Bidadari Dari Sungai Es 8

Eps 8 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen

Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen

Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.

"Aku paling takut akan sakit perut. Perut sakit, makanan enak tak bisa masuk. Tong Siangkong, aku tahu kau bisa menolong. Tolonglah. Aku akan menurut segala perintahmu."

"Baiklah,"

Kata Tong Keng Thian yang merasa sudah cukup menggoda kacung itu.

"Tapi aku ingin kau berjanji, bahwa sesudah sembuh, mulutmu jangan terlalu rewel."

"Baik, baik,"

Jawabnya, terburu-buru.

"Sesudah sembuh, orang menanya sepatah, aku menjawab setengah patah."

Keng Thian tak tahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Ia menengok kepada Siauw Tjeng Hong seraya berkata.

"Itulah! Itulah sebabnya, mengapa aku mengatakan Kang Lam bagus untungnya. Sebagaimana kau tahu, lethio-ku telah mewarisi kitab ketabiban, peninggalan Po Tjeng Tjoe, sehingga ia mahir dalam ilmu pengobatan. Dalam kitab tersebut terdapat suatu bagian yang membicarakan bahaya-bahaya akibat pelajaran ilmu silat. Menurut kitab tersebut, jika seseorang ingin menyelamatkan diri dari bahaya itu, jalan satu-satunya adalah melatih diri dalam ilmu lweekang dari cabang persilatan yang murni. Dengan latihan itu, isi perut dan bagian-bagian dalam badannya akan menjadi kuat dan dengan sendirinya, dapat melawan segala akibat jelek dari latihan ilmu yang menyeleweng. Maka itu, untuk menolong Kang Lam, aku harus menurunkan pokok-pokok pelajaran lweekang dari Thiansan pay."

"Bagus!"

Seru Kang Lam, kegirangan.

"Sekarang juga aku akan berlutut di hadapanmu, untuk mengangkat kau menjadi guru."

Berbareng dengan perkataannya, ia segera menekuk lutut. Keng Thian mencekal tangan si nakal, sehingga ia ini tak dapat meneruskan niatannya.

"Siapa mau mempunyai murid begitu rewel?"

Kata Keng Thian sembari tertawa.

"Jangan begitu,"

Kata Kang Lam, meringis.

"Aku toh sudah berjanji untuk tidak rewel-rewel lagi"

"Dalam menerima murid Thiansan pay memegang peraturan yang sangat keras,"

Kata Keng Thian dengan paras sungguh-sungguh.

"Usiaku masih terlalu muda, sehingga tak dapat aku menerima kau sebagai murid. Selain itu, yang akan kuturunkan hanya pokok-pokok lweekang, bukan ilmu pedang atau ilmu silat. Maka itu, kau tak dapat dipandang sebagai murid Thiansan pay."

"Kang Lam,"

Kata Tjeng Hong sembari tertawa.

"Dengan mendapat pokok-pokok lweekang Thiansan pay, kau sudah mempunyai nasib yang bagus luar biasa. Kenapa kau tidak mengenal puas?"

Mendengar itu, si nakal tidak berkata apa-apa pula.

Ia manggut-manggutkan kepalanya dengan hati girang.

Keng Thian yang merasa sangat suka terhadap anak yang cerdik itu, lebih dulu memberikan dua butir Pekleng tan yang dibuat dari Thiansan Soatlian, untuk memperkuat tubuh dan anggauta dalam Kang Lam.

Sesudah itu, baru ia menurunkan pelajarannya.

Waktu itu, Kang Lam sendiri tidak mengetahui, bahwa ia telah mendapat suatu kefaedahan yang tidak kecil.

Sesudah memperoleh dasar-dasar ilmu aneh Khongtong pay dan tidak takut lagi akan totokan jalan darah, sekarang ia mendapat pokok lweekang dari Thiansan pay.

Dengan mempunyai dua dasar itu, tenaga dalamnya bertambah secara luar biasa.

Walaupun ketika itu ia hanya mengenal ilmu silat yang sangat cetek dari Tan Thian Oe, tapi jika digunakan, dengan mudah ia akan dapat merobohkan ahli-ahli silat kelas tiga atau kelas dua dari kalangan Kangouw.

Di belakang hari, benar saja Kang Lam telah menjadi seorang ahli silat yang kenamaan dan disegani.

Oleh karena harus memberi pelajaran kepada si bocah, dalam tiga hari Keng Thian hanya dapat melalui seratus li lebih.

Untung juga, berkat kecerdasannya, pada hari ke empat Kang Lam sudah dapat menyelami pelajaran yang diberikan kepadanya, sehingga Keng Thian dapat mengambil selamat berpisah dengan hati lega.

Kang Lam sendiri segera menuju ke timur untuk pergi ke Tiongkeng, dari mana, dengan perahu ia akan pergi ke Boehan, akan kemudian langsung pergi ke kota raja untuk menyampaikan surat majikannya.

Keng Thian bersama suami isteri Siauw Tjeng Hong meneruskan perjalanan ke Soetjoan selatan untuk kemudian mendaki gunung Gobie san dan menemui Moh Tjoan Seng.

Sesudah berjalan sepuluh hari, Gobie san yang agung dan angker sudah kelihatan di depan mata.

Sebagai umumnya seorang yang sedang menderita penyakit asmara, di sepanjang jalan Keng Thian lesu kelihatannya, tapi begitu mendekati Gobie san, semangatnya terbangun karena mengingat bahwa saat pertemuan dengan Koei Peng Go sudah dekat.

Tapi saban kali teringat "si penderita kusta", ia lantas menjadi lesu kembali.

Dengan Tiangloo (paderi kepala) dari kuil Kimkong sie, Moh Tjoan Seng bersahabat baik, sehingga selama kira-kira dua puluh tahun, ia menetap dalam kuil tersebut.

Seperti juga yang lalu, Kiatyan kali ini pun diadakan dalam kuil itu, yang berdiri di puncak tertinggi --yaitu Puncak Emasdari gunung Gobie san.

Di waktu Keng Thian bertiga sampai disitu, Kiatyan sudah tiba waktunya dimulai.

Gobie san adalah salah satu dari empat gunung ternama di Tiongkok.

Tiga yang lain adalah Poto san di Tjiatkang, Kioehoa san di Anhoei dan Ngotay san di Shoasay.

Luas gunung tersebut adalah lebih dari empat ratus li, bentuknya agung, angker dan indah.

Dipandang dari kejauhan, Gobie san seakan-akan merupakan sepasang alis yang tebal dan itulah sebabnya, mengapa gunung itu dinamakan Gobie (Bie berarti alis).

Pagi-pagi sekali, Keng Thian bertiga mulai mendaki gunung.

Di sepanjang jalan, mereka melewati pohon-pohon siong tua, batu-batu cadas yang bentuknya aneh, air terjun yang indah dan solokan-solokan yang airnya jernih dan dingin.

Gobie disebut sebagai salah satu "Keindahan dalam dunia"

Dan julukan itu sungguh bukan pujian belaka.

Berada di tempat yang pemandangannya seindah itu, hati Keng Thian yang pepat menjadi lapang.

Di sepanjang jalan, sering mereka bertemu dengan kelompok-kelompok orang yang sedang mendaki gunung untuk menghadiri Kiatyan.

Semenjak kecil, Keng Thian berdiam di Thiansan yang jauh dan belum pernah mengunjungi wilayah Tionggoan, sedang Siauw Tjeng Hong hidup bersembunyi di Tibet untuk belasan tahun lamanya dan sekarang, mukanya sudah banyak berubah.

Maka itu, tidak mengherankan jika orang-orang Rimba Persilatan itu, tak satu pun yang mengenali mereka.

Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, kira-kira tengah hari, Keng Thian bertiga sudah tiba di Puncak Emas.

Dari tempat yang tertinggi itu, jika orang memandang keempat penjuru, ia akan melihat puncak-puncak di sebelah bawah yang bersusun tindih dan lautan awan putih yang tiada batasnya.

Kimkong sie yang berdiri tegak di puncak itu, seakan-akan diselimuti awan tersebut.

Begitu Keng Thian dan suami isteri Siauw Tjeng Hong masuk ke dalam kuil, mereka disambut oleh paderi yang bertugas.

"Apakah Moh Tyahiap baik?"

Tanya Keng Thian.

"Tolong kau memberitahukan bahwa keponakannya mohon bertemu dengan beliau."

Si paderi merangkap kedua tangannya dan berkata sembari tertawa.

"Sudah tiga hari Moh Tayhiap bersemedhi, aku tak berani mengganggu ia. Kalian tak usah memakai banyak peradatan, besok kalian akan dapat bertemu dengan beliau."

Paderi itu yang tidak mengetahui asal-usul mereka, sudah menganggap mereka sebagai orangorang biasa yang ingin menghadiri Kiatyan.

Harus diketahui, bahwa karena kedudukannya yang sangat tinggi, di antara orang-orang yang berkunjung sebagian besar mengaku sebagai "keponakan"

Dan banyak juga yang ingin sekali dapat bertemu dengan Moh Tjoan Seng pribadi, sehingga, jika diladeni, orang tua itu akan menjadi repot sekali.

Maka itu, benar Moh Tjoan Seng sedang bersemedhi atau tidak, si paderi tak akan dapat meluluskan permintaan Keng Thian.

Sesudah mengantar tiga tamu itu kedua buah kamar yang sudah sedia, paderi itu segera berlalu untuk menyambut tamu-tamu lain.

Moh Tjoan Seng adalah tetua Boetong pay dan orang yang paling banyak datang untuk menghadiri Kiatyan, adalah orang-orang partai tersebut.

Entah dari mana, mereka juga rupanya sudah mengendus, bahwa Kiatyan kali ini bakal dikacau orang.

Dalam kelompok-kelompok, mereka kasak-kusuk, masing-masing mengutarakan pendapat-nya.

Ada yang gusar, ada yang menganggap Boetong pay akan malu besar jika Moh Tjoan Seng sampai mesti turun tangan sendiri, ada yang tidak percaya dan sebagainya.

Mendengar itu, Keng Thian merasa geli bercampur kuatir.

Malam itu ia tak dapat pulas.

Sesudah berlatih lweekang kurang lebih sejam, kira-kira tengah malam, ia menolak jendela dan melongok keluar.

Sang rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang.

Tiba-tiba, di sebelah jauh, di antara puncak-puncak gunung, muncul titik-titik sinar api, seperti kunang-kunang, dari sedikit semakin lama menjadi semakin banyak, perlahan-lahan mumbul ke atas dan bergoyang-goyang kian kemari, seolah-olah ingin bersaing dengan bintang-bintang di langit.

Itulah pemandangan istimewa di gunung Gobie san yang oleh kaum Budhis dinamakan "Sengteng" (Pelita Nabi).

Pada malam-malam terang bulan, jika udara bersih, titik-titik sinar api itu muncul, semakin lama semakin banyak, seperti juga api ribuan pelita yang terombang-ambing di tengah udara.

Itulah sebabnya mengapa sinar-sinar itu dinamakan "Sengteng".

Tapi sebenarbenarnya sinar-sinar tersebut muncul karena fosfor yang banyak sekali terdapat di gunung Gobie san.

Kuil Kimkong sie mempunyai peraturan yang dipegang keras.

Pada waktu itu, jumlah paderi dan tamu yang bernaung dalam kuil tersebut, sedikitnya ada beberapa ratus orang, tapi keadaan di sekelilingnya sunyi senyap dan tidur orang tidak terganggu suara apa-pun juga.

Dengan hati yang tidak keruan rasanya, Keng Thian mengawasi pemandangan malam yang indah itu.

"Tempat ini tenang dan damai,"

Katanya didalam hati.

"Sungguh sayang jika kelak benar-benar dikacau orang."

Tiba-tiba ia ingat akan Hongsek Toodjin.

Ia tak tahu, apakah benar imam itu si orang aneh dari Khongtong pay yang telah disebutkan Siauw Tjeng Hong.

Jika benar dia, ia merasa tidak ungkulan untuk melayani musuh itu seorang diri.

Sesaat kemudian, ia ingat kepada Pengtjoan Thianlie.

Jika si nona berada disitu dan bersama-sama melayani musuh, ia tak akan merasa keder lagi terhadap si Toosoe atau orang lain yang berkepandaian lebih tinggi dari Hongsek Toodjin.

Engingat Peng Go, tanpa merasa ia teringat pula kepada "Si pengemis Kusta"

Yang terus mengikuti si nona dari belakang.

Kenapa Pengtjoan Thianlie sudi berkawan dengan orang itu?

Benar-benar ia tak mengerti.

Semakin berpikir, hatinya semakin pepat.

Perlahan-lahan ia memakai jubah panjangnya dan pergi ke kamar sebelah dengan niatan bercakap-cakap dengan suami isteri Siauw Tjeng Hong.

Tapi tak dinyana, mereka berdua tidak berada dalam kamar.

Seperti Keng Thian, malam itu Siauw Tjeng Hong juga tak dapat pulas.

Inilah untuk kedua kalinya ia menghadiri Kiatyan.

Ia ingat, dulu, ketika datang untuk pertama kalinya, Tjia In Tjin telah mengadu pedang dengan Loei Tjin Tjoe dan ia sendiri, tanpa sebab tanpa lantaran, sudah terseret masuk ke dalam peristiwa itu dan jadi bermusuh hebat dengan Loei Tjin Tjoe, sehingga ia mesti kabur ke Tibet dan hampir-hampir tak bisa pulang lagi ke kampung halamannya.

Ia menghitung-hitung, dari tempo itu sampai sekarang, sudah berselang dua puluh tahun.

Untung juga, pada tahun yang lalu, ketika mendaki Puncak Es, permusuhan dengan Loei Tjin Tjoe dapat dibereskan dan ia bisa pulang ke kampungnya, akan kemudian menikah dengan Gouw Tjiang Sian.

Bahwa sekarang ia bisa berada pula di Gobie san dan akan turut pula dalam pertemuan Kiatyan, sudah sangat mengharukan hatinya.

Sebagai isteri, Gouw Tjiang Sian mengetahui apa yang sedang dipikir suaminya dan di waktu gembira, ia segera mengajak suaminya pergi ke tempat dimana dulu mereka bertempur.

Malam ini adalah sama dengan malam pada dua puluh tahun berselang, yaitu malaman Kiatyan.

Tapi beda dengan dulu, malam ini terang cemerlang disinari sang bulan, dengan udaranya yang sangat bersih dan dengan "Sengteng"

Yang luar biasa.

Di bawah sinar terang laksana perak, segala apa dalam jarak setengah li, dapat dilihat tegas sekali.

Siauw Tjeng Hong menunjuk tempat dimana dulu terjadi pertempuran dan sekali lagi menuturkan segala kejadian itu.

Peristiwa itu sudah terjadi lama sekali, akan tetapi, pada saat itu, dalam suasana yang sedemikian, Siauw Tjeng Hong merasa seakan-akan segala sesuatu itu baru saja terjadi kemarin.

Gouw Tjiang San tertawa dan berkata.

"Tak tahu dimana adanya Tokbeng Siantjoe Tjia In Tjin sekarang ini. Apakah kau masih ingat kepadanya?"

"Tjia In Tjin mempunyai tangan yang telengas,"

Kata sang suami.

"Tapi, biar bagaimanapun juga, ia adalah seorang yang mencinta sahabat. Terhadap sahabat begitu, siapapun tak akan dapat melupakannya. Di samping itu, aku juga merasa sangat berterima kasih terhadapnya. Ia mengenal kau lebih dari aku."

"Kenapa begitu?"

Tanya Gouw Tjiang Sian. Ia pernah mengatakan, bahwa kau adalah seorang wanita yang halus budi pekertinya,"

Tjeng Hong menerangkan.

"Sekarang, aku juga mengetahui, bahwa kau adalah seorang isteri yang sangat bijaksana. Sungguh sayang, aku adalah manusia goblok. Jika pada dua puluh tahun berselang, aku sudah mengetahui perasaan cintamu, mungkin sekali aku tak usah menderita sepuluh tahun di Tibet."

Siauw Tjeng Hong mengucapkan kata-kata itu dengan suara lemah lembut dan dengan hati yang penuh kecintaan, sehingga si isteri merasa beruntung bercampur terharu.

"Aku sungguh ingin bertemu muka dengan Tjia In Tjin,"

Kata Gouw Tjiang Sian sembari mesem.

"Tak tahu, apakah ia dan Thiekoay sian sekarang masih berada di Tibet,"

Kata sang suami.

"Memang tak gampang orang dapat menemui mereka."

Selagi mereka berbicara, di tempat agak jauh, di antara daun-daun pohon kembang, tiba-tiba muncul muka seorang wanita.

Ketika wanita itu memutarkan badan, baru kelihatan bahwa di punggungnya menggemblok seorang bayi, yang mungkin karena terpukul cabang, mendadak sadar dari tidurnya dan segera menangis.

Hampir berbareng dengan itu, Siauw Tjeng Hong mengeluarkan teriakan tertahan.

Kedua matanya terbuka lebar sambil mengawasi wanita itu dengan mata mendelong.

"Siapa?"

Tanya Gouw Tjiang Sian.

"Tjia In Tjin!"

Jawabnya dengan suara di tenggorokan.

Saat itu, hampir-hampir Siauw Tjeng Hong tidak percaya matanya sendiri.

Tapi, sebelum mereka dapat bergerak atau memanggil, kesunyian sang malam sekonyongkonyong dipecahkan oleh bentakan.

"Perempuan siluman! Kau masih mempunyai nyali untuk datang pula di Gobie san?"

"Ha!"

Bentak seorang lain.

"Kau kira kami tidak mengenali kau? Lagi dua puluh tahun, biar kau sudah mampus menjadi abu, kami toh masih mengenali kau!"

"Kami ingin berkenalan dengan cara-cara Tokbeng Siantjoe membetot jiwa manusia,"

Kata orang ketiga dengan suara mengejek.

(Tokbeng Siantjoe berarti Dewi Pembetot Jiwa) Di lain saat muncul empat imam yang mengenakan pakaian hitam dan masing-masing mencekal pedang.

Mereka mengambil kedudukan di timur, selatan, barat dan utara dan mengurung Tjia In Tjin dalam jarak sepuluh tombak.

Siauw Tjeng Hong menghela napas mengingat sakit hati manusia yang begitu berlarut.

Tak bisa salah lagi, beberapa Toosoe itu sekarang ingin membalas sakit hati Loei Tjin Tjoe yang didendam selama dua puluh tahun.

Tapi mereka mungkin tidak mengetahui, bahwa pada waktu itu, dengan segala kesombongannya, Loei Tjin Tjoe telah memasang jebakan untuk mencelakakan orang.

Sebenarnya Siauw Tjeng Hong ingin segera tampil ke muka untuk membujuk.

Tapi mengingat, bahwa dalam peristiwa dulu, ia adalah salah seorang yang turut tersangkut dan kalau sekarang ia muncul besar sekali kemungkinannya ia akan terseret pula.

Mengingat itu, ia lantas saja mengurungkan niatannya dan mengambil keputusan untuk melihat dulu bagaimana tindakan Tjia In Tjin.

Ia segera menarik tangan isterinya dan mereka berdua bersembunyi di belakang sebuah pohon besar.

Jika menuruti adatnya di waktu muda, siang-siang Tjia In Tjin sudah menghunus pedangnya.

Akan tetapi, sesudah berkelana dua puluh tahun dalam dunia Kangouw dan mendapat berbagai pengalaman.

"hawa apinya"

Sudah berkurang banyak. Ia menepuk-nepuk bayinya dan berkata dengan suara tawar.

"Moh Tayhiap telah meminjam Gobie san untuk mengadakan Kiatyan. Orangorang dari berbagai cabang persilatan semua diterima dengan tangan terbuka. Aku adalah anggauta dari Gobie pay. Mengapa aku tak boleh datang kemari?"

"Moh Tayhiap adalah tetua Boetong pay kami,"

Kata si imam yang berdiri di timur.

"Kau sudah melukakan Toasoeheng Loei Tjin Tjoe, sehingga tak ketahuan dimana ia berada sekarang. Apakah kau masih mempunyai muka untuk mendengarkan petunjuk-petunjuk Moh Tayhiap?"

Toosoe yang berdiri di sebelah barat tertawa dingin dan berkata dengan suara mengejek.

"Loei Tjin Tjoe telah roboh dalam tangan jahatmu. Apakah kau yang berkepandaian begitu tinggi, sekarang ingin belajar dari Boetong pay yang ilmunya begitu cetek?"

Lagi-lagi Siauw Tjeng Hong menghela napas.

Ia ingat bahwa sebagai partai, Boetong pay mengalami jaman makmur pada masa kerajaan Beng.

Sesudah itu, Boetong pay mulai merojan.

Belakangan, yaitu seratus tahun lebih yang lampau, Koei Tiong Beng telah mendapatkan Tatmo Kiamhoat yang asli.

Semenjak itu, Boetong pay kembali naik namanya.

Sekarang, walaupun putera Koei Tiong Beng, yaitu Moh Tjoan Seng, memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan cukup syaratsyaratnya untuk meneruskan pekerjaan ayahnya, tapi ia adalah seorang yang sungkan pusing dan tak sudi mengurus segala soal-soal yang dianggap remeh.

Tjiangboen (pemimpin) Boetong pay adalah seorang yang berilmu tinggi, tapi agak tolol, sehingga murid-murid Butong tidak terlalu mengindahkan kepadanya.

Demikianlah, seperti seratus tahun lebih yang lalu, keadaan Boetong pay kembali merosot.

Nama Boetong pay masih kesohor sebagai suatu partai besar, tapi sedalam-dalamnya, orang yang benar-benar berisi, jumlahnya sedikit sekali.

Yang banyak adalah orang-orang sombong.

Mendengar disebutkannya nama Loei Tjin Tjoe, Tjia In Tjin mesem dan berkata.

"Biarpun mendapat luka sedikit, Loei Tjin Tjoe sudah mendapat keuntungan yang sangat besar."

Keempat Toosoe itu lantas saja menjadi gusar.

"Perempuan siluman!"

Bentak seorang antaranya.

"Sudah melukakan orang, masih kau mengeluarkan perkataan merdu."

Tjia In Tjin tadinya berniat untuk menceritakan segala kejadian di Puncak Es, tapi melihat lagak beberapa imam itu, ia sengaja mengurungkan niatannya.

Ia mendongak dan berkata sembari menarik napas panjang.

"Sungguh sayang! Sungguh sayang!"

"Sayang apa?"

Empat Toosoe membentak dengan serentak. Tjia In Tjin tak menyahut, tangannya kembali menepuk-nepuk bayinya.

"Anak, jangan takut,"

Katanya.

"Ini beberapa hidung kerbau boleh kau pandang sepi saja."

Kecil-kecil bayi itu sudah mengunjukkan sifat-sifatnya yang mengherankan.

Tadi, lantaran kesampok cabang pohon, ia menangis keras.

Tapi sekarang, melihat empat Toosoe itu yang mencekal pedang mengkilap, ia berbalik seperti orang kegirangan.

Sembari mengeluarkan kedua tangannya yang kecil montok, ia tertawa lebar.

"Sungguh sayang,"

Kata pula Tjia In Tjin.

"Moh Tayhiap adalah guru besar dari satu jaman dan tetua dari sebuah partai besar. Beliau dihormati oleh semua orang dari Rimba Persilatan dan diakui sebagai pemimpin utama. Tapi kamu? Kamu sendiri hanya menganggap beliau sebagai seorang Tiangloo (paderi yang memimpin kuil) dari Boetong pay. Dengan begitu, bukankah kamu sangat merugikan keangkeran beliau? Ah! Sungguh aku merasa sangat sayang, bahwa Boetong pay sudah mempunyai murid-murid yang segoblok kamu!"

