Hantu Wanita Berambut Putih 6

Eps 6 Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen

Baca online Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen

Cersil Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen.

Sesudah hari menjadi malam, Seng Tjiang Ngo jamu semua tetamunya.

Di seputar ruangan dipasang sejumlah lilin yang besar, sehingga seluruh ruangan menjadi terang bagaikan siang.

Semua tetamu memberi selamat pada tuan rumah, sambil menjaga-jaga.

apa It Hang berani datang atau tidak.

Sesudah orang minum beberapa cawan arak.

penjaga pintu masuk ke dalam dan menyerahkan sepotong tiap (karcis nama) dari kulit kerbau.

Di atas tiap itu tertulis.

"Murid Boetong pay To It Hang memenuhi undangan". Kulit itu tebal dan keras. Semua huruf bukan ditulis dengan pit dan bak, tapi digores dengan jeriji tangan. Seng Tjiang Ngo keluarkan suara menggerutu dan lantas perintahkan orang membuka pintu buat menyambut. It Hang dan Lok Hoa masuk ke dalam. Dengan satu lirikan, It Hang dapat lihat sejumlah lhama yang mengawasi padanya dengan sorot mata gusar, sedang Hok Goan Tiong dan dua saudara Sin juga terdapat di situ. Dengan paras yang tenang It Hang masuk ke dalam, diikuti oleh Lok Hoa. Seng Tjiang Ngo lantas maju menghampiri dan memberi hormat sambil berkata.

"Seng Tjiang Ngo, Potjoe dari Hongsee po, menyambut kedatangan tuan. Tuan To benar seorang yang boleh dipercaya. Siapakah adanya nona ini?"

"Dia adalah puterinya Pek Sek Soesiok,"

Jawab It Hang.

"Harap tuan To lebih dahulu minum tiga cawan arak!"

Kata Seng Tjiang Ngo sambil tertawa besar.

"Terima kasih buat kecintaan Potjoe."

Jawab It Hang.

"Minum arak dapat ditunda sekarang lebih dahulu aku mohon Soesiokku dikeluarkan."

"Itu gampang! Itu gampang!"

Kata Seng Tjiang Ngo.

"Kebetulan Boetong tjiangboen datang di sini, aku si tua bangka ingin dapat pengajaran beberapa jurus."

"Potjoe adalah orang gagah dari tingkatan lebih tua,"

Kata It Hang.

"Jika Potjoe mau memberi pelajaran, aku yang muda tentu tak berani menolak. Cuma saja..."

Sehabis berkata begitu, matanya menyapu ke seluruh ruangan.

"Cuma saja baik kita jelaskan dahulu, bahwa aku cuma dapat melayani Potjoe seorang. Aku mohon maaf, bahwa aku tidak dapat melayani orang-orang gagah yang lainnya."

Dengan berkata begitu. It Hang maksudkan, bahwa pertandingan harus dibikin menurut peraturan Rimba Persilatan, yaitu satu lawan satu. Seng Tjiang Ngo kembali tertawa besar.

"Tjiangboen memberi muka padaku, aku si tua bangka sungguh merasa jengah sendiri. Ah, ini tiap!"

Sehabis berkata begitu, dia acungkan tiap kulit kerbau dari It Hang.

"Karena di tempat belukar tidak terdapat alat tulis tapi hanya selembar kulit, maka terpaksa aku menggunakannya sebagai tiap. Harap Potjoe jangan tertawakan."

Kata It Hang.

"Bukan begitu."

Kata Seng Tjiang Ngo.

"Oleh karena namanya Boetong begitu menggetarkan daerah Tionggoan. aku si tua bangka cara bagaimana berani menerima tiap-nya tjiangboen?"

Sehabis berkata begitu, dia remas kulit itu hingga robek menjadi beberapa keping.

Robekan itu ditaruh di telapakan tangannya yang lalu dikepalkan.

Waktu dia buka kepalannya, kulit itu sudah jadi seperti gumpalan kertas, yang lantas dilemparkan.

It Hang terkejut melihat tingginya Engdjiauw Kong (Tenaga Kuku Garuda) lawannya.

Ketika Seng Tjiang Ngo mau turun ke gelanggang, dari antara orang banyak loncat keluar satu gadis remaja.

"Ayah,"

Katanya.

"ijinkan anakmu main-main sebentar. Aku dapat dengar ilmu pedang Boetong tidak ada timpalannya dalam dunia. Maka itu, aku ingin minta sedikit pengajaran dari tjietjie ini, buat buka sedikit mataku."

Gadis itu adalah puterinya Seng Tjiang Ngo. yang bernama Seng Tjiang Tjoe.

"Baik, baik,"

Kata sang ayah sambil tertawa.

"Dalam melayani tjiangboen, kita memang tak boleh bikin nona ini jadi kesepian. Bolehlah kau minta sedikit pengajaran aarinya."

Melihat orang tantang padanya.

Lok Hoa jadi mendongkol, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia turun ke dalam gelanggang.

Begitu berhadapan dan sesudah keluarkan beberapa perkataan merendah, seperti biasa digunakan dalam kalangan Rimba Persilatan, kedua wanita segera bertempur, dengan Seng Tjiang Tjoe menggunakan golok dan Lok Hoa bersenjata pedang.

Mereka betul-betul pantaran, keduanya baru berusia kurang lebih 18 tahun.

Lok Hoa gesit dengan pedangnya yang enteng, sedang Tjiang Tjoe bertenaga besar dengan goloknya yang berat.

Yang satu mengandalkan kelincahannya, yang lain mengandalkan tenaganya.

Lok Hoa selalu jaga supaya pedangnya tidak beradu dengan golok lawannya, dan Tjiang Tjoe, karena kalah gesit, tak dapat berbuat apa-apa.

50 Jurus telah lewat dan keadaan masih berimbang.

Seng Tjiang Ngo menonton dengan hati girang.

Dia dapat kenyataan, bahwa meskipun belum berpengalaman, puterinya sudah boleh juga.

Sesudah lewat kurang lebih 70 jurus, Lok Hoa dapat lihat kelemahan lawannya.

Dia sengaja menikam, dan waktu Tjiang Tjoe menyampok dengan goloknya, pedangnya Lok Hoa mendadak dibalikkan, dan dengan gerakan "Tjiauwhoe Boenlouw" (Tukang kayu tanya jalan), dia totok jalan darah "Hoakay hiat"

Lawannya.

Tjiang Tjoe buruburu lintangkan goloknya buat punahkan serangan itu, tapi tidak diduga, serangan Lok Hoa itu hanya gertakan belaka, dan sambil memutar pedangnya dan membentak, dia menusuk.

Ujung pedangnya Lok Hoa mampir di lengannya tanpa dapat dielakan dan goloknya nona Seng terlempar jatuh di tanah.

Dengan muka merah karena malu, dia buru-buru lari ke samping ayahnya.

"Ilmu pedang Boetong benar-benar bagus!"

Kata Seng Tjiang Ngo.

"Anakku yang tak tahu diri sekarang sudah kena dijatuhkan, dan sekarang biarlah kita yang main-main."

"Baiklah,"

Jawab It Hang dengan pendek. Sebelum turun, Seng Tjiang Ngo lebih dahulu keringkan tiga cawan arak.

"Tetamuku yang mulia jauh-jauh datang kemari. Mana boleh tidak minum arak. Hayo. keringkan dahulu satu cangkir baru kita main-main."

