Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan 3

Eps 3 Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen

Baca online Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen

Cersil Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen.

Keadaan itu terus berlangsung hingga lebih dua puluh tahun, walaupun Li Lay-hing terbatas oleh kekuatannya yang tidak begitu besar dan tak dapat mengadakan pukulan hebat bagi musuhnya, namun Go Sam-kui juga tak berani gegabah memasuki daerah gerilya mereka.

Dalam pada itu, putera Li Kim atau cucu Li Cu-sing, Li Jiaksim sudah dewasa, ia cukup mempunyai kecerdasan, pandai ilmu silat dan surat, pemuda ini disegani kawan maupun lawan, walaupun bukan ia yang menjadi pemimpin, tapi namanya tersohor malahan di atas kakaknya, Li Lay-hing.

Setelah tahun ketiga belas Khong-hi naik takhta, karena desakan pemerintah Boan, diam-diam Go Sam-kui hendak memberontak.

Teringat olehnya sisa pengikut Li Cu-sing yang justru merupakan ancaman belati di belakang punggungnya, apabila ia tidak memperoleh pengertian mereka dan gegabah menggerakkan pemberontakan, begitu mereka keluar dari bukit-bukit, ia sendiri pasti akan diserang dari depan-belakang, hal inilah yang sangat ia kuatirkan.

Situasi di Hun-lam waktu itu ibarat malam sebelum ada angin badai, orang-orang kepercayaan pemerintah Boan, para Gubernur propinsi-propinsi di barat-daya, Ping-lam-ong, utusan Cing-lam-ong dan pengikut Li Lay-hing, kesemuanya mengadakan gerakan 'perang dingin' di Kun-bing.

Karena keadaan yang ruwet itu, sampai lama Go Sam-kui tidak mendapatkan jalan keluar, akhirnya menuruti usul seorang stafnya, tanpa malu-malu lagi ia mengirim utusan membawa surat rahasia kepada Li Lay-hing yang ada di perbatasan Hun-lam dan Su-cwan, dengan maksud memperbaharui persahabatan.

Karena ajakan Go Sam-kui, L i Lay-hing berunding dengan stafnya, akan tetapi masing-masing berlainan pendapat, ada yang bilang Ge Sam-kui adalah orang yang menyebabkan tewasnya 'almarhum Kaisar' Li Cu-sing, mana bisa bekerjasama dengan musuh besar iri?

Tetapi ada pula yang setuju bekerja-sama, dengan alasan kalau hendak melawan musuh 'bangsa asing' ke dalam harus mempersatukan segala kekuatan dahulu.

Akhirnya Li Jiak-sim memutuskan dengan satu perkataan, ia mengemukakan delapan huruf sebagai dasar siasat .

Thngo-wi-cu, sian-gwe-hou-lwe', artinya apabila kerja-sama dengan Go Sam-kui, harus pihak kita sendiri yang memegang peranan pokok, dan untuk melayani Boan-jing, tidak berhalangan mengesampingkan dahulu dendam lama pada Go Sam-kui.

Karena usulnya itu, Li Jiak-sim bahkan berani menghadapi bahaya besar, dengan seorang diri ia datang ke Kun-bing.

Begitulah, maka sewaktu Go Sam-kui bertemu dengan Li Jiak-sim yang ia sebut Li-kongcu, berulang-ulang ia memberi penjelasan dengan tertawa.

Tetapi dengan dingin Li Jiak-sim berkata.

"Ongya tak usah banyak omong lagi, kalau kami masih dendam, hari ini tak nanti kami datang di sini!"

"Itulah tepat, maka kami mengagumi Li-kongcu yang sangat bijaksana,"

Kata Go Sam-kui memuji.

"Pokoknya hari ini, kita harus mengusir pergi penjajah dahulu."

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Leng Bwe-hong berpantun, ia menyindir, mula-mula yang mendatangkan pasukan Boan adalah Go Sam-kui, kini yang akan mengusir pergi penjajah itu juga Go Sam-kui.

Po Tiau menjadi gusar, matanya berapi karena mendengar pantun sindiran orang.

"Apa yang kaukatakan?"

Bentaknya pada Bwe-hong.

"Ah, tidak, hanya iseng, maka aku berpantun,"

Sahut Leng Bwe-hong tertawa. Go Sam-kui kuatir urusan menjadi runyam, lekas ia berkata dengan tertawa.

"Congsu (orang gagah) ini sungguh suka iseng, tetapi hendaklah kita bicarakan urusan pokok saja. Ping-lam-ong Siang Go-hi dan Cing-lam-ong Kheng Cin-tiong sudah berjanji memberi sokongan di daerah selatan, menurut pandangariku sekali bergerak, pasti kita akan berhasil. Lihat, apakah ini bukan utusan dari Ping-lam-ong?"

Katanya sembari menuding ke arah Kim Khe.

"Ya, kami semua menurut apa yang menjadi kehendak Ping-se-ong,"

Kata Kim Khe membungkuk. Mendengar sebutan "Ping-se-ong"

Orang, tiba-tiba Go Samkui mendelik, katanya.

"Selanjutnya jangan menyebut aku Ping-se-ong lagi, kini jabatanku adalah 'Thian-he-cui-liok-taygoanswe, Hin-beng-tho-lo-tay-ciangkun!"

Habis itu, dengan tersenyum ia berkata lagi pada Li Jiaksim.

"Li-kongcu biasanya pandang mengusir penjajah sebagai kewajiban utama, kini tentunya tiada alasan lagi bukan?"

Dengan jabatan yang Go Sam-kui sebut tadi ia artikan, 'Panglima tertinggi angkatan darat dan laut, jendral penegak kerajaan Beng dan pengusir bangsa asing'.

Akan tetapi Li Jiak-sim menyambut dengan tersenyum dingin, katanya.

"Soal pemberontakan adalah mudah, hanya teks proklamasi yang susah ditulis!"

"Mohon tanya, jabatan Thian-he-cui-liok-tay-goanswe dan Hin-beng-tho-lo-tay-ciangkun, siapakah yang menganugerahi?"

Tiba-tiba Leng Bwe-hong menyela.

"Kalau ada orang menanyakan nasib Eng-bing-ong, bagaimana pula jawaban Tay-ciang-kun?"

Eng-bing-ong adalah keturunan lurus dari kerajaan Beng, juga adalah kekuatan Beng terakhir yang melawan Boan-jing di selatan.

Eng-bing-ong telah dikejar oleh Go Sam-kui sendiri sampai di Birma, kemudian dapat ditangkap dan dihukum gantung olehnya.

Dengan pertanyaan Leng Bwe-hong itu terang lebih mirip ia mencaci-maki di hadapan orang, tetapi belum Go Sam-kui bersuara, dengan cepat Po Tiau telah mencabut pedangnya dan ditusukkannya ke arah Leng Bwe-hong, namun Jiak-sim telah mengebas lengan bajunya terus menghadang di tengah kedua orang.

"Berhenti!"

Teriak Go Sam-kui juga. Dengan muka merah Po Tiau menarik kembali pedangnya, akan tetapi ia masih memandang Leng Bwe-hong dengan melotot.

"Harap Tay-ciangkun jangan gusar,"

Ujar Jiak-sim kemudian.

"Perkataan Leng-tayhiap walaupun menyinggung, tetapi bukannya tanpa alasan!"

"Alasan apa? Harap terangkan!"

KataGo Sam-kui dingin.

"Baiklah, karena Tay-ciangkun mengadakan pertemuan ini dengan sungguh hati, maka tentu tak akan mencela perkataanku yang terus terang,"

Kata Li Jiak-sim. Dan sambungnya.

"Dengan kedudukan Tay-ciangkun kini, kalau masih pakai semboyan 'Hwan-jing-hok-beng' sebagai daya tarik, itu mungkin tidak cocok. Kerajaan Beng hancur di tangan Tay-ciangkun, hal itu seluruh rakyat cukup mengetahui, kini kalau Ciangkun masih menyebut diri sendiri Hin-beng-biat-lo, aku kuatir susah untuk dipercayai rakyat!"

Karena kata-kata ini, Go Sam-kui menyeringai, ia menjadi malu, tetapi di dalam hati luar biasa marahnya, ia coba menahan perasaan dan bertanya.

"Kalau begitu, menurut Likongcu jalan apa yang lebih sempurna?"

"Daripada memakai istilah Hwan-jing-hok-beng adalah lebih baik pakai semboyan Ki-lo-bin-han, dan pula daripada menggunakan nama Tay-ciangkun, adalah lebih baik memakai nama kakakku sebagai penggerak,"

Kata Li Jiak-sim dengan terus terang.

"Bolak-balik hanya akan menguntungkan pihakmu saja dan menyuruh kami berjuang untuk kamu,"

Kata Po Tiau dengan gusar.

"Aku hanya pilih jalan menguntungkan semua pihak dan mengharap bisa mengusir bangsa asing, lain tidak. Tetapi kami pun tidak nanti merendah pada orang lain,"

Sahut Li Jiaksim mendongkol.

"Li-kongcu betul-betul lelaki sejati,"

Kata Go Sam-kui tertawa sambil bangkit.

"Urusan ini sementara susah diputuskan, biarlah lain hari dirundingkan lagi!"

Habis itu, katanya pula pada Po Tiau.

"Sementara kau tineaal di sini melavani nara tetamu, aku mengundurkan diri dahulu."

Sementara bicara, dengan pelahan ia pun mencolek dan memberi tanda pada Po Tiau.

Diiringi para perwira dan orang-orang kepercayaannya, Go Sam-kui tertindak pergi, sampai di depan pintu tiba-tiba ia memberi pesan lagi.

"Po Tiau, selesai kau mengantar tamu, lekas kembali!"

Dan sesudah Go Sam-kui pergi, tanpa berkata lalu Po Tiau mengantar pergi para tamu yang lain.

Dalam ruangan kini hanya Li Jiak-sim, Lauw Yu-hong dan Leng Bwe-hong serta Po Tiau saja, sesudah mengantar tamu yang lain, Po Tiau terus duduk di tempatnya semula, ia tidak mengantar Leng Bwehong bertiga.

Li Jiak-sim mengira tentu karena bentrokan tadi, maka orang sengaja dingin kepada mereka, maka dalam hati ia menertawai Go Sam-kui dan Po Tiau terlalu sempit pikiran, maka ia pun tidak ambil perhatian akan hal itu.

Tetapi Leng Bwe-hong yang sudah kawakan berkelana di dunia Kangouw, ia menjadi curiga.

Sesudah berjalan beberapa tindak, waktu berpaling ia lihat Po Tiau sedang tertawa sinis.

"Awas, Li-kongcu!"

Seru Bwe-hong dengan tiba-tiba.

Akan tetapi sudah terlambat, mendadak Po Tiau menekan dinding di sebelahnya, lalu terdengar suara gemuruh, lantai tengah ruangan besar itu tiba-tiba ambles ke bawah.

Lekas Bwe-hong menggunakan ilmu meringankan tubuh yang hebat, tiba-tiba ia mengenjot tubuhnya meluncur menubruk ke arah Po Tiau.

Cepat juga Po Tiau segera menyambitkan sebuah cawan emas, namun Leng Bwe-hong sempat berkelit mengelakkan serangan orang, dan bagai elang ia masih menubruk Po Tiau.

Datangnya Leng Bwe-hong terlalu cepat, Po Tiau tertegun sejenak dan tahu-tahu Bwe-hong sudah menerjang sampai di depannya.

Dalam gugupnya, Po Tiau memukul cepat dengan kedua tinjunya.

Bwe-hong tidak mencoba berkelit, dengan menahan sakit kena pukulan orang, ia dapat merangkul tubuh Po Tiau.

Waktu itu jebakan lantai yang ambles itu masih belum kembali, dengan masih merangkul Po Tiau sambil sekali membentak Leng Bwe-hong melompat ke dalam lubang lantai yang beberapa tombak dalamnya itu.

Di bawah lubang itu gelap gulita, Bwe-hong menunggu setelah menancapkan kakinya dengan baik, barulah ia berteriak memanggil.

"Lanw-toaci, kalian adadimana?"

"Leng-toako, kami ada di sini,"

Suara nyaring menjawab di suatu pojok.

Lantas Bwe-hong melepaskan rangkulannya pada tubuh Po Tiau dan ia melangkah hendak mencari kawannya, tak tahunya begitu tubuhnya terlepas, kembali Po Tiau memukul lagi dengan cepat, Leng Bwe-hong tidak tinggal diam, ia tangkis pukulan itu.

"Kaucari mampus?' bentak Bwe-hong. Tapi Po Tiau tak menghiraukan, dengan gusar beruntun ia memukul lagi, tiap pukulan mengarah tempat berbahaya. Tadi Leng Bwe-hong telah merasakan beberapa kali pukulan Po Tiau, ia tahu kekuatan lawan tidak lemah dan tak bisa dibuat gegabah, maka dalam kegelapan itu segera ia keluarkan gerakan 'Pat-kwa-yu-sin-cio-hoat' (semacam gerak menggeser tubuh terus menerus), ia mengitari Po Tiau dan balas menyerang kalau ada kesempatan yang baik. Tapi Po Tiau juga bukan sembarang orang, dalam keadaan gelap, ia dapat mendengarkan angin membedakan tempat, pukulannya tidak pernah kendor, selalu mengarah dimana Leng Bwe-hong menancapkan kaki. Bwe-hong mengenali gerak yang dimainkan orang adalah Lo-han-kun dari golongan Siau-lim-si, yang mengutamakan serangan cepat dan tenaga besar, begitu hebat pukulannya, hingga susah dilawan begitu saja. Mendadak ia menggertak, kedua telapak tangannya bergerak cepat, telapak kanan membabat bagaikan pedang, telapak kiri membelah dan jari menotok bagaikan golok dan belati. Dalam keadaan gelap, Po Tiau hanya mendengar sambaran angin pukulan yang menderu keras, tiap serangan lawan selalu mencari jalan darah di tubuhnya. Ia terkejut sekali, ia pikir nama Leng Bwe-hong yang tersohor nyata bukan omong kosong belaka, di tempat gelap begini ternyata dapat mengincar tempat totokan dengan jitu. Di tempat gelap itu, Li Jiak-sim dan Lauw Yu-hong sudah mendengar juga suara pukulan, mereka tidak tahu Leng Bwehong sedang bertarung dengan siapa, hanya suara pukulan kedua belah pihak kedengarannya hebat dan luar biasa, mereka menjadi terheran-heran.

"Nona Lauw, apakah kau membawa ketikan api?"

Tanya Jiak-sim.

Ketikan api memang selalu dibawa orang yang berkelana di Kangouw, maka Yu-hong menyahut dan lantas menyalakan api, mereka mendekati kedua orang yang sedang bergebrak itu.

Melihat Yu-hong dengan pelahan mendekat, Bwe-hong tambah bersemangat, mendadak ia menggertak, sekali pukul ia membuat Po Tiau terpelanting, tapi begitu jatuh segera Po Tiau terus bangkit kembali, ia lolos goloknya dan membacok.

Cepat Leng Bwe-hong berkelit dan mengirim tendangan yang mengenai pergelangan tangan Po Tiau, hingga goloknya terpental, dengan sebat Bwe-hong memburu maju dan menyusul hantamannya telah membikin Po Tiau terguling lagi, terus diinjaknya dan membentak.

"Apakah kau masih bisa berkelahi lagi?"

Karena kena diinjak 'Yong-cwan-hiat' di punggungnya, Po Tiau merasakan seluruh tubuhnya seakan-akan hancur, sakitnya meresap ke dalam tulang.

"Kaubunuhlah aku!"

Teriak Po Tiau serak.

"Kalau aku mati, kau pun tak akan dapat hidup."

Mendengar itu, Leng Bwe-hong mengkerutkan kening, tibatiba ia angkat injakan kakinya dan menendang Po Tiau ke pojok.

"Siapa sudi membunuhmu!"

Bwe-hong membentak. Dan selagi Bwe-hong hendak bertemu dengan Lauw Yuhong, tiba-tiba terdengar ada suara gemericiknya air.

"Ah, kiranya ini adalah penjara air!"

Kata Bwe-hong dengan tertawa getir.

Sementara itu Po Tiau yang meringkuk di pojokan sana dalam keadaan tertotok, terdengar tertawa terkekeh-kekeh.

Li Jiak-sim menjadi gusar, ia angkat tubuh Po Tiau dan direndam ke kolam air penjara.

Selamanya Po Tiau hidup di dataran tinggi daerah barat-daya, ia tak pernah turun ke dalam air, kini kena direndam begitu, ia terkejut dan berteriakteriak seperti babi.

Setelah merendamnya berkali-kali, Jiak-sim mengangkatnya pula, dengan tertawa ia berkata mengejek.

"Coba, sekarang kau bisa tertawa lagi tidak.....?"

Dalam pada itu, suara air di luar mendadak berhenti lalu ada suara orang berteriak.

"Minta Li-kongcu berbicara!"

Dari sinar api Bwe-hong dapat melihat penjara air ini hanya terbikin dari papan kayu saja, bangunannya tidak begitu kuat, walaupun jendela dipagari dengan ruji-ruji besi, tetapi tidak susah untuk membobolnya, hanya saja di luar penjara itu penuh dikelilingi air di bawah tanah, sekalipun dapat merusak rumah penjara ini, toh tidak mungkin bisa buron.

Lalu ia mendekati jendela, dengan memegangi ruji besi ia membentak.

"Siapa? Ada apa?"

Orang di luar itu seperti dapat membedakan suara orang, ia balas membentak.

"Tidak perlu denganmu, suruh Li-kong-cu keluar!"

Dengan pelahan Li Jiak-sim mendekati jendela, lalu berkata dingin tetapi lantang.

"Kamu punya Ongya pintar juga menggunakan tipu muslihat, cuma sayang kamu paling banyak hanya bisa mampuskan kami beberapa orang saja, tapi tidak mungkin menghabiskan saudara-saudara kami yang beratus ribu itu!"

"Ongya mana berani sembrono pada Kongcu,"

Kata orang itu, suaranya berubah halus.

"Hanya saja Kongcu yang terlalu bandel, maksud Ongya ialah ingin Kongcu membuat satu surat kepada kakak Kongcu dan minta supaya ia angkat senjata memasuki Oupak, dan kita kedua belah pihak terus berserikat! Jika Kongcu setuju, segera dapat keluar!"

Mendengar itu, Jiak-sim tahu bahwa Go Sam-kui hendak menggunakan dirinya sebagai jaminan dan berharap laskarnya bertempur dahulu dan merekalah yang mengeduk keuntungannya.

"Tak perlu lagi tawar menawar,"

Katanya kemudian dengan tertawa dingin.

"Jika kau memang sungguh-sungguh hendak memberontak pada pemerintah Boan-jing, maka seharusnya segera mengganti nama kesatuanmu, mengganti dandanan pakaianmu dan mengakui sebutan kerajaan Tay Sun, soal jahanam Go Sam-kui ini, andaikata tidak bunuh diri buat menebus dosanya, ia karus menyerahkan mandat dan mengundurkan diri selamanya!"

Tiba-tiba di luar menjadi sepi, suara air kembali berbunyi dengan kerasnya, dengan cepat air hampir menggenangi jendela.

Li Jiak-sim tertawa dingin lagi berulang-ulang, ia tak ambil perhatian air yang hampir masuk jendela itu.

Mendadak suara air kembali berhenti, di atas penjara itu tiba-tiba terbuka sebuah lubang, lalu ada orang mengerek turun keranjang yang penuh berisikan makanan.

"Harap Li-kongcu dahar,"

Kata seseorang di atas. Yu-hong memandang makanan itu, tetapi ia tak berani menyentuh. Sebaliknya Leng Bwe-hong lantas saja mengambil makanan itu dan dimakan dengan lahapnya.

"Saat ini mereka masih belum berani meracuni kita,"

Katanya tertawa sambil terus melangsir makanan ke dalam perutnya.

Waktu berkata ia melirik Po Tiau, lalu ia lemparkan sebagian makanan padanya.

Tetapi Po Tiau menjadi tergerak pikirannya, ia mendapatkan akal.

"Jangan turunkan makanan lagi, aku dapat menahan lapar!"

Demikian teriaknya keras pada orang di atas.

Dengan gusar Li Jiak-sim menendang orang pula hingga Po Tiau lagi-lagi terjungkal namun ia masih tetap tertawa terkekeh-kekeh.

Kiranya Po Tiau menduga dalam keadaan begitu mereka bisa saling bertahan, Go Sam-kui tak berani membunuh mereka, mereka pun tak berani membunuh dirinya, biar semua menderita kelaparan, kalau sudah terlalu lapar, tentu mereka akan menyerah dengan sendirinya.

Malahan ia telah menghitung, jika semua sudah kelaparan, lemas dan tak bertenaga, orang-orang di luar tentu bisa menerjang masuk dan ia sendiri bisa terlepas dari genggaman mereka.

Dan karena teriakan Po Tiau itulah, betul saja bagian atas telah menghentikan pemberian makanan.

Beruntun empat hari telah berlalu, mereka menjadi kuatir karena kelaparan, bahkan tiba-tiba Leng Bwe-hong jatuh sakit pula, seluruh tubuhnya gemetaran tak hentinya.

Yu-hong sendiri sudah lemas tak bertenaga, namun dengan pelahanlahan ia mendekati Leng Bwe-hong, ia pegang tangan orang dan memandangnya sedih.

Walaupun dalam penjara air yang gelap, namun Leng Bwehong dapat merasakan betapa sedih orang lewat kedipan mata Lauw Yu-hong, hatinya terasa bergetar.

Sungguh sakit kejang yang ia rasakan sekarang ini boleh dikata bukan apaapa kalau dibandingkan penderitaan batinnya selama ini.

"Bwe-hong, aku kuatir kita tak dapat keluar lagi dengan hidup,"

Demikian kata Lauw Yu-hong setengah meratap. Dan sambungnya.

"Maukah kaukatakan apa yang sebenarnya kepadaku?"

Maka Bwe-hong melepaskan tangan orang, seperti biasa ia menekuk-nekuk jarinya.

"Apabila aku tahu pasti sudah sampai pada ajalku, sebelum mangkat akan kukatakan semuanya padamu,"

Sahutnya sambil menghela napas. Nampak Leng Bwe-hong menekuk-nekuk jari, Lauw Yuhong memegang lagi kedua tangan Bwe-hong, dengan suara cepat seperti letusan ia berkata.

"Selama hidupmu pernahkah kau berbuat sesuatu yang paling kejam? Kalau pernah, pasti kau tahu bahwa penderitaan batin itu lebih sukar dirasakan daripada mati! Sahabatku yang kubunuh itu, kalau betul-betul ia sudah tewas, sungguh aku akan menyesali diriku selama hidup ini. Tetapi apabila ia sepertimu, ia tidak tewas melainkan pergi ke tempat yang jauh sekali dan selama hidupnya ia terus mendendam padaku, maka itu tidak saja membuatku menyesal seumur hidup, bahkan akan menempatkan diriku dalam impian buruk setiap saat, dalam mimoi tentunva keadaan gelap gulita seperti dalam menara air ini...!."

"Apa yang kaukatakan cukup kejam,"

Sahut Leng Bwe-hong dengan perasaan getir.

"Aku harap sahabatmu itu lebih baik sudah tewas saja, kalau ia masih hidup, tragedi ini mungkin akan lebih kejam lagi. Ah, aku belum pernah menceritakan padamu keadaan sewaktu aku masih anak-anak, kini kita sudah dewasa, tetapi ada kalanya kita akan terkenang pada cara berpikir masa anak-anak, bukankah begitu?"

"Ya. ceritakanlah!"

Kata Yu-hong pelahan dengan sinar mata menanti. Bwe-hong melepaskan dulu tangannya yang dipegang Yuhong.

"Ibuku sangat mengasihiku, tetapi kadang kala juga sangat bengis,"

Tutur Leng Bwe-hong sambil menekuk-nekuk jari lagi.

"Ada suatu kali seorang anak lain mengakaliku dan aku telah memukulnya tetapi ibuku malahan memarahiku. Aku sangat penasaran, segera aku meninggalkan rumah secara diam-diam dan rebah di atas suatu bukit dan berpikir, 'Sekarang ia tentu mengira aku telah mati, saat ini ia tentu sedang menangis sedih. Dengan pikiran itu, hatiku seperti terhibur, tetapi juga menderita Hai, Yu-hong, kau sedang tertawa atau menangis? Kau bilang pikiran anak-anak itu sangat lucu bukan?"

