Eps 10 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Kata Thian Oe sambil menjabat erat-erat tangan Keng Thian.
"Angin apa yang sudah meniup kau datang kemari? Benar-benar aku bisa pingsan karena kegirangan."
"Kebetulan lewat, aku mampir,"
Jawabnya.
"Dan lebih-lebih kebetulan, karena kota ini sedang bersuka ria."
"Apa Tong-heng ingin menyaksikan upacara pembukaan kuil?"
Tanyanya.
"Boleh dikatakan ya, boleh dikatakan tidak,"
Sahutnya. Melihat paras tamunya seperti orang yang ingin membicarakan suatu rahasia, Thian Oe lantas saja berkata.
"Marilah masuk, supaya kita bisa bicara dengan leluasa dan gembira."
Tanpa menunggu jawaban, ia menuntun tangan Keng Thian yang lalu diajak ke kamar buku. Baru saja pelayan mengantarkan teh, Keng Thian sudah berbisik.
"Bagaimana dengan Chena?"
Thian Oe berjingkrak bahna kagetnya. Cangkir teh jatuh dan hancur di lantai.
"Tong-heng, kau kenal Chena?"
Tanyanya dengan suara gemetar. Sebagai seorang yang sangat pintar, Keng Thian lantas saja dapat menebak, bahwa gadis Tsang itu adalah jantung hatinya Thian Oe.
"Dimana Tong-heng bertemu dengannya?"
Tanya Thian Oe, tak sabaran.
"Di istana Hoat-ong Sekte Topi Putih,"
Jawabnya.
"Sungguh sayang, waktu itu aku belum tahu, bahwa ia adalah gadis idam-idamanmu. Jika 'ku tahu, aku tentu akan membujuk supaya ia mengurungkan niatan untuk menjadi Wanita Suci."
Sesudah itu, secara ringkas ia lalu menuturkan segala pengalamannya di istana Hoat-ong dan di keraton Wanita Suci.
"Kalau begitu, dia sendiri yang rela menjadi Wanita Suci,"
Kata Thian Oe dengan suara perlahan.
"Tapi kenapa? Kenapa?..."
Mereka segera coba menduga-duga, tapi tak dapat menebak apa maksudnya Chena.
Waktu magrib, Tan Teng Kie pulang dan kunjungan Keng Thian menggirangkan sangat hatinya.
Biarpun sangat lelah, ia memaksakan diri untuk menemani pemuda itu dan menghaturkan terima kasih untuk segala pertolongannya pada waktu penyambutan guci emas.
Dalam omong-omong, mereka tentu saja membicarakan juga soal kedatangan rombongan Hoat-ong dengan Wanita-wanita Suci yang sangat menarik perhatian.
"Sebenarnya Touwsoe ingin membuat satu tempat istimewa dalam bentengannya untuk tempat menginap para Wanita Suci," •menerangkan Teng Kie.
"Ia juga ingin memerintahkan budak-budak perempuannya untuk belajar menari dengan Wanita Suci itu. Hoat-ong tidak berkeberatan, tapi Ibu Suci katanya tidak menyetujui. Belakangan mereka membuat sebuah tempat penginapan di dalam taman istana sementara Hoat-ong. Touwsoe merasa sangat mendongkol, tapi ia tak bisa berbuat suatu apa."
Hati Thian Oe berdebar-debar, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Tak lama kemudian, sebab merasa terlalu capai, Teng Kie lalu meminta maaf kepada Keng Thian dan masuk ke dalam untuk mengasoh.
Begitu ayahnya berlalu, Thian Oe segera mengajak tamunya kembali ke kamar tamu dan begitu mereka mengambil tempat duduk, ia segera berkata.
"Malam ini aku ingin mengunjungi Chena."
Keng Thian terkejut.
"Tidak! Kau tak boleh pergi!"
Ia mencegah.
"Istana sementara Hoat-ong bukan tempat sembarangan. Tahun yang lalu, waktu menyelidiki keraton Wanita Suci, hampirhampir aku hilang jiwa."
Thian Oe mengawaskan tamunya dengan sorot mata duka.
"Terima kasih untuk nasehatmu,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Tapi, walaupun mesti berenang di air atau menyerbu api, biarpun badanku bisa hancur lebur, malam ini aku mesti menemuinya. Andaikata tak dapat bicara, sedikitnya aku harus melihat dia."
Tong Keng Thian yang cukup mengenal penderitaan cinta, menghela napas panjang. Ia menatap wajah Thian Oe dengan perasaan kasihan.
"Baiklah,"
Katanya.
"Malam ini aku akan mengantar kau."
Bukan main girangnya Thian Oe. Ia menjabat tangan Keng Thian erat-erat dan mencekalnya lama sekali.
"Sekarang pergilah kau mengasoh, supaya sebentar kau mempunyai cukup tenaga dan semangat,"
Kata Keng Thian.
"Mana aku bisa pulas?"
Kata Thian Oe sambil tertawa getir.
"Jika mungkin, sekarang juga aku ingin pergi kesana."
Keng Thian tersenyum, ia bisa merasakan apa yang dirasakan pemuda itu.
"Jika kau tak mau mengasoh, aku ingin menanya tentang satu orang,"
Katanya.
"Siapa?"
Tanya Thian Oe.
"Seorang pengemis yang lagaknya gila-gilaan dan selalu cari-cari urusan,"
Kata Keng Thian.
"Menurut katanya beberapa pegawai, beberapa hari berselang di kota ini berkeliaran seorang pemuda otak miring yang membagi-bagikan kembang gula dan kue-kue kepada anak-anak di sepanjang jalan,"
Menerangkan Thian Oe.
"Tapi dia bukan pengemis, pakaiannya bagus sekali."
"Dimana dia sekarang?"
Tanya Keng Thian.
"Entah,"
Sahutnya.
"Dalam beberapa hari ini, orang tidak memperhatikannya lagi karena repot menyambut rombongan Hoat-ong. Aku pun hanya mendengar cerita orang."
Alis Keng Thian berkerut, tapi ia tak menyatakan suatu apa.
"Kalau begitu Kim Sie Ie tentu sudah berada dalam kota ini,"
Katanya didalam hati.
"Untuk apa Tong-heng menyelidiki orang itu?"
Tanya Thian Oe. Keng Thian menghela napas panjang seraya berkata.
"Biarpun urusanku tidak sesedih urusanmu, tapi cukup sulit. Aku ingin menolong seorang yang tak disuka olehku. Jika mau diceritakan, urusan ini panjang sekali. Hai! Biarlah nanti saja aku memberitahukannya."
Malam itu, dengan menggunakan lweekang, Keng Thian membantu Thian Oe menjalankan pernapasannya.
Kira-kira tengah malam mereka lalu menukar pakaian jalan malam dan segera berangkat ke istana sementara Hoat-ong.
Istana sementara itu adalah sebuah gedung yang berdiri membelakangi gunung.
Gedung itu sebenarnya adalah rumah tinggal seorang Nyepa (semacam pangkat di sebelah bawah Touwsoe).
Untuk menyambut kedatangan Hoat-ong, maka pada satu bulan berselang, Touwsoe telah memerintahkan supaya Nyepa dan keluarganya pindah dari gedung itu yang lalu diperbarui, diperindah dan ditambah segala kekurangannya.
Sebab hatinya tidak sabaran, Thian Oe lari secepat-cepatnya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, sehingga kedua kakinya seolah-olah tidak menginjak bumi.
Keng Thian kaget karena ia tidak menduga, bahwa selama beberapa tahun saja, pemuda itu sudah mendapat kemajuan yang sedemikian jauh.
Ia tentu saja tidak mengetahui, bahwa kemajuan tersebut adalah berkat buah luar biasa yang telah dimakan Thian Oe di istana es.
Belum cukup setengah jam, mereka sudah tiba di istana Hoat-ong dan lalu melompat masuk ke dalam taman bunga.
Sesudah berjalan beberapa tombak, di antara ratusan pohon bunga yang menyiarkan wewangian menyedapkan, mereka melihat sebuah loteng cat merah yang agak tertutup dengan pohonpohon tinggi yang rindang daunnya.
Selagi Thian Oe jalan memutari gunung-gunungan batu untuk melompat ke atas loteng itu, sekonyong-konyong Keng Thian menarik tangan bajunya dan mereka lalu bersembunyi di belakang gunung-gunungan itu.
Tiba-tiba terdengar kesiuran angin dan tiga bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam taman.
Waktu mereka hinggap di muka bumi, hanya seorang yang kakinya memperdengarkan suara, sehingga dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dua orang lainnya mempunyai ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi.
Begitu masuk, mereka mengawasi ke empat penjuru dan kemudian bersembunyi di belakang gunung-gunungan batu yang lain.
Thian Oe mengintip dari sela-sela batu dan lapat-lapat ia melihat bayangan badan mereka.
Sesaat kemudian, seorang antaranya yang bertubuh gemuk dan yang tadi kakinya mengeluarkan suara waktu hinggap di atas tanah, tiba-tiba menoleh ke belakang.
Dalam sekelebatan Thian Oe melihat mukanya dan ia terkejut.
Orang itu ternyata bukan lain daripada orang kepercayaan Touwsoe, yaitu Omateng, yang pada suatu malam dua tahun berselang, telah mengubar-ubar Chena di sebuah gunung.
Mendadak kuping Thian Oe menangkap suara yang sangat perlahan.
"Apa kau sudah melihat tegas, bahwa wanita itu adalah puteri Raja muda Chinpu?"
Tanya seorang.
"Ya, biarpun dia mengenakan kudungan, aku bisa memastikannya,"
Jawab Omateng. Thian Oe heran tak kepalang.
"Kenapa dia begitu memperhatikan Chena?"
Ia menanya dirinya sendiri.
"Kedatangannya di kali ini juga adalah untuk menyelidiki Chena."
Sesaat itu, ia lantas saja ingat segala tindakan Omateng dalam waktu yang lalu.
Dulu, ketika Chena jatuh ke dalam tangan Touwsoe, dialah yang sudah memohon ayahnya untuk menolongnya.
Tapi belakangan, kenapa ia terus mengubar-ubar, sampai di Puncak Es?
Apa maksudnya?
Maksud baik atau maksud jahat?"
"Apa kau ingin memberitahukan Touwsoe?"
Tanya kawannya.
"Jika Touwsoe diberitahukan, ada baiknya, ada juga tidak baiknya,"
Jawabnya.
"Paling bagus jika kita bisa bertemu dengan Chena. Tapi..."
Belum habis perkataannya, di atas loteng mendadak terdengar suara apa-apa.
Thian Oe mendongak dan melihat terbukanya pintu di satu sudut, disusul dengan keluarnya seorang wanita yang tangannya memegang serupa alat musik.
Perlahan-lahan ia menghampiri langkan dan kemudian, sambil menyender di langkan, ia mementil alat musik yang dibawanya.
Sesaat kemudian, terdengar nyanyian yang seperti berikut.
Sungai es di puncak gunung, laksana Bima Sakti (Milky Way) yang nyungsang.
Dengarlah 'tu kepingan es mengalir dengan perlahan sekali.
Ibarat suara letabuhan yang dipentil dengan jeriji si gadis jelita.
Si nona menanya si pengembara.
Berapa gunung es lagi harus kau mendaki?
Berapa topan lagi harus kau lewati?
Itulah suatu lagu gembala di wilayah Tibet yang sangat mengharukan hati, yang dulu pernah didengar Thian Oe, waktu pertama kali ia bertemu dengan si nona di padang rumput.
Hatinya perih seperti diiris-iris dan matanya terus mengawasi seperti orang lupa ingatan.
Tiba-tiba salah satu jendela yang bersinar terang, terbuka dan seorang Wanita Suci memanggil dengan suara perlahan.
"Sudah malam, Chena Tjietjie. Apa kau tak mau tidur? Jangan melamun!"
"Aku tak bisa pulas,"
Jawabnya.
"Aku ingin turun sebentaran dan waktu kembali, aku akan membawa bunga bwee untukmu."
Sehabis berkata begitu, sambil memeluk alat musiknya ia turun dari atas loteng dan menyanyi dengan suara perlahan.
Di langit, sang elang terbang berputaran.
Di bumi, kawanan binatang lari lintang pukang.
Ah!
Sungguh 'ku ingin menjadi sang elang!
Sungguh 'ku ingin menjadi pisau pembalasan!
Untuk menerkam si raja singa yang kejam.
Untuk menikam jantungnya musuh!
Nyanyian itu adalah nyanyian pembalasan sakit hati di wilayah padang rumput dan bahwa nyanyian itu dinyanyikan oleh seorang Wanita Suci, adalah kejadian yang sungguh luar biasa.
Setindak demi setindak Chena berjalan ke arah tempat bersembunyinya Thian Oe yang terus mengincarnya sambil menahan napas.
Tak jauh dari situ adalah gunung-gunungan tempat bersembunyinya Omateng dan kedua kawannya.
Thian Oe melirik dan kebetulan si gemuk sedang mengintip sambil menongolkan sedikit kepalanya.
Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, tiba-tiba ia melihat Omateng ' tersenyum, satu senyuman licik dan kejam yang membangunkan bulu roma.
Beberapa tahun berselang, waktu bertemu Chena dan Omateng di bukit es pada suatu malam terang bulan, ia pun pernah melihat senyuman begitu.
Tanpa merasa ia bergidik.
Tiba-tiba si nona menghentikan tindakannya dan mendongak memandang rembulan sambil menghela napas berulang-ulang.
"Ah! Thian Oe, Thian Oe!"
Ia mengeluh dengan suara perlahan.
"Sungguh-sungguh aku kejam terhadapmu!"
Mendengar itu, Thian Oe tak dapat menguasai dirinya lagi. Ia tak ingat lagi dimana ia berada dan lalu melompat sambil berteriak.
"Chena!"
Di lain saat.
Dalam taman itu sudah terdengar teriakan-teriakan orang.
Tiba-tiba Thian Oe merasa dirinya dikempit dan dibawa terbang, akan kemudian kedua kakinya hinggap di atas tembok.
Hampir berbareng ia melihat satu sinar merah menyambar ke bawah.
"Lekas! Lekas lari!"
Keng Thian berbisik. Thian Oe segera meloncat ke bawah dan terus kabur, diikuti oleh kawannya. Sayup-sayup mereka mendengar suara ramai-ramai di dalam taman.
"Hoatong sudah keluar,"
Kata Keng Thian sambil tertawa.
"Omateng bisa celaka."
Sesuai dengan dugaan Keng Thian, sebelum keburu kabur, Omateng bertiga sudah dikepung.
Orang yang menerjang paling dulu adalah si Ibu Suci dan empat murid utama dari Hoat-ong yang meronda di taman itu.
Dua kawan Omateng, yang satu bernama Teruchi dan yang lain Kili Singh, adalah jago-jago yang mempunyai kepandaian paling tinggi di Kalimpong.
Begitu berhadapan, si Ibu Suci yang bersenjata sepasang pantek konde yang panjangnya satu kaki, segera menikam Teruchi.
Senjata itu yang terang-terangan mengenakan tepat di dada musuh, mendadak melejit seperti melanggar benda licin, sehingga, waktu Teruchi melompat ke samping, si Ibu Suci terhuyung ke depan dan menubruk salah satu Lhama.
Ia malu bercampur gusar, sehingga mukanya berubah merah padam.
Ternyata jago Kalimpong itu memiliki ilmu Yoga yang sangat liehay.
Sementara itu, Kili Singh yang tidak mempunyai ilmu Yoga, tapi yang ilmu silatnya lebih tinggi daripada Teruchi, sudah mulai bergebrak dengan murid Hoat-ong.
Sesudah lewat beberapa jurus, murid Hoat-ong mendadak mengirim satu pukulan geledek yang menyambar bagaikan kilat ke dada musuh.
Sambil mengerahkan tenaga dalam, Kili Singh menangkis kekerasan dengan kekerasan.
Begitu kedua tangan beradu, murid Hoat-ong sempoyongan, sedang Kili Singh pun bergoyang-goyang badannya.
Melihat kesempatan baik, Ibu Suci menerjang dan menikam jalanan darah Tiongpeng hiat dan Kietjong hiat, di kempungan Kili Singh.
Tapi, biarpun diserang mendadak selagi badannya tergetar akibat pukulan musuh, Kili Singh yang memiliki ilmu silat Poloboen, bisa juga menolong diri dengan jungkir balik.
Pantek konde itu menembus celananya, tapi tak sampai mengenakan jalanan darah.
Sesudah itu, dengan gerakan Leehie tahteng (Ikan gabus meletik), ia melompat berdiri dan terus kabur.
Ibu Suci jadi kalap karena gusarnya.
Ia menganggap, bahwa dua musuh itu sengaja mempermainkannya dengan ilmu yang aneh.
Ia berteriak memberi komando dan dalam sekejap empat murid utama dan sejumlah Lhama sudah mengubar dan mencegat dua jago Kalimpong itu.
Melihat ketika baik, dengan hati berdebar-debar Omateng melompat ke arah loteng merah dengan niatan menyembunyikan diri untuk sementara waktu.
Tapi apa mau, Hoat-ong yang baru keluar dari istana, telah melihat gerak-geriknya.
Ia lantas saja mematahkan cabang pohon yang lalu dipentilnya.
Bagaikan kilat cabang itu menyambar kaki Omateng yang segera roboh terguling di atas tanah.
Muka si gemuk jadi pucat seperti kertas waktu mengetahui siapa yang merobohkannya, sedang Hoat-ong sendiri agak terkejut ketika melihat, bahwa si pengacau adalah Nyepa dari Touwsoe Sakya sendiri.
Tangannya yang sudah terangkat diturunkan lagi dan ia lalu memerintahkan seorang Lhama untuk mengikat tawanan itu.
Sementara itu, Teruchi dan Kili Singh sudah kabur sampai di pinggir tembok.
Dalam keadaaan terdesak, buru-buru Kili Singh membuka Djoanso (tali) yang mengikat pinggangnya dan lalu memutarnya bagaikan titiran.
Karena titiran tali itu disertai dengan tenaga hebat, maka semua Lhama tidak berani maju menyerang.
Dengan gusar Hoat-ong lalu memburu kesitu dan begitu tiba, Teruchi justru sedang naik ke atas tembok.
Sekali menjejak kaki, badannya melesat bagaikan anak panah dan tangannya menjambret tumit kaki jago Kalimpong itu.
Mendadak ia merasa tangannya seperti mencengkeram kapas, tumit itu mengkeret dan terlepas dari cengkeramannya.
Ia mendongkol bukan main dan sambil mengerahkan lweekang, lalu menekuk jerijinya untuk mementil dengan ilmu Tantjie Sinthong (ilmu mementil).
Jika kena, tulang kaki Teruchi pasti akan hancur.
Kili Singh terkesiap.
Untuk menolong kawan, buru-buru ia menyapu dengan Djoanso-nya.
Hoat-ong marah, ia membalik tangan dan lalu membabatnya.
Hebat sungguh babatan itu yang disertai lweekang!
Begitu tersentuh, Djoanso Kili Singh putus jadi dua potong.
Sementara itu, berkat pertolongan sang kawan, Teruchi berhasil meloloskan diri dan terus mabur.
Dengan gergetan Hoat-ong menotok jalan darah Kili Singh yang terus roboh dan lalu diikat oleh seorang Lhama.
Semua kejadian itu terjadi dalam tempo pendek.
Chena sendiri berdiri terpaku bagaikan patung sambil memeluk alat musiknya yang bertali lima.
Kedua matanya mengawasi ke tempat jauh, sedang di kupingnya masih terus berkumandang teriakan Thian Oe.
Seolah-olah tidak melihat segala kekacauan dan tidak mendengar teriakan-teriakan dalam taman itu.
Sesudah Omateng dan Kili Singh dibekuk dan Hoat-ong memanggil namanya, barulah ia tersadar dari lamunannya.
Ia mendongak dan matanya kebentrok dengan mata Omateng.
Ia kelihatan kaget dan berkata dengan suara perlahan.
"Hm! Omateng!"
"Kau kenal dia?"
Tanya Hoat-ong.
"Kenal,"
Jawabnya "Dia adalah Nyepa dari Touwsoe Sakya."
"Nona itu adalah piauwmoay-ku (adik misan),"
Kata Omateng.
"Chena,"
Kata Ibu Suci dengan perasaan heran.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahukan, bahwa kau masih punya saudara misan?"
Sebelum menjawab, si nona melirik Omateng yang parasnya kelihatan bingung sekali.
Sesaat itu juga, ia ingat beberapa kejadian pada waktu yang lalu.
Ia ingat, bahwa Omateng pernah meminta pertolongan Tan Teng Kie untuk menyelamatkan dirinya dari cengkeraman Touwsoe.
Ia ingat pula perkataan Omateng pada malam terang bulan itu, bahwa Touwsoe adalah musuh bersama dari mereka berdua dan bahwa dia bersedia memberi bantuan dalam usaha membalas sakit hati.
Walaupun ia tidak melupakan perkataan Thian Oe yang memperingatkan, bahwa Omateng bukan manusia baik-baik, tapi, baik atau jahat, ia belum mempunyai bukti yang teguh.
"Tak perduli dia baik atau jahat, dia adalah seorang yang pernah coba menolong aku,"
Katanya di dalam hati. Mengingat begitu, dengan suara tawar ia menjawab.
"Sesudah mengabdi kepada Budha Hidup dan menjadi Wanita Suci secara suka rela, aku telah membebaskan diri dari segala ikatan dunia. Jangankan piauwko (saudara misan), sedangkan ayah dan ibu sendiri pun sudah jadi seperti orang luar."
Si Ibu Suci manggut-manggutkan kepalanya seraya memuji.
"Bagus! Dengan demikian, kau adalah seorang Wanita Suci yang benar-benar sudah memisahkan diri dari segala keduniawian."
Hoat-ong yang sudah agak mereda kegusarannya, lantas saja berkata.
"Sebagai seorang Nyepa, kau sudah mengacau dalam istana kami. Apa kau tak tahu, bahwa perbuatanmu itu adalah satu kedosaan?"
"Tahu,"
Jawabnya, menunduk.
"Aku memohon pengampunan Budha Hidup."
"Apa kau datang kemari hanya untuk bertemu Chena?"
Tanyanya pula.
"Benar,"
Sahutnya.
"Aku mengetahui, bahwa seorang Wanita Suci tidak boleh bertemu dengan orang luar dan dengan tersesat, aku sudah masuk kesini seorang diri. Untuk kedosaan itu, aku memohon pengampunan."
Alis Hoat-ong berkerut.
"Kau datang sendirian?"
Ia menegas.
"Apa dua orang itu bukan kawanmu?"
"Bukan,"
Si gemuk menyangkal.
"Waktu tiba disini, dua penjahat itu sudah berada di dalam taman. Lantaran begitu, aku segera menimpuk dengan batu untuk memperingatkan orang-orang yang menjaga disini. Jika mereka adalah kawanku, aku tentu tak begitu gila."
Si gemuk ternyata satu pendusta yang liehay juga otaknya.
Thiansan Sinbong yang ditimpukkan oleh Tong Keng Thian, diakui sebagai batu yang dilontarkan olehnya.
Hoat-ong merasa sangsi dan lalu menanya pula.
"Bagaimana kau tahu, bahwa mereka adalah penjahat?"
"Mereka sudah sering mengacau disini,"
Jawabnya.
"Mereka merampok dan melakukan banyak kejahatan lain. Sebagai Nyepa, aku bertugas untuk membekuk orang-orang jahat, tapi karena tidak mempunyai pembantu pandai, sebegitu lama mereka belum dapat ditangkap!"
Bukan main gusarnya Kili Singh. Tapi ia tidak dapat membela diri, sebab jalanan darahnya sudah ditotok. Hoat-ong tertawa terbahak-bahak.
"Apa benar begitu?"
Tanyanya. Sekonyong-konyong Omateng melompat dan menghantam kepala Kili Singh.
"Bikin apa kau?"
Membentak Hoat-ong sambil mengebas dengan tangannya, sehingga si gemuk terjungkir balik.
Tapi pertolongan itu agak terlambat, karena kepala Kili Singh sudah terpukul hancur dan tewas jiwanya.
Sambil merangkak bangun, Omateng berkata dengan kegusaran yang dibuat-buat.
"Berulangulang manusia itu menghina aku dan mengacau dalam kota Sakya. Sekarang ia malahan berani masuk kesini dan melawan Budha Hidup. Sewaktu hilap, aku tak bisa menahan sabar dan sudah menurunkan tangan sebelum mendapat permisi. Untuk kesalahan itu, aku memohon Budha Hidup sudi mengampuninya."
Hoat-ong sangat menyangsikan keterangan si gemuk, tapi ia mempunyai lain pertimbangan.
Biar bagaimanapun juga Omateng adalah orang sebawahannya Touwsoe sehingga, jika ia sendiri menjatuhkan hukuman, seperti juga ia tidak memandang mukanya Touwsoe.
Di samping itu, dia adalah saudara misan Chena.
Karena adanya pertimbangan itu, ia lantas saja berkata.
"Baiklah. Kejadian malam ini aku akan segera memerintahkan orang untuk melaporkan kepada Touwsoe. Apa kau benar atau salah, apa kau harus dihukum atau tidak, biarlah Touwsoe yang memutuskannya."
Omateng girang bukan main. Buru-buru ia berlutut sambil manggutkan kepala berulang-ulang.
"Terima kasih, terima kasih untuk belas kasihan Budha Hidup,"
Katanya.
"Tapi apakah aku bisa bicara dengan Chena?"
"Boleh, kau boleh bicara disini,"
Sahutnya.
"Apa aku boleh mendengari pembicaraan itu?"
"Tentu saja boleh,"
Jawabnya terburu-buru.
"Hanya urusan kecil saja. Bahwa Budha Hidup memberi ijin, sudah merupakan suatu budi yang sangat besar. Hm! Chena, sebagaimana kau tahu, aku telah mempelajari Gwakang (ilmu luar) dari Agama Topi Merah. Dengan memiliki ilmu itu, tulang-tulangku keras bagaikan besi. Tapi entah kenapa, belakangan ini kepalaku sering sakit. Bagian yang sakit ialah tiga dim di bawah belakang kepala. Aku ingat, bahwa dalam keluargamu terdapat kayu Simhio bok (semacam kayu garu) yang berusia ribuan tahun. Menurut katanya orang, jika kita menggodok kayu itu dan diminum airnya, sakit kepala akibat latihan gwakang bisa menjadi sembuh. Apa kau menyimpan kayu itu? Bolehkah aku meminjamnya untuk sementara waktu?"
Chena bingung, ia tak mengerti apa maksudnya si gemuk.
Apa itu Simhio bok?
Ia sama sekali tidak memilikinya.
Sementara itu Omateng mengacungkan jempol tangan dan meraba bagian belakang lehernya, di tempat yang cekung.
"Disini, disini yang sakit,"
Katanya. Tiba-tiba Hoat-ong mengangsurkan tangan dan menekan di bagian itu dengan jerijinya.
"Disini?"
Tanyanya.
"Aduh!"
Berteriak Omateng.
"Benar disitu!"
"Baiklah, aku akan menolong,"
Kata Hoat-ong sambil mengurut beberapa kali.
Omateng berteriakteriak kesakitan dan menghaturkan terima kasih berulang-ulang.
Sesudah itu, dengan terbirit-birit dia lari keluar dari taman itu.
Hoat-ong tersenyum dan membiarkan dia kabur.
Sesudah si gemuk berlalu, Hoat-ong berkata dengan suara dingin.
"Aku tak mengerti, kenapa Touwsoe menggunakan orang gila itu sebagai Nyepa. Semua perkataannya dusta belaka."
Chena kaget.
"Apa dia berdusta?"
Tanya Ibu Suci.
"Bahwa dia pernah mempelajari Gwakang dari Agama Topi Merah, adalah hal yang sebenarnya,"
Menerangkan Hoat-ong.
"Dan juga benar, bahwa jika seseorang berlatih salah, ia bisa merasakan sakit di bagian kepala. Tapi barusan, waktu aku mencobanya, ternyata dia berdusta. Jika benar ia mendapat luka di dalam badan karena latihan salah, ia tentu akan memuntahkan darah hitam waktu diurut olehku."
"Tapi kenapa dia mengaco belo?"
Tanya pula Ibu Suci.
"Entah,"
Sahutnya.
"Aku juga tak tahu. Chena, apa benar keluargamu memiliki Simhio bok yang berusia ribuan tahun? Memang benar, air godokan Simhio bok bisa menyembuhkan penyakit begitu."
"Semenjak kecil, Piauwko-ku memang mempunyai penyakit otak miring yang kadang-kadang kambuh,"
Kata si nona.
"Malam ini, penyakit itu rupanya kumat lagi. Dulu, keluargaku memang mempunyai kayu mustika itu. Belakangan waktu ayah meninggal dunia, kayu itu dimasukkan ke dalam peti matinya. Hal ini rupanya tidak diketahui Piauwko."
Di Tibet memang terdapat kepercayaan, bahwa Simhio bok bisa mencegah rusaknya jenazah dalam tempo lama dan banyak hartawan menyimpan kayu begitu.
Maka itu, Hoat-ong percaya akan keterangan Chena dan tidak mendesak lagi.
Ia tak tahu, bahwa Chena pun telah berdusta kepadanya.
Malam itu, si nona tak tidur.
Ia rebah di pembaringan sambil mengasah otak untuk coba memecahkan apa maksud Omateng.
Chena adalah seorang yang berotak cerdas dan sesudah memikir beberapa lama, ia dapat meraba-raba maksud si gemuk.
"Ya! Dengan mengacungkan jempol mungkin ia ingin mengatakan bahwa Touwsoe tak boleh dibuat gegabah, bahwa Touwsoe juga pernah mempelajari ilmu Gwakang Agama Topi Merah,"
Katanya di dalam hati.
"Mungkin ia ingin memberitahukan, bahwa Touwsoe memakai baju lapis besi yang tidak dapat ditembuskan senjata tajam dan bahwa bagian kelemahannya adalah di belakang kepala, tiga dim di bawah otak."
Semakin ia memikir, semakin ia merasa, bahwa tafsirannya adalah tafsiran yang tepat dan diam-diam ia merasa berterima kasih untuk petunjuk itu. Tanpa merasa fajar sudah menyingsing.
"Chena,"
Memanggil Ibu Suci.
"Lekas berdandan. Tengah hari tepat kita harus pergi ke kuil untuk menjalankan upacara pembukaan."
Dengan perasaan duka, ia bangun dan lalu membersihkan badan. Ia berdandan dengan hati seperti diiris-iris, karena mengingat Thian Oe.
"Apakah Thian Oe akan datang?"
Tanyanya di dalam hati.
"Aku ingin sekali bertemu pula dengannya untuk penghabisan kali. Tapi... ah! Lebih baik dia jangan datang."
Di lain pihak, Thian Oe pun berada dalam kedudukan yang sama. Ia berkeras ingin menyaksikan upacara pembukaan kuil, tapi Keng Thian sebisa-bisa coba mencegahnya.
"Bagaimana kau sendiri? Kau pergi tidak?"
Tanya Thian Oe.
"Aku pergi,"
Jawabnya.
"Aku pergi sendirian, kau tunggu saja di rumah."
"Kenapa kau boleh, aku tak boleh?"
Kata Thian Oe, uring-uringan.
"Pergiku ini adalah untuk menemui seorang yang sedang dicari olehku,"
Menerangkan Keng Thian.
"Tapi kau? Guna apa kau cari-cari urusan? Kau sendiri sudah tahu, dia menjadi Wanita Suci dengan suka rela."
"Justru itu,"
Kata pula Thian Oe.
"Justru karena ia sudah menjadi Wanita Suci, aku ingin melihat wajahnya sekali lagi."
"Hai! Benar-benar kau kepala batu,"
Kata Keng Thian.
"Semalam, jika tak keburu lari, kita tentu sudah celaka. Upacara hari ini bukan upacara kecil. Di samping rombongan Hoat-ong, hadir juga utusan Dalai dan Panchen Lama, Touwsoe dan lain-lain pembesar negeri. Jika sampai terjadi onar, bagaimana kita menghadapinya?"
"Mana bisa onar?"
Thian Oe terus mendesak.
"Aku berdiri di antara orang banyak dan tujuanku hanyalah untuk melihat wajahnya, satu kali saja."
"Hm!"
Keng Thian mengeluarkan suara di hidung.
"Siapa berani tanggung? Semalam jika kau tidak berteriak, Hoat-ong tentu tidak sampai keluar dari istananya."
"Aku bersumpah tak akan mengeluarkan sepatah kata!"
Kata Thian Oe dengan suara keras.
"Begini saja. Kau totok saja jalanan darah gagu, supaya aku tak bisa bicara."
Keng Thian jadi kewalahan. Ia tersenyum seraya berkata.
"Baiklah! Aku merasa tak tega. Biarlah, satu kali lagi aku menjalankan tugas sebagai pengantar."
Kuil Lhama Topi Putih yang baru itu berdiri di atas sebuah gunung dan dibuat menurut contoh keraton Potala di Lhasa.
Biarpun besarnya dan luasnya tidak bisa dibandingkan dengan Potala yang bertingkat tiga belas, kuil itu mempunyai tujuh tingkatan dan tingginya lebih dari dua puluh tombak.
Tak usah dikatakan lagi, pembuatannya teguh dan indah luar biasa, dengan tiang-tiang yang diukir, dengan batu-batu marmer dan tembok tinggi yang berwarna merah.
Dari jarak puluhan li, orang sudah bisa melihat bangunan itu yang sangat angker.
Dengan mengenakan pakaian penduduk Sakya, Keng Thian dan Thian Oe mendaki gunung itu bersama orang-orang yang ingin memasang hio dan menonton keramaian.
Kira-kira tengah hari, tibalah mereka di depan kuil tersebut.
Dengan melalui jalanan yang ditutup dengan batu-batu marmer hijau, mereka mulai masuk ke dalam pekarangan.
Sesaat itu, dua belas pintu besar sudah dibuka semuanya dan dari pintu-pintu itu kelihatan mengepul ke atas asap hio dan kayu garu yang sangat sedap baunya.
Wewangian itu, keindahan seluruh kuil, suara tambur dan lonceng yang dipukul tak henti-hentinya, menimbulkan suasana yang angker dan suci.
Tetamu yang datang berkunjung berjumlah ribuan, dan malahan mungkin laksaan orang.
Tapi, kecuali suara lonceng dan tambur, keadaan sunyi senyap, karena tiada seorang pun yang berani bicara atau berbisik.
Dengan mengikuti iring-iringan yang panjang, Keng Thian dan Thian Oe maju setindak demi setindak, melewati tiang-tiang jalanan yang tertutup genteng.
Dinding di sekitar itu penuh dengan lukisan, satu antaranya adalah lukisan "Phaspa mengunjungi Kublai di Mongolia."
Lukisan itu indah luar biasa.
Di sebelah kiri dilukiskan sepasukan tentara Mongol yang sedang mengiring joli Phaspa dan di sebelah depan terdapat sejumlah pembesar tinggi yang menyambut kedatangannya.
Tak jauh dari itu, dilukiskan tenda-tenda Mongol dan di belakang tenda, terlihat sejumlah orang yang sedang menyalakan api sambil menunggu kedatangan tamu agung itu.
Di samping itu, terlihat juga unta-unta, keledai-keledai dan kerbau-kerbau yang sedang makan rumput.
Yang paling menyolok adalah lukisan seorang wanita muda yang mengenakan pakaian bangsawan Nepal dan yang sedang berdiri di atas rumput.
Paling menyolok, karena wanita itu berparas luar biasa cantik dan sungguh mengherankan, mukanya sangat mirip dengan muka Pengtjoan Thianlie.
Melihat lukisan tersebut, jantung Keng Thian memukul keras.
"Siapa yang melukis gambar itu?"
Ia tanya dirinya sendiri.
"Tibet adalah tempat yang terpencil. Dari mana datangnya ahli gambar yang begitu pandai? Kenapa muka wanita itu sangat mirip dengan muka Peng Go?"
Ia melirik Thian Oe, tapi kawan itu ternyata tidak memperhatikan gambar atau lainnya, sebab kedua matanya tetap mengawaskan pintu, seperti juga Chena bisa muncul di sembarang saat.
Ia menghela napas, tapi lantas saja ia ingat, bahwa ia pun tiada banyak bedanya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan ruangan sembahyang yang indah dan besar.
Semua orang segera berdiri di undakan batu, sambil menunggu dimulainya upacara.
Di antara segala kemewahan yang terlihat dalam ruangan itu, yang paling menarik perhatian adalah dua pagoda suci yang terbuat dari emas dan yang di atasnya ditata dengan giok, mutiara dan lain-lain batu permata.
Selagi semua orang menunggu dengan hati berdebar-debar, tiba-tiba terdengar suara lonceng dan tambur yang sangat gencar, disusul dengan keluarnya seiringan Lhama yang mengenakan pakaian serba putih.
Yang jalan paling muka adalah Hoat-ong, yang di kiri kanannya diapit oleh empat muridnya yang terutama.
Mereka berhenti dan berdiri di tengah-tengah kedua pagoda suci itu.
Sesudah itu, keluar utusan-utusan Dalai dan Panchen Lama yang masing-masing diiring oleh empat pengikut.
Sebagai tetamu agung, mereka berdiri berendeng dengan Hoat-ong, di samping pagoda suci.
Belakangan, barulah keluar Touwsoe dari Sakya dengan empat Nyepa, antaranya Omateng yang bibirnya tersungging senyuman licik.
Dilihat parasnya yang agak ketakutan dan sikapnya yang kikuk, dapat diduga, bahwa kejadian semalam belum dilaporkan kepada Touwsoe.
Mata Thian Oe terus mengawasi ruangan sembahyang dengan tidak berkesip, tapi rombongan Wanita Suci belum juga keluar.
Keng Thian pun memasang mata ke empat penjuru, tapi Kim Sie Ie yang dicarinya tak kelihatan bayang-bayangannya.
Sesaat kemudian, perlahan-lahan Hoat-ong mengangkat tangan dan berkata dengan suara nyaring.
"Semenjak agama kami meninggalkan Tibet, sampai sekarang sudah lebih dari seratus tahun. Hari ini, berkat belas kasihannya Sang Budha kami bisa kembali ke negeri sendiri dan atas dukungan Budha Hidup Dalai serta Panchen, kami memperoleh Sakya sebagai pusat untuk menyiarkan agama kami. Kami mengharap, bahwa mulai dari sekarang tidak akan terjadi sengketa apa-pun juga dan dengan dipayungi Sang Budha, kita sama-sama bisa mengicipi suatu perdamaian yang abadi."
Harus diketahui, bahwa sedari tahun Tjong Tjeng (kaizar Beng) ke enam belas, Sekte Topi Putih telah didesak keluar dari Tibet oleh.
Sekte Topi Kuning, dan sedari waktu itu sampai pada pembukaan kuil tersebut, sudah berselang lebih dari seratus tahun.
Selama seabad lebih, sudah terjadi puluhan kali benterokan senjata.
Sekarang, walaupun di Sakya sudah tidak terdapat banyak pengikut Sekte Topi Putih, akan tetapi kejadian itu sangat menggirangkan hatinya semua orang.
Maka itu, pidato Hoat-ong disambut dengan sorak-sorai yang gemuruh.
Keng Thian manggutmanggutkan kepalanya dan di dalam hati, ia mengakui, bahwa segala tenaga dan uang yang digunakan untuk membuat kuil itu, mempunyai harga yang setimpal dengan maksudnya, yaitu perdamaian.
Sesudah suara sorak-sorai mereda, lonceng di ruangan sembahyang dibunyikan tiga kali dan dua baris Lhama lalu jalan memutari ruang itu sambil membaca doa dan menciprat-cipratkan air suci.
Mendadak, seluruh ruangan seolah-olah kena arus listrik dan para hadirin membuka mata mereka lebar-lebar.
Sererotan wanita muda, semuanya berjumlah tiga puluh enam orang, yang mengenakan pakaian serba putih dan kudungan muka, muncul dari pedalaman.
Semua orang mengetahui, bahwa upacara pembukaan kuil akan segera dimulai.
Mereka mengawasi sambil menahan napas, tapi orang yang hatinya berdebaran paling hebat adalah Thian Oe.
Dengan tangan masing-masing mencekal botol kristal yang berisi air suci, Wanita-wanita Suci itu mulai menari-nari di depan patung Sang Budha, sambil menciprat-cipratkan air suci di seluruh ruangan.
Thian Oe mengawasi dengan mata tidak berkesip, akan tetapi, ia tak bisa membedakan yang mana Chena.
Sesudah menari-nari beberapa lama.
mereka menyanyikan lagu agama dalam bahasa Tibet, yang bunyinya kira-kira seperti berikut.
Air suci.
Membersihkan kekotoran di dunia.
Tenaga Sang Budha tidak terbatas.
Memayungi umat manusia.
Mendadak, pada bagian terakhir dari empat baris nyanyian itu, terdengar suara yang bernada agak tinggi dan agak gemetar.
Dengan cepat Thian Oe mengawasi ke arah suara itu.
Tiba-tiba ia melihat seorang Wanita Suci yang tubuhnya bergoyang-goyang dan gerakannya agak berlainan dengan kawan-kawannya yang lain.
Jantung Thian Oe memukul keras.
"Itulah Chena! Katanya di dalam hati dan matanya mengawasi dengan tidak berkesip.
"Chena, aku sungguh tak mengerti,"
Ia mengeluh di dalam hati.
"Apa benar kau rela menjadi Wanita Suci seumur hidup?"
Ia tentu saja tidak menduga, bahwa pada waktu itu, kedukaan si nona adalah seratus kali lipat lebih hebat daripada penderitaannya.
Pada saat itu, Chena telah menggunakan seantero tenaganya untuk mempertahankan diri.
Sesudah memutari ruangan sembahyang sekali lagi, para Wanita Suci itu kembali memperdengarkan nyanyiannya.
Air suci.
Mencuci hati, debu kotoran.
Langit dan manusia menyaksikan kebenaran.
Tersadar, bahwa dunia penuh kekosongan.
Mendadak, tiga puluh enam Wanita Suci itu berhenti menari dan menyanyi dan lalu berdiri berjejer di depan patung Budha.
Perlahan-lahan salah seorang membuka sebuah kelambu yang terbuat dari sutera kuning dan terlihatlah delapan belas patung Budha yang sangat indah dan halus buatannya.
Di tengah-tengah adalah patung Sakyamuni (Djielayhoed) yang tingginya dua tombak empat kaki.
Para Wanita Suci segera mencipratkan air suci kepada patung-patung itu dan kemudian lalu mundur dan berbaris di kedua samping.
Demikian berakhirlah upacara resmi pembukaan kuil baru.
Perlahan-lahan Hoat-ong maju ke depan patung dan dengan sikap hormat mempersembahkan khata kepada patung Djielayhoed.
Sesudah Hoat-ong, utusan Dalai dan Panchen Lama mendapat giliran.
Selama diadakan upacara tersebut, semua hadirin merangkap kedua tangannya sambil menundukkan kepala dan membaca doa di dalam hati.
Sehabis utusan Dalai dan Panchen, Touwsoe Sakya lalu maju ke depan.
Ia berlutut di hadapan patung Djielayhoed dan mempersembahkan khata yang lalu disambuti oleh seorang Lhama dan diselendangkan di lengan patung.
Pada detik itulah, mendadak, mendadak saja terdengar teriakan Touwsoe!
Hampir berbareng dengan berkelebatnya sinar putih, sebilah golok terbang menancap di belakang kepala Touwsoe!
"Chena!"
Demikian terdengar bentakan Hoat-ong.
Seluruh ruangan sembahyang lantas kacau balau.
Untuk membalas sakit hati, bertahun-tahun puterinya Raja muda Chinpu melatih diri dalam ilmu melepaskan golok terbang.
Ia sudah memahami ilmu tersebut sampai di dasar-dasarnya dan timpukannya tepat luar biasa, menancap di atas leher, tiga dim di bawah otak Tapi, karena kuatir golok itu belum cukup untuk membinasakan musuh besarnya, hampir berbareng dengan bentakan Hoat-ong, ia melepaskan pula golok kedua dan ketiga dengan beruntun.
Hoat-ong yang berdiri beberapa tombak jauhnya dari patung Djielayhoed, cepat-cepat melompat sambil mengebas tangan bajunya, sehingga golok kedua terpental balik dan menancap di pundak Chena, yang badannya lantas saja bergoyang-goyang, Thian Oe mencelos hatinya, hampir-hampir ia berteriak, tapi untung mulutnya masih keburu ditekap oleh Tong Keng Thian.
Golok ketiga tidak mengenakan sasarannya dan mengenakan punggung Touwsoe.
"Tring!" , golok itu terpental dan menyambar utusan Panchen, yang tidak mengenal ilmu silat. Dengan terkesiap buru-buru ia menundukkan kepala, tapi golok itu menancap di dekat tulang punggungnya. Pada saat itu, dengan sekali melompat, Hoat-ong sudah mencekal tangan Chena. Tapi ia terkejut bukan main setelah melihat utusan Panchen mendapat luka. Buru-buru ia melepaskan Chena dan menolong utusan Panchen. Begitu terlepas dari cekalan, Chena lalu melompat naik ke atas meja sembahyang dan membuka kudungan mukanya.
"Aku adalah anak Raja muda Chinpu!"
Teriaknya.
"Aku membunuh Touwsoe untuk membalas sakit hati orang tua dan kejadian ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan orang lain."
Sesaat itu, empat murid Hoat-ong sudah meloncat ke arah Chena dan seorang antaranya sudah menyentuh pakaian si nona.
Hampir berbareng dengan ucapannya, Chena mencabut golok yang menancap di pundaknya dan lalu menikam leher sendiri!
Darah muncrat dan ia roboh terguling.
Perlahan-lahan ia membuka matanya yang menyapu ke empat penjuru.
Di lain saat, ia meramkan kedua matanya dan dengan bibir tersungging senyuman, ia berpulang ke alam baka.
Ia merasa puas, bahwa pada detik penghabisan, ia masih bisa melihat wajah Tan Thian Oe, yang juga mengawasinya dengan mata tidak berkesip.
Dapatlah dibayangkan, betapa kagetnya semua orang melihat kejadian yang tidak diduga-duga itu.
Untuk sejenak, semua orang berdiri terpaku dengan mulut ternganga.
Di lain saat, mereka mengeluarkan teriakan dan bagaikan gelombang, berlomba lari keluar dengan saling desak.
Hanya Thian Oe sendiri yang tetap berdiri tegak, sambil terus mengawaskan tubuh Chena yang berlumuran darah.
Pada waktu si nona roboh, darahnya bergolak dan tanpa merasa, ia berteriak.
"Chena! Chena!"
Sambil berteriak, ia melompat ke depan untuk menghampiri kecintaannya. Keng Thian buru-buru mencekal tangannya seraya berbisik.
"Thian Oe, kuatkan hatimu! Jangan menerbitkan keonaran!"
Ia menyeret pemuda itu, yang, seperti orang linglung, lalu mengikuti. Di dalam dan di luar ruangan sembahyang, keadaan kacau balau. Di antara teriakan-teriakan, tiba-tiba terdengar jeritan.
"Touwsoe binasa!"
Itulah jeritan dari salah seorang pengikut Touwsoe. Kekalutan menghebat dengan ribuan orang berlari-lari bagaikan kalap. Sekonyong-konyong terdengar teriakan Omateng yang sangat nyaring.
"Tangkap kawan pembunuh! Tangkap konco pembunuh!"
Sesaat itu, Keng Thian dan Thian Oe sedang berlari-lari keluar dari pintu Goatgee boen.
Mendadak, seorang Lhama mecegat jalanan mereka.
Tanpa menegur lagi, Keng Thian menyikut dan Lhama itu lantas saja roboh terguling.
Gelombang manusia terus merangsak dari belakang dengan dahsyatnya, sehingga tubuh si Lhama terinjak-injak.
Waktu ia merangkak bangun, Keng Thian dan Thian Oe sudah tak kelihatan bayang-bayangannya.
Antara begitu banyak orang, hanyalah Hoat-ong yang bisa mempertahankan ketenangannya.
Sesudah kagetnya hilang, mata dan kupingnya memperhatikan segala apa.
Teriakan Thian Oe tentu saja tidak terlolos dari perhatiannya, akan tetapi, sebab Keng Thian dan Thian Oe mengenakan pakaian penduduk Sakya dan juga karena mereka berada di antara ribuan orang, untuk sementara Hoat-ong tak bisa mengenali siapa yang sudah mengeluarkan teriakan itu.
Begitu melihat seorang Lhama terpukul roboh, ia lantas memburu sambil berteriak.
"Jangan lari! Semua orang berpencar kedua pinggiran. Kawan pembunuh adalah dua bocah itu! Semua orang jangan lari!"
Teriakan Hoat-ong yang sangat berpengaruh memberi hasil yang diharapkan dan, meskipun ketakutan, semua orang lantas saja menghentikan tindakannya. Keng Thian kaget bukan main.
"Hoat-ong sungguh liehay!"
Katanya di dalam hati. Selagi ia berusaha untuk mencari jalan guna meloloskan diri, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang aneh.
"Semua orang minggir! Aku ingin berjumpa dengan Budha Hidup!"
Katanya.
Itulah suara Kim Sie Ie!
Dengan hati berdebar-debar, Keng Thian menengok ke arah suara itu.
Sesaat itu semua orang sudah mulai lari lagi dan sambil menyeret Thian Oe, Keng Thian lalu menggunakan kesempatan yang baik itu.
Dalam sekejap mereka sudah keluar dari pintu kuil dan terus kabur ke belakang gunung dengan mengambil jalanan kecil.
Kira-kira sepasangan hio, mereka tiba di belakang gunung yang sepi dan sampai disitu, barulah hati Keng Thian menjadi lega.
Ia menepuk pundak Thian Oe seraya berkata.
"Tan-heng, sadarlah!"
Thian Oe mengawaskan dengan sorot mata lupa ingat.
"Chena! Ah, Chena!"
Ia mengeluh dengan suara hampir tak kedengaran.
"Sekarang aku tahu, kenapa kau menjadi Wanita Suci."
"Chena yang sudah mati tak bisa hidup kembali,"
Kata Keng Thian dengan suara membujuk.
"Menurut pendapatku, kejadian ini akan menerbitkan keonaran besar. Paling benar kita cepatcepat pulang untuk berdamai."
"Berdamai apa? Aku toh tak bisa mengambil jenazahnya,"
Jawab Thian Oe.
Keng Thian insyaf, bahwa otak pemuda itu masih kacau akibat pukulan yang hebat.
Tanpa bicara lagi, ia menyeret pula tangan Thian Oe dan terus berlari-lari ke arah gedung Soanwiesoe.
Selagi enak jalan, sekonyong-konyong terdengar suara orang dalam bahasa Tibet.
"Hm! Sesudah menerbitkan keonaran, kau orang mau mabur?"
Keng Thian menoleh dan dari arah belakang pohon muncul dua orang.
Yang satu adalah seorang pendeta India yang tangan kanannya mencekal tongkat bambu warna hijau, sedang tangan kirinya memegang sebuah mangkok emas.
Orang itu bukan lain dari si pendeta berkelana yang pernah coba merebut guci emas dan yang telah dirobohkan dengan Pengpok Sintan.
Orang yang satunya lagi adalah Teruchi yang semalam mengacau di taman Hoat-ong.
Tanpa menegur lagi, si pendeta lalu membabat dengan tongkatnya dan menghantam kepala Thian Oe dengan mangkok emas.
Melihat sambaran dahsyat dari mangkok itu, pada detik yang sangat berbahaya, Keng Thian menyikut, sehingga tubuh Thian Oe terpental dan berbareng dengan itu, ia memapaki senjata tersebut dengan tinju kiri, dengan menggunakan tenaga Toalek Kimkong.
Di luar dugaan, begitu tersentuh, mangkok itu terputar-putar bagaikan terbang dan Keng Thian merasa tinjunya "diisap"
Dengan semacam tenaga yang sangat kuat.
Ia terkesiap, tapi tak jadi bingung.
Sambil mengerahkan Iweekang dan dengan pukulan Ngoteng kaysan yang sangat keras, ia membabat dengan telapakan tangan kanan.
Akibat babatan itu, tongkat si pendeta terpental ke atas, akan tetapi, sebagai ahli silat jempolan, hampir berbareng ia sudah menyodok jalanan darah Hianki hiat, di dada Keng Thian.
Serangan susulan ini memang sudah diduga Keng Thian.
Cepat bagaikan kilat, pukulan Ngoteng kaysan berubah menjadi Toakinna tjhioe (ilmu menangkap) dan ia menangkap ujung tongkat.
Si pendeta kaget bukan main dan lalu membetot dengan menggunakan Iweekang, tapi tidak bergeming.
Kedua jago itu lantas saja mengadu tenaga dalam dan saling membetot.
Tongkat si pendeta dicekal Keng Thian, sedang tinju kiri Keng Thian "diisap"
Mangkok si pendeta.
Sesaat kemudian, dari atas kepala si pendeta mengepul uap putih, suatu tanda bahwa ia sedang mengerahkan Seantero lweekang-nya.
Teruchi, yang sedari tadi menonton tanpa bergerak, jadi sangat kaget.
Ia adalah soetit (keponakan murid) si pendeta dan mengetahui, bahwa paman gurunya biasanya sungkan dibantu orang.
Tapi keadaan sekarang adalah lain dari keadaan biasa.
Sesudah memikir sejenak, tanpa menghiraukan kemungkinan dimaki, ia membuka Kongso (tali ikatan pinggang yang terbuat dari baja) yang lalu disabetkan ke muka Keng Thian.
Pada detik itu Keng Thian berada dalam bahaya besar.
Karena sedang mengadu tenaga dengan menggunakan dua tangannya, ia tak bisa berkelit atau menangkis lagi, sedang Thian Oe terus berdiri terlongo-Iongo, seperti orang yang lupa ingatan.
Pada saat genting itu, dalam bingungnya Keng Thian membentak keras, suaranya menggeledek seolah-olah halilintar di tengah hari bolong.
Teruchi terkesiap dan tangannya agak bergemetar, sehingga Kongso itu meleset dari sasarannya, lewat tiga dim dari kulit muka Keng Thian.
Akibat bentakan itu, Thian Oe tersadar dan sambil menghunus pedang, ia segera melompat dan menyampok Kongso yang telah disabetkan untuk kedua kalinya ke muka Keng Thian.
Begitu senjata musuh terpental, ia mengirim serangan kedua dengan pukulan Taypeng tiantjie (Burung garuda membuka sayap), sehingga dengan hati mencelos, buru-buru Teruchi meloncat ke samping.
Ia sungkan memberi napas kepada musuh dan lalu mengirim serangan ketiga dengan ilmu Pengtjoan hoeipo (Sungai es berterbangan), ialah salah satu pukulan yang paling liehay dari Pengtjoan Kiamhoat.
Sebisa-bisa Teruchi coba menolong diri dengan melompat ke belakang, tapi ia agak terlambat, karena topinya kena dibabat putus.
Melihat liehaynya pemuda itu, Keng Thian jadi sangat girang dan ia sama sekali tidak menduga, bahwa dengan berdiam beberapa bulan di keraton es, ilmu silat Thian Oe sudah maju begitu jauh.
Karena mengetahui, bahwa jago Kalimpong itu bukan tandingan Thian Oe, maka dengan hati mantap, Keng Thian segera mengerahkan Seantero lweekang-nya dan membetot sekeras-kerasnya.
Sekali ini, kaki si pendeta terangkat dari bumi dan tubuhnya terputar.
Melihat lawannya keteter, Keng Thian segera mengerahkan tenaga di tangan kiri untuk melepaskan "isapan"
Mangkok. Sesaat itu, tiba-tiba ia mendengar suara Teruchi yang berkata dalam bahasa Tibet.
"Jangan banyak tingkah, kau! Kecintaan sendiri kau masih tak bisa melindunginya, guna apa kau membantu kawan?"
Sambil berkata begitu, ia mengawasi Thian Oe dengan sorot mata mengejek.
Mendengar perkataan itu yang tajam seperti pisau, Thian Oe menjadi kalap.
Ia melompat keluar dari gelanggang pertempuran dan sambil menyender di pohon dengan badan bergoyanggoyang, ia berteriak.
"Benar! Benar! Guna apa aku menjadi manusia? Kecintaan sendiri saja, aku sudah tak mampu melindungi. Chena! Chena! Aku sungguh merasa malu terhadap kau!"
Melihat siasatnya berhasil, sambil tertawa nyaring, Teruchi melompat dan menyabet muka Keng Thian dengan senjatanya.
Apa mau, sebelum Kongso mengenakan sasarannya, tubuh si pendeta dan Keng Thian sudah mulai terputar-putar dengan cepatnya, sehingga, karena kuatir melukakan paman guru sendiri, ia terpaksa menarik pulang senjatanya.
Di lain detik, berbareng dengan teriakan Keng Thian yang sangat nyaring, mereka berpencaran dan dengan gerakan kilat, Keng Thian sudah menghunus pedang Yoeliong kiam.
Begitu melihat musuh terpencar dari Soesiok-nya, Teruchi segera menghantam dengan Kongso.
"Awas!"
Teriak si pendeta.
Teruchi kaget dan coba menarik pulang senjatanya, tapi sudah tidak keburu lagi.
Ujung Kongso terbabat putus dan dua bola baja yang tercantel disitu, jatuh di tanah.
Ternyata, sesudah saling membetot beberapa saat, Keng Thian mengetahui, bahwa tenaga "mengisap"
Dari mangkok itu muncul dari gerakan terputarnya, sehingga semakin ia membetot tangannya.
"isapan"
Itu jadi semakin keras.
Buru-buru ia menukar siasat dan memutar tangannya, tapi arah putaran tangan itu adalah sebaliknya dari arah putaran mangkok.
Benar saja, sesudah dua putaran, tangannya terlepas dari "isapan".
Di lain pihak, pada saat Keng Thian memusatkan tenaganya di tangan kiri, si pendeta membetot tongkatnya dengan sekuat tenaga dan ia pun berhasil melepaskan cekalan lawan.
Begitu terlepas, mereka berpencaran dengan masing-masing melompat ke samping, sedang Keng Thian sendiri menghunus Yoeliong kiam sembari meloncat.
Melihat keponakan muridnya berada dalam bahaya, si pendeta berkelana segera menerjang pula dan mengirim pukulan-pukulan berantai dengan tongkat dan mangkoknya.
Karena menghadapi musuh yang terlalu kuat, ia tidak menghiraukan kebiasaannya lagi dan malahan memerintahkan supaya Teruchi memberi bantuan.
Keng Thian sedikitpun tak menjadi keder dan ia lalu melayani dengan ilmu pedang Toeihong Kiamhoat.
Sebagaimana diketahui, si pendeta adalah pecundang Pengtjoan Thianlie, sehingga menurut pantas, ia juga bukan tandingan Keng Thian.
Akan tetapi, keadaan sekarang sedikit berlainan dengan keadaan dulu.
Pertama, senjata rahasia Pengpok Sintan dari Koei Peng Go merupakan senjata sangat istimewa yang disegani oleh si pendeta dan kedua, sekarang si pendeta dibantu oleh keponakan muridnya yang memiliki ilmu Yoga dan yang selalu menyerang dari samping dan belakang secara gerilya.
Maka itulah, sesudah bertempur seratus jurus lebih, perlahan-lahan Keng Thian jatuh di bawah angin.
Ia melirik Thian Oe dan ternyata, kawan itu masih terus menyender di pohon dengan mata mendelong, seperti orang kehilangan semangat, seolah-olah tidak mengetahui, bahwa sang kawan sedang bertempur mati-matian untuknya.
Keng Thian jadi bingung, karena kedudukannya jadi semakin jelek.
Sesudah lewat beberapa jurus lagi, dengan gergetan Keng Thian mengirim dua tikaman ke arah Teruchi, tapi dua serangan itu telah ditangkis dengan mangkok emas.
Berbareng dengan dua kali suara "trang!
trang!"
Teruchi mengedut Kongso yang lantas saja menjadi lurus keras seperti tombak dan yang lalu ditikamkan ke tenggorokan Keng Thian.
Dengan gerakan Honghong tiamtauw (Burung hong manggutkan kepala), Keng Thian mengegos tikaman itu yang lewat di atas kepalanya.
Tapi Teruchi pun bukan anak kemarin dulu.
Hampir berbareng ia menggentak, sehingga Kongso itu, yang berubah menjadi pecut lemas, menyabet punggung musuh.
Berbareng dengan serangan keponakan muridnya, si pendeta menekan Yoeliong kiam dengan mangkok emas dan menotok jalan darah Djiekie hiat, di kempungan Keng Thian.
Dua serangan itu, yang menyambar dengan berbareng, tak bisa ditangkis atau dikelit lagi.
Pada detik berbahaya, Keng Thian mengempos semangat untuk menerima kedua pukulan musuh.
Dengan mengenakan baju mustika, ia merasa pasti akan bisa mempertahankan diri terhadap sabetan pecut yang menyambar ke punggung.
Tapi totokan si pendeta adalah totokan membinasakan yang sangat liehay dari ilmu tongkat Thianmo Tianghoat dan totokan itu memang untuk memecahkan lweekang dari ahli-ahli Lweekeeh.
Maka itu, Keng Thian sendiri masih belum tahu, apa ia akan berhasil mempertahankan diri dengan menutup semua jalanan darah.
Pada detik Kongso dan tongkat hampir menyentuh tubuhnya, mendadak saja si pendeta mengeluarkan teriakan aneh, tongkatnya terpental ke belakang, seakan-akan didorong dengan semacam tenaga yang sangat besar.
Tubuh si pendeta kemudian terputar beberapa kali, dan sesudah roboh, menggelinding ke bawah tanjakan.
Sementara itu, begitu lekas Kongso menghantam punggung Keng Thian, badan Teruchi pun terpental setombak lebih karena didorong dengan tenaga dalam pemuda itu.
Dia bergulingan beberapa kali dan kemudian, seperti juga Soesiok-nya, menggelinding ke bawah tanjakan.
Semua kejadian itu, telah terjadi dalam beberapa detik.
Keng Thian terlolos dari bencana, tapi ia tak tahu, apa sebabnya.
Robohnya Teruchi memang merupakan akibat dari serangan tenaga dalamnya.
Waktu Kongso menghantam punggungnya, yang tidak terluka karena dilindungi baju mustika, ia mengerahkan lweekang sambil menggoyang punggung, sehingga tubuh Teruchi terpental akibat dorongan tenaga dalam itu.
Apa yang mengherankan adalah robohnya si pendeta berkelana itu, Kenapa, sedang tongkat belum menyentuh badannya, si pendeta mendadak menarik pulang senjatanya, seperti didorong oleh semacam tenaga yang sangat besar?
Siapa yang sudah menolongnya?
Keng Thian sungguh tak mengerti.
Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa yang sangat nyaring, suara tertawa yang kedengarannya tak asing lagi.
Tanpa memikir panjang-panjang, ia melompat ke hutan, ke arah suara itu.
Sekonyong-konyong dari dalam hutan terbang menyambar seikat bunga yang masih basah dengan air embun.
Keng Thian menangkap ikatan bunga itu yang di dalamnya terselip selembar kertas dengan tulisan.
Lekas berlalu dari Sakya!
Ia terkejut.
Melihat gubahan dan cara menimpuknya ikatan kembang itu, ia ingat itu ikatan bunga yang ditimpukkan pada waktu ia mencari Pengtjoan Thianlie di atas gunung Gobie san.
Ketika itu, ia menduga, bahwa orang yang menimpuk adalah Koei Peng Go.
Belakangan, ia menyangsikan dugaan tersebut, karena si nona pasti tak mempunyai lweekang yang sedemikian tinggi.
Tapi sekarang, sebab mengetahui, bahwa Peng Go belum tiba di Sakya, ia berani menentukan, bahwa orang yang menimpuk bukan Pengtjoan Thianlie.
Tapi siapa?
Sekonyong-konyong di dalam hutan kembali terdengar suara tertawa nyaring, yang dalam sekejap mata, sudah terdengar jauh sekali.
Jantung Keng Thian memukul keras.
Dalam dunia ini, tidak seberapa orang yang mempunyai ilmu entengkan badan begitu tinggi, yang bisa berlari begitu cepat.
Mendadak, dalam otaknya berkelebat satu nama dan ia lantas saja berteriak.
"Ie-ie (bibi)!"
Tak bisa salah lagi orang yang menimpuk adalah Phang Lin, bibinya yang mahir dalam ilmu Tjekyap Hoeihoa (Ilmu menimpuk dengan daun dan bunga) dan yang suka sekali berguyonan.
Untuk sejenak Keng Thian berdiri terpaku.
Ia yakin, bahwa tak guna ia mengubar bibinya yang liehay itu.
"Tapi kenapa Ie-ie juga datang kesini?"
Tanyanya di dalam hati.
"Kenapa ia menasehatkan supaya aku meninggalkan Sakya?"
Itulah pertanyaan yang tak dapat dijawab olehnya, tapi sesudah memikir beberapa saat, ia menarik kesimpulan, bahwa sang bibi hanya berguyon-guyon.
Tapi ia tak tahu, bahwa nasehat Phang Lin bukan guyonan.
Ia lalu menghampiri Thian Oe yang sedang duduk di bawah pohon dan menggurat-gurat tanah dengan sebatang kayu.
Ternyata, pemuda itu tengah menulis huruf-huruf "Chena."
Keng Thian menghela napas dan sambil menarik tangan orang, ia berkata.
"Hayolah!"
"Kemana?"
Tanya Thian Oe.
"Kemana kita cari Chena?"
"Dengarlah!"
Kata Keng Thian dengan suara sungguh-sungguh.
"Chena sudah meninggal dunia dan tentu bakal ada buntutnya. Jika kau tidak mengurus urusan-urusan yang merupakan akibat dari kebinasaannya, di alam baka ia tentu merasa penasaran."
Mendengar perkataan itu, Thian Oe agak tersadar.
"Bagaimana mengurusnya?"
Tanyanya.
"Paling terutama kau harus menyayang diri sendiri,"
Jawabnya.
"Sekarang marilah kita pulang untuk berunding terlebih jauh."
Setibanya di gedung Soanwiesoe, mereka menuju langsung ke kamar Thian Oe, dimana Keng Thian lalu memeriksa nadinya pemuda itu.
Ia mendapat kenyataan, bahwa mengalirnya darah kacau balau karena kedukaan yang melampaui batas.
"Sekarang coba kau bersila dan mengeluarkan segala pikiran dari otakmu,"
Kata Keng Thian. Thian Oe menurut, tapi beberapa saat kemudian, ia membuka mata seraya berkata.
"Tak bisa! Tak dapat aku menolak gangguan pikiran."
Keng Thian memikir sejenak dan lalu berkata.
"Bersilalah dengan tenang dan turut segala petunjukku."
Sesudah itu, ia lalu menurunkan ilmu melatih lweekang dari Thiansan pay.
Sebagai seorang penggemar ilmu silat, perhatian Thian Oe lantas saja ditujukan kepada pelajaran itu.
Dengan sepenuh hati, ia mendengari petunjuk-petunjuk dan lalu mulai berlatih.
Berselang kurang lebih setengah jam, benar saja ia bisa membebaskan diri dari segala gangguan pikiran dan terus berlatih dengan tenang.
Perlahan-lahan Keng Thian meninggalkan kamar itu untuk mendengar-dengar warta tentang kejadian barusan.
Waktu itu, peristiwa di kuil Lhama sudah diketahui oleh segenap penghuni gedung Soanwiesoe.
Keng Thian memanggil pengurus rumah tangga dan memesan supaya semua penghuni dilarang keluar sembarangan dan supaya pintu depan dijaga baik-baik.
Sesudah lewat magrib, Tan Teng Kie barulah pulang dengan paras muka kusut.
Si pengurus rumah tangga terkejut, karena belum pernah majikannya kelihatan begitu berduka.
Begitu pulang, Teng Kie segera memerintahkan pengurus rumah tangga menutup pintu tengah dan memerintahkan juga dua puluh serdadu untuk menjaga diluar pintu.
Sesudah itu, ia mengundang Keng Thian masuk ke kamar tamu untuk berunding.
Begitu lekas mereka berduduk, Teng Kie menanya.
Mana Oe-djie?"
Dengan ringkas Kang Thian menuturkan segala kejadian yang dialaminya.
"Baru sekarang aku tahu, gadis yang dipenujui Oe-djie adalah puterinya Raja muda Chinpu,"
Kata Tan Teng Kie.
"Semula aku menduga Yoe Peng, itu dewi dari istana es."
Ia menghela napas dan kemudian berkata pula.
"Dengan demikian keadaan jadi semakin sulit."
"Kenapa?"
Tanya Keng Thian.
"Jika tak salah, Omateng bakal menimbulkan kekacauan besar,"
Jawabnya.
"Sesudah kau dan Oe-djie melarikan diri, dalam kuil terjadi lain peristiwa."
"Kehadiran kami dilihat olehmu?"
Tanya Keng Thian. Teng Kie mengangguk.
"Meskipun Oe-djie mengenakan pakaian orang Tibet, aku tentu mengenalinya,"
Jawabnya.
"Sebelum kau orang kabur dari pintu Goatgee boen, Hoat-ong sudah mengubar. Pada saat itu, aku bingung bukan main. Mendadak, muncul seorang pemuda aneh, badannya jangkung, parasnya cakap, mirip-mirip Oe-djie. Ah! Pemuda itu benar-benar besar nyalinya, entah dia pernah makan nyali singa atau jantung macan tutul. Begitu muncul, begitu dia menerjang Budha Hidup!"
Keng Thian lantas saja mengetahui, bahwa "pemuda aneh"
Itu adalah Kim Sie Ie.
"Habis bagaimana?"
Tanyanya dengan hati berdebar-debar.
"Seperti seekor garuda, dia melayang turun dari payon rumah,"
Teng Kie melanjutkan penuturannya.
"Begitu kakinya menginjak bumi, begitu dia mengirim tinju ke arah Hoat-ong. Dalam jarak yang agak jauh, sang Budha Hidup mengebas tangannya dan sungguh heran, pemuda itu seperti kena didorong dengan semacam tenaga yang sangat besar, sehingga dia terpental dan melompat naik lagi ke atas genteng. Sesaat kemudian, ia turun kembali, Hoat-ong mengebas lagi dan untuk kedua kalinya, ia ngapung ke atas genteng. Sesudah kejadian itu berulang tiga kali, empat murid Hoat-ong melompat ke atas dan lalu mengurungnya." -"Dan bagaimana dengan Hoat-ong sendiri?"
Tanya Keng Thian.
"Hoat-ong sendiri tidak bergerak,"
jawabnya.
"Empat murid yang sudah berada di genteng, tidak lantas menyerang.
Dengan sikap hati-hati, seperti sedang menghadapi lawan berat, perlahan-lahan mereka mengurung.
Dengan tetap berdiri di tanah, Hoat-ong mengirim beberapa pukulan ke arah si pemuda yang berada di genteng.
Sungguh aneh, setiap kali Hoat-ong mengirim pukulan, badan pemuda itu bergoyang-goyang.
Sementara itu, empat Lhama sudah mengurung semakin rapat dan mereka akan segera menyerang.
Mendadak, entah kenapa, tubuh Hoat-ong bergoyang-goyang dan sebelum mengirim pukulan lagi, ia menghela napas panjang dan berkata sambil mengebas tangannya.
"Biarkan dia pergi!"
Sambil tertawa nyaring, seperti seekor walet, pemuda itu melompat ke wuwungan dan dalam sekejap, ia sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Keadaan jadi semakin kalut dan orang ramai membicarakan kejadian itu.
Ada yang mengatakan bahwa pemuda itu adalah jejadian yang sengaja datang untuk menjajal Hoat-ong.
Bahwa Hoat-ong tak berhasil menangkapnya, adalah suatu tanda, bahwa kepandaiannya belum cukup tinggi, demikian katanya orang-orang itu yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Sekte Topi Kuning.
Keng Thian kaget berbareng kagum. Di dalam hati ia mengerti, bahwa pukulan yang di kirim Hoat-ong dari bawah genteng adalah pukulan Pekpo sinkoen (Pukulan malaikat dari jarak seratus kaki).
"Dengan kepandaian yang dimiliki Kim Sie Ie, paling banyak ia bisa mempertahankan diri dari serangan Hoat-ong ,"
Pikirnya.
"Bagaimana, selagi diserang Hoat-ong dan dikepung empat Lhama yang berkepandaian tinggi, ia masih bisa meloloskan diri? Apakah ada orang pandai yang membantunya? Didengar dari penuturan Tan Teng Kie, Hoat-ong rupanya telah mendapat peringatan dari seorang pandai. Tapi siapakah orang itu?"
Keng Thian telah menebak jitu, hanya ia tidak menduga, bahwa orang yang sudah menolong Kim Sie Ie, adalah bibinya sendiri. Sesudah berdiam sejenak, Tan Teng Kie berkata pula.
"Tentang puteri Raja muda Chinpu..."
"Namanya Chena,"
Memotong Keng Thian.
"Ya, Chena,"
Membenarkan Teng Kie sambil mengangguk.
"Hal Chena membunuh Touwsoe dan kemudian membunuh diri sendiri, sudah dilihat oleh kau orang. Sesudah nona itu roboh, Omateng segera menghampiri dan membuka kudungan mukanya. 'Hei! Coba kau orang datang kemari!' ia berteriak. 'Puteri Raja muda Chinpu adalah penjahat perempuan yang dulu pernah mencuri kuda dan membakar gedung Touwsoe!' Orang-orangnya Touwsoe segera mendekati dan sebagian besar antaranya mengenali Chena. Mereka manggut-manggutkan kepala dan membenarkan perkataan Nyepa gemuk itu. Di lain saat, sambil berpaling kepadaku, Omateng berkata. 'Tan Taydjin, dia adalah itu penjahat perempuan yang dulu pernah dilindungi olehmu dengan mengajukan permohonan pengampunan kepada Touwsoe.' Dia tertawa, tertawa yang membangunkan bulu romaku. Baru saja aku ingin menjawab, bahwa tindakanku itu adalah karena desakannya sendiri, mendadak Hoat-ong dan empat muridnya berjalan masuk ke ruangan sembahyang. Sementara itu, Omateng dan orang-orangnya Touwsoe sudah menggotong jenazah Touwsoe dan Chena keluar dari ruangan sembahyang. Dia juga sudah berhasil membujuk utusan Dalai Lama untuk mengikutinya, dengan membawa utusan Panchen yang mendapat luka. Sambil berjalan keluar, dia berteriak-teriak, mengatakan ingin membalas sakit hati Touwsoe dan mengajak pulang semua orang-orangnya Touwsoe. Hoat-ong kelihatan bingung, tapi tidak merintangi perbuatan Nyepa gemuk itu. Demikianlah, dengan sikap sombong, dengan diikuti oleh utusan Dalai dan Panchen Lama, Omateng berlalu dari kuil tersebut. Coba kau pikir, siasat apa yang akan dijalankan olehnya? Satu hal yang sudah boleh dipastikan, Omateng sedang bersiap untuk menerbitkan badai di Tibet."
Keng Thian kaget tak kepalang.
"Asal-usul Omateng tak diketahui olehku,"
Katanya.
"Tapi aku sependapat, bahwa dia akan menimbulkan keonaran besar. Tan Taydjin, menurut pendapatku, jalan yang paling baik adalah segera melaporkan kepada Hok Kong An."
Tan Teng Kie menyetujui usul Keng Thian dan ia segera menulis surat.
Tapi belum selesai ia menulis surat itu, mendadak di luar gedung terdengar suara ribut-ribut.
Di lain saat, pengurus rumah tangga masuk dengan tersipu-sipu.
"Dengan membawa sepasukan tentara, Omateng telah mengurung gedung ini,"
Katanya dengan suara gugup. Tan Teng Kie tertawa getir.
"Sakit hati apakah yang didendam olehnya, sehingga dia datang begitu cepat?' katanya.
"Apa dia takut aku melarikan diri?"
Sehabis berkata begitu, dengan mengajak Keng Thian, ia lalu naik ke atas ranggon.
Mereka melihat Omateng dan isteri Touwsoe sedang mencaci di bawah tembok.
Dalam rombongan itu terdapat juga para Nyepa, si pendeta berkelana dan Teruchi.
Sambil mengebas dengan tangannya.
Omateng berteriak.
"Mampuskan semua pembesar Han! Mereka semua bukan manusia baik-baik. Mereka datang ke Tibet untuk mengacau."
Dari atas ranggon, Tan Teng Kie membungkuk kepada nyonya Touwsoe seraya berkata dengan suara nyaring.
"Kebinasaan Touwsoe memang merupakan kejadian yang sangat menyedihkan dan kami turut berduka cita. Tapi, ada hubungan apakah antara terbunuhnya Touwsoe dan aku pribadi? Bolehkah aku mendapat tahu, untuk urusan apa Hoedjin datang kemari dengan sepasukan tentara? Kenapa kalian menumplek kegusaran di atas pundak orang Han?"
Nyonya Touwsoe menangis keras dan sambil menuding Tan Teng Kie, ia berteriak.
"Tan Teng Kie! Jangan kau berpura-pura! Jika penjahat perempuan itu bukan suruhanmu, kenapa dulu kau sudah coba melindunginya? Kenapa anakmu sudah menolongnya dengan mempertaruhkan jiwanya sendiri?"
"Tan Teng Kie, kau dengarlah!"
Omateng menyambungi dengan suara menggeledek' "Urusan kami di Tibet bisa diurus oleh kami sendiri.
Kami tak memerlukan bantuan orang Han.
Dengan menggunakan tangannya seorang penjahat perempuan, kau sudah membunuh Touwsoe dan kau sudah memerintahkan supaya penjahat itu mengaku sebagai puterinya Raja muda Chinpu.
Terang-terangan kau ingin menimbulkan kekacauan di Tibet, supaya kau bisa menarik segala keuntungan dan bisa berkuasa terus di wilayah kami.
Sebelum manusia-manusia seperti kau diusir semuanya, di Tibet tak akan bisa tercapai perdamaian kekal.
Bukan main gusarnya Tan Teng Kie.
Sekarang sudah nyata, bahwa Omateng memang berniat menimbulkan kekacauan dan sengaja menuduh dirinya secara membabi buta.
Baru saja ia ingin balas mencaci, si gemuk sudah mementang busur dan melepaskan sebatang anak panah.
Dengan cepat Keng Thian melompat dan berdiri di depan Tan Teng Kie, akan kemudian, dengan dua jeriji, ia menjepit anak panah yang menyambar itu.
"Manusia tak punya malu!"
Bentaknya.
"Sambutlah anak panah ini!"
Ia mementil dengan dua jerijinya dan anak panah itu menyambar balik dengan tenaga lebih hebat daripada waktu dilepaskan dengan menggunakan busur. Cepatcepat Omateng mengangkat busur dan menangkisnya.
"Tak!" , busur itu patah dua! Omateng kaget tak kepalang, buru-buru ia menggulingkan badan dan menyelesap masuk di antara orang banyak.
"Lepaskan anak panah!"
Teriaknya.
Dalam sekejap, ribuan anak panah menyambar bagaikan hujan gerimis ke arah ranggon.
Sambil memutar Yoeliong kiam, Keng Thian melindungi Tan Teng Kie turun dari ranggon itu dan begitu turun, mereka lalu mengatur pembelaan.
Gedung Soanwiesoe hanya dijaga oleh seratus lebih serdadu, sedang jumlah musuh kurang lebih seribu orang.
Akan tetapi, sebab semua tentara memiliki ilmu silat yang lumayan berkat pelajaran yang diberikan oleh Thian Oe dan juga karena gedung Soanwiesoe kekar dan kuat buatannya, maka tentara Omateng tak gampang-gampang masuk.
Mereka menggunakan "tangga awan"
Untuk memanjat tembok, tapi tangga-tangga itu semua kena dirobohkan.
Sehari dan semalam.
Mereka menyerang terus menerus, tapi gedung Soanwiesoe masih tidak bergeming.
Di pihak Tan Teng Kie, semua orang sudah lelah bukan main dan Keng Thian, yang belum tidur sekejap, mengetahui, bahwa mereka tak bisa mempertahankan diri terus menerus secara begitu.
Pada hari ketiga, waktu fajar mulai menyingsing, Keng Thian melihat, bahwa tentara Omateng telah ditarik mundur kurang lebih separuh.
"Eh-eh!"
Katanya di dalam hati.
"Aku justru kualir mereka menambah kekuatan. Kenapa mereka mundur? Apa Omateng menukar siasat?"
Tentara Tibet itu hanya mengurung, sama sekali tidak memperlihatkan tanda untuk menyerang, sedangkan Omateng dan Teruchi tidak berada dalam tentara.
Selagi Keng Thian mengawasi dengan perasaan sangsi, dari sebelah timur sekonyong-konyong terlihat satu bayangan manusia yang mendatangi dengan cepat sekali dan melewati bagian yang agak kosong dari tentara musuh.
Karena cuaca masih belum terang, tentara Tibet itu tak bisa segera mengenali siapa yang datang, entah musuh atau kawan, sehingga mereka tidak segera merintangi.
Dalam sekejap, bayangan manusia itu sudah melewati dua lapis tentara dan sekarang baru orang melihat tegas, bahwa ia itu adalah seorang lelaki yang berusia empat puluh tahun lebih dan mengenakan pakaian sasterawan.
Beberapa tentara yang menjaga gedung, lantas saja berteriak.
"Aha! Siauw Loosoe!"
Waktu Siauw Tjeng Hong masih menjadi guru dalam gedung Soanwiesoe, ia kelihatan tua dan loyo.
Bahwa sekarang ia muncul dengan gerakan yang begitu gesit, sudah menimbulkan perasaan heran dalam hati segenap tentara yang mengenalnya.
Sesaat itu, tentara Tibet yang juga sudah mengetahui, bahwa Siauw Tjeng Hong bukan seorang kawan, lantas saja merintangi dan coba mengepungnya.
Dengan cepat ia mengebut dengan hudtim dan setiap kali mengebut, satu serdadu roboh terguling.
Tentara Tibet jadi ketakutan, mereka menduga musuh mempunyai ilmu siluman dan tidak berani mengejar terus.
Sesaat itu, orang satu-satunya yang mengubar adalah si pendeta berkelana yang, dengan beberapa kali lompatan saja, sudah menyandak Siauw Tjeng Hong.
Keng Thian kaget, karena ia yakin, Siauw Tjeng Hong bukan tandingan si pendeta.
Sambil mengerahkan lweekang, ia menimpuk dengan dua batang Thiansan Sinbong.
Si pendeta menangkis dengan mangkoknya dan dua kali suara "trang!", senjata rahasia itu menancap di mangkok.
Si pendeta terkesiap, ia tak menduga, bahwa di dalam dunia terdapat senjata rahasia yang begitu liehay dan bisa menembus emas.
Karena musuhnya tertahan Sinbong, Siauw Tjeng Hong bisa lari terus dan melompat naik ke atas tembok.
"Siauw Loosoe, lagi kapan kau datang?"
Tanya Keng Thian sesudah Tjeng Hong hilang sengalsengalnya.
"Sesudah selesai mengubur jenazah Moh Tayhiap, aku segera menyusul kemari,"
Jawabnya.
"Kau tiba lebih dahulu kira-kira satu setengah hari."
"Pengtjoan Thianlie?"
Tanya pula Keng Thian.
"Ia berangkat belakangan,"
Sahutnya.
"Sesudah aku berlalu, ia masih harus berdiam di Gobie san dua hari lagi, untuk mengurus urusan-urusan partai Boetong pay. Ia akan berangkat berbareng dengan Lu Liehiap."
Keng Thian berdiam sejenak.
"Ilmu entengkan badan Peng Go banyak lebih tinggi daripada Siauw Tjeng Hong, sehingga, biarpun berangkat dua hari belakangan, sebenarnya ia sudah mesti tiba disini,"
Katanya di dalam hati.
"Kenapa sampai sekarang ia belum kelihatan mata hidungnya? Apa terjadi kejadian luar biasa?"
Memikir begitu, ia segera menanya pula.
"Lagi kapan kau tiba di Sakya?"
"Kemarin,"
Sahutnya.
"Aku tak bisa lantas masuk kesini, karena penjagaan di luar sangat kuat. Baru hari ini, aku mendapat kesempatan. Mana Thian Oe?' "
Jika mau dituturkan, ceritanya panjang sekali,"
Jawab Keng Thian.
"Dia sekarang sedang beristirahat dalam kamarnya. Sekarang lebih dulu aku minta kau tuturkan keadaan di luar."
"Kalut bukan main,"
Jawabnya.
"Menurut pendengaranku, Omateng telah "
Membakar' utusan Dalai Lama dengan mengatakan, bahwa Hoat-ong Sekte Topi Putih telah menghina Sekte Topi Kuning, karena ia memerintahkan Wanita Suci untuk melukakan utusan Panchen Lama.
Katanya, mereka ingin memohon supaya Dalai dan Panchen Lama mengirim tentara untuk mengusir Sekte Topi Putih, Aku kuatir kejadian ini akan berbuntut dengan perang agama.
Keng Thian terperanjat.
Semula ia menduga Omateng hanya ingin mengusir orang Han dari wilayah Tibet, tapi sesudah mendengar penuturan itu, si Nyepa gemuk ternyata sudah menyulut api di beberapa tempat untuk membakar seluruh Tibet.
Apa maksudnya?
"Kuil Lhama juga sudah diawasi oleh tentara Tibet, tapi mereka belum berani mengacau, karena rupanya masih merasa segan terhadap Hoat-ong,"
Kata pula Siauw Tjeng Hong.
"Menurut pendengaranku Omateng ingin minta bala bantuan dari Kalimpong dan Nepal untuk mempersatukan Tibet."
"Bagaimana baiknya?"
Kata Keng Thian dengan suara bingung.
"Jalan satu-satunya adalah memberi laporan kepada Hok Kong An, supaya segera di kirim bantuan tentara."
Tapi, siapa yang harus membawa surat itu?
Selagi mereka bersangsi, pasukan Tibet mendadak berpencaran dan minggir ke kiri kanan dan di jalanan yang terbuka itu muncul Omateng yang mengiring dua orang Lhama Sekte Topi Putih, yang menunggang seekor gajah putih.
Keng Thian lantas saja mengenali, bahwa mereka adalah murid-murid utama dari Hoat-ong yang pernah dikirim untuk merebut guci emas.
"Sungguh heran,"
Katanya di dalam hati.
"Menurut keterangan, Omateng mengambil sikap bermusuh terhadap Hoat-ong. Tapi kenapa Hoat-ong mengirim dua muridnya datang kesini!"
Sekonyong-konyong pasukan Touwsoe juga berpencaran dan membuka satu jalanan lebar.
Di lain saat, seorang gadis Tsang yang mengenakan pakaian warna hijau dan menunggang seekor kuda, mendatangi dengan cepat sekali.
Kedatangan wanita itu disambut dengan membungkuk oleh semua perwira.
"Itulah puterinya Touwsoe!"
Kata Siauw Tjeng Hong. Sementara itu, sambil mengaburkan tunggangannya, nona itu berteriak.
"Omateng! Omateng!"
Si gemuk menoleh seraya berkata.
"Sanpiie Kangma Kusiu (Nona Sanpiie), perlu apa kau datang kemari? Pulang! Lekas pulang!"
Si nona mendelik dn membentak.
"Omateng! Dengan siapa kau bicara? Bukan kau, tapi akulah yang memerintahkan kau lekas pulang!"
Omateng tertawa dingin.
"Tindakanku ini adalah atas perintah Hoat-ong dan sudah disetujui oleh ibumu,"
Katanya.
"Ayahmu binasa dibunuh penjahat perempuan dan ia mati dengan mata melek. Aku adalah seorang yang ingin membekuk musuh ayahmu!"
Sanpiie kelihatan jengkel sekali, tapi ia tak dapat menjawab perkataan Nyepa itu.
Sementara itu, Omateng dan dua murid Hoat-ong sudah tiba di depan pintu dan berteriak-teriak minta bicara dengan Tan Teng Kie.
Kedua Lhama itu mengacungkan Kioehoan Sekthung (tongkat timah) yang pada ujungnya tergantung satu Patkwa tertata mutiara, yaitu tanda kekuasaan Hoat-ong.
"Kami, utusan Budha Hidup, minta bertemu dengan Taytjeng Ponpo (pembesar kerajaan Tjeng)!"
Berteriak satu antaranya.
"Tan Taydjin bagaimana?"
Tanya Siauw Tjeng Hong.
"Buka pintu atau jangan?"
Tan Teng Kie bersangsi, tapi akhirnya ia menyahut.
"Buka!"
Dengan segala kehormatan Tan Teng Kie menyambut empat tetamunya (Omateng, kedua Lhama dan Sanpiie) dan mengundang mereka ke kamar tamu.
Keng Thian mengikut sebagai pengawal pribadi Soanwiesoe dan duduk di pinggiran.
Sesudah mempersembahkan khata dan mengajak tetamunya minum teh, Tan Teng Kie segera menanya maksud kedatangan mereka.
"Karena merasa tak tega jika sampai terjadi bentrokan senjata, maka Budha Hidup bersedia untuk mengadakan perdamaian,"
Kata salah seorang murid Hoat-ong.
"Orang-orang sebawahan Touwsoe semua mengatakan, bahwa penjahat perempuan itu adalah kawan puteramu, yang sudah turut campur tangan dalam pembunuhan itu. Maka itu, kami meminta supaya Ponpo Taydjin suka menyerahkan puteramu kepada Hoat-ong untuk diadili."
Hati Tan Teng Kie mencelos.
Ia tak menduga, bahwa Omateng sudah bisa mempengaruhi Budha Hidup sampai begitu rupa.
Tentu saja ia tak sudi meluluskan permintaan itu.
Tapi, baru saja ia mau membuka mulut, Sanpiie sudah mendahului.
"Ayahku telah dibunuh oleh puteri Raja muda Chinpu dan sekarang si pembunuh sudah membunuh dirinya sendiri. Maka itu, menurut pendapatku, tidak pantas kita menyeret-nyeret Thian Oe. Jika mau dikatakan Thian Oe turut berdosa, karena ia pernah menolong pembunuh itu, maka cukuplah kiranya jika ia diperintah menjaga peti mati ayahku selama tujuh hari."
Si nona yang mencintai Thian Oe, mengetahui, bahwa jika pemuda itu jatuh ke dalam tangan Omateng, hampir boleh dipastikan ia akan celaka.
Maka itu, dengan mendusta pada ibunya, cepatcepat ia menyusul.
Teng Kie girang bukan main.
"Perkataan Sanpiie Kangma Kusiu benar sekali,"
Katanya.
"Aku menyetujui pemberesan itu. Begitu lekas kau mundurkan tentara, aku akan segera memerintahkan Oe-djie pergi ke gedung Touwsoe."
Omateng tertawa dingin.
"Urusan di Sakya diurus olehku dan ibumu,"
Katanya.
"Tak perlu kau campur-campur. Aku sekarang ingin menandaskan sekali lagi. Aku datang kemari atas perintah Hoat-ong dan ibumu. Apa kau belum mengerti?"
Jika Touwsoe masih hidup, Omateng tentu tak berani berlaku begitu kurang ajar.
Tapi sekarang, sesudah kekuasaan jatuh ke dalam tangannya, ia tak memandang sebelah mata lagi puterinya Touwsoe.
Sementara itu, si gemuk selalu menggunakan nama Hoat-ong dan ibunya serta saban-saban mengatakan, bahwa segala tindakannya adalah untuk membalas sakit hatinya ayahnya, Sanpiie pun tak bisa bertengkar lagi.
Omateng berpaling lagi kepada Teng Kie sambil memperlihatkan tertawa licik, ia berkata pula.
"Ponpo Taydjin, aku mengharap, bahwa dengan mengingat kepentingan yang lebih besar, kau suka segera menyerahkan puteramu."
Teng Kie bingung bukan main dan berkata dengan suara gugup.
"Ini... ini..."
"Orang Han sering mengatakan bahwa siapa yang berbuat, dialah yang harus menanggung segala akibatnya,"
Si gemuk memutuskan omongan tuan rumah.
"Dulu di gedung Touwsoe, puteramu sudah berani membelah buah dengan golok terbang. Apa sekarang ia tak mempunyai nyali untuk mengikut kami?"
Sekonyong-konyong, dari dalam terdengar tertawa nyaring dan seorang pemuda muncul dengan tindakan perlahan.
"Oe-djie!..."
Teng Kie mengeluarkan seman tertahan. Ia mau bicara lagi, tapi mulutnya seperti terkancing, karena melihat hal yang sangat aneh. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
"Omateng!"
Katanya.
"Benar katamu. orang yang berani berbuat harus berani menanggung akibatnya. Aku justru ingin menemui Hoat-ong untuk bicara dengannya. Hayolah! Mari kita berangkat sekarang."
Tan Teng Kie menatap wajah pemuda tersebut dengan mata terbelalak.
Dia mengenakan pakaian Thian Oe dan romannya memang mirip dengan puteranya itu, tapi sudah pasti, dia bukan Thian Oe.
Keng Thian pun kelihatan kaget, tapi di lain saat, ia memberi isyarat kepada Teng Kie dengan kedipan mata.
"Saudara Thian Oe,"
Katanya.
"Kau belum sembuh, bagaimana kau bisa pergi?"
Si pemuda tertawa dingin seraya berkata.
"Tak usah kau memperdulikan aku. Andaikata aku tak sakit, Nyepa Omateng tentu tak sudi membiarkan aku hidup tenang. Eh, Nyepa! Kenapa kau belum mau berangkat?"
Tan Teng Kie yakin, bahwa pemuda itu yang ingin menolong puteranya, mengenal Keng Thian, tapi ia sendiri belum pernah melihatnya dan Thian Oe belum pernah memberitahukan tentang sahabat itu.
Jika Tan Teng Kie heran, Keng Thian sebenarnya lebih heran lagi, sebab pemuda itu bukan lain daripada Kim Sie Ie.
Kenapa dia mendadak muncul dalam peranan sebagai Thian Oe?
la ingat, bahwa menurut Lu Soe Nio, si pengemis kusta hanya bisa hidup tiga puluh enam hari lagi.
Ia menghitung-hitung dan ternyata, sedari Liehiap mengatakan begitu sampai sekarang, sudah berselang tiga puluh tiga hari, atau dengan lain perkataan, Kim Sie Ie hanya bisa hidup tiga hari lagi.
Tapi kenapa mukanya masih tetap seperti biasa, sedikitpun tak memperlihatkan tanda-tanda jelek?
Ia tentu saja tidak mengetahui, bahwa berkat bantuan lweekang dari bibinya, umur Kim Sie Ie diperpanjang lagi tiga puluh enam hari.
Sanpiie juga tak kurang kagetnya.
Ia pun tahu, pemuda itu bukan Tan Thian Oe.
Sementara itu, kedua Lhama lalu bangun berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangannya.
"Terimakasih atas bantuan Ponpo Taydjin."
Sehabis berkata begitu, ia segera bergerak untuk berlalu dengan membawa Kim Sie Ie.
Harus diketahui, bahwa Hoat-ong dan empat muridnya sebenarnya merasa bersimpati terhadap Tan Teng Kie dan mendongkol terhadap Omateng.
Akan tetapi, karena Nyepa gemuk itu menggunakan utusan Dalai dan Penchen Lama untuk menekannya dan juga karena mengingat kepentingan Agama Topi Putih, maka dengan terpaksa, ia menuruti segala permintaan Omateng.
Pada hakekatnya, ia sama sekali tak berniat menyusahkan Tan Teng Kie dan keluarganya.
Di lain pihak, sesudah menatap wajah Kim Sie Ie beberapa saat, Omateng maju setindak sambil membentak.
"Siapa kau?"
Kim Sie Ie mendelik.
"Siapa kau?"
Ia balas membentak.
"Aku adalah Nyepa besar dari Sakya, namaku Omateng,"
Jawabnya.
"Siapa tidak mengenal aku?"
"Aku adalah Tan Thian Oe, menantu Touwsoe Sakya,"
Kim Sie Ie menimpali.
"Siapa tidak mengenal aku? Sesudah Touwsoe meninggal dunia, aku sudah menjadi separuh majikanmu. Jangan kau berlaku kurang ajar di hadapanku."
"Bocah! Apa kau mau cari mampus?"
Mencaci Omateng dengan gusar sekali.
"Jangan kau coba-coba memalsukan nama orang lain?"
"Memalsukan nama orang lain?"
Menegas Kim Sie Ie.
"Dalam dunia ini, mana ada manusia yang mau memalsukan diri sebagai suami orang lain."
Kedua Lhama itu melirik Sanpiie yang paras mukanya berubah merah.
"Thian Oe,"
Kata si nona dengan suara bergemetar.
"Omateng mengandung maksud kurang baik. Kau tak boleh pergi."
Dengan berkata begitu, ia mengakui Kim Sie Ie sebagai Tan Thian Oe.
Sebenarnya, ia juga mengetahui, bahwa pemuda itu bukan kecintaannya, tapi karena tak ingin Thian Oe mengantarkan jiwa, maka, dengan menahan malu, ia sudah berkata begitu.
Mendengar perkataan Sanpiie, kedua Lhama itu tidak bersangsi lagi.
Mereka menganggap, tak mungkin seorang gadis mengakui orang lain sebagai tunangannya dan di samping itu, juga tak mungkin seorang manusia sudi mengantarkan jiwa untuk orang lain.
Mengingat begitu, satu antaranya lantas saja berkata;
"Aku rasa dia adalah Thian Oe tulen, Nyepa tak usah bersangsi lagi."
Omateng tertawa dingin.
"Aku mengenal Tan Thian Oe,"
Katanya.
"Tan Thian Oe mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi."
Sambil berkata begitu, ia mengangsurkan tangan untuk mencengkeram.
"Terima kasih,"
Kata Kim Sie Ie seraya menggoyang pundaknya dan... si gemuk jatuh terjengkang. Ia merasa badannya sakit dan untuk sementara tak bisa bangun berdiri.
"Ilmu silatnya memang cukup tinggi,"
Kata Keng Thian, tertawa.
"Apa sekarang Nyepa percaya?"
Dalam tindakannya yang barusan, Omateng ternyata sudah salah menduga.
Ia menaksir, bahwa pemuda itu adalah orang yang dibeli oleh Tan Teng Kie.
Maka itu, dalam anggapannya, seorang tenaga belian tentu tak mempunyai kepandaian suatu apa.
Tapi kali ini ia membentur tembok dan bertemu dengan si pengemis kusta yang berkepandaian lebih tinggi daripada Thian Oe.
Masih untung, Kim Sie Ie tidak menggunakan seluruh tenaganya, sehingga si gemuk tak sampai patah tulang.
"Siapa berani kata, aku memalsukan nama?"
Membentak Kim Sie Ie sambil mendelik. Omateng tak berani berkata apa-apa lagi.
"Nyepa tak usah bersangsi lagi,"
Kata sang Lhama sambil tersenyum.
"Budha Hidup tengah menunggu. Marilah kita berangkat sekarang."
Keng Thian buru-buru bangun dan sesudah mendekati Kim Sie Ie, ia berkata.
"Saudara Thian Oe, dalam pergimu ini, aku mengharap kau bisa menjaga diri. Inilah yowan-mu (pil). Bawalah."
Sembari berkata begitu, ia mengangsurkan satu botol perak kecil yang berisi tiga biji Pekleng tan.
Menurut katanya Lu Soe Nio, setiap pil itu bisa memperpanjang umur Kim Sie Ie untuk tiga puluh enam hari.
Sesaat itu, karena merasa kagum akan pengorbanan si pengemis kusta, Keng Thian rela menyerahkan semua pil bekalannya.
Sebagaimana diketahui, Pekleng tan dibuat dari Soatlian (Teratai salju) yang terdapat di gunung Thiansan.
Soatlian adalah bahan obat yang tiada bandingannya dalam dunia dan yang bisa memunahkan racun serta menyembuhkan luka.
Dulu, dalam pertempuran antara Tjoei In Tjoe dan Siauw Tjeng Hong, Tjoei In Tjoe telah mendapat luka berat sehingga separuh badannya tidak bisa bergerak.
Hanya dengan sekuntum Soatlian saja, luka itu sudah menjadi sembuh.
Maka itulah, melihat Keng Thian menyerahkan botol obat kepada Kim Sie Ie, Siauw Tjeng Hong jadi kagum bukan main.
Tapi di luar dugaan, pemuda itu mengebas tangan bajunya seraya tertawa terbahak-bahak.
"Tong Keng Thian!"
Katanya.
"Aku tak sudi menerima budimu."
Karena dikebas secara tak terduga, botol itu terbang dan Keng Thian buru-buru menangkapnya kembali.
"Bukan kau, tapi akulah yang menerima budi,"
Katanya. Selagi ia mau melanjutkan omongannya, Kim Sie Ie sudah memotong.
"Hm! Kau hanya ingin memperlihatkan ksatriaanmu kepada Pengtjoan Thianlie. Tapi aku tak mau kau mewujutkan niatan itu. Mati atau hidup adalah takdir Tuhan. Perlu apa aku menerima pertolonganmu?"
Kata-kata itu dikeluarkan dengan suara angkuh dan sebelum Keng Thian bisa menjawab, ia sudah bertindak keluar.
Keng Thian mengantar mereka sampai di depan pintu, tapi Kim Sie Ie terus berjalan tanpa menoleh.
"Orang itu sungguh-sungguh aneh,"
Kata Keng Thian sesudah kembali di kamar tamu.
"Siapa dia?"
Tanya Teng Kie.
"Orang itu adalah yang dikenal dalam kalangan Kangouw sebagai Toktjhioe Hongkay,"
Jawabnya.
"Biar bagaimanapun juga, perbuatannya di kali ini adalah perbuatan seorang ksatria,"
Kata Siauw Tjeng Hong.
"Ia sama sekali tidak mengenal Thian Oe dan aku sungguh tidak mengerti, kenapa ia rela berbuat begitu."
Mereka coba menebak-nebak, tapi tak dapat memecahkan tekateki itu.
Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa tindakan Kim Sie Ie itu bukan ditujukan untuk Thian Oe, tapi untuk Keng Thian.
Ia adalah seorang aneh yang gerak-geriknya aneh pula.
la mengetahui, bahwa jiwanya hanya dapat ditolong dengan Iweekang Thiansan pay.
Tapi karena menganggap Keng Thian sebagai lawannya, keangkuhannya tidak mempermisikan untuk ia menerima belas kasihan.
Ia jadi nekat dan tidak menghiraukan lagi soal mati atau hidup.
Diamdiam ia mengambil keputusan, bahwa sebelum mati, ia akan membuang budi kepada Tong Keng Thian, supaya lawan itu berhutang budi untuk selama-lamanya.
Ia mengetahui, bahwa Keng Thian adalah sahabat Thian Oe dan pemuda itu sedang kebingungan karena tidak mendapat jalan untuk menolongnya.
Mendadak ia mendapat serupa ingatan.
"Dengan menolong sahabatnya, aku mendapat jalan untuk membuang budi kepadanya,"
Pikirnya.
Tapi jalan pikiran itu tentu saja tak dapat ditebak oleh Keng Thian, yang merasa sangat berduka dan menyesal akan keangkuhan orang aneh itu.
Kira-kira seminuman teh, serdadu yang menjaga di luar memberi laporan, bahwa sebagian besar tentara Touwsoe sudah ditarik pulang dan si pendeta berkelana pun sudah berlalu.
Tapi di sekitar gedung Soanwiesoe masih ditaruh sejumlah tentara untuk mengamatamati.
Teng Kie dan yang lain-lain merasa heran dan tidak dapat meraba-raba apa maksud Omateng.
Sesudah berpikir sejenak, Keng Thian lalu minta Siauw Tjeng Hong pergi keluar untuk menyelidiki.
Sesudah lewat magrib, barulah Siauw Tjeng Hong kembali.
"Dari keterangan yang dikumpul olehku, Omateng menarik tentaranya untuk menghadapi lain musuh,"
Katanya.
"Apa kalian pernah mendengar nama Lochu?"
"Dia adalah saudara lelaki dari isteri Raja muda Chinpu,"
Jawab Teng Kie.
"Aku dengar, dia adalah orang gagah nomor satu di bawah perintah Raja muda Chinpu."
"Begitu mendapat warta, bahwa keponakan perempuannya meninggal dunia dan jenazahnya dirampas Omateng, Lochu segera mengerahkan sepasukan tentara untuk membalas sakit hati Tjiehoe dan Gweesenglie-nya (Tjiehoe berarti suami kakak perempuan, sedang Gweesenglie berarti keponakan perempuan),"
Siauw Tjeng Hong melanjutkan keterangannya.
"Pada waktu tentara Omateng mengurung gedung ini, pasukan Lochu sudah mengepung bentengan Touwsoe. Maka itu, mau tak mau, Omateng terpaksa menarik mundur tentaranya. Nyepa itu beranggapan, bahwa Oe-djie adalah orang yang paling tinggi ilmu silatnya dalam gedung Soanwiesoe. Jika Oedjie disingkirkan, maka disini tak ada orang pandai lagi. Memikir begitu, ia lalu menggunakan macam-macam akal licik untuk mendesak Hoat-ong, supaya Budha Hidup itu menangkap Oe-djie. Keadaan di seluruh kota ini bukan main kalutnya. Omateng sudah memerintahkan orang pergi ke Kalimpong dan Nepal untuk minta bantuan tentara, katanya guna mengusir orang Han dan mempersatukan Tibet di bawah kekuasaan orang Tibet sendiri. Warta itu sudah tersiar luas dan semua orang Han menutup pintu rapat-rapat, tanpa berani keluar rumah. Kekacauan sudah terjadi dan jika tentara asing sampai masuk disini, dapatlah kita membayangkan hebatnya kekalutan yang bakal terjadi. Menurut keterangan, tentara Lochu berjumlah kecil dan diduga akan dipukul hancur dalam beberapa hari. Sesudah membasmi Lochu, Omateng tentu akan menggerayang kesini lagi."
Tan Teng Kie menghela napas berulang-ulang.
"Pangkat Soanwiesoe adalah pangkat yang tidak dihiraukan olehku,"
Katanya dengan suara duka.
"Tapi jika di Tibet sampai terjadi huru-hara, aku tak ada muka untuk menghadapi kaizar dan rakyat."
Keng Thian mengasah otaknya, tapi ia tak bisa mendapatkan daya yang sempurna.
"Paling baik kita menjalankan tindakan yang sudah disetujui pagi ini,"
Katanya.
"Secepat mungkin mengirim orang untuk melaporkan kepada Hok Kong An dan meminta bantuan bala tentara."
"Suruh siapa?"
Tanya Teng Kie.
"Aku bersedia untuk menjalankan tugas itu,"
Siauw Tjeng Hong menawarkan diri.
Keng Thian melirik tanpa berkata suatu apa.
Dengan kepandaian yang dimilikinya, Siauw Tjeng Hong belum tentu ia bisa tiba di Lhasa dengan selamat.
Sebenarnya ia sendiri yang ingin pergi, tapi mengingat keselamatan Tan Teng Kie dan segenap penghuni gedung Soanwiesoe, ia jadi bersangsi.
"Tong Tayhiap, bagaimana pendapatmu?"
Tanya Siauw Tjeng Hong. Keng Thian merasa tak enak untuk bicara terus terang. Selagi bimbang, mendadak ia ingat satu orang.
"Siauw Loosoe,"
Katanya.
"Bukankah kau ingin menemui Oe-djie? Sekarang kau sudah boleh menemuinya."
Sesudah melatih Iweekang Thiansan pay sehari dan semalam, kesehatan jasmani dan rohani Thian Oe sudah pulih kembali.
Mendengar teriakan ayahnya, buru-buru ia menyelesaikan latihan dan keluar dari kamarnya.
Begitu melihat gurunya, ia mengeluarkan teriakan girang dan lalu memeluknya.
"Oe-djie,"
Kata sang guru dengan air mata berlinang-linang.
"Dua tahun kita berpisahan dan baru hari ini kita bisa bertemu kembali. Aku dengar, selama dua tahun ini, ilmu silatmu sudah maju jauh sekali. Aku sungguh merasa girang."
"Hal ini sudah terjadi berkat pelajaran yang diberikan oleh Djiewie Soehoe (kedua guru, yaitu Siauw Tjeng Hong dan Thickoay sian) dan petunjuk Tong Tayhiap,"
Katanya.
"Sepanjang warta, soehoe sudah menikah? Mana Socbo (isteri guru)? Apa beliau datang bersama-sama?"
Siauw Tjeng Hong merasa jengah, karena, sebagaimana diketahui, ia baru menikah sesudah berusia lanjut.
"Dia menunggu di Soetjoan,"
Jawabnya dengan pendek. Bicara tentang pernikahan, pemuda itu mendadak ingat Chena dan mukanya lantas saja berubah sedih.
"Dengan membunuh Touwsoe yang kejam, Chena telah menyingkirkan satu kekuasaan jahat dari kota Sakya,"
Kata Keng Thian dengan suara perlahan.
"Perbuatan itu harus mendapat pujian tinggi."
Air mata Thian Oe sebenarnya sudah hampir mengucur, tapi begitu mendengar perkataan Keng Thian, sebisa-bisa ia menahan rasa sedihnya.
"Tapi dia tak bisa kembali kepada kita,"
Katanya dengan suara duka. Teng Kie turut berduka, ia merasa sangat kasihan kepada puteranya yang malang itu. Akan tetapi, mengingat pentingnya urusan negara, ia segera berkata dengan suara keras.
"Oe-djie! Pelajaran apa yang diberikan oleh nabi dan pujangga kita?"
Thian Oe terkejut seraya berkata.
"Aku memohon petunjuk ayah."
"Di ini saat, pemberontakan sudah meledak di Tibet,"
Katanya.
"Tapi kau sendiri, sebaliknya daripada bangkit untuk melindungi rakyat, sudah mengambil sikap seperti seorang perempuan yang lemah. Apa kau tidak merasa malu?"
Thian Oe menatap wajah ayahnya, tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.
"Hanya sayang Chena meninggal dunia dengan mata melek,"
Kata Keng Thian sambil menghela napas.
"Kenapa mata melek?"
Menegas Thian Oe, jantungnya memukul keras.
"Selama hidupnya, Chena selalu berangan-angan supaya orang Han dan orang Tibet bisa hidup akur bersama-sama seperti satu keluarga,"
Kata Keng Thian.
"Kenyataan ini tentu juga diketahui olehmu."
"Sebagai puteri seorang raja muda, belum pernah ia memandang rendah kepada orang Han,"
Kata Thian Oe.
"Hal ini tak akan bisa dilupakan olehku."
"Hm!"
Kata Keng Thian.
"Sekarang, dengan menggunakan alasan dari kebinasaannya, Omateng sudah menyulut api pemberontakan supaya orang Tibet saling membunuh dengan orang Han. Bagaimana Chena bisa mati dengan mata meram? Omateng telah merampas jenazahnya yang sampai sekarang masih belum dikubur. Bagaimana dia bisa mati dengan mata meram? Di samping itu, orang yang dicintainya bukan saja tidak berusaha untuk mencegah pemberontakan itu, tapi malahan enak-enak menonton sambil berpeluk tangan. Coba kau pikir. Bagaimana dia tidak mati dengan mata melek?"
Perkataan Keng Thian itu bagaikan halilintar yang menyambar kuping Thian Oe, sehingga ia berdiri terpaku seperti patung. Sesudah lewat beberapa lama, ia mendongak dan berkata dengan suara perlahan.
"Apakah yang harus dilakukan olehku?"
"Kita berniat mengirim orang untuk membawa surat kepada Hok Kong An,"
Kata Keng Thian, seperti juga ia bicara pada dirinya sendiri.
"Hanya sayang, belum didapat orang untuk membawa surat itu."
"Kenapa kau tidak memberitahukan siang-siang?"
Kata Thian Oe dengan cepat.
"Guna ayah dan Chena, aku bersedia untuk melakukan tugas itu."
"Surat ini penting luar biasa, sehingga kau harus bersungguh hati dan berlaku sangat hati-hati,"
Memperingatkan Keng Thian.
"Biarpun mesti masuk ke dalam lautan api, aku pasti akan menyampaikan surat itu kepada alamatnya,"
Kata Thian Oe dengan suara tetap.
Mendengar begitu, Keng Thian jadi girang bukan main.
Harus diketahui, bahwa pada waktu itu, ilmu silat Thian Oe sudah lebih tinggi daripada gurunya.
Biarpun kepandaiannya masih belum bisa menandingi si pendeta berkelana, akan tetapi ilmu mengentengkan badannya lebih tinggi setingkat daripada pendeta tersebut.
Maka itu, andaikata ia dikalahkan dalam pertempuran, ia masih dapat melarikan diri.
Tan Teng Kie lantas saja menyerahkan surat yang sudah ditulisnya, kepada Thian Oe dengan memberi banyak nasehat dan pesanan.
Waktu itu, matahari sudah selam ke barat.
Sesudah menangsal perut, Thian Oe segera berdandan dan mengenakan pakaian jalan malam yang berwarna hitam, akan kemudian berangkat dengan menggunakan ilmu entengkan badan.
Berkat gerakannya yang sangat gesit, ia bisa meloloskan diri dari belasan serdadu musuh yang menjaga di luar, tanpa diketahui.
*** Dengan hati jengkel dan bingung, Hoat-ong jalan mundar-mandir di dalam kuil, sambil menunggu kedua muridnya yang diperintah menangkap putera Soanwiesoe.
Ia menghela napas berulang-ulang dan berkata dalam hatinya.
"Hai! Aku tahu, Omateng seorang jahat yang licik, sedang Tan Teng Kie seorang pembesar jujur. Kenapa juga aku sudah menyediakan diri untuk diperalat Omateng guna mencelakakan orang yang baik. Dengan perbuatan yang rendah itu, apakah aku masih ada muka untuk menjadi pemimpin dari satu agama?"
Di lain saat, ia ingat kepentingan agamanya sendiri.
Jika ia tidak menunduk kepada Omateng, terdapat kemungkinan besar, agama Sekte Topi Putih bakal diusir lagi dari wilayah Tibet.
Ia bingung dan sangsi.
Di satu pihak, ia ingat kehormatan diri sendiri, di lain pihak, ia harus memperhatikan kepentingan agamanya.
Sebelum ia mengambil keputusan, seorang Lhama melaporkan bahwa kedua muridnya sudah kembali dengan membawa putera Tan Teng Kie.
Hoat-ong segera mengeluarkan perintah supaya "Thian Oe"
Dibawa ke hadapannya, sedang Omateng boleh lantas pulang.
Beberapa saat kemudian, dua muridnya sudah masuk dengan mengiring Kim Sie Ie.
Sekali melihat pemuda itu, Hoat-ong terkesiap.
Pemimpin agama yang matanya sangat awas itu, lantas saja mengenali, bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya, adalah si pemuda angin-anginan yang pernah mengacau waktu diadakan upacara pembukaan kuil.
"Siapa kau?"
Tanyanya dengan suara dalam. Kim Sie Ie tertawa dingin.
"Kau sendiri yang mengundang aku,"
Jawabnya.
"Apa benar kau tak tahu siapa adanya aku?"
Kedua muridnya kaget bukan main dan buru-buru memberi keterangan.
"Puteri Touwsoe telah mengakui, bahwa dia adalah tunangannya sendiri. Tan Teng Kie juga mengakui, bahwa dia adalah puteranya. Maka itu, kami menganggap tak bisa salah lagi."
Mulutnya berkata begitu, hatinya ketakutan, karena mengingat perkataan Omateng. Hoat-ong jadi semakin bercuriga.
"Jika benar dia putera Soanwiesoe, tak bisa jadi dia cari permusuhan denganku,"
Pikirnya. Memikir begitu, ia mengebas tangannya supaya kedua muridnya berlalu dan kemudian mengunci pintu.
"Bocah!"
Bentaknya.
"Sungguh sayang, sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, kau sudah berani menggunakan nama orang lain."
"Hoat-ong!"
Kim Sie Ie balas membentak.
"Sungguh sayang, sebagai kepala dari satu agama, kau sudah rela diperalat Omateng, guna mencelakakan orang baik."
Hoat-ong merasa malu dan untuk sejenak, ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Kim Sie Ie tertawa nyaring.
"Ha-ha! Aku tak nyana, seorang Budha Hidup juga bisa menjadi bingung,"
Ia mengejek.
"Tak usah kau bingung-bingung. Tak usah kau menghiraukan, apa aku Tan Thian Oe atau bukan. Sebegitu jauh kau bisa menghukum satu manusia, kau sudah bisa memuaskan hatinya binatang Omateng."
Bahwa satu manusia berani bicara begitu kasar di hadapan Hoat-ong, adalah kejadian yang baru pernah terjadi.
Selama Kim Sie Ie mengejek, beberapa pikiran keluar masuk dalam otaknya.
Bagaimana ia harus berbuat?
Melepaskan pemuda itu?
Menyerahkannya kepada Omateng?
Tapi, jika diserahkan kepada Omateng, pemuda yang mempunyai kepandaian tinggi itu, mungkin akan menerbitkan keonaran yang lebih hebat.
Kim Sie Ie terus mengawaskan sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba paras muka Hoat-ong berubah menyeramkan.
"Anak muda,"
Katanya.
"Apa benar kau rela pergi ke bentengan Touwsoe untuk mewakili putera Soanwiesoe menerima hukuman?"
"Itu urusanku, tak perlu kau campur-campur,"
Jawabnya dengan ketus.
"Baiklah,"
Kata Hoat-ong.
"Aku mengantar kau dengan memberi berkah."
Ia membalik tangannya yang lantas menyambar ke kepala Kim Sie Ie. Sambil tertawa, Kim Sie Ie menangkis.
"Aku tak percaya malaikat, tak menyembah Budha,"
Katanya.
"Tak perlu segala berkahmu."
Tapi, begitu lekas tangannya kebentrok tangan Hoat-ong, ia terkejut, karena tangan itu menindih dengan tenaga yang luar biasa besar. Buru-buru ia mengempos semangat dan menahan dengan sekuat tenaga.
"Anak muda,"
Kata Hoat-ong.
"Kesombongan dan kekurang ajaranmu pantas mendapat hukuman. Kau adalah seorang yang sangat mengandalkan ilmu silatmu. Biarlah sekarang aku memusnahkan ilmumu itu."
Ia menambah tenaga dan menekan semakin kuat.
Kim Sie Ie sebenarnya masih mau mengejek, tapi ia tidak dapat berbuat begitu, sebab harus mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan serangan musuh.
Meskipun lweekang Tokliong Tjoentjia bukan dari cabang persilatan yang "tulen" , akan tetapi, dalam Rimba Persilatan, ilmu itu mempunyai kedudukan istimewa, sebagai lweekang yang tiada keduanya di dalam dunia.
Maka itu, biarpun Kim Sie Ie baru mempunyai latihan belasan tahun, dalam tempo setengah jam, ia masih bisa mempertahankan diri.
Hoat-ong merasa kagum dan berkata dalam hatinya.
"Sayang, sungguh sayang! Orang yang berbakat begini baik, tidak mengambil jalanan lurus."
Sesudah bertahan kurang lebih sepasangan hio, Kim Sie Ie merasa badannya panas dan tenaganya mulai berkurang.
Ia mengerti, lama-lama ia pasti akan roboh sebagai orang yang bercacat.
Dengan nekat, ia lalu mengempos semangat untuk mempertahankan diri sedapat mungkin.
Sesudah lewat lagi beberapa lama, Kim Sie le merasa bibir dan lidahnya kering, sedang tubuhnya seperti dibakar.
Di lain pihak, Hoat-ong pun merasa tulang-tulangnya sakit, suatu tanda ia sudah mengeluarkan tenaga secara melampaui batas.
Tapi biar bagaimanapun juga, berkat latihan puluhan tahun, lweekang Hoat-ong lebih unggul setingkat daripada pemuda itu.
Tiba-tiba Hoat-ong mengempos semangat sambil menekan keras dengan telapakan tangannya.
Mendadak ia berpikir.
"Dia masih berusia begitu muda, tapi ilmunya sudah begitu tinggi. Apa tidak kasihan, jika aku memusnahkan kepandaiannya?"
Di lain detik, dalam otaknya masuk lain pikiran.
"Jika aku tidak memusnahkan ilmunya, bagaimana aku bisa menyerahkan kepada Omateng?"
Pada detik itu, selagi Hoat-ong bersangsi, sinar mata Kim Sie Ie tiba-tiba berubah beringas dan bibirnya bergerak.
Hoat-ong adalah seorang Lhama yang berilmu sangat tinggi.
Tapi, melihat sinar mata itu, tanpa merasa hatinya berdebar-debar.
Ia tak mengetahui, bahwa pada detik itu, dalam hati Kim Sie Ie timbul keinginan untuk membinasakan lawannya.
Sebagaimana diketahui, dalam mulutnya tersimpan senjata rahasia yang paling beracun didalam dunia, yaitu jarum Tjitsat Tokbcng Sintjiam (Jarum Pembetot Nyawa), yang telah direndam di dalam bisa ular dari pulau Tjoato.
Waktu Tong Keng Thian kena jarum itu, ia harus berobat sebulan lebih, biarpun sudah menelan Pekleng tan yang terbuat dari Thiansan Soatlian.
Lweekang Keng Thian dan Hoat-ong kira-kira setanding, tapi Hoat-ong tidak memiliki obat semacam Pekleng tan, sehingga, jika ia kena jarum itu, hampir boleh dipastikan, ia akan binasa.
Pada saat Kim Sie Ie hendak menyemburkan senjata rahasianya, sekonyong-konyong dalam otaknya berkelebat satu pikiran.
"Aku dan dia sama sekali tidak bermusuhan. Hatiku tentu tak enak, jika ia sampai binasa."
Di lain saat, ia berkata pada dirinya sendiri.
"Jika aku tidak membinasakannya, dialah yang bakal memusnahkan seantero kepandaianku. Tanpa ilmu silat, aku pasti diinjak-injak manusia, sehingga tak guna aku hidup terus."
Memikir begitu, bibirnya bergerak pula dan jarum racunnya sudah tersedia di atas lidah. Tapi, mendadak saja ia mendapat lain ingatan.
"Ah! Biar bagaimanapun juga, dia adalah pemimpin dari satu agama. Apa tak sayang, jika ia binasa dalam tanganku? Waktu hidupku sudah tidak lama lagi. Biarlah aku mengalah terhadapnya."
Sesaat itu, Hoat-ong kembali menambah tenaganya dan lagi-lagi ia mendapat lain pikiran.
"Sedari aku meninggalkan pulau Tjoato, banyak sekali jago-jago sudah dirobohkan olehku. Jika aku dirobohkan, bukankah orang yang tak tahu akan mengatakan bahwa aku kalah dalam mengadu ilmu. Mereka tentu tak menduga, bahwa kekalahanku adalah karena aku yang mengalah."
Demikianlah, pada detik yang sangat genting itu, beberapa pikiran keluar masuk bagaikan kilat di dalam otaknya.
Kim Sie Ie adalah seorang yang tak mau kalah dari siapapun juga.
Pada detik itu, dalam alam pikirannya ia lebih suka mati daripada dihina orang.
Yang harus dikasihani adalah empat murid Hoat-ong yang menunggu di luar pintu.
Mereka menungggu dan menunggu dengan tidak sabaran, tapi sesudah menunggu lebih dari satu jam, pintu masih tetap tertutup.
Mereka sama sekali tidak mimpi, bahwa dalam kamar itu dua jago kelas utama sedang mengadu jiwa dan tengah berada pada detik yang memutuskan.
*** Sekarang marilah kita balik kepada Tan Thian Oe yang mendapat tugas untuk membawa surat ayahnya kepada Hok Kong An.
Karena harus berlomba dengan sang waktu, malam-malam Thian Oe berangkat juga.
Sesudah melewati serdadu-serdadu Touwsoe yang menjaga di luar gedung Soanwiesoe, dengan menggunakan ilmu entengkan badan, ia meneruskan perjalanan ke Lhasa.
Dalam perjalanan itu, ia harus melewati bentengan (gedung) Touwsoe yang berdiri di atas gunung dan jalanan yang harus diambilnya, terletak melintang di satu lembah.
Sesudah melewati lembah itu, di tengah gunung ia melihat tentara dan bendera yang besar jumlahnya, sedang di bentengan pun terlihat bayangan-bayangan hitam dan bendera yang berlapis-lapis.
Ia mengetahui, bahwa tentara yang berkumpul di tengah gunung adalah tentara Lochu yang sedang mengepung bentengan Touwsoe.
Dengan cepat ia sudah tiba di bagian utara gunung tersebut.
Hatinya lega dan sambil mengempos semangat, ia mendaki bukit yang menghadang di depannya.
Tapi baru saja berlari-lari beberapa puluh tombak, sekonyong-konyong berkelebat satu bayangan manusia yang lantas berdiri di tengah jalan.
Thian Oe mengawaskan dengan kaget dan ternyata, orang itu bukan lain daripada si pendeta berkelana.
Di bawah sinar rembulan, pendeta itu juga segera mengenali, bahwa yang dicegatnya adalah Tan Thian Oe.
"Aha! Kalau begitu kau?"
Katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan menghantam dengan tongkat bambunya.
Thian Oe melompat seraya membabat dengan pedangnya dalam pukulan Tokoa ginho (Bima Sakti yang tergantung nyungsang), yaitu salah satu pukulan terliehay dari Pengtjoan Kiamhoat.
Ia menduga bahwa dengan sekali menyabet, tongkat itu akan menjadi putus.
Tapi, di luar dugaan, begitu kedua senjata kebentrok, tongkat si pendeta "menempel"
Di pedang dan bergerak menurut gerakan pedang. Thian Oe terkejut, buru-buru ia mengebas senjatanya untuk melepaskan "tempelan"
Itu. Baru saja ia mengangkat kaki untuk kabur, mendadak si pendeta berteriak.
"Ih! Omateng, kemari! Coba lihat, apa bocah ini benar Tan Thian Oe?"
Kenapa si pendeta bersangsi?
Pada waktu ia bertemu Thian Oe untuk pertama kali, yaitu waktu ia coba merebut guci emas, kepandaian pemuda itu paling banyak hanya bisa menandingi muridnya.
Tapi sekarang, ia bukan saja bisa mempertahankan diri dari serangan tongkat, tapi juga sudah berhasil melepaskan senjatanya dari "tempelan"
Tongkat.
Si pendeta merasa, bahwa lweekang pemuda itu sudah tidak berjauhan dengan lwee4cang-nya sendiri.
Itulah sebabnya ia bersangsi dan memanggil Omateng untuk mendapat kepastian.
Sehabis berteriak begitu, si pendeta lalu mengirim dua serangan berantai, yang satu menggunakan tenaga "lembek", yang lain tenaga "keras".
Thian Oe menjejak kedua kakinya dan bagaikan seekor garuda, tubuhnya terbang lewat di samping si pendeta dan dalam sekejap, ia sudah lari belasan tombak.
Tiba-tiba, dari pinggir jalanan muncul seorang yang tertawa bergelak-gelak.
"Bocah! Mau lari kemana kau?"
Bentaknya.
Begitu mengenali orang yang mencegatnya, Thian Oe lantas saja menjadi kalap.
Orang itu adalah Omateng yang menjadi gara-gara dari kebinasaan Chena dan yang sudah merampas jenazah kecintaannya itu.
Matanya merah, darahnya mendidih dan ia melupakan segala pesanan ayahnya dan Keng Thian.
Ia mengangkat pedang dan mengirim satu tikaman kilat.
"Bret!" , pedang Thian Oe menembus Djoanka (pakaian perang yang lemas) dan ujung pedang membuat satu goresan panjang di pundak Omateng. Ia berhasil melukakan musuh, tapi karena itu, si pendeta berkelana sudah menyandak. Sesaat itu, ia sebenarnya masih bisa melarikan diri. Tapi dalam kalapnya, sebaliknya dari kabur, ia lalu mengirim serangan-serangan nekat. Kepandaian Omateng tidak terlalu rendah. Biarpun ia kalah setingkat dari Tan Thian Oe, tapi untuk sementara, sedikitnya ia masih bisa membela diri. Dalam sekejap tiga serangan Thian Oe sudah ditangkis olehnya dan waktu Thian Oe mengirim serangan keempat, si pendeta sudah meloncat masuk ke dalam gelanggang pertempuran dan menyampok pedangnya. Sekali ini, pendeta itu tidak berani berlaku ceroboh lagi. Dengan hati-hati ia melayani dan mengunakan taktik gerilya. Jika Thian Oe mundur, ia merangsak, kalau Thian Oe merangsak, ia mundur. Dilihat sekelebatan, mereka seperti juga dua bocah yang lagi main petak, tapi sebenarnya kedua lawan itu sedang mengadu ilmu dengan menggunakan lweekang yang sangat tinggi. Dilayani secara begitu, Thian Oe yang lweekang-nya masih kalah kuat, perlahan-lahan jatuh di bawah angin. Selang kira-kira setengah jam, keadaannya sudah berbahaya sekali, hampirhampir ia tak dapat mempertahankan diri lagi. Pada detik yang sangat berbahaya, mendadak Thian Oe bergidik karena menyambarnya hawa dingin yang sangat hebat dan berbareng dengan itu, tekanan si pendeta lenyap. Dengan cepat ia melompat ke-belakang dan sesudah menegakkan badannya yang bergoyang-goyang, ia menoleh ke belakang. Di antara uap dingin yang berwarna abu-abu, ia melihat seorang wanita. Hatinya meluap dengan kegirangan, karena wanita itu bukan lain daripada Yoe Peng. Tak usah dikatakan lagi, hawa dingin yang barusan adalah akibat dari Pengpok Sintan yang dilepaskan oleh si nona. Tapi karena lweekang Yoe Peng masih belum cukup, ia tidak berhasil melukakan pendeta itu. Meskipun begitu, serangan tersebut sudah membantu Thian Oe meloloskan diri. Si pendeta gusar tak kepalang. Sambil menggereng, ia menerjang si nona. Dengan gerakgerakannya yang sangat lincah, Yoe Peng mengegos tiga serangan berantai. Selagi Thian Oe mau membantu, mendadak Yoe Peng tertawa nyaring seraya berteriak.
"Manusia tak tahu diri! Dulu majikanku telah mengampuni jiwamu. Apa sekarang kau masih berani melawannya?"
Si pendeta terkesiap karena ia lantas saja ingat, bahwa wanita itu adalah kawannya Pengtjoan Thianlie. Selagi ia bersangsi, Yoe Peng bersiul nyaring, disusul dengan suara tertawa yang merdu.
"Yoe Peng! Dengan siapa kau bertempur? Aku segera datang!"
Kata satu suara yang merayu.
Suara itu datang dari bukit di seberang, tapi setiap perkataannya terdengar nyata sekali.
Bagi si pendeta, suara yang merdu itu seakan-akan menggeledeknya halilintar.
Ia mengenali, bahwa itulah suara Pengtjoan Thianlie yang disegani olehnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memutar badan dan lantas kabur.
Gerakan Pengtjoan Thianlie cepat luar biasa.
Sedang suaranya masih berkumandang di lembah, orangnya sudah berdiri di tanjakan gunung-Dengan pakaiannya yang serba putih dan yang berkibar-kibar karena ditiup angin, ia seolah-olah seorang dewi.
Si pendeta jadi semakin ketakutan dan ia kabur bagaikan orang gila.
Omateng yang bertubuh gemuk tak bisa lari cepat.
"Manusia itu jahat sekali!"
Berteriak Thian Oe sambil melompat untuk mengejar.
"Tak usah begitu berabe!"
Kata Yoe Peng sambil mementil sebutir Pengpok Sintan.
Omateng yang tengah merat mendadak merasakan hawa yang luar biasa dingin di jalanan darah Thiantjoe hiat, di belakang lehernya, dan hawa itu menembus sampai di uluhatinya.
Di lain saat, badannya kesemutan, tenaganya musna dan tanpa bersuara, ia roboh di tanah.
"Thian Oe,"
Kata Yoe Peng.
"Perlu apa di tengah malam buta kau bergelandangan disini?"
Air mata pemuda itu lantas saja mengucur deras.
"Chena... dia... dia..."
Katanya terputus-putus. Tak dapat ia meneruskan perkataannya. Yoe Peng menghela napas seraya berkata dengan suara duka.
"Hal meninggalnya Chena Tjietjie sudah diketahui oleh kami."
Pengtjoan Thianlie pun kelihatan sedih sekali.
"Sayang sekali, karena waktu tidak mengijinkan, waktu itu aku hanya menurunkan ilmu melepaskan golok terbang,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Aku tak keburu memberi pelajaran untuk melindungi diri. Tapi, ia sekarang sudah berhasil membalas sakit hati kedua orang tuanya. Aku percaya, ia mati dengan mata meram."
Pengtjoan Thianlie adalah seorang yang tidak gampang memperlihatkan perasaannya.
Tapi meninggalnya Chena sudah mendukakan sangat hatinya, sehingga parasnya jadi guram sekali.
Ia menghela napas seraya berkata.
"Pada sebelum kau berguru dengan Thiekoay sian, Chena telah memohon pertolonganku untuk memberi petunjuk-petunjuk kepadamu. Ia mengatakan, bahwa sayang sungguh jika kau yang mempunyai bakat sangat baik, tidak mendapat guru yang berkepandaian tinggi. Waktu itu aku telah menolak permintaannya. Siapa nyana, karena robohnya Puncak Es, secara kebetulan kau telah makan Tjoeko (buah merah) dalam istanaku, sehingga, tanpa belajar lagi, kau sudah memperoleh ilmu entengkan badan dari partai kami. Belakangan, kau juga telah mencuri ilmu pedangku. Ini semua adalah maunya Tuhan dan aku tidak menyalahkan kau. Tapi, biarpun kau sudah memiliki Kiamhoat-ku (ilmu pedang), kau belum mengenal Kiamkoat (pelajaran praktek untuk menggunakan ilmu pedang itu). Sekarang, sesudah Chena meninggal dunia, aku ingin sekali meluluskan permohonannya, agar di alam baka, arwahnya jadi terhibur..."
Bicara sampai disitu, si nona berhenti karena terharunya. Sesaat kemudian, barulah ia berkata pula.
"Aku bersedia untuk menurunkan Kiamkoat kepadamu. Akan tetapi, oleh karena usia kita kira-kira bersamaan, maka tak dapat aku menjadi gurumu. Baik juga Yoe Peng yang sudah mengikuti aku dalam banyak tahun, sudah mendapat intisari dari Kiamhoat dan Kiamkoat dari partai kami. Maka itulah, aku sekarang mempermisikan Yoe Peng untuk menurunkan pelajaran itu kepadamu."
Bukan main girangnya Thian Oe dan ia buru-buru berlutut untuk menghaturkan terima kasih.
Dengan memperoleh ilmu silat Pengtjoan Thianlie, ditambah dengan Iweekang Thiansan pay dan ilmu silat Thiekoay sian serta Siauw Tjeng Hong, di belakang hari Tan Thian Oe menjadi seorang Tayhiap (pendekar) yang ternama.
Sesudah Tong Keng Thian dan Koei Peng Go kembali ke keraton es untuk menuntut penghidupan yang terpisah dari pergaulan umum, ia mengikuti ayahnya pulang ke Kanglam, dimana ia dikenal sebagai ahli waris Kam Hong Tie dan dikenal juga sebagai Kanglam Tayhiap (Pendekar besar dari daerah Kanglam) Pengtjoan Thianlie mengegos tubuhnya dan hanya menerima separuh kehormatan Thian Oe.
"Apa Tong Keng Thian berada di rumahmu?"
Tanyanya.
"Benar,"
Jawabnya.
"Aku justru menerima perintah Tong Tayhiap untuk pergi ke Lhasa guna meminta bala bantuan tentara."
Si nona tersenyum seraya berkata.
"Kau tak usah pergi ke tempat Hok Kong An."
Thian Oe kaget. Selagi ia mau menanya, Peng Go sudah berkata lagi.
"Bagaimana dengan Kim Sie Ie? Kau sendiri belum pernah bertemu dengan orang itu, tapi aku merasa, Keng Thian sudah pernah menceritakannya."
"Kim Sie Ie telah datang ke rumahku,"
Menerangkan Thian Oe.
"Biarpun belum pernah bertemu muka, tapi ia sudah menolong jiwaku."
Peng Go heran.
"Kau belum mengenalnya, bagaimana ia bisa menolong jiwamu?"
Tanyanya. Thian Oe segera menuturkan apa yang telah terjadi. Si nona terkejut dan segera menanya.
"Kapan ia berangkat untuk menemui Hoat-ong?"
"Kira-kira tengah hari, mengikuti dua Lhama itu, jawabnya.
"Ia berangkat dari rumahku dan jika Hoat-ong tidak lantas menyerahkannya kepada Omateng, sekarang mungkin ia masih berada di kuil."
Sesudah berpikir sejenak, si nona segera berkata.
"Yoe Peng, lihatlah! Aku sudah mengatakan bahwa Kim Sie Ie bukan manusia jahat. Hatinya cukup mulia. Ia rela menolong orang dengan mengorbankan diri sendiri. Tak bisa aku memeluk tangan. Kau dan Thian Oe berangkat lebih dulu untuk menemui Keng Thian, sedang aku sendiri ingin mengunjungi Hoat-ong."
Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan ilmu entengkan badan, ia segera berlalu dan dalam sekejap, ia sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Thian Oe dan Yoe Peng saling mengawaskan tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Mengingat perkataan Chena, pemuda itu merasa agak jengah dan ia hanya mengawasi dayangnya Peng Go dengan mata mendelong.
Yoe Peng menghela napas dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Chena dan aku adalah seperti saudara sendiri dan aku pun merasa duka akan kebinasaannya. Akan tetapi, orang yang sudah mati tentu tak bisa hidup kembali. Sekarang, karena kebinasaannya, di Tibet timbul gelombang hebat. Jika kita tidak berusaha untuk meredakan gelombang itu, arwahnya tentu merasa tidak senang."
Thian Oe manggut-manggutkan kepalanya.
"Ya, pergiku ke Lhasa juga adalah untuk meredakan gelombang itu,"
Katanya.
"Eh, barusan Pengtjoan Thianlie mengatakan, bahwa aku tak usah pergi menemui Hok Kong An. Bagaimana duduknya persoalan?"
Yoe Peng tersenyum.
"Pada harian pembukaan kuil baru, kami berdua sebenarnya sudah berada di Sakya,"
Ia menerangkan.
"Segala kejadian sudah disaksikan oleh kami. Kongtjoe yang sangat pintar, lantas saja bisa menduga bakal munculnya badai. Maka itu, tanpa menemui kalian, buru-buru kami pergi ke Lhasa. Mengingat bantuan kami pada waktu terjadi perebutan guci emas, Hok Kong An bersikap sangat ramah tamah dan percaya segala keterangan kami."
Selagi bicara, mendadak mereka mendengar suara merintihnya Omateng.
"Segala kejadian ini semuanya adalah gara-gara bangsat itu!"
Kata Thian Oe dengan suara gergetan.
"Bagus! Sekarang kita boleh berurusan dengannya,"
Kata Yoe Peng.
Omateng yang baru sadar dari pingsannya, menggigil karena hawa dingin yang sangat hebat.
Yoe Peng segera meminta Thian Oe mengurut dua jalanan darah di punggung si gemuk, untuk mengurangkan hawa dingin.
"Tan Kongtjoe,"
Kata si gemuk dengan suara gemetaran.
"Dengan memandang muka Sang Budha dan muka Chena, aku memohon kau sudi mengampuni jiwaku."
"Jika kau tidak menyebut nama Chena, masih tidak apa,"
Kata Thian Oe dengan gusar.
"Dengan menyebutkan Chena, lebih-lebih aku harus mengambil jiwa anjingmu."
"Terhadap Chena, aku selalu membuang budi,"
Kata Omateng.
"Dulu, waktu ia ditangkap Touwsoe, aku pernah meminta perantaraan ayahmu untuk menolongnya. Dalam usahanya untuk membunuh Touwsoe, aku pun sudah memberi bantuan secara diam-diam. Hal ini adalah satu kenyataan. Kongtjoe, masakah kau tak tahu?"
Yoe Peng tertawa dingin dan mengeluarkan suara di hidung.
"Eh, apa kau kira kami tak tahu rahasiamu?"
Katanya dengan suara mengejek.
"Kau adalah mata-mata Raja Kalimpong. Tujuanmu yang satu-satunya adalah menimbulkan kekacauan di Tibet, supaya, dengan bantuan tentara asing, kau bisa memancing ikan di air keruh. Kau ingin mengangkat diri sendiri sebagai raja. Tipu muslihatmu bisa mengelabui Touwsoe, tapi tak bisa mempedayai Kongtjoe-ku. Bantuanmu kepada Chena Tjietjie hanyalah untuk meminjam tangannya guna mewujutkan maksudmu sendiri."
Perkataan Yoe Peng benar-benar mengejutkan Omateng, sehingga tubuhnya menggigil semakin hebat.
Thian Oe pun terperanjat, tapi sebelum ia sempat menanya lebih jauh, di tanjakan gunung mendadak terlihat bayangan-bayangan manusia yang mendatangi dengan cepat sekali dan di antara beberapa orang yang jalan di depan, terdapat si pendeta berkelana.
"Si pendeta datang kembali dengan membawa bantuan,"
Kata rhian Oe. Yoe Peng mengangguk seraya berkata.
"Sekarang paling baik kita buru-buru kembali di rumahmu untuk menunggu Kongtjoe."
"Tapi aku mempunyai lain pikiran,"
Kata Thian Oe.
"Dengan kedatangan si pendeta bersama kawan-kawannya yang berkepandaian tinggi, di bentengan Touwsoe tentu tidak terdapat lagi orang pandai. Dengan menggunakan kesempatan itu, aku ingin menyatroni sarangnya."
"Guna apa kita menempuh bahaya yang begitu besar?"
Kata Yoe Peng yang tidak menyetujui pendapat Thian Oe.
"Bagaimana aku tega melihat jenazah Chena terus berada di tangan musuh?"
Kata Thian Oe dengan suara duka. Sehabis berkata begitu, ia mengangkat pedang untuk membinasakan Omateng.
"Tahan!"
Mencegah si nona.
"Biarkan dia hidup terus untuk sementara waktu. Mungkin masih ada kegunaannya."
Berbareng dengan perkataannya, ia menekan badan Omateng dengan jerijinya, sehingga mulut si gemuk terbuka lebar.
Hampir berbareng, ia mementil dua butir Pengpok Sintan ke dalam mulut si gemuk yang lalu menelannya.
Mata si gemuk terbalik dan ia pingsan seketika itu juga.
Yoe Peng tersenyum.
"Kecuali Kongtjoe dan aku sendiri, di dalam dunia tiada orang yang bisa menyadarkannya,"
Katanya.
"Sekarang kita boleh pergi dengan hati tenang."
Dengan menggunakan ilmu entengkan badan, mereka mendaki gunung dan menuju ke bentengan Touwsoe.
Mereka mengambil jalanan mutar dan naik dari bagian belakang gunung yang dijaga oleh sejumlah kecil serdadu.
Berkat kegesitan mereka, dengan tidak banyak susah, mereka bisa masuk ke dalam bentengan.
Sesudah menyelidiki beberapa lama, mereka menghampiri sebuah kamar yang terang dan dari kain jendela, mereka melihat bayangan dua wanita.
"Mari kita lihat,"
Berbisik Yoe Peng.
"Guna apa?"
Thian Oe bersangsi.
"Siapa dia?"
Yoe Peng menanya.
"Puteri Touwsoe, Sanpiie,"
Jawabnya. Si nona tertawa.
"Kau takut?"
Ia menggoda.
"Jangan takut. Ada aku yang melindungi."
Sambil berkata begitu, ia menarik tangan Thian Oe dan mereka lalu bersembunyi di bawah jendela.
Yang berada dalam kamar itu adalah Sanpiie bersama ibunya.
Sesaat kemudian, terdengar helaan napas nyonya Touwsoe.
"Hai!"
Katanya.
"Tak nyana, urusan jadi begini. Aku kuatir peninggalan ayahmu semua akan jatuh kedalam tangan Omateng!"
"Semenjak dulu aku tak senang dengan orang itu,"
Kata Sanpiie.
"Ibulah yang selalu mendengar segala omongannya."
"Bagaimana aku bisa membaca hatinya yang jahat?"
Sang ibu sungkan menerima salah.
"Dia selalu mengatakan, bahwa dia ingin membalas sakit hati ayahmu. Bagaimana aku bisa mencegahnya?"
"Masih untung Thian Oe tak jatuh ke dalam tangannya,"
Kata puterinya.
"Anak,"
Kata nyonya Touwsoe dengan suara menyesal.
"Apa kau tak bisa melupakan Thian Oe?"
Jantung Thian Oe memukul keras. Sanpiie tak menjawab pertanyaan ibunya, ia hanya tertawa. Nyonya Touwsoe kembali menghela napas seraya berkata.
"Sesudah keadaan menjadi begini, apa kita masih ada muka untuk membicarakan soal pernikahanmu dengan keluarga Tan?"
"Ada jalan,"
Sanpiie mendadak berkata.
"Kita membekuk Omateng dan menyerahkannya kepada Soanwiesoe untuk diadili."
Nyonya Touwsoe terkejut, buru-buru ia menekap mulut puterinya.
"Anak, apa kau gila!"
Ia berbisik "Tak boleh kau mengeluarkan perkataan itu lagi. Kekuasaan tentara sekarang berada dalam tangannya dan jika mau, ia bisa mengambil jiwa kita dengan mudah sekali! "
"Hm!"
Menggerendeng Sanpiie.
"Menurut penglihatanku, ia bukan hanya ingin merampas kekuasaan Touwsoe. Ia malahan kepingin menjadi raja di Tibet."
"Benar,"
Kata sang ibu.
"Sekarang aku baru tahu. Sebelum ayahmu meninggal dunia, ia sudah memerintahkan orang pergi ke Kalimpong untuk meminta bantuan tentara."
"Ibu,"
Kata Sanpiie.
"Kita tak boleh main takut saja. Kita harus berusaha untuk menghadapinya. Kenapa ibu tak mau coba berunding dengan utusan Budha Hidup Dalai dan Panchen?"
Nyonya Touwsoe menggelengkan kepala.
"Aku tak berani mendekati mereka,"
Ia berbisik.
"Jiwa mereka sendiri mungkin sukar dilindungi lagi!"
Sanpiie terperanjat.
"Apa?"
Ia menegasi.
"Apa Omateng bernyali begitu besar?"
Sang ibu tak menjawab, ia mengawasi tembok kamar dengan mata mendelong.
"Ibu, apa yang sedang dipikir olehmu?"
Tanya puterinya. Mendadak nyonya Touwsoe bangun berdiri dan menghampiri jendela yang lalu dipentang. Untung juga Thian Oe dan Yoe Peng yang buru-buru berjongkok di bawah jendela tak dilihat olehnya.
"Anak,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Aku justru ingin berdamai dengan kau."
Sanpiie mendekati.
"Bicaralah,"
Katanya.
"Memang benar Omateng ingin membunuh utusan Budha hidup Panchen,"
Ia berbisik. Paras muka Sanpiie berubah pucat.
"Bagaimana ibu tahu?"
Tanyanya.
"Sebagaimana kau tahu, utusan Budha Hidup terluka dengan golok terbang, tapi luka itu tidak membahayakan jiwanya,"
Menerangkan sang ibu.
"Urusan ini adalah urusan besar dan Omateng ingin menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Dia ingin menggunakan utusan kedua Budha Hidup supaya mereka mengirim laporan yang menumplek semua kesalahan atas pundak Hoat-ong Sekte Topi Putih dan yang meminta agar agama Topi Putih diusir lagi dari wilayah Tibet."
"Hal ini memang sudah didengar olehku,"
Kata Sanpiie.
"Untung juga, kedua wakil itu tidak kena dijebak dengan begitu saja,"
Kata pula sang ibu.
"Mereka hanya melaporkan kejadian yang sebenarnya, tidak menambah dan tidak mengurangkan apapun juga. Mereka tidak menyarankan supaya Budha Hidup Dalai dan Panchen bertindak untuk mengusir Hoat-ong. Tapi Omateng tak mau mengerti, setiap hari dia terus mendesak. Utusan Budha Hidup Panchen ingin sekali menemui Hoat-ong untuk menyelidiki keadaan yang sebenarbenarnya, tapi Omateng tentu saja sungkan mempermisikannya. Diam-diam dia memerintahkan tabib untuk memberi obat beracun kepada utusan Budha Hidup Panchen sehingga, sebaliknya daripada sembuh, lukanya jadi semakin berat. Dengan memberi alasan tak boleh menemui tamu, dia memutuskan perhubungan kedua utusan itu dengan dunia luar. Sementara itu, saban hari dia terus mendesak utusan Budha Hidup Panchen untuk menulis surat yang diinginkan olehnya, sehingga utusan tersebut jadi semakin bercuriga dan menolak dengan getas. Dia jadi nekat dan memerintahkan supaya tabib memberi racun yang membinasakan dan memberi batas tempo, bahwa tengah malam ini, jiwa utusan itu sudah mesti melayang. Semua orang mengetahui, bahwa utusan Budha Hidup telah mendapat luka karena golok si pembunuh. Maka itu, dengan mudah dia bisa mengatakan, bahwa utusan itu binasa karena lukanya. Dia sudah menghitung pasti, bahwa tiada orang yang akan mencurigainya. Sesudah utusan itu binasa, dia akan coba 'membakar' Budha Hidup Panchen untuk mencapai maksudnya yang keji."
Mendengar penuturan itu, Sanpiie terbang semangatnya.
Untuk beberapa saat, ia mengawasi ibunya dengan mulut ternganga.
Walaupun mengetahui, bahwa si gemuk sangat jahat, ia tidak menduga Omateng bisa mengambil tindakan yang begitu kejam.
"Ibu,"
Katanya beberapa saat kemudian.
"Jika utusan itu binasa di Sakya, mungkin semua orang dalam kota ini tidak akan terluput dari hukuman."
"Benar, dan itulah sebabnya, tabib tersebut tidak berani segera menuruti kemauan Omateng,"
Kata sang ibu.
"Tapi ia juga jeri, jika membangkang. Lantaran begitu, diam-diam ia memberitahukan hal ini kepadaku dan memohon pertolongan. Tapi, apakah yang bisa dilakukan olehku? Jiwa kita sendiri berada dalam tangan Omateng."
"Jalan satu-satunya melawan mati-matian,"
Kata sang puteri.
"Dengan apa melawannya?"
Tanya nyonya Touwsoe dengan suara getir.
"Keadaan kita adalah seperti telur diadu dengan batu!"
"Ibu! Apa kita mau menyerahkan jiwa dengan mentah-mentah saja!"
Kata Sanpiie dengan kegusaran meluap-luap.
Sang ibu tidak menjawab, ia menatap wajah puterinya dengan paras sangat berduka.
Sekonyong-konyong dari jendela melompat masuk dua bayangan hitam.
Sanpiie meloncat sambil menghunus golok.
"Aku!"
Kata suara yang sudah tak asing lagi.
Si nona mengawasi dengan mata membelalak, la hampir tak percaya matanya sendiri, karena yang berdiri di hadapannya bukan lain daripada Tan Thian Oe.
Ia ingin melompat untuk memeluk orang yang dicintainya itu, tapi lantas saja ia mundur setindak dengan hati berdebar-debar, karena orang yang berdiri di belakang Thian Oe adalah seorang wanita cantik.
"Sanpiie, katakanlah. Kau percaya aku atau tidak?"
Tanya Thian Oe dengan suara halus. Sedari berkenalan, belum pernah Thian Oe menggunakan kata-kata yang begitu halus terhadapnya. Sanpiie girang bukan main dan ia manggut-manggutkan kepalanya.
"Omateng sudah dirobohkan olehku,"
Kata Thian Oe.
"Kalian tak usah takut."
Perkataan itu seakan-akan sebuah perahu untuk orang yang hampir kelelap. Kegirangan nyonya Touwsoe dan puterinya meluap-luap.
"Ingatlah pesananku,"
Kata pula Thian Oe.
"Kalian jangan menghalang-halangi si tabib. Biarkan dia memberi racun kepada utusan Budha Hidup."
"Apa arti perkataanmu?"
Tanya Sanpiie dengan suara kaget.
"Waktu sangat mendesak, sebentar saja aku memberitahukan sebabnya,"
Jawabnya.
"Dimana tempatnya wakil Budha Hidup Panchen?"
Sebagai seorang tua yang banyak pengalaman, nyonya Touwsoe lantas saja mengerti maksud Thian Oe.
"Benar, kau harus bertindak cepat,"
Katanya.
"Ia berada di atas pagoda, di sebelah barat bentengan ini, di tingkatan kedua."
Tanpa menunggu lagi, Thian Oe menarik tangan Yoe Peng dan mereka lantas saja melompat dengan menggunakan ilmu entengkan badan.
Jantung Sanpiie memukul keras, tanpa merasa ia turut melompat, tapi begitu tiba di depan jendela, ia menghentikan tindakannya.
"Ibu, apa yang mau dilakukan mereka?"
Tanyanya dengan suara gemetar.
"Mereka ingin membuka rahasia Omateng kepada utusan Budha Hidup,"
Jawabnya.
"Tabib akan segera datang kembali. Lebih baik kau balik ke kamarmu" *** Sementara itu, sesudah mendapat petunjuk, dengan tak banyak sukar Thian Oe dan Yoe Peng sudah mendapatkan pagoda itu, yang ternyata bertingkat tiga. Dengan sekali mengenjot badan, kaki Thian Oe hinggap di tingkatan kedua, tapi Yoe Peng yang ilmunya belum setinggi kawannya, harus melompat dua kali sebelum mencapai tingkatan itu. Sesaat itu, beberapa serdadu penjaga melongok keluar, tapi sebelum bersuara, mereka sudah roboh karena ditimpuk dengan Pengpok Sintan. Dengan cepat mereka masuk ke dalam kamar yang diterangi lampu minyak. Ternyata, utusan Panchen Lama sedang meringkuk di atas dipan, sambil mengeluarkan rintihan perlahan. Melihat masuknya dua tetamu yang tidak diundang, bukan main kagetnya utusan itu sehingga sambil menahan sakit, ia bangun duduk.
"Atas titah Budha Hidup kami sengaja datang kemari untuk menyambangi kau,"
Kata Yoe Peng, yang lalu mendekati sambil memperlihatkan Lenghoe (Jimat) yang tergantung di dadanya.
Waktu Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng ke Lhasa, Peng Go telah menemui Dalai Lama sebagai seorang Liehoehoat (Pelindung agama wanita).
Lenghoe yang berada di dada Yoe Peng adalah hadiah Budha Hidup itu.
Walaupun sudah melihat Lenghoe itu, utusan Panchen masih bersangsi.
"Bagaimana Budha Hidup Dalai bisa mengetahui bahwa aku sedang menghadapi bencana?"
Tanyanya di dalam hati. Yoe Peng lalu mendekati lampu dan membesarkan sumbu. Ia memeriksa luka utusan itu yang ternyata sudah bernanah dan bengkak merah.
"Sungguh jahat hati Omateng,"
Pikirnya sambil mengeluarkan sebutir pil yang lalu dihancurkan di dalam air teh. Sesudah melaburkan obat itu di atas luka, ia merangkap kedua tangannya seraya berkata.
"Dengan berkah Sang Budha, lukamu akan segera sembuh."
Obat dari istana es tak bisa dibandingkan dengan obat-obatan biasa.
Begitu kena, rasa sakit mendadak menghilang dan luka yang barusan dirasakan panas berubah adem.
Sekarang utusan Panchen tidak bersangsi lagi.
Sambil merangkap kedua tangan, ia menanya.
"Siapa kalian? Apakah kedatangan kalian tidak diketahui orang?"
"Kami sengaja datang untuk menolong kau,"
Jawab Yoe Peng.
"Omateng sudah dirobohkan dan orang-orangnya belum tahu kejadian itu. Sebentar, jika ada orang membawa obat kau jangan minum obat itu."
Sehabis berkata begitu, ia menarik tangan Thian Oe dan lalu menyembunyikan diri di belakang patung Budha.
Utusan Panchen jadi bingung, karena ia tak mengerti apa maksud perkataan itu.
Ia lalu merangkap kedua tangan, meramkan mata dan membaca doa dengan suara perlahan.
Beberapa saat kemudian, satu orang masuk ke dalam.
"Kenapa tabib tidak datang sendiri?"
Tanya utusan Panchen.
Orang yang datang adalah pembantu sang tabib.
Ternyata, karena ketakutan, tabib itu tidak berani datang sendiri dan telah memerintahkan seorang pembantunya untuk membawa obat.
Pembantu itu yang tak menduga, bahwa obat yang dibawanya adalah racun, segera menjawab dengan sikap hormat.
"Tabib kebetulan mempunyai urusan penting dan sudah memerintahkan aku untuk membawa obat..."
Belum habis perkataannya, Yoe Peng sudah melompat keluar dan mencengkeram tangannya.
"Aduh!"
Teriaknya dan mangkok obat direbut si nona.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Yoe Peng lalu menuang racun itu ke dalam mulutnya.
Hampir berbareng, mukanya berubah pucat dan dari pucat menjadi hitam dan jiwanya melayang.
Utusan Panchen kaget bukan main.
"Omateng benar-benar jahat!"
Katanya dengan suara bergemetar. Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata kepada Yoe Peng.
"Sekarang aku mengerti. Tapi, dengan adanya kejadian ini, kedoknya terlocot dan dia tentu akan menjadi gusar. Bagaimana kita bisa meloloskan diri dari bentengan ini yang terjaga kuat?"
"Jangan kuatir,"
Menghibur Thian Oe.
"Kami akan melindungi kau."
Baru saja ia mengeluarkan perkataan itu, di luar sudah terdengar suara orang.
Sambil menghunus pedang Thian Oe membuka pintu dan melongok keluar.
Ia melihat lima enam orang sedang mendatangi, yang paling dulu adalah si pendeta berkelana dan Teruchi sedang yang paling belakang adalah dua boesoe yang menggotong Omateng.
Di antara mereka terdapat dua orang kepercayaan Nyepa itu.
Mereka sebenarnya ingin mencari Pengtjoan Thianlie, tapi yang diketemukan adalah tubuh Omateng yang dingin seperti es.
Si pendeta yang berpengalaman lantas saja menduga, bahwa di bentengan mesti terjadi kejadian luar biasa, maka buru-buru ia mengajak kawan-kawannya pulang.
Melihat Pengtjoan Thianlie tidak berada disitu, hati si pendeta menjadi lega.
"Bocah!"
Bentaknya.
"Kau orang berani datang untuk merampas utusan Budha Hidup? Nyalimu sungguh tak kecil!"
Thian Oe mengeluarkan suara di hidung.
"Jangan banyak bacot!' ia lantas membentak.
"Lekas serahkan Omateng untuk dihukum!"
Orang kepercayaan Omateng jadi sangat gusar.
"Binatang!"
Satu antaranya berteriak.
"Ilmu siluman apakah yang digunakan olehmu untuk mencelakakan Nyepa? Jika kau tak mengembalikan kesehatannya, aku akan cabut jiwa anjingmu!"
Sambil mencaci, mereka menerjang, yang satu menggunakan golok, sedang yang lain menggunakan kampak.
"Peng-moay, kau lindungi utusan Budha Hidup,"
Kata Thian Oe sambil menangkis serangan musuh.
Dalam sekejap mereka sudah bertempur seru.
Sementara itu, si pendeta tertawa dingin dan menjaga di luar sambil mencekal kedua senjatanya.
Thian Oe tak takut kedua musuhnya itu, tapi ia merasa jeri terhadap si pendeta.
Ia yakin, bahwa meskipun ia mengerubuti bersama Yoe Peng, mereka berdua masih belum tentu bisa melawannya.
Semakin lama ia jadi semakin bingung, karena tiada jalan untuk meloloskan diri.
Melihat pemuda itu tak berani menerjang keluar, si pendeta jadi lebih girang dan sambil tertawa nyaring, ia merangsek.
*** Sementara itu, Hoat-ong dan Kim Sie Ie yang sedang mengadu tenaga mati-matian, sudah mencapai pada detik yang memutuskan.
Mendadak, Hoat-ong menghantam sekeras-kerasnya dan berbareng Kim Sie le menyemburkan jarum beracun!
Pada detik yang sangat genting itu, sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan merdu!
Kim Sie Ie terkejut sehingga jarumnya mencong dan dikebut terpental dengan tangan baju Hoat-ong.
Di lain pihak, karena kagetnya sebab bentakan itu, tenaga pukulan Hoat-ong pun berkurang banyak, sehingga, biarpun terpukul jatuh, Kim Sie Ie tak sampai mendapat luka di dalam badan.
Sesudah bergulingan, ia melompat bangun kembali.
Semenjak meninggalkan pulau Tjoato, inilah untuk pertama kali Kim Sie Ie bertempur dengan menggunakan seantero tenaganya.
Tadi, karena sedang memusatkan seluruh semangat dan perhatian kepada pertempuran itu, ia tak tahu kedatangan Pengtjoan Thianlie.
Sekarang begitu melompat bangun, ia melihat Peng Go yang berdiri sambil tersenyum.
Dalam kagetnya, ia mengeluarkan teriakan "Aya!"
Dan mengawaskan dengan mulut ternganga.
Tiba-tiba ia merasakan hawa sangat dingin menyambar masuk ke dalam tubuhnya Ternyata, selagi ia ternganga, si nona telah mementil dua butir Pengpok Sintan ke dalam mulutnya!
Barusan, karena ditindih tenaga Hoat-ong, Kim Sie Ie merasa panas dan haus luar biasa.
Maka itu, Pengpok Sintan seolah-olah air sejuk bagi seorang pelancong di tengah padang pasir dan mendadak saja, badannya menjadi adem dan rasa hausnya hilang.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, ia segera mengerti, bahwa si nona sudah menolong dirinya dengan menggunakan "racun untuk melawan racun".
Tanpa pertolongan itu, meskipun tak sampai menjadi binasa, sedikitnya ia bakal mendapat sakit berat.
Untuk sejenak, ia berdiri dengan kepala pusing dan pikiran kalut.
Kedatangannya kepada Hoatong adalah untuk melampiaskan rasa mendongkolnya terhadap Tong Keng Thian.
Diluar dugaan, hampir-hampir ia binasa dan kekalahannya yang menyedihkan telah disaksikan oleh Pengtjoan Thianlie.
Bukan saja disaksikan, malahan ditolong oleh si nona.
Baginya, soal mati atau hidup adalah soal remeh.
Yang dipandang penting adalah soal kehormatan, menurut tafsirannya sendiri.
Maka itu, pada detik itu, ia merasa sangat jengah dan penasaran.
Koei Peng Go tentu saja tak dapat menebak jalan pikiran pemuda yang aneh itu.
Perlahanlahan ia mendekati dan menanya sambil bersenyum.
"Apa kau tidak mendapat luka? Hm! Apa kau telah bertemu dengan Tong Keng Thian? Mari kita berangkat dan jika bertemu, kita boleh minta beberapa butir Pekleng tan. Menurut katanya Lu Soe Nio, latihan lweekang-mu kurang tepat dan hanya Pekleng tan yang dapat menolong kesehatanmu."
Si nona bicara dengan suara lemah lembut, tapi bagi Kim Sie Ie, setiap perkataan seperti juga jarum yang menusuk perasaannya.
Sekonyong-konyong, sambil berteriak keras, ia kabur.
Pengtjoan Thianlie mengubar, tapi ia sudah berada di atas genteng dan sebelum mabur lebih jauh, ia melirik si nona dengan sorot mata dingin dan mendongkol.
Dengan hati berat, Peng Go kembali kepada Hoat-ong dan berkata seraya menggelengkan kepala.
"Ah! Benar-benar sukar diurus!"
"Benar-benar sukar diurus!"
Mengulangi Hoat-ong yang kemudian, sambil merangkap kedua tangannya, menanya.
"Apakah pemuda itu dikenal oleh Liehoehoat?"
"Dia adalah seorang sahabat yang aku pernah bertemu beberapa kali,"
Jawabnya.
"Bahwa dia telah berlaku kurang ajar terhadap Budha Hidup, hatiku sungguh merasa tidak enak."
Hoat-ong tersenyum.
"Sedang usianya masih begitu muda, kepandaiannya sudah begitu tinggi,"
Katanya.
"Dapat dikatakan, bahwa dalam dunia ini tidak berapa orang yang dapat direndengkan dengannya. Jika Liehoehoat tidak keburu datang, mungkin sekali aku dan dia akan binasa bersama-sama."
Pengtjoan Thianlie melirik ke jurusan yang diawaskan Hoat-ong.
Ternyata, Budha Hidup itu tengah mengawaskan jarum Kim Sie le yang menancap di batu marmer dan yang di seputarnya berwarna hitam!
Waktu masih berada di Tjenghay (Kokonor), Peng Go pernah menjadi tamu Hoat-ong.
Maka itu, pertemuan yang kedua kali ini sangat menggirangkan kedua belah pihak.
Hoat-ong segera mengundang tamunya duduk minum teh.
Sambil minum dan omong-omong, mata si nona terus mengincar sebuah lukisan di tembok.
"Liehoehoat, apa kau merasa ketarik dengan lukisan itu?"
Tanya Hoat-ong. Si nona mengangguk dan lalu bangun berdiri, akan kemudian perlahan-lahan mendekati lukisan tersebut. Mendadak, pada paras mukanya terlihat perasaan heran.
"Lukisan itu adalah lukisan 'Phaspa mengunjungi Kublai di Mongolia',"
Menerangkan Hoat-ong.
"Baik lukisan wanitanya, maupun binatang-binatangnya, semua kelihatan hidup sekali. Pemandangan di gurun utara juga dilukiskan secara indah sekali."
Selagi memberi penjelasan, sambil menunjuk-nunjuk lukisan itu, tiba-tiba Hoat-ong mengeluarkan seruan tertahan dan matanya mengincar muka gambar wanita itu yang ternyata sangat mirip dengan muka si nona.
"Apakah pelukisnya masih berada disini?"
Tanya Peng Go.
"Para pelukis datang dari Lhasa dan mereka datang kemari atas undangan Touwsoe almarhum,"
Jawabnya.
"Dalam kuil ini masih ada beberapa gambar yang belum selesai dan pelukis-pelukis masih belum dibubarkan. Aku akan memerintahkan orang untuk menyelidiki."
Ia memanggil seorang muridnya yang lalu diperintah memanggil pelukis yang melukis gambar di tembok itu.
Dalam omong-omong, si nona menceritakan apa yang sudah dilakukannya di Lhasa.
Ia menuturkan, bahwa dalam pertemuannya dengan Dalai Lama, Budha Hidup itu sudah mengerti akan kejahatan Omateng dan menyetujui, bahwa Hoat-ong Agama Topi Putih memegang kekuasaan tertinggi yang tak boleh diganggu-gugat di seluruh wilayah Sakya.
Ia juga memberitahukan, bahwa Hok Kong An telah berjanji untuk mengirim tentara guna mencegat pasukan dari Kalimpong.
Hoat-ong jadi girang sekali dan berkata dengan suara berterima kasih.
"Aku merasa sangat berhutang budi kepada Liehoehoat yang sudah membebaskan Tibet dari bencana yang sangat besar."
"Itu semua bukan karena pahalaku,"
Si nona merendahkan diri.
"Hal itu sudah terjadi karena beberapa Budha Hidup mempunyai pandangan yang jauh dan hati yang welas asih, serta tidak menghendaki pecahnya peperangan yang merupakan bencana bagi umat manusia. Sekarang ini, tentara Omateng sedang berhadapan dengan tentara Lochu. Aku berpendapat, secepat mungkin kita harus membereskan soal ini."
Hoat-ong manggutkan kepala dan berkata.
"Siang-siang aku sudah tahu, bahwa Omateng bukan manusia baik. Jika sebegitu jauh aku belum bertindak, adalah karena memandang Agama Topi Kuning. Sebagai tamu, tak pantas aku menentang tuan rumah. Tapi sekarang, sesudah Budha Hidup, Dalai menyerahkan semua kekuasaan kepadaku, biarpun Omateng mempunyai kepandaian yang lebih tinggi lagi, dia tak akan terlolos dari tanganku."
Sehabis berkata begitu, ia segera memerintahkan muridnya untuk bersiap, karena malam itu juga ia ingin pergi ke bentengan Touwsoe untuk membereskan kekacauan.
Sebelum berangkat, seorang murid melaporkan, bahwa pelukis yang dicari sudah diketemukan dan bahwa ia itu adalah orang dari Nepal.
"Siapa namanya?"
Tanya Peng Go.
"Dia baru mau memberitahukan, sesudah bertemu Liehoehoat,"
Jawabnya.
"Bagaimana dia tahu, aku berada disini?"
Tanya pula Peng Go dengan saura heran.
"Apa kau yang memberitahukannya?"
"Tidak,"
Jawab murid itu.
"Begitu bertemu, ia mengatakan, bahwa yang mencari padanya tak bisa lain daripada Peng Go Siauwkongtjoe."
"Undanglah ia masuk,"
Kata si nona dengan tak sabaran.
Sesaat kemudian, seorang tua yang rambutnya putih dan yang matanya terus mengincar Pengtjoan Thianlie, berjalan masuk.
Begitu berhadapan, ia segera berkata dalam bahasa Nepal.
"Aha! Sungguh mirip dengan Hoa Giok Kongtjoe!"
"Siapa kau?"
Tanya si nona.
"Kenapa kau tahu nama ibuku?"
"Budakmu bernama Ngotu,"
Ia memperkenalkan diri.
"Pada tiga puluh tahun berselang, aku pernah bekerja di bawah Hoema dan Kongtjoe."
Peng Go mengeluarkan seruan tertahan sambil bangun berdiri.
"Kalau begitu, kau adalah Ngotu Kongkong,"
Katanya.
"Sungguh tak nyana, kita masih bisa bertemu di tempat ini."
Sambil berkata begitu, ia membungkuk dan memberi hormat kepada orang tua itu.
Murid-murid Hoat-ong kaget.
Mereka tak nyana, pelukis miskin itu bisa mendapat kehormatan yang begitu tinggi dari seorang tamu Budha Hidup dan seorang Liehoehoat, seorang Pelindung Agama, yang mempunyai Pweeyap Lenghoe.
Buru-buru Hoat-ong memerintahkan muridnya mengambil kursi untuk Ngotu.
"Aku tak duga, kalian adalah sahabat lama,"
Katanya.
"Bukan, bukan begitu,"
Menerangkan si nona.
"dengan Ngotu Kongkong aku baru pernah bertemu muka. Tapi aku mengetahui, bahwa ia adalah guru melukis dari mendiang ibuku. Dulu, ibuku sering mengatakan, bahwa Ngotu Kongkong adalah pelukis nomor satu di seluruh Nepal dan di dalam istana es aku masih menyimpan beberapa rupa buah tangannya."
Hoat-ong merangkap kedua tangannya seraya berkata.
"Pertemuan luar biasa di negara asing sungguh merupakan merupakan jodoh yang luar biasa pula."
"Kongkong,"
Kata si nona.
"Dalam usia yang sudah begitu lanjut, kenapa kau tak mau berdiam saja di dalam istana? Perlu apa Kongkong merantau ke negeri orang?"
Si tua mengurut-urut jenggotnya dan berkata dengan suara perlahan.
"Aku berdiam disini justru untuk menunggu kau. Semula, aku tak tahu, berapa lama aku harus menunggu. Tapi atas belas kasihan Sang Budha, hari ini kita bisa bertemu dan aku percaya Nepal masih dapat ditolong."
"Ada apa? Kenapa Kongkong mengatakan begitu?"
Tanya Peng Go.
"Raja Nepal yang dulu adalah saudara misan ibumu,"
Kata Ngotu.
"Dia seorang kejam dan serakah, sehingga di dalam negeri ia tidak disuka rakyat,di luar negeri ia bermusuhan dengan negara-negara tetangga. Apakah kau tahu hal itu?"
"Aku pernah mendengarnya dari ibu,"
Jawab si nona.
"Ibu pernah meminta pertolongan orang untuk membujuknya. Dan jika tak salah, karena kejamnya paman, maka ibu telah bersumpah untuk tidak kembali lagi ke Nepal. Tapi kenapa Kongkong mengatakan raja yang dulu?"
Ngotu mengirup teh dan kemudian, sesudah menghela napas panjang, ia berkata.
"Dua tahun berselang, yaitu dalam tahun terjadinya perebutan guci emas, ia mendapat luka waktu bertempur dengan sebuah negara tetangga. Luka itu, luka kena anak panah, ternyata tak bisa disembuhkan, sehingga tak lama kemudian ia meninggal dunia. Putera mahkota yang menggantikan kedudukannya sebagai raja, lebih kejam daripada ayahnya. Penderitaan rakyat menghebat dan secara wajar, orang-orang yang lebih tua mengingat Hoa Giok Kongtjoe, Mereka mengatakan, bahwa tahta kerajaan sebenarnya harus diduduki oleh ibumu dan jika dulu ibumu menggantikan kedudukan ayahnya, keadaan di Nepal tentu tidak jadi begitu kacau. Semua orang mengharap, supaya Hoema dan Kongtjoe bisa kembali ke negeri sendiri untuk menolong Nepal dari kemusnahan."
"Ibuku sudah meninggal belasan tahun lamanya,"
Kata si nona dengan suara duka.
"Hal ini sudah didengar olehku, tapi belum diketahui rakyat,"
Kata Ngotu.
"Bagaimana kau tahu, ibuku sudah meninggal dunia?"
Tanya Peng Go.
"Raja yang dulu pernah memerintahkan Koksoe (Guru negara) pergi ke Tibet untuk menyelidiki Hoa Giok Kongtjoe,"
Jawabnya.
"Menurut pendengaranku, dia pernah bertemu muka dengan kau."
Pengtjoan Thianlie mengangguk.
"Benar,"
Katanya.
"Pendeta jubah merah itu dua kali menyateroni istana es, tapi dipukul mundur olehku. Belakangan, ia binasa waktu terjadi perebutan guci emas."
"Biarpun dia sudah mati, tapi dalam laporannya kepada raja, dia sudah menanam bibit bencana,"
Kata Ngotu.
"Apa yang dikatakannya kepada raja?"
Tanya si nona dengan perasaan heran.
"Dia mengatakan telah bertemu dengan seorang dewi yang kecantikannya tiada bandingan dalam dunia ini,"
Jawabnya.
"Dewi itu adalah kau sendiri. Dia juga melaporkan, bahwa kau memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, malahan setiap dayangmu pun mempunyai kepandaian lumayan. Jika kau suka membantu raja, Nepal tentu bisa menjagoi, tapi menurut pendapatnya, kau tak akan sudi kembali ke negara sendiri. Selanjutnya dia berpendapat, bahwa karena tidak setia kepada raja, kau bisa merupakan bibit penyakit jika dibiarkan hidup terus. Maka itu, dia mengusulkan, supaya raja mengumpulkan orangorang pandai untuk mengambil jiwamu."
Si nona tertawa dingin.
"Aku tak takut,"
Katanya.
"Tapi Raja yang dulu tidak mengambil tindakan apa-apa, karena ia tengah menghadapi banyak urusan di dalam negeri dan bermusuhan dengan beberapa negara tetangga,"
Kata Ngotu.
"Tapi bahaya apa yang barusan disebutkan olehmu?"
Tanya si nona.
"Pada waktu Koksoe memberi laporan, Thaytjoe (putera mahkota) juga berada disitu,"
Menerangkan si tua.
"Sebagai pelukis istana, aku pun kebetulan berada dalam ruangan itu. Sesudah Thaytjoe menjadi raja dua tahun lamanya, sampai sekarang ia belum mengambil permaisuri dan sebabnya adalah karena ia ingin menunggu kau."
"Binatang!"
Menggerendeng si nona dengan suara gusar.
"Dia jangan mimpi."
"Dia membuat persiapan dengan sungguh hati,"
Si tua melanjutkan keterangannya.
"Selama dua tahun, dia telah mengumpulkan banyak sekali jago-jago dari negara-negara Arab dan Eropa dan telah melatih satu pasukan untuk mendaki gunung. Sesudah persiapannya selesai, dia akan segera datang ke Tibet untuk menyambut kau."
"Biarpun dia mengirim puluhan laksa tentara, aku tak akan menunduk,"
Kata si nona dengan suara mendongkol.
"Tapi dia mempunyai perhitungan lain,"
Kata Ngotu.
"Dia menganggap, bahwa dengan ancaman perang, dia akan bisa menekan Hok Kong An dan Raja Tibet yang tentu tak sudi berperang karena kau seorang. Maka itu, andaikata kau tak suka mengikut, kau tentu tak akan bisa berdiam lebih lama lagi di wilayah Tibet."
Paras muka si nona jadi merah padam karena gusar dan jengkel, la tak menduga, bahwa karena gara-garanya, di Tibet bakal muncul satu kejadian hebat. Sesudah berdiam sejenak, Ngotu berkata pula.
"Karena pernah menerima budi ibumu yang sangat besar dan juga sebab mengingat penderitaan rakyat, maka aku sudah meninggalkan penghidupan mewah dalam istana dan merantau ke Tibet untuk mencari kau. Sebab sudah berusia lanjut, aku merasa tak sanggup untuk pergi ke istana es dan hanya menunggu untuk melihat lain kesempatan. Kebetulan sekali, orang mencari pelukis untuk kuil Lhama yang baru didirikan dan aku segera melamar pekerjaan itu. Aku ingat, bahwa ibumu adalah seorang yang memuja Budha, sehingga mungkin sekali kau pun akan datang berkunjung kesini. Memikir begitu, aku lalu melukis gambar itu dan benar saja, atas berkah Sang Budha, sekarang kita bisa bertemu muka."
"Terima kasih untuk segala capai lelahmu,"
Kata si nona sambil membungkuk.
"Aku datang kemari dengan membawa pengharapan rakyat dan pengharapanku sendiri,"
Kata pula Ngotu.
"Aku memohon supaya kau suka mempertimbangkannya. Pengharapan itu adalah, jika kau menganggap bahwa kau mampu membinasakan raja kejam itu, pulanglah dan merebut kekuasaan dari tangannya. Tapi, andaikata kau tak bisa membunuh dia dengan tangan sendiri, begitu kau pulang dan memanggil rakyat, rakyat pasti akan bangkit untuk membunuh raja kejam itu dan mengangkat kau sebagai raja. Tahta kerajaan memang adalah hak ibumu, sehingga kalau kau menduduki tahta, hal itu tidak lebih daripada pantas."
Si nona bersenyum seraya berkata.
"Aku sedikitpun tak mempunyai minat untuk menjadi raja. Jika Puncak Es tidak roboh, aku tentu tidak berada disini. Sebenarnya aku sudah berkeputusan pasti untuk hidup mengasingkan diri di istana es selama-lamanya."
"Jika kau tidak ingin menjadi raja, lebih baik kau segera menyingkir secepat mungkin,"
Kata Ngotu.
"Aku kuatir, dalam waktu cepat dia akan datang kemari dengan tentaranya."
"Bagaimana Kongkong tahu?"
Tanya Peng Go.
"Omateng telah mengundangnya untuk mengirim tentara dan dia pasti tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu,"
Jawabnya.
Pengtjoan Thianlie merasa duka sekali.
Ia duduk bengong dan tidak mengeluarkan sepatah kata.
Dalam hatinya penuh dengan kesangsian, ia tak tahu tindakan apa yang harus diambilnya.
Sementara itu, seorang murid Hoat-ong melaporkan, bahwa segala apa sudah siap sedia untuk keberangkatan raja agama itu ke bentengan Touwsoe.
"Ngotu Kongkong, terima kasih banyak untuk segala kebaikanmu,"
Kata si nona.
"Untuk sementara, kau berdiam saja disini dan sesudah keadaan di Nepal menjadi beres, barulah kau kembali ke negara sendiri."
Si nona tidak memberitahukan apa yang akan dilakukannya, tapi bagi Ngotu, perkataan itu sudah merupakan jaminan, bahwa sang puteri tak akan berpeluk tangan.
Maka itu, dengan perasaan syukur, ia lantas mengundurkan diri.
Sesudah itu, Pengtjoan Thianlie segera mengikut rombongan Hoat-ong berangkat ke bentengan Touwsoe.
*** Sementara itu, keadaan Tan Thian Oe dan Yoe Peng yang terkepung di dalam pagoda sudah diliputi bahaya.
Si pendeta berkelana menyerang hebat dengan tongkat dan mangkok emasnya, sehingga Thian Oe terpaksa berkelahi sembari mundur.
Yoe Peng yang melindungi utusan Panchen, juga sudah mulai bertempur dengan Teruchi.
Dua boesoe kepercayaan Omateng lantas saja menerjang si nona dengan tujuan merebut utusan Panchen.
Dikerubuti tiga orang, dalam sekejap Yoe Peng terdesak dan dalam keadaan berbahaya, buru-buru ia melepaskan dua butir Pengpok Sintan, yang mengenakan tepat pada jalanan darah kedua boesoe itu.
Sambil berteriak-teriak, mereka melompat keluar dari gelanggang pertempuran dan terus kabur.
Si nona girang dan lalu melepaskan pula sebutir Pengpok Sintan.
Teruuchi yang berkepandaian lebih tinggi cepat-cepat memutar Djoanpian bagaikan titiran, sehingga, biarpun ia menggigil kedinginan, senjata rahasia itu kena terpukul jatuh.
Dengan beruntun Yoe Peng melepaskan lagi beberapa Sintan, tapi semuanya dikebas terpental dengan tangan baju si pendeta.
Sekarang, sedang Yoe Peng bisa bernapas lebih lega, Thian Oe jadi semakin repot.
Sesudah lewat beberapa jurus lagi, dengan bentakan "kena!", mangkok si pendeta menyambar ujung pedang Thian Oe.
Sebisa-bisa pemuda itu coba menarik pulang senjatanya, tapi sudah tidak keburu lagi, sehingga ujung pedang kena ditungkrup mangkok yang lalu diputar dan pedang Thian Oe pun mengikuti terputar.
Dengan mengerahkan seluruh lweekang, ia coba membetot senjatanya, tapi tak bisa terlepas dari "isapan"
Mangkok.
Si pendeta girang bukan main, tapi mendadak ia merasakan ada apa-apa yang luar biasa di luar pintu.
Ia menoleh dan tiba-tiba saja dua butir benda kecil yang sangat dingin menyambar masuk ke dalam lubang hidungnya.
Hatinya mencelos karena Pengtjoan Thianlie kelihatan berdiri di ambang pintu sambil mengawaskannya dengan sorot mata dingin.
Si pendeta terbang semangatnya dan sambil mengerahkan lweekang untuk melawan hawa dingin, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia melompat ke jendela dan terus kabur terbirit-birit.
Si nona tidak mengubar dan membiarkan pendeta itu mabur.
Teruchi juga kaget bukan main, sehingga gerakan senjatanya agak lambat dan Thian Oe yang sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik, segera melompat dan menangkap ujung Djoanpian.
Baru saja ia mengangkat pedang untuk menabas, Peng Go membentak.
"Tahan! Ampuni padanya, jika ia mau bersumpah untuk tidak mengacau lagi di Tibet."
Teruchi yang masih sayang jiwanya, lantas saja mengucapkan sumpah yang berat dan kemudian berlalu tanpa diganggu.
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 5
Baca Juga: Si Pedang Kilat Gan Kl