Eps 5 Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id
Baca online Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id
Cersil Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id.
Demikian jawabnya.
"Perlukah bantuan kongkongmu untuk mencarikan ?"
Gadis baju ungu itu tiba tiba nyeletuk.
"Kau siorang tua selalu suka menggoda orang, jalan, mari kita jalan jangan hiraukan dia."
Sehabis berkata demikian, ia berlalu sambil menarik tangan Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong merasa terharu, ia mengerti ucapan It Jie Hui kiam tadi adalah suatu pernyataan cinta kasih dari seorang tua terhadap cucunya.
Bukan menggoda.
Dari istal kuda gadis baju ungu itu mengeluarkan dua ekor kuda tinggi besar, kemudian berkata kepada Ho Hay Hong sambil tertawa.
"Ho koko, seekor ini untukmu !"
"Aku tak mau naik kuda"
Menjawab Ho Hay Hong. Gadis itu membuka lebar matanya dan bertanya dengan perasaan heran.
"Benarkah kau tidak bisa naik kuda ?"
Ia mengira bahwa pemuda itu merendahkan diri.
Diluar dugaannya, Ho Hay Hong menganggukkan kepala, hingga ia benar-benar merasa heran.
Sebab Ho Hay Hong memiliki kepandaian tinggi sekali, tentunya pandai segala ilmu, diluar dugaannya, naik kuda saja tidak bisa.
Ia berpikir sebentar, kemudian berkata "Kalau kau tidak bisa menunggang kuda, biarlah aku menunggang bersamamu !"
Dengan sangat lincah ia lompat keatas adanya, kemudian menggapai Ho Hay Hong.
"Lekas naik. Ho koko!"
Sejenak Ho Hay Hong merasa ragu-ragu, akhirnya naik juga keatas kuda.
Tiba-tiba kuda itu karena terkaget hingga melonjak tinggi.
Ho Hay Hong yang tidak berjaga-jaga hampir saja jatuh terpelanting dari atas kuda.
Ia buru-buru memeluk diri si nona.
Ia sudah lupa bahwa diri nona itu masih gadis, yang belum pernah bersentuhan dengan laki laki, apalagi dipeluk demikian rupa,maka seketika itu ia merasa malu sendiri, jantungnya berdebaran, mukanya merah membara.
Tetapi entah apa sebabnya, gadis itu ternyata tidak marah, hanya berpaling mengamati padanya sejenak, tanpa berkata apa apa lantas bedal kudanya.
Ho Hay Hong ingin melepaskan tangannya, apa mau kuda itu larinya sangat pesat hingga menimbulkan kegoncangan hebat, terpaksa ia memeluk terus.
Ia kini baru merasa menyesal yang dahulu tidak pernah belajar menunggang kuda.
Kuda dilarikan sangat pesat, dalam waktu sangat singkat, sudah keluar pintu kota.
Gadis itu berkata padanya dengan suara pelahan.
"Para toako dari pasukan angin puyuh sudah jalan jauh, kita harus lekas menyusul!"
Suaranya itu sangat pelahan sekali, kalau tidak mempunyai daya pendengaran sangat tajam, susah mendengar, Ho Hay Hong tahu bahwa perasaan malu gadis itu masih belum lenyap, maka ia lantas menjawab.
"Ya, kita harus lekas mengejar!"
Dengan tiba-tiba, dari suatu tempat agak jauh, Ho Hay Hong dapat dengar suara nyanyian pasukan Angin puyuh, yang sudah tidak asing lagi baginya.
Namun kali ini, diiringi suara beradunya senjata tajam.
Gadis baju ungu itu kembali berkata dengan suaranya yang masih tetap perlahan.
"Oh, pasukan Angin puyuh sedang bertempur dengan musuh!"
Ho Hay Hong belum menjawab, didepan sudah ada orang menyahut.
"Turun turun, untuk kedua kalinya kita berjumpa, seharusnya berlaku sedikit ramah!"
Suara itu sangat asing, tetapi sangat nyaring. Gadis baju ungu itu tercengang, kemudian berkata kepada Ho Hay Hong.
"Lekas kita pergi, dia adalah musuh besar pasukan Angin puyuh, namanya Te-coan hong, Tok Bu Gouw. Orang ini muncul dirimba persilatan belum ada satu bulan, sudah mengeluarkan ucapan terkebur, katanya hendak membasmi pasukan Angin puyuh dan It Jie Hui kiam. Ia berkepandaian tinggi dan bernyali besar. Muncul dan menghilangnya tidak menentu hingga saudarasaudara pasukan Angin puyuh tidak berdaya terhadapnya. It Jie Hui kiam juga pusing menghadapinya."
"Benarkah demikian hebat orang itu, apa yang diandalkan olehnya?"
Bertanya Ho Hay Hong heran.
"Kepandaian ilmu pedang Tee soan Sin kiam orang itu pada dewasa ini sudah tidak ada tandingannya. Sejak dibentuknya pasukan Angin puyuh, pertama kali jatuh ditangannya."
"Dengan pasukan Angin puyuh dia ada permusuhan apa?"
"Aku tidak tahu, tetapi ia selalu datang mencari setori, itu memang benar, Semula pasukan Angin puyuh masih berlaku sabar, tidak menghiraukan tantangannya. Tetapi ia semakin didiamkan semakin melunjak, sehingga seorang sabar seperti It Jie Hui kiam juga sampai marah. Kedatanganmu sangat kebetulan, ilmu pedangnya Teesoan Sin-kiam yang sangat ampuh, hanya dengan ilmu pedang terbang, barulah tidak akan terkalahkan!"
Ho Hay Hong terperanjat.
"Barangkali aku belum yakin."
"Kau takut ?"
"Meski aku belum yakin atas kemampuanku, tetapi aku tidak takut!"
Sehabis berkata demikian, gadis itu mendadak menghentikan kudanya dan lompat turun, segera diikuti oleh Ho Hay Hong.
Kini tampak delapan anggauta pasukan angin puyuh sedang berhadapan dengan seorang lelaki pertengahan umur yang berwajah putih bersih dan berambut panjang sampai kebahu.
Dengan wajah merah dan nada suara dingin laki-laki itu berkata.
"Siapa suka mengabarkan kepada It ji Hui kiam, aku nanti akan ampuni jiwanya tidak akan kubunuh!"
Gadis baju ungu berkata kepada Ho Hay Hong dengan suara perlahan.
"Ho koko, kau dengar, betapa sombongnya manusia itu!"
Mendengar suara dan sebutan yang manis itu, semangat Ho Hay Hong terbangun, seketika dengan berani ia maju tiga langkah dan menegurnya.
"Tuan adalah Tee-soan hong. Tok Bu Gouw?"
Tee soan hong Tok Bu Gouw memandangnya dengan sinar mata dingin.
Dari sinar mata itu, Ho Hay Hong mengetahui bahwa orang setengah umur itu memang benar-benar memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah cukup sempurna.
Tee soan hong mengeluarkan suara dari hidung, tibatiba melintangkan pedangnya dan menggulungnya, sesaat kemudian timbullah sinar berkilauan.
Ho Hay Hang terkejut.
mundur tiga langkah, walaupun ia sudah cukup gesit, tetapi tidak urung celananya masih kesambar oleh ujung pedang.
Dengan alis berdiri Ho Hay Hong berkata kepada gadis baju ungu.
"Boleh aku pinjam pedangmu?"
Gadis itu mengerti maksud Ho Hay Hong hendak pinjam pedang, serta merta menjawabnya sambil tersenyum manis.
"Kau harus berlaku hati-hati!"
"Aku tahu!"
Jawab Ho Hay hong mengangguk. Pedang gadis itu ternyata sangat berat, tapi sungguh tepat digunakan untuk ilmunya pedang terbang.
"Tee-soan hong, jangan kira bahwa ilmu pedangmu Tee-soan Sinkiam sudah tiada orang yang sanggup melawan, aku siorang she Ho tidak takut padamu!"
Demikian ia berkata.
Matanya ditujukan kepada ujung pedang, diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya kepada gagang pedang, kemudian tangannya bergerak dan pedang itu mendadak mendengung.
Setelah mendapat kepastian bahwa luka didalam dadanya sudah sembuh, semakin tebal keyakinannya, maka lantas berkata kepada anggauta pasukan Angin puyuh.
"Toako sekalian silahkan menyingkir sebentar, sekarang aku hendak belajar kenal dengan ilmu pedang Tee soan Sin kiam!"
Anggauta pasukan Angin puyuh rupanya masih merasa khawatir, tetapi menuruti kehendak Ho Hay Hong, Semua pada menyingkir kesamping, hendak menyaksikan bagaimana anak muda itu memberi perlawanan kepada musuh tangguh itu.
Ho Hay Hong mendadak mengeluarkan suara siulan panjang Dengan sepenuh tenaga menyambitkan pedangnya, hingga pedang panjang itu meluncur kearah Tee-soan hong.
Tee soan hong juga mengerahkan tangannya, sinar pedang ditangannya membuat lingkaran hendak menggulung pedang Ho Hay Hong, tetapi tidak berhasil.
Ho Hay Hong mengempos kekuatan tenaga dalamnya, pedang yang meluncur dengan cepat itu mendadak melesat setinggi setengah kaki, kemudian memutar dan menikam punggung Tee-soan hong.
Tee-soan hong tahu bahwa Ia salah hitung, terlalu memandang rendah kepada lawannya yang masih muda belia itu.
Tetapi sudah agak terlambat, sebab pedang lawannya sudah tiba dibelakang punggungnya.
Dalam keadaan tergesa-gesa, Tee soan hong segera berbalik, pedangnya terhadap lawannya, sebab pedang yang disambitkan itu bukanlah seperti menyambitkan senjata rahasia, melainkan ilmu mengendalikan pedang yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan untuk menghadapi dirinya.
Sebagai seorang yang berpengetahuan luas, ia buruburu lompat melesat setinggi tiga tombak lebih, baru berhasil mengelakkan serangan pedang itu.
Tetapi pedangnya sendiri sudah terjatuh di tanah.
Ho Hay Hong maju selangkah, pedangnya dikedut keatas, hingga pedang itu mengarah dua bagian jalan darah dikaki Tee-soan hong.
Serangan kali ini lebih hebat dari yang pertama Teesoan hong tidak menduga lawannya yang masih muda belia itu, ternyata memiliki kepandaian luar biasa tingginya.
Sehingga seketika itu wajahnya berubah seketika.
Dengan menggunakan lengan jubahnya dikebutkan kebawah.
Kebutan dengan lengan baju ini, adalah serangan Tee soan hong dengan kekuatan tenaga dalam yang paling hebat.
Ho Hay Hong tertahan gerakannya oleh serangan itu terpaksa merandek dan mundur tiga langkah.
Tee soan hong mengandalkan kesempatan itu terus meluncur turun dan menyerang dengan tinjunya.
Ho Hay Hong sangat penasaran.
Selagi hendak menyambitkan pedangnya lagi tiba-tiba hembusan angin dari serangan jari tangan lewat dibawah ketiaknya, langsung mengarah jalan darah Khie hay hiat Tee soanhong.
Tee soan-hong tahu apabila totokan jari tangan itu mengenakan dirinya, ia pasti binasa.
Tetapi ia masih mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna.
Sedikitpun tidak takut, ia segera mengempos kekuatan tenaga dalamnya keseluruh tubuhnya, untuk melindungi seluruh tubuhnya.
Dengan gerakan yang tetap tidak berubah, masih menyerang Ho Hay Hong.
Gadis baju ungu itu lantas berseru.
"Kau berani membandel!"
Kembali jari tangannya bergerak, menotok jalan darah Tee soan hong. Tee soan hong mendadak tarik kembali serangannya dan menegur gadis itu.
"Budak hina kau masih pernah apa dengan It Jie Hui kiam ? Lekas jawab!"
Dengan sinar mata penuh kebencian memandang gadis itu, hingga gadis itu bergidik dan menundukan kepala.
"Kau t idak perlu tahu."
Demikian jawabnya.
"Apakah kau muridnya It Jie Hui kiam?"
Bertanya Tee soan hong kepada Ho Hay Hong. Selagi Ho Hay Hong hendak menjawab, gadis itu berkata ditelinganya.
"Jangan beritahukan padanya, orang itu terlalu kurang ajar!"
Ho Hay Hong tercengang dalam hatinya berpikir.
apakah antara ia dengan It Jie Hui kiam ada permusuhan yang sangat dalam atau rahasia yang tidak diketahui oleh orang luar?
Tee soan hong maju selangkah bertanya kepada Ho Hay Hong sambil menudingkan ujung pedangnya.
"Lekas jawab bocah, kalau kau hendak menjadi seorang gagah yang kesohor namanya, tidaklah patut kau sembunyikan namamu."
"Dia adalah familiku, kau mau apa?"
Jawab Ho Hay Hong marah.
"Aneh, aku hanya dengar It Jie Hui kiam hanya mempunyai dua anak perempuan, anaknya yang sulung dulu sudah kawin dengan kakek penjinak garuda, anak Gadisnya yang kedua, lima tahun berselang telah meninggal dunia karena sakit. Belum pernah dengar mempunyai anggauta famili seperti kau!"
Berkata Tee soan hong sambil tertawa dingin. Tee soan hong masih belum menjawab gadis baju ungu itu sudah nyeletuk dengan heran.
"Bagaimana dia tahu bibiku, kawin dengan kakek penjinak garuda ?."
Tee-soan-hong tertawa terbahak-bahak "Oh, kiranya nona adalah cucu perempuan It Jie Hui kiam.
Ini lebih aneh lagi.
Anak perempuan yang besar It Jie Hui kiam tidak pernah melahirkan anak perempuan sedang anak perempuannya yang kedua juga belum kawin, apakah hahahaha, bagus benar didikan rumah tangga keluarga It Jie Hui-kiam .haha"
Kata-katanya itu mengandung penuh ejekan, terutama kata-katanya didikan rumah tangga keluarga It Jie Hui kiam. diucapkan dengan tegas. Ho Hay Hong diam diam bertanya tanya kepada diri sendiri.
"mengapa ia mendadak berubah seperti orang gila, seperti terpukul bathinnya."
Gadis baju ungu itu marah ketika mendengar perbantahan itu mendadak maju menghampiri dan menyerang dengan jari tangannya Tee soan-hong segera berhenti tertawa, buru-buru lompat kebelakang gadis itu dan menyerang dengan membalikkan tangan.
Gadis itu tidak menduga akan diserang dengan cara demikian, setelah mengeluarkan suara jeritan, badannya lemas dan rubuh dalam pelukan Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong buru-buru menghadapi dan berkata Tee soan hong dengan suara gusar.
"Tee soan hong, kau benar-benar sudah turun tangan jahat kepadanya?"
Wajah gadis pada saat itu tampak pucat pasi, matanya dipejamkan, mulutnya merintih, ia berkata dengan suara terputus-putus.
"Ho koko, aku terluka. parah"
Ho Hay Hong segera naik darah, sambil mengeluarkan suara bentakan keras, pedangnya di sambitkan kepada Tee soan hong.
Tee soan hong tahu hebatnya serangan anak muda itu, dengan mengempit pedangnya badannya bergulingan di tanah, hingga tanah dan batu-batu pada berterbangan tidak tertampak orangnya.
Delapan anggauta pasukan Angin puyuh yang sudah kenal baik semua sepak terjang Tee soan hong, buruburu memperingatkan Ho Hay Hong.
"Ho siaohiap lekas mundur, itu adalah ilmu pedang Tee soan hong Sin kiam!"
Ho Hay Hong meskipun terkejut, tetapi ia tidak mau mundur begitu saja.
Diam-diam ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, pedang yang disambitkan itu ketika berada ditengah jalan, tiba-tiba melesat dengan pesat, dengan menembus putaran pedang Tee soan hong menyerang orangnya.
Suara ser ser terdengar nyaring.
Tee-soan hong mendadak lompat melesat setinggi lima enam tombak, berkata dengan suara.
"Bocah dari Ngo-bie, benarkah kau berani bermusuhan denganku?"
Saat itu delapan anggauta pasukan Angin puyuh sudah tahu bahwa lengan baju Tee-soan-hong sudah berlubang.
Lengan tangannya terluka.
darah bertetesan membasahi bajunya.
Jelas bahwa luka itu bekas serangan pedang Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong tidak menghiraukan pertanyaan Tee soan-hong, lagi sekali mengempos tenaganya, menggerakan pedangnya.
Pedang itu bagaikan naga terbang dari atas menukik kebawah, kemudian melayang lagi keatas, mengarah tapak kaki Toe-soan hong.
Sudah dua kali Tee-soan hong menghadapi serangan hebat ilmu pedang terbang Ho Hay Hong, hingga kesombongannya lenyap seketika, ia tidak berani memberi perlawanan lagi, dengan terbirit-birit kaburkan diri.
Pasukan Angin puyuh mendadak memencarkan diri, membuat satu lingkaran, mengurung Ho Hay Hong dengan serentak berkata.
-oo0dw0ooo-Bersambung
Jilid 15 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 15
"HO SIAOHIAP, harap ingat baik-baik pantangan dunia Kang ouw jangan mengejar musuh yang melarikan diri kedalam rimba!"
"Kalian rela membiarkan musuh besar itu kabur ?"
Demikian Ho Hay Hong balas menanya dengan perasaan heran.
"Bukan begitu, tetapi itu adalah pantangan dalam dunia Kang ouw, kita tidak boleh melanggar!"
Jawab mereka. Ho Hay Hong mengawasi bayangan Tee soan hong yang pelahan-lahan menghilang tempat gelap menggumam sendiri.
"Jangan membohongi aku! Dari sikap kalian, sudah jelas menunjukan isi hati kalian. Aku pikir kalian sengaja melepaskan musuh besar itu dengan dalih yang kalian kemukakan tadi, tentunya ada tersembunyi sebab sebab yang kalian tidak dapat menjelaskan secara terang-terangan. Benarkah ucapanku ini?"
Delapan anggota pasukan angin puyuh itu diam saja, tidak berani menjawab. Ho Hay Hong merasa tidak senang, sinar matanya yang tajam menyapu orang-orang itu kemudian berkata.
"Dengan sebetulnya, kalian delapan orang, setiap orang memiliki kepandaian yang cukup tinggi, juga bernyali besar. Meskipun Tee Soan hong Tok Bu Gouw kuat dan berkepandaian tinggi, tapi belum tentu bisa mengalahkan kalian dengan mudah. Jikalau dugaanku tidak keliru, toako sekalian jelas sengaja mengalah."
Mendengar celaan itu, delapan anggota pasukan Angin puyuh itu agaknya tidak dapat menahan sabar lagi selain memandangnya dengan wajah keren, dengan serentak berkata.
"Ho siaohiap jangan coba mencari-cari sebabnya, kita bertindak hanya menurut perintah saja, maaf kita tidak bisa menjawab?"
"Apakah itu perintahnya It Jie Hui kiam locianpwee?"
Delapan orang itu saling memandang, kemudian melompat keatas kuda masing-masing, barulah menyahut.
"Maaf. kita masih perlu segera berangkat ke gunung Siau giam-san untuk menyelidiki benda pusaka itu. Kalau siaohiap suka boleh segera berangkat!"
Ho Hay Hong terheran-heran tetapi orang-orang itu semua menutup mulut. Ia juga tidak berdaya. Terpaksa menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Siaote tidak bisa pergi, ia terluka parah perlu lekas ditolong."
Baru berkata sampai disitu, suatu pikiran aneh terlintas dalam ot aknya.
"Gadis itu adalah cucu perempuan It Jie Hui kiam, dan orang-orang itu melakukan tugasnya atas perintah It Jie Hui kiam, seharusnya, betapapun pentingnya urusan itu, tokh tidak lebih penting dari pada jiwa cucu perempuan pemimpinnya, dan sudah seharusnya pula kalau mereka ambil perhatian. Tetapi, mengapa mereka berlalu demikian dingin, bahkan nampaknya acuh tak acuh, sedangkan menanya sajapun tidak."
Sementara masih berpikir, delapan anggota pasukan angin puyuh itu sudah bedal kuda masing-masing meninggalkan dirinya.
Ho Hay Hong diam-diam menghela napas, dengan membimbing gadis baju ungu, pulang kembali kerumah.
Dalam perjalanan ia selalu berpikir.
"dari rumah ia dalam keadaan sehat dan baik-baik. Sekarang pulang dalam keadaan terluka. Kalau kongkongnya tahu, bukankah anggapan aku tidak mampu melindungi keselamatannya?"
Sebagai orang gagah yang berjiwa ksatria, ia bersedia memikul tanggung jawab dan sendiri! Demikianlah Ia sambil mengepal-ngepal tinjunya, berkata kepada diri sendiri.
"Tidak bisa, aku harus jaga nama baikku, aku harus mengandalkan tenagaku sendiri, untuk menyembuhkan lukanya!"
Gadis baju ungu yang mendengarkan ia berkata seorang diri, bertanya dengan perasaan heran.
"Apa yang kau katakan?"
Ho Hay Hong buru-buru menggunakan kesempatan itu balas menanya.
"Apa kau suka kalau aku dipandang enteng oleh orang?"
"Sudah tentu tidak suka!"
Jawabnya singkat, dengan perasaan semakin heran ia balas menanya.
"Mengapa kau bertanya demikian Ho koko?"
"Kau terluka parah, kalau aku antar kau pulang, ini berarti akan mengunjukkan kelemahanku, yang tidak mampu melindungi keselamatanmu. Maka aku pikir jangan pulang dulu, nanti setelah lukamu sembuh, baru pulang. Dengan demikian, kita tidak sampai dihina orang kau anggap bagaimana?"
"Baiklah, Ho koko, kau ingin bagaimana, terserah pikiranmu sendiri."
Jawab si gadis sambil tersenyum.
Waktu ia mengucapkan jawaban demikian, wajahnya kemerahan-merahan hingga tampaknya semakin menggiurkan.
Ho Hay Hong yang menyaksikan sikap demikian, jantungnya mendadak berdebar keras.
Dalam perjalanannya menuju kedaerah Tionggoan kali ini, dengan beruntun ia sudah berkenalan dengan tiga gadis cant ik, hal itu sesungguhnya belum pernah diimpikannya.
Tiga gadis cant ik yang dikenalnya itu masing-masing memiliki sifat tersendiri.
Dalam soal kecant ikan, kalau ia suruh memilih sesungguhnya berat untuk mengadakan pemilihan.
Tetapi kini ia merasa bahwa gadis baju ungu itu dalam segala hal selalu mengiringi kehendaknya, ini merupakan tipenya seorang wanita yang bersifat wanita penurut.
Lengannya memeluk erat erat pinggang gadis itu, dalam waktu singkat, sifat halus gadis itu berhasil memikat hati Ho Hay Hong.
Ia berusaha melupakan gadis kaki telanjang, tetapi tidak berhasil.
Oleh karenanya, ia ingin coba menenangkan pikirannya meskipun dalam pelukannya terdapat tubuh seorang gadis cant ik, namun tidak berani timbul pikiran yang bukan-bukan.
"Nona sejak kecil kau dilahirkan disini, tentunya mengenal baik keadaan disini. Tahukah kau dimana ada tabib pandai?"
Demikian ia bertanya kepada sinona.
"Di kota sebelah barat. Kek Seng To si seng adalah akhli penyakit bagian dalam, ia sanggup menyembuhkan segala luka dalam tetapi..."
Menjawab sang gadis tetapi ia mendadak mengerutkan keningnya dan berkata pula.
"luka dalam tubuhku ini terkena pukulan tinju dengan menggunakan ilmu Khie kang tabib biasa tidak bisa menolong."
"Ya, kita harus mencari tabib pandai yang juga pandai ilmu silat!"
"Dengan terus terang ditempat ini mestinya tidak ada orang pandai luar biasa!"
"Kalau begitu kita terpaksa minta pertolongan kepada Hud-sim Totiang, betul tidak?"
"Ini kurang baik, mungkin lantaran aku, nanti akan mencemarkan nama baikmu."
"Lukamu penting, harus segera diobati. Bila aku sendiri tidak berarti apa-apa. Asal kau selamat, hatiku merasa lega !"
Gadis itu menundukkan kepala, hatinya goncang.
"Tidak apa, aku pelahan-lahan bisa sembuh."
"Kalau dari semula aku tahu Tee soan-hong seorang demikian ganas, kau tadi bunuh mati saja dia dengan pedang terbangku, sekalipun aku harus menghamburkan banyak tenaga!"
Mendadak ia ingat sesuatu katanya pula.
"Mengenai diri orang itu, aku merasa sangat curiga. Sebab jelas para toako dari pasukan Angin puyuh, mempunyai cukup kekuatan menundukkan dia, tetapi tokoh-tokoh itu nampaknya selalu mengalah. Bahkan tidak mengizinkan aku mengejar, ketika ia terluka ditanganku, dengan dalih yang tidak masuk akal. Hal ini aku benar-benar tidak mengerti. Tetapi aku percaya nona pasti lebih mengerti dari padaku, bolehkah kau memberitahukan sedikit saja sebab musababnya ?"
Gadis itu membuka matanya lebar-lebar.
"Kau terlalu banyak pikiran Tee soan hong itu sejak muncul dirimba persillatan daerah utara, belum pernah mendapat tandingan. Sudah lama namanya disegani oleh orangorang rimba persilatan. Kabarnya pada waktu yang belakangan ini, lantaran hendak merebut kedudukan. Bengcu rimba hijau enam propinsi daerah utara, telah bentrok dengan kepala penyamun Kay see Kim kong. Kepala penyamun ini karena mengetahui kepandaian Tee soan hong tinggi sekali, pernah mengalah tidak berani berbuat apa-apa. Coba kau pikir, dengan orang seperti Kay see Kim kong yang biasa melakukan kejahatan dan keganasan, tokh masih mengalah terhadapnya, jangankan pasukan Angin puyuh."
"Bukankah kau pernah katakan bahwa Tee soan hong belum lama muncul di dunia rimba persilatan, mengapa sekarang kau katakan sudah lama namanya terkenal ?"
"Mungkin aku salah kata."
"Aku tahu nona hatinya lembut, tidak mungkin salah kata. Pasti ada rahasia yang kau tidak inginkan aku tahu."
"Perlu apa diungkat lagi? Semua ini untuk kebaikanmu."
"Hal ini ada hubungan apa denganku?"
Gadis itu menggelengkan kepala, tidak menjawab, matanya berkaca-kaca.
"Kau pasti tidak pandang mata aku yang tidak berguna ini, maka ada banyak rahasia tidak memberitahukan padaku!"
Berkata Ho Hay Hong sambil tertawa getir. Mendengar perkataan itu, gadis itu angkat muka dan berkata.
"Ho koko, mengapa kau berkata begitu. Mana aku mempunyai pikiran begitu?"
Sewaktu ia mengucapkan perkataan itu, wajahnya mengunjukan perasaannya yang pilu, jelas bahwa ia memang tidak mempunyai pikiran demikian.
Ia seperti tersinggung perasaannya, sehingga tanpa disadari sudah mengeluarkan air mata.
Ho Hay Hong berusaha keras mengendalikan perasaannya, katanya.
"Kau tidak mau menerangkan ya sudah, aku mau mencari Tee soan hong sendiri untuk menanyakan padanya."
"Aku Ingat, ditempat dekat ini ada seorang tabib pandai, sudah banyak mengobati orang-orang rimba persilatan yang terluka dalam maupun luar. Tetapi adanya sangat aneh, ia tidak mau menerima bayaran, kalau tidak dibayar dengan pedang pusaka atau benda mustika lainnya ia tidak mau menyembuhkan penyakitnya."
Ho Hay Hong menghela napas, tidak berkata apa-apa, hanya bertanya.
"Dia bernama siapa?"
"Dia adalah familie jauh Kay see Kim-kong, nama julukannya Hoa chiu Hwa tho, dahulu ia belajar ilmu silat dan ilmu tabib dikelenteng Koan-im Sin bio, gunung Kie lian san. ia sudah mendapat semua warisan pemimpin kelenteng itu, Chie chiu Sin kun, tetapi adanya keras dan suka membawa caranya sendiri, maka sudah beberapa kali Kay see kim kong mengundang selalu tidak berhasil"
"Orang itu sudah berani menggunakan nama julukan Hoa chiu Hwa tho, ilmunya dalam ketabiban tentunya luar biasa. Lukamu meski parah, barangkali juga masih bisa disembuhkan. Mari kita lekas mencarinya!"
Tetapi setelah berkata demikian, ia merasa menyesal katanya pula sambil menghela napas.
"Kita minta obat seperti minta belajar ilmu kepandaian, sedikitpun tidak boleh memaksa. Aku tidak memiliki barang pusaka apaapa, bagaimana bisa menginjak rumahnya?"
"Kau tidak perlu gelisah, disini aku masih mempunyai barang peninggalan ayahku, mungkin dapat kita gunakan!"
Dari lehernya ia melepaskan liont in kalungnya yang merupakan sebuah batu giok, ia letakan di tangannya dan dielus-elusnya, entah apa sebabnya, perasaan sedih timbul seketika, hingga matanya kembali berkaca-kaca.
"Ini adalah barang pusaka satu-satunya peninggalan keluargaku. It-jie Hui kiam kongkong berikan padaku, suruh aku pakai sejak aku mengerti urusan. Dia pesan padaku supaya menggunakan barang ini untuk mencari keterangan tentang diriku."
Mendengar perkataan itu. Ho Hay Hong terkejut.
"Apa? Kau bukan cucu perempuan It Jie Hui kiam?"
"Tee soan hong, Tok Bu Gouw juga pernah berkata si orang tua hanya mempunyai dua anak perempuan, yang satu sudah kawin dengan Kakek penjinak garuda, satu lagi meninggal dunia karena sakit, bagaimana kau bisa menjadi cucu perempuannya?"
"Batu giok ini adalah barang peninggalan keluargamu, betapa pentingnya bagimu, janganlah lantaran aku, kau bikin hilang. Aku kehilangan muka tidak menjadi soal, bagaimanapun juga aku tokh bukan seorang besar yang sudah kesohor namanya. Kau simpan barangmu, jangan kau berikan kepada Ho chiu Hwa tho!"
"Orang laki-laki tidak dibandingkan dengan orang perempuan, yang terpenting adalah nama baik. Kau berkepandaian tinggi, mungkin bisa menjadi seorang besar, jangan lantaran aku kau lantas putus asa!"
Ho Hay Hong sangat terharu mendengar ucapan itu, dalam hatinya berpikir.
"kau perlakukan aku sedemikian baik, bagaimana aku harus membalas budimu?"
Memasukkan tangannya kedalam sakunya mengeluarkan kitab Salinan ilmu silat garuda sakti dan sepotong batu kaca yang ia dapatkan dari dasarnya danau Liok ing ouw.
berpikir bulak balik, kecuali kitab salinan ilmu silat garuda sakti yang masih ada harganya, sudah tidak ada barang apa-apa lagi.
Tetapi kitab Ilmu silat garuda sakti itu adalah milik suhunya, ia tidak berhak memberikan kepada orang lain.
Dalam sengitnya, batu kaca itu dilemparkannya ketempat jauh, pikirnya barang itu sudah lama disimpannya, tapi tokh tidak ada gunanya.
Diluar dugaannya, batu kaca itu ketika berada diatas batu keras, mendadak mengeluarkan sinar terang, kemudian menggelinding ke dalam rerumputan.
Ho Hay Hong tertarik oleh kejadian gaib itu, ia buruburu lompat turun dari atas kudanya dan memungut lagi batunya.
Batu yang kebentur oleh batu kacanya tadi masih bercahaya terang.
Ia juga segera mengetahui bahwa sekitar tempat dimana batu kaca itu terletak, terdapat cahaya terang hingga matanya hampir menjadi silau.
Ia buru-buru memungutnya kembali dan dibungkus dalam sapu tangannya, lalu disimpannya lagi kedalam sakunya.
Gadis baju ungu yang menyaksikan semua perbuatan itu, lantas menegurnya.
"Itu siapa?"
"Lekas simpan kembali batu giokmu, kita sudah ada barang untuk diberikan kepada Hwa chiu Hwa tho!"
Menjawab Ho Hay Hong dengan perasaan girang.
Ia sungguh tidak sangka bahwa batu kaca yang ia dapat dari dasar danau Liok ing ouw itu, ternyata adalah batu pusaka yang belum dijamah oleh tangan manusia.
Ia sendiri meski belum dapat menilai berapa harganya tetapi dari sinarnya yang berkilauan, dapat menduga bahwa barang itu bukanlah barang sembarangan.
Gadis itu menyimpan kembali batu gioknya berkata sambil tersenyum manis.
"Kau salah jalan, ini jalan yang menuju ketimur, sedang kita seharusnya menuju ke barat!"
Ho Hay Hong mencari jalan, sambil memondong tubuh gadis baju ungu, Ia mengerahkan ilmunya meringankan tubuhnya lari kebarat.
Lari belum berapa jauh, dari dalam rimba tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki menegur dan membentak padanya.
"Sahabat, siapa namamu?"
Ho Hay Hong mengawasi senjata tembaga dalam tangan tiga orang itu, karena waktu itu sudah tengah malam buta, dianggapnya berpapasan dengan kawanan begal.
Dengan kepandaian ilmu silatnya sendiri yang sudah cukup tinggi, sudah tentu tiga orang tu tidak dipandang di mata, maka ia lantas menyahut sambil tertawa.
"Namaku Ho Hay Hong, tuan-tuan ada keperluan apa ?"
Tiga orang itu tidak menjawab, sebaliknya balas menanya.
"Boleh kami numpang tanya, Ho thayhiap mewakili golongan mana?"
Mendengar pertanyaan itu, Ho Hay Hong tercengang, karena ia tidak mengerti makna pertanyaan itu. Selagi hendak menanya, gadis baju ungu itu berbisik ditelinganya.
"Ho koko, kita sudah menginjak daerah kawanan rimba hijau, pertanyaan mereka tadi adalah istilah dalam dunia Kang ouw, kau boleh menjawab salah satu nama dari suatu tempat, hingga kita tidak dapat rintangan lagi."
Ho Hay Hong baru sadar, bahwa dirinya sedang berhadapan dengan kawan berandal karena harus segera mencari obat untuk menyembuhkan luka gadis itu, ia juga tidak mau menimbulkan onar, maka lantas menjawab seenaknya.
"Oh. siaotee datang dari Liok cui"
Tiga orang itu tampaknya terkejut, tapi mereka tidak berani mengganggu, katanya sambil memberi hormat.
"Kiranya adalah sahabat dari Liok cui, silahkan!"
Ho Hay Hong merasa bahwa suasana tempat itu agak berbeda, tempat dimana ia lewat selalu mendapat pengawasan, baik secara terang maupun secara menggelap, seolah-olah khawatir ada orang asing yang masuk kedaerahnya.
Ia lalu berkata kepada gadis dalam pondongannya dengan suara pelahan.
"Tahukah kau mereka sedang main sandiwara apa?"
"Aneh, sudah begini malam, orang-orang dari rimba hijau semua berkumpul disini, apakah didepan sana ada terjadi apa-apa?"
Ho Hay Hong tidak ingin mencari urusan, Ia usulkan mencari jalan lain. Tapi gadis itu berkata.
"Disini hanya ada satu jalan, kecuali jalan ini, yang lainnya semua merupakan daerah rimba. Kalau kita mencari jalan lain mudah kesasar, sebaliknya kita mengambil jalan yang ada, asal kita tidak menimbulkan onar, biarpun ada terjadi apa-apa, kita jangan perdulikan, mungkin tidak akan ada bahaya."
"Aku mengerti maksudmu."
Belum menjelaskan perkataannya, tiba-tiba ada serombongan orang laki-laki yang masing-masing membawa senjata tajam, berjalan menghampiri dan menghadang didepannya.
"Sahabat, tinggalkan senjatamu, ini adalah peraturan dalam pertemuan ini, harap sahabat maafkan!"
Demikian rombongan orang-orang itu berkata.
Ho Hay Hong memandang tempat sekitarnya, ia baru lihat ditempat tidak jauh dari rombongan orang-orang itu berdiri, terdapat sebuah meja persegi besar, diatas meja terdapat rupa-rupa senjata tajam, yang jumlahnya lebih dari sepuluh potong, hingga ia diam-diam berpikir.
apakah orang-orang yang datang menghadiri pertemuan ini ada demikian banyak jumlahnya?
Pertemuan apakah ini sebetulnya?
Gadis itu kembali berbisik ditelinganya.
"Ho koko, aku lihat malam ini gelagatnya kurang baik. Sudah jelas kita kesasar, hingga seperti sudah membuka rahasia mereka. Lekas serahkan pedangmu kepada mereka kita sudah berada digua macan, mau tidak mau harus berlaku tenang dan bertindak melihat gelagat, jangan sampai membuat kekeliruan!"
Dalam hal ini, pengetahuan Ho Hay Hong sangat sedikit sekali, maka ia menurut kehendak gadis itu, pedang panjang diloloskan dan diserahkan kepada orang-orang itu.
Dari mereka ia dapat sepotong papan yang sudah diukir dengan tanda masuk mereka.
"Simpan baik-baik kedalam sakunya."
Berkata kepada sigadis dengan suara perlahan.
"Apakah kita tidak boleh berkata terus terang dengan mereka bahwa kita kesasar dan kemudian kita meninggalkan tempat ini?"
"Orang-orang rimba hijau paling pantang orang luar golongannya turut hadir dalam pertemuan mereka, terutama pertemuan seperti ini, yang mungkin hendak merundingkan suatu urusan penting. Jikalau tidak, kita nanti akan membangkitkan kemarahan orang banyak, ini lebih sulit bagi kita."
Ho Hay Hong pikir bahwa hal itu memang benar, karena ia memondong tubuh gadis itu.
Apalagi terjadi pertempuran sudah tentu tidak leluasa.
Apalagi pihak mereka jumlah orangnya terlalu banyak, sudah tentu lebih susah untuk keluar dari kancah pertikaian ini.
Oleh karenanya, maka ia empos semangatnya, berjalan dengan tindakan lebar.
Tak lama kemudian, telinganya mendadak dapat menangkap suara dekat yang sangat tebal.
Suara itu sangat keras dan nyaring, tidak mungkin dilakukan oleh satu dua orang saja.
Pandangan matanya yang tajam, segera dapat melihat di lapangan sebuah kelenteng yang letaknya dikaki bukit, ada sekelompok orang sedang duduk mengitari pelataran.
Dari sinar api itu ia juga bisa melihat wajah orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu Orang-orang itu meskipun diluarnya berlaku tenang, tetapi sifat orang Kang ouw itu memberi kesan dalam hati Ho Hay Hong.
Selagi memikirkan bagaimana harus melewati pos penjagaan rahasia itu, gadis baju ungu itu sudah berusaha turun dari pondongannya, kemudian berkata padanya.
"Kau boleh pura-pura menggandeng tanganku, cukup menggunakan kekuatan tenaga dalammu untuk membimbing aku!"
"Kau lihat, penjagaan sepanjang jalan yang menuju ketempat pertemuan itu nampaknya sangat ketat bagaimana supaya kita bisa melaluinya dengan aman ?"
"Kita jangan ganggu mereka, untuk sementara kita menyelinap kedalam rombongan orang banyak, nanti kita mencari ketempat air untuk lewat !"
Ho Hay Hong yang tidak membawa senjata apa-apa harus menghadapi demikian banyak jumlahnya orangorang dari kalangan rimba hijau yang nampaknya terdiri dari orang orang berkepandaian tinggi, Sedikit banyak ia merasa agak gentar.
Dengan sangat hati-hati ia menggandeng tangan gadis itu berjalan terus.
Dengan tiba-tiba tombak panjang dari orang-orang yang melakukan penjagaan disilangkan dihadapannya, dua belas mata memandangnya dengan sinar tajam.
Ho Hay Hong agak bingung.
Ia tidak bisa berkata apaapa.
Untung gadis itu cerdik, dengan suara perlahan memperingatkan padanya supaya mengeluarkan tanda kayu.
Bagaikan patung hidup Ho Hay Hong mengeluarkan tanda kayu dari dalam sakunya.
Dilihatkannya kepada rombongan penjaga, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, ia ajak gadis baju ungu duduk di belakang banyak orang.
Setelah duduk, ia baru lihat disudut kanan ada sebuah muka yang dikenal baik olehnya.
Orang itu adalah Tok gan Sin cu, satu penjahat besar yang terkenal dalam dunia Kang ouw, yang pada waktu Ho Hay Hong baru tiba didaerah Tiong goan, pernah mencegat ditengah jalan dan pernah bertempur hebat dengannya.
Ia mengerutkan keningnya, matanya langsung kepada wajah-wajah yang lain.
Benar saja, ia lantas menemukan komplotan To gan Sin cu.
Bok khek ceng Hui pat Tojin Cit seng Koay khek.
Menemukan itu memberikan firasat tidak baik dalam hatinya.
Gadis baju ungu itu ketika melihat perubahan muka Ho Hay Hong, lalu menanya dengan suara sangat pelahan sekali.
"Kau kenapa?"
Ho Hay Hong tersenyum getir sambil menggelengkan kepala, ia tidak mau memberitahukan firasat tidak baik itu.
Pada saat itu, seorang tua dengan membawa pipa besi panjang tampil diatas mimbar, lebih dulu orang tua itu menghisap pipanya yang panjang dan kemudian mengepulkan asapnya ketengah udara, barulah membuka suara.
"Aku anggap Kay see Kim kong tidak tepat memegang tugas berat ini!"
Sinar matanya yang tajam ditujukan kepada seorang laki berkepala botak yang tubuhnya tinggi besar Kay see Kim kong.
"kau harus berani mengakui bahwa adatmu terlalu berangasan, tidak bisa mengendalikan hati orang banyak. Jabatan bengcu ini bukanlah jabatan sembarangan, besar sekali hubungannya dengan mati hidupnya golongan rimba hijau daerah utara, harus dipikir masak-masak. Mata Ho Hay Hong ditujukan kepada Kay see Kim kong, tentang diri kepala berandal ini, ia sudah mendapat sedikit gambaran dari mulut si gadis baju ungu. Kalau dilihat dari potongan muka dan badannya, memang bukan orang sembarangan. Pelan-pelan Kay see Kim kong bangkit dari tempat duduknya, dengan sikap keras berkata.
"Ucapan Tok heng Tayhiap meskipun benar, tetapi anak buahku tersebar hampir seluruh pelosok daerah utara, pengaruhnya sangat besar, jabatan Bengcu itu, aku tetap hendak pertahankan."
"Soalnya bukan begitu, kita harus tahu meskipun pengaruh anak buahmu sudah cukup besar dan menguasai sebagian daerah penting, tetapi ingatlah kau sejarahnya kawanan rimba hijau daerah-daerah Ho siang. See san Khian heng dan Oak bun, yang pengaruhnya sudah menguasai hampir seluruh daerah itu dan tidak kalah dengan kawanan rimba hijau tujuh propinsi daerah selatan, tetapi karena berkali-kali terbit onar antara anggautanya sendiri, sehingga sering diejek oleh orang-orang rimba hijau daerah selatan Apakah hal yang semacam ini kita terus telan begitu saja."
Berkata orang tua tadi.
"Kalau demikian halnya, Tok heng Tayhiap tentunya meragukan kepandaianku?"
Bertanya Kay see Kim kong sambil tertawa besar.
"Bukan, bukan. Apa selamanya berlaku dan berbicara sangat hati-hati, lebih baik tidak diadakan pemilihan, daripada semakin kalut"
Kata orang tua itu sambil menggelengkan kepala dan duduk lagi dengan tenang. Kay see Kim kong merasa tidak senang, menepuk tangan dengan keras seraya berkata.
"Kalau aku beruntung terpilih jadi Bengcu rimba hijau enam propinsi daerah utara, ku jamin dalam waktu dua bulan akan berhasil menyapu bersih kekuatan Liong houw-hwee dan Ceng gie hwee. kecuali pasukan angin puyuh yang dipimpin oleh situa bangka It Jie Hui Kiam, juga termasuk dalam rencanaku yang harus dibasmi."
Mendengar ucapan takabur itu, benar saja mengejutkan gadis baju ungu dan Ho Hay Hong.
tetapi para hadirin juga merasa tertarik, banyak diantaranya yang pada kasak-kusuk, ada yang pro, tetapi ada juga yang kontra.
Bagi Ho Hay Hong, sudah tentu mengharap agar supaya Kay see Kim kong ini tidak terpilih, sebab ucapannya yang sombong ini bukan saja membahayakan kedudukan partai-partai dari orang-orang golongan baikbaik, tetapi juga mengancam keselamatan It Jie Hui Kiam.
Seorang imam pendek kecil beroman buas.
tiba-tiba berseru.
"Siao tee setuju rencana Kay see Kim kong. Dengan hak apa perkumpulan Liong houw hwee dan Ceng gie hwee saban-saban menyusahkan kita ? lagi pula pasukan Angin puyuh itu juga bukan orang baik, mari kita bersatu, mengusir mereka keluar dari daerah utara !"
"Kawan ini orang gagah dari mana?"
Demikian seorang tua bertanya dengan sangat tenang.
"aku kira saudara saudara dari golongan rimba hijau enam propinsi daerah utara sejak peristiwa yang terjadi antara orang sendiri, tidak mempengaruhi kekuatan tenaga kita. Seharusnya kita semua prihatin sama-sama membina kekuatan sendiri, janganlah dipengaruhi oleh angkara murka, hendak membasmi Liong houw-hwee dan Ceng gie-hwee se-ih, salah salah kita akan dihina lagi oleh saudarasaudara kita dari daerah selatan."
Seorang laki-laki pertengahan umur dengan sikapnya yang agung, menyetujui pikiran orang tua itu, katanya.
"Ucapan Kat-lo memang beralasan, sejak kesalahan pimpinan Bengcu yang lama, sehingga terjadi pemberontakan didalam sendiri, kekuatan kita banyak berkurang. Karena kekuatan kita sendiri masih belum teguh, sekali-kali jangan menggunakan kekerasan.
"Jikalau tidak beberapa puluh tahun kemudian, kita akan ludes sendiri hingga kita menyesalpun sudah terlambat!"
Dengan sikapnya yang tenang ia mengibasngibaskan kertasnya.
"pada waktu belakangan ini. aku dengar dalam golongan rimba hijau tujuh propinsi daerah selatan, orang-orang dari kelompoknya si Raja pembunuh, ingin menggabungkan diri dengan golongan kita diutara.
"Dalam hal ini, apabila tidak ada suatu rencana busuk, sesungguhnya merupakan suatu kabar baik bagi kita. Akhirnya kita harus menerima mereka dengan hati sungguh-sungguh, biar orang orang rimba hijau daerah selatan tidak menghina atau mengejek kita lagi !"
Ho Hay Hong sangat tertarik oleh perdebatan itu, tibatiba mendengar suara rintihan gadis baju ungu, maka segera menanya dengan perasaan kaget.
"Apa kau merasa tidak enak?"
"Tidak, tidak ."
Jawab gadis dengan badan gemetaran. Ho Hay Hong tidak mau percaya, ia tanya pula dengan suara perlahan.
"Mengapa kau harus menyusahkan diri sendiri. apa salahnya kau berkata teras terang."
"Aku. hanya merasa kepalaku puyeng."
Jawabnya dengan napas memburu.
Ho Hay Hong mengawasi orang-orang yang hadir disitu, saat itu semua sedang pusatkan perhatian mereka kepada orang-orang yang sedang berdebat, tiada seorangpun yang memperhatikan keadaannya sendiri, hingga ia merasa lega.
Tetapi kesulitan baru muncul.
ia pikir, gadis itu tokh tidak bisa duduk disitu sehingga pertemuan selesai dengan keadaan sakit.
Seandainya pertemuan itu berlangsung terus beberapa hari, apakah ia juga menunggu!
Bukankah itu akan membahayakan gadis itu?
Ia berpikir bolak-balik, belum menemukan suatu akal yang baik untuk meloloskan diri.
Dalam keadaan gelisah, timbullah pikirannya hendak menggunakan kekerasan.
Pikirnya.
"kalau aku bertindak dengan mendadak kemudian menggunakan ilmu meringankan tubuhku, mungkin ada harapan untuk kabur"
Dengan cepat ia mengambil keputusannya.
Tanpa memberitahukan lebih dulu maksudnya itu kepada si gadis, ia sudah hendak memondong tubuhnya.
Di luar dugaannya mendadak ada orang menegur dengan suara dingin.
"Sudah lama kita tidak berjumpa!"
Dengan wajah berubah, ia membalas maksudnya.
Cepat ia berpaling.
Dibelakang dirinya tampak seorang laki-laki kira kira tiga puluhan, menghampirinya dan pelahan, ia duduk disampingnya.
Laki-laki itu dengan tertawa bangga mengawasi gadis baju ungu seraya berkata.
"Tak kusangka nona juga berada disini,."
Kata-katanya itu diucapkan dengan suara sangat perlahan, agaknya takut didengar oleh orang-orang lain.
Kecuali Ho Hay Hong dan gadis itu, tiada seorangpun tahu apa yang sedang dikatakannya.
Mata gadis baju ungu itu menatap wajah laki-laki itu.
Wajahnya mendadak berubah, lama ia tidak bisa mengucapkan apa-apa.
Laki-laki itu berpakaian sangat perlente, wajahnya putih bersih, tetapi sepasang matanya sangat liar terhadap kaum wanita.
Jelas merupakan seorang laki-laki yang gemar pipi licin"
"Hadiahmu satu tamparan tangan pada berapa hari berselang, sehingga kini masih belum terlupakan, aku tidak menduga bisa berjumpa denganmu ditempat ini, mari kita berunding untuk mengadakan perdamaian!"
Demikian laki-laki itu berkata pula. Gadis itu dengan cepat sudah tenang tapi ia menahan rasa sakitnya, katanya dengan nada suara dingin.
"Kau ingin menuntut balas dendam tamparanku pada beberapa hari berselang, silahkan mengumumkan kehadiranku dan siapa adanya aku. Hai, nonamu sudah berani seorang diri memasuki guha harimau, sudah tentu sudah tidak menghiraukan soal mati hidup sendiri."
Mendengar ucapkan tersebut, Ho Hay Hong terkejut. Pikirnya.
"mengapa ia menyatakan demikian kepada orang itu? Apakah ia sudah terlalu sulit untuk keluar dari tempat ini, hingga sengaja berkata demikian, supaya aku berhasil melarikan diri ? Tetapi sebagai seorang lelaki, bagaimana telah memikirkan kepentingan diri sendiri dan membiarkan kawan wanitanya berada dalam sarang harimau seorang diri ?"
Apalagi jika diingat bahwa gadis itu keluar dari rumah bersama-sama dengan dirinya, dengan sendirinya harus bertanggung jawab atas keselamatannya, seandainya harus menghadapi bahaya, juga harus dihadapi bersama, bagaimana boleh melarikan diri seorang diri ?
Karena berpikir demikian, maka ia diam saja, sedang matanya terus mengawasi orang-orang yang sedang berdebat ramai tetapi diam-diam ia perhatikan gerakgerik lelaki ceriwis itu.
Lelaki itu berkata lagi .
"Dengan terus terang, aku tadi sudah melihat kau. Semula aku kira itu ada suatu kejadian kebetulan saja, tak kuduga benar-benar adalah kau!"
Sambil tertawa dingin ia memandang wajah gadis yang cant ik itu, kemudian berkata pula dengan kelakuannya yang sangat ceriwis.
"Dalam perjalananmu ini pasti mendapat hasil baik, kalau aku mengumumkan namamu, orang-orang jahat ini pasti tidak akan membiarkan kau hidup. Tetapi dengan demikian, bukankah aku akan dicap seorang lelaki yang tidak kasihan terhadap kaum wanita?"
Ho Hay Hong yang mendengarkan kata-katanya yang mulai melantur itu, lantas naik pitam.
Tetapi ia masih tidak mengunjukan sikap apa-apa.
Diam-diam ia telah mengambil putusan hendak menempuh bahaya, melindungi si gadis untuk melarikan diri.
Lelaki itu mendadak menepok bahunya seraya berkata.
"Kawan, tolonglah kau minggir sedikit berikan aku tempat duduk !"
Ho Hay Hong semula hendak menyerang dengan tangannya, atau menotok jalan darahnya, tetapi kemudian batalkan maksudnya, karena mendadak ia sadar, bahwa bila ia bertindak sembrono, bukan saja tidak menguntungkan pihaknya bahkan merunyamkan keadaan.
Maka ia terpaksa berlaku sabar, sambil menggeser badannya ia memberi tempat kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu lalu duduk disisi gadis baju ungu, dengan penuh perhatian ia berkata.
"Eh, melihat keadaanmu, kau seperti sedang terluka, mengapa tidak pergi berobat.? kau benar-benar hebat, dengan badan masih terluka demikian parah, masih berani datang kemari untuk mencuri rahasia!"
Gadis itu melirik kepada Ho Hay Hong agaknya meminta supaya pemuda itu memastikan kejadian itu, katanya dengan suara pelahan.
"Kabarmu pamanmu pandai mengobati orang sakit, bolehkah kau bawa aku kepadanya? Aku bersedia barang pusaka sebagai balas jasanya"
"Kau ingin minta pertolongan dariku maka kau bersikap merendah demikian rupa-rupa, aku masih ingat betul, bagaimana sikapmu pada beberapa hari berselang, yang sangat mengecewakan hatiku"
Ho Hay Hong tidak mengerti mengapa gadis itu berlaku demikian sabar terhadap laki-laki ceriwis itu?
Seketika itu ia merasa sangat tidak senang, dan hampir tidak sanggup mengendalikan hawa amarahnya.
Ketika dengan tidak disengaja laki-laki itu menoleh kepada Ho Hay Hong, segera tampak olehnya mata Ho Hay Hong bersinar guram hingga dalam hatinya timbul perasaan curiga.
Gadis itu mendadak berkata pula sambil tertawa.
"Hay, kukatakan terus terang juga tidak apa, kalian orang laki-laki, kebanyakan bangsa mata keranjang, kalau tidak berlaku sedikit bengis, benar-benar bisa dianggap aku gampang diperhina!"
Sehabis berkata demikian, ia sengaja berlaku manis.
Laki-laki itu belum pernah mendapat perlakuan demikian manis dari gadis.
Sudah tentu ia sangat kegirangan sehingga lupa segala-galanya.
Katanya sambil tertawa.
"Sesungguhnya, aku bukan tidak menghargai dirimu, oleh karena kau terlalu cant ik sehingga membuatku lupa daratan Kau tentunya juga tahu, aku bukannya bangsa orang-orang gelandangan bagaimana tidak menghargai diri sendiri?"
"Luka dalam tubuhku akan bekerja, sekalipun kau membenci aku, juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku, Mengapa kau tidak menunjukkan sikapmu ksatria, menghantarkan aku kepadamu?"
"Kau tunggu sebentar, aku akan beritahukan dulu kepada ayah, setelah itu, segera membawa kau kepada Hoat chiu Hwa tho!"
Buru-buru ia bangkit, dengan wajah berseri-seri berjalan menghampiri Kay see Kim kong. Setelah lelaki itu berlalu, gadis baju ungu itu berkata dengan suara pelahan kepada Ho Hay Hong.
"Hei! lekas kau kabur..."
Ho Hay Hong merasa sangat terharu, tapi ia pura-pura perhatikan perubahan suasana tidak menghiraukan perkataannya. Dengan mendadak Ho Hay Hong berpaling dan berkata.
"Aku ingin mendengarkan perdebatan mereka sebentar Lagi, luka kamu penting segera diobati, berusahalah supaya bisa berlalu dari sini lebih dulu!"
Gadis itu tidak mengerti maksud Ho Hay Hong maka ia bertanya.
"Ho koko, mengapa kau bersikap demikian terhadapku?"
Apa bedanya dengan kelakuan yang biasa?"
Jawab Ho Hay Hong. Gadis itu menundukan kepala, katanya dengan suara sedih.
"Dari sikapmu aku dapat menduga, kau pasti marah terhadap aku."
"Tidak sama sekali, kau jangan salah paham."
Jawab Ho Hah Hong. Sehabis berkata demikian, kembali matanya ditujukan keatas mimbar. Waktu itu Kay see Kim kong sudah berkata dengan suara keras sambil membusungkan dada.
"Begini salah begitupun salah, saudara-saudara hanya mengeluarkan pendapat tanpa memikirkan akibatnya dikemudian hari. Benar-benar sangat menjengkelkan."
"Kay see Kim kong, berlakulah dengan tenang, urusan ini ada menyangkut mati hidupnya rimba hijau dari propinsi daerah utara tidak dapat dibereskan hanya dengan menuruti hawa napsu saja!"
Kata Tok heng Lo jin. Suasana semakin tegang, ketika para hadirin mendengar ucapan jago tua itu. Kay see Kim kong berkata dengan tegas.
"Tok heng Tayhiap, kalau kau mempersulitkan siaotee lagi, terpaksa siaotee minta tayhiap keluar dari sini. Jika tidak, aku akan undurkan diri, tidak mau campur tangan lagi!"
Wajah Tok heng Tayhiap berubah seketika, selagi hendak membuka mulut, diantara para hadirin tiba-tiba tampak seorang memakai kerudung kain.
bangkit dari tempat duduknya dengan suaranya yang serak orang itu berkata.
"Aku berdiri dibelakang Tok heng Tay hiap, menentang Kay see Kim kong ambil bagian!"
Dengan pernyataan terus terang dari orang itu, membuat keadaan semakin terpecah belah, meskipun Kay see Kim kong cukup kuat, tapi saat itu juga merasa jeri.
"Saudara bernama siapa? Bolehkah kau memberitahukan kepada kita!"
Demikian ia berkata.
"Tentang ini kau tidak perlu tahu, biar bagaimana aku ada hak untuk menghadiri pertemuan ini!"
Jawab orang itu.
"Saudara menggunakan kerudung untuk menutupi muka, ini saja sudah menimbulkan rasa curiga orang banyak. Aku harap kau akan memberitahukan nama dan kedudukanmu, supaya kita semua bisa mengambil keputusan!"
Kata Kay see Kim-hong.
"Tok heng Tayhiap pernah kata bahwa kau suka membawa caramu sendiri, susah mendapat dukungan besar saudara, hal ini nampaknya memang benar. Aku selamanya suka bebas, sudah biasa menggunakan kerudung untuk menutupi mukaku. Mengapa tak boleh menghadiri pertemuan ini, harap kau jelaskan sebabsebabnya!"
Kata orang itu sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu, aku Kay see Kim kong hendak mengundurkan diri dari rimba hijau daerah utara, tidak mau campur tangan segala urusan lagi. Dikemudian hari apabila ada orang minta aku masuk persekutuan, jangan menyesal kalau aku menolak!"
Keterangan Kay-see Kim kong itu menggemparkan medan pertemuan, semua hadiri ramai memperbincangkan keputusan itu. Tok-heng Tayhiap bangkit lagi, katanya dengan suara dalam.
"Tunggu dulu, Kay see Kim kong tunggulah dulu keputusanmu!"
Kemudian ia berpaling dan berkata pada orang berkerudung.
"Saudara ini, biar bagaimana aku harap suka memberi tahukan namamu, apakah kau ingin melihat saudarasaudara kita dari rimba hijau terpecah belah ?"
Ucapan terakhir itu suaranya penuh nada memohon sehingga membangkitkan rasa simpatik dari para hadirin.
Karena sebagai seorang jago tua yang berkedudukan sangat tinggi dalam kalangan rimba hijau masih demikian merendahkan diri memohon kepada orang supaya semua jangan membikin keruh suasana.
Semua ini semata mata untuk kepentingan bersama.
Maka para hadirin dengan serentak meminta supaya orang berkerudung itu segera memberitahukan namanya.
Orang berkerudung yang dengan mendadak berdiri terpencil, lantas berkata sambil tertawa dingin.
"Sudahlah, aku lihat jabatan pangcu, ini sebaiknya diberikan saja kepada Kay see Kim kong!"
Berulang-ulang ia perdengarkan suara tertawa dingin kemudian berlalu meninggalkan medan pertemuan.
Perbuatan yang seenaknya itu mengejutkan semua orang yang hadir, tetapi tiada orang yang berani merintangi perginya orang itu.
Dengan tiba-tiba, seorang bermuka merah maju menghampiri tangannya menyambar tangan orang berkerudung, sementara mulutnya membentak dengan singkat.
"Balik!"
Orang berkerudung itu membalikkan tangannya mendorong orang muka merah, si orang muka merah itu lantas terdorong mundur sampai lima langkah, tapi masih belum berhasil mempertahankan kakinya.
Orang berkerudung itu berkata sambil tertawa dingin.
"Bangsa kantong nasi, dalam medan pertemuan kemasukan mata-mata masih tidak tahu, sebaliknya hendak mencari mampus!"
Orang muka merah itu adalah seorang jagoan dari daerah gunung Haow nia-san, banyak hadirin yang kenal padanya, tak diduga dengan didorong saja oleh orang berkerudung itu sudah mundur terhuyung huyung demikian rupa, hingga semua pada terheran-heran.
Justru karena kekuatan tenaga yang diperlihatkan itu, maka ucapannya tadi menarik perhatian para hadirin.
Kay-see Kim kong dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah orang berkerudung sejenak, kemudian beralih kepada setiap orang yang berada disitu.
Matanya set iap kali berhenti ketika menatap setiap wajah orang, sehingga orang itu menyebutkan namanya sendiri, barulah beralih lagi kelain orang.
Pada saat itu, Ho Hay Hong diam-diam merasa khawatir, apabila tidak menyembunyikan wajahnya, mungkin akan membawa bahaya.
Dilain pihak, ia juga merasa curiga terhadap ucapan orang berkerudung tadi, apakah ucapan orang itu ditujukan kepada dirinya Kalau benar demikian, orang itu pasti kenal dirinya, ini lebih berbahaya lagi.
Tiba-tiba Kay see Kim kong mengeluarkan suara bentakan keras.
"Huh, tanda siapa? Rasanya belum pernah muncul dalam rimba hijau daerah utara."
Dia adalah pemimpin dalam pertemuan itu, suaranya itu sudah tentu sangat berpengaruh.
Semua mata kini ditujukan kepada tempat Ho Hay Hong duduk.
Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, kalau bukan seorang berkepandain tinggi dan bernyali besar, barangkali sudah terbuka kedoknya.
Wajah gadis baju ungu seketika pucat pasi, diam-diam ia mengeluh, ia khawatir apabila Ho Hay Hong tertangkap, bagaimana ia harus memberi pertolongan?
Ia ingin sekali Ho Hay Hong memberi isyarat tindakan apa yang akan diambil, tetapi pemuda itu masih tetap berdiam dengan tenang, sedikitpun tidak menghiraukannya, sehingga gadis itu semakin gelisah.
Laki laki ceriwis tadi sudah balik lagi dan duduk di hadapan gadis baju ungu.
Dengan demikian, hingga wajah gadis itu teraling oleh dirinya.
Gadis itu mengerti maksud laki-laki itu, tetapi dalam keadaan cemas seperti itu, mana ada waktu untuk bicara dengannya?
Sementara itu, Ho Hay Hong masih tenang-tenang saja, sedikitpun tidak mengunjukkan sikap cemas atau bingung.
Dengan tiba-tiba dihadapannya ada orang bicara.
"Apakah Kay-see Kim kong mencurigai diriku sebagai mata-mata?"
Ho Hay Hong tidak bisa melihat nyata orang itu, hanya dari belakangnya ia menduga bahwa orang itu sudah lanjut usianya.
Terdengar pula terdengar suara orang tu "Memang benar sudah lama aku tidak terjunkan diri dirimba hijau daerah utara, t etapi tanda ku Ngo jiaw leng sudah cukup untuk membersihkan diriku."
Ho Hay Hong mendadak terkejut, suara nyaring dan agak serak orang itu, rasanya pernah didengarnya.
Tetapi ia sudah tidak ingat dimana pernah bertemu dengan orang itu.
Kini ia merasa lega, sebab mata orang banyak tadi ternyata tidak ditujukan kepadanya, melainkan ditujukan kepada orang lain.
"Tanda Ngo-jiauw leng adalah tanda kebesaran pemimpin kita dahulu, boleh saudara keluarkan untuk melihat?"
Kata Kay see Kimkong.
Orang berkerudung tadi berdiri ditempat agak jauh, masih belum berlalu.
Ketika mendengar percakapan dari dua pihak, ia hanya perdengarkan suara tertawa dingin berulang-ulang.
Ho Hay Hong sementara itu bahwa manusia yang berkerudung itu disengaja atau tidak, berkali-kali memandang dirinya, hingga diam-diam merasa heran.
Apakah orang itu kenal dirinya, dan siapakah sebetulnya orang itu?
Ia sengaja arahkan pandangan matanya kepada Kaysee Kim kong, memperhatikan segala gerak-geriknya.
Orang itu terpaksa bangkit dan mengeluarkan tanda Ngo jiauw lengnya untuk diperlihatkan kepada orang banyak, kemudian berkata.
"Sekarang apakah semua saudara sudah percaya tentang diriku?"
"Bawa kemari untuk kulihat!"
Berkata Kay see Kim kong.
Orang itu menganggukkan kepala, dengan langkah lebar berjalan menghampiri Kay see Kim kong, lalu memberikan tanda Ngo jiauw-leng.
Kay see Kim kong memperhatikan dengan teliti, kemudian berkata.
"Benar, barangnya memang tulen!"
Tetapi, ia tidak mengembalikan tanda itu kepada orang tersebut, bahkan dimasukannya kedalam saku sendiri.
Orang itu menyaksikan perbuatan Kay see Kim Kong nampak sangat cemas, mendadak menyambarnya dan berkata.
"Kay see Kim kong, kau harus menjaga nama dan kepercayaanmu!"
Kay see Kim kong mengibaskan lengan bajunya yang gedrombongan, kekuatan tenaga yang meluncur keluar dari situ telah mendorong orang itu hingga beberapa kaki jauhnya.
"Tanda Ngo jiauw leng ini untuk sementara biarlah aku yang simpan, kau mundur!"
Demikian ia berkata dengan bengis. Orang itu tidak mau mengerti, katanya.
"Tidak bisa, aku tidak berhak untuk diberikan kepada lain orang."
"Bengcu yang dahulu sejak terjadinya pengkhianatan golongan sendiri, kekuatannya lantas lumpuh. Apakah masih ingin meminta saudara dari golongan rimba hijau daerah utara?"
Berkata Kay see Kim kong sambil tertawa dingin. Ucapan itu segera menimbulkan perbincangan lagi, salah seorang diantara hadirin berkata.
"Tanda ini masih bisa digunakan untuk menggerakkan orang-orang gagah daerah See-an barat, aku kira sebelum jabatan Bengcu diputuskan dipegang oleh siapa, tanda ini sebaiknya kita jaga bersama!"
"Saudara bolehkah aku ingin tanya, tanda ini hanya sebuah, bagaimana harus dijaga oleh orang banyak? Cara bagaimana menjaganya."
"Kalau begitu, kau hendak mengangkangi sendiri benda itu?"
Kata orang itu.
"Tutup mulut!"
Kata Kay-see Kim ko marah.
"dengan hak apa kau berani berkata demikian terhadap aku?"
Orang itu sedikitpun tidak takut, ia berkata sambil mementangkan dada.
"Aku berkata atas nama keadilan, yang lurus harus kukatakan lurus. Bengkok harus kukatakan bengkok. Aku tidak suka menghina orang dengan menggunakan pengaruh!"
Mata Kay-see Kim kong menyapu kearah para hadirin, katanya sambil tertawa dingin.
"Saudara benar-benar seorang jantan, benar-benar mengagumkan!"
Baru saja Kay see Kim kong menutup mulut, disamping orang tadi. tampak dua orang sudah bangkit dan mengulurkan tangannya diletakan diatas bahu orang itu seraya berkata.
"Kawan harap jangan terburu napsu silahkan duduk!"
Orang itu jatuh duduk ditanah, lama tidak dengar lagi suaranya.
Ho Hay Hong yang menyaksikan kejadian itu, diamdiam berpikir!
Kay see Kim kong berani berlaku sewenang-wenang, kiranya mengandalkan pengaruhnya dan jumlah orangnya yang banyak untuk menindas para hadirin dengan kekerasan.
Nampaknya jabatan Bengcu, itu mau tidak mau pasti akan jatuh ditangannya.
Ia juga tahu bahwa orang-orang dari golongan hitam ini, selalu menggunakan hukum rimba.
Kekuatan berarti keadilan.
Maka ia juga t idak menghiraukan soal ini lagi.
Tetapi ketika matanya tertuju kewajah orang yang jatuh itu, tidak kepalang terkejutnya.
pikirannya melayang dan tanya-tanya kepada diri sendiri.
"Mengapa dia?"
Semula ia tidak melihat tegas wajah orang yang membawa tanda Ngo jiauw leng itu, tetapi sekarang setelah jatuh duduk tidak berdaya, ia baru melihat mukanya, Orang itu ternyata adalah orang tua kepercayaan It Jie Hui kiam yang pernah ditemuinya diatas panggung pertandingan.
Ia masih ingat ketika ia menonton pertandingan ilmu silat, orang tua kurus kering itu duduk diatas panggung belakang meja pertandingan, menerima orang-orang yang hendak turut ambil bagian dalam pertandingan diatas panggung.
Sungguh tidak disangka orang tua itu ternyata ada hubungan dengan musuhnya It Jie Hui kiam.
Perasaannya dirasakan seperti disambar petir, diam-diam merasa bergidik.
Ketika ia berpaling kepada gadis baju ungu, entah sejak kapan gadis itu rebah dalam pelukan laki-laki ceriwis dalam keadaan pingsan.
Rambutnya yang panjang terurai kebawah, matanya tertutup rapat, agaknya sedang tidur nyenyak.
Hatinya tercekam, hawa amarahnya meluap seketika.
Laki-laki ceriwis itu memandang paras sinona dengan matanya yang liar, tangan kirinya menunjang janggut, agaknya sedang mencari akal untuk menyadarkan.
Sebentar kemudian Ho Hay Hong mendadak menghela napas dan berpaling lagi memperhatikan perubahan selanjutnya, ia anggap bahwa gadis itu dengan rela diperlakukan demikian.
bagaimanapun ia tidak berhak tak merintangi.
Sementara itu, maka Kay see Kim kong terus mencaricari wajah wajah yang dicurigakan dengan sikapnya yang tetap tenang, sedikitpun tidak menghiraukan urusan orang tua kurus kering itu tadi.
"Tanda Ngo jiauw leng Bengcu kita yang dahulu kini sudah berada dalam tanganmu, saudara tentunya orang kepercayaan Bengcu yang lama !"
Demikian Tok heng Tayhiap bertanya kepada orang tua kurus kering. -ooo0dw0ooo-Bersambung
Jilid 16 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 16 MATA orang tua kurus kering ditujukan kepada Kay see Kim kong dengan perasaan bimbang, sedang mulutnya menjawab pertanyaan Tok heng Tayhiap.
"Ucapan Tayhiap benar, aku yang rendah ini memang benar adalah orang kepercayaan Bengcu kita yang lama."
Tok heng Tayhiap batuk-batuk sebentar, ia berkata.
"Aku duga saudara ada membawa tugas."
"Bengcu kita yang lama telah kalah d itangan It Jie Hui kiam, dan aku yang rendah ini adalah orang kepercayaannya, sudah terus hamba berusaha untuk membalas dendam!"
Kata-katanya itu diucapkan demikian mantap dan tegas benar-benar mengejutkan Ho Hay Hong.
Ia merasa bersyukur bahwa dengan secara kebetulan mengetahui rahasia besar itu, ia telah bertekad hendak membuka membuka kedok orang tua itu dihadapan It Jie Hui-kiam.
Suara bentakan keras yang keluarnya mendadak, telah memutuskan lamunannya.
Saat itu mata Kay see Kim kong ditujukan kepada diri seorang jago muda, kemudian bertanya sambil tertawa dingin.
"Kau datang dari mana ?"
"Siaoseng datang dari Pak-sun. anak murid Cui seng Siang kaow."
Jawab jago muda itu.
"Ow bagus anak didikan Ciu seng Siang kauw tidak akan kalah dengan murid-murid jago kenamaan!"
Kata Kay see Kim kong.
Ia agaknya sudah hilang rasa curiganya, perlahanlahan mengalihkan perhatiannya ke arah lain orang.
Tetapi kemudian ia seperti teringat apa-apa, pandangan matanya ditujukan lagi kepada jago muda itu dan katanya.
"Ciu seng Siauw kauw selamanya menaati janjinya sendiri, jauh sebelum diadakan pertemuan ini sudah diberitahukan, mengapa tidak tampak mereka berdua yang datang sendiri ?"
"Suhu berdua karena ada urusan penting, sedang melakukan perjalanan keluar kota, sehingga tidak bisa hadir sendiri. Oleh karena itu, maka suhu telah mengutus Siaoseng untuk mewakili !"
Kay see Kim kong mengangguk-anggukan kepala seraya berkata.
"Beralasan juga, tetapi aku tidak percaya Cui seng Siauw kauw sampai begitu malas, tempat ini terpisah dengan kediamannya hanya beberapa puluh pal saja, betapapun penting urusannya, juga tidak mungkin tidak memberitahukan."
Dengan sinar mata dingin ia memandang si jago muda dan sambungnya.
"untuk mencegah terjadinya hal hal yang tidak diinginkan harap kau tunggu sebentar, aku akan suruh orang mengadakan penyelidikan."
Tangannya menggapai, dua lelaki bertubuh tegap bangkit dan lari menuju kedepan.
Ho Hay Hong memperhatikan keadaan jago muda itu, diwajahnya yang putih bersih terlintas suatu kekhawatiran, Ho Hay Hong tanya tanya kepada diri sendiri.
"apakah ia mengaku-aku saja ?"
Ia merasa bahwa mata Kay see Kim kong kini ditujukan kepadanya, Ho Hay Hong terperanjat.
Dalam keadaan gelisah, tiba-tiba mendapat suatu akal, Ia buruburu menepuk bahu lelaki ceriwis dan berkata padanya sambil tertawa.
"Nona dalam pelukanmu ini sangat cantik, dengan saudara merupakan pasangan yang setimpal benar!"
Lelaki ceriwis itu semula agak kaget, tapi setelah mendengar ucapan Ho Hay Hong yang memuji padanya demikian rupa dalam hati merasa sangat girang, maka ia juga tidak marah, bahkan menyahutnya sambil tertawa.
"Mana. saudara terlalu memuji."
Dengan wajah tidak berubah Ho Hay Hong berkata sambil tertawa.
"Dari bentuk badan dan pandangan saudara, jelas saudara memiliki kepandaian sangat tinggi. Jikalau saudara tidak keberatan bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatan?"
Laki-laki ceriwis itu paling senang di sanjung orang, maka ketika mendengar ucapan Ho Hay Hong yang memuji padanya setinggi langit, hatinya sangat gembira. Ia segera balas menanya.
"Berapa usiamu tahun ini?"
"Dua puluh lima tahun!"
Jawabnya.
"Wajah saudara masih seperti sangat muda sekali, tak disangka sudah berusia dua puluh lima tahun. Dari sini membuktikan bahwa saudara pandai menjaga diri, sesungguhnya merupakan suatu bakat yang sangat baik. Aku lebih tua beberapa tahun, baiklah aku panggil kau lot ee saja!"
Ho Hay Hong harus berbahasakan toako dengan seorang yang tidak disukainya, Dalam hati ia merasa jemu. Tetapi keadaan mendesak, terpaksa pura-pura berlaku gembira.
"Jika saudara tidak anggap rendah diri siaotee maka siaotee akan panggil anda toako!"
"Lotee jangan merendahkan diri, pepatah ada kata, empat penjuru lautan, semua adalah saudara. Mengapa aku harus anggap rendah dirimu?"
Ho Hay Hong pura-pura berlaku girang, berkata sambil menganggukkan kepala.
"Toako sangat ramah, siaote sangat menyesal baru hari ini bertemu dengan toako."
Menggunakan kesempatan itu, matanya melirik Kaysee Kim kong, benar saja pandangan matanya sudah beralih kepada orang lain.
Karena Kay see Kim kong sudah tidak mencurigai dirinya, Ho Hay Hong kini tidak di banyak bicara lagi dengannya.
Tapi laki-laki ceriwis itu juga tidak perhatikan perubahan sikap Ho Hay Hong itu, ia juga ingin mendapat banyak waktu untuk menikmati kecantikan gadis baju ungu.
Wajah cantik jelita itu saja waktu pernah membuatnya mabuk.
Kini ia mendapat kesempatan menikmatinya sepuas-puasnya, mengapa tidak puas?
Sementara itu, orang berkerudung tiba-tiba membuka mulut lagi.
"Orang-orang ini benar-benar seperti rombongan kaledai bodoh, apa gunanya debat demikian sengit?"
"Hm"
Suaranya itu diucapkan sangat nyaring agaknya disengaja supaya semua orang mendengarkan.
Tetapi ketika semua mata berpaling kearahnya, orang itu dengan tergesa-gesa sudah angkat kaki.
Seorang diantara para hadirin loncat bangun dan berseru padanya.
"Kurang ajar, kau benar benar terlalu menghina, jangan lari, nanti kuhajar kau!"
Tetapi, perbuatan orang itu segera dicegah oleh Tok heng Tayhiap Ia berkata sambil menggoyangkan tangannya.
"Saudara jangan gegabah biarlah pergi!"
Kay see Kimkong menggumam sendiri "Tak mungkin kau tidak unjukkan muka heh?"
Tangannya menggapai, dua laki laki segera lari menghampiri. Kay see Kim-kong berkata kepada dua laki-laki tua itu.
"Lekas tanyakan kepada orang tua yang menerima tanda masuk, tanyakan padanya senjata apa yang dibawa oleh orang berkerudung tadi."
Dua laki laki itu berlalu, sebentar kemudian mereka sudah kembali memberi laporan.
"Loya, senjata yang dibawa oleh orang itu tadi adalah sebilah pedang pusaka!"
Mendengar laporan itu Kay see Kim-kong membelalakkan matanya, katanya kepada diri sendiri.
"Apakah dia itu Tee soan ong Tok Bu Gouw?"
Ucapannya yang cukup terang itu, menarik perhatian semua hadirin, satu diantara memperdengarkan suaranya.
"Pasti dia! Meskipun dia tadi bicara dengan suara yang dibikin-bikin, tetapi aksennya masih belum berubah."
Ho Hay Hong pikir ucapan orang itu memang beralasan, sebab Tee soan hong pernah bertempur dengannya, maka memeta keadaannya.
Teringat diri Tee soan-hong, pikiran melayang ketempat jauh.
mengapa pasukan Angin puyuh selalu berlaku sabar dan mengalah saja terhadapnya?
mengapa gadis baju ungu yang tahu siapa sebenarnya orang itu tidak mau memberitahukan padanya?
Bahkan mengatakan ada hubungan dengannya, hubungan apakah sebetulnya?
Ia terus memikirkan soal itu, tetapi selalu tidak menemukan jawabannya.
Sebab ia sendiri memang tidak kenal dengannya, bagaimana dapat memecahkan persoalan itu?
Pada saat itu, dia laki-laki lari mendatangi dengan napas tersengal-sengal, sebelum orangnya sampai, suaranya yang keras sudah terdengar lebih dahulu.
"Jangan lepaskan bocah itu tadi dia adalah mata-mata!"
Jago muda itu agaknya mendapati firasat tidak baik, dengan mengeluarkan suara bentakan keras, ia bertindak lebih dulu, dua tangannya bergerak, menyerang orangorang disekitarnya.
Wajah semua hadirin berubah seketika, orang-orang yang duduk dekat dengannya, karena tidak menduga terjadinya tindakan jago muda itu, banyak yang jatuh oleh serangan yang dilancarkan oleh jago muda itu, sedang ia sendiri menggunakan kesempatan kalut itu, sudah melarikan diri.
Dalam keadaan marah, Kaysee Kim-kong memerintahkan anak buahnya mengejar.
Ho Hay Hong mendadak terbuka pikirannya, ia anggap itu adalah kesempatan yang paling baik untuk melarikan diri.
Sambil membentak.
"Bocah, jangan lari."
Ia mengerahkan ilmunya lari pesat, mengejar jago muda tadi.
Beberapa anak buah Kay see Kim kong yang bergerak duluan, pada akhirnya ternyata ketinggalan semua oleh Ho Hay Hong.
Ilmu lari pesat Ho Hay Hong masih jauh diatas jago muda itu, maka beberapa saat kemudian, tinggal terpisah sejarak lima tombak saja.
Sementara itu hatinya berpikir.
"kalau aku lari sendiri tanpa perdulikan cucunya, bagaimana aku harus menjawab kepada It Jie Hui kiam?"
Hal ini menyulitkan kedudukannya Pada saat itu ia dengan jago muda itu terpisah semakin dekat, dari lima tombak, pelahan menjadi empat tiga dua dan akhirnya hanya tinggal kurang satu tombak.
Asal ia mau mengeluarkan serangan dengan kekuatan tenaga dalam jago muda itu pasti terluka.
Anak buah Kay see Kim kong yang berada dibelakangnya semua berkaok-kaok supaya ia lekas menangkapnya.
Ketika melalui jalan tikungan Ho Hay Hong sengaja memperlambat larinya tetapi kemudian terus mengejar lagi hingga jarak yang sama.
Dalam keadaan demikian ia diam-diam sesalkan kepandaian ilmu lari pesat jago muda itu, yang kurang mahir sehingga menempatkan dirinya dalam kedudukan sulit.
Sebuah sungai selebar kira-kira enam tombak, telah terbentang dihadapan jago muda itu mengeluh dan merandak.
Ho Hay Hong dapat mendengar dengan tegas suara keluhan jago muda itu dalam keadaan demikian, kembali ia mendapatkan satu akal.
Ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya kepada kedua tangannya, kemudian mendorongnya sambil berseru.
"Pergi kau."
Jago muda itu punggungnya terdorong, dengan mengeluarkan jeritan keras, badannya melayang ke tengah udara.
Tetapi kemudian ketika Ia melayang turun ke seberang sungai dalam keadaan selamat, ia baru mengerti bahwa Ho Hay Hong tidak melakukan serangan sesungguhnya, melainkan menolong jiwanya.
Sebagai seorang cerdik, jago muda itu juga lantas berpura-pura memandang marah kepada Ho Hay Hong, kemudian tanpa berkata apa-apa, lantas mengundurkan diri.
Rombongan yang mengejar akhirnya tiba d itempat itu, tetapi mereka yakin tidak mampu menyeberangi sungai itu, terpaksa membiarkan jago muda itu pergi.
Salah satu diantara orang-orang itu menyesalkan Ho Hay Hong, katanya.
"Benarkah saudara membiarkan ia kabur?"
"Jangan khawatir ia telah terkena pukulan tanganku, dalam tubuhnya sudah terluka. Sekalipun Ia sekarang bisa lolos dari tangan kita tetapi juga tidak mungkin lolos dari tangan maut, heh.heh"
Jawab Ho Hay Hong. Salah seorang setelah melihat tegas muka Ho Hay Hong mendadak berseru.
"Eh, kau !"
Ho Hay Hong ketika mendengar suara teguran itu, menyapu wajahnya sejenak kemudian berkata.
"Ow, kiranya Chit-seng Koay khek, sudah lama kita tidak bertemu!"
Sementara itu ia sudah mengambil keputusan karena Chit-seng Koay khek sudah membuka kedoknya, pasti menimbulkan bahaya bagi dirinya maka ia harus bertindak lebih dulu.
Sebelum Chit seng Koay khek membuka mulut, sudah diserang lebih dulu.
Chi-seng Koay-khek tidak keburu menangkis atau mengelak, hingga serangan itu mengenainya dengan telak.
Seketika itu juga Chit seng Koay khek rubuh, tak bisa bangun lagi.
Dahulu sewaktu Ho Hay Hong baru turun gunung, Chit seng Koay khek sudah tidak sanggup melawan, apalagi kini setelah Ho Hay Hong mendapat bantuan tenaga dalam si kakek penjinak garuda.
Setelah berhasil merubuhkan Chit seng Koay khek, Ho Hay Hong tidak tinggal diam, dua tangannya bergerak berbareng, menyerang dua orang yang lain.
Satu diantaranya, yang agak lemah, seketika itu juga terpukul mundur, dan yang satu lagi terpental dan kecebur dalam sungai.
Satu yang terpukul mundur tadi masih berusaha hendak melarikan diri.
tetapi berhasil ditangkap kembali oleh Ho Hay Hong dan dilemparkan kedalam sungai.
Sekaligus ia membinasakan tiga orang, dalam hati merasa tidak enak, tetapi kalau mengingat bahwa orangorang itu biasanya suka memeras rakyat dan melakukan kejahatan, ia bisa merasa senang Tiba-tiba sesosok bayangan orang muncul dari dalam rimba dan berkata padanya sambil tertawa dingin.
"Sungguh hebat, kau anak muda."
Ho Hay Hong terkejut, ketika ia berpaling hawa amarahnya meluap, katanya dengan nada suara gusar.
"Apakah tuan masih ingin merasakan pedang terbangku?"
"Sungguh tak kusangka pandangan matamu demikian tajam, sehingga dapat mengenali diriku."
Kata orang itu, yang bukan lain daripada orang berkerudung yang sangat misterius.
"Bukan cuma aku saja yang mengenali, tetapi Kay see kim kong dan lain-lainnya juga sudah tahu siapa adanya kau!"
"Benarkah ucapanmu ini?"
"Walaupun kau menggunakan kain untuk menutupi mukamu, merobah aksen suaramu, tetapi senjata yang kau tinggalkan tak dapat mengelabui mata mereka."
"Begitupun baik, sekalipun Kay see Kim kong telah mengetahui diriku, ia juga tidak berani berbuat apa-apa terhadap aku!"
Katanya sambil tertawa dingin.
"anak muda, kau jangan merasa bangga dulu, ketahuilah olehmu aku sudah mengetahui dirimu, hanya kawanan kantong nasi itu saja yang berhasil kau kukelabui. Hai, dengan memandang muka It Jie Hui kiam, aku tidak akan membuka kedokmu dihadapan mereka, biarlah kau bisa pulang dalam keadaan hidup. Coba kau pikir sendiri, apabila aku membuka kedokmu dihadapan mereka, apakah kau kira saat ini kau masih bisa hidup?"
"Kalau kau merasa menyesal tadi tidak membuka kedokku, sekarang saja kau umumkan kepada mereka, juga masih keburu!"
"Anak muda, kau ternyata juga pandai omong besar, tidak kecewa kau menjadi si anak It Jie Hui kiam. hahaha"
"Kalau kau masih berani menghina sembarangan terhadap dia orang tua, jangan sesalkan aku berlaku kurang sopan terhadapmu!"
"Pulanglah beritahukan kepada It Jie hui kiam, suruh dia lekas menyelidiki dimana anakku, jikalau tidak, aku akan mencari balas sakit hatiku yang sudah kupendam berapa tahun."
Sinar masanya yang tajam menatap wajah Ho Hay Hong.
entah apa sebabnya, matanya mendadak berkacakaca.
Ho Hay Hong masih berada dalam kesan keheranan tetapi orang itu sudah berlalu dan sebentar sudah menghilang kedalam rimba.
Ia lalu bertanya-tanya kepada diri sendiri.
"apakah It Jie Hui kiam merampas anaknya? Tetapi orang tua itu bukan seorang macam itu. Namun dari ucapan Tee soan hong jelas mengandung maksud demikian. Heran."
Ia balik kembali kedepan kelenteng, kabut tipis yang meliputi gunung, jauh di depan matanya, terhadap sinar ungu, sehingga memberikan suatu pemandangan yang indah.
Pemandangan aneh itu juga dilihat oleh semua hadiri dalam pertemuan itu, hingga mereka sudah lupa tugasnya, semua mata diarahkan kearah gunung.
Ho Hay Hong diam-diam tergerak untuk pemandangan alam yang aneh itu, mengalihkan perhatian orang banyak jikalau tidak entah bagaimana ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Tiba-tiba Kay see Kim kong berkata kepada diri sendiri.
"Ow, arah itu adalah arah gunung Set giam san. Kabarnya diwaktu belakangan ini, sering tampak sinar magis, semula aku anggap desas-desus saja, tak kusangka ternyata benar."
Kata-katanya itu juga didengar oleh Ho Hay Hong, ia segera teringat kepada diri delapan anggot a Angin puyuh, apakah mereka berhasil menemukan benda pusaka yang dicari?
Jika ditilik dari sinar aneh yang masih melayang diudara itu, jelas bahwa delapan pasukan Angin puyuh itu belum berhasil mendapatkan barang pusaka yang dicari.
Dan dari kata kata Kay see Kim kong tadi, urusan itu agaknya juga sudah diketahui luas oleh set iap orang Kangouw.
Dapat diduga bahwa orang-orang Kang ouw yang pergi mencari benda pusaka itu, pasti tidak sedikit jumlahnya.
Dapatkah delapan pasukan Angin puyuh melakukan tugasnya dengan baik ?
Karena mengingat kepandaian delapan orang itu, diam-diam ia merasa cemas.
Tiba-tiba terdengar suara siulan tajam dan panjang, yang terbawa oleh tiupan angin.
Suara itu meskipun tidak keras, tetapi terpisah dari jarak yang sangat jauh.
suara itu masih bisa didengar dengan tegas, dapat diduga betapa tinggi kepandaian orang yang mengeluarkan suara siulan itu.
Kay see Kim kong dan Tok heng Taihiap yang mendengar suara itu mendadak bungkam.
Dengan sangat hati-hati memperhatikan suara itu.
Semua hadirin dikejutkan oleh sikap dua jago tua itu hingga semua pandangan mata dialihkan kepada mereka berdua.
Pelahan-lahan Kay see Kim kong yang menunjukkan perasaan terkejutnya lebih dulu, kemudian Tok heng Tayhiap juga nampak terperanjat.
Keduanya saling berpandangan, dengan serentak mereka berkata.
"Celaka, makhluk aneh si tua bangka itu benar-benar masih hidup."
Semua orang yang mendengar ucapan itu, tidak mengerti apa yang mereka maksudkan, orang-orang hanya menampakkan dua jago tua itu wajahnya pucat pasi, dapat diduga bahwa urusan ini bukanlah urusan biasa.
Terutama Ho Hay Hong yang memikirkan keselamatan delapan anggauta pasukan Angin puyuh, hatinya semakin gelisah.
Ketika pandangan matanya beralih ketempat dimana gadis baju ungu tadi duduk, gadis itu ternyata sudah tidak ada ditempatnya, begitupun dengan laki-laki ceriwis tadi, bukan kepalang terkejutnya, ia pikir gadis itu pasti memerlukan pertolongan dengan segera, mungkin sudah pergi berobat bersama laki-laki tadi.
Mengingat diri laki laki ceriwis itu, Hay Hong merasa muak.
Matanya yang liar, sifatnya yang ugal-ugalan, sikapnya yang ceriwis, segala-galanya jelas menunjukan tipenya seorang laki-laki yang tidak bermoral.
Bagaimana juga, tidak sesuai menjadi pasangan gadis baju ungu.
Ia terpaksa memberanikan diri, den tindakan lebar berjalan menghampiri Kay see Kim-kong, dan bertanya padanya.
"Cianpwee, kemana perginya anakmu, bolehkah cianpwe memberi tahukan kepada boanpwee?"
Kay see Kim kong yang sudah melihat anak muda tadi bercakap-cakap dengan mesra bersama anak lakinya, dianggap sahabat karib laki-laki ceriwis tadi, maka tanpa banyak pikir lantas menjawab.
"Ia pergi berkunjung kepada pamannya."
Ho Hay Hong segera teringat dari Hoa-tho Hwa thio, ia menggunakan kesempatan selagi semua orang curahkan perhatiannya kepada cahaya benda pusaka itu, dengan cepat pergi kebelakang kelenteng, kemudian dengan melalui rimba kejalan raya.
lalu menuju ke barat.
Tiba dekat empang, tampak olehnya sinar lampu dan keluar dari deretan rumah bambu.
Tanpa banyak pikir, ia segera menghampiri dan mengetok pintunya.
Tak lama kemudian, dari dalam terdengar suara menegur.
"Siapa ?"
"Paman, numpang tanya, dimana tempat tinggal Hoa ciu Hwa tho locianpwee?"
Jawab Ho Hay Hong.
"Ada urusan apa ?"
Ho Hay Hong terkejut pikirnya.
"ia bebas menanya demikian, apakah ia adalah Hoa ciu wa tho sendiri ?"
Ia tidak berani berlaku kasar, maka lantas bertanya.
"Apakah paman adalah Hoa chiu Hwa tho locianpwee sendiri?"
Lama tidak terdengar suara jawaban, Ho Hay Hong terpaksa menggedor lagi.
Diluar dugaannya, pintu yang terbuat dari papan itu ternyata keras sekali.
Tidak lama ia menggedor, terdengar pula suara orang tadi, kali ini nadanya penuh kemarahan, jelas merasa tidak senang atas perbuatan Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong buru-buru bertanya pula.
"Maaf numpang tanya apakah paman Hoa ciu Hwa tho locianpwee?"
Mendengar pertanyaan itu, dari dalam rumah tidak terdengar suara lagi.
Beberapa kali ia memanggil, tetapi tidak mendapat jawaban, hingga ia naik darah.
Tapi mendadak ia ingat sifat aneh hwa Chiu Hoa tho, mungkin pertanyaan yang diajukan berulang-ulang tadi menimbulkan kemarahannya, maka tidak mau menjawab.
Oleh karena itu.
maka ia segera mencari akal.
Ia tidak mau menggedor lagi, diam-diam undurkan diri.
Lama ia duduk dibawah sebuah pohon besar, setelah menganggap waktunya sudah cukup, ia balik kerumah itu lagi dan mulai mengetok pintunya.
Tak lama kemudian diri dalam terdengar pula suara pertanyaan.
"Siapa?"
Ho Hay Hong buru-buru merubah suaranya, jawabnya.
"Numpang tanya apakah Hoa Chiu Hwa tha locianpwee berdiam disini?"
"Ada urusan apa?"
Ho Hay Hong diam-diam merasa geli katanya.
"Aku hendak menukarkan barang pusakaku dengan ilmu obat-obatan locianpwee!"
"Suaramu seperti bukan orang yang sedang sakit. Apakah ada orang lain yang perlu diobati?"
"Benar bolehkah locianpwee membuka pintu, supaya kita bisa masuk untuk berunding"
"Orang yang perlu diobati itu laki-laki ataukah perempuan?"
"Perempuan."
"Aku Hoa chiu Hwa tho selamanya tidak mengobati orang perempuan!"
Ho Hay Hong merasa cemas.
"Tolonglah locianpwee sekali ini saja boanpwee bersedia membayar dengan benda berharga!"
Orang tua dalam rumah itu mendadak membentak.
"Bangsat, kau berkali kali mengganggu orang, apa maksudmu?"
Ho Hay Hong baru ingat bahwa dalam keadaan gelisah telah lupa merubah suaranya hingga dapat dikenali oleh orang tua yang berada didalam rumah itu.
Maka setelah ditegur demikian, ia menjadi gelagapan dan tidak bisa menjawab.
Sesaat ia menjadi bingung lagi, tidak tahu bagaimana harus berbuat, Mendadak pada saat itu pintu telah terbuka, seorang lelaki tua kurus kering berada dihadapan matanya, yang mengusir dirinya dengan perkataan kasar.
Dengan cepat mata Ho Hay Hong melirik kedalam ruangan rumah itu, keadaannya ternyata sangat berhasil, diatas meja terdapat banyak tumpukan buku.
suatu tanda bahwa penghuninya adalah seorang terpelajar.
Tetapi ia tidak melihat lelaki ceriwis anaknya Kay see Kim kong dan gadis baju ungu.
Dengan perasaan kecewa ia menjawab.
"Boanpwee adalah teman Kongcu Kay see Kim kong, tolong locianpwe beritahukan dimana adanya sekarang, karena boanpwee ada urusan hendak mencari dia."
Hoa ciu Hwa tho memandang padanya dengan sinar mata dingin, kemudian berkata.
"Aku tidak peduli kau sahabat siapa lekas pergi?"
Ho Hay Hong yang beberapa kali sudi mengalah, tetapi masih mendapat perlakukan demikian kasar dari tuan rumah, darah mudanya bergolak, katanya dengan suara keras.
"Boanpwee menghormati kau sebagai orang tingkatan tua, maka dengan sikap merendah aku minta pertolonganmu. Sungguh tak kusangka sikap cianpwee masih tetap tak memandang mata orang, sehingga boanpwee kehilangan muka. Malam ini kalau cianpwe tidak mau memberitahukan dimana adanya anak lelaki Kay see Kim kong, boanpwee terpaksa hendak menggunakan sepasang tangan kosong, untuk belajar kenal dengan locianpwe"
Sambil berpeluk tangan, ia berdiri di hadapan Hoa chiu Hwa tho. Matanya memandang tajam.
"Bocah, kau sebetulnya memiliki beberapa banyak kekurangan, berani berlaku bertingkah dihadapanku?"
Kata Hoa chiu Hoa tho dingin.
"Dengan kepandaian ilmu obat-obatan locianpwee mendapat nama baik di kalangan Kang ouw, tetapi dalam hal ilmu silat belum pernah dengar tentang kepandaian yang istimewa."
Hoa chiu Hwa tho tertawa dingin berulang-ulang, kemudian berkata.
"Kalau kau berani merendam diri dalam empang itu dalam waktu kira-kira seperminum secangkir teh panas saja aku akan memberitahukan jejak keponakanku!"
"Apa kau kira aku tidak berani?"
Kata Ho Hay Hong sambil angkat muka. Lalu berjalan menuju ke empang. Empang itu airnya biru, bening, tanpa banyak pikir. Ia lantas terjun kedalam air. Hoa chiu Hwa tho berkata sambil tertawa dingin.
"Air dalam empang ini sudah kumasukkan ramuan obat, sehingga dinginnya luar biasa. Bagi orang biasa, sekalipun diwaktu tengah hari, sinar matahari sedang panasnya, juga tidak berani mencoba, aku lihat kau baiknya kenal diri sedikit!"
Ho Hay Hong yang sudah berada dalam air, badannya dirasakan sangat dingin mendengar ucapan itu, semakin menggigil.
Tetapi adanya yang keras, ia tidak mau menyerah mentah-mentah.
Meskipun ia sudah tahu bahwa air itu bukan air biasa, tetapi ia masih tetap hendak pertahankan diri.
Sebentar kemudian, ia mengawasi lengan tangannya ternyata sudah mulai bengkak, otot-ototnya dilengan tangannya seperti ada binatang cacing berjalan, Ia mengerti sudah kena ditipu oleh orang tua itu.
Karena air bukan saja sangat dingin, tetapi juga bisa mengakibatkan darah dalam daging bergolak hingga dagingnya membengkak dan akhirnya urat-uratnya pada putus."
Ia sudah ketelanjuran menunjukkan sikap keras, tidak mau menyerah, kalau tidak bisa bertahan sampai waktu seperminuman secangkir teh saja, benar-benar akan kehilangan muka !
Sejenak ia merasa bimbang, tetapi akhirnya ia mengambil keputusan hendak mencoba dengan mempertaruhkan jiwanya.
Dengan mendadak, rasa hangat timbul dari dalam badan, hawa itu mengalir terus ke seluruh tubuhku, hingga rasa dingin lenyap seketika.
Ia merasa heran dan bertanya-tanya kepada diri sendiri.
"Barang apakah yang bisa menimbulkan perubahan ini"
Mendadak ia ingat kepada batu kaca yang aneh, mungkinkah batu itu yang mengeluarkan khasiatnya ?
Hoa chiu Hwa tho yang menyaksikan dari samping, ketika melihat wajah dan sikap Ho Hay Hong sedikitpun tidak berubah, dia diam merasa heran.
Pikirnya.
"Beberapa hari berselang Hoa san Lo wan masih tidak sanggup menahan serangan hawa dingin dari situ sehingga terpaksa keluar lagi dalam empang. Tapi bocah ini yang usianya masih sangat muda sekali, bisa bertahan sekian lama, benar-benar sangat mengherankan. Barang apakah yang membuat dirinya dapat bertahan terhadap serangan hawa dingin itu ?"
Sementara itu terdengar suara Ho Hay Hong bertanya.
"Hoa chiu Hwa tho, waktunya sudah cukup atau belum?"
Hoa chiu Hwa tho menghitung-hitung waktunya, sebetulnya sudah lewat, tapi Ia tahu bahwa kekuatan hawa dingin dari air itu, semakin lama semakin kuat, maka ia pura-pura balas menanya.
"Hah, bocah, apa kau sudah tidak sanggup bertahan?"
"Hm! Bukan aku omong sombong, sekalipun merendam tiga jam lagi, bagiku juga bukan soal apaapa."
Jawab Ho Hay Hong.
Ia sudah mengerti khasiatnya batu mujijad dalam sakunya, adalah batu pusaka yang dapat menolak hawa dingin, maka ia berani menjawab demikian.
Hoa chiu Hwa tho membuka lebar matanya dan berkata.
"Bocah, apakah kau mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya, melawan hawa dingin ?"
"Jangan banyak bicara, waktunya sudah sampai atau belum?"
Jawab Ho Hay Hong menyimpang. Sudah tidak ada alasan lagi bagi Hwa chiu Hwa tho untuk menolak, maka lalu berkata.
"Naiklah, kau menang!"
Ho Hay Hong lompat keluar dari dalam empang, ketika angin Meniup, sungguh aneh pakaiannya seketika itu juga sudah tertiup kering sendiri.
"Cianpwee, sekarang harap cianpwee beritahukan dimana jejak keponakanmu!"
Demikian ia berkata.
"Ia datang kemarin dengan membawa orang kawan wanita, minta obat dariku. Karena aku menolak, ia lantas berlalu menuju kebarat!"
Jawab Hoa chiu Hwa tho sambil menghela napas. Dalam hati Ho Hay Kong merasa cemas tanyanya pula.
"Mendengar cianpwe tidak mau memberi pertolongan kepada keponakanmu?"
"Dalam melakukan ilmu tabibku, selama ini tidak pernah aku melanggar tradisiku sendiri. Karena keponakanku itu tidak membawa barang pusaka sebagai upah dan lagi pula orang yang dibawanya berobat adalah orang perempuan, yang aku tidak boleh mengobatinya, maka aku tobat."
"Pendirian cianpwee yang demikian kukuhnya, sehingga melihat orang yang sudah hampir mati juga tidak mau menolong, benar-benar sangat mengagumkan!"
Kata Ho Hay Hong tidak senang.
"Bocah kau jangan mengejek aku, sekarang aku ingin tahu apa sebabnya kau masuk dalam air dingin tidak terluka?"
"Baik, aku hendak majukan suatu permintaan!"
"Katakanlah."
"Boanpwee ingin tanya dulu, luka luka perempuan itu cianpwee pernah melihatnya betul tidak?"
"Kau benar-benar terlalu menghina aku si orang tua, kau harus tahu bahwa aku sudah mendapat gelar Hoa chiu Hwa tho, bagaimanapun hebatnya penyakit atau luka itu, jelas tidak lolos dari sepasang mataku, jangankan hanya luka kecil yang tidak berarti itu!"
Ho Hay Hong diam-diam merasa girang, tetapi ia tidak unjukan diluar dan masih menanya terus.
"Apakah cianpwee sudah tahu dengan obat apa untuk menyembuhkan luka-lukanya?"
"Itu soal sepele, perlu apa kau tanyakan?"
"Inilah permintaan boanpwee. Boanpwe bersedia memberitahukan rahasianya dan apa sebabnya boanpwee tidak terluka meskipun merendam sekian lama dalam air dingin. Tetapi cianpwee juga harus membuatkan obatnya untuk menyembuhkan luka luka perempuan itu!"
Hoa chiu Hwa tho berpikir sejenak baru berkata.
"Dia pernah apa dengan kau?"
"Cianpwee jangan tanya soal ini, harap jawab mau atau tidak, sudah cukup!"
Hoa ciu Hwa tho yang ingin sekali mengetahui sebabsebab dari rahasia diri Ho Hay Hong yang tahan dengan air dingin, lalu berpikir.
"dengan tidak langsung aku mengobati lukanya, ini tidak berarti aku melanggar tradisiku sendiri."
Oleh karena itu maka ia lantas berkata.
"Baiklah kau boleh ceritakan rahasianya!"
"Tapi cianpwee harus berjanji tidak akan...."
Hoa-ciu Hwa tho mengerti maksudnya, mendadak membentak dengan suara keras.
"Apa artinya ini? Apakah namaku diluaran tidak cukup sebagai jaminan, supaya kau percaya ?"
"Maaf, karena boanpwee harus berlaku hati-hati, maka hendak minta ketegasan cianpwee, harap cianpwee maafkan kesalahanku!"
Dari dalam sakunya Ho Hay Hong mengeluarkan batu pusakanya.
Hoa cin Hwa-tho yang seumur hidupnya belum pernah melihat batu pusaka demikian besar seketika itu matanya terbuka lebar.
Lama ia baru bisa bertanya.
"Itu benda apa ?"
"Batu wasiat tahan hawa dingin, boanpwee berendam dalam air dingin tidak terluka itu adalah karena khasiatnya batu ini."
Hoa-ciu Hwa tho menggumam sendiri.
"Batu ini memang merupakan barang yang luar biasa, koleksiku benda-benda pusaka-pusaka dan barang wasiat cukup banyak, tetapi tidak ada satu yang dapat dibandingkan dengan ini Aih! Aku benar-benar seperti kodok didalam sumur"
"Harap cianpwee berikan resep obat seperti apa yang cianpwee sudah janjikan."
Kata Ho Hay Hong. Hwa ciu Hwa tho membalikan badan, masuk kedalam kamar, tak lama kemudian balik kembali dengan membawa sebungkus obat dan diberikan kepada Ho Hay Hong seraya berkata.
"Obat ini sifatnya keras, satu hari makan satu kali sudah cukup. dalam waktu tiga hari lukanya akan sembuh."
Ho Hay Hong menerima bungkusan obat dari tangan tabib aneh itu, setelah mengucapkan terima kasih, lantas lari menuju ke barat.
0odwo0 Malam itu, rembulan terang, cahaya ungu yang bersinar diatas gunung Suan giam-san, saat itu mendadak lenyap, Ho Hay Hong terperanjat, diam-diam mendoakan agar pasukan Angin puyuh tidak mendapat halangan satu apa.
Tak lama kemudian, mendadak ia merasakan ada orang mengikuti jejaknya.
Ketika ia melalui jalan tikungan, matanya melirik, tampak olehnya orang yang mengikuti jejaknya itu ternyata seorang berpakaian pendek ringkas, gerakkannya gesit, bagaikan kucing hendak menerkam tikus.
Karena bentuk potongan orang itu mirip dengan Hoa ciu Hwa tho, kalau benar dia mungkin tertarik benda pusakanya hingga timbul maksud jahat.
Ia mempercepat gerak kakinya tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang berkelebat dihadapannya.
Dengan cepat ia memburu.
Jalan raya yang dilalui itu luas tanpa rintangan dikedua sisi juga tidak terdapat pohon maka matanya dengan mudah bisa lihat kearah jauh.
Ia telah menampak dengan tegas bahwa bayangan orang itu adalah seorang tinggi besar, bentuknya agak aneh agaknya mirip dengan manusia.
Tiba-tiba terlintas suatu pikiran dalam ot aknya, mungkinkah bayangan orang itu adalah bayangan orang yang sedang memondong tubuh seorang lagi hingga bentuknya agak aneh.
Seketika itu semangatnya terbangun, segera mengerahkan ilmunya lari pesat untuk mengejar bayangan itu.
Dibelakangnya tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan nada suara dingin.
"Kau berani lari ?"
Mendengar suara itu, bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong bukankah itu suaranya Hoa ciu Hwa tho?
Ho Hay Hong merandek dan menoleh kebelakang, ia lihat orang itu memiliki potongan badan sangat gagah, alisnya keren, matanya tajam, ternyata asing baginya maka lantas menegur.
"Saudara ada keperluan apa?"
Orang itu dengan satu tangan memegang gagang pedang dipinggangnya, matanya menatap wajah Ho Hay Hong, lama baru berkata "Apakah kau bukan dia?."
Sementara itu, bayangan orang yang didepannya itu kini telah lenyap.
Ho Hay Hong yang terhalang oleh orang tidak dikenal itu dalam hati merasa kurang senang, maka dengan sangat mendongkol ia balas, menanya.
"Dia siapa yang kau maksudkan?"
"Aku benar-benar telah kesalahan!"
Berkata orang itu sambil meminta maaf.
"aku yang rendah adalah anggota perkumpulan Ceng gie hwee yang sedang bertugas meronda, tadi aku melihat ada orang lari sambil memondong tubuh seseorang, orang dalam pondongannya itu adalah seorang wanita muda maka siautee anggap orang itu pasti orang jahat, hingga lantas mengejarnya. Tak kusangka ilmu meringankan tubuh orang itu sangat mahir sekali, lagi pula juga sangat cerdik. Mungkin ia tahu ada orang mengejar, maka dengan menggunakan jalan yang berliku-liku sebentar sudah menghilang, Siaot ee merasa penasaran dan terus mengejarnya, tetapi kesalahan anggap saudara sebagai penjahat maka siao tee harap saudara suka maafkan kekeliruanku ini!"
Mendengar kata-katanya yang sangat merendah. amarah Ho Hay Hong agak reda. Katanya.
"Aku sudah dengar bahwa perkumpulan Ceng gie hwee itu adalah perkumpulan orang-orang dari golongan baik baik. Terus terang, aku juga sedang mencari orang yang saudara maksudkan tadi itu. Marilah kita sekarang mencari secara berpencaran. saudara boleh mencari menuju kearah timur!"
Sehabis berkata demikian dengan satu gerakan burung bangau melesat keudara, sekali bergerak setinggi tiga tombak, kemudian melayang kearah barat.
Ketika kakinya menginjak tanah, baru saja hendak melanjutkan perjalanannya, telinganya mendadak menangkap suara halus yang timbul dari timpukan batu, yang terpisah tidak jauh dengannya.
Ia buru-buru merandek dan memandang kearah tersebut.
Tempat itu banyak tumpukan batu besar-besar, sekitarnya kosong.
Dari tempat itu dapat memandang keadaan disekitarnya kira-kira sepuluh tombak, Ho Hay Hong tertarik oleh situasi tempat itu.
pikirnya.
"kecuali dibelakang tumpukan batu itu yang mungkin dapat digunakan untuk sembunyikan diri, tempat kosong yang sangat luas itu tidak mungkin dapat digunakan untuk sembunyikan diri. Mungkinkah orang itu sembunyi dibelakang batu itu?"
Dengan perasaan bimbang ia berjalan menghampiri tempat itu dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba dari belakang tumpukan batu itu melesat keluar bayangan seseorang yang lalu menegur dirinya.
"Lotee apa perlunya seorang diri kau datang kemari?"
Mendengar teguran itu Ho Hay Hong marah. Apa yang diduganya ternyata benar, walaupun demikian, diluar ia masih tidak menunjukan sikap marah. Dengan sabar dan sambil tertawa ia berkata.
"Siaotee tadi baru dengar kata orang bahwa nona itu bukanlah kekasihmu loko, kalau begitu loko sudah membohongi siaotee. benar-benar pandai bergurau, ha ha!"
"Apa artinya perkataanmu ini?"
Tanya laki itu dengan perasaan tak senang.
Ia sudah tidak keburu mencegah, hingga Ho Hay Hong sudah mengetahui semua, gadis baju ungu itu masih menyender ditengah batu besar dalam keadaan pingsan, pakaian bagian dadanya yang montok, juga tertampak samar-samar.
Ho Hay Hong yang menyaksikan pemandangan itu, darahnya bergolak, ia berkata sambil tertawa mengejek.
"Loko benar-benar sangat pintar."
Lelaki itu menunjukkan muka tidak senang, katanya.
"Hiantee, kau jangan mengurusin urusan orang lain, jikalau tidak aku nanti."
"Loko. siaotee tidak menyalahkan, tetapi dalam hal ini loko agaknya terburu napsu sedikit. Nona ini sedang terluka parah, apabila ada apa-apa bukankah itu berarti loko yang mencelakakan dirinya?"
"Hiantee tidak usah mengurusi urusan orang lain, kau dengar atau tidak?"
Kata lelaki itu marah. Ho Hay Hong tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Apakah lantaran satu perempuan loko lantas meretakkan perhubungan dengan siautee?"
"Aku tidak ada itu maksud, hanya mengharap kau jangan coba merintangi urusanku."
"Setiap orang harus mempunyai perasaan prikemanusian. Meskipun siaotee adalah orang dari golongan hitam, tetapi masih mengerti mana yang lurus dan mana yang bengkok. Perbuatan loko ini, bukan saja melanggar prikemanusian tetapi juga terlalu tidak tahu malu, tidak ubahnya dengan perbuatan binatang."
Laki-laki itu ketika mendengar ucapan Ho Hay Hong seketika marah besar, tanpa banyak bicara lagi, lantas menyerang dengan tinjunya.
Ho Hay Hong tahu bahwa lelaki itu adalah anak lelaki Kay see Kim kong, yang terkenal dengan tinjunya yang keras.
Sebagai anak, sudah tentu mendapat warisan kepandaian ilmu silat ayahnya, Maka ia tak berani berlaku gegabah.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, ia menyambuti serangan laki-laki itu.
Dua-duanya sama-sama menggunakan tenaga penuh, maka ketika kekuatan kedua pihak saling beradu, segera timbul suara hebat.
Kesudahannya lelaki itu terpental mundur tiga langkah, mulutnya banyak mengeluarkan darah.
Ia sebetulnya memiliki kepandaian cukup tinggi dan kekuatan tenaga dalamnya juga sudah cukup sempurna.
Tetapi oleh dan karena tenggelam dalam air kata-kata pipi licin, hingga percuma saja ia mendapat latihan kepandaian ayahnya, sebetulnya hanya merupakan satu macan kertas saja.
Maka ketika mengadu kekuatan dengan Ho Hay Hong dalam tubuhnya terluka oleh serangan Ho Hay Hong, seketika itu juga tidak sanggup memberi perlawanan lagi.
"Dengan satu tinju siaotee saja loko masih tidak tahan, bagaimana masih hendak omong besar? Lekaslah berlalu dari sini, jangan sampai aku turun tangan lagi!"
Kata Ho Hay Hong.
"Baik baik hiantee demikian caranya perlakukan d iriku, dilain waktu pasti ada waktu aku membalasnya, sampai ketemu kembali dilain waktu."
Berkata lelaki itu gemas. Setelah itu, ia berlalu dengan tindakan sempoyongan. Ho Hay Hong mengawasi berlalunya kawan, itu, kemudian berkata sambil tertawa dingin.
"Kalau bukan karena aku pernah anggap kau sebagai toako, bagaimana aku dapat membiarkan kau berlalu dengan tenang!"
Ia menghampiri dan berjongkok di samping gadis baju ungu, yang ternyata masih belum ingat orang.
Mendadak ia sadar dan berkata kepada diri sendiri!
"Pantas tadi ia seperti tidur pulas dalam pelukan lakilaki itu, kiranya ditotok jalan darahnya."
Dengan cepat ia membuka totokannya, gadis itu benar-benar saja lantas mendusin. dengan membuka sepasang matanya yang di ikuti oleh berbagai pertanyaan, ia bertanya kepada Ho Hay Hong.
"Ho koko, kita berada dimana ini?"
Hati Ho Hay Hong sangat terharu, Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Ketika pandangan matanya tertuju kebagian dada gadis itu, jantungnya berdebar keras untung ia bukan bangsa Don Juan.
Maka tak sampai terganggu perhatiannya.
Dengan cepat ia ulur tangannya membereskan baju gadis itu, kemudian ia duduk disebuah batu, matanya memandang kearah jauh.
Dengan perasaan bingung gadis itu mengawasinya, kemudian memandang keadaannya sendiri.
Perasaan malu mendadak timbul serta merta ia menangis.
Ho Hay Hong memandang dengan sinar hambar, kemudian berkata padanya.
"Aku sudah memintakan obat untukmu."
Ia tidak dapat melanjutkan lagi, pikirannya terganggu. Meskipun dalam hati ingin menghiburi, tetapi ia tidak dapat menunjukkan sikapnya dengan terus terang, terpaksa berkata.
"Kau istirahatlah baik-baik, jangan banyak memikir."
Gadis itu tahu bahwa Ho Hay Hong kesalahan paham, lantas ia berkata.
"Aku aku tidak pikirkan apa apa Ho. koko."
Pikiran Ho Hay Hong merasa sangat kalut, ia sendiri juga tidak mengerti apa sebabnya.
Gadis itu yang tidak mendapat jawaban Ho Hay Hong, semakin malu, menangisnya semakin menjadi-jadi.
Kalau diwaktu biasa, keadaan menyedihkan gadis itu, bagaimana keras hati Ho Hay Hong, juga akan tergerak.
Tetapi kini keadaan berlainan.
Ia mendadak merasa bahwa sikap kebingungannya itu tidak ada gunanya, sikapnya mendadak berubah, dengan suara agak keras ia berkata.
"Jangan menangis lagi, lekas minum obat ini."
Ia membuka bungkusannya. Obat bubuk dimasukkan kedalam mulut gadis itu, kemudian berkata.
"Ini adalah obat buatan tangan Hoa chiu wa tho sendiri, pasti manjur, legakanlah hatimu."
Tapi pada saat itu matanya mendadak melihat secarik kertas putih dimana terdapat tulisan yang berbunyi.
"Tulisan ini ditujukan kepada bocah, obat ini terbuat dari getahnya ular berbisa yang usianya sudah ribuan tahun, barang siapa yang memakannya, tidak akan tertolong jiwanya. Kuberi waktu padamu tiga jam, lekas kau bawa orang yang sakit itu kepadaku. Kalau sampai lewat batas waktunya dan ada kejadian apa-apa atas diri perempuan itu, ini adalah salahmu sendiri, aku tidak mau menerima lagi!"
Dibawah terdapat tanda tangan Hoa chiu Hwa-tho. Sehabis membaca Ho Hay Hong mendadak berseru dan melompat tinggi, kemudian berkata dengan nada suara gusar.
"Tua bangka kau benar benar berhati kejam, aku Ho Hay Hong akan adu jiwa denganmu."
Gadis itu mengambil kertas yang dilemparkannya itu. Setelah dibacanya sebentar, wajahnya berubah, tetapi sedikitpun tidak menunjukkan rasa takut. Katanya sedih.
"Aku mati tidak apa, Ho koko, harus di jaga baik-baik dirimu sendiri!"
Mendengar perkataan itu Ho Hay Hong merasa sangat terharu, tetapi sebentar kemudian ia sudah bisa berlaku tenang lagi.
Ia pikir Hoa chiu Hwa tho itu hanya menginginkan batu wasiatnya lain tidak.
Asal batu itu diberikan padanya, semuanya tentu beres!
Kembali ia berpikir.
"jiwanya sekarang dalam keadaan berbahaya, dan tokh masih berkata demikian, apakah ia benar-benar telah jatuh cinta padaku?"
Pikiran semacam itu ia sebetulnya tidak berani membayangkan, tetapi saat itu ketika menyaksikan keadaan menyedihkan gadis itu, hatinya tergerak juga.
Ia menyesal atas kelakuan hambar yang ditunjukkan tadi.
Dengan perasaan terharu ia berkata.
"Waktu dengan cepat akan berlalu, mari kita lekas cari dia!"
Sehabis berkata tanpa menunggu jawaban sinona, ia sudah menyambar tubuhnya dan dipondongnya, kemudian dibawa lari menuju kearah timur.
Dengan menyandarkan kepalanya didada Ho Hay Hong, gadis itu berkata.
"Ho koko. andai kata Hoa chiu Hwa tho tidak mau menerima bagaimana?"
"Kalau ia tidak mau menyembuhkan kau, aku akan bunuh mati dia!"
Jawab Hay Hong dengan hati panas, hingga wajahnya nampak sangat menakutkan.
"Dia adalah seorang tamak, ia tentu ngincar batu wasiatmu, sehingga menggunakan akal keji demikian, Ho koko sekali-kali jangan terbit onar dengannya."
"Aku tidak pentingkan batu wasiatku, asal kau sembuh, hatiku merasa lega!"
"Berkali-kali kau demikian membela diriku, hatiku merasa sangat tidak enak!"
"Jangan begitu, itu adalah suatu hal yang sudah seharusnya!"
Saat itu dasar hatinya sudah tergerak oleh sikap lemah lembut dan sungguh-sungguh dari gadis itu, beberapa kali ia hendak mengutarakan isi hatinya, tetapi selalu terganggu oleh bayangan wajah gadis kaki telanjang yang sebentar terbang sebentar menghilang.
Ia tidak dapat menimbang mana satu yang lebih berat diantara dua jelita ini, yang menempati hatinya.
Ia masih selalu merasa bahwa gadis kaki telanjang itu menantikan kabarnya dalam kesepian ditempat kediamannya didaerah selatan.
Kalau ia mengalihkan cintanya, didaerah selatan kepada gadis lain ini berarti suatu penghianatan terhadap cinta gadis itu.
Diam-diam ia menarik napas panjang.
Dengan menindas perasaannya sendiri, ia kaburkan diri sambil menundukkan kepala.
Tidak lama kemudian, deretan rumpun bambu yang teratur rapi itu sudah tampak dihadapan matanya, Ho Hay Hong sangat marah dengan kepalan tinjunya ia menggedor pintu dan berkata dengan suara keras.
"Hoa chiu Hwa tho, orang yang kau hendak ketemui sudah datang!"
Karena tidak mendapat jawaban dari dalam, ia mendorong pintu dengan sekuat tenaga sehingga rumah yang terdiri dari bambu itu tergetar.
Pintu yang terdorong kuat telah terbuka, Hoa chiu Hwa tho dengan muka berseri-seri mengawasinya seraya berkata!
"Oh, kiranya kau.
Aku siorang tua sudah lama menunggu, silahkan masuk!"
Ho Hay Hong melangkah masuk dengan langkah lebar. Setelah meletakkan gadis baja ungu diatas sebuah kursi bambu, ia berkata.
"Akal cianpwee sangat bagus, boanpwe sangat kagum. Sungguh tak kusangka kau adalah seorang yang semacam itu!"
Hwa chiu Hwa tho tidak menghiraukan ejekan itu. Ia berkata dengan tenang.
"Kau ada urusan minta pertolongan dari ku, sebaiknya sedikit sabar, jangan kau mengumbar napsumu, nanti kalau aku sudah naik pitam, batu wasiatmu itu aku juga tidak inginkan lagi!"
Ho Hay Hong dapat mengerti maksud ucapan orang tua itu, dalam hatinya berpikir.
"bagiku sendiri kehilangan batu wasiat adalah urusan kecil, tetapi apabila tua bangka ini nanti marah dan tidak suka berunding dengan ku, bagaimana nasibnya gadis ini?"
Dengan cepat ia dapat mempertimbangkan urusan besar itu, untuk sementara ia terpaksa mengalah, dengan menindas perasaan sendiri ia berkata.
"Baiklah, kau sembuhkan dia, aku akan menyerahkan batu wasiatku!"
"Tidak bisa, kau yang minta tolong dariku, harus lebih dulu menyerahkan batu wasiatmu,"
Kata Hoa chiu Hwa tho sambil menggelengkan kepala.
"Jikalau cianpwee melanggar janji lagi, bukankah berarti aku akan kehilangan orang dan barang keduaduanya?"
Kata Ho Hay Hong marah.
"Kalau begitu kau boleh keluar, aku tidak sudi dengan barangmu lagi."
Mendengar perkataan itu Ho Hay Hong segera naik pitam.
"Kau berani berbuat begitu, aku akan hancur leburkan seisi rumah tanggamu."
Hoa chiu Hwa tho memandang padanya dengan sinar mata dingin, lantas berlalu sambil berkata.
"Terserah."
Dilihat dari sikap orang tua itu jelas sekali bahwa sedikitpun ia tidak takut dengan ancaman Ho Hay Hong, hingga terpaksa berlaku sabar lagi, dengan nada suara lunak ia berkata.
"Begini saja, aku akan meletakkan batu wasiatku ini diatas meja dan cianpwee menyembuhkan lukanya, setelah ia sembuh, batu wasiat itu kau boleh ambil!"
Hoa chiu Hwa tho yang mendengar tawaran itu, sejenak nampak berpikir, kemudian menerima baik.
Ho Hay Hong mengeluarkan batu wasiatnya dari dalam sakunya, lalu diletakkan di atas meja, dari atas meja itu ia mengambil sebilah belati tajam yang ada disitu, kemudian mengundurkan diri kesamping sambil berkata.
"Sekarang waktunya tidak bisa diundur lagi, harap cianpwee lekas turun tangan."
"Untuk apa kau mengambil belati itu?"
Ho chiu Hwa tho sambil tertawa dingin.
"Cianpwee jangan anggap boanpwee hendak menggunakan benda ini untuk menghadapimu, boanpwee tahu benar bahwa kekuatan tenaga dalammu sudah sangat sempurna sehingga sudah kebal dari senjata tajam, tidak akan aku berbuat begitu gila. Dengan terus-terang aku hanya khawatir cianpwee nanti melanggar janji lagi, maka aku harus waspada, jikalau terjadi apa apa, aku akan menggunakan belati ini untuk menghancurkan batu wasiat ini supaya kedua pihak tidak mendapatkan apa-apa." -ooo0dw0ooo-Bersambung
Jilid 17 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 17
"SEANDAINYA aku berhasil menyembuhkan lukalukanya, dan kau karena rasa bencimu yang sangat dalam mungkin kau menggunakan kesempatan merusak batu wasiat itu, dengan demikian bukankah berarti aku repot tanpa mendapat hasil apa-apa?"
"Cianpwee menghendaki cara bagaimana?"
"Mungkin aku terlalu khawatir, dengan sebetulnya nona ini setelah sembuh lukanya namun nyawanya masih tetap berada ditanganku, dengan satu pukulan tangan kosong saja sudah cukup aku mengirim dia kelain dunia."
Ho Hay Hong semakin curiga, ia tidak mengerti maksud dan tujuan dari ucapan orang tua itu.
Tetapi sebentar kemudian mendadak sadar, orang tua itu sengaja menakut-nakuti dengan perkataan, tentunya dengan maksud supaya ia menurut perintahnya.
"Jangan khawatir, aku bukanlah orang yang suka melanggar janji, cianpwee boleh turun tangan!"
Demikian ia berkata.
Hoa chiu Hwa tho berjalan menghampiri lemari, dari dalam mengeluarkan sebuah peti kayu, dalam peti itu penuh obat-obatan.
Ia mengambil beberapa rupa obat ramuan hingga sebentar kemudian dihadapannya sudah penuh tumpukan obat ramuan.
Obat ramuan itu dihancurkan olehnya sehingga menjadi bubuk, kemudian dari dalam ia mengambil sebuah perapian, obat itu dimasaknya.
Tidak lama kemudian, bau obat sudah memenuhi ruangan rumah itu, Ho Hay Hong kepalanya mendadak merasa puyeng, Hampir saja dia pingsan, dalam terkejutnya, ia buru-buru menutup jalan pernapasannya dan menggunakan kekuatan tenaga dalam mengusir keluar bau obat dari dalam tubuhnya Hoa chiu Hwa tho dengan sinar mata dingin memandang padanya, kemudian berkata.
"Bocah, kekuatan tenaga dalammu boleh juga, kalau orang lain, hm hanya bau obat itu saja sudah cukup membuatnya menyerah !"
Kembali dari dalam peti obat ia mengambil beberapa rupa obat-obatan dimasukkan kedalam panci obat yang sedang dimasaknya sebentar kemudian bau obat yang tebal itu telah lenyap.
Ho Hay Hong diam-diam berpikir.
"setan tua ini benarbenar banyak akalnya, untung aku tadi sadar dengan cepat kalau tidak pasti sudah rubuh ditangannya."
Kini ia lebih berhati-hati menilik gerak-geriknya, karena ia khawatir orang tua itu akan menggunakan kesempatan untuk mencelakakan dirinya.
Sementara itu gadis berbaju ungu itu sudah tidak ingat orang sama sekali, nampaknya seperti sedang tidur nyenyak.
Ho Hay Hong yang menyaksikan Ho chiu Hwa tho repot masak obatnya, agaknya tidak menghiraukan orang yang sakit, hatinya merasa cemas, maka lalu bertanya.
"Cianpwee bolehkah aku numpang tanya, kapan kiranya obat itu bisa dimakan?"
"Tidak dapat ditentukan waktunya, mungkin sebentar lagi sudah masak, mungkin juga masih memerlukan waktu tiga jam lebih!"
Jawabnya hambar.
"Mana boleh jikalau racunnya bekerja sebelum obat datang, bukankah sangat berbahaya?"
"Tidak usah kau cemas, apakah aku Hoa chiu Hwa tho harus dipersulitkan oleh obat racun buatanku sendiri?"
Orang tua itu meniup-niup asap yang mengepul diatas panci obat.
Lalu memeriksa obat yang dimasaknya, tibatiba mengambil kotak jarum emas jarum itu dimasukan ke dalam obat yang sedang dimasaknya lalu diangkatnya dan secepat kilat ditusukan kebeberapa bagian jalan darah diperut gadis itu.
Gadis itu seolah-olah tidak merasakan sama sekali, hampir seluruh jalan darah di sekujur badannya ditusuk oleh jarumnya, namun ia tetap masih dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian, Hoa-chiu Hwa tho berkata sambil menarik napas.
"Tindakan pertama sudah selesai, harus melalui dua kali perawatan saja sudah tidak menjadi soal."
Setelah itu tangannya mengambil beberapa ramuan obat lalu diborehkan diatas dada si gadis.
Beberapa saat lamanya Hoa chiu Hwa tho menguruturut tubuh gadis itu, jari tangannya dengan mendadak menotok salah satu bagian jalan darah diatas dada gadis itu.
Gadis itu menjerit dan tersadar, matanya tiba-tiba berlinang-linang, mulutnya berkata.
"Ho koko, aku tidak berbuat perbuatan itu, kau jangan salah paham!"
Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong terkejut, ia heran mengapa gadis itu mengucapkan perkataan demikian?
Ketika mata gadis itu beradu dengan matanya sendiri, tiba-tiba ia merasa bahwa ia seperti dalam kebingungan, sehingga merasa malu sendiri.
Ho Hay Hong menduga gadis itu pasti sedang mengigau maka lantas berkata.
"Kau jangan bicara yang bukan-bukan, Hoa chiu Hwa tho cianpwee segera akan menyembuhkan lukamu."
Hoa chiu Hwa tho memperlihatkan jarum mas ditangannya kepada gadis itu seraya berkata.
"Tutup matamu!"
Gadis itu memejamkan matanya, Hoa hiu Hwa tho kembali menusukkan jarumnya diatas tubuh gadis itu, Gadis itu rupanya merasakan sakit, beberapa kali merintih, Ho Hay Hong tidak tega menyaksikan keadaan demikian, ia menundukan kepala dan mengalihkan pandangan matanya kebawah.
Dibagian yang bekas ditusuk oleh jarum itu nampak mengeluarkan asap hitam yang mengepul keluar dan buyar tertiup angin.
Keadaan demikian itu berlangsung beberapa saat lamanya, wajah gadis itu perlahan-lahan tampak warna merah.
Hoa chiu Hwa tho mencabuti jarum-jarum yang berada ditubuh gadis itu kemudian berkata sambil menunjuk tanda hitam yang terdapat diujung jarum.
"Ini adalah racunnya ular berbisa yang usianya sudah ribuan tahun, racun semacam ini sedikit saja sudah cukup untuk membinasakan binatang buas seperti singa, harimau, banteng dan lain lainnya!"
"Apakah ia sudah sembuh sama sekali."
Bertanya Ho Hay Hong.
"Benar, sebentar lagi ia bisa bergerak dengan bebas!"
Jawab Hoa chiu Hwa tho, sambil berkata tangannya mengambil batu wasiat diatas meja. Ho Hay Hong dengan cepat membalik belati ditangannya dan berkata dengan suara keras.
"Tunggu dulu, aku hendak menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan setelah ia sembuh sama sekali."
Hoa chin Hwa tho dengan cepat menutuk jalan darah dileher gadis itu dan berkata dengan bingung.
"Bocah, apakah kau hendak melanggar janjinya?"
"Aku tidak percaya sepenuhnya padamu, harap tunggu sebentar, biar ia yang mengatakan sendiri."
Tidak lama kemudian gadis baju ungu itu melompat bangun, dengan bersemangat ia berkata kepada Ho Hay Hong.
"Ho koko, Ia benar-benar sudah menyembuhkan penyakitku!"
"Hoa chiu Hwa tho, batu wasiat ini sekarang menjadi milikmu, aku harap dalam hidupku ini tidak akan bertemu lagi denganmu!"
Berkata Ho Hay Hong. Ia lemparkan belati diatas meja, lalu bersama gadis berbaju ungu meninggalkan rumah bambu itu. Hoa chin Hwa tho sambil memegangi batu wasiat bertanya kepada Ho Hay Hong.
"Dimana keponakanku sekarang?"
Gadis baju ungu yang mendengar pertanyaan itu tibatiba marah, Ho Hay Hong buru-buru menjawab.
"Keponakanmu yang rendah daripada binatang itu sudah kupukul dan mungkin sudah terluka parah, barangkali tidak lama lagi pasti akan datang minta pertolonganmu, nanti setelah bertemu muka kalian boleh bicara sendiri."
Sambil menarik ujung baju gadis baju ungu, Ho Hay Hong berkata padanya.
"Kau boleh coba lagi, benar atau tidak Hoa chiu Hwa tho sudah memenuhi janjinya."
Gadis baju ungu itu menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian lompat melesat setinggi tiga tombak dan lari, Ho Hay Hong mengikuti dibelakangnya, dalam waktu sekejap mata dua muda-mudi itu sudah lari sejauh sepuluh pal lebih.
"Ho koko, aku benar-benar harus berterima kasih padamu oleh karena aku bukan saja kau sudah kehilangan barang wasiatmu bahkan turut bersusah hati!"
Berkata gadis itu.
Ho Hay Hong diam saja tidak menjawab, sedang pikirannya melayang kediri gadis kaki telanjang, entah bagaimana keadaannya.
Mengingat gadis kaki telanjang, ia benar-benar merasa tidak enak lagi.
Dua orang lari dengan berdampingan, dengan waktu singkat sudah tiba dihadapan sebuah kelenteng tua yang sudah rusak keadaannya.
Saat itu mereka sudah merasa lelah, haripun sudah malam pula.
tempat itu yang tadi dijadikan tempat untuk mengadakan pertemuan orang orang dan tokoh tokoh rimba hijau, kini ternyata sudah sepi sunyi, tidak tertampak bayangan seorangpun juga.
Selagi Ho Hay Hong berdiri tertegun, pintu kelenteng mendadak terbuka dari dalam, tampak bayangan orang, hingga dua orang terkejut.
Orang itu setelah berada dihadapan mereka lantas berkata sambil tertawa dingin.
"Bocah, sudah lama aku menunggu, tak kusangka sampai sekarang kau baru tiba. Gadis baju ungu itu mendadak berseru.
"Kau Tee soan hong Tok Bu Gouw?"
"Benar, kau heran?"
Jawab orang itu. Ho Hay Hong bertanya dengan suara tenang.
"Tuan, ada keperluan apa?"
"Kalau kau pulang, kau beritahukan kepada It Jie Hui kam, Kay see Kim kong Hoa Hiong telah mengambil keputusan, tiga hari kemudian, akan memimpin anak buahnya menyerbu rumahnya."
Berkata Tee soan hong. Ho Hay Hong terperanjat, sedangkan gadis baju ungu itu wajahnya pucat seketika, ia bertanya dengan perasaan terkejut.
"Benarkah ucapanmu ini?"
"Seumur hidupmu aku belum pernah ngibul, percaya atau tidak terserah padamu sendiri, biar bagaimana aku sudah menunaikan tugasku untuk memberitahukan apa yang aku dengar dan aku rela membantu untuk kabarkan It Jie Hai kiam. Aku hanya mengharap agar It Jie Hui kiam tergerak hati nuraninya, supaya aku tidak menderita bathin seumur hidup."
Berkata Tee soan hong. Sinar matanya yang bercahaya mendadak berkaca, dua butir airmata menetes turun. Ho Hay Hong merasa tertarik oleh kejadian itu, ia maju menghampiri dan berkata.
"Katakanlah terus terang, kau dan dia siorang tua itu sebetulnya masih ada hubungan apa, mengapa kau berlaku demikian baik hati terhadapnya ?"
"Aku berlaku baik hati?"
Berkata Tee-soan hong sambil tertawa.
"ha, ha, ha, kau tahu apa. Lekas pulang dan beritahukan kabar ini kepadanya, supaya lekas mengadakan persiapan."
Dari pinggangnya ia membuka sebilah pedang panjang dan berkata pula.
"Ujung pedang ini ada tanda dari darahku, tetapi aku bukanlah orang yang mudah dan sembarang an menuntut balas, dengan memandang muka It Jie Hui kiam, aku ampuni kau satu kali ini, Nah. ambillah."
Ho Hay Hong mengulurkan tangannya menyambuti pedang dari tangan Tee soan hong, ia masih mengenali bahwa pedang itu adalah pedang yang ia dapat pinjam dari tangan gadis baju ungu, yang kemudian digunakan untuk menyerang orang itu.
"Bagaimana kau tahu pedang ini kutitipkan kepada mereka?"
Demikian ia bertanya dengan heran.
"Mengapa aku tidak tahu? Hem, jangan banyak tanya lagi, pulanglah!"
Setelah berkata demikian, Tee soan hong lantas berlalu.
Ho Hay Hong yang tidak mendapat jawaban orang aneh.
Oleh karena saat itu pikirannya merasa khawatir keselamatan It Jie-hui kiam, maka ia tidak bisa berlaku ayal, buru-buru mengajak gadis baju ungu pulang.
Pada saat itu, hari sudah menjelang pagi, ufuk timur sudah mulai terang.
Ketika Ho Hay Hong tiba didepan rumah, sinar lampu didalam ternyata masih menyala, hingga menimbulkan keheranannya, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.
"Apakah sudah terjadi apa-apa ?"
Dengan cepat dia maju dan menggedor pintu, tetapi pintu itu ternyata tidak terkunci hingga lantas terbuka.
Apa yang dilihatnya didalam ruangan membuatnya terkejut, seketika ia berdiri tertegun.
Delapan anggota dari pasukan angin puyuh yang namanya menggemparkan daerah utara, masing-masing dalam keadaan lesu.
sambil menundukkan kepala mereka duduk diatas kursi tanpa berkata apa-apa.
Sedang pakaian semua orang sudah robek tidak karuan macamnya, kecuali terdapat banyak kotoran tanah juga masih terdapat banyak tanda darah yang masih basah.
Beberapa diantaranya sudah di balut bagian kepala bahu.
Lengan tangan atau paha, hampir tiada seorangpun yang utuh badannya.
Dilihat sepintas lalu, orang sudah pasti menduga bahwa mereka habis melakukan pertempuran hebat dan mengalami kekalahan hebat pula.
It Jie Hui kiam duduk diantara mereka, wajahnya yang sudah keriputan yang biasanya ramah tamah nampak sedih, alisnya yang panjang dikerutkan, agaknya sedang berpikir keras.
Sedangkan Hud sim Totiang yang juga terdapat diantara mereka, dalam keadaan lesu jaga, hingga dalam ruangan yang luas itu tidak terdengar suara apa-apa.
Mata Ho Hay Hong mengawasi wajah set iap orang yang ada disitu, ketika pandangan matanya jatuh kewajah orang tua kurus kering, diam-diam ia merasa mendongkol.
Ia teringat apa yang terjadi dalam pertemuan orang-orang rimba persilatan dimuka pekarangan kelenteng tua, ia merasa gemas ingin sekali segera mengumumkan rahasia orang tua itu, yang menjadi penghianat didalam tubuh golongan angin puyuh.
Tetapi sebelum membuka mulut pikirannya mendadak berubah, sebab bagaimanapun juga masih banyak waktu lagi hingga tidak perlu tergesa-gesa supaya tidak akan timbul kejadian yang tidak diingini.
Dibelakang orang tua kurus kering itu berdiri serombongan anak muda.
Seperti juga yang lainnya, sikap mereka nampak tertawa.
Tidak satupun yang membuka suara, hanya menganggukkan badan saja.
Ho Hay Hong tidak sabar lagi, ia segera membuka mulut bertanya.
"Apakah sebetulnya yang telah terjadi. Kepala Toako pasukan angin puyuh mengapa demikian lesu keadaannya, itu perbuatan siapa ?"
"Ai, panjang ceritanya"
Berkata Hud-tim Totiang sambil menghela napas panjang mendadak berubah nadanya.
"Kalian berdua pergi kemana ? Mengapa hingga sekarang hampir pagi hari baru pulang ? Tahukah kamu kakek kamu lantaran ini sampai sangat gelisah ?"
Ho Hay Hong memandang kepada It ji Hui kiam, dalam hati merasa malu. Khong Lio, salah satu anggota pasukan angin puyuh, bangkit dan berkata sambil tertawa getir.
"Belum lama berselang, muncul seorang tua aneh dengan tangan membawa sepasang kuali. Thian lam Lojin mendadak dipukul olehnya sehingga hancur tulang bahunya, dua kawan kita maju hendak menolong juga dipukul terluka olehnya. Orang tua aneh itu tinggi sekali kepandaian ilmu silatnya. Sifatnya sangat aneh. mengambil jiwa manusia mudah seperti memites semut, kita semua orang tidak satu yang sanggup melawan dirinya, dan akhirnya."
Orang itu berhenti dan menarik napas, selagi hendak melanjutkan keterangannya, telah didahului oleh Hud sim Totiang.
"Sudah, sudah, kau harus beristirahat dulu sebentar, nanti boleh cerita lagi."
Sekali berkata matanya tajam menatap wajah Kong lip, orang itu ditatap demikian rupa menundukkan kepala, t idak berani membuka mulut lagi.
Ho Hay Hong mendadak mendapat firasat bahwa tatapan Hud sim Totiang itu ada mengandung maksud dalam, seolah-olah tidak ingin dirinya mengetahui sampai jelas urusan yang telah terjadi itu, Diam diam ia merasa tidak senang karena perbuatan itu berarti memandang rendah dirinya.
Perasaan tidak senang itu lantas bergolak dalam hatinya, darah mudanya kembali menguasai dirinya, maka lantas berkata dengan suara nyaring.
"Dalam keadaan aman, bagaimana seperti siluman dan iblis dibiarkan berbuat seenaknya? Rasanya siapa pun ada hak untuk mengetahui urusan ini, jikalau Hud sim Totiang takut boanpwee mengetahui urusan tersebut, itu tidak apa. Boanpwee sanggup dengan mengandalkan kekuatan tenaga sendiri untuk menyelidiki jejak orang Itu, boanpwe bersedia dengan seorang diri dan tenaga kekuatan sendiri untuk menyelidiki jejak orang itu!"
"Apa sebetulnya yang telah terjadi mengapa para toako dari pasukan angin puyuh nampaknya semua kehilangan semangat? Perbuatan siapakah ini sebetulnya?"
"Hai, hal ini sangat panjang ceritanya."
Berkata Hud sim tot iang sambil menghela napas panjang, dengan tiba-tiba nadanya berubah.
"Kalian berdua pergi kemana saja? Mengapa hampir pagi hari baru pulang, sehingga lo enghiong sangat gelisah, hampir semalam suntuk tak bisa tidur!"
Kata-katanya itu diucapkan dengan semangat menyala-nyala sehingga menarik perhatian semua orang yang ada disitu.
Gadis baju ungu juga tak dapat mengendalikan perasaannya, ia bertanya kepada It Jie Hui kiam.
"Kong kong, apalah sebetulnya telah terjadi, sehingga para toako kita berubah demikian rupa?"
"Anak-anak sebaiknya jangan mencampuri urusan orang tua."
Berkata It Jie Hui kiam sambil menghela napas.
"Kongkong benarkah kau masih anggap aku sebagai anak-anak? Andaikata aku tahu, apakah itu salah?"
Kata gadis baju ungu. Ho Hay Hong teringat suara siulan yang panjang dan halus digunung Soat nian san. lalu bertanya.
"Mahluk tua yang aneh itu entah siapa namanya, menurut kabar yang tersiar dikalangan Kangouw agaknya sudah lama meninggal, Tak disangka ia masih hidup!"
Diam-diam ia perhatikan muka set iap orang yang ada disitu. Benar saja tampak olehnya wajah Hud sim Totiang agak berubah, maka ia sengaja berkata dengan nada suara gemas.
"Aku kira para toako dari pasukan angin puyuh pasti terjungkal ditangan mahluk aneh itu. Aku Ho Hay Hong bersumpah selama masih ada nyawa aku akan membersihkan kehinaan ini sekedar untuk menyumbang tenaga bagi rimba persilatan daerah utara."
Gadis berbaju ungu yang mendengar perkataan itu lantas berkata sambil tertawa.
"Ho koko benar-benar seorang gagah berani yang patut dibuat teladan!"
It-jie Hui kiam berkata dengan nada suara kurang senang.
"Hay Hong aku tidak suka kau mencampuri urusan ini. Aku khawatir kau masih terlalu muda dan berdarah panas, nanti menimbulkan akibat yang tidak baik."
Gadis baju ungu membantah.
"Kongkong aku anggap seorang lelaki sudah semestinya bercita-cita besar, Ho koko justru menunjukan cita-citanya seorang lelaki jantan, apakah Kongkong ingin pendam cita-citanya sehingga untuk selamanya tidak unjuk muka?"
Kata-katanya itu diucapkan dengan nada suara lemah lembut yang sangat menarik sehingga menggerakkan hati Ho Hay Hong.
It Jie Hui kiam dengan perasaan tidak tenang menatap wajahnya sejenak, kebetulan beradu dengan sinar mata Ho Hay Hong yan menyala-nyala, sehingga dalam hati diam-diam terkejut.
Mau tidak mau ia dipaksa menurut kehendaknya, maka lalu berkata sambil menghela napas.
"Baiklah, aku tak akan menghalangi kau mengetahui urusan ini, tetapi segala perbuatan harus dipikir dulu masak masak baru dilakukan,sehingga tidak sampai ada kesalahan!"
Hud sim Totiang diam-diam memberi isyarat pandangan mata kepada Khong Lip, maka Khong Lip lalu berkata.
"Benda pusaka itu adalah sebilah pedang pusaka yang terbuat dari emas murni. Oleh karena lama terpendam oleh salju diatas gunung, sehingga memancarkan sinarnya yang berkilauan, kita ketika menyaksikan pedang itu, rasanya agak mirip dengan pedang Kim mo Sin kiam yang pada seratus tahun berselang membuat Kim mo Taysu mendapat nama di kalangan Kangouw.
"Maka aku pesan kepada saudara sekalian supaya beramai-ramai mengambil benda wasiat itu, diluar dugaan kita Orang tua aneh itu tanpa berkata apa-apa lantas menyerang kita. ia memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tertinggi, meskipun kita lawan dengan tenaga beramai, tetapi belum sepuluh jurus sudah jatuh ditangannya.
"Orang tua aneh itu sangat ganas dengan senjatanya ia mengobrak-abrik barisan yang dibentuk oleh orang dari perkumpulan Ceng gee-hwee, kemudian mengejarnya sehingga orang orang itu kucar-kacir.
"Setelah itu orang tua aneh itu dengan ilmunya menyedot dengan telapak tangannya telah berhasil memiliki pedang pusaka itu. Dengan demikian semua orang yang datang kegunung itu hendak mencari benda pusaka tersebut, terpaksa pulang dengan tangan hampa.
"Semua orang merasa heran, jelas bahwa orang tua itu mempunyai kepandaian dan kekuatan untuk membinasakan semua orang yang datang kesitu, tetapi ia tidak berbuat demikian, ia hanya menyerang dan membuat kucar-kacir semua orang lalu suruh orangorang itu pulang."
Hud sim Tot iang memandang Ho Hay Hong sejenak lalu berkata.
"Dia adalah Engsiu, pada enam puluh tahun berselang sudah menjagoi rimba persilatan daerah utara, Menurut apa yang ku ketahui ia keturunan seorang rendah, kepandaian ilmu silatnya didapatkan dari seorang aneh dari gunung Tiang pek san, kecuali pernah kalah ditangan kakek penjinak garuda, aku belum pernah dengar ada orang yang bisa mengalahkan padanya!"
"Kalau begitu Thian tie Lojin yang merupakan kepala dari lima orang kuat, juga bukan tandingannya?"
Bertanya gadis berbaju ungu.
"Memang tidak semuanya benar, kita harus tahu bahwa usia Eng siu jauh lebih tua beberapa puluh tahun daripada Thian tie Lojin. Waktu Eng sui namanya sudah terkenal dikalangan Kang ouw, dia masih merupakan satu anak kecil, sudah tentu tidak dapat disamakan dengannya!"
Orang yang mendengar jawaban itu sebagian besar merasa kurang puas, sebab mereka tidak dapat memastikan siapa yang lebih unggul dan lebih kuat diantara dua orang itu.
Sementara itu gadis baju ungu bertanya pula.
"Apakah mereka berdua belum pernah mengadu kekuatan?"
"Tentang, ini kurang jelas bagiku. Aku hanya dengar berita bahwa Eng sui pernah kalah di tangan kakek penjinak garuda."
It Jie Hui Kiam tiba-tiba berkata.
"Eng-siu dilahirkan dengan bentuknya yang aneh, tinggi badannya hanya delapan kaki, tetapi mulutnya lebar kepalanya besar, kumisnya seperti sapu lidi, sehingga mirip dengan Cho Po Ong, di jaman dahulu yang menitis lagi. Oleh karena kulit mukanya putih halus, maka orang-orang yang melihatnya, semua orang memberikan nama julukan padanya Eng siu! Permusuhan antara ia dengan kakek penjinak garuda aku mengetahui sangat jelas. Jikalau kalian ingin dengar, aku boleh ceritakan dari asalusulnya?"
"Kongkong kau benar-benar pandai memutar lidah, lekaslah ceritakan!"
Berkata gadis baju ungu sambil tersenyum.
"Eng siu mempunyai sepasang saudara kandung, satu sama lain wajahnya sangat mirip sehingga tidak dapat dibedakan satu dengan lainnya. Dahulu mereka bertiga berkelana didunia kang ouw sebelah utara, dalam waktu singkat namanya dapat menanjak. Sehingga orang-orang dunia kangouw memberikan julukan mereka tiga serangkai keluarga Ing."
"Oleh karena nama julukan itu dalam sebutan agak mirip dengan julukan kakek penjinak garuda, bagi orang biasa sering menyebut keliru. Hal itu membuat kakek penjinak garuda merasa tidak senang, dari daerah selatan ia memerlukan datang ke utara untuk mencari Eng siu, dan minta supaya merubah nama julukannya."
"Pada waktu itu justru nama "Eng Siu"
Sudah sangat terkenal didalam rimba persilatan, sudah tentu tidak menerima permintaannya itu.
Dalam keadaan marah keduanya lantas bertempur diatas gunung Tiang Pek San.
Seratus jurus kemudian akhirnya kakek penjinak garuda dapat mengalahkan Eng-siu !"
"Nama baik yang dipupuk selama itu oleh Eng siu, dalam waktu sekejap telah runtuh. Dia adalah seorang yang keras kepala, sudah tentu tidak mau menyerah begitu saja, ia lalu pergi mengasingkan diri kesuatu gunung yang sepi sunyi."
"Disana dengan tekun ia mempelajari ilmu kepandaian perguruannya yang terampuh. Beberapa tahun kemudian ia turun gunung mencari jejak kakek penjinak garuda."
"Antara dua musuh itu timbul pertempuran lagi, akhirnya ia masih dikalahkan oleh kakek penjinak garuda. Dalam marah dan malunya Eng siu hampir menyeburkan diri kedalam sumur."
"Akhirnya sepasang saudara kandung itu telah mengambil keputusan mengorbankan jiwa mereka untuk membantu saudara tuanya melawan kakak penjinak Garuda."
"Semula saudara yang kedua telah memusatkan seluruh kekuatan tenaganya ditelapak tangannya di salurkan kedalam tubuh Eng siu lalu ia sendiri menghabiskan jiwanya."
"Bersamaan dengan itu saudara yang termuda juga membunuh diri setelah menyalurkan seluruh kekuatan tenaganya kepada saudara yang tertua. Dengan demikian dalam waktu satu hari kekuatan tenaga Eng siu berarti bertambah tiga kali lipat."
Berkata sampai disitu It Jie Hui kiam menunjukkan perasaan kagum, begitupun semua orang yang mendengarkan juga tergerak hatinya oleh pengorbanan dua saudara Eng-siu itu.
It Jie Hui kiam melanjutkan ceritanya.
"Eng siu setelah mengubur jenazah dua saudaranya, tidak lama kemudian dengan terang-terangan menantang kakek penjinak Garuda.
"Dua musuh lama itu bertempur satu hari satu malam, sehingga tenaga mereka hampir habis, barulah Eng siu dikalahkan lagi oleh ilmu silat garuda sakti kakek penjinak garuda.
"Eng siu sangat sedih maka lantas membuang senjatanya dan berlalu. Tak disangka kalau Eng siu telah muncul lagi. Ai, rimba persilatan daerah utara nampaknya benar-benar akan menghadapi bencana besar, aku It Jie Hui kiam mungkin juga tidak dapat mempertahankan kedudukanku lagi."
Ho Hay Hong yang mendengar ucapan itu bukan kepalang terkejut, ia buru-buru berkata.
"Kongkong harap jangan menempuh bahaya, aku."
Suatu pikiran yang terlintas dalam ot aknya, ia lalu bertanya .
"Kongkong bukankah pernah mengatakan hanya ilmu silat garuda sakti yang dapat menundukkan orang tua itu?"
"Benar, untuk apa kau menanyakan soal ini?"
Ho Hay Hong diam-diam berpikir.
"Aku ada membawa salinan kitab ilmu garuda sakti itu apakah memuat ilmu garuda sakti, jikalau benar ada memuat ilmu silat itu, segala persoalan akan menjadi beres."
Diluarnya ia masih tenang-tenang saja tidak berani menunjukkan sikap apa-apa, jawabnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya menanyakan saja."
"Saudara tulang-tulangku yang sudah tua ini kalau tidak patah juga akan karatan, aku mati tidak apa apa hanya kamu semua yang masih muda belia, yang masih mempunyai hari depan yang cerah, bagaimana boleh terlibat dalam pertikaian ini?"
Berkata It-jie Hui kiam sambil menghela napas panjang.
Pada waktu itu perasaan semua orang telah terpengaruh oleh ucapan It Jie Hui kiam terutama gadis baju ungu yang menampak kongkongnya demikian sedih, air matanya mengalir keluar.
Ho Hay Hong tidak berani melaporkan lagi tentang maksud Kay see Kim kong yang hendak menggempur pasukan angin puyuh, lebih-lebih kalau ia menceritakan itu semua, itu berarti memberi pukulan hebat kepada bathin orang tua itu.
Tetapi kalau hal itu tidak dilaporkan apabila Kay see Kim kong datang menyerbu serumah tangga It Jie Hui kiam pasti terancam, Ho Hay Hong mengerti bahwa dengan kekuatan tenaganya sendiri tidak sanggup menahan serangan musuh, maka saat it ia menjadi sangat bingung.
Dilain pihak orang tua kurus kering yang sejak tadi duduk diam itu telah membuka mulut.
"Lo enghiong tidak perlu terlalu gelisah. Eng-siu adalah orang yang jujur, kalau orang tidak mengganggu dirinya sudah tentu ia tidak akan mengganggu kita !"
"Ini bukan suatu saran yang baik, aku It Jie Hui kiam adalah seorang pemimpin, yang oleh semua orang sudah dianggap sebagai ketua dari golongan persilatan yang menegakkan kebenaran, yang tujuannya membasmi kejahatan membantu rakyat yang lemah."
"Jikalau lantaran omongan Eng-siu lalu merobah citacitaku, bukankah kau akan menjadi tertawaan orang banyak?"
Berkata It Jie Hui kiam sambil menggelengkan kepala.
"Eng sin muncul lagi, pasti akan menimbulkan kekacauan. kita tidak boleh tinggal diam."
Berkata Hud sim Totiang. Orang tua kurus kering itu berkata pula.
"Totiang jangan anggap siaotee seorang penakut. Sebetulnya orang-orang dari perkumpulan Ceng gie hwee dan pasukan angin puyuh sudah mengalami sendiri, kita melawan juga tidak ada gunanya."
Ho Hay Hong yang mendengarkan lantas naik pitam. Dengan pandangan matanya yang merah membara ia menatap wajah orang tua itu lalu berkata dangan suara keras.
"Musuh datang harus kita lawan, sudah seharusnya, Eng siu belum tentu merupakan orang yang mempunyai tiga Kepala dan enam tangan, mengapa kita harus takut padanya?"
Gadis berbaju ungu segera menunjang pendapat Ho Hay Hong, ia berkata.
"Betul, ucapan Ho koko sedikitpun tidak salah, kita tidak perlu takuti"
It Jie Hui kiam lantas berkata.
"Hay Hong, dengarlah kata-kataku, jangan terlalu mengandalkan kegagahanmu sendiri!"
Ho Hay Hong mengerti perasaan orang tua itu.
ia berjalan menuju kedalam sambil menundukan kepala.
It Jie Hui kiam tiba-tiba merasa bahwa pemuda itu keras kepala, tidak mudah dielus, mirip sekali dengan ayahnya Didalam kamarnya ia memasang pelita, dari dalam sakunya mengeluarkan salinan kitabnya Ilmu silat garuda sakti.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ia buruburu menyimpannya lagi kitabnya kedalam saku, baru berkata.
"Masuk!"
Gadis berbaju ungu mendorong pintu kamar dan melangkah masuk. Katanya dengan suara sedih.
"Kau marah terhadapku?"
Ho Hay Hong terkejut.
"Aku tidak ada itu maksud."
"Kalau begitu mengapa dengan mendadak kau meninggalkan aku dan masuk ke kamar?"
Ho Hay Hong baru hendak menjawab.
"Ini ada hubungan apa denganmu?"
Tetapi belum lagi diucapkan mendadak melihat mata gadis itu sudah basah dengan air mata sikapnya sangat menyedihkan.
Seketika itu dipertahankan sekuat tenaga, tangan gadis itu ditariknya dan dipeluk erat-erat.
Ia merasakan bahwa tangan gadis dalam pelukannya itu gemetaran, jantungnya berdebaran.
Gadis baju ungu itu mandah dipeluk, airmata kegirangan mengalir keluar, tapi ia tidak berkata apaapa.
Ho Hay Hong merasa menyesal atas tindakannya yang sudah meninggalkan gadis itu sendirian, maka ia berkata sambil menundukkan kepala.
"Maafkan aku, aku sangat menyesal atas perbuatanku."
Tanpa berkata apa-apa, gadis baju ungu memutar tabuh dan lari keluar dari kamar.
Tinggal Ho Hay Hong duduk seorang diri menghadapi pelita, pikirannya melayang jauh.
Ia mulai tidak berani menghadapi kenyataan, ia sesalkan dirinya sendiri bahwa dahulu sudah jatuh cinta kepada gadis kaki telanjang, sehingga kini ia tidak berani menyatakan cintanya dengan terus terang kepada gadis dihadapan matanya.
Ia tertawa masam, membiarkan perasaan kasihnya terpendam dalam lubuk hatinya.
Ia mengeluarkan lagi kitab dari dalam sakunya mulai dibuka lembarannya.
Lembaran pertama terdapat tulisan dengan kata-kata.
"Barang siapa yang hendak masuk menjadi golonganku, lebih dahulu harus melakukan upacara hikmad. berlutut menghadap arwah Hay thian Kow yan Couwsu."
Sebagai seorang jujur, Ia lantas menghadap kearah timur dan berlutut.
Dengan sangat hormat sekali ia memanggutkan kepalanya sampai tiga kali, setelah itu, ia baru bangkit dan membuka lagi lembaran yang kedua.
Dalam lembaran yang kedua itu terdapat tulisan yang berbunyi .
"Haythian Kow-yan dengan sifat-sifatnya yang kasar dan bodoh, tulang-tulangnya yang buruk, belajar ilmu silat. Orang banyak pada mengatakan padanya. kayu rapuh bukanlah bahan yang baik untuk diukir. Tetapi akhirnya ia berhasil ! Kepandaian ilmu silatnya yang luar biasa, telah menggemparkan dunia rimba persilatan. Apakah ini suatu kemujijatan? Bukan, melainkan rajin dan tekun belajar!"
Ho Hay Hong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sendiri.
"Benar, kalau rajin segalanya akan tercapai!"
Lembar ketiga ditulis .
"Orang yang mempelajari ilmu silat, hingga lupa makan dan lupa tidur, rajin belajar seumur hidup, apa benar ada hasilnya. Kataku tidak, pada akhirnya tulangtulangpun tiada, yang ada hanya semangatnya."
Lembar keempat ditulis.
"Ketika aku mengarungi lautan Timur, aku lihat sebuah tumbuhan rumput aneh yang tumbuh diatas gunung yang tinggi kira-kira ratusan tombak. Menurut orang-orang daerah situ, rumput it namanya Hee lang, tetapi nama sebenarnya adalah Chiu oey. Maka itulah, apa yang benar dan apa yang salah dalam rimba persilatan kalau orang yang mengatakan benar ya benar, orang mengatakan salah ya salah. Apa yang dikatakan benar sebetulnya salah. Manusia terutama harus bisa menghargai dirinya sendiri."
Tulisan-tulisan yang terdapat dalam lembaranlembaran selanjutnya, juga merupakan kata-kata mutiara, yang mungkin cuplikan dari sana sini.
Ho Hay Hong merasa agak kecewa, apa lagi setelah membaca sekian banyak, masih tidak menemukan pelajaran ilmu silat yang sedang dicari.
Maka ia mulai putus asa.
Dengan tangan gemetaran ia membaca selembar demi selembar, sementara itu pikirannya teras diliputi olah kekhawatirannya.
Ketika membaca sampai di bagian hampir penghabisan diri kitab itu matanya tiba-tiba menemukan tulisan dengan kata-kata.
"Lima Gerakan ilmu Garuda Sakti."
Wajahnya berubah seketika dalam kegirangannya, ia segera bangkit dan dengan bersemangat ia baca berkalikali kalimat itu, seolah-olah takut akan menghilang dari depan matanya.
Lama sekali ia baru membuka lembaran berikutnya, lalu lembaran itu hanya terdapat lukisan lima orang.
Dengan penuh perhatian ia memperhatikan lukisan dari bentuk gerak-gerik orang dalam berbagai rupa, disamping set iap lukisan terdapat sebaris tulisan huruf kecil, yang merupakan penjelasan dari gerak gerik tipu silat itu.
Ia tidak sempat membaca dengan teliti diluar pintu terdengar suara tindakan kaki orang, buru-buru ia menyimpan kitabnya dan membuka pintu kamar.
Orang yang datang itu adalah It-jie Hui kiam.
"Kau masih belum tidur?"
Tanya It ji Hui kiam.
"Pikiranku sedang kalut, hingga tidak bisa tidur!""
Jawab Ho Hay Hong.
It Jie Hui kiam mengulurkan tangannya mengusap usap rambut kepalanya dan berkata dengan suara lemah lembut!
"Ho Hay Hong aku suruh kau jangan sok berlagak gagah-gagahan, karena ini semata-mata hanya untuk kepentinganmu dikemudian hari, mengertikah kau maksudku?"
"Aku tahu Kongkong sangat memperhatikan diriku, tapi...."
It Jie Hut kiam menggelengkan kepala dan memotong ucapannya.
"Tidak perlu kau menjelaskan, aku telah mengambil keputusan besok suruh kau pergi ke daerah selatan untuk mengungsi sementara waktu!"
"Aku tidak ingin pergi, aku hendak berdiam disini mengawani Kongkong!"
Berkata Ho Hay Hong cemas.
"Anak kau jangan menuruti kemauanmu sendiri, benarkah kau hendak mengorbankan hari depanmu yang gilang gemilang?"
"Tidak aku kira ini justru waktunya unjuk diri!"
It Jie Hui kiam kala itu yang menyaksikan sikap Ho Hay Hong yang demikian teguh, perasaannya mendadak mendelu, ia berkata.
"Dalam rumahku ini hanya kau seorang anak laki-laki, sekalipun kau tidak memikirkan dirimu sendiri, set idaktidaknya juga harus memikirkan keluargaku?"
"Kongkong, teras terang aku beritahukan padamu, kau masih ada seorang cucu lain laki-laki yang masih hidup, dia adalah murid kepala Lam kiang Tay bong Tang siang Sucu!"
Menyebut diri Tang siang Sucu, dalam hatinya lantas timbul pertentangan sendiri, karena perbuatan dan sepak terjang Tang siang Sucu.
Ia seharusnya tidak boleh mengakui sebagai saudaranya sendiri, tetapi dilain pihak perasaan lain mencegahnya ia berlaku demikian.
It Jie Hui kiam membelalakkan matanya dan bertanya dengan suara kaget.
"Benarkah? Lam kiang Tay bong selamanya tak akur dengan kakek penjinak garuda, mengapa ia mau pungut Tang siang Sucu sebagai murid?"
"Mungkin ia hendak menggunakan itu untuk memaksa kakek penjinak garuda, Dari mulut Chim kian Sianseng aku dapat tahu tentang itu, Lamkiang Tay-bong dahulu adalah Lam kie Gwat cu."
Wajah It Jie Hui kiam nampak guram, agaknya sedang memikirkan apa apa lama tidak bisa bicara.
Ho Hay Hong yang telah mengetahui bahwa dalam kitab yang ia bawa ada memuat pelajaran ilmu silat garuda sakti, maka nyalinya semakin besar, tanpa raguragu sedikitpun juga ia berkata.
"Kongkong, masih ada suatu hal aku belum beritahukan padamu, aku dengar Tee soan hong, Tok Bu Gouw kata, Kay see Kim kong tiga hari kemudian hendak pimpin anak buahnya untuk datang menyatroni kemari?"
Wajah It Jie Hui kiam berubah seketika, lama baru bisa berkata.
"Apa? Ucapan itu keluar dari mulut Tee-soan hong?"
Menggunakan kesempatan itu Ho Hay Hong bertanya.
"Kongkong, siapakah sebetulnya dia itu?"
"Kau jangan tanya aku, dikemudian hari kau jangan perhubungan dengannya mengerti?"
Perasaan curiga Ho Hay Hong semakin tebal, namun ia tidak berani bertanya langsung, maka lalu berkata.
"Dia minta kepada Kongkong mempunyai belas kasihan, supaya lekas memberitahukan padanya dimana jejak anaknya sendiri, agar ia tidak menderita hatin seumur hidup. Kong kong kau tahu jejak anaknya tetapi mengapa tidak mau memberitahukan padanya? Aku melihat orang itu meskipun luarnya seperti buas dan tidak aturan tetapi sifatnya baik. Jikalau tidak ia tentu tidak akan memberitahukan padamu tentang maksud Kaysee Kim-kong yang hendak datang menyerbu!"
"Hay Hong. kau jangan coba membela dirinya lagi orang itu adalah seorang rendah yang tidak tahu malu, segala kejahatan ia b isa lakukan, maka kau jangan dekat dengannya!"
Karena matanya tajam menatap Ho Hay Hong demikian rupa, maka Ho Hay Hong terpaksa menurut namun dalam hati tetap tidak mengerti mengapa orang tua yang sabar dan baik hati itu begitu membenci kepada Tee soan hong.
Ia tidak ingin kakek luarnya itu tidak senang dan marah, maka lantas mengalihkan pembicaraannya ke lain soal.
"Aku lihat orang tua kurus kering itu bukanlah seorang yang baik orang itu luarnya sudah menunjukkan sifatnya yang licik. Kongkong harus berhati hati sedikit terhadapnya, jangan sampai terjebak akal muslihatnya."
It Jie Hui kiam kaget.
"Ho Hay Hong, apakah sebetulnya yang telah kau lihat?"
Dengan suara sangat perlahan Ho Hay Hong menceritakan semua apa yang telah disaksikannya dihadapan kelenteng tua itu kepada kakeknya, It Jie Hui kiam lantas berkata sambil tertawa.
"Hay Hong kau pasti salah lihat!"
"Tidak, orang itu benar adalah dia, sedikitpun aku tidak salah lihat!"
"Aku tahu adatmu keras, kau pasti tidak mau mengaku salah kau harus tahu bahwa Kong locianpweemu itu sudah mengikuti aku banyak tahun, belum pernah terjadi sesuatu dengan dirinya, tidak mungkin karena kedatanganmu ini lantas begitu kebetulan ia berubah. kau jangan anggap lantaran diluarnya kelihatannya seperti orang licik, kau lantas menganggap keliru terhadap sifatnya !"
Karena melihat kakeknya itu tetap tidak mau percaya, maka ia tidak mau berkata apa apa lagi.
"Kau tidurlah! Kongkongmu juga perlu beristirahat."
Berkata It Jie Hui kiam.
Ho Hay Hong mengantar keluar kakeknya, kemudian balik lagi kedalam kamarnya dan mengeluarkan lagi kitabnya.
Dibawah sinar pelita, ia mulai mempelajari dengan tekun ilmu silat yang sudah lama menjadi idamannya itu.
Semalam suntuk ia tidak mendapat kesempatan untuk mengaso, meskipun merasa agak letih, tetapi karena bahaya sudah berada didepan matanya, ia menggertakkan gigi, untuk menelan rasa kantuknya.
Waktu matahari pagi muncul, ia tidak melihat lagi gadis baju ungu, entah kemana ia pergi.
Ia telah mengambil keputusan tidak akan meninggalkan rumah itu setapakpun juga.
karena rumah tangga keluarga kakeknya sedang menghadapi ancaman bahaya, maka siang malam ia terus mempelajari ilmu silat garuda sakti tanpa mengaso.
Disamping itu ia diam-diam juga mengawasi gerakgerik orang tua kurus kering itu, tetapi penghianat yang sangat licin itu.
Gerakkannya tetap seperti biasa, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan, betul-betul merupakan seorang Kang-ouw kawakan yang sangat berbahaya.
Dalam waktu satu hari satu malam, ia sudah berhasil memahami dua rupa gerakan, lalu mulai mengadakan latihan diruangan kamar dalamnya.
Pada hari berikutnya, ketika ia berada diluar, ia telah menyaksikan adanya perubahan yang tidak wajar.
Orang-orang yang berada didepan rumahnya yang dahulu biasanya adalah pedagang pedagang biasa, kini mendadak datang rombongan orang-orang kasar seperti dari kawanan penjahat.
Orang-orang itu berjalan sambil menundukkan kepala, walaupun demikian, tokh tidak merobah sifatnya, air mukanya yang buas dan kejam tidak dapat ditutupi.
Ho Hay Hong dalam hati berpikir.
"Orang-orang ini pasti rombongan yang dikirim oleh Kay-see Kim kong untuk menyelidiki keadaan rumah kakeknya."
Dilain fihak, It-jie Hui kiam juga mengundang banyak kawan-kawannya yang masih asing bagi Ho Hay Hong, orang-orang itu yang melihat Ho Hay Hong masih muda belia, ketika ia sedang melatih ilmu silat dengan membuka baju luarnya, tiada satupun yang ambil perhatian dirinya.
Ho Hay Hong sedikitpun tidak ambil pusing, ia masih tetap bertekun melatih ilmu silatnya garuda sakti.
Karena beberapa malam ia tidak pernah tidur, maka matanya agak merah.
It Jie Hui kiam yang menyaksikan itu segera menitahkan padanya supaya menghentikan latihannya.
Ho Hay Hong meskipun menerima baik perintah kakeknya, tetapi ketika berada di kamarnya, ia masih terus melanjutkan latihannya.
Gerak tipu yang ketiga berhati!
dipahami diwaktu lohor bukan kepalang capainya, hingga sore itu juga ia melanjutkan pelajarannya digerak tipu ke empat.
Ilmu silat garuda sakti itu nampaknya sangat sederhana, hanya terdiri dari lima macam gerak tipu, tetapi setiap gerak ada mengandung perobahan gerak tipu yang sangat luas sedikit kesalahan juga membawa kegagalan total, inilah yang membuat Ho Hay Hong yang pintar dan cerdas itu merasa sulit.
Gerak tipu keempat berhasil juga dipecahkan setelah memikir hampir setengah malam, dalam keterangannya ia berlatih didalam kamarnya hingga meja kursi dalam kamarnya banyak yang hancur berantakan oleh pukulannya.
Hari ketiga pagi-pagi sekali, ia sudah merasa terlalu letih maka ketika duduk di atas pembaringan ia lantas tertidur.
Entah beberapa lama ia tertidur telinganya tiba-tiba mendengar suara orang memanggil.
"Hokoko, Hokoko, kau lekas bangun!"
Dengan pikiran masih belum sadar betul-betul ia membuka matanya dan bertanya.
"Ada urusan apa?"
Orang yang memanggil padanya itu bukan lain daripada gadis berbaju ungu yang selama beberapa hari itu ia belum pernah melihatnya. Ketika Ho Hay Hong melihatnya lalu bertanya.
"Selama beberapa hari ini kemana kau pergi?"
Gadis itu tiba-tiba saja berseru kaget.
"Ah. bukan saja matamu begitu merah, suaranya juga tidak berubah."
Ho Hay Hong waktu itu tidak melihat bahwa udara sudah gelap, maka dalam hatinya berpikir.
"Waktu aku tertidur, aku ingat hari masih pagi sekali, apakah aku sudah tidur satu hari lamanya?"
"Kongkong suruh aku pergi kedaerah selatan untuk mengungsi, aku dipaksa sehingga tidak berdaya sama sekali, tetapi."
Berkata gadis itu, wajahnya mendadak menjadi merah.
"Tetapi aku ingat kau masih berada di sini, aku merasa berat maka aku memaksa pulang."
Mendengar ucapan itu hati Ho Hay Hong sangat tergerak.
Lama tak dapat ia berkata apa-apa.
Semula ia mengira gadis itu marah dan menjauhkan diri dari padanya, tak disangka gadis itu bukan saja tidak menyesalkan perbuatannya yang tidak sopan sebaliknya menunjukkan cinta kasihnya sedemikian dalam, dengan berani ia datang mengunjungi meski pun tahu bahwa dirinya sedang menghadapi bahaya.
Cinta kasih yang ditunjukkan oleh gadis itu sesungguhnya sangat mengharukan.
"Apakah Kongkong mu tahu kalau kau kembali?"
Demikian ia bertanya.
"Aku masuk dari pintu belakang, kecuali kau, aku kira tidak ada orang lain yang tahu! Kongkong mengira pasti aku sudah pergi jauh ke daerah selatan, ia tentu tidak menyangka aku sekarang ini masih berada disini, Kalau ia tahu, entah bagaimana marahnya!"
"Aku pikir hendak sembunyikan dulu, tetapi dimana harus kusembunyikan supaya jangan sampai ketahuan orang luar?"
"Aku pikir gudang belakang itu paling baik. asal pesan yang menjaga pintu jangan berkata apa-apa, siapa pun tidak bisa tahu!"
"Baiklah kau berdiam disana untuk beberapa hari, setelah urusan selesai, aku nanti datang menjemput kau!"
Gadis itu menganggukkan kepala dan tersenyum, setelah itu dengan sekali enjot ia sudah melesat melalui lobang jendela.
Ho Hay Hong dengan semangat yang baru mulai mempelajari gerak tipu kelima.
Baru saja lewat jam tiga malam, ia sudah berhasil memahami seluruhnya.
Dengan semangat menyala-nyala ia mengadakan latihan di tengah lapangan.
Latihan itu menimbulkan perasaan takjub dan kaget baginya, karena setiap gerak kaki dan tangannya, selalu menimbulkan hembusan angin demikian hebat, sehingga tempat disekitar lima tombak, pasir-pasir dan batu-batu pada berhamburan dan beterbangan.
Esok tengah hari.
It Jie Hui kiam telah mengutus orang untuk panggil padanya.
Ia menemui kakeknya diruangan tamu, disitu sudah berkumpul tujuh atau delapan orang-orang rimba persilatan yang masih asing baginya.
Mereka itu menunjukkan sikap sangat serius, tiada sepatah kata keluar dari mulut masing-masing.
Dari keadaan dan sikap orang-orang itu, ia telah menduga bahwa bahaya telah mengancam, maka ia juga tidak berani membuka mulut.
Menurut perintah kakeknya, ia duduk disisinya.
Saat itu ia baru melihat bahwa diatas meja persegi, terletak sebuah sampul merah yang dikirim oleh Kay see Kim kong.
dibawah nama Kay see Kim-kong masih terdapat beberapa nama yang ditulis dengan huruf kecil, hingga tidak dapat dilihat olehnya.
Hud sim Totiang mulai memecahkan kesunyian itu dengan kata-katanya.
"Ucapan Ho siauwhiap pada beberapa hari berselang, kini telah menjadi kenyataan. Tadi Kay see Kim kong telah mengutus anak buahnya untuk mengirim surat tantangan, tidak lama lagi barangkali akan disusul oleh pasukan perangnya. Pinto minta supaya saudara saudara tetap berlaku tenang, kita lihat dahulu kekuatan musuh, barulah mengambil keputusan!"
Pada waktu itu orang tua kurus kering itu keluar dari dalam ruangan membawa minuman teh.
Dengan sikapnya yang sopan ia menganggukkan kepala kepada set iap tamunya, kemudian memberikan set iap tamunya secangkir teh.
Ho Hay Hong yang selalu waspada dan memperhatikan segala gerak-gerik orang tua itu, ketika itu, dapat melihat bahwa sinar mata orang tua itu mengandung napsu membunuh, maka tergeraklah hatinya, ia khawatir bahwa dalam teh itu ada racunnya.
Pikiran itu hanya sepintas lalu terlintas dalam otaknya, tatkala melihat It Jie Hui kiam mengangkat cangkir mempersilahkan para tetamunya minum, tangannya segera bergerak menyampok cangkirnya hingga jatuh ketanah.
Perbuatan Ho Hay Hong itu menimbulkan kericuhan dengan sorot mata terheran-heran semua orang memandangnya.
Sedang It-jie Hui kiam tidak menyangka bahwa cucunya berani melakukan perbuatan yang memalukan dirinya, maka seketika itu ia lantas marah dan katanya.
"Ho Hay Hong, apa maksudnya perbuatanmu ini ?"
"Dalam air teh ini ada racunnya, tidak boleh diminum!"
Jawab Ho Hay Hong. Jawaban ini kembali mengejutkan dan mengherankan semua orang sementara orang tua kurus kering itu lantas berkata dengan nada suara dingin.
"Apa maksudnya ini? Kau harus tanggung jawab dengan ucapanmu ini!"
"Kau masih hendak menyangkal? Hari ini aku akan membuka kedokmu dihadapan orang banyak, tahu!"
Kata Ho Hay Hong. Orang tua itu masih tetap berlaku tenang, ia berkata kepada It-jie Hai kiam sambil tertawa sinis.
"It Jie Hui kiam lo enghiong, apakah ini adalah perintahmu?"
It-jie Hui kiam membentak kepada Ho Hay Hong dengan suara keras.
"Hay Hong mengapa kau mengacau di sini? Lekas keluar!"
Ho Hay Hong sudah bertekad hendak membuka kedok orang tua itu, maka ketika mendengar perintah kakeknya ia tidak keluar, sebaliknya malah berjalan menghampiri orang tua kurus kering, lalu berkata padanya dengan nada suara dingin.
"Manusia licik yang sangat rendah martabatnya, kau benar-benar sungguh pandai main sandiwara, jikalau perbuatanmu yang kau unjukkan dihadapan kelenteng tua, benar-benar juga akan kau kelabui Sekarang tidak perlu banyak bicara, aku tanya padamu, beranikah kau mengeluarkan apa yang kau simpan dalam sakumu, untuk diperlihatkan kepada orang banyak!"
Orang tua itu marah, ia berkata kepada It Jie Hui kiam.
"It Jie Hui kiam, sudah bertahun-tahun aku mengabdi kepadamu, aku anggap selama itu sudah cukup berlaku set ia membela dirimu, tak disangka cucumu ini demikian kasar perlakukan diriku, apakah ini peraturan dalam rumah tanggamu?"
Dengan wajah merah padam It Jie Hui-kiam memerintahkan anak buahnya supaya menangkap Ho Hay Hong dan dihukum rotan lima puluh kali.
Delapan pasukan Angin puyuh segera bergerak hendak menangkap Ho Hay Hong, tetapi Ho Hay Hong menyapu dengan dua tangannya, seraya berkata dengan suara keras.
"Tunggu dulu!" -ooo0d-w0ooo-Bersambung
Jilid 18 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 18 KARENA gerakan tangan Ho Hay Hong itu mengandung hembusan angin demikian hebat, delapan orang dari pasukan angin puyuh yang setiap orang sudah merupakan orang-orang yang banyak pengetahuan dan pengalaman, tidak berani mendekati anak muda itu, semua lompat mundur dan membatalkan maksudnya hendak menangkap.
Ho Hay Hong dengan hawa amarah yang sudah meluap, telah berkata dengan suara keras sambil menuding orang tua kurus kering.
"Kau sebetulnya berani mengeluarkan benda dalam sakumu untuk diperlihatkan pada orang banyak atau tidak?"
"Jikalau barang yang kukeluarkan dari dalam sakuku tidak cukup untuk membuktikan kesalahanku, bocah, kau mau apa lagi."
Berkata orang tua kurus kering itu sambil tertawa dingin.
"Kalau memang begitu, aku akan mengutungi kedua tanganku sendiri sebagai hukuman rumah tangga!"
Tindakan dari perkataan Ho Hay Hong itu, sangat menarik semua perhatian orang, It Jie Hui kiam berkata dengar suara gusar.
"Hay Hong, apakah kau sudah gila?"
Hud sim Totiang lantas bangkit dan berkata.
"Hay Hong berani berbuat dan mengeluarkan perkataan demikian, pasti mengetahui benar sebab musababnya, aku bersedia menjadi wasit antara kalian berdua!"
Orang tua kurus kering itu lantas berkata.
"Baik, begitulah kita tetapkan."
Sehabis berkata, ia lalu mengeluarkan semua isi barang dalam sakunya, diletakkan diatas meja.
Pada waktu itu, semua orang pada berdiri dengan mata ditujukan keatas meja, barang-barang itu hanya terdiri dari barang yang tak berarti, antaranya sepotong sapu tangan, tiga tail uang perak recehan, sebuah cermin kecil dan sebungkus obat bubuk tetapi tidak ada tanda perintah Ngo jiauw leng.
Ho Hay Hong yang menyaksikan itu agak terkejut, ia bertanya kepada diri sendiri apakah tanda perintah itu sudah disembunyikan?
Hudsim Tot iang yang bertindak sebagai wasit, saat itu juga mengulurkan tangannya merogoh kedalam saku orang tua itu, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.
"Kecuali barang-barang ini, sudah tidak ada barang lain. Hay Hong coba kau ceritakan apa yang telah kau lihat!"
Orang tua kurus kering itu berkata.
"Sekarang katakanlah, barang yang mana yang kau anggap merupakan bukti kesalahanku? Jikalau kau tidak menjelaskan duduk perkaranya, kau harus menepati janjimu mengutungi sepasang lenganmu sendiri!"
Pada waktu itu, keadaan mendadak berubah besar, Ho Hay Hong yang menganggap akan dapat membuktikan kesalahan orang tua itu, sekarang berbalik tidak menguntungkan pihaknya sendiri, sebagai tanda perintah Ngojiauw ling tidak terdapat dalam saku orang tua itu.
Maka ia lantas berpikir.
"Apakah Kay see Kim kong belum mengembalikan padanya? Tidak mungkin, aku telah menyaksikan sendiri Kay see Kim kong diam-diam sudah mengembalikan tanda itu. tetapi mengapa sekarang tidak ada?"
It Jie Hui kiam agaknya dapat memahami maksud Ho Hay Hong, diam-diam ia merasa sedih, karena satusatunya cucu yang diharapkan akan mengangkat nama baiknya, sekarang telah menghadapi kesulitan, sebentar lagi akan kehilangan dua tangannya.
Orang-orang rimba penilaian selalu menghargai dan menjunjung tinggi kepercayaan, setiap ucapan yang sudah dikeluarkan tidak boleh ditarik kembali, baikpun ia seorang yang berkedudukan tinggi, juga tidak boleh membela keluarganya yang salah dihadapan orang banyak.
Sementara itu orang tua kurus kering itu terus mendesak dengan kata-katanya.
"Lekas jawab, jikalau tidak kau harus lekas buntungi lengan tanganmu sendiri!"
Ho Hay Hong diam-diam berpikir.
Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang Chin Yung
Baca Juga: Lembah Nirmala 8