Sehabis berkata begitu, dua tangannya bergerak dan secangkir arak serta satu tusuk sate daging kerbau yang terbuat dari besi terbang ke arah It Hang.

It Hang tidak jadi gugup.

Cawan arak dia tangkap dengan dua jeriji, dan mulutnya dibuka buat menanggapi tusukan sate besi.

Sehabis makan dagingnya, dia semprotkan tusukannya yang lantas terbang kembali dan kemudian menghirup secawan arak yang dipegang dengan dua jerijinya.

"Terima kasih Potjoe,"

Katanya sambil melemparkan cawannya.

Sesudah itu, kedua orang lantas saling memberi hormat dan turun ke gelanggang.

Pertempuran kali ini sangat berlainan dengan pertempuran antara Lok Hoa dan Tjiang Tjoe.

Seng Tjiang Ngo pentang ke lima jerijinya dan loncat sambil mencengkeram.

It Hang berkelit sambil menikam ke arah bagian lawan yang lemah.

"Bagus"' seru Seng Tjiang Ngo sambil geser kakinya, badannya mendek, tangan kirinya menyodok tenggorokan, sedang tangan kanannya menepuk pundaknya It Hang. Dengan apungkan badannya, It Hang loloskan diri dari serangan itu, sambil mengirim dua tikaman. Seng Tjiang Ngo miringkan badannya dan kemudian keluarkan ilmu silat Lianhoan Tjianghoat (Ilmu silat tangan kosong yang berantai), yang gerakannya separuh membela diri dan separuh menyerang musuh. Gerakan itu seperti juga gerakan garuda, yang menyambar-nyambar tidak hentinya. Tapi semua serangan itu dengan gampang dapat dielakkan oleh It Hang, sehingga mau tidak mau Seng Tjiang Ngo mesti kagumi kepandaiannya orang muda itu. Dengan cepat 100 jurus telah lewat, tapi keadaan masih berimbang. Mengenai tenaga dalam, Seng Tjiang Ngo menang seketek, tapi It Hang dapat mengimbangi dengan kemahirannya dalam menggunakan pedang. Melihat dia belum juga dapat menjatuhkan lawannya, Tjiang Ngo merasa jengkel dan penasaran. Satu ketika, sambil keluarkan seruan panjang, badannya ngapung ke atas sambil pentang sepuluh jerijinya buat menyengkeram lawannya. It Hang angkat pedangnya buat papaki musuh, tapi Seng Tjiang Ngo dapat egoskan badannya di tengah udara, sedang sepuluh jerijinya diteruskan ke arah tubuhnya It Hang. Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, dia terpaksa bergulingan di atas lantai buat bebaskan diri dari cengkeraman musuh. Kejadian ini membikin orang-orang yang menonton jadi tertawa terbahak-bahak. Hupotjoe (majikan kedua dari Hongsee po) yang pernah dipecundangkan It Hang, mengejek sambil tertawa.

"Ha! Kalian lihat tidak? Seekor kura-kura merayap di tanah!"

It Hang merasa sangat gemas, tapi dia tetap berlaku tenang.

Sesudah bertempur lagi beberapa lama, kembali Seng Tjiang Ngo menggunakan siasatnya, yaitu mengapungkan badannya ke atas dan kemudian turun mencengkeram lawannya.

It Hang miringkan badannya sambil menabas dengan pedangnya, sedang Seng Tjiang Ngo, seperti tadi, mengegos dan teruskan cengkeramannya.

Tapi ini kali dia kena batunya.

It Hang yang sudah siap dengan gampang dapat egoskan cengkeraman itu dan dengan berbareng, pedangnya dibalikkan buat menabas.

Pedang berkelebat seperti kilat cepatnya.

Untung Seng Tjiang Ngo juga bukannya orang sembarangan.

Dengan satu seruan nyaring, dia jumpalitan, tapi tidak urung sarung tangannya kena terpapas pecah!

Semua tetamu yang menonton terkejut.

Ini kali Lok Hoa yang tertawa.

"Ha! Kalian lihat tidak? Seekor anjing tua jumpalitan!"

Kata Lok Hoa sebagai pembalasan budi.

"Satu cengkeraman dan satu tabasan pedang, boleh dibilang seri,"

Kata Seng Tjiang Ngo.

"Hayo, lagi!"

Demikian mereka bertempur pula, dengan masing-masing berlaku sangat berhati-hati.

Serangan Seng Tjiang Ngo yang barusan adalah satu pukulan Engdjiauw Kong yang sangat tinggi.

Jika tenaga dalam si penyerang sudah mencapai puncak kesempurnaan, dia dapat berputar-putar di atas udara dan menubruk ke bawah seperti seekor burung elang.

Seng Tjiang Ngo sendiri belum sampai pada puncak kemahiran, maka itu, dia cuma dapat berputar sekali di udara.

Dalam serangan yang pertama, lt Hang hampir celaka.

Tapi waktu diserang kedua kalinya, dia sudah siap dan sambut serangan itu dengan pukulan rahasia dari ilmu pedang Tat Mo.

Lantaran sudah gagal, Seng Tjiang Ngo juga tidak berani keluarkan lagi pukulan tersebut.

Melihat lawannya tidak mengulangi pukulan tadi, It Hang juga simpan ilmu pedang lai Mu dan layani musuhnya dengan Lianhoan Kiamhoat dari Bodong pay.

Kembali, 50 jurus telah lewat Dengan perlahan tapi tentu, It Hang berada di atas angin.

Semua penonton mengetahui itu dan jika pertempuran dilangsungkan terus, Seng Tjiang Ngo akan menderita kekalahan.

Dalam keadaan demikian, Thianliong Siangdjin mendadak loncat turun ke gelanggang dan sambil mengibaskan kedua tangannya, dia membentak.

"Berhenti!"

Waktu Thianliong mengibas dengan tangannya, It Hang rasakan satu tenaga yang kuat mendorong dia dan dia lantas mundur.

"Seng Potjoe!"

Dia kata sambil tertawa dingin.

"Apa artinya ini?"

"Kalian sudah bertempur begitu lama dan belum ada yang keteter, maka itu baik dihitung seri saja"

Kata Thianliong. It Hang tahu, dia tidak boleh membikin orang jadi terlalu malu, sebab pihak lawan berjumlah lebih banyak. Maka itu, lantas saja dia berkata.

"Terima kasih, Potjoe. Karena Potjoe menaruh belas kasihan, maka aku yang muda tidaklah sampai jatuh. Apakah soesiok-ku sekarang boleh dilepaskan?"

Paras mukanya Seng Tjiang Ngo pucat. Sebelum dia menjawab, Thianliong sudah mendahului.

"Itu adalah urusan antara kau dan Seng Potjoe, dan menurut pantas aku masih ada sedikit ganjelan, aku memberanikan hati buat minta izinnya Potjoe, supaya dua urusan dibereskan dengan sekaligus. Sesudah kau dan aku mengadakan perhitungan, Thianliong pay tidak akan cari musuh lagi dengan pihakmu, dan Pek Sek Toodjin juga akan segera dilepaskan."

It Hang tahu pertempuran tak dapat disingkirkan lagi. Maka itu, dengan tenang dia berkata.