Keempat Toosoe itu adalah murid-murid Boetong pay yang mendapat didikan langsung dari adik Moh Tjoan Seng, yaitu Tjio Kong Seng, yang sudah meninggal dunia beberapa belas tahun yang lalu, dan mereka mempunyai kedudukan yang agak tinggi di dalam partai.

Dimaki secara begitu oleh Tjia ln Tjin, tentu saja mereka menjadi gusar sekali.

"Tjia In Tjin!"

Bentak Toosoe yang berdiri di sebelah barat sambil mengebaskan pedangnya.

Lepaskan anakmu! Kami ingin belajar kenal dengan Tokbeng Kiamhoat!' Tjia In Tjin tetap bersikap acuh tak acuh.

"Hm!"

Ia menggerendeng.

"Besok Boetong pay bakal mengalami peristiwa berdarah, tapi kamu masih tidak kenal takut dan masih ingin menyukarkan aku. Sungguh membikin orang tertawa!"

Siauw Tjeng Hong terkejut.

Ternyata Tjia In Tjin juga sudah mendapat endusan dan perkataannya dikeluarkan secara begitu meyakinkan.

Apakah ia mempunyai pengetahuan yang lebih jelas mengenai mara bahaya yang mengancam?

Beberapa Toosoe itu yang biasanya sombong, selalu menganggap bahwa di dalam dunia ini tak ada manusia yang berani membentur partainya.

Maka itu, mendengar peringatan nyonya tersebut, sebaliknya dari berterima kasih, mereka jadi semakin gusar.

"Mungkin sekali kaulah yang bersekutu dengan kaum siluman untuk mengacau,"

Maki imam yang berdiri di timur.

"Lepaskan anakmu! Sambutlah pedang tuanmu!"

Mendengar bentakan keras, bayi itu yang sedang tertawa-tawa, menjadi kaget dan menangis.

"Aku sebenarnya sungkan meladeni kamu,"

Kata Tjia In Tjin dengan paras muka berubah.

"Tapi karena kau, hidung kerbau, sudah membikin nangisnya anakku, aku tak dapat mengampuni lagi!"

Sebelum si Toosoe sempat membuka suara, sebuah sinar hijau sudah berkelebat.

Semenjak dulu, Tjia In Tjin kesohor cepat gerakannya.

Begitu terhunus, pedang itu tahu-tahu sudah menyambar ke tenggorokan si imam yang dengan hati terkesiap, sedapat mungkin coba menangkis.

Dengan berbunyi "trang!", pedang Toosoe itu kutung menjadi dua.

Sekali lagi pedang berkelebat dan konde si imam terpapas separoh!

Memang begitulah Kiamhoat Tjia In Tjin.

Sekali menghunus pedang, tak main sungkan-sungkan lagi.

Muka Toosoe itu menjadi pucat pias dan ia segera loncat mundur sejauh mungkin.

Bayi Tjia In Tjin mendadak berhenti mengangis dan kembali tertawa-tawa sambil mengeluarkan suaranya yang tidak tegas, seolah-olah ia mengetahui kemenangan ibunya.

Siauw Tjeng Hong yang menonton dari jauh, jadi merasa geli.

"Ah! Bayi itu sungguh-sungguh anak Thiekoay sian dan Tjia In Tjin,"

Katanya di dalam hati.

Tiga Toosoe lainnya gusar bukan main.

Tanpa memperdulikan lagi bayi yang sedang digendong, mereka membentak dan terus saja menyerang.

Beberapa saat kemudian, sesudah dapat menenteramkan jantungnya yang bergoncang keras, Toosoe yang barusan dihajar juga lantas menerjang dengan pedang kutungnya.

"Berikan dua tanda di badan perempuan siluman itu!"

Ia berteriak.

"Tapi hati-hati! Jangan melukakan anak yang tidak berdosa itu."

Empat Toosoe itu lantas saja mengurung dengan Soesiang Kiamtin (Barisan Pedang Empat Gaya) yang kepala buntutnya bergandengan satu dengan yang lain dan perlahan-lahan mereka mendekati Tjia In Tjin.

Soesiang Kiamtin adalah salah satu barisan pedang dari Boetong pay.

Cara mengurungnya barisan itu rapat bukan main dan kecuali, jika seorang dua orang pengepung dibinasakan, orang yang dikepung tak akan gampang-gampang dapat meloloskan diri.

Pada mulut Tjia In Tjin tetap tersungging meseman tawar.

Dengan keras ia mengebaskan pedangnya sehingga mengeluarkan suara "ung, ung", siap sedia untuk membinasakan.

"Celaka!"

Siauw Tjeng Hong mengeluarkan seruan tertahan.

Baru saja ia ingin loncat keluar untuk mendamaikan, tiba-tiba dari tanjakan gunung berkelebat bayangan manusia yang gerakannya luar biasa cepatnya dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa aneh.

Dalam sekejap, orang itu sudah tiba di dekat gelanggang pertempuran.

Hampir berbareng empat Toosoe itu berteriak.

"Aya!"

Dan serentak loncat keluar gelanggang.

"Toasoeheng!"

Mereka berseru. Siauw Tjeng Hong mengenali, orang itu benar Loei Tjin Tjoe adanya. Bajunya, di bagian atas, penuh darah, seperti baru saja bertempur dengan musuh. Ia berlompat-lompat dan membentak.

"Hian Boe! Hian Ham, bikin apa kamu! Hi-hi. Lekas berhenti! Hi-hi."

Ia berpaling kepada Tjia In Tjin dan berkata pula.

"Tjia Toatjie, kau juga datang? Hi-hi!"

Perkataan-perkataannya itu, yang diseling dengan tertawa aneh, membikin ia jadi kelihatan lucu sekali.

Di samping itu, tak hentinya ia melompat-lompat, seperti juga tak tahan merasakan kesakitan atau kegatalan.

Loei Tjin Tjoe adalah murid kepala dari turunan kedua partai Boetong pay, sehingga, kecuali Tjiangboendjin, ialah yang paling tinggi kedudukannya.

Maka itu, walaupun geli melihat lagaknya yang aneh, empat Toosoe itu tidak berani tertawa.

"Loei Tjin Tjoe, kenapa kau?"

Tanya Tjia In Tjin sembari tertawa.

"Kenapa kau bertempur dengan mereka?"

Loei Tjin Tjoe balas menanya.

"Hi-hi! Biar mereka berdosa, kau harus pandang juga mukaku. Hi-hi!"

Tjia In Tjin yang barusan merasa geli, sekarang mengetahui, bahwa Loei Tjin Tjoe telah menemui kejadian luar biasa.

"Mereka mengatakan, aku sudah mendesak kau, sehingga kau tak ketahuan kemana perginya,"

Tjia In Tjin menerangkan.

"Mereka mau juga bertempur denganku. Bagus juga kau keburu datang. Jika tidak, jiwa Tokbeng Siantjoe berbalik lebih dulu dibetot oleh murid-murid Boetong."

"Dua puluh tahun yang lalu, dia menghina kau,"

Kata seorang Toosoe.

"Sekarang dia menghina kami. Toasoeheng, tak dapat kita melepaskan dia."

"Dan juga,"

Sambung imam yang lain.

"Dia mengatakan, besok partai kita akan mengalami peristiwa berdarah. Hm! Toasoeheng, apa boleh manusia itu dibiarkan mengaco belo?"

Mendadak, Loei Tjin Tjoe meloncat beberapa tombak tingginya.

"Benar!"

Ia berteriak.

"Besok bakal ada mara bahaya! Hi-hi! Kamu benar-benar sudah membikin malu Boetong pay. Hi-hi!"

Selagi badannya melayang turun, bagaikan kilat Loei Tjin Tjoe menggaplok empat Toosoe itu yang lantas saja terguling sembari berkaok-kaok.

Di lain saat, ia juga roboh di atas tanah dengan mulut mengeluarkan rintihan aneh dan badannya dingin bagaikan es.

Bukan main kagetnya keempat Toosoe itu, yang segera memeriksa keadaan kakak seperguruan itu.

Napas Loei Tjin Tjoe masih berjalan sebagaimana biasa dan nadinya pun tidak berubah, tapi ia tak dapat berbicara lagi.

"Buka bajunya,"

Tjia In Tjin memerintah dengan suara dingin.

"Mungkin sekali jalan darahnya kena ditotok."

Begitu baju Loei Tjin Tjoe dibuka, semua orang mengeluarkan teriakan kaget.

Dengan bantuan sinar rembulan, dapat dilihat, bahwa pada pundak Loei Tjin Tjoe terdapat bekas tapak tangan yang berwarna merah darah dan di lain bagian terdapat tiga tanda totokan pada jalan darah Mahiat (jalan darah yang membikin orang merasa kesemutan), Yangyang hiat (jalan darah yang menimbulkan rasa gatal) dan Siauwyauw hiat (jalan darah yang menimbulkan tertawa).

Empat Toosoe itu saling mengawasi dengan muka pucat.

Mereka heran berbareng takut.

Loei Tjin Tjoe adalah seorang yang sangat terpandang dalam Boetong pay dan sekarang, ia sudah kena dilukakan secara begitu menyedihkan.

Mengingat perkataan Tjia In Tjin dan kakak seperguruannya, mereka bergidik.

Jika begitu, mungkin sekali besok akan terjadi peristiwa berdarah.

Meskipun Tjia In Tjin berkepandaian banyak lebih tinggi dari empat Toosoe itu, tapi sesudah melihat luka Loei Tjin Tjoe dan tiga totokan jalan darah itu, ia juga tak dapat mengetahui tangan orang partai mana yang begitu beracun.

Tersipu-sipu empat Toosoe itu mengurut badan kakak seperguruannya untuk coba membuka jalan darah yang kena ditotok.

Tapi keadaan Loei Tjin Tjoe menjadi semakin hebat.

Rintihannya jadi semakin keras dan keringat dingin membasahi seluruh badannya.

"Sudahlah, kamu jangan mengurut sembarangan,"

Kata Tjia In Tjin.

"Jika kamu bisa menolong, apakah soeheng-mu tak dapat membuka sendiri jalan darahnya?"

Disemprot begitu, mereka yang sedang kebingungan, lantas saja naik darah.

"Kalau kami tak mampu, apakah kau mampu?"

Tanya seorang antaranya dengan aseran. Tjia In Tjin yang sebenarnya bermaksud baik, jadi mendongkol. Tapi, sebelum ia membalas menyemprot, di sebelah belakang mendadak terdengar suara tertawa.

"Ia dijuluki Tokbeng Siantjoe, si Dewi Pembetot Jiwa, bukan Kioebeng Siantjoe (Dewi Penolong Jiwa),"

Kata seorang.

Dengan serentak empat imam itu memutarkan badan dan di hadapan mereka berdiri seorang pemuda baju putih, yang tak ketahuan kapan datangnya.

Tjia In Tjin segera mengenali, bahwa pemuda itu bukan lain daripada Tong Keng Thian yang pernah naik ke Puncak Es dan mengadu pedang dengan Pengtjoan Thianlie.

Ia menjadi girang bukan main dan berkata sembari tertawa.

"Dewa penolong jiwa sudah datang! Hei, kawanan hidung kerbau! Lekas berlutut untuk memohon pertolongan!"

Melihat usia Keng Thian yang masih begitu muda, tentu saja mereka tak mau percaya perkataan Tjia In Tjin yang dianggap hanya ingin mengejek.

Mereka sudah lantas ingin mengumbar kegusaran mereka, tapi Keng Thian keburu berkata.

"Baiklah, aku mencoba-coba. Tjia Liehiap, dua kawan lama sedang menunggu kau!"

Sedari tadi Tjia In Tjin memang mengetahui, bahwa suami isteri Siauw Tjeng Hong bersembunyi di belakang pohon.

Sesudah Keng Thian menyanggupi untuk mengobati Loei Tjin Tjoe, lantas saja ia berlalu.

Tong Keng Thian mendapat kenyataan, bahwa luka Loei Tjin Tjoe berhawa sangat panas dan berbau daging dibakar.

Ia terkejut, sebab tak bisa salah lagi, itulah akibat tangan Hiatsintjoe.

Tapi ia juga mengetahui, bahwa Hiatsintjoe hanya memukul dengan sebagian kecil tenaganya untuk memberi "tanda"

Dan bukan untuk membinasakan.

Waktu memeriksa totokan jalan darah, ia menjadi heran sekali, sebab totokan itu bukan totokan yang biasa digunakan oleh ahli-ahli silat wilayah Tionggoan.

Sesudah berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia ingat kepada seorang.

"Apakah tak mungkin dia yang datang!"

Katanya di dalam hati.

Buru-buru Keng Thian mengeluarkan Pekleng tan yang lalu dikunyah dan kemudian ditempelkan pada luka itu.

Beberapa saat kemudian, Loei Tjin Tjoe sadar dari pingsannya dan sesudah membalikkan badan, ia bangun berduduk dan mengawasi Tong Keng Thian.

Lantas saja ia mengenali, bahwa si baju putih adalah pemuda yang sudah merobohkan tiga belas jago Khongtong pay itu dengan sekaligus.

Walaupun tak mengetahui nama Keng Thian, ia yakin bahwa pemuda itu adalah murid Thiansan pay.

"Hian Boe! Hian Ham!"

Ia berseru.

"Lekas berlutut! Hi-hi!' "Tak usah banyak peradatan,"

Kata Keng Thian yang segera memberikan sebutir Pekleng tan kepadanya untuk ditelan.

"Kau ketemu siapa?"

Tanya Keng Thian.

"Lebih dulu seorang kusta,"

Jawabnya.

"Hi-hi! Belakangan seorang siluman tua yang rambutnya awut-awutan. Hi-hi!"

Dugaan Keng Thian ternyata tidak meleset. Kedua orang itu ternyata benar Kim Sie Ie dan Hiatsintjoe adanya. Tapi kenapa mereka bisa berada bersama-sama? "Bermula si penderita kusta menyerang aku,"

Kata pula Loei Tjin Tjoe.

"Belakangan ia menolong aku. Hi-hi!"

Sesudah diobati dengan Pekleng tan, rasa sakit dan panas sudah banyak mendingan, tapi jalan darahnya belum dibuka, sehingga Loei Tjin Tjoe masih terus mengeluarkan tertawa aneh.

Keng Thian yang pernah bergebrak beberapa kali dengan Kim Sie Ie dan sudah mengenal ilmu totokannya, buru-buru mengurut bagian badan Loei Tjin Tjoe yang perlu, untuk membuka tiga jalan darah yang tertutup itu.

Dilihat dari bekas-bekasnya, totokan itu dikirim dengan gunakan tongkat besi dan biarpun cukup keras, sama sekali tidak merusak urat.

Dilihat begitu, Kim Sie Ie rupanya hanya ingin guyon-guyon dan bukan mau mencelakakan orang.

Meskipun tidak ditolong, jalan darah itu akan terbuka dengan sendirinya, tapi harus menunggu dua puluh empat jam.

Begitu jalan darahnya terbuka, rasa kesemutan dan geli segera menjadi lenyap.

Untuk beberapa lama, Loei Tjin Tjoe duduk mengasoh dengan napas tersengal-sengal.

"Cara bagaimana, si kusta lebih dulu menyerang dan kemudian menolong kau?"

Tanya Keng Thian.

"Untuk menghadiri Kiatyan, terburu-buru aku datang kemari,"

Loei Tjin Tjoe menerangkan.

"Di mulut gunung, aku bertemu dengan seorang yang menderita penyakit kusta. Aku berpikir, peraturan kita begitu keras, kenapa si kusta dibiarkan datang mengganggu? Maka itu, aku segera coba mengusir dia. Ia menanyakan namaku. Aku memberitahukan sebenarnya dan menambahkan bahwa masih untung dia bertemu aku. Jika dia bertemu Soetee-ku, bisa-bisa jiwanya melayang. Sesudah itu, aku memberikan beberapa tail perak kepadanya dan suruh dia lekas-lekas pergi. Tak dinyana, mendadak dia tertawa besar. Katanya. 'Kalau begitu kau Loei Tjin Tjoe? Kudengar, di antara turunan kedua dari Boetong pay, kaulah yang berkepandaian paling tinggi."

Begitu katanya.

Aku heran, bagaimana ia mengetahui namaku.

Di luar dugaan, sedang ia belum habis tertawa, tongkatnya menyambar dan berhasil menotok jalan darahku beberapa kali.

Aku tak dapat mempertahankan diri lagi, lantas saja aku melompat-lompat dan tertawa seperti orang gila.

Dengan gusar aku mengambil putusan untuk bertarung mati-matian dengan ia.

Tapi dalam sekejap, ia sudah menghilang, entah kemana!"

Mendengar penuturan Soeheng-nya, empat Toosoe itu menjadi tercengang.

Dalam Boetong pay, Loei Tjin Tjoe mempunyai kepandaian tinggi dan bahwa ia sudah kena diserang beberapa kali tanpa mampu membalas, merupakan satu bukti dari hebatnya ilmu si pengemis kusta.

Keng Thian merasa geli dan berkata dalam hatinya.

"Kau tentu saja tak mengetahui, bahwa Kim Sie Ie memang paling senang mengganggu orang-orang ternama dalam Rimba Persilatan. Jika kau tidak memberitahukan namamu, kau tentu tidak akan mendapat gangguan suatu apa. Tapi disurung kesombonganmu, kau sudah menonjolkan namamu yang dianggap besar. Dengan begitu, sekalipun kau tidak mengusir-usir dia, kau tak akan bisa luput dari guyonannya."

Sesudah mengasoh beberapa saat, Loei Tjin Tjoe segera melanjutkan penuturannya.

"Sesudah kena dipermainkan, sudah tentu aku menjadi gusar bukan main. Tak terduga, baru saja berjalan beberapa tindak, aku bertemu dengan manusia aneh yang rambutnya awut-awutan seperti rumput. Dia ternyata mengenal diriku, sebab, begitu membuka mulut, dia berkata. 'Loei Tjin Tjoe, kenapa kau tertawa begitu enak?' "

Bukan urusanmu!"

Aku membentak dengan aseran.

Orang aneh itu mendelik dan berkata.

'Baiklah.

Sekarang aku ingin memberi tanda di badanmu, supaya kau dapat melaporkan kepada Moh Tjoan Seng.' Dengan cepat aku menghunus pedang, tapi pada saat itu juga, aku merasakan menyambarnya hawa yang sangat panas.

Hampir berbareng, kupingku mendengar suara menyeramkan dan si kusta kembali muncul.

'Siluman tua!' ia membentak.

'Mengertikah kau peraturan Kangouw?

Kenapa kau campur-campur jual beliku?' Si orang aneh lantas saja loncat menyingkir, tapi tangannya yang menyambar luar biasa cepat, sudah menowel pundakku."

Sekarang Keng Thian mengetahui, bahwa Hiatsintjoe bukan berbelas kasihan, tapi oleh karena merasa jeri terhadap senjata rahasia Kim Sie le, ia tidak keburu menurunkan tangan yang lebih berat.

Dengan pertolongan Thiansan Soatlian, racun panas yang mengeram dalam badan Loei Tjin Tjoe sudah dapat diredakan, tapi luka di dalam belum menjadi sembuh.

Sesudah bicara banyak, ia kelihatan lelah dan napasnya tersengal-sengal.

Sementara itu, beberapa murid Boetong yang mendapat warta, sudah datang untuk memberi pertolongan.

"Loei-heng,"

Kata Keng Thian.

"Pergilah ke kuil untuk mengasoh. Dengan menggunakan obat biasa, dalam tiga hari, kesehatanmu akan pulih seperti sediakala."

Dua kali Loei Tjin Tjoe pernah bertemu dengan Tong Keng Thian, tapi ia belum mengetahui nama pemuda itu.

Tapi, baru saja ia ingin menanyakan, dengan sekali berkelebat, badan si pemuda sudah melesat melewati pohon-pohon dan di lain saat, sudah tak kelihatan lagi bayangbayangannya.

Empat Toosoe yang tadi mau mengepung Tjia In Tjin, saling mengawasi dengan mulut ternganga.

Sekarang mereka mengerti, bahwa di luar langit masih ada langit.

Keng Thian pergi tersipu-sipu oleh karena mengingat Pengtjoan Thianlie.

Ia memang sudah"

Menduga, bahwa Kim Sie Ie akan datang di tempat Moh Tjoan Seng. Sekarang, sesudah dugaan itu merupakan kenyataan, hatinya berdebar-debar.

"Dia tentu datang bersama-sama Peng Go,"

pikirnya.

"Peng Go adalah seorang yang suka akan kebersihan.

Ia sebenarnya adalah pemuda cakap.

Tapi kenapa ia muncul pula sebagai penderita kusta?

Apakah ia tak kuatir Pengtjoan Thianlie merasa jijik?' Ia menghela napas berulang-ulang.

Memikirkan semua teka-teki itu, otaknya yang cerdas agaknya sudah tidak dapat bekerja sebagaimana biasa lagi.

"Dengan berjalan bersama-sama, Kim Sie Ie tentu juga sudah mengetahui, bahwa Peng Go adalah keponakan Moh Tayhiap,"

Kata Keng Thian pula dalam hatinya.

"Ia tentu tahu, Peng Go juga terhitung orang Boetong. Tapi, kenapa ia mempermainkan juga murid Boetong pay? Sekalipun adatnya aneh, tak boleh ia berlaku begitu keterlaluan. Apa ia tak takut kepada gusarnya Pengtjoan Thianlie?"

Sembari jalan, otak Keng Thian bekerja terus. Berkata lagi ia dalam hatinya.

"Sesudah tiba, kenapa Pengtjoan Thianlie tidak lantas menemui pamannya? Apakah ia sudah ketularan sifat-sifat Kim Sie Ie dan bermain-main dulu di dekat-dekat sini?"

Semakin berpikir, otaknya semakin butak, sehingga akhir-akhirnya ia mengambil keputusan untuk tak tidur dan coba mencari Kim Sie Ie dan Pengtjoan Thianlie.

Selagi berjalan dengan pikiran pepat, matanya tiba-tiba melihat dua orang wanita dan seorang pria sedang jalan berendeng di suatu tanjakan, di bawah pohon-pohon siong tua.

Wanita yang berjalan di sebelah kanan, menggendong bayi dan ia itu bukan lain daripada Tjia In Tjin, sedang dua orang lainnya adalah suami isteri Siauw Tjeng Hong.

Keng Thian sungkan mengganggu mereka, tapi sambil lalu, ia mendengar Tjia In Tjin berkata;

"Tak salah! Yaitu orang yang berpenyakit kusta!"

Hatinya melonjak dan ia menghentikan tindakannya secara mendadak, sehingga menerbitkan suara kresekan. Tjia In Tjin menengok dan menanya sembari tertawa.

"Bagaimana? Apakah keadaan Loei Tjin Tjoe tidak berbahaya?"

"Untung juga Hiatsintjoe tidak mengunakan seantero tenaganya,"

Jawab Keng Thian.

"Sesudah menelan Pekleng tan, kurasa jiwanya tidak terancam lagi. Sebenarnya, ia harus berterima kasih kepada si kusta."

"Apa?"

Menegasi Tjia In Tjin.

"Ah! Lagi-lagi si kusta!"

Keng Thian lantas saja menceritakan apa yang didengarnya dari Loei Tjin Tjoe dan menambahkan.

"Tangan Hiatsintjoe sangat beracun, tapi cara-cara si kusta yang aneh juga agak menakutkan. Baik juga aku mengenal ilmu totokannya. Jika tidak, Loei Tjin Tjoe harus tertawa dan melompat-lompat seperti orang gila dua puluh empat jam lagi. Sungguh sangat tak enak bagi Loei Tjin Tjoe yang terkenal sebagai murid utama dari turunan kedua partai Boetong pay."

Tjia In Tjin terkesiap.

"Ah, untung aku ditolong oleh seorang berilmu,"

Katanya.

"Kalau tidak, aku pun harus menjadi korban si kusta itu!' "Kau juga bertemu dengan ia?"

Tanya Keng Thian.

"Benar,"

Sahut Tjia In Tjin.

"Selagi dia mau menimpuk jalan darahku dengan batu, seorang wanita muda yang tak mau menampakkan diri, sudah menggebah ia."

"Wanita mana yang mempunyai kepandaian begitu tinggi?"

Tanya pula Keng Thian dengan penuh keheranan.

"Apakah Pengtjoan Thianlie?"

Nyonya itu tidak lantas menjawab. Ia menepuk-nepuk bayinya yang sudah pulas nyenyak dan mulutnya bersenyum manis, seolah-olah sekuntum bunga yang indah mendadak muncul di tengah hutan belukar.

"Jika kau ingin mengetahui, bagaimana aku bertemu dengan si kusta, aku harus bercerita dari kepala sampai di buntut,"

Jawabnya. Keng Thian manggutkan kepalanya dan segera memasang kuping. Tjia In Tjin menepuk-nepuk pula anaknya. Mendadak ia tertawa dan berkata.

"Coba lihat! Sama sekali tak mirip dengan ayahnya."

"Sangat mirip dengan kau,"

Celetuk Siauw Tjeng Hong.

"Di kemudian hari ia tentu akan menjadi seorang pendekar muda yang cakap dan ganteng."

Dengan berkata begitu Siauw Tjeng Hong sebenarnya ingin memuji kecantikan nyonya itu. Tjia In Tjin mesem.

"Kau datang dari Tibet, apakah ayah anak ini masih berada di Puncak Es?"

Tanyanya kepada Keng Thian.

"Waktu terjadi gempa bumi, aku sedang memetik daun obat. Belakangan jalan kembali sudah tertutup lahar, sehingga aku terpaksa pulang lebih dulu. Aku sangat kuatirkan keselamatan mereka. Hari itu, aku melihat keraton es masih berdiri, hanya aku tak tahu bagaimana keselamatan mereka."

Keng Thian merasa sangat pilu.

Siauw Tjeng Hong tak tahu, tapi ia tahu, Thiekoay sian sudah pulang ke alam baka dan dalam dunia ini, Tjia In Tjin tak bisa bertemu pula dengan suaminya.

Melihat paras muka nyonya itu, tak tega ia menyampaikan warta jelek itu.

Maka itu, lantas saja ia menjawab secara samar-samar.

"Aku tidak naik lagi ke keraton es dan tak tahu keadaan suamimu. Sesudah Kiatyan, kau boleh pergi ke Sakya untuk menemui muridmu, Tan Thian Oe, yang tentu bisa memberikan keterangan terlebih jelas."

Mendengar jawaban itu, Tjia In Tjin merasa agak heran, tapi ia tidak mendesak terlebih jauh dan mulai dengan penuturannya.

"Sebenar-benarnya, sudah lama aku ingin datang kesini untuk menemui Moh Tayhiap guna memberitahukan, bahwa keponakan perempuannya berada di atas Puncak Es, di gunung Nyenchin Dangla,"

Katanya.

"Tapi karena anak ini, sampai sekarang baru niatan itu terwujud. Sebelum berangkat, aku sudah medengar desas-desus tentang adanya beberapa orang yang ingin menyukarkan Moh Tayhiap dalam Kiatyan kali ini. Tadinya aku tidak begitu percaya, tapi siapa nyana aku sendiri mendapat buktinya. Kalau tak salah, besok bakal ramai sekali."

"Apa?"

Keng Thian menegas.

"Di samping si kusta, apakah kau bertemu dengan orang lain?"

"Tak salah,"

Tjia In Tjin membenarkan.

"Tadi, kira-kira magrib, baru saja aku masuk ke mulut jalan gunung, anakku lapar. Aku segera bersembunyi di belakang sebuah batu besar dan menetei ia. Tiba-tiba aku mendengar suara tindakan beberapa orang yang sedang memasuki lembah. Aku mengintip dan mendapat kenyataan, bahwa mereka itu adalah beberapa Toosoe Boetong pay, bersama Tjoei In Tjoe. Agaknya mereka sedang bertengkar. Mendadak aku mendengar suara Tjoei In Tjoe yang sangat keras. 'Loei Toako tidak mati! Ia menjanjikan aku supaya malam ini berkumpul di Kimkong sie. Jika kamu masih tidak percaya, sebentar kamu bisa menyaksikan dengan mata sendiri.' Agaknya ia dan Loei Tjin Tjoe telah mengambil jalan yang berlainan. Maka itu, waktu tadi bertemu dengan Loei Tjin Tjoe, aku tidak menjadi heran. Beberapa Toosoe itu lantas saja mengatakan sesuatu, tapi tak dapat didengar olehku. Di lain saat, Tjoei In Tjoe berteriak. 'Itu semua tak ada sangkut-pautnya dengan Tokbeng Siantjoe Tjia In Tjin! Semuasemua adalah main gilanya Ong Loei Tjoe!' Mendengar namaku disebut-sebut, lantas saja aku memasang kuping dengan lebih sungguh-sungguh"

"Beberapa Toosoe itu agaknya merasa sangat heran. 'Tapi bukankah Ong Lioe Tjoe saudara angkatmu?' seru satu antaranya. 'Benar,'jawab Tjoei In Tjoe. 'Tapi dia adalah murid Khongtong pay. Khongtong pay...' "

Baru saja Tjoei In Tjoe berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar suatu teriakan aneh dan dari atas cadas berkelebat turun sesosok bayangan manusia yang lantas menubruk Tjoei In Tjoe."

"Tjoei In Tjoe mengangkat gendewanya untuk menangkis. Sekonyong-konyong terdengar suara nyaring dan teriakan Tjoei In Tjoe yang menyayatkan hati dan ia lantas roboh di atas tanah. Hampir berbareng dengan itu, serupa benda hitam turun melayang ke arah kepalaku!"

Tjia In Tjin bergelar si Dewi Pembetot Jiwa. Dalam kalangan Kangouw, orang lainlah yang takut terhadapnya. Tapi, di waktu menutur sampai disitu, paras mukanya berubah pucat dan suaranya agak gemetar.

"Apakah itu?"

Tanya Siauw Tjeng Hong. Tjia ln Tjin menghela napas dan menjawab.

"Sinkiong (Gendewa Malaikat) Tjoei In Tjoe yang sudah berubah lempang bagaikan tongkat besi. Coba pikir. Dengan sekali sambar, sekali membetot, senjata Tjoei In Tjoe sudah berubah menjadi begitu!"

Mendengar itu, Keng Thian ternganga.

Bahwa orang itu bisa membetot dan melemparkan gendewa tersebut dalam tempo sekejap mata, terlebih pula busur yang tadinya melengkung sudah kena dibetot menjadi lurus, adalah suatu kejadian yang sungguh-sungguh luar biasa, la sendiri belum tentu mampu berbuat begitu!

"Itu masih belum seberapa,"

Kata pula Tjia In Tjin.

"Sinkiong Tjoei In Tjoe adalah senjata mustika. Talinya yang terbuat dari benang-benang emas, tak dapat diputuskan dengan senjata tajam. Tapi sekarang, tali itu putus seanteronya dan benang-benangnya berkibar-kibar di tengah udara. Jika hanya putus beberapa lembar benang, aku juga tidak merasa heran. Tapi orang itu, dengan sekali mengebas, sudah memutuskan semua tali itu. Jika tak melihat dengan mata sendiri, aku pun tak akan percaya."

"Apakah orang itu seorang imam tua yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning?"

Tanya Keng Thian.

"Bukan,"

Jawabnya sembari menggelengkan kepala.

"Dilihat dari mukanya, ia baru berusia tiga puluh tahun lebih. Orangnya tinggi kurus, rambutnya awut-awutan seperti rumput dan di bawah sinar rembulan, mukanya putih meletak, sehingga aku sendiri jadi bergidik."

"Ih!"

Kata Keng Thian, terkejut.

"Kalau begitu, dia bukan Hongsek Toodjin! Dalam dunia ini, kecuali beberapa Tjianpwee dari partai-partai yang murni, siapa lagi yang mempunyai kepandaian begitu tinggi?"

Siauw Tjeng Hong juga heran bukan main, tapi sebagai orang yang berpengalaman luas, ia segera dapat mengutarakan pikirannya.

"Dilihat begini,"

Katanya.

"Kalau orang itu bukan Khongtong pay, tentu juga ia mempunyai sangkut paut rapat dengan partai tersebut. Maka itu, di waktu Tjoei In Tjoe menyebut nama Khongtong pay, ia segera menyerang untuk menutup mulutnya."

Keng Thian lantas saja ingat akan pengalamannya di waktu Loei Tjin Tjoe dikepung oleh Tio Leng Koen dan dua belas kawannya.

"Tak salah,"

Katanya.

"Sejumlah orang Khongtong pay, di bawah pimpinan Tio Leng Koen, sudah menghamba kepada kerajaan Tjeng dan berniat membasmi orang-orang Boetong yang melawan bangsa Boan di daerah Sinkiang."

"Apakah Tjoei In Tjoe ditotok jalan darah gagunya?"

Tanya Siauw Tjeng Hong.

"Lebih dari itu!"

Sahut Tjia In Tjin.

"Gendewa itu jatuh di pinggir badanku dan sedikitpun aku tidak berani bergerak. Untung anakku sudah kenyang dan sudah pulas. Dengan hati berdebardebar, aku mengintip dari sela-sela batu. Sesudah merobohkan Tjoei In Tjoe, bagaikan kilat, orang itu mengerjakan kedua tangannya."

"Beberapa Toosoe itu mengeluarkan teriakan 'a-a u-u' yang luar biasa dan melompat-lompat seperti orang menginjak bara. Orang itu tertawa seraya berkata. 'Sekarang kamu tak bisa menggoyang lidah sembarang lagi.' Di lain saat, bagaikan seekor kera, bayangannya sudah berada di tanjakan gunung, tapi suara tertawanya yang membangunkan bulu roma masih berkumandang terus di selat gunung yang sunyi."

"Sesudah orang itu pergi jauh, dengan memberanikan hati, aku keluar dari tempat sembunyi untuk melihat keadaan para korban itu. Bermula aku menduga mereka hanya ditotok jalan darah gagunya. Tapi segera juga hatiku mencelos, sebab beberapa Toosoe itu, berikut Tjoei In Tjoe, sudah dikutungkan lidahnya! Setelah memeriksa, aku mendapat kenyataan, bahwa tulang pundak mereka juga dipukul hancur, sehingga mereka bukan saja menjadi orang gagu, tapi juga bercacat untuk seumur hidupnya, tanpa mempunyai lagi kepandaian silat."

Suami isteri Siauw Tjeng Hong kaget bukan main.

"Kenapa dia begitu kejam?"

Tanya Tjeng Hong.

"Lebih kejam seratus kali daripada si penderita kusta! Si kusta hanya main-main, tidak melukakan orang secara sungguh-sungguh."

Tong Keng Thian tidak berkata suatu apa dan Tjia In Tjin lantas saja meneruskan penuturannya.

"Sorot mata mereka seperti orang berotak miring, mulut mereka ternganga tak bisa ditutup dan juga tak dapat mengeluarkan suara. Otot-otot muka mereka pada timbul dan kelihatannya sangat menakutkan. Tentu saja dengan seorang diri, aku tidak bisa menggendong mereka. Maka itu, tanpa memperdulikan bahaya, jalan satu-satunya adalah memberi warta ke Kimkong sie. Secepat mungkin aku berlari-lari. Tapi baru saja keluar dari selat gunung, aku melihat belasan Toosoe yang membawa obor, masuk ke dalam mulut selat lain. Mereka berkaokkaok, memanggil-manggil saudara-saudara seperguruannya. Agaknya sesudah mendengar teriakan-teriakan luar biasa, mereka berkuatir dan lalu mencari saudara-saudaranya itu. Hatiku menjadi agak lega, tapi aku merasa, biar bagaimanapun juga, aku harus melaporkan kejadian itu kepada Moh Tayhiap. Demikian aku terus mendaki gunung. Tapi, di luar dugaan, sebelum tiba di Puncak Emas, aku bertemu dengan si penderita kusta!"

Tong Keng Thian mesem dan berkata.

"Si kusta tentu juga sudah mendengar nama besar Tokbeng Siantjoe, sehingga ia sengaja mengganggu kau."

"Ya,"

Kata Tjia In Tjin.

"Aku tak tahu, bagaimana ia bisa mengenal aku.

Waktu itu, Kimkong sie sudah dekat sekali dan gedungnya sudah bisa dilihat nyata dari jauh.

Mungkin lantaran aku berlari terlalu cepat, anakku mendusin dan menangis.

Aku berhenti dan mengusap-usap tubuhnya.

Saat itu hatiku sedih oleh karena mengingat, bagaimana seorang diri dan dengan menggendonggendong anak, aku terombang-ambing di dalam dunia.

Sambil menepuk-nepuk anakku, aku berkata.

"Ah! Jika ayahmu berada disini, bahaya apapun juga kita tak usah takuti lagi!' Anak itu seolah mengerti perkataanku dan ia lantas saja berhenti menangis. Selagi mau meneruskan perjalananku, di atas kepalaku mendadak terdengar suara tertawa. Aku mendongak dan disitu, di atas sebuah batu besar, duduk bersila seorang penderita kusta yang macamnya sungguh-sungguh menakutkan. Aku terkejut, lebih terkejut daripada tadi!"

"Si kusta mengawasi aku dan tertawa haha-hihi. 'Apakah kau bukannya Tokbeng Siantjoe Tjia In Tjin?'"

Tanyanya.

"Sesaat itu, aku ingat warta yang tersiar dalam kalangan Kangouw tentang munculnya seorang penderita kusta yang sangat ditakuti. Dengan memberanikan hati, aku berkata. 'Eh, jangan menakut-nakuti anakku!' si kusta menyengir dan berkata pula. 'Hei! Bukankah kau Tokbeng Siantjoe? Kau sendiri yang takut, sebaliknya kau mengatakan anakmu yang takut kepadaku!' Sehabis berkata begitu, ia membuat lagak seperti monyet dan mengeluarkan suara lucu. Entah bagaimana, anakku jadi tertawa. Ia kelihatan girang sekali. 'Nah, lihatlah!' katanya. 'Anakmu tak takut padaku. Eh, bukankah suamimu yang dipanggil Thiekoay sian? Kenapa ia tidak bersamasama kau?' Aku tak menjawab sebab sedang mencari jalan untuk menghadapi gangguannya. Si kusta tertawa pula dan berkata. 'Sayang! Sungguh sayang! Jika suamimu turut datang, bukankah aku dapat meminta pengajaran dari seorang yang namanya begitu kesohor?' Dia mengenakan pakaian rombeng seperti pengemis dan senjatanya juga sebatang tongkat besi, sehingga mirip sekali dengan ayah anakku. Beberapa saat kemudian, ia berkata lagi. 'Eh, jelek bagus aku adalah sekaum dengan suamimu. Kenapa kau tak meladeni?' "

Darahku mulai naik.

Aku meraba gagang pedang dan membentak supaya ia menyingkir.

'Baiklah,' katanya.

'Tapi dengan satu syarat, yaitu kau harus tertawa dulu terhadapku.' Aku tak dapat menahan sabar lagi, dengan menghunus pedang, aku menerjang.

"Dia lagi-lagi tertawa dan berkata. 'Ha, galak benar kau! Aku tak membetot jiwamu, hanya ingin melihat tertawamu yang manis. Kenapa kau lantas marah?' Sembari berkata begitu, tangannya menjumput sebuah batu yang lantas dicengkeram, sehingga menjadi hancur. Di lain saat, ia mengayun tangannya dan hancuran batu itu menyambar ke arahku!"

Keng Thian mesem dan berkata.

"Bukankah serangannya seperti serangan terhadap Loei Tjin Tjoe? Hanya, terhadap Loei Tjin Tjoe, ia menyerang dengan tongkat, terhadapmu ia menggunakan hancuran batu."

"Benar,"

Jawab Tjia In Tjin.

"Kepingan-kepingan batu itu cepat luar biasa, satu menyambar Djoanma hiat (jalan darah yang membikin orang jadi kesemutan) di dada kiri, satu menyambar Yangyang hiat (jalan darah gatal) di dada kanan, satu lagi menyambar ke arah Siauwyauw hiat (jalan darah tertawa), sehingga serangan itu merupakan serangan segitiga. Oleh karena di depanku menghadang batu besar, jalan satu-satunya adalah loncat ke belakang. Tapi kau tak tahu, bahwa tiga kepingan batu itu, yang menyambar dari depan, bukan serangan satu-satunya. Di samping tiga serangkai tersebut, dari kiri kanan malah dari belakang --kepingan-kepingan itu ada yang terbang melewati kepala dan kemudian berbalik menyambar lagi --menyambar juga kepingan-kepingan lain. Apa yang sangat luar biasa adalah. Kepingan-kepingan itu terbang dalam bentuk (formasi) segitiga dan menyambar ke arah tiga jalan darah! Hatiku mencelos. Aku mengerti, biar bagaimanapun juga, tak nanti aku dapat meloloskan diri."

"Memang,"

Kata Keng Thian sambil mengangguk.

"Memang ilmu melepaskan senjata rahasia itu sudah mencapai puncaknya kesempurnaan. Menurut pendapatku, dalam dunia ini, di samping keluarga Tong dan Han Tiong San dari Lengsan pay, dia adalah orang ketiga yang mempunyai ilmu itu. Dengan menggendong anak, lebih-lebih sukar kau menyelamatkan diri."

"Aku pun merasa tak akan terlolos lagi,"

Kata Tjia In Tjin.

"Dalam kebingungan, buru-buru aku menarik napas dalam-dalam untuk menutup semua jalan darahku. Tapi karena menyambarnya kepingan-kepingan itu luar biasa cepatnya, aku tidak keburu lagi menutup jalan darahku. Pada detik yang sangat berbahaya, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring. Hampir berbareng dengan itu, terdengar serentetan suara "

Tring-tring-tring"

Dan batu-batu itu terpukul jatuh.

Si kusta berteriak keras, lalu melompat tinggi dan dalam sekejap, ia sudah menghilang ke dalam hutan.

Di antara pohon-pohon yang rindang daunnya, aku melihat berkelebatnya seorang wanita yang mengenakan pakaian berwarna hijau dan yang lantas saja menghilang.

Heran sungguh hati Keng Thian.

"Didengar dari penuturanmu,"

Katanya.

"Wanita tersebut sudah menggunakan senjata rahasia untuk memukul jatuh kepingan-kepingan batu itu. Apakah kau tahu, senjata apa adanya itu?"

"Tidak,"

Jawab Tjia In Tjin.

"Tapi dari suaranya, aku dapat memastikan, bahwa senjata rahasia itu adalah sangat halus, seperti sebangsa jarum."

Keng Thian terperanjat dan berpikir.

"Wanita itu berada di dalam hutan, sehingga jarak antara ia dan Tjia In Tjin adalah terlebih jauh daripada jarak antara si kusta dan nyonya itu. Bahwa ia bisa memukul jatuh kepingan-kepingan batu itu dengan senjata jarum, membuktikan, bahwa kepandaiannya sungguh-sungguh berada di sebelah atasku."

Sesudah berdiam beberapa saat, Keng Thian berkata pula dengan suara perlahan.

"Apakah benar bukan Pengtjoan Thianlie?"

"Waktu itu hatiku sedang berdebar-debar dan gerakan wanita tersebut luar biasa cepatnya,"

Jawabnya.

"Selain itu, daun-daun pohon telah menedeng tubuhnya dan aku hanya dapat melihat belakangnya, untuk sedetik saja. Tapi, jika tak salah, badan Pengtjoan Thianlie agak lebih jangkung, sedang wanita itu lebih kate sedikit. Menurut dugaanku, ia bukan Pengtjoan Thianlie."

Sementara itu, sang Dewi Malam sudah doyong ke sebelah barat, sedang titik-titik sinar "Sengteng"

Pun sudah mulai guram. Keng Thian betul-betul pusing otaknya.

"Dalam keadaan begitu, mungkin sekali Tjia In Tjin sudah salah melihat,"

Katanya pula di dalam hati.

"Aku tak percaya, bahwa selain Peng Go, dalam dunia ini masih ada wanita lain yang mempunyai kepandaian begitu."

Melihat pemuda itu berdiam saja dengan paras muka kusut, Tjia In Tjin segera berkata.

"Beberapa kali kau telah menyebutkan nama Pengtjoan Thianlie. Bukankah ia pernah mengatakan, bahwa ia tak akan turun dari Puncak Es? Apakah ia sekarang berada disini?"

"Puncak Es sudah roboh, tentu saja ia boleh turun gunung,"

Jawab Keng Thian.

"Jika tak salah, ia sekarang berada di antara kita!"

Tjia In Tjin menghela napas.

"Jika benar ia berada disini, harap saja ia tidak bertemu dengan si kusta itu,"

Katanya.

"Pengtjoan Thianlie adalah bagaikan sekuntum bunga di selat gunung yang indah. Jika ia melihat si kusta, jangankan sampai bertempur, melihat mukanya saja mungkin ia sudah menjadi muntah."

Mendengar itu, di depan mata Keng Thian kembali terbayang si nona yang sedang berjalan bersama-sama dengan Kim Sie Ie.

Dalam dunia memang banyak sekali terjadi apa-apa yang di luar dugaan.

Siapa bisa percaya, bahwa Pengtjoan Thianlie bisa mempunyai perhubungan dengan penderita kusta itu?

Mengingat begitu, ia jadi sangat berduka.

"Kau sedang memikirkan apa?"

Tanya Tjia In Tjin sembari tertawa.

"Lagi memikirkan Pengtjoan Thianlie atau si kusta? Lebih baik kau coba mengusir dia, supaya dia tidak mengacau disini."

"Ya,"

Kata Keng Thian.

"Aku sudah mengambil keputusan untuk melek terus malam ini, guna mencari mereka."

"Mereka?"

Tjia In Tjin menegasi, yang merasa heran, bahwa Keng Thian menggabungkan Pengtjoan Thianlie dengan si kusta.

"Menurut dugaanku, malam ini mereka tidak menginap di kuil,"

Kata pula Keng Thian.

"Kurasa, mereka masih berada di dekat-dekat sini. Keadaan Loei Tjin Tjoe tentu sudah banyak mendingan dan menurut perhitunganku, sekarang ia sudah bisa berjalan pula. Maka itu, pergilah mencari ia dan minta mengantarkan kalian pergi menemui Moh Tayhiap. Kejadian malam ini biar bagaimanapun juga harus segera diberitahukan kepada Moh Tayhiap."

Sehabis berkata begitu, Keng Thian segera berlalu dan seorang diri berputar-putar di seluruh bagian gunung, tapi sampai badannya lelah, tak seorang manusia pun dapat ia temukan.

Bukan main kalut pikirannya.

Kedatangannya sekali ini, pertama adalah untuk mencari Pengtjoan Thianlie dan kedua, adalah untuk menghadiri Kiatyan.

Di luar dugaan, dalam tempo semalam itu, ia sudah menemui begitu banyak kejadian yang luar biasa.

Jika dihitung-hitung, di pihak lawan sedikitnya terdapat tiga orang yang berkepandaian tinggi, yaitu Hongsek Toodjin, Hiatsintjoe dan orang aneh itu yang telah menganiaya Tjoei In Tjoe dan beberapa imam.

Kepandaian mereka semuanya berada di sebelah atasnya.

Selain itu, masih ada si penderita kusta yang belum diketahui, apakah ia akan menjadi lawan atau kawan.

Maka itu, harapan satu-satunya adalah coba mencari Pengtjoan Thianlie, supaya ia dan si nona bisa bersama-sama melawan musuh-musuh itu.

Dalam jengkelnya, ia berdongak dan berteriak.

"Peng Go Tjietjie!

Peng Go Tjietjie!' dalam teriakannya itu, ia telah menggunakan lweekang dari Thiansan pay, sehingga suaranya menjadi nyaring tajam dan bisa terdengar dalam jarak belasan li.

Tapi, sesudah berteriak berulang-ulang, yang menjawab hanyalah kumandang suaranya sendiri.

Sekonyong-konyong dari puncak gunung di depan terdengar suara tertawa yang sangat nyaring.

Suara itu tak asing lagi baginya, tapi dalam keadaan was-was, Keng Thian tak dapat memastikan, apakah itu suara Peng Go atau orang lain.

Tanpa berpikir lagi, lantas saja ia berteriak.

"Peng Go Tjietjie! Aku disini! Kau keluarlah!"

Mendadak serupa benda yang berwarna indah, datang menyambar. Setelah disambuti, benda itu ternyata adalah karangan bunga yang sangat indah, dengan disertai tulisan seperti berikut.

"Sekali kau punya, tetap kau punya."

Bunga-bunga dan batang-batangnya masih basah dengan air embun, hal mana menandakan, bahwa karangan bunga itu baru saja dibuat.

Hati Keng Thian meluap kegirangan.

Puncak gunung di depan dan tempat dimana ia berdiri, dihubungkan dengan batu-batu.

Sambil mengempos semangat, dengan beberapa loncatan saja, ia sudah tiba di seberang dan lantas berlari-lari masuk ke dalam hutan sambil berteriak-teriak.

"Peng Go Tjietjie! Peng Go Tjietjie!"

Kecuali beberapa Tjianpwee, yang dapat menandingi ilmu mengentengkan badan Keng Thian, dengan sesungguhnya tiada berapa orang.

Sesudah mencari ke seluruh peloksok hutan, orang yang dicari itu masih tak kelihatan bayang bayangannya.

"Andaikata benar Peng Go Tjietjie, dia toh tak bisa lari begitu cepat,"

Pikirnya. Di lain saat, mendadak ia ingat apa-apa yang membikin ia seperti diguyur air dingin.

"Ah!"

Katanya di dalam hati.

"Pengtjoan Thianlie adalah seorang wanita yang beradat angkuh. Tak mungkin ia mengutarakan rasa cintanya begitu terang-terangan. Karangan bunga itu pasti bukan dibuat olehnya! Tapi... jika bukan dia, siapakah yang begitu nakal dan mempermainkan diriku?"

Baru bergirang, ia kembali menjadi seperti orang linglung dan jalan sejalan-jalannya, tanpa tujuan.

*** Dalam gunung itu terdapat seorang lain yang diliputi kedukaan dan kekecewaan yang lebih hebat daripada Keng Thian.

Orang itu adalah Kim Sie Ie.

Semenjak bertemu dengan Pengtjoan Thianlie di gunung Tjiakdjie san, ia terus mengintil di belakang si nona, tempo-tempo muncul, kadang-kadang menghilang, terus sampai di gunung Gobie san.

Hari itu, ketika baru memasuki Gobie san, oleh karena kuatir diketahui si nona, Kim Sie Ie hanya berani mengikuti dari jarak kira-kira setengah li jauhnya.

Gobie san adalah sebuah gunung yang angker dan berbahaya, penuh dengan pohon-pohon besar, cadas-cadas tajam dan jalan yang berliku-liku.

Mendadak ia kehilangan Pengtjoan Thianlie dan dayangnya.

Ia mempercepat tindakannya dan mencari ubek-ubekan.

Baru ia masuk ke suatu lembah, cuaca sudah mulai gelap.

Di sebelah jauh, ia melihat air terjun yang turun dari atas gunung.

Ia mendekati dan disitu ia mendapatkan suatu kobakan yang airnya jernih dan yang dikitari pohon-pohon bunga hutan, yang seakan-akan merupakan sebuah sekosol sulam.

Sekonyong-konyong di antara pohon-pohon bunga terdengar suara tertawa seorang wanita.

"Siauwkongtjoe (Puteri kecil),"

Demikian wanita itu berkata.

" 'Ku sudah kata, Tong Siangkong pasti datang lebih dulu disini untuk menunggu kau."

Suara itu bukan lain daripada suara Yoe Peng, sedang orang yang dipanggil "Puteri kecil"

Tentu Pengtjoan Thianlie sendiri. Jantung Kim Sie Ie memukul keras. Pengtjoan Thianlie tidak mengeluarkan sepatah kata. Berselang beberapa saat, Yoe Peng berkata pula sembari tertawa.

"Sebenar-benarnya walaupun kau membenci dia, kau toh seharusnya menanya dulu biar terang."

Kim Sie Ie yang bersembunyi di belakang batu, menahan napas supaya persembunyiannya tidak diketahui si nona. Sesaat kemudian terdengar helaan napas panjang, disusul suara Peng Go yang sangat perlahan.

"Tak usah kau campur tahu."

Lagi-lagi Yoe Peng tertawa geli.

"Siauwkongtjoe,"

Katanya "Kenapa kau jadi begitu? Terangterang, aku mengetahui kau menyukai dia!"

"Jangan rewel!"

Bentak si nona.

"Andaikata kau tidak menyukai dia, aku tahu, kau tidak membenci dia,"

Kata si dayang. Mendengar itu, jantung Kim Sie Ie kembali memukul keras. Ia merasa, perkataan Yoe Peng adalah beralasan. Pengtjoan Thianlie tetap menutup mulut.

"Ah, Siauwkongtjoe!"

Kata Yoe Peng dengan suara penasaran.

"Sekarang biarlah aku berterus terang. Jika kau tetap mengumbar napsu terhadap Tong Siangkong, ada seorang siauwdjin (orang rendah) yang akan merasa girang."

"Apa?"

Si nona menegas.

"Benarkah Siauwkongtjoe tak tahu?"

Jawabnya.

"Ada seorang, seekor anjing pemburu yang terus menguntit kita... tidak! Bukan, bukan anjing pemburu, tapi kodok buduk, seekor kodok buduk yang mengimpi ingin gegares daging angsa langit!"

Mendadak saja, Kim Sie Ie tak dapat menguasai diri lagi. Dengan sekali mengenjot badan, ia sudah meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan membentak sekuat-kuatnya.

"Apa? Aku kodok buduk?"

Daun-daun terdengar berkresekan dan Peng Go bersama dayangnya keluar dari antara pohonpohon bunga. Yoe Peng tertawa dingin dan berkata.

"Siauwkongtjoe, lihatlah! Bukankah benar, apa yang kukatakan tadi? Tak bedanya seperti anjing pemburu yang hidungnya tajam. Kemana juga kita pergi, dia selalu dapat mengendusnya. Anjing pemburu sebenarnya lebih tinggi setingkat daripada kodok buduk."

Kim Sie Ie tertawa dingin. Dengan paras muka berubah pucat, ia mengangkat tongkatnya. Melihat begitu, buru-buru Peng Go loncat menyelak di depan Yoe Peng.

"Mau apa kau?"

Tanyanya.

"Kau adalah angsa langit, tak berani aku, si kodok buduk, melihat wajahmu,"

Kata Kim Sie Ie.

"Tapi dayangmu adalah seekor bebek. Aku si kodok buduk, ingin menelan dia!"

"Kim Sie Ie!"

Kata si nona dengan suara tawar.

"Apakah kau masih memandang aku atau tidak?"

Selama hidupnya, Kim Sie Ie selalu bertindak dengan menuruti kemauannya sendiri saja.

Dengan memiliki ilmu silat seperti yang dimilikinya, dengan mudah ia akan dapat melukakan Yoe Peng.

Tapi mendengar teguran Peng Go, entah kenapa, ia menjadi keder.

Ia merasa, bahwa Pengtjoan Thianlie mempunyai keagungan dan keangkeran yang wajar, yang tak dapat dilanggar oleh siapapun juga.

Hatinya ingin menyindir, tapi sindiran itu tak bisa keluar dari mulutnya.

Maka itu, ia hanya berkata.

"Dayangmu telah mencaci aku. Aku..."

"Kau ingin mengajar adat?"

Si nona memotong.

"Dayangku tak perlu diajar oleh orang lain."

Kim Sie Ie kembali naik darah, tapi ia tak berani mengumbar kegusarannya. Sambil menahan amarah, ia menanya dengan mengutib perkataan Peng Go sendiri.

"Pengtjoan Thianlie! Apakah kau masih memandang aku atau tidak?"

Peng Go melirik dan kemudian dengan tawar.

"Kita bertemu hanya secara kebetulan saja. Soal pandang memandang sebenarnya bukannya soal di antara kita."

Kim Sie Ie bungkam sejenak. Rasa jelus, membenci dan gusar berkumpul di dalam dadanya. Sekonyong-konyong, bagaikan halilintar, ia berteriak.

"Dalam matamu, memang hanya terdapat si bocah she Tong!"

"Tak ada sangkut pautnya dengan kau!"

Jawab si nona sembari tertawa tawar.

Sehabis berkata begitu, Peng Go menghela napas panjang, kedua matanya mengawasi Kim Sie Ie dengan sorot kasihan.

Meskipun berusia lebih muda dari Kim Sie Ie, dengan suara seperti seorang kakak yang sedang menasehati adiknya, ia berkata.

"Ah! dengan kepandaianmu, sebenarnya kau bisa menjadi seorang pendekar di jaman ini, jika kau berjalan dijalan lurus. Dan jika kau terus mempelajari ilmu, kau bisa menjadi seorang guru besar dari suatu cabang persilatan. Tapi kenapa, kenapa kau mengeluarkan lagak buaya?"

Kim Sie Ie terkesiap.

Itulah kata-kata yang ia baru pernah mendengar.

Dalam mengeluarkan kata-kata itu, nada suara Pengtjoan Thianlie penuh dengan rasa sayang.

Tapi pada saat itu, mana Kim Sie Ie dapat menerimanya dengan otak dingin?

Mendadak saja, ia merasakan darahnya mengalir deras dan dadanya seperti mau meledak.

"Kenapa lagak buaya?"

Tanyanya, dengan mata merah.

Seingatnya, ia selalu membenci dunia dengan segala umat manusia yang hidup di dalamnya.

Belum pernah ia menanya diri sendiri, apakah sepak terjangnya benar atau tidak.

Maka itu, baginya, kata-kata Peng Go adalah bagaikan halilintar di tengah hari bolong.

Di lain pihak, ditanya begitu, Peng Go jadi kemekmek.

Tak dapat ia menjawab pertanyaan Kim Sie Ie.

Harus diingat, bahwa pendidikan yang Peng Go dapat adalah berlainan dengan pendidikan Kim Sie le.

Bahwa ia sudah menggunakan kata-kata yang kasar itu, sebenarnya sudah melampaui garis kebiasaannya.

Maka itu, tak mungkin si nona memberi penjelasan lebih lanjut mengenai lagak buaya Kim Sie Ie.

Dengan sorot mata gila, Kim Sie Ie mengawasi Pengtjoan Thianlie, sehingga Yoe Peng menjadi takut.

"Kau terus mengintil di belakang kami,"

Katanya.

"Apakah itu bukan lagak buaya?"

"Jalan bukan milikmu,"

Sahutnya.

"Kau jalan sejalanmu, aku jalan sejalanku. Kenapa lagak buaya?"

Koei Peng Go jadi merasa kurang senang.

"Sie le-heng,"

Katanya.

"Jalan ada banyak sekali. Sebaiknya, kita masing-masing mengambil jalan sendiri-sendiri."

Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara teriakan nyaring dan bagaikan seekor kera, tanpa menengok lagi, ia terus memanjat puncak gunung yang berdekatan.

Seperti manusia edan, ia memanjat dan memanjat terus.

Ia berteriak, ia tertawa, menandak dan bergulingan, sehingga pakaiannya yang indah jadi rubat-rabit, muka dan sekujur badannya ketusuk duri sehingga mengeluarkan darah, tapi semua itu, sedikitpun tidak diperdulikannya.

Ia merasa rohnya seakan-akan mau berontak keluar dari raganya.

Ia ingin sekali agar, pada detik itu juga, seluruh badannya hancur lebur menjadi debu untuk disebarkan ke seluruh bumi.

Seperti orang berotak miring, ia merobek-robek bajunya dan kemudian berdiri di pinggir kobakan, bercermin di air yang bening bagaikan kaca.

"Tiada beda dengan manusia lain, tubuhku telah dilahirkan oleh ayah bundaku,"

Ia berteriak.

"Tapi kenapa manusia begitu menghina diriku?" *** Di detik itu, segala pengalamannya yang lampau, berbayang pula di depan matanya. Ia ingat masa bocahnya. Lain orang melewati masa kecilnya dengan penuh kebahagiaan, ia justru sebaliknya. Apa yang dialaminya sepanjang masa itu, adalah kepahitan dan kegetiran. Siang-siang ibunya sudah meninggal dunia, sedang ayahnya adalah seorang guru sekolah miskin yang mencari makan di kampung orang. Waktu ia berusia lima tahun, karena ayahnya berpenyakitan dan hasilnya sebagai guru sekolah tidak mencukupi ongkos penghidupan, ayahnya itu telah mengambil putusan untuk pulang ke kampung kelahirannya. Karena tidak mempunyai kemampuan lain, maka mau tak mau, ayah dan anak itu terpaksa harus mengemis di sepanjang jalan. Di tengah jalan, sang ayah sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Masih untung, berkat pertolongan seorang kawan pengemis, ia sendiri tak sampai mati kelaparan. Demikianlah, dengan pakaian rombeng dan badan kurus kering, ia menuntut penghidupan sebagai pengemis kecil, yang hidupnya tergantung dari belas kasihan orang. Sesudah tiga tahun hidup begitu, di badannya mulai tumbuh bisul-bisul dan pada mukanya timbul bintik-bintik merah yang menonjol. Tentu saja ia tak mengerti apa artinya gejala-gejala itu. Ia hanya merasa heran karena kawan-kawannya tak mau bergaul lagi dengan dirinya, bahkan selalu menyingkir jauh-jauh. Pada suatu hari, seorang pengemis tua berkata kepadanya.

"Kurasa kau menderita penyakit kusta. Sekarang kau tidak dapat mengemis lagi, sebab kau bisa mati digebuk orang!"

Tentu saja ia jadi sangat ketakutan.

Sekarang baru ia tahu, kenapa kawan-kawannya selalu menyingkir jika di dekatnya.

Mulai dari waktu itu, ia menyembunyikan diri di waktu siang dan baru berani keluar di waktu malam untuk mencari sayur atau buah-buahan di kebun orang.

Beberapa kali, hampir-hampir ia binasa dihajar pemiliknya.

Kadang-kadang, jika ia berpapasan dengan orang lain di waktu siang hari, ia tentu akan dicaci sebagai "Siauwmahong (penderita kecil).

Orang-orang yang bernyali kecil menyingkir jauh-jauh, sedang yang berhati tabah mengejarnya dengan niat akan menguburnya hidup-hidup.

Untung juga, ia bisa lari keras sekali dan beberapa kali ia berhasil meloloskan diri dari "lubang jarum."

Berbulan-bulan ia hidup sebagai orang liar.

Dapatlah dibayangkan, betapa besar penderitaannya pada waktu itu.

Dalam otaknya yang masih sangat sederhana, sering-sering ia mendapat pikiran nekat.

Pada suatu hari, dengan perut kosong dan badan kedinginan, ia mendaki sebuah gunung yang tinggi.

Akhirnya, tibalah ia di atas sebuah batu cadas yang sangat besar, didampingi air terjun yang jatuh ke dalam jurang yang dalamnya ratusan tombak.

Sampai disitu habislah tenaganya, dan mau tidak mau ia harus berhenti.

Lama ia berdiri disitu dengan kedukaan yang tak terlukiskan.

Mendadak, ia jadi nekat.

Sembari berteriak.

"Ayah! Ibu!" , ia melompat ke bawah! *** Melamun sampai disitu, tiba-tiba Kim Sie Ie sadar dan ia merasa, bahwa tanah di bawah kakinya, agak bergetar. Ia memperhatikan sekelilingnya dan mendapat kenyataan, bahwa di hadapannya terdapat air terjun, yang mencurahkan airnya ke dalam sebuah jurang yang dalamnya ratusan tombak. Ia menghela napas panjang-panjang.

"Dulu, ada yang menolong aku,"

Katanya di dalam hati.

"Sekarang, siapakah yang akan menolong?"

Berpikir begitu, ia ingat pula kepada pertemuan luar biasa itu yang telah mengubah seluruh penghidupannya.

*** Begitu ia melompat dari batu cadas itu, selagi badannya berada di tengah udara, dalam keadaan setengah sadar, ia merasa, bahwa sebuah tangan yang besar lagi kuat, menjambret bajunya.

Bagaikan dalam mimpi, ia merasakan tubuhnya dilontarkan ke ruang kosong tak berdasar, tidak pula berbatas.

Kepalanya pusing, kupingnya mendesing dan ia tak ingat orang lagi...

Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, ketika sayup-sayup ia mendengar seseorang berkata.

"Sungguh kasihan anak ini!"

Ia merasakan pundaknya ditepuk-tepuk dan mulutnya disuapi makanan.

Kejadian itu telah menimbulkan lagi hal-hal di jaman lampau yang sebenarnya sudah lama hilang dari ingatannya.

Ia ingat pula kepada saat-saat penuh bahagia, ketika ia didukung ibunya, ditepuk-tepuk dan diberi makanan.

Perlahan-lahan ia membuka matanya.

Ia terkejut, karena yang dilihatnya adalah pemandangan sebagai dalam impian.

Ia mendapatkan dirinya sedang berbaring di sebuah perahu kecil dan sekelilingnya hanyalah laut biru yang berombak kecil-kecil.

Dalam perahu itu terdapat seorang kakek yang beroman aneh dan sedang memandangnya dengan sorot mata menyayang.

Ia mengucak-ngucak matanya dan memandang orang tua itu, yang berbadan tinggi besar dan mengenakan pakaian linen.

Rambut kakek itu panjang luar biasa, terurai sampai di pundak.

Jika dalam keadaan biasa, ia bertemu dengan orang begitu, sudah pasti ia akan menjadi ketakutan.

Tapi sekarang, sorot mata si kakek justru menimbulkan rasa hangat di dalam hatinya dan ia merasa, bahwa berdampingan dengan orang tua itu ia seolah-olah berdampingan dengan ibunya sendiri.

Si kakek tertawa seraya berkata.

"Anak, kau sekarang sudah mendusin. Apakah kau lapar?"

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Orang tua itu segera mengambil sebuah kendi merah dan menuangkan isinya ke dalam mulutnya.

Cair itu berasa seperti arak dan sesudah mencegluk beberapa kali, semangatnya lantas saja terbangun.

"Siapakah kau?"

Tanyanya.

"Apakah kau yang sudah menolong aku?"

Si kakek mengangguk sambil tertawa.

"Anak, sudah sejak beberapa hari aku memperhatikan dirimu,"

Katanya.

"Bahwa seorang diri kau berani bergulat untuk hidup di pegunungan yang berbahaya, membuktikan, bahwa kau mempunyai nyali yang besar. Tapi kenapa kau mengambil putusan pendek? Jika aku terlambat sedikit saja, badanmu tentu sudah hancur di dalam jurang."

Ia menggigit jarinya dan ia merasa sakit. Sekarang ia mendapat kepastian, bahwa ia bukan sedang bermimpi.

"Sudah lima hari kau pingsan,"

Kata si kakek sembari mesem pula.

"Badanmu ulet sekali. Jika anak lain yang mengalami kejadian ini, dia pasti tak akan bisa sehat kembali begitu cepat."

Ia merangkak bangun.

"Kenapa kau menolong aku?"

Tanyanya sembari mengawasi orang itu.

"Kenapa kau tak takut? Aku adalah penderita kusta!"

Si kakek tertawa seraya berkata dengan perlahan.

"Bukan, kau bukan penderita kusta. Aku, akulah, yang benar-benar seorang penderita kusta."

Ia terperanjat dan menatap wajah orang tua itu.

Meskipun beroman luar biasa dan berambut panjang, muka orang tua itu kelihatan sehat dan bersinar merah, sedang kulitnya licin lagi halus, sedikitpun tak terlihat tanda-tanda penyakit kusta kepadanya.

"Dulu, aku benar pernah menderita penyakit kusta, tapi sekarang sudah sembuh,"

Si kakek menerangkan.

"Kau hanya mendapat penyakit kulit, karena hidup di tempat kotor. Sesudah mandi dengan air laut beberapa kali dan berjemur beberapa hari, kau akan segera sembuh. Ah! Sungguh sayang, bahwa kau bukan penderita kusta!"

Sehabis berkata begitu, ia menghela napas panjangpanjang. Waktu itu, Kim Sie Ie baru saja berusia sebelas tahun. Tapi perkataan si kakek menimbulkan rasa heran dalam hatinya.

"Kenapa ia merasa menyesal, karena aku tidak menderita penyakit kusta?"

Tanyanya di dalam hati sembari mengawaskan orang tua itu.

"Dulu aku pernah menderita penyakit kusta,"

Kata kakek itu.

"Aku telah mengalami penderitaan yang sepuluh kali lebih hebat daripada penderitaanmu. Belakangan aku lari ke sebuah pulau dan bersumpah tak akan menemui manusia lagi. Bertahun-tahun aku bersembunyi dan beberapa belas tahun berselang, baru seorang pendekar wanita menyadarkan aku dari kekeliruanku. Aku insyaf, bahwa hidup mengasingkan diri adalah tak benar. Aku mengubah pendirianku dan akupun bersumpah untuk menolong para penderita penyakit kusta, sebisaku dan sebanyak mungkin. Selama sepuluh tahun ini, sudah banyak juga orang yang telah kutolong. Kini aku sudah merasa, bahwa hidupku sudah tak lama lagi. Aku ingin sekali mengambil seorang anak yang berpenyakit kusta untuk dijadikan murid. Hanya, sayang aku belum bisa menemukan seorang yang cocok."

Kim Sie Ie adalah seorang cerdik. Begitu mendengar perkataan orang tua itu, ia segera berlutut di hadapannya.

"Semua orang mencaci aku sebagai penderita kusta,"

Katanya dengan suara memohon.

"Jika kembali ke darat, aku tentu akan mati digebuk orang. Soehoe, jika kau menolak, lebih baik aku menceburkan diri ke dalam laut!"

Si kakek berdiam sejenak dan kemudian berkata.

"Baiklah. Tapi kau harus mempunyai nyali untuk hidup bersama-sama dengan aku di pulau terpencil itu."

"Sedang mati 'ku tak takut, masakah aku takut hidup di pulau?"

Kata Kim Sie Ie.

Demikianlah, ia lalu menjalankan upacara mengangkat guru di perahu itu.

Dalam beberapa hari, dengan mandi di air laut dan berjemur di sinar matahari, Kim Sie Ie sudah sehat kembali.

Bukan saja tenaganya sudah kembali, malah bisul-bisulnya juga sudah rontok semua dan kulitnya berubah licin.

Berselang beberapa hari lagi, sebuah pulau kecil sudah kelihatan di sebelah jauh.

Setelah berada tak jauh dari pulau itu, Kim Sie Ie mengendus bau wangi yang dibawa angin laut, tapi di antara bau wangi itu tercium juga bau amis.

Ia melihat, bahwa pulau itu ditumbuhi pohon-pohon yang rindang daunnya dan sebuah sungai kecil juga terdapat disitu.

Ombak laut kecil-kecil tiada habisnya bermain di pantainya, pantai berpasir putih.

Pemandangan indah, tenang dan menyenangkan itu, membikin hati Kim Sie Ie sangat gembira.

"Aduh! Bagus benar tempat ini!"

Ia berseru.

"Bagus atau tak bagus, sebentar baru kau dapat menentukannya,"

Kata si kakek sembari tertawa.

Ia meloncat turun dari perahu itu dan sesaat kemudian ia sudah berjalan di pesisir sambil menuntun muridnya.

Mendadak, dari dalam hutan terdengar suara berkresekan yang sangat luar biasa dan di detik berikutnya, ribuan ular keluar menyambut mereka!

Alangkah hebatnya pemandangan itu, beribu jenis ular dengan aneka warna kulit mereka, merayap, berbelit-belit mendatangi sambil mendesis tiada sudahnya Seluruh pantai dipenuhi binatang menjijikan itu.

Kim Sie Ie kehilangan semangatnya, tapi si kakek sedikitpun tidak merasa takut dan sembari bersenyum, ia maju mendekati.

Sungguh mengharukan, ular-ular itu serentak menunduk dan mengangguk-angguk seperti juga memberi hormat kepada si tua.

"Anak, apakah kau takut?"

Tanya orang tua itu sembari tertawa "Takut apa?"

Jawabnya "Paling ganasnya, mereka juga sama dengan manusia-manusia di dunia yang menghendaki jiwaku."

Si kakek tertawa terbahak-bahak.

"Jalan pikiranmu sama benar pikiranku, ketika aku baru mendarat disini,"

Katanya. Mulai dari saat itu, Kim Sie Ie menetap di pulau tersebut dan belajar silat di bawah pimpinan gurunya. Juga nama "Kim Sie le"

Itu adalah pemberian gurunya.

Sesudah lewat beberapa bulan, ia baru mengetahui, bahwa sang guru bernama Tokliong Tjoentjia, sedang pulau itu adalah Tjoato (Pulau Ular), yang terletak di antara Laut Kuning dan Pokhay, dan semenjak dulu hampir tak pernah didatangi orang lain.

Di waktu mudanya, Tokliong Tjoentjia adalah seorang guru silat.

Belakangan, karena terserang kusta, ia telah digebah dari rumahnya dan diubar-ubar oleh manusia yang takut ketularan dan merasa jijik melihat bisul-bisulnya.

Bertahun-tahun ia bersengsara, dikejar kian kemari, sampai akhirnya ia tiba di pulau itu.

Dalam kenekatannya, ia berkawan dengan kawanan ular itu.

Kemudian, dengan pertolongan ular, ia berhasil menyembuhkan penyakitnya.

Ilmu silatnya yang sangat luar biasa, telah diciptakannya sendiri di pulau tersebut.

Tokliong Tjoentjia menurunkan seantero kepandaiannya kepada muridnya.

Kim Sie Ie yang berotak cerdas, gampang sekali menerima pelajaran, sehingga sang guru menjadi girang sekali.

Menurut kebiasaan setiap tahun sekali atau dua kali Tokliong Tjoentjia pergi ke Tiongkok darat dan setiap kalinya selama sebulan atau dua bulan.

Selama gurunya menjalankan tugas sebagai penolong sesama manusia, Kim Sie Ie sendiri terus berlatih silat di pulau itu, dengan dikawani oleh ribuan ular.

Di waktu senggang, Tokliong Tjoentjia sering menceritakan pengalamanpengalamannya dalam melaksanakan hasratnya, menolong para penderita kusta yang hidup seperti dalam neraka.

Ia juga sering menuturkan segala kepahitan yang pernah dialaminya sendiri, selama ia sendiri masih berpenyakit kusta, antara lain bagaimana hampir-hampir ia mati dibakar oleh orang-orang yang merasa jijik terhadapnya.

Semua kisah itu, ditambah dengan pengalamannya sendiri, sudah membikin Kim Sie le sangat membenci manusia dalam keseluruhannya.

Ia berharap, supaya ia bisa terus tinggal di pulau itu dan tak usah menemui lagi manusia untuk selama-lamanya.

Tanpa terasa, tujuh tahun lewat dengan cepat sekali.

Selama tujuh tahun itu, tiada hentinya Kim Sie Ie belajar ilmu silat dan tanpa disadarinya ia sekarang sudah menjadi ahli silat kelas satu.

Mendadak datanglah suatu hari yang telah mengubah seluruh jalan penghidupannya.

Pada suatu magrib, ketika sang matahari tengah menyelam di sebelah barat dan tampak seolah-olah sebuah bola api, Kim Sie Ie dipanggil gurunya.

Begitu berhadapan, ia melihat perubahan luar biasa yang terjadi pada muka gurunya.

"Sekarang kau sudah mewarisi semua kepadaianku,"

Kata sang guru dengan perlahan.

"Jika kau kembali ke Tiongkok darat dan berkelana di kalangan Kangouw, kurasa di waktu ini sedikit sekali orang yang bisa menandingi ilmu silatmu."

"Soehoe,"

Kata Kim Sie le dengan bingung.

"Kebanyakan manusia dalam dunia jahat sekali. Lebih baik aku terus berdiam disini seumur hidupku."

Tokliong Tjoentjia mengangguk dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Benar, benar, memang sangat banyak manusia berhati jahat,"

Katanya dengan sabar.

"Malah dalam Rimba Persilatan juga terdapat banyak sekali manusia busuk. Tapi kau harus ingat, bahwa tidak semua manusia berhati jahat. Antaranya, Lu Soe Nio dan Kam Hong Tie adalah orang-orang yang berhati mulia."

Semenjak berdiam di pulau itu, Kim Sie Ie belum pernah mendengar gurunya bercerita tentang orang-orang Rimba Persilatan.

Maka sekali ini, ia menjadi sangat heran.

Baru saja ia ingin menanyakan siapa-siapa Lu Soe Nio dan Kam Hong Tie itu, gurunya sudah berkata pula.

"Di samping mereka, ada pula orang-orang dari Thiansan pay. Ah! Jika kau tidak mencari orang-orang Thiansan pay, kau bisa celaka!"

Kim Sie Ie tak mengerti apa maksud gurunya.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Orang yang sudah mahir dalam ilmu silat gubahanku, rasanya tak akan kalah dari pendekarpendekar Thiansan,"

Jawabnya.

"Tapi... Tapi..."

"Tapi kenapa?"

Si murid menanya lagi. Tokliong Tjoentjia mengerutkan alisnya.

"Tak lama lagi, kau akan mengerti sendiri,"

Katanya.

"Ah! Di antara murid-murid Thiansan, entah siapa yang masih hidup. Bagaimana sikap mereka? Apakah mereka akan merasa girang melihat kecelakaan dan membiarkan musnahnya ilmu silat partai kita, agar partai mereka bisa hidup sendiri dalam dunia ini?"

"Apa?"

Tanya Kim Sie Ie.

"Apakah dalam Thiansan pay tak ada orang jahat? Teetjoe (murid) bersedia mengikut Soehoe untuk mencari mereka dan menjajal kepandaian mereka."

Tokliong Tjoentjia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sebentar akan kujelaskan,"

Katanya.

"Sekarang panggillah dulu kawanan ular."

Sesudah tujuh tahun berdiam di Pulau Ular, Kim Sie Ie sudah mahir dalam ilmu menjinakkan ular.

Tapi baru saja ia ingin memutarkan badannya untuk menjalankan perintah gurunya, tiba-tiba ia melihat uap putih yang keluar dari kepala sang guru.

"Sie Ie,"

Tokliong Tjoentjia berkata dengan mendadak.

"Kau harus ingat segala penderitaanmu di waktu kecil."

"Teetjoe tak akan melupakannya,"

Jawab si murid.

"Pergilah!"

Perintah sang guru sembari mengebaskan tangannya.

"Lekaslah kembali, karena aku masih ingin bicara pula!"

Kim Sie Ie segera meninggalkan gurunya dan pergi ke berbagai tempat untuk memanggil kawanan ular.

Ternyata, ular-ular itu mengerti maksud manusia dan tak lama kemudian, mereka sudah berkumpul diluar hutan dalam rombongan-rombongan yang masing-masing di kepalai seekor ular besar.

Sesudah menjalankan tugasnya, Kim Sie Ie lalu kembali ketempat gurunya.

"Soehoe!"

Ia berteriak.

"Kawanan ular sudah datang."

Tetapi, segera juga ia terperanjat dan berdiri laksana patung dengan mata membelalak.

Kedua mata Tokliong Tjoentjia terbuka lebar-lebar, biji matanya tak bergerak, sedang keringat membasahi sekujur badannya.

"Soehoe! Kau kenapa?"

Teriak si murid.

Tokliong Tjoentjia tak menjawab.

Dengan jantung berdebar keras, Kim Sie le menubruk sang guru dan meraba badannya yang ternyata sudah kaku.

Ia sudah meninggal dunia!

Di samping jenazahnya terdapat tongkat besinya yang biasa digunakannya dan di bawah tongkat itu terdapat se

Jilid kitab dengan tulisan "Tokliong Pitkip (Kitab Naga Beracun) di kulit luarnya. Sesaat kemudian, Kim Sie Ie mendapat kenyataan, bahwa di atas tanah terdapat tulisan yang terbaca seperti berikut.

"Sesudah kepandaianmu sempurna, pergilah mencari orang Thiansan pay dan perlihatkan kitab ini kepadanya. Minta..."

Huruf "minta"

Agak guram dan bentuknya miring, sehingga bisa ditarik kesimpulan, bahwa, tengah menulis huruf itu, Tokliong Tjoentjia sudah kehabisan tenaga.

Kim Sie le menangis sedih sekali, sedang semua ular dengan serentak menundukkan kepala sebagai penghormatan penghabisan terhadap majikan itu.

Sekarang Kim Sie le baru mengerti, bahwa gurunya telah memanggil kawanan ular untuk berpamitan.

Sang guru telah mengatakan bahwa sebelum menutup mata, ia masih ingin bicara dengannya dan kini ia merasa sangat menyesal, bahwa ia tak bisa mendengar pesan terakhir gurunya itu.

Dengan penuh kedukaan, ia mengubur mendiang gurunya.

Soehoe! Ia berteriak dengan suara menyayatkan hati, sesudah jenazah Tokliong Tjoentjia diuruk dengan tanah.

"Aku tentu ingat segala perkataanmu. Aku tentu tak akan melupakan, bahwa kau dan aku telah merasakan penderitaan yang sama. Aku mengerti maksudmu. Aku benci semua manusia dalam dunia!"

Kim Sie Ie tentu saja tidak mengetahui, bahwa ia telah salah menafsirkan perkataan gurunya!

Memang benar Tokliong Tjoentjia pernah melarikan diri ke pulau itu karena diubar-ubar manusia dan ia memang pernah membenci manusia.

Akan tetapi, tujuh belas tahun berselang, Lu Soe Nio, Kain Hong Tie, Phang Eng, Tong Siauw Lan dan beberapa pendekar lain pernah datang di Tjoato.

Pada waktu itu, Lu Soe Nio dan Phang Eng telah merobohkan Tokliong Tjoentjia dan berbareng menolong juga jiwanya.

Belakangan mereka telah memberi nasehat panjang lebar, sehingga Tokliong Tjoentjia memperoleh kembali sifat kemanusiaannya.

Kebenciannya berubah menjadi kecintaan dan dengan segenap tenaganya, ia telah menolong para penderita kusta.

Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, ia ingin meninggalkan pesan kepada Kim Sie Ie, supaya si murid tidak melupakan penderitaannya di waktu kecil dan meneruskan pekerjaannya menolong para penderita kusta.

Tapi sungguh sayang, pesan terakhir itu tak keburu diucapkan, sehingga Kim Sie Ie jadi salah mengerti!

Sesudah penguburan itu beres, Kim Sie Ie lalu mempelajari Tokliong Pitkip.

Ia mendapat kenyataan, bahwa meskipun sebagian besar pelajaran ilmu silat dalam kitab itu sudah diketahuinya, tapi berapa bagian yang sulit masih belum dapat diselaminya.

Bagian-bagian itu diterangkan secara jelas dalam kitab tersebut.

Di samping itu, dalam Tokliong Pitkip juga terdapat pelajaran untuk membuat dan menggunakan macam-macam senjata rahasia beracun.

Tiga tahun lamanya, dengan bantuan kitab tersebut, Kim Sie Ie mempelajari segala apa yang belum keburu diyakinkannya di bawah pimpinan sang guru.

Berkat kegiatannya, ia memperoleh kemajuan yang mentakjubkan.

Dengan pukulan tangan kosong, ia sekarang bisa merobohkan pohon yang besar dan dengan jarum beracun, i;i Ihmi membinasakan buaya yang berenang di air.

Berselang lagi beberapa lama dalam kesepiannya, Kim Sie Ie sering melamun.

"Di pulau ini soehoe telah menggubah ilmu silat yang begitu liehay,"

Pikirnya pada suatu hari.

"Sebagai murid, aku berkewajiban membikin semua manusia di dunia mengetahui keliehayan soehoe. Dengan demikian, barulah capai lelahnya tidak tersia-sia."

Di lain saat, ia berpikir pula.

"Menurut kata soehoe, berbagai cabang persilatan di wilayah Tionggoan sebenarnya tidak seberapa liehay. Dulu, semua manusia telah memandang rendah kepada soehoe dan mengejar-ngejarnya. Paling baik, aku sekarang main-main ke daerah Tionggoan dan menghantam mereka sampai kalang kabut. Sesudah aku merobohkan semua orang gagah di kolong langit, baru aku akan mengumumkan asal-usul soehoe. Hanya dengan berbuat begitu aku bisa membikin nama soehoe menjadi harum untuk selama-lamanya."

Demikianlah, dengan adanya angan-angan begitu, dalam hati Kim Sie Ie segera timbul niatan untuk meninggalkan Pulau Ular.

Akan tetapi, semenjak gurunya meninggal dunia, selama tiga tahun, ia selalu merasa tertekan karena ada dua teka-teki yang tak dapat dijawabnya sendiri.

Teka-teki itu adalah perkataan Tokliong Tjoentjia sebelum menarik napas yang penghabisan.

Kenapa sang guru telah memesan, supaya sesudah kepandaiannya sempurna, ia pergi mencari orang Thiansan pay?

Kenapa, jika tidak berbuat begitu, menurut gurunya ia bisa celaka?

Ia mengingat-ingat dan merasa, bahwa ketika mengeluarkan perkataan itu, sang guru sama sekali tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Thiansan pay.

Selain itu, kenapa ia harus memperlihatkan Tokliong Pitkip kepada orang Thiansan pay?

Ia benar-benar heran.

Walaupun belum pernah berkelana di Rimba Persilatan, ia mengetahui, bahwa setiap partai sangat merahasiakan ilmu simpanan masing-masing dan tak akan gampang-gampang membocorkannya kepada orang luar.

Apakah tak mungkin, jika tulisan gurunya itu telah ditulis dalam keadaan setengah sadar?

Huruf "minta"

Sudah menimbulkan rasa tak rela di dalam hati Kim Sie Ie. Ia tak tahu, sang guru ingin memerintah ia "minta"

Apa dari Thiansan pay.

Ia hanya merasa, bahwa ilmu silat Tokliong Tjoentjia yang sedemikian tingginya tak memerlukan apapun juga dari orang lain.

Yang lebih mengherankan lagi adalah meninggalnya sang guru secara begitu tiba-tiba.

Ia yakin, bahwa semua manusia tak dapat melawan takdir.

Jika sudah sampai temponya, setiap manusia memang harus berpulang ke alam baka.

Akan tetapi, dengan memiliki ilmu yang tak bisa diukur tingginya, kenapa sang guru tak dapat bertahan untuk beberapa saat, guna menyampaikan pesan terakhir kepadanya.

Ketika baru datang, Kim Sie Ie memang berniat untuk berdiam terus di Pulau Ular sepanjang hidupnya.

Akan tetapi, sesudah gurunya meninggal dunia, perlahan-lahan ia merasa kesepian dan tak betah.

Ketika baru datang, ia masih berusia sebelas tahun.

Sekarang, sesudah lewat sepuluh tahun, ia sudah menjadi seorang pemuda yang berusia dua puluh satu tahun.

Perasaan dan pikiran seorang dewasa berbeda jauh dengan angan-angan anak kecil.

Dulu, ia sudah merasa puas dengan dunianya yang sempit kecil.

Dulu, hari-hari dapat dilewatinya dengan gembira, ia bermain dengan ular, menangkap burung, berenang, main pasir dan sebagainya.

Tapi sekarang, sabansaban ia teringat kepada dunia luar, dunia yang luas dan ramai, meskipun dunia itu agak asing baginya dan sangat dibencinya.

Demikianlah, ditambah dengan beberapa teka-teki itu yang selalu mengganggu pikirannya, sesudah kurang lebih tiga tahun Tokliong Tjoentjia meninggal dunia, ia tak tahan lagi.

Dengan membawa tongkat dan kitab gurunya, ia naik sebuah perahu kecil, menyeberangi laut untuk merantau ke daratan Tiongkok Sepuluh tahun adalah jangka waktu yang tidak terlalu pendek dan juga tidak terlalu panjang.

Akan tetapi, bagi Kim Sie Ie, jangka waktu itu telah mengubahnya sama sekali.

Dari seorang anak berpenyakit kusta yang dikejar dan dihina orang, ia sekarang sudah menjadi pemuda tampan yang mempunyai kepandaian sangat tinggi.

Tapi pemuda itu mempunyai suatu tujuan edan.

Ia menantang dunia yang pernah menghinanya!

Dengan lweekang-nya yang sangat tinggi, ia bisa mengubah mukanya, sehingga kelihatan sebagai penderita kusta.

Celakalah orang yang berani menghinanya!

Delikan dibalas dengan delikan, gigi dibayar dengan gigi!

Banyak orang yang berpapasan dengan dia, lantas saja dianggapnya berdosa, menangis salah, tertawa pun keliru.

Kemana saja ia pergi, ia tentu mencari jago-jago setempat untuk diajak mengadu kepandaian.

Begitulah, dalam beberapa tahun saja, nama Toktjhioe Hongkay sudah menggetarkan seluruh dunia Kangouw.

Dalam menjajal ilmu, belum pernah ia menemukan tandingan.

Semakin besar nama seorang jago dari kalangan Kangouw, semakin hebat orang itu dipermainkan, sehingga banyak orang ternama buru-buru menyingkir jika Kim Sie Ie hendak menjumpainya.

Ia pernah berniat mencari Kam Hong Tie dan Lu Soe Nio, tapi belakangan ia mendengar, bahwa Kam Hong Tie sudah meninggal dunia, sedang Lu Soe Nio sudah lama menyingkir dari pergaulan umum.

Oleh sebab itu, ia telah melepaskan niatannya itu.

Menurut gurunya, dalam Rimba Persilatan hanya terdapat dua orang mulia, yaitu Kam Tayhiap dan Lu Liehiap.

Sesudah yang satu meninggal dunia dan yang lain menghilang, tanpa sungkan-sungkan lagi, ia mempermainkan siapa saja yang hendak dipermainkannya.

Selama beberapa tahun, sudah banyak jago roboh dalam tangannya.

Setiap kali memperoleh kemenangan, hatinya menjadi gembira.

Akan tetapi, kegembiraan itu selalu disusul dengan rasa kesepian dan kedukaan.

Semakin banyak ia mendapat kemenangan, semakin besar kedukaannya.

Kegembiraan itu hanya bagaikan pelangi di tepi langit, suatu bayang-bayang tak kekal, sedang kesepiannya dan kedukaannya sebagai juga awan tebal yang gelap suram dan selalu meliputi seluruh jiwa dan pikirannya!

Kenapa?

Karena dia mempermainkan dunia, dunia meninggalkan dia seorang diri.

Tak ada seorang manusia pun yang dapat disebutkannya sebagai sahabatnya.

Juga tak ada manusia yang menganggap dia sebagai orang waras.

Dia menghantam dunia, tapi dunia membalas menghantamnya dengan tenaga yang seratus kali lebih dahsyat.

Apa yang didapatnya tiada lain daripada kesepian...

kesepian...

kesepian...

tiada habisnya, tiada akhirnya.

Menurut rencananya sesudah menjatuhkan jago-jago di wilayah Tionggoan, ia akan berkelana ke daerah barat laut untuk coba mencari Tjiangboendjin dari Thiansan pay.

Tak dinyana, sebelum kakinya menginjak Sinkiang, di gunung Tjiakdjie san, ia bertemu dengan seorang wanita yang memperlakukan dirinya sebagai sahabat, yang tak menghina, tak membenci, malah berusaha untuk mengobati dirinya serta bersedia untuk berjalan bersama-sama.

Wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie.

Tapi ia tak mengetahui, bahwa Pengtjoan Thianlie sebenarnya belum pernah mengenal penyakit kusta dan belum pernah melihat seorang penderita kusta.

Pertemuan itu seakan-akan menembusnya sinar matahari yang hangat ke dalam lembah yang sunyi lagi dingin.

Tanpa merasa, Koei Peng Go telah membuka hatinya.

Kecuali dengan gurunya, ia tak pernah mempunyai keinginan untuk bersahabat dengan manusia.

Tapi begitu bertemu dengan si nona, ia merasa berat untuk berpisah lagi.

Perasaan itu sama sekali bebas dari niat kurang baik dan caci Yoe Peng bahwa "kodok buduk ingin makan daging angsa langit"

Adalah cacian yang tidak pada tempatnya, Kim Sie le hanya merasa, bahwa dalam dunia ini Pengtjoan Thianlie adalah manusia satu-satunya yang boleh dijadikan sahabatnya.

Di Tjiakdjie san, ia juga bertemu dengan Tong Keng Thian.

Belakangan, sesudah mengetahui, bahwa Keng Thian adalah murid Thiansan pay dan kecintaan Peng Go, entah kenapa, di dalam hatinya segera muncul rasa mengiri.

Semula ia berniat mencari Tjiangboendjin dari Thiansan pay untuk lebih dulu diajak mengadu silat dan kemudian ia akan coba menyelidiki perhubungan antara gurunya dan partai tersebut, untuk memecahkan teka-teki yang memberatkan hatinya.

Akan tetapi, sesudah bertemu dengan Keng Thian, ia mengurungkan niatannya itu, pertama karena adanya perasaan mengiri, kedua karena ia tak sudi meminta apapun juga dari Thiansan pay dan ketiga karena ia mendapat kenyataan, bahwa ilmu silat Keng Thian tidak berada di bawahnya.

"Bocah itu adalah houwpwee (orang yang tingkatannya rendah) dalam Thiansan pay dan kepandaiannya sudah begitu tinggi,"

Pikirnya.

"Ayahnya, yang menjadi Tjiangboendjin, sudah tentu mempunyai kepandaian yang lebih tinggi daripada aku. Kalau begitu, kepandaianku belum sempurna."

Sebagai orang yang beradat angkuh, ia segera mengambil putusan untuk mempelajari lagi Tokliong Pitkip dan sesudah kepandaiannya meningkat sampai setara dengan gurunya, barulah ia akan pergi ke Thiansan untuk menantang bertanding.

Demikianlah, diam-diam ia menguntit Pengtjoan Thianlie dan sengaja merenggangkan perhubungan kedua orang muda itu.

Tentu saja tindakan itu bukan tindakan seorang ksatria.

Tapi di dalam otak Kim Sie Ie memang tak ada soal ksatria.

Jiwanya masih seperti jiwa anak kecil.

Jika ia suka akan suatu barang, ia tak mau anak lain datang merebutnya.

Masih untung, bahwa hatinya bebas dari niat jahat.

Jika bukan begitu, di waktu Keng Thian masih sakit di rumah keluarga Tjee, dengan mudah ia bisa membinasakan pemuda itu.

Kim Sie Ie menguntit terus sampai di Gobie san.

Di luar dugaannya, disitu ia membentur tembok.

Cacian Yoe Peng sedikitpun tak dihiraukannya.

Tapi semprotan si nona yang menggunakan kata-kata "lagak buaya"

Seolah-olah halilintar yang menghantam batok kepalanya...

*** Bagaikan bayang-bayang kacau, kejadian-kejadian yang lampau itu berkelebat-kelebat di depan matanya, Semakin lama, ia jadi semakin berduka, sehingga akhirnya ia menjadi kalap.

Ia bergulingan di atas tanah, tanpa memperdulikan duri-duri yang melukakan kulitnya.

Seperti orang gila, ia berteriak-teriak, menangis keras dan tertawa terbahak-bahak, sesudah kenyang menangis dan tertawa, ia merobek-robek pakaiannya dan kemudian menyeburkan diri ke dalam sebuah sungai kecil.

Lama sekali ia mandi disitu dan perlahan-lahan, otaknya yang panas menjadi agak dingin.

Sambil memandang bayangannya sendiri, ia berkata seorang diri.

"Orang ini bukannya aku. Apakah mukaku yang asli seperti muka ini?"

Mendadak ia meloncat ke atas dan membuka bungkusannya yang ditinggalkan di bawah pohon.

Ia mengambil dan memakai lagi pakaian rombeng yang biasa dipakainya dalam penyamaran sebagai penderita kusta.

Sesudah itu, ia memoles mukanya dengan bubuk obat dan mengerahkan lweekang-nya.

Dalam sekejap, mukanya berubah bersinar merah dan di sekujur badannya muncul "bisul-bisul".

Sekali lagi ia sudah menjadi penderita kusta yang menakutkan.

Ia lari ke pinggir solokan dan berkaca di permukaan air itu.

"Nah! Inilah baru wajahku yang asli!"

Katanya sembari tertawa terbahak-bahak.

Sebagaimana diketahui, sesudah bergaul dengan Koei Peng Go, watak Kim Sie Ie yang aneh telah banyak berkurang.

Oleh karena mengetahui, bahwa Pengtjoan Thianlie tak menyukai penyamarannya, ia pernah bersumpah untuk menghentikan penyamaran itu untuk selamalamanya.

Ia malah sudah mencuri pakaian bagus guna menyenangkan Peng Go.

Tapi tak dinyana malam itu Pengtjoan Thianlie telah mengeluarkan kata-kata menusuk, sehingga kebenciannya kepada dunia yang sudah ditindasnya, kembali muncul dalam hatinya, malah lebih dahsyat dari semula.

Apa yang dirasakannya bukanlah kekecewaan akibat kegagalan dalam percintaan.

Pada hakekatnya, ia belum mengenal cinta.

Yang dipikirkannya pada saat itu, adalah kegetiran pengasingan dan penghinaan, yang seratus kali lebih hebat daripada kekecewaan karena gagal dalam percintaan.

Sesudah memandang romannya di air bening, sekonyong-konyong, sambil memperdengarkan tertawanya sebagai orang gila, ia mengambil lumpur yang lalu dipoleskan ke sekujur badan dan mukanya.

"Manusia membenci aku,"

Katanya di dalam hati.

"Baiklah! Biarlah mereka lebih membenci diriku lagi!"

Mendadak di belakangnya terdengar suara "he-he", suara tertawa yang sedap dan nakal kedengarannya.

"Aha! Kodok buduk ini benar-benar lucu!"

Demikian terdengar suara seorang wanita. Kim Sie Ie lantas saja naik darah. Ia memutarkan badannya dan menimpuk dengan tanah.

"Benar-benar tolol!"

Wanita itu berkata pula.

"Kau merusak badanmu sendiri, siapa yang akan mengasihani dirimu?"

Gerakan Kim Sie Ie itu cepat bagaikan kilat.

Ia menimpuk sembari melompat ke jurusan suara itu.

Dengan timpukan yang disertai Iweekang, segenggam tanah itu tak kalah hebatnya dari sebuah batu.

Dengan berbunyi "tak!", sebatang dahan pohon sudah menjadi patah.

Tapi ia menubruk tempat kosong, disitu tak terdapat bayangan manusia.

Bukan main kagetnya Kim Sie Ie.

Semenjak berkelana di dunia Kangouw, ia sudah merobohkan banyak jago-jago ternama dan orang-orang yang bisa menandingi ia hanyalah Tong Keng Thian, Pengtjoan Thianlie dan Hiatsintjoe tiga orang.

Maka, seketika itu, ia terperanjat ketika mendapat kenyataan, bahwa ia sekarang sedang menghadapi lawan berat, lebih-lebih karena lawan itu adalah seorang wanita.

Dengan penasaran ia mengejar ke dalam hutan.

Sekonyong-konyong di belakangnya kembali terdengar suara tertawa.

"Budi harus dibalas dengan budi,"

Kata wanita itu.

"Sambutlah senjata rahasiaku!"

Sambil membentak keras, Kim Sie Ie memutarkan badannya dan menubruk, sembari menutup semua jalan darahnya guna menjaga serangan senjata rahasia.

Ia percaya, bahwa sekali ini tubrukannya akan berhasil.

Tapi dugaannya meleset jauh.

Sebelum tangannya bisa mencengkeram tubuh wanita itu, yang ternyata mengenakan pakaian putih, sudah melesat ke atas setinggi beberapa tombak dan melayang lewat di atas kepalanya.

Hampir berbareng dengan itu, matanya berkunang-kunang dan sejumlah "senjata rahasia"

Menyambar ke seluruh badannya.

"Senjata-senjata rahasia"

Itu, tiada satu yang meleset, beberapa antaranya, yang rasanya dingin-dingin, mengenai mukanya. Kim Sie Ie mengusap mukanya dan ia menjadi kaget bukan main. Ternyata.

"senjata rahasia"

Itu adalah daun-daun bunga yang belum kering, sehingga terasa dingin di kulit!

Ia mendongkol tercampur geli.

Sebagai orang yang biasa mempermainkan manusia, ia sekarang dipermainkan orang, Ia mencari ubek-ubekan di hutan itu, tapi si wanita sudah tak kelihatan bayang-bayangnya lagi.

Karena lelah, ia lalu tidur di dalam hutan itu dan baru mendusin keesokan harinya.

Hari itu, ia kembali mencari wanita itu, yang telah mempermainkan dirinya, tapi hasilnya tetap nihil.

Ia menduga, bahwa Pengtjoan Thianlie tentu sudah masuk ke Kimkong sie dan sebenarnya ia ingin turut masuk ke kuil itu untuk mengacau.

Tapi, setelah melihat munculnya Tong Keng Thian dan mengingat kata-kata si nona yang menusuk, ia mengurungkan niatan tersebut.

Malam itu ia berkeliaran di sekitar kuil itu untuk mengganggu para tamu.

Ia menggoda Loei Tjin Tjoe, menggebah Hiatsintjoe dan kemudian mempermainkan Tjia In Tjin.

Di luar dugaannya, sekonyong-konyong wanita yang sedang dicarinya itu menampakkan diri.

Dengan menggunakan jarum, wanita itu memukul jatuh semua batu yang dilontarkannya untuk menimpuk jalan darah Tjia In Tjin.

Kejadian itu telah dituturkan oleh Tjia In Tjin kepada Tong Keng Thian yang menjadi terheranheran.

Ia menduga, bahwa wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie.

Tapi Kim Sie Ie yang tersangkut secara langsung, bahkan lebih heran lagi.

Dengan rasa penasaran, ia segera meninggalkan Tjia In Tjin dan mengejar wanita itu ke dalam hutan.

Kali ini wanita itu tak lari secepat kemarin malamnya, seperti juga mau memancing Kim Sie Ie.

Bagaikan seekor burung, ia meloncat dari dahan ke dahan dan di tengah malam yang hanya diterangi sinar bulan yang remang-remang, Kim Sie Ie hanya dapat melihat bayangannya yang sebentar lenyap untuk sesaat kemudian muncul kembali di antara daun-daun pohon.

"Apa dalam dunia ini benar-benar terdapat wanita yang ilmu mengentengkan badannya sedemikian tinggi?"

Tanya Kim Sie Ie kepada dirinya sendiri.

"Apakah dia bukan dewi hutan?"

Dari Kimteng --yaitu puncak Gobie san yang tertinggi -Kim Sie Ie mengejar terus sampai di Houwtjoepo (Tanjakan Kera). Tiba-tiba, wanita itu lenyap dari pemandangan.

"Aku tak percaya, bahwa di dunia ada dewi,"

Katanya di dalam hati.

"Aku yang menganggap diriku sendiri paling pandai dalam dunia, sekarang baru mengerti, bahwa di luar langit masih terdapat langit. Tong Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie kira-kira berusia sama dengan aku dan kepandaian mereka pun tidak berada di bawahku. Tapi wanita itu, yang mestinya masih berusia sangat muda, mempunyai kepandaian yang beberapa kali lebih tinggi daripada aku."

Selagi ia melamun, mendadak terdengar jeritan kera.

Ia mengangkat kepalanya dan melihat beberapa ekor kera sedang turun dari lamping gunung.

Tiba-tiba timbul kegembiraannya.

Ia memburu mereka dan menangkap seekor yang lantas menjerit-jerit, sedang kawan-kawannya segera melarikan diri.

"Betapa gesitpun, tak dapat kau terlolos dari tanganku,"

Katanya sembari tertawa.

Sesaat kemudian, ia melepaskan kera yang pertama itu dan mengejar serta menangkap seekor kera lain.

Selagi ia keenakan mengganggu kawanan kera itu, sekonyong-konyong dari atas sebuah batu besar terdengar suara tertawa yang tak asing lagi baginya.

Kim Sie Ie mendongak.

Kali ini, ia dapat melihat wanita itu secara tegas.

Disinari cahaya bulan, si nona kelihatan duduk di atas batu.

Ia mengenakan baju berwarna ungu, rambutnya terikat oleh dua cincin emas, parasnya cantik dan segar, sedang usianya paling banyak baru delapan belas tahun.

Dengan sikap jenaka selaku anak nakal, ia menuding Kim Sie Ie sembari tertawa geli.

Kim Sie Ie memandangnya dengan mulut ternganga, ia benar-benar kesima Sediktpun ia tak menyangka, bahwa si nona berusia semuda itu.

Walaupun sudah berpengalaman sangat luas, ketika itu Kim Sie Ie tak dapat menyembunyikan tercengangnya.

"Kera tak pandai bersilat,"

Kata nona itu.

"Guna apa kau menangkap mereka?"

Kim Sie Ie terkejut.

Inilah wanita kedua yang tak jijik kepada penderita kusta, malah sikapnya lebih bebas dan ramah daripada Pengtjoan Thianlie.

Kim Sie Ie tetap mengawaskannya, tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Eh, apakah kau tuli?"

Teriak si nona sembari tertawa terkekeh-kekeh.

"Dengan kekerasan, kau menangkap mereka. Mereka jadi membenci kau. Lihatlah aku!"

"Baik,"

Jawab Sie Ie. Si nona kembali tertawa geli dan kemudian menyanyi.

"Sang kera! Sang kera! Kera nakal tak punya otak. Mari, mari, mari! Aku membawa buah untukmu, mari kita bersahabat!"

Beberapa saat kemudian, benar saja beberapa ekor kera muncul dan mendekatinya, semakin lama jumlah mereka jadi semakin besar.

Dengan gembira, si nona menari-nari dan menyanyi.

Dari sakunya ia mengeluarkan seraup buah Leetjie yang segera dibagikannya kepada kawanan kera itu yang segera berebut mengambilnya.

Pertunjukan itu bisa terjadi, bukannya karena si nona mempunyai ilmu luar biasa, tapi sebab kawanan kera di Houwtjoepo memang tak takut kepada manusia.

Mereka biasa berjumpa dengan para hweeshio dan sering sekali, beramai-ramai mereka datang untuk meminta makanan dari orang-orang beribadat yang berdiam di kuil itu.

Kim Sie Ie mengawaskan pertunjukan itu dengan sorot mata heran.

"Jika kau berlaku baik terhadap mereka, mereka pun bersikap manis terhadapmu,"

Kata si nona sembari tertawa.

"Jika kau menghina mereka, mana mereka mau bersahabat dengan kau?"

Jantung Kim Sie Ie berdebar keras.

Kata-kata itu seolah-olah sengaja diucapkan untuk memberi nasehat kepadanya, yang biasa mengganggu sesama manusia.

Oleh karena merasa ketarik, ia segera mendaki batu besar itu untuk turut bermain-main.

Tapi, sebelum ia bisa mendekati kawanan kera itu, mereka lari serabutan dengan ketakutan.

"Kurang ajar!"

Bentak si nona.

"Kenapa kau menakut-nakuti keraku?"

Melihat wanita muda itu gusar, Kim Sie Ie mengangkat tongkat besinya dan menjejek kakinya di atas batu, sehingga tubuhnya lantas saja meluncur ke atas, setinggi tiga tombak dengan gerakan Itho tjiongthian (Burung Ho menembus langit).

Selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, ia memukul dengan tongkatnya untuk menjajal ilmu si nona.

"Bagus!"

Seru nona itu.

"Pandai benar kau menghina orang!"

Mendadak badannya melayang ke atas, ujung kakinya menotol tongkat Kim Sie Ie dan, dengan meminjam tenaga totolan itu, tubuhnya kembali melesat beberapa tombak tingginya, akan kemudian, sembari memutarkan badan, bagaikan seekor burung, ia hingggap di tanjakan gunung.

Itulah suatu gerakan yang indah luar biasa!

Di lain saat, nona itu sudah tak kelihatan lagi bayang-bayangnya.

Kim Sie Ie jadi terpaku.

Lapat-lapat ia ingat, bahwa ia pernah melihat gerakan seperti yang barusan diperlihatkan wanita itu.

Sesudah berpikir beberapa saat, ia baru mendusin.

Gerakan itu menyerupai gerakan Niauw-eng (semacam elang).

Di dekat Pulau Ular terdapat sebuah pulau lain yang diberi nama Niauw-eng to (Pulau Niauw-eng), dimana hidup semacam burung buas yang macamnya seperti kucing.

Burung itu, yang merupakan musuh ular, dengan berkawan sering menyatroni Pulau Ular dan bertempur dengan kawanan ular.

Selama sepuluh tahun berdiam di pulau tersebut, Kim Sie Ie pernah beberapa kali menyaksikan pertempuran yang luar biasa itu.

Menurut penuturan gurunya, di Niauw-eng to pernah hidup dua saudara kembar, yaitu Sat Thian Tjek dan Sat Thian Touw, yang mempelajari cara-cara burung-burung buas itu bergerak dalam pertempuran.

Tapi sekarang mereka sudah meninggal dunia dan menurut kata gurunya, mereka tak mempunyai murid yang mewarisi kepandaian mereka.

Dari manakah wanita itu mendapat ilmunya?

Kim Sie Ie merasa heran, tapi di detik selanjutnya, ia ingat akan hal lain yang lebih, mengherankan lagi.

"Bahwa wanita itu memiliki kepandaian untuk berkelahi seperti Niauw-eng, adalah kejadian yang luar biasa,"

Pikirnya.

"Tapi, ketika barusan dia menotol tongkatku, tenaga dan kepandaiannya tidak terlalu hebat dan sudah pasti tidak lebih tinggi daripada kepandaianku. Kenapa bisa begitu?"

Harus diketahui, bahwa bagi seorang ahli silat, bergerak sekali saja sudah cukup untuk mengetahui cetek dalamnya lweekang musuh.

Selama dua malam, tiga kali wanita itu sudah menampakkan diri.

Pertama, ia menimpuk Kim Sie Ie dengan daun bunga.

Kedua, dengan jarum ia menjatuhkan batu yang ditimpukkan oleh Kim Sie Ie.

Dalam dua kejadian itu teranglah sudah, bahwa lweekang-nya tak terkira lagi tingginya.

Tapi, sungguh heran, dalam pertemuan ketiga, kepandaian yang diperlihatkan nona itu, jauh lebih rendah daripada dalam dua pertemuan yang lebih dulu.

"Mungkinkah ia hanya berpura-pura?"

Tanya Kim Sie Ie di dalam hatinya.

"Apakah bisa jadi, kepandaiannya sudah begitu tinggi, sehingga ia bisa menambah dan mengurangkan tenaganya sesuka hatinya? Akan tetapi, dengan kepandaian yang sekarang kumiliki, aku tentu bisa melihat, jika ia berpura-pura. Apakah wanita yang muncul lebih dulu itu bukannya dia?"

Ia mengasah otak dan kemudian berkata pula di dalam hatinya.

"Tidak, tak mungkin! Walaupun dunia ini cukup lebar, akan tetapi, untuk mendapatkan seorang wanita saja yang berkepandaian sedemikian tingginya, sudah tidak gampang. Mana bisa ada seorang lain lagi? Di samping itu, meskipun dalam dua pertemuan yang terdahulu, aku tak bisa melihat wajahnya dengan tegas, tapi baik potongan badan, maupun ilmu mengentengkan badannya, semuanya tiada berbeda. Tak mungkin aku salah mata."

Semakin memikirkannya, ia jadi semakin heran dan semalam suntuk, ia ubak-ubakan di hutan itu untuk coba mencari wanita yang aneh itu.

Demikianlah, biarpun berotak cerdas, Kim Sie Ie sama-sekali tidak menyadari, bahwa dalam tiga pertemuan itu, yang muncul adalah dua orang, seorang ibu dan puterinya.

Yang menimpukkan daun bunga dan jarum adalah Phang Lin, sedang yang memancing ia ke dalam hutan adalah Lie Kim Bwee puterinya.

Waktu itu, Phang Lin sudah berusia empat puluh tahun lebih.

Tapi jika dipandang dari jauh, wajahnya tiada bedanya dengan seorang wanita muda.

Yang lebih luar biasa lagi, adat dan tingkah lakunya masih tetap seperti seorang anak nakal.

Sebagaimana diketahui, sebagai akibat dari guyon-guyon Phang Lin di atas gunung Mostako, Pengtjoan Thianlie telah kabur dengan perasaan mendongkol.

Setelah disesalkan oleh kakaknya, yaitu Phang Eng, dan mengetahui adanya percintaan antara Keng Thian dan Peng Go, ia telah berjanji akan berusaha untuk merangkap jodoh kedua orang muda itu.

Phang Eng yang mengenal adat adiknya, tidak menganggap, bahwa janji itu dibuat dengan sungguh-sungguh.

Tapi di luar dugaannya, si adik benar-benar melaksanakan kata-katanya dan menguntit Keng Thian sampai di Gobie san.

Semula ia tak mau mengajak Kim Bwee, tapi puterinya yang berandalan itu tak mau mengerti, sehingga akhirnya ia menyerah juga.

Apa yang terjadi antara Tong Keng Thian, Koei Peng Go dan 'Kim Sie Ie, telah diketahui semua olehnya.

Di samping itu, dengan penuh rasa simpati, ia juga menyaksikan segala penderitaan dan kedukaan Kim Sie [e.

Walaupun nasib mereka tidak sama, di waktu kecil, Phang Lin juga pernah merasakan pahit getirnya penghidupan.

Dalam usia satu tahun, ia telah ditinggal mati oleh ayahnya.

Belakangan ia diculik oleh sepasang memedi, yaitu Sat Thian Tjek dan Sat Thian Touw, yang menyembunyikannya di dalam istana Soehongtjoe (putera kaizar yang ke empat) In Tjeng (belakangan kaizar Yong Tjeng).

Selama berdiam dalam istana itu, ia telah memperoleh banyak macam ilmu, antaranya ilmu untuk berkelahi seperti Niauw-eng yang diajarkan oleh sepasang memedi itu.

Meskipun begitu, dalam lingkungan mewah itu juga, ia telah merasakan banyak penderitaan.

Karena ia sendiri pernah mengalami banyak kegetiran, ia jadi bersimpati kepada setiap orang yang sedang menderita.

Sesudah menyingkir dari Kim Sie Ie.

Kim Bwee lalu pergi menemui ibunya di dalam hutan.

"Sebelum turun dari Thiansan, aku sudah mendengar, bahwa di Tionggoan telah muncul seorang Toktjhioe Hongkay yang sangat jahat,"

Kata Phang Lin sembari tertawa.

"Tak tahunya, si jahat adalah dia! Eh, apakah tidak lebih baik, jika sesudah puas mempermainkan dia, kita bunuh saja pengemis itu?"

"Kenapa?"

Tanya puterinya.

"Aku merasa kasihan."

"Bagaimana jika dibandingkan dengan Piauwko-mu (Tong Keng Thian)?"

Tanya pula sang ibu.

"Ilmu silat dan usia mereka kira-kira berimbang,"

Sahut Kim Bwee.

"Tapi sikap Piauwko terlalu mirip dengan orang dewasa, tidak begitu menarik seperti dia."

Phang Lin menghela napas dan kemudian berkata sembari tertawa.

"Baiklah! Kalau begitu, tak jadi kubunuh dia. Biarlah dia hidup terus untuk mengawani kau."

Si nona yang masih belum mengenal percintaan, mengetahui, bahwa ibunya sedang berkelakar. Ia tertawa cekikikan dan menubruk sang ibu.

"Ilmu mengentengkan badanmu lebih tinggi daripada dia,"

Kata pula sang ibu.

"Tapi dalam halhal lain, kau masih kalah. Sekarang aku ingin mengajarkan semacam ilmu kepadamu untuk mengalahkan dia, supaya kau bisa mempermainkannya tanpa dia sendiri bisa mengganggu kau."

"Apakah kau masih menganggap aku seperti anak kecil?"

Tanya Kim Bwee dengan nada tak percaya.

"Mana bisa ilmu silat dipelajari begitu cepat?"

"Ilmu yang akan kuajarkan, hanya bisa digunakan untuk merobohkan dia,"

Phang Lin menerangkan.

"Terhadap orang lain, ilmu itu tak berguna. Kau percaya atau tidak?"

Melihat paras ibunya yang sungguh-sungguh, Kim Bwee jadi setengah percaya setengah tidak dan ia mengikuti Phang Lin masuk ke hutan untuk berlatih.

Ibu dan anak itu mempunyai watak yang sama.

Jika sudah mulai -mengerjakan sesuatu, mereka tak akan berhenti di tengah jalan.

Semula mereka ingin mengunjungi Moh Tjoan Seng pada hari Kiatyan.

Akan tetapi, karena adanya kegembiraan lain, mereka jadi melupakan segala apa.

Malam itu, baik Tong Keng Thian maupun Kim Sie Ie tak tidur semalam suntuk.

Keesokan paginya tibalah hari Kiatyan.

*** Begitu sang matahari terbit di kuil Kimkong sie terdengar seratus delapan kali suara lonceng.

Tayhong Potian (ruang sembahyang yang paling besar) disapu bersih untuk menerima kehadiran para ahli silat dari segenap Rimba Persilatan.

Kali ini, tamu yang datang berkunjung luar biasa banyaknya.

Murid-murid Boetong pay bertindak sebagai tuan rumah untuk menyambut para tamu dan sebagian besar berkumpul di sekitar tempat memberikan ceramah.

Tong Keng Thian duduk di antara para tamu.

Dengan matanya yang sangat tajam, ia menyapu semua orang sambil menghela napas.

Ia merasa sayang, karena keadaan Boetong pay cabang Selatan sangat merosot dan di antara murid-murid turunan kedua, tak seorang jua dapat mendekati kepandaian pemuka mereka, yang sudah tua itu.

Seluruh ruang besar itu sunyi-senyap, semua orang menantikan Moh Tjoan Seng.

Tiba-tiba, di luar terdengan suara tertawa "haha-hihi"

Yang sangat ramai.

Loei Tjin Tjoe terkejut, buru-buru ia lari keluar untuk menyelidiki.

Ternyata, suara tertawa itu keluar dari mulut belasan murid Boetong yang terus menari-nari dan melompat-lompat seperti orang edan.

Tak usah diragukan lagi, bahwa semua itu adalah perbuatan si penderita kusta!

Bukan main malunya orang-orang Boetong pay.

Mereka tak tahu harus berbuat bagaimana, dan berdiri termangu-mangu laksana patung.

Di saat itu, tiba-tiba Tong Keng Thian melompat keluar dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menepuk dan menggampar belasan orang yang sedang menari-nari itu.

Segenap murid Boetong lantas menjadi gusar dan empat murid yang mengikuti Loei Tjin Tjoe, segera bergerak untuk mengepung Keng Thian.

Muka Loei Tjin Tjoe kelihatan menyeramkan.

"Goblok!"

Ia membentak dengan suara perlahan.

"Apakah kamu buta? Dia sedang memberikan pertolongan!"

Benar saja, dalam sekejap belasan murid Boetong itu sudah tenang kembali.

Ternyata, oleh karena harus menggunakan terlalu banyak tempo jika mesti membuka jalan darah mereka satu persatu, maka Keng Thian telah menggunakan ilmu Sintjiang kayhiat (Membuka jalan darah dengan pukulan).

Melihat kepandaian pemuda itu, semua ahli silat disitu jadi merasa kagum.

Tiba-tiba lonceng kuil berdentang berulang-ulang, sebagai tanda, bahwa Moh Tjoan Seng akan segera keluar.

Sebagaimana diketahui, Moh Tjoan Seng telah diakui sebagai ahli silat nomor satu di wilayah Tionggoan.

Sepuluh tahun sekali, ia mengadakan Kiatyan, yaitu mengadakan perhimpunan besar untuk memberi ceramah tentang ilmu silat dan memberi petunjuk-petunjuk kepada mereka yang memintanya.

Sekarang ia sudah berusia lanjut dan mungkin sekali, Kiatyan sekali ini, adalah yang terakhir.

Begitu mendengar gema lonceng, para hadirin, yang terdiri dari ahli-ahli berbagai cabang persilatan, lantas saja berhenti bicara dan mengambil tempat duduk.

Dengan demikian, Keng Thian terbebas dari banyak pertanyaan dan ia pun segera duduk di antara orang banyak.

Di lain saat, ruang yang barusan ramai dengan suara orang, berubah sunyi.

Dengan matanya Keng Thian menyapu semua orang.

Segera juga ia mendapat kenyataan, bahwa sejumlah orang yang duduk di barisan kursi terdepan, bersikap agak mencurigakan, sinar wajah mereka mencerminkan maksud kurang baik.

Ia menghela napas dan berkata di dalam hatinya.

"Benar juga, jika dikatakan, bahwa pohon yang tinggi mengundang angin, nama yang besar menimbulkan perasaan mengiri."

Sesudah lonceng berbunyi delapan belas kali, hweeshio kepala dari Kimkong sie mengantar Moh Tjoan Seng keluar dari ruang dalam.

Keng Thian mengawasi orang terkemuka dalam Rimba Persilatan itu yang ternyata berparas agung, penuh welas asih, sedang rambut dan alisnya sudah putih semua.

Dengan sinar mata yang tajam luar biasa, Moh Tjoan Seng menyapu seluruh ruangan.

"Ilmu silat dapat diumpamakan dengan laut,"

Demikian Moh Tayhiap mulai dengan suara perlahan.

"Seperti juga laut, ilmupun tak bisa diukur bagaimana tingginya. Walaupun sudah hidup agak lama dalam dunia ini, aku si tua sebenarnya hanya mengenal kulit luar ilmu itu dan belum pantas dinamakan ahli. Dalam Kiatyan ini, sama sekali bukan maksudku untuk berlagak menjadi guru. Kita berkumpul disini, hanya untuk merundingkan hal-hal ilmu silat secara sahabat."

Demikianlah kata-kata pembukaan Moh Tayhiap yang sangat merendahkan diri.

Harus diketahui, bahwa asal mula Kiatyan sebagai itu, adalah karena permintaan murid-murid Boetong, supaya Moh Tjoan Seng menetapkan suatu hari untuk memberikan kepada mereka petunjuk-petunjuk mengenai ilmu silat.

Belakangan, pertemuan itu dihadiri juga oleh ahli-ahli silat berbagai partai yang semakin lama jadi semakin besar jumlahnya, sehingga akhirnya Moh Tjoan Seng mengambil putusan untuk sekali dalam sepuluh tahun mengadakan Kiatyan.

Dengan demikian, ia telah diakui sebagai seorang guru dalam Rimba Persilatan.

Kata-kata pembukaannya yang merendahkan diri disambut dengan rasa kagum oleh para hadirin, malah juga oleh mereka yang ketika itu mengandung maksud kurang baik.

Tayhiong Potian adalah sebuah ruang yang sangat luas, panjangnya belasan tombak dan lebarnya pun belasan tombak.

Moh Tjoan Seng berbicara perlahan, tapi setiap orang dapat mendengarnya sama tegasnya, tak ada yang mendengar lebih terang atau kurang jelas.

"Nama besar Moh Lootjianpwee sungguh bukan nama kosong,"

Kata Keng Thian di dalam hatinya.

"Dalam usia begitu lanjut, lvveekang-nya masih begitu teguh, sehingga sedkitnya ia tak kalah dengan ayahku."

Seorang yang lweekang-nya tinggi memang bisa mengirimkan suaranya ke tempat jauh.

Andaikata ia berbicara dalam suatu ruang yang luasnya seperti Tayhiong Potian, mereka yang berada di barisan depan akan mendengarnya sebagai mendengar geledek, sedang mereka yang berada di sebelah belakang akan merasa telinganya seperti "ditusuk"

Gelombang suara itu.

Akan tetapi, suara Moh Tjoan Seng itu, lain dari yang lain.

Semua orang, yang di depan maupun yang di belakang, mendengar suara itu seakan-akan Moh Tayhiap berbicara di hadapannya, tak keras dan tak perlahan serta telinganya tak usah mengalami segala perasaan kurang enak.

Itulah suatu bukti, bahwa Iweekang Moh Tayhiap sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Sesudah itu, Moh Tjoan Seng segera memberi ceramah tentang Yakinkeng.

Orang-orang yang lweekang-nya sudah tinggi, mendapat banyak petunjuk baru, sedang mereka yang baru belajar silat juga telah memperoleh banyak penerangan berharga.

Sesudah ceramah itu selesai, menurut kebiasaan, orang-orang yang ingin memohon petunjuk boleh segera mempertunjukkan ilmu silat masing-masing yang paling tinggi.

Menurut tradisi, orang yang mendapat hak untuk paling dulu tampil ke muka adalah murid pertama dari turunan kedua partai Boetong pay dan kali ini, orang itu adalah Loei Tjin Tjoe.

Sesudah memberi hormat pada pemuka partainya dan para hadirin, Loei Tjin Tjoe segera bersilat dengan ilmu Kioekiong Patkwa tjiang.

Ia bersilat dengan bersemangat, gerak-geriknya gesit bagaikan kera, pukulannya dan serangan-serangannya dahsyat laksana serangan harimau.

Akan tetapi, ahli-ahli kelas satu yang berada disitu merasa heran, karena mereka sudah segera lihat kekurangan Loei Tjin Tjoe, yaitu kelemahan dalam hal tenaga.

Harus diketahui, bahwa dalam Rimba Persilatan di wilayah Tionggoan, Loei Tjin Tjoe sudah diakui sebagai salah seorang ahli kelas utama.

Orang-orang yang mengenal ilmunya atau pernah melihat ia mempertunjukkan kepandaiannya, rata-rata merasa, bahwa selama sepuluh tahun, sebaliknya dari semakin maju, kepandaiannya bahkan mundur banyak.

Menurut kebiasaan, seorang ahli silat harus berlatih terus, supaya, meskipun tak maju, scdikitpun jangan sampai merosot.

Antara mereka, hanya Tong Keng Thian yang mengetahui sebab musababnya.

Ia menghela napas dan berkata di dalam hatinya.

"Sesudah dipukul oleh Hiatsintjoe dan ditotok oleh Kim Sie Ie, meskipun sudah dapat kutolong, tenaganya tentu sangat berkurang."

Sehabis bersilat, Loei Tjin Tjoe segera berdiri tegak menunggu petunjuk-petunjuk Moh Tayhiap.

Moh Tjoan Seng membuka sepasang matanya lebar-lebar dan sinarnya yang seperti kilat menyapu murid Boetong itu.

Ia tersenyum seraya berkata.

"Tjianghoat-mu (pukulan-pukulan) sudah cukup lancar. Akan tetapi, dalam Tjianghoat ini mengandung Tiamhiat hoat (ilmu menotok jalanan darah), sehingga telapak tangan dan jeriji harus digunakan berbareng. Tiamhiat hoat-mu masih jauh dari sempurna."

Begitu mendengar perkataan Moh Tjoan Seng, para hadirin-terkejut tercampur heran, sedang Loei Tjin Tjoe sendiri merasa penasaran, karena ia yakin, bahwa Tiamhiat hoat yang dipertunjukkannya, sudah cukup sempurna.

Para ahli silat sama berpendapat, bahwa kekurangan Loei Tjin Tjoe bukan terletak pada Tiamhiat hoat, tapi pada tenaga dalamnya.

Apakah, karena sudah terlalu tua.

Moh Tjoan Seng sudah menjadi linglung?

Biarpun penasaran, Loei Tjin Tjoe tak berani membantah "Mohon Tjouwsoe sudi mEMBERI petunjuk,"

Katanya dengan sikap menghormat.

"Coba kau Jemari!"

Moh Tjoan Seng memanggil.

Dengan tetap duduk di tempatnya, tangannya menyambar dan jerijinya menotok jalan darah Samtjiauw hiat, di pergelangan tangan Loei Tjin Tjoe.

Si murid melompat dan sembari membalikkan tangan, Moh Tayhiap menotok pula jalan darah Thiantjoe hiat, di punggungnya.

Dengan tak bergerak, bagaikan kilat, jeriji pemuka Boe Tong itu menotok susul menyusul dan setiap kali, terpaksa Loei Tjin Tjoe harus berjingkrak.

Semua totokan itu di kirimkan dengan tenaga yang sudah diperhitungkan, sehingga Loei Tjin Tjoe tidak terluka sedikit jua.

Para ahli silat yang hadir, rata-rata merasa kagum bukan main melihat Tiamhiat hoat yang luar biasa itu dan tak akan dapat ditiru oleh Loei Tjin Tjoe.

Memang dalam ilmu silat, suatu perbandingan hanya dapat dibuat di antara orang-orang yang berkepandaian setara.

Sebagai juga dalam ilmu sastera, karangan seorang anak kecil tentu saja tak dapat dibandingkan dengan buah karya seorang Tjonggoan.

Tapi, walaupun kagum akan kepandaian Moh Tjoan Seng, para ahli itu masih tetap menyangsikan kebenaran pernyataannya, bahwa kelemahan Loei Tjin Tjoe terletak pada Tiamhiat hoat-nya.

Di antara begitu banyak orang, hanya Keng Thian seorang yang mempunyai pendapat lain.

Dengan jantung berdebar keras, ia mempelajari totokan-totokan Moh Tjoan Seng.

Sebagai orang yang berkepandaian tinggi dan berotak cerdas, segera juga ia mendapat kenyataan, bahwa ilmu totokan itu justru sangat sesuai untuk memecahkan Tokliong Tiamhiat hoat Kim Sie Ie.

"Apakah Moh Lootjianpwee memang sengaja ingin menurunkan ilmu totokan ini kepadaku?"

Tanyanya kepada dirinya sendiri.

Tong Keng Thian dan Kim Sie Ie, masing-masing mempunyai keunggulan sendiri.

Yang ditakuti Keng Thian adalah senjata rahasia beracun dan Tokliong Tiamhiat hoat Kim Sie Ie, sebaliknya Kim Sie Ie agak gentar kepada Thiansan Sinbong dan Thaysiebie Kiamhoat.

Sekarang, sesudah memiliki ilmu yang dapat memecahkan Tokliong Tiamhiat hoat, kemungkinannya untuk dapat merobohkan Toktjhioe Hongkay jadi lebih besar.

Oleh sebab itu, dengan penuh kegirangan ia terus memperhatikan totokan-totokan Moh Tayhiap.

Sesudah tiga puluh enam jalan darahnya selesai ditotok semua, Loei Tjin Tjoe merasakan timbulnya semacam hawa panas dari jalan-jalan darahnya yang terus masuk ke bagian Tantian (pusar).

Hampir seketika itu juga, ia merasakan sekujur badannya nyaman luar biasa dan tenaga dalamnya bukan saja kembali seperti sediakala, tapi juga jadi semakin besar.

Sebagaimana diketahui, ia telah dihajar oleh Hiatsintjoe dan kemudian ditolong oleh Tong Keng Thian.

Akan tetapi, walaupun sudah mendapat pertolongan pemuda itu, badannya masih merasa kurang enak.

Sekarang, sesudah ditotok oleh Tjouwsoe-nya, rasa sesak yang masih ketinggalan itu lantas saja lenyap.

Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, ia sendiri segera mengerti, bahwa totokan itu telah memperkuat Iweekang-nya dan keuntungan yang didapatkannya bernilai sama dengan hasil latihan tiga tahun.

Orang-orang lain tidak mengetahui, bahwa dengan totokan tersebut, Moh Tjoan Seng telah mengusir sisa racun yang mengeram dalam tubuh Loei Tjin Tjoe, sebagai akibat dari pukulan Hiatsintjoe.

Sesudah selesai, sembari tertawa Moh Tjoan Seng menanya.

"Apakah kau sudah mengerti maksud totokan tadi?"

"Mengerti!"

Jawab Loei Tjin Tjoe sembari membungkuk.

"Belum tentu,"

Kata Moh Tjoan Seng perlahan.

"Tapi cukuplah jika kau bisa mengerti beberapa bagian."

Keng Thian yang sedang mengingat-ingat pelajaran yang barusan didapatnya, merasa terkejut ketika mendengar perkataan itu dan ia mengangkat kepalanya.

Tiba-tiba matanya kebentrok dengan mata Moh Tayhiap.

"Ah!"

Pikirnya.

"Perkataan Moh Lootjianpwee tentu ditujukan kepadaku. Mana Loei Tjin Tjoe bisa mengerti?"

Memang benar, baik Loei Tjin Tjoe maupun ia sendiri, hanya mengerti sebagian.

Totokan-totokan Moh Tayhiap barusan pada hakekatnya mempunyai tiga tujuan.

Pertama.

untuk memperlihatkan kepandaiannya kepada orang-orang yang mengandung maksud kurang baik.

Kedua, untuk menurunkan Tiamhiat hoat yang bisa memecahkan ilmu Kim Sie Ie, kepada Keng Thian.

Ketiga.

untuk mengusir racun yang masih mengeram dalam tubuh Loei Tjin Tjoe.

Tak seorang pun di antara yang hadir mengerti semua maksud Moh Tayhiap.

Selagi Loei Tjin Tjoe ingin kembali ke tempat duduknya, sekonyong-konyong salah seorang yang duduk di barisan kedua, melompat keluar dan berkata dengan suara nyaring.

"Tjek Tiong Ho, houwpwee (orang yang tingkatannya rendah) dari pulau Liehwee to (Pulau Menyingkir Dari Api) Lamhay, memohon petunjuk dari Thaytjongsoe (guru besar)!"

"Ah! Kalau begitu, kau adalah murid Tjekshia totjoe (Majikan Pulau Kota Merah),"

Kata Moh Tjoan Seng.

"Bagus! Aku si tua sangat mengagumi ilmu silat Liehwee kansoei tjianghoat dari partaimu."

"Jika Moh Lootjianpwee berkata begitu, apakah houwpwee harus pulang dengan tangan kosong?"

Tjek Tiong Ho mendesak. Oleh karena menurut kebiasaan Kiatyan, Moh Tjoan Seng tak boleh menolak permintaan untuk memberikan petunjuk kepada seorang houwpwee, maka ia lantas saja berkata.

"Setiap partai atau cabang perguruan mempunyai kebagusannya sendiri-sendiri. Mengenai Tjianghoat (Ilmu pukulan), adalah gurumu yang seharusnya memberi petunjuk. Cobalah kau bersilat, supaya aku bisa melihat, kalau-kalau ada bagian-bagian yang dapat kita rundingkan lebih jauh."

Tjek Tiong Ho memberi hormat seraya berkata.

"Houwpwee memberanikan diri unuk mengajukan satu permohonan. Houwpwee memohon supaya Loei Soeheng sudi membantu dengan dalam toeitjiang (adu pukulan) dan jika dalam toeitjiang itu terdapat bagian-bagian yang keliru, harap supaya Lootjianpwee sudi memberi petunjuk. Dengan demikian, keuntungan yang kudapat akan menjadi lebih besar."

Mendengar tantangan itu, semua orang jadi terkejut.

Menurut peraturan Kiatyan, setiap houwpwee dapat memohon pengajaran dengan dua rupa jalan.

Pertama adalah bersilat sendiri dan kedua, adalah bersilat berdua.

Oleh karena, pada setiap Kiatyan, jumlah yang meminta petunjuk selalu sangat besar, maka cara yang kedua, yang sekaligus bisa memberi kesempatan kepada dua orang, sering juga digunakan.

Akan tetapi, menurut kebiasaan, toeitjiang selalu dilakukan antara dua saudara seperguruan atau antara sahabat-sahabat karib, sehingga menang atau kalah, tak akan merenggangkan keakuran.

Tapi sekarang Tjek Tiong Ho meminta Loei Tjin Tjoe yang maju sebagai kawan ber-toeitjiang.

Mereka berdua bukan saudara seperguruan dan juga bukan sahabat.

Maka, permohonan Tjek Tiong Ho itu tidak berbeda dengan tantangan.

Hati para hadirin jadi berdebar-debar, terutama Tong Keng Thian yang sangat kuatir akan keselamatan Loei Tjin Tjoe.

"Ilmu silat Tjekshia totjoe merupakan salah satu ilmu luar biasa dalam Rimba Persilatan,"

Katanya di dalam hati.

"Andaikata Loei Tjin Tjoe belum mendapat luka, belum tentu ia bisa menandingi Tjek Tiong Ho. Dalam keadaannya sekarang, bagaimana ia bisa melawan orang she Tjek itu?"

Moh Tjoan Seng tetap bersikap tenang. Ia mengangguk dan berkata sembari tertawa.

"Begitu juga baik. Loei Tjin Tjoe! Gunakanlah Kioekiong Lianhoan Tjianghoat untuk meminta pengajaran dari Tjek Soeheng."

Loei Tjin Tjoe mengiakan dan ia lantas berjalan masuk ke tengah-tengah ruang. Ia memasang kuda-kuda dan mengundang.

"Tjek Soeheng, silahkan."

Tjek Tiong Ho tak berlaku sungkan.

Hampir berbareng dengan undangan itu, ia segera memukul dengan tangan kanannya.

Lihwee kansoei tjianghoat gubahan Tjekshia totjoe adalah ilmu silat yang sangat liehay.

Ilmu itu merangkap Yang dan Im (positip dan negatip), yaitu tangan kanan mengeluarkan pukulan "keras"

Yang sifatnya seperti api, sedang tangan kiri mengeluarkan pukulan "lembek"

Yang bersifat bagaikan air.

Sebagai murid kepala dari Tjekshia totjoe, Tjek Tiong Ho telah paham akan sebagian besar kepandaian gurunya.

Tjekshia totjoe selalu hidup di pulau Liehwee to, dan ia tak pernah berkelana di dunia Kangouw, tapi muridnya sering mundar-mandir di wilayah Tionggoan.

Dalam Kiatyan sekali ini, orang-orang yang mengandung maksud kurang baik, telah mengundang Tjekshia totjoe untuk memberi bantuan.

Akan tetapi, Totjoe itu telah menolak, karena ia sungkan mencari urusan dengan Moh Tayhiap yang kesohor sekali.

Sedang gurunya tak bergeming, sebaliknya Tjek Tiong Ho justru kena dibujuk.

Dalam perundingan di antara orang-orang itu, mereka berpendapat, bahwa, asal kena dipancing untuk turun tangan sendiri, mereka sudah boleh dikatakan berhasil, karena dengan begitu, Moh Tjoan Seng merosot derajatnya sebagai seorang guru besar.

Dalam perundingan itu, telah diambil putusan untuk minta Tjek Tong Ho maju sebagai jago pertama guna merobohkan Loei Tjin Tjoe.

Sebagai seorang ahli, Tjek Tiong Ho tadi sudah segera mengetahui kelemahan lawannya.

Maka itu, begitu bergebrak, ia segera mengirimkan pukulan "keras"

Dengan tangan kanannya, Loei Tjin Tjoe segera mengangkat kedua tangannya untuk menyambut pukulan itu.

Dengan terdengarnya bunyi "Tak!" , di belakang tangan Tjek Tiong Ho timbul lima garis merah dan ia terhuyung ke belakang beberapa tindak.

Di lain pihak, telapak tangan Loei Tjin Tjoe juga terluka dan berdarah, sedang badannya bergoyang-goyang, tapi ia tak sampai kena dipukul mundur.

Dalam gebrakan itu, meskipun kedua belah pihak sama-sama mendapat luka, Loei Tjin Tjoe-Iah yang lebih unggul.

Kejadian itu bukan saja mengejutkan bagi Tjek Tiong Ho, tapi semua hadirin, termasuk Keng Thian juga, benar-benar terperanjat.

Mereka tak mengerti, mengapa lweekang Loei Tjin Tjoe mendadak bisa menjadi begitu besar.

Lweekang Loei Tjin Tjoe sebenarnya kira-kira berimbang dengan Tjek Tiong Ho.

Akan tetapi, sesudah mendapat bantuan Moh Tjoan Seng, tenaga dalamnya jadi bertambah besar dan ia jadi lebih unggul tiga bagian dari lawannya.

Sesudah berada di atas angin, ia segera mengirimkan tiga serangan berturut-turut, sehingga Tjek Tiong Ho terpaksa berkelahi sembari mundur.

Sesudah lewat beberapa jurus, Tjek Tiong Ho tiba-tiba menyambut pukulan Loei Tjin Tjoe dengan tangan kirinya.

Mendadak, Loei Tjin Tjoe merasakan tangannya seperti memukul kapas, yang tidak bertenaga, dan belakang tangannya lantas saja seolah-olah melekat di tangan kiri musuhnya.

Seketika itu, Tjek Tiong Ho menabas pergelangan tangan lawannya dengan tangan kanan.

Murid-murid Boetong dengan serentak mengeluarkan teriakan tertahan, karena pergelangan tangan Loei Tjin Tjoe pasti akan terpukul patah!

Pada detik yang sangat berbahaya itu, sekonyong-konyong Loei Tjin Tjoe menggerakkan jerijinya dan menuding jalan darah di telapak tangan musuhnya yang sedang menyambar.

Dengan hati mencelos, buru-buru Tjek Tiong Ho melepaskan tangan kirinya dan melompat mundur untuk menyingkir dari serangan Loei Tjin Tjoe.

Ternyata, dalam gebrakan-gebrakan pertama itu Loei Tjin Tjoe masih belum mengenal liehaynya Liehwee kansoei tjianghoat yang menguasai dua macam tenaga, yaitu tenaga "keras"

Dan tenaga "lembek". Pada saat tangannya kena "ditempel"

Tangan musuh yang bertenaga "lembek" , ia baru ingat kepada perkataan sang Tjouwsoe, bahwa Tiamhiat hoat-nya masih jauh dari sempurna. Ia "

Mendusin, bahwa Kioekiong Patkwa tjiang harus digunakannya bersama-sama dengan ilmu menotok jalan darah.

Oleh karena itu, ia segera menggunakan Tiamhiat hoat untuk memunahkan serangan musuh.

Tjek Tiong Ho tentu saja tak ingin sama-sama menjadi korban, lantas saja menarik kembali tabasannya yang dahsyat.

Moh Tjoan Seng bersenyum seraya berkata.

"Pukulan Tjek Tiong Ho yang terakhir, seharusnya digunakan untuk menyerang sikut, sedang tangan kirinya harus mencengkeram nadi Loei Tjin Tjoe. Jika ia berbuat begitu, Loei Tjin Tjoe tentu tak bisa mengunakan ilmu menotok jalan darah!"

Para ahli lantas saja mengangguk-angguk dengan perasaan kagum terhadap petunjuk itu yang sangat tepat. Tapi, Tjek Tiong Ho justru jadi mendongkol.

"Kenapa kau tidak memberitahukan lebih siang?"

Katanya di dalam hati.

Sementara itu, Loei Tjin Tjoe sudah menyerang dengan kedua tangannya.

Dengan tangan kanan Tjek Tiong Ho menyambut kekerasan dengan kekerasan dalam gerakan Lekpek samsan (Memukul tiga gunung), sedang tangan kirinya menyerang dengan tenaga Imdjioe (tenaga "lemas") dalam gerakan Soensoei toeitjouw (Dengan mengikuti air menolak perahu).

"Salah! Salah!"

Kata Moh Tjoan Seng tiba-tiba.

"Kau harus lebih dulu menggunakan Tiamhoat untuk memperkecil daya serangan lawan."

Tanpa berpikir lagi, Tjek Tiong Ho segera bergerak menurut petunjuk itu dan benar saja, serangan Loei Tjin Tjoe dapat dipecahkan secara mudah.

"Untung juga ia memberi peringatan,"

Kata Tjek Tiong Ho di dalam hatinya.

"Jika aku melawan kekerasan dengan kekerasan, pergelangan tanganku bisa menjadi patah, karena dalam hal lweekang, Loei Tjin Tjoe lebih kuat daripada aku."

Sesudah berpencar, kedua orang itu lantas melanjutkan pertempuran mereka.

Sesuai dengan peraturan Kiatyan, Moh Tjoan Seng memberi petunjuk pada kedua belah pihak, malah kepada Tjek Tiong Ho ia memberikan lebih banyak daripada yang diberikannya kepada Loei Tjin Tjoe.

Melihat begitu, bukan saja hadirin lain, malah Tjek Tiong Ho sendiri juga merasa sangat takluk akan kebesaran jiwa Moh Tjoan Seng.

Akan tetapi, semua orang tidak tahu, bahwa Moh Tjoan Seng sudah berbuat begitu oleh karena ia yakin, bahwa ilmu Kioekiong Patkwa tjiang lebih unggul daripada ilmu yang digunakan Tjek Tiong Ho dan ia yakin pula, bahwa lweekang Loei Tjin Tjoe lebih kuat daripada lweekang lawannya, sehingga Loei Tjin Tjoe pasti akan mendapat kemenangan.

Apa yang dikuatirkannya, hanyalah, jika dalam gebrakan-gebrakan pertama, Loei Tjin Tjoe, yang belum mengetahui betapa liehaynya Imyang Tjianghoat, akan menjadi bingung.

Karena begitu, ia sengaja memberi petunjuk kepada Tjek Tiong Ho, supaya dengan mendengarkan petunjuk itu, Loei Tjin Tjoe menjadi sadar dan mengerti keliehayan ilmu pukulan sang lawan.

Di lain pihak, petunjuk yang diberikannya kepada Loei Tjin Tjoe, adalah petunjuk yang sangat penting.

Sebagai seorang yang sudah mahir betul dalam Kioekiong Lianhoan Tjiang-hoat, dengan sedikit petunjuk itu, Loei Tjin Tjoe sendiri bisa membuat perubahan-perubahan yang seperlunya.

Oleh sebab itu, maka sesudah bertanding ratusan jurus, Loei Tjin Tjoe masih tetap berada di pihak yang lebih unggul.

Sesudah bertempur lagi beberapa puluh jurus, sambil menghela napas, Tjek Tiong Ho meloncat keluar dari gelanggang.

"Tjianghoat Loei Soeheng benar-benar lebih tinggi daripada kepandaianku,"

Katanya sembari menyoja.

"Terima kasih banyak atas petunjuk Thaytjongsoe. Secepatnya, aku akan kembali ke pulau dan berlatih pula menurut petunjuk-petunjuk yang telah diberikan oleh Thaytjongsoe."

Memang kemudian Tjek Tiong Ho benar-benar pulang ke pulau Liehwee to dan sejak itu ia tidak berani memusuhi lagi partai Boetong pay.

Petunjuk Moh Tjoan Seng telah memberi banyak bantuan kepadanya dalam mencapai kemajuan di kemudian hari.

Baru saja kedua orang itu kembali ke tempat duduk masing-masing, ketika sejumlah orang yang duduk di barisan ketiga masuk ke dalam gelanggang dengan beruntun.

Mereka itu, yang berjumlah sembilan orang, semua mengenakan pakaian hitam, masing-masing bersenjata pedang dan pada pinggang mereka tergantung kantong senjata rahasia.

Seorang yang menjadi kepala memberi hormat dan berkata dengan suara nyaring.

"Sudah lama kami mendengar betapa liehaynya Kioekiong Patkwa tjiang dari Boetong pay. Tin (barisan) kami yang kecil ini juga diatur menurut kedudukan Kioekiong Patkwa dan cocok sekali untuk dijajal dengan Kioekiong Patkwa tjiang. Kami mengharap, supaya Thaytjongsoe suka memberi petunjukpetunjuk."

Selagi dia berkata begitu, kawan-kawannya sudah mengurung sekelompok murid Boetong yang berdiri di depan dan tanpa menunggu perkenan Moh Tjoan Seng, mereka serentak menghunus pedang.

Murid Boetong yang terkurung berjumlah belasan orang, antaranya Loei Tjin Tjoe juga.

Begitu selesai berbicara, orang itu lantas saja membacok Loei Tjin Tjoe dengan senjatanya!

Melihat kekurang ajaran sembilan orang itu, para hadirin terkejut sekali, sedang murid-murid Boetong menjadi gusar bukan main.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka lantas saja bertempur seru.

Meskipun berjumlah lebih besar, tapi karena tin itu saling bersambung kepala buntutnya dan bisa berubah dengan cepat sekali, maka murid-murid Boetong lantas saja terkurung rapat-rapat dan tak bisa menoblos keluar.

Tong Keng Thian terkejut.

"Celaka!"

Katanya di dalam hati.

"Kali ini, murid Boetong mungkin akan menderita kekalahan."

Baru saja ia memikirkan untuk memberi bantuan, mendadak terdengar suara tertawa Moh Tjoan Seng.

"Tin yang diwariskan oleh Han Tiong San dan Yap Hoen Po benar-benar liehay,"

Katanya dengan tenang.

"Akan tetapi, untuk menarik keuntungan sebesarbesarnya, tin itu harus digunakan bersama-sama dengan senjata rahasia. Kenapa kamu hanya menggunakan separuh tenaga?"

Mendengar perkataan itu, Keng Thian jadi sangat terperanjat.

Harus diketahui, bahwa tiga puluh tahun berselang, sebelum Yong Tjeng naik ke tahta, Han Tiong San dan Yap Hoen Po termasuk dalam "Enam Jago"

Yang mengabdi kepada putera kaizar itu (pada waktu itu, Yong Tjeng masih dikenal sebagai Soehongtjoe, atau putera kaizar yang ke empat).

Empat jago lainnya adalah Liauw In Hweeshio, Haputo, Thian Yap Sandjin dan Tong Kie Tjoan.

Han Tiong San dan Yap Hoen Po adalah suami isteri yang bukan saja berkepandaian tinggi, tapi senjata rahasia mereka pun liehay bukan main dan kebesaran nama mereka sejajar dengan keluarga Tong di Soetjoan.

Mereka berdua suami isteri adalah pemimpin Lengsan pay dan dalam tingkatan, mereka masih lebih tinggi daripada Tong Siauw Lan.

Belakangan, tiga pendekar wanita, yaitu Lu Soe Nio, Phang Eng dan Phang Lin telah menyatroni istana kaizar dan berhasil membunuh Yong Tjeng.

Dalam pertempuran itu, Han Tiong San telah membuang jiwa, sedang isterinya Yap Hoen Po, bersama Soetee-nya Thian Yap Sandjin, telah kabur pulang ke Lengsan dimana mereka menutup pintu dan hidup tenang sambil mempelajari ilmu menimpuk dengan senjata rahasia yang diwariskan oleh Han Tiong San.

Sesudah lewat tiga puluh tahun, orang Lengsan pay belum pernah mengunjukkan muka dalam kalangan Kangouw.

Selama itu, Yap Hoen Po dan Thian Yap Sandjin telah meninggal dunia dan Rimba Persilatan perlahan-lahan sudah melupakan mereka.

Tapi tak dinyana, tinhoat (barisan) yang diwariskan Han Tiong San masih tetap dipelajari oleh murid-murid Lengsan pay dan hari ini muncul dengan tiba-tiba di gunung Gobie san.

Begitu Moh Tjoan Seng mengucapkan perkataannya, sembilan murid Lengsan pay dan Tong Keng Thian diam-diam terkejut bukan main.

Para murid Lengsan pay terkejut karena tin ciptaan Tjouwsoe mereka, yang belum pernah dipertunjukkan di muka umum selama tiga puluh tahun, ternyata dikenal baik oleh Moh Tayhiap.

Tong Keng Thian terkejut, karena, tanpa menggunakan senjata rahasia, barisan itu sudah begitu liehay, sehingga, jika ditambah lagi dengan senjata rahasia, para murid Boetong tentu sukar terlolos dari bencana!

Sementara itu, Kioekiong Patkwa tin orang-orang itu sudah mengurung semakin rapat, sehingga murid-murid Boetong tak bisa membalas menyerang lagi.

Pemimpin barisan itu adalah Tjiangboendjin Lengsan pay yang bernama Yap Thian Djim.

Mendengar perkataan Moh Tjoan Seng, ia lantas saja berpikir di dalam hatinya.

"Kedatangan kami sekali ini adalah untuk membikin malu Boetong pay dan menaikkan derajat Lengsan pay. Dilihat dari perkembangan pertempuran, dalam tempo sejam lagi, kita akan memperoleh kemenangan yang diharapkan. Jika kita menggunakan senjata rahasia dan membinasakan murid-murid Boetong, Moh Tjoan Seng tentu akan turun tangan sendiri. Biarpun turun tangannya itu akan berarti kemerosotan derajatnya sebagai Thaytjongsoe, tapi pihak Lengsan pay pun tak akan terluput dari kerugian yang tidak kecil."

Berpikir begitu, ia segera berkata.

"Perkataan Thaytjongsoe memang benar sekali. Tetapi menurut kebiasaan, barisan ini baru menggunakan senjata rahasia jika berhadapan dengan lawan yang berkepandaian tinggi. Musuh yang berkepandaian sedang-sedang saja, tak akan bisa meloloskan diri, biarpun kami tidak menggunakan senjata rahasia."

Perkataan itu yang sangat sombong dan memandang rendah kepada murid-murid Boetong pay, sudah membangkitkan kegusaran segenap anggauta partai tersebut.

Dengan mata merah dan dengan seluruh tenaganya.

Bagaikan kilat Loei Tjin Tjoe menikam orang temberang itu.

Yap Thiam Djim meloncat mundur dan serangan Loei Tjin Tjoe disambut oleh kedua Soetee-nya.

Di lain saat, Loei Tjin Tjoe sudah dikepung oleh dua musuh itu.

"Apakah Kioekiong Patkwa tin masih mempunyai kelemahan lain?"

Tanya Yap Thian Djim dengan sikap angkuh.

"Harap Moh Lootjianpwee suka memberi petunjuk."

Moh Tayhiap tertawa dan berkata.

"Barisanmu hanya menggunakan separuh tenaga, tentu saja masih mempunyai banyak kelemahan. Hm! Loei Tjin Tjoe, kau pergi ke jurusan Kianhong dan lari ke kedudukan Soenwie. Leng It Piauw, kau pergi ke jurusan Liehong dan lari ke kedudukan Kanwie. Kamu menyingkir dari musuh yang dekat dan menyerang musuh yang jauh. Dengan demikian, kamu akan segera bisa keluar dari barisan itu."

Loei Tjin Tjoe dan yang lain-lain lantas saja bergerak menurut petunjuk itu.

Mereka tidak memperdulikan musuh yang dekat dan masingmasing merebut kedudukan yang disebutkan oleh Moh Tayhiap.

Benar saja, tidak lama kemudian, belasan murid Boetong pay itu sudah dapat menoblos keluar dari kepungan.

Yap Thian Djim menjadi malu tercampur gusar.

Akan tetapi, karena ia sendiri yang meminta petunjuk Moh Tjoan Seng dan ia sendiri yang berjanji untuk tidak menggunakan senjata rahasia, maka ia tak berani memperlihatkan kegusarannya.

Moh Tayhiap bersenyum seraya berkata.

"Biarpun kau menggunakan senjata rahasia, belum tentu barisanmu bisa mengepung musuh. Di dalam tin itu masih terdapat banyak sekali kelemahan."

Sembilan murid Lengsan pay menjadi pucat, dan darah mereka semua mendidih. Yap Thian Djim mengeluarkan suara di hidung dan berkata dengan tawar.

"Kalau begitu, biarlah Loei Soeheng dan saudara-saudara lain masuk kembali ke dalam barisan kami, untuk memberi pengajaran, dan aku juga memohon supaya Moh Lootjianpwee suka memberi penjelasan tentang kelemahan-kelemahan barisan ini!"

Pelajaran getir yang diberikan oleh Moh Tayhiap kepada sembilan murid Lengsan pay yang temberang itu, sudah menggirangkan banyak orang.

Akan tetapi, mereka merasa, bahwa Moh Tjoan Seng sudah bertindak keliru dengan mengeluarkan kata-katanya yang paling belakang, karena Loei Tjin Tjoe dan kawan-kawannya bisa celaka, jika mereka masuk kembali ke dalam barisan itu.

Tong Keng Thian juga berpendapat demikian.

"Sebenarnya Moh Lootjianpwee harus mengakhiri pertandingan itu,"

Katanya didalam hati.

"Meskipun benar Kioekiong Patkwa tin mereka masih mempunyai banyak kelemahan, tapi senjata rahasia Lengsan pay bukan main hebatnya. Walaupun mendapat petunjuk, Loei Tjin Tjoe dan kawan-kawannya mungkin tak akan terlolos dari bencana."

Dengan tetap duduk bersila di atas pentas, Moh Tayhiap menatap wajah Yap Thian Djim dan berkata dengan suara dingin.

Untuk memecahkan barisanmu, tak perlu dikerahkan begitu banyak orang.

Satu orang saja sudah lebih dari cukup!' Muka Yap Thian Djim jadi berwarna hijau kekuning-kuningan, karena menahan amarahnya yang meluap-luap.

Ia menyoja sembari membungkuk dalam-dalam dan berkata.

"Aku sungguh merasa beruntung, jika Moh Lootjianpwee sudi turun tangan sendiri untuk memberi pelajaran. Aku sungguh merasa berterima kasih!"

Bukan saja Yap Thian Djim, tapi semua orang pun menduga, bahwa Moh Tayhiap ingin turun sendiri ke dalam gelanggang.

Siapakah, kecuali ia, yang mampu memecahkan Kioekiong Patkwa tin seorang diri?

Tapi di luar semua taksiran, Moh Tayhiap bersenyum dan berkata.

"Aku, si tua, mana mempunyai kegembiraan lagi untuk turun ke dalam gelanggang. Biarlah aku memerintahkan seorang houwpvvee dari Boetong pay untuk menjajal-jajal, untuk mendapat kepastian, apakah kata-kataku benar atau tidak!"

Semua orang terkesiap dan terheran-heran.

Mereka tahu, bahwa di antara murid-murid Boetong turunan kedua, Loei Tjin Tjoe-lah yang berkepandaian paling tinggi.

Dengan kepandaiannya itu, bertempur satu lawan satu saja belum tentu Loei Tjin Tjoe bisa memperoleh kemenangan.

Mana bisa ia memecahkan Kioekiong Patkwa tin seorang diri!

Keheranan itu juga dirasakan oleh Tong Keng Thian.

"Andaikata aku sendiri yang masuk ke dalam barisan tersebut, aku masih ungkulan untuk memecahkannya jika mereka tidak menggunakan senjata rahasia,"

Katanya di dalam hati.

"Jika mereka menggunakan senjata rahasia, rasanya aku hanya bisa menolong diriku sendiri. Siapakah di antara houwpwee Boetong pay yang mempunyai kepandaian begitu tinggi?"

Selagi semua orang bersangsi, mendadak Moh Tayhiap bertepuk tangan dengan perlahan.

Hampir •berbareng dengan itu, di belakang ruang itu terdengar tindakan kaki.

Sebelum orangnya muncul, semacam wangi-wangian yang sedap sudah memenuhi seluruh ruang.

Semua mata ditujukan ke arah itu dengan tidak berkesip.

Di lain saat, dari belakang sekosol keluarlah seorang wanita yang cantik luar biasa, mukanya bundar laksana bulan, kedua alisnya yang hitam, lentik melengkung, mulutnya kecil bagaikan buah tho, matanya yang jeli berwarna kebiru-biruan, sedang pakaiannya yang indah berwarna biru laut.

Semua orang terkejut, tapi orang yang paling kaget tercampur girang adalah Tong Keng Thian, karena wanita itu bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie!

Bahwa Peng Go yang akan datang ke Gobie san memang sudah diduganya lebih dulu.

Tapi ia sama sekali tidak mengira, bahwa si nona bisa muncul secara begitu mendadak.

Begitu keluar, Pengtjoan Thianlie memberi hormat dan berkata dengan suara halus.

"Apakah kau ingin aku memecahkan Kioekiong Patkwa tin? Tapi aku tak ingin melukakan orang."

"Jangan kuatir,"

Kata sang paman.

"Jika mereka terluka, aku bisa mengobatinya."

"Tapi aku kuatir, bahwa mereka tetap akan menderita sakit selama kira-kira sebulan,"

Kata si nona.

Tadi, ketika melihat kecantikan Pengtjoan Thianlie, sembilan murid Lengsan pay itu jadi seperti mabuk dan lupa kepada pertempuran yang akan terjadi.

Tapi begitu mendengar tanya jawab antara Moh Tjoan Seng dan si nona, seolah-olah kemenangan mereka sudah merupakan suatu kepastian mutlak, dalam hati mereka lantas saja timbul perasaan mendongkol.

Sesudah mengebaskan pedangnya untuk mengatur Kioekiong Patkwa tin, Yap Thian Djim berkata.

"Walaupun badan kami menjadi hancur lebur, tak nanti kami menyalahkan orang lain, karena yang harus disalahkan adalah kami sendiri yang tak mempunyai kebecusan. Akan tetapi, senjata tiada matanya. Nona, kau sendiri pun harus berhati-hati. Jika kesalahan tangan dan pedang kami menggores mukamu, kami sungguh tak akan sanggup memikul kedosaan yang begitu besar."

Perkataan Yap Thian Djim itu diam-diam dibenarkan para hadirin.

Mereka bersimpati terhadap nona itu yang sangat cantik dan memang benar-benar sayang, jika ia sampai terluka.

Akan tetapi, tak seorangpun berani mencegahnya di hadapan Moh Tjoan Seng.

Pengtjoan Thianlie tertawa angkuh dan menyapu semua lawannya dengan sinar matanya yang tajam dan agung.

Tanpa menjawab perkataan Yap Thian Djim, dengan tindakan enteng ia masuk ke dalam tin musuh.

Menurut keharusan, begitu lekas sang lawan masuk, Yap Thian Djim harus segera memapakinya dengan senjata.

Akan tetapi, karena melihat si nona bertangan kosong, ia bersangsi dan sesudah mengangkat pedangnya, pedang itu tidak terus ditikamkan ke arah si nona.

"Apakah kau takut?"

Tanya Peng Go dengan suara tawar.

"Aku menunggu supaya kamu bisa mengerahkan tenaga dalammu untuk melindungi diri. Jika tidak berbuat begitu, kamu pasti akan sakit selama kira-kira sebulan."

Sembilan murid Lengsan pay itu menjadi gusar sekali. Dua Soetee Yap Thian Djim dengan berbareng maju dan berkata.

"Soeheng, guna apa kau berlaku sungkan terhadap perempuan itu?"

Hampir berbareng dengan perkataan itu, mereka menyerang.

Yang di sebelah kiri membabatkan pedangnya dengan gerakan Ganlok pengsee (Belibis jatuh di dataran pasir), sedang yang di sebelah kanan menikam dengan serangan Hianniauw hoasee (burung sakti menggores pasir).

Kedua serangan itu hebat luar biasa dan menutup jalan mundur Pengtjoan Thianlie dari kiri dan kanan.

Kecuali Loei Tjin Tjoe, yang pernah menyaksikan keliehayannya, semua murid Boetong menahan napas.

Mereka sangat berkuatir, jika si nona akan terluka.

Pengtjoan Thianlie tertawa nyaring, badannya bergoyang dan sebelum orang bisa melihat tegas, bagaimana gerakannya, kedua senjata musuh sudah jatuh di tempat kosong.

Hampir seketika itu juga, dengan berbunyi "srt", Pengpok Hankong kiam si nona sudah terhunus.

Dengan serentak, sinar dan hawa yang sangat dingin menyambar-nyambar ke seluruh ruangan.

Yap Thian Djim menggigil beberapa kali, sedang kedua Soetee-nya yang barusan menyerang Peng Go dan masing-masing lweekang-nya lebih lemah, bergemetar seolah-olah berada di tengah lembah es.

"Mundur!"

Teriak Yap Thian Djim.

"Serang perempuan siluman itu dengan senjata rahasia!"

Kioekiong Patkwa tin lantas saja terbuka lebar dan orang-orang yang berada di luar gelanggang pun serentak mundur supaya berada di luar jarak serangan senjata rahasia.

Di lain saat, berbareng dengan komando Yap Thian Djim.

bagaikan hujan gerimis aneka senjata rahasia menyambar ke arah Peng Go.

"Bagus!"

Seru si nona sembari menyentilkan jeriji tangannya berulang-ulang.

Sesaat itu juga, Pengpok Sintan berterbangan di tengah udara.

Senjata-senjata rahasia yang lebih kecil, seperti jarum, Thieliantjoe, panah tangan, paku dan sebagainya, jatuh bagaikan bunga rontok beradu dengan peluru-peluru es itu.

Begitu lekas peluru-peluru itu pecah, hawa yang lebih dingin daripada Pengpok Hankong kiam, meliputi seluruh ruangan.

Sebagaimana diketahui, Pengpok Sintan dibuat daripada kristal es dari lapisan yang sudah berlaksa tahun usianya di pegunungan Nyenchin Dangla.

Hawanya yang luar biasa meresap ke tulang-tulang, sehingga para tamu yang lweekangnya agak lemah, lantas saja mundur lebih jauh atau keluar dari ruangan itu.

Baca Juga: Pendekar Riang 10

Baca Juga: Tengkorak Maut 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger