Eps 5 Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Baca online Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Cersil Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen.
"Ah, kalau begitu tempat ini adalah tempat yang paling cocok buat orang hidup mengasingkan diri,"
Kata It Hang sambil tertawa.
Dia bertindak lebih cepat dan tidak lama kemudian tibalah dia di puncak gunung.
It Hang pentang kedua matanya dan memandang keadaan di seputarnya.
Oh, sungguh indah!
Seluruh puncak ditutup dengan rumput, sehingga merupakan mantel yang berwarna hijau.
Dari puncak paling atas mengalir turun air yang sangat jernih dan berkumpul di sebelah bawah, sehingga merupakan satu telaga kecil.
Di atas telaga itu terlihat kepingan-kepingan es yang baru turun dari atas dan belum dicairkan oleh hawa yang hangat.
Selainnya kepingan es, di atas air juga tersebar rontokan bunga.
Apa yang membikin lebih indah lagi adalah beribu-ribu pohon kembang yang tumbuh di sekitar telaga tersebut, dengan kembangnya yang beraneka warna dan harum baunya.
"Soehoe!"
Berteriak Sin Liong Tjoe.
"Kau lihat! Itu dua kembang dewa terdapat di situ, di antara kembang itu."
Menuruti pengunjukan muridnya, It Hang segera masuk di antara pohon-pohon kembang yang lebat itu.
Mendadak, serupa wewangian yang luar biasa menyampok hidungnya, dan badannya dirasakan segar sekali, dan di depannya terlihat dua kembang yang masih kuncup, masing-masing sebesar jeriji tangan.
Yang merah seperti cat bibir warnanya, sedang yang putih laksana batu giok.
Itulah Yoetam Sianhoa!
Hatinya It Hang mula-mula merasa girang, tetapi kemudian disusul dengan kekesalan.
Dia girang oleh karena pada akhirnya dia dapat juga menemukan kembang dewa itu.
Dia kesal, karena tidak tahu, bila kembang itu akan mekar.
Sesudah mengawasi beberapa lama, It Hang melambaikan tangan pada Sin Ngo.
"Inkong,"
Kata Sin Ngo sesudah datang dekat.
"Apakah maksud kau mencari kembang dewa ini?"
"Aku mempunyai seorang sahabat wanita yang sudah berambut putih dalam usia muda. Aku sangat perlu akan kembang ini, supaya dia bisa dapat pulang kecantikannya,"
It Hang menerangkan.
Sesudah berkata begitu.
It Hang perlihatkan paras muka yang sangat tidak sabar dan bingung.
Sin Ngo tidak dapat berkata apa-apa.
Pada waktu kembang ini mekar, anakku mungkin sudah ubanan, katanya di dalam hati.
Menurut cerita, Yoetam Sianhoa berkembang satu kali dalam 60 tahun.
Waktu mekar, besarnya sebesar mangkok dan warnanya bersinar seperti bianglala.
Sebelum berusia cukup 10 tahun, kembang itu sebesar jeriji, dan sesudah 10 tahun, barulah menjadi besar dengan perlahan.
To It Hang cuma tahu cerita tentang kembang dewa itu, tapi tidak tahu.
cara bagaimana menaksir usianya.
"Coba lihat! Kapan dia akan berkembang?"
Tanya lagi It Hang.
"Apakah dari cerita-cerita kuno kalian tidak mendengar lain keterangan mengenai kembang ini?"
Oleh karena melihat tuan penolongnya begitu tidak sabaran, Sin Ngo tidak tega buat bicara sebenarnya.
"Siapa juga belum pernah lihat kembang ini,"
Katanya.
"Aku pun tidak tahu, kapan mekarnya. Mungkin 5 tahun lagi, mungkin 10 tahun dan bisa jadi 20 tahun lagi."
Tapi dalam hatinya Sin Ngo tahu, bahwa sampai waktu mekarnya, paling sedikit orang harus tunggu 50 tahun lagi. It Hang kerutkan alisnya. Dia tidak berkata apa-apa.
"Inkong, legakan hatimu,"
Berkata Sin Ngo.
"Kami ayah dan anak, akan jaga kembang ini. Kalau aku mati, masih ada Liong Tjoe. Biar bagaimana juga, di antara kita mesti ada yang akan menyaksikan mekarnya kembang dewa ini."
It Hang tertawa sedih.
"Baiklah,"
Kata dia.
"Kalau bisa tunggu sampai kembang ini mekar, tak peduli sampai berusia berapa, boleh dibilang sudah memenuhi juga pengharapan kita."
Sesudah keluar dari semak-semak pohon kembang, Sin Ngo mendadak ingat suatu hal dan lantas berkata.
"Aku cuma kuatir itu pendeta jahat datang mengacau lagi. Kalau sampai kejadian begitu, biarpun mau, kami ayah dan anak belum tentu dapat memenuhi tugas menjaga kembang itu."
It Hang berpikir beberapa saat akan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Aku sebetulnya tidak ingin mencampuri urusan di antara suku-suku bangsa. Akan tetapi, jika pendeta itu benar-benar mengganggu lagi, aku tidak dapat berbuat lain daripada melayani dia satu kali lagi."
"Apa Inkong mau cari dia?"
Tanya Sin Ngo.
"Thianliong pay mempunyai pengaruh besar, sedang pendeta itu telah mendapat kepercayaannya kepala suku. Inkong haruslah berhati-hati."
Mendengar gurunya mau berkelahi. Sin Liong Tjoe sebaliknya jadi sangat girang.
"Bagus! Bagus!"
Dia berseru sambil tepuk-tepuk tangan.
"Soehoe hantam dia lagi sekali. Paling bagus usir dia dari daerah padang rumput ini."
It Hang tersenyum.
"Liong Tjoe, kau harus ingat, seorang yang belajar silat, tidak boleh unjuk kegagahan diri dan juga tidak boleh suka berkelahi. Aku cuma ingin gebah dia dari daerah padang rumput, dan bukannya mau berkelahi,"
Berkata sang guru. Sesudah berdiam beberapa saat, It Hang berpaling kepada Sin Ngo dan berkata.
"Sesudah berkelana beberapa tahun di selatan dan utara Thiansan. sedikit-banyak aku mengetahui juga keadaan berbagai suku bangsa di padang rumput ini. Di antara berbagai suku bangsa, suku Hapsatkek, Kektatdjie dan Lopo adalah yang paling kuat. Aku dengar, kepala dari suku Lopo yang bernama Tongno adalah seorang gagah yang mulia, sehingga dia sangat dihormati orang. Bengsatsi. kepala suku Kektatdjie. adalah seorang pandai, akan tetapi, karena dia kejam dan angan-angannya besar, maka orang lebih banyak takuti daripada hormati dia. Kepala suku kalian sebenarnya bukannya orang jahat, cuma sayang, dia belakangan ini kena dipengaruhi oleh pendeta jahat dan lain-lain orang sebawahannya yang buruk. Maka itu, dalam beberapa tahun ini, dia agaknya telah melakukan perbuatanperbuatan yang kurang pantas. Benarkah begitu?"
"Betul, Inkong,"
Jawab Sin Ngo.
"Karena itu aku sekarang niat menemui kepala sukumu untuk membeber segala perbuatan pendeta jahat itu, supaya kepala sukumu usir padanya."
"Begitu pun baik,"
Berkata Sin Ngo sesudah berpikir beberapa saat.
"Cuma saja, aku kuatir, bahwa sebagai orang asing omongan inkong tidak gampang-gampang dapat dipercaya. Maka itu, aku rasa baik inkong lebih dahulu ketemui Pa Liong, seorang tangan kanan kepala suka kita. Pa Liong ini sangat setia dan juga sangat menyinta rakyat. Aku dengar, dia adalah lawannya pendeta jahat itu. Jika inkong lebih dahulu berdamai dengan dia, aku rasa inkong akan lebih gampang berhasil."
"Baiklah,"
Kata It Hang.
"Lebih dahulu aku akan ajarkan Liong Tjoe beberapa pokok dasar ilmu silat, kemudian barulah aku pergi."
Sin Liong Tjoe dibesarkan di Puncak Onta dari Gunung Es.
Sedari masih kecil sekali, dia sudah membantu ayahnya memburu binatang-binatang alas, sehingga badannya jadi sangat kekar dan gerakannya luar biasa gesit.
Di samping itu, dia juga mempunyai tenaga luar biasa besar, pemberian alam.
Dengan mempunyai dasar-dasar sedemikian, dia sangat cocok belajar silat.
Bermula It Hang ajarkan dia beberapa pelajaran pokok, dan kemudian turunkan ilmu pukulan Kioekiong Sinheng Tjianghoat.
Tiga bulan It Hang berdiam di Puncak Onta buat melatih muridnya, dan sesudah muridnya mendapat dasar-dasar pokok ilmu silat Boetong pay dan sesudah memesan supaya muridnya terus berlatih sendiri, barulah It Hang berlalu buat merantau di Sinkiang Utara.
Pada suatu hari, It Hang sedang lewati gunung Mostako, yaitu satu anak gunung dari pegunungan Thiansan.
Sesudah lewat gunung ini, dia akan tiba di daerah penggembalaan yang sangat subur, yang terletak di Sinkiang Utara.
Meskipun tidak dapat dibandingkan dengan puncak Thiansan, akan tetapi gunung Mostako juga penuh dengan tebing yang curam dan berbahaya.
Oleh karena gunung ini menghubungi Sinkiang Selatan dengan Sinkiang Utara, maka di lamping gunung, rakyat telah membuat satu jalanan kecil yang berbelitbelit.
Sebab orang yang jalan di situ tidak banyak, maka jalanan tersebut penuh dengan pohon-pohon berduri dan rumput tinggi.
Sesudah berjalan beberapa lama, It Hang menjumpai dua puncak yang berhadapan satu sama lain.
Di tengah-tengah dua puncak tersebut terbuka satu jalanan sempit, yang cuma muat satu orang dan seekor kuda.
Selagi enak jalan, kupingnya It Hang mendadak dengar kelenengan kuda yang dilarikan cepat.
Penunggang kuda itu mestinya mahir sekali ilmu tunggang kudanya, sebab tidaklaji gampang untuk melarikan kuda begitu keras di jalanan gunung yang berbahaya itu.
It Hang jadi kepingin tahu dan naik ke tempat tinggi sambil memandang ke bawah.
Di kejauhan dia lihat dua ekor kuda yang dilarikan keras.
Akan tetapi, baru saja mereka tiba di mulut jalanan yang terbuka di antara dua puncak itu, lantas terdengar satu suara pertandaan dan menjepretnya busur.
Kedua kuda itu meringkik kesakitan, berjingkrak dan terguling, sehingga kedua penunggangnya jatuh melayang ke jurang yang sangat dalam!
To It Hang terkejut, dia menduga kawanan perampok sedang beraksi.
Sekarang tidak ada tempo buat menolong kedua orang itu dan hatinya It Hang menjadi sangat gusar.
Mendadak dia lihat mereka jungkir balik, dengan tangan masing-masing memegang sebatang anak panah, yang rupanya mereka barusan tangkap, dan begitu kakinya menempel pada lamping jurang, badannya kedua orang itu sudah mumbul lagi ke atas.
Waktu itu dari belakang batu-batu besar loncat keluar belasan orang, yang bersenjatakan busur dan anak panah atau golok, dan mereka lalu mengepung kedua penunggang kuda itu.
Dari pakaiannya, dapat diketahui bahwa mereka itu adalah dari suku Lopo.
Mereka semua kekar badannya, lincah gerakannya, dan dapat bergerak cepat sekali di atas tanah yang penuh batu-batu tajam.
Anak panah yang berbunyi "sretsret"
Juga menandakan tenaganya orang-orang yang melepaskannya. It Hang tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Sambil menghunus pedangnya, dia berseru.
"Penjahat kurang ajar! Kamu berani merampok di siang hari bolong!"
Mendadak tubuhnya kedua penunggang kuda itu melesat ke atas dan berbareng dengan itu terdengar teriakan mengerikan, karena kedua orang suku Lopo itu jatuh ke dalam jurang.
Sesudah lolos dari kepungan, kedua orang itu kabur, dikejar oleh orang-orang Lopo.
Orang yang jadi pemimpin memakai tiga batang bulu burung di kepalanya.
Di atas jalanan gunung yang sukar, dia berlari-lari seperti terbang.
Di lain saat, dia pentang busurnya dan beberapa anak panah menyambar ke arah dua orang itu, yang menangkis dengan goloknya.
Mereka rupanya sudah capai, tindakannya semakin perlahan dan tidak lama lagi tentu akan dapat dicandak oleh pengejarnya.
"Bertahan sebentaran! Aku tolong kalian!"
It Hang berseru sambil pentang langkahnya dengan gunakan ilmu enteng tubuh.
Sebelum It Hang sampai, orang-orang Lopo sudah dapat menyandak kedua orang itu.
Mereka berbalik melawan, satu antaranya bergulat dengan pemimpin Lopo itu dan dengan berpeluk-pelukan, kedua orang itu menggelinding turun ke bawah gunung.
Dengan gunakan kesempatan ini, penunggang kuda lainnya lantas membuka langkah.
It Hang yang mengejar, ketika itu sudah datang dekat.
Dia mengawasi dan rasanya dia kenal orang itu.
"To Kongtjoe tolongi aku!"
Orang itu berteriak.
Sekarang It Hang ingat.
Orang itu adalah tidak lain daripada Tjio Ho, dahulu menjadi pemimpin barisan Kimiewie.
Pertemuan ini tidak diduga-duga oleh It Hang.
Dari Tiat Hoei Liong, dia pernah dengar halnya Tjio Ho mencoba menangkap Wan Tjong Hoan dengan mengajak utlisan Boantjioe.
Dengan begitu, Tjio Ho mestinya mempunyai hubungan dengan bangsa Boan.
Sekarang, sesudah Kek Sie dan Goei Tiong Hian roboh, Tjio Ho rupanya lari ke Sinkiang.
Mengingat begitu, It Hang jadi sangsi.
Mendadak kedengaran Tjio Ho berseru.
"Kau tahan pengejar itu, aku pergi tolong kawan yang satu!"
Saat itu, orang-orang Lopo sudah datang meluruk, sambil melepas anak panah.
Buat lindungi diri, It Hang putar pedangnya.
Tjio Ho loncat ke samping, tangannya diayun dan beberapa senjata rahasia melesat ke arah badannya pemimpin Lopo yang sedang berkutet dengan kawannya "Tjio Ho, tahan!"
It Hang berseru.
Tangannya bergerak dan dengan beruntun ia tangkap 3 batang anak panah yang dilepaskan oleh orang Lopo, dan sambil loncat, dia pukul jatuh beberapa senjata rahasianya Tjio Ho.
akan tetapi, beberapa antaranya yang dilepaskan lebih dahulu sudah mengenai badannya pemimpin Lopo itu.
Orang-orang Lopo berteriak-teriak dengan gusar.
Tjio Ho sudah menggunakan kesempatan yang baik itu buat kabur.
Melihat musuhnya kabur, orang-orang Lopo berbalik menyerang It Hang.
"Harap kalian jangan gusar, aku bukan nya Rawan dia,"
Berkata It Hang. Tapi mereka tentu sadia tidak mau percaya dan terus menyerang sambil memaki-maki.
"Kalian datang ke sini buat mengacau dan jadi mata-matanya bangsa Boan. Sekarang kamu juga melukai pemimpin kami. Kalau tidak bisa menghancur leburkan badanmu, jangan panggil kami orang-orang gagah dari suku Lopo!"
It Hang mengeluh.
Dia tidak duga, bahwa orang yang dilukai oleb Tjio Ho adalah orang gagah yang paling kenamaan di daerah padang rumput, yaitu Tongno!
It Hang segera perlihatkan ilmu enteng tubuhnya.
Dia melawan sambil loncat ke sana-sini dan matanya terus mengincar dua orang yang sedang berkutetan itu.
Mendadak dia lihat kawannya Tjio Ho dapat menunggangi Tongno, sedang goloknya dicoba menikam.
Tongno tangkap lengannya dan menahan dengan sekuat tenaga.
Beberapa boesoe Lopo memburu buat menolongi.
tapi sebelum bisa datang dekat, orang itu membentak.
"Kalau kamu maju setindak lagi. aku akan ambil kepala pemimpinmu!"
Meskipun sangat gusar, mereka tidak berani maju lagi karena kuatir keselamatan pemimpinnya.
Melihat keadaan yang genting itu, dengan cepat It Hang membabat dengan pedangnya.
Suara berkrontrangan terdengar dan senjata beberapa orang Lopo putus menjadi dua.
Mereka kaget dan mundur beberapa tindak.
It Hang segera loncat dan memburu ke arah Tongno.
Beberapa boesoe yang berada di situ coba mencegat, tapi It Hang berkelit beberapa kali dan lari terus.
Kawannya Tjio Ho, yang menduga It Hang adalah orang sendiri, jadi sangat girang dan berteriak.
"Tak usah datang ke sini. Aku tidak luka. Kau tolong buka jalan supaya kita bisa menerjang keluar."
It Hang tidak menjawab, tapi terus menghampiri, dengan tangan menggenggam bweehoa tjiam (senjata rahasia berbentuk jarum).
Belum habis orang itu berseru, mendadak dia rasakan lengannya kesakitan dan goloknya jatuh di tanah.
Sambil berseru keras.
Tongno berontak dan sekarang dialah yang berbalik tunggangi kawannya Tjio Ho.
Kawan Tjio Ho itu bernama Kotuh, seorang utusan bangsa Boan, yang dikirim kepada suku Kektatdjie.
Ilmu silatnya Kotuh cukup tinggi dan meskipun sudah kena ditunggangi, dia masih melawan terus.
Sementara itu.
racun senjata rahasia Tjio Ho sudah mulai bekerja dalam tubuhnya Tongno.
dan oleh karena Tongno terlalu bergerak-gerak, maka racun bekerja secara lebih cepat.
Pada saat yang genting, mendadak matanya Tongno berkunang-kunang.
Ketika itu, tangan kirinya Kotuh sedang tahan tangannya Tongno yang menghantam dirinya, sedang lima jeriji tangan kanannya coba menyodok tenggorokan lawannya.
Sesudah melepaskan jarumnya, It Hang memburu seperti kilat dan tiba pada waktu yang tepat.
Jerijinya menotok pundaknya Kotuh yang lantas rasakan tangannya kesemutan dan lima jerijinya yang sudah terpentang bagaikan gaetan.
tak dapat diteruskan ke tenggorokannya Tongno.
Serangan jarum dan totokan It Hang dilakukan secara kilat, sehingga orang Lopo yang melihat Kotuh roboh, tidak mengetahui bahwa dia roboh atas serangan It Hang.
Maka itu.
mereka ramai-ramai meluruk mengepung pemuda itu.
Tongno paksakan bangun duduk dan berteriak.
"Dia adalah penolongku."
Orang-orang Lopo heran.
"Dia berkelahi melawan pihak kita dan lepaskan mata-mata musuh,"
Kata satu antaranya.
"Cara bagaimana dia dikatakan tuan penolong?"
Tongno juga tak dapat menerka apa maksud It Hang.
"Kau telah menolongi jiwaku dan aku tidak nanti menyusahkan kau,"
Katanya.
"Akan tetapi, aku sangat kepingin tahu, kenapa kau di satu pihak menolongi aku, di lain pihak kau lepaskan matamata bangsa Boan itu?"
Mendengar pertanyaan itu, It Hang merasa tidak enak dalam hatinya.
Tanpa berkata apa-apa, dia keluarkan kantong obat-obatan dan ambil satu botol kecil yang terbuat dari batu giok.
Dia tuangkan sedikit obat bubuk di atas selembar daun.
"Kau bikin apa?"
Bentak seorang Lopo.
"Pemimpinmu kena senjata beracun. Ambillah ini, sebagian digosokan di tempat yang luka dan sebagian lagi diminum. Sesudah selang 24 jam, pemimpinmu akan sembuh kembali,"
Kata It Hang. Pahlawan-pahlawan Lopo masih sangsikan kejujuran It Hang, tapi Tongno segera berkata.
"Berikan padaku! Kalau dia mau celakakan aku, kenapa mesti tunggu sampai sekarang?"
Perkataan Tongno telah dapat menyingkirkan segala kesangsian pahlawan-pahlawan Lopo itu dan hatinya It Hang menjadi lega. Sesudah menerima obat itu, Tongno berkata sambil menghela napas.
"Sunguh sayang mesti tunggu 24 jam, sehingga aku tak dapat mengejar mata-mata itu."
"Kau telah menolong jiwaku, tapi kau juga telah melepaskan musuhku. Aku sungguh tak mengerti,"
Berkata pula Tongno sambil berpaling kepada It Hang. It Hang dongak memandang matahari dan kemudian ia berkata dengan suara nyaring.
"Aku akan bekuk mata-mata itu. Beberapa orang tunggu di sini, aku akan kembali kira-kira waktu magrib."
Mendengar omongan It Hang, orang-orang Lopo memperlihatkan paras kurang percaya.
Mereka sudah saksikan kecepatan larinya Tjio Ho dan sesudah selang begitu lama, paling sedikit Tjio Ho sudah kabur belasan li.
Cara bagaimana pemuda itu dapat menyandak?
Demikian mereka berpikir dalam hatinya.
It Hang tak mau buang tempo dan segera berangkat dengan gunakan ilmu entengkan tubuh.
"Sesudah bekuk mata-mata itu, kau tidak usah balik di sini. Serahkan saja kepada Pa Liong, yang menunggu di mulut selat,"
Tongno berseru kepada It Hang.
It Hang sekarang mengetahui, bahwa buat bekuk Tjio Ho dan kawannya.
Tongno telah pasang jaring di dalam dan di luar gunung.
Mendengar disebutnya nama Pa Liong.
It Hang jadi girang, sebab dia pun justeru mau cari pahlawan itu.
Panjangnya gunung Mostako ada 100 li lebih, sedang panjangnya jalanan gunung yang dibuka oleh rakyat juga kirakira 100 li.
Selama beberapa tahun ini, ilmu silatnya It Hang sudah banyak maju dan di samping itu, dia sudah biasa dengan jalanan gunung yang sukar.
Sebab itu, menurut taksirannya, biarpun Tjio Ho berilmu silat tinggi, dia akan dapat menyandak sebelum orang itu bisa keluar dari gunung Mostako.
Dengan cepat It Hang mengejar.
Selang kira-kira satu jam.
samar-samar dia dapat lihat Tjio Ho.
"Tjio Ho! Aku datang. Tunggulah! Kita jalan sama-sama!"
Seru It Hang sesudah datang lebih dekat. Tjio Ho tidak meladeni. Sebaliknya, dia lari semakin keras.
"Kalau begini, perkataan Tongno tidaklah salah,"
Pikir It Hang.
"Kau tidak berhenti, kau kira aku tidak mampu menyusulmu?"
Dia kerahkan tenaga kakinya dan mengejar semakin hebat.
Sesudah lewati lagi dua mulut selat, jarak antara kedua orang itu sudah sangat dekat.
Mendadak, Tjio Ho berhenti dan sambil tertawa ia berseru keras.
"To It Hang, apa maksudmu mengejar aku?"
"Maksudku mengejar kau, kau sendiri juga sudah tahu,"
Sahut It Hang dengan tertawa dingin.
"Aku bukan cacing dalam perutmu, bagaimana aku bisa mengetahui isi perutmu?"
Tjio Ho mengejek.
"Siapa kawanmu itu?"
"To Kongtjoe. buat apa kau campuri urusan orang lain."
Mukanya It Hang jadi berubah.
"Sekarang aku mau campur,"
Kata dia dengan suara keras.
"Hayo bilang! Bukankah kawanmu itu ada utusan bangsa Boan?"
"Kalau benar, kau mau apa?"
Sahut Tjio Ho sambil tertawa, It Hang jadi semakin gusar.
"Apa kau mau aku turun tangan? Hayo, ikut aku!"
Dia membentak.
"To Kongtjoe,"
Berkata lagi Tjio Ho dengan sikap tenang dan sambil tertawa-tawa.
"Kedudukan sebagai tjiangboendjin kau lepaskan dan rela berkelana datang ke tempat ini buat campuri urusan lain orang. Hm! Cuma saja kau datang terlambat sedikit, urusan ini tak dapat kau mencampurinya."
Baru saja Tjio Ho habis bicara, atau dari kejauhan terdengar suara orang.
"Tjio Toako, siapa bocah ini? Dia mau campur urusan siapa?"
Berbareng dengan itu, dari lamping gunung muncul dua orang, yang satu berpakaian seperti pahlawan Hapsatkek, sedang yang lain adalah satu tauwtoo (pendeta) yang memakai jubah pendeta warna merah.
"Bocah ini bukan sembarang orang, dia adalah tjiangboen Boetong pay!"
Tauwtoo itu mengawasi It Hang sambil mendelik.
"Hm! Kau, tjiangboendjin Boetong pay?"
Kata dia dalam bahasa Han.
"Sudah lama aku dengar Boetong san mendapat kedudukan nomor satu dalam kalangan Rimba Persilatan di Tionggoan. Justeru itu sekarang aku mau coba-coba."
"To Kongtjoe,"
Kata Tjio Ho.
"mengingat barusan kau sudah membantu aku, maka aku tidak niat membinasakan kau. Lebih baik kau lekas keluar dari Sinkiang dan balik ke Boetong. Di sini bukan tempat kau menjagoi."
"Penghianat!"
Berseru It Hang.
"Semua orang ingin membinasakan kau! Jangan rewel, kau bertiga maju sekaligus!"
Sesudah mendapat bala bantuan, hatinya Tjio Ho jadi tetap dan dia dapat bicara secara tenang.
"To Kongtjoe, apakah kau betul-betul mau berkelahi? Tapi, biar bagaimana juga perlu aku saling memperkenalkannya. Saudara ini adalah murid kepala Thianliong Siangdjin, yaitu Loei Bong Hoatsoe. Di daerah Sinkiang, Thianliong pay mempunyai banyak pengaruh, seperti juga kedudukan-nya Boetong pay di daerah Tionggoan. Di sini adalah wilayah mereka, bukan wilayah kamu. Dan saudara ini adalah Hap Tjoan. seorang ahli silat kenamaan dari suku Hapsatkek. Berapa lama sudah kau berdiam di sini, apa belum pernah dengar namanya?"
Tjio Ho mengetahui bahwa ilmu siiat Boetong sangat liehay, maka itu, dia menggunakan kata-kata itu untuk membikin It Hang jadi panas.
Akan tetapi, dalam beberapa tahun, ilmu silatnya It Hang sudah lebih mendalam dan dengan sendirinya dia jadi terlebih tenang.
Kupingnya mendengarkan kata-kata musuh, matanya terus memperhatikan gerak-geriknya.
Betul saja, waktu Tjio Ho sedang bicara, Loei Bong ayunkan tangannya dan lepaskan senjata rahasia Koentohoan.
Senjata itu adalah senjata tunggal yang sangat liehay dari pendeta lhama itu.
Dalam Koentohoan tersimpan 12 pisau kecil, yang, begitu lekas mendekati sasarannya, lantas menyambar dengan berbareng.
Begitu dengar suara mengaungnya senjata rahasia dan menyambarnya serupa benda ke arah dirinya, It Hang lantas enjot tubuhnya yang melesat ke atas dalam gerakan "Itho Tjiongtian" (Seekor burung ho menembus langit), sedang pedang-nya digunakan buat menyampok senjata rahasia itu, yang lantas mental 4/5 tombak tingginya.
Ke-12 pisau kecil itu menyambar keluar di udara dan jatuh meluruk ke dalam jurang.
Loei Bong menjadi sangat gusar dan lantas menerjang dengan tongkatnya.
"Paman gurumu masih belum bisa menang, bagaimana kau?"
Pikir It Hang.
Sebagai ketua Thianliong pay, ilmu silatnya Thianliong Siangdjin banyak lebih tinggi dari saudara-saudara seperguruannya, dan Loei Bong, sebagai murid kepala dari Thianliong Siangdjin, mempunyai ilmu silat yang berimbang dengan sekalian paman gurunya.
Oleh karena memandang enteng musuhnya, dalam gebrakan yang pertama, pedangnya It Hang hampir-hampir disampok jatuh oleh tongkatnya Loei Bong.
"Ha, ha! Dengar nama tidak sama dengan ketemu muka. Aku tidak menduga kepandaian tjiangboendjin Boetong cuma sebegini saja!"
Loei Bong tertawa dengan sombong sekali.
Akan tetapi, belum habis dia bicara, It Hang sudah menikam bagaikan kilat.
Selagi Loei Bong angkat tongkatnya buat menangkis, It Hang balik pedangnya sambil kembali kirim dua serangan yaitu "Kongtjiak Tekleng"
Dan "Lie Kong Hiattjiok" (Burung merak sisir bulunya dan Lie Kong panah batu).
"srett... srett"
Dan ikat pinggangnya Loei Bong putus.
"Bagaimana kiamhoat Boetong?"
It Hang mengejek.
Bukan main kagetnya Loei Bong.
It Hang lantas saja menyerang seperti hujan angin dan dalam beberapa gebrakan saja, Loei Bong jadi sangat repot, terlebih pula karena jubahnya, yang putus ikatannya, tiap-tiap kali terbuka dan menghalangi gerakannya.
Melihat kawannya berada dibawah angin, Tjio Ho lantas cabut golok untuk mengerubuti.
It Hang kertek giginya karena gergetan, dan serang pula penghianat itu dengan tikamantikaman hebat.
Akan tetapi, Tjio Ho juga bukan ahli silat sembarangan, sehingga tidaklah mudah bagi It Hang untuk menjatuhkannya.
Sesudah bertempur beberapa lama, keadaan masih berimbang.
Melihat liehaynya It Hang, Hap Tjoan itu boesoe dari suku Hapsatkek, segera bantu mengerubuti.
Senjatanya Hap Tjoan adalah boneka tembaga yang berkaki satu, dan begitu maju, dia lantas menimpa dengan gerakan "Thaysan apteng".
Melihat senjata musuh yang berat, It Hang tak berani menyambuti dengan pedangnya, tapi loncat ke samping, dengan anggapan, bahwa orang yang tenaganya besar, ilmu enteng tubuhnya tentu tidak begitu baik.
Sesudah ia berkelit, It Hang menikam miring ke arah kakinya.
Akan tetapi, tidak dinyana, meskipun ilmu enteng tubuhnya tidak seberapa, Hap Tjoan mahir sekali menggunakan kakinya.
Waktu It Hang agak doyong badannya selagi menikam, kakinya Hap Tjoan menggaet, sehingga tubuhnya It Hang jadi miring dan pedangnya juga menikam tempat kosong.
Hap Tjoan tertawa sambil menimpakan boneka tembaganya kedada musuh.
Syukur, dalam keadaan berbahaya, It Hang tidak jadi gugup.
Melihat senjata musuh sudah datang dekat dan tidak nanti keburu berkelit lagi, sedang tubuhnya sendiri doyong ke depan, It Hang segera lonjorkan tangannya dan totok lengan musuhnya.
Ketika itu juga Hap Tjoan rasakan tangannya kesemutan dan senjatanya yang sudah terangkat jadi turun lagi.
Lekas-lekas It Hang putar tubuhnya, sambil tangkis senjatanya Tjio Ho dan Loei Bong.
Dalam kalangan Hapsatkek, Hap Tjoan dikenal sebagai pahlawan nomor satu yang ilmu silatnya tinggi, terlebih pula ilmu menggaetnya.
Sekarang, bukan saja tidak berhasil, tapi hampir-hampir jadi celaka.
Hatinya jadi kaget dan tidak berani memandang enteng lagi musuhnya.
Biar bagaimana juga gagahnya It Hang, dia sukar lawan tiga musuh yang tangguh itu.
Sesudah lewat 100 jurus, dia mulai jatuh di bawah angin.
"Mengingat kau adalah tjiangboendjin dari satu partai, serahkan saja pedangmu, aku tidak akan menyusahkan,"
Bentak Loei Bong. Mendengar kawannya mau lepas It Hang. Tjio Ho terkejut dan buru-buru berkata.
"Tidak! Jangan ampuni dia. Memang gampang melepas harimau, tapi sukar menangkapnya lagi."
Tjio Ho tahu, bahwa terhadap luar, orang-orang Boetong sangat ragam, dan juga dia mengetahui, It Hang tidak akan mengampuni dia.
Maka itu, sedapat mungkin, dia mau binasakan musuhnya, supaya tidak jadi bahaya di belakang hari.
Sebagai turunan orang berpangkat dan tjiangboen dari satu partai besar, It Hang mempunyai keangkuhan.
Mendengar Loei Bong suruh dia menyerahkan pedang, amarahnya lantas memuncak, dan sesudah mendengar omongannya Tjio Ho, dadanya dirasakan mau meledak.
"Hari ini, kau hidup atau aku hidup! Orang she To ini bukannya sebangsa tukang mintaminta ampun!"
Sehabis berseru begitu, It Hang segera keluarkan beberapa jurus ilmu silat Tat Mo, yang dia sendiri mendapatkannya.
Melihat perubahan cara bersilatnya It Hang, yang banyak lebih liehay daripada tadi, ketiga orang itu menjadi kaget.
Semuanya mundur sambil memutarkan senjatanya buat menjaga diri.
Kalau saat itu, It Hang menerjang keluar dari kepungan dan melarikan diri, mereka tentu tidak berani mengejar.
Tapi, It Hang sudah seperti kalap.
Dia tidak ingat mundur ---dia cuma ingat cara bagaimana dapat merobohkan musuh-musuhnya.
Sesudah bertempur beberapa lama, Tjio Ho segera dapat lihat, bahwa silatnya It Hang yang berbahaya cuma terdiri dari beberapa jalan saja.
"To It Hang,"
Kata Tjio Ho sambil tertawa mengejek.
"Modalmu cuma sebegitu saja? Tempat ini sudah pasti akan jadi kuburanmu!"
Dia lambaikan tangannya dan bersama dua kawannya, dia mengepung pula dengan rapat.
Pertempuran benar-benar hebat.
Dengan Tjitcapdjie tjioe Lianhoan Kiamhoat (ilmu silat Boetong yang berantai dan mempunyai 72 jalan), ditambah dengan beberapa jurus ilmu pedang Tat Mo.
It Hang dapat membela dirinya.
Akan tetapi, tenaganya perlahan-lahan berkurang.
Sesudah melawan lagi kurang lebih 100 jurus, napasnya mulai sengal-sengal dan keringatnya mulai mengucur turun.
Tjio Ho girang bukan main.
Dia kerahkan tenaganya dan menyerang sehebat-hebatnya.
Satu waktu, ketika It Hang sedang tangkis senjatanya Hap Tjoan, Tjio Ho mendadak sabet lengannya dengan goloknya.
Keadaan saat itu luar biasa gentingnya.
It Hang sudah tidak berdaya singkirkan diri dari serangan itu.
Mendadak...
dengan tiba-tiba, satu suara tertawa yang panjang dan nyaring terdengar di puncak gumung.
Hatinya Tjio Ho terkesiap, tangannya gemetar.
Goloknya hampir mengenai sasarannya, jadi doyong sedikit dan menyabet tempat kosong.
"Lian Tjietjie!"
It Hang berteriak kegirangan. Melihat parasnya Tjio Ho yang mendadak pucat, Loei Bong dan Hap Tjoan jadi heran.
"Kau takuti apa?"
Mereka tanya.
"Lian Tjietjie!"
It Hang berseru pula.
"Oh, kalau begitu kau mempunyai saudara perempuan untuk membantui berkelahi? Dilihat dari mukamu, saudara perempuanmu mestinya cantik sekali!"
Kata Loei Bong sambil tertawa tengal.
Baru saja dia tutup mulutnya, dia sudah menjerit kesakitan dan jatuh terjengkang!
Hap Tjoan angkat senjatanya, tapi It Hang sudah mendahului menikam pundaknya.
Oleh karena memikir Tjio Ho masih berdiri di dampingnya, Hap Tjoan tidak berkhawatir.
Pedangnya It Hang mampir pada pundaknya dan dengan satu teriakan, dia juga roboh.
Sebagaimana diketahui, beberapa kali Tjio Ho hampir binasa dalam tangannya Giok Lo Sat.
Maka tidaklah heran, begitu dengar suara tertawanya Giok Lo Sat, nyalinya jadi ciut.
Buru-buru dia kabur, tapi kedua kakinya sudah keburu lemas bahna ketakutan.
Semakin dia ingin lari keras, semakin perlahan tindakannya.
Dengan lekas It Hang candak dia sambil mengayunkan pedangnya dan dia juga terguling di atas tanah.
Tanpa pedulikan musuh-musuhnya yang sudah menggeletak, It Hang segera berlari-lari ke puncak dengan sekuat tenaga dan tiap-tiap kali memanggil-manggil.
"Lian Tjietjie! Lian Tjietjie! Keluarlah temui aku!"
Tapi, di atas puncak hanya terdapat awan-awan putih.
Lian Nie Siang tak kelihatan mata hidungnya!
"Lian Tjietjie!
Lian Tjietjie!
Aku sudah dapat cari kembang dewa di puncak Onta dari gunung Boksip Tatkek.
Lian Tjietjie, hayolah kemari!"
Berseru It Hang dengan suara sedih. Tapi Lian Tjietjie tak juga muncul. Cuma suaranya sendiri yang berkumandang di lembah-lembah. It Hang jadi sedih. Dengan badan lemas, dia mendeprok di atas batu.
"Dia menolong, kenapa sungkan menemui? Pergi datangnya tanpa bayangan. Dalam beberapa tahun ini, mungkin dia terus membayangi diriku, tanpa aku mengetahui,"
Pikir It Hang.
Girang, jengkel, putus harapan, menyesal, sedih...
rupa-rupa perasaan mengutak dalam hatinya pemuda itu.
Dengan mata mendelong, dia mengawasi awan-awan, sambil tiap-tiap kali menghela napas panjang.
Tak lama kemudian kupingnya It Hang mendadak dengar suara kaki kuda di mulut gunung.
Dia ingat Tjio Ho dan Hap Tjoan yang masih menggeletak di jalanan.
"Lian Tjietjie tidak sudi menemui aku, tak ada gunanya bagiku diam terus di sini. Siapakah orang-orang yang baru datang itu? Kalau mereka kawannya Tjio Ho, bukankah aku jadi tak dapat memenuhi janji terhadap Tongno dan juga siasiakan pertolongan Lian Tjietjie?"
Karena memikir begitu, buru-buru dia turun dari puncak.
Tjio Ho kena ditusuk dengkulnya.
Sesudah It Hang pergi, dia merayap mendekati Hap Tjoan.
Dia berniat membuka jalan darahnya Hap Tjoan yang tadi kena ditusuk pedang, dan kemudian minta digendong buat keluar dari pegunungan itu.
Tapi sebelum berhasil, apa mau It Hang sudah datang lagi dan lantas totok jalan darahnya.
Sesudah menotok Tjio Ho, It Hang ambil rotan dan ikat Tjio Ho dan Hap Tjoan menjadi satu dan kemudian pergi menengok keadaannya Loei Bong.
Loei Bong rebah celentang dengan tanda merah di bagian lehernya.
It Hang tendang padanya, tapi tak berkutik.
It Hang lalu memeriksa sambil membungkuk dan dia keluarkan teriakan tertahan, sebab pada tenggorokan Loei Bong menancap satu jarum perak yang sebagian nongol keluar.
Jarum itu adalah senjata rahasia tunggal dari Giok Lo Sat yang diberi nama Kioeseng Tengheng Tjiam.
Bahwa Giok Lo Sat dapat mengambil jiwanya seorang ahli silat dengan jarumnya tanpa memperlihatkan dirinya, sungguh membikin orang jadi kagum sekali.
Taruh kata dia mengumpet di belakang batu-batu dekat tempat pertempuran, jaraknya yang paling dekat masih lebih dari 5 tombak.
Bahwa dari tempat yang begitu jauh dia masih dapat melepaskan jarum yang membinasakan, menandakan bahwa, bukan saja ilmu melepas jarumnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, tapi tenaga dalamnya pun sudah tak dapat diukur lagi.
"Tak diduga kepandaian Lian Tjietjie sudah sampai begitu jauh. Cuma saja agak sedikit kejam,"
Kata It Hang seorang diri.
Sementara itu.
suara tindakan kuda kedengaran semakin dekat.
Tidak lama kemudian, dari selat gunung keluar satu pasukan kecil dari suku Hapsatkek yang di kepalai oleh seorang jenderal tua yang jenggotnya melambai-lambai dan tangannya memegang satu golok besar, sehingga kelihatannya angker sekali.
"Apakah yang datang Looenghiong dari Hapsatkek, Pa Liong Tjiangkoen?"
Tanya It Hang sambil menghampiri. Paras panglima itu mengunjukan perasaan heran.
"Siapa kau?"
Dia balas menanya.
"Kau orang Han, bagaimana kau tahu namaku?"
Matanya menyapu dan mendadak ia lihat Tjio Ho dan Hap Tjoan yang diikat menjadi satu.
"Eh, eh! Hap Tjoan! Kau juga jadi mata-matanya bangsa Boan?"
Dia berkata dengan kaget.
"Mata-mata Boantjioe?"
Bentak Hap Tjoan dengan mata mendelik.
"Dengan suatu rencana yang sangat bagus, aku niat membantu pemimpin kita mempersatukan daerah Thiansan Utara dan Selatan, tapi rencana ini telah dirusak oleh kalian!"
"Rencana apa?"
Tanya Pa Liong.
"Tentara Boantjioe berada di tempat jauh, cara bagaimana mereka dapat menggencet kita di sini?"
Hap Tjoan menerangkan.
"Kalau kita bersatu dengan mereka untuk bersama-sama melawan kerajaan Beng. untuk kita banyak baiknya dan tidak ada jahatnya. Cuma menyesal, kau bangsat tua menghalang-halangi, sehingga Ongya tidak dengar segala nasehatku. (Ongya = raja = panggilan untuk kepala suku di Sinkiang). Maka itu. aku berserikat dengan Thian Tek Siangdjin, dan dengan bantuan Ongya suku Kektatdjie, mereka setuju buat angkat Ongya kita menjadi kepala perserikatan suku-suku di Sinkiang. Nanti, kalau tentara Boantjioe sudah musnahkan kerajaan Beng, kita di sini dapat berdiri sebagai satu negara yang merdeka. Apa itu tidak bagus?"
Hap Tjoan adalah orang gagah nomor satu di antara suku Hapsatkek. Cuma sayang, dia kurang cerdik, dan sampai waktu itu, belum mendusin.
"Hap Tjoan, kau benar tolol,"
Kata Pa Liong sambil menghela napas.
"Apakah kau masih tidak tahu, bahwa dirimu telah digunakan sebagai alat?"
Tapi Pa Liong diam-diam merasa girang akan kejujuran Hap Tjoan, yang sudah buka persekutuannya Bengsatsi, Thian Tek Siangdjin dan bangsa Boan.
"Apakah kau yang menangkap kedua orang ini?"
Tanya Pa Liong pada It Hang.
"Benar."
Jawabnya.
"Kenapa kau menangkapnya? Apakah kau tahu. mereka itu adalah mata-mata bangsa Boan?"
"Andaikata aku tak tahu persekutuan busuknya, tapi aku mesti tangkap juga padanya,"
Jawab It Hang sambil menunjuk Tjio Ho.
"Looenghiong! Apakah kau tahu dia siapa? Dia adalah kaki tangannya Goei Tiong Hian yang telah merusak kerajaan Beng dan membikin rakyat jadi sengsara. Dia bernama Tjio Ho, yang dahulu pernah jadi kepala dari pasukan Kimiewie!"
Goei Tiong Hian main gila dalam banyak tahun dan segala perbuatan busuknya sudah dapat didengar sampai ke daerah perbatasan.
Maka, itu, mendengar keterangannya It Hang.
tanpa merasa Pa Liong berseru "Aya!"
"Di daerah padang rumput ada satu pepatah. Sampah berkumpul dengan sampah. Tidak heran dia berkawan dengan si gundul Thian Tek,"
Kata Pa Liong sambil tertawa. Mendengar perkataan Pa Liong, Hap Tjoan jadi gusar.
"Pa Liong! Kau caci aku bagaikan sampah?"
"Bukan, kau bukan sampah,"
Jawab Pa Liong.
"Tapi kau kena dibikin mabuk oleh bau busuknya sampah!"
Sesudah berdiam beberapa saat, Pa Liong berpaling kepada It Hang dan berkata.
"Dua orang ini telah dibekuk olehmu, dan menurut pantas, mereka harus dihukum olehmu sendiri. Tapi, aku ingin memohon sesuatu. Dapatkah kau melepaskan Hap Tjoan?"
"Aku serahkan mereka kepada putusan Tjiangkoen."
Kata It Hang.
Pa Liong segera buka ikatannya Hap Tjoan dan ajak dia ke tempat agak jauh, di mana dengan sabar dia memberi keterangan-keterangan mengenai akal busuknya Tjio Ho dan kawan-kawannya, (t Hang juga menceritakan segala pengalamannya Dia ceritakan cara bagaimana Thian Tek Siangdjin telah menindas rakyat Hapsatkek.
Perlahan-lahan Hap Tjoan jadi sadar.
Dia malu dan jengkel, sehingga bajunya basah dengan keringat.
"Benar! Omongan kalian tidak salah!"
Dia berseru sambil loncat.
"Bangsat Thian Tek telah mempedayai aku dan bikin aku jadi tukang pukulnya. Aku nanti cari dia buat bikin perhitungan!"
"Tak usah terburu napsu,"
Kata Pa Liong.
"Biar bagaimana juga kita akan bikin perhitungan. Sekarang aku tanya. Hari ini kau datang di sini, apakah atas perintah Thian Tek?"
"Benar,"
Sahut Hap Tjoan.
"Dia suruh aku bersama soetitnya menyambut satu utusan Boantjioe. Tapi, sang utusan tidak muncul, yang muncul adalah Tjio Ho."
"Utusan Boan itu sudah dibekuk oleh Tongno,"
Kata It Hang. Pa Liong jadi girang dan berkata.
"Siang-siang Tongno sudah mengetahui, bahwa utusan Boan itu berada di tempatnya Bengsatsi. Berhubung dengan pengaruhnya Bengsatsi, Tongno tidak mau sembarangan bergerak. Waktu mendengar, dia berlalu dari tempatnya suku Kektatdjie. Tongno segera ajak aku pasang perangkap buat bekuk padanya, cuma sayang, aku datang sedikit terlambat."
Sesudah menyerahkan Tjio Ho kepada Pa Liong, It Hang segera pamitan sambil berkata.
"Sesudah mengetahui sepak terjangnya Thian Tek, aku mohon Tjiangkoen membujuk Ongya supaya usir dia dari daerah padang rumput. Sekarang aku mau pergi."
"Giesoe (orang gagah yang mulia), aku ingin mendapat pertolonganmu,"
Kata Pa Liong.
"Lusa, berbagai suku bangsa di Sinkiang Utara akan berkumpul di padang rumput Keksim. Dalam perhimpunan ini, berbagai suku akan mengangkat satu kepala perserikatan dari suku-suku. Aku sangat berkuatir Bengsatsi akan bikin onar, sedang ilmu silatnya Thian Tek tidak dapat dilawan oleh sembarang orang. Maka itu, aku memohon pertolonganmu, untuk mana, aku akan merasa berterima kasih tidak habisnya."
It Hang merasa berat untuk menolak dan segera meluluskan.
Dengan mengajak Hap Tjoan dan It Hang, Pa Liong pulang ke tempatnya.
Dia tidak mau lantas menemui kepala suku, tapi segera membuat persiapan untuk hari lusa Selang dua hari.
kepala berbagai suku, dengan membawa sebawahannya yang penting, sudah berkumpul di padang rumput Keksim buat menghadiri perhimpunan besar.
Waktu itu, kepala suku Hapsatkek berada dalam kebingungan, lantaran Pa Liong, orangnya yang paling diandali, sedari beberapa hari telah melenyapkan diri.
Dia tidak mengerti.
kenapa dalam menghadapi perhimpunan yang begitu penting, Pa Liong menghilang.
Ketika itu adalah musim panas.
Hawa udara di padang rumput, di waktu siang panasnya saperti dibakar, waktu malam agak dingin, sehingga orang mesti pakai baju tebal.
Maka itu, segala gerakan kebanyakan diadakan di waktu malam.
Hari sudah jadi gelap dan sang rembulan sudah mulai naik, tapi Pa Liong belum juga muncul.
Dengan mendongkol, kepala suku Hapsatkek segera ajak Thian Tek dan yang lain pergi ketempat perhimpunan.
Di tengah-tengah tempat perhimpunan dinyalakan api unggun, sedang para kepala suku dan orang-orangnya sudah berkumpul di tanah lapang yang dikelilingi dengan tenda-tenda.
Begitu perhimpunan dibuka, mereka lantas mulai tarik urat.
Bengsatsi, kepala suku Kektatdjie, berhasrat buat menjadi ketua perserikatan.
Tapi, kepala suku Lopo, Tongno, sudah gusur itu utusan Boan yang kena dibekuk dan umumkan persekutuannya.
Di Tiongkok.
"berhubungan dengan Boantjioe"
Adalah suatu kedosaan yang tak dapat diampuni, akan tetapi, berbagai suku di padang rumput tidak berada dalam keadaan perang dengan bangsa Boan, sehingga "berhubungan dengan Boantjioe"
Hanya merupakan suatu soal politik yang dapat diperdebatkan.
Bengsatsi berbalik mencela Tongno, yang dikatakan tidak pantas menahan utusan Boan yang berkunjung padanya.
Perdebatan sengit lantas terjadi.
Sebagian besar kepala suku tidak setuju dengan politik melawan kerajaan Beng dan berserikat dengan bangsa Boan, akan tetapi, mereka juga tidak dapat membenarkan tindakan Tongno yang menahan utusan Boan.
Sedang hebatnya perdebatan, serdadu yang menjaga lapangan melaporkan bahwa Pa Liong datang dengan membawa orang.
Kedudukan Pa Liong dalam Hapsatkek cuma lebih rendah setingkat dari kepala suku.
Maka itu, kedatangannya yang terlambat membikin semua orang jadi heran, sedang kepala suku Hapsatkek merasa tidak senang.
Perdebatan tertunda sementara dan semua mata ditujukan kepada Pa Liong yang masuk dengan tindakan tenang, bersama seorang Han.
Begitu mengenali, paras mukanya Thian Tek Siangdjin lantas berubah, sebab orang itu tidak lain daripada To It Hang.
"Perhimpunan malam ini adalah perhimpunan berbagai suku di padang rumput. Cara bagaimana orang Han bisa turut dalam perhimpunan kita?"
Demikian Bengsatsi ajukan protesnya "Orang Han ini mempunyai hubungan dengan perhimpunan kita,"
Sahut Pa Liong sambil tertawa.
"Thian Tek Siangdjin juga bukannya orang padang rumput, tapi kenapa hadirnya tidak diprotes olehmu?"
Bengsatsi jadi bungkam. Lewat beberapa saat, dia berkata lagi.
"Dia ada hubungan apa dengan kita? Paling baik minta dia bicara lebih dahulu, dan sesudah beres, minta dia lantas undurkan diri."
Selagi It Hang mau buka mulut, orang-orang yang hadir berdiri di sebelah luar mendadak kelihatan bergerak dan seorang berkata sambil tertawa.
"Tongno Ongya, puterimu tak mau main-main di luar dan ingin masuk di sini!"
Perhimpunan di padang rumput tak mempunyai peraturan sidang yang keras, sehingga masuknya puteri kepala suku sama sekali tidak mengherankan orang.
To It Hang diam-diam tertawa dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, satu gadis kecil, yang berusia kurang lebih 12 tahun, masuk berlari-lari.
Anak itu mengenakan baju pahlawan perang yang berwarna hijau, rambutnya dikepang jadi dua kuncir dan pada tiap kuncir dipasang pita sutera merah.
"Ayah,"
Kata anak itu.
"Tidak enak bermain di luar, anginnya terlalu keras. Hei! Apa sebentar ada adu silat?"
Menurut kebiasaan di padang rumput, jika di dalam pemilihan ketua perserikatan terjadi pertengkaran, maka calon-calon sering mengadu tunggang kuda, memanah dan lain-lain buat menetapkan siapa yang berhak jadi ketua.
Mungkin anak itu dengar omongan serdadu-serdadu penjaga lapangan, bahwa di dalam terjadi pertengkaran sengit, maka itu dia masuk dan menanyakan begitu.
"Jangan ribut,"
Kata sang ayah sambil tertawa.
"Kalau mau di sini, tak boleh ribut. Kalau ribut, aku suruh kau keluar."
"Hoei Ang Kin kecil."
Kata satu kepala suku sambil tersenyum.
"Kalau ada adu silat, kita angkat kau jadi juri. Bolehkah?" (Hoei Ang Kin = Selampe merah yang terbang). Anak itu mengawasi ayahnya. Dia tak berani buka suara, cuma kepalanya manggut-manggut beberapa kali. Oleh karena pembicaraannya kena ditahan oleh datangnya anak itu. To It Hang merasa sedikit jengkel. Tapi sesudah lihat lincahnya dan simpatiknya gadis cilik yang cantik itu. dia pun jadi turut mesem.
"Kenapa namanya puteri Tongno begitu luar biasa? Kenapa dinamakan Hoei Ang Kin?"
It Hang berbisik di kupingnya Pa Liong.
"Itu bukan namanya yang sejati,"
Pa Liong menerangkan.
"Nama betulnya adalah Hamaya. Karena pada kuncirnya selalu dipasang selampe (pita) merah dan karena dia suka sekali menunggang kuda... biar masih kecil, tapi kudanya selalu lari seperti terbang... maka orang menjuluki dia dengan panggilan Hoei Ang Kin."
Datangnya Hoei Ang Kin telah meredakan suasana yang panas. Sesudah suara tertawa berhenti, Bengsatsi kembali perlihatkan muka seram dan berkata.
"Pa Liong, siapa nama orang Han itu? Apa dia mau bicara?"
To It Hang maju ke tengah-tengah dan memberi hormat ke empat penjuru.
"Namaku To It Hang."
Kata dia.
"Aku adalah tjiangboen dari Boetong pay di Tionggoan."
Baru saja It Hang berkata, Thian Tek Siangdjin sudah berteriak.
"Pa Liong bersekutu dengan orang kalangan Rimba Persilatan bangsa Han. Apakah kau mau rebut kekuasaan?"
Pa Liong tertawa dingin.
Kepala suku Hapsatkek sebegitu jauh kenal Pa Liong sebagai orang yang sangat setia, akan tetapi, karena dalam beberapa hari dia menghilang, hatinya jadi bercuriga, maka sesudah dengar omongannya Thian Tek, dia lantas berkata.
"Aku dengar Boetong pay adalah partai utama dari Rimba Persilatan di Tionggoan. Jika kau benar tjiangboen Boetong pay, kenapa kau datang di sini?"
"Orang Kangouw berkelana ke sana-sini adalah soal biasa saja,"
Jawab It Hang dengan sabar.
"Jika Ongya mau tanya kenapa aku ada di sini, lebih baik kau tanya kaki tangannya Goei Tiong Hian, kenapa dia juga berada di sini. Aku datang di sini buat urusan pribadi, tapi kaki tangan Goei Tiong Hian dan utusan Boantjioe datang di sini buat rebut kekuasaanmu, dan malahan buat ambil jiwamu!"
Mukanya Thian Tek pucat.
"Dusta!"
Dia membentak.
"Di sini di mana ada kaki tangan Goei Tiong Hian? Pertengkaran di antara orang Han tak ada sangkut pautnya dengan kita."
Ketika Goei Tiong Hian memegang kekuasaan, dia pernah peras kepala-kepala suku daerah perbatasan supaya mengirim lebih banyak upeti.
Maka itu, orang-orang di Sinkiang juga tahu, bahwa dia itu adalah satu menteri dorna.
Sesudah diperas satu dua kali.
mereka ngambek dan tidak mau bayar upeti lagi, tapi kejengkelan mereka terhadap Goei Tiong Hian sampai sekarang belum terlupakan.
To It Hang tertawa dingin.
"Apa kau mau lihat orangnya?"
Dia tanya. Pa Liong bersiul nyaring dan panjang. Orang-orang yang sudah siap di luar lantas saja gusur masuk Tjio Ho dan Hap Tjoan.
"Dia pernah menginap beberapa malam di tendamu."
Kata It Hang, sambil menunjuk Tjio Ho.
"Masakah kau sudah lupa?"
Sebagai ikan dalam jaring, mulutnya Tjio Ho tidak hentinya memohon ampun. Buat mengentengkan dosanya, dia sebaliknya jadi menekan kawan-kawannya. Kata dia.
"Siangdjin, jika tidak mendapat perlindunganmu dan Bengsatsi Ongya, cara bagaimana sebagai orang I Ian yang sebatang kara aku berani bikin ribut-ribut di sini?"
Bengsatsi terkejut, tapi dia coba loloskan diri.
"Hai, orangorang Han benar-benar licik!"
Dia membentak.
"Tak salah lagi kau sudah suap orang ini. supaya dia mengaku sebagai kaki tangannya Goei Tiong Hian guna menjelekkan namaku!"
It Hang tertawa terbahak-bahak.
"Di tiap tempat di kolong langit terdapat orang-orang licik, dan orang licik bukan cuma terdapat di antara bangsa Han saja."
Katanya.
"Hapsatkek Ongya! Jika orang tidak percaya mulutnya orang Han ini, di sini masih ada orangmu yang setia."
"Ongya! Aku mohon maaf!"
Hap Tjoan menyambut dengan suara nyaring.
"Bermula Thian Tek Siangdjin mengajak aku bersama-sama berusaha supaya kau dapat menjadi ketua perserikatan. Itu sebabnya aku jadi menyetujui dan bekerja sama dengan Bengsatsi Ongya dan utusan Boantjioe, untuk mempersatukan Thiansan Selatan dan Utara di hari nanti. Belakangan barulah aku ketahui, bahwa mereka mempunyai maksud lain Mereka ingin gunakan diriku sebagai alat buat gantikan Pa Liong Tjiangkoen. Sesudah merampas kekuasaan tentara dari tanganmu, mereka mau jadikan kau sebagai boneka, dan jika kau menolak, kau akan dibinasakan. Nanti, sesudah bangsa Boan merebut Tionggoan (Tiongkok), Bengsatsi Ongya akan telan berbagai suku dan berdirikan satu negara baru, yang akan berada di bawah pengaruh Boantjioe!"
Baru saja Hap Tjoan tutup mulutnya, suara gemuruh terdengar di seluruh lapangan.
"Kau punya bukti!"
Bengsatsi membentak dengan penuh kegusaran.
"Kau menyembur orang dengan darah! Hapsatkek Ongya! Orangmu telah menjelekkan namaku, aku akan bikin perhitungan denganmu!"
Kepala suku Hapsatkek jadi bingung.
"Hap Tjoan!"
Dia turut membentak.
"Kalau tidak ada bukti jangan kau bicara sembarangan!"
"Bukti? Tentu saja aku mempunyai bukti!"
Jawab Hap Tjoan dengan tenang.
Saat itu, tangannya Thian Tek Siangdjin sudah diayunkan dan satu garpu tusukan daging kerbau menyambar ke arah tenggorokan Hap Tjoan.
It Hang yang selalu waspada loncat menyambar garpu itu.
"Thian Tek Siangdjin gunakan senjata guna menutup mulut saksi! Ini juga satu bukti tegas!"
Berseru It Hang "Bekuk padanya!"
Tongno membentak.
Keadaan menjadi kalut.
Dalam kekalutan mendadak terdengar suara jeritan.
Thian Tek Siangdjin kelihatan loncat naik ke atas satu panggung, yang didirikan buat sembahyang sesudah pemilihan ketua perserikatan, dengan tangan mengempit Hoei Ang Kin!
"Tongno!
Pa Liong!"
Thian Tek berseru sambil menyeringai.
"Kau beli Hap Tjoan dan kedua orang Han ini buat mencelakakan diriku. Hm! Aku bukan orang yang gampang dipermainkan. Jiwa anakmu sekarang berada dalam tanganku. Sekali pencet saja, dia mampus!"
Sambil berseru begitu, jerijinya Thian Tek menekan batang lehernya Hoei Ang Kin.
"Pendeta jahat yang tak kenal malu! Hayo, lepaskan!"
Tongno berteriak dengan kalap. Semua orang jadi gusar, tapi mengingat keselamatan Hoei Ang Kin, tidak ada yang berani bergerak.
"Thian Tek,"
Kata kepala suku Keksan.
"Mau bicara kau harus bicara baik-baik. Dengan hinakan satu bocah, namaku menjadi rusak."
"Benar, ada omongan harus bicara baik-baik,"
Thian Tek tertawa.
"Aku sekarang tidak sudi berdiam lagi di tempat ini. Tongno, kau antar aku pulang ke Tibet, sesudah tiba di Tibet, aku kembalikan puterimu."
Thian Tek mengambil putusan begitu, karena dia tahu sudah tidak ada tempat lagi bagi dirinya di padang rumput Sinkiang. Tongno gusar tidak kepalang. Mendadak dia lihat puterinya kedukan matanya.
"Hamaya,"
Dia berseru.
"Kau jangan takut, aku akan luluskan tuntutannya!"
"Siapa kata aku takut?"
Hoei Ang Kin berseru dari kempitannya Thian Tek.
Mendengar Tongno sudah meluluskan, Thian Tek jadi girang dan kendorkan tekanan jerijinya.
Dalam hatinya Thian Tek juga kuatir Hoei Ang Kin binasa, jika ditekan terlalu keras, dan kalau sampai kejadian begitu, dia tentu tidak akan dapat loloskan diri.
Siapa tahu.
begitu lekas jerijinya kendor, tangannya Hamaya menghantam pundaknya dengan sekuat tenaga, di bagian yang sangat berbahaya.
Thian Tek keluarkan teriakan kesakitan, dibarengi dengan berontaknya Hamaya, yang pada lain saat, sudah berdiri tegak di atas panggung.
Pukulan itu adalah pukulan yang sangat hebat.
Masih untung tenaga Hoei Ang Kin sangat kecil.
Jika tidak, Thian Tek tentu roboh seketika itu juga.
Meskipun begitu, dia rasakan sakitnya sampai ke tulang-tulang dan berteriak-teriak.
Seperti kalap, Thian Tek menubruk.
Hoei Ang Kin berkelit sambil ayunkan tangannya dan dua batang jarum menyambar ke arah musuhnya.
Melihat menyambarnya senjata rahasia.
Thian Tek buru-buru kibaskan tangan bajunya guna menyampok kedua jarum itu.
Kejadian di atas terjadi luar biasa cepat, sehingga orangorang yang berdiri di bawah panggung tidak mengetahui, cara bagaimana Hamaya dapat meloloskan diri.
Cuma satu orang yang terkesiap melihat gerakannya Hoei Ang Kin dan orang itu tidak lain daripada To It Hang, karena pukulan itu adalah pukulan tunggal dari Giok Lo Sat!
Dahulu, ketika Giok Lo Sat hantam Kwee Yoe Tjiang guna merampas sela kuda emas, dia gunakan pukulan tersebut!
Dan jarum itu juga adalah senjata rahasia tunggal dari Lian Nie Siang, yaitu Kioeheng Tengheng Tjiam.
It Hang sama sekali tidak menduga bahwa di daerah padang rumput ini, dia ketemukan anak yang mewarisi kepandaiannya Giok Lo Sat!
Saat itu, Tongno, Pa Liong dan yang lain-lain memburu ke atas panggung.
Sambil berseru keras, It Hang enjot badannya dan seperti burung, dia hinggap di atas panggung, sesudah loncati kepala banyak orang.
Sesudah menyampok jarumnya Hoei Ang Kin, Thian Tek pentang lima jerijinya buat cengkeram kepalanya anak itu.
Tapi tangan yang sedang turun itu kena ditangkis oleh It Hang, sehingga dia mundur sempoyongan beberapa tindak.
Hoei Ang Kin segera loncat turun sambil tertawa dan lari ke pelukan ayahnya.
Mukanya Thian Tek pucat dan kedua matanya bersinar bagaikan api.
Dia cabut pedangnya, yang dituruti oleh It Hang dan segera mereka bertempur.
Di bawah panggung juga terjadi sedikit kekalutan.
Melihat rencananya hancur.
Bengsatsi berlalu dari tempat perhimpunan sambil ajak semua orang-orangnya.
"Sekarang aku tak sudi jadi ketua lagi!"
Dia berseru.
"Mulai ini waktu aku putuskan hubungan dengan kamu orang!"
Semua orang merasa mendongkol melihat sikapnya itu.
tapi mengingat dia adalah kepala dari suatu suku, maka mereka membiarkan Bengsatsi berlalu.
Di atas panggung, Thian Tek sudah bertempur mati hidup melawan It Hang.
162 jalan ilmu pedang Thianliong, dia jalani semuanya dan serang It Hang dengan seluruh tenaganya.
Melihat musuhnya berkelahi seperti kerbau gila, It Hang melayani dengan sangat hati-hati dengan ilmu silat Boetongnya.
Sementara itu, Hap Tjoan menyerahkan sejumlah suratsurat kepada kepala suku Hapsatkek dan berkata.
"Tjoekong (majikan), inilah bukti-buktinya."
Itu semua adalah siasatnya Pa Liong.
Dia tunggu sampai Thian Tek Siangdjin berangkat menghadiri perhimpunan, barulah menyerbu tendanya Thian Tek bersama To It Hang dan Hap Tjoan.
Beberapa muridnya Thian Tek dengan gampang dapat dibekuk semua.
Dalam penggeledahan, Pa Liong ketemukan bukti surat menyurat antara Thian Tek dan Bengsatsi.
Di samping itu, dia dapatkan juga surat-surat yang membuktikan adanya persekutuan dengan utusan Boantjioe.
Semua surat itu lalu diserahkan kepada Hap Tjoan untuk diperlihatkan kepada kepala sukunya.
"Tak usah lihat!"
Kata kepala Hapsatkek.
"Aku merasa malu sudah menuntun serigala masuk ke dalam kamar."
"Dahulu aku pun kena dikelabui,"
Kata Hap Tjoan.
"Sesudah membaca surat-surat itu barulah diketahui niatnya yang begitu busuk."
Tongno menghampiri sambil menuntun Hoei Ang Kin.
"Sekarang segala apa sudah menjadi terang, bukti-bukti tak usah diperiksa lagi,"
Katanya sambil tertawa.
"Sekarang marilah kita lihat jalannya pertempuran."
"Pergi kau bantu orang Han itu,"
Berkata kepala Hapsatkek kepada Hap Tjoan.
"Dia adalah pemimpin dari satu partai dan tidak suka dibantu orang,"
Jawab Hap Tjoan yang sedikit-banyak mengetahui kebiasaan kalangan Rimba Persilatan di Tionggoan.
Waktu itu Thian Tek sedang serang To It Hang secara hebat.
Sinar pedangnya yang berkelebat-kelebat tak hentinya, seperti juga sedang kurung seluruh badannya It Hang.
"Ilmu silatnya Thian Tek bukan main tingginya. Apakah orang Han itu dapat melawan menang?"
Kata kepala Hapsatkek dengan perasaan kuatir.
"Beberapa hari berselang, aku juga masih beranggapan, bahwa ilmu silatnya Thian Tek tidak ada tandingannya dalam dunia,"
Sahut Hap Tjoan dengan tenang.
"Apa benar ada orang yang lebih tinggi ilmu silatnya dari Thian Tek?"
Tanya kepala Hapsatkek dengan perasaan kurang percaya.
"Orang Han itu jauh lebih tinggi ilmunya,"
Jawab Hap Tjoan, yang lantas tuturkan pengalamannya di gunung Mostako.
cara bagaimana seorang diri It Hang layani Loei Bong, Tjio Ho dan dirinya sendiri.
Baru saja Hap Tjoan habis cerita, jalannya pertempuran di atas panggung sudah berubah.
Ilmu pedangnya It Hang sebenarnya lebih tinggi setingkat dari Thian Tek.
Jika barusan dia cuma membela diri adalah karena dia tidak mau berkelahi mati-matian dan mau tunggu lelahnya musuh.
Sesudah keluarkan 162 jurus ilmu pedang Thianliong tanpa dapat kemenangan, semangatnya Thian Tek mulai runtuh dan silatnya mulai kalut.
It Hang tak mau siasiakan kesempatan itu.
Sambil berseru dia menyerang hebat dengan pedangnya, sehingga Thian Tek jadi repot sekali.
Mendadak badannya Thian Tek kelihatan mencelat maju dan pedangnya menikam bagian muka It Hang yang sedang terbuka.
"Celaka!"
Kepala Hapsatkek berseru sebab dia kira lt Hang tidak akan bisa lolos dari serangan itu. Tiba-tiba kedengaran lt Hang berseru.
"Kena!"
Dan di lain saat, badannya Thian Tek yang besar menggelinding jatuh ke bawah panggung dengan dada berlubang dan terus tewas.
Ternyata, ketika lihat musuhnya menyerang dengan kalap.
It Hang pancing dia dengan sengaja buka mukanya supaya diserang.
Selagi Thian Tek menyerang, It Hang barengi menikam dengan tikaman rahasia Boetong pay.
dan karena Thian Tek tidak keburu menangkis, dadanya sendiri yang berbalik kena tikaman.
"Hari ini barulah kedua mataku terbuka. Itulah baru ilmu pedang yang tidak ada bandingannya dalam dunia."
Kata kepala suku Hapsatkek sambil menghela napas.
Tongno tersenyum.
Kalau dia lihat gurunya Hamaya, tak tahu dia bakal jadi bagaimana kagumnya, kata Tongno dalam hatinya.
Sesudah binasanya Thian Tek dan kaburnya Bengsatsi, pemilihan kepala perserikatan berjalan lancar.
Dengan dukungan suara terbanyak, kepala suku Lopo, Tongno, diangkat sebagai kepala perserikatan berbagai suku di Sinkiang Utara.
Upacara pelantikan diikuti dengan sorak-sorai yang gemuruh, dan sesudah itu.
semua orang bersuka ria sehingga pagi.
Kepala Hapsatkek berulang-ulang menghaturkan terima kasih kepada It Hang dan malahan mengundang juga pemuda itu supaya berdiam terus di tempatnya guna mengajar silat kepada pahlawan-pahlawan Hapsatkek.
It Hang tolak dengan manis undangan itu dan buru-buru pergi cari Tongno.
Waktu lt Hang menghampiri, Tongno dan Hoei Ang Kin sedang menyaksikan pacuan kuda.
"Ongya"
Kata lt Hang.
"Dapatkah aku bicara sedikit?"
"Ah, aku memang mau cari kau,"
Kata Tongno.
"Dalam tiga hari ini, kau sudah menolong jiwa kami, ayah dan anak. Aku tak tahu, cara bagaimana harus membalas budimu!"
Hoei Ang Kin juga senang pada pemuda itu.
"Sioksiok (paman),"
Kata dia sambil tertawa.
"Kau benar mulia. Kalau bukan kau, aku tentu sudah kena dicengkeram oleh pendeta itu. Guruku kata, lelaki jarang yang baik. dan kalau sudah besar, aku harus berhati-hati. Tapi aku lihat kau baik sekali."
It Hang tertawa getir.
Sambil tuntun puterinya, Tongno segera menyingkir dari orang banyak dan bersama-sama lt Hang mereka jalan perlahan-lahan di padang rumput yang luas itu.
Ketika itu, langit terang tak berawan, sedang ribuan bintang adalah laksana intan-intan yang bertaburan di atas layar yang biru.
It Hang mengawasi bintang-bintang di langit dengan mata mendelong dengan mulut kemak-kemik.
Tongno jadi heran.
"Tuan To,"
Dia tanya.
"Apakah yang kau mau katakan?"
"Terlebih dahulu aku minta kau sudi memaafkan,"
Jawab It Hang.
"Bolehkah aku tanya, siapa guru puterimu ini?"
"Guru pesan, aku tak boleh memberitahukan siapa juga,"
Jawab Hamaya sambil mengedipkan matanya.
"Tuan To tidak boleh disamakan dengan orang lain. Bolehlah kau beritahukan,"
Kata ayahnya sambil tertawa.
"Kalau begitu, ayah saja yang kasih tahu. Kalau nanti guru tahu, dia tak marahi diriku,"
Kata Hamaya.
"Ah, benar-benar murid yang baik,"
Tongno tertawa berkakakan.
"Tuan To, dengarlah ceritaku,"
Tongno mulai menutur.
"Pada kira-kira sepuluh tahun berselang, aku pernah datang di Pakkhia buat membayar upeti. Waktu itu kaisarnya masih berusia sangat muda dan beliau, perlakukan aku dengan baik. Waktu mau pulang, dia menghadiahkan banyak barang berharga, tapi justeru karena barang-barang itu, hampirhampir hilang jiwaku."
"Kenapa? Apa tidak ada pengantar?"
Tanya It Hang.
"Ah, justeru pengantar-pengantar itu yang menjadi bangsatnya,"
Kata Tongno.
"Syukur ajalku belum sampai dan pada saat yang sangat berbahaya, satu enghiong wanita mendadak muncul dan menolong jiwaku."
It Hang belum pernah mendengar cerita itu, tapi dia lantas dapat menduga.
"Giok Lo Sat?"
Katanya.
"Giok Lo Sat? Bukan, dia bernama Lian Nie Siang,"
Jawab Tongno.
"Sekarang dia berada di padang rumput dan banyak orang menamakan dia Pek Hoat Mo Lie."
"Meskipun rambut guruku putih semua, tapi parasnya luar biasa cantik,"
Hoei Ang Kin menyeletuk.
"Senang benar, kalau aku bisa secantik dia."
Hatinya It Hang terkejut, tapi sebelum dapat menanya lebih jauh, Jongno sudah berkata lagi.
"Dia adalah penolongku yang nomor satu. Waktu itu, aku berkata begini padanya. Kalau kau pada suatu hari bisa datang di Thiansan. datanglah ke tempatku. Ketika itu, aku bicara sekedar buat mengutarakan perasaan terima kasih. Tapi, siapa sangka, pada beberapa tahun yang lalu, dia benar-benar datang. Dia belum melupakan aku dan pada suatu hari dia datang berkunjung. Waktu bertemu Hamaya, dia merasa suka sekali. Mungkin cuma mau berdiam satu dua hari saja, tapi setelah bertemu dengan Hamaya, dia menetap agak lama."
"Sekarang dia di mana?"
It Hang putuskan omongan orang.
"Jangan kesusu, aku nanti ceritakan,"
Kata Tongno.
"Dia kata, dia mempunyai satu sahabat yang berdiam di puncak selatan dari gunung Thiansan. Sahabat itu mempunyai satu murid yang berbakat sangat baik, maka itu, dia juga ingin mengambil murid, supaya tidak jadi kalah."
It Hang tersenyum.
Dia ingat adatnya Lian Nie Siang yang tidak mau kalah sama orang, dan sampai urusan murid, dia sungkan kalah dari Gak Beng Kie.
Dia ingat itu kata-kata yang membilang bahwa "Gelombang Tiangkang yang sebelah belakang mendorong gelombang yang sebelah depan", seperti juga itu murid-murid kecil yang berbakat, yang di hari kemudian mungkin akan lebih menang dari guru-gurunya.
Mengingat begitu hatinya menjadi terhibur.
Dia ingat, Gak Beng Kie mempunyai Yo In Tjong, Lian Tjietjie mempunyai Hoei Ang Kin, sedang dia sendiri mempunyai Sin Liong Tjoe.
"Begitulah Hamaya lantas dijadikan muridnya."
Tongno lanjutkan penuturannya.
"Aku sungguh girang. Hamaya sekarang sudah belajar dua tahun lebih. Tuan To, apa ilmu silatnya boleh juga?"
"Hebat!"
Sahut It Hang.
"Tapi sekarang di mana dia?"
"Adatnya sangat luar biasa,"
Jawab Tongno.
"Tiap kali datang dia cuma berdiam sepuluh hari atau paling lama setengah bulan buat beri pengunjukan kepada Hamaya. Sesudah itu, dia pergi lagi. Saban tahun dia datang tiga sampai lima kali."
"Sayang sungguh kau datang terlambat beberapa hari,"
Kata Hamaya.
"Kalau tidak, kau dapat bertemu dengannya. Ilmu pedangnya lebih hebat daripada kau. Aku pernah saksikan, dengan sekali loncat ke atas pohon, dia dapat tikam seekor burung kecil dengan pedangnya!"
"Ah, sungguh menyesal. Tapi, tahukah kau ke mana dia mau pergi?"
"Aku tidak tahu,"
Kata Tongno.
"Kalau pergi, dia belum pernah memberitahukan tujuannya. Tapi kali ini, dia ada pesan omongan."
"Omongan apa?"
Tanya It Hang dengan cepat.
"Sebelum berangkat, dia kasih tahu, bahwa sekarang ada satu sahabat yang sedang cari padanya. Tapi, dia belum mau ketemui sahabat itu. Dia pesan aku, kalau ada orang tanyatanya tentang dirinya, bilang saja, jangan terburu napsu, nanti juga bisa bertemu."
"Benar?"
It Hang menegaskan dengan kegirangan.
"Ayahku belum pernah dusta."
Selak Hoei Ang Kin sambil mancungkan mulutnya.
"Tuan To,"
Kata Tongno.
"Kalau begini, kau adalah sahabat yang sedang mencari padanya."
"Betul,"
Jawab It Hang.
Sehabis berkata begitu, dia dongak memandang ke langit yang bersih.
Ketika itu, seperti juga sang langit, hatinya It Hang bebas dari gumpalan awan.
Dalam beberapa tahun, baru sekarang dia merasa gembira.
"Sioksiok, kau juga suka memandang bintang?"
Tanya Hoei Ang Kin.
"Ya,"
Jawabnya.
"Aku suka memandang sinar bintang. Bintang-bintang itu sebenarnya sangat jauh, tapi kelihatannya dekat sekali."
Sehabis berkata begitu, It Hang tertawa tanpa merasa. Mana anak kecil mengerti omongannya, pikir dia.
"Guruku juga suka memandang bintang,"
Kata Hoei Ang Kin sambil menunjuk tepi langit.
"Guruku kata, dia adalah sebutir Pakkek tjhee (bintang di tempat yang paling ' utara) di tepi langit. Bintang itu baru bersinar kalau tidak terdapat awan di langit."
It Hang mendadak sadar.
Waktu dia dongak lagi.
malam sudah hampir berganti siang dan sinar bintang pun sudah mulai guram.
Lewat beberapa hari.
It Hang ambil selamat berpisah dari Tongno dan puterinya.
Dia pergi dengan hati girang.
Dia tahu.
suatu waktu Giok Lo Sat dapat berada di dampingnya dan mengawasi dirinya seperti sang bintang.
Siapa tahu, kalau malam ini atau besok dia dapat bertemu dengan jiwa hatinya itu!
Demikianlah, dengan penuh harapan dia berkelana di padang rumput.
Sepuluh hari lewat, setengah bulan, sebulan, dua bulan, tapi Giok Lo Sat belum juga muncul.
Perlahanlahan harapannya menipis dan semangatnya yang terbangun merosot kembali.
Mendadak dia ingat Sin Liong Tjoe, dia ingat itu kedua kuntum kembang dewa di puncak Onta.
Mengingat begitu, dia lantas tujukan kakinya ke arah gunung Boksip Tatkek buat menunggu bunga, sekalian menantikan kedatangannya Lian Tjietjie.
Belum jalan berapa jam, It Hang ketemukan tanda-tanda orang Kangouw.
Di atas batu kadang-kadang dia lihat guratanguratan luar biasa, dan kadang-kadang dia tampak gambar kepala anak panah di atas tanah.
Tapi sebagai orang yang berkepandaian tinggi, nyalinya It Hang besar dan tidak gubris segala tanda itu.
Suatu hari.
ketika dia tiba di padang pasir, udara mendadak berubah dan topan menyambar-nyambar, sehingga gundukangundukan pasir berpindah-pindah akibat tiupan sang angin.
It Hang tahu, topan di padang pasir sangat berbahaya, dan jika tidak waspada, manusia bisa dikubur hidup-hidup di bawah bukit pasir.
Dalam beberapa tahun ini It Hang sudah banyak juga pengalamannya.
Dia tidak jadi bingung dan buru-buru cari tempat yang selamat buat sembunyikan diri.
Tidak lama kemudian, topan menjadi reda.
Topan itu cepat datangnya dan cepat juga perginya.
It Hang segera keluar dari tempat sembunyinya guna meneruskan perjalanan, supaya dapat menyeberangi padang pasir terlebih cepat.
Mendadak, kupingnya dengar suara orang sedang bertempur.
Karena ingin tahu, dia tujukan tindakannya ke arah itu.
Di kejauhan, ia lihat seorang wanita muda lari di depan, sedang di belakangnya memburu dua orang lelaki.
Wanita itu sangat cepat larinya, tapi kena dicandak juga.
Begitu kecandak, wanita tersebut melawan dan mereka lantas bertempur.
Karena pernah satu kali membuat kesalahan, kini It Hang ambil putusan untuk berhati-hati sebelum turun tangan.
Dia menghampiri sambil mengawasi orang-orang yang bertempur.
Mendadak dia kaget dan heran, sebab kedua lelaki itu adalah Sin Tay Goan dan Sin It Goan.
"Apakah Thio Hian Tiong sudah kena diubrak-abrik oleh tentara negen?"
Dia tanya dalam hatinya. Kalau bukan begitu, kedua anak emas itu tentu tidak bisa datang di padang pasir. Tapi siapa adanya wanita itu? It Hang raba pedangnya. Tiba-tiba dia dengar seruan.
"To Toako!"
It Hang terkesiap.
"Aku Lok Hoa! Toako, bantui aku!"
Berseru lagi wanita itu.
It Hang kaget dan girang dengan berbareng.
Wanita itu ternyata adalah puteri kedua dari Pek Sek Toodjin.
Dia ingat, waktu masih berada di Siongsan, Lok Hoa baru berusia 7-8 tahun, dan sekarang sudah begitu besar!
Apa Pek Sek Soesiok turut datang?
It Hang tanya dalam hatinya.
Tapi dia tidak sempat memikir banyak.
Ilmu silatnya dua saudara Sin bukan sembarangan dan Lok Hoa berada dalam bahaya.
Sambil membentak, dia cabut pedangnya dan menerjang.
"Manusia masih hidup masih dapat bertemu,"
Kata Sin Tay Goan sambil tertawa menyeramkan.
"Sungguh tak disangka aku bisa ketemu kau di sini!"
"Kenapa kalian hinakan soemoay-ku?"
Bentak To It Hang. It Goan tertawa terbahak-bahak.
"Soesiok-mu sendiri kami mau hinakan! Habis mau apa kau?"
Katanya.
It Hang gusar bukan main dan lantas menikam.
Baru saja bergebrak, kedua saudara Sin jadi terkejut.
Mereka tidak menduga, dalam beberapa tahun, ilmu silatnya It Hang sudah maju begitu jauh.
Jika dua kerubuti satu, meskipun belum tentu bisa menang, dua saudara Sin bisa juga berada di atas angin.
Akan tetapi, di samping It Hang, masih ada Ho Lok Hoa.
Biar ilmu silatnya Lok Hoa kalah jauh dengan It Hang, akan tetapi biar bagaimana juga, dia telah mendapat pelajaran Boetong yang tulen dan di samping itu, dia sangat pintar.
Tiap kali It Hang mendesak, begitu ada kesempatan baik, dia kirim tikaman atau sabetan berbahaya, sehingga kedua saudara jadi repot dan harus waspada sekali.
Sesudah lewat beberapa puluh jurus, Sin It Goan kena satu tikaman dan terpaksa berkelahi mundur.
Sin Tay Goan jadi hilang napsu berkelahinya, maka, sambil lindungi adiknya, dia loncat kabur.
To It Hang juga tidak mengejar.
"Kenapa kau jadi bertempur dengan mereka?"
It Hang tanya Lok Hoa.
"Apa Pek Sek Soesiok turut datang?"
Lok Hoa bersihkan pasir di mukanya dan sambil tertawa dia menyahut.
"Jika ayah tidak turut, bagaimana aku bisa datang di sini dengan sendirian?"
Hatinya It Hang berdebar-debar.
"Dji Soepeh selalu memikirkan kau dan dia masih sangat menginginkan kau menjadi tjiangboen,"
Kata Lok Hoa lebih lanjut.
"Maka itu dia minta ayah datang kemari buat coba cari padamu. Tjietjie sudah menikah. Beberapa tahun yang lalu, tjiehoe (suami kakak perempuan) masih berdiam di Boetong, tapi sekarang sudah balik ke Ngotay, bersama-sama tjietjie. Karena itu, cuma aku sendiri yang berada di damping ayah dan kita sangat kesepian. Aku juga sudah tidak betah tinggal di Boetong. Maka itu, aku mendesak supaya ayah ajak aku datang kemari, dan belakangan ayah meluluskan juga. Lok Hoa adalah satu gadis yang lincah, disertai dengan sifat anak-anak yang nakal, sehingga dia jadi simpatik sekali, berbeda dengan saudara perempuannya yang pendiam. It Hang tidak berkata-kata. Otaknya berputar, cara bagaimana dia harus menghadapi paman gurunya itu, cara bagaimana dia harus menolak buat balik ke Boetong.
"Setibanya di sini."
Lok Hoa melanjutkan penuturannya.
"Air dalam kantong tinggal sedikit. Di sana ada satu bukit dan di situ samar-samar kita lihat satu gua. Ayah bilang, dalam gua itu mungkin ada air dan dia lantas pergi ke situ. Karena aku merasa lelah, ayah suruh aku tunggu saja di sini. Tidak diduga, sesudah ayah pergi, lantas turun angin besar. Aku mengumpet dalam solokan, dan sesudah sang angin reda, muncullah kedua orang itu. Setahu bagaimana mereka kenal nama ayah dan lantas mengubar aku. Ah, jika kau tidak datang, aku tentu celaka."
It Hang memandang ke arah yang ditunjuk Lok Hoa.
Benar saja di kejauhan dia lihat satu bukit kecil.
Padang pasir itu tidak seberapa besar dan terletak di antara dua padang rumput yang luas.
Sesudah mengawasi beberapa lama, It Hang berkata.
"Soesiok adalah seorang yang biasanya bijaksana. Letaknya bukit itu tidak terlalu jauh dari sini, kenapa Soesiok tidak dengar teriakanmu?"
"Ya, aku pun heran,"
Kata nona Ho.
Buru-buru mereka menghampiri bukit itu.
Di situ tidak terdapat bayangannya Pek Sek Toodjin.
Gua itu tidak besar dan di dalamnya terdapat banyak pasir.
It Hang merasa sangat heran.
Mendadak terdengar teriakan Lok Hoa.
Waktu It Hang menghampiri, tangan gadis itu menunjuk kepada rumput di luar gua, dan di atas batu-batu sekitar itu, terlihat tandatanda darah.
Paras mukanya Lok Hoa jadi pucat.
"Apakah ayah dicelakakan orang?"
Dia berkata dengan suara di tenggorokan. It Hang pun terkejut. Dia memeriksa dengan teliti. Selain beberapa tetes darah, tidak ada lain tanda yang mencurigakan.
"Adik Hoa, jangan kuatir,"
Dia menghibur.
"Jika Soesiok dibunuh orang, tanda darah tentu bukannya cuma sebegitu."
"Habis ke mana perginya ayah?"
"Topan di padang pasir sandal besar kekuatannya,"
Kata It liang "Kalau turun topan, kadang-kadang bukit pasir berpindah-pindah sehingga orang bisa kesasar.
Mungkin sekali Soesiok juga kesasar.
Beberapa tetes darah itu mungkin adalah darahnya Soesiok yang luka akibat hantaman batu pasir yang berterbangan."
Hatinya Lok Hoa jadi tetap, sebab dia anggap keterangannya It Hang cukup beralasan.
"Waktu dua bangsat itu ketemu aku, dia sebut nama ayah, seperti juga terdapat permusuhan antara mereka dan ayah. Jika mereka mempunyai kawan, aku kuatir kawannya nanti bentrok dengan ayah,"
Kata Lok Hoa.
"Aku kenal kedua bangsat itu."
Kata It Hang.
"Sebetulnya mereka tidak mempunyai dendam pada Soesiok. Selainnya begitu, ilmu silatnya Soesiok sangat tinggi, maka kita tak usah kuatirkan beberapa bangsat kecil. Apa yang aku kuatirkan adalah Soesiok kesasar."
Demikianlah mereka lalu cari Pek Sek di padang pasir itu, tapi sesudah jalan setengah harian, Pek Sek belum juga dapat diketemukan.
Ketika itu, matahari sudah mulai silam ke barat, angin dingin sudah mulai turun.
"Soesiok tentu tidak bisa hilang,"
Kata It Hang.
"Mungkin sekali karena tidak dapat mencari kau, dia sudah pergi ke padang rumput itu. Sekarang sudah mulai gelap. Hawa malam di padang pasir sangat dingin dan kita juga tidak mempunyai tenda. Maka itu lebih baik kita pergi ke padang rumput untuk beristirahat di situ."
Tidak lama mereka berjalan, mereka sudah tiba di padang rumput.
Ketika itu ribuan bintang sudah muncul di atas langit yang biru.
Jauh, di tepi padang rumput, orang dapat lihat puncak-puncak tinggi dari gunung Thiansan, sedang Puncak Es yang tertutup salju bersinar seperti marmer yang mengkilap.
Angin menderu dengan perlahan dan kambingkambing berlari-larian.
Demikian pemandangan malam di daerah perbatasan itu.
It Hang dongak mengawasi langit.
Mendadak dia menghela napas.
"Sepuluh tahun tidak bertemu, kau sekarang sudah begini besar. Waktu berlalu seperti melesatnya anak panah. Bagaimana orang tidak menjadi terharu."
Lok Hoa angkat mukanya.
"To Toako,"
Katanya sambil tertawa.
"Kau benar awet muda, masih sama seperti dahulu, cuma hitaman sedikit. Aku masih ingat, ketika kau pertama naik di Siongsan, kau tampak kemalu-maluan seperti lagaknya satu gadis, waktu ayah perkenalkan kau dengan tjietjie. Di belakangmu, aku dan tjietjie tertawakan kau. Hai! waktu itu kau masih gendonggendong aku. Apa kau masih ingat?"
"Mana bisa lupa?"
It Hang tertawa getir. Dia ingat, kalau waktu itu bukan gara-garanya Pek Sek Toodjin, dia dan Giok Lo Sat tentu tidak bakal menemui begitu banyak gelombang.
"To Toako, apa kau mau pulang?"
Tanya Lok Hoa.
"Padang rumput di daerah perbatasan ini adalah rumahku. Buat apa aku pulang?"
Jawab It Hang. Sesudah berdiam beberapa saat, dia bertanya.
"Bagaimana keadaan di Boetong san sekarang? Apa Djiesoepeh sehat?"
"Sedari kau pergi, Djiesoepeh selalu berdiam di dalam kamar dan tidak mau keluar,"
Menerangkan Lok Hoa.
"Dia sekarang banyak lebih loyo. Pada musim rontok tahun yang lalu. dia menderita sakit berat dan mulutnya selalu menyebutnyebut kau dan minta ayah cari padamu. Sekarang di atas gunung banyak lebih sepi. Tak seperti dahulu."
Mendengar begitu It Hang kembali menghela napas panjang.
Saat itu, depan matanya terbayang parasnya Oey Yap Toodjin, yang, dengan kedua mata yang bersorot angker dan memohon, mengawasi dia.
Mendadak dia merasa, bahwa meskipun paman-paman gurunya menyebalkan, mereka juga harus dikasihani.
"To Toako, benar-benar kau tidak mau pulang?"
Tanya pula Lok Hoa.
"Ya. Tidak pulang."
"Kau sudah dapat cari dia?"
Tanya Lok Hoa.
"Siapa?"
It Hang menegaskan dengan hati berdebar.
"Urusan Toako dengan Giok Lo Sat, tidak ada manusia di kolong langit yang tidak mengetahui,"
Katanya sambil tertawa.
"Sayang aku belum pernah berjumpa dengannya. Pamanpaman guru bilang, dia adalah musuh umum partai kita, sedang ayah sangat benci padanya. Tapi tjietjie belum pernah bicara jelek tentang dirinya."
"Dan kau?"
Tanya It Hang.
"Aku belum pernah ketemu, bagaimana bisa tahu?"
Jawab Lok Hoa.
"Paman-paman guru semua menamakan dia iblis perempuan. Tapi aku merasa, bahwa sebagai satu wanita dia bisa menjagoi Rimba Persilatan, biar bagaimana juga dia adalah wanita jantan."
It Hang tidak kata apa-apa. Dia cuma tertawa.
"Toako, benar-benar kau mau mati sama-sama dia di daerah perbatasan ini?"
Nona Ho mendesak.
"Aku belum berjumpa dengan dia,"
Kata It Hang.
"Dia adalah seperti topan di padang pasir, datangnya mendadak sambil menggulung pasir kuning, perginya juga dengan tibatiba."
Sang angin yang agak besar kembali turun. Hawa menjadi semakin dingin. Di kejauhan mereka lihat sinar api.
"Itulah api unggun rakyat gembala guna menghangatkan badan,"
Kata It Hang sambil menunjuk api itu.
"Penduduk di sini sangat ramah tamah terhadap tetamu. Aku pikir baik kita pergi ke sana buat lewati malam yang dingin ini."
Sehabis berkata begitu, It Hang lalu mengajak Lok Hoa berjalan ke arah api itu.
Di seputar api unggun itu terdapat sejumlah orang Hapsatkek dengan belasan onta yang menggendong barangbarang.
Rupanya mereka orang dagang bukan rakyat gembala.
Melihat datangnya It Hang dan Lok Hoa mereka mengawasi dengan mata heran.
Antara mereka ada yang mengerti bahasa Han.
Sesudah It Hang ceritakan bahwa mereka kesasar akibat turunnya angin, dua orang lantas bangun dan mengundang It Hang dan Lok Hoa duduk.
Saudagar di padang pasir tidak mempunyai tempat tinggal yang tentu dan berdagang sambil mundar-mandir.
Sang onta adalah rumahnya.
Mereka pergi berdagang dengan seluruh keluarga, dan oleh karena padang pasir banyak bahayanya, beberapa keluarga bergabung jadi satu dan berjalan bersamasama.
Cara hidup mereka tidak banyak bedanya seperti rakyat gembala.
Orang-orang suku Hapsatkek paling suka menyanyi dan menari.
Pemuda-pemudi lalu mengitari api unggun sambil menyanyi, dan di antara mereka, seorang gadis mempunyai suara yang sangat bagus.
Sesudah nyanyi beramai, gadis itu nyanyi sendirian.
Satu pemuda mengambil ohkim sebagai tetabuhannya.
Karena sudah berdiam beberapa tahun, It Hang mengerti juga bahasa Hapsatkek.
Nyanyian gadis itu berbunyi seperti berikut.
Pasir kuning-kuning, ditiup topan.
Elang melayang-layang, ingin turun ke bawah.
Kanda, kau adalah sang elang itu.
Kau tak takut angin, tak takut pasir.
Tapi jangan turun, jangan turun ke bawah!
Pasir kuning-kuning, ditiup topan.
Elang melayang-layang ingin turun ke bawah, 'Ku bukan tak takut angin dan pasir, Untuk berjumpa denganmu, 'dinda, 'Ku tunggang angin buat ajak kau pulang ke rumah.
Di tengah malam yang sunyi dan di antara alam padang rumput yang indah, nyanyian itu sunguh merdu.
It Hang jadi seperti orang kesengsem.
"Sayang aku bukannya sang elang, dialah (Giok Lo Sat) yang menjadi elang. Tapi dia tak sudi tunggang angin buat mencari padaku,"
Demikian It Hang berkata dalam hatinya. Sesudah mereka menari dan menyanyi lagi, satu pemuda menghampiri dan berkata.
"Kami mohon kedua tetamu yang terhormat juga sudi menyumbang satu nyanyiafr"""Satu orang lantas angsurkan ohkim kepada Ho Lok Hoa dan minta It Hang nyanyi terlebih dahulu. Ketika itu It Hang sedang diliputi kesedihan, cara bagaimana dia mempunyai kegembiraan buat menyanyi. Akan tetapi, undangan itu adalah adat istiadat suku Hapsatkek yang tak mungkin ditolak. Jika It Hang menolak, artinya dia tidak senang dan melanggar adat. Karenanya dia lantas menyanyi. Mata memandang kepada penghidupan yang ngambang laksana awan. Kliping mendengar suara kim yang mengharukan, Tjouwkeh (orang dari Tjouw) yang patah hati merajuk dengan penasaran, Pendaki gunung, layari air buat cari sedikit hiburan Rumput layu selebar bumi, Anggrek menyiarkan bebauan wangi. Daun kuning jatuh sendiri. Awan mendung, bersusah hati. Jika langit mengenal cinta, langit pun menjadi tua, Kemenyesalan bergumpal di dada, tak habis-habisnya. Keberuntungan yang lampau, hanya impian belaka. Begitu sadar, tak tahu lagi ke mana carinya. Ketika nyanyi sampai pada bagian.
"Jika langit mengenal cinta, langit pun menjadi tua", It Hang hampir-hampir mengeluarkan air mata. sedang suaranya pun kedengaran sedih sekali. Dia ingat dahulu di Benggoat kiap. Giok Lo Sat pernah berkata begini.
"Di kolong langit mana ada orang yang selamanya muda? Jika langit sama seperti manusia, yang mempunyai banyak pikiran dan banyak kekesalan, sang langit juga bisa menjadi tua! Kita bertemu satu kali lantas cekcok satu kali. Lain kali, jika kau bertemu dengan aku, mungkin sekali rambutku sudah putih semua!"
Tidak disangka, kata-kata Giok Lo Sat itu sekarang sudah menjadi satu kenyataan. Adalah karena dia ingat kecintaannya, maka barusan It Hang nyanyikan syair "Ho Boan Tjoe"
Itu, buah kalam Soen Tjoe dari ahala Song.
Sesudah It Hang berhenti menyanyi, semua orang tidak merasa gembira.
Meskipun suku Hapsatkek tidak mengerti bahasa Han, akan tetapi mereka dapat mendengar lagu dan suara yang menyedihkan itu.
"Orang sedang bergembira, kenapa dia menyanyikan lagu begitu!"
Lok Hoa berkata dalam hatinya. Maka itu, sebelum diminta, dia sudah kata.
"Biarlah aku nyanyikan satu lagu."
Dan lalu menyerahkan ohkim kepada It Hang.
Tu malam angin meniup perlahan.
Cagak menclok di dahan lioe.
Rembulan di tepi langit.
Sunyi senyap.
Kere tergantung di gaetan emas.
Lampu padam dalam tempayan perak, Tidur nyenyak atas ranjang banji.
Anggrek semerbak dalam kelambu sulam.
Mendadak suara kaki dekat jendela.
Tapi tak kelihatan si dia yang tercinta, Ah, mungkin anak-anak unjuk kenakalan.
Buka pintu mau keluarkan makian.
Tapi tak kelihatan satu manusia.
Cuma bayangan bambu, rontokan bunga.
Menghela napas, sesali lamunan.
Itulah satu nyanyian rakyat di daerah Kanglam yang riang gembira, sehingga suasana kembali jadi gembira.
"Nona nyanyi bagus sekali,"
Kata satu pemuda Hapsatkek seraya mengangsurkan satu ohkim yang mahal sebagai hadiah.
It Hang beritahukan.
bahwa hadiah itu adalah satu kehormatan, sehingga tak dapat ditolak, dan Lok Hoa pun lantas menerimanya sambil tertawa.
Pemuda-pemudi Hapsatkek merasa tertarik sekali pada Lok Hoa yang simpatik dan mereka mengerumuni nona Ho untuk diajak bercakap-cakap.
"Kalian datang dari mana?"
Tanya Lok Hoa.
"Kami datang dari Ih dengan melintasi padang pasir Tjemalahan,"
Jawab satu pemuda. Lok Hoa tergerak hatinya dan terus menanya.
"Apa di tengah jalan kalian pernah bertemu dengan seorang pendeta?"
Lok Hoa lalu lukiskan roman ayahnya.
"Oh, betul ketemu!"
Jawabnya "Apa dia kawanmu? Pendeta itu luar biasa. Mukanya mengunjukkan kegusaran. Dia menunggang kuda di tengah sejumlah Ihama."
"Apa? Lhama!"
Lok Hoa heran dan terkejut.
"Ayah belum pernah mempunyai hubungan dengan Ihama."
"Betul. Kita juga heran,"
Jawab pemuda itu.
"Apa pendeta itu diikat di atas kuda?"
Lok Hoa semakin berkuatir. Pemuda itu geleng-geleng kepalanya.
"Kami tidak lihat terang. Pendeta itu, yang berada di tengah-tengah sejumlah Ihama kelihatannya gusar dan jengkel sambil tundukkan kepalanya. Mereka larikan kuda keras sekali, dan beberapa orang antara kami yang tak keburu menyingkir, sudah kena dipecut beberapa kali."
"Ke jurusan manakah mereka jalan?"
Tanya It Hang.
"Ke jurusan yang kita lewati,"
Jawabnya.
"Kalau begitu,"
Kata It Hang.
"mereka juga mau lintasi padang pasir Tjemalahan."
It Hang diam beberapa saat. Mendadak, dari kantongnya dia keluarkan beberapa soatlian.
"Coba kau lihat beberapa soatlian ini?"
It Hang menyuruh.
Teratai salju itu dipetik lt Hang waktu dia mengunjungi Hoei Beng Siansoe di puncak utara Thiansan.
Kembangnya besar dan putih meletak bagaikan salju.
Orang-orang Hapsatkek semua merasa kagum sekali.
"Soatlian semacam ini, kami belum pernah lihat. Di mana kau petik?"
Tanya satu antaranya.
"Jika aku tukar soatlian ini dengan seekor onta dan satu tenda, apa kau suka?"
Tanya It Hang.
"Onta gampang didapat, soatlian sukar dicari.
"Soatlian ini berharga lebih mahal daripada seekor onta."
Jawab satu antaranya.
"Tapi buat aku, onta sukar didapat, soatlian gampang dicari. Jika kalian suka, kita tukar saja,"
Kata pula It Hang.
Mereka jadi girang.
Mereka serahkan onta, tenda, ditambah dengan beberapa alat untuk di padang pasir dan makanan kering dan terima soatlian itu dengan gembira sekali.
Pada esok paginya, It Hang dan Lok Hoa berpisahan dengan orang-orang Hapsatkek.
Mereka lalu naik ke punggung onta, perlahan-lahan menuju ke arah barat.
"Kenapa kau mau gunakan onta? Bukankah kita dapat jalan lebih cepat?"
Tanya Lok Hoa.
"Padang pasir Tjemalahan adalah sangat luas,"
Jawab It Hang.
"Selain itu kau juga tidak biasa dengan keadaan padang pasir. Tanpa ini perahu padang pasir, bagaimana kau dapat menyeberangi-nya?"
"Aku sungguh tidak mengerti kenapa ayah jalan bersamasama rombongan lhama,"
Kata pula Lok Hoa.
"Apa ayah ditangkap? Tapi ayah belum pernah datang di daerah perbatasan, sama sekali belum pernah berhubungan dengan kaum Ihama. Sungguh heran."
It Hang jadi ingat kepada lhama Thianliong pay...
Tapi cara bagaimana Ihama Thianliong bisa kenal Pek Sek?
Di samping itu, It Hang ingat bahwa ilmu silatnya Pek Sek pun sangat tinggi dan tidak gampang-gampang kena dibikin celaka.
"Sekarang ada warta mereka sudah masuk di padang pasir, maka kita pun tak dapat berbuat lain daripada coba menyelidiki,"
Demikian kata It Hang.
Berjalan di padang pasir, ada baiknya juga jika mereka ada berdua, sehingga tidak terlalu kesepian.
Ho Lok Hoa adalah seorang gadis remaja yang baru berusia 17-18 tahun.
Ini adalah buat pertama kalinya dia mengunjungi daerah perbatasan dan hatinya penuh dengan keheranan melihat pemandangan lautan pasir.
Selainnya itu, dia juga belum banyak pengalaman mengenai Kangouw dan sering menanya ini atau itu kepada It Hang.
Demikian, mereka jalan sambil bercakap-cakap dan hari berlalu dengan cepat.
Cuma saja tiap kali Lok Hoa sebutkan Giok Lo Sat, It Hang selalu tertawa dan tidak mau bicara.
Di tengah jalan, sering mereka ketemukan tapak onta dan kuda, tapi tapak-tapak itu sangat samar karena ditutup lagi dengan pasir yang berterbangan.
Sesudah jalan kurang lebih setengah bulan, tepi .
daratan belum juga kelihatan, sehingga Lok Hoa jadi tidak sabaran.
Pada suatu magrib turun angin dan awan kuning kelihatan naik ke atas.
"Malam ini rasanya bakal turun angin besar. Kita harus pasang tenda dengan membelakangi angin,"
Kata It Hang.
Benar saja malam itu turun angin besar.
Tendanya It Hang diikat dengan batu besar di empat penjuru, sedang sang onta yang meringkuk di luar tenda merupakan tembok buat menahan angin.
Tapi meskipun begitu, tenda bergoyanggoyang karena santernya angin.
"Aku tak menduga angin di padang pasir begini hebat,"
Kata Lok Hoa.
"Sekarang belum musim angin,"
Kata It Hang sambil tertawa.
"Kalau sudah musim angin, bukit pasir bisa berpindah-pindah. Manusia atau binatang yang mengandang di tempat yang melawan angin bisa digulung ke tengah udara. Selainnya onta, segala apa tak dapat menahannya. Angin ini tidak seberapa besar. Rasanya tidak lama keadaan akan menjadi reda."
Benar saja. tidak lama angin meniup lebih perlahan. Mendadak sang onta berbunyi keras. It Hang loncat keluar dan lihat dua bayangan manusia muncul dari samping onta.
"Angin masih belum reda. Tuan-tuan kenapa tak mau masuk ke dalam tenda."
Kata It Hang sambil mengacungkan tangannya. Dua orang itu berdiri diam. Mereka mengenakan pakaian orang Han.
"Kuda kami roboh ditiup angin."
Kata satu di antaranya sambil memberi hormat.
"Binatang tersebut hampir mati dan tidak dapat ditunggangi lagi. Terima kasih banyak buat undangan siangkong (tuan)."
Sehabis berkata begitu, mereka ikut It Hang masuk ke dalam tenda.
It Hang tahu mereka mau mencuri onta, tapi mengingat keadaannya, dia anggap mereka tidak boleh terlalu disalahkan.
Maka itu, bukan saja tidak membuka kedok orang, dia malahan mengundang masuk.
Pada pinggang kedua orang itu tergantung golok dan mukanya menyeramkan.
Lok Hoa lirik It Hang dengan perasaan kurang senang.
"Hawanya dingin sekali. Coba kau tolong masak air,"
Kata It Hang kepada Lok Hoa sambil tertawa Nona Ho segera nyalakan api, ambil teko tembaga dan tuangkan air dari kantong.
"Coba tolong bikin dapur. Tanpa dapur bagaimana bisa masak air,"
Kata Lok Hoa. It Hang memandang ke sekeliling tenda.
"Di sini tak ada batu-batu kecil. Batu besar yang dipakai tindih tenda tidak dapat digunakan. Bagaimana ya?"
"Siangkong tak usah repot. Kami sudah biasa hidup di padang pasir, badan kami dapat menahan hawa yang dingin,"
Kata kedua orang itu.
"Tak apa. Coba lihat dulu, mungkin ada jalan."
Jawab It Hang sambil mengawasi lagi seputar tenda.
"Ada jalan,"
Katanya.
"Coba kita coba-coba."
Sehabis berkata begitu, dia ambil satu batu besar yang dipakai menindih tenda. Diam-diam dia kerahkan tenaga dalamnya dan sambil berseru.
"terbuka!"
Dia tepuk batu itu dengan kedua tangannya. Dan batu itu terbelah empat! "Nah, sekarang bisa masak air!"
Katanya sambil bikin dapur.
Dua orang mengawasi dengan mulut melompong dan tak berani berkata apa-apa.
It Hang keluarkan kepandaiannya buat menjaga kalaukalau orang itu berniat kurang baik.
Sesudah itu, seperti tidak terjadi apa-apa, dia pasang omong dengan mereka.
Tak lama air berdidih dan angin pun sudah berhenti.
Sehabis minum, mereka lantas pamitan sambil haturkan terima kasih.
It Hang coba menahan.
"Kami sudah biasa jalan di padang pasir,"
Kata satu antaranya.
"Sekarang bukan musim angin. Sesudah angin ini lewat, rasanya 4-5 hari lagi tidak akan turun angin. Jalan waktu siang atau malam sama saja, dan juga melihat siangkong membawa isteri, kami tidak pantas mengganggu terlalu lama."
Mukanya Lok Hoa jadi merah.
"Kalau begitu, aku doakan djiewie selamat di sepanjang jalan,"
Kata It Hang. Sesudah berada di luar, mereka mendadak berbalik dan berkata.
"Mohon tanya nama siangkong yang mulia, supaya kami dapat membalasnya di kemudian hari."
"Ah, urusan kecil begini tak cukup buat direwelkan,"
Kata It Hang. Kedua orang itu saling mengawasi dan sesudah menghaturkan terima kasih lagi, mereka lantas berlalu.
"Hati manusia sukar dijajaki. Kenapa sebelum tanya terang, kau sudah undang mereka masuk?"
Kata Lok Hoa sesudah It Hang masuk.
"Kita adalah dari golongan Rimba Persilatan yang menjalankan kebajikan. Cara bagaimana kita dapat memeluk tangan melihat kesusahan orang,"
Jawab It Hang.
"Muka kedua orang itu sangat tidak enak dilihat,"
Kata nona Ho.
"Begitu lihat aku sudah sebal. Mereka tentu bukannya orang baik. Baik juga kau keluarkan kepandaianmu, sehingga mereka tidak berani turun tangan."
"Urusan sudah lewat, buat apa menduga-duga orang,"
Kata It Hang sambil tertawa.
"Toako, kepandaianmu betul hebat."
Kata pula Lok Hoa.
"Sekali hantam batu itu terbelah empat. Ayah juga belum tentu bisa. Aku lihat, kecuali Djiesoepeh, dalam kalangan kita tidak ada orang yang nempil dengan kepandaianmu. Tak heran paman-paman guru ingin sekali kau pulang."
"Dalamnya ilmu Tat Mo Tjouwsoe tak dapat dijajaki,"
Kata It Hang.
"Aku cuma dapat kulit-kulitnya saja. Jika kitab Tjouwsoe dapat diambil kembali, ilmu silat partai kita tidak ada bandingannya dalam dunia."
Ketika itu It Hang sudah bersumpah dalam hatinya, bahwa dalam penitisan ini, dia tidak akan kembali pulang ke Boetong san.
Cuma saja, buat balas budi gurunya, Boetong Pitkip (kitab Boetong) yang hilang biar bagaimana juga dia akan coba mencari.
Kalau dia sampai mati di daerah perbatasan tanpa berhasil, dia akan perintah Sin Liong Tjoe teruskan usahanya.
Angin sudah berhenti dan juga sudah jauh malam.
Sesudah bicara lagi sebentar, mereka lalu mengaso.
Karena dua tetamunya sudah pergi, Lok Hoa lega hatinya dan tidak lama lantas menggeros.
Sinar api tabunan menyinari mukanya yang seperti buah apel dan dia kelihatannya cantik sekali.
It Hang menghela napas.
Dia ingat waktu baru pertama kali bertemu Giok Lo Sat di gua Oeyliong tong.
Ketika itu Giok Lo Sat berlagak tidur dengan muka yang begitu suci dan cantik.
Dia ingat, karena kuatir si nona kedinginan, dia telah buka baju luarnya dan tutupi badannya Giok Lo Sat...
Begitulah It Hang melamun, rupa-rupa pengalaman sedih teringat lagi olehnya, sehingga dia tak dapat tidur pulas.
Melihat api tabunan sudah kelap-kelip, dia bangun buat menambah umpan.
Mendadak, sang onta berbunyi lagi.
It Hang duga kedua tetamunya yang tadi, datang lagi, tapi baru saja dia mau bangun, atau "brett", tenda pecah dan berbareng dengan itu sebilah golok menyambar dengan mengkredep.
It Hang membentak sambil menyampok senjata gelap itu, lalu loncat keluar dengan gerakan "Pektjoa Tjoettong" (Ular putih keluar lubang), yaitu pedangnya lebih dahulu menikam keluar sambil dibulang-balingkan, disusul dengan melesatnya sang badan, di bawah perlindungan sinar pedang.
Gerakan ini adalah buat menjaga serangan gelap.
Tapi musuh itu tidak menyerang lagi dengan senjata rahasia, sedang keadaan di luar sunyi senyap.
Di kejauhan It Hang lihat 3 tubuh manusia yang lari ke arah barat.
It Hang jadi gusar dan mulutnya menyomel.
"Bangsat onta kurang penerima. Aku baik hati memberikan kau tempat meneduh, sekarang kau balas budi dengan kejahatan!"
Dia lantas kejar dengan gunakan ilmu entengkan tubuh dan segera dapat candak ketiga orang itu. Tiga orang itu lantas balik badannya.
"Jauh-jauh aku datang, kalau aku mau mencuri, tentu aku curi barang berharga. Masakan aku ingin mengambil ontamu!"
Kata satu antaranya.
"Aku pun mau lihat berapa tinggi sih kepandaiannya tjiangboen Boetong pay, sehingga hiotjoe kita mesti membuang begitu banyak tenaga buat mengundangnya,"
Kata yang lain.
Mereka bertiga semua pakai tutupan muka.
Suaranya lain daripada dua tetamu It Hang yang tadi.
Orang yang ketiga tidak bicara apa-apa.
Dia cuma tertawa dingin.
It Hang terkejut.
Mendengar omongannya, ketiga orang itu bukan sembarang orang.
Akan tetapi, menyerang secara gelap adalah pantangan Rimba Persilatan.
Jika mereka dari kalangan orang-orang ternama, mereka tentu tidak akan menyerang secara gelap.
Di samping itu, di Tionggoan "hiotjoe"
Adalah kepala dari satu "panghwee" (satu perkumpulan atau semacam partai dari orang-orang Kangouw), sedang di daerah perbatasan, dia belum pernah dengar ada perkumpulan begitu.
Tadinya It Hang duga mereka adalah Ihama dari Thianliong pay, akan tetapi, mendengar bahasa Han-nya yang begitu lancar, tak mungkin mereka adalah Ihama dari Tibet.
Tapi It Hang tak dapat menilkir lama-lama.
Dua orang yang barusan bicara sudah lantas menerjang.
Yang satu menggunakan sepasang poankoan pit, yang lain tangan kosong.
Pukulan mereka disertai deruan angin, yang menandakan tingginya ilmu kepandaian mereka.
Bahwa di padang pasir bertemu dengan orang begitu adalah di luar segala dugaan It Hang.
Dengan lantas dia keluarkan 72 jalan lianhoan kiamhoat (ilmu pedang berantai) dan serang mereka seperti kilat cepatnya.
Satu ketika, pit musuh menotok jalan darah "siauwyauw hiat"
It Hang seperti kilat.
"Trang!"
Lelatu api berhamburan, pit musuh terpental, tapi It Hang juga rasakan tangannya kesemutan.
Di lain saat, dia sudah putar tubuhnya dan kirim tiga tikaman beruntun kepada musuh yang satunya lagi.
Musuh itu mendek buat kasih lewat tikaman sebelah atasan kepala, tangan kirinya menotok, tangan kanan menepuk pundaknya It Hang, sehingga tikaman kedua miring ke samping.
Berbareng dengan itu dia jejak kakinya dan tubuhnya melesat setombak tingginya buat loloskan tikaman ketiga.
Sementara itu, orang yang bersenjata poankoan pit sudah menyerang lagi.
It Hang berkelit sambil membabat dengan pedangnya dan menyapu dengan kakinya.
"Lianhoan Toei" (Tendangan berantai) Boetong sama kesohornya seperti ilmu pedangnya. Serangan It Hang adalah serangan atas dan bawah dengan berbareng, dengan gunakan pedang dan kaki. Jika musuhnya mau lolos dari babatan pedang, dia tak dapat lolos dari sapuan kaki, dan kalau mau lolos dari serangan bawah, sukar lolos dari serangan atas. Keadaannya sangat berbahaya. Sebab pedang datang lebih dahulu, orang itu tangkis sang pedang, tapi It Hang sudah barengi menyapu dengan kaki kiri dan menendang dengan kaki kanan. Dalam detik-detik yang genting itu, musuh yang bertangan kosong, yang barusan terdesak, sudah datang menyambar. Sepuluh jerijinya dibuka, seperti ceker garuda, dan coba mencengkeram dengkulnya It Hang. Jika kena, It Hang pasti akan roboh. Dia terkesiap, tapi keburu loncat 6-7 tindak. Hatinya It Hang heran, sebab rasanya dia pernah ketemu pukulan orang yang seperti itu. Pertempuran bertambah hebat. Yang bersenjata poankoan pit menyerang tidak setengah-tengah. Pitnya tak hentinya coba menotok 36 jalan darah It Hang. Yang bertangan kosong juga tidak kalah kejamnya dan menggempur dengan "Toakimna Tjhioe". Cara mereka berkelahi adalah seperti sedang mengerubuti seorang musuh besar. Bukan main gusarnya It Hang. Dia keluarkan segala kebisaannya, 72 jalan Lianhoan Kiamhoat turun seperti air sungai Tiangkang yang deras. Sesudah lewat 50 jurus, masih belum ada yang keteter. Orang ketiga berdiri di samping sambil mengawasi. Dia belum turun tangan, tapi mulutnya kadang-kadang perdengarkan suara tertawa. It Hang jadi heran. Dia berkelahi dengan waspada buat jaga bokongan orang itu. Selagi pertempuran berjalan dengan hebatnya, Ho Lok Hoa memburu keluar dari tenda.
"Soemoay, tak perlu membantu!"
Berseru It Hang.
Lok Hoa tidak mau dengar.
Begitu berhadapan, dia lantas menikam jalan darah honggan hiat dari orang yang bersenjata poankoan pit.
Orang itu menangkis dengan pit-nya, tapi Lok Hoa yang lincah sudah membelokkan pedangnya dan menikam punggung musuh yang satunya lagi.
Orang itu berkelit sambil kirim satu pukulan yang disertai angin yang santer.
Lok Hoa loncat sambil berseru.
"Betul liehay!"
Meskipun ilmu silatnya Lok Hoa tidak nempil dengan It Hang.
akan tetapi, dalam pertempuran itu, dia merupakan satu bantuan yang besar.
Sedari kecil Lok Hoa mendapat didikan dari ayahnya sendiri, orangnya pintar dan gesit sekali.
Ketika itu, dia berkelahi seperti main petak dengan tunggu saat-saat baik buat kirim tikaman-tikaman ke arah jalan darah musuh.
Maka itu, meskipun dia tidak merupakan musuh tangguh, tapi dua orang itu jadi tambah repot dan harus sangat waspada.
Orang ketiga, yang sedari tadi cuma menonton, sekarang tak dapat menahan sabar lagi.
Sambil berseru panjang, dia buka cambuk kulitnya yang dilibatkan di pinggangnya dan sabetkan ke arah pundaknya It Hang.
It Hang putar badannya sehingga dia berada di belakangnya orang itu, dan kirim tikaman ke bebokongnya.
Seperti juga mempunyai mata di bebokongnya, tanpa menengok, orang itu balik menyabet ke belakang dengan pecutnya It Hang terkejut sambil buru-buru tarik pulang tangannya.
Dia tidak sangka orang itu mempunyai kepandaian "membedakan senjata dengan dengar suara anginnya"
Dan ilmunya tentu berada di atas dua kawannya.
Sesudah turunnya orang ketiga, keadaan jadi berubah.
It Hang dan Lok Hoa jadi kedesak dan akhirnya cuma dapat membela diri, tapi tidak dapat balas menyerang.
"Hm! Boetong tjiangboen cuma sebegitu saja! Hiotjoe kita taksir dia terlalu tinggi!"
Mengejek orang yang bersenjata poankoan pit.
It Hang bertambah gusar.
Ujung pedangnya melorot ke depan, tubuhnya melesat seperti gerakan seekor burung melewati samping badannya musuh yang bersenjata pecut, dan seperti kilat dia tikam matanya musuh yang barusan mengejek.
Orang itu mengangkat kedua pitnya buat menangkis.
Tapi, tikaman barusan cuma satu tipu belaka.
Sedang senjata musuh terangkat naik, ujung pedang ditundukkan ke bawah, dan "brett", bajunya orang itu berlubang besar.
Jika dia tidak keburu mundur, perutnya tentu sudah berlubang!
Mendapat itu pengalaman getir, orang itu keluarkan keringat dingin, sedang orang yang bersenjata pecut juga keluarkan seruan tertahan.
Serangan It Hang yang barusan adalah di luar dugaan mereka, dan gerakan itu bukannya gerakan Tjittjapdjie Lianhoan Kiamhoat dari Boetong pay.
Setelah itu, dengan beruntun It Hang menyerang dengan gerakan-gerakan luar biasa, sehingga tiga orang itu terpaksa mundur berulang-ulang.
Mereka tidak dapat tebak ilmu silat apa adanya gerakan itu.
Mereka tidak tahu, bahwa beberapa pukulan itu adalah jurus-jurus dari Tat Mo Kiamhoat yang sekarang sudah hilang dari muka bumi.
Tapi, ketiga orang itu juga bukan sembarang orang.
Melihat gerakan-gerakan It Hang yang luar biasa, mereka lalu mundur dan ambil taktik menjaga diri.
Biarpun Tat Mo Kiamhoat sangat liehay tapi It Hang cuma dapat beberapa jurus saja.
Beberapa jurus ini dapat digunakan untuk sementara waktu, misalnya untuk menerjang keluar dari kepungan musuh, tapi tidak bisa dipakai buat bertempur lama, sebab, sesudah habis beberapa jurus itu, pihak musuh lantas dapat lihat, bahwa keliehayannya cuma sebegitu saja.
Maka itulah, sesudah bergebrak beberapa jurus, tiga orang itu segera mengurung lagi dengan rapat.
It Hang tak dapat berbuat lain daripada gunakan Lianhoan Kiamhoat, dengan diseling-seling oleh beberapa jurus Tat Mo Kiamhoat buat layani mereka.
Sesudah bertempur kurang lebih 50 jurus, It Hang dan Lok Hoa mulai keteter, sedang tiga orang itu pun semakin hebat serangannya.
Tapi karena It Hang berkelahi dengan matimatian dan Lok Hoa pun gesit sekali gerakannya maka buat sementara, mereka masih belum dapat dirobohkan.
Orang yang bersenjata pecut sekarang menyerang dengan gerakan "Hoeihong Sauwlioe" (Angin meniup pohon lioe) dan pecutnya menyambar-nyambar tak hentinya, disertai dengan angin yang menderu-deru.
It Hang mendadak ingat sesuatu.
Dia berseru dengan suara tertahan.
"Hok Lotjianpwee! Kenapa kau berulang-ulang musuhi aku?"
Orang itu memang tidak lain daripada Hok Goan Tiong, yang hampir binasa dalam tangannya Giok Lo Sat di puncak selatan gunung Thiansan.
Djoanpian (pian lemas) Hok Goan Tiong kesohor dalam Rimba Persilatan.
Barusan, karena mukanya bertopeng dan juga dia menggunakan pecut (sebenarnya tali pinggang yang digunakan bagaikan pecut) sebagai gantinya djoanpian maka buat sementara It Hang tidak dapat kenali padanya.
"Mana Giok Lo Sat-mu?"
Tanya Hok Goan Tiong sambil tertawa dingin.
"Jika kau bermusuh dengan Giok Lo Sat, sebenarnya kau harus cari dia,"
Kata It Hang dengan gusar.
"Sungguh sayang, sebagai orang gagah dari angkatan tua, kau telah lakukan perbuatan sebangsa tikus dan anjing dengan mengirim serangan gelap. Jika hal ini aku beritahukan kepada kawankawan Rimba Persilatan, di mana kau mau taruh muka bangkotanmu!"
"Siapa kirim serangan gelap?"
Hok Goan Tiong tertawa terbahak-bahak.
"Coba lihat dalam tendamu. Aku kirim surat undangan! Giok Lo Sat juga bakal terima undangan! Kalau nyalimu besar, datanglah!"
Sesudah berkata begitu, kembali dia tertawa terbahakbahak.
"Sudah cukup kita mencoba,"
Dia berkata lagi.
"Bocah ini jadi tetamu hiotjoe-mu tidaklah merupakan hinaan untuk kalian."
Sesudah berkata begitu, Hok Goan Tiong segera loncat mundur.
Tak diduga, ketika Hok Goan Tiong sedang bicara, dua kawannya mendadak serang Lok Hoa.
Orang yang bersenjata poankoan pit menekan pedangnya nona Ho, sedang yang satunya lagi, dengan tangan kiri mencengkeram lengan orang, tangan kanannya menghantam dadanya Lok Hoa.
Oleh karena pedangnya ditekan dan diserang secara mendadak, Lok Hoa tak keburu bergerak dan mulutnya keluarkan satu teriakan kaget.
Dalam detik-detik yang sangat genting itu, mendadak terdengar lain teriakan, dibarengi dengan robohnya satu tubuh manusia.
Ternyata it Hang yang menolong.
Pada saat yang sangat berbahaya, dia loncat sambil menikam dengan tikaman Tat Mo, sehingga tangan kanannya orang itu berlubang!
Cuma saja dalam repotnya menolong Lok Hoa, pundaknya sendiri kena satu cengkeraman yang rasanya sakit dan panas.
Tanpa berkata suatu apa, orang yang bersenjata poankoan pit segera gendong kawannya yang luka dan lantas pergi.
"To It Hang!"
Berseru Hok Goan Tiong.
"Jika kau tak takut pembalasan pedang, datanglah di Hongsee tiatpo!"
It Hang menjawab dengan tertawa dingin dan berdiri tegak sambil pegang gagang pedangnya.
"Toako, apa kau kena dicengkeram?"
Tanya Lok Hoa.
"Tidak apa, mari kita pulang,"
Jawab It Hang.
"Apa kau kenal mereka? Mereka bilang cuma mau jajaljajal, tapi kenapa turun tangannya begitu beracun?"
Kata pula Lok Hoa.
"Aku cuma kenal yang bersenjata pecut. Dia itu adalah Hok Goan Tiong,"
Jawab It Hang.
"Hok Goan Tiong?"
Lok Hoa menegaskan.
"Dia dan ayah ada sedikit ganjelan. Tentunya dia yang celakakan ayah."
"Ganjelan apa? Aku belum pernah dengar dari Pek Sek Soesiok,"
Tanya It Hang dengan perasaan heran.
"Aku juga baru dengar dari ayah sesudah berada di sini,"
Kata Lok Hoa.
"Pada tiga puluh tahun berselang, waktu ayah dan Hok Goan Tiong bicarakan ilmu silat, dia tidak mau mengakui, bahwa ilmu pedang Boetong adalah nomor satu dalam dunia. Ayah dan dia lantas adu pedang dan dalam 30 jurus ayah sudah tikam roboh padanya. Ayah tanya, apa dia menyerah atau tidak, tapi dia membungkam, sehingga ayah tikam lagi dia satu kali dan terus desak padanya sampai dia menyerah, barulah sudah."
"Waktu masih muda, adatnya soesiok memang begitu,"
Kata It Hang sambil menghela napas.
"Ya, dalam hal ini memang ayah agak keterlaluan,"
Kata Lok Hoa.
"Maka itu, waktu kita tiba di sini, ayah memberitahukan padaku, babwa di daerah perbatasan tidak ada orang yang ilmu silatnya tinggi. Yang kita mesti jaga cuma Hok Goan Tiong, sebab dikuatirkan dia masih ingin balas dendam dua tikaman pedang dari 30 tahun yang lalu.
"dengan kepandaian-nya itu, paling banyak Hok Goan Tiong dapat bertempur seri dengan ayahmu,"
Kata It Hang.
"Menurut pendapatku, tidaklah bisa jadi sampai ayahmu kena dijatuhkan. Aku kuatir dalam hal ini masih ada orang lain yang campur tangan."
"Benar,"
Kata nona Ho.
"Barusan Hok Goan Tiong sebutsebut nama Hongsee tiatpo dan mengatakan juga ada kirim undangan. Apakah di sini dia mempunyai konco-konco?"
Sambil berjalan dan bicara sampailah mereka di depan tenda.
It Hang nyalakan api dan buka tenda dengan ujung pedangnya.
Dalam tenda tidak terdapat siapa juga, sedang api tabunan sudah padam.
Lok Hoa segera tambahkan rumput kering pada tabunan dan mengipas supaya api nyala besar.
"Hok Goan Tiong omong kosong,"
Kata Lok Hoa dengan suara mendongkol.
"Di mana ada surat undangan?"
It Hang yang matanya jeli segera dapat lihat, bahwa pada golok yang disambitkan oleh musuh, terikat selembar kertas. Dia pungut golok itu sambil berkata.
"Nipa, undangannya."
Kirim surat dengan perantaraan golok terbang adalah kejadian lumrah dalam kalangan Kangouw.
Oleh karena tujuannya bukan buat serang orang, maka tidak boleh dikatakan serangan gelap.
It Hang buka lempitan surat itu, dan bersama Lok Hoa, dia baca.
"Sudah lama aku dengar Boetong pay menjagoi di daerah Tionggoan. Cuma sayang, oleh karena terpisah ribuan li, maka sebegitu lama belum ada jodoh buat minta pengajaran. Sekarang mendengar Tjiangboen datang di sini, maka haruslah kita gunakan kesempatan yang baik ini. Pada tjitsek aku menunggu tuan di tempatku. Yang mengundang. Majikan Hongsee Tiatpo." (Tjitsek = Tanggal 7 bulan 7 imlek).
"Tak bisa salah lagi tentulah Hok Goan Tiong yang membakar dengan lidahnya yang tajam,"
Kata It Hang sambil kerutkan alisnya.
"Di segala tempat dia tak hentinya menyebut diriku sebagai tjiangboen Boetong pay. sehingga sekarang aku jadi berabe. Mana aku masih mempunyai hati buat ributi soal jago-jagoan dalam kalangan Rimba Persilatan!"
"Akan tetapi, demi keselamatan ayahku, kau harus juga pergi sekali ini,"
Kata Lok Hoa.
"Menurut kata orang Hapsatkek, ayahmu berjalan samasama sejumlah Ihama. Maka belum tentu soesiok berada di Hongsee Tiatpo,"
Kata It Hang.
"Tapi dengan pergi ke sana kita mendapat pegangan buat mengusut di mana adanya ayah,"
Kata Lok Hoa.
"Meskipun benar begitu, kita sekarang belum mengetahui di mana adanya Hongsee Tiatpo,"
Jawab It Hang sambil kerutkan alis. Melihat gerakan-gerakan It Hang, Lok Hoa tahu dia sedang menahan sakit di pundaknya Maka itu, dia segera ambil obat luar sambil berkata.
"Toako, mari aku pakaikan kau obat dahulu."
"Berikan padaku,"
Kata It Hang, yang segera membuka bajunya dan pakai sendiri obat itu.
Lok Hoa adalah satu gadis lincah yang dapat bergaul bebas dengan orang lelaki.
Dalam perjalanan, It Hang selalu berlaku hati-hati, karena kuatir Giok Lo Sat datang mendadak dan menimbulkan salah mengerti.
Dia selalu jaga, supaya tidak datang terlalu dekat dengan puteri soesiok-nya itu.
[tulah sebabnya, dia lantas buru-buru pakai sendiri waktu Lok Hoa mau pakaikan dia obat.
Melihat lagaknya It Hang, Lok Hoa diam-diam tertawa dalam hatinya.
Waktu itu di luar mendadak terdengar lagi suara tindakan kaki dan teriakan sang onta.
"Siapa?"
It Hang menanya sambil menghunus pedangnya. Tenda terbuka dan masuklah dua orang Han yang tadi diundang minum olehnya.
"To siangkong,"
Kata satu antaranya.
"Kami datang buat haturkan maaf."
"Kalian sedang menjalankan muslihat apa?"
Berkata Lok Hoa dengan gusar.
"Kalian ini tentu kawannya Hok Goan Tiong!"
"Nona, sebagian kau menebak benar, tapi sebagian lagi salah,"
Jawabnya.
"Ah, To siangkong! Lukamu itu adalah akibat pukulan Toksee tjiang (Tangan pasir beracun)! Di padang pasir ini, cara bagaimana bisa dapat obat?"
Tadi ketika merasa lukanya gatal-gatal, It Hang pun sudah merasa curiga. Mendengar perkataannya orang itu, dia tertawa dan berkata.
"Kalau begitu benar aku kena tangan beracun warisan Kim Laokoay."
"Kalau siangkong sudah tahu kenapa tak mau siang-siang mencari obat?"
Kata kedua orang itu. It Hang tertawa tawar.
"Sesudah lewat 12 jam, biar sudah bengkak, masih ada jalan buat menolongnya,"
Dia kata.
"Toksee tjiang apa liehaynya? Buat apa begitu terburu-buru? Sekarang kalian bilang, kalian datang ke sini mau minta maaf dalam soal apa."
Mendengar nama Toksee tjiang, paras mukanya Lok Hoa jadi berubah.
Boetong pay mempunyai resep rahasia untuk mengobati orang yang kena pukulan tersebut.
Akan tetapi, orang memerlukan 10 kuali besar air berdidih yang uapnya digunakan untuk menyedot racun yang berada di dalam tubuh.
Sesudah itu, dengan diberikan obat yang secukupnya, orang itu akan menjadi sembuh.
Tapi, di padang pasir, di mana harga air seperti emas, darimana bisa mendapatkan air sampai 10 kuali besar?
Tapi It Hang tetap bersikap acuh tak acuh dan mendesak supaya kedua orang itu lekas bicara.
"Kami berdua adalah anak buah Hongsee po,"
Kata mereka.
"Hm!"
Kata It Hang.
"Barusan aku mendapat undangan dari majikanmu."
"Aku tahu,"
Jawabnya.
"Siapa nama majikanmu? Kenapa dia mengundang toako buat adu silat?"
Tanya Lok Hoa.
"Majikan kami bernama Seng Tjiang Ngo,"
Jawab yang satu.
"Dia sebenarnya datang dari Koanlwe (daerah Tionggoan)."
"Tapi aku belum pernah dengar namanya,"
Kata It Hang.
"Dia sudah berdiam di sini beberapa puluh tahun,"
Orang itu memberi keterangan.
"Mungkin soesioknya To siangkong kenal padanya. Dahulunya, dia berdirikan "hiotong"
Di Hwailam dan menyelundupkan garam gelap.
Karena diserang terus menerus oleh tentara negeri, dia merasa gerah berdiam terus di Hwailam, dan dengan mengajak sejumlah anak buahnya, dia lari ke daerah perbatasan.
Mulai saat itu sampai sekarang sudah hampir 30 tahun.
Ayahku adalah salah satu anak buah yang datang ke sini bersama-sama dia.
Di satu tepian padang pasir Tjemalahan terdapat sebidang tanah yang subur dan banyak airnya.
Akan tetapi, oleh karena seringsering turun angin besar, maka rakyat gembala tidak berani berdiam lama-lama di situ.
Setibanya di sini.
Potjoe (majikan dari satu bentengan) segera mendirikan sebuah kampung.
Belakangan dia kurung tanah itu dengan besi dalam bentuk satu pagoda, sehingga orang tidak usah kuatirkan lagi serangan angin dan pasir.
Itulah sebabnya, kita namakan Hongsee po (Bentengan angin pasir), dan orang luar menyebutnya Hongsee Tiatpo (Bentengan besi angin pasir).
Selama beberapa puluh tahun.
Potjoe pimpin kita membuka ladang dan menggembala binatang, sehingga kita dapat lewatkan hari dengan tidak banyak kesukaran."
"Itulah pekerjaan baik,"
Kata It Hang.
"Tapi kenapa dia caricari urusan denganku?"
"Itulah karena hatinya masih belum bebas dari napsu ingin menjagoi,"
Orang itu melanjutkan penuturannya.
"Beberapa tahun yang lalu, dari Tionggoan datang seorang wanita yang dipanggil Pek Hoat Mo Lie. Orang-orang gagah yang berada di daerah perbatasan, tak peduli pribumi di sini maupun orang Han, hampir semua kena dihinakan olehnya. Beruntung dia belum pernah datang ke tempat kita, mungkin karena Potjoe sudah lama umpetkan diri. Akan tetapi, mungkin karena dengar majikan kita mempunyai kepandaian tinggi, beberapa orang yang pernah dihinakan telah datang buat membujuk supaya majikan kita keluar buat singkirkan iblis perempuan itu (mo lie). Tapi sebegitu jauh, Potjoe kita belum pernah meluluskan permintaan orang.
"Ah! Lagi-lagi Pek Hoat Mo Lie!"
Kata Ho Lok Hoa.
"Aku beri tahu, Pek Hoat Mo Lie adalah musuh Boetong pay. Kenapa majikanmu berbalik musuhi orang Boetong pay?"
Orang itu tertawa sambil berkata.
"Majikanku sudah tahu, Pek Hoat Mo Lie dahulu dipanggil Giok Lo Sat. To siangkong datang di sini juga karena dia!"
Mukanya It Hang jadi merah.
"Apakah majikanmu memusuhi aku karena dia?"
Tanya It Hang.
"Bukan seluruhnya demikian."
Jawabnya.
"Pada musim semi tahun ini. Hok Goan Tiong datang ke tempat kita dan bujuk supaya Potjoe mendirikan pula hiotong buat menjagoi di daerah perbatasan ini. Thianliong pay dari Tibet juga telah janjikan bantuannya. Aku dengar, sebabnya adalah karena To siangkong pernah membinasakan salah satu orang Thianliong pay. Thianliong pay menghendaki supaya kepala suku Kektatdjie dan majikan kita bekerja sama akan kemudian membagi dua daerah padang rumput ini. Selain dari itu. orangorang Thianliong pay juga pernah merasakan tangannya Pek Hoat Mo Lie, maka, Thianliong Siangdjin bersedia buat bekerja sama dengan berbagai orang gagah di daerah padang rumput dan padang pasir untuk menghadapi dia."
To It Hang terkejut sangat.
"Kalau begitu, bukankah orangorang gagah dari Tibet dan Sinkiang semuanya berkumpul buat musuhi kita?"
Kata dia.
"Benar,"
Kata orang itu.
"Majikan kita yang kuatir masih belum dapat menandingi Pek Hoat Mo Lie. terus mengundang orang-orang gagah di berbagai tempat. Kami sendiri dapat perintah buat pergi ke Sinkiang utara untuk mengundang orang."
"Jika benar begitu, kenapa kalian memberitahukan hal itu kepada kita?"
Tanya lt Hang.
"Di Hongsee po, kita dapat melewati hari dengan senang. Kita tidak ingin majikan angkat senjata. Aku dengar, Pek Hoat Mo Lie bukan main liehaynya, dan kalau sampai bergebrak, kedua belah pihak tentu mendapat kerugian. Di samping itu, To siangkong perlakukan kami begitu baik. Siangkong tahu kami berdua mau curi onta, tapi siangkong masih mau mengundang kami masuk minum air. Maka itu, bagaimana kami tega melihat siangkong masuk dalam jebakan berbahaya?"
Demikian kata orang itu.
"Tapi kenapa tadi kalian tidak memberitahukan?"
Tanya Lok Hoa.
"Tadi kami belum tahu bahwa siangkong ini adalah To siangkong,"
Jawabnya.
"Belakangan kami bertemu dengan majikan kedua (Hupotjoe) dan Hok Goan Tiong. Kami memberitahukan mereka, bahwa barusan kami bertemu dengan seorang luar biasa. Hok Goan Tiong lantas menduga, bahwa orang luar biasa itu adalah To siangkong. Hok Goan Tiong kelihatannya kenal baik pada siangkong..."
"Giok Lo Sat dan aku sendiri sudah pernah bertempur dengan dia,"
It Hang putuskan omongan orang.
"Kalau begitu tidaklah heran,"
Kata orang itu.
"Dialah yang memberitahukan, bahwa dahulu Pek Hoat Mo Lie adalah Giok Lo Sat. Kemudian mereka bertiga lantas cari To siangkong. Mereka sebenarnya mendapat perintah Potjoe buat selidiki gerak-geriknya To siangkong."
"Yang mana majikanmu kedua?"
Tanya It Hang.
"Hupotjoe kita adalah ahli menotok jalan darah..."
"Ah. kalau begitu, tentu yang bersenjata poankoan pit,"
Kata It Hang.
"Siapa yang satunya lagi?"
Tanya Ho Lok Hoa.
"Menurut pendengaran, dia adalah muridnya Imhong Toksee t|iang Kim Tok Ek yang menjagoi di Utara barat."
Jawab orang itu.
"Murid-muridnya Kim Tok Ek banyak jumlahnya. Sesudah dia mati, sejumlah muridnya melarikan diri ke daerah perbatasan."
"Tak heran, aku rasanya kenal pada caranya dia turun tangan,"
Kata It Hang.
"Apakah kalian kenal Pek Sek Toodjin?"
Tanya Lok Hoa.
"Kami tak pernah dengar nama itu,"
Jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Beberapa hari berselang datang sejumlah Ihama dari Thianliong pay dan di antara mereka terdapat seorang toosoe. Mungkin sekali dia itu yang kau panggil Pek Sek Toodjin."
Lok Hoa loncat berdiri.
"Biarpun majikanmu tidak kirim undangan padaku, aku akan pergi juga,"
Dia kata.
"Eh. ini tanggal berapa? Di tempat ini aku sudah tidak tahu tanggal lagi, cuma lihat matahari naik, matahari turun."
"Hari ini adalah Tjitgwee Tjesie (tanggal empat bulan tujuh). Tjitsek (tanggal 7) adalah harian Potjoe mendirikan lagi hiotong,"
Kata orang itu.
"Baiklah, kami mau pergi buat memberi selamat,"
Kata It Hang sambil tertawa..
"Lebih baik siangkong jangan pergi,"
Kata orang itu dengan perasaan kuatir.
"Aku rasa, baik siangkong bujuk Pek Hoat Mo Lie, supaya dia juga jangan pergi. Jika dua macan berkelahi, salah satu mesti celaka. Siangkong celaka tidak baik, Potjoe kita celaka juga tidak baik."
"Aku tahu."
Kata It Hang.
"Kami mempunyai pendirian sendiri. Jika kalian diperintah mengundang orang, pergilah berangkat sekarang."
Mereka lantas pamitan dan berlalu.
"Sungguh tak dinyana!"
Berseru Lok Hoa sambil tepuk kedua tangannya.
"Apa yang tak dinyana?"
Tanya It Hang.
"Tak dinyana kedua orang itu, yang mukanya tidak mengasih, bisa membalas kebaikan dengan kebaikan,"
Kata Lok Hoa.
"Tapi. Toako. di padang pasir ini. cara bagaimana kita cari air sampai sepuluh kuali?"
Mendengar Lok Hoa begitu pikirkan lukanya. It Hang tertawa.
"Ah, gampang,"
Kata dia.
"Kau dengar..."
Mendadak dia berhenti bicara, sedang kedua alisnya dikerutkan.
Tadi It Hang sudah memikir matang-matang, bahwa berhubung dengan lweekang-nya (tenaga dalam) yang sudah tinggi, dia tak memerlukan air berdidih lagi.
Dia merasa, dengan gunakan "Goankong Lweeoen", yaitu tenaga dalamnya, dia dapat mengeluarkan racun dalam badannya.
Tapi sesudah memikir lebih jauh, dia ingat, bahwa waktu menjalankan "Goankong Lweeoen", dia tak boleh bergerak barang sedikit dan di sebelah itu, mesti ada satu orang yang tolong uruti jalan darahnya.
Kalau kawannya adalah satu lelaki, tentu tidak jadi soal.
Tapi Lok Hoa adalah gadis remaja.
Jika tenaga dalamnya Lok Hoa sudah tinggi, dia dapat mengurut jalan darah orang, biarpun orang itu berpakaian.
Tapi tenaga dalamnya Lok Hoa masih cetek, sehingga It Hang mesti buka pakaiannya supaya dapat diurut jalan darahnya.
Itulah sebabnya, maka dia kerutkan alisnya.
Lok Hoa yang tak mengetahui sebabnya, jadi merasa bingung sekali.
"Toako,"
Kata dia.
"Kau mendapat luka karena menolong jiwaku, sedang aku sendiri sekarang tak berdaya buat menolongimu. Hai, bagaimana baiknya? Jalan satusatunya adalah coba cari ayah. Tapinya. lusa adalah tanggal tujuh. Lukamu... hai, bagaimana baiknya?"
"Toksee tjiang tidak begitu berbahaya, cuma perlu bantuanmu,"
Kata It Hang.
"Bantuan apa?"
Tanya Lok Hoa dengan cepat. It Hang segera memberi keterangan dan ajarkan dia cara bagaimana mesti mengurut jalanan darah. Mendengar begitu Lok Hoa jadi tertawa geli.
"Kau benar luar biasa! Kalau begitu gampang, kenapa tidak mengatakan siang-siang? Hayo lekas bersila!"
Kata Lok Hoa.
It Hang segera buka bajunya, atur jalan napasnya sambil meramkan mata dan duduk bersila, seperti juga seorang pendeta sedang bersemedhi.
Ho Lok Hoa lantas urut jalan darahnya seperti tadi diajari.
Tak lama kemudian badannya It Hang jadi panas sekali.
"Bagus!"
Kata It Hang.
"Cuma panasnya bukan main."
Lok Hoa buka tendanya sedikit, supaya angin bisa masuk.
"Mengaso dahulu sebentar, baru pakai baju,"
Kata nona Ho.
Ketika itu, It Hang sudah selesai menjalankan "Goankong Lweeoen", tapi badannya terus kepanasan hingga napasnya sengal-sengal.
Melihat begitu, Lok Hoa anggap lebih baik ajak It Hang bicara untuk ke sampingkan perhatiannya, supaya dia tidak begitu rasakan hawa panas.
Memikir begitu, dia lantas menanya.
"Apa kau sangat akur dengan Giok Lo Sat?"
"Hm,"
Jawabnya.
"Aku tak percaya! Cara bagaimana kau berdua bisa akur?"
Kata pula Lok Hoa. It Hang tersenyum. Dalam hatinya, dia tertawakan Lok Hoa yang dia anggap masih hijau dan tak mengetahui seluk beluknya cinta.
"Aku dengar Giok Lo Sat suka berkelahi. Apa benar?"
Lok Hoa tanya lagi. To It Hang menganggukan kepalanya.
"Kalau dia tidak terlalu suka jajal-jajal kepandaian orang, tentulah tidak sampai timbul begitu banyak kerewelan,"
Kata It Hang.
"Kau sendiri tak suka berkelahi, bukan?'"
Tanya Lok Hoa. It Hang kembali menganggukkan kepalanya. Ho Lok Hoa tertawa terbahak-bahak.
"Kau berdua adatnya sangat berlainan,"
Katanya.
"Dia adalah "iblis perempuan' yang kesohor, sedang kau seperti juga seorang sasterawan yang lemah-lembut. Tak heran kau berdua selalu ribut saja Kau berdua sebenarnya tak cocok sama sekali!"
It Hang sedikit terkejut. Dia sendiri merasa, omongan Lok Hoa ada juga benarnya. Cuma dia kualir Giok Lo Sat nanti dapat dengar omongan itu. Karena hatinya goncang hawa panasnya naik lagi.
"Sudahlah,"
Kata dia.
"Jangan kita bicarakan soal Giok Lo Sat lagi."
Lok Hoa mesem.
"Kalau begitu biar aku gosok ohkim. Kalau ayah sedang jengkel, dia suka sekali dengar aku menyanyi."
It Hang lantas manggutkan kepalanya.
Dengan menyanyi, dia jadi tak bicarakan segala hal yang bukan-bukan.
Lok Hoa lantas saja ambil ohkim pemberian orang Hapsatkek, dan sambil menggesek tetabuhan itu, ia nyanyikan satu lagu Kanglam.
Bukankah jendela salju dan kunang-kunang tak mempunyai tempo senggang, Bukankah main genit-genitan, akhirnya jadi orang gelandangan!.
Bukankah kita sudah ada janjian.
Cuma salah ingat tempat pertemuan?
Bukankah sang perahu yang enteng badannya, berlayar sampai di tepi langit?
Bukankah minum arak sambil menulis syair.
Bisa jatuh mabuk depan rumah orang?
Bukankah seorang yang suka banyolan.
Sering bikin mendongkol sang kawan?
Bukankah jika orang takuti hawa panas dan dingin, Sang penyakit bisa semakin berat?
Demikian timbul laksaan kesangsian.
Membikin sang hati penuh dengan kesengsaraan.
Lagu ini sebenarnya diambil dari kumpulan lagu-lagu See Siang Kie.
yang melukiskan perasaan kangen dari nona Eng Eng karena Thio Seng Wan sekali pergi tidak pulang lagi.
Hanya karena kata-katanya diatur secara gembira dan lincah, maka rakyat di daerah Kanglam sangat suka menyanyikan lagu tersebut.
To It Hang, yang kenal artinya, keluarkan seruan tertahan.
"Lian Tjietjie!"
Ho Lok Hoa tidak tahan buat tidak tertawa.
"Ah, kau bilang jangan sebut-sebut Giok Lo Sat, tapi sekarang kenapa kau sendiri yang menyebutnya?"
Kata dia.
"Hei, aku dengar Giok Lo Sat secantik bidadari, apa benar?"
Cinta timbul bukannya karena paras yang cantik, kata It Han dalam hatinya. Oleh karena memikir begitu, mulutnya lantas berkata.
"Sekarang dia sudah berambut putih, sedang rupanya tidak seperti dahulu lagi. Bagaimana kau bisa omong tentang cantik atau tidak? Kecantikan Lian Tjietjie tidak dapat menandingi kau, akan tetapi..."
It Hang sebenarnya mau menjelaskan, kenapa, meskipun Giok Lo Sat sudah tua dan tidak cantik lagi, dia toh masih mencintai.
Tapi perkataannya yang belum keluar telah diputuskan oleh satu suara tertawa yang nyaring dan panjang.
"Brett!"
Tenda pecah dan Giok Lo Sat loncat turun!
It Hang terkejut bukan main!
Di situ dia berdiri!
Rambutnya benar sudah putih semua, tapi parasnya sangat cantik.
Dengan kedua alis yang berdiri dan kedua mata seperti gunting tajamnya, dia mengawasi Ho Lok Hoa.
"Hai! Sungguh cantik paras nona! Sungguh merdu suaranya! Kenapa tak menabuh terus?"
Katanya sambil tertawa.
"Ini semua bukan urusan dia,"
Seru It Hang dengan sangat bingung.
"Karena aku..."
It Hang mau menerangkan, bahwa karena dia kena pukulan Toksee tjiang, maka Lok Hoa membantu mengobati dirinya. Tapi tak disangka perkataannya telah menimbulkan salah mengerti yang semakin dalam.
"Karena kau! Bagus!"
Giok Lo Sat putuskan pembicaraan orang.
"Srett!"
Pedangnya dicabut keluar yang lantas ditikamkan ke arah jantungnya It Hang.
Waktu It Hang berkelana di daerah padang rumput, Giok Lo Sat telah pergi ke gunung Mostako dan di atas Puncak Es, dia bertemu dengan Sin Liong Tjoe yang menjaga kembang dewa.
Dia tahu, bahwa kembang itu masih memerlukan puluhan tahun buat menjadi mekar, akan tetapi hatinya telah sangat dipengaruhi oleh kecintaannya It Hang.
Maka itu, buruburu dia menyusul ke padang rumput.
Tapi, siapa sangka, dalam pertemuan itu, dia lihat It Hang tidak memakai baju, Lok Hoa menggesek ohkim sambil menyanyi dan kemudian dengar mereka bicarakan soal kecantikannya sendiri.
Itu semua membikin Lian Nie Siang menjadi kalap dan tidak terasa dia humus pedangnya.
"Giok Lo Sat!"
Lok Hoa menjerit.
"Kau mau bikin apa? Jika kau bunuh dia. ayahku tak ada yang menolong. Biarlah aku adu jiwa dengan kau!"
Dia lantas cabut pedangnya dan menerjang. It Hang maju setindak sambil menyodorkan dadanya! "Lian Tjietjie!"
Katanya dengan suara sedih dan tertawa getir.
"Jika aku bisa binasa di bawah pedangmu, aku sungguh merasa beruntung sekali! "Aku tak sangka, kau begitu menyintai diriku!"
Paras mukanya Lian Nie Siang pucat.
Pedangnya ditarik kembali.
Waktu Lok Hoa menikam dari belakang, dengan sekali sontek saja, pedangnya nona Ho terpental keluar tenda.
Pada saat itu, hatinya Giok Lo Sat digoncangkan gelombang hebat.
Dia sendiri tak tahu, apa dia mencinta atau membenci.
It Hang loncat menubruk dan pegang ujung bajunya.
"Kau adalah turunan pembesar tinggi dan tjiangboen dari satu partai yang besar. Bual apa tarik-tarik bajuku. Pergilah kau ikut dia ke Boetong san!"
Kata Giok Lo Sat dengan suara sedih. Dia loncat dan dalam sekejap menghilang dari pemandangan! Pada saat itu, It Hang roboh. Lok Hoa merasa sangat tidak mengerti.
"Hi, adatnya Giok Lo Sat benar jelek,"
Katanya.
Selang tiga hari adalah tanggal tujuh (Tjitgwee Tjitsek).
Di Hongsee po sudah berkumpul orang-orang gagah dari berbagai tempat, antaranya terdapat Thianliong Siangdjin bersama murid-muridnya.
Malam itu, Seng Tjiang Ngo mendirikan hiotong buat menjagoi daerah perbatasan.
Waktu magrib, sembahyang dan upacara pendirian hiotong sudah beres.
Di luar bentengan angin menderu-deru dengan keras, tapi di dalam keadaan tenteram dengan hawanya yang nyaman seperti hawa musim semi.
Ketika itu, Seng Tjiang Ngo, Hok Goan Tiong, Liongho Yatouw (seorang ahli silat kenamaan dari suku Hapsatkek) .dan Thianliong Siangdjin duduk bercakap-cakap.
"Seng Potjoe,"
Kata Liongho Yatouw.
"kau sudah berdiam di daerah ini puluhan tahun dan kami pandang kau seperti orang sendiri. Kami sama-sekali tidak anggap orang Han sebagai musuh. Tapi, Giok Lo Sat terlalu hinakan orang dan terlalu tidak pandang orang-orang gagah di perbatasan. Kemendongkolan ini tidak dapat tidak dilampiaskan."
"Pek Hoat Mo Lie toh tidak mempunyai tiga kepala enam tangan,"
Kata Thianliong Siangdjin sambil tertawa.
"Menurut aku. di antara kita empat orang, yang mana satu juga cukup buat lawan dia. Apa lagi di sini masih terdapat begitu banyak orang gagah. Ingat saja Pek Sek Toodjin yang bilang di daerah perbatasan tidak ada orang pandai, tapi akhirnya kena ditawan oleh kita. Pek Hoat Mo Lie pun rasanya akan mengalami nasib begitu."
"Seng Potjoe. Kalau Boetong tjiangboen datang dan kau robohkan padanya, namamu akan naik tinggi sekali,"
Kata Liongho Yatouw.
Tujuan Seng Tjiang Ngo memang begitu.
Dia ingin pada harian dia mendirikan lagi hiotong, dia dapat menjatuhkan satu orang ternama buat unjuk keangkeran.
Oleh karena It Hang adalah tjiangboen dari satu partai yang mempunyai nama besar, maka dia itu dijadikan bulan-bulanan.
Seng Tjiang Ngo sama sekali tidak mempunyai dendam terhadap It Hang dan juga bukannya mau mencelakakan pemuda itu.
"Cuma belum diketahui, apa dia berani datang atau tidak,"
Kata Thianliong Siangdjin.
"Soesiok-nya ada di sini, aku rasa dia mesti datang,"
Kata Hok Goan Tiong.
"To It Hang tidak begitu tinggi kepandaiannya. Seng Potjoe tentu akan dapat kemenangan. Orang-orang Boetong pay sangat sombong. Sebentar, sesudah Potjoe menjatuhkan padanya, kita keluarkan Pek Sek Toodjin, masing-masing diganjar 30 rotan dan usir mereka keluar dari Sinkiang, supaya orang-orang gagah di Koanlwe pada tertawa."
"Perkataan Hok-heng cocok benar dengan hatiku. To It Hang tidak boleh disamakan dengan Pek Hoat Mo Lie. Kita masih dapat mengampuni jiwanya,"
Kata Seng Tjiang Ngo.
"To It Hang masih ada urusan dengan kami. Sebelumnya Potjoe usir dia, aku mau berhitung dahulu,"
Kata Thianliong.
Baca Juga: Tangan Berbisa 2
Baca Juga: Legenda Golok Halilintar 4