Eps 4 Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id
Baca online Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id
Cersil Rahasia Kampung Setan - Khu Lung Tjan Id.
Berkata gadis baju putih sambil tersenyum. Ho Hay Hong yang samar-samar mendengarkan pembicaraan mereka, berkata kepada diri sendiri.
"Jarum beracun meskipun sangat berbisa, tetapi dalam tubuhku tokh sudah mengeram racun yang lambat bekerjanya Itu hanya dapat menambahkan sedikit kesulitan bagiku, selain dari pada itu, tidak ada yang perlu kutakuti."
Kematian, baginya bukan merupakan suatu yang perlu ditakuti.
Ia lari belum berapa jauh, tampak Chim Kiam sianseng dan orang orangnya menunggu ditepi jalan.
Ia lalu menggabungkan diri dengan rombongan Chim Kiam sianseng, kemudian bersama-sama memasuki kota untuk mencari rumah penginapan.
Dengan diliputi berbagai pertanyaan, Chim Kiam sianseng bertanya kepada Ho Hay Hong.
"Ho siauhiap, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kau melepaskan kesempatan baik untuk memasuki kampung setan? Kalau sekarang kita akan memasuki tempat itu, rasanya sudah tidak mudah lagi!"
Ho Hay Hong nampak sangat berduka, ia menjawab dengan suara sedih.
"Kau tidak tahu persoalannya, si Kakek penjinak garuda itu melarang orang memasuki kampung setan, barang siapa yang berani melanggar larangan itu, akan menemukan ajalnya ditempat itu juga"
"Si Kakek penjinak garuda ini memang seorang aneh yang susah didekati."
Berkata Chim Kiam sianseng sambil menghela napas panjang.
"munculnya ilmu silat garuda sakti dan pedang garuda sakti, ditambah lagi dengan bukti yang dapat kita kumpulkan telah membuktikan bahwa kakek penjinak garuda masih hidup. Tetapi apa sebabnya orang yang mendapat didikan ilmu silatnya, sebaliknya menutup mulut rapat-rapat?"
Ho Hay Hong khawatir Chim Kiam sian-seng dapat mengenali salah satu korban kampung setan itu adalah si pelajar berpenyakitan, maka ia coba menanya.
"Tahukah sianseng bahwa dua kepala manusia dalam kotak ini kepala siapa?"
"Aku hanya melihat sepintas lalu saja, salah satu diantaranya seperti kepala pelajar berpenyakitan, entah betul atau tidak?"
Jawabnya.
Ho Hay Hong diam-diam terkejut, ia khawatir hal itu akan diket ahui oleh suhunya, sehingga menyulitkan kedudukan sendiri.
Ia kini baru menyesal, mengapa tadi dengan tergesa-gesa membawa kabur dua kotak itu.
Disamping itu, timbullah pula suatu pertanyaan dalam hatinya.
"apa sebabnya suhunya memerintahkan Jie suhengnya membunuh pelajar berpenyakitan?"
Ia mengerutkan alisnya, otaknya bekerja sedang memikirkan apa yang perlu dibicarakan untuk mengalihkan perhatian Cim Kiam sianseng.
Sementara itu seorang pendek berwajah putih yang duduk disatu sudut, tiba-tiba menggapai padanya ia agak terkejut, karena orang itu masih sangat asing baginya, mengapa berlaku demikian kepadanya?
Tertarik oleh perasaan heran.
tanpa ayal lagi, ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri orang itu seraya bertanya "Sahabat ada keperluan apa?"
"Aku melihat sikapmu seperti sedang menghadapi kesulitan yang tak mudah terpecahkan, bolehkah aku numpang tanya, apakah kesulitanmu itu lantaran asmara?"
Berkata orang itu sambil tertawa. Ho Hay Hong semakin tertarik oleh pertanyaan itu. ia pura-pura mengangguk kepala dan menjawab.
"Memang betul, apa perlunya sahabat menanya?"
Dengan sikap bangga orang pendek itu menggoyanggoyangkan kepalanya.
"Orang tua berkumis pendek itu apakah Chim Kiam sianseng?"
Mendengar pertanyaan itu ia semakin heran maka lalu balas bertanya.
"Apa sahabat kenal padanya?"
Katanya berpaling mengawasi Chim kiam sianseng pemimpin itu nampaknya tak senang, dan berpaling kearah lain.
Sikapnya seperti menunjukkan maksud memandang rendah kepada orang pendek itu.
Penemuan ini tambah mengherankannya.
Tiba-tiba terdengar suara orang pendek itu berkata dengan suara pelahan.
"Beberapa tahun berselang, Chim Kiam sianseng pernah minta tolong padaku, mungkin karena waktunya sudah terlalu lama. urusan yang sudah lama itu juga sudah tak dipandang lagi, Siauwtee juga tidak ingin bersahabat dengannya, karena dewasa ini kedudukan kita jauh berbeda, sudah tentu ia tidak pandang mata padaku lagi!"
Ho Hay Hong diam diam berpikir.
"urusan ini ada hubungan apa denganku ?"
Karena berpikir demikian, maka jawabannya juga terus terang.
"Kalau sahabat tidak ada keperluan lain, maaf aku tidak bisa mengawanimu."
"Jangan kesusu,"
Berkata orang itu sambil menggelengkan kepala.
"siauwt ee ingin melakukan suatu perdagangan dengan saudara ! Perdagangan ini mungkin sangat penting bagimu, asal kau sudi mengeluarkan uang sejumlah tiga puluh tail perak, kau nanti akan mencapai segala maksudmu dengan memuaskan, tidak usah khawatir menemukan kegagalan lagi!"
Ini merupakan suatu hal yang masih baru bagi Ho Hay Hong, tidak heran kalau ia lantas merasa tertarik.
"Sahabat ingin jual apa?"
"Barang mujijat!"
Menjawab orang itu, dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah bungkusan.
"barang ini akan memuaskan saudara untuk selama-lamanya dalam soal asmara"
"Barang ini apa gunanya?"
Tanya Ho Hay Hong yang masih tidak mengerti.
"Ini mungkin kau baru saja menginjak dunia Kang ouw, hingga tidak mengetahui bagaimana dahsyat barang ini. Orang-orang yang sudah kenal denganku, mereka tidak sayang mengeluarkan banyak uang untuk membeli barangku ini. Baiklah sekarang kuberitahukan padamu, tentang khasiatnya barang ini. Betapapun keras kepalanya seorang wanita, asal kau membuka bungkusan ini dan taburkan bubuk itu kepadanya, pasti berhasil. Seumur hidupku aku selalu pegang kepercayaan ku, kalau kau tidak percaya, boleh tanyakan kepada Cim Kiam sianseng."
Dalam hati Ho Hay Hong diam-diam berpikir.
"kalau benar demikian besar khasiatnya, boleh juga kegunaannya untuk menghadapi ia."
Tanpa banyak pikir lagi, ia lantas mengeluarkan tiga puluh perak, diberikan kepada orang pendek itu, kemudian diterimanya bungkusan barang mujijat itu dan dimasukkan ke dalam sakunya.
Urusan jual beli itu berlangsung dengan lancar, orang pendek itu dengan hati girang meninggalkan rumah penginapan, sebentar kemudian sudah menghilang.
Ho Hay Hong kembali ketempatnya duduknya, baru hendak mengeluarkan bungkusan itu dari dalam sakunya, untuk memeriksa isinya, Chim Kiam sianseng yang duduk dihadapannya sudah bertanya.
"Ho siauhiap, apakah kau kenal dengan orang itu tadi?"
Ho Hay Hong tidak dapat dengar saat Chim Kiam sianseng ada mengandung jengekan, diam-diam terkejut, lalu menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Aku tidak kenal, entah siapa orang itu tadi. Dia kata sianseng kenal dengannya, betulkah itu? Dan siapakah dia ?"
"Hm dia adalah tukang memelet kaum wanita yang sudah terkenal dikalangan Kang ouw, namanya Yo Hong julukannya si kupu kupu."
Ho Hey Hong yang belum mempunyai pengalaman dalam dunia Kang ouw, tetapi juga tidak mau menunjukkan kebodohannya, maka terpaksa menjawab sekenanya.
"Oh, orang itu memang ada sedikit nama."
"Manusia begituan cuma merupakan seorang bangsa kurcaci, menodai nama baik orang orang Kang ouw."
"Menurut keterangannya, dia sudah lama kenal dengan sianseng!"
Mendengar perkataan itu, alis Chim Kiam sianseng berdiri, katanya dengan nada kurang senang.
"Manusia tidak tahu malu itu adalah bangsa pencuri, maka aku tidak sudi bergaul dengannya!"
Ia tertawa dingin, mendadak seperti ada yang dikhawatirkan, maka lantas bertanya lagi.
"Ia pernah berkata apa saja padamu?"
"Ia hanya mengatakan pernah melakukan soal jual beli satu kali dengan sianseng. tapi kejadian itu sudah lewat beberapa tahun lamanya dan karena kedudukan sianseng sekarang sudah tinggi, ia tidak berani mengadakan perhubungan lagi.!"
"Orang itu benar benar cerdik, ia bisa berlaku dengan menyesuaikan keadaan."
Berkata Chim Kiam sianseng, dengan menganggukkan kepala, merasa puas, tapi ia amatinya dengan tajam menatap wajah Ho Hay Hong.
"Orang tua itu namanya sudah sangat tercela, t idak ada harganya untuk dibicarakan Ho siauhiap seorang muda yang mempunyai hari depan sangat cemerlang, sebaiknya jangan mengadakan perhubungan dengannya, supaya nama baik yang kau pupuk dengan susah payah, nanti akan menjadi rusak olehnya!"
Mendengar perkataan itu, dalam hati Ho Hay Hong terkejut.
Selagi hendak menceritakan urusan jual beli dengan orang pendek itu timbul diotaknya, mendadak diurungkannya maksud itu.
sebab ia pikir bahwa urusan itu tidak perlu diberitahukan kepada orang lain.
selama ia sendiri tidak mengadakan perhubungan lagi dengan orang pendek itu, tentunya tidak akan merusak namanya.
"Tentang nasehatmu ini, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih!"
Ketika pandangan matanya ditujukan ke arah jendela, perhatiannya tertarik oleh seorang anak laki-laki, berusia kira-kira delapan tahun, yang sedang main layangan, beberapa anak lain sedang bertepuk tangan sambil tertawa.
Pemandangan itu mengingatkannya kembali kepada penghidupannya sendiri dimasa kanak-kanak, tetapi juga membuka pikirannya ke sesuatu hal yang sedang dihadapinya.
Tanpa disadarinya, ia tepuk tangan dan berkata kepada diri sendiri.
"Benar, aku harus ikat kakinya dengan benang, kemudian kulepaskan, dari arah tujuan perginya binatang itu, aku dapat menduga di mana tempat sembunyinya kakek penjinak Garuda, akal ini adalah yang paling baik"
Ia juga ingat ucapan gadis kaki telanjang yang sombong, bahwa burung Garuda itu sifatnya luar biasa dalam keadaan yang bagaimanapun juga, dapat mencari jejak majikannya dengan memperhatikan keadaan hawa udara dan keadaan tanah.
Karena ia telah menemukan akal untuk menyelidiki jejak kakek penjinak Garuda hatinya merasa sangat gembira.
Dengan sendirinya semangatnya terbangun lagi.
Menanti orang memandangnya dengan perasaan heran, mereka tidak mengerti mengapa dengan secara mendadak anak muda itu berubah menjadi girang.
Saat itu pandangan mata Ho Hay Hong ditujukan kepada seorang tua baju pendek dengan senjatanya yang istimewa, itulah sebuah bandulan besar yang diikat dengan tali benang lemas, Ia pikir benang emas itu sangat lemas, tidak mudah patah, tetapi dapat digunakan untuk mengikat senjata sedemikian berat, dapat diduga benang itu pasti bukan barang sembarangan.
Kalau digunakan untuk mengikat kaki burung Garuda rasanya sangat tepat.
Karena tertarik oleh benang emas itu, maka ia lalu berkata kepada Chim Kiam sianseng.
"Sianseng, aku ada sedikit permintaan yang tidak pantas, apakah sianseng tidak akan mencela ?"
Chim Kiam sianseng merasa heran, lama tidak menjawab. Matanya ditatapkan kepada mukanya dengan penuh tanda tanya. Ho Hay Hong menunjuk kepada senjata orang tua itu dan berkata pula.
"Tali bandulan ini pasti bukan barang sembarangan, bolehlah kupinjam?"
Orang tua itu mendadak bangkit dari tempat duduknya, bertanya dengan tidak senang.
"Apa artinya ini?"
Tangannya sudah dikepal, siap hendak menyerang. Chim Kiam sianseng buru buru mencegah, kemudian ia bertanya kepada Ho Hay Hong.
"siauhiap hendak gunakan untuk keperluan apa? Bolehkah kau beritahukan padaku?"
"Dengan sejujurnya, aku hendak gunakan untuk mengikat kaki burung garuda piaraan Kakek penjinak garuda, dengan burung garuda itu aku hendak mendapat kepastian dimana jejak kakek itu. Apakah kiranya sianseng tidak keberatan ?"
"Apakah siauwhian benar-benar mempunyai burung itu?"
Berkata Chim Kiam sian-seng dengan membuka lebar kedua matanya.
"Kakek penjinak garuda itu sembunyikan diri didalam kampung setan, ini sudah pasti. Aku pikir siauhiap t idak perlu berbuat demikian lagi !"
"Aku juga menduga pasti bahwa Kakek penjinak garuda itu adalah pemimpin penghuni kampung setan, tetapi semua penghuni kampung setan tidak mau mengaku "cara"
Terang.
Untuk mendapatkan kebenarannya, hanya dengan akal itu saja.
Sekalipun berhadapan dengan kakek penjinak garuda, juga tidak usah takut kalau kita telah membuka rahasianya.
Apakah sianseng suka bekerja sama denganku?"
Chim Kiam sianseng berpikir sejenak, akhirnya menganggukan kepala menerima baik usul itu, ia lalu perintahkan kepada orang tua itu supaya membuka tali bandulan itu di berikan kepada Ho Hay Hong.
Menurut taksiran Ho Hay Hong, benang emas itu kirakira lima atau enam tombak panjangnya, ia pikir sudah cukup digunakan untuk mengikat kaki burung garuda itu.
Maka buru-buru mengajak Chim Kiam sian-seng dan orang-orangnya, bersama-sama pergi ke rumah perguruan Kang lam Bu-koan.
Tak lama kemudian, Kang lam Bu-koan sudah berada didepan matanya.
Tanpa mengetok pintu.
Ho Hay Hong lompat melesat melalui tembok pekarangan.
Sedangkan Chim Kiam sianseng dan orang-orangnya menunggu diluar.
Dengan tiba-tiba matanya tertuju kepada sesosok bayangan orang yang sudah tidak asing baginya.
Bayangan orang itu berdiri membelakangi dirinya dibawah sebuah pohon sedikitpun tidak bergerak, agaknya dia lagi melamun.
Ketika angin malam meniup, gaun merah yang menempel ditubuhnya menjadi ketat, sehingga potongan tubuhnya yang langsing padat nampak jelas dalam mata Ho Hay Hong.
Karena bayangan orang itu berdiri membelakangi dirinya, Ho Hay Hong tidak melihat wajahnya, begitupun bayangan orang itu, juga tidak melihat kalau dibelakang dirinya ada orang yang sedang mengawasi dirinya.
Dari potongan tubuh bayangan orang itu, Ho Hay hong sudah dapat menduga dengan pasti bahwa orang itu adalah Su to Cian hui.
Melihat keadaannya yang menyedihkan, Ho Hay Hong tiba-tiba teringat waktu pergi pesiar kedanau Liok ingouw dengan menunggang kuda pada beberapa hari berselang.
Betapa riang gembiranya pada waktu itu?
Dan siapa akan mengira hanya dalam beberapa hari saja, kemudian sudah berubah demikian rupa?
Ia turut merasa duka atas nasib buruk gadis itu, gedung megah dan pekarangan luar yang dahulu ramai itu, kini hanya terdapat gadis itu seorang diri timbullah rasa herannya.
Heran mengapa Kan lui Kiamkhek belum pindah kemari?
Apakah terjadi apa-apa lagi dengannya?
Demikian ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.
Perlahan lahan ia maju menghampiri, Su to Cian Hui yang mendengar tindakan kaki orang, lantas berpaling, dengan mata terbuka lebar, mengawasi padanya.
Keadaan pada waktu itu seperti orang yang merasa ketakutan, dari sini Ho Hay Hong dapat menduga bahwa kejadian yang menimpa diri nona itu pasti menimbulkan banyak penderitaan bathinnya.
Ia melihat gadis itu masih tetap cantik hanya agak pucat.
Ho Hay Hong merasa simpati, tetapi mulutnya tidak tahu bagaimana harus menghiburi nona itu, terpaksa ia menegurnya sambil tertawa.
"Oh, nona sudah pulang, apakah selama ini baik-baik saja ?"
Sudah lama rasanya, Su to Cian Hui tidak mendengar kata kata demikian.
Sejak terjadinya peristiwa yang menimpa keluarganya, baru pertama kali ia merasakan betapa kejam sifatnya manusia?
Dulu dimasa masih jaya, banyak orang menyanjung, banyak orang memuji-muji.
Tetapi sekarang setelah rumah tangganya berantakan, tiada seorangpun yang datang menengok, apalagi menghibur.
Dari situ, pandangannya terhadap dunia terhadap manusia telah banyak berubah, ia bukan seorang anakanak lagi, pertanyaan Ho Hay Hong yang sangat singkat itu, meski pun singkat dan biasa, tetapi sangat besar pengaruhnya.
Maka sesaat itu, airmata mengalir keluar tanpa dapat dibendungnya.
Ia menundukkan kepala dan menjawab dengan suara lemah.
"Kau masih ingat aku, aku merasa girang dan sangat bersyukur."
Dihadapannya, Ho Hay Hong kini tidak rendah diri lagi.
Ia seperti berubah menjadi orang lain, semangatnya menyala-nyala.
Dengan tiba-tiba ia mengambil keputusan, Ia ingin menggunakan sisa hidupnya, untuk melindungi gadis yang sebatang kata itu supaya hidup tentram dan bahagia.
Keputusan demikian secepat kilat terlintas dalam otaknya, nyalinya mendadak menjadi besar.
Katanya menghibur.
"Nona, legakan hatimu. Untuk selanjutnya, aku Ho Hay Hong, sekalipun harus mengucurkan darah, juga akan berusaha melindungimu supaya kau aman."
Perkataan demikian, kalau diucapkan pada beberapa hari berselang, bukan saja tidak menarik perhatian si nona, bahkan sebaliknya akan menimbulkan rasa muaknya.
Sebab Su to Cian Hui juga termasuk seorang wanita gagah berani, tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja.
Perkataan demikian, tentunya akan dianggap memandang lemah dirinya.
Tetapi, kini keadaan sudah lain, kesulitan dan penderitaan yang dialaminya selama beberapa hari ini telah memudarkan ambisinya, ia tidak berani berebut pengaruh lagi.
Demikian hebat pukulan bathin yang dideritanya, hanya lantaran ingin menengok ayah dan keluarganya, ia telah menempuh bahaya yang datang ke rumahnya.
Namun demikian, ia seperti orang yang ketakutan, takut kalau bertemu lagi dengan musuh musuhnya.
Diluar dugaannya dalam keadaan terjepit seperti itu, ia telah bertemu dengan seorang gagah yang dapat diandalkan.
Maka kecuali merasa sangat berterima kasih, dalam hatinya timbullah suatu perasaan aneh, yang selama itu belum pernah dirasakannya.
Ho Hay Hong mendadak ingat sesuatu, bertanyalah ia.
"Aku dengar kabar bahwa nona sudah pergi kegunung Bwee san untuk mencari suhu, mengapa."
"Suhu sudah turun gunung pergi pesiar, hingga hari ini belum kembali."
Ho Hay Hong diam-diam berpikir.
"pantas ia seperti orang kebingungan, kiranya satu-satunya orang yang dapat dibuat andalan juga tidak ketemu."
Sewaktu otaknya berpikir, matanya di tujukan kepada sangkar besi raksasa, yang dibuat mengurung burung Garuda raksasa, burung itu ternyata masih ada hingga hatinya merasa lega.
Ia segera menanya kepada Su to Cian Hui.
"Apakah nona tidak keberatan, apabila burung garuda ini aku pinjam untuk sementara?"
"Kau memerlukan apa, ambil saja tidak perlu menanyakan pikiranku."
Jawabnya sinona dengan suara lemah lembut. Baru saja Ho Hay Hong hendak menghampiri sangkar besi itu, tiba-tiba ia berpikir.
"Ya, kali ini aku pergi menyelidiki kampung setan, belum tahu bagaimana nasibku. Dengan meninggalkan ia seorang diri dalam gedung ini, keselamatannya masih merupakan satu pertanyaan. Bagaimana baiknya?"
Ia diam untuk memecahkan persoalan itu. diluar tibatiba terdengar ada orang mengetok pintu. Ia lantas berpikir lagi.
"golongan Lempar batu pengaruh cukup besar Chim Kiam sianseng juga memiliki ilmu Kh ian khun cie, rombongan orang-orang Lam kiang Tay bong dan Lam kiang Tay bong sendiri masih jeri terhadapnya. Mengapa aku tidak minta tolong padanya, supaya menjaga keselamatan nona ini? Asal kujelaskan duduk perkaranya, barangkali Chim Kiam sianseng tidak akan menolak!"
Pikirannya seketika itu merasa lega, ia buru-buru membuka pintu pekarangan, mempersilahkan Chim Kiam sianseng dan orang orangnya masuk.
Ia perkenalkan Su to Cian Hui kepada Chim Kiam sianseng kemudian menceritakan nasib sinona akibat perbuatan Lam kiang Tay bong yang membiarkan muridnya berlaku sewenang-wenang dan akhirnya minta pertolongan pemimpin itu supaya suka bantu menjaga keselamatan nona itu.
Chim Kiam sianseng berpikir sejenak, akhirnya ia terima baik permintaannya.
"Tetapi dalam waktu satu bulan Ho siauhiap harus membawanya keluar dari golongan lempar batu, sebab aku tidak ingin kebentrok secara langsung dengan Lam kiang Tay-bong!"
"Sudah tentu, setelah aku menyelesaikan urusanku, aku tidak berani mengganggu sianseng lagi! Nona Su to adalah murid Bwee san Sin nie, salah satu dari lima tokoh luar biasa dalam rimba persilatan, sianseng tidak perlu pikir terlalu banyak. Nanti kalau Bwee san Sin nie sudah kembali dari perjalanannya, pasti juga tidak mengijinkan muridnya merepotkan sianseng!"
Dengan demikian, malam itu juga Su to Cian Hui lantas dibawa pulang oleh orang tua pendek, kemarkas tempat golongan lempar batu.
Dengan perasaan tidak tenang Ho Hay Hong membuka pintu sangkar, tiba-tiba di cakar oleh cakar burung garuda raksasa yang sangat tajam, sehingga lengannya terluka dan mengucurkan darah banyak sekali.
