, lalu dia berkata.
"Ayah, tidak mau aku mendustai kau. Dengan sebenarnya aku ingin melihat orang itu..."
"Turut katanya Lo Tiat Pie, dia pun memikirkan sangat kepadamu,"
Berkata ayah angkat itu.
"Aku juga mengharap kau nanti dapat mencapai maksud hatimu yang telah lama terkandung itu... Walaupun tak sudi aku melihat beberapa imam tua itu dari Boetong san, tetapi jikalau kau menghendaki aku turut bersama, baiklah, aku suka turut, tidak apa aku nanti tempur pula mereka itu..."
"Bukan maksudku untuk tempur pula imam-imam itu,"
Kata Giok Lo Sat.
"aku hanya ingin melihat To It Hang saja, untuk menanyakan kepadanya, apa sudah pasti dia hendak menjadi kepala dari Boetong pay atau ia masih ingin pergi bersamasama kita. Jikalau dia ingin turut pergi bersama kita, siapa juga tak dapat menghalang-halangi dia. Bukankah orangorangnya Goei Tiong Hian tidak dapat mengundang adik Peng Teng pulang ke istana? Aku percaya, mereka tentu tidak akan menyelesaikan begitu saja. Kita tidak usah jeri terhadap mereka, akan tetapi andaikata di sepanjang jalan mereka gerecoki kita, itulah hal yang tidak diinginkan. Ayah pun sedang membawa-bawa bayi. Maka, ayah, baiklah bersama adik Peng Teng, kau berangkat pulang lebih dulu ke Shoasay. Di Barat utara, pengaruh tentara merdeka ada besar, sesampainya di sana, pasti ayah dapat tinggal dengan senang dan tenteram."
"Jikalau begitu, baiklah, akan kita berangkat lebih dulu,"
Kata sang ayah.
"Hanya, kau harus berhati-hati. Beberapa imam tua itu kukuh terhadap pendapat mereka, aku kuatir mereka tidak sudi membiarkan dia pergi!"
"Aku tahu,"
Kata sang anak.
"Umpama kata pertempuran mesti dilakukan, aku tidak takut terhadap mereka itu!"
"Hanya aku kuatir hati It Hang berubah pula..."
Kata Hoei Liong di dalam hati.
"Untuk memperoleh kepastian, anak ini mesti dibiarkan mendaki gunung, jikalau tidak ia akan selalu berduka!"
"Besok, pagi-pagi aku akan mendaki Boetong san,"
Kata si nona melihat ayahnya diam saja.
"Aku akan pakai caranya kaum Rimba Persilatan untuk menemui ketua mereka."
Ia tertawa seorang diri, lalu ia menambahkan.
"Begitu lekas To It Hang menyerahkan tanggung jawabnya sebagai ketua, kami akan segera berangkat pulang ke Shoasay..."
Selama beberapa bulan itu, siang dan malam, Giok Lo Sat senantiasa pikirkan It Hang, di hatinya, terus ia membaca syair It Hang yang di kirimkan kepadanya.
Ia menduga, kali ini tidak nanti It Hang mensia-siakan padanya.
Maka juga, ia merasa sangat pasti, ia percaya It Hang akan pergi bersama ia.
Hoei Liong tertawa.
"Semoga saja terkabul maksudmu!"
Ia memuji.
Malam itu mereka mondok di dusun di kaki gunung Boetong san, begitu lekas waktu menunjukan jam empat, diam-diam Giok Lo Sat berbangkit, guna merapikan pakaiannya, setelah mana, ia ambil selamat berpisah dari ayahnya dan Peng Teng, seorang diri ia meninggalkan tempat pemondokan untuk mendaki gunung.
Di belakangnya ia menggendol pedangnya.
Hoei Liong mengawasi sampai tubuh anak angkat itu lenyap di tempat yang gelap, baru ia undurkan diri sambil menghela napas.
"Mudah-mudahan dia pergi dan berhasil dengan anganangannya,"
Ia memuji pula.
"jangan seperti San Ho yang malang nasibnya..."
V Hari itu adalah peringatan tahun ke lima dari wafatnya Tjie Yang Tiangloo sebagai ketua dari Boetong pay, maka di atas gunung, orang telah repot bersedia-sedia.
Sejak wafatnya ketua itu, Boetong pay nampak turun pamornya, maka itu Oey Yap Toodjin mengandal sangat kepada It Hang sebagai ketua yang baru.
Karenanya, dengan segala upaya ia telah menyambut It Hang pulang ke gunung, Sebaliknya It Hang sendiri, selama satu tahun lebih, telah lenyap kegembiraannya, tawar hatinya, hingga ia nampaknya seperti si tolol.
Ia bersusah hati melihat tingkah lakunya beberapa paman guru itu, yang selalu hendak berkuasa atas dirinya, hingga ia pun tidak memperhatikan partainya itu.
Akhirnya, ia serahkan segala apa kepada semua paman guru itu.
Dari itu, namanya saja ia menjadi ketua, kenyataannya Oey Yap yang mewakilkan ia bertanggung jawab.
Empat tiangloo dari Boetong pay serta empat murid kepala mereka (yaitu murid-murid kepala dari empat tiangloo itu), semua hatinya masgul melihat sikapnya It Hang itu.
Demikian, pada suatu hari ketika Oey Yap Toodjin pergi keluar dari kuil, untuk pergi memeriksa kuburan Tjie Yang Tootiang, di sana ia dapatkan Pek Sek Toodjin sedang duduk seorang diri di depan kuburan sambil menarik napas perlahanlahan.
"Ah, soetee, kau pun datang kemari?"
Tegur soeheng itu.
"Berhubung dengan hari peringatan ke lima dari toasoeheng, satu malam tak dapat aku tidur benar,"
Pek Sek menjawab kakak seperguruannya. (Toasoehengkakak seperguruan yang tertua).
"Karena itu, aku datang kemari. Aku ingat selama toasoeheng masih ada, partai kita makmur sekali, kita jaya dan berpengaruh hingga di dalam kalangan kangouw, tidak ada yang tidak menghormatinya. Siapa nyana, sekarang keadaan menjadi berubah, sampaipun Giok Lo Sat, itu siluman perempuan, berani menghina kita... Kalau toasoeheng, yang berada di dunia baka ketahui ini, pasti dia sangat berduka..."
Oey Yap menghela napas.
"Masih ada satu urusan kecil yang Giok Lo Sat menyatrukan partai kita,"
Berkata dia.
"Yang paling menyedihkan adalah Boetong pay tidak mempunyai pengganti ketua yang diharap..."
Pek Sek menghela napas pula. Benar katanya soeheng ini. Mereka berduka untuk sikapnya It Hang. Pek Sek gunakan ujung tangan bajunya mengebuti batu nisan.
"Toasoeheng sangat mengharapkan It Hang, aku tidak sangka sekarang It Hang jadi seperti runtuh..."
Katanya.
"Sama sekali It Hang tidak bersifat sebagai tjiangboendjin kami..."
Imam ini tidak tahu bahwa sikap kukuh dan keras dari mereka adalah yang menyebabkan It Hang, itu ketua atau ahli waris dari partai mereka, menjadi runtuh semangatnya.
"Dahulu It Hang rapat sekali pergaulannya dengan kau, soetee,"
Tanya Oey Yap.
"Apakah pernah ia bicara, dari hati ke hati kepadamu?"
Pek Sek menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sejak kembali dari Benggoat kiap, ia malah selalu menyingkir dari aku untuk bicara seperti dulu-dulu,"
Jawabnya.
"Bukankah dia telah gilai itu wanita siluman?"
Tanya Oey Yap.
"Menurut penglihatanku, itulah gara-garanya,"
Sahut Pek Sek.
"Hm, perempuan siluman itu sangat tidak tahu diri! Dia memikir untuk menikah dengan ketua kita! Kita toh ada partai yang lurus? Jangan dia harap!"
"Meski begitu, It Hang tetap tidak bisa melupai dia, hingga It Hang tidak ingin menjadi ketua kita, bukankah itu ada hal yang tidak baik untuk kita?"
"Jikalau dia tetap dengan sikapnya ini,"
Kata Pek Sek.
"dengan menggunakan hari peringatan toasoeheng ini, apa tidak baik kita himpunkan semua anggauta kita untuk dengan permufakatan kita pecat saja It Hang sebagai ketua? Habis itu kita segera usahakan supaya ia dapatkan jodohnya, supaya kegembiraannya kembali seperti biasa, kemudian barulah kita angkat pula padanya. Kita toh dapat mencarikan jodoh yang setimpal untuknya?"
"Dia diangkat menjadi ketua atas petunjuknya toasoeheng, tidak baik jikalau kita pecat dia, walaupun kita mengandung maksud baik terhadapnya,"
Oey Yap menyatakan pikirannya.
"Tetapi partai kita sedang menurun pamornya, maka kita harus perbaiki diri,"
Pek Sek mendesak. Oey Yap berdiam, hatinya bekerja.
"Di luar terlihat It Hang lenyap kegembiraannya,"
Katanya kemudian.
"akan tetapi di dalam, sebagaimana yang aku saksikan, ia peroleh kemajuan. Aku maksudkan ilmu silatnya. Apakah kau tidak tampak itu, soetee?"
Pek Sek Toodjin menggelengkan kepala.
"Aku tidak perhatikan dia sampai di situ,"
Sahut soetee ini.
Memang, sejak gadisnya menikah dengan Lie Sin Sie, terhadap It Hang, Pek Sek jengah sendirinya, hingga ia tidak memperhatikannya seperti sediakala, dengan sendirinya, ia pun tidak tahu suatu apa mengenai ilmu silatnya ketua muda itu.
"Aku lihat sinar matanya yang beda dan tindakan kakinya yang mantap,"
Oey Yap beritahu.
"Sekarang ia berlainan daripada dahulu. Setahu kenapa, dia telah peroleh kemajuan demikian rupa. Maka soal memecat dia baiklah ditunda dahulu. Di tingkat kedua dalam kalangan kita tidak terdapat orang yang cocok untuk menggantikan dia..."
Selagi bicara, Oey Yap memandang ke bawah gunung.
"Ah!"
Serunya, tanpa disengaja.
"Lihat di sana!"
Soeheng itu menunjuk, maka Pek Sek memandang ke arah yang ditunjuk itu. Ia tampak suatu bayangan putih seperti orang berlari-lari mendatangi dengan cepat sekSuT "Siapa dia itu?"
Tanya adik seperguruan ini.
Bayangan putih itu datang semakin dekat tapi dia masih belum tampak tegas.
Itulah disebabkan larinya yang sangat cepat.
Adalah sesaat kemudian mendadak Pek Sek lompat bangun, untuk hunus pedangnya, dan segera lari ke arah bayangan itu, yang masih terus lari mendatangi.
Hingga, di lain saat keduanya telah datang dekat satu sama lain.
Menyusul itu pun terdengar tertawa nyaring dan empuk dari bayangan putih itu.
"Pek Sek Toodjin, aku datang bukan untuk cari kau, maka itu tidak berani aku mengharap untuk kau menyambut aku?"
Begitu suara orang itu menyusuli tertawanya. Pek Sek Toodjin menjadi terkejut berbareng mendongkol.
"Giok Lo Sat, kau berani mendaki gunung dengan membawa pedang?"
Dia menegur dengan bengis, seraya menggerakan pedangnya dengan cepat sekali ke arah tetamunya yang tidak diundang itu.
Itulah gerakan "Tiangtjoa tjoettong" --"Ular panjang keluar dari liangnya".
Giok Lo Sat mencelat ke samping.
"Hari ini aku datang bukan untuk bertempur!"
Kata si nona.
"Kau hendak membagi jalan atau tidak padaku?"
Pek Sek kertak gigi, ia ulangi tikamannya, malah terus sampai dua kali.
karena si nona kembali berkelit.
Ia menyerang dengan "Lianhoan Toatbeng kiam", -"Beruntun merampas jiwa", maka itu, serangannya jadi saling susul, yang satu digantikan yang lain, semuanya dalam cara yang membahayakan pihak lawan.
Giok Lo Sat menjadi gusar.
Ia berkelit tak hentinya.
"Apakah benar kau tidak mau mundur atau maju?"
Ia membentak. Kali ini ia mundur untuk segera hunus pedangnya, yang ia terus putar, seperti hendak mengurung kepalanya imam itu, dan akhirnya ia berikan tusukannya yang dahsyat.
"Trang!"
Demikian suara pedang beradu, hingga pedang nona ini terpental.
Segera ia tampak Oey Yap Toodjin, yang datang memisah.
Tenaga dalam dari Oey Yap ada di atas semua adik seperguruannya, akan tetapi dia tidak berhasil secara memuaskan ketika pedangnya bentrok dengan pedang si nona, karena pedangnya sendiri turut mental juga, hingga hatinya menjadi gentar sendirinya.
"Oey Yap Toodjin!"
Bentak Giok Lo Sat.
"kau ada ketua dari semua tiangloo dari Boetong pay, apakah kau juga mempunyai pandangan yang sama seperti Pek Sek Toodjin?"
"Kau letakkan dulu pedangmu,"
Sahut Oey Yap.
"Boetong san, kita melarang orang mendaki dengan membawa pedang."
"Ngaco!"
Bentak pula si nona.
"Orang-orang sebangsa kamu berani membawa tingkah polah?"
Dengan tiba-tiba nona ini menyerang dengan pedangnya.
Oey Yap Toodjin tutup tubuhnya, untuk menghalau pedang nona itu, tetapi gerakannya Giok Lo Sat aneh, kelihatannya dia bergerak dari atas ke bawah atau menyerang dada, tetapi tahu-tahu, ujung pedangnya menyambar ke lutut!
Oey Yap Toodjin terkejut, ia enjot tubuhnya, akan berkelit mencelat, pedangnya dipakai membabat.
Berbareng dengan itu, Pek Sek Toodjin pun maju menyerang dari samping.
Secara begitu barulah penuh serangannya si nona.
"Benar-benar liehay ilmu pedangnya perempuan siluman ini!"
Pikir Oey Yap.
"Pantas dia menjadi begini bertingkah!"
Ia lantas kumpulkan tenaga dalamnya, setiap serangan yang datang, dibuatnya seperti tertolak hebat.
"Bagus!"
Seru Giok Lo Sat, apabila ia telah mencoba berulangkah.
"Di dalam Boetong pay, kaulah ahlinya yang nomor satu, kau jauh terlebih kuat daripada beberapa adik seperguruanmu!"
Oey Yap tidak gubris pujian itu, karena mendadak pedangnya jadi sangat enteng, ia seperti telah menikam tempat kosong.
Karena entengnya bagaikan sehelai kertas, tubuhnya si nona melayang menyingkir dari arah pedangnya itu.
"Mau apa kau datang kemari?"
Tanya imam ini. Dengan tenaga dalamnya itu ia tidak bisa berbuat suatu apa, sebab si nona tidak hendak melayaninya dengan kekerasan. Dengan enteng sekali Giok Lo Sat lompat ke samping, sambil tertawa.
"Ah, sekarang kau tentu tidak menginginkan aku melemparkan pedangku?"
Kata ia separuh mengejek.
"Hari ini aku datang untuk mengunjungi ketua kamu kaum Boetong pay! Kamu tahu aturan kaum Rimba Persilatan atau tidak?"
Adalah aturan dalam kalangan Rimba Persilatan, kalau seorang berkunjung kepada ketua dari suatu partai, tidak peduli pengunjung itu sahabat atau musuh, dia harus diantar menemui ketua yang dikunjungi itu, sesudah pertemuan itu barulah mereka dapat bicara.
Tapi kali ini adalah lain.
Oey Yap dan Pek Sek adalah paman-paman guru dari To It Hang, mereka kenal si Raksasi Kumala sebagai musuh partai mereka, mereka sendiri merasa partainya terlalu agung, maka itu menghadapi si nona, tak suka mereka pakai aturan kaum Rimba Persilatan itu.
"Kau perempuan siluman, kau ingin bertemu dengan ketua kami?"
Teriak Pek Sek.
"Kami kaum Boetong pay, biasanya kami tidak bergaul dengan kaum sesat!"
Oey Yap pun membentak.
"Lekas kau pergi dari gunung ini, aku suka memberi ampun kepada selembar jiwamu!"
Giok Lo Sat menjadi murka.
"Hm!"
Dia balas menghina.
"Belum lagi aku membuat perhitungan dengan kamu, kenapa kamu sudah ngaco belo begini?"
Kata-kata ini ditutup dengan serangan, yang membuat kedua saudara seperguruan menjadi bingung. Serangan itu seperti ditujukan kepada Pek Sek tetapi juga seperti kepada Oey Yap.
"Soeheng, hari ini tak dapat siluman perempuan int dibiarkan lolos!"
Seru Pek Sek karena sengitnya.
Oey Yap tidak menyahuti soetee itu, sebaliknya, ia perdengarkan siulannya.
Itulah tanda memanggil saudarasaudara seperguruannya.
Setelah itu, sambil memutar pedangnya, ia maju, agaknya ia hendak kurung si nona.
Giok Lo Sat mencoba menangkis imam ini, sampai beberapa kali, atas mana, kembali imam itu perdengarkan siulannya.
"Aku tidak takut terhadap kedua imam tua berhidung kerbau ini, akan tetapi kalau aku membiarkan diriku dikurung, itulah tidak bagus,"
Berpikir si Raksasi Kumala.
"Kalau It Hang datang kemari, apakah dia tidak akan mendapat malu?..."
Justeru itu, Oey Yap mendesak dengan serangannya yang hebat.
Giok Lo Sat tampak datangnya pedang, dari atas ke bawah, ia menduga kepada satu tenaga yang besar.
Ia tidak mau menangkis serangan itu, tapi ia berkelit sambil mendekam.
Sama sekali ia tidak mundur, sebaliknya, ia geser sebelah kakinya untuk mendesak maju, menyusul mana, ia balas menyerang, terhadap Pek Sek Toodjin, yang pun mencoba mendesak padanya.
Imam itu terkejut, ia egoskan tubuhnya ke samping.
Si nona berseru keras ketika imam itu mengelakan diri dari tikamannya.
Ia tidak sia-siakan lagi ketika yang baik ini.
Selagi Pek Sek berkelit, ia barengi lompat melewati imam itu, setelah mana, ia putar haluan, ia lari ke arah yang rendah.
"Dia sangat gesit, jangan kita kejar,"
Berkata Oey Yap.
"Kita lihat saja, ke arah mana dia hendak pergi. Mungkin dia hendak mendaki gunung untuk pergi ke kuil kita. Mari kita kumpulkan semua orang kita, untuk memasang jaring bumi dan jala langit, Aku percaya, tidak peduli dia bagaimana liehay, tidak nanti dia dapat lolos lagi..."
Pek Sek benarkan soeheng itu.
"Jikalau kali ini dia dapat lolos, benar-benar kami kaum Boetong pay tak bisa lagi memegang pimpinan atas kaum Rimba Persilatan!"
Kata dia.
Pek Sek mendahului lari ke arah kuilnya, sambil lari ia perdengarkan suaranya yang nyaring, guna mengumpulkan semua murid Boetong pay.
Pegunungan Boetong pay mempunyai banyak puncak, yang bersusun, yang satu lebih tinggi daripada yang lain.
Dari kuburan Tjie Yang Tiangloo orang dapat memandang ke kuil, tapi sebenarnya, keletakannya ada cukup jauh.
Ketika Giok Lo Sat yang cerdik dapat melewati dua puncak segera ia dengar bunyinya genta....suaranya berbareng, nyaring dan riuh sekali.
Ia tahu bahwa orang sedang memanggil dan mengumpulkan kawan, segera pula ia tampak dua orang berlari-lari mendatangi.
Bila ia dapat mencapai satu puncak lagi, sampailah ia di pendopo.
"Sulit juga..."
Akhirnya ia mengeluh dalam hati.
"Secara begini, mana bisa aku menemui It Hang seorang diri, untuk bicara dengan leluasa dengannya?"
Tapi ia masih lari terus, sampai mendekati dua orang yang sedang berlari-lari ke arahnya, hingga ia tampak tegas mereka adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, keduanya berpakaian tidak sebagai imam.
Akhirnya, ia kenali gadis itu dan baba mantu Pek Sek Toodjin, ialah Gok Hoa dan Lie Sin Sie.
Dua anak muda itu diajak Pek Sek Toodjin ke Boetong san untuk meyakinkan lebih jauh ilmu pedang mereka, maka itu keduanya hampir setiap pagi pergi keluar kuil untuk berlatih bersama-sama.
Giok Lo Sat lari ke arah suami isteri itu, setelah datang mendekat, ia lompat kepada Ho Gok Hoa, guna menepuk pundaknya tanpa nona itu sanggup berkelit, walaupun dia kaget sekali.
"Eh, kau?"
Serunya.
"Aku dengar tanda dari Oey Yap Soepeh dan genta berbunyi riuh, aku sangka ada musuh..."
"Ah, kamu berdua hidup berbahagia sekali!"
Kata Giok Lo Sat tersenyum.
"Eh, ya, di mana adanya To It Hang! Ingin aku bertemu dengan dia!"
Gok Hoa ini tidak membenci Giok Lo Sat, juga ia tidak terlalu menyukainya.
Ia tahu dahulu ayahnya mencoba supaya ia berjodoh dengan It Hang tapi buktinya jodoh itu tidak berwujud, kalau tidak, entah bagaimana jadinya, sebab nyatanya, It Hang dan Giok Lo Sat mempunyai perhubungan istimewa.
Sekarang ia lihat datangnya nona ini.
ia jadi berpikir.
"Aku pernah digaduh asmara, memang celaka kalau seorang tak dapat nikah dengan pemuda yang disukainya."
Demikian pikirnya.
"Heran sikapnya ayah, mengapa ia mencegah soeheng bergaul dengan nona ini?"
Karena ini, tiba-tiba timbullah simpatinya kepada Giok Lo Sat.
"It Hang ada di panggung Tjiolian tay."
Sahutnya.
"Sudah belasan hari dia pergi ke panggung itu di mana ia setiap pagi berlatih pedang."
"Di mana letaknya panggung itu?"
Tanya Giok Lo Sat.
"Di sebelah kiri sana."
Sahut Gok Moa sambil menunjuk.
"Di sana ada sebuah puncak mirip dengan bunga teratai, juga terdapat air terjun, kalau kau melihat air terjun itu, kau menuju ke samping kirinya, di sana, di samping air terjun itu. ada sebuah batu besar. Itulah batu yang dinamakan panggung Tjiolian tay."
"Terima kasih!"
Kata Giok Lo Sat.
yang terus lari ke arah yang ditunjuk itu.
Sama sekali ia tidak pedulikan lagi Gok Hoa.
terutama Sin Sie.
yang terus tidak campur bicara.
Ketika itu cuaca sudah terang, sinar matahari telah muncul di arah timur.
Burung-burung berterbangan dan berkicau.
Sambil berlari-lari dengan pesat.
Giok Lo Sat berpikir.
"Aku mesti mendahulukan semua imam di sini. aku mesti bertemu dengan To It Hang sebelum mereka pergoki kita berdua."
Ia lantas dengar suaranya Pek Sek Toodjin yang memanggil-manggil nama anak perempuannya.
Suara itu disusul dengan suara yang lain-lain.
rupanya orang telah memanggil satu pada lain.
la tidak perdulikan semua itu, terus ia lari dengan keras, sampai ia lihat air terjun di sebuah puncak yang mirip bunga teratai.
Air terjun itu perdengarkan suara berisik, pemandangan di situ menarik hati, akan tetapi Giok Lo Sat tak sempat menikmati itu, masih ia lari terus, ke arah kiri.
hingga pada suatu saat terdengarlah suara air terjun bersama-sama dengan suara nyanyian syair.
"Itulah tentu suarasi tolol!"
Pikir ia, yang jadi bersemangat, hingga ia lari lebih keras pula.
Benar-benar, itulah suaranya It Hang.
Sejak dipaksa pulang ke gunung.
It Hang terbenam dalam kemasgulan.
la tidak mempunyai kekerasan hati untuk melakukan perlawanan, terutama ia berat dengan pesan gurunya, yang menunjuk ia sebagai ahli waris Boetong pay.
Maka setiap hari ia tak pernah mendapat kegembiraan seperti dahulu sebelum ia dikekang Pek Sek Toodjin.
Untung baginya, Tjie Yang Tiangloo telah memberikan ia kitab ilmu pedang, ia isi hari-hari yang luang itu dengan membaca kitab itu, hingga ia dapatkan beberapa jurus ilmu pedang yang ia anggap luar biasa.
Belum pernah ia peroleh ajaran jurus-jurus itu.
Kalau jurus-jurus lain ada permulaan dan akhirnya, tetapi ini terputus-putus, tidak bersambung.
Karenanya sulit untuk melatih dengan teratur.
Pernah ia minta keterangan dari beberapa soesioknya, mereka itu juga tidak mengerti, tetapi mereka tahu, itulah jurus-jurus dari ilmu pedang Tat Mo Kiam, yang semuanya berjumlah seratus delapan jurus.
Pai Mo Kiam adalah ilmu silat pedang yang menjadi "penjaga gunung"
Dari Boetong pay, akan tetapi sejak pertengahan kerajaan Goan, ilmu silat itu telah hilang tidak keruan, hingga adalah pesan tetua Boetong pay untuk murid mereka, generasi ketemu generasi, untuk mencoba mencari kehilangan itu.
Syukur, walaupun kitabnya telah hilang, tetapi ilmu silatnya sendiri tidak, masih ada beberapa jurus yang dapat diingat.
Begitulah, dalam kitab Tjie Yang Tiangloo ini masih kedapatan beberapa catatan itu.
Di masa hidupnya, pernah sang guru membicarakan hal ilmu pedang itu kepada muridnya tetapi sang murid --It Hang --kurang memperhatikan.
Sampai sekarang, setelah meyakinkan kitab wasiat itu, ia ketemui pula jurus-jurus yang terputus-putus itu.
Setelah dapat keterangan dari beberapa paman guru itu, It Hang berpikir.
"Katanya semua jurus itu tak berhubungan satu pada lain, jadi semua jurus tidak dapat diajarkan, hanya diajarkan sebagai contoh saja, supaya kita ketahui sedikitsedikit, untuk digunakan mencari kitabnya nanti. Katanya juga tidak ada faedahnya mempelajari jurus-jurus ini. Tapi, kalau ilmu adalah ilmu sejati, mestinya setiap jurus mempunyai arti sendiri-sendiri. Mustahil setiap jurus itu tak dapat digunakan sama sekali? Kenapa harus ada hubungan saja? Kenapa aku harus membeo kepada mereka yang terdahulu dan turutturutan tidak mempedu 1 ikannya?"
Karena ia berpikir demikian, It Hang tidak mencontoh leluhur partainya itu.
Dengan diam-diam seorang diri.
ia melatih diri dengan jurus-jurus yang katanya tak bersangkut paut satu dengan lain itu.
Tempat berlatihnya itu adalah panggung Tjiolian tay.
Ia berlatih dengan tentu dan sungguhsungguh.
Ia pun tidak menginsyafi pentingnya jurus-jurus itu, akan tetapi, di luar tahunya, ia telah peroleh kemajuan, sebagaimana Oey Yap --tanpa paman guru ini mengerti --melihat sinar matanya dan tindak kaki yang beda dari biasanya.
Hari itu, seperti biasa, It Hang pergi pagi-pagi.
Seperti biasa juga, sehabis berlatih, bukan saja ia tidak merasa lelah, sebaliknya, ia merasa segar sekali, darahnya seperti berjalan dengan sempurna, wajahnya menjadi terang.
Baru tadi malam ia ingat Giok Lo Sat dan memikirkan nona itu, sampai jauh malam.
Ia anggap tentulah ia kurang semangat atau ia akan jadi sangat lelah, tetapi kesudahannya, ia tetap segar, hingga ia girang sekali.
"Inilah tentu hasil latihan jurus-jurus yang luar biasa itu!"
Ia menduga-duga.
Maka ia berlatih dengan lebih sungguhsungguh, hingga ia tidak pedulikan tanda-tanda panggilan dari paman gurunya, walaupun samar-samar ia dengar suara mereka dan suara genta.
Di waktu bergembira itu, seorang diri ia perdengarkan nyanyian syairnya.
Itulah suara yang didengar Giok Lo Sat, hingga si nona jadi terlebih gampang mencari padanya.
Tengah pemuda ini melamun, mendadak ia rasakan ada orang menekan jidatnya, hingga ia terkejut dan lompat mundur karenanya, tetapi ia terkejut karena sangat gembira.
Sebab di hadapannya sekarang berdiri Giok Lo Sat, yang ia pikirkan siang dan malam!
Karena girangnya itu, ia jadi berdiri menjublak, mendelong mengawasi nona itu!
"Apakah kau baik?"
Tanya si nona.
Cuma sebegitu pertanyaannya, lalu dia berdiam, hanya matanya yang mengawasi.
Keduanya berdiam saja.
Banyak kata-kata yang mereka masing-masing hendak ucapkan tetapi tidak bisa.
tak tahu mereka bagaimana harus memulainya.
Yang dipanggil Tjiolian tay itu adalah sebuah batu besar luar biasa yang mengkilap bagaikan kaca, di atasnya dapat berdiri seratus orang atau lebih.
Giok Lo Sat tunduk, ia mengawasi batu itu, sampai matanya bentrok dengan syairnya It Hang.
yang diukir dengan ujung pedangnya.
Diam-diam ia membaca.
Itulah "Kenangkenangan kepada Kanglam".
Begini bunyinya.
Malam musim rontok sunyi...
Sendirian aku duduk hadapi lampu kelap-kelip...
Aku menangis, aku tertawa, siapakah yang tahu?
Duduk...
Berdiri..
Senantiasa aku mimpikan dikau!
Apakah dapat menghibur aku?
Angin meniup hujan.
Hujan menggulung hatiku, Sampai ingin aku ikuti angin dan hujan pergi.
Pergi ke laut besar yang luas.
Biar terapung atau tenggelam...
Tak berduka, tak berjemu...
Meneteslah air matanya si nona.
"Kaukah yang menulis ini?"
Tanyanya perlahan.
"Kemarin malam aku dengar hujan, tak dapat aku tidur, maka aku bangun, aku menulis ini secara sembarangan..."
Sahut si anak muda.
"Jangan kau tertawai aku..."
Nona itu menghela napas.
"Untuk apa menulis itu?"
Katanya, berduka.
"Untuk kau cukup asal kau kuatkan hati! Mengapa, harus berduka sampai demikian?"
"Ya, entjie Lian, aku yang salah..."
Kata It Hang. Giok Lo Sat angkat kepalanya, ia singkap rambut di dahinya. Matanya bersinar dengan tiba-tiba. Maka dengan tiba-tiba juga, ia tersenyum.
"Sudah, jangan sebut-sebut apa yang telah lampau,"
Katanya, dengan perlahan.
"Aku telah mengambil keputusan,"
Kata It Hang.
"selanjutnya hendak aku ikut entjie merantau."
"Benarkah itu?"
Giok Lo Sat tegaskan.
Kembali terdengar suara genta, yang terbawa angin.
It Hang pasang kupingnya.
Suara genta itu mengaung, berkumandang di dalam lembah.
Lalu suara genta itu disusul dengan suara panggilan yang kurang jelas kepada namanya.
"Telah aku bertemu dengan dua paman gurumu,"
Si nona beri tahu. Ia tidak menanti jawaban lagi.
"Yang mana itu?"
It Hang tanya.
"Oey Yap dan Pek Sek Toodjin."
It Hang kerutkan alisnya.
"Apa yang kau bicarakan dengan mereka itu?"
Tanyanya "Aku kata bahwa aku ingin bertemu dengan kau. Mereka tidak memberikan perkenan mereka. Tapi akhirnya kita bertemu juga."
Tanpa merasa, mereka berjabatan tangan, dan menyekal dengan keras. It Hang rasai tangan si nona panas.
"Entjie, selama ini kau pun bersengsara,"
Katanya.
"Aku... aku..."
"Ya, kedua paman gurumu itu pandang aku sebagai musuh besar..."
It Hang tertawa meringis.
"Begitu sikap mereka. Aku tidak berdaya..."
Lagi-lagi terdengar suara genta nyaring. Sekarang suara itu disusul dengan suara orang, yang rupanya telah datang semakin dekat. It Hang berjingkrak.
"Itulah paman guruku yang telah mengumpulkan orang, untuk menghadapi kau!"
Katanya. Mendadak saja, si Raksasi Kumala membuka matanya lebar-lebar, semangatnya terbangun.
"Habis, bagaimana dengan kau?"
Dia tanya.
"Kau hendak bantu paman gurumu itu menangkap aku atau...?"
Bergetar tangannya ketika ia menantikan jawaban. Ia tidak dapat bicara terus.
"Pasti aku tidak memusuhi kau!"
Jawab It Hang.
"Cuma begitu saja?"
Si nona tegaskan.
"Aku telah mengambil keputusan untuk tidak menjadi ketua kaumku,"
It Hang jawab pula.
"Cuma begitu saja?"
Si nona menegaskan lagi.
"Hari ini adalah hari ulang tahun ke lima dari wafatnya guruku."
Kata It Hang, bila sebentar paman-paman guruku sampai, hendak aku beritahukan mereka tentang keputusanku ini, lalu habis upacara sembahyang, bersama kau aku nanti turun gunung.
Sejak itu, apa juga akan terjadi, kita berdua tidak akan berpisah pula!"
Giok Lo Sat bernapas lega, tapi ia jengah, hingga, wajahnya menjadi merah.
"Jikalau demikian putusanmu, aku tidak takuti apa juga!"
Katanya.
"Hanya..."
It Hang tambahkan.
"Hanya apa?"
Si nona menegaskan.
"Hanya, kau tahu sendiri tabiatnya beberapa paman guruku itu,"
It Hang terangkan.
"Maka kalau sebentar kau bertemu dengan mereka dan mereka menggunakan kekerasan, aku minta kau sudi pandang aku, jangan kau lawan mereka dengan kekerasan, sukalah kau mengalah sedikit..."
"Apakah kau inginkan aku memohon maaf dari mereka?"
Tanya Giok Lo Sat.
"Ah, perkara minta maaf, itu jangan dibicarakan,"
Jawab It Hang.
"Biarkan aku saja yang bicara. Umpama kata mereka lantas mendamprat kau, jangan kau lantas naik darah..."
Tak lama kemudian, tampaklah beberapa orang asyik mendatangi.
Mereka jalan di lembah, mereka naik sambil berpegangan pada oyot rotan.
Ketika mereka tampak Giok Lo Sat berdiri berendeng dengan It Hang, semuanya terkejut.
It Hang telah ambil ketetapannya, maka, itu, wajahnya tidak berubah.
Ia tetap berdiri berendeng dengan Giok Lo Sat, tangannya berpegangan dengan keras.
Si nona sendiri, sambil mengangkat dadanya melengos terhadap rombongan imam itu.
ia agaknya sungkan melihatnya.
Di dalam dadanya ia merasakan kegembiraan, dalam dunia itu seolah cuma ada dia berdua It Hang saja!
Pek Sek Toodjin dan An In adalah yang maju di muka, wajah mereka padam, suatu tanda kemarahan mereka telah sampai di puncaknya.
Begitu lekas mereka sampai di bawah panggung, mereka perdengarkan suara yang keras dan keren.
"It Hang! It Hang!"
"Ya, soesiok..."
Sahut keponakan murid itu. Ia telah jadi ketua tetapi, di dalam keadaan seperti itu ia masih hormati sekalian paman gurunya.
"Kau adalah tjiangboendjin, genta dari kuil telah berbunyi, apakah kau tidak dengar itu?"
Tanya Pek Sek, dalam sikap menegur, karena suaranya keras sekali. It Hang berlaku sabar.
"Musuh siapakah yang telah datang, soesiok?"
Tanya dia, berpura-pura.
"Hm, kau tidak malu?"
Balas paman guru itu.
"Kau sudah tahu, tetapi kau mengajukan pertanyaan! Perempuan siluman ini adalah musuh umum kaum kita, tetapi kenapa kau bergaul rapat dengannya?"
"Ia ini bukannya musuh kita, soesiok..."
Kata It Hang.
"Ngaco!"
Bentak Pek Sek.
"Berulang kali dia menyatrukan kita kaum Boetong pay, bagaimana kau bilang dia bukan musuh kita? Kau adalah tjiangboendjin, apakah kau tak malu berbicara demikian di muka sesama kaum kita? Lekas kau bekuk dia!"
"Soesiok, hendak aku bicara!"
Kata keponakan murid itu. Selama itu, si Raksasi Kumala diam saja, dia cuma bawa sikap jumawa.
"Apa yang kau hendak katakan pula?"
Tanya Pek Sek.
"Apakah kau hendak meninggalkan kaum kita karena kau ingin mengikuti perempuan siluman ini? Kau hendak ikuti dia ke mana dia pergi? Lekas kau ambil putusanmu! Kau tak dapat berkata apa-apa lagi'"
Oey Yap Toodjin maju ke depan, tindakannya perlahan.
"Soetee, berikan dia ketika untuk bicara,"
Kata dia kepada adik seperguruannya.
"It Hang, kau hapus dapat memikir dengan pasti. Nah, kau bicaralah! Apakah keinginanmu?"
"Tipis kebijaksanaan teetjoe, tak ada kepandaianku,"
Berkata It Hang.
"maka itu menyesal teetjoe menjadi ketua partai kita-karena teetjoe tidak sanggup memegang kendali, karena ini teetjoe mohon soesiok beramai suka memilih lain murid yang bijaksana dan pandai untuk menggantikan teetjoe. teetjoe sendiri ingin undurkan diri."
Pek Sek gusar mendengar itu.
"Kau jadi tjiangboendjin atau tidak, itulah satu urusan lain!"
Katanya dengan sengit.
"Tapi perempuan siluman ini adalah musuh umum kita, kau bergaul rapat dengannya, itu tidak selayaknya!"
"Soesiok, tiap-tiap orang mempunyai cita-citanya sendiri,"
Kata It Hang dengan perlahan.
"maka itu ingin aku selanjutnya, mengutamakan saja ilmu pedang. Jikalau kelak teetjoe peroleh kemajuan, dengan itu bisa jugalah teetjoe membalas budi soehoe."
Pek Sek tetap murka.
"Apakah kau hendak meyakinkan ilmu pedang bersama-sama dia?"
Tanyanya sengit.
"Soesiok, biar bagaimana aku perlu satu orang yang akan menjadi petunjuk untukku,"
Sahut sang keponakan murid. Kemurkaannya paman guru itu tak terhingga.
"Ilmu silat Boetong pay adalah pokok dari ilmu silat di kolong langit ini!"
Serunya.
"Dan kau masih hendak pelajarkan pula ilmu silat sesat dari kalangan luar!"
Oey Yap yang sabar pun menjadi tidak senang.
"It Hang, kau hendak mendengar kata-katanya paman gurumu atau tidak?"
Dia membentak.
"Lekas lepaskan tanganmu!"
Mendengar bentakan itu, It Hang kendorkan cekalannya.
"Niatku meyakinkan lebih jauh ilmu silat pedang tak dapat diubah lagi,"
Katanya.
Dengan berbareng Oey Yap Toodjin, Pek Sek Toodjin, Ang In Toodjin dan Tjeng So Toodjin lompat naik ke atas batu yang merupakan panggung lebar itu, dan Pek Sek perdengarkan tertawanya mengejek.
"Meyakinkan ilmu pedang, pedang, pedang!"
Serunya, menghina, karena sengitnya.
"Paling dahulu Boetong pay larang orang mendakinya dengan membawa-bawa pedang!"
"It Hang, apakah kau sudah pasti dengan putusanmu?"
Oey Yap masih tegaskan. It Hang tidak menyahuti, hanya dengan perlahan ia mengangguk.
"Kau berdiri di pinggiran!"
Bentak Oey Yap.
"Selama kau belum memberitahukan niatmu kepada roh gurumu, kau masih tetap murid dari Boetong pay merangkap ketuanya!"
Ia peringatkan. It Hang menurut, ia bertindak ke samping. Oey Yap lantas menghadap Giok Lo Sat.
"Di kolong langit ini ada banyak pria, mengapa kau justeru melibat dia ini?"
Dia tanya nona itu.
Si Raksasi Kumala murka tak kepalang.
Bila tidak dalam keadaan demikian, pasti ia sudah tikamkan pedangnya ke dadanya Oey Yap, akan tetapi sekarang, masih ia dapat atasi dirinya sendiri.
Begitulah ia tertawa dingin.
"Di kolong langit ini ada banyak perkara yang terlebih penting, mengapa kau tidak pergi mengurusnya?"
Dia balik menanya.
"Kenapa kamu justeru usil dalam perkara remeh ini?"
Oey Yap gerakkan tangannya.
Itulah satu tanda.
Gie Sin Seng bersama tiga saudara seperguruannya, yang menjadi empat murid kepala, karena mereka adalah muridmurid ke empat dari Boetong Ngoloo, Lima Tertua, sudah lantas lompat naik ke atas panggung, lalu mereka disusul oleh beberapa murid lain, yang sudah tinggi kedudukannya, yang tugasnya mengepalai masing-masing bagian.
"Giok Lo Sat,"
Oey Yap lantas tanya.
"apakah kali ini kau datang untuk mengacau, atau kau berniat membawa lt Hang pergi?"
"Sama sekali tidak aku paksa dia!"
Jawab si nona tak langsung.
"Kalau kau hendak pergi, tidak ada halangannya,"
Kata Oey Yap.
"Asal kau letakkan dulu pedangmu..."
Giok Lo Sat lirik It Hang. Pemuda itu menyangka bila Giok Lo Sat meletakkan pedangnya, ia dan Giok Lo Sat akan diijinkan berlalu.
"Inilah aturan di gunung ini,"
Ia kata dengan perlahan pada kekasihnya. Si Raksasi Kumala tertawa, ia lemparkan pedangnya ke batu.
"Aku suka turut aturan kamu,"
Katanya.
"Apa sekarang kamu ijinkan aku dan dia pergi?"
Gie Sin Seng jemput pedang itu, ia bawa ke atas kepalanya "Siluman dari partai asing sudah menyerah dan memberikan pedangnya, silakan tiangloo memberi putusan!"
Katanya.
Dalam generasi kedua, kedudukan Gie Sin Seng ini adalah yang paling berkuasa.
Ialah yang bertugas melindungi atau menjalankan segala aturan partai Boetong pay.
Maka dalam keadaan seperti itu, dia maksudkan Giok Lo Sat sebagai musuh sudah terkalahkan.
Karena itu, hendak ia jalankan upacara menyerahkan pedang pihak yang takluk itu.
Hampir meledak dadanya si Raksasi Kumala menyaksikan perlakuan orang atas dirinya itu, apapula ketika ia dengar kata-katanya Oey Yap terhadapnya.
"Karena kau telah menyerahkan pedangmu, suka aku tidak memperpanjang perbuatanmu yang sudah-sudah. Lekas kau turun, pergi dari gunung ini! To It Hang adalah tjiangboendjin kami, mana dia pantas menjadi pasangan dari satu perempuan siluman! Baik kau matikan saja hatimu itu!"
Terbeliak kedua matanya si nona. Tak terhingga kemendongkolan-nya.
"Aku tidak mau pergi!"
Katanya dengan keras. Ia pun tertawa dingin. Pek Sek dan Ang In, kedua tetua yang pernah diperhina nona ini, lompat maju.
"Kau hendak berlalu atau tidak?"
Mereka tegaskan.
"Sungguh belum pernah aku melihat seorang perempuan hina dina semacam kau ini! Dengan tak tahu malu berani datang ke Boetong san untuk mencari suami!"
Kembali si nona tertawa dingin, Tetapi kali ini dibarengi dengan mencelatnya tubuhnya, hingga tahu-tahu dengan berkelebatnya tubuhnya itu.
terdengarlah satu suara keras.
Sebab Pek Sek Toodjin tiba-tiba kena disentil kupingnya!
Dalam kaget dan murkanya, Pek Sek hunus pedangnya.
Justeru itu waktu, terdengar jeritannya Gie Sin Seng, sebab selagi ia bertindak dengan tegap, untuk serahkan pedang kepada Oey Yap Toodjin, mendadak Giok Lo Sat lompat kepadanya, ia rampas pedang di tangannya itu sambil menyentil kupingnya seperti ia menyentil kupingnya Pek Sek Toodjin!
Semua itu dilakukan si Raksasi Kumala dengan cepat sekali.
"Hajar dia!"
Teriak Pek Sek dan Ang In yang berbareng maju menyerang, malah mereka membidik bagian tubuh yang berbahaya dari si nona.
Kedua tetua dari Boetong pay ini tak dapat mengendalikan hawa amarah mereka lagi.
Dengan satu lompatan pesat, Giok Lo Sat berkelit melewati atas kepalanya kedua imam itu.
Ia sengaja tidak buang diri ke samping atau ke belakang, hanya ke depan sekali!
Berbareng dengan itu, Oey Yap pun berseru.
"Kamu semua lihat tjiangboen soeheng! Hari ini dia sedang sakit, pikirannya kurang sehat, sebab dia terpengaruh iblis, jaga supaya dia tak pergi tanpa tujuan!"
Itu artinya, ketua yang muda itu mesti diawasi.
lt Hang ketahui maksud dari paman gurunya itu, ia mendongkol bukan main.
Meski begitu, tidak berani ia bertindak.
Giok Lo Sat berpaling kepada si anak muda, yang terus duduk tegak di atas batu.
tubuhnya tidak bergeming, wajahnya merah padam dan pucat bergantian.
Tapi tak sempat ia mengawasi lama-lama, karena Pek Sek dan Ang In.
yang telah memutar tubuh, sudah mulai menyerang pula kepadanya.
Ia jadi sangat putus asa.
"It Hang..."
Pikirnya.
"kau telah bicara dengan pasti, kenapa sekarang kau diam saja, tidak hendak kau wujudkan putusanmu itu?"
Tetapi, ia tak dapat berpikir banyak, karena ia harus melayani kedua tetua Boetong pay itu, malah ia harus pusatkan perhatiannya kepada pertempuran, kepada lain-lain imam dari Boetong san serta murid-murid mereka sekalian.
Dengan berkelebat, pedangnya Pek Sek Toodjin meluncur ke arah tenggorokan si nona.
Pedang itu berkilau kehijauhijauan.
Hampir si nona kena tertikam, hingga karenanya, ia menjadi sangat gusar.
Ia berkelit, pedangnya disabetkan ke arah lengan lawan itu, yang hendak ditabas kutung.
Akan tetapi Ang In menggantikan saudaranya menangkis, guna menghalau ancaman bencana itu, setelah mana, berdua mereka mengepung.
Dalam sengitnya, Giok Lo Sat berkelahi dengan keras, maka itu, walaupun ia dikepung, ia justeru yang bisa mendesak kedua lawan itu, sampai mereka ini main mundur secara repot.
Dengan tetapkan hatinya, Pek Sek dan Ang In bela diri.
Mereka rasakan sampokan angin pedang, mata mereka seperti silau karena cahaya pedang.
Guna mengumbar kemendongkolannya, sambil berkelahi, Giok Lo Sat perdengarkan suaranya yang nyaring.
"Pek Sek, imam bangsat! Kau telah bawa tentara negeri menyerang bentengku di Benggoat kiap! Tahukah kau, karena perbuatan hina dari kau itu, banyak sekali entjie dan adikku yang telah terbinasa di tangan kamu? Meski demikian, aku telah memikir untuk memberi ampun kepada kau, tetapi sekarang kau begini banyak tingkah! Pek Sek, jikalau hari ini aku tidak berikan tanda mata padamu, percuma aku menjadi Giok Lo Sat!"
Nona ini menggerakkan pedangnya demikian rupa, hingga pedang itu berkilau-kilau, seperti kilat saling sambar, hebat sekali serangannya. Oey Yap terperanjat menyaksikan keliehayan si nona.
"Benar liehay siluman ini..."
Pikirnya.
"Dia lakukan apa yang dia pikir. Tak dapat dia dibiarkan melukai Pek Sek Soetee! Di depan mata orang banyak, inipun kurang baik kelihatannya..."
Maka ia minta agar Tjeng Soo Toodjin maju membantui.
Biar bagaimana, ia masih hendak pegang derajatnya, untuk tidak segera turun tangan akan kepung nona itu.
Ia masih terlalu agung, ia merasa malu di hadapan begitu banyak murid.
Boetong Soeloo mesti kepung satu musuh, malah satu musuh wanita...
Tjeng Soo Toodjin liehay dengan ilmu pedangnya, akan tetapi begitu ia maju, ia disambut tertawanya si nona.
"Bagus! Bagus!"
Demikian nona itu.
"Kembali maju satu Boetong Tiangloo! Kalian anggap diri kalian sebagai ahli-ahli pedang nomor satu di kolong langit ini, kiranya kalian dapat merebut kemenangan karena andalkan jumlah yang banyak!"
Bertiga Pek Sek, Ang In dan Tjeng Soo membungkam, dengan pedangnya masing-masing, mereka merangsak dengan hebat, dengan beraturan, dengan begitu hendak mereka kurung si nona.
Biar ia tangguh, dikepung tiga jago Boetong pay, Giok Lo Sat repot juga, Tak dapat ia loloskan diri dari kepungan.
Dengan perlahan-lahan ia mulai merasa bahwa ia harus peras keringat.
Pek Sek Toodjin merasakan bahwa perlawanan nona itu mulai kurang kerasnya, lantas saja ia perdengarkan suaranya.
"Kau lihat bagaimana liehaynya ilmu pedang Boetong pay?"
Demikian katanya.
"Hm! aku hendak lihat, bagaimana kau bisa lukai aku? Atau akulah yang akan melukai kamu. Lihat pedang! Lihat pedang!"
Dengan dua tusukan hebat saling susul, ia desak si nona. Tapi nona itu tidak mau kalah, tiba-tiba dia perdengarkan tertawanya yang nyaring dan panjang.
"Kodok dalam sumur!"
Teriaknya, dengan ejekannya.
"Mana kau tahu berapa luasnya lautan? Akan aku bikin kau membuka matamu lebar-lebar!"
Setelah menangkis, nona ini ubah jalan ilmu silatnya, yaitu seperti naga bermain di air, atau burung garuda beterbangan di udara, atau ia menunjuk ke timur, menyerang ke barat, atau menuding ke selatan, menghajar ke utara, tubuhnya bergerak gesit sekali, demikian pun pedangnya, hingga bayangan tubuhnya seperti berseliweran di empat penjuru.
Setelah dua kali bertarung dengan Anghoa Koeibo yang liehay, bagaikan murid yang cerdas, banyak pelajaran yang Giok Lo Sat terima.
Karena ia ingat baik-baik ilmu silatnya jago wanita tua itu.
Dengan begini, sanggup ia melayani ketiga musuh tangguh itu.
Jangan diharapkan ia dapat menang, tetapi terang dapat ia bertahan.
"Tiga orang ini liehay tetapi mereka sepadan dengan Anghoa Koeibo,"
Demikian pikirnya.
"Mereka menang tenaga tetapi aku mahir dalam kegesitan tubuhku, sekarang baiklah aku gunakan kegesitanku seperti di waktu melayani Anghoa Koeibo guna menandingi mereka ini bertiga. Aku harus dapat mengalahkan mereka..."
Begitulah ia senantiasa menyingkir dari bentrokanbentrokan hebat, selalu ia berkelit atau lompat, guna menjauhkan diri dari setiap tikaman atau tusukan dahsyat.
Tiap-tiap kali ia lolos dari ancaman bahaya pedangnya ketiga lawan liehay itu, yang berkelahi dengan liehaynya.
Setelah si nona perlihatkan kemahiran enteng tubuhnya, ketiga lawan ini seperti kabur matanya, hingga dengan sendirinya kurang sempurna lagi caranya mereka mengurung, hingga mereka tidak dalam keadaan mengepung lagi...
Sesudah bertempur kira-kira enam puluh jurus, kacaulah permainan pedang dari ketiga tiangloo itu, ketiga tetua dari Boetong pay.
To It Hang saksikan pertempuran itu, ia menjadi bingung dan bergelisah.
Terpaksa ia berteriak.
"Permusuhan harus dihabiskan, jangan diperhebat! Inipun bukannya permusuhan hebat sekali! Berhenti sudah!"
Tapi kata-kata ini membuat ke empat jago Boetong pay sangat tidak puas. Malah si nona sendiri mendapat kesan yang tidak menggembirakan.
"Hm, To It Hang membantu orang luar!"
Demikian anggapan dari Boetong Soeloo. Giok Lo Sat sebaliknya berpikir.
"Baru sekarang setelah aku menang di atas angin kau buka mulutmu untuk minta pertempuran dihentikan? Apakah kau menghendaki aku diperhina melek-melek? Di saat yang dahsyat ini --saat mati atau hidup --bukannya kau bicara dengan pasti, untuk perlihatkan ketegasan dirimu tetapi kau justeru datang memisah?"
Sebagai akibat dari seruan itu. kedua pihak bertempur makin hebat. Oey Yap, yang penasaran, karena hilang sabarnya, mendekati It Hang.
"Hari ini adalah hari kehinaan atau kehormatannya Boetong pay!"
Kata paman guru ini, suaranya dalam dan berpengaruh.
"Keadaan sudah menjadi demikian rupa, jikalau kau masih ingat persahabatan pribadimu dan hendak kau berbuat sesuatu untuk dia, maka kau bukan lagi murid partai kita, di samping kau menjadi murid murtad, yang memberontak dan berkhianat, kau juga akan dibenci kaum Rimba Persilatan di kolong langit ini! Kau bukannya satu murid biasa, kau harus insaf bahwa kau adalah murid yang menjadi ketua kami! Adalah kewajibannya satu tjiangboendjin akan berkelahi untuk kehormatan atau kehinaan partai, untuk itu, sekalipun tubuhnya mesti hancur lebur, tak dapat ia mundur! Tahukah kau, ini adalah tugasmu?"
Susah hatinya It Hang, hingga ketika ia bicara, suaranya seperti menangis.
"akan tetapi dialah satu nona sebatang kara! Dia bersendirian, dapatkah dia menangkan partai kita? Soesiok, jangan kau paksa aku memusuhi dia!"
Mukanya Oey Yap Toodjin menjadi pucat dan merah bergantian, kedua matanya bersinar bagaikan api.
"Aku beri kau ketika untuk berpikir masak-masak!"
Katanya bengis.
"Kau ada seorang terpelajar dan sadar, maka itu tak ingin aku melihat kau runtuh sebagai murid murtad yang dicaci orang ramai!"
Kedua matanya bersinar pula, menyapu si anak muda.
Setelah itu, baru ia berpaling ke arah pertempuran.
Hebat caranya si nona menyerang ia membuatnya ketiga tiangloo tak dapat berhubungan lagi satu dengan lain.
Rupanya karena kemenangannya di atas angin ini.
Giok Lo Sat bertempur sambil kadang-kadang tertawa.
Nyata sekali, ia tak pandang ketiga tetua Boetong pay itu.
Oey Yap menjadi mendongkol dan gusar.
"Iblis wanita yang kejam!"
Teriaknya.
"It Hang, bagus macamnya sahabatmu ini! Dia hendak mengilas-ilas kami kaum Boetong pay di bawah telapakan kakinya! Jikalau kau sebagai tjiangboendjin tidak mau turun tangan, baiklah aku si tua bangka, biar tubuhku hancur lebur, tidak nanti aku ijinkan dia mengganas di sini!"
Sampai di situ, dengan napas mendesak bahna gusarnya, tetua ini hunus pedangnya, terus ia lompat masuk ke dalam kalangan.
Ia tidak sadar bahwa dengan begitu jumlah mereka menjadi empat --semuanya tetua Boetong pay yang kesohor!
Dan itulah hanya untuk mengeroyok satu nona!
It Hang sangat bersusah hati, hingga ia menangis tanpa menerbitkan suara.
Sulit benar kedudukannya waktu itu.
membantu tetua mereka salah, tidak membantu salah juga.
Di sampingnya terdapat sejumlah kakak dan adik seperguruan, tetapi tidak ada satupun yang menghibur dia.
Oey Yap mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada ketiga saudara seperguruannya, ilmu silatnya pun sangat liehay, maka itu dapat dimengerti bagaimana hebatnya akibat dari turun tangannya itu.
Pedang berkilau-kilauan sambil perdengarkan hembusan angin.
Hingga dalam sekejap saja pedangnya Giok Lo Sat seperti kena dihalang-halanginya.
Pek Sek bertiga mendapat napas, mereka lantas mendesak pula.
Giok Lo Sat tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha! Boetong Soeloo telah maju semua!"
Katanya.
"Hari ini aku telah melayani jago-jago Boetong pay, sungguh aku merasa sangat beruntung?"
Sama sekali ia tidak jeri terhadap kepungan jago-jago Boetong pay itu, Mendengar kata-kata orang itu, Oey Yap merasa malu berbareng mendongkol, hingga ia menjadi sangat gusar.
"Perempuan siluman, jangan kau bertingkah!"
Teriaknya.
"Lihat pedang ini!"
Dan dengan mengerahkan tenaga dalamnya, tetua Boetong pay ini berikan serangannya dengan jurus "Hongloei kiauwkie"
Atau "Badai dan geledek saling sambar".
Si Raksasi Kumala tangkis serangan itu, atas mana ia rasai lengannya menggetar, maka terus saja ia lompat, guna menikam Pek Sek Toodjin yang berada di arah ke mana ia lompat itu.
Ia menyerang dengan tipu silat "Bengkee toksiok"
Atau "Ayam galak mematuk gabah".
Akan tetapi serangan itu adalah ancaman belaka, karena di saat si imam hendak menangkis.
Giok Lo Sat tarik kembali pedangnya, untuk diteruskan kepada kakinya Ang In.
Ang In Toodjin terkejut, dengan pedangnya ia menangkis ke bawah, guna menyapu pedang lawan itu.
Giok Lo Sat biarkan pedangnya kena disampok, lalu mengikuti melayangnya pedang itu, ia teruskan menusuk pinggangnya Tjeng Soo Toodjin, yang sudah berhadapan dengannya.
Kali ini ia menyerang dengan tipu silat "Kimpeng liamek", atau "Garuda emas nelusupkan sayap".
Ujung pedangnya mengarah jalan darah tjiangboen hiat.
Tentu saja Tjeng Soo menjadi terkejut, akan tetapi masih dapat ia elakan dirinya.
Oey Yap Toodjin pun terkejut melihat kegesitan dan keliehayan nona ini.
Pantas si nona menjadi berkepala besar.
Karena ini, ia lantas maju, guna melindungi ketiga soetee-nya itu.
Ia gunakan ilmu silat "Eiamdjie kiat", atau "Rahasia menempel huruf.
Tipu ini di gunakan untuk merapatkan senjata lawan, agar lawan tak berdaya dan sukar bergerak.
Untuk ini, orang harus mahir ilmu tenaga dalam.
Dan imam ini mempunyai kemahiran itu.
Segera juga Giok Lo Sat kena terdesak, sebab di samping harus waspada terhadap imam itu, iapun harus berjaga-jaga terhadap tiga imam lainnya, yang ia tetap tak dapat pandang ringan.
Ia masih dapat membuat perlawanan akan tetapi ia telah berada di bawah angin.
Maka itu ia harus berkelahi dengan hebat dan hati-hati.
Dalam sekejap saja.
Giok Lo Sat bermandikan keringat.
Sia-sia saja ia mencoba memecah desakan, tidak pernah ia berhasil meloloskan diri.
Dalam keadaan terancam itu, ia masih tidak gentar, malah sebaliknya, karena penasaran, ia menjadi nekat, hingga ia tak pikirkan lagi kematian.
Begitulah ia menyerang dengan bengis sekali, bergantian terhadap Pek Sek, Ang In dan Tjeng Soo.
Selalu ia qpba menjauhkan diri dari Oey Yap.
Kembali Oey Yap Toodjin menjadi heran, ia pun bergelisah juga.
Beberapa kali rasanya dapat ia lukai si nona, atau di saat sangat berbahaya itu, ia mesti lindungi salah satu soetee-nya, disebabkan si nona, yang licik dan lincah, yang menggunakan ketikanya untuk mengancam salah satu dari ketiga soetee itu hingga ia mesti batalkan serangannya.
Ini terjadi berulang kali.
"Akan aku jaga pedangnya!"
Akhirnya ia beritahu ketiga saudaranya.
"Kamu semua menyerang!"
Oey Yap terpaksa mengucap demikian, tidak peduli si nona dapat mendengarnya.
Perkataannya ini segera ia buktikan, ia lantas mencoba dengan pelbagai ancamannya, guna membuat nona itu repot.
Pek Sek bertiga, di pihak lain, turut petunjuk soeheng-nya itu, mereka lantas perkeras serangan mereka.
Giok Lo Sat rasa seolah-olah ia menghadapi tembok, ke mana pedangnya menuju, di sana ia terhalang.
Ia telah saksikan, pedangnya Pek Sek bertiga maju berbareng atau bergantian dengan beraturan.
Hingga cahaya ke lima pedang itu berkilauan.
Dalam keadaan seperti itu, si Raksasi Kumala mencoba menenangkan diri, ia pasang kuping dan matanya.
Ia melawan dengan mengandalkan tubuhnya yang sangat enteng dan gesit gerakannya itu.
Begitulah pertempuran berjalan untuk banyak jurus.
Semua murid Boetong pay menjadi sangat kagum.
Inilah pertempuran yang belum pernah mereka saksikan.
Terutama mereka mesti kagumi nona itu, yang benar-benar liehay luar biasa.
Sinar pelbagai pedang itu membuat mata silau.
Setelah menyaksikan sekian lama, Gie Sin Seng berkata pada To It Hang.
"Ke empat soesiok telah lanjut usianya, mereka mesti keluarkan tenaga mereka untuk melayani nona itu, bagaimana andaikata mereka salah menggerakkan tangan? Apakah kita tidak bakal menjadi sangat malu? Tjiangboen soeheng, bagaimana pikiranmu?"
It Hang mendengarkan seperti tanpa perhatian, ia tidak menjawab. Gie Sin Seng tertawa dingin.
"Soesiok semua sedang adu jiwa, apakah kita yang menjadi murid-muridnya mesti menonton saja dari pinggiran?"
Dia berkata pula.
Oey Yap, Pek Sek, Ang In dan Tjeng Soo, masingmasing mempunyai murid kepalanya.
Murid-murid ini adalah yang dinamakan soetoa teeijoe, atau empat murid kepala, dari teedjiepwee, yaitu golongan atau generasi kedua.
Gie Sin Seng adalah murid kepala dari Oey Yap di samping itu, ada pula tiga saudara seperguruannya, masing-masing murid kepalanya Pek Sek, Ang In dan Tjeng Soo.
Karena It Hang tidak pedulikan dia, dia jadi habis sabar.
"Mari kita maju bersama untuk mengatur Boetong Kiamtin guna membantu soesiok semua!"
Demikian katanya.
"Kita mesti jaga supaya perempuan siluman ini tidak dapat meloloskan diri."
"Boetong Kiamtin"
Adalah semacam "barisan pedang"
Boetong pay. Habis mengucap demikian, Gie Sin Seng menghadap It Hang untuk memberi hormat sambil menjura, lalu dia berkata.
"Tjianboen soeheng, harap maafkan kita yang tanpa titah lagi dari kau sudah melancangi maju!"
Kata-kata Sin Seng itu pun ditaati ketiga saudara seperguruannya, maka begitu ia maju, guna mengatur diri, mereka bertiga turut maju juga.
Dengan begitu, Oey Yap berempat seperti terlapis kurungan penjagaan, mengurung Giok Lo Sat.
Menampak demikian, It Hang menjadi sangat bersusah hati.
Justeru itu ia dengar suara mengejek di belakangnya, apabila ia berpaling, ia kenali saudara seperguruannya ialah Keng Tjiauw Lam yang menunjukkan roman sangat memandang enteng.
Ketika mata It Hang bentrok dengan mata saudara itu, ia seperti tidak ambil mumat, dia melengos ke jurusan lain...
Keng Tjiauw Lam ini pernah mendapat malu dari Giok Lo Sat, yang telah menabas kutung jeriji tangannya, dari itu dia benci betul pada si Raksasi Kumala, akan tetapi dia tahu diri, ialah karena ilmu silatnya belum mencapai tarap kepandaiannya ke empat soeheng itu tidak berani dia sembarangan maju untuk membantu ke empat paman guru itu.
Tapi ini tidak menjadi sebab yang ia tidak akan berpikir terus.
Ia selalu pikirkan jalan guna menggosok It Hang, soeheng-nya itu.
It Hang menjadi sangat serba salah, sudah paman-paman gurunya tegur dia, saudara-saudara seperguruannya pun memandang enteng terhadapnya.
Ia merasakan pukulan yang hebat pada batinnya Begitu keras ia berpikir, sampai ia jadi seperti waswas.
Pertempuran pun berjalan terus dengan keadaan tidak menyenangi bagi Giok Lo Sat.
Sudah repot melayani ke empat tetua Boetong pay, sekarang ia dilapis oleh empat anak muda murid-murid Boetong Soeloo yang pun dapat menyerang langsung.
Biar bagaimana, ke empat anak muda itu tidak dapat dipandang ringan.
Dari dikepung di empat penjuru, sekarang si Raksasi Kumala tertutup jalannya di delapan jurusan, biar bagaimana liehay, ia toh kewalahan.
Ia bagaikan sebuah perahu kecil di tengah laut membadai.
tiba-tiba ia terlibat dalam pusar air.
Kiamtin dari Boetong pay jauh terlebih liehay daripada Tjittjoat tin di puncak Hoasan dahulu, anggauta-anggauta yang mengurungnya pun jauh terlebih liehay lagi.
maka itu.
menyaksikan bahaya yang mengancam si nona U Hang bergidik sendirinya hingga akhirnya tak dapat ia berdiam lebih lama.
dengan perlahan ia bertindak maju...
Dengan tiba-tiba saja Keng Tjiauw Lam tertawa terbahakbahak, kemudian ia cekal lengannya It Hang, lalu ia berkata.
"Tjiangboen soeheng, kau lihat, kau lihat! Bagaimana liehaynya pedang dari Oey Yap Soesiok itu! Pun tidak tercela pedangnya Pek Sek Soesiok! Ah, sayang, sayang! Terangterang ujung pedang Tjeng Soo Soesiok telah di arahkan ke tenggorokan si perempuan siluman, heran, dia dapat mengelakan diri... Ah, saudara Sin Seng juga tidak mau ketinggalan di belakang, hampir dia locotkan dengkulnya siluman itu! Oh, bagus, bagus, akhirnya dia terkena juga!"
Benar-benar Giok Lo Sat perdengarkan jeritan "aduh!"
Tapi tidak keras, yang segera disusul dengan yang kedua.
It Hang lihat si nona sempoyongan, tubuhnya terhuyung hampir jatuh, akan tetapi dia masih membuat perlawanan, masih dia mencoba menoblos kurungan yang rapat dan kuat itu, namun selalu menemui tembok yang tangguh.
Yang membuat It Hang kaget adalah baju si nona, yang berlumuran darah.
Sebab nona itu telah terluka, darahnya mengucur keluar.
Bahna kagetnya hampir ketua Boetong pay ini pingsan...
Pundak kiri si nona telah terlanggar ujung pedangnya Oey Yap, ini menyebabkan dia mandi darah, setelah mana, lengan kanannya pun menjadi merah, karena pedangnya Pek Sek dapat melukainya.
Ia terhuyung, pikirannya kalut, semangatnya seperti tergempur.
Selagi begitu, tiba-tiba ia dengar jeritan kaget dari It Hang.
"Ah, kiranya dia masih ingat aku..."
Tiba-tiba ia dapat pikiran.
Dan tiba-tiba juga semangatnya terbangun, hingga ia mendapat tenaga baru, ia mainkan pula pedangnya dengan dahsyat.
Mula-mula pedangnya diputar, menutupi tubuhnya habis itu ia mencelat ke arah Oey Yap Toodjin.
Oey Yap tetap gunakan Liamdjie kiat.
guna mencegah si nona, agar dia terus terkurung, akan tetapi kali ini, Giok Lo Sat menyerang secara luar biasa, maka ketika dua pedang bentrok keras, ujung pedang si imam tertabas buntung!
Oey Yap menangkis dan tangan kirinya dipakai menolak!
Giok Lo Sat gunakan tangan kirinya, untuk menangkis, tetapi ia kena tertolak mundur, meski demikian, ia tidak roboh karenanya, hanya ketika ia terhuyung ke arah Ang In, siapa ia terus tabas, di antara suara bentrokan, imam itu menjadi sangat kaget, sebab juga ujung pedangnya kena ditabas kutung!
Giok Lo Sat tertawa berkakakan, menyusul tertawanya itu ia serang Pek Sek Toodjin.
Sebenarnya ia arah lengannya si imam, akan tetapi waktu Pek Sek menangkis, ia ubah gerakannya itu, ia menikam tenggorokan!
Pek Sek terkejut, untuk membela diri, dia melenggak ke belakang, dia membuang diri.
Di pihak lain, Tjeng Soo Toodjin maju untuk menolongi saudaranya itu dengan menalangi menangkis pedang lawan.
Hampir berbareng dengan gagalnya serangannya terhadap Pek Sek, Giok Lo Sat menjerit "Aduh!"
Dengan keras, kedua matanya membeliak, menampak mana Tjeng Soo Toodjin menjadi heran sekali. Segera terdengar suaranya si nona.
"It Hang, oh, kau juga berlaku demikian terhadap aku?"
Duduknya hal adalah, sewaktu pedangnya Oey Yap dan Ang I n tertabas kutung dan Pek Sek terancam bahaya maut, Keng Tjiauw Lam di belakang It Hang sudah berteriak keras di kupingnya soeheng itu.
"Tjiangboen soeheng, apakah kau masih tidak hendak tolongi Pek Sek Soesiok? Gunakan senjata rahasia ini! Lekas!"
Dan tankiongnya, semacam jepretan, ia berikan kepada soeheng itu.
It Hang sedang bingung, dalam keadaan waswas itu, ia terpengaruh si soetee, maka untuk menolongi Pek Sek, beruntun tiga kali ia lepaskan tiga peluru.
Giok Lo Sat dapat tangkis ketiga peluru itu.
yang disampok jatuh dengan pedangnya, ia tidak terkena, akan tetapi, hatinya telah terluka...
Pek Sek Toodjin lolos dari bahaya maut, ia menjadi sangat gusar dan penasaran, setelah maju pula, ia menyerang dengan sangat bengis.
Ia lompat, sambil memutar pedangnya.
Tjeng Soo Toodjin juga maju menyusul saudaranya itu, hingga kedua pedang menyambar ke arah dada dan pinggang si nona.
Selagi Pek Sek menyerang secara hebat itu, kembali terdengar seruannya It Hang, kali ini.
"Eh, apa yang telah kuperbuat? --apa yang telah kuperbuat?"
Suara itu disusul dengan suara robohnya satu manusia.
Pek Sek dan Tjeng Soo girang.
Mereka menyerang tetapi mereka ingin menawan hidup-hidup lawan itu, supaya si nona nanti dapat diadili di muka kaumnya.
Maka itu, senjata mereka masing-masing mencari jalan darah.
Dalam keadaan sangat berbahaya itu, dan ia sudah sangat letih, karena melihat bahaya.
Giok Lo Sat masih dapat empos semangatnya, maka dengan sekuat tenaga, ia menangkis kedua pedang lawan itu.
Dengan satu suara nyaring, Pek Sek dan Tjeng Soo merasakan pedang mereka tersampok keras, hingga terpental dari cekatannya.
Oey Yap Toodjin lihat kejadian itu, ia kaget tak terkira.
Ia insyaf akan bahaya yang mengancam kedua saudaranya itu, hingga ia menjerit.
"Celaka!"
Sesudah mana, ia lompat mencelat, guna menolongi kedua saudara itu.
Pesat sekali gerakannya Oey Yap ini, akan tetapi tak kurang sehatnya adalah si Raksasi Kumala, belum sampai Oey Yap Toodjin mencapai maksudnya, dua saudaranya sudah menjerit, sebab mereka telah dilukai si nona pada tekukan lengannya!
Oey Yap menyerang dengan tangan kirinya.
Giok Lo Sat tidak menangkis, ia hanya lompat berputar untuk menjauhkan diri lalu sambil lompat ia tertawa tergelak-gelak!
Dari empat tiangloo Boetong san, dua telah tertabas ujung pedangnya, dan terluka, maka itu empat jago muda dari tingkat kedua menjadi jeri, tidak berani mereka mencegat si Raksasi Kumala, hingga dengan mudah dia dapat menoblos kurungan.
Begitulah dia lompat turun dari batu lebar itu.
untuk angkat kaki.
Hingga Oey Yap Toodjin cuma bisa awasi orang berlalu sambil perdengarkan tertawanya yang panjang...
Setelah menghela napas, Oey Yap menghampiri Pek Sek dan Tjeng Soo, untuk periksa luka mereka-luka di jalan darah, hingga ia menggeleng-gelengkan kepala, karena ia tak dapat segera membebaskannya.
Maka guna meringankan, ia melainkan bisa menguruti.
Sesudah itu, ke empat murid itu menggotong mereka ke kamar, supaya mereka dapat beristirahat, nanti dalam waktu dua belas jam, mereka dapat pulih kembali.
Kembali Oey Yap menghela napas apabila ia saksikan ke empat murid itu lesu semuanya, ia tidak awasi mereka, ia hanya ambil kedua pedang yang buntung, untuk dibuang ke dalam lembah, sesudah mana, ia bertindak perlahan-lahan menghampiri It Hang.
Tjiangboendjin itu --si ahli waris Boetong pay, ketua yang belum diresmikan kedudukannya, --rebah tak sadarkan diri, kedua tangannya masih memegangi tankiong, biang pelurunya.
"Di dalam saat yang genting itu, kau membantu dengan pelurumu, kau masih bisa dibilang murid Boetong pay..."
Berkata Oey Yap sambil mengawasi anak muda itu, sesudah mana ia ulur sebelah tangannya, guna menepuk jalan darah hoktouw hiat.
Begitu lekas ia ditotok, It Hang berseru keras, tubuhnya segera bergerak, lompat bangun berdiri, menyusul mana, dengan pelurunya ia menyerang kalang kabutan, ke empat penjuru.
"Hajar! hajar!"
Ia pun berseru berulang-ulang.
"Siapa berani mendaki Boetong san? Hajar padanya! Siapa berani rintangi aku? Hajar dia! Siapa yang usilan, hajar juga padanya! Hahahaha, nyalimu besar bagaikan langit! Tapi kau telah berlaku kurang ajar terhadap Tjouwsoeku, kau mesti dihajar! dihajar!"
Oey Yap heran.
"Apakah kau telah jadi gila?"
Tanyanya.
It Hang mendelik terhadap paman guru itu, ia lompat sambil berseru-seru.
Oey Yap lompat, untuk menyampok jepretannya, setelah mana Keng Tjiauw Lam lompat menubruk, guna memeluk soeheng itu.
Tapi It Hang berbalik sambil sebelah tangannya menyambar.
"Plok!"
Demikian terdengar suara keras di pipi, menyusul mana Keng Tjiauw Lam berkaok dan dari mulutnya menyembur darah disebabkan dua buah giginya patah sebagai akibat gaplokan itu!
Oey Yap segera totok It Hang, pada urat pingsannya.
"Tjiauw Lam, soeheng-mu ini terganggu pikirannya,"
Ia kata.
"Apakah kau tidak terluka parah?"
Mukanya orang she Kheng itu bengap, warnanya merah.
"Syukur cuma luka di luar,"
Sahutnya.
"Kau pondong padanya, kau kuncikan dia pintu di kamar belakang,"
Oey Yap menitah.
"Kau jaga dia baik-baik."
Keng Tjiauw Lam turut titah gurunya itu.
Bersama Ang In, Oey Yap lantas mengangkat Pek Sek dan Tjeng Soo.
Karena kekacauan ini, upacara sembahyang untuk Tjie Yang Tootiang menjadi kacau juga, hingga tak dapat dilakukan.
Ketika itu Giok Lo Sat kabur dengan hatinya terluka, ia gusar, ia mendongkol, iapun penasaran dan menyesal.
Semua perasaan itu terkumpul menjadi satu.
Ia juga berdahaga, karena sudah berkelahi begitu lama, dan iapun merasa _ lapar.
Ketika ia lihat tubuhnya, ia dapatkan dirinya berlumuran darah.
Kembali timbul kemurkaannya.
"Biarlah, habis beristirahat, aku nanti tempur pula semua iman hidung kerbau itu!"
Katanya dengan sengit.
"Aku juga hendak bekuk dia dan minta penjelasan, apakah dia hendak turut aku pergi atau tidak! --Kau telah bicara sungguhsungguh, mungkinkah itu kedustaan belaka?"
Ia tambahkan, seperti ia bicara terhadap It Hang --orang yang ia maksudkan dengan "dia"
Itu.
"Ha-ha! kau juga serang aku dengan peluru! kau telah serang aku! Hahaha! baiknya aku tidak terbinasa!..."
Ia terdiam sekejap lantas ia berpikir pula.
"Tetapi,"
Katanya.
"jikalau tadi dia tidak berseru, pasti aku tidak punyakan tenaga tambahan untuk bertempur terus... It Hang, kau aneh! Kau membantu aku meloloskan diri dari kepungan, tetapi kau juga serang aku dengan senjata rahasia! Adakah kau inginkan kematianku setelah kau menolongnya? Atau, apakah sebenarnya yang kau pikir? Kau pandang aku sebagai sahabat kekal atau lawan?"
Itulah cinta di puncaknya, penasaran yang melewati batas, atau penasaran yang berlebih-lebihan yang mendatangkan cinta sangat.
Tak tahu Giok Lo Sat.
apakah ia mencintai atau membenci, atau dua-duanya digabung menjadi satu.
Kacau pikirannya, limbung tindakannya.
Ia sangat letih, iapun terluka.
Tapi ia masih ingat, ketika ia sampai di lembah, ia cari sumber air.
untuk minum dan mencuci luka-lukanya, untuk dipakaikan obat, lalu dibalut.
Lukanya itu tidak berbahaya dan darahnya dapat berhenti dengan segera.
Syukur ia masih mempunyai bekal rangsum kering, maka sambil beristirahat, ia tangsal perutnya.
Masih ia beristirahat terus, sambil memejamkan kedua matanya.
Rupanya tak kuat ia melawan keletihannya, tanpa merasa ia jatuh tertidur, kakinya melonjor hingga masuk ke dalam air solokan, yang tak ia sadari.
Dalam tidurnya.
Giok Lo Sat lihat It Hang datang padanya.
Anak muda itu menghampiri dengan wajah tersenyum berseriseri.
Ia ulurkan tangannya, untuk menekan dahinya pemuda itu.
"Sama sekali tidak kuniat melukai kau,"
Kata It Hang.
"Aku menyerang kau karena dipaksa mereka..."
"Apakah kau seorang bocah atau seorang dewasa?"
Tanya Giok Lo Sat.
"Apakah kau tidak mempunyai pikiran sendiri?"
"Aku bukannya satu bocah, aku seekor kambing domba,"
Sahut It Hang.
"Baik!"
Kata si nona.
"Kau ada seekor domba, akulah gembalanya. Hendak aku gunakan cambuk untuk menghajar padamu!"
Dengan secara tiba-tiba saja.
Giok Lo Sat seperti mendapatkan cambuk di tangannya, lalu diayunkannya cambuk berulang kali hingga terdengar suara menjeter.
Berbareng dengan itu, sekonyong-konyong It Hang lenyap dan sebagai gantinya seekor anak kambing mendekam di kakinya, tubuh kambing itu merah, kedua matanya bersinar sebagai memohon belas kasihan.
Giok Lo Sat yang menggerakkan tangannya segera menarik kembali, lalu ia ulurkan tangannya, guna mencekal tanduknya kambing itu.
Dengan tiba-tiba anak kambing itu berbunyi keras, lalu dia menjadi bukan lagi seekor kambing melainkan seekor harimau yang bengis, kukunya terbuka, mulutnya terpentang, begitu dia menubruk, Giok Lo Sat roboh terguling, maka dalam sekejap saja, raja hutan itu sudah menerkam, menggigit tenggorokannya!
Giok Lo Sat gagah perkasa, entah kenapa, di saat itu, habis tenaganya, tenggorokannya kena digigit.
Karena kaget, Giok Lo Sat menjerit bangun dan mendusin...
Di situ tidak ada To It Hang, tidak ada anak kambing, juga tidak ada si raja hutan!
Matanya si nona mengawasi matahari yang sedang bersinar menyilaukan mata!
Nyata dia telah bermimpi.
Ia rasakan lehernya dingin, ketika dipegang ia dapat kenyataan, air solokan yang membanjir itu muncrat sampai di lehernya, sedang tadi, lehernya mengenai sebuah batu, ialah yang di dalam impian menjadi harimau!
Dengan tidak keruan rasa, Giok Lo Sat duduk dengan rambutnya terurai ke belakang.
Ia duduk menghadapi air.
tibatiba pada permukaan air itu tampak bayangan seorang perempuan dengan rambut putih seperti uban.
Ia menjadi kaget sekali, hingga ia keluarkan jeritan.
Karena pemandangan ini lebih menakutkan daripada si harimau dalam impian tadi!
"Apakah aku masih tidur dan mimpi dan belum sadar?"
Kata dia dalam hatinya. Ia masukkan jari tangannya ke dalam mulutnya dan menggigitnya "Aduh!"
Ia menjerit sendirinya karena sakitnya, sebab jeriji tangannya terluka dan mengeluarkan darah, rasa sakitnya sampai di ulu hati.
"Terang aku tidak tengah bermimpi..."
Pikirnya pula.
Ia pegang rambutnya itu, untuk dibawa ke depan mukanya, dilihat dan diawasi dengan teliti.
Tidak salah, itulah rambut ubanan, tak sedikit jua yang masih hitam!
Si Raksasi Kumala berjingkrak bangun.
"Inilah bukan aku, bukan aku!"
Dia berseru seorang diri. Bayangan di dalam air itu pun berjingkrak bangun, bergoyang-goyang menuruti gerakan si nona. Dan dalam kagetnya itu, nona ini seperti dengar bayangan itu berkata padanya.
"Aku adalah kau, aku adalah kau!..."
Ia lantas berdiri menjublak.
Si Raksasi Kumala tahu ia sangat cantik, bukan main ia sayangi kecantikannya itu.
akan tetapi sekarang, dalam semalaman saja ia telah berubah menjadi satu nenek!
Alangkah sedih hatinya, lalu ia robohkan dirinya...
Ia rebah celentang, ia tampak gumpalan-gumpalan mega melayang lewat.
Ia pun tampak matahari menyinari mega, yang membuat warnanya berubah-ubah.
Hidungnya mencium harumnya bunga, yang terbawa oleh angin dan burung-burung berkicauan diiringi suara daun cemara yang tertiup angin pagi itu.
Dalam keadaan seperti itu, Giok Lo Sat seperti melihat It Hang di antara gumpalan mega, yang mengawasi sambil tersenyum, dan ia juga dengar suara halus di telinganya.
"Entjie Lian. parasmu harusnya menjadi seperti bunga yang tak dapat layu dan rusak..."
Seolah-olah ia menyahuti.
"Manusia tolol, kau sedang bermimpi! Di mana di kolong langit ini ada manusia yang muda selama-lamanya? Jikalau lain kali kau bertemu pula denganku, aku kuatir yang rambutku telah putih semuanya sebagai rambut nenek-nenek!"
"Jikalau nanti rambutmu ubanan, akan aku pergi mencari obat dewa untuk memulihkan pula usia mudamu!"
Itulah pembicaraan dahulu, ketika Giok Lo Sat dan It Hang berkumpul di selat Benggoat kiap. Dan pembicaraan itu timbul dalam lamunan si Raksasi Kumala ini dalam keadaan tak sadar.
"Di kolong langit ini mana ada obat manjur demikian?"
Kata Giok Lo Sat sambil tertawa.
"Selama hidupku ini, aku tidak akan bertemu pula dengan kau..."
Demikian kata si nona waktu itu, atau sekarang benarbenar rambutnya itu telah berubah warna sedang ia telah memikir untuk pergi mendaki pula gunung Boetong san untuk minta penegasan To It Hang.
Maka ia jadi sangat berduka, pikirannya menjadi kalut sekali.
Sekarang ini, andaikata To It Hang yang datang padanya, mungkin ia akan menjauhkan diri...
Setelah rebah sekian lama, kering sudah pakaiannya Giok Lo Sat.
Ketika itu dari kejauhan terdengar suara genta sayup-sayup dibawa angin, entah dari kelenteng mana.
Mendengar itu, tibatiba si nona tertawa sedih, lalu ia ambil keputusan.
Ia berdiri menghadapi angin dan berkata dengan nyaring.
"Sejak hari ini dalam dunia sudah tidak ada Giok Lo Sat lagi! Hendak aku pergi ke tempat ke mana selayaknya aku pergi!"
Dan, tanpa berpaling, ia lari turun gunung dengan keras sekali.
Pada waktu itu di gunung Boetong san, pihak Boetong pay sedang sangat berduka.
Kekalahan mereka adalah kekalahan yang sangat besar dan sangat menyedihkan, hingga mendatangkan penyesalan sangat besar.
Pek Sek Toodjin dan Tjeng Soo Toodjin mesti rebah terus selama dua belas jam, setelah mana barulah jalan darah mereka dapat terbuka sendirinya.
Meski demikian, penderitaan mereka tidak lantas menjadi berkurang, penderitaan itu tetap hebat dan menyedihkan; karena otot-otot mereka telah terputus oleh ujung pedang si Raksasi Kumala.
Karena itu tak dapat mereka gunakan pula pedang mereka.
Untuk dapat sembuh kembali, mereka harus dirawat sedikitnya setengah tahun, sambungan tulang dan otot mereka harus ditambal dengan batang cabang yanglioe...
Maka dari itu, setelah pertempuran dahsyat itu, kecil hatinya Oey Yap Toodjin.
Ia sangat berkuatir Giok Lo Sat nanti datang pula.
Tanpa bantuan Pek Sek dan Tjeng Soo, bagaimana nona itu bisa dilayani bertarung?
Maka tak hentihentinya jantungnya berdenyut.
Syukur waktu telah berlalu tanpa si Raksasi Kumala muncul pula, hingga hatinya imam itu menjadi lega juga.
Di samping itu, Oey Yap pun merasa lega ketika melihat keadaan To It Hang telah reda.
Pemuda itu tidak lagi kalap dengan berkaok-kaok atau omong keras-keras.
Hanya, setelah menjadi pendiam, sinar matanya ahli waris ini menjadi guram, menjadi tolol nampaknya, hingga paman guru itu menjadi tambah berduka dan menyesal, la lantas larang semua murid Boetong pay bicara tentang Giok Lo Sat di hadapan tjiangboendjin ini.
Dan dengan sabar, ia rawat anak muda itu.
Tiga bulan berselang, It Hang tampaknya mendapat kemajuan.
Ia pun tampak sudah sehat betul, cuma bedanya, sekarang tak suka, ia bicara banyak, dan sikapnya terhadap paman gurunya dan semua saudara seperguruannya, menjadi tawar sekali.
Oleh karena kekuatirannya Oey Yap Toodjin tugaskan beberapa muridnya dengan bergantian mengawasi tjiangboendjin itu, baik siang atau malam, pintu kamar It Hang setiap saat dijaga.
Imam itu kuatir si anak muda nanti nekat dan menghabiskan jiwanya sendiri, hingga sering-sering di waktu malam ia datang sendiri untuk mengintai di jendela.
Setiap kali Oey Yap mengintai, ia dapatkan It Hang duduk bersemedhi dengan kedua mata dimeramkan.
Terang pemuda itu sedang melatih diri dalam Iweekang, ilmu dalam.
Selama itu, tidak pernah ia pergoki gerak-gerik orang yang luar biasa.
Maka lama kelamaan, hatinya menjadi sedikit lega.
"Dia dapat melatih diri, tidak nanti dia berpikir pendek lagi."
Kata Oey Yap dalam hatinya.
Keadaannya It Hang itu membuat beberapa murid Boetong pay yang memikir untuk mencopot kedudukannya sebagai tjiangboendjin, supaya Boetong pay tidak terlalu lama kehilangan ketuanya, akan tetapi Oey Yap berpikir lain, imam ini masih dapat bersabar, maka saran itu telah ditolak.
Lagi pula sukar untuk mencari pengganti yang cocok dan tepat sebagai It Hang itu, yang harus dipuji batinnya dan ilmu silatnya juga.
Banyak waktu telah lalu, kemudian, pada suatu hari, Boetong san telah kedatangan satu tetamu yang tidak diundang.
Tetamu itu adalah Bouwyong Tjiong, itu pahlawan dari istana kaisar.
Dia datang dengan maksud yang baik.
Sejak dia sembuh dari lukanya, Bouwyong Tjiong telah meninggalkan kota raja, dia pergi melakukan perjalanan untuk menghibur dirinya.
Selama itu ia ingat akan budi kebaikannya Tiat Hoei Liong dan Giok Lo Sat, karenanya mau ia melakukan sesuatu untuk nona kosen itu.
Maka ketika itu hari ia lewat di Boetong san, tanpa ayal lagi, ia mampir.
Ia tahu persahabatan erat antara To It Hang dan Giok Lo Sat, ia tahu juga Pek Sek Toodjin telah menghalang-halangi jodohnya sepasang anak muda itu, maka timbullah dalam pikirannya.
"Dalam permusuhan antara Boetong pay dan Giok Lo Sat, sedikitnya aku harus bertanggung jawab juga. Dahulu dengan bekerja sama dengan Pek Sek Toodjin, aku telah menggempur bentengnya Giok Lo Sat di selat Benggoat kiap, hingga karenanya permusuhan antara kedua belah pihak menjadi semakin menghebat. Sekarang ini aku dengan Giok Lo Sat dari musuh telah menjadi sahabat, maka baiklah aku dayakan supaya reda dan habis juga dendam di antara Boetong pay dan Giok Lo Sat."
Lalu mendakilah ia ke Boetong san di mana ia minta bertemu dengan Pek Sek Toodjin.
Pek Sek masih belum sembuh, ia harus beristirahat terus di dalam kamarnya, karena itu, tidak dapat ia menemui tetamunya.
Bouwyong Tjiong lantas minta bertemu dengan To It Hang, yang ia menyebutnya tjiangboendjin.
Melihat karcis nama dari Bouwyong Tjiong, nama siapa ia kenal, malah ia tahu, ada perkenalan antara orang she Bouwyong itu dengan partainya, Oey Yap sediakan diri untuk menyambut tetamu itu.
Ia berlaku sebagai wakilnya Pek Sek Toodjin.
Setelah bertemu, kedua pihak saling mengutarakan kekaguman masing-masing.
Tidak lama, Ang In pun muncul untuk temani tetamu itu.
"Bouwyong Tjongkoan,"
Kata Ang In kemudian.
"bagaimana senggang hingga kau dapat mengunjungi gunung kami yang sepi ini. Sekarang ini dalam jaman banyak urusan, bagaimana Sri Baginda dapat berlega hati membiarkan tjongkoan melakukan perjalanan ini?"
Tetamu itu tertawa "Sekarang ini aku telah merdeka"
Sahut Bouwyong Tjiong.
"Aku tidak memangku jabatan lagi, tak mau aku bergulat pula di lapangan kepangkatan."
Ang In heran mendengar keterangan ini, akan tetapi ia tidak hendak minta penjelasan, maka ia terus berdiam.
Bouwyong Tjiong tidak menjelaskan bahwa ia sudah meletakkan jabatan, dan lebih dahulu daripada itu, Oey Yap pun tidak menegaskannya.
Oey Yap Toodjin tertawa.
"Bagus, bagus!"
Katanya.
"Hidup merdeka bagaikan burung hoo memang jauh terlebih baik daripada berpangkat tinggi!"
Bouwyong Tjiong tersenyum. Habis itu, ia mohon bertemu dengan To It Hang.
"Dia kurang sehat,"
Jawab Oey Yap dengan ringkas.
"Dia mendapat sakit apa?"
Tanya tetamu itu.
"Ia tidak sakit apa-apa..."
Jawab Oey Yap, yang tidak pernah berdusta, hingga tak bisa ia menjawab secara langsung. Ia pun tampak sungguh-sungguh. Bouwyong Tjiong tidak puas dengan jawaban itu, ia menjadi kurang senang.
"Dengan saudara To, aku adalah kenalan baik,"
Katanya "karena itu dari tempat ribuan lie sengaja aku datang kemari. Aku harap tootiang suka memberikan ketika untuk aku bertemu dengannya."
Oey Yap dan Ang In tidak menyahuti.
"Partai tootiang adalah gunung Taysan atau bintang Paktauw dari kaum Rimba Persilatan,"
Kata Bouwyong Tjiong.
"karenanya aku Bouwyong Tjiong tidak mempunyai derajat kehormatan untuk bertemu dengan tjiangboendjin kamu..."
Bouwyong Tjiong termasuk orang kenamaan dari Rimba Persilatan, dia meminta secara lisan untuk bertemu dengan ketua mereka, jikalau permintaan itu ditampik, itu adalah suatu penghinaan baginya.
Maka tidaklah heran apabila ia merasa tersinggung.
"Maaf, Bouwyong Tjongkoan,"
Kata Oey Yap akhirnya.
"Baiklah, nanti aku suruh It Hang keluar."
Dan imam ini, ketua tidak resmi dari Boetong pay.
memberi titahnya kepada salah satu muridnya maka tidak lama berselang, muncullah To It Hang dengan dikawani Gie Sin Seng dan Keng Ti'auw Lam.
Bouwyong Tjiong segera dapat lihat It Hang bertindak gesit dan tetap, wajahnya pun bersemu merah, tanda dari kesehatan yang terpelihara.
"Saudara To. kau baik!"
Tegurnya. To It Hang belum tahu yang orang she Bouwyong ini sudah akur dengan Giok Lo Sat, maka itu, ia mengawasi dengan tajam.
"Terima kasih, aku baik,"
Jawabnya.
"Untuk apa kau datang kemari?"
"Pertama-tama aku ingin menanyakan kesehatanmu,"
Sahut Bouwyong Tjiong.
"Kedua aku ingin tanya kau perihal Giok Lo Sat. Di mana adanya nona itu sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Oey Yap dan Ang In terkejut.
"Aku tidak tahu!"
It Hang menjawab, suaranya keras.
"Saudara To, harap kau tidak keliru mengerti,"
Bouwyong Tjiong berkata. Ia pun tidak menjadi kurang senang.
"Aku datang bukan untuk menuntut balas, sebaliknya aku cari dia guna membalas budi. Sekarang ini aku tahu, Giok Lo Sat adalah satu nona yang keras tabiatnya satu nona luar biasa yang pemurah dan budiman."
It Hang heran hingga ia tercengang, tak sempat ia mengatakan sesuatu, dengan tiba-tiba ia menangis tersedusedu. Bouwyong Tjiong mengerti kesulitan orang itu.
"Kau pun seorang yang baik hati, saudara To,"
Berkata dia.
"dan kamu saling mcnyintai, sudah seharusnya kamu menjadi pasangan yang saling mengasihi.
"Oey Yap Tootiang,"
Ia teruskan, kepada siapa ia berpaling.
"sukalah kau memaafkan kelancanganku, tetapi aku ingin menjadi orang perantara guna merekoki jodoh mereka berdua Ha-ha!"
Romannya Oey Yap Toodjin menjadi merah, tanda yang ia sangat tak senang.
"Aku larang orang menyebut nama dari hantu wanita yang centil itu!"
Ia kata dengan keras.
"It Hang, pergi undurkan diri! Sin Seng, Tjiauw Lam, pimpin dia masuk!"
Bouwyong Tjiong adalah seorang kenamaan, ia pun pernah memangku kedudukan tinggi, biasanya ia beradat tinggi, ia melainkan kagumi Tiat Hoei Liong dan Giok Lo Sat, dari itu.
tak senang ia terhadap sikap tuan rumah ini --ia menjadi gusar sekali.
"Oey Yap Toodjin!"
Serunya.
"masih tidak apa kau menghina aku tetapi kau telah menodai indjinku!" --(indjin = tuan penolong). Dan sebelah tangannya segera melayang! Oey Yap tangkas, ia tangkis sampokan itu. Di antara dua orang ini, tenaganya Bouwyong Tjiong ada terlebih besar, maka itu ketika kedua tangan bentrok, Oey Yap Toodjin terpental tubuhnya! Bouwyong Tjiong sendiri cuma terhuyung tiga tindak. Segera setelah berdiri tetap, orang she Bouwyong ini menghadap It Hang.
"To It Hang, kau melainkan pandai menangis! Apakah kau tidak malu?"
Dia serukan.
"Giok Lo Sat berani berbuat, berani bertanggung jawab! Apakah kau kalah dengan satu wanita?"
Sudah beberapa bulan It Hang terbenam dalam kedukaan, pikirannya kacau, keadaannya itu mirip gunung api yang tertutup, maka perkataannya Bouwyong Tjiong telah membakar semangatnya.
Dengan segera ia susut air matanya "Soesiok, harap kau beri maaf kepadaku!"
Berkata dia nyaring.
"Silakan soesiok pilih lain tjiangboendjin! Teetjoe akan pergi sekarang!"
Oey Yap dan Ang In terperanjat.
"Aku larang kau pergi!"
Mereka berteriak.
Dan Oey Yap lompat guna mencegah.
Tapi Bouwyong Tjiong berikan tonjokkannya yang hebat, atas mana Oey Yap menangkis sambil mundur.
Ang In pun ulurkan sebelah tangannya, guna menjambak pundaknya It Hang, akan tetapi segera ia merasakan tangannya seperti licin, sebab dengan satu mendakan kepala dan pundak, pemuda ini lolos bagaikan ikan melejit...
Sebab, kepandaiannya It Hang sekarang ini sudah sepadan dengan kepandaian paman gurunya, sedang Ang In, di waktu menjambak, sudah tidak berlaku kejam.
Tentu saja, Ang In menjadi penasaran, maka ia maju untuk mengejar.
Bouwyong Tjiong kembali menjadi penghalang.
"Mundur!"
Bentak bekas tjongkoan dari istana kaisar itu, sambil menyambar bahunya dengan tangan kiri dan kaki kanannya menyapu!
Ang In lihat gerakan orang itu, sambil menarik kembali tangannya, ia lompat, hingga ia lolos dari sapuan kakinya si tjongkoan, sapuan mana, apabila mengenainya, akan membikin ia menubruk lantai.
Dalam murkanya, Bouwyong Tjiong berteriak.
"Imam bangkotan berhidung kerbau!"
Demikian ia mencaci.
"kamu tolak aku sebagai orang perantara, tak suka aku, tak dapat aku terima itu!"
Oey Yap tidak menjawab, ia lompat, niatnya mengejar It Hang.
Kembali Bouwyong Tjiong menghalangi, lagi-lagi ia gunakan tangan dan kakinya, maka ia jadi bertarung dengar.
Oey Yap.
Sama sekali ia tidak jeri walaupun ia seperti berada di gua harimau.
Gie Sin Seng dan Keng Tjiauw Lam maju, untuk merintangi To It Hang.
Tentu saja mereka bukan tandingan dari soeheng itu, malah ketika It Hang menolak ke kiri dan kanan, keduanya mereka terguling roboh!
Bukan main murkanya Oey Yap dan Ang In, yang belakangan ini segera bantui saudaranya, hingga dia tak sadar bahwa dia telah main keroyok.
Bouwyong Tjiong bergelar Sinkoen Boetek, si Kepalan Malaikat Tanpa Tandingan, menghadapi Oey Yap dan Ang In.
ia perlihatkan kegagahannya.
Ia menghalang bagaikan satu Kimkong, satu Arhat, yang menjaga pintu.
Maka itu, meski sudah belasan kali kedua imam itu terjang padanya, ia tidak pernah mundur dari tempatnya merintang.
Ia tidak membalas menyerang hebat, ia cuma menjaga saja, guna menghalanghalangi, selama itu ia telah menunggu.
Ia tunggu sampai rasanya It Hang sudah lari turun gunung, lantas ia tertawa berkakakan.
"Imam tua bangkotan hidung kerbau!"
Katanya kemudian.
"tjiangboendjin-mu itu bukannya satu bocah cilik, sekarang dia mau pergi mencari pasangannya, perlu apa kamu mengekangnya? Ha-ha-ha! Jangan kamu gelisah tidak keruan, aku pun tidak dapat menemani kamu lama-lama, aku hendak pergi menyusul tjiangboendjin kamu itu untuk tenggak arak pengantin! Maaf, maaf!"
Selagi orang mengucap demikian, Oey Yap maju dengan serangannya, disusul dengan terjangan Ang In.
Malah yang belakangan ini menggunakan kedua kepalannya.
Kembali Bouwyong Tjiong, tertawa berkakakan.
Dia sudah putar tubuhnya, untuk menyingkir, berhubung dengan datangnya serangan Oey Yap, ia menangkis ke belakang dengan jurus "Gohouw hweetauw"
Atau "Harimau membalik kepala".
Maka dengan tepat ia menyampok, hingga si imam tertolak mundur.
Habis itu, ia lompat mundur, sedikit ke samping, kedua kakinya berbareng dipakai mendupak, dalam tipu silat "Hoenhoa hoetlioe"
Atau "Memecah bunga, mengebut yanglioe".
Dengan cara ini ia sambut Ang In, yang menyusul soeheng-nya itu.
Ang In Toodjin tidak menyangka orang demikian liehay, tidak sempat ia mengelak, atau ia telah kena terdupak, hingga bagaikan bola, tubuhnya terpental jauh kira-kira setumbak.
ia jatuh dengan kepala membentur meja, hingga dahinya benjut.
Syukur untuknya, tendangan itu tidak terlalu hebat, kedua tangannya masih dapat melindungi dirinya.
Selagi Oey Yap tercengang dan Ang In mencoba berbangkit.
Bouwyong Tjiong sudah angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat kepada mereka itu.
"Maaf, maaf,"
Katanya.
"Maafkan aku, tak dapat aku temani kamu!"
Ang In lompat bangun, napasnya tersengal.
"Soeheng, mari bunyikan genta!"
Katanya, mendongkol.
"Kita mesti kumpulkan semua murid untuk kejar dia!"
Oey Yap tertawa meringis.
"Sudah, tak usah banyak urusan lagi,"
Katanya.
"Kita sudah punya satu musuh, apa itu belum cukup? Jangan kita menambah pula yang baru..."
Sebenarnya, Ang In juga cuma meluapkan hawa amarahnya, hingga ia mengucap tanpa dipikir.
Ia telah menginsyafi, Pek Sek dan Tjeng Soo sedang terluka dan ia berdua soeheng itu bukan tandingan tetamunya itu, apa yang mereka bisa berbuat?
Mana sanggup sekalian murid mereka membantu mengepung Bouwyong Tjiong?
"Kita jangan pedulikan lagi Bouwyong Tjiong,"
Oey Yap berkata pula.
"Tapi It Hang mesti dicari, untuk diajak pulang. Selama belakangan ini, makin lama aku makin insaf, jikalau kita tidak bisa dapatkan satu tjiangboendjin yang liehay, beberapa tahun lagi, nama Boetong pay akan menjadi semakin tak terdengar..."
Akan tetapi It Hang sudah kabur, ke mana dia hendak dicari?
Inilah yang menambah pusingnya imam itu.
Sementara itu Tiat Hoei Liong berdua Kek Peng Teng, yang sudah pulang ke Liongboen, di propinsi Shoasay, siang dan malam, telah mengharap dengan sia-sia saja kedatangannya Giok Lo Sat bersama To It Hang.
Dari hari ke hari, sampai beberapa bulan, tetap pengharapan mereka tak terpenuhi.
Mereka telah menanti-nanti, dari permulaan musim rontok sampai di musim dingin.
Pada akhirnya, Peng Teng menjadi berduka dan gelisah.
"Apa mungkin entjie Lian telah dicelakai imam-imam dari Boetong san?"
Kata nona Kek itu. Hoei Liong tertawa.
"Itulah tidak akan terjadi!"
Berkata orang tua itu, yang hatinya besar.
"Apa yang aku kuatirkan adalah kalau-kalau It Hang mengubah pikirannya..."
"Kalau begitu, di musim semi marilah kita pergi ke Boetong san,"
Peng Teng usulkan.
"Perlu kita mencari tahu!"
"Aku percaya, walaupun lambat. Giok Lo Sat akan datang juga,"
Kata Hoei Liong, yang sabar luar biasa.
"Aku dengannya adalah sama dengan anak sendiri dan dengan kau dia bagaikan entjie kandungmu, maka tidak nanti dia tidak ingat kita. Menurut perangainya, umpama kata benar ia gagal dalam percintaan, tidak nanti ia menjadi nekat atau menghabiskan jiwanya sendiri. Baiklah kau tunggu saja."
Peng Teng suka tungkuli diri, suka ia terus menantikan, akan tetapi hari terus berlalu, dan Giok Lo Sat belum juga datang, maka itu, ia tetap masgul dan berkuatir.
Selama ini, Peng Teng telah peroleh kemajuan dengan ilmu silatnya.
Ia telah dapatkan kitab simpanan ilmu silat dari Anghoa Koeibo, ia telah yakinkan itu dengan sungguh sungguh, ia telah peroleh hasil.
Hanya pelajaran inilah yang membuat ia dapat sabarkan diri.
Pada suatu malam Peng Teng bermimpi, atau mendadak ada orang menongolkan kepalanya masuk ke dalam jendelanya.
Itulah kepala seorang wanita dengan rambut putih semua, wajahnya pucat pasi, hanya kedua matanya yang bersinar tajam.
Ia kaget hingga ia menjerit sekuatnya.
"Ada setan!"
Atas jeritan itu, kepala "setan", itu hilang lenyap.
Hoei Liong dengar jeritan itu, ia mendusin, terus ia lompat ke jendela, yang daunnya segera ia tolak.
Ia pun terkejut ketika ia lihat orang dengan rambut ubanan itu.
Akan tetapi ia adalah satu jago, ia tidak menjadi takut karenanya, apapula ketika orang itu menjura dua kali kepadanya, sesudah mana, dia itu memutar tubuh untuk berjalan pergi.
"Anak Siang, kembali!"
Teriak jago dari Barat utara ini.
"Peng Teng, lekas keluar, sambut entjie-mu!"
Peng Teng segera kerebongi tubuhnya, lalu ia lompat keluar, tetapi waktu itu, si rambut putih itu sudah berada di pekarangan. Keduanya menyusul terus.
"Anak Siang, kembali!"
Seru yang satu.
"Entjie, kembali!"
Teriak yang lain.
"Adik Teng, bukan niatku membikin kau kaget,"
Kata si rambut putih itu sambil membalik tubuh.
"Aku tidak takut, entjie!"
Jawab Peng Teng.
"Aku tidak takut meskipun kau benar-benar menjadi setan!..."
"Adik Teng, aku minta sukalah kau merawat ayah baikbaik,"
Kata pula si rambut putih itu.
"Bila kau yang mendampingi dan merawatnya, aku tidak kuatirkan apa-apa lagi..."
"Kau kembali, anak!"
Kata Hoei Liong. Si rambut putih itu menjura pula, lagi dua kali.
"Ayah, harap kau rawat diri baik-baik,"
Berkata dia.
"Aku hendak memenuhi pengharapan dari guruku, aku hendak pergi menelad contohnya Gak Beng Kie!"
Lalu ia putar tubuhnya, untuk segera angkat kaki.
Mulanya masih terlihat bayangannya di atas salju, lalu perlahan-lahan dia lenyap, hingga melainkan bintang-bintang saja yang berkelip-kelip di atas langit...
Hoei Liong menjadi sangat berduka, dengan wajah guram, ia kembali ke dalam rumah.
Ia tidak mengejar, karena ia tahu, tidak nanti ia dapat menyandak.
Peng Teng, telah bermandikan air mata.
"Kenapa entjie Lian menjadi demikian rupa?"
Kata nona ini, suaranya tak tegas.
"Sayang kecantikannya itu, belum dia berusia tua, rambutnya sudah ubanan semua. Dia sungguh keras hatinya. Kenapa tak sudi dia tinggal bersama kita?..."
Hoei Liong menarik napas panjang.
"Pasti, It Hang telah mengubah pikirannya,"
Katanya dengan masgul.
"Memang, siapa bersusah hati, dia lekas menjadi tua. Dahulu Ngouw Tjoe Sie, satu malam saja ia melintasi kota Tjiauwkwan, rambutnya berubah menjadi uban semua. Bahwa kesusahan hati dapat merusak seseorang, beginilah buktinya. Entjie-mu sangat menyayangi kecantikannya maka mendengar kata-katanya itu, sekarang pasti ia hendak pergi ke suatu tempat yang sepi untuk meyakinkan ilmu silat pedang, dan untuk selanjutnya, tidak ingin dia menemui orang biasa lagi..."
Kembali orang tua ini menghela napas.
Peng Teng menghela napas juga.
Sampai besok paginya, Peng Teng masih tetap berduka, maka seorang diri ia keluar dari rumahnya, ia pergi keluar kampung, untuk berjalan-jalan, dengan niat melegakan hati.
Tibatiba ia dengar suara kelenengan kuda di kejauhan, makin lama makin tegas suaranya, sesaat kemudian tampaklah seekor kuda tengah lari mendatangi.
Apa yang membuat ia kaget dan heran ialah setelah kuda itu datang dekat di depannya, penunggang itu roboh dari kudanya.
Iapun lihat pada bebokong kuda itu nancap beberapa batang panah.
Maka setelah penunggangnya jatuh, sambil meringkik keras, kuda itu kabur terus Segera Peng Teng hampiri penunggang kuda itu, ialah seorang muda dengan mata lebar dan alis tebal.
"Apakah ini Tiat keetjhung dari Liongboen?"
Tanya si anak muda.
"Benar,"
Jawab Peng Teng.
"Kau siapa?"
"Kau tolong aku!"
Kata si anak muda, tanpa menjawab. VI Anak muda itu terluka parah, iapun sangat lelah, begitu ia roboh dari kudanya, tak dapat ia merayap bangun, maka Peng Teng membantu ia berdiri.
"Sebenarnya kau siapa?"
Tanya Peng Teng.
"He, nona cilik, kau banyak omong!"
Kata anak muda itu.
"Jikalau kau suka tolong aku, lekas panggil Tiat Hoei Liong keluar. Jikalau tidak, tolong kau hunus golokku dan serahkan itu padaku!"
Peng Teng heran atas sikap orang itu.
Sebetulnya masih hendak ia bertanya pula, akan tetapi melihat lukanya orang itu, ia merasa kasihan.
Waktu itu di luar kampung terdengar pula suara kelenengan kuda, tapi masih samar-samar.
"Sudah tidak keburu!"
Teriak si anak muda.
"Mari golokku!"
"Buat apa golokmu?"
Tanya si nona, yang menjadi bertambah heran.
"Biar mesti mati, tak sudi aku jatuh dalam tangan orang jahat!"
Sahut si anak muda.
"Orang ini polos..."
Pikir Peng Teng.
"Dia lebih suka terbinasa daripada terhina, dia bukannya orang jahat."
Maka ia lantas berkata.
"Baiklah, akan aku tolong padamu!"
Suara kuda mendatangi terdengar semakin tegas.
Tidak tunggu lagi, Peng Teng peluk anak muda itu, lalu diangkat dan diletakkan di tepi jalan di mana terdapat tumpukan jerami gandum, hingga tubuh orang itu tak terlihat.
Seumurnya belum pernah Nona Kek ini melanggar tubuh orang lelaki sebagai kali ini.
Juga tubuh pemuda itu berat sekali, hingga ia mesti pakai tenaga besar dan menahan panas.
Baru ia berlega hati setelah orang itu dapat disembunyikan.
Justeru itu pengejar si anak muda telah sampai di mulut kampung.
Peng Teng cerdik sekali, ia tahu bagaimana ia harus berbuat.
Ia lantas buka baju luarnya, yang terkena darahnya si anak muda ia masukkan itu ke dalam tumpukan rumput, lalu ia ambil lumpur untuk digosokkan pada kedua tangannya hingga darah di tangannya itu menjadi kotor.
Iapun usap mukanya Dengan segera tibalah si pengejar, yang terdiri dari lima penunggang kuda, semua berpakaian sebagai hamba negeri.
"Eh, nona kecil!"
Tegur seorang di antaranya, yang rupanya menjadi kepala "adakah kau melihat satu anak muda dengan tubuh terluka? Dia menunggang kuda dan barusan kabur ke arah sini."
"Aku melihatnya,"
Sahut Peng Teng.
"Dia kabur ke depan sana"
Sambil menunjuk ke arah Tiat keetjhung.
Kudanya si anak muda telah terluka oleh panah, selagi binatang itu kabur, darah menetes di sepanjang jalan, maka itu, ke lima orang itu dapat melihat tanda-tanda darah di tanah.
Mereka itu mengawasi ke arah kampung.
"Eh, apakah itu Tiat keetjhung?"
Tanya satu di antaranya suaranya seperti heran atau kaget.
"Benar,"
Jawab Peng Teng.
"Anak muda tadi telah masuk ke dalam Tiat keetjhung."
Ke lima penunggang kuda itu lompat turun dari kudanya masing-masing, mereka berkumpul sambil berbisik-bisik. Teranglah mereka sedang asyik berdamai.
"Tiat Hoei Liong aneh perangainya, terhadapnya tak dapat kita bicara keras,"
Kata yang satu.
"Mustahil kita berlima tidak sanggup melawan dia?"
Kata orang yang kedua.
"Baiklah kita gunakan adat sopan santun dulu, kalau kita tak berdaya, baru kita gunakan kekerasan. Kita mesti minta si anak muda."
Orang yang ketiga menggelengkan kepalanya, tandanya ia tak setuju.
Peng Teng berdiri tetap di tempatnya, ia awasi mereka itu.
Sebaliknya, ke lima orang itu sering-sering berpaling kepadanya.
Tiba-tiba satu orang maju dua tindak, mendekati si nona.
"He, kau siapa?"
Mendadak dia tanya, sambil tertawa.
"Aku adalah anaknya seorang tani,"
Jawab Peng Teng.
"Aku biasa keluar dari rumah pagi-pagi untuk mencari rumput."
"Bukankah kamu dari Tiat keetjhung?"
Tanya orang itu pula.
"Bukan. Aku adalah dari kampung sana."
Sejak tinggal di Tiat keetjhung, Peng Teng tidak suka lagi berhias atau memakai pupur dan yantjie seperti masih di istana, malah pakaiannya pun seperu-orang desa, maka setelah sekarang parasnya yang cantik kotor dengan lumpur, tidak nanti ada orang yang menyangka bahwa belum lama berselang ia adalah satu nona agung mirip dengan puteri raja.
Akan tetapi penunggang kuda itu bermata liehay, terang ia seorang kangouw yang berpengalaman.
Ia awasi si nona, lantas ia tertawa berkakakan.
"Kita sudah merantau ke selatan dan utara, hampir saja kita dikelabui bocah ini!"
Katanya sambil tertawa pula "Coba kamu lihat!..."
Dan ia tunjuk mukanya Peng Teng.
"Lihat ini! Mukanya benar kotor dengan lumpur, akan tetapi pakaiannya bersih! Dia pun bicara dengan teratur sekali, masa dia anaknya seorang dusun?"
Hatinya Peng Teng tersentak. Ia heran akan penglihatannya orang itu.
"Lekas bicara!"
Orang itu membentak, sikapnya bengis.
"Di mana kau sembunyikan anak muda itu? Dia adalah satu penjahat busuk yang tak dapat diberi ampun. Beranikah kau menyembunyikan dia? Apakah kau sudah tidak sayang akan jiwamu?"
"Apakah dia penjahat atau bukan, aku tidak tahu,"
Sahut Peng Teng dengan sikapnya berpura-pura.
"Kau menyangkal?"
Bentak orang itu, sambil lompat maju, kedua tangannya diangkat, agaknya dia hendak menubruk.
"Tahan!"
Cegah salah satu kawannya "Jangan sembrono! Baik tanya dulu, dia pernah apa dengan Tiat Hoei Liong."
"Gadisnya Tiat Hoet Liong sudah mati!"
Kata orang yang bengis itu.
"Aku tahu, Tiat Hoei Liong juga tidak punya murid perempuan. Dia tentu konconya si penjahat!"
Dia maju pula, untuk membekuk si nona. Peng Teng berkelit, tak dapat ia ditangkap.
"Hai, dia lincah sekali!"
Kata orang itu heran.
"Ah. dia mengerti ilmu silat!..."
Ke empat orang lainnya pun heran, segera mereka percaya nona ini mesti bukan gadis dusun sembarangan.
Si orang bengis tidak mau mengerti, untuk bisa bekuk si nona ia maju pula Kali ini ia menyerang.
Dengan terpaksa, Peng Teng melayani orang berkelahi, karena tak mau ia diperlakukan kasar.
Orang bengis itu berkepandaian tak lemah, ilmu silatnya pun berasal dari golongan utara Dia berkelahi dengan gunakan Patkwa tjiang, hebat gerakan kaki tangannya Peng Teng telah perlihatkan kepandaiannya, warisan dari Anghoa Koeibo.
Ia belum mencapai kemahiran gurunya itu tetapi ia berhasil membuat penyerangnya itu kewalahan.
"Pasti sekali bocah ini ada konconya si penjahat itu, mari kita ringkus padanya!"
Kata satu penunggang kuda lainnya, apabila ia saksikan sampai sebegitu jauh kawannya masih belum berhasil membekuk si nona.
Nyata ke lima orang itu adalah boesoe atau pengawal pahlawan dari Tan Kie Djie, tjongtok dari Siamsay, dan mereka bertugas untuk menawan si anak muda.
Mereka pun terdiri dari dua golongan.
Ialah yang tiga berasal dari penjahat, yang terima "panggilan tjiauwan dari Tan Tjongtok, dan yang dua lagi adalah pahlawan dari Tongtjiang dari Pakkhia yang dikirim ke Siamsay diperbantukan untuk menindas kawanan bandit.
Orang yang pertama turun tangan terhadap Peng Teng adalah dari golongan yang tiga itu dan ia menjadi kepala di antara kawannya maka itu, setelah dengar anjurannya dua kawannya lantas hunus senjata mereka untuk mengepung si nona Kedua pahlawan dari Tongtjiang tidak lantas turun tangan, mereka tetap berdiri menyaksikan.
Mereka saling pandang, agaknya mereka heran menyaksikan liehaynya si nona.
Dikepung tiga musuh, Peng Teng tidak menjadi jeri.
ia berikan perlawanan yang baik.
terus sampai lima puluh jurus, ia masih bertahan.
Adalah selewatnya itu.
baru ia repot juga.
Ia kalah tenaga, ia kalah ulet.
Ketiga musuh itu juga menggunakan senjata, ia sendiri bertangan kosong.
Ia sampai bermandikan keringat, hingga wajahnya yang kotor menjadi bersih, dan hingga sekarang tampaklah kulitnya yang putih halus, romannya yang cantik.
"Aduh!"
Teriak nona ini ketika pundaknya kena dihajar ruyung lawan. Dalam repotnya, ia tak sempat menangkis dan berkelit.
"Hahaha!"
Tertawa si penyerang itu.
"Kau masih tidak mau menyerah, penjahat? Lekas kau berikan keteranganmu!"
Peng Teng tidak menjawab, ia hanya menjerit.
"Ayah, ayah, lekas! Ada orang perhina anakmu!"
Mendengar itu ketiga lawan itu terperanjat.
"Tiat Hoei Liong itu apa kamu?"
Tanya mereka.
"Ia adalah ayahku!"
Sahut Peng Teng.
"Kamu mau apa?"
Ketiga orang itu melengak sejenak lantas mereka tertawa bergelak.
"Kau dustai kami!"
Kata mereka.
"Kau hendak gertak kami? Hahaha!"
Dan mereka menyerang pula dengan terlebih sengit lagi.
Di antara tumpukan rumput terdengar suara berkeresek, rumput pun bergerak, menyusul mana.
muncullah si anak muda yang terluka, yang merayap keluar dari tempatnya sembunyi.
Ia telah dengar semua pembicaraan kedua pihak itu, tak mau ia tak bertanggung jawab.
"Jangan kamu ganggu dia!"
Ia berteriak.
"Dia tidak ada sangkutannya! Aku ada di sini!"
Hal ini membuat heran ke lima pahlawan itu.
tidak terkecuali si nona.
Malah ketiga pengepung itu.
setelah berseru, mereka tinggalkan Peng Teng, untuk lari kepada si anak muda itu.
Peng Teng melengak karena kagetnya.
Berbareng dengan itu ada orang berseru.
"Eh, bukankah kau kiongtjoe kita? --Lo Liong Loodjie, tahan dulu! Nona ini adalah Tjiankim dari Hong Seng Hoedjin (Tjiankim = seribu emas, artinya. anak gadis terhormat). Dua pahlawan itu, semasa masih di istana, pernah melihat Peng Teng --pernah beberapa kali mereka melihatnya. Itu waktu, kedudukan mereka masih rendah tidak dapat mereka datang dekat pada nona Kek, inilah yang menyebabkan mereka tidak lantas kenali si nona, apapula sekarang, nona itu beda dandanannya dan mukanya pun kotor. Adalah setelah keringat itu menghilangkan lumpur di muka si nona. baru mereka dapat melihat dengan tegas. Ketiga pahlawan yang mengepung si nona ini kaget, hingga mereka berdiri menjublak. Juga si anak muda menjadi heran, sampai ia turut bengong, tetapi sejenak saja, ia lantas berseru.
"Apa? Kau anaknya Keksie? Kau....kenapa kau tolongi aku? Oh, tidak, tidak suka aku menerima budimu! --Hayo, tangkaplah aku!"
Peng Teng melengak. Dengan tiba-tiba saja, ia rasakan hatinya sakit.
"Kiranya orang kangouw membenci ibuku hingga demikian rupa,"
Pikirnya. Kedua pahlawan dari Tongtjiang itu segera memberi hormatnya.
"Kiongtjoe."
Kata satu di antaranya.
"orang ini adalah pemberontak yang menyatrukan pemerintah agung, dialah yang Goei Tjongtjoe hendak tawan, untuk dihukum. Kami mohon supaya kiongtjoe suka menyerahkan ia kepada kami, untuk dibawa pulang."
"Pergi kamu!"
Bentak Peng Teng.
"Tinggalkan orang ini di sini! Jikalau kamu hendak menawannya, pergi suruh Goei Tiong Hian datang sendiri kemari!"
Tiga pahlawan asal penjahat itu menjadi bersangsi.
"Inilah sukar,"
Pikir mereka.
"Nona ini adalah mestikanya Keksie, sekarang dia kena dihajar, kalau nanti dia pulang ke istana, pasti kita sukar lolos dari hukuman mati... -Daripada mati, apa tidak lebih baik kalau sekarang kita bunuh dia, untuk tutup mulutnya?..."
Nyata si orang bengis itu bisa ambil putusan cepat.
"Ngaco!"
Teriaknya, dengan kedua matanya dibelalakkan.
"Mana dapat kau menjadi kiongtjoe? Di kolong langit ini memang banyak orang yang roman nya mirip satu dengan lain! Jikalau kau benar kiongtjoe. mustahil kau kabur meninggalkan istana untuk tinggal menyendiri di satu dusun?"
Kata-kata ini dapat dimengerti oleh kedua pahlawan Tongtjiang itu, walaupun demikian, untuk sesaat mereka masih bersangsi --tak tahu mereka.
lebih baik turut pikirannya rekan itu membinasakan Peng Teng atau menolongi puterinya Keksie ini.
Tapi tidak sempat mereka berpikir lama, atau ketiga kawan itu sudah lantas maju pula, untuk menyerang si nona.
Waktu itu tampaklah satu orang berlari-lari mendatangi dari arah liat keetjhung.
dengan cepat sekali, dia telah sampai di tempat pertempuran Lantas saja dia unjuk kemurkaannya.
"Siapa menghina anakku?"
Dia berteriak, dengan kumis jenggot-nya bangkit berdiri, matanya terpentang lebar, romannya bengis sekali, suaranya pun nyaring dan berpengaruh.
Dan begitu ia sampai di depan ketiga pahlawan itu.
ia tangkis mereka yang sedang mengancam Peng Teng.
Hebat tangkisannya itu, yang dibarengi dengan tendangan, hingga ketiga orang itu terpukul roboh.
Kedua pahlawan dari Tongtjiang menjadi kaget.
Mereka segera kenali orang yang baru datang ini.
"Tiat Looenghiong. tidak ada sangkutannya kami dengan mereka itu!"
Kata mereka.
"Apakah mereka belum turun tangan?"
Hoei Liong tanya anak angkatnya.
"Belum. Berikan mereka ampun."
Sahut Peng Teng.
"Dia adalah anakku!"
Bentak Hoei Liong.
"Jikalau kamu hendak cari kiongtjoe. pergi cari di lain tempat! Jikalau kalian berani datang mengganggu pula padaku, segera akan aku patahkan kakimu anjing!"
Jago tua ini mengatakan demikian karena ia belum tahu kawanan pahlawan itu hendak menangkap siapa, ia sangka mereka hendak mencari Peng Teng.
Kedua pahlawan Tongtjiang itu sangat jeri.
mereka segera menyingkir.
Perbuatan ini segera ditelad oleh yang lain.
Nona Kek tertawa geli melihat tingkah laku orang itu.
"Ayah."
Katanya pada ayah angkatnya itu.
"mereka bukan hendak cari aku. mereka hanya hendak menawan anak muda itu,"
Sambil menunjuk ke arah si anak muda yang terluka. Hoei Liong segera memandang ke arah yang ditunjuk itu.
"Tadinya aku sangka kaulah yang melukai dia,"
Kata ayah ini.
"Eh, kau siapa?"
Ia terus tanya pemuda itu.
"Bukankah kau anak tolol yang baru-baru ini ikut Ong Tjiauw Hie?"
Anak muda itu niat bicara se&ari tadi, tapi tidak sempat, sekarang, setelah ditanya, ia lantas tertawa.
"Benar."
Demikian sahutnya.
"Loodjinkee. kuat ingatanmu. Aku adalah Pek Bin. Soemoay-ku pernah tinggal di rumah loodjinkee."
"Hoei Liong tidak ingat akan namanya. karenanya ia menyebutnya si "anak tolol", ia tertawa mendengar anak muda itu tidak menyangkal.
"Aku sudah tua, ingatanku sudah berkurang."
Katanya.
"Harap kau tidak kecil hati. Eh. ya, kenapa kau terluka? Coba kau berikan keterangan padaku."
"Aku dititahkan saudara Tjiauw Hie mengunjungi loodjinkee,"
Kata Pek Bin. Hoei Liong heran.
"Dia sedang membantu Giam Ong, pasti dia sedang repot dengan urusan ketentaraan, tetapi ia toh masih ingat aku."
Katanya.
"Tetapi ia tidak menitahkan langsung aku menyambanginya loodjinkee,"
Pek Bin jelaskan.
"Dia memesan, apabila aku lewat di sini, supaya aku perlukan berkunjung. Ah, sebenarnya panjang untuk diceritakan..."
Hoei Liong girang melihat orang bicara secara jujur itu.
"Tetapi ayah,"
Peng Teng menyelak.
"Dia terluka parah, baik ajak dia pulang dulu, supaya dia dapat beristirahat, nanti baru ayah ajak dia bicara..."
"Ah. aku sampai lupa!"
Tertawa ayah angkat itu.
"Aku pelupa, kalah aku dengan kau! Tapi jangan kuatir tentang lukanya, walaupun nampaknya dia terluka hebat, dia cuma terluka enteng bekas golok atau panah. Aku tanggung dalam tempo lima hari aku dapat mengobati dia hingga sembuh!"
Pek Bin mempunyai tubuh kuat, dugaan Hoei Liong tidak salah.
Malah baru selang tiga hari, dia sudah dapat bergerak dengan leluasa.
Peng Teng segera juga bergaul dengan anak muda ini, yang karena polosnya tampak tolol.
Selama di istana, ia biasa menghadapi segala kedustaan, atau akal muslihat, pada Pek Bin, ia tampak kejujuran.
Pek Bin sebaliknya, dapat bergaul dengan siapa saja.
Hoei Liong heran menampak sikapnya Peng Teng itu, di dalam hatinya ia merasa lucu.
"Dasar jodoh manusia!"
Katanya di dalam hatinya.
"Peng Teng yang biasa hidup mewah dan dimanja dapat bergaul dengan bocah tolol ini..."
Tetapi walaupun demikian, jago tua ini tidak menghalanghalangi.
Sekarang, setelah sembuh dari lukanya, Pek Bin tuturkan pengalamannya.
Lie Tjoe Seng, sesudah mengundurkan diri ke pegunungan Tjinnia, setelah dapat beristirahat beberapa tahun, berhasil mengumpulkan tenaganya.
Kemajuan juga telah diperoleh tentara rakyat di Siamsay dan Shoasay selama dua tahun yang terakhir ini.
Maka Lie Tjoe Seng lantas mengatur persediaan untuk kembali ke Siamsay, supaya dia bisa muncul pula di kota Tongkwan untuk mewujudkan cita-citanya.
Untuk itu terlebih dahulu ia serahkan tanggung jawab kepada Ong Tjiauw Hie, putera dari Ong Kee In bekas pemimpin umum dari pelbagai rombongan tentara rakyat di Siamsay Utara.
Dan untuk menunaikan tugasnya, Ong Tjiauw Hie mengirim Pek Bin untuk mewartakan dan meminta pelbagai pemimpin tentara rakyat di Siamsay dan Shoasay itu nanti mengadakan pertemuan umum.
Mereka yang berada di Siamsay telah dapat dihubungi, dan yang di Shoasay --telah ditetapkan -akan berkumpul berselang tujuh hari di gunung Tiongtiauw san, gunung mana terpisah dari Tiat keetjhung kira-kira tiga ratus lie.
Maka itu Ong Tjiauw Hie memesan pada Pek Bin, setelah ia selesai, supaya diperlukan mampir di Liongboen, guna menyambangi Tiat Hoei Liong.
Tapi di luar dugaannya orang-orangnya Tan Kie Djie dapat tahu tugas dari Pek Bin itu, mereka lantas menyusul, belum lagi Pek Bin sampai di Liongboen, dia telah kecandak dan dikeroyok hingga dia mendapat luka-luka, dia terus dikejar tak hentinya, sampai dia datang dekat Tiat keetjhung.
karena dia tak tahan lagi, dia roboh, hingga dia ditolong Peng Teng, yang melindungi padanya.
Dia ada satu laki-laki, maka ketika ia lihat si nona dikepung, dia menjadi tidak senang, dia merasa malu terhadap nona Kek, maka itu, tak peduli akan luka-lukanya, dia muncul untuk menolongi nona itu.
Syukur untuknya, Hoei Liong keburu datang.
"Saudara Tjiauw Hie sudah siap, lagi dua tiga hari dari tanggal pertemuan, pasti dia akan tiba,"
Pek Bin menutur ter4ebih jauh.
"Dia suruh aku menantikan di sini. Dia pun mengandung maksud untuk mohon loodjinkee turut ambil bagian dalam gerakannya itu."
Hoei Liong urut-urut kumis jenggotnya sambil tertawa.
"Aku sudah tua, sudah tak berguna!"
Katanya.
"Mungkin anakku ini kelak dapat membantu."
"Bukankah dia anaknya Keksie?"
Tanya Pek Bin. Hoei Liong tidak menjawab, ia hanya menoleh kepada anak angkatnya.
"Mereka itu menyatrukan pemerintah, tak dapat mereka itu berdiri sama-sama Goei Tiong Hian, sudikah kau membantu mereka?"
Ia tanya anak itu.
"Bila ayah mengatakan aku boleh membantu, maka nanti, sesudah selesai pelajaranku, pasti aku bersedia memberikan tenagaku!"
Sahut sang anak.
Mendengar itu, Pek Bin pentang lebar kedua matanya.
Segera juga berubahlah pandangannya terhadap si nona gadisnya Keksie.
Hoei Liong pun lantas ingat halnya dahulu ia pernah niat merekoki jodoh gadisnya dengan Ong Tjiauw Hie.
"Apakah Tjiauw Hie telah menikah dengan Nona Beng?"
Tanyanya.
"Aku malah sudah mempunyai keponakan umur dua tahun!"
Sahut Pek Bin dengan gembira.
"Beng Soemoay itu, orangnya kecil dan pendiam, akan tetapi bayinya putih dan montok sekali dan sangat bengal. Ya, Beng Soemoay juga ingin melihat kau, loodjinkee!"
"Aku juga ingin melihat mereka,"
Kata Hoei Liong. Dua hari berselang dari hari yang dijanjikan, Tjiauw Hie tidak muncul, hal ini membuat Pek Bin bergelisah.
"Mari kita papak dia,"
Hoei Liong mengajak.
"Bukankah lukamu sudah sembuh benar?"
"Ya, sudah sembuh!"
Jawab Pek Bin.
Maka bersama-sama Peng Teng, mereka berangkat ke arah Tiongtiauw san.
Selagi Hoei Liong bertiga menuju ke Tiongtiauw san, di tepi gunung tampak satu orang sedang berjalan seorang diri.
Dialah To It Hang, yang kabur dari gunungnya sendiri.
"Maukah dia menemui aku? Apakah dia akan pedulikan aku?"
Demikian anak muda itu tergoda pikirannya.
Inilah gangguan, yang tidak dapat ia singkirkan.
Pemecahannya, ia tahu.
adalah nanti, setelah ia bertemu dengan Giok Lo Sat.
Karena itu.
bulat tekadnya untuk mencari si Raksasi Kumala, tak peduli orang nanti suka menemui dia atau tidak, tak peduli ia mesti pergi ke ujung langit atau ke pangkal lautan...
"Tetapi, ke mana aku mesti cari dia?"
Tanyanya berulang kali seorang diri. Karena kerasnya It Hang berpikir, sampai ia ingat kepada Tiat Hoei Liong.
"Hoei Liong adalah ayah angkatnya Giok Lo Sat, tentu ia ketahui tentang anaknya itu. Atau mungkin Giok Lo Sat berada di rumahnya..."
Maka jalanlah lt Hang.
siang dan malam, melawan angin, menggadangi sinar rembulan.
Ia hanya singgah atau bermalam apabila ia butuhkan itu dengan sangat.
Demikian sampailah ia di Ouwpak, dari sana ia menuju ke Soetjoan, lalu memasuki Siamsay.
dari mana ia maju terus ke Shoasay.
Beberapa bulan telah lewat, hingga dari musim rontok sampailah ia di musim dingin, dan daun-daun yang rontok diganti dengan beterbangannya salju-salju bagaikan bunga...
Demikian hari itu, tibalah ia di Tiongtiauw san, dari sana, kira-kira tiga ratus lie lagi ia sampai di Tiat keetjhung.
Keadaan langit waktu itu mendung, karena kecuali hari sudah larut, salju pun turun makin lama makin lebat.
"Lagi dua hari, akan bertemulah aku dengan dia..."
Demikian pikir tjiangboendjin dari Boetong pay, maka ia tak jeri terhadap hawa yang sangat dingin itu, yang seperti menyerang sampai kepada tulang-tulang sumsumnya.
Di samping itu, ia rasakan hatinya panas.
Maka ia jalan terus hingga melewati tempat di mana ia harus singgah, dan sesaat kemudian, jagat telah menjadi gelap, tandanya sang malam telah tiba.
Jalan di tanah pegunungan ada sukar, apapula dilakukan di waktu malam dengan tidak ada sinar bulan, dan salju tersebar di sekitarnya.
It Hang memandang ke empat penjuru, ia jalan terus.
Hawa dingin mengganggu hebat, apapula itu waktu, perutnya sudah meminta makan.
Ia telah berjalan jauh, ia menjadi letih sekali.
Akhir-akhirnya tibalah It Hang pada sebuah kuil tua, di mana penduduknya menghormati malaikat gunung, akan tetapi di musim dingin seperti itu, kuil itu tidak pernah didatangi orang-orang yang bersujut, keadaannya sangat sunyi, hingga di sana kampret dan burung-burung hutanlah yang bertempat tinggal dengan sarang-sarangnya.
Melihat ada manusia datang, semua binatang bersayap itu kaget dan beterbangan.
"Biarlah aku berkawan dengan burung-burung, malam ini aku tidur di sini,"
Berkata It Hang dalam hatinya.
Di dalam kuil malaikat gunung ini.
It Han mencari air dingin, yang ia pakai untuk menurunkan rangsum kering yang ia bekal, kemudian ia singkap kelambu dari patung malaikat itu, hingga di belakang meja ia tampak satu ruang lega di mana ia dapat merebahkan diri.
Pada mulanya ia berpikir untuk beristirahat saja, akan tetapi karena letihnya, tak lama setelah ia meletakkan kepalanya ia jatuh tertidur.
Berapa lama ia sudah tidur, It Hang tidak ketahui.
Ia hanya tampak-dalam tidurnya itu --Giok Lo Sat bertindak menghampiri ke arahnya.
Dengan sekonyong-konyong si nona berseru nyaring dan panjang, la kaget, segera ia mendusin.
Sesudah sadar, rasanya masih belum lenyap seruan itu dari kupingnya.
Hanya sejenak kemudian, seruan itu berubah dengan pekik hebat dari burung hantu, hingga ia terkejut.
"Bukankah aku sedang bermimpi?"
Tanya It Hang dalam hatinya. Ia terbenam dalam keragu-raguan.
"Apakah benarbenar entjie Lian yang datang? Bukan, bukannya dia... Seruannya tidak demikian mengejutkan --seruan ini adalah menakutkan..."
Sedangnya It Hang berniat menggerakkan tubuhnya, untuk merayap bangun, kupingnya mendengar tindakan kaki orang yang berjalan masuk ke dalam kuil.
Lekas-lekas ia menyingkap kelambu, untuk melihat, la menjadi kaget sampai hampir ia perdengarkan seruan.
Di paseban di mana terdapat tumpukan salju, yang sinarnya putih bergemerlapan, ada dua makhluk yang menakutkan, sebab romannya adalah tiga bagian manusia, tujuh bagian hantu, mukanya pucat, tak ada darahnya, Dan kedua makhluk itu tengah tertawa, suara tertawanya menyebabkan orang menggigil sendirinya.
Rambut kedua makhluk itu terurai, tubuhnya kurus dan jangkung, keduanya mirip satu pada lain.
It Hang tabahkan hatinya untuk dapat mengawasi terus.
"Loodjie, mari kita gertak dia, untuk membuat dia takut."
Begitu ia dengar makhluk yang satu berkata, kepada kawannya.
Lalu ia merogoh sakunya, untuk mengeluarkan dua benda bundar, apabila It Hang mengawasinya dengan tegas, ia dapatkan itu adalah dua kepala manusia!
Makhluk yang membuka suara itu menghampirkan meja, di atas itu, ia letakkan kedua kepala itu.
Dengan diletakkannya kedua kepala itu, It Hang tidak dapat melihat lagi orang itu, ia hanya dengar bunyinya letusan api, menyusul mana terlihat cahaya api dan asap yang menyepatkan mata.
Ia tidak tahu, apa yang kedua orang itu perbuat.
Tidak lama antaranya, di luar kuil terdengar suara kuda berbunyi.
Mendengar suara kuda itu, kedua orang itu lompat bangum "Sungguh saudara Ong sangat boleh dipercaya!"
Berkata mereka.
"Benar-benar kau datang pada waktu yang tepat! Di sini ada sahabat kekalmu sedang menantikan..."
Dari luar segera terdengar jawaban.
"Sien Lootoa, Sien Loodjie, kamu datang siang sekali!"
Demikian suara itu, rupanya dari si orang she Ong sebagaimana dia disebutnya tadi oleh kedua orang itu.
Baca Juga: Sukma Pedang Gu Long
Baca Juga: Perguruan Sejati 6