Eps 5 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Di lain saat, kedua ikatan pinggang sudah menyambar-nyambar di tengah udara dengan kecepatan kilat, sehingga memberi pemandangan yang indah sekali.
"Apakah kau bukan Pengtjoan Thianlie?"
Membentak In Leng Tjoe.
"Kau sudah tahu aku siapa, kenapa tak mau buru-buru menggelinding dari sini,"
Sahut si nona.
"Biarpun kau benar-benar bidadari dari atas langit, aku toh mau jajal-jajal dahulu kepandaianmu,"
Kata In Leng Tjoe sembari tertawa tawar.
Ia lantas cabut sepasang Poankoan pit (senjata yang merupakan pit) dari pinggangnya dan coba totok dua jalanan darah di bebokongnya Pengtjoan Thianlie.
Sambaran Poankoan pit yang disertai dengan tenaga dalam yang hebat, sudah membikin Pengtjoan Thianlie jadi terkesiap.
Ia tak duga, si lelaki yang mukanya jelek itu adalah ahli menotok jalanan darah.
Lantaran begitu, ia tidak berani memandang enteng lagi lawannya dan sembari putar badan, ia cabut Pengpok Hankong kiam.
In Leng Tjoe rangkap kedua senjata yang lantas diacungkan buat papaki Hankong kiam dengan gerakan Hoenka kimliang (Menunjang penglari emas).
Dengan latihan puluhan tahun, sambaran Poankoan pit itu mempunyai tenaga ribuan kati dan In Leng Tjoe menduga, bahwa dengan sekali bentur saja, ia akan dapat patahkan pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Tapi si jelita yang gerakannya luar biasa gesit sudah egos pedangnya dan berbareng dengan berkelebatnya sang pedang, In Leng Tjoe kembali bergidik lantaran sambaran hawa dingin.
Di lain saat, dengan beruntun Pengtjoan Thianlie kirim tiga serangan, sehingga dari menyerang, In Leng Tjoe berbalik harus membela diri.
Dengan kedua kaki menginjak kedudukan Patkwa, ia terpaksa mundur, tapi Poankoan pit-nya sudah tutup rapat seluruh badannya dan ujung senjata itu terus bayangi jalanan darah musuhnya yang dapat ditotok begitu lekas ada kesempatan.
Ilmu silat isterinya In Leng Tjoe, yang bernama San Tjeng Nio, tidak berada di sebelah bawah suaminya.
Melihat liehaynya sang lawan, buru-buru ia kedut ikatan pinggangnya yang lantas jadi lempang bagaikan pit dan mulai bersilat dengan ilmu Hoeiliong Pianhoat (Ilmu silat pian naga terbang).
San Tjeng Nio adalah ahli Djioekang (Ilmu silat lembek) dari Bittjong pay di Tibet.
Dengan "kelemasan,"
Ia dapat tindih "kekerasan"
Dan dengan ilmu itu yang mempunyai delapan rupa jalan, ikatan pinggangnya bukan saja dapat mainkan peranan beberapa macam senjata, tapi juga dapat digunakan buat merebut senjata musuh.
Dibanding dengan djoanpian biasa, ikatan pinggang tersebut lebih liehay ratusan kali lipat.
Oleh karena harus layani dua lawanan berat, pembelaan ikatan pinggangnya Pengtjoan Thianlie jadi kurang rapat.
Melihat kesempatan itu, San Tjeng Nio segera kedut senjatanya, yang seperti seekor ular terbang, lantas menyambar ke arah matanya musuh.
Dalam keadaan terdesak, Pengtjoan Thianlie terpaksa gunakan Pengpok Hankong kiam buat menyabet dua kali -ke kanan dengan gerakan Soathoa lioktjoet (Kembang salju berhamburan ke enam penjuru), ke kiri dengan gerakan Kisoei lengpeng (Air membeku jadi es) --dan dua serangan itu berubah jadi delapan rupa serangan yang menyambar-nyambar secara berantai.
San Tjeng Nio tidak berani terlalu mendesak, buru-buru ia tarik pulang ikatan pinggangnya buat lindungi diri.
Baru saja singkirkan gencatan si isteri, sang suami sudah mendesak dengan kedua senjatanya yang makin lama jadi makin hebat menyerangnya, sehingga Pengtjoan Thianlie jadi tidak mempunyai kesempatan lagi buat lakukan serangan membalas.
Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur kurang lebih lima puluh jurus.
Kedua belah pihak sama-sama merasa kaget dan heran.
In Leng Tjoe suami isteri adalah jagoan kelas berat yang sudah dapat nama lama sekali di daerah perbatasan barat, maka dapat dimengerti, jika mereka merasa kaget melihat tangguhnya Pengtjoan Thianlie yang tidak dapat dijatuhkan biarpun dikerubuti berdua.
Di lain pihak, si nona juga tidak kurang kagetnya sebab ilmu pedangnya yang begitu liehay masih juga belum dapat robohkan dua lawanan itu.
Keng Thian yang mengintip dari belakang batu, terus mengawasi jalannya pertempuran dengan mata tidak berkesip.
Ia lihat, makin lama serangan In Leng Tjoe suami isteri jadi makin hebat.
Sesuatu sambaran Poankoan pit ditujukan kepada jalanan darah, sedang ikatan pinggangnya San Tjeng Nio selalu siap sedia buat masuk ke tempat kosong.
Demikianlah, perlahan-lahan Pengtjoan Thianlie jadi berada di bawah angin.
Tapi, berkat ilmu silatnya yang luar biasa, setiap kali keteter, muncullah pukulan-pukulannya yang aneh, yang tak dikenal oleh In Leng Tjoe suami isteri, sehingga, walaupun sudah berada di atas angin, mereka selalu mesti berlaku sangat hati-hati buat menjaga serangan-serangan yang tidak diduga-duga.
Keng Thian tumplek seluruh perhatiannya dan diam-diam coba meraba-raba ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie.
"Ah,"
Ia menghela napas.
"Tadinya aku kira Thiansan Kiamhoat adalah ilmu pedang yang tiada keduanya dalam dunia. Tapi sekarang aku dapat kenyataan, banyak pukulannya Pengtjoan Thianlie yang lebih unggul daripada ilmu pedang Thiansan. Benar-benar pelajaran tidak ada batasnya."
Jika mau dirundingkan soal ilmu pedang, ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie memang sedikit lebih unggul dalam hal keanehannya dan perobahan-perobahannya yang luar biasa.
Akan tetapi, mengenai luasnya, dalamnya dan teguhnya, kiamhoat-nya si jelita masih belum dapat menyusul Thiansan Kiamhoat.
Jika bertemu dengan lawan yang ilmu silatnya lebih tinggi, seorang ahli Thiansan Kiamhoat masih dapat membela diri dengan penjagaannya yang sangat rapat.
Di lain pihak, kiamhoat-nya Pengtjoan Thianlie ada lebih liehay dalam penyerangan, tapi masih kurang sempurna dalam pembelaan diri, jika bertemu dengan lawanan yang lebih kuat.
Ilmunya suami isteri In Leng Tjoe adalah kira-kira sctanding dengan si pendeta berkelana dan Liong Leng Kiauw.
Jika satu lawan satu, dalam seratus jurus, ia tentu roboh dalam tangannya Pengtjoan Thianlie.
Akan tetapi dengan mengerubuti, kedudukannya suami isteri itu jadi terlebih unggul.
Cuma saja, berkat kiamhoat-nya si nona yang luar biasa dan ditambah lagi sama Pengpok Hankong kiam yang istimewa, maka buat sementara mereka masih belum dapat menarik keuntungan dari keunggulan itu.
Dengan perlahan, sang rembulan sudah mulai doyong ke barat.
Sesudah bertempur kurang lebih seratus jurus, Pengtjoan Thianlie mulai merasa lelah dan napasnya jadi sedikit sengal-sengal.
"Kenapa si pemuda baju putih belum juga datang?"
Ia tanya dalam hatinya yang mulai jadi jengkel, sehingga tidak dapat pusatkan lagi Seantero perhatiannya kepada pertempuran yang sedang berlangsung dengan hebatnya.
In Leng Tjoe suami isteri adalah orang-orang yang sudah kawakan dalam pertempuran.
Begitu lihat kesempatan, mereka lalu mendesak semakin hebat.
Sepasang Poankoan pit In Leng Tjoe terus tindih pedangnya si nona buat cegah ia keluarkan pukulan-pukulannya yang aneh, sedang ikatan pinggangnya San Tjeng Nio terus menyambar-nyambar ke bagian-bagian yang agak lowong.
Yoe Peng yang sedari tadi menonton, dengan sikap acuh tak acuh, sekarang mulai kuatirkan keselamatan majikannya.
Sekonyong-konyong dengan gerakan Lioeseng poengoat (Bintang sapu mengubar bulan), kedua Poankoan pit menyambar ke arah kepalanya Pengtjoan Thianlie, dan hampir berbareng, ikatan pinggangnya San Tjeng Nio melesat ke garisan dalam dari pembelaan si nona.
Saat itu, pedangnya Pengtjoan Thianlie yang sedang digunakan di garisan luar buat tangkis Poankoan pit, sudah tidak keburu ditarik pulang guna singkirkan sambarannya ikatan pinggang.
Yoe Peng terkesiap dan keluarkan satu teriakan.
"Celaka!"
Pada detik itulah, Pengtjoan Thianlie keluarkan pukulan yang benar-benar istimewa.
Dengan sekali getarkan gagang pedangnya, begitu bentur Poankoan pit musuh, dari Pengpok Hankong kiam seperti juga terbang keluar ratusan "kembang pedang"
Yang sinarnya bergemilapan dan menyilaukan mata.
Satu batang pedang itu seakan-akan berobah jadi ratusan batang pedang.
Inilah pukulan Pengho kaytang (Sungai es melumer), yaitu pukulan istimewa dari Pengtjoan Kiamhoat yang digunakan buat menolong diri dalam bahaya.
Ketika itu, jika In Leng Tjoe teruskan juga serangannya, batok kepalanya si jelita memang bisa menjadi toblos, tapi mereka pun pasti bakal jadi korbannya Pengpok Hankong kiam.
Mereka berdua tidak berani berlaku mati-matian lantaran, pertama, mereka tidak kenal ilmu pukulannya Pengtjoan Thianlie, ditambah sama silaunya sang mata lantaran sinar Hankong kiam sehingga mereka tidak dapat lihat tegas badannya musuh, dan kedua, sebagai ahli-ahli kawakan dalam Rimba Persilatan, mereka selalu taat pada nasehat yang berbunyi.
Sebelum menghitung kemenangan, hitunglah kekalahan.
Demikianlah buru-buru mereka tarik pulang senjatanya dan tutup rapat dirinya.
Pada saat itulah, dari belakang batu besar keluar satu teriakan.
"Bagus!"
Yang keluar dari mulutnya Tong Keng Thian. In Leng Tjoe dan isterinya terkesiap. Sembari pentang senjatanya, In Leng Tjoe membentak dengan suara keras.
"Lengsan pay In Leng Tjoe ada disini. Sahabat, keluarlah buat menemui aku."
In Leng Tjoe adalah seorang yang sudah dapat nama besar lama sekali di daerah perbatasan sebelah barat dan dengan perkenalkan dirinya, ia berharap, orang yang sembunyi akan merasa jeri.
Tapi tak dinyana, baru ia tutup mulutnya, dua sinar terang menyambar dan kedua senjatanya kena terpukul miring, sehingga garisan pembelaannya jadi terbuka, dan berbareng dengan itu, Pengpok Hankong kiam sudah menerobos masuk bagaikan kilat.
In Leng Tjoe terbang semangatnya.
Matanya silau dan hawa dingin menyambar ke uluhatinya, sehingga .ia tak dapat membela dirinya lagi.
"Binasalah aku!"
Ia mengeluh.
Mendadakan terdengar suara terbesetnya kain dan sinar pedang berkelebat di atasan kepalanya.
Sebagai seorang yang tinggi ilmu silatnya, pada saat itulah, dengan gerakan Yauwtjoe hoansin (Elang balik badannya), In Leng Tjoe jejak kedua kakinya dan badannya melesat beberapa tombak, akan kemudian jatuh menggelinding ke bawah tanjakan.
Suara terbesetnya kain yang didengar oleh In Leng Tjoe muncul ketika ikatan pinggangnya San Tjeng Nio dibabat putus dengan Hankong kiam.
Barusan, melihat suaminya berada dalam bahaya, San Tjeng Nio kerahkan tenaga dalamnya dan bagaikan sebatang pedang, ikatan pinggangnya sambar kedua matanya Pengtjoan Thianlie, yang lantas papaki dengan Hankong kiam.
Oleh karena adanya pertolongan sang isteri, In Leng Tjoe jadi dapat loloskan dirinya.
Sambil lempar ikatan pinggangnya yang sudah tinggal sepotong, San Tjeng Nio turut loncat turun ke bawah tanjakan.
Mereka menengok ke atas dan lihat Pengtjoan Thianlie mau mengubar, tapi dicegah oleh seorang pemuda baju putih.
In Leng Tjoe cabut senjata rahasia yang menancap pada kedua senjatanya dan begitu lihat, ia terkesiap.
"Hei!"
Ia berseru.
"Thiansan Tong Siauw Lan masih pernah apa dengan kau?"
"Aku wakili ayah buat menanyakan keselamatannya kedua Lootjianpwee,"
Sahut Keng Thian.
"Harap kedua Lootjianpwee sudi maafkan kekurang ajaranku."
In Leng Tjoe suami isteri saling mengawasi.
Biar bagaimanapun juga, mereka belum mempunyai nyali buat coba-coba bentur Tayhiap Tong Siauw Lan, apalagi ilmu silatnya si pemuda sendiri sudah cukup tinggi dan dapat pukul miring kedua Poankoan pit dengan Thiansan Sinbong.
Di sebelahnya itu, mereka juga harus perhitungkan Pengtjoan Thianlie yang terus mengawasi dengan mata beringas.
Keringat dingin keluar dari dahinya In Leng Tjoe.
Tapi buat tutup perasaan malunya, ia membentak dengan suara keras.
"Baiklah! Aku sungkan berurusan sama segala bocah. Aku akan bikin perhitungan dengan ayahmu sendiri!"
Pengtjoan Thianlie tertawa tawar dan berkata.
"Penjahat gundul! Kau masih berani banyak bacot? Apa kau mau rasakan lagi pedangku?"
Mendengar perkataan "penjahat gundul,"
In Leng Tjoe terkejut dan lantas raba kepalanya.
Hatinya mencelos sebab ia dapat kenyataan, rambutnya sudah kelimis dan tanpa berani mengeluarkan sepatah kata lagi, ia tarik tangan isterinya dan menyingkir secepat bisa.
"Dua bangsat itu sudah berani curi dengar suara khim-ku, biarpun senjatanya sudah diputuskan dan rambutnya dipapas, hatiku rasanya belum merasa puas,"
Berkata Pengtjoan Thianlie dengan suara mendongkol.
"Dalam dunia ini masih banyak orang-orang yang terlebih jahat daripada mereka,"
Kata Keng Thian sembari tertawa.
"Mana boleh kau selalu turuti napsu amarahmu."
Lewat beberapa saat, Keng Thian berkata pula sembari tertawa.
"Apakah kau mementil khim hanya untuk didengar olehku? Sungguh sayang aku bukannya Pek Gee (Djie Pek Gee, seorang ahli khim dari jaman Liatkok), sehingga tidak mengetahui dimana adanya hati tetabuhan tersebut."
Mukanya si jelita lantas saja bersemu dadu.
"Cis"
Katanya.
"Siapa yang pentil khim untuk kau? Eh, apa kau mau adu pedang lagi?"
"Tak usah,"
Sahut Keng Thian.
"Barusan aku sudah saksikan kepandaianmu yang sejati dan benar-benar tinggi sekali. Aku sekarang mengaku kalah."
"Aku paling benci orang yang bicara lain, hatinya lain,"
Kata lagi si nona.
"Dalam hati, kau tentu kata.
"Kepandaiannya Pengtjoan Thianlie cuma sebegitu saja? Mana bisa menangkan Thiansan Kiamhoat?"
Keng Thian jadi tertawa keras.
"Ah!"
katanya.
"Kalau begitu kau mempunyai ilmu membaca hati orang! Tapi, kali ini kau membaca salah. Barusan hatiku kata.
"Kiamhoat-nya Pengtjoan Thianlie benar-benar liehay. Dalam tiga sampai lima tahun, aku belum dapat menangkan dia."
Pengtjoan Thianlie menghela napas, sebab dalam hatinya, ia justru sedang pikir apa yang dikatakan oleh Keng Thian.
Sesudah meneliti ilmunya si pemuda, ia merasa, bahwa meskipun tak usah kalah, akan tetapi buat bisa dapat jatuhkan Keng Thian, paling sedikitnya ia harus berlatih antara tiga sampai lima tahun lagi.
Dan ia merasa tercengang, sebab apa yang lagi dipikir sudah dikatakan oleh Keng Thian.
"Kenapa tarik napas?"
Tanya Keng Thian. Si nona tak menyahut. Lewat beberapa saat mendadak ia berkata.
"Kalau begitu, kau adalah puteranya Thiansan Tong Tayhiap."
"Sekarang kita sama-sama sudah mengetahui asal-usul masing-masing dan kita sebenarnya bukan orang luar,"
Kata Keng Thian.
"Ayahku mempunyai matan buat satu tempo kumpulkan semua turunan dan murid-muridnya Thiansan Tjitkiam. Jika niatan itu terwujud, aku akan ajak kau, supaya dapat berkenalan dengan sahabat-sahabatnya mendiang ayahmu."
Mendengar itu, parasnya Pengtjoan Thianlie segera jadi berobah.
"Ayahku sudah singkirkan diri ke daerah perbatasan dan sedari dahulu ia sudah tidak anggap dirinya sebagai orang Thiansan pay,"
Katanya.
"Cara bagaimana aku dapat hadiri pertemuan itu?"
Keng Thian terkejut, ia tak mengerti, kenapa si nona boleh keluarkan perkataan begitu.
Tapi ia lihat Pengtjoan Thianlie bicara dengan sungguh-sungguh, sehingga ia tak menanya apa-apa lagi.
Keng Thian tidak mengetahui, bahwa ayahnya si nona, yaitu Koei Hoa Seng, dahulu justru pernah dijatuhkan oleh ayah ibunya sendiri.
Dengan perasaan mendongkol, Koei Tayhiap pergi ke lain negara dengan tujuan mempelajari ilmu pedang daerah sebelah barat guna digabung dengan ilmu pedangnya sendiri, supaya bisa menggubah serupa ilmu pedang yang lebih unggul dari Thiansan Kiamhoat.
Kedua matanya Pengtjoan Thianlie mengawasi ke arah jauh, seakan-akan ia sedang berpikir keras.
Beberapa saat kemudian, ia berkata dengan suara agak terharu.
"Berjodoh, manusia berkumpul. Jodoh habis, berpisah kembali. Satu kali kau pernah naik ke atas Puncak Es dan aku telah membalas budi dengan ambil pulang guci emas. Dengan demikian, kita sudah rampungkan sekelumit lelakon hidup ini. Kita tak usah adu pedang lagi dan biarlah kita berpisahan sebagai sahabat."
Nepal adalah satu negara yang banyak kena pengaruhnya agama Budha, sehingga sebagai seorang Puteri Nepal, Pengtjoan Thianlie pun kena pengaruh agama tersebut.
Keng Thian tercengang mendengar kata-kata itu dan buat beberapa saat, ia tak dapat membuka suara.
"Puncak Es sudah roboh dan kau sendiri sudah masuk lagi ke dalam dunia pergaulan,"
Berkata Keng Thian sembari mesem.
"Apakah jodoh dalam dunia dapat berakhir dengan begitu saja? Meskipun keraton es ada cukup indah, akan tetapi dingin dan sunyi. Andaikata benar-benar di belakang hari kau bisa jadi seorang bidadari, paling banyak kau jadi seperti bidadari dari rembulan. Dan sebagaimana kau mengetahui, bidadari rembulan saja masih kadang-kadang merasa kesepian, masih saban malam pikiri lautan blau dan langit biru! Apakah, selainnya keraton es, dalam dunia sudah tidak ada lain tempat yang cocok bagi dirimu?"
Hatinya Pengtjoan Thianlie bergoncang keras, sehingga dadanya turun naik terlebih cepat.
Ia angkat kepalanya dan mengawasi si pemuda, yang dengan pakaiannya yang serba putih dan parasnya yang cakap sekali, kelihatan angker dan agung di bawahnya sinar rembulan yang laksana perak.
Ketika itu, Keng Thian pun sedang mengawasi ia dengan sorot matanya yang bening, sehingga dua pasang mata segera kebentrok.
Paras mukanya Pengtjoan Thianlie kembali bersemu dadu dan pikirannya jadi semakin kusut.
Hatinya merasa berat, akan tetapi, ia sendiri tidak mengetahui, apa yang dibuat berat.
Apakah keindahan dunia?
Apakah pemuda itu dengan kata-katanya dan cara-caranya yang sangat menarik hati?
Tapi, bukankah pemuda itu adalah seorang, dengan siapa ia harus ukur tenaga supaya tidak sia-siakan capai lelah ayahnya sendiri?
Mengingat begitu, si nona rasakan kepalanya pusing.
"Apakah kau tidak mau pergi ketemui kedua pamanmu?"
Tanya Keng Thian mendadakan.
"Yang satu berada di Soetjoan, sedang , yang lain di Ouwpak. Puluhan tahun mereka pikiri ayahmu dan pesan banyak sahabatnya buat bantu mencari. Gurunya Thian Oe, yaitu Thiekoay sian, yang juga pernah terima pesanan begitu, sudah naik ke atas Puncak Es tanpa perdulikan bahaya, sehingga akhirnya ia mesti membuang jiwa di dalam keraton es. Apakah sesudah mengetahui itu, hatimu sedikitpun tidak jadi tergerak?"
"Apa? Thiekoay sian mati di keraton es?"
Tanya si nona dengan suara terkejut.
"Benar,"
Menyeletuk Yoe Peng.
"Guna melindungi keraton es, Thiekoay sian telah binasa dalam tangannya si pendeta jubah merah."
Si dayang lalu tuturkan segala apa yang ia dapat dengar dari Thian Oe, mengenai kebinasaannya Thiekoay sian.
Mendengar penuturan itu, Pengtjoan Thianlie jadi merasa jengah.
Ia ingat budinya Thiekoay sian suami isteri yang sudah begitu sudi gawe buat mendaki Puncak Es, guna kepentingan lain orang, sehingga akhirnya sang suami harus membuang jiwa secara kecewa sekali.
"Jika kedua pamanmu mengetahui, mereka mempunyai satu keponakan yang begitu pintar, mereka tentulah juga akan merasa girang sekali,"
Keng Thian teruskan bujukannya.
"Apa benarbenar kau tidak kepengen menemui pamili di Tiongkok?"
"Aku tak tahu dimana mereka tinggal, bagaimana bisa mencarinya?"
Kata Pengtjoan Thianlie akhir-akhir. Melihat si nona sudah tergerak hatinya, Keng Thian jadi girang sekali.
"Itulah, jodoh kita memang belum habis dan kita tidak dapat lantas berpisahan,"
Katanya.
"Biarlah aku antar kau pergi cari kedua pamanmu itu. Lebih dahulu kita pergi cari ke Soetjoan barat buat cari Moh Tjoan Seng Tayhiap dan sesudah itu, baru kita mendaki Boetong san buat menemui Tjio Kong Seng Tayhiap."
Mukanya si nona jadi merah lantaran kemalu-maluan. Ia berdiri bengong buat beberapa saat dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Baiklah. Kapan kita berangkat?"
"Pada sebelum aku antar kau cari kedua pamanmu, lebih dahulu kau harus kawani aku pergi cari seorang lain,"
Sahut Keng Thian.
"Siapa? Apa jauh?"
Tanya si nona.
"Orang yang aku mau cari adalah Liong Leng Kiauw,"
Menerangkan Keng Thian "Sekarang kita pergi dahulu ke Lhasa. Perjalanan itu tidak meminta tempo terlalu lama."
"Guci emas toh sudah dipulangkan, buat apa cari ia lagi?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Asal-usulnya Liong Leng Kiauw sangat mencurigakan,"
Kata Keng Thian.
"Apa kau tahu, maksud kedatangan suami isteri In Leng Tjoe adalah buat menyusahkan padanya?"
Sesudah itu, ia lalu tuturkan segala apa yang ia dengar dari mulutnya kedua suami isteri tersebut.
"Ilmu silatnya suami isteri In Leng Tjoe adalah lebih tinggi dari delapan pengawal istana,"
Keng Thian sambung penuturannya.
"Tapi sebaliknya dari perintah mereka lindungi guci emas, kaizar Boan suruh mereka pergi menyelidiki asal-usulnya Liong Loosam. Dari sini dapat dilihat, bahwa di matanya kaizar, pentingnya penyelidikan itu tidak kalah dari pentingnya guci emas. Itulah sebabnya kenapa aku merasa perlu buat coba pecahkan teka-teki itu."
"Ah, kau memang sangat usilan!"
Kata si nona sembari kerutkan alisnya.
"Biarpun kau tak sudi, tapi kali ini toh kau harus antarkan aku,"
Kata Keng Thian sembari tertawa.
"Kenapa?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Supaya kita sama-sama tak usah menanggung budi,"
Sahut Keng Thian.
"Jika dikemudian hari, kau kebetulan ingin adu pedang lagi denganku, kau jadi bisa buka mulut tanpa sungkan-sungkan lagi!"
"Cis"
Membentak si nona sembari tertawa.
"Kau benar jail. Baiklah, aku luluskan permintaanmu."
Demikianlah mereka bertiga lantas berangkat dan tiba di Lhasa pada malaman Tahun Baru.
Ketika itu, ibukota Tibet, sedang berada dalam suasana pesta.
Jalanan-jalanan penuh dengan rakyat yang keluar buat saksikan keramaian, rumah-rumah pasang lampu terang-terang dan di segala tempat terlihat menguleknya asap hio yang dibakar tak henti-hentinya.
Pusatnya keramaian terletak di sekitar Kelenteng Thaytjiauw sie yang dipajang indah sekali dengan lampu-lampu yang beraneka warna.
Gelombang manusia semuanya mengalir ke kelenteng tersebut yang sudah jadi penuh sesak dengan rakyat yang bersuka ria --ada yang sembahyang, ada yang menari-nari di tengah jalan atau menyanyi sekeras suara.
"Sekali ini kaizar Boan telah bertindak secara tepat sekali,"
Kata Keng Thian dalam hatinya.
"Dengan mengirim guci emas, pemerintahan keagamaan di Tibet jadi berada di bawah pimpinan langsung dari pemerintah pusat di Pakkhia, sehingga Tiongkok dan Tibet tak dapat dipisahkan lagi. Tak heran kalau rakyat jadi begitu girang."
Dalam kepuasannya, si pemuda merasa sedikit menyesal, bahwa mereka datang terlambat sedikit sehingga tidak dapat saksikan upacara penyambutan guci emas yang tiba di Lhasa pada siang harinya.
Sesudah lihat-lihat keramaian buat sementara waktu, mereka bertiga lalu menuju ke lapangan yang terletak di bawahnya Keraton Potala.
Sesudah lewati lapangan tersebut, mereka tiba pada satu daerah pegunungan di sebelah utara Gunung Anggur.
Mereka terus mendaki satu tanjakan, di atas mana berdiri sebuah rumah yang berbentuk bundar dan terkurung tembok, yaitu rumahnya Liong Leng Kiauw.
Sesudah pesan supaya Yoe Peng tunggu di lapangan di kaki gunung, bersama Pengtjoan Thianlie, dengan gunakan ilmu entengi badan, Keng Thian segera masuk ke dalam pekarangan dengan loncati tembok.
Keadaan disitu sangat sunyi, mungkin para penghuninya pada pergi nonton keramaian.
Waktu tiba di dekat kamar tulisnya Liong Sam, kuping mereka mendadak dengar suara tindakan orang yang jalan mundar-mandir di dalam kamar tersebut.
Mereka segera loncat ke atas payon rumah dan sembari cantelkan kaki kepada payon, mereka mengintip ke dalam.
Ilmu entengi badannya Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan, sehingga walaupun Liong Leng Kiauw berilmu tinggi, ia masih belum mengetahui kedatangannya kedua tetamu tersebut.
Di dalam kamar, tuan rumah kelihatan jalan mundar-mandir tak hentinya, dengan paras muka yang sangat guram.
Keng Thian merasa sangat heran kenapa, sesudah guci emas berada dalam Gereja Besar, Leng Kiauw masih kelihatan begitu bersusah hati.
Sekonyong-konyong dari sebelah luar kedengaran suara tindakan orang Buru-buru Pengtjoan Thianlie dan Keng Thian naik ke atas dan mengumpat di pancoran air.
Tirai disingkap dan seorang yang tinggi kurus kelihatan masuk ke dalam.
Ia itu adalah Gan Lok, soetee-nya Liong Sam, yang pernah curi pedangnya Yoe Peng.
"Soetee belum tidur!"
Tanya Leng Kiauw sembari menghela napas.
"Selama setengah bulan, aku sangat kuatirkan keselamatan soeheng, tapi sekarang aku dapat bernapas lega,"
Sahutnya. Leng Kiauw meringis dan berkata.
"Sesudah tibanya guci emas, urusan kita justru baru mulai main!"
"Menurut pendapatku, lebih baik kita singkirkan diri dahulu buat sementara waktu,"
Kata Gan Lok.
"Apa kau takut?"
Tanya sang soeheng.
"Bukannya takut,"
Jawabnya.
"Cuma dalam beberapa hari, aku seperti dapat firasat, bahwa rahasia kita sudah diketahui orang."
"Hok Tayswee sama sekali tidak merasa curiga,"
Menghibur Leng Kiauw.
"Kau tak usah pikir yang tidak-tidak."
Gan Lok diam, mulutnya bergerak, tapi ia tidak jadi bicara.
"Belasan tahun lamanya kita mengumpat di gedungnya pembesar negeri,"
Kata pula Liong Leng Kiauw.
"Buat apa? Sekarang kita sudah mempunyai dasar yang kuat, dan di sebelahnya itu, sesuai sama rencanaku, kita sudah dapat menyambut guci emas dengan selamat. Mulai dari sekarang, Hok Tayswee akan lebih perlu sama tenaga kita. Andaikata sampai timbul badai, aku rasa kita masih dapat lewati dengan selamat. Kau takut apa?"
"Aku harap saja begitu,"
Kata sang soetee dengan paras lesu.
"Aku perintah kau adakan hubungan dengan berbagai Touwsoe, apa jalannya urusan cukup licin?"
Tanya Leng Kiauw.
"Boleh juga,"
Sahutnya.
"Dalam gedung Tayswee ada aku. Kali ini kita harus bertindak,"
Kata lagi Leng Kiauw.
"Dalam gedung Tayswee besok bakal diadakan pertemuan Tahun Baru, sembari memberi hadiah kepada perwira dan serdadu yang berjasa,"
Kata Gan Lok.
"Soeheng, baik kau pergi tidur."
"Dan kau?"
Tanya Leng Kiauw.
"Dalam pertemuan besok, soeheng pegang peranan terutama, sedang aku cuma ambil peranan pembantu, sehingga datang terlambat masih tidak apa,"
Kata sang soetee.
"Aku masih mau pergi meronda."
Leng Kiauw tertawa dan berkata.
"Kau memang terlalu hati-hati. Apa sekiranya masih ada orang yang berani datang disini?"
"Apa soeheng lupa kejadian bulan yang lalu?"
Gan Lok balas menanya.
"Dalam dunia ada berapa Pengtjoan Thianlie?"
Kata Leng Kiauw.
"Selainnya itu, Pengtjoan Thianlie pun tidak mengandung maksud jahat."
"Biarpun begitu, aku rasa lebih hati-hati ada lebih baik,"
Kata Gan Lok yang lantas berlalu sesudah ucapkan selamat tidur.
Sesudah mendengar pembicaraan antara kedua saudara seperguruan itu, hatinya Tong Keng Thian jadi semakin bimbang.
Pekerjaan apakah yang mau dilakukan oleh Liong Leng Kiauw?
Siapa sebenarnya dia?
Selagi hatinya bersangsi, mendadak tuan rumah menggerendeng seorang diri.
"Balik bumi, gulung langit adalah pekerjaanku. Ha, ha! Dengan sampainya guci emas, tibalah temponya buat memperlihatkan kesaktianku!"
Keng Thian terkesiap.
"Liong Loosam benar temberang!"
Katanya di dalam hati.
"Apa ia mau berontak? Tapi, di tempat ini dan dalam tempo begini, manalah bisa berontak?"
Keng Thian sangsi sekali, ia tak dapat ambil putusan, apakah baik loncat turun buat menemui orang yang luar biasa itu.
Mendadak, di sebelah kejauhan terdengar suara teriakannya Gan Lok, yang seperti juga kena dipukul orang.
Liong Leng Kiauw loncat dan selagi mau singkap tirai, sedang suara teriakan masih berkumandang di dalam telinga, tiba-tiba kedengaran suara tertawa menyeramkan.
Tertawa itu, yang mula-mula terdengar di tempat agak jauh, tahu-tahu sudah berada di depan rumah, dan dari sini dapat dilihat, bahwa gerakannya orang yang tertawa sungguh luar biasa cepat, sehingga Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian sendiri merasa sangat terkejut.
Walaupun ilmu silatnya Gan Lok masih kalah setingkat dari Liong Leng Kiauw, akan tetapi ia sudah terhitung seorang ahli kelas satu.
Bahwa dalam sekejap saja, ia sudah dapat dirobohkan, merupakan suatu petunjuk, bahwa ia sudah bertemu dengan musuh yang bukan main liehaynya.
Saat itu, dalam tangannya, Keng Thian cekal dua batang Thiansan Sinbong, sedang Pengtjoan Thianlie genggam dua butir Pengpok Sintan, siap sedia buat menimpuk sembarang waktu.
Keng Thian kedipi matanya, supaya si nona suka bersabar buat sementara waktu.
Begitu tiba, orang itu lantas menerobos masuk dan berhadapan dengan Leng Kiauw yang sedang mau singkap tirai.
Beberapa sinar perak kelihatan menyambar dan orang itu berseru.
"Sungguh indah gerakan Patpie Lo Tjia Tjopo (Lo Tjia yang mempunyai delapan tangan menangkap mustika). Apakah gurumu Tong Loodjie dari Soetjoan?"
Di bawahnya sinar rembulan yang remang-remang, orang itu kelihatan berbadan tinggi kurus, mukanya dekok, kedua matanya berkilat seperti api, sedang rambutnya awut-awutan, sehingga rupanya jadi menakuti sekali.
Tong Keng Thian heran.
Senjata rahasia yang dilepaskan oleh tetamu malam itu, adalah paku Samleng Touwkoet teng yang selalu digunakan buat timpuk jalanan darah musuh.
Tapi hal ini tidak mengherankan.
Apa yang mengherankan adalah cara menyambut senjata rahasia yang diperlihatkan oleh Liong Leng Kiauw, yang dengan sekali bergerak, sudah dapat tangkap enam batang paku tersebut.
Itulah ada gerakan istimewa dari keluarga Tong di Soetjoan, yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia yang kenamaan.
Keng Thian pernah dengar penuturan ayahnya, bahwa dalam keluarga Tong terdapat seorang tertua bernama Tong Kim Hong, yang, sebagai putera kedua, jadi dikenal sebagai Longsin Tong Loodjie.
Dahulu, dengan gendewa dan peluru, nama Tong Loodjie pernah menggetarkan seluruh dunia Kangouw.
"Tong Loodjie"
Yang disebutkan oleh tetamu malam itu, sudah tentu Tong Kim Hong adanya.
Akan tetapi, jika masih hidup, waktu ini Tong Kim Hong sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun.
Apakah bisa jadi, Leng Kiauw muridnya orang tua itu?
Liong Leng Kiauw rangkap kedua tangannya dan membungkuk, seraya menyahut secara hormat sekali.
"Benar. Ia adalah guruku. Apakah aku boleh tanya, ada urusan apa Lootjianpwee datang kesini dan siapa adanya Lootjianpwee?"
Orang itu tertawa seram dan berkata.
"Sepuluh tahun kau berada di luar Tiongkok. Apakah masih belum tahu, siapa adanya aku?"
Ia angkat kedua tangannya yang digoyang beberapa kali di depan matanya Liong Sam.
Kedua telapak tangan itu berwarna merah bagaikan darah, seperti juga tidak berkulit lagi, dan di bawah sinar bulan, tangan itu kelihatan terang sekali.
Bukan main terkejutnya Keng Thian.
"Ah, kalau begitu Hiatsintjoe Tjianpwee yang datang!"
Demikian terdengar suaranya Leng Kiauw.
"Harap sudi maafkan ketololan boanpwee (orang dari tingkatan lebih rendah) yang sudah tidak menyambut dari tempat jauh."
Hiatsintjoe adalah satu memedi besar yang lama hidup mengumpat di daerah perbatasan Tibet.
Ilmu yang dipelajari olehnya ada sangat aneh.
Ia keset kulit kedua kaki tangannya yang kemudian direndam didalam cair dari macam-macam rumput beracun, sampai akhirnya kaki tangannya berwarna merah darah.
Siapa saja yang kena dilanggar kaki tangan beracun itu, jangan harap bisa hidup terus.
Jago-jago Kangouw pada umumnya sangat segani ia dan kasih julukan Hiatsintjoe (Si Malaikat Darah) kepadanya.
Namanya yang sebenarnya tidak ada orang yang mengetahui.
Pada ketika Tong Siauw Lan (ayahnya Tong Keng Thian) mulai munculkan diri dalam kalangan Kangouw, Hiatsintjoe sudah malang melintang di daerah Tiongkok Utara barat, tapi kemudian, dengan mendadak, orang tak pernah dengar apa-apa lagi tentang dirinya.
Sepanjang warta, ia sembunyi sesudah kena dihajar oleh Bu Kheng Yao, salah seorang pendekar wanita dari Thiansan Tjitkiam, akan tetapi, cara bagaimana dia dihajar, tak ada seorang yang mengetahui terang.
Sesudah Tong Siauw Lan undurkan diri dari pergaulan umum dan hidup sembunyi di Thiansan, selama beberapa belas tahun beberapa antara tujuh pendekar pedang itu meninggal dunia dengan beruntun, antaranya Liehiap Ie Lan Tjoe dan Bu Kheng Yao sendiri.
Sesudah itu, Hiatsintjoe barulah kelihatan muncul kembali di dunia Kangouw.
Satu waktu, ia pernah tantang Tong Siauw Lan buat adu silat, akan tetapi Tong Tayhiap sungkan ladeni padanya, sehingga ia pun tak dapat berbuat suatu apa.
Siapa nyana, malam itu puteranya Tong Tayhiap dapat ketemui ia di rumahnya Liong Leng Kiauw.
Hiatsintjoe tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara angkuh.
"Sesudah mengetahui siapa adanya aku, kau sekarang harus turut segala perintahku. Pekerjaan apa yang kau lakukan selama belasan tahun di Tibet, kau mesti tuturkan secara terus terang."
"Bilang belas tahun aku bekerja di bawah perintahnya Hok Tayswee,"
Sahut Leng Kiauw dengan suara sabar.
"Segala pekerjaan yang dilakukan olehku, semuanya diketahui oleh Hok Tayswee. Jika Lootjianpwee tidak percaya, pergilah tanyakan sendiri kepada Hok Tayswee."
Hiatsintjoe tertawa dingin seraya berkata.
"Apa kau mau takut-takuti aku dengan namanya Hok Kong An? Kau bisa kelabui Hok Kong An, tapi tak dapat abui Thiantjoe (Anak Langit, yaitu kaizar). Apakah kau rasa aku tak tahu, bahwa kau sembunyi disini dengan gunakan nama samaran?"
Leng Kiauw terkejut, akan tetapi ia masih dapat pertahankan ketenangannya dan menyahut dengan suara tetap.
"Aku sungguh tak mengerti maksudnya Lootjianpwee. Aku sama sekali tidak melanggar undang-undang negeri. Apa perlunya menggunakan nama samaran?"
Dalam penyelidikannya, Hiatsintjoe mengetahui, bahwa Tong Kim Hong sudah meninggal dunia pada beberapa belas tahun berselang dan bahwa Liong Leng Kiauw adalah muridnya jago silat itu.
Akan tetapi, ia masih belum dapat menyelidiki asal usulnya Liong Leng Kiauw yang sebenarnya.
Mendengar perkataan Liong Sam yang membikin ia jadi tidak berdaya, hawa amarahnya mendadak naik dan ia tidak ingat lagi pesan Tjongkoan istana buat bertindak secara hati-hati dalam penyelidikannya.
"Hm!"
Katanya dengan suara di hidung.
"Pandai benar kau goyang lidah buat cuci bersih dirimu! Baiklah, sekarang kau ikut saja padaku. Apa kau berdosa atau tidak, nanti ada orang yang memutuskannya."
"Kalau begitu, Lootjianpwee harus minta permisi dahulu dari Hok Tayswee,"
Kata Leng Kiauw. Hiatsintjoe lantas saja jadi gusar sekali.
"Kau mau gunakan Hok Kong An sebagai tameng pelindung?"
Ia membentak.
"Belum tentu Hok Kong An bisa lindungi dirimu! Sekarang pendek saja. Kau mau ikut atau tidak?"
"Boanpwee bukannya mau melawan perintah Lootjianpwee,"
Sahut Leng Kiauw.
"Cuma saja berhubung dengan tugasku, aku tidak berani sembarangan berlalu dari sini."
"Segala pangkat yang tak ada artinya! Sembarang waktu bisa dicopot!"
Membentak Hiatsintjoe.
"Walaupun dicopot, tapi toh harus ada surat pemecatan resmi atau atas perintahnya Tayswee,"
Kata Leng Kiauw lagi.
"Menurut undang-undang kerajaan Tjeng, segala pembesar negeri, tak perduli pangkat tinggi atau rendah, dilarang sembarangan meninggalkan tugasnya, jika tidak ada perintah dari pihak atasannya. Dan justru oleh karena pangkatku kecil, maka aku terlebih tidak berani sembarangan berlalu menurut suka sendiri."
Darahnya Hiatsintjoe jadi naik tinggi.
"Hm!"
Ia membentak.
"Kau rupanya andali betul Hok Tayswee-mu! Ini Hok Tayswee, itu Hok Tayswee! Aku tak perduli Hok Tayswee-mu atau undangundangmu. Aku kasih tahu terang-terangan. Jika malam ini kau tidak ikut aku, kau sendirilah yang sengaja mencari susah!"
"Aku lebih suka terima hukuman Lootjianpwee daripada melanggar peraturan Kaizar,"
Sahut Leng Kiauw dengan suara tetap.
"Peraturan Kaizar!"
Hiatsintjoe berkata dengan suara tawar.
"Akulah peraturan Kaizar!"
Tibatiba ia lonjorkan tangannya yang sebesar kipas dan coba cengkeram kepalanya Leng Kiauw.
Leng Kiauw yang sudah siap sedia lantas kebaskan tangan bajunya yang gulung dan sampok tangannya Hiatsintjoe.
"Bagus!"
Berkata Hiatsintjoe sembari tertawa dingin.
"Sekarang kau berani lawan padaku dengan segala ilmu silat kucing pincang dari Tong Loodjie!"
Leng Kiauw sudah cepat, tapi tangannya Hiatsintjoe lebih cepat lagi dan di lain saat, tangannya sudah menyambar ke arah dadanya Leng Kiauw.
Dengan sebet Liong Sam loncat ke pinggir lantaran ia tidak berani bentur tangan yang sangat beracun itu.
Dengan cepat enam tujuh jurus sudah lewat dan buat keheranannya Pengtjoan Thianlie serta Tong Keng Thian, mereka sudah dengar suara napas sengal-sengal dari Liong Leng Kiauw.
Menurut taksirannya Pengtjoan Thianlie, meskipun Leng Kiauw kalah dari musuhnya, akan tetapi ia sedikitnya bisa melayani sampai kira-kira lima puluh jurus.
Maka itu, ia jadi sangat heran ketika dengar suara napasnya Liong Sam, sedang pertempuran baru saja berjalan beberapa jurus.
Dalam keheranannya itu, tanpa merasa si nona keluarkan suara "ih"
Yang sangat perlahan.
"Hm!"
Berkata Hiatsintjoe sembari tertawa seram.
"Kalau begitu kau masih mempunyai kawan? Bagus! Suruh dia turun sekalian!"
Sedang mulutnya bicara, tangannya dikasih kerja lebih keras dan dengan satu suara "breet!", tangan bajunya Liong Sam terbeset!
Leng Kiauw terkesiap dan terus mundur dengan didesak oleh lawannya.
Pada saat itulah, dengan diiringi tertawa nyaring, badannya Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian melayang turun ke bawah.
Melihat datangnya penolong yang tidak diduga-duga itu, Liong Sam jadi bengong seperti orang terkesima.
Hiatsintjoe juga tidak kurang kagetnya.
Ia terutama merasa kaget melihat kecantikannya si nona yang seakan-akan bidadari dari kahyangan.
Hampir ia tak percaya, bahwa dalam dunia terdapat wanita yang sedemikian cantik.
Ia kucek-kucek kedua matanya dan kemudian mengawasi Pengtjoan Thianlie dengan tidak berkesip.
"Lihat apa? Biar aku hantam dahulu mata anjingmu!"
Membentak Pengtjoan Thianlie sembari mementil dengan dua jerijinya.
Hiatsintjoe benar liehay.
Meskipun diserang secara mendadak selagi bengong, ia masih dapat selamatkan dirinya.
Dengan gerakan Honghong tiamtauw (Burung hong manggut), ia kasih lewat kedua Pengpok Sintan yang kemudian ditangkap dengan tangan kirinya.
Ia cuma keluarkan suara "ih"
Ketika kedua peluru meledak dalam telapakan tangannya dan air es mengetel keluar dari selasela jerijinya.
Di lain saat, tangan kanannya sudah memukul.
Ia memukul dari jarak yang jauhnya kira-kira satu tombak, tapi toh tenaganya menyambar hebat ke arah dadanya si nona.
Bukan main kagetnya Pengtjoan Thianlie.
Pengpok Sintan yang barusan dilepaskan olehnya, tidak akan dapat disambut oleh orang-orang yang mempunyai kepandaian seperti Liong Leng Kiauw atau Tong Keng Thian.
Tapi Hiatsintjoe sudah dapat sambuti itu secara tenang sekali.
Di sebelahnya itu, apa yang membikin si nona menjadi kaget adalah hawa sangat panas yang menyertai angin pukulannya Hiatsintjoe, sehingga ia merasa napasnya agak sesak.
Buru-buru ia kerahkan tenaganya dan kelit pukulan musuh dengan gunakan ilmu entengi badan.
"Pendeta siluman!"
Ia membentak sesudah kelit tiga pukulan.
"Sekarang coba rasakan pedangku!"
Hiatsintjoe juga kagum melihat kegesitan si nona yang dengan mudah sudah dapat loloskan diri dari tiga pukulannya yang sangat hebat.
Di lain saat, berbareng dengan berkredepnya satu sinar terang, Pengpok Hankong kiam sudah menyambar ke arah mukanya!
Hiatsintjoe menyampok dengan kedua tangannya Angin panas dan hawa dingin lantas saja kebentrok!
Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur kurang lebih dua puluh jurus tanpa ada yang keteter.
Sedari jatuh dalam tangannya Bu Kheng Yao pada tiga puluh tahun berselang, barulah sekarang Hiatsintjoe bertemu dengan lawan berat.
Oleh karena begitu, semangatnya jadi terbangun dan ia tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Bagus!"
Ia berseru.
"Aku justru sedang kepanasan, terima kasih kau tolong kipasi!"
Pengtjoan Thianlie jadi meluap dan dengan mata mendelik, ia putar Hankong kiam bagaikan titiran dan menyerang dengan Tokboen Kiamhoat yang merangkap ilmu pedang Tatmo, ilmu pedang Eropa Barat serta ilmu pedang Arab menjadi satu.
Diserang secara begitu, Hiatsintjoe tidak berani main-main lagi dan lantas pusatkan perhatiannya buat sambut serangannya si nona yang menyambar-nyambar seperti hujan dan angin.
Sesudah bertempur lagi beberapa saat, Hiatsintjoe berkata dengan suara kagum.
"Bagus! Kau bisa lawan aku lebih dari lima puluh jurus, di antara tingkatan orang-orang muda, boleh dibilang kaulah yang nomor satu. Siapa kau? Siapa gurumu?"
Pengtjoan Thianlie tertawa tawar dan berkata.
"Bukan gampang kau mempunyai ilmu silat seperti ini. Maka itu, lebih baik kau berlalu dan jangan rewel disini."
Mulutnya bicara, pedangnya terus mencecer secara hebat.
"Bocah tak kenal mampus!"
Membentak Hiatsintjoe.
"Kau jadi banyak tingkah dan tak tahu Tjouwsoeya sengaja ampuni jiwamu!"
Sehabis membentak begitu, ia empos semangatnya, sehingga pukulannya jadi bertambah berat dan anginnya jadi semakin panas.
Buat sementara Pengtjoan Thianlie masih dapat melayani, tapi keringat sudah mulai mengucur dari badannya Selagi Pengtjoan Thianlie bertempur hebat melawan Hiatsintjoe, Keng Thian tarik tangannya Leng Kiauw dan berkata dengan suara perlahan.
"Liong Sam Sianseng. Siapa sebenarnya kau?"
"Apakah kau juga tidak percaya padaku?"
Tanya Leng Kiauw sembari mesem.
"Kasihkan batu giok itu kepada ayahmu dan ia tentu akan segera mengetahui asal-usulku."
"Bukan, bukan tidak percaya padamu,"
Jawab Keng Thian.
"Aku bukannya mau selidiki asalusulmu. Aku hanya mau memberitahu, bahwa kerajaan Tjeng sangat perhatikan gerak-gerikmu dan kaki tangannya yang dikirim bukan cuma Hiatsintjoe seorang. Jika benar kau mempunyai niatan apa-apa yang dianggap 'berdosa besar' oleh kaizar, sekarang kau masih mempunyai kesempatan buat melarikan diri. Kami berdua akan tahan Hiatsintjoe dan kawan-kawannya."
Liong Sam tidak menyahut, kedua biji matanya memain seperti orang yang sedang berpikir keras. Mendadak ia cekal tangannya Keng Thian keras-keras dan berkata dengan suara terharu.
"Saudara Tong, terima kasih banyak-banyak. Aku tak dapat melarikan diri. Kalian boleh tak usah perdulikan aku."
Mendengar jawaban itu, hatinya Keng Thian jadi semakin bimbang dan benar-benar tidak dapat meraba siapa adanya Liong Sam.
Jika mau anggap ia sebagai salah seorang pendekar dari kalangan Rimba Persilatan, jago-jago dari Utara barat tak ada barang satu yang kenal padanya Jika mau dikatakan ia sebagai seorang yang membela Hok Kong An secara mati-matian, secara diam-diam ia perintah soetee-nya mengadakan hubungan dengan berbagai Touwsoe.
Jika mau mencap ia sebagai kaki tangannya negara asing buat membikin kacau Tibet, ia toh sudah melindungi guci emas secara begitu sungguh-sungguh.
Jika mau dibilang ia sebagai seorang yang mempunyai angan-angan besar dan hendak gunakan Tibet sebagai pangkalan buat melawan kerajaan Tjeng, temponya justru tidak sesuai untuk melakukan pekerjaan yang besar itu.
Demikianlah semakin memikir Keng Thian jadi semakin tidak mengerti dan tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap orang yang gerak-geriknya luar biasa itu.
Selagi Keng Thian pikiri perkataan yang cocok buat coba menanyakan lebih jauh, satu perobahan terjadi dalam gelanggang pertempuran.
Sekarang, cepat bagaikan kilat, mereka berkelahi secara renggang dan main udak-udakan, sehingga, dengan berkelebat-kelebatnya bayangan mereka, dalam gelanggang seperti juga sedang bertempur puluhan orang.
Meskipun ilmu pedangnya si nona luar biasa tinggi, akan tetapi, dengan mengandalkan latihan puluhan tahun dan kedua tangannya yang beracun, dalam suatu pertempuran yang lama, perlahan-lahan Hiatsintjoe dapat mendesak lawannya "Jika kelanggar tangannya memedi itu, orang bisa lantas binasa,"
Kata Liong Sam.
"Kalian lebih baik menyingkir dan tak usah menempuh bahaya guna kepentinganku. Aku sendiri mempunyai daya buat menghadapi ia."
Keng Thian tak menyahut sebab seluruh perhatiannya sedang dipusatkan ke arah gelanggang pertempuran.
Ia lihat kedua matanya si nona yang mengandung sinar menegur, sedang awasi ia.
Ia tahu adatnya Pengtjoan Thianlie yang selamanya sungkan menyingkir walaupun keadaannya terdesak, maka itu, sembari berpaling kepada Liong Sam, ia berkata sembari mesem.
"Aku akan segera berlalu, sesudah mengusir Hiatsintjoe!"
Sehabis berkata begitu, ia enjot badannya dan menerjang ke dalam gelanggang, sembari ayun satu tangannya.
Selagi enak desak lawannya buat coba rebut Pengpok Hankong kiam, Hiatsintjoe mendadak lihat menyambarnya satu sinar terang, yang disertai dengan sambaran angin yang sangat hebat.
Ia sudah angkat tangannya buat menyambut, tapi buru-buru urungkan niatannya sebab merasa telapakan tangannya bakal ditembuskan oleh senjata rahasia itu yang menyambar sedemikian hebat!
Tapi dalam bahaya, Hiatsintjoe tak jadi bingung.
Ia pentil pedangnya Pengtjoan Thianlie yang lantas jadi miring, dan Thiansan Sinbong lewat di tempat kosong antara mereka dan amblas di satu tiang batu!
Pentilan Hiatsintjoe merupakan satu gerakan yang sangat sempurna dan indah luar biasa.
Gerakan pedangnya Pengtjoan Thianlie cepat seperti angin, tetapi ia masih dapat mementil secara tepat sekali.
Jika kurang tepat sedikit saja, jerijinya bisa terpapas kutung.
Apa yang lebih luar biasa adalah.
Ujung Pengpok Hankong kiam yang miring tepat sekali mengenakan Thiansan Sinbong yang sedang menyambar!
Keng Thian terkesiap dan berkata dalam hatinya.
"Ilmunya memedi ini sungguh tinggi!"
Tapi Hiatsintjoe juga tidak kurang kagetnya.
Baru saja ia anggap si nona adalah jago nomor satu di antara orang-orang tingkatan muda.
Tidak dinyana, tenaga dalamnya si pemuda malahan ada lebih tinggi daripada Pengtjoan Thianlie.
Begitu lihat Sinbong tidak mengenai sasarannya, Keng Thian segera cabut Yoeliong kiam, pedang mustika dari gunung Thiansan, yang dibuat oleh Hoei Beng Siansu dengan mengambil sarinya lima macam logam utama.
Pedang itu keluar dari sarungnya disertai dengan sinar yang menyilaukan mata dan terus menyambar bagaikan seekor naga yang memain di tengah udara.
Tangannya Hiatsintjoe yang sedang memukul hampir-hampir saja kena digores ujung Yoeliong kiam.
Buru-buru ia putar badannya buat sampok Pengpok Hankong kiam, akan kemudian menggunakan kedua tangannya buat dorong pedangnya Keng Thian yang sudah menyambar lagi.
Kesiuran angin yang sangat panas menyambar keras, sehingga Keng Thian terpaksa mundur beberapa tindak.
"Sungguh berbahaya!"
Menggercndeng Hiatsintjoe sembari menyerang pula dan kedua kakinya menginjak kedudukan Ngoheng Patkwa.
Sekarang Tong Keng Thian mendapat tahu, kenapa belum sepuluh jurus, Liong Leng Kiauvv sudah sengal-sengal napasnya.
Ia tentu merasa tidak tahan dengan hawa yang sangat panas itu.
Lweekang Thiansan pay adalah ilmu tulen dari satu cabang persilatan yang sejati.
Walaupun latihannya Keng Thian masih belum sempurna betul, akan tetapi berkat ajaran yang teliti dari kedua orang tuanya, begitu lekas ia pusatkan seluruh semangatnya, segera juga ia dapat melawan hawa panas yang luar biasa itu.
Dengan kerja sama antara Hankong kiam dan Yoeliong kiam, serangan-serangan kedua orang muda itu jadi semakin berat bagi Hiatsintjoe.
Jika satu lawan satu, memang juga Hiatsintjoe menang setingkat.
Tapi dengan dikerubuti dua orang, ia tidak gampang-gampang bisa berada di atas angin lagi.
Semakin lama, pertempuran jadi semakin seru.
Pengtjoan Thianhc yang tidak takuti hawa panas, terus mendesak dengan pedangnya yang menyambar-nyambar bagaikan rantai, sehingga mau tidak mau, Hiatsintjoe mesti berkelahi sembari mundur.
Sesudah lewat beberapa jurus, Hiatsintjoe sudah mundur sampai di pinggir tembok dan tak dapat mundur lebih jauh lagi.
Dalam keadaan yang semakin berbahaya, mendadak di luar terdengar satu suara aneh, disusul dengan munculnya dua orang dalam gelanggang pertempuran.
Mereka itu bukan lain dari In Leng Tjoe bersama isterinya!
Semangatnya Hiatsintjoe terbangun dan tertawa terbahak-bahak.
Akan tetapi, In Leng Tjoe suami isteri tidak lantas menyerbu, mereka berhenti di luar gelanggang dan berdiri nonton.
"Kalau kalian takut dapat urusan, lebih baik jangan datang disini,"
Kata Hiatsintjoe dengan perasaan mendongkol.
"Toako,"
Kata In Leng Tjoe.
"Orang yang sedang berkelahi dengan kau adalah puteranya Tong Siauw Lan Tayhiap."
Hiatsintjoe berobah parasnya. Mendadak ia tertawa besar dan berkata.
"Kalian takut padanya, tapi aku tak takut. Sungguh percuma kau jadi pemimpin dari satu partai, belum apa-apa sudah kena dibikin ketakutan oleh namanya Tong Siauw Lan. Baiklah! Jika kau tak berani langgar orang Thiansan pay, biarlah aku yang layani."
Dengan berkata begitu, Hiatsintjoe bermaksud supaya In Leng Tjoe berdua pergi layani Pengtjoan Thianlie.
In Leng Tjoe jengah kena disikat begitu, tapi itulah justru ada keinginannya.
Ia tertawa tengal dan berkata buat tutup malu.
"Kami bukan takut, cuma sungkan berpandangan seperti orang dari tingkatan muda."
"Segala orang muda yang kurang ajar, kita pantas mengajar adat,"
Kata Hiatsintjoe.
"Baiklah, hari ini lebih dahulu aku bekuk anaknya Tong Siauw Lan dan kirim dia pulang ke Thiansan, dengan kasih tegoran kepada ayahnya yang tak mampu mengajar anak."
In Leng Tjoe suami isteri tidak berkata apa-apa lagi dan lantas terjang Pengtjoan Thianlie sesudah hunus senjatanya.
Pertempuran lantas berobah.
Kalau tadi Hiatsintjoe cuma bisa membela diri, sekarang ia lantas saja buka serangan-serangan hebat terhadap Keng Thian.
Sembari tertawa dingin, Keng Thian lantas robah cara bersilatnya.
Yoeliong kiam diputar seperti titiran dan badannya seperti juga dikurung dengan sinar pedang yang putih.
Itulah ilmu pedang Thaysiebie yang paling liehay dalam Thiansan Kiamhoat, yang istimewa digunakan jika bertemu dengan lawan yang lebih tinggi ilmunya.
Pembelaan Thaysiebie yang sangat rapat bagaikan tembok tembaga, sukar dapat ditembuskan oleh orang yang punya kepandaian bagaimana tinggi pun.
Tapi ilmu Thaysiebie bukan cuma buat membela diri.
Dalam gerakannya yang laksana kilat, begitu ada tempat kosong, ilmu itu juga dapat digunakan buat menyerang musuh.
Serangannya Hiatsintjoe semakin lama jadi semakin berat, tapi sesudah lewat kurang lebih tiga puluh jurus, Keng Thian masih tetap tidak bergeming.
Cuma saja, walaupun tangannya Hiatsintjoe tidak dapat masuk ke dalam tembok pedang, akan tetapi hawanya yang panas terus menyambarnyambar, sehingga, meskipun Keng Thian kerahkan seantero tenaga dalamnya, perlahan-lahan ia mulai merasa tak tahan.
Kalau tadi ia dapat pertahankan diri selama ratusan jurus adalah berkat hawa dingin yang keluar dari Pengpok Hankong kiam.
Di lain pihak, Pengtjoan Thianlie pun sudah mulai jatuh di bawah angin, cuma keadaannya masih mendingan sedikit daripada Tong Keng Thian.
San Tjeng Nio yang sangat mendongkol lantaran lihat kecantikannya si nona, terus menerus kirim serangan membinasakan dengan ikatan pinggangnya.
Kedua Poankoan pilnya In Leng Tjoe yang terutama digunakan buat totok tiga puluh enam jalanan darah, juga terus menyambar-nyambar seperti rantai, sehingga si nona jadi sangat repot.
Dengan gunakan seantero tenaga dan kepandaian, Keng Thian kembali sudah layani musuhnya lebih dari lima puluh jurus.
Matanya sudah merah dan keringat ngucur dari badannya.
Ia melirik dan lihat Liong Leng Kiauw sedang nyender enak-enakan di tembok kamar tulisnya.
Keng Thian mendongkol berbareng heran, sebab ia tidak melarikan diri, tapi juga tidak mau membantu.
Keng Thian juga lihat Pengtjoan Thianlie sudah kena didesak oleh dua musuhnya, sehingga hatinya menjadi bingung.
Dalam pertempuran antara ahli-ahli silat kelas satu, pantangan paling besar adalah perasaan bingung atau gusar.
Demikianlah, begitu lekas hatinya bingung, gerakan pedangnya Keng Thian menjadi kalut dan pada garisan pembelaannya segera terbuka beberapa kekosongan.
Hiatsintjoe tentu saja sungkan sia-siakan kesempatan yang baik.
Sambil membentak keras, ia kirim satu pukulan hebat di antara kekosongan itu.
Akan tetapi, mendadak saja sinar pedang kelihatan tergetar dan bagaikan kembang api, dari atas menyambar ke bawah.
Hiatsintjoe jadi kekunangan, di delapan penjuru ia seperti lihat bayangan orang dan tak tahu musuhnya berada dimana.
la terkesiap, tak berani teruskan pukulannya dan tarik pulang tangannya buat menjaga diri.
Pada saat itulah, dengan suara "srr, srr,"
Dua Thiansan Sinbong menyambar ke arah suami isteri In Leng Tjoe.
Mereka itu, yang tahu liehaynya senjata rahasia tersebut, buru-buru loncat minggir, dan dengan gunakan kesempatan tersebut, Keng Thian segera loncat dan persatukan dirinya dengan Pengtjoan Thianlie.
Pukulan yang barusan dikeluarkan oleh Keng Thian cuma digunakan jika sangat terpaksa, lantaran banyak juga bahayanya.
Namanya pukulan itu adalah Tiansia sengtjie (Kilat menyambar, bintang mengubar), yaitu satu pukulan dari ilmu pedang Toeihong (Memburu angin) dari Thiansan Kiamhoat.
Pukulan tersebut terdiri dari beberapa puluh gerakan gertakan, dalam artian, ujung pedang kelihatan bergerak, tapi bukannya benar-benar menyerang masuk.
Oleh karena bergeraknya luar biasa cepat, maka di matanya musuh, seolah-olah puluhan pedang menyambar dirinya dari berbagai jurusan.
Pukulan ini cuma dapat menyilaukan mata musuh dan bukan benarbenar dapat melukakan orang.
Jika sang lawan mengetahui siasat tersebut dan terus mengirim serangan, pihak yang menggunakannya bisa jadi celaka.
Sebab keliwat terpaksa, Keng Thian mendadak tukar ilmu pedang Thaysiebie dengan ilmu pedang Toeihong, dan benar-benar saja, lantaran tak mengenal Thiansan Kiamhoat, Hiatsintjoe sudah kena dikelabui.
Waktu ia sadar, Keng Thian sudah berdampingan dengan Pengtjoan Thianlie dan mengawasi padanya sembari mesemmesem.
Hiatsintjoe jadi seperti orang kalap.
Sembari berteriak-teriak, ia menerjang pula, diikuti oleh suami isteri In Leng Tjoe yang kembali mau coba kepung Pengtjoan Thianlie, tapi sudah keburu dicegat oleh Tong Keng Thian.
Di lain pihak, baru saja badannya Hiatsintjoe bergerak, sembari mesem tawar Pengtjoan Thianlie lepaskan enam butir Pengpok Sintan dengan berbareng.
Hiatsintjoe menyampok dengan kedua tangannya dan enam Sintan itu meledak di atas kepalanya dengan berbareng.
Hawa dingin lantas menyambar ke empat penjuru dan badannya Hiatsintjoe seperti juga tertutup uap warna abu-abu yang luar biasa dinginnya.
Biar bagaimana liehay, Hiatsintjoe ternyata masih tidak cukup kuat buat tahan perledakan enam butir Sintan itu dan mau tidak mau badannya jadi bergidik.
Biarpun tidak sampai mendapat luka di dalam, tapi ia toh rasakan napasnya agak sesak.
Satu perobahan kembali terjadi dalam pertempuran.
Biarpun tidak berada di atas angin, sekarang Tong Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie tidak sampai jadi keteter.
Hal ini disebabkan lantaran adanya Pengpok Hankong kiam yang dapat melawan hawa panas dari pukulannya Hiatsintjoe dan juga lantaran tenaga dalamnya Hiatsintjoe sudah mendapat sedikit pukulan, akibat serangan enam butir Pengpok Sintan.
CATATAN 1) Amban, semacam duta sipil, pertama dikirim kc Tibi-i oleh Kaizar Yong Tjeng dalam tahun 1726 buat damaikan golom-an golongan yang bercekcokan.
2) Menurut sejarah, orang Gurkha menyerang Tibet dalam tahun 1791.
Pada tahun berikutnya, Kaizar Kian Liong kirim dua panglimanya yang paling pandai, yaitu Fu Kang An (Hok Kong Au) dan Hai Lan Tsa, dengan 10.000 tentara lebih.
Mereka usir pasukan Gurkha sampai di dekat Katmandu (ibukota Nepal) dan kemudian mengadakan perdamaian dengan syarat-syarat enteng.
3) Khata, atau selendang sutera, adalah barang penting dalam pergaulan di Tibet.
Semuanya ada tiga macam khata.
Pertama dari sutera tulen, panjang 12 kaki, lebar 3 kaki, tersulam, dipersembahkan hanya kepada orang-orang yang berkedudukan paling tinggi, seperti Dalai Lama, Panchen Lama dsb.
Yang kedua, juga dari sutera, panjangnya 9 kaki, lebar 3 kaki, digunakan sebagai hadiah di kalangan atas.
Yang ketiga, terbuat dari campuran sutera dan linen, bentuknya banyak lebih kecil, digunakan di kalangan bawahan.
Cara mempersembahkannya juga tiga cara.
Kepada orang atasan, kedua tangan diangkat sampai ke jidat.
Kepada pantaran, diangsurkan secara biasa dan yang memberi juga menerima khata dari yang diberikan.
Kepada orang bawahan, khata itu diselendangkan di belakang leher.
4) Cerita tentang Kam Hong Tie, Liauw In dan Lu Soe Nio dapat diikuti dalam cerita Kangouw Sam Liehiap (Tiga Dara Pendekar) 5) Louw Tiong Lian adalah seorang ternama dari negara Tjee, pada jaman Tjiankok.
Ia terkenal sebagai seorang yang suka menolong orang dan damaikan segala percekcokan.
6) Kisah cinta To It Hang dan Pekhoat Molie dan kisah bunga Yoetam Sianhoa dapat diikuti dalam cerita Giok Lo Sat, Pek Hoat Mo Lie, Tjau Guan Enghiong dan Thian San Tjit Kiam.
7) Kapan seorang Dalai Lama meninggal dunia, rohnya lahir kembali (reinkarnasi).
Yang menjadi soal adalah cara bagaimana harus mencari Dalai Lama itu dalam inkarnasinya yang baru.
Banyak jalan digunakan untuk meramalkan, akan tetapi yang lebih dipercaya adalah Naichung (semacam ahli nujum negara) dan visi yang dapat dilihat di Telaga Lhamo Namtso, yang terletak di sebelah selatan timur Lhasa.
Dalam usaha mencari inkarnasi baru dari Dalai Lama, sesudah bersembahyang, seorang pembesar tinggi Tibet lantas bersila di pinggir telaga buat tunggu visi.
Visi yang .muncul bisa berupa simbol keagamaan, roman manusia dan scbagainya, yang belakangan digunakan sebagai petunjuk buat mencari Dalai Lama baru.
Dalam usaha itu sering muncul beberapa calon, sehingga menimbulkan pertentangan.
Buat mengakhiri pertentangan itu, dalam tahun 1792, Kaisar Kian Liong telah memerintahkan penarikan lotre dari sebuah guci emas, yang dihadiahkan oleh kaisar tersebut.
Namanya semua calon ditulis di atas sepotong kertas yang kemudian dimasukkan kedalam guci, yang ditaroh di depan patung Sakya Muni dalam Gereja Pusat.
Sesudah bersembahyang tujuh hari, salah satu Amban ambil satu gulung kertas dari dalam guci tersebut dan calon yang namanya kena diambil dianggap sebagai Dalai Lama 8) Menurut ketahayulan orang Tibet, sesudah meninggal 28 hari, roh yang meninggal pulang dan harus dibikin Hoeihoentjie (sembahyang roh yang pulang).
9) Adu pedang antara Koei Hoa Seng (ayah Pengtjoan Thianlie) dan Tong Siauw Lan (Teng Hiau Lan) dan Phang Eng dapat diikuti dalam cerita Kangouw Sam Liehiap (Tiga Dara Pendekar).
Sedangkan perantauan Koei Hoa Seng ke Tibet dan Nepal dapat diikuti dalam kisah Peng Pok Han Kong Kiam (Pedang Inti Es).
Selagi pertempuran berlangsung dengan hebatnya, di luar mendadak terdengar suara ributribut dan beberapa saat kemudian, berbareng dengan terbukanya pintu samping, serombongan pembesar negeri kelihatan masuk.
Orang yang jalan paling depan memakai bulu burung pada topinya dan mengenakan baju makwa warna kuning, sehingga dapat diketahui, ia itu adalah seorang pembesar sipil dari tingkatan kedua.
Di belakangnya mengikuti tujuh atau delapan pembesar militer, antaranya terdapat Gan Lok, yang meskipun mukanya sangat pucat, masih dapat pertahankan dirinya.
Pembesar sipil tinggi itu adalah orang yang berkuasa pada bahagian hukum dalam kantornya Hok Kong An dan kedudukannya bersamaan dengan hakim dari pengadilan tinggi, namanya Tjong Lok dan masih mempunyai ikatan keluarga dengan kaizar Boan.
Beberapa perwira yang ikut padanya adalah rekan-rekannya Liong Leng Kiauw.
Ternyata, sesudah kena pukulannya Hiatsintjoe, sambil pertahankan diri sekuat tenaga, Gan Lok terus pergi ke kantornya Hok Tayswee buat memberi laporan dan undang mereka datang guna memberi pertolongan.
"Siapa kau? Kenapa bikin ribut disini?"
Membentak Tjong Lok. Sembari mesem, Keng Thian tarik pulang pedangnya dan bersama Pengtjoan Thianlie lantas loncat keluar dari gelanggang pertempuran.
"Siapa adanya kami, aku rasa sudah diketahui oleh orang-orang yang ikut padamu,"
Jawab Keng Thian. Beberapa perwira itu lantas saja kenali mereka dan salah seorang lantas berkata.
"Mereka adalah kedua orang gagah yang telah bantu lindungi guci emas di gunung Tantat san."
Tjong Lok lirik Pengtjoan Thianlie dan lantas tertawa sembari manggut-manggutkan kepalanya.
"Bagus,"
Katanya.
"Kalau begitu kalian adalah orang-orang yang berjasa."
Sehabis berkata begitu, ia awasi Hiatsintjoe dan membentak.
"Nyalimu benar besar! Malammalam berani satroni rumahnya pembesar negeri dan coba lakukan pembunuhan! Kau betul-betul sudah tidak pandang lagi undang-undang kaizar."
"Undang-undang kaizar?"
Hiatsintjoe mengulangi perkataan orang.
"Aku justru datang kemari atas perintah kaizarmu!"
"Andaikata kau seorang Kimtjhee Taydjin (utusan kaizar), kau toh tidak boleh berlaku begitu kurang ajar!"
Berteriak Tjong Lok dengan gusar sekali. Beberapa perwira itu juga naik darahnya dan siap sedia buat lantas turun tangan.
"Orang yang dikirim dari istana, mana bisa begitu biadab,"
Kata satu antaranya.
"Kalau dia benar terima perintahnya kaizar, tak mungkin tidak diketahui oleh Hok Tayswee,"
Sahut yang lain.
Bukan main gusarnya Hiatsintjoe yang lantas saja lemparkan surat perintah yang ia dapat dan Tjongkoan istana.
Melihat surat perintah itu tulen adanya, Tjong Lok jadi terkesiap dan suaranya lantas berobah lunak.
"Tapi, apa maksudnya kalian datang kemari?"
Tanya ia.
"Orang itu sangat mencurigakan,"
Jawab Hiatsintjoe sembari tuding Liong Leng Kiauw.
"Belasan tahun dia malang melintang di Tibet, kenapa kau orang tidak mengetahui, sampai kaizar sendiri yang mesti turun tangan. Kau orang malu atau tidak?"
"Dusta Taydjin,"
Berkata Leng Kiauw dengan suara dingin.
"Mereka bertiga adalah manusiamanusia busuk dalam Rimba Persilatan dan dahulu mempunyai ganjelan pribadi dengan aku. Sekarang, sesudah dapat masuk ke dalam kalangan istana, mereka mau gunakan kedudukannya buat membalas sakit hati pribadi dan palsukan perintah kaizar. Coba Taydjin tanya, apakah mereka mempunyai surat perintah buat menangkap aku?"
Terhadap Liong Leng Kiauw, istana Tjeng sebenarnya cuma bercuriga dan sama sekali belum mengetahui siapa adanya ia dan apa kesalahannya.
Maka itu, Tjongkoan istana cuma menyampaikan perintah rahasia kaizar yang ingin supaya asal-usulnya Liong Sam diselidiki sampai terang dan sama sekali bukannya surat perintah menangkapnya.
Hiatsintjoe terkejut dan lantas menyahut dengan sembarangan.
"Apa perlunya segala surat perintah, sedang yang mau dibekuk cuma seorang yang pangkatnya begitu kecil?"
Sebagai seorang yang ulung dalam kalangan pembesar negeri, Tjong Lok jadi merasa sangat bimbang.
Jika Hiatsintjoe tidak berdusta, ia bisa mendapat dosa besar atas tuduhan melindungi tangkapan kaizar.
Tapi, jika Hiatsintjoe main gila dan ia biarkan saja Liong Leng Kiauw dibekuk, Hok Tayswee tentu akan gusar sekali.
Walaupun Leng Kiauw berpangkat rendah, siapa juga mengetahui, bahwa ia itu adalah tangan kanannya Hok Tayswee yang sangat disayang.
Sesudah berpikir beberapa saat, Tjong Lok segera ambil jalan yang paling selamat.
"Hok Tayswee adalah orang yang sangat berpengaruh dan disayang oleh kaisar,"
Katanya di dalam hati.
"Biarlah dia saja yang memutuskan."
Siasat kelit dan timpakan tanggung jawab ke pundak lain orang adalah semacam modal yang sangat dikenal dalam kalangan pembesar Tjeng. Sesudah memikir begitu, ia lantas berkata.
"Kalian masing-masing mempunyai alasan sendirisendiri, sehingga aku juga merasa sukar buat memutuskannya Akan tetapi, semua urusan di Tibet, menurut perintah Kaizar berada di bawah kekuasaan Hok Tayswee. Jika benar kalian datang disini buat menangkap orang, menurut pantas kalian lebih dahulu harus melaporkan kepada Hok Tayswee. Baiklah, besok pagi semua orang ikut aku pergi menghadap Hok Tayswee dan sekarang aku larang kalian bertempur lagi."
Meskipun Hiatsintjoe beradat angkuh, akan tetapi ia masih indahkan juga pangkatnya Tjong Lok. Maka itu, ia lantas menyetujui dengan berkata.
"Baiklah, aku rasa Hok Tayswee pun tak nanti mau lindungi orang yang mau ditangkap oleh Kaizar."
Tjong Lok berpaling kepada Pengtjoan Thianlie seraya berkata.
"Kedua giesoe (orang gagah) juga aku harap suka datang bersama-sama buat menjadi saksi."
"Siapa mau begitu banyak rewel,"
Sahut si nona. Keng Thian tertawa dan berkata sembari membungkuk.
"Kami berdua adalah rakyat pegunungan yang tidak biasa bertemu dengan pembesar negeri. Maka itu, kami harap Taydjin suka bebaskan kami dari tugas tersebut dan sekarang juga kami ingin pamitan."
Sehabis berkata begitu, ia jejak kedua kakinya dan badannya lantas melesat, diikuti oleh Pengtjoan Thianlie.
Ketika menengok di waktu hinggap di atas tembok, Keng Thian lihat Leng Kiauw manggutkan kepalanya sembari tertawa, dengan sorot mata yang mengandung perasaan berterima kasih.
Hatinya Keng Thian jadi semakin tidak mengerti dan di sepanjang jalan terus putar otaknya.
"Liong Loosam boleh dibilang satu manusia jempolan, cuma kenapa ia tak mau singkirkan diri?"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Aku lihat ia adalah seorang yang bijaksana sekali,"
Sahut Keng Thian.
"Sesudah urusan ini jatuh ke dalam tangannya Hok Kong An, keadaan akan jadi berobah baik."
Mereka omong-omong sembari jalan dan tidak lama kemudian sudah tiba di kakinya Gunung Anggur.
Penerangan Keraton Potala pancarkan sinarnya sampai ke lapangan yang terletak di kaki gunung, dimana Yoe Peng disuruh tunggu majikannya.
Jauh-jauh mereka lihat di kaki gunung terdapat dua bayangan hitam yang sangat berdekatan satu sama lain, seperti sedang bicara dengan suara perlahan.
"Dilihat dari bayangannya, orang itu seperti lelaki,"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
"Kenapa Yoe Peng kelihatan begitu rapat?"
Dengan tindakan perlahan Pengtjoan Thianlie mendekati dan segera juga ia dapat dengar suaranya sang dayang.
"Kongtjoe bilang buat sementara tidak balik dahulu ke keraton es. Katanya, mau pergi ke Soetjoan. Mungkin sekali aku akan diajak dan mulai dari sekarang, kita lebih sukar bertemu muka lagi."
"Jika kau bertemu dengan Chena, aku mohon kau pesan ia pergi ke Sakya buat menemui aku,"
Kata bayangan hitam yang lain.
"Apakah kau cuma pikiri Chena Tjietjie seorang?"
Kata Yoe Peng sembari tertawa. Pengtjoan Thianlie merasa sangat geli dan tanpa merasa ia jadi tertawa.
"Ada orang!"
Kata bayangan hitam itu sembari loncat dan raba gagang pedangnya, tapi Pengtjoan Thianlie sudah mendahului loncat keluar dan berkata sembari tertawa.
"Thian Oe, ilmumu benar sudah maju jauh. Apakah itu semua curian dari keraton es?"
Bayangan hitam itu memang juga Thian Oe adanya Ia juga dapat dengar, bahwa Liong Leng Kiauw telah menemui urusan sulit dan ia sengaja datang buat coba menyelidiki.
Tapi baru saja tiba di kaki gunung, ia sudah bertemu dengan Yoe Peng yang memberitahu, bahwa majikannya bersama Tong Keng Thian sudah pergi ke rumahnya Liong Sam.
Mendengar begitu, hatinya Thian Oe menjadi lega dan ia segera pasang omong dengan sahabatnya itu.
Thian Oe dan Yoe Peng pandang Pengtjoan Thianlie dan Keng Thian seperti dewi dan dewa dan mereka yakin, bahwa dengan bantuan kedua orang itu, segala urusannya Liong Sam akan segera dapat dibikin beres.
Mereka sama sekali tidak nyana, bahwa persoalan Leng Kiauw mempunyai latar belakang yang sedemikian sulit.
Thian Oe kaget bukan main waktu lihat munculnya Pengtjoan Thianlie.
"Aku sangat berhutang budi dengan gurumu dan tidak akan dapat membalasnya,"
Kata si nona dengan suara terharu.
"Biarpun tanpa permisi, kau sudah belajar ilmu silatku, akan tetapi, mengingat hal itu terjadi sesudah gempa bumi dan juga lantaran kau belajar dengan tujuan menyelamatkan ilmu silatku, maka aku tidak salahkan padamu. Aku cuma mau tanya, perlu apa kau datang kemari?"
"Bagaimana dengan keselamatannya Liong Sam Sianseng,"
Thian Oe balas tanya.
"Aku lihat, ia adalah seorang baik. Apakah kalian sudah membantu ia?"
Ketika itu Tong Keng Thian sudah muncul dan ia berkata sembari tertawa.
"Anak ini mempunyai hati yang hangat."
"Akan tetapi, kau lebih baik jangan campur-campur urusan ini,"
Kata Pengtjoan Thianlie. Mendengar itu, Thian Oe jadi tercengang.
"Kali ini ayahmu telah berpahala besar dan tentu akan sangat dihargai oleh Hok Kong An dan Hosek Tjin-ong,"
Kata lagi Keng Thian.
"Kalau nanti diberi hadiah, aku rasa paling sedikit ia akan dapat pulang pangkatnya yang dahulu, sehingga kau, ayah dan anak, bisa pulang ke negeri sendiri."
Tan Teng Kie, ayahnya Thian Oe dahulu berpangkat Tjiesoe di kota raja.
Oleh karena berani menentang dorna Ho Koen di hadapan kaisar, belakangan ia disingkirkan ke Tibet dan sampai sekarang sudah ada sepuluh tahun.
Tak usah dibilang lagi, ayah dan anak sangat kangen dengan kampungnya dan berharap-harap satu ketika akan dapat kesempatan buat pulang kembali ke Tiongkok.
Keng Thian berkata begitu lantaran tahu rahasia hatinya Teng Kie dan puteranya.
Thian Oe tertawa getir dan berkata.
"Ho Koen sedang disayang dan pengaruhnya besar sekali, maka itu, manalah kami bisa pulang dengan gampang-gampang. Ayahku benar sudah dapat kembali pangkatnya, cuma sayang bukannya pangkat Tjiesoe."
"Pangkat apa?"
Tanya Keng Thian.
"Pangkat Soanwiesoe pada sekte Sakya,"
Sahutnya.
"Hok Tayswee sudah menyetujui buat bikin betul kantor Soanwiesoe dan kirim satu pasukan tentara guna antar ayah balik ke Sakya. Aku rasa, beberapa hari lagi kami sudah harus berangkat. Kepada ayah, Hok Tayswee telah berkata begini. 'Di Sakya kau sudah kehilangan serdadu dan kehilangan muka, sehingga sebenarnya kau berdosa. Jasamu di ini kali digunakan buat menebus dosa itu dan dalam hal ini, Kaizar sudah bersikap sangat longgar terhadapmu. Maka itu, pergilah ke Sakya dan bekerja baik-baik untuk dua tiga tahun lagi. Waktu itu aku akan majukan usul kembali, supaya kau bisa dipermisikan pulang.' Demikian katanya Hok Tayswee. Hm! Ayahku bisa bilang apa lagi? Ia cuma bisa menurut perintah."
"Hai!"
Keng Thian menghela napas.
"Aku tak nyana, dalam kalangan pembesar Tjeng, hadiah dan hukuman diberikan secara begitu serampangan! Tapi pekerjaan di Sakya toh bukannya pekerjaan terlalu berat, sedang kalian sudah berdiam disana kurang lebih sepuluh tahun lamanya, maka apa sebab kau kelihatannya begitu jengkel?"
Thian Oe tidak menjawab, la cuma kerutkan kedua alisnya.
"Kau tak tahu!"
Yoe Peng mendadak menyeletuk sembari tertawa.
"Touwsoe di Sakya ingin rangkap puterinya dengan ia, sedang anak tolol itu sudah penuju lain orang, la tentu kuatir rewel lagi, kalau balik ke Sakya. Anak goblok! Lain orang mau, tapi tidak bisa, kenapa juga kau begitu susah-susah hati!"
Sebagaimana diketahui, Yoe Peng pernah bergaul rapat sekali dengan Thian Ce, sehingga ia jadi mengetahui segala isi hatinya anak muda itu.
Paras mukanya Thian Oe jadi merah seperti kepiting direbus, ketika dengar si nakal buka rahasia.
Pengtjoan Thianlie jadi turut tertawa dan berkata.
"Aku kira urusan apa, tak tahunya segala urusan kecil. Apa kau tidak punya kaki? Kalau tak mau, apa kau tak bisa kabur?"
Si nona omong seenaknya saja lantaran, ia tak tahu seluk-beluknya kalangan pembesar yang sulit sekali. Buat Thian Oe, perkataannya Pengtjoan Thianlie malah telah menambah kejengkelannya.
"Kau pulang saja,"
Kata Keng Thian.
"Mari! Aku ajarkan kau satu siasat yang sangat baik!"
Ia tarik tangannya Thian Oe dan bicara dengan bisik-bisik di kuping orang.
"Hm! Kau memang paling senang main gila!"
Kata Pengtjoan Thianlie.
"Siasat busuk apa yang kau ajarkan padanya, sampai takut didengar orang?"
"Rahasia langit tak boleh dipecahkan!"
Keng Thian nyengir.
"Siasatku ini tak boleh didengar oleh kalian."
"Siapa kesudian!"
Kata si nona sembari merengut. Benar saja, sesudah dibisiki Keng Thian, parasnya Thian Oe jadi lebih terang.
"Tapi, Omateng pun sangat sukar dihadapinya,"
Kata ia.
"Jangan takut,"
Membujuk Keng Thian.
"Ilmu silatmu sekarang sudah bukan tandingannya Omateng lagi. Kau cuma perlu berlaku sedikit hati-hati buat jaga segala akal busuknya."
Ketika itu, sang rembulan sudah selam ke barat, sedang di tepi langit sebelah timur sudah kelihatan sinar terang.
Oleh karena kuatir ayahnya buat pikiran, Thian Oe lantas saja pamitan dengan tiga sahabatnya itu.
Keng Thian ulap-ulapkan tangan sampai anak muda itu berjalan jauh, sedang Yoe Peng mengawasi kawannya sambil berdiri bengong dengan paras muka sedih.
"Anak otak!"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
"Satu anaknya Touwsoe saja sudah bikin dia jadi ubanan, apa kau mau tambah kejengkelannya lagi?"
"Kongtjoe, kau sungguh jail!"
Kata Yoe Peng sembari monyongkan mulutnya.
Pada waktu mereka bertiga tiba di pusatnya kota Lhasa, langit sudah terang dan orang-orang yang pada pelesir seluruh malam sudah pada bubar.
Tiga hari kemudian, mereka tinggalkan Lhasa buat teruskan perjalanan ke Sinkiang.
Selama tiga hari itu, mereka menyelidiki persoalannya Liong Leng Kiauw dan dapat tahu perkaranya sudah jatuh ke dalam tangannya Hok Kong An.
Buat sementara waktu Liong Sam ditahan dalam penjara sebab Hok Kong An mau tanyakan dahulu pikirannya kaizar, dan perjalanan pergi pulang ke kota raja akan meminta tempo setengah tahun.
Sebab mengetahui keselamatannya Leng Kiauw sudah terjamin, maka Keng Thian bertiga lantas berangkat dengan hati lega.
Ketika itu adalah permulaan musim semi.
Meskipun salju belum lumer semuanya, akan tetapi jalanan sudah lebih gampang dilintasi.
Sesudah berjalan sepuluh hari lebih, mereka sudah lewati wilayah Tibet dari sebelah selatan dan masuk ke dalam daerah Sinkiang.
Keadaan bumi jadi berobah.
Mereka sekarang berada di lautan pasir kuning dengan gunung yang berderet-deret "Tiongkok benar-benar besar,"
Kata Pengtjoan Thianlie sambil menghela napas.
"Gunung apakah itu yang puncaknya menjulang awan?"
"Itulah gunung Thiansan yang kesohor dalam dunia,"
Jawab Keng Thian.
"Deretan gunung yang berada di sekitar ini semuanya adalah cabang-cabangnya Thiansan yang panjangnya lebih dari tiga ribu li. Jarak antara puncak selatan dan puncak utara ada kira-kira seribu li."
Pengtjoan Thianlie sebenarnya sedang gembira, tapi begitu lekas ia dengar disebutkannya Thiansan, parasnya lantas jadi berobah, tapi tak dapat dilihat oleh Keng Thian yang lantas berkata lagi.
"Dari sini kalau jalan terus ke jurusan timur, orang bisa masuk ke dalam propinsi Kamsiok, dan dengan mengikuti jalanan canto (jalanan gunung dengan jembatan-jembatan kayu buat lewati jurang-jurang) yang dahulu dibuat oleh Kaisar Lauw Pang (pendiri kerajaan Han), orang bisa lantas masuk ke Soetjoan barat. Kalau kita terus ambil jalanan ke arah utara, kita bisa tiba di gunung Thiansan. Peng Go Tjietjie, apakah kau tak mau jalan-jalan dahulu di Thiansan?"
Mendadak saja, Pengtjoan Thianlie tertawa tawar.
"Apakah kau kira semua orang yang belajar ilmu silat harus berziarah di gunung Thiansan-mu?"
Katanya dengan suara kaku.
"Eh, eh. Kenapa kau kata begitu?"
Kata Keng Thian dengan perasaan heran.
"Bukankah mendiang ayahmu pun berasal dari partai Thiansan? Kenapa kau jadi bicara begitu?"
Si nona tak menjawab, sehingga Keng Thian jadi lebih bingung lagi.
Dalam perjalanan di padang pasir, puluhan li tidak bertemu manusia adalah kejadian yang lumrah.
Hari itu, sesudah jalan kurang lebih seratus li, Keng Thian bertiga cuma dapat menemukan sebuah bukit yang dapat menahan angin dan pasir.
Mereka lalu pasang tenda di kakinya bukit itu, Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng satu tenda, sedang Keng Thian pasang tendanya di tempat yang jauhnya kira-kira setengah li.
Malam itu, Pengtjoan Thianlie tak dapat tidur pulas dengan rupa-rupa pikiran datang padanya berganti-ganti.
Lantaran begitu, ia lalu pasang omong dengan dayangnya dan goda Yoe Peng dengan mengatakan ia itu agaknya tak dapat berpisah dengan Thian Oe.
Yoe Peng membantah dan lalu balas goda majikannya, yang dikatakan sudah jatuh cinta kepada Keng Thian.
Selagi mereka enak bercanda, dari kejauhan mendadak terdengar suara.
"Uh! Uh!"
Pengtjoan Thianlie berobah parasnya dan lalu pasang kuping. Suara itu aneh kedengarannya, mirip-mirip suara terompet tanduk, tapi juga seperti suara semacam tetabuhan Nepal.
"Aku mau pergi lihat! Kau jangan bikin kaget Tong Siangkong,"
Kata si nona sembari sembat Pengpok Hankong kiam dan lalu loncat keluar dari tenda.
Sesudah lari kira-kira delapan li, Pengtjoan Thianlie lihat beberapa orang sedang bertempur hebat di atas sebidang tanah rumput.
Sesudah datang dekat, ia kenali, bahwa mereka itu adalah dua boesoe Nepal yang sedang ukur tenaga sama dua saudara Boe.
Kedua boesoe itu bersenjata golok berbentuk bulan sisir, yang bagian atas gagangnya kosong melompong, sehingga mengeluarkan suara "uh, uh,"
Setiap kali digerakkan.
Saat itu, kedua boesoe itu sudah kena didesak hebat oleh Boe-sie Hengtee yang pedangnya menyambar-nyambar bagaikan kilat.
Begitu lihat kedatangannya Pengtjoan Thianlie, dua boesoe itu lantas berseru dalam bahasa Nepal dan dijawab oleh si nona dalam bahasa itu juga, yang tidak dimengerti oleh kedua saudara Boe.
Boe Loodjie yang adatnya berangasan lantas saja berteriak.
"Hei! Kalau mau bicara, nanti saja bicara sama Giam Loo-ong!"
Sehabis membentak, ia menyabet dengan pedangnya yang sambar batang lehernya boesoe yang barusan bicara.
Saat itu goloknya justru kena disampok oleh Boe Lootoa, sehingga ia tidak dapat menangkis lagi pedangnya Boe Loodjie.
Pada detik yang sangat berbahaya, Pengtjoan Thianlie mendadak berteriak.
"Tahan!"
Sungguh cepat gerakannya si nona! Berbareng dengan bentakannya, pedangnya sudah menyambar, sehingga kedua saudara Boe terpaksa loncat mundur.
"Perempuan siluman!"
Mereka membentak.
"Kalau tidak dihajar, kau tentu kira di Tiongkok tidak ada orang yang bisa takluki padamu!"
Berbareng dengan itu, pedangnya kedua saudara Boe sambar dadanya Pengtjoan Thianlie dengan satu gerakan Tianghong koandjit (Bianglala tembuskan matahari), yaitu pukulan membinasakan dari kiamhoat Tjionglam pay.
Si nona merasa gusar sekali, sehingga alisnya jadi berdiri.
Mendadak, sembari empos semangatnya, ia getarkan Hankong kiam yang berobah jadi seperti puluhan batang pedang.
Boe-sie Hengtee terkesiap dan buru-buru loncat ke samping buat hindarkan diri dari sambaran itu.
Mereka tak nyana, serangan Tianghong koandjit yang sedemikian hebat sudah dapat dipunahkan secara begitu gampang.
Tapi si nona tidak berlaku kejam.
Melihat musuhnya mundur, ia tidak susul dengan lain serangan yang membinasakan.
Ketika itu, kedua boesoe Nepal sudah berlutut di atas tanah, dengan tak hentinya bicara dalam bahasanya.
Sembari putar pedangnya buat tangkis sesuatu serangan, Pengtjoan Thianlie juga ucapkan beberapa perkataan dalam bahasa Nepal.
Sesudah mendengar perkataannya kedua boesoe itu, paras mukanya si nona yang tadi mengandung kegusaran, jadi berobah sabar sampai akhirnya ia manggutkan kepalanya sembari mesem.
Di lain pihak, Boe-sie Hengtee jadi meluap darahnya dan mereka menyerang mati-matian seperti orang kalap.
Harus diketahui, bahwa mereka adalah turunan ahli silat kelas utama dan biasanya mereka merasa sangat bangga dengan kepandaiannya yang dianggap sudah tinggi sekali.
Bahwa sekarang si nona layani mereka sembari bicara, seolah-olah tidak memandang sebelah mata, oleh mereka dianggap seperti satu hinaan yang sangat besar.
Melihat kedua lawannya menyerang seperti kerbau gila dengan pukulan-pukulan yang sangat hebat, Pengtjoan Thianlie merasa agak terkejut dan tidak berani lagi melayani secara sembarangan.
Ia putar pedangnya seperti titiran dan badannya seperti juga dikurung dengan sinar putih yang sangat dingin.
Mendadak, sembari kebaskan tangannya Pengtjoan Thianlie ucapkan beberapa perkataan Nepal dan kedua boesoe itu, seperti orang hukuman yang dapat pengampunan, manggut-manggutkan kepalanya beberapa kali, akan kemudian bangun berdiri dan terus kabur secepat mungkin.
Boe-sie Hengtee mau mengubar, tapi ditahan oleh si nona Tiba-tiba Pengtjoan Thianlie tertawa sembari menyampok dengan pedangnya, sehingga kedua saudara Boe rasakan tangannya kesemutan dan loncat mundur beberapa tindak.
"Aku sudah perintah dua boesoe itu pulang ke negerinya dan kalian pun lebih baik pulang saja,"
Katanya dalam bahasa Han, dengan suara halus, tapi mengandung nada memerintah.
Sebagai turunan ahli silat kelas utama, dalam kalangan Kangouw, Boe-sie Hengtee biasanya disegani orang dan kecuali beberapa orang dari tingkatan tua, siapapun tak berani berlaku kurang ajar di hadapan mereka.
Maka itu, walaupun si nona bicara halus, mereka lantas saja menjadi gusar.
"Dua bangsat itu datang kemari buat mengacau dan kau sudah berani lepaskan mereka,"
Membentak Boe Lootoa.
"Sekarang, biarpun kau mau kabur, kami tak akan permisikan lagi."
"Siluman perempuan!"
Boe Loodjie sambung perkataan saudaranya.
"Aku memang sudah lihat, kau bukannya orang baik-baik. Tong Keng Thian sekarang tidak berada di dampingmu. Kau mau cari dia buat mintakan ampun juga sudah tidak keburu lagi!"
Mendengar cacian itu, keruan saja si nona lantas menerjang pula.
Pada waktu Pengtjoan Thianlie rebut guci emas, ia telah perintah supaya boesoe-boesoe Nepal itu segera pulang ke negerinya dan jangan mengacau lagi di Tiongkok.
Maka itu, ketika baru bertemu, ia merasa gusar lantaran anggap, mereka berdua sudah langgar perintahnya.
Akan tetapi, sesudah menanya terang, ia dapat kenyataan mereka bukannya melanggar perintah.
Mereka datang di Sinkiang buat samper beberapa kawannya yang dikirim oleh Raja Nepal, guna pulang bersama-sama.
Apa mau, di tengah jalan mereka bertemu dengan kedua saudara Boe, yang duga mereka mengandung maksud kurang baik.
Dengan nasehatkan supaya Boe-sie Hengtee pulang saja, si nona sebenarnya bermaksud baik dan tidak mau permusuhan jadi berlarut-larut.
Sebagai seorang yang adatnya tinggi, bukan main gusarnya Pengtjoan Thianlie mendengar cacian itu yang bawa-bawa juga namanya Tong Keng Thian.
Sesudah bertempur lagi beberapa lama, sembari berseru keras, kedua saudara Boe pentang langkah seribu, dengan tak hentinya memaki "perempuan siluman."
"Binatang tak kenal mampus!"
Kata si nona dalam hatinya.
"Dengan pandang mukanya Keng Thian, aku tidak ambil jiwa anjingmu. Tapi, kau mesti dihajar adat!"
Ia empos semangatnya dan terus mengubar.
Begitu menyandak, ia totol bebokongnya kedua saudara Boe dengan Hankong kiam dan hawa dingin yang sangat hebat meresap ke tulang-tulang.
Boe-sie Hengtee seperti juga tahu si nona tidak akan turunkan tangan jahat dan begitu Hankong kiam menotol, mereka lantas berbalik buat menyampok dengan pedangnya akan kemudian lari lagi.
Sesudah ubar-ubaran lima enam li, beberapa kali bebokongnya Boe-sie Hengtee kena ditotol, sehingga perlahanlahan mereka merasa tidak tahan lagi dan gemetar sekujur badannya.
"Masih berani memaki?"
Tanya si nona* sembari tertawa.
Sekonyong-konyong kedua saudara Boe bersiul keras dan berbareng dengan itu, dari atas satu gundukan tanah loncat keluar satu wanita muda.
Di bawah sinarnya rembulan, dapat dilihat ia memakai pakaian warna ungu dengan satu tusuk konde emas pada rambutnya, parasnya cantik bagaikan gambar dan tertawanya manis seperti bunga yang baru mekar.
"Ah, dua bocah ini sekarang kena tubruk tembok,"
Katanya sembari tunjuk kedua saudara Boe.
"Betul bikin malu orang! Hayo lekas mundur!"
"Kouwkouw (bibi),"
Kata kedua saudara Boe.
"Perempuan siluman itu sangat liehay. Hati-hati! Lebih baik undang Loodjinkee (orang tua)."
"Omong kosong!"
Membentak si Kouwkouw itu.
"Lekas mundur! Masa buat urusan begini kecil mesti seret-seret tangan orang tua?"
Dilihat dari paras mukanya, nona itu belum cukup berusia dua puluh tahun dan banyak lebih muda dari Boe-sie Hengtee.
Tapi didengar dari panggilan kedua saudara Boe, ia mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari mereka itu.
Melihat munculnya orang baru, Pengtjoan Thianlie segera hentikan tindakannya.
Si nona mengawasi Pengpok Hankong kiam seperti lagaknya satu bocah nakal dan berkata sembari tertawa.
"Pedangmu bagus sekali, mengkilap kredepan. Boleh dibuat main? Dibuat dari apa sih?"
Tanpa merasa, Pengtjoan Thianlie jadi tertawa.
"Pedang ini bukan barang mainan,"
Katanya.
"Aku suka hadiahkan padamu, tapi kau tentu tidak akan dapat pegang padanya. Siapa kau?"
"Kenapa tak dapat?"
Kata si nona.
"Ibu! Boleh aku ambil barangnya lain orang?"
Pengtjoan Thianlie terkejut dan ketika ia menengok, di atas gundukan tanah sudah berdiri seorang wanita usia pertengahan yang mengenakan pakaian warna hitam dan rambutnya diikat dengan sutera putih yang merupakan dua kupu-kupu.
Pengtjoan Thianlie terkesiap, la kagum, lantaran tanpa terdengar suara apa-pun, tahu-tahu nyonya itu sudah berdiri disitu.
Nyonya itu mengawasi padanya sembari mesem dan lagaknya tidak berbeda dengan si nona muda.
"Ada ibunya, ada anaknya,"
Kata Pengtjoan Thianlie dalam hatinya.
"Coba lihat, ia mau apa."
"Bwee-djie (anak Bwee),"
Kata si nyonya sembari tertawa.
"Kepandaiannya Tjietjie itu ada lebih tinggi daripada kau. Jika tak percaya, coba jajal. Kau tak akan dapat ambil barangnya. Eh, Toaboe, Siauw-boe, kenapa kau orang jadi berkelahi dengan ia?"
Boe-sie Hengtee maju mendekati dan bicara panjang lebar, antaranya terdengar perkataan "perempuan siluman"
Yang diucapkan keras-keras dan rupanya disengaja supaya dapat didengar oleh Pengtjoan Thianlie.
Pengtjoan Thianlie jadi gusar sekali, tapi sebelum sempat unjuk kegusarannya, si gadis muda sudah berkata.
"Ibu, kau selalu tidak memandang mata padaku. Aku bukan anak-anak lagi. Cobalah aku jajal-jajal."
Ia berpaling kepada Pengtjoan Thianlie dan berkata sembari tertawa.
"Tjietjie, pinjam pedangmu. Bolehkah?"
Mendadakan saja, ia loncat tinggi dan lalu menubruk dari tengah udara dalam gerakan yang luar biasa cepatnya. Pengtjoan Thianlie terkejut dan menyabet dengan pedangnya.
"Ah, benar saja tak kena!"
Kata si gadis.
Tiba-tiba, ia putar badannya yang masih berada di tengah udara, tangan kirinya coba tepuk pundaknya Pengtjoan Thianlie, sedang lima jerijinya tangan kanannya coba cekal ugal-ugalannya Peng Go.
Ilmu entengi badannya Pengtjoan Thianlie sudah jarang terdapat dalam dunia, akan tetapi, ilmunya gadis itu, yang dapat menubruk bulak-balik seperti burung di tengah udara, lebih-lebih mengherankan.
Tiga kali Pengtjoan Thianlie menyabet dengan Hankong kiam, tapi selalu dapat dikelit secara gampang sekali.
Sembari loncat pergi datang dan melesat ke sana-sini, seperti kupu-kupu berterbangan di antara bunga-bunga, gadis itu kelit sabetan-sabetannya Hankong kiam, dengan tangannya sabansaban menyambar buat coba rebut pedang tersebut.
"Sungguh indah gerakanmu!"
Memuji Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
"Bagus! Bagus sekali!"
Memuji wanita setengah tua itu.
"Bwee-djie hati-hati! Itulah Tatmo Kiamhoat!"
Ketika itu Pengtjoan Thianlie sudah mulai menyerang dengan pukulan-pukulan Tatmo Kiamhoat yang terlebih hebat dan Hankong kiam menyambar-nyambar seperti hujan dan angin.
Lewat lagi beberapa saat, si gadis mulai kelihatan keteter.
Melihat begitu, Pengtjoan Thianlie yang memang tidak bermaksud jahat, lantas mau hentikan serangannya, akan tetapi, sebelum ia tarik pulang pedangnya, gadis itu sudah berseru.
"Dengan tangan kosong aku tak dapat menangkan kau. Sekarang aku mau gunakan pedang!"
Berbareng dengan perkataannya itu, ia putar Imdannya di tengah udara dan tahutahu tangannya sudah mencekal sebatang pedang pendek yang mengeluarkan sinar berkredepan.
Ketika itu, Pengtjoan Thianlie sedang menyerang dengan gerakan Tjoenhong kiattang (Angin musim semi buyarkan kedinginan) dan ujung pedangnya sambar kedua matanya gadis itu.
Mendadak gadis itu menyampok dengan pedangnya dan terus menikam ke arah perutnya Pengtjoan Thianlie.
Buru-buru Pengtjoan Thianlie putar tangannya dan membuat satu lingkaran dengan pedangnya, dengan tujuan menggulung pedang lawannya.
Tapi, siapa nyana, kiamhoatnya gadis itu tidak menurut peraturan yang biasa.
Terang-terangan, barusan ia menikam ke arah perut, tapi setahu bagaimana, ujung pedangnya miring sedikit dan sambar dada!
Bukan main kagetnya Pengtjoan Thianlie yang lantas sedot napasnya dan otot dadanya "melesak"
Kira-kira satu dim dalamnya.
Saat itu, ujung pedang si gadis sudah menyentuh bajunya Pengtjoan Thianlie.
Mendadak ia rasakan ujung pedang seperti juga menikam kapas dan tenaga pedang sudah kena dibikin buyar, sehingga ia jadi terkesiap!
Pada saat itulah, Pengtjoan Thianlie balik tangannya dan kirim pukulan Kisoei lengpeng (Air membeku menjadi es), yang meskipun menyambarnya kelihatan enteng, disertai tenaga dalam yang sangat kuat.
Pengtjoan Thianlie duga gadis itu tidak akan dapat menyambut pukulannya dan benar saja, ia lantas loncat mundur dua tindak dan kemudian barulah menyambut dengan gerakan Hoeitouw imsan (Loncat melewati gunung).
Hoeitouw imsan adalah satu pukulan biasa dari ilmu pedang Boetong yang dikenal baik oleh Pengtjoan Thianlie.
"Kau tak boleh gunakan pukulan itu,"
Katanya sembari tertawa.
"Buat sambut seranganku, kau harus gunakan pukulan Hoayong kiatto (Di Hoayong mencegat jalanan)."
Dengan pukulan Hoeitouw imsan, si penyerang harus lebih dahulu menikam dua kali ke sebelah kiri dan kemudian menikam satu kali ke sebelah kanan.
Dua tikaman yang pertama cuma gertakan dan tikaman yang ketiga barulah serangan yang benar-benar.
Oleh Karena mengetahui jalannya pukulan tersebut, Pengtjoan Thianlie segera majukan dirinya buat tutup bagian kirinya, supaya dua tikaman gertakan menjadi buyar dan tak dapat menikam lagi ke sebelah kanan.
Tapi tak dinyana, gerakannya gadis itu benar-benar luar biasa.
Barusan, terang-terangan ia menikam dengan gerakan Hoeitouw imsan, tapi tak diduga, begitu ujung pedangnya menyambar, arahnya lantas berobah, yaitu menikam beruntun dua kali dari sebelah kanan.
Dalam pertempuran antara ahli dan ahli, yang paling berbahaya adalah taksiran yang salah.
Saat itu, Pengtjoan Thianlie sudah majukan dirinya dan perhatiannya ditujukan ke sebelah kiri, sehingga bagian kanannya jadi terbuka.
Buat menangkis dengan Hankong kiam sudah tidak keburu lagi.
Si gadis mesem dan coba sabet putus ikatan pinggangnya Pengtjoan Thianlie.
"Bwee-djie, hati-hati!"
Mendadak si wanita setengah tua berteriak.
Saat itu, ikatan pinggangnya Pengtjoan Thianlie mendadak berkibar dan gulung gagang pedangnya si gadis!
Barusan, jika gadis itu benar-benar menikam, Pengtjoan Thianlie pasti akan mendapat luka.
Tapi ia memang tidak mempunyai niatan kurang baik.
Melihat ikatan pinggangnya Pengtjoan Thianlie yang sangat indah, dalam kenakalannya, ia ambil putusan buat putuskan ikatan pinggang itu.
Tenaga dalamnya Pengtjoan Thianlie ada banyak lebih tinggi daripada gadis itu.
Semua bagian badannya sudah terlatih baik dan otot-ototnya secara otomatis menurut segala kemauannya.
Pada detik si gadis sedikit bersangsi, ia sudah keburu kerahkan tenaga dalam di pinggangnya dan ikatan pinggang itu lantas berobah menjadi senjata yang kebut dan gulung pedang sang lawan.
Baik juga si gadis sudah diperingati oleh ibunya, sehingga ia masih dapat loncat mundur pada saat yang tepat.
Begitu lawannya mundur, Pengtjoan Thianlie segera mencecer dengan serangan-serangan kilat dan tidak memberi kesempatan lagi kepada gadis itu buat keluarkan pukulan-pukulannya yang aneh.
Dengan cepat ia jadi keteter dan cuma dapat membela diri saja.
"Kau curang!"
Berseru si gadis sembari monyongkan mulutnya.
"Kenapa kau tak kasih aku balas menyerang? Adu pedang cara begini, aku tak mau!"
"Cis"
Pengtjoan Thianlie tertawa.
"Baiklah. Aku berikan lagi kesempatan."
Ia pertahankan gerakan Hankong kiam dan buka lowongan supaya dapat diserang.
Si gadis jadi gembira dan dengan beruntun kirim tiga serangan yang masing-masing berbeda satu sama lainnya.
Serangan pertama adalah pukulan Bansoei tiauwtjong (Laksaan sungai mengalir ke laut) dari kiamhoat Gobie pay, yang kedua Tjoenma poentjoan (Kuda bagus mengubar mata air) dari Khongtong pay, sedang yang ketiga adalah Kimtjiam touwsie (Jarum emas menolong manusia) dari Siongyang pay.
Apa yang mengherankan adalah.
Setiap serangan berobah arahnya pada detik penghabisan, umpamanya serangan yang bermula kelihatannya seperti Bansoei tiauwtjong mendadak berobah arahnya dan menikam dari jurusan yang tidak diduga-duga.
Pengtjoan Thianlie yang sudah siap sedia sudah dapat loloskan diri dari serangan-serangan itu dengan gunakan ilmu entengi badannya.
Tapi lantaran dicecer, ia sekarang cuma dapat membela diri dan tidak sempat lagi balas menyerang.
Hatinya Pengtjoan Thianlie mendadak bergoncang sebab ia ingat penuturan mendiang ayahnya.
Dahulu, ketika sedang rundingkan berbagai cabang persilatan di Tiongkok, ayahnya pernah ceritakan halnya satu ilmu pedang tunggal gubahan Pekhoat Molie.
Ilmu pedang itu merupakan petikan dari sarinya macam-macam kiamhoat, yang kemudian diolah lagi menjadi satu.
Meskipun gerakannya bersamaan dengan gerakan macam-macam kiamhoat itu, tapi arah serangannya, pada detik penghabisan, berbeda dan malahan sebaliknya dari kiamhoat yang asli.
"Apakah ilmu pedangnya nona ini ada ilmu pedang Pekhoat Molie?"
Tanya Pengtjoan Thianlie dalam hatinya.
Tidak salah dugaannya si nona.
Ilmu pedang gadis muda itu memang juga ilmu pedangnya Pekhoat Molie.
Buat ahli silat biasa, biarpun kenal ilmu pedang tersebut, tak gampang-gampang dia dapat melawannya.
Tapi Pengtjoan Thianlie adalah lain dari yang lain.
Dasar dari ilmu pedangnya adalah Tatmo Kiamhoat yang sangat tinggi dan kiamhoat tersebut telah dicampur dengan ilmu pedang Eropa dan Arab, sehingga jadi sangat luar biasa.
Maka itu, begitu lekas mengenali ilmu pedangnya lawan dan pusatkan semangatnya buat melayani, si gadis tidak dapat berbuat banyak lagi dengan pukulanpukulan yang aneh.
Demikianlah sesudah lewat beberapa saat, gerakan pedangnya si gadis lantas mulai kalut.
"Mau bertempur terus?"
Tanya Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
Gadis itu tak menyahut, dengan mendadak badannya melesat tinggi dan selagi badannya turun ke bawah, ia menikam dengan pedangnya.
Ia ternyata gunakan ilmu aneh yang bisa menubruk di tengah udara seperti burung, dicampur dengan ilmu pedangnya Pekhoat Molie.
Pengtjoan Thianlie terkesiap.
Tanpa sempat berpikir lagi, badannya sudah turut melesat ke udara dan membabat dengan gerakan Itwie touwkang (Rumput wie seberangi sungai).
Saat itu, mereka berdua samasama berada di tengah udara dan gerakan pedang cepat bagaikan kilat.
Begitu lekas pedangnya menyambar ke tenggorokan orang, Pengtjoan Thianlie lantas merasa menyesal.
Ia sama sekali tak bermusuhan dengan gadis itu, kenapa juga turunkan tangan yang jahat?
Ia mau tarik pulang pedangnya, tapi sudah tidak keburu lagi!
Si gadis keluarkan satu teriakan kaget.
"Bwee-djie, kau masih tak percaya aku?"
Demikian ia dengar suara ibunya, dan berbareng, ia rasakan badannya diangkat dan dilemparkan, akan kemudian hinggap di atas tanah tanpa kurang suatu apa.
Ketika menengok, ia lihat ibunya sudah berhadapan dengan Pengtjoan Thianlie.
Barusan, pada saat hatinya menyesal tapi pedangnya sudah tak dapat ditarik pulang, tiba-tiba saja depan matanya Pengtjoan Thianlie berkelebat satu bayangan hitam, yang menyelak di antara kedua batang pedang yang sudah hampir beradu dan sudah berhasil menolong gadis itu.
Pengtjoan Thianlie yang begitu liehay jadi kesima dan badannya kej engkang ke belakang.
"Hatihati!"
Ia dengar satu suara berbisik dan merasa badannya didukung orang.
Ia jungkir balik, akan kemudian hinggap di muka bumi dengan selamat.
Pengtjoan Thianlie mengawasi dengan berdebar-debar.
Wanita setengah tua itu, yang pakaiannya dan lagaknya seperti si wanita muda, ternyata mempunyai kepandaian yang tak dapat diukur bagaimana dalamnya.
"Sungguh cantik! Apa kau sudah punya mertua?"
Tanya wanita itu sembari tertawa, lagaknya mirip seperti bocah nakal.
Mukanya Pengtjoan Thianlie lantas saja bersemu merah.
Sebagai seorang yang mempunyai kedudukan puteri dan sedari kecil biasa dihormati oleh para dayangnya, inilah buat pertama kali seorang yang baru ketemu berani guyon-guyon padanya.
Sesudah kenyang tertawa, wanita itu lalu berkata lagi.
"Ilmu silatmu juga benar-benar indah. Inilah baru boleh dibilang, kepandaian dan paras dua-dua jempol. Maukah kau dicarikan mertua olehku?"
"Kau tua-tua kenapa bicara begitu sembarangan?"
Sahut si nona dengan perasaan mendongkol.
"Jika kau terus omong gila-gila, aku tak akan berlaku sungkan lagi!"
Wanita itu tertawa terbahak-bahak.
"Usiamu masih begitu muda, kenapa begitu galak?"
Katanya.
"Sama seperti Tjietjie-ku. Titsoen-ku (cucu keponakan) namakan kau perempuan siluman, tapi aku lihat kau seperti nenek bawel!"
Si nona jadi meluap darahnya dan lantas angkat pedangnya. Ia tahu bukan tandingan, tapi amarahnya mesti dilampiaskan. Wanita itu tapinya terus tertawa.
"Terhadap anakku kau berlaku cukup sungkan,"
Kata ia.
"Tapi terhadap titsoen-ku, tanganmu kejam sekali. Siapa gurumu?"
"Sudah! Sudah!"
Berteriak Pengtjoan Thianlie.
"Memang aku hinakan titsoen-mu. Nah, hukumlah aku!"
Si nona yang beradat angkuh lantas saja menikam, meskipun tahu bakalan kalah.
"Aku sungguh sayang padamu,"
Kata si wanita yang terus kocok si nona.
"Kau begitu cantik, mana tega aku menghukum kau!"
Sehabis berkata begitu, dengan mendadak ia usap mukanya Pengtjoan Thianlie.
Terang-terang, si nona lihat gerakan tangannya, tapi toh ia tidak keburu kelit!
Sekarang Pengtjoan Thianlie benar-benar gusar.
Seperti orang kalap ia putar pedangnya dan menyerang dengan pukulan-pukulan yang membinasakan.
"Kau benar-benar marah?"
Tanya wanita itu sembari tertawa dan kembali usap kepala orang. Pengtjoan Thianlie terus menerjang dan kirim beberapa tikaman. Wanita itu tidak jadi gusar, ia cuma kelit dan mulutnya ngoceh lagi.
"Ah, pedangmu sungguh-sungguh bagus! Cuma sayang sekarang musim dingin. Kalau musim panas tak perlu bawa-bawa kipas lagi. Dari apa dibuatnya? Coba kasih aku lihat!"
Pengtjoan Thianlie terkejut dan lantas putar Hankong kiam bagaikan titiran.
"Aku mau lihat cara bagaimana kau rebut pedangku,"
Katanya didalam hati. Tiba-tiba si nona endus bebauan yang sangat harum dan dengan satu suara "tring!"
Pengpok Hankong kiam sudah kena dipentil terbang dengan dua jerijinya dan kemudian disambut dengan satu tangannya.
"Benar-benar aku pusing,"
Katanya sembari bulak-balik pedang itu.
"Benar-benar aku tak tahu, dibuat dari bahan apa."
Kaget dan gusarnya si nona ngaduk menjadi satu. Tanpa pikir akibatnya, ia menubruk seperti macan edan.
"Buat apa begitu kesusu! Aku toh tak inginkan milikmu!"
Kata lagi si wanita setengah tua sembari tertawa.
Ia angsurkan tangannya dan kembalikan pedang itu.
Begitu terima pedangnya, begitu si nona menikam lagi.
Bagaikan kilat, si wanita tangkap lengannya dan berkata pula.
"Coba aku lihat lagi. Aduh benar-benar cantik! Tugas comblang pasti aku jalankan!"
Sembari ngoceh, tangannya kembali usap mukanya Pengtjoan Thianlie.
Sesudah kenyang menggoda, ia lepaskan tangannya dan sedang suara tertawanya masih kedengaran, bayangannya sudah menghilang dari pemandangan!
Pengtjoan Thianlie celingukan.
Boe-sie Hengtee dan si gadis juga sudah tidak berada disitu.
Rupanya mereka sudah berlalu, ketika si wanita setengah tua goda dirinya.
Si nona menghela napas berulang-ulang dan parasnya lesu sekali.
"Ayah ibuku sudah peras pikiran dan tenaga buat gubah ilmu pedang ini dengan anggapan tiada bandingannya di dalam dunia,"
Katanya dalam hati.
"Tapi siapa nyana, wanita itu saja aku sudah tidak mampu menangkan. Ah, kalau begini, keinginan ayahku rasanya tidak akan terwujut."
Pengtjoan Thianlie tentu saja tidak tahu, bahwa ilmu silat dan tingkatannya wanita itu cuma dapat direndengi oleh dua tiga orang saja dalam Rimba Persilatan.
Dengan hati mendeluh, si nona jalan balik ke tendanya.
Ketika itu sudah lewat tengah malam dan sang rembulan pancarkan sinarnya yang gilang gemilang, sehingga padang pasir jadi seperti mandi dalam lautan perak, dalam suasana yang sunyi-senyap.
Di padang pasir, benda yang jauhnya beberapa li masih dapat dilihat.
Kedua tenda yang dipasang di kaki gunung jauh-jauh sudah kelihatan.
Mendadak hatinya Pengtjoan Thianlie bergoncang.
Di depan tendanya Tong Keng Thian terdapat dua bayangan orang, satu lelaki dan satu perempuan.
Yang lelaki adalah Keng Thian, tapi potongan badan yang perempuan, bukan potongan badannya Yoe Peng.
Sesudah berlari-lari kurang lebih satu li lagi, barulah ia dapat tahu, bahwa wanita itu adalah gadis yang barusan jadi lawannya!
Tadi, ketika Pengtjoan Thianlie keluar dari tendanya buat selidiki itu suara "uh, uh,"
Keng Thian sedang gulak-gulik dalam tendanya dengan tidak dapat pulas.
Otaknya selalu tak dapat lupakan si nona yang sikapnya membikin ia tidak mengerti.
Sedikit banyak, ia sudah mengetahui asalusulnya, yaitu turunan dari jago partai Thiansan dan cucu perempuannya Koei Tiong Beng.
Tapi, kenapa terhadap Thiansan pay, si nona kelihatannya adem sekali?
Kenapa?
Ia ingat, ketika mau turun gunung, ayah ibunya pesan supaya ia cari tahu dimana adanya paman Koei Hoa Seng.
Sekarang ia sudah dapat cari puterinya Koei Hoa Seng, tetapi si nona tak sudi naik ke Thiansan buat menemui sahabat-sahabat dari mendiang ayahnya.
Kenapa?
Memikir pergi datang, pemuda itu jadi semakin jengkel.
Jika lain orang, ia tentu sudah memaksa buat mendapat tahu seterang-terangnya.
Tapi terhadap Pengtjoan Thianlie, ia benarbenar tak sanggup berlaku keras, oleh karena adanya keagungan si nona yang wajar, yang membikin orang tidak berani rewel-rewel di hadapannya.
Dalam kekesalannya itu, Keng Thian jadi gusar pada dirinya sendiri.
Kenapa, sesudah kenal Pengtjoan Thianlie, ia jadi begitu tolol?
Saat itu, dalam otaknya berkelebat bayangannya seorang wanita lain, seorang gadis jelita yang usianya lebih muda dari Pengtjoan Thianlie.
Gadis itu adalah Lie Kim Bwee, puteri Ie-ie-nya (bibi) sendiri (puterinya Lie Tie dan Phang Lin).
Kim Bwee adalah kawan memainnya sedari kecil, tapi ia heran sekali, terhadap nona itu, ia tidak mempunyai perasaan seperti yang dirasakan terhadap Pengtjoan Thianlie.
Angin diluar tenda jadi semakin santer dan di antara suaranya angin, sayup-sayup, ia dapat dengar suara "uh, uh."
"Apakah itu bukan suara goloknya boesoe Nepal?"
Ia tanya dalam hatinya. Dalam pertemuan di Shigatse dan di gunung Tantat san ketika bantu merebut guci emas, ia tahu gagang goloknya boesoe Nepal berlubang dan mengeluarkan suara "uh, uh,"
Jika kesampok angin.
Keng Thian heran.
Kenapa mereka masih berada di Tiongkok?
Ia keluar dan loncat ke atas tenda, dari mana ia lihat bayangannya Pengtjoan Thianlie yang sedang berlari-lari ke arah utara barat.
Tadinya ia mau mengubar, tapi kemudian urungkan niatannya.
Ia ingat, kedua boesoe Nepal adalah orang sebawahannya Pengtjoan Thianlie, sehingga jika si nona datang, segala urusan tentu bisa menjadi beres.
Di sebelahnya itu, jika menguntit, ia kuatir si nona jadi gusar dan menganggap ia terlalu mau tahu urusan lain orang.
Mengingat begitu, ia urungkan niatannya dan dengan tindakan perlahan, menuju ke tendanya Pengtjoan Thianlie.
Di luar tenda ia bertemu Yoe Peng yang kelihatannya bingung.
"Ah, Tong Siangkong!"
Katanya.
"Kenapa malam-malam begini masih jalan-jalan?"
"Kau dengar itu suara "uh, uh,"
Tanya Keng Thian.
"Dengar,"sahutnya.
"Mungkin cuma suara burung."
"Kongtjoe-mu?"
Tanya Keng Thian sembari tertawa.
"Ia kecapaian dan sudah pulas,"
Yoe Peng mendusta.
"Aku keluar lantaran dengar suara tindakanmu. Baliklah, kalau kau bikin ia mendusin, ia bisa jadi gusar."
Keng Thian tertawa dan lantas balik ke tendanya.
"Benar saja dia tak mau aku mendapat tahu,"
Kata pemuda itu dalam hatinya.
Biarpun mengetahui Pengtjoan Thianlie bukan sedang menghadapi bahaya, Keng Thian tak dapat tetapkan hatinya.
Ia sulut sebatang lilin besar dan duduk termenung dalam tendanya.
Tak tahu sudah lewat beberapa lama, mendadak di luar tenda terdengar suara tindakan yang sangat enteng dan kain tenda dipentil beberapa kali.
Keng Thian loncat bangun dan menanya.
"Kau sudah pulang?"
Ia heran. Sedang si nona mau rahasiakan kepergiannya, kenapa sekarang ia datang pada tendanya? Tangannya membuka tenda dan segera juga kupingnya dapat dengar suara tertawa yang sudah dikenal baik.
"Koko, kau sedang pikiri siapa?"
Tanya satu suara wanita.
"Ah, aku kira siapa, tak tahunya setan kecil!"
Kata Keng Thian sembari tertawa. Wanita itu bukan lain daripada Lie Kim Bwee, adik misanannya (piauw).
"Tak salah omongannya Toa-boe dan Siauw-boe,"
Kata Kim Bwee sembari tertawa haha-hihi.
"Ada dia, mesti ada kau. Mereka kata, tendamu mesti berdekatan dengan tendanya dan benar saja tidak meleset. Eh, kau tahu bagaimana keadaannya kecintaanmu sekarang? Aku sih tahu!"
Keng Thian bingung berbareng geli.
"Kenapa? Kau ketemu padanya?"
Tanya ia sembari pukul si nona dengan perlahan.
"Sudah punya kawan baru, kenapa kau jadi begitu galak? Sudahlah, aku tak mau bicara,"
Kim Bwee menggoda terus.
"Baiklah, Piauwmoay-ku yang manis,"
Kata Keng Thian sambil membungkuk.
"Aku minta maaf. Puas? Hayo, lekas bilang."
Kim Bwee tertawa-tawa.
"Tadi aku bertempur dengan dia,"
Katanya.
"Benar-benar hebat! Aku rasa, kau juga bukan tandingannya. Hati-hati lho! Mesti siap-siap buat dihajar olehnya!"
Keng Thian yang sangat kepengen tahu keadaannya Pengtjoan Thianlie, seperti juga tidak dengar godaan adiknya.
"Apa? Kau bertempur dengan ia? Dan dia?"
Tanya Keng Thian.
"Ibu sedang main-main dengan dia,"
Jawabnya.
"Kau tahu adat ibu. Tak tahu ia mau main-main sampai kapan."
"Dan Boe-sie Hengtee?"
Keng Thian tanya lagi.
"Kedua mustika itu bilang, lantaran kau lindungi 'si perempuan siluman', mereka sungkan menemui kau,"
Jawab Kim Bwee.
"Tapi aku tahu, sebenar-benarnya mereka merasa jengah lantaran kena dikalahkan oleh 'perempuan siluman' itu. Eh, siapa sih namanya? Aku belum pernah lihat wanita yang begitu cantik. Sungguh tak pantas Toa-boe dan Siauw-boe namakan ia 'perempuan siluman'."
Keng Thian yang sedang kebingungan, mana sempat ladeni godaan adiknya. Ia jalan mundarmandir dan tarik napas berulang-ulang seraya berkata.
"Hai, bagaimana baiknya? Ie-ie bertempur dengan ia. Bagaimana baiknya?"
"Eh, kenapa kau begitu kebingungan?"
Kata Kim Bwee sembari tertawa.
"Ibu toh bukan mau binasakan padanya. Ibu sendiri bilang, dia cantik sekali. Ia cuma mau main-main sedikit."
Tapi Keng Thian tidak dapat dihiburi dengan perkataan Kim Bwee.
Ia kenal adatnya Pengtjoan Thianlie yang tak dapat dipermainkan secara begitu.
Ia merasa sangat jengkel, kenapa semakin tua bibinya jadi semakin suka geguyonan.
Ia rupanya lupa, bahwa di waktu masih kecil, berkat sifat bibinya yang suka bercanda, ia sendiri jadi lebih dekat dengan sang bibi daripada dengan ibunya sendiri.
Phang Lin dan Phang Eng (ibunya Keng Thian) adalah saudara kembar, tapi sifatnya berbeda seperti langit dan bumi.
Phang Eng pendiam dan sungguh-sungguh, Phang Lin nakal dan berandalan.
Sifat itu tidak berubah sampai Phang Lin berusia lanjut.
Boe Kheng Yab (ibunya Lie Tie atau neneknya Lie Kim Bwee) adalah murid penutup dari Pekhoat Molie.
Itu sebabnya kenapa Lie Kim Bwee paham ilmu silatnya Pekhoat Molie.
Di sebelahnya itu, ia juga dapat berbagai macam ilmu dari ibunya, antaranya ilmu berkelahi di tengah udara seperti seekor burung.
Ilmu tersebut didapat oleh Phang Lin dari Patpie Sinmo (Memedi Delapan Tangan) Sat Thian Tjek.
Phang Lin bukan saja turunkan ilmu silatnya, tapi juga adatnya yang suka bercanda kepada puterinya itu.
Melihat piauwheng-nya kejengkelan, Kim Bwee jadi semakin bungah hatinya.
"Siapa suruh dia hinakan Toa-boe dan Siauw-boe,"
Katanya sembari tertawa.
"Kau tak lihat cara bagaimana mereka dibikin kucar-kacir? Benar-benar bikin orang mendongkol! Bebokongnya ditotol dengan pedang, tidak ditikam, cuma dipermainkan, seperti kucing permainkan tikus. Aku sungguh tak sampai hati! Ibu tolong balaskan sakit hatinya. Eh, kau belum beritahu, siapa sih namanya?"
"Ah, jangan begitu melit,"
Keng Thian menghela napas.
"Semua orang sendiri. Namanya Peng Go. Koei Tiong Beng yang setingkat dengan nenekmu, adalah kakeknya. Kalian permainkan dia, Iethio tentu akan menegur."
"Kau mau mengadu?"
Tanya Kim Bwee sembari letletkan lidahnya.
"Aku tak takut! Aku takut pada ayah, tapi ayah takut pada ibu dan ibu takut padaku. Kau mengadu juga tak ada gunanya."
Keng Thian benar-benar tidak berdaya.
Ia cuma mengharap, di kemudian hari Pengtjoan Thianlie akan mengetahui adatnya sang ie-ie yang suka memain dan dapat menyayang bibinya itu.
Memikir begitu, hatinya jadi lebih tenang.
"Eh, kenapa kalian bisa berada disini?"
Ia tanya sesudah berdiam beberapa saat.
"Piauwko,"
Kata si nona sembari colek janggut kakaknya.
"Kau benar sudah otak miring. Masakan ujian tiga tahun sekali yang diadakan oleh ayahmu sendiri, kau sudah tidak ingat lagi?"
Thiansan pay mempunyai anggauta yang berjumlah besar, yaitu turunan dan murid-muridnya Thiansan Tjitkiam (Tujuh Pendekar Pedang dari Thiansan).
Sesudah Tong Siauw Lan pimpin partai tersebut, tiga tahun sekali ia kumpulkan murid-murid Thiansan pay buat diuji ilmu silatnya.
Ini dinamakan Pertemuan Kecil.
Saban sepuluh tahun sekali diadakan Pertemuan Besar, dimana bukan saja murid-murid, tapi orang-orang dari tingkatan tua juga diundang datang, seperti Moh Tjoan Seng, Tjio Kong Seng dan yang lain-lain.
Tahun itu ialah tahun Pertemuan Kecil.
Tahun yang lalu, ketika mau turun gunung, Tong Keng Thian telah dapat kelonggaran istimewa dari ayahnya buat tidak usah hadiri Pertemuan Kecil itu, jika terpaksa.
Kalau mungkin, ia tentu saja mesti pulang pada temponya yang tepat, akan tetapi, kalau dalam usaha mencari Koei Hoa Seng ia berada di tempat jauh, maka ia boleh tidak usah pulang ke Thiansan.
Itulah sebabnya, kenapa Keng Thian sudah lupakan hal tersebut.
Biarpun sudah dibikin sadar, tapi masih ada hal yang kurang dimengerti.
"Ujian yang dibuka oleh ayahku, ada hubungan apa dengan kedatangan kalian?"
Tanya ia.
"Apa benar kau belum pernah dengar penuturannya Iethio (ayahnya Keng Thian)?"
Tanya Kim Bwee.
"Biarlah aku ceritakan. Dahulu, Hoei-angkin Lootjianpwee, yaitu soetji nenekku, pernah turunkan beberapa jurus ilmu silat kepada suami isteri Huke-tsihu, pemimpin suku Hapsatkek. Isterinya Huke-tsihu, yang bernama Mungmanlis, telah meninggal dunia pada kira-kira sepuluh tahun berselang. Waktu aku masih kecil, aku pernah bertemu padanya yang datang buat sambangi nenek (Boe Kheng Yao). Ketika nenek meninggal dunia, ia sudah terlalu tua buat bisa datang menyambangi."
"Tapi, kalian mempunyai hubungan apakah dengan Mungmanlis yang sudah mati?"
Tanya Keng Thian dengan perasaan heran.
"Apa kau mau cari ia di tempatnya Giam Loo-ong?"
"Eh, apa kau tolol atau berlagak tolol?"
Kata si nona sembari monyongkan mulutnya.
"Aku benar-benar tolol,"
Jawab Keng Thian sembari tertawa.
"Nah, kalau begitu, kau dengarlah,"
Kata Kim Bwee sembari mesem.
"Mungmanlis benar sudah meninggal dunia, tapi ia mempunyai anak cucu. Dari Hui-angkin Lootjianpwee, ia cuma dapat beberapa jurus ilmu silat, sehingga tidak bisa dibilang menjadi murid dan dengan demikian, ia pun tidak termasuk anggauta Thiansan pay. Belakangan, cucu-cucunya Mungmanlis mendapat tahu, bahwa Iethio dan Ie-ie tiga tahun sekali mengadakan Pertemuan Kecil buat uji kepandaiannya murid-murid Thiansan dan juga memberi petunjuk-petunjuk. Lantaran begitu, mereka ingin turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mengingat nenek, ibu sudah permisikan mereka datang. Belakangan, oleh karena kuatir mereka tidak dapat cari tempat pertemuan, ibu segera mengambil putusan buat sambut mereka. Tapi sebenarnya, ibu sudah merasa sangat kesepian dan kepengen turun gunung buat main-main. Aku sendiri tentu saja merasa sangat girang bisa turut jalan-jalan. Itu sebabnya kenapa sekarang kami berada disini. Sudah mengertikah kau? Eh, aku dengar di sebelah depan adalah wilayahnya suku Hapsatkek. Apa benar?"
"Benar,"
Sahut Keng Thian.
"Ie-ie hapal benar keadaan di Sinkiang, buat apa kau tanya-tanya aku?"
"Aku sudah sebal jalan di padang pasir ini,"
Kata Kim Bwee sembari tertawa.
"Aku menanya sebab kuatir ibu dustai aku."
Sesudah berdiam beberapa saat, ia berkata pula.
"Di tengah jalan, kami bertemu dengan Toa-boe dan Siauw-boe yang mengatakan sedang ubar dua orang. Lantaran kami juga mau seberangi padang pasir ini, maka kami lantas jalan bersama-sama. Tak dinyana, malam ini kami bertemu dengan wanita yang bernama Koei Peng Go itu." .
"Dan dimana adanya dua boesoe Nepal itu?"
Tanya Keng Thian.
"Boesoe Nepal?"
Menegasi si nona.
"Yah, itu dua orang yang diubar oleh Toa-boe dan Siauw-boe,"
Jawab Keng Thian.
"Aku tak lihat,"
Jawabnya.
"Sesudah mereka ribut-ribut, barulah aku turun tangan."
Keng Thian jadi tertawa geli.
"Eh, kenapa kau tertawa?"
Tanya Kim Bwee.
"Mungkin kedua boesoe itu sudah dibinasakan oleh Toa-boe dan Siauw-boe, sehingga kau punya Peng Go Tjietjie menjadi gusar."
Keng Thian tak mau ladeni ocehannya sang adik. Ia keluar dari tenda dan memandang ke tempat jauh dengan paras muka guram.
"Kenapa belum juga pulang?"
Ia berkata seorang diri.
"Mungkin ibu belum cukup menggoda ia,"
Kata si nona.
"Apa Ie-ie bakal datang kesini?"
Tanya Keng Thian. Mendadak Kim Bwee pegang pundak kakaknya dan bisik-bisik di kupingnya.
"Ibu bilang, ia bersedia jadi comblang. Malam ini ia goda sang penganten dan lantaran kuatir kau berdua menjadi gusar, ia tak mau datang kesini. Ibu perintah aku memberitahukan kau, supaya ajak pengantenmu pulang ke Thiansan."
"Omong kosong!"
Membentak Keng Thian.
"Ah, bukan omong kosong!"
Jawab Kim Bwee.
"Apakah sesudah tiba disini, kau tak mau menemui Twathio dan Twa-ie?"
Keng Thian jadi kewalahan.
Ia angkat tangannya seperti orang mau memukul dan si nakal berlari-lari sembari berteriak-teriak.
Pada saat itulah, mendadak berkelebat satu bayangan orang yang memakai pakaian warna putih dan dalam sekejap sudah berada di hadapan mereka.
Lie Kim Bwee berhenti tertawa.
"Cepat benar kau balik!"
Katanya.
Tong Keng Thian sendiri sembari tertawa lantas maju menghampiri.
Pengtjoan Thianlie awasi mereka dengan sorot mata dingin dan mendadak, ia putar badannya dan berlalu tanpa berkata sepatah kata.
Sebenarnya, ia merasa suka terhadap Kim Bwee.
Cuma saja, lantaran barusan ia lihat si nona bercanda begitu hangat dengan Keng Thian, ditambah perkataan "cepat benar kau balik,"
Hatinya jadi berdongkol.
Selainnya begitu, barusan ia sudah digoda pulang pergi oleh ibunya Kim Bwee, sehingga amarahnya jadi naik.
Ia jalan terus balik ke tenda dan tidak ladeni teriakannya Keng Thian.
"Hebat benar adatnya!"
Kata Kim Bwee sembari letletkan lidah.
"Tong Koko, aku sudah bikin marah kau punya Peng Go Tjietjie. Tak berani aku berdiam lama-lama lagi disini."
Terhadap adik misan yang nakal itu, benar-benar Keng Thian tak berdaya. Ia cuma bisa tertawa getir. Baru jalan beberapa tindak, si nona berpaling dan berkata pula.
"Ingat! Ajak isterimu supaya bisa berkenalan dengan saudara-saudara. Penemuan kali ini dibikin di atas Puncak Onta dari gunung Mostako. Yang bakal memberi ceramah tentang ilmu silat adalah ibumu sendiri. Kesempatan itu benar-benar tidak boleh dilewati begitu saja."
Sehabis berkata begitu, dengan satu tertawa nyaring, si nakal lantas berlari-lari dengan gunakan ilmu entengi badan dan dalam sekejap saja, ia sudah menghilang dari pemandangan.
Dengan pikiran kusut, perlahan-lahan KengThian hampiri tendanya Pengtjoan Thianlie.
Penerangan sudah padam, cuma lapat-lapat ia dengar suara tangisan.
"Peng Go Tjietjie,"
Ia memanggil.
Tak ada sahutan.
Ia memanggil lagi beberapa kali, tapi tetap si nona tidak menyahut, cuma suara tangisan lantas berhenti.
Keng Thian berdiri bengong di depan tenda.
Mendadak satu ingatan berkelebat di otaknya.
"Piauwmoay guyon-guyon, tapi perkataannya memang ada benarnya juga,"
Katanya didalam hati.
"Memang baik juga jika aku bisa bawa Peng Go menemui ayah dan ibu. Ayah dan beberapa tjianpwee lainnya sangat pikiri Koei Hoa Seng Pehpeh. Mereka tentu akan girang sekali kalau bisa bertemu dengan puterinya Koei Pehpeh. Cuma saja, Peng Go selalu kelihatan kurang senang jika dengar aku mau ke Thiansan dan Ie-ie baru saja permainkan dia. Sekarang ia tentu lebih-lebih sungkan pergi ke Thiansan. Ah, bagaimanakah baiknya?"
Dalam kebimbangan, tangannya mendadak kena langgar batu giok pemberian Liong Sam yang berada dalam kantongnya.
"Perjalanan buat menemui Pehhu-nya (paman) Peng Go mesti makan tempo beberapa bulan,"
Pikir Keng Thian.
"Kalau bisa pergi dahulu ke Thiansan, dua urusan, bisa beres dengan berbareng, sedang ayah dan ibu juga tak usah pikiri aku. Berbareng dengan itu, aku juga bisa tahu asal-usulnya Liong Sam Sianseng. Tapi bagaimana membujuk Peng Go?"
Sesudah putar otaknya, tiba-tiba ia dapat jalan yang sangat baik.
Ketika itu sang malam sudah hampir terganti dengan siang.
Sesudah mendapat pikiran baik, Keng Thian jadi bersemangat.
Ia tidak balik ke tendanya, tapi jalan mundar-mandir di depan tenda si nona sampai fajar menyingsing.
Begitu lekas terang tanah, tenda tersingkap dan Yoe Peng munculkan diri.
Ia merasa heran ketika lihat Keng Thian masih berada disitu dan lalu berkata.
"Kongtjoe bilang, kau tak usah kawani ia lagi. Ia bisa pergi sendiri."
Tong Keng Thian tercengang.
Ia tak duga hatinya Pengtjoan Thianlie begitu keras.
Sesudah putar otak setengah malaman, baru ia dapat satu tipu bagus, tapi sekarang jadi sia-sia saja.
Ia jadi bengong dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Melihat si pemuda jadi seperti orang linglung, Yoe Peng jadi kasihan berbareng geli.
"Eh, apa semalam kau tak tidur?"
Ia tanya. Keng Thian tertawa getir. Ia tidak jawab pertanyaan orang, tapi berkata seorang diri.
"Keadaan sekarang bukannya seperti keadaan semalam, untuk siapakah 'ku gadangi sang malam di tengah angin dan embun!"
Baru saja ia habis ucapkan perkataan begitu, tenda kembali terbuka dan Pengtjoan Thianlie kelihatan berjalan keluar!
Hatinya si nona sebenarnya masih mendongkol, akan tetapi begitu dengar sajak yang diucapkan oleh Keng Thian, ia jadi girang berbareng sedih, sehingga hampir-hampir ia kucurkan air mata.
Sajak itu adalah buah kalamnya Oey Tiong Tjek, seorang sastrawan kenamaan pada jaman itu, yang dikenal bukan saja di sebelah selatan dan utara Sungai Besar, tapi malahan sampai di daerah perbatasan yang jauh.
Sedari usia sepuluh tahun, pada waktu kedua orang tuanya masih hidup, Pengtjoan Thianlie sudah baca kumpulan sajak-sajaknya Oey Tiong Tjek.
Maka itulah, begitu dengar ucapannya Tong Keng Thian, ia jadi merasa terharu, seolah-olah si pemuda yang sengaja menggubah sajak tersebut untuk dirinya.
"Ah, si tolol ternyata sudah gadangi malam di tengah angin dan embun untuk diriku!"
Katanya didalam hati. Melihat Pengtjoan Thianlie muncul waktu ia baru saja habis ucapkan perkataannya, mukanya Keng Thian jadi bersemu merah lantaran jengah.
"Peng Go Tjietjie! Pagi benar kau sudah bangun!"
Katanya sembari menghampiri.
"Kau sendiri terlebih pagi,"
Kata Yoe Peng.
"Eh, Siauw Kongtjoe! Si tolol tak tidur seluruh malam!"
Pengtjoan Thianlie lirik padanya, tapi tidak berkata suatu apa. Sesudah lewat sekian lama, ia dongak dan berkata dengan suara tawar.
"Terima kasih yang kau sudah kawani kami selama banyak hari. Mulai dari sekarang, tak usah lagi. Kami sendiri bisa tanya-tanya jalanan."
Keng Thian yang tajam kupingnya lantas bisa menangkap, bahwa biarpun suaranya tawar, tapi cukup lunak.
"Di padang pasir, orang paling gampang kesasar,"
Katanya sembari tertawa.
"Selainnya begitu, di tengah jalan kalian belum tentu bisa bertemu orang-orang yang kenal jalan. Aku justru sedang senggang dan dengan mau sendiri, aku bersedia jadi penunjuk jalan. Kenapa juga kalian mau jalan sendiri?"
Sekali ini, si nona kena dikalahkan juga.
Sebenarnya, jika turuti adatnya, ia masih ingin ngambek dan semprot si pemuda dengan beberapa perkataan tajam.
Akan tetapi, lantaran sungkan dikatakan jelus terhadap si nona cilik yang kelihatannya begitu rapat dengan Keng Thian dan juga sebab merasa tidak tega buat keluarkan perkataan berat, maka, sesudah dengar omongannya Keng Thian, ia manggut sedikit dan berkata dengan suara perlahan.
"Baiklah."
Sebagai orang yang belum pernah menjelajah di padang pasir, Pengtjoan Thianlie tidak tahu ke arah mana mereka sedang berjalan, oleh karena di hadapan mereka cuma terlihat lautan pasir yang seakan-akan tiada tepinya.
Sesudah berjalan beberapa hari, deretan gunung yang tadinya hanya kelihatan samar-samar jadi semakin nyata, sedang sebuah gunung besar yang menjulang keawan semakin lama jadi semakin dekat.
"Bukankah kau bilang mau pergi ke Soetjoan?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Tapi kenapa kita agaknya mendekati Thiansan?"
"Dari sini Thiansan masih jauh sekali,"
Jawab Keng Thian sembari tertawa.
"Kita sekarang sedang potong jalan, supaya lebih dekat."
Si nona yang tidak kenal jalan, tidak berkata apa-apa lagi dan terus mengikuti saja.
Selama beberapa hari yang pertama, sikapnya Pengtjoan Thianlie masih tawar, akan tetapi, sesudah lewat belasan hari, ia dapat pulang kegembiraannya dan berjalan sembari omong-omong dan tertawatawa.
Sesudah seberangi lautan pasir, pada suatu hari tibalah mereka di depannya satu gunung besar yang atasnya tertutup es dan salju.
Pada lerengnya gunung tersebut terdapat satu puncak tertutup salju yang bentuknya seperti seekor onta, kepalanya di timur, buntutnya di sebelah barat.
Hatinya Pengtjoan Thianlie jadi curiga dan tanya.
"Apakah ini bukannya Thiansan?"
"Bukan,"
Jawab Keng Thian. Jika tak percaya, kau boleh tanya gembala."
Di kaki gunung itu .terdapat tanah rumput yang sangat subur, dimana orang sering dapat ketemukan kaum gembala yang angon binatang piaraannya.
Sesudah berjalan lagi beberapa li, mereka bertemu serombongan orang yang sedang giring ontanya dan waktu ditanya, mereka menerangkan, bahwa gunung itu adalah gunung Mostako, sedang puncak yang seperti onta dinamakan Puncak Onta.
Mendengar keterangan itu, hatinya Pengtjoan Thianlie baru menjadi lega.
Ia tidak tahu, bahwa gunung Mostako sebenarnya adalah cabangnya Thiansan, sedang tempat itu sudah dekat sekali dari Puncak Selatan.
Pengtjoan Thianlie dongak mengawasi awan yang melayang hilir mudik, sedang salju yang menutupi puncak menyiarkan ribuan warna gilang gemilang lantaran disoroti sinarnya matahari.
Melihat itu semua, mau tak mau, si nona jadi ingat keraton es dan lama sekali ia berdiri disitu, menikmati pemandangan alam yang sangat indah.
"Gunung ini agaknya lebih tinggi dari Nyenchin Dangla!"
Katanya dengan suara kagum.
"Pemandangannya juga luar biasa indah! Cuma saja di Nyenchin Dangla terdapat Thian-ouw, yang merupakan timpalan tepat bagi sang gunung dan tak dapat dicari bandingannya di lain tempat."
Keng Thian mesem dan berkata.
"Di atas Puncak Onta terdapat sebuah telaga es, yang meskipun tak dapat direndengkan dengan Thian-ouw, mempunyai semacam keindahan yang sangat istimewa."
Si nona menengok dan tertawa.
"Apa benar?"
Ia tanya, tapi lantas juga ia menghela napas dan berkata lagi.
"Cuma sayang kita mesti teruskan perjalanan."
Mendadak di atas gunung lapat-lapat terdengar suara seperti pecahnya kepingan es.
"Ih!"
Kata Yoe Peng.
"Itulah suara hancurnya es lantaran kena diinjak orang. Apa di atas puncak terdapat banyak manusia?"
"Telaga es yang barusan aku sebutkan, bukan cuma pemandangan-nya yang indah, tapi juga mempunyai daya penarik lain, yaitu Soatlian (Teratai es) yang banyak tumbuh di tengah telaga,"
Menerangkan Keng Thian.
"Pada permulaan musim semi, pemburu yang nyalinya besar sering datang kesitu buat memetik Soatlian yang harganya sangat tinggi. Didengar dari suaranya, orang yang berada di atas bukan cuma satu dua orang."
Thiansan Soatlian adalah semacam bunga yang langka dalam dunia, bukan saja warnanya luar biasa indah, tapi juga merupakan satu obat yang tiada bandingannya.
Soatlian dapat menyembuhkan penyakit kurang darah, macam-macam luka dan punahkan racun.
Dalam keraton es terdapat macam-macam obat, di antaranya ada juga yang menggunakan Soatlian sebagai campuran, tapi Pengtjoan Thianlie belum pernah lihat Soatlian yang sedang mekar.
Kegembiraannya si nona jadi terbangun dan ia berkata sembari tertawa.
"Kalau begitu, apa tidak baik kita korbankan tempo setengah hari buat naik ke atas untuk melihat bunga yang langka itu?"
Keng Thian hampir bersorak lantaran girangnya, tapi sedapat mungkin, ia tahan perasaan hatinya.
"Jika Tjietjie ingin, aku bersedia buat mengantar,"
Katanya dengan sikap tenang.
Oleh karena tertutup es, Puncak Onta luar biasa licinnya, sehingga sekalipun kawanan binatang masih sukar manjat ke atas.
Pemetik Soatlian biasanya mendaki gunung beramai-ramai dengan hubungkan badan mereka satu sama lam dengan tambang yang kuat.
Mereka pacul es guna membuat tempat taruh kaki dan naik dengan perlahan sekali.
Akan tetapi, biarpun begitu, masih tidak jarang terjadi kecelakaan.
Tong Keng Thian bertiga yang mempunyai ilmu entengi badan sangat tinggi, masih memerlukan satu jam lebih buat naik ke atas puncak.
Setibanya di atas, dengan hati terbuka, mereka pandang alam yang luas.
Bagaikan sehelai sutera putih, air yang sangat bening turun dengan perlahan dari atas gunung dan masuk ke dalam satu telaga yang garis tengahnya beberapa puluh tombak.
Di atas telaga itu terlihat kepingankepingan es yang bersinar terang dan rontokan bunga yang terombang-ambing kesana-sini, menuruti gerakannya sang air.
Di sebelah sana terdapat pohon-pohon bunga hutan yang tumbuh berdampingan dengan pohon-pohon berduri.
"Dimana adanya Soatlian?"
Tanya Pengtjoan Thianlie.
"Ah, semuanya sudah kena dipetik orang,"
Jawab Keng Thian dengan suara menyesal.
Si nona merasa kecewa, akan tetapi, lantaran pemandangan disitu benar-benar indah, ia merasa ada harganya juga buat datang ke tempat tersebut.
Selagi pandang keadaan di sekitarnya, mendadak ia lihat banyak tapak kaki di atas salju, dari pinggir telaga sampai ke gerombolan pohon-pohon kembang.
Di sebelah belakang pohon-pohon kembang itu lapat-lapat masih terdengar suara tindakan manusia.
"Sesudah tiba disini, kau sebenarnya harus melihat-lihat lebih banyak lagi,"
Keng Thian mendadak berkata sembari tertawa.
"Tempat ini adalah tempat asal dari partaimu."
"Apa?"
Menegasi si nona.
"Dahulu kakekmu bertemu dengan Soetjouw-mu, Sin Liong Tjoe, di ini tempat,"
Menerangkan Keng Thian.
"Kalau begitu, di belakangnya pohon-pohon kembang itu mesti terdapat guanya Soetjouw,"
Kata Pengtjoan Thianlie yang lantas cabut pedangnya buat membabat pohon-pohon itu dan lalu masuk ke dalamnya.
Baru masuk beberapa tindak, ia dapatkan satu jalanan kecil, yang dilihat dari tanahnya, baru saja habis dibuat.
Pengtjoan Thianlie jadi curiga.
Di belakangnya pohon-pohon kembang itu terdapat satu batu besar dan di atas batu terpahat sebuah gua cetek yang bentuknya seperti manusia yang sedang bersemedhi.
Batu itu adalah tempat bersemedhinya Sin Liong Tjoe yang pernah bersila disitu sembilan belas tahun lamanya, sehingga badannya jadi terpeta di atas batu.
Belakangan dengan turuti peta badan itu, muridmuridnya pahat batu itu dan membuat satu gua cetek.
Sesudah Sin Liong Tjoe meninggal dunia, ia tinggalkan se
Jilid kitab ilmu silat.
Koei Tiong Beng, kakeknya Pengtjoan Thianlie, adalah murid yang mewarisi kitab tersebut, sesudah Sin Liong Tjoe menutup mata.
Maka itulah, tempat tersebut dianggap sebagai tempat suci dari Boetong pay cabang Utara.
Sesudah memberi hormat dengan berlutut tiga kali, Pengtjoan Thianlie putari batu itu.
Tibatiba, suara tindakan kaki jadi semakin jelas kedengarannya.
Si nona angkat kepalanya dan lihat belasan gua di lereng gunung seberang.
Di depannya gua yang tengah, dipasang satu tetarap bambu dan dalam tetarap itu kelihatan beberapa bayangan manusia.
Selainnya itu, ditanjakan gunung kelihatan sejumlah orang yang berjalan berkelompok-kelompok, seperti juga sedang mau menghadiri serupa pertemuan.
Pengtjoan Thianlie jadi semakin curiga.
Walaupun belum kenal seluk beluknya Kangouw, akan tetapi dengan sekali lihat saja, ia sudah mengetahui, bahwa orang-orang itu bukannya tukang cari Soatlian.
Dengan mendadak, dalam hatinya muncul satu pertanyaan.
"Buat apa Tong Keng Thian pancing aku naik ke gunung itu?"
Mengingat begitu, si nona lantas lari seperti terbang dengan gunakan ilmu entengi badan Tengpeng touwsoei (Menyeberangi sungai dengan menginjak rumput). Mendadak ia dengar satu orang berseru.
"Hei, siapa wanita itu? Orang luar toh tidak boleh hadiri pertemuan!"
"Ah! Dia berani bawa pedang!"
Berteriak seorang lain.
Pengtjoan Thianlie jadi sangat gusar.
Ia lihat dua pemuda yang mengenakan pakaian hitam dan berdiri ditanjakan, sedang tunjuk-tunjuk dirinya.
Selagi mau unjuk kegusarannya, mendadak terdengar suara tertawa yang sangat nyaring.
Orang yang tertawa adalah satu gadis cilik yang bukan lain daripada Lie Kim Bwee.
"Ha, Tong Koko!"
Ia berseru sembari gapekan Tong Keng Thian.
"Benar saja kau turut nasehatku dan bawa dia kemari. Hei! Kalian jangan pentang bacot! Bisa-bisa kalian digusari Tong Koko! Dia bukan orang luar. Kau tahu dia siapa? Mari, mari! Aku beritahukan kalian!"
Sehabis berseru begitu, ia kembali tertawa nyaring dan mengedip matanya kepada kedua pemuda yang berpakaian hitam, sehingga Pengtjoan Thianlie merasa ia sedang diejek.
Di belakangnya Lie Kim Bwee berdiri Boe-sie Hengtee dan dua orang lagi yang tidak dikenal.
Bukan main gusarnya Pengtjoan Thianlie.
"Hm, Tong Keng Thian!"
Ia menggerendeng dengan hati panas.
"Berani benar kau permainkan aku! Kau pancing aku ke atas gunung buat jadi buah tertawaan orang!"
Ia enjot tubuhnya buat bikin perhitungan dengan Tong Keng Thian yang dianggap kurang ajar sekali. Ketika itu, Keng Thian sendiri sudah dicegat dan dikocok oleh Lie Kim Bwe.
"Piauwmoay, janganlah omong yang gila-gila!"
Kata Keng Thian berulang-ulang dengan suara memohon.
Pengtjoan Thianlie jadi terlebih gusar lagi, tapi sebelum ia dapat datang dekat, di depannya berkelebat bayangan orang dan seorang wanita setengah tua sudah berdiri di hadapannya.
Si nona kenali wanita itu sebagai orang yang pernah permainkan dirinya di tengah jalan.
"Apakah kau datang bersama Keng-djie (anak Keng)?"
Tanya wanita itu sembari tertawa.
Seperti api disiram minyak, tanpa pikir panjang, Pengtjoan Thianlie ayun tangannya dan lepaskan enam butir Pengpok Sintan dengan berbareng.
Ia tahu, ilmu silatnya tidak nempil dengan nyonya itu dan lantas mendahului dengan senjata rahasianya yang liehay.
"Apa artinya ini?"
Kata wanita itu sembari pentang lima jerijinya, yang bagaikan bunga anggrek mendadak mekar, sudah pentil lima butir pelurunya Pengtjoan Thianlie.
Sungguh heran, begitu kena pentilan, lima peluru itu melayang-layang di tengah udara, tidak meledak dan juga tidak jatuh ke tanah!
Dari sini dapat dilihat, bahwa lweekang-nya wanita itu sudah mencapai puncaknya kesempurnaan.
Tapi ini belum seberapa.
Apa yang membikin Pengtjoan Thianlie jadi terkesima adalah.
Ketika Pengpok Sintan yang terakhir menyambar, wanita itu sanggap dengan mulutnya dan terus telan peluru tersebut!
"Sungguh menyegarkan!"
Katanya sembari mesem.
"Lebih menyegarkan dari air gunung."
Sebagaimana diketahui, Pengpok Sintan mempunyai hawa dingin yang luar biasa.
Orang yang lweekang-nya belum cukup, kena hawanya saja sudah menggeletak.
Orang yang lweekang-nya cukup tinggi kebanyakan mesti roboh, jika kena dihantam jalanan darahnya.
Maka itu, tidaklah heran jika Pengtjoan Thianlie sendiri jadi terkesima waktu lihat wanita tersebut dapat menelan pelurunya, seperti orang telan sebutir es.
Tanpa berkata suatu apa, si nona lantas balik badannya dan terus kabur.
Badannya wanita itu mendadak melesat ke tengah udara sembari kebas tangannya dan lima butir Pengpok Sintan lantas masuk kedalam tangan bajunya.
"Senjata rahasia ini aku belum pernah lihat,"
Katanya sembari tertawa.
"Nona, kita belum kenal satu sama lain, tapi kenapa, begitu bertemu muka, kau lantas menyerang dengan senjata yang begitu hebat?"
Pengtjoan Thianlie yang pernah rasakan liehaynya wanita itu, lantas duga dirinya mau dipermainkan lagi. Ia tahu tak akan dapat loloskan diri dan segera hentikan tindakannya.
"Jika kau benar-benar seorang pandai dari tingkatan tua, tidaklah pantas berulang kali kau permainkan orang dari tingkatan muda,"
Ia membentak.
"Hm! Thiansan pay benar pandai menghina pihak yang lemah. Sekarang aku baru percaya!"
Wanita itu terkejut dan berkata dalam hatinya.
"Lagi kapan aku permainkan dia? Kenapa dia memaki?"
Sebenarnya nyonya itu bukannya Phang Lin (ibunya Lie Kim Bwee), tapi Phang Eng, ibunya Tong Keng Thian.
Phang Lin dan Phang Eng adalah saudara kembar yang rupanya bersamaan seperti pinang dibelah dua, tapi adatnya sangat berlainan bagaikan langit dan bumi.
Phang Eng adalah ahli warisnya Thiansan Liehiap Ie Lan Tjoe dan pernah dapat pelajaran juga dari Lu Soe Nio, sehingga ilmu silatnya ada lebih tinggi dari suaminya, Tong Siauw Lan, yang ketika itu jadi pemimpin dari Thiansan pay.
Pada jaman itu, ilmu silatnya Phang Eng tidak ada tandingannya di seluruh Tiongkok.
Pertemuan di Puncak Onta pada kali itu juga berada di bawah pimpinannya.
Melihat kegusarannya Pengtjoan Thianlie, Phang Eng yang lemah lembut berbalik jadi kasihan.
Tadinya ia ingin menanyakan lebih jauh, tapi sesudah dengar perkataannya si nona, ia jadi mundur tiga tindak dan berkata sembari tertawa.
"Pemandanganmu terhadap Thiansan pay agaknya terlalu mendalam! Baiklah, aku sungkan mendesak kau. Jika kau tak sudi, aku juga tak mau menanyakan asal-usulmu."
"Peng-djie, hayo turun gunung!"
Berseru Pengtjoan Thianlie sembari enjot badannya yang lantas melesat belasan tombak jauhnya. Melihat begitu, Phang Eng sendiri jadi kagum dan berkata dalam hatinya.
"Ketika berusia seperti dia, ilmu entengi badanku masih belum begitu tinggi."
Selagi lari, lapat-lapat Pengtjoan Thianlie dengar seruannya Keng Thian.
Lantaran hatinya panas, ia menengok pun tidak.
Dalam tempo sekejap, ia sudah tiba di satu lembah.
Tiba-tiba saja terdengar suara tertawa.
"Bwee-djie bilang, kau tentu datang, aku tadinya belum mau percaya,"
Kata seorang wanita yang mendadak menghadang di tengah jalan.
"Sekarang benar-benar kau berada disini. Tugas comblang rasanya harus dilakukan juga!"
Sehabis berkata begitu, ia tertawa bergelak-gelak, sehingga dua pita kupu-kupu bergoyang-goyang di atas kepalanya.
Pengtjoan Thianlie tak tahu, bahwa wanita itu adalah Phang Lin.
Ia kira Phang Lin adalah wanita yang barusan telan Pengpok Sintan dan yang sekarang sengaja cegat padanya dengan potong jalan.
Ia egos badannya dan lari ke arah tanjakan dan selagi mau mencaci, dari gundukan batu di tanjakan itu sekonyong-konyong loncat keluar satu orang yang ternyata Hiatsintjoe adanya!
Sesudah Liong Leng Kiauw ditahan oleh Hok Kong An, Hiatsintjoe tidak dapat berbuat suatu apa.
Ia cuma bisa perintah In Leng Tjoe pergi ke kota raja untuk memberi laporan kepada Tjongkoan istana dan minta isterinya berdiam di Lhasa untuk mengamat-amati, sedang ia sendiri segera kuntit Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie, dengan harapan bisa dapat bantuannya satu dua kawan di tengah jalan.
Waktu Keng Thian bertiga tiba di atas Puncak Onta, sebab tidak kenal jalan, ia baru sampai di pinggang gunung.
Maka itulah, sebelum sampai di atas, ia sudah bertemu dengan Pengtjoan Thianlie yang sedang kabur ke bawah gunung Mostako.
Begitu bertemu si nona, Hiatsintjoe terkesiap.
Tapi melihat Pengtjoan Thianlie cuma sendirian dan juga rupanya baru kena dikalahkan orang, diam-diam ia bergirang.
Ia lantas loncat keluar dari tempat sembunyinya dan menghantam sama tangannya.
Melihat di depan dicegat musuh dan di belakang diubar orang, Pengtjoan Thianlie mengeiuh.
Ia tidak berani mundur lantaran wanita yang berada di belakangnya merupakan lawanan yang terlalu berat dan sesudah berpikir beberapa saat, ia ambil putusan untuk terjang musuh yang di depan.
Dengan sekali ayun tangannya, ia lepaskan tiga butir Pengpok Sintan dan sesudah cabut Pengpok Hankong kiam, ia segera menerjang dengan sepenuh tenaga.
Mengetahui liehaynya peluru itu, Hiatsintjoe mengegos sembari maju setindak, sehingga di lain saat, ia sudah berdampingan dengan si nona.
Dengan ilmu Kinna Tjhioehoat (Ilmu menangkap dengan tangan), ia sambar pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Selagi si nona mau membabat sama pedangnya, mendadak ia rasakan lehernya ditiup angin dingin dan kupingnya dengar orang berkata.
"Hawa hari ini benar-benar luar biasa, ada dingin, ada panas!"
Itulah Phang Lin yang setelah melihat sambaran hawa panas dari tangannya Hiatsintjoe dan hawa dingin dari Pengpok Hankong kiam, jadi timbul kegembiraannya dan tiup lehernya kedua orang itu.
Mendapat kesempatan, sembari kelit, Pengtjoan Thianlie lalu kabur ke arah tanjakan.
Hiatsintjoe yang tidak kenal siapa adanya nyonya itu, bukan main gusarnya dan lalu menghantam sama tangannya.
Sesudah tiba di tanjakan, lapat-lapat Pengtjoan Thianlie dengar teriakannya Keng Thian.
Hatinya jadi bergoncang dan ia pertahankan tindakannya.
Sekonyong-konyong, dari ujung tanjakan muncul keluar dua pemuda baju hitam yang tadi berada sama-sama Lie Kim Bwee.
"Tinggalkan pedangmu! Baru boleh turun gunung!"
Berseru salah satu pemuda itu.
Salah satu antara dua pemuda itu adalah kakaknya Lie Kim Bwee yang bernama Lie Tjeng Lian, sedang yang satunya lagi adalah muridnya Tong Siauw Lan yang bernama Tjiong Tian, cucu keponakannya Tjiong Ban Tong (Pemimpin Boekek pay).
Mereka berdua yang bersamaan usia dan bersamaan pula pakaiannya adalah seperti saudara kandung.
Tadi mereka sudah kena diobor oleh Boe-sie Hengtee dan sengaja cegat baliknya Pengtjoan Thianlie untuk tolong balaskan sakit hatinya kedua saudara Boe itu.
Alisnya si nona jadi berdiri bahna gusarnya.
"Aku tadinya tak percaya murid-murid Thiansan begitu jago-jagoan!"
Katanya dengan suara tawar, la jejak kakinya dan bagaikan kilat sudah berada di hadapannya kedua pemuda itu.
Dengan gerakan Tjianli penghong (Ribuan li es menutup), ia membuat satu lingkaran dengan pedangnya dan kedua pedang lawannya lantas saja terkurung di dalam sinar Pengpok Hankong kiam.
Tadi, jarak antara Pengtjoan Thianlie dan kedua pemuda itu ada kira-kira belasan tombak.
Jika si nona menggunakan ilmu entengi badan yang biasa, mereka berdua masih mempunyai kesempatan untuk bersiap.
Tak dinyana, kali itu Pengtjoan Thianlie menggunakan Hoasoat (Menyerosot di salju) yang tiada tandingannya dalam dunia dan lebih cepat daripada ilmu Lioktee hoeiteng (Terbang di atas tanah).
Suara dan manusianya tiba hampir berbareng dan sebelum kedua pemuda dapat bergerak lebih jauh, pedang mereka sudah berada dalam kurungan Hankong kiam.
Mereka terkejut bukan main.
Baru Hankong kiam diputar beberapa kali, Lie Tjeng Lian dan Tjiong Tian sudah merasa kewalahan dan hampirhampir saja pedangnya kena dibikin terpental.
Si nona yang sedang panas hatinya tak sungkansungkan lagi dan terus desak lawannya secara hebat.
Tjiong Tian yang berdiri di sebelah kanannya Pengtjoan Thianlie, adalah murid satu-satunya dari Tong Siauw Lan.
Walaupun ilmu silatnya belum matang seperti Tong Keng Thian, tapi ia sudah dapat menyelami isinya Thiansan Kiamhoat.
Selagi keteter, ia tak jadi bingung dan mendadakan saja ingat satu cara untuk membela diri.
Tiba-tiba ia robah cara bersilatnya dan menyerang dengan gerakan Kanghay lengkong (Sungai dan lautan membeku sinar).
Pukulan itu adalah salah satu pukulan dari ilmu pedang Thaysiebie yang digubah untuk pertahankan diri terhadap lawan yang lebih kuat.
Dengan Kanghay lengkong, semua tenaga dalam dipusatkan di ujung pedang.
Pengtjoan Thianlie yang sedang gembira jadi kaget sekali, ketika dapat kenyataan pedangnya lawan tak dapat lagi disampok terpental.
Di lain saat, Lie Tjeng Lian yang mempunyai kepandaian lebih tinggi dari adiknya, tidak mau sia-siakan kesempatan yang baik dan lalu kirim beberapa serangan dengan ilmu silatnya Pekhoat Molie.
Jika satu sama satu, memang kepandaiannya Pengtjoan Thianlie ada lebih tinggi dari kedua pemuda itu.
Akan tetapi dengan dua lawan satu, si nona jadi berada di bawah angin.
Barusan, berkat ilmu Hoasoat, ia dapat mendahului menyerang dan sudah bikin dua lawannya menjadi repot.
Tapi itu adalah untuk sementara waktu saja.
Sesudah Tjiong Tian dan Lie Tjeng Lian dapat tetapkan hatinya dan bersilat secara tenang, Pengtjoan Thianlie mulai rasakan beratnya sang lawan.
Akan tetapi, lantaran sudah pernah lihat cara bersilatnya Lie Kim Bwee dan juga lantaran biasa bersilat di atas salju yang licin, sesudah tiga puluh jurus, Pengtjoan Thianlie masih terus dapat melayani secara berimbang.
Melihat begitu, diam-diam Lie Tjeng Lian dan Tjiong Tian merasa terkejut berbareng kagum.
Pengtjoan Thianlie juga tidak kurang kagumnya dan mesti akui, bahwa murid-murid Thiansan pay benar-benar tidak boleh dipandang enteng.
Sedang serunya mereka bertempur, sekonyongkonyong terdengar suara teriakan seorang wanita dari atas gunung.
"Lian-djie! Tian-djie! Biarkan dia pergi! Lekas balik!"
Pengtjoan Thianlie terkesiap.
Suara itu terang-terangan datang dari Puncak Onta yang jauh, en toh kedengarannya seperti di dalam kuping!
Apa yang lebih mengherankan adalah.
Wanita setengah tua itu toh sedang layani Hiatsintjoe di tanjakan gunung, tapi kenapa sekarang suaranya datang dari atas gunung?
Si nona tak tahu, bahwa yang sedang layani Hiatsintjoe adalah Phang Lin, sedang yang panggil Tjeng Lian dan Tjiong Tian adalah Phang Eng.
Mendengar panggilan itu, Tjeng Lian dan Tjiong Tian tak berani membantah.
Mereka mendesak hebat dengan berharap si nona mundur beberapa tindak, supaya dapat undurkan diri.
Tapi Pengtjoan Thianlie yang beradat tinggi bukan saja tidak mau memberikan kesempatan, tapi malahan segera ambil putusan untuk jatuhkan lawannya.
Demikianlah, selagi kedua pemuda itu mau tarik pulang pedangnya, ia barengi dengan dua kali babatan.
Tjiong Tian masih dapat tolong dirinya, tapi Lie Tjeng Lian yang terlambat sedikit kena disontek pedangnya yang lantas terbang ke tengah udara!
"Hm!
Coba lihat siapa yang keok?"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari menyingkir dengan ilmu Hoasoat.
Tjeng Lian berteriak-teriak bahna gusarnya, tapi ia tidak dapat berbuat lain daripada pulang ke gunung bersama sahabatnya.
Sekarang marilah kita tengok Keng Thian yang tadinya dengan pancing Pengtjoan Thianlie ke atas Puncak Onta, ingin mempertemukan si nona dengan kedua orang tuanya, supaya dapat singkirkan ganjelan yang dahulu.
Tapi siapa nyana, si nona sudah keliru sangka ibunya sebagai bibinya dan tanpa banyak bicara lantas menimpuk dengan Pengpok Sintan.
Keng Thian tahu, ibunya yang pendiam tidak boleh dibuat gegabah, beda jauh dengan bibinya yang suka bercanda.
Begitu lihat si jelita menimpuk, hatinya mencelos!
la sangat kuatir, dengan adanya peristiwa itu, sang ibu akan membenci kecintaannya.
Dalam kebingungannya, ia sudah diganggu oleh Kim Bwee yang nakal dan sesudah buang banyak tempo yang berharga, barulah ia dapat mengubar.
Pengtjoan Thianlie lari terus tanpa ladeni segala teriakannya Keng Thian, yang juga tak kenal sudah dan terus mengubar dengan sekuat tenaga.
Semakin lama, jarak antara mereka jadi semakin dekat dan sesudah Keng Thian berada belasan tombak dari dirinya, barulah si nona menengok sembari keluarkan suara di hidung.
"Peng Go Tjietjie, dengarlah dahulu omonganku!"
Berseru Keng Thian. Pengtjoan Thianlie pungut segumpal salju yang lantas ditimpukan ke mukanya si pemuda.
"Baru sekarang aku tahu kau siapa!"
Ia membentak.
"Aku dibuat bahan guyonan olehmu!"
Dengan ilmu Hoasoat, ia kembali sudah terpisah jauh dari Keng Thian.
"Sesudah dengar omonganku, masih belum terlambat kalau kau mau pergi juga,"
Mengeluh Keng Thian. Si nona kembali menimpuk dengan bola salju.
"Siapa mau dengar ocehanmu!"
Membentak ia.
"Sudah, kau jangan bicara lagi sama aku!"
Sebagai seorang yang masih mempunyai keangkuhan, mendengar itu Keng Thian segera hentikan tindakannya.
Sedang ia putar otaknya untuk mencari lain jalan, dari atas Puncak Onta mendadak terdengar suara ibunya.
"Keng-djie, balik!"
Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang angker.
"Keng-djie, tak boleh kau halangi nona itu!"
Itulah suara ayahnya, Tong Siauw Lan.
Waktu baru bertemu, Tong Siauw Lan suami isteri duga Pengtjoan Thianlie adalah sahabat puteranya.
Meskipun merasa kurang senang puteranya bawa-bawa orang luar kesitu, mereka tidak merasa terlalu keberatan.
Belakangan, setelah tanpa sebab, si nona menyerang dengan Pcngpok Sintan, mereka jadi salah menaksir.
Mereka taksir nona itu adalah muridnya salah satu siapay (cabang persilatan yang kotor) yang sengaja dikirim kesitu untuk coba mengacau.
Mereka malahan menduga, bahwa nona itu sudah digiring ke Puncak Onta oleh Keng Thian, supaya mereka dapat menjatuhkan hukuman.
Akan tetapi, mengingat tingkatannya yang tinggi dalam Rimba Persilatan, Tong Siauw Lan suami isteri sungkan menyusahkan orang yang tingkatannya lebih rendah.
Terlebih pula, tadi Phang Eng sendiri sudah membiarkan ia turun gunung.
Oleh karena begitu, mereka lantas teriaki puteranya untuk larang sang putera menghalangi perginya si nona.
Keng Thian tentu saja tidak berani membantah perintah kedua orang tuanya.
Dengan mata mendelong, ia mengawasi si nona yang kabur dengan gunakan ilmu Hoasoat dan dalam tempo sekejapan saja, badannya berubah seperti satu titik hitam, akan kemudian menghilang dari pandangan.
Dengan pikiran kusut, perlahan-lahan Keng Thian mendaki gunung.
Sesampainya di pinggang gunung, ia bertemu bibinya yang sedang permainkan Hiatsintjoe.
"Keng-djie!"
Berseru sang bibi.
"Lihat, aku sedang main-main dengan monyet tua ini. Lihat yang benar! Pukulan ini mesti kau pelajari!"
Sehabis berseru, ia tiup lawannya!
Hiatsintjoe jadi kalap.
Dengan kuping yang sudah terlatih, ia tahu si nyonya sedang berada di belakangnya.
Sembari berbalik, ia menghantam dengan sekuat tenaga.
Phang Lin pentang tiga jerijinya dan dengan meniru caranya Niauw-eng (semacam burung elang), ia sambar nadinya Hiatsintjoe.
Nadi adalah bagian tubuh yang sangat berbahaya.
Jika nadi kena dicekel, biar bagaimana pandai pun, ia bakalan tidak berdaya lagi.
Secepat mungkin, Hiatsintjoe tarik pulang tangannya, tapi toh masih kena juga kepentil, sehingga tanpa tercegah lagi, tangannya balik menggaplok mukanya yang lantas saja menjadi bengkak!
"Pukulan itu dinamakan pukulan gaplok diri sendiri!"
Kata si nyonya sembari tertawa besar.
Tong Keng Thian sebenarnya lagi sangat jengkel.
Tapi mendengar omongan bibinya yang sangat jail itu, ia jadi tertawa berkakakan.
Puluhan tahun Hiatsintjoe berlatih dan sebegitu jauh ia merasa kepandaiannya sudah tiada tandingannya lagi.
Tapi siapa nyana, baru saja turun gunung, beruntun dua kali ia kena tubruk tembok.
Tidaklah heran jika ia jadi berteriak-teriak seperti orang gila dan lantas ambil putusan untuk bertempur mati-matian.
Lebih dahulu ia tutup semua bagian badannya yang berbahaya dan kemudian kerahkan seluruh tenaga dalamnya sampai pada kedua tangannya yang lantas digunakan untuk serang Phang Lin secara nekat-nekatan.
Bukan main hebatnya pukulan-pukulan itu.
Keng Thian yang berdiri dalam jarak tiga tombak, masih dapat rasakan hawa yang sangat panas!
"Aku sungguh sebal menghadapi setan kecil ini,"
Kata Phang Lin sembari kerutkan alisnya.
"Anjing kecil bisa juga ngambek! Hm! Baiklah, aku kasih kau sedikit ajaran!"
Ia berpaling kepada Keng Thian dan berkata.
"Eh, Keng-djie! Kau tahu, siapa adanya siluman tua ini?"
"Anjingnya kerajaan Tjeng,"
Jawab sang keponakan. Phang Lin tanya begitu lantaran mau menimbang berat entengnya hukuman yang ia mau jatuhkan. Begitu dengar jawaban Keng Thian, ia tertawa gembira sekali.
"Bagus! Bagus!"
Katanya.
"Kau andalkan kedua tangan anjingmu untuk hinakan orang, baiklah aku putuskan dua tangan anjing itu!"
"Iebo (bibi), pakailah pedangku,"
Kata Keng Thian.
"Hm, masakah untuk kutungkan tangan anjing saja aku memerlukan pedang wasiat,"
Kata si nyonya.
"Kau lihat saja."
Phang Lin tertawa bergelak-gelak sehingga kedua kupu sutera yang dipasang pada rambutnya, jadi tergoyang-goyang.
Mendadakan, ia raba kepalanya dan copotkan dua kupu-kupu itu, yang ternyata dibuat dari puluhan lembar benang sutera berwarna.
Ia buka benang-benang itu yang lantas saja melayanglayang di tengah udara.
"Nah, kau lihat biar betul,"
Kata sang bibi sembari menengok kepada Keng Thian. Kedua tangannya pegang benang-benang itu yang lantas disabetkan ke arah Hiatsintjoe.
"Perempuan siluman! Sungguh kau menghina aku!"
Membentak Hiatsintjoe sembari membabat dengan dua tangannya.
Sedikitpun ia tidak percaya, benang yang begitu halus dapat mengikat tangannya.
Tapi siapa nyana, benang-benang itu yang tidak dapat dicengkeram dan juga tidak dapat diputuskan dengan sabatan tangan, melayang terus ke arah kedua tangannya yang dalam sekejap lantas kena terikat dan tidak dapat bergerak lagi!
Ternyata, diam-diam Phang Lin sudah kerahkan tenaga dalamnya sampai pada benang-benang itu yang lantas berobah sifatnya seperti kawat baja.
Demikianlah, seorang yang tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, dapat binasakan musuhnya dengan selembar daun atau sekuntum bunga.
Dalam Rimba Persilatan, tidak ada orang yang mempunyai begitu banyak macam kepandaian seperti Phang Lin.
Ilmu yang barusan dikeluarkan olehnya berasal dari sekte Topi Merah di Tibet.
Orang Tibet suka tangkap badak dengan menggunakan laso.
Oleh karena sang badak mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya, kecuali kalau kejirat kaki depannya, tambang laso dengan mudah dapat dibikin putus olehnya.
Melihat cara menangkap badak itu, Tjouwsoe sekte Topi Merah yang bernama Khalpa segera menggubah semacam ilmu untuk jirat nadinya musuh dengan tambang lemas.
Jika nadi kena diikat, biar orang itu mempunyai tenaga yang bagaimana besar juga, ia pasti tidak berdaya lagi.
Waktu masih kecil, selagi berdiam dalam gedungnya Soehongtjoe (putera kaizar yang ke empat) In Tjeng (belakangan jadi kaizar Yongtjeng), Phang Lin telah pelajari ilmu tersebut.
Belakangan, sesudah undurkan diri ke Thiansan dan pelajari Lweekeh Khiekang, ia dapat kerahkan tenaga dalamnya sampai pada benang-benang halus yang lantas berobah sifatnya jadi seperti kawat baja.
Begitulah, dengan terjiratnya kedua nadi, darahnya Hiatsintjoe tidak dapat berjalan benar, sehingga bukan saja ia rasakan kesakitan hebat, tapi napasnya juga lantas menjadi sesak.
Ia tak dapat kerahkan tenaga dalamnya, matanya melotot dan tak dapat mengeluarkan suara.
Melihat begitu, Keng Thian taksir, setengah jam lagi, biarpun kedua tangannya tidak sampai menjadi putus, Hiatsintjoe pasti akan binasa.
Tiba-tiba dengan berkelebatnya bayangan orang di puncak seberang, terdengar teriakan.
"Lin-moay, guyonanmu sudah sedikit keterlaluan!"
Orang yang berseru begitu adalah Tong Siauw Lan.
"Kau tak tahu kejahatannya manusia ini,"
Jawab Phang Lin.
"Dia adalah kaki tangannya bangsa Boan!"
Sesudah dapat tahu siapa yang terikat kedua tangannya, Tong Siauw Lan segera berseru lagi.
"Orang itu dahulu pernah dilepaskan oleh Popo-mu (mertuanya Phang Lin, Boe Kheng Yao). Bukan gampang dia berlatih beberapa puluh tahun. Jika tidak melanggar kedosaan besar, baik kau lepaskan padanya."
"Lin-moay!"
Phang Eng turut berseru dari Puncak Onta.
"Kau masih suka umbar adat seperti anak-anak. Lepas padanya! Tak senang aku lihat paras mukanya."
Phang Lin paling segani kakaknya. Sembari mesem-mesem, ia lepaskan benangnya seraya berkata.
"Baiklah. Jika lain kali manusia ini satrukan Keng-djie, aku tak akan ladeni lagi segala perintahmu."
Begitu lekas ikatan terbuka, Hiatsintjoe tarik napas dalam-dalam sembari loncat menyingkir.
Ia lihat di seputar nadinya terdapat tanda seperti kena dibakar dan ugal-ugalan tangannya masih sukar digerakkan.
Mendengar panggilannya Siauw Lan, ia tahu wanita itu adalah ie-ie-nya (saudara perempuan dari isteri).
Ia juga tahu, kepandaiannya Tong Siauw Lan suami isteri ada terlebih tinggi daripada Phang Lin dan mengingat begitu, ia jadi bergidik, sebab dahulu ia pernah tantang Siauw Lan mengadu silat.
Tanpa berkata sepatah kata, buru-buru ia kabur ke bawah gunung.
"Keng-djie, mari!"
Berseru Tong Siauw Lan sembari balik ke Puncak Onta dengan diikuti oleh puteranya.
Mereka masuk ke dalam gua tengah.
Gua-gua itu semua dibuat untuk keperluan pertemuan Thiansan pay kali itu.
Gua yang di tengah adalah untuk Tong Siauw Lan suami isteri.
Sesudah ajak puteranya masuk, Siauw Lan undang juga Lie Tie dan Phang Lin dan kemudian barulah menanya.
"Keng-djie, siapa nona itu? Apa kau kenal? Kenapa begitu bertemu, dia lantas timpuk ibumu dengan peluru es?"
"Ia biasa dipanggil Pengtjoan Thianlie,"
Jawab sang putera. Oleh karena sudah dua puluh tahun Siauw Lan tidak pernah ceburkan diri ke dalam dunia Kangouw, ia jadi heran mendengar nama itu.
"Nama itu kedengarannya aneh sekali,"
Katanya.
"Timpukannya indah sekali!"
Phang Lin menyeletuk sembari tertawa.
"Apa?"
Tanya sang kakak.
"Tjietjie, kaulah yang kena getahnya,"
Kata Phang Lin sembari ha-ha, hi-hi.
"Dia sebenarnya mau hajar aku!"
Phang Eng kenal adat adiknya.
"Tentulah kau yang sudah ganggu padanya,"
Kata ia.
"Aku lihat dia, rasanya kasihan, tapi kau permainkan padanya. Tua-tua tak tahu harga diri!"
"Tjietjie rewel sekali,"
Jawab si adik.
"Sang menantu belum masuk, kau sudah bantu dia menyerang diriku. Aku cuma main-main sedikit. Siapa hinakan padanya?"
Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 3
Baca Juga: Legenda Golok Halilintar 3