Ia lantas naik pitam, tangannya segera bergerak menerkam leher burung.
Burung itu meronta dengan kekuatan yang hebat, hingga hampir terlepas dari tangan Ho Hay Hong.
Tetapi dengan kecepatan bagaikan kilat Ho Hay Hong sudah mengikatkan benang emasnya kekaki burung itu, kemudian dilepaskannya dari kurungan.
Burung itu terbang keluar, tetapi agaknya mengerti kalau kakinya terikat, maka ia lantas mengamuk.
Dengan kedua kakinya ia menyambar, sedang paruhnya yang tajam coba mematok jidat Ho Hay Hong.
Baru pertama kali Ho Hay Hong mengadakan pertempuran langsung dengan burung Garuda raksasa itu.
Karena burung itu terbang melayang-layang dan menyambar lawannya dari atas.
maka sia-sia saja Ho Hay Hong memiliki kepandaian ilmu silat tinggi terpaksa membiarkan dirinya dibuat bulan-bulanan burung itu, ia tidak mampu balas menyerang, hanya lompat kekanan kekiri untuk mengelakkan serangan yang hebat itu.
Beberapa kali ia hampir terpatok oleh paruh burung yang amat tajam itu.
Dalam keadaan demikian, dengan tiba-tiba sekali timbul satu akal dibenaknya, ia pikir hendak memperlihatkan tanda cacahan burung Garuda diatas lengannya mungkin.
Harapan itu meski sangat tipis, tetapi dalam keadaan terpaksa, ia mau coba juga.
Dengan cepat ia merobek baju lengan tangan kanannya, supaya tanda gambar barang garuda tertampak nyata.
Sungguh aneh ketika mata burung garuda-raksasa yang beringas itu melihat tanda itu, mendadak memperdengarkan suara yang tidak dimengerti oleh Ho Hay Hong, kemudian sikapnya berubah tenang.
Ho Hay Hong dengan sinar mata keheranan mengawasi burung raksasa itu, mendadak teringat ucapan si Kakek penjinak garuda, hatinya mengeluh, suatu pertanyaan timbul dalam otaknya.
"benarkah aku ini anak haram?"
Begitu ingat diri orang tua itu, dalam hatinya timbul dua macam perasaan yang berlainan.
Satu adalah merasa menanggung budi atas perbuatannya yang telah menyempurnakan kekuatan tenaga dalamnya.
Yang lain adalah penyesalan karena ucapkannya yang membuatnya selalu rendah diri.
Ia tidak dapat menimbang mana yang lebih berat antar dua macam perasaan itu.
Ia menarik napas dalam-dalam, matanya menatap burung garuda itu, mendadak amarahnya berkobar lagi.
Dengan suara keras ia membentak.
"Binatang, lekas bawa aku menemui majikanmu."
Burung raksasa itu mengeluarkan suara perlahan, lalu perlahan-lahan terbang berputaran diatasnya.
Ho Hay Hong mengikatkan benang emas dilain ujung kepada pinggangnya sendiri, untuk menjaga supaya burung itu jangan sampai terlepas.
Selesai semua, burung Raksasa itu terbang rendah menuju ke suatu arah, dengan diikuti oleh rombongan orang-orang golongan Lempar batu.
Kejadian aneh itu segera menarik perhatian banyak orang, semua memandangnya dengan terheran-heran.
Ho Hay Hong merasa sedih, karena dari perbuatan burung raksasa itu telah menunjukkan bahwa si Kakek penjinak garuda itu jelas ada hubungan dengannya.
Pikirnya.
"Kalau benar aku adalah anak haram, Tang siang sucu mungkin juga begitu. Dia adalah musuh besarnya Su to Cian Hui, bagaimana harus membereskan permusuhan ini?"
Ikatan persaudaraan sebetulnya lebih berat daripada ikatan kasih, tetapi sifat Tang-siang sucu yang tidak kenal budi sangat memusingkan kepalanya.
Bayangan dan senyuman Su to Cian Hui saat itu mendadak selalu terbayang dalam matanya.
Burung raksasa itu perlahan-lahan terbang menuju kearah kampung setan, Ho Hay Hong yang terbawa terbang kesana.
perlahan-lahan juga mulai tegang perasaannya.
Kini semakin jelas persoalannya, bahwa si kakek penjinak garuda itu benar benar ada hubungan dengan dirinya, dan hubungan itu mungkin juga menyangkut diri ibunya.
Rombongan orang-orang golongan Lempar batu juga mulai gelisah.
Kecuali Chim Kiam sianseng, yang lainnya menunjukkan sikap bimbang, Chim Kiam sianseng sendiri meskipun juga merasa tidak tenang, tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang yang sudah banyak pengalaman, hingga diluar ia masih menunjukkan sikap tenang.
Katanya dan sambil tertawa dingin.
"Benar, seperti apa yang kita duga, kampung setan ini adalah tempat sembunyinya kakek penjinak garuda. Heh. rahasia ini apabila tersiar keluar, kampung setan benar benar akan menjadi kampung setan yang sebenarbenarnya."
Diwaktu senja, rombongan orang-orang itu sudah mulai menginjak tanah kampung setan.
Suara burung-burung yang dikejutkan oleh datangnya rombongan orang banyak itu, menimbulkan rasa seram bagi mereka, hingga pada berhenti dan saling memandang.
Chim Khiam sianseng berkata dengan nada kurang senang.
"Manusia biar bagaimana tokh musti mati, tetapi kalau kematian kita itu ada harganya, apa yang harus d itakuti? Apabila nasib kita jelek, harus mati dalam kampung setan, apa boleh buat. Tetapi, apabila kita berhasil bisa keluar dengan selamat, nama kalian akan menjadi pujian banyak orang!"
Ucapan yang bersifat membakar semangatnya itu, kini sudah menarik perhatian orang-orangnya lagi.
Kecuali Ho Hay Hong, yang lainnya diam saja, wajah mereka berubah seketika.
Dengan mendadak burung raksasa yang berada ditengah udara mengeluarkan suara panjang dan hendak menukik turun kedepan Ho Hay Hong menarik kuat-kuat benang emasnya, burung itu lantas membatalkan maksudnya.
Ia tahu benar bahwa kelakuan burung itu pasti ada sebabnya, maka lantas memberi isyarat kepada orang-orang golongan Lempar baru supaya berhenti dan ia sendiri pasang mata memandang keadaan depan matanya.
Tidak jauh ditempat ia berdiri tampak berkobarnya api unggun.
Dari sinar api itu tampak tegas tiga laki laki tua berambut putih sedang duduk bersila.
Cuaca sudah gelap, hanya bintang-bintang dilangit yang menerangi jagat.
Angin malam meniup kencang menimbulkan suara menderu-deru hingga keadaan kampung setan itu semakin menyeramkan.
Tiga orang tua yang duduk bersila itu tetap dalam keadaan diam.
tidak bergerak, agaknya sedang bersemedi.
Sebelah kiri dekat mereka ada sebuah patung besar yang terbuat dari perunggu.
Patung itu adalah patungnya Gak Hui.
Dulu waktu, pertama kali Ho Hay Hong kesasar kedalam kampung setan, didalam gua dibawah patung itu ia pernah menemukan sebilah pedang pusaka.
Pedang pusaka garuda sakti yang dikemudian hari menjadi rebutan orang banyak tidak hentinya.
Ia tahu benar patung itu diperlengkapi dengan pesawat rahasia, maka lalu diberitahukannya kepada Chim Kiam sianseng dengan suara bisik-bisik.
Ia khawatir burung raksasa itu akan berbunyi lagi, maka lantas memberi isyarat padanya, kemudian menarik benang emasnya.
Setelah burung itu mendekati dirinya, ia lalu menyambar lehernya dan dipegang eraterat.
Sungguh mengherankan, burung itu kini tidak meronta atau melawan, malah membiarkan dirinya di pegang.
Pada saat itu dari jauh terdengar suara siulan nyaring, lama menggema diudara.
Jelas bahwa orang yang mengeluarkan siulan itu, adalah orang yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam sangat sempurna.
Sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman dan banyak pengetahuan, Chim Khiam sianseng segera mengerti hal itu, wajahnya berubah seketika.
Suara itu baru saja berhenti, tiga orang tua yang duduk bersila itu mendadak bangkit, masing-masing dari tanah mengambil sepotong baju kulit berbulu kelabu, lalu di pakai dibadannya dan sebentar kemudian telah menghilang.
Ho Hay Hong yang menyaksikan keadaan demikian, mendadak tersadar.
Ia teringat seorang makhluk aneh berbulu kelabu yang diceritakan oleh Cie lui Kiam khek.
Makhluk aneh itu ternyata adalah tiga orang tua itu yang menyaru.
Pantas sikipas besi Hok Yauw menghilang secara mendadak .
Dengan berlalunya tiga orang itu, disekitar patung itu kini tidak tampak satu manusiapun juga.
Sekali lagi Ho Hay Hong mengamat-amati tempat itu, mendadak lompat meleset kedekat patung dan mendorongnya.
Patung itu segera tergeser kekanan setelah memperdengarkan suara keresekan, di bawahnya lantas tampak sebuah gua.
Ia mendekam ditanah, telinganya ditempelkan ditanah memperhatikan didalam gua, tetapi tidak mendengar suara apa apa,maka lantas berkaok-kaok.
"Kakek penjinak garuda. Kakek penjinak garuda Kakek penjinak garuda."
Chim Kiam sianseng dikejutkan oleh perbuatan anak muda itu, tanpa banyak bicara ia telah diajak orangorangnya pindah kelain tempat untuk sembunyikan diri.
Tempat itu terpisah agak jauh dengan patung perunggu.
Dengan pandangan matanya yang tajam ia masih dapat melihat keadaan disekitar api unggun dengan jelas.
"Ho siauhiap, mengapa kau tidak melepaskan burung garuda itu supaya ia bawa kita menemui kakek penjinak garuda?"
Bertanya Chim Kiam sianseng dengan suara pelahan.
"Tidak perlu lagi, tuan tuan harap tunggu sebentar mungkin akan terjadi apa apa!"
Jawab Ho Hay Hong sambil menggelengkan kepala.
Belum habis ucapannya dari jauh terdengar suara tindakan kaki dan suara tambur.
Orang-orang Lempar batu yang mendengar suara itu terkejut dan ketakutan, mata mereka ditujukan kearah datangnya suara itu.
Tetapi, tempat itu sepi sunyi, dengan tempat agak jauh yang ramai suara tambur itu bagaikan dua dunia.
Ho Hay Hong yang mengetahui lebih banyak keadaan kampung setan, begitu mendengar suara tambur itu segera mengetahui bahwa ditempat itu sudah terjadi peristiwa pembunuhan.
Maka ia lalu berkata.
"Entah siapa yang bernasib sial yang masuk kekampung setan ini, mereka sudah diketahui oleh penghuni kampung setan, dan sedang dikurung dengan menggunakan pasukan orang liar."
Chim Kiam sianseng yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anak muda itu, lalu bertanya.
"Kakek penjinak garuda berkepandaian tinggi sekali, untuk membinasakan orang-orang yang memasuki kampung setan rasanya tidak susah mengapa....."
Ho Hay Hong yang mengerti maksudnya segera memotong.
"Itu juga mungkin merupakan salah satu siasatnya, yang sengaja hendak membuat kampung setan menjadi suatu daerah seram dan menakutkan."
"Pasukan orang liar itu jumlahnya agaknya tidak sedikit, tahukah siauhiap dari mana mereka datang?"
"Aku pernah menyaksikan pasukan orang liar itu dengan mata kepala sendiri, maka aku tahu bahwa pasukan itu adalah orang-orang Kang ouw yang menyaru. Keadaannya serupa dengan tiga orang tua tadi. Sengaja mengaburkan mata orang, supaya dunia luar menjadi bingung!"
"Perbuatan si Kakek penjinak garuda itu benar-benar susah dipikirkan oleh pikiran waras!"
Berkata sampai disitu, matanya tiba-tiba dibuka lebar, memandang kearah timur, Ho Hay Hong yang menyaksikan itu, juga terkejut, buru-buru mengikuti pandangan matanya, seorang tua berambut putih, entah sejak kapan tampak di belakang patung.
Tubuh orang tua itu agak bongkok, di tangan kirinya membawa sebuah kotak kayu dibahu kanannya hinggap seekor burung garuda besar.
Orang tua itu sedang duduk dengan tenang diatas rumput, serta matanya dipejamkan.
Dari dalam tenggorokan Chim Kiam sianseng mengeluarkan suara halus.
"Dia adalah Kakek penjinak garuda"
Ho Hay Hong menongolkan kepalanya, memandang dengan seksama.
Saat itu Kakek penjinak garuda itu sudah tidak memakai topinya yang lebar.
W ajahnya yang guram sudah penuh guratan keriput, dipandang sepintas lalu, seperti seorang tua yang sangat loyo, yang sudah mendekati liang kubur.
Sedikitpun tidak mirip dengan orang gagah luar biasa, yang namanya menggemparkan dunia rimba persilatan.
Dengan munculnya si Kakek penjinak garuda itu, telah membuat burung garuda raksasa disamping Ho Hay Hong, seperti kemasukan setan, mengeluarkan suara nyaring dan meronta-ronta dan setelah terlepas dari tangan Ho Hay Hong, terbanglah ia keangkasa.
Dengan perbuatannya itu, seolah-olah memberitahukan tempat sembunyinya orang-orang itu kepada siorang tua itu Ho Hay Hong marah sekali, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Si Kakek penjinak garuda ternyata tak mengunjukkan rasa kaget atau heran.
Sikapnya masih tenang-tenang saja, seolah olah sudah mengetahui segala-galanya.
Dengan sangat menyayang ia mengelus-elus bulu burung garuda itu, berkata padanya.
"Jangan takut, jangan takut anakku, akhirnya kau kembali !"
Dengan tenang ia membuka ikat benang emas dikakinya. matanya melirik kearah tempat sembunyi Ho Hay Hong dari mulutnya mengeluarkan kata kata yang sangat singkat.
"Kalian keluarlah semua."
Lirikannya dan ucapannya itu, seolah-olah mengandung pengaruh yang sangat besar sehingga seorang keras hati dan banyak pengalaman seperti Chim Kiam sianseng juga merasa gentar.
Terpaksa ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata sambil memberi hormat.
"Locianpwee, boanpwee Cee Bu Kie disini menghadap Lo cianpwe, harap ampuni dosa boanpwe yang sudah berani memasuki kampung setan."
Melihat Pangcunya sudah unjuk diri.
orang-orang golongan lempar batu juga lantas keluar semua, menghadapi sikakek penjinak garuda untuk memberi hormat, mereka berdiri berbaris dibelakang Pangcunya, hampir tidak berani bernapas.
Ho Hay Hong kini sudah mendapat kepastian bahwa orang tua itu adalah penjinak garuda.
karena semua sudah menjadi kenyataan, tidak ada gunanya berlaku takut lagi.
Ia lalu maju menghampiri, tidak memberi hormat, juga tidak menyapa.
Hanya berdiri tegap dihadapan siorang tua kira kira sejarak tiga tombak, dengan mata tidak berkedip.
Berbeda dari biasanya, kali ini si kakek itu sedikitpun tidak marah, dengan sikap tenang dan nada teratur ia berkata.
"Ce Bu Kie. beritahukanlah dulu kedudukanmu !"
"Boanpwee tidak berani menyombongkan diri, kini hanya merupakan satu pemimpin dari golongan Lempar batu yang tidak ada namanya!"
Kemudian ia menunjukan orang-orang yang berdiri dibelakangnya.
"ini adalah sebagian dari anggauta Lempar batu yang berada dibawah pimpinan boanpwee ."
"Cee Bu Kie, kau sebagai pemimpin salah satu perkumpulan persilatan, apakah tidak tahu, larangan di dalam kampung setan?"
Bertanya sikakek sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Boanpwee telah datang tanpa diundang, itu memang sudah kurang sopan. Tetapi kedatangan boanpwee ini memang ada sedikit keperluan, ingin minta keterangan locianpwee, apakah locianpwee tidak keberatan untuk memberi bantuan ?"
Sambil mendongak keatas, si kakek berkata dengan nada suara dingin.
"Kalian semua benar-benar bernyali besar, dengan berani mati menggunakan burung garudaku untuk menyelidiki jejakku. Hah, siapa yang mendapatkan akal itu?"
Ho Hay Hong segera maju kedepan dengan membusungkan dada. katanya dengan suara keras.
"Akal ini adalah aku yang merencanakan, tidak ada hubungannya dengan mereka."
Sinar mata sikakek penjinak garuda yang dingin dan tajam, lalu ditujukan kepadanya. -oo0dw0ooo-Bersambung
Jilid 12 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 12 TERINGAT kematian Ji suhengnya yang sangat mengenaskan, kemarahan Ho Hay Hong semakin meluap, maka tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, U berkata dengan berani.
"Kakek penjinak garuda, meskipun kau seorang besar, yang tersohor namanya, tetapi perbuatanmu yang kejam dan tidak berprikemanusian sangat tercela. Dengan terus terang aku adalah orang yang pertama yang tidak puas terhadap sepak terjangmu."
Ucapannya yang gagah berani ini sungguh mengagumkan Chim Kiam sianseng dan semua orangorangnya, kini mereka baru tahu bahwa anak muda yang belum ada namanya ini, sesungguhnya seorang kesatria yang gagah berani.
Pandangan mereka terhadap dirinya kini telah berubah, Chim Kiam sianseng diam-diam berpikir.
"Kakek penjinak garuda pada beberapa puluh tahun berselang sudah kesohor dengan sepak terjangnya yang luar biasa, ia membunuh orang sama mudahnya dengan memitas semut. Aku sendiri juga tak berani mencela secara terang-terangan di hadapan mukanya, bocah she Ho ini benar-benar sangat berani."
Kakek penjinak garuda menoleh kearah lain, katanya tidak senang.
"Aku yakin sudah cukup baik perlakuanku terhadap dirimu, apakah kau masih merasa kurang puas?"
Ucapan orang tua itu mengandung maksud sangat dalam, kecuali Ho Hay Hong yang mengerti apa yang dimaksudkan dalam perkataan.
"cukup baik"
Itu, yang lainnya semua merasa heran. Ho Hay Hong bungkam seketika, lama tidak membuka mulut.
"Kampung setan ini sudah lama mengadakan larangan, barang siapa yang menginjak tanah ini, semua akan dihukum mati. aturan ini sudah tentu tidak terkecuali bagi kalian. Tetapi karena mengingat kalian mengembalikan burung garudaku, ini akan meringankan dosa kalian. Hukuman mati tidak akan kugunakan, hanya kalian masing-masing harus dihukum potong kaki dan tangan sendiri, sebagai peringatan bagi yang lainlainnya."
Begitu mendengar keputusan itu, Chim-Kiam sianseng yang lebih dulu tidak tertahan lagi menahan kesabarannya, maka lantas berkata.
"Locianpwee, bolehkah boanpwee minta sedikit keterangan, kematian si Kakek hidung merah, betulkah karena hasutan locianpwee?"
Kakek penjinak garuda tidak menghiraukan keadaan Chim Kiam sianseng, jawabnya singkat.
"Aku tidak kenal siapa si Kakek hidung merah itu, kau jangan tanya kepadaku."
"Kalau begitu, sebelum boanpwee menjalani hukuman potong kaki tangan, ingin minta sedikit pelajaran dari locianpwe dulu!"
"Cee Bu Kie, nyalimu sungguh besar berani menantang aku ..."
"Maaf, boanpwee sungguh tidak sanggup menahan penderitaan dari hukuman potong tangan kaki ..."
Kakek penjinak garuda mengangkat tangannya, tibatiba meluncur hembusan angin hebat.
Mata Khim Kiam sianseng membelalak.
dengan mendadak mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, jari tangan telunjuknya menuding.
Ia.
tahu benar bahwa gerakan sederhana orang tua itu, sesungguhnya merupakan suatu gerak tipu serangan yang mematikan, maka ia terpaksa menggunakan ilmu simpanannya yang paling ampuh Kian khun cie.
untuk menghadapinya.
Serangan dengan menggunakan jari tangan itu menimbulkan suara "ser, ser"
Yang cukup nyaring, hembusan angin meluncur ke luar, langsung mengancam jalan darah Khie-hay hiat didada si kakek penjinak garuda.
"Kau anak kemarin sore, baru miliki sedikit kepandaian saja, sudah tidak pandang mata orang tua, cis!"
Berkata kakek penjinak garuda.
Baru saja menutup mulutnya, Chim Kiam sianseng sudah mengeluarkan seruan tertahan dan mundur terhuyung-huyung.
Mata orang banyak seperti dikaburkan, mereka tidak tahu dengan cara bagaimana kakek itu melakukan serangannya, tetapi Chim Kiam sianseng sudah dikalahkan.
Kepandaian luar biasa seperti itu, siapa yang mau percaya?
Tetapi, percaya atau tidak, kenyataannya memang begitu, maka semua anak buah golongan Lempar batu, kini tiada satupun yang berani bergerak lagi.
Dengan kedua tangan menekap dada, Chim Kiam sianseng menahan rasa sakitnya, orang tidak dapat menduga, sampai dimana parahnya luka pemimpin ini.
Yang sudah jelas ialah.
luka itu pasti bukan luka biasa, kalau tidak, orang kuat seperti Chim Kiam sianseng, tidak mungkin sampai menderita demikian rupa.
"Siapa lagi yang berani berlaku gagah-gagahan?"
Berkata si Kakek penjinak garuda lambat-lambat.
Semua mata kini ditujukan kepada Ho Hay Hong, karena dengan keberaniannya yang ditunjukkan tadi, mungkin juga hanya ia yang berani melawan.
Dugaan orang-orang itu ternyata tidak meleset, dengan tidak merasa takut sedikitpun juga, ia maju menghampiri dan berkata dengan nada suara dingin.
"Aku juga tidak mau disiksa dengan hukuman potong kaki tangan, maka aku hendak menggunakan pelajaran yang kupelajari untuk belajar kenal dengan semua kepandaianmu !"
Dengan sinar mata berapi-api kakek itu memandangnya, lalu berkata dengan suara keras.
"Kau bocah yang tidak kenal budi, aku sudah ampuni jiwamu, ini adalah suatu perkecualian yang kubelum pernah berikan pada siapa pun juga. Tak kusangka kau berani bermusuhan denganku !"
Mendengar ucapan itu, dalam hati Ho Hay Hong mendadak timbul perasaan tidak enak.
"Maaf, karena perbuatanmu terlalu kejam kalau aku tidak mati, tokh akan menjadi seorang cacad seumur hidup. Dan kalau mau menjadi orang bercacad, tentu akan mati. Daripada mati konyol, bagaimana aku tidak berlaku nekad?"
Demikian ia berkata. Chim Kiam sianseng maju selangkah dan berkata .
"siauhiap, tunggu sebentar, biarlah aku mencoba lebih dulu!"
Pemimpin Lempar batu itu baru bergerak sudah di kalahkan oleh Kakek penjinak garuda, dalam hati merasa sangat penasaran maka dengan menahan rasa sakit dalam dadanya, ia maju lagi, diam-diam sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, hendak melakukan serangan pembalasan.
Sungguh tak diduganya, baru saja ia hendak melancarkan serangannya, dibelakang dirinya mendadak muncul tiga mahluk aneh berbulu kelabu yang menyergap dirinya.
Satu diantaranya bahkan berkata padanya dengan nada suara gusar.
"Cee Bu Kie, apakah dirimu sudah tidak mau hidup lagi?"
Chim Kiam sianseng mengelak dan melompat sejauh tiga kaki, dan balas menanya dengan perasaan heran.
"Kau siapa? Bagaimana kau kenal aku Cee Bu Kie?"
Mahluk aneh itu membuka kerudung berbulunya, seketika tertampak wajah seorang lelaki yang sudah lanjut usianya, rambut dan jenggotnya sudah putih seluruhnya, namun wajahnya merah dan sinar matanya masih tajam.
Dengan pandangan mata marah memandang Chim Kiam sianseng.
Chim Kiam sianseng begitu melihat orang tua itu, keringat dingin keluar semua, ia buru buru berlutut, dengan sikap sangat menghormat ia berkata.
"Kau. susiok, bagaimana susiok juga berada disini. ."
Orang-orang dari golongan Lempar batu mendengar pemimpinnya membahasakan orang tua itu susiok atau paman guru, juga buru-buru ikut berlutut, semua tidak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Orang tua bermuka merah Itu berkata dengan suara gusar.
"Cie Bu Kie, sejak kau rampungkan pendidikanmu dan turun gunung untuk mencari pengalaman, selama itu aku selalu berpeluk tangan, tidak mau tahu urusanmu. Karena aku pikir, kepandaianmu sudah cukup baik dan usahamu juga sudah berhasil. Tetapi, tidak kusangka kau berani berlaku begitu gila-gilaan. dengan berani mati kau coba melawan Kakek penjinak garuda locianpwee, apakah kau sudah lupa pesan suhumu?."
Chim Kiam sianseng yang sudah mandi keringat dingin, menjawab dengan suara ketakutan.
"Tentu tidak berani, teecu selalu pegang teguh pesan tahu. tidak akan teecu lupakan untuk selama-lamanya."
"Kau berani menentang Kakek penjinak garuda locianpwe, apakah itu juga pesan suhumu?"
Chim Kiam sianseng melengak.
"Tecu bersalah, mohon pengampunan susiok!"
"Tidak perlu aku menghukum kau, lekas minta ampun kepada kakek penjinak garuda!"
Chim Kiam sianseng yang dengan secara tiba-tiba telah bertemu dengan susioknya, pikirannya sudah kalut.
Ketika mendengar perkataan ini, tanpa banyak pikir lagi lantas berlutut dihadapan kakek penjinak garuda seraya berkata.
"Atas perbuatan teecu yang kurang ajar tadi, harap locianpwee suka memberi maaf!"
"Bangun!"
Berkata kakek penjinak garuda dingin.
Chim Kiam sianseng menurut, berdiri di samping dengan sikap menghormat, sikapnya yang garang dan gagah tadi, seketika telah lenyap.
Ho Hay Hong yang menyaksikan itu, dalam hati merasa mendongkol dan geli.
"Apakah Cee Bu Kie ini murid jie-te ? Beberapa puluh tahun berselang ketika aku pergi kegunung Oey san. waktu itu ia masih seorang anak yang masih ingusan, tidak sangka kini sudah menjadi seorang dewasa yang sudah banyak kumisnya. Ho ho ho."
Berkata Kakek penjinak garuda. Ucapan itu memang benar, usia Kakek penjinak garuda sudah lebih seratus tahun, baginya Cee Bu Kie seperti cucunya.
"Bocah ini masih terlalu muda dan tidak tahu aturan, kau ampunilah dosanya kali ini, lepaskanlah dia pulang!"
Berkata orang tua wajah merah. Kakek penjinak garuda menganggukkan kepala dan berkata.
"Baik. karena samtee yang mintakan ampun, biarlah aku ampuni dosanya."
Kemudian dengan sikap keren ia berkata kepada Chim Kiam sianseng.
"Untung susiokmu ada disini, jikalau tidak, sekalipun kau mempunyai tiga nyawa, juga tidak akan luput dari kematian. Lekas pulang, selanjutnya berlaku hati-hati sedikit. Banyak gunakan otak, jangan menuruti hawa napsu!"
"Bu locianpwee, boanpwee mengucapkan banyak banyak terima kasih, dia."
Berkata Chim Kiam sianseng. Orang tua wajah merah itu agaknya sudah mengerti maksudnya, maka lantas membentak.
"Jangan banyak bicara, lekas turut perintah bawa mereka pulang!"
Chim Kiam sianseng sangat girang, buru-buru memberi hormat, lalu membawa seluruh anak buahnya, dengan terbirit-birit meninggalkan kampung setan.
Pada saat itu, dalam kampung setan itu hanya tinggal Ho Hay Hong, Kakek penjinak garuda dan lainnya.
Ho Hay Hong sedikitpun tidak merasa takut, sikapnya yang ditunjukkan pada waktu itu, benar-benar merupakan seorang kesatria tulen.
Dengan mata sinar dingin Kakek penjinak garuda mengawasinya kemudian berkata.
"Aku berikan kau dua pilihan. satu, kau. boleh memiliki pedang pusaka, tetapi kau musnahkan semua kepandaianmu. Dua, kepandaian dan kekuatanmu utuh tetapi kau harus serahkan kembali pedang pusaka itu !"
"Maaf, pedang pusaka itu sudah tidak ada dibadanku!"
Jawab Ho Hay Hong.
"Kalau begitu, kau memilih jalan yang pertama!"
"Terima !"
Acuh tak acuh.
"Kau jangan kira aku tidak tega membunuh kau. Ini sebetulnya pikiranmu yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku sudah marah, siapa saja kuperlakukan serupa."
"Aku tahu dalam keadaan marah, kau tidak kenal sanak saudara. Tetapi aku tidak perduli itu. Aku hanya ingin tahu, apa sebabnya kau selalu memaki aku anak haram?"
"Apa yang perlu kau ketahui? Kau memangnya anak haram."
Berkata sikakak gusar.
Tetapi mendadak bungkam, sikapnya yang beringas mendadak berubah murung, agaknya sedang menindas perasaan duka dalam hatinya.
Perasaan rendah diri, kembali timbul dalam hati Ho Hay Hong.
ia menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk melupakan kejadian yang memalukan itu.
"Kau tokh sudah tahu bahwa orang yang menggunakan ilmu pedang terbang itu adalah muridnya Dewi ular dari gunung Ho lan san, mengapa kau masih membunuhnya. Hm. apa maksudmu? Tolong kau jelaskan !"
"Siapa itu Dewi ular dari gunung Ho-lan san ?"
"Suhuku!", berkata Ho Hay Hong dengan hati sedih.
"mungkin, ia denganmu masih ada sangkut paut, mungkin ia adalah kekasihmu dimasa muda."
Berkata sampai disitu. air matanya mendadak mengalir keluar. Kakek penjinak garuda menghela napas berkata dengan suara parau.
"Oh, dia berada digunung Ho lan-san, ini benarbenar....."
Ketika mengetahui Ho Hay Hong mengucur air mata, wajahnya nampak sangat berduka, tetapi dengan cepat berpaling. Dengan menggunakan nada yang sangat kejam dan dingin ia berkata.
"Kau pergilah, turut perkataanku, pedang pusaka itu untuk menukar jiwamu!"
"Dengan terus terang, aku tidak sudi diganduli oleh nama busuk anak haram ini. Kau pasti tahu, lekas kau sebutkan nama ayah ku yang sebenarnya !"
Dengan tercengang Kakek penjinak garuda memandangnya, sejenak nampak ragu ragu, akhirnya berkata.
"Kau pergi tanya kepada It Jie Hui Kiam."
Sehabis berkata demikian, mendadak bangkit dan memakai topinya yang lebar, kemudian berlalu dengan tindakan lebar.
Ho Hay Hong tidak mau melepaskan kesempatan yang baik itu, dengan suara keras ia bertanya.
"Siapakah ibuku? Kau beritahukanlah sekalian!"
Bayangan kakek penjinak garuda cepat menghilang kebelakang patung. Ketika angin mendesir, terdengar suatu kata katanya yang sangat pelahan sekali.
"Kalau kau berani menanya lagi, jangan salahkan aku marah!"
Ho Hay Hong terkejut, entah sejak kapan, si Kipas besi Hok Yauw mendadak muncul dihadapan matanya.
Ia ternyata belum mati!
Ho Hay Hong terheran-heran, hampir lupa bahwa dirinya masih berada dikampung setan.
Ketika si Kipas besi Hok Yauw melihat Ho Hay Hong sebetulnya hendak menyingkir, tetapi sudah terlambat, Ho Hay Hong yang sudah melihat tegas siapa orangnya, sangat marah.
Dalam hatinya berpikir.
"pantas hanya ia seorang tidak muncul lagi, kiranya ia adalah mata-mata dari dalam."
Dalam marahnya dan teringat akan kematian jagojago itu.
ia tidak dapat kendalikan diri lagi, maka lintas menyerang dengan serentak.
Kipas besi Hok Yauw mengeluarkan seruan tertahan dan mundur terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya, jelas sudah terluka parah.
Kipas besi itu melalaikan kekuatan tenaga Ho Hay Hong, yang kini sudah jauh berbeda, kelengahannya itu harus dibayar mahal.
Orang tua muka merah Itu sangat marah, ia berkata.
"Kau diberi ampun masih berani berlaku kurang ajar, lekas pergi, jikalau tidak, aku sangat terpaksa akan turun tangan ."
Ho Hay Hong yang sudah mendapat petunjuk baru, tidak lagi anggap ringan jiwanya seperti tadi.
Dengan menekan hawa amarahnya, Ia berlalu dari kampung setan dengan tindakan lebar.
Berjalan belum lama, dari dalam rimba muncul seseorang yang mengejutkan padanya.
Ketika ia angkat muka, baru ia tahu bahwa orang itu adalah si gadis kaki telanjang.
Karena sudah tidak begitu senang dengan sepak terjangnya, Ho Hay Hong hanya menegurnya dengan suara hambar.
"Apa kau ada urusan denganku?"
"Kau sudah terkena seranganku jarum menembus air, tidak sampai malam ini barang kali sudah mulai bekerja. Mengapa tidak lekas menyerahkan pedang pusaka itu?"
Menjawab gadis kaki telanjang sambil tersenyum.
"Kalau aku tidak mau menyerahkan padamu, kau mau apa?"
"Aku akan hadiahkan lagi kau beberapa buah jarum menembus air."
"Kau boleh coba saja!"
Gadis itu karena melihat Ho Hay Hong mukanya merah padam, hatinya menjadi lemas, katanya sambil tersenyum.
"Sebagai orang beradab, kita harus pegang aturan. Aku pikir akan memberikan mujijad Liong-yan hiang sebagai gantinya pedang pusaka itu, entah bagi mana pikiranmu?"
"Liong yan hiang meskipun obat mujarab, tetapi belum menggiurkan hatiku."
"Berulangkali aku mengalah terhadapmu. Itu sematamata karena memandang muka ayah, kau jangan berlaku keterlaluan."
"Aku juga karena memandang mukamu, jikalau tidak dengan kekuatan dan kepandaianku yang ada sekarang, sedikitpun tidak takut padamu, kalau tidak boleh coba."
"Mukamu bagaimana?"
"Aku melihat kecantikanmu susah dicari bandingannya di dunia ini, maka aku merasa sayang. Sebaliknya kau anggap aku takut padamu!"
Muka gadis itu merah membara, katanya sambil menundukkan kepala.
"Kau... bolehkah jangan berkata demikian ?"
Menyaksikan sikap kemalu-maluan gadis itu, Ho Hay Hong terkejut, pikirnya.
"Tapi ia tokh baik baik saja, mengapa disinggung soal mukanya, lantas tidak bisa bicara lagi?"
Ia tidak mau meladeni lagi, dan lantas membalikkan badan, melanjutkan perjalanannya. Tetapi, gadis kaki telanjang itu mengejar Ho Hay Hong dengan cepat membalikkan, badannya dan berkata.
"Kau terus mengejar aku, jangan sesalkan kalau aku nanti berlaku tidak sopan terhadapmu!"
"Kalau kau mempunyai kepandaian, kau boleh coba melepaskan diri dari kejaranku!"
Ho Hay Hong mengeluarkan bungkusan yang didapatkan dari Yo Hong, meskipun ia tidak tahu apa aslinya, tetapi ia ingin mencobanya, bagaimana sebetulnya khasiatnya terhadap wanita?
Ia menemukan bungkusannya, ternyata hanya bubuk warna kuning.
Ia coba mengendusnya, ternyata berbau amis dan pedas, Ia semakin bingung, pikirannya mulai bimbang capaikah kiranya bubuk semacam ini untuk menundukan kaum wanita?
Ia sebetulnya tidak ingin mencelakakan diri gadis kaki telanjang itu, tetapi karena terus mengikutinya, sesungguhnya juga merepotkan.
Maka dengan mengeraskan hatinya, ia mengambil bubuknya dan disambitkan kepada gadis itu.
Bubuk warna kuning itu buyar karena tertiup angin, gadis kaki telanjang itu membuka lebar matanya dan bertanya.
"Ini barang apa? Mengapa baunya demikian pedas?"
Ia kira dipermainkan oleh Ho Hay Hong dalam mendongkolnya, lantas maju beberapa langkah dan melancarkan serangan.
Ho Hay Hong melengak, menampak keadaan gadis itu masih tetap seperti biasa, hatinya mulai merasa kecewa.
Kembali ia mengambil obat bubuknya dan disiramkan kemukanya!
Gadis itu mendadak merintih dan berjongkok.
Menyaksikan keadaan demikian, Ho Hay Hong merasa sangat menyesalkan, kepalanya ditepok sendiri menyesalkan perbuatannya yang sangat ceroboh.
Dengan pikiran tidak tenang ia mengawasi si nona.
tak lama kemudian, gadis itu mendadak bangkit dan bertanya.
"Hai, barang apakah sebetulnya itu? Kau mau beritahukan padaku atau tidak?"
Menyaksikan sikap gadis itu, hati Ho Hay Hong tergoncang, ia pikir sikap gadis itu agaknya sangat aneh. Belum lagi ia menjawab, gadis itu sudah maju menghampiri dan bertanya lagi.
"Hai, mengapa kau tidak menjawab?"
Ho Hay Hong tidak berani memandang sebab dalam waktu sekejap itu, gadis itu agaknya sudah berubah segala-galanya.
Wajahnya yang dingin, begitupun perkataannya, kini sudah tidak tampak lagi.
Matanya yang bening jail, penuh kemesraan.
nada suaranya juga sudah berubah menjadi lemah lembut, bagaikan seorang istri terhadap suaminya Terutama senyuman yang menggiurkan, segalanya kini nampak penuh gaya penarik.
Ho Hay Hong mulai percaya khasiatnya obat itu, yang betul-betul dapat menundukkan wanita yang bagaimanapun galaknya.
Tetapi ia sungguh tidak menduga, itu adalah permulaannya bahaya !
Ia kini benar-benar merasa menyesal atas perbuatannya, dengan menanggung perasaan tidak senang, ia mencoba lari untuk meninggalkan gadis itu.
Ia coba menoleh, gadis itu ternyata terus mengikutinya dengan diam-diam.
Dua orang terpisah sejarak sepuluh tombak lebih.
Ketika tiba di sebuah kota buru baru mencari rumah makan.
Dengan pikiran tidak tenang Ia minta disediakan arak dan makanan, disatu sudut yang agak sepi ia duduk dan makan sambil menundukkan kepala.
Dengan tiba-tiba hidungnya telah mengendus bau harum, ia seperti sudah mendapat firasat tidak baik.
ketika mengangkat muka, benar saja dihadapannya berdiri gadis kaki telanjang.
Ketika melihat paras sigadis yang ramah senyuman yang menggiurkan, ia tidak ingin melepaskan diri lagi.
Kecantikan gadis itu bagaikan magnit menarik perasaannya.
Jiwanya yang kering kini mulai segar.
Ia mulai memikirkan untuk mencari kebahagian hidup.
Tetapi semuanya ini agaknya sulit tercapai, karena ia tidak mempunyai ayah ibu dan rumah tinggal.
Dibawah sinar lampu, kecantikan gadis kaki telanjang itu semakin menarik, Ho Hay Hong coba menindas hatinya yang tergoncang hebat, menarik sebuah kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk.
Dengan tidak malu-malu gadis itu duduk dihadapannya.
matanya memandang Ho Hay Hong, sehingga membuat anak muda itu merasa likat dan jengah.
Ia tidak mempunyai pengalaman bergaul dengan wanita, terutama wanita cantik.
Inilah untuk pertama kalinya dalam hidupnya mengadakan hubungan demikian erat terhadap wanita muda, maka meskipun dalam pikirannya banyak kata-kata ingin dikeluarkan, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulut.
Ia coba menabahkan hatinya, dengan suara terputusputus ia berkata.
"Terhadap urusan tadi, aku merasa sangat menyesal. Perbuatanku tadi sebetulnya tidak disengaja, kiranya kau juga bisa memaafkan."
Gadis itu hanya tersenyum saja sambil menutupi mulutnya, kemudian menundukkan kepala.
Ho Hay Hong lantas bingung sendiri, karena gadis itu tetap diam saja.
sehingga ia kehilangan keberanian untuk bicara lagi.
Araknya diminumnya berulang-ulang untuk menutupi rasa kikuknya.
Minum baru beberapa cawan, perutnya tiba-tiba merasa sakit.
Ia terkejut dan bertanyatanya kepada diri sendiri, apakah yang telah terjadi ?
Ia tidak menemukan jawabannya, sedang rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi, ia bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi perutnya, mendadak kakinya terasa lemas, ia tidak sanggup berdiri lagi, dengan badan sempoyongan ia rubuh kedepan, justru jatuh ketempat gadis kaki telanjang itu duduk, tidak ampun lagi lengannya lantas memeluk tubuh si nona.
"Kau kenapa?"
Tanya si nona dengan mata terbuka lebar mengawasi padanya. Ho Hay Hong tidak berani balas memandang, buruburu menundukkan kepala, dengan napas memburu ia menjawab.
"Mungkin, jarum menembus air itu racunnya sudah bekerja."
Sikap gadis itu menunjukan perasaan sangat menyesal, ia segera mengeluarkan obat Liong yan biang dari dalam sakunya, kemudian minta disediakan air kepada pelayan dan suruh Ho Hay Hong minum.
Kekuatan racun jarum menembus air itu hebat sekali, begitu menjalar meskipun sudah minum obat pemunahnya, juga tidak dapat disembuhkan dengan segera.
Tubuh Ho Hay Hong gemetaran, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya.
Gadis itu mengeluarkan sapu tangan, dengan pelahan menghapus keringat yang membasahi jidatnya, dengan suara lemah lembut ia menanya.
"Kau sudah merasa baikan atau tidak?"
Kelakuannya itu lemah lembut dan sangat terbuka dalam waktu sangat singkat, perasaan marah Ho Hay Hong sudah lenyap, bagaikan asap tertiup angin.
Kejadian itu segera menarik perhatian semua tamu dalam rumah makan itu.
Ho Hay Hong khawatir perbuatan itu menimbulkan suara tidak baik baginya, lalu berkata kepada si gadis kaki telanjang dengan suara sangat perlahan.
"Aku akan beristirahat sebentar, pasti bisa baik kau pulanglah, jangan khawatir....memang pedang pusakamu aku sudah mengambil keputusan ....setelah penyakitku sembuh aku nanti akan datang ke kampung setan untuk kembalikan pedang pusakamu ... ."
Dengan susah payah ia bicara demikian, banyak minta gadis itu pulang dulu, sehabis berkata, hampir sudah tidak bertenaga lagi.
Ia berusaha hendak bangkit, tetapi kakinya terasa berat, selangkahpun tidak bisa menindak.
Kini ia baru tahu benar bahwa jarum penembus air itu luar biasa ganasnya, jadi apa yang diucapkan oleh gadis kaki telanjang itu semuanya betul.
"Begitupun baik, mencari sesuatu tempat untuk beristirahat sebentar, mungkin kau tidak begini menderita."
Berkata si gadis, kemudian memberikan uang kepada pelayan rumah makan lain membimbing Ho Hay Hong berlalu.
Ia bawa Ho Hay Hong kesuatu rumah penginapan yang agak sepi, setiba dikamar, hendak membantu membuka pakaian luarnya.
Ho Hay Hong dengan muka merah berkata.
"Tidak usah, aku bisa mengurus diriku sendiri, kau pulanglah!"
Gadis itu hanya menggelengkan kepala, tidak menyahut.
Dalam kamar rumah penginapan yang tidak luas di bawah sinar lampu pelita yang kurang terang Ho Hay Hong coba memandang keadaan si nona.
Ia lihat gadis itu duduk di pinggir pembaringan dengan sikap tenang, matanya ditujukan keluar jendela, agaknya sedang berpikir keras.
Tetapi bibirnya yang kecil mungil, sebaliknya tersungging senyuman yang menawan hati.
Setelah mendapat sedikit waktu untuk beristirahat, rasa sakit dalam perut Ho Hay Hong pelahan-lahan mulai hilang.
Maka ia lalu menanya.
"Nona, kau sedang memikirkan apa?"
Ketika daging mereka bersentuhan, Suatu perasaan aneh timbul dalam ot ak Ho Hay Hong, perasaan itu bagaikan strum listrik dengan cepat menjalar keseluruh tubuhnya, hingga sesaat itu jantungnya berdebar keras, wajahnya merah.
Gadis itu menghela napas, lama baru berkata.
"Kalau aku tahu lebih dulu, aku tidak akan menggunakan jarum tembus air untuk menyerang kau. Aku tahu kau adalah seorang jujur. pasti bisa mengembalikan pedangku."
Dari sikap gadis itu. jelas menunjukkan perasaan menyesal. Ho Hay Hong merasa berat untuk melepaskan gadis itu, ia coba alihkan pembicaraannya kelain soal.
"Dari sudut mana, kau mengetahui aku seorang jujur?"
Mendengar pertanyaan itu, gadis itu nampak terkejut.
"Apa artinya pertanyaanmu ini?"
"Aku ingin mengetahui pandanganmu terhadap diriku sebetulnya, aku bukan seorang jujur."
Gadis itu tersenyum lembut.
"Itu adalah perkataanmu yang merendahkan diri!"
Ho Hay Hong melihat ketika gadis itu tertawa, sujennya dikedua pipinya dalam sekali, hatinya tergoncang semakin keras.
"Kau pasti mempunyai banyak kawan lelaki!"
Begitu ucapan keluar diri mulutnya, mendadak ia merasa menyesal. Tetapi ia sudah tidak keburu menarik kembali.
"Apa pula maksud pertanyaanmu ini?"
Demikian gadis itu bertanya. Sesaat itu Ho Hay Hong gelagapan, terpaksa menjawab sekenanya.
"Aku....tidak ada maksud apa-apa!"
Tapi ia sangat menyesal, tidak seharusnya berlaku begitu berani, sehingga menimbulkan perasaan tidak senang si nona. Untung gadis itu tidak marah, hingga ia baru merasa lega.
"Sakitmu sudah sembuh, aku juga merasa lega. Harap pegang janjimu, besok kau bawa pedang pusaka dan kembalikan padaku. Sampai berjumpa lagi."
Berkata gadis kaki telanjang, kemudian perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
Tetapi langkahnya memberikan kesan kepada Ho Hay Hong bahwa gadis itu agak berat meninggalkan dirinya, maka seketika itu pikirannya bergolak lagi tak disadarinya, mulutnya mengeluarkan kata.
"Jangan kesusu pergi, aku masih punya banyak cerita yang hendak kubicarakan denganmu !"
Gadis itu berpaling dan memandangnya sejenak dengan penuh tanda tanya, tetapi kakinya tidak bergerak. Ho Hay Hong merasa agak kecewa, ia coba bangun dan berkata lagi.
"Duduklah disini. sudikah kau?"
Gadis itu tersenyum, tenang lantas menghampiri dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Kau masih ada urusan apa lagi?"
Ho Hay Hong sengaja mengerutkan keningnya, kemudian baru berkata.
"Kau pasti mengetahui nama ayah dan ibuku, harap kau pandang muka sesama orang Kang ouw, beritahukanlah pada ku."
Ia sebetulnya hendak menggunakan kesempatan itu untuk menahan gadis itu, supaya jangan berlalu buruburu, tetapi baru berkata sampai disitu, hatinya mendadak merasa pilu airmata mengalir keluar.
Gadis itu menatap wajah Ho Hay Hong yang cukup tampan, kesedihan Ho Hay Hong membuatnya turut merasa sedih.
"Tentang itu It Jie Hui-Kiam tahu lebih jelas, kau boleh perlihatkan tanda rajah burung garuda dilenganmu, kemudian menanyakan jejak ayah bundamu, Ia pasti akan memberitahukan padamu. Hal ini sebetulnya tidak boleh kuceritakan padamu, tetapi karena melihat kau Sudah cukup banyak aku beritahukan padamu, kau jangan menanya lagi!"
"Mungkin dalam hidupku ini, sudah tidak ada kesempatan untuk melihat ayah bundaku lagi. Aih, dengan terus terang, beberapa hari lagi, aku terpaksa akan meninggalkan daerah Tionggoan."
Berkata Ho Hay Hong dengan nada suara sedih. Mendengar perkataan itu, gadis kaki telanjang itu mendadak menunjukkan perhatiannya yang serius, Ia bertanya.
"Kau hendak kemana ?"
"Ho lan san! Sejak kanak-kanak aku di besarkan digunung Ho lan san. aku berada didaerah Tiong goan ini hanya baru pada beberapa hari berselang. Aih, aku sungguh tidak menduga bahwa tempat yang meninggalkan kesan sangat dalam bagiku ini, terpaksa akan kutinggalkan untuk selama-lamanya !"
"Ow. Kau melakukan perjalanan begitu jauh, apakah tidak letih? Aku selalu anggap kau seorang pendiam yang sangat, tak disangka demikian suka bergerak !"
"Tidak, aku lakukan itu karena terpaksa! Aku juga tidak suka penghidupan mengembara seperti ini, tetapi...."
Ia diam, tidak melanjutkan.
Karena rahasia dalam perguruannya sekali tidak boleh diberitahukan kepada orang lain.
Maka ia tertawa getir, pelan-pelan rebahkan diri kepembaringan.
Dengan dua tangannya ia gunakan untuk menunjang kepala, matanya memandang atas.
Sikap demikian mudah menimbulkan rasa simpatik kaum wanita, terutama selagi pengaruh obat sedang berjalan dalam tubuh gadis remaja seperti gadis kaki telanjang itu.
Pelan-pelan gadis itu kehilangan sifat yang semula.
Ia memang memiliki sifat rangkap, kalau dingin, orang tidak berani mengajak bicara dengannya.
Tetapi kalau lincah, penuh daya penarik dari keremajaannya, penuh gairah.
Dan pada saat itu, sikapnya yang dingin dan agak sombong, agaknya sudah tersapu bersih oleh pengaruhnya obat, Bagi perempuan lain, mungkin perasaannya sudah kalut, tetapi ia dapat bertahan lama, berkat kekuatan tenaga dalamnya yang sudah cukup sempurna.
Ia hanya merasa heran, mengapa napsu birahinya mendadak berkobar.
Ho Hay Hong yang kini berada di hadapan matanya nampak semakin menyenangkan.
Tetapi ia tidak mengerti itu apa sebabnya.
"Tak kusangka kalau kau terpaksa. Ow. orang yang memaksa kau melakukan perjalanan demikian jauh itu tentunya seorang yang sangat lihay sekali !"
Ho Hay Hong diam saja, sementara dalam hatinya berpikir.
"bagaimana aku harus menjelaskan? Orang itu adalah suhuku sendiri, kalau kuberitahukan bukankah akan membuat tertawaannya ?"
Ketika ia memandang si gadis, tampak olehnya sikap gadis itu yang sedang memperhatikan dirinya, pandangan matanya yang menggairahkan, sulit bagi hati seorang muda untuk tidak sampai runtuh !
Begitupun keadaan Ho Hay Hong pada waktu itu.
ia tak tahan godaan hatinya, tak sanggup menekan perasaannya.
"Tidak lama lagi, aku sudah tidak ada waktu untuk bertemu denganmu lagi! Aku harus pulang ketempat kediamanku, diatas gunung Ho lan san, yang set iap tahun diliputi oleh salju."
Berkata sampai disitu, hatinya merasa pilu, suaranya juga berubah parau.
"Aku merasa sangat berat meninggalkan tanah Tiong goan yang indah permai ini, terutama dengan orangorang dan sahabat-sahabat yang kujumpai. Sikapnya yang ramah tamah, membuatku tidak bisa melupakan untuk selama-lamanya. Sayang, keadaan demikian itu tidak bisa berlangsung lama. Dengan penuh perhatian ia memandang si nona, tampak gadis itu sedang mendengarkan dengan asyiknya. Sinar rembulan menerangi pekarangan dalam rumah penginapan itu, malam itu indah tapi sunyi.
"Kita telah berjumpa. Ini berarti jodoh. Sebab kalau tidak ada jodoh, tentu tidak bisa saling bertemu. Dari gunung Ho-lan san yang letaknya demikian jauh, aku datang ke mari meskipun membawa tugas berat, tetapi peruntunganku cukup baik, aku merasa senang terhadap orang-orang dan pemandangan di daerah Tionggoan. Keadaan di kediamanku kalau waktu musim semi tiba juga sangat indah, tetapi masih tidak dapat dibandingkan dengan keindahan disini"
Berkata Ho Hay Hong. Sejenak ia berhenti, matanya diam-diam melirik kearah sinona Nampak gadis itu masih mendengarkan dengan rasa puas, lalu melanjutkan ucapannya lagi.
"Apa yang kurasakan sangat berat, ialah disini aku telah berjumpa dengan seorang wanita cantik. Di tempat kediamanku hampir selalu diliputi oleh salju, jarang dikunjungi oleh manusia. Walaupun aku kadang-kadang juga bisa jalan-jalan ketempat yang berdekatan, tetapi penduduknya kebanyakan bangsa kasar, mana bisa dibandingkan dengan penduduk disini!"
"Kau bertemu dengan siapa?"
Menyaksikan gadis Itu menunjukkan sikap menunggu, Ho Hay Hong lantas menjawab nakal.
"Jauh diujung langit, dekat didepan mata."
Ia takut gadis itu marah, maka sehabis berkata demikian, lantas menundukkan kepala, sedapat mungkin menghindarkan bentrokan mata dengan sinona.
Diluar dugaannya, gadis itu bukan saja tidak marah, bahkan tertawa geli.
"Bohong, aku tidak percaya!"
Sejak Ho Hay Hong kenal padanya, yang dilihatnya hanya sikap yang dingin ketus dan agung, belum pernah melihat demikian lemah lembut dan mesra. Maka diamdiam Ho Hay Hong merasa kaget.
"Apa yang kukatakan adalah sebenar-benarnya, nona adalah satu-satunya wanita paling cant ik yang pernah kujumpai, sejak aku menjadi dewasa."
Gadis itu ketika mendengar kata-kata yang penuh pujian dan rayuan itu, mukanya lantas merah dan buruburu menundukkan kepala.
Sikap demikian didalam pandangan mata Ho Hay Hong benar-benar sangat menarik, ditambah lagi dengan pemandangan alam di luar yang indah permai, memang mudah menimbulkan pikiran yang bukan-bukan.
Ia segera ingat ucapan Yo Hong.
"obat ini mempunyai khasiat untuk menundukkan wanita yang betapapun galaknya, kau tidak percaya tunggu saja hasilnya!"
Diam-diam ia berpikir.
Apakah ini yang dimaksudkan dengan perkataan "menundukkan", itu?
Apakah benar aku sudah berhasil menundukkan dia?
Ia diam-diam terkejut, tetapi juga merasa girang.
Ia tidak dapat menguasai diri sendiri lagi, tangannya tidak tinggal diam, ditariknya tangan gadis itu dan digenggamnya erat.
Seketika itu sekujur badannya seperti terkena strum listrik, napsu birahinya berkobar.
Melihat gadis itu tidak meronta, ia semakin berani.
Gadis yang dingin angkuh itu, kini telah berubah menjadi jinak, membiarkan dirinya dipeluk.
Tak lama kemudian, dari sela-sela matanya keluar tetesan air mata.
Gadis yang dingin dan ketus ini, entah apa sebenarnya mendadak berubah demikian lemah dan menurut!
Selagi dua makhluk itu tenggelam dalam kemesraan, hampir saja lupa daratan, diluar jendela tiba-tiba terdengar suara goresan kuku.
Suara itu cukup nyata, sudah pasti perbuatan orang Kangouw yang mencari keterangan dengan menggunakan kukunya yang panjang.
Karena kedua muda-mudi itu sama-sama memiliki kekuatan tenaga dalam sudah sempurna, suara itu sudah tentu tidak bisa lolos dari telinga mereka.
Dengan cepat mereka memisahkan diri, gadis kaki telanjang itu nampak kemalu-maluan, rasanya ing in sembunyi saja.
Ia memandang Ho Hay Hong dengan sinar mata yang mengandung pertanyaan tanpa berkata apa-apa lantas lompat keluar melalui jendela.
Di bawah sinar rembulan, tampak olehnya dua sosok bayangan orang berdiri diatas tembok pekarangan, satu diantaranya bertanya kepada gadis itu.
"Apakah kau Ho Hay Hong sutee?"
Ho Hay Hong yang sementara itu baru hendak melompat keluar, untuk melihat apa yang telah terjadi ketika mendengar suara itu diam-diam terkejut. Pikirnya.
"mengapa toa suheng mengetahui aku berada disini? Ada urusan apa ia mencari aku?"
Sementara itu, ia telah mendengar suara jawaban sigadis dengan nada suara dingin.
"Ada urusan apa kalian berdua mencari aku?"
Dari jawaban nona itu, Ho Hay Hong segera mengetahui bahwa orang yang mencari padanya itu ada dua orang. Keringat dingin keluar seketika, pikirnya.
"celaka mungkin toa-suheng dan sam suheng yang datang mencari aku."
Kini ia dengar suara toa suhengnya yang berkata.
"Jangan banyak tanya kalau kau kenal dia, lekas suruh dia keluar!"
Ho Hay Hong diam-diam sembunyikan diri dibelakang jendela, hanya kepalanya melongok keluar.
Tampak olehnya tangan toa suhengnya menenteng sebuah kotak kayu, ia segera mengerti apa sebabnya toa suhengnya mencari dia.
Ternyata ia sudah menemukan batok kepala jie suheng, tetapi apa yang masih belum dimengerti adalah, bagaimana toa-suhengnya bisa menuduh kejadian itu kepadanya.
Dalam hal ini pasti ada sebabnya.
Untuk menjelaskan duduk perkaranya, ia lantas lompat keluar dan bertanya.
"Toa suhengkah yang datang?"
Toa suhengnya hanya memandang sebentar dengan mata dingin, kemudian berkata.
"Ho sutee, bagus sekali perbuatanmu!"
Gadis kaki telanjang itu lantas berkata dengan nada suara dingin.
"Kepala orang dalam kotak itu masih pernah apa denganmu?"
Sam suheng kini yang menjawab.
"Kau ini siapa? Boleh katakan jangan campur mulut?"
Ho Hay Hong diam-diam merasa khawatir, karena adat perempuan itu keras.
Ucapan yang sombong itu, pasti akan menimbulkan kemarahannya.
Ketika matanya melirik kepadanya, benar saja.
gadis itu mukanya merah padam, alisnya berdiri, agaknya sudah akan menggunakan kekerasan.
Ia buru-buru maju menghampiri dan menghadang dihadapannya seraya berkata.
"Mereka berdua adalah suhengku, harap kau sabar sedikit!"
Gadis itu mengeluarkan suara dihidung, kemudian berkata.
"Dengan memandang mukamu, untuk sementara aku boleh berlaku sabar. Tetapi kalau ia mengeluarkan perkataan tidak keruan lagi, jangan sesalkan kalau aku akan segera bertindak."
"Sudah tentu!"
Jawab Ho Hay Hong sambil tertawa masam. Ia lalu bertanya kepada Toa suhengnya.
"Aku sesungguhnya tidak mengerti dengan ucapanmu tadi, bolehkah suheng memberi keterangan yang lebih jelas?"
"Ho sutee. kau juga tidak perlu menyangkal, aku sungguh tidak menduga kau ternyata begitu berani!"
Berkata toa suhengnya.
"Harap toa suheng terangkan duduknya perkara, siaotee sesungguhnya tidak tahu."
"Kau berani menyangkal bahwa ji sutee bukan binasa ditanganmu ?"
"Toa suheng, ketahuilah olehmu, betapa pun besar nyali siaote, juga tidak berani membunuh ji suheng!"
"Kau berani menyangkal, bahwa kepala ji suheng bukan kau yang mengubur?"
"Tentang ini siaute akui, tetapi kematian ji-suheng sedikitpun tidak ada hubungannya dengan siaotee!"
"Tidak ada hubungan? Hm! Aku tahu benar bahwa kau memang sangat tidak puas terhadap kita bertiga, sebab perhubungan kita selama itu memang sudah tidak rukun. Tetapi tidak kuduga begitu kau keluar dari pintu perguruan, lantas melakukan perbuatan yang melebihi binatang."
"Aku selalu pandang suheng seperti saudara kandung sendiri, toa suheng jangan terlalu memfitnah siaotee!"
Pada saat itu, pikirannya terlalu kalut.
Ia tahu benar bahwa ji suhengnya mati di dalam kampung setan, tetapi untuk menjaga nama baik gadis kaki telanjang itu, ia tidak mau memberitahukan secara terus terang.
Sam-suhengnya berkata sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu, jadi toa suheng yang salah, toa suheng memfitnah orang baik?"
Suara tertawanya itu sangat menusuk telinga. Sam suhengnya itu agaknya benci sekali kepadanya, hingga kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya untuk memfitnah Ho Hay Hong.
"Sutee mana berani berbuat begitu, harap suheng menyelidiki du lu duduknya perkara yang sebenarnya!"
Berkata Ho Hay Hong.
"Bukt i sudah cukup nyata, Ho sutee, jangan banyak bicara, besok pagi kau harus meninggalkan daerah Tionggoan, lekas pulang menghadap suhu, biarlah suhu yang memberi keputusan.."
Berkata toa suhengnya.
"Toa suheng, janganlah sampai kena diadu domba oleh musuh ?"
Berkata Ho Hay Hong.
"Aku tokh bukan anak kecil, bagaimana bisa tertipu!"
Berkata toa suheng sambil tertawa dingin.
"sebaliknya adalah kau, Ho sutee yang pintar sekali, setelah membunuh orangnya, kau hendak menghilangkan buktinya dan memindahkan kesalahanmu kepada orang lain heh heh."
"Baiklah, aku akan pulang, biar suhu yang mengadakan penyelidikan dalam soal ini!"
Berkata Ho Hay Hong tegas. Matanya memandang gadis kaki telanjang itu menundukkan kepala tidak berkata apa-apa, agaknya sedang memikirkan apa-apa. Sabentar kemudian, mendadak ia membuka mulut.
"Kalian tidak perlu ribut-ribut, orang dalam kotak ini, akulah yang membunuh!"
Tetapi, ketika mata gadis itu ditujukan kepada dua orang tadi, ternyata sudah pergi. Ho Hay Hong memandang gadis itu dengan penuh cinta kasih, katanya.
"Aku pasti kembali...."
Berkata sampai disitu, perasaan sedih karena harus meninggalkan gadis itu mendadak timbul, hingga tenggorokkannya seperti tersumbat, tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.
Gadis kaki telanjang, itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga, lantas berlalu menuju kekampung setan.
Ho Hay Hong tidak mencegah, ia hanya menggumam sendiri.
"Pergilah tidak perduli ada rintangan apa saja, aku pasti kembali!" -ooo0dw0ooo-Ho lan-san yang diliputi oleh daun daun cemara tua dan salju, waktu itu sedang menginjak musim dingin hingga keadaannya nampak semakin sepi sunyi dan angker. Ditengah-tengah antara lembah Cian wan kok dan Siang tang kok, terdapat sebuah bangunan yang megah bagaikan istana. Tapi dikatakan istana, bukan istana, karena tiang tiang dan pengelarinya tidak mempunyai ukir-ukiran naga dan burung hong. Tetapi dikatakan bangunan penduduk biasa juga kurang tepat, karena terlalu megah! Bangunan megah yang berdiri ditengah tengah gunung salju itu, benar-benar penuh misteri. Ditempat itu tidak terdapat binatang-binatang buas atau burung terbang, juga jarang diinjak oleh kaki manusia, hingga set iap hari sepi sunyi. Sebelah kiri bangunan kecuali batang pohon bunga Bwee, hampir tidak tertampak pohon segar yang lain. Ho Hay Hong dengan keadaan letih, sehabis melakukan perjalanan jauh, berlutut di hadapan meja sembahyang, samping kiri meja sembahyang terdapat kursi kebesaran yang dihias dengan kulit harimau. Diatas kursi itu duduk seorang wanita pertengahan umur berusia kira-kira empat puluh tahun, parasnya masih cant ik, namun terlalu dingin, jarang unjukkan senyumnya. Rambutnya panjang sekali, juga masih hitam jengat. Disamping kiri wanita cantik itu, berdiri dua pemuda tampan dan gagah, dibibirnya saban-saban menunjukan senyum menyendiri. Ho Hay Hong dengan sikapnya yang sangat hormat sembayang dua kali, kemudian berkata.
"Tuhan Yang Maha Besar, aku Ho Hay Hong bersumpah selalu mematuhi pelajaran suhu, kalau dalam pengakuanku ini, ada sedikit saja yang kusembunyikan atau bohong, aku bersedia menerima hukuman yang paling berat."
Wanita cantik itu tetap duduk tidak bergerak, setelah mendengar Ho Hay Hong mengucapkan sumpahnya lalu berkata.
"Katamu, gadis berbaju putih itu sering bentrok dengan kau mengapa dua suhengmu ketika pergi mencari kau, telah menemukan kau sedang bercumbucumbuan dengan gadis itu."
Kata-katanya itu meskipun diucapkan dengan tenang, tetapi sangat berwibawa, sehingga yang mendengarkan merasa jeri.
"Teecu bukannya sedang bercumbu-cumbuan dengannya, hanya karena adanya yang terlalu keras dan tidak mudah ditundukkan, terpaksa menggunakan obat bubuk, yang teecu beli dari seorang Kang ouw bernama Yo Hong, untuk mencobanya betul dapat menundukkan atau tidak?"
Berkata Ho Hay Hong.
"Benarkah Kakek penjinak garuda dan susioknya Chim Kiam sianseng sembunyikan diri di Kampung setan? Apakah kau tidak salah?"
"Teecu menggunakan seekor burung garuda raksasa yang dikurung oleh Cie lui Kiam khek sebagai penunjuk jalan, akhirnya burung raksasa itu terbang langsung kekampung setan dan hinggap di bahu Kakek penjinak garuda, teecu pikir sedikitpun tidak salah."
"Waktu Hay Tao terbunuh, kau berada dimana?"
"ini."
Ho Hay Hong berpikir sejenak.
"malam itu, teecu sedang bertengkar dengan Lam kiang Tay-hong, disuatu tempat yang letaknya terpisah beberapa puluh pal dengan kampung setan, maka teecu tidak tahu keadaan matinya ji-suheng."
"Mengapa dengan lancang kau menguburnya?"
"Teecu tidak tega melihat keadaannya yang menyedihkan, juga takut jika kepalanya terlantar, maka tecu kubur bersama-sama kepalanya Pelajar berpenyakitan. Toa suheng. mengatakan teecu sengaja hendak menyembunyikan rahasia, semua itu tidak benar?"
Dengan sinar matanya yang tajam, wanita cantik itu menatap wajah Ho Hay Hong.
"Aku tahu sifatmu memang baik, tidak sampai kau berani melakukan pembunuhan terhadap sesama saudara dalam seperguruan. Tetapi, belum cukup satu bulan kau pergi mengembara, kekuatan tenaga dalammu sudah mendapat kemajuan demikian pesat, hal ini jauh daripada semestinya, itu, apa sebabnya?"
Ho Hay Hong diam diam terkejut, ia pikir.
"suhu ini benar-benar lihay. Tetapi aku tidak boleh memberitahukan tentang sikakek penjinak garuda yang memberi kekuatan tenaga itu, karena hal itu mungkin akan memperdalam rasa bencinya terhadap kakek itu. Bahkan mungkin akan memaki aku."
Oleh karena berpikir demikian, ia tidak berani mengaku terus terang dan terpaksa membohong.
"Obat mujijat gadis baju putih yang dinamakan Liong yan hiang itu, kecuali bisa menyembuhkan penyakit dan memunahkan racun, juga bisa menambah kekuatan tenaga. Teecu yang mendapat beberapa butir darinya dengan tak disangka sangka, kekuatan tenaga teecu menjadi bertambah."
Wanita cantik itu menganggukkan kepala dan berkata.
"Benar. Liong yan hiang memang mempunyai khasiat luar biasa !"
Setelah berkata demikian, ia menajamkan mata, katanya pula singkat.
"Kau mundur, panggil Tin Song maju!"
Ho Hay Hong girang, buru buru bangkit dan berdiri di samping. Ia berkata kepada toa suhengnya dengan suara pelahan.
"Suhu hendak menanya suheng"
Tin Seng dengan sikap menghormat berlutut dihadapan meja sembahyang dan berkata.
"Teecu bersedia menerima pertanyaan?"
Sang suhu Dewi dari Ho lan-san mengeluarkan suara dari hidung, kemudian bertanya.
"Tugas yang kuberikan padamu, sudah selesai atau belum? Empat tukang menangis dari daerah See cee, kau sudah bereskan atau belum? Di mana kepala mereka sekarang? Mengapa kau tidak, bawa pulang sekalian?" -ooo0d-w0ooo-Bersambung
Jilid 13 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 13
"TEECU merasa berdosa, tidak dapat menyelesaikan tugas yang suhu berikan dengan baik. Teecu sudah mencari kesegala pelosok, tetapi tidak menemukan jejak mereka. Dan karena urusan Ho-sutee, terpaksa pulang lebih dulu, harap suhu memberi keampunan atas dosa teecu kali ini!"
Menjawab Tan Song.
"Ah."
Sang suhu berdiri, katanya dengan suara bengis.
"Apa? Tugasmu masih belum selesai? Apakah aku perintahkan kau turun gunung hanya untuk pergi pesiar atau main-main?"
Mendengar perkataan itu sam suhengnya yang berdiri disisi Ho Hay Hong wajahnya pucat seketika, senyum sinisnya yang tadi telah lenyap semua.
Mata suhunya yang tajam kini ditujukan kepadanya, tanpa disadarinya sam suhengnya itu lantas berlutut, untuk mendengar pertanyaan suhunya yang bernada bengis.
"Dan kau? Apa sama juga dengan Tan Song."
Tubuh sam suhengnya gemetaran, tidak dapat menjawab. Sang suhu yang menyaksikan keadaan demikian nampaknya sangat gusar. ia berkata.
"Baik, tugas yang suhu kalian perintahkan kalian sedikitpun tidak pandang mata. Hari ini suhumu akan menjatuhkan hukuman kepada kamu berdua"
Sehabis berkata demikian, wanita cantik itu bangkit dari tempat duduknya, tangannya menyambar sebilah pedang pendek, dilemparkan kepada mereka seraya berkata.
"Dosa melanggar perintah suhu, tidak boleh dipandang ringan. Kamu berdua kerjakan sendiri, suhumu enggan turun tangan."
Toa suheng Tan Sang dengan sinar matanya yang kejam menatap wajah Ho Hay Hong. berlutut ditanah dan berkata kepada suhunya dengan suara gemetar.
"Suhu, teecu sebetulnya karena menganggap urusan Ho sutee sangat penting, maka terpaksa pulang lebih dulu.!"
Sang suhu pelahan-lahan rebah di kursi nya, memejamkan mata, t idak menghiraukan sedikitpun juga keterangan dua muridnya.
Toa suheng dalam keadaan tidak berdaya, terpaksa mengambil pedang pendek ditanah, hendak membacok lengan tangannya sendiri!
Tetapi sesaat kemudian, ia agaknya tidak berani menanggung penderitaan hebat itu, sebelum pedang menyentuh dagingnya, dengan cepat ditariknya kembali dan berdiri bingung.
Sam suheng juga tampak tegang, keringat dingin sudah membasahi badannya, jelas seperti juga dengan toa suhengnya, tidak sanggup menahan penderitaan hebat itu.
Tan Song terpaksa memohon kepada suhunya lagi.
"Suhu, ampunilah dosa teecu kali ini!"
Dewi ular dari Ho lan-san membuka dua matanya, katanya dengan suara gusar.
"Apa kau masih belum membereskan urusanmu sendiri ?"
Tan Song mendadak lompat, dengan mata beringas berkata.
"Tidak, tidak, ini tidak aturan. Mengapa Ho sutee dibiarkan enak-enakan, tanpa mendapat hukuman, sedangkan dia adalah orang yang membunuh ji-sutee ?"
Seperti orang gila ia berteriak-teriak, hingga membuat suhunya tercengang.
Ia sungguh tidak sangka bahwa Tan Song bernyali demikian besar, berani menentang putusannya.
Maka ia lantas marah dan berkata.
"Berlutut, siapa suruh kau berdiri?"
Tan Song menyahut dengan suara keras.
"Aku tahu, Ho Hay Hong sebetulnya memang anakmu, sudah tentu kau selalu membela dirinya!"
Mendengar perkataan itu wajah suhunya berubah seketika, katanya dengan suara bengis.
"Murid durhaka, lekas bereskan dirimu sendiri, supaya aku tidak perlu turun tangan!"
Tan Song tiba tiba berkata kepada sam-suteenya.
"Sam sutee, urusan sudah menjadi begini kita masih pikirkan apa lagi? Bagaimanapun juga kalau kita tokh memang mati. mengapa tidak berani mengadu jiwa dengannya?"
Setelah berkata demikian, mendadak menyambitkan pedang di tangannya kepada suhunya.
Selain daripada itu, orangnya sudah lompat, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, menyerbu dan menyerang suhunya.
Sam-suheng berkata dengan suara parau.
"Suhu, adatmu yang terlalu keras, kita semua sudah cukup merasakan. Ini adalah ketidak bijaksanaanmu, bukan salah kita."
Hampir bersamaan pada waktu itu dengan menghunus pedangnya, dengan beruntun tiga kali menyerang suhunya.
Dua pihak terpisah tidak ada satu tombak, dan dua murid itu bergerak dengan berbareng.
Betapapun tinggi kepandaian Dewi Ular, juga tidak sanggup menangkis.
Dalam gusarnya, ia menggunakan lengan jubahnya, berulang-ulang menangkis serangan dua muridnya sambil mundur.
Pedang murid kepalanya yang disambitkan kearahnya dapat disampok jatuh oleh ilmunya Hut sin Khie kang tetapi Ia terpukul mundur dua langkah oleh serangan tangan yang hebat.
Serangan pedang muridnya yang ketiga, yang dilancarkan dengan bertubi-tubi, meskipun tidak mengenakan sasarannya, tetapi sudah membuat kursi duduknya hancur berkeping-keping.
Murid ketiga itu tahu benar kekuatan dan kepandaian suhunya, kalau tidak diserang secara bertubi-tubi, nanti kalau sang suhu mendapat kesempatan, mereka berdua pasti akan binasa ditangannya.
Maka, ketika serangan yang pertama tidak berhasil, serangan selanjutnya menyusul dengan gencar dan ganas !
Dewi Ular serangan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, untuk menangkis serangan pedang muridnya yang ketiga, tetapi ia melalaikan serangan telunjuk jari murid kepalanya, yang dilancarkan dengan satu muslihat yang sangat licik Serangan telunjuk dari tangan Tan Song mengenakan bahu kiri suhunya, kemudian di teruskan kebagian perut.
Dengan mendadak wajah Dewi Ular berubah mulutnya menyemburkan darah dan jatuh rubuh ditanah.
Sungguh tidak diduga-duga, serangan Tan Song mengenakan dengan tepat bagian dari kie Hiat yang letaknya dekat pusar.
Karena jalan darah ini merupakan salah satu jalan darah terpenting dalam anggota badan manusia, begitu terkena serangan, seluruh kekuatan tenaga murni akan lenyap semua, Dewi Ular yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam sangat sempurna, kini juga sudah tidak berdaya.
Tan Song tidak menduga dengan demikian mudah dapat merubuhkan suhunya, hingga diam-diam merasa girang, Ia tidak berani berlaku ayal, dengan mengeluarkan suara bentakan keras, lima jari tangannya dipentang hendak menyambar batok kepala suhunya.
Kalau serangannya itu berhasil, sekalipun ada obat yang manjur sekali, juga tidak dapat menolong jiwa Dewi ular lagi.
Dengan keadaan sangat kritis, Ho Hay Hong mendadak sadar akan apa yang telah terjadi dengan suhunya.
Bukan kepalang marahnya tanpa banyak pikir, ia lantas bergerak menyerang toa-suhengnya.
To suhengnya yang sedang hendak menamatkan jiwa suhunya, tidak menduga Ho Hay Hong turun tangan, tidak ampun lagi, ia telah terpukul sehingga jungkir balik.
Ho Hay Hong meneruskan serangannya kepada samsuhengnya.
Sam-suhengnya menggunakan pedang untuk menangkis serangan suteenya, tetapi terpental mundur oleh kekuatan tenaga Ho Hay Hong yang hebat.
Meskipun Ho Hay Hong tahu bahwa kekuatan tenaganya pada waktu sekarang jauh lebih hebat dari dulu, namun ia masih tidak berani berlaku gegabah.
Sam suhengnya yang terpukul mundur, diserangnya lagi dengan kekuatan tenaga yang lebih hebat.
Sam suhengnya tidak berdaya sama sekali, pedangnya jatuh ditanah, orangnya terpental mundur lagi beberapa langkah.
Toa suhengnya yang menyaksikan itu.
segera maju menyerbu.
Ho Hay Hong tahu dirinya diserbu oleh toa suhengnya, buru buru meninggalkan sam suhengnya, menyambut!
serangan toa suhengnya.
Pada saat itu, dalam ruangan itu mendadak muncul seorang gadis cant ik berusia kira kira delapan belas tahun.
Tanpa berkata apa-apa, gadis itu sudah menghunus pedang panjangnya, menyerang sam suheng.
Gadis cant ik itu belum pernah dilihat oleh Ho Hay Hong.
entah sejak kapan berada digunung itu?
Dalam hatinya waktu itu meski merasa heran, tetapi Ia tidak berani menghentikan serangannya.
Dengan tiga kali beruntun, ia menyerang toa-suhengnya.
Tan Song yang melihat gadis cant ik itu sudah menyerang sam sutenya, dalam hati menduga bahwa gadis itu pasti orang kepercayaan suhunya.
Dengan munculnya gadis itu ia tahu kalau pertempuran itu dilanjutkan, pasti tidak menguntungkan fihaknya sendiri.
Dengan cepat ia dapat mengambil keputusan.
Selagi Ho Hay Hong menyambuti serangannya.
Ia telah lompat melesat setinggi tiga tombak, keluar dari ruangan.
Kemudian dengan menggunakan ilmunya, tubuhnya kabur kearah lembah Siang tang kok.
Ho Hay Hong sebetulnya hendak mengejar, tetapi karena melihat suhunya dalam keadaan pingsan, tidak tahu bagaimana keadaannya, maka dibatalkannya maksudnya.
Ia pikir kemana toa suhengnya akan lari, dikemudian hari pasti akan tertangkap.
Semula ia sebetulnya merasa simpati terhadap toa suhengnya, tetapi setelah toa-suhengnya berani memberontak menentang suhunya, ia lantas berbalik menjadi benci.
Sebab, sekalipun suhu ada salahnya, orang yang menjadi muridnya juga sudah seharusnya menerima dengan sabar, tidak boleh melawan apa lagi menyerang dengan tidak ingat daratan.
Dengan sangat hati-hati ia bimbing suhunya, keadaan suhunya lemah sekali, jelas sudah terluka parah, hingga hatinya merasa sangat pilu.
Sam suhengnya ketika menampak toa-suhengnya sudah kabur, hatinya mulai gelisah.
Saat itu ia baru tahu bagaimana mental toa suhengnya, yang membiarkan dirinya menanggung dosa untuk menerima hukuman suhunya.
Ia coba melawan dengan nekad terhadap gadis cantik itu, namun usahanya itu semua tersia-sia.
Mula-mula ia sangat penasaran, kemudian terkejut dan akhirnya ketakutan.
Tanpa banyak pikir lagi.
ia lantas lompat melesat setinggi tiga tombak, hendak lari keluar.
Tetapi Ho Hay Hong bertindak lebih cepat.
Sudah mendahului sam suhengnya, berada ditengah tengah pintu, merintangi usaha sam-suhengnya yang hendak kabur.
Dengan sikap dan sinar mata dingin Ho Hay Hong mengawasi padanya seraya berkata.
"Sam-suheng, harap jangan melawan lagi. menyerahlah saja, ini akan lebih baik bagimu"
"Ho Hay Hong, kau memang orang jahat, tidak kecewa kau menjadi anaknya siluman itu. Hm, kau suruh aku menyerah, enak saja? Kalau kau mempunyai kepandaian boleh keluarkan semua untuk melawan aku,"
Menyahut sam suheng gusar.
"Dahulu, kau adalah suhengku. Karena aku harus menghormatimu. maka selama itu aku selalu mengalah terhadapmu. Tetapi sekarang, kau sudah berkhianat terhadap suhu, apa kau kira aku takut padamu?"
Ia maju selangkah, terus menyerang.
Sam suhengnya buru-buru mengangkat tangannya, menyambuti serangannya, Keduanya ternyata samasama menggunakan tenaga dalam, ketika serangan mereka saling beradu, Ho Hay Hong masih tetap berdiri tegak, sedangkan sam suhengnya terpental mundur dua langkah.
Sambil tertawa dingin, Ho Hay Hong.
maju lagi tiga langkah dengan beruntun melancarkan serangannya lagi.
Kali ini serangannya ditujukan kepada dada suhengnya tanpa kenal ampun.
Sam suhengnya terperanjat, ia coba melawan tetapi tidak sanggup menahan serangan suteenya yang demikian hebat, terpaksa mundur terus-terusan.
Ho Hay Hong terus mendesak, hingga serangan yang ketujuh, baru berhasil merubuhkannya.
Sam suhengnya mengerti bahwa kekuatan dan kepandaiannya sendiri tidak sanggup melawan suteenya.
karena tidak mau terhina, maka lantas pukul hancur batok kepalanya sendiri.
Ho Hay Hong singkirkan jenasah suhengnya kebelakang kebun, untuk dikubur.
Mengingat perubahan besar yang terjadi dalam perguruannya, ia juga merasa sedih.
Selesai mengubur jenasah suhengnya.
ia balik keruangan tengah, Suasana sepi sunyi.
Tiba didalam ruangan tampak gadis cantik itu dengan wajah pucat pasi sedang memijat-mijat suhunya.
Ia lalu tanya-tanya kepada diri sendiri.
"Siapakah dia sebetulnya? Ada hubungan apa dengan suhu? Mengapa tanpa memikirkan berapa banyak tenaga dalam yang baru dikeluarkan untuk menyembuhkan suhunya? Karena mengetahui gadis Itu sedang menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka suhunya, maka ia tidak berani menanya. Setelah selesai dan gadis itu bangkit, ia baru bertanya dengan suara pelahan.
"Kau siapa?"
Gadis itu nampak sangat letih sekali, ia tidak menjawab pertanyaan Ho Hay Hong, sebaliknya balas menanya.
"Kau siapa?"
"Aku Ho Hay Hong!"
Jawab Ho Hay Hong terkejut.
Mendengar jawaban, gadis itu tiba-tiba menundukkan kepala, dengan muka kemerah-merahan masuk ke dalam.
Ho Hay Hong tidak berani mengganggu, tidak mau menanya lagi, membiarkannya masuk kedalam.
Tak lama kemudian Dewi ular sudah mendusin.
Baru sembuh dari sakit, mukanya pucat pasi, matanya juga tidak bersinar.
Di waktu biasa, terhadap suhunya yang adanya agak aneh itu ia memang tidak mempunyai kesan baik, Ia selalu anggap bahwa suhunya itu mengubur masa muda, murid-muridnya di gunung yang sepi sunyi dan tidak pernah dirambah oleh kaki manusia itu, tetapi sekarang ia mengerti bagaimana perasaan seorang yang habis menderita batin.
Dengan penuh perhatian ia menanya .
"Suhu, apakah suhu sudah baikan?"
"Sudah banyak baik, dimana mereka berdua?"
Jawab sang suhu dengan tidak bertenaga.
"Toa-suheng sudah merat, sam suheng sudah binasa."
Sang suhu menganggukkan kepala, dengan tetap tidak bertenaga, ia berkata.
"Selanjutnya kau jangan panggil dia suheng lagi!"
"Baik,"
Menjawab Ho Hay Hong. Diam-diam ia merasakan bahwa suhunya itu kini telah banyak berubah, peristiwa menyedihkan itu telah merubah sifatnya yang dingin menjadi hangat dan lemah lembut.
"Siapa yang menyadarkan aku?"
"Perempuan muda itu Oh, ya, suhu dia itu siapa?"
"Bakal isterimu di kemudian hari."
Ho Hay Hong terkejut. Ia tahu benar adat suhunya, apa yang sudah dikatakan, tidak akan dirubah. Dalam hati meskipun merasa tidak puas, tetapi ia masih berusaha jangan sampai dikentarakan.
"Kau pikir bagaimana? Hay Hong!"
"Teecu kira masih terlalu pagi bagi tecu untuk mendirikan rumah tangga."
"Hay Hong, apakah ini adalah alasanmu untuk menolak?"
Karena Ho Hay Hong tidak suka memotong, seketika dia bungkam, tidak dapat menjawab.
"Aih, mungkin kau sudah mempunyai pandangan."
Berkata sang suhu sambil menarik nafas dalam-dalam.
Agaknya merasa sangat kecewa, maka tidak berkata soal-soal itu lagi, lantas memejamkan matanya.
Ho Hay Hong tidak berani menanya secara langsung, pura pura menghela napas, kemudian baru berkata.
"Aku tidak pantas menjadi suaminya, karena teecu hanya merupakan satu anak haram."
Mendengar perkataan itu, sang guru membuka lebar matanya, menatap wajahnya, kemudian bertanya.
"Siapa yang mengatakan itu ?"
"Kakek penjinak garuda!"
Jawabnya terus terang. Ia mengira sesudah tahunya mendengar nama kakek penjinak garuda, pasti akan marah. Diluar dugaannya, suhunya hanya menghela napas pelahan dan kemudian berkata.
"Ho Hay Hong, kau jangan pikir yang tidak-tidak, kau jangan percaya ocehannya!"
Kata-katanya diucapkan dengan suara lemah lembut, bagaikan ibu terhadap anaknya. Ho Hay Hong semakin berani, ia berkata.
"Suhu, harap suhu beritahukan terus terang, siapakah ayah bunda teecu yang sebenarnya? Suhu, urusan ini membuat tecu menderita bathin sepuluh tahun lebih, harap suhu jangan menyembunyikan apa-apa lagi."
Dewi ular angkat muka memandang wajahnya, tibatiba tertawa nyaring dan berkata.
"Pergi, pergilah tanya It Jie Hui Kiam. Sekarang juga kau turun gunung!"
Dari dalam sakunya mengeluarkan sebungkus obat bubuk dan berkata pula.
"Ini adalah obat pemunah racun, kau ambillah, mulai hari ini kau jangan melihat aku lagi."
Menampak suhunya bersedih dan mengucurkan air mata, Ho Hay Hong terkejut, Belum lagi membuka mulutnya, sudah terdengar kata-kata suhunya.
"Hay Hong, baik baik jaga dirimu sendiri, suhumu sudah mengambil keputusan, besok pagi akan meninggalkan tempat ini, tidak akan kembali lagi. Kalau kau masih ingat diriku, kau boleh rajin melatih ilmu silat yang kuwariskan padamu, ini seperti juga melihat diriku !"
"Suhu, ini tidak mungkin, teecu hendak merawat suhu seumur hidup."
Berkata Ho Hay Hong sambil menggelengkan kepala.
Sang suhu mendadak bangkit, tanpa berkata apa-apa, terus lari masuk kekamar.
Sebentar kemudian ia keluar lagi dengan membawa gadis cantik itu tadi, keluar dari ruangan!
Ho Hay Hong mengejar, tetapi dicegah oleh suhunya dengan kata keras.
"Kau menjaga satu hari disini, besok pagi kau boleh bereskan semua barang-barangmu dan meninggalkan tempat ini !"
"Suhu. benarkah suhu tidak akan kembali lagi?"
Bertanya Ho Hay Hong.
Dengan perasaan sedih ia menundukkan kepala, pikirannya kalut, tidak tahu bagaimana menghibur dirinya.
Sang suhu nampaknya sudah berencana hendak pergi, sebentar saja sudah berjalan sepuluh tombak lebih.
Ho Hay Hong tiba-tiba angkat muka dan berseru dengan suara nyaring.
"Suhu, apakah suhu tidak membawa barang sedikitpun juga?"
Suhunya menyahut tanpa menoleh.
"Sewaktu suhumu datang kemari juga dengan sepasang tangan kosong. Dan sekarang waktu pergipun tidak mau mengganggu barang-barang diatas meja sembahyang !"
"Suhu. kapan teecu baru bisa bertemu dengan suhu lagi ?"
Dari jauh terdengar suara jawaban suhunya.
"Mungkin masih ada waktu, tapi mungkin juga sudah tidak bisa bertemu lagi."
Dari suaranya yang gemetar, ia dapat menduga bahwa kedukaan suhunya, sesungguhnya tidak ada beda seperti dirinya sendiri.
Demikian besar rasa sedihnya, hingga tanpa sadar sudah berlutut didepan meja sembahyang dan menangis seperti anak kecil.
Angin gunung meniup masuk, ketika ia mengangkat muka, hari sudah hampir gelap.
Ia memasang pelita, duduk mendekur diatas kursi sambil berpikir.
Dalam yang sunyi itu, hanya suara angin malam yang menderu deru, yang menambah kepedihan hatinya.
Entah berapa lama, mungkin karena terlalu letih, ia telah tidur pulas diatas kursi.
Dalam tidur, ia telah mengimpi diuber-uber setan, yang mendesak padanya terjun ke dalam jurang yang curam, hingga ketakutan setengah mati.
Tiba-tiba telinganya dapat menangkap suara aneh, suara itu seperti suara orang menjerit, juga seperti suara orang menggali tanah.
Ia segera terjaga dan membuka matanya, menengok kebawah dinding sudut timur.
Dibawah sinar pelita, tampak olehnya sesosok bayangan putih, yang sedang menggali tanah dengan menggunakan pedang.
Orang baju putih itu tidak lain dari pada toa suhengnya sendiri.
Tan Song !
Tak disangka toa suhengnya itu begitu berani mati, malam-malam masih berani baik kembali!
Lama toa suhengnya itu menggali, tiba-tiba dari dalam tanah ia mengeluarkan sebuah kotak besi.
Ia membuka kotak besi dan mengambil isinya.
Ho Hay Hong tidak bisa tinggal diam lagi, dengan mendadak ia lompat menyergap.
Toa suhengnya terkejut, mulutnya mengeluarkan suara jeritan, bersamaan dengan itu badannya juga lompat mundur.
Tetapi dengan demikian, barang dalam kotak besi itu lantas terjatuh.
Ho Hay Hong yang bermata jeli cekatan, dengan cepat menyambar barang itu tanpa dilihat, sudah dimasukkan kedalam sakunya.
Toa suhengnya yang dengan susah payah baru mendapatkan barang itu, sebaliknya d iambil o leh Ho Hay Hong, yang tanpa mengeluarkan tenaga, sudah barang tentu sangat murka.
"Anjing kecil, lekas kembalikan barangku. aku nanti ampuni jiwamu!"
Demikian katanya marah. Ho Hay Hong sudah tentu tidak kembalikan. Dari sikap toa suhengnya yang berani, ia menduga mungkin toa suheng itu sudah tahu kalau suhunya sudah berlalu dari situ.
"Anjing kecil! Kau belum keluarkan, kalau belum melihat peti mati, aku mau hajar kau sampai mampus, baru tahu rasa."
Demikian toa suhengnya memaki.
Kotak besi yang sudah kosong dilemparkan ketanah, lalu dia menghunus pedang panjangnya dan menyerang Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong lompat mundur dan berkata dengan nada dingin.
"Suheng. nyalimu benar-benar sangat besar, kau masih berani masuk kedalam ruangan ini, heh ."
Dua tangannya melancarkan serangan dengan berbareng, hembusan angin yang ke luar dari tangannya telah berhasil menahan pedang toa suhengnya.
Tan Song maju menyerang lagi, dengan beruntun menggunakan gerak tipunya yang mematikan, kali ini serangannya ditujukan dada Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong yang tanpa senjata di tangan, tidak berani menyambut dengan kekerasan, terpaksa lompat mundur.
Tan Song mendadak menarik kembali serangannya dan berkata.
"Mengingat hubungan kita dimasa yang lalu, aku tidak ingin menyusahkan kau. Harap kau kembalikan barangku itu?"
"Aku tidak takut padamu, kalau kau mempunyai kepandaian. boleh ambil dari tanganku."
"Baik, bocah, kalau kau berani melangkah keluar selangkah saja dari gunung Ho lan san ini, aku Tan Song nanti akan tunduk pada mu."
Berkata sang suheng dengan mata mendelik, setelah itu, berjalan keluar dengan hati panas, sebentar sudah menghilang.
Ho Hay Hong yang sudah ingin mengetahui barang apa itu, tidak mengejar.
Setelah suhengnya pergi jauh, buru2 dikeluarkannya barang itu dan diperiksanya di bawah lampu pelita.
Diluar dugaannya, barang itu ternyata se
Jilid kitab kulit, dikulitnya terdapat tulisan hurup yang berbunyi.
Salinan Pelajaran Ilmu Silat Garuda Sakti.
Ia membuka lembarannya, didalamnya terdapat tulisan yang semuanya merupakan pelajaran ilmu silat.
Seketika itu ia lantas tersadar.
"Pantas suheng tengah malam buta berani datang kemari, kiranya ia tidak dapat melupakan kitab ini yang merupakan pelajaran ilmu silat terampuh."
Demikian ia berpikir.
Tetapi karena mengingat bahwa kitab itu adalah milik suhunya, maka ia harus mengembalikan padanya.
Setelah menemukan suhunya, ia harus menjaga hatihati, jangan sampai hilang.
Dengan sangat hati-hati ia simpan lagi kitab itu kedalam sakunya, kemudian keluar dari ruangan.
Pada saat itu, cuaca sudah mulai sedikit terang, angin pagi meniup sepoi-sepoi.
Sekaligus ia lari beberapa puluh pal tanpa rintangan, dalam hatinya diam diam merasa geli, dianggapnya bahwa ucapan suhengnya tadi terlalu tekebur dan merupakan gertakan kosong belaka.
Tetapi sesudah tiba dikaki gunung, keadaan jauh berbeda.
Jalan raya yang sepi, yang biasanya sedikit sekali orang berjalan saat itu tampak beberapa kelompok terdiri dari tiga atau lima orang, yang berdandan seperti petani atau tukang kayu, berjalan dengan menundukan kepala.
Orang-orang itu pada memakai topi rumput menutupi muka masing-masing, sehingga tidak diketahui wajah asli mereka.
Gerakan mereka menunjukan bahwa orangorang itu pada memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi.
Ho Hay Hong sudah mendapat firasat tidak baik orang orang itu sudah jelas mendapat tugas untuk mengamatamati dirinya agak sangsi, karena toa suhengnya yang dibesarkan bersama-sama dengannya digunung Ho lansan, mungkinkah berlaku kejam benar-benar terhadap dirinya?
Pada saat itu, udara cerah, ia anggap orang-orang itu tentu tidak berani menyerang secara terang-terangan.
Maka ia berjalan seenaknya dengan hati tabah.
Setelah melalui kupal Hong gwat teng, keadaan ternyata berubah jauh.
Batu besar yang selalu diliputi oleh salju itu, kini tidak nampak lagi.
Jalanan lebar yang penuh batu-batu kecil terbentang dihadapan matanya, Ia dahulu suka sekali duduk menikmati pemandangan alam ditempat itu.
Tetapi kini karena pikirannya kalut, ia tidak ingin duduk ditempat itu, namun demikian, ia masih berhenti sebentar, kemudian melanjutkan perjalanannya.
Dengan tiba-tiba, dari dalam kupal terdengar suara orang membentak.
"Berhenti!"
Ho Hay Hong merandek dan berpaling kearah kupal tampik olehnya tiga orang Kang ouw bertubuh tegap kekar dan berpakaian warna kuning menghampiri dan satu diantaranya berkata.
"Apakah kau Ho Hay-Hong?"
"Benar! Aku adalah Ho Hay Hong."
Menjawab Ho Hay Hong terkejut. Orang itu dari pinggangnya mengeluarkan senjata sepasang kampak, katanya dengan suara bengis.
"Lekas serahkan kitab ilmu silat garuda sakti! Aku nanti ampuni jiwamu!"
Ho Hay Hong lantas naik pitam, pikirnya.
"suheng benar-benar menjual aku."
"Suruh Tan Song datang mengambil sendiri!"
Baru saja menutup mulut, dari dalam kupal terdengar suara orang tertawa, seorang pemuda cakap tampan berdiri tidak jauh dari situ, ia bukan lain dari pada Tan Song.
"Ho sutee, kau tidak percaya ucapanku? sekarang rugi sendiri. Untuk menghindari pertumpahan darah dan mengingat persaudaraan kita dimasa yang lampau, sebaiknya kau serahkan kitab itu dan aku juga tidak akan menyusahkan kau!"
Berkata Tan Song.
"Murid durhaka! Apa kau kira aku Ho Hay Hong mandah kau perhina?"
Jawab Ho Hay Hong.
Ketika melirik kepada tiga orang itu, ternyata mereka sedang menghampiri.
Ia tahu bahwa pertempuran hebat sudah tidak dapat dicegah, maka sebelum musuhnya mendekati sudah diserang lebih dulu.
Ia serbu dan serang dua orang yang letaknya paling dekat dengannya.
Dua orang sama sama menggunakan senjata kampak.
Ketika diserbu oleh Ho Hay Hong, dengan cepat lompat melesat, kemudian lompat turun sambil menyerang dengan kampak masing-masing.
Dua orang itu ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh yang mahir sekali, kekuatan tenaga dalam mereka juga cukup hebat.
Dalam waktu singkat mereka merubah beberapa gerak tipu yang mematikan, untuk membinasakan Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong tahu telah ketemu musuh tangguh.
Ia tidak berani berlaku gegabah.
Dengan satu gerak tipunya angin dan geledek menyambar seorang yang berada disebelah kanan.
Satu diantaranya mungkin tidak berani mengadu kekuatan tenaga, dengan cepat menarik kembali senjatanya dan lompat mundur sedang mulutnya membentak.
"Bocah, kau benar benar."
Suhunya dimaki perempuan hina, seketika naik darah.
Dengan menggunakan kekuatan tenaga penuh melakukan serangan kepada orang itu.
Orang itu tidak menduga akan diserang secara mendadak hingga tidak keburu mengelak.
Serangan itu mengenakan dengan telak.
Ia menjerit dan menekap perutnya sambil mundur terhuyung-huyung.
Berhasil dengan serangannya, Ho Hay Hong semangatnya bertambah.
Tidak menunggu musuhnya maju, sudah menghajar lagi dengan gerak tipu pukulannya yang mematikan, kali ini kembali berhasil mematahkan tulang rusuknya, hingga orang itu jatuh dan tidak bisa bangun lagi.
Tan Song marah, Ia berkata dengan suara gusar.
"Anjing kecil, kau benar tidak tahu diri, lihat pedang"
Dengan tiba-tiba sebatang benda bersinar telah melesat keluar dari tangannya.
Begitu sinar berkelebat, sebilah pedang panjang meluncur dan terus menuju ke perut Ho Hay Hong.
Wajah Ho Hay Hong berubah, ia tahu bahwa suhengnya sudah menggunakan ilmu pedang terbangnya untuk mengambil jiwanya.
Karena ia sendiri juga sudah belajar ilmu itu, maka tahu benar hebat dan ganasnya serangan pedang demikian dan tidak dapat dilawan dengan tangan kosong.
Maka ia lalu menggunakan ilmunya meringankan tubuh melesat setinggi tiga tombak.
Pedang terbang itu lewat dibawah kakinya, hanya terpaut sedikit saja akan dirinya.
"Benar-benar hebat."
Ia tahu bahwa pedang itu pasti akan kembali untuk menyerang, maka ditengah udara ia menggunakan ilmu naik tangga melesat setinggi lima kaki lebih.
Tan Song mengempos hawa, mendorong pedang terbangnya.
Pedang itu benar saja berputar dan membalikkan ujungnya, meluncur keatas.
Ho Hay Hong menduga toa suhengnya akan menggunakan serangan secara demikian, sehingga tidak keburu mempertahankan posisinya?.
Tangan kirinya dengan cepat mendorong kebelakang.
kemudian badannya melancar turun ke barat.
Ketika pedang terbang itu, melesat setinggi lima enam tombak dengan hebatnya sudah tidak mengenai sasarannya.
Dalam keadaan repot, orang yang berada dikiri dengan cepat sudah menggerak tampaknya untuk membacok.
Mereka berdua agaknya sudah tahu bahwa anak muda itu sangat tinggi kepandaiannya maka serangannya kali ini dilakukan dengan menggunakan gerak tipu yang paling ampuh.
Ho Hay Hong dengan tangan kiri.
Memegang gagang pedang senjata lawannya tangan kanan meminjam kekuatan lawannya, menyerang satu musuh yang lain.
Orang itu wajahnya berubah, buru-buru lompat mundur.
Dalam keadaan demikian, Ho Hay Hong masih sempat melihat, dijalan raya dibelakang dirinya, muncul sepuluh lebih orang-orang Kang ouw yang lari menuju kearahnya.
Ia tahu jumlah musuh terlalu banyak hingga tidak mudah dilawan, maka ia memikirkan suatu siasat, bagaimana harus menyingkir dari situ.
Satu-satunya jalan baginya adalah bukit kecil yang berada di sebelah selatan.
Tempat itu terdapat banyak batu cadas yang tajam dan tumbuhan rumput panjang.
Asal ia berhasil sembunyikan diri diantara pepohonan yang terdapat disitu, mungkin tidak mudah diketemukan oleh musuh-musuhnya."
Tetapi, dari atas bukit itu mendadak muncul seorang tua berjenggot panjang, yang berdiri menonton sambil peluk tangan.
Melihat sikap dan sinar mata orang tua itu, Ho Hay Hong dapat menduga bahwa orang tua itu pasti memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna hingga dalam hatinya diam-diam mengeluh.
Musuhnya berbaju kuning bersenjata kampak itu ketika melihat datangnya bala bantuan, lantas memberi perintah kepada kawannya.
"Lekas pencarkan diri, jangan membiarkan anjing kecil ini lari !"
Mendengar perintah itu, bala bantuan kecil yang berada disebelah selatan tempat yang baru tiba itu segera mengepung Ho Hay Hong.
Disamping bala bantuan musuh yang sudah mulai mengepung dirinya, Ho Hay Hong juga dapat melihat di bagian barat terhalang oleh sungai, diseberang sungai terdapat sepasukan barisan anak panah.
Ho Hay Hong tahu bahwa dari situ sudah tidak ada harapan untuk kabur, maka matanya ditujukan kearah utara.
Tetapi disini juga tampak empat lelaki berpakaian warna ungu, siap dengan senjata lengkap.
Diantaranya terdapat toa suhengnya Tan Song, mengawasi padanya dengan sinar mata penuh kebencian.
Dan sang suheng ini, set iap saat bisa menggunakan ilmu pedang terbangnya, melakukan serangan terhadapnya dari jarak sepuluh tombak lebih.
Jelaslah sudah bahwa dari jurusan itu juga tidak memungkinkan lagi baginya untuk melarikan diri.
Harapannya yang terakhir kini ditujukan kearah timur, tetapi dibagian timur itu ternyata tampak lebih banyak jumlah orang yang menjaga.
Kecuali orang-orang Kangouw yang menyamar menjadi petani, masih ada dua ekor harimau dan dua ekor singa yang turut bantu menjaga.
Binatang-binatang buas itu agaknya sudah terlatih baik, sebelum mendapat perintah, tidak mau bertindak.
Baginya, enam ekor binatang buas itu tidak berarti apa apa, yang menarik perhatiannya ialah serombongan orang-orang katai berpakaian pelajar yang berada didekat binatang itu.
Orang-orang kate itu nampaknya seperti tidak bertenaga, tetapi dari suara mereka, menunjukan kekuatan tenaga dalam yang sudah cukup sempurna, terutama dari sinar matanya yang tajam.
Orang orang kate itu seluruhnya berjumlah lima orang, masing masing memakai w arna merah.
Dari sikap mereka menunjukkan bahwa sedikitpun mereka tidak pandang mata kepada Ho Hay Hong.
Dari gerak gerik mereka.
Ho Hay Hong sudah merasa khawatir, orang-orang yang kelihatannya tidak berarti itu, sesungguhnya merupakan lawan terberat.
Terhadap orang-orang demikian, sudah tentu ia tidak berani bertindak gegabah dengan resiko yang sangat besar, hingga ia kini benar-benar sudah berada dalam kepungan yang susah ditembus.
Beberapa kali ia mengadu kekuatan dengan orangorang berpakaian kuning, kini harus menghindarkan sedapat mungkin, jangan sampai menghamburkan tenaganya.
Pada saat itu, Mendadak ia dapat lihat bahwa orang tua berjenggot panjang yang sombong berdiri dibagian barat itu sudah berjalan dan sebentar kemudian sudah tidak kelihatan bayangannya.
Dengan penuh keyakinan, Ho Hay Hong lompat melesat setinggi lima tombak lebih dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, terus lari keatas bukit.
Musuh ternyata tidak mengejar, berkata dengan nada suara dingin.
"Anjing kecil tidak tahu diri, kau hendak kabur, ya ?"
Ho Hay Hong tidak menghiraukan, ia sedang berusaha naik kebukit Ia kenal baik keadaan tempat itu.
asal berhasil me lalui bukit itu dia masuk kedalam rimba.
Tapi pada saat itu, mendadak muncul sesosok bayangan putih, yang tak lain dari pada kakek berambut panjang itu tadi.
Ho Hay Hong terkejut, terpaksa menghentikan usahanya, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.
Kakek itu memandang padanya dengan sinar matanya yang tajam, kemudian berkata sambil tertawa.
"Heran, aku kira kau seorang pintar, tak dinyana ada jalan yang menuju ke-sorga kau tidak mau. sebaliknya menuju ke-neraka !"
Ho Hay Hong tidak menghiraukan ejekannya, ia berkata.
"Aku kira cianpwee bukanlah orang dari kawanan binatang anjing itu. sungguh tak kusangka cianpwee yang memiliki tulang-tulang bagaikan dewa, ternyata juga sudi berkelompok dengan kawanan berandal!"
"Hahahaha disebelah utara sungai Toa kang orang yang berani mengatakan perkataan demikian terhadap aku, barangkali hanya kau seorang saja. Kau tentunya belum tahu siapa aku ini."
"Cianpwee berani menganggap diri sendiri seorang kuat nomor satu, daerah mana tentunya memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Baiklah, sekarang aku ingin minta pelajaran satu dua jurus saja."
Karena ia melihat empat penjuru sudah terkurung rapat, dalam keadaan cemas dan gusar, ia sudah tidak pikirkan lagi dengan nasibnya.
"Anak muda, kau ingin minta pelajaran dariku, aku bersedia mengiring kehendakmu. Kau boleh coba sambuti serangan tanganku ini, kalau kau sanggup, barulah kau ada hak untuk mencoba kepandaian ilmu silatku. Jika tidak, ini berarti salahmu sendiri, kau jangan sesalkan aku berlaku kejam !"
Ho Hay Hong mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, menyambuti serangan tangan kosong orang tua itu.
Tiba-tiba bagian dalam tubuhnya terpukul oleh kekuatan tenaga yang sangat lunak, hingga seketika itu juga lantas menyemburkan darah dari mulut.
"Usiamu masih demikian muda, tetapi sanggup menyambuti seranganku. Sesungguhnya satu bakat yang sangat baik."
Berkata orang tua itu.
Ia mengangkat kembali tangannya, melancarkan serangan tangan kosong.
Serangannya itu nampaknya tidak bertenaga, tetapi setelah beradu, dengan mendadak berubah menjadi suatu serangan yang amat dahsyat.
Ho Hay Hong sejak mendapat bantuan kekuatan tenaga si kakek penjinak garuda, kekuatan tenaga dalamnya sudah banyak bertambah.
Diluar dugaannya, baru saja bergebrak sudah terluka dalam tubuhnya.
Maka ketika diserang untuk kedua kalinya, ia berlaku nekad.
Sambil mengeluarkan siulan panjang, ia sambuti serangan itu.
Kali ini lebih hebat akibatnya, darahnya dirasakan bergolak, matanya berkunang kunang.
Sekarang ia baru tahu betapa hebat kekuatan tenaga orang tua itu.
Tanpa menggeser kakinya setapakpun juga, orang tua itu berkata dengan singkat.
"Aku lihat usiamu masih sangat muda sekali, hari depanmu tidak terbatas, maka kuberikan kesempatan padamu satu jalan hidup. Asal kau mau menyerahkan salinan kitab ilmu silat Garuda Sakti, kau pergi dengan bebas!"
Ia lihat Ho Hay Hong diam saja, lantas berkata lagi sambil tersenyum.
"Kalau kau mempunyai cita-cita besar, supaya namamu kesohor, aku juga suka memberi bantuan padamu. Kau boleh masuk golonganku. Dengan kepandaianmu ini, aku akan memberikan kau satu jabatan penting!"
"Apakah Tan Song sudah menjadi anggota golongan cianpwee?"
Demikian Ho Hay Hong balai menanya.
"Dia sekarang sudah menjabat pangkat komandan pasukan lima bagian, mengurus segala urusan penting dalam golonganku. Kalau kau bersedia menjadi anggota golonganku, aku juga akan berikan kau pangkat tinggi."
Mendengar perkataan itu, alis Ho Hay Hong berdiri, katanya.
"Apa kau kira aku ini seorang sebangsa Tan Song yang menjual martabatnya untuk mendapatkan nama dan kedudukan? Kau jangan salah melihat orang."
"Kalau begitu, kau serahkan salinan kitab garuda sakti, jikalau tidak, jiwamu dalam bahaya."
Ho hay Hong pikir bahwa salinan kitab Garuda Sakti itu adalah milik suhunya, kitab itu merupakan suatu pelajaran ilmu silat yang tidak ada taranya, sudah tentu tidak boleh terjatuh ke tangan sembarang orang.
Apalagi kalau sampai terjatuh di tangan orang jahat, maka ia harus melindungi sebaik-baiknya, sekalipun jiwanya sendiri melayang, ia juga merasa bangga.
Karena berpikir demikian, ia telah siap dan kalau perlu ia korbankan jiwanya.
Pada saat itu, dari jauh tiba-tiba terdengar suara nyanyian berani.
"Angin puyuh baru mulai, kawanan siluman sudah ketakutan setengah mati Angin puyuh timbul lagi jagad menjadi bersih."
Suara nyanyian itu menggema diangkasa yang sunyi dan ketika orang tua itu mendengar suara nyanyian itu matanya tiba tiba ditujukan ke arah jauh, mulutnya mengguman.
"Ehm, kiranya pasukan angin puyuh sudah datang."
Ho Hay Hong segera berpikir, apabila saat itu tidak pergi, tunggu apalagi ?
Selagi orang tua itu alihkan perhatiannya kepada pasukan angin puyuh, dengan tiba tiba ia lompat meleset setinggi lima tombak.
dengan melalui atas kepala orang tua itu, pergi melarikan diri.
Sekaligus ia lari sejauh sepuluh tombak lebih, ketika ia menoleh ke belakang, orang tua itu ternyata tidak mengejar.
Hanya sepuluh lebih pasukan orang-orang berbaju ungu dan beberapa ekor harimau yang coba mengejar dirinya.
Meskipun hatinya merasa lega, tetapi ia tidak berani berlaku gegabah.
Dengan menahan rasa sakit dalam dadanya, ia menggunakan ilmu meringankan tubuh perguruannya, lari turun bukit dan menuju ke selatan.
Gerak kakinya sangat pesat, dalam waktu sekejap mata sudah menempuh jarak sepuluh pal lebih, hingga rombongan orang yang mengejar tertinggal jauh dibelakangnya.
tapi, sebentar kemudian, ia merasakan bahwa luka didalam dadanya semakin berat, hingga ia terpaksa mengendorkan tindakan kakinya.
Ia sangat gelisah, karena melihat, rombongan orang orang yang mengejar dirinya semakin dekat, suara mengaumnya binatang buas itu juga sudah terdengar samar samar.
Dalam keadaan demikian, apa mau perjalanannya itu kembali telah terhalang oleh sungai yang melintang dihadapan matanya.
Sungai itu cukup luas, kira kira sepuluh tombak lebih, airnya mengalir demikian deras, sekalipun pandai berenang, juga tidak dapat mengarungi air yang mengalir demikian deras, maka ia diam-diam mengeluh sendiri.
Di depan matanya terhalang oleh sungai sedang di belakangnya dikejar oleh musuh, sekalipun ia seorang berani, juga merasa gelisah.
Sambil mendongakkan kepala, ia berkata sendiri.
"Apakah aku Ho Hay Hong harus binasa di tempat ini .?"
Pada saat itu, lukanya semakin berat, rasa sakit menusuk ulu hati dan tulang-tulangnya, hingga ia berhenti lari dan duduk di tanah.
Beberapa titik bayangan hitam, dari jauh nampak lari mendatangi ke arahnya.
Ho Hay Hong mendadak mendapatkan satu akal.
Ia tidak berani berlaku ayal, dengan cepat membuka sepatunya, diletakkan di tepi sungai.
Kemudian merobek bajunya yang penuh tanda darah, dibuangnya ke pantai, tanah pasir ditepi sungai sengaja dibikin kalut.
Semua selesai, ia memeriksanya lagi dengan seksama, benar saja mirip dengan orang yang bekas menyeburkan diri kedalam sungai.
Kemudian menahan rasa sakitnya, ia lari dan sembunyi dibelakang batu besar.
Tak lama kemudian, rombongan orang-orang berbaju ungu itu tiba ditempat itu.
Dengan cepat mereka mendapat tahu bekas tanda yang ditinggalkan oleh Ho Hay Hong.
Satu diantaranya berkata.
"Mungkin anjing kecil itu sudah ceburkan diri kedalam sungai"
Yang lainnya menyahut.
"Ya, badannya sudah terluka parah, mungkin ia sudah tahu bahwa sudah tidak ada harapan lolos dari sini. maka lalu mengambil keputusan membunuh diri."
Orang-orang itu masih coba mencari, tetapi tidak menemukan jejaknya. Orang yang tadi itu kembali berkata.
"Air sungai ini mengalir deras sekali, anjing kecil pasti sudah tergulung olah arus ombak, mari kita bawa pulang saja barangbarangnya, untuk diberitahukan kepada loya!"
Usul itu segera diterima baik, maka mereka lantas beramai-ramai meninggalkan tempat itu!
Ho Hay Hong menunggu sampai orang-orang itu sudah tidak kelihatan, baru berani keluar dari tempat sembunyinya.
Meskipun ia merasa puas dengan akalnya yang berhasil mengakali musuhnya, tetapi karena dalam tubuhnya terluka, masih belum bisa ia bersenyum.
Ia menghela napas panjang, dari jalan kecil berjalan menuju kejalan raya, dengan membawa dirinya yang sudah terluka, pelan-pelan menuju ke kota.
Ia juga mengunjungi beberapa tabib dalam kota, tetapi mereka itu jika tidak mengatakan bahwa lukanya terlalu parah, ada juga yang mengatakan belum menemukan sebab-sebabnya, hingga tidak bisa memberikan obat yang tepat.
Ia juga tahu bahwa luka bekas terpukul orang berkepandaian tinggi, tidak dapat disembuhkan oleh tabib biasa, maka akhirnya ia merasa kecewa.
Dengan langkah sangat lambat sekali ia berjalan dijalan raya dengan hati risau.
Dengan tiba-tiba telinganya menangkap suara derap kaki kuda, dari jauh semakin mendekat.
Delapan penunggang kuda melarikan kudanya dengan pesat, seolah-olah bukan berjalan ditengah-tengah kota.
Menyaksikan keadaan orang gagah itu, hati Ho Hay Hong diam-diam mengeluh.
Delapan penunggang kuda itu karena membedal kuda masing-masing dengan sesukanya, membuat banyak orang, yang berjalan kaki pada lari menyingkir.
Tetapi mereka tidak menghiraukan, bahkan nampaknya sangat gembira.
Tetapi orang-orang banyak itu nampaknya tidak menyesalkan perbuatan para penunggang kuda itu, bahkan ramai-ramai melambai-lambaikan tangan kepada mereka, agaknya merasa bangga.
Ho Hay Hong diam-diam merasa heran maka ia lalu menanya kepada salah seorang.
"Para penunggang kuda itu malaikat dari mana?"
Mendengar pertanyaan itu, orang itu menunjuk sikap heran kepadanya, ia tidak menjawab, sebaliknya balas menanya.
"Apakah sahabat dari daerah selatan?"
Ho Hay Hong tercengang, dari sikap orang itu agaknya mengandung maksud menghina. tetapi ia tidak marah, bahkan menjawab sambil menganggukkan kepala.
"Benar, aku yang rendah dari daerah selatan."
"Oh, pasti! saudara tidak tahu riwayat mereka. Mereka delapan orang adalah rombongan dari pasukan Angin puyuh yang namanya sangat kesohor didaerah utara."
Ho Hay Hong segera teringat kepada suara nyanyian beramai yang didengarnya di Hong gwat teng, ketika dirinya sedang terkurung oleh musuh-musuhnya.
"Apa yang dilakukan oleh pasukan Angin puyuh?"
Orang itu mengacungkan ibu jarinya dan berkata dengan sikap bangga.
"Pasukan Angin puyuh adalah pasukan terkuat didaerah utara, pasukan yang melindungi keamanan daerah utara yang paling gigih. Bagi orang-orang kang ouw yang sering bergerak di rimba persilatan, hampir tiada seorangpun yang tidak kenal!"
"Ow, benar mereka. Bolehkah aku numpang tanya, siapakah pemimpin mereka?"
"It-jie Hui-kiam!"
"Apakah It Jie Hui kiam berdiam dikota."
"Benar."
Jawab orang itu sambil menganggukkan kepala.
"dia seorang tua sejak membentuk pasukannya Angin puyuh ini karena usahanya menumpas kawanan penjahat yang menjadi pokok tujuannya yang utama, maka keamanan daerah ini sangat baik, kawanan berandal dan penjahat terpaksa lari ketempat lain. Hari ini kebetulan mereka hendak mengadakan pertemuan, kau boleh menyaksikan sendiri. mungkin dapat menambah pengetahuan."
Ho Hay Hong mengucapkan terima kasih, lantas berjalan menuju kebarat daya.
Tiba di suatu tempat, ia melihat banyak orang sedang berkerumun, mengitari sebuah panggung adu silat atau yang biasa disebut "lui tai".
Dibelakang panggung berdiri sebuah gedung besar yang megah.
Ia segera mengerti bahwa gedung megah itu pastilah kediamannya It-Jie Hui kiam, maka dengan cepat menghampirinya.
Ia tidak mencari Ie jie Hui kiam lebih dulu, tapi menuju ke rombongan orang banyak.
Benar saja, disitu ia segera melihat delapan penunggang kuda tadi duduk diatas panggung, beberapa muda-mudi berpakaian perlente berdiri di belakang delapan penunggang kuda tadi.
Disebelah kiri diatas sebuah kursi kebesaran duduk seorang Imam tua berusia kira-kira lima puluh tahun.
Disamping Imam tua itu adalah seorang tua tinggi besar berusia enam puluh tahun yang nampaknya sangat agung.
Dibelakang orang tua itu, tampak seorang tua berkumis pendek, diatas perisai terlukis gambar dua bilah pedang bersilang.
Dari lukisan itu ia mau menduga bahwa itu adalah tanda dari It-jie Hui-kiam!
Disamping orang tua berkumis pendek, ada seorang gadis berbaju ungu, gadis itu bukan saja berparas cant ik sekali, tetapi juga seorang gagah perkasa.
Ho Hay Hong tidak berani banyak bergerak, takut lukanya kambuh, maka ia mencari tempat yang tidak banyak orang, menonton sambil berduduk.
Ia mengeluarkan sapu tangan, membersihkan debu dan kotoran dimukanya, sehingga tampak wajahnya yang cakap tampan.
Ia sedang memikirkan bagaimana nanti bertanya kepada It Jie Hui kiam.
setelah bertemu muka dengannya?
Diatas panggung, gadis cantik berbaju ungu itu mendadak bangkit dari tempat duduknya, dari tangan orang tua berkumis pendek mengambil perisai perak, kemudian berkata.
"Sumoay disini ingin minta beberapa jurus pelajaran dari suheng, harap maafkan kalau perbuatanku ini rasanya kurang sopan!"
Suaranya demikian halus dan sangat menarik, hingga diam-diam Ho Hay Hong merasa heran, gadis cantik yang lemah gemulai seperti ini, apakah memiliki kepandaian tinggi?
Ia diam diam juga khawatir keselamatan diri gadis itu, karena dalam pertandingan senjata selalu tidak ada matanya, apabila kelengahan tangan, bisa membawa akibat sangat hebat.
Ia ingin mengetahui sampai dimana tinggi kepandaian gadis itu, maka mulai perhatikan keadaannya.
Tetapi parasnya yang cant ik dan bentuk badannya yang indah, sesungguhnya tidak didapatkan tanda tanda memiliki kepandaian tinggi.
Seorang laki laki muda berusia kira kira tiga puluhan, yang memakai pakaian warna kuning, pelan-pelan berjalan menuju kepanggung, kemudian berkata sambil tertawa.
"Sumoay jangan terlalu merendahkan diri, dalam pertandingan ilmu silat, yang diutamakan adalah kepandaian yang sesungguhnya, kau boleh mengeluarkan seluruh kepandaian-mu dan jangan memikirkan karena aku adalah suhengmu, boleh bertanding denganku!"
Ditilik dari gerak kaki dan badan laki-laki itu, Ho Hay Hong dapat memastikan bahwa laki-laki itu pasti memiliki kepandaian tinggi.
Ia tidak habis mengerti bagaimana gadis lemah gemulai itu berani menghadapinya.
Ia tidak ingin menyaksikan pertandingan itu, matanya ditujukan keatas panggung, Dan ia melihat kain berwarna warni yang terpancang tinggi, dengan tulisan tulisan huruf.
"Dengan mengadakan Pertandingan Ilmu Silat untuk Mencari Kawan dan Pertemuan Orang-Orang Gagah."
Menyaksikan bunyinya tulisan-tulisan itu, ia baru insyaf bahwa panggung itu didirikan untuk mengadakan pertandingan ilmu silat.
Pikirnya.
apakah It Jie Hui kiam mengadakan pertandingan ini untuk mencari anggota pasukan Angin Puyuh?
Pikiran itu sepintas lalu berkelebat dalam benaknya mendadak ia bangkit dari tempat duduknya.
Tetapi, ia ingat lagi dengan luka didadanya, ia tahu bahwa saat itu ia belum dapat melakukan pertandingan.
Ia duduk lagi sambil menghela napas panjang.
-ooo0dw0ooo-Bersambung
Jilid 14 RAHASIA KAMPUNG GARUDA Karya . Khulung Saduran . Tjan ID
Jilid 14 SAAT ITU diatas panggung sudah ada yang mulai melakukan pertandingan, dua bayangan orang bergerak kesana kemari dengan gesitnya, hingga menimbulkan suara angin.
Menyaksikan pertandingan itu, Ho Hay Hong membuka lebar matanya dan berkata kepada diri sendiri.
"Hah, tak kusangka ia memiliki kepandaian setinggi itu."
Telinganya mendengar suara tepukan tangan riuh orang-orang yang berteriak-teriak bertepuk tangan itu adalah suporter kedua fihak.
Tiba-tiba suara benda terdengar nyaring dua bayangan orang yang sedang bertanding memencarkan diri, Gadis berbaju ungu itu nampaknya seperti tidak mengeluarkan tenaga sama sekali, mukanya tidak merah, napasnya juga tidak memburu.
Ia mengucapkan kata-kata merendah kepada suhengnya, kemudian balik kembali ketempat duduknya.
Dari sikap dan kata-kata gadis itu, sudah jelas bahwa yang kalah, dan dalam pertandingan itu bukanlah sigadis melainkan laki-laki berbaju kuning itu.
Ho Hay Hong masih dalam keheranan.
Tiba-tiba terdengar laki-laki itu berkata.
"Pelajaran sumoay ternyata sudah mendapat kemajuan banyak, seranganmu terakhir geledek benar-benar sangat hebat. Barang kali itu adalah ilmu simpanan Siauw Locianpwee yang tidak diwariskan kepada sembarang orang maka suhengmu meskipun kalah, juga merasa bangga !"
Ho Hay Hong diam diam berpikir.
"orang ini benarbenar berjiwa kesatria, meskipun ia kalah, tetapi tidak marah atau mendendam, benar-benar harus kita hargai."
Laki-laki tua tinggi besar yang sangat agung itu, mendadak bangkit dari tempat duduknya. Sambil menghadap kearah penonton dibawah punggung ia berkata.
"Saudara-saudara sahabat-sahabat, dengarlah, kali ini siorang tua mendirikan panggung untuk mengadakan pertandingan ilmu silat ini. bukan saja berlaku bagi orang-orang golongan kita. Jikalau diantara sahabatsahabat ada yang memiliki kepandaian tinggi, atau mempunyai kegembiraan untuk ambil bagian, dipersilahkan mendaftarkan nama dibelakang panggung. Siapa-siapa yang memiliki kepandaian berarti, akan kita terima menjadi anggota pasukan Angin Puyuh."
Pasukan Angin puyuh, didaerah utara merupakan satu golongan yang terkuat jumlahnya, anggautanya tidak banyak tetapi setiap anggautanya memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi, hingga dalam masyarakat dan rimba persilatan mendapat nama baik.
Banyak diantara penonton yang ingin menggunakan kesempatan itu untuk mendapat nama dikalangan kangouw.
Ketika mendengar ucapan itu, nama nama mereka menuju ke belakang panggang untuk mendaftarkan nama.
Dibelakang panggung itu terdapat sebuah meja persegi, disitu duduk seorang laki-laki tua tinggi kurus.
Sinar matanya yang tajam agaknya dapat menembus hati dan perasaan, serta menebak tinggi rendahnya kepandaian orang-orang yang datang padanya untuk mendaftarkan diri.
Ho Hay Hong yang juga mengikuti rombongan orangorang itu ke belakang panggung setelah semua orang selesai mengurus pendaftarannya, baru pelan-pelan mendekati meja orang tua itu dan berkata padanya.
"Cianpwee, sudilah kiranya cianpwee menolong boanpwee untuk memberitahukan kepada It ji Hui-kiam, boanpwee ada urusan penting hendak berunding dengannya!"
Orang tua kurus tinggi itu memandang padanya dengan perasaan heran, kemudian berkata.
"Tidak bisa, saat ini diatas panggung sedang repot, Ia tidak ada waktu terluang!"
"Boanpwee datang dari daerah selatan mohon"
Berkata Ho Hay Hong.
Dengan sikapnya yang sangat merendah itu, ia mengharap dapat menggerakkan hati orang tua itu.
Tetapi orang tua itu ternyata masih tetap dengan pendiriannya, jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Kau boleh tunggu sehingga pertandingan selesai, nanti kau boleh menjumpai dia!"
Ho Hay Hong terpaksa undurkan diri meskipun hatinya merasa kurang senang, tapi apa boleh buat.
Pada saat itu, diatas panggung sudah berlangsung tiga pasang pertandingan.
Dipajang terdahulu, yang kalah terpaksa undurkan diri dengan perasaan masgul, sedang yang menang boleh tetap berada diatas panggung untuk pemilihan terakhir.
Ho Hay Hong yang menyaksikan pertandingan itu, ternyata hanya merupakan suatu hal biasa itu, maka ia diam saja.
Tidak begitu menarik, maka ia tidak menonton lagi.
Diam-diam ia memutar kebelakang panggung, dari bawah panggung ia menggapaikan tangan kepada gadis baju ungu seraya berkata.
"Aku ada urusan penting hendak bertemu dengan Itjie Hui kiam locianpwee, sudilah kiranya nona menolongku memberitahukan kepadanya ?"
Gadis itu terkejut, matanya mengawasi padanya sejenak, kemudian bertanya.
"Kau mencari dia, ada urusan apa ?"
"Aku ada urusan penting, tolong aku satu kali ini saja!"
Kata Ho Hay Hong.
"Kau beritahukan padaku juga boleh, urusan apakah sebetulnya ?"
Ho Hay Hong pikir.
"urusan ini mana boleh diberitahukan padanya?"
Memang sukar buat baginya untuk membuka rahasia itu, maka ia diam saja.
"Kau ini benar-benar sangat aneh"
Demikian gadis itu berkata.
Lalu membalikan badan dan memperhatikan jalannya pertandingan, tidak menghiraukan Ho Hay Hong lagi.
Ho Hay Hong terpaksa kembali dengan perasaan kecewa.
Ia merasa tidak senang, karena untuk menjumpai seorang saja demikian susahnya.
Darah mudanya bergejolak seketika, jika tidak luka pada bagian dalamnya, mungkin ia sudah mengamuk.
Ia duduk menghadap kearah selatan membelakangi panggung pertandingan.
Pada saat itu, diatas panggung sedang berlangsung suatu pertandingan seru, yang dibarengi oleh suara tepuk tangan dan teriakan ramai.
Selagi semua mata para penonton ditujukan keatas panggung, sebilah pedang panjang mendadak meluncur keatas kepala Ho Hay Hong.
Pedang itu adalah pedang salah seorang yang sedang bertanding, yang terlepas dari tangannya.
Untung Ho Hay Hong bisa berlaku sigap, sebelum pedang jatuh keatas kepalanya dengan cepat disambarnya dengan tangan kanan.
Ia hendak menyambitkan kembali pedang kepada pemiliknya diatas panggung, baru mengangkat tangannya, mendadak teringat kepada kepandaiannya mengendalikan pedang, Sikap memandang rendah gadis baju ungu tadi, telah membangkitkan perasaan harga dirinya.
Sesaat itu timbullah pikirannya hendak menunjukkan kepandaiannya, untuk menarik perhatian gadis tadi.
Maka Ia lalu batalkan maksudnya hendak mengembalikan pedang tadi, dengan menahan rasa sakit dalam dadanya ia sambitkan pedang itu keatas panggung.
Pedang itu meluncur lurus keatas panggung dan orang diatas panggung yang kehilangan pedangnya tadi, buru buru menyambutnya, selagi hendak mengucapkan perkataan terima kasih, tak ia duga bahwa sebelum tangannya berhasil menyentuh gagang pedang, pedang itu bagaikan naga terbang berputaran dan kemudian terbang kekiri.
Setelah membuat satu lingkaran lebar, melayang turun lagi, dengan tenang jatuh ketangan Ho Hay Hong.
Perbuatan Ho Hay Hong itu segera menarik perhatian semua orang, semua mata ditujukan kepadanya, dengan penuh keheranan Sebab dengan munculnya ilmu pedang terbang didalam rimba persilatan, bagi orang-orang Kang ouw daerah utara, sudah yang pertama kalinya, tidak heran kalau hal itu segera menarik semua perhatian orang, hingga pertandingan diatas panggung tidak ada yang perhatikan lagi.
Orang tua berkumis pendek yang memegang perisai perak mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berkata.
"Oh, tak disangka disini masih ada orang yang mempunyai kepandaian yang berarti!"
Orang tua itu adalah ditugaskan untuk menjaga keamanan selama pertandingan berlangsung, perbuatan Ho Hay Hong itu dengan sendirinya merupakan suara perbuatan yang mengganggu, keamanan pertandingan diatas panggung.
Dengan adanya tugas itu maka orang tua berkumis pendek itu setelah mengucapkan perkataan demikian, lantas turun dari atas panggung dan lari menghampiri Ho Hay Hong.
Ho Hay Hong masih tetap duduk ditempatnya sambil memegangi pedang, ia sambut kedatangan orang tua itu dengan kata-kata.
"Tunggu dulu, aku tidak hendak mencari set ori denganmu!"
"Kau telah mengacaukan panggung pertandingan, terang-terangan mencari onar denganku mengapa sekarang berlaku sopan?"
Berkata orang tua berkumis pendek.
"Aku hanya ingin bertemu dengan It-jie Hui-kiam, tetapi orang-orang kalian semua tidak mengijinkan, dalam keadaan terpaksa aku menggunakan akal ini, kalau kau anggap melanggar peraturan, aku minta maaf sebesar-besarnya!"
Berkata Ho Hay Hong. Orang tua itu terkejut.
"Kau t idak kenal dengan orang tua itu?"
"Apa maksudnya dengan pertanyaanmu ini?"
Tanya Ho Hay Hong heran.
"Kau kata Hendak bertemu muka dengannya, padahal kau telah menonton pertandingan ditempat ini. bukan hanya sudah melihat wajahnya satu kali saja, bahkan sudah berpuluh puluh kali, ratusan kali"
"Ucapan cianpwee, aku benar benar tidak mengerti, tolong cianpwee jelaskan!"
"It Jie Hui kiam cianpwee tokh berdiri diatas panggung, kalau kau ingin melihat saja ? sejak tadi kau sudah melihatnya, mengapa tanpa sebab kau menimbulkan kekacauan, perbuatanmu ini sudah je las menghina orang yang mendirikan panggung pertandingan Ini!"
Dengan mengikuti petunjuk orang tua itu tadi, pandangan mata Ho Hay Hong ditujukan kepada orang tua tinggi besar yang berada diatas panggung, lalu bertanya tanya kepada diri sendiri.
"apakah dia ini yang dinamakan It Jie Hui kiam?"
Sementara itu mulutnya berkata.
"Harap cianpwee jangan salah paham, boanpwee ingin menjumpai It ji Hui kiam locianpwee, sesungguhnya ada urusan penting boanpwe hendak minta keterangan darinya!"
"Oh mari ikut aku!"
Berkata orang tua itu.
Dibawah mata banyak orang Ho Hay Hong mengikuti orang tua berkumis pendek naik keatas panggung.
Orang tua itu langsung menghampiri orang tua tinggi besar, ditelinga berbisik-bisik sejenak, orang tua tinggi besar itu menunjukkan sikap kaget, mengawasi Ho Hay Hong sejenak, kemudian berkata.
"Suruh dia kemari !"
Ho Hay Hong maju menghampiri, lalu berkata memberi memberi hormat.
"Kau barangkali adalah It Jie Hui kiam locianpwee ! Boanpwee ada sedikit urusan minta keterangan, tetapi sekarang ini ada banyak orang disini, boanpwee kurang leluasa."
"Baik, kau tunggu disini sebentar, nanti setelah pertandingan selesai, kita bicara lagi,"
Berkata It Jie Hui kiam sambit menganggukkan kepala.
"Sebetulnya sudah lama boanpwe? ingin menjumpai locianpwee namun hari ini baru mendapat kesempatan untuk mencapai cita cita boanpwee itu!"
Dengan tiba tiba ia mendengar suara perempuan tertawa, sepasang mata gadis berbaju ungu itu ditujukan kepada kakinya, hingga ia sadar bahwa saat itu kakinya tidak memakai sepatu, karena sepatunya ditinggalkan ditepi sungai.
Wajahnya yang putih saat itu lantas menjadi ke merah merahan.
Ia tidak tahan berdiri terlalu lama, maka minta pada orang tua berkumis pendek supaya disediakan kursi, kemudian duduk diatasnya sambil memejamkan mata.
Orang tua berkumis pendek itu tidak tahu kalau Ho Hay Hong sedang menderita karena luka-luka dalam dadanya dianggapnya terlalu sombong dan tidak pandang mata padanya Meskipun dalam hati merasa tidak senang, tetapi karena memandang It Jie Hui Kiam Ia tidak berani menegur.
Ho Hay Hong yang sudah mendapat waktu untuk beristirahat, membuka matanya lagi, ketika ia memandang kebawah, banyak mata ditujukan kepadanya.
Ia mengerti, itu adalah karena tadi ia pernah mempertunjukan kepandaian ilmu pedang terbangnya.
Kalau bukan karena terluka dalamnya ia ingin juga ambil bagian dalam pertandingan itu.
Namun maksud itu terpaksa tidak diwujudkan karena terhalang oleh lukanya.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara orang tertawa, gadis baju ungu itu entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya.
"Tak kusangka kau mahir ilmu pedang terbang, suatu ilmu yang sudah lama menghilang dari dunia rimba persilatan."
Demikian kata gadis itu.
"Mana, aku hanya mengerti sedikit saja."
Hay Hong merendah.
"Kau terlalu merendahkan diri, aku kira kau tentunya dari golongan ngo bie pay!"
"Nona keliru, aku seorang yang tidak berpartai."
"Ow, ini lebih mengherankan lagi selagi pertandingan masih berlangsung, aku ingin belajar kenal dengan kepandaianmu, bagaimana pikiranmu?"
Ho Hay Hong yang sudah pernah menyaksikan kepandaiannya, meskipun ia tidak takut akan kalah, tetapi karena lukanya belum sembuh, terpaksa menolak. Jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Maaf, aku tidak ingin bertanding denganmu "
Gadis itu membuka matanya lebar-lebar.
"Apakah aku tidak sepadan untuk bertanding denganmu?"
"Nona jangan salah faham, karena aku memang tidak mungkin dapat menandingi kepandaianmu!"
Mendengar jawaban itu, hati gadis itu merasa senang.
Dibibirnya tersungging satu senyuman puas, dan sujen dikedua pipinya nampak jelas sekali.
Dua sujen dipipinya itu menambah kecantikan gadis itu, hingga siapa saja yang melihatnya pasti tergerak hatinya.
Sikap nona itu dalam mata Ho Hay Hong segera menimbulkan goncangan hebat dalam jantungnya, karena pada saat itu mendadak ia teringat kepada gadis kaki telanjang yang berada jauh didaerah selatan.
Dua-dua sama cant iknya, kalau suruh ia memilih, barangkali tidak dapat mengatakan pilihan.
Gadis baju ungu itu tiba t iba berkata.
"Kau lihat orang itu dibawah panggung semua pada perhatikan kau."
Ho Hay Hong memang sudah tahu, tetapi karena gadis itu mengatakan demikian, mau tidak mau ia lantas melihat kebawah kemudian bertanya.
"Mengapa mereka perhatikan diriku?"
"Ilmu pedang terbangmu tadi merupakan suatu ilmu gaib yang luar biasa. Dalam mata mereka kau sudah dipandang sebagai seorang pendekar."
Ho Hay Hong mengira bahwa ucapan gadis itu mengandung ejekan terhadap dirinya, maka ditatapnya wajah gadis itu Ketika dua pasang mata saling beradu, maka gadis itu seketika merah membara.
Semula Ho Hay Hong merasa heran, tetapi akhirnya ia seperti tersadar.
"Nona, bolehkah aku numpang tanya, andaikata aku ingin menjadi anggota pasukan Angin puyuh, apakah kemungkinan bisa diterima?"
"Kau boleh mendaftarkan nama dibawah panggung, kemudian ikut pertandingan! Dengan kepandaian ilmu silatmu yang setinggi itu, aku pikir kau pasti berhasil!"
Ho Hay Hong tertawa menyeringai, selagi hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara orang berkata.
"Belum tentu. baik anggota pasukan Angin puyuh, diharuskan memiliki dua rupa ilmu, keras dan lunak yang sama baiknya, ilmunya dan kekuatan tenaga dalamnya memang cukup sempurna, tetapi ilmunya keras, rasanya belum cukup."
Suara itu tidak nyaring, tetapi dalam telinga Ho Hay Hong sangat jelas.
Ia buru buru berpaling, orang yang berbicara itu ternyata adalah imam tua yang duduk diatas kursi kebesaran.
Imam itu merasa kurang senang, tetapi diluar ia masih mengunjukkan muka berseri-seri.
"Bolehkah boanpwee menanyakan nama julukan totiang?"
Demikian ia bertanya.
"Dia adalah Hud sim Totiang dari partai Ceng-shia pay. Kepandaiannya tinggi sekali. Kau jangan berlaku salah terhadapnya!"
Kata gadis baju ungu itu dengan suara perlahan. Ho Hay Hong diam diam berpikir.
"mengapa ia demikian perhatikan diriku?"
Dengan perasaan heran ia menatap wajah gadis itu, dan gadis itu dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Terima kasih atas kebaikan nona,"
Demikian ia berkata. Hud sim Totiang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak kemudian berkata.
"Kau tidak usah menanyakan namaku, ku lihat diatas alismu ada tanda tanda guram, ini suatu tanda bahwa kau sedang menderita luka dalam. Kau sudah tidak lama hidup dalam dunia, mengapa mencari kesulitan!"
Ho Hay Hong terkejut, cepat dia menanya.
"Apa artinya ucapan Totiang ini ?"
"Tahukah kau bahwa jiwamu dalam bahaya?"
Kata Hud sim Totiang sambil menghela napas.
"Apa betul demikian hebat?"
"Hingga sekarang kau masih belum sadar, ini merupakan suatu bukti bahwa hidup manusia ditangan Tuhan, tidak dapat dipaksa oleh tangan manusia! Semula kau mendapat luka berat didalam tubuhmu, seharusnya kau beristirahat baik, untuk menyembuhkan lukamu, atau setidak-tidaknya mencegah jangan sampai lukamu semakin parah. Ah tetapi adatmu yang keras, bukan saja tidak mau memelihara badanmu sebaik-baiknya bahkan menggunakan kekuatan tenaga dalam mu, sehingga lukamu menjadi semakin parah Aih, sekarang sudah terlambat untuk ditolong."
"Ucapan Totiang ini berdasar atas apa?"
"Partai Ceng shia pay adalah satu partai yang terkenal dengan ilmunya obat-obatan, pinto sendiri sudah tigapuluh tahun lebih mempelajari ilmu ketabiban. Pinto yakin segala luka dan penyakit tidak akan lolos lari mata pinto. Pertanyaanmu ini sesungguhnya terlalu bodoh !"
Ho Hay Hong mengerutkan alisnya, diam-diam berpikir.
"buat aku sendiri, mati tidak menjadi soal, tetapi bagaimana dengan kitab garuda sakti ini ?"
Tiba-tiba ia ingat kitab garuda saktinya yang menjadi milik suhunya.
Karena suhunya itu suruh ia mencari It Jie Hui-kiam, guna mencari tahu ayah bundanya.
Ia menduga pasti orang tua itu kenal betul dengan ayah bundanya.
Mengapa ia tidak menanyakan padanya, kemudian kitab itu diberikan padanya supaya dikembalikan kepada suhunya ?
Ia juga ing in sekali mengetahui di mana ayah bundanya, maka tanpa banyak pikir lagi ia lantas berjalan menghampiri It-jie Hui kiam dan berkata padanya dengan suara perlahan.
"Cianpwee, boanpwee ingin minta keterangan yang sebenarnya !"
Ia mengucapkan kata-katanya sambil menggulung lengan bajunya, tanda cacah burung garuda ditangannya itu ditunjukan pada It-jie Hui-kiam.
It Jie Hui-kiam yang menyaksikan tanda itu, sesaat lantas tertegun.
Setelah berusaha keras menahan getaran jantungnya, orang tua itu berkata.
"Siapa namamu ?"
"Boanpwee Ho Hay Hong,"
Jawabnya terus terang.
"Siapa suruh kau mencari aku ?"
Waktu orang tua itu mengucapkan perkataannya, suaranya gemetar, jelas bahwa jantungnya berdebar keras.
Ketika orang tua itu mengerutkan alisnya.
Ho Hay Hong melihat seperti usianya mendadak bertambah tua sepuluh tahun, Ia diam-diam merasa heran, entah hal apa yang membuat jago dari utara itu mendadak sedih ?
Ia tahu bahwa dalam persoalan yang menyangkut dengan dirinya, pasti ada sebab musababnya dengan jago tua itu, maka lantas menjawab dengan terus terang.
"Dewi ular dari gunung Ho lan-san !"
"Dewi ular dari gunung Ho-lan-san.?"
It Jie Hui kiam berkali-kali menyebut nama itu.
"siapakah sebetulnya orang itu ? Aku tidak kenal padanya !"
"Ia adalah suhu boanpwee!"
Jawab Ho Hay Hong agak kecewa.
"Suhumu itu lelaki ataukah perempuan?"
"Suhu termasuk yang belakangan"
It Jie Hui kiam mengamat-amati wajah Ho Hay Hong sejenak, lalu berkata sambil menghela napas panjang.
"Mari kau ikut aku ..."
Ho Hay Hong mengikuti It-jie Hui-kiam berjalan turun dari atas panggung pertandingan langsung menuju kesebuah gedung bertingkat.
Ketika ia menampak It Jie Hui kiam mengeluarkan air mata, hatinya juga merasa pilu, tetapi ia tidak tahu mengapa orang tua itu menangis?
Tiba di ruangan tamu, ia persilahkan duduk.
Saat itu It Jie Hui kiam seperti seorang yang sudah kehilangan semangat, duduk diatas kursinya sambil berpikir, agaknya sedang mengenangkan apa yang telah terjadi dimasa yang lampau ...
Ho Hay Hong tidak berani mengganggu sebentar kemudian, jago tua itu perlahan angkat muka, dan berkata sambil menghela napas.
"Semua ini adalah salahku, kesalahan yang berakibat suatu dosa Kau jangan tanya, akan kuceritakan padamu."
"Dahulu, ada seorang berandal bulim yang menamakan dirinya Manusia tanpa bayangan. Baru beberapa bulan ia muncul di kalangan Kang ouw, tetapi sudah menggentarkan seluruh rimba persilatan daerah utara, ia tidak menentu jejaknya, perbuatannya selalu membasmi kejahatan dan membantu rakyat yang tertindas, sehingga mendapat penghargaan dan penghormatan dari rakyat jelata."
"Tidak lama kemudian, ia telah menyatakan hendak mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw. diwaktu hari upacara cuci tangan, banyak sahabatnya yang datang memberi selamat, tetapi diantaranya juga ada musuhnya yang paling lihay.
"Musuhnya itu sudah lama terkenal dengan kejahatannya, ia pernah mendapat luka-luka ditangan Manusia tanpa bayangan. Selanjutnya tidak berani unjuk muka, tetapi bertekun melatih diri, hendak menuntut pembalasan.
"Beberapa tahun kemudian, setelah pelajaran ilmunya yang berhasil ia keluar lagi dan datang mencari manusia tanpa bayangan.
"Menurut peraturan dunia Kangouw seorang Kangouw yang sudah menyatakan cuci tangan sudah dianggap meninggalkan dunia Kangouw. dan segala permusuhan yang lalu dianggap habis semua.
"Tetapi musuh itu tetap tidak mau mengerti, ia sesumbar bahwa dalam lima kali pukul sudah cukup menyelesaikan urusannya, Apabila dalam lima kali pukul tidak berhasil membinasakan lawannya, ini berarti ia sendiri yang akan membereskan dirinya sendiri.
"Dalam keadaan terpaksa Manusia tanpa bayangan mengumumkan dihadapan semua sahabat sahabatnya tentang permusuhan itu. ia juga bersedia menyelesaikan urusan itu dalam batas waktu lima jurus.
"Demikianlah kedua pihak dibawah orang banyak sebagai saksi mengadakan pertempuran mati-matian.
"Akhirnya musuh itu meski sudah bertekun melatih ilmu beberapa tahun, masih belum sanggup menjatuhkan lawannya. Dengan adanya yang keras, seketika itu juga lantas bunuh diri.
"Karena soal itu sudah selesai, Manusia tanpa bayangan mengundurkan diri dengan hati lega, set iap hari kerjanya mendidik anak-anaknya dan hidupnya juga berbahagia.
"Tak disangkanya anak perempuannya yang sulung ketika berusia tujuh belas tahun, telah mengalami kejadian diluar dugaannya. Anak perempuan itu memang seorang yang suka bergerak, tapi sejak suatu hari ia keluar rumah dan waktu malam baru pulang, kelakuannya sangat banyak berubah. Setiap hari ia menutup pintu dan selalu nampak murung.
"Manusia tanpa bayangan yang menyaksikan perubahan anak perempuannya, semula diam saja, t etapi lama kelamaan ia tidak sabar lagi.
"Pada suatu malam, ia panggil menghadap anaknya itu, dan ditanyakan apa sebabnya selalu murung? Semula anak itu tidak mau memberi keterangan, tetapi setelah didesak oleh ayahnya, akhirnya mengaku.
"Ternyata anak perempuan itu diluaran mempunyai seorang kawan laki-laki, yang menjadi kekasihnya. Karena tidak tertahan goda hati muda, akhirnya melakukan hubungan gelap, dan kini gadis itu sudah mengandung.
"Dalam keadaan sudah terlanjur seperti itu, Manusia tanpa bayangan hanya dapat mendamprat anaknya, kemudian suruh ia memanggil kawan lelakinya itu datang menghadap sang ayah itu ingin melihat apakah lelaki itu ada harganya atau tidak."
"Tak lama kemudian, kawan laki anaknya itu benar saja datang menghadap. Manusia tanpa bayangan yang menyaksikan anak laki sopan santun, diam-diam merasa girang, juga bersedia menerima padanya sebagai menantu.
"Apa mau, satu kejadian yang tidak sangka sangka telah terjadi. Diwaktu diadakan pesta makan minum, lakilaki tampan bakal menantu Manusia tanpa bayangan itu dalam mabuknya telah mencari keterangan urusan yang sudah lain, bahkan mengejek manusia tanpa bayangan sebagai seorang yang tidak baik kelakuannya.
"Manusia tanpa bayangan yang dimasa mudanya mendapat nama baik dikalangan Kang ouw, ketika mendengar ucapan tidak beres itu, sedapat mungkin kendalikan diri dalam medan pesta itu ia tidak berani minum arak, dengan kepala dingin memperhatikan maksud ucapan bakal menantunya itu."
"Pemuda itu sembari minum arak telah membeberkan sifat-sifatnya sendiri yang busuk dan akhirnya dengan mata melotot ia memberitahukan bahwa ia adalah anak laki-laki musuhnya manusia tanda bayangan, maka kedatangannya itu hendak menuntut balas dendam.
"Manusia tanpa bayangan yang mendengar ucapan itu, bukan kepalang terkejutnya. Akhirnya mereka bertempur sengit dengan beruntun pemuda itu melancarkan serangan pedang dan tangan kosong yang ganas tetapi semua dapat dielakkan oleh Manusia tanpa bayangan.
"Ketika manusia tanpa bayangan hendak melakukan serangan pembalasan, pemuda itu mengetahui gelagat tidak baik lantas melarikan diri, meninggalkan anak perempuan Manusia tanpa bayangan yang remuk redam hatinya.
"Kejadian itu menyulitkan Manusia tanpa bayangan, sebab anak perempuannya sudah mengandung dengan anak laki laki bekas musuhnya, kemudian hari anak yang akan dilahirkan pasti juga mengandung darah permusuhan."
"Setelah mengalami pukulan hatin yang sangat hebat itu, anak perempuannya perlahan-lahan berubah pikirannya segera orang gila, ketika Manusia tanpa bayangan mengetahui perubahan itu, ternyata sudah terlambat.
"Entah dengan kabar dari siapa, anak perempuannya itu pada suatu malam telah melarikan diri, pergi kegunung Kat nia untuk menjadi isteri si Kakek penjinak garuda.
"Manusia tanpa bayangan menyusul kegunung Kat nia hendak mencegah, tapi kakek penjinak garuda ada menerima padanya sebagai isteri, hingga sang ayah terpaksa balik kembali dengan hampa."
"Selama itu, pemuda musuhnya itu pernah datang kerumah manusia tanpa bayangan dua kali, pertama kali bertempur lagi dengan Manusia Tanpa Bayangan sampai beberapa puluh jurus, tidak ada yang kalah dan yang menang, dengan perasaan marah ia pergi.
"Kedua kali datang ia menyatakan hendak menghapus semua permusuhan yang sudah lalu, dan bersedia menikahi anak perempuan Manusia tanpa bayangan, tetapi perempuan itu kini sudah menjadi istri si-kakek penjinak Garuda, dalam marahnya Manusia tanpa bayangan telah membeberkan semua, apa sebabnya anak perempuannya sampai mengambil keputusan itu.
"Pemuda itu setelah mendengar keterangan itu, wajahnya berubah seketika, agaknya sangat menyesal, terkejut dan marah, hingga ia pergi lagi dan selanjutnya tidak muncul lagi, entah kemana perginya."
"Tak lama kemudian, anak perempuan manusia tanpa bayangan telah melahirkan sepasang anak kembar lakilaki. Kakek penjinak garuda rupanya girang sekali, tanda burung garuda yang dibuat bangga selama hidupnya telah dicacahkan diatas lengan dua bayi itu.
"Tetapi, keberuntungannya kakek itu tidak berlangsung lama, entah apa sebabnya, pada suatu hari, ketika kakek itu pulang dari pesiar tiba-tiba marah besar.
"Orang utan yang menjaga rumahnya dibunuh, tujuh ekor burung garuda kesayangannya dilepaskan semua, dan memaki isterinya tidak set ia, akhirnya berlalu meninggalkan rumah tangganya"
Berkata sampai disitu, It Jie Hui-kiam memesut air matanya yang mengalir keluar, jantung Ho Hay Hong yang mendengar cerita kisah menyedihkan itu, samarsamar sudah jauh mengerti bahwa kisah itu menyangkut dirinya sendiri.
Ia merasa seperti disambar petir, matanya berkunangkunang, otaknya ruwet, hampir saja ia jatuh pingsan.
It Jie Hui kiam melanjutkan ceritanya.
"Perempuan yang bernasib malang itu dengan hati pilu dia membawa dua oroknya pergi mencari suaminya, dengan susah payah ia mencari dimana-mana hampir semua gunung dan lautan sudah didatangi, tetap selama dua tahun ia mencari, masih tidak berhasil menemukan suaminya. Apa mau ia sendiri lantas jatuh sakit.
"Ia tahu benar sudah tidak ada harapan hidup lagi, dengan sisa tenaganya yang masih ada, ia pergi mencari kawan akrabnya semasa masih kanak-kanak, diberitahukannya semua pengalamannya dan menyerahkan kedua anaknya itu kepadanya, dan ia sendiri kemudian menutup mata untuk selama-lamanya."
It Jie Hui kiam tidak sanggup melanjutkan ceritanya, ia menangis seperti anak kecil. Ho Hay Hong tiba-tiba berkata.
"Ibu."
Semangatnya mendadak runtuh, jantungnya berdebar keras, lalu jatuh tengkurap dan tak ingat orang orang lagi.
Entah beberapa lama telah berlalu, ketika ia perlahanlahan sadar kembali, hari sudah malam.
Diluar angin meniup kencang, ia seperti orang bingung, otaknya kosong melompong.
It Jie Hui kiam masih belum berlalu, dengan suara lemah lembut.
"Anak, tanda burung garuda dilenganmu itu suatu bukti bahwa kau adalah keturunanku yang terdekat."
Ho Hay Hong yang sudah seperti orang linglung, ucapan It Jie Hui kiam hanya masuk kedalam telinganya, tetapi tidak mengerti maksudnya. Lama ia duduk termenung, baru pelahan-lahan membuka mulut.
"Aku sudah hampir mati, barang ini tolong locianpwse sampaikan kepada suhuku Dewi ular dari gunung Ho lansan, dia adalah teman karib ibu dimasa hidup."
Ia mengeluarkan salinan kitab ilmu silat garuda sakti, diberikan kepada It Jie Hui Kiam dan berkata pula.
"Kitab ini mungkin barang yang dibawa keluar oleh ibu dari gunung Kat nia, jikala locianpwee tidak dapat menemukan suhu boleh simpan saja sebagai barang peringatan!"
"Kau tidak akan mati. Hud sim Tot iang sudah menyembuhkan penyakitmu."
Berkata It-jie Hui kiam sambil menggelengkan kepala. Mendengar perkataan itu, Ho Hay Hong lompat bangun dan bertanya.
"Benarkah?"
Belum lagi It Jie Hui kiam menjawab, sudah didahului oleh gadis baju ungu.
"Kalau kau tidak percaya, kau boleh coba bernapas, betul luka dalam dada sudah sembuh atau belum ?"
Ho Hay Hong kini baru tahu bahwa dalam ruangan itu kecuali It Jie Hui kiam masih ada gadis berbaju ungu, Hud sim Tot iang, orang tua kuras tinggi, orang tua berambut pendek dan diapun anggauta pasukan angin puyuh serta laki-laki setengah umur berpakaian kuning yang dikenalnya sebagai suhengnya gadis berbaju ungu itu.
Ia merasa sangat malu, tetapi ia tahu bahwa orangorang itu memandang dirinya dengan kacamata lain, mungkin karena pengaruhnya It Jie Hui kiam.
"Dada kirinya terdapat tanda jari tangan yang biru, itu adalah perbuatannya pemimpin Liong houw hwee. Thian lam Lo jin, tanda itu adalah serangannya dengan ilmu khi-kangnya yang dinamakan Siao ciu thian khie kang yang membuat namanya terkenal. Setiap orang yang pernah diserang olehnya pasti meninggalkan bekas tapakan tangannya!"
Begitu mendengar keterangan Hut si Tot iang, delapan anggauta pasukan Angin puyuh mendadak lompat bangun dan berkata dengan suara serentak.
"Liong houw hwee juga begitu berani sewenangwenang, kita sekarang hendak pergi membuat perhitungan dengan mereka !"
Tetapi maksud mereka itu dicegah oleh It Jie Hui kiam, katanya sambil menggeleng kepala.
"Saudara-saudara silahkan duduk dulu, soal ini lambat atau cepat harus kita bereskan, tidak perlu tergesa-gesa. Kabarnya digunung Soat giam-san set iap tengah malam memancarkan sinar berkilauan yang bisa dilihat dari tempat jauh. Mungkin disitu terdapat benda pusaka, malam ini kau delapan orang coba mendaki gunung itu, untuk pergi melihat apa sebetulnya benda itu !"
Delapan orang itu menerima baik perintah pemimpinnya, lalu dengan serentak meninggalkan ruangan. Gadis berbaju ungu itu mendadak berkata.
"Kongkong, aku juga hendak pergi !"
It Jie Hui kiam mengerutkan keningnya, baru hendak menjawab, gadis itu sudah bertanya kepada Ho Hay Hong.
"Kau mau pergi atau tidak ?"
"Aku mungkin tidak sempat!"
Jawab Ho Hay Hong, tetapi ketika melihat gadis itu menundukkan kepala dengan perasaan kecewa, segera memberi penjelasan.
"tetapi kalau kau tidak ada kawan, aku boleh menemani kau !"
Gadis itu lantas berkata sambil tertawa.
"Bagus, kongkong, ia bersedia menemaniku, kongkong izinkan atau tidak ?"
"Kau ini memang nakal, baiklah. malam ini biar kau pergi pesiar, tetapi harus berlaku hati-hati, sekarang keadaan kurang aman. tidak seperti dulu"
Menjawab It Jie Hui kiam sambil tertawa.
"Aku tidak takut, para toako dari pasukan Angin puyuh semua merupakan orang yang kesohor namanya, siapa berani mengganggu? Apalagi Ho koko juga pandai menggunakan ilmu pedang terbang, asal ia mengeluarkan pedang pusakanya, musuhnya pasti gemetaran!"
Berkata gadis baju ungu sambil tertawa.
Ho Hay Hong yang jarang mendapat perlakuan hangat, mendapat perlakuan mesra seperti itu, sudah tentu merasa senang, apalagi orang yang berlaku mesra itu adalah satu gadis cantik manis bagaikan bidadari.
It Jie Hui-kiam dengan muka berseri-seri bertanya padanya.
"Hay Hong. usiamu sudah cukup besar diluar kau sudah mempunyai pandangan kawan wanita atau belum?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Ho Hay Hong merah seketika, ia lihat gadis berbaju ungu itu mengawasi dirinya dengan sinar matanya yang tajam, agaknya sangat perhatikan urusan itu.
"Aku belum pernah memikirkan soal itu !"
Baca Juga: Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam 3
Baca Juga: Neraka Hitam 7