Bidadari Dari Sungai Es 6

Eps 6 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen

Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen

Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.

"Keng-djie, kalau begitu, nona itu benar kau yang bawa kemari untuk menemui kami, bukan?"

Phang Eng tanya puteranya.

"Ibu jangan dengari omongannya Le-ie,"

Jawab Keng Thian.

"Tjietjie, kau tak tahu, mereka berdua sudah bergaul rapat sekali dan luar biasa manisnya!"

Menggoda Phang Lin yang lantas tuturkan segala pengalamannya waktu bertemu Pengtjoan Thianlie pada malam itu.

"Sekarang kau masih berani menyangkal, bahwa dia memang dibawa olehmu kemari?"

Tanya si bibi sembari tunjuk keponakannya.

"Benar,"

Jawab Keng Thian sembari tertawa.

"Benar aku yang ajak ia datang kesini. Tapi kalian belum tahu, siapa adanya ia."

"Kalau tahu, untuk apa kita tanya kau?"

Kata lagi Phang Lin.

"Ayah,"

Kata Keng Thian.

"Pada waktu kau perintah aku turun gunung, bukankah kau pesan aku sekalian cari tahu dimana adanya Koei Hoa Seng Pehpeh? Koei Pehpeh sudah meninggal dunia, Pengtjoan Thianlie adalah puteri tunggal dari Koei Pehpeh! Jadi dia bukannya orang luar dan kalian tak dapat salahkan aku bawa-bawa orang luar datang kemari."

Keterangan itu sudah membikin semua orang jadi girang tercampur kaget.

Mereka lantas saja minta keterangan yang lebih jelas.

Keng Thian segera tuturkan segala pengalamannya di keraton es, cara bagaimana ia minta si nona bantu lindungi guci emas dan sebagainya.

Ketika Keng Thian lukiskan keindahan keraton es yang seperti surga, semua orang jadi terpesona dan seakan-akan sedang dengar cerita dongeng.

"Aku tak nyana, Koei Hoa Seng bisa mendapat pengalaman yang begitu luar biasa dan mempunyai juga seorang puteri yang cantik bagaikan bidadari,"

Kata Phang Eng.

"Nah, sekarang Tjietjie lekas-lekas perintah Keng-djie susul padanya,"

Kata Phang Lin dengan suara menggoda.

"Kalau terlambat, bisa-bisa didahului orang!"

Keng Thian tak gubris godaan bibinya dan lantas berkata pada ayahnya.

"Tapi ada satu hal yang aku merasa sangat tidak mengerti. Kalau diusut, ia sebenarnya masih terhitung anggauta dari keluarga Thiansan pay. Tapi kenapa, setiap kali aku menyebutkan namanya Thiansan, ia lantas bersikap tawar dan seperti juga merasa kurang senang. Thiansan yang menjadi tempat ziarahnya orang-orang Rimba Persilatan, di mata dia seakan-akan satu tempat yang menyebalkan."

Tong Siauw Lan kerutkan alisnya. Ia juga tidak mengerti sikapnya Pengtjoan Thianlie yang aneh. Phang Eng yang sangat cerdas lantas saja ingat satu kejadian dahulu. Ia tertawa seraya berkata.

"Lin-moay, urusan ini juga lantaran gara-garamu."

"Apa? Memang, segala apa kau salahkan aku!"

Kata sang adik sembari monyongkan mulutnya.

"Keng-djie,"

Kata Phang Eng pada puteranya.

"Sekarang biarlah aku tuturkan satu cerita. Pada kira-kira tiga puluh tahun berselang, ahli senjata rahasia nomor satu di kolong langit adalah Tong Kim Hong dan dia mempunyai seorang menantu, Ong Go namanya, yang telah lukakan ie-ie-mu dengan dengan jarum Pekbie tjiam. Dalam gusarnya, ie-ie-mu telah bunuh mati padanya. Dengan bawa puterinya Tong Kim Hong datang untuk bikin pembalasan. Ketika itu, aku sedang berdiam di rumahnya Shoatang Tayhiap Yo Tiong Eng. Tong Kim Hong dan puterinya salah anggap diriku sebagai ie-ie-mu. Bersama Yo Tayhiap, aku pukul mundur mereka dan salah mengerti serta sakit hati jadi semakin mendalam. Koci Hoa Seng adalah sahabatnya keluarga Tong. Untuk kedua kalinya, mereka menyatroni bersama-sama Koei Hoa Seng. Kami semua waktu itu tidak mengetahui, bahwa Koei Hoa Seng adalah puteranya Koci Tiong Beng. Ilmu pedangnya Koei Hoa Seng sangat liehay dan ia sudah bikin puterinya Yo Tayhiap kecebur di dalam telaga dan kemudian diseret air deras."

Berkata sampai disini, Phang Eng awasi suaminya sembari tertawa.

Puterinya Yo Tiong Eng, yang bernama Yo Lioe Tjeng, dahulu adalah tunangannya Tong Siauw Lan dan sesudah pertunangan diputuskan, barulah Siauw Lan menikah sama Phang Eng.

"Hari itu, ayahmu justru berada disitu,"

Phang Eng teruskan penuturannya.

"Dalam gusarnya, ia segera mau lakukan pertempuran mati hidup dengan Koei Hoa Seng. Belakangan dengan gunakan Thiansan Kiamhoat kita desak ia sampai hampir-hampir jatuh ke dalam telaga dan tewas jiwanya. Beruntung Lu Soe Nio keburu datang sehingga jiwanya ketolongan. Sesudah lewat beberapa lama diketahui bahwa Yo Kouwkouw tidak mati di dalam air. Sebab sudah lama, sekarang ternyata ayahmu sudah lupakan kejadian itu. Sedari waktu itu, Koei Hoa Seng menghilang. Mungkin sekali, itulah kejadiannya yang ia tak dapat lupakan."

"Oh, begitu?"

Kata Keng Thian.

"Sekarang aku tak heran lagi."

"Apa?"

Tanya ibunya.

"Tak heran kalau Koei Hoa Seng Pehpeh pergi merantau ke lain negara dan dengan memetik bagian-bagian yang liehay dari ilmu pedang Tionghoa dan Barat, menggubah semacam ilmu pedang baru,"

Menerangkan sang putera.

"Juga tak heran kalau Pengtjoan Thianlie selalu ingin jajal ilmu silatku."

Tong Siauw Lan menghela napas.

"Tak nyana Koei Hoa Seng mempunyai keinginan mau menang yang begitu besar,"

Katanya.

"Aku sendiri sebaliknya hargakan ia,"

Kata sang isteri.

"Dengan cara begitu, ilmu pedang Tionghoa jadi bertambah maju. Bukankah kejadian itu harus dibuat girang?"

Siauw Lan manggut-manggutkan kepalanya, tapi tidak berkata suatu apa lagi.

"Ibu,"

Keng Thian mendadak berkata lagi.

"Barusan kau bilang, ahli senjata rahasia nomor satu di kolong langit adalah Tong Kim Hong. Apakah ia itu bukannya yang biasa dipanggil Tong Djie Sianseng?"

"Bagaimana kau tahu?"

Tanya si ibu dengan perasaan heran.

"Apa Tong Djie Sianseng mempunyai murid?"

Keng Thian menanya pula. Paras mukanya Siauw Lan jadi sedikit berobah.

"Keng-djie, dengan siapa kau sudah bertemu?"

Tanya ia.

"Ada orang kasihkan aku semacam barang untuk diserahkan kepada ayah,"

Menerangkan sang putera.

"Ia bilang, barang itu sebenarnya milik keluarga kita."

Semua orang jadi merasa heran.

"Coba kasihkan kepadaku,"

Kata Siauw Lan.

Keng Thian segera keluarkan batu giok yang ia dapat dari Liong Leng Kiauw dan serahkan itu kepada ayahnya.

Sesudah permainkan batu pualam tersebut dalam tangannya Siauw Lan menghela napas dan segala kejadian di jaman lampau kembali terbayang di depan matanya.

"Siapa yang kasih?"

Tanya Phang Eng.

"Orangnya Hok Kong An, yang dikenal sebagai Liong Leng Kiauw,"

Jawab sang putera. Siauw Lan geleng-gelengkan kepalanya.

"She Liong?"

Ia menegasi.

"Tidak, tak bisa. Orang yang simpan Han-giok ini pasti bukannya orang biasa. Aku rasa, nama itu mesti nama samaran."

"Benar, ayah,"

Kata Keng Thian.

"Hiatsintjoe pun bilang, ia tentu gunakan nama palsu. Ia dikatakan sedang berusaha melakukan pekerjaan yang melanggar undang-undang. Tapi Hiatsintjoe cuma tahu ia itu adalah muridnya Tong Kim Hong dan tak tahu namanya yang sejati. Ayah, siapakah dia?"

"Puteranya Lian Keng Giauw!"

Jawab sang ayah.

Tong Keng Thian terkesiap mendengar nama itu.

Lian Keng Giauw adalah jagoan yang dahulu menjadi satru terutama dari suami isteri Tong Siauw Lan, Kanglam Tjithiap (Tujuh Pendekar Kanglam) dan lain-lain orang gagah dari Rimba Persilatan.

Cerita-cerita yang menggetarkan hati dari orang she Lian itu, Keng Thian sudah sering dengar dari kedua orang tuanya.

"Ah, puteranya Lian Keng Giauw!"

Kata Keng Thian.

"Tak heran, kalau ia mengadakan persekutuan dengan para Touwsoe di Lhasa. Dilihat begini, ia agaknya mau dirikan kerajaan baru di daerah perbatasan, supaya jika berhasil dapat jatuhkan kerajaan Tjeng, kalau gagal, bisa mundur dan jaga daerahnya sendiri. Tapinya, Tibet mempunyai latar belakang yang sangat sulit. Jika ia bergerak, kemungkinan besar orang luar akan gunakan kesempatan itu untuk masuk ke Tibet."

"Tak salah pandanganmu, anak,"

Kata Tong Siauw Lan.

"Tapi kenapa kau bisa pastikan dia anaknya Lian Keng Giauw?"

Tanya Phang Lin.

"Pada waktu In Tjeng baru naik ke atas tahta kerajaan, diam-diam aku telah masuk ke keraton,"

Menerangkan Siauw Lan.

"Disitu aku kena ditangkap oleh Haputo dan Liauw In. Hangiok pemberian Kaizar Konghie kena dirampas oleh mereka. Lian Keng Giauw adalah seperti juga majikannya kedua orang itu. Aku merasa pasti, batu giok tersebut tidak diserahkan kepada Yong Tjeng, tapi kepada Lian Keng Giauw."

"Jika orang itu benar-benar puteranya Lian Keng Giauw dan hal ini dapat diketahui oleh si kaizar, ia tentu mesti mati,"

Kata lagi Phang Lin.

"Bagaimana pikiranmu. Apa kau bersedia menolong padanya atau tidak?"

"Musuh besar kita adalah ayahnya dan bukan dia,"

Jawab Siauw Lan.

"Dalam gerakannya menentang kerajaan Tjeng, rasanya ia akan berusaha tarik tangan kita. Dengan menyerahkan batu giok itu kepada Keng-djie, ia pasti mempunyai maksud yang dalam."

"Sudah terang, ia mau bergandengan tangan dengan kita,"

Kata Phang Eng. Mendadak Phang Lin menghela napas panjang.

"Hm!"

Katanya.

"Sampai sekarang begitu dengar orang menyebut namanya Lian Keng Giauw, aku lantas merasa mendeluh. Harap saja anaknya tidak seperti bapaknya."

Mendengar bibinya menghela napas panjang, Keng Thian jadi merasa agak heran, sebab sang bibi biasanya tak kenal jengkel dan selalu suka bercanda.

Keng Thian tidak tahu, bahwa dahulu, waktu masih kecil, bibi itu dikukut dalam rumah keluarga Lian dan Lian Keng Giauw adalah kawan bermainnya.

Sesudah besar.

Lian Keng Giauw jatuh cinta padanya, tapi Phang Lin yang belakangan mengetahui bahwa orang she Lian itu busuk hatinya, jadi berbalik benci padanya.

Tapi biar bagaimana juga, sedikit banyak ia masih ingat perhubungan yang dahulu.

Maka itu, mendengar warta tentang puteranya Lian Keng Giauw, ia jadi menarik napas panjang.

Phang Eng mesem melihat sikap adiknya.

"Aku pun mengharap anaknya jangan turut-turut kebusukan ayahnya,"

Kata ia.

"Tapi, oleh karena belum mengetahui benar latar belakangnya, kita tidak boleh sembarangan menolong. Begini saja. Keng-djie, bukankah kau mau pergi ke Soetjoan? Sekalian jalan, baik kau mampir pada keluarga Tong dan beritahukan halnya Liong Leng Kiauw. Keluarga Tong adalah keluarga yang terkenal dalam Rimba Persilatan dan menurut peraturan Kangouw, merekalah yang berhak campur tangan."

Keng Thian yang tadinya kuatir kedua orang tuanya akan menahan ia, jadi merasa girang sekali. Sesudah berdiam beberapa saat, Phang Eng tertawa seraya berkata.

"Jika kau bertemu dengan Koei Moaymoay (Pengtjoan Thianlie), bilanglah, bahwa aku sangat suka padanya. Kau juga boleh minta Moh Pehpeh membujuk ia, supaya ganjelan dahulu dibikin habis saja. Undanglah ia untuk datang kesini tiga tahun kemudian."

"Eh, Keng-djie,"

Phang Lin mendadak menyeletuk dengan paras sungguh-sungguh.

"Aku ajarkan kau satu siasat yang sangat bagus. Coba kau ajak ia adu pedang lagi dan sengaja berlagak kalah dalam pertandingan itu. Aku merasa pasti, dengan jalan begitu hatinya akan merasa puas."

Siauw Lan geleng-gelengkan kepalanya mendengar ajaran itu.

"Ah, inilah yang dinamakan orang tua tidak tahu tuanya,"

Kata ia.

"Sekarang kau berbalik mengajar anak-anak jadi orang palsu."

Mendengar tegoran itu, Phang Lin jadi tertawa geli sekali.

Pada besok harinya, Tong Keng Thian kembali turun dari Puncak Onta dan berjalan menuju ke jurusan timur.

Jalan yang semula diambilnya adalah dari Siamsay terus ke Soetjoan.

Akan tetapi, oleh karena sudah mengambil jalan mutar, maka sekarang ia harus masuk ke Tjenghay, akan kemudian menuju ke Soetjoan barat.

Sesudah berjalan belasan hari, tibalah Keng Thian di padang rumput Tsaidam yang terletak di Tjenghay tengah.

Padang rumput itu luas luar biasa dan meskipun di sana-sini terdapat pasir serta tanah yang berwarna kuning, akan tetapi pada umumnya daerah itu gemuk tanahnya.

Dengan hati yang lapang, Keng Thian larikan kudanya di padang rumput itu, dengan saban-saban bertemu rombongan-rombongan kambing liar yang pada lari serabutan jika bertemu manusia.

Melihat itu semua, Keng Thian sungguh merasa tidak mengerti, kenapa tanah yang sedemikian kaya dibiarkan tinggal tersia-sia.

Selagi enak berjalan, kupingnya mendadak mendengar suara kelenengan kuda dan serombongan pelancong kelihatan mendatangi dari sebelah depan.

Di antara mereka itu terdapat lelaki dan perempuan, tua dan muda.

Keng Thian merasa heran.

"Sekarang adalah permulaan musim semi dan menurut kebiasaan, hanya orang-orang dari sebelah utara yang datang ke selatan,"

Katanya di dalam hati.

"Kenapa orang-orang ini dari selatan datang kemari?"

Waktu hampir berpapasan, hatinya jadi lebih heran lagi, oleh karena mereka kelihatan seperti orang sedang kebingungan, seolah-olah orang hukuman yang sedang melarikan diri.

Ia segera majukan kudanya dan menanya seorang tua yang berjalan paling depan.

Orang tua itu mengawasi ia seraya berkata.

"Apakah kau sendirian?"

"Benar,"

Sahut Keng Thian.

"Bolehkah aku menanya, kenapa Loopeh meninggalkan daerah selatan yang sangat subur? Apakah kalian hendak pergi ke Tibet untuk berdagang?"

Si tua menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jika kau seorang diri, tak halangan berjalan terus,"

Katanya.

"Dua hari lagi, kau akan tiba di kota Naichi, satu kota besar yang berada di bawah kekuasaan Tukuhun Khan."

"Kenapa, jika seorang diri tak ada halangan untuk aku berjalan terus?"

Tanya Keng Thian dengan suara heran.

"Entah kenapa, sedari beberapa waktu berselang, Hoat-ong (Raja Agama) dari Lhama sekte Topi Putih telah mencari wanita-wanita muda yang berparas cantik. Setiap wanita yang datang dari tempat lain, asal ia berparas cantik, tak ampun akan ditangkap, jika bertemu dengan orangorangnya Hoat-ong. Oleh karena itu, semua orang jadi ketakutan. Ketika melewati kota itu, kami semua tak berani berhenti mengasoh dan terus kabur secepat mungkin. Menurut pendengaran, lagi kemarin dulu, seorang tetamu wanita yang berparas cantik dan pandai silat, sudah kena dibekuk oleh mereka!"

"Hoat-ong sekte Topi Putih toh bukannya kaizar, untuk apa ia mencari wanita-wanita cantik?"

Menanya Keng Thian dengan penuh keheranan.

"Kami pun tak tahu,"

Sahut orang tua itu.

"Ada orang berkata, mereka mau dipersembahkan kepada malaikat. Ah! Sungguh menakutkan! Baik juga, mereka hanya menangkap wanita. Orang lelaki sama sekali tidak diganggu. Oleh karena itu, kau boleh tak usah kuatir."

Keng Thian kerutkan alisnya, hatinya sangat bersangsi.

"Hoat-ong sekte Topi Putih adalah pemimpin dari satu cabang agama,"

Katanya dalam hati.

"Sungguh aku tak percaya, jika ia dikatakan melakukan perbuatan yang tidak patut. Selain itu, agama Lhama masih merupakan satu cabang dari agama Budha dan aku belum pernah mendengar kaum Lhama memerlukan Tong-lamlie (anak lelaki dan perempuan) untuk sembahyangi malaikat. Bagaimana sih, duduknya persoalan yang sebenarnya? Aku sebetulnya tak ingin pergi ke Naichi, tapi ada baiknya juga jika aku mampir disitu untuk menyelidiki."

Memikir begitu, sesudah berpisah dengan rombongan itu, Keng Thian segera menuju ke kota tersebut.

Pada esok harinya, kira-kira tengah hari, Keng Thian tiba di kota Naichi.

Naichi terletak di pinggir Tsaidam dan terhitung salah satu kota besar di wilayah Tjenghay, akan tetapi, dengan jumlah penduduk yang belum cukup sepuluh ribu jiwa, Naichi tentu saja tak dapat dibandingkan dengan kota-kota di wilayah Tionggoan.

Dalam kota tersebut hanya terdapat beberapa jalan dan kecuali rumah-rumah makan serta penginapan, pintu rumah-rumah penduduk hampir semua terkunci rapat-rapat, sehingga memberi kesan yang agak menyedihkan.

Keng Thian masuk ke sebuah rumah penginapan dan sesudah bersantap, ia memberi persen yang lumayan kepada sang pelayan yang jadi girang sekali dan mulutnya lantas saja terbuka.

"Aku dengar Hoat-ong sedang memilih wanita cantik, apa benar?"

Tanya Keng Thian.

"Benar,"

Jawab si pelayan.

"Apa kau tak lihat rumah-rumah yang pada terkunci? Wanita muda tak berani keluar pintu. Tapi, kehebohan sudah lewat. Katanya, jumlah wanita yang diperlukan, sudah cukup. Mulai hari ini, sudah tak ada lagi peristiwa Lhama menangkap wanita muda."

"Kenapa mesti mengambil wanita-wanita cantik? Apa mau sembahyangi malaikat?"

Menanya pula Keng Thian.

"Hoat-ong mengeluarkan perintah, siapa berani tanya-tanya?"

Jawabnya.

"Hanya katanya, dari Tibet datang satu Lhama Besar dan Hoat-ong hendak menyambut ia dengan segala upacara. Dua hari lagi bakal ada satu perhimpuan besar. Aku tak tahu perhimpunan apa, tapi yang pasti bukan sembahyang malaikat."

Mendengar keterangan itu, Keng Thian jadi semakin tidak mengerti.

Harus diketahui, pada buntutnya ahala Beng, yaitu pada jaman pemerintahan Kaizar Tjong Tjeng.

Lhama sekte Topi Putih telah diusir keluar dari Tibet oleh kaum Lhama sekte Topi Kuning, yang kemudian berkuasa pada jaman itu (Kaizar Kian Liong).

Selama seratus tahun lebih, hubungan kedua sekte adalah seperti api dan air.

Kenapa Lhama Besar sekte Topi Kuning datang ke Naichi dan Hoat-ong Topi Putih mau menyambut dengan upacara besar?

"Baik juga kau adalah seorang lelaki,"

Kata lagi si pelayan.

"Jika kau seorang wanita, bisa-bisa diculik tanpa diketahui oleh keluargamu. Dua hari berselang, seorang wanita yang datang dari tempat lain sudah kena ditawan oleh beberapa Lhama. Wanita itu paham ilmu silat."

Hati Keng Thian jadi bergoncang.

"Bagaimana kau tahu ia pandai ilmu silat?"

Ia menanya.

"Kejadiannya di rumah makan seberang,"

Jawab si pelayan.

"Aku sendiri turut menyaksikan peristiwa itu! Wanita itu mengenakan pakaian orang Tibet. Ia bukan hanya pandai silat, tapi pandai juga ilmu siluman!"

"Omong kosong!"

Kata Keng Thian.

"Siang hari bolong, dimana ada ilmu siluman?"

"Kau tak percaya?"

Kata si pelayan, sungguh-sungguh.

"Aku lihat dengan mata sendiri. Bermula, yang turun tangan adalah empat Lhama. Sekali bergebrak saja, dua antaranya roboh. Kemudian ia ayun tangannya. Mendadak muncul hawa dingin yang sangat hebat dan dua Lhama yang lain gemetar sekujur badannya. Apa itu bukan ilmu siluman?"

Begitu mendengar, Keng Thian terkesiap.

Senjata rahasia itu sudah pasti Pengpok Sintan adanya.

Ia tak percaya, Pengtjoan Thianlie kena ditangkap.

Apa Yoe Peng?

Sementara itu, si pelayan sudah berkata lagi.

"Tapi, biar bagaimanapun juga, Yauwhoat (ilmu siluman) tak dapat mengalahkan Hoedhoat (ilmu Budha). Sesudah empat Lhama kecil itu dirobohkan, datang pula dua Lhama lainnya, sekali ini Lhama besar. Mereka tak takut ilmu siluman itu Mereka hanya bergidik sedikit dan berhasil membekuk wanita itu."

"Agaknya mungkin benar-benar Yoe Peng-lah yang kena ditangkap,"

Kata Keng Thian dalam hatinya.

"Sudah pasti Pengtjoan Thianlie tidak akan berpeluk tangan saja. Tak nyana, aku dapat menemukan ia disini."

Tanpa membuang tempo, ia segera menanyakan dimana letaknya kuil Lhama.

"Apa tuan mau sembahyang?"

Tanya si pelayan.

"Kuil itu biasanya sangat ramai, tapi selama beberapa hari ini, sedikit sekali yang datang berkunjung. Sebagai tetamu dari tempat lain, aku rasa tak ada halangannya kalau kau ingin pasang hio. Kuil itu adalah gedung paling besar yang terdapat dalam kota ini. Memang juga, sesudah tiba disini, ada harganya untuk jalan-jalan di kuil itu."

Sesudah mendapat keterangan tentang letaknya kuil itu, Keng Thian mengasoh sebentar dan setelah makan tengah hari, ia segera pergi ke kuil itu.

Jika dibandingkan dengan Keraton Potala, kuil itu tentu masih kalah jauh.

Akan tetapi, menurut ukuran biasa, kuil itu sudah cukup besar dan indah.

Puluhan gedung besar dan kecil berdiri berjajar di lereng gunung dan seluruh bangunan itu kelihatan angker dan mewah.

Tiga gedung yang paling depan adalah tempat pemujaan yang penuh dengan patung-patung Budha.

Ketika Keng Thian datang, jumlah tetamu yang mau pasang hio, boleh dikatakan banyak juga.

Ia menempatkan dirinya di antara para tetamu itu, sambil memasang kuping.

Benar saja, ia mendengar banyak sekali pembicaraan tentang ditangkapnya wanita-wanita muda.

Akan tetapi, ia juga mendapat kenyataan, bahwa mereka itu sangat menghormat terhadap Hoat-ong.

Salah seorang malah berkata begini.

"Dalam bertindak begitu, Budha Hidup pasti mempunyai alasan kuat. Wanita-wanita itu dapat dikatakan besar rejekinya oleh karena mereka sudah mendapat perhatiannya Budha Hidup. Lebih baik kita jangan terlalu banyak bicara. Apa kau tak takut masuk ke neraka?"

Sesudah memperhatikan kedudukan seluruh bangunan itu, Keng Thian segera balik ke rumahpenginapan.

Malam itu, kira-kira jam tiga, ia segera menukar pakaian untuk jalan malam yang berwarna hitam dan memakai topeng, dan begitu beres berdandan, ia segera pergi ke kuil Lhama dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Berhubung dengan banyaknya gedung-gedung, Keng Thian tidak dapat lantas mengetahui dimana adanya gedung Hoat-ong.

Ia loncat naik ke atas genteng sebuah gedung yang paling besar dan memasang kupingnya.

Sayup-sayup, ia mendengar suara tabuh-tabuhan dan nyanyian di sebelah bawah.

Sembari mengkerutkan alisnya, ia loncat turun.

Tiba-tiba dari sebelah depan mendatangi dua orang Lhama.

Buru-buru Keng Thian berlindung di belakang pohon.

"Tak lama lagi kita akan mempunyai Wanita Suci,"

Kata salah seorang Lhama.

"Dengarlah! Mereka membaca Keng (kitab suci) dan menyanyikan lagu-lagu Budha. Sungguh merdu! 'Ku dengar, mereka juga akan belajar menari. Mulai dari sekarang, jangan kuatir kesepian lagi."

"Setan kecil!"

Membentak kawannya.

"Jangan sekali-kali kau mengingat-ingat soal-soal keduniawian. Kau tahu, melihat saja sudah berdosa!"

"Omong kosong!"

Jawab Lhama yang pertama.

"Bukan aku, tapi kaulah yang hatinya sudah bergoncang. Aku hanya mendengarkan dari jauh, tapi kau sendiri sudah tiga kali lewat di depan gedungnya."

Dengan sekali mengenjot badan, Keng Thian sudah dapat merobohkan kedua Lhama itu.

"Jangan bersuara!"

Ia berbisik.

"Jawab apa yang aku tanya. Mampus kau, jika berani berteriak!"

Kedua Lhama itu jadi kesima dan mengawasi dengan mulut ternganga.

"Dari mana wanita Suci itu?"

Menanya Keng Thian.

"Apa mereka adalah wanita-wanita yang telah ditangkap beberapa hari berselang?"

Kedua Lhama itu manggut-manggutkan kepalanya.

"Dimana mereka dikurung?"

Keng Thian menanya pula.

"Mereka di tempatkan di gedung Wanita Suci, yaitu gedung yang berdampingan dengan gedungnya Hoat-ong,"

Jawab Lhama yang satu.

"Kau adalah murid-murid Budha,"

Berkata Keng Thian.

"Untuk apa menangkap wanita-wanita muda?"

"Itu semuanya adalah hokki (untung bagus) mereka,"

Jawabnya.

"Hoat-ong ingin mengangkat mereka sebagai Wanita Suci rombongan pertama."

"Untuk apa Wanita Suci itu?"

Mendesak Keng Thian. Kedua Lhama itu mengawasi Keng Thian dengan paras muka heran, seolah-olah menganggap pemuda itu sebagai seorang tolol.

"Ah! Apakah kau belum mengetahui?"

Kata satu antaranya.

"Yang lelaki menjadi Lhama, yang wanita menjadi Wanita Suci. Itu toh sudah disebutkan dalam kitab suci. Sungguh heran, kau masih merasa perlu untuk menanya lagi!"

Keng Thian terkejut dan segera ingat, bahwa memang benar dalam agama Lhama ada beberapa cabang yang cara-caranya agak berlainan.

Cabang (sekte) Topi Merah dan Topi Kuning sama sekali tidak menerima murid wanita, tapi menurut kata orang-orang tua, sekte Topi Putih biasa menerima penganut wanita.

Oleh karena sudah seabad lamanya sekte Topi Putih berada diluar Tibet, maka peraturan tersebut jarang sekali dibicarakan orang, sehingga Keng Thian sendiri sampai menjadi lupa.

Ia sekarang mengerti, bahwa "Wanita Suci,"

Atau Shengnu, berarti Lhama wanita. Hati si pemuda menjadi lega.

"Apakah tidak ada yang mengganggu mereka?"

Ia menanya dengan suara lunak. Walaupun sedang dicekal keras dengan tangan yang seperti jepitan besi, begitu mendengar pertanyaan Keng Thian, kedua Lhama itu lantas saja menjadi gusar.

"Kau sungguh berdosa!"

Kata satu antaranya.

"Berani sungguh kau mengeluarkan perkataan begitu! Dalam istana Wanita Suci, lelaki mana juga tidak dipermisikan datang berkunjung. Hanya beberapa Ibu Suci yang diperbolehkan masuk kesitu untuk mengajar kitab suci dan lagu-lagu suci kepada mereka. Mereka baru boleh keluar jika ada sembahyang atau upacara besar."

"Di antara yang kena ditangkap oleh kau orang, bukankah terdapat seorang wanita yang pandai silat?"

Menanya Keng Thian, tanpa memperdulikan comelan orang.

"Yah, aku dengar memang begitu,"

Jawab yang satu.

"Akan tetapi, katanya ia tak sudi menjadi Wanita Suci. Ini berarti ia tidak mempunyai jodoh dengan agama kita dan Budha Hidup pun tak dapat memaksa padanya."

"Apa ia juga dikurung dalam istana Wanita Suci?"

Tanya Keng Thian.

"Mana aku tahu?"

Jawabnya.

"Bukankah 'ku sudah kata, orang lelaki tak boleh datang kesitu?"

Keng Thian percaya, bahwa Lhama itu bicara dengan sejujurnya, maka ia sungkan mendesak lagi. Berselang beberapa saat, ia menanya pula.

"Tapi, dimana istananya Hoat-ong?"

Dengan jerijinya, mereka menunjuk sebuah gedung besar yang terletak di tengah-tengah.

"Tapi, siapakah kau ini?"

Tanya mereka.

Sesudah mendapat keterangan yang diperlukan, Keng Thian tidak meladeni lagi dan segera menotok Ah-hiat (jalanan darah yang membikin orang jadi gagu) mereka.

Dengan totokan itu, dalam tempo dua belas jam, kedua Lhama tersebut tidak akan dapat bergerak atau berbicara.

Gedung yang di tengah-tengah itu terkurung tembok, dengan genteng kaca yang berwarna kuning emas.

Sesudah menyembunyikan kedua Lhama itu di belakang pohon, Keng Thian segera melompati tembok dan masuk ke dalam pekarangan gedung.

Muka gedung itu ternyata dijaga oleh dua Lhama baju putih.

Ilmu mengentengkan badannya Keng Thian boleh dibilang sudah mencapai puncaknya kesempurnaan, gerakannya cepat bagaikan kilat dan hinggapnya di atas bumi seperti juga jatuhnya selembar daun kering.

Tapi, meskipun begitu, kedua Lhama itu toh masih dapat mengetahui kedatangan pemuda tersebut.

Mereka agak kaget dan celingukan ke empat penjuru.

Keng Thian terkejut dan kemudian mengetahui, bahwa mereka adalah orang-orang yang pernah turut dalam perebutan guci emas dan sudah pernah bertempur dengan ia.

Ia mengetahui, mereka mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan jika kepergok, ia bakal jadi berabe.

Dalam pekarangan itu terdapat sebuah pohon tua yang berusia ratusan tahun, Keng Thian mengenjot badannya dan seperti burung ia hinggap di sebuah cabang.

Di ujung pohon terdapat beberapa ekor burung besar yang sedang mengasoh dan kedatangan Keng Thian, sudah membikin mereka mengebas-ngebaskan sayap.

Keng Thian segera memetik sehelai daun dan mementil dengan menggunakan tenaga dalamnya.

Bagaikan senjata rahasia, daun itu menyambar ke atas, sehingga burung-burung itu pada berterbangan sambil berbunyi keras.

"Ah, benar saja burung-burung itu yang kurang ajar!"

Berkata kedua Lhama itu.

Tanpa mensia-siakan waktu, selagi kedua Lhama itu berdiri membelakangi ia, dengan sekali mengenjot badan, Keng Thian sudah hinggap di atas genteng dan lalu bersembunyi di pojok payon rumah.

Beberapa tombak dari tempat sembunyi Keng Thian terdapat sebuah kamar, dimana, teraling tirai jendela, kelihatan dua bayangan manusia.

Seorang berbadan tinggi besar, yang sudah boleh dipastikan adalah Hoat-ong sendiri, duduk di tengah kamar, sedang orang yang satunya lagi berdiri didampingnya.

Keng Thian segera pusatkan semangatnya untuk mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.

"Sesudah menunggu seratus tahun lebih, hari yang ditunggu akhirnya datang juga,"

Kata Hoatong.

"Utusan Panchen telah mengundang kita pulang ke Tibet, dengan mengatakan, bahwa mulai dari sekarang, kita jangan bertengkar lagi. Anan! Bagaimana pikiranmu?"

"Itulah memang kita semua harap-harapkan,"

Sahut orang yang dipanggil Anan.

"Akan tetapi..."

"Tapi apa?"

Menanya Hoat-ong.

"Apa pulangnya kita tidak cukup mentereng?"

"Bukan, bukan itu yang aku maksudkan,"

Jawab Anan.

"Tapi kedudukan kita disini adalah kedudukan yang paling atas..."

"Dan kalau pulang, kita jadi berada di bawah orang lain,"

Hoat-ong menyambung.

"Begitu yang kau maksudkan? Aku sekarang memberitahukan kau, bahwa utusan itu sudah menyampaikan pesan kedua Budha Hidup, bahwa mereka telah menyediakan tiga tempat untuk kita mendirikan kuil. Aku anggap, tawaran itu cukup baik. Persoalan antara kita sama kita, memang juga harus dipecahkan dengan saling mengalah. Sesudah bergulat seabad lebih, aku sekarang sungkan mengangkat senjata lagi."

Mendengar itu, diam-diam Keng Thian memuji Raja agama itu, yang ternyata mempunyai pandangan yang luas.

"Aku sendiri tak dapat berlalu dari sini,"

Kata pula Hoat-ong.

"Di kemudian hari, tiga tempat itu di Tibet harus diurus olehmu."

Keng Thian melihat Anan merangkap kedua tangannya sambil membungkuk untuk menghaturkan terima kasih. Hoat-ong menghela napas panjang dan kemudian berkata pula.

"Ah! Dengan dapat pulang ke Tibet, terkabullah sudah angan-angan Tjouwsoe. Dan dengan mempunyai tiga tempat itu, hatiku sudah merasa puas. Eh, bagaimana dengan rombongan Wanita Suci?"

"Kecuali beberapa orang, yang lain semuanya rela menurut perintah Budha Hidup,"

Jawab Anan.

"Tak boleh kita memaksa mereka,"

Berkata Hoat-ong dengan suara halus.

"Pada seratus tahun yang lalu, yaitu pada waktu Tjouwsoe memegang tampuk pimpinan agama di Tibet, para wanita pada berebut untuk menjadi Wanita Suci. Akan tetapi, keadaan disini, yang penduduknya sebagian besar terdiri dari orang Han, berlainan dengan keadaan di Tibet. Mereka tak mengetahui, kemuliaan seorang Wanita Suci sehingga tidaklah heran mereka jadi ketakutan tak keruan. Itulah justru sebabnya, kenapa selama satu abad kami tidak memilih Wanita Suci. Akan tetapi, oleh karena sekarang kita harus membuat persiapan untuk pulang ke Tibet, maka tak dapat tidak, kita harus kembali pada kebiasaan lama. Dalam upacara pembukaan kuil baru, kita mesti mempunyai rombongan Wanita Suci untuk menjalankan upacara dengan nyanyian dan tarian."

"Oh! Kiranya begitu?"

Berkata Keng Thian dalam hatinya.

"Hampir-hampir saja aku menganggap mereka sebagai paderi cabul!"

"Benar,"

Kata Anan.

"Mereka ketakutan tak keruan. Sungguh tak bagus!"

"Kita tak boleh terlalu salahkan mereka,"

Berkata Hoat-ong."Tak banyak orang Han yang rela mengirim puteranya untuk menjadi Lhama. Apalagi puterinya! Mereka yang menentang kebanyakan adalah orang-orang Han. Bukankah begitu?"

Anan manggut-manggutkan kepalanya. Sebelum ia keburu menjawab, Hoat-ong sudah berkata pula.

"Oleh karena terlalu repot, kita tidak memberi penjelasan terlebih dulu kepada mereka. Ini sebenarnya adalah kurang betul. Begini sajalah. Besok kita mengadakan sembahyang besar dan pergilah kau mengundang para pemuka dan orang-orang tua di seluruh kota ini, supaya kita dapat memberi keterangan kepada mereka. Gadis-gadis yang sungkan menjadi Wanita Suci boleh diambil pulang oleh orang tuanya."

"Di antara yang menolak terdapat seorang gadis, yang bukan orang Han,"

Melaporkan Anan.

"Dilihat dari pakaiannya, ia kelihatannya datang dari Tibet barat. Ketika mau ditangkap, ia sudah hajar beberapa orang kita. Bagaimana? Apa ia pun dilepaskan saja?"

Mencaci atau memukul seorang Lhama adalah satu kedosaan besar di daerah itu, sehingga Hoat-ong jadi bersangsi setelah mendengar laporan Anan. Berselang beberapa saat, barulah ia berkata.

"Lihat saja nanti. Tapi janganlah membikin susah padanya."

"Aku dengar ia tak mau makan,"

Anan berkata lagi.

"Oh, begitu?"

Hoat-ong menegaskan.

"Biarlah besok aku perintah seorang Ibu Suci pergi membujuk ia."

Berkata sampai disitu, Hoat-ong mendadak bangun seraya berkata.

"Tolong tuangkan secangkir arak."

Di lain saat, dengan jerijinya menjepit cangkir, ia menghampiri jendela yang dibukanya secara tiba-tiba.

Dengan sekali mementil, cangkir itu melesat ke atas dan menyambar ke arah Tong Keng Thian!

Bukan main kagetnya Keng Thian.

Melesatnya cangkir tersebut disertai dengan suara mengaung dan apa yang mengherankan, cangkir tersebut tepat menyambar ke arah jalan darah Hiankie hiat, di dadanya Keng Thian.

Pada sebelum sang cangkir mengenakan dada, hidung Keng Thian mendadak mengendus bau wangi arak, dan berbareng dengan itu, bagaikan air mancur, arak yang berada dalam cangkir, menyambar padanya!

Ternyata, dengan tenaga dalam yang luar biasa dan kepandaian menggunakan senjata rahasia yang sudah mencapai puncaknya kesempurnaan, Hoat-ong sudah menyerang Keng Thian bukan saja dengan cangkir, tapi juga dengan araknya.

Bagaikan kilat, Keng Thian mementil dan berkelit.

Dengan terdengarnya suara "tring!"

Cangkir itu hancur, tapi, biarpun gerakannya cukup cepat, tak urung bajunya kecipratan juga beberapa tetes arak dan menjadi berlubang! "Manusia dari mana yang mempunyai nyali begitu besar?"

Membentak Hoat-ong.

Berbareng dengan bentakannya bagaikan segundukan awan, badan Hoat-ong yang berjubah merah sudah melesat ke atas.

Ketika itu, kedua kaki Keng Thian masih menyantel di payon sedang sebagian badannya masih menggelantung di luar genteng.

Dengan kedua tangannya, Hoat-ong mendorong dan lantas saja ia terkejut, oleh karena badan Keng Thian tidak bergeming.

Dengan tangan kirinya tetap menahan kedua tangannya Keng Thian, tiba-tiba ia tarik pulang tangan kanannya yang lalu digunakan untuk mengorek kedua mata Keng Thian.

Berbareng dengan itu, ia mengempos semangatnya dan menambahkan tenaga pada tangan kirinya.

Di lain pihak, Keng Thian yang sedang bertahan dengan kedua tangannya mendadak rasakan tekanan musuh di sebelah kiri menghilang dan tekanan di sebelah kanan bertambah dua kali lipat.

Pada detik itu juga badannya bergoyang-goyang.

Lebih celaka lagi, dua jeriji Hoat-ong dengan mendadak menyambar matanya!

Selagi Keng Thian hendak menurunkan tangan kejam untuk menolong diri, sekonyony-konyong ia ingat, bahwa orang berilmu itu adalah pemimpin dari satu cabang agama, sehingga jika ia sampai celaka, akibatnya bakal jadi besar sekali.

Mengingat hal itu, ia lantas saja mengurungkan niatannya.

Buru-buru ia tarik pulang tenaga dalamnya dan menjejek kedua kakinya, sehingga badannya melesat ke atas, akan kemudian melayang turun ke bawah.

Hoat-ong tertawa dingin.

"Hm!"

Katanya didalam hati.

"Meskipun dengan ilmu mengentengkan badan, kau dapat meloloskan diri dari serangan jeriji, tapi punggungmu dijual kepadaku!"

Dengan gerakan Tjhioehoei pipee (Tangan merabu tali pipee), ia gasak punggung Keng Thian. Dengan terdengarnya suara "buk!"

Tubuh Keng Thian terpental keluar tembok, tapi, pada saat yang sama, dengan satu teriakan keras, badan Hoat-ong pun roboh di atas genteng.

Ternyata, pada waktu punggungnya dihajar, Keng Thian membalik sebelah tangannya dan mengebas dengan ilmu Hoedhiat (Mengebas jalanan darah), semacam ilmu istimewa dari Thiansan pay.

Dengan hanya satu kebasan itu, lima jerijinya sudah menotok lima jalan darah Hoat-ong!

Buru-buru Hoat-ong menjalankan pernapasannya tiga kali, lima jalan darahnya sudah kembali terbuka semua, tapi kaki tangannya masih dirasakan sangat lemas.

Herannya Hoat-ong tidak kepalang.

Ia mengetahui, bahwa ilmu silat Keng Thian tidak berada di sebelah bawahnya, dan jika mau, pemuda itu dapat memunahkan serangannya dengan balas menyerang.

Sungguh ia tak mengerti, kenapa Keng Thian seperti sengaja menempuh bahaya dan memasang punggungnya?

Mendengar suara ribut-ribut dan melihat larinya Keng Thian, kedua Lhama yang menjaga di luar segera bergerak untuk mengubar.

"Tolol!"

Membentak Hoat-ong.

"Apa kau mau antarkan jiwa? Dia sudah kena pukulanku dan akan binasa dalam tempo tiga hari."

Sehabis berkata begitu, ia menghela napas.

"Tak gampang orang itu memiliki ilmu silat yang sedemikian tinggi,"

Katanya di dalam hati.

"Entah siapa yang menyuruh ia datang kesini, sehingga ia mesti korbankan jiwanya secara cuma-cuma. Sungguh sayang!"

Dalam hatinya, pemimpin agama tersebut merasa sangat menyesal, bahwa secara ketelanjur, ia sudah menurunkan tangan yang begitu berat.

Keng Thian merasakan punggungnya sakit dan begitu tiba di rumah penginapan, ia segera membuka Kimsie Djoanka, semacam baju kutang yang terbuat dari semacam benang berwarna emas.

Dengan pertolongan sebuah kaca tembaga, ia melihat satu titik hitam di punggungnya.

Keng Thian kaget, tapi sesaat kemudian ia berkata seorang diri.

"Baik juga ada ini Kimsie Djoanka, jika tidak, isi perutku bisa terluka hebat. Sungguh tak terduga, tenaga dalamnya Hoatong begitu dahsyat."

Kimsie Djoanka itu mempunyai riwayat yang menarik.

Dulu, ketika Phang Eng dan Phang Lin jangkep berusia satu tahun, Tjiong Ban Tong, pemimpin Boekek pay, telah menghadiahkan dua rupa mustika dari Rimba Persilatan, yaitu, yang satu Kimsie Djoanka, sedang yang lain golok Tokbeng Sinto.

Pada hari itu, kedua saudara kembar itu dibiarkan memilih sendiri dan sebagai hasilnya, Phang Eng mengambil Kimsie Djoanka, sedang Phang Lin mengambil Tokbeng Sinto.

Baju kutang tersebut terbuat dari bulu warna emas yang diambil dari punggungnya Kimmo houw (semacam singa berbulu emas) di pegunungan Himalaya.

Djoanka itu, yang lemas dan enteng, tak dapat ditembuskan senjata tajam juga tak dapat dihancurkan dengan pukulan.

Dengan adanya lapisan baju kutang itu, walaupun pukulan Hoat-ong sangat dahsyat, tenaganya sudah hilang separoh, dan ditambah pula tenaga dalam Keng Thian sendiri, pukulan tersebut hanya dapat menggetarkan isi perutnya, tapi tak sampai mencelakakannya.

Buru-buru Keng Thian mengerahkan jalan pernapasannya dan menelan sebutir Pekleng tan yang terbuat dari Soatlian.

Sesudah itu, dengan hati lega, ia tidur untuk mengasoh.

Pada besok paginya, si pelayan datang di kamar Keng Thian dan mereka lalu membicarakan pula halnya Hoat-ong.

"Aku dengar, malam ini Hoat-ong akan mengadakan sembahyang besar,"

Kata si pelayan.

"Mereka telah mengundang tetua-tetua kota ini dan para orang tua gadis-gadis yang kena ditangkap, semuanya ada seratus orang lebih. Inilah satu kejadian yang baru pernah terjadi. Besok pagi kita akan mengetahui, kenapa mereka menangkapi gadis-gadis cantik."

"Mereka tidak mengundang kau, cara bagaimana kau bisa mengetahui begitu cepat?"

Keng Thian sengaja menanya.

"Biarpun aku sendiri tak diundang, tapi majikanku mendapat undangan,"

Jawabnya.

"Ialah yang memberitahukan hal itu kepadaku."

Keng Thian jadi girang dan lalu menanyakan lebih jauh tentang si pemilik rumah penginapan.

Ia itu ternyata adalah seorang yang mempunyai kedudukan agak tinggi dalam kota Naichi dan telah mewarisi perusahaan rumah penginapan dari orang tuanya.

Keng Thian juga mendapat tahu, bahwa orang bisa masuk ke dalam ruangan sembahyang dengan memperlihatkan surat undangan, dan mengingat banyaknya orang yang diundang, pemeriksaan tentu tidak dilakukan secara teliti.

Kira-kira magrib, diam-diam Keng Thian masuk ke kamar tidur si pemilik rumah penginapan dan lalu bersembunyi di atas salah satu balok penyangga atap.

Ia lihat, dengan penuh kegirangan, orang itu mengeluarkan makwa hitam yang indah, sedang surat undangan yang berwarna merah menggeletak di atas pembaringan.

Keng Thian segera memulung sedikit tanah yang melekat di tembok dan menimpuk jalan darah Hoenswee hiat dari si pemilik rumah penginapan yang lantas saja terguling di atas lantai dan akan tetap rebah selama dua belas jam.

Kemudian ia loncat turun dan sesudah membaringkan si pemilik rumah penginapan di atas pembaringan, ia segera memakai pakaian orang itu yang memang sudah tersedia.

Untung juga, potongan badan si pemilik rumah penginapan tidak banyak berbeda dengan potongan badannya.

Selanjutnya, ia mengeluarkan sepotong Yayong tan yang lantas dihancurkan dengan sedikit air teh dan kemudian dipoleskan pada mukanya.

Yayong tan atau obat untuk merubah paras muka adalah semacam perlengkapan dari kawanan penjahat di jaman itu.

Tong Siauw Lan, ayah Keng Thian, telah belajar membuat obat tersebut dari Kam Hong Tie.

Setelah merubah paras mukanya, dengan tangan mencekal surat undangan itu, sembari mesem Keng Thian segera berangkat menuju ke kuil Lhama.

Cocok dengan dugaannya beberapa Lham?

yang mendapat tugas untuk menyambut para tamu, tidak banyak rewel dan semua tamu yang membawa surat undangan dipersilahkan masuk tanpa pemeriksaan teliti.

Sebelum sembahyang, terlebih dulu diadakan perjamuan.

Orang-orang yang dijamu di gedung tengah adalah pemimpin-pemimpin dari berbagai kuil Lhama dan tamu-tamu penting.

Di gedung sebelah timur adalah tempat perjamuan untuk para tetua kota Naichi dan ayah atau walinya gadisgadis yang telah ditangkap.

Sesudah para tamu minum beberapa gelas arak, murid kepala dari Hoat-ong, yaitu Anan Tjoentjia (Tjoentjia adalah panggilan menghormat terhadap satu paderi atau Lhama), datang sendiri untuk melayani para tamu.

"Hari ini adalah hari yang sangat menggembirakan,"

Demikian Anan mulai dengan pidatonya, sesudah mengajak para tamu mengeringkan segelas arak.

"Hari ini kami ingin mengumumkan suatu berita menggirangkan kepada kalian, yaitu. Budha Hidup di Tibet sudah mengadakan perdamaian dengan Budha Hidup kita!"

Pengumuman itu disambut dengan sorak-sorai oleh para hadirin.

Selama seratus tahun, sudah puluhan kali kedua sekte bertempur hebat, sehingga menerbitkan kerugian jiwa manusia dan harta benda yang tak dapat dihitung berapa banyaknya.

Maka itu, tidaklah heran jika berita tersebut disambut dengan kegirangan besar.

Akan tetapi, sesudah sorakan mereka, beberapa tetua lantas saja berkata.

"Kami ingin Budha Hidup menetap di Tjenghay dan tak mau beliau meninggalkan kami."

Anan mesem dan melanjutkan pidatonya.

"Dalam perundingan perdamaian, Budha Hidup Panchen sudah menyetujui untuk memberikan Chinka, Sakya dan Chinpu kepada kita, supaya kita dapat mendirikan kuil-kuil yang seperlunya. Sesudah kuil-kuil selesai didirikan, Hoat-ong tentu harus pergi ke Tibet untuk melakukan upacara pembukaan. Akan tetapi, sesudah itu, beliau akan menyerahkan segala tugas mengurusnya kepadaku dan beliau sendiri akan balik kesini untuk melindungi kalian selama-lamanya."

Pidato itu kembali disambut dengan tampik sorak yang bergemuruh.

Apa yang diumumkan oleh Anan Tjoentjia sudah diketahui oleh Tong Keng Thian.

Yang belum didengar olehnya adalah nama-nama ketiga tempat itu.

Pada waktu Anan menyebutkan Sakya hati Keng Thian bergoncang oleh karena ia ingat, bahwa Sakya adalah tempat kedudukan ayah Tan Thian Oe.

Sesudah suara sorakan menjadi reda, Anan berkata pula.

"Untuk keperluan upacara pembukaan kuil baru itu di Tibet, maka mau tidak mau, kita harus mempertahankan kebiasaan lama dan memilih Wanita-wanita Suci. Mereka yang dapat diangkat menjadi Wanita Suci mempunyai rejeki besar dan mempunyai jodoh dengan Sang Budha. Akan tetapi, Hoat-ong juga dapat mengerti jalan pikiran kalian, dan oleh karena itu, siapa saja yang tak setuju puterinya menjadi Wanita Suci, dapat memberitahukannya secara berterus terang dan beliau bersedia untuk melepaskan puteri-puteri mereka."

Keadaan sunyi senyap, tak ada yang berani menyatakan, pikirannya terlebih dahulu, sehingga Anan Tjoentjia mengulangi pula pertanyaannya.

Sebagai hasilnya, antara tiga puluh enam ayah atau wali yang puterinya telah ditangkap, hanya tujuh yang menyatakan ingin mengambil pulang puterinya.

Belasan orang lainnya tidak berani membuka suara, meskipun hatinya merasa tidak setuju, sedang beberapa belas ayah-ayah lain lagi menyatakan kegirangannya, bahwa puteri mereka ternyata berjodoh untuk menjadi murid Sang Budha.

Sesudah beres, Anan segera mengajak para tamunya mengeringkan gelas arak sekali lagi.

"Sekarang Hoat-ong mengundang kalian untuk bersembahyang,"

Kata Anan sesudah semua orang mencegluk araknya.

"Kalian boleh masuk ke tempat sembahyang dan berbaris dengan rapi di lorak depan. Sesudah kalian memasang hio, seorang Lhama akan ambil hio itu dari tangan kalian dan menyampaikan semua nama."

Sehabis berkata begitu, Anan segera berjalan masuk, diikuti oleh semua orang, antaranya tentu saja juga Keng Thian sendiri.

Ruangan sembahyang kelihatan angker sekali, dengan seratus lebih Lhama yang berbaris di dalam ruangan dan seratus lebih tamu yang berdiri di lorak.

Di belakang meja sembahyang terdapat beberapa puluh patung Budha besar dan kecil.

Perlahan-lahan Raja agama itu berdiri dan berjalan menuju ke depan patung Djielayhoed.

Ia menyalakan sebatang hio yang besar dan lantas saja mulai bersembahyang.

Walaupun sudah pernah bertempur, baru sekarang Keng Thian melihat tegas muka Hoat-ong.

Badan Raja agama itu tinggi dan besar, mukanya bundar bagaikan rembulan dan kelihatan angker sekali.

Diam-diam Keng Thian merasa girang, bahwa semalam ia tidak menurunkan tangan jahat.

Sesudah Hoat-ong dan semua tamunya beres memasang hio, tiba-tiba terdengar suara lonceng dan di lain saat, dari belakang meja sembahyang keluar dua baris wanita yang mengenakan pakaian putih.

Setiap baris terdiri dari delapan belas gadis yang dipimpin oleh seorang Ibu Suci.

Begitu tiba di depan meja sembahyang, mereka segera menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu Budha yang kedengarannya merdu dan melapangkan dada.

Berselang beberapa saat, Hoat-ong menepuk tangan dua kali sebagai tanda bahwa upacara sudah berakhir dan wanita-wanita itu segera masuk pula ke dalam dengan berbaris.

Seorang Ibu Suci yang barusan memimpin salah satu barisan Wanita Suci, tidak turut masuk ke dalam, tapi segera menghampiri Hoat-ong dan berbicara dengan bisik-bisik.

Semua orang menahan napas, tak ada yang berani berbicara.

Keng Thian segera memusatkan semangatnya dan coba mendengarkan bisikan Ibu Suci itu.

"Aku sudah membujuk berulang-ulang, tapi ia masih juga sungkan menurut,"

Katanya.

"Baiklah,"

Kata Hoat-ong.

"Coba kau ajak ia keluar."

Hati Keng Thian berdebar-debar, matanya mengawasi ke belakang meja sembahyang.

Apakah ia harus lantas menyerbu, begitu Yoe Peng muncul?

Ia sungguh merasa sangat sangsi dan tak dapat lantas mengambil putusan.

Mendadak ia dengar suara tindakan dan dari pojok meja sembahyang kelihatan keluar dua orang wanita, yang satu adalah sang Ibu Suci, sedang yang lain adalah seorang wanita muda yang berpakaian serba putih.

Keadaan jadi sunyi senyap, ratusan pasang mata mengawasi mereka.

Mulut nona itu, yang mengenakan pakaian wanita Tibet, ditutup rapat-rapat, kedua matanya yang bening mengawasi ke depan dengan mendelong seperti juga orang yang tak sadar akan dirinya, sedang paras mukanya adalah dingin bagaikan es.

Muka gadis itu hanya agak mirip dengan Pengtjoan Thianlie dan ia duga pasti bukannya Yoe Peng!

Keng Thian terkesiap lantaran barusan ia sudah menduga pasti, bahwa wanita itu tentu bukan 4ain daripada Yoe Peng.

Ia mengawasi si nona dengan tidak berkesip, lapat-lapat ia ingat, seperti juga sudah pernah bertemu dengan wanita itu, akan tetapi ia lupa dimana lagi kapan.

Ia coba mengingat-ingat segala kejadian di keraton es.

Satu hal yang ia dapat pastikan, bahwa dayang Pengtjoan Thianlie yang turun gunung hanya Yoe Peng seorang.

Siapakah gadis yang menggunakan Pengpok Sintan, satu senjata rahasia yang hanya terdapat di keraton es?

Ia memutar otak tapi tetap tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Dapat dimengerti jika Keng Thian tak ingat lagi siapa adanya gadis itu, yang bukan lain daripada Chena, jantung hati Tan Thian Oe.

Pada waktu ia naik ke keraton es, di antara dayangdayang Pengtjoan Thianlie memang juga terdapat Chena.

Akan tetapi, oleh karena pada waktu itu seluruh perhatiannya ditujukan kepada Koei Peng Go seorang, maka dalam pertemuan ini, ia tak dapat mengenali pula nona ini yang telah dijumpainya baru sekali dua kali secara sepintas lalu.

"Inilah dia,"

Berkata sang Ibu Suci sesudah berhadapan pula dengan Hoat-ong.

"Ia bukan saja cantik dan suci bersih, akan tetapi juga pandai bersilat, sehingga aku tadinya berniat mengangkat ia sebagai Wanita Suci yang memimpin kuil di Sakya. Hanya sayang, ia tak berjodoh dengan Sang Budha, sehingga kita pun tak dapat berbuat apa-apa."

Di antara begitu banyak orang yang berdiri di lorak, perkataan Ibu Suci hanya dapat didengar oleh Keng Thian seorang.

Tiba-tiba mata Chena bergerak dengan perlahan dan lalu mengawasi Hoat-ong.

Di lain saat, mukanya terlihat seakan-akan kaget dan alisnya berkerut, seperti orang yang sedang memikir apaapa.

Akan tetapi, perobahan itu hanya terjadi dalam sekejap mata dan parasnya segera juga berbalik dingin kembali.

Ketika itu, kedua Lhama yang dulu pernah bertempur melawan Keng Thian, berdiri di kiri kanan Hoat-ong.

"Gadis ini tak boleh dilepaskan,"

Kata salah satu antaranya.

"Ia pernah melukakan beberapa Lhama dengan ilmu siluman."

Muka Hoat-ong yang angker kelihatan menyeramkan dan ia tidak menjawab perkataan Lhama itu.

Hati segenap hadirin jadi berdebar, mereka tak tahu, putusan apa yang akan diambil.

Orang yang duduk berendeng dengan Hoat-ong adalah Khan (raja) dari Tukuhun.

Sedari Chena muncul, kedua matanya mengawasi gadis itu tanpa berkesip.

Sekonyong-konyong ia berdiri dan sembari merangkap kedua tangannya, ia berkata dengan suara perlahan.

"Aku memohon kemurahan Budha Hidup untuk mengampuni gadis itu. Izinkanlah aku membawa ia ke istanaku untuk diberi nasehat. Izinkanlah aku menebus kedosaannya dengan memperbarui istana Budha."

Pada jaman pemerintahan Tjeng, menurut kebiasaan di Tibet, Tjenghay dan tempat-tempat lain, Hoat-ong atau Raja agama, berkuasa atas keagamaan, sedang Khan, atau Raja, menguasai urusan pemerintahan dan politik.

Kekuasaan agama dipandang lebih tinggi daripada kekuasaan politik, sehingga Raja agama mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Raja manusia.

Akan tetapi, pada waktu para Lhama sekte Topi Putih melarikan diri ke Tjenghay, mereka sudah bisa menetap disitu karena bernaung di bawah perlindungan Khan.

Maka itulah, begitu mendengar perkataan Tukuhun Khan, Hoat-ong segera kerutkan alisnya dan paras mukanya memperlihatkan kesangsian yang sangat sukar di atasinya.

Sementara itu, setelah mendengar permintaan Tukuhun Khan, Tong Keng Thian lantas saja naik darahnya.

Ia merasa, raja itu mempunyai maksud yang kurang baik.

Walaupun gadis itu bukannya Yoe Peng, Keng Thian sangat tak setuju, jika ia terjatuh kedalam tangan Khan itu.

Selagi memutar otak untuk mencari jalan guna memberikan pertolongan, dari antara tamu-tamu agung mendadak keluar satu orang yang, sesudah memberi hormat kepada Hoat-ong, segera berkata dengan suara nyaring.

"Perempuan siluman itu agaknya mempunyai riwayat yang mencurigakan. Maka itu, aku memohon izin Budha Hidup untuk menjajal padanya."

Keng Thian terkejut karena mengenali orang itu yang ternyata bukan lain daripada In Leng Tjoe, yaitu konconya Hiatsintjoe, yang pernah berusaha menangkap Liong Leng Kiauw.

Sebagaimana diketahui, In Leng Tjoe adalah kaki tangan Kaizar Boan yang berada dalam perjalanan pulang ke kota raja, untuk melaporkan halnya Liong Leng Kiauw.

Oleh karena ia kenal Raja agama sekte Topi Putih, maka waktu tiba di Tjenghay, ia mampir dan turut menghadiri upacara sembahyang itu.

Dalam perhubungan antara kerajaan Tjeng dan Tukuhun Khan, meskipun benar Khan tersebut dapat dikatakan berdiri sendiri, akan tetapi secara resmi Tjenghay masih berada dalam kekuasaan Kaizar Boan.

Oleh karena itu, mengingat In Leng Tjoe adalah orang penting dalam istana Tjeng, maka biarpun sangat gusar, Tukuhun tak berani sembarang mengumbar napsunya.

Parasnya lantas saja jadi berubah dan ia menanya dengan suara dingin.

"Cara bagaimana kau ingin menjajal ia?"

"Khan yang Besar tak usah kuatir,"

Jawabnya.

"Biarpun bagaimana juga, aku tak akan merusak paras mukanya."

Dengan mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi, tanpa memperdulikan kegusaran Khan dan juga tanpa menunggu persetujuan Hoat-ong, ia segera menghampiri Chena dan menotok dada gadis itu dengan kedua jerijinya.

Totokan itu adalah satu serangan hebat dan dilihat dari cara ia menurunkan tangan, In Leng Tjoe kelihatannya ingin memaksa supaya Chena menangkis pukulannya.

Latar belakang dari tindakan itu adalah seperti berikut.

Ketika baru tiba di kota Naichi, ia mendengar halnya seorang wanita yang sudah merobohkan beberapa Lhama dengan semacam senjata yang membikin orang kedinginan.

Seperti Keng Thian, ia segera menarik kesimpulan, bahwa wanita itu adalah Yoe Peng.

Barusan, sesudah melihat Chena, baru ia mengetahui, bahwa gadis itu bukan Yoe Peng.

Akan tetapi, Pengpok Sintan adalah senjata rahasia istimewa yang hanya terdapat di keraton es.

Maka itu, meskipun Chena bukan dayang Pengtjoan Thianlie, akan tetapi, dengan mempunyai Pengpok Sintan, ia tentu mempunyai hubungan rapat dengan Koei Peng Go.

Sebagaimana diketahui suami isteri In Leng Tjoe pernah dihajar oleh Pengtjoan Thianlie dan mereka sangat membenci gadis tersebut.

Itulah sebabnya, mengapa lantas saja In Leng Tjoe mengambil putusan untuk mempersulit Chena dan dengan totokannya itu, ia ingin mencari tahu, apakah ilmu silat gadis itu sama dengan ilmu silat Koei Peng Go.

Melihat orang menurunkan tangan jahat.

Tukuhun Khan lantas naik amarahnya.

"Jangan celakakan Wanita Suci!"

Ia membentak sembari loncat bangun dan teriaki orang-orangnya supaya maju menolong.

In Leng Tjoe tidak memperdulikan bentakan itu dan dua jerijinya terus menotok dada Chena.

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras dan badan In Leng Tjoe melesat ke atas setombak lebih, dan berbareng dengan itu, dua pahlawan Tukuhun Khan jatuh terlentang tanpa bisa bangun lagi.

Di lain saat, orang melihat In Leng Tjoe memegang pergelangan tangannya, mukanya pucat dan keringatnya mengucur turun dari dahinya.

Ia kelihatan menderita kesakitan hebat dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Hoat-ong terkesiap, ia sungguh tak mengerti bagaimana bisa terjadi peristiwa begitu.

Ia kenal kepandaian In Leng Tjoe yang tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri.

Biarpun wanita itu pandai ilmu silat, ia mengetahui, bahwa kepandaiannya belum seberapa dan masih kalah jauh dari kedua pahlawannya sendiri.

Maka itu, ia tidak mengerti, cara bagaimana In Leng Tjoe bisa kena dihajar secara begitu mudah.

Dengan matanya yang sangat tajam, ia mengetahui, bahwa In Leng Tjoe terluka pada jalan darahnya akibat serangan senjata rahasia.

Dan sungguh luar biasa, ia sendiri tak dapat melihat, senjata apa yang sudah digunakan untuk menghantam In Leng Tjoe.

Dalam kagetnya, tanpa mengingat kedudukannya sebagai Budha Hidup, ia segera berdiri dan menghampiri In Leng Tjoe guna menyelidiki terlebih jauh.

Sekonyong-konyong Chena merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara halus.

"Terima kasih untuk budi Budha Hidup yang sangat besar. Aku yang rendah mulai dari sekarang bersedia untuk mempersembahkan jiwa dan raga kepada Sang Budha dan bersedia pula untuk menjadi pengikutnya selama-lamanya."

Pernyataan Chena sudah membikin Ibu Suci dan semua Lhama jadi terkejut.

Dua hari ia tak makan dan tak minum, dua hari ia menolak segala rupa bujukan.

Sungguh di luar dugaan, bahwa pada saat itu, ia sudah menyatakan persetujuannya tanpa diminta lagi.

Begitu mendengar perkataan Chena, sang Ibu Suci segera mengucapkan doa, sebagai tanda, bahwa keinginan gadis itu sudah diterimanya dan disetujui pula.

Sekonyong-konyong, Hoat-ong yang matanya sangat tajam melihat semacam perhiasan luar biasa yang tergantung pada dada Chena.

Perhiasan itu dibuat daripada sepotong gading dan berbentuk bundar dengan ukiran huruf-huruf Sansekerta.

Itulah sebuah Lenghoe (jimat) untuk menjaga keselamatan yang biasa diberikan oleh pemimpin agama Lhama kepada pengikutpengikutnya yang berjasa dan suci bersih.

Dalam agama Lhama, gajah putih dipandang sebagai hewan yang paling mulia.

Maka itu Lenghoe yang terbuat dari gading merupakan jimat yang dianggap paling tinggi khasiatnya dan jarang diberikan kepada seorang wanita.

Chena adalah puteri tunggal Chinpu Hoan-ong, yang dulu paling berpengaruh dan paling luas wilayahnya di Tibet.

Semasa hidupnya, Chinpu banyak berjasa terhadap agama Lhama dan itulah sebabnya, mengapa pada waktu Chena berusia tiga tahun, Panchen Lhama telah menghadiahkan Lenghoe gading itu.

Dalam kalangan Lhama terdapat suatu kepercayaan, bahwa jimat tersebut mempunyai kekuatan untuk menolak segala "barang kotor."

Walaupun pernah berseteru, sekte Topi Kuning dan Topi Putih bersumber satu.

Dari sebab begitu, Lenghoe yang diberikan oleh Raja agama sekte Topi Kuning atas nama Budha, juga diindahkan oleh Raja agama dari sekte Topi Putih.

Ketika itu, Hoat-ong yang masih belum mengetahui asal-usul Chena, sudah menduga bahwa gadis itu adalah Wanita Suci dari sekte Topi Kuning.

Mendengar Chena bersedia untuk menjadi Wanita Suci dari agamanya sendiri, sudah tentu saja ia jadi merasa girang sekali.

Tapi sebelum ia keburu membuka suara, In Leng Tjoe sudah berteriak-teriak seperti orang gila.

Ternyata, ia sudah berhasil membuka jalan darahnya dan dalam gusarnya, ia sudah berteriak-teriak.

"Lukamu masih belum sembuh, tak dapat kau banyak bergerak,"

Berkata Hoat-ong dengan suara tawar. In Leng Tjoe terkejut dan menghentikan teriakannya. Mendadak, Tukuhun Khan menghampirinya dengan diikuti dua pahlawannya.

"Bekuklah orang hutan ini!"

Ia membentak.

"Siapa berani mengganggu Wanita Suci kami!"

Selagi kedua pahlawan itu coba menangkap In Leng Tjoe, Tukuhun Khan mendekati Chena. Hoat-ong mesem dan berkata dengan suara nyaring.

"Oh, Khan Yang Besar! Perkataanmu tiada salahnya. Ia sekarang sudah menjadi Wanita Suci dari agama kami, siapa pun tak boleh mengganggu padanya!"

Muka Khan lantas saja berubah, tapi ia tidak berani bergerak lebih jauh.

"Sesudah ia mendapat perlindungan Budha Hidup, aku pun tak mau banyak urusan lagi,"

Katanya dengan suara perlahan, tapi mukanya kelihatan menyeramkan sekali.

Heran sungguh hati semua Lhama yang berada disitu.

Inilah untuk pertama kali mereka menyaksikan bentrokan antara Hoat-ong dan Khan Yang Besar.

Mereka merasa sangat tidak mengerti, mengapa Tukuhun Khan rela berselisih dengan Hoat-ong untuk seorang wanita yang sama sekali tidak diketahui siapa adanya.

Baru saja Tukuhun Khan memutar badan, tiba-tiba terdengar suara gedubrakan.

Ternyata, kedua pahlawannya yang mau membekuk In Leng Tjoe sudah dirobohkan orang yang mau ditangkap.

Bukan main gusarnya Tukuhun Khan.

Sedang terhadap sang Budha Hidup ia tak dapat berbuat suatu apa, sekarang ia melampiaskan perasaan mendongkolnya terhadap In Leng Tjoe.

"Bekuk padanya!"

Ia berteriak sekeras-kerasnya.

Para pahlawannya yang berjajar di lorak dengan serentak menyerbu ke atas untuk menjalankan perintah sang raja.

Keng Thian menyaksikan semua kejadian itu dengan perasaan geli.

"Aku mau lihat, cara bagaimana Hoat-ong membereskan peristiwa ini,"

Katanya di dalam hati.

Perlahan-lahan Raja agama itu menghampiri Tukuhun Khan.

Mendadak, dua bayangan melesat dari samping Hoat-ong dan bagaikan dua ekor garuda, mereka menyambar ke arah Chena.

Kedua bayangan itu adalah dua murid Hoat-ong, ialah Lhama jubah putih yang pernah bertempur dengan Keng Thian pada waktu perebutan guci emas.

Di waktu itu, mereka berdua pernah mendapat bantuan In Leng Tjoe dan sekarang, ketika melihat In Leng Tjoe mendapat luka, tanpa berpikir panjang lagi, mereka segera menyerang Chena.

Mereka menganggap In Leng Tjoe telah dilukakan oleh Chena dan sama sekali tidak teringat, bahwa kepandaian ln Leng Tjoe masih lebih tinggi dari kepandaian mereka sendiri dan tentu saja banyak lebih tinggi daripada kepandaian Chena.

Di samping itu, mereka sangat membenci Chena, oleh karena gadis itu pernah melukakan beberapa Lhama.

Barusan, melihat sikap Hoat-ong, mereka kuatir Raja agama itu akan mengampuni Chena.

Pada waktu menerjang, mereka belum mendengar terang perkataan Hoat-ong yang diucapkan terhadap Tukuhun Khan dan mereka juga tidak memperhatikan gading yang tergantung pada dada gadis tersebut.

Ketika Hoat-ong menghampiri Tukuhun Khan, ia sedang memutar otak untuk mencari jalan guna meredakan keributan itu, maka ia tidak dapat melihat gerakan kedua Lhama yang semberono itu dan waktu ia mengetahui adanya serangan tersebut, ia sudah tidak keburu mencegah lagi.

Pada saat yang sangat genting, dari sebelah luar tiba-tiba terdengar suara tertawa yang sangat nyaring, dan pada detik itu juga, kedua Lhama itu bergemetar sekujur badannya dan meloncat setombak tingginya.

Semua orang terkesiap dan menengok ke arah suara tertawa itu.

Mereka melihat dua orang wanita muda, dengan muka bersenyum, sedang maju menghampiri dengan tindakan ayu.

Wanita yang berjalan di sebelah depan mengenakan pakaian warna biru laut, mukanya bundar laksana bulan, alisnya melengkung dan kedua matanya yang berwarna kebiru-biruan bersinar terang sekali.

Dengan kecantikan-nya yang luar biasa dan sikapnya yang agung, ia sudah membikin semua orang terpesona, antaranya In Leng Tjoe sendiri yang mengawasi dengan mulut ternganga.

Wanita yang berjalan di sebelah belakang, memakai pakaian yang hampir sama dengan wanita yang pertama, tetapi rambutnya dikepang dan diikat dengan sutera merah.

Paras mukanya, yang bagaikan paras bocah nakal, kelihatan seperti mau tertawa, tapi bukan tertawa la mengikuti wanita yang pertama, seperti caranya seorang budak mengikuti majikannya.

Melihat kedatangan mereka, Hoat-ong kaget tak kepalang.

Harus diingat, bahwa dalam ruangan itu terdapat empat sampai lima ratus orang dan halaman di luar gedung dijaga oleh para Lhama yang jumlahnya tidak sedikit.

Bahwa kedua wanita itu muncul secara tiba-tiba tanpa diketahui dulu oleh orang lain, adalah kejadian yang benar-benar luar biasa.

Tapi orang yang paling terpengaruh oleh kedatangannya kedua wanita itu mungkin adalah Tong Keng Thian sendiri, oleh karena mereka bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng!

Dalam kaget dan girangnya, hampir-hampir ia berteriak.

Di lain saat, Koei Peng Go sudah berdiri di samping Chena.

Begitu mengenali si nona yang dulu sudah membantu melindungi guci emas, kedua Lhama jubah putih yang semberono itu menjadi sangat gusar dan tanpa banyak bicara, mereka lalu menjotos.

Badan Pengtjoan Thianlie sama sekali tidak bergerak.

Pada saat empat buah tinju hampir mengenakan tubuhnya, tiba-tiba ia mengebas dengan tangan jubahnya dengan menggunakan ilmu Tjiam-ic sippattiat (Delapan belas cara merobohkan musuh dengan Kebasan baju), yaitu ilmu silat yang paling tinggi dan harus digunakan dengan tenaga dalam yang sangat besar.

Begitu dikebas, badan kedua Lhama itu yang seperti kerbau besarnya lantas terpental serombak (Kulinya dan menggelinding sampai di kaki Hoat-ong.

Di lain saat, Pengtjoan Thianlie sudah menarik tangan Chena dan lalu bertindak keluar.

Ketika itu, mata semua orang sedang ditujukan kepada kedua Lhama itu yang kena dibikin terpental oleh Koei Peng Go dan hanya Tong Keng Thian seorang yang terus memperhatikan kedua wanita itu.

Pada saat itu, Pengtjoan Thianlie agaknya tiba-tiba melihat Lenghoe yang dipakai Chena dan ia mengeluarkan seruan tertahan.

Di lain pihak, Chena kelihatan mendekatkan mulutnya pada kuping Pengtjoan Thianlie dan telah mengucapkan beberapa kata.

"Tahan!"

Berseru Hoat-ong, yang, dengan sekali menjejek kaki, sudah berdiri di samping Pengtjoan Thianlie.

Keng Thian kaget bukan main.

Ilmu silat kedua orang itu hampir sama tinggi dan jika mereka sampai bertempur, mungkin ia tak akan dapat memisahkan.

Sekonyong-konyong Chena mundur dua tindak dan sembari menyoja kepada Koei Peng Go, ia berkata dengan suara nyaring.

"Sioelie (paderi atau imam wanita) dari agama Topi Putih memberi hormat kepada Hoehoat (Pelindung agama)."

Hoat-ong kaget dan mengawasi dada Peng Go, dimana kelihatan tergantung sebuah Lenghoe yang mengeluarkan bau wangi-wangian halus.

Itulah Pweyap Lenghoe (jimat kitab Budha yang suci) yang oleh para penganut agama Budha dianggap sebagai semacam mustika yang langka.

Kecuali beberapa gelintir paderi suci, Budha Hidup atau raja-raja yang sangat berjasa terhadap agama, semua pengikut agama Budha, dari hidup sampai mati, belum tentu pernah melihat Lenghoe tersebut.

Pweeyap Lenghoe yang dipakai oleh Pengtjoan Thianlie adalah warisan ibunya, yaitu Hoa Giok Kongtjoe.

Nepal adalah negeri yang beragama Budha.

Semasa hidupnya ayah Hoa Giok adalah murid Budha yang taat pada agamanya dan dalam kedudukannya sebagai raja Nepal membuat banyak sekali jasa terhadap agama.

Itulah sebabnya, maka Raja agama telah menghadiahkan Pweeyap Lenghoe kepadanya sebagai pernyataan terima kasih dan penghargaan terhadap segala perbuatannya yang mulia.

Sebagaimana diketahui, raja tersebut semula ingin sekali menurut contoh raja-raja Barat dan hendak mewariskan tahta kerajaan kepada puterinya yang tunggal.

Oleh karena adanya niatan tersebut, maka pada waktu usianya sudah lanjut, ia mewariskan Lenghoe itu kepada Hoa Giok.

Pweeyap Lenghoe dari Pengtjoan Thianlie tidak dapat disamakan dengan Hoesin Lenghoe (jimat untuk melindungi diri sendiri) dari Chena.

Dengan memakai Lenghoe tersebut, kedudukan Chena adalah sebagai seorang Wanita Suci, atau Shenglie, yang masih berada di bawah kedudukan Lhama Besar.

Di lain pihak, kedudukan Pengtjoan Thianlie merupakan kedudukan Pelindung agama, atau Hoehoat, dan tingkatannya dapat dibilang berendeng dengan tingkatan seorang Budha Hidup.

Maka itulah, waktu Pengtjoan Thianlie memberi hormat kepada Hoat-ong, Raja agama itu pun segera membalas dengan tidak kurang hormatnya.

Para tetamu, terhitung juga Tong Keng Thian, yang tidak mengetahui tata tertib agama Lhama rata-rata merasa heran, ketika melihat Hoat-ong membalas hormatnya Koei Peng Go.

Sementara itu, Keng Thian melihat Yoe Peng sedang kasak-kusuk dengan Chena.

Mereka bicara dengan berbisik dan menggunakan bahasa Tibet.

Apa yang kuping Keng Thian dapat menangkap hanya perkataan "Sakya"

Dan "Tan Thian Oe."

Chena kelihatan mengerutkan alisnya dan mengawasi Yoe Peng, seperti juga ia ingin meminta supaya dayang Koei Peng Go itu jangan banyak berbicara.

"Hei! Siapa kau?"

Demikian terdengar bentakan Hoat-ong.

Keng Thian yang sedang memusatkan perhatiannya kepada kedua gadis itu, jadi gelagapan ketika melihat Raja agama itu menuding padanya.

Ternyata, untuk coba mendengar pembicaraan antara Yoe Peng dan Chena, Keng Thian sudah melupakan dirinya dan maju terlebih jauh, sehingga ia berada di garisan depan.

Hampir berbareng dengan bentakan Hoat-ong, sembari menggereng seperti harimau terluka, In Leng Tjoe menerjang Pengtjoan Thianlie.

Hoat-ong mengebas dengan tangan jubahnya sambil membentak.

"In Leng Tjoe! Jangan kurang ajar!"

"Lihatlah! Apa ini""

Berteriak In Leng Tjoe sembari memperlihatkan satu Sinbong yang hitam bersinar.

"Inilah Thiansan Sinbong! Sekarang terbukti, orang dari Thiansan pay, bersama-sama perempuan siluman itu, sudah datang kemari untuk mengacau. Budha Hidup! Kenapa kau tak mau lantas membekuk mereka?"

Ternyata, senjata rahasia yang barusan menghantam In Leng Tjoe adalah Thiansan Sinbong yang dilepaskan oleh Tong Keng Thian.

Sesudah dapat membuka jalan darahnya, dalam kegusarannya ia segera menerjang Koei Peng Go, yang sangat dibencinya.

Dengan terkejut, Hoat-ong kembali mengebas dengan tangan jubanya.

"In Leng Tjoe!"

Ia membentak.

"Jangan bicara gila-gila. Lieposat (Wanita mulia) ini adalah seorang Pelindung agama."

Akibat kebasan Hoat-ong, In Leng Tjoe terhuyung beberapa tindak.

Darahnya meluap, tapi ia tidak berani mengumbar napsu amarahnya terhadap Raja agama itu.

Sesaat itu, para pahlawan Tukuhun Khan sudah menerjang In Leng Tjoe, yang, sambil berteriak keras, menghantam kalang kabut, sehingga dalam sekejap mata, banyak yang sudah terguling dengan mendapat luka-luka.

Sesudah mengamuk hebat, In Leng Tjoe segera lari ke lorak dan para tetamu lantas saja menjadi kalut.

Dalam keadaan yang sedemikian kalut, Tong Keng Thian masih tetap tenang dan kedua matanya terus mengawasi Koei Peng Go.

Barusan, ketika In Leng Tjoe menerjang padanya, Pengtjoan Thianlie mengegoskan badan sembari mengebas tangan bajunya yang panjang dan gerakannya itu seperti juga gerakan menyingkirkan diri dari serangan musuh yang kuat.

Akan tetapi sebenar-benarnya gerakan Peng Go ditujukan terhadap Keng Thian, oleh karena, pada saat ia mengegos, tangan bajunya membuat saru huruf "Tjauw" (lari) di tengah udara, dengan maksud supaya pemuda itu lekas-lekas melarikan diri.

Melihat itu, Keng Thian jadi semakin tidak mengerti.

Sebelum dapat memikirkan harus berbuat bagaimana, In Leng Tjoe sudah lari sampai di hadapannya dengan diubar oleh dua Lhama.

Dengan cepat, Keng Thian pasang kuda-kuda, dua jeriji tangan kirinya dipentang dan menyambar ke depan, sedang tangan kanannya ditarik ke belakang, dalam gerakan mementang gendewa.

Itulah pukulan Thiansan pay yang paling liehay dan dikenal sebagai pukulan Houwtek siadjit (Houw Tek memanah matahari).

Kedua jeriji yang menghantam ke depan menggunakan ilmu Tiattjie Sinkang (Ilmu jeriji besi), sedang sikutnya yang memukul ke belakang bekerja seperti satu martil besi.

Ilmu silat In Leng Tjoe memang sudah kalah setingkat dari Tong Keng Thian dan ditambah dengan lukanya, ia lebih-lebih bukan tandingan pemuda itu.

Melihat sambaran kedua jeriji Keng Thian, dengan mengandalkan ilmu Tiatposan (Ilmu baju besi, yaitu semacam ilmu weduk), In Leng Tjoe menyambut dengan pundaknya Berbareng dengan satu suara "tak!"

Tulang pundak itu patah dan hampir-hampir ia roboh di atas lantai.

Pada detik itu, kedua Lhama yang mengubar juga sudah tiba dan sikut Keng Thian membentur tepat sang Lhama yang jalan di depan.

Dengan teriakan keras, ia jatuh kejengkang dan badannya menubruk sang kawan yang berada di belakangnya, sehingga tak ampun lagi, mereka berdua terguling dengan berbareng.

Biar bagaimanapun juga, In Leng Tjoe adalah pemimpin satu cabang persilatan dan ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang tinggi.

Demikianlah, walaupun tulangnya patah, sesudah mengempos semangat, ia segera menerjang pula.

Mendadak, dua sinar dingin kelihatan menyambar.

Keng Thian, yang menduga Pengtjoan Thianlie sedang membantu ia, sudah tidak berjaga-jaga dan tahu-tahu mukanya basah dan bukan main dinginnya.

"Jangan membiarkan dia lari!"

Berteriak kedua Lhama yang barusan dirobohkan sikut Keng Thian.

Sekarang Hoat-ong sendiri sudah dapat mengenali, bahwa pemuda itu bukan lain daripada si tetamu bertopeng yang semalam telah mengunjungi ia.

"Terima kasih atas bantuan Lieposat,"

Berkata Hoat-ong sembari membungkuk dan lalu bergerak untuk turun tangan sendiri. Pengtjoan Thianlie mengawasi Raja agama itu sembari mesem.

"Sesudah Budha Hidup mengenali siapa adanya ia, kenapa juga masih mau turun tangan? Apakah Budha Hidup masih ingin bertempur dengan agama Topi Kuning di Tibet?"

Menanya si nona. Hoat-ong terkejut dan lalu balas menanya.

"Kenapa Lieposat berkata begitu?"

"Apakah Budha Hidup mengetahui, bahwa orang itu sudah membantu kerajaan Tjeng dan agama Topi Kuning untuk melindungi guci emas?"

Pengtjoan Thianlie berkata pula Waktu itu, kedua Lhama tadi sedang mencaci Keng Thian yang dulu telah melukakan mereka dalam perebutan guci emas.

Hoat-ong jadi semakin bersangsi, ia mengawasi Pengtjoan Thianlie tanpa berkesip.

"Pada waktu guci emas direbut kembali, aku pun berada disitu,"

Kata Pengtjoan Thianlie.

Soal inilah yang membikin Hoat-ong bersangsi.

Dari murid-muridnya ia mendapat tahu, bahwa dua lawan berat pada waktu itu adalah seorang dari Thiansan pay dan seorang wanita yang dikenal sebagai Pengtjoan Thianlie.

"Ia adalah Hoehoat dari agama Budha, akan tetapi, siapakah yang sebenarnya dilindungi?"

Tanya Hoat-ong dalam hatinya.

"Apakah benar pernyataan In Leng Tjoe, bahwa ia datang unuk menyeterukan aku?"

Selagi Raja agama itu berada dalam kesangsian, Koei Peng Go sudah berkata pula.

"Agama Topi Kuning dan Topi Putih sebenar-benarnya bersumber satu. Sekarang, sesudah diadakan perdamaian, Budha Hidup hendaknya jangan mempersulit orang itu. Bahwa guci emas waktu ini berada di Lhasa, sebenarnya adalah suatu kejadian yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Aku mohon Budha Hidup sudi memaafkan aku yang sudah mencampuri urusan ini."

Hoat-ong adalah seorang yang sangat cerdas dan begitu mendengar perkataan Pengtjoan Thianlie, ia segera menjadi sadar.

"Benar!"

Katanya didalam hati.

"Untung juga hari itu mereka berdua sudah turun tangan. Andaikata waktu itu guci emas dapat direbut, cara bagaimana dapat dicapai perdamaian seperti yang tercapai hari ini? Ah! Ternyata mereka mempunyai pandangan yang sangat luas dan diam-diam sudah menyingkirkan akar permusuhan antara kedua agama."

Memikir begitu, ia lantas saja memberi hormat kepada Koei Peng Go dan menepuk kedua tangannya untuk memanggil balik kedua muridnya.

Tadi, ketika Pengtjoan Thianlie menimpuk mukanya dengan Pengpok Sintan guna membuka rahasia penyamarannya, Keng Thian merasa sangat tidak mengerti, kenapa si nona sudah bertindak begitu.

Sesaat kemudian, ia menduga, bahwa Peng Go tidak sudi bicara dengan ia dan ingin mendesak supaya ia berlalu dari tempat itu, dan berhubung dengan dugaan tersebut, Keng Thian segera memutuskan untuk segera menyingkir.

Akan tetapi, ia sudah kena "diikat"

Oleh In Leng Tjoe dan kedua Lhama itu, sehingga untuk sementara waktu, ia tak dapat meloloskan diri.

Selagi bertempur hebat, ia tentu saja tidak dapat mendengar pembicaraan antara Hoat-ong dan Peng Go dengan jelas.

Tiba-tiba Hoat-ong menepuk tangannya dan memanggil pulang kedua muridnya yang sedang mengerubuti Keng Thian, sehingga pemuda itu, yang justru sedang berkuatir Hoat-ong akan turut turun tangan sendiri, jadi merasa sangat heran.

Sesudah dua lawan itu meninggalkan gelanggang pertempuran, merobohkan In Leng Tjoe sudah tidak merupakan soal lagi baginya.

"Lootjianpwee, maafkan aku yang berlaku kurang ajar,"

Kata Keng Thian sembari tertawa dan mengirim dua pukulan berat, yang telak mengenakan bagian tubuh yang berbahaya.

Apa yang lebih hebat lagi, ialah pukulan Keng Thian dengan menggunakan Imlat (Tenaga lembek), sehingga In Leng Tjoe semula tidak merasakan apa-apa dan sesudah lewat beberapa saat, baru ia terkena pengaruh pukulan itu.

Sesaat itu, In Leng Tjoe bukan hanya menghadapi Keng Thian, akan tetapi juga para pahlawan Tukuhun Khan juga sudah bergerak untuk membekuk ia.

Jalan yang paling selamat untuk In Leng Tjoe adalah meminta pertolongan Hoat-ong dan berdiam beberapa hari dalam kuil untuk mengobati lukanya.

Akan tetapi, sebagai seorang yang angkuh, sebaliknya dari memohon pertolongan, ia menjejek kedua kakinya dan melompati tembok, akan kemudian kabur tanpa menengok lagi.

Tindakannya itu sudah membikin lukanya jadi semakin berat dan ia terpaksa harus rebah sebulan lebih untuk memulihkan kesehatannya.

Akan tetapi, walaupun sudah sembuh, ilmu silatnya banyak berkurang dan tugas melaporkan hal Liong Leng Kiauw kepada atasannya di kota raja, jadi tertunda.

Maka Tong Keng Thian sudah melukakan In Leng Tjoe juga lantaran ingin memperlambat perjalanannya ke kota raja.

Sesudah In Leng Tjoe kabur, Keng Thian lantas saja mengenjot badannya yang segera melesat keluar tembok.

Selagi melompati tembok, ia menengok dan melihat si nona mengawasi padanya sembari mesem.

Pada waktu Keng Thian kembali ke rumah penginapan, para pelayan sedang kebingungan dalam usaha menolong majikannya.

Semula, mereka hanya merasa heran melihat sang majikan belum juga keluar dari kamarnya untuk memenuhi undangan Hoat-ong, tapi mereka tak berani masuk kedalam kamar.

Kemudian, sesudah siang berganti malam dan sang majikan belum juga muncul, dengan memberanikan hati, salah seorang pegawai masuk ke dalam kamar.

Begitu masuk, ia terkejut oleh karena sang majikan sedang tidur bagaikan mayat dan tak menjadi sadar meskipun dipanggil-panggil dengan suara keras.

Buru-buru ia keluar dan memberitahukan rekanrekannya yang jadi kebingungan dan menduga majikan itu terkena "barang kotor."

Salah seorang lantas pergi mengundang dukun untuk mengusir setan atau memedi yang mengganggunya.

Keng Thian merasa geli dalam hatinya.

Diam-diam ia mengembalikan surat undangan Hoat-ong dan membuka jalan darah si pemilik rumah penginapan.

Sesudah itu, tanpa memperdulikan segala kekacauan, ia membereskan buntalannya dan tanpa pamitan lagi segera berlalu dari penginapan itu, sesudah meninggalkan sepotong perak di atas meja.

Dalam peristiwa pada malam itu, ada banyak hal yang tidak dimengerti Keng Thian.

Pertama, siapakah gadis Tibet itu?

Kenapa, sedang semula ia menolak begitu keras untuk dijadikan Wanita Suci, akhirnya secara suka rela ia menyatakan suka menurut?

Kedua, sebagai seorang yang baru turun gunung, Pengtjoan Thianlie tak mengenal jalan.

Kenapa ia bisa datang ke kuil itu?

Apakah kejadian itu hanya kejadian kebetulan saja?

Ketiga, Koei Peng Go bermula mendesak supaya ia cepat-cepat mengangkat kaki, tapi kemudian mesem-mesem kepadanya.

Apakah arti sikap itu?

Selain itu, sedang Pengtjoan Thianlie sendiri pernah membantu melindungi guci emas, kenapa Hoat-ong bersikap begitu menghormat terhadapnya?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh Tong Keng Thian.

"Jika dilihat dari sikapnya, Peng Go pasti mengenal baik gadis Tibet itu,"

Katanya didalam hati.

"Tapi gadis itu sudah pasti bukan dayangnya."

Berselang beberapa saat, kentongan berbunyi empat kali.

Keng Thian lantas mengambil keputusan dan tanpa bersangsi, ia segera menuju lagi ke kuil Lhama dengan gunakan ilmu mengentengkan badan.

Begitu tiba, ia pergi ke Istana Wanita Suci yang terletak di sebelah timur.

Ia sudah bertekad untuk menyelidiki hal ihwal gadis Tibet tersebut dalam usaha mencari tahu dimana adanya Pengtjoan Thianlie.

Dengan sekali mengenjot badan, ia sudah hinggap di atas genteng istana.

Ketika itu, para Wanita Suci sudah berada dalam masing-masing kamarnya dan penerangan sudah dipadamkan.

Sesudah terjadinya peristiwa hebat tadi, para wanita itu ternyata tak dapat tidur pulas dan masih terus membicarakan kejadian tadi dengan suara bisik-bisik.

Sambil merangkak di atas genteng, Keng Thian mendengar suara kasak-kusuk itu, akan tetapi ia tidak mengetahui suara yang mana adalah suara si gadis Tibet dan ia juga tak berani sembarang masuk ke dalam kamar orang.

Sambil menghela napas, Keng Thian mengangkat kepalanya.

Mendadak, di sebuah loteng kecil yang terletak di sebelah timur, terlihat api lampu yang berkelak-kelik.

Buru-buru ia menghampiri dan setelah datang dekat, lewat jendela kaca ia dapat kenyataan, bahwa di kamar itu terdapat tiga wanita yang bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie, Yoe Peng dan si gadis Tibet yang sedang dicarinya.

Bukan main girangnya.

Ia datang lebih dekat pula dan memasang kuping.

"Ini beberapa lembar adalah pelajaran menimpuk dengan senjata rahasia,"

Demikian kedengaran suara Pengtjoan Thianlie.

"Simpanlah baik-baik."

"Budi Tjietjie yang sangat besar, sampai mati aku tak akan melupakan,"

Kata sigadis Tibet.

"Ah! Benar-benar mereka sudah saling mengenal,"

Berkata Keng Thian dalam hatinya.

"Tapi kenapa ia turunkan pelajaran senjata rahasia, sedang ilmu silat ada begitu banyak macamnya?"

Di lain saat terdengar suara tertawa Yoe Peng yang lalu berkata.

"Kau hidup atau mati, untuk aku tak ada halangannya. Tapi ada orang yang tidak rela, jika kau sampai menutup mata!"

Dari luar jendela, Keng Thian melihat gadis Tibet itu menggebuk Yoe Peng yang mulutnya usilan.

"Aku sama sekali tidak berdusta,"

Kata pula Yoe Peng yang nakal.

"Benar-benar ia sedang menunggu kau dengan tidak sabar."

"Ah! Kalau begitu, ia sudah mempunyai kecintaan,"

Kata Keng Thian dalam hatinya.

"Tapi siapa?"

Walaupun pintar dan cerdas, Tong Keng Thian sedikitpun tidak menduga, bahwa orang yang dimaksudkan Yoe Peng adalah Tan Thian Oe.

Dengan mata sendiri, ia pernah menyaksikan hubungan yang rapat antara Thian Oe dan Yoe Peng, sehingga ia sama sekali tak mengira, bahwa kecintaan Thian Oe adalah si gadis Tibet.

"Yoe Peng!"

Demikian terdengar Pengtjoan Thianlie membentak.

"Jangan bicara yang gila-gila! Adik Chena, jagalah dirimu baik-baik!"

Keng Thian tahu, si nona sudah mau berlalu. Tiba-tiba kesunyian sang malam dipecahkan suara bentakan yang keluar dari atas loteng.

"Binatang!"

Membentak seorang wanita.

"Berani betul kau menggerayang kesini! Leng-ouw (Anjing sakti)! Gigit orang itu!"

Di lain saat, berbareng dengan suara menggeram yang dahsyat, empat ekor anjing sebesar anak kerbau dan galak luar biasa, menerjang Keng Thian.

Anjing itu adalah dari daerah Tibet dan merupakan turunan dari perkawinan campuran antara anjing hutan dan anjing biasa, dan itulah sebabnya, mengapa galaknya luar biasa.

Mereka mengepung Keng Thian dari empat penjuru, tak berbeda dengan cara manusia yang berakal budi.

Baru saja Keng Thian membikin terpental yang satu, dua ekor yang lain sudah menubruk, yang satu coba menggigit lehernya, sedang yang lain menyambar pundaknya.

Buruburu Keng Thian membentur dengan pundaknya sembari mengebas dengan tangan kirinya dan kedua anjing itu lantas saja terguling dengan terkuing-kuing.

Sekonyong-konyong di tengah udara terdengar suara hebat bagaikan guntur, dibarengi dengan menubruknya seekor anjing yang agaknya menjadi pemimpin rombongan anjing itu.

Kedua matanya yang berwarna biru seperti juga mengeluarkan api dan tubrukannya tidak kalah dengan tubrukan seekor harimau.

Keng Thian memutarkan badan dan pada saat dua kaki depan anjing itu hampir mengenakan badannya, ia mengirimkan satu tendangan keras.

Akan tetapi, binatang itu yang sudah mendapat latihan lama, dapat mengegosi tendangan tersebut.

Keng Thian terkejut!

"Cara berkelit anjing ini seperti juga manusia yang sudah belajar ilmu mengentengkan badan sepuluh tahun lamanya,"

Katanya di dalam hati.

Mengingat ini, dalam hatinya lantas timbul perasaan kasihan dan menyayangkan, jika binatang itu sampai jadi celaka.

Tendangan Keng Thian barusan adalah tendangan Wanyo Lianhoan toeihoat, atau tendangan berantai.

Sesudah tendangan kaki kiri meleset, kaki kanan harus menyusul.

Akan tetapi, oleh karena timbulnya perasaan itu, Keng Thian tidak mengirimkan tendangan kedua.

Di lain saat, anjing tersebut kembali sudah menubruk secara hebat.

Tiga kawannya yang barusan terguling sekarang sudah bangun kembali dan sembari menyalak, mereka kembali menerjang Keng Thian.

Sesudah mendapat pengalaman pahit, bagaikan manusia, keempat anjing itu merobah siasatnya.

Sekarang mereka menggunakan siasat gerilya, yaitu buru-buru meloncat mundur jika Keng Thian menghantam dengan tangan atau kakinya dan menyerobot begitu lekas terbuka lowongan.

Sesudah bertempur beberapa saat, karena mendengar bentakan-bentakan di atas loteng yang sesuai benar dengan gerakan-gerakan kawanan anjing itu, Keng Thian mengetahui, bahwa serangan itu dipimpin oleh seorang yang bersembunyi di atas loteng.

Sementara itu, para Wanita Suci sudah pada keluar dari masing-masing kamarnya dan suara manusia menjadi semakin ramai.

Keng Thian merangkap kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga dalam dari ilmu Lweekee, sehingga keempat anjing itu tertolak mundur oleh satu tenaga yang tak kelihatan dan tidak dapat mendekati ia lagi.

"Kedatanganku ini adalah untuk menemui seorang sahabat,"

Ia berseru dengan suara nyaring.

"Aku sama sekali tidak mempunyai niatan kurang baik dan mengharap supaya pihak majikan yang terhormat sudi memanggil pulang keempat anjing ini. Jika tidak, janganlah salahkan aku memukul anjing tanpa memandang majikannya."

Baru saja Keng Thian berkata begitu, dari atas loteng melayang turun seorang wanita tua yang mengenakan pakaian warna hijau dan tangannya mencekal sebatang pedang panjang.

"Binatang!"

Ia membentak.

"Apakah belum cukup kau mengacau di ruangan sembahyang maka datang lagi ke Istana Wanita Suci? Jagalah pedangku!"

Berbareng dengan makiannya ia menikam dengan ilmu pedang Thianliong pay dari Tibet.

Keng Thian berkelit dan pada saat itu, keempat ekor anjing sudah membantu menyerang.

Dengan sekali melirik, ia mengetahui, bahwa wanita tersebut adalah si Ibu Suci yang sudah dilihatnya di ruangan sembahyang.

"Benar-benar aku datang untuk menemui seorang sahabat yang berada disitu!"

Berteriak Keng Thian sembari menunjuk loteng. (bu Suci menjadi gusar bukan main.

"Jika kau berani keluarkan pula omongan kotor, kau akan binasa tanpa mempunyai tempat untuk mengubur mayatmu!"

Ia mencaci.

Harus diingat, bahwa Wanita Suci dalam agama mereka dipandang sedemikian suci bersih, sehingga seorang lelaki melirik saja sudah tidak diperbolehkan.

Lantaran begitu, mana boleh ia mempunyai sahabat lelaki yang tidak dikenal?

Perkataan Keng Thian merupakan pelanggaran besar terhadap agama tersebut dan di mata sang Ibu Suci, ia adalah seorang bermoral bejat.

Demikianlah, sambil menyerang dengan pedangnya secara sengit, ia memimpin serangan keempat anjing itu, sehingga Keng Thian menjadi sangat repot dan tidak mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan.

Pengtjoan Thianlie yang rupanya masih mendongkol tidak mau turun dari loteng untuk memberikan pertolongan, sehingga kedudukan pemuda itu menjadi sulit sekali.

Ia sangat kuatir Hoat-ong keburu datang dan urusan bisa menjadi terlebih ruwet lagi.

Dalam mendongkolnya, dengan kedua tangan ia menangkap seekor anjing yang lalu dilontarkan ke anjing lain hingga sembari berkuing-kuing, kedua binatang itu terguling-guling tanpa bisa bangun pula.

Si Ibu Suci jadi sangat gusar dan lalu mengirim tiga serangan berantai.

Dengan gerakan Poanliong djiauwpo (Tindakan naga), Keng Thian mengegos beberapa kali dan kemudian bagaikan seekor burung, ia melewati badan Ibu Suci dan menyambar seekor anjing lagi dengan ilmu Siauwkinna (Ilmu menangkap).

Seperti tadi, ia mengangkat badan anjing itu yang lantas dilemparkan ke arah anjing yang ke empat.

Tapi tak dinyana, anjing terakhir itu adalah anjing yang paling liehay.

Dengan geraman hebat, dia meloncat tinggi dan terus menubruk Keng Thian.

Loncatan tersebut sudah membikin timpukan Keng Thian jatuh di tempat kosong dan kedua kaki depannya sudah mengenakan baju pemuda itu.

Buru-buru Keng Thian mengeluarkan ilmu Tjiam-ie sippattiat-dengan lweekang-nya yang sangat tinggi.

Dengan sekali menggoyangkan badan, anjing itu sudah dilontarkannya sejauh beberapa kaki dan dengan satu egosan, ia berkelit dari tikaman si Ibu Suci.

Mendadak suatu sinar dingin menyambar ke arahnya.

Keng Thian tahu, benda itu adalah Pengpok Sintan dan lantas menangkap dengan sebelah tangannya.

Setelah Sintan itu lumer, dalam tangannya ketinggalan serupa benda lain, sehingga hatinya menjadi kaget.

Mendadak terdengar suara Pengtjoan Thianlie yang ditujukan kepada Ibu Suci.

"Ibu Suci! Kau sedang repot, ijinkanlah aku berlalu lebih dulu!"

Di lain saat, dua bayangan putih kelihatan turun dari atas loteng dengan cepat sekali.

Melihat perginya dua wanita itu, Keng Thian tak mempunyai kegembiraan lagi untuk berdiam lebih lama.

Tiba-tiba ia menyerang secara hebat dan selagi si Ibu Suci meloncat mundur, ia lantas mengenjot badannya untuk melarikan diri.

Ibu Suci itu meluap darahnya dan berseru.

"Leng-ouw! Ubar bangsat itu!"

Berbareng dengan bentakannya, si Ibu Suci juga mengubar dengan diikuti empat anjingnya, sehingga Keng Thian tak dapat mencapai maksudnya.

Sementara itu, di Istana Wanita Suci sudah terdengar suara lonceng tanda bahaya.

Keng Thian mengerutkan alisnya, tapi lekas juga ia mendapat suatu tipu.

Selagi seekor anjing menubruk, ia mengebas dan mendorong binatang itu ke arah Ibu Suci.

Gerakannya cepat luar biasa dan sebelum Ibu Suci melihat tegas, mulut anjing itu yang mengeluarkan air liur sudah berada di depan mukanya yang lantas berlepotan air liur!

"Binatang!"

Berteriak Ibu Suci bagaikan kalap dan kedua tangannya mendorong anjing itu.

Di lain detik, berbareng dengan suara tertawanya yang nyaring, Keng Thian sudah berada di luar tembok Setibanya di luar, ia mengawasi ke empat penjuru, tapi Pengtjoan Thianlie sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.

Hal ini dapat dimengerti oleh karena ilmu mengentengkan badan si nona memang setingkat dengan Keng Thian dan mereka berdua sudah berlalu terlebih dulu.

Dengan rasa putus harapan, pemuda itu menghela napas berulang-ulang.

Ia membuka tangannya dan ternyata, benda yang disertakan Pengpok Sintan tadi adalah selembar kertas kecil.

Keng Thian membuka kertas itu dan dengan pertolongan sinar rembulan, ia membaca tulisannya.

"Jangan campur urusan orang lain!"

Keng Thian meringis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seorang diri.

"Ah! Maksudku hanyalah ingin menemui kau. Siapa kesudian campur-campur urusan orang lain? Hm! Jika kau tak sudi menemui aku, aku tentu tak dapat memaksa. Tapi, kenapa beberapa kali kau mempermainkan aku?"

Ia menengok ke belakang dan melihat seluruh istana Wanita Suci sudah terang benderang.

"Ah! Hoat-ong tentu akan mendongkol sekali,"

Katanya di dalam hati.

"Tak dinyana, tanpa sengaja aku jadi menanam permusuhan. Jika si gadis Tibet rela menjadi Wanita Suci, aku tentu tidak berhak untuk mencampuri urusannya lagi."

Demikianlah dengan perasaan tertindih, Keng Thian keluar dari kota Naichi dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Sembari jalan, ia teringat, bahwa tujuan Pengtjoan Thianlie adalah Soetjoan barat untuk mencari pamannya, sehingga, meskipun tak mengenal jalan, lama atau cepat pasti ia akan tiba juga disitu.

"Paling benar sekarang aku langsung menuju ke tempat Moh Pehpeh untuk menunggu kedatangannya,"

Pikir ia.

Sesudah mengambil putusan itu, hatinya menjadi lebih lega dan ia lalu tidur di pinggir jalan.

Pada besok paginya, ia lantas berjalan menuju ke arah timur.

Sesudah melewati gunung Bayan Karasan, Keng Thian sudah berada di bagian barat propinsi Soetjoan.

Semenjak dulu, Soetjoan barat yang penuh gunung dikenal sebagai tempatnya "manusia liar."

Berhari-hari, Keng Thian berjalan tanpa menemui manusia.

Untung juga gunung itu kaya akan pohon-pohon buah sehingga ia dapat menghilangkan rasa haus dengan memetik buahbuahan hutan dan rasa lapar dengan membakar daging kambing hutan yang terdapat banyak sekali di pegunungan itu.

Sesudah lewat lagi beberapa hari, tibalah ia di gunung Tjiakdjie san yang sudah termasuk wilayah bangsa Han.

Tjiakdjie san dikenal sebagai gunung yang sangat berbahaya dengan puncak-puncaknya yang menjulang tinggi ke angkasa dan curam luar biasa.

Jika seorang sudah tiba di puncak yang tinggi dan memandang ke sebelah bawah, ia akan melihat gunung-gunung yang tertutup salju seakanakan binatang-binatang raksasa yang berbulu putih sedang mendekam di kaki gunung.

Dimanamana orang dapat bertemu dengan batu-batu raksasa yang beraneka bentuknya dan jika dipandang dari jauh, batu-batu itu seolah-olah sekosol-sekosol yang diatur secara sedemikian indah oleh tangan sang alam sendiri.

Sesudah berjalan lagi dua hari, di suatu lereng, Keng Thian melihat mengepulnya asap.

Hatinya jadi girang, tapi di lain saat ia teringat, bahwa meskipun dilihatnya sangat dekat, tempat itu mungkin baru dapat dicapai sesudah berjalan dua hari lagi.

Keng Thian mempercepat tindakannya dan sebelum berjalan berapa lama, cuaca mendadak berobah gelap.

Ternyata ia sekarang sudah masuk ke bagian yang paling berbahaya dari gunung Tjiakdjie san.

Jalan di tempat itu diapit dua puncak yang berdiri hampir berdempetan, sehingga di tempat-tempat yang tersempit, lebarnya hanya dua atau tiga kaki.

Jalan itu bukan saja naik turun, tapi juga berbelit-belit dan penuh dengan batu-batu.

Belum juga berapa jauh, mendadak Keng Thian mendengar suara bernapasnya manusia.

Dengan kaget, ia berjalan lebih cepat.

Di lain saat, ia melihat seorang lelaki yang berpakaian rombeng sedang menyender pada lamping gunung.

"Siapa kau?"

Menanya Keng Thian. Orang itu mengucapkan beberapa patah kata yang tidak terang. Keng Thian mendekati. Sekonyong-konyong ia mengangsurkan kedua tangannya seraya berkata.

"Tolonglah aku si pengemis!"

Keng Thian mengawasi dan ia terkesiap.

Kedua lengan orang itu penuh dengan bisul-bisul besar dan kecil.

Sepuluh jerijinya bengkok, sedang di mukanya yang bersinar merah juga terdapat banyak sekali bisul.

Tak bisa salah lagi orang itu adalah penderita penyakit kusta (lepra), sehingga Keng Thian yang gagah perkasa tanpa merasa mundur tiga tindak bahna kagetnya.

Orang itu mengawasi dengan mata hampa sebagai tak ada semangatnya dan seolah-olah sudah beberapa hari ia tak pernah ketemu nasi.

Sesudah dapat menetapkan hatinya, Keng Thian heran tak kepalang.

Pertama, menurut kebiasaan, penderita kusta kebanyakan terdapat di Tiongkok Selatan, sedang di daerah Utara barat penyakit itu adalah hal yang langka sekali.

Kedua, Tjiakdjie san adalah sebuah gunung yang sangat berbahaya dan, kecuali orang yang berkepandaian tinggi, jarang ada manusia yang mampu mendaki gunung tersebut.

Tapi, baru saja mengingat itu, ia berkata dalam hatinya sendiri.

"Ah! Dia tentu adalah seorang yang melarikan diri karena desakan masyarakat."

Pada jaman ini, kita semua mengetahui, bahwa penyakit kusta bukan disebabkan pengaruh setan atau hukuman Tuhan.

Akan tetapi, pada jaman itu, ialah jaman pemerintahan Boan, orang masih percaya, bahwa kusta adalah satu penyakit yang menandakan dosa seseorang dan seorang penderita kusta dipandang sebagai manusia berbahaya, sehingga mesti dibakar hidup-hidup dan tulang-tulangnya harus dikubur di dalam tanah.

Di Tiongkok Utara barat jumlah penderita kusta ada sangat sedikit dan tidak banyak orang yang mengetahui tanda-tanda penyakit tersebut.

Maka itu, memang benar ada sejumlah penderita kusta yang secara untung-untungan melarikan diri ke daerah Utara barat untuk menyingkir dari buruan sesama manusia.

Akan tetapi, oleh karena macamnya si sakit memang sangat menakuti dan tak ada orang yang sudi memberi tempat meneduh padanya, maka jarang sekali mereka bisa tiba di Utara barat dengan masih bernapas.

Memikir begitu, dalam hati Keng Thian segera timbul rasa kasihan.

"Dengan badan menderita penyakit, ia lebih suka berkawan dengan binatang daripada dengan sesama manusia yang selalu mengubar-ubarnya,"

Katanya dalam hati.

"Sungguh harus dikasihani! Dan sungguh besar nyalinya!"

Ia segera mengeluarkan sepotong daging kambing dari sakunya dan berkata sembari melemparkan daging itu kepada si sakit.

"Ambillah. Di sebelah depan terdapat banyak sekali buahbuahan. Kau bisa petik sendiri."

Melihat daging itu dilemparkan, orang itu tidak lantas memungut.

Mendadak kedua biji matanya bergerak dan...

suatu sinar berkredep keluar dari kedua matanya!

Keng Thian terkejut oleh karena sinar yang sedemikian adalah sinar mata orang yang mempunyai kepandaian silat sangat tinggi.

Tapi, di lain saat, sorot kedua mata itu lantas berobah menjadi sayu kembali dan perlahan-lahan ia membungkuk untuk memungut potongan daging itu.

"Eh, siapa namamu?"

Menanya Keng Thian.

"Apa kau pernah belajar silat?"

Orang itu seperti juga tak mendengar perkataan Keng Thian. Ia duduk di atas tanah sembari makan daging itu secara rakus.

"Ah, guna apa aku tanya namanya?"

Kata Keng Thian dalam hatinya.

"Andaikata benar ia pandai ilmu silat, aku toh tak bisa berkawan dengan ia ini."

Memikir begitu, ia lantas bergerak untuk segera berlalu, tapi sebelum menindak, ia menengok ke belakang dulu.

Di luar segala dugaan, orang itu sedang mengawasi ia dengan sorot mata gusar dan membenci.

Keng Thian bergidik dan buru-buru berjalan pergi.

Sebelum berjalan herapa jauh, Keng Thian tiba-tiba mendengar suara menggelegar di belakangnya dan ketika ia menengok, sebuah batu besar sedang menggelinding dari atas ke arahnya.

Sebagaimana diketahui, jalan gunung itu sangat sempit, sehingga ia tak dapat menyingkir lagi.

Oleh karena sudah tak ada jalan lain, buru-buru ia mengerahkan tenaga dalamnya dan dengan kedua tangannya menyampok batu itu, yang lantas saja terpental dan jatuh ke dalam jurang.

Ia mendongak dan melihat si penderita kusta sedang menyontek sebuah batu lain.

"Kau bikin apa?"

Membentak Keng Thian.

Baru habis ia berkata begitu, batu tersebut sudah menggelinding ke bawah dengan kecepatan kilat.

Mau tidak mau, ia terpaksa mengerahkan lagi tenaga dalamnya dan melontarkan pula batu itu.

Pada waktu batu itu terpental, tanah dan debu pada muncrat, sehingga Keng Thian harus meramkan kedua matanya.

Waktu ia membuka lagi matanya, orang itu sudah tak kelihatan bayang-bayangannya.

Keng Thian gusar bukan main.

"Hei! Binatang!"

Ia berseru sekeras-kerasnya.

"Kita belum pernah saling mengenal, kenapa juga kau mau mencelakakan aku!"

Tapi hanya kumandang suaranya yang kedengaran.

Si penderita kusta tetap menghilang tanpa bekas.

Sedari turun gunung, ia sudah mengalami banyak juga kejadian-kejadian mengherankan, tapi tak ada yang seaneh ini.

Bahwa orang itu tinggi ilmu silatnya, sudah tak usah disangsikan pula.

Tapi yang membikin Keng Thian tak habis mengerti, adalah.

Terhadap orang itu, ia tak pernah berdosa dan malah sudah melepas budi dengan memberikan sepotong daging.

Tapi kenapa, ia menurunkan tangan jahat?

Apakah orang itu sudah hilang sifat kemanusiaannya?

Tak lama kemudian, ia tiba di tempat terbuka dan jalan sudah tidak begitu berbahaya seperti tadi.

la sekarang sudah sampai di bagian selatan dari gunung Tjiakdjie san dan sesudah mengasoh sebentar, ia segera meneruskan perjalananannya.

Kira-kira magrib pada hari kedua, ia sudah tiba di tengah-tengah gunung itu.

Di satu tanjakan ia menemukan sebuah rumah tanah yang berdiri sebelah menyebelah dengan sebuah gubuk beratap alang-alang.

Dari dalam rumah itu mengepul asap dan hidung Keng Thian mengendus wanginya daging bakar dan nasi yang baru dimasak.

Rumah tersebut berbentuk istal kuda panjangnya kira-kira tiga tombak dan lebarnya setombak lebih.

Keng Thian mengetahui, bahwa rumah itu adalah semacam penginapan untuk orang-orang yang mendaki gunung untuk memetik daun obat atau berburu binatang.

Sesudah berhari-hari lamanya menangsel perut dengan daging kering dan buah-buahan hutan, Keng Thian ingin sekali makan nasi yang putih dan segera juga ia mengetuk pintu.

Tuan rumah adalah seorang yang usianya kurang lebih lima puluh tahun dengan cara-caranya yang sederhana, seperti biasanya seorang pegunungan.

Mendengar permintaan menginap, lantas saja ia berkata sembari tertawa.

"Beberapa bulan tak pernah ada tetamu, sekali datang satu rombongan besar. Tuan, malam ini kau tak akan kesepian. Di dalam sudah ada belasan orang, rombongan pedagang obat yang datang dari Selatan."

Sesudah memberikan sepotong perak untuk barang santapan, Keng Thian segera bertindak masuk.

Dalam ruangan itu berjajar belasan pikulan obat-obatan dan begitu ia masuk, dua piauwsoe (orang yang bertugas sebagai pelindung) setengah tua terus mengawasi gerak-geriknya.

Tiba-tiba terdengar suara mendehem dari seorang piauwsoe tua dan kedua kawannya itu lantas menundukkan kepala, seperti juga tidak melihat masuknya seorang tetamu baru.

Selain ketiga piauwsoe itu, terdapat juga tujuh delapan orang lelaki yang berbadan kekar, pada menggeletak di atas tanah dengan menggunakan pikulan sebagai bantal.

Di samping si piauwsoe tua duduk seorang pedagang yang berusia kira-kira lima puluh tahun dan yang matanya terus melirik pedang Keng Thian.

Keng Thian memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya.

"Apakah Saudarasaudara ingin pergi ke Tjenghay?"

Ia menanya sembari tertawa. Si piauwsoe tua hanya manggutkan kepalanya sedikit, sedang si pedagang menjawab dengan satu suara "hm."

"Aku sendiri ingin pergi ke Soetjoan barat,"

Berkata pula Keng Thian.

"Aku merasa sangat beruntung malam ini dapat bertemu dengan kalian. Dengan mempunyai banyak kawan, kita bisa tidur enak."

"Bagus! Bagus!"

Berkata si piauwsoe tua.

"Apakah Saudara datang dari utara?"

"Benar. Jalanan gunung sukar sekali dilewati,"

Sahut Keng Thian.

"Dengan berkelana seorang diri, nyali saudara benar-benar besar,"

Berkata pula piauwsoe itu.

"Aku si tua mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai piauwsoe dan dalam pekerjaan itu, aku hanya mengandalkan bantuan sahabat-sahabat. Aku mohon saudara jangan mentertawakan diriku. Untuk bicara terus terang, jika harus berjalan seorang diri, aku tak akan berani mendaki gunung Tjiakdjie san."

Sehabis berkata begitu, kedua matanya mengawasi Keng Thian dengan sorot tajam.

"Gila! Si tua menganggap diriku sebagai perampok!"

Berkata Keng Thian dalam hatinya. Ia lantas saja menyoja dan berkata dengan suara hormat.

"Loosoehoe janganlah bicara begitu merendah. Dapatkah aku mendapat tahu she dan nama Loosoehoe yang mulia?"

"Aku she Kwee, namaku Tay Kie,"

Jawabnya.

"Dan siapakah adanya saudara?"

Mendengar pertanyaan orang, Keng Thian segera memperkenalkan dirinya secara terus terang.

Piauwsoe itu ternyata sungkan banyak bicara.

Setiap pertanyaan, ia jawab dengan singkat.

Keng Thian mengetahui, bahwa dalam kalangan Kangouw orang selalu bercuriga terhadap mereka yang belum dikenal dan ia pun mengetahui, bahwa dirinya sangat dicurigai.

Maka itu, ia tidak banyak menanya pula, hanya hatinya merasa agak heran, oleh karena belum pernah mendengar nama Kwee Tay Kie.

Di daerah Seekong, Tibet, Tjenghay dan Sinkiang terdapat banyak sekali bahan obat yang luar biasa, seperti nyali biruang dan sebagainya, tapi sangat kekurangan obat-obatan biasa.

Maka itu, setiap tahun seorang dua orang pedagang obat-obatan yang besar selalu mengunjungi beberapa propinsi itu dengan membawa obat-obatan biasa, untuk ditukar dengan bahan-bahan obat istimewa keluaran daerah tersebut.

Setiap kali berdagang paling sedikit harganya meliputi sepuluh laksa tail perak, sehingga piauwsoe yang berkepandaian tanggungtanggung, tak akan berani bertugas untuk melindungi rombongan pedagang tersebut.

Sesudah bersantap malam, rombongan pedagang lalu menyalakan perapian dan mereka tidur di sekitar perapian itu, dengan para piauwsoe menjaga bergiliran.

Keng Thian sendiri lantas saja merebahkan diri di suatu sudut.

Baru saja ia meramkan mata, tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan dan dua piauwsoe setengah tua dengan serentak meloncat bangun.

"Ada orang!"

Mereka berbisik.

"Jangan ribut!"

Membentak si piauwsoe tua.

Menurut kebiasaan rumah penginapan, untuk menggampangkan para tetamu yang keluar masuk, daun pintu hanya dirapatkan.

Suara tindakan itu cepat luar biasa dan dalam sekejap, sudah tiba di depan pintu.

Sebelum pintu ditolak, terdengar suara tertawa yang sangat nyaring lebih dulu.

Keng Thian dan semua orang merasa terkejut oleh karena suara itu adalah suara seorang wanita.

Di lain saat, dua wanita masuk ke dalam, diikuti seorang lelaki.

Kedua wanita itu, satu tua dan satu muda, mempunyai paras muka yang hampir sama, sehingga dapat diduga, bahwa mereka itu adalah ibu dan anak.

Si wanita muda, yang pada rambutnya ditancapkan sekuntum kembang hutan, berparas riang gembira dan begitu masuk, ia berseru.

"Ha! Begitu banyak orang? Benarbenar ramai!"

Wanita yang setengah tua, yang kedua alisnya bengkok dan mengenakan pakaian warna dadu dengan sulaman kembang Botan, mengeluarkan suara "stt,"

Sembari menempelkan jerijinya pada mulutnya.

"Perlahan sedikit!", katanya.

"Jangan mengganggu tamu-tamu lain!"

Walaupun perkataannya merupakan perintah, akan tetapi paras mukanya mesem-mesem dan sama sekali tak mempunyai keangkeran seorang ibu. Keng Thian merasa geli.

"Ie-ie-ku (Phang Lin) adalah satu manusia aneh,"

Katanya di dalam hati.

"Wanita ini rasanya tak banyak beda dengan Ie-ie."

Pada pinggang kedua wanita itu tergantung gendewa dan sembari masuk, mereka tertawa haha-hihi, seolah-olah sepasang bocah yang belum mengenal asam garam dunia.

Akan tetapi, meskipun lagaknya seperti anak-anak, mata mereka memancarkan sorot keksatriaan.

Orang lelaki yang mengikuti di belakang mereka berusia kurang lebih lima puluh tahun dan berbadan tinggi besar.

Ia tidak membawa senjata, akan tetapi dilihat dari tindakannya yang mantap, sudah boleh dipastikan, bahwa ia seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi.

Rombongan pedagang obat belum ada yang tidur pulas.

Begitu ketiga tamu itu masuk, mereka semua membuka mata, terutama kedua piauwsoe setengah tua, yang terus mengawasi mereka tanpa berkesip.

Si gadis mendadak tertawa nyaring seraya berseru.

"Hei! Kalau mau lihat, lihatlah secara berterang! Guna apa main sembunyi?"

Muka kedua piauwsoe itu lantas saja berobah merah dan matanya mendelik.

Tapi sebelum mereka membalas menyemprot, si orang tua yang berbadan tinggi besar buru-buru menghampiri dan berkata sembari menyoja.

"Anakku memang nakal sekali. Aku sangat mengharap, mengingat usianya yang masih sangat muda, saudara-saudara sudi memaafkannya."

Sehabis berkata begitu, ia mendorong puterinya seraya membentak.

"Hee-djie! Lekas minta maaf pada sekalian paman!"

Melihat sikap ayah si nona yang sangat patut, si piauwsoe tua lantas saja berdiri dan berkata sembari tertawa.

"Anak-anak guyon-guyon, janganlah Looheng buat pikiran. Kedua kawanku adalah orang-orang kasar yang tidak mengenal aturan. Nona! Aku pun mengharap kau jangan menjadi gusar."

Dengan demikian, sengketa kecil itu sudah menjadi beres, orang-orang piauwkiok lantas pada merebahkan diri lagi, sedang si nona terus mengikuti kedua orang tuanya.

Sembari berjalan, wanita setengah tua itu berkata kepada suaminya dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh semua orang.

"Loyatjoe! Kau sendiri yang terlalu rewel! Kau sudah mengganggu semua orang yang ingin tidur."

Nyonya itu yang sangat menyayangi puterinya, sudah sangat mendongkol mendengar comelan sang suami dan orang-orang piauwkiok mengetahui, bahwa perkataannya ditujukan kepada mereka.

"Dalam kalangan Kangouw, yang paling tak boleh dibuat gegabah adalah hweeshio, toosu, sasterawan dan wanita,"

Kata si piauwsoe tua dalam hatinya.

"Kedua wania ini, yang membawa gendewa, kelihatannya bukan penjual silat. Ah! Malam ini aku harus berjaga-jaga."

Sesudah memilih suatu sudut, sang ibu dan puterinya segera menggelar tikar untuk mengasoh.

Sambil menyandar pada tembok, Keng Thian mengawasi mereka.

Mendadak, kedua mata si wanita setengah tua mengeluarkan sinar luar biasa dan setindak demi setindak, ia menghampiri Keng Thian.

Tiba-tiba ia menghentikan tindakannya dan mengawasi pemuda itu dengan muka bersemu dadu dan sebelah tangannya memegang koen, sebagai lagaknya seorang gadis muda yang bertemu dengan kecintaannya.

Pada saat itu, si orang tua yang berbadan tinggi besar menghampiri seraya berkata.

"Tjengmoay, lebih baik kita mengambil tempat di pojok sana."

Sekonyong-konyong kedua matanya bersinar dan seperti si wanita, ia pun mengawasi Keng Thian. Keruan saja Keng Thian jadi kaget.

"Ah! Kenapa begini lagaknya kedua orang tua ini?"

Ia menanya dalam hatinya. Beberapa saat kemudian, sembari tertawa si orang tua menyoja dan menanya.

"Siauwko (Saudara kecil), bolehkah aku mendapat tahu she-mu yang mulia?"

"Aku she Tong,"

Jawab Keng Thian. Si wanita mengeluarkan satu seruan tertahan dan menanya dengan suara tergugu.

"Kau... kau she Tong?"

"Perlahan sedikit!"

Membentak si tua.

"Tong Siangkong (tuan),"

Berkata pula wanita itu dengan suara terlebih perlahan.

"Kau datang dari mana dan sekarang mau pergi kemana?"

Sekonyong-konyong puterinya tertawa.

"Ibu,"

Katanya "Kenapa kau menanya begitu melit?"

Keng Thian agak bersangsi, tapi akhirnya ia menyahut juga.

"Aku datang dari Tibet dan ingin pergi ke Soetjoan barat untuk mencari seorang sahabat."

"Hm,"

Berkata pula si wanita setengah tua.

"Dari Tibet? Dilihat dari gerak-gerikmu. Aku rasa kau sudah pernah belajar ilmu silat dalam banyak tahun."

Sembari berkata begitu, ia mengawasi Yoeliong kiam yang digunakan sebagai bantal kepala oleh Keng Thian. Gadis itu kembali tertawa nyaring dan berkata.

"Ibu! Benar-benar kau sudah linglung! Apakah kau tak lihat pedangnya? Perlu apa kau menanya lagi?"

"Aku berjalan seorang diri dan dengan membawa pedang, hatiku jadi lebih besar,"

Kata Keng Thian.

"Manalah aku mempunyai kepandaian silat?"

Orang tua yang berbadan tinggi besar itu mesem-mesem, seolah-olah ingin memuji Keng Thian yang bisa merendahkan diri dan berbareng menegur kedustaannya.

"Aku ingin menanyakan kau tentang satu orang yang she-nya sama dengan kau,"

Kata siwanita setengah tua.

"Mungkin sekali ia masih tersangkut pamili dengan kau."

"Siapa?"

Menanya Keng Thian.

"Orang itu bernama Tong Siauw Lan!"

Sahutnya.

Keng Thian terkejut.

Harus diketahui, bahwa kedua orang tua Keng Thian dulu pernahmengamuk di istana kaizar dan sudah membinasakan Kaisar Yong Tjeng.

Walaupun kejadian itu sudah berselang banyak tahun, akan tetapi Tong Siauw Lan suami isteri masih tetap merupakan orang buronan yang menjadi musuh kerajaan Boan.

Oleh karena itu, dapat dimengerti, bahwa Keng Thian tak berani membuka rahasia di depan sembarang orang.

Wanita setengah tua itu mengawasi padanya dengan sorot mata tidak sabar dan dilihat dari sikapnya, ia sama sekali tidak mengandung maksud yang kurang baik.

Sesudah dapat menetapkan hatinya, Keng Thian segera berkata sembari tertawa.

"Nama Tong Tayhiap aku sudah pernah dengar lama sekali. Ia adalah seorang pemimpin dari satu cabang persilatan dan aku sangat kagum padanya. Hanya sayang sungguh, sampai sebegitu jauh aku belum pernah dapat berjumpa."

Paras muka wanita setengah tua itu lantas saja berobah, seperti orang yang kecewa dan putus harapan.

"Ibu!"

Kata puterinya.

"Tong Pehpeh bertempat tinggal di atas gunung Thiansan, orang biasa mana bisa jumpai ia? Tapi setiap kali bertemu orang yang datang dari Sinkiang atau Tibet, kau selalu tak lupa untuk menanya. Apakah ibu tidak takut ditertawai orang?"

Mendengar ejekan itu, sang ibu jadi mendongkol.

"Setan kecil!"

Ia membentak.

"Sekarang anak mau mengajar orang tua!"

Oleh karena kuatir didesak terus, Keng Thian lantas berlagak menguap, seperti orang yang sudah sangat mengantuk, sehingga si orang tua jadi malu hati.

"Hee-djie, Tjeng-moay, besok pagi-pagi Siauwko tentu ingin meneruskan perjalannya dan kita pun harus mengasoh."

Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan kembali ke tikarnya, diikuti kedua wanita itu.

Sesudah mengalami beberapa kejadian luar biasa selama dua hari beruntun, mana Keng Thian bisa cepat-cepat pulas.

Ia putar otaknya, tapi tak juga dapat menebak siapa adanya ketiga orang itu.

Ia membuka matanya sedikit dan melihat kedua piauwsoe setengah tua itu sedang duduk di pinggir perapian dengan tangan mencekal golok dan matanya sering-sering melirik ke arah dua wanita itu.

Si piauwsoe tua menggeros, tapi Keng Thian mengetahui, ia hanya berlagak pulas.

Berselang beberapa lama para pegawai piauwkiok yang sudah kecapaian tak dapat menahan pula perasaan ngantuknya dan sudah pada menggeros keras.

Mendadak, Kwee Tay Kie, si piauwsoe tua, membuka kedua matanya dan berkata dengan suara perlahan.

"Awas!"

Ia segera mencekal hoentjwee-nya (pipa panjang), yang lalu diisikan tembako, dinyalakan dan kemudian dihisap.

Hoentjwee itu yang panjang dan kepalanya sebesar cangkir teh, berwarna hitam mengkilap, sehingga dapat diduga, bahwa hoentjwee itu bukan dibuat dari pada kayu, tapi dari pipa besi yang dapat digunakan sebagai senjata.

Sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan, disusul dengan terpentalnya daun pintu, dan di lain saat, belasan orang menerobos masuk.

Yang berjalan paling depan adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berusia kira-kira empat puluh tahun.

Sembari mengacungkan gendewa yang dicekalnya, ia berseru sembari tertawa berkakakan.

"Bagus! Bagus! Kambing-kambing gemuk semuanya berkumpul dalam rumah ini!"

Kedua piauwsoe setengah tua itu serentak meloncat bangun, tapi sebelum mereka dapat bergerak lebih jauh, Kwee Tay Kie sudah meloncat ke depan dan sambil mengebas dengan hoentjwee-nya, ia memberi hormat seraya berkata.

"Sahabat, selamat datang! Aku yang rendah adalah Kwee Tay Kie dari Tjinwie Piauwkiok di Pakkhia dan mencari sesuap nasi dengan menjalankan tugas sebagai satu piauwsoe. Mataku sungguh buta dan kupingku tuli sehingga tak mengetahui, bahwa Tjeetjoe (pangilan terhadap kepala perampok) bertempat tinggal di gunung ini, dan aku tidak mengunjungi terlebih dahulu untuk memberi hormat. Untuk semua keteledoran itu, aku memohon maaf."

Kawanan penjahat yang berdiri di belakang kepala perampok itu, tertawa terbahak-bahak.

"Hei! Tak perlu kami mendengar segala perkataan-perkataan yang indah!"

Berteriak seorang.

"Kami hanya tahu, kambing gemuk berada di depan mata dan tinggal menunggu ditangkap. Majikan! Bukankah begitu?"

Kepala perampok itu mengawasi Kwee Tay Kie dan berkata sembari tertawa.

"Siauwsamtjoe! Kau jangan bawel! Aku lihat, Kwee Piauwtauw adalah seorang yang mengenal aturan dan di dalam kalangan Kangouw, kita memang harus menghargakan tali persahabatan. Begini saja. Obatobatan ini justru sangat diperlukan di tempat kami dan tanpa sungkansungkan kami ingin memintanya. Semua pegawai Piauwkiok boleh berlalu tanpa mendapat gangguan dan kami pun tak akan merampas uang. Kwee Piauwtauw! Bukankah peraturan ini sudah cukup pantas?"

Si pedagang obat ketakutan bukan main dan sekujur badannya jadi gemetaran.

Ia mengawasi Kwee Tay Kie dengan perasaan kuatir, kalau-kalau si piauwsoe tua akan tunduk terhadap kemauan kepala perampok itu.

Kwee Tay Kie dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Terima kasih atas kemurahan hati Tjeetjoe,"

Katanya.

"Sebenarnya aku harus menurut pada kemauan Tjeetjoe, akan tetapi, seorang yang makan gaji, harus setia terhadap majikannya. Orang yang menyewa tenaga kami merupakan ayah ibu yang memberi makan kepada piauwkiok. Jika sekarang, untuk menyelamatkan diri, kami tunduk terhadap perintah Tjeetjoe dan meninggalkan sang ayah dan ibu, maka piauwkiok kami pasti akan segera menggulung tikar dan puluhan keluarga kami akan mati kelaparan. Tjeetjoe! Aku si tua mohon Tjeetjoe sudi mempertimbangkan perkataanku ini."

Kepala penjahat itu tertawa tawar.

"Perkataan Kwee Piauwtauw sedikitpun tiada salahnya,"

Katanya dengan suara menyindir.

"Akan tetapi, jika kami tidak berjual beli (merampok), apakah Kwee Piauwtauw mau suruh kami makan angin?"

"Soehoe!"

Berseru salah seorang piauwsoe setengah tua itu.

"Jika mereka sungkan memberi muka, guna apa kita bicara panjang-panjang lagi?"

Si kepala perampok tertawa besar sambil menarik tali gendewa. Berbareng dengan suara menjepretnya gendewa, kedua piauwsoe setengah tua itu menangkis dengan goloknya. Mendadak terdengar suara "plak!"

Dan peluru itu pecah dengan mengeluarkan api yang lantas saja membakar baju kedua piauwsoe itu.

Buru-buru mereka bergulingan di atas tanah dan waktu mereka bangun lagi, Kwee Tay Kie sudah bertempur dengan kepala perampok itu.

Walaupun sudah berusia lanjut, gerakan Kwee Tay Kie sangat cepat dan sebelum si penjahat dapat melepaskan pelurunya, hoentjwee-nya sudah menyambar kepala si pemimpin rampok.

"Bagus!"

Berteriak kepala perampok itu sembari mengebas dengan gendewanya untuk membabat pergelangan tangan Kwee Tay Kie.

Serangan itu adalah satu serangan aneh, sehingga dengan cepat si piauwsoe memutarkan badannya sambil menyodok dengan hoentjwee-nya yang digunakan seperti sebatang tombak pendek.

Serangan itu disusul dengan pukulan Tjinpo lianhoan (Majukan kaki secara berantai), hoentjwee-nya mengetok ke bawah, seperti orang mengetok dengan martil.

Dan sebagai serangan yang ketiga, sembari memutar badan sekali lagi, Kwee Tay Kie menotok jalan darah Djoanma hiat di dada si penjahat dan kali ini hoentjwee tersebut digunakan sebagai Poankoan pit (senjata yang bentuknya seperti pit, pena Tionghoa).

Demikianlah dengan beruntun Kwee Tay Kie mengirimkan tiga serangan dengan menggunakan tiga macam pukulan yang berlainan.

Kepala perampok itu segera mengangkat gendewanya dan dengan tiga macam pukulan yang berlainan, ia dapat memunahkan ketiga serangan si piauwsoe tua.

Ia tertawa berkakakan.

"Piauwtauw Tjinwie Piauwkiok sungguh liehay!"

Katanya.

"Tapi bertemu Hoeihweetan Tjoe Teng (Tjoe Teng si Peluru Api Terbang), keangkerannya akan menjadi musnah!"

Sehabis berteriak, ia segera merobah cara bersilatnya, punggung gendewa digunakan untuk menyapu dan memukul.

Sedang tali gendewa digunakan untuk membetot dan membabat.

Gendewa tidak termasuk di dalam delapan belas jenis senjata dan jika seorang dapat menggunakan gendewa sebagai senjata, ia tentu mempunyai ilmu silat yang istimewa.

Maka itu, sesudah bertempur lama juga, walaupun mempunyai pengalaman puluhan tahun, Kwee Tay Kie masih belum bisa berada di atas angin.

Sementara itu, dengan dipimpin oleh kedua piauwsoe setengah tua itu, para pegawai piauwkiok sudah bertempur dengan kawanan perampok.

Jumlah kedua belah pihak kira-kira berimbang.

Pihak perampok terlebih unggul daripada para pegawai piauwkiok dalam ilmu silat, tapi dapat diimbangi oleh kedua piauwsoe itu yang kepandaiannya banyak lebih tinggi dari mereka.

Dengan demikian, sesudah berkutet lama juga, belum kelihatan siapa yang bakal kalah.

Keng Thian duduk dan menonton.

Ia tidak mau lantas turun tangan dan diam-diam mengawasi gerak-gerik keluarga yang terdiri atas tiga orang itu.

Tiba-tiba si gadis tertawa geli.

"Ibu,"

Katanya "Perampok itu juga dapat menggunakan Tankiong (Gendewa peluru)!"

"Fui!"

Membentak ibunya.

"Dalam dunia yang lebar, apakah hanya kau seorang yang dapat menggunakan Tankiong?"

"Benar! Tapi dalam dunia yang lebar ini, Tankiong dari keluarga Yo yang paling liehay,"

Berkata pula gadisnya.

"Ibu! Aku masih ingat, kaulah yang berkata begitu."

"Bawel benar kau!"

Mengomel sang ibu. Keng Thian kaget.

"Tankiong dari keluarga Yo?"

Ia menanya dirinya sendiri.

"Keluarga Yo yang mana?"

Sekonyong-konyong sambil mengeluarkan teriakan menyeramkan, gendewa si perampok menyambar bagaikan kilat dan di lain saat, pundak Kwee Tay Kie terluka dan ia terhuyung beberapa tindak.

"Binatang! Biar sekarang aku mengadu jiwa tuaku!"

Ia berteriak.

Kepala perampok itu tertawa berkakakan sembari mementang gendewa dan melepaskan belasan peluru.

Begitu Lioehong Hweeyamtam (peluru api yang dibuat dari welirang) menyambar, beberapa pegawai piauwkiok roboh terjungkal dan beberapa orang lain pada terbakar bajunya, sehingga buru-buru mereka menggulingkan diri.

Selagi si perampok melepaskan peluru, orang tua yang berbadan tinggi besar itu berkata pada puterinya.

"Hee-djie. Aku lihat tanganmu sudah gatal sekali. Sekarang boleh kau turun tangan!"

Si gadis tertawa girang dan sambil meloncat bangun, ia mementang gendewanya.

Di lain saat, bagaikan bintang sapu sejumlah peluru menyambar peluru api si penjahat yang lantas pada jatuh dengan terbakar.

Bukan main gusarnya kepala perampok itu.

Sambil mengegos untuk menyingkir dari serangan Kwee Tay Kie, ia mementang gendewanya dan puluhan peluru api menyambar si nona seperti hujan gerimis.

"Hee-djie!"

Berseru ibunya.

"Caramu belum sempurna. Lihatlah ini!"

Bagaikan kilat, si nyonya segera melepaskan puluhan peluru ke arah peluru-peluru api itu, yang, seperti juga mempunyai mata, lantas pada berbalik menyambar ke kawanan perampok.

Dalam sekejap, beberapa perampok sudah bergulingan di atas tanah dengan 'pakaian terbakar dan sebuah peluru api hampir-hampir saja mengenakan Tjoe Teng, si kepala perampok, yang lalu berteriak-teriak bahna gusarnya.

Kwee Tay Kie yang sudah tidak menghitung hidup, jadi terkejut berbareng girang melihat datangnya bintang penolong yang tidak diduga-duga.

Selagi ia bengong mengawasi si nyonya, tiba-tiba Tjoe Teng menendang dadanya dengan ilmu tendangan Tengkak.

Pada detik yang sangat berbahaya, si orang tua yang berbadan tinggi besar berseru.

"Tjengmoay! Bereskanlah buaya-buaya yang lainnya!"

Sehabis berseru begitu, ia menjejek kedua kakinya dan badannya lantas melesat bagaikan seekor burung.

Di lain saat, tangannya sudah menyambar kepala perampok itu yang lantas dilemparkan keluar pintu.

Pada detik itu, di luar pintu tiba-tiba terdengar suara tertawa menyeramkan yang tidak begitu diperhatikan orang oleh karena pertempuran sedang berlangsung hebat.

Sesaat kemudian, seorang lelaki sudah berada dalam ruangan itu.

Keng Thian yang kupingnya liehay sangat terkejut ketika mendengar suara tertawa itu.

Ia mengawasi lelaki yang baru masuk itu, dan yang ternyata adalah seorang pengemis berpakaian rombeng dengan sebelah tangan mencekal tongkat hitam dan seluruh badannya penuh bisul.

Orang tersebut bukan lain daripada si penderita kusta dengan siapa ia pernah bertemu di gunung Tjiakdjie san.

Keng Thian tetap menyandar pada tembok, ia mengangkat leher bajunya, sehingga sebagian mukanya jadi ketutup.

Begitu masuk, si pengemis mengebas tangannya dan si orang tua mundur beberapa tindak.

"Siapa kau?"

Ia membentak dengan suara gusar. Si penderita kusta lantas saja mengeluarkan suara tertawa yang membikin orang bergidik.

"Kau tak kenal aku, tapi aku kenal kau!"

Katanya sembari tertawa ha-ha he-he.

"Di Shoatang, namamu besar sekali. Aku kira kau masih berada disitu dan telah mengunjungi dua kali, tapi selalu tidak bertemu. Tak tahunya kau berada di tempat ini! Ha-ha! He-he! Sungguh bagus! Sungguh bagus! Aku dengar Ngohengkoen-mu adalah ilmu silat yang paling liehay di sebelah selatan dan utara Sungai Besar. Maka itu, aku sengaja mencari kau untuk memperluas pemandanganku! Ah! Nyonya itu katanya adalah puterinya Tiattjiang Sintan (si Tangan Besi Peluru Malaikat, gelaran ayahnya nyonya tersebut). Hm! Aku dilahirkan agak terlambat, sehingga tak mempunyai kesempatan untuk berjumpa dengan Tiattjiang Sintan. Sungguh beruntung, di tempat ini aku dapat bertemu dengan seorang pendekar wanita yang pada dua puluh tahun berselang, sudah menggetarkan dunia Kangouw. Dari beliau, aku pun ingin memohon pengajaran!"

Kepala perampok yang tadi dilemparkan keluar pintu, sekarang sudah masuk kembali. Ia girang bukan main waktu mendengar kata-kata si pengemis, yang diduga adalah seorang penjahat juga.

"Eh,"

Katanya.

"Kambing gemuk itu kita bagi seorang separoh. Semangkok air kita minum bersama-sama!"

Si penderita kusta mendelik dan membentak.

"Siapa perdulikan kambing gemukmu! Keluar!"

Ia mendorong dengan kedua tangannya dan badan si perampok lantas terpental serta menubruk pintu, sehingga sebelah daun pintu copot dari engselnya.

Di antara desiran angin malam yang sayup-sayup, terdengar suara jeritan si perampok yang menyayatkan hati.

Melihat itu semua, kawanan perampok jadi pecah nyalinya dan lari serabutan untuk menyelamatkan jiwa Orang-orang dari Piauwkiok dan si pedagang obat juga ketakutan setengah mati dan mereka mundur ke pojok tembok.

Barusan, ketika si pengemis mendorong Tjoe Teng, baru Kwee Tay Kie dapat melihat bisulbisulnya dan ia kaget tak kepalang.

Bagaikan kesima, ia mengawasi dengan mata mendelong.

Muka si orang tua yang berbadan tinggi-besar jadi pucat.

"Apakah kau bukannya Toktjhiu Hongkay (si Pengemis Kusta Yang Tangannya Beracun) yang sengaja menyeterukan orang-orang gagah di kolong langit?"

Ia menanya.

"Ha-ha! Hehe! Tak salah!"

Jawabnya.

"Dalam dunia ini, tak banyak orang gagah yang mempunyai cukup derajat untuk bertempur dengan aku. Hayo! Keluarkanlah kepandaianmu!"

"Hee-djie!"

Berseru si orang tua.

"Lekas lari!"

Dengan sekali meloncat, ia menyambar sebatang golok seorang pegawai piauwkiok dan tanpa berkata suatu apa, ia membacok.

Orang tua itu sebenarnya tersohor liehay dalam ilmu silat tangan kosong Ngohengkoen dan tidak begitu biasa menggunakan golok.

Akan tetapi, ia merasa jijik untuk berbenturan tangan dengan si kusta oleh karena melihat bisul-bisul yang membikin bulu roma berdiri.

Si pengemis mendelik akan kemudian tertawa berkakakan seperti orang gila.

"Ha! Kau jijik berbenturan tangan denganku?"

Ia berkata dengan suara mengejek.

"Hm! Sebentar kau rasakan bagaimana enaknya rasa bisulku!"

Ia pindahkan tongkat besinya ke tangan kiri dan tanpa bersenjata, tangan kanannya segera mengirim serentetan pukulan hebat, sembari mengangsek maju.

"Hee-djie! Lari!"

Si nyonya meneriaki puterinya, sembari melepaskan tiga buah peluru yang menyambar ke muka, ke dada dan ke kaki, masing-masing menuju ke jalan darah yang membinasakan.

Cara melepaskan tiga Sintan dengan beruntun itu sudah kesohor sedari dulu dan pernah merobohkan banyak sekali orang gagah.

"Sintan keluarga Yo benar-benar liehay!"

Berseru si pengemis.

Dengan menundukkan kepala, ia menghindari Sintan yang menyambar mukanya, dengan kedua jerijinya ia menjepit Sintan yang menghantam dada dan akhirnya, dengan tongkatnya ia menyampok peluru yang terbang ke kakinya.

Sesudah itu, sambil membentak keras, ia membuka mulut dan menggigit belakang golok si orang tua.

Puluhan tahun ia berkelana di sebelah selatan dan utara Sungai Besar, tapi belum pernah ia bertemu dengan seorang lawan yang mempunyai ilmu silat sedemikian luar biasa.

Begitu goloknya digigit, ia merasakan tangannya kesemutan dan tanpa tercegah lagi, senjata itu terlepas dari tangannya.

Si pengemis tertawa keras dan melonjorkan sebelah tangannya untuk mengusap muka lawannya.

Si orang tua menggeram seperti harimau terluka dan sembari mengempos semangat, ia mengirim satu pukulan ke dada musuh.

Dalam gusarnya, ia menghantam dengan pukulan membinasakan dari ilmu silat Ngohengkoen.

Si penderita kusta mengeluarkan teriakan aneh dan meloncat mundur beberapa tindak akan kemudian, dengan sekali menotok tanah dengan tongkatnya, ia sudah meloncat pula ke depan dan berhadapan lagi dengan si orang tua.

"Aku tak percaya kau dapat menahan tiga pukulanku!"

Katanya sembari tertawa haha-hihi.

Jotosan Ngohengkoen si-orang tua barusan itu mempunyai tenaga kurang lebih delapan ratus kati dan seumur hidupnya, pukulan tersebut dapat dikatakan belum pernah meleset.

Akan tetapi, kali ini tinjunya yang sedemikian liehay sudah dapat dipunahkan secara begitu mudah oleh si pengemis, maka tidaklah heran, jika ia jadi kaget berbareng kuatir.

Sekonyong-konyong si pengemis menjotos dengan sebelah tinjunya dan selagi si orang tua mau loncat menyingkir, lehernya mendadak digaet dengan tongkat besi.

Melihat ayahnya berada dalam bahaya, si gadis lantas melepaskan segenggam peluru dengan menggunakan ilmu Boanthian hoa-ie (Hujan bunga di selebar langit).

Si pengemis terus menggentak sehingga orang tua itu jadi terguling dan kemudian berkata sembari tertawa.

"Sebentar kau akan merasakan enaknya bisulku!"

Berbareng dengan perkataannya itu, ia putarkan tongkatnya sehingga semua peluru jatuh berhamburan di atas tanah.

"Bagus!"

Ia berseru.

"Biarlah nona cantik ini lebih dulu merasakan gurihnya bisulku!"

Sekali menotol tanah dengan tongkatnya, badannya melesat ke atas dan lalu menyambar gadis itu yang lantas saja jatuh kejengkang.

Dalam kaget dan bingungnya sang ibu melepaskan tujuh peluru yang menghantam ke tujuh jalan darah si pengemis.

Ia mengetahui, bahwa pelurunya tak akan dapat melukakan si penderita kusta, akan tetapi, dalam saat yang berbahaya itu, ia tak mempunyai lain jalan yang lebih baik.

Tanpa memperdulikan peluru-peluru itu, si pengemis menurunkan tangannya untuk menjambak si nona.

Pada detik yang luar biasa gentingnya, tiba-tiba saja terdengar suara "ssr, ssr"

Dan dua sinar merah berkelebat di tengah udara.

Hampir berbareng dengan itu, si pengemis mengeluarkan suara teriakan hebat dan tubuhnya melesat ke atas, hampir-hampir kepalanya mengenakan payon.

Selagi badannya melayang turun ke bawah, ia menghantam si nyonya dengan tongkatnya.

Nyonya itu kaget bukan main, sambil melemparkan gendewa, ia mencabut sepasang Lioeyap to (Golok daun lioe) untuk menyambut serangan itu.

Si pengemis menyerang bagaikan harimau edan dan dalam tiga jurus saja, sepasang golok si nyonya sudah terpental ke tengah udara Sekonyongkonyong, pengemis itu menyembur dengan mulutnya sembari membentak.

"Bocah! Kau juga berada disini?"

Begitu kedua goloknya terpental, si nyonya jadi terkesima dan berdiri bengong.

Di lain saat, kedua matanya menjadi silau lantaran munculnya sinar dingin dari sebatang pedang dan si pemuda baju putih sudah mulai bertempur dengan pengemis itu.

"Yoeliong kiam!"

Berseru si nyonya dengan suara tertahan.

Pemuda baju putih itu tentu saja bukan lain daripada Tong Keng Thian.

Tadi, pada detik yang paling berbahaya, dengan satu timpukan yang sungguh indah, ia melepaskan dua Thiansan Sinbong.

Melihat menyambarnya senjata rahasia, buru-buru pengemis itu menutup semua jalan darahnya Ia menduga, dengan menutup jalan darah, senjata rahasia itu tak akan dapat melukakan tubuhnya.

Tapi sekali ini ia keliru.

Thiansan Sinbong yang liehay luar biasa, ditambah dengan tenaga dalam Keng Thian yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, sudah dapat menobloskan "tutupan"

Itu.

Begitu tertusuk, si pengemis merasakan jantungnya sakit dan ia mengetahui, bawa ia sudah mendapat luka berat.

Hampir berbareng dengan senjata rahasianya, Keng Thian menerjang dengan Yoeliong kiam.

Saat itu, dalam kegusaran hebat, si pengemis menyembur.

Keng Thian segera berkelit dengan anggapan, bahwa musuh itu ingin meludahinya.

Juga ia sudah menduga keliru.

Mengimpi pun ia tak pernah, bahwa senjata rahasia si pengemis justru disimpan di dalam mulutnya dan dengan semburan itu, sejumlah senjata rahasia yang sangat halus menyambar dirinya Mendadak ia merasakan pergelangan tangannya seperti digigit semut, tak seberapa sakit, tapi sangat gatal.

Darah Keng Thian naik tinggi.

"Binatang!"

Ia membentak.

"Kau ini tak bedanya dengan ular berbisa! Begitu bertemu manusia lantas menggigit!"

Si pengemis tertawa besar.

"Benar! Benar!"

Katanya.

"Malam ini kau adalah manusia pertama yang digigit ular!"

Tanpa banyak bicara, Keng Thian segera mengirim serangan berantai yang sangat hebat.

Si pengemis cekal tongkatnya dengan kedua tangannya dan sekali tarik, ia mencabut keluar sebatang pedang besi yang hitam mengkilap.

Ternyata, tongkat itu merupakan sarung pedang yang dibuat secara istimewa sekali.

Yoeliong kiam adalah senjata mustika yang sudah kesohor di seluruh Rimba Persilatan.

Begitu kedua senjata berbentrok, lelatu api muncrat dan pedang si pengemis somplak.

"Ih!"

Berseru si pengemis sembari meloncat mundur.

Keng Thian juga diam-diam merasa kaget, oleh karena Yoeliong kiam yang dapat mengutungkan besi dan memapas baja, tak dapat memutuskan pedang besi itu.

Ilmu silat si penderita kusta sangat aneh dan tak menurut peraturan biasa.

Akan tetapi, walaupun kelihatan kalang-kabut, setiap serangannya sangat berbahaya dan mempunyai perobahan-perobahan yang tak diduga-duga.

Dengan penuh kegusaran, Keng Thian menyerang dengan ilmu pedang Toeihong Kiamhoat, akan tetapi, sesudah menjalankan habis delapan belas rupa serangannya, si pengemis belum memperlihatkan tanda-tanda keteter.

Di sebelah ilmu silatnya, penderita kusta itu pun sangat dalam lweekang-nya dan kurang lebih dapat direndengkan dengan tenaga dalam Keng Thian.

Sesudah si nona sadar dari pingsannya, ayah, ibu dan puteri itu lantas saja menerjang si pengemis jahat untuk membantu Keng Thian.

Dengan tangan kanan mencekal pedang besi, ia melawan Keng Thian, sedang tangan kirinya yang memegang sarung pedang melayani tiga lawan baru itu.

Tangan kanannya lebih banyak membela diri daripada menyerang, sedang tangan kirinya lebih banyak menyerang daripada membela diri.

Dengan penuh semangat, Keng Thian mencecer musuhnya dengan Toeihong Kiamhoat dan dalam sekejap, tiga puluh jurus sudah lewat.

Beberapa saat kemudian, di atas kepala si pengemis keluar uap panas dan keringat mengucur dari mukanya Keng Thian tahu, bahwa Thiansan Sinbong sudah mulai menyerang jantung orang itu dan ia lalu memperhebat serangannya.

Si pengemis tiba-tiba mendelik dan menyapu Keng Thian dengan matanya yang bersinar seperti kilat.

"Bocah!"

Ia membentak.

"Dengan mengeluarkan tenaga begitu banyak, apa kau kira bisa hidup terus?"

Keng Thian kertek giginya dan mengirim satu tikaman hebat.

Pada saat ujung Yoeliong kiam hampir mengenakan badannya, si pengemis mendadak berjungkir balik dan meloncat keluar melewati mulut pintu.

Keng Thian segera menjejek kedua kakinya untuk mengubar, akan tetapi, tiba-tiba ia merasakan badannya seperti ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum dan semacam hawa amis naik ke tenggorokannya dari dalam perutnya!

Di lain detik, matanya berkunang-kunang dan tanpa dapat berdaya lagi, ia roboh di atas tanah.

Keng Thian segera mengempos semangatnya untuk menjaga jantungnya.

Semua orang menjadi bingung dan berusaha untuk memberikan pertolongan.

Walaupun terluka hebat, kuping Keng Thian terang sekali dan dapat menangkap satu-satu perkataan orang.

"Loopiauwtauw janganlah menghaturkan terima kasih,"

Demikian terdengar suara si orang tua.

"Mari kita periksa luka sahabat ini."

Keng Thian tak dapat bicara lagi, kepalanya berat dan lapat-lapat ia mendengar perkataan salah seorang.

"Ih! Senjata rahasia apa yang digunakan olehnya?"

"Jangan menggunakan sembarang obat, kalau salah, lukanya bisa jadi semakin berat."

"Ah! Kenapa seperti gigitan ular?"

"Lihat! Mukanya bersemu hitam!"

"Siapa mempunyai jarum emas? Coba keluarkan darahnya."

"Tak usah. Senjata rahasia sudah terang direndam dalam bisa ular..."

Hanya sebegitu yang dapat didengar Keng Thian.

Ia ingin sekali memberitahukan mereka, bahwa dalam kantongnya terdapat pil Pekleng tan yang dibuat daripada Soatlian, tapi mulutnya sudah terkancing.

Kepalanya semakin lama jadi semakin berat dan sesaat kemudian, matanya gelap dan ia tak ingat dirinya lagi.

Berselang tujuh hari, seperti orang yang baru mendusin dari suatu impian jelek, ia sadar kembali.

Ketika itu, ia sendiri tentu saja belum mengetahui sudah pingsan begitu lama.

Di antara kekaburan, ia ingat kejadian tujuh hari berselang dan ketika membuka kedua matanya, ia melihat sinar matahari yang menembus ke kamarnya dan dahan-dahan bunga yang bergoyang-goyang diluar jendela.

Hidungnya mengendus serupa wangi-wangian yang halus sekali dan ia merasakan dadanya lapang.

"Oh, Tuhan! Terima kasih! Terima kasih banyak! Akhirnya ia mendusin juga!"

Demikian terdengar suara wanita yang lemah lembut.

Ia melirik.

Kedua wanita yang ia jumpakan di gunung Tjiakdjie san pada tujuh hari berselang, kelihatan duduk di depan pembaringan sambil mengawasi mukanya dengan paras muka girang, sedang Yoeliong kiam tergantung di kepala ranjang.

"Kenapa aku bisa berada disini?"

Menanya Keng Thian.

"Tempat siapakah ini?"

"Hee-djie,"

Berkata sang ibu.

"Pergi ambil semangkuk Somthung (air godokan Yosom)."

Sesudah itu, dengan suara halus ia berkata kepada Keng Thian.

"Kau sudah terkena senjata rahasia beracun si pengemis kusta dan sudah rebah disini tujuh hari dan tujuh malam. Ini adalah rumah kami."

Keng Thian meramkan kedua matanya, mengingat-ingat kejadian pada malam itu. Ia bergidik dan berkata dengan suara terharu.

"Terima kasih!"

"Bukan kau, tapi kamilah yang harus menghaturkan terima kasih padamu,"

Sahut si nyonya sembari tertawa.

Sesaat itu, gadisnya sudah masuk pula dengan membawa Somthung yang lantas diberikan kepada Keng Thian.

Sesudah minum air godokan itu, ia merasa badannya segar dan semangatnya terbangun.

"Hee-djie,"

Berkata pula sang ibu.

"Bawa keluar pakaian Tong Koko. Apa dua stel pakaian baru itu sudah selesai dijahit?"

"Siang-siang sudah selesai,"

Jawab si nona Keng Thian mengendus bau amis yang keluar dari pakaiannya dan melihat mata ibu dan anak itu agak merah, satu tanda bahwa bermalam-malam mereka sudah menggadangi dirinya Mengingat kebaikan orang Keng Thian jadi sangat terharu dan berkata dengan suara perlahan.

"Budimu yang sangat besar, seumur hidup tak akan aku lupakan."

Mendadak si nona tertawa nyaring.

"Ibu,"

Katanya.

"Apakah lagak ayahnya juga seperti ia, halus dan lemah lembut?"

Sang ibu tertawa dan tak meladeni pertanyaan puterinya yang nakal.

"Racun itu hebat luar biasa dan jarang terdapat dalam dunia,"

Menerangkan si nyonya.

"Sebenar-benarnya kau sendirilah yang sudah menyembuhkan lukamu. Untuk apa menghaturkan terima kasih kepada kami?"

"Apa?"

Menanya Keng Thian dengan rasa heran.

"Untung juga aku masih mengenali Yoeliong pokiam dan mengetahui cara menggunakan Pekleng tan,"

Jawab nyonya itu.

"Kalau bukannya begitu, kami pun tak akan dapat berdaya lagi."

Si nyonya tertawa-tawa dan kemudian menyambung pula penuturannya.

"Orang yang paling dulu mendapat tahu, bahwa kau sudah kena racun ular adalah si pedagang obat. Ia segera memberikan dua butir yowan (pil) yang istimewa untuk menyembuhkan luka digigit binatang berbisa. Obat itu sebenarnya sudah dipesan oleh sebuah toko obat besar di kota Pakkhia dan oleh karena merasa sangat berhutang budi atas pertolongan kita, tanpa merasa sayang ia sudah mengeluarkan obatnya yang mahal itu. Akan tetapi, yowan tersebut juga hanya dapat menahan menjalarnya racun untuk sementara waktu. Buru-buru kami menyewa tandu dan membawa kau sampai disini. Kami berusaha memberikan pertolongan dengan mengurut jalan darahmu, tapi semua tinggal sia-sia. Dalam kebingungan, tiba-tiba aku ingat, bahwa sebagai pemilik Yoeliong kiam, kau tentu membawa juga Pekleng tan yang terbuat dari Soatlian. Benar saja kami beruntung menemukan pil yang mujarab itu dalam kantongmu dan buru-buru aku menghancurkan sebutir Pekleng tan dengan air salju, separoh aku cekokkan ke dalam mulutmu dan separoh lagi dipoleskan pada lukamu. Hm! Sungguh hebat racun si pengemis kusta! Thiansan Pekleng tan yang dapat menyembuhkan segala rupa racun, masih memerlukan tujuh hari dan tujuh malam!"

Ketika itu Keng Thian sudah sadar benar-benar dan ia ingat segala kejadian pada malam itu. Mendengar penuturan sang penolong, tanpa merasa ia menanya.

"Kalau begitu kau kenal baik ayahku, bukan?"

Si nyonya mesem dan paras mukanya mendadak bersemu dadu, seperti juga pada malam itu, ketika mereka baru bertemu muka.

"Kenal baik?"

Ia mengulangi dengan suara perlahan.

"Kami berdua, aku dan ayahmu, adalah kawan bermain sedari kecil! Apakah ayahmu belum pernah menyebutkan namanya Tiattjiang Sintan Yo Tiong Eng? Aku adalah anak perempuan Tiattjiang Sintan."

"Ha!"

Keng Thian mengeluarkan seruan tertahan.

"Kalau begitu, kau adalah Yo Pehbo. Ibu sering sekali menyebut namamu."

"Apakah ibumu baik?"

Menanya nyonya itu sembari tertawa.

"Baik,"

Jawabnya.

"Sering sekali ibu mengatakan, bahwa pada dua puluh tahun berselang, mereka pernah menerima budi ayahmu yang sangat besar. Lima tahun ayahku pernah menjadi murid Yo soetjouw (Kakek guru) dan kalau dihitung-hitung, aku harus memanggil Soesiok (Paman guru) kepada Pehbo."

Mendengar itu, si nyonya lantas saja teringat segala kejadian pada dua puluh tahun berselang dan paras mukanya lantas saja menjadi guram.

"Apakah ayahmu baik?"

Ia menanya.

"Baik, tak kurang suatu apa,"

Jawabnya.

"Di Thiansan, ayah memelihara abunya Yo Soetjouw."

Mendengar itu, muka si nyonya lantas menjadi terang kembali.

"Kami sebenarnya ingin pergi ke Thiansan guna menyambangi kedua orang tuamu. Tak dinyana, di tengah jalan bertemu dengan kau. Benar-benar maunya Tuhan."

Nama nyonya itu adalah Yo Lioe Tjeng, bekas tunangan Tong Siauw Lan.

Belakangan sesudah pertunangan putus, ia menikah dengan Tjee Sek Kioe, seorang ahli silat Ngohengkoen.

Memang sudah lumrahnya, bahwa seorang wanita sukar sekali dapat melupakan kecintaannya yang pertama.

Maka itu, walaupun sudah menikah dan mempunyai seorang puteri, kadang-kadang ia teringat segala kejadian yang lampau.

Sesudah banyak tahun berpisah dengan Tong Siauw Lan, sering-sering ia teringat bekas tunangan itu.

Tjee Sek Kioe mengetahui isi hati isterinya dan pula mengetahui, bahwa sesudah mereka menikah dengan segala keberuntungan, kecintaan sang isteri terhadap Tong Siauw Lan bukannya "kecintaan"

Yang menyeleweng, akan tetapi suatu kecintaan dari seorang saudara.

Di sebelah itu, ia pun merasa sangat kangen kepada Tong Siauw Lan, sahabatnya.

Maka itulah, ketika sang isteri mengutarakan keinginannya, dengan segala senang hati ia menemani Yo Lioe Tjeng untuk pergi mencari Tong Siauw Lan.

Dulu, keluarga Tjee bertempat tinggal di rumah Yo Tiong Eng.

Tapi belakangan, gara-gara suatu kejadian, mereka pindah ke propinsi Soetjoan.

Oleh karena hebatnya racun, sesudah sadar beberapa hari, Keng Thian baru dapat jalan merayap dengan berpegangan tembok dan untuk mendapat kembali seluruh kesehatannya, agaknya ia harus mengasoh sedikitnya setengah bulan lagi.

Maka itu, tak dapat tidak ia harus berdiam terus di rumah keluarga Tjee untuk beberapa lama.

Dengan penuh kecintaan, keluarga tersebut merawat Keng Thian, terlebih pula Yo Lioe Tjeng yang memperlakukan ia seperti puteranya sendiri.

Puteri Tjee Sek Kioe, yang bernama Tjee Tjiang Hee, adalah seorang gadis jang simpatik dan gembira sifatnya, dengan gerak-geriknya yang lincah bagaikan seekor burung kecil.

Sering sekali ia menemani Keng Thian dan sering pula meminta petunjuk-petunjuk dalam ilmu silat.

Dalam hari-hari pertama, oleh karena si pemuda belum kuat, Tjiang Hee sering menuntun si pemuda waktu jalan di kebun belakang.

Keng Thian adalah seorang ksatria yang jiwanya bebas dari segala ingatan kotor dan sudah memperlakukan gadis itu seperti saudara kandungnya sendiri.

Selang sepuluh hari lagi, kecuali badannya yang belum kuat betul, semua racun sudah tertolak keluar dari tubuhnya.

Perlahan-lahan ia mendapat kembali kesehatannya.

Malam itu, bersama Tjiang Hee, ia jalan-jalan di luar rumah.

Di bawah sinar bulan jang laksana perak, ribuan bunga menyiarkan bau harum semerbak, oleh karena waktu itu adalah buntut musim semi dan permulaan musim panas, di kala kembang-kembang sedang mekarnya.

Sesudah bercakap-cakap ke barat dan ke timur, mendadak Tjiang Hee munculkan soal Thiansan.

"Apakah enak bertempat tinggal di Thiansan?"

Menanya si nona.

"Yang sudah biasa tak akan merasakan apa-apa,"

Jawab Keng Thian.

"Tapi untuk seorang yang baru datang, keadaan disana tentu mengherankan dan ia harus menyesuaikan diri dulu. Seluruh tahun gunung itu ditutup es dan dimana-mana terdapat sungai es. Dipandang dari jauh, sungaisungai es itu seakan-akan ribuan naga yang berwarna putih."

"Oh, begitu?"

Berkata si nona dengan perasaan kagum.

"Bukankah tempat itu jadi seperti surga dalam dongengan tempat tinggalnya dewi-dewi?"

Keng Thian jadi teringat Pengtjoan Thianlie dan tanpa merasa ia berkata.

"Aku sendiri pernah melihat keraton es!"

"Di Thiansan?"

Menanya Tjiang Hee.

"Bukan, bukan di Thiansan,"

Jawabnya. Tiba-tiba si nona melihat paras muka Keng Thian yang sedikit guram.

"Apakah kau jadi ingat keluargamu, lantaran aku menyebut-nyebut Thiansan?"

Ia menanya.

"Sesudah kau sembuh, kami semua akan mengantar kau pulang ke Thiansan."

"Bukan, aku bukan teringat keluargaku,"

Sahut Keng Thian.

"Sesudah sembuh, aku malah ingin meneruskan perjalanan ke Soetjoan barat."

"Apa orang yang hidup di Thiansan tak merasa kesepian?"

Menanya pula si nona.

"Di atas gunung terdapat beberapa keluarga yang berhubungan rapat sekali, sehingga kita tak merasa kesepian,"

Menerangkan Keng Thian.

"Ie-ie-ku juga berada di Thiansan. Ia paling senang bergaul dengan nona-nona yang nakal."

"Menurut kata ibu, ibumu dan adiknya adalah saudara kembar dan muka mereka sangat mirip,"

Kata lagi Tjiang Hee.

"Apa benar begitu?"

"Benar,"

Jawabnya sembari tertawa.

"Aku sendiri sering tak dapat membedakannya."

"Apakah muka saudara misanmu mirip dengan kau?"

Tanya Tjiang Hee.

"Tidak,"

Jawab Keng Thian sembari tertawa dan kemudian menambahkan.

"Piauwmoay-ku (adik misan perempuan) mirip sekali dengan kau."

"Apa ia cantik?"

Tanya si nona.

"Cantik. Sungguh cantik!"

Jawabnya.

"Secantik kau!"

"Dusta,"

Kata Tjiang Hee.

"Ia tentu banyak lebih cantik!"

Sesaat kemudian, ia tertawa dan berkata pula.

"Kata ibu, kau adalah seorang pemuda yang baik sekali, sama benar dengan ayahmu dulu. Kalau benar begitu, kau juga tentu adalah seorang muda yang sangat romantis."

"Apa?"

Menegasi Keng Thian dengan perasaan jengah.

"Dulu, pada waktu ayahmu berdiam di rumah kakekku (Yo Tiong Eng), ia telah menulis sebuah sajak yang kemudian disimpan oleh ibuku,"

Menerangkan Tjiang Hee.

"Belakangan, oleh karena merasa ketarik, aku mengambil sajak itu dan selalu kubawa-bawa dalam kantongku. Aku sendiri tak begitu mengerti isinya dan ingin minta petunjukmu. Sesudah membaca itu berulang kali, sedikit banyak aku mengetahui, bahwa penulisnya adalah seorang lelaki yang sangat romantis."

Tjiang Hee adalah puteri tunggal dari keluarga Tjee dan sedari kecil mendapat didikan seperti seorang anak lelaki.

Maka itu, ditambah dengan adatnya yang sangat polos, ia selalu bicara terus terang, tanpa tedeng aling-aling.

Di lain pihak, mendengar si nona membicarakan soal ayahnya, Keng Thian merasa agak jengah.

Akan tetapi, tersurung hati kepingin tahu, lantas saja ia berkata.

"Bolehkah aku membaca itu?"

Kertas itu sudah pecah di sana-sini, tapi huruf-hurufnya masih lengkap dan dapat dibaca. Di atas kalimat "Pek Tjoe Leng"

Atau Sajak Seratus Huruf terdapat tulisan yang artinya kira-kira seperti berikut.

Sungguh lelah, hidup terombang-ambing, Di antara lautan manusia, Apakah ada sahabat yang mengetahuinya?

Sarung pedang dan kantong syair adalah kawan satu-satunya, Melawan sang angin malam, menginjak embun pagi, berjalan tak henti-hentinya, Nyanyiannya yang keras menembus awan.

Suaranya yang santer membubarkan halimun.

Bagaikan seekor burung Gan yang terbang pergi akan kemudian balik kembali!

Bagaikan si burung Yo, bagaikan si burung walet, Menginjak salju, tapaknya tak berbekas!

*** Gunung yang tertutup awan, bayangan dalam impian, semuanya samar-samar, Anak walet mencari sarang.

Tapi takut rintangan sang tirai, Walaupun dalam kantong sudah penuh dengan tulisan indah, Tapi siapakah yang dapat menyampaikan kepada si dia?

Demikianlah sambil memeluk khim, menggubah lagu.

Dengan mata mengawasi sang langit yang tiada tepinya!

Sogo dan Tjenglie, Sampai kapankah kita dapat bertemu?

Dulu, sajak itu sebenarnya ditulis oleh Tong Siauw Lan lantaran ia tak dapat melupakan Lu Soe Nio.

Tapi Yo Lioe Tjeng sudah salah sangka, ia menduga, bahwa Siauw Lan menulis untuk dirinya sendiri, dan itulah sebabnya, mengapa ia lalu menyimpan sajak tersebut sebagai peringatan yang indah.

Sehabis Keng Thian membaca, sambil tertawa Tjiang Hee berkata.

"Ibumu sungguh beruntung. Ayahmu membandingkan ia seperti seorang dewi (Sogo dan Tjenglie)!"

Dengan begitu, Tjiang Hee juga sudah salah menafsirkan. Ia menganggap, dengan "Sogo dan Tjenglie"

Dimaksudkan ibu Keng Thian.

Tapi Keng Thian sendiri merasa sangat heran dalam hatinya.

Membaca sajak itu, Keng Thian yang cerdas mengetahui, bahwa si penulis sedang memikirkan seorang wanita yang berada jauh, yang bagaikan sekuntum bunga, hanya dapat dipandang, tapi tak dapat dipetik.

"Ketika itu ayah berada dalam rumah keluarga Yo, maka tak bisa jadi sajak tersebut ditulis untuk Yo Pehbo,"

Katanya di dalam hati. Sebagai seorang yang tak mengetahui asal-usul sajak tersebut, Keng Thian segera menarik kesimpulan, bahwa ayahnya sudah menulis untuk ibunya sendiri.

"Begitu ayahnya, begitu juga anaknya,"

Kata Tjiang Hee, tertawa.

"Kau pun tentu seorang muda yang romantis. Hanya sayang, piauwmoay-mu tak berada disini."

Mendengar perkataan si nona, Keng Thian jadi merasa geli dan berkata dalam hatinya.

"Hm! Mana kau tahu? Piauwmoayku dan kau sendiri sama saja seperti ibumu dahulu, sedang aku sendiri tak berbeda seperti ayahku. Mana kau tahu, bahwa di dalam hati aku sedang memikirkan seorang lain!"

Melihat si pemuda sebentar merengut dan sebentar mesem, Tjiang Hee jadi merasa heran sekali. Tiba-tiba Keng Thian mendehem dan dari antara pohon-pohon bunga, berjalan keluar ibu Tjiang Hee.

"Ibu, kenapa kau mencuri dengar pembicaraan kami?"

Tanya si nakal.

"Kalian bicara apa, sedikitpun aku tak dengar,"

Jawabnya sembari tertawa.

Ibu dan anak itu, yang perhubungannya, seperti juga kakak dan adik, gemar sekali berguyonguyon, akan tetapi Keng Thian yang mendengar kata-kata mereka itu sudah jadi jengah sekali.

"Malam sudah larut, untuk apa Pehbo keluar seorang diri?"

Ia menanya.

"Yah memang sudah larut malam,"

Jawab sang bibi sembari lirik mereka. Muka Keng Thian jadi berubah merah. Sesaat kemudian, Yo Lioe Tjeng berkata dengan suara perlahan.

"Keng Thian, sekarang ini kesehatanmu belum pulih kembali. Hee-djie, tak boleh kau mengajak Tong Koko pergi terlalu jauh dari rumah ini."

Mendengar ibunya bicara sungguh-sungguh, si nona segera menanya.

"Kenapa?"

"Keng Thian,"

Berkata pula Yo Lioe Tjeng tanpa menjawab pertanyaan puterinya.

"Apakah kau masih ingat si pengemis kusta?"

Tjiang Hee bergidik dan mendului menjawab.

"Manusia jelek yang seperti beburonan itu? Sampai badanku menjadi debu, tak dapat aku melupakannya!"

"Sebenar-benarnya, mukanya tidak begitu,"

Kata Keng Thian sembari mesem.

"Jika tidak sengaja menakut-nakuti orang, ia sebenarnya adalah seorang pemuda yang berparas cakap."

Baru saja berkata begitu, hati Keng Thian tergoncang, oleh karena ia ingat serupa hal.

Ia ingat penuturan kedua orang tuanya cara bagaimana dulu mereka bertempur melawan Tokliong Tjoentjia di suatu pulau kecil.

Semula Tokliong Tjoentjia adalah seorang penderita kusta dan kemudian melarikan diri ke pulau itu dan dapat menyembuhkan sendiri penyakitnya.

Oleh karena itu, di kemudian hari, ia jadi sangat membenci manusia seumumnya.

Sebagai seorang jang pernah membaca buku-buku pengobatan, Keng Thian sungguh tidak mengerti halnya si pengemis kusta.

"Dengan bisul-bisul yang memenuhi sekujur badannya, penyakitnya tentu sudah sangat berat,"

Pikir Keng Thian.

"Tapi kenapa bulu alisnya tidak rontok? Apakah ia bukan seperti Tokliong Tjoentjia? Jika benar begitu, penyakitnya tentu sudah sembuh lama sekali. Dulu, sesudah berlatih puluhan tahun, baru Tokliong Tjoentjia memperoleh ilmu silat yang tinggi. Di lain pihak, si pengemis masih berusia sangat muda dan sebagai orang jang menderita penyakit kusta, siapakah yang sudi menjadi gurunya? Tapi, kenapa ia mempunyai kepandaian yang begitu tinggi?"

Demikianlah, macam-macam pertanyaan datang ke alam pikiran Keng Thian.

Apakah si pengemis adalah murid Tokliong Tjoentjia?

Ini juga tak mungkin, oleh karena, sepanjang penuturan ibunya, sesudah ditakluki oleh Loe Soe Nio, Tokliong Tjoentjia telah kembali ke Tionggoan dan tiga tahun kemudian, ia sudah meninggal dunia.

Waktu itu, usia si pengemis kusta paling banyak baru dua atau tiga tahun.

Keng Thian adalah seorang yang sangat cerdas, semakin ia memikir, semakin besar rasa sangsinya terhadap pengemis itu.

"Pehbo,"

Katanya.

"Kau menyebut-nyebutkan pengemis kusta itu, apakah dia sedang berada di dekat-dekat sini?"

"Benar,"

Jawab Yo Lioe Tjeng.

"Seorang guru silat dari Lengkoan datang berkunjung dan mengatakan, bahwa di tempatnya telah muncul seorang pengemis kusta yang menyeterukan orang-orang gagah dari Rimba Persilatan. Menurut katanya, Tong Lootaypo juga telah dirobohkan. Kedatangannya adalah untuk minta bantuan dari ayah Hee-djie, tanpa mengetahui bahwa kita juga sudah bergebrak dengan pengemis itu."

Mendengar kisah itu, Keng Thian terkejut. Kesehatannya belum pulih dan jika benar-benar si pengemis kusta datang, sungguh tak ada orang yang akan melawannya.

"Apakah Tong Lootaypo yang pernah mengajarkan aku menimpuk senjata rahasia?"

Tanya Tjiang Hee.

"Benar,"

Jawab ibunya, yang kemudian sembari tertawa berkata kepada Keng Thian.

"Pada dua puluh tahun lebih berselang, suaminya telah dibunuh oleh Ie-ie-mu. Ketika itu, beberapa kali ia telah mencari kami untuk membalas dendam. Belakangan urusan itu dapat didamaikan oleh seorang sahabat dan sekarang kita sudah menjadi sahabat."

"Tong Lootaypo"

Atau Nyonya Tua Tong yang disebutkkan oleh Yo Lioe Tjeng, adalah Tong Say Hoa, yaitu soetjie (kakak seperguruan) Liong Leng Kiauw.

Hati Keng Thian berdebar sebab ia memang mau mencari keluarga Tong yang secara kebetulan ternyata bertempat tinggal di Lengkoan.

"Pengemis kusta itu sungguh harus dimampuskan?"

Berkata Tjiang Hee dengan suara gusar.

"Tak bedanya seperti anjing gila yang menyerobot segala orang."

"Apakah Pehbo tahu asal-usulnya?"

Tanya Keng Thian.

"Menurut kata Pehpeh-mu (pamanmu Tjee Sek Kioe), pengemis kusta itu baru muncul sedari kira-kira dua tahun berselang,"

Jawab sang bibi.

"Dari Tionggoan ia datang di Utara barat, dimana ia mencari orang-orang ternama dari Rimba Persilatan untuk dibikin malu. Siapa juga tidak mengetahui asal-usulnya."

Keng Thian menundukkan kepalanya, ia sungguh tak dapat memecahkan teka-teki di sekitar si pengemis kusta.

"Soal si pengemis sudah cukup aneh, tapi ada lagi lain hal yang terlebih aneh,"

Berkata Yo Lioe Tjeng.

"Ada apa lagi?"

Menanya Keng Thian.

"Menurut kata orang, dua wanita yang cantik bagaikan dewi berjalan bersama-sama pengemis itu,"

Menerangkan sang bibi. Keng Thian terkesiap.

"Apa?"

Ia menegaskan.

"Ada orang melihat mereka bertiga jalan bersama-sama, sembari bercakap-cakap dengan tertawa-tawa,"

Menerangkan Yo Lioe Tjeng.

"Kata orang, kedua wanita itu juga pernah berkunjung ke rumah keluarga Tong, tapi bagaimana kejadian yang sesungguhnya, orang itu tak mengetahui jelas."

Tak kepalang herannya Keng Thian.

Apakah tak bisa jadi, kedua wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng?

Tapi Koei Peng Go adalah seorang angkuh dan sama sekali tak ada kemungkinan, bahwa ia sudi berjalan bersama-sama dengan seorang penderita kusta.

Tapi, selain mereka berdua, siapa lagi yang "cantik bagaikan dewi?" *** Sekarang biarlah kita meninggalkan Keng Thian yang sedang kebingungan dan mengikuti gerak-gerik Pengtjoan Thianlie dan dayangnya.

Malam itu, sesudah meninggalkan kuil Lhama, malam-malam mereka meneruskan perjalanan ke arah Soetjoan.

Oleh karena tidak mengenal jalan, walaupun tidak salah arahnya, beberapa kali mereka mengambil cabang jalan yang salah, sehingga pada waktu tiba di Tjiakdjie san, mereka berada di belakang Keng Thian.

Pada waktu berjalan di bagian gunung yang paling berbahaya, Yoe Peng mendadak mengeluarkan seruan tertahan dan meloncat mundur beberapa tindak.

Di bawah sebuah batu besar kelihatan sedang rebah seorang pengemis yang pakaiannya rombeng dan kedua lengannya penuh bisul.

Muka orang itu yang bersinar merah dan bengkakbengkak kelihatan menakutkan sekali.

Pengtjoan Thianlie yang tidak mengenal penyakit kusta, lantas saja timbul rasa kasihannya dan lalu berkata pada dayangnya.

Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 1

Baca Juga: Pedang Bunga Mei 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger