Eps 9 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Tak usah dikatakan lagi, yang menderita paling hebat adalah murid-murid Lengsan pay itu, yang berada di dalam gelanggang dan beberapa antaranya lantas saja roboh terguling dengan badan lemas.
Senjata-senjata rahasia yang lebih besar, yang tidak terpukul jatuh dengan Pengpok Sintan, ditangkis oleh si nona dengan pedangnya.
Di antara senjata-senjata itu terdapat semacam senjata rahasia yang berbentuk melengkung dan selagi menyambar, mengeluarkan suara "ung, ung".
Dengan perasaan heran, si nona menyabet dengan Hankong kiamnya.
Mendadak, senjata itu "melompat", berputar sekali di tengah udara dan menyambar pula dada Koei Peng Go.
Menghadapi serangan yang begitu luar biasa, si nona terkejut bukan main.
Sekonyong-konyong, di antara orang banyak terdengar teriakan.
"Kimkong tjie!"
Pengtjoan Thianlie yang sudah mahir dalam ilmu itu, buru-buru mementang dua jerijinya dan menjepit senjata tersebut, yang, biarpun sudah terjepit, masih terus meronta-ronta.
Peng Go menengok dan sinar matanya menyapu seluruh ruangan.
Ia melihat Tong Keng Thian berdiri di antara orang banyak sembari bersenyum, sedang Yap Thian Djim sendiri, dengan wajah gusar, memegang dua buah lagi senjata aneh itu di kedua tangannya, siap sedia untuk menyerang pula.
Senjata rahasia itu adalah Hoeihoan kauw, yaitu senjata rahasia Han Tiong San yang paling kesohor.
Selagi terbang, senjata itu bisa membiluk ke sana-sini dan jika tersentuh, dia bisa berbalik.
Di samping itu, Hoeihoan kauw itu adalah senjata yang sangat beracun.
Untung juga lweekang Yap Thian Djim masih kalah jauh dari tenaga dalam si nona.
Jika bukan begitu, Hoeihoan kauw (semacam boomerang) itu tentu tak akan dapat dijepit dengan jari tangannya.
Sementara itu, Yap Thian Djim mengayunkan kedua tangannya dan dua buah Hoeihoan kauw itu terbang dengan kecepatan luar biasa.
Di saat itu, karena tangan kanannya memegang pedang, Pengtjoan Thianlie tentu tak akan dapat menjepit kedua-dua senjata itu, yang menyambar dari kiri kanan hanya dengan jeriji tangan kirinya.
Semua hadirin terperanjat dan mengawasi gerakan senjata itu sambil menahan napas.
Pada detik yang sangat berbahaya itu, mendadak terlihat berkelebatnya sesosok bayangan biru dan...
Koei Peng Go menghilang dari ruangan itu!
Selagi kekagetan para hadirin belum hilang, kedua senjata itu, yang tidak menemukan sasaran mereka, terus terbang ke arah para tamu sambil mengeluarkan suara "ung, ung, ung".
Suasana menjadi kalang kabut, ada yang melompat menyingkir, ada juga yang mengangkat tangan untuk menyambutinya.
Sekonyong-konyong di tengah udara terlihat menyambarnya dua sinar emas dan berbareng dengan terdengarnya bunyi.
"trang, trang!" , kedua Hoeihoan kauw itu terbang kembali, dengan kecepatan yang lebih besar daripada tadi. Para hadirin sekali lagi terkesiap, karena orang yang melepaskan dua sinar emas itu mempunyai lweekang yang sepuluh kali lebih tinggi daripada Yap Thian Djim. Sebenarnya, mereka ingin sekali mencari tahu, siapa yang melepaskan dua sinar emas itu, tapi mereka tak sempat berpaling, sebab kedua Hoeihoan kauw tersebut sekarang menyambar ke arah Moh Tjoan Seng. Moh Tayhiap tersenyum dan mengebaskan lengan jubahnya. Untuk kedua kalinya, dua Hoeihoan kauw itu terpental kembali, kali ini lebih tinggi, terbangnya, dan dalam sekejap sudah terbang keluar dari ruang itu, lewat di atas kepala para tamu. Tiba-tiba Yap Thian Djim mengeluarkan teriakan menyayatkan hati dan tubuhnya terguling di atas lantai sambil menggigil hebat sekali. Hampir berbareng dengan itu, Pengtjoan Thianlie sudah berada lagi di tengah gelanggang. Ternyata, ketika kedua Hoeihoan kauw itu menyambar, si nona telah meloncat ke atas penglari, tapi karena mendongkol kepada Yap Thian Djim yang tanpa segan-segan telah menggunakan senjata beracun, maka, sebelum meloncat turun, ia lebih dulu menimpuk jalan darah Tayyang hiat orang she Yap itu, dengan Pengpok Sintan-nya.
"Siantjay! Siantjay!"
Kata Moh Tjoan Seng sembari merangkapkan kedua tangannya.
Muridmuridku, lekaslah kamu menolong mereka!' Loei Tjin Tjoe dan sekalian saudara-saudara seperguruannya lantas saja masuk ke dalam gelanggang dan menggotong sembilan murid Lengsan pay itu ke ruang belakang untuk diobati.
Baru saja keadaan tenang kembali, dari luar tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menyeramkan.
Dengan penuh keheranan, semua orang menengok ke belakang.
Sekonyong-konyong kelihatan segulung sinar merah melayang di atas kepala mereka dan di lain detik, di tengah-tengah ruang itu terdapat seorang laki-laki yang bertubuh jangkung kurus dan mengenakan jubah merah.
Kedua mata orang itu bersinar merah seperti api, rambutnya awut-awutan dan rupanya sangat menyeramkan.
Beberapa orang dari tingkatan lebih tua serentak berseru dengan kaget.
Hiatsintjoe!' Sementara itu Hiatsintjoe kembali tertawa nyaring dan kemudian, dengan sikap sombong, ia manggutkan kepalanya kepada Moh Tjoan Seng.
"Hm!"
Ia mengeluarkan suara di hidung.
"Kamu mengadakan pertandingan silat disini, sedikitpun tak ada sangkut pautnya denganku. Tapi kenapa senjata rahasia terbang di atas kepalaku?"
Sembari berkata begitu, ia melemparkan kedua Hoeihoan kauw itu di atas lantai dan semua orang terkejut, karena senjata rahasia itu sudah patah menjadi delapan potong.
"Hiatsin Tooyoe,"
Kata Moh Tjoan Seng.
"Senjata rahasia houwpwee (orang yang tingkatannya lebih rendah), mana bisa melukakan kau? Guna apa kau menjadi gusar?"
Hiatsintjoe mengeluarkan suara di hidung.
"Coba panggil orang yang melepaskan senjata rahasia itu,"
Katanya dengan sikap memerintah.
"Sekarang mereka sedang menderita demam,"
Kata Moh Tjoan Seng sembari tertawa.
"Nanti sesudah mereka sembuh, kau boleh mencari suami isteri In di Lenglouw san."
In Leng Tjoe suami isteri adalah Tiangloo (orang terkemuka) dari Lengsan pay dan sebagaimana diketahui, mereka adalah sahabat Hiatsintjoe.
Alis Hiatsintjoe berkerut dan matanya memandang kepingan-kepingan Hoeihoan kauw di atas lantai itu.
Lantas saja ia mengenali, bahwa senjata itu memang benar adalah senjata rahasia Lengsan pay.
Kedatangan Hiatsintjoe di Gobie san memang sebenarnya untuk coba-coba mengadu tenaga dan ia perlu mencari alasan untuk menantang.
Sesudah usahanya yang pertama gagal, ia tertawa dingin dan mengangkat tangannya yang menggengam dua batang Thiansan Sinbong.
"Apakah ini juga senjata rahasia Lengsan pay?"
Tanyanya, mengejek.
"Itulah Thiansan Sinbong, senjataku,"
Kata Keng Thian sembari meloncat leluar.
"Habis mau apa kau?"
Ternyata, dua Thiansan Sinbong yang digunakan oleh Keng Thian, telah menancap di Hoeihoan kauw Yap Thian Djim dan sekarang berada dalam tangan Hiatsintjoe.
Hiatsintjoe melirik Keng Thian.
Matanya mencerminkan kebenciannya, sesaat kemudian ia berkata kepada Moh Tjoan Seng.
"Kiatyan ini merupakan kejadian yang agak langka. Setelah berada disini, aku pun ingin meminta petunjuk-petunjukmu."
Sebenarnya Hiatsintjoe ingin segera menantang Tong Keng Thian, tapi karena merasa segan akan keangkeran Moh Tayhiap, ia tak berani bertindak secara melampaui batas.
Oleh sebab itu, sebelum menantang, lebih dulu ia meminjam peraturan Kiatyan.
Moh Tjoan Seng tersenyum dan jawabannya adalah di luar dugaan Hiatsintjoe.
"Aku merasa girang, bahwa Tooyoe sudi berkunjung kesini,"
Katanya dengan sabar.
"Memberi petunjuk kepada Tooyoe, sekali-kali aku tak berani. Biarlah aku memerintahkan kemenakanku meminta pelajaran dari kau. Peng Go! Coba kau melayani Tjianpwee itu dengan Tatmo Kiamhoat."
Tingkatan Hiatsintjoe sebenarnya sama dengan Moh Tjoan Seng.
Tapi dengan kata-katanya itu, Moh Tayhiap seolah olah memandangnya sebagai seorang houwpwee saja.
Tak usah dikatakan lagi, betapa gusar Hiatsintjoe di saat itu, tapi sebelum ia keburu mengumbar napsunya, Pengtjoan Thianlie sudah berkata sembari tertawa.
"Sudah beberapa kali aku menerima pelajaran dari Tjianpwee itu. Menurut pendapatku, sebaiknya ia berlatih pula selama sepuluh tahun, kemudian baru datang kesini untuk meramaikan Kiatyan."
Dengan berkata begitu, si nona seolah-olah ingin mengatakan, bahwa jangankan Moh Tjoan Seng, sedang ia sendiri pun masih belum bisa dikalahkan oleh Hiatsintjoe.
Moh Tayhiap menggelengkan kepalanya dan berkata, seakan-akan menegur.
"Ibarat seorang yang baru keluar dari rumah gubuk, kau tak mengetahui betapa dalamnya laut pada hakekatnya."
Hiatsintjoe merasakan dadanya seperti mau meledak dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menghantam Peng Go dengan tangannya yang seperti kipas.
"Siluman kecil!"
Ia mencaci.
"Coba lihat, siapa yang harus berlatih lagi selama sepuluh tahun!"
Dengan penuh kesangsian, Keng Thian tetap berdiri di dalam gelanggang dengan tangan kanan tetap pada gagang Yoeliong kiam-nya. Moh Tjoan Seng mengulapkan tangannya sembari tertawa.
"Kau juga ingin Kiatyan? Sekarang belum tiba giliranmu. Mundurlah dulu."
Keng Thian lantas saja kembali ke tempat duduknya, sedang Hiatsintjoe sudah mulai bertempur dengan Pengtjoan Thianlie.
Dengan tangannya yang lebar, ia coba mencengkeram.
Dengan mudahnya Peng Go menghindari serangan itu.
Begitu lekas serangannya yang pertama gagal, Hiatsintjoe membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya dan kemudian mendorong ke depan dengan perlahan.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan "aya!"
Dan seorang tamu roboh dari kursinya dalam keadaan pingsan.
Beberapa ahli silat yang duduk berdekatan menjadi kaget dan lantas saja menolong orang itu.
Harus diketahui, bahwa Hiatsintjoe memiliki ilmu yang sangat aneh.
Kedua tangannya, yang sudah dikeset kulitnya, berwarna merah bagaikan darah dan tulang-tulangnya bisa dilihat nyata.
Tapi itu belum seberapa.
Yang lebih hebat lagi adalah setiap pukulannya, yang disertai sambaran angin yang sangat panas.
Karena itu, para tamu dibarisan depan, terutama yang lweekang-nya masih agak lemah, tak kuat menghadapi hawa panas itu.
Salah seorang antaranya menjadi pingsan.
Di lain saat, sejumlah orang lantas saja mundur ke bagian belakang.
"Jangan berlagak disini!"
Kata Pengtjoan Thianlie sembari mengebaskan pedangnya.
Suatu gelombang hawa dingin menjalar ke empat penjuru dan hawa panas lantas saja sirap.
Para tamu menjadi girang sekali dan berapa antaranya segera maju pula ke depan, supaya bisa menyaksikan pertempuran itu dari jarak dekat.
Hiatsintjoe lantas saja menyerang bagaikan singa gila.
Ia menubruk ke kiri-kanan, ke depan dan ke belakang, melancarkan pukulan-pukulan kilat yang disertai dengan hawa panas.
Peng Go melayaninya dengan kegesitan luar biasa.
Sesudah bertempur beberapa lama, gerak-gerik mereka sudah tak dapat diikuti pula oleh mata para penonton; hanya sesosok bayangan biru kelihatan berkelebat-kelebat ke sana-sini, sedang hawa panas itu saban-saban menjadi buyar karena hawa Pengpok Hankong kiam yang sangat dingin.
Dengan cepat mereka sudah bertempur seratus jurus lebih, tanpa ada yang keteter.
Moh Tayhiap menonton dengan penuh perhatian.
Saban-saban ia manggutkan kepalanya.
Tibatiba ia tertawa dan berkata.
"Kalian boleh dikatakan setanding, baik dalam serangan maupun pembelaan diri, tak ada pukulan yang salah. Mengenai Hiatsin Tooyoe, hanya tenaganya belum dapat dikeluarkan semua. Peng Go, kegesitanmu sudah bisa dikatakan cukup baik, juga dalam membela diri kau sudah cukup tangguh. Tapi kau harus mengerti juga, bahwa ilmu silat, pada dasarnya sama dengan ilmu perang. Untuk memperoleh kemenangan, kita harus bisa melakukan serangan tiba-tiba yang tak terduga. Dalam hal ini, kau belum dapat menyelami seluruh intisari Tatmo Kiamhoat."
Sesudah berkata begitu, ia mulai memberikan petunjuk-petunjuk, baik kepada Hiatsintjoe, maupun kepada kemenakannya sendiri.
Semua petunjuk itu termasuk dalam bidang ilmu silat yang sangat tinggi, dan hanya dimengerti oleh Tong Keng Thian serta beberapa orang lain.
Hiatsintjoe tercengang berbareng gusar.
Meskipun tingkatnya sebenarnya sama dengan Moh Tjoan Seng.
Akan tetapi, ia mendapat kenyataan, bahwa Moh Tayhiap mengenal segala rupa ilmu silatnya dari awal sampai akhir, dan setiap petunjuknya juga diberikan secara jujur.
Oleh sebab itu, meskipun merasa dirinya dihinakan sebagai seorang houwpwee, Hiatsintjoe, terpaksa membungkam saja Di lain pihak, sesudah mendapat petunjuk pamannya, serangan-serangan Pengtjoan Thianlie semakin lama jadi semakin hebat.
Hiatsintjoe tahu, bahwa lweekang-nya setingkat lebih tinggi daripada tenaga dalam si nona.
Oleh sebab itu itu, ia menjadi gemas.
Penasarannya memuncak sesudah bertanding hampir dua ratus jurus dan lawannya masih belum keteter.
Mendadak, sambil tertawa menyeramkan dan dengan tulang-tulang di seluruh tubuhnya berbunyi kratak-krotok, ia menabas dengan kedua tangannya.
Bukan main hebatnya pukulan itu yang di kirimkan dengan seantero tenaganya.
Suatu lingkaran yang bergaris tengah kurang lebih setombak tertutup oleh tenaga pukulannya yang berhawa panas.
Semua orang terkesiap, Keng Thian sendiri hampir-hampir mengeluarkan teriakan.
Sekonyong-konyong pinggang Koei Peng Go kelihatan bergerak dan hampir di saat itu juga, pedangnya diputarkan bagaikan titiran.
Di saat itu juga, seluruh ruangan seakan-akan dikelilingi es dan tubuh si nona sendiri terkurung di tengah sinar pedangnya.
Kecuali Tong Keng Thian yang masih bisa melihat tegas gerakan si nona, mata semua tamu menjadi kabur dan yang masih bisa dilihat mereka, hanyalah segulung sinar putih.
Melihat pembelaan diri yang begitu rapat, kedua tangan Hiatsintjoe terhenti di tengah udara dan untuk sedetik, ia ragu-ragu untuk menubruk terus.
Tiba-tiba si nona mundur setindak dan dari suatu kedudukan yang tidak lazim, secara tak terduga, ia menikam dengan pedangnya.
Dengan hati mencelos Hiatsintjoe mengangkat kedua tangannya untuk melindungi dadanya.
"Srt!" , bagaikan kilat kilat, pedang si nona menyambar dan sebagian rambut Hiatsintjoe terpapas putus! Bukan main girangnya Tong Keng Thian. Ia tahu, bahwa tenaga dalam si nona masih kalah setingkat dari lawannya dan sedari tadi ia terus berkuatir. Sungguh di luar taksirannya, bahwa dalam menghadapi bahaya, Peng Go bisa melakukan dua serangan berantai luar biasa yang ternyata telah berhasil baik. Kedua serangan itu adalah pukulan-pukulan rahasia dari Tatmo Kiamhoat, yang satu Haysiang benghee (Awan terang di atas laut), yang lain adalah Itwie touwkiang (Selembar rumput menyebrangi sungai). Keng Thian tidak tahu, bahwa sesudah tiba di kuil Kimkong sie, Pengtjoan Thianlie telah mendapat petunjuk-petunjuk penting mengenai Tatmo Kiamhoat dari pamannya. Karena kepandaiannya sendiri memang sudah tinggi, beberapa petunjuk itu saja sudah cukup untuk memungkinkan ia menyelami intisari Tatmo Kiamhoat. Ditambah dengan keistimewaan pedangnya, yang bisa menindih hawa panas dari pukulan Hiatsintjoe, Pengtjoan Thianlie telah memperoleh hasil, meskipun lweekang-nya masih kalah dari lawannya Darah Hiatsintjoe mendidih. Dapat dimengerti, bahwa ia merasa penasaran sekali, karena pamornya telah diturunkan seorang houwpwee. Sambil menggeram bagaikan harimau terluka, ia mengumpulkan semangatnya dan menyerang lagi secara mati-matian. Berturut-turut, ia mengirimkan delapan belas serangan yang paling diandalkannya, akan tetapi, biarpun Peng Go terdesak mundur, ia masih belum bisa menarik keuntungan yang berarti. Semakin lama ia jadi semakin bingung. Sesudah lewat lagi beberapa jurus, mendadak, dengan mata menyala-nyala, ia menyalurkan seluruh tenaganya ke sepasang tangannya. Kemudian, dengan gerakan Paysan oentjiang (Mengatur gunung menggerakkan tangan), ia menghantam sekuat-kuatnya. Sungguh dahsyat pukulan itu! Sinar pedang si nona bergoyang-goyang, garis pembelaannya terpukul pecah dan, dengan jantung berdebar keras, semua orang menduga, bahwa Pengtjoan Thianlie tentu akan roboh di bawah pukulan itu! Tiba-tiba, sebelum orang mengetahui apa yang terjadi, Hiatsintjoe mengeluarkan teriakan keras dan menubruk lantai, disusul dengan suara gemuruh, debu dan kepingan-kepingan batu muncrat ke atas serta tiang-tiang di ruang itu bergoyang-goyang. Ternyata, Hiatsintjoe sudah jatuh terguling dengan kedua tangannya menghantam lantai yang jadi berlubang besar! Moh Tjoan Seng bersenyum seraya berkata.
"Peng Go, lekas minta maaf kepada Tjianpwee."
Hiatsintjoe melompat bangun dengan muka pucat bagaikan kertas.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia lari keluar dan sebelum Pengtjoan Thianlie bisa membuka mulut, ia sudah tak kelihatan bayang-bayangnya lagi.
Kenapa bisa terjadi begitu?
Sebagaimana diketahui, Iweekang Koei Peng Go masih kalah dari lawannya dan ia sebenarnya tak akan bisa menangkis pukulan Paysan oentjiang yang di kirimkan oleh Hiatsintjoe dengan seantero tenaganya.
Akan tetapi, sesudah mendapat petunjuk pamannya, ia mengerti, bagaimana harus melayaninya.
Ketika Hiatsintjoe menubruk, sedang kedudukannya sangat berbahaya, dengan kecepatan yang tak bisa dilukiskan, ia melompat ke belakang Hiatsintjoe sembari menimpuk dengan tujuh butir Pengpok Sintan yang semuanya jitu sekali mengenai jalan darah musuh.
Pada ketika itu, Hiatsintjoe tengah mengerahkan Seantero tenaganya di kedua tangannya, sehingga tubuhnya tak mempunyai pembelaan lagi.
Dalam keadaaan begitu, jangankan sampai tujuh butir, sedangkan sebutir Pengpok Sintan saja sudah akan cukup untuk merobohkannya.
Pertempuran yang luar biasa itu sudah menggetarkan hati semua penonton.
Sejumlah tamu yang semula mengandung niatan kurang baik, menjadi gentar dan ramai-ramai mundur ke bagian belakang.
Baru saja keadaan menjadi tenang kembali, mendadak terlihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia.
Di lain detik, tahu-tahu orang itu --satu toosoe (imam) yang mengenakan jubah kuning --sudah berdiri di depan pentas ceramah.
Moh Tjoan Seng yang sedari tadi terus bersila, sekarang berdiri, suatu tanda bahwa orang yang baru datang itu bukan seorang houwpwee.
Dengan heran, semua mata mengawaskan imam itu yang ternyata berparas agung dan sebelah tangannya memegang hudtim (kebutan debu).
Antara begitu banyak tamu tak satu pun yang mengenal imam tersebut dan mereka sangat kepingin tahu, siapa sebenarnya orang itu yang agak disegani oleh Moh Tayhiap.
Sambil menggoyangkan hudtim-nya, si toosoe tertawa bergelak-gelak seraya berkata.
"Moh Lootauwtjoe (orang tua she Moh) aku juga ingin Kiatyan!"
Sehabis berkata begitu, ia mengebaskan hudtim-nya dan ribuan bulu hudtim itu lantas saja menjadi tegak, seolah-olah kawat baja.
Pengtjoan Thianlie, yang masih menggengam pedang terhunus, segera menangkis hudtim itu yang dihantamkan ke arahnya.
"Peng Go, mundur!"
Perintah Moh Tjoan Seng. Dengan berbunyi "tring...", Pengpok Hankong kiam itu terpental.
"Sungguh sayang jika sampai terluka,"
Kata si imam sembari tertawa dingin.
"Kau bukan tandinganku. Moh Lootauwtjoe, kenapa kau masih belum mau turun?"
Sekonyong-konyong, dengan suatu gerakan yang sangat indah, tubuh Tong Keng Thian meluncur ke depan dan hinggap di antara Pengtjoan Thianlie dan imam itu.
"Dulu aku sudah mengampuni jiwamu,"
Kata si imam.
"Sekarang kau berani datang lagi?"
"Hongsek Toodjin!"
Bentak Keng Thian.
"Jangan kurang ajar! Moh Lootjianpwee mana mau melayani manusia semacam dirimu. Mari, mari! Aku bersedia melayani kau."
Sehabis membentak, ia menghunus Yoeliong kiam-nya dan menyerang dengan sekali bergerak.
Hongsek Toodjin yang sudah mengenal keliehayan pedang itu, tidak berani berlaku ayal dan segera menangkis dengan hudtim-nya.
Dengan suatu gerakan yang luar biasa, tanpa berkisar, ia membalikkan hudtim-nya dan menghantam pedang Keng Thian dengan gagang kebutan.
"Trang!" , Yoeliong kiam si pemuda terpental! Hongsek mengangsek dan seperti ribuan kawat baja, hudtim itu menyambar kepala Keng Thian. Melihat serangan yang hebat itu, buru-buru Keng Thian mengeluarkan Thaysiebie Kiamhoat untuk melindungi dirinya. Di lain pihak, dengan sekali melompat, Hongsek sudah melewati Keng Thian dan tiba kembali di depan pentas untuk segera menyerang Moh Tjoan Seng, guru besar dari Rimba Persilatan di seluruh wilayah Tionggoan. Dengan kepandaiannya yang sudah cukup tinggi, biarpun bukan tandingan Hongsek, Keng Thian masih bisa mempertahankan diri dalam lima puluh jurus. Akan tetapi, imam itu yang bermaksud untuk mengangkat derajat partai Khongtong pay, sungkan berurusan lama-lama dengan pemuda itu. Itulah sebabnya, mengapa begitu bergebrak, ia segera menyerang hebat sekali supaya Keng Thian tak bisa merintangi gerak-geriknya. Keng Thian terkejut bukan main. Ia ingin menyusul, tapi sudah tidak keburu lagi, karena Hongsek sudah berhadapan dengan Moh Tjoan Seng. Walaupun ia yakin, bahwa imam itu tak akan bisa mencelakakan Moh Tayhiap, akan tetapi, jika guru besar itu sampai terpaksa turun tangan sendiri dan tak bisa menjatuhkan lawannya dalam sepuluh jurus, Rimba Persilatan di wilayah Tionggoan akan mendapat malu besar dan pertemuan Kiatyan tak akan bisa dilakukan lagi. Pada detik yang memutuskan, sekonyong-konyong, tubuh Pengtjoan Thianlie melayang ke depan pentas dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, si nona lalu membacok dengan pukulan Hoeipo lioetjoan (Air tumpah solokan mengalir), yaitu salah satu pukulan terliehay dari Pengtjoan Kiamhoat yang diciptakan oleh ayah dan ibunya. Hongsek memanggil dan ia terpaksa menangkis dengan hudtim-nya.
"Bocah!"
Ia membentak.
"Apakah kau juga mencari mampus?"
Sehabis mencaci, ia menarik pulang hudtim-nya Peng Go yang sudah tak keburu menarik pulang pedangnya, lalu mendorongnya untuk menikam dada Hongsek.
Tiba-tiba ia merasakan senjatanya terjepit dan tertarik oleh suatu tenaga yang besar luar biasa.
Harus diketahui, bahwa senjata Hongsek bisa menjadi "keras"
Dan juga bisa "lemas". Tadi, ia sengaja "melemaskan"
Bulubulu hudtim-nya untuk memancing masuknya Pengpok Hankong kiam.
Begitu pedang itu menerobos masuk, dengan menggunakan Djioekin (tenaga "lemas" ), ia menggubatnya dan kemudian, dengan tenaga Yangkong (tenaga "keras"), ia menggencet dan menarik pedang itu.
Peng Go merasakan lengannya kesemutan, hampir-hampir Pengpok Hankong kiam-nya terlepas dari genggamannya.
Ketika si nona sudah hampir tak dapat bertahan lagi, tenaga Hongsek yang tengah menarik dengan hebatnya, tiba-tiba hilang.
Ternyata, penolong itu adalah Keng Thian yang telah menikam punggung musuh dengan pedangnya.
Walaupun memiliki lweekang yang sangat tinggi, Hongsek tak berani memandang enteng kepada Yoeliong kiam.
Mau tak mau, ia menarik hudtim-nya untuk menangkis pedang Keng Thian.
Peng Go tentu saja sungkan menyia-nyiakan kesempatan bagus itu.
Dengan beruntun ia mengirimkan tiga tikaman ke arah tiga jalan darah musuh.
Tapi Hongsek benar-benar liehay.
Dengan mengebaskan lengan jubahnya, ia memunahkan tiga serangan itu dan hampir berbareng dengan itu, sembari memutarkan badannya, lengan jubahnya menyampok Keng Thian yang jadi sempoyongan dan harus mundur beberapa tindak.
Orang-orang dari cabang-cabang persilatan yang menyeleweng lantas saja bersorak-sorai, sedang mereka dari cabang-cabang persilatan yang tulen jadi terkejut dan merasa kuatir untuk keselamatan kedua orang muda itu.
Mereka tidak tahu, bahwa barusan Hongsek Toodjin telah "lolos dari lubang jarum."
Di luar, imam itu tampaknya telah memukul mundur Keng Thian dan Peng Go dengan mudah sekali.
Akan tetapi, sebenarnya, ia telah berada dalam kedudukan yang sangat berbahaya.
Hanya karena Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian belum mendapat kesempatan untuk berlatih bersama-sama (sehingga di antara mereka belum terdapat kecocokan yang sempurna), maka Hongsek Toodjin sudah bisa meloloskan diri dari serangan itu.
Jika bukannya begitu, andaikata ia terlolos dari Pengpok Hankong kiam si nona, jangan harap ia bisa terlolos dari Yoeliong kiam si pemuda.
Dengan cepat mereka sudah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus.
Semakin lama kerja sama antara Peng Go dan Keng Thian jadi semakin baik.
Menyerang maupun membela diri dapat dilakukan secara saling bantu membantu yang semakin lancar.
Keunggulan ilmu pedang Pengtjoan Thianlie terletak pada kegesitan dan keanehan pukulan-pukulannya, sedang keunggulan Kiamhoat Tong Keng Thian terletak pada kemahirannya.
Dengan masing-masing memiliki keunggulan-keunggulan itu, mereka berdua bisa saling menambal bagian masing-masing yang agak lemah.
Demikianlah, meskipun Hongsek berkepandaian lebih tinggi, sesudah bertempur agak lama, sebaliknya dari bisa mendesak, ia sendiri akhirnya yang terdesak.
Sesudah berhasil menindih keganasan sang lawan, diam-diam Keng Thian melirik Peng Go.
Tapi ia jadi kecewa, karena dari paras si nona, tak dapat ditaksir bagaimana perasaannya.
Wajah Peng Go kelihatan seperti girang, jengkel dan gusar bercampur menjadi satu.
"Biarlah, sesudah pertempuran ini berakhir, aku akan coba memberi keterangan kepadanya,"
Kata Keng Thian di dalam hatinya.
Dalam pertempuran antara jago dan jago, setiap pihak tak boleh memecah perhatiannya.
Maka begitu lekas pikiran Keng Thian ketarik ke jurusan lain, garis pembelaannya lantas saja menjadi tak sekokoh tadinya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik itu, Hongsek segera mengirimkan serangan berantai.
Pengtjoan Thianlie terkejut, buru-buru ia memberikan pertolongan.
Sesudah mendapat pelajaran itu, Keng Thian tak berani memikirkan soal-soal lain lagi.
Sembari mengumpulkan semangatnya dan memusatkan seluruh perhatiannya, ia terus bersilat dengan Thaysiebie Kiamhoat-nya.
Segera juga, Yoeliong kiam-nya sudah merupakan tirai sinar putih yang melindungi dirinya sendiri dan Peng Go dengan berbareng.
Thaysiebie Kiamhoat adalah ilmu yang paling liehay dari Thiansan pay.
Jika ilmu itu digunakan hanya untuk membela diri, pengaruhnya akan lebih besar lagi dan pertahanannya jadi sedemikian rapat, sehingga agaknya, seakan-akan tak dapat ditembusi angin maupun hujan.
Dengan mendapat perlindungan Keng Thian, Pengtjoan Thianlie menjadi bebas untuk menyerang musuh itu dengan pukulan-pukulan Tatmo Kiamhoat yang sangat dahsyat.
Bagi banyak orang, pertempuran itu adalah pertempuran terhebat yang mereka pernah melihat.
Sambil menahan napas, semua tamu menantikan kesudahannya dengan mata tidak berkesip.
Selagi pertempuran itu berlangsung dengan serunya, sekonyong-konyong di luar ruangan terdengar suara tertawa yang ramai aneh.
Keng Thian terkesiap.
Ia tahu, bahwa Kim Sie Ie lagilagi datang mengacau.
Tapi selagi menghadapi lawan berat, ia tak berani memecah perhatiannya.
Semua orang lantas saja ramai-ramai menengok keluar.
Mereka mendapat kenyataan, bahwa belasan toosoe Boetong pay sedang memasuki ruang itu, sembari melompat-lompat dan tertawa aneh tiada habisnya.
Bukan main gusarnya Loei Tjin Tjoe.
Sembari membungkuk, ia berkata kepada Moh Tjoan Seng.
"Pengemis gila yang kemarin lagi-lagi datang mengacau. Mohon Tjouwsoe memberi hukuman kepadanya."
Dalam kegusarannya terhadap Kim Sie le, ia lupa, bahwa seorang yang berkedudukan tinggi seperti Tjouwsoe-nya, tak boleh sembarang turun tangan terhadap seorang houwpwee seperti Toktjhioe Hong-kay.
Dalam sekejap, belasan toosoe itu sudah masuk ke ruang sembahyang dan mereka diikuti seorang pemuda tampan.
Pemuda itu mengenakan pakaian indah yang robek di beberapa bagian, sedang kedua tangannya --yang memegang tongkat -tiada hentinya diangkat untuk menggiring rombongan toosoe itu selaku gembala mengendalikan rombongan bebeknya.
Begitu mendengar nama "Toktjhioe Hongkay,"
Semua orang terperanjat. Kim Sie Ie tertawa terbahak-bahak.
"Ramai benar! Sungguh ramai!"
Ia berteriak.
Belum sempat ia meneruskan perkataannya, muka Moh Tayhiap berubah dan sebelah tangannya melontarkan sejumlah biji tasbih.
Bagaikan kilat, biji-biji itu terbang di tengah udara dan hampir di saat itu juga, suara tertawa itu serentak berhenti!
Pada saat itu, seluruh ruangan menjadi sunyi, suatu kesunyian yang menyeramkan...
Mendadak, mendadak saja, di luar terdengar seruan.
"Sungguh ramai! Aku pun ingin turut meramaikan Kiatyan!"
Hampir berbareng dengan habisnya suara itu, sesosok bayangan manusia melesat ke depan pentas dan orang itu lantas saja menerjang Moh Tjoan Seng.
Pada detik itu juga, Koei Peng Go yang gesit luar biasa, sudah meninggalkan Hongsek Toodjin dan menghadang di depan pentas.
"Trang!"
Peng Go terhuyung, lengannya kesemutan, hampir-hampir Pengpok Hankong kiamnya terlepas!
Penyerang itu ternyata adalah seorang laki-laki yang badannya kurus tinggi, rambutnya terurai di kedua pundaknya dan mukanya lebih menakutkan daripada muka Toktjhioe Hongkay Kim Sie Ie.
Peng Go kaget tak kepalang, karena lweekang orang itu bahkan lebih kuat daripada Hongsek Toodjin.
Tentu saja, para hadirin juga terkejut, tapi yang paling terperanjat adalah Tjia In Tjin, karena ia mengenal penyerang itu sebagai si manusia aneh yang sudah mengutungkan lidah sejumlah murid Boetong.
"Tongbeng Tooyoe,"
Kata Moh Tjoan Seng dengan tenang.
"Apakah kau masih belum bisa melupakan peristiwa yang terjadi empat puluh tahun berselang itu?"
Ketika mendengar perkataan itu, para ahli silat yang sudah berusia lima puluh tahun lebih lantas saja, mengetahui siapa orang aneh itu.
Kurang lebih empat puluh tahun sebelum hari itu, gua Kouwtiok tong di gunung Koenloen san, didiami seorang pertapaan yang dikenal dengan nama Tongbengtjoe.
Entah dari mana, ia memiliki ilmu yang aneh.
Sering sekali ia mengganggu orang-orang gagah dari Rimba Persilatan di wilayah Tionggoan.
Ketika itu, Moh Tjoan Seng masih muda dan semangatnya sedang bergelora.
Mendengar kejadian tersebut, ia segera mendaki Koenloen san dan menantang Tongbengtjoe.
Sesudah bertempur selama setengah hari, ia berhasil merobohkan lawannya dan memaksa Tongbengtjoe bersumpah untuk tidak berkelana lagi di kalangan Kangouw.
Selama empat puluh tahun, Tongbengtjoe melenyapkan diri dan semua orang menduga, bahwa ia sudah meninggal dunia.
Tak dinyana, pada Kiatyan ketiga ini, ia muncul dengan tiba-tiba.
Teranglah sudah, bahwa kedatangannya sekali ini adalah untuk menantang Moh Tjoan Seng.
Mengenai usia, Tongbengtjoe sepantar dengan Moh Tayhiap.
Akan tetapi, jika dilihat dari wajahnya, ia masih seperti seorang yang baru berusia kurang lebih empat puluh tahun.
Dalam Rimba Persilatan memang terdapat semacam ilmu yang dapat memepertahankan keremajaan seseorang.
Sesudah empat puluh tahun bersembunyi, Tongbengtjoe muncul kembali dengan niatan mengukur kepandaian lagi dengan Moh Tjoan Seng.
Semua orang menganggap, bahwa tanpa mempunyai pegangan, ia tentu tak berani datang.
Agaknya empat puluh tahun itu telah dilewatkannya dengan memeras keringat untuk mencari kemajuan dan pada saat itu, tentunya ia yakin, bahwa kepandaiannya sudah lebih tinggi daripada Moh Tayhiap.
Tongbengtjoe tertawa lagi.
"Moh Tjoan Seng!"
Katanya.
"Kau sekarang sudah menjadi guru besar, sedang aku masih tetap seorang perantaian. Bukankah ini terlalu tak adil? Aku datang kesini untuk menanyakan apakah kau mau mengijinkan aku berkelana lagi di dunia Kangouw atau tidak?"
"Selama empat puluh tahun, banyak sekali perubahan telah terjadi,"
Jawab Moh Tjoan Seng.
"Sedang laut juga sudah bisa berubah menjadi kebun, apalagi manusia? Apakah kau masih mau mentaati sumpahmu atau akan menghapuskannya, terserah kepada kau sendiri."
Dengan berkata begitu Moh Tjoan Seng ingin mengatakan, bahwa, jika Tongbengtjoe sekarang bisa mengambil jalan lurus, ia boleh tak usah menunaikan sumpahnya lagi.
Tongbengtjoe tak bisa menangkap maksud Moh Tayhiap, sambil tertawa dingin ia berkata.
"Dulu, dengan kekerasan kau memaksa aku memenjarakan diriku sendiri. Sekarang, untuk kedua kalinya aku muncul kembali. Aku sendiri tak tahu, apakah aku masih berhak untuk berkelana lagi di dunia Kangouw. Maka, tak dapat tidak aku mesti meminta pengajaranmu pula."
Moh Tjoan Seng tersenyum.
"Apakah di dunia Kangouw orang hanya mengandalkan ilmu silat?"
Tanyanya. Tongbengtjoe tertawa terbahak-bahak.
"Dulu aku telah roboh karena tanganmu!"
Ia berkata dengan lantang.
"Sekarang, juga dari tanganmu, aku hendak merebut kembali kemerdekaanku!"
Ia melompat dan coba menyerang pula.
Sementara itu, Pengtjoan Thianlie sudah menyiapkan tujuh butir Pengpok Sintan dalam kedua tangannya.
Begitu Tongbengtjoe melompat, ia segera menimpuk dengan kedua tangannya.
"Segala mutiara sebesar beras juga berani memperlihatkan sinarnya?"
Ia membentak sembari menyentil, tujuh butir Pengpok Sintan itu lantas saja terpental dan lumer menjadi air es.
Hampir berbareng dengan itu, ia melompat sambil mementang sepuluh jerijinya untuk menerkam batok kepala si nona.
*** Kim Sie Ie menyatroni Kimkong sie dengan hati mendongkol dan dengan niatan untuk mengacau.
Sebelum masuk, dengan batu kolar ia menimpuk jalan darah belasan murid Boetong yang menjaga di luar pekarangan kuil.
Yang ditimpuk olehnya adalah Siauwyauw hiat (jalan darah untuk membikin orang tertawa) dan Mayang hiat (jalan darah yang mendatangkan perasaan baal dan gatal).
Sesudah itu, dengan gembira, ia menggiring para korbannya.
Tapi sungguh di luar dugaannya, dengan sekali menimpuk, Moh Tjoan Seng sudah berhasil menolong para murid Boetong itu.
Tiamhiat hoat (ilmu menotok jalan darah) ciptaan Tokliong Tjoentjia adalah ilmu tunggal yang tidak dikenal oleh orang luar.
Dengan ilmu itu, Kim Sie Ie sudah merobohkan banyak sekali jago dalam Rimba Persilatan dan ia semula menduga, bahwa Tiamhiat hoat tersebut tak akan dapat dipecahkan oleh siapapun juga.
Oleh sebab itu, ia menjadi kaget sekali, ketika mendapat kenyataan, bahwa Keng Thian dapat menolong Loei Tjin Tjoe dan kawan-kawannya.
Ketika dengan sekali menggerakkan tangannya, Moh Tjoan Seng sudah bisa membebaskan belasan orang yang telah ditotoknya, tentu saja ia jadi makin terperanjat.
Berdasarkan bunyi biji-biji tasbih itu --ketika datang menyambar --ia tahu, jika ia ditimpuk, tak dapat ia menahannya.
Masih untung, bahwa Moh Tayhiap hanya menolong murid-murid Boetong tersebut, dan tidak turun tangan untuk mencelakakannya.
Setelah menyaksikan semua itu, kesombongan Kim Sie Ie lantas saja berkurang banyak.
Sementara itu, hatinya mencelos ketika mendapat kenyataan, bahwa dengan berendeng pundak, Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian sedang mengerubuti Hongsek Toodjin.
Selagi ia mau mengundurkan diri dari ruangan itu, tiba-tiba muncul Tongbengtjoe, yang lantas dicegat oleh si nona.
Di saat itu, ketika Tongbengtjoe menubruk Peng Go, pikiran Kim Sie Ie berubah sama sekali.
Biar bagaimana besar rasa bencinya terhadap Tong Keng Thian, tak dapat tidak ia mesti menolong.
Bagaikan kilat, tangan Tongbengtjoe menyambar kepala si nona.
Dengan tak kalah cepatnya, Peng Go menunduk dengan gerakan Honghong tiamtauw (Burung hong manggutkan kepala) dan menyabet dengan Hankong kiam-nya.
Begitu serangannya yang pertama meleset, Tongbengtjoe segera menyusulkan terkamannya yang kedua.
Pada detik itulah, sambil membentak keras, Kim Sie Ie melompat dan menghantam kepala Tongbengtjoe dengan tongkatnya.
Tangan Tongbengtjoe menyambar dan berhasil menangkap ujung tongkat itu.
Dalam gebrakan itu, kedua belah pihak telah mengerahkan lweekang masingmasing yang sangat tinggi.
Begitu tongkatnya ketangkap musuh, badan Kim Sie Ie terhuyung dan ia terseret dua tindak.
Sekarang, masing-masing memegang sebelah ujung tongkat itu.
Tongbengtjoe tertawa terbahak-bahak dan mendadak, ia memutarkan tongkat itu dan membuat satu lingkaran.
Semakin lama, ia memutarkannya semakin cepat, sehingga meskipun niat menolong, Pengtjoan Thianlie tidak berani turun tangan, karena kuatir melukakan Kim Sie Ie sendiri.
Tiba-tiba Kim Sie Ie tertawa nyaring dan badannya kelihatan membubung ke atas, sehingga Pengtjoan Thianlie terkejut bukan main.
Di lain saat, ia mendapat kenyataan, bahwa, sedang Tongbengtjoe masih terus memegang ujungnya, pemuda itu sendiri sudah menunggangi batang tongkat itu.
Mendadak terdengar suara "fui!"
Dan Kim Sie Ie menyemburkan ludah!
Di antara semburan itu, sayup-sayup terdengar sambaran jarum-jarum halus.
Tadi, Kim Sie Ie sebenarnya sudah berada di bawah kekuasaan musuhnya, sehingga apa yang dilakukannya benar-benar di luar dugaan Tongbengtjoe.
Hampir berbareng dengan semburan ludah Kim Sie Ie, Pengtjoan Thianlie melompat dan mengirimkan suatu tingkaman ke punggung musuh, Tongbengtjoe yang mengandalkan ilmu Pithiat kanghu (ilmu menutup semua jalanan darah), tidak menghiraukan serangan senjata rahasia Kim Sie Ie dan buru-buru mengebaskan lengan jubahnya untuk menangkis pedang si nona yang menyambar laksana kilat.
Pengpok Hankong kiam itu terpental, sehingga Peng Go terpaksa meloncat mundur.
Sebelum Tongbengtjoe sempat berbalik, ludah Kim Sie Ie sudah mengenai lehernya.
Amarah Tongbengtjoe jadi meluap.
Sambil mengertak gigi, ia melontarkan tongkat itu -yang sedang ditunggangi Kim Sie Ie --ke tengah udara.
Dengan kedua-dua tangannya tetap memegang tongkat itu erat-erat, Kim Sie Ie berjungkir balik dan selagi badannya melayang turun, mulutnya berteriak.
"Tikam Honghoe hiat, Hiankie hiat dan Tjiantjeng hiat-nya. Dia sudah terkena senjata rahasiaku yang beracun!"
Lweekang Tongbengtjoe sudah dilatih sampai di tingkatan paling tinggi, sehingga meskipun ia belum mempunyai badan dewa yang tak bisa rusak, akan tetapi ia percaya, bahwa tubuhnya bisa menahan segala rupa senjata rahasia dan ditambah dengan Pithiat kanghu, ia yakin, bahwa badannya cukup kuat untuk melawan segala macam racun.
Oleh sebab itu, ia semula tidak menggubris perkataan Kim Sie le.
Di luar dugaannya, sesudah menangkis beberapa serangan Pengtjoan Thianlie, mendadak ia merasakan jalan darah Honghoe hiat, Hiankie hiat dan Tjiantjeng hiat-nya baal.
Di lain saat, ia merasakan hawa racun menyelusup dari jalan darah ke dadanya!
la terkesiap berbareng gusar.
*** Harus diketahui, bahwa senjata rahasia yang digunakan Kim Sie Ie adalah senjata paling beracun di kolong langit.
Di Pulau Ular terdapat semacam ular yang dinamakan Kimkak Sintjoa (Ular malaikat yang bertanduk emas), Di kepala ular itu terdapat tulang yang munjul ke atas seperti tanduk dan bisa ular tersebut hebat luar biasa.
Dulu, di waktu Tokliong Tjoentjia menggunakan ular itu, untuk mencelakakan Phang Eng, hampir-hampir jiwa Phang Eng tidak ketolongan lagi jika Hie Kok tidak memberikan rumput Lengtjie yang sudah berusia ribuan tahun kepadanya.
Senjata rahasia Kim Sie Ie, yaitu Hoeitjiam atau jarum yang sangat halus, telah diolah dengan bisa Kimkak Sintjoa.
Sebelum berlatih melepaskan jarum itu bersama-sama dengan semburan ludah, lebih dulu ia minum obat pemunahnya dan sengaja melukakan tubuhnya sendiri dengan gigitan ular tersebut, supaya badannya menjadi kebal.
Itulah sebabnya, mengapa jarum tersebut bisa dimasukkan dalam mulutnya tanpa menimbulkan bahaya.
Tapi, jika orang lain terkena serangan jarum-jarum itu, kecuali bila ia berbadan seperti dewa, begitu darahnya kemasukan racun itu, hawa racun lantas saja menyerang ke jantung dan menutup semua jalan darahnya, sehingga korban itu tak akan dapat ditolong lagi.
Kim Sie Ie mempunyai beberapa macam jarum beracun.
Yang digunakan untuk melukakan Tong Keng Thian dan Tong Say Hoa, racunnya jauh lebih enteng dan bekerjanya lebih perlahan.
Tapi jarum yang digunakannya terhadap Tongbengtjoe adalah yang terhebat dan bekerjanyapun sangat cepat lagi ganas sekali.
*** Sementara itu, Kim Sie Ie sudah hinggap di atas lantai.
Ia tertawa bergelak-gelak seraya berkata.
"Segala mutiara sebesar beras juga berani memperlihatkan sinarnya?"
Kata-kata itu justru adalah ejekan yang digunakan Tongbengtjoe terhadap Pengtjoan Thianlie.
Kim Sie Ie mengembalikan ejekan itu untuk menyenangkan dan membalaskan sakit hati si nona, sekalian untuk membangkitkan kegusaran musuh, supaya hawa racun itu bekerja semakin cepat.
Tentu saja Tongbengtjoe mengetahui maksud pemuda itu.
Sambil menutup mulut, ia mengerahkan lweekang-nya dan menangkis serangan-serangan Koei Peng Go.
"Dalam dunia tak ada yang bisa memunahkan racun senjata rahasiaku,"
Kata Kim Sie Ie pula sembari tertawa dingin.
"Jika kau suka berlutut tiga kali di hadapanku dan memanggil kakek kepadaku, dengan memandang muka si cucu, mungkin sekali aku akan mengampuni jiwamu."
Tongbengtjoe mendelik.
"Bocah tak kenal mampus!"
Ia membentak.
"Rasakanlah keliehayanku!"
Ia mengebaskan lengan jubahnya untuk memukul mundur Pengtjoan Thianlie dan kemudian mengirimkan dua pukulan geledek ke arah Kim Sie Ie.
"Semakin banyak kau mengeluarkan tenaga, semakin cepat kau mampus!"
Kim Sie Ie mengejek sambil menangkis dengan tongkatnya yang ujungnya sekali lagi kena ditangkap oleh Tongbengtjoe.
Tadi, dengan mempertaruhkan jiwanya dengan pukulan yang sangat berbahaya, baru ia bisa terlolos dari bencana.
Sekarang, ia tak mau membiarkan dirinya diseret dan diputar-putarkan sekali lagi oleh musuhnya.
Begitu lekas tongkatnya ketangkap, ia mengerahkan tenaganya dan ilmu Tjiankin toei (ilmu menambah berat badan), untuk memperkuat kuda-kudanya, ia membetot sekuat-kuatnya.
Di saat itu, Pengtjoan Thianlie sudah menerjang kembali mengirimkan tiga tikaman kepada tiga jalan darah musuh yang sudah menjadi baal itu.
Hampir berbareng dengan serangan si nona, terdengar bunyi.
"srt"
Dan tangan Kim Sie Ie sudah memegang sebatang pedang besi, sedang Tongbengtjoe masih tetap menggenggam tongkat itu yang sebenarnya sebuah sarung pedang.
Bersama dengan Koei Peng Go, lincah sekali Kim Sie Ie bergerak, menyerang musuh itu.
Pedangnya adalah pedang mustika yang, bila digunakan, mengeluarkan bau amis.
Sesudah bertempur lagi beberapa jurus, sekonyong-konyong Tongbengtjoe melontarkan tongkat Kim Sie Ie dan lantas saja bersila di atas lantai, sedang kedua tangannya menyambar kian kemari untuk menangkis setiap serangan.
Buru-buru Kim Sie Ie memungut tongkatnya dan kemudian dengan tangan kiri memegang tongkat dan tangan kanan membekal pedang, ia menyerang pula dengan hebatnya.
Tongbengtjoe tetap bersila sembari mengerahkan lweekang-nya untuk menahan naiknya hawa racun, sedang kedua tangannya digerakkan kian kemari, menangkis tiga senjata musuhnya yang pergi datang menghujani ia dengan pukulan-pukulan membinasakan.
Dalam sekejap, keadaannya sudah sangat berbahaya dan ia hanya bisa membela diri, tanpa mampu membalas menyerang.
Sembari mengejek terus untuk membangkitkan amarah musuhnya, Kim Sie Ie memperhebat serangan-serangannya.
Melihat keadaan lawan, Peng Go --yang berhati murah --lantas saja merasa kasihan.
"Sudahlah! Lepaskanlah supaya ia bisa menyingkir dari sini,"
Katanya. Tongbengtjoe mendelik dan membentak.
"Siapa sudi dikasihani olehmu! Jika sekarang kau niat lari, kau tak akan bisa lari!"
"Lihatlah!"
Kata Kim Sie Ie.
"Ia sendiri yang ingin melaporkan diri kepada Giam Loo-ong. Siapakah yang bisa merintanginya?"
Sembari berkata begitu, ia menghantam kalang kabut.
Peng Go melirik ke bagian lain dan mendapat kenyataan, bahwa Hongsek Toodjin yang dilayani oleh Keng Thian seorang sedang membalas menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat.
Si nona menjadi kuatir.
"Tongbengtjoe sudah mendapat luka berat dan Kim Sie Ie seorang diri rasanya sudah cukup untuk melayaninya,"
Katanya di dalam hati.
Ia segera menarik Hankong kiam-nya dan mengenjot badannya untuk melompat keluar dari gelanggang.
Sekonyong-konyong, berbareng dengan suatu gerakan tangan Tongbengtjoe, ia merasakan dirinya ditarik oleh suatu tenaga yang tidak kelihatan, sehingga ia tak bisa meloloskan diri.
Justru pada detik itu, Kim Sie Ie memukul dengan tongkatnya dan musuh terpaksa membagi tenaganya untuk menangkis.
Pada saat itulah Peng Go mengempos semangatnya dan badannya lantas saja melesat keluar gelanggang.
Jantung si nona berdebar keras dan untuk sejenak ia bersangsi.
Apa mau, di saat itu Keng Thian didesak oleh Hongsek dengan serangan bertubi-tubi.
Tanpa berpikir panjang-panjang lagi, ia segera melompat dan menikam punggung imam itu, untuk menolong Keng Thian.
Dengan bekerja sama, baru saja bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, Keng Thian dan Peng Go kembali berada di atas angin.
Selagi mereka mendesak musuh itu, alis si pemuda mendadak berkerut dan ia berkata dengan perlahan.
"Peng Go Tjietjie, pergi kau membantu Hongkay itu. Tak usah memperdulikan aku."
Ketika itu Kim Sie Ie sedang dalam bahaya besar.
Tadi, ketika ia dan si nona mengerubuti Tongbengtjoe, ia tidak merasakan tekanan yang luar biasa.
Tapi, begitu lekas Peng Go meninggalkannya seorang diri, tekanan musuh semakin lama jadi semakin berat.
Perlahan-lahan ia merasa seakan-akan suatu tenaga tidak kelihatan menekan seluruh tubuhnya dan sesudah lewat kira-kira tiga puluh jurus lagi, ia sudah tak dapat bergerak dengan leluasa.
Tongkat dan pedangnya dirasakan sangat berat dan ia harus menggunakan banyak tenaga untuk mengangkatnya.
Kim Sie Ie kaget berbareng bingung.
Sekonyong-konyong, Tongbengtjoe mengubah siasatnya.
Jika barusan ia hanya membela diri, sekarang ia membalas menyerang.
Meskipun ia terus bersila, tenaganya telah "mengunci"
Suatu lingkaran yang garis tengahnya setombak lebih.
Kedua senjata Kim Sie Ie seakan-akan ditempel dengan lem dan badannya terasa dibetot tenaga yang tidak kelihatan itu.
Beberapa kali ia menyemburkan jarumnya, tapi karena musuh itu sudah waspada, semua jarum beracun itu telah dihalaukan dengan kebasan lengan jubah saja.
Semakin lama, Kim Sie Ie semakin mendekati musuhnya, terseret tenaga luar biasa itu.
Ia mengetahui, bahwa Tongbengtjoe sedang berusaha untuk memusnahkan tenaga lweekang-nya dan dalam tiga puluh jurus lagi, ia akan kehabisan tenaga seperti lampu yang kehabisan minyak.
Meskipun tak mati, ia akan bercacat seumur hidupnya.
Selagi terengah-engah Kim Sie Ie coba bertahan terus, sekonyong-konyong Tongbengtjoe membentak.
"Bocah! Sekarang baru kau tahu keliehayanku!"
Ia membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya dan pada saat itu juga, tongkat dan pedang Kim Sie Ie, dua-dua sudah tertangkap tangannya.
Pada detik itu, kupingnya tiba-tiba mendengar suara Pengtjoan Thianlie.
"Tidak,"
Kata si nona.
"Lebih dulu kita membereskan siluman ini, belakangan baru menolong dia."
Ternyata Pengtjoan Thianlie belum tahu bencana apa yang dihadapi Kim Sie Ie, ia ingin merobohkan Hongsek lebih dulu sebelum membantu pemuda itu.
Bagi Kim Sie Ie, kata-kata itu bagaikan pisau yang menikam jantungnya.
Hatinya sakit bukan main.
"Dengan suka rela aku membantu kau, tapi kau hanya memperhatikan bocah itu,"
Katanya dengan perasaan duka. Dengan munculnya kekecewaan itu, semangatnya musnah dan badannya terbetot keras-keras... Pada detik yang sangat berbahaya itu, mendadak terdengar teriakan Keng Thian.
"Tidak! Tolong dia lebih dulu!"
Hampir berbareng dua Thiansan Sinbong menyambar Tongbengtjoe yang harus menangkis dengan tangan jubahnya.
Karena adanya serangan itu, tenaga yang menekan Kim Sie Ie menjadi kendur, sehingga pemuda itu keburu memperbaiki kedudukannya dan coba mempertahankan diri dengan seantero tenaganya.
Dengan kedua senjatanya ditangkap musuh, Kim Sie Ie jadi serba salah, menyerang ia tak bisa, mundur pun tak dapat.
Di lain pihak, sekonyong-konyong Tong Keng Thian mengubah cara bersilatnya.
Kalau tadi ia hanya membela diri dengan Thaysiebie Kiamhoat, adalah sekarang ia juga menyerang dengan Toeihong Kiamhoat.
Diserang dengan pukulan-pukulan hebat yang menyambar-nyambar bagaikan hujan dan angin, Hongsek terpaksa berkelahi sembari mundur.
Mendadak, Tong Keng Thian melonjak ke tengah udara dan selagi tubuhnya melayang turun, bagaikan seekor elang, ia menikam leher Tongbengtjoe dengan Yoeliong kiam-nya.
Gerakan itu, indah dan cepat luar biasa, mengejutkan semua penonton.
Hampir pada saat yang sama, suatu sinar putih berkelebat dan menyambar punggung Tongbengtjoe.
Itulah serangan Pengtjoan Thianlie yang sudah melihat bahaya apa yang mengancam Kim Sie Ie.
Biarpun berkepandaian lebih tinggi lagi, Tongbengtjoe tak akan bisa melawan seranganserangan tiga orang muda itu.
Ia melompat bangun sembari mendorong dan tongkat serta pedang besi Kim Sie Ie, yang terpental akibat dorongan itu, secara tepat menangkis Pengpok Hankong kiam si nona.
Tapi gerak-gerik Toeihong Kiamhoat cepat luar biasa.
Selagi musuh melompat dan membetot, Keng Thian sudah mengubah gerakan pedangnya dan memapas musuh dari samping.
Kedua tangan Tongbengtjoe yang baru saja digunakan, tak keburu menangkis lagi dan Yoeliong kiam si pemuda lantas saja mampir dipundaknya!
Tapi Tongbengtjoe benar-benar liehay luar biasa.
Berbareng dengan tikaman Keng Thian, tangannya sudah menghantam, sehingga Keng Thian terhuyung beberapa tindak karena kesambar anginnya.
Demikianlah, sebab harus meloloskan diri, dari pukulan musuh, tenaga tikaman Keng Thian jadi berkurang.
Jika bukan begitu, tulang kipas Tongbengtjoe tentu sudah ditobloskan pedang Keng Thian.
Sesudah terkena senjata beracun dan kemudian tertikam pedang, buru-buru Tongbengtjoe mengerahkan tenaga dalamnya untuk menutup semua jalan darahnya, sehingga bukan saja hawa racun dapat ditahan, tapi mengalirnya terlalu banyak darah pun dapat dicegah.
Lweekang Tongbengtjoe tak sama dengan lweekang cabang persilatan yang tulen, ia mempunyai suatu keistimewaan.
Jika seorang dari cabang persilatan tulen mendapat luka, ia akan segera mengerahkan lweekang-nya untuk melindungi diri dan ia tidak boleh menggunakan tenaga lagi.
Di lain pihak, begitu terluka, Tongbengtjoe segera mengumpulkan lweekang-nya di luka itu, laksana gili-gili membendung air pasang.
Jika air pasang itu tak begitu besar, gili-gili itu tentu kuat menahannya, dan air bah itu tak dapat membahayakan sekitarnya.
Demikian juga makna pergerakan lweekang tersebut.
Tapi, sesudah sembuh dari lukanya, seorang dari cabang persilatan yang tulen akan mendapat pulang semua tenaga dalamnya, tanpa menderita kerugian apa-apa.
Di lain pihak, lweekang Tongbengtjoe hanya merupakan semacam "tambalan,"
Suatu sumbat sementara saja.
Lama-lama, sumbatan itu akan pecah dan bahaya akan mengancam sekitarnya.
Sebagai akibatnya, walaupun tak mati, orang itu akan bercacat, atau sedikitnya, lweekang-nya akan berkurang banyak.
Kim Sie Ie dan Pengtjoan Thianlie yang tak mengerti keistimewaan itu, merasa terkejut karena musuh masih bisa bertempur terus dengan tak berkurang tenaganya.
Tongbengtjoe sangat membenci Kim Sie Ie, dan ia tahu, bahwa di antara tiga musuhnya, pemuda itulah yang paling lemah.
Sembari membentak keras, ia melompat tinggi-tinggi dan selagi Tong Keng Thian belum keburu memperbaiki kedudukannya, ia menghantam kepala Kim Sie Ie dengan pukulan yang membinasakan.
Kim Sie Ie mengerti, bahwa ia tak akan kuat menahan pukulan itu, tapi ia mengangkat juga tongkatnya untuk menangkis dan pedangnya digunakan untuk melindungi dada, agar ia tidak sampai terpukul mati.
Pada detik itulah, pada saat yang sangat berbahaya, sesosok bayangan berkelebat dan Pengtjoan Thianlie sudah menghadang di depan pemuda itu.
Dengan pukulan Soatyong Nakoan (Salju meliputi Nakoan), ia membuat setengah lingkaran dari kiri ke kanan.
Pukulan itu, pukulan untuk untuk membela diri dan menyerang dengan berbareng, adalah salah satu pukulan paling liehay dari Tatmo Kiamhoat.
Tapi Tongbengtjoe telah mengerahkan seantero tenaganya dalam pukulan itu.
Dengan disertai sambaran angin dahsyat, tangannya menyambar si nona.
Hampir seketika itu juga, badan Pengtjoan Thianlie meluncur ke tengah udara dan jungkir balik dua kali, sebelum hinggap lagi di atas lantai.
Hanya dengan kegesitannya yang luar biasa dan ilmu mengentengkan badan yang sudah mencapai kesempurnaan, si nona dapat menolong diri dari pukulan itu.
Jika kena terpukul, ia pasti binasa di bawah pukulan geledek itu.
Di lain pihak, bukan saja maksud Tongbengtjoe gagal, bahkan lengan bajunya pun dirobek sebagian oleh ujung Hankong kiam.
Begitu terlolos dari bencana, Kim Sie Ie segera menyabet pinggang musuh dengan tongkatnya.
Tongbengtjoe buru-buru menangkis dengan tangan kirinya dan seketika terdengar "tak!", tongkat Kim Sie Ic terbang ke tengah udara dan bentuknya sudah berubah melengkung.
Tapi Tongbengtjoe pun harus sama-sama menderita, karena dua tulang pergelangan tangan kirinya menjadi patah dan tangan itu tak dapat digunakan lagi.
Darah Tongbengtjoe seolah-olah mendidih.
Dengan nekat ia mengangsek dan sesudah mementalkan tongkat pemuda itu, tangan kanannya menyambar ke dada orang.
Tapi, sebelum pukulan itu mengenai dada Kim Sie Ie, mendadak Tongbengtjoe merasakan sambaran angin tajam di belakangnya, itulah pedang Keng Thian yang menikam punggungnya.
Mau tak mau, ia terpaksa memutarkan badan untuk menangkis serangan Tong Keng Thian.
Tapi, dalam kegusarannya, ia tak mau melepaskan Kim Sie Ie mentah-mentah.
Selagi memutarkan badan, ia mementang jerijinya yang berkuku panjang dan menggores dada Kim Sie Ie!
Pada saat itu, dalam gelanggang terjadi lakon belalang diterkam tonggeret dan tonggeret dicengkeram burung.
Tong Keng Thian, yang sedang menyerang Tongbengtjoe, dibayangi oleh Hongsek Toodjin yang menerjang dari belakang.
Ketika itu, Pengtjoan Thianlie baru saja hinggap di atas lantai.
"Awas di belakang!"
Ia berteriak sembari mengenjot badannya dan menikam punggung Hongsek Toodjin.
Semua kejadian itu, yang harus dilukiskan panjang lebar, terjadi dalam sekejap mata saja.
Bagaikan kilat Hongsek mengebut punggung Keng Thian dengan hudtim-nya, sehingga pemuda itu buru-buru melompat ke samping.
Tapi Tongbengtjoe sudah siap sedia.
Dengan pukulan Tjioehoei ngohian (Tangan memetik lima tali tabuh-tabuhan), lima jeriji tangan kanannya menggores punggung Keng Thian.
"Brt!", baju pemuda itu terrobek di beberapa tempat.
"Srt!" , Keng Thian sudah menikam sebelum ia memperbaiki kedudukannya sendiri. Tongbengtjoe terkesiap. Ia tak nyana, bahwa pemuda itu masih bisa meloloskan diri dari gencatan dua serangan hebat itu, serangan Hongsek dan serangannya sendiri. Di samping itu, ia juga tidak mengerti, kenapa keadaan pemuda itu tidak berubah sesudah terkena pukulan Tjhioehoei ngohian. Harus diketahui, bahwa goresan lima jeriji itu adalah pukulan yang sangat beracun yang diberi nama Sin-eng Djiauwhoat (Ilmu cengkeraman garuda sakti). Terang-terang, sebagian bajunya robek dan paling sedikit, kulitnya di bagian punggung tentu mendapat luka. Tapi kenapa sedikitpun tak kelihatan darah? Sementara itu, Pengtjoan Thianlie sudah bertempur seru dengan Hongsek Toodjin. Biarpun ilmu pedangnya dahsyat luar biasa, tetapi tenaga si nona kalah jauh dari musuhnya dan baru saja bertanding belasan jurus, keringat sudah mulai mengucur dari dahinya. Keng Thian yang sedang melayani Tongbengtjoe seorang diri, juga berada dalam keadaan terjepit. Sembari bertempur, Keng Thian melirik. Ketika itu, hudtim Hongsek terbuka lebar seperti jala ikan dan sedang menyambar sinar pedang si nona. Keng Thian mengetahui, bahwa si nona bertahan dengan hanya mengandalkan sinar pedang itu. Jika satu saja di antara ribuan lembar bulu hudtim itu, dapat menerobos masuk, Peng Go bisa celaka. Semakin lama, sinar pedang itu semakin tertindih dan semakin ciut pula, sehingga Pengtjoan Thianlie hanya bisa melindungi kepala, muka, dada dan beberapa bagian badan lain yang sangat penting. Keng Thian terkejut dan berteriak.
"Mari kita berkumpul!"
Sekali memecah perhatian, garis pembelaannya agak terbuka, sehingga hampir-hampir ia kena dihantam oleh Tongbengtjoe.
Sengit sekali ia berbalik menyerang dengan Toeihong Kiamhoat, tapi gerakannya sudah kena "ditempel"
Oleh tenaga Tongbengtjoe dan saban kali ia coba maju, segera juga ia terpukul mundur kembali.
Di lain pihak, seluruh tubuh Koei Peng Go, juga sudah berada di bawah pengaruh hudtim lawannya dan si nona tak dapat meloloskan diri lagi.
Sementara itu, sesudah dapat menenteramkan hatinya, Kim Sie Ie segera memungut tongkatnya yang sudah terpukul bengkok dan sudah berubah menjadi semacam gendewa.
Sambil mengerahkan tenaga dalamnya, ia menekuk dan berhasil melempangkan pula tongkat yang melengkung itu.
Sesudah itu ia menerjang pula ke dalam gelanggang dan menyodok punggung Hongsek dengan tongkatnya.
Si imam memutarkan badannya sembari mengebut dengan hudtimnya.
Tapi serangan Kim Sie Ie itu hanya gertakan belaka dan begitu lekas hudtim sang lawan lewat di sisi badannya, Kim Sie Ie menotok lantai dengan tongkatnya dan badannya lantas saja melonjak ke atas.
Selagi melayang turun, sekonyong-konyong mulutnya menyemburkan ludah.
Tongbengtjoe gusar bukan main.
Dengan gesit, ia mengebaskan tangan jubahnya dan ludah itu terpukul kembali.
Dalam pertempuran antara jago, menang kalah selalu diputuskan dalam perebutan tempo sedetik.
Serangan-serangan Kim Sie Ic yang aneh lagi tiba-tiba itu, sudah memaksa Hongsek dan Tongbengtjoe memecahkan perhatian mereka dan saat-saat yang pendek itu sudah digunakan oleh Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian sebaik-baiknya untuk meloloskan diri dari tindihan musuh.
Di lain saat, mereka bertiga sudah berdiri berendeng pundak --Peng Go di tengah dengan Keng Thian dan Kim Sie Ie di kiri kanan --untuk melawan dua jago tua itu bersama-sama.
Sambil menangkis serangan-serangan Hongsek, Kim Sie Ie mencuri lihat wajah Koei Peng Go.
Ia mendapat kenyataan, bahwa --dengan wajah berwarna dadu --si nona justru sedang melirik Keng Thian.
Ketika melihat baju Keng Thian yang robek akibat cengkeraman Tongbengtjoe, sinar mata Peng Go mengesankan kekuatirannya di samping berterima kasih dan mencinta.
"Apakah kau tak terluka?"
Ia berbisik.
"Jangan kuatir,"
Jawabnya.
"Aku tak apa-apa."
Sembari menjawab begitu, pedangnya menangkis tiga serangan Tongbengtjoe. Hati Kim Sie Ie sangat berduka.
"Ah! Setiap orang mempunyai untung sendiri,"
Pikirnya. Di lain saat, ia berkata didalam hatinya.
"Tong Keng Thian telah dicengkeram Tongbengtjoe, tapi sedikitpun ia tidak terluka. Ah! Apakah yang kupunya untuk menandingi ia?"
Pada detik itu, ia merasa dirinya kecil.
Ia tentu saja tidak mengetahui, bahwa Keng Thian telah tertolong baju mustikanya, hadiah Po Tjeng Tjoe --yang tak ternilai harganya --kepada ibunya.
Karena hatinya berduka dan semangatnya runtuh, Kim Sie Ie lantas saja merasakan betapa sakit lukanya.
"Celaka!"
Ia mengeluh sembari mengumpulkan semangatnya untuk bertahan terus.
Tongbengtjoe sudah segera melihat kelemahan itu, ia segera menghantam dada Kim Sie Ie.
Pada saat itu, pedang Kim Sie Ie baru saja terpental disampok hudtim Hongsek Toodjin, sehingga dadanya terbuka lebar.
Hatinya mencelos, karena pukulan Tongbengtjoe sudah tak dapat dielakkannya lagi.
Kim Sie Ie sudah memejamkan matanya, ketika tiba-tiba Keng Thian melompat dan memukul pinggangnya.
Tubuh Kim Sie Ie lantas saja terpental ke tengah udara.
Semua orang terkejut, sedang Kim Sie Ie sendiri, mula-mula juga menduga, bahwa pemuda itu sengaja mau mengambil jiwanya dengan kesempatan tersebut.
Tapi, sebelum sempat mencaci, ia merasakan badannya seakan-akan didorong semacam tenaga luar biasa dan dorongan itu sesuai sekali dengan ilmu mengentengkan badannya sendiri.
Ia lantas saja mendusin.
Tahulah ia sekarang, bahwa Tong Keng Thian telah menggunakan ilmu "meminjam tenaga, mengirim tenaga"
Untuk menolong jiwanya!
Pukulan Keng Thian itu menggunakan tenaga yang tepat luar biasa.
Kelihatannya, ia menghantam Kim Sie Ie dengan pukulan sungguh-sungguh, tapi sebenarnya, ia hanya mendorong tubuh pemuda itu dengan tenaga yang telah diperhitungkan cermat sekali.
Sebetulnya Keng Thian belum pernah menggunakan ilmu itu, ilmu istimewa dari Thiansan pay.
Sesudah beberapa kali bertempur melawan Kim Sie Ie, ia mengenal ilmu mengentengkan badan pemuda itu dan dalam keadaan berbahaya itu, secara untung-untungan ia mencoba ilmu tersebut.
Sungguh mujur, percobaannya yang pertama itu sudah berhasil baik.
Sesudah usahanya berulang-ulang digagalkan oleh ketiga orang muda itu, Tongbengtjoe menjadi kalap.
Dengan gigi dikertak-kertakan nyaring, ia mengebaskan tangan kanannya dan...
loh!
lima kukunya yang panjang terlepas dari jerijinya dan menyambar ke arah sepasang mata Tong Keng Thian!
Semua orang terkesiap, tapi Pengtjoan Thianlie yang gerakannya gesit luar biasa masih keburu menangkis lima kuku itu dengan Pengpok Hankong kiam-nya.
Sementara itu, sambil mengeluarkan teriakan menyeramkan, badan Tongbengtjoe melesat ke tengah udara, mengejar Kim Sie Ie yang barusan dilontarkan oleh Keng Thian.
Peng Go dan Keng Thian ingin menyusul, tapi sudah tidak keburu lagi, karena Tongbengtjoe sudah tiba di belakang Kim Sie Ie.
Melewati kepala para tamu, dari tengah ruangan itu Kim Sie Ie "terbang"
Keluar dan jatuh di tangga ruang sembahyang.
Tongbengtjoe juga sangat liehay.
Bagaikan anak panah yang baru terlepas dari busurnya, ia menyusul sampai di atas kepala Kim Sie Ie.
Sedang badannya masih berada di tengah udara, bagaikan elang raksasa, ia menyerang batok kepala pemuda itu dengan kedua tangannya.
Dengan kebencian yang meluap-luap --karena Kim Sie Ie sudah melukakannya dengan racun ular, yang akan menyebabkan ia bercacat -ia mengumpulkan Seantero tenaganya di telapakan tangan dan menghantam sekuat-kuatnya.
Oleh karena ia memukul dari atas ke bawah, pukulan itu jadi lebih hebat lagi.
Di antara begitu banyak orang mungkin hanya Moh Tjoan Seng seorang saja yang dapat menyambut serangan itu.
Pada detik itu sedang jiwa Kim Sie Ie tergantung pada sehelai rambut, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang sangat nyaring, disusul suara seorang wanita.
"Tooyoe, kenapa kau jadi begitu gusar?"
Badan Tongbengtjoe kelihatan menggigil, pukulannya miring dan entah dari mana, di depannya sudah berdiri seorang wanita setengah tua berparas sangat cantik.
Wanita itu mengebaskan lengan bajunya dan hampir sedetik itu, sembari mengeluarkan teriakan keras, Tongbengtjoe terjungkal.
Di lain saat, ia sudah bangun kembali dan kemudian duduk bersila di atas lantai.
Sementara itu Kim Sie Ie sendiri sudah kabur dari Kimkong sie.
Wanita itu mengeluarkan suara "ih!"
Dan bergerak seperti mau mengejar, tapi setelah melihat Tongbengtjoe yang sedang bersila, ia mengurungkan niatannya.
Suatu peristiwa yang sangat luar biasa telah terjadi pada ketika itu.
Rambut Tongbengtjoe yang tadi masih berwarna hitam berkilau, dengan mendadak berubah menjadi putih layu, sedang mukanya, yang semula licin dan berisi, tiba-tiba menjadi kisut, berkeriput sebagai wajah seorang kakek.
Dalam sekejap mata, dari seorang yang tampaknya baru berusia kurang lebih empat puluh tahun, ia sudah berubah menjadi seorang tua yang berbadan lemah.
Sekali lagi wanita itu mengeluarkan suara "ih!".
Perlahan-lahan ia menghampiri Tongbengtjoe dan sembari merangkap kedua tangannya, ia berkata dengn perlahan.
"Maaf, maaf! Tooyoe, jalanlah baik, baik!"
Mulut Tongbengtjoe bergerak dan memperlihatkan senyumnya yang menyeramkan. Ia membuka kedua matanya dan dengan napas tersengal-sengal, ia berkata.
"Jatuh dalam tanganmu, dapat dikatakan cukup berharga."
Sehabis berkata begitu, matanya dipejamkan dan rohnya pulang ke alam baka!
Kejadian itu hampir tak dapat dipercaya oleh semua tamu yang berada di ruangan itu.
Andaikata Moh Tjoan Seng turun tangan sendiri, menurut taksiran, paling banyak ia hanya dapat menangkis serangan Tongbengtjoe.
Tapi wanita itu, dengan kebasan lengan baju sekali saja, sudah dapat mengambil jiwa Tongbengtjoe.
Keng Thian sudah memburu untuk menolong Kim Sie Ie.
Di luar dugaan, dalam jangka waktu sependek itu, sudah terjadi beberapa peristiwa luar biasa itu.
Kaburnya Kim Sie Ie, munculnya seorang wanita yang tak dikenal dan kebinasaan Tongbengtjoe!
Dengan mata yang penuh pertanyaan, ia mengawaskan wanita itu yang berparas cantik, angker, agung dan penuh welas asih.
Jantung Keng Thian berdebar keras.
"Apakah ia bukannya Tjianpwee yang sangat dihormati oleh kedua orang tuaku?"
Tanyanya kepada dirinya sendiri. Sementara itu, sembari merangkap kedua tangannya, Moh Tayhiap sendiri sudah turun dari pentas dan menghampiri dengan sikap menghormat.
"Siantjay! Siantjay!"
Katanya.
"Tongbengtjoe sekarang sudah berpulang ke alam bahagia. Secara kebetulan Liehiap sudah menjalankan tugas ini."
Wanita itu membalas penghormatannya seraya berkata.
"Semenjak pertemuan di Tangpeng, sampai sekarang sudah lewat tiga puluh tahun. Moh Loosoe, kau telah mendapat kemajuan jauh sekali dalam pertapaanmu dan sekarang akhir yang penuh bahagia sudah menunggu di depan pintu. Begitu lekas menerima surat, buru-buru aku datang kesini untuk turut mengantar. Hanya secara tak disengaja, aku sudah membuka larangan membunuh. Meskipun kebinasaan Tongbengtjoe bukan seluruhnya disebabkan olehku, tapi hatiku juga merasa sangat menyesal."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.
"Selama tiga puluh tahun, banyak sekali perubahan telah terjadi. Tak dinyana, di antara houwpwee banyak muncul orang pandai, seperti juga gelombang yang di sebelah belakang mendorong gelombang yang di sebelah depan. Kejadian ini benar-benar menggirangkan."
Ia berpaling kepada Keng Thian dan menanya.
"Pernah apakah kau dengan Siauw Lan?"
Keng Thian terkesiap karena ternyata, dengan melihat ilmu mengentengkan badannya saja, wanita itu sudah bisa menebak asal-usulnya.
Ia sudah yakin, bahwa Tjianpwee itu mestinya adalah Liehiap yang sangat dikagumi kedua orang tuanya.
Dengan sikap sangat menghormat, ia segera berlutut.
"Ialah ayahku,"
Jawabnya.
"Apakah Lootjianpwee bukan Lu Soe Nio dari Binsan?"
Wanita itu mengangkat tangannya dan Keng Thian merasakan semacam tenaga yang tak kelihatan, mengangkat tubuhnya, sehingga Lu Soe Nio hanya menerima separuh pemberian hormatnya.
"Dengan mempunyai putera sebagai dirimu, Siauw Lan dan Phang Eng sungguh harus diberi selamat,"
Katanya sembari tertawa.
"Ah. Saudara Tjoan Seng! Sang tempo jalannya cepat luar biasa. Dalam sekejap mata, kawan-kawan lama kita hanya ketinggalan beberapa orang saja!"
Setelah mendengar, bahwa wanita cantik itu adalah Lu Soe Nio yang namanya kesohor di seluruh negeri, para hadirin terkejut berbareng kagum.
Serentak mereka berdiri untuk memberi hormat kepada pendekar wanita itu.
Lu Soe Nio adalah salah seorang dari Kanglam Tjithiap (Tujuh Pendekar Daerah Kanglam).
Sesudah membinasakan Liauw In, kakak seperguruannya yang menjadi penghianat, kemudian membunuh Yong Tjeng, puluhan tahun lamanya ia hidup bersembunyi, tak pernah ia muncul dalam Rimba Persilatan, sehingga banyak orang menduga, bahwa ia sudah meninggal dunia.
Tapi ternyata, bukan saja ia masih hidup dan gagah, tapi wajahnya pun masih begitu muda.
Dalam tingkatan, kedudukannya setara dengan Moh Tjoan Seng dan Tong Siauw Lan.
Menurut usia, ia lebih muda dari Moh Tayhiap, tapi lebih tua daripada Tong Siauw Lan.
Dinilai dari kemashyuran nama, ia lebih kesohor daripada Tong Siauw Lan maupun Moh Tjoan Seng.
Pada hakekatnya, di seluruh Rimba Persilatan, tak ada yang dapat direndengkan dengan Lu Liehiap.
Orang-orang yang menghadiri Kiatyan biasanya sudah merasa puas jika bisa bertemu dengan Moh Tjoan Seng.
Tapi sekarang, di samping Moh Tayhiap, mereka juga bisa melihat wajah Lu Liehiap.
Kejadian itu benar-benar sangat menggirangkan.
"Saudara-saudara janganlah berlaku begitu sungkan,"
Kata Lu Liehiap.
"Duduklah."
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan sambil jalan berendeng dengan Moh Tjoan Seng, ia memasuki ruang sembahyang.
Ketika itu, Hongsek Toodjin yang bertempur dengan Pengtjoan Thianlie, justru sedang berada di atas angin.
Mendengar kedatangan Lu Soe Nio, jantung Hongsek berdebar keras.
Begitu lekas Lu Liehiap mendekati, ia segera meloncat keluar dari gelanggang dan mengawasi pendekar wanita itu dengan perasaan sangsi.
"Dengan banyak capai lelah, Tooyoe sekarang sudah mendapatkan kembali ilmu silat Khongtong pay yang sudah lama lenyap,"
Kata Lu Liehiap sembari bersenyum.
"Untuk itu, Tooyoe pantas diberi selamat."
Berbareng dengan perkataan itu, bulu-bulu hudtim si toosoe mendadak bergoyang seperti ditiup angin, sedang Hongsek sendiri merasakan tangannya kesemutan.
Tanpa tercegah lagi, hudtim itu jatuh di atas lantai!
Muka Hongsek lantas saja menjadi pucat bagaikan kertas.
Sudah lama ia mendengar, bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat semacam ilmu yang dinamakan Tjoan-im tjoktek (Dengan gelombang suara merobohkan musuh), tapi ia sendiri belum mendapat buktinya dan ia pun tak percaya, bahwa dalam dunia terdapat ilmu yang begitu luar biasa.
Baru sekarang ia yakin, bahwa cerita itu bukan cerita kosong.
Dengan hati bercekat, buru-buru ia memberi hormat seraya berkata.
"Pintoo Hongsek Toodjin menghadap kepada Lu Liehiap."
"Perguruanmu dan perguruanku tak mempunyai sangkut paut sama sekali,"
Kata Lu Soe Nio.
"Maka kita harus bergaul seperti orang sepantaran. Kata-kata 'menghadap' adalah kehormatan yang tak dapat kuterima."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.
"Setiap cabang persilatan mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Sebenarnya orang tak perlu mempunyai niatan untuk menang sendiri dan sebentar-sebentar ingin mengadu ilmunya."
Mendengar kata-kata yang tajam itu, selebar muka Hongsek menjadi merah.
"Petunjuk Liehiap pasti akan kuperhatikan,"
Katanya dengan menunduk.
"Lihat saja Tongbengtjoe Tooyoe,"
Lu Liehiap melanjutkan nasehatnya.
"Dari ilmu Gwakee (ilmu silat luar) yang paling tinggi, ia terus menanyak sampai ke kalangan Lweekeeh (ilmu silat dalam). Hasil itu sesungguhnya harus dihargakan tinggi-tinggi. Tapi karena salah bertindak, latihannya selama berpuluh tahun telah terbuang-buang dengan percuma, malah Sampai ia harus tewas tanpa mempunyai murid yang dapat mewarisi pelajarannya. Bukankah kejadian itu harus disesalkan?"
Hongsek tak berani menjawab, ia hanya mengangguk berulang-ulang. Beberapa saat kemudian, Lu Liehiap berkata pula.
"Tongbengtjoe adalah Tiangloo (orang terkemuka) dari Koenloen. Sudah selayaknya, jika jenazahnya dibawa pulang untuk dikuburkan di gunung itu. Tooyoe, kau dan ia bersahabat baik. Bolehkah urusan ini diserahkan kepadamu? Di samping itu, aku berharap, supaya kau suka memberikan penjelasan sebaik-baiknya kepada murid-murid Koenloen."
"Terima kasih atas belas kasihan Lihiap,"
Kata Hongsek.
"Bahwa liehiap sudah mengijinkan dibawa pulangnya jenazah Tongbeng Tooyoe, murid-murid Koenloen tentu sudah merasa berterima kasih tiada habisnya."
Menurut peraturan Kangouw, Tongbengtjoe yang sudah menyatroni tempat orang dan menantang bertempur, kebinasaannya harus dianggap sebagai bencana yang dicarinya sendiri.
Maka, ijin dari pihak yang disatroni supaya jenazahnya bisa dibawa pulang ke tempat asalnya, sudah dianggap sebagai budi besar.
Hongsek segera mendekati jenazah Tongbengtjoe yang masih tetap bersila di atas lantai.
Begitu tersentuh, tubuh Tongbengtjoe lantas terguling, rambutnya rontok semua dan badannya menjadi jauh lebih kecil, sehingga jubah pertapaannya menjadi sangat longgar.
Semua orang terkejut ketika mendapat kenyataan, bahwa dalam tempo sependek itu, tubuh Tongbengtjoe sudah bisa menjadi begitu kecil lagi kurus kering.
Memang seseorang yang memiliki lweekang tinggi, bisa mempertahankan keremajaan wajahnya yang tidak berubah menjadi tua.
Tapi orang-orang yang benar-benar beribadat, seperti misalnya Moh Tjoan Seng, tak mau menggunakan ilmu tersebut.
Mengenai paras Lu Soe Nio, soalnya lain.
Di waktu muda, Lu Liehiap telah memperoleh ilmu Tjiantjeng lweesit (ilmu memperdalam dan memperkuat jiwa) dari le Lan Tjoe, maka kemudian, sesudah lweekang-nya mencapai kesempurnaan mutlak, secara wajar wajahnya tetap muda dan tak akan berubah sampai di akhir penghidupannya.
Di lain pihak, Tongbengtjoe telah masuk ke jalan tersesat dan mempelajari ilmu yang menyeleweng, sehingga ia bisa juga mencegah proses yang menjadikan wajahnya berubah sesuai dengan usianya.
Tapi begitu lekas tenaga dalamnya musnah, selekas itu pula proses terhambat itu menyusul kelambatannya, dari seorang gagah yang bertubuh kekar dalam sekejap mata ia diubah menjadi seorang kakek kurus kering.
Dalam Rimba Persilatan, kejadian itu bukannya sesuatu yang mengherankan.
Soal yang mengherankan bagi Lu Liehiap adalah, kenapa ia binasa begitu mendadak, terkena kebutannya sekali saja.
Hongsek Toodjin segera membuka jubah pertapaannya yang lalu digunakan untuk membungkus jenazah Tongbengtjoe.
Sesudah itu, sembari membungkuk kepada kepala biara Kimkong sie, ia berkata.
"Apakah aku boleh meminjam tempat pembakaran jenazah dalam kuil ini?"
"Tentu saja,"
Jawab hweeshio kepala itu sembari merangkap kedua tangannya.
"Loolap pun berkewajiban mengantar keberangkatan Tongbeng Tooyoe."
Ternyata, karena terlalu sukar untuk membawa jenazah dalam perjalanan sejauh itu, Hongsek Toodjin telah mengambil keputusan untuk memperabukannya dan kemudian membawa abu itu untuk dikuburkan di gunung Koenloen.
Ketua Kimkong sie itu, Moh Tjoan Seng, Lu Soe Nio, Keng Thian, Peng Go, Loei Tjin Tjoe dan yang lain-lain lantas saja pergi ke tempat pembakaran yang terletak tak jauh dari ruangan sembahyang itu.
Selagi api membakar jenazah Tongbengtjoe, Moh Tjoan Seng berkata kepada Lu Soe Nio.
"Soe Nio, aku sedianya ingin berangkat beberapa hari lagi. Tapi karena kau sudah datang, kurasa lebih baik aku berangkat lebih siang."
"Lebih lambat beberapa hari atau lebih cepat beberapa hari tiada bedanya,"
Kata Lu Lihiap.
"Tapi, apakah kau sudah mempunyai ahli waris?"
Maksud Lu Soe Nio adalah ada tidaknya orang yang mewarisi semua kepandaian Moh Tjoan Seng.
Pengrjoan Thianlie terkejut, ia tak mengerti maksud pembicaraan kedua orang itu.
Mendadak sang paman berpaling ke arahnya dan tersenyum, sedang Lu Soe Nio kelihatan seperti baru mendusin.
"Tatmo Kiamhoat yang diperlihatkan nona ini adalah kiamhoat Boetong pay asli."
Kata Lu Liehiap.
"Sejak kapan kau menerima dia sebagai murid? Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku?"
"Peng Go,"
Moh Tayhiap memanggil.
"Mari sini! Inilah Lu Liehiap. Di kemudian hari kau harus meminta banyak petunjuknya."
Ia berpaling kepada Soe Nio dan menyambung perkataannya.
"Anak ini adalah kemenakanku, Hoa Seng telah berkelana ke negara asing, tapi dengan mempunyai anak ini, ia boleh pulang ke alam baka dengan mata meram."
Buru-buru Pengtjoan Thianlie memberi hormat kepada Lu Liehiap. Sembari menepuk-nepuk pundak si nona, Soe Nio berkata dengan gembira.
"Dengan mempunyai kemenakan ini, kau pun boleh berangkat dengan hati senang."
Mendengar perkataan itu, Loei Tjin Tjoe tercengang.
"Di kuil ini Soetjouw dapat menuntut penghidupan tenteram untuk melewatkan sisa penghidupannya,"
Katanya didalam hati.
"Dalam usia yang sudah lanjut, kemana lagi Soetjouw hendak pergi?"
Saat itu, jenazah Tongbengtjoe sudah terbakar habis.
Tiba-tiba di antara api yang berkobarkobar, kelihatan asap hitam berkepul ke atas dengan menyiarkan bau yang agak amis.
Muka Lu Liehiap lantas saja berubah.
"Ah! Sekarang aku baru tahu,"
Katanya perlahan.
"Kejadian ini sungguh diluar dugaanku."
"Soe Nio, apakah yang kau lihat?"
Tanya Moh Tayhiap. Lu Liehiap tak menyahut, sebaliknya ia menengok kepada Keng Thian seraya menanya.
"Siapakah bocah itu yang bertempur melawan Tongbengtjoe?"
"Namanya Kim Sie Ie,"
Jawab Keng Thian.
"Dalam kalangan Kangouw, ia dikenal sebagai Toktjhioe Hongkay. Cara-caranya sangat aneh dan agak menyeleweng."
"Menyeleweng atau tidak, sekarang belum dapat dipastikan,"
Kata Lu Soe Nio.
"Gurunya adalah sahabatku. Dulu, dari jalan tersesat sahabatku itu telah beralih ke jalan lurus."
Keng Thian yang sampai saat itu masih belum mengetahui asal-usul Kim Sie Ie, buru-buru menanya.
"Siapakah gurunya?"
"Begitu melihat gerakannya, aku sudah bercuriga,"
Jawabnya.
"Sesudah menyaksikan munculnya asap hitam dari racun yang mengeram dalam tubuh Tongbengtjoe, aku bisa memastikan, bahwa gurunya adalah Tokliong Tjoentjia."
Dengan serentak, Keng Thian dan Loei Tjin Tjoe mengeluarkan seruan tertahan.
Sebagai orang-orang yang mengenal selak beluk Rimba Persilatan, mereka tahu, bahwa Tokliong Tjoentjia adalah orang aneh nomor satu di antara jago-jago dari tingkatan lebih tua.
"Sedari tadi aku agak heran, kenapa Tongbengtjoe lantas binasa begitu terkena kebutanku,"
Kata Soe Nio perlahan.
"Tak tahunya ia lebih dulu sudah terkena racun hebat dan harus memusatkan seluruh tenaganya untuk membendung menjalarnya. Begitu lekas tenaganya buyar hawa racun lantas naik ke uluhatinya dan ia lantas binasa."
Mendengar penjelasan itu Loei Tjin Tjoe dan yang lain-lain menjadi kagum bukan main.
Racun Kim Sie Ie yang begitu dahsyat sudah cukup mengherankan.
Tapi yang lebih mengherankan lagi, adalah pukulan Lu Liehiap.
Dengan sekali mengebas saja, ia sudah bisa menangkis pukulan yang begitu hebat, malah juga membuyarkan Seantero tenaga dalam Tongbengtjoe.
Itulah kejadian yang --sependengaran mereka --belum pernah terjadi dalam Rimba Persilatan.
Sekonyong-konyong alis Lu Soe Nio berkerut dan sambil menghela napas, ia berkata.
"Sayang! Sungguh sayang!"
Ia menengok ke arah Keng Thian seraya berkata.
"Di antara houwpwee, Kim Sie Ie adalah orang yang sukar dicari tandingannya. Bagaimana perhubunganmu dengan ia?"
Sebagaimana diketahui, terhadap pemuda itu, Keng Thian tak mempunyai rasa simpati.
"Aku merasa kasihan padanya, tapi aku tak bisa menghargakan cara-caranya,"
Jawabnya, berterus terang.
"Bagus,"
Kata Soe Nio.
"Dulu, semua orang mengatakan gurunya pantas mati, hanya aku yang merasa kasihan. Apapula, Kim Sie Ie belum pantas dihukum mati. Dulu, ketika aku menolong Tokliong Tjoentjia, Soeheng-ku sendiri, Kam Hong Tie, merasa tidak setuju. Tapi, kemudian semua orang yakin, bahwa tindakanku itu yang benar."
Hati Keng Thian berdebar-debar.
"Apakah Kim Sie Ie tengah menghadapi bencana?"
Tanyanya.
"Apakah teetjoe (murid) bisa menolongnya?"
Lu Liehiap bersenyum dan berkata.
"Sesudah mengurus urusan Moh Loosoe, aku akan memberi keterangan lebih jelas kepadamu."
Mendengar jawaban itu, Keng Thian tak berani mendesak lagi, hanya di dalam hati, ia merasa bimbang.
"Meskipun Kim Sie Ie telah dilukakan Tongbengtjoe, tapi dengan lweekang-nya yang tinggi ia masih dapat menyembuhkan sendiri lukanya itu,"
Pikirnya.
"Mengapa Lu Liehiap mengeluarkan kata-kata begitu?"
Sementara itu, Hongsek Toodjin sudah mengumpulkan abu dan tulang-tulang Tongbengtjoe yang lalu dimasukkan ke dalam sebuah guci.
Sesudah beres, ia segera berpamit dan berangkat ke Koenloen san.
Moh Tjoan Seng dan yang lain-lain mengantar sampai di pintu kuil dan kemudian kembali ke ruangan sembahyang.
Semua orang segera mengambil pula tempat duduk masing-masing untuk menunggu dilanjutkannya Kiatyan yang terputus karena pertempuran tadi.
Moh Tayhiap juga kembali ke pentas dan meneruskan ceramahnya mengenai Iekinkeng.
Sesudah selesai memberi ceramah, Moh Tayhiap segera berkata dengan suara perlahan.
"Pengetahuanku sebenarnya masih cetek, hanya atas budi kawan-kawan dari berbagai cabang persilatan, aku telah diangkat menjadi pemimpin pertemuan ini. Selama tiga kali Kiatyan, di dalam hati aku selalu merasa malu. Selama tiga kali Kiatyan itu, aku juga mendapat kenyataan, bahwa di antara houwpwee sudah muncul banyak orang pandai. Memang dalam ilmu silat, yang belakang selalu akan lebih unggul dari yang dulu. Maka, di antara perasaan malu, di dalam hatiku terdapat juga kegirangan. Kiatyan sekali ini, kuakhiri sampai disini."
Menurut kebiasaan, paling sedikit Kiatyan berlangsung untuk setengah bulan lamanya.
Oleh sebab itu, pernyataan Moh Tjoan Seng, bahwa pertemuan itu --yang baru saja berjalan satu hari --akan segera ditutup, telah membangkitkan keheranan semua orang.
Sebelum ada yang mengajukan pertanyaan, Moh Tjoan Seng sudah berkata pula.
"Sebagaimana kukatakan tadi, dalam ilmu silat, setiap cabang mempunyai keunggulan sendiri sendiri dan sekalian saudara adalah tokoh-tokoh dari berbagai cabang persilatan. Iekinkeng, yang barusan diperbincangkan, adalah pokok dasar latihan lweekang. Jika masih ada bagian-bagian yang kurang terang, saudara-saudara bisa memohon penjelasan dari para tokoh terkemuka dan tak perlu kuterangkan lagi secara bertele-tele. Untuk kunjungan saudara-saudara, aku hanya bisa menghaturkan banyak-banyak terima kasih. Sekarang ini aku akan mengurus sedikit urusan pribadi dan aku memohon supaya saudara-saudara suka turut menyaksikannya."
Ia berdiam sejenak dan kemudian menyambung perkataannya.
"Peng Go, mari sini!"
Pengtjoan Thianlie segera maju ke depan pentas.
"Sesudah ditunjuk sebagai Tiangloo (pemimpin, penasihat) Boetong pay, selama beberapa puluh tahun aku sudah menyia-nyiakan kepercayaan orang dan jarang sekali memberi petunjuk kepada murid-murid Boetong, sehingga partai kita semakin lama jadi semakin merana. Untuk kelalaian itu, aku merasa sangat malu terhadap leluhur kita. Aku mendapat kenyataan, bahwa kau berhati bersih dan juga sudah paham akan intisari ilmu silat Boetong pay. Maka itu, dengan menanggung risiko dicela orang, memilih kasih kepada pamili sendiri, aku sekarang mengangkat kau sebagai ahli warisku. Mulai dari hari ini, tanggung-jawab untuk memimpin saudara-saudara separtai jatuh di atas pundakmu."
Peng Go terkesiap mendengar perkataan pamannya.
Ia tak pernah tertarik, bahkan merasa sangat sebal terhadap keruwetan-keruwetan keduniawian dan siang-siang ia sudah mengambil keputusan untuk kembali ke istana es guna menuntut penghidupan bebas, tenteram dan suci bersih.
Mana mau ia menjadi Tjiangboen (pemimpin, ketua) cabang persilatan yang begitu besar seperti Boetong pay?
Sang paman, yang agaknya dapat membaca jalan pikirannya, lantas saja berkata pula.
"Kau jangan bingung. Aku akan memberi penjelasan lebih lanjut."
Ia berpaling ke arah Loei Tjin Tjoe dan memanggil.
"Loei Tjin Tjoe, mari sini!"
Loei Tjin Tjoe segera maju dan memberi hormat.
"Ilmu silat adalah seperti laut yang sangat dalam,"
Kata Moh Tayhiap.
"Apakah kau sekarang sudah mengerti akan kekuranganmu?"
"Teetjoe mengerti,"
Jawabnya dan mukanya menjadi merah.
"Bagus,"
Kata Moh Tjoan Seng sembari tersenyum.
"Beberapa hari yang lalu, Tjiangboen Soeheng-mu telah menulis surat kepadaku untuk memberitahukan, bahwa, karena sudah tua dan berpenyakitan, ia tak dapat menunaikan kewajibannya terhadap partai dan minta aku mengangkat Tjiangboendjin baru. Aku mendapat kenyataan, bahwa selama setahun ini, kau telah memperoleh banyak kemajuan, maka sekarang aku mengangkat kau sebagai Tjiangboendjin dari Boetong pay."
Loei Tjin Tjoe girang berbareng kaget. Ia belum pernah bermimpi, bahwa ia akan mendapat kehormatan untuk menjadi pemimpin partainya. Dengan wajahnya menjadi merah, ia menjawab kemalu-maluan.
"Tanggung jawab yang begitu berat mungkin sekali tak akan terpikul oleh teetjoe."
Sehabis berkata begitu, ia melirik ke arah Pengtjoan Thianlie.
"Jika kau bisa mengenal kelemahanmu sendiri, kau pasti akan dapat memikul tanggungan itu,"
Kata Moh Tayhiap.
"Yang paling penting bagi seorang Tjiangboen adalah perbuatannya yang adil dalam memberi ganjaran atau hukuman serta kepandaiannya untuk menjaga supaya saudarasaudara separtainya selalu berjalan lurus. Kepandaian bersilat adalah soal kedua. Peng Go adalah ahli warisku. Di hari kemudian jika muncul urusan-urusan yang tidak dapat kau putuskan sendiri, kau harus memberitahukan soal itu kepadanya dan minta pendapatnya."
Menurut peraturan Rimba Persilatan, dalam setiap partai, di atas Tjiangboen masih terdapat Tiangloo (pemimpin, penasihat) partai itu.
Dalam urusan-urusan penting, Tjiangboen harus mendengar pendapat Tiangloo.
Kedudukan Tiangloo hampir sama dengan Thaysiang Tjiangboen (ketua kehormatan), hanya ia tidak mencampuri segala urusan kecil.
Pada jaman itu, Moh Tjoan Seng bertiga saudara adalah para Tiangloo dari partai tersebut.
Sesudah Tjio Kong Seng dan Koei Hoa Seng meninggal dunia Tiangloo satu-satunya adalah Moh Tjoan Seng yang sekalian menjabat Thaysiang Tjiangboen.
Tjiangboen bisa diganti-ganti, tapi seorang Tiangloo menduduki kursi kehormatan itu sehingga ia meninggal dunia.
Seorang Tiangloo bisa diangkat oleh rapat anggauta partai atau ditunjuk oleh Tiangloo yang ingin mengundurkan diri.
Tapi, karena kedudukan Tiangloo hanya boleh di tempati oleh seorang yang berkepandaian sangat tinggi dan dihormati oleh seluruh Rimba Persilatan, maka sering kejadian, bahwa sesudah Tiangloo lama meninggal dunia, tidak diangkat lagi Tiangloo yang baru.
Dalam suatu partai yang tidak mempunyai Tiangloo, maka orang yang paling tinggi kedudukannya adalah Tjiangboen.
Sekarang, sesudah menunjuk Pengtjoan Thianlie sebagai ahli warisnya dan memesan supaya Loei Tjin Tjoe berunding dengan nona itu jika menemui urusan-urusan besar, maka secara resmi Peng Go sudah diangkat menjadi Tiangloo atau Thaysiang Tjiangboen (ketua kehormatan) Boetong pay.
Tapi menurut peraturan Rimba Persilatan, Thaysiang Tjiangboen yang baru belum boleh diangkat secara resmi, sebelum yang lama meninggal dunia.
Hal inilah yang tidak dapat dimengerti oleh para hadirin, karena Moh Tjoan Seng tampak masih segar bugar.
Sesudah mendapat kenyataan, bahwa ia bukan disuruh menjadi Tjiangboen dan hanya diperintah "menilik"
Loei Tjin Tjoe, Peng Go yang tidak mengerti seluk-beluk peraturan itu, lantas saja berkata di dalam hatinya.
"Pehpeh tidak tahu, bahwa siang-siang aku sudah menilik Loei Tjin Tjoe. Kurasa, pangkat ini boleh juga diterima."
Berpikir begitu, lantas saja ia berkata.
"Aku akan memperhatikan segala perintah Pehpeh. Akan tetapi, titlie (keponakan perempuan) tak ingin berdiam lama-lama di Boetong san dan ingin kembali untuk menetap di Puncak Es."
"Sekarang kau sudah menjadi pemimpin penasihat partai kita,"
Kata sang paman sembari bersenyum.
"Kemana juga kau mau pergi, tak akan ada yang berani melarang!"
Si nona terkejut.
"Bagaimana aku bisa jadi pemimpin penasihat partai kita?' tanyanya kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, Moh Tjoan Seng sudah memejamkan kedua matanya, pada mukanya terdapat sifat welas asih dan pada kedua bibirnya tersungging senyum puas.
Beberapa ratus orang yang hadir itu, melihatkan dengan hati berdebar-debar, kemudian, dengan serentak mereka berbangkit sembari menundukkan kepala.
Seluruh ruangan besar itu menjadi sunyi senyap.
Soe Nio merangkap kedua tangannya dan mengucapkan pujian dengan suara perlahan.
"Puluhan tahun kau bertapa dan sudah bisa mendapat kesadaran yang diidam-idamkan. Lebih menggirangkan lagi, kau sekarang sudah mempunyai ahli waris yang cakap dan tepat."
Kepala biara Kimkong sie pun turut merangkap kedua tangannya dan memberi pujian.
"Dengan bebas dari segala sangkutan dunia, Kiesoe berpulang ke Barat. Caramu berpulang adalah cara seorang Pousat (dewa)!"
Sementara itu, dengan di kepalai oleh Loei Tjin Tjoe, semua murid Boetong segera berlutut. Pengtjoan Thianlie terkejut tak kepalang.
"Apakah Pehpeh meninggal dunia?"
Ia bertanya dengan mata terbelalak.
"Dengan segala kejayaan dan dalam usia yang sudah begitu lanjut, Pehpeh-mu berpulang ke alam baka,"
Kata Soe Nio dengan khidmat.
"Berpulang secara demikian adalah kejadian yang langka dalam dunia dan harus dianggap menggirangkan."
Pengtjoan Thianlie pernah mempelajari agama Budha, ia juga mengetahui, bahwa meninggal dunia sebagai pamannya barusan, adalah kejadian yang paling dikagumi oleh segenap penganut agama Budha.
Akan tetapi, karena mengingat, bahwa mulai dari saat itu, ia tak mempunyai sanak dekat lagi, tak urung hatinya merasa sedih juga dan air matanya membasahi kedua pipinya.
Buruburu ia berlutut untuk memberi penghormatan terakhir kepada pamannya itu.
"Lu Liehiap,"
Kata Loei Tjin Tjoe kepada Soe Nio.
"Mohon supaya Liehiap sudi menilik pengurusan jenazah Tjouwsoe."
"Kedatanganku justru untuk mengantar Tjouwsoe-mu berpulang ke Barat,"
Jawab Soe Nio.
"Maka, aku tentu tak akan menolak permintaanmu. Tapi lebih dulu aku ingin berbicara dengan Keng Thian."
Bersama dengan pemuda itu, Lu Liehiap lantas saja keluar dari ruang sembahyang.
"Keng Thian,"
Katanya.
"Kau tak usah turut serta dalam upacara pemakaman."
"Moh Lootjianpwee adalah sahabat ayahku,"
Kata Keng Thian.
"Aku merasa tak enak hati, jika tidak turut serta."
"Orang-orang sebangsa kita selamanya tidak mengukuhi segala peradatan,"
Kata Lu Soe Nio.
"Menolong jiwa manusia lebih berharga daripada mendirikan gedung bertingkat tujuh. Roh Moh Lootjianpwee tentu mengetahui, bahwa kau tidak dapat hadir karena tenagamu dibutuhkan untuk menolong sesama manusia. Pasti sekali ia tidak akan mencela dirimu."
"Menolong siapa?"
Tanya Keng Thian dengan kaget.
"Kim Sie Ie."
"Apakah pukulan Tongbengtjoe begitu berat, sehingga jiwa Kim Sie Ie berada dalam bahaya?"
Tanya pula pemuda itu dengan ragu-ragu.
"Bukan, bukan karena pukulan Tongbengtjoe,"
Soe Nio menerangkan.
"Ia menghadapi bencana karena ilmunya sendiri!"
"Teetjoe sungguh tak mengerti,"
Kata Keng Thian sembari memandang pendekar wanita itu.
"Ilmu silat Tokliong Tjoentjia telah diciptakannya sendiri di sebuah pulau terpencil. Kecuali ular, di pulau itu tak ada makhluk lain. Ditambah dengan kebenciannya terhadap dunia, jika sedang berlatih lweekang, hatinya penuh dengan perasaan duka dan penasaran. Oleh sebab itu, meskipun akhirnya ia memiliki semacam lweekang yang sangat tinggi dan yang tak kalah liehaynya daripada lweekang cabang-cabang persilatan lain tapi jalan yang telah diambilnya bukanlah jalan lurus. Semakin tinggi lweekang-nya, bencana yang tersembunyi di dalam badannya jadi semakin besar. Menurut taksiranku, Tokliong Tjoentjia telah tewas karena 'dimakan' ilmunya sendiri. Kenyataan itu, kenyataan, bahwa lweekang-nya sendiri yang akan mencelakakannya, mungkin baru disadarinya ketika ia hampir menutup mata. Kim Sie Ie yang masih cetek ilmunya, tentu tak menyadari bencana itu."
Soal ilmu "makan"
Peyakinnya sendiri, seperti senjata makan tuan, adalah kejadian yang kadang-kadang memang terjadi dalam dunia persilatan.
Hal demikian itu adalah akibat dari latihan yang tidak benar.
Sebagai perumpamaan, lihatlah orang yang menghisap candu.
Candu sebenarnya bisa mengobati penyakit.
Tapi jika digunakan secara keliru, candu bahkan berbalik mencelakakan.
Lweekang yang "menyeleweng"
Hampir serupa dengan candu. Semakin lama seseorang berlatih dengan lweekang itu, semakin besar bencana yang mengancamnya.
"Lweekang Kim Sie Ie masih belum mencapai tingkat gurunya,"
Kata Soe Nio pula.
"Maka sementara ini, ia belum tercelakakan Lwekangnya. Tapi... jika tidak ditolong sekarang juga, nasibnya tentu akan serupa dengan gurunya."
"Tapi kenapa begitu terburu-buru?"
Tanya Keng Thian.
"Sebenarnya, memang tak usah begitu kesusu. Akan tetapi, sesudah mendapat pukulan Tongbengtjoe yang beracun, keadaannya kini sudah sangat berbahaya. Racun di dalam tubuhnya itu, pada suatu saat akan 'meledak'. Celakalah ia, jika tak cepat-cepat diberi pertolongan. Ketika ia bertempur melawan Tongbengtjoe, aku sudah memperhatikan lweekang-nya. Menurut taksiranku, dengan memiliki lweekang sedalam itu, ia kan dapat bertahan sampai tiga puluh enam hari. Lekas-Iekaslah kau mencarinya! Berikanlah tiga butir Pekleng tan-mu kepadanya. Dengan pertolongan pil itu, jiwanya akan dapat diperpanjang sampai tujuh puluh dua hari."
Bukan main kagetnya Keng Thian.
"Apakah pil Thiansan Soatlian itu hanya dapat memperpanjang usianya dengan tiga puluh enam hari?"
Tanyanya.
"Penyakit itu sebenarnya tak akan dapat disembuhkan dengan obat apapun juga,"
Jawab Lu Liehiap sembari bersenyum.
"Bahwa Thiansan Soatlian dapat menyambung jiwanya dengan tiga puluh enam hari lagi, sudah merupakan kejadian yang luar biasa."
Hati Keng Thian mencelos, ia merasa kecewa sekali.
"Kalau begitu, kita hanya bisa menambal, tapi tak bisa mengobati akar penyakitnya,"
Katanya.
"Apa gunanya, memperpanjang usianya dengan beberapa hari itu saja dan akhirnya ia mesti binasa juga?"
"Tidak, tidak begitu!"
Kata Soe Nio tanpa ragu-ragu.
"Obat tak dapat menolong, tetapi masih ada yang bisa menolong dia, golonganmu, orang-orang Thiansan pay!"
Keng Thian tercengang.
"Kenapa begitu?"
Ia menegasi.
"Lweekang Thiansan pay adalah warisan Hoeibeng Siansoe,"
Soe Nio menjelaskan.
"Ketika menciptakan pelajaran lweekang tersebut, beliau telah memilih dan memetik bagian-bagian yang paling berharga dan paling bersih dari ilmu berbagai cabang persilatan. Dengan demikian, lweekang Thiansan pay bukan saja bersih dan dalam sifatnya, tapi juga dapat menyingkirkan segala macam racun dari dalam tubuh orang, racun yang disebabkan latihan lweekang 'menyeleweng'. Maka, hanya kaum Thiansan pay yang akan dapat menolong jiwa Kim Sie Ie."
"Teetjoe masih belum mengerti,"
Kata Keng Thian.
"Karena kepandaianmu belum mencapai kesempurnaan mutlak, tentu saja kau masih belum mengerti,"
Kata Soe Nio.
"Tugasmu yang terutama adalah mencari Kim Sie Ie dan sesudah bertemu, bawalah dia ke Thiansan supaya bisa ditolong kedua orang tuamu. Dengan mendapat pertolongan ayah dan ibumu, bukan saja jiwanya akan tertolong, tapi sesudah ia kembali ke jalan lurus, di kemudian hari, Kim Sie le akan bisa memperoleh kemajuan, sehingga tidak kalah dari kau sendiri."
Keng Thian tak mengucapkan sepatah kata, ia berdiri bengong seperti sedang berpikir.
"Apa yang kau harus perhatikan adalah. dalam tiga puluh enam hari kau harus sudah menemukannya dan dalam tujuh puluh dua hari, dia harus sudah tiba di Thiansan,"
Pesan Soe Nio. Keng Thian berkelahi dengan hatinya sendiri, tapi sesaat kemudian, sifatnya yang mulia telah mengalahkan segala pikiran lain.
"Baiklah, teetjoe akan berangkat sekarang juga,"
Kalanya tanpa sangsi-sangsi.
Sesudah mengalami banyak penderitaan baru saja ia bisa berkumpul kembali dengan Koei Peng Go, dan segera juga mereka sudah mesti berpisah lagi.
Sebagai manusia biasa, biar bagaimana juga, ia merasa berat untuk segera meninggalkan kecintaannya.
Ia menoleh dan justru pada saat itu, Peng Go sedang memandang ke arahnya.
Mata mereka beradu dan wajah Peng Go lantas saja berwarna kemerah-merahan.
Buru-buru ia melengos dan berlagak bicara dengan Yoe Peng, dayangnya.
Lu Liehiap bermata sangat tajam, ia lantas saja mengerti apa yang tersembunyi di hati mereka.
Ia menghampiri si nona dan berkata.
"Peng Go, antarkanlah Keng Thian sampai beberapa jauh."
Mendengar perintah itu, dengan perlahan Peng Go menghampiri Keng Thian.
Walaupun parasnya tenang, di dalam hati ia berduka, tapi ia tak berani menanyakan, mengapa begitu cepat pemuda itu sudah harus berangkat pula.
"Menurut penglihatanku Kim Sie Ie agaknya beradat angkuh,"
Kata Lu Liehiap kepada pemuda itu.
"Jika ia tahu, bahwa kau hendak menolongnya, belum tentu ia suka menerimanya. Dari sebab itu, kau harus bertindak dengan mengimbangi keadaan dan jika perlu, kau boleh menggunakan tipu untuk mempedayakannya, supaya dia suka turut naik ke Thiansan."
"Teetjoe mengerti,"
Jawab pemuda itu.
Dari pembicaraan itu barulah Pengtjoan Thianlie mendusin, bahwa keberangkatan Keng Thian adalah untuk menolong Kim Sie Ie.
Ia menjadi kagum dan terharu, mau tak mau ia harus mengakui kebesaran jiwa pemuda itu.
Lu Liehiap segera meninggalkan kedua orang muda itu dan pergi kepada Loei Tjin Tjoe untuk merundingkan pengurusan jenazah Moh Tjoan Seng.
Bagaikan dua orang gagu, Keng Thian dan Peng Go meninggalkan Kimkong sie.
Sesudah berjalan jauh juga, setiba mereka di jalan yang menuju ke kaki gunung, Keng Thian menghela napas dan berkata.
"Peng Go Tjietjie, apakah kau masih membenci aku?' "Ada hubungan apakah antara kau dan aku?"
Si nona berbalik menanya dengan kasar.
"Mengapa aku harus membenci kau?"
"Dengan berkata begitu, agaknya kau memang masih membenci diriku,"
Kata Keng Thian dengan sedih.
"Tapi, tak perduli kau membenci atau tidak, aku sendiri tetap tak akan melupakan kau."
"Tapi..."
Kata si nona setengah berbisik.
"Aku kuatir, bahwa --begitu lekas bertemu dengan Moaymoay (adik perempuan) --kau akan segera melupakan Tjietjie (kakak perempuan)."
Baru sekarang Keng Thian mengerti, bahwa Peng Go telah jadi mendongkol karena persahabatannya dengan Tjee Tjiang Hee. Ia tertawa dan berkata.
"Ah! Kau tak tahu, bahwa orang yang kau maksudkan masih bersifat kekanak-kanakan, sedang waktu itu aku harus berobat di rumahnya..."
Dengan jelas Keng Thian lalu menceritakan segala pengalamannya dan berbareng dengan itu, dengan kata-kata lemah lembut, ia membuka rahasia hatinya kepada si nona.
"Hm! Kalau begitu, semua itu adalah gara-gara Kim Sie Ie main gila,"
Kata si nona.
"Mengapa?"
Tanya Keng Thian. Pengtjoan Thianlie segera menceritakan, bagaimana Kim Sie Ie telah memberikan gambar itu kepadanya dan apa yang telah terjadi karena itu. Keng Thian jadi mendongkol berbareng geli.
"Benar-benar gila!"
Katanya sembari tertawa.
"Dan kau masih tetap akan menolongnya?"
Si nona menegasi.
"Kenapa tidak?"
Jawab Keng Thian tegas-tegas. Peng Go tertawa manis dan berkata.
"Aku merasa senang..."
"Senang apa?"
Keng Thian mendesak. Peng Go sebenarnya ingin menyahut.
"Aku merasa senang, karena kau berjiwa begitu besar."
Tetapi kata-kata itu tidak terselesaikan.
Ia hanya tertawa sembari menatap wajah pemuda itu dan cintanya yang tak terbatas, terpancar dari sepasang matanya.
Tertawa itu, bagaikan angin sejuk, sudah menyapu bersih segala awan gelap, sudah menghilangkan semua salah paham...
Keng Thian telah gagal dalam usahanya mencari Kim Sie Ie.
Ia telah pergi ke segala peloksok Gobie san, tapi yang dicarinya tak kelihatan bayang-bayangnya.
Ia hanya berhasil menemukan beberapa potong kain, yaitu sobekan baju yang dikenakan Kim Sie Ie hari itu.
Beberapa tetes darah disobekan baju itu dan beberapa tapak kaki saja telah ditinggalkan Kim Sie Ie.
Lebih dari itu, tak dapat ditemukannya.
Kemana Kim Sie Ie pergi?
Dengan pikiran kalut, ia kabur sekeras-kerasnya dari Kimkong sie.
Baginya, sinar mata Pengtjoan Thianlie yang memandang Keng Thian dengan penuh kecintaan, seakan-akan sebilah pisau yang menikam jantungnya.
"Jika ada seorang wanita memandang aku seperti ia memandang Keng Thian, walaupun mesti lantas mati, aku tentu akan rela,"
Ia berteriak bagaikan sudah menjadi gila.
Dalam saat-saat itu, kejadian-kejadian yang lampau silih berganti berkelebat dalam otaknya.
Caci Yoe Peng, yang mengumpamakan ia seekor "kodok buduk yang ingin makan daging angsa kahyangan" , teguran Peng Go yang menasehatkan supaya ia jangan membawa "lagak buaya", segala penderitaannya di masa kecilnya...
kembali terbayang di depan matanya.
Pukulan Tongbengtjoe yang mengandung racun ditambah dengan kedukaan dan penasaran yang sangat besar sudah membikin otaknya tidak bisa bekerja secara normal lagi.
Apapula sesudah membandingkan dirinya dengan Keng Thian, ia merasa dirinya kecil sekali dan agaknya di dunia yang lebar ini, sudah tak ada tempat lagi untuk ia menyembunyikan diri.
Bagaikan seorang gila, ia lari dan lari terus.
Tanpa merasa, ia telah tiba di tempat ia bertemu dengan Lie Kim Bwee.
Agaknya ia masih bisa mengenali tempat itu dan ia menghentikan tindakannya dengan hati terkejut.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring yang bernada riang gembira, disusul dengan munculnya seorang wanita muda.
Di saat itu, Kim Sie Ie masih berada dalam keadaan setengah linglung.
Lapat-lapat ia merasa, bahwa ia pernah bertemu dengan nona itu, tapi ia tak ingat, bahwa gadis tersebut adalah Lie Kim Bwee yang pernah mempermainkan dirinya.
Kim Bwee muncul dengan diikuti beberapa ekor kera, yang begitu melihat Kim Sie Ie, lantas kabur semua.
"Lihatlah!"
Kata si nona sembari tertawa.
"Karena kau suka menghina orang, binatang pun tak sudi bersahabat dengan dirimu."
Mendadak Kim Sie Ie ingat, bahwa ia pernah bergebrak dengan wanita itu di tempat tersebut dan ditambah mendengar kata-kata yang menusuk itu, Kim Sie Ie...
yang sedang was-was...
lantas saja naik darah.
"Bagus!"
Ia berteriak.
"Kamu lebih suka bergaul dengan binatang daripada bergaul denganku. Jika aku mau menghina kau, mau apa kau?"
Hampir berbareng dengan perkataannya, ia mengangkat tongkatnya dan menyabet pinggang Lie Kim Bwee.
"Belum tentu kau mampu menghina aku!"
Kata si nona sembari tertawa.
Kim Sie Ie terkejut ketika sabetannya jatuh di tempat kosong.
Ia jadi semakin gusar dan menghantam kalang-kabut.
Dalam sekejap Kim Bwee sudah terkurung, antara lingkungan tongkatnya dan semua jalanan mundur si nona sudah tertutup seanteronya.
Ternyata, dalam keadaan was-was, Kim Sie Ie berubah buas.
Bukan main herannya Lie Kim Bwee.
Pemuda itu disebut orang Toktjhioe Hongkay (Pengemis gila yang tangannya beracun), tapi menurut ibunya, ia bukan gila benar-benar.
Dalam pertempurannya yang pertama dengan pemuda itu, walaupun serangan-serangannya hebat, tapi semua serangan itu hanyalah gertakan belaka.
Tapi sekarang, setiap serangan Kim Sie Ie bersifat sungguh-sungguh dan jika ia terkena, akibatnya tentu hebat.
"Baik juga ibu sudah mengajarkan ilmu baru kepadaku untuk melayani kau,"
Katanya di dalam hati. Sesudah belasan kali memukul angin, Kim Sie Ie berteriak-teriak seakan-akan orang gila sembari menyerang kalang-kabut.
"Awas!"
Kata Lie Kim Bwee disertai tertawanya.
"Aku akan menotok Siauwyauw hiat-mu!"
Dengan suatu gerakan aneh, ia mendesak dan kedua jerijinya menyambar ke arah Siauwyauw hiat Kim Sie Ie.
Ilmu silat Kim Sie Ie sebenarnya lebih tinggi daripada Lie Kim Bwee, tapi karena gerakan si nona sangat luar biasa, pukulan tongkatnya tak dapat merintangi Kim Bwee.
Dalam keadaan berbahaya, seorang yang berkepandaian tinggi sering mengeluarkan pukulan aneh untuk menolong diri.
Demikian juga dengan Kim Sie Ie.
Ia mendadak memukul tanah dengan tongkatnya dan badannya lantas saja berjungkir balik, sehingga totokan Kim Bwee jatuh di tempat kosong.
"Lari ke kedudukan Sunwie! Totok Honghoe hiat-nya!"
Demikian terdengar suara ibunya.
Begitu Kim Sie Ie menyerang lagi, Kim Bwee sudah melompat ke sampingnya sembari menotok dengan jerijinya.
Tapi totokan itu lagi-lagi meleset karena Kim Sie Ie sudah berhasil meloloskan diri dengan berjungkir balik.
"Aku dan ibu sudah berlatih tiga hari, tapi masih tetap aku hampir tak dapat melayani dia,"
Pikir Kim Bwee dengan heran. Tapi di lain pihak, keheranan Kim Sie Ie bahkan lebih besar.
"Kenapa Tiamhiat hoat wanita ini begitu liehay?"
Tanyanya kepada dirinya sendiri.
"Siapakah wanita yang barusan bicara? Dimana dia bersembunyi?"
Sesudah berjungkir balik beberapa kali untuk meloloskan diri dari totokan si nona, napas Kim Sie Ie jadi tersengal-sengal.
"Aku sudah mengatakan, bahwa kau tak akan dapat menghina diriku,"
Kata Kim Bwee sembari tertawa.
"Apakah kau masih belum percaya? Sekarang kau sudah lelah. Mengasohlah dulu."
Diejek begitu, bukan main gusarnya pemuda itu.
"Fui!"
Mendadak ia menyemburkan ludahnya.
"Bwee-djie!"
Teriak Phang Lin yang bersembunyi di dalam hutan.
"Lekas mundur!"
Kim Bwee berkelit secepat mungkin.
Mendadak matanya berkunang-kunang, kakinya lemas dan ia roboh di atas tanah.
Tiba-tiba saja, Kim Sie Ie sadar, pikirannya jernih kembali.
Ia ingat, bahwa dalam dunia ini, Kim Bwee adalah wanita kedua yang memperlakukan dia sebagai sahabat (wanita pertama adalah Pengtjoan Thianlie).
Teringat itu, bukan main rasa menyesalnya.
Semenjak berkelana dalam kalangan Kangouw ia telah mengganggu banyak sekali orang-orang gagah, tapi sebegitu jauh, belum pernah ia membunuh manusia secara sembarang.
Tak dinyana, hari ini ia telah mengambil jiwa seorang nona muda yang telah menganggap dirinya sebagai kawan.
Dalam perasaan menyesalnya yang sangat besar, tanpa merasa ia berlutut dan merangkapkan kedua tangannya sembari menundukkan kepala.
Tak berani ia melihat si nona yang rebah di atas tanah, karena hatinya tak kuat melihat penderitaan gadis itu.
Jangankan nona cilik itu, sedangkan Tongbengtjoe yang berkepandaian begitu tinggi masih tak mampu menahan serangan racun tersebut.
Selagi ia berlutut dengan pikiran linglung, mendadak terdengar suara tertawa Kim Bwee yang sangat nyaring.
"Kenapa kau?"
Tanya si nona.
"Aku bukan nenekmu. Kenapa kau berlutut di hadapanku?"
Kim Sie Ie terperanjat tidak kepalang.
Bagaikan dipagut ular, ia melompat bangun.
Di hadapannya berdirilah Lie Kim Bwee yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
Hampir-hampir ia tak mempercayai kedua matanya sendiri!
Mendadak si nona meloncat dan berkata sembari tertawa.
"Sekarang akan kuajarkan semacam Tiamhiat hoat kepadamu!"
Berbareng dengan perkataannya, jeriji Kim Bwee sudah menyambar.
Cepat-cepat Kim Sie Ie coba menangkis, tapi gerakan menotok itu aneh sekali, baru saja ia mengangkat tangannya, tahu-tahu jalan darah di pinggangnya sudah tertotok.
Seketika itu juga, ia menari-nari dan tertawa tiada hentinya seperti seorang gila.
Si nona nakal menjadi kegirangan, ia bertepuk tangan sembari tertawa geli, seperti anak kecil melihat kelakar pelawak.
"Hi-hi-hi! Inilah yang dinamakan budi dibalas dengan budi,"
Kata Kim Bwee.
"Akan kulihat, apakah kau masih berani mempermainkan orang atau tidak."
Ia menengok ke arah hutan dan berteriak.
"Ibu! Lekas keluar! Ilmu yang kau ajarkan, benar-benar liehay. Sekarang dia sudah menjadi seekor kera. Sungguh lucu!"
Ternyata, selama tiga hari bersembunyi di dalam hutan, Phang Lin telah mengajarkan semacam Tiamhiat hoat (Ilmu menotok jalanan darah) kepada puterinya untuk menaklukkan Kim Sie Ie.
Pada hakekatnya, ilmu menotok itu sama dengan ilmu yang diajarkan kepada Tong Keng Thian oleh Moh Tjoan Seng.
Hanya saja, sedang Moh Tjoan Seng, sekali melihat ilmu silat Kim Sie Ie, sudah lantas bisa menggubah semacam ilmu untuk menaklukkan pemuda itu, Phang Lin harus mengasah otak dua hari untuk menyusun ilmu tersebut.
Terbuktilah, bahwa jalan ke arah ilmu silat yang paling tinggi, adalah satu.
Lie Kim Bwee yang sedang bertepuk tangan dan melompat-lompat, mendadak melihat suatu perubahan aneh pada wajah pemuda itu, perubahan yang lain daripada semestinya, jika hanya tertotok jalan darah Siauwyauw hiat-nya.
Kim Bwee berhenti tertawa dan memandang muka Kim Sie Ie dengan terkejut.
Sesaat itu Phang Lin keluar dari dalam hutan.
Begitu melihat muka Kim Sie Ie, ia berteriak.
"Celaka! Inilah tanda-tanda dari lweekang yang makan tuan!"
Buru-buru, ia meloncat dan menarik tangan Kim Sie Ie, sembari membuka jalan darah Siauwyauw hiat-nya yang barusan ditotok oleh puterinya.
Begitu jalan darahnya terbuka, Kim Sie Ie berontak.
Tapi Phang Lin sudah bersiap sedia, ia menekan tempat pertemuan antara Tayyang hiat dan Siauw-im hiat Kim Sie Ie.
Seketika itu juga, Kim Sie Ie merasakan semacam hawa sejuk perlahan-lahan mengalir ke dalam tubuhnya yang lantas saja terasa nyaman luar biasa.
Ia memejamkan kedua matanya, sedang pundaknya ditepuk-tepuk perlahan-lahan oleh Phang Lin.
Dalam keadaan begitu ia ingat kepada kejadian di jaman yang lampau, di waktu ia masih kecil, bila ibunya sedang menepuknepuknya supaya dia lekas-lekas tidur.
Tak lama kemudian, ia pulas dengan bibir menyuntingkan senyuman.
Kepandaian Phang Lin memang beraneka ragam.
Pada saat itu ia menggunakan ilmu Tjiansim modjie koeitjin (ilmu memulihkan tenaga dalam yang mendapat gangguan) yang didapatkannya dari kaum Ihama Topi Merah di Tibet.
Sambil mengerahkan lweekang-nya, ia mengurut sekujur badan pemuda itu.
Sebentar pula, aliran darah dan hawa Kim Sie Ie yang tadinya kacau balau sudah menjadi beres dan tenang kembali.
Ketika itu, Phang Lin sudah mengerti, bahwa latihan lweekang Kim Sie Ie menyimpang dari jalan yang benar, tapi ia belum mengetahui apa sebabnya sehingga pemuda itu mendapat serangan mendadak.
Sesudah membuka baju Kim Sie Ie dan melihat lukanya, akibat pukulan Tongbengtjoe, barulah nyonya itu mengerti.
Tapi dengan rasa menyesal, ia harus mengakui, bahwa ia tak dapat menolong jiwa Kim Sie Ie.
"Lweekang pemuda ini berbeda sekali dengan lweekang dari cabang persilatan lain,"
Katanya pada puterinya.
"Semakin besar kemajuannya, semakin besar pula bencana yang terhimpun dalam tubuhnya. Tjiansim modjie koeitjin hanya dapat memperpanjang usianya untuk tujuh puluh dua hari, tapi tak dapat menolong jiwanya."
"Habis bagaimana ibu?"
Tanya si nona dengan hati berdebar-debar.
"Jalan satu-satunya adalah mengajaknya pergi ke Thiansan,"
Kata sang ibu.
"Iethio dan lebomu (Tong Siauw Lan dan Phang Eng) adalah ahli-ahli Lweekeeh dari cabang persilatan yang asli. Mungkin sekali mereka akan dapat menolongnya, apapula jika diingat, bahwa kita sudah mengetahui siapa gurunya. Di samping itu, guru pemuda ini mempunyai hubungan yang akrab dengan Iethio dan lebo-mu."
Selagi Kim Bwee akan bertanya lebih lanjut, Kim Sie Ie sudah sadar dari pulasnya dan perlahanlahan membuka kedua matanya.
Ia mendapat kenyataan, bahwa di samping Kim Bwee, terdapat seorang nyonya cantik yang sedang memandangnya secara menyayang.
Wajah nyonya itu mirip sekali dengan Kim Bwee dan cara-caranya juga serupa dengan gadis yang nakal itu.
"Apakah artinya, semua ini?"
Tanyanya kepada Kim Bwee.
"Kau terkena jarum racunku. Kenapa kau masih hidup? Siapakah nyonya itu?"
Phang Lin tertawa dan menanya.
"Bukankah kau murid Tokliong Tjoentjia?"
Kim Sie Ie lantas saja bangun berduduk.
"Dalam dunia ini tak ada yang mengetahui asalusulku,"
Katanya dengan nada heran.
"Bagaimana kau mengenal nama guruku?"
"Tak usah bertanya melit-melit,"
Kata Phang Lin sembari tertawa.
"Senjata rahasiamu hanya dapat digunakan oleh Tokliong Tjoentjia. Kecuali muridnya sendiri, tak ada pula yang mampu menggunakan senjata rahasia itu. Aku juga tahu, bahwa racun jarum itu hanya dapat dipunahkan dengan pil yang dibuat dari ilar burung Niauw-eng. Bukankah begitu?"
"Benar,"
Jawabnya.
"Tapi pil itu harus segera diberikan, lagi pula, meskipun sudah menelan obat itu, tak bisa ia sembuh begitu cepat. Untuk berterus terang, di seluruh dunia sudah tidak ada yang punya obat itu lagi, bahkan juga aku sendiri. Dari mana kau mendapatkan obat itu?"
Ketika meninggalkan Pulau Ular, Kim Sie Ie memang membekal sejumlah pil itu.
Sebagaimana diketahui, dalam pertemuan pertama dengan Pengtjoan Thianlie di gunung Gobie san, ia sudah disemprot Yoe Peng dengan kata-kata tajam.
Dalam gusarnya, ia bergulingan di tanah, merobek bajunya dan kemudian melompat ke sungai.
Karena itu, semua obatnya hilang di dalam air.
Ia merasa sangat menyesal tapi tak bisa mengambil kembali obat itu.
Phang Lin tertawa haha-hihi seraya berkata.
"Obatku jauh lebih liehay dari obatmu."
Ia .mengeluarkan sebutir pil merah sebesar bola kecil dan menggoyang-goyangnya di tengah udara.
Seketika itu juga, Kim Sie Ie mencium semacam bau aneh yang dikenalnya baik-baik.
Ia meloncat dan berteriak.
"Bagaimana kau bisa memiliki mustika itu? Apakah kau sahabat guruku? Apakah kau Lu Soe Nio?"
Phang Lin tertawa terpingkal-pingkal.
"Hm! Kau hanya mengenal Lu Soe Nio,"
Katanya.
Sebenarnya ia lantas hendak memperkenalkan dirinya, tapi di lain saat ia berpikir lain.
Ia tidak membenarkan dan juga tidak membantah dugaan Kim Sie Ie.
Pil merah itu mempunyai riwayat menarik, dan telah diperolehnya sebagai hadiah dari Phang Eng, kakak perempuannya.
Kira-kira tiga puluh tahun sebelumnya, ketika akan menghembuskan napasnya yang penghabisan, majikan pulau Niauw-eng to, yaitu Sat Thian Tjek, telah menghadiahkan pil tersebut kepada Phang Eng.
Sebagai telah dikatakan oleh nyonya itu, obat tersebut jauh lebih mustajab untuk memunahkan racun senjata rahasia Tokliong Tjoentjia.
Ketika sang adik mau berangkat ke wilayah Tionggoan, Phang Eng telah memberikan pil itu kepada adiknya yang dikuatirkan akan mampir di Pulau Ular.
"Dimana gurumu?"
Tanya Phang Lin.
"Sudah meninggal dunia,"
Jawabnya.
"Ah! Sayang! Sungguh sayang!"
Kata Phang Lin sembari menghela napas panjang-panjang. Mendengar perkataan itu, di dalam hati Kim Sie Ie lantas saja timbul perasaan suka terhadap nyonya tersebut.
"Jika ia bukan Lu Soe Nio, paling sedikitnya ia tentu sahabat Soehoe,"
Pikirnya.
"Coba jalankanlah pernapasanmu,"
Kata Phang Lin.
Kim Sie Ie segera bersila dan melakukan apa yang diminta oleh nyonya itu.
Mendadak kepalanya pusing dan terasalah hawa kotor naik, menyesakkan dadanya.
Dengan perlahan Phang Lin segera mengurut punggung pemuda itu.
"Apakah kau sekarang sudah insyaf, bahwa jiwamu berada dalam bahaya?"
Tanyanya.
Sesaat itu, Kim Sie le merasakan semacam hawa dingin menerobos masuk ke dalam jantungnya dan ia kembali berada dalam keadaan setengah sadar.
Dengan perlahan Phang Lin menyentil kedua pipinya dan ia segera sadar kembali.
Pengalaman itu --dadanya terasa sesak begitu lekas ia mengerahkan lweekang-nya --adalah pengalaman yang baru bagi Kim Sie Ie.
Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, ia juga lantas insyaf, bahwa perkataan nyonya tersebut bukan gertakan belaka.
Bukan main terperanjatnya, tetapi sedetik kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kawanan semut sukar hidup untuk sehari, kutu-kutu tak mengenal musim semi dan musim rontok,"
Katanya dengan nyaring.
"Aku sudah hidup dua puluh tahun dan dibandingkan dengan mereka, aku sudah hidup cukup lama. Sedang semua orang membenci aku, lebih cepat aku mati agaknya lebih baik, supaya mata mereka tak usah melihat lagi romanku yang menyebalkan!"
"Bagaimana kau tahu, semua orang membenci kau?"
Tanya Phang Lin.
"Bagiku, hidup lebih lama malah lebih menyenangkan. Dunia ini sungguh indah dan penghidupan selalu penuh kegembiraan!"
Sembari berkata begitu, ia menekan punggung pemuda itu dengan jerijinya.
Pada saat itu juga, hilanglah rasa sesak di dada Kim Sie Ie dan ia dapat bernapas lagi dengan bebas.
Ia mengerti, bahwa dengan lweekang-nya yang sangat sempurna, si nyonya sudah melancarkan lagi aliran darahnya yang kalang kabut dan untuk bantuan itu, besar sekali terima kasihnya.
"Bagiku, ia bukan sanak dan bukan saudara, tapi dengan suka rela ia sudah menolong diriku,"
Katanya di dalam hati.
"Benar juga, tidak semua orang membenci aku."
"Bagaimana?"
Tanya Phang Lin.
"Apakah kau masih ingin mati?"
"Ah!"
Kata Kim Sie Ie.
"Mengapa kau begitu memaksa hendak menolongku?"
"Aku senang, jika semua orang bisa hidup gembira,"
jawabnya.
"Hatiku jengkel, jika melihat kedukaan orang lain.
Maka, pada hakekatnya, pertolongan itu kuberikan kepada diriku sendiri, yaitu untuk menyenangkan hatiku.
Eh, hayolah ikut aku!
Biarpun aku tak bisa menjamin kau akan hidup seratus tahun, tapi kutanggung kau akan dapat mencapai usia tua.
Dalam dunia terdapat banyak sekali hal yang menggembirakan hati.
Kesalahanmu satu-satunya adalah, bahwa kau tak mampu mencari kegembiraan!' Selama berkelana dalam dunia Kangouw, setiap kali ia mempermainkan orang, tujuannya adalah untuk mencari kegembiraan.
Tentu saja ia menjadi kaget ketika mendengar Phang Lin mengatakan, bahwa ia tak mampu mencari kegembiraan.
"Kau benar-benar sangat menarik,"
Katanya sembari tertawa.
"Baiklah, sekarang aku tak mau mati. Aku akan mengikuti kalian mencari kegembiraan hidup. Kemana kau mau mengajak aku!"
"Jika diberitahukan, sebagian kegembiraanmu akan menjadi hilang,"
Sahut Phang Lin. Kim Sie Ie yang wataknya sama dengan ibu dan anak itu, lantas saja bertepuk tangan dan berkata.
"Bagus! Hayolah kita berangkat."
Demikianlah mereka segera meninggalkan Gobie san.
Dari Soetjoan utara, mereka melewati gunung Thaysoat san, Lengtjeng san dan lalu masuk ke Tibet, dari mana mereka akan terus pergi ke Sinkiang.
Dengan watak mereka yang hampir serupa, di sepanjang jalan mereka berkelakar dan bercakap-cakap dengan gembira, sehingga mereka tidak merasa kesepian.
Tapi Phang Lin tetap tak mau memperkenalkan diri dan juga sungkan memberitahukan kemana mereka menuju.
Jika sedang mengasoh di waktu malam, ia menurunkan ilmu Tjiansim modjie koeitjin kepada Kim Sie le, sehingga, dengan bantuan ilmu tersebut, kecerdasan otak pemuda itu jadi kembali seluruhnya, juga lagaknya yang gila sudah berkurang banyak dan muncullah kegembiraan yang wajar bagi seorang pemuda.
Tak usah dikatakan lagi, bahwa ia sangat cocok dan bisa bergaul secara baik sekali dengan Lie Kim Bwee.
Dengan masing-masing memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, dalam dua puluh hari saja, mereka sudah tiba di Tibet.
Pada suatu hari, sedang mereka berjalan dengan gembira, tiba-tiba mereka melihat suatu iringiringan manusia di lembah sebelah bawah.
Iring-iringan itu didahului delapan gajah putih dengan payung-payung emasnya dan seluruh rombongan itu kelihatan megah sekali.
"Ibu, coba lihat!"
Kata Kim Bwee.
"Bukankah iring-iringan Hoan-ong (raja) itu, yang sedang meronda?"
Phang Lin memperhatikan rombongan itu dengan matanya yang tajam.
"Bukan,"
Jawabnya.
"Hoan-ong tidak biasanya begitu mewah. Mungkin sekali iring-iringan itu adalah rombongan salah seorang kepala agama. Ah! Sungguh menarik. Coba kuselidiki."
Hampir berbareng dengan perkataannya, badannya sudah meluncur turun belasan tombak.
"Anak-anak!"
Ia berseru dari tanjakan.
"Ingat pesanku! Kamu jangan pergi ke tempat lain. Jika ada apa-apa yang menarik, sudah pasti aku akan segera kembali untuk memberitahukannya."
Baru saja mengucapkan perkataan itu, dengan sekali berkelebat, ia sudah menghilang, sehingga Kim Sie Ie sangat kagum akan ilmu mengentengkan badan si nyonya yang begitu tinggi.
Pemuda itu tentu saja tidak tahu, bahwa Phang Lin --selain ingin menyelidiki iring-iringan itu --mempunyai maksud lain.
Dengan kesempatan itu, ia ingin membiarkan Kim Sie Ie berada berduadua saja dengan puterinya, agar mereka jadi lebih bebas untuk membicarakan segala urusan pribadi.
Ia sama sekali tidak menduga, bahwa perginya itu sudah membawa akibat lain.
Sambil mengawaskan iring-iringan itu, sesaat kemudian Kim Sie Ie berkata semhari menghela napas.
"Kau sungguh beruntung mempunyai ibu yang begitu baik!"
"Ibumu?"
Tanya si nona.
"Sejak kecil aku sudah menjadi piatu, tak punya ayah ibu lagi,"
Jawabnya dengan sedih.
"Kasihan!"
Kata Kim Bwee. Mendadak, wajah pemuda itu berubah dan ia berkata dengan suara kaku.
"Aku tak perlu dikasihani orang!"
"Aku salah,"
Kata si nakal sembari tertawa.
"Janganlah gusar. Kau memang seorang laki-laki luar biasa yang bisa berdiri di atas kedua kakimu sendiri."
Sebagaimana diketahui, Lie Kim Bwee adalah seorang gadis berandalan yang suka sekali membawa maunya sendiri.
Akan tetapi, entah kenapa, terhadap Kim Sie Ie yang sifatnya lebih berandalan lagi, ia menjadi jinak.
Mendengar pujian itu, kemendongkolan Kim Sie Ie lantas saja reda.
"Aku pun belum pernah bertemu dengan orang yang begitu luar biasa seperti kau dan ibumu,"
Katanya sembari tertawa.
"Ibumu simpatik sekali, kepandaiannya tinggi, kepribadiannya menarik."
"Apa iya?"
Tanya Kim Bwee sembari tertawa nyaring.
"Koko (kakak) tolol! Sebenarnya ibuku seperti juga ibumu sendiri. Kau tahu? Ia menyayang kau lebih-lebih daripada aku."
Inilah untuk pertama kali dalam penghidupannya, bahwa seorang manusia, wanita cantik, memanggil "Koko tolol!"
Kepadanya dengan nada yang penuh kecintaan.
Jantungnya berdebar keras dan ia merasakan kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan.
Untuk beberapa saat, ia memandang ke tempat jauh tanpa melihat suatu apa.
Mendadak ia melompat dan berkata.
"Eh, kenapa ibumu berlaku begitu baik terhadapku?"
"Ia mengatakan, bahwa sebatang kara kau terombang-ambing dalam dunia ini,"
Jawab si nona.
"Nasib itu sangat mirip dengan nasibnya sendiri di waktu ia masih kecil."
"Apakah sedari kecil ibumu sudah tidak mempunyai ayah dan ibu?"
Tanya Kim Sie Ie.
"Benar,"
Jawabnya.
"Menurut ceritanya, ketika ia baru berusia kira-kira setahun, keluarganya telah ditimpa bencana hebat. Kakek telah binasa dalam peristiwa itu dan sesudah berselang kurang lebih dua puluh tahun, barulah nenek bisa bertemu pula dengan ibu."
"Kalau begitu, ibumu bukan Lu Soe Nio,"
Kata pemuda itu.
Harus diketahui, bahwa Lu Soe Nio adalah orang yang paling dikagumi dan dihormati oleh Tokliong Tjoentjia.
Ketika masih hidup, sering sekali ia menceritakan riwayat hidup pendekar wanita itu kepada muridnya.
Kakek Lu Soe Nio, yaitu Lu Lioe Liang, adalah seorang sasterawan kenamaan pada jamannya.
Ketika ayah Lu Liehiap, Lu Po Tiong, dibinasakan oleh kerajaan Tjeng, pendekar wanita tersebut sudah berusia dua puluh tahun lebih.
"Siapa kata ibuku Lu Soe Nio?"
Tanya si nona.
"Kenapa kau menganggap ia sebagai Lu Soe Nio?".
"Dengan kepandaiannya yang begitu tinggi, siapapun akan menduga, bahwa ia adalah Lu Liehiap,"
Kata Kim Sie Ie.
"Kau seperti juga kodok di dalam sumur,"
Kata si nona sembari tertawa.
"Hm! Lagi-lagi aku mengejek kau. Jangan marah."
"Ejekanmu sekali ini kuterima dengan tangan terbuka,"
Katanya.
"Baru sekarang aku percaya, bahwa dalam dunia ini terdapat banyak sekali orang pandai."
"Terus terang saja, ibuku mungkin belum bisa menandingi Lu Soe Nio,"
Kata si nona.
"Tapi ibu sama tersohornya dengan Lu Liehiap, karena ia memang salah seorang dari tiga pendekar wanita di jaman ini."
Bukan main girangnya Kim Sie Ie.
"Siapakah pendekar wanita yang satu lagi?"
Tanya ia.
"Iebo-ku,"
Jawabnya.
"Kepandaian bibi masih jauh lebih tinggi daripada ibuku. Walaupun Iethio sekarang menjadi Tjiangboendjin Thiansan pay, tapi masuknya ke partai itu masih terlebih belakang daripada Iebo. Tahukah kau, siapa bibiku? Ia bukan lain daripada ahli waris le Lan Tjoe, salah seorang pendekar dari Thiansan."
Dalam kegembiraannya memuji bibinya, Kim Bwee melupakan segala apa. Mendadak, muka Kim Sie Ie menjadi pucat dan ia menanya dengan perlahan.
"Ah! Kalau begitu, Iethio-mu adalah Tjiangboen dari Thiansan pay. Bukankah ia bernama Tong Siauw Lan?"
Si nona yang belum melihat perubahan pada paras muka pemuda itu, lantas saja menjawab sembari tertawa.
"Benar. Kau ternyata sudah mengenal juga nama Iethio-ku. Sekarang ini ibu akan mengajak kau naik ke Thiansan untuk meminta pertolongan Iebo dan Iethio, supaya mereka suka mengobati penyakit yang mengeram dalam tubuhmu!"
Kata-kata Kim Bwee itu dirasakan Kim Sie Ie sebagai sebuah palu yang menghantam jantungnya.
Mukanya lantas saja menjadi merah.
Tabir rahasia yang sudah lama ingin dibukanya, sekarang sudah terbuka lebar-lebar.
Insyaflah ia sekarang, bahwa lweekang yang telah diyakinkannya adalah ilmu yang tidak benar, dan juga telah menewaskan gurunya sendiri.
Baru sekarang ia mengerti pesan gurunya supaya ia mencari ahli Thiansan pay untuk memohon pertolongan.
Dalam sekejap itu, segala kesangsian yang bertahun-tahun, telah mengganggu pikirannya sudah terjawab semua.
Kim Sie Ie mempunyai watak angkuh dan ia gampang sekali tersinggung.
Ia senantiasa menganggap, bahwa ilmu silat gurunya nomor satu di kolong langit, sehinggga ia tak mau tunduk kepada orang lain, apapula jika orang itu justru ayah Tong Keng Thian.
Sesaat kemudian, Kim Bwee sudah melihat perubahan pada wajah Kim Sie Ie itu.
"Koko tolol,"
Katanya, sembari memaksakan diri untuk tertawa.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Kim Sie Ie menahan amarahnya.
"Kalau begitu, Tong Keng Thian adalah piauwheng-mu (saudara misan),"
Katanya.
"Benar! Kau kenal ia?"
Jawabnya dengan girang.
"Bukan saja kenal, malah bersahabat baik,"
Kata Kim Sie Ie sembari tertawa dingin.
Mulutnya mengatakan begitu, tapi hatinya berpikir lain.
Tahulah ia sekarang, bahwa Phang Lin adalah bibi Keng Thian.
Ia menganggap, bahwa nyonya itu sengaja mengatur siasat supaya ayah Tong Keng Thian melepaskan budi kepadanya, sehingga ia tak mampu mengangkat kepala lagi di hadapan Keng Thian.
Dengan demikian, maksud Phang Lin yang sangat mulia, sudah salah diartikan olehnya.
Pada saat itu, ia kembali merasakan, bahwa dirinya sebatang kara dan di mana-mana selalu dihina orang.
Daripada dihina orang, ia lebih suka mati lekas-lekas.
Lie Kim Bwee tak bisa menebak pikiran pemuda itu.
Sembari tertawa dan bertepuk tangan ia berkata.
"Ah! Kalau kalian memang sudah bersahabat, aku benar-benar merasa girang."
"Tak salah! Sungguh bagus!"
Kata Kim Sie Ie, suaranya sumbang.
"Siasatmu juga sangat bagus. Mari sini!"
Melihat muka Kim Sie Ie yang merah padam, si nona menduga, bahwa pemuda itu diserang demam.
"Kau sakit?"
Tanyanya sembari mendekati. Sekonyong-konyong Kim Sie Ie tertawa terbahak-bahak, tertawa yang membangunkan bulu roma.
"Terima kasih banyak-banyak kepada kalian yang sudah mengatur siasat begitu bagus!"
Katanya.
Mendadak, mendadak saja, jerijinya menotok jalan darah si nona!
Sedetikpun tak pernah terkilas dalam pikiran Kim Bwee bahwa ia akan diserang secara begitu tiba-tiba.
Keruan saja, tanpa mengeluarkan suara, ia terguling dan roboh di atas tanah.
Di detik selanjutnya, ia mendengar suara tertawa kegila-gilaan pemuda itu, yang semakin lama sudah semakin jauh.
Kim Bwee --yang tertotok Djoanma hiat-nya (jalan darah yang membikin orang lemas) -tak bisa berbangkit.
Untung juga, sesudah mempelajari Tiamhiat hoat Kim Sie Ie dari ibunya, ia bisa membuka jalan darahnya sendiri.
Sesudah mengerahkan lweekang-nya selama setengah jam, kaki tangannya mulai bisa bergerak pula dan beberapa saat kemudian, ia sudah dapat berdiri.
Termangu-mangu, seperti kehilangan apa-apa, ia memandang gunung-gunung di kejauhan.
"Kenapa, baru saja ia masih baik-baik, mendadak kumat lagi penyakit gilanya,"
Pikir si nona yang menduga, bahwa pemuda itu benar-benar menderita penyakit gila.
Suatu perasaan aneh yang sukar dijelaskan datang kepadanya dan tanpa merasa, ia berlari-lari ke bawah untuk mengejar si Koko tolol.
Begitu tiba di dasar lembah, sekonyong-konyong dari jurusan depan datanglah iring-iringan itu dengan delapan ekor gajah putihnya yang sangat besar.
Di punggung seekor gajah putih yang berjalan di tengah-tengah, kelihatan berduduk seorang Lhama yang bertubuh tinggi besar dan yang dipayungi dengan payung kuning.
Barisan gajah itu diiring oleh enam belas Lhama yang menunggang kuda, sedang di kedua sampingnya terdapat barisan wanita muda yang mengenakan pakaian putih.
Di antara mereka, terdapat satu nona yang sangat cantik dengan paras dingin dan agung.
Ia duduk di atas kuda dengan badan tak bergerak, seolah-olah satu patung batu.
Lie Kim Bwee yang menghampiri barisan itu sembari lari keras, tiba-tiba mendengar satu bentakan.
"Siapakah yang berani mengganggu iring-iringi Hoat-ong (Raja agama)?"
Berbareng dengan bentakan itu, seorang wanita yang memakai kudungan muka loncat turun dari kudanya dan coba mencengkeram tangan si nona.
Kim Bwee berkelit sembari mendorong dengan kedua tangannya.
Wanita itu, yang lantas saja terhuyung beberapa tindak, mengeluarkan seman tertahan dan kemudian, sesudah memutar badan, ia merangsek pula.
Lie Kim Bwee tentu saja tidak mengetahui, bahwa wanita tersebut adalah Sengbo atau Ibu Suci dari Lhama sekte Topi Putih.
Ia juga tidak mendusin, bahwa secara tidak disengaja, ia sudah mengganggu iring-iringan Hoat-ong.
Kedudukan Hoat-ong atau Raja agama dari sekte Topi Putih adalah setingkat dengan kedudukan Dalai atau Panchen.
Mereka dipandang sebagai Budha Hidup.
Maka itu, di mata para Lhama, gangguan Kim Bwee adalah pelanggaran yang sangat hebat.
Di lain saat, enam belas Lhama yang berpakaian putih sudah mengurung Kim Bwee dalam satu lingkaran.
Mereka mengawasi si nona tanpa mengeluarkan sepatah kata dan maju mendekati setindak demi setindak.
Kim Bwee jadi bingung.
"Eh, mau apa kau orang?"
Tanyanya.
"Perempuan siluman!"
Membentak satu antaranya.
"Besar benar nyalimu, berani mengganggu iring-iringan Hoat-ong! Kenapa kau tak lekas memohon ampun kepada Budha Hidup?"
"Yang mana Budha Hidup?"
Tanya si nona.
"Coba beritahukan kepadaku."
Ia berkata begitu seperti satu anak kecil yang sangat ingin melihat apa-apa yang luar biasa.
Semua Lhama jadi sangat gusar dan dua antaranya segera bergerak.
Yang satu mengeluarkan tangan kiri, yang lain mengeluarkan tangan kanan dan membuat satu lingkaran, akan kemudian, dengan serentak mereka coba membekuk Kim Bwee.
Dalam Rimba Persilatan, ilmu silat sekte Topi Putih merupakan satu cabang yang istimewa.
Pukulan itu, yang dinamakan Kimkong Menangkap Siluman, adalah lebih hebat daripada Kinna tjhioehoat (ilmu menangkap) dari wilayah Tionggoan.
Tapi di luar dugaan, Kim Bwee yang semenjak kecil sudah dilatih baik oleh kedua orang tuanya, gesit luar biasa.
Baru saja tangan kedua Lhama itu bergerak, sembari tertawa nyaring, bagaikan seekor ikan, ia melejit dari serangan itu.
Kedua Lhama tersebut terkesiap dan buru-buru balik ke kedudukannya yang semula.
Masih untung, si nona belum menoblos keluar dari kurungan.
"Eh!"
Berteriak Kim Bwee dengan suara nyaring.
"Jalan raya bukan dimiliki oleh kau orang. Seorang Budha Hidup mestinya mempunyai hati yang murah. Kenapa kau orang menjajah jalan? Apakah berjalan disini merupakan satu kedosaan?"
Enam belas Lhama itu sama sekali tak menggubris teguran si nona.
Perlahan-lahan mereka memperkecil lingkaran.
Dengan hati bingung, Kim Bwee menerjang ke sana-sini, tapi kurungan itu teguh bagaikan tembok tembaga.
"Hei!"
Ia berteriak pula sesudah usahanya untuk menoblos keluar tidak berhasil.
"Masakah enam belas lelaki gagah menghina seorang perempuan? Apa kau orang tak mengenal malu?"
Dalam jengkelnya, ia menunduk dan terus menyeruduk kurungan itu.
Sekonyong-konyong dua Lhama mengeluarkan suara tertawa aneh sedang mukanya memperlihatkan paras seperti orang yang kena digaruk di bagian badannya yang gatal.
Karena tertawanya itu, badan mereka agak miring dan Kim Bwee sungkan menyia-nyiakan kesempatan bagus, lantas saja menerobos keluar dari lubang itu.
Sembari melompat, si nona merasa heran dalam hatinya.
"Ah! Mereka tentu merasa jengah karena dicaci olehku dan sengaja melepaskan aku,"
Katanya didalam hati.
Ia menengok, menjebi dan terus kabur.
Tapi, baru saja lari beberapa tindak, dua ekor gajah sudah menghadang di depan dan dua Lhama yang bersenjata Kioehoan Sekthung (toya timah) mencegat jalan.
"Hei! Benar-benar kau orang mau berkelahi?"
Membentak Kim Bwee sembari membabat dengan pedang pendeknya.
Dengan satu suara "trang!", pedangnya terpukul balik, sedang toya si Lhma sama sekali tidak bergeming.
Kedua Lhama itu adalah murid Hoat-ong yang berkepandaian paling tinggi dan yang dulu pernah dikirim untuk coba merampas guci emas.
Sekarang Kim Bwee yang nakal benar-benar bingung.
Jalan di depan dicegat, sedang dari belakang mendatangi enam belas Lhama.
Selagi hatinya kebat-kebit, sekonyong-konyong Lhama yang badannya tinggi besar dan paras mukanya merah, berkata dengan suara agung.
"Anak itu belum mengerti apa-apa, biarlah dia pergi."
Sembari berkata begitu, dari atas punggung gajah, ia mengebas dengan hudtim-nya.
Mendadak, Kim Bwee merasa dirinya didorong dengan semacam tenaga yang tidak kelihatan, sehingga ia jungkir balik.
Hampir berbareng, dua Lhama yang menghadang di depan minggir ke kiri kanan, dan enam belas Lhama yang sedang merangsek dari belakang, juga menghentikan gerakannya.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh anak itu,"
Kata pula Lhama yang tinggi besar.
"Seorang Budha Hidup harus mempunyai hati yang murah."
Sehabis berkata begitu, ia mengucapkan beberapa perkataan dalam bahasa Tibet, seperti orang sedang memberi berkah kepada si nona.
Kim Bwee menengok dan mendapat kenyataan, bahwa semua Lhama berdiri tegak dengan sikap menghormat.
"Ah! Kalau begitu dia adalah Budha Hidup yang dimaksudkan,"
Katanya di dalam hati. Ia tak berani mengawaskan lama-lama dan lalu kabur secepat mungkin. Sesudah lari dua tiga li, di tanjakan sebelah depan kelihatan menunggu seorang wanita.
"Kimdjie!"
Berseru wanita itu yang bukan lain daripada ibunya sendiri.
"Kau sungguh berani mati! Lekas kemari!"
Kim Bwee mempercepat tindakannya dan di lain saat, ia sudah berada dalam pelukan ibunya.
"Aku sendiri tidak berani mengganggu mereka,"
Kata Phang Lin sembari tertawa.
"Jika tidak ditolong olehku, kau akan merasakan lebih banyak penderitaan!"
"Ah! Sekarang aku tahu!"
Kata si nona.
"Dua Lhama itu tentu juga ditimpuk Siauwyauw hiat-nya (jalan darah yang membangkitkan perasaan geli) olehmu. Tadinya aku menduga, bahwa mereka melepaskan aku karena merasa jengah dicaci olehku."
Ternyata, kedua Lhama itu sudah ditimpuk oleh Phang Lin dengan menggunakan ilmu Hoeihoa tjekyap (menggunakan bunga dan daun sebagai senjata rahasia).
Dengan menggunakan bunga atau daun, ia dapat membinasakan musuh atau menotok jalanan darah.
Lie Kim Bwee yang lweekang-nya masih sangat cetek, tentu saja belum bisa belajar ilmu yang tinggi itu.
Tapi begitu mendengar perkataan ibunya, ia segera mengetahui, bahwa tadi ia sudah dibantu oleh sang ibu.
Ia tertawa dan berkata.
"Hm! Tadinya aku kira Budha Hidup itu seorang baik. Tak tahunya, ia sudah melepaskan aku karena takuti ibuku!"
"Jangan ngaco!"
Membentak Phang Lin dengan suara keras.
"Hoat-ong adalah seorang yang berhati sangat mulia. Aku sendiri sangat menghormati padanya. Jangan kau mengaco belo! Apa kau tahu, untuk apa mereka datang kesini?"
"Tidak,"
Jawab puterinya.
"Barusan, sesudah menyelidiki, aku mengetahui duduknya persoalan,"
Menerangkan sang ibu.
"Di sebelah depan terdapat satu kota, Sakya namanya. Sekarang ini, Raja agama dari sekte Topi Putih sudah mengadakan perdamaian dengan Lhama dari sekte Topi Kuning. Panchen sudah mempermisikan mereka untuk menyebarkan pula agama mereka di Tibet dan mendirikan satu kuil Lhama yang sangat besar di kota Sakya. Kedatangan Hoat-ong dengan murid-muridnya ke kota Sakya, adalah untuk meresmikan pembukaan kuil tersebut."
"Apakah dalam tempo yang sependek itu ibu sudah pergi ke Sakya?"
Tanya Kim Bwee.
"Pendek? Sudah setengah harian!' kata Phang Lin sembari tertawa.
"Apa belum cukup kau beromong-omong dengan dia? Eh! Mana Kim Sie Ie?"
Paras muka si nona lantas saja berubah.
"Dia kumat lagi penyakit gilanya,"
Jawabnya dengan suara duka.
"Dia kabur, entah kemana."
"Ngaco!"
Membentak sang ibu.
"Beruntun beberapa hari, dengan ilmu Tjiansimmo aku menekan 'api' yang bisa membakar dirinya. Menurut perhitunganku, paling sedikit ia bisa mempertahankan diri selama tujuh puluh dua hari. Tak mungkin ia gila mendadak. Urusan apa yang sudah dibicarakan oleh kau orang selama aku pergi?"
"Tidak, sama sekali kita tidak bicarakan apa-apa yang penting,"
Kata Kim Bwee.
"Aku hanya memberitahukan kepadanya, bahwa kau ingin membawa dia ke Thiansan untuk memohon supaya Iethio suka mengobati padanya."
Phang Lin menghela napas panjang.
"Kau benar-benar bocah tak tahu urusan,"
Ia berkata dengan suara menyesal.
"Aku justru sangat kuatir, ia sungkan menerima budi orang, karena wataknya yang angkuh. Maka itu, aku sengaja sudah mempedayai ia. Tapi, kau yang membuka rahasia! Kau tentu tak mengetahui, bahwa dia dan Tong Keng Thian mempunyai ganjelan hati."
"Ganjelan apa?"
Tanya Kim Bwee dengan suara heran. Sang ibu kembali menghela napas panjang.
"Hai!"
Katanya.
"Benar-benar kau lebih gila daripada aku, waktu aku semuda kau. Kau lebih suka mencampuri urusan orang lain, daripada aku. Sudahlah! Tak perlu aku memberitahukan kau. Sekarang sekali lagi aku mesti capai hati untuk mencari dia. Hai! Anak perempuan sudah besar, benar-benar memusingkan kepala!"
Paras muka si nona lantas saja berubah merah.
"Siapa suruh kau mencari dia?"
Ia tanya sembari monyongkan mulut.
"Baiklah,"
Jawab sang ibu.
"Hm! Di kolong langit memang terdapat banyak sekali lelaki gagah. Tapi aku tahu, tak satupun yang cocok dengan adat gilamu. Bukankah begitu?"
"Benar,"
Jawab puterinya sembari merengut.
"Nah, kalau begitu paling baik kita cari dia,"
Kata pula sang ibu sambil menyengir.
"Mari! Kita pergi ke Sakya untuk melihat-lihat keramaian. Kim Sie Ie juga suka ramai-ramai. Dia tentu tidak pergi jauh."
Sambil berkata begitu, ia berjalan dengan menyeret tangan puterinya.
Sakya adalah sebuah kota pegunungan yang sangat indah di Tibet Selatan.
Biasanya kota itu sangat sepi, tapi sekarang, berhubung dengan kedatangan Hoat-ong Sekte Topi Putih, maka tempat yang sunyi itu dengan mendadak menjadi ramai, dikunjungi tetamu dari tempat-tempat jauh.
Touwsoe dan Soanwiesoe Tan Teng Kie jadi repot bukan main, karena mereka harus menyediakan tempat penginapan dan makanan untuk Raja agama (Hoat-ong) itu dan sekalian pengiringnya.
Di seluruh kota Sakya hanya ada seorang yang senggang dan nganggur dan yang duduk melamun di taman bunga Soanwiesoe sambil menghela napas berulang-ulang.
Orang itu adalah Tan Thian Oe, putera Tan Teng Kie.
Begitu Thian Oe kembali ke Sakya bersama ayahnya, si Touwsoe lantas saja mengajukan pula soal yang lama, yaitu soal perangkapan jodoh antara puterinya dan pemuda itu.
Thian Oe menghadapi desakan itu dengan menggunakan siasat mengulur waktu, sedang sang ayah pun, yang tak penuju calon menantu itu, membantu puteranya dengan mengusap-usap si Touwsoe.
Sementara itu, atas nasehat puteranya, Teng Kie telah memerintahkan Kang Lam pergi ke kota raja dengan membawa suratnya untuk seorang berpangkat Tjiesoe yang masih terkena sanak dengannya.
Dalam surat itu ia meminta pertolongan supaya sanak tersebut mengajukan permohonan kepada kaizar, agar ia diperbolehkan pulang dengan mengingat jasanya waktu menyambut guci emas.
Akan tetapi, karena perjalanan yang sangat jauh, sesudah pergi kurang lebih setengah tahun, Kang Lam belum juga memberi warta suatu apa.
Ayah dan anak itu melewati hari dengan hati mendongkol, karena si Touwsoe sering sekali mengganggu mereka dengan undangan-undangan untuk menghadiri perjamuan, dimana sang puteri coba memikatmikat Thian Oe, yang jadi serba salah, tertawa salah, menangis pun keliru.
Hari itu, Tan Teng Kie dan Touwsoe menyambut Hoan-ong, sedang semua pegawai kantor Soanwiesoe pun pergi keluar untuk melihat keramaian.
Thian Oe sendiri yang tidak mempunyai kegembiraan untuk pelesir, dan ia menyembunyikan diri di dalam gedung.
Sampai jauh malam, ayahnya belum pulang dan suara ramai-ramai pun belum mereda.
Kira-kira tengah malam, seorang diri ia pergi ke taman bunga.
Sang rembulan memancarkan sinarnya yang dingin dan taman itu seolah-olah mandi dalam lautan perak.
Sambil menghela napas, Thian Oe mendongak dan berkata dengan suara duka.
"Ah, malam ini tiada bedanya dengan malam dulu itu. Malam di musim semi dan bulan yang bersinar perak. Tapi dimana sekarang adanya Chena? Malam itu ia mendampingi aku, tapi sekarang..."
Pada saat itu, Chena yang cantik manis, dengan senyuman yang penuh rahasia, kembali terbayang di depan matanya.
Hanya beberapa kali ia bertemu dengan gadis Tsang itu, tapi tak dapat ia melupakannya lagi.
Ia ingat peristiwa melempar golok di gedung Touwsoe, ia ingat pertemuan di gunung belukar pada malam itu, dimana untuk pertama kalinya ia mengetahui asalusul si nona, ia ingat pula pertemuan di istana es yang seperti surga, pertemuan yang tak akan dapat dilupakannya.
Tak dinyana, bahwa Puncak Es akan roboh dan akhirnya ia kembali ke Sakya tanpa mendapat warta apapun juga tentang gadis yang dicintainya itu.
"Apakah Chena binasa dalam bencana alam itu?"
Ia tanya dirinya sendiri berulang-ulang. Di lain saat, ia menghibur hatinya.
"Jika Yoe Peng selamat, Chena juga tentu bisa meloloskan diri."
Sementara itu, suara keramaian sudah mulai mereda, tapi Thian Oe masih duduk terpekur di antara pohon-pohon bunga.
Mendadak terdengar suara berkreseknya daun-daun dan tindakan kaki yang sangat enteng.
Thian Oe agak terkejut dan menoleh ke arah suara itu.
Ia terkesiap karena apa yang dilihatnya adalah seorang wanita muda yang mengenakan pakaian serba putih dan yang menghampirinya dengan bibir tersungging senyuman.
Ia mengawaskan dengan mata membelalak.
"Chena!"
Teriaknya.
"Apa aku lagi mimpi?"
"Bukan, bukan mimpi,"
Kata wanita itu.
"Tapi, memang tiada beda dengan impian."
Senyumannya belum hilang, air matanya sudah berlinang-linang. Wanita itu memang Chena adanya! Thian Oe menggigit jarinya kuat-kuat. Ia melompat karena kesakitan dan berteriak sebab kegirangan.
"Chena! Bukan impian! Kita benar-benar bertemu pula. Kita tak akan berpisahan lagi!"
"Ya, kita tak akan berpisahan lagi,"
Kata si nona.
Thian Oe memeluk erat-erat seolah-olah ia kuatir kecintaannya menghilang dengan mendadak.
Sekonyong-konyong ia melihat berlinangnya air mata dan paras yang penuh kedukaan.
Ia merasa seperti diguyur dengan air dingin.
"Chena,"
Katanya dengan suara bingung.
"Kenapa kau? Apa yang dipikiri olehmu? Bukankah kau sudah berjanji, bahwa kita tak akan berpisahan lagi!"
"Aku selalu berada di dampingmu,"
Jawabnya secara menyimpang.
"Apakah dalam impian, kau tak pernah mimpi bertemu denganku?"
"Benar,"
Kata Thian Oe.
"Setiap kali bermimpi, aku selalu mimpi bertemu denganmu... kau sedang tertawa, sedang berdiri di bawah sinar bulan, sedang menangis... Tapi itu semua sudah lewat. Mulai dari sekarang, kita tak akan mengenal kesedihan lagi, kita akan berada dalam -kebahagiaan."
"Aku juga sering mimpi bertemu denganmu,"
Kata Chena.
"Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kita sebenarnya belum pernah berpisahan."
"Tidak,"
Kata Thian Oe.
"Apa yang diingin olehku bukan dunia mimpi. Aku menghendaki berkumpul secara abadi."
Mata si nona mengawasi ke tempat jauh dan ia berkata dengan suara serak.
"Apa artinya sungguh? Apa artinya mimpi? Apa yang dikatakan sekejap mata? Dan apa yang dinamakan abadi?"
Thian Oe terperanjat.
Ia menatap muka si nona tanpa bisa menjawab.
Pertanyaan-pertanyaan itu sudah terdengar semenjak dahulu, memang belum dapat dijawab oleh ahli-ahli pemikir sehingga di jaman ini.
Di luar, sayup-sayup masih terdengar suara orang berpesta, suara penjual silat, suara tukang sulap, suara menyanyi...
Untuk beberapa lama, kedua orang muda itu saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Kemudian, dengan sorot mata berduka dan dengan suara agak gemetar.
Chena menyanyi dengan perlahan.
Cinta abadi adalah sinar terang yang sekelebatan, Bagaikan berkeredepnya kilat di tengah udara gelap gulita, Tapi walaupun hanya untuk sekejapan.
Kemuliaan sang kekasih sudah terlihat nyata.
Itulah sebuah nyanyian rakyat Nepal yang merembes masuk ke Tibet, nyanyian yang gembira, tercampur sedih.
Thian Oe berduka sangat.
Ia bengong dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
."Apa artinya sekejap mata?
Apa arti abadi?
Tidak!
Yang dikehendaki olehku adalah abadi yang bahagia!"
"Thian Oe,"
Kata si nona sembari mesem.
"Sekarang kita jangan rewel tentang hal yang tak penting. Biarpun bagaimana juga, kita sudah bertemu kembali dan biarpun bagaikan berkeredepnya kilat di tengah udara yang gelap gulita, apakah dalam tempo yang sependek itu, kita tak bisa mengicipi kebahagiaan yang sebesar-besarnya? Thian Oe, cobalah kau bicara tentang sesuatu yang menggembirakan."
Thian Oe terperanjat, mukanya lantas saja berubah pucat.
"Apa?"
Ia menegas.
"Apakah pertemuan kita ini hanya seperti berkelebatnya kilat? Kenapa kau tak bisa berdiam terus disini?"
Si nona menghela napas.
"Hai! Kau tak tahu,"
Katanya.
"Untuk mengadakan pertemuan ini, aku sebenarnya sudah menempuh bahaya yang sangat besar. Sudahlah, Thian Oe! Jangan kau menanya banyak-banyak. Marilah, kita bicarakan saja tentang sesuatu yang menggirangkan hati. Aku tak bisa berdiam lama-lama. Aku mesti segera berlalu!"
Kata-kata itu adalah bagaikan halilintar di tengah hari bolong. Thian Oe ternganga. Ia hanya mengawasi muka si nona dengan sorot mata menanya.
"Thian Oe..."
Kata pula Chena, sambil tertawa.
"Hayolah! Mari kita bergembira..."
Suaranya bergemetar dan meskipun ia tertawa, nada suara itu lebih menyayatkan hati daripada tangisan.
"Chena... sesudah kau mengatakan, bahwa kau akan segera berlalu, apakah aku masih bisa bergembira?"
Tanya Thian Oe.
"Satu kali, kita pernah mengalami bencana robohnya Puncak Es dan kita sudah terlolos dari bencana itu. Apakah sekarang kita sedang menghadapi bencana yang kedua, yang lebih hebat daripada yang pertama?"
"Sedari dilahirkan, bencana memang membayangi diriku terus menerus,"
Jawabnya.
"Aku tak dapat mengelakkannya. Ah! Kau tak tahu..."
"Aku tahu! Aku tahu semuanya,"
Kata Thian Oe.
"Aku tahu, kau ingin membalas sakit hati. Chena, kita sama-sama hidup dan mati pun sama-sama. Marilah kita pergi membalas sakit hati bersama-sama. Andaikata, dengan berkah Tuhan, kita tak mati, kita boleh lantas melarikan diri ke selatan, ke kampung kelahiranku."
Si nona kembali tertawa, tertawa duka.
"Anak tolol,"
Katanya.
"Sakit hati yang dalam bagaikan lautan, mana bisa diwakili? Di samping itu, aku tak bisa mempermisikan mengamuknya badai di Tibet, karena urusan pribadiku. Soal pembalasan sakit hatiku adalah soal remeh. Tapi begitu lekas kau campur tangan, soal itu akan menjadi besar."
Thian Oe insyaf, bahwa si nona bicara sejujurnya.
Ayahnya adalah Soanwiesoe dari Sakya.
Karena kuatir terjadi pemberontakan para Touwsoe di Tibet, maka selain mengirim Hok Kong An untuk menilik dari Lhasa, kaizar Tjeng telah mengirim juga Soanwiesoe ke berbagai tempat dengan tugas "menempel"
Dan mengawasi sepak terjangnya para Touwsoe itu.
Jika ia benarbenar membantu Chena dan membinasakan Touwsoe dari Sakya, maka ayahnya sudah pasti akan mendapat hukuman mati.
Juga terdapat kemungkinan timbulnya sengketa yang lebih besar garagara itu.
Dengan air mata berlinang-linang, Chena dongak mengawasi awan yang terombang-ambing di atas langit.
"Jika kau mati, aku pun tak bisa hidup terus,"
Kata Thian Oe.
"Tidak, kau tak boleh mati,"
Kata si nona.
"Kau masih mempunyai banyak sekali tugas. Di samping itu, aku pun belum tentu mati."
"Kalau begitu, biarlah aku menunggu kau,"
Kata Thian Oe.
"Tak perduli apa kau hidup atau mati, aku akan menunggu terus."
Chena menghela napas.
"Terima kasih,"
Katanya.
"Tapi, apa kau tahu, siapa aku sekarang? Seumur hidup, aku tak boleh mencintai atau menikah dengan seorang pria. Kedatanganku sekarang sudah melanggar peraturan. Thian Oe, sebaiknya kau menganggap, bahwa pertemuan ini adalah pertemuan di dalam mimpi."
Mendengar perkataan itu, bukan main kaget dan herannya Thian Oe.
"Kenapa?"
Ia menegaskan.
"Aku mengetahui, bahwa kau adalah puteri Raja muda Chinpu.
Apakah puteri seorang raja muda di negerimu tidak boleh menikah dengan seorang Han?' Pada jaman itu, di Tibet memang ada kebiasaan tersebut.
Akan tetapi, Thian Oe sudah menebak salah, karena hal itu bukan sebab yang terutama.
Si nona tak menyahut, ia terus menunduk.
"Sudahlah!"
Kata Thian Oe dengan suara keras.
"Jika begitu, aku tak akan menikah seumur hidup."
Chena menyeka air matanya dengan tangan baju dan mendadak ia tertawa.
"Kau adalah manusia pertama yang mengenal jiwaku,"
Katanya.
"Kebahagiaanmu adalah keberuntunganku. Aku ingin sekali kau bisa hidup beruntung. Apa kau tahui"
"Aku tahu,"
Jawabnya.
"Kalau begitu, kau dengarlah perkataanku,"
Katanya pula.
"Pengtjoan Thianlie telah membuang banyak budi kepadaku dan ia adalah orang kedua dalam dunia ini yang dapat menyelami isi hatiku. Aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri."
"Aku tahu,"
Kata Thian Oe.
"Aku pun pernah mendapat banyak sekali pertolongannya dan aku merasa sangat berterima kasih."
Chena kembali menghela napas, sedang kedua matanya mengawasi ke tempat jauh.
"Thianlie Tjietjie banyak lebih beruntung daripadaku,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Tong Keng Thian mencintainya dengan segenap hati, seperti juga kau..."
Mukanya mendadak berubah merah dan ia tak dapat meneruskan perkataannya.
"Dalam ilmu silat, aku memang tak dapat dibandingkan dengan Tong Keng Thian,"
Kata Thian Oe.
"Tapi... mengenai rasa cintaku, aku sedikitpun tak kalah dengannya."
Chena tersenyum, senyuman puas yang, untuk sejenak, telah menyapu awan kedukaan dari mukanya. Sesaat kemudian, ia berkata pula.
"Orang ketiga yang mengenal jiwaku adalah Yoe Peng, dayangnya Thianlie Tjietjie. Ia adalah seorang yang selalu bergembira, sehingga siapa juga yang bergaul dengannya, akan turut merasa gembira."
Thian Oe terkejut.
"Apa maksudnya perkataan Chena?"
Ia tanya dirinya sendiri, la menatap wajah si nona dengan rasa kasihan dan kemudian berkata.
"Chena, aku hanya bisa berkumpul dengan kau seorang. Dalam dunia ini, tiada lain manusia yang bisa dibandingkan denganmu."
Si nona dongak dan melihat sang rembulan yang sudah doyong ke barat. Untuk sekian kalinya ia menghela napas.
"Sekarang benar-benar aku mesti lantas berlalu,"
Katanya.
"Tidak!... Tidak!... Chena, kau tak boleh meninggalkan aku dengan begitu saja!"
Kata Thian Oe dengan suara serak, sambil mencekal erat-erat ujung baju si nona.
Tiba-tiba di sebelah kejauhan terdengar suara lonceng.
Si nona kelihatan terkejut dan lalu mulai menghitung dengan suara perlahan.
Satu...
dua...
tiga...
dua belas...
tiga belas...
tujuh belas...
delapan belas..."
"Kenapa kau menghitung?"
Tanya Thian Oe.
"Apa suara lonceng itu dari istana sementara Hoatong?"
"Sudah hampir sembahyang pagi,"
Jawabnya.
"Sembahyang pagi?"
Menegas Thian Oe, sambil menatap wajah si nona. Chena melengos. Mendadak ia berkata.
"Hoat-ong sudah tiba disini dan kota Sakya ramai bukan main. Dua hari lagi akan diadakan upacara pembukaan kuil Lhama."
"Tanpa kau, aku tak mempunyai kegembiraan untuk menyaksikan keramaian apapun juga,"
Kata Thian Oe.
"Aku tak ingin menyaksikan pembukaan kuil itu."
"Baiklah,"
Kata si nona dengan tertawa sedih.
"Biarlah sekarang saja kita berpisahan."
Hampir berbareng dengan perkataannya, ia menghunus sebilah pisau dan memotong ujung bajunya yang sedang dicekal Thian Oe dan di lain saat, ia sudah berada di atas tembok!...
Bagaikan orang lupa ingatan, Thian Oe berdiri terpaku dengan mulut ternganga.
Kejadian barusan seolah-olah suatu impian menakuti.
Ia merasa otaknya pusing dan tak dapat bekerja lagi.
Kenapa Chena datang untuk segera pergi lagi dengan begitu terburu-buru?
Apa arti perkataanperkataannya?
Kenapa ia tak boleh menikah?
Peraturan apa yang dilanggarnya?
Berbagai pertanyaan masuk ke dalam otaknya, pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat jawabnya.
Sementara itu, fajar mulai menyingsing dan orang-orang yang bersuka ria sudah mulai pulang.
Mereka tak tahu, bahwa sang majikan muda juga tak tidur semalam suntuk.
Karena sudah ketelanjur, mereka tidak lantas pergi tidur dan lalu beromong-omong.
Thian Oe adalah majikan yang selalu bersikap manis terhadap pegawai dan bujang, sehingga mereka tidak merasa takut untuk bicara di hadapannya.
"Sayang sungguh Wanita-wanita Suci itu mengenakan kudungan muka,"
Kata yang satu. Thian Oe kaget dan segera mendekati sambil menanya.
"Wanita Suci apa?"
Yang baru pulang menonton ada delapan orang dan mereka lantas saja memberi keterangan.
"Wanita Suci yang dibawa Budha Hidup. Agama Topi Putih berbeda dengan Topi Kuning. Topi Putih boleh mempunyai Lhama wanita."
"Menurut katanya orang, Wanita Suci itu pandai menyanyi dan menari. Pada upacara pembukaan kuil, mereka akan memperlihatkan kepandaiannya."
"Ya. Mereka kelihatannya cantik sekali, hanya sayang mengenakan kudungan muka."
"Kau jangan mengeluarkan perkataan gila-gila! Menurut pendengaranku, Wanita Suci itu sungguh-sungguh suci dan tak boleh dilanggar-langgar. Jika kau tak turut menghadiri upacara, mencuri lihat saja sudah merupakan satu kedosaan."
"Apa dia tak boleh menikah?"
"Tidak! Jangankan menikah, sedangkan bicara dengan lelaki sudah tak boleh."
"Ah!
Sungguh sayang!
Setiap Wanita Suci itu pasti cantik luar biasa.
Pakaiannya saja sudah begitu indah.
Baju dan koen serba putih dan dua ikatan pinggang sutera yang berwarna putih pula.
Setiap orang ramping badannya, ceking pinggangnya dan kalau dia berjalan, aduh!
Bagaikan Puteri Kahyangan yang turun ke bumi!' Thian Oe mendengari pembicaraan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata, hanya jantungnya semakin lama memukul semakin keras.
"Apa Chena sudah jadi Wanita Suci? Kenapa ia mau jadi Wanita Suci?"
Tanyanya di dalam hati.
Pikirannya jadi semakin kusut, kepalanya semakin pusing.
Semalam ayahnya menginap di gedung Touwsoe dan sampai tengah hari belum juga pulang.
Pagi itu, seperti orang kehilangan semangat, Thian Oe duduk termenung dalam kamar tulis sambil mengasah otak untuk memecahkan teka-teki sekitar kecintaannya itu.
Tiba-tiba ia terkejut karena terdengarnya suara orang memanggil.
"Kongtjoe, ada tamu."
"Siapa?"
Tanyanya. Alisnya berkerut dan ia berkata pula sambil mengebas tangan.
"Hari ini aku tidak menerima tamu. Minta dia datang di lain hari saja."
"Baiklah,"
Kata si pelayan, tapi ia terus berdiri di depan pintu.
"Ada apa?"
Tanya pula Thian Oe.
"Menurut katanya tamu itu, ia adalah sahabat Kongtjoe,"
Jawabnya.
"Pengurus rumah tanga sedang menemaninya di kamar tamu."
"Siapa ia?"
Menegas Thian Oe dengan perasaan heran, karena si pengurus rumah tangga sudah berani menerima tamu itu tanpa permisi.
"Dandannya seperti seorang sasterawan dan ia she Tong,"
Menerangkan si pelayan.
"Menurut katanya pengurus rumah tangga, ia pernah membuang budi besar kepada Looya."
"Aduh!"
Teriak Than Oe sambil berlari-lari keluar tanpa menukar pakaian lagi.
Tamu itu bukan lain daripada Tong Keng Thian.
Pengurus rumah tangga keluarga Tan pernah mengikut Tan Teng Kie waktu menyambut guci emas, sehingga ia mengenali pemuda itu.
Tak usah dikatakan lagi, pertemuan itu sangat menggirangkan kedua belah pihak.
"Tong-heng,"
Baca Juga: Sarang Perjudian 2
Baca Juga: Kisah Dua Saudara Seperguruan 7