Eps 11 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Sementara itu, Hoat-ong sudah naik ke atas dan berjumpa dengan utusan Panchen, yang sudah bisa bergerak leluasa karena ditolong dengan obat istana es.
Dengan perkataan-perkataan halus ia pun menghaturkan banyak terima kasih untuk semua pertolongan.
Kaki tangan Omateng yang sudah mati kutunya, berdiri di sudut ruangan tanpa berani bergerak.
Mereka ketakutan setengah mati, lebih-lebih dua boesoe yang menggotong tubuh Nyepa itu.
"Apakah kau orang ingin menebus dosa?"
Tanya Hoat-ong dengan suara angker. Melihat dibukanya jalanan hidup, semua boesoe itu segera manggut-manggutkan kepala.
"Sebagai orang kepercayaan, kau orang tentu mengetahui, bahwa Omateng telah bersekutu dengan orang luar untuk menimbulkan kekacauan di Tibet,"
Kata pula Hoat-ong.
"Sekarang aku ingin mendapat bukti dari persekutuan itu untuk diumumkan kepada dunia, terutama kepada pembesar-pembesar dan rakyat di Sakya."
Sehabis berkata begitu, ia segera memerintahkan dua orang muridnya untuk menggeledah kamar Omateng dengan orang-orang kepercayaan itu.
Benar saja dalam kamar itu telah didapatkan sejumlah surat-surat rahasia, antaranya surat balasan Raja Kalimpong dan Raja Nepal yang menjanjikan pengiriman tentara.
Hoat-ong segera meminta Pengtjoan Thianlie untuk menyadarkan Nyepa itu, yang meskipun licik, sekarang tidak bisa menyangkal lagi segala kedosaannya.
Sesudah menegurnya dengan perkataan-perkataan keras, Hoat-ong menotok beberapa bagian tubuhnya untuk memusnahkan ilmu silatnya.
Sesudah itu, ia menyerahkan Omateng kepada utusan Panchen untuk dibawa ke Lhasa dan diadili.
Sesudah membereskan keadaan di dalam bentengan, Hoat-ong memerintahkan beberapa muridnya, dengan membawa tanda kekuasaan Budha Hidup, pergi mendamaikan kedua pasukan yang sedang berhadapan di luar bentengan, yaitu pasukan Touwsoe dan pasukan Lochu, pamannya Chena.
Sementara itu, utusan Panchen telah memberi pengampunan kepada si tabib, yang telah dipaksa Omateng untuk meracuninya.
Tak usah dikatakan lagi, ia jadi kegirangan dan lalu berlutut sambil manggutkan kepala berulang-ulang.
Atas pertanyaan Thian Oe, tabib itu memberitahukan, bahwa jenazah Chena ditaruh di belakang bentengan bersama peti mati Touwsoe.
Tanpa menunggu lagi, dengan diantar oleh si tabib, bersama Yoe Peng, Thian Oe segera menuju ke tempat yang ditunjuk.
Ternyata jenazah Chena ditaruh dalam sebuah peti mati kaca, di samping peti mati Touwsoe.
Dengan berbuat begitu, Omateng mempunyai maksud tertentu, la ingin, supaya semua penghuni dalam bentengan Touwsoe bisa mengenali, bahwa pembunuh itu adalah "si pencuri kuda"
Yang pernah ditolong oleh Tan Teng Kie dan puteranya.
Dengan berbuat begitu, ia bertujuan untuk mengobarkan perasaan gusar terhadap orang Han seumumnya dan Soanwiesoe khususnya.
Tapi, di luar dugaan, tindakan Omateng telah memungkinkan Thian Oe melihat pula wajah kecintaannya.
Karena hawa yang dingin, maka biarpun sudah lewat sekian lama, jenazah itu masih belum rusak dan di bawah kaca, paras muka Chena tiada bedanya seperti waktu masih hidup.
Melihat kecintaannya, untuk sejenak Thian Oe berdiri terpaku.
Kepalanya terputar, ia merasakan seolah-olah langit ambruk.
Di lain saat, dengan satu teriakan menyayatkan hati, ia melompat dan memeluk peti mati itu!
Semua orang --Yoe Peng, si tabib, nyonya Touwsoe dan Sanpiie --mengawaskan dengan mata membelalak.
Sesaat itu, segala apa sudah menjadi terang bagi Sanpiie.
Ia sekarang tahu sebabsebab penolakan pemuda itu untuk menikah dengannya.
Sesudah hilang kagetnya, nyonya Touwsoe jadi gusar.
"Tan Kongtjoe,"
Katanya dengan suara mendongkol.
"Untuk apa kau masuk ke ruangan ini? Untuk bersembahyang kepada suamiku atau kepada penjahat perempuan itu?"
"Dia... bukan... penjahat,"
Jawabnya terputus-putus.
"Dia adalah puteri Raja muda Chinpu. Jika kalian tidak senang, biarlah sekarang juga aku memindahkan peti matinya."
"Aku tak perduli dia siapa!"
Berteriak nyonya Touwsoe.
"Dia adalah pembunuh suamiku dan biarpun dia sudah mati, dia masih harus membayar hutangnya!"
Mendadak nyonya itu menangis menggerung-gerung dan sesambat.
"Ongya! Ongya! Sungguh buruk nasibmu! Sesudah mati, masih ada orang yang menghina kau!"
Selagi ia mau mencaci, sekonyong-konyong ia ingat pertolongan Thian Oe yang sudah bantu menyingkirkan Omateng.
Mengingat begitu, ia jadi lebih sabar dan tangisannya mereda Sekonyong-konyong terdengar tangisan Yoe Peng.
"Chena Tjietjie!"
Teriaknya.
"Jiwamu dijual terlalu murah! Orang lain membunuh sekeluargamu dan merampas harta bendamu. Tapi, kau dengan hanya membunuh satu musuh, sudah mesti membayar dengan jiwamu sendiri. Chena Tjietjie! Kematianmu sungguh tidak berharga!"
Nyonya Touwsoe dan Sanpiie terkejut.
Bahwa Touwsoe telah membunuh Raja muda Chinpu serumah tangga dan kemudian merampas tanah, adalah kejadian yang diketahui mereka.
Maka itu, perkataan Yoe Peng yang tajam sudah mengejutkan mereka.
Sedang Yoe Peng masih mengucurkan air mata, dengan diantar Hoat-ong dari luar tiba-tiba masuk seorang yang bertubuh tinggi besar.
Orang itu adalah Lochu.
Melihat jenazah keponakannya yang ditaruh berendeng dengan peti mati Touwsoe, Lochu gusar bukan main.
"Binatang!"
Bentaknya.
"Kau berani berendeng dengan keponakanku?"
Ia mengangkat tangan untuk menghantam peti mati Touwsoe. Hoat-ong merangkap kedua tangannya seraya berkata dengan suara sabar.
"Sesudah hutang dibayar, permusuhan habis dengan sendirinya. Mulai dari sekarang, kedua belah pihak harus menyingkirkan segala permusuhan."
Mendengar itu, Lochu mengurungkan niatnya dan dengan sorot mata gusar ia mengawasi nyonya Touwsoe yang duduk di atas lantai tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Melihat kedatangan Lochu, Thian Oe merasa tak perlu berdiam lebih lama lagi, maka sambil menarik tangan Yoe Peng, ia segera berjalan keluar dari ruangan sembahyang itu.
*** Di gedung Soanwiesoe, Keng Thian kaget bukan main ketika orang melaporkan, bahwa Thian Oe telah kembali bersama dua orang wanita.
"Eh-eh! Apa dia terluka?"
Tanya Keng Thian.
"Tidak, Kongtjoe kelihatan lebih segar daripada waktu berangkat,"
Jawab serdadu yang melaporkan.
Buru-buru Keng Thian keluar dan begitu melihat, kegirangannya meluap-luap.
Thian Oe berjalan masuk sambil tersenyum, sedang Peng Go dan Yoe Peng mengikuti dari belakang dengan bergandengan tangan.
Untuk melayani musuh, sudah beberapa hari ia bekerja terus menerus hampir tanpa mengasoh, sehingga ia sudah lelah dan lesu sekali.
Tapi kedatangan Peng Go seolah-olah air hujan bagi pohon yang layu dan mendadak saja kesegarannya pulih kembali.
"Peng Go Tjietjie!"
Teriaknya.
"Kenapa baru hari ini kau datang kesini? Thian Oe, apakah yang sudah terjadi? Kenapa kau tidak pergi ke Lhasa?"
Sedang mulutnya menanya Thian Oe, matanya terus mengincar Pengtjoan Thianlie. Yoe Peng tertawa terpingkal-pingkal, dan melepaskan tangannya dari cekalan si nona. Ia mendorong Thian Oe dan berteriak.
"Tolol! Tak usah meladeni pertanyaannya. Mari kita berlalu. Biar mereka bicara sepuas hati."
"Tak usah pergi ke Lhasa,"
Kata Peng Go yang lalu menceritakan apa yang sudah terjadi. Itulah perkembangan yang sungguh di luar dugaan Keng Thian.
"Peng Go Tjietjie, kau sungguh seperti seorang dewi,"
Ia memuji dengan perasaan kagum.
"Dengan sekali mengebas tangan, awan membuyar dan matahari muncul di langit cerah."
Paras muka si nona bersemu dadu.
"Hm! Kegirangan, tapi aku justru sedang kebingungan,"
Katanya. Keng Thian terkejut.
"Ada apa lagi?"
Tanyanya dengan suara berkuatir.
"Bencana yang paling besar sudah dielakkan. Ada apa lagi yang menjengkelkan?"
"Bahaya masih belum lewat,"
Jawab si nona yang lalu menuturkan pertemuannya dengan Ngotu, yang memberitahukan, bahwa Raja Nepal ingin datang ke Tibet untuk memaksa ia pulang.
"Tindakan apa yang harus diambil olehku guna menghadapi bahaya itu?"
Tanya Peng Go akhirnya. Paras muka Keng Thian lantas saja berubah guram, tapi sesudah memikir sejenak, ia tertawa.
"Sebagai seorang yang sudah kenyang membaca kitab-kitab pelajaran Budha, apakah kau tak tahu, bahwa Hoedtjouw pernah memotong daging sendiri untuk diberikan kepada seekor elang dan pernah berkorban untuk seekor Harimau?"
Tanyanya.
"Apa kau rela melihat aku menikah dengan Raja Nepal?"
Si nona balas menanya dengan suara menegur. Keng Thian kembali tertawa seraya berkata.
"Gila! Masakah aku rela membiarkan kau menikah dengan raja kejam itu? Maksudku adalah supaya kau tidak menampik capai lelah untuk pergi ke Nepal guna menemui manusia kejam itu. Pertama, kau bisa mengakhiri niatnya yang tidak-tidak dan kedua, kau bisa bertindak dengan mengimbangi salatan. Misalnya, jika masih terdapat kemungkinn, kau bisa menuntun dia ke jalanan yang lurus, atau, kau bisa juga menggulingkannya dan mengangkat seorang raja yang lebih bijaksana. Dengan berbuat begitu, kau menyebar kebaikan kepada umat manusia seumumnya dan kepada rakyat Nepal khususnya."
"Ibuku pernah bersumpah untuk tidak kembali lagi ke Nepal,"
Kata si nona.
"Di samping itu, andaikata aku pergi, belum tentu aku bisa berhasil."
"Dalam dunia ini banyak kejadian yang terjadi di luar dugaan manusia,"
Membujuk Keng Thian.
"Dulu, kau pun pernah mengatakan, bahwa kau tak akan turun dari istana es. Tapi bagaimana kesudahannya? Robohnya Puncak Es sudah memaksa kau kembali ke pergaulan umum, kaumalahan sudah terlibat dalam pertempuran, sudah tertarik ke dalam banyak peristiwa yang memusingkan otak. Maka itu, untuk menolong sesama manusia, sekarang kau tak boleh takut pusing atau takut capai."
Sebenarnya, si nona pun sudah menggenggam niatan itu. Mendengar bujukan Keng Thian, ia segera menyetujui dan berkata sambil bersenyum.
"Kalau begitu, kau harus mengikut aku pergi bersama-sama!"
"Akur!"
Kata Keng Thian dengan suara girang.
"Aku memang sedang menunggu undangan itu! Sesudah mengasoh dua hari, kita lebih dulu pergi ke Lhasa untuk menemui Hok Kong An dan mendengar-dengar soalnya Liong Leng Kiauw. Sesudah itu, barulah kita berangkat untuk berjumpa dengan raja kejam itu."
Sambil berjalan berendeng di taman gedung Soanwiesoe, kedua orang muda itu beromongomong dengan suara perlahan.
Dengan perasaan geli, mereka menceritakan kembali beberapa salah mengerti di masa yang lampau yang sebagian besar disebabkan oleh sepak terjang Kim Sie Ie.
"Orang itu sangat sukar ditaksir,"
Kata Keng Thian.
"Tadinya aku sangat membenci dia. Tapi kali ini, di luar semua dugaan, ia telah menolong Thian Oe. Waktu Omateng mengirim orang untuk menangkap pemuda itu, mendadak dia muncul dan dengan suka rela menggantikan Thian Oe untuk menemui Hoat-ong. Coba kau pikir. Heran atau tidak?"
"Kau tentu tak tahu, dia hampir-hampir mengantarkan jiwa,"
Kata si nona.
"Barusan aku sudah lupa untuk memberitahukan hal itu kepadamu. Waktu aku tiba di kuil Lhama, ia justru sedang bertempur dengan Hoat-ong."
Si nona lalu menuturkan kejadian itu secara jelas. Keng Thian merasa semakin kagum akan cara-caranya orang aneh itu. Sesaat kemudian, ia menghela napas seraya berkata.
"Ia hanya bisa hidup tiga puluh enam hari lagi, tapi ia kukuh menolak segala bantuan yang ditawarkan olehku.
Dia sungguh manusia yang paling luar biasa dalam dunia ini.
Sebelum mencarinya, hatiku tak akan merasa senang.
Tapi kemana dia sudah pergi?
*** Kemana perginya Kim Sie Ie?
Dari kuil Lhama, ia kabur bagaikan orang gila, tanpa tujuan.
Perlahan-lahan fajar menyingsing dan angin pagi yang dingin menyadarkan otaknya yang ditutup kabut.
"Kemana aku harus pergi?"
Tanyanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba ia merasa haus, haus sekali.
Dalam pertempuran melawan Hoat-ong, ia telah mengeluarkan tenaga dan keringat terlalu banyak.
Untung juga, berkat pertolongan dua butir Pengpok Sintan, hawa panas itu tertindih dan tak sampai "membakar"
Dirinya.
Tapi peluru es bukannya obat, maka sesudah melumer dan habis kekuatannya, ia kembali merasa haus, karena hawa panas dalam tubuhnya belum hilang semuanya.
Ia lalu berjalan lebih cepat di jalanan raya yang menuju ke Lhasa dan tak lama kemudian, ia bertemu dengan sebuah warung arak.
Karena hawa di Tibet sangat dingin, orang-orang yang berlalu-lintas sangat memerlukan arak untuk menghangatkan badan.
Maka itu, di sepanjang jalanan raya terdapat banyak sekali warung-warung arak.
Ia segera mampir di warung itu dan sambil minum arak, ia memandang alam yang indah.
Di ladang dan di bukit-bukit, dan rumput sudah mulai menghijau dan di antara warna hijau yang menutup bumi, terdapat bunga-bunga kecil yang berwarna kuning muda.
Itulah pemandangan dari permulaan musim semi dan bunga yang mekar paling dulu adalah Potjoen hoa (Bunga yang memberitahukan kedatangan musim semi).
Waktu itu sudah masuk Djiegwee (Bulan kedua), tapi karena datangnya musim semi selalu agak terlambat, maka di antara rumput hijau, masih terdapat pohon-pohon gundul atau yang daunnya berwarna kuning tua.
Kim Sie Ie jadi semakin berduka.
"Ah! Nasibku tiada bedanya seperti itu daun kuning yang sedang menunggu rontoknya,"
Ia mengeluh.
Dalam dukanya, tanpa merasa ia menyanyi lagu Lianhoalok, yaitu lagu kaum pengemis yang didapatnya waktu ia masih mengemis di daerah Kanglam.
Karena sedih dan penasaran, semakin lama ia menyanyi semakin keras, sehingga pelayan yang membawa poci arak jadi terkejut.
"Tuan tamu! Arak datang!"
Teriaknya.
Tanpa menoleh, ia mementil leher poci sehingga patah dan dari jauh ia menyedot.
Loh!
Arak itu mendadak mancur keluar dari dalam poci dan masuk ke dalam mulutnya.
Si pelayan kaget tak kepalang dan mengawaskan pertunjukan itu dengan mata membelalak.
Sekonyong-konyong, sambil berteriak keras, Kim Sie Ie melompat seperti orang dipagut ular!
Kenapa?
Ternyata, selagi ia menyedot arak, mendadak menyambar serupa benda kecil yang berbentuk pil dan bersama arak, masuk ke dalam mulutnya.
Sambaran itu luar biasa cepat dan tidak terdugaduga, waktu ia mengetahui, benda itu sudah masuk ke dalam perut.
Sebagai orang yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu menggunakan senjata rahasia, bokongan tersebut tentu saja mengejutkan sangat hatinya.
Sesaat kemudian, ia merasa semacam hawa dingin menerobos masuk sampai di tantian (pusar) dan hampir berbareng, rasa haus, puyeng dan sakit menghilang semuanya.
Ia terkesiap dan ingat perkataan Phang Lin yang pernah menceritakan tentang khasiat Pekleng tan.
Apakah yang ditelannya pil Pekleng tan yang terbuat dari Thiansan Soatlian?
"Aku ingin sekali bertemu dengan orang yang menolong diriku!"
Berseru Kim Sie Ie.
Sekonyong-konyong ia melihat muka dua wanita di jendela sebelah barat dan mereka itu bukan lain daripada Phang Lin dan puterinya.
Bahna kagetnya, ia mengeluarkan jeritan nyaring dan berdiri terpaku.
Ia sudah menolak Pekleng tan yang diberikan Keng Thian, tapi akhirnya, ia menelan juga pil itu.
Biarpun pil yang ditelannya bukan diberikan langsung oleh Keng Thian, tapi Pekleng tan tetap Pekleng tan.
Phang Lin adalah bibi Keng Thian.
Bukankah dengan demikian, secara tak langsung, ia juga menerima budinya pemuda itu?
Pada saat itu, rupa-rupa pikiran berkelebat-kelebat dalam otaknya, sedang Lie Kim Bwee menggapai-gapai dengan sikap nakal.
Bibirnya bergerak, tapi ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Mendadak, berbareng dengan berkelebatnya bayangan orang, Phang Lin dan puterinya menghilang dari pandangan.
Kim Sie Ie bengong dan tiba-tiba saja, ia merasa sangat menyesal.
Ia ingat, bahwa dalam pertemuan pertama di atas gunung Gobie san, selagi si nona bermain-main dengan kawanan kera, Kim Bwee pernah berkata begini.
"Jika kau berlaku baik terhadap mereka (kera-kera), mereka pun bersikap manis terhadapmu. Jika kau menghina mereka, mana mereka mau bersahabat dengan kau?"
Sekarang, mendadak ia mendusin dan merasa, bahwa perkataan si nona tepat sekali.
Ia menganggap, bahwa dengan menolong Thian Oe, ia sudah berbuat suatu kebaikan.
Dan karena perbuatannya itu, beberapa orang memperhatikan dirinya dan tanpa diminta, sudah mengulur tangan untuk menolongnya.
Memikir begitu, dalam hatinya muncul pertanyaan.
"Apakah aku yang sudah menarik kesimpulan salah? Apakah dunia ini sebenarnya tak begitu kejam seperti yang diduga olehku?"
Dalam kedukaannya, ia ingat pula banyak kejadian di masa lampau.
Ia ingat kecintaan mendiang ayahnya, ia ingat kecintaan seorang pengemis tua yang pernah mencuri ubi manis untuk menolongnya dari kelaparan, ia ingat kebaikan Pengtjoan Thianlie dan ingat pula si nona nakal yang sangat memperhatikan dirinya.
Di samping ayahnya yang tercinta, orang-orang itu telah berpapasan dengannya hanya untuk sementara waktu, tapi, dalam tempo yang sependek itu, mereka telah berbuat apa-apa yang tak dapat dilupakannya.
Mengingat begitu, air matanya mengucur deras.
Ia ingin berteriak untuk memanggil Kim Bwee dan ibunya, tapi mereka sudah tak tertampak bayang-bayangannya lagi.
Sambil menangis, ia mengawasi ladang yang luas dengan sorot mata dan paras muka orang yang hilang ingatan.
Para pelayan berwaspada dengan hati berdebar-debar, tapi mereka tak berani menegur tamu yang aneh itu.
Sekonyong-konyong, ia mendengar suara seorang wanita yang tak asing.
"Aku minta sepoci arak susu kuda,"
Katanya.
"Ibu, aku tak suka arak susu kuda yang asam,"
Kata seorang wanita muda.
"Aku ingin minum anggur yang manis."
Ia menoleh dan matanya kebentrok dengan mata dua orang wanita, seorang ibu dan puterinya.
Begitu melihat Kim Sie Ie, si nona lantas mundur beberapa tindak dengan mata membelalak.
Kedua wanita itu bukan lain daripada Yo Lioe Tjeng dan Tjee Tjiang Hee.
Oleh karena sang ibu ingin sekali bertemu dengan Tong Siauw Lan, sedang si anak kepingin berjumpa dengan Tong Keng Thian, maka pada suatu hari ibu dan anak itu telah berangkat ke Sinkiang dengan niatan mendaki Thiansan guna menemui keluarga Tong.
Setibanya di Sinkiang, mereka bertemu Lie Tie dan baru mereka mengetahui, bahwa Keng Thian berada di Tibet, sedang Siauw Lan pun sudah berangkat ke Tibet kira-kira setengah bulan berselang, untuk menyusul puteranya Maka itulah, mereka lalu menuju ke Tibet dan di luar dugaan, di tengah jalan bertemu dengan Toktjhioe Hongkay.
Waktu baru masuk ke warung arak, mereka tak mengenali pemuda itu yang mengenakan pakaian Thian Oe.
Sesudah melihat wajahnya, barulah mereka tahu siapa adanya dia Kim Sie Ie tentu saja tak tahu, bahwa kaburnya Phang Lin adalah karena kedatangan Yo Lioe Tjeng.
Sebagaimana diketahui, Phang Lin adalah seorang wanita yang suka guyonan.
Dulu, dengan menyamar sebagai Phang Eng, kakaknya, ia pernah memapas rambut Yo Lioe Tjeng dengan golok terbang.
Itulah sebabnya, begitu melihat nyonya tersebut, ia kemalu-maluan, tidak berani menemuinya dan lalu kabur sambil menyeret tangan puterinya yang merasa heran melihat sikap sang ibu.
Sementara itu, melihat puterinya begitu ketakutan, Yo Lioe Tjeng berkata dengan suara mendongkol.
"Takut apa? Ingatlah, bahwa kau adalah cucu Tiattjiang Sintan Yo Tiong Eng. Jangan kasih dirimu dipandang rendah!"
Beberapa puluh tahun lamanya, Yo Tiong Eng pernah jadi pemimpin Rimba Persilatan di lima propinsi Tiongkok Utara.
Sebagai puteri keluarga yang kesohor, Yo Lioe Tjeng tentu saja sungkan merendahkan diri.
la yakin, bahwa mereka berdua masih bukan tandingan Kim Sie Ie.
Akan tetapi, ia pun tahu, bahwa jika si penderita kusta mau menyusahkan, biarpun lari, mereka tak akan bisa terlolos.
Sebab itu, ia segera mengambil keputusan untuk mempertahankan diri, sesuai dengan kedudukannya dalam Rimba Persilatan.
Jika perkataan nyonya itu dikeluarkan pada beberapa tahun berselang, ia pasti akan diganggu.
Tapi sekarang, bukan saja Kim Sie Ie tak mempunyai kegembiraan untuk mengganggu orang, tapi perkataan Yo Lioe Tjeng malahan sudah menimbulkan rasa jengah dalam hatinya.
"Ah, nona itu cantik dan manis, seperti Kim Bwee Moaymoay,"
Pikirnya.
"Tapi begitu melihat aku, dia lantas saja ketakutan. Ini memang salahku yang sudah menanam bibit jelek pada dulu hari, sehingga semua manusia menganggap aku sebagai manusia aneh."
Yo Lioe Tjeng segera mengajak puterinya duduk di satu meja dan berteriak.
"Pelayan, ambil dua poci anggur!"
Sehabis berkata begitu, ia mengeluarkan gendewa dan peluru yang lalu ditaruh di atas meja.
Tapi biarpun di mulut berani, hati si nyonya sebenarnya ketakutan, sehingga tangan dan suaranya agak bergemetar.
Kim Sie Ie tersenyum dan dengan tenang minum terus araknya.
Selang beberapa saat, dari luar mendadak masuk seorang anak muda yang dandanannya seperti kacung kamar buku (pelayan pribadi dari seorang pemuda hartawan atau bangsawan) dan yang menggendong buntalan di punggungnya.
Kacung itu, yang berusia kira-kira enam belas atau tujuh belas tahun, kelihatan lelah sekali, tapi pada bibirnya selalu tersungging senyuman dan ia tak hentinya tertawa haha-hihi.
Sambil menaruh buntalan di atas meja, ia berkata seorang diri.
"Bagus 'dah! Besok aku sudah tiba di Sakya. Pelayan, berikan aku sepoci anggur dingin!"
Di pegunungan Tibet, hawanya dingin luar biasa dan sepanjang tahun es tak pernah melumer.
Tapi di tanah datar, di waktu siang hawanya panas.
Waktu itu belum tengah hari, tapi si kacung yang rupanya sudah berjalan sedari pagi, sudah kepanasan dan kecapaian.
Sesaat kemudian, pelayan datang dengan membawa sepoci anggur dan sepiring es potongan.
Si kacung lalu menuang arak di cawan, mengambil sepotong es yang lalu dicemplungkan ke dalam cawan dan kemudian menghirup isinya sambil meram-melek.
"Aduh, enak betul!"
Katanya dengan suara keras.
Arak kaizar belum tentu seenak ini!' Ia menyapu seluruh ruangan dengan matanya dan mendadak mendekati meja Yo Lioe Tjeng sambil tertawa haha-hihi.
"Aha!"
Serunya.
"Kalian masih belum tahu cara meminum anggur. Masa anggur ditambah air? Dengarlah, aku memberi petunjuk. Jika kalian takut anggur itu terlalu keras, tambahlah sepotong es. Anggurnya jadi lebih lunak dan rasanya dingin."
Alis Yo Lioe Tjeng berkerut, tapi ia sungkan rewel, karena sedang memperhatikan gerak-gerik Kim Sie Ie.
Tapi si kacung ternyata tak mengenal batas.
Ia kembali ke mejanya, mengambil piring es dan balik lagi seraya berkata.
"Aku tak dusta. Cobalah!"
Ia menjumput sepotong es dengan jerijinya yang kotor dan lalu menaruhnya ke dalam cangkir Tjee Tjiang Hee. Si nona gusar bukan main.
"Siapa suruh kau campur-campur urusanku?"
Bentaknya sambil mementil dua biji buah tho. Itulah ilmu mementil peluru dari keluarga Yo yang tersohor.
"Tuktuk!" , biji itu mengenakan tepat pada jalanan darah Djoanma hiat, di bawah kedua ketiak si kacung, yang lantas berteriak "aya!" , sambil melompat tinggi, sehingga piring es tumpah dan potongan-potongan es menimpa muka si nona.
"Jika kau tak suka, kenapa tak bilang siang-siang,"
Teriak si kacung.
"Benar-benar kau tak mengenal kebaikan orang. Hm! Kongtjoe-ku tak begitu sukar dilayani seperti kau!"
Mukanya Tjiang Hee bersemu dadu.
"Siapa mau dilayani olehmu?"
Ia balas membentak sambil mengangkat tangan untuk menggampar.
Tapi sebelum tangannya melayang, ia sudah ditarik ibunya.
Yo Lioe Tjeng yang mempunyai banyak pengalaman, mengawaskan si kacung dengan rasa heran dan sangsi.
Djoanma hiat adalah salah satu dari tiga puluh enam jalanan darah besar dalam tubuh manusia.
Jangankan seorang anak muda, sedangkan orang yang berkepandaian tinggi mesti rebah jika Djoanma hiat-nya terpukul.
Apakah kacung itu mempunyai Pithiat Kanghoe (ilmu menutup jalanan darah)?
Sekonyong-konyong Kim Sie Ie tertawa terbahak-bahak dan bangun berdiri.
Yo Lioe Tjeng terperanjat dan tangannya lalu mengambil gendewa dan peluru.
"Saudara kecil,"
Kata Kim Sie Ie sambil tertawa.
"Cara kau minum arak sungguh bagus. Pelayan! Ambil sepiring es untukku."
Mendengar suara orang, si kacung memutar badan. Mendadak ia berteriak.
"Aduh! Tak nyana Inkong (tuan penolong) yang bicara! Hari itu, aku tidak keburu menghaturkan terima kasih. Kenapa kau juga berada disini? Inkong, aku tak mempunyai apa-apa untuk membalas budimu. Aku hanya bisa mengundang kau minum secawan a-rak. Harap Inkong jangan menampik. Aha! Aku sungguh gila! Inkong sudah menolong aku, tapi aku sendiri belum menanya she dan nama Inkong yang besar!"
Kim Sie Ie tertawa seraya berkata.
"Hm! Jika tak salah, kau ini bernama Kang Lam, pelayan yang sangat bawel dari Tan Tliian Oe. Bukankah begitu?"
"Tentulah Siauw Loosoe yang memberitahukannya kepadamu,"
Kata Kang Lam.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak banyak mulut. Mereka mengatakan begitu, karena mereka membenci aku."
"Bagus!"
Kata Kim Sie Ie.
"Kita berdua sama-sama dibenci orang. Marilah minum!"
Yo Lioe Tjeng semakin tak enak hatinya.
Sedang satu Kim Sie Ie saja sudah sukar dilayani, apalagi ditambah dengan si kacung aneh.
Tapi sebenarnya, dalam hal ilmu silat, kepandaian Kang Lam masih belum dapat menandingi Tjee Tjiang Hee.
Hanyalah karena pernah dipaksa menjadi murid Hongsek Toodjin, sehingga ia pernah mempelajari ilmu membalik aliran jalanan darah dari imam itu, maka biji buah tho yang dipentil si nona tidak berhasil merobohkannya.
Bahwa hari itu ia berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Hongsek Toodjin, adalah berkat pertolongan Kim Sie Ie dan Pengtjoan Thianlie.
Biarpun benar, ia terutama ditolong oleh Tong Keng Thian, tapi tanpa bantuan kedua orang itu, Keng Thian pasti tak akan dapat memundurkan Hongsek.
Kang Lam adalah seorang yang mempunyai ingatan kuat, sehingga, meskipun hanya melihat sekelebatan, ia tak bisa melupakan wajah Kim Sie Ie.
Maka itulah, begitu bertemu, ia segera memanggil Inkong.
Kim Sie Ie yang sedang uring-uringan dengan beruntun menghabiskan belasan cawan dan kemudian sambil mendelik, ia menanya.
"Eh, kenapa kau memanggil Inkong? Selama hidupku, baru pertama kali orang memanggil Inkong kepadaku."
"Tanpa pertolonganmu, sampai sekarang aku tentu masih jadi muridnya toosoe bau itu,"
Kata Kang Lam.
"Sampai di ini detik, aku tentu masih terkurung di dalam hutan batu. Mungkin sekali aku sudah mati lantaran sebal."
"Toosoe itu bersedia menurunkan kepandaiannya kepadamu,"
Kata pula Kim Sie Ie.
"Kenapa kau berbalik merasa sebal terhadapnya?"
"Dia jahat,"
Jawabnya.
"Tak keruan-keruan, ia mencaci aku. Hm! Mukanya tak seperti muka manusia. Belum pernah aku melihat ia tertawa. Bagaimana aku tidak merasa sebal?"
"Kau tahu aku siapa?"
Tanya Kim Sie Ie dengan mata melotot.
"Aku justru mau menanya,"
Jawabnya dengan sikap hormat.
"Kau dengarlah!"
Membentak Kim Sie le dengan suara menggeledek.
"Aku adalah Kim Sie Ie, yang dikenal dalam kalangan Kangouw sebagai Toktjhioe Hongkay! Kau tahu? Aku membunuh manusia tanpa memilih hari, menggebuk orang tanpa alasan. Kau tahukah?"
Mendengar itu, jantung Yo Lioe Tjeng memukul keras, sedang Kang Lam pun berdebar-debar hatinya. Tapi walaupun ketakutan, ia tetap bersenyum-senyum seraya berkata.
"Itu semua aku tak tahu dan aku tak mau ambil perduli. Yang penting adalah, kau telah berbuat baik kepadaku dan budi itu tak dapat aku melupakannya."
Kata-kata Kang Lam seolah-olah jarum yang menusuk hati Kim Sie Ie.
Ia segera ingat Lie Kim Bwee yang mengatakan, bahwa orang akan bersikap baik terhadapnya, jika ia bersikap baik terhadap orang lain.
Ia menghela napas dan berkata sambil mendorong cawan arak.
"Aku adalah manusia yang bertindak sesenang hatiku. Aku paling benci manusia-manusia yang memperdagangkan budi. Kata-kata Hiapsoe (pendekar) atau Inkong (tuan penolong) tak boleh diucapkan lagi untuk alamatku. Jika kau senang dengan istilah itu, gunakannya terhadap Tong Keng Thian."
Kang Lam terkejut dan lalu berkata.
"Tong Tayhiap juga adalah tuan penolongku. Hm! Bukankah Tong Tayhiap sahabatmu? Setiap kali Tong Tayhiap datang di Sakya, ia tentu menginap di rumah Kongtjoeku."
Kang Lam hanya mengetahui, bahwa Kim Sie Ie dan Pengtjoan Thianlie pernah membantu Tong Keng Thian dalam pertempuran melawan Hongsek Toodjin.
Tentu saja ia sama sekali tak tahu adanya ganjelan antara kedua pemuda itu.
Sekonyong-konyong Kim Sie Ie melontarkan cawan arak dan tertawa terbahak-bahak.
"Tong Keng Thian adalah pendekar besar, sedang aku hanyalah si pengemis gila!"
Teriaknya.
"Bagus! Mari... mari! Mari kita minum!"
Ia mengangkat lagi cawan, tapi sebelum mencegluk isinya, ia berkata pula.
"Kang Lam! Lidahmu sangat Ioncer! Jangan sombong kau! Lagi kapan kau minum araknya kaizar?"
"Aku tidak berdusta,"
Katanya "Memang benar aku pernah minumnya. Pergiku ke kota raja adalah..."
Mendadak ia berhenti bicara, karena ingat pesanan majikannya.
Sebenarnya tugas Kang Lam bukan tugas rahasia.
Ia hanya diperintah membawa surat Tan Teng Kie ke kota raja.
Ipar Tan Teng Kie, yang harus menerima itu, berpangkat Giesoe dan Kang Lam tiba di kota raja kebetulan pada hari-hari raya Tahun Baru.
Sebagaimana biasa, setiap Tahun Baru, kaizar menghadiahkan arak istana kepada pembesar-pembesar negeri, setiap orang mendapat beberapa botol.
Itulah sebabnya, Kang Lam pun dapat mencicipi secawan arak istana.
Tapi Kim Sie Ie yang sudah sinting, salah mengerti.
Ia menganggap si kacung berhenti bicara karena dalam ruangan itu terdapat banyak orang lain.
"Baiklah!"
Tiba-tiba ia berteriak.
"Aku akan mengusir semua yang berada disini. Saudara kecil, kau tak usah kuatir."
Yo Lioe Tjeng jadi gusar sekali dan tangannya lantas saja mencekal busur dan peluru.
Pada saat hampir terjadi bentrokan, mendadak dari luar berjalan masuk dua tetamu.
Begitu melihat mereka, Kang Lam bergemetar sekujur badannya dan buru-buru bersembunyi di belakang Kim Sie Ie.
Yang masuk itu adalah seorang pendeta dan seorang imam.
Si pendeta tidak dikenal Kim Sie Ie, tapi si imam bukan lain daripada itu jago Khongtong pay, Hongsek Toodjin, yang baru saja disebut-sebut.
Hongsek tertawa dingin dan dengan sorot mata tajam, ia menyapu Kim Sie Ie dan Kang Lam, sehingga si kacung terbang semangatnya.
"Ha! Kau telah mendapat guru yang jempol!"
Katanya.
"Jangan takut,"
Kata Kim Sie Ie.
"Minum terus."
Ia maju mendekati Hongsek dan menyambung perkataannya.
"Jangan campur-campur urusan orang, mengerti?"
Sebagaimana diketahui, ketika terjadi pertempuran antara Hongsek dan Tong Keng Thian, si imam telah berjanji, bahwa jika ia tidak dapat merobohkan pemuda itu dalam tujuh jurus, ia tak akan mencampuri urusan Kang Lam untuk selama-lamanya.
Mengingat begitu, Kang Lam yang mengenal kebiasaan dalam Rimba Persilatan, jadi agak tenteram hatinya.
"Benar!"
Teriaknya.
"Sebagai ketua dari suatu partai, kau tidak boleh menarik pulang janjimu sendiri!"
Hongsek melotot dan berkata pula dengan suara dingin.
"Bocah itu tak perlu digubris olehku. Tapi kau berhutang denganku dan hutang itu mesti dibayar."
Apa yang dimaksudkannya adalah jarum beracun yang dulu pernah dilepaskan oleh Kim Sie Ie, sehingga hampir-hampir ia mendapat luka. Kim Sie Ie lantas saja tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Bagus!"
Serunya.
"Sesudah minum beberapa cawan, aku memang sedang mencari-cari manusia untuk melampiaskan rasa mendelu dalam hatiku."
Bukan main gusarnya si imam. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia mengebut dengan hudtim-nya. Dengan jungkir balik Kim Sie Ie lompat melewati meja seraya berteriak.
"Jangan ganggu Kang Lam!
Bagaikan kilat, jerijinya menotok jalanan darah Koangoan hiat, di pergelangan tangan si imam.
Buru-buru Hongsek menarik pulang senjatanya mengerahkan lweekang, sehingga benang-benang hudtim buyar terpencar untuk menggulung tangan musuh.
Tapi di luar dugaan, totokan Kim Sie Ie hanya serangan gertakan dan begitu lekas si imam menarik pulang senjatanya, dengan sekali menjungkir balik, ia sudah berada di tembok seberang dan mengambil tongkatnya yang disenderkan di dinding itu.
Hongsek jadi semakin kalap dan terus memburu.
"Eh!"
Kata Kim Sie Ie dengan suara mengejek.
"Mari kita berkelahi di luar!"
Si imam yang kuatir diliciki lagi, lantas saja melompat dan menghadang di tengah pintu. Pemilik warung arak yang ketakutan setengah mati, berteriak dengn suara gemetaran.
"Tuan-tuan, modalku kecil, mohon tuan-tuan... berkelahi... di luar!"
Hongsek mengebas tangan jubahnya dan sepotong emas terbang jatuh ke atas meja.
"Jangan rewel! Aku ganti segala kerusakan!"
Bentaknya.
"Bagus!"
Seru Kim Sie Ie.
"Eh, hitung juga arak yang sudah diminum olehku. Apa cukup?"
"Cukup, cukup!"
Jawab si pemilik warung arak sambil menjumput potongan emas itu dan lalu lari bersembunyi di belakang meja. Dua kali Kim Sie Ie mengayun tongkat dan dua meja terpukul hancur.
"Jika Toaya rela mengeluarkan uang, biarlah aku menemani kau untuk main-main sedikit,"
Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Hongsek yang sungkan tarik urat lagi, lantas menghantam dengan hudtim-nya.
Mereka segera bertempur dengan serunya.
Tongkat Kim Sie Ie adalah senjata "keras", sedang hudtim si imam merupakan senjata "lembek"
Dan karena kedua lawan itu adalah ahli-ahli silat kelas utama, maka pertempuran itu adalah pertempuran yang jarang terlihat dalam Rimba Persilatan.
Tapi biar bagaimanapun juga, Hongsek yang mempunyai latihan puluhan tahun lebih unggul setingkat daripada lawannya yang masih berusia muda.
Sesudah lewat tiga puluh jurus, benang-benang hudtim yang sebentar buyar dan sebentar bersatu, berkelebat-kelebat bagaikan kilat di seputar tongkat.
Setiap kali senjata Kim Sie Ie menyentuh hudtim, tenaganya yang dahsyat lantas saja amblas di antara ribuan benang.
Tanpa memiliki lweekang yang cukup tinggi, siangsiang ia sudah roboh.
Sementara itu, Yo Lioe Tjeng dan puterinya sudah pindah duduk ke sudut tembok dan menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.
Biarpun ilmu silat nyonya itu belum mencapai puncak tertinggi, akan tetapi, sebagai turunan seorang ahli silat kenamaan, dengan sekali lihat, ia dapat membedakan tinggi rendahnya kepandaian orang dan dapat pula menaksir jalannya sesuatu pertempuran.
Demikianlah, selagi Kim Sie Ie terdesak, tanpa merasa ia berkata.
"Jika hudtim menyapu Pekhay hiat dan gagangnya menotok Hiankie hiat, bocah itu akan roboh."
Benar saja, Hongsek menyerang sesuai dengan apa yang dikatakan Yo Lioe Tjeng.
Pada detik yang berbahaya, sekonyong-konyong Kim Sie Ie membungkuk sambil menekan tanah dengan tongkatnya dan sesaat itu juga, badannya terputar.
"Belum tentu roboh!"
Teriaknya sambil tertawa. Hampir berbareng, tiba-tiba terdengar suara "fui!"
Dan ludah Kim Sie Ie menyambar Hongsek.
Bukan main kagetnya si imam yang segera memutar senjatanya bagaikan titiran untuk melindungi diri.
Mendadak, seraya tertawa terbahak-bahak, Kim Sie Ie melompat tinggi dan di lain detik, tangan kanannya sudah mencekal pedang besi, sedang tangan kirinya memegang tongkat yang sebenarnya adalah sarung pedang.
Sesudah bersenjatakan tongkat dan pedang, ia lalu menyerang dengan beringas dan sabansaban menyemburkan jarumnya.
Diserang cara begitu, mau tak mau si imam jadi bingung, karena ia harus sangat berhati-hati terhadap senjata rahasia si pengemis kusta yang sangat beracun.
Puluhan jurus kembali lewat, tanpa ada yang keteter.
Sesudah menonton beberapa lama, tiba-tiba Yo Lioe Tjeng mengeluh.
"Celaka! Jika si gila memperoleh kemenangan, aku dan anakku bisa celaka. Paling baik aku menyingkir sekarang."
Memikir begitu, ia lantas saja bangun dari tempat duduknya.
Tapi, segera juga ia terkejut, karena pendeta kawannya Hongsek sedang mengawasinya dengan sorot mata dingin!
Waktu hweeshio itu, yang bertubuh jangkung, masuk dan duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia tidak memperhatikannya.
Tapi sekarang, melihat sorot matanya yang tajam bagaikan pisau, ia terkesiap, karena yakin, bahwa pendeta itu bukan orang sembarangan.
Ia tertawa seraya berkata.
"Thaysoe, aku minta permisi untuk lewat."
Hweeshio itu mendelik.
"Lie Kiesoe,"
Katanya.
"Apa kau masih mengenali Tang Thay Tjeng?"
Jantung Yo Lioe Tjeng lantas memukul keras.
Tang Thay Tjeng adalah murid kepala dari Patpie Sinmo Sat Thian Tjek (si Memedi Berlengan Delapan).
Pada tiga puluh tahun lebih berselang, waktu Yo Lioe Tjeng baru berusia enam belas tahun, ia telah mengikut ayahnya, Tiattjiang Sintan Yo Tiong Eng, pergi ke gunung Thayheng san untuk menghadiri perhimpunan besar antara jago-jago silat di lima propinsi Tiongkok Utara.
Ketika itu, Tang Thay Tjeng dan gurunya, yang mengabdi kepada Soehongtjoe (putera kaizar yang ke empat) In Tjeng, telah menerima perintah untuk pergi ke Thayheng san guna membasmi jagojago silat itu.
Di tengah jalan, Yo Tiong Eng dan puterinya bertemu Tang Thay Tjeng dan dalam pertempuran yang terjadi, mereka hampir-hampir celaka.
Untung juga keburu datang pertolongan dari Lioe Sian Kay dan Tan Hian Pa, dua antara Kwantong Soehiap (Empat Pendekar Kwantong), sehingga orang she Tang itu bisa dipukul mundur.
Dalam pertempuran, dengan menggunakan Tiattjiang (Pukulan besi) Yo Tiong Eng telah menghantam lengan kanan lawannya yang menjadi patah dan tidak dapat digunakan lagi.
Sebagai jago yang pernah bertempur ratusan kali, Yo Tiong Eng segera melupakan kejadian itu dan ia juga tak tahu, bahwa pukulannya telah mengakibatkan bercacatnya Tang Thay Tjeng.
Walaupun hatinya kaget, paras muka Yo Lioe Tjeng tetap tenang, la mundur dua tindak seraya berkata.
"Tiga puluh tahun kita tak pernah bertemu muka Tidak dinyana, sekarang Thaysoe sudah menjadi orang beribadat. Untuk kejadian yang menggirangkan ini aku memberi selamat."
Tang Thay Tjeng tertawa dingin.
"Bahwa aku sekarang berkeadaan begini, adalah hadiah dari ayahmu,"
Katanya dengan suara tawar.
"Lie Kiesoe, aku bukan pendeta suci. Aku tak dapat menerima pujianmu yang terlalu tinggi."
Nyonya itu yakin, bahwa satu pertempuran tak dapat dielakkan lagi. Sambil mencekal busur dan peluru erat-erat, ia berkata.
"Apa benar-benar Thaysoe tak mau minggir?"
Tan Thay Tjeng dongak dan menghela napas.
"Sayang! Sungguh sayang!"
Katanya.
"Sayang apa?"
Tanya Yo Lioe Tjeng.
"Sayang ayahmu sudah meninggal dunia,"
Jawabnya.
"Aku tak bisa mengantarnya dan juga tak bisa menerima lagi pelajaran Tiattjiang Sintan."
Alis Yo Lioe Tjeng berdiri bahna gusarnya.
"Biarpun ayahku sudah tak ada lagi dalam dunia, ilmu Tiattjiang Sintan tak jadi musnah,"
Katanya dengan suara nyaring.
"Jika kau masih ingin meminta pelajaran, pelajaran itu bisa diberikan sekarang juga."
Berbareng dengan suara menjepretnya busur, peluru Sintan menyambar-nyambar bagaikan hujan gerimis, sehingga tak perduli ia berkelit ke jurusan mana, badan si pendeta tak akan terluput dari sambaran peluru.
Tiba-tiba sambil berteriak nyaring, Tang Thay Tjeng mengebas dengan tangan kanannya.
"Biarpun mempunyai ilmu weduk, dia tak akan bisa menahan serangan peluruku,"
Kata Lioe Tjeng dalam hatinya.
Harus diketahui, bahwa dalam ilmu melepaskan peluru, nyonya itu telah berlatih puluhan tahun, sehingga Sintan yang dilepaskannya bertenaga dahsyat luar biasa dan sukar dipunahkan, biarpun oleh orang-orang yang memiliki ilmu Kimtjiongto atau Tiatposan (ilmu weduk).
Mendadak terdengar serentetan suara yang sangat nyaring, seperti juga peluru-peluru itu membentur logam.
Bukan main terkejutnya Yo Lioe Tjeng.
Belum pernah ia mendapat pengalaman yang begitu luar biasa.
Tang Thay Tjeng tertawa terbahak-bahak.
"Sungguh sayang!"
Teriaknya.
"Ilmu melepaskan Sintan dari keluarga Yo, semakin lama jadi semakin merojan."
Ia melompat dan tangannya menyambar. Melihat ibunya berada dalam bahaya, Tjee Tjiang Hee menghunus golok dan sambil meloncat, membabat lengan musuh.
"Trang!" , mata golok melengkung, telapakan tangan si nona terbeset dan mengeluarkan darah! Yo Lioe Tjeng terperanjat. Cepat bagaikan kilat, ia menyodok dengan busur dan menghantam dengan tangan kanannya. Meskipun kepandaiannya belum cukup tinggi untuk melayani jago silat utama pada jaman itu, Yo Lioe Tjeng mempunyai banyak pengalaman. Ia mengetahui, bahwa di lengan kanan Tang Thay Tjeng mesti bersembunyi apa-apa yang luar biasa, maka tangannya menghantam jalanan darah Samtjiauw hiat di dada musuh, sedang busurnya menyodok leher pendeta itu.Kedua serangan yang dikirim dengan berbareng, hebat bukan main, sehingga Tang Thay Tjeng terpaksa melepaskan Tjiang Hee dan melompat mundur.
"Hee-djie, lekas lari!"
Berseru si ibu.
Ia yakin, bahwa ilmu silatnya tidak dapat menandingi musuh dan guna menolong puterinya, ia menggunakan taktik gerilya.
Sesudah lewat beberapa jurus, lengan kanan si pendeta yang bisa terputar-putar, mendadak terbalik dan menyapu dengan kecepatan luar biasa.
Pada detik itu, busur Yo Lioe Tjeng yang sedang menyambar ke jalanan darah Pekhouw hiat di janggut musuh, kena tersampok dan sambil mengeluarkan suara nyaring, lantas patah dua.
Tjee Tjiang Hee yang baru lari sampai di pintu, kaget tak kepalang dan segera melompat balik untuk membantu ibunya.
Muka Yo Lioe Tjeng berubah pucat dan sambil menimpuk dengan busur buntung, ia menerjang dan menghantam dengan tangan kanannya.
Nyonya Tjee bergerak cepat, tapi musuhnya lebih cepat lagi.
Sambil menunduk untuk mengelakkan sambaran busur buntung, lengan kanan Tang Thay Tjeng menyambar ke tulang kipas Tjiang Hee.
Serangan itu sudah tak dapat dikelit lagi dan jika tulang kipasnya terpukul hancur, ilmu silat si nona akan menjadi musnah sama sekali.
Pada detik yang sangat berbahaya, tiba-tiba Kim Sie le menjungkir balik dan sebelum kedua kakinya hinggap di lantai, tongkatnya sudah menotok dada Tang Thay Tjeng.
Sambil mengeluarkan teriakan keras, pendeta itu melompat tinggi dan Tjee Tjiang Hee tertolong.
Itulah perkembangan yang tidak diduga-duga oleh Yo Lioe Tjeng, yang tadinya menganggap Kim Sie Ie sebagai musuh.
Di lain saat, dengan tongkat dan pedang besi, pemuda itu sudah mengirim serangan berantai, sehingga Tang Thay Tjeng terdesak sampai di pinggir tembok.
Pada waktu itu, Yo Lioe Tjeng dan puterinya sebenarnya mendapat kesempatan baik untuk melarikan diri, tapi mereka sungkan berbuat begitu.
"Hei! Siapa gurumu?"
Teriak Tang Thay Tjeng.
"Fui!"
Kim Sie Ie menyemburkan ludah seraya berkata dengan suara dingin.
"Perlu apa kau tanya-tanya guruku?"
Si pendeta yang rupanya mengetahui, bahwa ludah musuh mengandung jarum beracun, buruburu menangkis dengan lengan kanannya. Beberapa suara "tring"
Terdengar, seperti jarum melanggar logam.
"Tahan!"
Teriak Tang Thay Tjeng.
Kim Sie Ie tak meladeni dan terus menyerang.
Tiba-tiba, tanpa memutar badan, pedangnya menyampok ke belakang untuk menangkis hudtim Hongsek Toodjin yang membokong dari belakang dan berbareng, dengan pukulan Tokliong tjoettong (Naga beracun keluar dari lubang), ia menyodok dada Tang Thay Tjeng.
Untuk mengerti tindakan Kim Sie Ie, orang harus mengetahui, bahwa jalan pikiran pemuda itu adalah lain daripada orang biasa.
Dulu, karena Yo Lioe Tjeng adalah puteri seorang kenamaan, maka ia sudah sengaja mempermainkannya.
Tapi sekarang, melihat nyonya itu sangat membenci dirinya, ia berbalik memberi pertolongan, supaya nyonya itu mendapat malu.
Di samping itu, melihat rasa takut Tjee Tjiang Hee terhadap dirinya, ia ingat perkataan Lie Kim Bwee dan dalam hatinya lantas timbul rasa menyesal akan perbuatannya yang dulu-dulu.
Itulah sebabnya, kenapa, tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri, ia segera memberi pertolongan.
Di lain pihak, sebagai orang yang berkedudukan tinggi, sebenarnya Hongsek sendiri merasa bahwa tak pantas dua pentolan mengerubuti seorang pemuda.
Akan tetapi, karena kawannya berada dalam bahaya, terpaksa ia menyerang dari belakang.
Bokongan itu tidak bermaksud untuk mencelakakan Kim Sie Ie dan ia hanya menggunakan separuh tenaga, untuk menolong Tang Thay Tjeng.
Tapi, di luar dugaan, Kim Sie Ie yang sudah mengambil putusan untuk lebih dulu membinasakan Tang Thay Tjeng, tidak kena ditahan dengan serangan itu.
Tanpa memutar badan, ia menangkis hudtim dengan pedangnya, sedang kakinya melompat terus dan tongkatnya, yang dicekal dengan tangan kiri, menyodok dada Tang Thay Tjeng.
Itulah sodokan yang sangat hebat dan ia menduga, bahwa musuhnya pasti akan binasa.
Tapi pada detik yang sangat berbahaya, Tang Thay Tjeng mengebas dengan lengan kanannya dan dengan satu suara "trang!"
Tongkat Kim Sie Ie terpental balik!
Kim Sie Ie kaget tak kepalang.
Kejadian itu sungguh-sungguh di luar taksiran.
Menurut perhitungan biasa, tangan manusia yang terdiri dari darah dan daging tak akan bisa menangkis tongkat itu yang terbuat dari besi.
Sedang ia masih belum hilang kagetnya, mendadak terjadi lain kejadian yang lebih mengejutkan.
Sekonyong-konyong lengan kanan Tang Thay Tjeng mulur kira-kira satu kaki panjangnya dan dari suatu posisi yang mustahil, tangannya menyambar ke pundak Kim Sie Ie.
Dalam pertempuran antara jago dan jago, menang kalahnya sering-sering diputuskan atas perbedaan seujung rambut.
Demikianlah, biarpun sangat liehay dan berhati-hati, serangan itu tak dapat dielakkan lagi oleh Kim Sie Ie.
Ketika tangan musuh menyentuh pundaknya, ia merasa seperti dilanggar dengan benda yang dingin.
Hampir berbareng, hudtim Hongsek Toodjin juga menyambar dan ribuan benangnya yang terbuka lebar, seolah-olah selembar jala yang sedang menungkrupnya.
Kim Sie le mencelos hatinya.
"Tak dinyana jiwaku melayang di tempat ini!"
Sekonyong-konyong, kupingnya mendengar suara tertawa yang sangat nyaring, disusul dengan suara seorang wanita yang sangat merdu.
"Jangan takut!"
Hampir berbareng, Tang Thay Tjeng dan Hongsek Toodjin melompat menyingkir!
Bagaikan di dalam mimpi, Kim Sie Ie membuka kedua matanya lebar-lebar dan ternyata, bahwa orang yang sudah menolong jiwanya bukan lain daripada Phang Lin dan puterinya!
Yo Lioe Tjeng jadi seperti orang kalap, bahna girangnya.
"Eng-moay!"
Teriaknya.
"Apa Siauw Lan datang bersama-sama kau?"
Phang Eng dan Phang Lin adalah saudara kembar yang mukanya sangat mirip satu sama lain, sehingga, kecuali suami dan anak sendiri, orang lain sering salah mata.
Mendengar Yo Lioe Tjeng menganggap dirinya sebagai kakaknya, Phang Lin tersenyum seraya berkata.
"Kau masih ingat Tong Siauw Lan? Hi-hi! Tidak, ia tak turut datang."
Ia menoleh kepada Tang Thay Tjeng.
"Lengan tanganmu sungguh luar biasa. Boleh aku pinjam lihat?"
Katanya.
Hongsek Toodjin tak tahu siapa adanya nyonya itu.
la terkejut dan hatinya ciut karena dengan satu kebasan baju saja, hudtim-nya telah terpukul terpental.
Tapi melihat sikap Phang Lin yang seakan-akan tidak memandang sebelah mata kepadanya ia lantas saja menjadi gusar.
"Kim Sie le!"
Bentaknya.
"Biarpun kau mempunyai senderan kuat, sedikitpun aku tidak takut. Mari! Mari kita bertempur lagi. Kau boleh minta bantuan dari senderanmu."
Sehabis berkata begitu, ia menerjang dan menghantam dengan senjatanya.
Melihat kedatangan Phang Lin dan puterinya, Kim Sie Ie jadi seperti orang linglung, sehingga ia terus berdiri bagaikan patung waktu hudtim menyambar.
Hidung kerbau!
Jaga pedangku!' berseru Lie Kim Bwee sambil menangkis dengan pedangnya dan terus menyerang.
Harus diketahui, bahwa walaupun lweekang si nona belum seberapa tinggi, tapi ilmu pedangnya, yaitu kiamhoat dari Pekhoat Molie, sangat luar biasa dan mempunyai perubahan-perubahan yang diluar dugaan.
Maka itu, biarpun Hongsek pernah berlatih puluhan tahun dalam hutan batu, dalam gebrakan-gebrakan pertama, ia telah terdesak mundur.
Sementara itu, sambil tertawa haha-hihi dan mengawasi Tang Thay Tjeng dengan sikap seperti kucing tengah mempermainkan tikus, Phang Lin membuka ikatan pinggangnya yang terbuat dari sutera berwarna.
Ia tidak lantas menyerang, tapi memperhatikan gerak-gerik pendeta itu.
Antara beberapa orang itu, yang paling bergirang adalah Yo Lioe Tjeng.
Ia menarik tangan puterinya dan berkata seraya tertawa.
"Dengan datangnya Tong Pehbo, kita tak usah takut lagi terhadap siapapun juga."
Dengan Phang Eng, ia sebenarnya mempunyai ganjelan di waktu muda.
Tapi sesudah masing-masing menikah, semua ganjelan itu telah tersingkirkan.
Ia tak tahu, bahwa yang dianggapnya sebagai Phang Eng, sebenarnya adalah Phang Lin.
Di lain pihak, sesudah berdiri bengong beberapa lama, Kim Sie Ie berkata dalam hatinya.
"Sesudah ibu dan anak itu datang, perlu apa aku berdiam lama-lama disini?"
Dengan sekali menotok tongkat di lantai, badannya melesat dan ia terus kabur.
"Eh, jangan lari!"
Berteriak Phang Lin.
"Sesudah makan yowan-ku, kau masih belum menghaturkan terima kasih."
Ia mengenjot badan untuk mengubar, tapi baru ia bergerak, tangan kanan Tang Thay Tjeng sudah menyambar kepalanya.
"Bagus!"
Serunya.
"Biar aku putuskan dulu cakarmu dan kemudian barulah mengubar dia."
Dengan sekali menggentak, ikatan pingangnya sudah melibat lengan aneh itu.
Di lain saat, mereka sama-sama terkejut.
Lengan kanan Tang Thay Tjeng sebenarnya satu senjata yang sangat liehay dan cengkeraman itu mempunyai tenaga ribuan kati.
Maka itu, ia kaget bukan main karena, begitu dilibat dengan ikatan pinggang, lengan itu tidak dapat bergerak pula.
Phang Lin pun tidak kurang kagetnya.
Ia yakin, bahwa ilmu silat si pendeta masih lebih rendah dari kepandaian Kim Sie Ie.
Tapi, waktu ikatan pinggangnya melibat dan membetot lengan itu, yang keras bagaikan besi, si pendeta sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit.
Harus diingat, bahwa ilmu Hoeihoa Tjekyap sudah dilatih oleh Phang Lin sampai di puncak kesempurnaan, sehingga jago seperti Hiatsintjoe masih tidak dapat melawannya.
Sebagaimana diketahui, nyonya Lie Tie mempunyai sifat kekanak-kanakan yang masih tetap melekat sampai ia berusia setengah umur.
Menghadapi lawan yang berat, kegembiraannya timbul dan ia segera melupakan hal mengubar Kim Sie Ie.
"Lenganmu benar-benar luar biasa,"
Katanya sambil tertawa.
"Tak dapat tidak, aku mesti meminjamnya."
Dengan sekali mengendorkan dan menggentak, ikatan pinggang itu naik ke atas kurang lebih tiga dim.
Ia membetot, tapi lengan si pendeta tetap tidak bergeming.
Ikatan pinggang itu sekali lagi naik ke atas, sehingga hampir sampai di pundak.
Mendadak, Tang Thay Tjeng menggoyang pundak sambil membentak keras.
"Ambillah!"
Hampir berbareng, lengan itu copot dari pundaknya dan terbang menyambar muka Phang Lin.
Nyonya Lie Tie terkejut bukan main, tapi sebagai ahli silat jempolan, ia tak jadi gugup dan lalu menyambutnya dengan menggunakan ilmu Kimkongtjie.
Ternyata lengan itu yang berwarna hitam mengkilap terbuat dari besi!
Phang Lin tertawa seraya berkata.
"Tak heran aku tak dapat membetotnya."
Sedari tulang lengannya dipukul patah oleh Yo Tiong Eng, Tang Thay Tjeng tidak dapat menggunakan lengan itu sebagaimana biasa, biarpun tulangnya sudah bersambung pula.
Dalam jengkelnya, ia memutuskan lengan itu yang lalu ditukar dengan lengan besi.
Kemudian ia mencukur rambut, menyembunyikan diri dan sesudah berlatih kurang lebih tiga puluh tahun, ia memperoleh ilmu Tiatpie Sinkang, yaitu ilmu untuk menggunakan lengan besi sebagai senjata.
Dengan kepercayaan, bahwa ia sekarang bisa menjagoi dalam kalangan Kangouw, sekali lagi ia muncul dalam dunia Rimba Persilatan.
Tapi di luar dugaan, dalam pertempuran pertama, lengan besi itu sudah direbut Phang Lin.
Sambil membulak-balik lengan itu, Phang Lin berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Tak mudah kau melatih lengan ini sehingga tiada bedanya seperti lengan tulen. Eh, bagaimana kau melatihnya? Paling benar kau membacok putus lengan kirimu dan menukarnya dengan lengan besi. Bukankah kau akan dua kali lipat lebih liehay daripada sekarang?"
Tang Thay Tjeng meringis, ia tak tahu apa mesti tertawa atau menangis.
"Pulangkanlah lenganku,"
Katanya.
"Sekarang baru aku tahu, bahwa dalam dunia ada ilmu yang begitu tinggi, sehingga, biarpun aku berlatih lagi tiga puluh tahun, tak dapat aku menandingi kau."
Mendengar pujian itu, Phang Lin jadi girang.
"Bagus! Kalau begitu, kau masih mempunyai otak yang sehat,"
Katanya sambil mengebas tangan, sebagai isyarat bahwa pendeta itu boleh berlalu. Tapi mendadak ia membentak.
"Tahan!"
Baru saja ia ingin menanya, kenapa si pendeta bertempur dengan Kim Sie Ie, tiba-tiba terdengar teriakan puterinya yang tengah bertanding melawan Hongsek.
"Ibu! Hidung kerbau ini liehay sekali!"
"Liehay bagaimana?"
Tanya sang ibu, yang sambil menuding Tang Thay Tjeng dengan lengan besi itu, menyambung perkataannya.
"Orang yang suka berkelahi seperti kau, tentunya bukan manusia baik-baik. Sekarang aku menjatuhkan hukuman berdiri terhadapmu. Jika kau berani bergerak atau kabur, aku akan putuskan lengan kirimu."
Waktu itu, Tang Thay Tjeng sudah berusia hampir enam puluh tahun, sedang usia Phang Lin baru kira-kira empat puluh tahun.
Tapi ia menggunakan perkataan dan cara seorang guru yang sedang menghukum muridnya.
Tjee Tjiang Hee tak bisa menahan rasa gelinya dan lantas saja tertawa terpingkal-pingkal.
Alis Yo Lioe Tjeng berkerut dan ia berkata dalam hatinya.
Heran!
Kenapa sifat-sifat Phang Eng jadi berubah sama sekali?' Sementara itu, Lie Kim Bwee sudah jadi repot sekali dan ia berkelahi sambil mundur karena didesak keras oleh Hongsek Toodjin.
Meskipun si nona memiliki kiamhoat yang sangat liehay, tapi sebab lweekang-nya masih kalah jauh dari lawannya, maka sesudah lewat belasan jurus, Hongsek sudah bisa lihat kelemahannya dan terus mencecer dengan pukulan-pukulan hebat.
Lewat beberapa saat lagi, napas si nona tersengal-sengal dan keadaannya mulai berbahaya.
"Hm! Bocah! Kau ternyata masih memerlukan juga ibumu,"
Kata Phang Lin seraya tertawa.
"Sudahlah! Tak perlu bantuanmu!"
Berteriak si nakal dengan suara mendongkol. Selagi berteriak begitu, hudtim musuh mendadak menyambar, sehingga hampir-hampir pedang Tjengkong kiam kena terkebut jatuh.
"Kenapa kau tidak menggunakan ilmu Tiamhoat (Ilmu menotok jalanan darah) yang diajarkan olehku?"
Kata sang ibu.
"Lebih dulu hajar dengan Pengho kiattang (Sungai es melumer), kemudian susul dengan Ginhan hoeiteh (Bima Sakti membentang di udara). Bagus! Tak salah! Balik tanganmu dan totok Pekhay niatnya!"
Si nona yang sedang mendongkol sebenarnya sungkan menerima petunjuk ibunya, tapi ternyata ia terpaksa menggunakan juga pukulan-pukulan itu.
Tiamhoat yang diturunkan Phang Lin kepada puterinya, telah digubah olehnya di gunung Gobie san dengan menggunakan tempo beberapa hari dan tujuannya adalah untuk menghadapi Kim Sie Ie.
Benar saja, dengan menggunakan Tiamhoat itu dan kiamhoat dari Pek hoat Mo lie, serangan-serangan Hongsek segera menjadi punah.
"Lihatlah!"
Kata sang ibu sambil tertawa.
"Bukankah kau bisa melawan dia dengan mudah sekali? Aku ingin kau merobohkannya dengan menggunakan tenaga sendiri. Ha! Kau mengerti? Tak bisa kau terus mengandalkan ibu seumur hidup!"
Melihat dirinya dijadikan alat untuk berlatih, darah Hongsek Toodjin meluap-luap dan dalam kalapnya, hampir-hampir jalanan darahnya tertotok.
Buru-buru ia mengempos semangat dan memperbaiki kedudukannya.
Sambil memberi petunjuk, Phang Lin sendiri memperhatikan ilmu silat musuh.
Lewat beberapa saat, ia mengeluh.
"Celaka! Si hidung kerbau benar liehay. Jika pertempuran berlangsung lama, Bwee-djie akan kalah."
Tapi sebab sudah mengatakan, bahwa ia ingin puterinya menjatuhkan musuh dengan tenaganya sendiri, maka ia merasa malu hati untuk memberi bantuan.
Sesudah bertempur beberapa jurus lagi, tiba-tiba Kim Bwee berteriak.
"Ibu! Kenapa kau melepaskan Sie le-ko?"
Sang ibu kaget.
"Benar! Biaraku susul padanya!"
Katanya.
"Kimtjiam touwsian (Benang menusuk jarum emas), Gioklie tauwso (dewi menenun), Toamo hoyan (Asap mengepul di gurun), Tiangho lokdjit (Matahari turun di sungai)! Sesudah itu, totok Pekyang hiat-nya!"
Sesuai dengan petunjuk ibunya, si nona segera menyerang dengan empat pukulan yang hebat itu, sehingga Hongsek jadi ripuh sekali.
Tapi biarpun repot, garis pembelaannya masih tetap rapat dan sambil berkelit ke kiri-kanan, hudtim melindungi bagian-bagian tubuhnya yang penting.
"Bagaimana aku dapat menotok Pekyang hiat yang terletak di bawah teteknya?"
Kim Bwee menanya dirinya sendiri.
Sekonyong-konyong, entah kenapa, benang-benang hudtim membuyar dan dada Hongsek terbuka lebar.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan baik itu, jeriji Kim Bwee menyambar tepat ke jalanan darah Pekyang hiat dan si imam tak dapat bergerak lagi!
Si nona tidak mengetahui, bahwa kemenangannya sudah didapat berkat bantuan sang ibu yang diam-diam sudah meniup hudtim musuh.
Sesudah Hongsek tidak berdaya, dengan cepat Phang Lin berlari-lari, tapi apa yang tertampak hanyalah lapangan-lapangan rumput dan lereng gunung, sedang Kim Sie Ie sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
"Celaka! Ini semua adalah gara-garanya si keledai gundul!"
Katanya di dalam hati.
Ia sama sekali tidak mau mengakui, bahwa kesalahan itu sebagian besar terletak pada dirinya sendiri.
Selagi ia kembali dengan uring-uringan, mendadak terdengar teriakan puterinya.
"Ibu! Keledai gundul kabur!"
Dengan gusar Phang Lin mengudak. Dalam jarak belasan tombak, ia menimpuk dengan lengan besi dan hampir berbareng, melontarkan ikatan pinggangnya.
"Bagus!"
Teriaknya.
"Kau berani melanggar perintahku? Tinggalkan lengan kirimu!"
Bagaikan kilat, lengan besi itu menyambar dan menurut perhitungan, Tang Thay Tjeng tak akan bisa berkelit lagi.
Mendadak, pada saat yang sangat berbahaya, tubuh si pendeta melesat ke tengah udara dan dengan "terbang"
Memutar, ia berhasil menyelamatkan dirinya. Phang Lin kaget bukan main. Untuk sejenak, ia mengawasi dengan mulut ternganga.
"Eh, dari mana kau mendapat ilmu menubruk Niauw-eng?"
Tanyanya.
"Patpie Sinmo Sat Thian Tjek adalah guruku,"
Jawabnya.
Phang Lin mengeluarkan seman kaget, badannya mendadak melesat ke atas dan ia juga terbang bagaikan burung Niauw-eng.
Dengan sekali mengedut, ikatan pinggangnya sudah melibat lengan kiri Tang Thay Tjeng, tapi sebaliknya dari menggentak dengan menggunakan tenaga, ia tertawa seraya berkata.
"Sayang kau belum mahir betul. Nah! Sekarang ikutlah aku ke warung arak."
Sambil berkata begitu, ia melepaskan libatan ikat pinggangnya dari lengan si pendeta.
Tang Thay Tjeng kaget tercampur takut.
Sambil memungut lengan besinya, ia melirik Phang Lin yang paras mukanya tenang, sehingga hatinya jadi lebih lega.
"Dari mana dia mendapat ilmu itu?"
Tanyanya di dalam hati.
"Apa dia mempunyai sangkut paut dengan guruku? Tapi kenapa ilmu silatnya tidak mirip-mirip dengan ilmu silat guruku?"
Ia tak berani menanya dan dengan menundukkan kepala, ia lalu mengikuti nyonya itu kembali ke warung arak.
"Apa dia kawanmu?"
Tanya Phang Lin seraya menuding Hongsek.
"Benar,"
Jawabnya. Sambil menotok dan membuka jalanan darah si imam, Phang Lin berkata pula.
"Bagus! Aku juga undang kau minum bersama-sama."
Hongsek merasa dadanya seperti mau meledak, tapi ia tidak berani mengunjuk kegusaran, karena, jika membantah, ia kuatir mendapat malu yang lebih hebat.
Dengan hati gembira, Phang Lin segera memerintahkan pelayan mengatur dua meja dan menyediakan arak.
Ia dan puterinya duduk di kepala meja, sedang Hongsek dan Tang Thay Tjeng diundang duduk di kiri-kanannya.
Yo Lioe Tjeng, Tjee Tjiang Hee dan Kang Lam diperintah duduk di meja yang satunya lagi.
Semua orang segera mengambil tempat duduknya dengan hati tak enak, tapi tiada satu yang berani membantahnya.
"Sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan -aku menanya sepatah, kau jawab sepatah,"
Kata Phang Lin dan kemudian sambil menuding Tang Thay Tjeng, ia berkata pula.
"Kenapa kau berkelahi dengan Kim Sie Ie?"
"Siapa Kim Sie Ie?"
Si pendeta balas menanya.
"Jangan berlagak gila!"
Membentak Phang Lin dengan gusar.
"Kim Sie Ie adalah pemuda yang tadi bertempur dengan kau."
"Murid siapa dia?"
Tang Thay Tjeng menanya lagi. Nyonya Lie Tie mendelik.
"Eh, apa aku yang tanya kau atau kau yang tanya aku?"
Katanya.
"Jika kau rewel lagi, aku akan putuskan lengan kirimu. Lekas jawab! Kenapa kau berkelahi dengan Kim Sie Ie?' "
Aku dan Yo Liehiap main-main sedikit dan itu sebenarnya bukan urusannya,"
Menerangkan si pendeta.
"Aku pun tak tahu, sebab apa ia menyerang diriku."
Phang Lin menengok ke arah Yo Lioe Tjeng.
"Aku tak tahu, kau dan Kim Sie Ie adalah sahabat baik,"
Katanya. Diam-diam hatinya berkuatir, kalau-kalau Yo Lioe Tjeng juga penuju pemuda itu dan ingin mengambil sebagai menantu.
"Siapa sahabat dia?"
Kata Yo Lioe Tjeng.
"Dia malahan pernah menghina kami."
"Kenapa Tang Thay Tjeng berkelahi dengan kau?' Phang Lin menanya pula.
"Pada tiga puluh tahun lebih berselang, ayahku pernah melukakan dia,"
Jawab Yo Lioe Tjeng.
"Waktu itu kau baru berusia setahun dan Siauw Lan telah membawa kau lari. Ayah dan aku telah bertemu Siauw Lan di rumah penginapan itu. Kejadian pada hari itu telah disaksikan oleh Siauw Lan sendiri dan jika kau tanyakan, dia tentu masih ingat semua kejadiannya. Jika diteliti, Tang Thay Tjeng masih boleh dianggap sebagai salah satu musuhmu."
Phang Lin bengong.
Ia tak nyana, bahwa pendeta itu adalah salah seorang musuhnya.
Sesaat itu, depan matanya segera terbayang kejadian-kejadian pada tiga puluh tahun lebih yang lampau.
Waktu ia dan kakaknya (Phang Eng) baru berusia satu tahun, rumah tangganya diubrak-abrik oleh Soehongtjoe In Tjeng dan ayahnya binasa.
Ia sendiri ditolong oleh Tjiong Ban Tong, pemimpin partai Boekek pay, sedang Phang Eng telah dibawa lari oleh Tong Siauw Lan.
Belakangan ia telah diculik dan dibawa ke pulau Niauw-cng oleh Patpie Sinmo yang memeliharanya seperti anak sendiri.
Sesudah berdiam di pulau itu beberapa lama, barulah ia dibawa ke gedung In Tjeng.
Ia baru bertemu dengan kakaknya, sesudah berpisahan kurang lebih dua puluh tahun.
Biarpun ayahnya bukan dibinasakan oleh Patpie Sinmo atau muridnya, akan tetapi karena jago-jago lima propinsi Tiongkok Utara yang terbinasa dalam tangan Patpie Sinmo dan saudaranya, bukan kecil jumlahnya, maka sakit hati itu tidak dapat dikatakan kecil.
Ia ingat, bagaimana Sat Thian Tjek telah menurunkan ilmu silat kepadanya, bagaimana ia mendapat banyak cintanya orang di gedung Soehongtjoe, sehingga ia bisa mempelajari macammacam ilmu silat yang menyeleweng, sampai akhirnya ia mendapat ilmu asli dari Boekek pay.
Ia juga ingat, bagaimana Soehongtjoe ingin memaksa untuk mengambil dirinya sebagai selir, sehingga ia kabur dari istana kaizar.
Depan matanya juga terbayang peristiwa terbinasanya Patpie Sinmo dan saudaranya dalam tangan Phang Eng dan bagaimana, pada waktu mau melepaskan napasnya yang penghabisan, Sat Thian Tjek telah menyerahkan sebuah mustika kepada kakaknya, yaitu pel yang berbentuk bola yang terbuat dari ilar Niauw-eng untuk memunahkan racun ular.
Mengingat itu semua, tanpa merasa Phang Lin menghela napas panjang.
"Ibu!"
Kata sang puteri sambil tertawa.
"Tak dinyana, kau pun bisa menemui kesukaran. Paling benar minta Iethio dan Iebo (Tong Siauw Lan dan Phang Eng) datang kemari untuk mengadili mereka. Menurut pendapatku, ibu tak pantas menjadi hakim."
Harus diketahui, bahwa perhubungan antara Phang Lin dan puterinya adalah lain daripada perhubungan yang biasa terdapat antara ibu dan anak.
Mereka sudah biasa bersenda-gurau dan saling mengejek, seperti antara kawan dan kawan.
Maka itulah, Phang Lin tidak menjadi gusar karena ejekan puterinya.
Orang yang merasa heran dan tersinggung adalah Yo Lioe Tjeng.
Ia heran mendengar si nona menyebut-nyebut "Iethio"
Dan "Iebo"
Dan merasa tersinggung mendengar perkataan "mengadili", karena dengan begitu, ia seolah-olah seorang pesakitan yang harus diadili.
"Tjeng-tjie,"
Kata Phang Lin seraya tertawa.
"Lihatlah! Anakku jadi sangat kurang ajar karena terlalu dimanja."
Tiba-tiba parasnya berubah sungguh-sungguh dan ia berkata dengan suara keren.
"A-bwee, kau kata, aku tak bisa mengadili orang. Nah, kau dengarlah! Tang Thay Tjeng, menurut putusanku, kau memang pantas mendapat hajaran dari Yo Lootjianpwee. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh banyak rewel lagi. Orang-orang yang tingkatannya lebih tua semua sudah meninggal dunia dan urusan yang terjadi pada tiga puluh tahun berselang, tidak boleh diungkat-ungkat lagi. Tjeng-tjie, kau pun tak usah ingat-ingat lagi permusuhan lama."
Yo Lioe Tjeng yang memang sungkan memperhebat permusuhan, lantas saja mengangguk, sedang si pendeta pun merasa girang sekali. Sambil merangkap kedua tangannya, ia berkata.
"Untuk kemurahan Lie Kiesoe, pintjeng merasa sangat berterima kasih dan sekarang juga pintjeng minta permisi untuk berangkat."
"Tunggu dulu!"
Kata Phang Lin. Si pendeta terkejut dan segera berkata.
"Bukankah kau sudah mengatakan, bahwa segala permusuhan diakhiri sampai disini?"
"Karena gara-garamu, orang yang dicari olehku dengan susah payah, telah kabur,"
Katanya.
"Meskipun kau boleh diampuni dari hukuman berat, tapi tidak bisa terlolos dari hukuman enteng. Aku menghukum kau berdiri menghadapi tembok tiga hari lamanya. A-bwee, lihatlah! Ilmu menotok yang biasa, paling lama tahan dua belas jam. Tapi jalanan darah yang ditotok dengan ilmuku baru bisa terbuka sesudah lewat tiga hari."
Sambil berkata begitu, tangannya bergerak untuk mengirim totokan.
"Tahan!"
Seru Tang Thay Tjeng dengan suara bingung.
"Siauwtjeng mempunyai urusan yang sangat penting. Siauwtjeng sedang mencari orang!"
"Siapa yang dicari olehmu?"
Tanya Phang Lin.
"Murid Tokliong Tjoentjia,"
Jawabnya. Phang Lin terkesiap.
"Perlu apa kau mencarinya?"
Tanyanya.
"Semua orang tahu, bahwa Tokliong Tjoentjia adalah sahabat mendiang guruku,"
Jawabnya. Mendadak Phang Lin tertawa besar.
"Orang beribadat tidak boleh berdusta,"
Katanya.
"Kenapa kau berani menipu aku? Kim Sie Ie adalah murid Tokliong Tjoentjia. Jika benar kau mau mencari dia, kenapa tadi kau bertempur dengannya?"
"Sayang! Sungguh sayang!"
Mengeluh si pendeta.
"Apa kau tak kenal padanya?"
Tanya Phang Lin.
"Jika kenal, mana bisa aku melepaskannya"
Jawabnya.
"Tadi, melihat tongkat besinya, aku sebenarnya sudah bercuriga, karena pada tiga puluh tahun berselang, aku pernah melihat tongkat itu. Hanya sayang, ia terus menyerang dengan membabi-buta."
"Fui!"
Membentak Kim Bwee.
"Jika kau tidak menghina Tjee Pehbo, dia tentu tak akan menyerang."
Melihat ibu dan anak itu sangat memperhatikan Kim Sie Ie, Tang Thay Tjeng lantas saja menduga, bahwa di antara mereka tentu terdapat hubungan yang rapat. Maka itu. ia tertawa seraya berkata.
"Kalau begitu, kita bukan orang luar. Biarlah aku membantu kalian mencari Kim Sie Ie."
Sekonyong-konyong Phang Lin menggelengkan kepala seraya berkata pada dirinya sendiri.
"Tak benar... tak benar."
Ia menuding si pendeta dan membentak.
"Kau dusta! Tinggalkan lengan kirimu!"
Tang Thay Tjeng terkesiap.
"Kenapa dusta?"
Ia menegasi.
"Tadi kau mengatakan, bahwa sesudah dihajar oleh Yo Lootjianpwee, kau mencukur rambut dan tidak mencampuri lagi urusan dunia,"
Kata Phang Lin.
"Dengan lain perkataan, kalau kau tidak berdusta, mulai dari waktu itu, kau tidak pernah bertemu lagi dengan Tokliong Tjianpwee."
"Benar,"
Jawabnya.
"Tapi bagaimana kau tahu, bahwa Tokliong Tjianpwee mempunyai murid?"
Tanya si nyonya. Sesudah berdiam sejenak seperti orang sangsi, Tan Thay Tjeng berkata.
"Tahun yang lalu, aku pulang ke pulau Niauw-eng to dan dalam perjalanan itu, aku sekalian mampir di pulau Tjoato untuk menyambangi Tokliong Soepeh.
Disitu aku hanya menemui kuburan Soepeh dan aku menaksir, bahwa kuburan itu dibuat oleh muridnya.
Dengan mengingat hubungan yang rapat antara mendiang guruku dan Tokliong Tjianpwee, aku segera mengambil keputusan untuk mencari ahli warisnya itu.
Inilah keterangan yang sejujurnya, sedikitpun aku tidak berdusta.
Phang Lin tertawa dingin.
"Kau bukan manusia yang berhati begitu mulia,"
Katanya.
"Dengan mencari murid Tokliong Tjianpwee, kau pasti mempunyai maksud tertentu. Katakan saja. Kau mau bicara sebenarnya atau tidak? Apa kau percaya bahwa tanpa menggunakan golok, aku bisa mencopotkan lengan kirimu?"
Paras muka Tang Thay Tjeng sebentar pucat sebentar merah, tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.
"A-bwee, geledah badannya!"
Memerintah sang ibu.
"Aku menaksir, ia sudah mencuri apa-apa di pulau Tjoato."
Melihat lagak si pendeta yang luar biasa, Phang Lin lantas saja bercuriga. Tan Thay Tjeng ketakutan dan buru-buru berkata.
"Waktu datang di pulau Tjoato, aku menginap semalaman di tempat Tokliong Soepeh. Disitu aku mendapatkan se
Jilid buku dengan tulisan tangan Soepeh sendiri. Aku ingin menyerahkan buku itu kepada muridnya."
"Serahkan kepadaku,"
Memerintah Phang Lin, yang kemudian berkata dalam hatinya.
"Kenapa Tokliong Tjianpwee tidak memberikan buku silatnya kepada muridnya?"
Tapi buku itu ternyata bukan kitab ilmu silat dan hanya catatan hari-hari selama beberapa puluh tahun.
Phang Lin membalik-balik lembaran dan membacanya.
Bagian depan mencatat pendaratannya di pulau Tjoato, penderitaan dan kesepiannya di pulau yang tiada manusianya itu, kebenciannya terhadap umat manusia, caranya ia melatih ular-ular, beracun bagaimana ia menggubah ilmu silat yang luar biasa dan sebagainya.
Bagian belakang buku itu menceritakan, bagaimana, sesudah bertemu dengan Lu Soe Nio, pikirannya jadi berubah dan ia lalu menggunakan sisa penghidupannya untuk menolong para penderita kusta.
Dalam buku itu juga tercatat bagaimana ia telah mengambil Kim Sie Ie sebagai muridnya.
Paling belakang ia mencatat kesadarannya, bahwa lweekang yang dipelajari olehnya tidak menurut jalan yang benar dan jika tidak mendapat pertolongan lweekang Thiansan pay, satu waktu lweekang itu pasti akan "makan"
Dirinya sendiri.
Ketika membaca lembaran yang terakhir, tiba-tiba saja paras Phang Lin berubah pucat dan jantungnya memukul keras.
Apakah yang tertulis di halaman paling penghabisan itu?
Di halaman itu yang ditulis beberapa hari sebelum ia meninggal dunia, Tokliong Tjoentjia menyatakan, bahwa ia sudah berdiam di pulau Tjoato puluhan tahun lamanya.
Waktu baru datang, hawa di pulau itu sangat dingin.
Tapi semakin lama, hawa itu jadi semakin panas dan beberapa tahun sebelum ia meninggal dunia, di pulau itu muncul sejumlah umbul hangat.
Sesudah menyelidiki bertahun ia mendapat tahu rahasia perubahan itu.
Ternyata, di bawah pulau terdapat sebuah gunung berapi dan muka bumi semakin lama semakin mumbul ke atas.
Mulut gunung berapi itu terletak di tengah-tengah pulau, di bawah sebuah lubang yang menjadi sarang ular-ular beracun dan yang dalamnya beratus tombak.
Dengan menggunakan tambang, ia pernah turun di lubang itu untuk menyelidiki.
Tapi, belum separuhnya, ia sudah merasa tidak tahan karena hawa yang sangat panas.
Ia mengawasi ke bawah dan melihat, bahwa lapisan batu di dasar lubang , berwarna merah terang saking panasnya.
Hanya karena batu itu sangat tebal, maka api dan lahar belum menyembur keluar.
Sebagai akibat dari hawa yang semakin lama jadi semakin panas, maka laksaan ular yang bersembunyi di dalam lubang merayap ke atas, sebagian keluar dari lubang dan berkeliaran di seputar pulau, sedang sebagian lagi bersembunyi di dinding batu, dekat mulut lubang.
Di dasar lubang terdapat satu kobakan kecil yang berisi liur (ilar) ular-ular itu, sehingga dapatlah dibayangkan, bahwa cair itu beracun bukan main.
Jika satu waktu gunung berapi itu meledak, maka bukan saja seluruh pulau akan menjadi abu, tapi semua makhluk yang berada dalam lautan juga akan turut musnah karena racun itu dan manusia yang bertempat tinggal di sepanjang pantai Lautan Kuning juga akan mengalami bencana besar.
Menurut perhitungan Tokliong Tjoentjia, gunung berapi itu akan meledak dalam tempo beberapa belas tahun lagi dan jika orang berusaha untuk menolongnya sebelum terlambat, bencana itu masih dapat dielakkan.
Rencana Tokliong Tjoentjia adalah sebagai berikut.
Beberapa bulan sebelum gunung berapi meledak, seorang yang tidak takut ular harus turun di lubang itu dan membuka sebuah terowongan untuk memasukkan air laut.
Sesudah itu, ia harus membuat sebuah lubang di mulut gunung berapi itu, supaya api yang berkumpul di dalamnya bisa muncrat keluar.
Dengan adanya air laut, maka api beracun yang menyembur itu tak akan menerbitkan bencana besar.
Akan tetapi pekerjaan itu harus dilakukan di tempo yang tepat, yaitu beberapa bulan sebelum gunung berapi itu meledak, sebab pada waktu itu, lapisan batu yang sangat tebal sudah mulai retak karena terbakar hebat dan lebih mudah ditobloskan guna membuat terowongan untuk mengalirkan air laut.
Di pulau Tjoato terdapat bahan-bahan asbes yang bisa menahan api dan asbes itu bisa digunakan untuk membuat pakaian orang yang melakukan pekerjaan tersebut.
Di samping itu, juga diperlukan sebatang pedang mustika untuk menobloskan lapisan batu.
Sekian ringkasan rencana Tokliong Tjoentjia.
Membaca itu, Phang Lin lantas saja merasa, bahwa orang satu-satunya yang mampu menunaikan kewajiban tersebut adalah Kim Sie Ie sendiri.
Ia adalah seorang yang berilmu silat tinggi dan tak takut ular.
Kekurangan satu-satunya adalah pedang mustika.
Di bagian terakhir dari catatan hari-hari itu, Tokliong Tjoentjia juga menulis, bahwa ia ingin sekali pekerjaan mulia itu dilakukan oleh muridnya.
Tapi karena rasa cintanya yang sangat besar terhadap si murid, maka hatinya selalu bersangsi untuk menyerahkan pekerjaan yang begitu berbahaya kepada muridnya itu.
Sesudah selesai membaca, Phang Lin menghela napas panjang.
Sekarang ia mengerti, kenapa pada sebelum menarik napasnya yang penghabisan, di atas pasir Tokliong Tjoentjia telah menulis.
Sesudah ilmu silatmu sempurna, pergilah cari orang Thiansan pay.
Dengan menulis begitu, sang guru bukan saja mengharapkan keselamatan si murid dengan memperoleh lweekang yang tulen, tapi juga berusaha supaya Kim Sie Ie meninggalkan pulau Tjoato yang penuh bahaya.
Melihat ibunya bengong, Kim Bwee jadi heran dan dengan memanjangkan leher, ia melongok buku itu.
"Hm! Kau mengandung maksud tak baik!"
Bentaknya sambil menuding, sehingga jerijinya hampir mengenakan hidung Tang Thay Tjeng.
"Kenapa mengandung maksud tidak baik?"
Menegas si pendeta sambil bangun berdiri.
Hongsek jadi gusar sekali.
Ia pun segera bangun berdiri dengan niatan membekuk nona yang nakal itu.
Tapi sebelum ia bergerak, Phang Lin sudah menarik tangan puterinya seraya berkata.
"Bukan urusanmu. A-bwee, kenapa kau mengoceh tak keruan?"
Phang Lin menanya begitu karena ia merasa heran, bagaimana, dengan sekali melirik, puterinya sudah bisa membaca tulisan Tokliong Tjoentjia yang tak keruan macam, sedang ia sendiri harus membaca dengan teliti untuk menangkap maksudnya.
"Ibu, coba lihat itu!"
Kata Kim Bwee sambil menunjuk bagian atas dari lembaran yang terbuka. Ternyata, disitu terdapat sebaris huruf kecil dengan tulisan yang nyata dan berbunyi seperti berikut.
"Aku sudah mengambil putusan untuk menyerahkan Pitkip (kitab ilmu silat) kepada Ie-djie, supaya ia menjadi ahli warisku dan mengunakan seluruh penghidupannya untuk menolong penderita kusta."
"Lihatlah!"
Berteriak si nona.
"Aku justru tak ingin Sie Ie-ko membaca tulisan itu. Aku tak mau ia berkawan dengan penderita kusta. Apa enaknya menuntut penghidupan begitu?"
Sang ibu tertawa geli.
"Enak atau tidak enak bukan urusanmu,"
Katanya.
"Itu adalah keinginan gurunya dan kau tak dapat menyalahkan orang lain."
Sambil berkata begitu, ia menutup buku itu, karena ia yakin puterinya akan lebih kaget jika tahu persoalan gunung berapi.
"Apa yang dikatakan Liehiap memang benar,"
Kata Tang Thay Tjeng.
"Aku belum pernah membaca isi buku itu. Aku hanya menganggap, bahwa buku itu, sebagai peninggalan Tokliong Soepeh, harus diserahkan kepada muridnya. Sedikitpun aku tidak mempunyai maksud yang lain."
Pendeta itu berdusta.
Sebenarnya ia sudah membaca buku tersebut dan mengetahui, bahwa Pitkip sudah diserahkan kepada si murid dan ia ingin menggunakan catatan hari-hari itu untuk menipu Kim Sie Ie, untuk menukarnya dengan Tokliong Pitkip.
Mata Phang Lin melirik si pendeta dan mendadak ia berkata.
"Kau tak usah berabe. Buku ini biar disimpan olehku saja. Nah! Aku ampuni kau dan sekarang kau boleh berlalu."
Bukan main mendongkolnya Tang Thay Tjeng, tapi ia tak berani membantah.
"Apa boleh aku membantu kalian untuk mencari Kim Sie Ie?"
Tanyanya.
"Sesukamu, tapi aku tak memerlukan bantuanmu,"
Jawab Phang Lin seraya berpaling kepada Hongsek dan berkata pula.
"Eh, kenapa kau tadi bertempur dengan Kim Sie Ie?"
Hongsek merasa dadanya seperti mau meledak, sehingga paras mukanya berubah merah padam. Melihat begitu, Kang Lam jadi merasa kasihan dan ia berkata.
"Dalam hal ini, sebagian besar adalah salahku."
"Aha! Kau ternyata mempunyai pribudi dari seorang Kangouw,"
Kata si nyonya sambil bersenyum.
"Kenapa salahmu?"
"Aku sungkan menjadi murid Tootiang dan Kim Tayhiap bersama Tong Tayhiap telah membantu aku,"
Jawabnya.
"Dari sebab itu, Tootiang menggusari mereka."
Phang Lin tertawa geli.
"Eh, seorang yang memaksa mengambil murid, pasti akan celaka. Kau tahu?"
Katanya sambil berpaling ke arah Hongsek. Ia berkata begitu karena ingat pengalaman Patpie Sinmo yang dulu juga pernah memaksa untuk mengambil dirinya sebagai murid.
"Sudahlah!"
Kata Hongsek dengan suara mendongkol.
"Biar aku mengubur kepandaianku dan selama hidup aku tak akan mempunyai murid."
"Baiklah,"
Kata Phang Lin.
"Sesudah tahu kesalahanmu, kau sekarang boleh berlalu."
Tanpa berkata suatu apa, Hongsek segera bangun berdiri dan bersama Tang Thay Tjeng, ia segera meninggalkan warung arak itu dengan perasaan gusar.
"Apa aku juga sudah boleh berlalu?"
Tanya Yo Lioe Tjeng dengan paras gusar. Phang Lin terkejut.
"Ah, kenapa Tjeng-tjie berkata begitu?"
Katanya.
"Apakah kau masih ingat ganjelan dulu?"
"Mana aku berani?"
Kata Yo Lioe Tjeng sambil menarik tangan puterinya dan lalu bertindak keluar, dengan diikut oleh Kang Lam.
"Hei! Bukankah kalian ingin cari Tong Tayhiap?"
Seru si kacung. Yo Lioe Tjeng menengok dan mendeliki Kang Lam. Tapi sebelum ia menyemprot si bawel, Tjiang Hee sudah mendahului.
"Benar, ibu. Kenapa kau tak mau tanya Tong Pehbo?"
Phang Lin memburu.
"Tong Pehbo-mu berada di Thiansan,"
Katanya sambil tertawa. Tjee Tjiang Hee kaget. Ia menengok kepada ibunya seraya berkata dengan suara uringuringan.
"Ibu, kenapa kau menyuruh aku menggunakan perbasaan Tong Pehbo?"
"Jangan menyalahkan ibumu,"
Kata Phang Lin seraya tertawa.
"Antara sepuluh orang yang mengenal aku, ada sembilan yang salah melihat."
Yo Lioe Tjeng pun sudah tahu, bahwa nyonya itu bukan Phang Eng dan dengan rasa mendongkol, ia ingat pula kejadian dulu, waktu Phang Lin memotong rambutnya dengan menggunakan golok terbang.
Tapi karena sekarang sama-sama sudah bukan berusia muda, ia merasa tidak enak untuk memperlihatkan rasa jengkelnya.
"Tjeng-tjie,"
Kata pula Phang Lin.
"Aku juga ingin minta pertolongan Tjietjie (kakak, Phang Eng). Sesudah dapat mencari Kim Sie Ie, aku akan mengantar kau naik ke Thiansan."
"Tak usah, aku bisa jalan sendiri,"
Kata Yo Lioe Tjeng dengan suara tawar.
Ia sebenarnya sudah mendengar, bahwa suami isteri Tong Siauw Lan telah pergi ke Tibet dan hal itu sepatutnya diberitahukan kepada Phang Lin.
Tapi karena sedang mendongkol, ia menutup mulut dan sikapnya itu hampir-hampir saja menggagalkan urusan besar.
Tanpa berkata apa-apa lagi, sambil menarik tangan puterinya, Yo Lioe Tjeng segera meninggalkan warung arak itu.
Belum berapa jauh, tiba-tiba Kang Lam mengudak dan berteriak.
"Hei! Kenapa kalian tak mau menanyakan aku?"
"Sebal!"
Membentak Yo Lioe Tjeng. Tjiang Hee mengambil cabang kering dan menyabet seraya membentak.
"Tanya apa, bawel?"
"Aduh!"
Berteriak si kacung sambil menjungkir balik.
"Tak kena!"
Ia tertawa haha-hihi dan berkata pula.
"Bukankah kalian ingin mencari Tong Tayhiap?"
"Apakah bocah semacam kau mengenal Tong Tayhiap?"
Kata si nona.
"Ha! Jangan kau menghina aku,"
Kata Kang Lam.
"Aku bukan hanya mengenal, malahan bersahabat baik. Setiap kali bertemu, ia selalu menggandeng tanganku dan kami beromongomong berjam-jam. Ia malahan mengajarkan ilmu silat kepadaku!"
"Omong kosong!"
Membentak Tjiang Hee.
"Omong kosong!"
Si kacung menegas dengan suara penasaran.
"Tong Tayhiap berparas sangat cakap, berusia lebih tua dua tiga tahun daripada Kongtjoe-ku. Ia mempunyai sebatang pedang yang dinamakan Yoeliong kiam. Ia juga pandai menggunakan senjata rahasia yang sangat aneh, Thiansan Sinbong namanya. Bukankah begitu?"
"Oh! Dia Tong Keng Thian,"
Kata Tjiang Hee.
"Benar,"
Kata Kang Lam.
"Tong Keng Thian adalah Tong Tayhiap, Tong Tayhiap adalah Tong Keng Thian. Tapi wanita itu mengatakan, bahwa Tong Tayhiap berada di Thiansan. Dia dusta."
Si nona tertawa geli.
"Yang dimaksudkan ibuku adalah ayahnya Tong Keng Thian,"
Katanya.
"Ayahnya Tong Tayhiap aku tak kenal,"
Kata si kacung.
"Aku belum pernah mendusta. Kenal, aku kata kenal, tidak kenal aku mengaku tak kenal. Jika kalian ingin mencari Tong Tayhiap, aku bisa mengantarkannya. Kalau kalian mau mencari ayahnya Tong Tayhiap, aku tak bisa menolong."
Sehabis berkata begitu, ia berjalan pergi.
"Tunggu!"
Berseru Tjiang Hee.
"Aku memang mau cari Tong Keng Thian."
Kang Lam tertawa terbahak-bahak.
"Ha! Apa kau kata?"
Katanya dengan hati senang.
"Bukan aku, tapi kau yang omong kosong. Kenapa kau tadi memukul aku?"
Yo Lioe Tjeng sungkan meladeni kacung yang rewel itu.
"Baiklah,"
Katanya. Sekarang aku mau tanya. Dimana adanya Tong Keng Thian?"
"Di rumah majikanku?"
Jawabnya.
"Siapa majikanmu?"
Tanya pula Yo Lioe Tjeng.
"Majikanku adalah Soanwiesoe di Sakya, Tan Teng Kie Taydjin, sedang putera Tan Looya adalah Tan Thian Oe Kongtjoe,"
Menerangkan si bawel. Yo Lioe Tjeng tertawa, sedang Tjiang Hee tersenyum seraya berkata.
"Benar. Aku pernah mendengar Keng Thian menyebutkan nama itu." *** Mendengar kembalinya Kang Lam, Tan Teng Kie yang memang sedang mengharap-harap dengan tidak sabaran, jadi merasa sangat girang dan memerintahkan supaya si kacung segera datang menghadap. Ia heran melihat Kang Lam masuk bersama dua orang wanita.
"Taydjin, inilah TjeeTaytay, sahabat Tong Tayhiap,"
Kata si kacung.
"Tak gampang aku mengundang mereka datang kemari."
Alis Teng Kie berkerut.
"Kacungku sangat tidak mengenal adat, aku harap Djiewie tidak menjadi gusar,"
Katanya sambil memerintahkan seorang pelayan memanggil Siauw Tjeng Hong dan Thian Oe.
Mendengar tamu yang berkunjung adalah puterinya Tiattjiang Sintan Yo Tiong Eng, Tjeng Hong dan Thian Oe jadi girang dan mereka lalu menemani kedua tamu itu, sedang Teng Kie sendiri bicara dengan Kang Lam mengenai kepergiannya ke kota raja.
Yo Lioe Tjeng dan puterinya sekarang mendapat kepastian, bahwa memang benar Tong Keng Thian telah datang berkunjung ke rumah Soanwiesoe, hanya sayang ia sudah berangkat ke Lhasa bersama-sama Pengtjoan Thianlie.
Selagi beromong-omong dengan tamunya, Thian Oe mendadak mendengar teriakan ayahnya.
"Oe-djie, mari sini!"
Ia mendekati dan ternyata sang ayah sedang mencekal sepucuk surat dengan tangan bergemetaran.
Begitu membaca, ia berteriak kegirangan.
Surat itu, yang dikirim oleh Tjioe Giesoe, mengatakan, bahwa ia sudah mengajukan permohonan kepada kaizar yang sudah meluluskannya.
Dikatakan, bahwa tak lama lagi, bakal datang firman yang memanggil Teng Kie pulang ke kota raja guna memangku jabatan yang lama.
Sebagai orang yang sudah belasan tahun berada dalam pengasingan, berita itu menimbulkan rasa girang tercampur terharu dalam hatinya Teng Kie dan tanpa merasa, air matanya mengucur.
Thian Oe pun tidak kurang girangnya.
"Kang Lam,"
Katanya dengan suara berterima kasih.
"Ayah dan aku merasa sangat menanggung budi."
"Kang Lam,"
Menyambung Tan Teng Kie sambil tertawa.
"Semula aku tak menaruh kepercayaan atas dirimu, tapi sekarang ternyata kau bukan seorang tolol."
"Terima kasih atas pujian Looya dan Kongtjoe,"
Jawab si kacung kemalu-maluan. Sesudah melipat dan memasukkan surat itu ke dalam sakunya Tan Teng Kie berkata pula.
"Kang Lam, mulai dari sekarang, kau menggunakan saja perbasaan kakak dan adik dengan Thian Oe. Aku sekarang membebaskan kau dari tugas kacung. Jika kau masih suka bekerja dan berdiam disini, aku dan Thian Oe tentu akan merasa sangat girang. Tapi kau bebas untuk berhenti dan mendirikan rumah tangga sekali, jika kau menghendakinya. Kalau kau ingin menikah, aku akan menghadiahkan tiga ratus tail perak."
Kang Lam merasa berterima kasih dan terharu mendengar kebaikan sang majikan.
"Looya dan Kongtjoe, terima kasih banyak-banyak untuk kebaikanmu,"
Katanya dengan air mata berlinang.
"Tapi Kang Lam sungkan cari berabe. Aku hanya sudah berjanji kepada nyonya itu untuk bantu mencari Tong Tayhiap. Seorang Koentjoe tak akan melanggar janji. Maka itu, jika dipermisikan Looya dan Kongtjoe, aku ingin mengantarkan mereka pergi ke Lhasa. Sesudah menunaikan janji, aku akan kembali untuk melayani lagi Kongtjoe."
"Oh, begitu?"
Kata Tan Teng Kie seraya tertawa.
"Baiklah, kau boleh pergi. Jika bertemu dengan Tong Tayhiap, tolong kau menyampaikan hormatku."
Demikianlah, Kang Lam lalu mengantar Yo Lioe Tjeng dan puterinya pergi ke Lhasa.
Sesudah berdiam di kota itu beberapa hari, mereka masih belum juga bisa menemui Keng Thian dan tak tahu kemana harus mencarinya.
*** Tong Keng Thian dan Koei Peng Go sudah tiba di Lhasa beberapa hari lebih dulu dan pada waktu itu, mereka sudah menemui kejadian yang sangat luar biasa.
Inilah untuk ketiga kalinya mereka mengunjungi Lhasa bersama-sama.
Pada dua kunjungan yang lebih dulu dari itu, biarpun di dalam hati mereka sudah saling mencinta, tapi di luar, mereka masih bersikap seperti sahabat biasa.
Kali ini adalah lain.
Mereka tidak malu-malu lagi dan berlaku seperti dua tunangan yang saling mencinta.
Tapi, biarpun mereka melewati hari dengan penuh kebahagian, dalam hati mereka selalu terdapat satu ganjelan, yaitu soalnya Liong Leng Kiauw, yang sudah di penjarakan setahun lebih dan yang belum diketahui bagaimana keselamatannya.
Mereka tak mau bertindak sembarangan untuk memberi pertolongan karena Liong Leng Kiauw adalah ahli waris keluarga Tong.
Tong Say Hoa adalah seorang nenek yang beradat aneh dan sangat tak suka orang luar campur-campur urusan keluarganya.
Maka itulah, Tong Siauw Lan telah memesan puteranya supaya jangan bertindak sembarangan dan yang paling perlu adalah pergi ke Soetjoan barat untuk memberitahukan kejadian itu kepada si nenek.
Begitu menerima warta, Tong Say Hoa gusar bukan main dan jika mungkin, sesaat itu juga ia hendak menyateroni penjara.
Tapi sebagaimana diketahui, mendadak Kim Sie Ie mengacau di rumah keluarga Tong, sehingga si nenek dan pemuda itu sama-sama kena senjata rahasia.
Biarpun belakangan mereka saling menukar obat, Keng Thian tak bisa menaksir apa Tong Say Hoa bisa datang di Lhasa, karena badannya tentu akan menjadi lemah akibat jarum Kim Sie Ie.
Maka itu, sesudah berdamai, mereka mengambil keputusan untuk menemui Hok Kong An.
Mengingat jasa mereka yang sudah bantu melindungi guci emas dan mengingat bantuan Pengtjoan Thianlie dalam peristiwa Sakya, mereka merasa pasti pembesar Boan itu akan menerima kunjungannya.
Demikianlah, pada hari ketiga, mereka segera pergi ke gedung Hok Kong An yang ternyata dijaga sangat keras.
Mereka lantas saja mempersembahkan barang antaran dan meminta supaya petugas yang menjaga pintu melaporkan kedatangan mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka diundang ke kamar tamu dan disuguhkan teh.
Duduk belum berapa lama, tirai pintu tersingkap dan seorang Soeya (semacam sekretaris jaman sekarang) bertindak masuk.
Melihat yang masuk bukan Hok Kong An sendiri, Keng Thian dan Peng Go merasa sangat kecewa.
"Kesehatan Hok Tayswee terganggu dan beliau tak bisa menerima tamu,"
Kata si Soeya sambil memberi hormat.
"Mendengar kedatangan Djiewie, beliau memerintahkan aku untuk menyambut. Apakah aku bisa mendapat tahu maksud kedatangan kalian?"
"Aku mempunyai seorang sahabat yang katanya bekerja di bawah perintah Hok Tayswee,"
Kata Keng Thian dengan pura-pura tak tahu, bahwa Liong Leng Kiauvv sudah dipenjarakan.
"Sekalian datang kesini, aku ingin menyambanginya."
"Siapa namanya sahabat tuan?"
Tanya si Soeya.
"She Liong, bernama Leng Kiauw,"
Jawabnya. Paras muka Soeya itu lantas saja berubah.
"Aku tak pernah dengar nama orang itu,"
Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat perubahan pada paras orang itu, hati Keng Thian jadi semakin tak enak.
Apa terjadi kejadian yang tak diingini atas diri Liong Leng Kiauw?
Sesudah masing-masing mengambil tempat duduk, si Soeya mengangkat cawan teh dan sambil bangun berdiri, ia mengundang tamunya minum.
Keng Thian pura-pura tidak mengenal adat dan tetap duduk di kursi, ia mengajukan pertanyaan beruntun-runtun.
Hok Tayswee sakit apa ?
Apa sudah mengundang tabib?
Makan obat apa?
Si Soeya jadi semakin gugup dan Keng Thian segera dapat memastikan, bahwa alasan sakitnya Hok Kong An adalah alasan yang dibuat-buat.
Tiba-tiba diluar terdengar teriakan orang.
"Orang lain boleh tak usah ditemui oleh Hok Tayswee. Tapi kedatanganku harus disambut olehnya sendiri!"
Keng Thian terkejut.
Ia mengenali, bahwa suara itu adalah suara In Leng Tjoe.
In Leng Tjoe adalah Konghong dari istana kaizar Boan, semacam pangkat yang lebih tinggi daripada Siewie (pengawal kaizar).
Dulu ia pernah datang di Lhasa dengan mendapat tugas untuk menangkap Liong Leng Kiauw, tapi ia tak bisa menjalankan tugas itu, karena Hok Kong An telah menahan Liong Sam dalam kantor Tayswee.
Maka itu, dengan perasaan mendongkol, ia kembali ke kota raja untuk memberi laporan kepada kaizar dan memohon tugas yang lebih tegas.
Hok Kong An adalah seorang menteri yang mendapat kepercayaan paling besar dari Kaisar Kian Liong dan mempunyai kekuasaan mutlak di Lhasa.
Maka itu, melihat cara-caranya In Leng Tjoe yang begitu kasar, orang-orang sebawahannya jadi merasa mendongkol.
"Biarpun raja muda atau pweelek (keluarga kaizar) yang datang kemari, ia harus menunggu sebelum mendapat undangan dari Hok Taydjin,"
Kata salah seorang.
"Mana boleh bicara begitu kurang ajar di kantor Tayswee?"
In Leng Tjoe mengeluarkan suara di hidung dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Benar, memang benar Hok Taydjin-mu bisa menolak untuk menemui raja muda atau pweelek,"
Katanya dengan suara mengejek.
"Tapi sekarang aku mau tanya. Jika Hongsiang (kaizar) datang sendiri, apakah Hok Taydjin juga akan menolak?"
Para pengawal gedung Tayswee jadi kaget bukan main.
"Apa kau membawa firman?"
Tanya seorang.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ln Leng Tjoe merogoh saku dan mengeluarkan sebuah Kimpay (papan emas) dengan ukiran empat huruf yang berbunyi.
Djie Tim Tjin Leng (Seperti juga kami datang sendiri).
Dengan mengangkat Kimpay itu tinggi-tinggi, ia membentak dengan suara angker.
"Apa matamu buta? Lekas panggil Hok Kong An untuk menyambut firman Kaisar!"
Dalam kamar tamu, Tong Keng Thian bertiga berhenti bicara dan memperhatikan kejadian di luar itu.
Si Soeya, yang sebenarnya adalah sahabat Liong Leng Kiauw, mengetahui, bahwa kedatangan In Leng Tjoe adalah untuk mengurus urusan Liong Sam yang, jika dilihat gelagatnya, bakal menghadapi bencana besar.
Sementara itu, para pengawal pintu jadi ketakutan.
Buru-buru mereka mengundang In Leng Tjoe ke sebuah kamar tamu yang lain dan lalu memberi laporan kepada Hok Kong An.
Mendadak Keng Thian bangun berdiri seraya berkata.
"Karena, kesehatan Tayswee sedang terganggu, maka kami mohon berlalu saja. Kami minta kau suka menyampaikan hormat kami kepada Hok Tayswee."
Si Soeya yang memang ingin mereka buru-buru pergi, lantas saja bangun dan mengantar kedua tetamu itu sampai di luar pintu.
Sambil menarik tangan Peng Go, Keng Thian berjalan ke arah kamar tamu dimana In Leng Tjoe sedang menunggu kedatangan Hok Kong An.
Si Soeya mengudak dan berteriak.
"Salah! Kalian jalan salah!"
Tapi kedua orang muda itu tidak meladeni dan baru menghentikan tindakan di depan kamar tamu itu.
"Hei! Kau benar banyak lagak!"
Berteriak Keng Thian dengan mengubah suaranya. In Leng Tjoe marah besar dan seraya melompat ke pintu, ia membentak.
"Binatang!..."
Tapi perkataannya berhenti di tengah jalan, karena begitu lekas melihat Keng Thian dan Peng Go, mulutnya ternganga dan matanya membelalak.
"Aku ingin pinjam lihat firman yang dibawa olehmu,"
Kata Keng Thian dengan suara tawar.
Pengtjoan Thianlie sendiri lalu mengeluarkan sebutir Pengpok Sintan, yang dicekal dengan dua jerijinya dan kamar itu lantas diliputi dengan hawa yang dingin luar biasa.
In Leng Tjoe ketakutan setengah mati dan tidak berani berkutik lagi.
la tahu, bahwa jiwanya akan segera melayang, jika ia coba-coba melawan dua orang muda yang sangat liehay itu.
Mau tak mau, ia membiarkan Keng Thian menggeledah badannya dan mengeluarkan firman kaisar dari dalam bajunya.
Bunyi firman itu adalah seperti berikut.
"Liati Sioe, anak laki-laki penghianat Lian Keng Giauw, dengan menggunakan nama samaran Liong Leng Kiauw, telah menyelesap masuk ke Tibet untuk menimbulkan huru-hara. Sekarang dia sudah ditangkap. Dia harus dihukum mati di tempat itu juga dan tidak usah dibawa ke kota raja. Sekianlah perintah Kami untuk Hok Kong An, Menteri Besar yang memegang kekuasaan di Tibet."
Dengan menggunakan istilah "menyelesap masuk di Tibet", Kaisar Kian Liong sebenarnya sudah memberi "muka"
Kepada menterinya yang disayang itu.
Keng Thian sekarang tahu, bahwa jiwa Liong Leng Kiauw digantung di atas selembar rambut.
Untuk sejenak, ia mencekal firman itu tanpa bersuara.
Sekonyong-konyong terdengar bentakan-bentakan para pengawal, suatu tanda, bahwa Hok Kong An akan segera keluar dari gedungnya.
Keng Thian terkesiap.
Ia memasukkan firman itu ke dalam saku In Leng Tjoe seraya berkata dengan suara getir.
"Terima kasih."
Ia memutar badan dan bersama Peng Go, segera meninggalkan gedung Tayswee.
Sesudah mendapat pelajaran pahit, In Leng Tjoe tidak berani mengunjuk kesombongannya lagi dan tentu saja ia tidak menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Hok Tayswee.
Setibanya di rumah penginapan, Keng Thian lalu berdamai dengan Pengtjoan Thianlie mengenai tindakan yang harus diambil.
Dalam perundingan, tiba-tiba si nona ingat Soetee-nya Liong Leng Kiauw, yang bernama Gan Lok dan yang bertempat tinggal di kaki Gunung Anggur.
Ia mengajukan usul, bahwa berita jelek itu harus segera diberitahukan kepada Gan Lok.
Tanpa membuang tempo, mereka segera mengunjungi Gan Lok yang lantas saja mengajak mereka masuk ke kamar rahasia.
"Kapan Tong Tayhiap datang di Lhasa ?"
Tanya Gan Lok sesudah mengunci pintu.
"Apa Tayhiap mendengar warta apa-apa mengenai Soeheng-ku?"
"In Leng Tjoe sudah kembali,"
Menerangkan Keng Thian.
"Aku kuatir kembalinya itu mempunyai akibat tidak baik bagi dirinya Liong Sam Sianseng."
Keng Thian bicara dengan hatihati dan ia tak mau segera memberitahukan hal firman kaisar.
Sekonyong-konyong Gan Lok bangun dan berlutut di hadapan kedua tetamunya.
Keng Thian ingin mencegah, tapi sudah tidak keburu lagi.
"Tong Tayhiap,"
Katanya dengan suara memohon.
"Siauwtee mempunyai suatu permintaan yang sebenarnya tidak pantas diajukan. Aku merasa sangsi, apa boleh bicara terus terang?"
"Bicaralah,"
Kata Keng Thian.
"Sesudah siauwtee memikir bulak-balik, rasanya tiada jalan lain daripada membongkar penjara!"
Katanya. Keng Thian terperanjat. Ia tidak lantas memberi jawaban dan duduk bengong dengan perasaan sangsi.
"Dengan Liong Leng Kiauw, aku belum bergaul lama dan belum tahu isi hatinya,"
Katanya di dalam hatinya.
"jika aku bantu membongkar penjara, aku menimbulkan gelombang besar di Tibet. Untuk membalas sakit hati ayahnya, mungkin sekali, sesudah keluar dari penjara, ia akan menerbitkan kekacauan hebat."
Di lain saat, ia mendapat lain pikiran.
"Biarpun dia putera Lian Keng Giauw, tapi dilihat gerak-geriknya, dia adalah seorang laki-laki sejati. Bukankah sayang sekali, jika ia mesti membuang jiwa dengan cuma-cuma? Di samping itu, sesudah aku menolongnya, ia pasti akan mendengar nasihatku untuk tidak menimbulkan huru-hara. Ayah sendiri telah memerintahkan supaya aku memberitahukan hal ini kepada nyonya Tong dan dengan begitu, ayah tentu tak akan menggusari aku, jika aku memberi pertolongan."
Seperti ayahnya, Keng Thian adalah seorang yang sangat berhati-hati.
Dalam menghadapi segala urusan, ia selalu memikir dulu sebelum bertindak.
Melihat kesangsian tamunya, hati Gan Lok berdebar-debar.
Sesaat kemudian, Keng Thian berkata.
"Baiklah, malam ini, lewat tengah malam."
Gan Lok girang tak kepaiang. Tapi, sebelum ia sempat menghaturkan terima kasih, di luar mendadak terdengar suara ribut-ribut.
"Apa itu? Djiewie berdiam saja disini untuk sementara waktu, aku mau keluar untuk menyelidiki,"
Kata Gan Lok sambil bertindak keluar dari kamar rahasia itu.
Begitu tiba di pintu, ia terkesiap karena yang datang adalah Lo Tiauw, pemimpin pasukan pengawal Hok Kong An, yang diikuti oleh enam orang, empat antaranya adalah ahli-ahli silat kelas satu di bawah perintah Hok Tayswee, sedang dua yang lain adalah seorang pria dan seorang wanita yang mukanya luar biasa.
Mereka berdua adalah In Leng Tjoe dan isterinya, San Tjeng Nio, yang tidak dikenal Gan Lok.
"Ada urusan apa Lo Taydjin datang kesini?"
Tanyanya sambil merangkap kedua tangannya. Lo Tiauw mengeluarkan suara di hidung.
"Gan Lok!"
Bentaknya.
"Besar sungguh nyalimu!"
"Aku adalah seorang rakyat kecil yang belum pernah melanggar undang-undang negara,"
Kata Gan Lok.
"Apa artinya perkataan Taydjin?"
"Jangan berlagak gila!"
Berteriak Lo Tiauw.
"Kau sudah membawa lari Liong Loosam. Dimana dia sekarang?"
Gan Lok kemekmek. Perkataan Lo Tiauw bagaikan halilintar di tengah hari bolong.
"Apa?"
Ia menegasi.
"Soeheng-ku dibawa lari orang?"
"Apa kau masih mau main gila terus?"
Kata Lo Tiauw dengan gusar.
"Apa kau mau aku turun tangan?"
Kagetnya Gan Lok sekarang tercampur dengan perasaan girang.
"Lo Taydjin!"
Katanya dengan suara nyaring.
"Aku sungguh-sungguh tidak mengerti perkataanmu."
"Jika bukan kau, siapa lagi yang membongkar penjara?"
Tanya Lo Tiauw dengan mata melotot.
"Sudah setengah bulan, siauwtee tak pernah keluar dari rumah ini,"
Jawabnya.
"Mana bisa siauwtee membongkar penjara?"
Lo Tiauw sangsi.
"Dilihat dari parasnya, mungkin ia tidak berdusta,"
Katanya di dalam hati.
"Di samping itu, begitu aku datang, ia lantas keluar menyambut. Tapi, kalau bukan dia, siapa lagi?"
"Bolehkah aku mendapat tahu, bagaimana penjara dibongkarnya?"
Tanya Gan Lok.
"Dengan adanya penjagaan yang begitu kuat, apa masih ada orang yang berani berbuat begitu?"
Lo Tiauw jadi semakin sangsi.
"Hm!"
Ia menggereng.
"Aku tanya kau, sekarang berbalik kau tanya aku. Gan Lok! Jangan main gila kau!"
"Jika benar aku yang membongkar penjara, waktu ini aku tentu sudah kabur jauh,"
Kata Gan Lok.
"Tak bisa jadi, aku terus berdiam di rumahku dan menyambut kedatangan kalian. Jika tidak percaya, kalian boleh menggeledah."
Lo Tiauw tertawa dingin.
"Tak mudah kau menipu aku dengan segala akal bulus,"
Katanya.
"Sudah pasti, kaulah yang melepaskan Liong Loosam dan menyuruh dia kabur di tempat lain, sedang kau sendiri pura-pura bersih. Gan Lok! Beritahukan saja tempat bersembunyinya Liong Loosam. Dengan mengingat, bahwa kita pernah bekerja sama-sama, aku tentu tak akan menyusahkan kau."
"Biarpun dibunuh mati, aku tak bisa memberitahukan dimana adanya Soeheng, karena aku memang tak tahu,"
Jawabnya dengan suara tetap. Sementara itu, In Leng Tjoe sudah hilang sabarnya.
"Sudahlah!"
Bentaknya.
"Sebagai soetee Liong Leng Kiauw, dia harus bertanggung jawab sepenuhnya. Perlu apa kita bicara panjangpanjang?"
Berbareng dengan perkataannya, ia maju setindak dan coba mencengkeram Gan Lok dengan tangannya yang seperti kipas.
Dengan cepat Gan Lok berkelit dan melompat mundur.
Mendadak, dengan disertai sambaran angin dahsyat, bagaikan bianglala, sehelai ikatan pinggang sutera yang beraneka warnanya, menyambar.
Gan Lok terkesiap dan untuk menolong diri, ia berguling di atas lantai.
Sementara itu, In Leng Tjoe sudah merangsek maju untuk membekuk lawannya.
Selagi melompat, tiba-tiba saja, ia merasa kakinya menginjak serupa benda yang dingin luar biasa.
Hatinya mencelos dan ia meloncat mundur beberapa tindak.
Di lain saat, dengan jalan berendeng, Tong Keng Thian dan Koei Peng Go masuk ke dalam ruangan itu.
Melihat sambaran ikatan pinggang San Tjeng Nio, dengan tenang Keng Thian mengangkat tangan kanannya dan dengan dua jeriji menjepit ikatan pinggang itu, yang lantas saja putus seperti tergunting!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya In Leng Tjoe dan San Tjeng Nio.
Untuk membekuk Gan Lok, yang katanya memiliki ilmu silat tinggi, In Leng Tjoe telah mengajak iserinya datang bersama-sama, la tak pernah mimpi bahwa kedua orang muda yang ditakuti itu, bisa berada di rumah Gan Lok.
Sebagaimana diketahui, mereka berdua pernah mengerubuti Pengtjoan Thianlie tanpa bisa menarik keuntungan apapun juga dan kemudian dalam pertarungan itu, mereka pernah berkenalan dengan liehaynya Thiansan Sinbong.
Mereka juga mengetahui, bahwa Keng Thian adalah putera Tong Siauw Lan yang benar-benar tidak boleh dibuat gegabah.
Maka itu, biarpun merasa sangat malu, buru-buru mereka lompat menyingkir sebagai jago pecundang.
Lo Tiauw dan kawan-kawan segera mengenali, bahwa kedua orang muda itu adalah orangorang yang pernah bantu melindungi guci emas.
Sambil bersenyum.
Keng Thian mendekati dan memberi hormat.
"Taydjin, kapan pembongkaran penjara itu terjadi? Apa malam ini?"
Tanyanya.
"Benar, baru kira-kira satu jam berselang,"
Jawabnya. Hatinya bersangsi dan menduga-duga, bahwa pembongkaran penjara dilakukan oleh kedua orang muda itu, tapi ia tak berani menanya terang-terangan.
"Kami datang disini sudah dua jam lamanya,"
Kata pula Keng Thian.
"Selama dua jam itu, Gan Sianseng terus menemani kami. Kecuali ia mempunyai kepandaian memecah badan, tak mungkin ia pergi membongkar penjara."
Mendengar keterangan Keng Thian, di dalam hati In Leng Tjoe menduga, bahwa orang yang membawa lari Liong Leng Kiauw adalah pemuda itu sendiri.
Akan tetapi, karena takut, ia tidak berani membuka mulut.
Sementara itu, melihat gelagat kurang baik, sambil tersenyum Lo Tiauw segera berkata.
"Jika Djiewie Giesoe mengatakan begitu, perbuatan itu sudah tentu bukan dilakukan oleh Gan-heng. Kami minta maaf untuk kecerobohan tadi, dan oleh karena ingin buruburu berusaha untuk membekuk orang yang berdosa, sekarang kami minta perkenan untuk berlalu."
Sesudah para tamu berangkat, mereka duduk di ruangan tengah. Melihat paras Keng Thian yang sangat guram, Gan Lok tertawa seraya berkata.
"Sesudah ada orang yang mewakili pekerjaan kita, kita boleh tak usah berabe lagi."
Alis pemuda itu berkerut.
"Siapakah orang itu?"
Tanyanya.
"Biarpun orang-orang Hok Kong An bukannya ahli-ahli silat kelas utama, aku bisa membayangkan, bahwa malam ini penjagaan di penjara sangat diperkuat. Mungkin sekali suami isteri In Leng Tjoe turut menjaga disitu. Tapi orang itu telah berhasil membawa lari Liong Leng Kiauw. Siapa dia? Tak bisa tidak, dialah seorang yang berkepandaian luar biasa."
"Apa tak mungkin nenek Tong?"
Tanya Peng Go. Keng Thian menggelengkan kepala seraya berkata.
"Jika benar Tong Lootaypo, apakah mungkin, bahwa pengawal-pengawal penjara tak dapat membedakan lelaki atau perempuan? Kenapa mereka menuduh Gan-heng?"
"Apakah Kim Sie Ie?"
Tanya pula si nona.
"Kurasa tak mungkin,"
Jawab Keng Thian.
"Meskipun dia seorang aneh, tapi mengingat, bahwa dia sama sekali belum mengenal Liong Leng Kiauw, tak bisa jadi ia sudi menempuh bahaya untuk menolong Liong Sam."
Keng Thian tahu, bahwa bertahun-tahun Liong Leng Kiauw telah mementang pengaruhnya di daerah Tibet.
Maka itu, ia girang tercampur jengkel karena Liong Sam jatuh ke dalam tangan orang yang belum diketahui siapa adanya.
Mereka coba menebak-nebak, tapi tak bisa menarik kesimpulan yang memuaskan.
Malam itu Keng Thian tak bisa pulas.
Ia menggulak-gulik di atas pembaringan sambil mengasah otak.
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengunjungi pula Hok Kong An guna menyelidiki hal itu sedalam-dalamnya.
Tapi di luar dugaan, sebelum ia berangkat, utusan Hok Tayswee, sudah datang di rumah Gan Lok.
Orang yang diutus Hok Kong An adalah Tjiauw Tjoen Loei dan Yoe It Gok yang pernah turut melindungi guci emas.
Kedudukan mereka adalah pemimpin dan wakil pemimpin dari delapan pengawal utama di istana kaisar dan kedudukan mereka masih jauh lebih tinggi daripada Lo Tiauw.
Sesudah selesai menjalankan tugas mengawal guci emas ke Lhasa, Hok Tayswee telah mengajukan permohonan kepada kaizar, supaya mereka berdua tetap berdiam di Lhasa guna memberi bantuan dalam soal-soal ketentaraan dan permohonan itu sudah diluluskan oleh Kian Liong.
Begitu fajar menyingsing, mereka sudah tiba di rumah Gan Lok.
Melihat Keng Thian dan Peng Go, Tjiauw Tjoen Loei segera berkata dengan sikap hormat.
"Waktu Djiewie Giesoe datang berkunjung kemarin, Tayswee tidak keluar menemui karena kesehatannya agak terganggu. Untuk kelalaian itu, beliau telah mengutus kami guna minta maaf."
Keng Thian yang sangat cerdas, lantas saja menduga, bahwa kedatangan mereka mengandung maksud untuk meminta pertolongan. Ia bersenyum seraya berkata.
"Orang-orang dusun yang seperti kami, sebenarnya tak boleh mengganggu Tayswee. Kami insyaf, bahwa Tayswee tentu diuruk pekerjaan-pekerjaan penting dan kami tak berani mengganggu lagi. Di hadapan Tayswee, mohon Djiewie menyampaikan permintaan maaf kami."
"Apakah Tong Tayhiap tak gusar terhadap kami?"
Tanya Tjiauw Tjoen Loei.
"Kenapa gusar?"
Keng Thian balas menanya.
"Jika benar Tong Tayhiap tidak marah terhadap kami, kami memohon supaya Tayhiap suka menolong mangkok nasi kami,"
Katanya.
"Ah! Tjiauw Taydjin tak boleh bicara begitu!"
Kata Keng Thian.
"Bukankah Tong Tayhiap sudah tahu, bahwa semalam terjadi pembongkaran penjara?"
Tanya Tjoen Loei pula.
"Ya,"
Jawabnya.
"In Leng Tjoe dan beberapa orang lain semalam telah datang untuk urusan itu."
"Dalam hal ini, kami semua telah mendapat malu besar,"
Kata Tjiauw Tjoen Loei.
"Karena tidak punya kemampuan, penjahat sudah berhasil membawa lari seorang pesakitan penting dan lebih gila lagi, kami malah tak bisa melihat tegas muka penjahat itu. Barangkali Tong Tayhiap juga tahu, bahwa pesakitan itu adalah pesakitan sangat penting yang diperhatikan oleh Hongsiang sendiri. Jika dia tak bisa dibekuk kembali, semua orang disini, dari atas sampai di bawah, sudah pasti tak akan terluput dari hukuman. Maka, kami memohon belas kasihan Tong Tayhiap untuk memberi pertolongan."
Mendengar pernyataan Tjiauw Tjoen Loei, Keng Thian segera menduga, bahwa Hok Kong An sudah tahu tentang perampasan firman yang dilakukan olehnya.
Mungkin, In Leng Tjoe sendiri merasa malu untuk memberitahukan kejadian itu, tapi di samping In Leng Tjoe, masih ada si Soeya yang menyaksikan kejadian tersebut.
Oleh sebab itu ia menduga, bahwa Soeya itulah yang sudah melaporkan kepada Hok Tayswee.
Dari perkataan Tjiauw Tjoen Loei, ia mendapat kesan, bahwa orang masih menyangkanya sebagai orang yang sudah membawa lari Liong Leng Kiauw.
Maka itu, sambil tertawa ia segera berkata.
"Dilihat gelagatnya, jika aku tak bisa membantu kalian, aku sendiri pun tak akan terlolos dari kecurigaan."
Paras muka Tjiauw Tjoen Loei lantas saja menjadi merah.
"Biarpun mempunyai seratus kepala, kami tentu tak berani mencurigakan Tong Tayhiap,"
Katanya.
"Hanya karena yakin, bahwa Tayhiap mempunyai pandangan dan pergaulan yang sangat luas, maka kami mohon, supaya Tayhiap sudi memberi petunjuk-petunjuk."
Keng Thian tak lantas menjawab, ia duduk bengong sambil menimbang-nimbang tindakan yang harus diambilnya.
Sementara itu, Tjiauw Tjoen Loei jadi semakin bingung dan dari merah, parasnya berubah menjadi pucat bagaikan kertas.
Ia tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu.
"Tong Tayhiap,"
Katanya dengan suara gemetar.
"Dengan Liong Loosam, kami sedikitpun tak mempunyai ganjelan atau permusuhan. Aku sendiri juga merasa sangat tidak tega jika ia mesti mendapat hukuman mati. Kami hanya mengharap, supaya ia bisa kembali dan aku bisa menyerahkannya kepada I n Leng Tjoe. Sesudah menyelesaikan tugas itu, aku akan segera mengajukan permintaan berhenti dan pulang ke kampung sendiri. Huh-huh! Sesudah Liong Loosam berada dalam tangan In Leng Tjoe, kami bebas dari segala beban. Jika sampai terjadi apa-apa lagi, aku boleh tak usah campur-campur lagi!"
Keng Thian merasa geli dalam hatinya.
"Apakah Taydjin berada disitu, di waktu terjadi pembongkaran penjara?"
Tanyanya. Muka Tjiauw Tjoen Loei yang pucat mendadak berubah menjadi merah.
"Justeru aku dan Yoeheng yang sedang bertugas,"
Jawabnya dengan suara kemalu-maluan.
"Heran benar!"
Kata Keng Thian.
"Meskipun penjahat itu berkepandaian tinggi, tetapi, mengingat tebalnya tembok penjara dan kuatnya kunci, tak mungkin ia bisa terbang tanpa mengeluarkan suara."
"Bukan hanya suara, tapi suara yang sangat dahsyat,"
Jawabnya.
"Penjahat itu telah menghancurkan tembok penjara!"
Keng Thian jadi semakin heran.
"Kalau begitu, mana bisa jadi kalian tidak melihat tegas muka penjahat itu?"
Tanyanya.
"Kira-kira tengah malam, di dalam penjara mendadak terdengar suara gedubrakan yang sangat hebat,"
Kata Tjiauw Tjoen Loei.
"Kami segera memburu dan melihat berkelebatnya satu bayangan hitam yang menggendong Liong Leng Kiauw. Mendadak, kami merasa seperti kehilangan semangat, mata berkunang-kunang dan lutut lemas. Di lain saat, penjahat itu sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi."
"Apa penjahat itu menggunakan biehio (hio untuk memabukkan orang)?"
Tanya Keng Thian. Tjiauw Tjoen Loei menggelengkan kepala.
"Sedikitpun aku tidak mengendus bebauan luar biasa,"
Katanya.
"Untuk itu, kami sudah berjaga-jaga. Semua orang yang bertugas membekal obat pemunah. Biehio yang paling hebat tak akan bisa merobohkan kami."
Sesudah berpikir sejenak, Reng Thian berkata.
"Apa boleh kalian mengantar kami untuk menyelidiki di penjara itu?"
"Bagus! Kami sebenarnya tak berani meminta begitu,"
Jawabnya girang.
Setibanya di penjara, Keng Thian dan Peng Go segera menyelidiki dengan teliti.
Ternyata, tembok penjara tebal dan kokoh, sedang setiap pintu terbuat dari besi dengan kuncinya yang besar.
Waktu tiba di kamar (sel) Liong Leng Kiauw, mereka terkejut sebab dinding berlubang besar, cukup untuk muat badannya satu manusia.
Ditinjau bekas-bekasnya, tembok itu rupanya digempur dengan menggunakan pundak.
Keng Thian dan Peng Go merasa kagum bukan main, karena tenaga yang begitu besar sungguh jarang terdapat dalam dunia.
Tapi apa yang paling mengherankan adalah pengaruh luar biasa yang dirasakan oleb para penjaga bui pada waktu si penjahat sedang bekerja.
Mereka semua merasa seperti orang linglung.
Penglihatan mereka mengenai tubuh si penjahat berlainan satu sama lain.
Ada yang kata, penjahat itu berbadan gemuk, ada yang kata kurus, ada yang kata tinggi dan ada pula yang kata kate.
Keng Thian menengok ke arah Peng Go dan tiba-tiba ia terkejut, karena paras si nona kelihatan luar biasa, seakan-akan orang kehilangan semangat.
"Peng Go Tjietjie! Kenapa kau?"
Tanyanya. Sedari tiba di penjara, Pengtjoan Thianlie tidak mengeluarkan sepatah kata dan teguran itu mengejutkannya.
"Lekas sediakan dua ekor kuda yang baik!"
Katanya dengan suara nyaring.
"Kita harus mengubar ke jurusan barat!"
"Ada apa?"
Tanya Keng Thian dengan penuh keheranan.
"Coba kau bersemedhi dan mengheningkan cipta,"
Kata si nona.
Baru saja bersemedhi beberapa saat, hidung Keng Thian sudah mengendus semacam bebauan wangi yang sangat halus dan luar biasa.
Seumur hidup, belum pernah ia mencium bebauan yang serupa itu.
Sementara itu, atas perintah Tjiauw Tjoen Loei, dua ekor kuda sudah tersedia di luar pintu penjara.
Keng Thian melompat bangun seraya menanya.
"Peng Go Tjietjie, bau apa itu?"
"Jangan tanya, mari kita berangkat,"
Jawabnya sambil bertindak keluar.
Tanpa bicara lagi, mereka melompat ke atas punggung kuda yang lalu dikaburkan ke jurusan barat.
Kedua tunggangan itu adalah kuda-kuda pilihan yang larinya sangat cepat dan dalam sekejap, mereka sudah berada di luar kota.
Tibet adalah daerah yang luas dengan sedikit penduduknya.
Sebagian besar penduduk itu berkumpul di sebelah timur Lhasa, sedang di wilayah sebelah barat Lhasa hanya terdapat tanah belukar dan gurun pasir.
Di daerah itu, orang bisa berjalan puluhan li tanpa menemui rumah penduduk.
Waktu itu, di Tiongkok Selatan sudah masuk permulaan musim semi, tapi Tibet masih tertutup salju.
Sesudah mengaburkan tunggangan beberapa lama di tanah yang tandus itu, tiba-tiba Peng Go menahan les dan berkata.
"Diculiknya Liong Leng Kiauw mungkin akan menimbulkan kejadiankejadian luar biasa."
"Bagaimana kau tahu?"
Tanya Keng Thian sambil merendengkan kudanya dengan tunggangan si nona.
"Bukankah tadi kau mengendus bebauan wangi?"
Peng Go balas menanya.
"Benar,"
Jawabnya.
"Bau itu halus luar biasa, sehingga sesudah bersemedhi, barulah aku dapat mengendusnya. Aku sebenarnya merasa heran, bagaimana kau bisa mengendusnya dengan begitu saja."
Si nona tertawa manis.
"Kau tak usah heran,"
Katanya.
"Di Puncak Es terdapat pohon bunga itu."
"Bunga?"
Menegas Keng Thian.
"Bunga itu Asioelo namanya,"
Menerangkan Peng Go.
"Asioelo berarti setan atau memedi. Walaupun sangat halus, bau kembang itu tak gampang buyar. Pada waktu bunganya sedang mekar, orang yang mengendus wanginya bunga itu, akan berada dalam keadaan seperti mabuk arak, semangatnya seolah-olah terbetot keluar, matanya berkunangkunang dan lututnya lemas. Maka itulah, namanya Bunga Setan. Pohon bunga itu hanya bisa hidup di tempat yang sangat tinggi. Sepanjang keterangan, di samping daerah pegunungan Nyenchin Dangla, Bunga Setan hanya terdapat di pegunungan Himalaya. Di gunung Nyenchin Dangla tidak terdapat lain orang pandai, kecuali keluargaku sendiri. Maka itu, aku menaksir, bahwa orang yang menculik Liong Leng Kiauw datang dari daerah Himalaya."
"Aha!"
Kata Keng Thian dengan kaget.
"Apa dia orang asing? Benar. Jika dilihat dari kepandaiannya dalam menggempur tembok penjara, memang kepandaian itu bukan kepandaian orang Han."
"Aku pun menduga begitu,"
Kata Peng Go sambil menghela napas.
"Jika dia datang dari Nepal, aku kuatir perbuatannya itu mempunyai sangkut paut dengan diriku. Maka itulah, andaikata orang yang diculik bukan Liong Leng Kiauw, aku tetap harus menyelidiki sampai di dasarnya,"
Di sepanjang jalan, dengan rasa heran mereka melihat tapak-tapak di atas salju, tapi semua tapak itu bukan tapak manusia, maupun kuda.
Apa tapak-tapak binatang yang belum dikenal mereka?
Sesudah berjalan beberapa jauh lagi, di atas salju terlihat tetesan darah, yang semakin lama jadi semakin banyak.
Apa yang mengherankan ialah di jalanan itu sama-sekali tidak kelihatan tapak-tapak kaki.
"Aneh,"
Kata Peng Go.
"Jika darah itu adalah darah manusia, orang yang mengeluarkan darah pasti mempunyai ilmu berjalan tanpa meninggalkan tapak. Tapi, jika ia memiliki ilmu yang begitu tinggi bagaimana ia bisa terluka?"
Dengan hati berdebar-debar, mereka terus mengikuti tetesan darah itu.
Tak lama kemudian, Keng Thian mengeluarkan seruan kaget, karena di tengah jalan menggeletak dua bangkai kuda.
Mereka lalu mendekati dan ternyata, ke empat kaki kuda-kuda itu telah dibacok putus.
Mereka coba mencari kaki-kaki itu, tapi tidak bisa didapatkannya, mungkin sebab sudah keuruk salju.
Keheranan mereka semakin memuncak.
Jika tetesan darah yang terlihat di sepanjang jalan adalah kuda, kenapa tidak terlihat tapak-tapak kakinya?
Mereka melompat turun dari tunggangan dan lalu menyelidiki terlebih teliti.
Ternyata, di seputar bangkai kuda terdapat tapak-tapak kaki manusia yang samar-samar, antaranya tapak yang pendek dan kecil.
Setelah diakuri, tapak itu ternyata tidak berjauhan besarnya dengan tapak kaki Peng Go.
"Tapak wanita!"
Kata Keng Thian, yang, sesudah mengawaskan kedua bangkai kuda itu beberapa lama, mendadak berteriak.
"Aha! Inilah tapak Tong Lootaypo!"
"Bagaimana kau tahu?"
Tanya si nona.
"Lihatlah kedua kuda itu,"
Jawabnya.
"Banyak lebih kecil daripada tunggangan kita, tapi kelihatannya kuat dan gagah. Kuda itu bukan sembarang kuda, mereka adalah kuda-kuda yang terkenal dari Soetjoan barat!"
"Benar,"
Kata si nona.
"Tong Lootaypo memang penduduk daerah itu. Tapi disini terdapat dua ekor kuda. Siapa yang satunya lagi? Apakah nenek itu yang menolong Liong Leng Kiauw? Mana bisa jadi?"
Keng Thian pun merasa, bahwa hal itu adalah tak mungkin. Walaupun memiliki ilmu silat yang tinggi, si nenek pasti tak akan bisa menggempur tembok penjara dengan kekuatan badannya.
"Pengalaman kita di hari ini benar-benar luar biasa,"
Kata Keng Thian.
"Jalan satu-satunya, kita harus menyelidiki terlebih jauh."
Mereka lalu melompat naik ke punggung kuda dan berjalan mengikuti tapak-tapak kaki di atas salju. Selagi turun di satu tanjakan, sekonyong-konyong terlihat pula tanda-tanda darah.
"Disitu ada orang!"
Seru Keng Thian.
Tubuh orang itu tertutup salju dan hanya sebagian mukanya yang terlihat dari luar.
Buru-buru mereka meloncat turun dari tunggangan dan menyingkirkan salju yang menutup badan orang itu.
Di lain saat, mereka berdiri terpaku, bahna kagetnya, baju orang itu, yang ternyata adalah Tong Toan, keponakan Tong Say Hoa, robek di sana-sini, sedang di pundaknya terdapat tapak tangan yang berwarna merah.
"Dadanya masih hangat,"
Kata Keng Thian.
"Lekas berikan Yangho wan (pel untuk menolak hawa dingin)."
Peng Go segera menyerahkan dua butir Yangho wan kepada Keng Thian yang lalu memasukkannya ke dalam mulut Tong Toan dan menuang juga sedikit arak, yang selalu dibawa dalam sakunya, supaya pel itu bisa turun ke dalam perut.
Kemudian, dengan mengerahkan lweekang, Keng Thian lalu mengurut sekujur badan Tong Toan untuk menjalankan darahnya yang sudah hampir membeku.
Selagi tunangannya bekerja, si nona mengawasi ke seputarnya.
Tiba-tiba ia berteriak.
"Keng Thian! Lihat!"
Keng Thian menengok ke arah yang ditunjuk Peng Go.
Ternyata, tak jauh dari situ, terdapat sebuah batu gunung yang somplak atasnya dan kepingan-kepingan batu berhamburan di bawahnya.
Sebagai seorang ahli, ia segera mengetahui, bahwa somplakan itu adalah akibat pukulan senjata.
Sesudah memperhatikan beberapa saat, mendadak ia berseru.
"Aha! Tongkat Kim Sie Ie!"
Si nona menghela napas.
"Ya,"
Katanya dengan suara duka.
"Sebaliknya dari pergi ke Thiansan, dia datang kemari. Bukankah dia seperti mencari mati sendiri? Andaikata kita sekarang dapat mencarinya, mungkin sudah tidak keburu untuk menolongnya."
Peng Go berkata begitu, karena tahu, bahwa Kim Sie Ie tak bisa hidup sebulan lagi.
Keng Thian tidak menyahut.
Ia terus mengurut Tong Toan.
Selang beberapa lama, barulah terdengar suara merintih dari tenggorokan pemuda yang terluka itu.
"Ketolongan!"
Katanya sambil bangun berdiri dan mengambil kantong kulit yang berisi arak susu kuda dari selanya. Ia menuang arak itu ke mulut Tong Toan yang perlahan-lahan lalu membuka kedua matanya.
"Ih!"
Katanya dengan suara lemah.
"Kau? Apa aku sedang mimpi?"
Pengtjoan Thianlie bersenyum.
"Jangan kuatir, kau hanya mendapat luka di luar,"
Katanya.
"Inilah Tong Keng Thian, putera paman Tong Siauw Lan, Tjiangboendjin Thiansan pay."
Dengan sorot mata duka, Tong Toan mengawasi si nona.
"Terima kasih,"
Katanya dengan suara lemah.
"Koei Kouwnio, inilah untuk kedua kali kau menolong aku."
Harus diketahui, bahwa waktu Peng Go berdiam beberapa hari dalam gedung keluarga Tong untuk melindungi Tong Lootaypo, dalam hati pemuda itu telah timbul rasa cinta terhadapnya.
Hanya karena mengetahui, bahwa kepandaiannya tidak berbanding dengan Pengtjoan Thianlie, ia merasa malu untuk memperlihatkan rasa hatinya.
Sekarang, melihat Peng Go bersama-sama putera Tong Siauw Lan, ia jadi merasa duka, akan tetapi, sebagai seorang baik-baik, dalam kedukaan itu, ia merasa girang sebab Pengtjoan Thianlie sudah mendapat seorang kawan yang kelihatannya setimpal.
"Mana Kouwkouw-mu (bibi)?"
Tanya si nona.
"Apa kalian tidak bertemu dengannya?"
Tanyanya dengan kaget. Pengtjoan Thianlie terkesiap.
"Apa Kim Sie Ie cari-cari urusan lagi dengan kalian?"
Tanyanya. Ia menunjuk batu yang somplak itu dan berkata pula.
"Lihatlah, bukankah batu itu terpukul dengan tongkatnya?"
"Aduh, begitu hebat!"
Kata Tong Toan.
"Dia sebenarnya telah membantu Kouwkouw dalam pertempuran melawan Ouwtjeng (pendeta asing)."
"Apa?"
Menegas si nona.
"Siapa pendeta asing itu? Kim Sie Ie membantu Kouwkouw-mu?"
"Benar,"
jawabnya.
"Jika tidak ditolong Kim Sie Ie, jiwaku tentu sudah melayang.
Yang menculik Soesiok (paman guru, Liong Leng Kiauw) adalah Ouwtjeng itu.
Waktu kecil, Liong Leng Kiauw telah dipelihara oleh Tong Say Hoa yang mencintainya bagaikan anak sendiri.
Tapi guru Liong Sam adalah Tong Djiesianseng, ayah Tong Say Hoa, sehingga Tong Toan memanggil Soesiok kepadanya.
Si nona kaget bukan main.
"Oh, begitu?"
Katanya.
"Kenapa di sepanjang jalan sama sekali tidak terlihat tapak kaki manusia atau kuda?"
Sesudah minum arak susu kuda, sebagian tenaga pemuda itu pulih kembali. Ia menghela napas dan mulai menutur dengan suara perlahan.
"Tempo hari, ketika kau datang di Soetjoan barat, kau telah memberitahukan tentang di penjarakannya Soesiok. Sebenarnya Kouwkouw ingin segera pergi ke Lhasa untuk memberi pertolongan, tapi sungguh celaka, ia telah dilukakan Kim Sie Ie, sehingga sesudah berobat kurang lebih setengah tahun, barulah kesehatannya pulih kembali. Kami berangkat sesudah Tiongtjhioe tahun yang lalu dan sudah belasan hari tiba di Lhasa."
"Aku semula menduga, orang yang membongkar penjara adalah Kouwkouw-mu,"
Kata si nona.
"Memang, memang Kouwkouw mempunyai niatan begitu,"
Kata Tong Toan.
"Ia membuat persiapan untuk beberapa hari lamanya. Ia sudah menyelidiki keadaan di penjara dan menyediakan dua ekor kuda di luar pintu kota, supaya, begitu lekas Soesiok tertolong, kami bisa kabur dengan menunggang kuda. Kami sudah membuat rencana untuk membongkar penjara pada tengah malam, kemarin malam."
"Pendeta asing itu juga datang pada waku itu, bukan?"
Tanya Keng Thian.
"Tak salah,"
jawabnya.
"Kemarin malam, baru saja kami tiba di luar tembok penjara, mendadak terdengar suara gedubrakan, disusul dengan suara tindakan yang ramai.
Kami mengetahui, bahwa di dalam telah terjadi perkembangan luar biasa dan lalu bersembunyi di kaki tembok.
Tak lama kemudian, dari dalam melompat keluar seorang pendeta asing yang menggendong seorang lain.
Kouwkouw yang bermata jeli lantas saja mengenali, bahwa orang yang digendong itu adalah Soesiok.
Ia berteriak-teriak dan memanggil-manggil nama Soesiok, tapi baik si pendeta, maupun Soesiok tidak menjawab.
Menurut peraturan Kangouw, kedua belah pihak harus saling memperkenalkan diri.
Si pendeta yang mempunyai ilmu entengkan badan sangat tinggi, kabur terus dengan diubar oleh kami.
"Begitu keluar dari tembok kota, Ouwtjeng itu lantas saja melompat ke punggung kuda yang lalu dikaburkan sekeras-kerasnya. Untung juga, kami pun sudah menyediakan kuda. Kedua kuda kami sangat cepat larinya dan si pendeta telah kecandak di tempat ini."
"Kenapa di sepanjang jalan tidak tertampak tapak kaki kuda?"
Tanya Peng Go.
"Karena kuatir dikuntit orang, kami membungkusnya dengan kain wol yang tebal,"
Jawabnya.
"Mungkin si pendeta asing pun berbuat begitu."
Pengtjoan Thianlie manggut-manggutkan kepalanya. Sesudah mengasoh sebentaran, Tong Toan melanjutkan penuturannya.
"Dalam jarak kira-kira belasan tindak, Ouwtjeng mendadak berbalik dan melepaskan beberapa golok terbang dengan berbareng. Kouwkouw adalah ahli senjata rahasia yang pandai melepaskan dan menyambut macam-macam senjata. Ia segera bergerak untuk menangkap golok-golok dengan menggunakan ilmu Tjiantjhioe Kwan Im Sioebanpo (Dewi Kwan Im yang mempunyai ribuan tangan menangkap laksaan mustika). Tapi di luar dugaan, ilmu melepaskan golok dari si pendeta juga sangat luar biasa. Waktu baru dilepaskan, golok-golok itu menyambar ke atas tapi begitu berdekatan, arahnya berubah dan menyambar kaki kuda. Demikianlah, delapan kaki kuda Soetjoan itu jadi korban golok terbang. Jika Kouwkouw masih muda atau serangan itu terjadi di siang hari, mungkin sekali si pendeta tidak akan berhasil."
Mendengar penuturan itu, Keng Thian merasa geli.
"Keluarga Tong dikenal sebagai ahli nomor satu di dunia dalam ilmu melepaskan senjata rahasia,"
Katanya di dalam hati.
"Kekalahan ini pasti mendukakan sangat hati si nenek."
"Kouwkouw jadi gusar bukan main,"
Kata pula Tong Toan.
Ia segera menghujani senjata rahasia kepada Ouwtjeng.
Thielian tjie, Tokkilee, Ngoloei tjoe, Kimtjhie piauw dan sebagainya menyambar-nyambar bagaikan gerimis, sehingga si pendeta jadi repot bukan main.
Dia melompat turun dari tunggangannya dan lalu menggunakan jubah pertapaannya sebagai tameng.
Sementara itu, Liong Soesiok masih tetap duduk di punggung kuda.
Semula, kami menduga, ia kena obat tidur.
Tapi dengan pertolongan sinar bulan, kami melihat matanya terbuka lebar dan mengawasi kami terlongong-longong.
Kami yakin, bahwa jika Soesiok membantu, tidak terlalu sukar untuk mengambil jiwa pendeta itu.
'Leng Kiauw!' teriak Kouwkouw.
'Tikamlah Honghoe hiat-nya!' Tapi Soesiok tidak bergerak, kedua matanya tetap mendelong seperti orang lupa ingatan, sedang kaki tangannya bergemetaran.
Kami jadi jengkel tercampur kuatir.
"Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang sangat nyaring, disusul dengan berkelebatnya satu bayangan manusia!"
"Kim Sie Ie, bukan?"
Tanya Peng Go.
"Benar,"
jawabnya.
"Kim Sie Ie.
Sesaat itu, kami belum tahu, bahwa kedatangannya adalah untuk memberi pertolongan.
Kami kaget bukan main.
Kouwkouw melayani Ouwtjeng dengan hanya menggunakan senjata rahasia.
Kami yakin, bahwa begitu lekas senjata rahasia habis, si pendeta akan segera menyerang dan kami berdua belum tentu bisa menandinginya.
Mana bisa kami melayani lagi seorang musuh alot seperti Kim Sie Ie?
Kouwkouw berteriak berulang-ulang untuk menyadarkan Liong Soesiok, tapi tetap tidak berhasil.
Waktu itu, aku sudah tidak memikir hidup.
Aku bertekad untuk lebih dulu membinasakan si pendeta dan jika berhasil, barulah menghadapi Kim Sie Ie.
Aku segera maju mendekati dan menunggu kesempatan untuk menerjang.
Di lain detik, Kim Sie Ie sudah tiba di gelanggang pertempuran, sedang aku sendiri hanya terpisah tujuh delapan kaki dari si pendeta."
Mendadak, Ouwtjeng menyabat dengan jubahnya dan beberapa senjata rahasia terpukul balik dan menyambar ke punggung Kouwkouw.
Sesaat itu, Kouwkouw sedang memutar tubuh untuk menghadapi Kim Sie Ie dan ia sama sekali tak menduga, bahwa si pendeta bisa menyerang dirinya dengan senjata rahasianya sendiri.
Pada detik itulah, tongkat Kim Sie Ie menyambar.
Jika Kouwkouw menangkis tongkat, ia tak akan bisa menangkis senjata rahasia yang menyambar punggung dan begitu juga sebaliknya.
Melihat begitu, semangatku terbang.
"Sekonyong-konyong terdengar suara 'tring-tring-tring!' dan semua senjata rahasia terpental ke empat penjuru. Ternyata, di luar semua taksiran, tongkat itu bukan menghantam Kouwkouw, tapi menyabat senjata-senjata rahasia itu."
Keng Thian tertawa.
"Cara-cara Kim Sie Ie memang aneh sekali,"
Katanya.
"Waktu itu aku berdiri terpaku dan memusatkan Seantero perhatian ke arah Kouwkouw,"
Kata pula Tong Toan.
"Tak dinyana, dengan menggunakan kesempatan itu, si pendeta mengedut jubahnya yang lantas saja menyambar ke kepalaku. Kim Sie Ie membentak keras dan melompat untuk menolong, tapi sudah tidak keburu. Mataku berkunang-kunang dan tidak ingat orang lagi sampai ditolong oleh kalian."
"Kalau begitu, siapa yang menang dan siapa yang kalah tidak diketahui olehmu, bukan?"
Tanya Keng Thian.
"Tidak, aku tak tahu,"
Jawabnya.
"Kouwkouw sudah tua. Aku sungguh berkuatir."
"Menurut pendapatku, Tong Lootjianpwee tak kurang suatu apa,"
Menghibur Peng Go.
"Jika dia menang, si pendeta tentu tak akan membiarkan kau hidup terus. Di samping itu, kalau mereka terluka, di sekitar sini mesti terdapat tanda-tanda darah. Menurut taksiranku, Tong Lootjianpwee dan Kim Sie Ie telah mengubar pendeta itu."
"Mari kita mengejar terus."
Mengajak Keng Thian.
Salju mulai turun lagi, semakin lama jadi semakin lebat.
Mereka yakin, bahwa niatan untuk mengejar ketiga orang itu akan lebih sukar tercapai karena tapak-tapak tentu keuruk dengan salju yang baru turun.
Tapi sebab tiada lain jalan yang lebih baik, mereka terpaksa meneruskan pengejaran ke jurusan barat.
Di sepanjang jalan, Peng Go diliputi kedukaan, karena ia tak dapat menebak, kenapa Kim Sie Ie tidak pergi ke Thiansan dan berkeliaran di daerah yang belukar itu.
*** Hari itu, Kim Sie Ie kabur dari warung arak dengan rasa kemalu-maluan.
Ia merasa jengah dan mengambil keputusan untuk tidak menemui lagi Phang Lin dan puterinya.
Ia lari selari-larinya, tanpa tujuan.
Sesudah kabur tiga hari, ia tiba di daerah padang pasir dan kesasar.
Ia berada di tempat yang tiada manusianya, sedang makanan kering yang dibawanya, sudah habis.
Sesudah menghitung-hitung, ternyata ia hanya bisa hidup kira-kira tiga puluh hari lagi.
Ia tertawa dalam hatinya.
Ia merasa, bahwa mati di tanah belukar itu, lebih cepat beberapa hari atau lebih lambat beberapa hari, tidak menjadi soal.
Ia tak takut mati, ia memang siap sedia untuk meninggalkan dunia yang penuh penderitaan.
Tapi, di lain saat, ia berpikir lain.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, ia merasa penasaran jika mesti mati kelaparan di padang pasir.
Ia tak rela untuk mati cara begitu.
Kim Sie Ie adalah seorang yang sungkan menyerah kalah terhadap siapapun juga.
Setelah mengetahui, bahwa ia tak akan bisa terlolos dari kebinasaan, harapan yang satu-satunya ialah.
Ia ingin mati secara mengesankan.
Ia tak rela untuk mati dengan begitu saja, dengan sepi-sepi saja.
Akan tetapi, ia sekarang berada di padang pasir, tanpa makanan dan tanpa air.
Hari itu, dengan lapar dan haus, ia mendaki sebuah bukit pasir.
Tiba-tiba ia melihat beberapa batu besar yang berlubang-lubang.
Batu-batu di daerah padang pasir banyak lebih empuk daripada baru biasa dan di lubang-lubang sering terdapat air, yang dinamakan "susu batu".
Dengan girang ia melihat, bahwa di beberapa lubang masih terdapat air.
Sesudah mengisap "susu batu"
Itu, perasaan hausnya menghilang, tapi rasa laparnya jadi semakin hebat.
Ia segera bersila di belakang batu dan mengerahkan lweekang.
Sesudah berlatih beberapa lama, semangatnya terbangun dan rasa lapar mulai mereda.
Mendadak, di sebelah kejauhan terdengar suara kelenengan unta.
Ia girang bukan main.
Dengan merampas "perahu padang pasir"
Itu, ia pasti bisa menyelamatkan diri. Tapi di lain detik, ia berkata pada dirinya sendiri.
"Dengan merampok binatang itu, aku bisa hidup kurang lebih tiga puluh hari lagi. Tapi dengan menolong diriku, si pelancong menjadi korban."
Dulu-dulu, Kim Sie Ie belum pernah memikirkan soal orang lain.
Semenjak berkenalan dengan Pengtjoan Thianlie, Phang Lin dan puterinya, rasa membencinya terhadap manusia perlahan-lahan berkurang.
Kadang-kadang, di tengah malam yang sunyi, ia sendiri merasa heran kenapa perasaannya telah berubah.
Semakin lama, suara kelenengan semakin dekat.
Ia bersangsi sangat.
Rampas atau tidak rampas?
Sekonyong-konyong, kesunyian gurun pasir dipecahkan dengan suara tertawa yang nyaring dan luar biasa.
Kim Sie Ie terkejut, karena suara itu tak asing bagi kupingnya.
Ia lalu mengintip dari atas batu.
Unta itu masih terpisah beberapa li, tapi sebab di padang pasir tidak terdapat alingaling, maka ia bisa melihat tegas.
Ternyata, di punggung unta berduduk dua orang, yang masingmasing mempunyai muka luar biasa.
Dengan sekali melihat saja, ia sudah mengenali, bahwa yang satu adalah Hiatsintjoe, sedang yang lain si pendeta lengan besi, Tang Thay Tjeng.
Ia gembira dan berkata dalam hatinya.
"Aha! Hatiku bebas dari perasaan berdosa jika merampas tunggangan dua manusia busuk itu."
Karena berada di padang pasir, mereka bicara dengan bebas tanpa kuatir didengar orang.
"Hiatsin Tooyoe,"
Kata Tang Thay Tjeng.
"Menurut katanya Hongsek Tooheng kau sekarang bekerja pada kerajaan Tjeng dan mempunyai harapan untuk diangkat menjadi Koksu (guru negara). Tapi kenapa, sebaliknya dari mengicipi kebahagiaan di istana kaisar, kau sudah datang di padang pasir ini. Apakah kau mempunyai tugas di tempat ini?"
Hiatsintjoe menghela napas panjang, paras mukanya berubah seram tercampur lucu, seperti tertawa, bukan tertawa.
"Hai!"
Katanya.
"Jika mau dituturkan, ceritanya panjang sekali. Aku juga ingin menanya kau. Kenapa kau juga berada di padang pasir ini? Sesudah menyembunyikan diri tiga puluh tahun lamanya, kau muncul lagi dalam pergaulan manusia. Aku yakin, kau sekarang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kenapa sebaliknya dari berkelana dalam kalangan Kangouw, kau kabur ke tempat yang sepi ini?"
Tang Thay Tjeng pun menghela napas. Mukanya berubah merah, karena malu. Sesaat kemudian, barulah ia menjawab.
"Hra! Kepandaian apa! Baru muncul, aku sudah dirobohkan!"
Hiatsintjoe kaget dan heran.
"Tang-heng,"
Katanya.
"Aku mengenal kau sebagai seorang yang tak suka menyerah terhadap siapapun juga. Kenapa kau sekarang mengatakan begitu? Siapa manusia itu? Bagaimana kau dirobohkannya?"
"Aku dirobohkan oleh Phang Lin, ie-ie (ipar) Tong Siauw Lan,"
Jawabnya dengan suara masgul. Hiatsintjoe mengeluarkan suara di hidung.
"Lagi-lagi orang Thiansan pay,"
Katanya dengan suara mendongkol.
"Sesudah menderita kekalahan beberapa kali, Hongsek Toodjin dingin hatinya dan ia sekarang sudah kembali ke hutan batu untuk tidak muncul lagi dalam dunia pergaulan,"
Kata Tang Thay Tjeng.
"Tapi aku sendiri masih penasaran. Aku ingin mencari satu orang guna mendapatkan se
Jilid kitab yang luar biasa."
"Kitab apa?"
Tanya Hiatsintjoe.
"Apa ilmu dalam kitab itu bisa menangkan ilmu silat Thiansan pay?"
"Belum bisa dipastikan,"
Jawabnya.
"Pada kurang lebih empat puluh tahun berselang, siapakah yang memiliki ilmu silat paling tinggi?"
"Ie Lan Tjoe, Lu Soe Nio dan Tokliong Tjoentjia,"
Jawab Hiatsintjoe.
"Ie Lan Tjoe sudah meninggal dunia. Yang masih hidup adalah Tokliong Tjoentjia dan Lu Soe Nio."
"Yang sedang dicari olehku adalah murid Tokliong Tjoentjia,"
Kata Tang Thay Tjeng.
"Kitab itu, yang diberi nama Tokliong Pitkip, disimpan olehnya."
Hiatsintjoe tertawa dingin.
"Apa dia sudi menyerahkannya?"
Tanyanya Mendengar sampai disitu, Kim Sie Ie merasa geli dalam hatinya. Tan Thay Tjeng tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Aku mempunyai satu jalan untuk memaksanya."
Hiatsintjoe tak percaya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tooheng,"
Kata pula Tang Thay Tjeng.
"Jika aku tidak salah melihat, kau sendiri mempunyai ganjelan di dalam hati. Pikiran dua orang lebih sempurna daripada pikiran satu orang. Bolehkah kau memberitahukan siauwtee, apa yang menjengkelkan hatimu?"
Hiatsintjoe mengeluarkan suara di hidung, sikapnya angkuh sekali, seolah-olah ia memandang rendah kepandaian kawannya. Tapi, di lain saat, ia rupanya berbalik pikiran dan berkata dengan suara manis.
"Tang Tooheng, jangan kau mimpi. Masakah orang mau gampang-gampang menyerahkan kitab ilmu silat kepadamu? Lebih baik kau mengikuti aku mendaki Puncak Mutiara 141 di Himalaya."
"Perlu apa?"
Tanya Tang Thay Tjeng.
"Aku dengar, semenjak dulu belum pernah ada manusia yang berhasil mendaki puncak itu, Apa kau mau cari mati?"
Hiatsintjoe tertawa dingin.
"Lebih baik mati daripada seperti sekarang,"
Katanya dengan suara getir.
"Tak mati dan tak hidup, terus menerus dihina orang."
Tang Thay Tjeng heran bukan main.
"Apa artinya perkataanmu?"
Tanyanya.
"Kau roboh dalam tangan Phang Lin dan kekalahan itu masih ada harganya,"
Jawabnya.
"Tapi aku dijatuhkan oleh seorang houwpwee (orang yang tingkatannya lebih rendah)."
"Siapa?"
Tanya pula Tang Thay Tjeng.
"Pengtjoan Thianlie!"
Jawabnya.
"Aneh benar nama itu, aku belum pernah mendengarnya,"
Kata si pendeta.
"Belakangan ini dalam Rimba Persilatan muncul orang-orang baru yang berkepandaian sangat tinggi,"
Menerangkan Hiatsintjoe.
"Sesudah dihajar dengan tujuh butir Sintan oleh Pengtjoan Thianlie, sehingga sekarang lweekang-ku belum pulih kembali. Aku dengar, di Puncak Mutiara terdapat banyak sekali rumput dan pohon yang mempunyai khasiat luar biasa dan di antaranya terdapat serupa rumput dewa yang dikenal sebagai Tjiangtjoe Siantjo (Rumput dewa mutiara merah). Sepanjang keterangan, orang yang makan rumput itu dapat menambah lweekang-nya seperti juga ia berlatih tiga puluh tahun. Untuk bicara terus terang, dengan suami isteri In Leng Tjoe, aku sebenarnya mendapat tugas untuk menjalankan hukuman mati atas diri Liong Loosam di Lhasa. Tapi sekarang, sesudah dirobohkan orang, aku tak ada muka lagi untuk berkelana dalam kalangan Kangouw. Aku sudah tidak memikiri lagi segala pangkat Koksoe dan tujuanku yang terutama adalah coba mendapat rumput dewa itu. Jika kau bersedia untuk mengikut, aku akan merasa girang sekali."
Sementara itu, unta sudah mendekati tempat bersembunyinya Kim Sie Ie dan beberapa saat kemudian, sudah mendaki bukit pasir itu. Tiba-tiba Kim Sie Ie melompat keluar sambil tertawa nyaring.
"Tahan!"
Teriaknya.
"Kamu ingin mencari rumput dewa, aku hanya menghendaki untamu!"
Hampir berbareng, ia meloncat dan tangannya menyambar les, sehingga binatang itu tak bisa bergerak lagi. Hiatsintjoe gusar bukan main.
"Kim Sie Ie! Mau apa kau?"
Bentaknya. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau tuli?"
Tanyanya.
"Bukankah aku sudah memberitahukan. Aku mau untamu!"
Hiatsintjoe dan Kim Sie Ie, yang sudah pernah bertempur beberapa kali, sama-sama tahu kepandaian sang lawan.
Dalam lweekang, Hiatsintjoe lebih unggul, tapi kalah dalam ilmu melepaskan senjata rahasia, sehingga kekuatan mereka 'bisa dikatakan setanding.
Sekarang, sedang lweekang-nya belum pulih seperti biasa, ia merasa agak jeri dalam menghadapi pemuda itu.
Tapi mengingat adanya Tang Thay Tjeng, ia merasa, bahwa dengan dua melawan satu, pemuda itu akan dapat dirobohkan.
Memikir begitu, tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia mengenjot badan dan bagaikan seekor elang, ia melayang turun dari punggung unta dan menubruk lawannya.
"Bagus!"
Teriak Kim Sie Ie sambil menyodok jalanan darah Tjongtjeng hiat, di kempungan Hiatsintjoe, dengan tongkatnya.
Dengan menggoyangkan badan di tengah udara, Hiatsintjoe berhasil mengegos sodokan itu, tapi Kim Sie Ie sungkan memberi napas kepadanya dan terus mengirim serangan berantai, sehingga ia terpaksa mundur beberapa tindak.
"Tahan!"
Seru Tang Thay Tjeng.
"Air bah merendam Liong-ong bio (Kuil Raja Naga), kita semua adalah orang-sendiri. Hei! Mari kita bicara dulu!"
Kim Sie Ie tertawa dingin.
"Siapa sudi jadi orang sendirimu?"
Ia mengejek.
"Dengarlah dulu!"
Tang Thay Tjeng berteriak pula.
"Kau adalah murid Tokliong Tjoentjia, sedang aku ahli waris Patpie Sinmo. Apa salah jika aku mengatakan orang sendiri?"
Kim Sie Ie terkejut, tapi di lain saat ia kembali tertawa dingin seraya berkata.
"Sedari tiga puluh tahun berselang, guruku sudah bercerai dengan pihakmu. Siapa kesudian bersahabat dengan kamu?"
"Eh, jangan sombong kau,"
Kata si pendeta dengan mendongkol.
"Kau boleh menolak persahabatan, tapi apa kau juga tak sayang jiwamu?"
"Apa?"
Menegas Kim Sie Ie, darahnya meluap.
"Manusia semacam kau ingin mengambil jiwaku? Maju! Kau kira aku takut?"
Bibirnya bergerak, siap sedia untuk segera menyemburkan jarumnya.
"Jangan kalap, kau dengarlah dulu,"
Kata pula Tang Thay Tjeng dengan menahan amarah.
"Bukan aku yang menghendaki jiwamu, tapi gurumu sendiri yang sudah mencelakakan kau. Itulah yang dimaksudkan olehku."
"Apa?"
Menegas pula Kim Sie Ie.
"Kau sudah menggunakan cara yang salah dalam melatih lweekang,"
Jawabnya.
"Karena itu, satu waktu lweekang-mu akan membakar dirimu sendiri. Apa belum ada tanda-tandanya?"
Kim Sie Ie terkesiap. Kenapa dia tahu? Di lain detik, ia kembali tertawa nyaring.
"Benar!"
Teriaknya.
"Aku hidup tak lama lagi. Aku justeru sedang mencari-cari kawan untuk menemani perjalanan pulang ke alam baka!"
Hampir berbareng, ia menghunus pedang dan lalu menyerang Hiatsintjoe secara nekat-nekatan.
"Thay Tjeng Tooyoe!"
Teriak Hiatsintjoe.
"Tak usah banyak rewel lagi dengan manusia ini. Jika dia berhasil merampas unta, kita bisa mati di padang pasir ini."
Dengan berkata begitu, ia mengharapkan bantuan si pendeta. Tapi Tang Thay Tjeng sama sekali tidak bergerak. Ia berkata.
"Tokliong Pitkip adalah kitab ilmu silat dari gurumu. Tapi kau tak tahu, bahwa sebelum menutup mata, ia telah mendapatkan serupa ilmu mujijat untuk menolong jiwa dari akibat latihan lweekang yang salah. Karena tidak keburu mencatatnya dalam Pitkip, ia menulis pendapatannya itu dalam buku catatan hari-hari. Buku itu sekarang berada dalam tanganku. Apa kau mau aku menyerahkannya?"
Tak usah dikatakan lagi, keterangan si pendeta adalah dusta belaka dan hanya mengandung maksud untuk merampas Tokliong Pitkip.
Kim Sie Ie tergerak hatinya, sebab perkataan Tang Thay Tjeng kedengarannya cukup beralasan.
Karena perhatiannya terpecah, sesaat itu Hiatsintjoe mendapat kesempatan untuk balas menyerang dan ia mengirim beberapa pukulan dahsyat dengan telapakan tangannya yang berhawa panas.
Dikebas dengan angin panas, Kim Sie Ie yang sedang kehausan jadi semakin haus.
Dengan gusar buru-buru ia mengempos semangat dan segera dapat memulihkan keunggulannya.
Sesudah berhasil menindih musuhnya, ia berkata.
"Baiklah. Serahkan dulu buku guruku. Sesudah buku itu diserahkan aku akan mengampuni jiwa kawanmu."
"Huh!"
Kata si pendeta sambil tertawa.
"Mana boleh begitu? Hentikan dulu seranganmu."
Kim Sie Ie jadi curiga. Ia tertawa besar seraya membentak "Kau kira aku anak kecil? Keluarkan dulu buku itu!"
Sambil berkata begitu, ia memperhebat serangannya, sehingga Hiatsintjoe jadi repot sekali.
"Thay Tjeng Tooyoe!"
Teriaknya.
"Perlu apa tarik urat dengan bocah ini?"
Si pendeta sangat bersangsi.
Di satu pihak ia sungkan bermusuhan dengan pemuda yang mau diakali itu, tapi di lain pihak, ia merasa tak tega sebab kawannya sedang berada dalam bahaya besar.
Tiba-tiba tongkat Kim Sie Ie menyambar bagaikan kilat dan Hiatsintjoe sudah tak dapat menangkis lagi.
Tang Thay Tjeng terkesiap.
Ia tak sempat memikir panjang-panjang lagi dan lalu menggoyang "pundaknya.
Hampir berbareng, lengan besinya terbang menyambar.
Dengan gerakan indah, Kim Sie Ie kelit sambaran itu dan hampir berbareng, kakinya menendang Hiatsintjoe yang lantas saja jatuh terjengkang.
Ia tak berhenti sampai disitu.
Pedangnya berkelebat dan jubah pertapaan Tang Thay Tjeng robek di bagian saku, yang ternyata tidak berisi apapun juga.
"Binatang!"
Bentak Kim Sie Ie.
"Kau berani menipu aku?"
Si pendeta jadi bingung dan ketakutan.
"Tidak... aku tidak berdusta,"
Katanya, terputus-putus.
"Aku berani bersumpah, bahwa gurumu meninggalkan se
Jilid buku catatan hari-hari."
"Dimana kau menyembunyikannya? Lekas keluarkan!"
Bentak pemuda itu. Tang Thay Tjeng mundur beberapa tindak dan berkata sambil tertawa.
"Aku mengaku, bahwa aku tak mempunyai kebecusan. Buku itu telah dirampas oleh Tong Siauw Lan."
"Omong kosong!"
Teriak Kim Sie Ie.
"Perlu apa Tong Siauw Lan merampas buku itu?"
Si pendeta kembali tertawa dan berkata dengan suara tenang.
Dalam hal ini, ada latar belakangnya yang tidak diketahui olehmu.
Memang benar, Tong Siauw Lan yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, tidak memerlukan buku rahasia itu.
Akan tetapi, selama hidupnya, ia paling takuti gurumu Jika ilmu silat gurumu tersebar di dalam dunia, selalu terdapat kemungkinan, bahwa di belakang hari, ilmu silat itu akan lebih unggul daripada ilmu Thiansan pay.
Kau harus tahu, bahwa selama kurang lebih seratus tahun, ilmu silat Thiansan pay dianggap sebagai ilmu silat yang paling liehay di kolong langit.
Tong Siauw Lan adalah pemimpin Thiansan pay.
Dapatlah dimengerti, jika ia tak mau membiarkan adanya ancaman bahaya di hari kemudian.
"Maka itulah, ia mau juga mengangkangi buku gurumu itu. Dengan demikian, biarpun kau memiliki Tokliong Pitkip, tapi sebab tidak mengenal ilmu untuk menolong diri dari akibat latihan Iweekang yang salah, selama-lamanya kau harus mengandal kepadanya. Bukan saja kau, tapi semua orang yang mempelajari ilmu silat Tokliong Tioentjia, harus meminta belas kasihan Thiansan pay. Ringkasnya, turun menurun orang-orang dari pihakmu akan tetap menjadi semacam budak dari partai Thiansan!"
Perkataan yang beracun itu, yang kedengarannya sangat beralasan, berhasil mempengaruhi Kim Sie Ie.
Sebagaimana diketahui, ia adalah manusia yang beradat angkuh dan ia selalu merasa tak rela untuk meminta pertolongan siapapun juga.
Untuk beberapa saat, ia mengawasi si pendeta dengan mata mendelong, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Melihat pancingnya agak berhasil, Tang Thay Tjeng mesem dan berkata dengan nada mengejek.
"Jika buku itu berada di tangan orang lain, mungkin sekali masih agak gampang direbut pulang. Tapi di tangan Tong Siauw Lan, rasanya tiada manusia yang bisa merampasnya kembali."
Kim Sie Ie mengeluarkan suara di hidung dan darahnya mulai naik tinggi.
Tapi ia tak berani mengeluarkan suara besar, karena ia pun yakin, bahwa apa yang dikatakan si pendeta bukan ejekan belaka.
Mana ia sanggup melawan Tjiangboendjin dari Thiansan pay?
"Tapi, kau jangan kuatir,"
Kata pula si pendeta.
"Aku mempunyai akal yang bagus."
"Akal apa?"
Tanyanya.
"Tong Siauw Lan mempunyai satu anak laki-laki yang bernama Tong Keng Thian,"
Sahutnya.
"Pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, tapi aku yakin, kau masih bisa membereskannya. Kau hanya perlu menyerang dengan jarummu waktu ia tidak berwaspada. Kau harus memasukkan jarum itu ke dalam jalanan darahnya, sehingga, biarpun ia mempunyai Thiansan Soatlian, jiwanya tak akan dapat ditolong, kecuali dengan obatmu sendiri. Huh-huh! Ia akan terpaksa memohon belas kasihanmu. Dan pada waktu itulah, kau boleh berunding dengan Tong Siauw Lan untuk menukar obat dengan buku gurumu itu."
Itulah racun hebat yang disebar Tang Thay Tjeng.
Kenapa pendeta itu sudah merasa tak segan untuk mengatur tipu yang begitu busuk?
Dulu, lengan Tang Thay Tjeng telah patah karena pukulan Tiattjiang Sintan Yo Tiong Eng.
Walaupun yang memukul adalah Yo Tiong Eng, tapi peristiwa itu sudah terjadi karena gara-gara Tong Siauw Lan.
Itulah sebabnya, setelah melihat Kim Sie Ie tak gampang ditipu, ia lalu mengarang cerita untuk "meracuni"
Tong Siauw Lan. Alis Kim Sie Ie berkerut.
"Meskipun busuk, tipu itu memang sangat bagus,"
Katanya di dalam hati.
"Tapi apa aku bukan manusia? Waktu di Kimkong sie, bersama-sama Pengtjoan Thianlie, Keng Thian pernah menolong jiwaku. Mana bisa aku menurunkan tangan yang begitu jahat?"
Melihat pemuda itu tetap membungkam, Tang Thay Tjeng jadi semakin besar hatinya.
"Jika kau setuju, aku sedia serupa tipu lain untuk memancing Tong Keng Thian,"
Katanya. Kim Sie Ie menjebi dan matanya berkilat. Sekonyong-konyong ia berteriak.
"Tak nanti aku menuruti perkataan manusia busuk seperti kau!"
Tangannya melayang dan tubuh Tang Thay Tjeng terpental setombak jauhnya.
Sambil tertawa besar ia melompat ke punggung unta yang lalu dilarikan perlahan-lahan, Tang Thay Tjeng merangkak bangun dan berteriak-teriak memanggil-manggil, tapi tentu saja tidak diladeni.
Ia bingung tak kepalang.
Buru-buru ia menolongi Hiatsintjoe yang masih menggeletak di atas pasir untuk berdamai, bagaimana mereka harus meloloskan diri dari gurun pasir itu.
Di sela unta, Kim Sie Ie mendapatkan makanan kering dan dua kantong kulit berisi air.
Dengan hati bungah, ia lalu minum sepuas hati dan menangsel perut.
Waktu itu, daerah padang pasir sudah berada di permulaan musim semi, kapan siang hari lebih pendek dan malam lebih panjang.
Tak lama kemudian, cuaca mulai gelap dan angin dingin mulai turun, sehingga pasir kuning pada berterbangan ke tengah udara, Di antara angin yang menderu-deru, dalam hati pemuda itu timbul kembali rasa dukanya.
Ia menghela napas berulang-ulang dan ingat lagi kejadian-kejadian di masa yang sudah selam.
Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat serupa pikiran.
"Menurut katanya Hiatsintjoe, di Puncak Mutiara terdapat rumput dewa yang bisa memperkuat lweekang,"
Pikirnya.
"Siapa tahu kalau rumput itu juga mempunyai khasiat untuk menolong jiwaku? Hanya sayang, puncak itu katanya sukar dipanjat dan belum pernah ada manusia yang berhasil memanjatnya."
Sesudah berjalan beberapa jauh lagi, ia mendapat lain pikiran, Ia merasa, bahwa biarpun tak berhasil mendapatkan rumput dewa, gagal dalam usahanya untuk mencapai puncak yang tinggi itu dan harus binasa di tengah jalan, kebinasaan itu masih ada harganya.
Ia memang mengharap, jika mesti mati, biarlah ia mati secara menggemparkan dan tak cuma-cuma.
Mengingat begitu, lantas saja ia mengambil putusan untuk mendaki Puncak Mutiara.
Sesudah mempunyai ketetapan, hatinya jadi gembira dan ia lalu menyanyi sekeras suara, bagaikan seorang edan.
Unta yang ditunggangnya rupanya kaget mendengar nyanyiannya dan lalu kabur sekeras-kerasnya.
Kim Sie Ie tidak menggubris dan membiarkan binatang itu lari semau-maunya.
Dengan hati tenang, ia meneruskan perjalanan.
Jika merasa capai, ia merebahkan diri di atas punggung unta dan kalau haus atau lapar, air dan makanan selalu tersedia.
Lewat beberapa hari ia sudah keluar dari padang pasir itu.
Sesudah tak memerlukan lagi tenaga unta, Kim Sie Ie menyerahkan tunggangannya kepada seorang saudagar Mongol yang ia kebetulan bertemu di tengah jalan.
Orang itu terheran-heran, tapi Kim Sie Ie memaksa supaya ia suka menerimanya dan kemudian menanya jalanan yang menerus ke pegunungan Himalaya.
Si saudagar menduga pemuda itu seorang gila, tapi dengan rasa berterima kasih, ia lalu memberi keterangan jelas.
Untuk pergi ke Himalaya, orang harus melewati satu padang rumput yang luas, di sebelah barat Lhasa.
Karena daerah itu banyak penduduknya dan tidak kekurangan air, maka seorang pelancong tak perlu membawa makanan kering atau air minum.
Di sampingnya memberi keterangan, ia juga membekali Kim Sie Ie sekantong daging, sebagai balasan terima kasih.
Waktu itu, di daerah Tibet baru saja masuk di permulaan musim semi dan salju masih belum melumer.
Dengan berjalan sendirian di padang rumput yang sangat luas itu, hati Kim Sie Ie kembali diliputi dengan kedukaan.
Pengtjoan Thianlie, Tong Keng Thian, Phang Lin dan puterinya sering-sering terbayang di depan matanya.
Dengan menimbang-nimbang secara tenang, ia merasa, bahwa mereka itu adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat mengagumkan.
Kim Sie Ie berjalan tanpa mengenal waktu, tak perduli siang atau malam.
Ia hanya mengasoh jika merasa capai.
Hari itu, ia berjalan terus menerus sampai jauh malam.
Tiba-tiba turun angin yang sangat dingin, disusul dengan turunnya salju.
Ia merasa sangat lelah dan segera merebahkan diri di atas satu batu besar.
Tapi ia tak bisa pulas sebab rupa-rupa pikiran masuk ke dalam otaknya.
Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 3
Baca Juga: Rahasia Iblis Cantik 1