"Ya, mengapa kau ingin menyiksa orang yang kaukasihi?"

Tanya Yu-hong dengan tersedu-sedan.

"Aku sendiri tidak tahu,"

Sahut Bwe-hong.

"Waktu itu mungkin aku berpendapat kalau ibu begitu sayang padaku, seharusnya ia tidak memarahiku tanpa membedakan benar atau salah. Bukankah pikiran anak-anak memang begitu?"

Napas Yu-hong menjadi cepat, untuk ketiga kalinya ia genggam tangan Leng Bwe-hong.

"Tetapi kini kau bukan anak-anak lagi,"

Katanya kemudian.

"Aku tidak membicarakan urusan kita, tentu aku bukan pula sahabatmu itu,"

Kata Leng Bwe-hong dengan menahan perasaandan sengaja memperdengarkan suara tertawa.

"Tetapi aku yakin ia pernah berpikir sepertiku,"

Katanya melanjutkan.

"Dan lagi kalau ia sepertiku, dan masih muda sekali sudah pergi ke tempat yang jauh dan dingin, eh, aku lupa mengatakan padamu tadi, aku sering sakit kejang-kaku, penyakit ini justru didapat di tempat yang jauh dan dingin itu."

"Dan apakah sedikitpun kau tak bisa memaafkan dia?"

Tanya Lauw Yu-hong cepat sembari menggenggam kencang tangan orang, suaranya terharu tapi penuh harapan akan jawaban orang yang pasti. Tiba-tiba Bwe-hong berbisik.

"Kukira masih bisa "

Belum selesai ia bicara, tiba-tiba dari atas penjara itu telah dikerek turun saru orang. Meski sudah kelaparan beberapa hari, namun Li Jiak-sim masih cukup kuat untuk bergerak.

"Siapa!?"

Segera ia menegur dan memapak maju ketika dilihatnya dari atas dikerek turun orang itu.

Tetapi orang itu tidak menjawab, wajah mukanya hampir tertutup semua oleh mantelnya dan pelahan-lahan ia mendekat.

Waktu berhadapan mendadak Li Jiak-sim pegang pergelangan tangan orang dan sekuat tenaga ia pun memencet urat nadi 'Koan-goan-hiat' dengan kedua jarinya.

Meski dalam keadaan kelaparan dan tenaganya banyak berkurang, namun ilmu menotok Li Jiak-sim masih cukup jitu dan hebat, pula 'Koan-goan-hiat' merupakan urat nadi yang sangat berbahaya di badan orang, asal dipencet keras, pasti orangnya akan kaku kesemutan dan lumpuh seketika.

Tak terduga oleh serangan Li Jiak-sim yang mendadak, orang itu hanya bersuara heran, dan tiba-tiba Jiak-sim merasakan tangannya seakan-akan meremas kapas lunak, keruan ia terkejut, ia tahu itu adalah ilmu menutup jalan darah yang hebat dari kaum Lwekeh, sekalipun ia sendiri baru memahami sedikit dasarnya saja, ia menjadi heran darimana Go Sam-kui mendapatkan seorang tokoh silat yang begini lihai?

Tak tahunya orang tadi lantas tersenyum, malahan ia membisiki telinga Li Jiak-sim dan menghiburnya.

"Li-kongcu jangan kuatir, kita adalah kawan sendiri. Hendaklah kaukatakan padaku, apakah Leng Bwe-hong berada di sini?"

Jiak-sim menjadi jengah oleh sapaan orang, lekas ia lepaskan tangannya terus menunjukkan tempat dimana Leng Bwe-hong rebah.

Sinar mata orang itu menyorot tajam, cepat saja ia mendekati Leng Bwe-hong.

Dalam pada itu Lauw Yu-hong sedang terombang-ambing bagai orang mabuk dan tak sadar kalau ada orang sedang mendatangi, ia masih memegang kencang tangan Bwe-hong dan menegasi lagi.

"Apa katamu? Katakanlah sekali lagi. Kau bilang bisa dimaafkan bukan? Jika begitu, jadi kau memang orang itu?"

Bwe-hong tidak menjawab, tetapi mendadak ia kipatkan tangannya dan mendorong pergi Yu-hong sembari membisikinya.

"Ada orang datang!"

Yu-hong jatuh terduduk di lantai karena dorongan Bwehong itu, dan barulah ia sadar kembali seperti mendusin dari impian buruk.

Tetapi tiba-tiba ia melompat bangun, entah tenaganya timbul darimana, mendadak ia hantam orang yang datang tadi dengan gusar.

Namun sedikit berkelit orang itu telah menghindarkan pukulan Lauw Yu-hong itu hingga karena terlalu besar mengeluarkan tenaga, maka Yu-hong sendiri terpelanting ke depan dengan sempoyongan, syukur dengan cepat ia telah ditahan oleh orang yang baru datang ini dan kembali ia dengan bisik-bisik berkata di telinga Yu-hong.

"Sadarlah, Titli (keponakan perempuan) yang baik! Akulah yang datang buat mengobati kalian."

Dan setelah orang itu mengulangi bisikannya dua kali, barulah Yu-hong mengenali suara itu, sekonyong-konyong ia menangis tergerung-gerung.

Orang yang datang itu ternyata tinggi sekali kepandaiannya dan matanya sudah terlatih, dalam kegelapan ia telah memeriksa muka Yu-hong lalu ia memandang Leng Bwe-hong yang masih rebah itu.

"Jangan kuatir, biar kuobati Leng Bwe-hong dahulu,"

Kata orang itu kemudian sembari menepuk-nepuk pundak Yu-hong.

Agaknya ia menyangka Yu-hong menangis karena tak tahan derita dalam penjara itu, tak tahunya soal lain.

Mendengar orang menyebut Leng Bwe-hong barulah Yuhong ingat kembali, dengan masih terguguk segera ia pun menjawab.

"Aku tak apa-apa, Siok-siok (paman), lekas kauperiksa keadaannya, aku kuatir"

Tetapi ia tidak melanjutkan ucapannya.

Orang itu menjadi heran dan memandang Yu-hong sekejap, ia geleng-geleng kepala dan lantas berjongkok untuk memeriksa denyut nadi Leng Bwe-hong.

Sementara itu Bwe-hong sudah dapat melihat jelas siapa adanya pendatang itu, dan ketika ia hendak menyapa orang, tiba-tiba dia malah memberi tanda supaya jangan bersuara.

Dan setelah selesai memeriksa urat nadinya, kemudian orang itu mengeluarkan sebatang jarum perak yang hanya beberapa inci panjangnya dan tampak putih mengkilat.

Dengan cepat pula ia membuka baju Leng Bwe-hong dan tiba-tiba ia tusukkan jarum perak itu ke tubuhnya.

Dalam pada itu Li Jiak-sim juga sudah berada dekat mereka dan demi melihat kekuatan orang itu, dalam terkejutnya segera ia membentak.

"Apa yang kaulakukan?"

"Jangan kuatir, ia sedang mengobati Bwe-hong, ia adalah tabib sakti,"

Kata Lauw Yu-hong cepat sambil berpaling ke jurusan lain ketika orang itu mencopoti baju Leng Bwe-hong.

Melihat jarum orang yang panjang itu tertusuk hampir setengahnya ke dalam tubuh Leng Bwe-hong dan tampaknya seperti tidak terasa apa-apa, dalam terkejutnya tadi, Li Jiaksim menjadi heran juga.

Setelah ditusuk-tusuk sampai lama, akhirnya terdengarlah Leng Bwe-hong merintih pelahan.

Dan barulah orang itu mencabut jarum peraknya.

"Sudahlah, kini telah baik,"

Demikian kata orang itu dengan tertawa. Dan betul saja, dengan cepat Bwe-hong telah melompat bangun dan terus memberi hormat pada orang itu sambil memuji.

"Pengobatan sakti dengan jarum. Sungguh sangat mengagumkan!"

Dalam pada itu, Li Jiak-sim mendengar dari belakangnya seperti ada suara tindakan, ketika ia berpaling, ia lihat Po Tiau sedang mendekati mereka.

Mendadak, begitu Po Tiau dekat, cepat sekali Leng Bwe-hong mengulur jarinya dan dengan tepat kena menotok 'Hun-hin-hiat' di pinggang Po Tiau hingga terguling tanpa dapat lagi berkutik.

Orang tadi memandang sekejap pada Po Tiau yang menggeletak itu, kemudian ia menuding ke atas.

Waktu Li Jiak-sim mendongak, lapat-lapat dapat dilihatnya di atas penjara itu seperti ada bayangan orang.

"Li-kongcu "

Tiba-tiba orang itu berkata dengan suara keras, dan lanjutnya.

"Dengan maksud baik Ongya mengirim diriku untuk menyembuhkanmu, tujuannya memang tiada lain kecuali ingin bersekutu dengan pihakmu, tetapi mengapa Kongcu masih begitu kukuh?"

Habis itu, ia membisiki Li Jiak-sim.

"Lekas Li-kongcu jawab!"

Jiak-sim sangat cerdik, dengan segera ia dapat menangkap maksud orang.

"Tutup mulutmu, tabib,"

Demikian ia pura-pura membentak.

"Aku menghargai jasamu mengobatiku, tapi urusan negara yang besar kau tidak berhak ikut campur bicara."

Orang itu pura-pura menghela napas, lalu ia sengaja mengomel kalang kabut, dan karena itu kemudian Li Jiak-sim berkata lagi dengan suara yang lebih halus.

"Aku bersedia bersahabat denganmu, tetapi kalau kau mau jadi suruhan Go Sam-kui, pasti usahamu ini akan sia-sia belaka!"

Orang itu menghela napas lagi, lalu ia tarik tali kerekan untuk kemudian ia pun dikerek ke atas.

Seperginya orang itu, Leng Bwe-hong tertawa saling pandane dengan Li Diiak-sim.

Segera ia pun melepaskan totokan Po Tiau.

"Kau hendak membikin kami mati kelaparan, tetapi Ongyamu justru tidak mau menuruti pikiranmu itu!"

Dengan tersenyum Bwe-hong mengejek orang.

Betul saja, belum habis ia bicara, tiba-tiba dari atas telah dikerek turun makanan.

Segera Li Jiak-sim dan kawannya melalap makanan itu sekenyang-kenyangnya dan sisa makanan serta tulang-tulang dilemparkan kepada Po Tiau.

Keruan saja Po Tiau mendongkol setengah mati, percuma saja ia ikut menderita lapar beberapa hari, akhirnya orang di atas ternyata tak mau menuruti rencananya.

Dan sejak itulah, tiap dua hari sekali tabib itu pasti mengunjungi mereka, dan selalu tabib itu membawakan obat kuat untuk menambah tenaga Leng Bwe-hong bertiga, malahan tiap kali datang ia sengaja bersenda gurau dengan Li Jiak-sim hingga lambat laun bayangan orang di atas penjara itu mulai berkurang daripada tadinya.

Setelah sepuluh hari, kesehatan Leng Bwe-hong dan kawannya sudah pulih kembali.

Suatu hari, tiba-tiba tabib itu melompat turun dari atas dan terus saja meneriaki mereka.

"Hayo, lekas ikut aku pergi!"

Di sebelah sana Po Tiau sedang bingung entah apa yang terjadi, tahu-tahu ia telah dipukul roboh oleh orang itu dengan Hun-kin-co-kut-hoat atau ilmu bikin tulang meleset dan bagian urat keseleo, hingga seketika Po Tiau jadi lemas tak dapat berkutik.

"Coba pinjam kau punya Kim-hun-tau,"

Dengan cepat tabib itu berkata pula pada Yu-hong sembari mengeluarkan sebuah belati. Li Jiak-sim mengerti maksud orang, maka cepat ia pun melepaskan senjata Liu-sing-tui dan disodorkan pada orang.

"Pakai saja ini mungkin lebih cocok,"

Demikian katanya.

"Sungguh cepat Li-kongcu memahami maksud orang,"

Puji tabib itu.

Mendadak belatinya tadi ditimpukkan dan menancap di dinding lubang penjara itu setinggi beberapa tombak, waktu ia enjot tubuh sekuatnya, bagai seekor burung yang menjulang ke angkasa, tangan kanannya memegang erat belati yang menancap itu, sedang sebelah tangan lain melepas Liu-sing-tui ke bawah.

Waktu Yu-hong ikut melompat ke atas setinggi mungkin, cepat sekali ujung bandul itu dapat dicekalnya dan ketika tabib tadi menarik dan diayun cepat, dengan enteng sekali Yu-hong telah melayang ke atas penjara air itu.

Ternyata tinggi penjara itu ada berpuluh tombak, dengan kepandaian tabib itu sudah tentu tidak susah untuk melompat keluar, tetapi ia menduga Yu-hong masih belum mampu sekali lompat keluar dari penjara, maka sengaja ia menggunakan belati yang menancap dinding itu sebagai tangga, lalu dengan gerak tali bandulan itu Yu-hong pun keluar.

Dan habis itu, menyusul Li Jiak-sim juga melompat keluar dengan cara yang sama.

Ketika sampai giliran Leng Bwe-hong, tiba-tiba ia kempit Po Tiau sekencangnya, ia tidak menyambut bandulan tali si tabib yang sedang diulurkan ke bawah, tetapi dengan sekali lompat setinggi beberapa tombak dengan sebelah kakinya ia mengenjot pada sisi dinding menyusul ia melompat naik terus menahan lagi dengan sebelah kaki ke sisi dinding yang lain, dan begitulah seterusnya hanya beberapa kali berganti gerakan, akhirnya ia pun melompat keluar dari penjara air.

"Ilmu meringankan tubuh yang hebat!"

Puji tabib tadi sambil menarik bandulannya, lalu ia pun menyusul melompat keluar.

Di atas lubang pintu penjara itu ternyata sudah menggeletak beberapa tubuh orang tanpa dapat berkutik, tak usah ditanya lagi tentu itulah perbuatan si tabib yang telah menotok roboh semua penjaga itu.

Tetapi dalam penjara sedikitpun Leng Bwe-hong tidak mendengar suatu suara, maka dapat dibayangkan betapa cepat gerak tangan si tabib itu.

Menotok tidak sulit, yang sulit ialah dalam sekejap bisa merobohkan beberapa orang sekaligus tanpa dapat berkutik.

Keruan saja Li Jiak-sim sangat kagum, dan baru sekarang ia dapat melihat jelas wajah tabib itu yang merah bercahaya, rambutnya sudah kelihatan penuh uban dengan jenggot bercabang tiga.

"Di dalam penjara belum sempat aku memperkenalkan padamu, maka kini biarlah kukatakan, ia adalah aku punya Sustok (paman guru) Pho Jing-cu!"

Demikian kata Yu-hong sebelum orang bertanya.

"O, kiranya Pho-locianpwe adanya, pantas kepandaiannya begitu tinggi!"

Ujar Li Jiak-sim girang. Habis itu ia hendak memberi hormat, namun Pho Jing-cu sudah keburu menarik badannya sembari berseru.

"Tempat ini bukanlah tempat saling memberi hormat, lekas ikut aku pergi saja."

Jalanan dalam istana itu agaknya sudah hapal bagi Pho Jing-cu, ia meloncat ke atas genting terus menuju ke taman di belakang istana.

Tengah mereka berlari, tiba-tiba Po Tiau yang dikempit Leng Bwe-hong telah berteriak nyaring.

"Hayo kawan, kenapa belum keluar!"

Menyusul, mana, tiba-tiba mereka dihujani senjata rahasia dari berbagai penjuru.

"Kaucari mampus?"

Bentak Bwe-hong gusar sambil mengempit lebih kencang, keruan saja Po Tiau tak tahan, ia pingsan.

Habis itu, cepat sekali Leng Bwe-hong sudah melolos pedang 'Yu-liong-kiarn', begitu bergerak, senjata rahasia musuh telah tersampuk jatuh oleh sinar putih yang kemilauan.

Namun begitu dari bawah senjata-senjata rahasia masih terus membanjir.

Sementara Jiak-sim sudah memutar juga senjata Liu-singtui hingga banyak senjata rahasia yang terbentur jatuh.

Cara Pho Jing-cu lebih hebat lagi, ia hanya mengebas lengan bajunya, dan hujan senjata rahasia musuh itu ternyata tiada satupun yang bisa menyentuh tubuhnya.

Dalam pada itu, Leng Bwe-hong sempat mengeluarkan beberapa 'Sin-bong', senjata rahasianya yang tunggal itu.

"Kalau menerima tanpa memberi itu kurang hormat!"

Bentaknya tiba-tiba sambil mengayun tangannya, beberapa sinar hitam keemas-emasan bagai kilat telah menyambar ke bawah, menyusul terdengarlah jeritan ngeri, beberapa orang Go Sam-kui sudah terbinasa ditembus oleh Sin-bong.

Dan ketika di bawah ribut oleh serangan balasan itu, cepat sekali Jing-cu membawa kawan-kawannya melayang ke taman belakang.

Tatkala itu Po Tiau masih tetap dikempit Leng Bwe-hong dan lambat laun sudah sadar kembali.

Dari belakang Li Jiaksim dapat melihat wajah Po Tiau mengunjuk senyum mengejek.

Pikirannya tergerak mendadak, dan betul saja tahu-tahu terdengar suara "fung", dari depan mereka telah disemprot dengan api belerang yang lihai, lekas mereka menyingkir ke samping.

Akan tetapi dari empat penjuru, tiba-tiba api sudah menyemprot lagi dan semuanya mengincar diri Leng Bwehong bagai naga berapi yang hendak menelannya mentahmentah.

Bwe-hong menjadi gusar, dengan sekali geraman ia melompat ke atas api yang berkobar itu dan mendadak menubruk ke bawah taman, ia menggelundung untuk memadamkan api yang sementara itu sudah menjilat tabuhnya, dan karena itulah Po Tiau terlempar pergi sejauh beberapa tombak dari kempitannya dengan muka dan kepala ikut terbakar juga.

Tetapi begitu terlempar segera Po Tiau melompat bangun terus menyambar sebatang toya dari bawahannya dan bagai kerbau mengamuk ia memimpin orang-orangnya mengembut maju, sungguh ketangkasan Po Tiau tidak menghilangkan pamornya sebagai jago utama Go Sam-kui.

Sementara itu Pho Jing-cu dan lain-lain terpaksa ikut melompat ke bawah, segera mereka terkepung dalam taman yang penuh manusia itu, beberapa orang di antaranya membawa alat semprot berdiri paling depan dan segera menyemburkan api hingga seketika seluruh taman itu berkobar dengan hebatnya.

Bwe-hong berempat berusaha meloloskan diri dengan menerjang ke sana kemari, celakanya di antara api yang berkobar hebat itu, mereka masih dihujani pula dengan senjata rahasia.

Lambat laun karena semburan api itu, mereka berempat terpaksa berpencar, dengan ilmu mengentengkan tubuh yang gesit mereka mencoba bertahan, tetapi kemana mereka menyingkir, selalu api menyambar ke arah mereka.

Bwe-hong menjadi sengit, tiba-tiba dilepasnya baju luarnya, ia mengeluarkan ilmu 'Tiat-poh-san' atau baju kain baja, ia kebas ke sana dan kebut ke sini dengan kuat hingga membawa sambaran angin yang keras.

Ketika seorang penyembur api itu menyemprotkan apinya ke arah Bwe-hong, karena kebasan bajunya, tahu-tahu api itu membalik hingga senjata makan tuan, berbareng itu Bwe-hong menubruk maju, ia menutup tubuhnya dengan baju untuk menjaga semprotan api lainnya, berbareng itu segenggam Sin-bong yang sudah disiapkan lantas dihamburkan.

Dalam kesimanya karena ketangkasan Bwe-hong itu, para penyembur api itu tak sempat menghindarkan diri ketika mendadak dilihatnya sinar hitam keemasan menyambar datang, terpaksa mereka angkat bumbung semprotan untuk menangkis, dan sebab itulah berturut-turut terdengarlah letusan, bumbung semprot itu meledak dan belerang membakar balik, tanpa ampun lagi parapenyemprot itu terbakar hidup-hidup bagai babi panggang.

Dan karena semburan api yang membalik itu, serdaduserdadu di sekitarnya lari tunggang-langgang.

Sementara itu dengan kain bajunya yang sudah terbakar juga Bwe-hong lantas menguber, ia mengayun sekuatnya baju berapi itu ke tempat bergerom-bolnya orang banyak, sedang sebelah tangan yang lain segera melolos pedangnya, ia merangsek musuh dengan sengit.

Semprotan api itu guna mencapai jarak jauh, bila musuh sudah dekat tidak berguna lagi, maka terpaksa para penyemprot lain melemparkan bumbung semprot mereka terus melawan dengan mencabut golok.

Karena diterjang Bwe-hong, jurusan ini segera menjadi bobol, kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Pho Jingcu dan segera diikuti oleh kawan-kawannya, bagaikan banteng luka yang tak tertahankan mereka berempat menerjang musuh.

Namun serdadu-serdadu penjaga taman itu terlalu banyak, waktu melihat mereka menerjang keluar, dengan segera garis pengepungan dilakukan dari segala jurusan hingga seluruh taman seketika berwujud lautan senjata.

Mereka mencoba ganti siasat, Bwe-hong membuka jalan di depan.

Jing-cu sendiri menjaga di belakang Jiak-sim dan Yuhong diapit di tengah.

Jiak-sim memutar Liu-sing-tui dengan kencang hingga musuh terpaksa tak berani mendekat, sedang Yu-hong mencari kesempatan untuk membantu Leng Bwehong membuka jalan.

Meski Yu-liong-kiam bisa memotong besi seperti merajang sayur, namun jumlah musuh terlalu banyak, pula kalau terbentur senjata berat juga tak mempan, maka meski Bwehong berusaha sekuat mungkin dibantu kawan-kawannya hingga pertempuran itu berlangsung sangat dahsyat, akhirnya mereka masih tetap terkurung rapat tak berdaya.

Pada saat yang genting itulah, mendadak Jing-cu bersuit aneh berkali-kali, menyusul terdengar suara tiupan terompet yang panjang, tentu saja para serdadu penjaga taman istana itu kaget dan tertegun.

Mendadak pula suara gemuruh terdengar, tembok benteng sebelah barat taman itu meledak hingga batu pasir beterbangan dan serdadu-serdadu yang dekat dengan tembok itu banyak yang ikut hancur lebur.

Pengepung Bwe-hong dan lain-lainnya meski sudah terlatih, namun menghadapi suasana panik itu terpaksa mereka pun mendekam di tanah hingga kesempatan itu digunakan oleh Leng Bwe-hong dan kawan-kawan untuk menerjang keluar kepungan.

Menyusul suara ledakan itu, dari luar taman telah menerjang masuk dua-tiga puluh orang laki-laki tegap di bawah pimpinan seorang gadis berbaju hijau dan seorang pemuda berbaju kuning.

Begitu menerjang masuk rombongan orang ini segera membidikkan anak panah yang membawa batu dan botolbotol berisi obat peledak ke tempat musuh bergerombdl, karena itulah api kembali berkobar dan debu berhamburan hingga musuh kini yang menjadi kacau balau.

Sebaliknya Jiak-sim tidak mengenal sepasang muda-mudi ini, tetapi selebihnya yang lain dikenal semua sebagai bawahannya.

Kiranya sebelum ia masuk ke kota Kun-bing, lebih dulu ia sudah menyelundupkan bawahannya ke dalam kota untuk menjaga segala kemungkinan.

Hanya ia tidak mengerti cara bagaimana bawahannya itu bisa berada di bawah pimpinan muda-mudi yang tak dikenalnya itu?

Dalam pada itu makin bertempur rombongan orang itu semakin gagah, lebih-lebih si pemuda baju kuning dengan sepasang pedangnya yang bersinar mengkilat dan membawa suara gemuruh sewaktu senjatanya diayun, siapa berani merintangi pasti mati.

Di sebelah sana, Po Tiau menjadi murka juga, ia mengincar Li Jiak-sim dan mendadak menubruk pemuda ini, ia mengemplang kepala orang dengan toyanya tadi.

Lekas Jiak-sim mengayun Liu-sing-tui untuk menangkis hingga toya orang kena dilihat tali bandulnya, waktu ia menarik sekuatnya tak terduga ia sendiri yang terseret maju, keruan saja ia sangat terkejut.

Nampak kawannya dalam bahaya, dengan cepat Bwe-hong memburu maju.

Namun sebelum dekat, tiba-tiba dilihatnya pemuda baju kuning tadi telah menggeram sekali terus menubruk maju secepat terbang, tanpa bertanya lagi sepasang pedangnya tahu-tahu memotong ke tengah, karena itulah tali Liu-sing-tui kena terta-bas putus hingga bola bandulan itu mencelat ke udara sedang ujung toya juga tertabas sebagian.

Tentu saja Po Tiau dan Jiak-sim sama-sama terkejut, cepat mereka melompat mundur beberapa tindak.

"Dia adalah orang sendiri,"

Kata pemudi baju hijau yang ternyata adalah Boh Wan-lian pada pemuda itu sembari menunjuk Li Jiak-sim.

Dan tanpa berkata pula pemuda itu lantas menguber Po Tiau terus membacok lagi.

Lekas Po Tiau menggeser langkah dan memiringkan tubuhnya, toya yang terkurung itu tiba-tiba dipakai menjojoh dengan tipu 'Tiang-coa-jip-tong' atau ular panjang masuk goa.

Tetapi bacokan pemuda tadi hanya memakai sebelah pedangnya, pedang tangan kiri masih belum digunakan, maka dengan cepat dipakainya menangkis dan terdengarlah suara nyaring, tahu-tahu toya Po Tiau terkurung lagi sebagian.

Dalam pada itu pedang yang membacok tadi sudah ditarik kembali dan telah menusuk pula secepat kilat, maka menjeritlah Po Tiau, pundaknya telah kena tertusuk tembus, beruntung baginya masih bisa melompat kabur sambil menahan sakit.

Demi melihat kawannya terluka, Hwan Cing, satu di antara tiga perkasa dari istana, dengan cepat menggantikan maju, ilmu pedangnya 'Mo-hun-kiam-hoat' mengutamakan cepat dan gesit, mendadak ia melompat naik, dari atas ia menusuk muka orang, berbareng itu sebelah kakinya yang mengenjot ke atas terus memancal ke dada pemuda baju kuning.

Karena tusukannya itu, cepat si pemuda mengangkat pedangnya dengan gerakan 'Ki-hwe-liu-thian' atau mengangkat obor menerangi langit, dengan sekali 'mengobor' tahu-tahu senjata Hwan Cing terpental ke udara, namun demikian dada si pemuda telah kena dipancal kaki Hwan Cing dengan antap.

Nampak pemuda itu kena ditendang, lekas Leng Bwe-hong melayang maju hendak menolong, siapa tahu belum sempat ia mendekat mendadak tertampak Hwan Cing sendiri telah terpental pergi beberapa tombak jauhnya dan menggeletak terluka parah oleh getaran tenaga dalam orang.

Nyata si pemuda baju kuning itu memiliki Lwekang dan Gwakang yang sempurna.

Sungguh Bwe-hong terkejut sekali, usia pemuda itu belum ada tiga puluh tahun tetapi kepandaiannya sudah begitu tinggi, hanya dua-tiga gebrakan saja Po Tiau dan Hwan Cing sudah dibikin keok, tampaknya ilmu silat orang tidak di bawah dirinya.

Di lain pihak demi menyaksikan pemimpin mereka telah dikalahkan, para serdadu itu lari kocar-kacir.

Waktu Wan-lian bersuit sekali, maka dengan bebas ia membawa semua orang menerjang keluar melalui lubang tembok yang meledak tadi.

Di luar ternyata sudah menanti lebih dua puluh ekor kuda.

"Dua orang setunegansan. lekas mundur!"

Seru pula Boh Wan-lian.

"Mari kita bersama-sama satu kuda!"

Ajak Bwe-hong sambil menarik si pemuda baju kuning tadi.

Pemuda itu tidak buka suara, ia pun tidak menolak.

Dan ketika sudah mencemplak ke atas kuda, serta merta ia mengempit perut binatang itu sekuatnya, karena kesakitan kuda itu berlari kesetanan hingga sekejap saja kawan-kawan mereka sudah tertinggal jauh.

Bwe-hong sedang heran akan diri orang, maka pelahan ia tekan nundak si DO muda sambil berkata.

"Sukalah kau oc lahan sedikit!"

"Hei, bagus kau!"

Jengek pemuda itu tiba-tiba dan tubuhnya sedikit tergetar. Mendadak ia pun melompat turun dari kuda dan berkata lagi.

"Kauhilang terlalu cepat? Baiklah kau menunggang sendiri saja!"

Habis itu ia terus berlari dengan cepat, begitu cepat sehingga terpaksa Bwe-hong mengeprak kudanya baru bisa menyusul.

Tak lama kemudian pemuda itu berhenti di bawah sebatang pohon Liu, lalu seenaknya saja ia bernyanyi-nyanyi tanpa menghiraukan orang lain.

Waktu Bwe-hong mendekat, ia pun tidak menggubris padanya.

Lagu yang dinyanyikan pemuda itu juga aneh, nadanya gembira tidak, sedih pun bukan, diam-diam Bwe-hong berpikir.

"Jangan-jangan sepertiku, dalam usia semuda ini ia telah mengalami macam-macam penderitaan?"

Maka ia mendekatinya. Dengan sopan ia menyapa lagi.

"Aku bernama Leng Bwe-hong dan datang dari Sinkiang. Dan dapatkah aku mengetahui nama dan she Hengtay (saudara yang terhormat) dan berasal darimanakah?"

Dengan memperkenalkan diri yang namanya sudah tersohor, Leng Bwe-hong berharap orang tergerak hatinya.

Siapa sangka pemuda ini seolah-olah tak pernah mendengar nama Leng Bwe-hong, ia hanya mengangguk-angguk, sorot matanya guram dan menjawab.

"Aku sendiri tidak tahu siapa she dan namaku dan berasal darimana, aku justru ingin mencari seseorang yang bisa memberitahu padaku!"

Terkejut bercampur heran Bwe-hong oleh sahutan orang, pikirnya lagi.

"Apakah ada rahasianya dan sedang bersedih, maka namanya tidak mau diperkenalkan pada orang lain?"

Karena pikiran itu ia lantas berkata lagi.

"Kita sama-sama orang pengelana dan tak perlu harus kenal nama, tidaklah menjadi soal jika Hengtay tak mau katakan. Cuma saja atas bantuanmu tadi, sungguh aku sangat berterima kasih dan sebagai kawan maukah kita omong-omong?"

"Apa yang aku bisa omongkan?"

Sahut pemuda itu dengan tak acuh.

"Aku benar-benar seoerti bavi baru lahir, seeala aoa aku tidak tahu."

Dan bila dilihatnya wajah Bwe-hong mengunjuk rasa kurang senang karena jawabannya, ia telah membanting tangan dan berkata lagi.

"Apa yang kukatakan adalah sebenarnya, jika kau tidak percaya, aku bisa apa?"

Belum pernah Bwe-hong bertemu dengan orang seaneh ini, lama-lama ia mendongkol juga, maka waktu pemuda itu membanting tangannya, diam-diam ia mengumpulkan tenaga dan mendadak menggenggam tangan orang dengan kuat.

Kejadian cepat ini membuat pemuda itu bersuara kaget, tetapi segera pula ia tahan tangannya ke bawah dan meronta sedikit, maka tangannya terlepas pula dari genggaman Bwehong.

"He, kenapa kau begitu tidak tahu aturan?"

Serunya kurang senang.

Dan karena rontaannya tadi Leng Bwe-hong tak kuat lagi menggenggam terus, ia pun bersuara heran.

Ilmu kepandaian mereka ternyata seimbang alias sama kuat.

Melihat orang rada gusar, ia menduga pasti orang akan pakai kepalan, siapa tahu pemuda itu malah menyingkir pergi dan bersandar pada pohon lain sambil kedua tangannya memegang kepala sendiri seakan-akan sedang memeras otak.

"Siapa saja asal bertemu pasti bertanya namaku, tetapi kepada siapa aku harus minta keterangan, siapakah aku ini?"

Teriak pemuda itu tiba-tiba dan air matanya terus menetes.

Bwe-hong bingung melihat kelakuan orang.

Waktu ia berpaling, ia lihat debu mengepul tinggi.

Pho Jing-cu, Boh Wanliari dan Li Jiak-sim serta yang lain bagai terbang cepatnya sedang mendatangi.

"Pho-pepek, aku bilang dia pasti di sini, nah, bukankah itu dia*? Ia masih ingat baik-baik tempat yang kita janjikan, kenapa tidak bisa menyembuhkannya?"

Demikian Wan-lian lantas berkata kepada Pho Jing-cu begitu mereka sampai di bawah pohon itu.

"Ya, tetapi menurut pandanganku tetap sangat sulit,"

Sahut Jing-cu sambil menggeleng kepala.

"Sulit bukan berarti putus harapan bukan?"

Kata Wan-lian. Habis itu ia mendekati pemuda baju kuning itu dan berkata padanya dengan suara lemah lembut.

"Marilah ikut kami pergi mengaso dulu. Banyak sekali kawan-kawan kami dan juga kawan-kawanmu, rumah kawanku adalah rumahmu juga. Marilah turut pada kataku, beberapa hari lagi pasti kuberitahukan padamu, siapa kau ini dan pasti akan ketemukan kembali 'kau' yang hilang itu."

Habis itu ia pun memperkenalkan Li Jiak-sim padanya.

"Ini dia cucu Li Jwan-ong!"

"Li Jwan-ong, Li Jwan-ong!"

Tiba-tiba pemuda itu menggumam.

"Ya, pernahkah kau mendengar nama itu? Li Jwan-ong!"

Tanya Wan-lian cepat.

"Sudah lupa, entah pernah mendengar atau tidak, cuma nama itu aku seperti hapal daripada nama orang lain,"

Sahut pemuda itu sambil memegangi kepalanya lagi dan berpikir keras. Melihat kelakuan orang, Wan-lian tertawa.

"Sudahlah, kalau lupa, untuk sementara jangan dipikir dulu. Hayolah, kita berangkat saja!"

Katanya kemudian. Si pemuda ternyata sangat menurut pada kata-kata Boh Wan-lian, ia menarik-narik tangan Leng Bwe-hong dan berkata kepadanya.

"Kau adalah kawannya dan dengan sendirinya adalah juga kawanku, kini aku mau lagi bersama satu kuda denganmu!"

Jing-cu tersenyum, dipandangnya Wan-lian hingga si gadis merah jengah, lekas Wan-lian mendesak Yu-hong dan lainnya supaya lekas berangkat.

Tempat yang mereka tuju adalah kediaman seorang bekas bawahan Li Kim.

Waktu sampai di tempat tujuan, hari pun sudah magrib.

Siang-siang tuan rumah sudah mempersiapkan segala yang perlu, maka para tetamu lantas dijamu dengan meriah.

Pekarangan depan rumah yang mereka tinggali ini terdapat dua batang pohon Kui yang sedang berbunga hingga baunya semerbak memabukkan.

Waktu pemuda baju kuning itu lewat pekarangan itu, tiba-tiba ia mengerutkan alisnya rapat-rapat dan mendadak seperti kesal.

Wan-lian melihat kelakuan orang, tetapi ia tinggal diam saja.

Habis bersantap, oleh tuan rumah para tetamu disuguhi manisan yang terbuat dari bunga Kui.

Tiba-tiba pemuda baju kuning mengamuk, ia sampuk semua manisan itu hingga berceceran memenuhi lantai, keruan saja tuan rumah terkejut.

Maka cepat Pho Jing-cu membisikinya, sedangkan pemuda itu lantas minta maaf juga.

"Entahlah, bila nampak Kui-hoa (bunga Kui) lantas aku seperti teringat sesuatu, tetapi meski aku berpikir lagi pergi datang, tetap saja tidak bisa aku mengingatnya dan hati lantas merasa kesal, maka harap tuan rumah sudi memaafkan,"

Demikian kata pemuda itu.

Meski semua orang menganggap kelakuan si pemuda agak aneh dan kurang sopan, tetapi mengingat jasanya siang tadi yang menerjang musuh paling gagah berani, semua orang pun dapat memaafkannya.

Dalam hati Li Jiak-sim dan Leng Bwe-hong berdua samasama penuh pertanyaan.

Jiak-sim heran darimana bawahannya bisa berkumpul bersama dengan pemuda baju kuning itu.

Sedang Bwe-hong ingin tahu juga mengapa Pho Jing-cu tiba-tiba sudah berada di Kun-bing, bahkan bisa menyelundup ke dalam istana dan menjadi tabib Go Sam-kui?

Pho Jing-cu seperti tahu isi hati mereka, maka sehabis perjamuan itu lantas dikatakannya pada mereka.

"Hari ini kita sudah terlalu lelah, biarlah besok saja kuceritakan dari awal sampai akhir."

Pho Jing-cu adalah Locianpwe atau kaum angkatan tua, kata-katanya terpaksa harus dituruti Li Jiak-sim dan Leng Bwe-hong, maka dengan penuh tanda tanya mereka pun pergilah mengaso.

Semalaman itu pikiran Leng Bwe-hong bergolak, ia tak bisa pulas, sebentar-sebentar terbayang olehnya wajah Lauw Yuhong yang menggoncangkan tatkala masih dalam penjara itu, lain saat ia teringat juga kelakuan aneh si pemuda baju kuning ini.

Akhirnya ia bangun lagi dan memakai bajunya, ia bermaksud jalan-jalan di tanah pekarangan di bawah sinar sang dewi malam yang indah untuk menghibur hati yang lara.

Di luar kamar Bwe-hong adalah ruangan tengah, dan karena keluarnya itu, suatu kejadian aneh telah disaksikannya.

Di ruangan tamu ternyata Pho Jing-cu sedang duduk sendirian sambil membaca buku di bawah sinar lilin, waktu dilihatnya Bwe-hong keluar, segera ia menyapanya.

"Lengtayhiap, baiknya kau masuk saja, sebentar lagi jika melihat apa yang terjadi, harap kautinggal diam dan jangan ikut campur tangan!"

Melihat orang berkata dengan sungguh-sungguh, Bwe-hong menurut dan segera kembali ke kamarnya, akan tetapi ia mengintip juga dari sela-sela pintu untuk mengetahui apa yang bakal terjadi di luar.

Keadaan yang sunyi berlalu dengan cepat, kini sudah lewat tengah malam, tetapi Bwe-hong belum melihat sesuatu di luar.

Pho Jing-cu juga masih tetap duduk anteng, pandangannya tak pernah meninggalkan bukunya.

Bwe-hong menjadi kesal, ia mengantuk dan hendak pergi tidur.

Tiba-tiba ia mendengar tangga loteng berbunyi, ada orang setindak demi setindak sedang turun ke bawah.

Waktu Bwehong mengintip lagi, ia lihat si pemuda baju kuning dengan sepasang pedang terhunus di tangan, badan tegak bagai mayat hidup, matanya terpaku dan parasnya lapat-lapat mengunjuk napsu membunuh, dan setindak demi setindak sedang mendekati Pho Jing-cu.

Sungguh terkejut Bwe-hong bukan main, ia pikir hendak mencegah, tetapi teringat olehnya pesan Pho Jing-cu tadi.

Waktu ia menegasi lagi, ia lihat Pho Jing-cu seperti tak mengetahui apa-apa dan masih asyik membaca bukunya.

Bwe-hong sudah berpengalaman di Kangouw dan sudah banyak menghadapi segala rupa bahaya, boleh dikata kejadian yang betapa tegangnya sudah pernah dialaminya, musuh yang betapa ganasnya tak dipandangnya sebelah mata.

Akan tetapi aneh, kini nampak si pemuda baju kuning yang berjalan tegak bagai mayat dengan biji matanya terpaku tak bergerak, tanpa terasa bulu ramanya berdiri mengkirik.

Sementara pemuda itu sudah semakin dekat dan hampir berada di depan Pho Jing-cu, napsu membunuh di mukanya juga semakin nyata, saking kuatirnya hampir saja Bwe-hong menjerit.

Namun ia tahu Pho Jing-cu tentu sudah siap sedia sebelumnya, melihat sikapnya yang begitu tenang, akhirnya ia menjadi lega dan tak kuatir lagi.

Pikirnya, pemuda baju kuning ini betapapun tinggi ilmu silatnya, namun Pho Jing-cu adalah tokoh ternama dalam dunia persilatan, pasti tidak nanti bisa di-bokong pemuda itu, andaikan terjadi sesuatu ia masih bisa maju membantu, dan dengan kekuatan dua orang, mustahil tidak dapat mengatasinya.

Dalam pada itu Jing-cu menunggu sampai pemuda baju kuning itu sudah dekat, baru pelahan-lahan ia bangkit, dengan sikap biasa ia bertanya.

"Nyenyakkah tidurmu?"

Dengan mata terpaku pemuda itu memandang Pho Jing-cu tanpa menjawab, Jing-cu tersenyum dan kemudian ia mengangkat secangkir teh dan disodorkan padanya sambil berkata lagi.

"Minumlah ini!"

Tiba-tiba tangan kanan pemuda itu menjadi kendor dan pedangnya terjatuh, ia terima cangkir teh itu dan diminumnya.

"Nah, sekarang bolehlah tidur lagi!"

Kata Jing-cu tertawa sambil bertepuk tangan.

Betul saja pemuda itu lantas roboh lemas dan tak seberapa lama sudah menggeros pulas.

Dan selagi Leng Bwe-hong hendak keluar, tiba-tiba terdengar derapan kaki yang turun dengan cepat dari atas loteng, ia heran dan pikirnya.

"Apakah ada seorang linglung lain yang turun pula?"

Sementara tindakan kaki itu ternyata makin cepat dan kemudian tertampaklah seorang gadis turun dengan tergopohgopoh, ternyata gadis itu adalah Boh Wan-lian.

Nampak pemuda itu sudah menggeletak di lantai dan pedangnya jatuh di samping, dengan rasa kuatir Wan-lian bertanya.

"Apakah ia melukaimu?"

"Tidak, sama sekali ia tak bergebrak denganku,"

Jawab Jing-cu. Lalu dengan tersenyum ia menyambung pula.

"Nona, biarlah kumusnahkan dia saja, bagaimana pendapatmu?"

"Ha, jangan!"

Seru Wan-lian kaget.

"Maksudku bukan membunuh dia,"

Kata Jing-cu.

"Juga aku tidak bermaksud membuat cacad dia, yang kumaksudkan ialah memusnahkan ilmu silatnya, cukup kukeluarkan sedikit ilmu, segera kubikin dia tak bertenaga walaupun ilmu silatnya begitu baik."

"Kenapa kau begitu tega?"

Kata Boh Wan-lian dengan rasa sayang.

"Selamanya kausuka mengobati orang sakit, kini tidak kausembuhkan dan mengapa malahan hendak mempermainkannya?"

"Ya, sebab aku tidak dapat mengobati penyakit ini,"

Ujar Pho Jing-cu.

"Ia punya penyakit 'Li-hun-cin' (penyakit mimpi berjalan) ini tentu disebabkan sesuatu peristiwa yang sangat menggoncangkan pikirannya, dan justru ia telah melupakan segala sesuatu sehingga tiada jalan untuk menyelidiki sumber penyakitnya ini, dengan demikian cara bagaimana aku bisa sembuhkan dia? Yang paling menguatirkan ialah di waktu penyakitnya kumat, meski di siang hari ia orang baik-baik, tetapi di waktu malam kalau kumat penyakitnya, sangat mungkin membunuh orang pun tak disadarinya, sedangkan ilmu silatnya begitu tinggi, kalau aku tidak memusnahkannya, siapa lagi yang dapat mengatasinya?"

"Tadi apakah ia hendak membunuhmu?"

Kata Wan-lian.

"Tanda itu masih belum terlihat, hanya wajahnya penuh mengunjuk napsu membunuh,"

Jawab Jing-cu.

"Aku jadi teringat cerita Pepek dulu tentang penyakit 'Lihun-cin', bahwa bila ada sesuatu pikiran yang terpendam dalam hati seseorang, biasanya ia sendiri pun tidak mengetahui, tetapi dalam mimpi di kala ingatan sehatnya tak bekerja lagi, lantas timbul sesuatu pikiran yang terpendam itu untuk sekedar dipuaskan dalam mimpinya dan hal-hal jahat tidak sampai diperbuatnya. Dalam keadaan begitu meski ia sudah seorang 'dia' yang lain, tetapi toh tidak membahayakan keselamatan orang lain, dan penyakit ini disebut 'Sian-seng-lihun-cin' (penyakit mimpi bawaan), bukankah begitu?"

Mendengar sampai di sini, tiba-tiba Jing-cu menggoyanggoyang tangannya dan cepat berdiri.

"Pho-pepek, apa yang hendak kaulakukan?"

Tanya Wan-lian terkejut.

"Dalam keadaan demikian ini ternyata kau masih sempat bicara tentang ilmu tabib,"

Ujar Pho Jing-cu.

"Apakah ia membahayakan orang atau tidak, siapa pun tak mengetahuinya aku pun tak dapat menghadapi resiko ini, dan membiarkan ilmu silatnya yang begini tinggi buat keluyuran di waktu malam."

Habis berkata dengan pelahan ia mendekati pemuda baju kuning yang masih menggeros itu. Karena gugup dan cemasnya hampir-hampir Wan-lian menangis.

"Pho-pepek. apakah kau tak sayang lagi padaku?"

Katanya tak lancar. Dan belum Pho Jing-cu menjawab, sekonyong-konyong sesosok bayangan melesat tiba.

"Haha, memang aku tahu kau tak tahan dan akan keluar, kenapa kau tidak turut pesanku?"

Seru Jing-cu tertawa. Bayangan orang itu ternyata Leng Bwe-hong adanya.

"Aku menurut pesanmu, tapi kalau kau hendak memusnahkan ilmu silatnya, itulah aku tidak setuju,"

Sahut Bwe-hong cepat.

"Coba pikir, ilmu silatnya yang begitu tinggi apa gampang dilatihnya? Jika penyakitnya ini bisa disembuhkan, entah betapa besar manfaatnya bagi kita! Sungguh aku tak tahan melihat orang demikian ini akan kaumusnahkan!"

"Pho-pepek, coba lihat, Leng-tayhiap juga berkata demikian, aoakah kau masih iuea teaa untuk turun tanean?"

Uiar Wan-lian. Mendengar itu Pho Jing-cu tertawa terbahak-bahak dan tiba-tiba ia duduk kembali di tempatnya semula.

"Aku sudah pikirkan sebisanya cara bagaimana menyembuhkan penyakit anak muda ini, dan kini telah dapat kukete-mukan,"

Demikian katanya kemudian.

"Ha, sungguh?"

Tanya Wan-lian terheran-heran.

"Apa kaukira benar-benar aku hendak musnahkan dia? Ha, aku hanya ingin mencoba saja bagaimana pikiranmu padanya dan kini boleh dikata telah kena dicoba!"

Sahut Jing-cu tertawa.

"Ah, lagi-lagi Pepek telah mempermainkanku."

Kata Wanlian dengan mulut menjengkit.

"Sedikitpun aku tidak main-main!"

Kata Jing-cu sungguhsungguh.

"Kau tahu, penyakit hati harus disembuhkan dengan obat hati, kini ia memerlukan seorang gadis yang dapat mendampinginya dengan penuh kasih sayang dan gadis ini harus dapat mempercayainya, dengan begitu baru ia mau menuruti perkataannya, dan gadis inilah nantinya yang bisa menyelidiki sumber penyakitnya. Namun ia adalah orang sakit yang berbahaya, kalau gadis itu tidak bersedia berkorban dan tidak simpati padanya, tentu tidak bersedia mengawani orang sakit yang demikian ini, andaikan bersedia juga tak akan menghasilkan sesuatu. Penderita serupa ini perasaannya paling tajam, siapa yang sungguh-sungguh atau pura-pura simpatik padanya, ia dapat menyelaminya. Maka ia memerlukan seorang ibu, seorang saudara, seorang sahabat, ya, pendeknya seorang yang bisa dia ajak bicara dari hati ke hati. Dan kaulah orang yang paling sesuai buat melayaninya. Akan tetapi sebelum kejadian tadi aku masih belum tahu perasaanmu terhadapnya, maka dengan sengaja aku mencoba dan menyelami hatimu."

Habis Jing-cu menutur, Wan-lian termangu-mangu tak berkata.

"Coba bukankah Pho-pepek sangat sayang padamu?"

Kata Jing-cu pula tiba-tiba menggoda. Leng Bwe-hong ikut tertawa oleh perkataan itu.

"Ya, malam ini tidak saja aku telah berhasil mencoba Wanlian, bahkan sekalian telah menjajal Leng-tayhiap,"

Kata Pho Jing-cu pula dengan tertawa lebar sambil memandang Leng Bwe-hong.

"Untuk apa kau mencoba diriku?"

Tanya Leng Bwe-hong heran.

"Ya, hanya ksatria yang dapat menghargai ksatria,"

Sahut Jing-cu.

"Kau termasuk tokoh silat yang disegani, tentu lebihlebih tahu menghargai kepandaian orang. Dan karena percobaan malam ini. betul juga kau sangat suka padanya malahan hampir bertengkar denganku! Terus terang saja meski aku sudah mencoba dan tahu Wan-lian bersedia mendampinginya, tapi aku masih kuatir seumpama dia kumat dan benar-benar hendak melakukan keganasan, lalu tiada orang yang dapat mengatasinya. Kini jika ada kau bersama Wan-lian di sampingnya, pasti usaha ini tidak akan gagal. Tentu saja pada waktu mendampinginya sedapat mungkin kau biarkan Wan-lian lebih berdekatan dengannya, kau hanya melindungi dari samping saja."

Habis berkata Jing-cu bergelak tertawa lagi.

"Ilmu tabib Pho-losiansing sungguh sangat mengagumkan, kalau ada tugas pasti aku tak akan menolak,"

Ujar Leng Bwehong.

"Hanya saja dapatkah Pho-losiansing menceritakan sedikit padaku asal-usul penderita sakit ini? Umpamanya menceritakan kisah pertemuan kalian dengan dia?"

Pho Jing-cu tidak menolak, maka mulailah ia menceritakan pengalamannya yang sangat menarik dan tegang.

Hari itu setelah Pho Jing-cu dan Boh Wan-lian berpisah dengan para pahlawan di Bu-keh-ceng.

melalui Soa-say dan Siam-say, mereka terus menuju ke Su-cwan.

Lewat beberapa hari mereka telah sampai di Kiam-kok.

suatu tempat yang tersohor karena bahaya dan curamnya jurang yang harus dilalui jika hendak memasuki daerah Su-cwan.

Pada hari itu melalui benteng 'Kiam-bun-kwan' di antara bukit-bukit yang menjulang tinggi, mereka berada di jalanan 'Can-to' yang terkenal dalam sejarah.

Yang disebut 'Can-to' adalah jalanan kecil yang berliku-liku bagai usus kambing di antara tebing-tebing jurang yang curam, malahan ada bagian-bagian yang sebenarnya adalah jalanan buntu, lalu dipasang dengan batang kayu di antara tebing curam itu sehingga berupa jembatan terapung di udara, ada pula bagian jalanan di tebing terjal yang dibikin seperti tangga dengan beribu undakan.

Berada di jalan Can-to yang hebat itu, bilamana Jing-cu dan Wan-lian mendongak, yang tampak hanya bukit-bukit tinggi yang mengaling-alingi sinar matahari dan langit, sebaliknya kalau memandang ke bawah yang terdengar hanya suara meng-gerujuknya air yang jatuh ke jurang yang dalamnya susah dilukiskan.

Berada di jalanan seperti itu, Pho Jing-cu masih tak mengapa, tetapi Wan-lian sudah keder dan kuatir.

Meski tatkala itu sudah permulaan musim panas, tetapi di dataran tinggi Can-to angin pegunungan yang santar terasa sangat dingin.

Dan kisah perjalanan Jing-cu dan Wan-lian dimulailah di sini.

"Hari itu, kami berjalan di Can-to. Sungguh memalukan, kami termasuk orang yang ada sedikit kepandaian, tetapi sudah satu hari penuh berjalan ternyata masih belum bisa melintasi pegunungan itu, waktu itu cuaca sudah remangremang dan hari hampir magrib, aku mulai kuatir. Kalau bermalam di pegunungan semacam ini bukanlah menjadi soal bagiku, tetapi Wan-lian adalah seorang gadis bahkan melihat wajahnya seperti sedang menderita sakit, sehingga aku menjadi kuatir pula."

"Ah, kau anggap aku masih anak-anak saja,"

Sela Wan-lian tiba-tiba.

"Sebenarnya waktu itu aku tidak sakit, hanya sejak malam menyelidiki Ngo-tai-san selama setengah bulan hatiku selalu merasa kesal!"

Mendengar itu diam-diam Bwe-hong menghela napas.

Malam di Ngo-tai-san itu, Wan-lian hendak mencari ibunya, siapa tabu hanya menemukan baju kudung sang ibu yang sudah meninggal.

Adegan yang menyedihkan pada malam itu diam-diam ia pun menyaksikan sendiri, maka ia memahami mengapa hati Wan-lian menjadi kesal.

"Kenapa kau tidak tahu hatimu kesal? Justru aku kuatir dari kesal kau menjadi sakit!"

Demikian kata Pho Jing-cu kemudian dengan agak muram.

Wan-lian menjadi berduka, matanya merah, mendadak ia pandang pemuda baju kuning yang masih menggeros di lantai itu dan meneteskan air mata.

Leng Bwe-hong berpikir.

"Pantas ia mencintai pemuda baju kuning ini, kedua muda-mudi ini sama-sama anak piatu, yang seorang malahan tidak mengetahui asal usul dirinya sendiri, rupanya nasib yang sama bagaikan seutas benang merah telah menggandengkan mereka."

Sementara itu Ph(c) Jing-cu lantas meneruskan ceritanya.

"Selagi aku berkuatir, tiba-tiba kami melihat di belokan jalanan gunung sana ada seoTang gadis yang sedang mengumpulkan rotan hutan, ia membetot dan menarik sekenanya, dengan gampang saja ia sudah mendapatkannya. Rotan semacam itu sangat kuat dan ulet, dipotong dengan pisau saja cukup memakan waktu, tetapi ia ternyata sedikit pun seakan-akan tidak membuang tenaga, tentu saja aku menjadi heran. Wanlian segera menyapa padanya, nona itu sangat senang melihat Wan-lian, ia mendekati dan menarik tangan Wan-lian, ia bertanya kepadanya apakah bukan bidadari yang tiba-tiba jatuh ke pegunungan karena tertiup angin? Sebab sudah lama sekali ia tidak pernah bertemu orang luar di pegunungan yang curam itu."

"Sebenarnya ia yang sungguh cantik bagaikan mawar hutan yang mekar di pegunungan!"

Sela Wan-lian.

"Aku memberitahu kepadanya bahwa kami adalah pelancong biasa. Lantas ia mengajak kami menginap di rumahnya. Pikirku, tanah curam dan puncak berbahaya begitu siapa tahu masih ada rumah tinggal, pasti keluarga ini bukan orang biasa!"

"Rumah tinggal nona itu tidak begitu jauh, tetapi dipandang dari jauh sedikit pun tak nampak,"

Sambung Jing-cu.

"Ternyata rumahnya terbikin di atas tebing curam di antara dua puncak, di atas tebing itu tumbuh dua batang pohon cemara yang persis menutupi rumah itu dari pandangan orang. Kami memasuki rumah itu, penghuninya hanya seorang kakek berusia antara enam puluhan, mukanya hitam kurus, jarinya mirip cakar burung, kukunya panjang sekali tetapi penuh semangat. Begitu bertemu, kami menjadi heran, ia pun heran melihat kami. Kami memberitahu padanya kalau kami orang yang tersesat jalan, tetapi ia seperti tak ambil perhatian. Aku menyangka ia tidak senang karena kedatangan kami, atau sekiranya kami adalah orang-orang jahat, akan tetapi pelayanannya cukup memuaskan juga"

"Habis bersantap malam, ia berpesan pada kami, 'Khekkoan (tuan tamu), kelihatannya kalian bukan tamu biasa dan tentunya memiliki sedikit ilmu silat, cuma malam ini kalau ada sesuatu kejadian, kalian jangan sekali-kali bersuara dan ikut campur tangan. Kalau kalian ikut campur tangan, tidak saja akan membikin susah diri sendiri, bahkan juga akan mencelakai aku, dapatkah kalian berjanji?!' Demikian ia berpesan pada kami dengan muka serius."

"Ha, persis seperti yang kaupesankan padaku tadi bukan?"

Sela Bwe-hong dengan tertawa.

"Aku hanya bergurau denganmu, tetapi ia sungguhsungguh dan kereng sekali, sikapnya betul-betul sangat menakutkan!"

Kata Jing-cu.

"Tatkala itu nona tadi telah bertanya pada ayahnya, 'Ayah, ibu belum kembali! Apakah orang jahat yang dulu itu telah datang lagi? Kini aku sudah besar, biar aku membantu ayah.'. Mendengar itu wajah si orang tua berubah,"

Demikian tutur Wan-lian menambah cerita Jing-cu.

"Kemudian orang tua itu mengomeli anak gadisnya, 'Tidak, tak boleh kau ikut campur, jika kau ikut campur, aku tidak akan mengakuimu sebagai anak lagi, seumpama aku kena dibunuh, kau pun tidak boleh bergebrak dengan orang itu, jika ia hendak membawamu pergi, malahan kau harus turut dia dan sekali-kali tak boleh membalas sakit hatiku!' Dengan menangis gadis itu berkata, 'Ayah kenapa kau berkata begitu?' Akan tetapi dengan suara kereng kakek itu membentak, 'Kalau kaubantah pesanku, mati pun aku tidak meram!' Mendengar percakapan mereka, aku pun merasa keadaan orang itu agak luar biasa, aku memandang Pho-pepek tetapi separah kata pun ia tak bersuara, aku bermaksud mengatakan bersedia membantu, tetapi kepandaianku belum cukup, agaknya nona itu saja lebih kuat daripadaku. Suasana sedih dan mengharukan memenuhi rumah kecil itu, hatiku pun ikut terasa berat."

"Ya, sudah berpuluh tahun aku merantau di Kangouw, tetapi belum pernah ketemukan kejadian aneh semacam itu,"

Sambung Pho Jing-cu.

"Kakek itu seperti meyakinkan 'Tay-likeng-jiau-kang', ilmu cakar elang bertenaga raksasa, kedua matanya bersinar, sekilas saja orang akan tahu dia adalah ahli Lwe-kang, namun sama sekali aku tidak mengenali siapakah dia ini, diam-diam aku merasa aneh, dan aku belum tahu juga apakah dia orang baik-baik atau orang jahat. Aku menduga bisa jadi karena urusan balas-membalas di kalangan Kangouw, dan kebetulan dapat diketahui kami, tetapi kalau soal balas membalas di kalangan Kangouw, orang yang berkepentingan pasti tiada alasan buat menolak bantuan orang lain, sebaliknya kakek itu tidak mau menerima bahkan oleh anak gadisnya sendiri, hal ini betul-betul membuatku menjadi bingung dan tak mengerti."

Sampai di situ, angin malam di luar jendela tiba-tiba menderu-deru diselingi suara burung malam yang tajam melengking seram. Sekonyong-konyong Leng Bwe-hong menepuk tangan dan berkata.

"Aku dapat menerka siapakah gerangan orang tua itu!"

Dan belum lenyap suara perkataannya, tiba-tiba di luar jendela ada suara orang menyambung.

"Aku pun dapat menerka siapa kakek itu!"

Leng Bwe-hong melompat bangun, ia lihat sesosok bayangan hitam dengan cepat telah menerobos masuk dari jendela.

Ternyata orang ini adalah Li Jiak-sim.

Karena hati pemuda ini penuh dengan pertanyaan sehingga ia pun tak dapat tidur pulas, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh suara tindakan Wan-lian waktu turun dari tangga tadi, maka ia pun ikut turun.

Bwehong sedang terpesona oleh cerita Pho Jing-cu, sehingga tidak merasa ada orang mendekam di luar jendela.

Sementara itu mendengar bahwa Bwe-hong dan Jiak-sim kenal siapa adanya kakek itu, Pho Jing-cu menjadi terheranheran.

"Aku pernah mendengar dari Suhu mengenai jago-jago silat dari berbagai aliran dan tokoh-tokoh ternama,"

Demikian Bwehong menutur.

"Katanya di atas puncak Can-to di Kiam-kok ada seorang tua yang mengasingkan diri, namanya Kui Thianlan yang mahir menggunakan 'Tay-lik-eng-jiau-kang' dan 'Micio' (pukulan lunak), ilmunya sudah mencapai puncaknya. Eng-jiau-kang adalah ilmu yang hebat dari kaum Lwekeh, sedang Mi-cio adalah semacam ilmu yang paling susah dipelajari dari kaum Lwekeh, orang ini bisa meyakinkan ilmu dari dua golongan sekaligus, sungguh boleh dikata adalah tokoh sakti dari kalangan persilatan."

"Orang tua itu she Kui?"

Tanya Wan-lian mendadak dengan heran. Bwe-hong mengangguk. Dan Wan-lian kelihatan termangu-mangu, matanya berputar, tangannya menunjang janggut seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Aku pun pernah mendengar dari ayahku almarhum,"

Kata Li Jiak-sim.

"Bahwa ada seorang yang bernama Kui Thian-lan, ilmu silatnya sangat tinggi, tatkala Thio Hian-tiong memerintah daerah Su-cwan, pernah dia mengabdi pada Panglima Thio Hian-tiong yang bernama Li Ting-kok. Tidak lama setelah Thio Hian-tiong dan Li Ting-kok berturut-turut gugur, orang ini lantas tak diketahui jejaknya. Belakangan ada orang bilang ia mengasingkan diri di Kiam-kok, dan ayahku memerintahkan orang pergi mencarinya, tetapi tak bisa diketemukan. Pholocianpwe bilang ada orang mencari dia buat membalas dendam, kukira bukan musuh perseorangan, tapi adalah jago pemerintah Boan yang telah menemukan jejaknya."

"Dugaanmu hanya betul separoh,"

Kata Jing-cu dengan menggelengkan kepala, lalu ia melanjutkan.

"Semula orang yang datang mencari balas padanya itu bukan jagoan pemerintah, pada waktu si kakek lagi bicara dengan gadisnya, di atas rumah mendadak menyambar tiga panah bersuara susul menyusul, suaranya aneh dan menyeramkan. Aku tahu itu adalah tanda peringatan pada pihak lawan yang biasa dipakai di kalangan Kangouw. Umumnya kalau belum yakin bahwa ilmu silatnya lebih tinggi dari lawan, tidak nanti memberi tanda peringatan lebih dulu. Dan tentu saja aku terheran-heran, kedua ayah dan gadisnya itu sudah jarang diketemukan di kalangan persilatan, masakah masih ada orang pandai lagi yang berani begitu takabur? Dan setelah panah bersuara tadi lewat, betul saja di luar lantas terdengar suara bentakan orang bagai halilintar, 'Hayo, kenapa kau masih belum keluar?' Wajah kakek itu pun terlihat sedih."

"la kemudian berdiri dan berkata pada gadisnya, 'Sekali-kali jangan kaulupakan pesanku tadi.', lalu ia berkata pula kepada kami, 'Sekali-kali kalian juga jangan ikut campur.'. Setelah itu, ia lantas menerjang keluar rumah, tanpa bisa menahan diri lagi aku pun ikut keluar. Waktu aku berpaling, kulihat nona cilik itu pun sudah keluar bersama Wan-lian."

"Ternyata yang berdiri di luar adalah seorang tua bermuka merah dan brewokan, waktu nampak aku ikut keluar, ia melotot memandang beberapa kali padaku dan kemudian dengan tertawa dingin ia berkata, 'Ha, ternyata kau begini rendah, masih pakai pembantu!'. Lekas aku bilang, 'Aku hanya tetamu yang kebetulan lewat saja.'. Aku tahu urusan balas membalas dendam di kalangan Kangouw semacam ini, kalau hanya seorang yang maju, pasti itu sudah ada perjanjian untuk bertempur satu lawan satu. Siapa yang kebetulan menyaksikan juga harus menyingkir, kecuali kalau yakin tidak dapat menandingi pihak lawan dan sebelumnya sudah minta bantuan sobat-handai, itu adalah soal lain lagi."

"Namun begitu, juga harus membiarkan orang yang bersangkutan turun tangan lebih dahulu. Aku seharusnya menyingkir, tapi tidak tahan oleh rasa ingin tahu, aku masih terus mengawasi dari jauh cara mereka bertanding. Saat itu juga tiba-tiba aku melihat di bawah jalanan Can-to sana di tengah-tengah bukit seperti ada bayangan-bayangan hitam yang sedang merayap. Dan ketika aku menegasi lagi, tahu-tahu kakek paras merah itu sudah membentak, 'Sekalipun kau memakai pembantu, aku pun tak gentar!'. Dan tanpa banyak bicara lagi ia memukul si kakek hitam kurus itu dengan gemas. Aku berdiri sejauh puluhan tombak toh masih mendengar juga menyambarnya angin pukulan yang keras itu"

Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Leng Bwe-hong sangat tertarik oleh cerita Pho Jing-cu ini, kemudian ia pun berkata.

"Dengan kepandaian Kui Thian-lan ternyata masih ada orang yang berani mengeluruk ke rumahnya, maka orang itu pasti bukan sembarangan, sayang aku tidak bisa menyaksikan pertandingan hebat itu."

Kemudian ia melanjutkan dengan ge-getun.

"Menurut dugaanku, kakek hitam kurus di Kiam-kok itu adalah Kui Thian-lan. Bukankah kemudian ge^ak serangannya berdasar Mi-cio bercampur dengan Eng-jiau-kang? Kalau betul, lebih-lebih pasti adalah dia."

"Baiklah, biar kuanggap kakek hitam kurus itu adalah Kui Thian-lan, agar lebih gampang diingat,"

Kata Pho Jing-cu sambil manggut.

"Tadi aku bercerita sampai pada waktu kakek paras merah itu menubruk Kui Thian-lan dengan pukulan kedua telapak tangan. Ternyata Kui Thian-lan tidak lantas bergerak, dengan enjotan kuat, ia melompat pergi dua-tiga tombak jauhnya sambil berulang-ulang berteriak, 'Jangan buru-buru kau bergebrak denganku! Semestinya kau memberi kesempatan pada orang agar bisa bicara.'. Tetapi kakek paras merah itu tidak menggubris padanya, ia mengikuti jejak orang dan mendesak tiap tindakan lawan. Setelah Thian-lan mundur beberapa kali, ia sudah mundur sampai di tepi jurang dan tidak mungkin ia mundur lagi. Tapi si kakek paras merah itu malah menyerang lebih hebat lagi, kedua telapak tangannya ia hantamkan ke depan sekuatnya. Cepat Thian-lan pentang tangannya, ia melangkah maju sambil mengegos, tangan kanan menangkis, telapak tangan kiri berbalik memotong pergelangan tangan lawan, menyusul pula jari tangan kanan dengan cepat menotok ke bawah iga orang. Buru-buru kakek paras merah itu menarik kembali tangannya, tetapi segera tangan kiri membelah ke bawah dan kakinya lantas menyapu."

Leng Bwe-hong mendengarkan cerita itu dengan mata meram melek, sampai di sini ia menyela.

"Gerak kakek paras merah itu salah, Kui Thian-lan telah menggunakan gerak tipu 'Khong-jiok-tau-uh' dari Mi-cio, sebelum berubah di tengah jalan lantas dibarengi dengan ilmu menotok. Cara kakek paras merah itu menghindari serangan hanya bisa mengelakkan serangan telapak tangan lawan, tetapi tidak mungkin menghindarkan totokannya. Kakinya tadi hanya gerakan purapura saja yang menyerang untuk menjaga diri. Tetapi cukup kalau Kui Thian-lan memiringkan tubuhnya dan melangkah ke kiri, kakek paras merah itu segera dapat dirobohkan. Agaknya kakek paras merah yang kelihatan ganas itu, kalau mempersoalkan ilmu silat sejati, masih selisih setingkat dibanding Kui Thian-lan."

"Pengetahjan Cio-hoat (ilmu pukulan) Laute (saudara) memang tinggi, kata Jing-cu.

"Betul juga, Kui Thian-lan lantas mengegos ke kiri dan melangkah maju berbareng menotok. Tetapi aneh, Thian-lan seperti sengaja mengalah, gaya menotoknya itu ternyata pura-pura saja dan sewaktu kakek paras merah berkelit, ia sendiri malah meloncat pergi menjauhkan diri dari jurang yang berada di belakangnya itu."

"Ah, kakek paras merah itu sudah kalah sejurus, pantasnya ia mundur teratur,"

Ujar Bwe-hong.

"Ha, justru ia tak mau berhenti begitu saja,"

Sahut Jing-cu.

"Di bawah sinar bulan kulihat wajahnya yang merah seakanakan berubah menjadi ungu, mendadak ia menubruk maju lagi dengan kalap seperti orang hendak diterkamnya, tampaknya ia pun tidak lemah, ia kemudian melontarkan lagi serangan dengan hebat dan cepat mengitari Thian-lan bagai roda, makin lama makin cepat dan langkahnya menurut Pat-kwa tanpa keliru sedi-kitpun."

"Ah, yang dimainkannya itu adalah 'Kiu-kiong-sin-hingkun',"

Ujar Bwe-hong.

"Ilmu pukulan ini seluruhnya meliputi tujuh puluh dua jurus dengan perubahan-perubahan cara menotok dan menangkap yang hebat, tepat sekali untuk melawan seorang ahli Gwakeh dan Lwekeh. Eh, kalau begitu kakek paras merah ini memang tidak lemah. Tadi ia kalah satu gebrakan, mungkin karena terlalu memandang rendah lawannya. Kiu-kiong-sin-hing-kun yang dimainkannya itu adalah ilmu warisan dari golongan Bu-tong-pay."

"Ya, tetapi Kui Thian-lan juga lihai luar biasa,"

Kata Pho Jing-cu.

"Meski si kakek paras merah sudah berputar begitu cepat, namun ia pun bisa mengikuti gerak orang dengan sama cepatnya, gerak-geriknya begitu lunak dan lemas hingga setiap pukulan musuh dapat dipatahkan semuanya."

"Pertandingan itu pasti sangat menarik,"

Ujar Bwe-hong gegetun.

"Tentu saja hebat,"

Sela Wan-lian tiba-tiba.

"Gerak kedua orang tua itu cepat bagai kiliran hingga akhirnya tampak melulu dua bayangan hitam yang bergulung-gulung kian kemari, jangan kata hendak membedakan tipu serangan mereka, sedang untuk mengenali saja tidak jelas."

"Cara bergebrak mereka memang sungguh cepat sekali,"

Kata Jing-cu pula dengan tertawa.

"Tetapi kalau ditegasi masih dapat juga dibedakan siapa yang lebih unggul dan siapa yang asor. Kakek paras merah itu merangsek terus bagai kerbau mengamuk, tetapi Thian-lan terlalu gesit dan memakai perhitungan. Tiap pukulan kakek paras merah sangat keji dan berbahaya, tetapi Thian-lan selalu berkelit seperlunya saja, malahan beberapa kali aku sendiri tidak tahu cara bagaimana ia menghindarkan serangan lawan. Sebenarnya dengan kepandaiannya tidak susah baginya untuk melontarkan serangan balasan, tetapi anehnya, ia selalu hanya sekedar menjaga diri saja tanpa balas menyerang, bahkan terangterangan ada kesempatan, namun ia pun pura-pura bergerak saja tanpa memukul sungguhan."

"Kalau begitu, pasti akan merugikan dirinya sendiri,"

Ujar Bwe-hong.

"Keuletan dan kebagusan Cio-hoat si kakek muka merah itu hanya sedikit di bawah Thian-lan, dan karena kesempatan balas menyerang selalu diabaikan, maka mudah sekali didahului oleh lawannya."

"Memang tepat kata-katamu,"

Sahut Jing-cu.

"Aku sendiri pun ikut merasa tegang oleh ramainya pertarungan itu. Suatu ketika, tiba-tiba si kakek muka merah menendang ke iga Kui Thian-lan dan dengan tepat Thian-lan dapat menahan tungkak kaki orang dengan telapak tangannya, dalam keadaan begitu, asal sedikit mendorong ke depan, dapat dipastikan lawannya akan terlempar ke jurang. Siapa tahu tangannya melulu menahan sedikit ke bawah saja, mungkin maksudnya supaya kaki orang berdiri kembali ke tanah, tak terduga, sedikit terlambat itu saja telah memberi kesempatan pada kakek muka merah untuk menggunakan gerakan 'Wan-yang-liangoan-tui' (tendangan berantai susul menyusul), kedua kakinya beruntun melayang. Maka terdengar Thian-lan menjerit, gerak tangannya menjadi kendor dan si kakek muka merah melompat sejauh beberapa tombak, berbareng ia pun mengayun tangan pula dan tiga anak panah lantas menyambar. Tatkala itu Thian-lan kelihatan pucat pasi, gerakgeriknya sangat berat, ia masih dapat menghindarkan anak panah pertama dan kedua, tapi panah ketiga dengan tepat menancap di perutnya."

"Sebenarnya nona cilik itu berada di sampingku,"

Sambung Wan-lian tiba-tiba dengan tegangnya.

"Dan mendadak ia pun melayang maju, ketika tangannya mengayun, cepat sekali ia timpukkan seutas rotan panjang ke arah kakek muka merah itu, menyusul tangan yang lain bergerak pula, tiga buah piau ia sambitkan juga secepat kilat. Tetapi kakek paras merah itu pun '.u ngat aneh. Waktu dilihatnya nona cilik ini menerjang ke arah= nya, sama sekali ia tak menghindarinya, sebaliknya ia malah memapak maju sembari berseru, 'O, mestikaku, orang jahat sudah terbunuh, marilah kau ikut aku pergi!'. Dan tatkala itulah si nona mengayun tangannya pula, namun orang tua itu tetap tak menghiraukan, keruan saja celaka baginya, kedua kakinya lantas ter-gubet oleh rotan panjang dan pundak kirinya pun terkena sebuah piau. Saat itu juga, sekonyongkonyong Kui Thian-lan berseru, 'Tahan, Tiok-kun, ia adalah ayahmu!'. Lalu si kakek muka merah itu tertampak tertawa pedih, sedang si nona cilik bagai tersambar petir di siang hari bolong, tubuhnya gemetar. Dan saat itu juga, tiba-tiba terasa olehku ada sambaran angin di belakangku, mendadak aku didorong pergi oleh Pho-pepek hingga terpental tiga tombak lebih. Waktu aku berpaling, terlihat ada empat orang berseragam hitam bagai burung cepatnya telah menubruk tiba. Satu di antaranya tahu-tahu sudah dekat si nona cilik tadi, karena itulah, si kakek muka merah menggeram sekali, tiba-tiba kedua kakinya terpentang hingga rotan yang menggubet itu putus, orangnya cepat sekali melayang maju, saat itulah orang tegap berseragam hitam itu sedang mengulur tangan hendak mencengkeram si nona, tapi ia telah ditubruk si kakek paras merah hingga keduanya saling bergumul di atas tanah dan segera pula tergelincir masuk jurang yang dalamnya tak terkirakan itu."

"Ah,"

Seru Bwe-hong ikut menjadi tegang oleh cerita itu.

"Kakek paras merah itu ternyata mengorbankan jiwanya bersama musuh. Sayang, sungguh sayang!"

Wan-lian tak menghiraukan kata-kata orang, ia meneruskan ceritanya.

"Dan demi nampak orang tua itu terjerumus ke dalam jurang bersama musuh, si nona cilik itu tertegun sejenak, tetapi segera ia seperti linglung dan berlari ke tepi jurang terus ikut terjun ke bawah sambil berteriak. Dengan cepat aku bermaksud menolongnya, tetapi sudah terlambat. Dalam pada itu aku mendengar juga jeritan ngeri Kui Thianlan, menyusul terdengar lagi suara beradunya senjata diselingi suara Pho-pepek menyuruh aku kembali. Ai, nona itu sungguh cantik, tapi wajahnya sewaktu hendak terjun ke dalam jurang menjadi sangat menaliitkan sekali!'"

Bercerita tentang kejadian sedih ini, paras Wan-lian ikut pucat dan berduka, suaranya berat tak lancar, suasana dalam ruangan seketika berubah seperti sedang berkabung, sepi dan sunyi sekali sampai denyutan jantung dapat terdengar.

"Ternyata orang-orang berseragam hitam itu adalah jagoan pengawal kerajaan,"

Sambung Jing-cu setelah lewat agak lama.

"Orang yang kena dirangkul masuk ke dalam jurang bersama kakek paras merah itu dapat kukenali bernama Jiau Pa, di kalangan Kangouw terkenal dengan julukan 'Pat-pi Lo Cia' (Lo Cia bertangan delapan), dia adalah seorang begal ulung yang malang melintang di kalangan Kangouw dan sesudah bangsa Boan bertakhta, bersama begundalnya ia telah menyerah dan terima menjadi anjing alap-alap pemerintah, belakangan konon ia menjadi 'pengawal baju hitam' dari kerajaan. Tatkala mereka berempat muncul, dari dandanan mereka segera aku sudah bisa merabanya. Tetapi tak sempat lagi aku buka suara, maka terpaksa Wan-lian kudorong pergi. Kecuali Jiau Pa, tiga orang lainnya aku tak kenal, tetapi melihat gerakan mereka terang bukan orang sembarangan. Karena begitu muncul yang mereka tuju bersama adalah Kui Thian-lan, aku tak tahan lagi, dengan cepat aku melolos pedang dan mewakilkan Thian-lan menghadapi datangnya jago-jago pengawal itu. Syukurlah Jiau Pa yang ilmu silatnya paling kuat, pertama-tama sudah kena dirangkul si kakek paras merah dan masuk ke jurang, kalau tidak, malam itu tak dapat dihindarkan lagi mungkin kami akan ikut mengalirkan darah juga di tanah pegunungan itu."

"Musuh juga keterlaluan,"

Sela Jiak-sim.

"Sudah lewat sekian tahun masih belum mau melepaskan orang, rupanya bekas bawahan Engkongku dan Thio Hian-tiong serta pahlawan-pahlawan ternama lainnya pasti akan dibabat bersih sampai ke akar-akarnya. Kui Thian-lan juga terlalu bandel, beberapa kali mendiang ayanku pernah mencari dia, kalau dia mau berkumpul bersama kami, rasanya tidak sampai terjadi sesuatu atas dirinya, tetapi ia justru berkeras ingin mengasingkan diri. Zaman demikian ini, negara saja tak dapat dipertahankan, masakah bisa tirakat seenaknya?"

"Ya, justru karena musuh terlalu keji, maka aku lantas mengadu jiwa dengan mereka,"

Sambung Jing-cu pula.

"Tetapi ketiga pengawal yang lain memang lihai, aku sendiri pun tak mampu melawan mereka hingga akhirnya satu di antara mereka berhasil melewati rintanganku terus menyerang Kui Thian-lan, aku tak dapat melepaskan diri karena dikerubut dua musuh lain, bahkan melirik saja aku tak sempat. Dan setelah bertempur lagi, tiba-tiba aku mendengar seruan Wan-lian bahwa musuh yang menyerang Thian-lan sudah berhasil dibereskan."

"Sungguh memalukan, waktu Thian-lan diterjang jago pengawal itu, aku lantas maju hendak membantunya, siapa tahu sebaliknya dialah yang kemudian menolong jiwaku,"

Demikian ganti Wan-lian yang menutur.

"Pengawal itu memakai golok dan lihai sekali, tangannya besar hingga aku tak mampu mendekatinya. Tetapi aku tidak gentar, aku tunggu apabila ia menyerang Thian-lan, segera aku menusuknya dari samping. Kui Thian-lan memang nyata sangat hebat, meski wajahnya pucat pasi dan tubuhnya juga sempoyongan hendak roboh, namun sembari menutup luka perutnya dengan sebelah tangan, ia masih melawan musuh dengan sebelah tangan lainnya. Meski golok jago pengawal itu gemilapan dan diputar cepat, namun tak berani ia mendekat, mungkin keder terhadap Thian-lan dengan ilmunya Tay-likeng-jiau-kang yang lihai itu. Akhirnya jago pengawal itu menjadi tak sabar lagi, dengan gerak tipu 'Hun-liong-samthian' atau ular naga muncul di awan, tiga kali beruntun ia mengincar diriku dengan tiga kali bacokan sembari membentak, 'Biar ku-mampuskan kau budak cilik ini lebih dulu!'. Dan pada bacok-annya yang kedua kali, pedangku sudah terbentur mencelat oleh goloknya yang antap itu."

Tanpa terasa mendengar sampai di sini Li Jiak-sim bersuara kuatir, tetapi Bwe-hong malah menarik napas lega, dengan tenang ia berkata.

"Ha, pengawal baju hitam ini pasti celaka!"

"Kenapa kau seperti menyaksikan sendiri pertarungan itu, Leng-tayhiap?"

Tanya Wan-lian heran.

"Memang jago pengawal itu akhirnya terbinasa sendiri, karena sasarannya dialihkan padaku. Waktu ia membacok pertama kalinya, aku telah dipaksa mundur dan bacokan kedua pedangku terbentur terbang, ketika serangan ketiga tiba, aku tak sanggup menghindarkan diri lagi, tiada jalan lain aku hanya memejamkan mata terima nasib. Siapa duga, nada. saat itulah jago pengawal itu tahu-tahu malah menjerit ngeri, dan waktu aku membuka mata, aku lihat pengawal itu telan kena dijambret oleh sebelah tangan Kui Thian-lan, namun pengawal itu memang hebat juga, mendadak ia menumbukkan kepalanya ke belakang, berbareng tangannya membalik terus menjojoh pinggang orang, maka terdengarlah suara geraman Thian-lan, sekonyong-konyong tangannya yang menutupi luka di perut diangkat sekalian dan ia mencekal kedua bahu musuh terus dibeset sekuat tenaganya hingga tubuh jago pengawal itu terbeset menjadi dua keping, darah muncrat jauh dan aku hampir kaku terkejut. Lalu Thian-lan melempar kedua potong mayat itu ke dalam jurang, aku didorongnya sambil menunjuk Pho-pepek sepertinya minta aku pergi membantunya. Waktu aku periksa keadaan, aku lihat darah mancur dari perutnya bagai mata air, cepat aku merobek ikat kepalanya hendak membalut lukanya, sementara itu ia sudah terduduk di tanah tak bisa buka suara lagi, hanya tangannya masih menunjuknunjuk Pho-pepek dengan sikap seperti mendongkol dan aku didesaknya lekas pergi membantu."

Sampai di sini Boh Wan-lian berhenti sambil menghela napas.

"Sungguh Tay-lik-eng-jiau-kang yang hebat!"

Puji Bwehong.

"Musuh sedikit lengah saja segera kena dibereskannya. Sayang ia telah terluka sebelumnya dan sesudah berhasil memegang tubuh musuh, masih kena dibokong sekali lagi."

"Tatkala itu aku sudah kepayahan seorang diri melawan dua jago pengawal,"

Demikian Pho Jing-cu melanjutkan.

"Tibatiba aku mendengar seruan Wan-lian, 'Kami telah membinasakan seorang!'. Nyata ia sangat cerdik, dari samping segera ia menghamburkan Thi-lian-ci, ia tahu aku mahir menangkap senjata rahasia dengan kedua lengan baju, maka tidak kuatir mengenai kawan sendiri dan sudah tentu kedua pengawal itu menjadi kalang kabut oleh hujan Thi-lian-ci itu meski tak bisa mengenai mereka, namun sudah cukup membuat mereka kelabakan, dalam sibuknya berkelit, kedua pengawal itu masih mcn coba melirik ke samping, mungkin mengetahui kawan mereka benar-benar sudah terbinasa, maka mereka berseru kaget berbareng. Kesempatan itu tidak kubuang percuma, cepat sekali aku melayang maju, waktu pedangku menyambar ke kanan dan ke kiri, tak ampun lagi aku dapat membereskan mereka. Sungguh tidak nyana kedua musuh yang begitu kuat bisa kubereskan secara begitu mudah!"

Dan sesudah meneguk sekali tehnya, kemudian ia melanjutkan dengan suara berat dan muka muram.

"Ya, musuh sudah dapat dibinasakan semua, tetapi keadaan Kui Thian-lan juga sudah kempas-kempis menunggu ajalnya saja. Lekas aku memeriksanya dan membubuhi obat pencegah darah yang mengalir makin deras itu serta mencucinya, kulihat bajunya sudah robek, dadanya terdapat tanda bekas tendangan yang gosong, mungkin inilah akibat tendangan si kakek paras merah yang kecil itu, tetapi Thian-lan bisa bertahan begitu lama, bahkan sesudah terluka parah masih sanggup membinasakan seorang musuh, sungguh keuletannya harus dipuji dan jarang ada bandingannya. Selain luka di dadanya itu, perutnya juga terkena anak panah hingga ususnya menjulur keluar. Malahan pinggang tempat 'Ih-gi-hiat' kena ditotok pula oleh jago pengawal yang dia beset itu, aku lihat sekuat mungkin ia menutup jalan darah yang ditotok itu, maka cepat aku memunahkan totokannya, cuma waktunya sudah agak lama, meski totokan sudah terlepas, namun ia hanya gemetar saja dan tak bisa membuka suara pula. Aku memondongnya ke dalam rumah dan memeriksanya lagi lebih teliti, dengan ilmu tabibku, aku yakin bukan tabib sembarang tabib, tetapi orang mati mana bisa dihidupkan kembali? la sudah terlalu parah, tenaganya sudah habis, cara bagaimana aku bisa menolongnya! Dengan tak berdaya aku memandang dia dengan air mata meleleh. Tiba-tiba ia berusaha menggoreskan jarinya di tanah, dengan tak teratur ia korekkorek beberapa huruf yang berbunyi . 'Harap datang ke timur Hun-lam, di Ngo-liong-pang ada seorang.....'. Mula-mula tanah bertebaran karena korekan jarinya itu, tetapi makin lama makin lembut hingga akhirnya huruf-huruf lain tak jelas, dan belum selesai ia menulis sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan."

Terharu sekali semua orang oleh cerita Pho Jing-cu ini.

"Dan darimana datangnya pemuda baju kuning ini? Ada hubungan apakah antara dia dengan Kui Thian-lan?"

Tanya Bwe-hong kemudian.

"Hal ini aku pun tidak tahu,"

Sahut Jing-cu.

"Waktu itu bahkan nama Kui Thian-lan saja aku tidak kenal, huruf-huruf yang dia tulis di atas tanah juga tak terang. Cuma aku berpikir tokoh silat yang mengasingkan diri ini, pada saat terakhirnya ia masih bisa berpesan begitu wanti-wanti, rasanya tentu ada persoalan yang berhubungan dengan Ngo-liong-pang. Dan kalau kau tidak menyelesaikan pesannya itu, dalam alam baka mungkin ia pun tidak bisa meram."

Habis itu, lalu ia bercerita lagi pengalaman selanjutnya.

Kiranya esok harinya setelah Kui Thian-lan meninggal, Jingcu dan Wan-lian meneruskan perjalanan ke selatan, sepanjang jalan banyak dilihatnya pasukan tentara hilir mudik, mereka menduga tentu itulah persiapan Go Sam-kui yang setiap waktu akan memberontak itu.

Mereka dapat bertemu dengan pemimpin Thian-te-hwe di Su-cwan menurut alamat yang diberikan Han Ci-pang, dan sesudah menyampaikan pesan Congthocu Thian-te-hwe itu, mereka memberitahu juga tentang tanda-tanda segera akan memberontaknya Go Sam-kui dan hendaklah kawan-kawan Thian-te-hwe di Su-cwan siap sedia mengikuti setiap perubahan.

Habis itu, dari Su-cwan mereka lantas masuk Hunlam.

Setelah lebih dua puluh hari mereka lalui, sepanjang jalan mereka berusaha bertanya tentang Ngo-liong-pang menurut apa yang dipesan Kui Thian-lan itu, tetapi d i mana letak Ngoliong-pang dan bahkan macam perkumpulan apakah Ngoliong-pang itu, tiada orang yang tahu.

Suatu hari, tibalah mereka di satu kota kecil di daerah Ciam-ek, kira-kira seratus li sebelum Kun-bing, tiba-tiba dilihat oleh mereka ada belasan orang lelaki gagah tegap susul menyusul masuk ke dalam satu kedai arak (pada umumnya kedai arak merangkap membuka losmen).

Dari tindakan lakilaki yang gesit dan kuat itu segera orang bisa meraba pastilah orang dari kalangan kangouw.

Dan karena ingin tahu, Jing-cu dan Wan-lian ikut juga masuk ke dalam kedai arak itu.

Ternyata di lantai ruangan dalam merebah seseorang dengan muka pucat tanpa berkutik, belasan lelaki itu beramai-ramai mengerumuninya dan ada yang sedang memijat, namun orang itu masih belum sadarkan diri, pertolongan orang banyak itu ternyata nihil hasilnya.

Pho Jing-cu memang berdandan tabib pengembara dan selalu membawa peti obat.

Melihat ada orang sakit, tanpa sungkan lagi ia mendesak maju hendak memeriksanya.

"Apa yang hendak kau lihat,"

Kata seorang di antaranya sembari mengerutkan kening karena didesak-desak Jing-cu yang menerobos maju.

Namun begitu Pho Jing-cu memeriksa, segera ia tahu orang itu terkena totokan ilmu 'Tiat-soa-cio' (ilmu pukulan telapak tangan pasir besi) dan memang benar tidak bisa disembuhkan oleh sembarang tabib.

Namun bagi Pho Jing-cu sedikit luka ini tidak sukar untuk disembuhkannya.

"Lukanya aku masih mampu mengobatinya,"

Demikian katanya kemudian.

"Lukanya sampai kini bukankah belum ada dua puluh empat jam?"

Semua orang itu terkejut mendengar kata-kata Pho Jing-cu yang jitu ini, keruan saja mereka memberi hormat dan minta Jing-cu suka mengobati kawan mereka.

Jing-cu tidak menolak, segera ia mengurut tubuh penderita itu hingga sekejap saja ia sudah melancarkan jalan darah orang yang tertotok.

Tidak lama pula, mendadak orang itu memuntahkan darah hitam kental sembari mencaci maki kalang kabut.

"Bangsat keparat, pasti sarangmu Ngo-liongpang ini akan aku pereteli hingga rata dengan bumi!"

Girang sekali Jing-cu demi mendengar caci maki orang itu, susah payah dicari, tahu-tahu ketemu tanpa membuang tenaga, Ngo-liong-pang yang mereka cari itu ternyata bisa didengarnya dari orang luka ini.

Pelahan orang itu pun sadar kembali, ia menjadi heran ketika melihat kawan-kawannya berkerumun, dan di antaranya terdapat seorang tua asing yang sedang memijat dirinya.

"Sudahlah, kini sudah, baik, istirahatlah dua hari, tanggung akan pulih seperti semula,"

Kata Jing-cu dengan tertawa. Melihat ilmu tabib Jing-cu yang begitu tinggi, keruan semua orang heran dan kagum luar biasa.

"Banyak terima kasih, tuan telah menolong jiwa saudaraku ini, dapatkah kami mengetahui nama dan she tuan yang terhormat?"

Tanya salah seorang di antaranya yang setengah umur, berperawakan kecil, agaknya seperti pemimpin orangorang itu. Habis ini, ia pun mengeluarkan beberapa potong emas dan disodorkan pada Pho Jing-cu.

"Sedikit benda ini bukan sebagai hadiah, tetapi anggaplah sekedar penghargaan kami atas budi tuan."

"Kau hendak balas budi, itulah yang kuharapkan, tetapi emas aku tak mau,"

Sahut Jing-cu tersenyum.

"Lalu tuan menginginkan apa?"

Tanya orang tadi heran.

"Aku ingin tahu Ngo-liong-pang,"

Sahut Jing-cu.

"Harap kausudi memberitahu padaku dimana tempat Ngo-liong-pang dan ada hubungan apa antara kalian dengan mereka?"

Dan karena pertanyaan Jing-cu ini, seketika keadaan menjadi berisik, semua orang menjadi ribut. Namun orang yang seperti pemimpin itu telah menenangkan mereka.

"Pantasnya kami beritahukan padamu karena kau telah menolong saudara kami,"

Demikian kata orang itu kemudian.

"Tetapi karena soal ini besar sangkut pautnya, maka kami harus mengetahui dahulu asal-usulmu."

"Aku she Pho bernama Jing-cu,"

Sahut Jing-cu.

"Dengan Ngo-liong-pang kami ada sedikit keperluan."

Mendengar nama Pho Jing-cu, orang itu bersuara kaget dan cepat menjura memberi hormat.

"Ai, kenapa sejak tadi tak kauterangkan, siapa tahu adalah orang sendiri!"

Katanya berulang-ulang, lalu ia pun memperkenalkan pada kawankawannya.

"Ini Pho-losiansing, orang yang sering disebut Cong-taubak (pemimpin) kita, ia adalah Cianpwe (angkatan tua) dunia persilatan dan juga seorang tabib sakti di zaman ini, Cong-taubak beberapa kali mengirim salam padamu, hanya tampaknya terlalu terpencil, sedang kau orang tua berada di daerah Kanglam, siapa nyana hari ini berjumpa di sini."

Dan sesudah memperkenalkan diri, orang itu she Thio bernama Jing-goan, ia adalah perwira bawahan Li Lay-hing.

Kemudian Thio Jing-goan menceritakan sebab musababnya terjadi permusuhan mereka dengan Ngo-liong-pang atau komplotan lima naga.

Kiranya rombongan Thio Jing-goan yang berjumlah delapan belas orang ini termasuk orang Li Jiak-sim yang hendak diselundupkan ke kota Kun-bing untuk melindunginya dalam pertemuan dengan Go Sam-kui.

Siapa tahu di tengah jalan mereka telah dicegat orang-orang Ngo-liong-pang hingga wakil Thio Jing-goan yang bernama Cio Cong terluka.

malahan seorang kawan mereka kena ditawan pula.

"Sebenarnya Ngo-liong-pang hanya perkumpulan kecil setempat saja, pengaruhnya tidak ada dan tiada tempat kedudukan tetap, hakikatnya adalah gerombolan perampok berkeliaran yang mengganggu keamanan umum,"

Demikian tutur Thio Jing-goan kemudian.

"Tetapi belakangan mereka telah bercokol di gunung Liong-ciang-san di dekat sini, pernah kami hubungi agar mereka suka menggabungkan diri, namun tak berhasil dan kami pun tak memaksa lebih lanjut. Siapa duga sekali ini mereka betul-betul keterlaluan dan berani mencegat kami, dari seorang yang kami tawan dalam peristiwa ini barulah kami tahu bahwa sejak bulan lalu Ngoliong-pang sudah kena dibeli oleh Go Sam-kui, hanya secara resmi belum diterima saja."

"Siapakah pemimpin Ngo-liong-pang itu dan berapakah pengikutnya?"

Tanya Jing-cu.

"Jumlah pengikut Ngo-liong-pang ini hanya empat-lima ratus orang saja,"

Sahut Jing-goan.

"Dan sesuai dengan nama komplotan mereka yang menjadi pemimpin seluruhnya lima orang, mereka adalah anak murid tokoh silat daerah selatan Hun-lam terkenal. Kat Tiong-liong almarhum, nama mereka berturut-turut ialah Thio It-houw, Li Ji-pa, Tio Sam-ki, Ci Si-lin dan Theng Ngo-him, mereka masing-masing mewariskan semacam ilmu kepandaian Kat Tiong-liong yang terkenal, yakni Tiat-soa-cio (pukulan telapak tangan pasir besi), Tetheng-tui (tendangan sambil tubuh berputar-putar di tanah), Sam-ciat-kun (toya bertekuk tiga), Tok-cit-le (semacam senjata rahasia Cit-le yang berduri dan berbisa) dan Ngo-hingkun (ilmu pukulan lima jurusan)."

"Baiklah,"

Kata Jing-cu kemudian sesudah bertanya jalan ke atas Liong-ciang-san.

"Hari sudah mulai gelap, malam ini juga kami pergi menyelidiki, besok secara terang-terangan baru kita meluruk sarang mereka untuk menghajar Ngo-liong (lima naga) ini."