"Bagaimana cara berhitungnya? Kalian berjumlah besar dan jika kalian mau mengerubuti, dengan suka hati aku akan serahkan saja kepalaku kepadamu buat ganti jiwanya soetee dan muridmu!"

Dengan berkata begitu, It Hang mau menjaga supaya dia jangan sampai dikerubuti.

Dia anggap, sebagai kepala dari satu "pay", Thianliong tentu akan hilang muka jika gunakan cara keroyok.

Benar saja, Thianliong lantas tertawa terbahak-bahak.

"Kau adalah tjiangboen dari Boetong pay. sedang aku adalah kepala dari Thianliong pay,"

Kata dia.

"Kalau mau dihitung derajat, kita adalah sama derajat. Maka itu, buat apa lain orang turut campur? Kalau kau menang, Pek Sek Toodjin akan dikembalikan tanpa kurang selembar rambutnya. Tapi jika kau kalah, kau pun harus turut peraturan kita."

"Peraturan apa?"

Tanya It Hang.

"Di daerah ini terdapat satu peraturan yang seperti ini. jika dua orang mengadu ilmu. tak peduli adu ilmu agama Buddha atau ilmu silat, yang kalah harus menakluk kepada yang menang, dalam artian, pihak yang kalah harus menjadi muridnya pihak yang menang. Jika dia tak sudi. maka dia harus serahkan kepalanya kepada si pemenang itu,"

Demikian keterangan Thianliong Siangdjin. Mendengar begitu. It Hang jadi sangat gusar.

"Jangan cerewet!"

Dia membentak.

"Jika aku kalah, akan aku serahkan kepalaku!"

Thianliong tertawa terbahak-bahak.

"Bagus!"

Katanya.

"Kata-katamu merupakan janji, saudara-saudara menjadi saksinya. Hayo, ambil dua cawan arak!"

Beberapa muridnya segera bawa dua cawan besar arak.

"Jangan buang tempo. Minum arak segala!"

Kata It Hang.

"Di sini ada peraturan, bahwa orang yang mau mati harus lebih dahulu minum secawan arak."

Kata Thianliong.

"Aku dengar, di Koanlwe juga ada peraturan, bahwa orang perantaian yang mau menjalankan hukuman mati harus lebih dahulu diberikan tiga cawan arak. Dalam pertempuran antara kau dan aku, salah satu mesti binasa. Maka itu, kita masingmasing baiklah minum dahulu secawan arak!"

It Hang jadi sangat gusar.

Dia jumput satu cawan dan timpukkan ke arah Thianliong.

Pada saat yang sama, Thianliong juga jumput cawan yang lain dan timpukkan ke arah lawannya.

It Hang kumpulkan tenaganya di telapakan tangannya.

Sambil mendorong, dia loncat untuk menangkap cawan itu, dan araknya tidak tumpah barang setetes, dan kemudian minum kering isinya.

Dengan perlihatkan kepandaiannya itu, It Hang anggap tentu orang akan sambut dengan tampik sorak.

Tapi.

tak diduga, sedikit sambutan pun tidak terdengar, sehingga dia merasa jengah sendiri.

Di lain pihak, Thianliong panjangkan lehernya dan tiup cawan itu yang lantas mumbul ke atas.

Di udara cawan itu miring sedikit dan arak mengucur turun.

Thianliong segera pentang mulutnya buat tanggapi arak itu.

Sesudah minum habis, Thianliong usap mulutnya sambil berkata.

"Sungguh enak! Wangi! Harum baunya!"

Kepandaian yang istimewa itu disambut oleh hadirin dengan sorak-sorai yang ramai sekali.

It Hang terkejut.

Ternyata kepandaiannya Thianliong jauh lebih tinggi dari soetee-nya dan juga lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Thianliong kelihatannya merasa bangga sekali.

"Kita berdua adalah pemimpin dari satu pay,"

Katanya sambil tersenyum.

"Mengadu kepandaian dengan gunakan kaki dan tangan, aku anggap agak kurang cocok dengan derajat kita. Maka itu, lebih baik kita adu kepandaian secara boen (secara halus)."

"Bagaimana?"

Tanya It Hang.

"Aku duduk di atas panggung. Kau pukul aku tiga kali, tanpa dibalas. Jika kau dapat membikin aku jatuh, kau menang,"

Kata Thianliong.

Dilihat sepintas lalu, cara ini sangat menguntungkan It Hang.

Tapi sebenarnya tidak begitu.

Dengan usulnya itu, Thianliong sebenarnya pasang jebakan.

Barusan, waktu menjajal dengan menggunakan cawan arak, Thianliong tahu tenaga dalamnya It Hang masih kalah dengan tenaganya sendiri.

Tapi, dia juga mengetahui, bahwa It Hang mempunyai ilmu pedang yang liehay sekali.

Meskipun dia percaya bahwa pada akhirnya dia akan dapat menjatuhkan lawannya, tapi masih memerlukan juga satu pertempuran dari ratusan jurus.

Memikir begitu, dia ambil putusan buat ajukan usulnya itu.

Cara itu, bukan saja lebih mudah, tapi juga lebih gemilang kelihatannya.

Di lain pihak, It Hang tahu, dia tidak akan dapat menangkan Thianliong dalam satu pertempuran.

Sekarang, secara temberang Thianliong ajukan usul begitu.

It Hang anggap itulah satu-satunya pengharapan buat mendapat kemenangan.

Dia sama sekali tidak percaya Thianliong akan dapat tahan pukulannya sampai tiga kali, dan dia lantas saja menyetujui.

Thianliong lantas saja loncat naik dan bersila di atas panggung, sambil pelembungkan perutnya.

"Boetong Tjiangboen, aku tunggu pengajaranmu,"

Kata dia sambil tertawa terbahak-bahak.

It Hang juga lantas loncat ke atas.

Sesudah kumpulkan Seantero tenaganya, seperti kilat dia menjotos perutnya Thianliong.

Begitu kepalannya menempel pada perutnya Thianliong, It Hang jadi terkesiap.

Perut itu empuk seperti kapas dan mempunyai tenaga menyedot yang sangat besar, sehingga kepalannya seperti lengket pada perutnya Thianliong.

Buru-buru It Hang kendorkan tenaga dalamnya dan kepalannya mengikuti sedotan itu.

Kemudian, dengan kecepatan kilat, seperti lindung, kepalannya melejit dari kulit perutnya Thianliong.

Melihat lawannya dapat loloskan diri dari sedotannya yang liehay, Thianliong jadi sedikit terkejut.

Tapi lekas juga dia tertawa.

"Pukulan pertama, hayo lagi, hayo lagi!"

Dia berseru.

Sementara itu, sorak-sorai yang riuh terdengar di bawah panggung.

Sesudah berpikir sebentar, It Hang maju setindak.

Begitu datang cukup dekat, tangannya menyapu.

Ini kali dia tidak pukul perut, tapi mukanya Thianliong.

It Hang anggap, biar tenaga dalamnya Thianliong bagaimana tinggi juga, dia tidak nanti bisa latih kekuatannya sampai ke bagian muka.

"Buk!"

Thianliong benar-benar tanggapi kepalan It Hang dengan mukanya.

It Hang mundur sempoyongan tiga tindak dan hampir saja jatuh ke bawah panggung.

Kepalannya seperti juga memukul papan besi sehingga dirasakan sakit sekali!

Thianliong juga kena goncangan keras, sehingga duduknya bergeser ke belakang.

Ini kali Thianliong kembali dapat kemenangan, karena sudah berjanji, dia baru kalah kalau lt Hang, dapat memukul dia jatuh ke bawah panggung.

Orang-orang yang menonton bersorak-sorak lebih hebat lagi daripada tadi.

"Nah, sekarang tinggal sekali lagi,"

Kata Thianliong sambil tertawa.

"Jika kali ini kau tidak dapat memukul aku jatuh ke bawah, kau harus jadi muridku, atau serahkan kepalamu."

It Hang bingung.

Dia sama sekali tidak duga, tenaga dalamnya Thianliong sedemikian tinggi.

Dia angkat tangannya dengan penuh kesangsian.

Dia sangsi bagian mana yang harus dipukulnya.

Melihat kesangsian orang, Thianliong jadi tidak sabaran.

"Apa kau takut mampus?"

Dia membentak.

"Hayo, lekas!"

Mendadak, di bagian belakang Hongsee po kedengaran suara ribut.

"Siapa yang bikin ribut. Pergi lihat!"

Seng Tjiang Ngo membentak.

Waktu itu, dalam suasana yang demikian tegang, semua orang tidak perhatikan suara itu.

Semua mata ditujukan ke atas panggung untuk menyaksikan pukulan yang penghabisan.

Dan pada saat itulah, tiba-tiba terdengar satu suara tertawa yang sangat panjang, dibarengi dengan serabutannya banyak orang!

Hatinya It Hang meluap dengan kegirangan.

"Lian Tjietjie'"

Dia berseru.

Berbareng dengan itu, tangannya menyapu ke arah pinggangnya Thianliong.

Pada saat It Hang turunkan tungaunya rhianliong rasakan bcliukungtiyit kesemutan, dan begitu kena pukulan, tubuhnya yang tinggi besar segera ambruk jatuh kr bawah!

Hatinya Thianliong heran sekali Dia merasa telah diserang secara gelap, tapi dia tidak mengetahui, serangan apa adanya itu.

Bahwa seorang pemimpin sebagai dia sampai kena diserang secara gelap tanpa mengetahui, adalah satu kejadian yang sangat memalukan.

Dengan cepat dia bangun berdiri.

Seorang wanita, yang rambutnya putih sedang mendatangi seperti terbang dengan tangan mengebas-ngebaskan sebatang pedang yang tajam.

Di mana saja pedangnya berkelebat, di situ tentu terdengar teriakan ngeri dan robohnya tubuh manusia.

Dalam tempo sekejap, wanita itu sudah tiba di tengah-tengah gelanggang dan orang-orang lari berserabutan dengan hati ketakutan.

"Inilah Pek Hoat Mo Lie!"

Seng Tjiang Ngo berseru.

Bersama belasan orang yang berkepandaian tinggi, dia segera cabut senjatanya dan maju ke depan buat rintangi Giok Lo Sat.

Di belakangnya Giok Lo Sat kelihatan muncul seorang pendeta yang mencekal pedang, yang begitu datang dekat, lantas membentak.

"Thianliong pendeta siluman! Bangsat tua Hok Goan Tiong! Rasakan pedangku!"

Orang itu tidak lain dari pada Pek Sek Toodjin. Melihat ayahnya, Ho Lok Hoa jadi sangat girang dan memanggil dengan sekuat suara.

"Ayah!"

To It Hang sudah turun dari atas panggung dan sambil menarik tangannya Lok Hoa, dia berkata.

"Jangan maju! Dengan datangnya Giok Lo Sat, kita pasti bisa keluar dari tempat ini."

Datangnya Giok Lo Sat di Hongsee po adalah buntut dari pertemuannya dengan It Hang dan Lok Hoa pada malam itu.

Mengetahui bahwa Pek Sek kena ditawan.

Giok Lo Sat segera pergi menyelidiki.

Dari penyelidikannya itu, dia mendapat tahu, bahwa Seng Tjiang Ngo dan Thianliong Siangdjin telah mengumpulkan orang untuk memusuhi dia, sedang ditangkapnya Pek Sek Toodjin .cuma merupakan satu umpan buat pancing padanya.

Giok Lo Sat jadi sangat gusar.

Meski pun dia merasa sangat mendongkol terhadap Pek Sek, tapi ini kali dia mesti menolongnya.

Di samping itu, dia juga tahu, bahwa pada tanggal 7 bulan 7 It Hang telah dijanjikan untuk datang di Hongsee po.

Hatinya Giak Lo Sat sangat sakit, tapi dia tidak tega melihat It Hang antarkan jiwanya.

Maka itu, waktu tadi It Hang dan Lok Hoa sedang bertempur, diam-diam dia pergi ke belakang buat tolongi Pek Sek Toodjin.

Dengan andaikan ilmu entengkan tubuhnya yang sangat tinggi dan juga karena semua orang sedang memusatkan perhatiannya pada jalannya pertempuran, kedatangannya Giok Lo Sat tidak diketahui oleh siapa juga.

Waktu tiba di tengah-tengah Hongsee po, dia merasa sedikit bingung, sebab tidak mengetahui tempat kurungannya Pek Sek.

Selagi memikirkan jalan, matanya melihat tanda panah yang dilukis dengan lumpur di atas tembok.

Giok Lo Sat heran.

"Siapa yang mendahului aku datang di sini?"

Dia kata dalam hatinya.

Benar saja, dengan mengikuti tanda anak panah ini, dia akhirnya dapat cari kamar yang mengurung Pek Sek.

Dia tendang kamar itu dan putuskan rantai yang mengikat Pek Sek.

dan sebelum Pek Sek sempat menghaturkan terima kasih.

Giok Lo Sat sudah tinggalkan pendeta itu.

Waktu Giok Lo Sat sampai di depan, It Hang sedang angkat tangannya buat jatuhkan pukulannya yang penghabisan.

Melihat begitu, dengan cepat dia menyambit dengan senjata tunggalnya, yaitu jarum Kioeseng Tengheng Tjiam.

Thianliong yang sedang perhatikan It Hang tidak duga bakal ada orang yang membokong, dan oleh karena begitu, jarum yang berbahaya itu menancap jitu pada tubuhnya, tanpa dia sendiri mengetahui.

Pada hari itu, waktu berada di padang pasir, Pek Sek Toodjin kena ditawan oleh Thianliong Siangdjin dan Hok Goan Tiong.

Kemudian dia dibawa ke Hongsee po di mana dia dikurung dalam penjara.

Kejadian ini merupakan satu pukulan hebat bagi Pek Sek yang adatnya tinggi.

Sekarang, benar dia tertolong, akan tetapi orang yang menolongnya adalah Giok Lo Sat, yang dia benci dan sering namakan sebagai iblis perempuan.

Dengan begitu, perasaan gusar dan jengah teraduk menjadi satu.

Maka itu, dalam keadaan kalap, begitu melihat Thianliong Siangdjin, dia lantas menerjang, buat berkelahi mati atau hidup.

Giok Lo Sat tertawa, sedang tangannya menyentak Pek Sek.

Bisa jadi dia gunakan tenaga terlalu besar, sebab Pek Sek terhuyung dan hampir jatuh.

Pek Sek mengawasi Giok Lo Sat dengan mata mendelik.

Dia tidak nyana, sesudah menolong, sekarang Giok Lo Sat bikin malu dirinya.

"Pek Sek Toodjin,"

Kata Giok Lo Sat sambil tertawa dingin.

"Kau bukan tandingannya lebih baik kau menyingkir!"

Malu dan gusarnya Pek Sek bukan kepalang.

Tapi karena mengingat orang sudah menolongi jiwanya dan perkataannya Giok Lo Sat juga tidak salah, maka, biarpun perutnya dirasakan mau meledak, dia tidak berani membantah.

Melihat keangkerannya Giok Lo Sat, Thianliong juga merasa gentar.

Akan tetapi, dia tentu tidak dapat perlihatkan kelemahannya di hadapan murid-muridnya.

"Pek Hoat Mo Lie!"

Dia berteriak.

"Lain orang takut, tapi aku tidak takut padamu. Mari! Mari! Mari kita bertempur barang 300 jurus!"

"Benar-benar kau tidak takut padaku?"

Kata Giok Lo Sat dengan tawar.

"Coba kau raba tulang punggungmu, hitung dari bawah tulang ke tujuh!"

Tanpa merasa, tangannya Thianliong meraba bebokongnya, yang dia rasakan gatal dan sakit.

"Hantu perempuan!"

Thianliong berteriak dengan gusar.

"Kalau begitu kau sudah bokong diriku!"

Sehabis membentak dia cabut kebutannya buat adu jiwa dengan Giok Lo Sat. Giok Lo Sat tetap tidak bergerak. Dia malahan tertawa dan berkata.

"Kau sudah kena senjata rahasiaku. Jika kau tidak naik darah, tidak keluarkan tenaga dan mengaso tujuh kali tujuh hari, dengan mengandalkan tenaga dalammu, kau masih dapat keluarkan senjata rahasia itu dengan menggunakan tenaga sendiri. Akan tetapi, jika kau naik darah, tanpa aku turun tangan, dalam tempo tiga hari kau sudah mampus!"

Sesudah berkata begitu, paras mukanya jadi angker dan membentak.

"Thianliong! Mengingat kau adalah kepala dari satu cabang persilatan dan tidaklah gampang untuk mendapat kepandaian seperti kau. hari ini aku ampuni jiwamu! Apa sekarang kau masih tidak mau buru-buru mabur?"

Perkataan Giok Lo Sat seperti juga pisau yang menusuk kupingnya Thianliong Siangdjin, sehingga bulu romanya bangun berdiri.

Dia percaya semua perkataannya Giok Lo Sat.

Sesudah berdiam beberapa saat, dia lantas putar badannya dan bersama sekalian murid-muridnya, ia berlalu dari Hongsee po.

Mukanya Seng Tjiang Ngo jadi pucat.

Dia tidak mengira Thianliong begitu kecil hati.

Sementara itu, sesudah menyapu semua orang yang ada di situ dengan matanya, Giok Lo Sat kembali tertawa dan berkata.

"Ah, Hongsee Potjoe, kau sudah undang begitu banyak orang, kenapa juga belum turun tangan? Ha, Sin Tay Goan, Sin It Goan, ini dua popwe juga ada di sini? Aku dan ayah (Tiat Hoei Liong) dua kali ampuni kau, tapi sekarang aku tentu tidak mau gampang-gampang lepaskan kamu. Ha, Hok Goan Tiong! Kau juga di sini? Pelajaran di puncak selatan rupanya sudah dilupakan olehmu!"

"Ini hantu perempuan sangat kejam! Sekarang kita ibarat sedang tunggang macan. Hayo, serbu saja mati-matian!"

Berseru Sin Tay Goan.

Seng Tjiang Ngo yang belum kenal liehaynya Giok Lo Sat segera ulapkan tangannya dan belasan orang yang ilmu silatnya tinggi iantas menerjang.

Giok Lo Sat tertawa nyaring sambil menghunus pedangnya seperti kilat, dan dalam sekejap mata, tiga orang sudah roboh kena tikaman.

Seng Tjiang Ngo sendiri segera menubruk sambil pentang sepuluh jerijinya.

"Bagus!"

Seru Giok Lo Sat.

"Aku memang mau cobacoba Engdjiauw Kong-mu!"

Sehabis berkata begitu, dia sambut tangannya Seng Tjiang Ngo, yang kontan lantas sempoyongan dengan tangan keluarkan darah! "Saudara-saudara!"

Teriak Seng Tjiang Ngo dengan suara kalap.

"Mari kepung! Kita lebih baik mati daripada dihinakan!"

Menyaksikan liehaynya musuh, belasan orang itu sebetulnya sudah merasa gentar.

Akan tetapi, mendengar perintah Seng Tjiang Ngo, semua orang segera menyerbu tanpa pedulikan keselamatan dirinya lagi.

Giok Lo Sat mengangguk-anggukkan kepalanya dan hatinya tahu, bahwa Seng Tjiang Ngo dicinta oleh orang-orangnya.

Selagi pertempuran berlangsung hebat, Hu Potjoe (majikan kedua dari Hongsee po) menggunakan satu kesempatan buat totok bebokongnya Giok Lo Sat dengan poankoan pit-nya.

Tapi Giok Lo Sat seperti juga mempunyai mata di bebokongnya.

Dia berbalik sambil balas menotok.

"Aku juga mau mencobacoba menotok jalan darahmu,"

Katanya sambil tertawa.

Berbareng dengan itu, Hu Potjoe berteriak kesakitan dan roboh terjengkang.

Orang-orangnya buru-buru gotong dia ke ruangan belakang.

Waktu itu orang-orang gagah yang berada di Hongsee po sudah kepung Pek Sek, It Hang dan Lok Hoa, sedang Seng Tjiang Ngo sendiri, dengan mengajak 7 atau 8 orang yang berkepandaian paling tinggi mengepung Giok Lo Sat.

Meskipun Giok Lo Sat cukup liehay, akan tetapi karena jumlah yang mengepung terlalu banyak, maka tidaklah gampang buat dia menerjang keluar.

Dengan andalkan ilmu enteng tubuh, dia loncat ke sana-sini seperti kilat dan di mana ada kesempatan pedangnya tentu mampir pada tubuhnya orang yang ilmu silatnya lebih lemah.

Dalam tempo tidak berapa lama, suara teriakan dan rintihan terdengar ramai dalam gelanggang pertempuran.

Seng Tjiang Ngo sudah merah matanya.

Dia berkelahi seperti banteng gila, tanpa pedulikan jiwanya.

Dalam pertempuran itu, oleh karena mengetahui ilmu silatnya Lok Hoa yang paling lemah, It Hang selalu berkelahi berendeng dengan nona Ho buat melindungi di mana perlu.

Giok Lo Sat sendiri beberapa kali lewat di depan It Hang, tapi dia seperti juga tidak lihat pemuda itu.

Karena sedang bertempur hebat, It Hang tidak berani alihkan perhatiannya buat coba memberi penjelasan kepada Giok Lo Sat, dan terpaksa berkelahi terus dengan hati perih.

Satu ketika, Pek Sek Toodjin bertemu dengan Hok Goan Tiong.

Melihat musuh besarnya, Pek Sek segera memburu sambil kirim satu tikaman.

Tapi Hok Goan Tiong juga bukan sembarangan ahli silat.

Jika bertanding satu sama satu, memang Pek Sek ada lebih unggul, akan tetapi, buat mendapat kemenangan, Pek Sek sedikitnya perlu bertempur lebih dari seratus jurus.

Sekarang, karena jumlah lawan ada lebih besar, maka sukar bagi Pek Sek untuk menjatuhkan musuh itu.

Baru saja pertempuran berlangsung beberapa jurus, Liongho Yatouw sudah datang membantu.

Ilmu silatnya Liongho Yatouw tidak berada di sebelah bawahnya Seng Tjiang Ngo.

Begitu dia turun tangan, Pek Sek Toodjin jadi repot sekali.

Hok Goan Tiong segera gunakan kesempatan ini buat kirim dua sabetan dengan pecutnya, yang mengenakan jitu pada pundaknya Pek Sek.

Bajunya Pek Sek hancur kena pecutan dan pada dagingnya timbul tanda balan yang bersemu merah.

Hok Goan Tiong tertawa terbahak-bahak.

"Dua sabetan pecut bayar dua tikaman pedang. Sudahlah, aku tidak mau terima bunga!"

Kata dia.

Sehabis berkata begitu, dia tarik pecutnya dan lantas berlalu dari Hongsee po.

dengan tindakan terbang.

Sejak itu, Hok Goan Tiong umpetkan diri dan tidak mau usil lagi segala urusan orang lain.

Pek Sek mengamuk dan dapat merobohkan dua lawannya, tapi belakangan dia kena ditahan lagi oleh Liongho Yatouw dan beberapa orang lainnya.

"Pek Sek, kau tidak mau berkumpul jadi satu, apa kau mau cari mampus?"

Seru Giok Lo Sat.

Waktu itu, kedua matanya Pek Sek sudah jadi merah karena kalapnya.

Dia seperti tidak dengar perkataan Giok Lo Sat dan terus bertempur mati-matian dengan gerakan pedang yang sudah mulai kalut.

It Hang dan Lok Hoa segera memburu buat menolong.

Ilmu silatnya It Hang sekarang sudah berada di atasnya Pek Sek Toodjin.

Dengan beberapa jurus Tat Mo Kiamhoat, dia dapat melukai beberapa orang, dan dapat berada di damping soesiok-nya.

Melihat cara bersilatnya It Hang, Giok Lo Sat juga memuji dalam hatinya.

Tapi, meskipun sudah dapat perlindungan It Hang, Giok Lo Sat masih berkuatir.

Buru-buru dia menerjang dan mereka berempat segera berkumpul menjadi satu.

Sesudah kaburnya Thianliong Siangdjin dan Hok Goan Tiong.

tenaganya Hongsee po mulai lemah.

Betul jumlah orang cukup besar, tapi yang mempunyai kepandaian tinggi tidak seberapa.

Sambil bertempur, dua kali It Hang berseru.

"Lian Tjietjie! Lian Tjietjie!"

"It Hang, lindungi soesiok-mu. Jangan sampai orang melukai lagi padanya,"

Kata Giok Lo Sat. Hatinya It Hang jadi girang dan buru-buru berkata.

"Baik! Aku perhatikan pesanan Lian Tjietjie!"

Mendengar itu, matanya Pek Sek jadi seperti terbalik! Hampir-hampir dia pingsan karena sangat mendongkol.

"Ayah, kenapa kau?"

Tanya Lok Hoa beberapa kali. tapi Pek Sek tidak menyahut. Melihat keadaan ayahnya yang mengejutkan, Lok Hoa berbisik pada It Hang.

"Ayah kelihatannya sudah gila. Kita harus lindungi dia."

It Hang manggutkan kepalanya dan terus tancap kaki di damping soesioknya.

Ketika itu, sambil tertawa nyaring dan panjang, Giok Lo Sat enjot badannya yang lantas ngapung ke atas.

Di tengah udara, dia putar pedangnya dan menikam Sin Tay Goan, yang, dengan kebingungan, coba berkelit sambil mencengkeram.

Pukulan Yahouw koen (Pukulan rase alas) Sin Tay Goan adalah satu cabang persilatan yang istimewa dan sangat ditakuti orang.

Hanya, sedari tiba di Sinkiang tidak hentinya Giok Lo Sat meneliti pengajaran gurunya dan terus melatih diri, sehingga ilmu silatnya sudah tiba di puncak kesempurnaan, maka serangan Yahouw koen sedikit pun tidak membikin dia jadi keder.

Cengkeraman Tay Goan dengan gampang dapat dielakkan olehnya dan berbareng dengan itu dia kirim satu tikaman kilat yang menembus di tubuh musuhnya.

Melihat saudaranya roboh.

Sin It Goan coba melarikan diri, tapi sudah terlambat.

Kakinya Giok Lo Sat mengenai jitu di bebokongnya dan dia tewas, dengan keluarkan darah dari mulutnya!

"Hongsee Potjoe!"

Seru Giok Lo Sat sambil tertawa.

"Bagaimana kepandaian dua saudara Sin jika dibanding dengan kepandaianmu?"

Jika kau masih terus berkepala batu, mungkin hari ini aku mesti membuka larangan membunuh!"

"Aku bukan sebangsa manusia yang takut mampus!"

Jawab Seng Tjiang Ngo dengan gusar.

Sehabis berkata begitu, dia menubruk tanpa pedulikan ujung pedangnya Giok Lo Sat.

Dengan sekali kelit.

Seng Tjiang Ngo tubruk tempat kosong dan badannya sempoyongan ke depan.

Setelah itu, dalam sekejap, Giok Lo Sat kembali telah melukai beberapa orang lain.

Sakit betul hatinya Seng Tjiang Ngo!

"Kau sudah celakakan saudara-saudaraku, sekarang aku tidak mau hidup lagi!"

Dia berteriak.

"Hayo, jangan main kasihan lagi, bunuh saja aku! Aku memang mau mati bersama-sama sekalian saudaraku!"

Giok Lo Sat tidak meladeni.

Gerakan-gerakannya seperti kilat dan beberapa orang lagi roboh kena tusukan pedang.

Berulang-ulang Seng Tjiang Ngo tubruk padanya dengan sembarangan, tapi Giok Lo Sat terus berkelit dan singkirkan diri dari potjoe yang kalap itu.

"Hongsee Potjoe,"

Giok Lo Sat mendadak berkata.

"Bila aku bunuh saudara-saudaramu?"

Seng Tjiang Ngo berdiri diam sambil mengawasi saudarasaudaranya yang menggeletak sambil merintih.

"Iblis perempuan!"

Dia berseru.

"Kau masih omong manis-manis!"

Sehabis berkata begitu, dia segera terjang musuhnya. Ketika itu mendadak terdengar suara ketokan bokhi dan suara orang menyebut "O-mi-to-hoed."

Seng Tjiang Ngo menoleh dan lihat seorang pendeta, yang tidak diketahui datangnya, sudah berdiri di tengah-tengah gelanggang pertempuran.

"O-mi-to-hoed,"

Kata pula pendeta itu.

"Permusuhan lebih baik dibikin kecil daripada dibikin besar. Aku mohon saudarasaudara menghentikan pertempuran."

Sebagian orang-orang gagah yang berada di situ kenal pendeta itu dan rnereka lantas berseru.

"Hoei Beng Siansoe! Ini hantu perempuan pandang jiwa manusia seperti rumput. Hayo, bantui kita."

"Gak Beng Kie, kalau begitu kau yang datang!"

Kata Giok Lo Sat sambil tersenyum. Mendengar panggilan Giok Lo Sat pada Hoei Beng Siansoe, semua orang jadi terkejut. Hoei Beng berhenti memukul bokhi dan sambil rangkap kedua tangannya dia berkata.

"O-mi-to-hoed, harap semua orang berhenti dahulu!"

Selama delapan tahun berdiam di Thiansan, berhubung dengan ilmu silatnya yang sangat tinggi dan adatnya yang sangat ramah tamah dan suka menolong sesama manusia, orang-orang gagah di selatan dan utara Thiansan semua sangat takluk padanya.

Mendengar anjurannya, semua orang, kecuali Seng Tjiang Ngo, lantas loncat keluar dari medan pertempuran.

Waktu itu Seng Tjiang Ngo seperti juga tidak dengar perkataannya Hoei Beng.

Dengan rambut yang kusut, dia terus terjang Giok Lo Sat.

"Potjoe, berhenti dahulu,"

Kata pula Hoei Beng.

"Apa yang dikatakan olehnya sedikitpun tidak salah. Saudara-saudaramu tidak ada satu yang tewas. Orang-orang yang luka akan kuobati sampai sembuh. Seng Potjoe, harap kau pandang muka pintjeng dan suka berhenti dahulu."

Seng Tjiang Ngo berhenti menerjang.

"Mereka luka begitu berat, apa benar masih bisa ditolong?"

Tanyanya dengan perasaan heran.

"Meskipun dia dinamakan hantu perempuan, akan tetapi dalam hatinya masih terdapat perasaan kasihan,"

Jawab Hoei Beng.

"Tikaman-tikaman yang diberikan olehnya semuanya bukan pada tempat yang berbahaya. Meskipun mereka tidak bisa bangun, tapi jiwanya tidak terancam. Aku di sini mempunyai obat pulung Pekleng wan yang dibuat dari soatlian di Thiansan. Dengan menelan obat ini, perasaan sakit bisa lantas hilang dan dalam tempo satu jam, aku tanggung keadaan saudara-saudaramu sudah pulih seperti sedia kala."

Hoei Beng lantas saja keluarkan beberapa puluh pel Pekleng wan yang dia serahkan kepada orang-orang yang tidak luka.

Obat pulung itu segera diberikan kepada orangorang yang menggeletak, dan benar saja, dalam sekejap saja, mereka sudah bisa bangun berdiri.

"Beng Kie! Hari ini aku yang dimaki, tapi kau yang dipuji orang. Jangan senang-senang, lain kali aku akan satroni kau lagi buat adu pedang!"

Kata Giok Lo Sat sambil tertawa. Sesudah semua saudaranya yang luka bisa bangun berdiri. Seng Tjiang Ngo menghampiri Giok Lo Sat dan menyoja.

"Hari ini baru aku tahu, bahwa di luar langit masih ada langit,"

Katanya sambil menghela napas.

"Hiotong ini akan aku bubarkan dan mulai hari ini aku tidak lagi mau berebut pengaruh. Aku ingin menyatakan terima kasih kepada kau yang dalam pertempuran masih menaruh belas kasihan!"

"Kau lihat,"

Kata Hoei Beng sambil tertawa.

"Sekarang kau juga mendapat pujian."

Hoei Beng berpaling kepada It Hang dan lanjutkan perkataannya.

"Urusan di sini sudah beres, pintjeng mau berlalu. Kalian berdua mulai hari ini haruslah hidup rukun."

Baru habis Hoei Beng ucapkan perkataannya, paras mukanya Giok Lo Sat sudah berubah.

"To It Hang!"

Dia membentak.

"Sebagai murid yang disayang dari Boetong pay, kenapa kau tak mau lantas ikut soesiok-mu pulang ke Boetong?"

"Tjietjie, dengarlah aku bicara..."

Kata It Hang. Tapi dia tidak teruskan pembicaraannya, karena waktu itu Pek Sek Toodjin berada di dampingnya dan dia merasa malu untuk menuturkan kejadian pada malam itu.

"Tjietjie,"

Dia kata lagi.

"Tak peduli bagaimana sikapmu terhadap aku, tapi aku telah mengambil putusan pasti buat terus berdiam di sini sampai tua, buat terus mengikuti kau!"

Mendengar itu. Giok Lo Sat tertawa tawar. Waktu itu, dengan muka merah seperti darah. Pek Sek Toodjin menyoja padanya! Giok Lo Sat loncat ke samping dan berkata sambil tertawa dingin.

"Aku si iblis perempuan tak sanggup menerima hormatnya Boetong Ngoloo!"

Pek Sek melengak.

"Hormatku ini adalah untuk menghaturkan terima kasih untuk pertolonganmu,"

Kata dia.

"Tapi, aku pun bukannya mentah-mentah menerima budimu. Aku sebenarnya datang di sini buat ajak It Hang pulang, supaya dia dapat memimpin partai kita. Tapi sekarang aku mengalah kepada kau dan pikul segala akibatnya. It Hang, mulai waktu ini, kau dan Boetong pay sudah tidak mempunyai hubungan suatu apa lagi. Kau boleh mengabdi kepada Lian Tjietjie-mu selama kau hidup!"

"Soesiok, kenapa kau keluarkan kata-kata begitu,"

Kata It Hang dengan heran.

Tapi Pek Sek sudah berlalu sambil tuntun tangannya Lok Hoa Giok Lo Sat sendiri tidak berkata, apa-apa.

Dia cuma tertawa dingin beberapa kali.

Belum jalan berapa jauh, Lok Hoa berpaling dan berseru.

"Giok Lo Sat, harap kau perlakukan toako secara baik. Janganlah hinakan padanya!"

Giok Lo Sat kaget, tapi sebelum dia sempat menanya, Ho Lok Hoa sudah ikut ayahnya keluar dari Hongsee po.

Ketika itu, It Hang menjublek seperti patung.

Oleh karena telah menerima budinya Tjie Yang Tootiang yang sangat besar, yang telah pelihara dia dari kecil sampai besar, dia sebenarnya bertekad buat membalas budi itu kepada Boetong pay, meskipun selama belasan tahun dia dimusuhi oleh kawan-kawan separtai karena urusan percintaannya dengan Giok Lo Sat.

Sekarang dia dengar perkataannya Pek Sek yang hendak keluarkan dia dari dalam partai, maka tidaklah heran, jika hatinya merasa perih sekali.

Tapi It Hang lupa, bahwa dia cuma bisa dikeluarkan dari partai dengan putusan bulat dari semua kawan-kawan separtainya, dan Pek Sek Toodjin sama sekali tidak berhak buat berbuat begitu seorang diri.

It Hang dibikin sadar oleh suara tertawanya Giok Lo Sat.

Sambil menghampiri, dia berkata.

"Lian Tjietjie, apa sekarang kau sudah mengerti? Kejadian malam itu adalah suatu salah mengerti yang sangat besar!"

Hatinya Giok Lo Sat benar-benar sudah patah.

Dia ingat cara bagaimana dalam tempo belasan tahun, dia terombangambing dalam gelombang asmara.

Dia ingat rambutnya yang sudah putih, sehingga meskipun dia menikah, sudah tidak banyak artinya lagi.

Cara berpikirnya Giok Lo Sat adalah berlainan dengan cara berpikirnya kebanyakan orang.

Sesudah mengalami apa yang dia telah alami, dia betul-betul anggap pernikahan dengan It Hang sudah tidak berguna lagi.

Maka itulah, sebelum It Hang habis bicara, sambil kibaskan tangan bajunya, dia enjot tubuhnya dan lari laksana terbang.

It Hang coba memburu sambil berteriak-teriak, tapi dia tak dapat menyusul.

It Hang menangis tersedu-sedu.

Tak tahu berapa lama dia menangis.

Mendadak, dia merasa ada orang tepuk pundaknya yang disertai dengan perkataan.

"Oh, cinta!"

It Hang menengok dan ternyata orang itu adalah sahabatnya, Hoei Beng Siansoe.

Hoei Beng biarkan It Hang menangis sampai puas, dan sesudah itu barulah dia coba menghibur.

It Hang mendengarkan segala perkataannya Hoei Beng tanpa berkata apa-apa.

Dengan perlahan, sambil berendeng, mereka jalan di atas padang pasir yang sunyi senyap.

"Kali ini Lian Tjietjie pergi, dan sukar untuk bertemu lagi,"

Kata It Hang seorang diri.

Dia dongak memandang ke langit dan matanya dapat lihat dua bintang yang sangat terang cahayanya.

Mendadak dia ingat, malam itu adalah malam Tjitsek.

Tanpa merasa dia menghela napas dan berkata.

"Di langit jembatan burung mempertemukan dua kecintaan, di bumi dua kecintaan saling berpisahan. Oh, Thian, sungguh Kau mengganggu aku!" (Menurut dongeng, pada Tjitgwee Tjitsek, tanggal 7 bulan 7, Goe Long dan Tjit Lie, dua kecintaan yang belakangan menjadi bintang, membuat pertemuan di atas jembatan yang dibuat dari burung). Hoei Beng juga dongak dan dapat lihat bintang Goe Long dan Tjit Lie kelap-kelip di atas langit.

"Kau sudah kenyang membaca kitab. Apakah kau masih ingat sajak Hi Kio Sian dari Tjin Sauw Yoe?"

Tanya Hoei Beng.

Mendengar itu, dengan suara perlahan It Hang sebutkan bunyinya sajak tersebut.

Awan berterbangan, Bintang kelip-kelipan.

Sinar rembulan penuh kesejukan, Angin dan embun membuat pertemuan, Sungguh lebih menang dari segala keduniawian.

Cinta laksana air, Kegembiraan seperti impian.

Pulangnya sang burung menimbulkan kesedihan, Manakala cinta penuh dengan kesucian.

Tak perlu siang malam berkumpul terus-terusan.

"Nah, bukankah benar begitu?"

Kata Hoei Beng.

"Jika dia (Giok Lo Sat) masih menyintai kau, tidaklah perlu mesti berkumpul siang malam terus-terusan."

Sesudah terjadinya pertempuran di Hongsee po, nama Pek Hoat Mo Lie jadi semakin terkenal.

Di seluruh daerah selatan dan utara gunung Thiansan, tidak ada orang lagi yang berani ganggu padanya.

Akan tetapi, dia juga semakin jarang munculkan diri.

Dia terus umpetkan dirinya di puncak selatan dari gunung Thiansan.

Dalam beberapa tahun pertama, setahun sekali dia turun buat berdiam di tempatnya Tongno kira-kira 10 hari guna memberi pelajaran silat kepada Hoei Ang Kin.

Tapi belakangan, dia semakin jarang turun gunung, Sesudah antar Hoei Beng balik ke puncak utara, It Hang sendiri lantas pergi ke Puncak Onta dari pegunungan Mostako.

Di situ dia disambut oleh Sin Liong Tjoe yang memberitahukan, bahwa beberapa bulan yang lalu, seorang wanita berambut putih datang ke situ dan memandang kembang dewa yang dijaga olehnya.

"Karena kuatir dia membikin rusak kembang dewa, maka aku bertanya dengan membentak,"

Kata Sin Liong Tjoe.

"Dia dorong badanku dengan perlahan, sedang matanya terus mengawasi kedua kembang itu, sambil tiap-tiap kali keluarkan helaan napas panjang. Mendadak dia mesem dan berlalu. Wanita ini kelihatannya sangat luar biasa. Soehoe, apakah dia sahabatmu?"

It Hang tidak jawab pertanyaan muridnya. Dia bungkam dengan mata mendelong.

"Muridku,"

Kata It Hang kemudian.

"Cobalah kau bilang sejujurnya, berapa lama lagi kembang ini baru mekar."

"Aku sudah tanya ayah dan menurut ayah mesti menunggu lima puluh atau enam puluh tahun lagi!"

Jawab sang murid.

"Baiklah,"

Kata It Hang.

"Sesudah aku mati, kau harus meneruskan tugas buat menjaga kembang ini."

Sin Liong Tjoe mau menanya, tapi dia urungkan niatannya, karena melihat paras muka gurunya yang muram dan kedua matanya berlinangkan air mata.

Malam itu, di bawah sinar sang Puteri Malam yang suram, seorang diri It Hang mendaki Puncak Onta Dengan perasaan sedih, dia memandang ke arah Puncak Selatan, dan di situ, samar-samar seperti lihat peta tubuh seorang wanita yang juga mengawasi padanya.

It Hang menghela napas.

Pengalaman pahit getir selama belasan tahun terbayang kembali depan matanya.

Dia ingat pertemuan pertama di gua Oeyliong tong, dia ingat pengalaman manis di Benggoat kiap.

dia ingat sengketa di Boetong san dan akhirnya perpisahan yang paling belakang di padang pasir.

Berbagai perasaan berpadu menjadi satu.

Perasaan menyesal, sedih, cinta...

semuanya memenuhi dadanya It Hang.

Pengalaman-pengalaman getir sudah lewat, apa yang akan datang dia tak tahu.

Cuma satu hal yang dia dapat lakukan sekarang.

Yaitu tiap malam naik kepuncak Onta guna memandang ke Puncak Selatan, di mana si dia berada.

Lama, lama sekali It Hang berdiri di situ seperti orang hilang ingatan.

Akhirnya dia dongak memandang bintangbintang yang berkelip-kelip, dan teringatlah dia pada omongannya Giok Lo Sat yang disampaikan oleh Hoei Ang Kin.

Dia sekarang merasa, bahwa kecintaannya itu benarbenar seperti bintang di langit, begitu jauh, tetapi rasanya begitu dekat...

Sesudah kenyang melamun, mendadak It Hang hunus pedangnya Dengan pedang itu, dia guratkan huruf-huruf yang berbunyi seperti berikut.

Tak ada warta, tak ada surat sedari berpisahan.

Sehingga tersiar segala desas-desus yang bukan-bukan.

Tapi 'ku tahu sang sahabat masih dalam keselamatan.

Sehingga biar terpisah jauh, rasanya sangat berdekatan.

Sesudah icipi pahitnya antawali, mati hidup tak dibuat pikiran.

Sesudah mengalami hujan es, sang hati baru penuh ketabahan.

Angin dingin rontokkan sang kembang hitung ribuan.

Meski sudah rontok, harumnya toh masih ketinggalan.

Sesudah menggurat, dengan perlahan It Hang baca tulisannya itu.

TAMAT

Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 8

Baca Juga: Pendekar Cacad 9

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger