Eps 7 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
"Menolong jiwa satu manusia adalah lebih berharga daripada membuat gedung dari tujuh tingkat. Yoe Peng, coba kau mengangkat orang itu. Aku mau memeriksa keadaannya."
Yoe Peng tak menduga nonanya akan bertindak begitu dan ia menjadi serba salah.
"Tempat ini jarang diinjak manusia,"
Berkata pula Koei Peng Go, setelah melihat kesangsian dayangnya.
"Jika kita tidak menolong, siapa lagi yang akan memberikan pertolongan? Yoe Peng, hayo!"
Pengtjoan Thianlie yang belum mempunyai banyak pengalaman, sudah bertindak dengan menuruti hatinya yang sangat mulia.
Ia sama sekali tak ingat, bahwa oleh karena gunung itu jarang diinjak manusia, seorang yang bisa berada disitu tentu juga bukan manusia sembarangan Dengan terpaksa Yoe Peng maju beberapa tindak dan mengawasi si penderita kusta.
"Orang ini rasanya tak akan bisa hidup lebih lama lagi,"
Katanya.
"Bagaimana kau tahu?"
Tanya si nona.
"Lihatlah! Ia rebah seperti mayat dan sudah tak dapat bergerak lagi,"
Berkata Yoe Peng.
Belum habis Yoe Peng mengucapkan perkataannya, si pengemis mendadak berbangkis dan sesudah mengulet beberapa kali, ia bangun duduk.
Dengan sorot mata ketolol-tololan, ia mengawasi Peng Go dan berkata dengan suara perlahan.
"Aku sudah hampir mati. Apakah kamu berdua masih merasa perlu untuk hinakan diriku?"
Mendengar suara itu, yang meskipun lemah, masih juga mempunyai semangat, si nona bersenyum dan lalu berkata.
"Kau tentu sudah menahan lapar beberapa hari. Makanlah ini."
Tanpa menghaturkan terima kasih, si pengemis mengambil sepotong daging kambing kering yang diangsurkan oleh Peng Go itu dan lalu makan dengan bemapsu.
"Kenapa sekujur badanmu penuh bisul?"
Menanya Pengtjoan Thianlie dengan suara kasihan. Si pengemis mendelik dan menyahut dengan suara aseran.
"Sedari kecil, aku sudah begini. Jika kau jijik, pergilah jauh-jauh!"
"Ah, bukan begitu,"
Kata si nona.
"Maksudku adalah, jika mungkin aku mau coba mengobati penyakitmu."
"Mau mengobati aku?"
Menegasi si pengemis.
Sesudah berkata begitu, ia menunduk dan tidak berkata suatu apa lagi.
Dalam keraton es terdapat macam-macam obat yang mujarab dan beberapa antaranya selalu dibawa-bawa oleh si nona.
Ia lantas saja mengeluarkan sebotol obat bubuk untuk mengobati rupa-rupa bisul beracun.
"Cobalah obat ini, usapkan di bisulmu,"
Kata Peng Go sembari mengangsurkan botol obat itu. Sesudah mengusapkan obat bubuk itu di kedua lengannya, ia lalu membuka baju.
"Tanganku tak sampai ke punggung,"
Katanya.
"Yoe Peng, kau tolonglah!"
Memerintah Pengtjoan Thianlie.
Sang dayang tentu saja tidak berani membantah perintah itu.
Ia lalu mematahkan sebatang cabang pohon dan membungkus ujungnya dengan selembar kain putih, yang kemudian dicelup dalam air pancuran gunung.
Kemudian ia tuangkan obat bubuk tersebut di atas kain basah itu yang lalu digosok-gosokan di punggung si pengemis.
"Obat ini dingin rasanya, benar-benar bagus,"
Kata si pengemis.
"Tapi penyakitku sudah sering sekali diobati dan aku sudah menggunakan ratusan macam obat tanpa berhasil. Maka itu, belum tentu obatmu dapat menyembuhkan."
"Jika obat itu tidak berhasil sesudah dua hari, aku akan memberikan kau lain obat,"
Kata si nona.
"Hayolah kita berangkat!"
Berkata Yoe Peng dengan suara tidak sabar.
"Bagus!"
Kata si pengemis.
"Aku justru sedang kuatir tak dapat makanan. Dengan berjalan bersama kalian, bukan saja ada obat, tapi juga ada makanan!"
Sehabis berkata begitu, lantas saja ia berdiri. Pengtjoan Thianlie tak duga si sakit bakal berkata begitu. Sesudah berpikir beberapa saat, ia berkata.
"Baiklah. Menolong orang harus menolong sampai akhirnya. Kau boleh mengikuti kami. Apa kau bisa jalan?"
"Sesudah perut kenyang, jalanan gunung tak menjadi soal bagiku,"
Jawabnya dengan suara gagah dan sambil mengangkat tongkatnya, ia lalu mulai bertindak.
Sesudah berjalan dua hari, tibalah mereka di bagian selatan gunung Tjiakdjie san dan dari situ, mereka sudah melihat rumah-rumah penduduk di kaki gunung.
Selama dua hari itu, si pengemis mengikuti tanpa bicara.
Setiap hari, Pengtjoan Thianlie memburu binatang dan membakar dagingnya untuk dijadikan barang santapan.
Semua daging yang diberikan pengemis itu.
"Di atas ada air terjun, di bawah ada solokan, kalian bisa loncat, tapi aku tak mampu."
Sehabis berkata begitu, lantas saja ia duduk di atas tanah. Yoe Peng merasakan dadanya sesak, tak tahu apa ia mesti menangis atau tertawa.
"Siauwkontjoe! Sudahlah jangan ladeni padanya,"
Kata ia.
"Tunggu,"
Kata Pengtjoan Thianlie.
Belum sempat ia menyambung perkataannya, mendadak terdengar suara tertawa menyeramkan yang menggetarkan seluruh selat.
Di lain saat, dari antara tumpukan batu di lamping gunung, loncat keluar dua orang, satu antaranya bukan lain daripada Hiatsintjoe.
"Siluman perempuan kecil!"
Ia membentak sembari tertawa berkakakan.
"Akhir-akhir kita bertemu pula. Tong Keng Thian, si bocah bau, hari ini tak dapat melindungi kau!"
Dengan sekali mengenjot badan, ia sudah berhadapan dengan Pengtjoan Thianlie dan terus menghantam dengan kedua telapakan tangannya yang merah bagaikan darah.
Kawannya juga sudah loncat turun dan tanpa berkata suatu apa, ia menjotos Yoe Peng dengan tinjunya yang sebesar mangkok nasi.
Yoe Peng berkelit, tapi gerakan orang itu cepat luar biasa dan baru saja ia berkelit, punggungnya kembali sudah disambar kesiuran angin yang sangat tajam.
Orang itu adalah pembantu Hiatsintjoe, namanya Kok Sek Koen.
"manusia liar"
Dari gunung Tjiakdjie san.
Selain mempunyai ilmu weduk Kimtjiongto, tenaganya juga luar biasa besarnya dan sekali menjotos, ia dapat membinasakan seekor harimau.
Sesudah mendapat hajaran dari Phang Lin di atas Puncak Onta, sakit sekali hati Hiatsintjoe.
Oleh karena tak ungkulan melawan Phang Lin, lantas saja ia tumplekan sakit hatinya kepada Keng Thian.
Tanpa memperdulikan segala kesukaran, ia lalu pergi ke Tjiakdjie san untuk mengundang Kok Sek Koen guna menghadapi Keng Thian dan Peng Go.
Ketika itu, melihat Keng Thian tidak berada bersama Pengtjoan Thianlie, hati Hiatsintjoe jadi lebih besar lagi.
Sebagaimana di atas telah disebutkan, bahwa baru saja berkelit, Yoe Peng sudah merasakan sambaran angin di punggungnya.
Pukulan itu yang cepat bagaikan kilat, sudah tak dapat diegosi lagi.
Pengtjoan Thianlie yang sedang repot melayani musuhnya tak dapat menolong lagi.
"Celaka!"
Ia berteriak dengan hati mencelos.
Tapi, satu kejadian tak diduga-duga telah terjadi.
Bukannya Yoe Peng yang terkena pukulan, sebaliknya adalah Kok Sek Koen yang terhuyung beberapa tindak dan hampir-hampir jatuh terguling.
"Binatang! Apa kau mau cari mampus?"
Ia membentak.
Ternyata, pada detik yang sangat berbahaya, entah bagaimana, si penderita kusta sudah menggulingkan badannya dan tepat menghadang di antara Yoe Peng dan Kok Sek Koen, yang jadi sempoyongan karena dibentur badannya yang keras seperti batu.
Dengan mata merah, Sek Koen menendang sekeras-kerasnya.
"Celaka!"
Berteriak si pengemis sembari menggelindingkan badannya.
Sek Koen kaget bukan main lantaran tendangannya yang begitu cepat masih dapat dikelit oleh pengemis itu.
Pada saat ia bengong, tiga sinar dingin menyambar dan tiga jalan darahnya sudah kena dihantam Pengpok Sintan yang dilepaskan oleh Pengtjoan Thianlie.
Kok Sek Koen yang bertulang besi dan berkulit tembaga, tidak takut akan segala senjata rahasia.
Tapi Pengpok Sintan adalah lain dari yang lain.
Begitu kena, ia bergidik.
Dengan menggunakan kesempatan itu, Pengtjoan Thianlie putar Pengpok Hankong kiam untuk melindungi Yoe Peng.
Di lain pihak, si pengemis yang menggelinding pergi beberapa tombak jauhnya, sudah rebahrebahan di atas tanah dengan menggunakan sebuah batu besar sebagai bantal kepala.
Sambil membuka kedua matanya sedikit, ia menonton pertempuran itu.
"Sahabat dari mana yang barusan munculkan diri?"
Seru Hiatsintjoe. Si pengemis mengulet dan berkata dengan suara ogah-ogahan.
"Pintu kota kebakaran, sang ikan kekeringan. Tak bagus! Tak bagus!"
Hiatsintjoe gusar bukan main, badannya melesat ke arah si pengemis.
Tapi mendadak si pengemis sudah berguling pula dan menggelinding beberapa tombak jauhnya, akan kemudian tandalkan lagi kepalanya di atas sebuah batu.
Dengan sikap acuh tak acuh, ia menonton pertempuran itu.
Melihat gerak-gerik si pengemis, Hiatsintjoe kaget dan selagi ia mau mengubar untuk menurunkan tangan jahat, tiba-tiba ia mendengar jeritan Kok Sek Koen yang ternyata sudah terkena pedang Pengtjoan Thianlie.
Gwakang (tenaga luar) Kok Sek Koen sudah dilatih sampai di puncak kesempurnaan, akan tetapi, apa mau ia harus menghadapi Pengpok Hankong kiam, semacam senjata mustika yang satu-satunya di dalam dunia.
Meskipun pedang itu tidak dapat melukakan kulit musuh, akan tetapi hawanya yang luar biasa dinginnya sudah membikin Kok Sek Koen kelabakan.
Sesudah tiga kali kena tikaman, Kok Sek Koen yang tenaga dalamnya belum seberapa tinggi, sudah merasa seolaholah darahnya membeku, sehingga mau tidak mau, ia menjerit-jerit.
Waktu mengundang sahabatnya itu, Hiatsintjoe ingin menggunakan ia untuk menghadapi Tong Keng Thian.
Tapi tak dinyana, kawan yang berilmu weduk itu sudah kena ditindih dengan peluru es dan pedang es, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan kepandaiannya.
Dengan hati mendongkol, tanpa memperdulikan lagi si pengemis, buru-buru Hiatsintjoe menyerang Pengtjoan Thianlie untuk membantu kawannya.
Begitu lekas si Malaikat Darah menghantam tiga kali beruntun dengan telapak tangannya, hawa yang sangat panas segera menyambar-nyambar, sehingga Kok Sek Koen jadi bersemangat pula dan lalu bantu menyerang secara hebat.
Sekarang pertempuran berlangsung antara dua pasang musuh.
Pengtjoan Thianlie dengan Pengpok Hankong kiam yang dingin melawan Hiatsintjoe yang pukulannya panas.
Mengenai tenaga dalam, Hiatsintjoe lebih unggul setingkat daripada si nona, tapi dalam kiamhoat, Peng Go terlebih lihay daripada lawannya.
Masing-masing mempunyai keunggulan sendiri dan kekacekan antara mereka tidak seberapa besar.
Tapi tidak begitu dalam pasangan antara Kok Sek Koen dan Yoe Peng.
Baru saja bertempur setengah jam, sedang Pengtjoan Thianlie masih dapat berkelahi dengan penuh semangat, adalah Yoe Peng yang sudah tersengal-sengal napasnya.
Sesudah lewat lagi beberapa jurus, sambil membentak keras, tangan kanan Hiatsintjoe menghantam kepala Pengtjoan Thianlie dengan pukulan Soathoa kayteng (Kembang salju jatuh di kepala), sehingga si nona terpaksa mundur setindak sambil membabat dengan pedangnya.
Pada detik itulah, yaitu pada waktu Peng Go berpisah dengan budaknya, tangan kiri Hiatsintjoe mendadak menyambar ke arah kepala Yoe Peng.
Pukulan itu sedemikian cepatnya, sehingga Yoe Peng jadi seperti orang kesima.
Pada saat yang saat berbahaya, mendadak saja ia merasakan betisnya dipeluk orang dan ditarik ke belakang, sehingga ia jadi terguling.
Pada betisnya, ia lihat dua bekas telapak tangan berlumpur yang basah, sedang si pengemis lagi tidur meringkuk di tengah jalan.
Sekarang ia tahu, bahwa orang yang barusan sudah menolong jiwanya adalah si pengemis kusta.
Mengingat, bahwa betisnya itu telah dicekal tangan yang penuh bisul, uluhatinya menjadi 'nak dan tanpa tercegah ia jadi muntah.
Melihat sepak terjang si pengemis, Kok Sek Koen jadi gusar bukan main.
"Pengemis bau!"
Ia membentak.
"Kau sengaja mau merintangi kami?"
Sehabis membentak, ia kirimkan tendangan Lianhoan toei (tendangan berantai) Si pengemis yang tadi meram-melek, tiba-tiba saja bangun berduduk dengan gerakan Lcehic tahteng (Ikan gabus meletik).
"Eh, apa tempat ini milik bapakmu?"
Ia membentak.
"Aku senang tidur disini, anak Allah (kaizar) pun tak dapat melarangnya."
Sehabis membentak, ia menyemburkan ludahnya. Kuatir kesembur ludah, Kok Sek Koen buru-buru loncat minggir.
"Awas!"
Demikian teriakan Hiatsintjoe.
Kok Sek Koen sama sekali tidak mengimpi, bahwa senjata rahasia si penderita kusta tersimpan dalam ludahnya.
Sekonyong-konyong pundaknya gatal dan di lain saat, matanya berkunangkunang.
Cepat bagaikan kilat, pengemis itu bergulingan sambil membabat dengan tongkat besinya dan tak ampun lagi, badan Kok Sek Koen yang tinggi besar rubuh bagaikan pohon ditebang.
Pengpok Hankong kiam menyambar dan menikam manusia weduk itu.
Selagi Peng Go menikam Kok Seng Koen, Hiatsintjoe sudah bergebrak dengan pengemis itu.
Dengan gemas, Hiatsintjoe menurunkan pukulan yang membinasakan dengan kedua tangannya, tangan kanan mencengkeram tenggorokan, tangan kirinya menghantam dada.
Selagi mau menyampok dengan tongkatnya, mendadak pengemis itu merasakan menyerangnya hawa yang sangat panas, sehingga ia sukar bernapas.
"Celaka!"
Ia berseru, badannya kena disampok dan "plung!", ia kecebur dalam kobakan di bawah jurang.
Buru-buru Pengtjoan Thianlie memburu dan mengirim beberapa serangan hebat.
Mendadak, paras muka Hiatsintjoe berubah, sedang dari atas kepalanya keluar uap putih.
Dengan sekali menjejek kaki, badannya melesat ke atas dan terus kabur mendaki gunung, tanpa memperdulikan lagi nasib kawannya.
Pengtjoan Thianlie merasa sangat heran, ia tidak mengerti kenapa Hiatsintjoe lantas melarikan diri.
Ia mengawasi ke arah kobakan dan mendadak sadja ia jadi terpaku bahna kagetnya.
Si pengemis yang barusan kecemplung, ternyata sedang duduk di atas batu dengan tidak memakai baju.
Apa yang membikin si nona jadi kesima adalah.
Kulit badan dan mukanya yang bisulan sudah berubah licin, sepuluh jerijinya yang bengkak-bengkok sudah menjadi lempeng, sedang mukanya yang bersinar merah sudah berubah menjadi putih!
Meskipun ia tidak secakap Tong Keng Thian, tapi toh ia bukan seorang pemuda yang jelek romannya.
Sekonyong-konyong Yoe Peng mengeluarkan teriakan kaget sambil menuding ke satu jurusan.
Yang membikin Yoe Peng berteriak ternyata adalah Kok Sek Koen yang lengannya bengkak sebesar timba air, mukanya berwarna hitam, sedang mulutnya mengeluarkan rintihan yang menyayatkan hati.
Dilihat dari tanda-tandanya, ia seperti juga kena digigit ular yang sangat berbisa.
Sesaat kemudian, ia bergulingan, mulutnya menggigit rumput dan kedua tangannya mencengkeram tanah.
Melihat begitu, Pengtjoan Thianlie merasa tak tega.
Ia pungut sebutir batu dan menimpuk jalan darah Kok Sek Koen yang membinasakan.
Si pengemis tertawa terbahak-bahak.
"Yang mujur adalah Hiatsintjoe,"
Katanya.
"Siapakah kau?"
Tanya Peng Go Sekali mengenjot badan, pengemis itu sudah hinggap di atas tanah datar dan sesudah memungut tongkat besinya yang berwarna hitam, ia menyahut sembari nyengir.
"Aku adalah seorang penderita kusta yang romannya seperti memedi!"
Waktu mempelajari buku obat-obatan bangsa Han, Peng Go pernah membaca penuturan tentang penyakit itu.
"Apa? Penyakit kusta?"
Ia menegasi.
Si pengemis tidak menjawab pertanyaan itu.
Dengan kedua tangan, ia mencekal tongkatnya yang kemudian ditarik.
Dengan satu suara "srt", tercabutlah sebatang pedang yang hitam mengkilap.
Ia tunggingkan tongkat besi itu (atau lebih benar sarung pedang) dan dengan telapak tangannya, ia menadah semacam bubuk yang keluar dari dalamnya.
Sesudah itu, ia mengusap mukanya.
Hampir berbareng, Yoe Peng mengeluarkan teriakan kaget.
Pengemis itu yang barusan saja berparas cakap dan berkulit licin, sudah pulang asal menjadi penderita kusta yang mukanya bersinar merah.
Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya.
"Sesudah memperlihatkan mukamu yang sejati, guna apa kau main gila lagi?"
Kata si nona.
Si nona ternyata sudah dapat menebak, bahwa tanda-tanda penyakit kusta itu adalah buatan belaka dengan mengerahkan tenaga dalam, sehingga otot-ototnya pada menonjol keluar, seolaholah bisul penyakit kusta.
Peng Go juga mengetahui, bahwa sinar merah pada mukanya adalah akibat semacam sepuhan yang disimpan dalam sarung pedangnya.
Si pengemis menyapu dengan kedua matanya yang tajam.
Mendadak ia mengeluarkan tertawa aneh.
"Apa artinya muka yang sejati?"
Ia tanya.
"Tahukah kau, bagaimana mukaku yang sejati?"
Tiba-tiba ia loncat dan menikam si nona dengan pedangnya. Itulah serangan yang tidak diduga-duga! "Kenapa kau menyerang?"
Membentak Peng Go.
Tanpa menyahut, si pengemis mengirim tiga serangan, serangan yang sangat hebat.
Selama hidupnya, Pengtjoan Thianlie sering mengalami kejadian yang luar biasa.
Akan tetapi, kejadian pada hari itu adalah pengalamannya yang paling aneh.
Dengan mempunyai ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, hampir-hampir Peng Go tak dapat mengelit tiga serangan itu.
"Kongtjoe! Cabutlah senjata!"
Berseru Yoe Peng.
Dengan gerakan Djieyan tjoanliam (Anak walet menembus tirai), Peng Go mengegos empat lima serangan.
Waktu serangan ke enam menyambar, Pengpok Hankong kiam sudah terhunus dan bagaikan kilat, Pengtjoan Thianlie melakukan serangan pembalasan.
Si pengemis bergidik akan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Maksudku adalah untuk berkenalan dengan pedang mustikamu,"
Katanya sembari menyerang terlebih hebat.
Pengemis itu ternyata mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya.
Saban kali kedua senjata berbentrok, Peng Go selalu merasa lengannya pegal.
Ia kaget berbareng heran, ketika mendapat kenyataan, bahwa ilmu silat orang itu tidak berada di sebelah bawahnya ataupun Keng Thian.
Dengan cepat ia mengempos semangat dan melayani dengan terutama menggunakan ilmu mengentengkan badan dan menjaga, supaya pedangnya tidak kebentrok pedang si pengemis.
Pengpok Hankong kiam berkelebat-kelebat bagaikan titiran, seolah-olah berubah menjadi puluhan pedang.
Hawa yang luar biasa dinginnya meliputi mereka berdua, sehingga orang yang ilmu silatnya kurang tinggi tentu sudah roboh kedinginan, meskipun tidak ketikam pedang.
Si pengemis kusta seperti juga tidak merasakan hawa dingin itu.
Ia tertawa terbahak-bahak seraya berteriak.
"Bagus! Bagus! Hawa memang sedang panas."
Dengan cepat mereka sudah bertempur kurang lebih lima puluh jurus, tanpa ada yang keteter.
"Orang ini tentu mempunyai asal-usul luar biasa,"
Pikir Pengtjoan Thianlie.
"Untuk apa aku bertempur mati-matian?"
Berpikir begitu, si nona lantas saja menyerang dengan pukulan-pukulan simpanan dari Tatmo Kiamhoat dan akhirnya, dengan pukulan Gioklie tauwso (Dewi menenun), Pengpok Hankong kiam berhasil memapas rambut si pengemis.
Tapi pada saat itu juga, berbareng dengan suara "trang!", pedang Pengtjoan Thianlie terbang ke atas udara!
Ternyata, kedua belah pihak mempunyai pikiran yang sama.
Masing-masing ingin menghentikan pertempuran, begitu lekas sudah berhasil memperlihatkan keunggulannya.
Dalam gebrakan itu, gerakan Pengtjoan Thianlie agak lebih cepat dari lawannya, tapi si pengemis mempunyai tenaga dalam yang lebih besar, sehingga ia berhasil melontarkan pedang si nona.
Yoe Peng terkesiap.
"Binatang!"
Ia membentak.
"Benar kau tak mengenal budi. Kebaikan dibalas dengan kejahatan!"
Si penderita kusta tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba mulutnya menyembur dan dua titik hitam sebesar kacang kedele, menyambar Yoe Peng.
Hati Pengtjoan Thianlie mencelos, ia sudah tak keburu menolong lagi.
Pada saat itu, sedapat mungkin Yoe Peng berkelit, tapi tak urung rambutnya terpapas juga.
Dengan sekali meloncat, Peng Go sudah berhasil menyambut pedangnya yang sedang melayang jatuh.
Selagi ia hendak menyerang pula, sekonyong-konyong si pengemis menangis, semakin lama semakin sedih dan keras.
"Eh, kenapa engkau?"
Tanya Peng Go akhir-akhirnya.
Tanpa menyahut, pengemis itu memasukkan pedang besinya ke dalam sarung yang berupa tongkat besi itu, dan kemudian terpincang-pincang, ia pergi ke solokan untuk mencuci mukanya.
Di lain saat, sinar merah yang menakutkan sudah hilang dari mukanya dan pada kulitnya pun tidak terlihat lagi bisul-bisul yang menjijikan.
Ia berdiri tegak dengan paras mukanya yang cakap dan angker.
Mendadak ia menyoja dan berkata.
"Untukmu, aku sudah melangggar sumpahku. Dalam dunia ini, kau adalah manusia pertama yang tidak membenci diriku. Kalian pergilah!"
"Apa artinya perkataanmu itu?"
Tanya si nona.
"Aku pernah bersumpah untuk memusuhi semua manusia yang ilmu silatnya tinggi,"
Jawabnya.
"Kau dan aku adalah setanding. Sebenarnya aku ingin berkelahi terus sampai ada keputusan, tapi sekarang aku mengurungkan niatan itu."
"Kenapa?"
Tanya si nona.
"Karena kau tidak membenci aku,"
Sahutnya.
"Aku tak percaya,"
Kata Peng Go.
"Aku sama sekali tidak percaya, bahwa selain aku, semua orang membenci kau."
"Kecuali jika Lu Soe Nio masih hidup dalam dunia ini,"
Kata si pengemis.
"Menurut Soehoe (guru), dalam dunia ini hanya Lu Soe Nio yang tidak membenci kusta."
Dari mendiang ayahnya, si nona pun pernah mendengar nama Lu Soe Nio, seorang pendekar wanita yang dianggap sebagai ahli silat nomor satu di jaman itu.
Ia menjadi heran karena ia tidak mengerti, ada hubungan apa antara Lu Soe Nio dan pengemis itu.
"Bagaimana kau tahu, bahwa ia tidak membenci penderita kusta?"
Tanya Peng Go.
"Selain itu, bukankah kau sendiri sebenarnya tidak menderita penyakit kusta!"
Si pengemis menyusut air matanya, akan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Perkataan guruku, mana bisa palsu?"
Katanya.
"Di dalam dunia, hanya ia yang tidak membenci penderita kusta. Tidak! Sekarang ditambah dengan kau dan dalam dunia ini hanya dua orang yang tak membenci si sakit kusta."
"Terang-terang kau tidak menderita penyakit kusta,"
Kata pula si nona.
"Apakah gurumu seorang penderita kusta?"
"Aku dan guruku adalah sama saja,"
Sahutnya.
"Jika tak ada guruku, siang-siang aku sudah mati di pinggir jalan, tanpa diperdulikan siapapun juga."
Koei Peng Go tergoncang hatinya.
Ia ingat, bahwa menurut kitab ketabiban, kusta adalah penyakit yang tidak mungkin dapat disembuhkan.
Didengar dari keterangan si pengemis, gurunya seperti juga seorang yang pernah menderita penyakit itu dan yang belakangan sudah menjadi sembuh.
Hatinya jadi semakin heran dan ia sungkan melepaskan orang itu dengan begitu saja.
"Siapa gurumu?"
Tanya pula si nona. Pengemis itu mendelik.
"Aku juga tak tahu, guruku siapa,"
Sahutnya.
"Mana bisa begitu?"
Pengtjoan Thianlie mendesak.
"Apakah bocah yang baru berusia tiga empat tahun, bisa mengerti segala urusan?"
Pengemis itu berbalik menanya.
"Ha?"
Apakah kau mau mengartikan, bahwa kau sudah masuk dalam rumah perguruan sedari usia tiga empat tahun?' tanya Peng Go lagi.
"Benar,"
Jawabnya.
"Baru saja aku belajar mendaki gunung sembari merangkak, guruku sudah meninggal dunia,"
Pengtjoan Thianlie memanggut-manggutkan kepalanya.
"Sungguh kasihan!"
Katanya. Mendadak paras muka si pengemis berubah.
"Aku tak sudi dikasihani orang!"
Ia membentak sembari mengangkat tongkatnya, tapi sesaat kemudian, senjata itu diturunkan pula dengan perlahan.
Pengtjoan Thianlie mengawasi dengan mata tajam dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Gurumu..."
Sebenarnya ia ingin berkata begini.
"Jika benar gurumu sudah meninggal dunia ketika kau baru berusia tiga empat tahun, dari mana kau mendapat ilmu silat yang begitu tinggi?"
Tapi ia tak dapat menanya terus, karena si pengemis sudah mendelik lagi dan berteriak.
"Aku tak memperkenankan manusia yang mengasihani penderita kusta, menyebut-nyebut pula nama guruku!' "
Kongtjoe, marilah kita berangkat!"
Kata Yoe Peng yang sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi. Pengtjoan Thianlie menggoyangkan tangannya dan dengan suara lemah lembut menanya pula.
"Siapa namamu? Apa boleh aku majukan pertanyaan itu?"
Pengemis itu mengawasi si nona dan menghela napas panjang. Ia menundukkan kepalanya dan menjawab dengan suara perlahan.
"Kau adalah orang pertama yang menanyakan namaku. Baiklah. Aku bersedia memberitahukannya. Namaku Kim Sie Ie, nama pemberian guruku."
Begitu mendengar, Peng Go mengetahui, bahwa "Kim Sie Ie"
Yang berarti "Peninggalan jaman emas"
Sama diucapkannya dengan "kim sie ie"
Yang berarti "disia-siakan atau diasingkan seluruh penghidupannya."
Kata si nona di dalam hatinya.
"Jika ia seorang penderita kusta yang belum sembuh dari penyakitnya, menurut kebiasaan orang Han, memang ia harus diasingkan seluruh masa hidupnya."
Sesudah memberitahukan namanya, Kim Sie Ie terus mengawasi Peng Go.
"Kemana kau mau pergi?"
Tanya si nona.
"Kemana kau pergi, kesitu aku juga pergi,"
Jawabnya.
"Kemana kau mau pergi?"
"Ke Soetjoan barat,"
Jawabnya.
"Kalau begitu, aku pun ke Soetjoan barat,"
Kata Kim Sie le.
"Apakah kau kenal jalan?"
Pengtjoan Thianlie sebenarnya tak ingin berjalan bersama-sama pemuda itu, tapi ia tidak bisa berdusta.
"Aku sudah tanya-tanya,"
Sahutnya.
"Sesudah lewat gunung ini, aku tak tahu jalan lagi."
"Jika begitu, apa boleh aku menyertai kalian?"
Tanya pemuda itu.
Yoe Peng mendongkol sekali, ia mengawasi majikannya.
Tapi Pengtjoan Thianlie yang penuh welas asih merasa kasihan kepadanya dan juga kuatir, jika pemuda itu nanti salah mengerti, kalau ia menolak.
Maka itu, lantas saja ia menyahut dengan suara perlahan.
"Baiklah."
"Begitu turun dari gunung ini, kita akan bertemu dengan rumah-rumah penduduk,"
Kata Yoe Peng.
"Siauwkongtjoe, bagaimana kita dapat jalan bersama-sama dia?"
Pengtjoan Thianlie yang tadi bicara dengan hati setulusnya, menjadi sadar begitu mendengar perkataan dayangnya.
Pengemis yang berdiri di hadapannya, tidak berbaju, sedang celananya yang rombeng terbuat dari selembar karung.
Sungguh tak pantas untuk seorang gadis seperti ia berjalan bersama-sama dengan pengemis itu.
Kim Sie le tertawa terbahak-bahak.
"Kau mencela pakaianku yang rombeng?"
Katanya sembari memutarkan badan dan di lain saat, ia sudah lari seperti terbang dan segera lenyap dari pemandangan.
"Kau lihat!"
Kata Peng Go dengan suara menyesal.
"Tanpa sebab, tanpa lantaran, kita kembali menanam bibit permusuhan."
"Siauwkongtjoe,"
Kata si pelayan.
"Melihat dia saja, nyaliku sudah ciut."
"Ya,"
Kata si nona sesudah berselang beberapa saat.
"Baik juga aku dulu-dulu tidak mengenal penyakit itu. Jika aku sudah tahu, mungkin sekali aku juga akan jadi ketakutan."
Ia sungguh tidak mengerti, kenapa Kim Sie Ie berkelakuan begitu aneh.
Ia memutar otak, tapi tidak dapat memecahkan teka-teki di sekitar si pengemis yang luar biasa.
*** Di sekitar gunung Tjiakdjie san terdapat banyak sekali puncak-puncak yang menjulang ke atas bagaikan gigi anjing.
Selama berada di bagian tertinggi dari gunung itu, dunia dirasakan sempit dan berjalan di antara pohon-pohon besar, orang akan mendapat perasaan menyeramkan.
Sesudah melewati puncak tertinggi itu, baru orang akan tiba di tempat terbuka, darimana ia dapat memandang puncak-puncak yang lebih rendah dan kelihatan seolah-olah kambing-kambing berbulu putih.
Melihat pemandangan yang indah itu, semangat Yoe Peng jadi terbangun.
"Untung juga kita sudah melepaskan diri dari si kusta yang menyebalkan,"
Katanya sembari tertawa dan bertepuk tangan.
"Jika ia masih berada disini, pemandangan yang begini indah seperti juga dikotorkan olehnya."
"Dia toh sebenarnya tidak mendapat penyakit itu,"
Kata sang majikan sembari tertawa.
"Dia sama sekali tidak mengganggu kita, kenapa kau begitu jengkel terhadapnya?"
"Aku sebal melihat tingkah lakunya yang aneh,"
Kata pula Yoe Peng.
"Mana bisa dia dibandingkan dengan Tong Siangkong."
Mendengar sang dayang menyebutkan Tong Keng Thian, tanpa sadar si nona menghela napas panjang.
Sesudah berjalan lagi kira-kira dua jam, mereka sudah melewati selat gunung di sebelah selatan dan rumah-rumah penduduk sudah terlihat di depan mata.
Yoe Peng jadi semakin gembira.
"Ah! Berjalan di jalan gunung selama beberapa hari ini, sungguh-sungguh menyesakkan dadaku,"
Katanya.
"Sungguh menyebalkan terus menerus makan daging kambing bakar."
Pengtjoan Thianlie mesem mendengar perkataan dayangnya. Tiba-tiba ia menuding ke sebelah depan seraya berkata.
"Coba lihat, siapa itu?"
Yoe Peng mengawasi ke arah yang ditunjuk majikannya.
Di lereng gunung tiba-tiba muncul seorang yang mengenakan pakaian berwarna hijau, sedang kepalanya dibungkus dengan ikat kepala pasegi.
Beberapa saat kemudian, mereka kenali, bahwa orang itu bukan lain daripada Kim Sie Ie!
Yoe Peng mendeluh, ia melengoskan mukanya.
"Kenapa kau kembali lagi?"
Tanya si nona sembari mesem, sesudah Kim Sie Ie datang dekat.
"Sang Budha harus mengenakan pakaian bersalut emas, manusia harus berpakaian rapi,"
Jawabnya.
"Karena kau mencela aku, tak ada jalan lain daripada mencuri pakaian supaya aku dapat berjalan bersama-sama kau."
"Hm! Tak nyana, kau juga bisa menjadi pencuri,"
Kata Peng Go sembari tertawa.
"Benar,"
Kata Kim Sie Ie.
"Aku juga sudah mencuri lain macam barang. Apa kau mau?"
Sehabis berkata begitu, dari kantong yang menggemblok di punggungnya, ia mengeluarkan rantang makanan yang terisi empat macam sayur dan nasi putih. Si nona menyambuti rantang itu dan berkata.
"Terima kasih."
Ia membagi separoh makanan itu kepada Yoe Peng, tapi si dayang menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak, aku tak mau."
Meskipun mengetahui, bahwa Kim Sie Ie tidak berpenyakit kusta, Yoe Peng tak dapat menyingkirkan perasaan jijiknya.
Selagi majikannya makan, ia sendiri lalu memetik beberapa buah dari pohon yang tumbuh di pinggir jalan.
Melihat si nona makan santapan yang disuguhkan olehnya dengan enak sekali, sorot mata Kim Sie Ie memperlihatkan sinar berterima kasih dan dua butir air mata turun di kedua pipinya.
Selama dua hari mengikuti Pengtjoan Thianlie, Kim Sie Ie tidak memperlihatkan lagak gila-gila lagi.
Di sepanjang jalan, ia bercakap-cakap sembari tertawa-tawa, tempo-tempo menceritakan kejadian aneh dalam kalangan Kangouw.
Tapi, begitu lekas si nona coba menyelidiki asal-usulnya, ia bungkam dalam seribu bahasa, sehingga Peng Go merasa tidak enak untuk mendesak.
Hari itu, mereka tiba di sebuah kota kecil, di sebelah selatan Tjiakdjie san.
Di sepanjang jalan, orang-orang yang berpapasan dengan mereka, selalu mengawaskan dengan sorot mata heran, sehingga Yoe Peng merasa sangat tidak enak dan diam-diam menyesalkan majikannya yang sudah mau berjalan bersama-sama pengemis itu.
Selagi enak berjalan, tiba-tiba Kim Sie Ie berkata.
"Disini aku mempunyai seorang sahabat. Mari kita mengunjungi ia."
"Kami tidak mengenal sahabatmu itu,"
Kata Yoe Peng.
"Kau pergilah sendiri."
Tapi Pengtjoan Thianlie berpikir lain, ia ingin mengetahui, siapa sahabat orang aneh itu.
"Sudah ketelanjur kita berjalan bersama-sama, rasanya baik juga aku berkenalan dengan sahabatmu itu,"
Katanya sembari tertawa.
Yoe Peng mendongkol bukan main, tapi ia tak dapat membantah kemauan nonanya.
Sesudah berjalan mengikuti Kim Sie Ie beberapa lama, mereka tiba di depan sebuah gedung yang pintunya dicat merah.
Kim Sie Ie memanggil-manggil beberapa kali, tapi tak ada yang menyahut.
Entah dengan menggunakan ilmu apa, dalam sekejap saja ia dapat membuka pintu itu dan di lain saat, dari dalam keluar seorang pemuda.
Paras muka pemuda itu, yang mengenakan baju makwa, tenang dan agung, sehingga Peng Go merasa heran melihat si pengemis punya sahabat serupa pemuda itu.
Begitu keluar, pemuda itu menyapu mereka bertiga dengan sorot mata heran.
Sesaat kemudian, ia merangkap kedua tangannya dan berkata sembari tertawa.
"Maaf, aku tidak mengenali Hengtay (saudara). Apakah sudah lama Hengtay datang disini?"
Mendengar pertanyaan itu, Pengtjoan Thianlie terkejut. Lagi-lagi Kim Sie Ie mengeluarkan lagak-lagaknya yang gila-gila! "Aku datang untuk menemui Tong Djiesianseng,"
Kata Kim Sie Ie.
"Siapa mau bertemu dengan kau?"
Sekali lagi Peng Go terkejut. Tong Djiesianseng? Nama itu agak tak asing baginya.
"Mendiang kakekku sudah meninggal dunia lama sekali,"
Jawab si pemuda.
"Apa? Tong Djiesianseng sudah meninggal dunia?"
Kim Sie Ie menegasi.
"Sayang! Sungguh sayang! Apakah kau masih mempunyai anggauta keluarga yang tingkatannya tua?"
"Kakek dan pamanku sudah pada meninggal,"
Jawabnya.
"Tak ada orang lagi yang dapat melayani kau."
"Mana bisa? Apakah semua orang, laki-laki dan perempuan, dari tingkatan lebih tua sudah pada mati seanteronya?"
Tanya si pengemis secara kurang ajar sekali. Meskipun terdidik baik, mau tak mau, pemuda itu menjadi gusar.
"Yang tingkatannya lebih tua dalam keluarga kami hanya ketinggalan Kouwkouw (bibi),"
Sahutnya dengan suara mendongkol.
"Ia sudah tua dan berpenyakitan, sudah beberapa tahun, ia tidak pernah keluar pintu/' "Bagus!"
Kata Kim Sie Ie.
"Coba panggil Kouwkouw-mu."
Pemuda itu tercengang. Sedikitpun ia tidak nyana, tetamu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang sedemikian kurang ajar.
"Dua tahun berselang, ketika Moh Tjoan Seng Loopeh datang berkunjung, Kouwkouw-ku juga tidak keluar menyambut,"
Katanya dengan suara dingin.
"Dengan sebenar-benarnya ia sakit dan bukan tidak sudi menemui tamu. Jika mungkin, beritahukan saja kepadaku she dan nama tuan, supaya aku dapat menyampaikan kepada Kouwkouw. Maafkanlah, siauwtee (adik) tak dapat mengantar kalian."
Ia menyoja, sebagai suatu tanda, bahwa ia tak dapat melayani lagi terlebih lama.
Pengtjoan Thianlie terkejut.
Moh Tjoan Seng yang disebutkan oleh pemuda itu adalah paman yang ia sedang cari.
Harus diketahui, bahwa pada jaman itu, Moh Tjoan Seng adalah pemimpin Rimba Persilatan di wilayah Tionggoan.
Cobalah pikir.
Jika seorang sebagai Moh Tjoan Seng masih belum mendapat kehormatan untuk disambut oleh Kouwkouw pemuda itu, bukankah permintaan Kim Sie Ie berarti, bahwa ia sungguh tak tahu diri?
Sementara itu, paras muka Kim Sie Ie sudah berubah.
"Apakah kau mau mengusir tamu?"
Tanyanya dengan suara aseran.
"Mana aku berani? Mana berani? Maaf, harap dimaafkan,"
Jawab si pemuda, tapi kedua tangannya tetap membuat gerakan seperti sedang mengantar tamu keluar.
Kim Sie Ie tertawa berkakakan.
Tiba-tiba ia mengusap mukanya.
Di lain saat, parasnya bersinar merah, mukanya penuh dengan daging yang menonjol keluar seperti bisul dan di kedua lengannya pun muncul bisul-bisul yang menjijikkan.
Pemuda itu mencelos hatinya.
"Kau! Kau!"
Ia berteriak.
"Fui!"
Kim Sie Ie menyemburkan ludah ke muka pemuda itu dan tangannya bergerak, sehingga pemuda tersebut jatuh terpelanting. Ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Kau mau mengusir aku, aku justru tak mau pergi! Tong Lootaypo! Aku mau melihat, apakah kau mau keluar atau tidak!' "
Sungguh jempol! Sungguh tinggi ilmu itu!"
Demikian terdengar suara seorang tua.
Beberapa saat kemudian, seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, muncul dengan dipepayang seorang pelayan wanita.
Pemuda yang barusan dirobohkan Kim Sie Ie meloncat bangun dan berseru sambil menuding pengemis itu.
"Kouwkouw! Pengemis jahat itu mau juga menemui kau."
"Bagaimana kau harus berbuat jika menghadapi anjing gila?"
Kata si nenek.
"Apa kau tak tahu? Ambil busurku!"
Begitu berbicara, sikap nenek itu berubah.
Kalau barusan ia kelihatan lemah dan tidak berdaya, sekarang ia berubah angker dan garang.
Ia menyambuti sebuah busur yang disodorkan pelayannya dan berbareng dengan suara menjepret, belasan peluru menyambar susul menyusul.
Kim Sie Ie tertawa besar.
"Sungguh beruntung hari ini aku dapat menyaksikan senjata rahasia dari keluarga Tong!"
Ia berseru sambil loncat dan memutarkan tongkatnya bagaikan titiran.
Pengtjoan Thianlie jadi seperti orang kesima.
Dua belas peluru itu menyambar dengan macammacam cara-ada yang lurus menyambarnya, ada yang miring, ada yang lebih dulu berbentrok satu dengan yang lain, kemudian baru menyambar sasarannya, seperti bola bilyar --dan anehnya, setiap peluru itu menyambar ke arah jalan darah Kim Sie Ie yang besar!
Cara melepaskan senjata rahasia itu sungguh tiada keduanya dalam Rimba Persilatan!
Tapi Kim Sie Ie agaknya juga sudah mempunyai persiapan.
Dengan disertai suara "tring-tring!"
Dan meletiknya api, tongkatnya yang diputar luar biasa cepatnya, sudah berhasil mementalkan dua belas peluru itu.
Tapi walaupun berhasil, tak urung Kim Sie Ie mengeluarkan juga keringat dingin.
Tongkat besinya penuh titik-titik akibat hantaman peluru-peluru itu.
Ia sekarang mendapat bukti, bahwa meskipun tua, tenaga dalam nenek itu tidak berada di sebelah bawahnya.
"Bagus!"
Seru si nenek.
"Muda-muda tak sayang diri. Sungguh sayang!"
Busur menjepret lagi, tapi kali ini berbeda dengan yang pertama.
Jika tadi peluru-peluru itu menyambar dengan bunyi nyaring, kali ini menyambarnya tidak bersuara.
Peluru-peluru itu melayang dalam empat kelompok, setiap kelompok terdiri dari tiga butir peluru.
Mereka menyambar dari empat penjuru dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Begitu mendekati sasaran, kelompok yang di belakang tiba-tiba seakan-akan menambah kecepatannya dan melombai kelompok yang di sebelah depan.
Di lain saat, bagaikan hujan peluru-peluru itu menyambar tubuh Kim Sie Ie dengan serentak!
"Senjata rahasia keluarga Tong benar-benar hebat!"
Teriak Kim Sie Ie yang lantas saja jungkir balik beberapa kali di atas tanah.
"Kau pun boleh coba merasakan senjata rahasiaku!"
Ia berseru sembari meloncat dan menyemburkan ludahnya.
Pengtjoan Thianlie terkesiap.
Melihat senjata rahasia si nenek, ia segera mengetahui, bahwa ia tentu bukan lain daripada Tong Say Hoa yang namanya pernah disebut-sebut Tong Keng Thian.
Beberapa puluh tahun berselang, nama nenek itu telah menggetarkan seluruh dunia Kangouw dan ia adalah puteri tunggal Tong Kim Hong, seorang ahli senjata rahasia nomor satu di jamannya.
Tong Kim Hong adalah putera kedua dalam keluarganya dan oleh karena itu, belakangan ia dikenal sebagai Tong Djiesianseng.
Dulu, Tong Kim Hong dan puterinya pernah berbentrok dengan kedua orang tua Tong Keng Thian dan dengan bantuan Lu Soe Nio, baru sengketa itu dapat diselesaikan.
Liong Leng Kiauw adalah murid penutup dari Tong Kim Hong dan menjadi Soetee Tong Say Hoa.
Dalam perjalanan ke Soetjoan untuk sekalian menyelidiki soalnya Liong Leng Kiauw, orang yang ingin dicari oleh Keng Thian adalah nenek itu.
Maka, demi mengetahui asal-usul si nenek, Pengtjoan Thianlie terkejut ketika melihat Kim Sie Ie menggunakan senjata rahasianya yang mengandung racun.
Tanpa berpikir lagi, ia menghunus pedangnya dan sembari meloncat, menikam jalan darah Hiankie hiat, di dada Kim Sie Ie, dengan tujuan supaya pengemis itu batal melepaskan senjata rahasianya.
Di lain detik, berbareng dengan suara mengaung yang sangat keras, busur Tong Say Hoa berbentrok dengan tongkat si pengemis dan sebagai akibatnya, lima helai tali busur itu putus, sedang tongkat besi si pengemis terpental ke tengah udara.
Hampir berbareng dengan itu, baju Kim Sie Ie, di bagian dada, dirobek ujung pedang Pengtjoan Thianlie.
"Bagus!"
Seru Kim Sie Ie sembari loncat menyambut tongkatnya yang sedang melayang turun, dan sesudah itu, ia kabur bagaikan terbang.
"Kau benar manusia kejam!"
Seru Peng Go dengan gusar sekali.
"Lain kali jangan kau menemui aku lagi."
Si pengemis tidak menyahut, ia kabur terus sesudah melompati tembok.
Untuk sesaat, Koei Peng Go berdiri terpaku.
Dengan mata mendelong, ia mengawasi punggung si pengemis yang sedang kabur.
Ia tak tahu, apakah ia harus gusar, apakah ia merasa sayang melihat perbuatan pemuda yang berkepandaian tinggi itu atau bersimpati kepadanya.
Dengan paras muka gusar, Tong Say Hoa melemparkan busurnya yang rusak.
"Nona yang cantik, apakah kau datang bersama-sama ia?"
Tanyanya.
"Moh Tjoan Seng adalah Pehpeh-ku,"
Jawabnya dengan menyimpang. Si nenek kelihatan heran.
"Hm!"
Ia menggerendeng.
"Kau keponakan Moh Tjoan Seng? Bagaimana kau bisa berada bersama-sama seorang pengemis penderita kusta?"
Di waktu mengucapkan kata-kata "pengemis penderita kusta,"
Suaranya mengandung kegusaran dan penghinaan hebat.
Pengtjoan Thianlie sebenarnya belum menganggap Kim Sie Ie sebagai sahabatnya, akan tetapi, entah kenapa, begitu mendengar nada suara dan melihat sikap si nenek, hatinya lantas saja menjadi kurang senang.
Maka itu, ia hanya memberi jawaban pendek dengan suara tawar.
"Aku menjumpainya di tengah jalan."
Tiba-tiba ia melihat sinar hitam pada muka Tong Say Hoa.
"Tong Pehbo!"
Ia berseru dengan suara kaget.
"Kau terkena senjata rahasianya!"
Mengingat hebatnya racun senjata si pengemis, ia bergidik dan segala rasa simpatinya lantas saja hilang seperti ditiup angin.
"Aku tak nyana, ia seperti juga anjing gila yang menggigit setiap orang yang dijumpainya!"
Katanya dengan suara gusar.
"Apakah tadinya menganggap dia manusia baik-baik?"
Tanya si nenek sembari tertawa dingin. Si nona mengerutkan alisnya.
"Pehbo,"
Katanya "Apakah kau sudi menggunakan obatku untuk memunahkan racun?"
Pemuda keponakan Tong Say Hoa, yang kelihatannya merasa suka terhadap Peng Go dan yang sedari tadi berdiri di dekat bibinya, lantas saja berkata.
"Nona, terima kasih untuk kebaikanmu. Untung ada kau yang sudah bantu mengusir dia. Kau mempunyai obat mustajab?"
"Obat itu dibuat olehku sendiri,"
Jawab Peng Go.
"Meskipun tidak dapat dipersamakan dengan Thiansan Soatlian, tapi boleh juga untuk memunahkan racun. Tapi aku tak tahu, apakah obat itu berguna terhadap racun senjata rahasia pengemis itu."
Oleh karena sedari kecil sehingga besar dipelihara dalam keraton es yang terasing dari dunia luar, Peng Go tidak mengetahui, bahwa ia harus menjalankan peradatan terhadap Tong Say Hoa sebagai seorang yang tingkatannya lebih rendah terhadap orang yang tingkatannya tinggi.
Selain itu, iapun tidak menjawab dengan kata-kata yang tepat terhadap pernyataan terima kasih pemuda itu, ditambah pula dengan sikapnya yang angkuh, ia sudah membikin Tong Say Hoa jadi lebih mendongkol.
Tanpa sadar, bahwa sikapnya sudah menerbitkan salah mengerti, Pengtjoan Thianlie merogoh sakunya untuk mengeluarkan obat.
Tiba-tiba si nenek mendongak "Tidak!"
"Kouwkouw, tak ada halangannya untuk dicoba-coba,"
Bujuk si keponakan. Mendadak Tong Say Hoa mendelik.
"Toan-djie!"
Ia membentak.
"Senjata rahasia keluarga Tong belum pernah dilepaskan dengan percuma. Orang luar yang cupat pandangannya, mungkin tak tahu. Apa kau sendiri tidak tahu? Dalam tempo tiga hari, kutanggung pengemis kusta itu akan datang untuk menukar obatnya dengan obatku. Walaupun Kouwkouw-mu sudah tua, rasanya ia masih dapat mempertahankan diri untuk tiga hari."
"Kouwkouw, apakah memedi itu terkena senjata rahasiamu?"
Tanya pemuda itu.
"Pehbie tjiam (jarum alis putih)!"
Jawabnya.
"Dalam tiga hari racunnya akan mengamuk, dalam tujuh hari ia akan mampus, jika tidak mendapat obat pemunahnya!"
Dulu Phang Lin, bibi Tong Keng Thian, pernah dilukakan dengan Pehbie tjiam oleh suami Tong Say Hoa.
Ketika itu, biarpun diobati oleh Lie Tie menurut cara pengobatan yang liehay, tak urung ia masih harus menderita agak lama juga.
Kejadian itu diketahui Peng Go dari mulut Keng Thian.
"Dua tahun berselang Moh Tjoan Seng pernah datang kesini dan sekarang ia hidup menyendiri di Tjengshia san,"
Kata Tong Say Hoa.
"Dia adalah tetua Rimba Persilatan jaman ini dan tidak mengherankan, jika kau mempunyai kepandaian yang begitu tinggi. Aku sudah tua, maaf, aku tak dapat mengantar kau mencari pamanmu itu."
Peng Go mengetahui, bahwa dengan berkata begitu, si nenek seperti juga mau mengusir ia.
"Aku bisa pergi sendiri, tak berani aku membikin capai Pehbo,"
Katanya.
"Tapi ada suatu kejadian yang aku ingin memberitahukan Pehbo. Liong Leng Kiauw telah di penjarakan di Lhasa. Apakah Pehbo sudah tahu?"
"Apa?"
Teriak si nenek dengan suara kaget.
"Liong Leng Kiauw ditangkap di Lhasa?"
Harus diketahui, bahwa Tong Say Hoa tidak mempunyai anak.
Sedari berusia tujuh tahun, Liong Leng Kiauw sudah berguru kepada keluarga Tong.
Maka itu, meskipun secara resmi ia adalah Soetee (adik seperguruan) Say Hoa, akan tetapi, si nenek menganggap ia seperti putera sendiri.
Pengtjoan Thianlie lantas saja menuturkan segala kejadian yang diketahuinya.
"Hm!"
Si nenek menggerendeng sehabis Peng Go menutur.
"Besar benar nyali Hok Kong An dan Hiatsintjoe. Hm! Dilihat begini, benar-benar mereka tidak mau membiarkan aku, si tua, hidup senang di rumah."
"Kouwkouw,"
Kata keponakannya.
"Lebih baik kau jangan terlalu gusar. Sesudah kau sembuh, barulah kita berdamai bagaimana baiknya."
Tong Say Hoa memanggut-manggutkan kepalanya.
"Benar!"
Katanya.
"Toan-djie! Antar aku masuk."
Tanpa memperdulikan Pengtjoan Thianlie, ia segera masuk ke dalam. Dapat dibayangkan berapa besar rasa mendongkolnya Peng Go.
"Siauwkongtjoe, mari kita berangkat,"
Kata Yoe Peng. Pemuda itu merasa sangat tidak enak, buru-buru ia menghampiri dan menyoja.
"Kouwkouw-ku yang tua memang rada linglung dan aku mohon kalian jangan menjadi kecil hati,"
Katanya.
"Siapakah ayahmu? Tjio Tayhiap atau Koei Tayhiap?"
"Ayahku Koei Hoa Seng,"
Jawab si nona. Pemuda itu terkejut dan segera berkata.
"Ah! Kalau begitu Koei Tjietjie! Namaku Tong Toan. Aku mohon, dengan mengingat Kouwkouw tidak mempunyai pelindung, supaya Tjietjie sudi berdiam disini beberapa hari,"
"Bukankah Kouwkouw-mu sudah melukakan pengemis kusta itu dengan Pehbie tjiam dan sekarang hanya menunggu penukaran obat?"
Kata si nona.
"Kepandaianku sangat cetek. Mana bisa aku melindungi Kouwkouw-mu?"
Tong Toan tertawa dan berkata pula.
"Kouwkouw mengandalkan kepandaiannya secara berlebih-lebihan. Siapa dapat memastikan, bahwa pengemis kusta itu tidak akan menyatroni lagi dalam tiga hari ini? Jika ia, tanpa mengetahui liehaynya Pehbie tjiam menyatroni pula dalam tiga hari, siapa yang akan dapat melawan ia?"
Peng Go berpikir sejenak. Ia merasa, perkataan pemuda itu memang ada benarnya.
"Walaupun nenek itu agak kurang ajar, tapi ia adalah seorang Tjianpwee,"
Katanya di dalam hati.
"Jika aku lantas berlalu dan sampai terjadi apa-apa, aku akan turut merasa berdosa."
Mengingat begitu, lantas saja ia menyanggupi untuk berdiam beberapa hari dalam rumah keluarga Tong.
Dengan cepat tiga hari sudah lewat.
Selama tiga hari itu, Tong Say Hoa terus menyekap diri di dalam kamar, duduk bersemedhi untuk mengeluarkan racun dari badannya.
Dengan memperhatikan paras muka Tong Toan yang semakin lama jadi semakin guram, Pengtjoan Thianlie mengetahui, bahwa racun si pengemis sudah bekerja keras dan oleh karena itu, hatinya merasa sangat tidak enak.
Berdasarkan sakit hatinya terhadap masyarakat, Kim Sie Ie memusuhi semua orang-orang gagah dari Rimba Persilatan.
Akan tetapi, melukakan seorang tua dengan senjata beracun secara serampangan, adalah perbuatan yang menurut Peng Go, tidak bisa dimaafkan.
Berpikir sampai disini, tanpa merasa si nona teringat Tong Keng Thian.
Kedua-duanya adalah pemuda yang berkepandaian tinggi, akan tetapi mengenai pendidikan, Kim Sie Ie tak dapat direndengkan dengan Tong Keng Thian.
Sesaat itu, mau tak mau, ia ingat juga bagaimana Tong Keng Thian sudah mempermainkan dirinya dan berbareng, ia ingat pula cara-cara Kim Sie Ie yang aneh, tapi yang mengandung kejujuran dalam keanehannya itu.
Si nona sendiri tidak mengetahui, bahwa terhadap Tong Keng Thian, ia sudah jatuh cinta.
Maka itu, ia selalu gusar dan ingin menghukum pemuda itu untuk segala cacat dan kesalahannya.
Tapi terhadap Kim Sie Ie, ia hanya mempunyai perasaan kepengen tahu, paling banyak perasaan kasihan.
Itulah sebabnya, kenapa ia masih dapat melihat "sifat baik"
Dalam keanehan pemuda itu.
Waktu itu sudah magrib dan si pengemis kusta belum juga muncul.
Dengan hati cemas, Peng Go keluar dari kamarnya untuk menanyakan keadaan Tong Loothaypo.
Keluarga Tong mempunyai rumah yang sangat besar, tapi hanya sedikit bujang mereka.
Begitu si nona berada di luar kamar Tong Say Hoa, ia mendengar suara si nenek.
"Malam ini pengemis kusta itu pasti akan datang,"
Kata si nenek dengan suara keras.
"Jika ia tidak berlutut memohon ampun, jangan kau berikan obat pemunah itu!"
"Kouwkouw,"
Kata Tong Toan.
"Kita pun membutuhkan obatnya."
"Semenjak dulu, tak ada manusia yang berani memandang rendah keluarga Tong,"
Bentak Tong Say Hoa.
"Bahwa seorang pengemis sudah berani keluar masuk disini, adalah suatu kejadian yang sangat menghilangkan muka kita. Kalau ia tidak berlutut minta ampun, tak boleh kau memberikan obat itu. Mengerti?"
"Tapi, Kouwkouw, kau..."
Kata Tong Toan, terputus-putus.
"Jika ia tidak minta ampun, biarpun sampai mati aku akan tetap menolak obatnya,"
Kata si nenek yang kepala batu.
"Lebih baik biar dia mampus bersama-sama aku, supaya seluruh dunia mendapat tahu, siapa juga yang berani melanggar keluarga Tong, dia mesti membayar dengan jiwanya."
"Kouwkouw,"
Kata Tong Toan, tergugu.
"Inilah... inilah..."
Suaranya gemetar, hatinya sangat berkuatir. Tiba-tiba terdengar Tong Say Hoa menggebrak ranjang.
"Manusia tak punya semangat!"
Ia membentak dengan gusar.
"Benar-benar kau tak berhak menjadi anggauta keluarga Tong!"
Pengtjoan Thianlie bergidik.
Menukar obat sebetulnya bukan kejadian yang memalukan.
Ia tidak nyana, Tong Say Hoa begitu keras kepala dan kejam hati.
Ia merasa gusar terhadap Kim Sie Ie, tapi sesudah mendengar pembicaraan itu, perasaannya terhadap Tong Say Hoa menjadi lain.
Sementara itu terdengar suara Tong Toan yang sangat perlahan.
Mungkin sekali pemuda itu sedang membujuk bibinya.
Tiba-tiba terdengar pula ranjang digebrak.
"Benar bandel kau!"
Membentak si nenek.
"Sebelum mati, lebih dulu aku akan mengambil jiwanya!"
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka dan Tong Toan berjalan keluar.
Buru-buru Pengtjoan Thianlie menyingkir.
Gerakannya ini luar biasa cepatnya, sekali berkelebat, ia sudah berada di belakang sebuah gunung-gunungan batu.
Meskipun kepandaian pemuda itu masih kacek jauh jika dibandingkan si nona, tapi karena sedari kecil sudah berlatih menggunakan senjata rahasia, perasaan dan kupingnya tajam luar biasa.
Dengan cepat ia memburu ke arah berkelebatnya bayangan orang.
Sesaat itu, dengan tindakan perlahan, Peng Go keluar dari tempat sembunyinya.
Tong Toan sudah membuka mulut untuk berteriak, tapi ia keburu mengenali nona itu.
"Ah! Kiranya Koei Tjietjie!"
Katanya dengan suara halus.
"Apakah kau mencari aku?"
"Benar,"
Jawabnya, tapi karena tidak biasa berdusta, mukanya lantas saja bersemu dadu.
"Ada urusan apa?"
Tanya Tong Toan dengan suara girang.
"Aku mencari kau... mencari kau... untuk menanyakan hal ihwal seseorang,"
Jawabnya dengan suara tergugu.
"Siapa?"
Tanya pula Tong Toan.
"Tong Keng Thian, putera Tong Tayhiap, yang kemarin dulu disebutkan olehmu,"
Jawab si nona.
"Menurut dugaanku, ia sudah lewat disini. Kau adalah penduduk disini, lebih gampang untuk menyelidikinya."
Pengtjoan Thianlie sebenarnya tidak ingin menimbulkan halnya Tong Keng Thian, tapi dalam keadaan kedesak, tanpa merasa ia sudah menyebutkan nama pemuda itu.
Hati Tong Toan mencelos, tapi sebagai pemuda yang terdidik baik, ia tidak mengentarakan perasaan itu pada paras mukanya.
"Karena dalam beberapa hari ini aku repot melayani Kouwkouw, tak sempat aku keluar rumah,"
Katanya.
"Sesudah lewat malam ini, aku tentu akan menyelidiki. Sst! Tjietjie! Lekas sembunyi!"
Peng Go yang kupingnya cukup tajam, juga sudah dapat menangkap suara seperti jatuhnya daun kering di tempat yang jauhnya kira-kira setengah li.
"Ini adalah urusan keluargaku sendiri,"
Kata Tong Toan.
"Hanya dalam keadaan yang sangat berbahaya, baru aku mohon bantuan Tjietjie."
Pengtjoan Thianlie tahu, bahwa yang datang tak bisa lain daripada Kim Sie Ie.
Ia mengangguk dan lantas loncat ke belakang gunung-gunungan batu.
Diam-diam ia merasa heran oleh karena, sedang tiga hari berselang Tong Toan berusaha menahan ia untuk bantu menghadapi Kim Sie Ie, kenapa sekarang ia menolak bantuan, kecuali jika sangat perlu.
Di lain saat ia sadar.
Perubahan sikap Tong Toan tentu juga disebabkan oleh kepala batu si nenek yang berkeras ingin menyelesaikan urusan itu dengan tenaga keluarga Tong sendiri.
Baru saja si nona berada di belakang gunung-gunungan, Kim Sie Ie sudah berada di dalam pekarangan rumah sambil mengeluarkan suara tertawa yang menyeramkan.
Sebelum Tong Toan sempat membuka mulut, pengemis itu sudah berseru.
"Pehbie tjiam sungguh-sungguh liehay! Biar bagaimana pun juga, aku sudah berkenalan dengan senjata rahasia keluarga Tong. Aku sungguh kagum, begitu bertemu lawan, kamu tak sungkan-sungkan lagi menggunakan senjata yang beracun. Apakah itu memang kebiasaan keluargamu?"
Tong Toan gusar bukan main. Ia mendelik dan membentak.
"Apakah senjatamu tidak beracun? Tanpa sebab, tanpa lantaran melukakan seorang tua. Apakah itu perbuatan seorang ksatria?"
Peng Go memuji Tong Toan yang sudah menyemprot secara tepat sekali. Kim Sie Ie tertawa terbahak-bahak.
"Aku memang bukan ksatria,"
katanya.
"Perkataanmu tak perlu dikeluarkan!' Dalam kalangan Kangouw, banyak sekali manusia keparat yang mengaku ksatria dan tak pernah ada yang mengatakan, seperti yang dikatakan Kim Sie Ie.
Mendengar itu Tong Toan menjadi kaget.
Lagi-lagi Kim Sie Ie tertawa berkakakan.
"Aku memang biasa meminta pelajaran dari kaum ksatria yang berkepandaian tinggi,"
Katanya.
"Jika Kouwkouw-mu seorang biasa, aku tentu tak akan perlu mencarinya. Tapi ia sendiri yang mengaku dirinya ahli senjata rahasia nomor satu dalam dunia dan di samping itu, sudah beberapa turunan keluarga Tong menempel merek ksatria. Ha-ha! Dan sekarang aku sudah mendapat pelajaran bagus sekali."
"Apa katamu?"
Bentak Tong Toan.
"Kami dari keluarga Tong tak akan membokong orang seperti kau!' Kim Sie Ie mendongakkan kepalanya dan kembali tertawa besar.
"Sekarang aku tanya,"
Katanya.
"Bukankah menurut peraturan Rimba Persilatan, menjajal ilmu dianggap sebagai kejadian lumrah?"
"Benar,"
Jawab Tong Toan.
"Nah,"
Kata pula Kim Sie Ie.
"Aku sebetulnya hanya ingin berkenalan dengan senjata rahasia keluarga Tong. Adalah Kouwkouw-mu yang lebih dulu menggunakan jarum beracun Pehbie tjiam, untuk membinasakan aku. Coba kau katakan. Apakah yang aku harus lakukan? Dalam dunia, senjata beracun bukan hanya dimiliki keluargamu. Ha-ha! Tak bisa lain, aku pun harus melayani! Pehbie tjiam memerlukan tempo tujuh hari untuk mengambil jiwa manusia. Tokliongteng-ku (Paku naga beracun) paling lama tiga hari. Kau mau aku mati? Gampang! Tapi, sebelum mampus, lebih dulu aku mau menyaksikan kau menangis di depan jenazah Kouwkouw-mu!"
Bukan main kagetnya Tong Toan.
Sekarang ia baru mengetahui, bahwa si pengemis kusta sudah menggunakan pakunya karena diserang lebih dulu dengan jarum beracun.
Perkataan Kim Sie Ie ada benarnya juga.
Jika Tong Say Hoa mengetahui, bahwa ia hanya ingin menjajal ilmu, walaupun ia dapat menggunakan senjata rahasia, tak pantas ia menggunakan senjata beracun.
Akan tetapi, dari Shoatang Kim Sie Ie telah menyatroni sampai di Soetjoan utara dan sudah menghina banyak sekali orang-orang ternama dalam Rimba Persilatan, sehingga namanya menjadi buruk, maka begitu bertemu, Tong Say Hoa segera turun tangan untuk membinasakan pengemis itu.
Dalam hal ini, Tong Say Hoa pun mempunyai alasan sendiri, yang dapat juga dimengerti jika dipandang dari sudutnya.
Mendengar pertanyaan Kim Sie Ie, Tong Toan jadi kemekmek.
Beberapa saat kemudian, baru ia dapat menjawab dengan suara gusar.
"Siapa mau bicara hal peraturan Kangouw dengan manusia yang sepak'terjangnya seperti anjing gila! Kouwkouw-ku mana kesudian menjajal ilmu dengan manusia semacam kau!"
Paras muka Kim Sie Ie lantas saja berubah menyeramkan.
"Jika kau banyak rewel lagi, aku tak akan memperdulikan peraturan Kangouw lagi!"
Ia membentak "
Lebih dulu aku akan mengambil jiwamu!' Selagi membentak kedua matanya mengeluarkan sinar yang sangat ganas, sehingga Tong Toan menjadi terkejut.
Beberapa saat kemudian, si pengemis tertawa dingin seraya berkata.
"Kouwkouw-mu tak sudi melayani aku menjajal kepandaian, tapi sekarang, bukankah kau ingin memohon obat?' "
Dan kau?"
Tong Toan berteriak.
"Bukankah kau juga datang untuk memohon obat pemunah dari keluarga Tong?"
"Benar,"
Jawabnya.
"Tapi jangan kau lupa, Kouwkouw-mu tidak akan dapat melalui malam ini, sedang aku masih mempunyai tempo empat hari. Aku merasa, bahwa dia pantas berlutut tiga kali di hadapanku untuk perbedaan empat hari itu?"
"Apa?"
Bentak Tong Toan dengan suara gusar.
"Dalam saling menukar obat, kau mau orang lain berlutut di hadapanmu?"
"Menurut dugaanku, Kouwkouw-mu sudah tidak dapat bergerak lagi,"
Kata Kim Sie le.
"Nah! Kau saja, yang mewakili ia berlutut di depanku."
"Bagus mukamu!"
Berteriak Tong Toan.
"Kaulah yang harus memohon ampun. Kalau kau tak mau berlutut, jangan harap bisa mendapat obat."
Kim Sie Ie mesem tawar dan berkata dengan suara tawar pula.
"Kalau begitu, tiada jalan lain daripada membuka mata lebar-lebar untuk menyaksikan tangisanmu di hadapan peti jenazah!' Tong Toan menjadi gusar berbareng kuatir.
Tiba-tiba ia ingat, bahwa sesudah tiga hari terkena jarum Pehbie tjiam, racun jarum tentu sudah mengamuk hebat di dalam tubuh Kim Sie Ie, sehingga belum tentu ia tidak dapat melawan pengemis itu.
Selagi ia ingin turun tangan, si pengemis, yang agaknya sudah dapat mengerti apa yang dipikirnya, sekonyong-konyong memotes sebatang cabang pohon dan berkata sembari tertawa.
"Aha! Kau mau menggunakan kekerasan? Baiklah!"
Tapi, belum habis perkataan itu diucapkan, ketika mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat cepat bagaikan angin.
Tong Toan terkesiap, ia menduga, bahwa serangan itu datangnya dari si pengemis.
Cepat seperti kilat, tangan kirinya menghantam dengan pukulan Wankiong siatiauw (Mementang busur memanah burung rayawali), sedang tangan kanannya menabas dengan gerakan Pihong hoentjam (Mengebas angin menabas miring).
Selain mengandalkan senjata rahasia yang dikenal di seluruh Tiongkok, keluarga Tong juga mempunyai ilmu pukulan yang disegani orang.
Dua pukulan tersebut, yang menyerang berbareng membela diri, adalah pukulan-pukulan rahasia yang hanya digunakan untuk menolong jiwa dalam saat berbahaya.
Tapi dengan sekali mengegos, bayangan itu sudah dapat mengelit pukulan Tong Toan dan di lain saat, Pengtjoan Thianlie sudah berdiri di tengah-tengah antara kedua lawan.
"Tak berani aku menerima bantuanmu,"
Kata Tong Toan dengan suara dingin.
"Urusan keluarga Tong harus dipikul olehku sendiri."
Peng Go tidak menyahut. Dengan muka dingin bagaikan es, ia berpaling ke arah Kim Sie Ie dan berkata.
"Ambil ini dan keluarkan obatmu!' Bukan main kagetnya Tong Toan.
Ia meraba sakunya dan mendapat kenyataan, bahwa obat pemunah, yang tadi berada di dalam kantongnya, sudah pindah ke tangan si nona.
Ia terpaku dan setelah berselang beberapa saat, baru ia dapat mengeluarkan suara terputus-putus.
"Kau... Kau..."
Kim Sie Ie, yang tidak kurang terkejutnya, loncat mundur dan hampir berbareng dengan Tong Toan iapun berseru dengan suara tertahan.
"Kau!..."
"Keluarkan obat pemunah!"
Perintah si nona dengan nada suara sebagai seorang ratu.
"Bagus!"
Kim Sie Ie berseru. Sambil menuding dengan pedangnya, Peng Go berkata pula.
"Dengan saling menukar obat, tak ada yang kehilangan muka. Lekas keluarkan obatmu dan mulai dari sekarang, jangan kau menemui aku lagi!"
"Kim Sie Ie melirik. Tiba-tiba ia mengayun tangan dan berseru.
"Ambil!' Baru saja si nona menyambuti obat itu, si pengemis kembali mengayun tangan.
"Ini juga!"
Ia berteriak. Pengtjoan Thianlie mengebas lengan jubahnya dan menggulung benda yang dilemparkan itu. Si nona heran, sebab benda itu adalah sebutir batu yang dibungkus dengan kertas kulit kambing.
"Orang yang sedang dicari olehmu, berada di dalamnya,"
Kata Kim Sie Ie dengan suara mendongkol.
"Pandanglah sepuas hatimu."
Ia memutarkan badan, melompati tembok dan melenyapkan diri dengan kecepatan luar biasa. Tanpa merasa, Tong Toan bangun bulu romanya.
"Sesudah terkena Pehbie tjiam, tak nyana ia masih begitu liehay,"
Katanya di dalam hati.
"Untung juga aku tadi tidak lantas turun tangan."
Pengtjoan Thianlie membuka kertas yang membungkus batu itu dan mendadak saja, ia menjadi bengong.
Di atas kertas itu terdapat gambar dua orang, yang satu adalah Tong Keng Thian, yang lain seorang wanita muda cantik dan kedua matanya mengawasi Keng Thian dengan meseman manis.
Di kertas itu terdapat pula peta bumi yang mengunjukkan jalan untuk mencari tempat Keng Thian.
"Kalau begitu, Keng Thian berada di Lengkoan,"
Kata si nona di dalam hatinya.
"Dari sini hanya memerlukan perjalanan dua hari. Siapa nona itu? Dengan maksud apa Kim Sie Ie memberikan gambar ini kepadaku?"
Selagi ia berdiri bengong bagaikan orang linglung, kupingnya mendadak mendengar suara Tong Toan.
"Koei Tjietjie!"
Buru-buru ia memasukkan gambar itu ke dalam sakunya dan menengok.
"Koei Tjietjie,"
Kata pemuda itu.
"Bagaimana baiknya? Kouwkouw tentu menggusari aku."
Si nona yang sedang kusut pikirannya, jadi merasa sebal. Ia menyesapkan obat Kim Sie Ie ke dalam tangan Tong Toan dan berkata dengan suara dingin.
"Bagaimana kalau aku saja yang mewakili ia memohon maaf kepadamu?' Tong Toan terkejut, buru-buru ia loncat minggir.
"Kouwkouw-mu telah memesan, bahwa jika ia tidak berlutut memohon ampun, obat keluarga Tong tak boleh diberikan,"
Kata pula Peng Go.
"Bukankah begitu?"
"Benar!"
Jawabnya.
"Nah!"
Kata lagi si nona.
"Obat keluarga Tong diberikan olehku kepadanya dan tidak ada sangkut pautnya dengan kau. Jika Kouwkouw-mu menghukum, ia tidak boleh menghukum kau. Obat ini lekas-lekas kau berikan kepada Kouwkouw-mu dan tolong kau menyampaikan hormatku kepadanya."
Sehabis berkata begitu, ia lantas berseru.
"Yoe Peng! Yoe Peng!"
"Koei Tjietjie! Apa maksudmu?"
Tanya Tong Toan dengan suara bingung. Sementara itu, Yoe Peng sudah menghampiri.
"Terima kasih untuk pelayananmu selama tiga hari,"
Kata Peng Go.
"Sampai ketemu lagi!"
"Koei Tjietjie,"
Kata Tong Toan.
"Apakah kau merasa tidak senang terhadap kami?"
"Kenapa tidak senang?"
Kata si nona.
"Sesudah jiwa Kouwkouw-mu selamat, sekarang aku boleh berlalu dengan hati lega."
Sehabis berkata begitu, bersama Yoe Peng, ia melompati tembok.
Tong Toan mengubar.
Setibanya di luar, yang dapat dilihatnya hanya sang rembulan yang memancarkan sinar gilang gemilang, tapi kedua gadis itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Tong Toan menghela napas, ia ingat akan bantuan Pengtjoan Thianlie.
Tanpa bantuan itu, jika ia dan si pengemis kusta sampai bergebrak, Kouwkouw-nya dan Kim Sie Ie tentu juga akan binasa bersama-sama Ia merasa menyesal, bahwa si nona pergi begitu terburu-buru dan dengan perasaan berat, ia segera menuju ke kamar Tong Say Hoa dengan membawa obat.
Tong Toan tidak mengetahui, bahwa pikiran Peng Go terlebih kusut daripada pikirannya.
Semenjak berpi sahan dengan Tong Keng Thian, entah kenapa, si nona selalu merasa tidak gembira.
Tadi, sesudah melihat gambar itu, hatinya jadi berdebar-debar.
Sesaat, ia ingin segera menemui Keng Thian, di lain saat, ia kepengen mabur jauh, jauh sekali, supaya tidak bertemu muka pula dengan pemuda itu untuk selama-lamanya.
Ia sendiri tidak mengetahui, apakah ia mencinta atau membenci pemuda tersebut, ia juga tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkannya.
Dan Pengtjoan Thianlie tentu saja tidak mengetahui, bahwa pada malam itu, pada detik-detik yang sama, Tong Keng Thian pun sedang memikiri dirinya.
*** Pada malam itu, selagi Keng Thian dan Tjee Tjiang Hee berjalan-jalan di luar rumah, di bawah sinar rembulan, ibu si nona mendadak datang untuk memberitahukan hal dilukakannya Tong Say Hoa oleh si pengemis kusta yang berkawan dua wanita cantik bagaikan bidadari.
Mendengar itu, Keng Thian terkejut.
Ia menduga, bahwa "dua wanita cantik bagaikan bidadari itu"
Tentu bukan lain daripada Peng Go dan dayangnya.
Sebenarnya ia tak mau percaya cerita itu, akan tetapi, sesudah mendengar lukisan roman dan cara-cara kedua wanita tersebut, mau tidak mau, ia harus percaya juga.
Melihat paras pemuda itu yang sangat guram, Yo Lioe Tjeng menduga, bahwa Keng Thian merasa jengkel karena mendengar munculnya pengemis itu.
"Dalam satu dua hari ini, lebih baik kita menyingkir dulu,"
Katanya.
"Sesudah kau sembuh baru kita melawan pengemis itu."
Mendengar sang ibu tidak setuju mereka berjalan-jalan di luar, sembari monyongkan mulut, Tjiang Hee berkata.
"Tong Koko baru saja sembuh, ia perlu banyak berjalan-jalan untuk menghibur hatinya. Mana ia tahan disekap di dalam rumah?"
Melihat lagak si nona, Keng Thian jadi tertawa. Mengingat dengan cara apa selama belasan hari nona itu sudah merawatnya, Keng Thian merasa sangat berterima kasih dan lantas saja ia berkata.
"Sebenarnya, kita memang tidak perlu begitu berkuatir. Meskipun aku belum sembuh betul, tapi jika bertemu dengan pengemis kusta itu, belum tentu ia dapat melukakan diriku lagi."
Tjiang Hee girang.
"Tong Koko,"
Katanya.
"Apakah kau sudah mempunyai akal untuk merobohkan padanya?"
"Senjata pengemis kusta itu yang paling liehay adalah senjata rahasianya yang disemburkan dari mulutnya,"
Keng Thian menerangkan.
"Tapi senjata itu hanya dapat menyerang dari jarak dekat. Thiansan Sinbong-ku dapat merobohkan musuh yang berada dalam jarak lebih dari enam tombak jauhnya. Jika sekarang aku harus menghadapi ia, aku dapat menggunakan Sinbong untuk menahan majunya."
Yo Lioe Tjeng mesem dan segera berkata.
"Jika kau sudah mempunyai pegangan, boleh kau berjalan-jalan terus bersama Tjiang Hee. Aku tidak menghalang-halangi lagi."
Melihat tingkah laku kedua orang muda itu yang kelihatannya rapat sekali, Yo Lioe Tjeng, yang di dalam hatinya mempunyai maksud tertentu, jadi merasa girang sekali.
Rumah keluarga Tjee berdiri membelakangi gunung, sedang di pekarangan depan yang cukup luas, ditanami pohon-pohon bunga yang waktu itu sedang mekarnya.
Jalan-jalan di bawah sinar sang Puteri Malam, dengan segala pemandangannya yang sangat indah dan bau-bauan bunga yang harum semerbak, benar-benar seperti juga berada didalam surga.
Lama, lama sekali, tanpa berkata-kata, mereka keluar masuk di antara pohon-pohon kembang.
"Tong Koko, kau lagi memikirkan apa?"
Tanya si nona.
"Tidak apa-apa,"
Jawabnya. Tjiang Hee tertawa geli.
"Aku tahu,"
Katanya "Kau tentu ingin bertemu dengan kedua wanita itu yang katanya cantik seperti bidadari. Benarkah?"
Tjiang Hee sebenarnya hanya berbicara guyon-guyon, tapi di luar dugaan, Keng Thian menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang.
"Benar,"
Sahutnya.
"Aku sedang memikirkan mereka!"
Si nona terkejut.
"Tong Koko, apakah kau benar-benar kenal dengan mereka?"
Tanyanya.
"Kenal,"
Jawab Keng Thian.
"Mereka adalah sahabat-sahabatku."
"Tapi, kenapa mereka tidak berjalan bersama-sama kau, sebaliknya justru berkawan pengemis kusta itu yang dibenci orang?"
Tanya Tjiang Hee pula.
"Aku justru ingin mencari mereka untuk menanyakan sebab-sebabnya,"
Jawab Keng Thian. Paras muka Tjiang Hee lantas saja berubah guram.
"Aku tak ingin menemui pengemis kusta itu,"
Katanya.
"Siapa menyuruh kau menemui ia?"
Kata Keng Thian.
"Tapi aku ingin sekali bertemu dengan kedua Tjietjie itu yang cantik bagaikan bidadari,"
Kata si nona.
"Kenapa?"
Tanya Keng Thian.
"Orang yang kau sukai, tentu juga kusukai,"
Jawabnya.
"Bolehkah aku turut kau menemui kedua Tjietjie itu?"
"Aku sendiri tak tahu, apakah mereka sudi menemui diriku,"
Kata Keng Thian.
"Kenapa begitu?"
Tanya Tjiang Hee dengan suara heran.
"Bukankah mereka itu sahabatsahabatmu?"
Keng Thian menghela napas panjang dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Heemoay, usiamu masih terlalu muda, sehingga biar pun aku memberi penjelasan, kau tidak akan mengerti."
"Tapi usiamu tidak berbeda banyak dengan usiaku,"
Kata si nona yang merasa agak kurang senang dikatakan belum mengerti urusan. Ia berdiam beberapa saat, kemudian berkata pula.
"Dulu, waktu'aku baru saja mengerti urusan, aku sudah ingin bertemu denganmu. Apakah kau tahu?"
Keng Thian tertawa.
"Waktu itu bagaimana kau tahu, bahwa di dalam dunia ini ada seorang yang bernama Tong Keng Thian?"
Tanyanya.
"Sedari aku mulai mengerti urusan, ibu sudah membicarakan hal dirimu,"
Jawab Tjiang Hee.
"Aku tak percaya,"
Kata Keng Thian.
"Ibumu sendiri baru mengenal aku kira-kira setengah bulan lamanya."
"Ibuku sering-sering membicarakan hal ayahmu dengan aku,"
Si nona menerangkan.
"Ia sering menceritakan ruparupa kejadian-kejadian menarik di waktu mereka masih belajar silat bersama-sama. Dalam beberapa tahun ini, ibu sering mengutarakan keinginannya untuk pergi ke Thiansan guna menyambangi kalian. Kata ibu, ayahmu pendiam, kadang-kadang suka marah-marah terhadapnya. Hm! Dalam hal ini, kau agaknya berbeda dengan ayahmu. Sering-sering Ibu berkata begini. 'Heedjie, kau sangat mirip dengan aku. Tong Pehpeh juga tentu sudah mempunyai anak. Tak tahu, apakah anaknya juga seperti ia atau tidak.' Itulah sebabnya, mengapa sedari kecil aku sering menanya diriku sendiri. Macam apakah, Tong Koko ini? Biarpun aku belum pernah bertemu dengan kau, malah tidak mengetahui, apakah di dunia ada seorang yang seperti kau, tapi sering sekali aku membayang-bayangkan bagaimana kira-kira rupamu, sebagai putera Tong Pehpeh. Dan sesudah benar-benar bertemu, ternyata rupa dan cara-caramu sungguh tiada beda dengan apa yang telah kulihat dalam bayangan khayalku sekian lama."
Hati Keng Thian jadi bergoncang.
"Didengar dari perkataan Tjiang Hee, ternyata ibunya menganggap ayah seolah-olah seorang anggauta keluarganya sendiri,"
Katanya di dalam hati.
"Tapi kenapa ayah jarang sekali menyebutkan namanya?"
"Tong Koko, apa lagi yang kau pikirkan?"
Tanya pula si nona demi melihat Keng Thian termenung.
"Aku terharu, kau benar-benar seperti adikku sendiri,"
Jawabnya.
"Apakah benar? Kau suka padaku?"
Menegas si nona dengan suara girang dan dengan sikap sebagai bocah yang baru mendapat kembang gula.
"Tentu saja,"
Sahut Keng Thian sembari tertawa.
"Aku melihat kau seperti seekor burung Pekleng niauw. Saban-saban hatiku pepat, suara dan lagak-lagakmu selalu dapat menghilangkan kejengkelanku itu."
"Ya, aku pun merasa senang bergaul denganmu,"
Kata si nona.
Demikianlah, kedua orang muda itu, yang dalam pergaulannya bebas dari segala pikiran menyeleweng, bercakap-cakap dengan gembira dan tanpa merasa mereka berjalan sembari bergandengan tangan.
Sekonyong-konyong selagi berjalan di bawah pohon-pohon bunga yang diterangi sinar sang rembulan, Keng Thian teringat, bahwa Pengtjoan Thianlie pun sangat gemar akan kembangkembang.
Ia membayangkan, bagaimana beruntungnya, jika ia dapat berjalan-jalan bersama Peng Go di waktu itu dan dalam suasana yang begitu pula.
Ia mengangkat kepalanya dan...
tiba-tiba di sebelah jauh, di antara cabang-cabang yang penuh bunga, ia melihat wajah seorang wanita muda!
Kedua mata wanita itu, yang tajam luar biasa dan dingin bagaikan es, sedang mengawasi ia.
Sesaat itu, seluruh tubuh Keng Thian seolah-olah terkena arus listrik.
Ia gemetar, sembari mengeluarkan teriakan, ia meloncat ke depan.
"Tong Koko! Ada apa?"
Seru Tjiang Hee.
"Apakah manusia menyebalkan itu?"
Ia berteriak begitu karena menduga, bahwa si pengemis kusta menyatroni pula.
Tapi, setelah memperhatikan, ia melihat seorang wanita yang parasnya cantik luar biasa.
Ia jadi kesima dan terpaku!
"Peng Go!"
Keng Thian berteriak.
Wanita itu, yang memang bukan lain daripada Koei Peng Go, menatap wajah Keng Thian dengan sorot mata dingin, sedih dan gusar bercampur menjadi satu!
Tanpa merasa, Tjiang Hee bergidik.
Di lain saat, Peng Go memutarkan badannya dan dengan sekali berkelebat, ia menghilang dari pemandangan.
"Peng Go! Koei Tjietjie! Koei Tjietjie!"
Berteriak Keng Thian dengan suara menyayatkan hati, sembari mengubar.
Kasihan, ia mengubar dengan mengerahkan seantero tenaganya yang belum pulih kembali.
Baru tiba di suatu tanjakan, ia kesandung dan roboh terguling.
Beberapa saat kemudian, Tjiang Hee tiba dengan napas tersengal-sengal.
Dengan terkejut, ia membangunkan pemuda itu.
"Apakah kau terluka?"
Tanyanya. Keng Thian tidak menjawab, la menggelendot pada tubuh Tjiang Hee, kedua matanya mencilak, mukanya pucat bagaikan mayat. Seolah-olah kehilangan semangat.
Tong Koko! Tong Koko, kenapa kau?' tanya Tjiang Hee dengan suara bingung. Sesudah lewat beberapa saat, baru Keng Thian dapat membuka mulut.
"Dia! Dia sudah pergi!"
"Siapa dia?"
Tanya Tjiang Hee.
"Pengtjoan Thianlie, yang barusan kita bicarakan,"
Sahutnya.
"Ah! Kenapa ia tak mau bicara denganku?"
Tjiang Hee yang otaknya masih sederhana, merasa tidak mengerti, la tidak mengerti, kenapa, jika toh Pengtjoan Thianlie sahabat Keng Thian, ia sudah bersikap begitu?
Keng Thian menghela napas berulang-ulang, seperti juga melupakan, bahwa di sampingnya masih ada seorang wanita lain, sehingga Tjiang Hee, mengeluh, ia merasa kasihan, berbareng mendongkol.
Lama mereka tidak mengucapkan sepatah kata.
"Tong Koko,"
Kata Tjiang Hee akhirnya.
"Mari kita pulang. Ah! Aku tak nyana, di dalam dunia ada wanita yang begitu cantik!" *** Tak usah dikatakan lagi, bahwa Pengtjoan Thianlie mabur karena menyaksikan Keng Thian berjalan-jalan dan bercakap-cakap secara hangat dengan seorang wanita muda, dengan bergandengan tangan. Dan selain itu, paras muka wanita tersebut benar-benar sama dengan gambar yang ia dapat dari Kim Sie Ie, dengan hati hancur, ia kabur, tanpa memperdulikan lagi teriakan-teriakan Keng Thian. Dalam sekejap saja ia sudah lari belasan li dan tiba di tepi sebuah sungai kecil, di kaki gunung, dimana Yoe Peng sedang menunggu. Melihat majikannya kembali seorang diri dengan gerak-gerik seperti linglung, Yoe Peng menjadi kaget dan menanya.
"Kenapa Siauwkongtjoe kembali sendirian?"
"Dia... dia..."
Kata si nona, terputus-putus, fa menengok dan memandang pemandangan malam yang indah, tapi tak kelihatan bayang-bayangan Keng Thian.
Ia menjadi lebih-lebih mendongkol karena dalam anggapannya, Keng Thian tidak bersungguh hati dan teriakannya hanya keluar dari hati palsu.
Ia tentu saja tidak mengetahui, bahwa pemuda itu telah roboh di tengah jalan karena kehabisan tenaga.
"Dia... dia tak akan datang,"
Jawabnya sesenggukan.
"Kau sudah bertemu? Dan dia tak mau bersama-sama kau lagi?"
Tanya Yoe Peng dengan hati mencelos.
Pengtjoan Thianlie merasakan hatinya seperti ditusuk-tusuk.
Ia menundukkan kepalanya dan air matanya mengucur deras.
Ia teringat bagaimana pertama kali Tong Keng Thian naik ke keraton es, ia teringat bagaimana mereka bertanding pedang dan segala sesuatu mengenai "toeilian"
Di dalam taman, la ingat akan semua kejadian itu yang tak akan bisa dilupakan olehnya.
Mendadak, ia mendengar suara tertawa yang nyaring.
Ia menoleh ke arah suara itu dan di lain saat, sambil menenteng tongkat besi, kelihatan Kim Sie Ie meloncat keluar dari antara pohonpohon yang rindang daunnya.
Pemuda itu sekarang mengenakan pakaian sasterawan mirip dengan Tong Keng Thian, akan tetapi, dengan menenteng tongkat dan meloncat-loncat seperti bocah nakal, ia jadi kelihatan lucu dan tidak sesuai dengan pakaiannya.
"Kenapa kau tertawa?"
Bentak si nona, mendongkol.
"Mentertawakan kau!"
Jawabnya, sembari tertawa haha-hihi. Dalam keadaan biasa, Pengtjoan Thianlie tentu sudah menghunus pedangnya. Tapi sekarang, dalam kesedihannya, ia tidak memperdulikan lagi segala ejekan.
"Bukankah kau ingin sekali menemui ia?"
Tanya Kim Sie Ie.
"Sesudah bertemu, kenapa kau jadi berbalik sedih. Apakah itu tidak lucu?"
"Jangan mencampuri urusan orang lain!"
Peng Go membentak pula.
"Jika aku tak datang, kau tentu akan terus termenung-menung disini,"
Kata lagi Kim Sie Ie sembari nyengir.
"Hayolah! Lebih baik menangis lebih siang daripada terlambat. Nangislah biar puas! Sesudah puas, kau akan merasa lega."
Mendengar itu, air mata Peng Go justru jadi berhenti. Si pengemis kusta lagi-lagi tertawa haha-hihi.
"Bagaimana gambar pemberianku itu?"
Tanyanya.
"Bukankah bagus sekali?' "Bret!"
Dengan gusar si nona merobek kertas bergambar itu. Kim Sie Ie menepuk-nepuk tangan.
"Bagus! Bagus! Sesudah gambar itu dirobek, hatimu tentu menjadi enteng!"
Katanya.
Kata-kata Kim Sie Ie yang mengandung sindiran, dimengerti jelas oleh Yoe Peng.
Tapi Peng Go sendiri, yang sedang terbenam dalam kedukaan hebat, sebaliknya merasa perkataan itu ada juga benarnya.
Ia menganggap, bahwa memang terlebih baik jika ia mencoret segala apa yang sudah lewat dan menuntut penghidupan baru dengan hati enteng.
"Siauwkongtjoe, mari kita berangkat,"
Kata Yoe Peng.
"Benar, memang lebih baik kalian kembali ke keraton es!"
Kata Kim Sie Ie. Pengtjoan Thianlie terkejut.
"Bagaimana dia mengetahui asal-usulku?"
Tanyanya di dalam hati. Mendadak pemuda itu menghela napas panjang dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa di dalam dunia hanya terdapat beberapa gelintir manusia baik-baik?
Lebih baik berkawan dengan binatang daripada hidup bersama-sama manusia.
Apakah sekarang kau percaya?' Si nona tidak menjawab, ia berdiri bengong bagaikan patung.
"Aku juga sudah merasa sebal hidup dalam dunia ini,"
Kata pula pemuda itu.
"Keraton es-mu adalah seperti surga dalam dunia. Sungguh sayang kau sudah meninggalkan surga itu. Lebih baik kita pulang bersama-sama. Pinjamkanlah kepadaku suatu pojokan dari keratonmu, supaya aku bisa hidup secara tenteram."
"Kau ini benar-benar manusia yang tak tahu diri!"
Bentak Yoe Peng yang sudah tak dapat menahan sabar lagi.
"Apakah kau mengira Siauwkongtjoe sudi mengijinkan keratonnya dinodakan oleh seorang penderita kusta?"
Muka Kim Sie Ie lantas saja berubah pucat, kemudian ia mengeluarkan suara tertawa menyeramkan.
Ia mengangkat tongkatnya, seperti hendak menyerang.
Yoe Peng cepat-cepat menghunus Hankong kiam-nya dan loncat ke belakang majikannya.
Peng Go mendongak mengawasi rembulan dan berkata dengan suara tawar.
"Kau pergilah! Aku pulang atau tidak adalah urusanku sendiri. Tak usah kau mencampuri urusan orang lain. Kau sudah mengeluarkan perkataan tidak pantas, tapi aku juga tidak mau meladeni kau."
Kim Sie Ie mengawasi, lagaknya seperti bola karet yang kempes kehabisan angin. Perlahanlahan ia menurunkan tongkatnya dan berkata.
"Baiklah. Dengan memandang kau, aku pun tidak mau meladeni budak kecilmu."
Mendadak ia tertawa keras dan berkata dengan suara nyaring.
"Sebenar-benarnya kita berdua adalah manusia-manusia yang telah disia-siakan oleh dunia. Menurut pantas, kita harus saling mengasihani. Tapi kau sebaliknya memandang aku sebagai lawan. Sungguh tak pantas! Jika di belakang hari kau bisa mendusin, beritahukanlah kepadaku."
Ia memutarkan badan dan terus berlalu dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Peng Go masih terus berdiri bengong.
"Pengemis kusta itu seperti juga setan air,"
Kata Yoe Peng dengan suara gusar. Peng Go merasa heran dan lalu menanya.
"Apa?"
"Menurut kata orang Han, setan air paling jahat,"
Yoe Peng menerangkan.
"Dia mati di dalam air dan menjadi setan. Sebagai setan, tak hentinya ia mencari-cari pengganti. Begitu mengetahui ada orang yang sedang menderita, ia lantas memancing-mancing dengan rupa-rupa akal busuk, supaya orang itu membunuh diri dengan menyebur ke dalam air. Hm! Semua perkataannya itu hanya bertujuan supaya Siauwkongtjoe tak memperdulikan pula Tong Siangkong dan rela mengikuti jejaknya. Apakah dengan begitu, ia bukan seperti setan air?"
Mendengar penjelasan dayangnya, tanpa merasa Peng Go yang sedang bersedih, jadi tertawa.
"Belum cukup setahun kau turun gunung, lidahmu sudah begitu beracun,"
Katanya sembari mesem.
"Apa Siauwkongtjoe tak percaya perkataanku?"
Tanya Yoe Peng. Paras muka Pengtjoan Thianlie segera berubah keren.
"Aku sendiri mempunyai pendirian, tak usah kau banyak rewel,"
Katanya. Yoe Peng bungkam, tak berani membuka suara lagi.
"Baiklah,"
Kata Peng Go dengan suara halus.
"Kita sekarang menuju ke Soetjoan barat.
"Sesudah bertemu dengan Pehpeh-ku, baru kita pulang ke Puncak Es dan tak usah memperdulikan lagi segala urusan dunia."
Yoe Peng menghela napas.
Tanpa berkata suatu apa, ia mengikuti tindakan majikannya.
*** Sekarang marilah kita menengok Keng Thian yang pulang ke rumah keluarga Tjee dengan dipimpin oleh Tjiang Hee.
Di tengah jalan, pemuda itu menutup mulutnya, sehingga si nona jadi sangat berkuatir.
Sesudah Keng Thian mengunci kamar tidurnya, Tjiang Hee tidak berani masuk tidur dan terus berjalan mundar-mandir dengan tindakan perlahan di depan kamar pemuda itu.
Sampai kurang lebih jam empat pagi, di dalam kamar Keng Thian tidak terdengar suara apa-apa.
Ketika itu Tjiang Hee sudah merasakan betapa dinginnya hawa malam dan ia juga sudah merasa ngantuk sekali.
"Kakak tolol itu mungkin sudah tidur,"
Katanya di dalam hati.
Selagi mau masuk ke dalam kamarnya, mendadak ia melihat jendela kamar Keng Thian terpentang dan seorang yang mengenakan pakaian putih meloncat keluar.
Buru-buru si nona meloncat ke atas genteng sembari berseru.
"Tong Koko!"
Keng Thian merandek dan menengok.
"Jangan ribut,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Jangan sampai ibumu bangun. Terima kasih banyak-banyak untuk pertolonganmu. Aku mempunyai urusan penting dan harus berangkat sekarang juga!"
"Tak bisa! Tak boleh begitu!"
Berseru Tjiang Hee, tapi Keng Thian sudah mengenjot badan dan dengan beberapa loncatan, ia sudah melompati tembok pekarangan.
"Ibu!"
Teriak si nona.
"Lekas keluar! Tong Koko mabur!"
Suami isteri Tjee Sek Kiu yang tidur di kamar sebelah barat, lantas saja bangun, sedang Keng Thian sendiri, setelah mendengar teriakan Tjiang Hee, lantas saja berlari lebih cepat.
Tjiang Hee jadi bingung, tanpa menunggu orang tuanya, ia segera mengubar.
Meskipun baru sembuh, ilmu mengentengkan badan Keng Thian masih lebih unggul daripada Tjiang Hee.
Sesudah mengubar beberapa lama, jarak antara mereka menjadi semakin lebar.
"Tong Koko! Apakah benar-benar kau mau pergi juga secara begini!"
Seru nona Tjee dengan suara sedih. Mendengar seruan itu, hati Keng Thian menjadi sangat terharu dan dengan terpaksa, ia menghentikan tindakannya. Ia berpaling seraya berkata.
"Hee-moay, di lain tahun, jika kalian pergi ke Thiansan, kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu pula. Aku mempunyai suatu urusan yang sangat penting dan mesti segera berangkat. Aku mohon kau jangan mengantar terlebih jauh."
Sehabis berkata begitu, lantas saja ia berlari secepat-cepatnya, supaya tak mendengar pula teriakan si nona.
Sesudah kabur belasan li, barulah Keng Thian membuang napas dan berlari lebih perlahan.
Mengingat cara-caranya yang kurang pantas terhadap keluarga Tjee, hatinya sungguh merasa tidak enak.
Untuk menyusul Pengtjoan Thianlie, ia pergi tanpa pamitan dan hanya meninggalkan sepucuk surat.
Ia merasa sangat malu terhadap Yo Lioe Tjeng dan puterinya yang sudah melepaskan budi begitu besar terhadapnya.
Keng Thian telah menduga tepat, bahwa Peng Go akan pergi ke Soetjoan barat untuk menemui pamannya.
Akan tetapi, ketika ia menanya-nanya di sepanjang jalan, tak ada seorang pun yang mengatakan pernah bertemu dengan Peng Go dan Yoe Peng.
Sesudah berjalan sekian hari, tibalah ia di wilayah gunung Palong san, di sebelah barat propinsi Soetjoan.
Jika orang terus berjalan ke arah selatan, ia akan tiba di daerah gunung Gobi san.
Walaupun Palong san tidak sampai seberbahaya Tjiakdjie san, tapi jalannya yang legat-legot bagaikan ular dan terlebih panjang daripada Tjiakdjie san, malah di puncak-puncaknya yang berundak-undak, masih terdapat jalan yang berputar-putar ke atas seperti rumah keong.
Sering sekali, puncak di sebelah depan kelihatannya dekat, tapi sesudah didekati, ternyata masih jauh sekali.
Keng Thian adalah seorang yang mempunyai ilmu silat yang tinggi dan berpengalaman luas dalam perjalanan di gunung, tapi toh, dalam sehari paling banyak ia bisa berjalan seratus li lebih dalam jarak lurus.
Untung juga, daerah pegunungan di Soetjoan mempunyai pemandangan yang sangat indah.
Sebagaimana diketahui, gunung Gobie san tersohor sebagai "Keindahan istimewa di kolong langit."
Dari Palong san, semakin ke selatan, pemandangan alam semakin indah permai, sehingga seorang pelancong dapat berjalan tanpa merasa jemu.
Di gunung itu sangat sedikit jumlah penduduknya, sehingga sering-sering seorang pelancong tidak bisa mendapat tempat bermalam.
Malam itu, Keng Thian tak menemukan rumah orang dan ia sudah bersiap-siap untuk mengasoh di salah sebuah gua.
Tiba-tiba dari sebelah timur sang rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang dan seluruh gunung seperti juga sedang mandi dalam laut perak.
Kegembiraannya terbangun dan ia segera mengambil keputusan untuk meneruskan perjalanannya.
Selagi enak berjalan, di sebelah depan mendadak muncul suatu pemandangan luar biasa, yaitu sekelompok batu-batu raksasa yang seolah-olah hutan batu.
Setiap batu, yang tingginya paling banyak dua atau tiga puluh tombak, mempunyai bentuk-bentuk aneh dan indah luar biasa, ada yang berbentuk harimau, singa, beruang atau macan tutul.
Tong Keng Thian adalah seorang yang sudah biasa menjelajah gunung-gunung besar di daerah Utara barat.
Akan tetapi, melihat keangkeran hutan batu itu, tak urung ia merasa kagum dan heran.
Dari jauh, hutan batu itu seakan-akan merupakan sekosol yang menedengi sinar rembulan.
Akan tetapi, setelah didekati, Keng Thian menemukan suatu pintu gua, terbuat daripada dua batu raksasa yang menempel satu pada yang lain.
Pintu itu, yang ditembusi sinar rembulan, hanya dapat dilewati seorang, sedang di dalamnya terdengar suara mengalirnya air.
Dengan perasaan heran, Keng Thian masuk ke dalam pintu itu.
Di balik pintu tersebut ia melihat sebidang tanah kosong yang penuh dengan pohon-pohon kembang dan di sekitarnya, terdapat pula batu-batu raksasa dengan pintu-pintu yang beraneka bentuknya.
Keng Thian memilih sebuah terowongan yang paling besar dan merangkak masuk ke dalamnya.
Semakin lama, ia masuk semakin dalam dan selagi enak merangkak, lapat-lapat kupingnya menangkap suara manusia.
Bukan main herannya Keng Thian.
Ia merangkak terus keluar dari terowongan dan kemudian, dengan menggunakan ilmu Pekhouw kang (Ilmu cicak), ia merayap naik ke atas sebuah batu raksasa yang tingginya kira-kira dua puluh tombak.
Dari atas batu tersebut Keng Thian memandang ke sebelah bawah.
Ia terkesiap berbareng heran.
Di sebelah bawah terdapat sebidang tanah kosong yang merupakan satu selat gunung, dimana berdiri pula sejumlah besar batu-batu yang lebih kecil, paling tinggi hanya lima enam tombak.
Batu-batu itu menjulang ke atas dan dilihat dari kedudukannya, mereka merupakan suatu tin (barisan).
Dalam barisan batu itu terlihat dua orang, seorang lelaki dan seorang perempuan, yang sedang berputar-putar seperti juga tengah mencari jalan keluar.
Jarak antara mereka dan pintu "hidup"
Tersebut sangat dekat, tapi sesudah berputar-putar mereka tetap tidak dapat keluar.
Tong Keng Thian adalah seorang yang berpengetahuan luas, bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi ia juga mengenal ilmu Patkwa tin (Barisan Patkwa).
Ketika itu, dari sebelah atas, ia memandang ke bawah dan tidak lama kemudian, ia sudah mengetahui, bahwa hutan batu itu yang muncul di atas bumi secara wajar, mempunyai kedudukan seperti Pattintouw susunan Tjoekat Boehouw (Tjoekat Liang, panglima besar kerajaan Han pada jaman Sam Kok).
Barisan batu itu mempunyai delapan pintu dan seorang yang sudah masuk, tak akan bisa keluar lagi jika ia tidak dapat mencari "Pintu Hidup."
Kedua orang itu mempunyai ilmu silat yang tidak rendah.
Berulang kali mereka meloncat setombak lebih dan memeluk salah sebuah pilar batu.
Akan tetapi, oleh karena licinnya pilar tersebut, mereka selalu tidak berhasil memanjat ke atas.
Dua kali, secara kebetulan mereka berhasil mendekati "Pintu Hidup,"
Tapi dua-dua kalinya, mereka dipukul mundur dengan timpukan batu yang tepat sekali.
Keng Thian kaget.
Ia menduga, bahwa dalam hutan batu itu mesti bersembunyi seorang yang berkepandaian tinggi.
Lelaki dan perempuan itu agaknya juga.
sudah mempunyai dugaan yang sama.
"Memang tidak pantas sekali Boanpwee (orang yang tingkatannya lebih rendah) sembarangan masuk disini,"
Seru yang lelaki.
"Aku mohon majikan dari tempat ini sudi memaafkan."
Keng Thian terkejut, karena suara itu agaknya tidak asing baginya. Selagi mengingat-ingat, mendadak terdengar teriakan "Aya!"
Yang nyaring, seperti suara anak tanggung.
Keng Thian jadi semakin heran.
Sekonyong-konyong, dari belakang segundukan batu yang terletak beberapa tombak jauhnya dari tin itu, muncul seorang anak tanggung yang berusia kira-kira lima belas tahun.
"Apa Siauw Loosoe?"
Seru anak itu.
"Benar, aku Siauw Tjeng Hong,"
Sahut orang laki-laki itu dengan suara kegirangan.
"Apakah kau Kang Lam?"
Bukan main tercengangnya Keng Thian.
Di Tibet, ia pernah bertemu sekali dengan Siauw Tjeng Hong.
Waktu itu, Siauw Tjeng Hong berbadan kurus kering, mukanya pucat kuning dan sikapnya seperti seorang sasterawan tua.
Tapi sekarang, walaupun tak dapat dilihat tegas, tapi dengan bantuan sinar rembulan, Keng Thian melihat ia sebagai seorang yang bersemangat dan berparas angker, sedang usianya seperti juga sepuluh tahun lebih muda daripada kira-kira setahun yang lampau.
"Tak heran jika tadi aku tidak mengenali ia,"
Kata Keng Thian di dalam hatinya.
Ia tentu saja tidak mengetahui, bahwa perubahan itu sudah terjadi karena Siauw Tjeng Hong sudah makan buah Yoetam Sianhoa, hadiah Thiekoay sian.
Sembari berlompat-lompatan dan tertawa-tawa di depan barisan batu itu, Kang Lam berkata.
"Ah!
Benar-benar Siauw Loosoe!
Jika kau tidak bersuara lebih dulu, aku tentu tidak berani memanggil.
Kenapa kau tidak bongkok lagi?
Kerut-kerutan di atas mukamu juga tidak kelihatan lagi.
Ha-ha!
Siapa nyonya itu?
Apa Siauw Soenio?
Ah!
Siauw Loosoe!
Beruntung benar kau!
Kang Lam harus memberi selamat dengan secangkir arak.
Eh, Siauw Soenio!
Apa Siauw Loosoe pernah menyebutkan namaku, si Kang Lam?' Demikianlah Kang Lam yang sekali berbicara lantas saja seperti petasan disulut.
Wanita itu tertawa seraya berkata.
"Masakan ia tak pernah menyebutkan nama besar Kang Lam yang kesohor? Bukankah kau menjadi kacung Tan Kongtjoe yang paling suka bicara?"
Lagi-lagi Keng Thian merasa heran. Dari mana kacung Thian Oe ini belajar silat? Dilihat dari gerak-gerakannya, ilmu anak itu berbeda dengan ilmu Thian Oe.
"Eh,"
Kata Siauw Tjeng Hong.
"Sekarang jangan membicarakan yang tak penting. Lebih dulu aku minta kau melepaskan kami."
"Mana aku mampu?"
Kata Kang Lam dengan suara jengkel.
"Kenapa tidak bisa?"
Tanya pula Siauw Tjeng Hong.
"Apakah kau sendiri tidak mengerti seluk-beluk barisan ini yang sangat aneh?"
Kang Lam balas menanya.
"Kenapa tadi kau menimpuk dengan batu?"
Tanya lagi Siauw Tjeng Hong.
"Aku tak tahu, yang ditimpuk adalah kau,"
Sahutnya.
"Oh, kalau lain orang, kau rasa boleh menimpuk sembarangan?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Kang Lam, kau tidak kecil lagi. Kenapa masih begitu nakal?"
"Ada orang yang menyuruh aku berbuat begitu,"
Anak itu menerangkan.
"Siapa?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Guruku,"
Jawabnya.
"Eh, salah! Tua bangka itu yang memaksa aku mengangkat ia sebagai guruku."
"Tua bangka siapa?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Sudah berapa lama kau belajar silat? Mana Thian Oe? Ia memperlakukan kau sebagai saudara sendiri, kenapa kau mabur dengan diam-diam dan mengangkat orang lain sebagai gurumu? Sudah berapa lama kau kabur?"
""Siapa kata aku mabur diam-diam?"
Teriak Kang Lam.
"Dusta besar jika dikatakan aku kesudian mengangkat orang lain sebagai guru. Kongtjoe yang menyuruh aku. Kau tak tahu suatu apa, kenapa sudah mengatakan yang tidak-tidak?"
Wanita itu tertawa dan berkata.
"Dia tidak sabaran, kau pun begitu juga. Tjeng Hong! Kau harus menanya satu demi satu. Jika kau majukan pertanyaan seperti hujan, mana bisa mendapat jawaban beres."
"Benar,"
Kata Siauw Tjeng Hong sembari mesem.
"Aku melupakan adat Kang Lam yang seperti api. Baiklah. Sekarang pertanyaan pertama. Kenapa Tan Kongtjoe menyuruh kau pergi ke lain tempat?"
"Tan Kongtjoe?"
Kata Kang Lam.
"Bukan! Looya (majikan tua) yang menyuruh aku mengantarkan sepucuk surat kepada Tjioe Taydjin. Surat apa? Tentu saja ia tidak memberitahukan. Ha! Tapi aku tahu. Tjioe Taydjin adalah besannya. Aku mendapat tahu dari seorang budak perempuan, Tjay Hong namanya. Dialah yang memberitahukan kepadaku. Aku malah tahu apa yang ditulis. Eh, Siauw Loosoe! Apakah kau tahu, kenapa aku diberi nama Kang Lam? Looya memberikan nama itu kepadaku lantaran ia selalu ingat akan kampung kelahirannya, di daerah Kanglam. Aku sendiri merasa betah hidup di Tibet, tapi Looya sangat tidak betah. Ia selalu ingin pulang ke kampungnya. Suatu malam, aku telah mencuri mendengarkan pembicaraan antara Looya dan Kongtjoe. Looya mengatakan, bahwa dengan menjadi utusan istimewa untuk menyambut guci emas, ia sudah berjasa besar, tapi sungguh sayang, Hok Taydjin-hm! Hok Kong An-tak sudi membantu ia. Sebaliknya, dia malah memerintahkan Looya kembali ke Sakya untuk menjabat pula pangkat Soanwiesoe."
"Oleh sebab itu, Looya segera mengambil keputusan untuk menulis surat kepada besannya, dengan pengharapan Tjioe Taydjin suka memberitahukan Hongsiang (kaisar) tentang jasa-jasanya dan memohon agar Hongsiang sudi membebaskan ia. Tapi, kata Looya, perjalanan begitu jauh, siapa yang dapat dipercayakan membawa surat itu? Ha! Siauw Loosoe. Coba tebak, siapa yang dipujikan oleh Siauwya (majikan muda)? Bukan lain daripada aku sendiri! Kata Siauwya. Orang yang paling tepat adalah Kang Lam. Nah, lihatlah! Semua orang mengatakan aku rewel, banyak mulut, tak mampu bekerja! Tapi, Siauwya? Siauwya memandang tinggi padaku! Maka itu, jika tadi aku mengatakan, bahwa aku disuruh oleh Siauwya, aku pun tidak bicara salah!"
Begitulah keterangan Kang Lam yang panjang lebar dan banyak bumbunya. Mendengar itu, Keng Thian pun merasa geli dan berkata di dalam hatinya.
"Tak salah jika orang mengatakan, Kang Lam suka benar bicara!"
Siauw Tjeng Hong tertawa terbahak-bahak.
"Siauwya sungguh memandang tinggi dirimu, sehingga ia sudah menurunkan ilmu silat kepadamu,"
Katanya.
"Bukankah begitu?"
"Benar, tepat sekali dugaanmu, jawabnya.
"Pada musim semi tahun yang lalu, sesudah beberapa pencuri kuda itu membakar kantoran dan sesudah kau kabur, baru aku mengetahui, bahwa Siauw Loosoe mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi dan bahwa Kongtjoe pun memiliki ilmu yang tidak rendah. Waktu itu, aku sudah lantas memohon supaya Kongtjoe sudi menurunkan ilmunya kepadaku. Tapi, oleh karena ingin menghindari kawin paksaan dan juga ingin mengantar kau, maka Kongtjoe tidak dapat meluluskan permintaanku. Belakangan, sesudah kembali dari Lhasa, baru ia mengajarkan aku beberapa macam ilmu silat yang kasar. Siauw Loosoe! Coba kau pikir. Jika aku tak mempunyai bekal, bagaimana Kongtjoe mau memujikan diriku untuk membawa surat yang begitu penting?"
"Jika kau tahu pentingnya surat itu, kenapa juga kau main lambat-lambatan disini?"
Tanya Siauw Tjeng Hong lagi sembari menahan tertawa.
"Dan kenapa kau membiarkan dirimu dijadikan murid tua bangka itu?"
"Siapa mengatakan aku main lambat-lambatan disini?"
Teriak Kang Lam dengan suara mendongkol.
"Pengalamanku tiada bedanya dengan kau, Siauw Loosoe! Aku lewat disini, hatiku heran, aku masuk untuk melihat-lihat. Dan kau tahu, seperti kau, begitu masuk aku tak bisa keluar."
Muka Siauw Tjeng Hong jadi berubah merah.
"Baiklah,"
Katanya.
"Aku tidak mempersalahkan kau. Tapi kemudian, bagaimana kau dapat keluar?"
"Lama juga aku terkurung dalam barisan ini,"
Kang Lam menerangkan.
"Aku jalan terputarputar, perutku lapar dan aku mencaci maki sekeras-kerasnya. Ha! Baru aku memaki, sudah ada yang datang."
"Apakah tua bangka itu?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Tak salah,"
Sahutnya.
"Selagi aku enak memaki, dengan sekali berkelebat, si tua yang mengenakan jubah pertapaan kuning, sudah berdiri di hadapanku. Tak tahu, dari mana datangnya. Katanya. Hei, anak muda! Kalau kau mau menjadi muridku, aku akan mengeluarkan kau dari tempat ini."
"Dan kau lantas menerima tawaran itu?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Menolak pun tak ada gunanya,"
Jawab si kacung.
"Sehari suntuk aku sudah terkurung dalam barisan batu ini, lebih lama daripada kau. Apakah boleh tak usah makan? Biarpun hatiku tak kesudian, mulutku lantas saja menyanggupi. Si tua tertawa girang. Dengan menuntun tanganku, ia berjalan bulak-balik dan entah bagaimana, tahu-tahu aku sudah berada di luar. Kataku. Maaf, Lootjianpwee. Jika kau memerlukan murid, carilah saja yang lain. Aku sendiri perlu buru-buru meneruskan perjalanan. Tua bangka itu lantas saja berkata. Anak kecil! Kau sungguh tak tahu diri. Lain orang memohon-mohon berlutut di hadapanku tiga hari tiga malam, belum tentu aku sudi mengambil dia sebagai murid. Apakah kau tahu, kenapa aku mau menerima kau sebagai murid? Aku sudah bersumpah, bahwa sebelum mati, aku akan mengambil seorang murid untuk mewarisi Seantero kepandaianku. Tapi aku pun tak sudi keluar dari selat ini. Aku menunggu sampai orang datang. Asal dia belum berusia delapan belas tahun, aku akan mengambilnya sebagai murid. Bukankah kau beruntung sekali? Aku lantas menjawab, bahwa aku tak sudi menerima keberuntungan itu lalu memutarkan badan untuk berjalan pergi. Si tua bangka lantas saja berkata sembari tertawa. Biarpun mempunyai kepandaian seratus kali lipat lebih tinggi, kau tak akan bisa kabur. Cobalah! Aku tak meladeni dan berjalan terus. Mendadak, kedua dengkulku kesemutan dan di luar keinginanku, aku jungkir balik tiga kali sampai berhadapan pula dengan si tua bangka. Begitu berhenti jumpalitan, rasa kesemutan di dengkulku lantas saja menjadi hilang. Si tua berkata lagi. Bocah! Jika kau mabur untuk kedua kalinya, seluruh badanmu akan kegatalan dan kesakitan tiga hari tiga malam lamanya. Kalau kau berani mabur untuk ketiga kali, akan kumampuskan kau! Suaranya tenang, agaknya jiwa manusia seperti jiwa kacoa di matanya. Sorot matanya sungguh hebat. Aku menjadi ketakutan. Aku memberitahukan kepadanya, bahwa Siauwya-ku menyuruh aku mengantarkan surat. Ia tidak meladeni dan kukuh pada kemauannya. Demikianlah, aku tak dapat berbuat lain daripada menerima nasib menjadi muridnya."
"Sudah berapa lama kau mengikuti dia?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Baru tujuh hari,"
Jawab Kang Lam sesudah menekuk jerijinya.
"Dusta! Lagi-lagi kau membohong!"
Membentak Siauw Tjeng Hong.
"Lagi kapan aku berdusta?' tanya Kang Lam dengan suara keras.
"Tujuh hari?"
Siauw Tjeng Hong menegaskan dengan suara tidak percaya.
"Dalam tujuh hari bagaimana kau mampu mempelajari ilmu menimpuk jalan darah?"
"Ah!"
Seru Kang Lam.
"Apakah itu ilmu menimpuk jalan darah dengan senjata rahasia? Tadinya aku menduga ia hanya mengajarkan permainan anak-anak belaka."
Keng Thian tercengang. Jika benar dalam tempo tujuh hari ia bisa mengajar menimpuk jalan darah dengan batu, kepandaian orang tua itu sungguh-sungguh tak dapat ditaksir bagaimana dalamnya.
"Apa si tua sudah mengetahui kedatangan kami dan menyuruh kau menunggu disini untuk menimpuk dengan batu?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Mungkin,"
jawabnya.
"Semalam dia berkata begini kepadaku. Ada dua orang yang telah masuk ke dalam selat ini. Sesudah mempunyai murid, aku tak suka orang luar datang kemari.
"Hantamlah mereka dengan batu, tapi jangan menimpuk sembarangan. Timpuklah sesudah mereka memutar dua kali ke sebelah kiri, dua kali ke sebelah kanan dan mendekati pintu keluar. Siauw Loosoe! Aku tak tahu, kedua orang itu adalah kalian. Aku menganggap senang juga bisa bermain-main dan sudah segera menurut perintahnya. Siauw Loosoe! Harap kau tidak menjadi gusar."
Siauw Tjeng Hong mendongkol berbareng geli.
"Kalau begitu,"
Katanya.
"Kau tak dapat melepaskan kami."
"Memang tak bisa,"
Kata Kang Lam.
"Jika kalian lapar, aku bisa mencuri sedikit makanan."
"Cobalah kami menjajal-jajal,"
Kata Siauw Tjeng Hong yang segera jalan mutar ke kiri dua kali dan ke kanan dua kali.
Tapi, sesudah mencoba berulang-ulang, ia masih belum berhasil menoblos dari barisan itu.
Tjeng Hong menjadi bingung.
Ketika itu, rembulan sudah doyong ke sebelah barat dan fajar akan segera menyingsing.
"Siauw Loosoe,"
Kata Kang Lam.
"Sudah semalam suntuk kau berputar-putar disitu. Apakah kau tidak lapar? Jika lapar, aku bisa mencuri makanan "
"Tidak, aku tak lapar,"
Jawab Tjeng Hong sembari menggaruk-garuk kepalanya. Keng Thian tersenyum. Bagaikan seekor garuda, ia melayang turun dari atas batu seraya berseru.
"Siauw Sinshe! Selamat bertemu!"
Begitu mengetahui siapa yang datang itu, bukan main girangnya Siauw Tjeng Hong.
"Tong Siangkong!"
Ia berseru sembari berjingkrak.
"Bagaimana kau pun bisa berada disini?"
"Seperti juga kalian, aku tersurung perasaan kepingin tahu,"
Jawabnya sembari masuk ke dalam barisan batu itu.
"Eh-eh,"
Kata Kang Lam.
"Sekali masuk, kau tak akan bisa keluar lagi. Aku tak mengenal kau, tak dapat aku mencuri makanan untukmu."
Tapi Keng Thian tidak meladeni, ia masuk terus sembari mesem.
Dengan dipimpin olehnya, sesudah bulak-balik beberapa kali, Siauw Tjeng Hong dan wanita itu sudah berada diluar tin (barisan).
Kang Lam membuka matanya lebar-lebar.
"Ha!"
Katanya.
"Tak nyana, kau berkepandaian begitu tinggi. Siapa kau?"
Siauw Tjeng Hong tertawa dan berkata.
"Dia adalah orang yang pernah menolong Kongtjoemu..."
"Aku tahu!"
Kang Lam putuskan perkataan orang.
"Kau tentu Tong Keng Thian. Tong Siangkong, Siauwya pernah menceritakan halmu kepadaku. Kata Siauwya, Thiansan Kiamhoat-mu, tak ada bandingannya di dalam dunia.
"Eh, apakah kau bisa menolong supaya aku dapat meloloskan diri dari tempat ini? Bukankah kau sudah mendengar semua pembicaraanku tadi? Aku perlu berangkat buru-buru untuk menyampaikan surat."
"Kang Lam,"
Kata Keng Thian sembari mesem.
"Jangan kiiam Aku tahu, apa yang harus kulakukan."
Ia berpaling kcp.ula Tjeng Hong dan menyambung perkataannya.
"Selamat, Siauw Sinshe! Lagi kapan kau menikah?"
"Tahun yang lalu, sesudah pulang ke Sengtouw, aku lalu mempersatukan diri pula ke dalam partai Tjengshia pay,"
Tjeng Hong menerangkan.
"Dia juga berada di Sengtouw, menunggu aku."
Sesudah berkata begitu, ia lalu memperkenalkan isterinya kepada Keng Thian.
Isteri Siauw Tjeng Hong adalah adik misanannya sendiri yang bernama Gouw Tjiang Sian.
Sebagai kawan bermain semenjak kecil, Tjiang Sian mencintai Tjeng Hong, tapi ia selalu mengumpatkan rasa cintanya, karena Tjeng Hong sudah jatuh cinta kepada Tjia In Tjin.
Setelah terjadi pertemuan di keraton es, Siauw Tjeng Hong mengetahui, bahwa orang yang dicintainya itu sudah menikah dengan Thiekoay sian dan bahwa Gouw Tjiang Sian masih menunggu ia.
Begitu kembali ke Sengtouw, ia segera meminang adik misanannya itu dan mereka lalu menikah.
Di waktu menikah, Siauw Tjeng Hong sudah berusia empat puluh tahun lebih.
"Kemana kalian mau pergi?"
Tanya Keng Thian.
"Kenapa lewat disini?"
"Tahun yang lalu, aku dan Thian Oe telah mendaki Nyenchin Dangla, bertemu dengan Pengtjoan Thianlie dan mengetahui, bahwa nona itu adalah puteri Koei Hoa Seng,"
Tjeng Hong menerangkan.
"Sesudah pulang sebenarnya aku ingin sekali segera pergi menemui Moh Tjoan Seng Lootjianpwee untuk menyampaikan warta girang itu. Akan tetapi, karena repot, belum juga aku dapat mewujudkan niatan itu..."
"Siauw Loosoe!"
Kang Lam mendadak menyeletuk.
"Kau sudah menikah, kenapa masih repot juga?"
"Kang Lam, jangan memotong perkataan Siauw Loosoe,"
Kata Keng Thian.
"Tapi sekarang, aku mendengar suatu urusan yang, walaupun bagaimana juga, mesti diselidiki sampai seterang-terangnya untuk diberitahukan kepada Moh Lootjianpwee,"
Tjeng Hong melanjutkan penuturannya.
"Urusan apa?"
Tanya Keng Thian.
"Moh Lootjianpwee adalah tetua dari Boetong pay,"
Siauw Tjeng Hong menerangkan.
"Di samping itu, ia telah diakui sebagai ahli silat nomor satu dalam Rimba Persilatan di seluruh wilayah Tionggoan. Sebagaimana kau tahu, setiap sepuluh tahun ia membuka pintu mengadakan Kiatyan (memberi sedekah atau ceramah oleh seorang Budhis) dan memberi petunjuk-petunjuk kepada orang-orang yang tingkatannya lebih rendah. Sekarang tempo untuk Kiatyan sudah mendekati, yaitu tinggal setengah bulan lagi."
"Bagus!"
Kata Keng Thian.
"Bukankah kita masih mempunyai tempo untuk tiba pada waktunya?"
"Tapi... kali ini, mungkin bakal ada orang yang datang mengacau!"
Kata Tjeng Hong.
Keng Thian terkesiap.
Ia membuka kedua matanya lebar-lebar, hampir-hampir ia tak percaya kupingnya sendiri.
Harus diketahui, bahwa Moh Tjoan Seng adalah pendekar besar dari jaman itu.
Bukan saja ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, tapi kebatinannya pun sangat luhur, sehingga kebesaran namanya dapat dipersamakan seperti gunung Thaysan atau bintang Paktauw, yang diindahkan dan dikagumi oleh semua cabang dan partai persilatan di seluruh Tiongkok.
Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi dan nama begitu besar, siapakah yang berani mengganggu ia?
Siauw Tjeng Hong mendehem beberapa kali lalu berkata pula.
"Menurut apa yang kudengar, yang mau mengacau adalah seorang luar biasa dari partai Khongtong pay."
Keng Thian mesem.
"Tjiangboendjin (pemimpin) Khongtong pay adalah Tio Leng Koen,"
Katanya.
"Melawan muridmu, saudara Thian Oe, ia masih belum tentu bisa memperoleh kemenangan."
Paras muka Siauw Tjeng Hong yang sangat guram, tetap tidak berubah.
"Selama kurang lebih tiga puluh tahun partai Khongtong pay memang sangat merojan,"
Katanya dengan suara sungguhsungguh.
"Orang-orangnya dari tingkatan atas masih belum dapat menandingi ahli-ahli silat kelas satu. Itulah sebabnya, mengapa berbagai partai jadi memandang rendah partai tersebut. Akan tetapi, sebenar-benarnya, Khongtong pay mempunyai keistimewaan yang luar biasa."
Keng Thian terkejut.
"Benar,"
Katanya.
"Memang juga, jika tidak mempunyai keistimewaan, Khongtong pay tentu tidak dapat menjadi suatu partai. Kecerdasan manusia tidak dapat disamaratakan dan kerajinan orang pun berbeda-beda, sehingga memang juga kita tidak dapat memukul rata semua orang. Tadi, oleh karena mengingat kepandaian Tio Leng Koen yang masih cetek, aku jadi memandang rendah Khongtong pay sebagai partai. Aku mengakui, bahwa perkataanku itu tidak benar."
Dari sini dapat dilihat, bahwa Keng Thian adalah seorang pemuda yang telah mendapat pendidikan sangat baik dan segera mengakui kekeliruannya, begitu lekas ia menganggap dirinya bersalah.
"Menurut apa yang aku dengar,"
Kata pula Siauw Tjeng Hong.
"Oleh karena melihat merojannya partai mereka, sedari tiga puluh tahun berselang, sejumlah orang Khongtong pay dari tingkatan atas, pergi menyembunyikan diri di tempat sepi untuk melatih diri dan meyakinkan kitab-kitab ilmu silat dari Tjouwsoe (pendiri) Khongtong pay, dan selain itu, mereka juga telah menggubah ilmu-ilmu silat baru. Selama beberapa puluh tahun ini, tak seorang pun mengetahui sampai dimana mereka sudah mencapai kemajuan. Paling belakang, secara kebetulan aku mendengar, bahwa ada tetua Khongtong pay yang ingin turun gunung."
"Apakah kau maksudkan, bahwa sesudah turun gunung, ia segera ingin menyatroni Moh Tayhiap untuk menjajal kepandaian?"
Tanya Keng Thian.
"Benar,"
Jawab Tjeng Hong.
"Jika tidak membentur ahli silat nomor satu di wilayah Tionggoan, dia tak dapat memperlihatkan kepandaiannya dan juga sukar mengangkat naik nama partainya yang sudah merosot. Tapi, di samping itu, menurut yang kudengar, masih terselip sebab lain."
Sesudah berkata begitu, ia mengawasi Keng Thian sembari mesem dan menyambung pula perkataannya.
"Sebab itu, mungkin adalah karena gara-garamu."
"Sungguh mengherankan,"
Kata Keng Thian.
"Aku mendengar, bahwa kau merobohkan tiga belas jago Khongtong pay dengan Thiansan Sinbong,"
Kata Siauw Tjeng Hong.
"Apakah benar?"
"Benar, antara mereka terdapat juga Tio Leng Koen,"
Jawabnya.
"Selain kau, terdapat seorang wanita muda yang menggunakan pedang es bukan?"
Tanya lagi Tjeng Hong.
"Wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie bersama dayangnya yang bernama Yoe Peng,"
Keng Thian menerangkan.
"Di samping mereka berdua, masih ada seorang lain, yaitu muridmu sendiri, Thian Oe. Jika lantaran itu, Khongtong pay jadi merasa sakit hati, seharusnya mereka mencari aku dan bukannya Moh Tayhiap."
"Kalian, ayah dan anak, mempunyai nama yang lebih besar daripada Moh Tayhiap,"
Kata Tjeng Hong.
"Jika mereka menyatroni kalian dan bertempur di atas gunung Thiansan, orang luar tak akan dapat menyaksikan menang kalahnya. Maka itu, mereka telah mengambil putusan untuk menyatroni Moh Tayhiap. Mereka menganggap Yoe Peng sebagai Pengtjoan Thianlie dan entah bagaimana, mereka juga sudah mengetahui, bahwa Pengtjoan Thianlie adalah keponakan Moh Tayhiap. Dengan adanya ikatan keluarga itu, mereka jadi mempunyai alasan lebih kuat untuk menyukarkan Moh Tayhiap. Selain itu, aku pun mendengar, mereka sudah mengundang orangorang pandai dari partai lain untuk mengacau di harian Kiatyan. Kepergianku kali ini, pertama adalah untuk menyampaikan warta tentang Pengtjoan Thianlie kepada Moh Tayhiap dan kedua, untuk memberitahukan hal itu, supaya Moh Tayhiap bisa bersiap-siap. Tapi sedikitpun aku tidak merasa kuatir. Dengan kepandaiannya yang sedemikian tinggi, Moh Tayhiap tentu akan dapat mengatasi segala kejadian."
Keng Thian berpikir beberapa saat dan kemudian berkata sembari mesem.
"Bagus!"
"Kenapa kau kata bagus?"
Tanya Tjeng Hong.
"Bukankah kita akan dapat turut menonton keramaian?"
Kata Keng Thian sembari mesem.
"Apakah kau juga ingin pergi menyambangi Moh Lootjianpwee?"
Tanya Tjeng Hong.
"Benar,"
Jawabnya.
"Menurut perhitunganku, kita masih mempunyai tempo untuk tiba pada waktu Kiatyan. Aku pun berharap agar Pengtjoan Thianlie juga berada disitu. Ingin sekali aku menyaksikan ilmu apa yang dimiliki orang Khongtong pay itu, sehingga ia berani menyatroni Moh Lootjianpwee."
Mendengar itu, Siauw Tjeng Hong mengetahui, bahwa Keng Thian niat turun tangan dan hatinya menjadi girang sekali.
"Sebagai orang yang tingkatannya tinggi, Moh Lootjianpwee tak pantas turun tangan sendiri,"
Katanya didalam hati.
"Tong Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie, mempunyai kepandaian tinggi, tapi tingkatannya rendah. Sungguh bagus, jika mereka berdua bisa berada bersama-sama."
"Kalau begitu, biarlah kita menunggu sampai fajar untuk segera berangkat,"
Kata Tjeng Hong. Kang Lam yang sedari tadi sudah merasa sangat tidak sabar, lantas saja menyeletuk, begitu lekas mereka berhenti berbicara.
"Eh, aku bagaimana? tanyanya.
"Kau, kau apa?"
Kata Keng Thian.
"Kau sudah mempunyai guru yang baik, apakah kau juga ingin mengikut?"
"Kau toh sahabat Kongtjoe-ku bukan?"
Kang Lam berseru.
"Apakah kau tak tahu, aku diperintah membawa surat? Bagaimana kau bisa tidak mengajak aku?"
Keng Thian tertawa.
"Eh,"
Katanya.
"Aku mau menanya. Apakah Kongtjoe-mu baik?"
"Bagaimana tak baik?"
Sahutnya.
"Sehari makan tiga kali!"
"Gila kau!' bentak Keng Thian.
"Aku mau menanya. Bagaimana dengan puteri Touwsoe?"
"Apa lagi?"
Jawab Kang Lam sembari nyengir.
"Setiap hari berhias, seperti sundal saja! Dari pagi sampai malam, kerjanya memburu. Saban hari lewat di depan kantoran. Karena takut kesomplok, siang hari malam, Siauwya selalu bersembunyi di dalam, sejenak pun tak berani keluar. Agaknya Siauwya takut digigit!"
Sehabis berkata begitu, ia tertawa terbahak-bahak, sehingga semua orang jadi turut tertawa.
"Kalau begitu, pernikahan mereka sudah tetap, bukan?"
Tanya Keng Thian.
"Tidak, tidak! Kongtjoe menolak keras,"
Jawabnya.
"Tapi... tapi sekarang sudah ada ketetapannya... antara Touwsoe dan Looya. Si Touwsoe yang mendesak terus, supaya Looya meluluskannya. Lain tahun musim semi, jika kuil Lhama yang sedang dibuat sudah rampung, aku mendengar, bakal datang seorang Budha Hidup dari Agama Topi Putih untuk meresmikan pembukaan kuil tersebut. Pada waktu itu, Touwsoe ingin minta bantuan Budha Hidup untuk menikahkan mereka. Hm! Kongtjoe tentu tak bisa berkelit lagi."
Hati Keng Thian berdebar-debar.
"Thian Oe tak dapat melupakan Chena, tapi ia tentu tak tahu, nona itu sekarang sudah menjadi Wanita Suci,"
Pikirnya.
"Lain tahun di musim semi, ia akan mengikut raja agama Sekte Topi Putih datang di Lhasa untuk meresmikan pembukaan kuil."
Ketika itu fajar sudah menyingsing dan sinar matahari pagi sudah menembus ke dalam hutan batu itu.
"Apakah sekarang kita sudah boleh berangkat?"
Tanya Tjeng Hong.
"Eh, ajak aku!"
Kata Kang Lam.
"Baiklah,"
Sahut Keng Thian.
"Sebelum berangkat, aku minta kau mengajak kami pergi menemui gurumu untuk berpamitan."
"Perlu apa berpamitan?"
Kata Kang Lam.
"Jika pamitan, dia tentu menghalangi."
Mendadak saja, dari jauh terdengar suara seorang tua.
"Orang berilmu dari manakah yang sudah penuju dengan muridku yang tolol itu?"
Suara itu tidak keras tapi "tajam"
Dan mengeluarkan suara "ung-ung", di waktu gelombangnya membentur hutan batu.
Dengan hati mencelos, Kang Lam buru-buru bersembunyi di belakang Keng Thian yang lalu merangkap kedua tangannya seraya berkata.
"Aku yang muda adalah Tong Keng Thian yang sudah kesalahan masuk ke dalam tempat dewa-dewa ini. Mohon Lootjianpwee suka memberi maaf."
Suara Keng Thian juga tidak besar, tapi nyaring, seolah-olah tikaman pedang ke dalam hutan batu itu, yang segera berkumandang, setelah dibentur gelombang suara.
Baru saja ia mengucapkan perkataannya, dengan sekali berkelebat, di hadapan mereka sudah berdiri seorang Toosoe (imam) yang paras mukanya aneh dan mengenakan jubah pertapaan warna kuning.
Kang Lam gemetar sekujur badannya, ia mepet di belakang Keng Thian, tanpa berani menongolkan kepala.
"Selama beberapa puluh tahun, tuan adalah orang satu-satunya yang bisa keluar dari barisan batu ini,"
Katanya.
"Orang yang pandai tidak perlu meminta maaf. Sesudah bisa keluar dari barisan batu, kau tentu mempunyai kepandaian untuk membawa pergi muridku yang tolol. Baiklah. Kau boleh membawa dia pergi!"
Keng Thian terkejut.
Dari perkataannya, imam itu ingin mengukur kepandaiannya.
Waktu Toosoe itu pertama bicara, karena teraling puncak-puncak, Keng Thian tidak mengetahui persis dimana ia berada, tapi bisa ditaksir, ia sedikitnya terpisah seratus tombak.
Dan hampir berbareng dengan suaranya, manusianya sudah tiba di hadapannya.
Dari sini, Keng Thian mengetahui, bahwa imam itu mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.
Sebagai penjagaan, ia menarik napas dalam-dalam untuk mengerahkan tenaga Hiankong dari Thiansan pay.
"Jika demikian,"
Katanya sembari membungkuk.
"Sesudah urusanku beres, aku tentu akan datang lagi disini guna menyampaikan hormat."
Sembari menuntun tangan Kang Lam, perlahan-lahan ia berjalan keluar dari hutan batu.
Toosoe itu mencekal Hudtim (kebutan) dalam tangannya.
Melihat tetamunya berangkat, tanpa menggerakkan badannya, ia mengebut dengan Hudtim-nya dan berkata.
"Sebelum mempunyai sayap, bocah nakal itu sudah ingin terbang. Tuan harus menilik ia secara keras!"
Sebagai seorang yang sudah menyelami ilmu Thiansan pay, Keng Thian mempunyai perasaan yang luar biasa tajamnya.
Kebutan itu, yang sebenarnya sangat perlahan, sudah dapat didengar olehnya, dan lebih dari itu, tanpa menengok, ia juga mengetahui, bahwa beberapa helai benang Hudtim sedang menyambar jalan darah Kang Lam dan ia sendiri!
Dengan perkataan lain, si Toosoe dapat menggunakan benang-benang yang begitu halus seperti semacam jarum untuk menusuk jalan darah musuh.
Dapat dibayangkan, bahwa seorang yang tidak mempunyai "ketajaman"
Seperti Keng Thian, tidak akan dapat mengelakkan serangan itu yang tidak ada suaranya dan hampir tak kelihatan bahayanya. Bagaikan kilat Keng Thian meloncat dan menarik tangan Kang Lam sambil berkata.
"Hati-hati! Ada batu."
Dengan demikian, semua benang Hudtim itu menyambar ke badannya.
Akan tetapi, walaupun sudah berjaga-jaga dengan mengerahkan tenaga Hiankong, tak urung ia merasa kesemutan di beberapa jalan darahnya, seperti digigit semut.
"Tenaga dalam Toosoe itu sungguh hebat,"
Katanya di dalam hati.
"Meskipun belum bisa menandingi Hoeihoa tjekyap (Bunga terbang memetik daun) Ie-ie-ku, ilmunya masih lebih tinggi daripada aku."
"Mana ada batu?"
Tanya Kang Lam yang tidak mengetahui, bahwa tanpa pertolongan Keng Thian, kedua dengkulnya tidak akan dapat digunakan lagi.
"Kang Lam,"
Kata Keng Thian.
"Haturkan terima kasih kepada gurumu!"
Ia mengetahui, bahwa sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, si Toosoe pasti tidak akan menyerang dua kali kepada bocah yang menjadi muridnya sendiri.
Kang Lam adalah seorang yang sangat cerdas otaknya Meski tidak mengerti maksudnya, lantas saja ia menyoja dan berkata.
"Terima kasih atas budi Soehoe yang sudah melepaskan murid."
Keng Thian segera menggerakkan tangannya supaya Kang Lam berjalan lebih dulu. Muka imam itu menjadi merah padam.
"Mulai dari sekarang, antara kau dan aku sudah tidak ada hubungan guru dan murid lagi,"
Katanya dengan suara dingin.
Suara itu menusuk kuping sehingga si bocah merasakan kepalanya puyeng dan hampir-hampir ia jatuh terguling.
Buru-buru ia menutup kedua kupingnya dan mementang langkah lebar-lebar.
Di lain saat, ia merasakan badannya panas, tapi ia tidak menggubris itu dan terus berjalan secepat mungkin.
Selagi Keng Thian mau berpamitan, imam itu mengawasi ia dengan sorot mata tajam dan menanya dengan suara yang sangat tidak enak kedengarannya.
"Bagus! Liehay sungguh kepandaianmu! Siapa gurumu? Bilanglah, supaya aku dapat meminta pengajarannya."
Keng Thian mesem.
"Tempat tinggal Boanpwee jauh dari sini,"
Jawabnya.
"Mana berani aku membikin Tjianpwee bercapai lelah."
Kata-kata Keng Thian yang manis itu sebenarnya mengandung duri di dalamnya.
Dengan perkataannya itu, ia seperti ingin menyatakan, bahwa gurunya sebenarnya dapat melayani permintaan si Toosoe, hanya ia tidak berani membikin si imam menjadi capai.
Keng Thian yang biasanya suka merendah sudah terpaksa menggunakan kata-kata yang menusuk itu, oleh karena ia mendongkol mendengar betapa temberangnya imam tersebut.
Harus diketahui, bahwa ayah Keng Thian adalah pemimpin suatu partai besar yang kedudukannya sangat tinggi, sehingga ia boleh tak usah bicara sungkan-sungkan untuk ayahnya itu.
Toosoe jubah kuning itu lantas saja mendelik.
"Sebetulnya aku tak ingin keluar dari hutan ini,"
Katanya dengan suara tawar.
"Tapi sesudah mendengar perkataanmu, tak dapat tidak aku mesti mencari gurumu. Siapa gurumu?"
Keng Thian terus mesem. Selagi mau menjawab, dalam hutan batu itu tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menyeramkan. Di lain saat, seorang manusia muncul dari salah sebuah gua batu.
"Hongsek Tooyu,"
Katanya sembari menyeringai.
"Matamu lamur. Apakah kau tidak mengenali ilmu silat dari Thiansan pay? Coba pikir. Di antara orang-orang tingkatan sebelah bawah, selain putera tunggal Tong Siauw Lan, siapa lagi yang berani berlaku begitu kurang ajar di hadapanmu? Sudah lama aku mengatakan, bahwa Thiansan pay sangat sombong dan memandang lain cabang persilatan seperti juga partai yang menyeleweng. Apakah sekarang kau percaya perkataanku itu?"
Keng Thian menengok.
Orang itu hitam kurus, mukanya melesek ke dalam, kedua matanya bagaikan bara, rambutnya awut-awutan, sedang romannya menakutkan sekali dan dia bukan lain daripada Hiatsintjoe.
Kang Lam mengeluarkan teriakan tertahan, hatinya heran bukan main.
Terang-terangan ia mengetahui, bahwa di dalam gua hanya terdapat gurunya seorang diri.
Dari mana datangnya manusia aneh itu?
Apakah ada jalan rahasia di dalam hutan batu itu?
Keng Thian juga tidak kurang terkejutnya.
Dengan kedatangan Hiatsintjoe, tak gampanggampang ia akan dapat meloloskan diri.
Imam itu lantas saja tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba paras mukanya berubah dan sambil mengebut dengan Hudtim-nya, ia berkata.
Sebenarnya aku tidak berniat menyusahkan orang yang tingkatannya di sebelah bawah.
Akan tetapi, oleh karena orang itu adalah anak Tong Siauw Lan, jika aku melepaskan ia, orang lain akan menduga aku takut kepada suami isteri Tong Siauw Lan.
Biarpun berada dalam bahaya, Keng Thian tetap berlaku tenang. Ia mesem seraya berkata.
"Jika kedua Lootjianpwee ingin menahan aku, aku tentu tak akan bisa lari. Maka itu, aku bersedia untuk menerima segala keputusan kalian."
Dengan berkata begitu, ia seperti mau mengatakan, bahwa dalam kedudukannya sebagai Houpwee (orang yang tingkatannya lebih rendah), ia bersedia untuk melayani dua orang yang kedudukannya lebih tinggi itu.
"Hm!"
Si Toosoe mengeluarkan suara di hidung.
"Untuk menahan kau, aku tak perlu mendapat bantuan orang. Hiatsintjoe! Biarlah kau menjadi saksi. Jika bocah itu dapat menyambut seranganku dalam tujuh jurus, aku akan membiarkan mereka pergi. Bocah, sungguh sombong kau! Sampai kapan baru kau mau menghunus senjata?"
Putera Tong Siauw Lan ini lantas saja tertawa besar.
"Jika kau ingin memberi pelajaran, tak usah dibatasi dalam tujuh jurus,"
Katanya "Aku berdiri disini, tak bisa melarikan diri. Lootjianpwee! Kenapa kau tidak lantas menyerang? Mau tunggu sampai kapan?"
Diejek begitu, Hongsek Toodjin jadi marah besar.
"Baiklah,"
Katanya."Kau tidak mau mengeluarkan senjata, itu tandanya kau sendiri yang mencari mampus!"
Berbareng dengan perkataannya, badannya melesat setombak lebih dan tangannya mengebut dengan Hudtim-nya.
Kebutan itu, yang kelihatannya biasa saja, sebenarnya berisikan dua macam serangan dahsyat.
Dalam serangan pertama, benang-benang Hudtim berkumpul menjadi satu, dalam bentuk pit (alat tulis Tionghoa) dan menghantam musuh dengan tenaga Yangkong (tenaga "keras").
Jika serangan ini tidak dapat merobohkan musuh, benang-benang itu lantas terbuka dan menusuk jalan darah musuh dengan tenaga Imdjioe (tenaga "lembek").
Kedua serangan itu hebat luar biasa dan tak akan dapat ditangkis oleh ahli silat yang tanggungtanggung.
Tapi, dalam menghadapi serangan sehebat itu, Keng Thian sama sekali tidak bergerak.
"Apakah benar-benar kau mau mampus?"
Hongsek Toodjin membentak. Ketika itu, benangbenang Hudtim sudah terbuka dan tengah menyambar muka Keng Thian. Pada detik itu, si Toosoe berpikir.
"Bukankah aku akan jadi buah tertawaan, jika aku membinasakan bocah yang tidak bersenjata?
Selain itu, untung apa aku menanam permusuhan begitu hebat dengan Tong Siauw Lan?' Memikir begitu, tenaganya yang memang belum digunakan seanteronya, jadi semakin berkurang.
Tapi, biarpun begitu, jika kena dikebut, Keng Thian pasti akan bercacat seumur hidupnya, meski tidak mati seketika.
Bagaikan kilat, ribuan benang itu menyambar.
Pada saat yang sangat berbahaya, tiba-tiba Keng Thian membuka mulutnya dan meniup sekeras-kerasnya, sehingga benang-benang itu tersapu buyar.
Tenaga dalam Hongsek Toodjin banyak lebih tinggi daripada Keng Thian, tapi dalam serangannya itu, ia hanya menggunakan separoh tenaganya.
Di lain pihak, Keng Thian sendiri telah menggunakan tenaga dalam yang paling dahsyat dari Thiansan pay dan meniup sekeraskerasnya, sehingga serangan itu menjadi gagal.
Hongsek Toodjin terkejut.
Dengan sekali membalik tangan, ia membuat ribuan benang itu serentak berdiri dan seperti jarum-jarum tajam, menyambar ke arah tenggorokan dan mata Keng Thian.
Sebagaimana diketahui, Siauw Tjeng Hong pun bersenjata Hudtim Tapi melihat liehaynya imam itu dalam menggunakan senjata tersebut, ia jadi terpaku bahna kagumnya.
Hampir pada detik yang sama, sekonyong-konyong berkelebat sinar terang dan dingin, dibarengi teriakan Keng Thian.
Bagus!
Sambutlah pedangku!' Yoeliong kiam adalah senjata mustika dari Thiansan pay dan tajamnya luar biasa.
Hongsek Toodjin sama sekali tidak menduga pemuda itu dapat menghunus pedang dengan begitu cepat dan oleh karena merasa jeri akan tajamnya senjata itu, buru-buru ia menarik pulang tenaga Yangkong dan memutar Hudtim-nya untuk menghindari sabetan Yoeliong kiam.
Keng Thian membabat dengan Toeihong Kiamhoat (Ilmu pedang memburu angin) yang saling susul.
Belum habis serangan yang pertama, serangan kedua sudah menyusul.
Begitulah selagi Hongsek Toodjin memikir untuk balas menyerang, serangan Keng Thian yang kedua sudah menyambar.
"Bagus!"
Seru si imam sembari menggeser kakinya dan mengebut dengan menggunakan tenaga Imdjioe, untuk memunahkan sabetan Yoeliong kiam.
Ketika itu.
Hongsek sudah melakukan tii'.a serangan.
Tapi biar bagaimana juga Hongsek Toodjin benar-benar berkepandaian tinggi.
Barusan, setelah didesak dengan dua serangan Toeihong Kiamhoat, ia agak terdesak dan harus membela diri.
Mendadak, demi sekali mengebas dengan Hudtim-nya, ia berhasil mengunci gerakan pedang Keng Thian.
Benang-benang Hudtim menyambar-nyambar dari segala jurusan dan jika Keng Thian terus menggunakan Toeihong Kiamhoat, punggungnya tentu akan segera kena ditusuk.
Selagi Hongsek bergembira, sekonyong-konyong sinar pedang merupakan suatu tirai bundar yang menyelubungi seluruh badan Keng Thian.
Itulah ilmu pedang Thaysiebie dari Thiansan Kiamhoat yang hanya digunakan jika bertemu dengan musuh yang lebih tangguh.
Tubuh pemuda itu seolah-olah dikitari tembok tembaga yang tak dapat ditembus dengan apapun juga.
Hongsek terkesiap.
Sedikitpun ia tak menduga, bahwa "si bocah"
Akan dapat merubah gerakannya sedemikian cepat, dari menyerang jadi membela diri. Demikianlah, serangan si imam itu menjadi gagal. Kang Lam menongolkan kepalanya dari lubang gua dan berseru.
"Bagus! Hanya ketinggalan tiga jurus lagi!"
Bukan main gusarnya Hongsek Toodjin.
Sembari mengempos semangat, ia menyapu dengan senjatanya.
Sungguh hebat serangan itu, sebab dengan sekali menyapu, senjata si imam menyambar dua belas jalan darah Tong Keng Thian, di sebelah atas badannya.
Keng Thian terkejut.
Hongsek mengetahui, bahwa pembelaan Thaysiebie Kiamhoat sangat rapat, tapi kenapa ia menyerang juga?
Dengan penuh keheranan, ia terus memutar pedangnya.
Di lain saat, beberapa puluh benang Hudtim sudah kena terbabat putus dan sesudah tersabet lagi beberapa kali, benang-benang itu menjadi potongan-potongan yang sangat halus.
Sekonyongkonyong Hongsek meniup sekeras-kerasnya dan hancuran benang itu menyambar masuk ke dalam sinar pedang!
Biar bagaimana pun rapatnya pembelaan, Thaysiebie Kiamhoat tak akan dapat menahan masuknya hancuran benang itu.
Hati Keng Thian mencelos.
Ia mengetahui, bahwa jika hancuran benang itu masuk ke dalam mulut, mata atau kupingnya, biar mempunyai kepandaian sepuluh kali lipat lebih tinggi, ia toh akan roboh.
Dalam keadaan terdesak, ia meloncat tinggi ke atas, memutarkan badannya dan berbareng mengebas dengan tangan bajunya untuk menyapu hancuran benang itu.
Ia berhasil, tapi karena gerakannya itu, pembelaan Thaysiebie Kiamhoat lantas saja berantakan.
"Kena!"
Teriak Hongsek Toodjin sembari menyodok dengan gagang Hudtim-nya dan "brt!"
Baju Keng Thian, di sebelah bawah pundaknya, berlubang!
Harus diketahui, bahwa ilmu silat Hudtim dari Hongsek Toodjin terdiri dari tujuh rupa pukulan.
Akan tetapi, dalam tujuh pukulan itu terdapat pula banyak perubahan-perubahannya.
Maka itu, dengan "membatasi tujuh jurus", si imam sebenarnya sudah bersiap untuk mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Sesudah mengeluarkan empat pukulan tanpa berhasil, si imam menjadi agak bingung dan oleh karena itu, ia rela mengorbankan sebagian benang Hudtim-nya untuk merobohkan musuh dengan serangan kelima dan keenam, yaitu suatu serangan untuk memecahkan Thaysiebie Kiamhoat dan serangan yang lain untuk menotok bagian badan Keng Thian yang tidak berbahaya dengan gagang Hudtim, yang digunakan sebagai Poankoan pit.
Hudtim Hongsek adalah senjata istimewa.
Gagangnya yang dibuat dari campuran baja murni dan emas, berujung lancip tajam, sehingga dapat digunakan untuk menikam jalan darah dan memecahkan Lweekeeh Khiekang (ilmu dalam) dari musuhnya.
Barusan, dengan menyodok jalan darah Iekie hiat, di bawah pundak Keng Thian, Hongsek menduga pemuda itu akan lantas menjadi roboh.
Tak dinyana, begitu mengenakan sasarannya, gagang Hudtim seperti kebentur dengan semacam tameng dan terpental kembali.
Di saat itu juga, Keng Thian memutarkan tubuhnya dan berkata sembari tertawa.
"Hanya tinggal satu jurus lagi!"
Hongsek Toodjin jadi seperti orang terkesima.
Sodokannya itu, yang berhasil merobek baju Keng Thian, menyambar tepat pada sasarannya dan menurut perhitungan, walaupun pemuda itu mempunyai ilmu Kimtjiongto atau Tiatposan (ilmu weduk), ia tak akan dapat menyelamatkan diri.
Apakah pemuda itu, yang usianya masih begitu muda, sudah mempunyai badan seperti dewa yang tak dapat dilukakan dengan senjata?
Benar-benar ia sukar percaya!
Si imam tentu saja tidak mengetahui, bahwa sebab dari itu semua adalah karena Keng Thian memakai Kimsie Djoanka, semacam baju mustika peninggalan Po Tjeng Tjoe, yang pada empat puluh tahun lebih berselang, telah diberikan kepada ibunya oleh Tjiong Ban Tong, pemimpin partai Boekek pay.
Hiatsintjoe dan suami isteri Siauw Tjeng Hong, yang menyaksikan bagaimana Keng Thian dapat menyelamatkan diri dari bahaya besar, dengan berbareng mengeluarkan seruan tertahan.
Siauw Tjeng Hong kaget lebih dulu, belakangan girang, Hiatsintjoe bergirang lebih dulu, belakangan kaget.
Selagi Siauw Tjeng Hong menyusut keringatnya, tiba-tiba Hongsek membentak keras, badannya melesat ke tengah udara dan selagi melayang turun, ia menghantam dengan senjatanya!
Dalam serangan yang terakhir itu, si imam menggunakan Hudtim dan tangannya dengan berbareng, Hudtim menghantam jalan darah, telapak tangannya memukul dada Keng Thian.
Belum sempat Keng Thian mengeluarkan Thaysiebie Kiamhoat, serangan musuh sudah tiba dan tak dapat diegos lagi.
Kimsie Djoanka yang hanya melindungi bagian atas tubuh, tidak bisa menahan tenaga pukulan itu yang dikirim dengan seluruh tenaga si imam.
Melihat bahaya, dalam keadaan kepepet, Keng Thian mengambil suatu keputusan nekat.
Ia memutarkan badan untuk menyambut pukulan itu dengan punggungnya.
Pada detik itu, tiba-tiba saja terdengar bentakan Hiatsintjoe.
Siauw Tjeng Hong jadi terkesima.
Dalam menyambut pukulan Hongsek dengan seluruh tenaganya, belum tentu Keng Thian bisa berhasil.
Siapa yang tidak kaget melihat serangan Hiatsintjoe pada saat yang berbahaya itu?
Dan pada detik, sedang jiwa Keng Thian tergantung atas selembar rambut, mendadak terdengar teriakan Hiatsintjoe.
Berbareng dengan itu, Hongsek bergidik dan tenaga pukulannya lantas saja berkurang banyak.
Sungguh gesit gerakan Tong Keng Thian!
Hampir berbareng dengan itu, badannya sudah melesat menyingkir, pedangnya menyambar dan pada detik itu juga, lengan jubah Hongsek berlubang!
"Bocah dari mana berani kirim serangan gelap?"
Membentak si imam. Sekonyong-konyong dari atas batu-batu terdengar suara tertawa yang aneh.
"Tua bangka, apakah kamu tidak malu?"
Kata orang itu.
Dua tua bangka mengerubuti satu bocah!
Ha-ha-ha!' Keng Thian mendongak, mengawasi.
Di atas sebuah batu kelihatan bersila seorang pemuda yang bukan lain daripada Kim Sie Ie dan tak jauh dari situ, terdapat Pengtjoan Thianlie bersama dayangnya.
Agaknya selagi pertempuran berjalan hebat-hebatnya, sedang perhatian semua orang ditujukan ke arah pertempuran itu, mereka bertiga sudah datang dengan diam-diam.
Teriakan Hiatsintjoe dan bergidiknya Hongsek Toodjin disebabkan oleh senjata rahasia Koei Peng Go dan si penderita kusta.
Si imam merasakan dadanya mau meledak.
Dengan sekali menjejek kaki, ia meloncat ke atas untuk mencengkeram Kim Sie Ie.
"Satu bocah saja kau masih belum dapat menjatuhkan,"
Kata si pengemis sembari menyengir.
"Guna apa aku meladeni kau?"
Ia meloncat bangun dan bagaikan seekor kera, ia memanjat puncak batu dan dalam sekejap, ia sudah berada di garisan luar.
Selagi si imam mau mengubar, sekonyong-konyong terdengar teriakan kesakitan dari Hiatsintjoe.
Ia menengok dan melihat muka kawannya bersemu hitam, sebagai tanda sudah terkena senjata beracun.
Oleh karena merasa, bahwa seorang diri belum tentu ia dapat melayani beberapa lawannya, lantas saja ia mengurungkan niatannya untuk mengubar Kim Sie Ie dan kembali untuk menolong Hiatsintjoe.
"Tujuh jurus sudah lewat, sekarang aku berangkat,"
Kata Keng Thian.
"Hm!"
Gerendeng si imam yang sedang berjongkok untuk memeriksa luka Hiatsintjoe.
Sesudah mengucapkan beberapa perkataan merendah seperti lazimnya dalam dunia Kangouw, dengan terburu-buru Keng Thian lari keluar hutan batu itu dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Mengubar belum berapa lama, ia melihat Peng Go bersama dayangnya berjalan di sebelah depan, sedang Kim Sie Ie mengikuti dari belakang.
"Peng Go Tjietjie! Peng Go Tjietjie!"
Teriak Keng Thian. Si nona menengok dan mengawasi dengan sorot mata gusar dan sedih.
"Peng Go Tjietjie!"
Keng Thian berseru pula.
"Berhentilah sebentar! Dengarkanlah dulu beberapa perkataanku."
Pentjoan Thianlie tidak meladeni. Sebaliknya dari menghentikan tindakannya, sembari menuntun tangan Yoe Peng, ia berlari semakin keras.
"Peng Go Tjietjie!"
Teriak Keng Thian pula dengan suara menyayatkan hati.
Berhenti dulu!
Dengar dulu perkataanku!' Kim Sie Ie tertawa berkakakan.
Ia berhenti berlari, membalikan badannya dan menghadang di tengah jalan.
Begitu Keng Thian datang dekat, ia menyembur dengan ludahnya.
"Siapa kesudian mendengarkan segala ocehanmu!"
Ia membentak. Keng Thian naik darah.
"Minggir!"
Ia membentak. Kim Sie Ie tertawa besar. Sambil mementang kedua tangannya, ia berteriak.
"Tak tahu malu!
Mengudak-udak gadis orang!' Keng Thian tak dapat menahan sabar lagi.
Sekali ia mengayun tangan, sebatang Thiansan Sinbong menyambar Kim Sie Ie.
Di waktu pertama kali bergebrak, si pengemis sudah mengenal liehaynya Sinbong.
Sesudah mengerahkan tenaga Hiankong tujuh hari lamanya, baru ia dapat menyembuhkan luka akibat serangan senjata rahasia itu.
Karena itu, sekali ini ia berwaspada.
Begitu melihat sambaran Sinbong, ia menjungkir balik, badannya melesat tiga tombak lebih dan berbareng, menyampok dengan tongkatnya.
Tring!', lelatu api melentik dan senjata rahasia itu kena tersampok jatuh. Dengan sekali berjungkir balik lagi, Kim Sie Ie sudah menghadang pula di tengah jalan.
"Si nona sudah lari jauh sekali,"
Katanya, mengejek.
Keng Thian bingung.
Thiansan Sinbong hanya dapat mendesak dia untuk sementara waktu.
Dengan hati mendongkol, tanpa berkata suatu apa lagi, ia melompat dan membabat dengan Yoeliong kiam-nya.
Kim Sie Ie tak berani berlaku ayal.
Ia menghunus pedang besinya dan menangkis.
"Trang!" , dua pedang itu kebentrok dan kedua belah pihak, yang tenaga dalamnya kira-kira setanding, mundur terhuyung beberapa tindak. Keng Thian tak mengasih hati lagi kepada lawannya. Begitu bergebrak, ia segera menyerang dengan Toeihong Kiamhoat, yang saling susul bagaikan gelombang. Baru bertempur beberapa saat, Keng Thian sudah dapat melihat suatu kekosongan dalam pembelaan musuh. Yoeliong kiam yang tengah menyambar dari kiri ke kanan, mendadak bergerak dalam suatu lingkaran dan mengurung pedang Kim Sie Ie. Sekali dibalik lagi, ujung pedang itu menggetar dan menyambar sembilan jalan darah Kim Sie Ie dengan berbareng.
"Hebat!"
Teriak si pengemis.
"Bocah! Gara-gara si nona manis, kau lupa, bahwa barusan aku sudah menolong jiwamu!"
Ia menjejek kakinya dan badannya melesat keluar gelanggang. Keng Thian bergoncang hatinya.
"Tadi, waktu Hongsek Toodjin mengirim serangan terakhir, aku tentu sudah akan kena dipukul jika dia dan Peng Go tidak menolong dengan senjata rahasia,"
Pikirnya.
"Biarpun aku mempunyai Djoanka dan jika terluka, masih mempunyai Thiansan Soatlian untuk mengobatinya, tapi budi mereka tak dapat diabaikan begitu saja."
Memikir begitu, lantas saja ia menarik pulang Yoeliong kiam dan membentak.
"Baiklah! Belum lama berselang, tanpa sebab kau sudah melukakan aku, sehingga hampir-hampir aku terbinasa. Hari ini, mengingat pertolonganmu, sakit hatiku sudah dibayar impas olehmu. Sekarang, kau minggirlah! Di kemudian hari, kita masih bisa bersahabat."
Kim Sie Ie mengawasi dan sesudah mengeluarkan tertawa aneh, ia berkata.
"Siapa kesudian menjadi sahabatmu? Bocah tak kenal malu! Sedikitpun kau tidak mengenal adat istiadat dalam kalangan Kangouw."
"Apa?"
Menegas Keng Thian.
"Aku tak mengenal adat istiadat dalam kalangan Kangouw? Siapakah yang kau maki? Cacian itu sungguh tepat untuk ditujukan kepada alamatmu!"
"Aku memaki kau!"
Bentak Kim Sie Ie.
"Jika tidak dijelaskan, kau tentu masih penasaran. Aku mau menanya. Menurut adat istiadat kalangan Kangouw, bukankah ada nasi sama-sama makan, ada pakaian sama-sama memakai dan sudah punya tak boleh merampas milik orang? Bukankah begitu?"
"Benar,"
Jawab Keng Thian.
"Orang-orang dari jalanan hitam sangat memperhatikan kebiasaan itu."
"Bagus!"
Kata si pengemis.
"Kau sudah mempunyai nona dari keluarga Tjee itu, tapi kenapa masih juga ingin mengudak-udak nona Koei? Ha! Tak sudi aku menjadi sahabatmu! Aku sudah menganggap nona Koei sebagai sahabatku. Kau sendiri sudah punya satu, tapi masih mengubarubar sahabat orang lain. Bukankah perbuatan itu perbuatan tak mengenal adat istiadat Kangouw?"
Tong Keng Thian adalah seorang pemuda dari keluarga baik-baik yang telah mendapat pendidikan yang baik pula.
Seujung rambut pun, ia tidak menduga bahwa ia akan mendengar perkataan itu.
Ia kemekmek, untuk sementara ia tak dapat menjawab.
Si pengemis lantas saja mengeluarkan tertawanya yang menyeramkan dan berkata pula.
"Benar atau tidak perkataanku? Apakah kau sudah merasa bersalah?"
"Jangan ngaco!"
Keng Thian membentak dengan gusar sekali.
"Jika kau bicara lagi yang tidaktidak, tanpa sungkan-sungkan aku akan mengutungkan kepalamu!"
"Apakah kau mampu?"
Tanya si pengemis dengan suara mengejek.
Keng Thian jadi gelap mata.
Bagaikan kilat, ia menyabet dengan Yoeliong kiam-nya.
Kim Sie Ie melayani dengan saban saban menengok ke belakang.
Agaknya ia ingin menunggu sampai Pengtjoan Thianlie sudah pergi cukup jauh, baru ia ingin menghentikan pertempuran itu.
Keng Thian gusar dan bingung.
Ia menyerang secara hebat, tapi karena kepandaian mereka kira-kira berimbang, maka sedikitnya untuk sementara, ia tak dapat meloloskan diri.
Sekarang Keng Thian menumplek semua kemendongkolannya di atas kepala Kim Sie Ie.
"Hra!"
Katanya di dalam hati.
"Kalau begitu, dia yang menjadi setan."
Dengan gergetan, lantas saja ia menyerang dengan pukulan-pukulan Thiansan Kiamhoat yang paling liehay.
Kim Sie Ie memutarkan pedangnya bagaikan titiran dan menutup rapat-rapat dirinya dengan sinar pedang, sehingga sesudah lewat seratus jurus lebih, belum juga ada yang keteter.
Sementara itu, suami isteri Siauw Tjeng Hong dan Kang Lam sudah menyusul.
Mereka terkejut melihat pertempuran yang lebih hebat daripada pertarungan antara Keng Thian dan Hongsek Toodjin.
Tiba-tiba sembari membentak keras, Keng Thian mengirimkan tiga serangan dengan berbareng.
Tangan kirinya mengait tongkat Kim Sie Ie, kaki kanannya menendang, sedang Yoeliong kiam menikam ke arah jantung.
Menurut perhitungannya, dengan tiga serangan hebat itu, walaupun tidak menjadi mati, si pengemis pasti akan terluka berat.
Pada detik itu, berbareng dengan terdengarnya tertawa aneh, Kim Sie Ie berjungkir balik dan menyemburkan ludah lendirnya.
"Untuk seorang wanita, kau mati-matian!"
Ia memaki.
"Apakah ada harganya? Bocah! Aku sungguh kasihan kepadamu. Baiklah, kakekmu mengijinkan kau lewat."
Berhubung dengan berjungkir baliknya, Kim Sie Ie berhasil mengelakkan bahaya.
Yoeliong kiam menikam tempat kosong, tapi kaki kanan Keng Thian berhasil menendang tongkat si pengemis yang lantas saja terbang ke tengah udara.
Pada saat yang sangat berbahaya itu, dengan meminjam tenaga terpentalnya tongkat itu, badan Kim Sie Ie turut melesat ke udara dan menangkap tongkatnya yang sedang melayang turun.
Ia hinggap di tempat yang jauhnya kurang lebih enam tombak dan begitu kedua kakinya menginjak bumi, ia mabur ke arah hutan, sembari menengok dan tertawa kepada Keng Thian.
Dengan gergetan, Keng Thian mengeluarkan sebatang Thiansan Sinbong, tapi sebelum ia sempat menimpuk, Kim Sie Ie sudah meloncat ke sebuah pohon besar dan naik ke atas bagaikan seekor kera dan di lain saat, ia sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Seperti kesima, putera Tong Siauw Lan ini berdiri terpaku.
Melihat tertawanya Kim Sie Ie di waktu ia ini barusan menengok, hati Keng Thian jadi berdebar keras.
Ia ingat, bahwa di waktu pertama kali bertemu, orang itu adalah seorang pengemis kotor yang muka dan badannya penuh dengan bisul-bisul penyakit kusta.
Tapi sekarang, perbedaan bagaikan langit dan bumi.
"Kalau begitu, ia juga adalah seorang pemuda tampan,"
Katanya didalam hati.
"Untuk apa dia terus mengikuti Peng Go?"
Sebegitu jauh ia selalu menganggap, bahwa di dalam dunia ini, ia adalah satu-satunya orang yang pantas menjadi pasangan Pengtjoan Thianlie.
Sekarang, mau tak mau, di dalam hati kecil ia terpaksa mengakui, bahwa pemuda itu yang berlagak sebagai penderita kusta, merupakan saingan berat baginya.
Di samping itu, ia ingat juga bagaimana Kim Sie Ie sudah meloloskan diri dari dua serangannya yang sangat hebat.
Dengan pengetahuannya yang sangat luas mengenai berbagai cabang persilatan, ia masih belum mengetahui, ilmu silat cabang mana yang dimiliki si pengemis.
Ia mengakui, bahwa Kim Sie Ie adalah seorang yang jarang ada tandingannya dalam Rimba Persilatan, tapi kenapa tingkah lakunya begitu luar biasa?
Sementara itu, sesudah napasnya yang tersengal-sengal menjadi reda.
Kang Lam lantas saja berkata.
"Sungguh berbahaya! Eh, Tong Siangkong, siapa pemuda itu? Tadi dia membantu kau dengan senjata rahasia, tapi kenapa belakangan menghalang-halangi kau mengubar nona itu?"
Keng Thian yang sedang kalut pikirannya tak menjawab pertanyaan kacung itu.
"Sungguh cantik wanita itu,"
Kang Lam mengoceh lagi.
"Aku tahu, Kongtjoe-ku suka kepada seorang gadis Tsang yang sangat aneh. Aku pernah melihat wajah gadis itu. Waktu itu, aku menganggap dalam dunia tidak ada orang yang lebih cantik lagi. Ha! Sekarang, sesudah melihat yang barusan, baru aku tahu, di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia. Tong Siangkong, apakah dia kau punya?"
"Apa?"
Keng Thian menegas, seperti baru mendusin dari tidurnya.
"Kau mirip sekali dengan Kongtjoe-ku,"
Jawabnya.
"Begitu melihat wanita cantik, lantas kehilangan semangat. Aku tak mempersalahkan kau. Tapi mereka datang bersama-sama. Jika kau memang sudah jatuh hati, sepantasnya kau harus minta lelaki itu memperkenalkan kau kepadanya. Mungkin mereka bersaudara. Itu masih tidak apa. Jika mereka suami isteri, apakah mengherankan kalau lelaki itu lantas menghantam kau?"
Keng Thian tak tahu, apa ia mesti menangis atau tertawa.
Sesudah mengalami berbagai kesukaran, ia naik ke keraton es dan membujuk si nona supaya turun gunung.
Ia berhasil dalam usahanya itu, tapi siapa nyana, buntutnya menjadi begini sehingga sampai Kang Lam juga menganggap si nona adalah seorang asing baginya.
"Kang Lam, jangan rewel!"
Bentak Siauw Tjeng Hong. Kang Lam tidak berani membuka suara lagi dan mereka lalu meneruskan perjalanan.
"Tong Siangkong,"
Kata Siauw Tjeng Hong dengan suara perlahan.
"Jangan kau terlalu jengkel. Sekarang kita tak dapat menyandak ia, tapi setibanya di tempat Moh Lootjianpwee, kita tentu akan bertemu pula."
Keng Thian lantas saja sadar.
"Benar aku goblok,"
Katanya di dalam hati.
"Sesudah sampai disini, ia tentu akan menyambangi pamannya."
Akan tetapi, begitu mengingat masih setengah bulan sebelum mereka dapat bertemu lagi dan selama setengah bulan itu, Peng Go akan selalu berada bersama-sama dengan "si pengemis kusta,"
Hati Keng Thian lantas saja menjadi pedih.
Tapi sebenarnya, pemuda itu sudah menduga salah.
Pengtjoan Thianlie tidak berjalan bersamasama dengan Kim Sie Ie, tapi Kim Sie Ie-Iah yang selalu mengikuti dari belakang.
Ia tidak berani terlalu mendesak, oleh karena mengetahui bahwa si nona tidak begitu menyukai dirinya.
Sebenarnya Pengtjoan Thianlie telah tiba lebih dulu di hutan batu, sedang Kim Sie Ie menyusul kemudian.
Melihat si nona melepaskan Pengpok Sintan, ia mengetahui, bahwa Peng Go masih belum dapat melupakan Keng Thian, sehinga ia jadi merasa jengkel.
Akan tetapi, untuk menyenangkan hati Pengtjoan Thianlie, ia pun segera melepaskan senjata rahasianya.
Dengan pikiran tertindih, Keng Thian meneruskan perjalanannya, sedang Siauw Tjeng Hong, yang mengetahui persoalan si pemuda, juga kesal hatinya.
Selagi mereka berjalan dengan masing-masing tenggelam dalam alam pikiran sendiri, Kang Lam mendadak berteriak.
"Aduh!"
"Kenapa?"
Tanya Tjeng Hong sembari menengok ke belakang. Bocah itu berjongkok sembari memegang perutnya.
"Perutku sakit,"
Jawabnya.
"Tadi masih baik-baik, kenapa mendadak sakit?"
Tanya Tjeng Hong yang lantas saja memegang nadi Kang Lam, tapi ia tidak mendapatkan tanda-tanda penyakit.
"Setan kecil!"ia mengomel.
"Kau selalu main gila! Siapa mempunyai tempo untuk melayani kegila-gilaanmu? Kita mempunyai urusan penting dan perlu berjalan buru-buru."
"Siapa yang main gila?"
Teriak Kang Lam "Benar-benar perutku sakit."
Keng Thian segera mendekati dan memegang nadinya.
Sesudah beberapa saat, muka pemuda itu menunjukkan perasaan heran dan kaget.
Tiba-tiba, ia mengangkat tangannya dan dengan dua jeriji, ia menotok jalan darah Hiankie hiat, di dada Kang Lam.
Tjeng Hong terkesiap.
Hiankie hiat adalah jalan darah yang membinasakan.
Ia mau mencegah, tapi sudah tidak keburu lagi.
Begitu ditotok, Kang Lam lantas saja tertawa haha-hihi.
"Gatal! Gatal!"
Ia berteriak.
"Aku paling takut kegatalan. Tong Siangkong, ampun!"
"Perutmu masih sakit?"
Tanya Keng Thian.
"Ih! Heran sungguh. Sekarang tak sakit lagi,"
Jawabnya.
Keng Thian mesem sambil menotok pundak Kang Lam dengan dua jerijinya.
Tjeng Hong mengetahui, bahwa yang ditotok adalah jalan darah Tonghay hiat, yang jika diurut, dapat melemaskan urat dan menjalankan darah.
Menurut kebiasaan Rimba Perdilatan, jika seseorang kena ditotok jalan darahnya dan jalan darah itu untuk sementara masih belum dapat dibuka, maka orang itu biasanya minta salah seorang kawannya untuk menotok Tonghay hiat guna menjalankan aliran darah di lain-lain bagian badannya, untuk mempertahankan diri sementara waktu.
Maka itu, totokan Tonghay hiat ada baiknya dan tak ada jahatnya.
Tapi di luar dugaan, Kang Lam lantas saja berteriak-teriak.
"Aduh! Sakit! Sakit!"
Buru-buru Keng Thian menotok jalan darah Tjietong hiat, di kempungan Kang Lam.
Tjietong hiat adalah salah saru dari sembilan jalan darah, yang jika ditotok, dapat membinasakan orang.
Keruan saja, Siauw Tjeng Hong menjadi kaget bukan main.
Tapi, sungguh luar biasa, Kang Lam lantas tidak berkaok-kaok lagi.
"Ah, Tong Siangkong,"
Katanya.
"Kenapa kau mengganggu aku? Perutku tidak sakit lagi."
"Gatal tidak?"
Tanya Keng Thian.
"Tidak, hanya sedikit kesemutan,"
Sahutnya. Keng Thian tertawa berkakakan.
"Ya sekarang aku tahu,"
Katanya.
"Bukan aku, tapi gurumu yang mempermainkan kau."
"Apa?"
Tjeng Hong menegas dengan suara heran.
"Apakah benar perbuatan si Toosoe tua? Dengan kepandaiannya yang begitu tinggi dan kedudukannya sebagai guru, sedang ia sendiri sudah meluluskan, apakah benar ia masih main gila terhadap muridnya?"
Keng Thian bersenyum.
"Sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia mempermainkan muridnya,"
Katanya.
"Mungkin kejadian ini adalah karena untung Kang Lam yang baik."
"Apakah yang kau maksudkan?"
Tanya pula Siauw Tjeng Hong, yang tidak mengerti perkataan pemuda itu. Keng Thian berdiam beberapa saat, seperti sedang mengasah otak.
"Siauw Sinshe,"
Katanya mendadak.
"Apakah kau tahu, siapakah nama dan dimana tempat tinggal orang aneh dari Khongtong pay itu yang menurut katamu ingin menyukarkan Moh Lootjianpwee?"
"Tidak,"
Jawab Tjeng Hong sembari menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku tahu, aku tentu sudah memberitahukan kepada Moh Lootjianpwee. Perlu apa aku pergi ke berbagai tempat untuk mencari keterangan?"
"Dulu, di Thiansan, aku pernah mendengar pembicaraan antara ayah dan Iethio (suami bibi) yang sangat menarik,"
Keng Thian menerangkan.
"Menurut mereka, partai Khongtong pay dulu mempunyai semacam ilmu yang luar biasa. Dengan ilmu tersebut, seseorang dapat mengacaukan jalan darahnya sendiri. Maka itu, ia akan terus segar bugar, meskipun jalan darahnya yang membinasakan kena ditotok. Akan tetapi, orang yang mempunyai ilmu tersebut, harus berlatih terus seumur hidupnya. Jika ia berhenti, jiwanya terancam. Di samping itu, walaupun berlatih terus-terusan, belum dapat dipastikan, bahwa akhirnya ia tak akan masuk ke dalam jalan yang menyeleweng. Itulah sebabnya, mengapa belakangan orang sungkan mempelajari ilmu itu yang perlahan-lahan jadi tidak dikenal lagi."
"Kalau begitu,"
Kata Tjeng Hong.
"Apakah ilmu yang diajarkan oleh si Toosoe kepada Kang Lam, adalah ilmu yang kau maksudkan?"
"Mungkin, mungkin sekali,"
Jawabnya. Siauw Tjeng Hong berdiam sejenak, kemudian ia berkata pula.
"Jika memang demikian, apakah, walaupun perhubungan guru dan murid sudah diputuskan, seumur hidupnya Kang Lam harus terus menerus berlatih ilmu tersebut?"
"Kang Lam baru saja tujuh hari menjadi muridnya, sehingga apa yang didapat olehnya baru hanya pelajaran permulaan,"
Keng Thian menerangkan.
"Seperti juga pelajaran lain-lain, untuk memperoleh kemajuan, ilmu itu harus dipelajari dengan perlahan, di bawah pimpinan guru yang pandai. Mengenai Kang Lam, baik juga ia baru saja memperoleh sedikit pelajaran, sehingga biarpun ada akibatnya, akibat itu hanya merupakan sakit perut, sakit miang dan sebagainya. Jika ia sudah belajar lama dan pelajaran dihentikan mendadak, akibatnya tentu akan hebat sekali, mungkin ia akan binasa, atau sedikitnya, menjadi orang bercacat. Maka itu, selama beberapa ratus tahun ini, dalam partai Khongtong pay, orang yang mempelajari ilmu itu tidak pernah keluar dari rumah perguruan."
"Kalau begitu,"
Kata Siauw Tjeng Hong.
"Apakah kau maksudkan, bahwa Kang Lam harus kembali lagi dan seumur hidupnya harus menemani siluman tua itu?"
"Tidak!"
Teriak Kang Lam.
"Biarpun harus mati, aku tak akan kembali. Tong Siangkong, tolonglah aku!"
Keng Thian tertawa.
"Tak kembali juga boleh,"
Katanya sembari tertawa.
"Hanya setiap hari kau harus menderita sakit perut sejam lamanya."
"Tidak!"
Si bocah berteriak pula.
Baca Juga: Rahasia Benteng Kuno 2
Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 11