Bidadari Dari Sungai Es 12

Eps 12 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen

Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen

Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.

Ia ingat, bahwa selama kurang lebih dua puluh tahun, ia selalu membenci manusia, yang dianggapnya kejam dan selalu menghina dirinya.

Tapi sebenar-benarnya, kecuali waktu ia masih kecil, orang lain lebih banyak membuang budi kepadanya dan malahan, ia sendirilah yang sangat sering menghina sesama manusia.

Mengingat begitu, dalam hatinya timbul serupa perasaan menyesal dan rasa ngantuknya lantas saja menghilang.

Ia mengawasi bintang-bintang di langit dan mengetahui, bahwa tak lama lagi fajar akan menyingsing.

Sekonyong-konyong di sebelah kejauhan terdengar suara kuda yang lari keras dan beberapa saat kemudian berbareng dengan berhentinya suara kaki kuda, terdengar suara perkelahian.

Dengan heran, Kim Sie Ie bangun dan memandang ke arah suara itu.

Dengan bantuan sepasang matanya yang sangat awas, ia melihat seorang wanita tua sedang bertempur dengan seorang pendeta asing, sedang seorang pemuda berdiri di pinggir jalan.

Begitu melihat ilmu menimpuk senjata rahasia dari si nenek, ia segera mengenali, bahwa ia adalah Tong Say Hoa.

Sebab sangat jauh, ia tidak bisa melihat tegas siapa adanya pemuda itu, tapi ia menaksir, si pemuda tentunya Tong Toan.

Sesudah menyaksikan beberapa saat, ia yakin, bahwa si pendeta asing mempunyai kepandaian lebih tinggi daripada Tong Say Hoa.

Di dekat gelanggang pertempuran terdapat seorang lain yang mengenakan seragam perwira tentara Tjeng dan duduk di atas punggung kuda.

Mendengar si pemuda menggunakan panggilan "Liong Soesiok"

Dan Tong Say Hoa memanggil "Leng Kiauw,"

Hati Kim Sie Ie mendadak berdebardebar.

Ia lantas saja ingat perkataan Hiatsintjoe, bahwa kaizar Tjeng telah menitahkan tiga jago datang di Lhasa untuk mengawasi di jalankannya hukuman mati atas diri Liong Loosam.

"Apa orang itu yang dipanggil Liong Loosam?"

Tanyanya di dalam hati.

"Kenapa ia mengenakan seragam perwira tentara Tjeng dan bukan pakaian perantaian?"

Harus diketahui, bahwa sebagai orang kepercayaan Hok Kong An, Liong Leng Kiauw telah mendapat perlakuan istimewa.

Sebelum datangnya firman kaisar, biarpun sudah dipenjarakan, ia masih tetap mengenakan seragam itu.

Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, Kim Sie Ie segera dapat mengendus, bahwa Tong Say Hoa terancam bahaya.

Ia yakin, bahwa begitu lekas senjata rahasianya habis, si pendeta asing akan segera menyerang.

"Walaupun nenek itu sangat menyebalkan, ia adalah salah seorang ternama dalam kalangan Rimba Persilatan,"

Pikirnya.

"Jika ia roboh dalam tangan si pendeta asing, bukankah seluruh Rimba Persilatan Tionggoan akan turut mendapat malu?"

Berbareng dengan itu, ia merasa agak jengah karena perbuatannya terhadap keluarga Tong.

Diam-diam ia mengakui, bahwa perbuatan itu memang tak pantas.

Beberapa saat kemudian, si nenek benar-benar terancam maut.

Tanpa memikir panjangpanjang lagi, Kim Sie Ie lalu melompat dan memberi pertolongan pada detik yang sangat penting.

Begitu bergebrak, baik Kim Sie Ie maupun si pendeta asing merasa sangat kaget.

Setiap pukulan pemuda itu disertai dengan Iweekang yang dahsyat.

Di lain pihak, jubah pertapaan si pendeta seolah-olah tameng besi setiap kali terbentur tongkat, mengeluarkan suara seperti benda yang keras.

Sementara itu, bantuan Kim Sie Ie sungguh-sungguh di luar dugaan Tong Say Hoa yang jadi girang tercampur heran, Karena tidak dapat menggunakan lagi senjata rahasia sebab bisa menyasar ke kawan sendiri, si nenek lalu menyerang dengan gendewa, dengan menggunakan ilmu Kimkiong Sippattah (ilmu silat gendewa yang mempunyai delapan belas jalan).

Dikerubuti oleh dua musuh yang berkepandaian tinggi, dalam sekejap Ouwtjeng jatuh di bawah angin.

Tapi si pendeta pun bukan tolol cepat-cepat ia menukar taktik.

Terhadap Kim Sie Ie, ia hanya membela diri dan terus mencecer si nenek dengan pukulan-pukulan hebat.

Diserang cara begitu, belum cukup setengah jam, napas Tong Say Hoa yang sudah berusia lanjut, mulai tersengalsengal.

Kim Sie Ie jadi jengkel.

Ia yakin, bahwa tanpa perubahan, dalam tempo setengah jam lagi, si nenek bisa roboh karena kecapaian.

Biarpun ia tak takut untuk bertempur satu melawan satu, tapi kalau Tong Say Hoa roboh ia harus memberi pertolongan.

Ia ingin sekali menggunakan jarum beracun, tapi lantaran belum tahu siapa adanya si pendeta, ia sungkan mencelakakan jiwa orang secara sembarangan.

Selang beberapa saat, si nenek berteriak.

"Leng Kiauw! Leng Kiauw!"

Tapi Liong Leng Kiauw tetap tidak bergerak.

"Tong Lootaypo, siapa orang itu?"

Tanya Kim Sie le.

"Murid ayahku,"

Jawabnya.

"Kenapa dia tidak meladeni?"

Tanyanya pula.

"Apa dia kena ilmu siluman ?"

Tong Say Hoa segera memanggil-manggil lagi beberapa kali.

Tiba-tiba badan Liong Leng Kiauw bergoyang-goyang dan dari tenggorokannya terdengar suara "kerokok-kerokok".

Si nenek jadi girang dan coba mendekati, tapi ia segera dihalangi oleh musuhnya.

"Baiklah,"

Kata Kim Sie Ie.

"Biar aku yang hajar manusia tak punya pribudi itu."

"Jangan! Jangan!"

Berteriak si nenek.

"Kenapa jangan?"

Kata pula pemuda itu.

"Tong Lootaypo, kau hanya perlu membela diri untuk beberapa jurus. Aku akan segera kembali."

Berbareng dengan perkataannya, ia menghantam jubah si pendeta dengan pukulan Tjianliong sengthian (Naga terbang ke langit), disusul dengan totokan ke jalanan darah Inboen hiat, di bawah dada si pendeta.

Untuk melindungi diri, Ouwtjeng memutar jubahnya bagaikan titiran.

Tapi kedua serangan itu hanya serangan gertakan dan pada saat musuhnya membela diri, Kim Sie Ie menjungkir balik dan badannya hinggap di atas punggung kuda, di belakang Liong Leng Kiauw.

Diluar dugaan, baru saja ia mau membuka mulut, tiba-tiba terdengar teriakan Tong Say Hoa.

Dengan terkejut, ia menengok.

Ternyata, lengan si nenek sudah dicengkeram oleh pendeta asing itu yang tengah mengangkat jubahnya tinggi-tinggi, siap sedia untuk menurunkan pukulan yang membinasakan.

"Turun!"

Bentaknya.

"Jika tidak, aku cabut jiwa nenek tua ini!"

Sesudah bertempur begitu lama, baru sekarang si pendeta bicara dan ia menggunakan dialek Pakkhia yang sangat lancar dan bagus.

Sebenarnya dengan lweekang-nya yang sudah cukup tinggi dan ilmu Kimkiong Sippattah, Tong Say Hoa sedikitnya masih bisa mempertahankan diri dalam sepuluh jurus.

Tapi, mendengar pernyataan.

"si gila"

Yang mau menghajar Soetee-nya, ia jadi bingung dan segera bergerak untuk coba mencegahnya.

Tapi baru ia bertindak, si pendeta sudah menerjang dan mengebas gendewanya dengan menggunakan jubah pertapaan.

Hampir berbareng dengan terpentalnya gendewa, ia merangsek dan mencengkeram lengan si nenek.

Kim Sie Ie terkesiap, ia kuatir Ouwtjeng membuktikan ancamannya.

Di lain saat, ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata.

"Baiklah. Lepaskan Tong Lootaypo. Aku akan permisikan kau kabur."

Ia melompat turun dan si pendeta segera melepaskan cekalannya. Tapi, sebelum ia melompat naik ke punggung tunggangannya, Kim Sie Ie menyembur. Dia sungguh liehay. Begitu mendengar suara "srr"

Yang sangat halus, ia menyabat dan ludah Kim Sie Ie menempel di jubahnya.

Sekonyong-konyong terdengar suara menggeledek, dibarengi dengan muncratnya kepingankepingan batu.

Si pendeta menengok dan ia terkejut tercampur heran, karena tongkat pemuda itu menghantam satu batu besar.

Mendadak, satu benda hitam berkelebat bagaikan kilat dan dengan suara "bret,"

Jubah pertapaannya berlubang besar!

Sebagaimana diketahui, dalam pertempuran antara jago dan jago, walaupun sedetik, masing-masing pihak tidak boleh memecah perhatian.

Melihat tangguhnya musuh, Kim Sie Ie yang sangat pintar, sudah sengaja memukul batu untuk membelokkan perhatian si pendeta dan hampir berbareng, ia menghunus pedang yang lalu ditikamkan ke dada musuh.

Masih untung, berkat kecepatan si pendeta, tikaman itu hanya mengenakan jubah.

Tapi, biarpun terlolos dari kebinasaan, jubah yang sudah berlubang itu tak dapat digunakan lagi sebagai tameng.

Kim Sie fe sungkan memberi napas pada musuhnya.

Ia mengirim serangan berantai, menikam jalanan darah Thiantjoe hiat, Hiankie hiat dan Yangpek hiat, disusul dengan satu tikaman membinasakan ke arah lutut si pendeta.

Kim Sie Ie cepat, tapi Ouwtjeng lebih cepat lagi.

Sesudah mengegos tiga tikaman, tiba-tiba dia berteriak.

"Bagus! Tikamlah!"

Jubahnya berkelebat dan menggentak pinggang Tong Say Hoa untuk memapaki tikaman Kim Sie Ie yang terakhir.

Untung juga, pada detik yang sangat penting, pemuda itu masih keburu menarik pulang pedangnya.

Jika tidak, tubuh si nenek tentu sudah berlubang!

Ternyata, sesudah cengkeram;»!

pada lengannya dilepaskan, Tong Say Hoa yang sudah tua tidak bisa segera bergerak.

Selagi ia mengerahkan Iweekang untuk menjalankan aliran darahnya, tiba-tiba Ouwtjeng menyapu dengan jubahnya, sehingga badannya terhuyung dan memapaki pedang Kim Sie Ie.

Semua kejadian itu yang harus dituturkan agak panjang lebar, sudah terjadi cepat sekali.

Jika dihitung-hitung, meskipun jubahnya berlubang, pihak si pendeta yang memperoleh kemenangan.

Sambil tertawa berkakakan, ia melompat ke punggung kuda yang lalu dikaburkan sekeraskerasnya.

Dengan demikian, usaha Tong Say Hoa untuk merebut adik seperguruannya mengalami kegagalan.

Bukan main mendongkolnya Kim Sie Ie.

Sebelum ia keburu membuka mulut untuk menanya si nenek, mendadak jeriji Tong Say Hoa menyambar dan menotok jalanan darah Djiekie hiat-nya.

Ia terkesiap, tapi sebelum sempat menegur, sekonyong-konyong hidungnya mengendus serupa bau yang halus dan wangi.

Walaupun masih berusia muda, ia adalah seorang yang berpengalaman.

Lantas saja ia sadar, bahwa pendeta itu telah melepaskan semacam racun dan si nenek menotok jalanan darahnya, supaya racun tak masuk ke dalam dada.

"Sungguh tepat jika keluarga Tong dijuluki sebagai ahli senjata rahasia nomor satu di dalam dunia,"

Katanya di dalam hati.

"Hidung nenek tua itu ternyata banyak lebih tajam daripada hidungku."

Hatinya heran bukan main, karena ia tak tahu bau apa adanya itu.

Di lain saat, Tong Lootaypo mendadak mengusap hidung Kim Sie Ie yang lantas saja merasa dadanya lega dan jalanan darahnya yang tertotok segera terbuka.

Waktu itu, sambil memeluk Liong Leng Kiauw, si pendeta sudah kabur puluhan tombak jauhnya.

"Ubar!"

Teriak si nenek.

"Leng Kiauw kena obat lupa. Dia bukan sengaja tak suka mengenal aku."

Barusan walaupun tak tahu racun apa yang dilepaskan oleh si pendeta, ia mengusap hidung Kim Sie Ie sambil mencekal Liongyanko, semacam obat yang bisa memunahkan segala macam racun dan ternyata obat tersebut cukup manjur untuk melawan Asioelo.

Sehabis berteriak, Tong Say Hoa lantas saja mengubar sekencang-kencangnya.

Si pendeta sudah kabur jauh sekali dan biar bagaimana jugapun tak akan dapat dicandak.

Tapi si nenek tetap mengudak, bagaikan orang edan.

Melihat begitu Kim Sie Ie merasa terharu.

"Tak dinyana, nenek yang menyebalkan ini mempunyai rasa cinta yang begitu besar terhadap Liong Loosam,"

Katanya di dalam hati.

Ia merasa tidak tega dan lalu membuntuti dari belakang.

Sesudah mengejar belasan li, dari sebelah kejauhan Kim Sie Ie mendadak melihat Tong Say Hoa terpeleset dan jatuh terguling di atas tanah.

Dengan kaget ia menghampiri dan ternyata, nenek itu telah memuntahkan darah hidup, sedang paras mukanya pucat seperti mayat.

Melihat pemuda itu, ia membuka kedua matanya dan berkata dengan napas tersengal-sengal.

"Aku bakal segera mati, Aku hanya memohon, supaya kau suka melihat-lihat keponakan lelakiku."

Kim Sie Ie memegang nadi orang dan beberapa saat kemudian, ia berkata sambil bersenyum.

"Tak apa-apa, kau tidak akan mati. Kau hanya menggunakan tenaga melampaui batas. Sesudah beristirahat beberapa hari, kau akan sembuh kembali."

Tong Say Hoa menghela napas panjang.

Ia juga tahu sebab-sebab dari robohnya itu.

Akan tetapi, siapakah yang akan merawatinya selama beberapa hari?

Pemuda itu rupanya dapat membaca apa yang dipikir si nenek.

Ia kembali mesem dan berkata pula.

"Keponakanmu masih berusia muda dan badannya kuat, sehingga, meskipun mendapat luka, ia tentu tak akan mati. Yang paling penting adalah kau sendiri yang harus beristirahat dan memelihara diri beberapa hari. Aku harap, kau jangan menganggap aku sebagai manusia yang hanya bisa mengacau. Di samping mengacau, akupun pandai merawat orang. Di waktu kecil aku pernah menjadi pengemis dan sudah biasa melayani orang. Belakangan, waktu berada di pulau Tjoato, aku pun merawat soehoe, yang sering memuji kepandaianku."

Dengan berkata begitu, Kim Sie Ie memberitahukan penderitaannya di jaman lampau, tapi perkataannya dikeluarkan dengan nada riang gembira.

Mendengar itu, si nenek jadi merasa terharu.

Sebagai manusia biasa, ia juga sayang jiwanya.

Tapi karena pernah mempunyai ganjelan dengan pemuda itu, ia merasa berat untuk meminta pertolongan.

Di luar dugaan, pemuda itu sudah mengangsurkan dengan suka rela.

Maka itu, dalam rasa terima kasihnya, ia juga merasa jengah.

"Ah, semua orang mengejek dia sebagai Toktjhioe Hongkay, sebagai pengemis gila yang tangannya sangat beracun,"

Pikirnya.

"Tapi tak dinyana, ia mempunyai hati kasihan. Benar juga orang kata, hati manusia tak bisa dilihat dari romannya. Tapi kenapa sepak terjangnya begitu aneh?"

Dengan telaten, Kim Sie Ie merawat si nenek dan benar saja, selang beberapa hari, kesehatannya telah pulih kembali.

Mereka lalu kembali ke tempat pertempuran untuk coba mencari jejak Tong Toan.

Sesudah ditolong Keng Thian dan Peng Go, waktu itu Tong Toan sudah pergi ke Lhasa.

Tong Say Hoa yang kuatir keponakannya mati keuruk di dalam salju, telah membongkar salju di beberapa tempat, di sekitar gelanggang pertempuran.

Sesudah terbukti, bahwa Tong Toan tidak menemui ajalnya disitu, hatinya merasa agak lega dan mereka lalu meneruskan perjalanan ke jurusan barat untuk mencari si pendeta asing.

*** Dalam keadaan lupa ingat, untuk beberapa lamanya, Liong Leng Kiauw duduk di punggung kuda, dalam pelukan Ouwtjeng.

Sesudah melewati padang rumput, hari itu mereka tiba di kaki sebuah gunung yang sangat besar.

Bukit-bukit yang besar dan yang kecil berdiri berentet-rentet, sedang puncak-puncak yang tertutup salju menjulang ke atas langit.

Si pendeta menahan les kuda dan memberikan obat pemunah kepada Liong Leng Kiauw.

Angin dingin yang meniup tak hentinya dan kembang salju yang melayang turun bagaikan kapas, sangat menyegarkan dan Liong Leng Kiauw segera tersadar.

Ia pernah mendaki banyak gunung yang tersohor, tapi gunung yang menghadang di depan adalah lain daripada yang lain dan ia memandang dengan rasa kagum.

Si pendeta tersenyum seraya berkata.

"Sesudah banyak capai beberapa hari, sekarang kita boleh mengasoh."

Ia melompat turun dari kuda, diturut oleh Liong Leng Kiauw. Sebelum Leng Kiauw keburu menanya, si pendeta sudah mendului.

"Liong Sam Sianseng... salah, Kongtjoe dari Lian Thaysoe, di tempat ini kau boleh tak usah kuatir lagi. Andaikata kaisar Tjeng mengirim sepuluh laksa tentara, ia juga tak akan dapat menangkap kau."

Leng Kiauw terkejut.

"Bagaimana kau tahu asal-usulku?"

Tanyanya. Si pendeta tertawa berkakakan.

"Jika aku tak tahu asal-usulmu, perlu apa aku membuang tenaga untuk menculikmu?"

Katanya.

"Apa artinya perkataanmu?"

Tanya pula Leng Kiauw. Ouwtjeng menuding dengan cambuknya seraya berkata.

"Lihatlah!"

Liong Sam mengawasi ke arah yang ditunjuk.

Jauh-jauh, di satu selat gunung, ia melihat gerakgeriknya tentara yang berjumlah besar, sedang di bawah pohon-pohon, lapat-lapat terlihat tendatenda yang berderet-deret.

Leng Kiauw kaget bukan main.

"Siapa kau?"

Tanyanya.

"Aku bernama Taichiti, Koksoe (guru negara) dari negara Nepal,"

Jawabnya sambil tertawa.

"Atas titah Raja, aku mengundang Sianseng (tuan) datang kemari untuk merundingkan suatu usaha besar."

"Apa?"

Menegas Leng Kiauw. Si pendeta mengawaskan, muka Liong Sam dan berkata dengan suara perlahan.

"Selama hidupnya, mendiang ayahmu, Lian Keng Giauw Taytjiangkoen, telah mengabdi kepada kaisar Tjeng dan telah berjasa besar sekali. Tapi pada akhirnya, tak urung ia mesti binasa secara menyedihkan sekali. Maka itu, tidaklah heran jika Sianseng bertekad untuk membalas sakit hati dan bertahun-tahun menderita di bawah perintah orang untuk mencapai maksudmu itu. Rajaku merasa sangat bersimpati atas meninggalnya Lian Taytjiangkoen dan merasa kagum akan segala usahamu!"

"Soal membalas sakit hati adalah soal pribadiku sendiri, yang tiada sangkut pautnya dengan negara Koksoe,"

Kata Leng Kiauw. Si pendeta bersenyum dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Biarpun Sianseng telah berserikat dengan sejumlah Touwsoe tapi, Sianseng harus ingat, bahwa Hok Kong An mempunyai tentara yang berjumlah besar, sehingga walaupun Sianseng berhasil melarikan diri dari penjara, belum tentu bisa berhasil dalam seluruh usaha."

Mendengar itu, Leng Kiauw lantas saja mengerti maksud si pendeta.

"Apa Koksoe ingin membujuk supaya aku meminjam tentara dari negerimu?"

Tanyanya.

"Hai! Jika aku menggunakan cara itu, biarpun berhasil, aku tentu akan ditertawai orang."

"Sianseng salah,"

Membantah si pendeta.

Dalam sejarah Tiongkok, meminjam tentara dari luar negeri bukan hal yang belum pernah terjadi.

Untuk membalas sakit hati ayahnya, Ngo Tjoe Sie telah meminjam tentara negeri Gouw guna menghukum rajanya sendiri.

Sebagaimana kutahu, orang-orang di jaman belakangan tak pernah mentertawainya.

Bahwa pendeta asing itu mengenal baik sejarah Tiongkok, adalah di luar dugaan Leng Kiauw.

Mendengar bujukannya, tanpa merasa ia bergidik dan bulu romanya bangun semua.

"Walaupun benar Ngo Tjoe Sie pernah meminjam tentara Gouw, tapi negeri Gouw adalah negeri yang terletak di Tiongkok juga dan tentara Gouw terdiri dari sesama bangsa,"

Katanya di dalam hati.

"Mana bisa peminjaman tentara oleh Ngo Tjoe Sie dibandingkan dengan peminjaman tentara dari negara Nepal. Di samping itu, pada akhirnya putera Raja Gouw --yang mewarisi kedudukan Raja Gouw tua -telah menghadiahkan hukuman bunuh diri sendiri kepada Ngo Tjoe Sie. Dengan menyebutnyebut Ngo Tjoe Sie, apakah si pendeta ingin aku mendapat nasib seperti orang itu? Jika aku meminjam tentara asing, aku bukan satu Ngo Tjoe Sie, tapi seorang yang boleh dipersamakan dengan Gouw Sam Kwie!"

Melihat Leng Kiauw membungkam, si pendeta berkata pula.

"Seorang luar biasa harus melakukan pekerjaan yang luar biasa pula. Negeriku adalah negeri kecil yang penduduknya sedikit dan sama sekali tak punya niatan untuk menggeragoti wilayah Tiongkok. Untuk sementara, Lian Sianseng boleh menancap kaki dan memperkuat kedudukan di daerah Tibet untuk menjagoi di wilayah sebelah utara padang pasir. Sesudah mengumpul tenaga, Sianseng boleh maju terus ke daerah Tionggoan dengan kemungkinankemungkinan yang tiada batasnya. Jika di hari nanti Sianseng bisa menjadi tuan, dari sebuah negara besar, maka negeriku yang kecil juga akan mendapat banyak manfaatnya!"

Seperti ayahnya, Liong Leng Kiauw pun mempunyai angan-angan besar. Mendengar perkataan si pendeta, hatinya lantas saja tergerak. Selagi ia bersangsi, pendeta itu sudah berkata pula.

"Rajaku sudah membawa tentara sampai disini dan untuk sementara waktu berkemah di selat gunung itu. Sesudah hawa udara menjadi lebih hangat dan salju melumer, Aku sekarang mengundang Sianseng untuk menemui Rajaku, supaya bisa diadakan perundingan yang lebih mendalam. Apakah Sianseng setuju dengan usulku itu?"

Leng Kiauw tidak menyahut. Ia memandang ke tempat jauh dengan mata mendelong. Si pendeta tertawa pula seraya berkata.

"Seorang laki-laki harus bisa mengambil keputusan cepat dan tidak boleh terlalu bersangsi. Jika Sianseng maju ke barat, hari kemudianmu tak bisa ditaksir bagaimana besarnya. Tapi jika Sianseng tetap menolak, aku pun tidak bisa memaksanya. Hanya sepanjang pengetahuanku, kaizar Tjeng yang mempunyai banyak sekali kaki tangan yang berkepandaian tinggi, telah bertekad untuk membinasakan Sianseng. Maka itu, manakala Sianseng balik ke jurusan timur, andaikata bisa melewati padang rumput dengan selamat, mungkin sekali Sianseng sudah menemui bencana sebelum tiba di Lhasa. Sebelum mengambil keputusan pasti, aku memohon Sianseng suka menimbang dengan seksama."

Mendengar perkataan si pendeta yang cukup beralasan, Leng Kiauw segera berkata dalam hatinya.

"Sesudah tiba disini, biarlah aku menemui rajanya. Apa aku suka belakangan."

Sebagai gunung yang tinggi dan besar luar biasa, Himalaya mempunyai hawa yang berbedabeda.

Di bagian atas, puncak-puncaknya ditutup es yang tak pernah melumer sepanjang tahun.

Di bagian tengah, di lereng gunung, hawanya seperti di musim dingin, dengan kembang-kembang salju berterbangan kian kemari.

Tapi di kakinya, ratusan bunga mekar serentak dan memberi pemandangan seperti di musim semi.

Selat gunung dimana tentara Nepal sedang berkemah, dikurung dengan bukit-bukit tinggi yang merupakan aling-aling bagi angin dingin, sehingga, oleh karenanya, hawa disitu nyaman dan hangat.

Begitu masuk di selat, Leng Kiauw melihat tenda-tenda yang dipasang berderet-deret.

Di tengah-tengah perkemahan terdapat bendera raja dan di seputarnya dipasang dua belas bendera panglima.

Leng Kiauw yang mengenal tata tertib dalam ketentaraan Nepal, tahu bahwa setiap sepuluh tangsi tentara dipimpin oleh seorang panglima dan setiap tangsi terdiri dari lima ratus serdadu.

Maka itu, menurut perhitungan kasar, di selat tersebut berkumpul kurang lebih enam puluh ribu tentara.

Nepal adalah sebuah negri kecil dan dengan tentara yang sebesar itu, dapat dikatakan sang raja sudah mengirim seluruh kekuatannya ke tempat tersebut.

Tapi walaupun berjumlah tidak sedikit, tentara itu belum memenuhi sebuah selat dari Himalaya.

Sambil berjalan, hati Leng Kiauw berdebar-debar.

Ia ingat keangkeran di jaman lampau dari mendiang ayahnya yang berkuasa atas ratusan laksa tentara.

Semenjak kecil, ia telah beranganangan untuk mengikuti jejak ayahnya yang ia sangat kagumi.

Sekarang, jika mau, mimpi itu bisa terwujut.

Ia bisa mengepalai sepasukan tentara dan menerjang ke jurusan Lhasa.

Hanya sayang, kesempatan yang datang itu mengandung hinaan bagi kehormatan dirinya.

Demikianlah, sambil berjalan, dua macam pikiran pro dan kontra, berkelahi dalam otaknya.

Mendadak di selat gunung terdengar suara ramai.

*** Sekarang mari kita menengok Tong Keng Thian dan Koei Peng Go yang meneruskan perjalanan ke arah barat untuk mencari Tong Say Hoa dan Kim Sie Ie.

Satu hari kembali lewat dengan hasil nihil.

Pengtjoan Thianlie jadi semakin berkuatir, karena lewatnya satu hari berarti semakin mendekatnya ajal Kim Sie Ie dan kekuatiran itu terlihat tegas pada paras mukanya.

Keng Thian sendiri sebenarnya tidak menaruh simpati kepada pemuda edan-edanan itu.

Tapi sesudah Kim Sie Ie menolong Tan Thian Oe dan Tong Say Hoa, pandangannya jadi berubah.

Hanya setiap kali ingat pengacauan Kim Sie Ie terhadap percintaannya, ia selalu merasa mendongkol.

Sekarang, dengan nyata ia melihat kekuatiran Peng Go akan keselamatan pemuda itu.

Jika hal ini terjadi di waktu dulu, sedikit banyak ia akan merasa jelus.

Tapi sesudah mengenal si nona yang welas asih dan suci bersih, kejelusan tak timbul dalam hatinya.

Sebaliknya dari itu, ia malahan lebih-lebih merasa kagum akan jiwa sang kecintaan yang mulia dan agung, la yakin, bahwa setiap perasaan jelus hanyalah berarti kecilnya jiwa sendiri.

Sesudah membedal kuda beberapa hari, mereka melewati padang rumput dan pegunungan Himalaya sudah berada di depan mata.

Mereka lalu masuk ke daerah pegunungan itu dan berada di tengah bukit-bukit dan batu-batu karang yang angker dan penuh bahaya.

Sambil berjalan, mereka menikmati pemandangan alam yang indah luar biasa.

Keng Thian menghela napas.

"Benar juga orang kata, bahwa dalam dunia ini tak ada apa-apa yang tiada lawannya, yang satu lebih tinggi daripada yang lain,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Tadinya aku menganggap, gunung Thiansan tiada tandingannya lagi. Panjangnya gunung itu tak kurang dari tiga ribu li, sedang kedua puncaknya, yang satu di selatan dan yang lain di utara, seolah-olah menembus langit. Tapi tak dinyana, Himalaya lebih hebat daripada Thiansan."

Belum jalan berapa jauh, di depan mereka tiba-tiba menghadang sebuah puncak batu yang bentuknya luar biasa.

Puncak itu yang berdiri terpencil tak jauh dari padang rumput, menjulang ke atas seperti satu kaca muka yang terbuat dari batu giok putih, Keng Thian dan Peng Go memandangnya dengan rasa kagum dan mereka lalu maju mendekati.

Mendadak Keng Thian mengeluarkan seruan tertahan dan dengan paras yang mengunjuk keheranan, ia melompat turun dari tunggangannya.

Hampir berbareng, Peng Go pun mengeluarkan teriakan kaget, karena ia melihat tetesan darah di kaki puncak.

"Ih! Apa Kim Sie Ie dan pendeta asing itu bertempur lagi di tempat ini?"

Tanyanya.

"Darah siapa ini ?"

"Darah?"

Menegas Keng Thian.

"Apa kau tak lihat?"

Si nona balas menanya, sambil melirik tunangannya, Ternyata mata pemuda itu tengah mengawaskan ke atas puncak.

Ia dongak dan lapat-lapat, melihat beberapa baris huruf di atas puncak itu.

Harus diingat, bahwa puncak batu itu yang berdiri lurus, sangat licin permukaannya, sehingga tak mungkin dipanjat manusia.

Maka itulah, terlihatnya huruf-huruf tersebut merupakan kejadian yang lebih aneh daripada tetesan darah.

Mereka lalu maju terlebih dekat dan mengawasi tulisan itu yang berbunyi seperti berikut.

"Beberapa kali mendaki Thiansan lulus dari ujian, sepasang pedang kini naik ke Puncak Mutiara, gunung termashyur seolah-olah tempat tinggalnya dewa, tak tega melihat tentara asing mengucurkan darah di selebar bumi!"

Setiap huruf, yang besarnya kurang lebih satu kaki pesegi, seperti juga terpahat di batu karang. Sesudah mengawasi beberapa lama, Pengtjoan Thianlie kembali mengeluarkan seruan kaget.

"Apa dalam dunia ini ada manusia yang berkepandaian begitu tinggi?"

Tanyanya dengan suara heran dan kagum.

"Dilihat dari tulisannya, huruf-huruf itu pasti ditulis dengan jeriji tangan!"

Keng Thian tak menyahut, kedua matanya terus mengincar huruf-huruf itu. Mendadak saja ia berseru.

"Inilah buah tangannya ayahku!"

"Ayahmu?"

Menegas si nona.

"Apa beliau tidak berada di Thiansan?"

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.

"Benar, aku rasa kau tak salah. Dilihat dari syair itu, bukan saja ayahmu, tapi ibumu pun turut datang kesini. Tapi untuk apa mereka mendaki Himalaya?"

"Sudah dua puluh tahun, ayahku tak pernah memegang senjata,"

Kata Keng Thian dengan suara perlahan.

"Kenapa ia melukakan orang di tempat ini?"

Pada jaman itu, kepandaian Tong Siauw Lan dan Phang Eng tiada tandingannya di kolong langit, sehingga dapatlah dimengerti, jika Keng Thian segera menarik kesimpulan, bahwa darah itu adalah darah orang lain.

Dengan menggunakan ilmu Pekhouw yoetjiang (Cecak merayap di tembok), Keng Thian segera memanjat puncak batu itu.

"Hati-hati!"

Teriak si nona.

"Batu itu kelihatannya bergoyang-goyang.

"Tak apa,"

Sahut Keng Thian.

"Jika benar berbahaya, ayahku tentu tak akan memanjatnya."

Selagi berkata begitu, matanya melihat sebuah batu yang separuh menonjol keluar, sedang separuhnya lagi menempel di tembok batu itu.

Biarpun memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, tapi karena dari bawah ia harus merayap ke atas tanpa pegangan, maka waktu itu Keng Thian sudah merasa capai bukan main.

Ia girang melihat batu yang menonjol itu, sebab dengan memegangnya, ia bisa mengasoh sebentaran.

Satu tangannya segera menjambret batu itu.

"Awas!"

Teriak Peng Go.

Sedang mulut si nona belum tertutup rapat, sudah terdengar suara gcdubfakan, disusul dengan jatuhnya batu yang baru saja dipegang Keng Thian.

Hati Peng Go mencelos dan mengawasi dengan mata membelalak.

Bagaikan kilat, Keng Thian menendang dan badannya lantas meluncur ke bawah.

Batu itu melayang turun dengan kecepatan luar biasa, tapi masih untung, jatuhnya Keng Thian lebih cepat lagi dan untuk beberapa detik, punggungnya dibayangi dengan batu tersebut dalam jarak beberapa kaki.

Ia kaget bukan main, tapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, dalam kagetnya ia tak jadi bingung.

Pada saat yang sangat berbahaya, sambil mengerahkan Iweekang, ia menggoyang badannya yang lantas saja membelok sedikit dan hampir berbareng, batu itu lewat di dekat kepalanya!

Tiba-tiba terdengar lagi suara gedubrakan hebat, disusul dengan jeritan kuda.

Ternyata kedua tunggangan mereka tertimpa batu dan lantas tewas jiwanya.

Dengan jantung memukul keras, Peng Go lompat menghampiri Keng Thian yang paras mukanya pucat dan kedua lututnya berlumuran darah.

Dengan melupakan rasa malu, si nona memeluk tangannya dan air matanya mengucur deras.

"Puteri edan, kenapa kau menangis?"

Tanya Keng Thian sambil tertawa.

"Tulangku tidak patah. Andaikata patah, kau menangis pun tak ada gunanya."

Dengan muka bersemu merah, si nona memeriksa lutut Keng Thian dan benar saja, biarpun lukanya tak terlalu enteng, urat dan tulangnya tidak terganggu.

Diam-diam ia merasa kagum akan liehaynya sang tunangan.

Begitu batu itu jatuh, Keng Thian menendang dengan kedua kakinya, untuk memperlambat gerakan jatuh batu itu dan mempercepat gerakan jatuh tubuhnya sendiri.

Jika ia tidak berbuat begitu, mungkin sekali batu tersebut sudah menghantam tubuhnya dan membinasakannya.

"Tak heran jika orang menganggap Iweekang Thiansan pay sebagai Iweekang yang paling unggul dalam Rimba Persilatan,"

Kata si nona dalam hatinya.

"Usia Keng Thian tidak kacek jauh dengan usiaku, tapi lweekang-nya banyak lebih tinggi. Ia sanggup membentur batu yang beratnya ribuan kati dan hanya mendapat luka di luar."

Dengan hati-hati si nona melabur obat dan membalut luka Keng Thian dan kemudian memberikannya sebutir Liokyang wan.

"Entah kenapa, aku mudah mengucurkan air mata,"

Katanya seraya tersenyum.

"Dulu, waktu burung betetku patah sayapnya, aku pun sudah menangis. Di Nepal terdapat suatu dongengan rakyat. Menurut dongengan itu, di jaman purba seorang puteri raja, yang tunangannya telah dibinasakan oleh seorang dukun. Pada waktu pangeran itu --ia adalah seorang putera raja -hendak dimakamkan, sang puteri datang dan sambil memeluk jenazahnya, ia menangis sedu sedan. Air mata, itu telah membasahi dada sang tunangan yang mendadak hidup kembali."

Keng Thian tertawa terbahak-bahak.

"Aha! Sungguh mustajab air mata sang puteri!"

Katanya.

"Bukan saja bisa menyambung tulang, tapi juga bisa menghidupkan mayat. Dengan adanya kau di dampingku, aku boleh tak usah takuti apapun juga."

Si nona tertawa manis.

"Dari mana kau belajar bicara begitu,"

Katanya sambil menabok pipi sang tunangan. Demikianlah kedua orang muda itu bersenda gurau dengan rasa beruntung.

"Heran betul!"

Tiba-tiba Keng Thian berkata.

"Heran kenapa?"

Tanya Peng Go.

"Batu itu!"

Jawabnya. Pengtjoan Thianlie tersadar dan ia berkata.

"Benar. Kenapa batu itu jatuh? Coba aku menyelidiki."

Ia berjalan sampai di kaki puncak dan mendongak.

Segera juga ia melihat, bahwa di tempat bersambungnya batu menonjol itu --yang sudah ambruk ke bawah -dengan tembok batu, terdapat bekas-bekas bacokan golok atau kampak.

Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, ia merayap ke atas dan tangannya meraba-raba di sekitar tempat sambungan itu.

Ternyata, tanah dan lumut yang melekat disitu juga memperlihatkan bekas-bekas diganggu orang.

Tapi karena "pengolahannya"

Dilakukan secara halus, maka sebelum jatuh, orang masih menganggap, bahwa batu yang menonjol itu merupakan bagian yang tersatu dari puncak batu tersebut.

Bukan main rasa herannya Pengtjoan Thianlie.

Orang yang menaruh "racun"

Itu tentulah bekerja sesudah Tong Siauw Lan meninggalkan tempat tersebut.

Tapi siapa dia?

Kenapa dia berbuat begitu.

Apakah dia sudah menduga, bahwa seorang lain akan memanjat puncak itu untuk membaca syair Tong Siauw Lan?

Keng Thian pun tidak kurang herannya, tapi, seperti si nona, ia juga tidak bisa menduga-duga, tangan siapa yang sudah melakukan itu.

Dengan Peng Go menuntun Keng Thian, perlahan-lahan mereka melanjutkan perjalanan.

Untung juga, belum jalan berapa jauh, mereka bertemu dengan sebuah Honghotay, peninggalan di jaman dulu.

(Honghotay adalah sebuah bangunan tinggi yang di jaman dulu digunakan sebagai pertandaan untuk meminta bantuan tentara, dengan membakar kayu.

Dengan melihat api dan asap, kawan yang berada di tempat jauh dapat segera memberi pertolongan).

Sambil menuntun tunangannya, Peng Go masuk ke dalam bangunan itu.

seraya berkata.

"Untung juga kita bertemu dengan tempat meneduh untuk beristirahat beberapa hari sampai lukamu sembuh."

Honghotay adalah bangunan yang bertingkat dua, atasnya lancip, bawahnya lebar.

Bagian atasnya, atau loteng, biasa digunakan sebagai mercu untuk meninjau ke tempat jauh, sedang bawahnya digunakan sebagai tangsi untuk serdadu.

Pengtjoan Thianlie segera membersihkan lantai dan sesudah mempersilahkan Keng Thian merebahkan diri, ia lalu keluar untuk mencari makanan.

Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa dua ekor ayam alas yang lalu dijadikan barang santapan.

Dengan dirawat oleh si nona dan saban-saban menelan pel mustajab dari Istana Es, pada esokan harinya, luka Keng Thian sudah rapat dan satu dua hari lagi, ia akan sembuh seperti sediakala.

Malam itu, Peng Go kembali memburu dan mendapat seekor kambing kecil yang lalu dibakarnya.

Sebagai seorang puteri yang sedari kecil biasa dirawat, Peng Go sama sekali tidak mengenal ilmu masak.

Malahan membakar daging saja, ia tak mampu, sebagian hangus dan sebagian mentah.

Tapi bagi Keng Thian, daging yang mentah matang itu, merupakan santapan yang terlezat dalam dunia!

Malam itu, rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang.

Kedua orang muda itu tentu saja sungkan menyia-nyiakan kesempatan yang baik dan sambil menggandeng tangan, mereka naik ke loteng untuk menikmati pemandangan malam terang bulan yang indah itu.

Sungguh permai!

Himalaya seolah-olah mandi dalam lautan perak dan sinar es yang menyorot dari puncakpuncak yang tinggi memperlihatkan suatu pemandangan yang benar-benar luar biasa.

Sesudah memandang beberapa lama, si nona menghela napas seraya berkata dengan suara perlahan.

"Di sebelah sana adalah negeri ibuku. Sungguh lucumeskipun aku berkedudukan sebagai puteri Nepal, belum pemah aku menginjak negeri itu."

"Tak satu manusia pun yang menghalangi kau pergi kesitu,"

Kata Keng Thian sambil tertawa.

"Ibuku pernah bersumpah untuk tidak kembali ke negeri sendiri."

Kata si nona.

"Keng Thian tersenyum.

"Dalam dunia ini tiada yang kekal,"

Katanya.

"Coba kau pikir, siapa bisa duga, Puncak Es bisa roboh dengan begitu saja?"

Peng Go tidak menyahut, parasnya kelihatan berduka sekali.

"Jika piauwko-mu (saudara sepupu) ingin menikah dengan kau, kau tak bisa tidak pulang ke Nepal,"

Kata Keng Thian.

"Piauwko-ku?"

Menegas si nona.

"Bukankah raja Nepal piauwko-mu?"

Kata pula pemuda itu.

"Hm... menurut taksiranku, pendeta asing itu tentu kabur ke Himalaya. Aku kuatir, dugaanmu tidak meleset, dia datang di Lhasa atas perintah raja Nepal."

Peng Go membungkam. Beberapa saat kemudian, barulah ia berbisik.

"Kecuali kau, dalam hatiku tak ada tempat lagi untuk lain lelaki..."

Sehabis berkata begitu, parasnya berubah merah.

Biarpun sudah tahu sama tahu, inilah untuk pertama kali si nona membuka rahasia hatinya terangterangan.

Kegirangan Keng Thian meluap-luap dan matanya berlinang-linang karena kegirangan yang melampaui batas.

Sambil memegang pundak si nona, ia berbisik.

"Apa benar?..."

Dengan perlahan Peng Go mendorong kecintaannya.

"Kau tidak permisikan aku menangis, tapi kau sendiri yang mudah mengucurkan air mata,"

Katanya dengan suara terharu. Tiba-tiba kesunyian sang malam diganggu dengan suara tindakan kaki manusia di bawah loteng.

"Siapakah yang menggerayang kesini di tengah malam buta?"

Bisik Keng Thian. Peng Go menghunus Pengpok Hankong kiam dan membuat lubang kecil di papan loteng.

"Aha!"

Demikian terdengar seruan seorang.

"Daging kambing bakar? Mana yang punya?"

Suara itu adalah suara Hiatsintjoe yang menyeramkan.

"Jangan perdulikan yang punya,"

Kata seorang lain.

"Makan saja."

Keng Thian mengintip di lubang.

Ia melihat seorang hweeshio, jangkung kurus tengah berjalan mendekati perapian dan waktu lengannya menyentuh meja batu, terdengar suara beradunya logam.

Orang itu adalah Tang Thay Tjeng yang tidak dikenal Keng Thian.

"Siapa dia?"

Tanyanya di dalam hati.

"Hiatsintjoe saja sudah merupakan lawan berat. Hweeshio itu kelihatannya bukan sembarang orang. Bagaimana baiknya? Lukaku belum sembuh, apa Peng Go bisa melawan mereka berdua?"

Sambil mengeluarkan beberapa batang Thiansan Sinbong, ia berbisik di kuping Peng Go.

"Jangan ladeni mereka."

Peng Go mengangguk.

Selagi hatinya penuh dengan rasa cinta, si nona memang tak punya kegembiraan untuk bertempur.

Alis Hiatsintjoe berkerut dan sambil mengunyah daging, ia berkata dengan suara mendongkol.

"Sungguh tolol orang yang membakar daging ini. Separuh hangus, separuh mentah."

Mendengar kecintaannya dimaki, Keng Thian gusar, tapi Peng Go sendiri hanya bersenyum. Tang Thay Tjeng tertawa besar.

"Kau sungguh rewel,"

Katanya.

"Jika tak doyan, jangan makan! Berikan semua, kepadaku, perutku lapar sangat. Di atas gunung mungkin lebih sukar mendapat makanan."

Hiatsintjoe mengeluarkan suara di hidung, mulutnya terus mengunyah daging.

"Semakin aku ingat, semakin perutku panas,"

Mendadak dia berkata lagi.

"Sungguh kurang ajar binatang Kim Sie Ie! Jika aku berhasil mendapatkan, Tjiangtjoe Siantjo, huh-huh!... Aku akan keset kulitnya!"

Tang Thay Tjeng tertawa besar.

"Dari dulu sampai sekarang, belum pernah ada manusia yang berhasil mendaki Puncak Chomo Lungma,"

Katanya.

"Jangan kau mengharap-harap embun tengah hari. Jika kau bisa berhasil, Tuhan benar-benar memberkahi kau."

"Kalau kau takut mati, tak usah kau ikut,"

Bentak Hiatsintjoe.

"Ikut tentu aku mesti ikut,"

Kata si pendeta.

"Seperti kau, aku pun sangat dihina orang. Daripada dihina orang, lebih baik mati, daripada mati konyol, lebih baik coba-coba nasibku."

Mendengar pembicaraan yang tiada ujung pangkalnya itu, Peng Go tak mengerti apa yang sedang dibicarakan.

Ia hanya merasa heran, kenapa Hiatsintjoe gusar terhadap Kim Sie Ie, sedang orang yang bersalah sebenarnya adalah dirinya sendiri.

Ia tentu saja tak tahu terjadinya pertempuran di padang pasir, dimana Hiatsintjoe dipukul pincang oleh Kim Sie Ie yang sudah merampas juga unta mereka.

Hanyalah sesudah mengalami banyak penderitaan, barulah mereka bisa keluar dari padang pasir itu.

Selagi Hiatsintjoe mencaci Kim Sie Ie, tiba-tiba diluar terdengar suara kaki kuda.

"Celaka! Pemilik daging datang!"

Kata Tang Thay Tjeng sambil tertawa.

"Kalau dia rewel, aku hantam mampus padanya,"

Kata kawannya.

"Jangan galak-galak,"

Si pendeta tertawa haha-hihi.

"Orang baik-baik tak boleh sembarangan membunuh manusia."

Sementara itu, suara kaki kuda kedengaran berhenti di depan Honghotay.

"Apa aku kata?"

Demikian terdengar suara seorang anak tanggung yang sangat nyaring.

"Aku sudah kata, kalian tak usah bingung. Bukankah disini ada tempat meneduh? Ha-ha-ha! Bau daging kambing! Wangi sungguh! Aku berani bertaruh, pemilik daging adalah seorang pelancong yang murah hati."

Keng Thian dan Peng Go saling memandang sambil mesem. Mereka mengenali, bahwa suara itu adalah suara Kang Lam, si bawel.

"Ibu, rumah apa ini?"

Tanya seorang gadis.

"Tak tahu, tapi tak halangan jika kita numpang disini,"

Jawab seorang wanita. Keng Thian merasa heran.

"Kenapa Yo Lioe Tjeng dan puterinya datang kemari?"

Tanyanya di dalam hati.

"Didengar dari suara tindakan, yang datang ada empat orang. Siapa yang satunya lagi?"

Sesaat kemudian, empat orang masuk dengan beruntun-runtun.

Dari lubang papan, Keng Thian mendapat kenyataan, bahwa orang yang satunya lagi adalah Tong Toan.

*** Ternyata, selagi Kang Lam mengantar Yo Lioe Tjeng dan puterinya ke Lhasa untuk mencari Keng Thian, di tengah jalan mereka bertemu dengan Tong Toan.

Keluarga Tong dan Yo adalah sahabat-sababat lama.

Pada dua puluh tahun lebih berselang, satu gelombang hebat telah terjadi karena Phang Lin telah kesalahan membunuh suami Tong Say Hoa dan peristiwa itu hampirhampir menyeret juga Yo Tiong Eng dan puterinya.

Sesudah gelombang mereda, keluarga Tong insyaf bahwa kesalahan terletak di pihaknya dan merasa sangat malu akan perbuatan mereka terhadap Yo Tiong Eng.

Maka itulah, perhubungan antara mereka dan Yo Lioe Tjeng jadi terlebih rapat lagi.

Biarpun Yo Lioe Tjeng berusia banyak lebih muda daripada Tong Say Hoa, Tong Toan selalu menganggapnya sebagai seorang tjianpwee dan memanggil Kouwkouw (bibi) kepadanya.

Tong Toan segera menceritakan pertemuannya yang luar biasa dengan Keng Thian dan Peng Go.

Sesudah mengetahui jejak Keng Thian, Yo Lioe Tjeng segera mengajak Tong Toan pergi, menyusul ke jurusan barat.

Begitu masuk ke ruangan bawah Honghotay, mereka melihat Hiatsintjoe yang sedang mempertunjuki kepandaiannya yang menyeramkan.

Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam perapian yang sudah hampir padam dan dengan menggunakan ilmu Inhwee siosin (Menarik api membakar badan), ia mengeluarkan hawa yang sangat panas di telapakan tangannya, sehingga perapian itu, kembali membara.

Dengan kulit tangan yang terkeset, tulang-tulang jeriji kelihatan tegas sekali di dalam bara.

Tang Thay Tjeng sendiri terus mengunyah daging kambing sambil menyender di meja batu, dengan memperlihatkan sikap acuh tak acuh.

Melihat kedua memedi itu, Yo Lioe Tjeng berempat kaget tak kepalang.

Dengan badan bergemetaran, Kang Lam mundur ke belakang Tjee Tjiang Hee.

Jantung Yo Lioe Tjeng memukul keras, tapi karena mempunyai banyak pengalaman, parasnya sedikitpun tidak berubah.

"Benar,"

Katanya.

"Tempat ini nyaman dan hangat. Kang Lam, coba keluarkan arak dan daging ayam. Sebelum tidur, kita makan dulu."

Si kacung segera mengeluarkan sepotong paha ayam, tapi sebab sedang ketakutan, ia tak punya napsu makan dan lalu mengangsurkannya kepada Tjiang Hee.

"Kau makan saja sendiri,"

Kata si nona.

"Daging bekalanku belum habis."

Sesudah menenteramkan hati sambil memegang, paha ayam itu, Kang Lam berkata sambil tertawa haha-hihi.

"Tong Tayhiap, telah berjanji untuk bertemu disini. Sediakanlah sepotong daging untuknya. Ha-ha! Tong Tayhiap bersahabat baik dengan Kongtjoe-ku dan ia belum pernah salah janji, la kata, akan tiba disini tengah malam dan ia pasti datang."

Tjiang Hee kaget tapi segera juga ia mendusin, bahwa dengan perkataannya itu, si kacung coba menakut-nakuti kedua musuhnya.

Hanya lantaran hatinya ketakutan, tertawa dan suaranya sangat tidak wajar.

Hiatsintjoe lantas saja mengeluarkan suara di hidung, sedang Tang Thay Tjeng tertawa berkakakan.

"Sayang sekali disini tak ada yang memukul kentongan, sehingga 'ku tak tahu, apa sekarang tengah malam atau sudah lewat tengah malam,"

Kata si pendeta dengan suara menjengeki. Kang Lam kaget, ia mengerti, bahwa ia sudah salah omong. Untuk memperbaiki kesalahannya, ia kembali tertawa seraya berkata.

"Tong Tayhiap dan kita sama-sama datang dari Lhasa. Biarpun kepandaiannya tinggi, ia tentu saja tidak bisa jalan begitu cepat seperti yang menunggang kuda. Tapi ia pasti datang. Sepoci arak ini lebih baik disediakan untuknya."

Dengan berkata begitu, Kang Lam lebih membuka kedok serdiri.

"Plak!", Hiatsintjoe menepuk meja batu seraya membentak.

"Kang Lam! Mari!"

Jantung si kacung melonjak, la mundur setindak dan berkata seraya menggoyang tangan.

"Jangan sungkan-sungkan, makan saja sendiri. Aku tak doyan daging kambing."

"Jangan rewel!"

Bentak pula Hiatsintjoe.

"Siapa undang kau makan daging kambing? Mari! Layani tuan besarmu minum arak."

"Arak ini adalah untuk Kim Tayhiap,"

Katanya dengan suara bingung. Hiatsintjoe tertawa dingin.

"Kim Tayhiapmu sudah mampus di padang pasir,"

Katanya dengan suara mengejek.

"Jangan banyak bacot! Kau ingin menakut-nakuti aku dengan menggunakan nama Toktjhioe Hongkay? Hm! Kemari! Jika kau membandel, aku akan bakar badanmu."

Sehabis berkata begitu, ia mengebaskan tangannya dan hawa yang sangat panas lantas saja menyambar. Tiba-tiba di luar terdengar suara tertawa yang sangat nyaring.

"Bagus!"

Seru seorang.

"Aku paling doyan daging kambing!"

Hiatsintjoe menengok dan melihat dua orang aneh sedang berjalan masuk dengan jungkir balik, dengan menggunakan tangan sebagai kaki.

Sesudah melihat lebih tegas, ia tahu, bahwa kedua orang itu patah tulang kakinya.

Dilihat dari mata mereka yang dalam, hidung yang mancung dan pakaian mereka, orang bisa lantas mengenali, bahwa mereka adalah orang Arab yang dapat menggunakan bahasa Han dengan lancar sekali.

Begitu masuk, mereka bersila dan berkata sambil menuding Hiatsintjoe.

"Wangi sungguh daging itu. Coba berikan sepotong kepadaku."

Hiatsintjoe naik darahnya dan dengan mendelik, ia mengipas dengan kedua tangannya dan hawa panas segera menyambar pada kedua orang itu.

Tang Thay Tjeng buru-buru memberi isyarat dengan kedipan mata untuk mencegah sang kawan berlaku semberono.

"Ha-ha-ha! Sungguh nyaman!"

Seru satu antaranya.

"Dari gunung es masuk kesini seperti juga masuk ke dalam surga."

Dilihat dari muka dan gerak-geriknya, kedua orang itu sudah lelah sekali.

Sesudah berjalan di atas salju dan kemudian diserang hawa panas, mereka pasti sudah roboh jika tak punya tenaga dalam yang sangat kuat.

Mereka terus bersenyum-senyum dengan sikap acuh tak acuh, seperti juga tidak merasakan kebasan tangan Hiatsintjoe.

Kedua orang aneh itu berbeda badannya, yang satu gemuk dan yang lain kurus.

"Aku dengar orang-orang di Tiongkok sangat ramah tamah terhadap tamu,"

Kata si gemuk.

"Sekarang ternyata, omongan itu dusta belaka."

"Apa kau kata ?"

Bentak Hiatsintjoe.

"Eh, apa kau mau cari-cari ribut?"

Tanya si kurus. Hiatsintjoe tak bisa menahan sabar lagi. Ia melompat ke tengah ruangan dan berteriak.

"Mari! Mari kita coba-coba. Kami berdua dan kamu pun berdua."

Si kurus menggelengkan kepala.

"Perutku lapar,"

Katanya sambil tertawa.

"Tak punya tenaga untuk berkelahi."

Dengan gergetan Hiatsintjoe mengambil sepotong daging yang sedang dipegang Tang Thay Tjeng dan lalu melontarkannya sembari membentak.

"Makan! Lekas makan!"

Waktu melemparkan, ia mengerahkan lweekang, sehingga daging itu menyambar dengan tenaga yang hebat. Tapi si kurus tetap tenang. Ia membuka mulutnya dan menggigit potongan daging yang menyambar itu.

"Mana untukku?"

Tanya si gemuk.

"Kang Lam! Berikan daging ayam kepadanya!"

Memerintah Hiatsintjoe. Melihat perkembangan yang luar biasa itu, si kacung jadi girang. Dengan sikap hormat, ia mempersembahkan dua potong daging ayam kepada si gemuk.

"Makanlah. Kalau tak cukup, masih ada lagi,"

Katanya.

"Mari araknya,"

Kata si gemuk. Tanpa menunggu perintah Hiatsintjoe, cepat-cepat Kang Lam mempersembahkan sepoci arak kepadanya.

"Benar,"

Katanya sambil tertawa.

"Sesudah makan minum, baru ada kegembiraan untuk berkelahi."

Dengan sorot mata gusar, Hiatsintjoe mengawasi kedua orang itu, tapi Tang Thay Tjeng berulang-ulang menggelengkan kepala seraya berkata.

"Guna apa? Guna apa berkelahi?"

Kawannya tidak meladeni.

"Lekas! Lekasan sedikit!"

Teriak Hiatsintjoe. Mereka makan minum perlahan-lahan sampai daging dan arak tiada sisanya lagi. Tiba-tiba si kurus tertawa terbahak-bahak.

"Sekarang aku sudah kenyang,"

Katanya.

"Mari! Siapa yang mau berkelahi boleh datang kesini!"

"Sudahlah,"

Membujuk Tang Thay Tjeng.

"Kita sama-sama pelancong dan juga tak punya permusuhan. Perlu apa, cari-cari urusan?"

Ia berusaha untuk membatalkan pertempuran karena dalam perhitungannya, pihaknya jatuh di bawah angin.

Dengan lweekang Hiatsintjoe yang sudah banyak berkurang, ia menaksir, bahwa mereka berdua belum tentu bisa menandingi kedua orang aneh itu.

Di samping itu, masih terdapat empat musuh lain yang mungkin sekali akan menyerang pihaknya.

Ia tak takuti Tjee Tjiang Hee, Tong Toan dan Kang Lam, tapi gendewa dan peluru Yo Lioe Tjeng tak boleh dipandang ringan.

Sekonyong-konyong paras muka si gemuk berubah menyeramkan.

Ia tertawa nyaring seraya berkata.

"Boleh, boleh tak usah berkelahi. Tapi aku ingin meminjam serupa barang."

"Apa?"

Menegas Hiatsintjoe dengan perut panas.

"Berikan empat kakimu sebatas dengkul kepada kami,"

Jawabnya.

"Aku perlu sekali dengan itu."

Ia berkata begitu dengan sikap sembarangan, seolah-olah yang mau dipinjamnya tak berharga sepeser buta.

Dapat dimengerti, jika Hiatsintjoe jadi kalap.

Belum habis si gemuk mengucapkan perkataannya, ia sudah mengenjot badan dan sambil melompat, ia menghantam sekuat tenaga dengan kedua telapakan tangannya.

Hebat sungguh pukulan itu!

Yo Lioe Tjeng berempat yang berdiri dalam jarak beberapa tombak, masih merasakan hawa yang sangat panas.

Kang Lam buruburu bersila dan, tanpa memperdulikan segala apa, lalu mengerahkan lweekang Thiansan pay, yang didapat dari Tong Keng Thian.

Dengan tenang si gemuk mengangkat tangannya untuk menyambut serangan itu.

Di lain pihak, sedang kedua kakinya belum hinggap di bumi, Hiatsintjoe merasa didorong serupa tenaga yang sangat besar, sehingga tubuhnya bergoyang-goyang.

Begitu kakinya menginjak lantai, ia segera mengirim pukulan kedua, tapi hawa panasnya sudah banyak berkurang.

Bukan main kagetnya Tang Thay Tjeng.

Hiatsintjoe menyerang kalang kabut seperti harimau edan, tapi ia tak bisa mendekati kedua lawannya dan tertahan dalam jarak kurang lebih setombak.

Beberapa saat kemudian, gerakan-gerakan Hiatsintjoe menjadi kalut dan ia menerjang terputarputar bagaikan seekor laler yang masuk ke dalam jebakan.

Harus diketahui, bahwa ilmu yang digunakan oleh kedua orang itu adalah Imyang Ngoheng Tjianglek, ilmu pukulan yang terdiri dari "negatif dan "

Positif", yaitu satu pukulan mendorong keluar, sedang pukulan yang lain membetot ke dalam.

Dengan demikian, musuh yang masuk ke dalam kalangan pukulan mereka seperti terseret ke dalam "pusar air", terus terputar-putar tanpa mampu meloloskan diri.

Tang Thay Tjeng sebenarnya sungkan bermusuhan dengan kedua orang itu, tapi karena sahabatnya berada dalam bahaya, ia tak bisa berpeluk tangan.

Sebagai orang yang hati-hati, sebelum turun tangan lebih dulu ia memikin siasat untuk meloloskan diri.

Ia ingin menyerang dengan menggunakan ilmu menubruk Niauw-eng dan jika serangannya gagal, ia bisa lantas mengundurkan diri.

Sedapat mungkin ia tak mau mengadu tenaga tangan dengan musuhnya "Kaki mereka patah dan mereka tentu tak bisa mengubar aku,"

Pikirnya. Tapi di luar dugaan, ilmu silat kedua orang aneh itu sungguh luar biasa. Begitu Tang Thay Tjeng "terbang"

Ke udara dan sebelum tangannya menyentuh kepala musuh, si gemuk tiba-tiba mendorong si kurus yang tubuhnya lantas saja melesat ke atas dan tangannya membetot.

Tang Thay Tjeng terkesiap, buru-buru ia menggoyang badan yang segera membelok ke belakang.

Gerakan si pendeta cukup cepat, tapi si kurus lebih cepat lagi.

Hampir berbareng, dengan satu suara "hrr!" , tubuh si kurus sudah melesat melewati kepala Tang Thay Tjeng dan tangannya menjambret salah satu dari empat tiang yang terdapat di ruangan itu.

Di lain saat, dengan satu tangan mencekal tiang, tangannya yang lain menghantam Tang Thay Tjeng.

Sebagaimana diketahui, ilmu menubruk Niauw-eng adalah gubahan Patpie Sinnio Sat Thian Tjek berdasarkan cara berkelahinya burung Niauw-eng.

Dengan latihan yang lama, ia berhasil menciptakan semacam ilmu entengkan badan yang tiada keduanya dalam Rimba Persilatan.

Ilmu mengentengkan badan dari lain cabang persilatan kebanyakan hanya merupakan kepandaian lari cepat, tapi dengan ilmu gubahan Sat Thian Tjek, seseorang bisa "terbang"

Bulak-biluk di tengah udara.

Tang Thay Tjeng adalah ahli waris satu-satunya dari Patpie Sinmo dan pada waktu itu, kepandaiannya tidak lebih rendah daripada gurunya sendiri.

Demikianlah, pada sebelum tenaga pukulan si kurus menyambar tubuhnya, ia sudah "terbang"

Membelok.

Tapi apa lacur, baru saja ia meloloskan diri, badan si kurus sudah melesat pula melewati kepalanya dan menjambret tiang di seberang.

Begitu satu tangannya mencekal tiang, badannya diputar dan kembali menghantam dengan tangan yang lain.

Kejadian serupa itu telah berulang sampai tiga kali, dengan Tang Thay Tjeng masih tetap bisa mempertahankan diri di tengah udara dan mengegos pukulan-pukulan musuh dengan "terbang"

Bulak-balik.

Tapi, walaupun luar biasa, ilmu itu tak bisa dipertahankan dalam tempo lama.

Waktu si kurus menghantam ke empat kali, ia sudah tak kuat lagi dan roboh di lantai akibat kebasan tangan si kurus.

Secara kebetulan, ia jatuh di dekat Hiatsintjoe.

Sambil tertawa terbahak-bahak, si kurus lalu kembali ke tempatnya yang tadi dan bersila di dekat kawannya.

Sekarang, seperti Hiatsintjoe, Tang Thay Tjeng juga sudah terbetot masuk ke dalam kalangan tenaga kedua orang itu dan mereka tak dapat meloloskan diri lagi.

Semakin lama gerakan tangan kedua orang aneh itu jadi semakin cepat.

Tang Thay Tjeng dan Hiatsintjoe yang semula berada dalam jarak kira-kira setombak, dengan perlahan mendekati kedua musuhnya.

Dengan keringat membasahi pakaian, mereka mengamuk bagaikan kerbau gila dan maju sedikit demi sedikit.

Seorang yang tak mengerti ilmu silat tentu menduga, bahwa mereka sedang menyerang-Tapi Yo Lioe Tjeng mengetahui, bahwa mereka sedang dibetot dengan tenaga tak kelihatan.

Begitu lekas mereka berada pada jarak yang bisa disampaikan dengan tangan kedua lawannya, riwayat mereka akan segera tamat.

Diam-diam Yo Lioe Tjeng merasa girang.

Biarpun permusuhannya sudah dibereskan oleh Phang Lin, tapi masih terdapat kemungkinan, bahwa Tang Thay Tjeng akan berusaha untuk membalas sakit hati lagi di belakang hari.

Maka itu, jika si pendeta binasa, ia akan terbebas dari segala kekuatiran.

Dengan mata tidak berkesip ia memperhatikan jalannya pertempuran.

Hiatsintjoe yang Iweekang-nya lebih tinggi, masih terus berusaha untuk meloloskan diri dengan Seantero tenaganya, tapi Tang Thay Tjeng sudah tak kuat lagi.

Ia mundur setindak, maju dua tindak, semakin lama jadi semakin dekat dengan kedua musuhnya Urat-urat di kepalanya timbul keluar, sedang kedua biji matanya yang berwarna merah seolah-olah mau melompat.

Yo Lioe Tjeng jadi merasa tak tega, sehingga ia melengos supaya tak usah melihat pemandangan yang tak enak itu.

Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring.

"Tinggalkan lututmu!"

Hampir berbareng terdengar suara "trang!", seperti martil memukul lonceng.

Sebelum Yo Lioe Tjeng sempat menengok, mendadak ia merasakan lewatnya hawa panas di depan mukanya.

Di lain saat, ia melihat badan Tang Thay Tjeng "terbang"

Keluar dari jendela sebelah timur, sedang Hiatsintjoe pun sudah tak kelihatan bayang-bayangnya lagi.

Kedua orang aneh itu masih tetap bersila, dengan si gemuk mencekal sebuah lengan besi seraya berkata seorang diri.

"Tak dinyana dia mempunyai ilmu yang luar biasa."

Ternyata, pada detik yang sangat berbahaya, Tang Thay Tjeng telah berhasil menolong diri dengan melontarkan lengan besinya.

Kedua orang aneh itu kaget bukan main dan sambil mengerahkan lweekang, mereka menyambut senjata yang luar biasa itu.

Dengan menggunakan kesempatan tersebut, si pendeta melarikan diri bersama-sama kawannya.

Selagi Yo Lioe Tjeng bergirang karena dua musuhnya sudah mabur, tiba-tiba ia melihat kedua orang aneh itu mengawaskan padanya dengan sorot mata bengis.

Ia terkejut dan lalu mencekal gendewa erat-erat.

Sementara itu, karena keadaan berubah sepi, Kang Lam yang lagi bersemedi membuka matanya.

Ia melompat bangun dan berkata sambil tertawa.

"Ha! Dua memedi itu sudah dihajar kabur? Ha-ha! Kalian harus menghaturkan terima kasih kepadaku. Arak itu memang bisa membangunkan semangat dan daging ayam dapat menambah tenaga."

Selagi berkata begitu, mendadak ia melihat Yo Lioe Tjeng dan kedua orang aneh itu tengah saling memandang dengan sorot mata menakuti.

Hati Kang Lam berdebar-debar dan ia segera menutup mulut.

Tiba-tiba si gemuk tertawa besar.

"Benar! Memang kami harus menghaturkan terima kasih kepadamu,"

Katanya.

"Aku ingin minta pinjam kedua lututmu,"

Menyambung si kurus.

"Jangan kuatir. Aku tanggung kau tidak merasa sakit waktu lututmu digergaji."

"Apa?"

Menegas Kang Lam.

"Kau mau gergaji lututku?"

"Tak salah,"

Jawab si kurus sambil mengangguk.

"Aku mempunyai ilmu bedah yang sangat liehay. Lebih dulu aku akan memberi obat lupa dan begitu kau tersadar, segala apa sudah beres. Bagaimana, apa kau setuju?"

"Tak bisa! Gila kau!"

Teriak si kacung dengan suara ketakutan.

"Aku masih perlu dengan kedua lututku."

"Aku juga perlu dengan kedua lututmu,"

Kata si gemuk dengan suara dingin.

"Sesudah kau menyerahkan lututmu kepadaku, aku akan mengambil kau sebagai murid,"

Kata si kurus.

"Kau akan punya senderan teguh, kau tak usah kuatir kekurangan makan pakai dan tak akan ada manusia yang berani menghina kau."

"Tak bisa!"

Kang Lam berteriak pula.

"Tapi... kenapa... lututmu patah?"

Perkataan si kacung itu justeru menyentuh bagian yang lemah. Mendadak saja, kedua orang itu jadi gusar tak kepalang.

"Binatang!"

Geram si kurus "Aku ingin putuskan lutut semua manusia yang pandai silat. Orang pertama adalah kau!"

Berbareng dengan perkataannya, badannya melesat dan tangannya menyambar untuk menotok jalanan darah Kang Lam.

"Celaka!"

Mengeluh Kang Lam.

Sebelum tangan si kurus menyentuh Kang Lam, Yo Lioe Tjeng sudah melepaskan pelurunya dengan beruntun-runtun.

Dalam sekejap, puluhan peluru menyambar-nyambar kedua orang aneh itu.

Tapi sungguh aneh, sebelum melanggar badan musuh, peluru-peluru itu sudah hancur semua!

Kedua orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Masih ada lagi? Hayo keluarkan semua!"

Teriaknya.

Yo Lioe Tjeng terkesiap dan di lain saat, ia merasa dirinya dibetot dengan semacam tenaga yang tak kelihatan.

Dengan sekuat tenaga, ia memberontak untuk meloloskan diri, tapi sebaliknya dari berhasil, setindak demi setindak ia mendekati kedua musuhnya itu.

Pada detik yang berbahaya, sekonyong-konyong terdengar suara keras dan papan loteng berlubang besar.

Kedua orang aneh itu terkejut.

"Siapa yang bersembunyi di atas? Turun!"

Membentak satu antaranya.

Mendadak dari atas terdengar suara "srr", disusul dengan menyambarnya sehelai sinar merah.

Kedua orang itu pucat mukanya.

Buru-buru mereka menekan lantai dengan kedua tangan dan badan mereka lantas saja melesat keluar dari pintu.

"Tong Siauw Lan!"

Teriak satu antaranya.

"Kau tak boleh melanggar janji!"

Yo Lioe Tjeng jadi seperti orang kalap bahna girangnya.

"Siauw Lan! Kau berada disini?"

Serunya. Hampir berbareng, dari lubang papan loteng melayang turun seorang pemuda yang parasnya cakap.

"Bukan. Aku Keng Thian,"

Katanya. Sesaat kemudian, Pengtjoan Thianlie pun turun ke bawah. Yo Lioe Tjeng yang baru pertama kali bertemu dengan si nona, jadi merasa sangat kagum.

"Aku tak nyana dalam dunia ada wanita yang begini cantik,"

Katanya di dalam hati. Ia melirik Keng Thian melirik puterinya sendiri dan kemudian menghela napas. Sementara itu, dengan rasa girang Tjee Tjiang Hee menghampiri dan mencekal baju Peng Go.

"Tjietjie,"

Katanya.

"Sekali ini kau tak boleh kabur."

Ia berpaling kepada ibunya dan berkata pula.

"Pada malam itu, Keng Thian Koko telah mabur tanpa bisa dicegah lagi. Tak tahunya ia kabur untuk mengubar Tjietjie ini."

Muka Peng Go lantas saja berubah merah karena ia ingat salah mengerti yang terjadi pada malam itu. Tanpa mengatakan suatu apa, ia bersenyum dengan perasaan jengah tercampur girang.

"Inilah puteri tunggal dari Kui Hoa Seng Pehpeh, namanya Peng Go,"

Keng Thian memperkenalkan kecintaanya kepada Yo Lioe Tjeng.

"Inilah Tjee Pehbo. Pada tiga puluh tahun berselang, beliau adalah Kangtong Liehiap Yo Lioe Tjeng yang namanya harum dalam Rimba Persilatan. Ayahku adalah adik seperguruannya."

Yo Lioe Tjeng tertawa girang.

"Benar, memang benar, dan kita semua bukan orang luar,"

Katanya sambil tertawa.

Ia menarik tangan Peng Go dan lalu mengajukan berbagai pertanyaan secara gembira sekali.

Sesudah menjawab pertanyaan-pertanyaan nyonya Tjee, Peng Go menengok kepada Keng Thian seraya berkata.

"Keng Thian, baik juga kau lekas-lekas melepaskan Thiansan Sinbong. Kedua orang itu liehay bukan main. Mungkin sekali Pengpok Sintan tak akan berhasil mengusir mereka."

"Keng Thian, kau lihatlah, aku sudah tua dan sangat pelupaan,"

Kata Yo Lioe Tjeng sambil tertawa "Aku belum menghaturkan terima kasih untuk pertolonganmu."

"Menurut pendapatku, Thiansan Sinbong yang dilepaskan olehku juga belum tentu bisa melukakan mereka,"

Kata Keng Thian.

"Mereka kabur karena ketakutan."

"Kenapa begitu?"

Tanya Peng Go.

"Aku rasa, lutut mereka patah karena dihajar dengan Thiansan Sinbong oleh ayahku,"

Jawabnya.

"Maka itu, mereka lantas kabur sebab menduga ayahku datang kembali"

"Benar,"

Kata Yo Lioe Tjeng.

"Tadi, selagi lari, mereka menyebut-nyebut nama ayahmu. Mungkin sekali ayahmu telah meluluskan untuk mengampuni jiwa mereka, maka barusan mereka mengatakan Siauw Lan tak boleh melanggar janji."

"Dilihat begini, jebakan di puncak itu telah dipasang oleh mereka,"

Kata Keng Thian.

"Kenapa mereka kebentrok dengan ayahku?"

"Jebakan apa?"

Tanya Yo Lioe Tjeng. Keng Thian lantas saja menceritakan peristiwa yang dialaminya, sehingga ia hampir-hampir binasa tertimpa batu besar. Nyonya Tjee jadi kaget tercampur girang.

"Kalau begitu, ayahmu benar berada disini,"

Katanya.

"Tapi gunung Himalaya begini besar. Kemana kita mencarinya? Ah? Dua puluh tahun lebih aku tak pernah bertemu dengan ayahmu."

Sambil berkata begitu, ia melirik Keng Thian dan Peng Go dan kemudian menghela napas.

"Sesuatu manusia mempunyai jodoh sendiri-sendiri, manusia tak dapat melawan nasib,"

Katanya di dalam hati.

Harus diketahui, bahwa di waktu masih gadis, Yo Lioe Tjeng pernah ditunangkan dengan Tong Siauw Lan.

Belakangan, karena tak ada kecocokan, pertunangan itu tidak terwujut dengan pernikahan.

Sesudah lewat banyak tahun, biarpun masing-masing sudah menikah, Yo Lioe Tjeng masih tidak bisa melupakan Siauw Lan sebagai kecintaannya yang pertama.

Tapi kecintaan itu adalah bebas dari segala arti yang jelek.

Lioe Tjeng sekarang mencintai Siauw Lan sebagai saudara sendiri, atau sedikitnya sebagai seorang sahabat karib.

Maka itulah pada waktu bertemu dengan Keng Thian, ia segera berniat untuk merangkap jodoh Tjiang Hee dengan pp~iuda itu.

Tapi tak dinyana, putera Tong Siauw Lan sudah mempunyai kecintaan lain.

Malam itu, mereka menginap di Hongto tay.

Pada besokan paginya, luka Keng Thian sudah sembuh sama sekali dan mereka lalu meneruskan perjalanan ke jurusan barat.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebelah selatan Himalaya.

Selagi enak berjalan, mendadak Peng Go terkejut karena jauh-jauh ia melihat bendera-bendera yang sangat besar jumlahnya.

"Keng Thian, apa tentara Nepal benar sudah datang kesini?"

Tanyanya.

"Mari kita menyelidiki,"

"Baiklah, aku akan mengantar kau,"

Kata pemuda itu.

"Tjee Pehbo, kalian tunggu saja disini. Sesudah menyelidiki, kami akan kembali untuk berdamai bagaimana baiknya." ' Sebagai gunung yang besar luar biasa di Himalaya terdapat banyak hutan-hutan yang belum pernah ditembus orang, sehingga jika orang bertemu dengan hutan begitu, ia terpaksa mengambil jalan mutar. Demikianlah, biarpun bendera-bendera yang dilihat Peng Go kelihatannya tidak seberapa jauh, tapi waktu berusaha untuk mendekatinya, beberapa kali mereka menyasar dan sesudah berjalan setengah harian, belum juga mereka sampai di tempat yang dituju.

"Dilihat begini, kita harus cari seorang pengunjuk jalan,"

Kata Keng Thian.

"Jangan mimpi,"

Kata si nona sambil tertawa.

"Dari mana kau mau cari pengunjuk jalan? Biarpun kau berani membayar seribu tail emas, tiada manusia yang bisa mengantar kau di gunung ini."

"Kau salah!"

Keng Thian mendadak berkata.

"Coba lihat! Apa disana bukan manusia?"

Peng Go mendongak dan melihat seorang yang sedang berlari-lari di puncak gunung seberang.

Orang itu yang gerakannya sangat gesit, ternyata tengah diubar lima orang yang di kepalai oleh seorang pendeta yang mengenakan jubah pertapaan warna merah.

Dilihat dari jauh, warna merah itu sangat menyolok mata.

"Orang yang dikejar adalah Liong Leng Kiauw!"

Teriak Keng Thian.

"Benar,"

Kata si nona.

"Pendeta yang mengejarnya tentulah si pendeta yang membongkar penjara."

"Mereka pasti mengandung maksud tak baik, mari kita cegat,"

Mengajak Keng Thian. Ketika itu Liong Leng Kiauw dan pengejar-pengejarnya sudah lari jauh sekali. Si nona mengangguk.

"Baiklah, kita ambil jalan dari samping gunung,"

Katanya.

Karena jarak antara kedua gunung itu tidak seberapa jauh dan juga sebab Keng Thian dan Peng Go memiliki ilmu mengentengkan badan yang lebih tinggi daripada Leng Kiauw dan si pendeta, maka belum cukup setengah jam, mereka sudah berada di sebelah depan si pendeta.

Ketika itu, Liong Leng Kiauw sudah mendaki puncak kedua, sedang beberapa boesoe Nepal lainnya masih ketinggalan jauh di belakang si pendeta.

Ternyata, selama berdiam beberapa hari di perkemahan tentara Nepal, Leng Kiauw tak hentinya mengasah otak.

Biarpun mempunyai cita-cita besar, perasaan hatinya masih tidak mengijinkan untuk menjadi pengkhianat bangsa yang mengajak tentara asing masuk ke dalam negeri sendiri.

Akhirnya ia mengambil keputusan untuk kabur dan lebih suka dibinasakan oleh kaizar Tjeng daripada jadi pengkhianat.

Ia bertujuan pergi ke Lhasa guna melaporkan kejadian itu kepada Hok Kong An.

Di luar dugaan, kaburnya telah diketahui oleh si pendeta asing yang lalu mengejar dengan mengajak beberapa boesoe.

Liong Leng Kiauw tidak berani mengambil jalanan di tanah datar dan terus mabur ke gununggunung.

Sesudah lari sehari dan semalam, ia naik semakin tinggi dan jalanan jadi semakin sukar.

Si pendeta asing yang bernama Taichiti dan berkedudukan sebagai Koksoe (guru negara) utama, terus mengejar sekeras-kerasnya dan waktu Leng Kiauw mendaki puncak yang kedua, jarak antara mereka hanya kira-kira seratus tindak.

Sesaat itu, mereka berada di tempat yang tertutup salju dan licin luar biasa.

Beberapa kali si pendeta mengempos semangat dan melompat tinggi, tapi ia selalu menyerosot lagi ke bawah karena licinnya jalanan.

Mendadak ia membuka jubah pertapaannya yang lalu digunakan untuk mengeredongi pundaknya, sehingga ia seolah-olah mempunyai dua sayap.

Sekali lagi ia melompat tinggi dan dengan bantuan jubah itu yang seperti "layar perahu"

Kakinya bisa hinggap di atas salju tanpa menyerosot ke bawah lagi. Ia tertawa terbahak-bahak dan berteriak.

"Lian Sianseng, rajaku telah memperlakukan kau sebagai tamu terhormat, tapi kenapa kau mabur tanpa pamitan lagi? Dengan menempuh bahaya, aku membawa kau datang kesini. Perbuatanmu itu sungguh-sungguh tidak memandang persahabatan."

Leng Kiauw tak menyahut, ia terus merayap ke atas dengan sepenuh tenaga.

"Lian Sianseng!"

Berseru pula si pendeta.

"Lebih baik kau lekas-lekas turun. Jika dicandak olehku, bisa terjadi kejadian yang kurang enak."

Ia melompat lagi dan naik setombak lebih. Selagi si pendeta tergirang-girang, tiba-tiba terdengar suara aneh, disusul dengan menyambarnya satu sinar merah. Buru-buru ia mengebas dengan jubahnya.

"Brt!" , jubah itu berlubang dan tidak bisa digunakan lagi sebagai "layar perahu" . Si pendeta yang tidak berwaspada terpeleset dan menyerosot turun beberapa tombak, hampir-hampir ia jatuh terguling. Jubah pertapaan itu dibuat dari benang emas dan ditambah dengan lweekang, kekuatannya melebihi sebuah tameng. Pada belasan hari berselang, dengan jubah itu, ia telah menyampok jatuh semua senjata rahasia yang dilepaskan oleh Tong Say Hoa. Maka itu, ia kaget tak kepalang ketika tahu jubahnya ditembuskan dengan senjata rahasia. Di lain saat, dari lamping gunung mendadak muncul seorang pemuda yang parasnya cakap sekali. Orang itu bukan lain daripada Tong Keng Thian yang tidak dikenal oleh si pendeta.

"Siapa kau?"

Bentaknya.

"Tak usah tahu!"

Jawabnya.

"Yang penting adalah aku tidak mempermisikan kau naik di gunung ini."

"Bocah! Besar benar nyalimu!"

Bentak si pendeta sambil mengebut dengan jubahnya.

Biarpun tahu pemuda itu mempunyai senjata rahasia yang sangat liehay, ia tak menjadi keder karena menganggap Keng Thian yang berusia begitu muda, pasti tidak memiliki ilmu silat berarti.

Maka itu, ia lantas saja mengebut dengan ilmu Thianlo kaytee (Jala langit menungkup bumi), serupa ilmu yang telah dilatih olehnya selama beberapa puluh tahun.

Melihat menyambarnya jubah itu dengan, tenaga yang dahsyat, Keng Thian terperanjat.

"Tak heran jika Tong Say Hoa dan Kim Sie Ie masih belum dapat menjatuhkannya,"

Pikirnya.

Tanpa berayal lagi, ia menghunus Yoeliong kiam dan menikam dengan pukulan Houwtek siadjit (Houwtek memanah matahari).

Sebagaimana diketahui, Yoeliong kiam adalah pedang mustika dari Thiansan pay, sehingga jangankan jubah, sedangkan tameng baja pun dapat ditembuskannya.

Dengan satu suara "bret!", diiring dengan sinar berkilauan, jubah itu berlubang besar.

Si pendeta kemekmek, buru-buru ia menarik pulang jubahnya dan melompat ke belakang, akan kemudian mengawasi pemuda itu dengan mata membelalak.

Di lain pihak, biarpun berhasil merobek jubah pertapaan itu dengan pedangnya, Keng Thian sendiri merasa lengannya sakit.

Di lain saat, pendeta itu sudah menyerang lagi dengan jubahnya.

Dengan satu dua kebutan saja, ia tahu tenaga pemuda itu sudah banyak berkurang.

Maka itu, tanpa menghiraukan kemungkinan jubahnya ditobloskan pula dengan pedang musuh, ia segera mengirim serangan berantai sambil memutar jubahnya bagaikan titiran.

Dengan menggunakan ilmu menggulung, ia ingin merampas pedang Keng Thian.

Sambil mengempos semangat, Keng Thian melayani dengan hati-hati sekali.

Sesudah lewat kira-kira dua puluh jurus, beberapa kali lagi jubah itu tertikam tembus, tapi si pendeta tidak memperdulikan dan terus menerjang bagaikan kerbau gila.

Beberapa saat kemudian, barulah Pengtjoan Thianlie tiba disitu.

Meskipun memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, tapi karena jalanan penuh rintangan dan pohon-pohon berduri dan juga karena Pengpok Hankong kiam tidak setajam Yoeliong kiam, maka si nona agak terlambat datangnya.

Melihat munculnya seorang wanita yang luar biasa cantik dan mengenakan pakaian serba putih, si pendeta yang lagi menyerang sambil berteriak-teriak jadi terkesiap dan melompat mundur beberapa tindak.

"Nepal dan Tiongkok adalah tetangga baik,"

Kata si nona.

"Kenapa kau merusak persahabatan itu? Di samping itu, kau juga berani melintasi perbatasan dan menculik orang. Lekas pergi!"

Suara si nona nyaring bagaikan kelenengan perak dan mengandung keangkeran yang luar biasa.

Si pendeta terkejut dan mundur lagi beberapa tindak.

Sebagai Koksoe utama dari Nepal, rajanya sendiri tak pernah bicara begitu terhadapnya.

Darahnya lantas saja naik dan sambil mengebas jubah pertapaannya, ia menanya dengan suara dingin.

"Siapa kau? Sungguh besar nyalimu, berani mencampuri urusan negaraku... ih!..."

Mendadak ia mengebut dengan jubahnya dan tanpa merasa ia bergidik, karena Peng Go sudah melepaskan sebutir Pengpok Sintan.

Sekonyong-konyong ia ingat suatu hal.

Dengan memiliki lweekang yang tinggi, Pengpok Sintan tak cukup hebat untuk menggetarkan badan si pendeta.

Tapi begitu ingat hal itu, badannya lantas saja bergemetaran dan parasnya berubah pucat.

Sebelum ia keburu berbuat apa-apa, tiba-tiba di belakangnya terdengar suara.

"Kongtjoe (Puteri), terimalah hormat kami!"

Ia menoleh dan melihat empat boesoe Nepal sudah berlutut di atas salju. Jantungnya memukul keras dan ia berkata dalam hatinya.

"Benar saja dia!"

Harus diketahui, bahwa Taichiti adalah Soeheng (kakak seperguruan) dari pendeta jubah merah yang dulu pernah naik ke istana es dan belakangan binasa dalam tangan Tan Thian Oe.

Waktu masih hidup, Soete itu pernah menuturkan pengalamannya di istana es dan hebatnya Pengpok Sintan, sehingga begitu ditimpuk dengan Sintan, ia segera menduga pasti, bahwa nona itu adalah Pengtjoan Thianlie.

Maka'itu, buru-buru ia memohon maaf kepada sang Puteri.

Pengtjoan Thianlie mengebas tangannya dan menegur dua boesoe yang berlutut paling depan.

"Aku pernah melarang kalian mengacau di Tiongkok, tapi kenapa sekarang kalian datang kembali?"

Kedua orang itu manggut-manggutkan kepalanya.

"Karena diperintah raja, hamba berdua tak berani membantah,"

Jawabnya dengan suara ketakutan.

"Dimana adanya rajamu?"

Tanya si nona "Dengan membawa tentara, beliau berkemah di selat sebelah selatan,"

Jawab satu antaranya "Kedatangan raja di kali ini justeru adalah untuk mencari Kongtjoe"

Kata Taichiti sambil bersenyum. • "Pertemuan ini sungguh menggirangkan, sehingga tentara kita terbebas dari kecapaian. Maka itu, kami memohon Kongtjoe sudi berkunjung ke perkemahan."

"Baiklah,"

Kata si nona "Aku memang mau cari dia."

Mendengar jawaban itu, bukan main girangnya si pendeta.

"Hilangnya Liong Leng Kiauw berbalik menjadi satu keberkahan,"

Pikirnya.

"Dengan berhasil mengundang Kongtjoe, pahalaku bukan main besarnya."

Ia lantas saja memerintahkan empat boesoe jalan di muka untuk membuka jalan dalam perjalanan pulang ke perkemahan.

Taichiti dan kawan-kawannya membawa tenda dan malam itu mereka menginap di atas gunung.

Besokan paginya mereka meneruskan perjalanan dan sesudah berjalan setengah harian, barulah lapat-lapat mereka mendengar suara berbengernya kuda.

"Kira-kira sejam lagi kita akan tiba di perkemahan,"

Kata Taichiti kepada si nona "Pertemuan dengan Kongtjoe akan menggirangkan sangat hatinya raja."

Peng Go tak menyahut, ia hanya mengangguk.

Sementara itu, hati Keng Thian terus berdebar-debar.

Sebenarnya ia sendirilah yang telah menganjurkan Peng Go pergi menemui raja Nepal, tapi sekarang, sesudah mereka berada dekat dengan raja tersebut, hatinya jadi berkuatir kalau-kalau pertemuan itu akan mengakibatkan kejadian yang tidak diingin.

Ia melirik kecintaannya yang bersikap tenang sekali.

Selagi Keng Thian berjalan dengan hati bimbang, tiba-tiba Peng Go mengeluarkan seruan tertahan dan si pendeta asing melompat dengan kaget.

Ia segera mengawasi ke arah yang diawasi mereka dan melihat bekas pukulan tongkat di atas sebuah batu besar yang licin.

Dilihat dari bekasnya, tak bisa salah lagi batu itu telah dipukul dengan tongkat Kim Sie Ie.

"Dia juga menulis beberapa baris huruf,"

Kata si nona Keng Thian segera mendekati dan membaca huruf-huruf itu yang ditulis di atas batu.

"Di antara manusia hina menghina adalah lumrah. Untuk apa manusia hidup terlalu lama? Kuingin memetik bintang di ruang angkasa, Menenangkan lautan Tonghay aman sentosa."

Sesudah membaca syair itu Keng Thian berdiri bengong.

Ia tak menduga, bahwa Kim Sie Ie yang gila-gilaan dapat menulis syair yang luhur artinya dan bebas dari segala rasa dendam terhadap sesama manusia.

"Apakah sifatnya berubah karena dia sudah mendekati ajalnya?"

Tanya Keng Thian di dalam hati.

"Ditinjau dari syairnya, ia seolah-olah hendak mendaki Tjoehong untuk mati di puncak gunung yang tinggi itu. Sungguh mengherankan."

Peng Go menghela napas panjang seraya berkata.

"Bagaimana kita bisa mencarinya di gunung yang begini besar dan luas?"

"Siapa dia?"

Tanya Taichiti.

"Seorang sahabat karib,"

Jawab si nona.

Mendengar jawaban itu, si pendeta terkejut karena sebagaimana diketahui ia pernah dihajar oleh Kim Sie Ie.

Tapi ia tak berani menanya lebih jauh, sebab si nona kelihatannya sedang berpikir keras dengan paras berduka.

Sesudah berjalan lagi beberapa lama, tibalah mereka di satu lembah yang sangat luas dimana terdapat ribuan tenda yang berderet-deret dan ribuan bendera yang berkibar-kibar dengan megahnya.

Ditambah dengan suara berbengernya kuda dan tentara yang menjaga dengan senjata terhunus, lembah itu memperlihatkan suatu pemandangan yang angker luar biasa.

Taichiti segera memerintahkan dua orang boesoe untuk melaporkan kedatangan Pengtjoan Thianlie kepada raja Berita itu tersiar dengan cepat sekali dan dalam sekejap mata, dengan berlomba-lomba ribuan atau laksaan serdadu Nepal menerobos keluar dari tenda mereka untuk melihat wajah sang puteri.

Semenjak mendiang Koksoe jubah merah kembali dari Puncak Es dan membawa warta tentang kecantikan dan kegagahan Pengtjoan Thianlie, di seluruh Nepal telah tersiar macam-macam cerita --yang satu lebih muluk dari yang lain --tentang puteri itu.

Sedari waktu itu, terutama sesudah raja memerintah secara sewenang-wenang, segenap rakyat mengharap-harap kedatangan puterinya Hoa Giok Kongtjoe, ahli waris tulen dari tahta kerajaan Nepal.

Maka itu tidaklah heran, begitu mendengar kedatangan Peng Go, tata tertib ketentaraan tidak dapat dipertahankan lagi dan bagaikan gelombang laut, laksaan serdadu menerobos keluar dari perkemahan mereka.

Dengan jubah yang berkibar-kibar karena ditiup angin dan dengan duduk tegak di atas punggung kuda, bagaikan seorang dewi yang baru turun dari kahyangan, Pengtjoan Thianlie mengawasi laksaan tentara itu yang menghampirinya bagaikan air bah.

Mendadak mereka menghentikan tindakan dan keadaan di lembah itu mendadak berubah sunyi senyap.

Semua orang, dari perwira sampai serdadu biasa, memandang wajah sang Puteri dengan rasa cinta dan kagum.

Tiba-tiba terdengar seruan "Banswee"

Yang bergemuruh!

Pengtjoan Thianlie bersenyum sambal mengulapkan tangan, sedang air mata berlinang-linang di kedua matanya.

Sedang seruan itu masih berkumandang di seputar lembah, sekonyong-konyong bendera raja bergerak dan tenda besar yang berwarna kuning terbuka, disusul dengan keluarnya raja Nepal yang menunggang gajah putih yang diiringi oleh para menteri serta pembesar agung.

Keadaan di lembah itu dengan serentak menjadi sunyi kembali.

Keng Thian dan Peng Go mengawasi sang raja yang parasnya kelihatan pucat sekali.

Mereka menduga, bahwa raja itu telah jadi ketakutan karena teriakan "Banswee"

Dari tentaranya dalam menyambut Peng Go.

(Banswee yang berarti laksaan tahun adalah panggilan untuk seorang raja atau ratu).

Dugaan mereka adalah tepat.

Sesudah menggerakkan tentara, siang malam raja membayangbayangkan, bahwa dalam tempo cepat ia akan bisa menikah dengan saudara sepupunya yang cantik bagaikan dewi.

Tapi seruan "Banswee"

Itu adalah bagaikan halilintar di tengah hari bolong.

Mendadak ia ingat, bahwa Peng Go adalah ahli waris tahta kerajaan Nepal dan hal itu dengan segala akibatnya sama sekali tidak diperhitungkan olehnya.

Waktu sudah berhadapan dengan si nona, rasa kuatir raja bercampur dengan rasa kagum yang sangat besar.

Kecantikan Peng Go ternyata melebihi dari apa yang pernah dibayangkannya.

Ia menatap wajah si nona tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Pengtjoan Thianlie sendiri menghadapi saudara sepupunya dengan sikap tenang dan sambil bersenyum, ia memberi hormat.

Seperti orang baru tersadar dari tidurnya, buru-buru raja melompat turun dari atas punggung gajah dan mempersilahkan Peng Go menunggang tunggangan kehormatan itu.

Melihat kecantikan yang angker dan dingin, sedikitpun ia tak berani berlaku kurang ajar dan dengan segala upacara kehormatan, Peng Go diiringi masuk ke dalam tenda raja Begitu masuk, raja segera memerintahkan disiapkannya meja perjamuan untuk menjamu si nona.

Ia mendongkol waktu Peng Go minta Keng Thian duduk di sampingnya, tapi ia tidak bisa berbuat lain daripada menahan sabar.

Sesudah minum beberapa cawan arak, hati sang raja mulai tenang, tapi sebelum ia bicara, Peng Go sudah mendului.

"Bolehkah kutahu, perlu apa Ong-heng (saudara raja) menggerakkan tentara dan datang kesini?"

"Untuk menyambut Piauwmoay pulang ke negara sendiri,"

Jawabnya. Paras muka si nona lantas saja berubah dan ia berkata pula dengan suara dingin.

"Walaupun aku terlahir di Tiongkok dan belum pernah menginjak negara sendiri, tapi ibuku sering memberitahukan tentang ajaran mendiang kakek raja Sebagai orang yang mewarisi tahta, masakah Ong-heng tak tahu ajaran kakek sendiri?"

Kata-kata yang berani itu sudah mengejutkan hatinya semua orang!

Sehabis berkata begitu, dengan matanya yang sangat tajam, si nona mengawasi raja, yang parasnya lantas saja berubah merah.

Sesudah menetapkan hati, ia tertawa getir seraya menanya.

"Ajaran apa? bolehkah Piauwmoay memberitahukanku?"

"Negara kita adalah sebuah negara kecil yang dalam banyak hal harus menyender kepada Tiongkok,"

Kata si nona.

"Maka itu, semenjak dulu, negara kita selalu mengikat tali persahabatan dengan Tiongkok. Menurut ajaran leluhur, kita tak boleh mengganggu wilayah Tionggoan. Tapi sekarang, mengapa Ong-heng sudah menggerakkan tentara dan melintasi daerah perbatasan?"

"Aku sama sekali bukan ingin mengganggu wilayah Tiongkok,"

Jawabnya.

"Karena tak ingin kau berkelana di negeri orang, maka aku sudah datang kesini untuk menyambut kau pulang ke negeri sendiri."

"Dalam hal ini sebenarnya Ong-heng boleh tak usah mencampuri,"

Kata si nona.

"Aku hidup dengan senang di Tibet dan jika aku ingin pulang, aku bisa pulang sendiri. Andaikata benar Ongheng ingin mengajakku pulang, Ong-heng bisa berbuat begitu tanpa menggerakkan Seantero tentara."

Raja Nepal kemekmek, tak dapat ia menjawab perkataan adiknya. Selang beberapa saat, Peng Go berkata pula dengan suara perlahan.

"Seantero tentara dari negara kita masih belum cukup untuk memenuhi sebuah lembah gunung Himalaya. Tindakan Ongheng dengan sesungguhnya tindakan yang terlalu ceroboh!"

Karena malu, raja Nepal menjadi gusar, tapi terhadap Peng Go yang cantik dan angker, ia tak berani sembarangan mengumbar napsu.

Sesudah menyapu para menteri dengan matanya yang sangat berpengaruh, si nona berkata pula.

"Dalam hal ini, kalian pun turut bersalah. Jika raja mau bertindak keliru, adalah kewajiban para menteri untuk mencegahnya!"

Menteri-menteri dan pembesar-pembesar tinggi itu tak berani mengangkat muka. Biarpun mendongkol, tiada satupun yang membuka mulut. Peng Go berdiam sejenak dan kemudian menyambung perkataannya.

"Meskipun ibuku telah meninggalkan negara sendiri, tapi ia telah dianugerahi Tiatkoen151 oleh Sian-ong (mendiang raja) dan dengan kekuatan Tiatkoen itu, ia masih boleh mencampuri urusan dalam negara Nepal. Tiatkoen sekarang berada dalam tanganku. Demi persahabatan dan kepentingan kedua negara, aku menasehati supaya Ong-heng segera menarik pulang tentara ini. Manakala Ong-heng tidak menyetujui, marilah kita menghimpunkan seantero barisan dan membentangkan pendapat-pendapat kita kepada mereka supaya mereka bisa menimbangnya dan memberi keputusan yang mengikat."

Raja Nepal terkesiap.

Ia merasa seperti juga kepalanya diguyur dengan air dingin.

Ia yakin, bahwa jika tentara Nepal dikumpulkan dan diminta pendapatnya, mereka pasti akan menunjang usul Pengtjoan Thianlie, yang mana bisa berarti tergulingnya ia dari tahta kerajaan.

Ia mengeluh dan menyesal, bahwa ia sudah cari-cari penyakit sendiri.

Sedang raja kebingungan, Keng Thian kegirangan, sebab ia tak menduga kecintaannya bisa bertindak begitu tegas.

Karena tiada jalan lain, sesudah menimbang-nimbang beberapa saat, raja menyerah juga.

"Baiklah,"

Katanya sambil tertawa getir.

"Akan tetapi penarikan tentara memerlukan persiapan beberapa hari. Di samping persiapan, kita juga harus memerintahkan orang untuk menyingkirkan salju yang menutup jalanan gunung."

Mendengar jawaban itu, paras muka si nona lantas saja berubah sabar dan bersinar terang.

"Kalau begitu, Ong-heng harus segera bertindak,"

Katanya. Sesudah soal yang penting dapat dibereskan, mereka lalu mulai makan minum dan bicara dengan gembira.

"Aku mendengar dulu Piauwmoay berdiam dalam istana es yang tak pernah atau sedikitnya jarang dikunjungi manusia,"

Kata sang raja.

"Apa kau tidak merasa kesepian?"

"Tidak, apalagi aku mempunyai banyak sekali dayang sebagai kawan,"

Jawabnya. Raja tertawa dan berkata pula.

"Sebagai seorang yang hidup di wilayah Tionggoan Piauwmoay tentu tahu ajaran orang Tionghoa. Lelaki harus menikah, sedang wanita harus keluar pintu. Itulah satu kemestian dari semua manusia. Jika berdiam terus di Puncak Es, bagaimana kau bisa memilih Hoema (suami seorang puteri raja)? Maka itu aku telah mengambil keputusan untuk menyambut kau pulang ke negeri sendiri, supaya aku bisa mengatur soal pernikahanmu."

Alis si nona berkerut dan ia berkata dengan suara mendongkol.

"Lebih baik Ong-heng mengurus saja urusan-urusan yang penting..."

"Apa pernikahanmu bukan urusan penting?"

Memotong raja.

"Aku adalah anggauta keluargamu yang terdekat. Mana bisa aku tak memikiri soal itu?"

Paras muka Peng Go lantas saja berubah.

"Soal pernikahanku tak perlu dipikiri Ong-heng,"

Katanya dengan ketus. Hati raja melonjak.

"Apa kau sudah memilih Hoema?"

Tanyanya.

Peng Go tak menyahut.

Perlahan-lahan ia mengangkat kepala dan melirik Keng Thian yang justeru sedang mengawasinya dengan sorot mata penuh kecintaan.

Si nona jadi kemalu-maluan dan ia menunduk dengan paras muka bersemu dadu.

Dengan sikap itu, siapapun juga bisa menduga, bahwa Keng Thian adalah pemuda yang sudah dipilih Pengtjoan Thianlie.

Mendadak saja, darah raja Nepal meluap, hatinya penuh dengan rasa mengiri dan cemburu.

"Siapa dia?"

Tanyanya dengan nada menghina.

"Ia adalah seorang Hiapkek (pendekar) ternama di wilayah Tionggoan,"

Jawab Peng Go dengan angkuh.

"Ia adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi, baik dalam ilmu surat, maupun dalam ilmu silat."

"Kongtjoe memuji terlalu tinggi,"

Kata Keng Thian.

"Di wilayah Tiongkok, orang yang seperti aku tidak bisa dihitung berapa banyaknya."

Sang raja mendongkol bukan main. Ia hanya mengeluarkan suara di hidung dan tidak berkata apa-apa lagi.

"Di kaki gunung masih terdapat beberapa orang sahabat,"

Kata Pengtjoan Thianlie.

"Bagus,"

Kata raja sambil berpaling kepada seorang perwira "Undanglah mereka semua."

Sambil berkata begitu, diam-diam ia mengambil keputusan mengenai tindakan yang akan diambil olehnya.

Malam itu, sekejappun ia tak pulas.

Di depan matanya terbayang-bayang wajah Pengtjoan Thianlie yang seolah-olah merupakan sekuntum mawar berduri, boleh dipandang, tak boleh dipegang.

Ia tahu Peng Go tak boleh dibuat gegabah, tapi ia merasa berat untuk melepaskannya dengan begitu saja.

Di lain saat, terbayang pula sikap si nona terhadap Keng Thian dan tiba-tiba saja hatinya jadi panas sekali.

"Tak boleh tidak aku mesti membinasakan bocah cilik itu,"

Pikirnya dengan rasa jelus.

Pada esokan paginya, ia kembali mengadakan perjamuan untuk para tamunya di tenda besar.

Dalam perjamuan itu, di samping Peng Go dan Keng Thian, juga turut hadir Tong Say Hoa bersama Tong Toan, Yo Lioe Tjeng bersama puterinya dan si kacung Kang Lam yang datang atas undangan raja Peng Go girang bukan main dan minta si nenek Tong duduk di sampingnya.

"Sungguh sukar kami mencari kau,"

Bisiknya.

"Bukankah kau berjalan bersama-sama Kim Sie Ie. Dimana dia?"

"Begitu tiba di kaki gunung, ia lalu meninggalkanku dan naik dengan kecepatan luar biasa,"

Jawabnya.

"Jika aku masih-muda, mungkin sekali aku masih dapat menyusulnya. Pemuda itu sungguh-sungguh aneh. Hai! Aku menanggung budi yang sangat besar dan mungkin sekali budi itu tak akan dapat dibalas olehku. Apakah kau pernah bertemu dengan Leng Kiauw?"

Sebelum Peng Go sempat menjawab, dari ruangan belakang tenda mendadak muncul sejumlah boesoe yang terdiri dari berbagai kebangsaan, antaranya terdapat orang Eropa, Arab, India dan sebagainya.

Tong Say Hoa mengawasi dengan hati berdebar-debar, karena di antara mereka terlihat juga Taichiti yang telah menculik Liong Sam.

Ia ingin sekali segera menanyakan si pendeta tentang Liong Leng Kiauw, tapi sebisa-bisa ia menahan napsu.

"Sudah lama aku mendengar, bahwa di Tiongkok terdapat banyak sekali orang pandai,"

Kata raja Nepal sambil tertawa.

"Kemarin Kongtjoe telah memuji Tong Tayhiap sebagai seorang yang berkepandaian sangat tinggi, sehingga aku merasa sangat kagum. Maka itu, dengan meminjam kesempatan ini, kapan para boesoe dari berbagai negara berkumpul disini, kami ingin meminta pengajaran dari Tong Tayhiap, supaya kami bisa membuka mata terlebih lebar."

Mendengar tantangan itu, Peng Go tersenyum.

"Dalam ilmu silat sebenarnya tiada perbedaan antara negara ini dan negara itu,"

Katanya.

"Dengan berkata begitu, Ong-heng seolah-olah ingin memisahkan orang-orang yang hadir disini menjadi dua rombongan."

"Tong Tayhiap adalah tamuku yang terhormat dan juga sahabat Piauwmoay,"

Kata raja dengan menyimpang.

"Maka itu, aku ingin sekali melihat kepandaiannya. Mari! Aku ingin memberi hormat kepada Tong Tayhiap dengan secawan arak ini!"

Melihat sinar mata raja yang luar biasa, Peng Go merasa curiga, tapi sebelum ia keburu mencegah, Keng Thian sudah menyambuti cawan itu dan mencegluk isinya.

"Siapakah yang ingin melayani Tong Tayhiap?"

Tanya raja. Taichiti bangun berdiri dan berkata sembari tertawa.

"Kemarin kusudah berkenalan dengan ilmu silat Tong Tayhiap, maka hari ini kuingin meminta pelajaran lebih jauh."

Ternyata pendeta itu sudah bersiap dengan dua macam senjata. Tangan kiri mencekal jubah pertapaan yang berwarna merah, sedang tangan kanannya memegang sebuah martil besar.

"Aku merasa sangat beruntung, bahwa Koksoe sudi memberi pelajaran kepadaku,"

Kata Keng Thian sambil menghunus Yoeliong kiam.

Raja segera menghadiahkan secawan arak kepada Koksoe-nya dan memerintahkan orang membuka tenda, supaya pertandingan bisa berlangsung dengan leluasa.

Tanpa berkata suatu apa lagi, Taichiti, segera mengebut dengan jubah pertapaannya.

"Jubahmu sudah ditambal cepat sekali!"

Kata Keng Thian sambil menangkis dengan pedangnya.

"Trang!" , si pendeta mendului menghantam Yoeliong kiam dengan martilnya dan Keng Thian terhuyung beberapa tindak.

"Piauwmoay, pujianmu yang muluk ternyata melebihi kenyataan yang sebenarnya,"

Kata raja dengan suara mengejek.

Si nona heran bukan main.

Biarpun Taichiti bertenaga besar, ia sama sekali tak percaya, bahwa Keng Thian dapat dipukul sempoyongan dalam satu gebrakan.

Ia merasa pasti, bahwa di dalam itu terselip apa-apa yang luar biasa Sesudah memperoleh hasil dalam jurus pertama, si pendeta segera menerjang seperti singa kelaparan.

Dengan jubah dan martil, ia mengirim serangan-serangan berantai secara ceroboh sekali, seakan-akan tak memandang Keng Thian sebelah mata.

Beberapa kali, garis pembelaannya terbuka lebar, tapi ia tak menghiraukannya dan terus menyerang secara membabi-buta.

Mendadak, bagaikan kilat, Keng Thian balas menyerang dengan pukulan Hoeihong tjeklioe (Angin puyuh mematahkan pohon lioe).

Yoeliong kiam berkelebat laksana kredepan kilat dan "brett!", jubah pertapaan si pendeta berlubang besar!

Keng Thian merangsek dan mengirim dua tikaman dengan beruntun sehingga si pendeta jadi gelagapan dan coba menangkis dengan martilnya secara sembarangan.

Apa mau pukulan martil itu meleset dan mengenakan sebuah batu besar yang lantas saja terpukul pecah.

Keng Thian menarik pulang pedangnya dan berkata sambil bersenyum.

"Maju lagi! Aku tak bisa menyerang seekor anjing yang sudah basah kuyup!"

Pengtjoan Thianlie lega hatinya.

"Ong-heng, kau lihatlah,"

Katanya sambil bersenyum manis.

"Jika Tong Tayhiap mengirim pula satu tikaman, bukankah Koksoe-mu yang terutama sudah melayang jiwanya?"

Paras muka raja jadi pucat, sekarang adalah gilirannya sendiri untuk terheran-heran.

Dalam niatannya untuk membinasakan pemuda yang dianggap sebagai saingannya, ia telah menggunakan racun.

Dalam poci arak yang tadi digunakannya terdapat dua kotak dengan alat rahasianya Arak dalam kotak yang satu sudah dicampur dengan semacam rumput beracun yang dinamakan Pekdjit tjoei (Mabuk seratus hari), sedang arak dalam kotak yang lain adalah arak biasa Dengan memijit alat rahasia, raja bisa menuang arak beracun atau arak biasa.

Yang diberikan kepada Keng Thian adalah arak beracun, sedang yang diminum Taichiti arak biasa.

Pekdjit tjoei adalah rumput yang tumbuh di pegunungan Himalaya dan dapat memabukkan manusia secara hebat sekali.

Tapi Keng Thian adalah seorang yang berpengalaman luas dan sangat berhati-hati.

Melihat paras sang raja yang luar biasa, hatinya merasa tak enak dan diamdiam ia sudah menelan sebutir Pekleng tan yang terbuat dari Thiansan Soatlian.

Sebagaimana diketahui, Teratai Salju dari Thiansan itu mempunyai khasiat untuk memunahkan segala macam racun.

Jangankan baru Pekdjit tjoei, sedangkan Khongtjiok tan (Nyali burung merak) yang banyak lebih hebat pun dapat dipunahkannya.

Sementara itu, Taichiti yang tahu, bahwa rajanya sudah turunkan tangan jahat, dan menduga, bahwa musuhnya bakal segera roboh karena lemas dan mabuk, sudah menyerang secara membabi-buta.

Ia sama sekali tak pernah mimpi, bahwa dirinya sendirilah yang ditipu oleh lawannya.

Dalam gebrakan pertama, Keng Thian berlagak terhuyung, sehingga dia jadi semakin besar hatinya dan kecerobohannya sudah mengakibatkan kekalahannya.

Sesudah mendapat pelajaran getir, Taichiti segera menyerang lagi dengan hati-hati.

Kedua lawan lantas saja bertempur dengan menggunakan Seantero kepandaiannya.

Dalam sekejap, mereka sudah bertanding seratus jurus lebih, tanpa ada yang keteter.

Jubah pertapaan berkelebat-kelebat bagaikan awan merah, sedang Yoeliong kiam yang menyilaukan mata menari-nari di tengah udara.

Semua orang mengawasi jalan pertempuran dengan hati berdebar-debar.

Sesudah kemarinnya mendapat pengalaman dalam pertempuran dengan Keng Thian, Taichiti tahu, bahwa pedang pemuda itu tajam luar biasa dan ia tak akan bisa mendapat kemenangan, jika hanya mengandalkan jubah pertapaan.

Maka itu, sekali ini ia menerjun ke dalam gelanggang dengan membawa juga sebuah martil besar yang beratnya kurang lebih delapan puluh kati.

Walaupun pedang mustika, Yoeliong kiam tak bisa membabat putus senjata yang begitu besar, apapula lweekang si pendeta ada lebih tinggi daripada tenaga dalamnya Keng Thian.

Dengan demikian biarpun pemuda itu mengeluarkan Thiansan Kiamhoat yang sangat liehay, sesudah bertempur ratusan jurus, ia belum juga bisa berada di atas angin.

Selagi pertempuran berlangsung dengan serunya, mendadak turun angin besar.

Angin di Himalaya memang terkenal hebat.

Bahwa tentara Nepal berkemah di suatu lembah, sebagian adalah untuk melindungi diri dari hawa dingin dan sebagian pula guna menyingkir dari serangan angin.

Bagi si pendeta, turunnya angin merupakan bantuan yang sangat besar.

Didorong dengan tenaga angin, setiap kebutan jubah jadi bertambah hebat dan dalam sekejap, badan Keng Thian seolah-olah dikurung dengan awan merah, Keng Thian berusaha keras untuk merobek pula jubah pertapaan si pendeta, tapi Yoeliong kiam selalu berbentur dengan martil.

Melihat jagonya berada di atas angin, raja bunga hatinya dan melirik Peng Go sambil mesemmesem.

Tong Say Hoa yang duduk di samping si nona jadi mendongkol dan berkata sambil menjebi.

"Dengan mendapat bantuan angin, meskipun menang orang tak boleh merasa bangga."

Mendengar perkataan si nenek yang juga menduga, bahwa Keng Thian bakal kalah, hati Peng Go jadi semakin berkuatir.

Sementara itu, dengan gembira Taichiti menyerang semakin hebat, sehingga beberapa kali Keng Thian terpaksa melompat mundur.

Tiba-tiba pemuda itu tertawa nyaring dan berkata.

"Kau menggunakan dua macam senjata, sedang aku hanya mempunyai sebatang pedang. Pertempuran ini agak kurang adil."

Si pendeta tertawa dingin.

"Aku tak pernah melarang kau menggunakan dua macam senjata,"

Katanya dengan sombong.

"Kalau begitu, baiklah,"

Kata Keng Thian seraya mengayun tangan kirinya.

Dengan serentak sejumlah sinar merah menyambar dengan saling susul dan jubah pertapaan Taichiti ditobloskan dengan belasan Thiansan Sinbong.

Bukan main kagetnya si pendeta.

Sebelum ia dapat berbuat suatu apa, Keng Thian sudah mengayun pula tangan kirinya dan membentak.

"Lepas jubahmu!"

Beberapa Thiansan Sinbong kembali menobloskan jubah itu dan mengenakan tangan si pendeta yang mencekalnya.

Sambil mengeluarkan teriakan kesakitan, Taichiti melepaskan jubahnya yang lantas saja terbang ke atas karena tiupan angin dan di lain saat sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.

Sambil menundukkan kepala, Koksoe itu lalu menghilang di antara tenda-tenda yang ribuan jumlahnya.

Keng Thian membungkuk kepada raja dan berkata sambil bersenyum.

"Koksoe nomor satu dari negara Nepal memang sangat tinggi ilmunya."

Mendengar sindiran itu, raja merasa gusar sekali tapi ia merasa malu untuk mengumbar napsu.

Ia bingung karena orang pandai yang diundang olehnya belum juga datang dan untuk menutupi rasa malu, ia terpaksa berkata sambil tersenyum getir.

"Dalam negaraku, setiap serdadu dilatih masak-masak dalam ilmu perang, baik ilmu menunggang kuda, maupun ilmu melepaskan anak panah. Kami bukan hanya memperhatikan satu-dua boesoe yang berilmu tinggi."

Mendengar keterangan itu, Tong Say Hoa tertawa dingin.

"Apakah betul?"

Ia menegas.

"Kalau tidak berkeberatan, aku mohon baginda memanggil beberapa jago melepaskan anak panah supaya aku si tua menambah pengalaman."

Muka raja lantas saja berubah merah padam karena gusar.

Dengan sekali mengebas tangan, dari dalam beberapa tenda lantas saja keluar empat orang boesoe yang masing-masing membawa sebuah busur besar.

Mereka itu adalah guru yang mengajar tentara Nepal dalam ilmu melepaskan anak panah.

Sambil menunjuk ke empat jagonya itu, raja berkata kepada Keng Thian.

"Mereka itu adalah serdadu pilihan dari barisan anak panah. Apakah Tayhiap bersedia untuk mengadu ilmu dengan mereka?"

Dengan memperkenalkan empat guru itu sebagai serdadu biasa, raja berlaku licik sekali.

Jika Keng Thian menang, kemenangan itu tiada artinya, tapi kalau kalah, ia akan kehilangan muka, karena sudah dikalahkan oleh orang-orang yang tidak ternama.

Keng Thian bersenyum, tapi sebelum ia sempat menjawab, Tong Say Hoa sudah mendului.

"Dalam permainan bocah cilik itu. Tong Tayhiap tak perlu turun tangan sendiri. Hawa disini lembab dan dingin, sehingga urat-uratku kaku. Biarlah aku saja yang turun untuk main-main sedikit guna melemaskan urat."

Sambil berkata begitu, ia segera berjalan masuk ke dalam gelanggang. Bukan main gusarnya raja.

"Biarpun negeraku kecil, tapi setiap orang yang berada dalam tentaraku adalah laki-laki sejati,"

Katanya dengan suara dingin.

"Dan sebagai laki-laki sejati, mereka tentu sungkan menghina seorang nenek tua!"

Tong Say Hoa mengeluarkan suara di hidung.

"Hra!"

Katanya dengan nada menyindir.

"Memang, memang usiaku sudah lanjut. Kalau disuruh menjahit, memang kutak bisa. Tapi kalau main panah... huh-huh! Jika baginda tidak memperkenalkan mereka sebagai jago-jago pilihan, belum tentu aku kesudian menghadapi bocah-bocah itu!"

Raja mengawasi si nenek dengan sorot mata membenci.

"Jika kau mau cari mampus, akupun tak bisa menolong,"

Katanya di dalam hati. Ia mengangguk seraya berkata.

"Baiklah. Serdaduku menggunakan busur nomor satu. Busur nomor berapakah yang ingin digunakan olehmu?"

Sebaliknya dari menjawab pertanyaan orang, si nenek berteriak.

"Ambil secawan arak untuk menambah semangatku!"

Sementara itu, beberapa serdadu sudah mengeluarkan sejumlah busur, dari yang besar sampai yang paling kecil.

"Lootaytay (nyonya tua), beratnya busur yang paling besar kurang lebih seratus kati, sedang yang paling kecil kira-kira dua puluh kati,"

Kata raja.

"Kau boleh memilih yang manapun juga. Dalam pertandingan ini, sebaiknya Lootaytay berlaku hati-hati."

Si nenek menyengir dan berkata dengan suara adem.

"Aku tak biasa menggunakan busur. Di negeriku, orang bisa balas menyerang lawannya dengan tangan kosong. Apakah jago-jagomu belum pernah mempelajari ilmu itu?"

Ilmu melepaskan anak panah tanpa menggunakan busur belum pernah dikenal di Nepal dan oleh karenanya, raja tak percaya omongan si nenek.

Ia hanya menduga, bahwa orang tua itu sudah mengaco belo sebab tak kuat menggunakan busurnya yang paling kecil.

Ia tentu saja tak tahu, bahwa di wilayah Tionggoan, keluarga Tong dikenal sebagai ahli melepaskan senjata rahasia nomor satu di kolong langit.

Setindak demi setindak, dengan gerakan loyo, Tong Say Hoa masuk ke dalam gelanggang dan lalu duduk di tengah-tengah dengan napas agak tersengal-sengal.

Melihat lagak si nenek, ke empat jago Nepal jadi merasa bingung.

Sebagai guru-guru ternama, mana mereka tega menyerang seorang tua yang tidak bersenjata?

"Eh-eh!

Mengapa kamu diam saja?"

Tanya si nenek.

"Apa kamu tak berani melawan aku si tua?"

Dua antara ke empat guru itu mengerti bahasa Han dan satu antaranya tak dapat menahan sabar lagi "Baiklah,"

Katanya.

"Aku akan memanah tusuk konde giok di atas kepalamu. Hati-hati, jangan bergerak!"

Berbareng, dengan menjepretnya busur, sebatang anak panah menyambar ke atas kepala Tong Say Hoa.

Si nenek memperlihatkan sikap acuh tak acuh.

Begitu lekas anak panah mendekati kepalanya, bagaikan kilat tangannya bergerak dan anak panah itu sudah kena ditangkap.

Sambil tertawa dingin, ia menancapnya di tanah seraya berkata.

"Eh, mengapa yang lain tidak memanah?"

Si guru terkejut dan lalu melepaskan anak panah yang kedua.

Seperti yang pertama, anak panah itu juga ditangkap dengan mudah sekali dan lalu ditancap di tanah.

Seorang kawannya jadi gergetan dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memanah tenggorokan Tong Say Hoa.

"Celaka!"

Seru si nenek sambil membuka mulutnya dan anak panah itu lantas saja masuk ke dalam mulut.

"Ah! Mengapa kau membinasakan dia?"

Kata seorang guru lain dengan suara menyesal. Mendadak Tong Say Hoa membuka mulutnya dan menyemburkan anak panah itu yang lantas saja menancap di tanah.

"Baik juga gigiku masih cukup kuat,"

Katanya sambil tertawa. Ilmu menangkap senjata rahasia dengan menggunakan gigi adalah salah satu ilmu istimewa dari keluarga Tong.

"Hei!"

Seru si nenek.

"Mengapa kamu begitu tolol? Sudah begitu lama, baru melepaskan tiga batang yang tiada artinya!"

Sekarang keempat guru itu benar-benar gusar.

Dengan berbareng empat busur menjepret dan bagaikan kilat empat batang anak panah menyambar.

Dengan tubuh tak bergerak, tangan Tong Say Hoa bekerja.

Dalam sekejap, di seputar tempat duduknya sudah penuh dengan anak panah yang merupakan pagar.

Dengan kedua tangan terus menangkap anak-anak panah yang menyambar-nyambar, si nenek berteriak berulang-ulang.

"Terlalu lambat! Cepat! Cepat sedikit!"

Hati keempat guru itu panas bukan main.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, mereka segera memanah dengan menggunakan ilmu Liantjoetjian (Anak panah berantai) yang terkenal liehay.

Bagaikan hujan gerimis, anak-anak panah itu lalu menyambar-nyambar dengan saling susul dan tidak henti-hentinya.

Tong Say Hoa lantas saja mengubah gerakan tangannya.

Begitu menangkap, ia melontarkan dan anak panah yang dilontarkan membentur anak panah yang lain, yang lantas saja mengikut terbang balik.

Dengan menggunakan Iweekang yang sangat tinggi, ia balas menyerang, tapi ia juga sungkan melukakan orang dan anak-anak panah itu menancap di seputar ke empat jago Nepal tersebut.

Muka keempat guru itu jadi pucat bagaikan mayat.

Dalam sekejap, semua anak panah yang tersimpan dalam kantong senjata, sudah habis digunakan.

Tiba-tiba si nenek berteriak.

"Awas! Jaga busurmu baik-baik!"

Sambil mengempos semangat, ia mengayun kedua tangannya dan melemparkan empat batang anak panah yang terakhir.

Bagaikan kilat dan dengan suara nyaring, empat batang anak panah itu menyambar dengan dahsyatnya.

Keempat orang itu terkesiap.

Untuk menolong jiwa, mereka menangkis dengan busur yang dicekalnya.

Berbareng dengan terdengarnya suara "pletak!"

Empat busur itu patah serentak!

Dengan kemalu-maluan, mereka melemparkan busur mereka di tanah dan lalu mundur sambil menundukkan kepala.

Perlahan-lahan Tong Say Hoa bangun berdiri dan sambil berpaling kepada raja, ia berkata seraya bersenyum.

"Bagaimana? Bagaimana dengan kepandaian si nenek tua?"

Muka raja merah padam, bahna malu dan gusarnya. Si nenek kembali mesem dan sambil menggapai, ia berteriak.

"Lioe Tjeng! Cobalah kau memperlihatkan serupa pertunjukan untuk menambah kegembiraan."

Ketika itu, angin sudah mereda dan kawanan burung pada terbang masuk ke dalam lembah untuk melindungi diri dari serangan salju dan angin di luar lembah.

Lioe Tjeng segera mengeluarkan busur dan peluru sambil menuding dua baris burung gan yang sedang terbang di angkasa, ia berteriak.

"Peluru pertama akan menghantam mata kiri burung gan di barisan sebelah kiri, peluru kedua akan mengenakan mata kanan burung yang terbang di barisan sebelah kanan!"

Hampir berbareng, busur yang dicekalnya menjepret dua kali dan sesaat kemudian, dua ekor burung melayang turun ke bumi.

Dua antara guru panah yang barusan dijatuhkan oleh si nenek, segera memungut dua bangkai burung itu dan memeriksa lukanya.

Mereka kagum bukan main karena luka kedua burung itu adalah tepat dengan yang dikatakan Lioe Tjeng.

Itulah serupa kepandaian yang benar-benar belum pernah dilihat mereka.

Mau tak mau, raja pun mengakui keliehayan lawan dan ia hanya bisa mengawasi dengan mulut ternganga.

Sesudah memperlihatkan kepandaiannya, si nenek bersama Yo Lioe Tjeng segera kembali ke tempat duduknya.

Raja Nepal jadi semakin bingung.

"Apakah orang-orang Han ini dewa-dewi yang turun ke dunia?"

Tanyanya di dalam hati.

"Racun yang1 hebat tak dapat mencelakakannya, sedang seorang nenek bangkotan mempunyai kepandaian yang begitu luar biasa."

Ia tak bisa mendapat jalan yang baik guna menjatuhkan Keng Thian, sedang seorang berilmu yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba seorang boesoe bangsa Eropa yang berambut kuning dan bermata biru bangun berdiri dan mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti oleh Peng Go dan kawan-kawannya.

Seorang juru bahasa segera menyalinnya.

Orang Eropa itu, yang bernama Smith mengatakan, bahwa ia mendengar di Tiongkok terdapat ilmu menotok jalanan darah yang dapat membinasakan manusia.

Menurut katanya di Eropa pun terdapat ilmu semacam itu yang dapat menghentikan pengaliran darah.

Maka itu, ia ingin sekali bisa menjajal ilmu dengan seorang ahli Tionghoa.

Keng Thian jadi gembira, tapi sebelum ia menyambut tantangan itu, tiba-tiba Kang Lam bangun berdiri sambil tertawa haha-hihi.

"Tong Tayhiap, tanganku gatal sekali,"

Katanya.

"Bolehkah kuturun tangan dalam gebrakan ini?"

"Bagus!"

Kata Keng Thian sambil mengangguk.

"Hampir-hampir aku lupa, bahwa di antara kita terdapat seorang ahli tiamhiat."

Kang Lam girang bukan main dan sambil tertawa-tawa, ia melompat ke tengah gelanggang.

Melihat yang maju ke gelanggang adalah seorang bocah cilik, raja jadi mendongkol, tapi teringat pengalamannya dengan si nenek, ia tak berani memandang enteng lagi.

Di lain pihak, boesoe Eropa itu berteriak-teriak sambil menuding Kang Lam.

Ia ternyata merasa tak senang karena dihadapi dengan tandingan bocah cilik.

Si nakal yang tak mengerti bahasa itu, segera menuding lawannya dan mengeluarkan kata-kata seperti yang dikatakan oleh orang itu.

Si boesoe Eropa jadi gusar bukan main dan sambil membentak keras, ia menubruk.

Karena melihat Kang Lam yang masih kekanak-kanakan, ia merasa tak tega untuk menyerang dengan menggunakan ilmu "menutup jalanan darah"

Dan hanya ingin memberi hajaran kepada si bocah yang dianggap kurang ajar sekali.

Tapi di luar dugaan, Kang Lam yang pernah mempelajari ilmu Tjoanhoa yauwsoe (Bermain-main di antara bunga dan pohon) di hutan batu, licin bagaikan lindung dan tak dapat ditangkap atau dihajar dengan begitu saja.

Sebagai akibatnya, apa yang tertampak dalam gelanggang bukanlah pertempuran, tapi semacam main petak yang menggelikan hati.

Boesoe Eropa itu naik darahnya.

"Jika kau terus main gila, kutak akan sungkan-sungkan lagi!"

Teriaknya.

Kang Lam menyengir dan lalu berteriak dengan meniru kata-kata itu.

Si boesoe tak dapat menahan sabar lagi dan lalu mengeluarkan semacam senjata yang luar biasa.

Senjata itu yang terbuat daripada perak, menyerupai gagang pena dan panjangnya kurang lebih tujuh dim, dengan kedua ujungnya berbentuk lancip.

Begitu mencabut senjata, begitu ia menusuk.

Kang Lam melompat ke belakang, tapi...

"gagang pena"

Perak itu mendadak mulur beberapa dim dan menyentuh dada.

Ternyata senjata itu diperlengkapi dengan alat rahasia, sehingga bisa pendek dan bisa panjang.

Begitu tertotok Kang Lam merasa badannya kesemutan.

Pada hakekatnya, ilrhu menutup jalanan darah dari si orang Eropa adalah bersamaan dengan tiamhoat dari orang Tionghoa.

Dengan memperhatikan jam dan menit, ia bisa menotok dan menghentikan aliran darah di tubuh lawannya.

Tapi sebagaimana diketahui, dari Hongsek Toodjin Kang Lam telah mendapat serupa ilmu untuk mengacaukan jalan darah sendiri, sehingga walaupun jalanan darahnya tertotok, ia tak roboh.

Ia hanya merasa kesemutan, tapi tak sampai terluka.

Melihat si-bocah tak bergeming karena totokannya, bukan main kagetnya si boesoe Eropa.

Dengan cepat ia segera menusuk lagi, sekali ini ke arah pergelangan tangan Kang Lam.

"Setan!"

Bentak si bocah sambil menyambut dengan pukulan Soentjhioe kianyo (Tangan menuntun kambing) yang ia dapat dari Tan Thian Oe.

Dengan satu tangan ia menangkap sikut si boesoe dan tangannya yang lain coba merampas senjata lawan.

Tapi si orang Eropa mempunyai tenaga yang sangat besar.

Dengan sekali menggentak, Kang Lam terhuyung, dan hampir berbareng "gagang pena"

Itu mengeluarkan jarum tajam yang lalu ditusukkan ke lutut si bocah.

Kali ini pena itu bukan digunakan untuk menutup jalanan darah, tapi dipakai sebagai jarum injeksi.

Harus diketahui, bahwa "gagang pena"

Tersebut terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah "gagang pena"

Itu sendiri, bagian kedua jarum tumpul yang digunakan untuk menotok jalanan darah dan bagian ketiga jarum tajam yang digunakan untuk menginjeksi racun ke dalam tubuh musuh.

Begitu tertusuk Kang Lam mengeluarkan teriakan kesakitan dan ia merasa lututnya lemas baal.

Ia menduga, bahwa jalanan darahnya kena ditotok dan lalu berteriak dengan suara gusar "Bangsat!

Apa kau kira, hanya kau yang bisa tiamhiat?

Jaga totokanku!"

Ia melompat sambil menotok dengan jerijinya yang mengenakan tepat pada jalanan darah Hoen-hiat, di bawah katek lawannya.

Boesoe Eropa itu mengaum seperti harimau terluka dan roboh tanpa berkutik lagi.

Sesudah lawannya roboh, dengan terpincang-pincang ia menghampiri Keng Thian seraya berkata.

"Tong Tayhiap, ilmu mengacau aliran darah tak manjur lagi. Coba tolong buka jalanan darahku."

Keng Thian segera memeriksa luka si bocah dan melihat lutut itu bengkak merah.

"Kau bukan kena ditotok,"

Katanya sambil tertawa.

"Minum saja secawan arak."

Sehabis berkata begitu, diam-diam ia memasukkan sebutir Pekleng tan ke dalam cawan yang berisi arak, yang lalu diberikan kepada Kang Lam.

Benar saja begitu mencegluk arak, rasa kesemutan dan baal pada lututnya lantas saja hilang.

Sambil tertawa haha-hihi Kang Lam berpaling kepada raja dan berkata.

"Baginda, jagoanmu benar-benar tak tahu malu! Dia bukan mengunakan ilmu tiamhoat, tapi jarum beracun. Lihatlah! Aku sudah merobohkannya dengan ilmu tiamhoat tulen. Dalam pertandingan ini, akulah yang menang, bukan?"

Selebar muka raja jadi merah karena malu dan gusar.

Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata, sebab jagonya memang sudah dikalahkan.

Tiba-tiba beberapa boesoe Eropa lainnya berteriak-teriak.

Sesudah gagal dalam usaha menolong kawannya yang dirobohkan Kang Lam, mereka menduga jiwa kawan itu sudah tak bisa ditolong lagi.

Maka itu, mereka berteriak-teriak untuk minta Kang Lam mengganti jiwa.

Sesudah maksud teriakan itu diterangkan oleh juru bahasa Kang Lam menjebi dan berkata dengan suara nyaring.

"Hei! Kamu sungguh-sungguh tak mengenal malu! Siapa suruh dia menantang? Siapa suruh dia mencari mampus? Minta ganti jiwa? Tak malu kamu!"

Raja Nepal pun menganggap, bahwa permintaan mengganti jiwa adalah tak pantas.

Seorang yang berani maju ke dalam gelanggang pertandingan silat, memang harus bersedia untuk dibinasakan oleh lawannya.

Maka itu, ia lalu berkata dengan suara memohon.

"Benar. Memang benar kami tak berhak untuk minta ganti jiwa. Tapi apakah Siauwhiap (pendekar kecil) dapat menolongnya?"

Kang Lam girang setengah mati karena ini adalah untuk pertama kali orang memanggil "Siauwhiap"

Kepadanya. Dengan paras muka berseri-seri, ia berkata.

"Aku... aku... Guruku hanya mengajar tiamhiat, belum pernah mengajar kayhiat (membuka jalanan darah). Siapa suruh dia banyak lagak? Kalau tak punya kemampuan, paling baik jangan menentang orang."

Raja merasa putus harapan.

"Habis bagaimana baiknya?"

Tanyanya pula.

"Ada jalan,"

Kata Kang Lam sambil menunjuk Keng Thian.

"Siauwhiap tak mampu, tapi ada Tayhiap. Tong Tayhiap bukan saja bisa membuka jalanan darah, tapi ia malah mampu menghidupkan manusia yang sudah mati."

Raja jadi girang dan lalu memohon pertolongan pemuda itu. Keng Thian merasa geli dalam hatinya.

"Baiklah,"

Katanya sambil tertawa.

"Aku boleh mencobacoba, tapi belum tentu berhasil. Mintalah orang-orang yang berkerumun menyingkir ke pinggir."

Raja segera memerintahkan juru bahasa memberitahukan boesoe-boesoe Eropa itu yang lantas saja membuka jalan untuk Keng Thian.

Tapi pemuda itu tidak bergerak dari tempat berdirinya.

Ia hanya membungkuk dan memungut sebutir batu kecil yang lalu dilontarkan ke arah si boesoe yang menggeletak di tanah.

Begitu lekas batu itu menyentuh alisnya, ia mengeluarkan teriakan keras dan di lain saat, ia sudah bisa bangun berdiri!

Melihat kepandaian yang luar biasa itu, semua orang kaget berbareng kagum.

Si boesoe yang ditolong dan beberapa kawannya segera menghampiri dan menghaturkan terima kasih kepada Keng Thian.

Selagi Kang Lam tertawa haha-hihi dengan gembiranya, tiba-tiba suasana berubah.

Raja dan semua orang Nepal yang berada disitu kelihatan kaget, seolah-olah terjadi suatu perubahan yang luar biasa!

Sekonyong-konyong Raja Nepal mengeluarkan teriakan girang dan bangun berdiri.

Di lain saat, dari sebelah kejauhan kelihatan muncul dua orang aneh yang pincang kedua kakinya dan mendatangi dengan menggunakan tongkat.

Mereka itu bukan lain daripada si orang aneh yang ingin memutuskan kedua kaki Kang Lam di Honghotay.

Melihat mereka, si bocah mengeluarkan keringat dingin dan tak berani tertawa lagi.

Di pundak salah seorang terdapat satu jubah pertapaan warna merah, milik Taichiti yang tadi terbang ditiup angin dan yang telah diketemukan mereka.

Begitu tiba, dengan mata yang sangat tajam, mereka menyapu semua orang yang berada disitu.

Tiba-tiba orang yang membawa jubah mencabut sebatang Thiansan Sinbong dari jubah itu.

"Siapa punya senjata ini?"

Tanyanya. Raja buru-buru bangun dari kursinya dan memperkenalkan mereka.

"Ini adalah Tong Tayhiap, seorang pendekar kenamaan di wilayah Tionggoan. Kedua tuan itu adalah orang-orang beribadat yang sangat terkenal namanya di negeri Arab. Yang di sebelah kiri adalah Tunhuman dan yang di sebelah kanan Asia. Guru mereka adalah seorang yang berilmu paling tinggi di daerah Eropa Timur dan di negara Arab."

Keng Thian membungkuk sambil merangkap kedua tangannya.

"Sinbong itu adalah milikku,"

Katanya. Kedua orang aneh itu menatap wajah Keng Thian dan sambil memberi hormat, salah seorang berkata.

"Kami merasa beruntung, bahwa kita bisa bertemu pula di tempat ini. Kami ingin sekali meminta pelajaran dari Tong Tayhiap."

Mendengar perkataan itu, raja merasa heran, karena ia tak menduga, bahwa mereka sudah pernah bertemu muka.

Sebagaimana diketahui, pada malam itu di Honghotay, Tunhuman dan Asia tidak, bertemu muka dengan Keng Thian dan mereka kabur karena diserang dengan Thiansan Sinbong.

Tadi, ketika memungut jubah pertapaan Taichiti di luar lembah, mereka mendapatkan senjata rahasia itu yang menancap di jubah tersebut dan oleh karenanya, mereka menganggap, bahwa orang yang menjadi tamu Raja Nepal adalah Tong Siauw Lan.

Sesudah menimbang-nimbang beberapa lama, dengan memberanikan hati, mereka datang juga ke lembah itu.

(Bercacatnya kaki mereka adalah sebab diserang dengan Thiansan Sinbong oleh Tong Siauw Lan).

Sekarang, melihat Tong Siauw Lan tidak berada disitu, hati mereka jadi lega dan segera menantang Keng Thian.

Mendengar tantangan itu, Keng Thian segera berkata dengan suara tenang.

"Harap Djiewie sudi mengusulkan caranya kita mengadu ilmu."

Sambil berkata begitu, diam-diam ia memutar otak untuk mencari jalan guna memunahkan pukulan Imyang Tjianglek dari kedua lawan itu. Sesudah berdamai dengan bisik-bisik, Tunhuman berkata.

"Kami berdua mendapat pelajaran dari satu guru. Menurut kebiasaan, melawan satu orang, kami maju berdua, melawan seribu orang, kami pun maju berdua. Maka itu, dalam pertandingan melawan Tayhiap, kami pun harus maju dengan berbareng,"

Keng Thian terkejut.

Jika melawan satu orang, mungkin ia masih bisa memperoleh kemenangan, tapi kalau mereka maju dengan berbareng, ia merasa tak ungkulan untuk memecahkan Imyang Tjianglek.

Sedang hatinya keder, paras mukanya sedikitpun tidak berubah, sebab ia tahu, tak dapat ia memperlihatkan kelemahan di hadapan Raja Nepal.

Ia mengangguk seraya menjawab.

"Bagus! Bagus! Biarlah dengan sendirian aku menghadapi kalian berdua."

"Tong Tayhiap adalah tamu terhormat dari paduka raja, sehingga jika kita bertanding secara boe (dengan menggunakan kekerasan, berkelahi sungguh-sungguh), aku kuatir akan merenggangkan persahabatan,"

Kata Tunhuman. Keng Thian girang.

"Baiklah,"

Katanya.

"Kalau begitu, kita menjajal tenaga secara boen saja (tanpa menggunakan kekerasan, tanpa berkelahi betul-betul). Sudikah Djiewie mengajukan usul?"

"Biarlah kita bertanding dalam ilmu mengentengkan badan,"

Kata Tunhuman. Mengapa mereka mengajukan usul itu? Sesudah dirobohkan oleh Tong Siauw Lan, hati mereka selalu merasa keder. Mendengar Keng Thian she "Tong"

Dan juga pandai menggunakan Thiansan Sinbong, mereka sudah menduga, bahwa pemuda itu adalah puteranya Siauw Lan yang mungkin sekali memiliki kepandaian tinggi.

Maka itu, mereka tidak berani menantang untuk bertempur secara boe.

Usul itu sudah mengejutkan semua orang, terhitung juga Keng Thian.

Tulang lutut kedua orang itu dihancurkan Thiansan Sinbong dan biarpun sudah diobati sekian lama, mereka masih memerlukan tongkat untuk berjalan.

Dengan adanya kenyataan tersebut, usul itu sungguhsungguh tak bisa dimengerti.

Sementara itu, sambil bersenyum Tunhuman sudah berkata pula.

"Tempat yang menjadi titik terakhir dari perlombaan kita adalah puncak gunung yang terletak di sebelah selatan. Siapa yang tiba lebih dulu di atas puncak, dialah yang menang."

Tong Say Hoa tertawa dingin.

"Tapi di pihakmu terdapat dua orang,"

Katanya.

"Bagaimana jika yang satu tiba lebih dulu dan yang lain tiba lebih belakang dari Tong Tayhiap?"

"Kalau menang, kami harus menang berdua, jika kalah, kami kalah berdua,"

Jawab Tunhuman.

"Jika salah satu di antara kami berada di belakang Tong Tayhiap, kamilah yang kalah."

Tong Say Hoa tidak dapat mengatakan suatu apa lagi, karena jawaban itu justeru menguntungkan Keng Thian.

Tunhuman mencegluk secawan arak dan kemudian melemparkan cawan kosong ke tengah udara.

Ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata.

"Udara sangat bagus, sekarang saja kita mulai. Kalau turun angin, kita sukar bertanding."

Semua orang mendongak dan mengawasi puncak gunung di sebelah selatan yang menjadi titik terakhir dari perlombaan itu.

Puncak itu yang tingginya ribuan tombak, tertutup salju sehingga, dipandang dari jauh, seolah-olah satu sekosol yang terbuat dari batu giok putih.

Di bawah sorotan matahari.

"sekosol"

Itu memancarkan sinar beraneka warna yang gilang-gemilang dan menyilaukan mata.

Semua orang memandangnya sambil menahan napas, bagaimana seorang manusia bisa memanjat puncak yang sedemikian licin dan tebing?

Belum sempat Keng Thian menjawab tantangan itu, tiba-tiba Pengtjoan Thianlie bangun dari kursinya sambil bersenyum.

"Tong Tayhiap baru saja bertanding dengan Koksoe terutama dari negara kami,"

Katanya dengan suara merdu.

"Adalah kurang pantas jika kita membuat seorang tamu terlalu capai. Maka itu, biarlah aku saja yang melayani kedua Taysoe dalam pertandingan ini. Dalam persilatan tak ada perbedaan negara atau bangsa. Kalau kita terlalu mendesak Tong Tayhiap, ia mungkin merasa diperlakukan sebagai orang luar."

Tunhuman jadi bingung.

"Kongtjoe adalah seorang yang sangat mulia, tak dapat Kongtjoe sembarangan maju dalam gelanggang pertandingan,"

Katanya. Si nona tertawa seraya berkata.

"Waktu masih berdiam di Puncak Es, kusudah biasa mundarmandir di gunung yang tertutup salju. Jika aku kalah, barulah Tong Tayhiap yang melayani Djiewie. Dengan demikian, kita tak bisa dikatakan menarik keuntungan selagi lawan masih letih."

Tunhuman dan Asia adalah orang-orang yang kenamaan.

Mendengar kata-kata Peng Go yang seperti juga menuduh, bahwa mereka mau menarik keuntungan selagi Keng Thian masih letih, mereka lantas saja jadi mendongkol dan mengangguk dengan berbareng.

"Baiklah,"

Kata Tunhuman.

"Jika Kongtjoe mengatakan begitu, kami tak bisa berbuat lain daripada melayaninya. Kami mengharap baginda sudi memaafkan kelancangan kami."

Raja Nepal tak menyahut. Sesudah berpikir beberapa saat, barulah ia berkata.

"Baiklah, Aku hanya minta supaya Piauwmoay menyayang diri sendiri dan jangan berlaku ceroboh."

Melihat puncak yang begitu tebing dan berbahaya, di dalam hati ia sebenarnya merasa berkuatir.

Sekali terpeleset, si nona bisa lantas binasa.

Tapi sementara itu, ia juga ingat, bahwa kemungkinan mengambil Peng Go sebagai permaisuri, adalah sangat tipis.

Jika Pengtjoan Thianlie binasa, paling banyak dia dan Keng Thian sama-sama tak bisa mendapatkan nona yang cantik itu.

Sebegitu jauh mengenai kepentingannya sendiri, kebinasaan Peng Go adalah menguntungkan, karena dengan demikian, kedudukannya di atas tahta kerajaan Nepal tidak terancam lagi.

Itulah sebabnya, sesudah menimbang-nimbang beberapa saat, ia segera memberi permisi.

Mendengar sang puteri akan turun sendiri ke dalam gelanggang pertandingan, segenap tentara Nepal jadi kaget, berkuatir dan girang.

Dengan serentak, laksaan manusia keluar dari ribuan tenda untuk menyaksikan pertandingan yang luar biasa itu.

Perlahan-lahan, bersama Tunhuman dan Asia, Pengtjoan Thianlie berjalan ke kaki puncak dan berdiri berjejer untuk menunggu pertandaan yang akan diberikan oleh raja.

"Tunggu dulu!"

Tiba-tiba Asia berkata.

"Ada apa?"

Tanya si nona.

"Pertandingan kita ini namanya satu kali, tapi sebenarnya dua kali pertandingan,"

Jawabnya.

"Sesudah tiba di puncak, kita harus turun lagi. Siapa yang tiba lebih dulu disini, dialah yang menang dengan menggunakan peraturan seperti waktu naik gunung."

"Tentu saja, sesudah tiba di puncak, kita harus kembali,"

Kata Peng Go.

"Baiklah. Mari kita mulai."

Sehabis berkata begitu, ia mengulapkan tangan, sebagai tanda, bahwa mereka sudah siap sedia.

Dalam mengajukan usul tadi, Asia ternyata lebih hati-hati daripada Tunhuman.

Sebelum menang, ia sudah memikir kalah.

Dengan mengingat, bahwa sang puteri bergelar Pengtjoan Thianlie, atau Bidadari dari Sungai es, ia menaksir, bahwa Peng Go memang mempunyai kepandaian luar biasa dalam ilmu memanjat gunung.

Maka itu, ia segera membagi perlombaan tersebut menjadi dua babak.

Jika pihaknya menderita kekalahan dalam babak pertama, ia percaya akan mendapat kemenangan dalam babak kedua.

Melihat ulapan tangan si nona, raja segera memerintah seorang pengawal pribadinya melepaskan sebatang anak panah nyaring sebagai tanda dimulainya pertandingan.

Dengan sekali menekan kedua tangannya di tanah, tubuh Tunhuman segera melesat ke atas kira-kira tiga tombak tingginya, dengan kepala di bawah, kaki di atas.

Apa yang mengherankan semua orang, ialah begitu tiba di atas, badannya seolah-olah terpaku di tembok salju.

Hampir berbareng, tubuh Asia pun "terbang"

Dan satu tangannya menjambret tangan Tunhuman. Di lain saat, sambil menekan tangan saudaranya, ia mengenjot tubuh dan kembali melesat beberapa tombak tingginya, akan kemudian "menempel"

Di tembok salju.

Sekarang giliran Tunhuman untuk mengulangi perbuatan Asia dan dalam sekejap, dengan kerja sama seperti itu, mereka sudah naik beberapa puluh tombak tingginya.

Melihat kepandaian yang istimewa itu, dengan serentak tentara Nepal bersorak-sorai.

Ternyata, sesudah mereka bercacat, Tunhuman dan Asia telah menggubah berbagai cara kerja sama dalam macam-macam ilmu.

Untuk pertandingan mendaki gunung, mereka sudah mempunyai persiapan yang sempurna.

Kedua tangan mereka memakai sarung tangan yang pada ujung-ujung jerijinya terdapat besi-besi lancip untuk menancapkan jeriji-jeriji di salju atau es yang keras.

Itulah sebabnya, mengapa mereka tak bisa turun ke gelanggang seorang diri.

Pengtjoan Thianlie mengawasi kedua lawannya sambil bersenyum dan sesudah mengempos semangat, ia segera melompat ke atas.

Sekarang para penonton menyaksikan ilmu yang lebih luar biasa lagi.

Begitu kedua kakinya menyentuh tembok salju, tanpa bertindak lagi, badan si nona terus meluncur ke atas, seperti cara orang bermain ski.

Nepal adalah sebuah negara yang banyak gunungnya dan banyak pula saljunya, sehingga ilmu bermain ski adalah ilmu yang dikenal umum.

Tapi dalam permainan ski, orang harus menggunakan alat-alat dan dalam olah raga itu, seseorang hanya bisa menyerosot ke bawah dan tak mungkin meluncur ke atas.

Maka itulah, begitu Peng Go mempertunjuki kepandaiannya, soraksorai bergemuruh di seluruh lembah.

Keng Thian sendiri yang sudah mengenalnya beberapa tahun, baru sekarang mengetahui, bahwa Peng Go memiliki ilmu yang luar biasa itu.

Bagaikan kilat, Pengtjoan Thianlie dan kedua lawannya mendaki puncak itu dengan saling susul.

Sebentar si nona yang berada di depan, sebentar kedua lawannya yang naik lebih dulu.

Biar bagaimanapun jua, Tunhuman dan Asia agaknya masih kalah cepat, karena mereka harus meminjam tenaga untuk melesat ke atas.

Saban kali ketinggalan, pada saat-saat itulah, si nona bisa menyusul dan melewati lawannya.

Semakin lama, mereka naik semakin tinggi, hingga para penonton berkunang-kunang matanya dan sukar bisa melihat tegas, siapa yang unggul dan siapa yang kalah.

"Eh,"

Kata Kang Lam sambil menyentuh lengan Keng Thian dengan jerijinya.

"Siapa yang menang?"

Pemuda itu yang sedang mengawasi ke atas tanpa berkesip tidak meladeni. Tiba-tiba Keng Thian mengeluarkan teriakan kegirangan, sehingga cawan yang sedang dicekalnya jatuh di tanah.

"Ada... apa?"

Tanya si kacung.

"Kongtjoe menang!"

Jawabnya.

Ternyata, pada detik hampir tiba di titik yang terakhir, dengan menggunakan seantero tenaganya, Tunhuman melesat ke atas lima enam tombak tingginya dan berhasil melewati Peng Go.

Si nona pun segera mengempos semangat dan menyusul dengan meninggalkan Asia di belakangnya.

Dengan demikian, Tunhuman tiba paling dulu di titik terakhir, kedua Peng Go dan ketiga Asia.

Tapi sebagaimana sudah dijanji, untuk memperoleh kemenangan, Tunhuman dan Asia harus menang bersama-sama dan jika ada satu saja yang kalah, pihak mereka dihitung kalah.

Maka itu, Keng Thian sudah mengatakan, bahwa kemenangan diperoleh oleh Pengtjoan Thianlie.

Untuk sementara waktu mereka mengasoh di puncak itu.

Sedang kedua lawannya sudah kehabisan napas, Peng Go masih tetap segar.

Sambil bersenyum ia berkata.

"Aku menang atas Asia, tapi kalah dari Tunhuman. Menurut perjanjian, akulah yang menang dalam perlombaan ini. Tapi kumerasa tak enak hati. Begini saja. Kali ini kita seri, tiada yang menang, tiada yang kalah. Bagaimana? Apa cukup adil?"

Tunhuman yang napasnya masih sengal-sengal, tak bisa lantas menjawab.

"Jika Kongtjoe mengatakan begitu, kami hanya bisa menghaturkan terima kasih atas kebaikan itu,"

Kata Asia.

"Sekarang marilah kita mencoba-coba dalam babak kedua."

Melihat sifat ksatria dari sang puteri, kedua orang itu jadi kagum bukan main.

Sesudah mereka mengasoh beberapa lama, Raja Nepal segera memerintahkan seorang pengawal pribadinya melepaskan lagi anak panah sebagai pertanda dan dengan berbareng, ketiga orang yang berada di puncak segera menyerosot turun.

Dalam perlombaan kedua, Tunhuman dan Asia juga menggunakan cara yang tadi.

Tapi perbedaannya ialah, kalau waktu naik sekali melesat mereka hanya bisa mencapai empat lima tombak, kali ini, sekali melompat, mereka bisa meluncur ke bawah belasan tombak.

Mereka cepat, Pengtjoan Thianlie lebih cepat lagi.

Hal ini bisa dimengerti, karena menyerosot turun menurut cara si nona, adalah banyak lebih mudah daripada meluncur ke atas, Dalam sekejap, ia sudah tiba di tengah-tengah puncak dan meninggalkan kedua lawannya di sebelah belakang.

Tunhuman jadi bingung.

Sesaat itu, angin Himalaya mulai meniup dengan santer.

Ia girang dan dengan menggunakan tudungnya yang menggemblok di punggung sebagai layar, ia "terbang"

Ke bawah. Selagi Tunhuman lewat di sampingnya, sambil bersenyum Peng Go berkata.

"Kau harus berhati-hati!"

Tapi Tunhuman yang tengah memusatkan seluruh tenaganya dan perhatiannya, tak menjawab nasehat itu.

Angin meniup semakin hebat.

Asia lewat di depan Tunhuman.

Baru saja jeriji Asia menancap di tembok es, Tunhuman sudah menyusul dari belakang.

Karena tak keburu menjambret tangan saudaranya, ia terpaksa menekan pundak Asia untuk meminjam tenaga.

Pada detik itulah, angin menyambar hebat luar biasa, sehingga Asia yang jerijinya belum menancap dalam di es dan pundaknya didorong dari belakang, lantas saja tergelincir ke bawah, berikut saudaranya.

Bagaikan bola, mereka menggelinding dengan kecepatan yang menakuti di tebing yang tingginya ribuan tombak!

"Habislah sekali ini!"

Mereka mengeluh di dalam hati.

Tapi orang-orang yang menonton di bawah sebagian besar tak tahu terjadi kecelakaan itu.

Mereka malahan menganggap kedua orang itu menggunakan ilmu luar biasa dan diam-diam mereka merasa menyesal, karena menduga si nona bakal dikalahkan.

Tiba-tiba kembang salju muncrat berhamburan.

Ternyata, tubuh Tunhuman membentur balokan es besar yang menonjol di tembok itu, sehingga kepalanya pecah dan pingsan seketika dengan berlumuran darah.

Tapi untung sungguh, badannya kena ditahan dengan balokan es itu.

Di lain saat, Asia pun tiba dan juga terbentur dengan balokan es tersebut, sehingga ia pun mendapat luka-luka.

Melihat kecelakaan tersebut, dengan cepat Pengtjoan Thianlie menyusul sambil membuka ikatan pinggangnya yang lalu dilontarkan dan melibat pinggang Tunhuman.

Berbareng dengan itu, ia memerintahkan Asia yang hanya terluka enteng, mencekal ikatan pinggang tersebut dan kemudian, dengan hati-hati, ia membawa mereka turun ke bawah.

Begitu mereka tiba di kaki puncak, sejumlah boesoe segera memburu dan memberi pertolongan.

Untung juga, berkat lweekang yang sangat tinggi, kecelakaan itu tidak membahayakan jiwa Tunhuman dan Asia.

Dengan hati berdebar-debar dan paras muka pucat, raja segera memerintahkan beberapa boesoe menggotong kedua orang itu ke dalam tenda untuk diobati.

Pada sebelum digotong masuk, dengan sorot mata berterima kasih, mereka manggutkan kepala beberapa kali terhadap Pengtjoan Thianlie.

Si nona lantas saja kembali ke meja perjamuan.

Ia menghela napas dan berkata.

"Aku merasa menyesal, karena gara-garaku, mereka mendapat luka."

"Hati Piauwmoay sangat mulia dan berkepandaian sangat tinggi, sehingga di puncak yang begitu berbahaya, kau masih dapat menolong mereka,"

Kata raja sambil tertawa.

"Untuk itu semua, aku menghaturkan banyak terima kasih."

Ia.

segera menuang tiga cawan arak yang lalu dipersembahkan kepada Peng Go sebagai pemberian selamat.

Sambil mengangsurkan cawan-cawan itu, jantung sang raja memukul keras.

Sesudah menyaksikan kepandaian saudari sepupunya, ia jadi keder dan malahan ketakutan.

Andaikata si nona bersedia untuk menjadi permaisurinya, ia merasa tak akan bisa hidup beruntung, karena sang puteri pasti tak akan bisa dikendalikan olehnya.

Malahan terdapat kemungkinan, bahwa ia sendirilah yang berbalik dijajah sang puteri!

Ia mengharap-harap Peng Go lekas-lekas berlalu, tapi tentu saja ia tak dapat mengusirnya, sebab ia sendiri yang sudah mengatakan, bahwa kedatangannya ini adalah untuk mengundang si nona pulang ke negeri sendiri.

Hatinya takut tak kepalang, karena jika Peng Go benar-benar pulang ke Nepal, kedudukannya di atas tahta sukar dapat dipertahankan lagi.

Sekonyong-konyong di sebelah kejauhan terdengar suara tambur yang dipukul tiga puluh enam kali dengan beruntun.

Peng Go tahu, bahwa pemukulan tambur itu adalah penyambutan resmi untuk seorang tamu agung.

"Siapa yang datang berkunjung?"

Tanyanya di dalam hati. Paras muka raja mendadak berubah berseri-seri. Sambil bangun berdiri, ia berkata.

"Tong Tayhiap, aku ingin memperkenalkan kau dengan seorang luar biasa. Ia adalah seorang yang berilmu paling tinggi di Eropa Timur dan di negara-negara Arab. Namanya Timotato Thayhoatsoe."

Raja Nepal menyambut tamunya dengan upacara kerajaan.

Dengan didului oleh barisan yang membawa bendera raja dan diiring oleh sepasukan serdadu serta murid-muridnya, Timotato memasuki lembah itu dengan menunggang seekor gajah putih.

Keng Thian mengawasi tamu itu yang ternyata sudah berambut putih, tapi mukanya bersemu merah, seperti muka seorang muda.

Melihat Tayyang hiat-nya yang menonjol keluar, Keng Thian tahu, bahwa orang tua itu memiliki Iweekang yang sangat tinggi.

Terhadap raja yang keluar menyambutnya, Timotato hanya membungkuk sedikit dan lalu melompat turun dari tunggangannya.

Dengan diiring raja, ia masuk ke ruangan perjamuan dan dipersilahkan duduk di kursi pertama, sedang raja sendiri menemani di sebelah bawah.

Keng Thian yang memperhatikan segala gerak-geriknya, mendapat kenyataan, bahwa salju yang diinjak oleh orang tua itu segera melumer.

Ia terkejut karena hal itu merupakan suatu bukti, bahwa si kakek memiliki Iweekang yang sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Di seluruh daerah Tiongkok, hanya beberapa orang saja yang dapat menandinginya.

Sesudah menyapu para hadirin dengan kedua matanya yang sangat tajam, Timotato berkata dengan suara perlahan.

"Kedatanganku ke Himalaya di kali ini sebenarnya adalah untuk mendaki puncak tertinggi di dalam dunia (Everest). Aku merasa sangat beruntung, bahwa di tempat ini aku bisa bertemu dengan baginda." (Pembicaraan antara Timotato dan para hadirin disalin oleh juru bahasa). Mendengar perkataan itu, Keng Thian bermesem di dalam hati, karena ia yakin, bahwa biarpun kakek itu mempunyai kepandaian sangat tinggi, tak gampang-gampang ia bisa menakluki puncak tersebut.

"Untuk mendaki Tjoe-hong (Everest), Thayhoatsoe sebaiknya menunggu beberapa hari lagi sampai hawa udara jadi lebih hangat,"

Kata raja.

"Dalam perjamuan ini secara kebetulan berkumpul ahli-ahli silat dari berbagai negara. Dalam kesempatan yang jarang terdapat ini, aku justeru ingin meminta pengajaran-pengajaran dari Thayhoatsoe."

Dengan perasaan mendongkol, Pengtjoan Thianlie melirik orang tua itu.

Ia merasa, bahwa jika Timotato berhasil memanjat Tjoe-hong, maka bangsa Nepal akan.

kehilangan muka dan ia jengkel bukan main melihat cara-cara raja yang menjilat-jilat, la juga mengerti, mengapa si kakek sudah menerima baik undangan raja untuk menghadiri perjamuan itu.

Pada jaman itu, Himalaya berada di bawah kekuasaan dua negara, yaitu Tiongkok dan Nepal.

Ia tentu ingin meminta permisi dari raja Nepal untuk memanjat Tjoe-hong.

Bagian utara dari Himalaya dikuasai oleh pemerintah Tjeng dan jika Timotato ingin mendaki puncak dari sebelah utara, maka, menurut pantas ia harus mendapat permisi pembesar Boan yang berada di Tibet.

Hanya sayang, berhubung dengan adanya kegoncangan di wilayah Tibet pada masa itu, maka pemerintah Boan tak sempat lagi mengurus hal-hal yang dianggap remeh.

Selagi si nona melirik apa mau Timotato pun meliriknya dan kedua pasang mata kebentrok.

Muka si kakek lantas saja berubah dan sambil merangkap kedua tangannya, ia berkata.

"Apakah Liepousat ini Puteri dari negara baginda?"

"Benar,"

Jawabnya.

"Semenjak kecil Kongtjoe hidup di negeri lain dan kedatanganku kali ini adalah untuk menyambutnya pulang ke negeri sendiri."

Begitu masuk ke dalam lembah, Timotato sudah mendengar, bahwa dua muridnya telah dikalahkan oleh si nona dalam perlombaan memanjat puncak dan kedua-duanya telah mendapat luka.

Maka itu, ia datang dengan perasaan gusar, tapi sesudah melihat wajah si nona dan tahu siapa adanya Peng Go, ia tak dapat mengumbar napsu.

Sekali lagi matanya menyapu para hadirin dan kemudian mengawasi Keng Thian.

Sambil bersenyum raja menunjuk pemuda itu seraya berkata.

"Tuan itu adalah pendekar yang namanya paling kesohor di daerah Tiongkok, Soetit (keponakan murid) Thayhoatsoe, Taichiti Koksoe, telah roboh dalam tangannya. Dalam dunia ini, kecuali Thayhoatsoe, mungkin sekali tiada orang lain yang bisa menandinginya."

Kata-kata yang "membakar"

Itu benar saja sudah lantas membangkitkan rasa gusarnya si kakek. Sesudah mengeluarkan suara di hidung, ia berkata dengan nada memandang rendah.

"Memang sudah lama aku mendengar, bahwa di Tiongkok terdapat banyak sekali orang-orang pandai. Hanya sayang sebegitu jauh aku belum pernah mengunjungi daerah Tionggoan. Hari ini, secara kebetulan aku bertemu dengan seorang pendekar dan kesempatan ini tentu saja tak boleh dilewatkan begitu saja."

"Aku sungguh tak berani menerima julukan pendekar yang diberikan Thayhoatsoe,"

Jawab Keng Thian dengan sabar.

"Jika Thayhoatsoe ingin menjajal ilmu dengan ahli-ahli silat Tionggoan, keinginan itu bisa tercapai dengan mudah sekali. Dalam tempo sebulan, aku pasti akan mencari seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi untuk menghadapi Thayhoatsoe."

Keng Thian tahu, bahwa kedua orang tuanya, Phang Lin dan Lu Soe Nio sudah datang di Tibet dan salah seorang antaranya sudah cukup untuk bertanding dengan si kakek.

Timotato bersenyum tawar.

Ia mendongakkan kepala dan berkata dengan suara mengejek.

"Mana kupunya tempo untuk menunggu sebulan! Kita bukan anak-anak kecil yang jika mau berkelahi, harus menunggu kedatangan orang tua. Kita hanya menjajal ilmu silat, siapa menang, siapa kalah, bukan soal besar. Jika Tong Tayhiap takut kalah dengan maju sendirian, biarlah kau dan semua kawan-kawanmu mengerubutiku dan aku sendiri akan melawan dengan tangan kosong."

Suara temberang itu sudah membangkitkan kegusaran, Tong Say Hoa yang lantas saja berteriak.

"Keng Thian! Jika kau tak mau turun ke gelanggang biarlah aku si tua yang meminta pengajarannya."

Keng Thian segera mencegah dan berkata sambil tertawa.

"Jika Thayhoatsoe mengatakan begitu, biarpun aku tak cukup berharga untuk mewakili boesoe dari wilayah Tionggoan, biarlah kusaja yang melayani Thayhoatsoe."

"Bagus!"

Kata Timotato sambil tertawa berkakakan dan lalu berjalan masuk ke dalam gelanggang dengan sikap memandang rendah.

Keng Thian mendongkol bukan main, tapi sebagai seorang yang berusia lebih muda, ia menyoja seraya berkata.

"Hayolah!"

"Mengapa kau tidak menghunus pedang mustikamu?"

Tanya si kakek sembari menyengir.

"Hunuslah! Aku mempermisikan kau lebih dulu menyerang tiga kali."

Keng Thian terkejut, karena mata si tua ternyata awas sekali dan dapat mengenali pedang mustika sebelum senjata itu dicabut.

"Kubelum pernah menghinakan orang yang tidak bersenjata,"

Jawabnya dengan suara tawar.

"Keluarkanlah senjatamu dan kau boleh lebih dulu menyerang tiga kali kepada diriku."

Timotato menggosok-gosok kedua tangannya seraya berkata.

"Sudah banyak tahun kutak pernah menggunakan senjata, sehingga kusudah lupa bagaimana harus menggunakannya."

"Baiklah,"

Kata Keng Thian.

"Kalau begitu kita bertempur saja dengan tangan kosong."

"Tong Tayhiap, jangan kena ditipu!"

Tiba-tiba Kang Lam berteriak.

"Mengapa kau tidak mau menggunakan pedang mustika?"

Timotato tertawa terbahak-bahak.

"Benar,"

Katanya.

"Mengapa kau tak mau menggunakan pedang mustika? Tanpa bersenjata, kukuatir kau akan merasa penasaran."

Tapi tentu saja Keng Thian sungkan menjilat kembali ludah yang sudah dibuang.

"Sudahlah, jangan rewel!"

Katanya dengan angkuh.

"Hayolah! Jika kukalah, aku akan mengakui kekalahanku!"

Mendengar perkataan pemuda itu yang keras kepala, si kakek merasa kagum.

"Kalau begitu, kau bersiaplah!"

Katanya sambil bersenyum.

Sehabis berkata begitu, tanpa memasang kuda-kuda, ia lalu mengirim satu pukulan dari jarak tiga tombak jauhnya.

Tiba-tiba Keng Thian merasakan dirinya didorong dengan semacam tenaga yang sangat dahsyat, sehingga buru-buru ia mengerahkan lweekang dan "menancap"

Kedua kakinya di tanah dengan ilmu Tjiankin toei (ilmu memberatkan badan).

Tapi biarpun begitu, badannya masih bergoyang-goyang beberapa kali.

Timotato heran sebab pemuda itu tidak menjadi roboh dan ia lalu menarik pulang tangannya sambil mengerahkan lweekang.

Mendadak, Keng Thian merasa dirinya diseret dengan serupa tenaga membetot, sehingga kedua kakinya terangkat dari tanah.

Dengan kaget, ia mengenjot badannya yang lantas saja melesat ke depan, sambil mengirim satu pukulan membinasakan dari Thiansan Tjianghoat.

Melihat gerakan yang indah, sejumlah boesoe Nepal bersorak.

Mereka tak tahu, bahwa Keng Thian sudah berbuat begitu, karena terpaksa.

Di antara tampik sorak, tiba-tiba terlihat berkelebatnya kedua tangan Timotato dan tubuh Keng Thian menjungkir balik dua kali di tengah udara, akan kemudian hinggap di atas tanah yang jauhnya kurang lebih tiga tombak.

Melihat pemuda itu berhasil menyelamatkan diri dari dua serangan hebat, si kakek merasa kagum.

Sekarang ia tidak berani memandang rendah lagi dan lalu mulai menyerang dengan bertubi-tubi.

Keng Thian lantas saja melayani dengan ilmu Toeihong Tjianghoat yang kesohor liehay.

Ia mengutamakan pembelaan diri dan hanya menyerang jika terbuka kesempatan baik.

Akan tetapi, karena si kakek memang banyak lebih unggul, dalam sekejap mata ia sudah berada di bawah angin dan ia seperti juga terseret masuk ke dalam "pusar air", maju tak mungkin, keluar pun tak bisa!

Ilmu yang digunakan Timotato adalah Imyang Ngoheng Tjianglek, yaitu pukulan yang mempunyai tenaga "positif dan "

Negatif, tenaga mendorong dan tenaga membetot, sehingga seseorang yang sudah "dikurung"

Dengan ilmu itu, sukar sekali bisa menyingkirkan diri.

Biarpun tidak mengenal ilmu itu, Keng Thian adalah turunan dan ahli waris seorang ahli silat besar di wilayah Tionggoan.

Begitu merasa dirinya terseret ke dalam gelombang tenaga yang menyerupai "pusar air" , ia tahu bahwa hal itu sudah terjadi karena Iweekang-nya masih kalah dari lweekang lawan.

Maka itu, buru-buru ia memusatkan pikiran dan mengempos semangat untuk mempersatukan tenaga jasmaniah dan rohaniah, akan kemudian mengeluarkan ilmu silat Siebie Tjianghoat, yaitu ilmu yang terliehay dalam seluruh Thiansan Tjianghoat, untuk coba menyelamatkan diri.

Siebie Tjianghoat adalah ilmu silat nomor satu dalam pembelaan diri dan terutama digunakan jika bertemu dengan lawan yang lebih liehay.

Dengan menggunakan tenaga Imdjioe (tenaga lembek), Keng Thian coba memunahkan gelombang tenaga Timotato.

Tapi serangan Timotato adalah lain dari serangan biasa.

Pukulannya bukan ditujukan langsung ke tubuh Keng Thian, tapi terputar-putar seperti "pusar air" , yang satu mendorong dan yang lain membetot, sehingga mau tak mau, Keng Thian turut terseret dan terputar-putar.

Melihat Keng Thian lari terputar-putar, sejumlah boesoe Nepal merasa heran karena mereka tak mengerti apa sebabnya.

Semakin lama pemuda itu lari semakin cepat dan di atas kepalanya muncul uap putih.

Tong Say Hoa kaget tak kepalang dan tanpa menunggu tempo lagi, ia mengebas tangan bajunya dan tiga batang paku Samleng Touwkoet teng menyambar ke arah tiga jalanan darah Timotato.

Pada jaman itu, Tong Say Hoa adalah ahli nomor satu dalam ilmu melepaskan senjata rahasia.

Tiga paku itu menyambar tanpa bersuara, sehingga orang-orang yang tengah memperhatikan jalan pertempuran, sedikitpun tak tahu, bahwa si nenek telah membantu pemuda itu.

Tiba-tiba terdengar tiga kali suara "tring!"

Si nenek terkesiap, sebab ia tahu senjatanya telah menyentuh semacam logam.

Sebagaimana diketahui, Timotato tidak bersenjata dan juga tidak mengenakan pakaian berlapis besi.

Paku yang barusan dilepaskan, dinamakan Touwkoet teng, atau paku menembus tulang, sehingga begitu menyentuh badan manusia, paku yang sangat tajam itu bisa menembus tulang.

Tapi mengapa terdengar suara "tring!", seperti juga paku itu terbentur logam?

Ternyata, tanpa diketahui oleh siapapun juga, pada waktu tiga paku itu menyambar ke arah jalanan darahnya, dengan kecepatan kilat Timotato menyampok, sehingga senjata rahasia itu berbalik menyambar Keng Thian.

Baru saja ia ingin mengeluarkan ejekan, tiba-tiba ia melihat peletikan api dan tiga paku itu terpental dari tubuh Keng Thian.

Kecuali si kakek sendiri, tiada manusia lain yang melihat kejadian itu.

Kagetnya Timotato tak kurang dari kagetnya Tong Say Hoa.

Dibantu dengan tenaga pukulannya, andaikata Keng Thian mengenakan baju besi, tiga paku itu belum tentu tidak menancap.

Si kakek tentu saja tak tahu, bahwa pemuda itu mengenakan semacam baju mustika, yaitu Kimsie Djoanka (baju yang terbuat daripada benang emas), yang dulu dihadiahkan kepada ibunya oleh Tjiong Ban Tong.

Jangankan baru Touwkoet teng, sedangkan pedang mustika masih tak bisa menembus baju mustika itu.

Keng Thian yang menduga, bahwa senjata rahasia itu dilepaskan oleh lawannya, segera membentak dengan suara gusar.

"Bagus! Kau menggunakan senjata rahasia? Sambutlah senjataku!"

Hampir berbareng, dua Thiansan Sinbong menyambar.

Si kakek mengebas dengan tangan jubahnya dan walaupun Sinbong terpukul jatuh, tapi tangan jubah itu tak urung berlubang juga!

Inilah untuk pertama kali, Timotato bertemu dengan senjata rahasia yang begitu hebat.

Ia terkejut dan di lain saat, dua batang Sinbong kembali menyambar.

Sambil mengempos semangat, ia mengebas dengan tangannya dan Sinbong jatuh di tempat yang jaraknya kira-kira setombak.

Ketika itu, juru bahasa baru menyalin cacian Keng Thian.

Bukan main gusarnya Timotato.

"Gila!"

Teriaknya.

"Kawanmu yang membokong aku, tapi kau berbalik menyalahkan aku!"

Sebenarnya, ia ingin mencaci lebih hebat, tapi mengingat kesombongannya yang tadi sudah menantang semua kawan-kawan pemuda itu, ia jadi malu sendiri dan lalu menutup mulut.

Sementara itu, Keng Thian sudah melepaskan pula dua Sinbong dari jarak dekat.

Karena sedang mendongkol, tenaga si kakek berkurang dan Sinbong itu jatuh dalam jarak hanya tiga kaki dari tubuhnya.

Ia terperanjat dan buru-buru mengempos semangat.

Pada detik itu, mendadak, mendadak saja si kakek merasa jalanan darah di lengannya kesemutan dan jauh-jauh terdengar suara tertawa seorang wanita!

Semua orang menengok dan mengawasi ke arah suara tertawa itu.

Mereka melihat dua orang wanita muncul di tanjakan, yang satu setengah tua, yang lain seorang gadis yang parasnya cantik sekali.

Dandanan mereka hampir tidak berbedaan, di rambut masing-masing terikat dua kupukupu yang terbuat dari sutera, sedang gerak-gerik dan lagak mereka menyerupai kanak-kanak nakal.

"Ie-ie!"

Teriak Keng Thian dengan kegirangan yang meluap-luap.

Wanita yang setengah tua itu mengenjot badan dan tubuhnya lantas saja melesat ke tengah udara.

Sesudah memutar badan, dengan satu gerakan yang sangat indah, ia melayang turun ke bawah.

Melihat pertunjukan yang luar biasa itu, ribuan serdadu Nepal dengan serentak bersoraksorai.

Timotato mengawasi lengannya yang kesemutan dan melihat selembar daun hijau yang menempel di lengan itu.

Ternyata, wanita setengah tua itu...

yang bukan lain daripada Phang Lin...

sudah menimpuknya dengan ilmu Hoeihoa tjekyap yang disertai dengan lweekang yang tinggi luar biasa, lweekang antara si kakek dan Phang Lin sebenarnya kira-kira berimbang.

Tapi tadi, karena seluruh perhatiannya sedang dipusatkan kepada Thiansan Sinbong, maka ia merasa lengannya kesemutan waktu tersentuh dengan daun yang dilontarkan oleh nyonya itu.

Sementara itu, sambil tertawa Phang Lin mendekati Keng Thian dan menanya.

"Keng Thian, mana Kim Sie Ie?"

"Kutak ketemu,"

Jawabnya.

"Tapi melihat tapak-tapaknya, mungkin sekali ia pun sudah berada di sekitar tempat ini."

Sang le-ie (bibi) mengangguk seraya berkata.

"Baiklah. Kau boleh omong-omong dengan Piauwmoay-mu (Lie Kim Bwee). Aku ingin menghadapi pendeta asing itu."

La berpaling kepada Timotato dan berkata pula seraya tertawa.

"Aku paling senang menyaksikan pertunjukan yang luar biasa. Gerak-gerakan tangan Thayhoatsoe yang terputar-putar sungguh menarik perhatianku. Aku ingin sekali bermain-main dengan Thayhoatsoe."

Hari ini, beberapa kali Timotato sudah diejek orang.

Melihat cara Phang Lin melontarkan daun, ia tahu, bahwa nyonya itu tidak boleh dibuat gegabah.

Dalam pertandingan antara jago dan jago, salah satu pantangan yang paling besar adalah naik darah.

Maka itu, biarpun Phang Lin mengejeknya, sebisa-bisa ia menahan sabar.

"Bagus!"

Katanya.

"Aku merasa beruntung sekali, bahwa sekarang aku bisa berhadapan dengan seorang jago wanita dari wilayah Tionggoan, hunuslah senjatamu!"

Sambil tertawa geli, si nyonya lalu mencopot satu kupu-kupu sutera yang terikat di rambutnya dan lalu membukanya, sehingga di lain saat, tangan kanannya mencekal sehelai pita panjang yang beraneka warna.

"Aku bukan jago wanita dan kutak biasa menggunakan pedang atau golok."

Katanya seraya bersenyum.

"Aku hanya membekal seutas tali untuk mengikat kera."

Belum habis kata-kata Phang Lin disalin oleh juru bahasa, Timotato sudah membentak keras dan menghantam dengan kedua tangannya.

Bagaikan pohon yanglioe yang tertiup angin, badan si nyonya bergoyang-goyang.

"Celaka!"

Seru Tong Say Hoa.

"Jangan kuatir, ibuku sedang mempermainkan dia,"

Kata Lie Kim Bwee.

Di lain saat, tubuh Phang Lin melompat kian kemari bagaikan seorang yang menari-nari, sedang pita sutera yang dicekalnya menyambar-nyambar di tengah udara.

Beberapa saat kemudian pita itu mendadak berubah tegak lurus dan meluncur masuk ke dalam .

hidung si kakek!

Tentu saja ia gelagapan dan berbangkis keras-keras!

"Bagus!

Sungguh bagus!"

Teriak Kang Lam sambil menepuk-nepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak.

Raja Nepal yang sedang jengkel juga turut tertawa.

Phang Lin berkelahi dengan terus menerus mengunjuk kenakalannya.

Sedang mulutnya tak henti-hentinya berteriak.

"Awas matamu!

Awas kupingmu!...

Pita suteranya yang tegak lurus bagaikan kawat baja karena disertai dengan Iweekang yang sangat tinggi, menyambar ke arah mata, ke kuping dan ke lain-lain bagian badan, sesuai dengan teriakan nyonya itu.

Apa yang lebih hebat lagi ialah sambaran-sambaran itu selalu menuju ke arah jalanan darah.

Terhadap pita sutera itu, yang sebentar lemas dan sebentar keras, Imyang Ngoheng Tjianglek tak bisa berbuat banyak.

Dalam gusarnya, si kakek menyerang dengan pukulan-pukulan Pekkong tjiang (pukulan yang bisa merobohkan musuh dari jarak jauh), tapi siasat itu pun tidak berhasil karena Phang Lin segera membela diri dengan mengerahkan Iweekang untuk menolak sambaran-sambaran angin dari pukulan itu.

Selagi Keng Thian memperhatikan jalan pertempuran, Lie Kim Bwee tiba-tiba berbisik di kupingnya.

"Piauwko, apa kau membenci Kim Sie Ie?"

"Hm! Sedikit,"

Jawabnya, tanpa memikir lagi. Ia melirik dan melihat paras muka si nona yang bersungguh-sungguh. Ia terkejut sebab tahu, bahwa ia sudah kesalahan bicara.

"Tidak, kutak membencinya,"

Katanya dengan cepat.

"Aha! Lihatlah! Indah betul pukulan itu!"

"Eh,"

Kata pula Kim Bwee.

"Mengapa kau ogah-ogahan menjawab pertanyaanku. Ibu pasti menang. Tak perlu kau menonton pertandingan itu. Jawablah pertanyaanku dengan sungguhsungguh.

"Apakah kau membenci Kim Sie Ie?"

"Untuk bicara terus terang, dulu memang aku merasa agak mendongkol terhadapnya, tapi sekarang sudah tidak lagi,"

Jawab Keng Thian.

"Hm, tapi apa kau tahu, sekarang Sie Ie-ko hanya bisa hidup tujuh hari lagi?"

Tanya lagi si adik. Keng Thian kaget. Ia merasa heran, bagaimana adik sepupunya bisa tahu begitu tepat. Mendadak ia mendusin dan lalu berkata sambil bersenyum.

"Kalau begitu kedatangan Ie-ie dan kau kesini adalah untuk mengejar Kim Sie Ie, bukan?"

"Apakah kau bersedia menolong dia?"

Tanya Lie Kim Bwee tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.

"Menurut katanya ibu, hanya Iethio dan kau sendiri yang bisa menolongnya dengan menggunakan Iweekang dari Thiansan pay."

Sang kakak kembali bersenyum dan menyahut.

"Kedatanganku dan Peng Go ke gunung ini memang untuk menolong dia."

"Jika kau tidak mendusta, kita harus mendaki gunung secepat mungkin untuk mencarinya,"

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 2

Baca Juga: Tangan Berbisa 9

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger