Eps 4 Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Baca online Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Cersil Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen.
"Siapa lagi yang kamu janjikan untuk datang kemari? Apakah tidak lebih baik untuk kita bicara dahulu dengan jelas?"
It Hang heran.
Ia kenali suaranya si orang she Ong itu.
Itulah Ong Tjiauw Hie.
Seumurnya, It Hang hanya mempunyai dua sahabat kekal.
Yang satu adalah Gak Beng Kie, dan yang iainnya adalah Ong Tjiauw Hie.
Dengan Tjiauw Hie ia berlainan paham akan tetapi hati mereka cocok satu dengan lain, maka itu dapat mereka bersahabat.
Sekarang It Hang dengar suara sahabat itu, ia heran berbareng girang.
Di pihak lain, ia pun terkejut mendengar pembicaraan mereka itu.
Itulah suara dari permusuhan.
"Sin Lootoa... Sien Loodjie...?"
Ia ulangi kedua nama itu yang disebutkan Tjiauw Hie, sambil menyebut, ia berpikir dan mengingat-ingat.
"Oh, oh! Bukankah mereka itu Siampak Djiesien, yaitu Sien Tay Goan dan Sien It Goan? sudah lama aku dengar nama mereka, yang ilmu silatnya luar biasa, dan tingkah polahnya aneh. Mengapa Ong Tjiauw Hie janjikan mereka di sini?" --(Siampak Djiesien = Dua Sien dari Siamsay Utara). Segera juga Ong Tjiauw Hie bertindak masuk. Ketika ia mendekati meja, dengan mendadak saja ia berseru bahna kagetnya.
"Bukankah ini Yamiau tjee Touw Ngo dan Shiathian tiauw Thio Soe?"
Tanyanya heran.
"Kamu... kamu mengapa turun tangan atas mereka?"
Sien Tay Goan tertawa terbahak-bahak, suara itu terdengarnya aneh.
"Mereka itu tidak taati titahnya Pat Tayong, maka itu terpaksa kita memotong ayam untuk menghormati kunyuk!"
Katanya, dengan jawabannya yang diumpamakan.
"Pasti ini bukan kehendaknya Pat Tayong,"
Kata Ong Tjiauw Hie.
"Pat Tayong itu dengan Siauw Giam Ong kita ada bersaudara angkat, cara bagaimana maka dia dapat membinasakan orang kami?"
"Siauw Giam Ong? Hm. apa Siauw Giam Ong?"
Teriak Sien It Goan.
"Ketika kami sudah bekerja, dia masih ada dalam perut! Apakah yang dia buat andalan maka hendak dia memerintah kami orang-orang gagah dari dua propinsi Shoasay dan Siamsay? Boleh Pat Tayong kesudian angkat saudara dengannya tetapi kita. kita tak sudi!"
Pat Tayong itu adalah Thio Hian Tiong dan Siauw Giam Ong ialah Lie Tjoe Seng.
Pada beberapa puluh tahun yang lampau.
Pat Tayong telah memegang pimpinan atas tiga puluh enam rombongan berandal, yang terdiri dari dua puluh laksa lebih, dengan itu dia telah menyerbu propinsi Shoasay, tetapi dia dapat dikalahkan Ang Sin Tioe.
tjongtok di bawah pemerintahan kerajaan Beng, sisanya kabur ke Hoolam dan Hoopak.
di Hoolam, mereka dipegat tentara Beng.
lalu mereka kabur lebih jauh ke Ouwpak, dari mana mereka mutar ke Soetjoan.
Ketika itu Lie Tjoe Seng dari Siamsay masuk ke Soetjoan.
di mana di pegunungan Tjinnia ia melatih tentara, di situ mereka berdua bertemu, lanias mereka mengangkat saudara.
Hanya di Soetjoan itu, pengaruhnya Thio Hian Tiong ada lebih besar, maka Lie Tjoe Seng telah membuat perjanjian dengannya, yaitu ia serahkan Soetjoan, untuk dijadikan markasnya, ia sendiri pulang ke Siamsay.
Sedang Shoasay adalah tempat asalnya tetapi setelah mendapatkan Soetjoan, Thio Hian Tong merasa puas dan betah tinggal menetap di sana.
Sebab dilihat dari letaknya Soetjoan adalah daerah subur dan makmur, Shoasay miskin.
Tentu saja senang ia membiarkan Lie Tjoe Seng berkedudukan di propinsi Shoasay itu.
Karena ia mendapat tempat miskin itu, Lie Tjoe Seng menugaskan Ong Tjiauw Hie mencari sahabat dan kawan di Siamsay dan wilayah Shoasay lainnya.
Tapi hal ini tidak disukai kedua saudara Sien.
Kedua saudara ini ketahui tentang perjanjian antara Pat Tayong dan Siauw Giam Ong itu, walaupun demikian, mereka telah menemui Pat Tayong untuk menyatakan tidak seharusnya Shoasay dilepaskan dan diserahkan pada Siauw Giam Ong.
Pat Tayong kena digosok oleh kedua saudara Sien ini, tetapi ia malu merobek surat perjanjian itu, hingga pada akhirnya, ia beri kemerdekaan untuk Tay Goan dan It Goan melakukan apa yang mereka suka.
Kedua saudara Sien mendapat lahu Lie Tjoe Seng telah memanggil berkumpul pelbagai kepala rombongan, untuk bertemu di Tiongtiauw san, maka untuk mendahului, dua hari di muka, mereka telah mengundang Ong Tjiauw Hie untuk berkumpul di kuil malaikat gunung itu.
Ong Tjiauw Hie telah mendengar kabar hal sepak terjangnya Tay Goan dan It Goan di wilayah Shoasay, ia terima baik undangan itu, sebab ia pikir, ia dapat menanyakan dengan jelas tentang sikapnya itu.
Adalah di luar dugaannya, kedua saudara Sien itu telah menunjukkan ketelengasannya.
yaitu mereka sudah membinasakan Touw Ngo dan Thio Soe, dua kepala rombongan yang berpengaruh dan mentaati undangannya Tjiauw Hie.
Lebih heran lagi kepala orang itu dibawa-bawa, sengaja dipakai untuk menggertak...
Kedua pihak sudah lantas mulai dengan pembicaraan mereka.
Selama itu Ong Tjiauw Hie telah kendalikan diri, untuk tidak mengutarakan kemendongkolan dan kemurkaannya.
Akan tetapi, makin lama, suasana menjadi makin genting karena sikap keras dan menantang dari kedua saudara Sien itu.
Pada akhirnya, Tjiauw Hie berkata juga.
"Yang pantas, kita kedua pihak mesti bekerja sama dengan sesungguh hati, untuk usaha besar kita bersama. Untuk aku, siapa yang menjadi pemimpin, adalah sama saja. Tapi ingin aku menjelaskan, setelah kita membagi wilayah, untuk bekerja masing-masing, tidaklah seharusnya kita saling berebutan pengaruh, hingga karenanya, kita mesti saling bunuh. Kamu sebaliknya sudah lakukan perbuatan kamu ini. Tentang perbuatanmu, aku tidak hendak bilang suatu apa. baik kita tunggu saja sampai rapat nanti, untuk minta orang banyak yang memberikan putusannya. Mendengar itu, matanya Sien Tay Goan membelalak, terus dia tertawa tergelak-gelak.
"Apakah kau masih memikir untuk hidup sampai nusa?"
Katanya, jumawa. Baru sekarang habis kesabarannya Tjiauw Hie.
"Habis apa yang kau mau,"
Dia tanya.
"Hai, anak muda!"
Bentak Sien Tay Goan.
"Di masa hidupnya, ayahmu tidak berani menegur aku, maka kenapa kau begini kurang ajar? Tidak ada lain jalan, kami terpaksa mesti minta kau ambil jalan yang sama dengan Yamiauw tjoe dan Shiathian tiauw!"
"Apakah kamu berani melakukan itu?"
Bentak Tjiauw Hie. Sien Tay Goan tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kami tidak berani?"
Dia membaliki.
Dan dia lompat, dengan sebelah tangannya menyambar.
Tjiauw Hie berkelit, setelah mana, ia hunus pedangnya.
Kembali Sien Tay Goan melayangkan tangannya.
Kali ini Tjiauw Hie tidak berkelit, ia hanya menyambut dengan sabetan pedangnya.
Kalau ia mengenai sasarannya, mesti buntung tangannya orang she Sien itu.
Akan tetapi Tay Goan telah menarik kembali tangannya dengan sebat.
Kembali dia tertawa besar.
"Eh, bocah, kau mempunyai kepandaian apa?"
Tanyanya dengan mengejek.
"Hayo, kau keluarkan semua itu!"
Dengan berani dia majukan diri, tangan kirinya menyambar, disusul dengan serangan tangan kanan. Tangan kanan ini hanya menyambar ke bawah, ke arah perut. Itulah salah satu jurus dari "Yaho Koen"
Atau ilmu silat "Rase Liar".
Nyatalah Sien Tay Goan telah berpikir, kegagahannya Ong Kee In ada seimbang dengan ia sendiri, dari itu, mustahil anaknya Kee In bisa melebihkan ayahnya itu.
Maka ia percaya, kali ini tidak nanti Tjiauw Hie bisa loloskan diri.
Akan tetapi Ong Tjiauw Hie telah membuktikan kata-kata.
"hijau itu berpokok pada biru", dan dia telah melebihkannya, maka dia telah melampaui kepandaian ayahnya. Dia tidak gentar atas serangan Tay Goan. Kembali dia gerakkan pedangnya, untuk membabat. Dia mempunyai kesehatan untuk menarik kembali pedangnya itu. Di lain pihak, tangan kirinya tidak tinggal diam. Secara begini dapatlah dia memecahkan serangan lawan yang jumawa itu. Mau atau tidak, Sien Tay Goan menjadi terkejut. Inilah ia tidak sangka. Karena itu, ia menjadi penasaran. Setelah menarik kembali kedua tangannya, untuk mengelakkan babatan, ia putar tubuhnya, begitu gesit, hingga segera ia berada di belakang lawan dari mana tangannya yang dibuka lebar, dipakai menghajar batok kepala lawan. Benar-benar luar biasa gerakan dan serangannya. Ong Tjiauw Hie berkelit sambil mendek, lalu sambil memutar tubuh, pedangnya dipakai membabat ke bawah. Secara begini ia membuat pembalasan.
"Bagus!"
Seru Sien Tay Goan sambil lompat mental, dengan begitu ia hindarkan diri dari serangan.
Sesudah itu, dengan tidak kalah sehatnya seperti tadi ia mcrangsak pula, ia ulangi serangannya, kali ini dengan saling susul dengan cepat sekali.
Ia menyerang sambil menggunakan ilmu totok.
Tjiauw Hie menggunakan pedang, akan tetapi didesak secara demikian, ia terpaksa mesti main mundur, ia senantiasa mesti bela diri.
Pertempuran ini, yang mendatangkan suara berisik, membuatnya semua kampret kaget, hingga binatang-binatang itu beterbangan sambil memperdengarkan suaranya yang recet.
Selama itu To It Hang telah saksikan jalannya pertempuran, ia dapat kenyataan, meski Tjiauw Hie mempunyai kepandaian tinggi, dia toh terdesak, dia lebih banyak menangkis daripada menyerang.
Tentu saja berkelahi secara demikian ada berbahaya.
Sedang di pihak lain, ilmu silatnya Tay Goan benar-benar luar biasa, nampaknya ia mengarah bagian ini, tidak tahunya ia serang bagian sana.
Heran juga It Hang menyaksikan cara berkelahi itu.
Makin lama desakannya Tay Goan jadi makin seru.
Perlawanan dari Tjiauw Hie tetap hebat, akan tetapi, kalangannya menjadi semakin ciut, pedangnya berkilauan bagaikan bianglala.
"Koko, jangan cuma libat dia, lekaslah kirim dia pergi!"
Sien It Goan berteriak sesudah lama ia saksikan cara kakaknya berkelahi itu. Ia menjadi hilang sabar.
"Baik!"
Jawab Tay Goan, kakak itu.
"Kau boleh gunakan tangan berat untuk gempur bebokongnya!"
Nyata sudah biasa kedua saudara Sien ini, bila mereka menemui lawan yang tangguh, yang tak dapat dirobohkan dengan seorang diri, lantas mereka main kepung.
Ialah selagi yang satu melayani terus, yang lain maju membantui dari belakang, dengan tiba-tiba.
Tay Goan dan It Goan memandang enteng kepada Tjiauw Hie, itulah sebabnya kenapa si kakak yang maju terlebih dulu, tetapi segera terbukti, pandangan mereka keliru, benar Tay Goan menang di atas angin tapi dia tak sanggup segera menjatuhkan lawan itu.
Maka It Goan tidak suka berlaku ayal lagi.
Dengan segera ia serukan kakaknya.
Dan begitu lekas ia peroleh jawaban dari sang kakak, ia segera maju menyerang.
Sekarang Tjiauw Hie dikepung berdua, satu di depan, satu di belakang.
Tentu saja ia menjadi semakin repot, hingga ia memikir untuk angkat kaki.
Tidak mau ia dirobohkan kedua lawan yang curang itu.
Sambil berkelahi, Sien Tay Goan perdengarkan tertawa ejekannya yang nyaring.
"Kecuali malaikat kuil ini perlihatkan diri, untuk menolongi padamu, walau kau memikir untuk kabur, tidak nanti kau dapat lakukan itu!"
Katanya dengan godaannya.
Ia juga desak lawannya, yang mesti main mundur, hingga di lain saat, orang she Ong itu terdesak sampai di dekat meja suci.
Kembali Sien It Goan kirim serangan bokongannya, begitu hebat, ketika serangan itu gagal, tirai di belakang meja menjadi tersingkap.
Akan tetapi berbareng dengan itu, dari belakang tirai itu menyambar satu sinar hijau bagaikan kilat, atas mana Sien Tay Goan keluarkan jeritan dari kesakitan.
Sebab kakinya telah terkena tusukan pedang secara tiba-tiba.
Tusukan pedang itu dibarengi dengan suara tertawa dan disusul dengan kata-kata.
"Aku si malaikat gunung datang!"
Ong Tjiauw Hie segera lihat munculnya satu orang dari belakang tirai itu, malah ia segera mengenalinya, hingga tak tahan dia untuk tidak berseru.
"Ah, saudara To! Kenapa kau ada di sini?"
To It Hang, orang yang baru muncul itu, tidak menyahuti, dia hanya lantas berkata.
"Mari kita bereskan kedua manusia jahat itu! Sebentar baru kita pasang omong!"
Dan dengan pedangnya, ia terus serang Sien It Goan.
Tjiauw Hie menurut, ia segera hadapi Sien Tay Goan, yang tidak terluka parah, hingga dia masih dapat berkelahi.
Sien It Goan lantas kenali It Hang, ia jadi tidak memandang mata.
Ia malah maju mendesak.
Begitulah selagi tangan kirinya mengancam, untuk merampas pedang, tangan kanannya menyambar ke dengkul.
Untuk ini ia pasang kudakuda rendah.
It Hang tarik kembali pedangnya sambil lompat berputar, dengan begitu, meski Sien It Goan berlaku sangat sebat, serangan kepada dengkul tidak mengenai sasarannya.
Tanpa merasa, ia menjadi kaget sendirinya.
Di pihak lain.
It Hang memutar terus tubuhnya, hingga ia jadi berbalik menghadapi pula lawannya itu.
Ia juga berlaku sangat gesit, maka berkelebatlah pedangnya dengan sinarnya yang hijau.
Ia telah menyerang dengan tipu silat "Sengliong inhong"
Atau "Menunggang naga untuk memancing burung hong". Dan "Bret!"
Karena kagetnya, bajunya It Goan kena kesamber pedang hingga robek.
Untung untuknya, ia berkelit dengan cepat, jikalau tidak, tentu pedang itu mengenai tubuhnya.
Hal ini membuat ia kaget berbareng gusar sekali.
Ia tidak menjadi jeri, sebaliknya, ia merangsak.
Ia gerakkan kedua tangannya begitu rupa sampai ototototnya perdengarkan suara meretek.
Segera ia totok jalan darah kieboen hiat di iga kiri It Hang.
Itulah ilmu silat simpanan Keluarga Sien itu.
Sebenarnya sangat sukar satu lawan meloloskan diri dari serangan istimewa dari ilmu silat pihak Sien ini, tetapi syukur untuk It Hang, di sampingnya ilmu silatnya telah mahir, ia pun sudah menonton cara orang itu berkelahi, yang luar biasa itu, maka ia tidak menjadi terkesiap hatinya atas serangan yang berbahaya itu.
Malah sebenarnya, sejak siangsiang ia sudah siap sedia untuk sesuatu serangan.
Demikian ketika lt Goan serang padanya, anak muda ini berkelit sambil lompat ke kiri, dan pedangnya disabetkan ke belakang, untuk menabas lengan orang.
Habis itu, It Hang lantas membuat penyerangan membalas.
Sekarang ilmu pedangnya hebat, yang telah peroleh kemajuan pesat, maka setelah ini, ialah yang dapat mendesak lawannya, hingga It Goan mesti main mundur dan mesti waspada luar biasa Di lain pihak, pertempuran Tay Goan dengan Tjiauw Hie berlangsung terus dengan hebat, Tay Goan lebih mahir, akan tetapi kakinya telah terluka sebelah, biar bagaimana, kesehatannya agak berkurang, maka sekarang ia jadi berimbang terhadap orang she Ong itu, yang tadinya ia pandang enteng.
Karena ini, Tjiauw Hie menjadi dapat napas --ia pun teiah mendapat hati karena munculnya It Hang tanpa disangka-sangka --maka setelah berkelahi dengan hebat, ia mulai menang di atas angin.
Tay Goan kena terdesak.
Sesudah bertempur pula sekian lama, Sien Tay Goan dan Sien It Goan insaf bahwa mereka tidak bakal peroleh hasil, oleh karena itu, mereka lantas saling memberi tanda, untuk sama-sama menyingkirkan diri.
Ong Tjiauw Hie benci sangat kedua orang ini.
Terang sudah mereka telah merusak usahanya Giam Ong.
Maka itu tak mau ia memberi ketika pada mereka akan angkat kaki, ia mendahului lompat ke pintu, untuk menghalang musuhnya.
Sien Tay Goan terluka pada kakinya, karena itu tak dapat ia lompat dengan leluasa, tak dapat ia susul lawannya itu akan lari ke pintu, di samping itu ia pun repot atas desakannya Tjiauw Hie.
Keadaannya Sien It Goan ada lebih buruk lagi daripada kandanya itu, It Hang tidak sudi mengasih hati, ia telah putar pedangnya dengan apa ia kurung lawannya ini hingga walaupun dia tangguh, It Goan toh kewalahan.
Selagi keadaan ada demikian genting untuk kedua saudara Sien, di luar kuil dengan mendadak terdengar riuh suara kuda disusul dengan berisiknya serombongan orang, yang rupanya telah lompat turun dari kudanya dan terus berlari-lari mendatangi.
"Ong Tjiauw Hie!"
Tegur Sien Tay Goan dengan dampratannya.
"Kenapa kau tidak hargai kehormatanmu? Kenapa kau janjikan kawan untuk curangi kami?"
Orang she Sien ini berani menegur demikian tanpa berpikir bahwa mereka sendiri sudah berlaku curang telah mengeroyok lawannya.
Tapi juga Tjiauw Hie heran dan ia menyangka dua saudara Sien itu telah minta bantuan kawan, maka, mendengar tegurannya lawan ini, ia terkejut.
"Apakah kamu tidak janjikan kawanmu?"
Dia tanya.
"Kalau begitu, jangan kita bertempur terus! Itulah tentara negeri yang datang!"
Segera juga terdengar pintu kuil digempur hingga pecah dan roboh, menyusul mana belasan boesoe menerjang masuk, yang menjadi kepala segera dikenali adalah Lian Seng Houw dan Kim Tjian Giam.
Ketika itu Lian Seng Houw telah menjadi tjongkoan dari Tongtjiang menggantikan kedudukannya Bouwyong Tjiong.
akan tetapi karena keadaan genting, dia telah diberi tugas lain, yaitu ia di kirim ke garis depan untuk "membasmi berandal", dan pangkatnya adalah tjongkam.
Kim Tjian Giam, keponakannya Kim Tok Ek, berhubung dengan kebinasaannya Tok Ek di tangannya Gak Beng Kie, karena jeri terhadap Anghoa Koeibo, sudah tidak berani pulang, dari itu terpaksa dia masuk dalam kalangan Seetjiang di mana dia diangkat jadi tongleng, komandan, kemudian setelah Anghoa Koeibo mati, dia lantas menjadi kepala besar, sebab tak ada lagi orang yang dia malui.
Kali ini dia diberi tugas untuk turut Lian Seng Houw.
Tjongtok Tan Kie Djie mendapat tahu Ong Tjiauw Hie sedang bekerja di Shoasay dan Siamsay, ia segera minta bantuannya Lian Seng Houw dan Kim Tjian Giam untuk menawan orang she Ong itu.
Maka tjongkoan dari Tongtjiang dan tongleng dari Seetjiang itu sudah lantas bertindak, hingga mereka mendapat dengar selentingan di mana adanya Tjiauw Hie itu.
Maksud utama dari Lian Seng Houw adalah menawan Ong Tjiauw Hie, akan tetapi kapan ia tampak dua saudara Sien dan To It Hang ada bersama orang she Ong itu, ia menjadi girang bukan main.
Tay Goan dan It Goan adalah penjahat-penjahat besar dari Siamsay Utara yang sedang dicari pembesar negeri.
Cuma It Hang adalah yang membuat Seng Houw raguragu.
Orang she To ini, ia tahu, adalah ketua dari Boetong pay dan dengan pihak Boetong pay, tidak ingin ia menanam bibit permusuhan.
Maka yang sulit sekarang, It Hang itu adalah sahabatnya Tjiauw Hie.
Perkelahian telah berhenti dalam sekejap, kedua pihak lantas mengawasi tentara negeri itu, Segera juga Lian Seng Houw teriaki orang-orangnya.
"Di sana ada To Kongtjoe, sahabat baik dari aku, aku larang siapa juga melukai padanya! Yang mesti dibekuk adalah ketiga penjahat itu! -To Kongtjoe,"
Ia teruskan kepada It Hang.
"silakan kau undurkan diri dari tempat berbahaya ini, lekas kau pergi!"
It Hang sebaliknya menjadi gusar, tanpa bilang suatu apa lagi, ia lompat menerjang dengan tipu pedangnya "Kiamkiap hongloei"
Atau "Pedang yang merangkap badai dan guntur".
Inilah tidak disangka Lian Seng Houw, maka Lian Tjongkoan menjadi kaget sekali, hampir saja ia tidak keburu berkelit, hampir jeriji tangannya kutung tertabas.
Tentu sekali, ia menjadi gusar.
"Kau tidak sudi dengar nasihat baik, pada akhirnya kau akan menyesal!"
Ia berseru dengan mendongkolnya.
Lalu ia gerakkan sepasang gaetannya, untuk mencantel pedang orang.
Berbareng dengan itu Kim Tjian Giam kepalai rombongan pahlawan untuk mulai menyerbu kedua saudara Sien dan Ong Tjiauw Hie.
"Bagaimana dengan kita?"
Teriak Tay Goan, kepada Tjiauw Hie. Ia ada sangat mendongkol.
"Mari kita berlayar bersama!"
Sambut Tjiauw Hie, yang terus gunakan pedangnya untuk menyambut Tjian Giam.
Kedua saudara Sien perdengarkan tertawa mereka yang aneh, lantas mereka maju menyerang.
Dengan gerakan yang luar biasa itu, segera juga mereka dapat merobohkan dua lawan.
Akan tetapi, di antara pahlawan-pahlawan itu ada yang benar-benar berarti kepandaiannya, dengan mainkan gegaman mereka, mereka membuatnya perlawanan dengan dahsyat, hingga ke empat orang itu sudah lantas kena dikurung.
Lian Seng Houw gagah sekali, bila It Hang tidak peroleh kemajuan, pasti sekali ia tidak bakal sanggup melayaninya, walaupun demikian, ia masih terdesak, hingga sulit untuknya melakukan serangan membalas, ia lebih banyak membela diri saja.
Syukur untuknya.
Seng Houw tetap mengarah Ong Tjiauw Hie, maka meski orang layani dia, orang masih selalu gunakan kesempatannya akan serang Tjiauw Hie.
Orang she Ong itu membuat perlawanan yang gigih, dengan It Hang tetap di dampingnya, berdua mereka membuat Seng Houw tidak dapat berbuat banyak.
Perkelahian berjalan terus sampai fajar.
Karena mesti berkelahi secara hebat, orang she Sien ini terganggu lukanya, hingga karenanya, berkuranglah kegesitannya, malah tertampak keletihannya.
Lian Seng Houw bermata sangat awas, ia segera tampak kelemahannya lawan itu, maka tanpa mensia-siakan ketika lagi, ia berseru.
"Bereskan dahulu itu satu bangsat!"
Lalu dengan tinggalkan It Hang dan Tjiauw Hie, ia lompat pada Tay Goan, guna menyambar batang lehernya dengan gaetannya yang liehay.
Sien Tay Goan menjadi sangat gusar, melihat serangan itu, yang baginya merupakan satu ancaman hebat, dia berseru, dia hendak mendahului.
Dia tidak mundur atau berkelit, sebaliknya, dia merangsak.
Ketika tubuhnya bergerak, dibarengi dengan gerakkan tangan kanannya, segeralah terdengar satu suara keras.
Hebat serangannya kedua jago ini, sama-sama mereka mengenai sasaran mereka, sama-sama mereka tak sempat berkelit.
Serangan mereka telah datang saling susul, dengan berbareng.
Dua tulang pundaknya Seng Houw terpatah karena kepalan Tay Goan.
sebaliknya, dagingnya Tay Goan terluka parah terkena gaetan Seng Houw.
Tjiauw Hie terperanjat, dia lompat menerjang, dengan tindakannya ini, ia hindarkan Tay Goan dari bencana terlebih jauh.
Hebat keadaannya Tay Goan, karena lukanya bekas pedang dan gaetan itu.
Sebenarnya, di antara mereka berempat, ialah yang paling tangguh, tetapi sekarang, ia yang menjadi paling lemah, hingga ia mesti dilindungi tiga kawannya.
Karena ini, pihak Lian Seng Houw jadi menang di atas angin.
Pertempuran masih berlanjut, hingga sinar fajar mulai menyingsing.
Dalam keadaan kalut dan riuh itu.
karena pelbagai alat senjata senantiasa bentrok satu pada lain, dengan mendadak terdengar seman panjang dan keras, datangnya dari kejauhan, lalu makin lama makin tegas, hingga semua orang dapat mendengarnya nyata sekali.
Tjiauw Hie dan It Hang segera menjadi girang.
"Tiat Lootjianpwee datang!"
Keduanya berseru dengan berbareng.
"Sien Lotoa, jangan kuatir!"
Kemudian Tjiauw Hie serukan orang she Sien itu.
"Yang datang itu adalah Tiat Hoei Liong, jago dari Barat utara! Kita akan segera terlepas dari kurungan!"
Tjiauw Hie mengatakan demikian tanpa ia mengetahui antara Hoei Liong dan dua saudara itu ada sangkutan dan dua saudara itu pernah dikalahkan oleh jago dari Barat utara itu.
Seng Houw sebaliknya kaget mendengar seruan panjang itu.
"Lekas bereskan empat bangsat cilik ini!"
Dia berteriak.
"Habis itu kita mesti layani itu bangsat tua!"
Lalu ia mulai menyerang pula dengan seru.
Sama sekali ia tidak hiraukan dua tulang pundaknya yang telah terpatah, ia tetap berlaku gagah dan telengas.
Kim Tjian Giam gunakan kepandaiannya yaitu tangan Imhong Toksee tjiang yang liehay melayani tangan Yaho tjiang.
"Rase Liar", dari dua saudara Sien itu. Kepandaian mereka satu sama lain bersamaan, yaitu ilmu silat "luar", maka itu, mereka sama imbangannya. Tapi orang she Kim ini insaf akan keadaan, ia taati anjurannya Seng Houw, maka itu ia segera desak hebat pada It Goan. Makin dekatnya seruan Hoei Liong itu, membuat kedua saudara Sien berpikir dengan keras. Nyata mereka berpikir serupa. Mereka pikir.
"Selagi menghadapi bencana pasti sekali Tjiauw Hie suka bersama kita melawan musuh, akan tetapi bila nanti bahaya sudah lewat, apa akan mereka pikir? Jikalau dia berserikat dengan Tiat Hoei Liong maka celakalah kita..."
Lantas mereka ambil sikapnya satu siauwdjin, satu pada lain mereka saling melirik dan mengedipkan mata.
Di saat yang berbahaya itu, mendadak mereka bekerja masingmasing, mereka turun tangan dengan berbareng.
Tay Goan samber Tjiauw Hie, It Goan cekuk It Hang, lantas mereka sama-sama berseru.
"Kami membantu kamu! Lekas tangkap orangmu!"
Kejadian ada demikian mendadak, hingga Lian Seng Houw terperanjat karenanya. Ia heran sekali.
"Bagus!"
Dia berseru.
Sien Tay Goan maju dua tindak, untuk mendekati Kim Tjian Giam.
Orang she Kim ini menyangka kedua saudara itu mengkhianati kawannya untuk mendapat muka.
ia anggap mereka sebagai orang-orangnya sendiri, ia tidak bersiap sedia.
Ia hanya bersedia menyambut orang tawanan.
Akan tetapi Sien Tay Goan, begitu lekas dia datang dekat, dengan sekonyong-konyong dia berseru keras, sebelah tangannya menyambar pundak musuh, setelah mana, dia angkat tubuh orang itu, untuk diputar, guna dipakai sebagai senjata.
Dia tertawa pula dan berkata dengan nyaring.
"Aku tidak pedulikan siapa juga! Saudaraku, lekas!"
Dan terus ia menerjang keluar!
Kejadian ada sangat luar biasa, cepatnya bukan kepalang.
Semua boesoe menjadi kaget dan heran, tentu saja, mereka terpaksa mesti mundur, guna membuka jalan.
Tidak berani mereka memegat atau menyerang, sebab itu artinya mereka akan mencelakai kawan sendiri.
Lian Seng Houw besar nyalinya, dengan lekas ia dapatkan kembali ketabahannya.
Akan tetapi, sudah kasip untuknya.
Kedua saudara Sien itu, yang bekerja sebat dan pesat, sudah menyerbu dan lolos hingga keluar kuil.
Tentu sekali, ia jadi sangat mendongkol dan gusar.
Maka sekarang ia serang pula It Hang dan Tjiauw Hie, yang telah dilepaskan oleh kedua saudara Sien itu, hingga mereka mendapat kemerdekaan pula.
Kedua pemuda she To dan Ong ini telah terluka karena bokongannya dua saudara Sien itu.
yang mereka tidak sangka begitu pandai memainkan peran, mereka pun baru saja dimerdekakan, maka itu mereka kaget untuk ancaman sepasang gaetan dari tjongkoan itu.
Mereka tahu.
tidak ada daya lagi untuk mereka.
Akan tetapi tak sudi It Hang terima bahaya dengan diam saja, ia masih mencoba, dengan sekonyong-konyong tubuhnya terhuyung, selagi ia hendak jatuh, pedangnya dilonjorkan ke depan.
Kelihatannya ia tidak bersilat sebagaimana mestinya.
Tapi gerakannya ini justeru membuat Seng Houw menyerang sasaran kosong, hingga di luar dugaannya, bahu kirinya kena tertikam pedang sampai kepada tulangnya.
"Aduh!"
Dia berteriak dengan hebat, terus saja ia mundur, sakitnya bukan kepalang.
Tentu saja, lengan kirinya turun dengan sendirinya.
Tidak pernah ia menyangka sedikit juga atas serangan itu.
It Hang di lain pihak menggunakan salah satu jurus warisan dari Tat Mo Tjouwsoe.
Lain-lain tetua dari Boetong pay tidak pernah melatih diri dengan tipu silat pedang itu, sebab mereka lihat, gerakan tanpa junterungannya, tak mau mereka menggunakannya, mereka malah tidak memikirnya.
Tapi It Hang, yang telah melatih itu.
telah berpikir untuk mencobanya, dan sekarang tibalah saatnya.
Nyata ia telah berhasil, hasilnya pun luar biasa!
Setelah mendapat hasil ini, semangatnya It Hang jadi terempos, seolah-olah ia mendapat tenaga baru.
lalu ia menyerang lebih jauh, secara bertubi-tubi, ke timur dan ke barat, ke selatan dan utara, hingga ia dapat melukai lagi beberapa lawan.
Seng Houw kaget, berbareng gusar, karenanya ia menjadi dapat hati.
Ia maju pula, tangan kirinya pun dipaksa digunakan lagi, kali ini lebih banyak untuk melindungi diri.
Kembali It Hang kena terdesak, ia mesti main mundur.
Maka bersama Tjiauw Hie, kedudukannya kembali menjadi buruk.
Di luar pintu terdengar pula suaranya Tiat Hoei Liong.
It Hang girang tak terhingga, kembali ia berkelahi keras.
Ia percaya Hoei Liong akan segera sampai.
Tapi dugaannya meleset.
Dengan tiba-tiba, seruan panjang itu berhenti, dan Hoei Liong tak tampak muncul!
Ia menjadi kaget pula!
Dalam kalutnya pertempuran itu, akhirnya pinggang It Hang kena satu sasaran golok, saking sakitnya, ia sampai berteriak.
Tapi ia telah menjadi nekat, ia tetap melawan.
"Tiat Looenghiong. kenapa kau masih belum datang juga?"
Teriak Ong Tjiauw Hie.
yang tampak suasana makin buruk.
Ia bergelisah karena orang tidak juga kunjung tiba.
Hoei Liong ada seorang yang berpengalaman, yang cerdik.
Setelah dengar dari Pek Bin halnya Ong Tjiauw Hie dan ia menanti dengan sia-sia datangnya orang she Ong itu, ia menduga kepada kejadian yang di luar dugaan, maka itu dengan mengajak Pek Bin dan Peng Teng.
dengan menunggang kuda.
mereka lakukan perjalanan cepat.
Setelah satu hari satu malam, tibalah mereka di Tiongtiauw san.
Begitu lekas jago tua itu lihat belasan ekor kuda sedang mencari makan sendiri di tanah pegunungan itu, ia lantas turun dari kudanya, untuk mendekam di tanah, guna memasang kuping.
Dengan samar-samar ia dengar suara pertempuran, maka ia jadi heran dan bercuriga.
Akhirnya, ia kata pada Pek Bin.
"Tjiauw Hie sedang diganggu musuh, kita sampai pada waktunya yang tepat."
Lantas setelah itu, ia perdengarkan seruannya yang nyaring dan panjang, guna memberi tanda kepada Ong Tjiauw Hie.
supaya Tjiauw Hie mendapat tahu dan bertambah semangatnya.
Sesudah itu Hoei Liong ajak Peng Teng dan Pek Bin turun dari kuda mereka, guna merayap naik ke atas, hingga mereka tampak kuil dari mana terdengar beradunya pelbagai senjata.
"Heran!"
Kata Pek Bin sambil tertawa.
"Untuk berkelahi, orang mesti cari tempat di luar, yang lebar dan luas, kenapa orang justeru pilih di dalam kuil? Apakah orang hendak membuatnya malaikatmalaikat kaget?"
Kek Peng Teng tertawa geli karena ketololan orang itu.
"Eh. Nona Kek. apakah aku bicara salah?"
Tanya si polos tolol itu. Justeru itu. selagi mereka mendekati kuil, dua orang kelihatan lari keluar dari kuil itu. disusul dengan bentakannya Tiat Hoei Liong.
"Tahan!"
Nyata kedua orang itu adalah dua saudara Sien.
makhlukmakhluk luar biasa itu, dan di pundaknya Sien Tay Goan ada tergemblok tubuhnya Kim Tjian Giam.
keponakannya Kim Tok Ek.
Tentu saja.
mengenali mereka, jago dari Barat utara itu menjadi heran.
"Apakah Ong Tjiauw Hie ada di dalam?"
Ia tanya mereka.
"Ong Tjiauw Hie?"
Jawab Tay Goan.
"Aku tidak tahu! Kita singgah di kuil malaikat gunung ini untuk melindungi diri dari salju, kita kena dibayhok kepala dari Tongtjiang serta belasan pahlawan-pahlawannya Tan Kie Djie, setelah dapat menawan binatang ini, berhasil kita meloloskan diri. Tiat Loo, sekarang ini kita sedang lelah dan habis tenaga, umpama kata kau hendak menawannya, guna serahkan kita untuk memperoleh jasa, inilah saatnya..."
"Ngaco belo!"
Bentak Hoei Liong.
"Apakah kamu kira aku ada orang demikian hina dina? Siapa lagi yang masih ada di dalam kuil?"
Dia tanya.
"Kenapa hamba-hamba negeri itu tidak memburu keluar untuk membekuk kamu?"
Tay Goan tertawa.
"Orang tua she Tiat. apakah kau sangka kami bersaudara ada orang-orang biasa saja?"
Dia mengatakannya.
"Walaupun kita terluka tetapi kita masih dapat melukai belasan di antara mereka itu! Mereka sekarang sedang repot menolongi kawankawan mereka. Kim Tjian Giam ini, dapat kita tawan! Mana mereka berani kejar kita?"
Hoei Liong lihat orang bertindak pincang, kaki mereka pun berdarah-darah, sedang Kim Tjian Giam ada di tangan mereka, ia suka percaya mereka itu.
Memang ia tahu, dua saudara itu liehay ilmu silatnya, mungkin mereka tidak mendusta.
"Karena tidak ada Ong Tjiauw Hie di dalam kuil. buat apa aku bentrok dengan hamba-hamba negeri yang sedang terluka itu?"
Kemudian ia berpikir. Karena ini, ia jadi bersangsi.
"Orang tua she Tiat,"
Berkata pula Tay Goan yang menampak orang berdiam.
"Karena kau tak ingin membekuk kita untuk meminta jasa. nah. maafkan saja, kita hendak pergi!"
"Jikalau kamu hendak pergi. pergilah, untuk apa kamu ngoceh saja!"
Bentak jago tua itu. Dua saudara Sien ini lantas buka tindakan mereka, untuk lari turun gunung.
"Eh, tunggu dulu!"
Sekonyong-konyong Hoei Liong berseru.
"Apa?"
Tay Goan tegaskan.
"Apakah kau ubah pikiranmu?"
"Serahkan Kim Tjian Giam padaku!"
Kata Hoei Liong Tanpa bilang suatu apa, Sien Tay Goan lemparkan tubuhnya Tjian Giam ke arah Hoei Liong, siapa menyambutnya dengan cekatannya.
Selagi dilemparkan, Tjian Giam telah perdengarkan jeritan hebat, sesampainya di tangan jago tua dari Barat utara itu, dia bungkam, tubuhnya tak bergeming.
Ketika Hoei Liong turunkan tubuh orang itu, untuk diperiksa, ia dapatkan tenggorokan orang she Kim itu telah terluka bekas cekekan hebat dari si orang she Sien.
yang tenaga tangannya besar luar biasa.
"Binatang ini ada pembunuhnya Tjeng Kian Toodjin,"
Kata Hoei Liong.
"la pun bertanggung jawab dalam hal mencelakai anakku perempuan, maka itu, kematiannya tak usah disayangi! Biarlah dia jadi umpannya srigala!"
Dan ia ayunkan tangannya, melontarkan tubuh Tjian Giam ke dalam lembah! Tiba-tiba jago tua ini curiga.
"Kenapa Tay Goan serahkan padaku setelah dia menjadi mayat?"
Demikian pikirnya.
Sebagai seorang berpengalaman, ia mempunyakan kecerdikan, otaknya hidup.
Ia pun kenal baik adatnya orang-orang kangouw serta segala akal muslihat atau sepak terjangnya kaum Hektoo.
Jalan Hitam.
Maka mendadak ia ingat.
Urusan apa dari Tay Goan itu yang dia tak ingin aku mengetahuinya?..."
Belum sempat jago tua ini berpikir lebih jauh, dari dalam kuil di mana terus terdengar suara berisik terdengar satu jeritan hebat disusul dengan teriakannya Ong Tjiauvv Hie memanggil namanya sendiri.
Dia menjadi terkejut sekali.
"Celaka, aku dipedayakan!"
Dia berseru.
"Sien Tay Goan sudah gunakan akal muslihatnya! Di sini dia libat aku, guna membunuh orang dengan pinjam tangan lain orang --supaya hamba-hamba negeri dapat ketika membinasakan Tjiauw Hie!..."
Tentu saja ia menjadi sangat gusar.
Tak sempat ia urus lebih jauh kedua saudara Sien itu.
sambil berseru keras, ia lompat, untuk lari naik terus, menuju kuil.
Dengan cepat ia telah sampai, di mana ia tampak Lian Seng Houvv tengah desak Tjiauw Hie dengan sepasang gaetannya untuk membikin habis riwayat hidupnya si orang she Ong!
Murka Tiat Hoei Liong menyaksikan pemandangan itu.
sambil membelalakan mata dan berseru, ia lompat maju.
akan terjang satu pahlawan yang mengandang di hadapannya.
Ia cekuk pahlawan itu.
yang ia terus lemparkan ke arah Lian Seng Houw!
Kepala Tongtjiang itu berkelit sambil menangkis, maka tepat sepasang gaetannya mengenai pahlawan itu!
Ong Tjiauw Hie mendapat ketika, sambil bernapas lega, ia tikam lawannya itu, hingga silawan menjadi repot, berbareng dengan itu, To It Hang juga mendapat semangat, ketika ia menerjang dengan hebat, dengan beruntun ia telah lukai tiga pahlawan yang mengepung padanya.
"It Hang, kau pun di sini?"
Teriak Hoei Liong dengan pertanyaannya.
Belum lagi jago tua ini peroleh penyahutan atau ia telah diserang Lian Seng Houw.
yang menjadi gusar karena ia diganggu dan dirintangi, sambil berlompat maju, ia menyerang dengan gaetannya yang liehay itu.
Karena lengan kirinya telah terluka.
gaetan kirinya itu tidak sehebat gaetan kanan.
Hoei Liong tidak jeri terhadap gaetan lawan itu.
dengan berani ia menyambutnya, untuk menangkis.
Tentu saja ia menangkis demikian rupa hingga ia tidak hadapi bagian tajam dari gaetan itu --siangkauw.
Seng Houw tidak menyangka ketangguhan musuh, ia kaget setelah senjatanya bentrok dengan tangan musuh.
Karena lemahnya tangan kirinya, gaetan di tangan itu mencelat dalam sekejap, terlepas dari cekalannya mencelat ke atas, nancap di atas rumah.
Ia menjadi kaget, ia menjadi jeri sendirinya.
Maka tanpa ayal lagi, ia.
lompat keluar kalangan.
Hoei Liong tidak mau mengerti, ia lompat mengejar.
Pek Bin dan Peng Teng tengah maju, kebetulan sekali, mereka menghalangi Seng Houw.
Ia terkejut, hendak ia membela diri, maka dengan sebelah gaetannya, ia mendahulukan menyerang.
Pek Bin memegang ruyung.
ruyung itu kena tertangkis, sedang pedangnya si nona kena tersampok mental, hingga mereka tidak dapat merintangi lolosnya orang itu.
Celakanya, mereka minggir justeru ke jalannya Hoei Liong, hingga jago itu kena terhalang.
Karena itu, Seng Houw dapat meloloskan diri, terus saja dia kabur keluar kuil, dia lari sekuat-kuatnya.
"Oh, Engko Ong, kau terluka?"
Seru Pek Bin apabila ia lihat Tjiauw Hie.
Masih ia rampas goloknya satu boesoe dengan apa ia menyerang kalang kabutan.
Kawanan pahlawan itu juga sudah lantas angkat kaki begitu mereka tampak pemimpin mereka telah angkat kaki, mereka kabur bersama setelah satu di antaranya berseru sebagai tanda.
"Jangan sembarangan bunuh orang!"
Peng Teng mencegah.
Nona ini anggap pembasmian tidak ada perlunya.
Pek Bin dengar kata, ia berhenti dengan segera.
Maka dalam sekejap saja, kuil itu telah kosong dari kawanan pahlawan itu.
Hoei Liong segera dekati Tjiauw Hie dan To It Hang, untuk periksa luka orang.
"Semua adalah korban tangan liehay dari dua saudara Sien,"
Katanya yang segera kenali luka-luka itu.
"Benar,"
It Hang beritahu.
"Mereka itu telengas!"
Kata Hoei Liong dengan sengit.
"Mereka itu tidak sudi menakluk pada pembesar negeri, mereka dapat dikatakan masih mempunyai semangat."
Kata Tjiauw Hie.
"Cuma mereka ada orang-orang yang licik sekali. Jikalau mereka diantap berada di dampingnya Thio Hian Tiong, akhirnya mereka akan merupakan satu bahaya besar..."
Tjiauw Hie segera beber sepak terjang mereka.
"Nanti, setelah bertemu dengan Thio Hian Tiong, akan aku beber keburukan mereka berdua,"
Hoei Liong berjanji.
Tjiauw Hie dan' It Hang tidak terluka parah, mereka cuma lelah akibat bertempur terlalu lama, maka itu, setelab jago tua she Tiat itu beri mereka obat, mereka dititahkan beristirahat dengan jalan duduk bersemedhi, supaya kesegaran mereka dapat pulih kembali.
Peng Teng awasi It Hang, dengan diam-diam ia tanya Pek Bin.
"Adakah anak sekolah yang muda dan bermuka putih itu It Hang adanya?"
Ia pun menunjuk.
"Benar,"
Sahut orang yang ditanya.
"Kau belum tahu? Ia adalah sahabatku."
"Oh, kau punyakan sahabat semacam dia?"
Kata Peng Teng, suaranya lain. Pek Bin dengar suara orang yang beda, ia menyangka Peng Teng tidak memperhatikan.
"Apakah jeleknya?"
Tanya dia, kurang puas.
"Sst!"
Hoei Liong cegah orang bersuara keras, karena kedua pemuda itu tengah bersemedhi-"Jikalau dia seorang yang baik hati, kenapa dia menyebabkan entjie Lian sakit hati?"
Tanya Peng Teng. Pek Bin melongo. Ia memang tak tahu lelakon asmara itu.
"Entjie Lian yang mana!"
Ia tegaskan. Ia pun tak ketahui shenya Giok Lo Sat.
"Giok Lo Sat!"
Si nona jelaskan. Pek Bin tahu siapa Giok Lo Sat. Terhadap nona itu ia tidak bersimpati tetapi juga tidak jemu.
"Apakah hantu iblis itu bisa bersusah hati?"
Dia tanya.
"Percuma kau menjadi orang Rimba Hijau!"
Nona Kek menegur.
"Kenapa kau menyebutnya dia iblis wanita? Dia itu melainkan membenci kejahatan dan karena tabiatnya, dia biasa melakukan segala apa menurut kehendak hatinya sendiri!"
"Baiklah, anggap saja aku keliru,"
Pek Bin segera perbaiki diri.
"dia bukannya iblis wanita. Dia bersusah hati, itu tentunya bukan disebabkan urusan sangat besar..."
"Hai, orang tolol kau!"
Kata Peng Teng mendelu.
"Sekarang aku tanya kau. Umpama kata kau membuatnya aku berduka, kau masih terhitung orang baik atau bukan?"
Pek Bin berpikir sebelumnya dia menjawab.
"Kau pernah tolong aku,"
Jawabnya kemudian.
"kau juga perlakukan aku baik sekali, umpama kata aku menyebabkan kau berduka, aku adalah seekor kura-kura!"
Mau atau tidak, Peng Teng tertawa geli.
"Baiklah,"
Katanya.
"Apakah sekarang kau masih tidak mengerti?"
Mereka bicara perlahan setelah tegurannya Tiat Hoei Liong, akan tetapi It Hang yang sedang beristirahat, ia tengah bersemedhi, pendengarannya terang sekali, dari itu, ia dapat dengar kata-kata orang itu, dengan sendirinya wajahnya berubah menjadi pucat dan merah sendirinya, ia merasa sangat masgul.
Maka, tanpa tunggu sampai ia telah beristirahat cukup, dengan tiba-tiba ia lompat bangun.
Pek Bin terkejut, ia menyangka orang keliru mengerti.
"Engko To."
Katanya lekas.
"aku cuma bilang, andaikata aku membuatnya Nona Kek bersusah hati. aku adalah kurakura, aku bukan maksudkan kau, aku harap kau tidak menjadi gusar..."
It Hang tidak pedulikan orang tolol ini, ia hanya hampirkan Peng Teng di hadapan siapa ia menjura.
"Nona, tepat teguranmu,"
Katanya, suaranya agak parau. Setelah itu, ia pun hampirkan Hoei Liong, untuk menjura pula dengan dalam, hingga hampir berlutut.
"Mana entjie Lian,"
Dia tanya.
"Kenapa entjie Lian tidak datang bersama? Apakah dia bukannya di rumah looenghiong?"
Jago tua itu bersikap tawar.
"Dia pernah datang padaku!..."
Sahutnya dengan dingin.
"Di manakah dia sekarang?"
It Hang tanya dengan cepat.
"Sudah pergi."
Hoei Liong menjawab dengan pendek.
"Ke mana perginya?"
Desak It Hang.
"Tak tahu,"
Jawab Hoei Liong.
"Kau tentunya tahu ke mana dia pergi. Jika benar kau tak tahu, dalam dunia ini tak ada lain orang yang mengetahuinya. Dalam penirisan ini. jika aku tidak dapat bertemu muka lagi dengan dia, aku akan mati dengan mata tidak meram,"
Berkata It Hang dengan suara sedih.
Hoei Liong tidak menyahuti.
Dia angkat kepalanya dan matanya memandang ke langit yang lebar, dengan awanawannya yang beraneka warna dan sinar matahari yang gilang gemilang.
"Dia berada di tepi langit,"
Kata Kek Peng Teng dengan suara mendongkol.
"Biarpun dia berada di tepi langit, aku toh akan menyusul juga,"
Kata It Hang. Hoei Liong kerutkan alisnya dan sesudah berpikir sesaat, dia berkata.
"Meskipun dia bukannya berada di tepi langit, tapi boleh dibilang dia berada di situ. Aku duga, dia mungkin pergi ke gunung Thiansan. Jika kau ingin mencari dia, kau harus lakoni kesengsaraan padang pasir, topan dan hawa dingin. Apakah kau, sebagai satu kongtjoe yang biasa hidup senang, dapat menahan kesengsaraan itu?"
"Jangan pula padang pasir, angin dan hawa dingin, biarpun masuk dalam air atau terjang lautan api, aku toh akan pergi juga,"
Sahut It Hang dengan suara tetap.
"Panjangnya Thiansan ada 3000 li lebih. Kurasa kau belum tentu dapat cari dia,"
Berkata Tiat Hoei Liong.
"Lian Tjitji juga belum tentu mau menemui kau!"
Peng Teng menyelak. Mendengar kata-kata demikian, hatinya It Hang seolah-olah ditusuk dan air matanya meleleh di kedua pipinya."
"Biarpun ia tak sudi menemui aku, aku toh akan menemui padanya. Kalau sampai aku tidak juga dapat mencari padanya, hatiku toh akan terhibur juga karena bisa berada di tempat yang berdekatan dengannya."
Berkata It Hang dengan suara pilu. Mendengar begitu, Tiat Hoei Liong jadi merasa kasihan pada pemuda itu.
"Jika kau begitu sungguh-sungguh, nah, kau pergilah!"
Katanya.
"Tapi sekarang rambutnya sudah putih,"
Menyelak lagi Kek Peng Teng.
"Dia sekarang bukan lagi Lian Nie Siang yang dahulu. Meskipun bertemu, kau akan merasa kecewa."
"Apa?"
Tanya It Hang dengan suara kaget.
"Ah", dia sambung.
"rambutnya jadi putih tentu juga lantaran kesengsaraan hati gara-garaku."
"Baguslah, jika kau tahu,"
Sahut Peng Teng dengan suara ketus. Saat itu. hatinya It Hang seperti diiris-iris.
"Jangan kata cuma rambutnya putih,"
Katanya dengan suara pilu.
biarpun dia sudah jadi nenek yang kulitnya keriput, hatiku tak akan berubah.
Laut bisa jadi kering, batu bisa jadi hancur, kecintaanku tak akan berubah.
Langit dan bumi jadi saksinya."
"Kata-kata itu baiklah kau simpan dan keluarkan nanti di hadapan Entjie Lian,"
Kek Peng Teng menggerutu lagi. Mendengar begitu. Hoei Liong tidak sampai hati. Ia uruturut kumisnya dan berkata sambil mesem.
"Sudahlah. Peng Teng, jangan ganggu terus padanya. Jika seseorang bersungguh-sungguh, segala apa bisa kejadian. Sesudah lukamu sembuh, kau boleh pergi."
"Lukaku sudah sembuh,"
Berkata It Hang.
"Saudara To, apakah kau mau berangkat sekarang juga?"
Tanya Ong Tjiauw Hie seraya loncat bangun, sesudah selesai bersemedhi.
"Ya, sekarang juga."
"Soal cinta memang juga penting, akan tetapi, soal negara pun harus diperhatikan. Maka itu, aku harap kau akan balik kemari, andaikata kau tidak dapat mencari padanya,"
Berkata Tjiauw Hie.
"Soal negara, ada kalian yang mengurusnya, dan aku, tak usah kuatirkan. Jika aku tak dapat mencari padanya, aku akan menetap di Thiansan. Mungkin kita tidak akan bertemu muka lagi. Aku doakan kalian berhasil dalam usaha menegakkan negara. Nanti, jika berita bagus itu sampai padaku, dari kejauhan, dari Thiansan aku akan memberi selamat kepada kalian."
"Di Sinkiang kau pun dapat menolong sesama manusia. Pribumi di situ adalah sangat polos. Mungkin mereka ada gunanya di kemudian hari,"
Berkata Hoei Liong.
"Pekerjaan menolong sesama manusia memang adalah kewajiban kita. Pesan Lootjianpwee ini tidak akan kulupakan,"
Kata To It Hang.
Sesudah mengucap demikian, It Hang segera ambil selamat berpisah dari Tiat Hoei Liong dan Ong Tjiauw Hie.
> Dengan mata mendelong dan kepala digeleng-gelengkan, Ong Tjiauw Hie awasi sahabat itu yang semakin lama semakin jauh.
dan tidak lama kemudian lenyaplah dari pandangannya.
Sekarang marilah kita balik melihat Gak Beng Kie, yang setelah meninggalnya Tiat San Ho.
dengan patah hati pergi ke Thiansan buat menyingkir dari segala keduniawian.
Begitu tiba di gunung itu, Beng Kie segera mencukur rambutnya dan menukar namanya menjadi Hoei Beng Siansoe.
Waktu berlalu laksana kilat, dengan tidak terasa 4 tahun telah lewat.
Pada tahun kedua, setibanya dia di Thiansan, Lo Tiat Pie datang berkunjung dengan membawa Yo In Tjong, dengan memberitahukan bahwa Giok Lo Sat-lah yang menyuruhnya dengan permintaan agar Hoei Beng sudi terima anak itu sebagai muridnya.
"Ah, dia itu benar rewel. Bisa jadi dia kasih aku kerjaan!"
Katanya.
Akan tetapi, meskipun mulutnya berkata begitu, hatinya merasa sangat girang, oleh karena In Tjong bukan saja mempunyai paras muka yang tidak sembarangan, tetapi ia juga ada turanannya satu menteri setia.
Maka itu tanpa banyak rewel, ia segera lakukan upacara menerima murid.
Mulai saat itu, di samping meyakinkan terus ilmu pedang, setiap hari Hoei Beng didik muridnya.
Waktu naik gunung, In Tjong baru berusia 7 tahun.
Pertama-tama Hoei Beng latih dia dengan dasar-dasar ilmu silat yang sederhana, dan oleh karena anak itu memang mempunyai bakat baik, maka baru saja lewat tiga tahun, dia sudah memiliki dasar yang kuat dan sudah dapat memburu binatang-binatang alas, seperti harimau dll.
Melihat kemajuan muridnya yang sangat pesat itu, hatinya Hoei Beng jadi girang sekali.
Demikianlah dengan sepenuh hati Hoei Beng didik muridnya.
Dia jarang sekali turun gunung, sehingga sedikit sekali mengetahui keadaan dunia luar.
Kadang-kadang, pada malam-malam terang bulan, dia melatih diri dengan pedangnya.
Pada malam-malam yang sunyi itu, ia selalu ingat kepada kematian yang menyedihkan dari Him Keng Liak dan Tiat San Ho, sehingga, sering-sering ia menghela napas panjang, sambil mengawasi sang puteri malam.
Pada waktu-waktu yang senggang, Hoei Beng mencari lima macam logam istimewa keluaran pegunungan Thiansan.
Belakangan dengan menggunakan bahan-bahan itu, dia memperbarui dua batang pedang peninggalan gurunya.
Pada tahun ketiga, beberapa orang kenamaan di daerah Sinkiang telah datang berkunjung untuk menanyakan apakah Hoei Beng mengetahui hal ikhwalnya seorang wanita luar biasa, yang belum lama tiba di Thiansan.
Meskipun Hoei Beng mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi, tapi dia belum pernah berlaku sombong, sehingga, sesudah berdiam beberapa tahun di Thiansan, dia sangat dihormati orang.
Oleh karena dia datang dari Tionggoan dan juga karena dia mempunyai pemandangan yang sangat luas, maka orang-orang gagah di daerah selatan dan utara Thiansan selalu datang padanya, jika bertemu dengan soal-soal yang sulit.
Menurut penuturan mereka, pada kira-kira setengah tahun berselang, di Thiansan telah datang seorang wanita luar biasa.
Wanita itu putih rambutnya, tapi muda paras mukanya.
Dilihat dari rambutnya, dia seperti nenek tua, tapi dipandang dari mukanya, dia laksana gadis yang baru berusia dua puluhan.
Berapa usianya, tak ada orang yang dapat menebak.
Yang membikin orang tercengang adalah ilmu silatnya.
Berapa dalamnya ilmu silat wanita itu, tidak ada orang yang dapat jajaki.
Baru saja tiba di Thiansan.
dia sudah berhasil mengusir "Sianke Samjauw" (Tiga Siluman she Sian) yang tadinya malang melintang di wilayah selatan Thiansan.
"Sianke Samjauw"
Masing-masing mempunyai ilmu yang istimewa.
Siluman Pertama, Sian Kian namanya, menggunakan Tjittjiat Tjoehoen Kiam (Pedang Pembunuh Roh) yang sangat beracun.
Racun itu berada di ujung pedang, dan kalau orang tergores sedikit saja.
dan mengeluarkan darah, maka orang itu tidak akan dapat ditolong lagi jiwanya.
Siluman Kedua, Sian Houw, menggunakan palu Taylek Kimkong.
Dia ini terutama hebat ilmu luarnya (gwake), yang sudah sampai pada puncak kesempurnaan.
Sian Djin (Siluman Ketiga) mempunyai ilmu pukulan Imyang Pekhong Tjiang.
Musuh yang kena dihantam dengan pukulan itu rusak isi perutnya dan tidak bakal dapat hidup lama lagi.
Oleh karena keistimewaan itu, maka orang menjulukkan mereka sebagai "Tiga Siluman".
Sudah lama mereka berkelana dan melakukan perbuatanperbuatan jahat.
Pada suatu hari, mereka bertemu dengan seorang wanita rambut putih, yang tingkah lakunya luar biasa.
Mereka mencoba permainkan wanita itu, tapi sungguh tak disangka, mereka sendirilah yang kena dibikin sungsang sumbal dari hampir-hampir saja ketiga-tiganya tewas di bawah pedangnya wanita itu.
Mulai saat itu.
"Samjauw"
Tidak berani tancap kaki lagi di wilayah Thiansan dan mabur ke Tibet.
Demikian penuturan orang kepada Hoei Beng.
Kejadian itu hanyalah salah satu dari sepak terjangnya wanita rambut putih yang luar biasa itu.
"Sianke Samjauw"
Memang dikenal sebagai orang-orang busuk, sehingga tindakan wanita rambut putih sangat dibuat syukur.
Akan tetapi, dia juga mempunyai adat aneh.
Jika orang, salah sedikit saja, dia lantas turun tangan.
Di samping itu, dia juga suka sekali cari orang-orang yang ternama pandai silat untuk diajak mengadu kepandaian.
Tapi sebegitu jauh, semua orang sudah digulingkan dalam beberapa gebrakan saja.
Dan jika sang lawan sudah roboh, kadang-kadang dia pergi sambil tertawa nyaring dan kadangkadang dia menghela napas panjang, sambil mendongakkan kepalanya dan menggerutu karena tidak dapat menemui tandingan yang setimpal.
Itulah sebabnya maka orang-orang ternama di daerah selatan dan utara Thiansan rata-rata sangat jeri padanya.
Dan karena rambutnya putih, maka orang memanggilnya "Pek Hoat Mo Lie" (Wanita Siluman Rambut Putih).
Belakangan nama ini perlahan-lahan melekat padanya, sehingga orang kata dia seorang she Pek.
Berhubung dengan sepak terjangnya "Pek Hoat Mo Lie", maka sejumlah orang menduga dia itu adalah seorang perampok wanita yang mabur dari Tionggoan.
Sebab itu, mereka datang kepada Hoei Beng Siansoe untuk menanyakan, dan malahan ada beberapa orang yang menganjurkan supaya Hoei Beng mengadu pedang dengan dia.
Mendengar penuturan orang itu, Hoei Beng lantas menduga-duga, bahwa orang itu mestinya Giok Lo Sat.
Cuma dia merasa sangsi, kenapa rambutnya Giok Lo Sat jadi putih semuanya.
Mungkin sekali karena menderita, demikian Hoei Beng menduga, dan dugaan itu ternyata tepat.
Beberapa saat Hoei Beng menggeleng-gelengkan kepalanya, karena dia ingat, bahwa adatnya Giok Loo Sat yang suka berkelahi ternyata belum dapat diubah.
"Apakah Pek Hoat Mo Lie tidak mempunyai kawan?"
Tanya Hoei Beng yang ingat kepada Tiat Hoei Liong.
"Satu saja sudah sukar dilawan! Bagaimana kalau ada kawannya! Gerak-geriknya seperti setan. Datang sendirian, pergi juga sendirian. Munculnya tiba-tiba, perginya mendadak, dan tidak ada orang yang dapat mengetahui gerak-geriknya itu,"
Demikian jawab orang-orang yang ditanya. Giok Lo Sat mengumpet di Sinkiang, tentunya tidak ingin orang mengetahui asal-usulnya, demikian Hoei Beng pikir. Karena memikir demikian, dia lantas berkata.
"Aku pun tidak tahu siapa dia. Kalau orang bilang dia she Pek. mungkin sekali dia memang she Pek. Sebenarnya nama itu cuma merupakan satu papan merek, maka itu. rasanya kita tidak perlu menyelidiki terlalu mendalam."
Atas pertanyaan apakah di Tionggoan ada penjahat wanita yang tersohor. Hoei Beng menjawab.
"Sebelum mencukur rambut, aku turut Him Keng Liak di daerah perbatasan, hal mana membikin aku tidak tahu banyak mengenai keadaan Rimba Hijau di daerah Tionggoan. Mungkin sekali dia itu dahulunya satu perampok wanita yang tak berkawan."
Beberapa orang lalu mendesak agar Hoei Beng turun gunung untuk mencoba wanita rambut putih itu. Sambil merangkapkan kedua tangannya. Hoei Beng Siansoe berkata.
"Aku adalah seorang yang telah menyingkirkan diri dari segala keduniawian. Agama Buddha tak mengizinkan aku berebut kemenangan."
"Kalau begitu. perasaan mendongkol kita tak dapat dilampiaskan,"
Kata seorang antaranya.
"Meskipun dia menggunakan tangan besi, tapi. apakah di sampingnya orang-orang jahat, dia pernah mencelakakan juga orang-orang baik?"
Tanya Hoei Beng.
"Ya, hal ini memang kami belum pernah dengar,"
Sahut mereka.
"Nah, kalau begitu, dia toh sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan kalian. Dalam dunia ini. memang banyak orang yang mempunyai kegemaran istimewa. Umpama saja, ada orang-orang yang sok catur. Kalau dia nonton lain orang main catur, biarpun di atas papan catur ada tulisan yang berbunyi "nonton catur tutup mulut adalah kuntju". dia toh tidak dapat menahan untuk tidak membuka mulut. Sudah tentu, adalah terlebih baik jika orang dapat tutup mulutnya waktu nonton permainan catur, akan tetapi, buka mulut pun tidak dapat dibilang berbuat suatu kesalahan besar. Menurut pendapatku, Pek Hoat Mo Lie mungkin adalah seorang yang sok ilmu silat, sehingga, jika dia bertemu dengan orang-orang yang terkenal pandai silat, tangannya jadi gatal, seperti juga seorang ahli catur ketemu tandingannya. Maka itu. menurut pikiranku, sebegitu jauh dia tidak lakukan perbuatan-perbuatan yang jahat atau menindas yang lemah, kita juga tidak perlu cari permusuhan dengannya."
Mendengar pembicaraan itu, sebagian orang menjadi kagum atas pemandangan luas dari Hoei Beng, tapi sebagian lagi ada juga yang tidak sependapat dengannya.
Tapi karena Hoei Beng tidak mau turun gunung, mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa.
Sesudah lewat setengah tahun, berita tentang Pek Hoat Mo Lie perlahan-lahan menjadi sirap.
Dalam hatinya, Hoei Beng menduga bahwa karena tidak dapat menemui tandingan, maka Pek Hoat Mo Lie jadi bosan mencari-cari lawan lagi.
Sebagaimana telah dituturkan di atas, bahwa sesudah Yo In Tjong naik ke gunung, Hoei Beng telah mengumpulkan lima macam logam istimewa keluaran Thiansan, dan belakangan dengan mengikuti ilmu rahasia dari Siauwlim sie, dia memperbarui dua batang pedang peninggalan gurunya.
Tiga tahun lamanya dia mengolah dengan teliti dan seksama dan sebagai hasilnya dia menciptakan dua batang pedang, satu panjang dan satu pendek.
Yang panjang diberi nama "Yoe Liong" (Naga Berenang) dan yang pendek dipanggil "Toan Giok" (Putuskan Batu Giok).
Kedua-duanya sama tajamnya dan dapat membacok putus besi dan baja.
Pada suatu hari.
ketika sedang bersemedhi, Hoei Beng rasakan hatinya berdebar.
Dia ingat, musim dingin sudah hampir tiba, dan dia mesti turun gunung guna membeli sekedar barang-barang buat melewati musim dingin itu.
Maka itu, dia segera memberi pedang "Toan Giok"
Kepada Yo In Tjong. serta pesan supaya sang murid menjaga rumah baikbaik. sedang dia sendiri, dengan membawa "Yoe Liong Kiam"
Untuk menjaga diri.
sudah lantas turun gunung untuk pergi ke kota Pulo, di Sinkiang Utara, guna membeli bahan makanan.
Sesudah berselang sebulan, barulah Hoei Beng berangkat pulang dari kota Pulo.
Ketika itu adalah akhir musim rontok.
Hawa sudah mulai sangat dingin.
Air sudah mulai membeku.
Satu hari, Hoei Beng jalan melintasi padang rumput Kehta.
Mendadak, di kejauhan, dia lihat seorang yang berdandan seperti kepala suku dan membawa banyak serdadu, sedang mengiring sejumlah besar kerbau dan kambing, dan di belakang rerotan itu, terdapat banyak rakyat yang mengikuti dengan mengeluarkan tangisan sedih.
Hatinya Hoei Beng jadi tidak tega.
Dia maju menghampiri dan tanyakan sebab-sebabnya.
Satu orang yang ditanya menerangkan, bahwa kerbau dan kambingnya telah dirampas, karena mereka berhutang pada kepala suku Bengsatsi.
Lain pemandangan menyedihkan yang dilihat Hoei Beng adalah dua mayat yang menggeletak di luar tenda rombeng, dan di damping kedua mayat itu, ada satu bocah sedang nangis mengulun.
Hoei Beng segera mendekati.
"Kerbau dan kambing mereka juga kena dirampas."
Menerangkan satu orang.
"Lantaran jengkel, ayah dan ibunya bunuh diri. Hai! Kita benar-benar sengsara, tapi anak ini lebihlebih sengsara."
Bocah itu berusia kira-kira 6 atau 7 tahun.
Meskipun badannya tinggal tulang terbungkus kulit, tapi mukanya menunjukkan kecerdikan, sedang kedua biji matanya yang hitam jengat bersorot terang sekali.
Sesudah mengawasi beberapa saat, Hoei Beng tanya.
"Apakah kau orang Han?"
"Aku she Tjouw,"
Jawabnya.
"Kata ayah, kita asalnya dari Ouwlam. Aku sendiri tak tahu. apa Ouwlam tempatnya orang Han atau bukan. Dahulu ayah pernah berkata, bahwa pembesar-pembesar negeri di Ouwlam ada lebih kejam dari serigala, Thaka itu kita kabur kemari untuk mencari hidup."
"Bengsatsi di sini tidak banyak bedanya dengan pembesarpembesar Han yang kejam,"
Menyelak seorang tua yang berdiri di situ.
Sesudah menjawab pertanyaan Hoei Beng, bocah itu mengulun lebih keras, sambil peluki mayatnya kedua orang tuanya.
Hoei Beng merasa sangat tidak tega.
Dia membujuki dengan halus, sambil mengusap-usap kepala anak itu.
"In Tjong tidak punya kawan bermain. Lebih baik aku ambil dia menjadi murid, supaya mereka bisa menjadi kawan. Tulang anak ini sangat baik dan juga kelihatannya mempunyai kecerdikan. Mestinya dia mempunyai bakat untuk belajar silat,"
Demikian Hoei Beng memikir dalam hatinya. Sesudah mengambil keputusan, Hoei Beng segera berkata.
"Sudahlah, kau jangan nangis. Apakah kau mau turut aku? Aku ingin ambil kau menjadi murid. Mendengar perkataan orang, bocah itu lantas susut air matanya. Dia lantas berlutut di hadapan Hoei Beng sambil manggutkan kepalanya tiga kali, dan mulutnya menyebut.
"Soehoe" (guru). Hoei Beng jadi girang sekali. Ketika ia mau gendong anak itu, mendadak seorang berteriak.
"Kepala suku datang!"
Mendengar teriakan itu, semua rakyat gembala lari berserabutan ke empat penjuru. Dua serdadu yang bersikap garang menghampiri Hoei Beng dan membentak.
"Kau pendeta alas, lagi bikin apa di sini?"
"Kasihan anak ini. Kau jangan takuti padanya,"
Menjawab Hoei Beng dengan adem.
"Hm!"
Bentak serdadu itu.
"jangan banyak bicara! Kepala suku kita bilang, orang tua anak ini sudah mati dan dia tidak punya senderan, maka kami diperintahkan mengajak dia pulang. Kau lihat, kepala suku kami sungguh baik hati."
Bocah itu menangis lagi.
"Dia galak. Aku tak mau ikut,"
Katanya tersedu-sedu."
Melihat kedua kaki tangannya sedang bicara dengan satu pendeta, Bengsatsi berteriak dari kejauhan.
"Siapa pendeta itu? Kamu sedang bicara apa? Hayo lekas pondong anak itu. Kita mesti pergi ke lain tempat guna menagih hutang."
Bengsatsi berniat merampas bocah itu untuk dijadikan budak puteranya. Melihat gelagat kurang baik, Hoei Beng buru-buru pondong anak itu dan berkata.
"Anak ini adalah muridku. Harap ampuni dia!"
"Nyalimu benar besar!"
Bentak kedua serdadu itu.
"Kau berani merampas anak ini! Hayo, lekas lepaskan!"
Hoei Beng tidak menyahut. Dia tundukan kepalanya dan menyebut "O-mi-to-hoed."
Melihat orang tidak meladeni, kedua serdadu itu jadi sangat gusar dan lantas saja menghantam Hoei Beng dengan tangan dan kaki.
Hoei Beng dukung muridnya dengan lengan kiri dan mulutnya kembali menyebut "O-mi-to-hoed."
Dia sama-sekali tidak bikin perlawanan.
Tapi, tidak disangka, begitu kepalan dan kakinya kedua serdadu itu mampir di badannya Hoei Beng, lantas terdengar dua suara "buk, buk", tahu-tahu mereka sudah mental kira-kira setumbak dan jatuh tersungkur.
Masih bagus Hoei Beng berlaku murah, sehingga mereka tidak sampai patah kaki tangannya.
Melihat kejadian itu, Bengsatsi jadi sangat terkejut.
Lewat beberapa saat baru dia berteriak.
"Bekuk padanya!"
Waktu itu satu lhama berjubah merah yang berdiri di dampingnya Bengsatsi, bicara beberapa patah kata dengan seorang yang berdandan seperti orang Han. Mendadak lhama itu berteriak.
"Tunggu! Pendeta itu bukan orang sembarang. Biar aku tanyakan dia."
Sehabis berteriak begitu, dia lantas loncat maju sambii berseru.
"Hai! Dari mana kau datang? Lekas beritahukan namamu!"
"Aku adalah pendeta berkelana yang tidak mempunyai nama,"
Sahut Hoei Beng. Lhama itu keluarkan tertawanya yang menyeramkan dan berkata.
"Kau kira aku tak tahu? Kau adalah Gak Beng Kie. Betul, tidak?"
Hoei Beng terkejut. Dia mengawasi, tapi tidak mengenali siapa lhama itu.
"Taysu,"
Kata Hoei Beng.
"janganlah kau main-main. Hawa begini dingin, bocah ini kedinginan dan kelaparan. Aku perlu buru-buru bawa dia pulang."
"Jangan kira kau bisa lari dengan menyamar sebagai pendeta,"
Bentak lama itu.
"Lekas kau serahkan kitab perangnya Him Teng Pek. Kalau tidak, aku nanti antar kau pulang ke akherat."
Hoei Beng menjadi lebih terkejut lagi.
Cara bagaimana lhama ini tahu, bahwa kitab perang Him Keng Liak pernah dititipkan padaku?
pikir Hoei Beng.
Lhama ini rupanya cuma tahu satu.
dan tidak tahu, bahwa kitab perang itu belakangan sudah diserahkan kepada Giok Lo Sat.
Dengan menanyakan kitab perang itu, lhama ini mestinya anggauta kawanan dorna, dan hari ini aku rasa mesti buka juga pantangan membunuh, demikian pikir Hoei Beng dalam hatinya.
Melihat orang tidak meladeni.
Lhama berjubah merah itu membentak lagi.
"Hayo, lekas, Gak Beng Kie, ya atau tidak?"
"O-mi-to-hoed,"
Jawab Hoei Beng.
"pintjeng cuma tahu membaca kitab-kitab suci dan benci akan segala perkara pembunuhan. Bagaimana pintjeng bisa mempunyai kitab perang?"
"Baiklah,"
Bentak pula lhama itu.
"jika kau belum rasakan keliehayanku, kau tentu belum mau tunduk."
Sesudah menuentak begitu, dari pinggangnya dia keluarkan sepasang cecer tembaga, yang lantas ditakepkan sehingga mengeluarkan suara nyaring.
Berbareng dengan itu.
ia, enjot tubuhnya yang lantas mencelat ke atas dan menerjang Hoei Beng seperti segumpalan awan merah.
Lengan kiri Hoei Beng tetap memeluk muridnya, sedang tangan kanannya dilonjorkan ke atas buat menyambut serangan musuh.
Lhama berjubah merah itu lantas rangkapkan kedua cecernya guna menggencet telapakan tangannya Hoei Beng.
Tapi tak diduga, tangannya Hoei Beng licin seperti lindung dan dengan mudah lolos dari takepan kedua cecer itu, berbareng dengan itu, dua jerijinya digunakan buat menyodok kedua matanya sang lhama.
Sambil keluarkan seruan seram, Lhama berjuba merah itu memutar tubuhnya, cecer kin membabat ke atas, sedang cecer kanan menyabet ke bawah.
Hoei Beng buru-buru rubah gerakannya dan mereka masing-masing mundur tiga tindak.
Kedua-duanya jadi sangat kaget.
Lhama berjubah merah itu mengetahui bahwa ilmu pedangnya Hoei Beng sangat tinggi dan tenaga dalamnya juga sudah matang, akan tetapi dia sama sekali tidak menduga, bahwa sambil mendukung bocah dan dengan sebelah tangan, Hoei Beng masih begitu liehay!
Di lain pihak, Hoei Beng pun tidak menyangka, bahwa di tempat belukar itu masih terdapat orang yang berkepandaian demikian tinggi.
Hoei Beng telah umpetkan diri di pegunungan Thiansan beberapa tahun lamanya, maka tidaklah heran, bila dia tidak mengetahui perubahanperubahan besar yang telah terjadi di lingkungan istana kaisar.
Kaisar Yoe Kauw yang terlalu banyak pelesir, sehingga badannya jadi rusak telah wafat dalam usia 22 tahun, setelah duduk sebagai kaisar selama tujuh tahun lamanya.
Sesudah Yoe Kauw meninggal dunia, adiknya yang bernama Tjoe Yoe Kiam menggantikan dia sebagai kaisar Tjong Tjeng.
Sesudah duduk di singgasana, Tjong Tjeng mengambil beberapa tindakan tepat, Goei Tiong Hian dihukum mati, Kek Sie diusir keluar dari istana dan belakangan juga dihukum mati, dan lain-lain kawanan dorna, seperti Tjoei Teng Sioe dan sebagainya, juga tidak luput dari kebinasaan.
Kaki tangannya Goei Tiong Hian yang dosanya lebih enteng dipecat pangkatnya dan dijadikan serdadu atau dilepas sebagai rakyat biasa.
Berbareng dengan itu, Tjong Tjeng telah mengangkat Wan Tjong Hoan sebagai panglima perang dan gunakan juga orang-orang pandai dari kalangan Tonglim.
Begitulah selama beberapa waktu suasana jadi sangat baik dan rakyat menaruh harapan besar akan kemakmuran negara.
Akan tetapi, belakangan ternyata tindakan-tindakan Tjong Tjeng dalam membinasakan Goei Tiong Hian dan kawan-kawannya cuma merupakan tindakan untuk kepentingan pribadi.
Sesudah membasmi kawanan dorna, sebaliknya dari bertindak untuk membangun negara, Tjong Tjeng lalu memeras rakyat, sehingga akhirnya kerajaannya runtuh.
Sesudah Goei Tiong Hian dan Kek Sie terbinasa, kawankawannya pada kabur ke berbagai tempat.
Lhama Agama Merah yang bernama Tjiang Kim Tayhoatsoe kabur ke Tibet dan belakangan Lian Seng Houw (orang kepercayaan Goei Tiong Hian) juga pergi ke Tibet untuk mencari Tjiang Kim.
Ketika itu, Bengsatsi, kepala suku Kehta di Sinkiang mempunyai niatan yang besar.
Dia berangan-angan mempersatukan Sinkiang di bawah kekuasaannya.
Ketika mendapat tahu Tjiang Kim sudah pulang dari kota raja, dia lantas mengundang dengan mengirimkan bingkisan yang mahal harganya.
Sebenarnya Tjiang Kim tidak mau pergi, akan tetapi Lian Seng Houw desak padanya.
Dalam desakannya itu, Lian Seng Houw mempunyai maksud tertentu.
Dia adalah mata-mata orang Boan.
Dia anggap, bangsa Boan akan berhasil merebut Tiongkok dan lambat laun orang Boan tentu akan menyerang Sinkiang.
Wilayah Sinkiang adalah luas tapi penduduknya sedikit, sehinggga gerakan tentara menghadapi banyak kesukaran.
Maka itu, dia ingin menggunakan Bengsatsi untuk menciptakan satu fondamen yang kuat terlebih dahulu.
Itulah sebabnya maka dia bujuk Tjiang Kim menerima saja undangan Bengsatsi dan dia pun ikut bersama-sama datang di Sinkiang.
Tidak terduga, di padang rumput Sinkiang mereka bertemu dengan Gak Beng Kie yang sudah mencukur rambut menjadi pendeta.
Lian Seng Houw ingat, bahwa Gak Beng Kie menyimpan kitab perang peninggalan Him Keng Liak.
Jika dia dapat merebut kitab tersebut, maka dengan bangga dia bisa lantas pergi ke negeri Boan untuk terima anugerah, sehingga tidak usah berdiam lama-lama lagi di Sinkiang.
Memikir begitu, dia lantas kisiki Tjiang Kim buat minta kitab perang itu.
Melihat kepandaian Hoei Beng, hatinya Tjiang Kim jadi goncang.
Tapi hatinya Hoei Beng juga tidak tenteram, karena sebelah tangannya harus mendukung muridnya.
Masih bagus nyalinya bocah itu ada besar.
Ketika menyaksikan cara bagaimana dengan tangan kosong gurunya melayani lhama yang tinggi besar itu, dia merasa sangat gembira sehingga dia lupa akan kematian kedua orang tuanya.
Dalam dukungan Hoei Beng, dia berulang-ulang berseru.
"Bagus! Bagus, soehoe! Ajarkan aku ilmu ini."
Meskipun hatinya girang melihat ketabahan sang murid, tapi Hoei Beng kuatir murid itu nanti mendapat luka.
Maka itu, sesudah kirim beberapa serangan, Hoei Beng lantas loncat mundur.
Tjiang Kim itu heran melihat lawannya mundur sebelum keteter dan pada saat itu, di depan matanya berkelebat sehelai sinar terang yang berhawa dingin, dan ternyata, pada waktu loncat mundur, Hoei Beng sudah cabut Yoeliong kiam-nya, yang lantas disabetkan ke arah musuh.
Satu suara "trang"
Terdengar, dan satu cecernya Tjiang Kim putus jadi dua potong.
Tjiang Kim terkejut bukan main.
Dia mundur beberapa tindak.
Di lain pihak, Hoei Beng merasa sangat gembira karena pedangnya ternyata telah memenuhi harapannya.
Dia terus enjot tubuhnya dan Yoeliong kiam ditujukan ke arah jalan darah hunbun hiat di bebokongnya Tjiang Kim.
Pada saat itu, Bengsatsi keluarkan satu teriakan komando dan ratusan anak panah menyambar ke arah Hoei Beng untuk melindungi Tjiang Kim.
Hoei Beng segera putar pedangnya seperti titiran dan "trang...
trang...
trang..."
Anak-anak panah itu putus jadi dua potong dan jatuh di seputarnya Hoei Beng. Hoei Beng tertawa keras.
"O-mi-to-hoed,"
Katanya.
"maaf, pintjeng, aku tak dapat berdiam lebih lama lagi."
Waktu Hoei Beng sedang putar pedangnya buat tahan serangan anak panah, Tjiang Kim loloskan jubahnya.
"Tak bisa,"
Dia berseru.
"hoedya masih mau jajal kepandaianmu!"
Dengan gunakan tenaga dalam yang sangat kuat, dia sabetkan jubah itu yang menyambar ke arah Hoei Beng seperti gumpalan awan merah. Yoeliong kiam papaki serangan itu, dan "brettt"
Jubahnya Tjiang Kim terbeset sebagian.
Akan tetapi, jubah bukannya seperti senjata biasa Senjata bila terputus tak dapat digunakan lagi, tapi jubah terbeset masih tetap dapat dipakai.
Maka itu, sambil menyusul jubahnya buat coba lilit Yoeliong kiam, Tjiang Kim sabetkan cecernya ke arah lawan.
Tapi Hoei Beng tak mudah dapat diselomoti secara begitu saja Dengan sebat dia tarik kembali pedangnya yang dibarengi membabat cecernya Tjiang Kim.
Tjiang Kim yang tahu tajamnya Yoe Liong Kiam tak berani menyambut sabetan itu.
Dia loncat mundur tiga tindak buat loloskan diri.
Tapi ilmu pedang Thiansan adalah sangat luar biasa.
Begitu lekas terkurung, Tjiang Kim tak dapat meloloskan diri lagi dari sinar Yoeliong kiam.
Tapi, selagi Hoei Beng niat sabet putus cecernya Tjiang Kim yang sebelah kanan, belasan pahlawan Bengsatsi sudah meluruk mengerubuti padanya.
Antara mereka itu, seorang yang menggunakan sepasang gaetan bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga sangat telengas.
Begitu maju, dia lantas kirim serangan membinasakan kepada bocah yang sedang didukung Hoei Beng.
Hoei Beng jejek kakinya dan badannya melesat seperti anak panah guna mengelakan serangan tersebut.
Matanya melirik orang itu.
"Hm!"
Katanya sambil tertawa dingin.
"aku kira siapa! Tak tahunya Lian Toatjongkoan. Kalian sudah celakakan Him Keng Liak, apa itu belum cukup? Aku sekarang sudah cukur rambut menjadi pendeta, sebenarnya Goei Tiong Hian sudah boleh merasa lega. Tapi rupanya kamu belum puas dan perlu menyusul ke tempat ini."
Hoei Beng masih belum tahu bahwa Goei Tiong Hian sudah terbinasa.
Dia menduga, bahwa Lian Seng Houw dan Tjiang Kim telah dikirim oleh dorna itu untuk mengejar padanya sampai di Thiansan.
Lian Seng Houw tidak menjawab.
Dia hanya tertawa getir dan melanjutkan serangannya.
Manusia itu memang licik dan sangat beracun.
Melihat tangan kiri Hoei Beng mendukung sang bocah, dia terus tujukan serangannya ke arah bagian yang lemah ini.
Sang bocah, biarpun nyalinya besar, menjadi ketakutan.
Dia peluk pundak gurunya erat-erat, dan kadangkadang ia keluarkan teriakan ketakutan.
Tjiang Kim juga tak mau sia-siakan ketika yang baik.
Dengan cecer di tangan kanan dan jubahnya di tangan kiri, dia berikan seranganserangan hebat dengan beruntun saling susul.
Hoei Beng menjadi sangat gusar.
Sambil berseru keras, ia keluarkan ilmu silat Thiansan yang telah disusun oleh dia dan gurunya.
Sinar Yoeliong kiam yang berhawa dingin menyambar-nyambar seperti kilat dan angin, sehingga Lian Seng Houw dan Tjiang Kim ciut hatinya dan tak berani maju terlalu dekat.
Biar bagaimana juga.
Lian Seng Houw dan Tjiang Kim Hoatsoe adalah ahli-ahli silat kelas satu.
Dan Hoei Beng, oleh karena sedang mendukung orang, tidak berani bertempur mati-matian.
Maka itu, setelah bertempur kira-kira 70 jurus, keadaan kedua belah pihak masih tetap berimbang.
Sementara itu, Bengsatsi memerintahkan pahlawanpahlawannya mengurung dari tempat kira-kira seratus tindak jauhnya.
Anak panah mereka sudah disiapkan pada busurnya.
Mereka hanya menunggu keteternya Hoei Beng guna segera melepaskan anak-anak panah itu.
Waktu tiga orang sedang berkutet, dari tempat kejauhan mendadak terdengar suara tertawa yang nyaring dan panjang.
Hatinya Hoei Beng jadi bergoncang.
Sesaat kemudian, satu bayangan putih melesat di tengah-tengah padang rumput dengan kecepatan bagaikan kilat, dan beberapa detik kemudian, terdengarlah suara teriakan yang riuh.
Sejumlah pahlawan Bengsatsi tahu-tahu sudah roboh kena tusukan pedang!
"Hayo, lari!
Pek Hoat Mo Lie datang!"
Demikian kedengaran orang berteriak. Hoei Beng segera putarkan pedangnya lebih keras sehingga Lian Seng Houw dan Tjiang Kim terdesak mundur beberapa tindak.
"Apakah kau baik selama berpisah? Tempo yang dijanjikan belum tiba, tapi aku sudah datang lebih dahulu!"
Itulah suaranya Giok Lo Sat!
Suara dari seorang ksatria, cuma lebih tua sedikit!
Melihat siapa yang datang, Tjiang Kim Hoatsoe terkesiap.
Semangatnya terbang ke awang-awang.
Sebagai seorang yang pernah merasakan liehaynya Lian Nie Siang, Tjiang Kim tahu artinya kedatangan itu.
Dengan Gak Beng Kie dan Pek Hoat Mo Lie, dia tahu jiwanya pasti akan melayang ke akherat.
Maka itu, tanpa ayal lagi, dia putar tubuhnya dan kabur secepat dia bisa.
Lian Seng Houw iiiga tidak kurang kagetnya.
Dia juga niat mabur, cuma ilmu enteng tubuhnya masih kalah dengan Tjiang Kim.
Dia cepat, tapi Pek Hoat Mo Lie lebih cepat lagi.
Belum ada sepuluh tombak, bayangan Pek Hoat Mo Lie yang menakutkan sudah tiba dekat bebokongnya dan sinar pedangnya menyambar ke arah bebokongnya.
Mau tak mau, Lian Seng Houw putar tubuhnya dan mengadakan perlawanan.
Pek Hoat Me Lie tak mengasih hati padanya.
Belum cukup 10 gebrakan, Pek Hoat Mo Lie berteriak "kena!"
Dan Lian Seng Houw roboh terguling di atas padang rumput. Sesudah dapat merobohkan lawannya, dia lantas totok jalan darahnya Lian Seng Houw dan kemudian berpaling kepada Hoei Beng sambil berkata.
"Hayo, berangkat!"
"Ke mana?"
Tanya Hoei Beng.
"Ke mana kau pergi, aku ikuti. Apakah kau takut adu lari denganku?"
Hoei Beng tertawa geli dalam hatinya.
Adatnya Giok Lo Sat masih sama saja.
Sesudah berpisah beberapa tahun, bukan lebih dahulu menanyakan keselamatan dan kesehatan masing-masing, tahu-tahu mengajak adu ilmu enteng tubuh.
"Hayo, jalan! Kau gendong bocah cilik itu, sedang aku gendong orang dewasa, apakah kau masih takut?"
Berkata pula Pek Hoat Mo Lie. Hoei Beng tersenyum.
"Beberapa tahun berselang, aku memang kalah, tapi sekarang belum tentu."
Demikian ia kata dalam hatinya.
"Baik,"
Katanya sambil tertawa, tubuhnya lantas melayang seperti ditiup angin, diikuti oleh Pek Hoat Mo Lie dari belakang.
Sesudah berlari-lari setengah harian, mereka tiba pada tepi padang rumput.
Maju sedikit lagi, mereka akan sampai di tanah tinggi dari pegunungan Thiansan.
Sebegitu jauh, Pek Hoat Mo Lie tidak berhasil menyusul Hoei Beng.
yang tetap berada belasan tindak di depannya.
Setibanya di situ, Pek Hoat Mo Lie hentikan tindakannya dan berkata.
"Tak usah adu lagi. kepandaian kita adalah berimbang. Kau berlatih beberapa tahun dan mendapat kemajuan begini pesat. Sungguh dapat dibanggakan."
Mereka segera berhenti lari. Bocah yang digendong tampak sangat girang sehingga dia tepuk-tepuk tangan dan berseru.
"Soehoe, kau pandai ilmu dewa? Aku menggemblok di belakangmu seperti juga melayang di awang-awang."
"Ini adalah ilmu enteng tubuh dan bukan ilmu dewa. Kalau kau sudah besar, kau nanti tahu,"
Sahut Hoei Beng sambil tertawa.
"Soehoe, akupun mau pelajarkan,"
Berkata anak itu. Pek Hoat Mo Lie awasi bocah itu dan berkata.
"Apakah dia muridmu yang baru?"
Hoei Beng menganggukan kepalanya.
"Kecerdikan bocah ini tidak berada di sebelah bawah In Tjong, tapi hatinya tidaklah sama."
Berkata Pek Hoat Mo Lie.
"Ah, usianya masih terlalu muda. Baik atau tidak, jadi atau tidak, masih belum dapat dibilang dari sekarang,"
Berkata Hoei Beng. Pek Hoat Me Lie lalu turunkan Lian Seng Houw dari gendongannya dan membuka jalan darahnya.
"Sekarang kita harus periksa padanya?"
Katanya sambil tertawa.
"Kita mesti tanya, berapa banyak Goei Tiong Hian kirim orang,"
Berkata Hoei Beng.
"Goei Tjongtjoe sudah mati,"
Sahut Lian Seng Houw sebelum ditanya. Hoei Beng dan Pek Hoat Mo Lie kaget.
"Bagaimana kematiannya?"
Tanya Pek Hoat Mo Lie.
"Dihukum mati dengan dijirat lehernya oleh kaisar baru,"
Menyahut yang ditanya.
"Masih bagus. Aku kira dia mati di atas ranjang."
Berkata Hoei Beng.
"Dan Kek Sie?"
Tanya Pek Hoat Mo Lie.
"Juga dihukum mati."
Hoei Beng merasa girang dalam hatinya karena dia pernah menyaksikan kecabulan Kek Sie dan cara-caranya mengaduk dalam urusan pemerintahan.
Pek Hoat Mo Lie sebaliknya merasa kurang enak, karena dia ingat kepada Kek Peng Teng.
"Sebetulnya dia kena digunakan oleh Goei Tiong Hian.
"Sebenarnya cukup jika dia diusir saja dari istana."
Katanya Sesudah itu.
mereka ajukan berbagai pertanyaan kepada Lian Seng Houw, yang dijawab dengan sejujurnya karena dia takut akan tangan yang telengas dari Pek Hoat Mo Lie.
Cuma ada satu hal yang disembunyikan, yaitu.
Dia jadi mata-mata orang Boan.
Tapi rahasia ini sudah diketahui oleh Pek Hoat Mo Lie, berdasarkan pengakuannya Eng Sioe Yang.
Sesudah orang menutur habis, dia berkata sambil mesem.
""Apakah pengakuanmu sudah seluruhnya?"
Keringat dingin mengucur, tapi dia keraskan hati.
"Tidak ada lagi,"
Katanya.
"Kau adalah mata-mata orang Boan, kenapa kau tidak bilang?"
Kata Pek Hoat Mo Lie sambil tertawa dingin. Mukanya Lian Seng Houw jadi pucat. Dia diam saja.
"Kau terlalu lahat, sehingga tak dapat diampuni,"
Kata Pek Hoat Mo Lie sambil menyabetkan pedangnya dan Lian Seng Houw terputus menjadi dua. Sesudah membinasakan penghianat itu. Pek Hoat Mo Lie tertawa berkakakan.
"Gak Beng Kie, oh salah, aku lupa kau sudah jadi hweeshio. Hoei Beng Siansoe, marilah kita adu pedang,"
Dia berseru.
"Ini tidak adil,"
Kata Hoei Beng.
"Kenapa tidak adil?"
Hoei Beng cabut Yoeliong kiam-nya yang disabetkan kepada sebuah batu besar, yang lantas terbelah dua. Pek Hoat Mo Lie mengawasi dengan kagum dan berkata.
"Kalau begitu, kau juga bisa mengolah pedang."
"Sebenarnya jika ilmu silat sudah sampai pada puncak kesempurnaannya, menggunakan senjata apa juga adalah sama. Aku membuat kedua pedang ini untuk murid-muridku."
Pek Hoat Mo Lie agaknya kurang percaya.
"Tapi biar bagaimana juga, orang yang mempunyai pedang mestika berada di atas angin,"
Kata dia.
"Jika dua orang latihannya belum sempurna betul dan ilmu pedangnya tidak beda seberapa, memang orang yang pegang pedang wasiat berada di atas angin. Antara kau dan aku, ilmu pedang dan latihan kira-kira berimbang. Cobalah kau gunakan pedangku, dan kita lihat, apakah kau dapat mengalahkan aku dalam 100 jurus,"
Berkata Hoei Beng Siansoe.
"Jika aku gunakan pedangmu, tidak sampai seratus jurus."
Katanya dalam hati yang agak mendongkol. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia lantas sambuti Yoeliong kiam. pasang kuda-kuda dan berkata.
"Majulah."
"Kau maju dahulu,"
Kata Hoei Beng.
Sambil berseru, Pek Hoat Mo Lie menikam.
Hoei Beng berkelit, sehingga tikaman itu jatuh di tempat kosong.
Melihat tidak berhasil, Pek Hoat Mo Lie teruskan pedang itu buat membabat.
Hoei Beng tidak menangkis.
Sebaliknya pedangnya menikam.
Inilah satu tipu menyerang untuk menolong diri.
Sejurus demi sejurus lewat tanpa hasil.
Pek Hoat Mo Lie masih tetap belum dapat menjatuhkan Hoei Beng.
Pedang mestika ternyata benar tak ada gunanya.
Pek Hoat Mo Lie jadi penasaran.
Sambil berseru keras, dia rubah caranya bersilat.
Melihat begitu, secara diam-diam Hoei Beng gerakan tenaga hiankong-nya.
Dia berdiri tegak, tak bergerak.
Ketika Yoe Liong Kiam menyambar, dia tempel dengan pedangnya Pek Hoat Mo Lie yang dia pegang.
Heran, kedua pedang itu seperti juga besi berani kena besi.
Pedangnya Pek Hoat Mo Lie ke timur, pedangnya Hoei Beng ke timur, ke barat juga ikut ke barat.
Itu waktu belum ada seratus jurus.
Pek Hoat Mo Lie segera tarik pulang Yoeliong kiam.
"Dua puluh tahun kemudian, kita akan coba lagi."
Katanya dengan mendongkol.
Setelah berkata begitu, ia serahkan Yoeliong kiam kepada Hoei Beng dan ambil kembali pedangnya sendiri, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia berlalu dengan tindakan cepat...
Hoei Beng menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, sampai sekarang masih belum berubah adatnya, ingin menang saja."
Hoei Beng sebenarnya ingin menanyakan tentang To It Hang.
Ong Tjiauw Hie dan lain-lain kawan lama dan juga ingin tanya pengalamanpengalamannya.
tapi sudah tak keburu.
Dengan membawa muridnya, Hoei Beng pulang ketempatnya.
Murid itu dia beri nama Tjouw Tjiauw Lam.
Di samping memberi latihan Tongtjoe kang (Ilmu buat kanak-kanak) kepada murid baru itu.
Hoei Beng, perintahkan In Tjong mengajarkan kawan itu dasar-dasar lain dari ilmu silat, seperti melatih mata, melatih gerakan jalan, pukulan dan sebagainya.
Beberapa bulan telah lewat.
Dalam musim dingin, hawa di Thiansan luar biasa dinginnya.
Tiap bangun pagi, kedua bocah itu lebih dahulu berlatih buat membikin hangat badan.
Satu hari, ketika Hoei Beng sedang bersemedhi dalam kamarnya, dia dengar kedua murid sedang berbicara dengan seseorang.
Hoei Beng segera keluar dari kamarnya.
Dia lihat seorang wanita tua yang bermuka jelek sekali sedang berputar-putar di tengah ruangan, sedang kedua muridnya tak hentinya menerjang dan menjotos.
Hoei Beng terkejut.
Dalam hawa yang begini dingin, orang yang dapat mendaki Thiansan ilmu silatnya sudah bukan main, pikir Hoei Beng.
Melihat gerakan wanita itu, Hoei Beng ingat seperti sudah melihat beberapa kali.
"Hei, siapa kau?"
Dia tanya.
"Kenapa kau hinakan segala bocah?"
"Soehoe, hayo turun tangan! Dia kata, ilmu silat Thiansan cuma nama kosong,"
Teriak Tjouw Tjiauw Lam.
Nenek itu tetap tutup mulutnya.
Mendadak telapakan tangannya memukul ke arah Hoei Beng dengan angin yang sangat santer.
Buru-buru Hoei Beng sambut serangan orang dan mereka lalu bertempur.
Sesudah berkelahi beberapa jurus, Hoei Beng lantas dapat terka siapa adanya nenek yang jail itu, tapi dia diam saja.
Dalam seratus gebrakan lebih, Hoei Beng memperoleh kemenangan dalam satu pukulan dan nenek itu, tanpa mengeluarkan sepatah suara, segera mabur.
"Hei!"
Berseru Hoei Beng.
"apakah kau datang ke sini cuma untuk menjajal ilmu silatku?". Sesudah menguber dua puncak gunung, nenek itu hentikan tindakannya. Dalam tangan-nya memegang satu kedok dan dia berpaling. Nenek itu adalah Pekk Hoat Mo Lie. Barusan ia memakai satu kedok, sehingga mukanya jadi tidak keruan macam.
"Ha, kau benar jail,"
Berkata Hoei Beng. Mukanya Pek Hoat Mo Lie tetap sungguh-sungguh.
"Bukankah kedok ini sangat surup dengan rambutku yang putih?"
Dia berkata dengan suara perlahan. Melihat paras orang yang sungguh-sungguh itu, Hoei Beng tahu Lian Nie Siang sedang bersedih hati. Maka itu dia diam saja.
"Apakah To It Hang pernah cari padamu?"
Tanya Pek Hoat Mo Lie sesudah beberapa saat.
"Kapan It Hang datang di Thiansan?"
Hoei Beng balik menanya dengan heran.
"Jadi kau belum bertemu dengan dia."
"Kalau dia benar datang, tentunya terlebih dahulu dia cari kau,"
Berkata Hoei Beng.
"Memang dia mencari aku,"
Berkata Pek Hoat Mo Lie dengan tertawa sedih.
"Kau berdua jadi belum bertemu muka. Aku sungguh tak mengerti. Kau berdua seharusnya berkumpul sama-sama, kenapa kau mesti ribut-ribut sampai di tempat ini?"
Pek Hoat Mo Lie menggeleng-gelengkan kepalanya. Hoei Beng ingin bertanya pula, tapi dia mendadak berkata.
"Jika dia datang tolong bujuk supaya dia pulang saja dan jangan cari padaku."
"Kenapa?"
Paras mukanya Pek Hoat Mo Lie berubah.
"Aku mesti pergi sekarang!"
Katanya sambil menghela napas.
"Hei, tunggu dulu'"
Seru Hoei Beng.
"Sebetulnya ada urusan apakah sampai mesti ribut-ribut cara begini?"
"Gunung Thiansan mempunyai dua puncak, puncak selatan dan puncak utara, keduanya terpisah ribuan li. Kau berdiam di puncak utara dan aku akan menetap di puncak selatan."
Berkata Pek Hoat Mo Lie.
"Kalau To It Hang datang, aku nanti suruh dia cari padamu."
"Kenapa kau begitu usilan? Biar bagaimana juga, aku tak akan menemui padanya."
Sehabis berkata begitu, Pek Hoat Mo Lie balik badannya dan turun gunung seperti terbang. Hoei Beng Siansoe tahu, meski diudak juga tidak ada gunanya.
"Percintaan gampang terikat, tapi sukar lepas. Dalam dunia ini, berapa banyak orang menderita lantaran itu?"
Berkata Hoei Beng seorang diri sambil menghela napas.
Mukanya mendadak menjadi panas.
Dia ingat nasibnya sendiri.
Buruburu dia balik ke kamar dan bersemedhi buat tetapkan hatinya yang goncang.
Kira-kira setengah bulan berselang, pada suatu magrib, tatkala bulan sisir baru munculkan diri, Hoei Beng Siansoe berlatih pedang di atas puncak Thiansan.
Pedang diputarputar sedemikian cepat, sehingga sinar pedang dan sinar rembulan agaknya bergumpal menjadi satu.
Selagi enak berlatih, di lamping gunung mendadak terdengar suara keresekan.
Hoei Beng cepat-cepat menghampiri.
"Ilmu pedang yang sungguh bagus!"
Berkata seorang.
Waktu Hoei Beng datang lebih dekat, ia segera kenali, orang itu ialah tidak lain daripada To It Hang, yang menggigil kedinginan.
Mukanya merah, kaki tangannya membeku, dan dia tengah merangkang di atas salju.
"Kau banyak sengsara,"
Berkata Hoei Beng. It Hang bangun sambil gosok-gosok kedua tangannya.
"Sekarang sudah mendingan,"
Katanya sambil tertawa.
"Waktu baru datang, lebih sengsara lagi. Beberapa hari ini hawa luar biasa dinginnya Hampir-hampir aku tidak sampai di sini."
Hoei Beng cepat-cepat ajak sahabatnya pulang ke kuilnya dan perintahkan In Tjong ambil teh panas, buat hangatkan badan.
Sesudah sahabatnya minum dan mengaso, barulah Hoei Beng menanyakan pengalamannya It Hang.
Ternyata, oleh karena tidak paham akan selak-seluknya daerah Utara barat, dari Shoasay ke Sinkiang, It Hang menggunakan tempo hampir satu tahun.
Sesampainya di Sinkiang, seperti seorang buta yang meraba-raba, It Hang mendaki Gunung Thiansan yang panjangnya 3000 li lebih.
Di tengah jalan, dia makan salju jika merasa haus dan memburu kambing Thiansan jika merasa lapar.
Kira-kira setengah tahun, barulah dia tiba di tempatnya Hoei Beng.
Satu keuntungan di antara banyak kesengsaraan itu, adalah badannya jadi banyak lebih kuat dan ilmu silatnya juga maju pesat.
Seperti biasanya jika dua sahabat kekal bertemu muka, kedua belah pihak merasa sangat girang.
Dalam beberapa hari bersama Hoei Beng, secara panjang lebar It Hang ceritakan segala pengalamannya yang pahit getir kepada sahabat itu.
Waktu menuturkan cara bagaimana Giok Lo Sat mabur karena sedih sesudah bertempur hebat di Boetong san.
tanpa terasa air matanya It Hang turun menetes.
"Ah, aku belum memberitahukan kau,"
Kata Hoei Beng.
"Beberapa hari berselang. Giok Lo Sat baru saja datang. Di sini semua orang namakan dia Pek Hoat Mo Lie. Mereka tidak tahu, bahwa dia itu adalah Giok Lo Sat yang pernah menggetarkan dunia Kangouw."
"Ya, rambutnya telah menjadi putih gara-garaku,"
Berkata It Hang sambil tarik napas panjang.
"Dan aku sendiri tidak bisa mencari obat untuk mengembalikan lagi kecantikannya."
Mendengar perkataan It Hang, Hoei Beng, Siansoe jadi ingat satu cerita yang tersiar di antara rakyat gembala di Thiansan Utara dan Selatan.
"Obat untuk membikin orang menjadi muda lagi mungkin tidak ada, tetapi obat buat bikin rambut putih berubah menjadi hitam bisa jadi masih bisa dapat dicari,"
Berkata Hoei Beng sambil tertawa.
"Di mana?"
Tanya It Hang.
"Menurut ceritanya rakyat di daerah padang rumput di pegunungan Thiansan terdapat serupa kembang dewa yang diberi nama Yoetam Sianhoa. Katanya, kembang itu berbunga satu kali dalam tempo 60 tahun, dan tiap kali berbunga, mengeluarkan dua kuntum kembang sebesar mangkok, satu putih dan satu merah. Orang bilang, kembang itu dapat merubah rambut putih menjadi hitam, orang tua menjadi muda lagi. Rasanya, obat ini lebih berharga daripada sioeouw. Aku sendiri tidak percaya, bahwa kembang itu dapat merubah orang tua menjadi muda, tapi buat bikin rambut putih menjadi hitam kembali rasanya bukannya tidak bisa jadi,"
Demikian Hoei Beng berikan keterangannya. Mendengar kembang itu 60 tahun baru berbunga satu kali dan juga tidak ketahuan di mana adanya, It Hang jadi putus harapan.
"Kalau kembang itu sekarang baru saja berbunga, artinya mesti tunggu 60 tahun lagi. Bukankah dalam 60 tahun, dia sudah berusia hampir 100 tahun?"
Kata It Hang dengan tertawa getir. Kemudian Hoei Beng Siansoe tuturkan ucapanucapan dan sikapnya Pek Hoat Mo Lie.
"Kalau benar-benar dia tidak mau menemui padaku, dia tentu tidak akan memberitahukan tempat tinggalnya,"
Berkata It Hang yang masih mempunyai harapan.
"Puncak sebelah selatan ada terlebih dingin daripada di sini. dan selain itu, sepanjang jalanan penuh dengan hutanhutan lebat yang tak pernah dilintasi manusia. Aku kuatir tempatnya Lian Nie Siang ada terlebih sukar dicari daripada tempatku ini,"
Berkata Hoei Beng.
"Biarpun aku mesti membeku seperti batu dan binasa di pegunungan belukar, aku toh akan cari juga padanya,"
Berkata It Hang dengan suara tetap.
"Jika demikian, sedikitnya kau harus tunggu sampai permulaan musim panas barulah boleh berangkat."
"Tidak. Hatiku tak sabaran seperti juga orang dibakar. Bagaimana aku dapat menunggu sampai permulaan musim panas?"
Dengan separuh paksa Hoei Beng dapat menahan sahabat itu sampai tujuh hari.
Selama tujuh hari, mereka berdua samasama mempelajari ilmu tenaga dalam.
It Hang memang mempunyai dasar yang kuat, maka, setelah mendapat beberapa pengunjukan Hoei Beng, dia telah dapat banyak pengetahuan baru.
"Beberapa paman guruku adalah seperti kodok di dalam sumur,"
Katanya sambil menghela napas.
"Mereka tak tahu adanya samudera yang luas. Mereka anggap, ilmu silat Boetong tak ada bandingannya dalam dunia, tapi sebenarnya, jika dibandingkan dengan ilmu silatmu, sungguh masih berbeda jauh sekali."
"Biarpun mereka itu sombong, tetapi ilmu tenaga dalam dari Boetong san memang benar sangat dikagumi oleh kalangan Rimba Persilatan. Mungkin sekali, sedari menghilangnya kitab Tat Mo Tjouw Soe, orang-orang Boetong tidak ada yang kenal lagi isinya,"
Berkata Hoei Beng.
"Aku sesungguhnya ingin angkat kau sebagai guru buat majukan ilmu pedangku,"
Berkata It Hang."
"Saudara To, kau mulai keluarkan segala omongan mainmain,"
Kata Hoei Beng sambil tertawa.
"Kalau kita bersamasama meyakinkan, masih boleh jugalah. Tapi cara bagaimana aku dapat menjadi gurumu. Sebenarnya kau sendiri mempunyai satu guru pandai, satu sahabat setia dan kawan hidup yang laksana dewi. Maka, untuk apalah kau meminta kepada lain orang?"
It Hang tahu siapa yang dimaksudkan Hoei Beng. Dia kembali tertawa getir.
"Jika dia mau menemui padaku, aku sudah merasa puas. Mengenai pernikahan, aku kuatir, dalam penitisan ini, sudah tidak ada harapan lagi."
Sesudah lewat 7 hari, It Hang segera pamitan pada Hoei Beng dan dengan hati tetap dia mulai melakukan perjalanan ke puncak selatan.
Lebih sebulan, It Hang menjelajah di tengah-tengah hutan yang luas.
Banyak kesengsaraan dia rasakan.
Angin dingin yang menusuk-nusuk seperti pedang, hujan salju, gangguan ular dan binatang-binatang buas.
Akhirnya tiba juga dia di kaki puncak selatan.
Melihat ke atas, dia tampak puncak gunung yang tertutup salju dan menembus awan, dan memandang seputarnya, dia nampak keadaan yang belukar dan menyeramkan, dengan burung-burung elang yang terbang berputar-putar dan kambing-kambing Thiansan berlari-lari ke sana kemari.
Hawa yang dingin dirasakannya sampai meresap ke tulang-tulang.
Perginya It Hang ke puncak selatan adalah seperti juga seorang penganut agama berziarah ke tempatnya nabi.
Dalam hatinya sedikitpun tidak ia takuti kesengsaraan.
Maka itu, dengan hati tetap, dia mulai mendaki puncak selatan itu.
Sesudah jalan tiga hari, dia sampai pada lamping gunung.
Bahwa dia bisa sampai di situ adalah karena tenaga dalamnya sudah banyak maju, sehingga kekuatannya banyak bertambah.
Hari itu, ketika dia sedang merayap naik perlahan-lahan, angin keras mendadak menyambar-nyambar, sehingga gumpalan-gumpalan es yang besar menggelinding jatuh ke bawah, akibat tiupan sang angin.
It Hang lekas-lekas hentikan tindakannya dan mencari perlindungan di antara pohon-pohon tua yang besar.
Lewat beberapa lama, angin mulai reda.
Baru saja It Hang niat bangun, atau kupingnya dengar suara manusia di kejauhan.
"Apa kau tahu benar bahwa Pek Hoat Mo Lie adalah Giok Lo Sat?"
Tanya satu suara orang tua. It Hang terkejut. Satu orang menjawab.
"Tak bisa salah. Biar rambutnya putih dan mukanya jelek, tapi masih dapat dikenali. Juga ilmu pedangnya yang tiada keduanya dalam dunia ini."
It Hang mengintip. Kira-kira 10 tumbak dari tempat sembunyinya, keluarlah 4 orang dari antara pohon-pohon. Rupanya mereka itu juga mencari perlindungan dari serangan angin dan salju."
Dandanan ke empat orang ini berlainan satu sama lain.
Yang satu adalah satu Ihama yang mengenakan jubah merah.
Di sebelah Lama itu.
berjalan satu toosoe yang memakai pakaian warna hitam.
Yang satu lagi adalah seorang pendeta luar biasa, yang memakai kasut rambut dan pada lehernya tergantung beberapa tengkorak manusia.
Orang ke empat adalah seorang tua.
It Hang sangat heran.
Apakah mereka semua mau mencari Giok Lo Sat?
tanya dia dalam hatinya.
Orang tua itu ternyata kupingnya sangat tajam.
Waktu It Hang melongok keluar, dia menerbitkan sedikit suara.
Rupanya suara itu dapat didengar olehnya yang lantas berkata.
"Ada orang!"
Ke empat orang itu lantas baris berjejer, seperti juga sedang menghadapi musuh tangguh. Mengetahui bahwa dia tak dapat mengumpet lagi, It Hang lantas keluar.
"Apakah tuan-tuan mau pergi ke puncak selatan?"
Tanya dia sambil memberi hormat. Melihat dia itu bukannya Pek Hoat Mo Lie, mereka bernapas lega.
"Siapa, kau? Dalam hawa yang begini dingin, perlu apa kau naik ke puncak selatan seorang diri?"
Tanya seorang di antaranya. It Hang masih menimbang-nimbang harus menjawab bagaimana, atau Ihama berjubah merah sudah menyeletuk.
"Sudah, jangan tanya. Dia tentu mau cari Pek Hoat Mo Lie. Betulkah begitu?"
"Kalau benar, ada halangan apakah?"
It Hang balas tanya.
"Apakah kau cari dia buat balas sakit hati?"
Mendengar begitu, It Hang segera mengetahui bahwa ke empat orang itu adalah musuh-musuh Giok Lo Sat. Hatinya jadi sangat gusar.
"Orang yang seperti aku, biarpun ada sepuluh orang juga masih tidak berani cari permusuhan dengan dianya,"
Berkata It Hang dengan tertawa tawar. Mukanya orang tua itu jadi berubah.
"Siapa kau!"
Dia membentak.
"Murid Boetong pay, To It Hang,"
Jawabnya dengan angkuh.
"Ha, ha, ha!"
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu tjiangboendjin dari Boetong pay! Kedudukan sebagai tjiangboendjin kau ke sampingkan, sekarang berbalik mencari itu iblis perempuan. Hm! Aku sekarang mau beri sedikit pelajaran padamu!"
Sambil berkata demikian, dia tarik keluar satu pecut lemas dari pinggangnya dan sabetkan senjata itu ke arah pinggangnya It Hang.
Mereka itu adalah Tjiang Kim Tayhoatsoe, Hok Goan Tiong, Tjoat Todjin dan Ouw Tauw Tiangloo dari Thianliong pay di Tibet.
Sesudah mendapat hajaran keras dari tangannya Pek Hoat Mo Lie, I liang Kim segera cari sahabatnya, yaitu Ouw Tauw Tiangloo, buat minta bantuannya.
Mengenai Hok Goan Tiong dan Tjoat Todjin, sebagaimana diketahui, mereka itu adalah musuh-musuhnya Anghoa Koeibo.
Satu waktu mereka pernah menyatroni rumahnya Anghoa Koeibo buat menuntut balas, tapi kena dihajar oleh Tiat Hoei Liong dan Giok Lo Sat.
Sejak itu, mereka lari ke Tibet dan umpetkan diri.
Mereka dikenal baik oleh Ouw Tauw Tiangloo, yang ajak mereka sama-sama pergi cari Giok Lo Sat.
Hok Goan Tiong dan Tjie Yang Tootiang sama tingkatannya.
Beberapa puluh tahun yang lalu, dia pernah bertemu muka dengan Tjie Yang.
Bahwa To It Hang pegang tampuk pimpinan (tjiangboendjin) dari Boetong pay pada masa itu, sudah diketahui oleh semua orang dari Rimba Persilatan.
Banyak tahun yang lalu, Hok Goan Tiong pernah rundingkan ilmu silat dengan Oei Yap Toodjin dan Pek Sek Toodjin, dan dalam perundingan itu, dia kena dibikin berdongkol.
Sekarang, melihat To It Hang datang sendirian buat cari Pek Hoat Mo Lie.
Hok Goan Tiong yang cupat pikirannya, segera mengambil keputusan buat menghalangi dan usir pemuda itu dari Thiansan.
Di lain pihak To It Hang yang mendengar bahwa mereka itu adalah musuh-musuhnya Giok Lo Sat, sudah lantas cabut pedangnya dan maju menyerang dengan gunakan ilmu pedang Boetong.
Hok Goan Tiong menyambut dengan pecutnya dan keduanya lantas bertanding dengan seru.
Sesudah beberapa gebrakan, Hok Goan Tiong terkejut, sebab dia tidak menduga, murid Boetong turunan kedua bisa mempunyai ilmu silat yang sedemikian tinggi.
Melihat kawannya tidak dapat menjatuhkan It Hang.
Tjiang Kim Hoatsoe jadi jengkel sekali.
"Hok Loodji kenapa begitu tidak berguna,"
Katanya dalam hatinya. Antara mereka, adalah Ouw Tauw Tiangloo yang paling berangasan.
"Anak ini adalah kawannya Pek Hoat Mo Lie, kita tidak usah berlaku sungkan!"
Dia membentak sambil angkat tongkatnya buat membantu Hok Goan Tiong.
Latihan Ouw Tauw Tiangloo sudah sangat mendalam.
Begitu dia turun tangan, tongkatnya menyambar-nyambar, disertai dengan menderunya angin yang santer.
Dikepung secara begitu, It Hang tidak berdaya.
Dia terpaksa terus mundur dan jiwanya berada dalam keadaan sangat berbahaya.
Dalam keadaan yang sangat genting, kupingnya mendadak dengar suara orang, disertai dengan tertawa dingin.
"Siapa berani bikin ribut-ribut di sini?"
Begitu mendengar suara tersebut, hatinya It Hang meluap dengan kegirangan.
"Lian Tjietjie! Lian Tjietjie!"
Dia berseru seperti orang kalap.
Tapi begitu matanya berbentrok dengan orang yang baru datang, hatinya terkesiap.
Di hadapan dia muncul seorang nenek yang mukanya kisut dan rambutnya putih!
Waktu Hoei Beng Siansoe tuturkan halnya Pek Hoat Mo Lie.
dia tidak memberitahukan, bahwa jago wanita itu memakai kedok.
It Hang tidak berani berseru lagi.
Biarpun Lian Tjietjie putih rambutnya, tapi tidak mungkin mukanya jadi begitu rusak, demikian It Hang pikir.
"Siapa kau?"
Tjiang Kim Tay Hoatsoe membentak.
Pek Hoat Mo Lie membungkam.
Badannya mencelat ke atas dan menubruk ke arah Ouw Tauw Tiangloo.
Dengan gerakan "Tokoa pengho" (Sungai es yang nyungsang), dia menikam ketika badannya masih berada di udara.
Ouw Tauw Tiangloo buru-buru melengakkan badannya, sedang tongkatnya menyapu ke belakang.
Tapi sudah terlambat...
"srrt", pundaknya terkena satu tikaman. Tjiang Kim dan Tjoat Toodjin lantas loncat buat mengerubuti.
"Hm! Hok Goan Tiong! Tjoat Toodjin! Kalian masih penasaran dan cari aku sampai di sini?"
Kata Pek Hoat Mo Lie.
"Ha! Kalau begitu, dia ini adalah Pek Hoat Mo Lie!"
Berseru Hok Goan Tiong.
Melihat caranya orang bersilat, sedari tadi It Hang memang sudah mengetahui, bahwa nenek itu adalah Giok Lo Sat.
Giok Lo Sat tidak mau kasih hati kepada lawannya.
Begitu bergebrak, dia kirim serentetan serangan-serangan yang membinasakan.
Mendengar Pek Hoat Mo Lie menyebut namanya Hok Goan Tiong dan Tjoat Toodjin, It Hang jadi ingat, bahwa gurunya pernah mengatakan bahwa dia (gurunya) dan mereka berdua mempunyai hubungan yang baik.
Ingat begitu, It Hang segera berseru.
"Lian Tjietjie! Ampunilah kedua orang itu."
Pek Hoat Mo Lie tidak meladeni, pedangnya digerakkan semakin gencar.
It Hang jadi kebogehan.
Dia tak dapat berbuat lain daripada memusatkan perhatiannya buat serang Tjiang Kim Tay Hoatsoe.
Sedang enaknya bertempur, kupingnya mendadak dengar suara teriakan ngeri.
Hok Goan Tiong dan Tjoat Toodjin masing-masing sudah kena satu tikaman!
"Lekas pergi dari sini!"
Bentak Pek Hoat Mo Lie.
"Apakah kau mau mendapat lain tanda?"
"Hok Goan Tiong dan Tjoat Toodjin sama sekali tidak menduga, bahwa ilmu silatnya Pek Hoat Mo Lie sudah maju begitu jauh. Dengan kesakitan dan semangatnya terbang, mereka gulingkan diri di atas salju dan menggelinding turun ke bawah puncak. Melihat Pek Hoat Mo Lie tidak turunkan tangan jahat atas dirinya kedua orang itu, hatinya It Hang jadi girang. Ah, dia masih dengar juga nasehatku, demikian dalam hatinya. Sekarang cuma ketinggalan Ouw Tauw dan Tjiang Kim yang terus melawan dengan mati-matian. Sesudah lewat kurang lebih 30 gebrakan, Pek Hoat Mo Lie berseru "kena!"
Dan pedangnya yang seperti kilat sudah kutungkan kepalanya Ouw Tauw!
Tjiang Kim kertek giginya.
Sebagai gerakan terakhir, dia menimpuk dengan kedua cecernya, satu menyambar Pek Hoat Mo Lie, sedang yang lain terbang ke arah It Hang.
Dan berbareng dengan itu, dia buka langkah seribu.
It Hang tangkis cecer itu dengan pedangnya.
Sambil tertawa dingin Pek Hoat Mo Lie sambuti cecer yang lain dengan ujung pedangnya.
"Senjatamu tidak bisa dipakai olehku. Aku kembalikan!"
Dia membentak sambil menimpuk.
Cecer itu yang tajam seputarnya melayang seperti kilat dengan keluarkan suara mengaung, dan menyambar ke arah tubuhnya Tjiang Kim yang belum lari jauh.
Dengan satu teriakan ngeri, tubuhnya Tjiang Kim kutung jadi dua potong!
Mukanya Pek Hoat Mo Lie sungguh menyeramkan, sama sekali tidak melukiskan perasaan manusia.
Hatinya It Hang tergetar.
Dia tidak tahu, bahwa Pek Hoat Mo Lie memakai kedok.
Sesudah tetapkan hatinya, dia berseru pula.
"Lian Tjietjie! Lian Tjietjie!"
Pek Hoat Mo Lie tidak menyahut. Sebaliknya, sambil melengoskan kepalanya, dia pentang kedua kakinya. It Hang mengubar sambil berteriak-teriak dengan suara pedih.
"Lian Tjietjie! Lian Tjietjie!"
Ilmu enteng tubuh Pek Hoat Mo Lie ada beberapa kali lipat lebih tinggi daripada To It Hang.
Jika dia benar-benar lari keras, It Hang tidak nanti dapat mengikuti.
Tapi Pek Hoat Mo Lie rupanya sengaja pertahankan tindakannya dan selalu terpisah kurang lebih 30 tindak dari It Hang yang mengubar.
Mereka berlari-lari sampai di puncak gunung, dan di situ Pek Hoat Mo Lie hentikan tindakannya.
Dengan kedua matanya yang tajam, yang bersinar gemilang, dia awasi It Hang.
Kedua biji matanya bercahaya laksana dua butir intan di atas muka yang kisut dan menakutkan itu.
Hatinya It Hang perih sekali.
Kecuali dua mata itu, yang merupakan sisa dari kecantikannya Lian Nie Siang, di atas muka nenek tua itu tak terdapat lagi bayangbayangan kecantikan Giok Lo Sat.
Ketika itu, It Hang rasakan dirinya seakan-akan berada dalam dunia impian.
Di manakah, di manakah mungkin, seorang gadis yang belum lama berselang ada sedemikian cantik sekarang berubah menjadi begitu jelek?
Tanpa merasa, air matanya turun meleleh di kedua pipinya.
"Lian Tjietjie!"
Dia berseru dengan suara menyayatkan sambil menubruk. Pek Hoat Mo Lie berkelit, sehingga It Hang tubruk tempat kosong dan hampir-hampir dia jatuh tersungkur.
"Siapa Lian Tjietjie-mu? Kau salah melihat orang!"
Pek Hoat Mo Lie berkata dengan dingin.
"Lian Tjietjie! Dua tahun aku cari padamu!"
"Buat apa kau cari dia?"
"Aku mengaku bersalah,"
Berkata It Hang.
"Sekarang aku sudah lemparkan segala pangkat tjiangboendjin. Harapan satu-satunya adalah supaya dapat berkumpul dengan kau buat selama-lamanya. Oh, Lian Tjietjie! Kita tidak akan berpisahan lagi!"
"Kau mau hidup bersama-sama aku? Ha, ha! Apakah kau tidak lihat, bahwa aku sudah jadi satu tua bangka bangkotan? Masih omong, buat selama-lamanya!"
It Hang kembali menubruk dan sekali lagi tubruk tempat kosong.
"Semuanya... semuanya... adalah salahku,"
Katanya dengan tersedu-sedu.
"Lian Tjietjie-mu sudah lama mati!"
Berkata Pek Hoat Mo Lie dengan suara tawar.
"Apa maksudmu menubruk-nubruk aku?"
"Biarpun kau tidak mau kenal lagi padaku, aku toh akan terus mengikuti engkau seperti satu bayangan. Tak peduli kau berubah bagaimana juga, hatiku akan tetap tidak berubah!"
Berkata It Hang. Pek Hoat Mo Lie terus keluarkan tertawa dingin. Mendadak, dia sodorkan mukanya yang menyeramkan itu ke depan mukanya It Hang! .
"Benar-benar?"
Dia tanya dengan suara seram.
"Kau lihat yang terang! Lihatlah yang terang! Apakah Lian Tjietjie-mu bermuka seperti ini?"
It Hang bergidik. Tapi sesaat kemudian, dia dapat kumpulkan keberaniannya Dia tarik tangannya Pek Hoat Mo Lie dan berkata dengan suara nyaring.
"Lian Tjietjie! Biar kau terbakar menjadi debu, aku akan mengenali padamu. Di mataku, kau masih secantik dahulu!"
Pek Hoat Mo Lie kembali tertawa dingin. Dia tarik tangannya dari cekalan It Hang.
"Pergi cari Lian Tjietjie-mu. Pergi! Kenapa kau tidak mau pergi?"
"It Hang mendadak ingat sesuatu.
"Lian Tjietjie,"
Katanya dengan cepat.
"Apa yang aku pernah katakan, aku tidak akan lupakan. Aku pasti akan cari obat mustajab untuk mengembalikan kecantikanmu."
"Itu urusan kau sendiri. Aku tidak peduli. Kau ambil jalanmu sendiri, aku ambil jalanku sendiri. Antara kita tidak ada hubungan apa juga. Jangan kata aku memang bukannya Lian Tjietjie-mu, andaikata benar, dia sudah seperti mati. Buat apa diungkat-ungkat lagi hal yang dahulu?"
Mendengar suaranya Lian Nie Siang, It Hang merasa, bahwa meskipun masih sangat keren, tapi tekukannya sudah berubah lunak.
"Aku tahu, bahwa di padang rumput ada tumbuh serupa kembang dewa yang dapat merubah rambut putih menjadi hitam dan orang tua menjadi anak-anak lagi. Marilah kita bersama-sama cari kembang itu,"
Berkata To It Hang. Dengan mendadak saja, Pek Hoat Mo Lie kembali keluarkan tertawa dingin.
"Aku tak ada 'tempo! Kalau kau begitu hargakan segala kulit busuk, pergilah cari sendiri. Dalam dunia ini banyak gadis-gadis cantik, yang bisa bersama-sama kau makan kembang itu."
Demikianlah jalan pikiran Pek Hoat Mo Lie yang luar biasa yang bertentangan satu dengan lainnya.
Dia sayang kecantikannya, tapi dengan berbareng, dia benci jika kecintaannya di dasarkan pada kecantikannya.
It Hang jadi bingung.
Dia maju dua tindak dan berseru dengan suara berkuatir.
"Bukan! Bukan! Lian Tjietjie! Bukan begitu yang aku maksudkan..."
Tapi, sebelum It Hang habis bicara, dia sudah putar badannya dan berjalan pergi.
"Lian Tjietjie! Kau tak dapat pergi cara begini!"
Teriak It Hang dengan suara pedih.
"Apakah kau tidak menaruh belas kasihan atas diriku, yang setelah melintasi laksaan sungai dan ribuan gunung, ditimpa hujan angin dan salju, barulah dapat bertemu dengan kau?"
Pek Hoat Mo Lie hentikan tindakannya dan lagi-lagi ia tertawa dingin.
"Ya,"
Katanya.
"kau adalah kongtjoe yang mahal harganya, seorang tjiangboendjin dari satu partai. Bahwa kau sudah rela menerima kesengsaraan, dipukul hujan angin, Lian Tjietjie-mu tentu merasa berterima kasih tidak habisnya!"
Mendengar kata-kata itu yang mengandung sindiran.
It Hang jadi terkejut sehingga tidak dapat buka suara.
Dengan perkataannya itu.
Pek Hoat Mo Lie seperti juga mau bilang, bahwa It Hang tidak perlu membanggakan penderitaannya buat mencari dirinya Dan di antara suara tertawa dingin.
Pek Hoat Mo Lie enjot tubuhnya dan melesat turun dari atas puncak gunung.
It Hang keluarkan teriakan tertahan!
Di lain saat.
dia lihat jubahnya Pek Hoat Mo Lie melambai-lambai di antara sampokan angin dan orang yang dicintainya itu menghilang dari pandangannya!
Pek Hoat Mo Lie sudah pergi dengan gunakan ilmu enteng tubuh yang paling tinggi!
To It Hang berdiri menjublak sambil menghadapi jurang yang ratusan tombak dalamnya.
Lama dia berdiri di situ, dan tiap-tiap kali menghela napas.
Mula-mula dia sesali Giok Lo Sat, kemudian ia sesali dirinya sendiri.
Ketika berangkat mencari kecintaannya, It Hang menduga, bahwa jika dia perlihatkan, hatinya yang sungguh-sungguh, dia tentu akan berhasil membikin tergerak hati kecintaannya itu.
Sekarang, di antara kesunyian puncak gunung Thiansan yang diliputi salju, dia memikir dan menimbang-nimbang.
Kejadian-kejadian yang telah lampau terbayang kembali di depan matanya.
Dia merasa, bahwa pada masa yang sudah lewat, banyak kali dia membikin Giok Lo Sat menderita, sedang dia sendiri sedikit sekali menunjukkan kecintaannya yang tulus.
Dia sekarang insaf, bahwa kecintaannya yang suci keluar secara wajar, tidak dibuat-buat, tidak diomongi atau dibanggakan.
Demi kecintaan, penderitaan padang pasir, penderitaan hujan angin, es atau salju adalah sewajarnya saja.
Sunguh tidak pantas dibangga-banggakan!
Mengingat sampai di situ.
It Hang merasa, bahwa kecintaannya terhadap Giok Lo Sat sebenarnya tidak cukup dalam, tidak cukup suci dan murni!
Demikianlah, sehari penuh It Hang duduk terpekur, menimbang-nimbang.
Tiba-tiba dia mendusin.
Dia tahu, tidak ada gunanya lagi mencari Giok Lo Sat, sebab dia tidak akan mau menemuinya Hari itu, It Hang tinggalkan puncak selatan dan kembali di puncak utara untuk mencari Hoei Beng Siansoe.
Begitu bertemu, dia lantas menanya.
"Cara bagaimanakah aku dapat menyeberangi sungai yang airnya lemah, dengan satu loncatan?"
"Sungai yang airnya lemah sebenarnya tidak ada. Untuk apakah kau tanyakan soal timbul dan tenggelam?"
Sahut Hoei Beng sambil merangkapkan kedua tangannya It Hang tanya lagi.
"Jika jalanan di Saythi tidak ada Loei Im Sie. cara bagaimanakah Tong Sam Tjong mengambil Kitab Suci? Kalau Loei Im Sie itu ada, tapi tidak juga dapat dicapai, apakah yang orang harus berbuat?"
"Bukankah Tong Sam Tjong. mengambil Kitab Suci dengan tujuan untuk menjadi Buddha? Ada atau tidak adanya Loei Im Sie di Saythi, itu tidak menjadi soal. Jika satu orang bertekad buat satu tujuan, maka dia tidak pikirkan lagi jauh atau dekatnya jalanan itu."
"Terima kasih buat pengajaranmu,"
Kata It Hang sambil menjura dalam.
Sehabis berkata begitu, dia berlalu dengan cepat.
Hoei Beng juga tidak mencegah.
Orang beribadat itu mengawasi dengan mesem, akan kemudian menghela napas panjang.
Demikianlah It Hang meminta nasehat dari Hoei Beng mengenai percintaannya dengan Giok Lo Sat.
Dia bandingkan "Lautan cinta"
Dengan "sungai yang airnya lemah". Menurut dongeng, di atas "sungai yang airnya lemah"
Tidak ada satu benda yang bisa ngambang.
Segala apa, sampai bulu burung, tenggelam di dasar sungai itu.
It Hang menanya.
Cara bagaimana dia dapat loncati sungai itu?
Hoei Beng nasehatkan, supaya dia jangan pikirkan soal tenggelam/timbul, sebab "sungai yang airnya lemah"
Sesungguhnya tidak ada.
It Hang kuatir, bahwa meskipun dia berusaha sekeras-kerasnya buat bikin mengerti Giok Lo Sat, Giok Lo Sat tidak akan dapat mengerti.
Atau.
kalau toh Giok Lo Sat akhirnya mau mengerti, dia kuatir pada waktu itu dia sudah jadi seorang tua.
Maka itu, dengan gunakan perumpamaan Tong Sam Tjong mengambil Kitab Suci (Tong Sam Tjong Tjie Keng), It Hang minta nasehatnya Hoei Beng.
Dan Hoei Beng menasehatkan, bahwa seorang yang bertekad akan satu tujuan tertentu, dalam hatinya tentu tidak timbul segala perkataan "kalau", tidak tahan akan penderitaan dan tidak pikirkan jauh atau dekatnya perjalanan.
(Kisah Tong Sam Tjong mengambil Kitab Suci dapat dibaca dalam buku See Yoe).
Sesudah turun dari puncak utara, It Hang merasa sangat cocok dengan nasehat sahabatnya.
Dia merasa, bahwa jika dia mempunyai tekad yang teguh, satu hari Giok Lo Sat akan mengerti isi hatinya.
Dia menduga, bahwa sikapnya Giok Lo Sat kali ini adalah untuk mencoba ketulusan hatinya.
Dan mengingat cerita Yoetam Sianhoa (kembang dewa), dalam hatinya, It Hang mengambil keputusan untuk mencari kembang itu dan mempersembahkannya kepada Giok Lo Sat, tanpa mempedulikan kesukaran dan tempo.
Mulai saat itu, It Hang berkeliling di seluruh padang rumput yang luas dan berputar-putar di selatan dan utara Thiansan.
Tidak terasa tiga tahun sudah lewat, tapi kembang dewa itu masih belum dapat dicari juga.
Pada suatu hari, ketika berada di Thiansan Utara.
It Hang merasa tertarik pada satu puncak gunung yang tertutup salju.
Puncak ini merupakan seekor onta, kepalanya di sebelah timur dan buntutnya di sebelah barat, dengan badannya ditutupi bulu berwarna putih.
Ketika tiba di kaki puncak tersebut, It Hang lihat satu rumah batu yang berdiri terpencil di lereng gunung.
Di kaki pegunungan Thiansan memang banyak rakyat yang hidup sebagai gembala, akan tetapi, terdapatnya satu rumah yang terpencil di lereng yang tertutup salju adalah kejadian yang agak langka.
Maka itu.
dengan perasaan heran, It Hang lalu mendaki ke atas.
Dalam beberapa tahun ini, It Hang telah mendapat latihan berat, sehingga bukan saja ilmu silatnya sudah maju pesat, tapi tubuhnya juga sudah lebih ulet daripada dahulu.
Karenanya dia mendaki gunung seperti juga jalan di atas tanah datar.
Dalam sekejap saja, dia sudah tiba di depan rumah batu itu, di mana terdapat beberapa orang yang sedang bicara dengan suara keras.
It Hang segera umpetkan dirinya di belakang sebuah batu besar.
Dari situ dia dapat lihat dua lhama, satu tua dan satu muda, yang sedang membentak-bentak seorang penduduk gunung dari suku Hapsatkek, dan tangannya menuntun satu bocah kira-kira usia 12 tahun.
Bocah ini kurus badannya seperti kera, tapi kedua matanya yang bundar dan besar menunjukkan adanya semangat yang tinggi.
Lhama yang tua membentak.
"Sin Loo Ngo! Soatlian (teratai salju) yang kamu harus serahkan tidak ada, sedang cula badak pun tidak cukup. Bagaimana sih! Bagaimana aku mesti memberi keterangan kepada Ongya?"
"Tahun ini aku cuma dapat cari beberapa soatlian, tapi semuanya sudah dijual kepada pedagang obat-obatan, sedang cula badak aku cuma bisa dapatkan satu biji. Taysoe, sukalah kau berlaku murah,"
Kata orang itu dengan suara memohon.
Lhama tua itu adalah Thian Tek Siangdjin, salah satu tetua dari Thianliong pay di Tibet, yang sekarang bekerja pada kepala dari suku Hapsatkek.
Lhama yang usianya muda adalah salah satu muridnya.
Hapsatkek adalah satu suku bangsa yang hidup sebagai gembala di padang rumput.
Rakyat di situ tiap tahun biasanya membawa bingkisan untuk dihadiahkan kepada kepala suku --rakyat gembala membawa kerbau dan kambing, sedang rakyat pegunungan membawa obat-obatan atau binatang-binatang alas hasil buruannya.
Suku Hapsatkek sebagian besar hidup sebagai gembala, sedang golongan pemburu cuma kurang lebih 100 keluarga.
Mereka itu hidup terpencar di lamping-lamping gunung yang sukar dicapai, sehingga kepala suku sukar memungut hadiah (cukai) yang biasa diberikan tiap tahun.
Sesudah bekerja di situ, Thian Tek Siangdjin mempunyai satu niatan buat keuntungannya sendiri.
Dengan andalkan kegagahannya, saban tahun dia keliling di daerah pegunungan buat pungut hadiah, sekalian buat padatkan kantongnya sendiri dengan bahan-bahan obat Thiansan yang langka dan mahal harganya.
Umpamanya, kalau kepala suku menetapkan tiap keluarga setahunnya harus menyerahkan satu cula badak, dia tetapkan dua, supaya yang satu bisa masuk dalam kantongnya.
Kalau kepala suku menetapkan dua soatlian, dia minta empat biji.
Rakyat tidak mendapat kesempatan untuk menemui kepalanya untuk minta pertimbangan, sedang buat melawan, mereka juga tidak ungkulan.
Maka itu, mau tidak mau, mereka biarkan dirinya diperas oleh Thian Tek Siangdjin.
Sin Ngo, adalah satu pemburu ternama di daerah itu.
Tahun itu dia sedang naas, sehingga tidak dapat memenuhi tuntutannya Thian Tek, dan terpaksa dia mesti memohon belas kasihan.
"Dijual kepada pedagang obat?"
Thian Tek Siangdjin membentak sambil mendelik.
"Hm! Kau betul berani mati! Ada barang bukan diberikan kepada Ongya. tapi dijual!"
"Tidak dijual, kita makan apa? Sedang soatlian tak bisa kenyangkan perut,"
Kata Sin Ngo.
"Ongya kita biasanya perlakukan kita dengan baik. Dahulu jika kita tidak dapat cari soatlian. dua tiga tahun juga tidak ditagih. Taysoe. jika kau menceritakan kesengsaraan kita, beliau tentu akan mengampuni."
Mukanya Thian Tek Siangdjin jadi berubah.
"Ongya baik hati, kalian lantas main gila."
Katanya.
"Biar Ongya mengampuni, aku tidak akan mengampuni! Kau mau serahkan atau tidak? Kalau tidak, aku akan bekuk kau!"
Sebelum mendapat perintah.
Ihama yang berusia muda itu sudah maju buat membekuk.
Sin Ngo mundur dengan mulutnya tak hentinya minta dikasihani tapi lhama muda itu tidak menggubris.
Pada saat yang sangat genting, bocah itu mendadak berteriak.
"Perampok! Kau berani hinakan ayahku!"
Dia membungkuk, enjot kedua kakinya dan menyeruduk dengan kepalanya.
Lhama muda itu, yang sama sekali tidak menduga, sudah kena diseruduk kempungannya, dan tidak ampun lagi dia jatuh celentang!
Thian Tek Siangdjin terkejut.
Sesudah menjatuhkan satu lawan, bocah itu jadi dapat hati dan teruskan menyeruduk Thian Tek, yang cepat-cepat berkelit, sehingga dia menyelonong dan kepalanya membentur pohon, sampai pohon itu bergoyang-goyang.
Dan heran sungguh, bocah itu sedikitpun tidak mengeluarkan teriakan kesakitan.
It Hang merasa kagum.
Dia tidak duga, anak itu mempunyai tenaga yang sedemikian besar.
Thian Tek Siangdjin tertawa terbahak-bahak dan dengan sekali jambret, dia sudah cekal lengannya bocah iitu.
Thian Tek adalah salah satu tetua dari suatu partai, tentu saja dia mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi.
Meskipun bocah itu bertenaga besar, mana dia dapat berontak dari cekalan Thian Tek.
"Tayhoatsoe, bocah itu tidak tahu suatu apa. Ampunilah padanya. Aku akan tempuh segala bahaya buat cari soatlian yang kau ingini."
Sin Ngo memohon. Kembali Thian Tek tertawa terbahak-bahak.
"Sin Loo Ngo! Kau beruntung! Mempunyai anak yang begini baik bakatnya! Bukan sadia aku tidak akan menyusahkan padanya, sekarang aku malahan tidak mau lagi soatlian-mu."
Sin Ngo girang, tapi waktu dia hendak menghaturkan terima kasih, Thian Tek mendadak berkata.
"Tunggu! Anakmu ini walaupun mempunyai tenaga ribuan kati, akan tetapi, jika tidak dapat pimpinan guru yang pandai, di kemudian hari paling banyak dia akan mempunyai tenaga kerbau, yang tidak ada gunanya."
Mendengar begitu, Sin Ngo tahu maksud orang. Dia diam saja. Thian Tek lepaskan cekalannya.
"Eh, bocah, coba kau lihat,"
Katanya sambil tertawa. Mendadak dia sabetkan tangannya ke arah pohon itu.
"Gubrakk!"
Dan pohon itu roboh, seperti dikampak.
"Lihatlah!"
Kata dia dengan bangga.
"Kau seruduk pohon itu, daunnya cuma jatuh beberapa lembar. Tapi dengan sekali hantam, aku merobohkan. Bukankah kepandaianku banyak terlebih tinggi dari tenagamu?"
Bocah itu mengawasi dengan matanya yang besar.
"Tiap tahun kau perhina ayahku. Aku tidak kesudian mempunyai kepandaian untuk menghina orang!"
Kata dia dengan berani. Mukanya Thian Tek berubah dan dengan lekas dia tertawa pula.
"Anak tolol!"
Kata dia "Aku kasih tahu kau, bintangmu sudah terbuka. Aku sekarang mau ambil kau sebagai murid dan mulai sekarang aku tidak mau lagi barang ayahmu."
Paras muka bocah itu berseri-seri, tapi mendadak dia berkata.
"Apakah kau masih mau ambil barangnya lain-lain paman?"
"Dari mana kau mempunyai begitu banyak paman?"
Kata Thian Tek dengan perasaan heran.
"Dahulu Ongya tidak pernah mengejar kita guna memungut hadiah. Sesudah kau datang, barulah banyak keinginannya Kau inginkan kambing dan kerbau miliknya paman di luar gunung dan inginkan juga segala macam obat-obatan miliknya paman-paman di pegunungan."
"Anak kecil jangan omong sembarangan,"
Sin Ngo bentak anaknya.
"Tayhoatsoe, aku cuma mempunyai satu anak ini yang dibuat andalan. Aku mohon Tayhoatsoe jangan ambil dia."
"Hm!"
Berseru Thian Tek dengan gusar.
"Kau berani tentang aku! Jika tidak memandang anakmu, terlebih dulu aku sudah kirim kau ke akherat! Sekarang aku tidak mau soatlian. Aku mau anakmu. Lain orang minta jadi murid, aku masih tidak mau terima. Mengerti?"
"Kau maki ayahku, kau hinakan kita, sudahlah, aku tidak kesudian jadi muridmu!"
Berteriak bocah itu.
"Kau tidak mau. juga tidak bisa."
Berkata Thian Tek sambil tertawa.
"Aku akan bawa kau pulang. Lebih dahulu aku akan cambuki kau buat takluki adatmu yang liar. Kemudian sesudah kau menurut, aku akan ajarkan kau kepandaian."
Bocah itu berontak, tapi Thian Tek pijit gelangan tangannya, sehingga bila berontak dirasakannya semakin sakit.
Tapi dia benar kepala batu.
Sedikit juga dia tidak mengeluarkan suara kesakitan.
Melihat begitu, It Hang tidak dapat menahan lagi hawa amarahnya.
Sambil loncat keluar dari belakang batu.
dia membentak.
"Di mana ada orang ambil murid cara begitu!"
Thian Tek menoleh. Melihat It Hang adalah seorang Han yang dandanannya seperti anak sekolah, segera juga dia tertawa besar.
"Aku ambil murid, apa sangkutannya dengan kau?"
"Mengambil murid haruslah sama-sama suka."
"Kalau Hudya mau begitu, mesti jadi begitu,"
Katanya sambil tertawa sombong.
"Kalau kau rewel, aku akan patahkan dengkulmu sekalian."
"Waduh. tinggi benar kepandaianmu!"
Kata It Hang sambil menyindir.
"Aku beritahu kau terang-terangan. Bocah ini mempunyai bakat yang sangat bagus. Tidak pantas dia jadi muridmu!"
"Ha! ha! ha!"
Tertawa Thian Tek.
"Dia tidak pantas jadi muridku? Jadi, pantas jadi muridmu? Bagus! Mendengar omonganmu, kau rupanya tahu juga sejurus dua jurus. Mari, mari! Mari kita main-main sedikit!"
It Hang tidak bergerak.
"Kau mau main-main, kenapa belum bergerak?"
Dia tanya sambil tersenyum.
Melihat lawannya tidak pasang kuda-kuda dan bawa sikap acuh tak acuh.
Thian Tek jadi gusar sekali.
Sambil mengibaskan tangan bajunya, dia menyerang dengan sabetan yang barusan digunakan buat robohkan pohon.
Tapi dengan kegusarannya ini.
dia justeru masuk perangkapnya It Hang.
Barusan ketika melihat caranya Thian Tek merobohkan pohon.
It Hang merasa bahwa meskipun dia tidak akan kalah bertempur, akan tetapi buat menangkan Thian Tek juga bukan perkara gampang.
Maka itu.
di luar dia memperlihatkan sikap acuh tak acuh.
tapi diam-diam dia kerahkan tenaga dalamnya.
Di pihak lawan, Thian Tek sangat pandang rendah musuhnya dan juga dia menyerang dengan penuh kegusaran, sehingga pukulannya biarpun hebat, tidak cukup berat.
It Hang tunggu sampai tangan musuh hampir nempel pada badannya, dan dengan kecepatan luar biasa, ia sodorkan tangannya sambil menggaet, dengan tenaga telapakan tangan mendorong keluar dan tenaga jeriji menggaet ke dalam.
Thian Tek yang sedang memukul dengan telapakan tangannya, mendadak rasakan adanya satu tenaga besar yang mendorong padanya, sehingga badannya jadi miring.
Dia segera gunakan ilmu "Tjiankin toei" (ilmu bikin berat badan) buat tetapkan badannya, akan tetapi, siapa duga, tenaga jerijinya It Hang yang menggaet ke dalam menarik padanya, sehingga dia kehilangan imbangan badannya dan menyelonong ke depan.
Berbareng dengan itu, telapakan tangan kirinya It Hang menyabet dan dengan satu suara "buk!"
Dadanya Thian Tek kena dengan jitu.
"Pergi!"
Seru It Hang sambil mendorong dan...
badannya Thian Tek yang tinggi besar mencelat dan jatuh celentang!
It Hang tertawa terbahak-bahak.
Tapi sang lawan pun mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi.
Dia jatuh dengan kepala di bawah, kaki di atas, tapi begitu lekas kedua telapakan tangannya menempel pada tanah, dengan satu gerakan tenaganya, dia sudah jungkir balik dan kedua kakinya sudah menginjak tanah lagi, dan berbareng dengan jejekan kakinya, badannya sudah melesat ke arah It Hang dan kedua tangannya sudah memukul.
It Hang tak menjadi gugup.
Cepat-cepat dia mengegos, sambil maju setindak.
Telapakan tangan kirinya digunakan buat bentur sikutnya musuh, sedang tangan kanannya, sambil mendek, menyodok ke pinggang orang, Gerakan itu cepat bagaikan kilat.
Thian Tek yang menyerang dengan bernafsu, mendadak rasakan pinggangnya kesemutan.
Dia terkesiap dan buru-buru jalankan napasnya buat lindungi jalan darahnya yang barusan kena disodok, sehingga gerakannya jadi sedikit lambat.
It Hang tidak mau sia-siakan kesempatan baik ini.
Kedua tangannya segera menyambar saling susul.
Sesudah dua kali kena tubruk tembok, hatinya Thian Tek jadi ciut.
Maka itu, baru saja pertempuran berjalan kira-kira 10 gebrakan, mendadak kelihatan kaki kirinya It Hang menendang dan tangan kanannya berbareng menyambar dalam gerakan "Siangha Tjiauwtjeng" (Pukulan atas bawah) dari Boetong pay.
"Bukk!"
Pundaknya Thian Tek kena dipukul dengan telak, dan dia jatuh celentang.
Lama juga barulah dia dapat bangun berdiri.
Dengan muka merah seperti kepiting direbus, Thian Tek ajak muridnya buru-buru kabur turun gunung.
Bocah itu sangat girang dan tertawa terbahak-bahak sambil tepuk-tepuk tangan.
Sin Ngo segera menghaturkan terima kasih.
"Lootiang (bapak, panggilan untuk seorang tua) tidak usah bilang terima kasih,"
Kata It Hang.
"Berapa usianya anak ini? Siapa namanya? Kalau dilihat caranya dia turun tangan barusan, di hari kemudian dia mempunyai harapan yang sangat besar."
"Liong Tjoe! Lekas haturkan terima kasih pada indjin (tuan penolong),"
Sin Ngo perintahkan puteranya.
"Jika tidak dapat pertolongan siangkong (tuan), kau tentu sudah dibawa oleh pendeta jahat itu! Siangkong, janganlah mentertawakan. Usianya sudah 13 tahun, tapi belum tahu suatu apa. Masih liar sekali!"
Bocah itu mendadak berlutut di hadapan lt Hang sambil berkata.
"Indjin! Mohon terima aku sebagai muridmu. Aku, Sin Liong Tjoe, dengan ini jalankan kehormatan terhadapmu!"
Sebetulnya It Hang tidak berniat mengambil murid, tapi, sekarang sesudah lihat paras mukanya Sin Liong Tjoe yang angker dan tenaganya yang besar luar biasa, hatinya jadi sangat gembira dan lalu berkata.
"Baik, aku terima kau sebagai murid. Tapi sesudah mempunyai kepandaian, kau tidaklah boleh hinakan sesama manusia."
"Jika aku hinakan orang dengan andalkan kekuatan, biarlah aku binasa secara tidak wajar,"
Sin Liong Tjoe bersumpah. Sin Ngo juga merasa girang sekali, cuma dia kuatir It Hang ajak puteranya pergi.
"Aku tahu anak ini adalah andalanmu satu-satunya. Maka itu aku akan ajarkan dia. ilmu silat di sini saja,"
Berkata It Hang.
Sin Ngo lantas ajak tetamunya masuk.
Perabotan dalam rumah itu sederhana sekali.
Di atas tembok tergantung dua busur dan anak panahnya serta beberapa lembar kulit binatang liar, sedang di atas tanah terdapat beberapa batu besar, yang digunakan sebagai kursi.
"Kenapa kalian berdiam di gunung es ini?"
Tanya It Hang.
"Kami sudah biasa dengan hawa dingin."
Jawab Sin Ngo.
"Tinggal di sini lebih gampang cari makan. Di atas gunung banyak kambing-kambing dan obat-obatan juga gampang didapat."
"Soehoe (guru)! Besok aku ajak kau pesiar di atas puncak salju."
Kata Sin Liong Tjoe dengan gembira.
"Di situ ada telaga es dan di tengah-tengah telaga ada dua pohon soatlian. Tiap tiga tahun soatlian itu berkembang satu kali. Sungguh sayang, tahun ini sudah dipetik dan ditukar dengan garam pada pedagang obat. kalau tidak kau tentu bisa lihat bagaimana indahnya soatlian itu. Kembangnya putih, besar dan harum sekali. Satu kuntum dapat ditukar dengan 10 kati garam."
"Soatlian adalah bahan obat yang sangat langka, kalau dijual di luaran, satu kembang sedikitnya berharga satu tail emas. Lain kali kau jangan jual begitu murah,"
Kata It Hang.
"Emas buat apa? Tak dapat dimakan,"
Kata sang murid.
"Kami juga tahu soatlian tinggi harganya,"
Kata Sin Ngo sambil menghela napas.
"Tapi, kalau dijual di lain tempat, kita sukar mendapat pembeli yang mau membayar secara pantas. Di samping itu, kita juga perlu uang buat ongkos pergi dan pulang. Dari mana kita dapat pinjam uang itu?"
It Hang yang biasa hidup mewah sebagai puteranya seorang pembesr tinggi, tidak banyak mengetahui kesengsaraannya orang miskin.
Mendengar keterangan itu, dia tak dapat buka suara dan dalam hatinya dia tertawai kecupatannya sendiri.
"Soehoe. Aku sekarang ingat, di atas gunung masih ada dua kembang lain, cuma sayang belum mekar,"
Kata Sin Liong Tjoe. Hatinya It Hang jadi berdebar.
"Bukankah kembang itu satu putih dan satu merah?"
Dia tanya dengan cepat.
"Benar! Bagaimana soehoe tahu?"
Hatinya It Hang meluap kegirangan.
"Apa ada sebesar mangkok?"
Dia tanya lagi sambil menahan napas.
"Baru sebesar jeriji. Masih kuncup!"
"Dapatkah hari ini kau ajak aku pergi ke sana?"
It Hang tanya.
"Ah, soehoe rupanya suka pesiar!"
Kata Sin Liong Tjoe dengan girang. Sin Ngo yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan orang, jadi merasa heran.
"Kapan kau lihat kembang itu? Kenapa tidak diberitahukan padaku?"
Dia tanya.
"Aku ketemukan kembang itu kemarin dulu, waktu mau cari telur burung elang. Keduanya masih kuncup. Memberitahukan ayah tak ada gunanya."
"Anak tolol,"
Kata Sin Ngo.
"kembang itu mungkin kembang yang dinamakan..."
"Yoetam Sianhoa?"
It Hang potong pembicaraan orang.
"Inkong! Kau juga tahu Yoetam Sianhoa?"
Kata Sin Ngo dengan perasaan heran.
"Aku justeru sedang cari kembang itu,"
Sahut It Hang.
"Inkong, kau bukan saja telah menolong kita, tapi juga sudi mengajarkan ilmu silat kepada anakku. Kami tidak mempunyai suatu apa buat membalas budimu, maka biarlah kami menjaga kembang itu. Kalau mendengar keterangannya Liong Tjoe. mungkin kembang itu masih sangat lama mekarnya. Inkong, biarlah kau makan dulu sedikit sarapan, kemudian baru kita pergi melihat,"
Kata Sin Ngo.
It Hang lalu makan sedikit kue terigu dan daging bakar, dan kemudian, dengan diantar oleh Sin Ngo dan puteranya, dia naik ke atas gunung.
Gunung itu ditutupi salju.
Waktu itu sudah pada permulaan musim semi, tapi angin dingin masih meresap sampai di tulang-tulang Dengan diantar oleh Sin Ngo, ayah dan anak, It Hang mendaki gunung itu dengan perasaan heran.
Biasanya, semakin tinggi orang naik gunung, semakin dingin hawa udaranya.
Tapi di situ justeru sebaliknya.
Di lamping gunung rasanya luar biasa dingin, tapi sesudah tiba di atas, hawa menjadi lebih hangat.
"Gunung ini dinamakan Boksip Tatkok."
Menerangkan Sin Ngo.
"Dalam bahasa pribumi, 'es' dinamakan 'Bok Sip', sedang 'gunung' dipanggil 'Tat Kok', maka Boksip Tatkok sebenarnya berarti Gunung Es. Seluruh gunung ditutupi salju, sehingga hawanya luar biasa dingin, tapi hawa udara di puncak ini adalah hangat seperti hawa di musim semi."
"Kenapa begitu?"
Tanya It Hang.
"Sepanjang cerita. pada beberapa ribu tahun berselang, di puncak ini terdapat kawah gunung berapi, yang tiap-tiap kali menyemburkan api,"
Sin Ngo lanjutkan keterangannya.
"Belakangan gunung berapi itu berhenti kerja, dan di situ lantas muncul satu telaga. Akan tetapi, tanah di sekitarnya masih mempertahankan hawa panasnya sehingga hawa di puncak ini agak hangat."
Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 1
Baca Juga: Setan Harpa Khu Lung Tjan Id