Eps 2 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Sembari usap gagang pedangnya, ia memberi hormat dan berkata.
"Aku, Pokee Bek Eng Beng, ingin mengambil serupa barang dari tangannya ini kedua kuku garuda. Jika tuan adalah seorang kawan dalam Rimba Persilatan, aku tak berani minta bantuan, tapi memohon supaya tempatkan diri di luar gelanggang. Di lain hari, aku tentu akan membalas budi ini."
Harus diketahui bahwa Bek Eng Beng adalah pendekar besar di propinsi Siamsay dan Kamsiok.
Di beberapa propinsi Tiongkok Utara barat, namanya besar sekali dan dikenal oleh semua orang kalangan Rimba Persilatan.
Sekarang ia sendiri memperkenalkan diri dan menggunakan kata-kata yang menghormat.
Menurut taksiran, usianya si anak sekolah tidak lebih dari dua puluh tahun, sehingga tingkatannya tidak bisa berada di atas Bek Eng Beng.
Dalam omongannya itu, Bek Eng Beng tidak menonjolkan kedudukan sebagai tjianpwee (orang dari tingkatan lebih tua), tapi cuma singgung soal pribudi dalam kalangan Kangouw.
Ia menaksir, sesudah dengar omongannya, biarpun tidak sampai membantu, si anak sekolah tentu akan minggir.
Tapi siapa nyana, ia cuma berkata dengan suara dingin.
"Hm! Aku tahu!"
Dari lagu suaranya, seperti juga ia belum pernah dengar namanya Bek Eng Beng, sehingga Siauw Tjeng Hong sendiri sampai merasa, si anak sekolah bersikap sedikit keterlaluan.
Mendengar perkataan yang dingin itu, kedua perwira jadi merasa sangat girang.
Sembari rangkap kedua tangannya, salah seorang berkata.
"Kami adalah anggauta dari Gielimkoen (Pasukan pengawal kaizar) dan menerima perintah Bansweeya (Kaizar) buat antar serupa barang ke Lhasa. Tapi di tengah jalan, barang itu kena dirampas oleh bangsat tua ini. Maka itu, kami memohon bantuan tuan."
Si anak sekolah kembali keluarkan satu gerendengan dan berkata dengan tawar.
"Yah, aku tahu!"
Si pengemis tertawa dingin dan niat lantas lampiaskan amarahnya.
Tapi mendadak si anak sekolah maju dua tindak, dan setahu bagaimana, dengan sekali berkelebat, tangannya sudah dapat rampas peti merah itu dari cekatannya Bek Eng Beng!
Bagaimana tinggi kepandaiannya Bek Eng Beng sudah sukar diukur, tapi toh, barang yang dicekal olehnya, sudah dapat dirampas secara begitu gampang!
Hal itu bukan saja sudah membikin Siauw Tjeng Hong jadi terkejut, tapi kedua perwira dan kedua boesoe pun sampai keluarkan teriakan tertahan dan loncat mundur beberapa tindak.
Si anak sekolah cepat bagaikan kilat, si pengemis pun tidak kurang cepatnya.
Hampir pada saat yang berbareng, tongkatnya si pengemis berkelebat dan menimpa gegernya si anak sekolah.
Melihat bahaya itu Siauw Tjeng Hong yang pernah ditolong jiwanya, tanpa merasa keluarkan teriakan "Ayo!"
Tanpa menengok, si anak sekolah menyampok dengan tangannya, sedang badannya sudah melesat setombak lebih.
Betul indah gerakannya itu!
Pada sebelum si pengemis tarik pulang tongkatnya, ia sudah berkata dengan suara nyaring.
"Sungguh Thiekoay sian bukannya cuma nama kosong!"
Tjeng Hong terkejut. Si pengemis aneh ternyata memang benar Thiekoay sian adanya! Sementara itu, si anak sekolah sudah berkata lagi sembari tertawa.
"Sekarang aku mau lihat, barang luar biasa apakah yang membikin kalian jadi berebut sampai begitu."
Ia menepok dan peti merah itu lantas terbuka. Ia ambil isinya, banting di atas tanah dan dengan satu suara krontangan benda itu pecah jadi delapan potong! Bek Eng Beng keluarkan teriakan kaget.
"Ah, bukannya guci emas!"
Ia berseru.
Si pengemis aneh juga kelihatan tidak kurang kagetnya.
Ia goyang-goyang tongkatnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Tjeng Hong mengawasi dan ternyata yang hancur itu adalah vas porselen biasa.
Ia sungguh heran, kenapa mereka berebuti barang begitu.
Sesudah banting vas porselen itu, si anak sekolah dongakkan kepalanya dan tertawa nyaring.
"Bibit bencana hilang, pertempuran berhenti,"
Kata ia.
"Kejadian ini bisa keja Louw Tiong Lian 51 jaman sekarang jadi mati tertawa. Ha, ha! Sungguh menggembirakan! Sekarang aku permisi pergi!"
Ia kebaskan tangan bajunya, badannya melesat seperti seekor burung dan berlalu seperti terbang. Mendadak Bek Eng Beng menggereng.
"Kau sudah nyebur ke dalam air, mana bisa begitu gampang lepaskan senjata?"
Ia membentak sembari mengudak.
Dua perwira dan dua boesoe Nepal juga turut memburu sembari berteriak-teriak, sehingga suaranya berkumandang jauh di padang rumput yang luas itu.
Si pengemis aneh ketruk tongkatnya di atas tanah, tapi badannya tidak bergerak.
Melihat begitu, Siauw Tjeng Hong yang tadinya mau ikut mengubar, jadi urungkan niatannya.
Selagi ia niat menegur, kedua matanya si pengemis mendadak mendelik.
"Hm, apa kau rasa bisa menyandak?"
Katanya dengan suara tawar.
"Simpan tenagamu buat pertemuan di Thian-ouw!"
Sehabis berkata begitu, tiba-tiba ia angkat tongkatnya dan sabet pinggangnya Siauw Tjeng Hong.
Pukulan ini bukan saja datangnya tidak diduga-duga, tapi juga cepat bagaikan kilat, sehingga biarpun mempunyai kepandaian yang lebih tinggi, Siauw Tjeng Hong tidak akan dapat loloskan diri.
Dengan satu suara "buk", tongkatnya si pengemis sudah mampir di pundaknya.
Ketika tongkat itu menyambar, dengan perasaan mencelos, Siauw Tjeng Hong berkata dalam hatinya.
"Tak dinyana aku mesti mati secara mengecewakan di tempat ini!"
Tapi aneh, sungguh aneh, ketika tongkat itu mampir di pundaknya, ia bukan rasakan pukulan biasa, tapi semacam dorongan hebat yang membikin badannya ngapung beberapa tombak tingginya!
Sebagai ahli silat, selagi berada di tengah udara, Tjeng Hong putar badannya yang lantas turun ke bumi tanpa mendapat luka apa-apa!
Dan waktu ia mengawasi sekelilingnya, si pengemis sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Sungguh heran hatinya Tjeng Hong.
Jika si pengemis mempunyai dendaman, kenapa ia tidak turunkan tangan jahat?
Kalau tidak mempunyai ganjelan, kenapa juga ia permainkan dirinya?
Biarpun sudah lama tenggelam timbul dalam kalangan Kangouw, kali ini benar-benar ia tidak mengerti.
Sekarang marilah kita tengok rumah penginapan itu yang menjadi kacau balau lantaran terjadinya pertempuran yang berlangsung dari dalam sampai diluar.
Tak usah dibilang lagi, pemilik rumah penginapan dan para tetamu jadi ketakutan setengah mati dan pada mengumpat sambil sesepkan kepala.
Sesudah orang-orang yang berkelahi pergi jauh, barulah pemilik hotel berani muncul sembari bawa lampu buat periksa keadaan rumah penginapannya.
Ia lihat kamarnya Bek Eng Beng, kamar kedua perwira, dua boesoe dan kamarnya si pengemis semuanya terpentang dengan tidak ada manusianya.
"Sudahlah! Sudahlah! Aku sudah duga, si pengemis bukannya orang baik!"
Ia kata sembari banting kaki.
Ia tidak berani maki itu pembesar militer, itu kedua boesoe dan Siamkam Tayhiap Bek Eng Beng, maka si pengemis yang menjadi korban.
Tapi si pelayan kelihatannya masih mempunyai liangsim (perasaan hati).
"Berat peraknya ada dua belas tail, aku sudah timbang,"
Kata ia. Mendengar perkataan itu, paras mukanya si pemilik hotel jadi berobah. Buru-buru ia lari masuk ke kamarnya, akan kemudian keluar lagi sembari berteriak-teriak.
"Bangsat! Bangsat besar! Dia berani colong perakku!"
Ternyata pemilik hotel adalah seorang sekaker yang suka sekali tukarkan perak hancur dengan goanpo (potongan perak besar) buat disimpan.
Beberapa hari berselang, ia baru saja tukarkan sepotong goanpo yang beratnya dua belas tail.
Barusan waktu dicari, potongan perak itu lenyap!
Tak usah.
disangsikan lagi, potongan perak itu tentu sudah dicuri oleh si pengemis!
Sembari memaki, si pemilik hotel menangis pikirkan peraknya yang hilang.
Tan Thian Oe yang dengar itu semua, berkata dalam hatinya.
"Pengemis aneh itu liehay sekali, akan tetapi, dengan mau tidur dan makan gratis, ia agaknya keterlaluan."
Sebagai seorang pemuda yang berhati kasihan, tanpa pikirkan segala akibatnya, ia lantas berjalan keluar dari kamarnya dan berkata.
"Tiam tjoedjin (pemilik hotel) tak usah bersedih hati dan mencaci maki. Goanpo itu biarlah aku yang ganti. Mpe pengemis adalah seorang tjianpwee-ku (orang tingkatan lebih tua). Adatnya aneh sekali dan aku rasa ia sengaja main-main dengan kau."
Si pemilik hotel merasa heran, kenapa Thian Oe yang pakaiannya indah seperti seorang kongtjoe hartawan bisa kenal pengemis itu.
Tapi mendengar kerugiannya bakal ditutup, ia jadi kegirangan setengah mati dan haturkan ribu-ribu terima kasih, tanpa berani menanya melit-melit.
Waktu Thian Oe balik ke kamarnya, fajar sudah menyingsing, tapi gurunya belum juga balik, sehingga hatinya merasa sangat kuatir.
Mendadak ia dengar suara orang tertawa di luar jendela.
"Bocah ini hatinya baik sekali!"
Kata orang itu.
"Tjianpwee siapakah yang bicara?"
Ia menanya dengan perasaan terkejut.
Ia tolak jendela dan melongok keluar, tapi tidak kelihatan bayangan manusia.
Begitu balik lagi badannya, ia lihat satu bungkusan di atas meja kecil, di pinggir pembaringan.
Bungkusan itu ternyata berisi baju bulu onta yang ia hadiahkan kepada si pengemis dan sepotong goanpo!
Thian Oe terkesiap dan berkata.
"Ah, tjianpwee itu benar-benar luar biasa."
Sesudah siang, barulah Siauw Tjeng Hong kembali di rumah penginapan.
Guru dan murid saling tuturkan pengalamannya yang semalam dan kedua-duanya merasa sangat heran.
Mereka tak tahu, apa pengemis itu kawan atau lawan.
Mereka tak dapat tebak, kenapa Bek Eng Beng, dua perwira dan dua boesoe Nepal sampai perebutkan satu vas porselen biasa.
Sesudah bersantap pagi, dengan perasaan masgul mereka lalu teruskan perjalanan.
Sesudah berjalan lagi setengah bulan, tibalah mereka di sebelah utara barat Lhasa.
Jauh-jauh mereka lihat satu gunung tinggi menghadang jalanan.
Itulah gunung Nyenchin Dangla yang tingginya cuma kalah dari gunung Himalaya.
Waktu itu sudah masuk musim panas.
Di kaki gunung ratusan macam kembang berbunga indah sekali, sedang di lamping gunung, air yang bening laksana kaca mengalir legat-legot di antara batu-batu dan hawa udara kira-kira bersamaan dengan hawa musim semi di daerah Kanglam.
Tapi di sebelah atas, salju putih masih menutupi puncak gunung yang tinggi, sehingga memberi pemandangan yang istimewa sekali.
"Aku dengar, Lootjianpwee Koei Hoa Seng berdiam di gunung ini."
Kata Siauw Tjeng Hong.
"Aku hanya berharap beliau masih hidup, supaya dapat menolong kesukaranku ini."
Guru dan murid yang sudah siap sedia dengan alat-alat, lantas mulai mendaki gunung.
Sesudah berjalan tiga hari, barulah mereka tiba di pinggang gunung.
Dari situ, mereka dapat lihat sungai es yang melingkar-lingkar seperti naga perak dan mengasih lihat lain pemandangan yang mengherankan.
Lapisan atas sungai es itu sudah menjadi lumer lantaran kena sorotnya matahari yang hangat.
Tapi kembang salju dari puncak gunung selembar-selembar melayang turun ke bawah, seakan-akan lembaran-lembaran kertas kristal yang jatuh di atas muka sungai es itu.
Lembaran-lembaran salju itu segera menjadi keras, yang tidak lama kemudian menjadi lumer pula lantaran hangatnya sang matahari.
Maka itulah, sedari dahulu sampai sekarang sungai es di pegunungan Nyenchin Dangla selalu tidak berobah.
Disorot sinar matahari, lapisan es itu merupakan benda transparan yang berwarna hijau muda dan keindahannya sungguh sukar dilukiskan dengan sang kalam.
Salju dari permulaan musim panas sifatnya lebih keras dan basah, dan di dalamnya mengandung lebih banyak air, sehingga pada sebelumnya menjadi es, salju itu seperti juga bunga-bunga bwee yang ngambang di atas sungai es.
Maka itulah, ada satu syair yang berbunyi kira-kira seperti berikut.
Salju musim semi di tengah udara berterbangan, Sekuntum-kuntum bagaikan bunga yang sedang mekar.
Sehingga orang yang kurang pengetahuan.
Akan kira mereka itu bunga sungguhan.
Itulah syair yang sering diucapkan oleh mereka yang menyaksikan pemandangan yang menakjubkan itu.
Selagi guru dan murid puaskan matanya, di sebelah bawah pinggang gunung mendadak terdengar suara apa-apa.
Dua orang berpakaian warna-abu-abu kelihatan loncat ke atas puncak di seberang.
Pegunungan Nyenchin Dangla penuh dengan puncak-puncak yang antaranya cuma berjarak kira-kira satu li satu antara lainnya.
Di lain saat, dua bayangan orang itu sudah masuk ke mulut gunung dan tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Tjeng Hong dan Thian Oe merasa heran.
Sementara itu, tiba-tiba kuping mereka menangkap suaranya tetabuhan khim yang datang dari tempat jauh.
Mereka lantas saja tujukan tindakan ke arah tetabuhan itu.
Semakin lama berjalan, semakin hangat hawa udara.
"Beberapa hari yang lalu, makin tinggi, kita merasa makin dingin. Tapi kenapa sekarang, sesudah tiba di pinggang gunung, hawa jadi berbalik hangat?"
Tanya Thian Oe.
"Mungkin di bawah tanah ini terdapat sebuah gunung berapi,"
Menerangkan Tjeng Hong.
Dengan perlahan, suara khim jadi semakin tedas kedengarannya.
Sebagai satu ahli, Thian Oe lantas mengetahui bahwa tetabuhan itu adalah o-khim yang bertali lima.
Suaranya tetabuhan itu sangat menyedihkan hati, dan sesudah mendengari berapa lama, hatinya Thian Oe jadi bergoncang, sebab ia merasa pernah mendengar suara seperti itu.
Mendadak, suara khim diiring dengan nyanyian yang seperti berikut.
Di bawah sungai es seekor anak kambing.
Kehilangan ayah, kehilangan bunda.
Sang elang memburu dia.
Mau dicengkeram, dijadikan santapan.
Pengtjoan Thianlie -oh, ciciku yang mulia!
Dengarkah kau teriakannya yang menyayatkan hati.
Tahukah kau penderitaannya?
Tolonglah usir sang elang yang jahat, Selama hidup dia tak akan melupakannya.
Thian Oe kenali.
Suara itu keluar dari mulutnya Chena, itu gadis Tsang yang aneh.
"Soehoe", kata ia dengan kaget tercampur girang.
"Dengarlah! Nyanyian itu adalah permintaan tolong kepada Pengtjoan Thianlie. Tak salah lagi, Pengtjoan Thianlie berdiam di ini tempat! Hai! Gadis itu sungguh hebat penderitaannya. Nyanyian itu mengunjuk, bahwa ia kembali diubar orang."
Tanpa tunggu jawaban gurunya, Thian Oe cabut dua hoeito dan berlari-lari ke arah suara nyanyian itu.
Sesudah lewati satu lembah gunung, matanya dapat lihat satu telaga yang sangat luas, yang seputarnya dikitari gunung.
Telaga itu adalah telaga yang paling tinggi dalam dunia, yang dalam bahasa Tibet dinamakan Tengri Nor.
Telaga tersebut terletak di tempat yang tingginya lebih dari 4.672 kaki, sehingga lebih tinggi 800 kaki lebih dari telaga Titicaca, di antara Peru dan Bolivia di Amerika Selatan.
Telaga inilah yang orang Han namakan Thian-ouw, atau Telaga Langit.
Air telaga bening jernih seperti kaca, sedang ombak halus menyapu ke sana-sini tak hentihentinya.
Di tengah telaga terdapat lempengan-lempengan es yang mengambang, yang berkilatkilat, lantaran tertojo sinarnya sang matahari.
Air telaga seakan-akan menempel dengan tepian langit, sang langit menempel dengan air telaga.
Thian Oe jadi seperti orang kesima.
"Tempat ini benar-benar bagaikan surga. Apakah benar Pengtjoan Thianlie tinggal disini?"
Kata ia dalam hatinya.
Di pinggir telaga penuh dengan rumput hijau dan pohon-pohon bunga yang menyiarkan bau harum sekali.
Dan di antara pohon-pohon kembang itu, kelihatan berkibar-kibar selendang sutera putih dari seorang wanita.
"Nona Chena! Aku disini!"
Berseru Thian Oe. Baru saja gadis itu menengok, kembali terdengar lain suara.
"Nona Chena! Kami pun berada disini!"
Berbareng dengan itu, dari gombolan pohon loncat keluar dua orang tinggi besar yang berpakaian warna abu-abu.
Sembari nyengir, mereka tubruk Chena.
Thian Oe membentak sembari menimpuk dengan kedua hoeito-nya.
Kedua orang itu mengebut dengan tali pinggangnya dan kedua golok terbang tersampok jatuh ke dalam telaga.
Dalam kagetnya, Thian Oe dengar satu orang berteriak kesakitan, sedang yang satunya jatuh menggelinding ke bawah tanjakan.
Orang yang membantu Thian Oe adalah Siauw Tjeng Hong yang telah timpuk jitu jalanan darah kedua orang itu dengan cabang pohon.
Kedua orang itu sebenarnya bukan makanan empuk, tapi lantaran mereka sedang perhatikan hoeito-nya Thian Oe dan juga sebab tenaga dalamnya Tjeng Hong ada cukup tinggi, maka biarpun jaraknya jauh, jalanan darahnya kena ketotok juga dan dirasakan sakit bukan main, walaupun tidak sampai roboh klengar.
Mereka tahu sedang berhadapan dengan orang pandai dan buru-buru kabur buat minta bala bantuan.
Gadis Tsang itu berlari-lari dengan paras muka ketakutan.
"Sudah tak ada apa-apa lagi. Musuh sudah kena diusir oleh guru,"
Kata Thian Oe.
Melihat sikap muridnya, Tjeng Hong jadi ingat pengalamannya sendiri, ketika diam-diam ia mencintai Tjia ln Tjin.
Ia segera jalan perlahan sekali, supaya tidak mengganggu kedua orang muda.
Sekonyong-konyong dari gombolan pohon berkelebat bayangan orang.
"Timpukan bagus! Timpukan Bagus! Sahabat-sahabat lama sekarang bertemu kembali!"
Demikian kedengaran satu orang berkata.
Hatinya Tjeng Hong mencelos.
Dua orang kelihatan muncul.
Pada mukanya orang yang jalan di depan terdapat tapak golok tapak jalak, satu matanya buta, mukanya menyeringai, sehingga kelihatannya menakuti sekali.
Orang itu bukan lain daripada Loei Tjin Tjoe, pentolan nomor satu dari tingkatan kedua Boetong pay dan yang ditakuti oleh Siauw Tjeng Hong.
Orang yang jalan belakangan adalah Tjoei In Tjoe yang sudah sembuh lantaran kasiatnya soatlian dan tangannya mencekal satu gendewa dengan tali baru.
Diudak oleh Tan Thian Oe, gadis Tsang itu berlari-lari lewat di pinggirnya Tjoei In Tjoe, yang berkata sembari tertawa.
"Sanma! Terima kasih buat soatlian-mu."
Sesudah Chena lewat, ia kebaskan gendewanya dan papaki Thian Oe.
"Oe-djie, balik!"
Berseru Siauw Tjeng Hong. Thian Oe hampiri gurunya, sedang si nona lari terus. Loei Tjin Tjoe cabut pedangnya dan setindak demi setindak ia mendekati Siauw Tjeng Hong.
"Kejadian pada tahun itu, sebenarnya sudah terjadi lantaran tidak sengaja. Loei Toako buat apalah mendendam sampai begitu,"
Kata Tjeng Hong. Loei Tjin Tjoe keluarkan satu suara "htn"
Dan spier mukanya berkerut, sehingga macamnya menakuti sekali.
"Kalau kau tidak ingin aku menaruh dendam, tidak sukar,"
Kata ia dengan suara tawar.
"Kau kemari dan kasih aku bacok mukamu dua kali dan kemudian korek biji matamu."
"Itu toh bukan dilakukan olehku,"
Sahut Tjeng Hong.
"Aku cuma secara tidak disengaja sudah membantu Tjia In Tjin."
Matanya Loei Tjin Tjoe yang tinggal satu mendelik.
Ia jadi semakin gusar ketika Tjeng Hong sebutkan namanya Tjia In Tjin.
Ia dahulu adalah seorang lelaki yang berparas cakap sekali dan sekarang jadi tidak keruan macam.
Sedang Tjia In Tjin tidak dapat dicari, semua amarahnya jadi tumplek ke atas kepalanya Tjeng Hong.
Sesudah datang dekat, ia menuding sembari berkata.
"Sahabat, kepandaianmu tidak mundur, sedang akupun sudah berlatih beberapa macam ilmu. Belasan tahun berselang kita pernah bertanding dan sekarang aku kembali mau persembahkan kebodohanku."
Pedang lantas berkelebat dan ia kirim satu serangan membinasakan.
"Loei Toako kau mendesak siauwtee (adik) sampai di satu pojokan,"
Kata Tjeng Hong sembari meringis.
Loei Tjin Tjoe kirim tiga serangan beruntun yang semuanya dapat dikelit oleh Tjeng Hong.
Bacokan Loei Tjin Tjoe yang satu lebih cepat dari yang lain dan serangan ke empat, dalam gerakan Pekhong koandjit (Bianglala tembuskan matahari), menikam jalanan darah Tongboen hiat pada dadanya Siauw Tjeng Hong.
Serangan itu hebat luar biasa dan kelihatannya Tjeng Hong tidak akan dapat singkirkan dirinya lagi.
Mendadak ia putar badan sembari mengebut dan ribuan benang halus lantas gulung pedangnya Loei Tjin Tjoe.
Oleh karena kuatirkan pembalasan, belasan tahun lamanya Tjeng Hong pikirkan cara buat jatuhkan musuh.
Ilmu silatnya Loei Tjin Tjoe banyak lebih tinggi, sehingga kemungkinan satusatunya adalah melawan dengan tipu.
Dengan terus kelit tiga serangan, ia sengaja perlihatkan rasa ketakutan, dan ketika musuh menikam habis dengan pedangnya, barulah ia menggulung dengan kebutannya.
Harus diketahui, bahwa kebutannya Siauw Tjeng Hong adalah mustika dalam Rimba Persilatan.
Hudtim itu rupanya mirip dengan buntut kuda, tapi sebenarnya terbuat dari benang-benang emas hitam yang luar biasa uletnya dan tak dapat diputuskan dengan senjata tajam.
Melihat ilmu pukulannya yang sudah dilatih belasan tahun, mendapat hasil, hatinya Tjeng Hong jadi girang sekali.
Loei Tjin Tjoe tertawa dingin dan lantas kerahkan tenaganya sembari betot pedangnya.
Di lain saat, ribuan benang halus pada berterbangan di tengah udara!
Tjeng Hong mencelos hatinya.
Ia tak duga, tenaga dalamnya begitu tinggi.
Sementara itu musuh kembali sudah menyerang tiga kali beruntun dan ia tidak dapat berbuat lain daripada putar hudtim-nya buat menjaga diri, tanpa mampu balas menyerang lagi.
Semakin lama Loei Tjin Tjoe menyerang semakin cepat.
Tjeng Hong terus mundur dan dari kepalanya keluar uap putih, yang menandakan ia sudah kerahkan setaker tenaga yang berada dalam dirinya.
Sesudah lewat kurang lebih tiga puluh jurus, Loei Tjin Tjoe mendadak meniup dengan mulutnya, sedang pedangnya berbareng membabat.
Saat itu juga, sebagian hudtim-nya Tjeng Hong terbabat putus dan benang-benangnya berterbangan bagaikan rumput.
Jika benangbenang hudtim-nya Tjeng Hong berkumpul jadi satu, senjata yang paling tajam tak akan dapat memutuskannya.
Akan tetapi, sesudah kena ditiup buyar oleh Loei Tjin Tjoe yang berbareng kerahkan tenaga dalamnya ke badan pedang, hudtim itu jadi seperti sesapu yang terbuka ikatannya dan tak sukar buat dibabat putus.
Bukan main sakit hatinya Tjeng Hong yang tidak berani berkelahi lagi.
"Baiklah, aku terima nasib!"
Kata ia dengan suara sedih. Loei Tjin Tjoe keluarkan tertawa nyaring. Ia maju dua tindak dan matanya mengawasi musuhnya.
"Baiklah,"
Kata ia sembari kebas pedangnya.
"Aku akan kirim dua sabetan tapak jalak ke mukamu seperti contoh mukaku sendiri. Tjoei Hiantee, mari sini! Saksikanlah bagaimana aku turunkan tangan!"
Satu perasaan dingin bagaikan es dirasakan oleh Tjeng Hong. Ia meramkan kedua matanya, tak berani ia lihat pedangnya musuh yang mengkilap. Tiba-tiba saja ia dengar suara "tring"
Dan Loei Tjin Tjoe kedengaran membentak.
"Bocah dari mana berani membokong aku!"
Tjeng Hong buka kedua matanya dan lihat ujung pedangnya musuh miring dan tergetar tak hentinya, dengan keluarkan sedikit suara mengaung.
Teranglah bagi Siauw Tjeng Hong, bahwa pedangnya Loei Tjin Tjoe kena terpukul miring dengan semacam senjata rahasia.
Heran benar hatinya.
Siapakah yang mempunyai tenaga dalam sedemikian tinggi sehingga dapat pukul miring senjatanya Loei Tjin Tjoe?
Baru saja Loei Tjin Tjoe habis membentak, satu suara menyahut.
"Apa matamu buta? Tuanmu berada disini."
Loei Tjin Tjoe menengok dan lihat satu orang berdiri di sebelah kanannya.
Orang itu adalah satu pengemis yang mukanya seperti pantat kuali, rambutnya awut-awutan, hidungnya dongak ke atas, sedang bajunya penuh tambalan.
Tjeng Hong kaget berbareng girang.
"Thiekoay sian datang, tak tahu apa ia kawan atau lawan,"
Kata ia dalam hatinya.
Tapi ia, yang sudah tinggal tunggu kebinasaannya, tidak jadi lebih keder hatinya.
Taruh kata si pengemis datang sebagai musuh, buntutnya toh sama saja.
Adalah Loei Tjin Tjoe yang merasa kaget dan bersangsi.
Dengan terpincang-pincang si pengemis menghampiri.
Biarpun tahu orang genggam niatan kurang baik, tapi dengan andalkan kepandaiannya yang tinggi, Loei Tjin Tjoe tidak jadi keder.
"Siauw Tjeng Hong, boleh juga kau!"
Kata ia sembari tertawa dingin.
"Tak kukira, kau sudah sediakan sahabatmu."
Ia lirik Tjoei In Tjoe, supaya kawannya bersiap untuk bertempur.
"Ha, ha!"
Tertawa si pengemis.
"Hari ini aku bukan mau bantu orang berkelahi, tapi mau menerima gebukan. Eh, bukankah kau niat kirim dua bacokan pada mukanya?"
"Apa?"
Kata Loei Tjin Tjoe.
"Apa kau tidak tega dan mau gulung tangan baju?"
Si pengemis lagi-lagi tertawa.
"Aku pengemis miskin mana punya begitu banyak sahabat?"
Kata ia.
"Cuma saja, aku lihat ini Siauw sinshe mempunyai paras muka yang begitu halus, dan seperti juga kau, dahulu tentunya cakap sekali. Kalau mukanya dibacok, bukankah sayang sekali? Ha! Aku adalah seorang yang sangat tahu diri. Aku tahu romanku jelek dan tak pernah ngimpi akan dicintai oleh wanita cantik. Maka itu, andaikata di atas mukaku tambah dua tapak golok, muka yang sudah jelek tidak akan bertambah banyak lebih jelek. Ha! Biarlah aku talangi dua bacokan itu, hayolah gunakan pedangmu! Eh, Siauw sinshe! Mau apa kau awasi aku? Apa kau tak suka hati pernah digebuk olehku? Kalau tak suka hati, kau boleh lantas turun tangan!"
Siauw Tjeng Hong turunkan hudtim-nya.
"Tak berani,"
Kata ia sembari mundur. Mendengar sepatah-sepatah perkataannya si pengemis mengandung ejekan, Loei Tjin Tjoe lantas saja menjadi gusar.
"Baiklah! Kalau kau sendiri yang minta, lihatlah pedangku!"
Ia membentak, sembari menyabet dengan pedangnya yang menyambar bagaikan kilat.
Si pengemis angkat tongkatnya dan dengan suara "trang", lelatu api muncrat berhamburan, sedang badannya Loei Tjin Tjoe melesat ke udara.
Selagi badannya masih berada di tengah udara, dengan satu gerakan Pengpok kioesiauw (Garuda terbang ke sembilan lapis langit), pedangnya menikam ke bawah.
"Bagus!"
Berteriak si pengemis yang lantas papaki dengan tongkatnya yang menotok ke pusarnya musuh.
Buat tolong dirinya, Loei Tjin Tjoe poksay (jungkir balik) turun dan pedangnya menyambar ke pundaknya si pengemis.
Sembari merengketkan sedikit pundaknya, si pengemis menyampok dengan tongkat, sehingga pedang dan tongkat kebentrok sedikit.
Semua pukulan itu adalah pukulan yang membinasakan dan sudah terjadi dalam tempo yang sangat cepat, sehingga Siauw Tjeng Hong merasa sangat kagum dalam hatinya.
Sesudah lewat beberapa gebrakan lagi, Loei Tjin Tjoe mendadak berseru dengan suara kaget.
"Apakah kau Thiekoay sian?"
"Apa?"
Kata si pengemis.
"Kalau kau tidak berani bacok mukaku, akulah yang akan gebuk bebokongmu tiga kali buat ajar adat!"
Loei Tjin Tjoe gusar sangat.
"Biarpun kau Thiekoay sian, aku tak takut!"
Ia membentak sembari menikam.
Si pengemis loncat sembari menyapu dengan tongkatnya dan mereka kembali bertempur dengan sengit sekali, sehingga Siauw Tjeng Hong yang menyaksikan merasa matanya berkunang-kunang.
Pedang dan tongkat berkelebat-kelebat dan siapa yang meleng sedikit saja, jiwanya tentu akan segera melayang.
Siauw Tjeng Hong cekal keras hudtim-nya, sedang Tjoei In Tjoe pegang gendewanya.
Mata mereka mengawasi jalannya pertempuran sambil siap sedia.
Sesudah lewat kurang lebih setengah jam, di atas kepalanya Loei Tjin Tjoe keluar uap putih, sedang gerakan tongkatnya si pengemis jadi semakin perlahan.
Siauw Tjeng Hong keluarkan napas lega dan berkata dalam hatinya.
"Untung juga Thiekoay sian masih lebih unggul setingkat."
Walaupun gerakannya terlebih lambat, pukulannya si pengemis malahan jadi semakin berat.
Pedangnya Loei Tjin Tjoe sekarang sudah kena didesak dengan sang tongkat.
Berbeda dengan gurunya, Tan Thian Oe tidak pusatkan perhatian kepada gelanggang pertempuran.
Badannya berada disitu, tapi hatinya terus memikiri gadis Tsang itu, yang sekarang sudah tidak kelihatan lagi bayang-bayangannya.
Permukaan Tengri Nor, atau Thian-ouw, luar biasa luasnya.
Thian Oe lihat, di pojokan utara barat dari telaga tersebut, terdapat satu sungai es yang kelihatannya seperti satu Thianho (Milky way), yang terbentang nyungsang.
Sungai es itu dari puncak gunung mengalir ke bawah, laksana satu air tumpah.
Bisa jadi lantaran adanya hawa yang lebih hangat, berbeda dari yang lain, sebagian es di sungai tersebut pada lumer.
Di lapisan sebelah bawah, esnya keras seperti bukit-bukit, tapi di lapisan atas, es itu lumer menjadi kepingan-kepingan besar dan kecil, yang dengan suara ribut mengalir ke sebelah bawah dan terus masuk kedalam telaga.
Itulah sebabnya, kenapa di tengah telaga terdapat banyak kepingankepingan es yang pada ngambang.
Thian Oe dongak mengawasi ke atas.
Di bagian atas dari sungai es, yaitu yang berdekatan dengan puncak gunung, lapat-lapat seperti juga berdiri sebuah keraton, atau sedikitnya satu gedung yang sangat besar.
Cuma saja lantaran jaraknya terlalu jauh, Thian Oe tak dapat melihat tegas dan tak dapat menentukan, apakah yang kelihatan itu ada gedung-gedung atau cuma batubatu belaka.
Mendadak kupingnya dengar suara tindakan dan suara orang bicara.
Di tempat, dari mana gadis Tsang itu keluar, muncul sererotan orang yang sedang mendaki gunung.
Yang paling depan adalah tiga orang yang jalan berbaris.
Dua orang yang di kiri dan kanan adalah mereka yang tadi ditimpuk jatuh oleh gurunya, sedang orang yang berjalan di tengah adalah satu Lhama yang memakai jubah panjang warna merah.
Setiba di pinggir telaga, mereka awasi pertempuran antara si pengemis dan Loei Tjin Tjoe, dan kemudian, tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka lantas jalan menuju ke arah sungai es.
Di belakangnya tiga orang itu, terdapat dua boesoe Nepal yang Thian Oe pernah ketemu dalam rumah penginapan di Shigatse.
Tangannya kedua boesoe memegang hio Tibet, sikapnya menghormat sekali dan tanpa menengok, mereka terus menuju ke arah sungai es, dengan mulut kemak-kemik, seperti juga orang yang sedang berdoa.
Di belakangnya kedua boesoe terdapat lima atau enam orang.
Antara mereka, ada pemuda cakap, ada orang kasar, ada pendeta dan sebagainya.
Waktu tiba disitu, mereka kelihatannya ketarik dengan pertempuran antara si pengemis dan Loei Tjin Tjoe.
Mereka berhenti sebentar.
Ada yang rundingkan jalannya pertempuran, sembari menunjuk-nunjuk, ada juga yang cuma omong-omong antara kawannya.
"Dua manusia ini benar tak tahu diri,"
Demikian Thian Oe dengar seorang berkata.
"Kodok buduk mau makan daging angsa langit! Mereka kelihatannya sudah mendahului kita."
Belum sempat orang itu tutup mulutnya, dengan tongkatnya Thiekoay sian sontek sepotong batu yang lantas menyambar ke arah orang yang barusan bicara.
"Bagus!"
Berseru orang itu sembari menyampok dengan dua tangannya dan batu itu terpental jatuh ke jurang.
Disontek oleh Thiekoay sian yang mempunyai tenaga dalam sedemikian tinggi, batu itu mempunyai tenaga ratusan kati dan menyambar luar biasa cepatnya.
Bahwa orang itu dapat menyampok dengan gampang saja, merupakan bukti bahwa ilmu silatnya tidaklah lemah.
Siauw Tjeng Hong sungguh tak mengerti, kenapa di tempat itu muncul begitu banyak orang pandai dengan berbareng.
Sesudah lihat tindakannya Thiekoay sian, orang-orang itu tidak banyak bicara dan lalu menuju ke arah sungai es.
Thian Oe dengar, sembari jalan mereka itu beromong-omong.
"Bagaimana sih macamnya Pengtjoan Thianlie?"
Kata seorang.
"Namanya begitu bagus, orangnya tentu juga cantik,"
Sahut seorang lain.
"Ah, kalau jelek, aku serahkan saja pada kau,"
Kata seorang lagi.
"Jangan terburu napsu. Pengtjoan Thianlie kita belum pernah lihat. Tapi nona Chena sudah cantik luar biasa,"
Kata yang lain. Demikianlah mereka bicara sembari tertawa-tawa, sampai suaranya tidak kedengaran lagi. Thian Oe kaget sekali.
"Ah kalau begitu mereka maui Pengtjoan Thianlie dan niat rampas juga nona Tsang itu,"
Kata ia dalam hatinya.
Terhadap Pengtjoan Thianlie, Thian Oe cuma sangat kepengen tahu.
Akan tetapi terhadap Chena, ia mempunyai serupa perasaan yang sukar dilukiskan.
Ia lirik gurunya yang ternyata sedang pusatkan seluruh perhatiannya kepada pertempuran.
Siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah, sekarang sudah kelihatan nyata.
Thiekoay sian jadi semakin gagah, tongkatnya menyambar-nyambar seperti ular dan naga, sesuatu sabetan mengeluarkan kesiuran angin yang menderu-deru, sehingga di empat penjuru seperti juga penuh dengan bayangan Thiekoay sian dan tongkat itu berubah menjadi puluhan batang.
Loei Tjin Tjoe sudah terkurung dalam sinar tongkat dan lingkaran sabetan pedangnya semakin lama jadi semakin ciut.
Cuma saja, lantaran ilmu pedangnya memang sudah sampai pada puncak yang tinggi, maka biarpun keteter, tongkatnya Thiekoay sian masih belum dapat tembuskan sinar pedangnya.
Thian Oe tak mempunyai kegembiraan buat menyaksikan jalannya pertempuran.
Matanya ditujukan ke arah tempat sungai es masuk ke dalam telaga.
Mendadak, kupingnya mendengar suara luar biasa, sedang matanya dapat lihat bahwa di aliran atas sungai es itu, terdapat satu titik hitam yang turut mengalir *ke bawah.
Dengan perlahan titik hitam itu menjadi besar dan ternyata adalah sebuah perahu kecil yang di dalamnya berduduk tiga orang.
Mukanya ketiga orang itu belum kelihatan nyata, akan tetapi, kecuali dua boesoe Nepal yang masih berlutut, lain-lain orang keluarkan teriakan girang, sedang semua mata ditujukan kepada sungai es.
"Apa yang datang Pengtjoan Thianlie?"
Tanya Thian Oe dalam hatinya.
Sebagaimana diketahui, aliran air sungai es, yang dari puncak gunung turun ke bawah, deras luar biasa.
Di lapisan atas terdapat banyak kepingan-kepingan es, sedang di lapisan bawah sembunyi bukit-bukit es.
Jika kebentur dengan kepingan es, apalagi bukit es, jangan kata perahu kecil, perahu besar pun akan segera menjadi hancur.
Tapi heran sungguh, perahu kecil itu seperti juga sedang laju di atas sungai biasa yang tenang airnya.
Begitu lekas sang perahu mendekati, kepingan-kepingan es itu lantas minggir sendirinya, seperti juga didorong dengan satu tenaga yang tidak kelihatan!
Biarpun tidak tahu cara bagaimana, Thian Oe mengerti, bahwa hal itu sudah terjadi lantaran di dalam perahu terdapat orang yang kepandaiannya tidak dapat diukur bagaimana tingginya.
Tak lama kemudian, perahu itu sudah datang dekat.
Dalam perahu kecil terdapat tiga wanita.
Di sebelah kiri adalah Chena yang mukanya sekarang tersungging dengan senyuman girang.
Di sebelah kanan berdiri seorang wanita, yang dalam usia pertengahan, romannya masih cantik sekali.
Yang paling luar biasa adalah wanita yang di sama tengah.
Rambutnya awut-awutan dan berdiri seperti jarum, mukanya putih meletak seperti juga bukan muka manusia, kedua tangannya dirangkap di dada dan sepuluh jerijinya seperti juga cakar ayam, dan dengan mata yang mengawasi ke depan, rupanya wanita itu sungguh seperti satu mayat yang baru keluar dari kuburan.
Orang-orang yang melihat semua keluarkan teriakan tertahan, bahna kagetnya.
Tiga orang yang hatinya lebih kecil lantas saja balik badannya dan turun gunung.
"Apa Pengtjoan Thianlie berada di perahu itu?"
Tanya Thian Oe dalam hatinya.
"Kalau ia ada disitu, jika bukan si wanita usia pertengahan, tentulah juga wanita yang seperti mayat."
Mendadak, gurunya keluarkan satu seruan kaget. Thian Oe menengok dan lihat muka gurunya pucat bagaikan mayat, kaki tangannya gemetar, seperti orang yang sakit keras.
"Ah, sungguh tak dinyana, aku bisa bertemu ia di tempat ini!"
Demikian gurunya berkata seorang diri.
"Soehoe, siapa yang kau maksudkan?"
Tanya Thian Oe.
"Gobie Lihiap Tjia In Tjin!"
Sahut sang guru.
"Apa wanita yang di tengah?"
Tanya lagi sang murid.
"Bukan, yang sebelah kanan,"
Sahut Siauw Tjeng Hong.
"Mukanya masih sama saja seperti pada belasan tahun berselang."
Thian Oe terkejut.
"Apakah wanita yang di tengah Pengtjoan Thianlie adanya?"
Tanya ia dalam hatinya. Perahu itu sekarang sudah terpisah cuma belasan tombak saja dan sudah hampir masuk ke dalam telaga. Lhama yang memakai jubah merah mendadak membentak.
"Yang mana Pengtjoan Thianlie?"
Sehabis membentak begitu, badannya melesat ke arah sungai es, kedua kakinya menotol kepingan es yang ngambang dan dengan kecepatan kilat memburu ke arah perahu.
Begitu berhadapan, ia angkat tangannya yang seperti kipas, yang menyambar ke arah Tjia In Tjin.
Rupanya si Lhama menduga, bahwa Tjia In Tjin adalah Pengtjoan Thianlie.
Dengan pukulan Lengshan tjiang (Pukulan gunung Lengshan), tangannya si Lhama menyambar, sehingga Siauw Tjeng Hong keluarkan satu teriakan kaget.
Tjia In Tjin tertawa tawar, tapi sebelum ia dapat bergerak, wanita yang di tengah sudah pentil sekeping es ke arah uluhatinya Lhama itu.
Dengan satu teriakan menyayatkan hati, ia terguling dan badannya tersapu air yang mengalir ke bawah deras luar biasa.
Mungkin sekali badannya kebentur bukit es, sebab warna air lantas berobah merah!
Bukan main terkejutnya Siauw Tjeng Hong.
Harus diketahui, bahwa orang yang belajarkan ilmu pukulan Lengshan tjiang, tentu mesti mempunyai juga ilmu Kimtjiongto dan Tiatposan (dua macam ilmu weduk), dan badannya dapat melawan tekanan ribuan kati.
Ditimpuk dengan senjata rahasia, paling banyak kulitnya merasa sedikit gatal-gatal.
Tapi, siapa nyana, dengan kepingan es yang begitu kecil, ia roboh dan melayang jiwanya!
Orang-orang yang berkumpul di pinggir telaga, dapat dibagi menjadi tiga rombongan.
Satu rombongan adalah itu kedua boesoe Nepal yang masih terus berlutut sembari tundukkan kepalanya.
Lain rombongan adalah si Lhama yang sudah binasa dan dua orang Tibet yang ubarubar Chena.
Mereka itu adalah orang-orangnya Touwsoe di Sakya yang diperintah buat bekuk gadis tersebut.
Rombongan ketiga yaitu orang-orang, yang lantaran dengar nama wanginya Pengtjoan Thianlie sudah datang buat coba-coba meminang dengan niatan merampas juga Chena yang cantik.
Melihat liehaynya wanita dalam perahu itu, orang-orang rombongan kedua dan ketiga jadi ketakutan bukan main.
Ada yang ketakutan sampai kaki tangannya lemas, ada yang lantas balik badannya buat kabur dan ada juga, yang lebih besar nyalinya, ingin menjajal-jajal dengan jalan mengerubuti.
Sementara itu, jerijinya Chena kelihatan menuding dua kali.
"Yang mau menangkap aku adalah dua orang itu,"
Kata ia.
Wanita yang mukanya seperti mayat, lantas pungut kepingan es yang dipentil dengan jerijinya.
Dua orang Tibet itu, yang baru tiga kali melangkah dalam percobaan kabur, kena kesambar jitu dan lantas terguling sembari muntahkan darah hidup!
"Orang-orang itu semuanya bukan orang baik-baik,"
Berkata Tjia In Tjin.
Wanita itu kembali ayun tangan kanan dan tangan kirinya dan kepingan-kepingan es menyambar bagaikan kilat.
Dalam tempo sekejapan, kecuali kedua boesoe Nepal, semua orang sudah kena dihantam kepingan es.
Dua antaranya yang mempunyai kepandaian lebih tinggi, masih dapat kabur dengan menderita luka berat.
Yang lainnya semua roboh binasa!
Kejadian itu ada begitu mengejutkan, sehingga bukan saja Siauw Tjeng Hong dan Tan Thian Oe mengawasi dengan mulut ternganga, tapi Thiekoay sian dan Loei Tjin Tjoe pun jadi lebih lambat serang menyerangnya.
Ketiga wanita itu lantas mendarat dan naik dari gili-gili dengan tindakan perlahan.
Saat itu, kedua matanya Siauw Tjeng Hong kebentrok dengan matanya Tjia In Tjin, yang mengawasi dengan paras muka seperti tertawa, tapi bukannya tertawa.
Pada saat itu, perasaan mencinta dan membenci mengaduk jadi satu.
Hatinya Tjeng Hong niat memanggil, tapi mulutnya seperti terkancing.
Tjia In Tjin cuma manggut-manggutkan sedikit kepalanya dan bersama dua kawannya terus menghampiri gelanggang pertempuran.
Semakin dekat, mukanya wanita itu jadi semakin hebat.
In Tjin berkata sembari tertawa.
"Hei kawan hidup! Pengtjoan Thianlie sudah datang. Apa kau enak hati masih terus hinakan anak cucunya? Lekas simpan tongkat pemukul anjing itu!"
Mendengar perkataan itu, hatinya Tjeng Hong mencelos.
Ia sama sekali tidak mengimpi, bahwa wanita yang begitu cantik seperti Tjia In Tjin sudah mau menjadi isterinya Thiekoay sian yang begitu jelek rupanya.
Thian Oe juga tidak kurang kagetnya.
Sekarang dapat dipastikan, bahwa Pengtjoan Thianlie adalah itu wanita yang mukanya seperti mayat.
Mendadak gadis Tsang itu berkata sembari tertawa.
"Thianlie tjietjie, anak muda itu adalah orang baik. Tjietjie, jangan bikin takut padanya."
Tiba-tiba Pengtjoan Thianlie usap kepalanya dan rambutnya yang seperti rumput jatuh ke bawah.
Rambut itu adalah rambut palsu.
Ia buka jubah luarnya dan usap kedua tangannya.
Sekarang kelihatan, bahwa jeriji-jeriji yang seperti cakar ayam adalah jeriji palsu dari sarung tangan.
Paling belakang ia usap mukanya dan locoti satu kedok.
Pada saat itu, Tan Thian Oe jadi kesima!
Disitu ia berdiri, cantik dan agung laksana satu dewi atau bidadari.
Badannya yang langsing ditutup dengan baju warna biru telaga, mukanya bundar laksana rembulan tanggal lima belas, kedua alisnya panjang dan lentik, biji matanya yang bersinar terang berwarna agak kebiru-biruan, mulutnya kecil seperti buah engtoh yang masak, yang agaknya selalu tersungging senyuman, rambutnya yang hitam jengat dikepang jadi dua cacing yang pada ujungnya diikat dengan sutera merah, kulitnya halus ibarat batu kemala yang bersinar terang lantaran kena sorotnya salju dan sebagai pelengkap dari itu semua, gerakannya ayu dan halus!
Tan Thian Oe sering bayangkan kecantikannya Pengtjoan Thianlie, tapi apa yang sekarang ia saksikan adalah melebihi dari segala lamunannya.
Pengtjoan Thianlie menyapu dengan matanya dan berkata.
"Tolong berhenti bertempur!"
Suaranya halus, tapi sangat berpengaruh.
Thiekoay sian tarik pulang tongkatnya dan loncat berdiri di dampingnya Tjia In Tjin.
Loei Tjin Tjoe juga lintangkan pedangnya di depan dada dengan paras muka yang heran sekali.
Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya dan berkata.
"Loei Tjin Tjoe, lepaskan pedangmu. Berlutut tiga kali di hadapan Siauw sinshe dan lantas turun gunung!"
Ia ucapkan perkataannya dengan lagu suara seperti seorang tingkatan lebih tua kepada orang dari tingkatan lebih muda. Loei Tjin Tjoe terkesiap. Lantaran terlalu gusar, ia jadi tertawa besar.
"Siapa kau?"
Ia tanya.
"Dengan andalkan apakah, kau berani perintah aku berlutut di hadapannya?"
Loei Tjin Tjoe adalah jago terutama dari tingkatan kedua partai Boetong pay.
Di sebelahnya itu, usianya sudah empat puluh tahun lebih, sedang Pengtjoan Thianlie baru kirarkira berusia dua puluh tahun.
Juga harus diingat, bahwa sudah banyak tahun ia mendapat nama besar di kalangan Kangouw, sehingga adatnya jadi sombong sekali.
Maka itulah dapat dimengerti, perutnya seperti mau meledak waktu dengar perkataannya nona yang cantik itu..
"Apa bunyinya larangan kedua belas dari Boetong pay?"
Tanya Pengtjoan Thianlie. Bunyinya larangan ke 12 adalah.
"Harus dapat membedakan yang mana benar, yang mana salah. Dalam segala urusan, harus tanya diri sendiri, apakah ada berbuat kesalahan atau tidak. Dilarang, dengan andalkan kekuatan, menghina orang."
Loei Tjin Tjoe terkejut. Ia merasa heran, kenapa wanita itu yang tinggal di atas Puncak Es, bisa mengetahui larangan-larangan dari partainya.
"Urusanmu aku sudah tahu semuanya,"
Berkata lagi Pengtjoan Thianlie.
"Asal mulanya adalah salahmu sendiri. Tapi lantaran ingat walaupun hatimu kurang baik, tapi kau bukannya melakukan kedosaan besar, dan juga sebab dalam urusan itu terselip tangannya orang jahat, maka aku ampuni kau dari hukuman mati. Hayo lekas haturkan maaf kepada Siauw sinshe!"
Matanya Loei Tjin Tjoe yang tinggal satu, mendelik.
"Biarpun andaikata kau ini adalah tjianpwee dari Boetong pay, kau masih tidak dapat campur urusanku,"
Kata ia dengan suara keras.
"Perlu apa aku ladeni omongan segala perempuan yang masih ada pupuknya!"
Paras mukanya Pengtjoan Thianlie berubah.
"Murid siapa kau? Berani buka suara begitu besar!"
Kata ia. Loei Tjin Tjoe lintangkan pedangnya sembari mengawasi dengan sorot mata gusar dan tidak sahuti pertanyaannya Pengtjoan Thianlie. Lantaran begitu, Thiekoay sian lantas talangi.
"Dia adalah muridnya tjiangboen (pemimpin) Boetong pay, Hian In Toodjin."
Hian In adalah soetit-nya (keponakan murid) Moh Tjoan Seng.
Biarpun memegang tampuk pimpinan, tapi lantaran suka sekali berkelana, ia jadi tidak banyak mengurus urusan partai, dan dari sebab begitu, semakin lama Loei Tjin Tjoe jadi semakin besar kepala.
"Apa yah?"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
"Aku dengar peraturan Boetong pay dijaga dengan keras sekali, sedang perbedaan antara tingkatan tua dan muda sangat diindahkan. Apakah sekarang keadaan sudah berobah? Kalau begitu, orang-orang tua dari partaimu sudah tak dapat mengurus kau, akulah yang mau talangi mereka mengurus kau!"
Loei Tjin Tjoe tidak dapat menahan sabar lagi. Ia -kebas pedangnya dan loncat maju.
"Baiklah! Cobalah! Aku Loei Tjin Tjoe bersedia buat terima pengajaranmu!"
Ia berteriak.
"Oh, kalau begitu kau mau adu pedang denganku?"
Tanya Pengtjoan Thianlie sembari tertawa. Ketika itu kedua tangannya kosong, sedang ia pun tidak membawa senjata. Selagi Tjia In Tjin mau serahkan pedangnya, Pengtjoan Thianlie berkata.
"Tak usah!"
Ia lantas jalan menuju ke pinggir telaga dan jumput sepotong es, yang berbentuk toya.
Dengan menabas beberapa kali sama tangannya, potongan es jadi merupakan sebatang pedang.
Sembari mesem Thianlie sabetkan pedang es itu.
"Loei Tjin Tjoe,"
Kata ia.
"Jika kau dapat melayani aku dalam sepuluh jurus, aku akan biarkan kau berbuat sesuka hati terhadap Siauw sinshe."
Waktu itu adalah kira-kira tengah hari dan sang matahari pancarkan sinarnya yang hangat dan gilang gemilang.
Sedang kepingan-kepingan es yang ngambang di atas sungai es sudah mulai lumer, apalagi es yang tercekal dalam tangan, yang menerima hawa hangat dari badan manusia.
Mendengar perkataannya Thianlie, Siauw Tjeng Hong jadi terkejut.
"Taruh kata Loei Tjin Tjoe tak dapat putuskan pedang es itu, dalam tempo cepat es itu toh akan menjadi lumer. Bukankah dengan demikian Pengtjoan Thianlie bikin jiwaku jadi seperti lelucon?"
Loei Tjin Tjoe lantas saja tertawa besar.
"Baiklah,"
Kata ia.
"Inilah ada perjanjian yang dikatakan olehmu sendiri. Dan di pihakku, jika dalam sepuluh jurus aku tak dapat putuskan pedang es itu, aku akan berlutut di hadapanmu!"
"Kemauanku adalah kau mesti berlutut di hadapan Siauw sinshe,"
Kata Thianlie.
"Sudah, jangan banyak bacot. Aku turut segala perkataanmu. Sambutlah!"
Pedangnya lantas berkelebat dan coba tabas pedang es itu.
"Jurus pertama!"
Thiekoay sian menghitung dengan suara keras.
Sabetan pertama cepat bukan main, ditambah dengan tenaga dalam yang sudah dilatih oleh Loei Tjin Tjoe puluhan tahun lamanya.
Jangan kata es, biarpun senjata logam akan putus kena sabetannya itu.
"Bagus!"
Kata Thianlie sembari mesem dan pedang es berkelebat meluncur ke arah jalanan darah Hiankie hiat di bagian dada.
Serangan itu dilakukan dari suatu kedudukan (posisi) yang tak dapat diduga, sedang Hiankie hiat adalah jalanan darah yang kalau ketotol dapat membinasakan orang.
Loei Tjin Tjoe terkesiap.
Dengan Seantero kemampuannya ia membungkuk buat tarik pulang tenaganya yang sudah dikeluarkan, dan dengan lintangkan pedangnya serta menggunakan banyak tenaga, barulah ia dapat punahkan serangan yang sangat berbahaya itu.
Sembari mesem, Pengtjoan Thianlie tarik pulang pedang esnya dan gebrakan pertama sudah selesai.
Sesudah bikin rapi lagi kedudukannya, Loei Tjin Tjoe mendadak lakukan tiga serangan beruntun.
Itulah serangan dari ilmu pedang Lianhoan Tokbeng Kiamhoat (Ilmu pedang berantai membetot jiwa), yang sangat hebat dan sukar dijaga.
"Ilmu pedangmu masih jauh dari sempurna,"
Kata Thianlie sembari tertawa.
Badannya bergerak dan dalam sekejap sudah membalas dengan tiga serangan pula.
Setiap serangan berbeda satu dengan lainnya dan perubahan itu dibikin selagi sang pedang es tengah menyambar.
Sedang serangan Loei Tjin Tjoe dengan mudah dapat dipunahkan, serangannya Thianlie sudah membikin matanya Tjin Tjoe menjadi kabur, sehingga ia terpaksa main mundur dan main kelit.
Sementara itu, Thiekoay sian sudah menghitung empat kali.
Loei Tjin Tjoe terkesiap sebab ternyata ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie adalah ilmu pedang Tatmo Kiamhoat dari Boetong pay!
Tatmo Kiamhoat yang tulen telah menjadi hilang pada jaman Kerajaan Goan, dan baru pada permulaan Kaisar Konghie (Tjeng), barulah Sin Liong Tjoe dapat cari lagi itu ilmu pedang yang sejati, yang belakangan diwariskan kepada Koei Tiong Beng.
Lantaran begitu, Koei Tiong Beng menjadi leluhur dari Boetong pay cabang Utara.
Tapi oleh karena Tatmo Kiamhoat luar biasa sukarnya dan di sebelahnya itu, pulangnya lagi ilmu pedang tersebut belum berapa lama, maka selama beberapa puluh tahun, jumlahnya orang yang benarbenar sudah dapat mewarisi tidaklah lebih dari beberapa orang saja.
Loei Tjin Tjoe adalah murid dari Boetong pay cabang Selatan.
Walaupun ilmu pedang Boetong Selatan dan Boetong Utara belakangan berendeng bersama-sama, akan tetapi, pengetahuan orang-orang cabang Selatan terhadap Tatmo Kiamhoat ada lebih rendah daripada orang-orang cabang Utara.
Loei Tjin Tjoe sendiri tentu saja pernah belajarkan Tatmo Kiamhoat, tapi belum sampai pada puncak yang tinggi.
Ketika lihat ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie malahan lebih tinggi dari gurunya sendiri, dapat dimengerti kalau Loei Tjin Tjoe jadi kaget bukan main.
"Apakah tidak bisa jadi, perempuan ini benar-benar orang tingkatan atas dari -Boetong pay?"
Tanya ia dalam hatinya.
Mendadakan saja, ia ingat satu hal dan hatinya jadi lebih bingung lagi.
Tapi, selagi ia mau buka mulut buat menanya, ia lihat Thiekoay sian mengawasi padanya dengan meseman mengejek, sehingga hatinya jadi panas sekali.
"Baiklah! Biar aku buang-buangan jiwaku sekali ini,"
Demikian ia kata dalam hatinya.
Ketika itu Thianlie berdiri dengan sikap tenang, ujung pedangnya menuding dirinya, tapi tidak mau bergerak lebih dahulu.
Inilah ada sikapnya orang dari tingkatan lebih tua jika menghadapi orang tingkatan muda.
Dengan adanya kelambatan begitu, pedang es yang dicekal oleh Thianlie sudah lumer sebagian dan air es tak hentinya mengetel-ngetel.
Pedang es itu sudah jadi lebih tipis dan lebih kecil.
Tiba-tiba saja Loei Tjin Tjoe ingat suatu cara yang sangat beracun.
"Baiklah!"
Kata ia dalam hatinya.
"Bagus sekali jika kau tidak mau menyerang. Aku pun tidak mau buka serangan. Asal pedang esmu lumer, tanpa bertempur aku sudah dapat kemenangan!"
Sebelum bertempur, mereka sudah janji bahwa pertempuran dilakukan dengan menggunakan pedang.
Maka itu, jika pedang esnya Thianlie lumer sampai habis dan belum bisa dapat kemenangan, Loei Tjin Tjoe tidak bisa disalahkan menarik keuntungan dengan akal bulus.
"Hei! Loei Tjin Tjoe. Kau kenapa?"
Tanya Thiekoay sian dengan paras muka gusar.
Yang ditanya tidak meladeni.
Ia cekal pedangnya dan mengawasi Thianlie dengan mata tajam.
Tapi Pengtjoan Thianlie tidak menjadi gusar.
Sebaliknya, ia kembali mesem.
"Dengan adanya niatanmu yang kurang baik, baiklah aku wakilkan Hian In Tootiang memberi pelajaran kepadamu,"
Kata ia.
Sehabis berkata begitu, kedua jerijinya mementil dan air es menyambar ke arah Tjin Tjoe.
Mendadakan saja ia rasakan kedua matanya kabur, beberapa ketel air es mengenakan tepat pada mukanya dan sakitnya menembus ke tulang-tulang.
Dalam keadaan yang kabur itu, Pengtjoan Thianliee mendadak kirim satu serangan aneh.
Sebagaimana biasanya orang yang pandai silat, reaksi badan dan tangannya semua terjadi tanpa merasa.
Begitu ada gerakan musuh, gerakan membela diri muncul secara otomatis.
Demikianlah, begitu lihat Thianlie bergerak, tangannya Loei Tjin Tjoe yang mencekal pedang juga lantas bergerak buat mendahului menyerang.
Tapi baru saja pedangnya menyambar sampai di tengah jalan, ia ingat bahwa dengan berbuat begitu, ia jadi masuk dalam perangkap.
Ia niat tarik pulang pedangnya, tapi sudah tidak keburu.
Hampir pada detik yang bersamaan, ia rasakan tenggorokannya dingin.
Pedang esnya Pengtjoan Thianlie ternyata sudah menempel pada tenggorokannya!
Tenggorokan adalah bagian tubuh manusia yang lemah dan jika Thianlie sedikit saja menggunakan tenaganya, jiwanya Loei Tjin Tjoe akan segera melayang!
Thianlie tertawa sembari berkata.
"Sebenarnya aku mau lihat kepandaianmu dalam sepuluh jurus, buat mendapat tahu sampai bagaimana jauh majunya pelajaranmu. Tapi lantaran hatimu kurang bersih, aku kurangkan separuh dan cuma jajal kau dalam lima jurus? Apa di hari kemudian kau masih berani kurang ajar terhadap orang yang lebih tinggi tingkatannya? Apa kau masih berani hinakan orang dengan andalkan kegagahanmu?"
"Kau, apakah kau puterinya Koei Soesioktjouw?"
Tanya Loei Tjin Tjoe dengan suara gemetar.
"Kau menebak jitu,"
Sahut Thianlie.
"Koei Soesioktjouw"
Yang disebutkan oleh Loei Tjin Tjoe adalah Koei Hoa Seng.
Di antara tiga saudara dalam keluarga Koei, Koei Hoa Seng yang paling muda usianya, tapi yang paling tinggi kepandaiannya dalam ilmu pedang.
Loei Tjin Tjoe pernah dengar penuturannya orang tua-tua, bahwa Koei Hoa Seng telah meninggalkan daerah Tionggoan dengan hati penuh kegusaran.
Dan sungguh tidak terduga, puterinya Koei Hoa Seng bisa berada di Thian-ouw.
Loei Tjin Tjoe keluarkan helahan napas dan lemparkan pedangnya.
Sesudah itu, ia hampiri Pengtjoan Thianlie dan berlutut tiga kali.
Pedang es sudah lumer dan cuma ketinggalan satu kepingan kecil saja.
Sembari tertawa Thianlie gosok kedua telapakan tangannya dan es yang ketinggalan lantas lumer menjadi air.
Mendadak mukanya berubah dan membentak.
"Kau belum mau jalankan kehormatan kepada Siauw sinshe?"
Mukanya Loei Tjin Tjoe pucat seperti kertas.
Tanpa berkata suatu apa, ia lari menghampiri Siauw Tjeng Hong dan berlutut tiga kali.
Mendadak ia membungkuk, jumput pedang yang menggeletak di atas tanah dan gorok lehernya sendiri.
Harus diingat, bahwa nasibnya Loei Tjin Tjoe ada buruk sekali.
Ia bukan saja gagal dalam percintaan, tapi malahan juga kena dirusak mukanya oleh wanita yang ia pernah cintakan.
Maka itu, perasaan cinta berobah jadi satu dendaman hebat.
Di sebelahnya membenci Gobie Liehiap Tjia In Tjin, kegusarannya ditujukan terhadap Siauw Tjeng Hong.
Sesudah menaruh dendam belasan tahun, ia sekarang dapat ketemukan musuhnya, tapi siapa nyana, selagi mau bikin pembalasan, ia bertemu dengan Pengtjoan Thianlie dan mengalami lagi penghinaan yang begitu besar.
Maka tidaklah heran, dalam putus harapan dan kegusaran, ia jadi nekat dan mengambil putusan pendek.
Siauw Tjeng Hong keluarkan teriakan tertahan.
Ia tak keburu menolong, sebab gerakannya Loei Tjin Tjoe terlalu cepat.
Mendadak dengan satu suara "trang"
Dan muncratnya kepingan es, pedangnya Loei Tjin Tjoe jatuh di atas tanah. Orang yang menolong bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie yang telah menimpuk dengan sekeping es.
"Manusia tak punya nyali!"
Berkata si nona.
"Kalau kepandaian kurang, apa tak bisa dipelajari lagi?"
Mendengar perkataan itu, matanya Loei Tjin Tjoe berkunang-kunang dan dadanya dirasakan seperti mau meledak.
"Benar,"
Kata ia dalam hatinya.
"Kalau aku bunuh diri, ia akan kira aku benar-benar tidak mempunyai nyali."
Sementara itu, Pengtjoan Thianlie berkata pula.
"Kalau kau harus mendapat hukuman mati lantaran dosamu, siang-siang aku sudah jatuhkan hukuman mati. Tidak perlu kau sendiri yang turun tangan, Segala kejadian pada tahun itu sudah dituturkan oleh Thiekoay sian suami isteri kepadaku. Dalam urusan itu, hatimu memang mengandung niatan yang kurang baik, tapi kau sendiri tidak mengetahui, bahwa dalam urusan itu, kau sudah dipermainkan oleh seorang jahat. Sungguh kau harus dikasihani dan ditertawai dengan berbareng. Apa kau tahu bagaimana maksud hatinya Ong Lioe Tjoe? Kalau kau ingin tahu, pada Tiongtjhioe (pertengahan musim rontok, atau Bulan Delapan tanggal 15) tahun ini, kau boleh pergi ke Chaklun buat mencari tahu."
Loei Tjin Tjoe terperanjat mendengar omongan itu.
"Ong Lioe Tjoe sudah binasa, cara bagaimana orang masih bisa dapat mengetahui isi hatinya,"
Pikir ia.
"Cara bagaimana, dengan pergi ke Chaklun, aku bisa mendapat tahu isi hatinya Ong Lioe Tjoe yang sekarang sudah tidak ada lagi dalam dunia?"
Dengan timbulnya perasaan heran, ia tidak ingat lagi soal membunuh diri.
Sesudah pungut pedangnya, bersama Tjoei In Tjoe, ia segera turun gunung sembari tundukkan kepala.
Ketika itu Siauw Tjeng Hong seperti juga berada dalam mengimpi.
Ia lihat Tjia In Tjin dan Thiekoay sian bicara dengan suara perlahan sembari tertawa-tawa, dengan tingkah laku yang hangat sekali.
Menyaksikan itu, hatinya seperti diremas-remas.
"Suatu orang mempunyai nasib sendiri-sendiri dan segala apa tidak dapat dipaksa,"
Pikir Tjeng Hong.
"Walaupun Thiekoay sian beroman buruk, akan tetapi ia adalah murid yang mewarisi kepandaiannya Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie sehingga dengan jadi pasangannya Tjia In Tjin, ia tidaklah membikin turun derajatnya Gobie Liehiap."
Mengingat bahwa bekas kecintaannya sekarang sudah mendapat pasangan yang setimpal, hatinya Siauw Tjeng Hong jadi tenang.
Mendadak ia lihat Thiekoay sian menghampiri dengan terpincang-pincang dan memberi hormat sesudah berhadapan.
Siauw Tjeng Hong buru-buru balas hormatnya, sambil ucapkan perkataan-perkataan merendah.
"Siauw loote,"
Katanya sembari tertawa.
"Apakah kau tahu kenapa aku sudah gebuk kau dan sekarang memberi hormat padamu?"
Siauw Tjeng Hong gaga-gugu dan tak tahu harus menjawab bagaimana. Thiekoay sian tertawa lagi dan berkata.
"Aku tahu, bahwa aku adalah seorang yang berparas buruk sekali. Maka itu, maka itu..."
Sebelum ia dapat teruskan omongannya, Tjia In Tjin sudah membentak.
"Setan tak kenal malu! Apa kau mau ditertawakan orang? Tutup mulutmu!"
Sang isteri membentak begitu, sebab mengetahui, kalau si suami bicara terus, ia bakal jadi jengah sekali.
Thiekoay sian tahu parasnya jelek sekali.
Apa mau, ia dapat isteri yang sangat cantik.
Sebagai seorang yang mempunyai adat aneh, dalam hatinya timbul rasa cemburu yang aneh pula.
Hatinya belum merasa puas kalau belum hantam siapa juga yang pernah jatuh hati pada isterinya itu.
Siauw Tjeng Hong mana tahu adatnya Thiekoay sian yang luar biasa itu.
Dengan omongannya diputuskan oleh sang isteri, Thiekoay sian tertawa meringis.
"Baiklah,"
Kata ia.
"Aku tak omong lagi sebabnya kenapa aku memukul kau. Sekarang aku mau bicara tentang kenapa aku jalankan kehormatan padamu. Hei, Siauw Tjeng Hong, berapa usiamu sekarang?"
Siauw Tjeng Hong kembali terkejut.
"Buat apa dia tanya begitu?"
Pikirnya.
"Siauwtee sekarang baru berusia empat puluh lebih sedikit,"
Ia jawab.
"Kalau begitu, kau banyak lebih muda dari aku,"
Kata Thiekoay sian.
"Sungguh kasihan, rupamu sudah kelihatan begitu tua, dan rambutmu sudah putih semua. Aku dengar, pada belasan tahun berselang, kau masih jadi pemuda yang cakap sekali."
Mukanya Siauw Tjeng Hong yang putih mendadakan saja bersemu merah.
"Itu semua lantaran gara-gara isterimu,"
Kata ia dalam hatinya.
"Siauw loote,"
Kata lagi Thiekoay sian.
"Aku tahu adanya perasaan kecewa dalam hatimu. Maka itu, isteriku minta aku wakilkan ia menjalankan kehormatan di hadapanmu buat meminta maaf. Ia kata, hatinya merasa sangat tidak enak lantaran sudah menyeret kau kedalam gelombang. Dari sebab begitu, di sebelahnya meminta maaf, isteriku ingin persembahkan serupa barang kepada kau."
Sehabis berkata begitu, ia rogoh sakunya, keluarkan satu kotak batu kemala yang lantas diserahkan kepada Siauw Tjeng Hong.
"Bukalah!"
Kata ia. Siauw Tjeng Hong buka dan kotak itu berisi sekuntum bunga warna merah darah yang sebesar mangkok. Heran sekali hatinya Siauw Tjeng Hong yang tak tahu harganya hadiah itu.
"Itu adalah kembang dewa Yoetam Sianhoa,"
Menerangkan Thiekoay sian.
"Orang yang makan kembang itu, rambut putih bisa berobah jadi hitam, sedang parasnya yang tua dapat berobah menjadi muda lagi. Aku si jelek tak gunanya makan bunga itu, maka aku rela mempersembahkan kepada kau."
Waktu masih muda, Tjia In Tjin digelarkan Tokbeng Siantjoe (Dewi tukang betot jiwa orang).
Hatinya kejam dan tangannya telengas.
Pada belasan tahun berselang, tanpa pikir-pikir lagi ia turunkan tangannya secara ganas, dan sebagai akibatnya, Siauw Tjeng Hong yang kena getahnya.
Tapi sesudah menikah, adatnya jadi berubah.
Saban-saban ingat Siauw Tjeng Hong, hatinya merasa menyesal sekali.
Satu ketika, bersama suaminya, ia berkelana di daerah Utara barat.
Waktu pesiar di pegunungan Thiansan, ia telah dapatkan kembang itu dan lantas saja ia mengambil putusan buat menghadiahkan kepada Tjeng Hong buat menebus dosa.
"Ah, kalau begitu kembang ini Yoetam Sianhoa?"
Kata Tjeng Hong dengan perasaan terkejut tercampur girang.
Ia jadi ingat penuturannya orang-orang tua, bahwa buat satu kali mekar, kembang itu harus melalui tempo 60 tahun.
Pada seratus tahun lebih yang lalu, leluhur Boetong pay Toh It Hang ingin petik kembang itu buat dipersembahkan kepada Pekhoat Molie, tapi sesudah menunggu seluruh penghidupannya, kembang itu belum mekar juga.
Belakangan Thiansan Liehiap Ie Lan Tjoe telah dapatkan dan makan kembang tersebut, sehingga sampai mati rambutnya masih tetap tidak berobah putih.
Sekarang bukan saja ia dapat lihat benda yang langka itu, tapi juga bisa punyakan sebagai hadiah dari Thiekoay sian.
Siauw Tjeng Hong mengawasi kembang itu dengan mata mendelong.
Ia tak berani menerima.
Tjia In Tjin menghampiri dengan perlahan dan berkata sesudah berhadapan.
"Tjeng Hong! Kau makanlah. Pada lima tahun berselang, di Soetjoan barat aku telah bertemu piauwmoay-mu (saudara misan perempuan) Gouw Tjiang Sian, yang tanyakan keselamatanmu. Ibumu juga sekarang masih kuat dan sehat. Apakah kau tidak niat pulang buat tengok mereka?"
Hatinya Tjeng Hong lantas saja tergerak. Secara mendadakan saja, ia jadi ingat kepada orang tua, famili, sahabat dan kampung kelahirannya.
"Sekarang sedang permusuhan sudah menjadi beres, memang seharusnya aku pulang,"
Kata ia dalam hatinya.
"Lantaran gara-gara dia, aku telah menderita begitu hebat, maka adalah sepantasnya saja, jika aku menerima hadiahnya itu."
Memikir begitu, ia lantas ambil kembang.-tersebut dan berkata sambil dongakkan kepala dan menghela napas.
"Terombang-ambing di dunia Kangouw puluhan tahun lamanya. Bermula ketemu, rambut belum putih, usia masih muda."
"Maka sekarang lebih baik pulang, buat cari kawan memain waktu masih kecil,"
In Tjin sambungi.
"Benar, benar!"
Kata Tjeng Hong sembari tertawa berkakakan.
"Perkataanmu benar sekali! Oedjie, gurumu sekarang mau berpisahan denganmu!"
Selama setengah harian itu, Thian Oe telah saksikan banyak sekali kejadian mengherankan, sehingga ia seperti juga sedang mengimpi.
Sekarang mendadak ia dengar gurunya mau pulang ke kampung kelahirannya, maka ia jadi sangat kaget dan buat beberapa saat, tidak dapat mengucapkan sepatah kata.
Siauw Tjeng Hong juga merasa berat buat berpisahkan dengan murid yang baik itu.
"Muridmu itu sangat baik hatinya dan aku sangat penuju padanya,"
Kata Thiekoay sian sembari tertawa.
"Aku si pengemis, kalau lihat barang baik, memang lantas mau meminta, Siauw Loote, serahkan saja muridmu kepadaku."
"Sungguh mujur jika kau sudi menerima Oe-djie sebagai murid,"
Kata Tjeng Hong dengan girang sekali.
"Oe-djie, lekas berlutut!"
"Soehoe,"
Kata Thian Oe dengan suara sedih.
"Apakah benar kau mau pulang?"
"Kalau tidak pulang, aku mau bikin apa disini?"
Jawab sang guru.
"Aku pun merasa sangat berat harus berpisahan dengan kau, tapi oleh karena orang tuamu berada di daerah ini, aku tentu tak dapat ajak kau pergi bersama-sama."
"Ha, bocah,"
Kata Thiekoay sian.
"Apa kau tidak.suka angkat pengemis busuk sebagai gurumu?"
Thian Oe buru-buru membantah pernyataan itu dan segera berlutut di hadapan Thiekoay sian.
"Aku tidak begitu sabar sebagai gurumu,"
Kata si pengemis sembari tertawa terbahak-bahak.
"Sebagai muridku, kau mesti mengemis nasi dan uang, dan kalau tidak dengar kata, aku akan hantam pantatmu dengan tongkat ini."
"Jangan bikin takut anak baik ini,"
Kata Tjia In Tjin.
"Aku bicara terus terang, kalau kau sengaja cari, biar kau jalan sampai pecah sepatu besi, tak nanti kau dapat ketemukan murid yang begini baik."
Sembari tahan air matanya, Siauw Tjeng Hong awasi sang murid dan kemudian bekas kecintaannya.
"Nah, sekarang aku berangkat saja,"
Kata ia dengan suara sedih.
"Oe-djie, kau harus dengar segala perintah gurumu. Kalau ada jodoh, di belakang hari .kita akan bertemu pula."
Tidak lama sesudah pulang ke kampung kelahirannya, Siauw Tjeng Hong telah dapat pasangan yang setimpal sekali dan berkat latihannya yang terus menerus, di kemudian hari, ia jadi seorang yang ilmu silatnya paling tinggi dalam Tjengshia pay.
Sesudah Siauw Tjeng Hong berangkat, sembari tertawa Thiekoay sian berkata.
"Mau pergi, pergi saja, buat apa begitu rewel-rewel."
"Kau lihat, ada orang yang lebih rewel lagi,"
Berbisik isterinya.
Thiekoay sian menoleh dan lihat kedua boesoe Nepal, yang tadi berlutut di pinggir telaga, sekarang sedang bicara sama Pengtjoan Thianlie dengan suara perlahan.
Pengtjoan Thianlie sendiri sedang dongakkan kepalanya, sikapnya tawar dan seperti acuh tak acuh.
Tapi kedua boesoe terus bicara sembari pentang-pentang tangan, seperti orang yang sedang memohonmohon, dengan paras muka yang bingung sekali.
Thiekoay sian tidak mengerti bahasa Nepal, sehingga biarpun pasang kuping, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Thian Oe sudah berdiam tujuh delapan tahun di Tibet, yang sering dikunjungi oleh pedagang Nepal, sehingga sedikit-sedikit ia mengenal juga bahasa itu.
Ia pun turut pasang kuping dan dapat tangkap beberapa perkataan, seperti "guci emas".
"ayahanda raja"
Dan sebagainya, tapi tidak dapat hubungkan perkataan-perkataan itu sampai dapat dimengerti apa maksudnya.
Mendadak ia ingat perebutan guci porselen di Shigatse antara Bek Tayhiap, Thiekoay sian dan yang lain-lain.
"Apakah urusan yang sedang dibicarakan oleh kedua boesoe mempunyai hubungan dengan guci porselen itu?"
Ia tanya dalam hatinya.
"Tapi guci itu adalah porselen, dan bukannya emas. Apa artinya itu perkataan ayahanda raja?"
Sedang Thian Oe diliputi perasaan heran, Pengtjoan Thianlie, yang rupanya sudah tidak sabaran, membentak dalam bahasa Nepal.
"Kecuali Puncak Es roboh, aku tak nanti turun dari gunung ini."
Bentakan itu dikeluarkan dengan keras, sehingga Thian Oe dapat dengar nyata sekali.
"Pergi! Pergi! Kalian pergi pulang,"
Kata lagi Pengtjoan Thianlie.
Suaranya tidak keras, tapi berpengaruh sekali dan diucapkan dengan sikap angker, seperti juga seorang jenderal yang sedang pimpin ratusan laksa tentara.
Kedua boesoe itu saling mengawasi.
Mereka mundur tanpa berani buka suara lagi, sedang pada paras mukanya terbayang perasaan putus harapan.
Sesudah itu, dengan muka yang bersorot sedih, seperti juga hatinya sedang dipengaruhi oleh serupa perasaan, Pengtjoan Thianlie petik sekuntum bunga yang ia lemparkan ke telaga dan jatuh pada tempat, dimana sungai es masuk ke dalam telaga.
Bunga itu digulung pusar air akan kemudian selembar-lembar terombang-ambing, menurut alirannya gelombang-gelombang halus.
Thian Oe jadi bergidik sebab ia ingat.
"Jika benda tak berjiwa (sang kembang) bisa bernasib sedemikian, apa lagi manusia?"
La lihat itu gunung salju dengan puncaknya yang menjulang menembus awan dan hawanya dingin bukan main, akan tetapi di tempat dimana ia berdiri, sang telaga dengan kembang-kembangnya memberi suatu pemandangan dari musim semi.
Dan di pinggir telaga berdiri seorang wanita cantik yang hidup sendirian di atas Puncak Es.
Keadaan sedemikian seakan-akan merupakan suatu musim semi dalam musim dingin, cuma sayang, pemandangan yang begitu indah, tidak banyak diketahui oleh manusia dalam dunia.
Bahwa dalam gunung salju terdapat telaga Thian-ouw, sudah merupakan kejadian yang mengherankan.
Akan tetapi, bahwa di atas sungai es hidup seorang bidadari, ada lebih mengherankan lagi!
Apakah Bidadari dari Sungai es ini akan mendapat nasib seperti sang kembang, yang terbuka dan rontok sendirinya, akan kemudian terombang-ambing menurut alirannya air?
Selagi Thian Oe ngelamun begitu, kupingnya mendadak dengar Pengtjoan Thianlie berkata lagi.
"Aku sebenarnya tidak pernah menerima tetamu, akan tetapi, lantaran Kam Tayhiap dan ayahku adalah sahabat-sahabat baik, maka, Thiekoay sian, sebab atas perintahnya Kam Tayhiap dengan susah payah kau sudah mencari aku, dengan melanggar kebiasaan, aku sekarang undang kalian berdua suami isteri buat menginap di rumahku beberapa hari."
Sesudah Koei Hoa Seng menghilang, kedua kandanya telah mencari ubak-ubakan dan memesan kawan-kawannya buat bantu mencari.
Salah seorang yang pernah diminta bantuannya, adalah Kam Hong Tie.
Selama tiga puluh tahun Hong Tie sudah berdaya tanpa mendapat hasil.
Ia adalah seorang ksatria yang pegang teguh janjinya, maka itu, pada sebelum menutup mata, ia telah pesan muridnya supaya sang murid talangi ia melakukan satu pekerjaan yang belum dapat dipenuhi.
Thiekoay sian tidak sia-siakan pesanan gurunya.
Belakangan ia mendapat warta, bahwa di atas sungai es ada hidup seorang wanita yang mendapat julukan Pengtjoan Thianlie.
Ia menduga, bahwa wanita itu sepuluh sembilan adalah puterinya Koei Hoa Seng.
Pada waktu ia sedang bertempur melawan Loei Tjin Tjoe, isterinya justru sedang menemui Bidadari dari Sungai es itu.
"Sudah lama aku pangeni tempat ini yang seperti surga, akan tetapi aku tidak berani membuka mulut,"
Kata Thiekoay sian sembari tertawa.
"Maka itu, tentu saja aku merasa sangat girang, jika kau sudi menerima kami berdiam beberapa hari."
"Kalau begitu, marilah kita turun ke perahu,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Kau adalah muridnya Thiekoay sian dan juga sahabatnya Chena moaymoay. Maka itu, kaupun boleh ikut."
Thian Oe bermula merasa sedikit bersangsi, akan tetapi, ia lantas turut turun ke dalam perahu, tanpa berkata suatu apa.
Waktu itu sudah lewat tengah hari.
Kepingan-kepingan es yang mengambang di atas sungai jadi semakin lumer dan air mengalir semakin deras, dari puncak gunung menyapu ke bawah.
"Naik ke atas dengan melawan aliran air ada banyak lebih sukar dari turun ke bawah,"
Pikir Thian Oe.
"Biarpun ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie ada sedemikian tinggi, tapi apakah ia mampu bikin perahu itu manjat ke atas? Apakah ia bukan terdiri dari darah dan daging seperti manusia biasa?"
Selagi hatinya sangat bersangsi, kupingnya sudah dengar Pengtjoan Thianlie berkata.
"Semua orang duduk biar benar. Perahu mulai jalan."
Sehabis berkata begitu, dengan sebatang kejen batu kemala, ia totol sekeping es dan perahu itu lantas meluncur beberapa tombak jauhnya.
Mendadak perahu terpukul arus dan mundur lagi setombak lebih.
Pengtjoan Thianlie sapu kepingan-kepingan es yang ngambang akan kemudian menotol lagi dengan kejennya dan sang perahu kembali meluncur beberapa tombak.
Thian Oe lihat Pengtjoan Thianlie pusatkan Seantero perhatiannya dan menggunakan banyak sekali tenaga, sedang orang-orang yang berduduk di dalam perahu semuanya berpeluk tangan.
"Sedang dia begitu capai, bagaimana kita bisa enak diam saja?"
Kata Thian Oe dalam hatinya.
Tiba-tiba arus yang sangat keras menerjang hebat sekali, sehingga sang perahu terputar-putar dalam pusar air dan air yang muncrat membasahi mukanya semua orang.
Thian Oe terkesiap.
Melihat tongkat besi gurunya yang disenderkan di pinggir perahu, tanpa banyak pikir, ia lantas jumput tongkat itu, yang ternyata sangat berat, buat bantu mendorong.
Tapi begitu lekas ia mendorong dengan tongkat, sang perahu bergoncang dan berputar keras, dan dengan dibarengi sama sambaran satu gelombang, sebagian badan perahu tenggelam di dalam air, tapi untung timbul lagi dengan goncangan keras.
"Kau cari mampus?"
Membentak Thiekoay sian sembari rampas tongkat itu dari tangan muridnya.
"Maksudnya baik sekali, kau tak usah marahi dia,"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
Thian Oe rasakan mukanya panas lantaran malu.
Ketika itu, setahu bagaimana, badannya perahu sudah tetap kembali, sehingga hatinya jadi legaan.
Sekonyong-konyong satu arus yang lebih hebat daripada tadi, menyambar dari sebelah kiri.
Thian Oe mencelos dan berkata dalam hatinya.
"Sekarang matilah!"
Mukanya jadi pucat seperti kertas.
Tiba-tiba badannya perahu terlempar ke atas, seperti juga terbang di tengah udara, dan di lain saat, sudah hinggap di muka air dengan selamat dan terpisah agak jauh dari tempat tadi!
Bukan main herannya Thian Oe.
Melihat keheranan pemuda itu, Chena berkata sembari tertawa.
"Waktu pertama datang, aku pun sudah dibikin kaget setengah mati oleh arus itu. Belakangan barulah aku mendapat tahu, bahwa tanpa adanya arus tersebut, sang perahu malahan tak dapat naik turun."
Pengtjoan Thianlie yang sedari kecil hidup di tempat tersebut, mengenal baik sifatnya arus sungai, yang mempunyai tenaga menyapu balik.
Sifatnya arus sungai tersebut adalah ibarat sifatnya angin puyuh yang terputar, dan dalam putarannya itu, dapat melempar sang perahu ke sebelah atas.
Maka itu, dalam menjalankan perahu di sungai es, biarpun benar seorang harus mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi, tetapi kejadian tersebut bukanlah suatu kejadian yang mujijat.
Belum cukup sejam, perahu sudah tiba di puncak gunung.
Keraton yang nangkring di puncak terbuat dari kristal, marmer atau balokan-balokan es, sehingga di dalamnya jadi terang benderang, dan jika tertojo sinarnya matahari, keraton itu berkredepan dalam rupa-rupa warna.
Sungguh satu pemandangan yang langka!
Melihat itu semua, Thian Oe yang tadinya sudah lelah sekali, mendadak jadi segar kembali.
"Dengan berdiam seorang diri dalam keraton ini, apakah Pengtjoan Thianlie tidak merasa kesepian?"
Tanya ia dalam hatinya.
"Thianlie tjietjie,"
Kata Chena sembari tertawa.
"Jika kau sudi menerima aku sebagai pelayan, aku rela berdiam di tempat ini seumur hidupku."
"Anak otak!"
Menyahut Pengtjoan Thianlie sembari mesem.
"Mana kau bisa betah tinggal di tempat ini? Dan bukankah kau siang malam terus pikirkan soal membalas sakit hatinya kedua orang tuamu?"
Mendengar omongan itu, Chena tidak berkata suatu apa lagi.
"Aku dengar kau selalu memanggil aku sebagai Thianlie tjietjie."
Berkata lagi Pengtjoan Thianlie.
"Apa dengan memanggil begitu, kau tidak kuatir orang nanti mentertawakan? Aku cuma bertempat tinggal di Pengtjoan (Sungai es), dan manalah boleh disebut bidadari (Thianlie). Aku sebenarnya she Koei bernama Peng Go. Thiekoay sian berdua suami isteri juga rasanya belum mengetahui namaku."
"Nama itu sungguh bagus,"
Kata Tjia In Tjin sembari tertawa.
"Tapi kau benar-benar cantik laksana bidadari, maka biarlah aku memanggil saja Thianlie tjietjie."
Pengtjoan Thianlie segera anter semua tetamunya masuk ke dalam keraton.
Berbareng dengan tepukan kedua tangannya, di depan saban keraton lantas muncul satu wanita muda, yang berpakaian indah sekali.
Walaupun di antara bangunan-bangunan terdapat banyak pintu, tapi oleh karena keraton tersebut terbuat dari bahan-bahan yang terang seperti kristal dan es, maka semua wanita itu lapat-lapat bisa dilihat.
Semua dayang itu, yang rata-rata berparas cantik, berpakaian secara luar biasa, bukan pakaian Tibet maupun Han, dan sekali lihat lantas dapat diketahui, bahwa mereka itu bukannya orang Tionghoa.
Thian Oe rasakan seperti masuk ke dalam surga.
"Kalau begitu, Pengtjoan Thianlie bukannya hidup sendirian,"
Kata ia dalam hatinya.
"Cuma dari manakah ia dapatkan begitu banyak nonanona?"
"Kalian tentu capai sekali, maka biarlah kalian mengasoh dahulu,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
Suami isteri Thiekoay sian, Tan Thian Oe dan Chena lalu diantar oleh dayang-dayang itu ke gedung-gedung yang terpisah.
Sesudah melalui jalanan bulak-belok dengan diantar oleh sang dayang, Thian Oe tiba di satu kebun kembang.
Bunga-bunga dan rumput-rumput yang tumbuh disitu dengan warna-warni yang gilang gemilang, hampir semua belum pernah dilihat oleh Thian Oe.
"Siangkong (tuan) masuklah ke dalam gedung ini buat mengasoh,"
Kata dayang itu.
"Jika siangkong memerlukan aku, tarik saja tali tembaga yang terdapat di pojokan. Jalanan disini banyak belitannya, dan jika siangkong mau jalan-jalan di dalam taman, ingatkan saja tanda itu, supaya tak kesasar."
Sembari berkata begitu, jerijinya menunjuk ke atas gedung, dimana terukir satu singa-singaan batu.
Ternyata di atas saban gedung terdapat ukiran-ukiran binatang yang berlainan.
Ada ukiran kuda, macan, burung Hong dan sebagainya.
Biarpun bukannya orang Tionghoa, akan tetapi dayang itu dapat bicara bahasa Pakkhia dengan lancar sekali.
Sesudah memesan begitu, ia lantas undurkan diri.
Thian Oe tolak pintu dan masuk ke dalam gedung.
Hatinya kaget lantaran beberapa pemuda kelihatan mendatangi ke arah ia.
Tapi segera juga ia mengerti, bahwa semua pemuda itu adalah bayangannya sendiri, lantaran di empat penjuru tembok dipasang kaca yang sangat besar.
Gedung itu dihias indah sekali dengan perabotan yang mahal harganya.
Dalam kamar tidur, kasurnya terbuat dari sutera mahal dengan kelambu sulam, sedang di atas meja tulis terdapat satu vas yang ditancapkan semacam bunga luar biasa, yang menyiarkan bau harum sekali.
Di atas tembok tergantung sebuah lonceng dari negara Barat yang mengeluarkan suara "tik-tak, tik-tak"
Tak henti-hentinya.
Pada jaman itu, yaitu jaman Kaizar Kianliong, masih sedikit sekali lonceng Barat yang di impor ke Tiongkok.
Pertama kali Thian Oe lihat lonceng itu adalah di rumahnya Touwsoe.
Selainnya itu, di atas tembok juga terdapat sepasang gambar lukisan dengan sajak yang tulisannya indah sekali.
Gambar yang satu memperlihatkan seorang pemuda yang memakai baju warna kuning, sedang pada pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang.
Romannya pemuda itu bukan saja cakap, tapi juga angker sekali.
Gambar yang lain adalah gambarnya seorang wanita yang pakai pakaian kuno.
Dengan kedua alis yang bengkok dan potongan muka seperti kuaci, wanita itu cantik luar biasa dan matanya sedikit mirip dengan Pengtjoan Thianlie.
Sajak yang tertulis pada kedua gambar itu seperti juga buah kalamnya seorang wanita dan berbunyi seperti berikut.
Mengangkat cawan berpisahan.
Nyanyikan lagu berpisahan.
Bisiki kata-kata berpisahan, Siapakah yang membuat lagu itu, seperti seekor burung berkelebat di atas air dan menghilang dalam sekejapan mata?
Tjioe Nio nyanyikan lagu Kim Louw.
Nyanyian berakhir, penonton bubar, cuma ketinggalan beberapa puncak gunung yang hijau.
Tapi kumandangnya sang lagu tak putus-putusnya, Sampai mengimpi tiba di kota Pakkhia.
Cawan penuh, tapi toh kosong.
Nyanyian merdu, toh kosong juga, Tetabuhan khim indah, pun kosong.
Rembulan terang, akhirnya kosong juga.
Semua orang sudah bubaran dari taman bunga anggrek dan ketinggalan debu yang berhamburan.
Musim dingin meliputi daerah Kanglam, Dalam liati mengutuk salju dan angin yang meresap ke tulang-tulang.
Orang yang dicinta berada di ujung langit.
Siapa lagi yang dapat hiburi hatinya anak yang terlantar?
Sebagai peringatan dari marhum ayah dan ibu, Hoan Lian.
Tan Thian Oe sekarang tahu, bahwa lelaki dan wanita itu adalah kakek dan neneknya Pengtjoan Thianlie, yaitu Koei Tiong Beng dan isterinya Moh Hoan Lian, sedang sajak itu adalah buah kalam ayahnya Moh Hoan Lian, yaitu Moh Pie Kiang.
Hatinya Thian Oe diliputi dengan perasaan heran yang sangat besar.
Bahwa Pengtjoan Thianlie adalah cucu perempuannya Koei Tiong Beng, sudah merupakan satu hal yang mengherankan.
Akan tetapi, keraton di puncak gunung dengan dayang-dayangnya yang terdiri dari wanita-wanita asing, merupakan keheranan yang lebih besar lagi.
Walaupun asal-usulnya Pengtjoan Thianlie sudah terbentet sekali, akan tetapi, dalam keseluruhannya, ia masih merupakan satu teka-teki.
Malam itu, sesudah bersantap dengan hidangan yang diantar oleh sang dayang, Thian Oe gulak-gulik di atas pembaringan dan tidak dapat tidur pulas.
Ia ingat Chena, itu gadis Tsang yang aneh, ia ingat Pengtjoan Thianlie yang diliputi rahasia, ia ingat suami isteri Thiekoay sian, ia ingat macam-macam hal yang datang saling-susul dalam otaknya.
Ia melongok keluar jendela dan saksikan satu dunia yang diselimuti dengan sinar perak.
Dengan sinar salju yang datang dari atas puncak gunung, ditambah sama bunga-bunga yang memenuhi seluruh taman, Thian Oe merasa seperti juga berada di tengah-tengah dunia kaca dengan warna-warninya yang indah luar biasa.
Seperti dibetot besi berani, Thian Oe pakai jubah luarnya dan dengan tindakan perlahan, ia keluar dari gedung itu buat menikmati pemandangan alam yang seindah itu.
Mendadak kupingnya dengar orang bicara yang datang dari kejauhan.
Thian Oe lalu mengumpat di belakangnya satu gunung-gunungan dan lihat dua bayangan orang sedang mendatangi ke arah ia.
Yang jalan duluan adalah Pengtjoan Thianlie, sedang yang belakangan bukan lain daripada Thiekoay sian.
Thian Oe merasa heran.
Ada urusan apa, mereka jalan-jalan dalam taman, di tengah malam buta itu?
Dalam jarak belasan tombak dari tempat sembunyinya Thian Oe, mereka mendadak berhenti.
"Terima kasih banyak buat berita yang kau sampaikan,"
Demikian kedengaran Pengtjoan Thianlie berkata.
"Dan terima kasih juga kepada paman-paman sekalian yang sudah begitu memperhatikan diriku. Tapi aku sudah bersumpah, bahwa selama hidup, aku tidak nanti turun dari gunung ini."
"Tapi... Tapi guci emas itu ada luar biasa pentingnya,"
Kata Thiekoay sian.
"Dahulu, pada jaman tujuh ahli pedang turun dari gunung Thiansan, kakek dan nenekmu, bersama-sama Leng Bwee Hong Tayhiap, dengan bersatu padu sudah melawan kerajaan Tjeng. Kau sendiri adalah cucunya Koei Tayhiap. Apakah kau tega melihat Tibet menjadi jajahannya bangsa Boan? Begitu lekas guci emas itu tiba, tamatlah riwayatnya Tibet."
"Aku tidak urus urusan begitu,"
Kata Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar. Thiekoay sian menghela napas. Baru ia mau buka mulut, Pengtjoan Thianlie sudah mendahului.
"Kecuali Puncak Es roboh, putusanku tak dapat dirobah lagi. Sebenarnya terhadap kalian suami isteri yang jauh-jauh sudah datang disini, aku harus penuhkan kewajiban sebagai tuan-rumah buat melayani beberapa hari Cuma menyesal, lantaran dahulu aku pernah bersumpah, bahwa siapa saja yang berani membujuk aku turun gunung, biarpun ia adalah seorang dari tingkatan yang lebih tua, aku tak dapat menahan lagi padanya. Thiekoay sian! Terima kasih buat kebaikan hatimu, tapi besok aku akan perintah dayang antar kalian turun gunung dan di kemudian hari tak usah datang lagi disini."
Thian Oe tak dapat lihat mukanya Pengtjoan Thianlie yang berdiri membelakangi ia.
Suaranya halus, tapi tegas, seperti satu ratu yang sedang keluarkan firman.
Thiekoay sian berdiri diam tanpa menjawab sepatah kata.
Thian Oe juga merasa heran, kenapa seorang wanita yang begitu cantik bisa bersikap sedemikian keras dan mengeluarkan kata-kata yang terang-terangan mengusir tetamunya.
Ia merasa berat buat tinggalkan tempat itu yang sepera surga, terutama itu gadis Tsang yang aneh.
Hatinya merasa sedih, sebab ingat besok ia harus berlalu bersama-sama gurunya dan tak akan bisa datang lagi ke tempat itu.
Sesudah lewat sekian lama, barulah kedengaran Thiekoay sian berkata.
"Sesudah berbuat kesalahan terhadap nona, aku tak berani meminta maaf. Aku akan turut apa yang diinginkan oleh nona."
Sesudah itu lantas kedengaran suara tindakan kaki yang semakin lama jadi semakin jauh, dan waktu Thian Oe melongok dari gunung-gunungan, kedua orang itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Sembari tarik napas panjang, Thian Oe keluar dari tempat mengumpatnya.
Tiba-tiba, dari antara pohon-pohon kembang muncul satu orang.
Baru saja ia niat menyingkir, orang itu sudah menanya dengan suara nyaring.
"Kau belum tidur?"
Thian Oe mengawasi dan ia itu adalah Chena, yang kepalanya dibungkus dengan sutera putih, sedang kedua matanya yang jeli bersinar terang dalam malam yang remang-remang itu dan pada mulutnya tersungging meseman yang sukar dijajaki.
"Terima kasih buat budimu yang beberapa kali sudah menolong jiwaku,"
Katanya sembari mesem.
"Cuma sayang besok kau sudah harus berlalu dari sini."
"Hm,"
Kata Thian Oe.
"Apa kau juga dengar pembicaraan yang barusan?"
Chena manggutkan kepalanya dan berkata.
"Menurut Thianlie tjietjie, jiwanya gurumu berada dalam bahaya, jika ia teruskan niatannya buat merampas guci emas itu. Ia bilang, kau haruslah berlaku hati-hati."
Thian Oe terkejut.
"Aku sungguh tidak mengerti persoalan ini,"
Kata ia.
"Barang apakah adanya guci emas itu yang mau direbut?"
"Apa kau belum pernah dengar halnya guci emas itu?"
Menegasi Chena.
"Belum,"
Jawab Thian Oe. Chena kerutkan alisnya dan paras mukanya berobah jadi sungguhsungguh sekali.
"Apakah kau tahu, bahwa Dalai Lama, Panchen Lama, Hutuketu dan lain-lain Budha hidup semuanya menjalankan lahir mengulang (reinkarnasi) " ?"
Tanya Chena dengan suara perlahan. Sebagai orang yang menjadi besar di Tibet, Thian Oe tentu saja mengetahui kepercayaan itu. Ia menggutkan kepalanya dan Chena berkata pula.
"Oleh karena dalam soal reinkarnasi ini seringsering timbul percekcokan, maka kaizar Tjeng mengirimkan sebuah guci emas buat mengakhiri segala pertentangan. Manakala timbul percekcokan, maka Naichung yang berhak harus menulis nama-namanya semua calon di atas sepotong kertas yang sesudah digulung, dikasih masuk ke dalam guci emas itu. Kemudian, di hadapan orang banyak diambillah salah satu gulungan kertas dan calon yang namanya kena diambil dianggap sebagai Budha hidup yang tulen. Aku dapat dengar, guci emas itu sudah dikirim dari Pakkhia dan setibanya di Lhasa akan disambut secara besar-besaran oleh Dalai Lama dan lain-lain pembesar, akan kemudian ditaruh dalam Gereja Pusat di Lhasa. Dengan demikian, guci tersebut akan menjadi semacam benda suci yang sifatnya abadi. Kau tentu mengerti, bahwa pengiriman barang yang begitu penting tentu saja bakal dilindungi oleh pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi. Maka itu, bukankah gurumu seperti mau antarkan jiwa, jika ia coba merampasnya?"
Thian Oe tadinya niat menanya, cara bagaimana Chena bisa mengetahui persoalan itu.
Akan tetapi mengingat gadis tersebut adalah puterinya Raja muda Chinpu, Thian Oe jadi urungkan niatannya.
Ayahnya Thian Oe adalah seorang pembesar yang dikirim oleh Kaizar Kianliong ke Tibet sebagai Amban.
Walaupun hatinya merasa tidak puas terhadap bangsa Boan, akan tetapi ia merasa, tindakannya kaisar Boan di ini kali tidaklah boleh terlalu disalahkan, sebab sedikitnya dapat menyingkirkan segala pertentangan di Tibet.
Maka itu, ia tidak mengerti sebab apa gurunya niat rampas guci emas tersebut.
"Kita orang Tibet paling memuja Budha hidup,"
Kata lagi Chena sesudah menghela napas panjang.
"Jika orang Han bikin rusak guci emas itu atau merampas benda suci kita, maka permusuhan antara bangsa Tibet dan Han akan jadi semakin dalam. Aku dengar, di antara kau orang Han terdapat sejumlah pendekar yang merasa kuatir, bahwa sesudah menerima guci emas itu, pemerintahan yang berdasarkan keagamaan di Tibet akan jatuh di bawah perintahnya kerajaan Tjeng dan Tibet akan jadi semacam jajahannya bangsa Boan. Dari sebab begitu, mereka mati-matian mau merampas guci emas itu. Cuma aku kuatir, maksud yang baik itu akan dianggap sebagai maksud jahat oleh orang Tibet. Maka itu, aku rasa lebih baik kau bujuk supaya gurumu batalkan niatannya."
"Adatnya guruku sangat luar biasa dan sebagai murid baru, cara bagaimana aku berani membuka mulut?"
Kata Thian Oe. Kedua orang muda berdiam buat beberapa lama.
"Chena,"
Kata Thian Oe.
"Cara bagaimana kau jadi bermusuhan dengan Touwsoe di Sakya?"
Baru saja ucapkan perkataan itu, Thian Oe lantas merasa menyesal sebab kuatir ia sudah melewati batas kesopanan. Tapi Chena kelihatannya tidak merasa tersinggung.
"Kau sudah menolong jiwaku dalam rumahnya Touwsoe, maka biarpun kau tidak menanya, aku seharusnya memberitahukan padamu,"
Katanya dengan suara perlahan.
Biarlah sekarang aku tuturkan satu cerita, yang selainnya Thianlie tjietjie, kau adalah orang kedua yang pernah mendengar ini."
Dahulu, yaitu pada jaman kerajaan Tong, suku Tukuhun (daerah Koko Nor) telah menyerang Tibet.
Satu panglima Tibet yang gagah perkasa sudah berhasil pukul mundur musuh yang menyerang itu.
Tak lama kemudian, raja Tibet mengadakan pesta pernikahan besar dan permaisurinya adalah Puteri Boenseng dari Kaisar Tong.
Dengan menggunakan kesempatan itu sang raja memberi hadiah kepada mereka yang berjasa.
Panglima yang sudah pukul mundur serangan Tukuhun adalah orang yang paling berjasa, maka Raja Tibet menghadiahkan ia sebidang tanah yang luasnya ditentukan dengan larinya seekor kuda dalam tempo seharian.
Panglima tersebut tersohor mahir dalam ilmu menunggang kuda dan sepanjang cerita, dalam tempo seharian kudanya dapat melalui satu lingkaran dari 5000 li lebih.
Tanah yang seluas itu segera dihadiahkan kepadanya dan ia diberi pangkat Hoan-ong (raja muda).
Panglima tersebut adalah leluhurku."
Tanah dan pangkat itu dipegang turun menurun.
Ayahku adalah turunan yang ke 50.
Ia berkuasa atas empat Touwsoe, antaranya Touwsoe di Sakya yang mempunyai pengaruh paling besar.
Isterinya Touwsoe Sakya itu adalah puterinya paman misananku.
Lantaran adanya hubungan pangkat dan hubungan keluarga, maka kedua keluarga bergaul dengan sangat rapat.
Ayahku suka sekali berburu. Siapa nyana, pada satu hari ketika sedang mengubar seekor rase bulu emas, kepalanya kebentur cabang pohon dan ia terguling dari kudanya akan terus meninggal dunia.
"Aku tak mempunyai saudara lelaki, maka setelah diadakan perundingan, telah disetujui bahwa kedudukan ayahku harus diwarisi kepada pamanku, dan jika sang paman meninggal dunia, kepada saudara-saudara misananku.
"Tapi siapa kira beberapa kejadian ajaib terjadi dengan beruntun. Pertama, sehabis minum semangkok susu kuda, badan pamanku mendadak pada matang biru dan bengkak-bengkak dan meninggal dunia tidak lama kemudian. Sesudah itu, beberapa saudara misananku dengan beruntun meninggal secara luar biasa sekali. Badan mereka pada matang biru, sedang darah keluar dari lubang mulut, kuping, hidung dan sebagainya. Orang-orang tua bilang, kejadian ini adalah akibat gangguan setan memedi, maka sekeluarga kita pada mengumpat dalam sebuah gereja yang terletak di dalam pekarangan gedung. Sebuah kunci besar dipasang diluar gereja dan di seputar tembok disebarkan kapur. Katanya, penjagaan itu dapat menahan masuknya kawanan setan. Ah, sungguh menakutkan hari-hari yang seram itu!"
Thian Oe bergidik. Keindahan alam yang terbentang di depannya segera juga berobah jadi pemandangan yang menyeramkan.
"Demikianlah saudara-saudara misananku satu persatu binasa secara mengerikan itu,"
Chena lanjutkan penuturannya.
"Aku ingat, itu hari, saudara misananku yang terakhir, yang baru saja berusia tiga tahun, juga tidak terluput dari kebinasaan.
Bukan main rasa takutku.
Aku merasa, bahwa aku sendiri pun tidak akan hidup lama lagi di dalam dunia."
Hari itu adalah hari Hoeihoentjee 81 ayah.
Sebenarnya satu sembahyangan harus dibikin dalam gedung raja muda, akan tetapi, berhubung dengan terjadinya kejadian-kejadian hebat, kami tidak berani mengisar dari dalam gereja, sedang orang luar pun tak berani datang di rumah kita.
"Tapi masih ada satu orang yang tidak takut. Orang itu adalah koekoe-ku (paman, saudara lelaki dari ibu) yang bernama Lochu. Apa kau pernah dengar namanya?"
"Ya,"
Menyahut Thian Oe.
"Ayah kata, ia adalah orang gagah nomor satu di bawah perintahnya Chinpu. Menurut katanya soehoe, ia adalah seorang kenamaan dari Thianliong pay."
"Ilmu kepandaian koekoe sangat tinggi,"
Kata Chena sambil manggutkan kepalanya.
Ia juga tidak takuti segala setan memedi. Hari itu ia kebetulan datang dan turut bersembahyang pada malam itu."
Hatiku selalu ketakutan.
Biasanya setiap malam aku tidur bersama ibu di satu kamar.
Tapi malam itu, koekoe yang temani aku, sedang ibu mau menjaga meja sembahyang sampai jam lima pagi bersama dua dayang."
Malam itu aku tak dapat pulas.
Saban kesiuran angin atau bergoyangnya rumput membuat aku kaget dan menduga kedatangannya roh ayah.
Aku ingat, bahwa semasa hidupnya ayah sangat mencintai aku, dan sekarang, sesudah menjadi roh halus, ia haruslah menjaga aku, menjaga juga ibuku, supaya kita jangan diganggu oleh segala setan keliaran.
"Jam tiga sudah lewat dan jam empat menyusul. Semua bujang sudah pada tidur, sehingga keadaan jadi sunyi senyap, sedang di luar cuma kedengaran suara ketak-ketiknya sang lonceng. Dalam kamar terdapat dua pembaringan kayu. Aku tidur di pembaringan sebelah dalam, sedang koekoe di pembaringan sebelah luar. Aku mengintip dari sela-sela pintu dan lihat api lilin bergoyang-goyang. Mengingat seramnya keadaan diluar, aku mau teriaki ibu supaya masuk saja ke dalam buat temani aku. Tapi sebelum dapat buka suara, api lilin mendadak padam semuanya! "
Berbareng dengan itu, aku dengar teriakan ibu yang membikin bulu badanku jadi berdiri.
Tibatiba koekoe membentak sembari menjotos, sehingga tiang ranjang sempal.
Sekarang aku dapat lihat, satu bayangan hitam sudah bertempur seru dengan koekoe.
"Sesudah bertempur beberapa lama, koekoe desak dia keluar kamar dan mereka terus berkelahi dengan hebatnya. Setiap pukulan mengeluarkan deruan angin dan mataku tak dapat membedakan, yang mana koekoe, yang mana musuh. Perabot rumah tangga banyak yang hancur lantaran kepukul atau ketendang. Tiba-tiba aku dengar teriakan koekoe yang menyeramkan. Semangatku terbang, hampir-hampir aku pingsan, sebab duga koekoe kena dirobohkan. Tapi, sesudah teriakan itu, keadaan jadi sunyi kembali. Aku buka kedua mataku dan merasa satu orang usap-usap kepalaku."
"Apa koekoe?"
Thian Oe menanya tanpa merasa. Chena tarik napas panjang dan menyahut.
"Benar, ia adalah koekoe. Napasnya sengal-sengal dan suaranya gemetar waktu ia berkata.
"Chena, aku... Lekas ikut padaku."
Ketika itu, aku sudah jadi begitu ketakutan, sehingga kedua kakiku menjadi lemas. Koekoe pondong aku dan berjalan keluar.
"Mana ibu? Ajaklah ibu bersama-sama,"
Kata aku.
Koekoe tidak menjawab.
Ia buka pintu gereja dan lantas loncat ke atas punggung kuda, yang lantas dikaburkan secepat bisa.
Belakangan aku baru tahu, bahwa ibu dan dua dayang semuanya binasa dalam tangannya pembunuh.
Si pembunuh sebenarnya maui juga jiwaku, dan kalau tidak ada koekoe, sekarang aku tentu sudah tidak hidup lagi.
Koekoe terus kaburkan kudanya dan dalam tempo semalaman sudah melalui lebih dari dua ratus li.
Disitu barulah ia memberitahukan aku, bahwa paman dan saudara-saudara misanan semua binasa dalam tangannya pembunuh itu, yang mempunyai semacam ilmu pukulan sangat beracun yang dinamakan Tjit-im tjiang.
Siapa yang kena pukulan itu, sekujur badannya lantas matang biru dan dari lubang-lubang tubuhnya mengeluarkan darah!
Tak usah dibilang lagi, si korban tidak akan dapat ditolong jiwanya.
Dengan taruhkan jiwanya, koekoe lawan pembunuh itu, yang dapat juga dipukul mundur, tapi koekoe sendiri sudah kena satu pukulannya."
Semangatku rasanya terbang dan buru-buru tanya bagaimana baiknya.
Koekoe menerangkan, bahwa lantaran mempunyai tenaga dalam yang cukup kuat, maka ia masih bisa tahan tujuh hari lamanya.
Koekoe dengar, di pegunungan Nyenchin Dangla terdapat satu telaga Thian-ouw dan di pinggir telaga tersebut hidup seorang dewi.
Sepanjang cerita, air suci dari telaga tersebut dan bunga Mantolo yang tumbuh di atas gunung dapat mengobati macam-macam penyakit.
Lantaran tidak terdapat lain jalan lagi, dengan tidak perdulikan benar atau tidaknya cerita itu, sambil mendukung diriku, koekoe panjat gunung Nyenchin Dangla.
Waktu matanya melihat air telaga, mendadak koekoe keluarkan teriakan dan jatuh pingsan, mungkin lantaran lukanya dan kecapaian, tercampur dengan perasaan girang sudah bisa sampai di telaga tersebut.
Sembari menangis, aku coba bikin sadar padanya.
Lantaran lapar dan lelah, sesudah menangis beberapa lama, aku pun jatuh pingsan."
Tak tahu sudah selang berapa lama, perlahan-lahan aku jadi sadar.
Koekoe sudah tidak berada disitu, tapi di hadapanku berdiri seorang wanita yang parasnya cantik sekali.
Aku menduga, ia itu tentu sang dewi yang bertempat tinggal di pinggir telaga.
'Sianlie tjietjie, mana koekoe-ku?' aku menanya.
Ia mesem dan menyahut.
'Apa ia koekoe-mu?
Aku bukannya dewi.
Aku she Koei bernama Peng Go.
Orang luar namakan aku sebagai Pengtjoan Thianlie.' Mendengar begitu, aku segera berkata kembali.
'Kalau begitu, Thianlie tjietjie, dimanakah adanya koekoe?' 'Aku belum pernah permisikan orang luar naik disini, maka itu aku sudah usir koekoe-mu ke bawah gunung,' jawab Pengtjoan Thianlie.
Kembali aku menangis keras.
'Jangan nangis,' ia membujuk.
'Aku sudah obati lukanya koekoe-mu dan sekarang jiwanya sudah ketolongan.
Kalau bukannya begitu, cara bagaimana ia bisa turun dari gunung ini?' Aku merasa heran mendengar cara-caranya Thianlie tjietjie, yang sesudah menolong, lalu mengusir koekoe.
'Thianlie tjietjie apakah kau akan usir juga diriku?' aku menanya.
Waktu itu, aku tidak mengerti barang sedikit ilmu silat, sehingga kalau benar diusir, aku tentu mesti binasa, kalau tidak lantaran terpleset jatuh, tentu juga lantaran kelaparan.
"Pengtjoan Thianlie kembali mesem dan berkata dengan suara halus. 'Aku dan kau ada berjodoh, maka aku bersedia buat menahan dirimu untuk sementara waktu.' Belakangan aku baru mendapat tahu, bahwa Thianlie tjietjie belum pernah bergaul dengan orang luar dan ia ingin sekali mengetahui keadaan dalam dunia. Selainnya itu, ia juga merasa senang terhadapku sebab mataku mirip sekali dengan matanya. Itulah sebabnya, maka ia sudi menahan aku."
Mendengar begitu, Thian Oe segera awasi kedua matanya Chena yang bundar dan besar, dengan kedua biji mata yang warnanya sedikit blau.
Kalau biji mata itu sedang memain, orang seperti juga melihat dua gumpalan air perak putih yang memeluk dua titik hitam, sedang bergulikan ke kiri-kanan.
Sungguh indah kedua mata itu dan benar mirip dengan matanya Pengtjoan Thianlie.
Diimplang dengan mata tajam oleh Thian Oe, paras mukanya Chena jadi bersemu merah.
"Lantaran lihat ia bersikap ramah tamah, aku segera berdiam padanya dan ceritakan segala asalusulku,"
Kata lagi Chena sembari tundukkan kepala.
"Belakangan bagaimana?"
Tanya Thian Oe.
"Biarpun ia belum mengasih lihat kepandaian luar biasa, aku sudah merasa, Pengtjoan Thianlie bukannya sembarang orang,"
Kata lagi Chena.
"Aku segera memohon buat menjadi muridnya, tapi ia mengatakan ia selamanya tidak suka campur urusan dunia dan tidak ingin menjadi guru. Sesudah aku memohon berulang-ulang, ia berkata. 'Baiklah, lantaran aku merasa kasihan akan nasibmu, sebagai seorang saudara, aku akan turunkan pelajaran ilmu silat secara lisan kepadamu, buat tiga hari lamanya. Berapa banyak pelajaran kau bisa dapat selama tiga hari itu, tergantung atas untungmu.' Demikianlah ia lalu turunkan pelajaran ilmu silat secara lisan kepadaku. Sebulan lamanya aku berdiam dalam keraton Thianlie tjietjie, dimana diam-diam aku berlatih di bawah petunjuk para dayangnya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, benar saja aku sudah mendapat kemajuan yang sangat besar. Sebetulnya Thianlie tjietjie masih mau menahan padaku, tapi lantaran hatiku sangat ingin membalas sakit hati secepat mungkin, maka, tanpa mendengar nasihatnya, aku lalu turun gunung. Dan tak dinyana, benar saja ilmu silatku masih terlalu rendah, sehingga bukan saja aku sudah gagal dalam percobaan membalas sakit hati, tapi juga hampirhampir jiwaku sendiri turut melayang."
Harus diketahui, bahwa ilmu silatnya Chena pada ketika itu, sudah terhitung tinggi.
Ilmu entengi badannya sudah berada di sebelah atasan Thian Oe.
Mendengar penuturan itu, hatinya Thian Oejadi kagum sekali.
"Ia cuma belajar tiga hari, tapi ilmunya sudah begitu tinggi,"
Kata Thian Oe dalam hatinya.
"Dari sini bisa dilihat, bahwa kepandaiannya Pengtjoan Thianlie sungguhsungguh sukar diukur bagaimana dalamnya. Dan kecerdasannya Chena mungkin sukar dicari keduanya dalam dunia ini."
"Sesudah turun gunung barulah aku mendapat tahu, bahwa segala kebencanaan dalam keluargaku adalah perbuatannya Touwsoe di Sakya,"
Demikian Chena teruskan penuturannya.
"Sesudah peristiwa hebat pada malam itu, kapan ibuku binasa dan aku sendiri hilang, sedang sang paman dan saudara-saudara misanan sudah binasa terlebih dahulu, maka di antara keluarga dekat, sudah tidak ada orang lagi yang berhak mewarisi kedudukan Raja muda Chinpu. Pada besokan harinya, dengan membawa satu pasukan tentara, Touwsoe Sakya angkat paman misananku (yang bukan lain dari mertua sang Touwsoe) menjadi raja muda. Orang-orang sekaumku tidak ada yang berani membantah lantaran takuti pengaruh dan kekuasaannya yang besar. Paman misananku sudah berusia 60 tahun lebih dan adalah ibarat api lilin di tengah-tengah angin. Touwsoe Sakya segera perintah anak lelakinya yang sulung menjadi Chiepa (semacam kuasa). Secara merdu dikatakan, bahwa sang cucu membantu kakek, akan tetapi sebenar benarnya si cuculah yang menjadi raja muda dan sudah rampas banyak sekali tanahnya Raja muda Chinpu. Mendengar itu, aku tak dapat menahan sabar lagi. Bagaimana buntutnya sudah diketahui olehmu, sehingga aku tak perlu menuturkan lagi."
"Apa Pengtjoan Thianlie meluluskan buat turunkan lagi ilmu silatnya kepadamu?"
Tanya Thian Oe.
"Ia sudah meluluskan buat mengajar lagi tiga hari lamanya,"
Jawab Chena "Sesudah itu, apa aku mampu membalas sakit hati atau tidak, adalah urusanku sendiri."
"Biarlah aku saja yang balaskan sakit hatimu,"
Kata Thian Oe dengan suara terharu. Chena mesem dan berkata.
"Apa? Terima kasih banyak buat kebaikanmu. Cuma saja, buat balas sakit hatinya orang tua, kalau bukan terlalu terpaksa, aku tidak mau pinjam tangannya orang lain. Selainnya itu, Touwsoe di Sakya mempunyai banyak sekali orang pandai, antaranya itu pembunuh yang mempunyai ilmu Tjit-im tjiang. Dengan ilmu silat yang dipunyai oleh kau dan aku, biarpun kita belajar lagi tiga sampai lima tahun, aku rasa belum tentu dapat menandingi dia."
Mengingat kepandaiannya yang masih sangat rendah dan sudah keluarkan omongan besar, Thian Oe jadi merasa jengah sekali.
Di bawah sinarnya sang rembulan, Thian Oe dapat lihat sorot sangat berterima kasih dalam kedua matanya Chena yang jeli.
"Bukankah besok kau akan ikut gurumu berlalu dari sini?"
Ia tanya dengan suara perlahan. Hatinya Thian Oe bergoncang.
"Benar, besok aku sudah mesti berlalu,"
Katanya dengan suara serak.
Tapi baru ia habis ucapkan perkataannya, di sebelah kejauhan mendadak terdengar bentakannya Thiekoay sian.
Keraton kristal dari Pengtjoan Thianlie adalah keraton yang transparan dan terang benderang.
Jauh di tengah-tengah taman terlihat dua bayangan orang yang sedang bertempur hebat.
Satu antaranya yang bersenjata tongkat besi, yang diputar seperti titiran cepatnya, adalah Thiekoay sian.
Yang satunya lagi berbadan tinggi besar, seperti juga bukan badannya orang Han, dan memakai jubah pertapaan yang berwarna merah.
Di antara sinar rembulan yang seperti perak, warna merah itu kelihatan menyolok sekali, seakan-akan segumpal awan merah yang memain di antara awan-awan putih.
"Dengan dapat panjat sungai es dan bisa masuk ke dalam keraton ini, kepandaiannya orang itu mestinya tinggi sekali,"
Kata Thian Oe dalam hatinya dengan perasaan kaget.
"Peraturan Thianlie tjietjie ada sangat keras, tapi kenapa ia belum juga keluar dan biarkan orang itu bikin ribut dalam keratonnya?"
Kata Chena dengan suara heran.
Chena kenal baik jalanan dalam keraton.
Sesudah bulak-belok bersama-sama Thian Oe mereka tiba dalam taman di depannya keraton dengan ukiran kuda emas.
Orang yang sedang berkelahi sama Thiekoay sian adalah satu Hoantjeng (pendeta asing), yang hidungnya berpatok, mulutnya lebar dan romannya jelek sekali.
Ia bersenjata sianthung (tongkat pertapaan) yang banyak lebih kecil dari tongkatnya Thiekoay sian, tapi yang dengan mudah dapat punahkan sesuatu serangan.
Tidak jauh dari situ, di kaki satu gunung-gunungan, berdiri dua orang lain yang mulutnya menggerendeng sembari rangkap kedua tangannya.
Mereka itu adalah kedua boesoe Nepal yang kita sudah kenal.
Thian Oe merasa heran sekali, kenapa kedua boesoe itu, yang kelihatannya sangat memuja Pengtjoan Thianlie, berani ikut si pendeta masuk ke dalam keraton tanpa permisi.
"Dua boesoe itu memanggil Koksoe (Guru negara) kepada si pendeta,"
Berbisik Chena.
"Mereka kata apa?"
Tanya Thian Oe.
"Aku pun tak dengar terang. Rupa-rupanya mereka sedang membujuk supaya si Koksoe jangan berkelahi terus."
Jawab Chena.
Semakin berkelahi, Thiekoay sian jadi semakin bersemangat.
Tongkatnya terputar bagaikan titiran yang kurung badannya si pendeta, dan pada saat-saat beradunya kedua tongkat, sang kuping menjadi pengeng lantaran kerasnya suara.
Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur kurang lebih 50 jurus.
Makin lama Thian Oe jadi makin heran.
Suara beradunya tongkat ada cukup keras buat bikin sadar orang yang tidur bagaimana nyenyak pun.
Tapi, bukan saja Pengtjoan Thianlie, malahan sang dayang pun tidak kelihatan mata hidungnya.
"Chena,"
Kata Thian Oe yang sudah tidak dapat menahan sabar lagi.
"Perlukah panggil kau punya Thianlie tjietjie?"
"Gerak-geriknya Thianlie tjietjie sangat luar biasa,"
Jawab Chena.
"Sekarang ia belum keluar, tentulah juga ada sebab lain."
Tiba-tiba kedua tongkat beradu luar biasa kerasnya, sehingga membikin pengeng kupingnya Thian Oe dan Chena.
Di lain saat, si pendeta sudah bersila di atas tanah, sedang sianthung-nya digoyang-goyang dengan perlahan.
Dengan kumis yang berdiri, Thiekoay sian menubruk dan menghantam dengan sepenuh tenaga.
Melihat begitu, Thian Oe jadi girang dan berkata dalam hatinya.
"Sekarang tak perlu lagi bantuannya Pengtjoan Thianlie. Manusia itu sudah bukan tandingannya guruku lagi."
Tapi ia tidak tahu, justru pada saat itu gurunya berada dalam keadaan kejepit. Sebagai murid kepala dari Kam Hong Tie, tenaga dalamnya Thiekoay sian tidak ada tandingannya, baik di sebelah selatan."
Maupun di sebelah utara Sungai Besar.
Tapi tak nyana, berhadapan dengan pendeta asing itu, ia tidak bisa mendapat angin.
Ia menyerang sehebat-hebatnya dengan menggunakan tenaga Kimkong Toalek, akan tetapi semua serangannya dengan gampang dapat dipunahkan oleh si pendeta Dua puluh tahun lebih Thiekoay sian malang melintang dalam dunia Kangouw, dan inilah buat pertama kali ia bertemu musuh yang tangguh, sehingga dengan terpaksa, ia mesti gunakan juga Hokmo Tianghoat (Ilmu silat tongkat takluki iblis).
Hokmo Tianghoat adalah gubahan Tokpie Sinnie (Malaikat Wanita Lengan Satu, gurunya Delapan Pendekar Kanglam) dan kemudian dipelajari dan ditambah lagi oleh Liauw In Hweeshio.
Ilmu tongkat tersebut mempunyai 108 jalan dan setiap pukulan mempunyai tenaga yang seribu kati beratnya.
Selainnya itu, kepala dan ujung tongkat juga dapat digunakan buat menotok jalanan darahnya musuh.
Ilmu silat tersebut luar biasa liehaynya, tapi juga sangat memakan tenaga dalam.
Sesudah bersilat habis 108 jalan, orang mesti mengasoh sedikitnya tiga hari buat dapat pulang lagi tenaganya.
Itulah sebabnya kenapa Thiekoay sian jarang sekali menggunakan Hokmo Tianghoat itu.
Sekarang dengan terpaksa ia gunakan juga!
Mendadakan saja, sang tongkat menyambarnyambar bagaikan hujan dan angin dan benar saja si pendeta menjadi ripuh.
Thiekoay sian segera kerahkan tenaga dalam yang lebih besar buat hantam jatuh padanya.
Tiba-tiba si pendeta terputar dan lantas bersila di atas tanah sambil meremkan mata dan tundukkan kepalanya, seperti juga orang lagi bersemedhi, sedang tongkatnya digoyang-goyang dengan perlahan.
Thiekoay sian adalah seorang yang berpengalaman, tapi melihat begitu, hatinya jadi terkejut.
"Apa maunya dia?"
Ia tanya dalam hatinya.
Di lain saat, ia rasakan serangan-serangannya kena ditutup dan satu tenaga yang sangat besar terasa menolak dirinya.
Semakin hebat ia menghantam, semakin besar lagi tenaga yang menolak itu.
Tongkatnya si pendeta yang digoyang-goyang dengan perlahan merupakan satu tembok tembaga yang tak dapat ditembuskan dengan serangan apapun juga.
Thiekoay sian terkesiap dan menyerang semakin gencar.
Dalam sekejap ia sudah gunakan habis 36 jalan yang pertama.
108 jalan Hokmo Tianghoat dipecah jadi tiga bagian.
Bagian pertama, yang terdiri dari 36 jalan, adalah serangan-serangan hebat yang menggunakan tenaga Kimkong.
Kalau ini tidak berhasil, lantas menyusul bagian kedua, yang juga terdiri dari 36 jalan.
Pukulanpukulan dari bagian kedua ini semuanya dikeluarkan dengan menggunakan tenaga lweekeh (tenaga dalam) yang sejati, dan hebatnya bukan kepalang, sehingga satu batu besar bisa hancur lebur kalau kena pukulan itu.
Pukulan-pukulan dari bagian pertama semuanya mengeluarkan suara angin yang keras, tapi pukulan-pukulan bagian kedua sama sekali tidak menerbitkan suara, sehingga jadi lebih sukar dijaganya.
Tapi sungguh heran, biarpun ia meremkan mata dan tundukkan kepala, bebokongnya si pendeta seperti juga ada matanya, sehingga tidak perduli pukulan Thiekoay sian datang dari mana, ia selalu dapat mengebas dengan tongkatnya.
Selainnya begitu, tenaga yang menolak juga jadi bertambah besar dan beberapa kali hampir-hampir tongkatnya Thiekoay sian terlepas dari tangannya!
Ilmu yang digunakan oleh si pendeta adalah ilmu Yoga dari India, yang dicampur dengan ilmu silat Djioekang (ilmu silat lembek) dari cabang silat Bittjong di Tibet.
Djioekang ini juga adalah satu ilmu silat lweekeh yang sangat tinggi, tapi berbeda dengan lweekeh dari Tiongkok asli.
Orang yang mempelajari Djioekang, paling terutama harus melatih isi perutnya Kalau ilmunya sudah tinggi, ia bisa dimasukkan di dalam peti yang kemudian direndam dalam laut, dan sesudah tiga hari diangkat lagi, ia masih hidup seperti biasa.
Yang paling sukar dipelajari adalah menghentikan jalannya pernapasan.
Orang yang sudah berlatih sampai di puncak itu, badannya seperti juga badan dewa yang tidak bisa rusak.
Ilmunya si pendeta belum sampai pada puncaknya, akan tetapi, dibanding dengan tenaga Thiekoay sian, ia sudah menang seurat.
Ilmu yang dikeluarkan oleh si pendeta memerlukan kedudukan sila buat mengerahkan napas, yang semakin lama mengeluarkan tenaga semakin besar.
Itulah sebabnya, walaupun Hokmo Tianghoat makin lama jadi makin hebat, tapi masih terus dapat dipukul mundur oleh tenaga dalamnya si pendeta.
Dengan cepat, 36 jalan yang kedua juga sudah digunakan hampir habis.
Di atas kepalanya Thiekoay sian sudah kelihatan keluar uap putih, tapi Pengtjoan Thianlie belum juga muncul.
Melihat begitu, hatinya Thiekoay sian jadi berdongkol.
"Kalau begitu, buat apa aku campur urusannya?"
Kata ia dalam hatinya.
Memikir begitu, ia ambil putusan buat tidak keluarkan bagian ketiga dari Hokmo Tianghoat dan sembari sabetkan tongkatnya, ia niat loncat keluar dari gelanggang.
Tapi siapa nyana usaha itu tidak berhasil!
Sianthung si pendeta jubah merah seperti juga mempunyai tenaga menghisap dan ia tidak dapat loloskan diri!
Kaget dan gusarnya Thiekoay sian teraduk menjadi satu.
Buru-buru ia kerahkan tenaga dalam dan kebas tongkatnya, yang bisa bergoyang tapi tidak bisa copot sebab tenaga yang menghisap jadi semakin kuat.
Maka itu, Thiekoay sian tak dapat berbuat lain daripada tambah tenaganya buat layani lawanan itu dan kemudian keluarkan bagian ketiga dari Hokmo Tianghoat.
Bagian ketiga inilah yang paling memakan tenaga dalam.
Thian Oe lihat pukulan-pukulan kedua lawanan itu jadi semakin perlahan.
Si pendeta masih terus meremkan mata dan tundukkan kepala, tapi sekarang uap putih juga sudah muncul di atas kepalanya, sedang napasnya mulai sengalsengal.
Tapi keadaan gurunya ada terlebih menyedihkan.
Pakaiannya Thiekoay sian sudah cipruk dengan keringat yang terus mengetel-ngetel sebesar kacang.
Saban kali gerakkan tongkatnya, buku-buku tulangnya kedengaran peratak-perotok.
Biarpun Thian Oe belum mengerti ilmu silat tinggi, tapi ia tahu keadaan gurunya sudah kepayahan.
Lewat beberapa saat lagi, si pendeta mendadak buka kedua matanya dan membentak.
"Roboh kau!"
Thiekoay sian sempoyongan dan badannya bergoyang-goyang. Ia kertek giginya, tongkatnya membuat setengah lingkaran dan terus menindih ke jurusan bawah.
"Belum tentu aku roboh!"
Kata ia.
Waktu itu Thiekoay sian menyerang dengan pukulan yang ke 96, yaitu Hangliong Hokhouw (Pukulan takluki naga dan macan), dan Seantero tenaga dalamnya dipusatkan kepada kepala tongkat.
Si pendeta mesem tawar dan berkata.
"Apa kau mau cari mampus?"
Ia lantas angkat sianthung-nya ke atas dan bentur tongkatnya Thiekoay sian.
Sungguh aneh, tongkatnya Thiekoay sian yang sebesar mangkok lantas melengkung dengan perlahan!
Mukanya Thiekoay sian jadi pias.
Mendadak, dengan satu suara "trang!" , tongkatnya Thiekoay sian terpisah dari tempelan tongkat lawannya, sedang si pendeta loncat mundur beberapa tindak, tongkatnya diturunkan ke bawah dan ia berdiri dengan sikap hormat.
Thian Oe heran sungguh melihat perubahan yang begitu mendadak.
Waktu menoleh, ia segera tahu sebabnya.
Dengan memakai jubah sutera putih, Pengtjoan Thianlie kelihatan muncul dari antara pohon-pohon kembang dengan tindakan perlahan, sedang di dampingnya kelihatan isterinya Thiekoay sian, Gobie Liehiap Tjia In Tjin.
Sembari keluarkan teriakan perlahan, Tjia In Tjin loncat dan pegang tangan suaminya.
Dengan berpegangan tangan, mereka berdua lalu bersila di atas tanah sambil jalankan napasnya.
Pengtjoan Thianlie tertawa dingin.
Setindak demi setindak, ia menghampiri.
Kedua boesoe Nepal itu ketakutan sekali.
Sembari rangkap kedua tangannya, mereka berlutut dan meratap seperti juga sedang memohon ampun.
Sambil cekal tongkatnya, si pendeta juga memberi hormat dan keluarkan sehelai firman warna kuning dari kantongnya dan ucapkan beberapa perkataan.
Chena keluarkan suara kaget dan berbisik di kupingnya Thian Oe.
"Ini Hoantjeng menggunakan panggilan puteri terhadap Thianlie tjietjie dan minta ia menerima firman. Sungguh mengherankan."
Pengtjoan Thianlie terima firman itu, yang sesudah dibaca selewatan lantas dipulangkan lagi. Mukanya si pendeta jadi merah dan ia ketruk tongkatnya di atas tanah.
"Kita orang tidak bisa biarkan guci emasnya Kaizar Tjeng tiba di Lhasa,"
Kata ia dalam bahasa Nepal.
"Raja telah memerintahkan supaya kau turun gunung buat memberi bantuan. Apakah kau tidak sudi meluluskan?"
Dengan adanya Chena sebagai juru bahasa, Thian Oe juga mengerti apa yang dikatakan oleh pendeta itu.
Paras mukanya Pengtjoan Thianlie berobah sedikit, tapi pada bibirnya masih terus tersungging senyuman.
Si pendeta jubah merah kelihatannya mau buka mulut lagi, tapi Pengtjoan Thianlie sudah menuding dengan jerijinya dan berkata dengan suara tawar.
"Semua orang menggelinding turun dari gunung ini!"
Di bawah sinar rembulan yang putih dingin, mukanya si pendeta yang barusan merah sekarang berubah menjadi hijau, sehingga kelihatannya menakuti sekali! "Lihatlah, lantaran malu ia jadi gusar,"
Berbisik Chena di kupingnya Thian Oe.
Sebagai Koksoe (Guru negara) dari negara Nepal, manalah si pendeta dapat menelan hinaan itu?
Amarahnya meluap luber, sehingga jerijinya jadi gemetar.
Mendadak ia dongak dan tertawa terbahak-bahak akan kemudian menuding sambil membentak.
"Kau, kau suruh aku menggelinding turun? Raja sendiri tak berani berlaku begitu kurang ajar terhadapku!"
"Tak salah,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Aku perintah kau menggelinding turun dari sini. Habis kau mau apa? Aku sebenarnya sudah beri muka yang sangat besar kepadamu dengan membiarkan kau masuk ke dalam keraton ini dan menemui aku. Apa kau tidak kenal puas? Aku sudah bersumpah, bahwa siapapun berani membujuk aku turun gunung, ia itu mesti berlalu dari sini. Kau pun tak terkecuali."
Si pendeta kembali tertawa berkakakan seperti orang kalap.
Ia ketruk lagi tongkatnya, sehingga mengeluarkan suara yang sangat nyaring.
Sesudah itu ia manggutkan .kepala dan berkata dengan suara nyaring.
"Dari tempat yang jauhnya laksaan li, aku datang disini buat menemui Paduka Puteri. Memang juga hatiku tidak mengenal kepuasan. Aku dengar ilmu silatnya Paduka Puteri terhitung nomor satu di daerah Tiongkok dan wilayah Barat. Maka itu, aku sekarang ingin sekali dapat menambah pengalaman."
"Apa?"
Menegasi Pengtjoan Thianlie. Ia tertawa dingin dan tepuk kedua tangannya sambil berseru.
"Kemari!"
Di lain saat, sembilan dayang sudah kelihatan muncul. Pengtjoan Thianlie dongakkan kepalanya dan kebaskan tangannya dengan sikap agung.
"Usir ini pendeta liar!"
Ia memerintah.
"Ah, kalau begitu kau tidak sudi turun tangan sendiri?"
Kata si pendeta.
"Dengan demikian, undanganku yang barusan agaknya terlalu melanggar pri kesopanan. Maka itu, dengan tidak mengimbangi kebodohan sendiri, aku mohon belas kasihannya Paduka Puteri."
Kedua boesoe Nepal itu ketakutan setengah mati dan membujuk-bujuk supaya Koksoe nya menyingkir saja, tapi si pendeta tidak meladeni.
Pengtjoan Thianlie ambil sikap acuh tak acuh.
Begitu ia kebaskan tangannya, sembilan dayang itu lantas kurung si pendeta.
Kedua matanya yang angker dan tajam laksana pedang, kemudian mengawasi si pendeta yang tanpa merasa lantas mundur beberapa tindak.
Sembilan dayang itu lalu gerakkan tangannya seperti orang menggebah ayam, sehingga si pendeta menjadi kalap lantaran gusarnya.
"Baiklah!"
Ia membentak.
"Biarlah lebih dahulu aku minta pengajaran dari dayang-dayangmu dan kemudian barulah minta pengajarannya Paduka Puteri sendiri."
Sebaliknya dari meladeni omongan si pendeta, Pengtjoan Thianlie hampiri Chena yang lantas dipegang tangannya.
"Perhatikanlah, kiamhoat yang mereka gunakan, semuanya diajarkan olehku,"
Kata ia dengan suara menyayang.
Thian Oe merasa bahwa sikapnya Pengtjoan Thianlie terhadap Chena benarbenar seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya sendiri dan berbeda seperti langit dan bumi dengan keangkerannya yang barusan.
"Sifatnya Pengtjoan Thianlie benar-benar tak dapat ditebak,"
Demikian Thian Oe pikir dalam hatinya.
Si pendeta kebaskan tongkatnya dan pasang kuda-kuda, tapi tidak lantas menyerang, mungkin sebab mau pertahankan kedudukannya sebagai seorang yang lebih tua.
Apa yang mengherankan adalah pedangnya sembilan dayang yang semuanya seperti kristal, dan begitu digerakkan, sinar serta hawa dingin menyambar-nyambar sehingga Thian Oe jadi bergidik.
Di lain saat, ia rasakan dirinya seperti juga masuk ke dalam jurang es dan giginya bercakrukan.
Ia lirik Chena dan gadis itu juga ternyata gemetaran sekujur badannya lantaran kedinginan.
Pengtjoan Thianlie berkata sembari tertawa;
"Aku lupa kalian belum dapat lawan hawa ini. Biarlah kalian menahan buat sementara waktu."
Mendadak, bagaikan kilat jerijinya menotok batang lehernya Thian Oe.
Thian Oe terperanjat, sebab begitu kena, ia rasakan seperti juga kena listrik dan sekujur badan jadi kesemutan.
Tapi di lain saat, semacam hawa panas naik dari tantian (bagian pusar) dan mengalir di seluruh badannya.
Ia rasakan jantung mengetok keras dan darahnya mengalir lebih deras, seperti orang habis lari keras.
Di luar hawa sangat dingin, tapi badan berasa panas.
Chena juga sudah mendapat totokan begitu.
Ia sudah tidak gemetaran dan kedua pipinya bersemu merah.
Thian Oe pernah dengar penuturan gurunya, bahwa orang yang mempunyai lweekang (ilmu dalam) sangat tinggi, bukan saja dapat membinasakan manusia dengan totokannya, tapi juga bisa mengobati penyakit dengan totokan itu.
Waktu mendengar itu, ia anggap penuturan tersebut seperti cerita dongeng.
Tapi sekarang, sesudah mengalami sendiri, barulah ia percaya, bahwa dalam dunia benar-benar ada kepandaian yang sedemikian tinggi.
"Thianlie tjietjie, apakah mereka menggunakan pedang es?"
Tanya Chena.
Ia menanya begitu sebab sudah pernah lihat Pengtjoan Thianlie robohkan Loei Tjin Tjoe dengan sebatang pedang es.
Thian Oe juga sebenarnya ingin majukan pertanyaan begitu, maka itu, ia sangat perhatikan jawabannya Pengtjoan Thianlie.
"Ah, manalah mereka mempunyai kepandaian begitu tinggi?"
Jawab Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
"Pedang mereka adalah buatanku sendiri yang diberi nama Pengpok Hankong kiam (Pedang Roh Es Sinar Dingin). Pedang tersebut dibuat dari Oen-giok (Batu kemala hangat) yang sudah ribuan tahun tuanya dan merupakan keluaran istimewa dari gunung ini. Batu kemala tersebut, yang ribuan tahun teruruk es, harus diolah tiga tahun lamanya barulah menjadi pedang yang demikian. Ituiah sebabnya kenapa kalau digerakkan, pedang tersebut lantas keluarkan hawa dingin yang sangat hebat. Orang yang belum mempelajari Iweekang yang tinggi tidak bisa tahan hawa itu."
Melihat sinar dan merasa hawanya sembilan batang pedang itu, si pendeta jubah merah juga kelihatannya sangat terkejut.
Tapi berkat lweekangnya, ia tidak takuti hawa itu.
Sembilan batang pedang yang bagian kepalanya bersambung dengan bagian buntut, segera merupakan satu jala yang bersinar terang dan yang dengan perlahan menjadi semakin ciut.
Pendeta jubah merah tak dapat menahan sabar lagi.
Dengan pukulan Lekhoa hongkouw (Dengan tenaga menggurat perbatasan), sianthung-nya mendorong keluar.
Dengan beberapa suara kerontangan, empat batang pedang beradu dengan tongkat itu.
Melihat tongkatnya yang mempunyai tenaga ribuan kati, kena ditahan oleh empat dayang itu, hatinya si pendeta merasa heran.
Berbareng dengan itu, empat pedang dari garisan belakang, menikam bagaikan kilat cepatnya.
Sembari berkelit, si pendeta sampok pedang yang datang dari belakang dan pentil miring pedang yang datang dari sebelah depan.
Tapi dua pedang dari kiri dan kanan sudah menyambar ke badannya!
"Bagus!"
Berseru Thian Oe.
"Anak-anak, awas!"
Pengtjoan Thianlie berteriak hampir berbareng.
Pada detik itu, ke empat dayang kelihatan loncat dengan berbareng, sedang si pendeta, sembari membentak keras, menyerang seperti hujan angin dengan tangan dan sianthung-nya.
Ternyata, dengan mahir dalam ilmu Yoga, ototnya si pendeta dapat berobah-robah menurut sukanya.
Pada waktu pedangnya nempel pada jubahnya si pendeta, kedua dayang yang menyerang dari kiri dan kanan mendadak rasakan ujung pedang mereka terpeleset, sebab otot pundaknya si pendeta mendadak berubah bentuknya dan jadi lebih besar beberapa dim.
Berbareng dengan itu, si pendeta lalu menyerang dengan tongkat dan tangannya sembari kerahkan tenaga dalamnya.
Si pendeta sama sekali tidak duga, dayang-dayang itu mempunyai ilmu entengi badan begitu tinggi.
Begitu tongkatnya menyambar, mereka sudah menghilang ke empat penjuru seperti cecapung menotol air atau kupu-kupu berterbangan di antara bunga-bunga, sebentar ke kiri sebentar ke kanan, sebentar berkumpul sebentar berpencaran.
Beberapa kali ia kirim pukulanpukulan hebat, tapi semuanya jatuh di tempat kosong, dan tanpa merasa, ia sendirilah yang berbalik kena dikepung di sama tengah.
Dengan perasaan sangat berdongkol, ia lalu bersila di atas tanah dengan niatan menggunakan ilmu yang tadi ia gunakan terhadap Thiekoay sian.
Akan tetapi, melayani sembilan orang sangat berbeda dengan melawan satu orang.
Sembilan dayang itu bergerak tak hentinya dan tikamantikaman pedang mereka selalu ditujukan ke arah jalanan darah yang berbahaya.
Oleh karena ilmu Yoga si pendeta belum sampai pada puncaknya, maka adalah sangat sukar buat ia menutup semua jalanan darahnya dan berbareng meladeni sembilan lawanan itu.
Demikianlah, menghadapi serangan yang bertubi-tubi, sesudah bersila sementara waktu, ia terpaksa loncat bangun lagi sembari putar tongkatnya.
Sesudah bertempur beberapa gebrakan, ia bersila lagi, akan kemudian loncat bangun kembali.
Kejadian itu terulang sampai beberapa kali, sehingga kelihatannya lucu sekali sampai Thian Oe yang tak tahan buat tidak tertawa berkakakan.
Bukan main gusarnya si pendeta mendengar hinaan itu.
"Biar aku lukakan dua orang lebih dahulu,"
Kata ia dalam hatinya sembari loncat bangun dan putar tongkatnya.
Ia mengamuk seperti kerbau gila, seakan-akan sudah tidak pcrdulikan lagi keselamatannya sendiri dan turunkan tangannya tanpa sungkan-sungkan lagi.
Disurung dengan hawa amarah, bukan main hebat pukulan-pukulan tongkatnya, sehingga sembilan dayang itu tidak berani menyambut lagi dan cuma berkelit ke sana-sini.
Melihat begitu, Thian Oe jadi terkejut.
"Kalau terus begini, satu dua orang tentu akan kena terpukul,"
Kata ia dalam hatinya.
Tapi Pengtjoan Thianlie tetap tenang dan pada bibirnya terus tersungging meseman yang manis.
Mendadakan, satu perobahan terlihat dalam barisannya sembilan dayang itu.
Sekarang mereka berlari-lari di empat penjuru, sebentar berkumpul sebentar berpencaran, dan gunakan batu-batu hiasan taman sebagai tameng mereka.
Barisan itu berobah-robah bentuknya tak henti-hentinya, sehingga matanya orang yang menyaksikan jadi kekunangan.
Dengan gerak-gerakannya yang seperti kilat, itu sembilan dayang berobah seperti ratusan orang, dengan selendang suteranya yang berkibar-kibar dan pakaiannya berkelebat-kelebat, sehingga dalam taman itu seperti juga sedang dipertunjukan tarian "Bidadari Menyebar Bunga."
Thickoay sian sebenarnya sedang bersila sembari meramkan mata dan jalankan pernapasannya.
Dengan adanya perobahan itu, ia buka kedua matanya dan hatinya merasa sangat heran.
Ia heran oleh karena barisannya sembilan dayang itu ada mirip-mirip dengan barisan Pattintouw dari Tjoekat Boehouw (Tjoekat Boehouw adalah Tjoekat Liang atau Khong Beng, koensoe Lauw Pie dari jaman Samkok).
Cuma mirip dan tidak seluruhnya bersamaan dengan Pattintouw.
Kedudukannya delapan dayang adalah sesuai dengan kedudukan delapan pintu, yaitu Hioe, Seng, Siang, Touw, Sie, Keng, Kheng dan Kay.
Delapan pintu ini saling bantu satu sama lainnya.
Perbedaan dengan Pattintouw adalah kelebihan satu orang dalam barisan itu.
Dayang yang ke sembilan tidak ikut bergerak.
Ia menjaga di sama tengah dan seperti juga otaknya barisan itu.
Si pendeta juga rupanya mendapat lihat kedudukannya barisan itu, maka ia terus cecar dayang yang berdiri di tengah buat coba menjatuhkannya.
Tapi barisan itu berobah luar biasa cepatnya.
Begitu ia bergerak ke timur, musuh yang di sebelah barat lantas meluruk.
Begitu ia ke barat, pedang dari sebelah timur dan selatan lantas menyambar.
Biar bagaimanapun juga, ilmu silatnya si pendeta memang ada sangat tinggi.
Tanpa mengenal barisan itu, ia terus mengamuk dan tongkatnya sapu segala apa yang menghadang di tengah jalan, sehingga banyak gunung-gunungan dan batu-batu hiasan taman jadi hancur lebur.
Pengtjoan Thianlie kerutkan kedua alisnya dan paras mukanya jadi berobah.
Di lain saat, dayang yang menjadi kepala kedengaran membentak.
"Kau benar keterlaluan! Keindahan taman ini sampai menjadi rusak."
Sehabis membentak, ia mementil dengan dua jerijinya dan beberapa sinar terang menyambar ke arah pendeta itu.
"Senjata rahasia mana bisa celakakan aku?"
Kata si pendeta sembari tertawa dan lalu putar tongkatnya seperti titiran.
Senjata rahasia itu, yang masing-masing sebesar mutiara, terus menyambar-nyambar dan jadi hancur lantaran sampokannya tongkat.
Dan dalam kehancurannya itu, sinar dan hawa yang sangat dingin menyambar-nyambar, sehingga si pendeta sendiri sampai bergidik.
Di atas puncak gunung dari Telaga Thian-ouw terdapat semacam es yang ribuan tahun tak pernah lumer.
"Jantung" -nya es itulah yang diambil oleh Pengtjoan Thianlie dan diolah menjadi serupa senjata rahasia yang tidak ada keduanya dalam dunia dan diberi nama Pengpok Sintan (Peluru malaikat roh-nya es). Dalam pembuatan lain-lain senjata rahasia di muka bumi, tak perduli senjata rahasia buat lukakan musuh atau buat memukul jalanan darah, yang diperhatikan adalah kejituannya dan ketajamannya senjata rahasia tersebut. Cuma Pengpok Sintan yang lain dari yang lain. Yang diandalkan adalah hawa dinginnya yang sangat luar biasa. Begitu lekas senjata rahasia itu tersampok, keluarlah hawa dingin yang menusuk ke tulang-tulang dan hebatnya bukan buatan. Dengan tenaga dalam yang dipunyai olehnya, si pendeta sebenarnya masih dapat melawan hawa dingin itu. Cuma saja, lantaran mesti layani serangannya sembilan musuh, ia tak dapat pusatkan perhatiannya buat kerahkan tenaga dalamnya. Di sebelahnya itu, lantaran Pengpok Hankong kiam juga adalah senjata yang mengeluarkan hawa dingin, maka hawa dingin itu makin lama jadi makin hebat, sehingga badannya si pendeta jadi gemetaran dan giginya bercakrukan. Bagaikan orang edan, ia terus mengamuk. Dari jidatnya keringat turun berketel-ketel, tapi badannya tetap gemetaran. Pengtjoan Thianlie mesem dan berkata pada Chena.
"Dia anggap dengan gunakan tenaga Iweekeh, dia bisa keluarkan hawa panas buat melawan hawa dingin itu. Tapi dia tak tahu, dengan demikian, dingin dan panas jadi berkelahi dan bisa mencelakakan. Ini kali, biarpun tidak menjadi mati, rasanya dia bakal sakit keras beberapa hari."
Thian Oe yang hatinya sangat mulia lantas saja berkata.
"Kalau begitu, ampuni sajalah ia."
"Kau mintakan ampun?"
Kata Chena sembari melirik.
Pengtjoan Thianlie tidak berkata apa-apa dan cuma mesem.
Semakin lama pendeta itu kelihatan semakin lelah.
Sesudah bertempur lagi beberapa lama, dayang yang menjadi pemimpin membentak.
"Robohlah!"
Ia ayun tangannya dan sebutir peluru kembali menyambar. Jantungnya si pendeta gemetar, kedua kakinya lemas, kepalanya terputar dan badannya bergoyang-goyang seperti mau jatuh.
"Berhenti!"
Pengtjoan Thianlie membentak.
Di lain saat, sembilan dayang itu sudah tarik pulang pedangnya dan berdiri berbaris di kedua pinggirnya Pengtjoan Thianlie.
Mukanya si pendeta jadi seperti kepiting direbus.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia tarik napas panjang beberapa kali, memberi hormat kepada Pengtjoan Thianlie dan lantas lari keluar dari keraton es.
Kedua boesoe Nepal juga lalu memberi hormat dan dengan paras muka ketakutan lalu mengikut di belakangnya si pendeta.
Dalam sekejap, keadaan kembali menjadi sunyi.
"Dengan dapat menerobos masuk kedalam keraton, kepandaiannya orang itu tidaklah rendah,"
Berkata Chena sembari tertawa.
"Tak bakal ada orang kedua yang bisa masuk secara begitu,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Sebenarnya akulah yang sengaja membiarkan dia masuk. Kalau bukannya begitu, walaupun dia bisa menyebrangi sungai es, tak nanti dia dapat tembus barisan Kioethian Hianlie (Dewi sembilan lapisan langit)."
Mendengar omongan temberang itu, Thiekoay sian tertawa dalam hatinya.
"Kalau begitu, ia merobah sedikit Pattintouw Tjoekat Boehouw dan ganti namanya,"
Kata Thiekoay sian dalam hatinya.
"Liehay memang cukup liehay, tapi kalau mau dibilang barisan itu dapat menahan semua orang pandai dalam dunia, rasanya terlalu terkebur."
Thiekoay sian adalah murid kepala Kam Hong Tie dan pengalamannya luas sekali.
Ia yakin, bahwa kepandaian manusia tak ada batasnya dan di luar langit masih terdapat langit.
Maka itu, ia tidak sependapat dengan temberangnya Pengtjoan Thianlie.
Sementara itu, Pengtjoan Thianlie berpaling kepada Thiekoay sian dan bibirnya bergerak seperti orang mau bicara.
Tapi lantaran lihat mukanya Thiekoay sian yang sangat pucat, ia urungkan niatannya dan lantas jalan menghampiri.
"Dia menghaturkan banyak terima kasih buat budimu,"
Berkata Tjia In Tjin.
"Tapi sekarang dia belum bisa jalan, maka aku mohon kau suka kirim dua dayang buat antar dia turun gunung."
Pengtjoan Thianlie awasi mukanya Thiekoay sian dan kemudian berkata.
"Masih untung kau cuma jalankan 96 jurus Hokmo Tianghoat. Kalau kau jalankan habis 108 jurus, biarpun diberi obat dewa, tidak nanti kau dapat pulang tenagamu yang sediakala. Sekarang benar-benar kau tidak boleh berangkat."
"Apa?"
Tjia In Tjin menegasi dengan suara kaget.
"Tak apa-apa,"
Sahut yang ditanya dengan suara tawar.
"Cuma lantaran gunakan tenaga melewati batas, jalanan darahnya jadi kalang kabut dan isi perutnya bergerak. Kalau ia turun gunung juga, begitu kena goncangan di sungai es, walaupun tidak sampai menjadi mati, rasanya ia akan bercacat seumur hidup dan tidak akan bisa jalan lagi, meskipun memakai tongkat. Berkat tenaga dalamnya yang sangat kuat, dengan mengasoh lima hari dan ditambah sama obat, aku rasa ia akan jadi sembuh kembali. Baiklah aku beri tempo lima hari lagi."
Ia lantas gapekan satu dayang dan memberi perintah.
"Bereskan satu kamar supaya ia bisa atur pernapasannya ---siapapun tak boleh ganggu padanya. Dan juga pinjamkan Oen-giok padanya."
Sesudah memesan begitu, ia berpaling pada Tjia In Tjin dan berkata sembari tertawa.
"Kali ini "
Menyimpang dari kebiasaan, aku permisikan kalian berdiam lima hari lagi. Sesudah lewat lima hari, kalian boleh turun gunung dengan tak usah pamitan! "
Mendengar perkataannya Pengtjoan Thianlie, Tjia In Tjin merasa sangat terkejut, sebab ia tidak duga, suaminya mendapat luka di dalam yang begitu berat.
Di satu pihak sikapnya Pengtjoan Thianlie seperti juga kurang mempunyai perasaan kemanusiaan, akan tetapi di lain pihak, ia rela meminjamkan mustika Oen-giok buat mengobati suaminya, satu pertolongan yang penuh pri kemanusiaan.
Maka itulah, perkataan-perkataannya Pengtjoan Thianlie membikin Thiekoay sian suami isteri tak tahu mesti menangis atau tertawa.
Perasaan berdongkol dan berterima kasih tercampur menjadi satu.
"Kau boleh rawat ia, dan kalau tidak ada urusan penting jangan cari padaku,"
Kata lagi Pengtjoan Thianlie yang lantas saja berlalu dengan dayang-dayangnya.
Dahulu, sifatnya Tjia In Tjin juga sombong dan dingin.
Sesudah mendapat banyak pengalaman pahit getir, ia berobah banyak, akan tetapi toh ia masih tak dapat menelan kesombongan orang yang ditujukan kepadanya.
Tidak dinyana, kali ini sesudah melalui perjalanan laksaan li, ia sudah mendapat perlakuan sedemikian, cuma lantaran membujuk supaya Pengtjoan Thianlie suka turun gunung.
Semakin diingat, ia jadi semakin mendeluh dan hampir-hampir saja ia keluarkan perkataan perkataan keras buat menimpali.
Cuma saja, walaupun Pengtjoan Thianlie sepuluh kali lipat lebih angkuh dari ianya, keangkuhan itu keluar dengan sewajarnya.
Sikapnya yang agung tanpa dibuat-buat membikin orang jadi tidak berani banyak rewel terhadapnya.
Tjia In Tjin coba tahan perasaan mendeluhnya yang malang di tengah uluhatinya, dan beberapa saat kemudian dengan satu suara "wah!", ia muntahkan cairan pahit yang naik dari kantong nasinya.
"Soenio (isteri dari guru), kau kenapa?"
Tanya Thian Oe dengan perasaan kaget. Mukanya Tjia In Tjin pucat, disusul dengan semu merah.
"Anak kecil jangan campur urusan lain orang,"
Kata ia sembari kebaskan tangannya dan lalu ajak sang dayang tuntun Thiekoay sian pergi ke kamar buat mengasoh. Dengan rasa masgul Thian Oe berdiri bengong.
"Sesudah repot setengah malaman, kau pun harus mengasoh,"
Kata Chena.
"Besok aku akan ajak kau jalan-jalan buat saksikan pemandangan-pemandangan luar biasa dalam keraton."
Sehabis berkata begitu, ia lantas berlalu.
Thian Oe awasi belakangnya si nona, yang semakin lama jadi semakin jauh dan akhirnya menghilang di antara pohon-pohon kembang.
Ia ingat, lima hari lagi ia toh bakal turun gunung juga, dan berhubung dengan kekeliruan gurunya terhadap Pengtjoan Thianlie, mulai waktu itu ia tidak akan dapat bertemu lagi.
Mengingat begitu, hatinya jadi semakin masgul.
Pada besokan paginya, begitu mcndusin ia melongok keluar jendela dan kedua matanya kembali saksikan pemandangan luar biasa.
Di bawah sorotnya matahari, keraton es yang terang benderang mengeluarkan cahaya aneka warna, sehingga Thian Oe merasa seakan-akan berada dalam dunia dongengan.
Tidak lama kemudian, sang dayang antarkan makanan pagi yang terdiri dari dua buah merah yang sangat besar.
Dua buah itu bukan saja rasanya manis, tapi baunya pun harum sekali.
Sebagaimana telah dijanjikan, Chena menyamper dan ajak ia keluar jalan-jalan.
Sesudah berdiam di keraton es, walaupun pada sinar matanya masih terdapat sorot kesedihan, Chena sudah banyak lebih gembira.
Ia jalan perlahan-lahan sembari omong-omong dan tertawa-tawa, seperti juga pohon yang sudah dapat hawanya musim semi yang menyegarkan.
Adalah sukar buat melukiskan pemandangan-pemandangan indah permai di sekitar keraton itu.
Pendopo-pendopo yang mungil, jalanan-jalanan bulat-belit yang terawat baik, jendela-jendela dengan macam-macam ukiran, gunung-gunungan dan batu-batu perhiasan yang hampir semuanya terbuat dari kristal, beberapa air mancur yang tersebar di seluruh taman, solokansolokan dan empang-empang yang airnya jernih bagaikan kaca.
"Air pengempang dan solokan semuanya ditarik naik dari Thian-ouw, makanya jernih luar biasa,"
Kata Chena.
"Aku paling suka minum air itu."
Buat memperlengkap keindahan disitu, di seluruh taman penuh dengan pohon-pohon bebuahan dan pohon-pohon kembang yang menyiarkan bebauan sangat harum.
"Tempat ini seperti juga tempat dewa-dewa, maka tidaklah heran kalau Pengtjoan Thianlie sungkan turun gunung,"
Kata Thian Oe sembari tertawa.
Demikianlah mereka pesiar ke sana-sini dan kalau merasa lapar mereka petik buah-buah matang buat tangsel perut.
Oleh karena luasnya, sesudah jalan setengah harian mereka belum juga dapat putari habis seluruh wilayah keraton itu.
Selagi enak jalan, hidungnya Thian Oe mendadak dapat endus bebauan yang sangat luar biasa, harumnya melebihi bunga yang paling harum, tapi bagaimana harumnya, tak mungkin dapat dilukiskan.
Thian Oe segera cepatkan tindakannya dan menuju ke arah keluarnya wewangian itu.
Beberapa saat kemudian, matanya dapat lihat sebuah bangunan yang sangat berbedaan dengan semua gedung yang berada disitu.
Bangunan tersebut berbentuk gereja yang atapnya lancip, dan kalau lain-lain bangunan semuanya terbuat dari kristal, marmer atau es yang keras, adalah bangunan itu berwarna hitam, sehingga kelihatan menyolok sekali.
Wewangian yang luar biasa itu ternyata keluar dari rumah tersebut.
Dengan perasaan heran Thian Oe coba menolak pintunya.
Parasnya Chena berobah dengan mendadak dan buru-buru mencegah.
"Waktu aku berdiam disini pertama kali, Thianlie tjietjie pernah memesan, bahwa aku boleh pergi kemana juga, cuma ke dalam rumah itu aku tidak boleh masuk,"
Kata Chena dengan suara berbisik.
"Kenapa?"
Tanya Thian Oe.
"Siapa tahu?"
Kata Chena.
"Menurut katanya para dayang, saban malam Tje-it (Tanggal 1 penanggalan Imlek, bulan gelap), ia pergi sendirian ke dalam rumah itu, dimana ia berdiam kira-kira satu jam lamanya. Apa yang ia lakukan, tak ada yang berani menanya. Dari dayang-dayang itu aku mendapat tahu, bahwa rumah itu terbuat dari semacam kayu garu, yang kalau dibakar, baunya yang harum bisa diendus dari tempat belasan li jauhnya."
Mendengar penuturan itu, hatinya Thian Oe jadi lebih-lebih heran lagi.
Malam itu, Thian Oe tidak dapat tidur lantaran tidak dapat melupakan rumah yang penuh tekateki itu.
Dalam layap-layap ia masuk ke dalam dunia impian, la mengimpi lihat Pengtjoan Thianlie pasang hio dan bersembahyang dalam rumah itu, dengan di dampingi oleh Chena.
Setahu bagaimana, ia sendiri juga berada dalam rumah tersebut.
Mendadak Pengtjoan Thianlie cabut sebatang pedang yang sinarnya bergemilapan dan tikam uluhatinya.
Rambutnya Pengtjoan Thianlie mendadak berobah jadi ular terbang yang tak dapat dihitung berapa banyaknya dan terbang menyambar ke arah dirinya.
Chena keluarkan teriakan kaget dan rumah itu mendadak roboh, dengan sebatang balok wuwungan menindih dirinya sendiri.
Dalam mengimpinya Thian Oe berteriak-teriak dan berontak-rontak.
"Jangan ngigo! Bangun, hayo bangun!"
Mendadak ia dengar suaranya satu wanita di kupingnya. Thian Oe sadar. Ia buka kedua matanya dan ternyata Chena berdiri di hadapannya.
"Hayo, bangun!"
Kata si nona sembari goyang-goyang badannya.
"Seorang aneh kembali masuk ke dalam keraton es tanpa permisi!"
Begitu mendengar, Thian Oe hilang ngantuknya. Ada orang lagi! "Apa dia sudah bisa seberangi sungai es dan terobos barisan Kioethian Hianlie yang dipasang di sebelah luar?"
Tanya Thian Oe.
"Kalau bukan sudah menerobos barisan itu, cara bagaimana ia bisa sampai di keraton es?"
Jawab Chena.
"Sekarang lonceng pertandaan bahaya sudah dipukul dan Thianlie tjiitjie segera juga akan keluar!"
Thian Oe buru-buru pakai baju luarnya dan ikut Chena berlari-lari keluar.
Sembilan dayang yang kemarin sudah mengambil masing-masing kedudukannya dan seorang pemuda yang memakai baju putih berada di tengah-tengah mereka.
Waktu itu mereka belum bergebrak.
Begitu lihat, Thian Oe keluarkan teriakan tertahan.
"Kenapa?"
Tanya Chena.
"Aku kenal orang itu!"
Jawabnya.
Si pemuda baju putih juga rupanya sudah lihat Thian Oe, sebab ia lantas menengok sembari mesem.
Orang itu bukan lain daripada si anak sekolah yang pernah tolong jiwanya Siauw Tjeng Hong dengan jarum emas dan yang pernah bikin repot Bek Tayhiap dan yang lain-lain di kota Shigatse.
"Siapa ia?"
Tanya lagi Chena.
"Aku tak tahu namanya,"
Jawab Thian Oe.
"Tapi ia pernah tolong jiwanya guruku. Aku rasa ia adalah seorang baik."
"Wah, celaka!"
Kata Chena.
"Menurut dayang-dayang, Thianlie tjietjie merasa sangat gusar dan mengatakan, bahwa orang itu harus diajar adat sekeras-kerasnya. Tanpa memberi hajaran keras, keraton es bisa-bisa tidak aman lagi. Garisan pertahanan keraton es, semakin ke belakang, semakin kuat. Ini dayang-dayang keraton sangat tinggi ilmu silatnya. Aku kuatir, kalau toh tidak sampai mati, orang itu akan luka berat!"
Sembilan dayang itu lantas cabut pedangnya, tapi mendadak hentikan gerakannya.
Keadaan jadi sunyi senyap, sehingga kalau sebatang jarum jatuh di atas tanah, suaranya akan bisa terdengar nyata.
Thian Oe menoleh dan lihat Pengtjoan Thianlie sudah berjalan keluar dengan paras muka yang penuh kegusaran.
Begitu lihat si pemuda, ia keluarkan satu seruan perlahan.
Sikapnya lantas berobah, seperti orang yang sedang merasa heran.
Pengtjoan Thianlie tadinya kira, bahwa orang yang datang adalah sebangsa pendeta jubah merah.
Tapi tidak terduga, yang ia ketemukan adalah seorang pemuda Han yang parasnya cakap sekali.
"Tanpa latihan puluhan tahun, tak gampang-gampang orang bisa lewati sungai es dan terobos barisan depan,"
Pikir ia dalam hatinya.
"Apakah pemuda ini yang usianya sepantaran denganku mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari si pendeta jubah merah?"
Dua pasang mata lantas kebentrok. Pemuda baju putih itu tertawa dan menanya.
"Apa kau ini majikan dari keraton es? Kenapa kau begitu lambat menyambut tetamu?"
"Siapa kau?"
Pengtjoan Thianlie balas tanya.
"Ada urusan apa kau datang disini?"
"Jika aku menyebutkan namaku, kau tentu akan terlebih tidak sungkan-sungkan lagi terhadapku,"
Kata pemuda itu.
"Biar bagaimana juga, lambat laun aku harus memberitahukan, asal saja kau suka luluskan satu permintaanku."
"Permintaan apa?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Apa kau tahu halnya guci emas?"
Si pemuda balas tanya. Pengtjoan Thianlie kerutkan kedua alisnya.
"Ah, lagi-lagi guci emas!"
Katanya.
"Benar menyebalkan. Apakah kau mau minta aku turun gunung buat rampas guci emas itu? Kalian bermusuhan sama bangsa Boan, sama aku tak ada sangkut pautnya."
"Kau menebak salah,"
Kata si pemuda sembari mesem.
"Aku mau minta kau turun gunung, justru buat melindungi guci emas itu! Orang Nepal mau rampas guci itu. Beberapa hiapkek tolol, seperti sebangsa Thiekoay sian, juga ingin merampas. Dengan sendirian saja, aku repot. Maka itu, kau mestilah turun gunung buat membantu!"
Caranya si pemuda seperti juga sedang minta bantuan dengan satu sahabat karib, yang seolaholah tidak boleh tidak meluluskan. Pengtjoan Thianlie merasa gusar sekali, sehingga kedua alisnya berdiri.
"Dengan memiliki ilmu silat seperti sekarang, boleh dibilang kepandaianmu sudah lumayan. Lekas berlalu, supaya kau tidak, menyesal,"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari kebaskan tangannya.
Bahwa ia tidak lantas memberi perintah kepada sembilan dayangnya buat mengusir dengan kekerasan, Pengtjoan Thianlie sebenarnya sudah berlaku sungkan sekali.
Tapi, sebaliknya dari mundur, pemuda itu malahan maju setindak dan pada kedua bibirnya terus tersungging senyuman.
"Apa? Apakah kau tak sudi memberi muka padaku?"
Tanya ia. Pengtjoan Thianlie berobah parasnya. Dayang yang jadi pemimpin lantas saja membentak.
"Kau benar tak mengenal kesopanan? Apa benar-benar kau mau kami mengusir dengan kekerasan?"
Si pemuda berbangkes dan berkata sembari tertawa.
"Naik gampang, turun sukar. Hari ini aku sudah capai sekali dan ingin tidur sebentaran!"
Sang dayang tepuk kedua tangannya dan barisan itu segera mulai bergerak. Delapan batang pedang yang hawanya dingin lantas saja menyambar bagaikan kilat.
"Dingin! Dingin! Ah, hilanglah perasaan ngantukku!"
Berseru si pemuda yang badannya lantas saja berkelebat-kelebat di antara sinarnya pedang-pedang itu.
Sebagaimana diketahui, seranganserangannya barisan itu hebat sekali dan delapan pedang menyambar-nyambar saling susul bagaikan gelombang.
Sang pedang cepat, tapi si pemuda lebih cepat lagi.
Ujung pedang kelihatannya sudah menempel pada badannya, en toh pada detik yang terakhir, ia selalu dapat mengegos dengan tepat sekali.
Melihat begitu, mau tak mau, Pengtjoan Thianlie jadi merasa kagum.
Semakin lama serangan delapan pedang jadi semakin seru dan badannya si pemuda seperti juga sudah dikurung sinar pedang yang seperti jala.
Thian Oe amat berkuatir.
"Chena tjietjie,"
Berbisik ia.
"Dapatkah kau menolong padaku buat minta Pengtjoan Thianlie hentikan pertempuran?"
Chena tidak menyahut. Ia cuma gelenggelengkan kepalanya. Tiba-tiba si pemuda tertawa terbahak-bahak.
"Ilmu pedang bagus! Sungguh bagus sekali!"
Ia berseru.
"Sekarang maafkan padaku."
Setahu bagaimana, selagi ia kelit delapan batang Pengpok Hankong kiam, tahu-tahu tangannya sudah mencekal sebatang pedang panjang, yang mengeluarkan sinar berkeredepan dan mengaung kapan dikebaskan.
"Pedang bagus!"
Pengtjoan Thianlie berkata tanpa merasa.
Sesudah mengebas sekali, si pemuda membuat satu lingkaran bundar dengan pedangnya dan di lain saat, dengan suara berkrontangan, pedangnya dua dayang sudah terbabat putus!
Semua dayang terkesiap dan lantas pada loncat mundur.
Dengan kecepatan yang tak dapat dilukiskan dan pengetahuan akan Pattintouw dari Tjoekat Boehouw, ia menindak di pintu Hioe, biluk di pintu Kay, putari pintu Sie, injak pintu Seng dan lantas balas menyerang.
Di lain saat, pedangnya dayang yang menjaga pintu Keng dan pintu Siang sudah terbabat putus.
Dayang yang menjaga di tengah-tengah lantas saja timpukkan Pengpok Sintan dengan gerakan Thianli Sanhoa (Bidadari sebar kembang).
Di tengah udara lantas saja penuh dengan peluru yang seperti mutiara dan bersinar terang.
Si pemuda juga lantas ayun tangannya dan lepaskan senjata rahasianya.
Pengpok Sintan sudah luar biasa, tapi senjata rahasianya si pemuda lebih luar biasa lagi.
Senjata rahasia itu ada sedemikian halus, sehingga tak dapat dikenali dengan sang mata, dan yang terlihat cuma sinar emas yang berkredep.
Dalam tempo sekejapan, Pengpok Sintan sudah tidak kelihatan lagi.
Pengtjoan Thianlie terkesiap sebab lihat tenaga dalam si pemuda yang luar biasa besarnya.
Senjata rahasia itu macamnya seperti rumput bong (rumput buat bikin kasut).
Begitu nempel, Pengpok Sintan lantas mental beberapa tombak dan jatuh di atas tanah!
Hatinya si nona jadi tergoncang, sebab ia mendadak ingat penuturan mendiang ayahnya mengenai Thiansan Sinbong (Bong malaikat dari gunung Thiansan), semacam senjata rahasia ahli-ahli pedang Thiansan, yang kalau dilepaskan mengeluarkan sinar merah yang mengkredep.
Mengingat begitu, pandangannya terhadap pemuda itu lantas jadi lain.
Di lain saat, badannya si pemuda mendadak terputar-putar seperti kilat.
Para dayang cuma merasa bayangannya berkelebat dan empat batang Pengpok Hankong kiam sudah pindah ke dalam tangannya si pemuda!
Bukan main kagetnya Pengtjoan Thianlie.
"Berhenti!"
Ia berseru. Dengan satu kelebatan, si pemuda sudah berdiri tegak di luar barisan dan sembari tertawa ia mengawasi Pengtjoan Thianlie.
"Kenapa?"
Ia tanya.
"Tak apa-apa,"
Jawabnya dengan tawar.
"Perkataanku tak dapat dirobah lagi."
"Kalau begitu kau mau turun tangan sendiri buat mengusir aku?"
Tanya si pemuda.
"Benar,"
Jawabnya.
"Kau masuk dengan kekerasan, maka tuan rumah juga harus mengusir dengan kekerasan."
"Tak ada yang lebih baik daripada itu,"
Kata si pemuda sembari tertawa.
"Aku jadi dapat kesempatan buat tambah pengalaman dan saksikan Tatmo Kiamhoat yang sudah hilang dari wilayah Tiongkok."
Ia sama sekali tidak keder menghadapi sorot matanya Pengtjoan Thianlie yang dingin.
Pada kedua bibirnya terus tersungging senyuman dan balas mengawasi dengan mata tajam.
Thian Oe dan Chena duga Pengtjoan Thianlie akan segera turun tangan.
Tapi tak dinyana, sembari menyapu dengan matanya yang bagus, Pengtjoan Thianlie berkata.
"Sesudah menyebrangi sungai es dan bertempur lama, kau tentu lelah sekali. Maka itu biarlah besok tengah hari kau datang lagi!"
Si pemuda memberi hormat dan berkata sembari tertawa.
"Baiklah. Kalau kau perintah aku datang lagi, aku tentu datang."
Sesudah kasih masuk pedangnya ke dalam sarung, ia putar badannya, tapi sebelum berjalan pergi, ia berkata pula sembari mesem.
"Masih boleh jugalah perlakuan itu terhadap seorang sahabat."
"Apa kau bilang?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Tak apa-apa,"
Sahutnya.
"Dalam dunia ini, memang ada manusia yang tidak tergerak perasaannya biarpun ia bertemu dengan sahabat yang saling mengenal isi sang hati. Kau hidup tanpa sahabat dalam keraton yang begini indah. Itulah yang dinamakan kekurangan dalam serba kecukupan."
Mukanya Pengtjoan Thianlie bersemu merah.
Perkataan itu kena betul pada uluhatinya.
Memang juga, sedari ayah dan ibunya meninggal dunia, tak ada seorangpun terhadap siapa ia dapat tumpleki isi hatinya.
Saban-saban bertemu dengan malam terang bulan, mau tak mau ia merasakan juga satu kesepian.
"Kau terlalu rewel,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Siapa suruh kau campur urusan lain orang?"
Sehabis berkata begitu, tanpa merasa ia melangkah beberapa tindak, mengikuti si pemuda yang sedang naik ke atas jembatan yang terbentang di atas satu pengempang teratai.
Di sebelahnya pohon-pohon teratai yang sedang berbunga, atas empang itu terdapat beberapa macam pohon air yang bunganya luar biasa dan menyiarkan bau harum sekali.
Di atas jembatan itu terdapat satu pendopo yang di kedua sampingnya tergantung sepasang lian (toeilian) yang bunyinya seperti berikut.
Sinar rembulan, harumnya bunga semua masuk impian.
Keraton dewi, ranggon indah sama-sama datangkan kedinginan.
"Perkataannya cukup bagus, cuma kurang cocok sama keadaannya,"
Kata si pemuda sembari tertawa.
Ia tak tahu bahwa toeilian itu adalah buah kalamnya Pengtjoan Thianlie sendiri.
Moh Hoan Lian, neneknya Pengtjoan Thianlie, adalah satu tjaylie (wanita pintar) yang tersohor namanya.
Sebagai satu cucu yang mewarisi pelajaran keluarganya, sedari kecil Koei Peng Go (Pengtjoan Thianlie) sudah belajar membuat syair, menabuh khim dan main tiokie.
Semua toeilian yang terdapat dalam keraton itu adalah buah kalamnya sendiri.
Lantaran begitu, tidaklah heran kalau ia jadi merasa berdongkol waktu dengar celaannya si pemuda.
Ia maju lebih dekat dan menanya dengan suara menantang.
"Kenapa tak cocok sama keadaannya? Coba kau bilang?"
"Sinar rembulan dan harumnya bunga bisa diketemukan dimana juga,"
Menerangkan pemuda itu.
"Keraton dewi dan ranggon indah juga cuma kata-kata yang melukiskan keindahannya suatu gedung dan dapat digunakan di segala tempat. Maka itulah, perkataan-perkataan tersebut tidak cukup melukisi pemandangan istimewa yang terdapat disini. Apalagi, toeilian tersebut cuma melukis pemandangan dan tidak melukis manusia. Itulah yang aku namakan satu cacat dalam keindahan."
Walaupun bersifat sangat angkuh, tapi Pengtjoan Thianlie adalah seorang gadis yang suci bersih. Mendengar penjelasannya si pemuda yang beralasan, ia jadi mesem dan berkata.
"Kalau begitu, cobalah kau tolong bikinkan gantinya."
Baru saja si pemuda mau buka mulurnya, satu dayang menyeletuk.
"Apakah kau tahu, bahwa toeilian itu digubah berdasarkan namanya orang? Tak gampang mengubah itu."
"Jangan banyak bacot,"
Membentak Pengtjoan Thianlie sembari lirik dayangnya. Sesudah itu, ia berpaling kepada si pemuda dan berkata.
"Cobalah kau sebutkan syairmu buat gantikan sepasang lian itu, supaya aku dapat menimbang apa cocok dengan pemandangan disini."
"Kalau begitu, baiklah aku mempersembahkan kebodohanku,"
Kata si pemuda sembari mesem dan lalu bersyair.
"Sinar bulan atas sungai es, dewi rembulan turun, Bidadari menyebar bunga. Sang penyair datang."
Sehabis bersyair, ia tertawa dan berkata pula.
"Walaupun kata-katanya tidak begitu bagus, tapi sang manusia yang disebutkan dalam lian itu betul-betul cantik luar biasa, sehingga aku rasa, toeilian ini bolehlah juga."
Hatinya Pengtjoan Thianlie bergoncang dan mukanya jadi bersemu dadu. Syair yang disebutkan barusan bukan saja terdapat kata-kata "Pengtjoan Thianlie,"
Tapi juga menggenggam namanya sendiri, yaitu Peng Go.
(Sungai es = Pengtjoan, Bidadari = Thianlie, Es = Peng, yang kalau digabung dengan Go-Dewi rembulan --menjadi Peng Go).
Syair tersebut terang-terangan digubah untuk dirinya sendiri dan di dalamnya menggenggam arti, bahwa si penyair mengagumi ia.
Sinar rembulan di atas sungai es adalah seperti sang dewi rembulan sudah turun ke muka bumi.
Belakangan disebutkan, bidadari sebarkan bunga, sehingga menyebabkan datangnya si penyair.
Dengan berkata begitu, si pemuda mau bilang, bahwa ia datang kesitu lantaran kagumi Pengtjoan Thianlie.
Akan tetapi, orang tidak dapat katakan ia memberi umpakan murah, sebab syair itu memang sesuai dengan keadaannya.
Maka itulah, diamdiam Koei Peng Go kagumi kepintarannya pemuda itu.
"Nah, sekarang aku sudah persembahkan syairku,"
Kata si pemuda sembari berpaling kepada sang dayang.
"Barusan kau bilang, lian ini dibuat berdasarkan nama orang. Nama siapa? Apa boleh kau memberitahukan?"
Dayang itu tidak menjawab, tapi tekap mulutnya sambil tertawa.
"Biarlah aku saja yang memberitahukan,"
Pengtjoan Thianlie menyelak.
"Kata-kata dalam toeilian itu aku gubah berdasarkan namanya. Dalam taman ini ada dua belas pemandangan istimewa. Di saban tempat ada toeilian dan setiap toeilian digubah berdasarkan namanya dayangdayangku."
"Sinar rembulan, harumnya bunga semua masuk impian, keraton dewi, ranggon indah sama-sama datangkan kedinginan,"
Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 7
Baca Juga: Sebilah Pedang Mustika 2