Eps 4 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Dengan suara "peletak!", senjata rahasia itu yang berbentuk bundar seperti mutiara, hancur kena terpukul pedang.
Berbareng dengan itu, semacam hawa yang luar biasa dinginnya menyambar-nyambar, sehingga Tio Leng Koen jadi bergidik.
Itulah bukan lain dari Pengpok Sintan yang tiada keduanya dalam dunia!
Tio Leng Koen terkesiap.
"Ilmu iblis!"
Ia berteriak.
"Kepung! Jangan kasih dia menimpuk lagi!"
Yoe Peng mementil kembali dan lepaskan empat butir Pengpok Sintan.
Tiga antaranya mengenakan tiga orang, sedang yang keempat kena dipukul jatuh dengan Kimtjhie piauw-nya Tio Leng Koen.
Tiga orang itu yang tenaga dalamnya belum seberapa, lantas saja gemetar sekujur badannya, tapi dari janggutnya mengeluarkan keringat yang turun berketel-ketel.
"Kalau setiap orang aku persen dua peluru, mereka tak akan dapat tahan lagi,"
Katanya Yoe Peng dalam hatinya.
"Cuma sayang, persediaanku tak mencukupi."
Pengpok Sintan dibuat dari "rohnya es"
Yang diambil oleh Pengtjoan Thianlie dalam gua es yang dalamnya ribuan tombak.
Di seluruh dunia, bahan tersebut cuma bisa didapatkan di daerah Nyenchin Dangla.
Dalam sakunya, Yoe Peng cuma membawa belasan peluru.
Berbeda dengan senjata rahasia lainnya yang bisa diambil pulang, begitu dilepaskan Pengpok Sintan lantas meledak dan musnah.
Sekali lepas berarti hilangnya satu peluru.
Maka itu, mau tidak mau Yoe Peng harus irit, dan selagi ia bersangsi, gelombang musuh yang kedua sudah meluruk dan kepung padanya.
Sembari membentak, Yoe Peng cabut Pengpok Hankong kiam yang lantas saja mengeluarkan sinar gemerlapan yang sangat dingin, sehingga empat musuhnya kembali bergidik.
Pedang tersebut dibuat dari Oen-giok (Batu kemala hangat), yaitu keluaran istimewa dari Puncak Es.
Sesudah direndam di dalam Hantjoan (Umbul dingin) dan diolah tiga tahun lamanya, barulah pembuatannya selesai.
Dari sebab begitu, Pengpok Hankong kiam mengeluarkan semacam hawa dingin, yang, meskipun tidak sehebat Pengpok Sintan, dapat mencelakakan orang-orang yang tenaga dalamnya belum kuat betul.
Ketiga belas jago Khongtong pay rata-rata sudah mempunyai lweekang yang kuat, sehingga, biarpun merasa sangat tidak enak diserang sinar dan hawa dingin, mereka masih dapat mempertahankan diri.
Di bawah pimpinan Tio Leng Koen, mereka dipecah jadi empat rombongan dan kepung empat musuhnya itu.
Thian Oe dan Yoe Pcng segera keluarkan Tokboen Kiamhoat (Ilmu pedang tunggal) dari Pengtjoan Thianlie dengan pukulan-pukulannya yang aneh-aneh.
Sesudah bertempur kurang lebih lima puluh jurus, murid-murid Khongtong pay masih belum dapat mengetahui, ilmu pedang apa adanya itu!
Tio Leng Koen sendiri juga merasa bingung.
"Ilmu siluman! Ilmu siluman!"
Ia berkata sembari geleng-gelengkan kepala.
"Ilmu siluman apa!"
Membentak Yoe Peng sembari mementil lagi dengan dua jerijinya.
Dua butir Pengpok Sintan menyambar.
Buru-buru Leng Koen lepaskan dua Kimtjhie piauw.
Sebutir peluru kena terpukul jatuh, tapi sebutir lagi keburu meledak sendiri dan mengenakan tepat mukanya Tio Leng Koen.
Seperti kena arus listrik, hawa dingin yang sangat hebat masuk ke dalam dua biji matanya, dan ia lantas tak dapat membuka matanya lagi.
Saat itu, dengan gerakan Pengho kiattang (Sungai es membeku), Yoe Peng putar pedangnya dan menyerang dari tiga jurusan, yaitu dari atas, tengah dan bawah.
Pukulan ini adalah salah satu pukulan paling luar biasa dari ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Diserang dari tiga jurusan hampir berbareng, pihak musuh jadi kabur penglihatannya, dan dalam usaha sambutannya, ia bisa membikin kesalahan yang dapat mencelakakan dirinya sendiri.
Yoe Peng keluarkan pukulan itu dengan maksud buat lebih dahulu merobohkan Tio Leng Koen, yang jadi pemimpin dari ketiga belas musuh itu.
Akan tetapi, tidak dinyana, baru saja pedangnya bergerak, badannya Tio Leng Koen berkelebat dan tangannya sudah menyambar dari sebelah kanan.
Thian Oe coba menolong, tapi sudah tidak keburu.
Dengan suara "plak!" , pundaknya Yoe Peng kena terpukul, sehingga terhuyung dan Pengpok Hankong kiam hampir-hampir jatuh dari tangannya.
Keliehayannya pukulan Pengho kiattang ialah dapat membikin kabur penglihatan musuh.
Dalam serangan itu, Yoe Peng tidak ingat, bahwa lantaran kedua matanya musuh tertutup rapat akibat serangan Pengpok Sintan, Tio Leng Koen jadi tidak kena dibikin bingung.
Sementara itu, dalam kedudukannya yang sangat berbahaya, ia sudah keluarkan pukulan Bittjiong tjiang dari Khongtong pay.
Masih untung, lantaran matanya rapat, arah tangannya jadi kurang tepat dan cuma mengenakan pundak.
Kalau lebih ke bawah beberapa dim saja, tangannya bisa menghantam dada dan Yoe Peng bisa dapat luka berat.
Sesudah berhasil, Leng Koen loncat mundur beberapa tindak dan kucek-kucek matanya yang penglihatannya jadi samar-samar dan seperti juga melihat uap putih, la kaget berbareng gusar dan membentak dengan suara keras.
"Perempuan kejam! Kalau tak korek biji matamu, aku tak puas!"
La segera teriaki kawan-kawannya buat kepung Yoe Peng secara lebih keras, sedang ia sendiri, dengan andalkan ilmu "Membedakan datangnya senjata dengan mendengari sambaran angin,"
Sudah turut menerjang.
Walaupun Yoe Peng merupakan salah satu dayang terkemuka dalam keraton es, akan tetapi ilmu silatnya masih kacek jauh jika dibandingkan dengan musuh-musuhnya.
Maka itu, begitu dikepung sungguh-sungguh, ia lantas berada di bawah angin.
Buat sementara waktu, ia masih bisa pertahankan diri dengan andalkan kegesitannya, akan tetapi, ia sudah tidak mempunyai tempo buat menimpuk lagi dengan Pengpok Sintan.
Thian Oe terkejut dan menyerang dengan mati-matian dengan gunakan segala rupa pukulannya Pcngtjoan Thianlie yang luar biasa.
Di antara dayang-dayang, meskipun mendapat didikan langsung dari Pengtjoan Thianlie, akan tetapi tidak ada barang seorang yang belajarkan seluruh Tokboen Kiamhoat.
Di lain pihak, Thian Oe mencuri belajar dari gambar-gambar di dinding gedung terlarang.
Maka itu dibandingkan dengan para dayang, ia dapat lebih banyak sumsumnya ilmu pedang tersebut.
Dalam terjangannya yang mati-matian, ia sudah berhasil membuka satu jalanan dan dapat mempersatukan dirinya sama Yoe Peng.
Oleh karena mesti meladeni Thian Oe dan Yoe Peng yang mengamuk seperti kerbau edan, barisannya Khongtong pay jadi kalut, sehingga Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe juga dapat menerjang keluar dan gabungkan diri sama Thian Oe dan Yoe Peng.
Dengan demikian, ke empat orang itu menjadi dua pasangan, yang, dengan saling tempel pundak, melawan serangan-serangannya ketiga belas jago Khongtong pay.
Loei Tjin Tjoe sama sekali tidak pernah mengimpi, bahwa dalam tempo beberapa bulan saja, ilmu silatnya Thian Oe sudah maju begitu jauh dan kelihatannya sudah berada di sebelah atasan gurunya sendiri.
Semangatnya jadi terbangun dan ia dapat menyerang dan membela diri secara rapi.
Tjoei In Tjoe pun dapat pulang ketenangannya dan tali gendewanya kembali bersuara nyaring.
Dengan perlahan sinar bulan condong ke sebelah barat dan mereka sudah bertempur lebih dari satu jam.
Perlahan tapi tentu, keadaan di gelanggang kembali berobah.
Sesudah berkelahi begitu lama, Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe jadi lelah.
Oleh karena tenaga dalamnya belum begitu kuat, Thian Oe dan Yoe Peng juga sekarang cuma dapat membela diri.
Tio Leng Koen dan kawan-kawannya jadi girang dan mereka menyerang semakin hebat.
"Perempuan siluman! Sekarang baru kau tahu keliehayan kami! Lekas keluarkan obat pemunah!"
Berseru Tio Leng Koen.
Dengan andalkan Iweekang-nya yang sangat tinggi, buat sementara ia masih dapat menahan hawa dinginnya Pengpok Sintan.
Tapi belakangan, ia rasakan kedua biji matanya seperti juga ditusuk-tusuk jarum sehingga ia kuatir menjadi buta, jika terlambat pengobatannya.
Maka itu, ia mendesak hebat dan mau paksa Yoe Peng keluarkan obatnya.
Yoe Peng ambil sikap acuh tak acuh.
"Obat apa?"
Tanya ia sembari tertawa.
"Kau tak mau keluarkan?"
Kata Tio Leng Koen.
"Kalau kau tidak keluarkan, biarpun buta, aku masih dapat membunuh engkau!"
Sembari tekap matanya dengan tangan kiri, pedangnya kembali menyerang hebat dengan pukulan-pukulan yang membinasakan.
Ketika itu, matanya sudah jadi bengkak seperti buah engtoh dan hatinya takut bukan main.
Yoe Peng benar nakal.
Dalam keadaan yang berbahaya, ia masih bisa tertawa.
"Ha! Tadi aku sudah suruh kau hati-hati!"
Katanya.
"Kau sendiri yang tak hati-hati, sekarang berbalik salahkan orang!"
Sembari tempel pundak dengan Thian Oe, ia kembali singkirkan beberapa serangan.
"Hai, aku dengar lelaki Han lebih suka keluarkan darah daripada keluarkan air mata. Tapi kau lebih suka menangis! Apa tak malu?"
Yoe Peng mengejek pula. Tio Leng Koen jadi seperti orang kalap. Bersama empat saudaranya, ia menyerang seperti macan edan, sehingga Thian Oe dan Yoe Peng jadi benar-benar kedesak.
"Aku lihat kau, benar-benar kasihan! Biarlah aku berikan obat pemunah!"
Kata Yoe Peng.
"Mari!"
Leng Koen membentak.
"Galak benar, kau!"
Kata Yoe Peng. Kalau kau minta baik-baik, mungkin aku mau juga kasihkan."
"Yah, hayo kasihkan!"
Kata Tio Leng Koen dengan suara lebih lunak.
"Mana bisa begitu gampang!"
Kata Yoe Peng sembari nyengir.
"Kau lebih dahulu harus minta maaf pada Loei-ya dan bersumpah tak akan pergi ke Sinkiang buat satrukan orang-orang Boetong. Kau pun harus minta maaf kepada kami. Sesudah itu, barulah aku mau kasihkan obatku."
Tio Leng Koen sangat bersangsi. Ia tak tahu mesti ambil jalanan yang mana. Ia paksakan membuka kedua matanya dan samar-samar lihat cara bersilatnya Loei Tjin Tjoe sudah menjadi kalut.
"Lebih dahulu mampuskan siluman perempuan ini!"
Mendadak ia berseru sesudah mengambil putusan.
"Saudara Thio, Oey dan Yo, kau bertiga pergi layani itu dua manusia. Cukup kalau kau bikin mereka tak bisa membantu kedua bocah ini!"
Sehabis memerintah begitu, di bawah pimpinannya sendiri, sepuluh jagoan Khongtong pay segera meluruk mengepung Thian Oe dan Yoe Peng.
Maksudnya Tio Leng Koen adalah coba membinasakan Yoe Peng selekas mungkin supaya bisa ambil obat pemunah dari badannya.
Akan tetapi, ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie ada sangat luar biasa dan tak gampang-gampang dapat dipecahkan dalam tempo yang pendek.
Tio Leng Koen jadi bingung sekali dan dengan sepenuh tenaga, ia cecer kedua orang muda itu dengan pukulan-pukulan yang paling hebat.
Belasan jurus kembali lewat.
Thian Oe dan Yoe Peng sengal-sengal dan mereka tahu, tak akan dapat pertahankan diri lebih lama lagi.
Di lain pihak, kedua biji matanya Tio Leng Koen juga dirasakan semakin sakit, sehingga kedua belah pihak jadi sama-sama bingungnya.
Dalam keadaan yang sangat genting, mendadak terdengar suara nyanyian.
"Pada malam Tiongtjhioe sama-sama memandang bidan, tapi kenapa hawa pedang melonjak ke tengah awan?"
Suara itu kedengarannya datang dari tempat yang sangat jauh, dengan kecepatan luar biasa.
Begitu nyanyian berhenti, seorang pemuda baju putih dengan mulut tersungging senyuman, sudah berada disitu.
Kecepatan bergeraknya pemuda itu, membikin semua orang jadi terkejut.
Tio Leng Koen loncat mundur tiga tindak dan berkata sembari lintangkan pedangnya.
"Sahabat dari mana adanya tuan? Pengajaran apakah yang tuan hendak berikan kepada kami?"
Pemuda itu tertawa dingin seraya menyahut dengan suara nyaring.
"Kedatanganku adalah buat memberi sedikit pengajaran kepada kau orang. Khongtong pay adalah salah satu partai besar dalam Rimba Persilatan dan dengan banyak susah payah partai itu telah diberdirikan. Pada jaman yang lampau, Tjiangboen Khongtong pay, Ouw Bong Tootiang, adalah seorang pendeta beribadat yang menjaga keras peraturan partai. Akan tetapi, begitu pimpinan jatuh ke dalam tanganmu, orang-orang Khongtong pay lantas saja lakukan segala perbuatan yang tidak pantas. Apa kamu orang tidak merasa malu kepada leluhurmu yang sudah berada di alam baka?"
Pemuda baju putih itu baru saja berusia kurang lebih dua puluh tahun, akan tetapi ia bawa sikap seperti caranya seorang tingkatan tua bicara terhadap orang dari tingkatan muda.
Maka tidaklah heran jika Tio Leng Koen lantas naik darahnya dan ia dongak sembari tertawa besar.
"Dengan berkata begitu, tuan rupanya ingin membersihkan rumah tangga Khongtong pay!"
Katanya dengan suara dingin.
"Benar,"
Jawab si pemuda dengan suara sungguh-sungguh.
"Lantaran tidak tega melihat seluruh Khongtong pay dikorbankan dalam tanganmu, maka tanpa perdulikan kecapaian, aku sengaja datang kesini buat mengurus kamu orang!"
Harus diketahui, bahwa menurut peraturan Rimba Persilatan, pekerjaan "membersihkan rumah tangga"
Hanya dapat dilakukan oleh tetua dari partai itu sendiri. Manakala seorang luar hendak "membersihkan rumah tangga"
Partai lain, maka orang itu haruslah seorang yang tingkatannya sangat tinggi dengan mempunyai ilmu silat yang dapat menindih semua anggauta dari partai yang mau dibersihkan.
Maka itu, dapat dimengerti jika perkataannya si pemuda bukan saja sudah membikin gusarnya Tio Leng Koen, tapi juga sudah keja dua belas orang Khongtong pay yang berada disitu, jadi mata merah.
Sembari paksa buka kedua matanya, Tio Leng Koen tertawa terbahak-bahak dan menuding dengan pedangnya.
"Sungguh malu, sebagai Tjiangboen dari Khongtong pay, aku mesti membikin Lootjianpwee jadi berabe buat membersihkan rumah tangga kita!"
Ia berseru sekeras suara.
"Cuma saja aku orang she Tio sangat kepala batu dan sukar menerima pengajaranmu! Maaf, maaf, aku yang rendah terpaksa menolak segala kemauanmu!"
Mendengar perkataan pemimpinnya, semua murid Khongtong pay jadi tertawa keras.
Mereka ejek si pemuda yang dianggap sangat tidak tahu diri.
Tapi si pemuda tetap berlaku tenang.
Ia menyapu dengan matanya dan berkata pula.
"Apa kau orang benar-benar mau aku turun tangan?"
"Binatang!"
Membentak Tio Leng Koen.
"Kau betul-betul sudah bosan hidup! Cabut pedangmu! Lihat, apa kau ajar aku, atau aku mengajar kamu!"
Si pemuda tertawa besar.
"Buat menghadapi orang-orang seperti kau, perlu apa aku mencabut pedang?"
Katanya.
"Thian Oe! Kau semua menyingkir, supaya tak menghalangkan gerakanku. Tio Leng Koen! Panggil semua kawanmu, supaya aku tak usah turun tangan dua kali!"
Thian Oe manggutkan kepalanya dan sembari tarik tangannya Yoe Peng, ia segera loncat keluar dari gelanggang. Bukan main herannya Loei Tjin Tjoe.
"Apa pemuda itu berotak miring?"
Tanya ia dalam hatinya. Selagi terheran-heran, mendadakan kupingnya dengar teriakan Thian Oe.
"Loei Toako! Lekas mundur!"
Mau tidak mau, ia lantas turut loncat keluar dari kalangan.
Pada saat itu, ketiga belas jago Khongtong pay sudah meluruk ke arah si pemuda itu.
Dengan mata berkilat, pemuda itu ayun satu tangannya dan di tengah udara lantas terdengar suara "srr, srr, srr!"
Buat keheranannya semua penonton, hampir pada detik yang bersamaan, tiga belas orang itu, terhitung juga Tio Leng Koen, keluarkan teriakan kesakitan dan roboh menggoser di atas tanah!
Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe ternganga bahna herannya.
"Tio Leng Koen! Apa kau menyerah?"
Tanya si pemuda sembari tertawa. Sebagai orang yang mempunyai tenaga dalam yang lebih kuat daripada saudara-saudaranya, dengan paksakan diri, Tio Leng Koen bisa juga bangun duduk.
"Terima kasih buat pengajaranmu,"
Kata ia.
"Jika kami tidak binasa, kejadian ini tentulah tak dapat dilupakan. Dapatkah aku mendapat tahu nama tuan yang mulia?"
Sebagai Tjiangboen dari satu partai, dalam kekalahannya, ia masih tidak lupa buat keluarkan kata-kata yang sesuai dengan kebiasaan Rimba Persilatan.
Dengan berkata begitu, ia rnemberitahu, bahwa sebegitu lama masih hidup, ia tentu akan membalas sakit hati.
"Kamu orang mau balas sakit hati? Jangan ngimpi!"
Kata si pemuda dengan suara tawar.
"Semua tulang pundakmu sudah kena ditobloskan! Yah, mati sih tidak, tapi buat bisa bersilat lagi, jangan kau harap! Pulanglah dan hidup tenteram!"
Baru perkataan itu habis diucapkan, semua orang kembali terkejut.
Bahwa dengan sekali gerakkan tangan, si pemuda sudah dapat robohkan tiga belas ahli silat Khongtong pay, sudah sangat luar biasa.
Tapi, bahwa semua senjata rahasianya dengan tepat mengenakan tulang pundak orang, adalah satu kepandaian yang sungguh tak dapat dibayangkan bagaimana tingginya!
Tanpa merasa Tio Leng Koen meraba tulang pundaknya, dan benar saja, tulang itu sudah hancur dan sakitnya sampai membikin ia keluarkan air mata.
Ia mengetahui, sekarang ia sudah jadi orang bercacat seumur hidup, ilmu silatnya musnah dan ia cuma bisa hidup seperti orang biasa.
Si pemuda baju putih mesem dan berkata.
"Aku sudah ampuni jiwamu, apa kau masih tidak merasa puas? Pulanglah dan hidup secara tenteram."
Bukan main sedihnya Tio Leng Koen.
"Apakah tuan dapat menaruh belas kasihan buat perlihatkan senjata rahasia itu, supaya kita dapat membuka mata kita?" , katanya dengan suara perlahan. Pemuda itu kembali mesem. Mendadak ia cabut pedangnya yang lantas pancarkan sinar terang ke empat penjuru.
"Barusan aku tak gunakan ia. Sekarang perlu digunakan,"
Katanya.
Hatinya Leng Koen berdebar-debar dan sebelum ia tahu si pemuda mau berbuat apa, ujung pedang sudah sontek pundaknya dan ia merasa seperti juga serupa benda panjang loncat keluar dari daging pundak.
Pemuda itu pegang benda tersebut dengan kedua jerijinya dan goyanggoyang di depan matanya Tio Leng Koen.
"Sudah lihat?"
Tanya ia.
Senjata rahasia itu bukannya emas dan juga bukannya besi.
Warnanya hitam dan bentuknya kecil panjang seperti anak panah tanpa bulu.
Dengan senjata itu, si pemuda ketok pedangnya yang lantas saja keluarkan suara mengaung yang sangat jernih dan bersih.
Tio Leng Koen pucat bagaikan mayat.
"Ah", ia berseru dengan suara di tenggorokan.
"Thiansan Sinbong dan Yoeliong kiam!"
"Benar,"
Kata si pemuda.
"Apa sekarang kau sudah tahu asal-usulku?"
Pedang Yoeliong kiam adalah senjata mustika yang dipandang suci dalam kalangan partai Thiansan pay.
Siapa yang membawa senjata itu, ia tak bisa lain daripada ahli waris tulen dari Thiansan pay.
Tjiangboen Thiansan pay di waktu itu adalah Tong Siauw Lan yang tingkatannya dua kali lebih tinggi dari Tio Leng Koen.
Maka itu, jika si pemuda adalah muridnya Tong Siauw Lan, tingkatannya berada lebih atas daripada Tio Leng Koen.
Dengan cepat si pemuda keluarkan dua belas Thiansan Sinbong lainnya dari pundaknya lainlain jago Khongtong pay.
"Dia sudah tidak mempunyai ilmu silat lagi dan tak dapat jadi bibit penyakit. Tak usah bikin matanya menjadi buta,"
Kata si pemuda sembari berpaling pada Yoe Peng.
"Baik,"
Sahut Yoe Peng sembari keluarkan sebutir Yangho wan yang lantas diberikan kepada Tio Leng Koen.
"Telan ini dan mengasoh tiga hari,"
Katanya.
Tio Leng Koen kucek-kucek matanya, sikapnya seperti seekor ayam jantan yang baru dipecundangkan.
Sesudah memberi hormat kepada si pemuda baju putih, dengan dipepayang oleh kawan-kawannya, ia segera berlalu dari situ.
Si pemuda tertawa bergelak-gelak dan berkata kepada Thian Oe.
"Pertempuran yang barusan sungguh menyenangkan! Eh, bocah, nasibmu benar-benar baik. Baru berdiam di keraton es tiga bulan, ilmu silatmu sudah maju begitu jauh."
"Bukankah kau berada sama-sama Pengtjoan Thianlie?"
Tanya Thian Oe.
"Dialah yang tak sudi berada sama-sama aku,"
Sahut si pemuda sembari tertawa.
"Aku justru mau tanya keterangan mengenai dirinya dari kalian."
Yoe Peng terkejut dan buru-buru menanya.
"Bukankah pada hari itu kau sedang adu pedang dengan Kongtjoe kami?"
"Janji adu pedang harus ditangguhkan sampai di lain hari,"
Sahut si pemuda.
"Meskipun adu pedang tidak dapat dilangsungkan, tapi kau toh mesti bertemu muka dengan ianya!"
Kata Yoe Peng lagi.
"Sebelum tiba di kakinya Puncak Es, aku sudah rasakan alamat bakal adanya gempa bumi,"
Menerangkan si pemuda.
"Apa kau kira aku masih berani maju terus buat cari mati?"
"Kalau begitu, jadi kau tak pernah lihat padanya?"
Thian Oe menegasi.
"Ah, buat apa kau begitu berkuatir?"
Katanya dengan suara jengkel.
"Sedang aku dapat loloskan diri, apa kau kira ia tak mampu selamatkan jiwanya? Hari itu, selagi aku kabur ke arah utara, aku lihat bayangannya kabur ke jurusan selatan. Belakangan, sesudah gunung berapi meledak, biarpun mau, aku pun tak akan dapat mencarinya. Barulah sekarang aku mendapat tahu, ia belum balik ke keraton es."
Mendengar keterangan si pemuda, bahwa Pengtjoan Thianlie sudah terlolos dari bencana alam, hatinya Thian Oe dan Yoe Peng menjadi lega.
"Apakah kalian mau pergi ke Lhasa?"
Tanya si pemuda. Thian Oe manggutkan kepalanya, sedang si pemuda berdiam beberapa saat seperti orang lagi berpikir. Mendadak ia keluarkan satu kotak sulam dari sakunya dan berkata.
"Ayahmu berada di tempatnya Hok Kong An. Sekarang aku mau minta pertolonganmu buat serahkan kotak ini kepada Hok Kong An, supaya aku tak usah berabe mundar-mandir."
Thian Oe sambuti kotak itu, dan selagi mau menanya, si pemuda sudah mendahului sembari tertawa.
"Kasihkan saja padanya. Percayalah, barang ini mempunyai banyak kebaikan bagi ayahmu. Di belakang hari kita bakal bertemu pula. Kau tak usah banyak menanya."
Ia berpaling kepada Loei Tjin Tjoe dan lanjutkan perkataannya.
"Kau juga harus segera pulang ke Soetjoan. Jika bertemu dengan Moh Tayhiap, tolong sampaikan salamku kepadanya."
Sehabis berkata begitu, ia angkat kedua tangannya dan dalam sekejap, ia sudah lenyap dari pemandangan.
Sesudah dapat banyak pengalaman pahit getir, habislah segala kesombongannya Loei Tjin Tjoe.
Dengan mulut ternganga dan hati yang kagum tak habisnya, ia awasi bayangannya si pemuda baju putih yang melesat seperti anak panah.
Sesudah mengasoh beberapa lama, keempat orang lantas berpisahan.
Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe menuju ke Soetjoan, sedang Thian Oe dan Yoe Peng teruskan perjalanan ke Lhasa.
Tanpa mendapat rintangan suatu apa, pada satu magrib Thian Oe dan Yoe Peng tiba di ibukota Tibet itu.
Begitu masuk ke dalam kota, selagi Thian Oe mau tanya orang dimana letaknya markas besar Hok Kong An, Yoe Peng mendadak berkata.
"Kenapa begitu terburu-buru? Marilah kita pesiar barang semalaman, buat lihat-lihat pemandangan Lhasa di waktu malam. Biarlah besok saja cari ayahmu."
Thian Oe mesem.
Ia jadi ingat janjinya buat ajak Yoe Peng pesiar di kota Lhasa dan ia juga merasa, bahwa begitu lekas sudah masuk ke markas besarnya Hok Kong An, mereka tidak dapat keluar masuk lagi sesuka hati.
Maka itu, tanpa membantah, ia lantas tuntun tangannya Yoe Peng dan keliling di seputar kota.
Sebagai ibukota Tibet, Lhasa dikurung oleh bukit-bukit yang tingginya dari empat sampai lima ribu kaki.
Rumah-rumah yang papak dan tenda-tenda di sana-sini memperlihatkan pemandangan yang lain daripada apa yang terlihat di Tiongkok Asli.
Di waktu malam, sinar lilin yang muncul dari beribu-ribu tenda memberi satu pemandangan yang sangat luar biasa.
Keraton Potala yang berdiri di atas bukit dan atapnya mengeluarkan sinar emas berkredepan, kelihatannya angker dan indah sekali.
"Mari kita pergi kesana,"
Mengajak Yoe Peng.
"Itulah keratonnya Budha Hidup, mana boleh orang sembarangan masuk,"
Menerangkan Thian Oe.
"Mari kita pergi ke lapangan yang terletak di sebelah bawahnya."
Lapangan yang terletak di bawahnya Keraton Potala adalah pusatnya keramaian dari kota Lhasa.
Di seputar lapangan berdiri tenda-tenda yang berjejer-jejer, sedang di tengah-tengah terdapat macam-macam pedagang yang gelar barang-barangnya di atas tanah.
Di sebelahnya itu, terdapat juga rombongan-rombongan penyanyi, wayang, dangsu dan sebagainya.
Yoe Peng yang biasa berdiam dalam keraton yang sepi, tentu saja belum pernah saksikan keramaian yang sedemikian rupa.
Ia merasa, keindahan bilang ribu lilin dan lampu yang gilang-gemilang adalah lebih mengagumkan dari apa yang dapat dilihat di keraton es.
Sesudah nonton orang India bermain ular, mereka pergi saksikan pertunjukan yang diberikan oleh rombongan orang-orang Hapsatkek dari Sinkiang.
Yang satu kasih lihat kepandaian menelan pedang, sedang yang lain semburkan api menyala dari mulutnya.
Orang itu kasih masuk sebatang pedang yang panjangnya tiga kaki ke dalam mulutnya.
Pedang itu amblas dan yang ketinggalan di luar mulut cuma gagangnya saja yang pendek.
"Ah!"
Kata Yoe Peng dengan suara kagum.
"Ilmu silatnya orang itu kelihatannya melebihi si pemuda baju putih!"
"Bukan ilmu sejati, semacam sulap,"
Menerangkan Thian Oe sembari tertawa.
Baru saja Thian Oe berkata begitu, orang itu cabut pedangnya yang lantas ditekuk-tekuk.
Ternyata pedang itu terbuat dari timah tipis yang sangat lemas.
Yoe Peng tertawa terbahak-bahak dan hatinya girang sekali.
Mendadak ia rasakan badannya disenggol orang dan ketika ia meraba dengan tangannya, Pengpok Hankong kiam sudah lenyap!
Bukan main kagetnya Yoe Peng.
Ia menengok dan lihat Thian Oe sedang cekal satu orang sembari membentak.
"Dia!"
Tak salah lagi orang itu adalah si pencopet, sebab sarung pedang kelihatan nongol di bawah jubahnya yang panjang.
Yoe Peng enjot badannya buat rebut pulang pedangnya.
Tiba-tiba orang itu tertawa nyaring dan dengan sekali goyang badannya, ia sudah terlepas dari cekalannya Thian Oe, akan kemudian kabur dengan menyelesap di antara orang banyak.
Thian Oe ternganga sambil pegangi jubahnya si copet, yang tenyata sudah akali ia dengan tipu "Tonggeret lepaskan kulit."
Selagi Thian Oe pegang tangan jubahnya dan hendak membekuk dengan cekalan Kinna hoat, si copet loloskan tangannya dari tangan jubah dan kabur dengan tinggalkan jubahnya.
Sembari berteriak "tangkap!", Thian Oe loncat memburu.
Meskipun ilmu entengi badannya sudah cukup tinggi, tapi si copet terlebih gesit lagi dan dalam tempo sekejap, ia sudah kabur keluar dari antara orang banyak.
Thian Oe mengubar terus tanpa perdulikan beberapa orang yang jadi terpelanting lantaran ditubruk olehnya.
Di lain saat, ia lihat si copet sudah loncat ke atas sebuah tenda.
Pencopetan adalah kejadian lumrah di tempat tersebut dan orang banyak mengambil sikap acuh tak acuh, malahan beberapa antaranya yang kena dibikin terpelanting jadi berbalik maki Thian Oe yang dikatakan ceroboh.
Dengan berdiri di atas tenda, si copet buat main Pengpok Hankong kiam dan mulutnya memuji tak hentinya.
"Pedang bagus! Sungguh bagus!"
Dengan gusar, Yoe Peng dan Thian Oe loncat ke atas tenda itu, tapi si copet yang luar biasa gesitnya, sudah pindah ke lain tenda dan dengan beberapa lompatan, ia sudah turun ke atas lapangan yang terletak di belakangnya tenda-tenda.
Thian Oe terkejut.
Ilmu entengi badannya si copet ternyata tidak berada di sebelah bawahnya!
Lapangan tersebut terletak di bawahnya suatu bukit, di atas mana berdiri keraton Potala.
Si copet lari dengan mendaki tanjakan gunung, tapi ia menuju ke arah selatan barat dan bukannya ke jurusan Potala.
Thian Oe dan Yoe Peng mengubar terus sekeras-kerasnya, tapi mereka tetap ketinggalan di belakang dalam jarak beberapa tombak.
"Orang ini mungkin bukan copet sewajar,"
Kata Thian Oe.
"Tak perduli,"
Kata Yoe Peng.
"Dia sudah curi pedangku, aku mesti merebut pulang."
Mereka terus ubar-ubaran, dari depan sampai di belakang bukit dan akhirnya masuk ke satu daerah pegunungan yang sangat sepi.
"Sahabat!"
Thian Oe berteriak.
"Sudahlah, jangan main-main!"
Orang itu tidak meladeni dan lari terus, sambil mencekal Pengpok Hankong kiam yang sinarnya menerangi jalanan.
Sesudah kabur lagi beberapa lama, si copet mendadak berhenti di depannya satu rumah, yang mengeluarkan sinar lilin.
Bentuknya rumah itu agak luar biasa, bukan pasegi tapi bundar seperti tenda, sedang seputarnya dikurung tembok.
Si copet mendadak lompati tembok dan masuk ke dalam.
"Ha! Inilah sarangnya!"
Berseru Yoe Peng sembari enjot badannya.
Thian Oe mau mencegah, tapi sudah tidak keburu, sehingga ia pun lantas turut loncat.
Begitu masuk, mereka menghadapi penerangan yang menyilaukan mata.
Di ruangan tengah terpasang dua baris lilin sebesar lengan, sehingga ruangan itu jadi terang seperti siang.
Di tengah ruangan duduk seorang pembesar militer Boan dan si copet menyerahkan Pengpok Hankong kiam kepadanya.
Orang itu meneliti pedang tersebut dan berkata.
"Benar! Benar pedang ini! Apa wanita itu datang bersama-sama?"
Sebagaimana diketahui, Pengpok Hankong kiam mengeluarkan sinar dingin yang luar biasa dan dapat membikin pingsan orang yang belum mempunyai cukup tenaga dalam.
Tapi pembesar itu, yang lantas cabut pedang tersebut dari sarungnya dan bulangbalingkan beberapa lama, seperti juga tidak merasakan suatu apa.
Yoe Peng memburu bagaikan terbang seraya membentak.
"Pulangkan pedangku!"
Pembesar itu mengawasi dengan mata tajam dan berkata.
"Apa pedang ini milikmu? Ah, tak benar!"
"Kenapa tak benar?"
Tanya Yoe Peng. Si pembesar mengawasi pula dan lalu berkata.
"Coba kau jalan dua tindak."
Bukan main gusarnya Yoe Peng yang segera enjot badannya sembari ayun tangannya buat melepaskan dua butir Pengpok S intan, yang satu menyambar ke arah si pembesar dan yang satunya lagi ke jurusan si copet.
Sungguh sebet gerakannya pembesar tersebut!
Dengan satu gerakan kilat, tangannya sudah menyambar ke depannya si copet, dan dengan gerakan Tjianpie Djie Lay (Djie Lay Hud dengan seribu tangan), ia sudah sambuti kedua senjata rahasianya Yoe Peng!
Ia pencet dan kedua Pengpok Sintan lantas meledak dalam telapakan tangannya!
Gelombang demi gelombang, hawa yang sangat dingin keluar dari sela-sela jarinya.
"Sekarang kau tahu keliehayanku!"
Kata Yoe Peng sembari tertawa.
"Hayo, pulangkan pedangku!"
Dari jarak beberapa kaki, hawa dinginnya Pengpok Sintan sudah menusuk sampai ke tulang-tulang, apa lagi jika peluru itu meledak didalam tangan.
Yoe Peng merasa pasti, pembesar itu tak akan dapat mempertahankan dirinya lagi dan bakal segera memohon ampun.
Tapi tak dinyana, sedikitpun ia tidak kelihatan kedinginan, dan seperti juga tidak terjadi apa-apa, ia susut kedua tangannya yang penuh air es di bajunya.
"Ah!"
Kata ia.
"Baik juga ketemu aku. Kalau lain orang, biar tak mati, sedikitnya mesti sakit keras."
Thian Oe terkesiap.
Dengan meledakkan Pengpok Sintan secara demikian, kepandaiannya orang itu kelihatannya tidak berada di sebelah bawahnya si pemuda baju putih.
Baru saja ia niat memberi hormat, Yoe Peng sudah kebaskan tangan kirinya dan membuat setengah lingkaran dengan tangan kanannya, akan kemudian loncat menerjang.
Itulah satu pukulan yang sangat liehay dari Tatmo Tjianghoat.
"Ah! Ini jadi semakin tak benar!"
Kata si pembesar sembari lonjorkan tangannya buat tangkap lengannya Yoe Peng.
Thian Oe terkejut melihat gerakan orang yang sangat hebat.
Dalam kebingungannya tanpa memikir lagi, ia enjot badannya sembari mencabut pedang.
"Sungguh indah!"
Berseru pembesar itu.
"Di antara tingkatan muda, kepandaian seperti ini sungguh jarang terdapat!"
Selagi mulutnya bicara, tangan kirinya bekerja terus.
Mendadakan saja, Thian Oe rasakan jari-jarinya terbuka dan pedangnya sudah pindah ke tangannya orang itu, sedang lengannya pun kena tercekal!
Demikianlah dengan satu gerakan saja, orang itu sudah dapat cekal lengannya Yoe Peng dan Thian Oe yang lalu dilemparkan.
Belum sempat berteriak, mereka sudah jatuh duduk di atas kursi, tanpa mendapat luka sedikit pun!
Thian Oe dan Yoe Peng mengawasi dengan mata mendelong dan mulut ternganga.
Mereka hampir tak percaya, bahwa dalam dunia masih ada orang yang mempunyai kepandaian begitu tinggi.
Pembesar itu mesem dan berkata.
"Tak susah buat dapat pulang kedua pedang ini. Aku cuma mau minta kalian bicara sebenarnya. Siapakah adanya kalian?"
"Ayahku adalah Tan Teng Kie, Soanwiesoe dari Sakya,"
Sahut Thian Oe. Orang itu keluarkan satu seruan kaget dan berkata.
"Ah, kalau begitu kau adalah Tan Kongtjoe. Maaf buat perbuatanku yang barusan."
Ia lalu berpaling kepada Yoe Peng dan menanya.
"Dan kau?"
Lantaran masih berdongkol, Yoe Peng tutup mulutnya.
"Kekeliruanku yang tadi sudah terjadi lantaran adanya salah mengerti,"
Kata si pembesar dengan suara halus.
"Aku menduga, kau adalah seorang wanita lain, tapi siapa nyana, biarpun pedangmu mirip dengan pedangnya, ilmu silatmu masih kacek terlalu jauh dengan ilmu silatnya! Itu sebabnya kenapa barusan aku bilang, tak benar."
Begitu mendengar perkataannya si pembesar, Thian Oe dan Yoe Peng loncat bangun dengan berbareng.
"Wanita siapa yang kau ketemu?"
Tanya Yoe Peng.
"Bagaimana sebenarnya hubungan antara kau dan wanita itu?"
Ia balas menanya.
"Aku adalah dayangnya,"
Jawab Yoe Peng. Pembesar itu manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata.
"Nah, kalau begitu barulah benar. Siapakah adanya majikanmu?"
Oleh karena tidak kenal siapa adanya orang itu, hatinya Yoe Peng jadi sangsi.
"Aku she Liong, namaku Leng Kiauw,"
Ia perkenalkan dirinya sembari mesem.
"Banyak sahabat bilang namaku sukar diingat, dan oleh karena aku adalah anak yang ketiga, mereka pada panggil aku Liong Sam. Bukankah Tan Kongtjoe sudah pernah dengar namaku yang rendah?"
Thian Oe jadi berdebar hatinya.
Ia sama sekali tak duga, bahwa pembesar yang kelihatannya begitu sederhana adalah orang luar biasa nomor satu di bawah perintahnya Hok Kong An --Liong Sam Sianseng yang kesohor namanya!
Dari ayahnya, Thian Oe pernah dengar, bahwa di bawah perintahnya panglima besar tersebut terdapat seorang pandai yang tak mau munculkan mukanya.
Orang itu dikenal sebagai Liong Sam Sianseng.
Pangkatnya kecil saja, yaitu pangkat Tjamtjan (semacam penulis), tapi pengaruhnya sangat besar dan semua nasehatnya selalu diturut oleh Hok Tayswee.
Banyak sekali usaha yang berfaedah di daerah perbatasan keluar dari otaknya.
Menurut katanya orang, kepandaian Liong Sam tak dapat diukur bagaimana tingginya.
Tugas Hok Kong An di Lhasa adalah tugas yang bukan main beratnya, akan tetapi, selama beberapa tahun, ia selalu dapat lakukan pekerjaannya secara licin, dan ini, menurut katanya orang, sebagian besar adalah berkat bantuannya Liong Sam Sianseng.
Namanya Liong Sam tidak banyak dikenal orang dan cuma diketahui oleh beberapa pembesar penting di bawahnya Hok Kong An.
Dahulu, setiap kali Siauw Tjeng Hong dan Tan Thian Oe bicara mengenai dirinya Liong Sam, mereka selalu merasa sangsi, apakah benar orang itu mempunyai kepandaian yang tinggi.
Mereka anggap, manakala benar ia mempunyai kepandaian seperti yang diagulkan orang, Liong Sam tentu tak akan sudi bekerja sebagai satu Tjamtjan di bawahnya Hok Tayswee.
Tapi belakangan, ketika berada di keraton es, Thiekoay sian pernah utarakan perasaan kagumnya terhadap Liong Sam.
Dikatakan olehnya, bahwa Liong Sam adalah seperti satu naga malaikat, yang kelihatan kepalanya, tapi tak kelihatan buntutnya.
Ketika itu, Thian Oe pernah tanyakan asal-usulnya Liong Sam, akan tetapi sang guru sungkan banyak bicara dan cuma gelenggelengkan kepalanya.
Ia cuma bilang, kalau nanti sudah turun gunung, ia mau bawa Thian Oe pergi ketemukan orang pandai itu.
Cuma sungguh menyesal, sebelum niatan itu terwujut, Thiekoay sian sudah tinggalkan dunia ini buat selamalamanya.
Dan sekarang, secara kebetulan sekali, dengan matanya sendiri, Thian Oe dapat saksikan kepandaiannya Liong Leng Kiauw.
"Sesudah aku perkenalkan diri, apakah kau dapat memberitahukan namanya majikanmu?"
Tanya Liong Sam sembari tertawa. Yoe Peng masih juga belum menyahut. Ia hanya mengawasi dengan perasaan bimbang.
"Lagi kapan kau bertemu ia?"
Tanya Thian Oe.
"Apa kau kenal majikannya?"
Liong Sam balas menanya.
"Majikannya adalah Pengtjoan Thianlie!"
Jawabnya. Liong Sam kelihatan terkejut.
"Hm!"
Ia menggerendeng.
"Aku kira Pengtjoan Thianlie cuma cerita burung. Tak tahunya, benar ada orangnya!"
"Lagi kapan kau bertemu Kongtjoe kami?"
Tanya Yoe Peng.
"Tiga hari yang lalu, di waktu malam,"
Sahutnya.
"Bagaimana bertemunya?"
Tanya lagi Yoe Peng.
"Ia datang disini dan ambil serupa barang,"
Menerangkan Liong Sam.
"Ia ambil barangmu?"
Tanya Yoe Peng sembari tertawa dingin, lantaran ia sama sekali tak percaya. Puterinya mau mengambil barang lain orang.
"Barang apa?"
Tanya Thian Oe.
"Bukan barang terlalu penting, cuma aku tak mau ia mengambilnya,"
Sahut Liong Sam secara menyimpang.
"Cuma sayang, aku tak dapat tahan padanya."
Pada tiga malam yang lalu, seorang wanita telah satroni rumahnya Liong Sam dan curi satu rencana cara bagaimana Hok Tayswee akan menyambut guci emas yang di kirim dari Pakkhia.
Rencana itu telah disusun oleh Liong Sam sendiri.
Wanita tersebut mempunyai ilmu entengi badan yang luar biasa tingginya dan menggunakan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar terang serta hawa dingin.
Liong Sam mengubar dan sesudah beberapa gebrakan, ia masih belum dapat jatuhkan wanita itu.
Dalam kegelapan malam, ia tak dapat lihat tegas mukanya wanita tersebut yang mendadak tertawa bergelak-gelak dan berkata.
"Cuma sebegini ilmunya Naga Malaikat!"
Sehabis berkata begitu, ia menyerang dengan serangan aneh, sehingga Liong Sam terpaksa loncat mundur, dan dengan gunakan kesempatan itu, ia enjot badannya dan menghilang di tempat gelap.
Kejadian itu sudah membikin Liong Sam yang pandai dan banyak pengalamannya jadi garukgaruk kepalanya.
Itu sebabnya kenapa sudah terjadi salah mengerti dan Yoe Peng, yang diduga adalah wanita itu sebab mempunyai pedang yang mirip dengan pedangnya wanita tersebut, sudah dipancing datang kesitu.
Sesudah Liong Leng Kiauw tuturkan duduknya persoalan, semua orang jadi bengong dengan masing-masing mempunyai pendapat sendiri-sendiri.
Thian Oe sendiri sudah merasa pasti, bahwa wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie.
Di lain pihak, Yoe Peng tidak percaya omongannya tuan rumah, bahwa Pengtjoan Thianlie datang menyatroni buat mencuri barangnya.
"Bukankah di keraton es bertumpuk-tumpuk macam-macam mustika? Mana bisa dipercaya, Kongtjoe mau curi barangnya!"
Kata Yoe Peng dalam hatinya.
Tapi Yoe Peng tidak tahu, bahwa rencana yang dicuri oleh Pengtjoan Thianlie ada lebih berharga dari mustika apapun juga.
Sementara itu, Liong Leng Kiauw tak habis mengerti, kenapa Pengtjoan Thianlie sudah curi rencananya.
Apakah ia mau campur tangan?
Mengingat ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie yang sangat tinggi, mau tak mau hatinya jadi keder juga.
Matanya Liong Sam yang sangat tajam dapat lihat kesangsiannya Yoe Peng, tapi ia tidak kata apa-apa dan lantas pulangkan Pengpok Hankong kiam.
Selagi Thian Oe mau pamitan, Liong Sam sudah mendahului dengan berkata.
"Tan Kongtjoe, jika kalian tak mencela tempatku yang buruk, aku undang kalian mengasoh semalaman disini. Besok aku akan antar kau pergi ke gedungnya Hok Tayswee. Mungkin sekali ayahmu juga berada disitu."
"Apa ayah tinggal disitu?"
Tanya Thian Oe.
"Bukan,"
Sahut Liong Sam.
Ia menyewa rumah lain.
Besok Hok Tayswee mau berunding dengan ia, dan aku dengar, tak lama lagi ia sudah boleh balik ke Sakya.
Besok paginya, bersama Liong Sam, Thian Oe pergi ke gedungnya Hok Kong An, sedang Yoe Peng menunggu di rumah.
Gedungnya Hok Tayswee terletak di tengah-tengah kota dan berdekatan dengan Gereja Besar (Thaytjiauw Sie).
Di tengah jalan Liong Leng Kiauw tanyakan mengenai Pengtjoan Thianlie dan dijawab dengan sejujurnya oleh Thian Oe.
Setibanya di gedung Hok Kong An, Liong Sam minta Thian Oe menunggu di kamar peranti tetamu menulis nama.
Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul dan undang Thian Oe masuk ke dalam.
Baru saja kakinya menginjak undakan batu, ia dengar suaranya Liong Sam yang berkata sembari tertawa.
"Tan Taydjin, aku bilang hari ini kau bakal dapat kegirangan besar, tapi kau tidak mau percaya. Coba lihat, siapa yang datang!"
Begitu masuk, ia lihat di tengah-tengah ruangan berduduk seorang pembesar Boantjiu yang berusia kurang lebih 40 tahun.
Ia berwajah angker sekali, tapi pada keangkeran itu terselip sinar kejengkelan.
Orang yang duduk di sebelahnya pembesar Boan tersebut bukan lain daripada ayahnya sendiri, Tan li-ny Kie.
Melihat puteranya, Teng kie girang tak terhingga.
"Oe-djie!"
Ia berseru.
"Lekas memberi hormat kepada Hok Tayswee!"
Thian Oesegera jalankan peradatan sesuai dengan adat istiadat, dan sesudah itu, ia lalu berdiri di samping ayahnya. Hok Tayswee lirik Thian Oe dan berkata.
"Dengan lihat romannya Tan Sieheng, dengan sesungguhnya burung Hong muda boleh berendeng dengan Hong tua. Aku berani bilang, di belakang hari nama dan keberuntungannya Tan Sieheng akan berada di sebelah atasannya Taydjin sendiri. Sungguh aku harus memberi selamat kepada Taydjin."
"Buat itu semua kami ayah dan anak tentu saja harus mengandal kepada bantuannya Tayswee,"
Sahut Teng Kie. Thian Oe sebal mendengar kata-kata yang manis-manis dari kalangan pembesar negeri, maka itu, tanpa menunggu sampai Hok Kong An membuka mulut lagi, ia sudah mendahului.
"Hok Tayswee,"
Katanya.
"Ada orang minta aku sampaikan serupa barang kepadamu."
"Ada orang minta kau sampaikan barang kepadaku?"
Menegasi panglima itu dengan suara heran.
"Barang apa?"
Thian Oe rogoh sakunya dan keluarkan kotak sulam yang ia terima dari si pemuda baju putih dan serahkan itu kepada Hok Kong An, yang lantas buka tutupnya. Kotak itu ternyata berisi se
Jilid buku. Begitu membaca, paras mukanya Hok Kong An jadi berobah, dan sembari pegang buku itu dengan satu tangannya, ia menanya dengan suara tidak sabaran.
"Siapa yang berikan buku ini?"
Pada mukanya panglima itu, yang tadi kelihatan begitu tenang, sekarang terlukis perasaan kaget dan girang. Teng Kie gelisah dan awasi puteranya.
"Yang memberikan adalah seorang muda yang kelihatannya seperti anak sekolah, yang aku ketemu di tengah jalan,"
Menerangkan Thian Oe.
Tan Teng Kie yang tidak mengetahui apa isinya buku itu, jadi merasa bingung dan tidak mengerti, cara bagaimana puteranya boleh sembarangan terima saja barangnya orang yang tak dikenal, buat disampaikan kepada panglima besar itu.
Tapi Hok Kong An tidak jadi gusar dan tangannya menggape kepada Liong Leng Kiauw, yang, begitu lihat isinya buku tersebut, segera berkata dengan suara girang.
"Hok Tayswee, sekarang kau sudah boleh legakan hati. Tan Kongtjoe, sahabatmu sudah banyak membantu kami."
"Urusan ini, benar-benar mengherankan,"
Kata lagi Hok Kong An.
"Tan Sieheng, aku minta kau bicara terus terang. Siapakah adanya sahabatmu itu?"
"Aku bertemu padanya secara kebetulan saja dan tak mengetahui asal-usulnya,"
Sahut Thian Oe.
"Aku rasa orang itu adalah seorang pendekar yang berkepandaian sangat tinggi,"
Berkata Liong Sam.
"Menurut pendapatku, buku ini bukannya dicuri olehnya."
"Bagaimana kau tahu?"
Tanya Hok Kong An.
"Jika ia yang curi, tentu ia tak akan kirim pulang dengan begitu saja,"
Jawab Liong Sam. Hok Kong An diam, ia rupanya sedang berpikir keras.
"Orang luar biasa dalam kalangan Kangouw, sering lakukan perbuatan yang luar biasa pula,"
Kata lagi Liong Leng Kiauw.
"Aku rasa Tan Sieheng sudah bicara sejujurnya, sehingga Tayswee tak usah sangsikan lagi. Menurut anggapanku, kita memerlukan juga bantuannya Tan Sieheng."
"Benar,"
Sahut Hok Kong An.
"Sekarang lebih baik kita rundingkan soal cara bagaimana harus menyambut guci emas itu. Tan Sieheng duduklah."
"Aku mohon tanya, buku apakah itu sebenarnya?"
Tanya Tan Teng Kie yang sudah tak dapat menahan sabar lagi.
"Ini adalah firman yang dikirim oleh Hongsiang (kaizar),"
Sahut Hok Kong An.
Teng Kie keluarkan teriakan kaget dan mukanya jadi pucat.
Cara bagaimana firman yang begitu penting bisa jatuh di tangan orang sembarangan, dan malahan, nyasar juga ke dalam tangannya puteranya sendiri?
Hatinya jadi berdebar-debar, ia tak tahu apa sedang menghadapi kecelakaan atau kegirangan.
"Dalam firman ini ditulis dengan terang seluruh perjalanannya guci emas itu,"
Hok Kong An lanjutkan keterangannya.
"Segala jalanan yang diambil dan tempat mengasoh pada setiap hari semuanya ditentukan secara jelas sekali. Menurut rencana ini, tanggal satu lain tahun, guci emas tersebut sudah mesti tiba di Lhasa dan kita ditugaskan buat menyambut dari tempat lima ratus li jauhnya dari sini. Setibanya disini, guci itu harus ditaruh di Gereja Besar dan segala upacaranya juga sudah ditentukan dalam firman ini. Sedari mendapat laporan yang duluan, aku sudah tahu, bahwa guci itu sudah berangkat dari kota raja. Tadi aku justru sedang buat pikiran, kenapa firman ini belum juga datang, tapi sekarang hatiku sudah menjadi lega."
Tan Teng Kie gemetaran dan keringat dingin keluar dari dahinya. Ia lirik kotak itu dan kemudian lirik puteranya sendiri. Sementara itu Hok Kong An sudah berkata lagi.
"Cuma saja, sekarang kita tahu terang, bahwa firman ini sudah kena dirampas orang di tengah jalan. Dimana adanya pengawal yang melindungi firman, kita tidak mengetahui, dan jika Hongsiang menyelidiki, kedosaan ini tidaklah enteng."
"Tayswee tak usah kuatir,"
Kata Liong Leng Kiauw.
"Biar bagaimana pun juga, firman itu sekarang sudah berada dalam tangan kita. Di kemudian hari, kalau pengawalnya datang, kita anggap saja dialah yang sudah antar sampai kesini. Aku rasa, dia juga takut memikul kedosaan buat ketidak becusannya. Maka itu, soal hilangnya firman di tengah jalan tentu tidak akan sampai diketahui oleh Hongsiang."
"Bagaimana kau dapat pastikan, pengawal yang mengantar firman masih hidup atau sudah mati?"
Tanya Hok Kong An.
"Menurut peraturan dalam kalangan Kangouw, kalau pengawal itu kena dibinasakan, dalam kotak tentu mesti ditaruh pisau atau lain benda buat memberitahukannya,"
Menerangkan Liong Leng Kiauw.
Hok Kong An cuma menggerendeng dan tidak berkata apa-apa lagi.
Ia tidak begitu percaya dipegangnya peraturan begitu dalam kalangan Kangouw, cuma saja, oleh karena keadaannya ada sedemikian, ia juga tidak dapat berbuat lain daripada tunggu perkembangan selanjutnya.
"Apa yang aku kuatirkan adalah kemungkinan hilangnya guci emas di tengah jalan,"
Kata Liong Sam.
"Tak boleh terjadi!"
Kata Hok Kong An.
"Kalau sampai dirampok di tengah jalan, kita pembesarpembesar yang bertugas di Seetjong (Tibet) bisa kehilangan kepala! Liong Tjamtjan, apakah kita tetap akan menyambut guci itu menurut rencana yang sudah ditetapkan?"
Hok Kong An tak tahu, bahwa rencana itu sudah kena dicuri oleh Pengtjoan Thianlie. Kalau tahu, ia tentu akan jadi lebih kaget lagi. Liong Leng Kiauw diam beberapa saat dan matanya lirik Thian Oe.
"Yah, kita turut rencana semula, dengan sedikit perobahan,"
Sahutnya.
"Perobahan apa?"
Tanya Hok Kong An.
"Menurut rencana semula, aku menetap di Lhasa buat bantu Tayswee pimpin upacara penyambutan,"
Sahut Liong Leng Kiauw.
"Sekarang dirobah, biarlah aku yang pergi menyambut guci emas itu."
Matanya Hok Kong An memain dan hatinya bimbang.
Liong Leng Kiauw adalah pengawal pribadinya, dan tanpa kawalannya, ia kuatir keselamatannya terancam.
Melihat panglima itu bersangsi, Liong Leng Kiauw segera berkata.
"Kalau toh ada orang maui guci itu, percobaan merampas tentu dilakukan... di tengah jalan. Penjagaan disini ada cukup kuat, sehingga aku rasa Tayswee tak usah berkuatir. Di sebelahnya itu, aku akan minta soetee-ku bantu mengawal Tayswee. Andaikata sampai ada penjahat, aku anggap ia masih dapat menghadapinya,"
Soetee-nya Liong Leng Kiauw bernama Gan Lok, yaitu orang yang telah copet pedangnya Yoe Peng.
Biarpun ilmu silatnya masih kacek jauh dengan sang soeheng, ia mempunyai ilmu entengi badan yang istimewa.
Walaupun mengetahui kepandaiannya Gan Lok masih kalah dengan soeheng-nya, tapi mengingat pentingnya guci itu, yang memang juga harus dilindungi oleh orang semacam Liong Leng Kiauw, Hok Kong An segera manggutkan kepalanya buat menyatakan persetujuannya.
"Aku pun ingin minta bantuannya Tan Kongtjoe,"
Kata Liong Sam. Tan Tang Kie kaget dan buru-buru berkata.
"Anakku bisa apa?"
"Orang bilang, mengetahui anak tidak melebihi ayahnya,"
Kata Liong Sam sembari tertawa.
"Tan Kongtjoe mempunyai kepandaian sangat tinggi, maka buat apalah Taydjin berlaku begitu sungkan!"
"Pujian Liong Sianseng tentu tak salah,"
Hok Kong An sambungi.
"Baiklah, kita atur begitu saja."
Liong Leng Kiauw mesem dan berkata pula.
"Di sebelahnya itu, kita pun perlu minta bantuannya Tan Taydjin."
"Sebagai pembesar sipil, aku bisa membantu apa?"
Kata Teng Kie.
"Kalau sudah tiba temponya, aku bersama Tan Kongtjoe dan beberapa pengikut akan berangkat lebih dahulu buat membuka jalan,"
Kata Liong Leng Kiauw.
"Tan Taydjin sendiri boleh pimpin seribu serdadu pilihan buat menyambut di tempat lima ratus li jauhnya. Berhubung dengan itu, aku minta Hok Tayswee suka angkat Tan Taydjin sebagai utusan istimewa buat menyambut guci emas itu."
"Liong Sianseng, kau... kau jangan main-main,"
Kata Teng Kie dengan suara gugup.
"Bagaimana aku bisa pimpin pasukan tentara?"
"Tan Taydjin, aku bukan minta kau pergi perang atau atur barisan,"
Jawabnya sembari mesem.
"Bawa serdadu ada apa sukarnya? Tan Taydjin adalah seorang keluaran Hanlim yang hafal dalam segala rupa adat istiadat dan upacara. Menurut pendapatku, kau adalah calon satu-satunya yang paling cocok buat menjadi utusan istimewa guna menyambut guci emas itu."
Tan Tang Kie cuma berpangkat Soanwiesoe (Amban) pada sekte Sakya, yaitu pangkat sipil kelas empat.
Menurut kepantasan, pangkatnya memang tidak cukup tinggi buat menjadi utusan guna menyambut kiriman yang begitu penting dari sang kaizar.
Akan tetapi, sebagaimana diketahui, Hok Kong An biasanya selalu turut nasehatnya Liong Sam, maka kali ini pun ia segera menyetujui.
Ia merasa, bahwa dengan terlebih dahulu minta bantuannya sang putera dan kemudian memberi tugas kepada sang ayah, Liong Leng Kiauw tentu mempunyai perhitungan yang sudah dipikir masak-masak, dan di sebelahnya itu, firman kaizar telah didapat pulang dari tangannya Thian Oe, yang menerimanya dari seorang lain, sehingga biar bagaimanapun juga, Thian Oe tentu masih mempunyai hubungan apa-apa dengan orang tersebut.
Dengan diangkatnya Teng Kie sebagai utusan, sang putera tentulah juga akan mengeluarkan segala tenaganya buat bantu melindungi keselamatannya guci emas itu.
Demikianlah jalan pikirannya Hok Kong An ketika ia memberi persetujuannya.
Saat itu juga, ia perintah seorang pegawai menulis satu surat pengangkatan.
"Banyak tahun Tan Taydjin menderita dalam menjalankan tugas di daerah perbatasan,"
Kata Hok Kong An sembari tertawa.
"Ini kali Taydjin menjalankan tugas yang sangat berat dan penting dan pahala Taydjin tentu akan sangat dihargakan oleh Hongsiang. Sesudah selesai, terdapat kemungkinan besar Taydjin akan dapat pulang pangkat yang dahulu atau malahan akan diberi pangkat yang terlebih tinggi. Inilah benar-benar satu kesempatan sangat baik bagi Taydjin."
Teng Kie anggap omongannya panglima itu ada benarnya, maka, walaupun mengetahui beratnya tugas, ia lantas menerima tanpa rewel lagi.
"Jika Tan Kongtjoe mempunyai sahabat, aku pun ingin minta bantuannya,"
Kata Liong Leng Kiauw, Thian Oe tahu, bahwa sahabat yang dimaksudkan adalah Yoe Peng.
Ingat Yoe Peng, ia jadi ingat Pengtjoan Thianlie dan hatinya lantas jadi bergoncang.
Ia ingat, bahwa Thiekoay sian telah membujuk supaya Pengtjoan Thianlie bantu merampas guci itu, sedang si pemuda baju putih minta ia melindunginya, tapi kedua usul itu sudah ditolak secara mentah-mentah.
Apa yang mengherankan, kenapa sekarang ia curi rencananya Liong Sam?
Apa ia niat merampas guci emas itu?
Kalau benar, bagaimanakah baiknya?
Dan sikap apa yang akan diambil oleh Yoe Peng?
Itulah ada pertanyaan-pertanyaan yang mengaduk dalam otaknya Thian Oe.
Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat lain, oleh karena ayahnya sudah terima perbaik tugas tersebut.
Sesudah beres berunding dan minum teh, Teng Kie lantas pamitan dan pulang bersama-sama puteranya.
"Urusan ini benar-benar di luar dugaan,"
Katanya kepada sang putera.
"Sedari tiba di Lhasa, berulang kali aku telah ajukan permohonan kepada Hok Tayswee supaya ia bikin betul kantor Soanwiesoe yang rusak dan tambah penjagaan. Kalau tak diluluskan, aku minta ia bebaskan saja tugasku dan kirim aku pulang ke kampung kita. Tapi ia tidak mau pecat padaku dan juga sungkan luluskan permohonan yang pertama. Dengan begitu, bulan lewat bulan, aku tetap luntang-lantung dan makan gaji buta. Aku sungguh merasa tidak betah, tapi siapa nyana hari ini aku mendapat tugas yang begitu berat."
"Yah, sesudah kita menerima, jalan satu-satunya adalah coba menunaikan tugas itu sebaik bisa,"
Kata sang putera.
"Dan bagaimana dengan keadaan di Sakya?"
"Aku dengar, sesudah aku meninggalkan Sakya, Touwsoe semakin pentang pengaruhnya, sebab sudah tidak ada orang yang menjadi rintangan,"
Jawab Teng Kie.
"Cuma saja, ia kelihatannya tak dapat melupakan kau. Bulan yang lalu, ia malahan kirim orang buat menanyakan keadaanmu."
Thian Oe jadi ingat cara bagaimana ia mau dipaksa menikah dengan puterinya Touwsoe itu, sehingga tanpa merasa, ia jadi tertawa getir.
Rumah yang disewa oleh Tan Teng Kie cuma terpisah dua jalanan dengan gedung Hok Tayswee.
Rumah itu adalah rumah penduduk biasa yang sangat sederhana, dan oleh karena Teng Kie kempes kantongnya, ia cuma ambil seorang pelayan buat bantu mengurus rumahnya.
Perabotan rumah juga sangat sederhana dan berbeda jauh dengan kemewahan kantor Soanwiesoe.
Baru saja mereka masuk ke dalam mereka lihat seorang wanita muda yang berdiri di tengah ruangan sembari tertawa.
Wanita itu adalah Yoe Peng!
Tan Teng Kie terkesiap, sedang puteranya lantas buru-buru berkata.
"Nona ini adalah kawanku yang datang bersama-sama ke Lhasa. Eh, bagaimana kau bisa datang kesini?"
"Lantaran tak sabaran menunggu di rumahnya keluarga Liong, aku tanyakan dimana letaknya rumahmu dan lantas pergi cari sendiri,"
Menerangkan Yoe Peng.
"Apa orang tua ini ayahmu?"
Sesudah berkata begitu, ia segera memberi hormat menurut adat istiadat bangsa Han.
Teng Kie lihat gadis itu berparas cantik dan sikapnya gagah, sehingga jika dibandingkan dengan puterinya Touwsoe, ia menang beberapa kali lipat.
"Kalau dipasangi dengan Thian Oe memang pantas sekali, cuma gerak-geriknya terlalu luar biasa,"
Kata Teng Kie dalam hatinya. Melihat ayahnya mengawasi dengan mata mendelong, Thian Oe jadi tertawa dan berkata.
"Ayah, dia adalah satu bidadari!"
"Foei! Jangan omong kosong!"
Membentak Yoe Peng sembari monyongkan mulutnya. Melihat lagak orang yang masih kekanak-kanakan, Teng Kie jadi tertawa lebar.
"Memang juga seperti bidadari!"
Katanya.
"Ah, Looyatjoe (panggilan menghormat terhadap orang tua) juga suka guyon-guyon!"
Kata Yoe Peng.
"Ayah, memang benar ia adalah satu bidadari, kalau tak percaya, dengarlah ceritaku,"
Kata sang putera yang lantas saja tuturkan segala pengalamannya dalam keraton es selama beberapa bulan.
Teng Kie mendengari dengan mulut ternganga dan hampir-hampir tidak mau percaya cerita itu yang seperti cerita dongeng.
Mulai waktu itu, Yoe Peng berdiam di rumahnya Teng Kie dan bersama Thian Oe, diam-diam ia coba cari keterangan tentang halnya Pengtjoan Thianlie, tapi sebegitu jauh, uasaha itu tidak berhasil.
Tanpa terasa musim dingin sudah hampir lewat dan tempo yang ditetapkan buat menyambut guci emas sudah hampir tiba.
Menurut rencana, Liong Leng Kiauw, Thian Oe dan Yoe Peng berangkat satu hari lebih dahulu buat membuka jalan.
Sebelum berangkat, pemuda itu beritahukan kekuatirannya kalau-kalau Pengtjoan Thianlie benar niat merampas guci itu, kepada Yoe Peng.
"Kalau benar Kongtjoe datang, aku pasti berdiri di pihaknya,"
Kata Yoe Peng.
"Jika ia mau merampas guci itu, aku tentu akan membantu. Manakala sampai kejadian begitu, kau buru-buru kabur dan aku berjanji tidak akan menyerang dirimu."
Mendengar jawaban orang, hatinya Thian Oe jadi lebih kesal.
Liong Leng Kiauw pilih tiga ekor kuda Tibet yang paling baik buat dijadikan tunggangan dan mereka berangkat pada Capdjiegwee Tjapgo (bulan dua belas tanggal lima belas), supaya dapat bertemu dengan rombongan yang mengantar guci itu di mulutnya gunung Tantat san pada tangal dua puluh tiga.
Jalanan gunung luar biasa sukarnya dengan jurang-jurang yang berbahaya dan pegunungan itu dikenal sebagai tempat keluar masuknya kawanan kecu.
Dalam perjalanan, Liong Leng Kiauw dan Thian Oe merasa cocok sekali, tapi Yoe Peng selalu mengambil sikap tawar.
Berhubung dengan musim dingin, jalanan tertutup salju, dan perjalanan jadi terlebih sukar lagi.
Masih untung, ilmu silatnya Thian Oe sudah maju banyak, sehingga ia dapat menahan segala penderitaan dengan tidak banyak susah.
Di sepanjang jalan Liong Sam berlaku sangat hati-hati, dan ditambah sama sukarnya jalanan gunung, mereka maju lambat sekali.
Sesudah berjalan tujuh hari, barulah mereka dapat lalui kurang lebih empat ratus li.
Hari itu, mereka masuklah di dalam daerah pegunungan Tantat san.
"Sesudah lewati jalanan ini, besok pagi kita akan tiba di mulut gunung dan dapat persatukan diri dengan mereka,"
Kata Liong Sam.
"Siapakah yang dikirim buat antar guci itu dari kota raja?"
Tanya Thian Oe.
"Aku dengar, pimpinan rombongan berada dalam tangannya Raja muda Ho Sek Tjin-ong dan delapan pengawal utama dari keraton juga datang semuanya,"
Sahut Liong Leng Kiauw.
"Bagaimana kepandaiannya delapan pengawal itu?"
Tanya Thian Oe. Liong Leng Kiauw tertawa dan menjawab.
"Sudah lama mereka dapat nama besar dan rasanya kepandaian mereka tidak berada di sebelah bawah kita."
Didengar dari lagu suaranya, Thian Oe merasa Liong Sam tidak terlalu pandang mata kepada delapan orang itu.
Jalanan di sebelah depan diapit dua puncak gunung dan jalanan gunung lugat-legot seperti ular.
Sesudah lewati satu lembah, mereka lihat tiga penunggang kuda yang jalan berbaris, semua berpakaian hitam, sedang tudungnya pun berwarna hitam, sehingga kelihatannya menyolok sekali di atas jalanan yang tertutup salju putih.
Mendadak, orang yang jalan paling dahulu menengok ke belakang dan begitu lihat mukanya, Thian Oe keluarkan satu seruan tertahan, sebab ia kenali, orang itu bukan lain daripada Siamkam Tayhiap Bek eng Beng, yang tempo hari ia ketemu di shigatse.
Untung juga, malam ini Thjian Oe tidak munculkan muka, sehingga sesudah menengok sekali, Bek Eng Beng tidak perhatikan mereka lagi dan terus teriaki dua kawannya supaya berjalan terlebih cepat.
"Yang di sebelah depan adalah Siamkam Tayhiap Bek Eng Beng,"
Kata Thian Oe dengan suara perlahan.
"Kau kenal tidak sedikit orang,"
Kata Liong Sam sembari tertawa.
"Walaupun mendapat julukan Siamkam Tayhiap, Bek Eng Beng tidak seberapa liehay. Dua kawannya yang jalan belakangan banyak lebih tinggi kepandaiannya."
"Siapa mereka?"
Tanya Thian Oe.
"Dilihat dari bebokongnya, mereka agaknya seperti dua jagoan dari Tjionglam pay, yaitu Boesie Hengtee (dua saudara she Boe),"
Sahut Liong Sam.
Boe-sie Hengtee adalah turunannya Tayhiap Boe Goan Eng yang hidup pada jamannya Kaizar Soentie dan keluarga Boe biasanya hidup mengumpat dalam pegunungan Tjionglam san, tapi tak dinyana, sekarang kedua jagonya berada di Tibet.
Di sebelah depan adalah jalanan sempit yang bulak-biluk seperti usus kambing dan diapit oleh dua puncak gunung.
Mendadak terdengar suara kelenengan kuda dan seekor kuda Arab yang tinggi besar kelihatan mendatangi, dengan seorang penunggangnya yang memakai jubah pertapaan warna merah.
Hampir berbareng Thian Oe dan Yoe Peng keluarkan teriakan tertahan.
"Ah, dia!"
Berseru mereka.
Orang itu bukan lain daripada Hoantjeng jubah merah yang pernah dua kali menyatroni keraton es dan binasakan Thiekoay sian!
Thian Oe merasa heran sekali, sebab, ketika mau lepaskan napasnya yang penghabisan, Thiekoay sian bilang, bahwa paderi itu telah mendapat luka berat dan harus berlatih lagi dari tiga sampai lima tahun buat dapat pulang tenaganya.
Tapi baru saja berselang empat bulan, ia kelihatannya sudah sama gagahnya seperti sebelum mendapat luka.
Sembari membentak keras, paderi itu kaburkan kudanya.
Bek Eng Beng tidak keburu menyingkir dan hampir-hampir saja ia jatuh terguling.
Dengan sangat gusar, Siamkam Tayhiap angkat tangannya dan hantam kepalanya kuda itu.
Bagaikan kilat, si paderi gerakkan tangannya, sedang badannya Bek Eng Beng kelihatan ngapung ke tengah udara.
Hampir pada detik yang bersamaan, kedua saudara Boe loncat dari tunggangannya dan dua pasang tangan menyambar dengan berbareng.
Paderi itu keluarkan teriakan keras dan jatuh terguling dari kudanya.
"Binatang tak kenal aturan!"
Kedua saudara Boe membentak.
Mereka bergerak dengan berbareng, yang satu menendang dengan kaki kirinya, sedang yang lain menyepak sama kaki kanannya.
Si paderi buru-buru putar badannya buat sambut kedua serangan yang hebat itu.
Mendadak kuda Arab itu berbenger keras.
Ternyata lantaran kaget, bintang itu terpeleset dan jatuh menggelinding ke bawah tanjakan.
Di sebelah bawah tanjakan terdapat jurang yang dalamnya ratusan tombak, sehingga kalau dia sampai jatuh kesitu, badannya tentu akan hancur lebur.
Si paderi terkesiap dan terlalu gugup buat bisa menolong tunggangannya.
Tiba-tiba badannya kedua saudara Boe melesat ke bawah seperti anak panah.
Yang satu tangkap kaki belakang kanan, sedang yang lain cekal kaki belakang kirinya sang kuda, dan kemudian, sembari kerahkan tenaga dalamnya, dengan berbareng mereka lemparkan kuda itu ke atas!
Tenaga yang dikeluarkan tidak kebanyakan atau kesedikitan dan kuda itu hinggap di atas tanah tanpa mendapat luka!
Sesudah lihat kepandaian orang yang istimewa itu, si paderi tidak berani banyak tingkah lagi.
Tanpa keluarkan sepatah kata, ia hampiri kudanya.
Ketika itu, Bek Eng Beng juga sudah duduk di atas sela, dan selagi ia mau menghalangi si paderi, Boe-sie Hengtee mencegah dengan berkata.
"Bek Toako, biarkan manusia itu berlalu."
Bek Eng Beng tundukkan kepalanya dan berbareng dengan berkesiurnya angin, badannya si paderi sudah melesat di atasan kepalanya dan hinggap di atas punggung kuda. Liong Leng Kiauw tertawa dan berkata.
"Hoantjeng itu cukup liehay. Kalau satu lawan satu, Boe-sie Hengtee tentu tidak bisa gampang-gampang dapat kemenangan."
Melihat musuh besar yang sudah binasakan gurunya, Thian Oe jadi merah matanya.
Si paderi pun kelihatannya kaget ketika dapat lihat Thian Oe bersama Yoe Peng dan lantas keprak kudanya.
Thian Oe cabut pedangnya yang lantas diputar buat sambut kedatangan musuh.
Mendadak kedengaran bentakan Liong Leng Kiauw dalam bahasa Nepal.
"Bangsat gundul minggir!"
Thian Oe cepat, tapi tangannya Liong Sam terlebih cepat lagi.
Dengan gerakan menuntun kambing, ia angkat si paderi dari atas kuda dan terus dilemparkan ke belakang, sedang sang kuda lari terus.
Ilmunya paderi itu sesungguhnya tinggi sekali.
Selagi badannya berada di tengah udara, dengan gerakan Leehie hoansin (Ikan Leehie balik badan), ia hinggap dengan selamat di atas punggung kudanya yang sedang lari keras!
Cuma saja, lantaran sudah beruntun dua kali kena tubruk tembok, semangatnya jadi merosot dan ia cuma menengok ke belakang dan awasi Liong Leng Kiauw dengan sorot mata gusar.
Liong Sam tak ladeni dia dan perintah Thian Oe berjalan terus.
"Permusuhan apakah terdapat antara kau dan Hoantjeng itu?"
Tanya Liong Sam.
"Ia binasakan guruku,"
Jawab Thian Oe.
Liong Sam heran mendengar pengakuan itu.
Benar si pendeta ada terlebih liehay daripada Thian Oe, tapi keunggulan itu cuma terletak kepada tenaga dalam yang hanya bisa didapat dengan latihan lama.
Jika dilihat ilmu silatnya Thian Oe yang mempunyai pukulan-pukulan sangat aneh, gurunya tentu adalah seorang ahli silat kelas satu dalam Rimba Persilatan.
Tapi kenapa ia kena dibinasakan oleh paderi tersebut?
Ia heran, tapi tidak mau menanya pula, sebab bukan temponya buat bicara panjang-panjang.
"Sekarang bukan waktunya membalas sakit hati,"
Kata ia.
"Hayolah kita jalan terus."
Thian Oe tidak membantah dan mereka lalu teruskan perjalanan.
Ketika itu, Bek Eng Beng bertiga sudah lewati lembah gunung.
Kedua saudara Boe menoleh ke belakang dan dari sikapnya, ternyata mereka juga sedang dihinggapi perasaan heran.
"Ikuti tiga penunggang kuda itu, cuma jangan terlalu dekat,"
Kata Liong Leng Kiauw.
"Liong Sianseng, ilmu apa yang barusan kau gunakan?"
Tanya Thian Oe. Liong Sam tertawa dan menyahut.
"Pukulan Soentjhioe kianyo (pukulan menuntun kambing) yang sanggat sederhana. Kesalahan paderi itu ialah dia terlalu tidak pandang mata kepada kita dan menerjang tanpa bikin persediaan. Maka itulah, dengan meminjam tenaganya sendiri, sekali gentak saja aku sudah berhasil keja dia jungkir balik."
Liong Sam bicara secara merendah sekali, akan tetapi, Thian Oe mengetahui, bahwa ia mempunyai kepandaian yang sukar diukur bagaimana tingginya, lantaran dengan pukulan yang begitu sederhana, ia sudah bisa robohkan satu musuh yang begitu liehay.
Dengan demikian, Thian Oe jadi lebih-lebih kagumi orang pandai itu.
Sesudah berjalan beberapa lama, tiba-tiba terdengar pula suara kelenengan kuda.
Mereka menengok dan lihat si paderi jubah merah balik lagi dan sedang mengikuti dari sebelah kejauhan.
"Paderi itu adalah Guru Negara dari Nepal dan dia bermaksud buat merampas guci emas itu,"
Kata Thian Oe.
"Jangan perdulikan padanya,"
Kata Liong Sam.
"Kepandaiannya belum cukup buat bikin kita berkuatir. Di sebelah depan mungkin sekali bakal muncul lain-lain orang yang lebih liehay dan kita harus sangat berhati-hati."
Sesudah lewati lagi beberapa lembah, tiga penunggang kuda yang jalan di depan mendadak tahan tunggangannya.
Liong Sam lantas beri tanda supaya Thian Oe dan Yoe Peng pun tahan kuda mereka dan mengawasi gerak-gerik ketiga orang itu dari jarak belasan tombak jauhnya.
Mereka lihat, di mulutnya lembah, bersender pada satu batu besar terdapat seorang paderi kurus kering yang mukanya hitam dan berpakaian seperti paderi berkelana dari India.
Di atas tanah terdapat satu paso pecah dan sebatang tongkat bambu, sedang si paderi sendiri lagi angsurkan kedua tangannya seperti juga lagi minta sedekah.
Bek Eng Beng dan Boe-sie Hengtee saling awasi.
"Kasihlah,"
Kata Boe Lootoa (saudara she Boe yang lebih tua).
Bek Tayhiap keluarkan sepotong perak yang lantas dilemparkan ke dalam paso.
Paderi itu menggerendeng dan mendadak lonjorkan tangannya buat usap kepalanya Bek Eng Beng.
Bek Tayhiap yang tidak kenal kebiasaan "memberi berkah"
Dari paderi India, buru-buru mengkeretkan lehernya dan tangannya si paderi jadi kena usap pundaknya.
Bek Eng Beng terkesiap lantaran rasakan pundaknya seperti kena arus listrik dan ia loncat setombak lebih tingginya sembari berteriak.
"Ilmu iblis! Ilmu iblis!"
"Kami juga mau memberi sedekah,"
Kata kedua saudara Boe sembari keluarkan seraup perak hancur yang lantas dilemparkan ke arah paderi itu.
Dengan sikap tenang, si paderi kebas kedua tangan bajunya dan semua perak itu masuk ke dalamnya, dan kemudian, dengan miringkan tangan bajunya, ia tuang semua perak kedalam paso.
Kedua saudara Boe barusan menimpuk dengan ilmu Thianlie Sanhoa (bidadari menyebar kembang), yaitu serupa ilmu menimpuk senjata rahasia yang sangat tinggi.
Dengan disertai tenaga dalam, perak hancur itu ada lebih liehay daripada puluhan piauw.
Tapi si paderi dapat menyambut dengan begitu gampang, sehingga kedua saudara Boe jadi kaget sekali.
Paderi itu lalu menghampiri dengan perlahan sembari angsurkan kedua tangannya buat "memberi berkah".
"Tak usah banyak peradatan,"
Berkata Boe-sie Hengtee sembari menangkis dengan gerakan tangan Toalek Kimkong.
Begitu kebentrok, kedua saudara Boe rasakan tangannya seperti memukul kapas sehingga mereka jadi terkejut.
Mendadak semacam tenaga yang sangat besar mendorong mereka.
Buruburu mereka tarik pulang tenaga yang sudah dikeluarkan dan-berbareng loncat mundur setombak lebih.
Mereka jalankan pernapasannya dan mengetahui tidak sampai mendapat luka.
Mereka lantas saja cemplak kudanya dan berlalu tanpa menengok lagi.
Sembari menuntun kuda, Liong Leng Kiauw menghampiri.
Paderi itu kembali keluarkan beberapa patah perkataan yang tak dapat dimengerti dan angsurkan kedua tangannya.
Liong Sam segera keluarkan seraup perak hancur, dan seperti caranya Boe-sie Hengtee, ia lemparkan ke arah sang paderi.
Thian Oe dan Yoe Peng merasa heran, lantaran, sesudah ada contohnya Boe-sie Hengtee, Liong Sam masih juga mau menggunakan gerakan Thianlie Sanhoa waktu melemparkan peraknya.
Si paderi lalu kebas tangan bajunya, dan seperti tadi, semua perak lantas masuk ke dalamnya.
Mendadak terdengar suara "bret"
Dan baju paderinya robek sedikit, sedang sebagian perak moncor keluar. Si paderi tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Sungguh bagus!"
Ia berseru sembari acungkan jempol tangannya.
Ia pentang telapakan tangannya yang lantas turun perlahan-lahan buat "memberi berkah".
Barusan Liong Leng Kiauw telah gunakan ilmu melepaskan senjata rahasia yang istimewa sekali.
Ia timpukkan seraup perak hancur itu dengan sekali timpuk, akan tetapi, setiap keping menyambar dengan tenaga yang berlainan beratnya.
Selainnya itu, pada sebelum menimpuk, lebih dahulu ia pencet sekeping perak dengan dua jarinya, sehingga kepingan perak itu menjadi gepeng seperti Kimtjhie piauw (piauw uang tembaga) dan sangat tajam.
Itulah sebabnya, kenapa kepingan itu dapat merobek bajunya si paderi.
Tentu saja Thian Oe tak dapat lihat itu semua, sedang si paderi sendiri jadi sangat terkejut.
Melihat tangan orang yang turun perlahan-lahan, Liong Leng Kiauw segera angkat tangannya buat menangkis sembari berkata dengan tertawa.
"Jangan! Aku tak berani terima!"
Begitu kebentrok, mereka sama-sama rasakan seperti dilanggar arus listrik dan kedua-duanya mundur beberapa tindak.
Liong Sam balas memberi hormat dan lantas teriaki supaya Thian Oe dan Yoe Peng buru-buru berangkat.
Si paderi lalu punguti perak yang berantakan dan kembali menyender di batu besar sembari meramkan kedua matanya, buat tunggu kedatangannya lain orang.
"Orang macam apa adanya paderi itu?"
Tanya Thian Oe sesudah mereka jalan beberapa jauh.
"Aku cuma harap kedatangannya disini tidak mempunyai hubungan dengan guci emas,"
Sahut Liong Sam.
"Kepandaian yang barusan diperlihatkan olehnya adalah ilmu Yoga yang tidak kalah dengan Hianboen lweekang dari Tiongkok. Jika kedatangannya adalah buat mencampuri urusan guci emas, kita sunguh bakal ketemu lawanan berat."
Sesudah mereka lalui dua lembah gunung, tibatiba mereka dengar teriakannya si paderi jubah merah.
Waktu Liong Sam bertiga menoleh ke belakang, mereka lihat paderi itu menggemblok di punggung kuda tanpa bisa angkat kepalanya lagi!
"Hoantjeng itu tentulah juga unjuk kegalakannya, sehingga ia dipersen sedikit berkah,"
Kata Liong Sam sembari tertawa. Thian Oe juga turut tertawa dan berkata.
"Paderi itu memberi berkah seperti juga pembesar ujian menguji calonnya. Setiap orang yang lewat tentu mesti diujinya. Ah, caranya benar aneh sekali."
"Kalau Pengtjoan Thianlie yang lewat disitu, aku rasa dia bakal telan tulang,"
Yoe Peng beri pendapatnya.
Liong Sam tidak turut bicara, ia seperti sedang berpikir keras.
Malam itu mereka menginap dalam gunung Tantat san dengan memasang tenda.
Pada esok paginya, ternyata si paderi jubah merah, Bek Eng Beng dan kedua saudara Boe sudah tidak kelihatan mata hidungnya.
Liong Sam menghela napas dan sembari mengawasi keadaan di seputarnya, ia berkata.
"Marilah kita berangkat pada sebelumnya matahari keluar, supaya bisa tiba terlebih siang di mulut gunung guna menanti kedatangannya guci emas!"
Baru saja matahari munculkan diri, mereka sudah tiba di mulutnya selat Tantat san.
"Kalian tunggu disini sebentaran, aku mau lihat-lihat di sebelah depan,"
Kata Liong Sam. Belum habis perkataannya, dalam selat gunung tiba-tiba terdengar suaranya kaki kuda yang sangat ramai.
"Heran benar!"
Kata Liong Leng Kiauw dengan suara kaget.
"Menurut rencana, rombongan pengantar guci akan tiba pada waktu tengah hari. Kenapa mereka sudah sampai begini pagi?"
Sementara itu debu tebal sudah mengebul ke tengah udara dan ribuan kuda dengan penunggangnya lapat-lapat sudah bisa terlihat.
Hatinya Thian Oe berdebar-debar, ia kuatir timbul kesulitan yang bisa rembet diri ayahnya dan berbareng harapkan munculnya Pengtjoan Thianlie.
Selat gunung itu berbentuk seperti terompet, di dalamnya sempit, di luarnya lebar.
Barisan Gielimkoen yang mengawal guci emas itu, terbagi jadi dua pasukan yang keluar dari mulut selat secara angker sekali, seperti dua ekor naga.
Ribuan bendera seakan-akan menutupi sinarnya matahari, sedang ribuan kuda dengan para penunggangnya yang berpakaian indah dan beroman keren, tak hentinya berbenger-benger.
Di antara barisan itu terdapat sehelai bendera kuning yang berkibar-kibar menurut tiupannya angin dan di belakangnya bendera, tertampak empat payung sulam warna kuning, yang mendahului empat ekor kuda bulu putih.
Sekali lihat saja, orang akan mengetahui, bahwa salah satu dari empat kuda itu menggendol guci emas di bebokongnya.
"Utusan istimewa belum datang, apakah kita boleh menyambut lebih dahulu?"
Tanya Thian Oe.
"Tunggu dahulu,"
Jawab Liong Sam.
Baru saja pasukan Gielimkoen berbaris di mulut selat, tiba-tiba terdengar suara riuh dan serombongan orang menerjang keluar dari lereng gunung, dengan dikepalai oleh si pendeta jubah merah.
Sambil putar sianthung-nya, ia menerjang masuk ke dalam pasukan Boan, dengan dilindungi oleh enam boesoe Nepal yang bersenjata golok bulan sebelah.
Bagian depan Gielimkoen segera menjadi kacau.
Dua perwira, yang satu bersenjata tongkat besi dan yang lain cekal golok, loncat keluar dan tahan majunya si pendeta.
Dengan sepenuh tenaga, si pendeta jubah merah sampok dua senjata musuhnya yang lantas terpental, tapi untung tidak sampai terlepas.
"Bangsat Hoan! Besar benar nyalimu berani coba-coba merampas guci emas!"
Membentak satu perwira sembari kebaskan tangannya dan Gielimkoen lantas bergerak.
Pasukan anak panah segera maju ke depan, sehingga enam boesoe Nepal itu jadi tertahan di luar sebab dihujani anak panah, sedang si pendeta jubah merah dikepung oleh kedua perwira di tengah-tengah.
Sembari mengumpat di belakang batu, Liong Sam bertiga tonton pertempuran itu.
"Apa kita perlu membantu?"
Tanya Thian Oe.
"Coba kita tonton dahulu kepandaiannya delapan pengawal istana,"
Sahut Liong Sam. Pertempuran berlangsung dengan sangat seru, tapi lekas juga kedua perwira itu berada di bawah angin.
"Dua perwira itu adalah Tiatkoay Thio Hoa (Thio Hoa si Tongkat Besi) dan Tanto Tjioe Ngo (Tjioe Ngo si Golok Tunggal), yaitu dua antara delapan pengawal istana yang utama,"
Menerangkan Liong Sam.
"Kalau sedang berkelahi, mereka biasanya tak suka orang membantu, tapi sekarang rupanya kebiasaan itu tak akan dapat dipertahankan lagi."
Semakin lama, serangan si pendeta jubah merah jadi semakin hebat.
Tongkatnya seperti juga berobah jadi puluhan batang dan menyambar-nyambar dengan disertai sama deruan angin yang santer, sehingga kedua perwira itu seakan-akan terkurung dalam bayangan tongkat.
Selagi ia mau turunkan tangan yang membinasakan, tiba-tiba dari belakang barisan Boan muncul seekor kuda, yang dikaburkan keras sekali.
Sebelum sang kuda tiba di gelanggang pertempuran, badannya si penunggang sudah melesat ke tengah udara.
"Sungguh indah gerakan Tian-ek mo-in itu (Pentang sayap mengusap awan)!"
Memuji Thian Oe.
Bagaikan sehelai bianglala putih, pedangnya orang itu menyambar.
Si pendeta angkat sianthung-nya dalam gerakan Kiehwee liauwthian (Angkat obor menerangi langit) buat sambut serangan musuh.
Tiba-tiba dengan satu suara "srt", satu benda hitam ngapung ke udara, mengikuti berkelebatnya sinar bianglala putih.
Ternyata, topinya si pendeta yang pesegi delapan sudah kena disontek dan dibabat putus dengan pedangnya orang itu.
"Orang itu adalah jagoan kedua, Ginhong kiam (Pedang Bianglala Putih) Yoe It Gok,"
Kata Liong Sam.
"Sekarang si Hoantjeng ketemu tandingan berat."
Benar saja dalam tempo sekejap keadaan jadi berobah.
Si pendeta terus main mundur dan sekarang cuma dapat membela dirinya saja, tanpa mampu balas menyerang.
Yoe It Gok adalah jagoan kelas satu dari Siauwlim pay dengan mempunyai ilmu pedang Lianhoan Kiamhoat (Ilmu pedang berantai) yang liehay bukan main.
Selagi si pendeta terdesak hebat, tiba-tiba kembali terdengar suara riuh dan dari sebelah selatan dan utara muncul keluar sejumlah orang.
Rombongan sebelah selatan dipimpin oleh Siamkam Tayhiap Bek Eng Beng, sedang yang datang dari sebelah utara berada di bawah pimpinannya Boe-sie Hengtee.
Liong Leng Kiauw mengawasi dan berkata sembari tertawa.
"Si tua she Bek benar-benar banyak kawannya. Jago-jago dari Lima Propinsi Utara agaknya semua turun kesini."
Sementara itu, kedua rombongan itu sudah menyerbu sehingga barisan Gielimkoen kembali menjadi kalut.
Dengan satu tanda kebutan dari bendera pasukan tengah, delapan jagoan istana lantas dipecah buat sambut kedua serangan itu.
Rombongannya Bek Eng Beng ditahan oleh satu pasukan di bawah pimpinannya satu perwira yang bersenjata bandringan dan mereka lantas saja bertempur hebat.
Boe-sie Hengtee yang gagah luar biasa dapat menyerbu terus sampai di tengah-tengahnya pasukan Boan.
Dengan bekerja sama, kedua pedangnya menyambar ke kanan kiri bagaikan hujan dan angin.
Selagi mereka mengamuk hebat, dari belakang barisan muncul dua perwira yang lantas tahan majunya kedua saudara itu.
Mereka itu adalah dua anggauta dari delapan jagoan istana, yang satu bersenjata golok bergigi seperti gergaji, sedang yang lain mencekal pedang.
"Yang merintangkan aku, mampus, yang menyingkir, selamat!"
Membentak kedua saudara Boe sambil menyabet dengan pedangnya.
Dengan satu suara krontrangan, giginya golok kena tersabet putus, sedang pedangnya perwira yang satunya lagi kena dibikin terpental ke tengah udara.
Buruburu mereka bilukkan kudanya, tapi gerakannya Boe-sie Hengtee luar biasa cepat, dan berbareng sama berkelebatnya sinar pedang, kedua perwira itu kena bacokan dan roboh dari atas kudanya.
Sesudah robohkan kedua musuhnya, Boe-sie Hengtee segera menerjang ke pasukan tengah, ke arah empat kuda putih itu.
Dengan hati terkejut, Yoe It Gok tinggalkan si pendeta j ubah merah dan balik badannya buat cegat kedua saudara Boe itu.
Tapi Boe-sie Hengtee bergerak luar biasa cepat, mereka menubruk ke kiri dan ke kanan dan segera sudah mendekati bendera kuning yang berkibar-kibar di pasukan tengah.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dan seorang perwira yang berpakaian kebesaran kelas tiga, loncat keluar dari tengah-tengah pasukan Boan.
Ia itu berkumis merah dan tangannya mencekal senjata yang rupanya aneh sekali.
"Kau orang adalah bangsa Han, tapi kenapa sudi membantu orang asing buat merebut guci emas!"
Ia membentak sembari cegat majunya Boe-sie Hengtee. Suaranya orang itu luar biasa nyaring dan terdengar jelas di antara gemuruhnya pertempuran. Kedua saudara Boe balas membentak.
"Hei, kau juga bangsa Han, tapi kenapa kesudian menjadi budaknya bangsa Boan? Kami pasti tak akan permisikan guci emas itu diantar ke Lhasa. Majikanmu sudah duduki Tionggoan, apa dia belum puas? Dia sekarang masih mau telan juga Sinkiang, Mongolia dan Tibet! Merampas guci itu adalah kemauannya kami sendiri, sama sekali tidak ada hubungannya sama pendeta asing itu. Kau jangan omong besar, sambutlah senjataku!"
Perwira kumis merah itu tertawa terbahak-bahak.
"Kamu orang sudah sekongkol sama bangsa asing dan memberontak, dan sekarang coba goyang lidah di hadapanku,"
Kata ia.
"Kalau benar kau punya kepandaian, ambillah guci emas itu dari tanganku!"
Boe-sie Hengtee tahu mereka sedang berhadapan sama lawanan berat, dengan berbareng kedua pedang mereka menyambar, yang satu membabat, yang lain menikam, sehingga gerakannya kedua pedang itu merupakan setengah lingkaran yang bekerja sama, menyambar ke arah pingangnya perwira itu.
Si perwira dengan cepat sodok masuk senjatanya ke dalam setengah lingkaran itu dan kedua pedangnya Boe-sie Hengtee lantas saja terpencar dan suara mengaungnya logam akibat bentrokan senjata kedengaran lama sekali.
Liong Leng Kiauw mengawasi sembari manggut-manggutkan kepalanya, sedang Thian Oe berkata sembari tertawa.
"Orang itu tak usah malu menjadi kepala dari delapan pengawal istana, benar-benar ilmu silatnya liehay.
Ilmu silatnya Boe-sie Hengtee adalah warisan dari leluhurnya dan liehaynya bukan main.
Dalam sekejap, mereka berdua sudah kirim beberapa serangan berbahaya dengan beruntun.
Senjata aneh dari perwira itu ada lebih pendek dari toya biasa, tapi lebih panjang dari Poankoan pit (senjata yang macamnya seperti pit, pena Tionghoa yang terbuat dari bulu).
Di atasnya tongkat itu penuh dengan gaetan-gaetan mengkilap yang biasa digunakan buat cangkol senjata musuh.
Maka itu, walaupun ilmu silatnya sangat tinggi, mau tidak mau Boe-sie Hengtee harus berlaku sangat hati-hati.
"Apa namanya senjata perwira itu? Kenapa begitu liehay?"
Tanya Thian Oe.
"Perwira itu bernama Tjiauw Tjoen Loei, kepala dari delapan pengawal keraton,"
Sahut Liong Leng Kiauw sembari tertawa.
"Tenaga dalamnya tidak kalah dari Boe-sie Hengtee, sehingga biarpun ia menggunakan senjata biasa, dua saudara Boe tidak nanti bisa mendapat kemenangan. Dengan gunakan Longgee pang (Tongkat gigi anjing hutan) yang terutama digunakan buat menindih senjata sebangsa golok, dalam lima puluh jurus, Boe-sie hengtee bakal menjadi kalah."
Sementara itu, barisan Tjeng sudah menjadi teguh kembali.
Bek Eng Beng dan kawankawannya terkepung di tengah-tengah, sedang si pendeta jubah merah bersama enam boesoe Nepal kena ditahan di luar barisan.
"Dilihat begini, kita boleh tak usah keluar membantu,"
Kata Thian Oe.
"Mana bisa begitu mudah,"
Sahut Liong Leng Kiauw dengan paras muka guram.
Baru saja ia habis ucapkan perkataannya, di mulut gunung sebelah timur sudah terlihat munculnya tiga orang yang pakai pakaian seperti Lhama Tibet, cuma warnanya putih.
Kaum Lhama di Tibet terbagi jadi dua sekte, yaitu Sekte Topi Merah dan Sekte Topi Kuning.
Warna jubahnya, kalau bukan merah, tentulah kuning.
Lhama yang pakai jubah putih, Thian Oe belum pernah lihat dan jadi merasa sangat heran.
"Ah, Hoat-ong (raja) dari Tjenghay (Kokonor) juga kirim orang buat ngaduk di air keruh,"
Kata Liong Leng Kiauw.
"Kalau begini, kita toh mesti turun tangan juga!"
Thian Oe terkejut dan segera ingat sejarah agama Lhama yang pernah dituturkan kepadanya oleh ayahnya.
Ketika itu, Dalai Lhama dan Panchen Lhama merupakan kepala dari Sekte Topi Kuning di Tibet.
Sekte Topi Merah telah mendapat kekuasaan pada jaman kerajaan Goan.
Akan tetapi, di sebelahnya kedua sekte itu masih ada satu sekte lain, yaitu Sekte Topi Putih, yang pentang pengaruh sesudah jaman Sekte Topi Merah dan sebelum Sekte Topi Kuning.
Di jaman Kerajaan Beng, Sekte Topi Putihlah yang berkuasa di Tibet.
Pada jaman Kaizar Beng yang terakhir, yaitu pada tahun ke-16 dari Kaizar Tjongtjeng, Dalai Lhama ke lima telah minta bantuannya Kushi Khan, seorang pangeran Mongol dari Kokonor, buat tergulingkan kekuasaannya Hoat-ong (Raja Tsang-Pa).
Mulai waktu itulah, Sekte Topi Kuning (atau Gelupa) berkuasa di Tibet.
Sesudah diusir dari Tibet, orang-orang Sekte Topi Putih lari ke Tjenghay dan tancap kaki disitu dengan pemimpinnya yang dikenal dengan nama Hoat-ong.
Mengingat sejarah itu, Thian Oe jadi tidak merasa heran lagi melihat datangnya ketiga Lhama yang berjubah putih.
"Kalau sampai guci emas kena dirampas oleh mereka, Tibet bakal jadi kalut sekali,"
Pikir Thian Oe. Ketiga Lhama itu bukan main garangnya. Mereka semua menggunakan Kiuhoan Sekthung (tongkat timah) yang mengeluarkan suara keras waktu diputar.
"Kita harus pasang mata,"
Berbisik Leng Kiauw sembari cekal gagang pedangnya.
Dalam tempo sekejap, mereka bertiga sudah menerjang masuk ke dalam barisan Tjeng.
Dengan ajak sejumlah boesoe, Yoe It Gok coba tahan mereka, akan tetapi, baru saja beberapa gebrakan, ia dan kawan-kawannya sudah terdesak mundur.
Selagi kegentingan memuncak, di atas gunung mendadak berkelebat satu bayangan hitam.
"Celaka!"
Berseru Liong Leng Kiauw sembari cabut pedangnya dan lantas pentang kedua kakinya.
Thian Oe dan Yoe Peng lantas saja mengikuti dari belakang.
Thian Oe merasa heran sekali, kenapa Liong Leng Kiauw yang begitu tenang, jadi begitu kaget setelah lihat berkelebatnya bayangan hitam tersebut.
Siapakah musuh itu?
Kecepatan bayangan hitam itu sungguh sukar dilukiskan.
Barusan saja ia terlihat di atas gunung Tantat san yang terpisah ribuan kaki dari selat.
Mula-mula cuma terlihat satu titik hitam.
Dalam sekejap, seluruh badannya sudah dapat dilihat, dan di lain saat, ia sudah berada di lereng gunung.
Begitu lihat romannya.
Thian Oe terkesiap.
Ia itu bukan lain daripada si pendeta India berkelana, yang kemarin mereka bertemu di tengah jalan.
Di belakangnya pendeta itu kelihatan mengikuti beberapa bayangan hitam lain.
"Dia satu saja sudah sukar dilawan, bagaimana dengan kawan-kawannya,"
Kata Thian Oe dalam hatinya.
"Kalau begini, guci emas sukar dilindungi lagi."
Gerakan Liong Leng Kiauw cepat bagaikan angin. Sembari acungkan pedangnya, ia menerjang masuk ke dalam barisan.
"Atas titahnya Hok Tayswee, aku datang disini buat menyambut guci emas!"
Ia berseru.
Dengan serentak, Gielimkoen terpecah dua buat memberi jalan kepadanya.
Mendengar bentakan Liong Leng Kiauw, tiga Lhama jubah putih yang sudah berada di dalam barisan, segera menengok dan tiga batang sekthung menghantam dengan berbareng.
Liong Leng Kiauw, yang tidak ingin bertempur sama tiga Lhama itu, lantas tekan ujung pedangnya pada salah satu sekthung dan badannya segera melesat ke tengah udara.
Dengan satu gerakan Koetjoe hoansin (Anak ayam putar badan) yang sangat indah, badannya sudah "terbang"
Melewati kepalanya tiga Lhama tersebut, akan kemudian langsung memburu ke pasukan tengah.
Thian Oe dan Yoe Peng yang datang belakangan sudah bertemu dengan enam boesoe Nepal di luar barisan.
Mereka berdiri berjajar sambil cekal goloknya yang berbentuk bulan sebelah.
"Siauw Kongtjoe akan segera datang. Kenapa kau orang tidak mau lantas melarikan diri?"
Berkata Yoe Peng dalam bahasa Nepal. Enam boesoe itu terkejut.
"Jangan percaya omongannya!"
Membentak si pendeta jubah merah.
"Pengtjoan Thianlie siang-siang sudah ditelan gunung berapi!"
Tanpa berkata satu apa lagi, Yoe Peng lantas lepaskan dua butir Pengpok Sintan.
Enam boesoe itu jadi bergidik dan dua antaranya, yang pernah turut si pendeta jubah merah naik ke keraton es dan mengenali Yoe Peng, sudah jadi begitu ketakutan, sehingga badannya bergoyang-goyang.
Dengan menggunakan kesempatan itu, Thian Oe dan Yoe Peng segera menerjang masuk ke dalam barisan.
Dalam barisan sedang terjadi pertempuran campur aduk.
Oleh karena tidak ingin kebentrok dengan jago-jago Lima Propinsi Utara, Thian Oe segera teriaki Yoe Peng.
"Mari kita gempur itu Hoantjeng!"
Oleh karena dibukakan jalan oleh tentara Tjeng, Thian Oe dan Yoe Peng bisa masuk secara gampang. Selagi mereka mau menerobos lebih jauh, tiga Lhama jubah putih mendadak menengok.
"Bocah, lekas pergi!"
Kata satu antaranya yang menjadi pemimpin dan yang lantas menghantam dengan tongkatnya.
Thian Oe dan Yoe Peng rasakan satu tenaga yang luar biasa besar menyapu pedang mereka, yang lantas terbang ke tengah udara.
Ternyata, lantaran lihat usia mereka yang masih begitu muda, si Lhama tidak tega turunkan tangan jahat dan cuma bikin terpental saja pedang mereka.
Selagi Lhama itu tertawa girang, dengan berbareng Yoe Peng lepaskan tiga Pengpok Sintan.
Tiga Lhama tersebut mana tahu dalam dunia ada senjata rahasia yang begitu liehay.
Diserang selagi tidak bersedia, tiga peluru itu dengan tepat mengenakan dada mereka yang terbuka lebar.
Mendadakan saja, mereka rasakan menyambarnya hawa yang luar biasa dingin, sehingga badan mereka jadi gemetaran.
Dengan gunakan kesempatan itu, Thian Oe dan Yoe Peng sambut pedang mereka yang sedang jatuh ke bawah dan lalu menerjang ke sebelah depan.
Begitu menerobos ke dalam barisan, pendeta berkelana itu segera kasih lihat kepandaian yang menakjubkan.
Dengan tongkat bambunya, ia menotol ke kanan dan ke kiri, dan serdadu-serdadu Gielimkoen yang berada dalam jarak tujuh tindak dari ianya, begitu kena ditotol, begitu roboh.
Mukanya Tjiauw Tjoen Loei jadi pucat bagaikan kertas.
Sembari menyampok dengan Longgee pang-nya, ia tinggalkan kedua saudara Boe dan coba cegat si pendeta.
Pada saat tersebut, Liong Leng Kiauw juga sudah tiba disitu dan lantas papaki kedua saudara Boe yang baru saja ditinggalkan oleh Tjiauw Tjoen Loei.
Kedua pedangnya saudara Boe lantas bekerja sama.
Pedang kiri menikam dengan gerakan Lioeseng kangoat (Bintang sapu ubar bulan), sedang pedang kanan menyambar dengan gerakan Tjietian hoei-in (Kilat terbang di awan).
Pedangnya Liong Leng Kiauw terputar dan dengan satu sinar dingin, kedua pedang yang barusan bersatu jadi berpencar.
Begitu berpencar, kedua pedang terus menikam jalanan darahnya Liong Leng Kiauw.
Dalam ilmu pedang, serangan pada jalanan darah dari jarak yang begitu dekat adalah serangan yang luar biasa sukar ditangkisnya.
Tapi ilmu pedangnya Liong Leng Kiauw sangat luar biasa.
Dengan sedikit gerakan, ujung pedangnya sudah bentur ujung pedangnya Boe Lootoa, sehingga mengeluarkan suara "trang"
Yang sangat nyaring.
Berbareng dengan itu, dengan gunakan tenaga berbaliknya sang pedang, gagang pedangnya Liong Leng Kiauw bentur ujung pedangnya Boe Loodjie, yang lantas menjadi miring!
Gerakan itu dilakukan dalam waktu yang luar biasa tepatnya, sehingga Boe-sie Hengtee merasa sangat terkejut.
"Minggir!"
Berseru Liong Leng Kiauw sembari mendesak dengan tiga serangan kilat.
Di antara ahli-ahli silat kelas utama, satu dua gebrakan saja sudah cukup buat mengetahui isinya pihak lawan.
Demikianlah Boe-sie Hengtee segera mengetahui, bahwa ilmu silatnya sang lawan ada banyak lebih tinggi dari mereka dan bahwa sang lawan itu masih berlaku sungkan dan tidak mau turunkan tangan jahat.
Dengan berbareng, mereka loncat ke samping buat membuka jalan.
"Terima kasih,"
Berkata Liong Leng Kiauw sembari loncat.
Sekarang marilah kita tengok Tjiauw Tjoen Loei, yang sesudah tinggalkan Boe-sie Hengtee, lantas cegat majunya si pendeta berkelana.
Saat itu, si pendeta sudah totok roboh dua pengawal yang melindungi guci emas.
Melihat sambarannya Tjiauw Tjoen Loei, dengan sikap acuh tak acuh, ia angkat tongkat bambunya yang lantas menyambar ke arah jalanan darah Honghoe hiat.
Buat ahli-ahli silat, ilmu menotok jalanan darah adalah ilmu yang biasa saja.
Akan tetapi, bahwa dalam perkelahian campur aduk di antara ribuan orang, si pendeta masih dapat kirim totokan yang begitu tepat, adalah satu kejadian yang langka dalam Rimba Persilatan.
Tjiauw Tjoen Loei tak berani berayal lagi.
Ia segera kerahkan tenaga dalamnya terus sampai di ujung Longgee pang, yang lantas digunakan buat tempel tongkat bambunya si pendeta.
Dengan seluruh tenaga, ia menekuk buat mematahkan tongkat musuh.
Tapi siapa nyana, Longgee pang itu seperti juga kena dihisap dan nempel keras pada sang tongkat.
Tjiauw Tjoen Loei rasakan bukan saja tenaganya hilang tapi juga tekanan tenaga musuh yang luar biasa besarnya.
Ia betot Longgee pang-nya tapi tak dapat terlepas lagi!
Ia tahu, lweekang si pendeta ada banyak lebih tinggi dan jika bertahan sedikit lama lagi.
Ia akan mendapat luka di dalam badan.
Selagi ia kebingungan, mendadak berkelebat satu sinar hijau dan dengan suara "srt" , pedangnya Liong Leng Kiauw menyambar di tengah-tengah dan pencarkan Longgee pang dari tempelannya tongkat bambu.
"Tjiauw Taydjin, pergilah lindungi guci emas,"
Berkata Liong Leng Kiauw sembari tertawa Melihat pada tongkatnya terdapat tanda goresan pedang, pendeta itu merasa agak terkejut tapi begitu lekas mendapat tahu siapa lawannya, ia lantas tertawa terbahak-bahak.
"Ah, kau pun datang!"
Katanya.
"Kemarin kau jajal aku, hari ini akulah yang mau jajal padamu,"
Kata Liong Leng Kiauw sembari menyabet dengan pedangnya, yang lantas ditangkis sama tongkatnya si pendeta.
Menurut pantas, begitu kebentrok sama pedang, tongkat bambu mestinya lantas putus.
Akan tetapi, sampokannya si pendeta disertai dengan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, sehingga begitu lekas kedua senjata kebentrok, badannya Liong Leng Kiauw jadi sempoyongan tiga tindak.
Di lain saat, tongkatnya si pendeta kembali menyambar.
Dengan tangan kiri mencekal pedang, Leng Kiauw mementil sama dua jerijinya dan tongkat musuh segera terpentil miring.
"Bagus!"
Berseru si pendeta dengan perasaan kagum sebab barusan ia menyabet dengan gunakan tenaga dalam yang cukup besar dan tidak nyana lawannya dapat punahkan serangan itu sama satu pentilan jeriji.
Bagaikan kilat, Leng Kiauw kirim tiga serangan, dengan setiap serangan berisi tiga sambaran yang menuju ke arah sembilan jalanan darah.
Si pendeta berkelana juga benar-benar ahli silat kelas utama.
Dengan sekali putar tongkatnya, ia kirim empat serangan membalas dan punahkan semua totokan lawannya.
Kedua lawan itu merupakan tandingan setimpal sehingga buat sementara waktu sukar dilihat siapa yang lebih unggul.
Sekarang marilah kita tengok Thian Oe dan Yoe Peng, yang sesudah lewatkan tiga Lhama jubah putih, lantas saja terjang si pendeta jubah merah.
"Waktu kau menyatroni keraton es, jiwamu sudah diberi ampun. Apa kau lupa pesanan Kongtjoe kami?"
Membentak Yoe Peng.
Pesanan Pengtjoan Thianlie pada waktu itu adalah supaya ia buru-buru pulang ke Nepal dan jangan campur-campur urusan guci emas.
Sebagaimana diketahui, Hoantjeng itu adalah Koksoe (Guru Negara) dari Nepal dan selama hidupnya, baru dua kali ia mengalami kekalahan di keraton es.
Maka itu, lantas ia menjadi gusar, ketika Yoe Peng sebut-sebut kejadian tersebut.
"Perempuan tak kenal mampus!"
Ia membentak.
"Biar aku kirim kau pulang ke akherat, supaya bisa bertemu dengan Kongtjoe-mu!"
Ia berkata begitu lantaran menduga pasti, Pengtjoan Thianlie mesti binasa waktu terjadi gempa bumi.
Melihat musuh besar yang sudah binasakan gurunya, Thian Oe jadi seperti orang kalap.
Sebelum si pendeta jubah merah bergerak, ia sudah dahului dengan serangan yang membinasakan.
Sama gerakan Totjoan pengpo (Bikin terbalik sungai es), sinar pedangnya berkelebat-kelebat menyambar dari empat penjuru.
Si pendeta jubah merah terkesiap dan berkata dalam hatinya.
"Baru saja berdiam beberapa bulan di keraton es, ilmu silatnya ini bocah sudah maju begitu jauh!"
Buru-buru ia menyampok dengan sianthung-nya.
Pada saat itu, serupa hawa yang luar biasa dinginnya mendadak menyambar, sehingga ia jadi bergidik dan gerakan tongkatnya jadi agak terlambat.
Tapi meskipun begitu, pedangnya Thian Oe kena tersampok juga dan ia rasakan tangannya sakit sekali.
Tenaga dalamnya si pendeta jubah merah sebenarnya ada beberapa kali lipat lebih tinggi dari Thian Oe.
Akan tetapi, lantaran pertama ia sudah capai sekali, kedua lantaran ilmu silatnya Thian Oe memang sudah maju jauh dan ketiga lantaran Thian Oe mendapat bantuannya Yoe Peng, maka dalam pertempuran itu, si pendeta jubah merah sama sekali tidak bisa berada di atas angin.
Harus diketahui, bahwa di antara dayang-dayangnya Pengtjoan Thianlie, Yoe Peng mempunyai ilmu silat yang paling tinggi, sedang Pengpok Hankong kiam juga merupakan senjata luar biasa yang meminta banyak tenaganya musuh guna melawan hawa dinginnya yang sangat hebat.
Waktu itu, pertempuran campur aduk di selat gunung sedang berlangsung dengan serunya.
Thian Oe dan Yoe Peng yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya guna melayani musuh, tidak mempunyai tempo buat memperhatikan lain bagian.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan riuh di antara tentara Tjeng dan ribuan orang bergerak seperti gelombang.
Thian Oe dan Yoe Peng melirik.
Ternyata itu tiga Lhama jubah putih sudah berhasil menerjang masuk ke pasukan tengah dan sudah rampas itu tiga kuda putih, satu antaranya menggendol bungkusan besar yang ditutup sama sutera sulam warna kuning.
Tjiauw Tjoen Loei, kepala delapan pengwal istana, kelihatan sedang ubar kuda putih itu, sembari keluarkan satu teriakan geledek.
Thian Oe terkejut dan menduga bahwa bungkusan itu tentulah juga berisi guci emas.
Di lain saat, ketiga Lhama jubah putih itu sudah duduk di punggung kuda, yang sembari berbenger keras, sudah lantas menerjang keluar.
Dengan sekuat tenaga Tjiauw Tjoen Loei coba menyandak, tapi ketinggalan jauh dan tiga kuda putih tersebut kelihatannya akan segera dapat menerjang keluar dari barisan Tjeng.
Sembari berteriak keras, Liong Leng Kiauw keluarkan ilmu pedang Tjiauwhoen Sippat tjiauw (Ilmu pedang tarik nyawa yang mempunyai delapan belas macam pukulan).
Delapan belas pukulan itu, yang satu lebih cepat dari yang lain, terutama digunakan buat menikam jalanan darah musuh.
Liehay memang luar biasa liehay, tapi sangat meminta tenaga dalam.
Baru saja ia keluarkan pukulan yang ke tujuh, yaitu Toeihoen tokpok (Memburu roh menarik sukma), napasnya si pendeta berkelana sudah sengal-sengal dan sembari kebas tongkatnya, ia loncat minggir buat kasih Liong Leng Kiauw lewat.
Liong Leng Kiauw jadi heran bukan main.
Ia mengetahui, bahwa tenaga dalamnya si pendeta berkelana kira-kira setanding dengan tenaganya sendiri.
Menurut taksirannya, sesudah jalankan habis itu delapan belas pukulan, barulah ada kemungkinan si pendeta dapat dipukul mundur.
Maka itu, ia merasa sangat tidak mengerti, kenapa sebelum ilmu pedangnya di jalankan separoh, si pendeta sudah keteter.
Liong Leng Kiauw adalah ahli silat kelas berat dan tak gampang orang dapat kelabui padanya.
Panca inderanya yang sangat tajam sudah dapat tangkap, bahwa sengalsengalnya si pendeta adalah sengal-sengal yang dibuat-buat.
Tapi kenapa toh ia berlagak kalah?
Tapi ketika itu, ia tidak sempat buat berpikir banyak-banyak.
Dengan gunakan ilmu entengi badan, bagaikan kilat ia molos dari antara badan-badan manusia dan kejar tiga Lhama jubah putih itu.
Dalam tempo sekejap, ia sudah menyandak dan kemudian lewati Tjiauw Tjoen Loei.
Selagi lewat, lapat-lapat ia dengar Tjiauw Tjoen Loei berkata.
"Biarkan mereka pergi."
Leng Kiauw yang sedang bergerak luar biasa cepat, tidak dapat lantas hentikan tindakannya, akan tetapi, ketika menengok, ia lihat Tjiauw Tjoen Loei masih terus mengubar sembari acungkan tongkatnya.
Hatinya Liong Leng Kiauw jadi merasa sangat heran.
"Apa aku dengar salah?"
Tanya ia dalam hatinya.
"Tjiauw Tjoen Loei adalah pemimpin dari para pengawal istana dan tugas terutama dalam melindungi guci emas itu jatuh di atas pundaknya. Tapi kenapa ia kata 'Biarkan mereka pergi'? Dan kalau toh sudah berkata begitu, kenapa ia masih mengubar terus?"
Biarpun hatinya heran, ia mengejar terus dan dalam tempo sekejap sudah dapat candak tiga kuda putih itu.
Ketiga Lhama bilukkan kudanya dan tiga batang Kioehoan Sekthung menyambar dengan berbareng.
Dengan gerakan Tianghong kengthian (Bianglala membentang di langit), Liong Leng Kiauw menggurat dengan pedangnya dan tiga batang toya timah itu lantas tersampok miring.
Meskipun berhasil menangkis serangannya musuh, tapi Leng Kiauw rasakan tangannya tergetar lantaran tiga musuh itu bukan ahli silat sembarangan dan lebih pula, sang musuh duduk di atas kuda, sedang ia sendiri berjalan kaki.
Mendadak ia dengar teriakannya Tjiauw Tjoen Loei.
Ketika menengok, ia lihat pengawal istana itu menggape dengan paras muka kebingungan.
Leng Kiauw heran bukan main, sehingga gerakan pedangnya jadi agak lambat.
Dengan menggunakan kesempatan itu, ketiga Lhama jubah putih putar kudanya yang lalu dikaburkan seperti terbang.
Dalam tempo sekejap mereka sudah lewati mulut selat gunung yang seperti terompet.
Pertahanan tentara disitu agak tipis, sehingga dengan tidak banyak sukar mereka dapat menerjang keluar.
Liong Leng Kiauw mendadakan saja ingat apa-apa.
"Ah, apakah mereka bukan gunakan siasat pancing macan keluar gunung?"
Tanya ia dalam hatinya.
"Apakah bungkusan yang digendol kuda putih bukannya berisi guci emas?"
Akan tetapi, walaupun hatinya berpikir begitu, ia masih sangat bersangsi lantaran urusan ini adalah urusan yang sangat besar dan jika guci emas sampai kena dirampas, semua pembesar Tjeng yang berada di Tibet harus turut pikul kedosaannya.
Sedang Liong Leng Kiauw berada dalam kesangsian, tiga Lhama itu yang sudah menerjang keluar dari kepungan, sedang mendaki satu tanjakan.
Melihat guci emas kena dirampas, beberapa ribu serdadu Gielimkoen lantas saja menjadi kalut.
Seluruh barisan lantas saja dirobah, pasukan belakang jadi pasukan depan, sedang yang di depan mengambil kedudukan di sebelah belakang.
Laksaan anak panah menyambar dengan berbareng dan ribuan kuda coba mengubar ketiga Lhama itu.
Akan tetapi, tiga kuda putih yang ditunggangi oleh mereka adalah kuda-kuda pilihan dari istal keraton kaizar.
Bagaikan kilat, tiga binatang itu sudah naik di atas tanjakan dan tentara Gielimkoen ketinggalan jauh sekali.
Pada saat yang sangat genting, di atas tanjakan mendadak terdengar siulan yang nyaring dan panjang dan di tengah jalan tiba-tiba muncul seorang pemuda yang pakai baju putih.
Dengan sekali ayun tangannya, tiga kuda putih itu berjingkrak dan berbenger keras.
Dengan gusar, tiga Lhama jubah putih menyapu dengan tongkatnya.
Mendadak si pemuda ayun kedua tangannya dengan berbareng dan tiga sinar hitam merah menyambar, masing-masing mengenakan tepat tiga tongkat itu.
Tiga Lhama rasakan tangannya sakit dan tongkat mereka hampir-hampir saja terlepas dari tangannya.
Di bawah selat tiba-tiba terdengar suara teriakan orang.
"Thiansan Sinbong! Thiansan Sinbong!"
Sedang ketiga Lhama itu terkejut, si pemuda sudah berkata sembari tertawa.
"Serahkan guci emas itu dan lantas berlalu dari sini!"
Tiga Lhama itu yang merasa sudah kantongi hasil, mana mau gampang-gampang menyerah.
Mereka keprak kudanya yang lantas saja pentang kakinya dan menerjang.
Si pemuda baju putih tertawa tawar dan berkata.
"Kau orang benar-benar kepengen dihajar, baru mau mengerti?"
Ia ayun tangan kanannya dan tiga sinar hitam merah kembali menyambar.
Tiga Lhama itu coba menyampok dengan tongkatnya, tapi luput, dan hampir pada saat itu juga, tiga tunggangannya berjingkrak sambil berbenger keras diikuti dengan robohnya ketiga Lhama itu.
Liong Leng Kiauw kaget berbareng girang dan mengetahui, bahwa si pemuda itu adalah murid dari Thiansan pay.
Ia pun mengetahui, bahwa kepandaiannya pemuda tersebut ada lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri dan sudah cukup buat melayani tiga Lhama tersebut, sehingga hatinya jadi merasa lega.
Tapi, baru saja ia mau maju menghampiri, dari lereng gunung mendadakan muncul lima pendeta India dan semuanya memakai jubah pertapaan warna hitam dan bersenjata tongkat bambu.
Mereka itu ternyata adalah murid-muridnya si pendeta berkelana.
Biarpun Liong Leng Kiauw berkepandaian tinggi, akan tetapi dengan dikerubuti oleh lima ahli silat kelas satu yang bekerja sama secara erat sekali, tak gampang ia bisa buru-buru loloskan diri.
Dilihat dari cara berkelahinya, lima pendeta India itu kelihatannya mau "ikat"
Liong Leng Kiauw di luar barisan, supaya ia tak dapat masuk lagi ke pasukan tengah.
Dengan begitu, hatinya Liong Leng Kiauw jadi sangsi dan curiga.
Sesudah bertempur beberapa gebrakan, ia dengar bentakannya si pemuda baju putih dan tiga ekor kuda putih itu sudah balik ke barisan Tjeng.
Sejumlah serdadu lantas menyambut dan bungkusan yang digendol oleh salah satu kuda, masih tetap berada di atas punggungnya kuda itu.
Tiga Lhama jubah putih kelihatan masih sangat penasaran dan ubar si pemuda dengan tindakan sempoyongan.
Si pemuda balik badannya dan berkata sembari tertawa.
"Lekas pulang ke Tjenghay. Kau orang semua sudah kena Sinbong. Dengan mengasoh empat puluh sembilan hari, mungkin kau orang akan sembuh kembali. Yang paling penting adalah jiwamu sendiri, buat apa kau orang terus ubar-ubar aku."
Tiga Lhama itu tahu, mereka sudah kena senjata rahasia.
Cuma saja, dengan andalkan ilmu Kimtjiongto (semacam ilmu weduk), mereka percaya senjata rahasia itu tidak akan dapat celakakan dirinya dan sesudah pekerjaannya selesai, mereka masih dapat mencabutnya.
Itulah sebabnya, mereka tidak begitu percaya perkataannya si pemuda baju putih.
Mereka cuma kuatir, kalau-kalau senjata rahasia itu mengandung racun.
Dengan adanya kekuatiran tersebut, mereka jadi lebih ingin bertempur pula buat paksa si pemuda keluarkan obat pemunah.
Gerakannya si pemuda baju putih cepat luar biasa dan dalam tempo sekejap, ia sudah masuk ke pasukan tengah.
Lima pendeta India yang lagi kepung Liong Leng Kiauw dengan lantas berpencaran.
Selagi Liong Leng Kiauw mau menghaturkan terima kasih, mendadak ia dengar teriakannya Boe-sie Hengtee.
"Keng Thian-heng, sungguh kebetulan kau juga datang disini! Bungkusan yang digendong oleh kuda putih itu berisi guci emas. Lekas rampas guci itu!"
Liong Leng Kiauw terkesiap seperti orang disambar geledek.
Ilmu silatnya si pemuda itu lebih hebat daripada si pendeta berkelana.
Jika ia sampai turun tangan, siapakah yang dapat mencegahnya?
"Saudara-saudara Boe, Bek Lootjianpwee,"
Kata si pemuda itu sembari tertawa.
"Aku sekarang ingin ajukan satu permohonan pada kalian. Aku mohon kalian bubar saja dan biarkan guci emas itu tiba di Lhasa!"
Perkataan itu sudah membikin semua orang gagah dari Lima Propinsi Utara jadi terkesiap.
"Apa?"
Berteriak Bek Eng Beng.
"Kau mau bantu kerajaan Tjeng melindungi guci emas itu?"
"Benar!"
Jawabnya dengan tenang.
"Aku datang buat melindungi guci emas itu."
"Tong Sieheng!"
Berseru Boe sie Hengtee.
"Dengan membantu kerajaan Tjeng, apakah kau masih ada muka buat menemui ayahmu?"
"Inilah justru kemauan ayahku sendiri,"
Jawab si pemuda sembari tertawa.
"Boe Lootoa, sekarang lebih baik kalian bubaran saja dahulu. Sebentar kita bertemu, di gunung depan, supaya aku dapat memberi penjelasan terlebih lanjut."
"Aku tak percaya!"
Membentak Boe-sie Hengtee dengan suara keras. Semua orang gagah kawan-kawannya Bek Eng Beng jadi heran bukan main dan mereka mulai saling menyatakan pikirannya.
"Oh, kalau begitu ia adalah puteranya Tayhiap Tong Siauw Lan?"
Kata yang satu.
"Cara bagaimana Tong Tayhiap bisa permisikan puteranya menjadi kuku garuda kerajaan Tjeng? Apakah ia bukan satu penipu yang menggunakan namanya Tong Tayhiap?"
Tanya seorang lain.
"Ah,"
Kata orang ketiga.
"Dilihat dari ilmu silatnya dan didengar panggilannya Boe-sie Hengtee, pasti tulen puteranya Tong Tayhiap. Hm! Anak poethauw (tidak berbakti)!"
Demikianlah mereka berunding dan pertempuran terhenti buat sementara waktu.
Pemuda itu memang benar adalah putera tunggal dari Tong Siauw Lan, tjiangboen (pemimpin) dari Thiansan pay.
Namanya pemuda itu adalah Tong Keng Thian.
Dengan keluarga Boe, Tong Siauw Lan mempunyai hubungan yang sangat rapat, dan ketika masih kecil Boe-sie Hengtee pernah naik ke Thiansan buat menemui Tong Siauw Lan dan oleh karena itu, mereka jadi kenal Keng Thian.
Oleh karena Keng Thian baru pertama kali terjun ke dalam kalangan Kangouw, maka banyak tjianpwee dan orang gagah masih belum tahu asal-usulnya.
Mereka ingat, dahulu Tong Siauw Lan bersama-sama Kam Hong Tie, Lu Soe Nio dan lain-lain pendekar sudah musuhi kerajaan Tjeng secara hebat dan pernah lakukan pekerjaan yang menggemparkan seluruh negeri.
Salah satu antara tiga pendekar wanita yang menyatroni keraton kaizar dan kemudian bunuh mati kaizar Yongtjeng, adalah isteri Tong Siauw Lan sendiri.
Sedang kepalanya kaizar, ayah ibunya masih berani kutungkan, mana bisa jadi mereka sekarang permisikan sang putera melindungi guci emas dari kerajaan Tjeng?
Dengan adanya pendapat begitu, semua orang gagah sukar percaya keterangannya Keng Thian dan mereka mengawasi pemuda itu dengan sorot mata gusar.
Keadaan yang sunyi senyap menakuti sekali, seperti juga mendung tebal yang tinggal tunggu turunnya hujan lebat.
Keng Thian mesem, tapi selagi ia mau buka suara, mendadakan saja terdengar teriakan kaget dari Tjiauw Tjoen Loei dan para perwira yang berkumpul di bawah bendera kuning jadi kalang kabut.
Seluruh pasukan tengah lantas saja menjadi kalut.
Ternyata dengan gunakan kesempatan selagi semua orang perhatikan puteranya Tong Siauw Lan, si pendeta berkelana loncat ke atas satu kereta keledai.
Dari dalam kereta lantas menyambar dua martil besi, yang dengan gampang dibikin terpental sama satu sampokan tongkat.
Dengan sekali kasih masuk tangannya ke dalam kereta, si pendeta tarik keluar dan terus lemparkan dua perwira yang menjaga dalam kereta itu!
Dua perwira itu juga bukannya sembarang orang.
Begitu jatuh, dengan gerakan Leehie tahteng (Ikan leehie meletik), ia sudah loncat bangun dan terus menubruk ke dalam kereta, tapi si pendeta sudah keburu loncat keluar dan kabur ke jurusan barat.
Semua itu terjadi dengan luar biasa cepatnya.
Baru saja Tjiauw Tjoen Loei dan lain-lain perwira mengetahui kejadian itu, si pendeta sudah kabur puluhan tombak jauhnya.
Ia putar tongkat bambunya dan semua serdadu Gielimkoen, yang berada dalam jarak delapan kaki dari dirinya, begitu kebentur tongkat, begitu rebah.
Oleh karena di sekitar itu tidak terdapat lawanan yang mempunyai ilmu silat berarti, maka ia kelihatannya akan segera dapat menoblos keluar dari barisan Tjeng.
Sembari keluarkan teriakan kaget, Tong Keng Thian cabut pedangnya dan terus mengubar.
Kereta yang tadi diserbu oleh si pendeta berkelana sebenarnya adalah kereta yang paling jelek kelihatannya, seperti juga kereta rumput.
Bukan saja tendanya tua dan pada robek, tapi keledainya pun kurus kering.
Akan tetapi, guci emas yang tulen justru terdapat dalam kereta tersebut.
Bungkusan indah yang digendong kuda putih hanya satu siasat buat kelabui orang.
Itu sebabnya, biarpun diluar Tjiauw Tjoen Loei kelihatan bingung dan ubar tiga Lhama jubah putih yang merampas tiga kuda putih itu, dalam hatinya ia merasa girang dan ingin supaya mereka buru-buru pergi supaya lawanan berat jadi berkurang.
Menyerbunya lima pendeta India jubah hitam, yaitu murid-muridnya si pendeta berkelana, bertujuan memecah perhatian orang, supaya sang guru dapat menyerbu kereta itu dan rampas guci emas yang lagi diincar.
Pendeta berkelana itu bukannya pendeta biasa.
Ia adalah ahli Yoga yang sengaja di kirim oleh raja Kalimpong, India.
Raja tersebut mempunyai angan-angan berkuasa di Tibet dan dari sebab begitu, ia mengirim orang-orangnya buat coba rampas guci emas kiriman kaizar Tjeng.
Tong Keng Thian yang sudah kuntit lama barisan Tjeng itu, mengetahui rahasia tersebut.
Maka itulah, begitu lihat si pendeta serbu kereta keledai, ia jadi terkejut dan cabut pedangnya buat mengubar.
Di lain saat, Liong Leng Kiauw juga sudah turut memburu bagaikan terbang.
Seperti sudah direncanakan lebih dahulu, begitu lihat gurunya berhasil, lima murid itu lantas saja cegat Keng Thian dan Leng Kiauw.
Walaupun ilmu silat mereka masih kalah jauh sekali jika dibanding dengan Keng Thian dan Leng Kiauw, akan tetapi oleh karena adanya kerja sama dalam menggunakan Ilmu Tongkat Tiantiok (Ilmu tongkat India) yang seperti berantai dengan kepala dan buntut berhubungan satu sama lainnya, maka buat sementara waktu, Leng Kiauw dan Keng Thian kena juga "diikat"
Oleh mereka.
Selagi Keng Thian mau turunkan tangan membinasakan, tiga Lhama jubah putih tiba-tiba datang menyerbu, sehingga mereka berdua jadi dikerubuti delapan orang.
Dengan demikian, mereka jadi lebih sukar menoblos dan pada ketika itu, si pendeta berkelana sudah berada di luar barisan pasukan Tjeng.
"Apa kau orang sudah bosan hidup!"
Membentak Keng Thian.
"Kau bertiga sudah kena Thiansan Sinbong yang sekarang sudah masuk di jalanan darah. Jika kau orang pulang dan mengasoh sambil kerahkan pernapasan, mungkin masih bisa ditolong. Tapi kalau kau orang masih mau bertempur terus dan Sinbong sampai menusuk ke jantung, biar ada obat apapun juga, jiwamu tidak akan dapat ditolong lagi!"
Tapi tiga Lhama itu, yang sangat andalkan lweekang-nya yang tinggi, sudah tidak ladeni peringatannya Keng Thian dan terus menyerang dengan sengit.
Ketika itu, si pendeta berkelana sudah keluar dari mulut selat dan sedang mendaki tanjakan dengan cepat sekali.
Ia bakal segera tiba di lereng gunung dan kalau ia sudah berada disitu, biarpun bisa terlepas dari "ikatannya"
Itu delapan musuh, Keng Thian dan Leng Kiauw tidak bakal dapat menyandak lagi.
Hampir berbareng dengan siulan panjang yang dikeluarkan oleh si pendeta berkelana, dari lereng gunung kembali muncul lima orang pendeta India.
Ternyata dalam rencana merebut guci emas, ia sudah bikin persiapan yang sangat rapi dengan membawa sepuluh orang muridnya, yang dibagi jadi dua rombongan.
Lima orang ikut masuk ke dalam barisan Tjeng, sedang lima murid lainnya menunggu di lereng gunung buat menyambut.
Sepuluh murid itu sebenarnya disiapkan buat cegat delapan pengawal istana atau cegat musuh-musuh yang menjaga di bagian belakang.
Akan tetapi, sebagaimana diketahui, delapan pengawal istana telah dibikin repot oleh rombongannya Bek Eng Beng, sehingga pertahanan di bagian belakang jadi kosong sama sekali.
Begitu lekas si pendeta berkelana dan lima muridnya tiba di lereng gunung, lima pendeta India yang kepung Keng Thian dan Leng Kiauw, lantas mulai mundur, tapi tiga Lhama jubah putih masih saja menyerang secara hebat.
"Hei!"
Berseru Keng Thian.
"Coba kau bertiga rasakan, ada apa di jalanan darah Thiansoan hiat, di bawah tulang dada."
Tiga Lhama itu kaget dan benar saja di dekat jalanan darah itu, mereka merasa baal dan gatal, seperti juga ada binatang semut sedang berjalan, dan semakin lama perasaan itu jadi semakin hebat.
Tiga orang itu adalah ahli silat kelas satu dan mereka segera mengetahui, bahwa senjata rahasia musuh sedang berjalan dalam badan mereka dengan mengikuti jalanan darah.
Bukan main kagetnya mereka dan gerakannya lantas menjadi lambat.
Pada saat itu, lima pendeta India sedang berusaha buat kabur, tapi belum dapat kesempatannya.
Mendadak dengan satu bentakan keras, Tong Keng Thian menyabet dengan Yoeliong kiam yang mengeluarkan sinar panjang bagai bianglala "Rasakan tiamhoat-ku.
Roboh!"
Keng Thian berseru.
Dengan satu getaran tangan, pedangnya totok jalanan darah lima pendeta itu yang hampir berbareng roboh di atas tanah!
Tiga Lhama jubah putih terkesiap dan buru-buru loncat minggir, sedang Liong Leng Kiauw dan Tong Keng Thian lantas loncat melewati dirinya.
Ketika itu, si pendeta berkelana sudah tiba di lereng gunung.
Tingginya gunung Tantat san ada ribuan kaki dan buat mendaki setengah gunung, orang biasa harus gunakan tempo setengah hari.
Leng Kiauw dan Keng Thian belum berada di kaki gunung, sehingga biarpun mereka mempunyai ilmu entengi badan yang lebih tinggi lagi, mereka tidak akan dapat menyandak pendeta itu.
Selainnya berteriak-teriak, tentara Tjeng tidak dapat berbuat suatu apa, sedang orang-orang gagah dari Utara barat pun hanya dapat mengawasi dengan perasaan gusar.
Berhubung dengan terampasnya guci emas, pertempuran lantas berhenti dengan sendirinya.
Selagi semua orang menahan napas, mendadak di antara suasana gunung yang sunyi senyap terdengar suara khim yang merdu sekali.
Tiga ribu serdadu Tjeng dan seratus lebih orang gagah jadi terkejut dan menduga-duga siapa yang menabuh tabuh-tabuhan itu.
Tapi orang yang paling kaget adalah Tong Keng Thian, sebab ia kenali, bahwa lagu itu adalah lagu yang ia pernah dengar ketika bertemu Pengtjoan Thianlie buat pertama kali.
Tanpa merasa, ia hentikan tindakannya dan dongak mengawasi ke atas.
Tiba-tiba di atas puncak gunung yang ditutup awan putih muncul bayangannya seorang wanita, yang memakai jubah biru laut dengan ikatan pinggang sutera merah.
Dengan sekelebatan saja ia sudah kenali, bahwa wanita itu adalah wanita yang siang malam ia tak dapat lupakan -Pengtjoan Thianlie!
Semua orang dongak memandang ke atas dan biarpun disitu terdapat ribuan manusia dan kuda, keadaan ada sedemikian sunyinya, sehingga andaikata jatuh sebatang jarum, suaranya akan dapat didengar.
Kecepatan bergeraknya Pengtjoan Thianlie sukar dapat dilukiskan.
Orang-orang yang berada di bawah cuma dapat lihat pakaiannya yang berkibar-kibar, seolah-olah ia sedang terbang turun dengan mengikuti alirannya sang angin.
Dalam tempo sekejap, ia sudah tiba di lereng gunung dan berhadapan sama si pendeta berkelana dan lima muridnya.
Si pendeta India juga kelihatannya terkejut.
"Serahkan guci emas itu dan pergi dari sini!"
Berkata Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar.
Suaranya lemah lembut, tapi tak mengenal kompromi, sedang sikapnya seakan-akan seorang ratu yang sedang mengeluarkan perintah.
Si pendeta berkelana terkesiap dan sembari kebas tangannya, enam batang tongkat bambu lantas menyambar dengan berbareng.
Sesudah lihat ilmu entengi badannya Pengtjoan Thianlie, ia mengetahui sedang berhadapan sama musuh yang luar biasa tangguhnya.
Maka itu, dengan mengebas tangan, ia beri tanda supaya lima muridnya turun tangan dengan berbareng.
Mereka menyerang dengan Barisan Tongkat Thaythianlo (Jaring langit besar), yaitu suatu ilmu yang paling -istimewa dari Ilmu Tongkat Tiantiok.
Dengan sambaran enam tongkat itu, biarpun seorang mempunyai tiga kepala enam tangan juga masih sukar menjaganya.
Bukan main kagetnya Leng Kiauw dan Keng Thian.
Mereka tak nyana, begitu berhadapan, enam pendeta India itu sudah turunkan tangan yang sedemikian kejam.
Mendadak, badannya Pengtjoan Thianlie kelihatan berkelebat dan jerijinya mementil.
Hampir berbareng terdengar jeritan kesakitan dan lima badan manusia tergelincir ke bawah gunung seperti layangan putus!
Ternyata, melihat serangan musuh yang telengas, Pengtjoan Thianlie jadi sangat gusar dan melepaskan Pengpok Sintan, senjata rahasia yang tiada keduanya dalam dunia.
Tenaga dalamnya Pengtjoan Thianlie berlipat-lipat lebih kuat daripada Yoe Peng.
Maka itu, biarpun sama-sama Pengpok Sintan, bekerjanya lain sekali.
Jika senjata itu dilepaskan oleh Yoe Peng, paling banyak muridnya si pendeta berkelana gemetar badannya dan masih dapat pertahankan diri.
Tapi dengan dilepaskan oleh Pengtjoan Thianlie, Sintan itu masuk ke dalam jalanan darah dan sang darah lantas membeku, sehingga tidaklah heran jika lima pendeta itu lantas roboh terguling ke dalam jurang.
Si pendeta berkelana juga kena satu Sintan dan rasakan hawa dingin luar biasa yang meresap ke tulang-tulang.
Akan tetapi, lantaran mempunyai ilmu Yoga yang sangat tinggi, ia masih dapat pertahankan diri dan menyerang terus.
Sembari tertawa tawar, Pengtjoan Thianlie buka ikatan pinggangnya yang lantas menyambar-nyambar seperti naga sedang memain di tengah udara.
Di lain saat, tongkatnya si pendeta sudah kena digulung dan biarpun ia gunakan Seantero tenaga dalam, ia tidak berhasil lepaskan tongkatnya dari gulungan itu.
Pengtjoan Thianlie juga merasa heran sebab ia pun tidak berhasil betot terlepas tongkatnya si pendeta.
Sembari keluarkan seruan "ih!"
Ia lepaskan lagi dua butir Pengpok Sintan.
Si pendeta yang tongkatnya masih tergulung, tidak dapat berkelit dan dua peluru itu mengenai tepat pada jalanan darah Soankhie hiat di dada dan Thiantjoe hiat, di belakang otak.
Seketika itu juga, ia bergidik beberapa kali.
Buru-buru, ia kerahkan khiekang (tenaga napas), tapi tidak dapat segera pulihkan kekuatannya.
"Masih belum mau menyerah?"
Membentak Pengtjoan Thianlie sembari cabut pedangnya.
Dengan sekali kebas, bagaikan halimun, sinar dan hawa dingin seperti juga tutup seluruh badannya si pendeta.
Ketika itu, dari dalam jurang sayup-sayup terdengar suara jeritan lima muridnya si pendeta yang sedang melarikan diri dengan dapat luka-luka berat.
Sambil menghela napas panjang, si pendeta masukkan tangan kirinya ke dalam kantong.
Di lain saat, ia sudah keluarkan sebuah guci emas bertahta batu-batu permata yang pancarkan sinar gilang gemilang ke empat penjuru.
Pengtjoan Thianlie sambuti guci emas itu dan kemudian gentak ikatan pinggangnya buat lepaskan tongkatnya si pendeta.
Ia miringkan sedikit badannya buat memberi jalan kepada si pendeta yang segera kabur secepat mungkin.
Sesudah kasih masuk Pengpok Hankong kiam ke dalam sarung dan dengan sebelah tangan memegang guci emas, Pengtjoan Thianlie melayang turun ke bawah.
Hosek Tjin-ong, raja muda yang pimpin barisan Tjeng segera memberi perintah supaya pasukan belakang jadi pasukan depan, yang kemudian dipecah jadi dua sayap buat kurung Pengtjoan Thianlie guna ditanya maksud kedatangannya dan buat rampas pulang guci emas itu.
Sekarang marilah kita tengok Thian Oe dan Yoe Peng yang kerubuti si pendeta jubah merah.
Mengingat sakit hati gurunya.
Thian Oe menyerang sehebat mungkin dengan pusatkan seluruh perhatiannya kepada musuh.
Meskipun di lain gelanggang dengan dengan beruntun sudah terjadi banyak perobahan luar biasa, ia sama sekali tidak mau perdulikan dan terus cecar si pendeta jubah merah dengan setaker tenaganya.
Pendeta itu adalah orang yang pertama menyerbu dan sesudah bertempur lama, baru ia bertemu Thian Oe dan Yoe Peng yang serang padanya dengan mata merah.
Selagi berkelahi mati hidup, pertempuran di seluruh garisan mendadak berhenti dan keadaan jadi sunyi senyap.
Hal itu sudah terjadi oleh karena munculnya Pengtjoan Thianlie.
Yoe Peng melirik dan kegirangannya meluap-luap.
"Thian Oe! Lihat siapa yang datang!"
Ia berteriak seperti orang kalap. Mau tak mau, si pendeta jubah merah juga turut menengok dan begitu lihat siapa yang muncul, semangatnya terbang.
"Pengtjoan Thianlie!"
Berseru Thian Oe sembari menikam dengan gerakan Pengho kiattang (Sungai es membeku).
Oleh karena hatinya sedang gemetar dan tidak nyana bakal diserang secara begitu, si pendeta jubah merah tidak keburu berkelit atau menangkis dan tak ampun lagi, pedangnya Thian Oe bersarang di dadanya!
"Suruh kau nyingkir, kau tak mau nyingkir, sekarang sudah terlambat,"
Berkata Yoe Peng sembari menikam dengan pedangnya yang juga mengenai tepat pada dadanya.
Dengan satu teriakan keras, ia roboh dan badannya yang besar ditendang Thian Oe yang sudah balaskan sakit hati gurunya.
Sesudah itu, sembari tuntun tangannya Yoe Peng, Thian Oe berlari-lari menghampiri Pengtjoan Thianlie.
Sembari cekal pedangnya, Liong Leng Kiauw mau bergerak.
Tong Keng Thian mendekati dan berbisik.
"Lekas tahan tentara negeri. Biar aku yang sambut padanya. Aku rasa ia tidak mempunyai niatan kurang baik."
Leng Kiauw merasa sangsi.
Ia sekarang kenali bahwa Pengtjoan Thianlie adalah itu wanita yang sudah curi rencana menyambut guci emas.
Di satu pihak, ia tidak percaya kalau Pengtjoan Thianlie mau membantu pihaknya, akan tetapi, di lain pihak, ia merasa heran, kenapa sesudah dapat rampas guci emas itu, sebaliknya dari kabur, Pengtjoan Thianlie malahan datang menghampiri.
Ketika itu, delapan pengawal istana sudah loncat keluar dari barisan dan maju mengurung dari kiri dan kanan.
Mendadak, Boe-sie Hengtee juga loncat keluar dari dalam barisan dan seperti angin puyuh mereka mendahului delapan pengawal istana.
Di belakang mereka ikut belasan orang gagah dari Utara barat.
Dengan anggapan bahwa Pengtjoan Thianlie adalah orang kalangan sendiri, sembari pegang gagang pedangnya, Boe-sie Hengtee memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih banyak buat bantuan Liehiap (pendekar wanita). Harap serahkan guci emas itu kepadaku. Sekarang pekerjaan kita sudah selesai dan Liehiap boleh mundur bersama-sama rombongan kita."
Dengan berkata begitu, kedua saudara Boe mempunyai maksud yang baik sekali.
Melihat delapan pengawal istana sudah bersiap buat mengepung, mereka berkuatir Pengtjoan Thianlie tidak gampang dapat loloskan diri, lantaran tangannya memegang guci emas yang menjadi bulan-bulanan perebutan.
Maka itu, mereka minta si jelita serahkan guci tersebut kepadanya, supaya kawan-kawannya dapat melindungi ia mengundurkan diri.
Tapi tak dinyana, Pengtjoan Thianlie hanya kerutkan kedua alisnya dan menanya.
"Siapa kau?"
Sementara itu tentara Tjeng sudah mulai maju mengurung. Boe-sie Hengtee jadi bingung sekali dan menyahut dengan pendek.
"Kami adalah kawan-kawan yang mau rebut guci itu. Segala omongan yang tidak perlu bisa ditunda sampai sebentar."
Sehabis berkata begitu, mereka angsurkan tangan buat sambuti guci emas itu.
"Kau orang mau minggir atau tidak?"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari mementil dengan jerijinya dan lepaskan dua butir Pengpok Sintan.
Kedua saudara Boe lantas saja rasakan hawa dingin yang meresap sampai ke tulang dan roboh seketika itu juga.
Kawan-kawannya jadi terkejut dan memburu.
Pengtjoan Thianlie mementil lagi beberapa kali dan lima enam orang lantas turut terjungkal.
Kawan-kawannya yang lain jadi keder dan pada loncat minggir, sedang Pengtjoan Thianlie terus bertindak maju.
Bek Eng Beng kaget tercampur gusar, sedang pemimpin tentara Tjeng jadi bukan main girangnya.
Mereka sama sekali tidak mengimpi, bahwa Pengtjoan Thianlie berdiri di pihaknya.
Tjiauw Tjoen Loei keprak kudanya dan memberi hormat sembari peluk senjatanya.
"Liehiap benarbenar mengerti kesetiaan kepada negara dan sudah membantu kerajaan dalam merebut pulang guci emas itu,"
Katanya dengan sikap hormat.
"Pahala itu bukannya kecil dan dengan jalan ini, aku Tjiauw Tjoen Loei memberi hormat. Aku adalah tongleng (pemimpin) dari pengawal-pengawal istana dan mohon Liehiap serahkan guci itu kepadaku."
Ia lantas angsurkan tangannya buat ambil guci tersebut. Tapi seperti tadi, di luar dugaan, Pengtjoan Thianlie cuma kerutkan alisnya dan berkata dengan suara tawar.
"Aku tak perduli tongleng atau bukan tongleng. Aku tidak mempunyai tempo buat saling menghormat denganmu!"
Dengan sekali mementil, Tjiauw Tjoen Loei bergidik dan lantas jatuh terguling dari kudanya.
Semua pengawal istana terkesiap, beberapa antaranya buru-buru menolong pemimpinnya, sedang yang lain serang Pengtjoan Thianlie.
Sembari mesem tawar, Pengtjoan Thianlie mementil beberapa kali dan beberapa pengawal istana lantas roboh kejengkang.
Melihat itu semua, tentara Tjeng jadi seperti orang kesima.
Mereka tidak menduga, bahwa wanita yang begitu cantik bisa mempunyai kepandaian yang begitu tinggi.
Mereka berdiri bengong dan tidak berani bergerak buat melepaskan anak panah atau angkat senjata.
Bek Eng Beng jadi kaget berbareng girang.
Tiba-tiba Tong Keng Thian menghampiri dan berkata sembari rangkap kedua tangannya.
"Bek Tayhiap, hari ini biar bagaimanapun juga kita tidak boleh rampas guci emas itu. Mohon Bek Tayhiap keluarkan perintah supaya semua saudarasaudara lantas undurkan diri."
"Hm!"
Menggerendeng Bek Eng Beng dengan berdongkol sekali.
"Aku tak nyana kau sekarang jadi kaki tangan kerajaan Tjeng."
Ia angkat tangannya buat menghantam Keng Thian, yang buruburu gunakan tiga jerijinya buat tekan kepalannya Bek Eng Beng dan berkata dengan suara perlahan.
"Antara dua mara bahaya, kita harus pilih yang lebih enteng. Lebih baik kerajaan Tjeng yang menguasai Tibet daripada satu negara asing. Guci emas itu benar-benar tidak boleh diganggu."
Bek Eng Beng terkesiap, sehingga keringat dingin mengucur di seluruh badannya.
"Tapi, Boesie Hengtee sudah kena senjata rahasianya perempuan itu. Sakit hati ini bagaimana boleh tidak dibalas?"
Kata ia.
"Serahkan padaku, aku akan sembuhkan mereka,"
Kata Tong Keng Thian.
"Lekas mundur! Lekas mundur!"
Bek Eng Beng berdiam beberapa saat dan memikir bulak-balik.
Dalam usaha merampas guci emas, tujuan mereka adalah buat tentangkan keinginan bangsa Boan untuk berkuasa di Tibet.
Tapi tidak dinyana, urusan itu mempunyai latar belakang yang sedemikian ruwet.
Nepal dan Kalimpong juga ingin pentang pengaruh di Tibet dan coba merampas guci tersebut.
Dilihat dari sudut itu, sikapnya Keng Thian yang lebih suka Tibet dikuasai oleh bangsa Boan daripada bangsa lain, agaknya cukup beralasan.
Sesudah menimbang-nimbang beberapa saat, ia lantas saja berkata.
"Baiklah, aku setujui pendapatmu. Kami tunggu kau di gunung depan."
Dengan sekali memberi tanda, orang-orang gagah dari Lima Propinsi Utara lantas pada mundur ke gunung depan sambil mendukung Boe-sie Hengtee.
Pada waktu Keng Thian sedang membujuk Bek Eng Beng, Liong Leng Kiauw juga lagi bujuk Hosek Tjin-ong supaya ia tahan majunya Gielimkoen dan biarkan Pengtjoan Thianlie masuk ke dalam barisan.
Melihat liehaynya wanita itu dan juga sebab sekarang guci emas berada dalam tangannya, sehingga andaikata ia dapat dibekuk atau dibinasakan, tapi kalau guci itu sampai menjadi rusak, semua pengantarnya akan turut berdosa, maka, sesudah memikir beberapa saat, ia segera menyetujui perkataannya Liong Leng Kiauw dan memberi perintah supaya semua serdadu jangan bergerak.
Thian Oe dan Yoe Peng yang berdiri di dalam barisan tiba-tiba lihat sayap depannya pasukan Tjeng mendadak terpencar dan membuka satu jalanan buat Pengtjoan Thianlie.
"Dilihat begini, barisan Tjeng seperti benar-benar sedang menyambut seorang Paduka Puteri,"
Kata Thian Oe sembari tertawa.
"Ia toh memang seorang puteri,"
Sahut Yoe Peng.
"Ah, ia kelihatannya sedang cari orang."
Dengan satu tangan memegang guci emas, perlahan-lahan Pengtjoan Thianlie masuk ke dalam barisan Tjeng dengan sikap agung sekali.
Dengan kedua matanya yang angker, ia menyapu segala orang yang berada disitu.
Mendadak ia hentikan tindakannya dan mengawasi satu orang yang berdiri disitu.
Thian Oe kegirangan dan berbisik di kupingnya Yoe Peng.
"Ah, kalau begitu ia sedang cari dia!"
"Siapa?"
Tanya Yoe Peng.
"Pemuda baju putih,"
Sahut Thian Oe. Benar saja Yoe Peng lihat majikannya sedang mengawasi si pemuda baju putih. Ia sebenarnya mau teriaki majikannya itu, tapi sudah ditahan oleh suasana yang tegang dan sunyi senyap.
"Hm! Kau juga berada disini?"
Kata Peijgtjoan Thianlie sembari mesem.
"Jah, kau pun sudah turun gunung,"
Jawab Keng Thian. Dua pasang mata kebentrok dan paras mukanya Pengtjoan Thianlie segera bersemu dadu.
"Aku tak mempunyai perkataan yang tepat buat menyatakan rasa terima kasih,"
Kata Keng Thian sambil tertawa.
"Sungguh beruntung, guci emas sudah dapat direbut pulang. Buat bantuanmu di ini hari, bukan saja aku, tapi semua pembesar di Tibet juga ingin haturkan banyak terima kasih."
Pengtjoan Thianlie juga tertawa dan kemudian berkata dengan sikap acuh tak acuh.
"Ada hubungan apa guci emas ini dengan diriku? Aku juga merampas ini bukan untuk mereka. Siapa mau mereka haturkan terima kasih. Berapa harganya guci ini, sehingga dijadikan barang rebutan oleh semua orang? Aku sendiri tak kesudian. Pada beberapa bulan berselang, kau pernah bantu menyusun beberapa toeilian untuk keraton es. Mengetahui bahwa kau juga sangat inginkan guci emas ini, maka aku mau serahkan kepadamu sebagai tanda terima kasih. Mulai dari sekarang, kedua belah pihak tidak berhutang budi lagi. Kau juga tidak perlu banyak rewel-rewel lagi."
Sembari tertawa Keng Thian sambuti guci emas itu yang diangsurkan kepadanya.
"Eh,"
Ia kata.
"Kau lupakan satu urusan. Janji kita buat adu pedang di kakinya Puncak Es, belum dipenuhi!"
Pengtjoan Thianlie kerutkan alis.
"Kau masih mau bertanding?"
Tanya ia.
"Baiklah, malam ini jam tiga kau boleh datang ke atas gunung ini."
Ia kembali menyapu dengan matanya dan kali ini ia lihat Thian Oe dan Yoe Peng yang berdiri di antara orang banyak.
Pertemuan yang tidak diduga-duga membikin ia agak kaget dan lalu gapekan tangannya buat memanggil mereka.
"Kenapa kau berada disini?"
Ia tanya Yoe Peng.
"Hari itu, ketika aku antar Tjia Kouwkouw memetik daun obat, Puncak Es mendadak roboh dan gunung berapi meledak,"
Menerangkan Yoe Peng.
"Terhalang dengan lahar panas, aku jadi tidak bisa pulang dan belakangan datang kesini."
"Dan kau?"
Tanya Pengtjoan Thianlie sembari mengawasi Thian Oe. Thian Oe yang tidak tahu mesti mulai dari mana, lantas menyahut dengan suara gugup.
"Aku sebenarnya belum dilepaskan olehmu. Cuma saja lantaran terjadinya gempa bumi, aku terpaksa lari keluar juga. Kalau kau mau menghukum, boleh hukum sekarang. Kejadian yang lain-lainnya semuanya diketahui oleh dayangmu."
"Baiklah,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Buat bicara sebenar-benarnya, aku kuatir kau tidak dapat loloskan diri. Kau sudah langgar peraturanku, sebenarnya harus dipenjarakan seumur hidup. Akan tetapi, sesudah lewati bencana itu, kau seperti juga sudah mati satu kali. Semua kedosaanmu yang sudah-sudah aku sudah coret dan sekarang kau merdeka buat pergi kemana juga."
Ia berpaling pada Yoe Peng dan berkata pula.
"Kau sekarang boleh ikut aku pulang ke gunung."
Mendengar perkataan majikannya, hatinya Yoe Peng mencelos.
Sedari turun gunung, ia telah dapat banyak kegembiraan, terutama sesudah bertemu Thian Oe yang merupakan sahabat baik sekali.
Hatinya merasa sangat berat buat segera berpisahan, akan tetapi, ia tentu saja tidak berani membantah perintah majikannya, sehingga ia lantas saja menyanggupi sembari tundukkan kepalanya.
Pengtjoan Thianlie lihat itu semua, tapi ia tidak berkata apa-apa dan lantas tuntun tangannya Yoe Peng buat diajak pergi.
"Tahan!"
Kata Tong Keng Thian.
"Apa?"
Menegasi Pengtjoan Thianlie.
"Kau terlalu tidak sabar dan mau bertempur disini?"
"Bukan,"
Sahut Keng Thian sembari tertawa.
"Pengpok Sintan-mu terlalu hebat!"
Pengtjoan Thianlie merasa bangga sekali dan lalu berkata.
"Kalau kau takut, aku berjanji tidak akan gunakan Sintan."
"Kau salah tangkap maksudku,"
Kata Keng Thian.
"Pengpok Sintan telah lukakan banyak sahabatku. Aku mau minta obat buat mengobati mereka."
"Oh begitu? Baiklah, ambil obat ini,"
Kata si jelita sembari angsurkan sebungkus obat, yang diterima oleh Keng Thian sambil menghaturkan banyak terima kasih.
"Manusia dalam dunia memang banyak rewel,"
Menggerendeng Pengtjoan Thianlie seorang diri.
"Aku mau rewel lagi sekali. Jangan lupa janjian malam ini,"
Kata Keng Thian sembari tertawa.
Pengtjoan Thianlie juga jadi turut tertawa dan kemudian, dengan sikap kemalu-maluan ia berlalu sembari menuntun Yoe Peng.
Tiba-tiba, dari dalam barisan loncat keluar enam boesoe Nepal yang lantas berlutut di hadapan Pengtjoan Thianlie sembari acungkan kedua tangannya di atasan kepala dan mulutnya keluarkan suara ratapan.
Hosek Tjin-ong heran dan tanya Liong Leng Kiauw.
"Apa perlu kita bekuk itu beberapa penjahat?"
"Urusan hari ini kita harus serahkan kepada putusannya Pengtjoan Thianlie,"
Berbisik Leng Kiauw.
"Kalau bertindak salah, bisa terjadi perobahan yang kurang enak."
Hosek Tjin-ong merasa jengah, tapi lantaran sudah dapat pulang guci emas itu, hatinya sudah merasa sangat puas dan tidak membantah nasehat itu.
"Apa wanita itu dipanggil Pengtjoan Thianlie? Namanya luar biasa betul,"
Ia akhirnya kata sembari tertawa.
Pembicaraan antara Pengtjoan Thianlie dan enam boesoe Nepal cuma dapat dimengerti oleh Liong Leng Kiauw, Tong Keng Thian dan Yoe Peng.
Mereka itu memohon supaya sang puteri suka pulang ke negerinya.
"Apa yang aku sudah bilang, aku tak akan robah,"
Sahut sang puteri dengan suara tawar.
"Pergi pulang dan beritahukan rajamu, supaya ia baik-baik saja mengurus negara."
Enam boesoe itu tidak berani buka suara lagi.
"Mana Koksoe-mu?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Ia sudah binasa,"
Jawab satu boesoe sembari mengawasi Thian Oe.
"Aku yang bunuh ia,"
Yoe Peng menyelak.
"Dia memang suka cari urusan,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Buat apa rebut-rebut guci emas? Pergi beritahukan rajamu, mengurus negeri sendiri saja sudah cukup meminta tenaga dan pikiran, buat apa mengaduk di Tibet? Koksoe-nya binasa memang ada baiknya, supaya ia dapat sedikit pelajaran."
Mendengar perkataan itu, Liong Leng Kiauw terkejut, sedang Tong Keng Thian bergirang.
Leng Kiauw terkejut lantaran Pengtjoan Thianlie yang ilmu silatnya begitu tinggi, adalah seorang puteri dari negara Nepal, sedang Keng Thian bergirang, sebab, biarpun si jelita sudah mengatakan tidak mau campur urusan dunia, sekarang ia toh telah membantu usahanya.
Sesudah berkata begitu, Pengtjoan Thianlie kebas tangannya dan enam boesoe Nepal itu, seperti orang baru dibebaskan dari hukuman, lantas buru-buru undurkan diri dengan sikap hormat sekali, akan kemudian kabur secepat mungkin.
Atas perintah panglimanya, pasukan Tjeng membuka satu jalan untuk mereka.
"Hayolah kita berangkat!"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari menengok kepada dayangnya dan mereka berlalu dengan tindakan perlahan.
Ribuan tentara Gielimkoen tahan napasnya, mata mereka mengawasi bayangannya kedua wanita cantik itu dengan perasaan agak menyesal, bahwa mereka berdua sudah berlalu sedemikian cepat.
Hatinya Thian Oe berdebar-debar dan perasaannya sukar dilukiskan.
Seperti kehilangan semangat, dengan mata mendelong ia mengawasi sang puteri bersama dayangnya yang sedang berjalan keluar dari selat gunung.
Mendadak Yoe Peng menengok sembari tertawa dan kedua matanya yang bagus kebentrok dengan matanya Thian Oe.
Si anak muda goncang hatinya, tapi saat itu juga ia ingat Chena, itu gadis Tsang yang aneh dan yang sudah tarik seluruh perhatiannya.
Chena yang pendiam adalah ibarat lembah gunung yang sunyi senyap, sedang Yoe Peng yang nakal dan lincah adalah seakan-akan bunga mawar di musim panas.
Hatinya Thian Oe jadi merasa sangat terharu, ia meramkan kedua matanya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar Chena masih hidup dalam dunia ini.
Beberapa saat kemudian, Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng sudah berada di lereng gunung dan kemudian mereka menghilang di antara pohon-pohon yang rindang.
Hosek Tjin-ong tarik napas lega dan lantas bereskan pasukannya yang telah jadi sedikit kacau akibat pertempuran.
Sesudah itu, ia hampiri Tong Keng Thian dengan niat mengambil pulang guci emas itu dari tangannya si pemuda.
Tapi ia jadi sangat kecele, lantaran Keng Thian cuma manggutkan sedikit kepalanya secara tawar dan berbalik serahkan guci emas itu kepada Liong Leng Kiauw.
"Jagalah hati-hati, jangan hilang lagi,"
Katanya sembari tertawa. Leng Kiauw sambuti barang berharga itu, yang kemudian lalu dipasrahkan kepada Hosek Tjin-ong.
"Bolehkah aku mendapat tahu Hiapsoe (pendekar) empunya she dan nama yang mulia?"
Tanya Hosek Tjin-ong dengan sikap menghormat.
"Kali ini Hiapsoe sudah membuat pahala yang sangat besar dan Siauw-ong (raja muda, bahasakan dirinya sendiri) akan melaporkan kepada Hongsiang (kaizar) yang tentu akan memberi hadiah sepantasnya."
"Aku adalah rakyat kecil dari pegunungan yang sudah biasa dengan hidup merdeka dan tidak inginkan nama maupun harta,"
Jawab Keng Thian dengan suara tawar.
"Jika ada hadiah apa-apa, tolong bagikan saja hadiah itu kepada para serdadu yang bantu mengawal guci emas itu."
Ia keluarkan beberapa butir yowan (pel) yang lalu diserahkan kepada Liong Leng Kiauw seraya berkata;
"Inilah obat buat orang-orang yang kena Pengpok Sintan. Telan saja dengan air matang dan orang itu akan segera sembuh. Liong-heng, aku mau berangkat lebih dahulu, biarlah kita bertemu pula di lain kali."
Melihat sikapnya pemuda itu yang sangat tawar terhadap dirinya, tapi sedemikian hangat terhadap Liong Leng Kiauw, hatinya Hosek Tjin-ong jadi merasa sangat tidak senang.
Baru saja Keng Thian berjalan beberapa tindak, Leng Kiauw mendadak berseru.
"Tong-heng, tunggu dahulu!"
"Ada apa?"
Tanya Keng Thian sembari berbalik. Liong Leng Kiauw keluarkan satu kotak batu pualam yang besarnya lima tjoen pesegi dan angsurkan itu kepada Keng Thian sembari berkata.
"Harap Tong-heng suka ambil barang ini."
Parasnya Keng Thian lantas saja berobah kurang senang dan ia berkata dengan suara kaku.
"Apakah aku membayar pulang guci emas dengan mengharap hadiah?"
"Ini bukanlah hadiah dari aku sendiri,"
Sahut Leng Kiauw sembari tertawa.
"Ini adalah barang lama milik keluargamu, yang secara kebetulan sudah jatuh ke dalam tanganku. Puluhan tahun aku tolong simpan dan sekarang mau dibayar pulang. Jika kau merasa sangsi, tanyalah ayahmu."
Keng Thian jadi merasa sangat bimbang.
"Didengar dari omongannya, barang ini bukanlah barang biasa,"
Kata ia dalam hatinya.
"Ilmu silatnya ayahku, dalam jaman ini sukar dicari tandingannya. Apakah mungkin, barangnya sendiri jatuh ke dalam tangan lain orang? Ilmu silatnya Liong Leng Kiauw tidak berada di sebelah bawahku, sedang gerak-geriknya aneh sekali. Apa mungkin orang yang berkepandaian seperti ia, sudi bekerja di bawah perintahnya Hok Kong An dengan satu pangkat yang tidak besar dan tidak kecil? Apakah tidak bisa jadi ia ada seorang yang mempunyai asal-usul besar?"
Dengan hati yang penuh pertanyaan, akhirnya Keng Thian mengambil putusan buat terima kotak batu pualam itu.
Saat itu, di sebelah belakang mendadak terdengar tiga dentuman meriam, dan ketika Keng Thian menengok, ia lihat satu pasukan tentara yang kelihatannya angker sekali, sedang masuk ke dalam selat gunung.
"Utusan istimewa buat menyambut guci emas sudah tiba,"
Kata Liong Leng Kiauw.
"Siapa utusan itu?"
Tanya Keng Thian. Leng Kiauw menggape dan Thian Oe lantas keluar dari dalam barisan.
"Utusan itu adalah ayahnya,"
Kata Leng Kiauw. Thian Oe segera maju menghampiri dan menghaturkan terima kasih buat pertolongan Keng Thian yang tempo hari sudah tolong jiwanya.
"Ilmu silatmu sudah maju jauh sekali,"
Kata Keng Thian sembari tertawa.
"Dengan adanya kau dan Liong Loosam, guci emas itu pasti akan dapat diantar sampai di Lhasa dengan selamat. Aku jadi tak usah buat pikiran dan sekarang aku mau berlalu saja."
Ia manggutkan kepalanya kepada Liong Leng Kiauw dan lalu berjalan pergi.
Hosek Tjin-ong jadi merasa lebih tidak senang, tapi sebab harus buruburu menyambut utusan, ia jadi tidak mempunyai tempo buat perhatikan Tong Keng Thian lagi.
Setibanya di gunung depan, Keng Thian segera bertemu dengan Bek Eng Beng dan lain-lain orang gagah dari Utara barat.
Semua orang merasa sangat mendongkol dan mereka ramai-ramai sesalkan pemuda itu.
Keng Thian lalu memberi penjelasan berulang-ulang kenapa mereka sekarang tidak boleh rampas guci emas itu dan kemudian lalu keluarkan yowan pemberiannya Pengtjoan Thainli buat mengobati orang-orang yang kena Pengpok Sintan.
Boe-sie Hengtee adalah orang-orang yang sangat terbuka dan sesudah mendengar penjelasannya Keng Thian yang dianggap beralasan, lantas saja mereka berkata sembari tertawa.
"Tong Sieheng benar berpemandangan sangat jauh yang tidak dipunyai oleh orang-orang seperti kami. Dalam urusan di ini hari, kamilah yang bertindak salah."
Keng Thian merasa senang dalam hatinya dan lalu berkata sembari membungkuk.
"Buat luka yang sudah diderita oleh saudara, dengan jalan ini aku menghaturkan maaf."
"Cara bagaimana kami dapat sesalkan Ioohcng?"
Kata Boe-sie Hengtee sembari tertawa.
"Pernah apakah wanita itu dengan Tong heng? Sehingga Tong-heng sudah haturkan maaf guna ianya?"
Mukanya Reng Thian lantas jadi berobah merah.
"Biarpun dalam bantuannya kepada Tong-heng, maksudnya wanita itu adalah sangat baik, tapi tangannya terlalu kejam,"
Kata Boe-sie Hengtee.
"Jika ada kesempatan, kami ingin minta pengajaran lagi dari ianya. Kita semua adalah turunannya Thiansan Tjitkiam (Tujuh Pendekar Pedang dari Thiansan), maka itu kalau temponya tiba, Tong-heng tak boleh membantu orang luar!"
"Ah, janganlah kau main-main, saudaraku,"
Berkata Keng Thian, yang merasa geli dan berkata dalam hatinya.
"Inilah yang dinamakan sang air mau rendam kelenteng Raja Naga. Kau tidak tahu, semuanya orang sendiri. Ia adalah cucu perempuannya Koei Tiong Beng dan kalau dihitunghitung tingkatannya masih lebih atas dari kau berdua."
Sesudah berpisahan dengan kawanan orang gagah dari Utara barat, seorang diri Keng Thian mendaki gunung.
Sembari jalan, ia ingat halnya Liong Leng Kiauw yang membikin hatinya jadi penuh dengan kesangsian.
Ia buka kotak batu pualam itu yang didalamnya ternyata terisi sepotong batu giok (batu pualam) yang luar biasa indah dan berwarna biru hijau.
Di tengahtengah giok itu terdapat sebuah cap merah dengan ukiran huruf-huruf kuno yang berbunyi.
Sioe Beng Ie Thian, Kok Oen Kioe Tiang (Terima firman dari Langit, rejeki negara kekal abadi).
Membaca itu, Keng Thian jadi seperti orang terkesima.
Harganya giok itu yang sukar ditaksir berapa besarnya tidaklah cukup buat membikin ia menjadi heran, akan tetapi, huruf-huruf itulah yang keja Keng Thian jadi bukan main terkejutnya, sebab tak bisa salah lagi, barang itu adalah miliknya kaizar.
"Kenapa Liong Loosam bilang, barang ini adalah barang keluargaku?"
Tanya ia dalam hatinya.
Mendadakan saja, ia ingat cerita ibunya (Phang Eng) yang sering tuturkan sepak terjang ayahnya waktu masih muda.
Ibunya pernah ceritakan, bahwa dahulu sang ayah pernah dihadiahkan sepotong batu giok oleh Kaizar Konghie.
Apakah giok itu adalah giok hadiah Konghie?
Tong Siauw Lan (ayahnya Keng Thian) sebenarnya adalah putera (tidak resmi) Kaizar Konghie.
Pada ketika Tong Siauw Lan masuk ke dalam keraton buat menemui ibunya, Konghie pernah hadiahkan giok itu kepadanya.
Oleh karena tidak ingin sang putera mengetahui urusan itu yang cuma dapat menambahkan kejengkelan, maka saban-saban ceritakan halnya giok tersebut, Tong Siauw Lan dan Phang Eng cuma mengatakan, bahwa lantaran secara kebetulan sudah menolong Konghie dalam peristiwa perebutan tahta antara putera-putera kaizar, maka kaizar tersebut telah hadiahkan giok itu kepadanya.
Latar belakang yang sebenarnya sama sekali tidak pernah disebutsebut.
Sebab-sebab hilangnya giok tersebut, Keng Thian juga belum pernah dengar dari kedua orang tuanya.
Maka itulah, ia jadi merasa sangat heran dan terutama merasa sangat tidak mengerti, kenapa barang itu bisa jatuh kedalam tangannya Liong Leng Kiauw.
Keng Thian putar otaknya sampai ia jadi uring-uringan, tapi lekas juga ia menjadi sadar dan berkata seorang diri sembari tertawa.
"Ah, kenapa juga aku jadi begitu tolol? Dengan menanyakan ayah dan ibu, segala apa tentu akan menjadi terang. Buat apa aku capaikan pikiran?"
Ia lantas masukkan kotak itu ke dalam sakunya dan terus mendaki gunung.
Sesudah lewat magrib, sang rembulan mulai naik dan mengintip dari antara sela-sela puncak gunung.
Di gunung itu juga terdapat satu sungai es, yang meskipun tidak seindah sungai es pegunungan Nyenchin Dangla, toh sudah memberi suatu pemandangan yang menggetarkan jiwanya Keng Thian.
Bagaikan seekor naga perak, sungai es itu putari lereng gunung dan dengan sinar es dan sinar rembulan yang saling menyoroti, keindahan pemandangan alam itu benar-benar mempengaruhi orang yang sedang menanggung rindu.
Mengingat Pengtjoan Thianlie, Keng Thian mendapat suatu perasaan yang sukar dilukiskan dan tanpa merasa mulutnya ucapkan suatu syair.
"Sinar rembulan atas sungai es, dewi rembulan turun, bidadari menyebar bunga, sang penyair datang. Ah, walaupun bagaimana juga, aku akan undang dewi rembulan turun ke atas bumi."
Tiba-tiba, dari puncak gunung, sayup-sayup terdengar suara khim yang dibawa angin masuk ke dalam kupingnya Keng Thian.
Di antara suara tabuh-tabuhan yang merdu itu, lapat-lapat terdengar suara nyanyian Yoe Peng.
Lilin pendek di belakang sekosol akan padam dalam sekejap.
Bintang pagi kelak-kelik akan segera mengundurkan diri, Sang bidadari menyesal sudah curi obat mustajab, Lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri.
Nyanyian itu adalah berdasarkan Syair Dewi Rembulan, buah kalamnya Lie Sian Djin, satu penyair dari ahala Tong.
Ketika naik di keraton es, Keng Thian pernah petik baris terakhir dari syair tersebut buat menggubah toeilian untuk namanya Yoe Peng.
Mendengar sang majikan mementil khim, sedang sang dayang nyanyikan syair tersebut, Keng Thian jadi tertawa dan berkata dalam hatinya.
"Ah, Konghan Siantjoe sekarang sudah ingin turun ke dunia."
Ia pentang langkahnya dan berlari-lari menuju ke arah suara khim itu.
Selagi enak lari, tiba-tiba saja ia dengar suara kresekan di sebelah depannya, pada jarak belasan tombak, dan berbareng dengan itu, dua bayangan manusia yang pakai pakaian hijau kelihatan berkelebat dengan gunakan ilmu entengi badan yang paling tinggi, yaitu Tengpeng touwsoei (Menyeberangi sungai dengan menginjak rumput).
Dengan ilmu tersebut, mereka dapat berlari-lari di atas rumput-rumput yang tinggi.
Di lain saat, kedua orang itu sudah menghilang di antara pepohonan.
Keng Thian terkejut, sebab ia dapat kenyataan, bahwa ilmu entengi badannya kedua orang itu sedikitnya tidak berada di sebelah bawah ia.
Kenapa malam-malam mereka berada di gunung belukar itu?
Dengan cepat dan hati-hati Keng Thian menguntit dari belakang.
Jauh-jauh ia lihat kedua orang itu sedang mengumpat di antara alang-alang dan saling berbisik.
Keng Thian menghampiri lebih dekat dan tahan napasnya buat mendengari apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Aku dengar hari ini semua orang dari Utara barat pada turun tangan buat rampas guci emas,"
Demikian dengar suaranya seorang lelaki tua.
"Tjiauw Tjoen Loei dan kawan-kawannya hampirhampir dapat malu besar, kalau tidak ditolong oleh Liong Loosam yang keluarkan kepandaiannya, sehingga guci yang hilang dapat dirampas kembali. Dilihat begitu, Liong Loosam benar-benar tidak boleh dipandang rendah."
Keng Thian tertawa dalam hatinya. Hal yang menarik perhatiannya, adalah disebut-sebutnya nama Liong Leng Kiauw.
"Yah, memang juga mencurigakan,"
Kata seorang perempuan.
"Kenapa Liong Loosam yang begitu tinggi kepandaiannya rela bekerja sebagai Tjamtjan di bawah perintahnya Hok Kong An? Memang mencurigakan. Tak heran jika Hoei Tjongkoan minta kita keluar buat selidiki asal-usulnya. Kiranya Hongsiang pun sudah merasa curiga."
Keng Thian sekarang mengerti, bahwa kedua orang itu adalah kaki tangannya keraton Tjeng yang ilmu silatnya lebih tinggi dari delapan pengawal istana.
Beberapa saat kemudian, di atas gunung kembali terdengar suara khim dan kali ini, lagu yang dimainkan berdasarkan sajak Souw Tong Po yang berbunyi seperti berikut.
Antara dahan pohon Tong mengintip sang rembulan.
Larut malam, keadaaan penuh dengan kesunyian.
Kadang-kadang terlihat orang pertapaan mundar-mandir sendirian.
Atau sang burung Hong yang melayang-layang tanpa juntrungan.
Dalam kagetnya, sang burung menengok ke belakang.
Hatinya sedih, tiada manusia mengetahui perasaannya.
Mencari-cari, belum juga dapat sang cabang.
Lebih baik menclok di pulau mencil dengan air di seputarnya.
Arti sajak yang mengharukan membikin suara khim penuh dengan kesedihan, sehingga Keng Thian jadi terpesona.
"Besok malam kita sudah mesti tiba di Lhasa, tapi kau mau juga dengari orang main khim,"
Kata si wanita.
"Apakah maksudmu yang sebenarnya?"
"Aku dengar hari ini ada seorang wanita yang bantu turun tangan,"
Sahut yang lelaki.
"Mungkin sekali, yang dimaksudkan adalah orang yang sedang mementil khim. Sudah ketelanjur lewat disini, kita tidak boleh tidak menyelidiki."
"Hm!"
Kata si wanita dengan suara di hidung.
"Kalau yang pentil khim segala lelaki bau, kau tentu tidak kesudian naik kesini!"
Cara bicaranya kedua orang itu yang mengunjuk, bahwa mereka adalah suami isteri, sudah membikin Keng Thian jadi terkejut.
"Di daerah perbatasan sebelah barat, suami isteri kenamaan yang berusia seperti mereka, kecuali lethio dan Iebo (Lie Tie dan Phang Lin) dan ayah ibuku, cuma ada pasangan In Leng Tjoe dari Lengsan pay di Tjenghay,"
Kata ia dalam hatinya.
"Apakah mereka itu benar-benar suami isteri In Leng Tjoe yang sudah kena ditarik oleh bangsa Boan?"
"Ah, kau orang apa!"
Si lelaki membentak.
"Wanita yang sedang pentil khim itu, kalau bukannya Pengtjoan Thianlie, tentulah juga seorang yang mempunyai asal-usul besar. Sesudah menerima firmannya Hongsiang, kita harus bertindak secara hati-hati sekali. Kebetulan lewat disini, tidak dapat tidak kita mesti menyelidiki sampai terang betul."
"Hongsiang perintah kau selidiki asal-usulnya Liong Loosam dan bukannya wanita itu,"
Sahut si wanita dengan suara berdongkol.
"Liong Loosam sekarang sedang repot melindungi guci emas dan tentu tak duga diam-diam ada orang yang incar padanya,"
Kata yang lelaki dengan suara membujuk.
"Begitu tiba di Lhasa, kita tentu akan berhasil. Apalagi Lootoa sudah mendahului kita. Sudahlah, kau tak usah kuatir. Aku rasa perlu kita tengok wanita itu, mungkin sekali kita dapat beberapa keterangan penting tentang Liong Loosam dari mulutnya."
Sehabis berkata begitu, ia lantas loncat keluar dari tempat sembunyinya, diikuti oleh si wanita.
Pengtjoan Thianlie yang sudah mulai berdongkol lantaran sehabis mainkan dua lagu, Keng Thian belum juga kelihatan muncul, merasa terkejut melihat munculnya sepasang lelaki dan perempuan yang beroman jelek sekali.
Yang lelaki nyengir-nyengir sembari perlihatkan giginya yang tonggos, sehingga si nona jadi gusar sekali.
Melihat kecantikannya Pengtjoan Thianlie dan lagak suaminya, si wanita naik darahnya dan lantas menanya dengan suara kaku.
"Hei! Apakah kau yang hari ini membantu Liong Loosam melindungi guci emas?"
Pengtjoan Thianlie tertawa tawar dan membentak.
"Anjing! Berani betul kau orang curi dengar aku mementil khim! Hayo, menggelinding turun dari sini!"
Berbareng dengan bentakan itu, ia ayun tangannya dan dua butir Pengpok Sintan lantas menyambar.
Sesuai dengan dugaannya Keng Thian, mereka itu memang juga adalah suami isteri In Leng Tjoe.
Sebagai pemimpin dari suatu partai, mereka tentu tidak dapat menerima hinaan.
Tapi belum sempat turun tangan, mereka sudah rasakan menyambarnya hawa yang sangat dingin, sehingga mereka jadi terkejut dan buru-buru tutup semua jalanan darahnya, tapi meskipun begitu, mereka toh masih bergidik juga.
Melihat dua pelurunya tak dapat robohkan mereka, Pengtjoan Thianlie merasa agak kaget dan segera lepaskan lagi dua butir Pengpok Sintan dengan gunakan tenaga dalam yang lebih besar.
In Leng Tjoe kelit dan Sintan meledak di pinggir badannya.
Isterinya, yang lebih sebet, sudah buka ikatan pinggangnya yang digunakan buat gulung Sintan yang satunya lagi.
Dengan sekali kedut Pengpok Sintan meledak di dalam ikatan pinggang, yang segera digunakan sebagai pian lemas (djoanpian) buat menghantam Pengtjoan Thianlie.
Pengtjoan Thianlie juga lantas buka ikatan pinggangnya, yang, bagaikan seekor naga, papaki ikatan pinggangnya musuh.
Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 6
Baca Juga: Tangan Berbisa 12