Eps 3 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Demikian si pemuda ulangi bunyinya toeilian itu dan kemudian berkata sambil menunjuk si dayang.
"Kalau begitu, namamu Goat Sian." (Rembulan = Goat, Dewi = Sian, kalau digabung jadi satu ialah Goat Sian).
"Benar,"
Sahut sang dayang sembari manggutkan kepala.
"Bagus,"
Kata si pemuda.
"Sekarang izinkan aku mempersembahkan lagi kebodohanku dan mengubah sepasang lian untukmu."
Ia mesem-mesem dan sambung omongannya.
"Aku ingat syairnya seorang dahulu kala. Biarlah aku pinjam syair itu untuk mengubahnya. Dengarlah.
"Sinar bulan tiada cacatnya, jendela jodoh, pintu merah, setiap tahun dikitari. Sang dewi patah hatinya, lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri. Demikian ia mengubah toeilian tersebut. Kalau perkataan "
Bulan" (goat) digabung sama perkataan "dewi" (sian), jadilah Goat Sian, namanya dayang itu.
"Lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri"
Adalah sebagian dari syairnya Lie Gie San yang berbunyi seperti berikut.
"Sang bidadari menyesal sudah curi obat mustajab, lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri."
Dengan mengubah syair tersebut si pemuda ejek Pengtjoan Thianlie seperti satu bidadari, yang dengan penuh kesunyian berdiam dalam keraton es seorang diri.
Pengtjoan Thianlie kerutkan kedua alisnya.
Tanpa merasa, ia sudah mengikuti si pemuda menyeberangi jembatan itu!
Dengan main bersyair secara begitu, dimanalah adanya sifat permusuhan antara mereka berdua?
Sesudah menyebrang jembatan, si pemuda lalu angkat kedua tangannya dan berkata sembari tertawa.
"Tak usah mengantar terlebih jauh dan tak usah kalian mengusir. Aku sekarang mau pergi, besok tengah hari aku akan balik buat penuhi janji."
Mukanya Pengtjoan Thianlie kembali bersemu dadu.
Si pemuda baju putih lalu pentang kedua kakinya dan dalam sekejap sudah hilang dari pemandangan.
Sesudah sang tetamu berlalu, semua orang dalam keraton ramai bicarakan ia, antaranya juga Tan Thian Oe.
Ilmu silatnya si pemuda baju putih dan Pengtjoan Thianlie tak dapat diukur bagaimana tingginya, maka besok tentulah juga bakal terjadi pertempuran yang sangat hebat.
Pada esokan harinya, sebelum tengah hari, Chena sudah samper Thian Oe buat diajak saksikan keramaian.
Baru saja menginjak taman, kuping mereka sudah dengar suara tetabuhan khim yang merdu sekali.
"Apakah khim itu dipentil oleh Thianlie tjietjie? Main khim pagi-pagi adalah diluar kebiasaannya,"
Kata Chena. Mereka pasang kuping dan ternyata yang sedang diperdengarkan adalah lagu "Tjioelam"
Dari Siekeng (Kitab Syair).
Nyanyian dari lagu tersebut berbunyi kira-kira seperti berikut.
Di Selatan ada pohon tinggi, tapi tak ada tempat meneduh.
Di Hankiang si cantik berenang, tak mungkin dapat diubar.
Ibarat luasnya Sungai Hansoei, jangan harap dapat menyeberang.
Ibarat panjangnya Sungai Tiangkang, jangan harap dapat diputari.
Syair itu melukiskan seorang gadis angkuh, yang hatinya tak dapat dicuri oleh lelaki mana juga.
Kata-kata yang digunakan dalam syair itu semuanya petunjuk yang samar-samar.
"Kenapa Pengtjoan Thianlie mainkan lagu itu?"
Tanya Thian Oe dalam hatinya.
"Apakah ia ibaratkan dirinya seperti itu gadis Hankiang? Memang juga, jika dibandingkan, Pengtjoan (Sungai es) adalah lebih sukar diseberangi daripada Hankiang."
Ketika itu, matahari sudah berada di tengah-tengah langit dan suara khim mendadak berhenti.
Seluruh taman diliputi kesunyian dan semua orang berdebar hatinya, sebab saat pertemuan antara Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih sudah tiba.
Mendadak dari kejauhan terdengar suara suling yang merdu sekali.
Lagu itupun adalah petikan dari Kitab Siekeng dan syairnya berbunyi kira-kira sebagai berikut.
Kembang putih putih, embun menjadi es.
Jiwa hatiku, berada di seberang.
Melawan arus air, aku mencari ia, terputar-putar jauh sekali.
Mengikuti arus air, aku mencari ia, terombang-ambing di tengah air yang tiada tepiannya.
Syair itu adalah syair percintaan yang melukiskan seorang lelaki sedang cari kecintaannya, yang boleh dipandang, tapi tidak boleh dipegang, penuh dengan perasaan cinta dan sedih dengan berbareng.
Begitu suara suling berhenti dalam taman sudah tambah satu orang lagi, yaitu si pemuda baju putih, yang satu tangannya memegang suling batu kemala, sedang di pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang, sehingga ia kelihatannya jadi lebih cakap dan angker.
"Nona pandai benar mementil khim, sehingga hampir-hampir aku lupa soal adu pedang,"
Kata ia sembari pegang gagang pedangnya.
"Kau juga pandai meniup suling,"
Sahut Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar.
"Ilmu pedangmu tentulah juga lebih tinggi lagi, maka itu, lebih-lebih aku harus minta pengajaranmu."
Diam-diam Thian Oe tertawa dalam hatinya. Yang satu pentil khim, yang lain tiup suling, manalah seperti dua musuh yang mau bertempur? "Kalau turut kemauanmu, bukankah itu terlalu gila?"
Kata si pemuda.
"Kau mau aku turun gunung, bukankah itu pun terlalu gila?"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Jika kau sungkan adu pedang, aku pun tidak memaksa. Pergilah, disini bukan tempatmu."
Si pemuda baju putih geleng-gelengkan kepalanya dan berkata sembari tertawa.
"Kecuali adu pedang, apakah tidak ada lain jalan buat undang kau turun gunung? Baiklah, kita janji saja begini. Jika aku kalah, aku tidak akan mengganggu lagi. Kalau kau kalah, kau harus bantu aku melindungi guci emas itu."
Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya dan berkata.
"Memang juga dalam dunia ini tak hentinya manusia main rebut-rebutan, sehingga aku merasa mendeluh sekali. Baiklah, cabut pedangmu."
Didengar dari lagu omongannya, Pengtjoan Thianlie seolah-olah merasa, bahwa dalam pertempuran sebentar, ia pasti menjadi pihak yang menang.
Sehabis berkata begitu, ia lantas cabut pedangnya yang lantas mengeluarkan sinar berkilaukilauan dan hawa dingin yang sangat hebat.
Pedangnya Pengtjoan Thianlie juga adalah Pengpok Hankong kiam, tapi tidak sama dengan pedang yang digunakan oleh para dayangnya.
Pedang itu terbuat dari sarinya lima macam logam dan diolah di dalam gua es dan umbul dingin.
Thian Oe dan Chena sebenarnya sudah telan pel Liokyang wan yang dapat menahan segala rupa hawa dingin, tapi toh mereka masih bergidik begitu lekas pedang itu dicabut dari sarungnya.
Si pemuda bersikap tenang sekali, sembari mesem-mesem ia tarik keluar pedangnya sendiri.
Ia berdiri di sebelah bawah, ia berkata.
"Silahkan!"
Pengtjoan Thianlie menuding dengan pedangnya yang bagaikan kilat, lantas saja menyambar.
Sebelum Thian Oc dapat melihat tegas, badannya si pemuda sudah ngapung ke atas beberapa kaki tingginya, sedang Pengpok Hankong kiam lewat di bawah kakinya.
Tanpa merasa, Pengtjoan •Thianlie keluarkan satu seruan heran, sebab barusan ia sudah menyerang dengan serangan Tatmo Kiamhoat yang sangat liehay.
Satu serangan itu menuju ke arah tiga jalanan darah musuh yang membinasakan, tapi tidak dinyana, serangan sehebat itu dapat disingkirkan secara begitu gampang oleh si pemuda baju putih.
Hampir berbareng, dengan satu siulan panjang, si pemuda balas menyerang.
Ia kirim dua tikaman ke sebelah kiri, dua tikaman ke sebelah kanan dan satu tikaman di tengah-tengah, setiap serangan di kirim dengan gerakan yang berbeda-beda.
Dengan satu teriakan "Bagus!" , Pengpok Hankong kiam berkelebat-kelebat ke kiri kanan dengan gerakan yang berobah-robah luar biasa cepat, dan di lain saat, pedang itu kembali kelihatan menyambar lehernya si pemuda.
"Sungguh indah Tatmo Kiamhoat!"
Berseru si pemuda sembari tertawa dan dengan gampang ia sudah loloskan diri dari serangan Pengtjoan Thianlie.
Pengtjoan Thianlie heran bukan main.
Pemuda itu mengetahui kiamhoat-nya, akan tetapi, ia sendiri tidak tahu, ilmu pedang apa yang sedang digunakan oleh pemuda tersebut.
Dengan demikian, kesombongannya lantas hilang beberapa bagian.
Si pemuda kembali keluarkan siulan panjang dan mulai menyerang secara hebat.
Pedangnya menyambar-nyambar seperti hujan angin, sehingga matanya orang yang melihat menjadi kabur.
Pengtjoan Thianlie jadi sengit.
Cara bersilatnya mendadak berobah dan di lain saat, bayangannya dan sinar pedang berkelebat-kelebat seperti titiran, seolah-olah dalam taman itu muncul bayangannya puluhan Pengtjoan Thianlie.
"Dengan sesungguhnya Pengtjoan Thianlie bukan cuma mempunyai nama kosong,"
Kata si pemuda dalam hatinya dengan perasaan heran.
"Ia ternyata sudah tambahkan banyak pukulanpukulan luar biasa ke dalam Tatmo Kiamhoat."
Memang juga, kedua orang tuanya Pengtjoan Thianlie sudah tambahkan banyak pukulan heran-heran ke dalam Tatmo Kiamhoat.
Dengan gunakan ilmu pedang Tatmo sebagai dasar, kedua orang tua itu sudah menambah dengan sarinya ilmu pedang di Tibet yang agak berlainan dengan ilmu pedang dari Tiongkok asli.
Demikianlah kedua ahli pedang bertempur dengan luar biasa sengitnya.
Masing-masing keluarkan segala rupa ilmu simpanannya tanpa mendapat hasil.
Menit lepas menit, jam lepas jam, dari tengah hari mereka sudah berkelahi sampai hampir magrib, tapi kedua-duanya masih tetap segar dan belum ada yang keteter.
Mendadak satu suara sangat nyaring akibat bentrokan kedua pedang, terdengar.
Dengan berbareng, mereka loncat mundur beberapa tindak dan masing-masing periksa pedangnya yang ternyata sama kuatnya dan masih tetap utuh seperti biasa.
"Apakah hari ini kita boleh berhenti dahulu?"
Tanya si pemuda baju putih sembari tertawa.
"Hari ini belum dapat keputusan siapa menang, siapa kalah. Besok kau datang lagi,"
Sahut Pengtjoan Thianlie.
"Hatiku merasa tidak tega,"
Kata lagi si pemuda.
"Dengan bertempur disini kita bikin rusak pemandangan indah dari keratonmu."
Mendengar perkataan itu, para dayang baru memperhatikan itu gunung-gunungan dan batubatu hiasan yang ternyata benar sudah banyak somplak lantaran tertabas pedang.
"Kita enak-enakan, adu pedang, batu-batu indah yang jadi korban. Sungguh sayang!"
Kata si pemuda.
"Kalau begitu, sudahlah, jangan bertempur lagi,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Kau belum menangkan aku dan kau juga sungkan turun gunung. Habis bagaimanakah baiknya?"
Kata si pemuda sembari mesem-mesem. Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya.
"Apa kau tidak bisa turun gunung sendiri?"
Kata ia dengan suara tidak sabaran.
"Sebenarnya aku ingin sekali ikat tali persahabatan dengan kau,"
Kata si pemuda.
"Sesudah turun gunung, cara bagaimana aku dapat menemui kau lagi? Di sebelahnya itu, ketemu tandingan setimpal adalah salah satu kejadian paling menggembirakan dalam penghidupan manusia. Sesudah turun gunung, cara bagaimana aku bisa cari lagi satu tandingan seperti kau?"
"Habis bagaimana pendapatmu?"
Pengtjoan Thianlie menanya tanpa merasa.
"Selama dua hari ini, kau jadi tuan rumah, sedang aku sebagai tetamu,"
Sahut si pemuda.
"Walaupun perlakuanmu terhadap tetamu ada kurang sopan, akan tetapi aku merasa berwajib undang kau satu kali. Maka pada besok tengah hari, aku undang kau datang ke lembah es buat mendapat suatu keputusan. Disitu, biarpun andaikata kau tabas rata Puncak Es, masih tidak ada halangannya. Dengan begitu, kita tak usah bertempur di tempat ini dan merusak keindahan keratonmu."
Dengan berkata begitu, ia seperti mau bilang, bahwa hari itu, lantaran kuatir bikin rusak -keindahan keraton, ia belum keluarkan semua kepandaiannya.
Pengtjoan Thianlie mengerti maksud tersembunyi dari omongan si si pemuda.
"Baiklah, aku iringi Keinginanmu!"
Jawab ia dengan suara bcrdongkol.
Begitu habis bicara, ia lantas ingat, bahwa ia sekarang toh sudah kena juga dipancing keluar dari keratonnya!
Dengan sikap tenang, kedua matanya si pemuda mengawasi gunung-gunungan dan batu-batu hiasan yang ada pada rusak akibat pertempuran.
Mendadak ia tertawa dan berkata.
"Hiasan sebuah taman adalah ibarat pakaiannya seorang gadis, yang saban-saban harus ditukar coraknya. Kerusakan ini ada juga baiknya supaya dapat dihias baru."
Tanpa perdulikan didengar atau tidak oleh Pengtjoan Thianlie, ia lantas saja bicara panjang lebar mengenai cara-cara menghias taman.
Memang juga rencana menghias keraton disusun sendiri oleh Pengtjoan Thianlie yang kemudian perintah dayang-dayangnya buat mengerjakannya.
Mendengar perundingannya si pemuda yang sangat menarik, dayang-dayang itu lantas pada mendekati dan berkumpul di seputar ia.
Pengtjoan Thianlie berdongkol bukan main, tapi ia merasa kurang enak buat semprot dayang-dayangnya di hadapan orang luar.
Sesudah bicara beberapa lama, si pemuda mendadak membungkuk dan berkata.
"Sayang sekali kau tidak sudi menerima tetamu. Malam ini baiklah aku tidur lagi di bawahnya Puncak Es!"
"Yah, pergilah!"
Kata Pengtjoan Thianlie dengan suara gusar.
"Terhadap sahabat, kau benar tak sungkan-sungkan lagi,"
Kata si pemuda sembari mesem.
"Baiklah, aku pun merasa sangat capai dan ingin tidur. Sedang tuan rumah sungkan menerima tetamu, aku pun paling baik jalan. Tapi besok, janganlah lupa janjimu!"
Sehabis berkata begitu, ia berlalu dengan jalan perlahan-lahan, sedang mulutnya tak hentinya bicarakan bunga-bunga dan pohon-pohon dalam taman itu.
Sebentar ia ceritakan cara menggunting daun-daun kembang ini, sebentar ia bentangkan cara merawat pohon itu.
Bicaranya bukan saja sangat menarik, tapi juga memperlihatkan satu pengetahuan yang mendalam mengenai ilmu tumbuh-tumbuhan, sehingga para dayang yang mendengari jadi bengong, dan tanpa merasa mereka ikuti pemuda itu, seperti juga sedang mewakili sang majikan buat mengantar tetamu.
Pengtjoan Thianlie jadi sangat gusar.
Ia menghampiri dengan niat panggil pulang dayangdayangnya.
Mendadak si pemuda hentikan tindakannya di depan satu gerbang.
Di belakangnya gerbang itu terdapat beberapa puluh pohon anggrek hitam yang menyiarkan bau harum sekali.
"Pemandangan disini luar biasa bagusnya. Kenapa tidak dibuat toeilian?"
Kata si pemuda sembari tertawa. Pengtjoan Thianlie lirik padanya, tapi tidak berkata apa-apa.
"Dalam dua hari memang juga mau ditulis dan kemudian dicukil,"
Sahut satu dayang.
"Paduka Puteri bilang..."
"Jangan banyak bacot!"
Membentak sang majikan.
"Ah, kalau begitu belum ditulis beres,"
Kata si pemuda.
"Nama dayang mana yang kau ingin gunakan buat toeilian itu?"
Kembali Pengtjoan Thianlie lirik padanya.
"Aku lihat kau sudah kepengen sekali,"
Ia mendadak berkata.
"Nah, coba kau tolong karangkan."
Si pemuda tertawa nyaring.
"Baiklah,"
Kata ia.
"Lagi-lagi kau mau uji aku. Aku ini memang tak tahu diri. Nah, biarlah aku coba persembahkan kebodohanku."
Satu dayang lantas menunjuk dan berkata.
"Toeilian yang mau dibuat menggunakan namanya. Ia bernama Hoei Kheng."
Si pemuda berpikir.
Dua huruf itu, yang satu huruf "kosong", yang lain huruf "berisi", benarbenar sukar di-toei (dipasangkan).
Hoei Kheng adalah dayang yang biasanya membantu Pengtjoan Thianlie mengambil kertas dan menggosok bak dalam kamar tulis, sehingga sedikit banyak ia mengerti juga syair.
"Tak bisa dapat?"
Ia tanya sembari tertawa.
"Kalau dipaksa-paksa bisa juga,"
Jawab si pemuda.
"Gerbang ini sangat tinggi, maka perlu dibikin toeilian yang agak panjang. Begini sajalah.
"Bakat kepintaran lebih berharga dari bunga anggrek. Yang bergoyang tertiup angin di pegunungan kosong. Rembulan benar terang, tapi sang hati berada dalam kesedihan. Awan yang indah menyinari lautan perak. Melayang-layang di selebar langit. Pergi ke Yauwtie tiada jalanannya, mundar-mandir (seperti awan) tiada juntrungannya."
Demikianlah huruf pertama "Kepintaran" (Hoei) dari syair yang kesatu ditimpali dengan huruf pertama "Indah" (Kheng) dari syair yang kedua, sehingga dapatlah "Hoei Kheng"
Atau namanya dayang itu.
Arti toeilian tersebut kembali mengenakan Pcngtjoan Thianlie.
Si pemuda umpamakan ia seperti lembah kosong dan anggrek yang sunyi dengan cuma sang rembulan yang menjadi kawannya, sehingga menambahkan kesedihan.
Pengtjoan Thianlie tidak berkata apa-apa.
Ia berdiri bengong seperti orang yang sedang ngelamun.
Sembari menuding ke satu tempat, si dayang kembali berkata."
Eh, coba karang lagi buat tempat itu. Kau harus gunakan namanya saudariku, Yoe Pcng."
Tempat itu adalah satu pendopo delapan pasegi yang berdiri di atas satu empang teratai, yang penuh dengan pohon-pohon teratai dan rumput air yang dinamakan "peng".
"Huruf Yoe Peng juga satu kosong dan satu berisi, sehingga lebih-lebih sukar dipasangkan,"
Kata si pemuda sembari tertawa.
"Baik juga pemandangan disitu dapat dipinjam buat menggubahnya. Kau dengarlah.
"Lembah sunyi, gunung belukar. Sinar rembulan menindih lain-lain warna. Batang peng (rumput), daun teratai. Suara hujan menutup suara teratai."
Dengan begitu huruf Yoe (Sunyi) dipasangi dengan huruf Peng (namanya semacam rumput).
Lembah sunyi, gunung belukar, batang rumput (peng), daun teratai, masing-masing sudah merupakan toei (pasangan).
Perkataan yang di sebelah bawah, si pemuda pinjam karangannya seorang penyair jaman dahulu yang berbunyi.
Yang ketinggalan hanya bunga teratai yang sudah rontok, sambil mendengari jatuhnya sang hujan.
Dengan demikian, syair itu bukan saja cocok dengan pemandangannya, tapi juga mengenakan dirinya Pengtjoan Thianlie.
Si pemuda seolah-olah mau menyatakan simpatinya kepada ia, yang dengan penuh kesunyian, bertempat tinggal dalam keraton es.
Hatinya si nona jadi tergoncang.
Ia tidak kira, pemuda itu mempunyai kepandaian sedemikian tinggi, baik dalam ilmu surat, maupun dalam ilmu silat.
"Sudahlah, jangan mengantar terus,"
Kata si pemuda sembari angkat kedua tangannya.
"Terima kasih, terima kasih."
Pengtjoan Thianlie jadi tersadar. Tanpa merasa, -ia ternyata sudah ikut menyeberangi jembatan batu giok putih. Mendadakan saja mukanya jadi bersemu dadu dan berkata dengan suara tawar.
"Piara semangatmu, besok kita adu pedang lagi."
"Baiklah,"
Kata ia sembari berjalan pergi dan di lain saat, ia sudah menghilang di antara pepohonan.
Seperti orang yang kehilangan apa-apa, si nona berdiri di atas jembatan.
Ia dongak ke atas dan memandang itu lembaran-lembaran awan yang mengambang, dengan paras muka sedih.
Sesudah si pemuda baju putih berlalu, Thian Oe jadi masgul lantaran ingat, bahwa besok ia sudah mesti meninggalkan tempat itu.
Ia lantas balik ke kamarnya buat mengasoh.
Selagi rebahrebahan, mendadak seorang dayang datang dan memberitahukan, bahwa Pengtjoan Thianlie undang ia bersantap malam.
Dalam beberapa hari itu, barang santapan selamanya diantar oleh seorang dayang dan ia selalu makan seorang diri dalam kamarnya.
Maka itu, ia merasa agak heran mendengar undangannya Pengtjoan Thianlie.
Tanpa berkata suatu apa, ia buru-buru salin pakaian dan ikut sang dayang pergi ke keratonnya Pengtjoan Thianlie.
Sesudah jalan bulak-belok, mereka tiba pada satu telaga es.
Di kakinya puncak gunung Nyenchin Dangla terdapat satu gunung api, sehingga pemandangan dalam keraton adalah lain dari yang lain.
Dengan hawanya yang hangat, disitu terdapat bunga-bunga yang mekar sepanjang tahun dan rumput-rumput yang tetap hijau sepanjang masa.
Di tengah telaga terdapat teratai putih, teratai merah, bunga Mantolo yang harum luar biasa, dan lain-lain bunga yang anehaneh.
Di sebelahnya itu, kepingan-kepingan es kelihatan kelap-kelip di tengah telaga, dan jika sang angin meniup dengan perlahan, bebauan yang harum menyambar-nyambar ke dalam hidung.
Sungguh orang tak tahu, musim apa adanya itu?
Apa musim semi, apa musim rontok, apa musim dingin atau musim panas!
Di dekat telaga terdapat satu pendopo yang terbuat dari batu giok putih mulus.
Disorot dengan sinar matahari magrib, pendopo itu mengeluarkan warna-warni yang luar biasa indahnya.
Di tengah pendopo dipasang satu meja makan, dimana terlihat, di sebelahnya Pengtjoan Thianlie, Thiekoay sian suami isteri.
Thian Oe lantas memberi hormat dan mengambil tempat duduk di samping gurunya.
Selain masih sedikit layu, paras mukanya Thiekoay sian sudah pulih seperti biasa.
"Keadaan gurumu sekarang sudah tidak berbahaya lagi,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Terima kasih dan itu semua adalah berkat bantuannya Oen-giok yang usianya laksaan tahun,"
Kata Thiekoay sian.
"Kalau tidak ada mustika itu, aku masih harus mengasoh beberapa hari lagi."
Suaranya tawar sekali yang mana menandakan perasaan berdongkolnya, sebab Pengtjoan Thianlie sudah bataskan tempo berdiamnya dalam keraton es. Pengtjoan Thianlie lirik padanya dan berkata lagi.
"Masih ada sedikit hawa dingin yang belum habis. Kau masih harus minum air godokan rumput Sinlongtjo. Rumput itu bisa didapat di sebelah selatan Puncak Es dan besok aku akan titahkan dayang antar In Tjin tjietjie pergi memetiknya."
"Terima kasih,"
Sahut In Tjin dengan pendek.
"Besok aku sudah janjikan orang buat mengadu pedang di bawah Puncak Es dan mungkin pulangnya laat sekali,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Lusa pagi kalian harus berangkat, maka itu, aku siapkan meja perjamuan ini buat memberi selamat jalan."
Thiekoay sian suami isteri lantas saja bangun berdiri dan membungkuk sebagai pernyataan terima kasih.
Sikap mereka kaku sekali, tapi Pengtjoan Thianlie kelihatannya tidak memperdulikan.
Setelah undang tetamunya minum segelas arak, ia berkata.
"Thiekoay sian, kau sudah berkelana di seluruh negeri dan kenal baik segala ilmu pedang dari macam-macam partai. Sekarang aku menemui semacam ilmu pedang, yang aku tak kenal. Apa kau tahu ilmu pedang apa adanya itu?"
Sehabis berkata begitu, ia lalu petakan beberapa macam pukulan yang luar biasa.
"Ilmu pedang itu adalah ilmu pedangnya si pemuda yang sudah janjikan aku buat mengadu pedang,"
Ia sambung keterangannya.
"Selain itu, ia mempunyai senjata rahasia yang juga luar biasa. Senjata itu mengeluarkan sinar emas hitam!"
"Aku tahu. In Tjin sudah dengar penuturannya dayangmu,"
Sahut Thiekoay sian.
"Jika kau kenal, coba beritahukan padaku namanya ilmu pedang itu,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Dan lagi, apa namanya senjata rahasia itu? Apa di dalamnya tidak terdapat cacat yang bisa diserang?"
"Oh, kalau begitu kau mau minta pengajaranku?"
Kata Thiekoay sian dalam hatinya.
"Biarlah aku gertak padanya!"
Memikir begitu, ia lantas saja berkata.
"Ilmu pedang itu adalah ilmu pedang Thiansan yang kesohor di kolong langit. Kiamhoat tersebut adalah gubahan tjianpwee Hoei Beng Siansu, yang telah petik sarinya berbagai macam ilmu pedang dan tambah sama gubahannya sendiri. Di kolong langit ini, tidak ada satu manusia yang dapat pecahkan ilmu pedang itu!"
Pengtjoan Thianlie keluarkan suara di hidung dan berkata.
"Oh, kalau begitu Thiansan Kiamhoat!"
Harus diketahui bahwa ayahnya Pengtjoan Thianlie dahulu pernah dikalahkan oleh Tong Siauw Lan dan Phang Eng dari Thiansan pay.
Itulah sebabnya ia sudah kabur ke Tibet dengan niatan memetik ilmu pedang daerah Barat buat dicampur sama Tatmo Kiamhoat, akan kemudian digubah menjadi semacam ilmu pedang baru guna diadu lagi sama Thiansan Kiamhoat.
Sedari kecil Pengtjoan Thianlie sudah dengar namanya Thiansan pay dan tak diduga, pemuda itu adalah orang dari partai tersebut.
"Senjata rahasia itu mempunyai asal-usul yang lebih besar lagi,"
Thiekoay sian sambung keterangannya.
"Namanya Thiansan Sinbong dan bahannya cuma bisa didapat di Thiansan. Bukan emas dan juga bukan besi, tapi sifatnya lebih keras dan emas dan besi. Bentuknya juga macammacam, ada yang panjang seperti anak panah, ada yang bundar seperti mutiara. Dahulu Leng Bwee Hong Tayhiap mendapat nama besarnya lantaran Thiansan Sinbong dan dari sini bisa dilihat liehaynya senjata rahasia itu."
Mendengar pujiannya Thiekoay sian, Pengtjoan Thianlie mendeluh dan berkata dengan suara tawar.
"Ah, belum tentu tak ada tandingannya di kolong langit!"
"Dengan ilmu silatmu yang merangkap dua macam ilmu silat, mungkin sekali masih setanding,"
Kata Thiekoay sian.
"Cuma saja dalam dunia persilatan, jika kita menemui lawanan tangguh, pada sebelum ingat kemenangan, lebih dahulu kita harus berjaga-jaga akan kekalahan, maka itu, terlebih baik kau berlaku sedikit hati-hati."
Dengan berkata begitu, Thiekoay sian seperti juga mau bilang, ia bukan tandingannya pemuda tersebut.
Pengtjoan Thianlie merasa tak senang dan kembali ia keluarkan suara di hidung.
Sebenarnya ia mau tanyakan dua rupa hal.
Pertama, asal-usul ilmu pedangnya pemuda itu, dan kedua, cacatnya ilmu pedang tersebut.
Sekarang, soal pertama ia sudah mengetahui, tapi dalam soal kedua, menurut Thiekoay sian ilmu pedang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan dan sama sekali tidak ada cacatnya.
Maka tidaklah heran ia jadi merasa sangat berdongkol dan berkata dengan suara kaku.
"Dalam dunia tidak ada ilmu pedang yang tidak dapat dipecahkan. Setiap ilmu silat mesti ada lawannya yang dapat menaklukinya. Tapi biar bagaimanapun juga, aku harus menyatakan terima kasih buat segala pengunjukanmu. Sekarang marilah aku undang kalian suami isteri minum kering tiga cangkir arak. Pertama buat membilang terima kasih, dan kedua, buat memberi selamat jalan."
Seorang dayang lantas menuang arak dan mereka lalu minum kering tiga gelas.
Mendadak terjadi perubahan pada dirinya Tjia In Tjin, yang seperti juga tidak kuat tahan pengaruhnya alkohol.
Ia bangun dan menuju ke pinggir telaga, tapi sebelum sampai disitu, ia sudah muntahkan arak dan makanan dari dalam perutnya.
"Arak itu dibuat olehku sendiri dengan mengambil sarinya ratusan bunga,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Sifatnya halus sekali dan bukannya arak yang keras. Kenapa In Tjin tjietjie jadi tak tahan?"
Dengan badan bergoyang-goyang dan satu tangannya memegang uluhati, Tjia In Tjin balik ke meja perjamuan dengan muka pucat.
"Kenapa?"
Tanya Thiekoay sian.
Mukanya si isteri menjadi merah, tapi tidak menyahut.
Dilihat macamnya, ia sama sekali bukan mabok arak.
Pengtjoan Thianlie lantas perintah satu dayang ambil es dan selampe, tapi In Tjin goyang tangannya dan berkata.
"Tak usah! Tak usah!"
"Bukankah kau mabok arak? Dikompres sama es, maboknya bisa lantas hilang,"
Kata Pengtjoan Thianlie. Mukanya In Tjin jadi semakin merah. Ia cuma geleng-gelengkan kepalanya. Melihat begitu, sang suami agak mendusin dan lantas berkata.
"Ah, aku tahu. Coba aku tebak penyakitmu."
Kuatir suaminya bicara terus terang, buru-buru In Tjin berbisik.
"Jangan ribut! Aku... Aku ada..."
"Ada apa?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
In Tjin jadi semakin kemalu-maluan.
Hal yang sebenarnya, ia sedang ngidam dan baru saja hamil.
Mereka sudah menikah banyak tahun dan usianya Thiekoay sian sudah mendekati setengah abad, tanpa mempunyai anak.
Maka itu, tentu saja ia jadi girang sekali, dan dalam kegembiraannya, ia keja jatuh cangkir arak, untung tidak sampai pecah.
Melihat begitu, Thian Oe dan Pengtjoan Thianlie jadi sangat heran.
"Ada soal apa kau bergirang sampai begitu?"
Tanya si nona sembari melirik.
"Kesehatanmu belum pulih betul, tidak boleh terlalu girang atau terlalu gusar. Baiklah, sekarang sudah laat, aku harus lantas balik ke keraton. Lusa pagi kalian boleh lantas turun gunung dan tak usah menemui aku lagi."
Perjamuan lantas dibubarkan dengan kurang kegembiraan.
Malam itu, Pengtjoan Thianlie tak dapat tidur pulas, begitu juga Thian Oe.
Hatinya sedih lantaran ingat, lusa pagi ia sudah mesti berlalu dari tempat itu.
Ia ingat besok Pengtjoan Thianlie dan pemuda baju putih itu akan bertempur kembali.
Hatinya ingin sekali menyaksikan keramaian itu, tapi ia tak tahu, apa Pengtjoan Thianlie kasih permisi atau tidak.
Ia ingat juga Chena, itu gadis Tsang yang luar biasa dan sangat menarik hatinya.
Rupa-rupa pikiran mengaduk dalam otaknya.
Ia meramkan kedua matanya, tapi sebaliknya dari pulas, ia jadi semakin segar.
Dengan perasaan kewalahan, ia lalu bangun, pakai baju luarnya dan keluar jalan-jalan di dalam taman.
Tanpa merasa, kakinya menuju ke arah gedung yang aneh itu.
Rembulan yang sangat terang menyelimuti bumi dengan sinarnya yang seperti perak.
Mendadak ia dengar suara tindakan dan buru-buru ia mengumpat di belakangnya satu gunung-gunungan.
Di lain saat, pintunya gedung itu mendadak terbuka dan seorang wanita yang memakai baju putih kelihatan keluar.
Wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie sendiri.
Dari Chena, Thian Oe sudah mengetahui bahwa saban malam Tje-it, Pengtjoan Thianlie masuk ke gedung itu seorang diri dan berdiam kurang lebih satu jam lamanya.
Apa yang dilakukan olehnya, tidak diketahui oleh siapa juga.
"Ah, kalau ia tahu aku mengumpat disini, ia tentu akan menuduh aku mau curi rahasianya,"
Kata Thian Oe dalam hatinya.
"Adatnya sangat luar biasa. Ia tentu akan memberi hukuman berat!"
Thian Oe jadi ketakutan.
Ia tak berani bergerak dan tahan napasnya.
Dengan paras muka sedih, Pengtjoan Thianlie jalan mendekati tempat mengumpatnya Thian Oe.
Jantungnya Thian Oe mengetok lebih keras.
Mendadak, dalam jarak kurang lebih setombak dari Thian Oe, ia berhenti dan keluarkan satu seruan perlahan.
Thian Oe terbang semangatnya dan keringat dingin mengucur keluar dari dahinya, la duga, Pengtjoan Thianlie sudah mengetahui tempat mengumpatnya.
Dengan hati berdebar, ia mengintip dari sela-sela batu.
Matanya mendadak lihat bayangannya seorang wanita lain, yang sedang menuju ke arah utara barat, yaitu ke jurusan gedung tempat mengasohnya.
Thian Oe terkejut.
"Chena! Kenapa tengah malam buta kau masih jalan-jalan?"
Demikian kedengaran Pengtjoan Thianlie menanya. Thian Oe lega.
"Chena tentulah mau cari aku,"
Kata ia dalam hatinya.
"Tak tahu, ia mau omong apa. Ah, tinggal besok sehari. Lusa sudah tak dapat bertemu lagi dengan ia."
"Thianlie tjietjie,"
Demikian kedengaran Chena menyahut.
"Aku cari kau terputar-putar, tak tahunya kau berada disini."
Thian Oe mesem. Gadis itu ternyata pandai juga berdusta.
"Ada apa kau cari aku?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Apa tjietjie sudah mempunyai pegangan buat kalahkan musuh?"
Chena balas menanya.
"Oh, kalau begitu kau pikirkan soal itu?"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Legakan hatimu. Walaupun andaikata aku tidak bisa menang, tapi aku pun tidak akan sampai kena dijatuhkan oleh pemuda itu."
"Maka itulah..."
Kata Chena seraya tertawa, tapi tidak teruskan omongannya.
"Maka apa?"
"Maka itulah, pertempuran besok tentu luar biasa menariknya,"
Kata Chena.
"Aku ingin sekali... Aku kepengen..."
"Ingin nonton?"
"Benar, tjietjie,"
Kata Chena.
"Aku anggap, kalau tidak saksikan pertempuran itu, mungkin selama hidupku, aku tak akan dapat saksikan pertempuran yang sedemikian hebatnya."
Hatinya Pengtjoan Thianlie sebenarnya lagi pepat sekali. Tapi melihat Chena begitu pandang tinggi pertempuran antara ia dan si pemuda dan begitu kagumi ilmu pedangnya, tanpa terasa ia jadi tertawa.
"Aku sebenarnya tidak permisikan siapa juga pergi melihat, tapi sekarang aku bikin kecualian,"
Kata ia.
"Baiklah, besok kau dan seorang dayangku boleh nonton dari puncak gunung di sebelah barat."
"Bukankah puncak gunung itu jaraknya jauh sekali dari tempat adu pedang?"
Tanya Chena dengan suara agak tidak puas.
"Puncak itu memang tinggi dan dari situ kau dapat saksikan jalannya pertempuran,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Terhadap kau, aku sudah bikin kecualian itu. Apa kau masih belum merasa puas? Mari, ikut aku pulang. Aku akan ajarkan lagi serupa ilmu pedang. Aku sudah janji akan ajar kau tiga hari lagi. Sesudah pelajaran ini, aku sudah penuhi janji itu."
Mereka berdua lantas berjalan pergi.
Keadaan kembali sunyi senyap.
Sesudah mengumpat beberapa lama lagi, barulah Thian Oe berani keluar.
Wewangian yang keluar dari rumah aneh itu jadi semakin keras dan seakan-akan mempunyai serupa tenaga membetot.
Tanpa merasa Thian Oe menghampiri pintunya dan tangannya meraba-raba gelang-gelangan pintu.
Gelang-gelangan pintu ternyata bisa terputar.
Iseng-iseng ia putar-putar dan sesudah memutar dua kali, sang pintu mendadak bergerak dan terbuka sendirinya!
Thian Oe kaget dan mau lantas lari, tapi setahu bagaimana, kakinya seperti juga dibetot.
Ditambah dengan keinginan mengetahui rahasia gedung itu, tanpa merasa ia sudah bertindak masuk.
Keadaan dalam gedung itu seperti juga sebuah gereja.
Di tengah-tengah terdapat patungnya seorang wanita yang mukanya bundar seperti rembulan, sedang rambutnya yang berwarna emas terurai di kedua pundaknya.
Dari mukanya ternyata wanita itu adalah seorang wanita asing.
Selagi Thian Oe memandang dengan penuh keheranan, mendadak ia dengar suara orang batuk di belakangnya.
Ia menengok dan Pengtjoan Thianlie berdiri disitu dengan paras muka sangat gusar!
Semangatnya Thian Oe terbang.
"Nyalimu benar besar,"
Pengtjoan Thianlie berkata dengan suara tawar.
"Mau apa kau masuk kesini?"
Thian Oe gugup dan menyahut dengan suara terputus-putus.
"Aku... aku... tidak tahu tidak boleh masuk kesini."
Pengtjoan Thianlie keluarkan suara di hidung.
"Tak tahu?"
Ia menegasi.
"Chena belum pernah beritahukan kau? Aku tak percaya! Kalau dia tidak memberitahukan, dialah yang bersalah. Aku nanti tanyakan dia. Aku tak percaya Chena begitu ceroboh. Hayo, bicara saja terus terang, jangan salahkan orang yang tidak berdosa."
Thian Oe memang tidak biasa berdusta dan di sebelahnya itu, ia juga kuatir Pengtjoan Thianlie nanti salahkan Chena. Maka itu, lantas saja ia berkata.
"Benar, barusan aku berdusta. Pada hari pertama, Chena sudah memberitahukan."
Pengtjoan Thianlie jadi semakin gusar.
"Tapi kenapa kau toh sudah mencuri masuk?"
Ia membentak.
"Hm! Kau orang, guru dan murid, memang bukannya orang baik. Apa gurumu yang ajar kau masuk kesini?"
"Bukan,"
Jawab Thian Oe.
"Aku sendiri yang mau masuk disini. Disurung dengan hati yang kepengen tahu, tanpa merasa aku sudah masuk kesini."
Sesudah bicara begitu, keberanian Thian Oe pulang kembali.
Sekarang ia dapat memandang keadaan disitu dengan hati yang lebih tenang.
Di empat pojokan gedung itu dipasang lampulampu, sedang pada temboknya terdapat mutiara-mutiara yang mengeluarkan sinar terang.
Sesudah berdiam beberapa hari di keraton es, baru ini kali Thian Oe lihat Pengtjoan Thianlie gusar.
Kedua sinar matanya yang tajam dan dingin seperti es seperti juga menembus sampai pada uluhatinya.
Mendadak ia rasakan lehernya ditepuk dan sekujur badannya jadi kesemutan dan lemas.
Ternyata badannya sudah diangkat naik oleh Pengtjoan Thianlie.
Di bawah pimpinan Siauw Tjeng Hong, ia sudah belajar silat tujuh atau delapan tahun lamanya.
Dalam kalangan Kangouw yang biasa, ilmu silatnya sudah boleh dibilang lumayan.
Tapi sekarang, menghadapi Pengtjoan Thianlie, ia sama sekali tidak berdaya dan badannya diangkat begitu rupa, seperti juga anak ayam disambar ulung-ulung.
"Kalau toh kau suka datang kesini, biarlah kau jangan keluar lagi!"
Kata Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar.
Sehabis berkata begitu, ia putar badannya Thian Oe dua kali di tengah udara.
Thian Oe rasakan kepalanya puyeng dan sebelum dapat berbuat suatu apa, ia rasakan badannya ambruk, sebab Pengtjoan Thianlie sudah banting ia ke atas lantai.
Thian Oe keluarkan teriakan ngeri, semangatnya terbang dan ia duga jiwanya akan segera melayang.
Tapi, begitu lekas badannya mengenakan lantai, disitu mendadak terbuka satu lubang dan badannya lantas masuk ke dalam lubang itu.
Waktu jatuh di dasar lubang, ia rasakan sakit, tapi belakangan ternyata tidak mendapat luka yang berarti.
Ia bangun dengan perlahan.
Gua itu gelap petang.
Ia tak dapat lihat tangannya sendiri.
Lubang di atas sudah tertutup kembali.
Beberapa saat kemudian, sayup-sayup ia dengar suara tindakan.
Rupanya Pengtjoan Thianlie sudah berlalu dari situ.
Belum berapa lama, hawa dingin dan hawa basah menyerang hebat sekali.
Buru-buru ia bersila dan jalankan pernapasannya.
Baik juga ia sudah mempunyai dasar ilmu dalam (lweekang), sehingga beberapa saat kemudian ia rasakan badannya jadi cnakan dan tidak begitu menderita lagi dari hawa dingin dan basah itu.
Perasaan takut dan menyesal mengaduk dalam pikirannya Thian Oe.
Mengingat perkataan "kau jangan keluar lagi,"
Ia jadi bergidik.
Apa benar ia bakal dipenjarakan disitu seumur hidup?
Ia lantas saja ingat ayahnya, gurunya, soenio-nya (Tjia In Tjin) dan Chena.
Dengan mereka itu, ia tak akan dapat bertemu kembali!
Thian Oe sebenarnya masih bersifat satu bocah.
Mengingat begitu, ia lantas saja kucurkan air mata dan menangis segak-seguk.
Tak tahu sudah lewat beberapa lama, kupingnya mendadak dengar suara tindakan orang di atas.
Ia susut air matanya dan berkata dalam hatinya.
"Ah, kalau Pengtjoan Thianlie lihat aku menangis, ia tentu akan tertawakan aku."
Ia tidak merasa sakit hati, tapi ia pun sungkan perlihatkan kelemahannya di hadapan Pengtjoan Thianlie.
Berpikir begitu, ia segera bersila dan meramkan kedua matanya.
Suara kaki yang barusan kedengaran mendekati, sekarang jadi semakin jauh dan akhirnya tidak kedengaran lagi.
Thian Oe tentu saja tidak mengetahui, bahwa suara kaki itu adalah tindakannya Chena dan satu dayangnya Pengtjoan Thianlie.
Ilmu silat mereka belum seberapa tinggi dan tindakannya masih berat, sehingga Thian Oe dapat mendengarnya.
Mereka berdua bangun sebelum fajar dan buru-buru pergi ke puncak gunung yang terletak di sampingnya Puncak Es, buat saksikan adu pedang antara Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih yang akan dilangsungkan pada waktu tengah hari.
Dengan perasaan kecewa, Thian Oe terus bersemedhi.
Tidak lama kemudian, kupingnya dapat dengar suara nyanyiannya burung-burung yang baru sadar dari tidurnya.
Mendengar nyanyian itu, hatinya Thian Oe kembali jadi sedih dan ia berkata dalam hatinya.
"Satu penyair ahala Tong ada bilang. 'Tidur di musim semi, tak tahu datangnya sang fajar, di segala tempat terdengar suara nyanyian burung-burung, semalam turun hujan dan angin, tahukah kau berapa banyak bunga jatuh berhamburan?' Keadaan diluar tentulah indah sekali, akan tetapi keadaanku sekarang justru sebaliknya dari keindahan itu. Dengan mendengar suaranya burung-burung itu, langit tentunya sudah menjadi terang. Semalam Chena mencari aku, tapi manalah ia tahu, sekarang aku sedang terkurung disini dan seluruh malam belum dapat pulas barang sekejap! Semalam sama sekali tidak ada hujan maupun angin. Tapi pengalamanku semalam adalah ibarat topan yang sangat hebat!"
Demikianlah Thian Oe ngelamun seorang diri.
Matanya pedas dan badannya lelah, tapi ia tidak rasakan ngantuk.
Ia duduk terpekur seorang diri dalam gua yang gelap itu dan rasakan sang tempo jalan luar biasa perlahan.
Sesudah lewat lagi tak tahu berapa lama, ia mendadak ingat pula itu adu pedang antara Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih.
"Ah, sekarang tentunya mereka sudah bertempur di kakinya Puncak Es,"
Kata ia dalam hatinya.
"Sayang sungguh kedua mataku tidak mempunyai rejeki buat menyaksikan."
Mendadak, mendadakan saja di dalam tanah terdengar suara luar biasa, yang semakin lama jadi semakin keras.
Di lain saat, dinding gua bergoyang-goyang.
Thian Oe terkesiap dan hatinya penuh tanda tanya.
Tiba-tiba dari dalam tanah muncul keluar hawa yang panas.
Ia jadi semakin heran.
Suara gemuruh jadi semakin keras.
Sekarang, bukan saja dinding, tapi lantainya gua pun turut bergoyang-goyang.
Sekonyong-konyong, dengan satu suara gedubrakan, beberapa batu dinding mental keluar dan sinar matahari masuk dari lubang itu!
Badannya Thian Oe pun terpelanting di atas lantai lantaran goncangan yang sangat keras.
"Ah, inilah gempa bumi!"
Thian Oe berteriak dengan suara di tenggorokan.
Di bawah tanah dari wilayah Tibet memang banyak terdapat gunung-gunung api yang masih bekerja.
Itulah sebabnya, maka di Tibet sering terjadi gempa bumi besar dan kecil.
Thian Oe juga mengetahui kenyataan itu, akan tetapi ia sendiri belum pernah mengalami kejadian tersebut.
Mengingat gempa bumi, semangatnya Thian Oe kembali terbang.
Badannya jadi gemetar.
Rasa takutnya malahan melebihi itu rasa takut, ketika ia baru dipergoki oleh Pengtjoan Thianlie dalam rumah terlarang itu.
Di lain saat, satu suara menggeleger yang luar biasa hebatnya terdengar.
Suara itu ada terlebih hebat dari apa yang satu manusia pernah bayangkan.
Bumi bergoyang-goyang dan seakan-akan segera terbalik.
Seperti orang kalap, Thian Oe tutup kedua kupingnya.
Kepalanya puyeng, matanya berkunang-kunang dan ia roboh dalam keadaan pingsan!
Perlahan-perlahan ia sadar.
Dengan hati kebat-kebit, ia merayap keluar dari dinding yang melekah.
Ia lihat udara ditutup dengan semacam debu warna kuning, sehingga sinarnya matahari turut berwarna kuning.
Dilihat dari duduknya matahari, itu tempo sudah magrib.
Thian Oe lantas kerahkan tenaganya buat kasih jalan darahnya.
Ia bangun berdiri dan jalan beberapa tindak sambil memandang keadaan di seputarnya.
Itu gedung aneh yang atapnya lancip sudah miring dindingnya, tapi tidak sampai roboh.
Thian Oe tidak mempunyai kegembiraan lagi buat masuk ke dalamnya, tapi lantas pergi ke taman sambil berlari-lari.
Disitu banyak sekali gunung-gunungan dan batu-batu hiasan yang pada terguling dan rusak.
Beberapa keraton juga sudah berobah jadi tumpukan puing, tapi ada juga yang masih utuh.
Thian Oe memanggil-manggil sekeras suara, tapi tidak mendapat jawaban.
Seluruh keraton es jadi sunyi senyap.
Bukan main takutnya Thian Oe.
Ia berlari-lari ke sana-sini seperti orang gila, mulutnya memanggil-manggil Chena dan gurunya, tapi tak satu manusia ia dapat ketemukan, malahan burung-burung dan binatangbinatang lainnya juga rupanya sudah pada kabur.
Dan ketika Thian Oe dongak, kedua matanya lihat satu pemandangan yang lebih mengejutkan lagi.
Itu Puncak Es yang putih dan menjulang ke awan, yang tadinya berhadapan dengan keraton es, sekarang sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi!
Puncak Es itu, yang siang malam pancarkan sinar dingin, merupakan salah satu pemandangan luar biasa dari pegunungan Nyenchin Dangla.
Thian Oe ketakutan, tapi sekarang ketakutannya itu dicampur dengan perasaan sayang.
Ia lalu naik ke tempat yang lebih tinggi dan memandang ke arah yang lebih jauh.
Secara menakjubkan, di selebar gunung, balokan-balokan es raksasa masih terus menggelinding ke bawah.
Ia juga lihat bahwa di seputar keraton bertambah banyak sekali batu besar.
Ia mengetahui, bahwa batu-batu itu terbang melayang waktu Puncak Es sedang roboh.
Masih untung ada beberapa keraton yang tidak ketimpa batu dan keraton-keraton itulah yang masih tinggal utuh.
Melihat perobahan yang hebat itu, Thian Oe jadi kcsima dan bengong sekian lama.
Ia ingat, waktu Puncak Es yang tingginya ribuan tombak ambruk, Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih tentunya juga sedang bertempur di kakinya puncak tersebut.
Ketimpa secara begitu, bukankah badan mereka dengan segera jadi perkedel?
Walaupun ia baru saja kena disemprot dan dihukum oleh si jelita, akan tetapi mengingat kecantikannya, usianya yang masih begitu muda dan kepandaiannya yang sedemikian tinggi, tanpa merasa Thian Oe dongak ke atas dan berkata dengan suara gemetar "Oh, Thian, kenapa begitu tega?"
La juga ingat Chena yang menonton pertempuran dari puncak gunung yang terletak di sebelahnya Puncak Es.
Apakah ia bisa terlolos dari mala petaka itu?
Depan matanya lantas saja terbayang senyuman aneh dari gadis Tsang itu, yang ia pertama bertemu di atas padang rumput.
Dan di sebelahnya Chena, berbayang pula Pengtjoan Thianlie yang cantik dan agung laksana ratu.
Thian Oe bergidik dan tak berani ngelamun terlebih jauh.
Lantaran perutnya lapar, Thian Oe lalu petik dua buah, yang sesudahnya dimakan, memberikan ia tenaga baru.
Ia kembali jalan terputar-putar seraya memanggilmanggil, dengan harapan kalaukalau bisa bertemu manusia yang masih hidup.
Tapi jangan kata manusia, binatang pun ia tidak ketemu.
Cuma pohon-pohon dan bunga-bunga masih tetap seperti kemarin, masih terus siarkan keharumannya yang luar biasa.
Yang paling mengherankan Thian Oe adalah.
Sesudah berputaran di seluruh keraton, ia tidak ketemukan barang satu mayat!
Apakah semua dayang dari seluruh keraton dapat menghilang dengan begitu saja?
Taruh kata mereka semua binasa ketimpa reruntuk rumah atau batu-batu besar, mayatnya mesti dapat diketemukan juga.
Walaupun tidak banyak, satu dua toh mestinya dapat diketemukan.
Tapi kenyataannya.
Thian Oe tak ketemukan barang satu mayat!
Andaikata mereka bisa kabur, sekarang toh mestinya sudah ada yang pulang buat lihat-lihat keadaan.
Waktu itu, rembulan sudah naik tinggi dan belum ada barang satu manusia yang kelihatan balik.
Itulah benar-benar membikin Thian Oe jadi pusing sekali.
Ia tidak mengerti apa artinya semua kejadian itu.
"Apa kau sedang mengimpi?"
Ia tanya dirinya.
Ia gigit jerijinya dan segera berteriak kesakitan.
Nyatalah ia bukannya lagi mengimpi!
Puteri Malam naik semakin tinggi dan debu kuning yang muncrat keluar dari peledakan gunung dengan perlahan disapu bersih oleh sang angin malam.
Di bawah sinar rembulan yang laksana perak, keraton es masih tetap indah, biarpun keindahan sekarang adalah kenangan yang menyedihkan.
Thian Oe kembali jadi seperti orang kalap.
Ia berlari-lari lagi sembari memanggilmanggil.
Ia agaknya tidak mengenal capai.
Tiba-tiba di antara kesunyian malam yang menyeramkan, satu suara perlahan kedengaran.
"Oe-djie, apakah kau?"
Hatinya Thian Oe terkesiap.
Suara itu adalah seperti barang yang paling berharga dalam dunia ini.
Ia memburu ke tempat dari mana suara itu datang, yaitu dari bawah reruntuknya satu kamar yang roboh.
Thian Oe buru-buru gali puing itu dan didalamnya ia ketemukan Thiekoay sian yang rebah dengan pakaian ternoda darah.
"Soehoe! Kau?"
Tanya Thian Oe dengan suara terharu.
"Benar. Aku,"
Jawab sang guru.
"Coba minta sedikit makanan. Oh, ambil air lebih dahulu."
Thian Oe lantas petik dua buah dan gunakan selembar daun buat ambil air telaga yang lantas diberikan kepada gurunya. Sesudah mengasoh beberapa saat, Thiekoay sian berkata.
"Kita berdua guru dan murid, sekarang sudah lolos dari mala petaka. Tapi apakah masih ada lain orang yang hidup?"
Thian Oe lantas saja tuturkan segala pengalamannya. Thiekoay sian menghela napas dan berkata pula.
"Pengtjoan Thianlie telah bilang, bahwa ia tidak akan turun gunung, kecuali jika Puncak Es roboh. Sekarang puncak itu sudah ambruk, cuma barangkali ia sudah terpendam buat selamanya dan tidak dapat lagi turun gunung."
Sehabis berkata begitu, ia ingat isterinya yang sedang cari obat, ketika terjadinya gempa bumi. Mengingat begitu, hatinya jadi sangat kuatirkan keselamatannya sang isteri.
"Soehoe, apa kau terluka?"
Tanya Thian Oe.
"Masih bagus cuma luka sedikit kena ketimpa batu,"
Sahut sang guru.
Tapi sebenarnya, lukanya Thiekoay sian tidaklah enteng.
Sedang kesehatannya belum pulih, ia kembali mesti terima goncangan hebat di dalam tubuhnya lantaran gempa bumi itu.
Walaupun berkat lweekang-nya yang sangat dalam, ia masih dapat selamatkan jiwanya, akan tetapi tenaga latihan sepuluh tahun jadi musnah karenanya.
Dan kalau Thiekoay sian masih dapat berjalan, itu hanya terjadi berkat pertolongan sang tongkat.
Dengan perlahan guru dan murid berjalan didalam keraton dengan mulut terus memanggilmanggil, tapi hasilnya nihil.
"Aku mendadak rasakan tanah goyang pada waktu sedang melatih diri di dalam kamar buat mengobati lukaku,"
Demikian Thiekoay sian tuturkan pengalamannya.
"Sesudah itu, aku dengar suara berlari-larinya dan teriakan para dayang, dan di antara teriakan itu, aku dengar suara orang memanggil-manggil namaku. Ketika itu, latihanku sedang mencapai puncak yang sangat penting, dan jika aku menyahut, akibatnya bisa hebat sekali. Maka itu aku teruskan latihan itu. Selagi aku mau akhiri latihan menurut peraturan dan kemudian mau pergi keluar.buat menanyakan, kejadian hebat sudah keburu terjadi. Kamarku sendiri turut ambruk."
Mendengar keterangannya sang guru, Thian Oe jadi menarik kesimpulan, bahwa pada waktu terjadinya gempa bumi, di dalam keraton masih terdapat banyak dayang.
Tapi kemana perginya mereka?
Sesudah mengasoh semalaman, pada hari kedua, mereka keluar buat membikin pemeriksaan terlebih lanjut.
Kecuali beberapa keraton yang roboh, kerugian harta benda agaknya tidak terlalu besar.
Kawanan burung juga sudah mulai balik kesitu.
Persediaan bahan makanan didalam keraton adalah lebih dari cukup, sehingga mereka boleh tidak usah kuatir.
"Soehoe, apa yang kita harus perbuat?"
Tanya Thian Oe sesudah selesai dengan pemeriksaannya. Thiekoay sian tertawa getir dan berkata.
"Menurut perintahnya Pengtjoan Thianlie, hari ini aku mesti turun gunung. Akan tetapi, dengan kepandaianku seperti sekarang ini, aku tak akan bisa turun gunung pada sebelumnya berlatih sepuluh tahun lamanya."
Thian Oe lantas ingat bahayanya sungai es yang tidak akan dapat dilewati oleh orang yang tidak mempunyai ilmu silat sangat tinggi atau oleh orang yang tidak mengetahui sifatnya sang air.
"Oleh karena terjadinya perobahan yang tidak terduga, maka kita tidak dapat berbuat lain daripada langgar perintahnya Pengtjoan Thianlie,"
Kata lagi Thiekoay sian sembari tertawa getir.
"Kita tidak dapat berbuat lain daripada terus berdiam disini. Aku cuma berharap Pengtjoan Thianlie masih hidup, supaya ia dapat menolong kita keluar dari tempat ini."
Tapi harapan itu hanya tinggal harapan belaka.
Sesudah lewat tujuh hari, jangan sentara Pengtjoan Thianlie, dayangnya saja tak seorang yang muncul.
Selama hari-hari itu, Thiekoay sian terus menerus berlatih dan akhirnya ia dapat usir keluar sisa hawa dingin yang masih mengeram dalam tubuhnya.
Tak usah dibilang lagi, Thian Oe bukan main merasa kesepian.
Hari itu, ia kembali berada di depannya itu gedung yang penuh rahasia.
Sebagaimana diketahui gedung itu belum roboh, cuma dindingnya saja yang sudah miring.
Mengingat pengalamannya, sebenarnya Thian Oe tidak mempunyai perasaan senang terhadap gedung itu, akan tetapi ia merasa tidak tahan buat tidak tolak pintunya dan masuk ke dalam.
Keadaan dalam gedung masih tetap seperti sediakala.
Patungnya wanita itu masih berdiri seperti biasa.
Sekarang, tanpa kuatirkan suatu apa, ia dapat meneliti keadaan disitu.
Ia lihat pada dinding yang miring penuh dengan macam-macam ukiran manusia yang sedang bersilat dengan gunakan pedang.
Diteliti dari gambar-gambar itu, gerakan-gerakan ilmu pedang tersebut sangat berbeda dengan ilmu pedang yang dikenal di Tiongkok.
"Inilah tentu ilmu pedang yang digubah oleh kedua orang tuanya Pengtjoan Thianlie,"
Kata Thian Oe seorang diri.
"Tidak heran kalau ia larang orang masuk kesini. Ia sering datang buat bersembahyang. Patung itu tentulah patung ibunya."
Memikir begitu, asal-usulnya Pengtjoan Thianlie kelihatannya jadi lebih sulit lagi buat diketahui.
Sebab tidak niat belajarkan ilmu pedangnya lain orang, sesudah mengawasi beberapa lama, Thian Oe segera keluar dari gedung itu buat pergi cari gurunya.
Sesudah berlatih tujuh hari, Thiekoay sian sudah dapat usir sisa hawa dingin dalam tubuhnya.
Biarpun tenaga dalamnya berkurang banyak, tapi sekarang ia dapat bergerak pula dengan leluasa dan tidak usah lagi dapat pertolongannya tongkat.
Begitu bertemu dengan gurunya, Thian Oe segera ceritakan apa yang dilihat dalam gedung aneh itu.
Buat beberapa saat Thiekoay sian tidak berkata apa-apa.
Mendadak ia berkata.
"Aku rasa kau harus angkat satu guru lagi."
"Apa? Apa soehoe sudah tidak mau akui aku sebagai murid lagi?"
Tanya Thian Oe dengan suara kaget.
"Bukan,"
Kata Thiekoay sian.
"Dengarlah perkataanku dahulu. Ilmu silat tidak ada batasnya. Andaikata kau sudah dapatkan semua pelajaranku dan sudah mempunyai kepandaian yang bersamaan dengan aku, toh kepandaianmu itu masih belum cukup buat bertanding dengan ahli silat kelas utama. Jangan sentara Pengtjoan Thianlie dan itu pemuda baju putih yang ilmu silatnya luar biasa tinggi, sedang kepandaiannya itu Ihama jubah merah saja masih berada di sebelah atasanku."
Thian Oe tidak berkata apa-apa. la tahu gurunya bicara dengan sejujurnya.
"Kau tahu, tenaga dalamku belum pulih kembali,"
Sang guru berkata pula.
"Aku harus berlatih lagi kira-kira sepuluh tahun, barulah ada harapan bisa turun dari gunung ini. Dalam tempo sepuluh tahun, kalau ada musuh datang mengganggu, cara bagaimana kita dapat melawannya. Itulah sebabnya kenapa aku ingin kau belajarkan lain macam ilmu silat yang tinggi dan angkat lagi seorang guru lain."
"Dalam keraton es ini cuma terdapat kita berdua. Siapakah adanya guru baru itu?"
Tanya Thian Oe dengan perasaan heran.
"Pengtjoan Thianlie!"
Jawabnya. Thian Oe terkejut, tapi lekas juga ia mengerti maksudnya Thiekoay sian.
"Mati hidupnya Pengtjoan Thianlie belum ketahuan. Cara bagaimana kita boleh pelajari ilmu pedangnya?"
Kata Thian Oe sembari gelengkan kepalanya.
"Justru lantaran begitu, kau mesti pelajari ilmu pedangnya,"
Jawab Thiekoay sian.
"Cobalah kau pikir. Kalau Pengtjoan Thianlie benar sudah mati dan semua dayangnya pun ikut binasa, bukankah ilmu pedang itu akan jadi hilang dari muka bumi? Buat menggubah ilmu pedang yang luar biasa itu, ayah ibunya Pengtjoan Thianlie sudah gunakan banyak tenaga, pikiran dan tempo. Kalau ilmu pedangnya sampai hilang dari muka bumi, di alam baka rohnya kedua orang tua itu tentu tidak akan merasa senang. Selain itu, kehilangan tersebut juga merupakan satu kerugian yang sangat besar bagi dunia persilatan."
Mendengar keterangan yang beralasan itu, Thian Oe merasa takluk terhadap gurunya yang berpemandangan jauh.
Maka itu, mereka berdua lalu pergi ke gedung itu buat meneliti gambargambar di dinding.
Dapat dimengerti, bahwa ilmu pedang yang diukir itu ada sangat sulit dan tak mungkin dapat dipelajari oleh orang yang belum mempunyai dasar-dasar yang kuat.
Tapi Thiekoay sian adalah murid utama yang mewarisi kepandaiannya Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie.
Apa yang dipelajari oleh Thiekoay sian adalah ilmu silat yang tulen.
Dalam dunia persilatan, walaupun berbagai cabang mempunyai macam-macam cara yang istimewa, akan tetapi dasar-dasarnya tidak berbeda banyak.
Demikianlah, sesudah mempelajari tiga hari lamanya, Thiekoay sian sudah dapat menyelami artinya gambar-gambar itu.
Lebih dahulu ia ajarkan Thian Oe ilmu melatih napas dari lweekeh (ilmu silat dalam).
Sesudah belajar tujuh delapan tahun di bawah pimpinan Siauw Tjeng Hong, Thian Oe sudah mempunyai dasar-dasar lweekang.
Ditambah dengan petunjuk-petunjuk Thiekoay sian, ia dapat kemajuan sangat pesat dan dalam tempo sebulan, ia sudah siap sedia buat mulai belajarkan ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Mulai waktu itu, setiap hari Thian Oe belajar dua rupa ilmu silat.
Di waktu pagi, ia belajar ilmu silatnya Thiekoay sian, sedang pada sorenya, ia belajar ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Dengan kerepotan sedemikian, tanpa terasa tiga bulan sudah berlalu.
Pada suatu malam, sedang Thiekoay sian berlatih sendirian, Thian Oe jalan-jalan di dalam taman.
Sinar rembulan terang sekali dan bunga-bunga siarkan bebauan yang sangat harum.
Sesudah selang beberapa bulan, keadaan dalam taman sudah mulai pulih seperti dahulu, sedang burung-burung juga sudah pada balik kesitu.
Melihat pemandangan itu, hatinya Thian Oe jadi sedih sekali.
Pada tiga bulan berselang, adalah Chena yang ajak ia jalan-jalan dalam taman tersebut, tapi sekarang, ia berada seorang diri, sedang nasibnya gadis itu belum ketahuan bagaimana jadinya.
Ia ingat juga itu dayang-dayang yang seperti lenyap dari muka bumi.
Thian Oe jalan tanpa tujuan, sedang hatinya ngelamun ke sana-sini.
Mendadak hidungnya dapat endus semacam wewangian yang datang dari satu pojok taman.
Sesudah berdiam tiga bulan lamanya, ia sudah kenal baik segala tumbuh-tumbuhan yang terdapat di situ.
Ia sudah dapat membedakan wanginya macam-macam bunga.
Tapi wewangian yang baru ia endus adalah wewangian yang ia belum kenal.
Dengan perasaan heran, ia segera menuju ke pojok taman, dari mana harum-haruman itu datang.
Setibanya disitu ia lihat satu pohon besar yang berdiri mencil.
Apa yang luar biasa adalah pada pohon itu terdapat satu buah tunggal, besarnya seperti mangkok dan warnanya merah terang.
Buah itulah yang menyiarkan bau harum.
Thian Oe segera panjat pohon itu dan petik buah tersebut, yang harumnya seakan-akan menembus sampai ke uluhatinya.
Ia masukkan ke dalam mulutnya dan terus digigit.
Buah itu ternyata bukan saja harum dan manis luar biasa, tapi juga mempunyai semacam hawa menyegarkan yang seakan-akan menembus sampai di pusarnya.
Sesudah makan habis Thian Oe lalu turun dan coba mencari-cari lagi.
Tapi seluruh taman cuma terdapat satu pohon begitu yang berbuah tunggal.
Lewat beberapa saat, mendadak ia rasakan perutnya sakit.
"Apa aku kena makan buah beracun?"
Tanya ia dalam hatinya dan lalu buru-buru pergi cari gurunya.
Tapi baru saja lari puluhan tindak, perutnya jadi semakin mules dan bersuara tak henti-hentinya.
Ia tak tahan lagi dan lalu buang-buang air besar.
Sesudah buang air besar, ia bangun dan berjalan pergi.
Mendadak ia rasakan satu perobahan yang benar-benar menakjubkan.
Badannya dirasakan enteng luar biasa!
Ia coba-coba enjot badannya dan tubuhnya lantas melesat ke atas dan hinggap di atasnya satu pohon besar.
Tingginya pohon itu ada lebih dari dua tombak.
Biasanya, paling tinggi ia cuma dapat melompat kurang lebih satu tombak, tapi sekarang, sesudah makan buah itu, dengan gampang ia dapat melompat dua tombak lebih.
Ia jadi kaget tercampur girang dan buru-buru cari gurunya, kepada siapa ia segera tuturkan pengalamannya yang luar biasa.
Mendengar penuturan itu, Thiekoay sian segera jajal muridnya dan ternyata omongannya tidak dusta.
Sang guru juga turut bergirang dan berkata.
"Keunggulan ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie berdasarkan kegesitannya. Aku sebenarnya sedang pikiri kau punya ilmu entengi badan yang belum mempunyai dasar yang kuat. Tak dinyana kau sudah mendapat berkah yang begitu luar biasa! Sekarang, sebegitu jauh mengenai ilmu entengi badan, walaupun kau belum bisa dapat menandingi Pengtjoan Thianlie dan itu pemuda baju putih, sedikitnya kau sudah berada di sebelah atasanku!"
Pada esokan paginya, waktu berlatih lagi ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie, benar saja ia rasakan latihannya berjalan banyak lebih licin berkat kegesitannya yang berlipat ganda.
Hari itu, sesudah makan malam, seorang diri ia pergi -lagi ke taman buat berlatih pula dengan pedangnya.
Semakin ia bersilat, semakin cepat gerak-gerakannya, dan semua pukulan-pukulan yang sukar dapat ia jalankan secara otomatis.
"Sungguh indah ilmu pedang itu!"
Mendadak terdengar suaranya satu orang. Thian Oe menoleh dan orang itu ternyata adalah Thiekoay sian.
"Kau sudah mendapat kemajuan pesat sekali,"
Kata Thiekoay sian.
"Kalau dilihat begini, tidak usah sepuluh tahun, kita sudah bisa turun dari gunung ini. Cuma saja, biarpun ilmu entengi badanmu sudah maju jauh, kuping dan mata belum terlatih cukup. Barusan, sesudah aku berada dekat sekali denganmu, barulah kau mengetahui."
Sehabis berkata begitu, Thiekoay sian segera turunkan serupa ilmu buat melatih kuping kepada muridnya itu.
Dengan ilmu tersebut, orang dapat membedakan macam-macam senjata seperti senjata rahasia, dengan cuma dengar suara anginnya senjata itu.
Sesudah memberi semua petunjuk secara terang, Thian Oe segera berlatih dengan ilmu baru itu.
"Sekarang aku mau coba padamu,"
Kata Thiekoay sian.
"Coba kau balik badan dan aku akan datang dari sebelah belakang. Begitu dengar suaranya angin, kau mesti lantas menimpuk dengan batu. Aku mau lihat, apa kau dapat menimpuk jitu atau tidak."
Thiekoay sian lantas pergi ke tempat yang agak jauh, sedang sang murid berdiri menunggu.
Lewat beberapa saat, Thian Oe mendadak dengar suara tindakan yang sangat enteng mendatangi dari samping, la kaget dan kata dalam hatinya.
"Kenapa terdengar tindakannya dua orang? Apa soehoe sengaja keluarkan ilmu luar biasa, atau kupingku belum terlatih baik?"
Sementara itu, suara tindakan jadi semakin dekat.
Thian Oe tak sempat memikir panjangpanjang lagi.
Ia ayun tangannya dan menimpuk.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa aneh dan batu itu terpukul balik.
Didengar dari anginnya, batu itu menyambar ke arah Thian Oe luar biasa cepatnya.
Ia terkesiap dan tidak mengerti kenapa gurunya menghantam begitu hebat.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar bentakannya Thiekoay sian.
"Pendeta jahat! Jangan lukakan muridku!"
Berbareng dengan itu satu senjata rahasia menyambar dan kebentrok dengan batu itu.
Kedua-duanya kemudian jatuh kedalam telaga es.
Thian Oe berbalik.
Segera juga ia jadi ternganga bahna kagetnya.
Orang yang muncui dari samping bukan gurunya, tapi itu pendeta jubah merah yang pernah datang ke keraton es dan belakangan kena diusir oleh Pengtjoan Thianlie!
Di belakangnya pendeta itu mengikuti satu boesoe yang berusia muda.
Kedua orang itu mengawasi ia sembari menyeringai, sedang gurunya memburu dari sebelah belakang dengan paras muka kaget dan heran.
Sembari tertawa tawar, pendeta itu ucapkan beberapa perkataan pada Thiekoay sian yang tidak mengetahui apa yang dikatakan olehnya sehingga ia cuma geleng-gelengkan kepalanya.
Thian Oe yang mengerti juga sedikit bahasa Nepal lantas berkata.
"Soehoe, ia datang buat cari tahu dimana adanya Pengtjoan Thianlie."
Thiekoay sian segera menuding ke arah bekas Puncak Es dengan tongkatnya dan gerakgerakkan tangannya buat memberitahu, bahwa Puncak Es itu ambruk dan mungkin Pengtjoan Thianlie sudah mati tertindih gunung yang ambruk itu.
Paras mukanya si pendeta lantas berobah gusar, sedang si boesoe ucapkan beberapa perkataan sembari tunjuk-tunjuk Thiekoay sian.
Pendeta itu kelihatan jadi lebih gusar lagi.
Mendadak dalam bahasa Tibet, ia ucapkan perkataan "guci emas"
Dan tangannya membuat satu gerakan merampas. Perkataan "guci emas"
Dan gerakan itu membikin Thiekoay sian mengerti apa yang dimaksudkan oleh si pendeta yang seperti juga mau menanya.
"Apa kau niat merampas guci emas?"
Thiekoay sian adalah seorang pendekar yang telah mewarisi kepandaiannya Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie.
Ia tahu dirinya berada dalam bahaya, tapi ia pantang berdusta.
Maka itu, dengan suara angkuh ia segera berkata.
"Tidak salah! Aku memang mau rampas guci emas itu!"
Pendeta jubah merah itu menggereng dan lantas menyapu dengan sianthung-nya.
Dalam hal ini telah terbit salah mengerti.
Dari gerakan tangannya Thiekoay sian, si pendeta anggap Pengtjoan Thianlie sudah kena dibinasakan olehnya.
Di sebelahnya itu, kisikan sang boesoe muda, bahwa Thiekoay sian niat merampas guci emas, ternyata benar.
Demikianlah, dengan adanya dua macam kegusaran yang menjadi satu, tanpa menyelidiki lebih lanjut, si pendeta lalu membuka serangan.
Di lain pihak, Thiekoay sian yang mempunyai ganjelan, juga jadi sangat gusar melihat caranya si pendeta yang datang-datang sudah menyerang membabi buta.
Ia kerahkan tenaganya dan menyampok sama tongkat besinya.
Dengan satu suara keras, kedua senjata kebentrok dan Thiekoay sian terhuyung beberapa tindak.
Bukan main kagetnya Thian Oe.
Ia tahu tenaga gurunya belum pulih dan bukan tandingannya si pendeta.
Di antara suara beradunya senjata, ia dengar sang guru berseru.
"Oe-djie! Lari! Kalau tidak dengar perkataanku, aku tidak akui lagi kau sebagai murid!"
Tan Thian Oe tahu, bahwa dengan berseru begitu sang guru ingin selamatkan jiwanya.
Sebagai seorang yang sangat tebal pribudinya, manalah ia tega tinggalkan gurunya dalam' keadaan yang berbahaya itu.
Sebaliknya dari angkat kaki, ia berdiri dengan mulut ternganga.
Sementara itu, kedua orang sudah bertempur belasan jurus.
Si boesoe muda menyender di satu pohon, matanya menyapu ke arah Thian Oe.
Dengan menyaksikan cara bagaimana batu yang ditimpukkan oleh Thian Oe, kena dibikin terpental oleh si pendeta, ia mengetahui ilmunya Thian Oe masih cetek.
Ia jadi tidak memandang mata dan perhatiannya lalu dipusatkan kepada gelanggang pertempuran." .
Dalam tempo sekejap, Thiekoay sian dan si pendeta' sudah bertempur kurang lebih dua puluh jurus.
Walaupun mesti saban-saban mundur, tapi gerakan-gerakannya Thiekoay sian sama sekali tidak jadi kalut dan masih dapat menyambut serta membalas sesuatu serangan.
Mendadak dalam gelanggang pertempuran terjadi perobahan yang membikin Thian Oe jadi terkesiap.
Muka gurunya kelihatan menyeramkan sekali, kedua kakinya bertindak menurut kedudukan Ngoheng Patkwa, sedang tongkatnya diputar keras sehingga menerbitkan angin yang menderu-deru.
Ia tahu sang guru sedang bersilat dengan ilmu Hokmo Tianghoat yang paling banyak meminta tenaga lweekeh.
Ia ingat, sesudah gurunya pertama kali bertempur melawan si pendeta, Pengtjoan Thianlie pernah mengatakan, bahwa masih untung Thiekoay sian baru keluarkan sembilan puluh enam jurus Hokmo Tianghoat, sebab kalau sampai di jalankan seluruhnya, yaitu sampai seratus delapan jurus, Thiekoay sian tentu akan menderita sakit berat.
Dan sekarang, dengan kesehatan yang belum pulih, sang guru kembali menggunakan ilmu silat tersebut.
Ia mengetahui hebatnya bahaya yang mengancam dan niat segera membantu, akan tetapi, sebelum ia bergerak, gurunya sudah deliki padanya.
Ia mengerti, delikan mata itu merupakan satu tegoran lantaran ia tidak buru-buru angkat kaki.
Saat itu, satu bentrokan senjata yang sangat keras terdengar dan kedua lawan sama-sama mundur beberapa tindak dengan badan sempoyongan, tapi lekas juga mereka maju kembali dan bertempur semakin sengit.
Bahwa dengan pertaruhkan jiwanya Thiekoay sian sudah keluarkan Hokmo Tianghoat adalah buat membikin muridnya dapat tempo untuk melarikan diri.
Tapi tidak dinyana, lantaran perasaan cinta terhadap sang guru, si murid jadi tidak dengar kata dan rela binasa bersama-sama.
Thiekoay sian mengeluh dalam hatinya.
Di satu pihak ia terharu sangat melihat pribudinya sang murid, di lain pihak ia berdongkol lantaran kebandelannya Thian Oe.
Dan sungguh kasihan, biarpun hatinya mau, Thiekoay sian tidak 179 dapat bicara lagi dengan muridnya, sebab seluruh perhatiannya harus dipusatkan kepada sang lawan.
Sebagaimana diketahui, Hokmo Tianghoat terbagi jadi tiga bagian.
Bagian pertama yang terdiri dari tiga puluh enam jurus dengan lekas sudah dijalankan habis, dan bagian kedua yang juga terdiri dari tiga puluh enam jurus, segera menyusul.
Sambil kertek gigi Thiekoay sian kerahkan tenaga lweekeh yang diperlukan buat jalankan bagian kedua dari Hokmo Tianghoat.
Oleh karena hatinya sudah mengambil putusan buat berkelahi sampai mati, tak tahu dari mana datangnya, tenaganya jadi bertambah berlipat ganda, sehingga buat sementara dapat juga ia mempertahankan dirinya.
Tiba-tiba si pendeta jubah merah keluarkan tertawa aneh dan sianthung-nya menyambar ke atas buat totok tongkatnya Thiekoay sian.
Ketika itu bajunya Thiekoay sian sudah basah dengan keringat yang terus turun berketel-ketel dari badannya.
Melihat sambaran senjata lawan, sambil membentak keras, ia menyampok dengan tongkatnya.
Sianthung-nya si pendeta dapat dibikin terpental, tapi tongkat itu yang sebesar mangkok sudah jadi sedikit bengkok!
Melihat begitu, jantungnya Thian Oe memukul semakin keras.
Tidak lama kemudian, bagian kedua Hokmo Tianghoat juga sudah habis dijalankan.
Sekarang pertempuran berobah sifatnya.
Tongkatnya Thiekoay sian bergerak perlahan-lahan seperti juga beratnya ribuan kati.
Saban kali badannya bergerak, tulangnya kedengaran berkrotokan, sedang urat-urat pada timbul di kepalanya, dan itu semua menandakan, bahwa ia sedang menggunakan seluruh tenaga yang masih ketinggalan dalam badannya.
Si pendeta jubah merah juga hilang segala sikapnya yang memandang enteng dan tumplek semua perhatiannya kepada gerakan sang lawan.
Seperti dalam pertempuran yang dahulu, ia kembali keluarkan ilmu Yoga dengan duduk bersila dan goyang-goyang senjatanya.
Seperti kena dibetot, semakin lama Thiekoay sian semakin mendekati si pendeta.
Hatinya terkesiap, la sudah kerahkan semua tenaga dalamnya, tapi lantaran memangnya kalah tenaga, sekarang ia tidak dapat melawan lagi betotan itu.
Sedapat mungkin, ia berusaha buat loloskan diri, tapi tongkatnya terus kena ditempel senjata musuh dan tak dapat lolos.
Ia tahu, begitu lekas badannya kena dibetot cukup dekat, si pendeta akan segera turunkan pukulan yang membinasakan.
Ketika itu dari 108 jurus Hokmo Tianghoat, ia sudah jalankan jurus yang ke-106.
Dengan Seantero semangatnya dipusatkan kepada senjatanya, si pendeta mendadak membetot keras sembari membentak.
"Robohlah!"
Thian Oe lihat badan gurunya bergoyang-goyang, sedang kepalanya tunduk ke depan seperti juga akan segera terguling di hadapannya si pendeta.
Semangatnya Thian Oe terbang.
Segala rupa perhitungan lenyap dari otaknya.
Dengan sekali jejak kakinya, badannya melesat seperti anak panah dan pedangnya tikam jalanan darah Liongtjong hiat yang terletak di bawah dadanya si pendeta.
Dalam serangan itu Thian Oe cuma ingat menolong gurunya.
Ia tidak perhitungkan lagi jiwanya.
Ia malahan tidak perhitungkan apakah serangan itu bisa berhasil atau tidak.
Tapi, di luar semua dugaan, begitu pedangnya Thian Oe menyambar, begitu juga terdengar teriakan si pendeta yang badannya terpental tiga tombak jauhnya.
Oleh karena jarak dimana Thian Oe berdiri ada beberapa tombak dan juga sebab mengetahui ilmu silatnya pemuda itu masih sangat cetek, si pendeta jubah merah sama sekali tidak memandang mata padanya.
Selainnya itu, kawannya, yaitu si boesoe muda, juga berada disitu, sehingga lebih-lebih ia tidak menjaga-jaga serangannya Thian Oe.
Ia tentu saja tidak mengetahui, bahwa sesudah makan buah mujijat, walaupun ilmu silatnya tidak seberapa, ilmu entengi badannya Thian Oe sudah boleh berendeng sama ahli silat kelas utama.
Dengan sekali loncat saja, ia sudah lalui jarak tiga tombak itu dan kirim tikamannya dengan sepenuh tenaga.
Si boesoe muda sudah tidak keburu menolong, sedang si pendeta, yang lagi pusatkan Seantero perhatiannya kepada Thiekoay sian guna robohkan lawanan itu, sudah tidak dapat menangkis lagi dan jalanan darahnya kena ditikam secara telak sekali!
Sebenarnya dengan tenaga dalam yang dipunyai oleh si pendeta, tikaman Thian Oe belum cukup buat robohkan padanya.
Akan tetapi, pada ketika badannya bergoyang akibat tikaman itu, Thiekoay sian tidak mau kasih lewat kesempatan yang baik itu dan lantas kirim satu sabetan ke arah dadanya dengan gunakan jurus ke-107 dari Hokmo Tianghoat.
Dengan dua serangan hebat yang datang hampir berbareng, andaikata si pendeta mempunyai badan tembaga, ia toh tidak akan dapat pertahankan dirinya lagi.
Masih untung, berkat ilmu silatnya yang sangat tinggi, ia tidak lantas jadi binasa.
Tapi biarpun begitu, ia muntahkan darah hidup dan tenaga dalamnya menjadi buyar, sehingga ilmu silatnya tidak akan dapat pulang kembali, jika ia tidak berlatih lagi dari tiga sampai lima tahun.
Thian Oe kaget berbareng girang.
Baru saja ia niat menghampiri gurunya, mendadakan Thiekoay sian berteriak.
"Minggir!"
Thian Oe menoleh dan satu bayangan hitam sedang menubruk ke arah ia.
Pada saat itu, Thiekoay sian menimpuk dan tongkat besinya melesat bagaikan kilat.
Itulah jurus Sinmo kwiwie (Siluman balik ke kedudukannya), yaitu jurus penghabisan dari Hokmo Tianghoat.
Sebegitu jauh, belum pernah Hokmo Tianghoat, digunakan sampai pada jurus penghabisan.
Kalau toh jurus ke-108 sampai digunakan juga, itu berarti yang menggunakannya bersedia buat binasa bersama-sama sang lawan.
Thiekoay sian menimpuk dengan pakai semua sisa tenaga yang ia dapat kumpulkan dalam dirinya.
Dapat dimengerti, kalau si boesoe muda tak dapat loloskan diri dari serangan yang sedemikian hebat.
Tongkatnya Thiekoay sian mengenakan dadanya dan dari depan terus tembus sampai ke belakang.
Dengan satu teriakan ngeri, ia roboh binasa.
Selama hidupnya, belum pernah Thian Oe lihat pemandangan yang begitu mengerikan.
Kaki tangannya lemas dan ia tidak berani menengok lagi.
Di lain saat, ia dengar suara berkereseknya daun-daun.
Rupanya si pendeta jubah merah sudah melarikan diri.
Keadaan kembali jadi sunyi-senyap.
Thiekoay sian menghela napas dan memanggil.
"Oe-djie, mari!"
Thian Oe lihat gurunya sedang menyender di satu pohon dengan muka yang pias seperti kertas.
Ia seperti juga seorang yang sedang menderita sakit keras dan keadaannya banyak lebih hebat daripada waktu bertempur dengan si pendeta jubah merah pertama kali.
Thian Oe menghampiri dan menanya dengan suara terharu.
"Soehoe, bagaimana keadaanmu?"
"Muridku,"
Jawab sang guru.
"Malam ini adalah malam perpisahan kita!"
Sang murid lantas saja menangis dan air matanya mengucur deras. Thiekoay sian terharu, tapi ia lantas tertawa dan berkata dengan suara lemah.
"Dalam dunia ini, tidak ada perjamuan yang tidak ada akhirnya. Kejadian begini tidak berharga buat ditangisi."
"Tenaga dalam soehoe ada sangat kuat dan di dalam keraton terdapat banyak sekali obatobatan. Biarlah aku bawa kemari seraup obat-obatan supaya soehoe bisa lihat yang mana dapat digunakan,"
Kata Thian Oe dengan suara sedih. Thiekoay sian geleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Dalam keadaan badan yang belum pulih kembali, barusan aku sudah jalankan habis seratus delapan jurus Hokmo Tianghoat. Biarpun aku makan semua obat mujijat dalam dunia ini, aku tidak dapat ditolong lagi. Aku tidak mempunyai banyak tempo lagi. Lebih baik kau dengar apa yang aku mau pesan kepadamu."
Sembari tahan air matanya, Thian Oe manggutkan kepalanya.
"Biarpun kita baru menjadi guru murid tiga bulan lamanya, aku sudah mengetahui bahwa kau mempunyai pribudi yang sangat tinggi,"
Kata sang guru.
"Aku berani pastikan, bahwa di belakang hari kau akan berhasil dalam penghidupanmu. Sekarang aku mau minta satu pertolonganmu."
"Soehoe bilang saja,"
Kata Thian Oe.
"Jika Tuhan menaruh belas kasihan, sehingga isteriku tidak sampai turut binasa, dan kalau di kemudian hari kau bertemu dengan soenio-mu, bilang padanya, bahwa aku pesan supaya dia rawat anak kita baik-baik. Sesudah berusia sepuluh tahun, suruh anak itu angkat kau sebagai guru,"
Demikian Thiekoay sian memberi pesanannya.
Thian Oe kaget sebab sebegitu jauh, gurunya belum pernah bilang mempunyai anak.
Akan tetapi, dalam keadaan begitu, ia tentu saja tidak mau menanya melit-melit.
Ia cuma manggutmanggutkan kepalanya, sebagai tanda bersedia buat turut pesanan itu.
"Semua pelajaran ilmu silatku, aku sudah turunkan kepada kau,"
Kata lagi sang guru.
"Ilmu tongkatku juga kau sudah mengerti semua. Biarlah kau turunkan ilmu silat itu kepada anakku. Tongkat ini kau simpan baik-baik. Nanti, kalau anak itu sudah besar, serahkanlah kepadanya dan bentahukan, bahwa itulah ada warisan dari soetjouw-nya. Mengenai si pendeta itu, meskipun malam ini dia bisa loloskan diri, tapi dia pasti akan jadi orang yang bercacat. Maka itu, siapa juga tidak usah membikin pembalasan apa-apa. Apa kau bersedia buat jadi gurunya anakku itu?"
"Jika murid bisa turun dari gunung ini dengan masih bernyawa, pesanan soehoe murid akan jalankan satu persatu,"
Jawab Thian Oe dengan suara sedih sekali. Thiekoay sian tertawa dan paras mukanya kelihatan terang. Ia kumpulkan tenaganya dan kemudian berkata pula.
"Dahulu aku pernah terima pesanannya soetjouw-mu dan Moh Tjoan Seng lootjianpwee buat coba cari turunannya Koei Hoa Seng tjianpwee. Sekarang kita sudah mengetahui, bahwa Pengtjoan Thianlie adalah puterinya Koei tjianpwee. Maka itu andaikata Pengtjoan Thianlie masih hidup, kau mesti cari padanya dan sampaikan penuturanku ini. Sekarang Puncak Es sudah roboh dan ia merdeka buat cari pamannya."
Thian Oe kembali manggutkan kepalanya.
Mulutnya seperti terkancing lantaran perasaannya yang sangat terharu.
Thiekoay sian meramkan matanya dan napasnya jadi semakin perlahan.
Dengan hati-hati, Thian Oe dukung gurunya itu.
Sesudah lewat beberapa saat, dengan suara terputus-putus Thiekoay sian berkata.
"Itu... itu guci emas. Aku sendiri tidak tahu harus membantu pihak yang mana. Tapi, biar bagaimanapun juga tidak boleh dibiarkan jatuh ke dalam tangan orang luar. Itu... itu pemuda baju putih... omongannya ada juga benarnya. Kau... kau pergilah cari padanya..."
Semakin lama suaranya semakin perlahan dan belum habis ia bicara, kedua kakinya berkelejet dan Thiekoay sian tinggalkan dunia ini buat selama-lamanya.
Thian Oe menangis menggerung-gerung dan kemudian kubur jenazah gurunya dalam taman itu.
Ia juga galikan lubang buat kubur jenazahnya itu boesoe muda.
Sesudah beres mengubur, ia bersihkan semua bekas-bekas darah dan ambil tongkat gurunya.
Ia dongak dan lihat sang rembulan sudah doyong ke barat, bintang-bintang sudah mulai menghilang dan sang malam sudah mulai terganti sama fajar.
Tanpa juntrungan, ia jalan ke sana-sini.
Dalam keraton es yang sedemikian luas, sekarang cuma ketinggalan ia seorang diri.
Hatinya sedih berbareng takut.
Keraton dan tamannya yang begitu indah sekarang hilang keindahannya dan ia segera mengambil keputusan buat segera menyingkir dari tempat itu.
Baru saja matahari mengintip di sebelah timur, Thian Oe lantas bebenah.
Ia bekal makanan kering, bereskan barang-barangnya dan keluar dari keraton es.
Tapi baru saja jalan puluhan tindak, ia sudah mandek lagi.
"Dengan kepandaianku ini, cara bagaimana aku bisa seberangi sungai es?"
Tanya ia dalam hatinya.
Tapi, buat berdiam seorang diri dalam keraton itu dengan peringatan-peringatannya yang hebat, benar-benar ia tidak mau.
Selagi hatinya bersangsi, mendadak di bawah tanah timbul suara yang aneh.
Suara itu, yang Thian Oe tak dapat tebak suara apa, sebentar muncul dan sebentar hilang.
"Apa mau gempa bumi lagi? Tapi kenapa suaranya tidak jadi lebih keras?"
Tanya ia dalam hatinya.
Dengan hati berdebardebar, ia lari.
Mendadak suara itu muncul lagi, tapi di lain saat, sudah menghilang pula.
Thian Oe tetapkan hatinya.
Sekarang ia tahu pasti, bahwa suara itu bukannya gempa bumi.
la jadi semakin heran.
Dalam keraton tersimpan banyak sekali mustika.
Apakah datang orang jahat yang niat mencuri barang-barang berharga itu?
Walaupun ia sudah mengambil putusan buat tidak berdiam lebih lama lagi, akan tetapi, sesudah tinggal tiga bulan lamanya dalam keraton itu, setahu bagaimana, dalam hatinya timbul semacam perasaan menyayang yang luar biasa.
Ia tahu, bahwa sesudah ia pergi, keraton yang seperti surga itu mungkin akan menjadi sarangnya kawanan tikus, akan tetapi, sebegitu lama ia masih berada disitu, ia tidak mau orang merusak atau menduduki keraton tersebut.
Maka itulah, ia lalu berjalan balik ke keraton es.
Begitu masuk ke dalam taman, suara di dalam tanah kedengaran lagi.
"Apa manusia? Kalau manusia, pasti tidak bisa berada di dalam tanah,"
Pikir Thian Oe.
Sesudah ketelanjur balik, ia segera ambil putusan buat memeriksa di dalam keraton.
Baru saja tiba di dekat telaga es, kupingnya mendadak dengar suara tindakan manusia.
Ia terkesiap dan dengan indap-indap menghampiri suara itu.
Oleh karena ia apal betul dengan jalanan-jalanan disitu dan juga sebab ilmu entengi badannya sudah sempurna, maka gerakannya tidak dapat diketahui oleh tetamutetamu yang baru datang itu.
Di depannya itu gedung aneh yang atapnya lancip, Thian Oe lihat berdiri tiga orang.
Yang di tengah berbadan gemuk dan bukan lain daripada Nyepa Omateng.
Dua orang yang berdiri di kedua sampingnya Omateng adalah itu dua boesoe Nepal yang kita sudah kenal.
"Suara apa itu?"
Tanya Omateng.
"Apa bukan gempa bumi lagi?"
"Rasanya bukannya gempa bumi,"
Sahut boesoe yang berusia lebih tua. Mereka berbicara dalam bahasa Tibet yang dapat dimengerti juga oleh Thian Oe.
"Barusan kita ketemukan darah yang masih baru di atas tanah, rupa-rupanya disini masih ada manusianya,"
Kata lagi Omateng.
"Tapi heran, tidak ada bayangannya barang satu manusia."
Kedua boesoe itu rangkap tangannya dan berteriak.
"Pengtjoan Thianlie!"
Tapi kecuali kumandang suaranya tidak terdengar suatu apa lagi. Mereka lantas saja perlihatkan paras muka ketakutan.
"Jika Paduka Puteri masih berada disini, ia tentu akan keluar,"
Kata yang satu.
"Apa mungkin ia sudah jadi korban bencana alam?"
Sahut yang lain.
"Ah, kalau sampai kejadian begitu, bagaimana kita mesti bicara dengan Paduka Raja!"
Thian Oe segera mengetahui, bahwa kedua boesoe itu mendapat perintah rajanya buat mencari Pengtjoan Thianlic.
Tapi, apa yang ia tidak mengerti, kenapa juga Omateng mesti ikut-ikutan.
Biarpun Nyepa itu pernah menolong Chena, setahu bagaimana, Thian Oe sangat membenci dia.
Dalam hatinya ia merasa, orang itu licik sekali.
Mukanya manis, hatinya busuk.
"Tak perduli Paduka Puteri ada atau tidak, marilah kita bikin pemeriksaan,"
Kata Omateng.
"Tidak bisa,"
Kata boesoe yang lebih tua.
"Tempat ini adalah tempat suci dari agama negara kita. Tanpa permisinya Paduka Puteri, siapa juga tidak boleh masuk kesitu."
"Tempat ini sudah tidak ada majikannya. Halangan apa kalau kita masuk buat lihat-lihat?"
Kata Omateng.
Sebagaimana diketahui, pintu gedung sudah rusak lantaran gempa bumi.
Sembari nyengir kepada dua boesoe itu, Omateng segera pentang langkahnya buat masuk ke dalam.
Mengingat akan larangannya Pengtjoan Thianlie dan juga sebab kuatir Omateng curi kiamhoat yang terdapat disitu, Thian Oe lantas saja loncat keluar seraya membentak.
"Omateng! Besar sungguh nyalimu!"
Omateng berpaling dengan paras muka terkejut. Tapi begitu lihat siapa yang datang, ia lantas tertawa.
"Tan kongtjoe, kau?"
Kata ia.
"Mana Chena?"
"Jangan bicara yang tidak perlu,"
Kata Thian Oe.
"Kau orang keluar dari sini!"
"Ah, itulah heran!"
Kata Omateng.
"Apa kau sudah jadi majikan dari keraton ini?"
"Tak usah perduli! Kau orang mau pergi atau tidak?"
Kata lagi Thian Oe dengan suara gusar.
"Dan atas alasan apa kau mau campur-campur urusanku?"
Kata Omateng sembari tertawa. Mulutnya tertawa, tapi tangannya lantas mencabut golok. Thian Oe naik darahnya.
"Pergi!"
Ia membentak sembari menikam dengan pedangnya.
"Waduh, Tan kongtjoe!"
Kata Omateng sembari tertawa besar.
"Kau mau main-main senjata?"
Omateng yang pernah saksikan ilmu silatnya Thian Oe sedikitpun tidak pandang mata pemuda itu.
Ia merasa pasti akan dapat robohkan Thian Oe dengan sekali jurus.
Tapi Thian Oe sekarang bukannya Thian Oe dahulu.
Serangannya adalah satu jurus aneh dari Tatmo Kiamhoat.
Ujung pedang berkelebat seperti juga mau menabas ke kiri, tapi berbalik membabat ke kanan dan tanpa tercegah lagi, pundaknya Omateng kena digores.
Bagus juga ilmunya Thian Oe belum cukup tinggi, sedang Omateng pun bukannya lawanan lemah.
Kalau bukannya begitu, tabasan yang barusan tentu sudah kutungkan pundaknya.
Mukanya Omateng segera berobah pucat.
Buru-buru ia pusatkan Seantero perhatian buat lawan pemuda itu yang tadinya dipandang rendah dan dengan beruntun kirim tiga bacokan.
Tapi biar bagaimanapun juga, kiamhoat-nya Thian Oe ada lebih tinggi dan ia terus kena didesak mundur.
Kedua boesoe Nepal yang menonton dari pinggiran jadi heran tidak habisnya.
"Anak ini adalah anaknya pembesar Boantjeng,"
Berseru Omateng.
"Dia sudah mencuri masuk disini dan sudah belajarkan juga ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie. Tidak bisa salah lagi dialah yang membunuh Pengtjoan Thianlie yang sedang terluka akibat gempa bumi. Dia rupanya ingin merampas keraton ini dan pandang dirinya sebagai majikan!"
Oboran itu, yang sebenarnya sama sekali tidak beralasan, benar-benar sudah membikin panas hatinya kedua boesoe itu. Mereka cabut goloknya yang berbentuk bulan sisir dan menyerang dengan berbareng.
"Dengar dahulu keteranganku!"
Berseru Thian Oe.
"Mau bicara apa lagi?"
Membentak Omateng yang terus mencecer sehebat bisa supaya pemuda itu tidak sempat bicara.
Thian Oe bukannya seorang yang pandai omong dan juga memang sebenarnya ia sudah curi belajar kiamhoat-nya Pengtjoan Thianlie.
Lantaran begitu, ia tidak dapat memberi keterangan yang memuaskan, sedang ketiga musuhnya terus menyerang dengan sengit dan tidak memberi kesempatan buat ia bicara panjang-panjang.
Demikianlah dengan pedang di tangan kiri dan tongkat gurunya di tangan kanan, Thian Oe melawan dengan keluarkan dua macam ilmu silat dengan berbareng, yaitu ilmu pedang Tatmo dan ilmu tongkatnya Thiekoay sian.
Dalam sekejap saja, tiga puluh jurus sudah lewat.
Akan tetapi, meskipun sudah mengetahui jalan-jalannya kedua ilmu silat yang sangat tinggi itu, Thian Oe belum matang betul dan tenaga dalamnya juga belum cukup kuat.
Maka itulah, semakin lama ia berkelahi, semakin ia rasakan tidak tahan dikerubuti oleh ketiga lawan itu.
Kedua boesoe Nepal agaknya masih sungkan-sungkan dan cuma tangkis-tangkis saja serangan-serangannya Thian Oe.
Tapi tidak begitu dengan Omateng yang sungguh-sungguh maui jiwanya pemuda itu.
Setiap serangannya adalah serangan yang membinasakan, yang ditujukan kepada bagian-bagian badan yang lemah.
Melihat Thian Oe mulai keteter, pada bibirnya tersungging senyuman yang licik sekali.
Tiba-tiba itu suara di dalam tanah kedengaran lagi, sekali ini lebih keras dan nyata.
Keempat orang yang sedang bertempur kaget dan pada loncat keluar dari gelanggang, sehingga Thian Oe bisa buang napasnya.
Selagi Thian Oe mau buka mulutnya guna memberi keterangan, mendadak suara itu berhenti dan Omateng segera membentak.
"Lebih baik bekuk dahulu manusia ini, baru bikin penyelidikan."
Sehabis membentak, ia lantas menyerang, diturut oleh kedua boesoe Nepal. Napasnya Thian Oe sengal-sengal dan keadaannya jadi semakin berbahaya.
"Lekas lepas senjatamu, supaya tak usah menderita lebih lanjut!"
Berseru Omateng.
Bukan main berdongkolnya Thian Oe.
Pedangnya berkelebat laksana kilat, Omateng coba kelit tapi pundaknya kembali tergores ujung pedang!
Sembari berteriak-teriak kesakitan ia membentak.
"Binatang! Kalau belum dihajar, memang kau belum kenal takut. Lihat, aku putuskan kedua lenganmu!"
Dengan dilindungi oleh kedua boesoe Nepal, kakinya menginjak kedudukan Tiongkiong dan lantas menyabet dengan senjatanya.
Melihat dua kali Thian Oe melukakan Omateng, kedua boesoe Nepal juga jadi berdongkol dan segera menyerang tanpa sungkan-sungkan lagi.
Thian Oe jadi lelah dan jatuh di bawah angin.
Ia menghela napas dan duga bakal binasa di tempat itu.
Girang sekali hatinya Omateng.
Sembari menyeringai, ia sabetkan goloknya ke arah pundaknya Thian Oe.
Lantaran kena didesak dengan dua goloknya si boesoe Nepal, sekali ini Thian Oe tidak mampu menangkis lagi.
Pada saat yang sangat berbahaya, mendadakan saja Omateng dan kedua boesoe itu keluarkan teriakan kaget dan hentikan serangannya.
"Mau apa kamu orang datang kesini? Apa mau cari mampus?"
Demikian Thian Oe dengar bentakan yang halus nyaring.
Ia menengok dan lihat dayang-dayang keraton es pada meluber keluar dari antara pohon-pohon kembang, sedang orang yang barusan membentak adalah Goat Sian, yaitu dayang dari kamar tulisnya Pengtjoan Thianlie!
Thian Oe kaget berbareng girang.
Munculnya para dayang itu membikin ia merasa seperti juga berada dalam impian.
Pada waktu kedua orang tuanya Pengtjoan Thianlie masih hidup, mereka sudah bersiap-siap buat menghadapi gempa bumi yang hebat.
Di bawah keraton terdapat satu gua es yang ribuan tahun tidak pernah mengenal sinarnya matahari.
Ayah ibunya Pengtjoan Thianlie mengetahui, bahwa sebuah gunung berapi yang masih bekerja terletak di dekatnya Puncak Es dan terpisah kira-kira lima puluh li dari keraton.
Kalau sampai gunung berapi itu meledak dan terjadi gempa bumi, keraton es bakal turut tergetar, akan tetapi kerusakannya tidak bakal seberapa besar.
Sebagai penjagaan terhadap batu-batu yang terlempar akibat robohnya Puncak Es, siang-siang mereka sudah siapkan tempat mengumpat di gua itu.
Mereka membuka satu jalanan di bawah tanah yang di tembok dengan batu gunung yang sangat keras.
Dalam gua itu selalu sedia bahan makanan buat beberapa bulan lamanya, sedang sebagai air minum, orang dapat menggunakan es yang dilumerkan.
Demikianlah, sedari puluhan tahun berselang persiapan buat menghadapi gempa bumi sudah dibikin dengan seksama.
Maka itulah, pada waktu terjadinya gempa bumi, kecuali Thiekoay sian yang sedang berlatih seorang diri dalam kamarnya dan Tan Thian Oe yang berada di dalam guanya gedung terlarang, semua dayang menyelamatkan dirinya dengan masuk ke dalam gua es itu.
Tapi biar bagaimanapun juga, perhitungan manusia tak dapat melampaui maunya takdir.
Sebagai akibat gempa bumi yang sangat hebat, sebagian tanah melesak ke bawah dan tutup jalanan di bawah tanah itu.
Masih untung jumlahnya dayang cukup banyak dan dengan bekerja sama-sama, tiga bulan lamanya mereka gali tanah yang menutupi jalanan.
Suara luar biasa yang didengar Thian Oe dan yang lain-lain adalah suara menggali tanah.
Begitu muncul di muka bumi, para dayang itu jadi sangat kaget lantaran lihat kedatangannya itu beberapa tetamu yang tidak diundang.
Dengan dikepalai oleh Goat Sian, sembilan dayang segera cabut Pengpok Hankong kiam dan mengambil tempatnya masing-masing dalam barisan Kioethian Hianlie.
Hawa yang luar biasa dinginnya lantas saja menyambar-nyambar sehingga Omateng dan kedua boesoe itu pada menggetget.
Thian Oe yang sudah belajarkan ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie dan telan beberapa pel mustajab, dapat melawan hawa yang dingin itu.
Dayang yang menjadi kepala membentak dan mengebas dengan Hankong kiam buat segera turun tangan.
Omateng bercakrukan giginya dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Kedua boesoe Nepal itu buru-buru meratap meminta ampun dan memberitahu maksud kedatangannya.
Di antara dayang-dayang ada seorang yang pernah dengar penuturan Pengtjoan Thianlie mengenai asal-usulnya kedua boesoe itu dan lalu memberitahukan kepada dayang kepala.
Dayang kepala itu segera teriaki satu tanda perintah dan barisan Kioethian Hianlie lantas terpencar.
"Kalau bukannya mengetahui bahwa kau orang tidak bermaksud jahat, sudah pasti kau tidak bisa pulang kembali,"
Membentak ia.
"Baiklah! Sekarang kau orang boleh pergi. Tapi kalau berani datang lagi, kami tentu tidak akan berlaku sungkan lagi."
Boesoe Nepal yang berusia lebih tua mau coba buka mulutnya lagi, tapi sudah didahului oleh salah seorang dayang.
"Kongtjoe (Puteri) kami tak perlu diurus oleh kau orang,"
Kata ia, sembari kebaskan Pengpok Hankong kiam.
Omateng tak tahan lagi dinginnya hawa.
Sembari berteriak keras, ia kabur secepat bisa.
Kedua boesoe menghela napas panjang.
Mereka rangkap kedua tangannya buat memberi hormat ke arah gedung terlarang dan lalu berjalan pergi.
Sekarang cuma ketinggalan Tan Thian Oe seorang yang berdiri bengong di hadapannya para dayang itu.
Goat Sian mengawasi padanya dan berkata.
"Kau masih berada disini?"
"Sungguh beruntung aku lolos dari bencana alam dan buat sementara terpaksa berdiam disini lantaran tidak bisa keluar,"
Sahut Thian Oe.
"Buat kelancangan itu, aku mohon dimaafkan."
"Kenapa kau curi belajarkan ilmu pedang kita?"
Tanya lagi Goat Sian.
"Aku duga kalian tidak akan kembali lagi,"
Sahut Thian Oe.
"Dan lantaran kuatir ilmu pedang itu menjadi lenyap dari muka bumi..."
Thian Oe yang tidak pandai bicara tidak dapat teruskan perkataannya, lantaran sejumlah dayang sudah naik amarahnya dan pada mencaci dirinya.
"Hm!"
Kata yang satu.
"Kau masih begitu kecil, tapi hatimu sudah begitu tidak baik. Kau harap-harapkan supaya kami mati semuanya!"
"Kami perlakukan kau sebagai tetamu terhormat, tapi kau sudah mencuri masuk ke dalam tempat pemujaan yang suci dan malahan mempunyai niatan buat menduduki keraton es ini!"
Kata yang lain.
Beberapa dayang yang pemandangannya sempit lantas saja mau cabut pedangnya buat mengusir Thian Oe.
Dikerubuti secara begitu, Thian Oe tak dapat buka suara.
Baik juga dayang kepala masih mempunyai rasa kasihan.
Sembari kebas tangan bajunya, ia berkata dengan suara angker.
"Sesudah kau mencuri masuk ke dalam tempat pemujaan, Puteri kami sebenarnya niat kurung kau seumur hidup. Sekarang, sesudah kau curi ilmu pedangnya, kami tak dapat berlaku sungkan lagi. Cuma saja, lantaran mengingat kau adalah tetamu Puteri kami, maka tanpa diminta kami suka ampuni jiwamu. Tapi kau tak dapat berdiam lebih lama di tempat ini!"
Harus diketahui, bahwa peraturannya Pengtjoan Thianlie biasa dipegang keras sekali, sehingga meskipun ia sendiri tidak berada dalam keraton itu, para dayangnya tidak berani langgar segala peraturannya.
Satu dua dayang yang sifatnya agak sombong sudah bantu menggebah Thian Oe dengan sikap keren sekali.
Diperlakukan secara begitu, Thian Oe naik darahnya.
"Akupun mau berlalu,"
Ia berkata dengan suara angkuh.
"Cuma saja lantaran kalian belum balik, aku kuatir sembarang orang masuk disini, sehingga aku jadi berdiam sampai di ini hari."
"Kalau begitu kau adalah seorang yang berpahala."
Kata satu dayang dengan suara menyindir.
"Pujian itu tak dapat aku menerima,"
Jawabnya dengan suara kaku.
"Cuma saja lantaran ingin melindungi keraton ini, guruku sudah korbankan jiwanya di tempat ini. Sesudah aku berlalu, harap kalian tolong lihat-lihat kuburannya."
Sesudah berkata begitu, air matanya menetes turun dari kedua pipinya.
"Ha! Thiekoay sian meninggal dunia?"
Tanya Goat Sian dengan suara kaget.
"Ia binasa cara bagaimana?"
Dengan ringkas Thian Oe segera tuturkan apa yang sudah terjadi.
Mendengar begitu hatinya Goat Sian jadi menyesal sudah perlakukan pemuda itu secara sedemikian kasar, akan tetapi, dayang itu yang coba tiru-tiru majikannya, sungkan tarik pulang perkataannya.
Di sebelahnya itu, mengingat semua penghuni keraton semuanya wanita, sedang Thian Oe adalah lelaki satusatunya, maka ia juga merasa tidak enak buat menahan pemuda itu.
"Baiklah,"
Kata ia.
"Aku berjanji akan rawat baik-baik kuburannya Thiekoay sian. Kau berangkatlah! Apa perlu aku perintah orang antar padamu?"
"Tak usah,"
Sahut Thian Oe yang masih berdongkol.
"Apa Paduka Puteri pernah pulang kesini?"
Tanya lagi Goat Sian.
"Tidak,"
Jawabnya dengan pendek. Goat Sian terkesiap dan berkata dengan suara sedih.
"Paduka Puteri pernah mengeluarkan perintah, bahwa tak perduli ia ada atau tidak, kami tidak dapat turun dari gunung ini. Perintahnya itu kami tidak berani langgar. Sesudah kau turun gunung, manakala Puteri kami masih berada dalam dunia, tolong kau coba menyelidiki."
Mendengar begitu, depan matanya Thian Oe lantas terbayang parasnya Pengtjoan Thianlie.
Walaupun hatinya dingin, paras itu sangat mengesankan.
Ia angkuh dan tinggi hati, tapi keangkuhannya keluar secara wajar dan bukannya •kesombongan dibuat-buat dari beberapa orang dayangnya.
Mengingat begitu, hatinya menjadi lemas dan ia menjawab dengan suara terharu.
"Aku mengerti. Aku akan perhatikan pesanan itu."
Sehabis berkata begitu, dengan menggendol bungkusannya dan tengteng tongkat gurunya, tanpa menengok lagi Thian Oe lantas berjalan keluar dari keraton es.
Selagi berjalan, ia dengar helahan napas dari beberapa dayang.
"Ah, di antara dayang-dayang itu terdapat juga orang-orang yang baik hatinya,"
Ia menggerendeng dan hatinya jadi terhibur.
Dengan hati sedih, ia jalan perlahan-lahan.
Mengingat bahayanya sungai es, ia jadi berkuatir.
Dengan kepandaiannya yang begitu cetek, dapatkah ia lewati sungai tersebut?
Cuma saja lantaran tadi sudah menampik dengan penuh keangkuhan, ia jadi merasa tidak enak buat balik lagi guna minta pengantar.
Thian Oe naik gunung pada permulaan musim panas, dan sekarang, sesudah lewat tiga bulan, sudah masuk musim rontok.
Di atas gunung, salju putih bertumpuk-tumpuk, di lereng gunung daun-daun berwarna kemerah-merahan.
Dengan perasaan masgul, Thian Oe berjalan terus.
Mendadak matanya dapat lihat asap hitam mengebul ke tengah udara.
Ternyata sesudah robohnya Puncak Es, disitu muncul sebuah kawah yang semburkan api dan asap, yang sehingga sekarang masih belum padam.
Thian Oe ternganga dan menghela napas berulang-ulang.
Ia ingat Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih yang hari itu mengadu pedang di bawahnya Puncak Es tersebut.
"Mereka lebih banyak mati daripada hidup,"
Kata Thian Oe dalam hatinya. Ia pun ingat sang soenio (Tjia In Tjin) dan Chena dan hatinya jadi merasa lebih tidak enak.
"Harap saja Tuhan melindungi mereka,"
Kata ia dalam hatinya.
"Kalau mereka masih hidup, walaupun mesti pergi ke ujung langit, aku tentu akan mencarinya."
Tapi bagaimana ia dapat lewati sungai es yang sangat berbahaya itu.
Dengan pikiran kusut dan bimbang, ia tujukan tindakannya ke bawah gunung.
Sesudah jalan beberapa lama, ia merasa kedudukan bumi sudah berobah dan tidak bersamaan lagi dengan keadaan pada waktu ia naik ke keraton es.
Itu sungai es yang berbahaya sebenarnya terletak tidak terlalu jauh dari keraton.
Ia ingat, dekat sungai tersebut terdapat satu hutan pohon yanglioe, sedang di pinggir sungai berdiri satu pohon lioe yang sangat besar, dimana tertambat sebuah perahu kecil.
Tapi sekarang, dimanakah adanya sungai es tersebut?
Bukan main herannya Thian Oe, tapi ia berjalan terus.
Sesudah jalan lagi kira-kira setengah jam, mendadakan saja di depan matanya terbentang satu telaga yang luar biasa luasnya, sehingga air telaga seperti juga menempel dengan tepian langit dan tepian langit menempel dengan telaga.
Kepingan-kepingan es yang warnanya gilang gemilang lantaran disorot sinarnya matahari, kelihatan ngambang di atas telaga itu.
Dan telaga itu bukan lain daripada Thian-ouw, Telaga Langit atau Tengri Nor!
Sesudah memandang beberapa lama seperti orang mengimpi, Thian Oe mengetahui apa sebabnya.
Robohnya puncak telah merobah kedudukan bumi banyak sekali.
Sungai es itu, yang turun dari atas gunung terus sampai di Thian-ouw, ternyata sudah diuruk dengan Puncak Es yang roboh itu!
Demikianlah, dengan urukan tanah Puncak Es, satu jalanan telah terbuka antara keraton es dan telaga Thian-ouw!
Bukan main girangnya Thian Oe.
"Tak heran kalau itu dua boesoe dan Omateng bisa datang ke keraton es,"
Kata ia dalam hatinya.
Keadaan Thian-ouw masih tetap seperti sediakala, dengan airnya yang bening dan pohonpohon dan rumputnya yang berwarna hijau.
Thian Oe duduk mengasoh di pinggir telaga dan isikan kantong kulitnya dengan air yang bening.
Lama sekali ia duduk termenung disitu dan sampai lewat lohor barulah berjalan lagi.
Selang tiga hari, tibalah Thian Oe di kaki gunung.
Oleh karena mati hidupnya Pengtjoan Thianlie belum diketahui dan sukar mencarinya kalau bukan bertemu secara kebetulan, maka ia lalu ambil putusan buat langsung pergi ke Lhasa.
Lhasa adalah ibukota Tibet dimana berdiam jenderal Hok Kong An bersama pasukannya.
Pada harian kantor Amban dirusak oleh Tjoei In Tjoe dan Ong Lioe Tjoe, ayahnya Thian Oe (Tan Teng Kie) segera meninggalkan Sakya buat pergi ke Lhasa guna melaporkan kejadian itu kepada Hok Kong An.
Sebagaimana diketahui, hal itu telah diberitahukan kepada Thian Oe oleh si kacung Kang Lam.
Itulah sebabnya kenapa sekarang ia ambil putusan buat langsung pergi ke Lhasa dengan maksud menemui ayahnya.
Sesudah berjalan lagi tujuh delapan hari, ia tiba di satu kota Chaklun yang terletak antara Shigatse dan Lhasa.
Tibet adalah satu tempat yang tidak banyak penduduknya.
Sebuah kota yang dinamakan kota besar kebanyakan hanya mempunyai beberapa ratus rumah penduduk.
Chaklun juga terhitung kota besar, akan tetapi, di situ cuma terdapat satu rumah penginapan.
Thian Oe minta satu kamar dalam rumah penginapan itu dan sesudah makan malam, ia lalu rebahkan dirinya di atas pembaringan lantaran merasa capai sesudah lakukan perjalanan seharian suntuk.
Tapi baru saja rebahkan diri, ia dengar suara rintihan di kamar sebelah.
Dengan heran, ia panggil Tiam Siauwdjie (pelayan hotel) dan lalu menanyakan siapa yang sakit.
"Mereka adalah dua pembesar ketentaraan dan sudah sakit tiga hari,"
Sahut Tiam Siauw Djie.
"Mendapat sakit di tengah perjalanan adalah kejadian yang menyedihkan,"
Kata Thian Oe.
"Apa disini tidak ada tabib?"
"Ada satu dua, tapi tak ada yang tahu penyakit apa,"
Sahut si pelayan.
"Sesudah bongmeh (periksa nadi), ia tidak berani tulis surat obat."
"Penyakit apa?"
Kata Thian Oe.
"Kalau diceritakan sangat luar biasa,"
Tiam Siauw Djie berkata dengan suara perlahan.
Hari itu, kedua perwira tersebut yang menginap disini minum arak di ruangan luar.
Kau tahu, hotel ini juga menjual arak dan makanan buat melayani orang-orang yang kebetulan mampir disini.
Tiba-tiba datang seorang wanita muda yang rupanya mampir buat makan dan minum.
Ia kelihatannya seperti orang asing, hidungnya mancung dan matanya rada-rada berwarna blau.
Sembari nyengir, kedua perwira itu keluarkan beberapa perkataan mengejek.
Wanita itu tidak jadi gusar, ia cuma tertawa dingin dan berkata.
"Kalian suka main-main disini. Biarlah kalian mengasoh beberapa hari."
Sehabis berkata begitu, tak tahu ia gunakan ilmu apa, mendadakan saja di depannya kedua perwira itu berkelebat sinar yang sangat dingin.
Aku yang menonton dari sebelah kejauhan juga rasakan hawa yang sangat dingin.
Wanita itu lalu lemparkan sepotong perak di atas meja dan berlalu dengan cepat.
Sembari berteriak-teriak kedinginan kedua perwira itu lari masuk ke dalam kamar dan gulung dirinya dengan selimut, tapi itu semua ternyata tidak menolong.
Selama tiga hari, mereka berada dalam keadaan ngelindur, badannya sebentar panas, sebentar dingin.
Coba pikir, apa bukannya luar biasa?"
Thian Oe kaget berbareng girang. Yang dilepaskan oleh wanita itu tentulah juga Pengpok Sintan. Apa ia bukannya Pengtjoan Thianlie? "Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan. Coba aku periksa penyakitnya,"
Kata ia kepada sang pelayan. Tiam Siauw Djie antar Thian Oe ke kamar sebelah dan berkata.
"Tuan, ada satu tuan mau periksa penyakitmu."
Kedua perwira itu buka kedua matanya. Tiba-tiba mereka keluarkan suara teriakan tertahan.
"Siapa kau?"
Tanya satu antaranya. Thian Oe mengawasi dan kenali, bahwa mereka itu adalah dua perwira yang mengantar guci emas, yang tempo hari ia bertemu dalam penginapan di Shigatse.
"Ayahku Tan Teng Kie adalah Soanwiesoe (Amban) pada suku Sakya,"
Sahut Thian Oe.
"Namaku Thian Oe. Kita sudah pernah bertemu di Shigatse."
Pada malam itu, ketika Siauw Tjeng Hong turut bertempur, Thian Oe tidak munculkan muka, sehingga kedua perwira itu tidak menaruh curiga apa-apa.
Sesudah Thian Oe perkenalkan dirinya, salah seorang lantas berkata.
"Oh, kalau begitu Tan Kongtjoe?"
Ia lalu minta Tiam Siauwdjie berlalu dari kamar itu dan kemudian menanya pula.
"Ada urusan apa Tan-heng datang kesini?"
Selagi bicara, mereka diserang lagi dengan kedinginan, sehinggga giginya pada bercakrukan. Thian Oe tidak tega dan segera berkata.
"Penyakit begini siauwtee mengerti juga sedikit."
La lalu keluarkan dua butir pel yang berwarna biru dan berikan kepada mereka.
Beberapa saat sesudah menelan pel itu, dalam badan mereka muncul semacam hawa panas yang menembus sampai di pusar.
Kedua perwira itu mempunyai lweekang yang cukup tinggi.
Buru-buru mereka kerahkan pernapasannya buat bikin hawa panas itu mengalir terus sampai ke tangan dan kaki.
Semakin lama mereka rasakan semakin segar.
"Besok, sesudah semua hawa dingin keluar, kesehatan djiewie taydjin (kedua tuan pembesar) akan pulih kembali,"
Kata Thian Oe.
Kedua perwira itu -yang satu bernama Mauwyan dan yang satunya lagi bernama Lunpo --adalah ahli silat di bawah perintahnya jenderal Hok Kong An.
Jika hari itu mereka waspada dan kerahkan tenaga dalamnya buat melindungi badannya, meskipun kena serangan Pengpok Sintan, mereka tidak akan menderita begitu hebat.
Waktu itu, lantaran sedang gembira minum arak dan juga sebab tidak menduga wanita itu berkepandaian tinggi, mereka jadi tidak berjaga-jaga.
Sesudah hawa dingin menyerang masuk ke dalam sumsum, barulah mereka kerahkan tenaganya buat melawan, tapi sudah kasep.
Sekarang, begitu telan pelnya Thian Oe, mereka rasakan banyak entengan dan mereka tentu saja jadi merasa sangat heran.
Mereka lantas ingat, bahwa si orang tua yang turut bertempur di Shigatse adalah kawannya Thian Oe.
Tanpa merasa, mereka terkesiap dan salah seorang menanya lagi.
"Sebenarnya kau siapa?"
"Bukankah aku sudah beritahukan?"
Kata Thian Oe.
"Apa benar kau Tan Kongtjoe?"
Mauwyan menegasi.
"Jika kalian tidak percaya, nanti setibanya di Lhasa kita boleh sama-sama pergi ke kantornya Hok Tayswee buat cari ayahku,"
Kata Thian Oe.
"Tapi cara bagaimana kau bisa mempunyai yowan (pel) yang dapat punahkan ilmunya wanita siluman itu?"
Tanya Lunpo.
Sebelumnya para dayang Pengtjoan Thianlie keluar dari gua es, Thian Oe telah ketemukan banyak sekali yowan dalam keraton es.
Ia ambil seraup dan simpan dalam bungkusannya.
Ia kenali, bahwa di antara yowan itu terdapat Yanghowan, yaitu pel buat lawan hawa dingin.
Pel itulah yang ia berikan kepada Mauwyan dan Lunpo.
Didedas secara begitu, Thian Oe gelagapan dan tidak tahu mesti menyahut bagaimana.
Kedua perwira jadi semakin curiga dan Mauwyan membentak.
"Apa kau di kirim oleh wanita siluman itu?"
Baru saja Mauwyan habis ucapkan perkataannya, di luar jendela mendadakan terdengar suara tertawanya seorang wanita yang lantas membentak.
"Inilah yang dinamakan sang anjing gigit Lu Tong Pin. Kau tidak mengenal kebaikannya orang. Aku kirim obat, kau berbalik mencaci aku. Apa kau mau sakit lagi beberapa hari?"
Kedua perwira itu yang badannya masih sangat lemas, jadi kaget sekali dan tidak berani buka suara lagi.
"Orang yang curi lengtan (pel mustajab), lekas keluar ketemui aku,"
Demikian terdengar lagi suaranya wanita itu, yang lagu suaranya mirip-mirip dengan suaranya Pengtjoan Thianlie.
Dengan hati berdebar-debar, Thian Oe loncat keluar kamar, tapi wanita itu sudah loncat naik ke atas genteng.
Buru-buru ia balik ke kamarnya buat ambil buntalannya, dan sesudah lemparkan uang penginapan, ia lantas memburu.
Wanita itu lari sangat keras, tapi untung ilmu entengi badannya Thian Oe sudah maju jauh, sehingga begitu keluar dari pintu kota, ia dapat menyandak.
Wanita itu menengok dan berkata sembari tertawa.
"Ilmu silatmu sudah banyak maju. Apa Puteri kami yang memberi pelajaran? Apa ia sudah balik ke keraton?"
Di bawahnya sinar rembulan, Thian Oe kenali bahwa wanita itu adalah Yoe Peng, dayangnya Pengtjoan Thianlie yang sangat disayang.
Sedari kecil ia ikuti majikannya dan di antara para dayang, ilmu surat dan ilmu silatnya terhitung salah seorang dari kelas satu.
Pada harian gempa bumi, ia diperintah Pengtjoan Thianlie buat menemani Tjia In Tjin pergi petik daun obat.
Thian Oe tentu saja merasa sangat girang dapat bertemu dengan ianya.
Tapi mendengar pertanyaannya, ia jadi jengah dan berkata.
"Aku curi belajar. Apakah kau mau jalankan perintah majikanmu buat menghukum aku?"
Yoe Peng tertawa-tawa dan menyahut.
"Puteri kami sebenarnya sangat sayang kau. Sebetulbetulnya, ia sudah perintah aku ajarkan kau beberapa macam ilmu silat, sebelumnya kau meninggalkan keraton. Cuma menyesal malam itu kau mencuri masuk ke dalam tempat pemujaan, sehingga Kongtjoe jadi gusar sekali. Menurut dugaanku, ia cuma mau gertak kau, dan sehabis mengadu pedang, rasanya ia akan segera lepaskan kau dari kurungan. Sesudah mengalami bencana alam yang hebat, tak dinyana kau dan aku masih bisa hidup terus. Cobalah tuturkan pengalaman dalam keraton selama tiga bulan yang lalu."
Thian Oe segera tuturkan segala kejadian secara ringkas.
"Aku sudah duga semua saudarasaudara tidak akan sampai binasa,"
Kata Yoe Peng setelah dengar penuturan Thian Oe.
"Sebetulbetulnya, waktu itu aku cuma kuatirkan keselamatanmu yang sedang dikurung dalam gua. Jika kau sampai kenapa-kenapa, Kongtjoe tentu akan merasa tidak enak hati."
"Dan bagaimana dengan Pengtjoan Thianlie?"
Tanya Thian Oe. Yoe Peng geleng-gelengkan kepalanya dan menyahut.
"Selagi menemani soenio-mu memetik daun obat, aku lihat tanda-tanda bakal terjadinya gempa bumi. Maka itu, buru-buru kita naik perahu dan turun ke telaga Thian-ouw. Aku sama sekali tidak mengetahui keadaannya Kongtjoe."
Thian Oe merasa putus harapan.
"Soenio-ku?"
Ia tanya lagi.
"Ia sudah pulang ke Soetjoan buat tunggu lahirnya anak yang sedang dikandung,"
Sahut Yoe Peng. Mendengar begitu, Thian Oe jadi sadar. Ia sekarang mengetahui, bahwa soenio-nya sedang hamil, sehingga tidaklah heran gurunya sudah tinggalkan pesanan begitu kepadanya.
"Tak lama lagi kau akan mempunyai soetee atau soemoay. Apa kau tidak girang?"
Kata Yoe Peng sembari tertawa. Mengingat kebinasaan yang menyedihkan dari gurunya, hatinya Thian Oe kembali merasa sedih.
"Tapi kenapa kau tidak buru-buru balik ke keraton?"
Tanya ia dengan suara menegor.
"Kau tahu, hari itu gunung berapi meledak dan gempa bumi yang hebat telah terjadi,"
Menerangkan Yoe Peng.
"Sesudah gempa bumi itu, di selebar gunung penuh dengan batu-batu dan lahar yang sangat panas. Selainnya itu, jalanan juga sudah tertutup semuanya. Melihat begitu, kita tahu tidak akan bisa naik ke gunung pada sebelumnya lahar itu menjadi dingin. Soenio-mu sedang hamil, mana bisa ia berdiam lama-lama di daerah pegunungan yang tidak mempunyai tempat meneduh. Aku tahu dalam keraton sudah siap sedia tempat berlindung, sehingga, kecuali pikirkan keselamatanmu, aku anggap keselamatan para saudara dan Thiekoay sian sudah terjamin. Aku segera bujuk soenio-mu supaya pulang lebih dahulu ke Soetjoan buat melahirkan dan begitu ada kemungkinan, aku percaya Thiekoay sian juga akan segera menyusul."
"Tapi guruku tak akan bisa pulang lagi,"
Kata Thian Oe dengan suara serak. Mendengar kebinasaannya Thiekoay sian, Yoe Peng juga merasa sangat terharu. Ia berdiri bengong beberapa saat dan kemudian menanya.
"Kemana kau mau pergi?"
"Ke Lhasa. Dan kau?"
Thian Oe balas tanya.
"Aku tak tahu mau pergi kemana,"
Jawab Yoe Peng sembari tertawa.
"Sebetulnya, aku cuma niat berdiam di daerah ini buat sementara waktu dan lantas pulang begitu lekas lahar menjadi dingin dan keras."
"Sekarang, selainnya satu kawah yang masih semburkan api dan asap, di atas gunung sudah tidak terdapat lahar panas lagi,"
Menerangkan Thian Oe.
"Itulah aku tidak tahu,"
Kata Yoe Peng.
"Aku sebetulnya niat menunggu sampai musim semi baru pulang buat lihat-lihat keadaan."
Ia berdiam beberapa saat dan kemudian berkata lagi sembari mesem.
"Apa kau masih ingat itu toeilian yang digubah oleh si pemuda baju putih dengan mengambil namaku? Ia persamakan diriku seperti seorang wanita suci yang berdiam dalam lembah gunung yang sunyi. Tapi sebenar-benarnya, sebagai manusia biasa, aku pun ingin sekali melihat-lihat keadaan di dunia luar. Selama berdiam begitu banyak tahun dalam keraton, sering-sering aku merasa sangat kesepian."
Dengan senyumannya yang manis, di bawah sinarnya sang bulan, Yoe Peng seakan-akan satu bocah yang nakal. Hatinya Thian Oe juga masih bebocahan. Ia tertawa dan berkata.
"Hm! Kau rupanya ingin menggunakan kesempatan ini buat jalan-jalan. Di seluruh Tibet, Lhasa-lah yang paling ramai. Disitu terdapat gereja Lhama yang luar biasa indahnya. Paling baik kau ikut aku pergi ke Lhasa."
"Bagus! Kita juga bisa sekalian dengar-dengar halnya Kongtjoe,"
Sahut Yoe Peng dengan suara girang. Mendengar namanya Pengtjoan Thianlie, hatinya Thian Oe jadi berdebar. Ia berdiam beberapa saat dan kemudian berkata sambil menghela napas.
"Tu hari mereka sedang adu pedang di kakinya Puncak Es. Apa mereka bisa selamatkan diri?"
"Puteri kami bergelar Pengtjoan Thianlie (Bidadari dari Sungai Es),"
Kata Yoe Peng.
"Meskipun ia tidak dapat disamakan seperti sebangsa dewi, akan tetapi kepandaiannya sesungguhnya tak dapat diukur bagaimana dalamnya. Aku sama sekali tidak percaya ia sampai hilang jiwa lantaran bencana alam itu."
Dari perkataan dan sikapnya, Yoe Peng kelihatan pandang majikannya betulbetul seperti seorang dewi, sehingga Thian Oe jadi terpengaruh dan tidak percaya lagi Pengtjoan Thianlie binasa dalam gempa bumi.
Dengan demikian, hatinya jadi legaan.
"Kau lihat Puteri kami bertempur seru dengan si pemuda baju putih, tapi janganlah kau anggap mereka berkelahi seperti musuh,"
Kata Yoe Peng sembari tertawa.
"Aku sudah dapat lihat, Kongtjoe sebenarnya suka pemuda itu!"
Thian Oe tertawa besar seraya berkata.
"Kau ini benar-benar setan yang cerdik!"
"Kau juga setan pintar yang berlagak bodoh,"
Membalas Yoe Peng.
"Kau mencintai siapa, aku juga sudah tahu."
Paras mukanya Thian Oe lantas berubah guram.
"Ilmu kepandaiannya Chena masih sangat cetek. Belum tentu ia dapat loloskan diri,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Orang baik tentu akan dilindungi Tuhan. Kalau belum takdirnya mati, ia tentu tidak akan mati,"
Kata Yoe Peng dengan suara menghibur.
Kata-kata itu sebenarnya cuma merupakan hiburan belaka, akan tetapi, sesudah mendengar, hatinya Thian Oe jadi terhibur juga.
Sesudah berjalan beberapa lama, Thian Oe menanya.
"Kau selalu memanggil Pengtjoan Thianlie sebagai Paduka Puteri. Bolehkah aku mendapat tahu, ia sebenarnya puteri dari negara mana? Kenapa ia mempunyai kedudukan Kongtjoe, sedang ayahnya hanya seorang pendekar dalam Rimba Persilatan?"
"Baiklah,"
Sahut Yoe Peng.
"Buat hilangkan kesepian, aku akan ceritakan asal-usulnya Kongtjoe."
Demikianlah, dengan diterangi sinar bulan yang bagaikan perak, Yoe Peng segera jalan lebih dekat dengan Thian Oe dan mulai dengan penuturannya.
Pada tiga puluh tahun yang lalu, di negara Nepal hidup seorang puteri raja yang bernama Hoa Giok.
Ia diberi nama Hoa Giok oleh karena raja sangat mengagumi sifat ke Tionghoa-an dan juga oleh karena sang puteri berparas sangat cantik, ibarat batu giok dari bangsa Han.
Sesudah besar, Hoa Giok Kongtjoe menjadi seorang gadis yang boenboe songtjoan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu silat).
Ia belajar ilmu surat dari guru-guru yang sengaja diundang dari Tiongkok, sehingga ia bukan saja apal macam-macam kitab, tapi juga pandai menggubah syair-syair Tionghoa.
Buat menjadi guru silatnya, Raja Nepal undang ahli silat dari negara Arab.
Di sebelahnya itu, ia tentu saja mahir dalam ilmu menunggang kuda dan ilmu memanah yang menjadi kesukaannya."
Sang tempo berjalan cepat sekali.
Dalam tempo sekejap, sang puteri sudah berusia delapan belas tahun.
Para pemuda di Nepal tentu saja sangat ingin dapatkan Hoa Giok sebagai isterinya, akan tetapi, tak ada barang satu yang dipenuju oleh sang puteri.
Tahun lepas tahun dan Hoa Giok sudah berusia dua puluh dua tahun.
Raja Nepal yang cuma mempunyai seorang puteri jadi merasa bingung juga.
Supaya puterinya tidak sia-siakan usia muda, ia niat pilih satu Hoema (menantu raja) dan kemudian paksa supaya puterinya mau menikah dengan pemuda pilihannya itu.
Akan tetapi, Hoa Giok menolak dengan keras dan ajukan satu usul balasan.
Sesuai dengan apa yang ia sering baca dalam buku-buku Tionghoa, ia ingin memilih sendiri suaminya dengan berdirikan loeitay.
Ia usulkan kepada ayahnya, supaya dibcrdirikan dua loeitay, yaitu loeitay buat adu ilmu surat dan loeitay buat adu ilmu silat.
Setiap calon harus lebih dahulu dijajal ilmu silatnya, dan jika lulus, baru dicoba ilmu suratnya.
Dalam ilmu silat, sesudah lulus beberapa ujian sulit, seorang calon harus adu pedang dengan ia sendiri, dan kalau menang, barulah diuji ilmu suratnya.
Dalam ilmu surat, satu calon bukan saja harus mahir dalam kesusasteraan Nepal, tapi juga mesti mengenal kitab-kitab dan syair Tionghoa.
Di antara orang Nepal memang banyak yang mengenal bahasa Tionghoa, tapi pengetahuan mereka kebanyakan sangat cetek dan manalah bisa gampang-gampang lulus dari ujiannya sang pulen.
Selama dua tahun, jumlah pemuda yang majukan lamaran semuanya ada seratus dua puluh empat orang, tapi yang berhak adu pedang dengan sang puteri cuma ada tujuh orang, sedang yang bisa menangkan Hoa Giok cuma tiga orang saja.
Akhirnya ketiga orang itu jatuh semuanya dalam ujian kesusasteraan Tionghoa.
Raja jadi bingung sekali dan belakangan malahan permisikan masuknya calon-calon bangsa Han. Tapi semua calon Tionghoa pun siang-siang sudah pada roboh dalam ujian ilmu silat.
Tanpa merasa, usianya Kongtjoe sudah menanjak jadi dua puluh empat tahun.
Pada suatu hari, dengan suara sungguh-sungguh Raja Nepal berkata kepada puterinya.
'Sekarang kau sudah gagal dalam usaha memilih Hoema, maka sepantasnya kau serahkan urusan itu ke dalam tanganku.
Aku tak dapat permisikan kau membuka loeitay terus-menerus dalam tempo yang tidak terbatas.' Hoa Giok lalu minta tempo seratus hari lagi, dan kalau sudah lewat seratus hari lagi ia belum juga berhasil, barulah ayah dan anak berunding lagi.
Akan tetapi, diam-diam Kongtjoe yang beradat tinggi dan agung itu sudah mengambil putusan pasti buat tidak menikah dengan lelaki sembarangan, dan jika sesudah seratus hari ia beium juga berhasil, ia rela menjadi pendeta dan tidak menikah seumur hidupnya."
Sesudah lewat sembilan puluh sembilan hari belum juga ada calon yang berhasil, sehingga Kongtjoe sendiri juga merasa putus harapan.
Pada hari yang ke seratus mendadak datang satu calon bangsa Han yang mukanya penuh debu dan mengatakan, bahwa ia baru saja tiba dari tempat jauh dan ingin ajukan diri sebagai seorang calon.
Dalam ujian ilmu silat, pemuda itu ternyata pandai menunggang kuda dan memanah, sedang kedua tangannya sanggup angkat batu yang beratnya ribuan kati.
Sesudah lulus berbagai ujian berat, ia akhirnya berhadapan dengan puteri Hoa Giok sendiri.
Ia layani sang puteri dari tengah hari sampai magrib dan akhirnya secara indah sekali, ia sontek tutupan mukanya Puteri dengan ujung pedangnya.
Ketika dijajal ilmu suratnya, Puteri Hoa Giok sendiri sampai merasa sangat kagum.
Ia ternyata mengenal baik kesusasteraan Nepal dan tentu saja sangat mahir dalam kesusasteraan Tionghoa dan malahan banyak penjelasan-penjelasan yang belum dikenal oleh sang puteri sendiri.
"Sekarang tinggal dua ujian terakhir buat coba kecepatan otakmu"
Kata Puteri Hoa Giok.
"Jika kau lulus, kau..."
Kongtjoe tidak dapat teruskan perkataannya dan mukanya jadi bersemu merah. Pemuda itu lantas saja minta ia keluarkan dua ujian terakhir itu..."
"Pemuda itu tentulah juga ayahnya Pengtjoan Thianlie, Koei Hoa Seng Tayhiap,"
Thian Oe potong penuturan orang.
"Koei Tayhiap sedari kecil mendapat didikan langsung dari ibunya sendiri, maka tidaklah heran kalau ia mempunyai pengetahuan tinggi sekali dalam ilmu surat dan ilmu silat. Apakah adanya itu dua ujian terakhir?"
"Ujian yang pertama ialah Kongtjoe rninta Koei Tayhiap menggubah sepasang toeilian,"
Yoe Peng lanjutkan penuturannya.
Toeilian tersebut harus digubah dengan menggunakan namanya, yaitu Hoa Giok.
Buat itu Koei Tayhiap diberi tempo sepasangan hio, dan kalau sampai hio terbakar habis, toeilian belum selesai, Koei Tayhiap jatuh dari ujian itu.
Sesudah mendengar penjelasan Kongtjoe, Koei Tayhiap segera berkata.
"Toeilian itu sudah ada, cuma mungkin kata-katanya sedikit menyinggung, sehingga aku mohon Paduka Puteri sudi maafkan."
Sehabis berkata begitu, Koei Tayhiap segera menulis toeilian yang bunyinya seperti berikut.
"Gunung indah, pemandangan permai, siapakah yang mau diajak pesiar? Melihat pohon Buhdi berkembang, Sa Kya bermesem simpul. Suling giok (batu kemala), suaranya merdu, mengundang tetamu turut bersuka ria. Mendengar Siang Djie mementil khim, Tjoe Tjin meniup suling."
"Pada baris pertama dari toeilian itu, Koei Tayhiap telah mengambil petikan dari kitab Budha, sedang pada baris kedua, ia menggunakan hikayatnya Soema Siang Djie yang meminang Tjo Boen Koen dengan mementil khim dan hikayatnya Tjoe Tjin yang dengan meniup suling, telah mengundang burung Hong buat melamar puterinya Raja muda Tjin Bok Kong, yang bernama Long Giok. Demikianlah, pada baris kedua itu, Koei Tayhiap telah kutib cara melamar isteri dari dua orang dahulu kala itu. Ketika ia menulis habis, hio baru saja terbakar sepertiga. Begitu membaca toeilian tersebut, Hoa Giok Kongtjoe tertawa dengan paras muka girang dan lalu maju dengan ujian yang kedua, yaitu ujian yang paling akhir." (Perkataan "indah" --hoa --dari baris pertama, jika dirangkap dengan perkataan "giok"
Dari baris kedua, jadilah Hoa Giok, yaitu namanya sang puteri). Thian Oe tertawa seraya berkata.
"Kalau begitu tidak heran Pengtjoan Thianlie begitu suka menggubah toeilian dari namanya orang. Tak tahunya ia mewarisi kesukaan itu dari ayah ibunya."
"Kedatangan si pemuda baju putih ke keraton es adalah seperti kedatangan Koei Tayhiap ke Nepal buat meminang dirinya Kongtjoe,"
Kata Yoe Peng.
"Tapi bagaimana dengan ujian kedua?"
Tanya Thian Oe dengan suara tidak sabaran.
"Hayolah jangan omongi segala hal yang tidak ada perlunya."
"Cerita ini adalah cerita didalam cerita,"
Demikian Yoe Peng lanjutkan penuturannya.
"Pendahuluan dari ujian kedua ialah satu cerita dahulu kala. Cerita itu belum berakhir dan dapat di akhiri menurut sukanya orang. Dengan lain perkataan, cerita itu bisa berakhir girang dan juga bisa berakhir sedih. Buat uji kecerdasan otaknya, Kongtjoe minta Koei Tayhiap menulis akhirnya cerita itu."
"Cerita itu adalah begini.
Dahulu kala, seorang puteri diam-diam jatuh cinta kepada seorang boesoe (pahlawan).
Tidak terduga, boesoe itu bercintaan dengan satu dayang.
Apa mau rahasia ini terbuka.
Dalam kegusarannya, sang puteri beritahukan ayahnya.
Kedosaan itu adalah kedosaan besar dan si boesoe harus mendapat hukuman berat.
"Akan tetapi, negeri itu mempunyai cara menghukum yang sangat luar biasa. Mereka percaya, bahwa di langit terdapat dewa yang memegang nasibnya manusia. Apakah terdakwa berdosa atau tidak juga diputuskan oleh sang dewa itu. Caranya adalah begini. Si terdakwa dilepaskan di atas satu lapangan terbuka yang sangat luas. Di sebelah kiri dan kanannya lapangan tersebut terdapat satu pintu. Dalam pintu yang satu ditaruh seekor singa kelaparan, sehingga kalau si terdakwa masuk kesitu, ia tentu akan dibeset dan dimakan oleh singa tersebut. Dalam pintu yang satunya lagi terdapat satu jalanan yang menerus keluar lapangan. Jika si terdakwa masuk di pintu itu, ia segera dapat pulang kemerdekaannya dan segala tuduhan dibikin habis. Menurut kepercayaan, orang itu mendapat berkahnya dewa dan siapa yang mendapat berkahnya dewa, bukannya seorang jahat."
"Oleh karena tidak mengetahui bahwa puterinya mencintai si boesoe dan juga oleh karena sangat sayang pahlawan itu, maka raja sengaja menaruh belas kasihan yang istimewa. Seperti biasa, dalam pintu yang satu ditaruh seekor singa kelaparan. Akan tetapi, dalam pintu yang satunya lagi, raja perintah taruh si dayang kecintaannya boesoe itu. Jika boesoe itu masuk ke dalam pintu yang terisi singa, memang sudah nasibnya ia mesti binasa dan dewa anggap ia berdosa. Akan tetapi, manakala ia masuk ke dalam pintu yang berisi dayang, maka bukan saja ia akan memperoleh kemerdekaannya, tapi juga diperbolehkan menikah dengan kecintaannya itu."
"Pada harian penentuan nasibnya boesoe tersebut, sang puteri juga turut menonton. Panggungnya keluarga raja berdiri di tengah-tengah antara kedua pintu nasib. Waktu lewat di depan panggung, boesoe tersebut mengawasi sang puteri dengan sorot mata mohon dikasihani. Kongtjoe itu tahu pintu mana yang berisi singa dan pintu mana yang berisi dayang."
"Saat itu, nasibnya si boesoe terletak dalam tangannya Kongtjoe. Dengan sekali tunjuk, ia dapat memutuskan, apa boesoe itu mati atau hidup. Pintu manakah yang akan ditunjuk oleh sang puteri? Di satu pihak, hatinya gusar dan sakit hati lantaran perbuatannya boesoe itu, ditambah pula dengan perasaan mengiri terhadap sang dayang yang sudah merebut kecintaannya. Akan tetapi di lain pihak, dengan cintanya yang sangat besar, dimana ia tega kalau boesoe itu sampai dibeset singa?"
"Pada saat itu, dua rupa pemandangan berkelebat di depan matanya Kongtjoe. Di ini detik, ia lihat boesoe itu menikah dengan sang dayang dengan penuh kecintaan dan kemanisan. Di lain detik, ia lihat tubuh yang berlumuran darah dari boesoe tersebut, akibat dibeset singa. Ketika ia dongakkan kepalanya, ia lihat sorot mata yang memohon kasihan dari kecintaannya itu. Pintu manakah yang sang puteri harus tunjuk?"
Thian Oe sudah dibikin begitu ketarik dengan cerita itu, sehingga ia mendengari dengan mata mendelong dan mulut ternganga, dan tanpa merasa, hatinya berdebar-debar dan turut memikiri, pintu mana yang harus ditunjuk oleh Kongtjoe.
Yoe Peng tertawa dan berkata pula.
"Waktu itu, pertanyaannya Hoa Giok Kongtjoe juga adalah sedemikian.
'Andaikata kau jadi puteri itu,' kata Puteri Hoa Giok kepada Koei Tayhiap, 'pintu manakah yang kau akan tunjuk?' Jawabannya Koei Tayhiap haruslah cocok dengan pendapatnya sang puteri yang menurut sukanya dapat memutuskan sendiri, apa jawaban Koei Tayhiap benar atau salah.
"Pertanyaan itu bukan main sukarnya. Tidak perduli pintu mana juga yang ditunjuk oleh Koei Tayhiap, Hoa Giok Kongtjoe bisa bilang ia tidak mengerti soal cinta. Soal cinta dapat ditafsirkan secara berbeda-beda, menurut pendapat pribadi dari sesuatu orang. Sebagai contoh, jika sang puteri dalam cerita itu menunjuk pintu yang ada singanya, maka dapat ditafsirkan, bahwa ia menunjuk pintu itu lantaran mencinta, sebab cinta menimbulkan cemburu dan cinta yang sangat dapat menimbulkan kebencian yang sangat. Jika sang puteri tunjuk pintu yang berisi dayang, itu juga bisa ditafsirkan bahwa ia menunjuk pintu itu lantaran mencinta, sebab orang yang betulbetul mencinta selamanya bersedia buat mengampuni orang yang dicinta, dan di sebelahnya itu, cinta berarti juga pengorbanan guna keberuntungannya orang yang dicinta. Tapi bagaimanakah pendapat Hoa Giok Kongtjoe mengenai soal itu? Itulah ada soal sulit yang mesti ditebak dengan jitu oleh Koei Tayhiap!"
"Koei Tayhiap memikir beberapa saat dan kemudian tanya Hoa Giok Kongtjoe. 'Puteri dalam cerita itu, apakah puteri dari negara Timur atau puteri dari negara Barat?' Cerita itu sebenarnya adalah cerita dari Eropa yang belakangan masuk ke Timur dan menjadi bahan dari berbagai penulis. Koei Tayhiap mengetahui sumbernya cerita itu, akan tetapi ia sengaja menanya begitu."
"Hoa Giok Kongtjoe yang tidak mengerti maksudnya segera balas menanya. 'Kalau puteri Timur bagaimana? Kalau puteri Barat bagaimana?' Koei Tayhiap tertawa dan menyahut. 'Kalau sang puteri adalah puteri dari negara Timur, ia tentu akan tunjuk pintu yang berisi dayang. Tapi jika ia adalah puteri dari Barat, ia tentu akan tunjuk pintu yang ada singanya. Orang Timur biasanya lebih bersedia saling mengampuni, sedang kaum wanitanya kebanyakan berhati welas asih, sehingga sepuluh sembilan ia tidak akan tega melihat kecintaannya dibeset singa. Di lain pihak, cintanya wanita negara Barat bersifat monopoli, yaitu tidak sudi membagi kepada lain orang. Orang Barat suka mengatakan bahwa cinta adalah seperti biji mata dan disitu tidak boleh menyelip barang sebutir pasir. Maka itulah, jika sang puteri adalah puteri negara Barat, sepuluh sembilan ia akan tunjuk pintu yang berisi singa, sebab ia kebanyakan lebih suka kecintaannya binasa daripada direbut oleh lain perempuan. Akan tetapi, jika boesoe itu adalah seorang Tionghoa, siang-siang ia tentu dapat mengetahui kecintaannya sang puteri, sehingga kejadian itu sebenarnya tidak usah terjadi!"
"Bukan main licinnya jawaban itu. Tapi Koei Tayhiap sebenarnya boleh tidak usah susah-susah. Kita bisa duga, tak perduli Koei Tayhiap menjawab bagaimana juga, Hoa Giok Kongtjoe tentu akan merasa puas."
"Begitulah Hoa Giok Kongtjoe segera menetapkan Koei Tayhiap sebagai Hoema. Bukan main girangnya raja. Waktu dilangsungkan pesta pernikahan, tiga hari libur diberikan di seluruh negeri dan semua orang pada bersuka ria. Pada lain tahunnya, Hoa Giok Kongtjoe melahirkan seorang puteri yang diberi nama Peng Go oleh Koei Tayhiap. Ia itulah yang belakangan dikenal sebagai Pengtjoan Thianlie. Raja tidak mempunyai anak lelaki. Hoa Giok Kongtjoe adalah anaknya yang tunggal. Dari sebab begitu, sang cucu Peng Go juga diberi gelaran Kongtjoe."
"Kedua mempelai hidup beruntung sekali dan tidak terasa lima tahun sudah lewat. Usianya raja sudah lanjut dan ia merasa jengkel memikiri soal ahli waris yang harus gantikan ia menjadi raja."
"Dalam banyak negara, seorang puteri dapat naik ke atas tahta. Akan tetapi, menurut kebiasaan di Tiongkok, cuma orang lelaki yang boleh menjadi kaizar. Sudah lama Nepal kena pengaruhnya kebudayaan Tionghoa, sehingga soal itu menjadi pertentangan antara dua partai. Satu partai menghendaki supaya Hoa Giok Kongtjoe gantikan ayahnya, sedang lain pihak ingin Raja Nepal angkat keponakan lelakinya sebagai ahli waris. Keponakan itu sudah lama sekali incarincar tahta kerajaan. Dia sudah mempunyai banyak sekali konco-konco dan tukang pukul. Tak usah dibilang lagi, dia sangat membenci Hoa Giok Kongtjoe. Pertentangan antara kedua partai semakin lama jadi semakin hebat, sehingga dalam kerajaan Nepal yang tenteram jadi timbul hujan angin."
"Hoa Giok Kongtjoe yang tidak tega melihat negaranya terancam bahaya, segera berdamai dengan Hoema. Koei Tayhiap anjurkan isterinya melepaskan haknya dan sama-sama menyingkirkan diri ke Tibet. Kedua suami isteri itu, yang mempunyai ilmu silat sangat tinggi, telah melebur ilmu pedang Tionghoa dan ilmu pedang daerah Barat menjadi satu dan menggubah satu ilmu pedang baru. Hoa Giok menyetujui pikiran suaminya. Ia pun merasa, bahwa hidup tenteram bersama-sama suaminya yang tercinta, ada lebih beruntung daripada menjadi ratu. Maka itulah, ia tinggalkan sepucuk surat buat ayahandanya dan diam-diam tinggalkan keraton bersama suami, puterinya dan sejumlah dayang. Selama hidup dalam keraton, sang puteri sangat dicintai orang. Waktu mau berangkat, beberapa puluh dayangnya berkeras mau mengikut juga, sehingga ia terpaksa mesti mengajak."
"Sesudah keraton es berdiri, sejumlah dayang yang usianya lebih tua telah pulang ke Nepal buat sementara waktu, guna memilih sejumlah anak perempuan dari kalangan keluarga mereka buat diajak datang ke keraton supaya dapat mengawani Puteri Peng Go. Anak-anak perempuan itu menjadi besar bersama-sama Pengtjoan Thianlie dan mereka semuanya mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi."
"Sesudah Hoa Giok Kongtjoe meninggalkan keraton tiga tahun lamanya, Raja Nepal wafat dan keponakan lelakinya naik ke atas tahta sebagai gantinya."
"Menurut katanya orang, begitu naik tahta, raja baru coba menyelidiki dimana adanya Koei Tayhiap suami isteri, akan tetapi mana dia bisa mencarinya.
Sesudah berdiam di atas Thian-ouw, hatinya Kongtjoe menjadi lebih tawar terhadap segala urusan ke negaraan.
Ia lebih-lebih tidak sudi balik ke negaranya, ketika dapat dengar bahwa saudara misanannya adalah satu raja yang kejam dan sombong.
Hoa Giok Kongtjoe meninggal dunia terlebih dahulu dari Koei Hoema.
Waktu mau menutup mata, ia tinggalkan pesanan, bahwa, kecuali kalau Puncak Es roboh, semua penghuni dari keraton es tidak boleh turun gunung.
Sesudah isterinya meninggal dunia, Koei Tayhiap berdirikan sebuah kuil yang berbentuk kuil Nepal dalam taman keraton.
Selainnya membuat sebuah patung isterinya guna pemujaan, ia ukir ilmu pedang gubahannya pada dinding kuil tersebut.
Kecuali Pengtjoan Thianlie, tak ada lain orang yang boleh masuk kedalam kuil tersebut yang jadi semacam tempat terlarang.
"Lewat setahun sesudah meninggalnya sang puteri, Koei Tayhiap susul isterinya ke alam baka dan Pengtjoan Thianlie menjadi majikan tunggal dari keraton es. Seperti kedua orang tuanya, ia juga sangat suka dengan kesusasteraan Tionghoa dan semua dayang-dayangnya diberikan nama Han."
Demikian penuturan mengenai riwayatnya Pengtjoan Thianlie yang diberikan oleh Yoe Peng.
"Apa cerita itu cukup menarik?"
Tanya Yoe Peng dengan tertawa sedih, setelah selesai dengan ceritanya. Sesudah berdiam beberapa saat, Thian Oe berkata.
"Cerita ini juga belum berakhir. Seperti juga cerita si boesoe, cerita Pengtjoan Thianlie juga bisa berakhir sedih atau berakhir girang."
"Bagaimana?"
Tanya Yoe Peng.
"Perangkapan jodoh antara dua orang yang berlainan bangsa dan kemudian hidup seperti di dalam surga, ceritamu luar biasa indahnya,"
Menerangkan Thian Oe.
"Sepasang merpati itu kemudian dapat satu puteri -yaitu Pengtjoan Thianlie -yang benar-benar seperti satu bidadari dari kahyangan. Jika Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih bisa terangkap jodoh dan dapat hidup seperti Koei Tayhiap dan Hoa Giok Kongtjoe, maka cerita ini berakhir girang. Akan tetapi, jika Pengtjoan Thianlie tak dapat loloskan diri dari bencana gempa bumi dan binasa secara kecewa sekali, maka cerita ini berakhir sedih."
"Tentu bisa lolos! Tentu bisa lolos!"
Yoe Peng berkata dengan suara tetap.
"Harap saja begitu,"
Berkata Thian Oe sembari dongakkan kepalanya.
Dengan hati sedih ia mengawasi itu rembulan yang sinarnya dingin.
Mendadakan saja ia ingat cerita tentang ia sendiri dan Chena.
Ia juga tak tahu, apa cerita itu akan berakhir sedih atau akan berakhir girang.
Thian Oe bengong terlongong-longong.
Lama, lama sekali ia tak dapat keluarkan sepatah kata.
"Anak tolol!"
Kata Yoe Peng sembari towel pipinya.
"Apa yang kau lagi pikirkan."
Mendadak ia lihat paras mukanya Thian Oe berobah, seperti juga sedang mendengari apa-apa. Yoe Peng juga pasang kupingnya dan sudah dengar suara itu.
"Ih! Ada orang!"
Ia berbisik di kupingnya Thian Oe.
Mereka berdua lantas saja loncat dan sembunyikan dirinya di belakang satu batu besar.
Di lain saat, beberapa bayangan orang kelihatan berkelebat mendatangi.
Di sebelah timur terdengar dua tepukan tangan, sedang di sebelah barat juga terdengar dua tepukan tangan.
"Mari kita ke tempat yang lebih tinggi, supaya tak dapat dilihat oleh mereka,"
Kata Thian Oe.
Dengan menggunakan ilmu entengi badan yang sangat tinggi, seperti monyet mereka naik ke lereng gunung dan mengumpat di belakangnya satu batu besar, dari mana, dengan bantuan sinar rembulan, mereka dapat lihat keadaan di sebelah bawah dengan nyata sekali.
Dengan beruntun, bayangan-bayangan hitam itu berhenti di tempat dimana barusan Thian Oe dan Yoe Peng berdiri.
Mereka lalu bersila di atas tanah dalam bentuk satu lingkaran bundar.
"Dilihat begini, mereka rupanya mau berunding,"
Berbisik Thian Oe, yang mempunyai lebih banyak pengetahuan daripada Yoe Peng tentang kebiasaan orangorang Kangouw, berkat pengunjukannya Thiekoay sian. Mendadak Yoe Peng tertawa dan berkata.
"Pedagang-pedagang dari Eropa yang sangat tahayul, sangat tidak menyukai hari Jumat dan angka tiga belas. Mereka anggap, hari Jumat dan angka tiga belas membawa kesialan. Coba lihat! Mereka itu berjumlah tiga belas orang dan kalau tidak salah, hari ini adalah hari Jumat."
"Mana boleh!"
Kata Thian Oe.
"Kalau toh benar-benar sial, aku anggap cuma kebetulan saja."
Mendengar Yoe Peng menyebutkan hari, tiba-tiba Thian Oe ingat apa-apa.
"Eh,"
Katanya.
"Tanggal berapa ini? Tanggal penanggalan Tionghoa (Imlek)."
"Tak ingat,"
Jawab Yoe Peng.
"Penanggalan Tionghoa rewel sekali, ada bulan besar, bulan kecil. Cuma semalam dan pagi tadi di dalam kota aku lihat banyak orang Han membeli kue, katanya mau digunakan buat sembahyang Tiongtjhioe (Pertengahan Musim Rontok)."
"Dengan Puteri Kecil (Pengtjoan Thianlie) kau pernah baca banyak bukunya orang Han, apa kau tidak tahu bahwa perayaan Tiongtjhioe adalah salah satu perayaan bangsa Han yang sangat penting?"
Kata Thian Oe.
"Apa kau tak tahu, perayaan itu jatuh pada Pegwee Tjapgo (bulan delapan tanggal lima belas)?"
"Aku tahu,"
Jawab Yoe Peng.
"Tapi ada urusan apa dengan Pegwee Tjapgo? Perlu apa kau begitu perhatikan penanggalan?"
"Aku jadi ingat perkataannya Pengtjoan Thianlie,"
Jawab Thian Oe.
"Ah, aku kuatir benar-benar ada alamat jelek!"
Yoe Peng jadi merasa heran sekali.
"Apa?", tanya ia.
"Pengtjoan Thianlie pernah bilang apa?"
"Apa kau tidak ingat kejadian pada harian aku tiba di keraton es?"
Tanya Thian Oe.
"Hari itu guruku yang pertama (Siauw Tjeng Hong) telah bertemu musuhnya, yang belakangan diusir oleh Pengtjoan Thianlie."
"Aku tidak turut menyaksikan,"
Kata Yoe Peng.
"Baru belakangan aku dengar penuturannya Kongtjoe. Ia bilang musuhnya Siauw Soehoe bernama Loei Tjin Tjoe. Nama itu kedengarannya luar biasa sekali."
"Benar", kata Thian Oe.
"Musuhnya Siauw Soehoe semuanya ada tiga orang. Satu bernama Loei Tjin Tjoe, satu bernama Tjoei In Tjoe dan satunya lagi bernama Ong Lioe Tjoe, yang sudah kena dibinasakan oleh guruku. Yang hari itu kita bertemu di Thian-ouw adalah Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe. Orang yang turun tangan cuma Loei Tjin Tjoe seorang. Dengan gunakan pedang es, Pengtjoan Thianlie telah robohkan Loei Tjin Tjoe yang mungkin lantaran malu, mau coba bunuh diri. Pengtjoan Thianlie menolong dan mengatakan, bahwa ia sebenarnya sudah kena dipermainkan oleh Ong Lioe Tjoe dan kalau mau tahu terang duduk persoalan, ia boleh datang di Chaklun pada tanggal Pegwee Tjapgo tahun ini. Nah, tempat ini adalah Chaklun dan justru Pegwee Tjapgo!"
Yoe Peng merasa heran sekali dan berkata.
"Puteri Kecil selamanya belum pernah turun gunung, cara bagaimana ia bisa mengetahui kejadian yang bakal terjadi pada malam ini?"
Tapi lantaran percaya Thian Oe tidak berdusta, ia menanya pula.
"Coba kau lihat, apa di antara tiga belas orang itu terdapat Loei Tjin Tjoe?"
Thian Oe mengawasi dan lalu geleng-gelengkan kepalanya.
"Tak ada,"
Katanya.
"Heran betul! Apa ia tidak datang? Sst! Diam! Mereka sudah mulai bicara."
Ketiga belas orang itu pasang hio, rupanya sedang jalankan semacam upacara.
"Kenapa Ong Lioe Tjoe sampai sekarang belum datang?"
Demikian terdengar suaranya satu orang. Thian Oe terkejut. Rupanya mereka belum mengetahui, bahwa Ong Lioe Tjoe sudah binasa.
"Mana boleh tidak datang?"
Kata seorang lain.
"Ia sendiri yang janjikan supaya malam ini kita berkumpul disini."
"Tak usah tunggu padanya,"
Kata orang yang pertama.
"Mari kita mulai. Bermula Hok Tayswee (Jenderal Hok, yaitu Hok Kong An) mau perintah kita melindungi itu guci emas, tapi sekarang tidak perlu lagi. Ia perintah kita memberitahukan kawan-kawan, supaya pada sebelum buntut tahun, semua kawan pada pergi ke Sinkiang."
"Kenapa tenaga kita tidak dipakai lagi?"
Tanya seorang.
"Aku dengar suku Hapsatkek di Sinkiang memberontak,"
Jawab orang yang pertama.
"Dalam pemberontakan itu ada turut sejumlah murid-murid Boetong pay. Buat menghadapi mereka itu, Hok Tayswee memerlukan sekali tenaga kita. Maka itu, Hok Tayswee bukannya pandang kita rendah. Saudara tak usah banyak pikiran."
Mendengar perkataan itu, hatinya Thian Oe jadi berdebar.
Ia ingat penuturannya Siauw Tjeng Hong dan Thiekoay sian tentang riwayatnya berbagai partai Rimba Persilatan.
Partai Boetong dahulu sebenarnya mempunyai peraturan keras yang melarang murid-muridnya mencampuri urusan negara dan politik.
Belakangan, pada buntutnya ahala Beng dan permulaan dinasti Tjeng, muncul seorang pendekar Boetong yang bernama Toh It Hang.
Oleh karena mencintai Liehiap Giok Lo Sat, yang belakangan dikenal sebagai Pekhoat Molie (Siluman Perempuan Rambut Putih), ia tinggalkan Boetongsan dan pergi ke Sinkiang, dimana ia berdirikan satu partai baru yang membantu Yo In Tjong (muridnya Hoei Beng Siansu) melawan tentara Boantjeng.
Demikianlah peraturan Boetong pay yang lama telah jadi berobah.
Hal itu terjadi pada kira-kira seratus tahun berselang.
Belakangan Koei Tiong Beng menjadi Tjiangboen (pemimpin) Boetong pay dan mempunyai banyak sekali murid di wilayah Sinkiang.
Sebagian besar murid-murid itu adalah pencinta-pencinta negeri yang tentangkan pemerintahan Boantjeng.
Itulah sebabnya kenapa cabang Boetong di Sinkiang lebih dihargai rakyat daripada Partai Boetong di Tionggoan (wilayah Tiongkok asli).
"Kalau begitu orang-orang itu maui tentang murid-murid Boetong,"
Kata Thian Oe dalam hatinya.
"Tapi ada hubungan apa sama Ong Lioe Tjoe? Ong Lioe Tjoe adalah saudara angkatnya Loei Tjin Tjoe dari Boetong pay, sehingga sebenar-benarnya ia pun ada musuhnya orang-orang yang sedang berunding itu."
Selagi hatinya bimbang, kupingnya sudah dengar lagi perkataannya satu orang.
"Kita tak dapat menghadapi Boetong pay, tanpa Ong Lioe Tjoe. Kenapa sih ia belum juga datang? Apa ia sudah kena ditarik ke pihak Boetong?"
Orang yang macamnya seperti toako (saudara tua) berkata sembari tertawa.
"Saudara janganlah terlalu bercuriga. Ong Lioe Tjoe adalah tokoh dari partai Khongtong pay kita. Dengan banyak susah, sudah hampir dua puluh tahun ia mendekati orang-orang Boetong pay, dengan tujuan mempelajari rahasia ilmu pedang Boetong. Jika kita dapat melayani pukulan-pukulan aneh dari ilmu pedang Boetong, kita jadi mempunyai pegangan dalam usaha menindas pemberontakan di Sinkiang. Ong Lioe Tjoe sudah janjikan supaya kita berkumpul disini, aku rasa ia tidak akan hilang kepercayaan."
"Pada musim semi tahun ini, ada orang lihat ia datang bersama-sama dua saudara angkatnya,"
Berkata lagi seorang lain.
"Tapi dalam beberapa bulan, lantas tidak ada wartanya lagi. Apakah sudah terjadi kejadian di luar dugaan?"
"Kejadian apa?"
Tanya seorang.
"Mungkin ia kena ditahan oleh Loei Tjin Tjoe dan tak dapat loloskan diri,"
Kata orang itu.
"Dalam soal ini ada satu hal yang hiantee (adik) tidak mengetahui,"
Menerangkan sang toako.
"Tujuannya Loei Tjin Tjoe adalah membalas sakit hati dan ia tak nanti mau campur-campur urusan negeri. Kedatangannya bersama-sama Ong Lioe Tjoe adalah buat membalas sakit hati terhadap Siauw Tjeng Hong. Mereka sudah datang disini beberapa bulan lamanya, sehingga aku duga ia sudah balas sakit hatinya dan sudah pulang ke kampungnya. Pada musim semi yang baru lalu, Ong Lioe Tjoe telah memberi warta begitu kepadaku dan mengatakan juga, bahwa ia akan berdiam terus disini dan tidak akan ikut Loei Tjin Tjoe pulang ke Soetjoan."
Mendengar pembicaraan itu, bulu badannya Thian Oe jadi pada berdiri.
Ia sama sekali tidak menduga, bahwa dalam kalangan Kangouw terdapat orang-orang yang begitu macam.
Ia bayangkan bagaimana gusarnya Loei Tjin Tjoe andaikata ia dapat mendengar perundingan tersebut.
Meskipun Tan Thian Oe adalah puteranya seorang pembesar Boantjeng, akan tetapi oleh karena sedari kecil ia telah mendapat didikannya Siauw Tjeng Hong, diam-diam hatinya membenci pemerintahan yang menjajah bangsa Han itu.
Sang rembulan dengan perlahan doyong ke barat.
Ketiga belas orang itu jadi semakin gelisah dan masing-masing lalu utarakan pikirannya tentang tidak munculnya Ong Lioe Tjoe.
Yang satu kata begini, yang lain kata begitu, sedang yang satunya lagi berkata dengan suara keras.
"Aku tak percaya ilmu pedang Boetong begitu liehay. Jika Ong Lioe Tjoe tidak datang, apakah kita tidak berani pergi ke Sinkiang?"
Di antara ramainya suara orang bicara, mendadak terdengar suara tertawa dingin dan dari belakangnya batu-batu loncat keluar dua orang!
Pada mukanya orang yang jalan duluan terdapat tanda tapak golok, sehingga mukanya jadi menyeramkan sekali.
Orang itu bukan lain daripada Loei Tjin Tjoe, jagoan nomor satu dari turunan kedua partai Boetong pay dan saudara angkatnya Ong Lioe Tjoe!
Orang yang jalan belakangan dengan satu tangan mencekal gendewa, adalah Tjoei In Tjoe, ahli silat Gobie pay.
Ketiga belas orang Khongtong pay itu hampir berbareng loncat bangun dengan perasaan kaget sekali.
Yang menjadi kepala, yaitu Tjiangboen (pemimpin) Khongtong pay yang bernama Tio Leng Koen, segera berseru sembari rangkap tangannya.
"Ah, kalau begitu orang sendiri! Loei Toako, Tjoei Toako, lagi kapan kalian datang?"
"Kami sudah datang lama sekali,"
Jawab Loei Tjin Tjoe dengan suara tawar.
"Kenapa tidak lantas datang duduk-duduk disini?"
Tanya Tio Leng Koen.
"Lantaran aku tidak berani menjadi orang sendirimu,"
Jawab Loei Tjin Tjoe dengan menyindir.
Paras mukanya Tio Leng Koen berobah mendadak.
Ia tahu, pembicaraan tadi tentu sudah dapat didengar oleh Loei Tjin Tjoe dan satu pertempuran hebat tidak akan dapat disingkirkan lagi.
Ia segera kasih tanda dengan lirikan mata kepada kawan-kawannya dan berkata dengan suara nyaring.
"Oleh karena Loei Toako pernahkan diri sebagai orang luar, maka dapatkah aku menanya, dengan maksud apa Toako datang pada malam ini?"
"Aku sengaja datang buat memberitahukan kau orang, bahwa Ong Lioe Tjoe tidak bisa datang pada malam ini,"
Jawab Loei Tjin Tjoe dengan suara tawar.
"Nanti juga dia tidak akan bisa datang!"
"Apa?"
Tio Leng Koen menegasi.
"Kalau mau cari dia, kau orang boleh pergi menghadap Giam Loo Ong (Raja Akhirat) di neraka!"
Jawabnya.
"Binatang!"
Membentak Tio Leng Koen.
"Besar benar nyalimu! Sesudah membunuh, kau masih berani datang kemari."
Dengan sekali kebas tangannya, saudara-saudaranya lantas bergerak mengurung Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe. Loei Tjin Tjoe dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Sungguh sayang bukannya tanganku sendiri yang membinasakan padanya!"
Katanya dengan suara menyesal.
Perasaan kecewanya sukar dilukiskan bagaimana besarnya.
Mengimpi pun ia tak pernah mengimpi, bahwa orang yang sudah jadi saudara angkatnya hampir dua puluh tahun, sebenar-benarnya adalah mata-mata dari Khongtong pay.
Hatinya sedih dan suara tertawanya kedengaran menyayatkan hati.
"Ong Lioe Tjoe bukan dibunuh olehmu?"
Tanya Tio Leng Koen dengan terkejut.
Pertanyaan itu disusul dengan bentakannya lain-lain jago Khongtong pay yang memaki dan menanya siapa yang sudah membunuh Ong Lioe Tjoe.
Loei Tjin Tjoe adalah seorang yang beradat angkuh dan dalam kegusarannya, ia sungkan banyak bicara lagi.
"Biarpun dimampuskan, Ong Lioe Tjoe belum habis bayar dosanya,"
Kata ia dengan suara tawar.
"Siapa juga boleh bunuh padanya. Kalau kau orang mau balas sakit hati, terjang saja diriku!"
Dengan gusar Tio Leng Koen angkat tangannya dan lantas menerjang.
Loei Tjin Tjoe lantas tempel pundak dengan Tjoei In Tjoe dan segera putar pedangnya.
Tio Leng Koen adalah Tjiangboen (Pemimpin) Khongtong pay, sehingga dapat dimengerti kalau ilmu silat dan tenaga dalamnya sudah sampai di puncak yang tinggi.
Melihat serangan musuh yang hebat, tangan kirinya menyambar sembari tekuk dua jerijinya dan coba cangkol lengannya Loei Tjin Tjoe dengan ilmu Siauwkinna Tjhioehoat (Ilmu Menangkap dengan tangan).
Berbareng dengan itu, pedangnya yang dipegang dengan tangan kanan, menuding dengan gerakan Wankiong siapeng (Pentang gendewa memanah garuda).
Maksudnya gerakan itu ialah, begitu lekas Loei Tjin Tjoe bergerak menyerang, pedang tersebut akan mendahului.
Tapi tidak dinyana, Tatmo Kiamhoat yang digunakan oleh Loei Tjin Tjoe tidak bergerak menurut jalannya ilmu pedang biasa.
Mendadakan saja, pedangnya Loei Tjin Tjoe berbalik dan papas pundak satu soeteenya Tio Leng Koen yang sedang menyerang dari sebelah kanan.
Dengan suara "brt", baju dengan dagingnya sudah sempoak!
Tio Leng Koen loncat sembari berteriak.
"Serang dari empat penjuru!"
Dua belas murid Khongtong pay segera terbagi jadi tiga rombongan dengan empat orang setiap rombongan dan mereka lalu menyerang bagaikan gelombang, Tio Leng Koen sendiri berdiri di sama tengah buat amat-amati serangan-serangannya Loei Tjin Tjoe yang luar biasa.
Sambil tempel pundak, Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe tancap kakinya di atas tanah dan melawan secara nekat.
Sesudah menonton beberapa lama Yoe Peng berbisik di kupingnya Thian Oe.
"Walaupun kiamhoat-nya Loei Tjin Tjoe cukup mahir, ia kelihatannya belum mendapat sumsumnya Tatmo Kiamhoat yang tulen."
Thian Oe manggut-manggutkan kepalanya dan berkata.
"Aku rasa Loei Tjin Tjoe masih bisa bertahan setengah jam lagi, tapi Tjoei In Tjoe sudah sangat kepayahan."
Tali gendewanya Tjoei In Tjoe terbuat dari urat binatang Kauw dan benang emas hitam, sehingga sebenarnya adalah semacam senjata mustika yang dapat membetot serta memutuskan senjata musuh.
Dalam pertempuran di Sakya, tali gendewa itu telah diputuskan dengan hudtim-nya Siauw Tjeng Hong.
Belakangan ia perbaiki dan sambung tali itu, akan tetapi, kekuatannya sudah banyak berkurang.
Kalau bertemu sama lawanan setanding, dengan menggunakan gendewa tersebut, memang Tjoei In Tjoe bisa menang seurat Akan tetapi, dengan dikerubuti begitu banyak orang, gendewa tersebut tentu saja tidak dapat menolong banyak dan semakin lama ia jadi semakin kepayahan.
Keadaannya Loei Tjin Tjoe cuma mendingan sedikit.
Tiga belas orang itu semuanya adalah jago-jago dari Khongtong pay.
Kalau satu lawan satu, memang mereka semua bukannya tandingan Loei Tjin Tjoe.
Akan tetapi, dengan mengerubuti dan menyerang saling ganti seperti gelombang, mereka segera berada di atas angin.
Selagi pertempuran berlangsung sedang serunya, badannya Tio Leng Koen mendadak "terbang"
Ke atas dan selagi tubuhnya melayang ke bawah, pedangnya menyambar ke arah tengah-tengah antara Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe, dengan pukulan Hoenkang toanlioe (Membendung sungai memutuskan aliran).
Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe yang repot melayani serangan bergelombang, tidak keburu menangkis lagi dan terpaksa masing-masing mengegos ke depan buat singkirkan sambaran pedang.
Dengan demikian, mereka jadi terpisah satu sama lainnya.
Hampir berbareng, kedua belas musuhnya meluruk, sehingga mereka tidak dapat tempel pundak kembali.
Tio Leng Koen tertawa terbahak-bahak sembari pimpin kawan-kawannya mengepung secara rapat sekali.
Dengan andalkan pukulan-pukulan aneh dari Tatmo Kiamhoat, buat sementara Loei Tjin Tjoe masih dapat pertahankan diri.
Tapi keadaannya Tjoei ln Tjoe tidak sedemikian, la kelihatannya sudah kewalahan dan tali gendewanya tak hentinya berbunyi "ting-tang, ting-tang."
Beberapa saat kemudian, dengan satu teriakan kesakitan, pundak kirinya kena dipapas pedang, sedang gendewanya pecah tersabet golok.
"Tjoei Loojie!"
Membentak Tio Leng Koen.
"Kau bukannya penjahat utama. Lepaskan gendewamu! Aku akan ampuni jiwamu!"
"Kau mau aku menakluk terhadap kawanan tikus?"
Jawabnya sembari tertawa getir.
"Hm! Tjoei In Tjoe boleh mati, tapi tak sudi dihinakan oleh manusia sebangsa kau!"
"Bagus! Itulah baru saudaraku!"
Berseru Loei Tjin Tjoe sembari menerjang secara nekat buat menggabungkan dirinya sama saudaranya itu.
Akan tetapi, ia tidak berhasil lantaran sudah keburu dicegat oleh Tio Leng Koen.
Terhadap Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe, Thian Oe tidak mempunyai rasa simpati.
Akan tetapi, sesudah menyaksikan pertempuran tersebut, ia kagumkan juga keangkuhannya kedua orang itu, yang ternyata masih mempunyai tulang punggung.
Lewat lagi beberapa saat, keadaan kedua orang itu, lebih-lebih Tjoei In Tjoe, jadi semakin berbahaya.
Suara tali gendewanya Tjoei In Tjoe sudah kedengaran dengkek dan sumbang.
"Orang itu bisa hilang jiwa sembarang waktu,"
Kata Yoe Peng.
"Eh, kau tak mau membantu?"
"Apa?"
Thian Oe menegasi.
"Asalnya ilmu pedang Pengtjoan Thianlie adalah dari Boetong,"
Kata Yoe Peng.
"Kau sudah belajarkan ilmu pedang tersebut, sehingga sama Loei Tjin Tjoe kau masih terhitung saudara seperguruan."
"Baik, kita menyerbu bersama-sama!"
Kata Thian Oe yang lantas munculkan dirinya di atas batu.
"Loei Tjin Tjoe!"
Ia berseru.
"Jangan takut! Aku menolong!"
Orang-orang Khongtong pay, Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe terkejut semuanya.
Mereka dongak dan lihat sepasang orang muda, satu lelaki dan satu perempuan, sedang berlari-lari ke arah mereka.
Di bawahnya sinar bulan, muka mereka dapat dilihat nyata sekali.
Hatinya Loei Tjin Tjoe tergetar.
"Aku kira siapa, tak tahunya murid Siauw Tjeng Hong,"
Kata ia dalam hatinya.
Harus diketahui, bahwa Loei Tjin Tjoe adalah seorang beradat tinggi yang anggap ilmu silatnya sudah sempurna sekali.
Sedang sang guru ia tak pandang sebelah mata, cara bagaimana ia dapat hargakan muridnya Siauw Tjcng Hong?
Di lain pihak, melihat yang datang adalah orang-orang yang baru berusia belasan tahun, Tio Leng Koen jadi tertawa besar.
"Apa kamu tahu berapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi?"
Katanya sembari tertawa bergelak-gelak.
"Bau susumu belum hilang, sudah berani datang kesini buat cari mampus!"
"Tan kongtjoe! Lekas menyingkir!"
Loei Tjin Tjoe juga berseru.
"Tolong beritahukan gurumu, aku sudah tidak membenci ia!"
"Lantaran kau sudah tidak membenci soehoe, maka aku mau menolong,"
Jawab Thian Oe yang bagaikan kilat sudah menikam Tio Leng Koen dengan pedangnya.
Sembari kebas tangannya, Tio Leng Koen menyampok dengan pedangnya buat bikin terpental senjatanya Thian Oe.
Tapi siapa nyana gerakan pedangnya Thian Oe malahan lebih aneh daripada pedangnya Loei Tjin Tjoe.
Tibatiba saja, ujung pedangnya tukar haluan dan sambar dadanya Tio Leng Koen, yang jadi terbang semangatnya sebab sama sekali tak menduga bakal diserang secara begitu.
Sebagai orang yang berpengalaman dan tinggi ilmunya, dalam bahaya ia tak jadi gugup.
Dengan gerakan Tiatpankio (Jembatan papan besi), badannya melenggak ke belakang sampai hampir nempel ke tanah.
Jantungnya tergetar, sebab meskipun bagaimana cepat juga gerakannya, toh rambutnya masih kena terpapas juga!
Begitu lekas pedangnya Thian Oe lewat, Tio Leng Koen segera berdiri pula sembari menyapu dengan tangannya.
Ujung pedangnya Thian Oe, yang baru disabetkan lagi, jadi mencong sebab kena getaran pukulan musuh.
Hal ini sudah terjadi lantaran tenaga dalamnya Thian Oe belum cukup kuat, meskipun ilmu pedangnya sangat luar biasa.
Melihat pemimpinnya hampir-hampir binasa dalam tangannya satu bocah, semua murid Khongtong pay jadi kaget bukan main.
"Hati-hati terhadap bocah ini!"
Tio Leng Koen kasih peringatan sembari loncat tinggi. Yoe Peng sudah lantas loncat menyerbu dan berkata sembari tertawa.
"Masih ada aku! Aku mau menyerang dengan senjata rahasia. Kau orang juga harus berlaku hati-hati!"
Senjata rahasia adalah senjata yang digunakan buat membokong musuh.
Dimana ada orang mau lepas senjata rahasia lebih dahulu memberitahukan kepada musuhnya?
Tio Leng Koen jadi merasa geli dan tertawa terbahak-bahak.
"Bocah!"
Katanya.
"Kau punya senjata apa? Coba kasih 'ku lihat."
Yoe Peng mementil dengan jerijinya dan di tengah udara lantas terdengar suara "srr, srr".
Menduga serangan jarum, Tio Leng Koen putar pedangnya buat melindungi badan.
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 2
Baca Juga: Hadiah Membawa Bencana 3