Lalu ia memberi pula sedikit obat pada Cio Cong dan menghiburnya pasti segera akan sembuh kembali.

Malamnya Pho Jing-cu dan Boh Wan-lian berdua lantas berangkat ke sarang berandal Ngo-liong-pang itu.

Dekat tengah malam, mereka sudah merayap sampai di atas benteng kayu yang didirikan di atas gunung itu.

Bangunan itu ternyata sederhana saja dengan dinding papan dan atap rumput alang-alang kering serta simpang-siur tak teratur.

Di tengah rumah-rumah gubuk itu terdapat sebuah gedung dari batu bata, mungkin inilah markas kawanan bandit itu.

Diiringi angin pegunungan yang meniup keras, Jing-cu dan Wan-lian menggunakan Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh mereka yang tinggi terus melayang maju di antara rumah-rumah gubuk itu dan akhirnya tiba di rumah batu itu, di atas wuwungan rumah itu terdapat dua orang penjaga, tetapi dengan kesehatan luar biasa mereka telah ditotok roboh oleh Pho Jing-cu hingga tak berkutik.

Waktu Jing-cu dan Wan-lian mengintai ke bawah, maka tertampaklah di ruangan pendopo duduk lima orang, mungkin inilah yang disebut 'Ngo-liong' atau lima naga itu.

"Kita berhasil menawan seorang bawahan Li Lay-hing, sungguh kebetulan sebagai hadiah kita kepada Ping-se-ong,"

Demikian terdengar seorang di antaranya sedang berkata.

"Kabarnya Ping-se-ong sendiri hendak berunding dengan Li Lay-hing,"

Seorang yang lain menimpali.

"Kau paling suka percaya pada kabar burung,"

Kata yang pertama tadi.

"Dimana-mana Ping-se-ong selalu siap sedia untuk menghadapi mereka, sekalipun berunding tak akan berhasil juga"

"Tetapi banyak bawahan Li Lay-hing yang gagah dan pasukannya kuat, kita harus berjaga-jaga juga sebelumnya,"

Kata yang lain.

"Mereka jauh di sana, sedang kita besok sudah akan boyongan ke Kun-bing, masakah mereka sanggup menyandak kita?"

Ujar yang tertua tadi.

"Kuatirnya kalau dia mengirim orangnya yang kosen dan mendadak kita disergap,"

Sahut yang lain lagi.

"Ah, soalnya toh tinggal sehari dua hari ini saja,"

Kata yang pertama tadi.

"Sekalipun ada orang pandai, sekejap mata juga susah didatangkan ke sini. Apalagi kita sendiri juga punya seorang pandai, kenapa takut?"

"Ya, aku jadi ingat padanya. Apakah mestika hidup ini benar-benar akan menuruti perintahmu?"

Tanya yang duluan.

"Tentu saja,"

Sahut yang tertua.

"Asal kubilang siapa orang jahat dan suruh dia membunuhnya, maka pergilah dia membunuhnya."

Pho Jing-cu menjadi heran mendengar kata-kata orang yang terakhir ini, sungguh tidak masuk akal, masakah ada seorang yang begitu hebat mau diperintah seperti anak kecil saja.

Dalam pada itu, tanpa sengaja Wan-lian sedikit bergerak sehingga menerbitkan suara keresekan.

Karena itu mendadak di bawah lantas ada suara orang membentak.

"Sobat darimanakah yang di atas itu, ada petunjuk apakah malammalam datang ke sini?"

Dan karena sudah konangan, maka Jing-cu menyentuh Wan-lian dan berkata.

"Lekas kaukobarkan api di sebelah timur sana!"

Segera juga si gadis melesat pergi, sedang Jing-cu tanpa tedeng aling-aling lagi lantas menampakkan diri.

"Aku hanya kebetulan lewat di sini dan sekalian mencari seorang sahabat saja,"

Demikian sahutnya tertawa. Keterangan ini membikin Thio It-houw, tertua dari Ngoliong, menjadi gusar.

"Ha, cari sahabat di atas bentengku, apa kaukira Ngo-liong-pang gampang diingusi?"

Demikian ia berjingkrak. Seketika itu juga mereka berlima menerobos keluar.

"Pukul!"

Bentak Theng Ngo-him pertama-tama terus saja ia mengayunkan tangannya, empat biji Tok-cit-le segera metiyambar ke arah Pho Jing-cu.

Namun serangan ini diganda tertawa "teh jago tua ini, lengan bajunya mengebas, tahu tahu senjata rahasia itu sudah lenyap tanpa bersuara masuk ke dalam lengan bajunya.

Keruan Ngo-him terheran-heran, ia tidak tahu cara bagaimana lawannya telah menyulap empat biji Tok-cit-le itu hingga lenyap tanpa bekas.

"Awas, biji keras!"

Segera ia memperingatkan kawankawannya.

Dengan 'biji keras' ia maksudkan musuh tangguh.

Dalam pada itu dengan sebelah kakinya berdiri di emper rumah, dengan gaya 'Kim-khe-tok-lip' atau ayam emas berdiri dengan kaki tunggal, dengan tertawa Pho Jing-cu melongok ke bawah dengan sikap menantang.

Li Ji-pa menjadi gusar, begitu ia meloncat, toyanya 'Samciat-kun' lantas menyerampang kaki musuh.

Jing-cu tahu toyanya itu terbagi dalam tiga bagian yang bisa menekuk, kalau kena tangkisan lantas menekuk dan menghantam kepala.

Maka pedangnya tak digunakan, ia tunggu waktu toya orang sudah dekat, mendadak lengan bajunya yang lebar itu ia kebutkan hingga toya Ji-pa kena dililitnya.

"Turun!"

Bentak Pho Jing-cu sembari sebelah kakinya ikut melayang, tanpa ampun lagi Ji-pa kena didepak jatuh dan hampir saja tak sanggup berdiri.

Dan sedang Jing-cu tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba sesosok bayangan merangsek naik lagi dengan pukulan keras yang membawa sambaran angin.

Nyata orang ini adalah Lotoa, si tua, Thio It-houw, yang mewariskan 'Tiat-soa-cio' dari gurunya, ilmu pukulan telapak tangan pasir besi ini begitu hebat hingga sanggup melubangi perut kerbau, maka dapat dibayangkan bila tubuh manusia yang terkena.

Tetapi Pho Jing-cu bukan jago lemah, ketika sedikit ia mendoyongkan tubuh ke belakang sambil menangkis, seketika Thio It-houw merasakan pukulannya seperti mengenai kapas yang empuk saja.

Menyusul cepat sekali Jing-cu menggunakan gaya menangkap dari Kim-na-jiu-hoat atau ilmu cara menangkap dan mencekal, ia pencet kencang urat nadi tangan orang terus dibanting ke bawah.

Melihat beberapa saudara angkatnya kecundany, I e *"i nomor empat, Ci Si-Iin, dengan nekad menerjang juga dcujpii ilmu pukulan 'Ngo-hing-kun' yang cepat hingga dalam sekejap saja tujuh atau delapan serangan sudah dilontarkan.

Diamdiam Jing-cu memuji kepandaian orang yang jauh lebih kuat daripada yang lainnya tadi.

Ngo-hing-kun mengutamakan serangan, tetapi Jing-cu menyambut orang dengan kepandaian perguruannya Bu-kekkun yang mengutamakan ketenangan untuk menundukkan setiap kekerasan musuh.

Maka selang beberapa jurus kemudian semua pukulan Ci Si-lin sudah dapat dipatahkan.

Sementara itu kawanan Ngo-liong-pang beramai-ramai sudah berkerumun, tetapi api yang dikobarkan Boh Wan-lian juga sudah menjilat-j ilat karena angin pegunungan yang santar, maka dalam sekejap saja rumah-rumah gubuk itu sudah ditelan si jago merah.

Lekas kawanan berandal itu terbagi, sebagian memadamkan api hingga suasana menjadi kacau.

Melihat sudah cukup membuat kalang-kabut musuh, sekonyong-konyong Pho Jing-cu membentak.

"Ha, hanya begini saja Ngo-liong yang disohorkan! Terima kasih dengan perkenalan ini!"

Habis itu dengan tertawa ia pun melayang pergi untuk menggabungkan diri dengan Boh Wan-lian dan meninggalkan sarang bandit yang masih berkobar-kobar itu.

Seterusnya dari sarang musuh, sepanjang jalan mereka menertawai nama Ngo-liong yang terlalu disanjung itu.

Tibatiba dari lembah sana terdengar suara tertawaan orang yang aneh di bawah sinar bintang yang remang-remang, tampak sesosok bayangan dengan tegak sedang mendatangi dari depan.

"Siapa?"

Tegur Jing-cu segera. Dalam keadaan remang-remang orang itu seperti menutupi mukanya dengan kedua tangan bagai orang berjalan dalam mimpi dan dengan linglung masih berjalan terus.

"Siapa kau? Apa kau bisu?"

Bentak Jing-cu pula setelah dekat. Tiba-tiba orang itu menurunkan tangan yang menutupi mukanya.

"Siapa kau? Mengapa begini galak?"

Demikian ia balas bertanya.

Jing-cu tidak menjawab, mendadak ia mengulur tangan kiri memegang bahu orang, sedang tangan kanan mencekal pergelangan tangannya terus dibetot ke belakang dengan gerakan Kim-na-jiu.

Tak terduga cepat sekali orang itu mengipatkan tangannya hingga tangkapan Jing-cu menjadi luput.

Segera Jing-cu membalik tangannya terus memukul dengan gerak tipu 'Boat-hun-kian-jit' atau menyingkap awan kelihatan matahari.

Namun orang itu tidak berkelit, sebaliknya ia pun mengangkat tangan menyambut kepalan lawan, maka beradulah kedua telapak tangan.

"Bagus!"

Seru Jing-cu tertahan dan tergetar mundur, sebaliknya orang itupun terhuyung-huyung oleh tenaga pukulannya dan hampir jatuh.

Sementara Pho Jing-cu sudah bisa melihat jelas orang ini adalah seorang pemuda cakap memakai baju kuning, sikapnya gagah dan tangkas, hanya wajahnya lapat-lapat putih pucat dan sinar matanya buyar guram.

Seketika Jing-cu tergerak hatinya, selagi ia hendak bertanya, tiba-tiba pemuda itu sudah buka suara dengan marah-marah, katanya.

"Apa kau orang jahat? Baru bertemu mengapa lantas main pukul?"

"Kami bukan orang jahat,"

Jing-cu menyahut halus sambil mendekati orang.

"Karena kau berada di sini maka kami menyangka kau orang Ngo-liong-pang. Apakah kau dari Ngoliong-pang?"

"Ngo-liong-pang? Apakah itu?"

Tanya pemuda itu malah.

"Itu adalah orang-orang yang berada di atas gunung sana,"

Sahut Jing-cu sambil menunjuk ke atas.

"Apakah benteng di atas itu?"

Kata pemuda itu.

"Ha, tahulah aku, justru di sanalah kutinggal. Apakah orang-orang itu jahat?"

"Ya, mereka semua orang jahat,"

Sahut Jing-cu.

"Aku tak percaya,"

Ujar pemuda itu sambil menggeleng kepala.

"Apakah kautahu yang dimaksud orang jahat?"

Tanya Jingcu.

"Entah,"

Jawab si pemuda.

"Asal dia memukul dulu, tentu lah dia orang jahat."

"Salah,"

Kata Jing-cu tertawa.

"Misalnya kau melihat seorang penjahat besar, dapatkah kau memukulnya lebih dulu?"

"Bisa saja,"

Sahut pemuda itu.

"Nah, apakah kau lantas orang jahat juga?"

Kata Jing-cu.

"Orang-orang di atas gunung ini bersekongkol dengan pemerintah Boan. Tahu tidak kau pemerintah Boan? Pemerintah Boan adalah kerajaan bangsa Boan-ciu, bangsa asing yang menindas bangsa Han kita."

Dalam pada itu Wan-lian sudah mendekat juga.

"Dan kini dapatkah kau memberitahu siapakah kau ini?"

Demikian ia pun bertanya.

"Siapa aku? Mana aku tahu. Selamanya tiada orang memberitahu padaku,"

Sahut pemuda itu penuh kesal.

"Kalau begitu, dimana ayah bundamu?"

Tanya Wan-lian lagi.

Karena pertanyaan ini, mendadak tubuh si pemuda itu gemetar dan wajahnya semakin pucat, tiba-tiba ia menangis ter-guguk-guguk bagai anak kecil.

Tanpa terasa Wan-lian mengelus-elus kepala orang, dan sejenak kemudian barulah ia sadar bahwa orang adalah seorang pemuda cakap, maka lekas ia menarik tangannya kembali dengan muka jengah.

"Apakah aku telah salah omong, harap kau jangan gusar,"

Demikian katanya pula. Tiba-tiba pemuda itu berhenti menangis, ia mendongak dan memandang wajah Wan-lian yang mengunjuk welas-asih itu.

"Kau sangat baik, aku seperti mempunyai juga seorang yang sangat kasih sayang padaku mirip kau ini."

Dan tengah mereka berbicara, dari atas gunung sana terdengar suara riuh dan api obor yang terang mendatangi dibarengi dengan suara setuan.

"Baju kuning, si Baju kuning! Dimanakah engkau?"

Pemuda itu menyahut sekali, lalu ia pun berkata kepada Wan-lian.

"Mereka sedang memanggilku."

Perasaan si gadis menjadi berat, ia terharu dengan mata basah.

"Marilah kau ikut bersama kami saja!"

Demikian katanya dengan suara rendah.

BeLum pernah pemuda baju kuning ini mendengar suara yang begitu menarik dan begitu simpatik, seketika timbul semacam rasa hangat dalam hatinya, ia memandang wajah Wan-lian dengan teikesima, ia termangu-mangu dan melangkah maju, tetapi tiba-tiba berhenti pula dan berkata.

"Tidak, aku harus pikir-pikir dulu dan membikin terang apakah orang-orang di atas gunung ini memang jahat* barulah aku mau pergi."

Dalam pada itu suara orang memanggil tadi sudah semakin dekat.

"Baiklah, boleh kaupulang dahulu, besok pasti, kami datang menjengukmu lagi,"

Kata Jing-cu. Pemuda itu mengangkat tangan sebagai tanda salam perpisahan, habis itu ia putar badan terus berlari ke atas gunung bagai terbang cepatnya.

"Ilmu silat pemuda ini sangat hebat, hanya sayang menderita sakit ingatan,"

Kata Jing-cu pada Wan-lian.

"Ya, penyakitnya ini sungguh aneh, sampai asal-usul diri sendiri terlupa,"

Ujar si gadis.

"Pepek, kenapa kau pun membiarkannya pergi?"

"Aku menduga ia telah mengalami goncangan batin yang hebat atau tergoncang oleh sesuatu perbuatan yang salah dan tidak bisa ditarik kembali lagi, maka di dalam jiwanya tersembunyi semacam kekuatan yang memaksanya melupakan segala apa yang terjadi di masa lampau,"

Demikian sahut Pho Jing-cu.

"Penyakit seperti ini, kalau sebab musababnya belum diketahui, pasti sangat sulit untuk disembuhkan, tetapi ia hanya melupakan yang lampau dan belum lupa akan kejadian masa kini, bukankah tadi kau dengar ia bilang hendak pulang untuk pikir-pikir, jadi ia masih bisa berpikir, itu menandakan ingatannya masih belum lenyap sama sekali. Penderita seperti dia ini tidak boleh kita paksa melainkan harus menuruti keinginannya."

Dan pada saat itulah, betul juga si pemuda baju kuning itu lagi memeras otak seperti yang dikatakan Jing-cu, dengan susah payah ia mengingat-ingat apa-apa yang telah lampau.

Tetapi hanya kejadian-kejadian tiga tahun paling belakang ini dimana ia berkumpul bersama orang-orang di atas gunung ini yang dapat diingatnya, lebih lama dari itu tak teringat lagi olehnya.

Hanya samar-samar ia seperti masih ingat pada suatu hari di musim dingin, ia rebahan di atas suatu bukit yang penuh teruruk salju, dalam keadaan setengah sadar ia diketemukan gerombolan orang-orang yang sekarang ini, tatkala itu ada dua orang dengan golok terhunus hendak membunuhnya, tetapi sekali sengkelit ia sudah dapat merobohkan kedua orang itu.

Kemudian orang yang bernama Thio It-houw telah menghentikan tindakan orang-orang itu dan memberi makanan serta minuman padanya, lalu ia diajaknya pergi pula bersama mereka.

Mengenai sebab apa ia terebah di atas salju, itulah tak teringat lagi olehnya.

Hanya lapat-lapat ia merasa seperti pernah membunuh seseorang yang terdekat dan paling mencintainya, sedang siapa gerangan orang itu ia pun tidak ingat lagi.

Bahkan setiap kali kalau ia mencoba merenungkan kembali dan ingat sampai di sini, perasaannya lantas bergolak dan rasanya menderita sekali, bagaimana pun ia tak sanggup berpikir lebih jauh lagi.

Ia pun ingat sesudah terluntang-lantung kian kemari ikut gerombolan orang-orang ini, waktu ia ditanya tentang asalusulnya dan tak berhasil, kemudian mereka telah menggertak dan mengancam, namun ia tak peduli.

Mula-mula orang itu menyesal, tetapi kemudian amat girang.

Kemana saja selanjurnya selalu ia diberi satu kamar sendiri, malahan pasti ada orang yang menjaganya dan suruh jangan sembarangan pergi, dan bila bertemu orang berilmu silat tinggi yang tak bisa mereka lawan, lantas ia dipanggil membantu.

Tetapi ia tak ingin membunuh, maka selamanya ia hanya membikin lari musuh saja.

Teringat juga olehnya belakangan ini gerombolan orang ini sering menyebut nama 'Jing-ting' (pemerintah Jing) dan 'pengampunan' serta lain sebagainya.

Tetapi bila ia mendekati mereka, pembicaraan seperti itu lantas dihentikan, la tidak tahu apakah itu 'Jing-ting' dan 'pengampunan', ia pun malas untuk memikirkannya.

Dan setelah malam tadi ia diingatkan oleh si orang tua dan si gadis itu, barulah samar-samar ia ingat kembali, pada waktu belum lama berselang seperti ada juga yang sering berpesan padanya supaya berjuang menggulingkan kerajaan Jing dan mengusir bangsa Boan.

Orang yang berpesan padanya itu seperti sangat dekat hubungannya dengan dia.

Karena itulah ia menduga 'Jing-ting' itu tentulah barang busuk, dan apakah 'pengampunan'?

Itulah yang dia tidak tahu, hanya karena ada hubungannya dengan kata-kata Jingting tentunya juga bukan perkataan baik.

Begitulah semalam suntuk ia berpikir dan berpikir terus sampat pagi.

Sementara itu Pho Jing-cu dan Boh Wan-lian sudah tiba kembali di tempat pemondokan mereka, mereka herart melihat di sana ternyata sudah berkumpul orang banyak hingga rumah penginapan itu penuh sesak sampai di halaman depan.

Kemudian barulah mereka tahu bahwa orang-orang itu adalah para pengikut Li Lay-hing yang sengaja dihimpun oleh Thio Jing-goan.

Kagum juga Pho Jing-cu, di kota sekecil ini dalam waktu singkat sudah bisa dikumpulkan orang sekian banyaknya.

Lalu Jing-cu menceritakan juga pengalamannya menyelidiki gunung semalam dan menjelaskan sekedarnya keadaan sarang musuh.

Habis itu rombongan yang cukup besar itu lantas berangkat.

Sebelum lohor, tibalah mereka di atas gunung.

Ternyata Ngo-liong sudah siap sedia memapak kedatangan mereka.

Pho Jing-cu dan Thio Jing-goan mendahului maju ke depan, sebelum itu Jing-goan sudah memerintahkan untuk mengibarkan bendera pengenal mereka yang bertuliskan 'Jwan', yakni Jwan-ong, gelar Li Cu-sing.

"Dengan Ngo-liong-pang kalian selamanya kami tak bermusuhan, mengapa kalian telah menawan saudara kami?"

Demikian Jing-goan segera membentak.

"Hari ini kalau kau tidak membebaskan kawan kami itu, pasti sarangmu sekecil ini akan kami Tatakan dengan bumi!"

Melihat Pho Jing-cu datang lagi bersama mereka, tertua Ngo-liong, Thio It-houw, tiba-tiba berubah wajahnya, ia mendelik, lalu dengan suara keras berkata.

"Siapa yang tak tahu kalian adalah sisa peninggalan Jwan-cat (bangsat Jwanong, maksudnya Li Cu-sing), kamu boleh menggertak orang lain, tetapi kalau kalian hendak menggertak kami adalah hal yang tidak mungkin!"

Habis itu dengan gemas ia melirik Jingcu dan berkata.

"Bagus! Kau tua bangka ini terlalu mempermain-kanku!"

Dan begitu ia memberi tanda, tiba-tiba Theng Ngo-him yang berdiri di belakangnya mengangkat tangan, sekaligus ia membidikkan tiga biji Cit-le beracun, yang dua ditujukan pada Pho Jing-cu dan lainnya mengarah Thio Jing-goan.

Dengan cepat Jing-cu melompat ke samping, lengan bajunya mengebas, ia sampuk dulu Cit-le yang mengarah Thio Jing-goan baru kemudian ia membalikkan badan sambil kedua telapak tangan didorong keluar, dua biji Cit-le yang menuju padanya itu terkena getaran kekuatan tangannya dan segera terbang balik.

Dalam kagetnya, Li Ji-pa menjerit, lekas ia memukul jatuh senjata rahasia yang berbalik 'makan tuan' itu.

Sementara Thio It-houw dari samping telah menerjang dengan tipu 'Pek-guan-thiam-loh' atau monyet putih mencari jalan, kedua tangannya terus menghantam kepala Pho Jingcu, tetapi sedikit Jing-cu menggerakkan lengan baju, maka tangan Thio It-houw tepat kena disampuk hingga terasa panas pedas kesakitan.

Dalam pada itu, L i Ji-pa telah mengayun toyanya menyerang juga dari belakang kanan dan Ci Si-lin telah memainkan Ngo-hing-kun memukul dari kiri, mereka bertiga mengepung Pho Jing-cu seorang.

Namun dengan tertawa dingin Jing-cu malahan menerjang masuk ke tengah kepungan mereka, kedua lengan bajunya beterbangan bagaikan menari, ia me-nyampuk ke kiri mengebas ke kanan, kedua lengan bajunya ternyata melebihi sepasang senjata tajam, bahkan masih bisa membelit senjata musuh.

Meski ketiga lawannya bisa saling membantu dan bekerja-sama, tetapi akhirnya toh terdesak hingga kalang-kabut.

Selagi pertarungan seru itu berlangsung, tiba-tiba terdengar seorang pendek kecil menggertak, ketiga orang yang duluan sedikit minggir dan orang pendek kecil ini segera menerjang masuk.

Aneh juga, begitu masuk kalangan, sekonyong-konyong ia menjatuhkan diri, dengan kedua tangan menyangga badan ia berputar cepat bagai kitiran di atas tanah dan kedua kakinya secepat angin berulang-ulang menendang, yang dituju selalu bagi aai bawah dan tengah badan Jing-cu.

Orang itu adalah Lo-sam atau nomor tiga dari Ngo-liong yang bernama Tio Sam-ki, ia mendapatkan warisan pelajaran k Te-theng-tui* dari gurunya, ilmu silatnya terhitung nomor satu di antara lima saudara angkat.

Melihat cara menyerang orang yang aneh, Jing-cu mengerutkan kening, ia mencoba ikut berputar beberapa kali menuruti gerak serangan lawan.

Sebenarnya dengan keahlian Jing-cu, betapapun tingginya kepandaian Tio Sam-ki pasti bukan tandingannya, hanya saja di samping menghadapi serangan Te-theng-tui ia masih dikerubuti lagi oleh toya Sam-ciat-kun, Ngo-hing-kun dan Tiat soa-cio yang sekaligus menyerang sehingga Jing-cu rada kerepotan juga.

Dan sesudah berputar dua kali, mendadak ia kebaskan kedua lengan bajunya pada Thio it-houw.

It-houw sudah merasakan lihainya kebasan lengan baju tadi, maka ia cepat berkelit, dan kesempatan itu digunakan Jing-cu untuk menerobos keluar dari kepungan.

Keempat orang itu masih mengejar, beramai-ramai mereka berteriak.

"Tua bangka, kini kau baru kenal kelihaian kami? Sudah kalah kau hendak lari kemana?"

Jing-cu tertawa dingin, tiba-tiba ia berdiri tak bergerak, ia menanti sesudah dekat sekonyong-konyong kedua lengan bajunya beterbangan lagi, tubuhnya memutar cepat, ia mengeluarkan ilmu silatnya 'Liu-hun-hui-siu' atau dengan lengan baju beterbangan bagai awan meluncur, ilmu silat tunggal yang jarang terdapat di kalangan persilatan, untuk menyambut keroyokan mereka berempat.

Tadi ia menerobos keluar, maksudnya hanya untuk ganti haluan saja.

Begitulah dengan ilmu 'Liu-hun-hui-siu', Pho Jing-cu telah mengunjukkan ketangkasannya.

Sementara itu Theng Ngohim pun sudah membantu keempat kawan mereka dari belakang, Cit-le sebutir demi sebutir ditimpukkan.

Cara bertempur Ngo-liong ini ternyata dapat bekerja sama dengan rapat sekali.

Tiat-soa-cio, Sam-ciat-kun, Te-theng-tui dan Ngo-hing-kun sekaligus telah menyerang bersama.

Kadang-kadang terpencar, tempo-tempo rapat, bahkan pada waktu Cit-le beracun menyerang, tepat bisa menerobos di antara tempat luang serangan keempat orang itu.

Dengan cara begitu Ngo-liong mengeroyok sehingga untuk bisa menang dalam sekejap susah juga bagi Jing-cu.

Sementara itu Thio Jing-goan dan orang-orangnya juga sudah bertempur ramai dengan berandal-berandal Ngo-liongpang, sekalipun berandal-berandal itu berjumlah lebih banyak, tetapi orang-orang Thio Jing-goan adalah orang pilihan, makin lama makin gagah, lama-lama Ngo-liong-pang kelihatan tak dapat bertahan lagi dan agaknya segera bisa dikalahkan.

Pada saat itulah, dari kaki gunung tiba-tiba terdengar terompet berbunyi, tahu-tahu dari bawah naik serombongan orang berkuda.

Mendadak pula Ngo-liong memanggil.

"Si Baju kuning! Si Baju kuning!"

Waktu itu Thio Jing-goan dengan goloknya tengah mendahului orang-orangnya menyerbu musuh, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda berbaju kuning dengan tangan kosong sambil menundukkan kepala sedang berjalan seperti orang yang sedang jalan-jalan sehabis makan dan dengan tekun sedang memikirkan sesuatu, suara beradunya senjata di kalangan pertempuran yang ramai dan bunyi terompet serta genderang yang riuh sedikit pun tak didengarnya.

Sebaliknya demi melihat datangnya pemuda ini, berandal-berandal Ngoliong-pang lantas memberi jalan padanya.

Jing-goan terheran-heran, tanpa pikir lagi segera ia mengangkat golok dan membacok kepala pemuda itu, tak terduga pemuda baju kuning itu hanya sedikit berkelit dan tahu-tahu malah maju ke depan, entah dengan ilmu pukulan apa, hanya sekali gebrak saja golok Thio Jing-goan telah kena direbut terus dibuang, lalu ia pun berteriak.

"Kenapa kau begini keji!"

Berbareng itu urat nadi pergelangan tangan Thio Jing-goan telah dipegang dan dengan kepalan tangan kirinya segera hendak menghantam.

Thio Jing-goan adalah seorang perwira gagah bawahan Li Lay-hing, siapa duga hanya dalam sekejap saja sudah kena dicekal oleh pemuda baju kuning, keruan orang-orangnya pada menjerit kaget.

Dan selagi Thio Jing-goan gugup, mendadak terdengar seman suara wanita yang nyaring.

"Jangan pukul, dia orang baik-baik!"

Mendengar itu, pemuda itu tersenyum, ia menurunkan tangannya dan minta maaf, lalu ia meninggalkan Thio Jinggoan dan memapak maju.

Jing-goan berpaling, ia lihat yang datang ialah Boh Wanlian, ia menjadi heran tetapi bersyukur pula.

Segera pula ia robohkan beberapa berandal yang mencoba hendak membokongnya, ia dapat merebut sebatang tombak dan terus menerjang maju dengan gagah berani.

Sementara itu rombongan orang yang berjumlah sekitar dua ratus orang kini pun telah menyerbu ke atas, mereka memakai tanda bendera 'Tay-jing-ping-se-ong', ternyata rombongan itu dipimpin oleh seorang perwira Go Sam-kui yang berkedudukan di Ciam-ek, ia mendapat perintah dari Go Sam-kui untuk mewakilkannya menerima penggabungan gerombolan Ngo-liong-pang ini.

Kala itu Go Sam-kui secara resmi belum memberontak pada pemerintah Boan-jing, maka benderanya masih memakai tanda Tay-jing atau Jing Raya.

"Coba kaulihat apa yang tertulis di atas bendera itu, bukankah aku tidak mendustaimu!"

Kata Wan-lian pada si pemuda baju kuning itu sambil menunjuk bendera yang bertuliskan 'Tay-jing' itu.

Pemuda itu dapat melihat sendiri Ngo-liong-pang telah membagi sebagian orangnya pergi menyambut dan memberi hormat pada perwira pemimpin rombongan yang datang itu, lalu perwira itu membentak dan memberi komando serdadunya untuk menangkap orang-orang Thio Jing-goan.

Keruan pemuda itu menjadi gusar, tanpa ragu-ragu lagi ia menerjang ke dalam barisan orang-orang itu, segera berandalberandal Ngo-liong-pang pada minggir menyingkir.

Maka dalam sekejap saja ia sudah menerobos sampai di depan perwira tadi.

Melihat para berandal Ngo-liong-pang pada menyingkir, dan seorang pemuda dengan mata mendelik serta tangan mengepal menerjang datang, sedang serdadunya ternyata tak dapat menahannya, perwira itu menjadi terkejut, cepat ia menarik ku danya menerjang, tak terduga si pemuda baju kuning dengan kecepatan luar biasa, hanya beberapa kali lompatan saja tahu-tahu sudah menghadang di depan kudanya, dengan suara menggelegar ia membentak dan mata melotot hingga kuda itu kaget dan berdiri tegak.

Lekas perwira itu menahan kudanya dan ia angkat tombaknya, sekuat tenaga ia menusuk dari atas.

Tetapi pemuda itu tak gentar, ia tidak mundur malahan ia mengulur tangannya menyambut datangnya tombak orang sambil membentak pula.

"Turun !"

Tanpa ampun lagi perwira itu terbanting jatuh ke bawah kuda. Waktu seorang bintara dengan mati-matian hendak menolong, kembali terdengar suara bentakan.

"Kembali kau!"

Dan pemuda baju kuning itu pun mengangkat tangannya menyodok ke dada musuh, tahu-tahu bintara itu terlempar pergi, senjatanya pun terpental jatuh.

Segera pula perwira tadi dikempit oleh si pemuda sembari merebut sebatang golok dari seorang serdadu, seketika kepala perwira itu dipenggalnya.

Keruan serdadu Boan dan para berandal Ngo-liong-pang pada ketakutan dan tiada lagi yang berani mendekatinya.

Pemuda itu menerjang pergi datang dalam pertempuran itu, seperti memasuki daerah yang tak bermanusia.

Kelima pemimpin Ngo-liong-pang mula-mula kegirangan waktu mendengar suara pemuda baju kuning.

Bala bantuan telah datang, si pemuda baju kuning pun sudah tiba, meski musuh lebih tangguh lagi, kini pun tidak takut lagi, begitulah pikir mereka.

Tetapi tak lama kemudian, suara bentakan pemuda baju kuning makin menjauh dan tidak menuju ke jurusan mereka, maka mereka pun menjadi heran dan kuatir.

Lewat tak lama kemudian, Theng Ngo-him yang membantu dengan senjata rahasia dari belakang melihat pemuda baju kuning dengan wajah gusar telah berlari kembali dan di tangannya menjinjing satu kepala manusia, ia menjadi girang dan berteriak.

"Si Baju kuning telah datang!"

"Si Baju kuning! Lekas ke sini, tua bangka di depan ini adalah orang jahat!"

Seru Li Ji-pa cepat waktu nampak pemuda itu datang. Tapi pemuda itu tak berkata apa-apa, ia mengangkat tangannya, kepala manusia yang masih mengucurkan darah itu telah melayang ke dalam kalangan.

"Plok", tahu-tahu kepala itu sudah mengenai muka Li Ji-pa. Waktu melemparkan kepala manusia itu dengan gusar pemuda itu malah mendampratnya.

"Kaulah yang jahat!"

Li Ji-pa tak menyangka oleh timpukan kepala tadi, keruan permainan toyanya menjadi kacau.

Pada kesempatan itulah Pho Jing-cu lantas merangsek, lengan bajunya menggulung, toya orang kena dilibat dan terlempar pergi.

Waktu Ci Si-lin memukul dari sebelah kanan, tanpa berpaling lagi, kedua lengan baju Jing-cu menyampuk ke belakang, dengan tipu pukulan 'Huan-jiu-gim-yang' atau membalik tangan menangkap kambing, hanya sekali sengkelit saja Ci Si-lin telah kena disampuk roboh sehingga kelengar.

Berbareng itu, kaki kanan Jing-cu melayang juga, Li Ji-pa tertendang pergi dan terbinasa.

Ngo-liong atau lima naga kini sudah hilang dua naga, dengan sendirinya pertahanan mereka segera menjadi lumpuh.

Dengan kekuatan Ngo-liong saja tak mampu menandingi Pho Jing-cu, apalagi kini hanya tertinggal Samliong.

Hendak kabur pun tak mungkin lagi.

Tio Sam-ki yang menyerang dengan menyangga tubuh memakai kedua tangannya, hanya mengandalkan kedua kakinya yang bekerja, lama kelamaan pun tak tahan lagi.

Waktu itu ia sedang membalik tubuh hendak bangun, tetapi ia sudah diincar oleh Pho Jing-cu, ketika kakinya menyapu sambil membentak.

"Biar kau pun merasakan kakiku ini!"

Dan belum sempat Tio Sam-ki membalik tubuh, ia sudah kena disapu tulang kakinya dan patah kedua-duanya terus jatuh menggelongsor.

Dalam pada itu, Theng Ngo-him sedang melepaskan tiga biji Cit-le yang penghabisan dan segera hendak mundur buat kabur.

Namun Jing-cu malah mengulur tangan menangkap senjata rahasia itu.

Tangannya sudah terlatih ilmu 'Thi-ci-sian' atau tenaga jari baja, ia tak kuatir terluka dan kena racun, maka dengan gampang saj a ia tangkap kedua biji Cit-le dan dengan bergelak tertawa ia berkata.

"Nih, kau pun coba-coba menyambutnya!"

Berbareng itu cepat sekali ia timpukkan kembali kedua biji senjata rahasia itu.

Yang satu tepat membentur Cit-le ketiga dan yang lain terus menyambar ke tubuh Theng Ngo-him dengan kecepatan luar biasa.

Meski Theng Ngo-him sendiri ahli senjata rahasia Cit-le, tetapi ia tak mampu menghindari senjata rahasia miliknya sendiri, maka betul-betul 'senjata telah makan tuannya', pundaknya telah berlubang terkena senjata itu, ia menjerit ngeri dan roboh terguling.

Demi nampak gelagat jelek, Thio it-houw berpikir paling selamat segera angkat langkah seribu.

Akan tetapi sudah terlambat, si pemuda baju kuning tahu-tahu sudah menghadang di depannya.

"Lekas kau membantuku, bukankah sudah sekian lama aku memeliharamu!"

Kata It-houw gugup.

Namun wajah pemuda itu tiada memberi suatu tanda, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.

Thio It-houw menerobos ke kiri, tetapi belum kakinya berdiri tegak, pemuda itu sudah menggerakkan tubuhnya kembali dan sudah bisa menghadang di depannya pula, Ithouw mencoba menyelusup ke kanan, tetapi kembali si pemuda itu sudah berada di sana pula.

Keruan It-houw kerupukan, mendadak kedua tangannya memukul dengan sepenuh tenaga, ia meyakinkan ilmu pukulan 'Tiat-soa-cio', maka berat pukulannya ini tidak kurang ribuan kati.

"Apa betul kau hendak berkelahi?"

Kata si pemuda itu sambil mengangkat tangan menangkis.

Dan begitu tangan beradu, It-houw merasakan seperti memukul batu, ia sendiri malahan terpental pergi.

Saat itu justru Jing-cu sudah memburu maju, ia menyambar tubuh orang dan sekaligus menotok hingga Ithouw lemas terkulai.

Ngo-liong kini sudah terbinasa empat dan satu terluka, perwira pasukan Boan dari Go Sam-kui sudah mati juga dipenggal oleh si pemuda baju kuning, tentu saja para serdadu dan berandal yang tak tahan oleh terjangan dan gempuran Thio Jing-goan dan kawan-kawan, mereka lari tunggang-langgang.

Thio Jing-goan pun tidak memburu, maka dalam sekejap saja mereka sudah kabur bersih!

Pada waktu itulah pemuda baju kuning tadi dengan menggendong tangan sedang berjalan mondar-mandir dengan menundukkan kepala, Wan-lian mencoba mendampinginya, dengan kata-kata lemah lembut ia menghiburnya, tiba-tiba pemuda itu mendongak dan memandang jauh dengan air mata meleleh, tetapi tiba-tiba pula ia tertawa lebar dan dengan suara rendah ia berkata kepada Wan-lian.

"Kau sangat baik, aku menurut pada perkataanmu!"

Melihat keadaan pemuda itu, tergerak hati Jing-cu, ia meninggalkan mereka dan menyeret Thio It-houw ke samping dan melepaskan totokannya tadi.

"Aku hendak bertanya padamu, jika kau mengaku terus terang, akan kuampuni jiwamu,"

Demikian kata Pho Jing-cu. It-houw menjadi girang.

"Silakan bertanya, silakan!"

Sahutnya cepat.

"Di puncak atas jalanan Can-to di Kiam-kok ada tinggal seorang tua hitam kurus, kenalkah kau siapa dia?"

Tanya Jingcu.

"Mengenal Kiam-kok saja aku belum,"

Jawab It-houw bingung.

"Betulkah katamu?"

Bentak Jing-cu.

"Buat apa berdusta?"

Sahut It-houw dengan ketakutan.

Tiba-tiba Jing-cu mengulur tangannya menepuk punggung orang, ia menggunakan ilmu 'Hun-kin-co-kut' atau memisah otot dan meremuk tulang, saking sakitnya hingga It-houw menjerit ngeri.

Ilmu 'Hun-kin-co-kut' itu lihainya melebihi segala macam alat siksaan, orang yang terkena pasti merasa otot dan tulang di seluruh badan seakan-akan retak, sungguh penderitaan yang susah ditahan.

"Apa yang bisa kukatakan, kalau memang aku tak mengetahui, bagaimana?"

Teriak It-houw kesakitan.

"Melihat orang disiksa masih berkata tidak tahu, pula de= ngan kepandaiannya hendak mencapai puncak yang ditempati orang tua hitam kurus itu mungkin juga sulit baginya, agaknya memang betul-betul tidak kenal siapa orang tua itu. Akan tetapi mengapa sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, orang tua itu masih meninggalkan pesan tentang Ngo-liong-pang dan minta dicarikan seseorang, siapakah orang yang harus dicari itu sebenarnya? Apakah pemuda baju kuning ini?"

Demikian pikir Pho Jing-cu. Karena itu pundak It-houw digabloknya lagi sekali sambil membentak.

"Dan darimanakah pemuda baju kuning ini?"

It-houw tak tahan oleh gebukan itu sehingga darah segar menyembur dari mulutnya, ternyata ia takut disiksa lagi maka dengan menggigit putus lidah sendiri ia pun membunuh diri.

Saat itu pihak Thio Jing-goan dan kawan-kawan sudah mengerumuni Pho Jing-cu untuk menghaturkan terima kasih, mereka mengajak pula bila orang tua ini suka ikut bersama mereka ke Kun-bing.

Dan karena soal Ngo-liong-pang yang hendak diselidiki tak keruan juntrungannya, maka Jing-cu pun berpikir tiada jeleknya pergi ke Kun-bing mencari Leng Bwehong dan Lauw Yu-hong di samping sekalian bisa membantu Li Lay-hing pula, maka ajakan itu telah diterimanya.

Begitulah duduk perkaranya, Pho Jing-cu, Boh Wan-lian dan si pemuda baju kuning serta Thio Jing-goan dan kawan-kawan kemudian telah sampai di Kun-bing, tetapi begitu tiba segera mereka dikejutkan pula oleh kejadian yang di luar dugaan.

Kiranya begitu datang, segera Thio Jing-goan mendapat tahu dari kawan-kawannya yang telah tiba terlebih dahulu bahwa Li Jiak-sim terputus hubungan dengan mereka yang diadakan secara rahasia.

Beberapa hari kemudian barulah diperoleh berita bahwa Li Jiak-sim bersama seorang laki-laki yang bermuka codet telah terjebak di dalam Ong-hu.

Keruan Thio Jing-goan dan kawan-kawan kerupukan bagai semut di dalam wajan yang panas, mereka bermaksud menyerbu Ong hu untuk menolong pemimpin mereka itu, tetapi maksud ada tenaga kurang, apa daya?

Hendak mengirim berita minta bantuan juga jarak perjalanan terlalu jauh.

Syukur beberapa hari kemudian mereka mendapat berita pula.

bahwa cucu Go Sam-kui yang bernama Go Se-hoan menderita semacam penyakit aneh, separoh badannya kaku mati tak bisa bergerak, sudah banyak tabib-tabib terpandai di seluruh negeri telah diundang, namun sebegitu jauh belum ada yang berhasil menyembuhkannya.

Itulah kesempatan yang bagus bagi Pho Jing-cu, tanpa pikir lagi ia panggul peti obatnya terus melamar ke Ong-hu bahwa dirinya sanggup menyembuhkan penyakit itu.

Nama Pho Jing-cu yang tersohor di seluruh negeri waktu itu, dengan sendirinya Go Sam-kui sudah lama mendengarnya, hanya tak diketahuinya bahwa selain ilmu tabibnya yang sakti itu, Jing-cu adalah tokoh silat yang terpendam pula.

Maka lamaran Jing-cu pun segera diterimanya dan disambut dengan sangat hormat.

Dan sudah tentu, dengan ilmu tabib Pho Jing-cu yang sakti, penyakit yang diderita Go Se-hoan itu tak sulit baginya untuk disembuhkan, hanya satu resep saja separoh tubuh yang mati kaku itu sudah bisa bergerak kembali, lima hari kemudian lantas pulih seperti biasa.

Keruan saja Go Sam-kui menyanjung Pho Jing-cu bagai dewa, sebaliknya Jing-cu pura-pura memuji pula diri orang, maka hanya dalam beberapa hari saja ia sudah dianggap orang sendiri dan diberi izin masuk keluar Ong-hu sesukanya secara bebas.

Tatkala itu Po Tiau yang ikut diseret masuk ke penjara air oleh Leng Bwe-hong lagi menjalankan siasat menahan lapar, tetapi kemudian makanan diberikan lagi karena Go Sam-kui tidak menginginkan kematian Li Jiak-sim, tetapi beberapa hari kemudian makanan yang dikerek turun itu selalu kembali dalam sisa yang banyak, hal ini menandakan orang di dalam penjara itu pasti sedang tak sehat alias jatuh sakit, Go Samkui mengua-tirkan keselamatan Li Jiak-sim yang besar artinya bagi gerakan pemberontakannya itu dan diperlukan untuk mengadakan persekutuan dengan pihak orang, apalagi di dalam penjara itu terdapat pula Panglima kesayangannya, Po Tiau, maka diputuskannya menurunkan seorang tabib ke dalam penjara, ia pikir pilihan paling tepat rasanya ialah Pho Jing-cu, selain tinggi ilmu pertabibannya, juga erang dari perantauan jauh, sekalipun rahasianya diketahui juga tiada bahaya.

Dan begitulah dengan kepandaian Pho Jing-cu, akhirnya ia telah dapat menolong Li Jiak-sim, Leng Bwe-hong dan Lauw Yu-hong, bahkan melalui orang-orang Thio Jing-goan yang dipasang di dalam Ong-hu telah diadakan kontak dengan Boh Wan-lian dan si pemuda baju kuning untuk datang membantu pada saat yang tepat, maka terjadilah peristiwa Ong-hu terbakar dan kacau balau.

Demikianlah Pho Jing-cu dan Boh Wan-lian menceritakan pengalaman mereka dengan jelas.

Sementara itu lilin pun sudah terbakar habis, fajar pun sudah mulai menyingsing, sinar sang surya remang-remang tampak di ufuk timur.

Namun begitu si pemuda baju kuning masih tetap menggeros dengan nyenyaknya.

Maka paling dulu Li Jiak-sim menghaturkan terima kasih pada Pho Jing-cu yang telah menolongnya itu, kemudian sambil menuding si pemuda baju kuning, ia pun berkata.

"Pada diri orang ini tentu tersembunyi rahasia yang luar biasa. Sungguh sayang ilmu silatnya begini tinggi, tetapi telah menderita penyakit yang begitu aneh. Dalam keadaan kita semua membutuhkan tenaga seperti dia sekarang ini, harap Pho-Locianpwe dan Boh-kohnio berusaha menyembuhkannya sebisa mungkin."

"Aku pun harus berterima kasih pada Li-kongcu dan Lengtayhiap,"

Sahut Pho Jing-cu.

"Kalian berdua telah menekankan bahwa orang tua kurus hitam itu bernama Kui Thian-lan, asal bisa tahu bahwa orang tua itu she Kui, rasanya penyakit pemuda ini sudah ada jalannya untuk disembuhkan."

"Apakah arti kata-kata Pho-locianpwe ini?"

Tanya Jiak-sim heran.

"Ya, bukankah kaulihat sendiri sewaktu ia lewat di bawah pohon Kui malam kemarin, perasaannya lantas tak tenteram?"

Kata Wan-lian tersenyum.

"Kemudian pada waktu makan malam, manisan yang terbikin dari bunga Kui, tiba-tiba ia marah-marah dan membanting manisan itu hingga berantakan."

"Nonaku yang baik, makin lama kau makin maju, sedikit kemahiranku ini selekasnya pasti akan tertumpah semua padamu,"

Puji Jing-cu sambil tertawa. Habis itu ia pun berbangkit, ia menggulung sehelai kertas dan mengkilik-kilik hidung si pemuda, maka terdengarlah suara pemuda ini sambil menggerakkan kaki tangannya.

"Nah, sekarang kami keluar semua, kini harus melihat ilmu penyembuhanmu, nona!"

Kata Jing-cu pula pada Wan-lian sembari mesem, lalu bersama Bwe-hong dan lain-lain keluar. Dan sesudah bergerak beberapa kali tiba-tiba pemuda itu melompat bangun sembari berteriak.

"Harimau! Harimau!"

"Jangan takut, ada aku di sini. Mimpi buruk apakah yang kau alami*?"

Kata Wan-lian lembut sambil mendekati orang. Pemuda itu mengetuk kepalanya pelahan lalu ia pentang pula matanya lebar-lebar dan memandang sekitarnya.

"He, apakah aku telah bertempur dengan orang? Apakah aku membunuh orang?"

Tanyanya cepat dan kuatir demi nampak sepasang pedangnya menggeletak di lantai.

"Tidak,"

Sahut Wan-lian.

"Kau turun dari loteng lalu tertidur di sini!"

Pemuda itu berusaha mengingatnya kembali dengan memusatkan pikirannya, Wan-lian mendampinginya dan memandang orang dengan sorot matanya yang tajam.

"Apakah ini bukan dalam mimpi?"

Tanya si pemuda sambil garuk-garuk kepalanya dan merasa kesal.

"Bukan,"

Sahut Wan-lian.

"Kalau tak percaya, coba kau gigit jarimu sendiri."

"Kalau begitu, ada apa kaudatang ke sini?"

"Kudatang untuk memberitahu padamu siapakah gerangan kau ini,"

Sahut Wan-lian tenang. Pemuda itu seperti terkejut.

"Silakan lekas kaukatakan,"

Katanya kemudian dengan cepat.

"Tetapi lebih dulu harus kauceritakan mimpi buruk apa yang kau alami tadi, barulah nanti kuberitahukan tentang dirimu,"

Ujar si gadis.

"Baiklah, biar kuceritakan terlebih dahulu,"

Sahut si pemuda setelah berpikir sejenak.

"Dalam mimpi aku seperti berada di atas suatu gunung yang tinggi, di atas gunung itu terdapat dua pohon Kui"

Berkata sampai pada pohon Kui, wajahnya tiba-tiba berubah pucat, dan sesudah berhenti sejenak, lalu ia menyambung lagi.

"Dan di bawah pohon ada dua ekor biri-biri, se-ekoT tua dan seekor muda. Mendadak dari udara menyambar turun seekor harimau, harimau itu bersayap tetapi sangat welas asih, ia hanya bermain dengan anak biri-biri itu. Kemudian entah mengapa biri-biri tua itu telah berkelahi dengan harimau, dengan tanduknya yang lancip biri-biri tua itu telah mendesak harimau itu munduT terus, lalu harimau terbang ke atas terus balas menggigit dengan beringas. Kemudian aku menimpuknya dengan batu dan dapat mematahkan sayapnya. Kedua biri-biri itu mengembik, lalu terjadilah angin puyuh, pohon Kui tertiup patah dan dahannya mengenai hidungku, lantas aku mendusin tadi."

Sambil mendengarkan cerita orang, Wan-lian berpikir juga, dan setelah selesai orang bercerita, dengan sorot mata tajam ia pun berkata.

"Dengarlah sekarang, biar aku memberitahu padamu. Bukankah kau menyangsikan dirimu pernah membunuh seseorang yang paling kaucintai, tetapi kaulupa siapa adanya orang itu bukan?"

Tubuh pemuda itu sedikit gemetar, lalu ia pun mengangguk-angguk.

"Tetapi kau tak berani mengingatnya, sebab orang itu adalah ayahmu, kau menyangka ayahmu sendiri telah kaubunuh,"

Sambung Wan-lian.

Mendadak wajah si pemuda berubah hebat, seketika ia mengulur tangan mencengkeram ke atas kepala Wan-lian.

Namun si gadis berdiri tegak sambil memandang orang dengan tenang.

Tangan pemuda itu sudah menyentuh rambut si gadis, dengan ilmu silatnya yang begitu tinggi, asal sedikit meremas saja sek?lipun sepuluh orang Wan-lian tak akan hidup pula.

Tetapi si gadis dengan tersenyum menatap orang dengan sinar mata tajam hingga pemuda itu tertegun.

"Tetapi sebenarnya kau tak pernah membunuh ayahmu,"

Kata Wan-lian lagi dengan pelahan.

"Lekas kauangkat tanganmu, jangan kaukusutkan rambutku, aku bisa marah kalau kau masih tak mengangkat tanganmu."

Tiba-tiba pemuda itu menghela napas panjang, bagai ayam jago yang sudah keok ia mendeprok lemas, ia menutupi mukanyi dan menangis terguguk.

Wan-lian membetulkan rambutnya, ia biarkan orang menangis sejenak, kemudian barulah ia mendekatinya, ia pegang pundak orang dan berkata-dengan suara lembut.

"Bangunlah kau. Sudahkah kini kau ingat siapa adanya dirimu ini?"

Pemuda itu menurut dan berdiri.

"Belum! Yang kuingat ialah benar-benar aku sudah membunuh ayah!"

Sahurnya kemudian.

"Tetapi bila kubilang tidak membunuhnya, pasti kau tidak membunuhnya, kau percaya tidak? Nah, biar kutunjukkan sesuatu padamu,"

Ujar gadis itu.

Lalu ia mengambil pit dan kertas di atas meja itu, alat tulis itu bekerja cepat, tidak antara lama, sebuah lukisan pemandangan alam sudah selesai digambarnya.

Lukisan itu menunjukkan pemandangan sebuah puncak yang menonjol di tepi jalan yang berliku-liku dan di bawahnya adalah lembah dengan lereng-lereng gunung yang curam.

"Lihatlah sekarang, kaukenal tidak tempat ini?"

Tanya Wanlian sesudah menyelesaikan lukisannya. Pemuda itu bersuara heran.

"He! Ya, tempat itu aku mengenal betul dan seperti pernah bertempat tinggal di sana,"

Katanya cepat. Dan ketika Wan-lian mengerjakan pitnya lagi, ia menambahi pula dua pohon cemara di antara puncak gunung yang menonjol itu, di bawah pohon diberinya pula sebuah rumah petak.

"Salah, kau salah melukisnya,"

Seru si pemuda tiba-tiba.

"Rumah itu dekat pohon cemara sebelah kanan dan bukan di tengah-tengah kedua pohon itu."

"Betul kau,"

Sahut si gadis.

"Tempat ini kau lebih hapal daripada diriku. Sengaja kubikin kesalahan sedikit, tetapi kau segera mengetahuinya."

Dalam pada itu si pemuda sudah mengambil tempat duduk sambil menunjang janggut, Wan-lian tak urus padanya, ia melukis terus, ia menambahi lukisannya tadi dengan dua orang tua di depan rumah itu, yaitu si orang tua berparas merah dan si kakek hitam kurus.

Wan-lian adalah putri seniman Boh Pi-kiang yang terkenal, bakat ilmu sastra dan seni lukisnya diperoleh dari keturunan orang tuanya, dengan sendirinya lukisannya bagus luar biasa.

Dan setelah selesai semuanya, ia menggoyang pundak si pemuda dan berkata padanya, 'Lihatlah kini yang lebih jelas, siapakah di antaranya ialah ayahmu."

Waktu pemuda itu mementang matanya lebar-lebar, seketika ia pun melompat bangun begitu melihat lukisan itu.

"Tenang, jangan gugup!"

Ujar Wan-lian.

Wajah pemuda itu berubah hebat, ia berdiri tegak bagaikan patung di samping lukisan itu.

Lama dan lama sekali, mendadak ia menunjuk pada si orang tua berparas merah dalam lukisan itu dan berteriak.

"Orang inilah yang telah kubunuh!"

"Apakah dia ayahmu?"

Tanya Wan-lian.

"Seperti betul, tetapi juga seperti bukan,"

Sahut pemuda itu tak lancar.

"Mana boleh jadi?"

Ujar si gadis.

"Ya, sebab orang ini seperti lebih dekat hubungannya dengan diriku,"

Kata si pemuda pula sembari menunjuk si orang tua hitam kurus.

"Tetapi asal aku melihat wajahnya, lantas timbul semacam perasaanku yang jemu tak terkatakan padanya, tetapi merasa juga kasihan padanya Sudahlah, singkirkan lukisan itu, aku tak ingin lagi melihatnya dan tak hendak mengingatnya pula. Nona Boh, cara bagaimana kau bisa mengenal mereka? Dari mana kau seperti tahu juga urusanku yang telah lampau itu?"

Wan-lian memegang tangan orang pelahan, dengan suara lembut ia mengatakan bagai kakak berkata kepada sang adik.

"Janganlah kau menyangka telah membunuh ayahmu lagi! Tetapi sebenarnya tidak kaulakukan. Kau tak mau mengingat kembali pada orang tua hitam kurus itu, tetapi sebenarnya tak pernah kaulupa padanya. Dalam mimpimu yang buruk tadi, biri-biri tua yang kauceritakan itu melambangkan dia dan anak biri-biri melambangkan kau sendiri, harimau bersayap adalah orang tua paras merah itu. Sebab kau menahan diri tak mau memikirkannya, maka mereka telah muncul dalam wujud lain dalam mimpimu itu, dan batu yang kausambitkan itu mungkin adalah senjata rahasiamu."

"Jika begitu, pohon Kui yang patah tertiup angin dan daliarnya yang mengenai hidungku, cara bagaimana memecahkannya"?"

Tanya si pemuda.

"Pohon Kui melambangkan juga si orang tua hitam kurus itu, nama sebenarnya Kui Thian-lan, apakah kau tak mengetahuinya?"

Kata Wan-lian.

"Mungkin kaucinta padanya tetapi juga benci padanya, maka ia mirip biri-biri yang ramah taman, dan seperti pohon Kui yang patah tertiup angin. Mengenai dahan pohon yang menimpa hidungmu itu tiada sangkut-pautnya dengan ramalan mimpimu, itu disebabkan Pho-pepek mengkilik-kilik lubang hidungmu dan menimbulkan khayalan dalam impianmu."

Pemuda itu termangu-mangu oleh penjelasan si gadis, lewat sejenak kemudian tiba-tiba ia menangis terguguk-guguk lagi.

"Kecuali kau membawaku menemui orang tua paras merah itu, bila tidak, tak bisa kupercaya bahwa dia tidak terbunuh olehku,"

Katanya kemudian. Wan-lian mengerutkan kening oleh permintaan orang, ia berpikir, akhirnya ia mengambil keputusan dan berkata.

"Baiklah, aku akan membawamu pergi menemuinya."

Meski ia tidak yakin bisa menemukan ayah orang, tetapi asal bisa menyembuhkan penyakitnya, segala jalan hendak ditempuhnya.

Sebulan kemudian, di jalanan Can-to yang curam tertampak pula tiga orang pria dan wanita pengelana berada di puncak Kiam-kok itu, mereka adalah Leng Bwe-hong, Boh Wan-lian dan si pemuda baju kuning.

Setelah mengobrak-abrik istana Ping-se-ong di Kun-bing, Li Jiak-sim memperkirakan gerakan pemberontakan Go Sam-kui segera akan dilancarkan, maka pada hari kedua sesudah mereka semua lolos dari bahaya, bersama orang-orangnya ia pun kembali ke pangkalannya.

Pho Jing-cu dan Lauw Yu-hong telah menerima ajakan Li Jiak-sim untuk ikut serta, hanya Leng Bwe-hong bertiga saja yang tetap ingin melanjutkan rencana mereka untuk menyembuhkan penyakit si pemuda baju kuning itu.

Sebelum mereka berangkat, Jing-cu telah berpesan pada Boh Wan-lian.

"Nak, sejak ayahmu meninggal, belasan tahun mi kita selalu berdampingan bagai ayah dan anak, tetapi ayah dan anak ada kalanya harus berpisah juga. Pemuda baju kuning itu adalah seperti batu Giok yang belum diasah, apabila suatu ketika daya ingatnya sudah pulih kembali, pasti ia akan memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, apalagi pemuda itu selalu mengunjuk hati yang jujur dan martabat yang tinggi meski dalam keadaan tak ingat asal-usul diri sendiri, maka hendaklah kau menj aganya baik-baik."

Setelah itu, orang tua ini memberi petunjuk-petunjuk pula seperlunya yang bersangkutan dengan penyakit hilang ingatan, kemudian barulah mereka berpisah.

Di lain pihak, diam-diam Lauw Yu-hong juga sedang memberi salam perpisahan pada Leng Bwe-hong.

"Begitu bantuanmu pada nona Boh untuk menyembuhkan pemuda itu sudah berhasil, harap kau segera kembali,"

Demikian katanya dengan suara berat.

"Kuharap pada suatu hari bisa bersamasama melihat arus Ci-tong-kang denganmu untuk mengenangkan kejadian yang telah hanyut terbawa gelombang ombak sungai itu."

"Aku tidak hilang ingatan seperti pemuda baju kuning itu, dan aku tidak lupa hal-hal yang dulu Ya, pada suatu hari pastilah akan kukatakan padamu,"

Demikian sahut Bwe-hong setelah tertegun sejenak.

Mata Yu-hong berkaca-kaca, ia diam terharu, akhirnya berpisahlah mereka dengan perasaan berat.

Sama halnya Boh Wan-lian harus berpisah juga dengan orang tua yang paling dicintainya selama hidup itu.

Hanya sesudah berpisah dari Pho Jing-cu, Boh Wan-lian bergembira ria segera sesudah jalan berendeng dengan pemuda baju kuning, makin hari gadis inipun bertambah lincah dan masak, sinar asmara sudah menyapu bersih awan gelap riwayat hidupnya yang selama ini merundung perasaannya.

Sebaliknya Bwe-hong masih merasa kesal dan berduka, tatkala dalam penjara air hampir-hampir saja ia berkata terus terang siapakah dia sebenarnya, dan waktu berpisah, hampirhampir juga ia mengaku kejadian-kejadian yang telah silam pada Yu-hong.

Tetapi ia masih bisa menahannya, ia suka pada wataknya sendiri yang kepala batu, namun kini timbul juga penyesalannya, pada wataknya sendiri yang terlalu kukuh itu.

Begitulah, maka sepanjang jalan ia hanya mengikut di belakang Wan-lian dan si pemuda baju kuning.

Diam-diam Bwe-hong tertawa sendiri dengan tugasnya yang aneh ini bila menyaksikan muda-mudi yang berjalan berendeng di depannya itu, ia diminta oleh Pho Jing-cu dan Li Jiak-sim untuk melindungi Boh Wan-lian yang mendampingi si pemuda baju kuning karena kuatir sewaktu-waktu pemuda ini bisa mencelakai si gadis bila tengah malam penyakitnya kumat terus berkeliaran tanpa ingat dirinya sendiri.

Namun bila menyaksikan betapa kasih sayang kedua muda-mudi di depannya sekarang ini, sekalipun si pemuda lupa daratan tak kenal siapa pun di jagad ini, rasanya kata-kata Boh Wan-lian pasti akan diturutinya juga, demikian pikir Bwe-hong.

Dan nyatanya sepanjang jalan daya ingat pemuda ini makin hari makin jernih hingga selama itu tiada terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Hari itu lewat lohor, mereka sudah sampai puncak teratas Kiam-kok.

Nampak tempat ini, sorot mata pemuda baju kuning jelalatan, ia menghalau semua rintangan dijalan dan dengan cepat dan hafal sekali ia telah menemukan rumah petak di bawah kedua pohon cemara itu.

Ia menerobos masuk, tetapi tiada seorang pun di dalam rumah itu, ia meraba benda-benda yang tertinggal di situ, yakni sebuah bangku dan sebuah meja, di dinding tergantung sebuah gendewa dengan anak panahnya, tampaknya ia begitu sayang pada benda-benda itu.

Tiba-tiba ia menangis tergerung-gerung terus berlari keluar.

"Di sinilah, ya, di sinilah aku telah membunuh ayahku,"

Demikian ia berteriak sembari menunjuk jurang yang curam di bawahnya.

"Kini aku sudah ingat, aku dibesarkan di rumah ini, orang tua hitam kurus yang kaulukis itu telah mengajarkan ilmu silat padaku, mula-mula ia adalah ayahku, tetapi kemudian mendadak berubah bukan lagi. Lian-cici, kini aku sudah berada di sini, lekaslah, lekas kauceritakan seseorang keluargaku."

Tadinya Wan-lian menyangka setelah sampai di tempat pemuda itu dibesarkan, tentu ia akan ingat kembali segala apa yang lalu, siapa tahu orang masih tetap lupa ingatan.

Dan ketika Wan-lian ragu-ragu, mendadak Leng Bwe-hong mendekati sambil menunjuk jauh ke bawah lembah gunung sana.

Ternyata tempat yang ditunjuk itu kelihatan ada berkelipnya api, kalau mata tidak terlatih tentu tak akan melihatnya.

Dan kalau ada api tentu di sana ada rumah tinggal, demikianlah pikir Bwe-hong.

Ketika ia melongok ke dalam jurang yang curam dan gelap itu, tiba-tiba terbayang olehnya pengalaman di Hun-kang tempo hari dimana dalam pergulatan dengan Coh Ciau-lam, mereka telah terjerumus ke dalam jurang, tetapi kesemuanya tiada yang tewas.

Meski keadaan ICiam-kok ini jauh lebih curam daripada Hun-kang, tetapi kalau berilmu silat tinggi, dan ada orang yang membantunya, rasanya tak akan terbinasa apabila jatuh ke bawah.

Karena pikiran itu ia berpaling, dilihatnya si pemuda baju kuning masih tersedu-sedan dengan semangat lesu.

"Sementara kaujaga dia, aku akan mencoba turun melihatnya ke sana,"

Demikian ia berpesan pada Wan-lian.

Habis itu, kedua tangannya dipentang dan segera ia melompat ke bawah jurang.

Sebelum meloncat turun, Leng Bwe-hong sudah mengincar dengan baik sebuah batu cadas yang menonjol keluar di tebing jurang itu, maka dengan Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi itu segera ia meloncat turun, setibanya di atas batu menonjol yang sudah diincarnya itu ia terus menutul dengan kakinya, kemudian melompat lagi ke bawah dengan berganti gerakan pada batu cadas yang lain dan begitulah seterusnya, maka beruntun belasan kali gerakan menutul pada batu cadas itu, akhirnya ia bisa menancapkan kaki dengan selamat di lembah gunung.

Di bawah sana ternyata penuh batu-batu aneh yang berserakan di sana sini sehingga jalan menjadi tak rata, ia menyalakan api memeriksa keadaan sekitarnya, tetapi tiada sesuatu yang luar biasa.

Dan selagi ia hendak menuju ke tempat dimana terdapat sinar api tadi, tiba-tiba didengarnya ada sambaran angin tajam dari samping.

Leng Bwe-hong sudah kawakan berkelana di Kangouw dan sudah banyak mengalami pertempuran besar, maka sedikit mengegos saja, am-gi atau senjata rahasia yang menyambar datang itu sudah dielakkannya, tetapi api yang dia nyalakan di tangan itu pun padam.

Keruan ia terkejut, ia lemparkan puntung api itu.

Sementara angin tajam sudah berkesiur lagi, bahkan membawa suara mendenging yang kencang, suatu tanda betapa keras sambaran senjata rahasia ini.

Dengan mendengar suara angin Bwe-hong sudah tahu dari arah mana datangnya serangan, maka sedikit ia menggeser tubuh maka sebuah am-gi segera lewat dekat pinggangnya.

Dalam pada itu ia gusar juga oleh serangan yang berulangulang itu, sekali ia mengayun tangannya ke depan, ia sampuk jatuh senjata rahasia kedua yang sudah menyusul tiba itu, berbareng itu ia angkat tangan yang lain ke atas, maka senjata rahasia ketiga pun dapat ditangkapnya.

Waktu Bwe-hong meremas-remas senjata rahasia itu, ia merasa bentuknya bundar kecil dan di tengahnya berlubang seperti anting-anting.

"Siapakah kau?"

Segera pula Leng Bwe-hong membentak.

"Membokong dari tempat gelap, apakah ini perbuatan seorang jantan?"

"Bangsat,"

Tiba-tiba satu suara berat menyambut dengan seram dari kejauhan.

"Mencelakai orang di malam gelap masih berani bicara tentang kejantanan? Fui, nih, coba kausambut lagi tiga buah ini!"

Dan belum lenyap suaranya, tahu-tahu tiga buah am-gi menyambar pula.

Kembali Leng Bwe-hong menggunakan cara mendengar suara angin membedakan arah serangan untuk menghindarkan diri.

Tetapi tahu-tahu menyambar dari sebelah kanan.

Keruan saja Bwe-hong tertipu, ia bisa menghindarkan sebuah, sedang dua buah lainnya telah mengenai hiat-to atau jalan darah tubuhnya dengan tepat.

Baiknya Lwekang Leng Bwe-hong sudah sampai puncaknya, pada waktu menangkap senjata rahasia orang tadi, segera ia tahu orang ini adalah seorang jagoan, maka ia sudah siap sedia, begitu luput menangkap am-gi orang segera jalan darah tubuhnya ia tutup semua, walaupun begitu, tidak urung ia merasa sakit juga di tempat yang tertotok itu hingga ia bersuara kesakitan.

Pada saat itu juga, dengan cepat dari tengah semak-semak yang rindang tiba-tiba melompat keluar seorang berbaju hitam, agaknya disangkanya Leng Bwe-hong sudah roboh terkena senjata rahasianya.

"Bangsat celurut, sekarang baru kaurasakan lihainya nyonya besarmu ini,"

Demikian kata orang itu sambil mencaci maki.

Siapa tahu, rasa sakit Bwe-hong tadi hanya sekejap saja dan sama sekali tak terluka, ia menjadi gemas oleh kekejian musuh, kini tiba-tiba nampak munculnya orang, keruan ia tak sungkan-sungkan lagi, tiga buah senjata rahasianya yang istimewa, Thian-san-sin-bong, bagai kilat lantas menyambar.

"Nih, biar kau tua bangka inipun merasakan lihainya tuan besarmu,"

Demikian ia pun balas membentak.

Ketika mendadak nampak tiga sinar hitam keemas-emasan menyambar dari depan, cepat sekali orang itu yang ternyata seorang nenek tua sedikit mengegos berbareng pedangnya me-nyampuk ke depan, maka terdengarlah suara nyaring diikuti meletiknya lelatu api, menyusul dengan berdiri pada sebelah kaki, tubuhnya sedikit mendoyong ke belakang menggunakan gerakan Thian-pan-kio' atau jembatan papan besi, ia bermaksud menghindarkan dua 'Sin-bong' yang lain.

Tak terduga cara Leng Bwe-hong melepas am-gi juga sangat aneh, tiga buah Sin-bong menyambar beruntun, kedengarannya susul menyusul satu sama lain.

Tetapi sial bagi si nenek, Sin-bong pertama bisa dihindari, kecepatan Sin-bong kedua seperti agak lambat, tetapi begitu sampai di atas kepalanya, tahu-tahu Sin-bong ketiga sudah menyambar tiba secepat kilat hingga membentur Sin-bong kedua itu.

Tatkala itu si nenek lagi menggunakan kepandaiannya yang mengagumkan dengan badan mendoyong dan berdiri dengan sebelah kaki, ia sedikit berputar hingga tempatnya sudah menggeser.

Namun begitu Sin-bong ketiga masih tetap mengenai kain ikat kepalanya hingga terbang dan rambutnya yang ubanan terurai.

"Sungguh berbahaya,"

Demikian kata si nenek diam-diam setelah"

Berdiri kembali.

Waktu ia periksa senjatanya, ia lihat pedang itatergumpil oleh benturan Sin-bong tadi.

la terkejut, belum pernah selama hidupnya bertemu lawan setanggul ini, ia curiga juga kalau-kalau orang datang hendak menuntut balas.

Karena itu, ketika tubuhnya bergerak, bagai elang ia menubruk Leng Bwe-hong dari atas sambil pedangnya membacok, ia menyerang dengan ilmu pedang 'Ngo-khimkiam-hoat' yang sangat lihai.

Di lain pihak segera Leng Bwe-hong melolos pedang juga, ia tahu akan bahaya serangan si nenek dari atas itu, lekas ia memutar sedikit dan melompat mundur, namun belum sempat ia menancapkan kaki dengan baik tahu-tahu telah terdengar suara "Bret", lengan bajunya ternyata sudah tersambar ujung pedang orang.

Tentu saja Bwe-hong menjadi gusar, begitu bergerak, sekali putar ia menyabet dengan pedangnya secepat kilat sehingga kedua senjata saling bentur dan terpental mundur.

Kedua orang sama-sama tergetar dan tangan kesemutan.

"Sayang pedang Yu-liong-kiam sudah kuberikan pada Lauw Yu-hong, bila tidak, pasti senjatanya sudah terkuning,"

Demikian pikir Leng Bwe-hong. Sebaliknya si nenek juga sedang berpikir.

"Sayang Ngo-khim-kiam-hoat yang kukeluarkan tadi tidak disertai perubahan di tengah jalan, kalau tidak, tentu rubuhnya sudah berkenalan dengan pedangku."

Nyata si orang tua ini tidak tahu bahwa Leng Bwe-hong adalah ahli waris Thian-san-kiam-hoat.

"Berhenti dulu, siapakah kau sebenarnya?"

Bentak Bwehong pula sambil menarik senjata dan membalik badan. Namun nenek itu hanya menjengek, ia tak menggubris orang, beruntun ia melontarkan serangan-serangan yang berbahaya pula.

"Aku menghormatimu yang lebih tua, apa kaukira kutakut padamu?"

Kata Bwe-hong gusar.

"Kalau tua, mau apa?"

Sahut nenek itu sengit.

Berbareng pedangnya menyambar terlebih kencang hingga Bwe-hong terkurung dalam lingkaran sinar pedangnya.

Baca Juga: Sukma Pedang 1

Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger