Eps 13 Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Bidadari Dari Sungai Es - Liang Ie Shen.
Kata si nona dengan nada memohon.
"Akur!"
Kata Keng Thian.
"Tapi sedikitnya kita harus menunggu sampai ibumu menyelesaikan pertandingan ini."
Diam-diam ia merasa geli dalam hatinya karena seorang otak-otakan seperti Kim Sie Ie masih disayang oleh seorang gadis jelita.
Tapi di lain saat, ia merasa berduka sebab mengingat, bahwa harapan adiknya adalah harapan yang sukar tercapai.
Usaha mencari satu manusia di gunung Himalaya adalah seperti usaha mencari jarum di lautan yang dalam.
"Ibu!"
Teriak Lie Kim Bwee.
"Piauwko sudah berjanji akan menolong dia. Ibu! Lekas-lekas robohkan pendeta itu, supaya kita bisa segera mendaki gunung."
Tiba-tiba di gelanggang pertempuran terdengar suara gedubrakan, sehingga semua orang jadi terkejut.
Ternyata lapisan es tebal yang diinjak Phang Lin mendadak pecah dan roboh.
Tiba-tiba tubuh Phang Lin melesat ke atas, pita suteranya berkelebat memutari dirinya dan hampir berbareng, dengan menekuk lima jerijinya bagaikan gaetan, dari tengah udara ia menghantam batok kepala Timotato.
"Sungguh indah gerakan Niauw-eng itu!"
Memuji Keng Thian. Baru saja Keng Thian mengucapkan pujiannya, rambut si kakek berdiri dan kedua tangannya menghantam ke atas, sedang Phang Lin "terbang"
Seputaran, akan kemudian melayang turun ke muka bumi.
Tanpa diketahui oleh para penonton, dalam gebrakan barusan, kedua lawan telah menggunakan siasat yang sangat liehay dan lweekang yang sangat tinggi.
Harus diketahui, bahwa Timotato sudah bisa menjagoi di Eropa Timur dan Asia Barat, karena ia mempunyai kepandaian dan kecerdasan luar biasa.
Begitu mengetahui, bahwa nyonya itu adalah lawan yang berat, ia segera memusatkan tenaga lweekang di kedua kaki dan dengan sekali menjejek, es yang diinjaknya lantas saja pecah.
Phang Lin kaget dan segera melompat ke atas.
Waktu badannya melayang turun ke bawah, ia menggunakan kesempatan untuk memukul kepala si kakek.
Inilah yang ditunggukan oleh Timotato!
Untuk menggunakan Imyang Ngoheng Tjianglek, ia perlu meminjam tenaga musuh.
Waktu itu, lweekang Phang Lin dibagi jadi dua bagian, sebagian digunakan untuk melompat dan sebagian pula untuk memukul musuh.
Karena terpencarnya tenaga, hampir-hampir ia kena dibetot dengan tenaga terputar dari Imyang Tjianglek.
Untung juga, Phang Lin memiliki ilmu mengentengkan badan yang tiada tandingannya dalam dunia, sehingga pada saat yang sangat berbahaya, ia masih bisa melayang turun ke bumi dengan selamat.
Begitu lekas hinggap di tanah, Phang Lin segera mengempos semangat dan menyerang pula dengan pitanya.
Sesudah lewat beberapa jurus, sekonyong-konyong Timotato mengubah cara bersilatnya.
Ia menyerang dengan mementang lima jeriji tangan kirinya, sedang tangan kanannya terus membuat lingkaran-lingkaran.
Dalam sekejap, satu perubahan telah terjadi, yaitu, pita si nyonya tak dapat menembus lagi garis pembelaan si kakek.
Ternyata, sebagai seorang yang sangat cerdas, Timotato insyaf, bahwa tenaga lweekang-nya kira-kira setanding dengan lweekang si nyonya dan ia sukar memperoleh kemenangan dengan hanya menggunakan Imyang Tjianglek.
Maka itu, ia lantas saja mengubah taktik.
Telapakan tangan kanannya tetap menyerang dengan Imyang Tjianglek, sedang lima jeriji tangan kiri dipentang dan melawan serangan pita dengan memusatkan lweekang di ujung jeriji.
Dapat dimengerti, bahwa karena permukaan telapakan agak lebar, maka lweekang yang keluar dari telapakan jadi terpancar agak lemah.
Tapi lweekang dari jeriji yang kecil lancip, sangat "tajam"
Sebab semua tenaga berpusat di satu titik, sehingga begitu tersentuh, pita Phang Lin lantas saja terpental.
Maka itulah, sesudah si kakek mengubah taktik, pita tersebut tak dapat menembus lagi garis pembelaannya.
Demikianlah mereka terus bertempur dengan serunya tanpa ada yang keteter.
Keng Thian dan yang lain-lain mengawasi jalan pertempuran dengan hati berdebar-debar.
Tiba-tiba Kang Lam berbisik.
"Tong Lootaypo, mengapa kau tak mau menggunakan lagi senjata rahasia?"
Sebab duduk di dekat si nenek, ia tahu, bahwa Samleng Touwkoet teng telah dilepaskan oleh orang tua itu. Tong Say Hoa tertawa getir.
"Ilmu melepaskan senjata rahasia dari Phang Lin banyak lebih liehay daripadaku,"
Jawabnya.
"Jika aku membantu, bisa-bisa keadaan jadi semakin jelek."
Mendengar itu, Keng Thian baru tahu, bahwa Touwkoet teng benar-benar bukan dilepaskan oleh Timotato.
Semakin lama mereka bertempur semakin sengit dan Phang Lin yang biasanya selalu tertawa haha-hihi, tidak terdengar lagi tertawanya.
Mendadak angin dari atas gunung kembali meniup keras, sehingga pasir, batu-batu kecil dan kembang salju terbang berhamburan.
Sekonyong-konyong, dibawa dengan kesiuran angin, dari atas gunung terdengar teriakan yang aneh, panjang dan nyaring.
"Kim Sie Ie!"
Teriak Phang Lin, seraya melompat keluar dari gelanggang dan bagaikan kilat, ia berlari-lari mendaki gunung.
Timotato kelihatan terkejut dan sesudah bicara beberapa patah, ia pun segera berlari-lari ke atas gunung.
Dalam sekejap, si nyonya dan si kakek sudah tak kelihatan bayang-bayangan lagi.
Perubahan yang mendadak itu sudah mengejutkan semua orang sehingga mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.
Beberapa saat kemudian, barulah juru bahasa menghampiri raja dan melaporkan sambil membungkuk.
"Timotato Thayhoatsoe mengatakan, bahwa seorang muridnya telah memanggilnya dari atas gunung dan karena ia ingin segera mendaki Tjoe-hong, maka ia meminta diri dari baginda."
"Dusta!"
Teriak Keng Thian.
"Itulah suaranya Kim Sie Ie. Mengapa dia mengatakan muridnya?"
"Piauwko,"
Kata Kim Bwee dengan suara tak sabaran sambil menyeret tangan kakaknya.
"Marilah kita menyusul."
Keadaan jadi kacau-Tong Say Hoa, Pengtjoan Thianlie, Keng Thian dan yang lain-lain segera bangun berdiri.
Tapi, sebelum mereka berangkat, sekonyong-konyong terjadi pula perubahan yang lebih mengejutkan.
Mendadak, di sebelah kejauhan terdengar suara terompet yang ramai dan saling susul dan beberapa saat kemudian, boesoe Nepal yang menjaga di mulut lembah datang melaporkan.
"Tentara Tjeng sudah tiba di mulut lembah!"
Paras muka raja lantas saja berubah pucat bagaikan kertas.
"Karena tentara kita sudah melewati perbatasan orang, orang tentu saja datang menegur,"
Kata Peng Go.
"Untung juga, mereka masih menunggu di luar lembah. Sekarang ini daya upaya yang paling baik adalah menyingkirkan permusuhan dan mengadakan perdamaian."
"Apa mereka mau?"
Tanya raja dengan perasaan kuatir.
"Karena sekarang belum di kirim surat tantangan, kurasa masih dapat diadakan perdamaian, jika baginda bersedia untuk menghaturkan maaf,"
Kata Keng Thian. Dalam keadaan terdesak dan bingung, hati sang raja jadi agak terhibur karena perkataan Keng Thian.
"Kalau begitu, aku mohon Tong Tayhiap sudi pergi bersama-sama untuk bantu bicara,"
Katanya.
"Menyingkirkan segala bencana adalah kewajiban dari setiap orang dalam Rimba Persilatan,"
Kata pemuda itu.
"Segala perintah baginda, kuakan menjalankan dengan segala senang hati."
Tanpa menyia-nyiakan tempo, raja segera mempersilahkan Keng Thian dan Peng Go menunggang gajah putih dan dengan segala upacara kehormatan, bersama-sama raja mereka lalu berangkat untuk menyambut tentara Tjeng.
"Piauwko,"
Teriak Kim Bwee dengan suara bingung.
"Apa kau tak sudi menolong Kim Sie Ie?"
"Begitu lekas aku sudah menyelesaikan urusan disini, aku akan segera mendaki gunung,"
Jawab sang kakak. Paras muka si nona lantas saja berubah kurang senang.
"Kalau begitu, aku berangkat lebih dulu,"
Katanya. Keng Thian segera mengeluarkan sebuah peles perak yang di dalamnya berisi tiga butir Pekleng tan dan menyerahkannya kepada Lie Kim Bwee.
"Biarpun Pekleng tan tidak dapat menyembuhkan akar penyakit, tapi bisa memperpanjang umurnya sekian hari,"
Katanya "Di sepanjang jalan kau harus memberi pertandaan, supaya aku dapat mengikutinya."
Si nona menyambuti peles itu sambil menghela napas.
"Jika Sie Ie-ko tak dapat ditolong, seluruh penghidupanku akan kosong melompong,"
Katanya.
Inilah untuk pertama kali Keng Thian menyaksikan si nakal bersusah hati.
Begitu lekas rombongan raja Nepal keluar dari mulut lembah, mereka melihat tentara Tjeng dalam formasi seperti kipas.
Dengan senjata yang berkilauan dan bendera-bendera yang berkibarkibar dengan megah, tentara itu kelihatan angker sekali.
Sesudah mereka datang dekat, tiba-tiba Peng Go mengeluarkan seruan kaget sambil menuding ke depan.
"Ih! Coba lihat! Bukankah itu Thian Oe dan Yoe Peng?"
Keng Thian mengawasi ke arah yang ditunjuk si nona.
Di bawah bendera "Swee" (bendera panglima perang yang memimpin tentara) terlihat seorang jenderal yang paras mukanya angker dan bersenjata toya Longgee pang diapit oleh seorang pemuda dan seorang wanita cantik.
Keng Thian segera mengenali, bahwa jenderal itu adalah Tjiauw Tjoen Loei, sedang kedua orang muda memang bukan lain daripada Tan Thian Oe dan Yoe Peng.
Ternyata, karena melihat bakat dan kecerdasan pemuda itu, dalam menggerakkan tentara untuk menghadapi tentara Nepal, Hok Kong An sudah mengangkat Thian Oe sebagai Tjamkoen.
Yoe Peng yang ingin sekali bertemu dengan majikannya, sudah mendapat permisi untuk mengikut pasukan itu.
Keng Thian jadi girang bukan main, karena ia merasa pasti, bahwa persoalan yang kini dihadapi akan segera menjadi beres.
Sesudah kedua belah pihak bertemu muka, Tjiauw Tjoen Loei yang tak begitu pandai bicara, lantas mengangkat Thian Oe sebagai wakilnya untuk mengadakan perundingan di tenda panglima perang.
Dalam musyawarah itu, Thian Oe menegur raja dan menanya, mengapa tentara Nepal melanggar perbatasan.
Raja memberi keterangan, bahwa dalam latihan tentara yang biasa diadakan dalam tempo-tempo tertentu, mereka telah diserang dengan hawa yang sangat dingin dan oleh karenanya, mereka masuk ke dalam lembah itu untuk berlindung.
Sebab Himalaya adalah sebuah gunung yang sangat besar dan luas, secara tidak disengaja tentara Nepal sudah melewati perbatasan.
Untuk kekeliruan itu, raja meminta maaf.
Walaupun merasa, bahwa keterangan itu adalah keterangan yang dibuat-buat, akan tetapi sebagai seorang wakil yang cerdas.
Thian Oe segera menerima baik keterangan itu.
Diam-diam ia merasa girang, bahwa pertikaian perbatasan dapat dibereskan secara begitu mudah.
Akhirnya diambil keputusan untuk melanjutkan pertemuan besok pagi guna merundingkan penukaran nota persahabatan antara kerajaan Tjeng dan kerajaan Nepal.
Sesudah beres, Tjiauw Tjoen Loei segera memerintahkan orang menyediakan meja perjamuan guna menjamu raja Nepal dan rombongannya.
Di samping itu, ia juga menjanjikan hadiah selaksa pakaian musim dingin untuk tentara Nepal dan hadiah yang tidak diduga-duga itu sudah diterima oleh raja dengan menghaturkan terima kasih.
Sebelum perjamuan dibuka, Thian Oe mengajak Keng Thian ke satu sudut untuk beromongomong mengenai hal-hal yang terjadi semenjak mereka berpisahan.
Mendengar terancamnya jiwa Kim Sie Ie yang sekarang sedang mendaki gunung seorang diri, Thian Oe berduka dan ingin mengikut mencarinya.
"Tak usah,"
Kata Keng Thian.
"Disini kau mempunyai tugas penting dan untuk mencari Kim Sie Ie, beberapa orang sudah naik ke atas."
Thian Oe mengangguk. Sesaat kemudian, ia berkata dengan suara terharu.
"Tak lama lagi kita akan berpisahan jauh."
"Apakah ayahmu sudah menerima firman kaisar?"
Tanya Keng Thian.
"Apa sudah ada berita tentang pemulangan kalian ke Selatan?"
"Dari kota raja sudah datang warta, bahwa ayah akan segera dipanggil pulang dan diangkat pula menjadi Giesoe,"
Jawabnya.
"Menurut niatan ayah, sesudah kembali ke kota raja, ia akan mengajukan permohonan untuk meletakkan jabatan dan pulang ke kampung halaman."
"Apa aku diajak?"
Menyeletuk Kang Lam.
"Namaku Kang Lam dan setiap hari aku mendengar ceritera tentang keindahan daerah Kanglam. Tapi aku sendiri belum pernah melihat Kanglam."
"Kanglam mirip-mirip seperti kau,"
Kata Keng Thian sambil tertawa.
"Nakal, bersemangat dan selalu bergembira."
"Kang Lam, kedudukanmu sekarang tiada beda seperti kedudukanku,"
Kata Thian Oe dengan paras sungguh-sungguh.
"Kau merdeka untuk pergi kemana pun kau suka. Jika kau suka mengikut kami ke Kanglam, kami tentu saja akan merasa sangat bersyukur. Untuk bicara terus terang, aku memang merasa berat berpisahan dengan kau."
Sementara itu, Yoe Peng pun sedang bicara dari hati ke hati dengan majikannya.
"Kongtjoe, apakah kau bakal pulang ke Nepal,"
Tanya si dayang.
"Aku kepingin sekali, hanya kukuatir raja tidak menyukai kedatanganku,"
Jawabnya. Sang majikan lantas saja menceritakan apa yang sudah terjadi, sehingga Yoe Peng tertawa terpingkalpingkal.
"Tapi apakah Kongtjoe ingin kembali ke istana es?"
Tanya pula Yoe Peng.
"Mengapa kau tanya begitu?"
Si nona balas menanya. Yoe Peng bersenyum dan menjawab dengan suara perlahan.
"Istana es terlalu sepi dan dingin, sekarang agaknya tak menarik lagi."
"Tapi kusendiri sangat senang berdiam di istana es,"
Kata si nona. Yoe Peng mengangguk, tapi pada paras mukanya terlihat perasaan putus harapan. Peng Go bersenyum dan lalu berkata dengan suara halus.
"Yoe Peng, sikapku terhadapmu adalah bersamaan dengan sikap Thian Oe terhadap Kang Lam. Mulai dari ini waktu, kita adalah seperti kakak dan adik. Kau sekarang merdeka dan bebas untuk pergi kemanapun jua."
"Kongtjoe, sedikitpun aku tak punya niatan untuk berpisahan denganmu,"
Kata si dayang terburu-buru. Pengtjoan Thianlie tertawa dan berkata.
"Yoe Peng, setiap manusia mempunyai peruntungan sendiri-sendiri. Kutahu, bahwa dalam hatimu, kau tak ingin kembali ke istana es karena kau ingin mengikut Tan Kongtjoe pulang ke Kanglam. Thian Oe adalah pemuda yang baik dan kumerasa lega jika kau berada di bawah perlindungannya."
Mendengar perkataan sang majikan yang mengenai jitu rahasia hatinya, Yoe Peng tak bisa bicara lagi.
Ia menunduk dengan paras muka merah, dengan kemalu-maluan dan berterima kasih akan kemuliaan dan kebijaksanaan sang majikan.
Perjamuan berlangsung dengan gembira dan baru berakhir sesudah magrib.
Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie terus berdiam di perkemahan tentara Tjeng, sedang raja Nepal dan menterimenterinya pulang ke tenda mereka, untuk berunding lagi pada esokan harinya.
Sesudah mengetahui, bahwa Liong Leng Kiauw lari ke gunung, Tong Say Hoa bersama keponakannya segera berangkat untuk menyusul.
Pemandangan malam di pegunungan Himalaya sangat luar biasa.
Ribuan puncak berderet-deret tertutup salju putih yang terang benderang, sehingga orang merasa seakan-akan ia berada di dunia kristal.
Untuk menolong sahabat, malam-malam Keng Thian dan Peng Go mendaki gunung.
Mereka berhenti sebentar di tempat dimana Kim Sie Ie menulis syairnya.
Keng Thian tertawa dan berkata.
"Semula aku agak membenci dia, tapi sekarang dengan hati yang suci, aku mengharap jiwanya bisa ketolongan."
"Dalam dunia ini memang terdapat banyak sekali hal yang tak bisa diduga terlebih dulu,"
Kata si nona.
Selagi beromong-omong, kesunyian malam tiba-tiba dipecahkan dengan teriakan aneh yang panjang dan nyaring.
Itulah teriakan Kim Sie Ie!
Tapi dimana dia?
Apa yang dilihatnya hanyalah puncak-puncak yang menjulang ke langit.
*** Jika Pengtjoan Thianlie sangat memikir keselamatan Kim Sie Ie, adalah Kim Sie Ie selalu berdoa untuk keselamatan gadis yang hatinya mulia itu.
Kim Sie Ie telah melihat mereka, tapi mereka tak melihat Kim Sie Ie.
Pada hari itu, pada waktu Keng Thian dan Peng Go mencegat si pendeta jubah merah untuk menolong Liong Leng Kiauw, Kim Sie Ie sebenarnya bersembunyi di puncak seberang dan telah menyaksikan segala kejadian.
Ia yakin, bahwa jika ia muncul, jiwanya akan segera ketolongan.
Tapi ia adalah seorang angkuh yang sungkan memohon terhadap siapapun juga.
Sesudah Keng Thian dan Peng Go berlalu, ia mendongak dan menghela napas panjang.
Angin gunung meniup kembang salju dan kembang salju menyentuh badannya.
Mendadak, pada hatinya yang "mati"
Seperti air telaga yang tenang muncul goncangan gelombang.
Tiba-tiba saja, di depan matanya terbayang kembali kejadian-kejadian yang lampau.
Ia ingat kekejaman manusia, tapi ia ingat juga kebaikan manusia, kebaikan orang-orang seperti Pengtjoan Thianlie dan Lie Kim Bwee.
Sekonyong-konyong, bagaikan seorang yang mendapat ilham, ia berlutut dan berdoa akan keselamatan Peng Go.
Kim Sie Ie adalah seorang yang tak pernah bersembahyang dan tak pernah memuja apapun jua.
Tapi sekarang, dengan rendah hati, ia memohon kepada Yang Maha Kuasa agar Peng Go dilindungi, agar dia bisa hidup beruntung dengan Tong Keng Thian.
Pada sesaat itu, bagaikan bayi yang baru terlahir, hatinya bebas dari rasa jelus dan benci.
Ia menarik napas panjang dan dengan hati lega, dengan suatu kerelaan untuk mati dimana pun juga, ia mulai mendaki gunung seorang diri.
Selagi enak jalan, tiba-tiba ia melihat satu bayangan manusia yang berlari-lari dengan kecepatan luar biasa.
Orang itu adalah Liong Leng Kiauw.
Karena merasa heran, ia lalu menguntit dari belakang.
Liong Leng Kiauw kabur dengan pikiran kalut.
Ia yakin, bahwa raja Nepal akan terus berusaha untuk menangkapnya dan ia juga-tahu, bahwa jika pulang ke Lhasa, ia bakal dibekuk oleh pemerintah Tjeng.
Sesudah menimbang-nimbang beberapa lama, akhirnya ia mengambil keputusan untuk kembali ke Lhasa guna melaporkan segala pengalamannya.
Ia merasa lebih rela untuk binasa dalam tangan Hok Kong An daripada jadi boneka kerajaan asing dan menuntun tentara asing masuk ke wilayah Tionggoan.
Semakin lama salju turun semakin besar, sedang matahari sudah doyong ke barat.
Leng Kiauw mempercepat tindakannya untuk mencari gua guna melewati malam.
Tiba-tiba di antara kesiuran angin dingin, ia merasa hembusan hawa yang agak panas.
Ia jalan terlebih cepat dan tak lama kemudian, untuk kegirangannya, ia melihat sumber air panas yang mancur ke atas dengan megahnya.
Disoroti sinar matahari sore, air mancur yang mengepul-ngepul itu indah luar biasa, seolah-olah kembang api yang beraneka-wama.
Di Tibet memang terdapat banyak sekali sumber air panas, tapi terdapatnya sumber itu di pegunungan Himalaya adalah suatu kejadian yang luar biasa.
Leng Kiauw jadi girang karena ia bisa melewati malam itu tanpa kedinginan.
Selagi duduk mengasoh di pinggir air mancur, tiba-tiba hidungnya mengendus bebauan bunga yang sangat harum.
Dengan perasaan heran, ia bangun berdiri dan menuju ke arah bebauan itu.
Jalan belum berapa jauh, ia melihat sebuah rumah kecil yang berdiri disatu tanjakan dan di seputar rumah itu, yang dikurung tembok kate, terdapat taman bunga dengan kembang-kembangnya yang beranekawarna.
"Tumbuhnya pohon bunga di tempat yang hawanya hangat bukan kejadian heran,"
Katanya didalam hati.
"Tapi terdapatnya sebuah rumah penduduk yang terpencil di pegunungan ini, benarbenar kejadian langka."
Harus diketahui, bahwa walaupun tempat itu belum mencapai separuhnya tinggi Himalaya, tapi karena gunung tersebut berlipat-lipat kali lebih besar dan lebih tinggi dari gunung biasa, maka jangankan di puncaknya, sedangkan di lerengnya pun salju tak pernah melumer di seluruh tahun.
Itulah sebabnya, seorang manusia biasa tentu tak akan bisa hidup disitu.
Leng Kiauw menghampiri dan menolak pintu taman yang tidak terkunci dan lantas saja terbuka.
Ia melihat seorang gadis muda yang justeru sedang memanggil ayahnya.
"Thia-thia! Coba lihat! Mawar yang ditanam olehku sudah mulai mekar."
Mendadak gadis itu menengok dan dua pasang mata lantas saja kebentrok, sehingga sama-sama mengeluarkan seruan kaget. Nona itu yang tangannya kotor dengan tanah dan memegang gunting, segera menegur.
"Siapa kau?"
"Seorang pemburu yang kesasar,"
Jawabnya.
"Kau berani naik gunung selagi salju turun begini besar?"
Tanya pula si nona.
"Aku ingin memburu kerbau liar,"
Jawabnya.
Gadis itu mengawasi dengan rasa sangsi sebab Leng Kiauw sama sekali tidak membekal alat memburu dan juga sebab sekali pun pemburu yang bernyali besar tak akan berani naik sampai disitu.
Tapi, biar bagaimanapun jua, sebagai seorang yang hidup terpencil, ia merasa girang melihat munculnya sesama manusia.
"Bagus!"
Katanya.
"Kau tunggu dulu. Aku ingin melaporkan kepada ayah."
"Berapa banyak jumlah keluargamu?"
Tanya Leng Kiauw.
"Hra! Hanya ayah dan aku,"
Jawabnya. Leng Kiauw jadi heran dan bimbang. Sesaat kemudian, di luar pekarangan sudah terdengar tindakan kaki yang sangat enteng.
"Tak perduli dia pemburu tulen atau bukan, kita harus menyambutnya dengan segala senang hati dan kau tak usah menanyakan asal-usulnya,"
Demikian terdengar suara seorang tua yang sangat perlahan.
Suara itu bukan saja sangat perlahan, tapi malahan seperti dibisiki di kuping si nona, sehingga menurut pantas, tak akan bisa didengar oleh orang ketiga.
Tapi Leng Kiauw adalah seorang ahli senjata rahasia yang kupingnya tajam luar biasa dan setiap perkataan orang tua itu sudah dapat didengar tegas olehnya.
Pintu taman terbuka dan seorang tua yang rambutnya putih, punggungnya agak bongkok, tapi mukanya bersinar merah, bertindak masuk.
Leng Kiauw terkejut.
"Tak bisa salah lagi, ia adalah seorang berilmu yang menyembunyikan diri,"
Pikirnya. Buru-buru ia memberi hormat dan menanyakan she dan nama orang tua itu.
"Aku she Phoei,"
Jawabnya.
"Sesudah berdiam disini tiga puluh tahun dan tak pernah ada orang yang memanggil namaku, aku sendiri sudah melupakannya."
Sesudah memberitahukan she dan namanya, Leng Kiauw berkata.
"Aku naik ke gunung ini untuk memburu kerbau liar, tapi tidak dinyana semakin lama kunaik semakin tinggi dan akhirnya kesasar sampai disini. Untuk gangguanku ini, harap Lootiang sudi memaafkan."
Si kakek mengangguk dan berkata dengan suara manis.
"Jika Tjongsoe (orang gagah) tidak buat celaan, sebaiknya kau menginap semalaman di gubukku ini."
Dengan rasa syukur dan sambil menghaturkan terima kasih, Leng Kiauw lalu mengikuti ayah dan anak itu masuk ke dalam.
Ruangan itu diperaboti sederhana sekali, sedang di tembok tergantung beberapa kulit binatang dan di satu sudut ditumpuk sedikit rumput obat-obatan.
Beberapa saat kemudian, si nona membawa keluar sepiring daging dan semangkok besar susu kerbau.
Orang tua itu tertawa seraya menanya.
"Apakah kau bertemu dengan kerbau liar waktu mendaki gunung?"
"Tidak,"
Jawabnya.
"Kerbau itu biasanya keluar di waktu salju baru berhenti turun,"
Katanya pula.
"Untuk bisa membinasakannya, seorang pemburu harus berlaku sabar dan menunggu lama. Beberapa hari yang lalu anakku sangat mujur dan sudah membinasakan seekor kerbau, cukup untuk hidup beberapa bulan. Minumlah susu itu, paling enak jika diminum panas-panas."
Mendengar keterangan itu, Leng Kiauw terperanjat.
Harus diketahui, bahwa kerbau liar di daerah Tibet banyak lebih ganas dan buas daripada harimau.
Dengan berkawan belasan atau puluhan orang, barulah pemburu berani turun tangan untuk menangkap atau membunuhnya.
Bahwa seorang gadis jelita telah berhasil membunuh seekor kerbau itu, benar-benar kejadian luar biasa.
Biarpun ia sudah menduga, bahwa ayah dan anak itu bukan sembarang orang, tapi keterangan tersebut masih tetap mengejutkan.
Walaupun heran, ia tak berani menanyakan asalusul mereka, karena dalam kalangan Kangouw terdapat banyak pantangan.
"Bahwa Tjongsoe berani menangkap kerbau liar seorang diri merupakan bukti, bahwa nyalimu besar sekali,"
Kata si kakek.
"Pedang yang tergantung di pinggangmu kelihatannya bukan sembarang pedang dan Tjongsoe tentulah juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi."
Leng Kiauw merasa, bahwa tak guna ia berdusta. Maka itu, ia segera berkata dengan merendah.
"Aku hanya belajar beberapa tahun dan perkataan Lootiang, bahwa aku memiliki kepandaian tinggi, tak dapat aku menerimanya."
"Siapa gurumu?"
Menyeletuk si nona. Si kakek melirik puterinya yang lantas saja menunduk dengan paras kemalu-maluan.
"Guruku adalah seorang she Tong dari propinsi Soetjoan,"
Jawab Leng Kiauw Orang tua itu hanya mengeluarkan suara "oh"
Dan tidak mendesak terlebih jauh. Leng Kiauw memasukkan sepotong daging kerbau ke dalam mulut, tapi lantas ia mengeluarkan lagi sebab daging itu terlalu amis. Si nona tertawa seraya berkata.
"Apa Liong Sianseng tak doyan daging itu? Tong Tayhiap doyan sekali!"
Sekali lagi, si kakek melirik puterinya yang sangat lancang. Leng Kiauw kaget.
"Tong Tayhiap yang mana?"
Tanyanya. Orang tua itu bersenyum dan menjawab.
"Seorang sahabat yang mengerti ilmu silat pedang. Anakku jarang sekali bertemu dengan orang luar dan siapa saja yang berkepandaian lebih tinggi daripadanya, ia lantas memanggil Tayhiap."
Leng Kiauw turut bersenyum, tapi dalam hatinya, ia heran bukan main.
Ia tahu, dalam dunia ini, orang yang dipanggil sebagai Tong Tayhiap hanyalah Keng Thian dan ayahnya.
Tong Siauw Lan berada di Thiansan, sedang Keng Thian sendiri masih berada di kaki gunung.
Siapakah yang dipanggil Tong Tayhiap oleh si nona?
Susu kerbau ternyata sangat cocok bagi lidah Leng Kiauw dan ia lantas minum habis semangkok besar.
Tapi karena susu itu sangat panas, sesudah minum, ia mengeluarkan banyak keringat.
"Jika panas Tjongsoe boleh buka baju luarmu,"
Kata orang tua itu.
Leng Kiauw manggutkan kepalanya dan lalu membuka baju luarnya yang terbuat dari kulit rase.
Tiba-tiba si kakek mengawasi pinggangnya dengan sorot mata yang sangat luar biasa.
Liong Leng Kiauw adalah seorang yang sudah kenyang mengalami gelombang dan badai besar.
Tapi melihat sorot mata itu, jantungnya memukul keras.
Di lain saat, ia mengetahui, bahwa apa yang diawasi tuan rumah adalah singa-singaan giok putih yang tergantung di pinggangnya.
"Apa mungkin seorang yang kelihatannya berilmu tinggi, maui barang tidak berharga?"
Tanyanya di dalam hati.
"Jika singa-singaan ini bukan barang turunan dari ayahku, kutentu tak merasa halangan untuk memberikan kepadanya."
Gadis itu juga rupanya sudah melihat sorot mata ayahnya yang sangat aneh.
"Thia-thia,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Susu sudah dingin."
Sesudah memikir sejenak, Leng Kiauw segera merogoh saku dan mengeluarkan serenceng mutiara.
"Lootiang, untuk segala kebaikanmu, kutak mempunyai apa-apa untuk membalasnya dan aku ingin sekali menyerahkan serenceng mutiara ini kepada puterimu,"
Katanya dengan sikap menghormat.
"Aku sangat mengharap, Lootiang tidak menolaknya. Mutiara ini bukan untuk membalas budi, tapi hanya sebagai tanda dari rasa terima kasihku."
Sinar mata si kakek yang luar biasa lantas saja menghilang. Ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Apa gunanya mutiara bagi seorang wanita yang hidup di atas gunung? Apakah untuk diperlihatkan kepada binatang-binatang liar?"
Si nona yang belum pernah melihat mutiara, lantas saja mengawasi dengan sorot mata heran.
"Apa itu?"
Tanyanya.
"Mengapa bersinar terang?"
"Orang kata. Pedang mustika untuk dihadiahkan kepada pendekar, sedang mutiara untuk wanita cantik,"
Kata Leng Kiauw.
"Nona, kau cocok sekali memakai perhiasan ini."
Gadis itu tertawa nyaring dan berkata.
"Aku pernah melihat wanita cantik dalam lukisan. Dia kelihatannya begitu ayu dan lemah lembut, seperti juga tak akan bisa berdiri tegak jika ditiup angin. Hih! Aku tak mau menjadi wanita cantik yang seperti itu."
Sebagai seorang yang semenjak kecil hidup di gunung, si nona sama sekali tidak mengerti adat istiadat dan kebiasaan dunia.
Melihat rencengan mutiara yang sangat indah, hatinya ketarik dan ia memperlihatkan perasaan hatinya itu secara terang-terangan.
Alis si kakek berkerut, tapi mendadak ia berkata.
"Soat-djie, jika kau merasa suka kau boleh menghaturkan terima kasih kepada tamu kita."
Si nona tertawa dan segera memberi hormat yang lantas dibalas oleh Liong Leng Kiauw.
Tapi terhadap si nona yang suci dan polos, sedikitpun ia tidak memandang rendah.
Sementara itu, si kakek bersenyum seraya berkata.
"Untuk bisa membeli serenceng mutiara Lamhay, seorang pemburu di Tibet harus lebih dulu menangkap beberapa belas kerbau liar."
Leng Kiauw jadi merasa jengah sendiri, karena dengan mempersembahkan mutiara itu, ia membuka rahasia sendiri.
Tapi sebab ia yakin, bahwa orang tua itu bukan sembarang orang, maka walaupun rahasianya sudah terbuka, ia tidak berkuatir.
Malam itu, Leng Kiauw tidur dalam sebuah kamar yang berdempetan dengan taman bunga.
Dapat dimengerti, jika ia tak bisa pulas.
Ia memikiri cara-cara luar biasa dari tuan rumah dan puterinya, ia coba memecahkan teka-teki sekitar sorot mata aneh dari si kakek yang mengawasi singa-singaan di pinggangnya.
Mengingat singa-singaan, lantas saja ia ingat mendiang ayahnya, yang dulu pernah memimpin ratusan laksa tentara, tapi yang tak urung dibinasakan juga oleh kai/ar Tjeng.
Ia menghela napas dan berkata dalam hatinya.
Waktu itu ayahku sebenarnya bisa mengangkat diri menjadi raja, hanya sayang, nyalinya kurang besar."
Ia ingat pula cita-cita dan rencananya sendiri yang sudah diatur dalam banyak tahun, tapi yang akhirnya gagal semua.
Sambil memikir pergi datang, hidungnya terus mengendus wanginya bunga-bunga didalam taman.
Perlahan-lahan ia bangun dan memakai jubah luarnya, akan kemudian keluar jalan-jalan di taman bunga.
Sesudah melewati pohon-pohon bunga, tiba-tiba ia melihat pagar kate yang mengurung satu sudut taman.
Karena ingin tahu, ia lalu menghampiri dan begitu melihat, ia terkesiap!
Tanpa menghiraukan kemungkinan ditegur tuan rumah, ia mendorong pagar yang lantas saja roboh dan bertindak masuk.
Begitu masuk, ia melihat dua patung batu, yang satu merupakan seorang bangsawan bangsa Boan, sedang yang satunya lagi adalah patung ayahnya sendiri -Lian Keng Giauw!
Apa yang lebih luar biasa, pada patung ayahnya tertancap dua batang golok.
Leng Kiauw mengeluarkan keringat dingin dan bergemetar sekujur badannya.
"Apa aku mimpi?"
Tanyanya di dalam hati.
Di lain saat, ia gusar tercampur takut.
Tiba-tiba ia mendengar suara berkreseknya pakaian yang tertiup angin.
Sambil menggereng bagaikan harimau terluka, ia memutar badan dan menindju.
"Bangsat tua!"
Bentaknya.
"Mengapa kau hinakan ayahku?"
"Plak!" , tinjunya seperti memukul segundukan rumput dan tubuhnya yang didorong oleh si kakek, terhuyung beberapa tindak. Badan orang tua itu sendiri kelihatan bergoyang-goyang dan di sudut mulutnya terdapat sedikit darah. Di bawah sinar rembulan yang dingin, paras muka si kakek yang pucat kelihatan menakuti sekali. Sambil menyusut darah di mulutnya dengan lengan baju, ia berkata dengan suara dalam.
"Aku sudah menduga, bahwa yang datang berkunjung adalah Lian Kongtjoe. Cabutlah golok itu."
Leng Kiauw bersangsi, tapi akhirnya ia mengangkat tangan untuk mencabut kedua golok itu.
Begitu tersentuh, gagang golok terlepas dan jatuh di tanah.
Ternyata, karena sudah terlalu lama, kayu gagang golok itu sudah menjadi rusak.
Sesudah tercabut, sebagian golok itu sudah karatan, tapi sebagian lagi, yang menancap di dalam batu, masih berkilauan sinarnya.
"Kedua golok itu telah ditancapkan pada tiga puluh tahun berselang,"
Kata si kakek.
"Pada waktu itu, aku sangat membenci ayahmu."
"Ada permusuhan apakah antara ayahku dan kau?"
Tanya Leng Kiauw.
"Pada tiga puluh tahun berselang, semua pendekar di kolong langit adalah musuh ayahmu!"
Jawabnya "Aku sendiri, meskipun aku membenci ayahmu, tapi kebencian itu berbeda dengan orang lain dan sangat memalukan, jika diceritakan."
"Siapa kau? Mengapa kau membenci ayahku?"
Tanya Leng Kiauw.
"Apa kau pernah mendengar nama Phoei Keng Beng?"
Si kakek balas menanya. Lapat-lapat Leng Kiauw ingat, bahwa gurunya pernah menyebutkan nama, itu, tapi ia tak tahu siapa adanya. Orang tua itu tertawa getir seraya berkata.
"Dalam tiga puluh tahun, dunia sudah banyak berubah dan namaku sudah tidak dikenal lagi."
Ia berdiam sejenak dan berkata pula dengan suara perlahan.
"Kaizar yang sekarang adalah Kian Liong. Pada empat lima puluh tahun yang lampau, ayahnya Kian Liong, yaitu kaisar Yong Tjeng, masih dikenal sebagai Soehongtjoe (putera kaizar yang ke empat) In Tjeng. Pada jaman itu, putera-putera kaizar berebut tahta dan lawan In Tjeng yang paling berat adalah Tjapsie Hongtjoe (putera kaizar yang ke empat belas) In Tee. Apa kau pernah mendengar cerita perebutan tahta itu "
Ya,"
Jawab Leng Kiauw, sambil mengangguk.
"Kakeknya Kian Liong, yaitu kaizar Kong Hie, sebenarnya sudah menulis firman yang menetapkan, bahwa tahta kerajaan diwariskan kepada Tjapsie Hongtjoe. Tapi, dengan bantuan ayahmu dan pamannya, In Tjeng belakangan mengubah firman, sehingga akhirnya, dialah yang menjadi kaizar."
"Tapi bukankah soal siapa yang menjadi kaizar tak bersangkut paut dengan rakyat jelata?"
Kata Leng Kiauw.
"Persoalannya bukan begitu,"
Kata Phoei Keng Beng.
"Soal ini sedikitnya bersangkut paut dengan diriku. Jika Yong Tjeng tidak menjadi kaizar, ayahmu tentu tak mati begitu cepat dan aku tidak melarikan diri ke gunung ini."
Leng Kiauw bengong dan untuk beberapa saat ia tidak mengeluarkan sepatah kata.
"Bagus juga Yong Tjeng sudah dibinasakan oleh musuhnya,"
Katanya.
"Pada empat puluh tahun berselang, Tjapsie Hongtjoe mempunyai dua boesoe yang paling terkenal,"
Kata pula si kakek.
"Yang satu bernama Kie Pwee Sia yang belakangan berhamba kepada Yong Tjeng. Yang satu lagi terus bersetia kepada majikan yang lama."
Tiba-tiba Leng Kiauw ingat cerita yang pernah didengarnya.
"Ah! Orang itu adalah Sinkoen (si Tinju Malaikat) Phoei Keng Beng!"
Teriaknya. Si kakek bersenyum dan berkata.
"Benar. Orang itu adalah aku sendiri."
Bicara sampai disitu, si nona datang.
"Ayah, mengapa sampai begini malam kau masih terus beromong-omong dengan tamu kita?"
Tanyanya.
"Ih! Ada apa?"
Sambil bersenyum sang ayah menyusut ujung mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Tak apaapa,"
Jawabnya.
"Soat-djie, kaupun boleh mendengar pembicaraan ini."
Ia menghela napas dan kemudian melanjutkan penuturannya.
"Sesudah mengubah firman dan naik ke atas tahta, Yong Tjeng terus berusaha untuk membasmi saudara-saudaranya. Beberapa tahun kemudian, selagi membawa tentara untuk memadamkan pemberontakan di Tiongkok Barat, Tjapsie Hongtjoe kena dibinasakan. Orang yang mengatur rencana untuk membinasakan pangeran itu, adalah ayahmu sendiri. Sesudah Tjapsie Hongtjoe binasa, ayahmu merampas kekuasaan tentara dan mulai waktu itu, barulah ia mendapat pangkat sebagai jenderal besar."
"Lantaran itu, kau membenci ayahku dan Yong Tjeng, bukan?"
Tanya Leng Kiauw.
"Benar,"
Jawabnya.
"Karena aku sungkan menghamba, Yong Tjeng jadi gusar, sehingga aku terpaksa kabur ke Tibet. Sesudah berada di Tibet, aku masih tetap ingin membalas sakit hati dan segera menikah dengan ibunya Soat-djie, dengan pengharapan bisa mendapat anak lelaki, yang akan bisa membalas sakit hatiku."
Si nona mengeluarkan seruan kaget. Sang ayah tertawa dan berkata dengan suara halus.
"Soat-djie, kau tak usah takut. Kedua musuh itu sudah binasa tiga puluh tahun lamanya. Waktu itu, karena sukarnya perhubungan, aku tak tahu kebinasaan mereka dan masih terus ingin membalas dendam. Sesudah Yong Tjeng mati beberapa tahun, Tong Tayhiap menyambangiku dan barulah kutahu kejadian itu. Tapi biar bagaimanapun juga, oleh pemerintah Tjeng aku masih dianggap sebagai seorang buronan dan karena hatiku sudah menjadi dingin, aku segera menetap di Tibet dan hidup beruntung bersama ibumu. Waktu bermula pindah kesini, hatiku mendongkol terhadap Lian Keng Giauw, sehingga aku membuat patungnya untuk digunakan sebagai sasaran dalam latihan golok terbang. Sebenarnya, sesudah orangnya meninggal dunia, sakit hati harus disingkirkan dan melampiaskan hawa amarah terhadap orang yang sudah mati, memang tak pantas. Tong Tayhiap pun sudah pernah menasehati aku. Lian Kongtjoe, malam ini aku sengaja menuturkan segala apa secara terus terang dan barusan aku membiarkan kau meninju mulutku, supaya sedikit banyak kau bisa melampiaskan rasa jengkelmu."
Mendengar penuturan itu, kegusaran Leng Kiauw lantas saja mereda.
"Sekarang baru kutahu, mengapa kau membenci ayahku,"
Katanya.
"Tapi, kau bersetia kepada Tjapsie Hongtjoe, sedang ayahku bersetia kepada Soehongtjoe, sehingga dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa masingmasing bersetia kepada majikannya sendiri. Mengapa sakit hatimu begitu mendalam?"
"Benar,"
Kata si kakek.
"Bahwa aku menghamba kepada Tjapsie Hongtjoe memang pantas dicaci orang. Tapi kedudukanku berbeda jauh dengan kedudukan ayahmu. Aku hanya seorang kepercayaan Tjapsie Hongtjoe, sedang ayahmu satu jenderal besar. Ia telah mempersembahkan banyak rencana busuk kepada Yong Tjeng, ia telah membinasakan banyak sekali pendekarpendekar budiman dan ia sangat menindas rakyat. Ia sudah menghianati guru sendiri, membakar kuil Siauwlim sie, membangun banyak penjara, mencelakakan dan menganiaya banyak sekali manusia dan melakukan berbagai perbuatan terkutuk. Apakah kenyataan-kenyataan itu diketahui olehmu?"
Semenjak kecil Leng Kiauw dipelihara oleh keluarga Tong dan karena kuatir melukakan hatinya, keluarga tersebut belum pernah menceritakan segala perbuatan ayahnya.
Sesudah besar, ia hanya mengetahui, bahwa ayahnya pernah memegang kekuasaan atas ratusan laksa tentara dan akhirnya dibinasakan oleh kaizar Yong Tjeng.
Kebusukan ayahnya tak pernah diceritakan orang kepadanya.
Maka itulah, mendengar keterangan Phoei Keng Beng, hatinya sakit seperti diiris-iris.
Sedikitpun ia tak pernah mimpi, bahwa ayahnya yang selalu dipuja-puja, sebenarnya adalah satu manusia terkutuk.
Ia berduka tercampur malu, sehingga parasnya pucat bagaikan kertas.
Si kakek mengawasi pemuda itu dengan rasa kasihan.
"Kedosaan ayah tidak menyangkut paut dengan anaknya,"
Katanya dengan suara menghibur.
"Apapula jika diingat, bahwa pada waktu ayahmu meninggal dunia, kau baru berusia satu tahun. Waktu Tong Tayhiap datang kesini, ia telah memberitahukan, bahwa kau telah menukar she dan nama dan bersembunyi di Tibet dengan cita-cita tertentu. Ia mengatakan, bahwa kau adalah seorang baik dan ia merasa girang karena itu. Tapi niatanmu untuk bergerak di Tibet tidak disetujui olehnya."
Dengan hati duka Leng Kiauw berdiri bengong.
"Bagaimana kau tahu, bahwa aku adalah anaknya Lian Keng Giauw?"
Tanyanya dengan suara parau.
"Aku pernah melihat ayahmu, memakai singa-singaan giok itu,"
Jawabnya.
"Hm! Jika aku ingin mencelakakan kau, gampangnya seperti juga membalik tangan. Apa sekarang kegusaranmu sudah mereda?"
Air mata Leng Kiauw mengucur deras.
"Lootiang!..."
Katanya. Ia menyesal bukan main, bahwa ia sudah memukul orang tua itu.
"Sesudah mendengar penuturanku, sekarang kau harus memberitahukan, mengapa kau sudah kabur ke gunung ini,"
Kata Phoei Keng Beng.
"Tentara Nepal berkemah di lembah di kaki gunung,"
Menerangkan Leng Kiauw.
"Walaupun kumembenci pemerintah Tjeng, tapi kujuga sungkan menuntun tentara asing masuk ke wilayah Tionggoan."
Mata si kakek bersinar terang.
"Tong Tayhiap ternyata tak keliru, waktu ia mengatakan, bahwa kau sangat berbeda dengan ayahmu,"
Katanya. Si nona yang merasa kasihan pada tamunya lantas saja menyeletuk.
"Thia-thia, perlu apa kau terus menyebut-nyebut ayah orang?"
"Benar,"
Kata sang ayah sambil bersenyum.
"Permusuhan yang dulu memang tak perlu disebutsebut lagi. Sekarang biarlah kau berdua berjabatan tangan, supaya segala permusuhan habis sampai disini."
Gadis itu lantas saja mengangsurkan tangannya yang lalu dijabat erat-erat oleh Liong Leng Kiauw yang sekarang baru tahu, bahwa si nona bernama Soat Koen.
Dalam usaha menyingkirkan permusuhan dengan keluarga Lian, Phoei Keng Beng sebenarnya mempunyai suatu maksud lain.
Dengan bertempat tinggal di gunung yang jarang disampaikan manusia, ia sangat sukar mencari menantu untuk puterinya.
Pada waktu Tong Siauw Lan memberitahukan, bahwa putera Lian Keng Giauw adalah seorang baik, hatinya lantas saja tergerak.
Begitu bertemu muka, ia mendapat kenyataan, bahwa pemuda itu adalah seorang yang mempunyai kepribadian mengagumkan dan meskipun usianya belasan tahun lebih tua dari Soat Koen, ia masih boleh dipasangi dengan puterinya itu.
Tapi tentu saja ia tak bisa lantas membuka mulut dan ia telah mengambil keputusan untuk meminta pertolongan Tong Siauw Lan.
"Lootiang,"
Kata Leng Kiauw sesudah dapat menenteramkan hatinya.
"Apakah Tong Tayhiap berarti Tong Siauw Lan, Tjiangboendjin Thiansan pay?"
"Benar,"
Jawabnya.
"Dia adalah sahabatku sedari empat puluh tahun berselang."
Baru saja Leng Kiauw ingin menanya lagi, jauh-jauh terdengar tindakan kaki yang sangat enteng.
"Ilmu mengentengkan badan dari orang yang mendatangi belum cukup tinggi, tapi sudah tak boleh dipandang rendah,"
Kata si kakek. Leng Kiauw terkejut.
"Mereka tentu adalah kaki tangan raja Nepal yang datang untuk menangkap aku,"
Katanya.
"Liong Sianseng,"
Kata Keng Beng.
"Biarlah aku tetap memanggil kau sebagai Liong Sianseng. Sebegitu lama kau berada dalam gubukku, kami pasti tak akan mempermisikan kau ditangkap orang. Hanya aku menduga, mereka itu bukan musuh-musuhmu."
Baru saja si kakek berkata begitu, pintu luar sudah terketuk.
"Aku disini!"
Bentak Phoei Keng Beng.
"Tua bangka!"
Demikian terdengar teriakan dalam bahasa Tibet.
"Keluar! Berani benar kau melawan murid-murid Timotato!"
"Oh! Mereka mencari kau!"
Kata Leng Kiauw dengan suara heran.
"Ya, kau tak usah mencampuri,"
Jawabnya.
"Tunggu disini, biar aku yang menyambutnya."
Sambil tertawa terbahak-bahak, ia membuka pintu taman dan melompat keluar.
Tentu saja Leng Kiauw tak akan membiarkan orang tua itu melawan musuh seorang diri.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, bersama Soat Koen ia segera melompati tembok untuk memberi bantuan.
Di luar rumah kelihatan berdiri empat lima orang dan kecuali orang yang barusan mencaci, yang lainnya adalah orang-orang asing.
Begitu tuan rumah muncul, tanpa menegur lagi, mereka menyerang.
Leng Kiauw menghunus pedang dan lalu melompat untuk menyambut serangan itu, Mendadak ia merasa menyambarnya dua macam tenaga dari kiri kanan sehingga pedangnya hampir-hampir jatuh.
Ia terperanjat dan menanya dalam hatinya.
"Ilmu apa ini?"
Tiba-tiba dari jarak sepuluh tindak, Keng Beng mengirim satu pukulan, sehingga badannya dua pendeta asing yang berada paling depan, bergoyang-goyang! "Benar-benar Tinju Malaikat!"
Memuji Leng Kiauw di dalam hati.
Di lain saat, dua orang lain sudah menerjang si kakek dari kedua samping dan pertempuran segera dimulai.
Leng Kiauw juga tak tinggal diam dan bersama si nona, ia segera menerjun ke dalam gelanggang.
Biarpun belum bisa menandingi jago-jago kelas utama, Leng Kiauw memiliki kepandaian dan lweekang yang cukup tinggi.
Maka itu, sesudah bertempur beberapa jurus, ia segera dapat meraba-raba keliehayannya Imyang Tjianglek dan dengan mengikuti gerakan-gerakan serangan itu yang terputar-putar, ia bisa juga mengirim serangan-serangan dengan pedangnya, Sementara itu, Soat Koen yang bersenjata pecut yang terbuat dari benang emas, juga merupakan bantuan yang sangat berharga.
Lweekang si nona masih rendah, tapi ia gesit dan lincah, sedang pecutnya adalah senjata panjang yang dapat melukakan musuh dari jarak kurang lebih setombak.
Sesudah bertempur beberapa lama, mendadak terdengar suara "plak!"
Dan dua musuh yang berada di sayap kiri roboh terguling dengan berbareng.
Leng Kiauw melompat seraya mengayun pedang, tapi dicegat oleh dua musuh lain yang berada di sayap kanan.
Sedang kedua kawannya menggelinding ke bawah tanjakan, mereka menyerang dengan pukulan berantai, sehingga Leng Kiauw terpaksa melompat mundur.
Dengan menggunakan kesempatan itu, mereka segera kabur dan menyusul kedua kawannya.
Napas Phoei Keng Beng kelihatan tersengal-sengal.
"Hai! Kusudah tua!"
Katanya dengan suara duka.
"Sudah tak berguna lagi!"
Ternyata, meskipun ia berhasil memecahkan Imyang Tjianglek dengan tenaga lweekang, tapi dirinya sendiri telah mendapat luka di dalam.
Dengan dipayang oleh Leng Kiauw dan Soat Koen, ia kembali ke dalam rumah dan bersila untuk mengerahkan lweekang.
Lewat seminuman teh, barulah napasnya mulai mereda.
"Siapa adanya mereka?"
Tanya Leng Kiauw.
"Mengapa mereka musuhi Lootiang?"
"Entahlah,"
jawabnya.
"Pergi satu, datang yang lain, sudah tiga kali mereka menyateroni aku.
Yang pertama adalah seorang pendeta asing yang berambut merah seorang juru bahasa Tibet.
Ia mengatakan, bahwa gurunya memerlukan gubukku ini dan yang lebih gila lagi, aku dan anakku mau dijadikan semacam budak.
Huh-huh!
Aku si tua sudah hidup enam puluh tahun lebih, tapi belum pernah bertemu dengan manusia yang begitu kurang ajar.
Akhirnya aku menghajar mereka yang lalu melarikan diri.
Yang datang kedua kali adalah tiga orang, dua antaranya mempunyai lweekang yang sangat tinggi.
Kami melawan dan sesudah bertempur setengah harian, kami keteter.
Untung sungguh datang Tong Tayhiap yang lalu menghajar kedua orang itu dengan Thiansan Sinbong.
Dan kali ini, Liong Sianseng yang membantu aku.
Tanpa bantuan, gubuk dan taman ini tentu sudah direbut orang.
Leng Kiauw merasa sangat heran dalam hatinya.
Perlu apa orang-orang asing itu merebut sebuah rumah kecil di tengah-tengah gunung yang sepi?
Ia tentu saja tak tahu, bahwa dalam cita-citanya untuk mendaki Tjoe-hong, Timotato sudah membuat rencana lama sekali dan telah memerintahkan murid-muridnya menyelidiki jalanan.
Melihat rumah si kakek, murid-murid itu merasa ketarik karena rumah tersebut terletak di tempat yang hawanya hangat dan sangat cocok untuk dijadikan pangkalan.
Jika mereka meminta secara baik dan memberi alasan-alasan yang pantas, mungkin sekali Phoei Keng Beng akan meluluskan.
Tapi sebagai murid Timotato yang biasa berlaku sewenang-wenang kepada rakyat jelata, mereka bersikap sangat kurang ajar dan sombong, sehingga mereka jadi bergebrak dengan Keng Beng dan puterinya.
Kedua orang asing yang telah dilukakan lututnya oleh Tong Siauw Lan, bukan lain daripada Tunhuman dan Alsa.
Hawa jadi semakin dingin dan Soat Koen berkata kepada ayahnya.
"Thia-thia, kau mengasohlah."
Sang ayah tak menyahut, sebaliknya ia memasang kuping.
"Kukuatir musuh tak mengijinkan aku mengasoh,"
Katanya dengan suara getir.
"Apa? Apa mereka datang lagi?"
Tanya si nona dengan hati berdebar-debar.
"Benar-benar kurang ajar!"
Mencaci Leng Kiauw, karena ia pun sudah mendengar tindakan orang.
Tiba-tiba terdengar suara gedubrakan dan tembok pekarangan roboh.
Di lain saat, sejumlah orang melompat masuk.
Orang yang jalan di depan adalah Koksoe Nepal Taichiti, diikut oleh empat muridnya Timotato yang barusan kabur dan di belakang mereka kelihatan dua boesoe Nepal.
Ternyata, sesudah dirobohkan Keng Thian, Taichiti tak ada muka untuk bertemu lagi dengan raja Nepal dan ia berhasil membujuk dua orang boesoe Nepal untuk mengejar Leng Kiauw, dengan harapan bisa mendapat muka lagi jika ia berhasil membekuk buronan itu.
Di tengah jalan, mereka bertemu dengan ke empat murid Timotato dan mengetahui, bahwa Liong Leng Kiauw pun berada di rumahnya si kakek.
Maka itulah, dengan merangkap tenaga, mereka segera menyateroni lagi.
Sekarang Taichiti sudah tidak menggunakan jubah merahnya yang telah dirusak Thiansan Sinbong.
Untuk gantinya jubah, ia membawa tameng besi sebagai timpalan dari martilnya.
Tembok taman keluarga Phoei dirobohkan olehnya dengan menggunakan martil.
Melihat kebun kembangnya rusak, si nona jadi kalap dan sambil memutar pecut, ia menerjang.
"Soat-djie! Mundur!"
Teriak sang ayah. Tapi Soat Koen tidak meladeni dan dengan sekali mengayun tangan, ia menimpuk dengan pedang pendek.
"Trang!" , pedang itu patah terbentur tameng. Hampir berbareng, ujung pecut si nona sudah melibat pergelangan tangan Taichiti, tapi pendeta itu tidak menghiraukannya dan terus maju sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lian Kongtjoe!"
Katanya.
"Raja telah memperlakukan kau dengan manis budi, mengapa kau melarikan diri?"
Setiap kali ia maju setindak, pecut Soat Koen melibat selibatan di pergelangan tangannya, sehingga semakin lama pecut itu jadi semakin pendek.
Si nona coba membetot sekeras-kerasnya, tapi sedikitpun tidak bergeming.
"Lepas!"
Bentak Leng Kiauw sambil mengangkat pedang. Lengan Taichiti bergerak dan mendorong tubuh si nona untuk memapaki pedang.
"Tikamlah Lian Sianseng, tikamlah!"
Katanya, mengejek.
Tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat, bagaikan menyambar elang.
Hampir berbareng denqan suara "plak!" , pecut Phoei Soat Koen putus, sehingga dari setombak lebih panjangnya, yang ketinggalan hanya kira-kira empat kaki.
Ternyata, dengan menggunakan Sinkoen, Phoei Keng Beng sudah menolong puterinya.
Paras Taichiti berubah pucat pias dan "uah!", ia muntahkan darah.
Badan si kakek sendiri bergoyang-goyang, seperti api lilin ditiup angin.
Kalau pukulan itu dikirim waktu Phoei Keng Beng masih berusia muda.
Taichiti pasti segera melayang jiwanya.
Tapi sekarang, karena ia sudah berusia lanjut dan mendapat luka di dalam, maka akibatnya kedua belah pihak sama-sama mendapat luka.
"Soat-moay!"
Teriak Leng Kiauw.
"Ajak ayahmu masuk."
Sambil berkata begitu, ia melepaskan beberapa butir kilee dan panah tangan.
Tapi semua senjata rahasia itu terbang melewati tubuh si pendeta, karena disampok dengan pukulan Imyang Tjianglek oleh keempat murid Timotato.
Leng Kiauw jadi gusar bukan main dan tanpa memikir panjang-panjang lagi, ia segera menerjang musuh-musuhnya.
Taichiti benar-benar kedot.
Biarpun sudah terluka, dengan gagah ia menyambut serangan Leng Kiauw yang dalam sekejap sudah dikurung oleh tujuh musuh.
Masih untung, Taichiti baru saja terluka, sedang empat murid Timotato juga barusan saja bertempur hebat dan dua antaranya sudah terpukul dengan pukulan Sinkoen, maka untuk sementara Leng Kiauw masih bisa bertahan.
Tapi sesudah bertempur kurang lebih dua puluh jurus, ia sudah "digulung"
Dengan gelombang pukulan Imyang Tjianglek dan sukar berkutik lagi.
Melihat saatnya tiba, Taichiti lalu mengempos semangat dan menghantam dengan martilnya sekuat tenaga.
Pada detik yang sangat berbahaya bagi jiwa Liong Leng Kiauw, sekonyong-konyong terdengar teriakan aneh yang sangat nyaring.
Di lain saat, sebuah batu yang besar melayang turun ke gelanggang pertempuran.
Orang-orang yang lagi bertempur jadi kaget bukan main dan semua melompat untuk menyingkirkan diri dari sambaran batu.
Hampir berbareng dengan jatuhnya batu, seorang pemuda yang pakaiannya compang-camping melompat keluar sambil tertawa terbahakbahak.
"Aku paling benci orang main keroyok!"
Teriaknya.
"Ha-ha! Mari! Mari! Rasakan enaknya tongkatku!"
Ia menjungkir balik tiga kali dan tahu-tahu, ia sudah berada di depan Taichiti dan kawan-kawannia.
Gerakan yang begitu cepat sungguh-sungguh sukar dicari tandingannya.
Sebagaimana bisa diduga, pemuda itu bukan lain daripada Kim Sie Ie!
Leng Kiauw heran sebab ia belum mengenal penolongnya, tapi ia tak sempat menanya dan lalu membantu pemuda itu yang sudah mulai dikepung oleh tujuh musuhnya.
Kim Sie Ie terkejut ketika badannya terbetot dengan empat tenaga tangan.
"Binatang!"
Bentaknya.
"Ilmu siluman apa yang digunakan kamu?"
Sambil mencaci, ia menghunus pedang dan lalu menyerang seperti kerbau edan.
"Hengtay (saudara) jangan kalap!"
Seru Leng Kiauw.
"Ikuti gerakan mereka, lebih dulu membela diri dan kemudian baru menyerang!"
"Fui!"
Kim Sie Ie ia membentak pula.
"Geram harimau justeru perlu untuk menghadapi kawanan tikus! Laki-laki tulen harus punya amarah!"
Mendengar jawaban itu, Leng Kiauw jadi mendongkol dan tak berkata apa-apa lagi.
Di lain pihak, melihat cara berkelahinya Kim Sie Ie, keempat murid Timotato jadi girang dan lalu memperhebat serangan mereka supaya musuhnya tak dapat meloloskan diri lagi.
"Awas!"
Mendadak Taichiti berteriak.
Hampir berbareng Kim Sie Ie sudah menyemburkan ludah.
Salah seorang murid Timotato yang sedang menerjang tiba-tiba merasa alisnya seperti digigit semut dan ia tak dapat membuka matanya lagi.
"Cui! Cui!"
Dan dua boesoe Nepal terguling di atas tanah!
Tiga murid Timotato yang lain jadi bingung dan buru-buru menggunakan Imyang Tjianglek untuk membela diri.
Taichiti kelihatan ketakutan sekali dan terus memutar tamengnya bagaikan ti tiran.
Melihat begitu, Leng Kiauw mendusin.
"Toktjhioe Hongkay!"
Serunya dengan suara kaget. Kim Sie Ie tertawa berkakakan.
"Benar!"
Katanya.
"Tak salah! Aku adalah Toktjhioe Hongkay! Semua manusia mencaciku sebagai manusia beracun, sebagai seorang gila! Ha-ha. Apa kau juga merasa jijik?"
Muka Leng Kiauw jadi berubah merah. Ia insyaf bahwa ia sudah salah omong.
"Hengtay adalah seorang pendekar yang berhati mulia,"
Katanya dengan suara jengah.
"Siauwtee memohon maaf."
Kim Sie Ie kembali tertawa terbahak-bahak.
"Memang, memang aku Toktjhioe Hongkay!"
Teriaknya.
"Ha-ha, lihatlah tanganku yang beracun!"
Ia menyembur sambil menyabet dengan pedangnya yang berhasil menggores lengan Taichiti.
Dengan hati ketakutan, si pendeta memutar tamengnya bagaikan titiran untuk melindungi diri.
Sementara itu, tiga murid Timotato sudah memperbaiki kedudukannya dan mulai menyerang lagi dengan Imyang Tjianglek, sehingga Taichiti bisa bernapas lebih lega.
Tapi sebab takut diserang dengan jarum beracun, mereka tidak berani mendesak terlalu keras dan sebagai akibatnya pertandingan dua melawan empat itu jadi berimbang.
Sambil bertempur, ketiga murid Timotato tak hentinya mengeluarkan teriakan-teriakan aneh.
"Eh, perlu apa kamu berteriak-teriak?"
Bentak Kim Sie Ie.
"Apa kau mau dengar geram harimau?"
Sehabis berkata begitu, ia segera mementang mulut dan turut berteriak-teriak.
Sesudah bertempur lagi kira-kira setengah jam, Taichiti kembali kena dipukul dengan tongkat Kim Sie Ie dan ia kelihatannya sudah payah sekali.
Mendadak, secara tidak diduga-duga, pemuda itu berteriak.
"Aku lapar! Sesudah makan, aku akan melayani kau lagi."
Taichiti girang bukan main.
"Baiklah,"
Katanya.
"Aku mempermisikan kau hidup lagi satu hari!"
"Cui!" , Kim Sie Ie menyemburkan ludah dan Taichiti buru-buru lompat menyingkir, tanpa berani membuka suara lagi. Dari sakunya, Kim Sie Ie segera mengeluarkan sepotong daging ayam hutan yang dibakar setengah matang. Ia memasukkan daging itu di mulutnya, tapi lantas dikeluarkan lagi.
"Keras sungguh, gara-gara hawa dingin, tak dapat dimakan lagi,"
Katanya.
"Eh, aku sudah membantu kau, mengapa kau tidak mengundang aku untuk makan?"
Sedari tadi Leng Kiauw berdiam saja sebab ia tengah merasa sangat menyesal, bahwa pada saat hampir memperoleh kemenangan, Kim Sie Ie sudah menghentikan pertempuran.
Mendengar teguran sang penolong, ia lantas saja tertawa seraya berkata.
"Maaf, aku sungguh lupa. Di dalam rumah sedia arak dan daging. Marilah."
Ia sama sekali tak tahu, bahwa Kim Sie Ie menunda pertandingan sebab tenaganya sudah hampir habis.
Setelah memperhatikan pukulan-pukulan Imyang Tjianglek, pemuda itu mengerti, bahwa dalam keadaannya yang sangat letih, ia tak akan bisa memecahkan pukulan itu, sehingga oleh karenanya, ia ingin mengasoh untuk memelihara tenaga.
Begitu bertindak masuk ke dalam rumah, mereka melihat paras Keng Beng pucat bagaikan kertas.
"Lootiang,"
Menegur Leng Kiauw dengan rasa kuatir.
"Bagaimana keadaanmu?"
Si kakek tersenyum seraya menjawab.
"Tak apa-apa. Malam ini kutak akan mati."
Buru-buru Leng Kiauw memegang nadi orang dan hatinya lantas saja mencelos, sebab ternyata orang tua itu tak bisa hidup lebih dari tujuh hari lagi.
Ia berduka bukan main, tapi sebisa-bisa menahan air matanya sebab kuatir si nona turut berduka.
Sekonyong-konyong Kim Sie Ie tertawa berkakakan.
"Benar! Benar!"
Serunya.
"Hidup satu hari berarti satu hari. Asal malam ini tak mati, itu bagus! Siapa tahu kalau besok aku sudah tak ada lagi dalam dunia?"
Leng Kiauw mendongkol, tapi ia merasa tak enak menegur penolongnya. Maka itu, ia hanya berkata dengan suara tawar.
"Di dalam ada arak dan daging, kau ambil saja sendiri."
Kim Sie Ie kembali tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Bagus!"
Teriaknya.
"Sesudah makan, biarpun mesti mati, aku mati sebagai setan perut kenyang. Lootiang! Sebagai orang-orang yang punya penyakit sama, kita saling mengasihani. Marilah kita minum tiga cawan besar!"
Leng Kiauw jadi gusar. Ia tak tahu, bahwa pemuda gila-gilaan itu hanya bisa hidup tujuh hari lagi. Phoei Keng Beng melirik dan mendadak ia pun tertawa berkakakan.
"Bagus! Bagus sungguh!"
Serunya.
"Saudara kecil beradat sangat terbuka. Baiklah! Mari kita minum tiga cawan besar! Soatdjie, ambillah arak dan makanan untuk menjamu tamu kita ini."
Walaupun tertawa, ia tertawa duka dan pada suaranya menyayatkan hati.
Jantung si nona memukul keras dan ia menatap wajah ayahnya dengan mata membelalak.
Sebagai seorang ahli yang berkepandaian tinggi, sekali melirik saja, Phoei Keng Beng sudah tahu, bahwa lweekang Kim Sie Ie adalah lweekang yang sesat dan yang akan segera "membakar"
Dirinya sendiri.
Ia tahu, bahwa pemuda itu hanya bisa hidup tujuh hari lagi, tanpa bisa disembuhkan dengan obat apapun jua.
Ia adalah seorang yang sudah kenyang makan asam garam dunia sedikitpun tak takut mati.
Ia menganggap pemuda itu sebagai seorang yang bernasib sama dan sama sekali tidak menghiraukan kata-katanya yang gila-gilaan.
Sesudah memanasi arak, Soat Koen keluar dan menuang satu cawan untuk Kim Sie Ie.
"Ayah, apa kau juga mau minum?"
Tanyanya sambil mencekal poci arak. Sang ayah tertawa besar dan mengambil poci yang dicekalnya.
"Hari ini secara kebetulan aku bertemu dengan Lian Kongtjoe dan bertemu pula dengan seorang gagah yang luar biasa,"
Katanya.
"Hatiku girang bukan main dan kesempatan ini tak boleh dilewatkan dengan begitu saja."
Ia menuang arak ke dalam cawannya dan lalu minum bersama-sama Kim Sie Ie.
Demikianlah kedua orang itu --yang satu tua, yang lain muda --yang sedang menghadapi maut, minum dengan gembira tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi besok.
Leng Kiauw mengawasi si kakek dengan hati penuh kedukaan.
Ia ingat, bahwa karena garagara ayahnya, bersama puterinya, Phoei Keng Beng lerpaksa menyingkir ke pegunungan Himalaya yang sunyi dan dingin.
Ia ingat pula, bahwa si kakek telah terluka karena tinjunya sendiri.
Dan sekarang ia minum untuk melupakan penderitaannya!
Sesudah minum beberapa cawan, Phoei Keng Beng mendadak menaruh poci dan berkata.
"Liong Sianseng, aku merasa sangat beruntung, bahwa kita bisa bertemu muka. Aku mempunyai serupa urusan yang belum dibereskan. Bolehkah aku meminta bantuanmu?"
"Segala perintah Lootiang aku akan menjalankan dengan segala senang hati,"
Jawab Leng Kiauw. Si kakek tersenyum dan sambil menunjuk puterinya, ia berkata dengan suara perlahan.
"Anak perempuanku tak bisa berdiam di gunung Himalaya seumur hidup. Kalau nanti dia turun gunung, aku mengharap kau sudi melihat-Iihatnya."
Mendengar pesanan itu yang mengandung maksud dalam, Leng Kiauw terperanjat. Ia berdiam dan tidak dapat segera memberi jawaban.
"Bagaimana?"
Menegas si kakek.
"Tentu saja... tentu saja..."
Jawabnya dengan gugup.
"Hal itu adalah hal yang wajar, yang pasti akan dilakukanku, biarpun tidak mendapat pesanan Lootiang."
"Thia-thia,"
Kata si nona yang tidak mengerti maksud ayahnya.
"Jika aku turun gunung, bukankah kau pun akan turun gunung? Apakah ayah tak mau memperhatikan lagi diriku?"
Sang ayah bersenyum duka seraya berkata.
"Anak tolol! Apakah ayah bisa memperhatikan kau terus menerus seumur hidupmu? Liong Sianseng, telah menghadiahkan serenceng mutiara. Hayo! Haturkanlah terima kasih!"
Si nona jadi semakin bingung.
"Bukankah tadi aku sudah menghaturkan terima kasih?"
Tanyanya di dalam hati.
"Apa ayah sudah jadi linglung?"
Tapi walaupun hatinya berkata begitu, untuk menyenangkan sang ayah, ia kembali memberi hormat kepada Leng Kiauw.
Liong Leng Kiauw adalah seorang cerdas dan kata-kata si kakek tentu saja dimengerti olehnya.
Ia tahu, bahwa Phoei Keng Beng ingin menganggap, bahwa serenceng mutiara itu adalah tanda mengikat tali pertunangan.
Sebagai seorang yang mempunyai cita-cita besar, sampai berusia tiga puluh tahun, belum pernah ia memikir untuk menikah.
Dan di luar dugaan, di pegunungan .Himalaya yang sunyi secara sangat luar biasa, ia bertemu dengan si nona.
Melihat kecantikan Soat Koen yang beradat sangat polos, hatinya lantas saja tergerak dan buru-buru ia membalas hormatnya nona itu, akan kemudian berlutut tiga kali di.hadapan Phoei Keng Beng.
"Siauwtit pasti tidak akan menyia-nyiakan perintah Lootiang,"
Katanya dengan suara terharu.
Phoei Keng Beng tertawa girang dan sambil mengurut-urut jenggot, ia minum kering secawan arak.
Sekonyong-konyong Kim Sie le pun tertawa bergelak-gelak.
Ia mengangkat poci dan minum habis isinya.
"Jika kau melanggar janji, kuakan hajar kau dengan tiga puluh gebukan tongkat!"
Katanya dengan suara nyaring.
"Ha-ha-ha! Tak dinyana hari ini kumenjadi saksi dari satu perangkapan jodoh yang sangat luar biasa!"
"Hengtay mabuk,"
Kata Leng Kiauw dengan suara jengah.
"Benar, benar aku sudah pusing,"
Katanya.
"Aku berjodoh untuk menjadi saksi, tak berjodoh untuk minum lagi. Ha-ha-ha!"
Sehabis tertawa, ia melemparkan poci arak, merebahkan diri di atas lantai dan segera menggeros.
Dapat dimengerti, jika malam itu Leng Kiauw tak bisa tidur pulas.
Ia duduk termenung-menung sambil memikiri permainan nasib.
Tak lama lagi fajar menyingsing.
Sekonyong-konyong, Kim Sie Ie melompat bangun.
Sesudah menggosok-gosok mata dengan tangannya, ia mengawasi langit yang sudah mulai terang.
"Satu hari lagi!"
Serunya sambil tertawa besar. Ia mengambil tongkat, membuka pintu dan lalu berjalan keluar.
"Mari! Mari!"
Teriaknya.
"Pagi ini aku akan hajar beberapa bangsat kecil."
Begitu tiba di luar, ia melihat musuh-musuhnya berkumpul di satu tempat, dimana terdapat seorang asing tinggi besar yang belum dikenalnya.
Orang itu, yang bukan lain daripada Timotato, sedang mengurut-urut tubuh seorang muridnya yang kena jarum racun.
Tiba-tiba ia membentak keras, dan dua jerijinya menjepit sebatang jarum!
Ternyata, dengan menggunakan lweekang yang sangat tinggi, ia berhasil mengeluarkan jarum itu dari dalam alis muridnya.
Begitu melihat munculnya Kim Sie Ie, Taichiti yang sedang menjalankan pernapasan untuk mengobati lukanya segera berseru.
"Bocah! Sesudah Timotato Thayhoatsoe datang, kamu semua bakal segera mampus!"
Jarum racun Kim Sie Ie adalah salah satu senjata rahasia yang terhebat dalam Rimba Persilatan.
Bahwa dengan lweekang, Timotato bisa mengeluarkannya merupakan suatu bukti, bahwa kepandaian orang asing itu bukan main tingginya.
Tapi Kim Sie le yang sudah tidak memikir hidup, sedikitpun tak menjadi keder.
Begitu mendengar ancaman Taichiti, ia melompat sambil menyemburkan ludah.
"Fui!"
Bentaknya.
"Thayhoatsoe apa? Akulah yang mau mengantarkan Tayhoatsoe-mu ke alam baka."
Timotato mengebas dengan lengan jubah dan jarum racun itu tak kelihatan bayangbayangannya lagi.
Sambil membentak keras, ia segera menghantam Kim Sie Ie dengan tangannya.
Sambil mengempos semangat, pemuda itu menangkis dengan tongkatnya.
"Buk!" , tongkat bengkok, tapi Timotato pun merasa lengannya sakit. Ia terkejut dan tanpa berani memandang rendah lagi lawannya, ia segera menyerang secara teratur. Tentu saja, pemuda itu bukan tandingannya. Belum berapa lama, Kim Sie Ie sudah terkurung dalam gelombang Imyang Tjianglek. Dengan dipayang oleh puterinya, Phoei Keng Beng keluar dan bersila di depan pintu untuk menyaksikan jalan pertempuran. Ia menghela napas seraya berkata.
"Ah, sayang! Benar-benar sayang!"
"Mengapa?"
Tanya puterinya.
"Dalam usianya yang masih begitu muda, saudara kecil itu memiliki lweekang dan kepandaian yang sedemikian tinggi,"
Jawabnya.
"Dalam dunia ini, mungkin sekali tidak berapa orang yang bisa menandinginya. Tapi... begitu muda, begitu lekas berpulang ke alam baka. Sayang! Apa tak sayang?"
Liong Leng Kiauw yang tak mengerti maksud sebenarnya dari si kakek, hanya menduga, bahwa orang tua itu merasa sayang karena Kim Sie Ie bakal binasa dalam tangan Timotato.
Mengingat budi orang, ia segera menghunus pedang untuk membantu.
Tapi sebelum menerjang, empat murid Timotato mengawasi padanya dengan siap sedia.
"Phoei Pehpeh menderita luka berat dan jika mereka menyerang, Soat-moay pasti tak akan dapat melawannya,"
Katanya di dalam hati. Ia bimbang bukan main karena tak tahu harus berbuat bagaimana. Pada saat yang sangat berbahaya, mendadak, mendadak saja Phoei Keng Beng berteriak dengan suara di tenggorokan.
"Tong... Tong Tayhiap! Suami isteri Tong Tayhiap datang!"
Karena kegirangan yang meluap-luap, badan si kakek bergoyang-goyang.
Kim Sie Ie yang sedang melayani Timotato dengan kepala pusing dan menggunakan tenaganya yang penghabisan, tak mendengar tegas apa yang dikatakan oleh orang tua itu.
Tiba-tiba ia merasa kesiuran angin yang bertenaga luar biasa besar.
Ia terkesiap dan berusaha untuk berkelit, tapi sudah tidak keburu lagi.
Di lain saat badannya mengapung ke udara, seperti juga dilontarkan orang.
Dengan meminjam tenaga itu, ia menjungkir balik dan secara kebetulan ia melihat Timotato terhuyung beberapa tindak.
Tong Siauw Lan datang pada saat yang berbahaya bagi jiwa Kim Sie Ie.
Pada detik yang genting itu, ia memisah kedua orang itu dengan kebasan tangan bajunya.
Jika terlambat sedikit saja, Kim Sie Ie pasti sudah binasa karena ia sudah tidak tahan lagi.
Orang yang paling kaget adalah Timotato sendiri.
Semenjak menjagoi di Eropa dan negaranegara Arab, belasan tahun belum pernah ia bertemu dengan tandingan.
Tapi hari ini, ia terhuyung karena satu kebasan lengan baju.
"Siapa kau?"
Tanya Tong Siauw Lan.
"Mengapa kau berkelahi dengan sahabatku?"
Timotato tak mengerti bahasa Tionghoa, tapi suara Tong Siauw Lan yang tidak keras sangat menusuk telinga.
Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam untuk melawannya.
Orang yang menjawab pertanyaan Siauw Lan adalah Taichiti.
"Ia adalah Timotato Thayhoatsoe, seorang berilmu yang ilmu silatnya paling tinggi di dalam dunia dan yang telah menjagoi di Eropa dan Asia,"
Katanya. Siauw Lan mendongakkan kepala seraya tertawa terbahak-bahak.
"Selama hidup kubelum pernah bertemu dengan seorang yang berani menganggap diri sendiri sebagai manusia paling jempol di kolong langit,"
Katanya.
"Sekarang aku justeru ingin berkenalan dengan ilmunya. Baiklah, begini saja. Biarlah ia memukul aku lebih dulu sepuluh kali."
Sehabis menantang, ia mengebas pula dengan lengan bajunya ke arah Timotato dan Taichiti.
Timotato buru-buru mengerahkan lweekang untuk mempertahankan diri, tapi Taichiti sendiri tak ampun lagi lantas saja terguling-guling dan untung juga, ia masih keburu ditolong oleh murid-murid Timotato, sehingga tak sampai menggelinding ke bawah tanjakan.
"Thayhoatsoe! Jangan sungkan-sungkan lagi,"
Serunya dengan napas tersengal-sengal.
"Dia mengatakan, bersedia dipukul lebih dulu sepuluh kali. Asal kau bisa membereskan dia seorang, di seluruh Tiongkok tiada orang lagi yang berani melawan kau."
Sebagai seorang yang sering berkelana di antara Nepal dan Tibet, walaupun tidak mengenal secara pribadi, Taichiti pernah mendengar nama jago-jago silat di wilayah Tionggoan.
Maka itu, mendengar seruan Phoei Keng Beng, ia segera menduga, bahwa orang yang datang adalah Tong Siauw Lan, Tjiangboendjin dari Thiansan pay.
Selama hidup, Timotato belum pernah dihinakan seperti itu.
Sambil membentak keras, ia menghantam dengan kedua tangannya.
Siauw Lan menancap kedua kakinya di atas bumi dan badannya tidak bergerak.
Dalam kagetnya, si pendeta jadi semakin gusar dan lalu mengirim pukulan berantai.
Pakaian Siauw Lan berkibar-kibar karena pukulan itu, tapi kedua kakinya tetap tidak bergeming.
Timotato jadi mata merah.
Sambil mengempos semangat, dengan seluruh tenaga, ia mengirim pukulan Imyang Tjianglek dengan kedua tangannya, tangan kiri mendorong, tangan kanan membetot.
Dihantam dengan pukulan geledek itu tubuh Siauw Lan bergoyanggoyang dan kaki kirinya terangkat naik.
Dengan cepat ia membuat sebuah lingkaran dengan kaki kirinya itu yang lalu ditancap pula di atas tanah.
Ia tertawa berkakakan seraya berkata.
"Sudah cukup sepuluh pukulan. Bahwa kau berhasil menggoyangkan tubuhku sudah merupakan bukti, kau bukan sembarang orang. Nah! Sekarang terimalah beberapa pukulanku!"
Hampir berbareng, ia mengirim satu pukulan dengan menggunakan ilmu Thiansan Sintjiang (Pukulan malaikat dari Thiansan).
Timotato tentu saja tak bisa menuruti contoh lawannya yang telah menahan serangannya dengan hanya menggunakan tenaga dalam.
Ia menaruh kedua tangannya di dada dan kemudian mendorong ke depan, tapi tak urung ia terhuyung juga.
Sambil mengeluarkan seruan nyaring, Tong Siauw Lan maju setindak dan mengirim pula satu pukulan.
Timotato membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya seraya miringkan badan untuk mengegos pukulan itu.
Tapi tak urung, kedua kakinya terangkat, tubuhnya sempoyongan dan hampir-hampir ia terguling di tanah!
Siauw Lan sungkan memberi napas pada lawannya.
Ia maju pula setindak sambil mengangkat tangan.
Tiba-tiba si pendeta berteriak dan lalu bicara dalam bahasa yang tidak dikenal Siauw Lan.
"Apa dia kata?"
Tanya Siauw Lan sambil menengok kepada Taichiti.
"Thayhoatsoe mengatakan, bahwa ia dan kau adalah orang-orang yang berkedudukan sangat tinggi dan mengadu ilmu dengan jalan pertempuran, tidak sesuai dengan kedudukan yang tinggi. Ia mengusulkan, supaya ditukar dengan lain cara."
"Cara bagaimana?"
Tanya Siauw Lan.
"Adu... adu memanjat gunung,"
Jawabnya.
"Adu memanjat puncak tertinggi di kolong langit."
"Baiklah,"
Kata Siauw Lan dengan suara tenang.
"Tong Tayhiap!"
Seru Phoei Keng Beng.
"Jangan!..."
Suaranya parau dan napasnya tersengalsengal. Siauw Lan kaget.
"Mengapa kau, Phoei Toako?"
Tanyanya.
Sementara itu, Kim Sie Ie pun sudah mengetahui, bahwa orang yang menolongnya adalah ayah Tong Keng Thian.
Mengingat, bahwa orang tua itu adalah manusia yang bisa menolong jiwanya, hampir-hampir ia maju menghampiri.
Tapi di lain saat, ia ingat ejekan Tang Thay Tjeng, yang mengatakan, bahwa Tong Siauw Lan mau menolong dirinya dengan maksud supaya ia tidak bisa mengangkat kepala lagi, karena Tjiangboendjin Thiansan pay itu sebenarnya merasa mengiri dan jelus terhadap ilmu silat Tokliong Tjoentjia.
Pada sesaat itu, rupa-rupa pikiran masuk ke dalam otak Kim Sie Ie, sehingga akhirnya ia memutar badan dan berjalan pergi.
Tapi baru jalan beberapa tindak, mendadak ia melihat seorang wanita setengah tua yang melayang turun dari atas sebuah bukit.
Ia mengawasi dengan mata membelalak dan berkata dengan suara terputus-putus.
"Kau... kau... perlu apa kau mengubar aku terus menerus?"
Wanita itu adalah Phang Eng, isteri Tong Siauw Lan, tapi Kim Sie Ie menganggapnya sebagai Phang Lin. Ia mengeluh seraya berkata dalam hatinya.
"Celaka! Kali ini dia tentu akan memaksa supaya aku menerima budi Tong Siauw Lan."
Di lain pihak, perkataan pemuda itu mengherankan sangat hati Phang Eng.
"Apa kau kata?"
Tanyanya. Melihat sikap yang dingin, Kim Sie le lantas saja meluap darahnya.
"Hra! Kalau begitu dia hanya berpura-pura manis terhadapku,"
Pikirnya.
"Sekarang, melihat ajalku sudah dekat tiba, dia lantas menukar sikap."
Itulah adat aneh dari Kim Sie Ie.
Di satu pihak, ia sungkan menerima budi orang, tapi di lain pihak ia ingin dicinta orang.
Ia jengkel karena Phang Lin terus menguntit dirinya, tapi ia jadi marah melihat sikap Phang Eng yang dingin.
Melihat perubahan pada paras muka pemuda itu, Phang Eng agak terkejut dan berkata dalam hatinya.
"Apakah adikku yang kembali menimbulkan gara-gara?"
Mengingat begitu, ia segera tersenyum dan menanya dengan suara halus.
"Siapa kau? Jika kau mempunyai urusan apa-apa, beritahukanlah kepadaku."
Tiba-tiba Kim Sie Ie mengeluarkan teriakan aneh.
"Baiklah!"
Bentaknya.
"Mulai dari sekarang, kau anggap saja belum pernah bertemu denganku. Minggir! Aku mau pergi."
Karena kuatir Phang Eng menahannya, sambil melompat tinggi, ia menyapu dengan tongkatnya.
"Siapa kesudian mencegat kau?"
Kata Phang Eng dengan suara dingin seraya mementil dengan jerijinya.
"Cring!"
Tongkat terpentil dan Kim Sie Ie merasakan dorongan tenaga yang sangat hebat, sehingga ia menjungkir balik tiga kali dan hinggap di tanjakan gunung.
Bukan main kagetnya pemuda itu.
Ia pemah menyaksikan dan merasa kagum akan kepandaian Phang Lin, tapi ia tak nyana, nyonya itu mempunyai lweekang yang sedemikian dahsyat.
"Untung juga dia tidak mempermainkan diriku terlebih jauh,"
Katanya di dalam hati.
Sambil mengempos semangat, ia kabur secepat-cepatnya tanpa berani menengok lagi.
Tentu saja ia tak tahu, bahwa Phang Eng --yang dianggapnya sebagai Phang Lin --memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada adiknya dan kira-kira berendeng dengan Lu Soe Nio.
Jika yang mementilnya adalah Phang Lin, paling banyak ia menjungkir balik satu kali.
Dalam pada itu, Tong Siauw Lan sudah memeriksa luka Phoei Keng Beng dan memberi dua butir Pekleng tan, akan kemudian mengurut tubuh orang tua itu dengan menggunakan lweekang Thiansan pay.
Phang Eng mendekati dan lalu berdiri di belakang suaminya.
Lewat beberapa saat, Siauw Lan selesai dan berkata sesudah menyusut keringat.
"Phoei Toako, mulai besok pagi kau harus menjalankan pernapasan dalam kamar yang sunyi untuk sepuluh hari lamanya. Lukamu sudah tidak berbahaya lagi."
Si kakek tertawa getir.
"Tong Tayhiap, perlu apa kau banyak berabe dan memperpanjang usiaku untuk beberapa tahun?"
Katanya.
Ia mengetahui, bahwa karena usianya yang sudah lanjut, walaupun sembuh, ilmu silatnya akan berkurang banyak dan ia hanya bisa hidup beberapa tahun lagi.
Ia mengangkat kepala dan kedua matanya menyapu seluruh ruangan.
"Tong Tayhiap,"
Katanya pula dengan suara perlahan.
"Aku ingin memperkenalkan kau dengan dua orang gagah dari tingkatan muda. E-eh, mana itu saudara kecil yang satunya lagi?"
Barusan, selagi diobati sambil meramkan mata, ia tak tahu kaburnya Kim Sie Ie.
"Siapa dia?"
Tanya Phang Eng.
"Mengapa gerak-geriknya begitu luar biasa?"
"Dia adalah yang dikenal dalam kalangan Kangouw sebagai Toktjhioe Hongkay,"
Menerangkan Leng Kiauw.
"Namanya Kim Sie Ie."
"Kim Sie Ie?"
Menegas Siauw Lan yang belum pernah mendengar nama pemuda itu.
"Ih! Tadi, waktu melihat ilmu silatnya, aku ingat seorang sahabat lama."
"Tokliong Tjoentjia!"
Seru sang isteri.
"Benar,"
Kata Siauw Lan.
"Bukankah ilmu silatnya menyerupai ilmu silat Tokliong Tjoentjia?"
"Bukan saja ilmu silatnya, tapi lweekang-nya pun tidak berbeda,"
Jawabnya.
"Celaka! Sayang sungguh aku tidak menahannya!"
"Mengapa?"
Tanya sang suami.
"Barusan aku telah memukulnya dengan menggunakan ilmu Ittjiesian,"
Sahutnya.
"Ia tak tahu maksudku yang baik dan lalu melawan dengan menggunakan lweekang. Menurut pantas, ia mesti terluka tapi ia berhasil memunahkan tenagaku. Dalam dunia ini, hanya Tokliong Tjoentjia yang memiliki lweekang begitu luar biasa. Tapi lweekang yang dikirimnya dengan perantaraan tongkat, sama sekali tidak diiring dengan tenaga yang berikutnya. Menurut pendapatku, lweekang-nya akan segera membakar dirinya sendiri dan ia hanya bisa hidup beberapa hari lagi."
Leng Kiauw kaget bukan main. Sekarang baru ia tahu, bahwa gerak-gerik pemuda itu yang gila gilaan adalah untuk menutupi hatinya yang berduka. Phoei Keng Beng menghela napas seraya berkata.
"Semalam, dengan melihat paras mukanya, aku menduga, bahwa paling banyak ia bisa hidup enam hari lagi. Sekarang Tong Hoedjin juga mengatakan begitu, sehingga dugaan kita pasti tak akan salah."
"Jika kutahu, dia murid Tokliong Tjoentjia, kutentu akan menahannya,"
Kata Phang Eng dengan suara menyesal.
"Ilmu Tokliong Tjoentjia merupakan satu cabang persilatan yang sangat luar biasa. Sungguh sayang, jika ilmu itu termusnah dari dunia."
Si kakek termenung-menung beberapa saat dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Ya! Gelombang Tiangkang yang di sebelah belakang mendorong gelombang yang di depan. Selama belasan tahun ini, dalam Rimba Persilatan muncul banyak sekali orang-orang muda yang berkepandaian tinggi. Tong Tayhiap, Tong Hoedjin, marilah aku memperkenalkan kalian dengan seorang gagah dari tingkatan muda."
Leng Kiauw segera maju menghampiri dan memberi hormat kepada Siauw Lan dan isterinya.
Siauw Lan mengawasi pemuda itu dan ia kelihatan terkejut, ketika melihat singa-singaan giok yang tergantung di pinggang Leng Kiauw.
Sekonyong-konyong, ia tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Aha! Kalau begitu puteranya seorang kenalan lama."
Paras muka Leng Kiauw lantas saja berubah merah.
"Anak seorang berdosa yang mengharap dunia suka mengampuni kedosaan ayahku,"
Katanya dengan suara jengah. Siauw Lan kembali tertawa berkakakan.
"Ada sangkut paut apakah antara kedosaan Lian Keng Giauw dan kau sendiri?"
Tanyanya.
"Ayahmu adalah seorang yang memiliki bakat panglima perang, hanya sayang ia tak jalan di jalanan lurus. Aku hanya berharap kau akan lebih banyak membaca kitab-kitab dari para nabi dan menyumbangkan tenagamu untuk kepentingan rakyat jelata."
Leng Kiauw mengangkat kedua tangannya dan menghaturkan terima kasih untuk nasehat itu.
"Terima kasih, bahwa kau telah menyimpan Han-giok-ku,"
Kata Siauw Lan.
Keng Thian telah bicara banyak tentang hal ihwalmu.
Mereka segera masuk ke dalam rumah Phoei Keng Beng dan terus beromong-omong.
Mendengar puteranya bersama Peng Go juga sudah tiba di Himalaya, Siauw Lan jadi sangat girang dan lalu berkata kepada isterinya.
"Aku sendiri ingin mengadakan perlombaan memanjat gunung dengan Thayhoatsoe itu. Biarlah kau saja yang mencari anak-anak kita. Kunjungan kita ke tempat Phoei Toako ternyata tidak percuma."
Harus diketahui, bahwa karena mengetahui kedatangan tentara Nepal, suami isteri Tong Siauw Lan buru-buru datang lagi ke tempat Phoei Keng Beng, karena kuatir orang tua dan puterinya itu mendapat gangguan.
Mengingat kejadian di Puncak Unta, dimana Peng Go telah salah mengerti sebab gara-gara adiknya, Phang Eng berkata sambil tertawa.
"Calon menantuku mungkin masih merasa mendongkol terhadapku. Biarpun sudah tua, Lin-moay masih belum bisa membuang adatnya yang seperti kanak-kanak. Aku rasa, Toktjhioe Hongkay pun pernah dipermainkan olehnya. Jika tidak begitu, mengapa begitu melihatku, dia segera lari terbirit-birit? E-eh! Siapa yang datang?"
Ia melompat keluar, diikuti oleh yang lain. Di luar berdiri seorang wanita yang mengawasi mereka sambil tertawa haha-hihi.
"Tjietjie!"
Teriaknya.
"Mengapa kau mencaci di belakangku? Tanyalah Keng Thian. Aku pernah mengganggu menantumu, tapi aku juga pernah membantu banyak padanya!"
Orang itu adalah Phang Lin.
Ia sebenarnya memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, tapi karena tidak mengenal jalanan, ia sudah ditinggalkan oleh Timotato dan tiba belakangan.
Baru kakaknya mau membuka mulut, Phang Lin sudah melompat dan mendului.
"Tjietjie, apa yang dibicarakan olehmu barusan? Apakah kau sudah bertemu dengan Kim Sie Ie?"
"E-eh, mengapa begitu bernapsu?"
Tanya sang kakak.
"Dia baru saja pergi,"
Kata Siauw Lan.
"Ah! Apa kau tahu, umurnya hanya tinggal enam hari lagi?"
Tanyanya pula.
"Tahu,"
Jawab Phang Eng.
"Mengapa melihat kebinasaan, kau tidak menolong?"
Teriak Phang Lin.
"Siapa suruh dia memukulku dengan tongkatnya?"
Sang kakak balas menanya sambil tertawa.
"Sudahlah! Jangan mengganggu lagi adikmu,"
Kata Siauw Lan.
"Bahwa kami tidak menahannya, aku pun merasa sangat menyesal."
Sehabis berkata begitu, ia segera menerangkan segala kejadian yang barusan.
Phang Lin melompat-lompat dan sambil mencengkeram lengan kakaknya, ia berteriak "Baiklah!
Kau sudah melepaskan dia, kau juga yang harus mencarinya!"
Phang Eng yang mengenal adat si adik, lantas saja bisa menebak. Ia memeluk leher adiknya seraya berbisik.
"Mengapa hari ini kau begitu repot? Apa kau penuju Toktjhioe Hongkay sebagai suami A-bwee?"
Phang Lin mendelik.
"Apa?"
Ia menegasi.
"Apa dosanya Kim Sie Ie? Kau memanggilnya sebagai Toktjhioe Hongkay, tapi aku menganggapnya sebagai pemuda yang jujur dan baik. Kau membencinya, aku justeru sebaliknya."
"Siapa membenci Kim Sie Ie?"
Kata Phang Eng seraya tertawa geli.
"Begini saja. Kau sudah bantu merangkap jodoh Keng Thian, akupun berjanji akan mencari menantumu itu."
Sedang mereka beromong-omong, dari tikungan tanjakan mendadak muncul seorang nenek yang, ketika diawasi, bukan lain daripada Tong Say Hoa.
Begitu melihat bekas pukulan tongkat di atas batu, nenek itu mengeluarkan seruan kaget.
"Tjietjie,"
Kata Phang Lin.
"Sekarang aku mendapat kawan yang bisa bicara banyak mengenai Kim Sie Ie."
"Untung juga Tong Lootaypo tidak mempunyai gadis,"
Mengejek sang kakak. Melihat Leng Kiauw dan mendengar kaburnya Kim Sie Ie, hati si nenek girang tercampur duka.
"Leng Kiauw,"
Katanya sambil menarik tangan pemuda itu.
"Tak dinyana, kita masih bisa bertemu muka. Andaikata aku mati sekarang juga, aku akan mati dengan mata meram. Leng Kiauw, kau sudah cukup tua. Selagi kumasih hidup, apakah kau masih tak mau menikah? Siang malam aku mengharap bisa menyaksikan hari keberuntunganmu. Menikahlah sekarang dan sesudah kumati, kau boleh berbuat sesukamu, kau boleh coba merebut tahta, jika kau mau. Tapi selagi kumasih hidup, jangan kau gila-gilaan, supaya kutak usah memikir keselamatanmu setiap detik."
Sebagai seorang wanita yang muda-muda sudah menjadi janda Tong Say Hoa telah kukut Leng Kiauw sedari kecil.
Maka itu, biarpun sekarang Leng Kiauw sudah berusia tiga puluh tahun lebih, ia masih memperlakukannya sebagai kanak-kanak.
Muka Leng Kiauw lantas saja berubah merah.
"Mulai dari sekarang, aku hanya mengharap bisa mengikuti jejak Tong Tayhiap dan lain-lain Tjianpwee untuk menolong sesama manusia,"
Katanya.
"Aku sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri dari segala perebutan kekuasaan. Ibu, biarpun sudah berusia lanjut, kau masih gagah sekali. Mengapa kau mengeluarkan perkataan yang tidak-tidak?"
"Jika bukan ditolong oleh Kim Sie Ie, siang-siang kusudah binasa,"
Kata si nenek.
"Kau harus berusaha sedapat mungkin untuk mencarinya. Siauw Lan, di dalam dunia hanya kau seorang yang bisa menolong dia. Dengan memandang mukaku, aku juga mengharap, kau berdua suami isteri suka bantu mencari dia."
"Dalam perjalanan dari kaki gunung kemari, apakah kau pernah mendengar warta tentang Keng Thian?"
Tanya Phang Eng.
"Keng Thian dan Peng Go juga akan segera mendaki gunung,"
Jawabnya.
"Karena merasa sangat tidak sabaran, aku sudah berjalan terlebih dulu."
"Apa?"
Menegas Siauw Lan.
"Apakah tentara Nepal sudah mundur?"
"Mereka akan segera mundur,"
Jawab si nenek yang lalu menceritakan segala pengalamannya.
Mendengar begitu, Tong Siauw Lan dan yang lain-lain jadi merasa lega.
Sesudah diadakan perundingan, mereka mencapai persetujuan untuk coba mencari Kim Sie Ie dengan berpencaran.
Tong Siauw Lan, Phang Eng dan Phang Lin masing-masing mengambil satu jalanan, sedang Tong Lootaypo bersama Leng Kiauw mengambil jalanan yang lain.
Tapi, walaupun mengambil empat jalanan, usaha mereka adalah bagaikan orang mencari jarum di tengah lautan, karena Himalaya adalah gunung yang besar luar biasa.
Selagi yang lain mengasoh atau menyediakan makanan kering untuk mendaki gunung, Phang Eng dan Siauw Lan menarik Phang Lin ke satu sudut dan bertanya tentang pengalamannya dalam perkenalan dengan Kim Sie Ie.
Phang Lin lantas saja menceritakan segala apa yang diketahuinya tentang pemuda itu, sehingga sesudah mendengar, Siauw Lan dan Phang Eng menghela napas berulang-ulang.
"Ah! Kalau begitu adatnya yang aneh mempunyai sebab-sebab yang mengharukan,"
Kata Phang Eng dengan air mata berlinang-linang. Mendadak Phang Lin mendapat serupa ingatan. Ia mengeluarkan buku catatan harian Tokliong Tjoentjia dan berkata sambil menyerahkannya kepada Siauw Lan.
"Aku harap kau suka menyimpan buku ini yang ditulis oleh Tokliong Tjoentjia selama beberapa puluh tahun. Jika kau bertemu dengan Kim Sie Ie, aku minta kau menyerahkan kepadanya."
Ia tahu, bahwa Kim Sie Ie dan Keng Thian tidak begitu akur dan sudah sengaja memberikan buku tersebut kepada Siauw Lan, dengan pengharapan bisa bantu menghilangkan ganjelan yang terdapat dalam hati Kim Sie Ie.
Siauw Lan yang tak punya banyak tempo untuk menanya melit-melit atau membacanya, sudah menduga, bahwa buku itu adalah buku ilmu silat Tokliong Tjoentjia.
"Andaikata kutak berhasil menolong Kim Sie Ie, biarlah aku mencari seorang lain untuk mewarisi kepandaian Tokliong Tjoentjia,"
Katanya di dalam hati.
*** Sekarang marilah kita menengok Kim Sie Ie yang telah membuang kesempatan sangat baik untuk menolong jiwanya sendiri.
Dengan keyakinan, bahwa jiwanya akan melayang dalam beberapa hari lagi, ia mendaki gunung dengan sekuat tenaga.
Harapan satu-satunya adalah naik ke puncak Tjoe-hong (Everest) sebelum menghembuskan napas yang penghabisan.
Pada hari pertama dan hari kedua, perjalanan masih dapat dilakukan dengan tak banyak kesukaran.
Tapi pada hari ketiga, ia mulai merasa sukar untuk bernapas.
Ia tak tahu, bahwa kesukaran bernapas itu adalah akibat hawa udara yang semakin tinggi jadi semakin tipis.
Ia hanya menduga, bahwa ajalnya sudah dekat tiba dan lalu memanjat terus dengan sekuat tenaga.
Semakin ke atas, pemandangan jadi semakin indah, tapi keadaan gunung juga jadi semakin berbahaya.
Tempo-tempo ia harus memanjat lereng yang sangat tebing bagaikan tembok, melompati jurang-jurang antara dua tembokan es dan kadang-kadang disambar angin besar, sehingga beberapa kali ia hampir tergelincir ke bawah.
Ia merasa badannya lemas dan sabansaban harus mengasoh dengan napas tersengal-sengal.
Tiba-tiba, selagi naik di satu tanjakan matanya melihat pemandangan yang sungguh luar biasa.
Jauh-jauh, di atas tanah yang tertutup es, terlihat sejumlah besar balokan atau gundukan es yang menyerupai pagoda-pagoda yang memancarkan sinar gilang-gemilang, bagaikan kristal.
Ia mengawasi dengan mata membelalak dan tiba-tiba saja, ia mengeluarkan seruan nyaring.
"Biarpun tak bisa sampai di puncak Tjoe-hong, sesudah melihat surga dalam dunia ini, aku bisa mati dengan mata meram!"
Teriaknya.
Sambil mengempos semangat, ia berlari-lari ke arah kumpulan pagoda itu.
Mendadak kakinya menyentuh serupa benda dan ketika dilihat, ternyata adalah mayatnya seorang asing.
Di sekitar mayat itu terdapat alat-alat mendaki gunung, tambang-tambang dan pakaiannya sudah bobrok dan hancur begitu tersentuh, tapi mayat itu sendiri masih tidak berubah.
Tak jauh dari situ, ia kembali mendapatkan satu mayat lain.
Ia menghela napas dan berkata dalam hatinya.
"Selama ratusan tahun, entah berapa orang binasa dalam usaha mendaki Chomo Lungma. Dua tiga hari lagi, akupun akan menemui mereka!"
Pagoda-pagoda es itu kelihatannya tidak seberapa jauh tapi sesudah berjalan beberapa jam, belum juga ia tiba disitu.
Makanan kering sudah habis, tapi untung juga, di sekitar gunung masih terdapat binatang-binatang yang boleh dijadikan santapan.
Dengan menggunakan batu, ia berhasil merobohkan beberapa burung gagak dan seekor ayam salju.
Ia mengeluarkan bahan api dan sesudah menggosok-gosok sekian lama, barulah ia bisa mendapat api dan lalu menyalakan perapian dengan menggunakan cabang-cabang kering.
Dari mayat orang asing itu, ia mengambil satu panci dan lalu masak air dengan menaruh es ke dalam panci itu.
Sesudah membakar kurang lebih satu jam, barulah air bergolak-golak.
Dengan bernapsu ia makan ayam rebus dan minum air panas.
Setelah perutnya ditangsal, sebagian kekuatannya pulih kembali.
Belum jalan berapa jauh, tiba-tiba ia bertemu dengan satu balokan es besar, yang mengambang di atas satu sungai es.
Selagi lewat di pinggir balokan es itu, mendadak ia mendengar suara rintihan manusia.
Ia terkesiap dan dengan hati berdebar-debar, ia memanjat gundukan es itu yang bergerak-gerak tak hentinya.
Begitu tiba di atas, dengan mata membelalak ia mengawasi dua orang yang menggeletak di atas es dengan muka penuh darah dan mereka itu adalah Hiatsintjoe dan Tang Thay Tjeng!
Jika bertemu di tempat biasa, Kim Sie Ie pasti tak akan merasa kasihan.
Tapi di atas gunung yang diliputi es itu, dimana tak terdapat manusia lain, ia memandang mereka seperti sahabat.
Hiatsintjoe ternyata sudah tidak bernapas lagi, sedang keadaan Tang Thay Tjeng pun sudah sangat payah.
Sambil mengerahkan Iweekang, ia mengurut-urut tubuh Tang Thay Tjeng dan selang beberapa saat, perlahan-lahan dia membuka matanya.
"Kau?"
Tanyanya dengan suara lemah.
"Jangan bergerak,"
Kata Kim Sie Ie.
"Aku akan bantu kau menjalankan pernapasan."
"Tak guna lagi,"
Katanya.
"Lekas kau menyingkir dari tempat berbahaya ini."
Kim Sie Ie memegang nadi orang yang ternyata sudah kalut ketukannya, sedang badannya sudah kaku seperti es.
Ia tahu, bahwa Tang Thay Tjeng tak bisa ditolong lagi jiwanya, tapi ia masih tak tega untuk meninggalkannya dengan begitu saja.
Sekonyong-konyong dengan menggunakan sisa tenaganya, Tang Thay Tjeng berkata dengan berbisik.
"Sie Ie-heng, aku telah mendustai kau!"
"Budi dan sakit hati sudah terbalas impas,"
Kata Kim Sie Ie.
"Urusan yang sudah lewat tak usah disebut-sebut lagi. Aku tak punya kegembiraan untuk mengetahui, apa kau berdusta atau tidak."
"Jangan begitu..."
Kata Tang Thay Tjeng dengan suara parau.
"Jika aku tak bicara sekarang, aku tak akan bisa bicara lagi,"
"Bicaralah,"
Kata Kim Sie Ie.
"Bicaralah, jika dengan bicara hatimu bisa terhibur."
"Bukumu berada dalam tangan Phang Lin,"
Katanya.
"Buku itu bukan dalam tangan Tong Siauw Lan, sebagaimana dikatakan olehku."
Kim Sie Ie tersenyum duka.
"Kutak perduli berada di tangan siapa,"
Katanya. Tiba-tiba kedua kaki Tang Thay Tjeng berkelejet.
"Lekas lari!"
Serunya dengan menggunakan tenaganya yang penghabisan.
Hampir berbareng, angin keras yang dingin luar biasa menyambar-nyambar dan balokan es itu bergoyang-goyang.
Tanpa memikir lagi, Kim Sie Ie buru-buru melompat turun.
Di lain saat, balokan es itu pecah terbelah dan mayat Tang Thay Tjeng dan Hiatsintjoe tercemplung ke dalam sungai es!
Kim Sie Ie berduka dan tanpa merasa, beberapa tetes air mata mengalir di kedua pipinya.
Ia menangis, entah untuk kedua orang itu, entah untuk dirinya sendiri.
Sesudah menghela napas panjang, ia lalu meneruskan perjalanan.
Tapi, baru saja jalan belasan tindak, matanya mendadak melihat sekuntum bunga bwee yang diukir di atas segundukan es.
Mendadak saja, jantungnya memukul keras dan darahnya bergolak-golak.
Ia mengenali, bahwa bunga bwee itu, yang rupanya diukir dengan ujung pedang, adalah pertandaan Lie Kim Bwee.
Dalam perjalanan bersama-sama si nona di gunung Gobie san, ia pernah melihat Kim Bwee membuat tanda-tanda itu di sepanjang jalan.
Secara tiba-tiba, dalam hatinya yang dingin muncul rasa yang hangat.
Ia tak nyana, bahwa dalam dunia yang kejam ini, masih terdapat satu manusia yang memikiri keselamatannya dan sudah menyusul tanpa menghiraukan bahaya.
Tapi, mengingat ajalnya sudah tak jauh lagi, pada saat itu juga ia mengambil keputusan, bahwa andaikata bertemu dengan si nona, ia tentu akan menyingkirkan diri, supaya Kim Bwee tak usah lebih berduka.
Selagi ia termenung-menung bagaikan orang hilang ingatan, sekonyong-konyong ia mendengar suara orang bertempur.
Ia terkesiap dan segera berlari-lari sekeras-kerasnya ke arah suara itu.
Dengan cepat, ia sudah masuk ke dalam kumpulan pagoda-pagoda es yang memang jadi tujuannya.
Dan ia kaget tak kepalang karena dari jauh ia melihat, bahwa Lie Kim Bwee tengah dikepung oleh dua orang.
Sesudah menenteramkan hatinya, ia segera maju mendekati.
Ternyata di tengah-tengah kumpulan pagoda-pagoda es itu terdapat sebuah telaga kecil yang sudah membeku dan Kim Bwee sedang bertempur melawan musuhnya di pinggir telaga.
Kedua lawan itu, yang kakinya lumpuh dan yang menyerang sambil menekan bumi dengan satu tangannya, adalah Tunhuman dan Asia.
Sesudah 'sembuh dari luka mereka sebagai akibat perlombaan memanjat gunung melawan Pengtjoan Thianlie, mereka mendengar, bahwa guru mereka, Timotato, sudah mendaki gunung dan oleh karenanya, mereka segera menyusul.
Tak diduga, di tengah jalan mereka bertemu dengan Lie Kim Bwee dan dalam hati mereka lantas saja timbul niatan jahat.
Mereka ingin membekuk si nona untuk dibawa pulang ke negerinya.
Sesudah bercacat karena Thiansan Sinbong, mereka belum dapat melampiaskan rasa kedongkolan dan dengan menawan Kim Bwee, mereka bukan saja bisa membalas sebagian sakit hati, tapi juga bisa mendapat muka terang di antara kawankawan.
Waktu itu, si nona sudah lelah sekali.
Akan tetapi, ilmu pedang Pekhoat Molie yang dimilikinya, adalah ilmu pedang yang sangat luar biasa, sehingga walaupun sudah terkurung rapat, ia masih bisa membela diri.
Sebagaimana diketahui, bahwa udara di tempat yang tinggi adalah sangat tipis dan bertempur disitu meminta lebih banyak tenaga daripada bertempur di tanah datar.
Bukan saja Kim Bwee, tapi kedua lawannya pun sudah letih dan napas mereka tersengal-sengal.
Melihat pedang si nona menikam ke sana-sini secara sembarangan tanpa disertai lweekang, Kim Sie Ie terkesiap dan sambil mengangkat tongkat, ia mempercepat tindakannya.
Sesaat itu, dari tembokan pagodapagoda es yang terang bagaikan kaca, si nona sudah melihat bayangan pemuda itu.
Tiba-tiba saja, bagaikan seorang pelancong di tengah gurun pasir yang bertemu dengan sumber air, ia mengeluarkan teriakan nyaring dan bagaikan kalap, ia melemparkan pedangnya dan berlari-lari ke arah Kim Sie Ie dengan tindakan sempoyongan.
Tapi baru belasan tindak, ia sudah tak kuat lagi dan roboh dalam keadaan pingsan.
Sementara itu, Tunhuman dan Asia masih terus terputar-putar di atas bumi dalam keadaan seperti orang lupa ingatan.
Tanpa menghiraukan mereka, buru-buru Kim Sie Ie memondong si nona yang napasnya tersengal-sengal dan kedua matanya separuh tertutup.
Ia mengusap-usap rambut orang yang hitam jengat dan mementil alisnya sambil tersenyum.
"Bwee-moay,"
Bisiknya.
"Bukalah matamu."
Pada bibir si nona lantas saja tersungging senyuman bahagia dan perlahan-lahan ia membuka matanya.
"Sie Ie-ko,"
Katanya dengan suara sangat perlahan.
"Kutahu kau akan datang."
"Jalankanlah pernapasanmu, aku akan membantu,"
Kata Kim Sie Ie. Si nona tak menjawab, tapi dengan tangan bergemetaran, ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah peles perak yang kecil.
"Sie Ie-ko, lekas telan pel ini,"
Bisiknya.
Hampir berbareng, kedua matanya tertutup, mulutnya rapat bagaikan bunga yang kuncup dan badannya berubah kaku.
Bukan main kagetnya Kim Sie Ie.
Dengan jantung memukul keras, ia mengurut-urut badan si nona, tapi sesudah mengurut beberapa lama, ia belum juga berhasil menyadarkannya.
Ia mendapat kenyataan, bahwa Kim Bwee tidak terluka dan keadaannya itu adalah akibat kelelahan yang melampaui batas.
Jika berada di tanah datar, dengan semangkok somthung dan beristirahat, si nona bisa segera pulih kesehatannya.
Tapi mereka berada di gunung tinggi, yang hawa udaranya tipis dan sukar mencari makanan.
Hati Kim Sie Ie seperti diiris-iris dan air mata mengalir turun di kedua pipinya.
"Bwee-moay, ini semua memang juga adalah gara-garaku,"
Katanya dengan suara duka.
Untuk pertama kali selama hidup, rasa cinta meluap-luap di dalam hatinya, tapi si nona sudah tak dapat mendengar dan tak dapat melihatnya.
Ia menunduk tanpa berdaya.
Tiba-tiba ia melihat sebuah peles perak dan hatinya melonjak.
Ia menjemputnya dan ternyata, dalam peles itu terisi tiga butir Pekleng tan yang berwarna biru.
Sebagaimana diketahui, Keng Thian pernah menyerahkan peles itu kepadanya, tapi ia menolak.
Sekarang, pada waktu ia hanya bisa hidup tiga hari lagi, ia kembali menemukan peles itu.
Jika ia menelan tiga Pekleng tan itu, hidupnya bisa diperpanjang sedikitnya tiga puluh enam hari.
Tapi ia bukan Kim Sie Ie, jika hanya mengingat kepentingan sendiri.
Dengan cepat dan dengan tangan bergemetaran, ia membuka tutup peles dan menuang isinya di telapakan tangan.
Kemudian perlahan-lahan ia membuka gigi si nona dan memasukkan tiga butir pel itu ke dalam mulutnya.
Ia menggoyang-goyang badan Kim Bwee beberapa kali dan lalu mengurutnya sambil mengerahkan lweekang.
Selang beberapa saat, napas si nona jadi terlebih keras, tapi belum tersadar.
Ia girang tak kepalang, tapi kegirangannya itu tercampur dengan kedukaan.
Ia hanya bisa hidup tiga hari lagi, Apakah ia mesti berdampingan terus dengan si nona yang tiga hari lagi akan menyaksikan keberangkatannya ke alam baka?
Di lain pihak, dalam dunia yang lebar, Kim Bwee adalah manusia satu-satunya yang mencintainya dengan segenap jiwa.
Bagaimana ia tega meninggalkannya dengan begitu saja dan membiarkan si nona, menunggu-nunggu seorang yang tak bakal kembali lagi.
Dengan pikiran kusut, ia jalan mundar-mandir sambil menghela napas berulang-ulang.
Mendadak, ia melihat kedua orang aneh itu bersila di atas salju bagaikan patung.
Setelah di dekati, mereka ternyata sudah tidak bernapas lagi.
Walaupun kepandaiannya tinggi, tapi lweekang mereka tidak bisa menyamai lweekang Thiansan pay dan oleh karenanya, mereka kalah ulet dari Lie Kim Bwee.
Kim Sie Ie berdiri bengong dan berkata dalam hatinya.
"Inilah mayat ke empat yang ditemui aku di gunung Himalaya."
Karena tak ingin si nona melihat kedua mayat itu, buru-buru ia menggali salju dengan tongkat dan lalu menguburnya. Sehabis mengubur, ia mendongak ke atas dan mengawasi langit.
"Ah! Hari ini aku mengubur mereka, tiga hari lagi siapa yang mengubur aku?"
Katanya di dalam hati. Sekonyong-konyong ia melihat tubuh Kim Bwee bergerak. Jantungnya memukul keras dan secepat kilat ia mengambil suatu keputusan.
"Tidak,"
Pikirnya.
"Tak dapat kumembiarkan ia menyaksikan kebinasaanku! Selama hidup tak pernah kumencinta manusia. Di waktu mati, kujuga tak berhak menerima kecintaan orang."
Memikir begitu, biarpun hatinya merasa sangat berat, tapi ia segera melompat dan sesudah mencium dahi si nona dan melemparkan sisa ayam salju yang belum dimakannya, tanpa menengok lagi ia lari kabur dari kumpulan pagoda-pagoda es itu.
Lapat-Iapat ia mendengar teriakan Kim Bwee yang menyayatkan.
"Sie Ie-ko! Sie Ie-ko!..."
Matahari menyilam ke barat...
bulan sisir memencarkan sinarnya yang remang-remang di atas Chomo Lungma yang tertutup salju.
Tanpa menghiraukan segala apa, Kim Sie Ie berjalan terus.
Sesudah berjalan sekian lama, ia bertemu dengan sebuah bukit es yang di tengah-tengahnya melekah, seperti sebuah gua.
Ia lelah bukan main dan lalu masuk ke gua itu.
Karena dingin yang luar biasa, kaki tangannya kaku dan ia lalu bersila untuk menjalankan pernapasannya.
Sesudah mengerahkan lweekang beberapa lama, ia merasa, bahwa keadaannya sudah tidak seperti sebagaimana biasa, sebab hawa yang dikerahkannya tak bisa lagi mengalir kedua belas aliran darah yang terutama.
Demikianlah, dalam keadaan setengah pulas dan setengah sadar, ia melewati malam yang panjang itu.
Pada besokan harinya, langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang.
Dengan badan yang terlebih segar Kim Sie Ie lalu meneruskan perjalanan dan sesudah berjalan beberapa lama, barulah ia bisa melewati terowongan bukit es itu.
Belum jalan berapa jauh, di sebelah depan kembali menghadang sebuah bukit es yang tingginya kurang lebih dua puluh tombak.
Biarpun tidak terlalu tinggi, tapi karena sangat licin dan terus-menerus diserang dengan sambaran-sambaran angin yang tajam bagaikan pisau, ia harus menggunakan Seantero tenaga untuk memanjatnya Beberapa kali ia terpeleset dan merosot ke bawah, sehingga waktu tiba di atas bukit es itu, matahari sudah berada di atas kepalanya.
Sambil menyusut keringat, ia menghela napas, karena mengingat, bahwa ia hanya bisa hidup tak cukup dua hari lagi!
Sesudah mengasoh dan makan makanan keringnya yang penghabisan, ia lalu meneruskan perjalanan.
Di tengah jalan, sesudah menimpuk jatuh seekor gagak hitam, ia menyalakan perapian dan membakar burung itu yang lalu dimakannya dengan bernapsu.
Sesudah mendapat tenaga baru, ia berjalan pula.
Selang beberapa lama, ia tiba di satu tempat yang keadaannya lain daripada yang lain.
Tempat itu ialah lembah yang tanahnya tinggi dan yang selalu diserang dengan angin keras.
Di lain-lain tempat, salju putih menutupi daerah pegunungan itu.
Hanya di tempat itu, sebab salju selalu ditiup angin, orang bisa melihat batu-batu gunung yang berwarna gelap.
Perlahan-lahan, separuh merangkak, dengan melawan sambaran-sambaran angin, Kim Sie Ie maju terus dan sesudah gelap, barulah ia melewati tempat yang luar biasa itu.
Dalam pergulatannya itu, kaki dan tangannya banyak terluka dan mengeluarkan darah.
Ia mengasoh di satu tanjakan dan membuat perapian.
Untung juga, berkat hawa api yang hangat, malam itu ia bisa tidur dan pada besokan paginya, ia kembali meneruskan perjalanan.
Inilah hari terakhir!
Tjoe-hong atau Chomo Lungma (Everest) dengan puncaknya yang tertutup awan, sudah berada di sebelah depan, kelihatannya seolah-olah tak jauh lagi.
Tapi andaikata ia mempunyai tenaga untuk mencapai puncak itu, temponya sudah tidak mengijinkan lagi.
Ia mengawasinya dengan rasa putus harapan.
Hari yang terakhir!
Tak ada tempo lagi!
Tapi, sebagai seorang yang berjiwa pejuang, ia bertekad untuk bergulat sampai di detik penghabisan.
Sambil mengempos semangat, ia maju terus...
Angin meniup keras...
setindak demi setindak, ia maju terus...
setindak demi setindak...
Akhir-akhir, bagaikan mimpi, tangannya menyentuh batu karang di kaki Chomo Lungma!
Sesaat itu, kaki dan tangannya sudah baal dan kaku.
Tapi batu karang yang dingin itu seolah-olah menggenggam arus listrik yang hangat.
Chomo Lungma!
Ia sudah menyentuh batu dari Tjoe-hong!
Darahnya bergolak dan dengan nekat ia maju pula ke depan...
Tiba-tiba, matanya berkunang-kunang dan kepalanya puyeng.
Sesaat yang terakhir sudah tiba!
Tenaganya habis semua.
Di depan matanya berkelebat-kelebat bayangan manusia.
Bayangan gurunya, Tokliong Tjoentjia...
bayangan Pengtjoan Thianlie...
bayangan Lie Kim Bwee...
Mendadak, sayup-sayup, ia seperti mendengar suara bicaranya orang.
"Kasihan anak ini!"
Pada saat yang terakhir, keangkuhan Kim Sie Ie masih tak berkurang. Dengan sekuat tenaga, ia memberontak dan berkata dengan suara hampir tak kedengaran.
"Aku tak perlu dikasihani orang!"
Tenaganya habis...
dan ia roboh!
Entah sudah lewat berapa lama, bagaikan baru tersadar dari mimpi yang menakuti, Kim Sie Ie merasa sekujur badannya sakit.
Di depan matanya, ia seolah-olah melihat gundukan-gundukan awan yang turun menindih tubuhnya.
Ia membuka mulut untuk berteriak, tapi suara tak dapat keluar.
Lapat-lapat, sekali lagi ia mendengar orang bicara.
"Kasihan anak ini!"
Suara manusia! Benar, suara manusia! "Apa kubelum mati? Apa aku sedang mimpi?"
Tanyanya di dalam hati.
Tapi ia masih belum bisa membuka mata.
Mendadak, mendadak saja, ia merasa semacam hawa hangat mengalir di dalam tubuhnya, menerobos ke berbagai jalanan darah besar dan kecil, sedang daging dan tulang tulangnya sakit bukan main, seolah-olah diiris pisau.
Tapi dalam kesakitan yang hebat itu, ia merasakan semacam pembebasan dalam tubuhnya yang tak mungkin dilukiskan dengan perkataan.
Selang beberapa lama, rasa sakit itu banyak berkurang, diganti dengan mengamuknya hawa yang sangat panas, sehingga ia merasa seakan-akan dibakar.
Ia haus, haus bukan main, tapi ia tak dapat membuka mulutnya.
Dengan sekuat tenaga, ia coba membuka mata, tapi kedua matanya seperti juga ditindih dengan benda yang beratnya ribuan kati.
Sekonyong-konyong, semacam hawa dingin menerobos sampai di pusarnya dan walaupun tak minum setetes air, ia seperti mencegluk air penawar dewa yang telah memadamkan api yang tengah mengamuk dalam tubuhnya.
Sesudah itu, hawa yang hangat nyaman mengalir dengan perlahan di dalam badannya.
Perlahan-lahan Kim Sie Ie pulih kesadarannya dan ia membuka matanya.
Tiba-tiba sinar matanya kebentrok dengan dua sinar mata yang terang tajam.
Di lain saat, ia mengenali orang yang sedang berhadapan dengannya.
Siapa yang sudah menolongnya?
Tak lain daripada Tong Siauw Lan!
Untuk mencari Kim Sie Ie dan untuk menyambut tantangan Timotato, dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi, Tong Siauw Lan mendaki Himalaya.
Biarpun memiliki lweekang yang sudah mencapai puncaknya kesempurnaan dan meskipun sudah biasa berdiam di gunung Thiansan, tapi sesudah naik tinggi, ia pun merasa sukar bernapas dan kemajuannya jadi sangat lambat.
Hari ini, sesudah mulai mendaki Tjoe-hong, matanya yang sangat jeli mendadak melihat tubuh Kim Sie Ie yang separuh teruruk dengan salju tebal.
Tong Siauw Lan girang tercampur kaget.
Buru-buru ia menyingkirkan salju dan meraba dada pemuda itu, yang napasnya sudah lemah sekali.
Demikianlah, walaupun harus mengeluarkan banyak tenaga, ia berhasil menolong Kim Sie Ie dari kebinasaan.
Melihat di atas kepala Tong Siauw Lan keluar uap putih dan keringatnya terus mengucur, Kim Sie Ie mengetahui bahwa penolongnya sedang mengerahkan lweekang Thiansan pay untuk menjalankan aliran darahnya dan menyingkirkan segala "racun"
Yang mengeram dalam dirinya, karena latihan lweekang yang sesat.
Mendadak saja, dalam hatinya timbul rasa terima kasih yang sangat besar, tercampur dengan rasa jengah.
Seumur hidup, ia paling tak suka menerima budi orang, tapi sekarang, di luar kemauannya, ia sudah menerima budi yang sangat besar.
Ia tak tahu, bahwa untuk menolong jiwanya, di samping mengeluarkan banyak tenaga, Tong Siauw Lan pun telah memasukkan lima butir Pekleng tan ke dalam mulutnya.
Dan lima butir Pekleng tan itu adalah perbekalan yang semengga-mengganya.
Begitu Kim Sie Ie tersadar, Siauw Lan tersenyum seraya berkata.
"Ah! Akhirnya kau tersadar juga, nak!"
Kim Sie Ie merasa lehernya terkancing, tak dapat ia mengeluarkan sepatah kata. Di lain saat, air matanya mengucur.
"Apa masih sakit?"
Tanya Siauw Lan dengan perasaan kasihan.
"Tak apa-apa. Sebentar lagi, kau akan merasa enakan."
Sehabis berkata begitu, ia kembali mengerahkan lweekang dan mengurut pula sekujur tubuh pemuda itu.
Ia tak tahu bahwa Kim Sie Ie menangis bukan karena sakit di badan, tapi sebab terharu di hati.
Selang beberapa lama Kim Sie Ie merasa badannya segar bukan main dan biarpun tenaganya belum pulih kembali, ia tahu, bahwa mulai dari sekarang, ia boleh tak usah kuatir lagi keselamatan jiwanya dan malahan, berkat bantuan lweekang Thiansan pay, Iweekang-nya sendiri mendapat banyak kemajuan.
Selagi Siauw Lan bekerja keras, di atas salju tiba-tiba terdengar suara tindakan yang enteng luar biasa.
Jika ia bukan seorang guru besar dalam Rimba Persilatan, ia pasti tak bisa mendengar tindakan yang begitu enteng.
Ia terkejut dan bertanya dalam hatinya.
"Apa Eng-moay?"
Sekonyong-konyong Kim Sie Ie berteriak.
"Awas, musuh!"
Karena sedang rebah celentang di salju, ialah yang lebih dulu melihat bayangan Timotato.
Hampir berbareng dengan teriakannya, Timotato sudah melompat dan menghantam kepala Siauw Lan dengan kedua tangannya.
Cepat sungguh gerakan Tong Siauw Lan!
Tanpa menengok, ia mengebas ke belakang dengan tangan kanannya.
Begitu kedua tangan kebentrok, badan Siauw Lan terhuyung beberapa tindak hampir-hampir tergelincir ke bawah tanjakan.
Lweekang Tong Siauw Lan sebenarnya lebih tinggi daripada Timotato.
Tapi karena ia sudah banyak mengeluarkan tenaga maka dalam gebrakan itu, ia jatuh di bawah angin.
"Tak punya malu!"
Membentak Siauw Lan.
"Mengapa kau membokong aku?"
Timotato tertawa terhehe-hehe dan kemudian, sambil menuding-nuding ke atas puncak, ia bicara dalam bahasa yang tidak dimengerti Siauw Lan.
Tapi dengan gerakan tangan, Siauw Lan tahu, bahwa ia kembali menantang untuk berlomba mendaki Chomo Lungma.
Rupanya, karena gagal dalam bokongannya ia sengaja menantang pula untuk menyimpangkan perhatian orang.
Sambil berteriak-teriak dan menggapai-gapai, ia berlari-lari dan mulai memanjat Tjoe-hong.
Melihat paras muka Kim Sie Ie yang sudah berubah merah, hati Siauw Lan jadi sangat lega.
Ia tahu, pemuda itu sudah terlepas dari bahaya.
Ia bersenyum seraya berkata.
"Phang Lin dan puterinya juga sudah mendaki gunung ini. Biarlah kau menunggu mereka disini. Kalau tenagamu sudah pulih kembali, kau juga boleh turun gunung dan menunggu di rumah Phoei Keng Beng."
Kim Sie Ie tidak menjawab, hanya air matanya berlinang-linang.
Siauw Lan tak jadi kecil hati.
Ia menduga, pemuda itu menangis sebab terharu dan berterima kasih.
Ia tak tahu, bahwa pada saat itu, dua macam pikiran sedang berkelahi dalam otak Kim Sie Ie.
Apa lebih baik menuntut penghidupan biasa, pergi datang seorang diri dan menjauhi pergaulan umum?
Apa lebih benar kembali di antara khalayak ramai, mengikat persahabatan antara sesama manusia dan mendirikan rumah tangga?
Ia merasa sangsi dan tak dapat mengambil keputusan.
Sementara itu, Timotato sudah naik belasan tombak tingginya.
Siauw Lan tak punya tempo lagi untuk bicara panjang-panjang dan sesudah melemparkan sekantong makanan kering, ia lalu mengubar.
Tapi, baru jalan beberapa tindak, ia kembali lagi karena ingat suatu hal.
Ia mengeluarkan se
Jilid buku yang diberikan oleh Phang Lin dan berkata sambil tertawa.
"Hampirhampir aku lupa. Ini adalah buku peninggalan mendiang gurumu."
Ia mengangsurkannya kepada Kim Sie Ie dan kemudian mengudak Timotato dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Sesudah memanjat beberapa tombak, ia menengok dan melihat pemuda itu duduk bersila sambil membuka-buka lembaran buku gurunya.
Semakin tinggi, hawa udara jadi semakin tipis dan orang semakin sukar bernapas.
Usaha mendaki gunung tertinggi dalam dunia, memang juga penuh dengan bahaya.
Siauw Lan mengawasi ke atas dan melihat sebuah tanjakan es yang panjang dan tebing dan di atas tanjakan itu terdapat puncak yang duduknya melintang, sehingga puncak itu seolah-olah tergantung di tengah udara.
Di antara awan yang putih terlihat pula beberapa ekor elang yang melayang-layang dengan perlahan.
Mendadak seekor antaranya jatuh ke bawah.
Siauw Lan tahu, bahwa karena tebalnya awan, elang itu tak bisa melihat tegas dan sudah membentur batu tajam di puncak yang melintang itu.
Ia menghela napas dan berkata dalam hatinya.
"Ah! Sekalipun elang masih tak dapat mendaki puncak Tjoe-hong!"
Tapi ia adalah seorang jago yang pantang mundur.
Biarpun yakin akan bahaya yang besar, ia terus memanjat ke atas.
Selang tak lama, jarak antara Siauw Lan dan Timotato jadi semakin pendek.
Sambil merangkak, Siauw Lan maju setindak demi setindak.
Ia merasa heran sebab lawannya "masih terus dapat mempertahankan diri.
Sesudah datang lebih dekat, ia mendengar suara "ting-ting-ting"
Dan barulah ia tahu, bahwa lawannya membekal rupa-rupa alat untuk mendaki gunung.
Dengan menggunakan cangkul kecil, Timotato membuat undakan-undakan untuk menaruh kaki di tanjakan es itu.
Dari tapak-tapak kaki ia juga mengetahui, bahwa Timotato menggunakan sepatu berduri yang dibuat untuk mendaki gunung.
Tapi Siauw Lan tak jadi kecil hati.
Dengan menggunakan ilmu Engdjiauwkang (Cengkeraman cakar garuda), ia memanjat terus.
Kalau bertemu dengan lereng yang tegak dan licin, ia merambat dengan ilmu Pekhouw yoetjiang (Cicak merayap di tembok).
Dengan begitu, biarpun harus menggunakan banyak tenaga, ia masih bisa terus menyusul lawannya dan tak lama kemudian, jarak antara mereka hanya tinggal lima enam tombak saja.
Dengan cepat kedua lawan itu mendekati puncak pertama yang melintang di atas.
Dengan menempelkan badannya di tembok es, Timotato memanjat.
Napasnya tersengal-sengal, ia sudah lelah dan kalau tak takut ditertawai, ia tentu sudah merosot turun.
Keadaan Siauw Lan pun tak lebih baik, ia merasa kaki tangannya baal dan kaku, sedang tenaganya pun sudah mulai habis.
Tiba-tiba awan hitam berterbangan di langit yang cerah dan sesaat kemudian, turunlah badai.
Dengan kedua tangannya, Siauw Lan mencekal erat-erat sebuah batu yang menonjol seperti rebung.
Di antara menderunya angin, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh yang hebat luar biasa, sehingga gunung itu seolah-olah bergoyang-goyang.
Hati Siauw Lan mencelos.
Itulah "salju roboh"
Yang sering terjadi di puncak Chomo Lungma.
Di lain saat, bahaya datang!
Balokan-balokan es yang sangat besar melayang turun ke bawah bagaikan hujan.
Sungguh untung, kedua lawan itu berada di bawah puncak yang melintang, sehingga balokan-balokan itu jatuh di atas puncak dan kemudian tercemplung ke dalam jurang yang ribuan tombak dalamnya.
Sambil mencekal batu menonjol itu sekeras-kerasnya, Siauw Lan menempelkan badannya di tembokan es, di bawah puncak.
Dengan jantung memukul keras, ia mengawasi balokan-balokan es yang lewat di pinggir badannya.
Itulah pemandangan yang sungguh menakuti!
Tapi sebenar-benarnya, apa yang ditemui mereka adalah "salju roboh"
Dalam ukuran kecil.
Dengan teraling kabut tebal, lapat-lapat Siauw Lan melihat, bahwa lawannya juga sedang bersembunyi di bawah puncak, di tempat yang terpisah hanya beberapa tombak dari dirinya, sambil mencekal sepotong rantai besi.
Ternyata, lawan itu telah memantik sebatang paku besar ke dalam batu dan kemudian melibatkan rantainya di paku itu.
Biarpun badannya menggelantung di tengah udara, tapi karena teraling dengan puncak yang melintang itu, ia berada dalam keadaan yang sentosa.
Pada sebelum mendaki Tjoe-hong, Timotato telah menyebar sejumlah muridnya untuk menyelidiki keadaan, sehingga ia sudah tahu tentang sering terjadinya "salju roboh"
Di gunung itu dan oleh karenanya, ia membekal alat-alat yang perlu.
Antara kedua lawan itu yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi, terdapat satu perbedaan.
Tong Siauw Lan yang sudah jadi nekat mencekal batu menonjol itu dengan hati tenang, sebab ia sudah tidak memperdulikan mati atau hidup.
Di lain pihak, Timotato ketakutan setengah mati, sehingga badannya terus bergemetaran.
Tiba-tiba terdengar suara gedubrakan yang sangat hebat.
Ternyata sebuah balokan es raksasa --yang menyerupai bukit kecil --jatuh menimpa puncak itu yang lantas saja bergoyang-goyang!
Hampir berbareng, badai menyambar-nyambar, disertai dengan sambaran-sambaran potonganpotongan es yang lebih kecil.
Sambil meramkan mata dan menyerahkan segala apa kepada sang nasib, Siauw Lan mencekal batu itu dengan menggunakan Seantero tenaganya.
Mendadak, mendadak saja ia mendengar teriakan yang menyayatkan hati!
Ia membuka kedua matanya dan...
badan Timotato yang tinggi besar melayang ke bawah!
Rupanya, ketika bukit es itu menimpa puncak, tangannya yang mencekal rantai terlepas karena kekagetan dan ketakutan yang melampaui batas!
Siauw Lan merasa duka, karena seorang yang berilmu tinggi mesti mengorbankan jiwa cara begitu.
Tak lama kemudian angin mereda dan "salju roboh"
Berhenti.
Sesudah mengasoh beberapa lama, Siauw Lan merayap ke tempat dimana tadi Timotato menggelantung.
Rantai masih berada pada tempatnya dan bergoyang-goyang tak hentinya.
Sesudah mengambil rantai itu, perlahan-lahan ia naik ke atas puncak yang melintang dan merebahkan diri untuk beristirahat.
Hawa udara tipis bukan main dan jika Siauw Lan tidak memiliki lweekang yang sangat tinggi, siang-siang ia sudah mati sesak.
Langit terang benderang dan ia bisa melihat puncak Chomo Lungma yang tertutup salju dan awan.
Kelihatannya tidak seberapa jauh, tapi ia tahu, bahwa ia belum mencapai separuh gunung itu.
Ia menghela napas dan melepaskan segala niatan yang tidak-tidak untuk mencapai puncak Tjoe-hong.
Ia melongok ke bawah dan apa yang dilihatnya hanyalah satu kekosongan, seperti juga ia berada di atas tembok yang beribu-ribu tombak tingginya.
Naiknya sukar, turunnya pun tak gampang.
Selagi memikiri cara untuk turun ke bawah, tiba-tiba kupingnya menangkap suara manusia, suara yang seperti juga memanggil-manggil namanya!
Ia terkesiap dan di lain saat, ia berteriak.
"Eng-moay! Eng-Moay!"
Darahnya bergolak dan semangatnya terbangun.
Buru-buru ia memanjat ke atas, ke arah suara itu.
Sesudah naik belasan tombak, benar saja ia melihat isterinya yang sedang berduduk di atas dengan rambut terurai dan pakaian bernoda darah.
Tak usah dikatakan lagi, sang isteri telah terluka pada waktu terjadinya "salju roboh".
"Siauw Lan!"
Seru Phang Eng dengan suara girang.
"Tolonglah aku!"
Dengan menggunakan Seantero tenaganya, Siauw Lan lalu memanjat lagi.
Perlahan-lahan ia mendekati dan di lain saat, dengan tenaga yang terakhir, ia melontarkan rantai ke arah Phang Eng yang lalu menangkapnya.
Dengan dibetot oleh isterinya, ia berhasil mencapai tempat itu dan mereka lalu duduk berendeng untuk beristirahat.
"Siauw Lan,"
Kata Phang Eng sambil bersenyum.
"Andaikata aku mati sekarang, aku akan mati dengan mata meram, karena berada sama-sama kau."
"Eng-moay, apa kau terluka berat?"
Tanya sang suami.
"Tidak, waktu terjadi salju roboh, aku bersembunyi di sela-sela batu,"
Jawabnya.
"Hanya terluka sedikit, tapi tenagaku sudah habis semua. Barusan, waktu mendengar teriakan hebat, aku menduga kau yang celaka. Syukur sungguh, kau tak kurang suatu apa. Dengan badan tak bertenaga, aku kuatir kita sukar bisa turun ke bawah."
Sang suami bersenyum dan berkata dengan suara menghibur "Jika turun masing-masing, memang juga agak sukar. Dengan berdua dan dengan adanya rantai ini, kurasa kita akan berhasil."
Sesudah mengasoh, mereka lalu makan makanan kering. Tiba-tiba terdengar satu teriakan nyaring.
"Ih! Lu Soe Nio!"
Teriak Siauw Lan sambil melompat bangun.
Ia ingin balas berteriak, tapi karena kuatir suaranya tidak terdengar dalam hawa udara yang tipis itu, ia segera melepaskan dua batang Thiansan Sinbong sebagai pertandaan.
Dengan hati berdebar-debar, mereka menunggu.
Selang beberapa lama, di atas sebuah tanjakan yang terjal, mereka melihat bayangan Lu Soe Nio.
"Mari! Kemari!"
Seru Lu Liehiap sambil menggapai-gapai.
Siauw Lan dan Phang Eng pun menggapai-gapai dan kemudian dengan saling tuntun, mereka memanjat ke arah Lu Soe Nio.
Ternyata, dengan bekerja sama, mereka dapat menghemat banyak tenaga.
Paras Lu Soe Nio kelihatan pucat dan napasnya tersengal-sengal.
Tapi, bahwa ia sudah bisa naik lebih tinggi seorang diri, adalah kejadian yang sungguh mengagumkan.
Bagaimana Lu Soe Nio bisa* berada disitu?
Sesudah menyelesaikan segala urusan di Kimkong sie, ia segera pergi ke Himalaya untuk mencari Tong Siauw Lan.
Di kaki-gunung ia bertemu dengan Thian Oe dan mengetahui, bahwa Keng Thian dan yang lain-lain sudah naik ke atas gunung untuk mencari Kim Sie Ie.
Buru-buru ia menyusul dan menginap semalaman di rumah Phoei Keng Beng, dimana ia mendapat segala keterangan secara lebih jelas.
Waktu ia menanyakan hasil perlombaan melawan Timotato, Siauw Lan tertawa getir dan menjawab.
"Menang, tapi juga kalah."
"Apa artinya?"
Menegas Soe Nio.
"Dalam perlombaan, karena Timotato mati, bisa dikatakan aku yang menang,"
Jawabnya.
"Tapi biar bagaimanapun juga, aku gagal mencapai puncak Tjoe-hong dan karena kegagalan itu, aku sebenarnya kalah."
Soe Nio tersenyum.
"Sesudah sampai disini, kau harus merasa puas,"
Katanya.
"Mari! Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu."
Dengan bantu membantu mereka memanjat pula dan sesudah menggunakan tempo beberapa jam, mereka tiba di bawah puncak kedua yang melintang di atas tembok salju itu.
Tiba-tiba Soe Nio menuding ke dinding salju.
Siauw Lan dan Phang Eng mengawasi dan ternyata di atas sebuah batu terukir empat huruf besar.
Djin Thian Tjoat Kay (Perbatasan antara manusia dan langit).
Di bawah empat huruf itu terdapat beberapa baris huruf kecil yang berbunyi seperti berikut.
Pada musim rontok tahun Kalisin, aku tiba di Tibet dengan niatan mendaki puncak Tjoe-hong.
Aku tertahan di tempat ini, tenagaku habis, tak dapat kumaju lagi dan hampir-hampir kuhilang jiwa.
Sekarang baru aku yakin, bahwa tenaga manusia ada batasnya.
Semenjak keluar dari rumah perguruan, dengan sebatang pedang aku berkelana ke berbagai tempat tanpa menemui tandingan.
Aku menduga, bahwa di kolong langit tiada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan.
Tapi sekarang, aku menunduk di bawah Tjoe-hong, dengan ditertawai oleh awan-awan putih.
Manusia mudah ditakluki, tapi langit tak dapat di atasi.
Hai!
Kenyataan ini adalah cukup untuk membuat orang-orang gagah di kolong langit menghela napas sambil mengusap-usap pedangnya!
Di bawah huruf-huruf itu terdapat tiga huruf.
Leng Bwee Hong.
Ia adalah (kakek guru) Tong Siauw Lan dan Phang Eng.
Sambil menuding tulisan itu, Soe Nio berkata.
"Dulu, Leng Tayhiap hanya bisa sampai disini. Sekarang kita pun sudah tiba di ini tempat. Apakah kita tidak mengenal puas?"
Siauw Lan menghela napas dan kemudian mengangguk dengan perlahan. Sesudah mengasoh beberapa lama, Phang Eng menanya.
"Lu Tjietjie, waktu naik ke atas, apakah kau pernah bertemu dengan Keng Thian?"
"Keng Thian dan bakal menantumu juga sudah naik gunung,"
Jawabnya.
"Menurut keterangan, mereka naik ke gunung ini untuk mencari Kim Sie Ie."
"Kalau begitu, mungkin mereka sudah bertemu Kim Sie Ie di kaki Tjoe-hong,"
Kata Siauw Lan yang lalu menceritakan pengalamannya, bagaimana ia sudah menolong jiwa pemuda itu.
"Aku merasa senang sekali, bahwa Tokliong Tjoentjia sudah mempunyai ahli waris,"
Kata Soe Nio.
"Sekarang cuaca masih baik, marilah kita menggunakan kesempatan ini untuk turun gunung."
"Syukur kami bertemu dengan Lu Tjietjie,"
Kata Phang Eng.
"Kalau tidak, mungkin sekali kami tak akan bisa turun dari gunung ini."
Demikianlah dengan saling membantu, mereka mulai turun dari gunung itu.
Meskipun harus mengalami banyak kesukaran, tapi pada akhirnya mereka berhasil juga.
Mereka menduga, begitu tiba di kaki Tjoe-hong, mereka akan bisa bertemu dengan Kim Sie Ie.
Tapi dugaan itu meleset, karena muncul perkembangan yang tidak ditaksir-taksir.
*** Sekarang marilah kita menengok Tong Keng Thian dan Koei Peng Go yang, sesesudah meminta diri dari raja Nepal, segera mendaki gunung untuk mencari Kim Sie Ie.
Bahwa raja Nepal sudah berjanji akan menarik pulang tentaranya, sehingga satu peperangan dapat disingkirkan, telah menggirangkan sangat hati mereka.
Tapi mengingat keselamatan Kim Sie Ie, kegirangan itu tercampur dengan kedukaan.
Dalam perjalanan itu, mereka tidak lewat di rumah Phoei Keng Beng, sehingga tak tahu perkembangan yang terakhir.
Sesudah memanjat tiga hari, Pengtjoan Thianlie yang sudah biasa berdiam di istana es masih tidak merasakan apa-apa, tapi Keng Thian sudah mulai merasa sesak dalam pernapasannya.
Tapi berkat pemandangan gunung yang sangat indah dan juga karena si nona yang dicintai selalu berdampingan, maka ia seolah-olah tidak merasakan kesukaran itu.
Sesudah berjalan dua hari lagi, jauh-jauh mereka melihat kumpulan pagoda-pagoda es dimana Lie Kim Bwee pernah ditolong oleh Kim Sie Ie.
Melihat pemandangan yang luar biasa itu, mereka bersorak dengan rasa kagum.
Peng Go pun sudah sukar bernapas, tapi lantaran tertarik dengan indahnya pagoda-pagoda es itu, tanpa merasa ia mengerahkan lweekang dan mempercepat tindakannya.
Kasihan, Keng Thian yang sudah hampir kehabisan tenaga, tak dapat mengikuti kecintaannya itu.
Selagi berlari-lari, tiba-tiba Peng Go menghentikan tindakannya, karena di depannya menghadang sungai es yang di atasnya mengambang satu balokan es yang sangat besar.
Baru saja ia ingin mengambil jalanan mutar, di belakang balokan es itu mendadak terdengar suara tangisan, Si nona terkejut dan menggapai Keng Thian.
Mereka berdua lalu memutari sungai es itu untuk melihat siapa yang sedang menangis.
Ternyata, di tepi sungai berduduk seorang pria.
"Hongsek Toodjin!"
Teriak Keng Thian. Si imam berduduk disitu dengan muka berlepotan darah yang sudah membeku menjadi es, sehingga kelihatannya menakuti sekali. Begitu melihat Peng Go, ia berteriak.
"Kau yang sudah mencelakakan dia! Kau yang sudah mencelakakan dia!"
"Aku mencelakakan siapa?"
Tanya si nona dengan gusar. Ia mencabut Pengpok Hankong kiam dan menyabet satu kali sehingga jubah pertapaan si imam menjadi robek. Hongsek Toodjin mendelik.
"Aku! Aku yang membinasakan dia! Aku yang membinasakan dia!"
Serunya bagaikan orang gila.
Peng Go mundur setindak dengan hati berdebar-debar.
Mendadak, sambil berteriak Hongsek Toodjin roboh dengan mengeluarkan darah yang lantas saja membeku.
Peng Go merasa heran sebab sabetan pedang yang barusan sama sekali tidak menyentuh badan si imam.
Ia tak tahu, bahwa karena dinginnya hawa dan sukarnya bernapas, lweekang Hongsek sudah banyak berkurang dan waktu diserang dengan Hankong kiam, tubuhnya tak kuat bertahan lagi dan ia muntahkan darah.
Jika mereka berada di atas tanah datar.
Pengtjoan Thianlie masih belum bisa menandingi si imam.
Buru-buru si nona memasukkan beberapa butir Yangho wan ke dalam mulut Hongsek untuk menghangatkan badannya.
Selang beberapa saat, ia membuka kedua matanya dan Keng Thian lantas saja mengurut tubuhnya sambil mengerahkan lweekang.
Ia membiarkan dirinya diolah sambil mengawasi kedua orang muda itu dengan sorot mata berterima kasih.
Sekonyong-konyong ia kembali berkata dengan suara perlahan.
"Aku, akulah yang sudah mencelakakan mereka!"
"Siapa?"
Tanya si nona.
"Tak ada Tjiangtjoe Siantjo!"
Kata si imam tanpa menjawab pertanyaan Peng Go.
"Turunlah! Lekas kalian turun dari gunung yang berbahaya ini."
"Apa itu Tjiangtjoe Siantjo?"
Tanya pula Peng Go dengan suara heran.
"Bukankah kalian ingin mencari Tjiangtjoe Siantjo di puncak Chomo Lungma?"
Hongsek balas menanya. Pengtjoan Thianlie menggelengkan kepala.
"Namanya saja aku belum pernah mendengar,"
Katanya. Hongsek membuang napas.
"Ah! Kalau begitu aku hanya mencelakakan Hiatsintjoe dan Tang Thay Tjeng,"
Katanya.
"Apa? Aku sungguh tak mengerti apa yang dikatakan olehmu,"
Kata Peng Go. Hongsek menghela napas berulang-ulang dan kemudian berkata dengan suara duka.
"Hiatsintjoe dan Tang Thay Tjeng telah binasa di sungai es. Aku hanya melihat mayat mereka."
"Tapi mengapa kau mengatakan, bahwa kaulah yang sudah mencelakakan mereka?"
Tanya Peng Go.
"Sesudah diserang dengan tujuh butir Pengpok Sintan-mu, lweekang Hiatsintjoe telah banyak berkurang,"
Menerangkan Hongsek.
"Keinginan untuk memulihkan tenaganya adalah sedemikian besar, sehingga aku merasa kasihan padanya. Selama hidupnya, ia hanya mempunyai satu sahabat, ialah aku sendiri. Aku merasa tak tega, jika ia sampai mati lantaran jengkel. Untuk menolongnya, aku sudah berdusta. Aku mengatakan, bahwa di puncak Tjoe-hong terdapat semacam rumput dewa janq dikenal sebagai Tjiangtjoe Siantjo. Siapa yang makan rumput itu akan bertambah Iweekang-nya, yang sama nilainya dengan latihan selama tiga puluh tahun. Dengan berkata begitu, aku hanya ingin memberi satu harapan di dalam hatinya. Menurut perhitunganku, andaikata ia benar-benar mendaki gunung ini, pada akhirnya ia akan turun lagi karena tak bisa naik terus dan sesudah kembali, hatinya akan jadi lebih tenang. Tapi di luar dugaan, bersama Tang Thay Tjeng, ia memanjat terus sampai disini dan terbinasa. Dengan begitu, bukankah aku yang sudah mencelakakan mereka?"
Mendengar keterangan itu, dalam hati Keng Thian dan Peng Go lantas saja timbul rasa persahabatan terhadap imam tua itu.
Sekarang mereka tahu, bahwa Hongsek terganggu pikirannya sebab menyesal dan duka.
"Hiatsintjoe adalah seorang jahat dan kebinasaannya tak harus dibuat sayang,"
Kata Peng Go dalam hatinya.
"Tapi Hongsek Toodjin, biarpun ia tak bisa membedakan jahat dan baik, masih berharga untuk dipandang sebagai sahabat."
Peng Go berdiam beberapa saat dan kemudian berkata dengan suara halus.
"Kalau begitu, kau turun gununglah. Sesudah menelan Yangho wan, kau tak akan takuti lagi hawa dingin dan kurasa kau akan bisa sampai di kaki gunung dengan selamat."
"Dan kau?"
Tanya Hongsek.
"Kami ingin mencari sesuatu yang lebih berharga daripada Tjiangtjoe Siantjo,"
Jawabnya.
Hongsek menggeleng-gelengkan kepala, tapi ia tak berani mencegah karena niatan Peng Go kelihatannya sudah tak bisa diubah lagi Sesudah menghaturkan terima kasih kepada Keng Thian dan si nona, ia lalu turun gunung seorang diri.
Sesudah si imam berlalu, dengan saling menggandeng tangan.
Dua sejoli itu lalu memasuki kumpulan pagoda-pagoda es.
Selagi enak berjalan sambil menikmati pemandangan yang luar biasa, sekonyong-konyong mereka mendengar suara tangisan yang perlahan.
Mereka kaget tak kepalang.
"E-eh! Seperti suara orang yang sudah dikenal,"
Kata Keng Thian yang lalu memburu ke arah suara itu. Tiba-tiba ia berteriak.
"Kim Bwee Piauwmoay!"
Orang yang sedang menangis di pinggir telaga memang juga Kim Bwee adanya. Sesudah datang dekat, Keng Thian menanya sambil bersenyum.
"A Bwee, apa kau kesasar?"
Sebagai kawan bermain semenjak kecil, ia tahu, bahwa saudari sepupunya menangis bukan karena kesasar jalan, tapi ia sengaja menanya begitu. Si nona mengangkat kepala dan menjawab dengan suara serak.
"Dia sudah pergi!"
Mendengar perkataan Kim Bwee, Peng Go yang sudah menghampiri lantas saja berkata.
"Mengapa kau tidak menahan dia?"
Senyuman Keng Thian lantas saja menghilang dari bibirnya. Ia sekarang tahu, bahwa Kim Sie Ie sudah kabur lagi tanpa dapat ditahan oleh si nona.
"Dia memberikan semua Pekleng tan kepadaku,"
Kata si nona sambil menunjuk peles perak.
"Hatinya terlalu mulia dan terlalu kejam."
"Apa artinya?"
Tanya Keng Thian.
"Seperti di dalam mimpi... dalam sekejap dia menghilang,"
Jawabnya sambil mengucurkan air mata.
Sesudah itu, dengan suara terputus-putus ia menuturkan segala pengalamannya.
Keng Thian dan Peng Go berduka sangat.
Mereka tak tahu, bagaimana harus menghibur Kim Bwee.
Sesudah memikir beberapa saat, Peng Go berkata.
"Bwee-moay, sudahlah, kau jangan menangis. Kami akan menemani kau mendaki Tjoe-hong."
Si nona mengawasi dengan sorot mata bersangsi.
"Menurut taksiranku, ia pasti memanjat Chomo Lungma,"
Kata pula Peng Go. Kedua mata Kim Bwee bersinar terang.
"Peng Go Tjietjie, kau sungguh mulia,"
Katanya dengan suara berterima kasih.
"Ih! Mengapa kau tak makan daging itu?"
Tanya Keng Thian yang melihat sepotong daging ayam di atas salju.
"Daging itu ditinggalkan olehnya, aku tak tega untuk memakannya,"
Jawab Kim Bwee.
"Anak tolol!"
Kata Peng Go seraya tertawa.
"Tanpa makan, mana kau punya tenaga?"
Ia meraba kantong makanan Kim Bwee yang ternyata sudah kosong sama sekali.
Ternyata, sudah sehari suntuk Kim Bwee tak makan apapun jua.
Untung sekali Keng Thian membekal banyak makanan kering dan sebatang jinsom.
Si nona lalu makan sedikit ransum kering dan separuh jinsom, tapi ia masih tak tega untuk makan daging ayam pemberian Kim Sie Ie.
Sesudah keluar dari kumpulan pagoda-pagoda es, mereka lalu mendaki tanjakan dengan mengikuti tapak-tapak kaki Kim Sie Ie.
Pada hari kedua, mereka tiba di lembah yang sering diserang taufan dan tapak-tapak itu menghilang tertutup salju yang ditiup angin.
Pada besokan harinya, Chomo Lungma sudah berada di depan mata.
Setibanya disitu, mereka lelah bukan main dan sukar bernapas.
Walaupun tak takut hawa dingin, Peng Go merasa dadanya sakit dan sesak.
Keadaan Keng Thian masih mendingan, karena ia memiliki lweekang yang lebih tinggi.
Orang yang paling menderita adalah Kim Bwee, yang hanya bisa maju setindak demi setindak dengan dipayang Keng Thian.
Mereka tiba sesudah terjadinya "salju roboh".
Dari bawah mereka memandang ke atas dan apa yang dilihatnya hanya puncak-puncak yang menjulang ke langit, tertutup awan dan salju.
Peng Go dan Kim Bwee mengawasi puncak itu dengan hati berdebar-debar.
Walaupun berkepandaian tinggi, mereka yakin Kim Sie Ie tak akan mampu mendaki puncak yang setinggi itu.
Dalam hati kecil, mereka menduga, bahwa pemuda itu telah mengalami kecelakaan, tapi tak satupun yang berani mengutarakan dugaan itu.
Tiba-tiba Kim Bwee berbisik.
"Hari keberapa ini?"
Karena pingsan lama di kumpulan pagodapagoda es, ia tak dapat menghitung hari lagi.
Sekonyong-konyong paras Peng Go berubah pucat, la ingat bahwa bersama Keng Thian ia sudah berada di Himalaya tujuh hari tujuh malam, atau dengan lain perkataan, sudah melampaui batas umur Kim Sie Ie dengan satu hari dan satu malam!
Waktu itu matahari sudah menyilam ke barat dan sang rembulan sudah memancarkan sinarnya yang remang-remang di atas langit.
Lama sekali mereka mengasoh untuk memulihkan tenaga.
Selang satu dua jam, Keng Thian menghela napas seraya berkata.
"Marilah kita turun saja."
"Tidak! Aku tak pulang!"
Teriak Kim Bwee dengan suara pasti Peng Go mencekal tangan si nona dan mengawasi mukanya dengan penuh rasa kasihan.
Tapi sebelum ia sempat membujuk, di tanjakan tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita.
"A Bwee! Kau juga sudah tiba disini?"
"Ibu!"
Seru Kim Bwee sambil melompat bangun. Phang Lin tertawa haha-hihi dan menggapai-gapai.
"Ie-ie!"
Teriak Keng Thian "Apa kau sudah bertemu dia?"
"Bertemu!"
Jawabnya. Badan Kim Bwee bergemetaran, tapi larinya terlebih cepat daripada Pengtjoan Thianlie.
"Dimana dia?"
Tanyanya sambil memeluk sang ibu.
"Lihatlah sendiri,"
Kata Phang Lin seraya menuding ke satu jurusan.
Semua orang menengok ke tembokan es yang ditunjuknya.
Ternyata di tembok es itu terdapat empat baris huruf yang berbunyi seperti berikut.
Kubukan manusia yang tak mengenal budi, Memandang Tjoe-hong dengan hati bersedih, Kuhanya cocok untuk hidup menyendiri, Malu menerima kecintaan dari seorang dewi.
Di bawah syair yang ditulis dengan pedang itu terdapat juga tapak-tapak tongkat.
Pengtjoan Thianlie kelihatan berduka sekali.
Hanya ia seorang yang mengenal isi hati Kim Sie Ie.
Syair itu keluar dari jiwa yang angkuh.
Ia haus akan kecintaan manusia yang hangat, tapi pada akhirnya, ia mabur seorang diri dari dunia pergaulan.
Untuk beberapa lama, mereka tak mengeluarkan sepatah kata.
Mereka bengong dan memandang dunia perak yang sangat indah, yang gilang-gemilang di bawah sorotan sinar rembulan.
Akhirnya, kesunyian itu dipecahkan oleh Phang Lin yang berkata dengan mendadak.
"Kurang ajar sungguh bocah itu!"
Comelan disusul dengan tertawa.
"Jangan jengkel-jengkel,"
Katanya pula sambil melirik puterinya.
"Asal dia masih bidup, aku pasti akan dapat membekuknya, supaya kau bisa melampiaskan rasa kedongkolanmu."
Kata-kata itu hanya untuk menghibur Kim Bwee. Dalam hatinya, Phang Lin pun yakin, bahwa mencari pemuda itu bukan hal yang mudah.
"E-eh, apa itu?"
Mendadak Kim Bwee berkata sambil menuding ke atas.
"Tiga bola salju... menggelinding ke bawah..T eh sungguh cepat!"
"Anak tolol!"
Bentak sang ibu seraya tertawa.
"Bukan bola salju. Itulah lethio-mu, Ie-ie dan... siapa orang yang ketiga. Ah! Lu Soe Nio!"
Beberapa saat kemudian, Siauw Lan bertiga sudah tiba disitu.
Tak usah dikatakan lagi, pertemuan itu menggirangkan sangat hatinya semua orang.
Sambil mencekal tangan Peng Go, Phang Eng tertawa seraya menanya.
"Apa sekarang kau masih jengkel terhadapku?"
Phang Lin tertawa geli.
"Aku berjanji akan carikan kau seorang menantu yang memuaskan,"
Katanya dengan suara menggoda.
"Bukankah sekarang aku sudah memenuhi janji itu?"
Peng Go tak menjawab, hanya mukanya berubah merah karena kemalu-maluan.
Ia melirik kedua saudara perempuan itu dan baru sekarang, sesuai dengan petunjuk Keng Thian, ia dapat membedakannya.
Bagi orang luar, mereka hanya dapat dibedakan waktu sedang tertawa.
Yang satu bersujen di pipi kiri, yang lain di pipi kanan.
"Aku sudah menepati janji, tapi bagaimana dengan janjimu?"
Tanya Phang Lin.
"Apa kalian belum bertemu dengan Kim Sie le?"
Tanya Siauw Lan dengan heran.
"Aku minta ia menunggu disini atau di rumah Phoei Keng Beng."
"Dia tak akan kembali,"
Jawab Phang Lin.
"Bacalah syair itu."
Sesudah membaca Siauw Lan menghela napas.
"Begitu gurunya, begitu juga muridnya,"
Katanya dengan suara duka.
"Adat Kim Sie Ie lebih aneh daripada Tokliong Tjoentjia."
Lantas saja ia menceritakan, bagaimana pada saat yang sangat berbahaya, ia sudah berhasil menolong jiwa pemuda itu.
Kim Bwee jadi girang tercampur sedih.
Ia girang sebab kecintaannya sudah terbebas dari kebinasaan dan di kemudian hari, ia bakal menjadi seorang pandai dalam dunia persilatan.
Tapi ia juga merasa sedih, karena pemuda itu sudah mabur untuk tidak kembali lagi.
Phang Lin yang beradat "berandalan", kali ini pun merasa duka.
Secara kebetulan ia telah bertemu dengan seorang pemuda yang cocok untuk menjadi suami puterinya.
Tapi pemuda itu telah kabur dengan begitu saja dengan menolak segala kecintaan orang.
Mendengar Siauw Lan menyebut-nyebut nama Tokliong Tjoentjia, ia ingat buku catatan harian yang diberikannya kepada Siauw Lan.
"Siauw Lan, apa buku catatan harian itu sudah diserahkan kepada Kim Sie Ie?"
Tanyanya. Siauw Lan terkejut.
"Ya,"
Jawabnya.
"Apa? Buku catatan sehari-hari? Aku tadinya menduga, buku ilmu silat."
"Kau tidak membacanya?"
Tanya pula Phang Lin.
"Bagaimana kuboleh baca buku orang lain?"
Siauw Lan balas tanya. Lu Soe Nio yang sedari tadi terus menutup mulut, mendadak bertanya.
"Apa dalam buku itu terdapat catatan penting?"
"Sangat penting, mengenai jiwa umat manusia di sepanjang pantai,"
Jawab Phang Lin. Siauw Lan terperanjat.
"Apa?"
Ia menegas.
"Menurut catatan itu, di bawah pulau Tjoa-to terdapat sebuah gunung berapi yang menurut taksiran Tokliong Tjoentjia, akan meledak kurang lebih sepuluh tahun lagi,"
Menerangkan Phang Lin.
"Jika sampai terjadi kejadian itu, bukan saja seluruh pulau akan menjadi hancur, tapi semua makhluk berjiwa di dalam laut dan umat manusia yang hidup di sepanjang pantai Lautan Kuning, akan celaka. Menurut Tokliong Tjoentjia, masih ada jalan untuk mengelakkan bencana tersebut. Beberapa bulan sebelum terjadi peledakan, seseorang harus masuk ke dalam lubang gunung dan membuka sebuah terowongan untuk memasukkan air laut, supaya api dan lahar beracun bisa mengalir keluar perlahan-lahan. Hanyalah dengan jalan itu saja, barulah bencana bisa dielakkan."
Paras muka Soe Nio lantas saja berubah terang.
"Kalau begitu, kita tak usah mencari Kim Sie Ie lagi,"
Katanya sambil bersenyum.
"Mengapa?"
Tanya Phang Lin.
"Sesudah membaca buku gurunya, apakah ia tak mengerti, bahwa ia adalah orang satusatunya yang bisa mengelakkan bencana itu?"
Soe Nio balas tanya. Siauw Lan mengangguk beberapa kali dan berkata dengan suara perlahan.
"Menolong sesama manusia adalah tugas orang-orang sebangsa kita. Apalagi mengelakkan bencana yang sedemikian besar! Mengenai tugas itu, aku merasa Tokliong Tjoentjia sudah menghitung masak-masak, sehingga, biarpun ia masuk ke dalam gua api, ia pasti akan bisa keluar lagi dengan selamat."
Paras muka Phang Lin berubah lebih terang.
"Ya,"
Katanya.
"Biarlah ia melakukan satu perbuatan yang mulia itu."
Kim Bwee mengawasi ibunya dan kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Tapi... andaikata ia selamat... apakah ia akan kembali?"
"Ia mabur karena merasa malu terhadap manusia,"
Kata Lu Soe Nio.
"Sesudah berhasil melakukan perbuatan yang mulia itu, aku merasa pasti ia akan kembali ke dunia pergaulan."
Si nona tak mengatakan apa-apa lagi, tapi mendengar suara Lu Soe Nio yang begitu pasti, hatinya jadi terhibur juga.
Demikianlah, dengan hati tertindih, mereka lalu mulai turun gunung.
Tiga hari kemudian, mereka tiba kembali di rumah Phoei Keng Beng, dimana sudah menunggu Liong Leng Kiauw, Tong Lootaypo dan yang lain-lain yang terpaksa kembali karena tak bisa maju terus.
Sesudah mengasoh beberapa hari mereka lalu membereskan perjalanan.
Atas anjuran Tong Siauw Lan dan yang lain-lain, Phoei Keng Beng bersama puterinya pun turut turun gunung.
Sebenarnya ia merasa berat untuk meninggalkan rumah yang sudah di tempati puluhan tahun, tapi mengingat hari kemudian puterinya sudah mendapat ketentuan, hatinya jadi agak terhibur.
Waktu itu adalah musim semi.
Di kaki gunung, salju sudah melumer dan pemandangan alam, dengan pohon-pobon yang berdaun hijau, bunga-bunga yang menyiarkan bebauan wangi dan burung-burung yang bermain-main di dahan kayu, indah luar biasa.
Peng Go memetik beberapa kuntum bunga hutan dan kemudian menyebarnya di tengah udara dengan mata mengawasi puncak Tjoe-hong.
Antara begitu banyak orang, hanya Keng Thian yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh si nona.
Sesudah berjalan dua hari lagi, tibalah mereka di lembah itu, dimana tentara Nepal dan tentara Tjeng pernah berkemah dan berhadapan satu sama lain.
Sekarang mereka hanya mendapatkan lembah yang sunyi senyap dan bertemu dengan sejumlah kambing hutan yang begitu melihat datangnya manusia, lantas saja lari serabutan.
Kedua tentara itu ternyata sudah ditarik mundur.
Tapi baru mau keluar dari mulut lembah, mereka melihat sebuah tenda yang masih berdiri disitu.
Ternyata, Thian Oe dan Yoe Peng yang sangat memikiri keselamatan Kim Sie le, tidak turut pulang bersama tentara Tjeng, tapi sudah menunggu disitu.
Mereka girang melihat kembalinya Tong Siauw Lan dan yang lain-lain.
Mereka juga bersyukur, bahwa jiwa Kim Sie Ie sudah dapat ditolong.
Tapi di antara kegirangan itu, mereka juga merasa duka, sebab Kim Sie Ie sudah melenyapkan diri.
Sesudah keluar lembah, mereka masuk ke daerah padang rumput.
Belum jalan berapa jauh, mereka bertemu dengan serombongan pedagang kuda yang datang ke .daerah perbatasan untuk berdagang.
Sambil jalan perlahan-lahan, mereka menyanyikan lagu si Pengembara.
Sungai es di puncak gunung laksana Thianho yang nyungsang.
Dengarlah 'tu kepingan es mengalir dengan bersuara perlahan sekali, Ibarat suara tetabuhan yang dipentil dengan jeriji si gadis jelita.
Si nona tanya sang pengembara.
Berapa gunung es lagi harus kau mendaki?
Berapa topan lagi harus kau lewati?
Pengembara!
Sang elang di atas padang rumput pun tak dapat terbang terus menerus.
Tapi kau jalan, jalan terus, jalan terus...
Sampai tahun apa, bulan apa, baru kalian mau turun dari kuda?
Nona, terima kasih atas kebaikanmu, Tapi kami tak dapat menjawab pertanyaanmu, Apakah kau pernah melihat bunga di gurun pasir?
Apakah kau pernah melihat gunung es melumer?
Kau belum pernah melihatnya?
Belum pernah!
Ah!
Maka itu, kami si pengembara.
Juga tak akan berhenti selama-lamanya.
Itulah lagu yang pernah didengar Thian Oe pada tiga tahun berselang, pada waktu ia pertama kali melihat wajah Chena.
Segala pengalamannya dengan gadis Tsang itu lantas saja terbayang di depan matanya dan air mata mengalir turun di kedua pipinya.
Ia melirik Yoe Peng yang kebetulan sedang mengawasi padanya, sehingga kedua pasang mata lantas saja kebentrok.
Demikianlah, luka di hatinya telah diperingan dengan obat yang mujarab.
Peng Go pun pernah mendengar lagu itu dan ia juga merasa sedih karena ingat nasib Kim Sie le.
Apakah pemuda itu akan bernasib seperti si pengembara yang disebutkan dalam lagu itu?
Ia menengok dan melihat Keng Thian tengah mengawasi dengan sorot mata penuh kecintaan.
Ia menghela napas dan dalam kedukaannya, ia merasa, bahwa dirinya banyak lebih beruntung daripada wanita yang lain.
Lie Kim Bwee sendiri baru pernah mendengar lagu yang sedih itu.
Ia harus berduka seorang diri, karena tak ada orang yang menghiburnya dengan lirikan mata yang mengandung cinta.
Ia menangis seorang diri sambil menghadapi sebuah teka-teki yang tak dapat dijawab.
Apa dia akan segera kembali?
Apa dia bernasib seperti si pengembara yang baru mau menahan les kuda sesudah gurun berbunga dan gunung es melumer?
Entahlah!
Dengan air mata berlinang-linang, tanpa berani menengok pula untuk melihat Chomo Lungma, ia berjalan sambil menundukkan kepala seraya mendengari lagu si Pengembara yang semakin lama jadi semakin menghilang dari pendengaran.....
T A M A T.
CATATAN 13) Phaspa (keponakan Sakya Pandit yang menakluk pada kerajaan Mongol) adalah seorang nabi yang tersohor pintar.
Dalam usia sangat muda, ia sudah menarik perhatian Kublai Khan (yang belakangan menjadi kaizar di Tiongkok), sehingga diminta untuk memberi pelajaran Lhama-isme kepada Kublai dan belakangan diangkat menjadi Guru Kerajaan.
Sepanjang cerita, dengan disaksikan kaizar, ia memperoleh kemenangan dalam suatu debat mengenai keagamaan, melawan tokoh-tokoh kenamaan.
Atas perintah Kublai, Lhama-isme dinyatakan sebagai agama kerajaan Goan (Yuan) dan Phaspa diangkat menjadi pemimpin dari semua Budhis di kolong langit.
Dalam usia 31 tahun, ia diperintah menciptakan sistim menulis untuk orang Mongol.
Dengan mengambil alphabet Tibet sebagai dasar, ia menyelesaikan tugas itu dalam lima tahun.
14) Puncak Mutiara atau Tjoehong diambil dari perkataan "Chomo Lungma", bahasa Tibet untuk Puncak Everest.
Tinggi Everest 29.002 kaki dan nama itu diambil dari nama Sir George Everest, seorang ahli pengukur gunung-gunung.
Sebagaimana diketahui, Puncak Everest telah ditakluki oleh Sir Edmund Hillary, Sherpa Tenzing dan kawan-kawannya pada tanggal 29 Mei 1953.
15) Tiatkoen atau Buku Besi adalah anugerah dari seorang raja kepada keluarga raja atau menteri yang berjasa besar.
Dengan kekuatan anugerah itu, ia dapat mencampuri segala urusan negara, malahan dapat menegur atau menghukum raja yang belakangan bertahta.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Tokoh Besar 3
Baca Juga: Pendekar Cacad 2