Eps 1 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/. 13 Perjodohan Busur Kumala(Yun Hai Yu Gong Yuan) Karya . Liang Ie Shen Saduran . OKT
Jilid 1 Keindahan alam di Kanglam selama musim semi tersohor sekali, apapula, di bulan ketiga, di saat rumput-rumput tinggi dan bunga-bunga mekar permai serta burung-burung ngoceh tak hentinya.
Terutama mentakjubkan ialah untuk mereka yang belum pernah menginjak wilayah Selatan itu.
Demikian sudah terjadi dengan seorang muda, yang usianya kurang lebih dua puluh tahun, air muka siapa nampak seperti ke kanak-kanakan begitu pula tingkah polahnya.
Berada di sebuah tanjakan bukit, ia bergembira sekali, matanya memandang kelilingan, tangannya saban-saban digerak-geraki dan kakinya kadang-kadang berjingkrakan.
Seorang diri dia berkata bagaikan berseru.
"Pantaslah ketika tuan tua masih ada di Sakya, setiap hari dia memikiri untuk pulang ke kampung halamannya, kiranya Kanglam ini Hingguh-sungguh suatu tempat yang indah! Ya, Kanglam indah, Kanglam, indah sekali!"
Di belakang anak muda ini ada mengintil serombongan bocah, mengintil sembari tertawa haha-hihi.
Salah satu bocah, yang paling besar, lantas menunjuk hidungnya sambil berkatakata dengan suaranya yang berlagu.
"Tidak tahu malu, tidak tahu malu! Tikus tua terjatuh ke dalam timbangan, dia memuji muji dirinya sendiri!"
"Hai, kurang ajar!"
Berseru pemuda kekanak-kanakan itu, romannya dibikin gusar.
"Hai, setan cilik, mengapa kau mengatai aku tikus tua?"
"Bukankah tidak keruan-keruan kau memuji dirimu sendiri?"
Si bocah membaliki.
"Barusan kau sendiri yang membilang 'Kanglam indah! Kanglam indah!' Tak sudahnya! Dengan memuji diri sendiri, apakah kau bukan si tikus tua yang jatuh ke dalam timbangan?"
Anak muda itu tertawa.
"Kalau begitu, kamu keliru mengerti!"
Katanya.
"Aku hanya memuji bahwa tempatmu ini, wilayah Kanglam, indah sekali, aku bukan maksudkan diriku! Tapi, aku sendiri, aku si Kang Lam, juga bukannya buruk!..."
Anak-anak itu lantas pada mengawasi.
Pemuda ini, yang belum pernah menginjak wilayah Kanglam, bernama Kang Lam.
Nama wilayah Kanglam dan namanya, Kang Lam, semua hurufnya sama dan sama juga suara bacanya, karena itu, terjadilah salah mengerti di antara bocah-bocah itu.
Kang Lam memuji Kanglam, tetapi bocah itu mengira Kanglam ialah Kang Lam.
Ialah Kang Lam si bocah yang kita kenal dalam cerita "Peng Coan Titian Lie"
Atau "Bidadari dari Sungai Es".
Karena ia adalah kacungnya Tan Thian Oe putera dari Tan Teng Kie.
Tan Teng Kie berpangkat soan-wiesu, atau amban, pembesar untuk suku bangsa, di Sakya, Tibet.
Sebenarnya pangkat itu pangkat dalam pembuangan, dan pangkat itu ia jabat selama lebih daripada sepuluh tahun.
Kemudian, karena berjasa dalam hal menyambut guci emas dan ditolong oleh satu menteri, yang mengajukan permohonan keampunan baginya, oleh raja ia dipanggil pulang ke kota raja untuk memegang kembali kedudukannya sebagai giesu atau censor.
Dua tahun ia menjabat pula pangkatnya ini, lantas ia meletakinya dan pulang ke kampung halamannya, la menggunai alasan sudah berusia lanjut sedang sebenarnya, tidak bisa ia melihati suasana busuk di dalam pemerintahan.
Kampung halamannya itu ialah dusun Bok-tok, letaknya kirakira lima atau enam puluh lie dari kota Souwciu, Kangsouw, dan rumahnya menghadapi telaga Thay Ouw yang tersohor indah panoramanya.
Sekarang ini kedudukannya Kang Lam beda daripada kedudukannya tadinya.
Mulanya ia menjadi kacung tukang melayani majikan mudanya, Thian Oe.
Nama Kang Lam itu diberikan majikannya, Teng Kie, untuk memperingati wilayah kampung halamannya, Kanglam.
Ia telah berjasa dalam hal membawa surat majikannya ke kota raja, maka itu, Teng Kie telah mengambil ia sebagai gieeu, yaitu anak pungut, hingga ia tak lagi menjadi kacung.
Hanya, lantaran ia sederhana dan tidak bertingkah, sifatnya tidak berubah.
Demikian ketika ia turut "majikannya"
Pulang ke Kanglam-baru dua bulan ia tiba di Boktok-ia gemar bergaul sama bocah-bocah sekampung, hingga mereka menjadi sahabat-sahabat erat.
Sembari tertawa Kang Lam lantas membagi-bagi kembang gula kepada kawan-kawan bocah itu, yang menerimanya dengan gembira.
"Nah, bagaimana kamu lihat!"
Katanya tertawa pula.
"Aku si Kang Lam, aku tidak buruk, bukan?"
Bocah-bocah itu tidak menggoda lagi.
"Kang Lam baik! Kang Lam baik!"
Mereka bahkan memuji, terus mereka bersorak-sorai.
"Eh, mari aku tanya kau!"
Kemudian tiba-tiba Kang Lam menanya.
"Di dalam kampung kamu ini ada atau tidak seorang nona yang gemar meniup terompet huchia?"
Ditanya begitu, anak-anak itu menjadi gembira sekali. Anak yang besaran, dengan mengejek, lantas tertawa haha-hihi dan berkata.
"Lihat, lihat! Engko Kang Lam lagi memikirkan si nona manis!"
"Hus, jangan ngaco!"
Membentak si anak muda.
"Aku menanyai benar-benar! Kamu kasih tahu padaku, besok aku pergi ke kota Suowciu, nanti aku belikan kembang gula!"
Anak-anak itu lantas saja mengilar hanya mereka bingung dengan pertanyaan itu.
"Apa itu huchia? Huchia itu barang apa?"
Demikian mereka pada menanya.
"Itulah terompet yang terbuat dari daun,"
Kang Lam menerangkan sambil memetakan.
"Kalau ditiup, terompet itu bersuara nyaring dan tajam."
Anak-anak itu tetap tidak mengerti.
Inilah tidak heran karena huchia itu ada terompet istimewa suku bangsa di luar perbatasan, umpama bangsa Tartar, dan anak-anak di Kanglam belum pernah melihat atau mendengarnya.
Hanya karena disebutnya nona yang meniup huchia, mereka lantas menyebutkan beberapa nama dari nona-nona yang suka meniup seruling!
Kang Lam masgul berbareng lucu.
"Aneh!"
Katanya di dalam hatinya.
"Taruh kata benar aku salah mendengar tetapi kongcu tidak mungkin! Tadi malam terang-terang kita mendengar suara terompet huchia itu!"
Dengan "kongcu"
Itu, Kang Lam maksudkan majikannya yang muda, Thian Oe.
Justeru ketika itu, dari kejauhan ada terdengar suara terompet mengalun, agaknya tajam dan menyayatkan.
Anakanak itu pun turut mendapat dengar, maka mereka pada memasang kuping.
Kang Lam adalah yang perhatiannya paling tertarik.
Itulah suara huchia-tidak salah lagi!
Maka melupakan kawankawannya itu, ia lari ke arah tanjakan dari mana suara itu datang terbawa angin.
Ia berlari-lari.
Anak-anak itu lari menyusul.
Hingga mereka melihat datangnya dua penunggang kuda.
"Engko Kang Lam!"
Memanggil seorang bocah, yang besaran.
"Jangan ganggu mereka itu! Merekalah tukangtukang pukulnya Ong Loo Houw!"
Sudah kira-kira dua bulan Kang Lam tinggal di tempat kediamannya ini, ia tahu Ong Loo Houw itu ialah seorang okpa atau jago untuk kecamatan Gouwkoan, bahkan katanya dia pun, menjadi hiocu atau ketua dari sebuah perkumpulan.
Ia tidak takut Ong Loo Houw apa pula baru dua tukang pukulnya.
Ia memang ada anak Jenaka dan berani, berandalan juga.
Ia pun melihat dua orang itu rupanya lagi mencari si peniup huchia itu!
Di matanya Kang Lam, tanah pegunungan di sekitar kota Souw-ciu ini dipandang seperti tumpukan-tumpukan tanah saja, maka itu, lari belum lama, ia sudah sampai di kaki bukit Tentu sekali, ia tidak mengarah kedua tukang pukul itu hanya si nona peniup huchia.
Malam tadi kira jam tiga, Kang Lam bersama kongcu-nya, yang sekarang menjadi kakak angkatnya itu, yaitu Tan Thian Oe, tengah membicarakan pelbagai pengalaman mereka di Sakya tatkala kuping mereka mendengar suara huchia, sebentar nyata, sebentar lenyap.
Mulanya Kang Lam menduga kepada Kim Sie Ie si pengemis kusta, atau Tokciu Hongkay, si Pengemis Edan Berbisa, tetapi Thian Oe menyangka kepada seorang nona.
Sangkaan Thian Oe ini didasarkan tekukannya irama seruling itu.
Kang Lam hendak keluar malam-malam, guna mencari peniup huchia itu, tetapi Thian Oe mencegah karena kuatir ayah mereka kaget.
Inilah sebabnya maka besokannya, Kang Lam lantas pergi mencari nona itu hingga ia digerembengi banyak bocah kawan-kawannya itu.
Segera juga terlihat si nona peniup huchia itu dan dia benarlah orang yang dikejar si kedua penunggang kuda, hanya muka nona itu tidak dapat terlihat.
Si nona mengenai cala hitam.
Tepat Kang Lam tiba di kaki bukit, ketiga orang itu melintas di hadapannya, bahkan salah satu tukang pukul itu, yang tertawa menyeringai, mendadak menyerang si nona dengan bandring gaetan!
Dengan melihat tampangnya saja, hebat serangannya si tukang pukul itu.
Dia pun percaya betul, sambarannya akan mengenakan sasarannya.
Hanya selagi dia menyambar itu, telinganya mendengar tertawa Jenaka hihi-hihi, lantas dia merasakan tangannya sakit bagaikan dipotong, menyusul mana sendirinya dia terguling roboh dari atas kudanya!
Itulah iseng tangannya Kang Lam!
Ketika bandring ditimpukkan, ia menyambar itu untuk terus ia lilitkan kepada pohon di dekatnya, karena si penunggang kuda kabur terus, dia tertarik tertahan bandringnya sendiri, tangannya terasa sangat nyeri, hingga sedetik itu, habislah tenaganya dan sebab tubuhnya turut terbetot, dia roboh seketika!
Kagetlah si kawan, lantas dia menahan kudanya, untuk berlompat turun, guna menghampirkan kawannya itu, untuk dipimpin bangun.
Lantas tukang pukul yang roboh itu berkaok-kaok saking mendongkolnya, matanya melotot terhadap Kang Lam.
Anak muda itu tertawa.
"Eh, kenapa kau marah-marah terhadapku?"
Ia menegur.
"Kau terguling sendiri, ada apa sangkutannya itu dengan aku? Siapa suruh kau membandring pohon? Memangnya pohon itu bermusuh denganmu? Hm! Hm! Kau mencaci siapa ya?"
Kawan yang tidak roboh itu agakknya sabar.
"Jangan!"
Ia membujuk kawannya seraya terus ia berpaling kepada si anak muda dan menanya.
"Sahabat, kau sahabat dari golongan mana?"
Kang Lam menggeleng kepala, ia tertawa.
"Aku tidak kenal kamu!"
Katannya lucu.
"Siapa mempunyai hubungan keuangan denganmu?"
Sengaja ia berlagak tuli, orang menyebut "golongan" (sian), ia mengartikan "cian" (uang). Ia sarukan "sian"
Dengan "cian".
"He, binatang cilik, kau benar-benar tolol atau kau berpurapura saja?"
Orang itu membentak.
"Kau tahu tidak kami ialah sebawahannya Ong Hiocu dari Hayyang Pang?"
"Aku tidak tahu!"
Menjawab Kang Lam. Ia tidak menggubris orang menyebut-nyebut nama partainya Hayyang Pang, atau partai Laut Samudera.
"Habis, kau tahu atau tidak aluran kaum kangouw?"
Membentak pula tukang pukul itu.
"Ini anak perempuan ada orang dari lain tempat, dia asing, dia tidak ketahuan asalusulnya, maka itu Ong Hiocu hendak menawannya, untuk memeriksa dia! Nah, mengapa kau menghalang-halangi kami?"
"Ah, inilah aneh!"
Kata si anak muda.
"Ong Hiocu itu makhluk apa? Apakah dia sama besar pangkatnya dengan seorang wedana? Aku pernah bertemu dengan tidak sedikit orang berpangkat akan tetapi aku belum pernah mendengar ada pangkat hiocu itu! Pula belum pernah aku mendengar soal oleh karena orang tidak terang asal-usulnya dia lantas dihajar dan mau ditangkap untuk diperiksa!"
"Hm!"
Berseru si tukang pukul sangat mendelu.
"Kau sebenarnya makhluk campur baur asal mana?"
Kang Lam tidak memperdulikan cacian itu.
"Aku juga asal lain daerah, apakah hiocu kamu mau menangkap aku untuk diperiksa?"
Ia tanya, mengejek.
"Sudahlah!"
Membentak si tukang pukul, yang tadi terguling dari kudanya.
"Terang-terang bocah ini tengah mempermainkan kita! Jikalau dia tidak dikasih rasa, dia tidak tahu keliehayan kita! Jangan layani dia ngaco belo! Mari maju!"
"Hai, kamu terlalu!"
Membentak Kang Lam.
"Sudah kamu mengatakan aku binatang cilik, sekarang kamu mengatakan juga makhluk campur baur! Biarnya satu taytiang-hu, dia tidak dapat menahan sabar lagi! Kau lihatlah... tanganku!"
Kata-kata '"lihatlah... tanganku!"
Dilagukan sebagai juga seorang peran dari sandiwara Peking lagi beraksi, sudah mulutnya bergerak, berirama, juga kaki dan tangannya turut digerak-geraki.
Melihat itu kawanan bocah, yang telah menyusul, pada gelak tertawa.
Dua tukang pukul itu gusar bukan kepalang, dua-duanya lantas turun tangan.
Ialah yang satu menampar muka, yang lain menjambret lengan.
Tapi dua-dua mereka tidak memperoleh hasil, sebaliknya, dengan suara plak-plok dua kali yang keras dan nyaring, mereka menjadi gelagapan, sebab di luar sangka mereka, tangannya si anak muda telah mampir di pipi mereka!
Pula hebat gaplokan itu, sampai mereka pusing.
Kawanan bocah itu heran tetapi mereka bersorak.
Dipermainkan begitu, kedua tukang pukul itu menjadi penasaran sekali.
Dengan lantas keduanya maju pula, untuk mengulangi serangan mereka.
Sebenarnya mereka mesti menginsyafi yang mereka bukan lawan si "binatang cilik atau makhluk campur baur"
Itu tetapi mereka melupakan itu.
Kang Lam mendak ketika ia diserbu berbareng, sambil berkelit, ia menyambar tangan baju mereka itu, terus ditarik dengan keras, maka mereka itu jadi saling tubruk, tangan mereka mengenai masingmasing tubuh mereka!
Kembali mereka merasa kepala mereka pusing di samping tubuh mereka nyeri.
"Nah, kamu lihat!"
Berkata Kang Lam tertawa.
"Kamu saling menghajar sendiri, dan semua itu sahabat cilik menjadi saksinya! Maka jangan kamu persalahkan aku!"
Dua orang itu mengawasi dengan mata melotot.
"Kamu mementang mata dan mengasih bangun alis kamu, kamu mau apa?"
Tanya Kang Lam tertawa.
"Apakah kamu merasa saling gebuk kamu masih belum cukup? Apakah kamu masih ketagihan? Apakah kamu mau bertempur lagi sama aku?"
Baru sekarang kedua tukang pukul itu kuncup hatinya, mendadak saja mereka memutar tubuh untuk lari ngiprit!
Maka, ger!
Ramailah tertawanya kawanan si bocah.
Tapi bukan cuma kawanan bocah itu yang tertawa ramai itu, masih ada serombongan lain, hanya mereka ini orangorang dewasa, yang datangnya kesitu seperti tidak ketahuan.
Mereka semua ada membekal pelbagai macam senjata tajam.
Mulanya Kang Lam terkejut hingga ia melengak.
la menduga kepada kaum Hayyang Pang, yang hendak membantui dua kawannya itu.
Tiba-tiba salah satunya, yang menjadi kepala, maju untuk memberi hormat sambil memuji.
"Kau muda dan gagah, sungguh mengagumkan!"
Belum pernah Kang Lam mendapat pujian seperti itu, ia girang.
"Siapa bilang aku gagah?"
Katanya tertawa.
"Orang seperti kongcu-ku serta beberapa sahabatnya barulah orang-orang gagah dari jaman ini!"
Orang itu berdiam, ia agaknya berpikir.
"Maaf, maaf,"
Katanya kemudian, lagi-lagi ia memberi hormat.
"Jangan kau bicara dulu, kau biarkan aku mendugaduga siapa kongcu-mu itu! Ah, dapat aku menebak sekarang! Dia tentulah Tan Thian Oe! Dan kau, pastilah kau Kang Lam!"
Kembali si anak muda girang sekali.
"Kau betul!"
Bilangnya.
"Sebenarnya, bagaimana kau ketahui itu?"
"Aku dan kongcu-mu itu ada sahabat-sahabat untuk banyak tahun, bagaimana aku tidak tahu?"
Menjawab orang itu. Ia berhenti sejenak.
"Beberapa sahabatnya kongcu-mu itu juga kenal dengan kami, dan salah satu yang persahabatannya paling erat bernama Tong Keng Thian."
"Benar, benar!"
Kang Lam memotong.
"Tong Tayhiap dan kongcu-ku paling erat pergaulannya, melebihi saudara kandung! Aku tidak sangka ia pun sahabatmu itu! Eh, ya, masih ada seorang lain lagi. Kamu kenalkah Kim Sie Ie?"
"Kim Sie Ie? Ya, ya, tidak salah! Pernah aku bertemu dengannya beberapa kali."
Mendengar jawaban itu, Kang Lam sangat tertarik hatinya.
"Kapankah pertemuan kamu paling belakang dengannya?"
Ia tanya.
"Di manakah?"
"Itulah di kaki gunung Nyen-chin Dangla, selagi kami mengunjungi Tong Keng Thian, kebetulan kami bertemu dengannya. Kemudian kami berangkat ke Kanglam. Kemarin kira setengah tahun yang lalu."
Kang Lam girang tidak terkira.
"Kalau begitu, Kim Sie Ie menjadi belum mati?"
"Usia Kim Sie Ie rada lanjut akan tetapi kesehatannya masih baik sekali,"
Kata pula orang itu.
"Menurut penglihatanku, ia masih dapat hidup sedikitnya sepuluh tahun lagi. Mana bisa dia gampang-gampang mati?"
Kang Lam tercengang, pikirannya lantas bekerja.
"Usia Kim Sie Ie berimbang sama usia kongcu-ku,"
Pikirnya.
"tahun ini paling tinggi ia baru berumur dua puluh lima tahun, kenapa dia ini membilang sudah lanjut. Kalau ia berhasil mendapatkan ilmu dalam dari Thiansan Pay hingga ia bisa menyembuhkan latihannya yang sesat, mana bisa ia hidup lagi hanya sepuluh tahun? Orang ini membilang bersahabat kekal sekali dengan Tong Keng Thian dan kenal juga dengan Kim Sie Ie, umpama kata Kim Sie le tidak membilanginya sendiri, mustahil Tong Keng Thian berdiam saja dan tidak memberitahukan umurnya Kim Sie Ie itu''"
Mendadak pemuda ini menjadi bercuriga. Hanya sebentar, lantas ia berpikir pula.
"Mungkin juga dia ini benar. Kim Sie Ie paling pandai menyamar. Ia pernah menjadi si penderita kusta, ia pernah menyamar menjadi seorang tua bangka. Bahkan dia kenal belum lama, baru beberapa kali bertemu katanya, jadi persahabatannya masih tipis? Mungkin juga Tong Keng Thian tidak bicara banyak tentang Kim Sie Ie kepadanya. Hanya, mereka ini katanya sahabat-sahabat kekal dari kongcu, mengapa aku tidak kenal sekalipun satu saja di antaranya?"
Orang itu seperti dapat mem-bade hatinya anak muda ini.
"Ketika dulu hari itu Tan Kongcu menyambut guci emas, kami pernah membantu dia,"
Ia berkata pula.
"Kalau tidak salah, sampai sekarang ini peristiwa itu sudah enam atau tujuh tahun lamanya."
"Sayang ketika itu kongcu tidak mengajak aku,"
Berkata Kang Lam.
"Katanya peristiwa sangat ramai, telah datang orang-orang gagah dari empat penjuru. Kiranya kamu kenal kongcu di waktu itu, pantas aku tidak kenal kamu..."
Kang Lam mengawasi, ia menghitung.
Rombongan itu terdiri dari tiga belas orang, nampaknya mereka bekas habis melakukan perjalanan jauh, mungkin mereka berasal perbatasan negara.
Karena ini, lenyaplah sebagian dari kecurigaannya.
Orang itu berkata pula.
"Kau tidak kenal kami tetapi kami telah mendengar namamu yang besar."
Kembali si anak muda menjadi kegirangan.
"Benarkah?"
Katanya.
"Pastilah kongcu yang memberitahukannya! Kongcu paling gemar memuji aku."
"Tidak salah! Tan Kongcu bilang kaulah kacungnya yang paling dihargakan, kau pintar dan cerdik, kau pandai bekerja! Pendeknya, kau sempurna!"
Kang Lam sinting karena pujian itu.
"Eh, kamu masih belum ketahui,"
Katanya.
"sekarang ini aku bukannya kacung lagi. Aku bersyukur kepada kongcu, yang menghargai aku, maka sekarang kongcu telah mengangkat aku menjadi saudaranya!"
Orang itu repot memberi hormatnya.
"Oh Tan Jiekongcu!"
Ujarnya.
"Maaf, maaf!"
"Kamu datang dari tempat jauh, apakah kamu ingin aku membantu sesuatu untukmu?"
Kemudian si anak muda tanya. Karena dipanggil jiekongcu, yaitu kongcu yang kedua, ia lantas meniru sikap menghormat dari kongcu-nya yang halus budi pekertinya.
"Benar,"
Orang itu menyahut.
"Kami mau minta kau tolong mengantarkan kami. Bukankah Tan Toakongcu ada di rumah?"
"Ada, ada, pasti ada di rumah!"
Sahut Kang Lam cepat.
"Sebenarnya baru dua bulan kami mengiringi looya pulang ke kampung halamannya ini. Cepat sekali kamu mendapat kabar!"
Lantas pemuda ini bertindak, untuk menjadi pengantar. Tapi baru satu tindak, atau ia sudah merandak. Ia ingat suatu apa.
"Kamu tunggu sebentar!"
Katanya.
"Eh, mana si nona peniup huchia itu?"
Rombongan orang itu pun tidak memperhatikannya, setelah mendengar perkataan si anak muda, mereka berpaling. Benarlah, disitu tidak ada si nona yang tadi dike-pung-kepung dua gundalnya Ong Loo Houw.
"Mungkin nona itu kaget dan ketakutan hingga nyalinya pecah maka dia sudah lantas lari kabur,"
Kata orang yang menjadi kepala rombongan itu, yang tertawa.
"Apakah Tan Jiekongcu mencari dia? Inilah gampang. Sebentar, sehabisnya menemui toakongcu, kami nanti berpencaran membantu mencari dia itu."
Kang Lam heran.
Ia melihat ke-letakan tempat yang datar, sedang di belakang sana ada sebuah bukit kecil.
Kalau si nona lari ke belakang, mungkin mereka ini melihatnya, dan kalau dia lari ke depan, ia pasti mendapat tahu.
Ia tahu matanya awas.
Maka, kemana perginya nona itu?
Mungkinkah dia mahir ilmu ringan tubuh dan telah membolos selagi barusan ia kurang perdata?
Mestinya dalam sebentar saja nona itu dapat melalui belasan lie...
Karena terpaksa, anak muda ini berjalan terus.
Ia diiring tiga belas orang itu.
Sebenarnya ia berhati tidak tenang, tetapi di sepanjang jalan orang tak hentinya memuji padanya, ia menjadi gembira juga.
"Kamu pemah mendaki gunung Nyenchin Dangla,"
Katanya kemudian.
"kamu pernah bertemu sama Tong Tayhiap suami isteri, maka itu, tahukah kamu kongcu-ku ini dengan Tong Tayhiap itu pernah sanak dekat?"
"Begitu?"
Kata si ketua rombongan.
"Kenapa begitu?"
Kata Kang Lam.
"Isterinya kongcu-ku, jadinya Nyonya Tan, tadinya ialah pelayannya Pengcoan Thianlie Jangan kamu memandang enteng yang dia asalnya seorang pelayan. Dia sebenarnya puterinya seorang menteri besar di dalam negara Pengcoan Thianlie. Dia bukan saja pintar ilmu surat dan mengerti ilmu pedang, dia juga mempunyai peluru inti es Pengpok Sintan hadiah dari nona majikannya itu! Kamu tahu sendiri, peluru inti es itu hanya berada di dalam Istana Es dan di kolong langit ini tidak ada keduanya."
Kang Lam doyan bicara semenjak masih kecil, maka juga di Sakya, hamba-hamba kantornya Tan Teng Kie memberi dia gelaran "Kang Lam si banyak bacot".
Sekarang, masuk usia dewasa, ia belum bisa buang kebiasaannya itu.
Si ketua rombongan saling lirik dengan kawan-kawannya.
"Begitu? Bagus!"
Katanya bersenyum.
Kang Lam melengak.
Perkataan orang itu mengherankan ia.
Ia tadinya hendak menegaskan ketika ia mendapat kenyataan ia sudah tiba di depan rumahnya.
Pengawal pintu, yang dipanggil Ong Kongkong, heran melihat jie-kongcu-nya itu mengajak orang, dia lantas menghampirkan dan menanya.
"Lekas pergi mengabarkan kongcu!"
Kata si anak muda cepat.
"Kau bilangi bahwa serombongan sahabatnya dari perbatasan negara datang menyambangi!"
Dalam kegembiraannya itu.
tanpa memikir untuk menanti Thian Oe muncul, Kang Lam hendak mengundang rombongan itu lantas masuk ke pekarangan dalam.
Atau mendadak ia menampak Thian Oe berdiri di tangga lorak dengan air muka kaget dan muram!
Si kepala rombongan lantas tertawa lebar dan berkata kepada tuan rumahnya itu.
"Tan Kongcu, niseayalah kau tidak pernah memikirnya yang kami dapat begini lekas datang menyambangi kau?"
Thian Oe menjadi gusar sekali.
"Tio Leng Kun, kau menghendaki apa?"
Ia menegur.
"Kau ditunjang Tong Keng Thian, mana kita berani menghendaki apa-apa dari kau?"
Berkata orang yang dipanggil Tio Leng Kun itu.
"Kami hanya memikir untuk minta kau mencoba-coba merasai bagaimana enaknya kalau tulang piepee-mu ditusuk dilubangi!"
Tulang piepee ialah tulang selangka di pundak. Kang Lam menjadi sangat kaget. Itulah pembicaraan yang ia tidak sangka sekali-kali.
"Jadi kamulah musuh-musuhnya kongcu-ku?"
Ia berseru. Ia lantas berlompat untuk menyerang lehernya orang itu. Orang yang diserang menyambut sambil menendang.
"Sungguh liehay!"
Kang Lam berseru.
Dalam keadaan terpong-gok seperti itu, ia berlompat memutar tubuh, maka tepat sekali kempolannya kena ditendang.
Kalau ia ditendang dadanya, mungkin ia bercelaka.
Pastilah Kang Lam tidak kenal rombongan ini, yang dipimpin oleh Tio Leng Kun itu, ialah ciang-bunjin atau ketua partai persilatan Khongtong Pay, yang sekarang datang untuk mencari balas.
Pada enam tahun dulu, rombongan Tio Leng Kun ini sudah mengepung Lui Cin Cu dari partai persilatan Butong Pay.
Pengepungan terjadi di luar kota Chalun di Tibet.
Kebetulan itu waktu mereka bertemu sama Tan Thian Oe berdua Yu Peng, mereka ini membantui Lui Cin Cu.
Dengan Pengpok Sintan, Yu Peng melukai matanya Tio Leng Kun.
Kemudian lagi, Tong Keng Thian juga membantui pihak Butong Pay itu.
Dengan tiga belas batang Thiansan Sinbong, senjata rahasia yang liehay, yang terbikin dari semacam rumput berujung tajam dari gunung Thiansan, Keng Thian telah melukai dua belas adik seperguruan dari Tio Leng Kun itu, yang terluka tulang selangkanya, hingga hilanglah ilmu silat mereka, sesudah mana mereka itu diusir keluar dari wilayah Tibet.
Sebenarnya siapa terlukakan tulang selangkanya, dia sukar diobati sembuh, umpama kata dia mendapat pertolongan tabib pandai, untuk kesembuhannya perlu tempo sepuluh tahun, tetapi Tio Leng Kun beramai bernasib baik, mereka telah bertemu seorang saudagar bangsa Persia, yang menjual obat penyambung luka, yaitu sioktoan yang katanya tuanya seribu tahun, maka dengan memakai obat itu, yang dibantu urutan menyambung tulang warisan Khongtong Pay, mereka berhasil sembuh dalam tempo lima tahun, dari itu, selain sembuh, ilmu silat mereka pun bertambah maju.
Begitulah timbul keinginan mereka untuk menuntut balas.
Untuk segera mencari Tong Keng Thian suami isteri, mereka bersangsi, maka mereka hendak mencari dulu musuh yang lebih ringan.
Sungguh kebetulan, baru satu tahun mereka mencari-dari Utara mereka menuju ke Selatan disini secara kebetulan mereka bertemu sama Kang Lam, hingga mereka dapat mencari Tan Thian Oe.
Ketika Kang Lam berlompat bangun habis ditendang roboh lawannya, ia mendapatkan Thian Oe sudah bertempur sama rombongan musuhnya itu.
yang main mengeroyok.
Maka berisiklah suara bentroknya senjata-senjata mereka.
Tan Thian Oe membela diri di undakan tangga.
Ia mau mencegah orang menyerbu ke dalam rumahnya.
Dengan satu tikaman ia berhasil menusuk satu musuhnya tetapi justeru itu, Tio Leng Kun kena merobek ujung bajunya.
Kang Lam tidak dapat menonton lama-lama.
Ia jalan mutar lari ke dalam, guna meminta bantuan.
Tan Thian Oe gagah tetapi melayani tiga belas musuh Khongtong Pay yang tangguh itu, lama-lama ia menjadi kewalahan.
Kembali ia kena ditinju Tio Leng Kun.
Ia menjadi mendongkol sekali, ia lantas membalas menyerang dengan hebat.
Leng Kun dapat berkelit.
Celaka adalah saudaranya, yang berada di belakangnya, dia ini terpapas jeriji tangannya.
Tapi Leng Kun menyerang pula, atas mana Thian Oe terhuyung.
Justeru begitu, ia disusuli bacokan golok seorang musuhnya yang lain, maka pundaknya terluka dan mengeluarkan darah.
Di saat Thian Oe terancam bahaya itu, disitu terdengar cacian seorang yang suaranya dalam menandakan usianya yang sudah lanjut.
"Oh, kawanan bangsat anjing..."
Hanya baru sampai disitu, orang itu lantas roboh sendirinya, caciannya itu berhenti sendirinya.
Dialah Tan Teng Kie, ayahnya Thian Oe.
Dia mendengar suara berisik, dia keluar.
Dia mendamprat di saat anaknya terluka, karena kaget, tidak dapat diam, mendamprat terus, tidak kuat dia mempertahankan diri, maka robohlah dia, roboh sendirinya.
Tio Leng Kun tertawa nyaring.
"Kau berani mencaci aku?"
Katanya.
"Inilah namanya pembalasan! Hayo, tusuk tulang piepeenya tua bangka ini!"
Thian Oe tengah terluka, tidak dapat ia mempertahankan garis pembelaannya itu, maka lantas ada beberapa musuhnya yang bisa menerobos melewati ia, melewati undakan tangga, guna menyerbu ke arah ayahnya itu.
Mau tidak mau, ia menjadi mencaci musuh.
Ini justeru kehendaknya Leng Kun, agar musuhnya marah besar, hingga ia jadi tidak bisa berkelahi dengan betul.
Orang-orang Khongtong Pay itu telah dimaki, bukannya mereka turut menjadi gusar dan membalas, mereka malah tertawa semakin keras.
"Siapa berani mengganggu kongkong-ku?"
Sekonyongkonyong terdengar suara halus tetapi nyaring, yang menyebut-nyebut "kongkong", atau mertua, lalu terus terlihat sinar-sinar berkeredepan, menyusul mana, beberapa orang yang lagi tertawa itu, suara tertawanya berhenti dengan tibatiba, bahkan mereka jadi kelabakan!
Itulah Yu Peng, yang muncul dengan mendadak, yang lantas menyerang dengan Pengpok Sintan, peluru inti es.
Kalau kawan-kawannya yang lagi tertawa itu terkena peluru es, tidak demikian dengan Tio Leng Kun.
Dia sudah lantas menyerang, untuk membela diri.
Tio Leng Kun ketahui liehay-nya peluru es, ia berdaya untuk melawannya.
Ia lantas meyakinkan Bweehoa ciam, yaitu jarum rahasia Bunga Bwee.
Sekarang ini saatnya tiba, ia membela diri sambil melakukan penyerangan, yaitu sebelumnya peluru es mengenai sasarannya.
Maka runtuhlah peluru yang mengarah tubuhnya, cuma terasa sedikit hawanya yang dingin, yang ia dapat lawan.
"Hahaha!"
Ia tertawa menantang.
"Berapa banyak peluru esmu? Apakah kau hendak meminta lagi dari Pengcoan Thianlie?"
Memang peluru es itu Yu Peng dapatkan dari Pengcoan Thianlie, nona majikannya, siapa mendapatkan pula dari kedung yang ribuan tombak dalamnya.
Ia membawa sama sekali seratus butir tetapi setelah lewat banyak waktu, sekarang tinggal dua puluh delapan bocah.
Barusan ia merabu dengan sepuluh butir, dari itu, sisanya tidak ada dua puluh butir lagi.
Di lain pihak.
musuh berjumlah tiga belas orang.
Maka itu, ditantang musuh yang tangguh ini.
Nyonya Tan Thian Oe menjadi bercekat hati.
Ia memikir untuk menyimpan guna saat-saat terakhir.
Karena ini, karena ia terlambat, ia pun lantas dikurung musuh-musuhnya.
Sambil berseru, Yu Peng menghunus pedangnya, pedang Han-giok Kiam, yang terbuatnya bukan dari emas atau besi hanya dari batu kumala yang sudah terpendam ribuan tahun dalam sumber di dalam lembah.
Pedang ini tidak dapat disamakan dengan pedang Pengpok Hankong Kiam dari Pengcoan Thianlie tetapi toh bersinar terang dan berhawa dingin, siapa belum mahir ilmu tenaga dalamnya, tak dapat dia melawan hawa dinginnya itu.
Begitu bergebrak, beruntun ia menggunai dua jurus-mulanya "Banlie huisong"
Atau "Es terbang selaksa lie"
Dan lalu "Ciansan lok-yap"
Atau "Daun rontok di ribuan gunung".
Kedua jurus itu mendatangkan juga serangannya hawa dingin yang keluar dari pedang itu.
Tio Leng Kun lantas maju guna melawan nyonya ini.
Dengan kebutan tangan bajunya ia membuatnya pedang tersampok.
Selagi isterinya itu menerjang, Thian Oe berlompat, guna mengundurkan musuh-musuhnya, dengan begitu ia menjadi memperojeh kesempatan akan mendekati sang isteri, untuk bertempur berdampingan.
Bersama-sama, mereka menggunai Pengcoan Kiamhoat yaitu ilmu pedang Sungai Es.
Untuk sementara, Leng Kun beramai tidak dapat mendesak.
Tapi Yu Peng masih lemah latihan tenaga dalamnya, ia tidak dapat bertahan lama.
Sekarang ia cuma mengandalkan pedangnya, sedang pelurunya ia masih tahan saja.
Maka itu, lama-lama ia menjadi repot juga.
Thian Oe jauh lebih unggul daripada isterinya itu akan tetapi ia telah terluka, ia juga lantas menjadi repot, napasnya sengal-sengal, peluhnya membasahkan sekujur tubuhnya.
Demikian atas desakan lawan, bersama isterinya ia mesti mundur dari dua undakan tangga lorak.
Yu Peng menikam Tio Leng Kun, ia tidak mendapat hasil, sebaliknya selagi ia menikam, satu musuh menusuk padanya, hingga ia mesti segera berkelit, la masih mempunyai kesehatan hingga ujung pedang lawan cuma tiba nempel di pundaknya.
Tio Leng Kun lantas berkata dengan ejekannya.
"Kamu bilang, kamu menghendaki tulang selangkamu ditusuk tembus atau hanya batang lehermu yang harus dipenggal?"
Thian Oe dan Yu Peng tidak menjawab, hanya mereka mengambil kesempatan untuk saling melirik, untuk membulatkan tekad akan melawan terus mati atau hidup.
Maka itu, ketika mereka mendesak, Leng Kun kena dipaksa mundur satu tindak.
Hanya sayang untuk mereka, tenaga mereka telah menyampaikan batasnya, sebentar kemudian, mereka terdesak pula hingga mereka mesti mundur melewati undakan tangga yang ketiga.
Selagi pertempuran itu berjalan hebat, sekonyong-konyong hidung Thian Oe mendapat mencium hembusan bau harum yang luar biasa.
Ia menjadi heran.
"Entah dari mana datangnya harum bunga Mokwie hoa ini?"
Ia tanya di dalam hatinya.
Selama di Tibet, pernah ia mendengar keterangannya Liong Leng Kiauw bahwa di dalam lembah es di gunung Himalaya ada tumbuh semacam bunga asiulo atau asura, dan asura itu, yang ada bahasa Sansekerta, berarti hantu atau mokwie, maka bunga asura itu disebut bunga hantu.
Seorang biasa, apabila dia kena mencium bau bunga itu, dia akan tak sadarkan diri.
Siapa mahir tenaga dalamnya, ia dapat bertahan sekian lama, atau ia bakal menjadi lemas sendirinya, hingga habislah ilmu silatnya.
Liong Leng Kiauw pernah menjadi korban bunga itu hingga dia kena ditawan busu, atau pahlawan, Nepal.
Maka itu, heranlah Thian Oe.
Tio Leng Kun juga sudah lantas dapat mencium bau, hanya dia tertawa dingin dan berkata.
"Kiranya Tan Kongcu juga dapat menggu-nai asap pulas kaum kangouw golongan rendah! Tapi kau salah melihat! Kami mana takut dengan asap pulasmu ini!"
Justeru Leng Kun mengejek, justeru Thian Oe berteriak.
"Lekas gunai Pengpok Sintan!"
Yu Peng berlompat naik satu undakan tangga, sambil berlompat ia mengayun tangannya, menimpuk dengan peluru esnya. Ia menimpuk dengan jurus "Thianlie san-hoa"
Atau "Bidadari menyebar bunga".
Dengan begitu, ia menyerang jalan darah musuh.
Tio Leng Kun berlaku sebat, ia pun menyerang dengan jarum rahasianya.
Ia berhasil memecahkan Pengpok Sintan, akan tetapi kesudahannya ada di luar dugaannya.
Peluru inti es itu hancur terhajar jarum, pelurunya hancur, tetapi hawa dinginnya tidak buyar musnah, bahkan menjadi terlebih dingin lagi, berlipat kali kuatnya.
Ia mahir tenaga dalamnya, toh ia menggigil, sedang tadi-pertama kali ia meruntuhkan peluru es ia tidak terserang hawa dingin sehebat ini.
Beberapa saudaranya sudah lantas roboh tak sadarkan diri.
"Hai, mengapa aku jadi begini tidak berguna?"
Tanya Leng Kun kepada dirinya sendiri.
Ia tidak menginsyafi bahwa ia telah menyedot baunya bunga asura hingga jalan napasnya menjadi seperti tertutup, hingga tenaga dalamnya itu berkurang sendirinya.
Thian Oe dan Yu Peng tidak takuti hawa dingin itu, kesatu mereka memang telah mempelajari daya melawannya menurut ajaran Pengcoan Thianlie, kedua mereka sudah siap sedia, ialah mereka menahan napas bekerja.
Bahkan ketika baik ini dipergunakan mereka untuk menerjang hebat, hingga mereka dapat mendesak akan menduduki pula undakan tangga yang tadi terampas musuh.
Tio Leng Kun dan saudara-saudaranya yang belum roboh merasakan diri mereka terancam hebat, sudah tubuh mereka menjadi lemah, mereka pun pada bergemetaran.
Lima orang telah lantas kena tertikam dan roboh seketika.
Leng Kun sendiri telah terbabat dua jari tangannya.
Oleh karena ini, terpaksa ia memberi tanda untuk saudarasaudaranya mengundurkan diri, siapa yang masih kuat, dia memanggul kabur saudaranya yang roboh.
Lekas juga pertempuran berhenti.
Thian Oe dan Yu Peng tidak dapat mengejar semua lawannya itu.
Mereka menang tetapi mereka terbenam dalam keheranan.
Itulah kemenangan yang luar biasa.
Yu Peng mengasih masuk pedangnya ke dalam sarungnya, ia mengebut berulang-ulang dengan tangan bajunya, akan membuyarkan sisa hawa dingin, kemudian ia merobek ujung tangan bajunya, guna segera membalut luka suaminya.
"Entah orang berilmu siapa yang telah dengan cara diamdiam membantu kita,"
Berkata isteri ini.
"Sakit atau tidak?"
"Syukur lukanya tidak mengenai tulang,"
Menyahut sang suami.
"Tibanya harum bunga asura ini luar biasa sekali..."
Yu Peng tidak kenal bunga itu, ia hendak menanyakan keterangan suaminya, atau ia melihat muncul Kang Lam, yang berlari berlompatan romannya ketakutan. Setibanya, bocah itu berkata.
"Kongcu, aku telah bersalah sudah mengajak musuhmusuhmu datang kemari! Kongcu, kau hukumlah aku..."
Thian Oe mengerutkan kening.
"Lain kali kau harus berhatihati!"
Katanya.
"Sekarang lekas suruh orang menyapu dan mencuci bersih tanda-tanda darah. Tentang pertempuran ini, aku larang kau omongkan kepada orang luar!"
"Baik, kongcu,"
Menyahut Kang Lam, yang tapinya lantas berdiri bagaikan terpaku, matanya mendelong ke pojok tembok pekarangan.
Yu Peng heran, ia lantas mengawasi ke arah pandangannya Kang Lam itu.
Maka di pojok tembok itu, di bawahnya sebuah pohon hoay, tampak seorang wanita muda yang mukanya tertutup cala, tangannya memegangi setangkai bunga yang sudah layu, bunganya putih dan merah.
Selama di Istana Es ia pernah lihat banyak macam bunga tetapi tidak ada yang seperti ini.
Hanya sejenak ia menduga.
"Mungkinkah itu bunga asura?"
Nona itu nampak luar biasa.
Ia duduk dengan rambut kusut dan tubuhnya menggigil.
Lembaran-lembaran bunga juga belarakan di tanah di depannya itu.
Ia seperti tak kuat menahan hawa dingin, hingga mungkin tubuhnya, akan menjadi beku "Dia!
Dia!"
Mendadak Kang Lam berseru. Ia rupanya baru ingat.
"Dialah si nona yang meniup huchia!...'"
Thian Oe terkejut hingga ia mengasih dengar seruan tertahan. Yu Peng gesit sekali, dengan segera ia lari pada nona itu.
"Enci, aku membilang terima kasih atas bantuanmu mengundurkan musuh,"
Katanya sambil ia mengeluarkan pel Yanghoo Wan, obat untuk melawan hawa dingin dari pengpok sintan.
Ia bicara dengan halus dan tangannya diangsurkan ke mulut nona itu.
Ia pun ingin menyingkap cala si nona, supaya nona itu dapat lantas makan obatnya Itu.
Sekonyong-konyong nona tidak dikenal itu berlompat bangun sambil mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang luar biasa, yang seperti dapat nnemecahkan hati, menyusul mana Yu Peng menjerit keras dan roboh terguling sebab di dadanya tertancap sebatang anak panah pendek yang hitam bergemerlapan, gagang panah itu bergoyanggoyang....
Thian Oe kaget hingga ia tercengang.
Nona itu tertawa pula, lantas dia kata nyaring.
""Barang yang aku tidak bisa dapatkan, kau juga tidak bakal mendapatkan untuk selama-lamanya?'"
Thian Oe sadar, ia berlompat kepada si nona, pundak siapa ia sambar, dengan suara menggetar ia menanya.
""Kau!.,. Kau siapa"? Kenapa kau berlaku begini kejam...?"
Cuma sebegitu ia bisa bilang, lantas tubuhnya roboh seraya menarik si nona hingga mereka terguling bersama!!
Itulah sudah terjadi sebab Thian Oe habis bertempur keras, dia terluka lain dia terkena bau bunga asura yang melemahkan tubuhnya, karena dia berlompat dan mengerahkan tenaga istimewa, habislah tenaganya.
Nona itu merobek calanya, dengan mata yang berlinangkan air, ia mengawasi Thian Oe, air mukanya menunjuk ia menangis bukan tertawa pun bukan, ia berdiam saja.
Thian Oe pun memandang nona itu, ia kaget bagaikan ia bertemu iblis "Kau...
kau..
kah Shanpii"
Ia menanya Nona itu tertawa bergelak.
"Tidak salah!"
Sahutnya selang sesaat.
"Kau telah mengenali aku. Tunanganmu mencari padammu! Nah, mari kita pergi bersama!!"
Kata nona itu diikuti dengan dihunusnya sebatang panah pendek, yang terus ditikamkan ke tenggorokan kongcu she Tan ini..... Kang Lamm kaget, ia berlompat hendak menolongi. Muka Thian Oe pucat.
"Dosa....dosa..."
Katanya perlahan.
Ia menutup rapat matanya, untuk menanti kematiannya.
Tapinya ia tidak tertikam panah itu, hanya kupingnya mendengar suara nancapnya......
nancap di dada si nona sebagaimana ia melihatnya tatkala ia membuka matanya.
Nona itu menghela napas..
"Thian Oe, bagus..."
Katannya lemah.
"Kau tidak suka pergi bersamaku ? Baiklah! Aku telah membunuh dia, maka itu biarlah kau seorang diri hidup bersengsara... Thian Oe, Thian Oe, mari biarkan aku mengikat pula tali sepatumu..."
Kata-katanya nona ini jadi makin lemah, tubuhnya lemah juga, sebab segera tubuh itu roboh sendirinya di depan dengkul si anak muda, kedua tangannya memegang sepatu orang...
Bukan main masgulnya Thian Oe.
Nona itu ialah Shanpii, puterinya touwsu dari Sakya.
Semasa ayahnya masih menjabat soanwie-su di Sakya, Tibet, Thian Oe telah terdesak touwsu itu untuk menikah dengan puterinya si touwsu.
Thian Oe tidak setujui perjodohan itu, karenanya, ia buron.
Perjodohan menjadi buras ketika kemudian touwsu itu terbinasakan Chena, seorang nona Tsang.
Urusan telah lewat buat banyak tahun, maka Thian Oe tidak menduga sama sekali, sekarang di kampung halamannya ini, ia telah disusul si nona.
Sebenarnya Shanpii hendak membinasakan Thian Oe, di saat terakhir, ia tidak tega, tetapi karena ia sudah putus asa, ia lantas membunuh diri sendiri.
Dengan perlahan Thian Oe menyingkirkan tubuh si nona.
Ia melihat tali sepatunya telah terbuka, rupanya tidak keburu diikat pula si nona, napas nona itu telah berhenti berjalan.
Menurut kebiasaan bangsa Tibet, wanita mengikat tali sepatu pria berarti ia telah menyerahkan dirinya kepada pria itu.
Dulu hari di kantor touwsu, Shanpii pernah mengikat tali sepatu Thian Oe.
Ketika itu Thian Oe masih belum ketahui kebiasaan bangsa Tibet itu.
Shanpii tidak dapat melupakan peristiwa itu, ia tetap mau menjadi isteri Thian Oe, maka itu, ia telah mencoba akan mengikat pula tali sepatu si anak muda.
Thian Oe lari pada isterinya.
Yu Peng rebah dengan kedua mata merem dan mukanya sangat pucat, baju di pundaknya robek, pada pundak itu nampak tanda hitam.
Panah pendek nancap di dadanya, racun panah itu melulahan ke pundak dan lengan.
Untuk sejenak, suami ini berdiri menjublak.
Tiba-tiba ia mencabut pedangnya, untuk dipakai menikam lehernya sendiri Kang Lam berada di samping kongcu-nya itu, menampak demikian, ia mengangkat kakinya, menendang pedang hingga terpental.
"Lihat, kongcu!"
Berkata kacung yang setia ini.
"Lihat, kepala siauwnaynay masih bergerak!"
Thian Oe melengak, segera ia menoleh. Ia melihat rambut isterinya tertiup angin. Mendadak ia sadar "Memang, aku mesti menolongi dia!"
Pikirnya.
Ia lantas menyuruh Kang Lam lari masuk, guna mengambil obat-obatan pemunah racun, la tidak berani lantas mencabut anak panah beracun itu, ia hanya mencekali erat-erat kedua tangan isterinya.
Napas Yu Peng berjalan perlahan sekali.
Dengan lekas Kang Lam telah muncul pula dengan ruparupa obat.
Thian Oe bekerja sebat sekali.
Ia mengambil obat pulung dan obat bubuk yang isterinya bawa dari Keraton Es, ia menyekoki dan memborehkan isterinya itu, kemudian ia menguruti, supaya racunnya tertolak mundur, agar darahnya berjalan lurus.
Selang sekian lama, bibir Yu Peng bergerak-gerak, kedua matanya pun terbuka.
Thian Oe mendekati kupingnya ke mulut isterinya itu.
"Jangan kau ganggu dia..."
Itulah perkataan pertama dari Yu Peng, suaranya sangat lemah. Tentu sekali, ia maksudkan Shanpii.
"Dia telah mati..."
Sahut Thian Oe berduka.
"Jangan kau membenci dia,"
Kata pula Yu Peng.
"Kau kubur dia sebagai juga dialah isterimu. Kalau aku mati, kau kubur aku di pinggir kuburannya!..."
Thian Oe menangis, air matanya mengalir.
"Tidak, adik Peng, kau tidak bisa mati..."
Katanya. Ketika itu terdengar suara berisik dari dalam rumah.
"Looya bagaimana?"
Thian Oe tanya Kang Lam. Ia baru ingat kepada ayahnya, yang tadi pingsan tetapi lekas ditolongi Kang Lam dan yang lainnya, dibawa masuk ke dalam.
"Looya kaget dan menjadi sakit karenanya,"
Kang Lam menjawab.
Thian Oe pondong isterinya, untuk dibawa ke kamarnya, setelah merebahkannya, ia lari ke kamar ayahnya itu.
Syukur sekali, Teng Kie cuma kaget, ia tidak kurang suatu apa.
Ia hanya turut berkuatir dan berduka.
Untuk beberapa hari, Thian Oe repot tidak keruan.
Ia senantiasa mendampingi isterinya.
la tidak tahu, bagaimana harus menghalau racun panahnya Shanpii itu.
Obat-obatan dari Keraton Es cuma dapat membendung menjalarnya.
Maka ia terpaksa membantu dengan tenaga dalamnya, setiap pagi dan sore ia membuang tempo tiga jam untuk membantu tenaga dalam isterinya itu.
Di dalam tempo empat hari, Yu Peng nampak mendingan, nadinya dapat jalan lebih keras, ia pun bisa menelan tajin.
Tinggal saat gentingnya yang belum lewat.
Pada suatu hari isteri ini mengawasi muka suaminya, ia menghela napas.
Thian Oe letih merawat isteri dan ayahnya, ia kurang tidur dan tidak beristirahat secara teratur, romannya menjadi perok dan lesu.
"Kau menderita begini rupa, lebih baik aku mati saja,"
Kata isteri ini.
"Obat-obatan dari Keraton Es tidak dapat menolong, maka itu mana ada tabib yang bisa menyembuhkan aku? Selama hidupku beberapa tahun ini, aku telah merasakan keberuntungan, maka kalau aku mati, aku puas..."
"Jangan pikir yang bukan-bukan!"
Thian Oe kata.
"Kau tidak bakal mati!"
Di mulut suami ini mengatakan demikian, hatinya sebenarnya kecil.
"Apakah kau telah selesai membuat kuburannya Shanpii?"
Tanya Yu Peng.
"Sejak dua hari yang lalu aku telah menitahkan Kang Lam mengurusnya,"
Sahut sang suami.
"Dia kejam tetapi itu disebabkan cintanya,"
Berkata Yu Peng.
"maka itu jangan kau mensia-siakan dia..."
"Aku telah turut pesanmu, aku telah kubur ia dengan baik."
"Bagus. Kalau nanti aku bertemu dia, hatiku tenang .."
"Untukku, maukah kau tidak mengucap demikian? Kau telah makan obat Keraton Es dan itu dibantu tenaga dalammu, meski sekarang kau belum sembuh, kau toh bakal sehat kembali..."
Yu Peng bersenyum sedih.
"Setiap hari kau menghadapi orang bagaikan mayat, kau sendiri tidak bosan, aku sendiri tidak tahan..."
Katanya pula. Ia berhenti sebentar.
"Sebegitu lama, aku ingat, belum pernah aku omong satu hal padamu. Itulah halnya Tong Keng Thian dulu hari, selama di Keraton Es. Untuk puteri yang mulia dan beberapa budaknya, ia telah membuat syair. Syair untukku ialah. 'Lembah sunyi, gunung belukar, sinar rembulan menindih lain-lain warna. Batang peng daun teratai, suara hujan menutup suara teratai.' Maka itu rupanya sudah selayaknya aku berdiam di dalam lembah yang sunyi dan gunung belukar. Aku telah dibawa kau ke dunia yang ramai, cuma-cuma aku membuatnya kau setiap hari mendengari saja suara hujan, untukku kau berduka selalu..."
Yu Peng menerangkan demikian karena namanya itu-Yu Peng--berarti "peng yang sunyi".
Peng itu pohon kapu-kapu, sedang Yu ialah sunyi.
Mendengar itu sedih hatinya Thian Oe.
Dalam kedukaannya itu, mendadak ia tertawa.
"Kau benar!"
Serunya tiba-tiba.
"Kenapa aku tidak mengingatnya? Kang Lam! Kang Lam!"
"Kau ingat apa?"
Tanya sang isteri heran.
"Tong Keng Thian!"
Sahut suami itu.
"Aku ingat soatlian dari Thiansan! Bukankah teratai salju dari gunung itu dapat mengobati segala macam racun? Syukur kau menyebutnyebut nama Tong Keng Thian! Sekarang, apa lagi yang harus dikuatirkan?"
Yu Peng tertawa sedih.
"Berapakah jauhnya letak Thiansan dari sini?"
Ia tanya.
"Kalau kita memakai kuda yang larinya cepat, pergi dan pulang paling juga setengah tahun!"
Sahut sang suami.
"Selama setengah tahun itu kita nanti menanti, selama itu terus aku merawati kau, tidak nanti penyakitmu berubah buruk..."
Ketika itu Kang Lam sudah muncul. Dia datang sambil berlari-lari.
"Kang Lam, aku hendak minta dua hal dari kau!"
Kata sang majikan, atau saudara angkat, kepada itu kacung atau adik pungutnya. Kang Lam kaget.
"Oh, kongcu!"
Serunya.
"Kenapa kongcu mengucap begini? Kongcu baik sekali kepadaku, maka itu apabila ada sesuatu, perintahlah aku! Mengapa kongcu main minta? Aku nanti pergi sekalipun ke dalam air atau api, tidak nanti aku mengerutkan keningku!"
"Aku mau minta kau pergi ke Keraton Es,"
Berkala Thian Oe.
"Disana kau minta soatlian dari Tong Keng Thian. Kau mengerti sendiri yang kau mesti lekas pergi dan cepat pulang."
Kang Lam girang sekali meskipun ia tahu tugas itu sangat berat.
"Kongcu jangan kuatir, Kang Lam nanti bekerja baik untukmu!"
Katanya. Inilah ketikanya ia menebus dosa. Bukankah ia tidak ditegur karena ia telah membawa datang bahaya untuk majikan itu? "Perjalanan jauh dan sukar, kau mesti berhati-hati,"
Pesan si majikan.
"Aku tahu. Umpama kata aku dipegat berandal, aku akan menjauhkan diri, atau aku akan melawan mati-matian!"
Sahutnya.
"Aku tahu, aku pun tidak kuatir. Aku tidak takut kau diganggu penjahat, kesatu kau tidak membawa harta, kedua, kepandaianmu sudah cukup untuk melayani segala berandal kelas dua atau kelas tiga. Apa yang aku mau minta ialah kau jangan menerbitkan gara-gara."
"Baik, kongcu. Aku nanti berlagak tidak mengerti ilmu silat, biar orang maki dan gebuk aku, aku tidak akan melawan. Kecuali aku digebuk hingga aku tidak sanggup bertahan lagi..."
"Tidak nanti orang memaki atau menghajar kau tanpa alasan. Cukup asal kau tidak menerbitkan gara-gara."
Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pula.
"Sekarang aku hendak minta satu lagi..."
"Titahkan saja! Aku nanti dengar kau, kongcu!"
"Aku menghendaki kau ingat peribahasa 'Kalau bicara, bicaralah tiga bagian, jangan mengeluarkan seluruh isi hati.' Di dalam dunia kangouw terdapat segala macam manusia jahat. Kau gemar ngobrol, inilah tabiatmu yang kau mesti robah!"
Mukanya si bocah menjadi merah. Itu memang penyakitnya.
"Baik, kongcu,"
Katanya.
"Kalau orang tanya aku dua, aku menjawab satu, kalau orang menanya sepuluh, aku menyahuti dua, atau aku akan berlagak tuli dan gagu! Pasti aku tidak akan menggagalkan urusan, kongcu!"
Yu Peng lagi sakit tetapi mendengar pembicaraan mereka itu, ia tertawa. Ia anggap Kang Lam lucu sekali.
"Sekarang aku masih berada di rumah, tidak apa aku omong beberapa kata-kata,"
Kata Kang Lam kemudian.
"Siauwhujin, aku minta kau suka menenangkan diri. Setibanya aku di tengah jalan, aku akan jadi buli-buli yang mulutnya disumpal!"
Thian Oe pun bersenyum.
"Aku tahu kesetiaan kau,"
Bilangnya.
"untuk itu, aku berterima kasih. Kau bukan lagi kacungku, maka itu lain kali jangan kau panggil kongcu lagi padaku."
"Nanti saja, sepulangnya aku habis mengambil soatlian baru panggilan ini dirobah,"
Kata Kang Lam.
"Sekarang ada pesan apa lagi, kongcu?"
"Tidak ada lagi kecuali di sepanjang jalan kau tolong dengar-dengar tentang Kim Sie I e,"
Sahut Thian Oe.
Majikan atau saudara pungut ini lantas memberikan uang bekal tiga ratus tail perak serta mengijinkan kudanya, kuda asal Ferghana, untuk Kang Lam, kemudian setelah orang siap, ia mengantari sampai di mulut dusun.
Kang Lam mentaati pesan kongcu-nya, di sepanjang jalan ia tidak berani banyak omong.
Setiap hari ia berangkat pagipagi, setiap langit sudah gelap baru ia singgah.
Ia melarikan kuda sekerasnya bisa.
Maka baru lima hari, ia sudah melalui seribu lie.
la telah berpikir, dengan jalan cara demikian, tak usah sampai setengah tahun, mungkin baru empat bulan, ia akan sudah kembali.
Hanya ia tidak memikir, dunia kangouw banyak sekali peristiwanya...
Di hari ke enam, seperti biasa, pagi sebelum embun kering, Kang Lam sudah mengaburkan kudanya.
Tengah hari, selagi panas terik, ia mencari tempat bersinggah.
Kudanya telah mandi keringat dan mulutnya berbusa.
Ia sendiri sangat berdahaga.
Maka itu, begitu melihat paseban di tepi jalan, ia lantas mampir.
Disitu ada orang menjual teh.
Setelah turun dari kudanya dan menambatnya, ia bertindak ke dalam paseban itu yang terbuat dari batu dan luas, ada dua tiang batunya serta lonengnya dari kayu merah.
"Di Tionggoan, segala apa beda,"
Pikir anak muda ini.
"Segala paseban saja begini indah jauh lebih baik daripada rumah hartawan di Tibet..."
Tukang teh ada seorang tua, ia menyuguhkan satu cangkir air teh yang dicampuri bunga Kang Lam memuji setelah ia minum seecgluk.
"Tempat ini apa namanya?"
Ia tanya kemudian.
"Inilah dusun Peng-ouw kecamatan Tongpeng koan."
"Oh, jadi sudah wilayah Shoa-tang! Bukankah disini ada telaga Tongpeng Ouw?"
Tukang teh itu mengangguk.
"Apakah engko kecil pernah datang ke mari?"
Hati Kang Lam tergerak.
"Kiranya aku telah tiba di kampung halamannya..."
Pikirnya.
Maka di batok kepalanya berbayang seorang nona, ialah Cee Ciang Hee anak gadisnya Yo Liu Ceng.
Pernah Yo liu ceng mengajak anaknya itu pergi ke Sinkiang dan Tibet mencari Tong Siauw Lan, di tengah jalan Kang Lam berkenalan sama mereka.
Itulah kejadian pada kira lima tahun yang lalu "Setelah beberapa tahun tidak kelihatan, dia tentu telah menjadi besar dan menjadi seorang nona yang pemaluan..."
Pikirnya.
Ciang Hee lebih muda dua tahun, ketika ia bertemu sama Kang Lam, merekalah bocah-bocah sedang nakalnya, hanya mereka sangat cocok satu dengan lain dan Ciang Hee telah memberitahukan kampung halamannya dan Kang Lam masih mengingatnya.
"Jikalau bukannya ada urusan penting, seharusnya aku pergi menjenguk dia,"
Pikir pemuda ini.
Ia juga hendak menanyakan keterangan hal nona itu atau ia ingat pesan kongcu-nya untuk jangan banyak omong, ia lantas menguati hati akan menguasai dirinya.
Maka setelah bicara beberapa kata-kata lagi, ia tunduk untuk menghirup tehnya.
Ketika ia memandang ke arah kudanya, ia mendapatkan kuda itu masih mengorong.
Maka itu, ia lantas mengawasi ke sekitarnya.
Dengan begitu, ia menjadi mendapat lihat hal yang menarik perhatiannya.
Di sebelah timur, tiang ada tanda bekas bacokan, dan di barat, pilar ada tapak tangannya.
Beberapa kali ia hendak membuka mulutnya, akan menanya si tukang teh, guna minta keterangan, setiap kalinya ia menahan diri.
Karena ini, bibirnya sering bergerak-gerak, ia bagaikan orang lagi sakit mulut...
Si empee tukang teh melihat kelakuan orang itu, dia menjadi heran, sembari tertawa hihi-hihi, ia menghampirkan.
"Tuan, apakah kau heran melihat tapak golok dan tapak tangan itu?"
Tanyanya.
"Ah, hari itu, sungguh aku kaget hingga hampir aku mati..."
"Inilah dia yang bicara, bukannya aku,"
Pikir Kang Lam. Maka ia mengawasi orang tua itu, mengharap-harap kata-kata orang terlebih jauh. Si penjual teh berhenti sampai disitu.
"Tuan, tehmu sudah dingin, apa kau ingin aku seduhkan yang baru?"
Dia tanya.
"Boleh jugalah,"
Kang Lam menyahut.
"Aku memang doyan bicara,"
Kata si orang tua.
"biasanya, orang suka dengar atau tidak, aku suka bicara sendiri. Hanya di dalam ini dua hari, oranglah yang selalu bertanya-tanya padaku."
Kang Lam tidak kuat melawan lagi hatinya.
"Sebenarnya, kejadian bagaimanakah itu?"
Akhirnya ia tanya.
"Lekas kau bercerita!"
Tukang teh itu tertawa pula.
"Tuan, tehmu dingin!"
Katanya. Kang Lam sadar, maka ia mengeluarkan uang satu tangchie dan menyodorkannya.
"Ini uang teh aku bayar lebih dulu, tehnya boleh diseduh belakangan,"
Ia kata.
"Coba kau tuturkan duduknya kejadian itu."
"Terima kasih!"
Kata empee itu, yang menyambut uang untuk disimpan. Ia berlaku ayal-ayalan.
"Tuan, aku lihat kau mirip dengan orang yang biasa hidup dalam dunia kangouw..."
"Tidak, kau salah lihat,"
Kata Kang Lam lekas. Ia ingat pesannya Thian Oe.
"Aku ada satu pedagang kecil..."
Dengan memiringkan kepalanya, orang tua itu mengawasi tetamunya. Ia tertawa.
"Kalau begitu, aku salah mata,"
Katanya.
"Baiklah, aku akan memulai. Orang-orang yang lewat disini, orang kangouw atau bukan, tentu dia sudah pernah mendengar satu nama-ialah namanya seorang yang terkenal untuk kecamatan kami, kecamatan Tongpeng ini. Itulah kejadian pada tiga puluh tahun yang telah lampau..."
Kang Lam tertawa.
"Pada tiga puluh tahun dulu itu, aku masih belum terlahir!..."
Katanya. Ia berhenti dengan tiba-tiba. Ia ingat janjinya akan jangan banyak bicara.
"Nah, bagaimana duduknya itu?"
"Untuk kecamatan kita ini, dialah seorang yang terkenal sekali,"
Kata pula si empee.
"Dia pernah menjadi ketua dari ikatan kaum Rimba Persilatan lima propinsi Utara. Dia bernama... bernama..."
"Tiateiang Sintan Yo Tiong Eng!"
Kang Lam meneruskan.
"Benar! Maka itu juga aku bilang, kau tentunya pernah mendengarnya!"
Katanya si empee sangat puas, kipasnya digoyang-goyang.
"Yo Tiong Eng sudah menutup mata banyak tahun, mungkinkah kejadian ini ada hubungannya dengannya?"
Kang Lam heran. Ia berhenti pula secara tiba-tiba. Ia mengaku bukan orang kangouw tetapi ia tahu hal ikhwalnya kaum kangouw...
"Memang ada hubungannya,"
Menyahut si tukang teh.
"Tiateiang Sintan sudah menutup mata tetapi ia mempunyai anak perempuannya, namanya..."
Kang Lam dapat menguasai dirinya, ia tidak meneruskan menyebut nama orang seperti tadi ia mendahului si empee, yang omongnya ayal-ayalan. Orang tua itu berpikir.
"Namanya ialah Yo Liu Ceng..."
Ia meneruskan.
"Sebenarnya kita tidak berani menyebutkan namanya itu, ia sendiri lebih suka girang memanggilnya Yo Toasiocia, yaitu si nona gede. Ia telah menikah, ia sudah menjadi ibu orang, .toh orang tetap memanggil ia toasiocia..."
"Ah tua bangka ini, ayal sekali ceritanya..."
Pikir Kang Lam, yang menjadi tidak sabaran. Ia mencela orang sedang ia sendiri ada kalanya suka berbuat demikian. Tukang teh itu berhenti sebentar, baru ia meneruskan.
"Pada beberapa hari yang lalu Yo Toasiocia bersama gadisnya pulang habis maybong, mereka singgah disini untuk minum teh. Eh ya, aku lupa beritahu padamu. Paseban ini dulunya dibangun dengan uang derma Yo Tiong Eng itu. Lihat itu batu hijau yang dipakai, semuanya batu pilihan. Sekarang paseban ini menjadi tempat aku mencari uang untuk hidupku, maka itu sudah seharusnya aku berterima kasih kepada keluarga Yo itu..."
Hatinya Kang Lam ketarik. Jadi baru beberapa hari yang lalu orang mampir di kedai teh ini.
"Habis bagaimana?"
Ia menanya.
"Ibu dan anaknya itu berbicara sama aku,"
Si empee melanjuti.
"Yang dibicarakan ialah hal ikhwalnya Yo Tiong Eng semasa hidupnya. Lantas Yo Toasiocia menjanjikan akan menderma pula untuk memperbaiki paseban ini..."
"Kalau begitu, itulah cerita dari kejadian hari-hari saja..."
"Tidak, tuan. Selagi kita pasang omong, ada seorang pendeta datang ke mari. Aku tengah asyik bicara, aku tidak tahu kapan datangnya pendeta itu, aku baru mendusin ketika aku melihat air muka toasiocia berubah. Kiranya si pendeta duduk madapi dia dan matanya mengincar tajam kepada toasiocia. Si nona anaknya toasiocia lantas berkata. 'Ibu, pendeta ini sesat! Kau lihat matanya!' Mendadak toasiocia berbangkit dan berkata padaku. 'Ong Lootauw, untuk pasebanmu ini aku hendak meninggalkan tanda mata!' Tahutahu sebatang golok terbangnya melayang!"
Baik sekali aksinya si empee, Kang Lam sampai terperanjat.
"Apakah golok terbangnya Yo Liu Ceng itu membinasakan si pendeta?"
Ia tanya.
"Tidak! Golok terbang meninggalkan tanda di tiang itu!"
"Hebat tabiatnya Yo Liu Ceng,"
Pikir si anak muda.
"Kalau ada orang nikah puterinya, bagaimana harus melayani mertua seperti dia?... Tapi, golok terbangnya itu tentu dipakai mengancam pendeta itu."
Maka ia terus menanya.
"Bagaimana dengan si pendeta?"
"Si pendeta tidak membilang apa-apa, habis itu dia berbangkit dan dia meninggalkan tapak tangannya itu di pilar itu..."
"Jadi itulah tapak jari si pendeta..."
"Habis berbuat begitu, dengan dingin si pendeta kata padaku. 'Aku pun meninggalkan tanda mata kepadamu.' Habis berkata, dia ngeloyor pergi. Toasiocia berteriak. 'Tunggu!'..."
"Lantas mereka bertarung?"
Tanya Kang Lam.
"Mereka bertengkar..."
"Apa kata mereka?"
"Mereka bicara nyeruos seperti petasan, tak mengerti aku, hanya aku duga, di antara mereka rupanya ada permusuhan. Cuma kemudian aku mendengar toasiocia mengatakan tegas. 'Baiklah, pasti aku menantikan di rumah untuk menerima pengajaranmu!'"
"Apakah kau dengar ada disebutkan hari atau tanggalnya?"
"Aku tidak mendengar jelas..."
Kang Lam berpikir keras "Mestinya mereka menjanjikan hari dan waktunya.
Melihat tapak tangan ini, yang dalam, si pendeta tentu liehay melebihkan Yo liu ceng.
Seharusnya aku membantui itu ibu dan anak...
Sayang tidak ketahuan tanggal harinya..."
Segera Kang Lam ingat pesannya Thian Oe.
Segera ia ingat Ciang Hee.
Maka bingunglah ia.
Itu waktu ada datang dua tetamu lain, si empee pergi melayani mereka itu.
Mereka menggantung golok di pinggang mereka, agaknya mereka royal.
Dengan lantas mereka melemparkan dua potong uang tangchie.
"Orang tua, inilah uang tehmu!"
Kata yang seorang. Orang tua itu tertawa.
"Inilah terlalu banyak, mana berani aku terima..."
Bilangnya.
"Jangan banyak omong, lekas simpan!"
Kata tetamu tadi.
"Aku hendak tanya kau, dalam beberapa hari ini ada atau tidak orang asing datang ke mari?"
"Ada juga seorang pendeta..."
Empee ini mau menjelaskan, atau si tetamu memotong.
"Kecuali si pendeta, ada siapa lagi?"
Orang tua itu agaknya berpikir.
"Tidak,"
Sahutnya.
"Barangkali ada yang menanya tentang keluarga Yo?"
Empee itu tertawa.
"Penduduk sini ketahui Keluarga Yo, buat apa orang main tanya-tanya lagi..."
"Hm! Nah, seduhlah teh Ie-cian!"
Kedua orang itu mengambil tempat duduk di depan Kang Lam. Yang satu lantas berkata.
"Aku sungguh tidak mengerti kenapa tuu kita memandang urusan kecil ini sebagai urusan sangat besar?..."
Hati Kang Lam terkesiap.
Kebetulan mereka itu mengawasi, ia mengangkat cangkir tehnya untuk dihirup.
Kedua orang itu melihat hanya 'seorang bocah, mereka tidak memperhatikan, hanya setelah itu, mereka bicara dalam bahasa rahasia kaum kangouw.
Kang Lam mengerti juga sedikit bahasa rahasia itu, acuh tak acuh, ia memasang kupingnya.
Kata yang seorang.
"Dia hanya seorang perempuan, dia juga cuma mengandal nama besar almarhum ayahnya, berapa sukarnya menghadapi dia? Mengapa tuu memandang urusan ini berat sekali?"
"Itulah justeru karena nama besar ayahnya itu "
Kata yang lain, yang tubuhnya kurus.
"Ayahnya pernah menjadi ketua ikatan kaum Rimba Persilatan di lima propinsi, karenanya, dia tentu banyak hubungannya, banyak sahabatnya. Mustahil perempuan itu tidak mengundang bala bantuan? Karena ini, aku jadi rada berkuatir untuk tuu. Kenapa tuu tidak mau lekas turun tangan? Bagaimana kalau sampai si pendeta mendahuluinya?"
"Kau belum tahu hasilnya kalau Keluarga Yo itu dapat dirobohkan,"
Kata si kawan, yang tubuhnya gemuk.
"Itu artinya nama tuu lantas naik tinggi, dia menjadi jago sendiri di Shoatang ini! Kau tahu siapa pendeta itu?"
"Tidak. Aku justeru mau menanya kau."
"Aku tidak tahu nama atau gelarannya hanya tuu pernah membilang, meskipun Tong Siauw Lan masih jeri terhadapnya. Lihat saja, berapa hebat tapak tangannya itu?"
"Kalau begitu, buat berurusan sama turunan Tiateiang Sintan benar-benar tidak dapat kita memandang enteng. Nah, marilah kita pergi mengundang orang!"
Mereka lantas minum, terus mereka berangkat, yang satu ke timur, yang lain ke barat.
Mereka menunggang kuda.
Hati Kang Lam menjadi tegang sendiri.
Tidak dapat ia tidak membantui Keluarga Yo itu, meski ia bersangsi akan sanggup melawan si pendeta.
Ia ingat pembilangannya Thian Oe bahwa siapa belajar silat, perlu dia membantu kawannya yang dalam kesusahan.
Maka ia mengeringi tehnya.
Ia tanya si empee di mana rumahnya keluarga Yo itu.
Tukang teh itu tertawa.
"Jitulah terkaanku!"
Katanya.
"Aku menduga kau tentulah hendak membantui Keluarga Yo!"
"Kenapa kau bisa menebak?"
"Sebab sudah banyak sekali aku melihat orang! Begitu melihat kau, aku tahu kau bukannya orang busuk! Kalau busuk, mana kau sudi membantui pihak Yo itu? Sebenarnya, dalam beberapa hari ini sudah banyak orang yang menanyakan rumah keluarga itu dengan maksud membantu. Sebaliknya dua orang barusan, mereka mesti manusia busuk, maka itu, aku tidak suka memberi petunjuk pada mereka!"
Senang Kang Lam diangkat-angkat, maka juga ia menambah uang tehnya, setelah menanya tegas jalanan, ia berlalu dengan cepat.
Jalanan disitu rata, setelah mengawasi ke timur dan barat dengan masih melihat punggung kedua orang tadi, ia pikir.
"Baik aku susul si gemuk!"
Dan lantas ia mencambuk kudanya, si kuda Ferghana yang dapat lari keras. Dengan cepat ia dapat menyandak.
"Eh tadi di kedai teh kau ketinggalan barangmu!"
Ia teriaki orang itu setibanya ia di belakang orang. Si gemuk menahan kudanya, ia heran.
"Barang apakah itu?"
Ia tanya.
"Lihat, apakah ini bukan dompetmu?"
Kata Kang Lam, yang membikin kuda mereka berendeng, lalu mendadak tangannya menyambar ke iga.
Itulah jurus Tay-kimna yang pernah satu hari Tong Keng Thian mengajarinya.
Tapi ia gagal, ia cuma merobek baju orang, sebaliknya ketika orang itu membalas, segera ia roboh dari kudanya.
Si gemuk itu tertawa dan kata.
"Hai, setan cilik, kau berani main gila, di depanku! Benar-benar kau cari penyakitmu sendiri!"
Kang Lam rebah di tanah, matanya mendelik, ia merintihrintih.
"Segala kantung nasi masih berani membokong tuan besarmu!"
Kata pula si gemuk tertawa menghina.
"Kau sungguh memalukan! Lekas bilang, siapakah yang menitahkan kau berbuat begini?"
Kang Lam menyahuti tetapi suaranya tidak tegas.
"Aku cuma menotok jalan darahmu, aku tidak melukai kulitmu atau mematahkan tulangmu,"
Kata si gemuk itu.
"kenapa kau merintih tidak keruan hingga kau tidak dapat membuka mulutmu? Hayo bicara lebih keras!"
Kang Lam tetap merintih, suaranya tetap tidak nyata.
Si gemuk menjadi gusar, dia lompat turun dari kudanya, untuk menghampirkan, guna mencekuk, atau mendadak tubuh si anak muda mencelat bangun, kedua jari tangannya bekerja, maka segera dia roboh tak berkutik lagi!
Kang Lam tertawa terbahak.
"Dibanding sama aku, ilmu totokmu masih kacek jauh!"
Ejeknya. Si gemuk berdiam.
"Mau atau tidak aku mengulangi perkataan kau barusan?"
Kang Lam Ikata tertawa.
"Lekas bilang, siapakah yang menitahkan kau berbuat begini? Lekas bilang, atau aku nanti patahkan tulangmu dan keset kulitmu!"
Benar-benar bocah ini meniru aksi dan suara si gemuk tadi. Saking mendongkol si gemuk membungkam terus.
"Baik, sekarang kau rasai dulu totokanku!"
Kata Kang Lam.
"Sesudah kau kenyang, baru aku patahkan tulangmu dan keset kulitmu!"
Ancaman itu dibuktikan, atas mana si gemuk merasakan seperti ia digigiti banyak ular kecil, hingga ia kesakitan bukan main, hingga ia kelengar dan sadar beberapa kali, sakitnya itu seperti kulitnya dikeset dan tulangnya dipatahkan...
Kali ini Kang Lam menggunai ilmu totok ajarannya Kim Sie Ie.
Ketika tadi pertama kali ia menotok iga si gemuk, ia pakai ilmu ajarannya Hong Sek Toojin dari Khongtong Pay ketika baru-baru ini imam itu memaksa ia menjadi murid selama tujuh hari.
Sedang ilmu totok Kim Sie Ie ini ada warisan dari Tokliong Cuncia yang liehay suatu ilmu totok istimewa yang beda daripada ilmu totoknya lain-lain partai, sebab, meskipun liehay.
ilmu totok ini gampang dipelajarinya, tak usah orang mahir ilmu tenaga dalamnya, seperti terbukti, anak muda ini dapat menggu-nainya.
Melihat orang bergulingan, Kang Lam menjadi tidak tega sendirinya.
Ia pikir.
"Dia bertabiat keras, kalau tetap dia tidak mau bicara, terpaksa aku mesti memerdekakannya... Masa aku benar-benar mengeset kulitnya dan mematahkan tulangnya?"
Justeru ia memikir begitu, justeru terdengar suara si gemuk.
"Aku suka bicara!..."
"Dasar kantung nasi!"
Berseru Kang Lam. Tapi segera ia menambahkan.
"Meskipun kau kantung nasi, sebab kau tahu selatan, kau terhitung satu laki-laki juga!"
Sikap putar balik ini dapat membuat orang tertawa, tetapi si gemuk lagi tersiksa, ia tidak ingat itu. Bahkan dia kata pula.
"Tuan kecil, kau tanyalah! Sepatah kau tanya, sepatah aku menjawab..."
"Siapa memerintahkan kau pergi mengundang orang?"
Kang Lam lantas menanya.
"Tuu kami..."
"Fui!"
Kang Lam membentak.
"Siapa kenal tuu kamu itu? Sebenarnya dia she apa dan nama apa?"
"Dia Cek Tat Sam."
"Oh, jadinya dia ciangbunjin dari Taysan Pay, orang kelas dua di wilayah Shoatang ini!"
Kata Kang Lam.
Pemuda ini hanya mengoceh.
Sebenarnya ia tidak tahu halnya Taysan Pay dan tidak tahu Tat Sam liehay sampai di mana, hanya pernah ia mendengar pembicaraan di antara Tan Thian Oe dengan Siauw Ceng Hong bahwa partai persilatan itu, meski banyak rupanya, anggautanya yang paling banyak hanya dari dua partai Siauwlim dan Butong, yang kedua lainnya yaitu Ngobie Pay dan Cengshia Pay, sedang Thiansan Pay, yang sedikit anggautanya, agaknya, ingin mengatasi semua partai lainnya.
Karena Thiansan Pay berada jauh di Wilayah Barat dan jarang berhubungan sama partai-partai persilatan di Tiong-goan, dia tidak banyak disebut.
Tentang partai lainnya tidak disebut jelas, maka itu ia-Kang Lam anggap Taysan Pay tidak masuk hitungan, maka ia mengatakannya Cek Tat Sam orang kelas dua, sedang sebenarnya, untuk Shoatang, Tat Sam orang kelas satu.
Si gemuk mendongkol bukan main ketuanya dihinakan secara begitu, tetapi ia telah tertotok dan tidak berdaya, ia cuma bisa mendongkol saja.
"Sekarang bilang, siapa-siapa yang kamu telah undang?"
Kang Lam tanya pula.
"Tuu kami luas pergaulannya, banyak sekali sahabatnya, maka aku tidak tahu seluruhnya."
"Kau bilang saja yang kau tahu."
"Ada Pekma Touw Peng, ada Kimtoo Teng Cit. Ada pula Poan-liongkoay Khouw Tay Yu dan Tio Tiat Han pangcu dari Cinsan Pang."
Semua nama itu belum pernah didengar Kang Lam tapi ia mengasih dengar suaranya.
"Hm! Semua dari kelas tiga atau kelas empat!"
"Aku telah menjawab kau..."
Kata si gemuk.
"Sekarang... aduh!... aduh!..."
Memang totokan Kim Sie Ie itu, makin lama makin mendatangkan rasa nyeri, maka sekarang si gemuk bermandikan keringat, mukanya meringis-ringis menahan sakit.
"Baik, sekarang pertanyaan paling akhir!"
Kata Kang Lam.
"Kapan janji kamu dengan Keluarga Yo?"
"Malam ini!"
Menjawab si gemuk.
Kang Lam tertawa, terus ia menepuk punggung orang, atas mana lenyap rasa nyerinya orang itu, cuma tubuhnya masih belum dapat bangun, bahkan sekarang dia tidak dapat bicara.
Karena sambil membebaskan, anak muda itu membarengi menotok urat gagunya berikul urat bekunya.
"Sekarang baik-baiklah kau tidur!"
Kata pula Kang Lam sambil tertawa manis.
"Kau tunggu sampai aku membuat penyelidikan, setelah terbukti pengakuan kau benar semua, baru aku akan datang pula untuk membebaskanmu!"
La lantas mengangkat tubuh orang, buat digabruki ke tempat banyak rumput, kemudian tubuhnya diuruki, supaya orang tidak dapat melihatnya. Habis itu baru ia ngeloyor pergi sambil berpikir.
"Bagus kejadian malam ini, aku jadi dapat singgah disini. Karena cuma satu hari, aku tentu tidak akan menggagalkan urusan kongcu..."
Ia hanya tidak memikir, bagaimana nanti duduknya kejadian.
Atau bagaimana kesudahannya apabila pihaknya kalah...
Di waktu magrib.
Kang Lam sampai di luar kampung Yo kee-chung yang besar, yang duduknya di pinggiran gunung, belakangnya menghadapi telaga yang airnya jernih mirip kaca rasa, pemandangannya indah.
"Pantas Ciang Hee cilok sekali,"
Pikirnya.
Tidak leluasa untuk bertunggang kuda disitu, maka pemuda ini lompat turun dari kudanya yang ia membiarkannya mencari makan sendiri di tepi telaga.
Kuda itu memangnya jinak, dapat dilepas tanpa ditambat lagi.
Dengan berhati-hati ia mendaki bukit, agar orang tidak mempergokinya.
Ia ingin menemui si nona di luar sangkaan si nona, agar nona itu kaget karenanya...
"Dia tentu tidak menyangka aku datang untuk membantui padanya,"
Ia ngelamun terlebih jauh.
"Haha, di saat kesukaran barulah sahabat sejati terlihat tembaganya! Kang Lam memangnya satu laki-laki!"
Ia gembira sekali, hampir ia tertawa sendirinya.
Selagi enak berjalan di tempat di mana rumput tinggi hingga sedengkul, mendadak Kang Lam mendengar tindakan kaki berat di sebelah belakangnya.
Ia terkejut.
Segera ia mendekam, kupingnya dipasang.
"Shako, kenapa kau kena dikerjakan orang?"
Demikian ia dengar. Suara itu seram.
"Kenapa kau kena diuruki rumput? Sungguh aku tidak percaya bocah itu demikian liehay..."
Mengenali suara orang, tahulah Kang Lam bahwa orang itu si kurus tadi di paseban tukang teh, ialah kawan si gemuk yang ia robohkan di tengah jalan.
Ia hanya tidak tahu, kenapa si kurus ini dapat lekas kembali bersama kawannya itu.
Ia mengangkat sedikit kepalanya, untuk mengintai ke belakang.
Maka ia melihat tiga orang.
Yang jalan di depan seorang bertubuh besar dan kekar, si gemuk jalan di tengah, dan si kurus di belakang.
Muka si gemuk merah disebabkan pertanyaan si kurus itu.
Entah siapa si tubuh besar dan kekar itu, mungkin dia kawan yang diundang si kurus, dan selagi menuju kemari, mungkin mereka mendengar rintihan si gemuk, yang mereka lantas tolongi.
"Kau jangan memandang enteng bocah itu,"
Kata si gemuk kemudian.
"Dia liehay sekali, hebat ilmu totoknya, mungkin tak ada keduanya di kolong langit ini!"
Senang Kang Lam mendengar itu, meski ia tahu, orang mengatakan demikian untuk menutup malu. Maka ia pikir.
"Tadi aku berbuat keterlaluan padanya..."
"Jadi kau takluk kepadanya?"
Si kurus menegaskan kawannya.
"Memangnya kalah, habis apa aku bisa bilang?"
Si gemuk menghela napas.
"Jangan kata kita, pang-cu sendiri mungkin bukan lawannya. Menurut dia, pangcu cuma dari golongan kelas dua!"
Orang yang ketiga itu, yang tubuhnya besar dan kekar, menjadi gusar sekali. Ialah Tio Tiat Han pangcu dari Cinsan Pang, sahabat kekal dari Cek Tat Sam pangcu dari Taysan Pang.
"Apakah bocah itu menanyakan kamu mengundang siapasiapa?"
Ia tanya.
"Apa kau ada menyebut-nyebut juga namaku?"
"Yang pertama aku sebutkan justeru nama kau, loojinkee. Dia bilang... dia bilang... Ah, aku tidak berani mengatakannya..."
"Mungkin dia mencaci aku, bukan? Kalau benar, itu tidak ada hubungannya sama kau. Kau sebutkan lah!"
"Dia mencaci pun tidak, hanya dia bilang loojinkee dari kelas tiga atau kelas empat..."
"Hm!"
Tio Tiat Han menjadi gusar.
"Kalau aku bertemu dia, aku nanti patahkan tulang-tulangnya, aku nanti keset kulitnya!"
Justeru itu Kang Lam tertawa tanpa tertahan lagi. Ia anggap si gemuk sangat lucu.
"Nah, itu dianya!"
Seru si gemuk.
"Nanti aku lihat kau dari kelas berapa!"
Berseru si tubuh besar, yang segera mencelat.
Benar dia bertubuh besar tetapi dia gesit sekali.
Segera dia sampai di depan si anak muda dan tinjunya lantas melayang!
Kang Lam berkelit, ia tertawa, dengan tangannya ia menangkis.
"Apakah kau tidak takut ilmu totokku yang di kolong langit ini tanpa lawan?"
Ia tanya jenaka.
Tapi ia kecele, sebab ketika tangan mereka benterok, ia tidak berhasil menotok, bahkan sebaliknya, ia merasai tangannya sakit.
Untuk lima propinsi Utara, Tiat Han bukan sembarang orang.
Ia berhenti ketawa dan menyeringai.
Si kurus lantas bersenyum.
Tapi si gemuk kata.
"Dia belum mengeluarkan kepandaiannya. Lihat, dia dapat melayani Tio Pangcu sampai tiga puluh jurus! Kau sendiri, mana kau mampu!"
Dipadu dengan Tio Tiat Han, Kang Lam kalah jauh, hanya benar, Ilmu silatnya campur baur, ada ajarannya Kim Sie Ie, ada ajarannya Tong Keng Thian dan Tan Thian Oe, tubuhnya pun gesit, sedang di waktu bergebrak, Tiat Han berlaku waspada sekali, dia jeri untuk ilmu totok yang disombongkan si gemuk itu.
Begitu, dalam sepuluh jurus dia masih tidak berani mendesak, dia selalu menjaga agar si anak muda tidak dapat merapati padanya Setelah sampai ke jurus tiga puluh, baru Tiat Han merasa aneh.
"Bocah ini cuma pantas menjadi muridku,"
Pikirnya.
"hanya jurusnya aneh-aneh dan lincahnya luar biasa, melebihi guruku. Kenapa begini?"
Meski ia berpikir demikian dan merasa pasti ia tidak bakal kalah, ia toh tetap waspada, hanya selewatnya itu, ia jadi tertawa sendirinya.
Jurusnya Kang Lam adalah itu-itu juga, yang diulangi pergi pulang.
Maka sekarang ia pikir.
"Rupanya bocah ini mencuri ilmu silat dari sana-sini..."
Sekarang barulah Tiat Han menyerang hebat, tangan kirinya dengan ilmu silat Sutpay ciu, tangan kanannya dengan Kimkong kun, kedua tangannya keras bagaikan besi, kudakudanya tegar.
Kang Lam kaget sekali.
"Celaka?"
Pikirnya, la insyaf bahwa rahasianya sudah terbuka. Selagi ia sadar, kedua tangan Tiat Han mengurung padanya. Lekas-lekas ia membebaskan diri dengar jurus ajarannya Thian Oe, jurus "Wankiong siahouw"
Atau "Menarik busur memanah harimau". Ia bergerak dengan baik tetapi ia kalah tenaga, tidak dapat ia melawan tenaga lawannya ini.
"Kau lihat kepandaianku si kelas tiga!"
Kata Tiat Han tertawa. Dengan tangan kirinya ia menekan kedua tangan si bocah, tangan kanannya dipakai menyekek ke tonggorokan.
"He, kenapa dia tidak mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa?"
Si kurus mengejek si gemuk. Urat-urat jidatnya Kang Lam pada keluar. Ia mengerahkan tenaganya tanpa berhasil, kerongkongannya pun macet hingga ia tidak dapat bersuara...
"Kau berlutut dan mengangguk kepadaku tiga kali hingga kepalamu terdengar nyaring!"
Kata Tiat Han tertawa menghina.
"Kau pun memanggil ayah padaku, nanti aku lepaskan padamu! Kau mau atau tidak?"
"Aku mempunyai hanya satu ayah, kalau aku panggil dia ayah, aku menghina ibuku,"
Pikir Kang Lam.
"Tidak, inilah tidak bisa!"
Maka ia menggelengkan kepala.
Tiat Han menggunai tenaganya lebih keras.
Kang Lam merasa napasnya mau putus tetapi ia membandel.
Di saat sangat berbahaya untuk si anak muda, mendadak Tio Tiat Han berseru aneh, terus lidahnya diulur keluar, tangan kanannya masih mencekek leher orang tetapi tenaganya sudah kendor.
Karena itu, si anak muda lantas dapat bernapas pula.
Selagi Kang Lam bingung, lidah Tiat Han terulur pula dan rambutnya juga pada terlepas buyar, hingga dia mirip setan gantung diri.
Jadi bukan dia mencekek si anak muda, adalah si anak muda yang seperti mencekek dia.
"He, kau bikin apa?"
Kang Lam tanya.
"Apa kau kira aku kena ditakut-takuti?"
Ia mengatakan tidak takut, sebenarnya ia jerih.
Si kurus kaget, dia mengira Kang Lam menggunai kepandaiannya, dalam takutnya, dia lantas lari, diturut si gemuk!
Tiat Han berseru pula, kali ini lepaslah cekalannya, maka tubuhnya lantas roboh terkapar di tanah, dari mulutnya, hidungnya, kupingnya, semua keluar darah mukanya pucat bagaikan mayat.
"Oh, ibu!"
Seru Kang Lam, yang pun kaget, hingga ia turut roboh.
Bocah ini bermimpi luar biasa, la merasakan tubuhnya melayang-layang di udara, matanya melihat tak kehitung banyaknya iblis-iblis berkepala kerbau dan bermuka kuda.
Ia menjerit tapi suaranya tidak keluar.
Dalam takutnya ia pikir tentulah setan-setan yang mati menggantung diri hendak membetot nyawanya.
Tidak lama, lenyaplah segala iblis itu, lalu kupingnya mendengar suara yang ia kenal baik sekali.
"Jangan bingung, jangan bingung, hari ini aku akan membuat kau menjadi enghiong yang namanya tersohor di empat penjuru lautan!"
Kupingnya terus mendengar suara angin mendesir, tubuhnya seperti naik ke udara, ke dalam mega atau kabut, atau mendadak dia merasa jatuh dari udara itu. Lantas segala apa sunyi-senyap...
"Ah, tempat apakah ini?"
Ia tanya dirinya ketika ia mencoba membuka matanya, la lantas merasa tubuhnya seperti terjepit papan hingga ia tidak dapat bergerak, sedang matanya tersorot api dari dua jurusan.
Ia berdiam, ia menetapi hati.
Ia lantas mulai sadar, tapi ia heran tidak terkira.
Kiranya ia berada di atas papan pian-gok, tubuhnya diam bagaikan bekas ditotok.
Pian-gok itu berada di dalam sebuah ruang besar di mana teratur beberapa puluh meja persegi, di atas setiap meja ada dua pui araknya.
Ia heran hingga ia menyangka masih bermimpi.
Hingga ia mau percaya Giamloo Ong, atau Raja Akherat, mengundang ia berpesta, la bagaikan disadarkan ketika kupingnya mendengar nyaring tapi halus.
"Ibu, malam ini persiapan hebat sekali! Apakah bakal ada banyak orang yang datang?"
Kang Lam melengak.
Itulah suaranya nona Cee Ciang Hee, yang muncul bersama ibunya.
Ia menggigit lidahnya, ia merasa sakit.
Jadinya ia bukan lagi bermimpi.
Maka heranlah ia!
Siapa membawa ia masuk ke ruang ini dan diletaki di atas papan merek ruang itu?
Ia menjadi bingung.
"Ah, anak, kau tidak tahu tahu langit tinggi dan bumi tebal..."
Kata Yo Liu Ceng, si ibu.
"Malam ini ialah malam pesta Hongbun Hwee! Apakah kau kira kau bakal minum arak pengantin?"
"Apakah ayah mengundang banyak orang untuk membantui kita?"
Si anak dara tanya.
"Yang diundang bukannya sedikit, yang datang baru sepuluh,"
Menjawab sang ibu.
"Pihak sana, ibu?"
"Telah diterima tiga puluh empat lembar kartu nama, maka menurut aturan, yang datang mestinya tiga puluh empat orang. Coba kau hitung lagi, benarkah meja berjumlah dua puluh empat bocah?"
"Benar, dua puluh empat bocah. Setiap meja untuk dua orang, kita bertiga memakai satu meja lain, jadi masih ada dua meja yang kosong."
"Ya, yang dua itu disediakan untuk tetamu yang tidak diundang."
"Bukankah jumlah mereka dua kali lebih banyak daripada pihak kita?"
"Demikianlah hangat dan dinginnya persahabatan..."
Kata sang ibu menghela napas.
"Coba kakek luarmu masih hidup, biar yang tidak diundang juga, pasti dia datang! Lihat pian-gok itu!"
Kang Lam kaget. Ia mengira si nyonya melihat padanya.
"Kau tahu, pian-gok itu ialah ketika kakek luarmu berulang tahun yang ke enam puluh, hadiah dari seratus dua puluh empat orang gagah di lima propinsi Utara. Empat hurufnya yang berair emas itu, yaitu Bu Lim Sek Bong, pujian untuk kakekmu itu, yang dipuji sebagai orang gagah kenamaan. Hingga sekarang ini, tiga puluh tahun telah lewat. Apa benar pepatah yang membilang, dalam tiga puluh tahun itu, keletakan tanah berputar?"
Yo Liu Ceng memikiri penghidupan manusia, yang dapat berubah, jadi dia bukannya dapat melihat si anak muda.
"Biarnya jumlah kita lebih sedikit, tidak dapat kita menghilangkan nama besar kakek luar!"
Berkata si nona, bersemangat.
"Itulah pasti! Kapannya ibumu pernah menyerah kalah?"
"Ibu, orang macam apa itu hwesio yang menantang kita?"
Kemudian Ciang Hee tanya, perihal si pendeta.
"Pendeta liar itu aku melainkan ketahui nama asalnya yaitu Cek Ho Ciang. Dia muridnya Taylek Sinmo Sat Thian Touw."
"Taylek Sinmo si Iblis Sakti?"
Mengulangi Ciang Hee.
"Ah, rasanya aku mengenal baik nama itu... Bukankah ayah pernah membilang bahwa dialah si iblis yang setingkat dengan kakek luar? Bukankah dia telah menutup mata?"
"Benar. Bahkan dari sekalian muridnya tinggal ini satu Cek Ho Ciang. Taylek Sinmo Sat Thian Touw mempunyai satu saudara kembar yaitu Sat Thian Cie gelar Patpek Sinmo si Iblis Sakti Bertangan Delapan, dia juga mempunyai tinggal satu murid."
"Bukankah dialah Tang Tay Ceng yang juga menjadi hwesio? Pada tiga puluh tahun dulu itu, dia juga telah dihajar patah sebelah tangannya oleh kakek luar dan ketika pergi mencari Paman Tong di Thiansan, kita juga menemukannya. Aku mengerti sekarang, Cek Ho Ciang ini datang untuk membalaskan sakit hatinya kakak seperguruannya itu."
"Ketika kita menemuinya itu, jikalau bukan dicegah Phang Lim, tentulah aku telah hajar picak matanya! Tang Thay Ceng sendiri tidak berani datang menuntut balas, sekarang Cek Ho Ciang yang menggantikannya, tidakkah ini lucu?"
Kang Lam mendengar itu, di dalam hatinya ia kata.
"Ah, ini Bibi Yo jauh terlebih bisa meniup kerbau daripada aku!"
Dulu hari itu, Yo Liu Tieng bertemu sama Tang Thay Ceng di sebuah rumah makan di tepi jalan, dengan sebelah tangannya, Thay Ceng melayani sintan atau peluru "sakti"
Dari si nyonya.
Ketika, itu Kang Lam telah dapat menyaksikan pertempuran itu.
Kalau tidak Phang Lim tiba pada saatnya yang tepat, mungkin Nyonya Yo itu roboh di tangannya Thay Ceng.
Kang Lam juga kata di dalam hatinya.
"Mana bisa Tang Thay Ceng datang untuk mencari balas lagi? Pasti tidak bisa kecuali dia merayap keluar dari dalam peti matinya!... Eh, ketika dia mati, peti mati pun dia tidak mempunyai, maka itu, kecuali dia merayap keluar dari dalam sungai es..."
Dulu hari itu Tang Thay Ceng membuat perjalanan bersama Cek Sin Cu, seorang iblis lain, pergi mendaki puncak Cholmo Lungma di pegunungan Himalaya untuk mencari apa yang dinamakan "rumput dewa", hanya belum lagi dia dapat melihat puncak kesohor itu, dia telah mati kedinginan di dalam sungai es.
Tentang ini Kang Lam mengetahuinya dari penuturan Tan Thian Oe kepadanya.
Ketika itu yang mendaki puncak terhitung juga Tong Keng Thian dan Kim Sie Ie, bahkan di itu waktulah yang Kim Sie Ie lenyap.
Tentang kejadian itu, Yo Liu Ceng dan gadisnya tidak mendapat tahu.
"Ibu, rupanya kau lupa,"
Berkata Ciang Hee.
"Bukankah ketika itu Bibi Phang telah membilang bahwa ia telah melarang Tang Thay Ceng menuntut balas pula? Hanya yang aneh, mengapa adik seperguruannya, si hwesio ini, tidak mendapat tahu larangannya Bibi Phang itu? Mungkinkah kakak seperguruannya tidak membilanginya? Tapi kita jangan takut! Umpama kata kita kalah, Bibi Phang tentulah akan membalaskan sakit hati kita ini! "Anak Hee,"
Berkata ibu itu.
"andaikata aku terbinasa, aku larang kau meminta bantuannya Phang Lim. Kami Keluarga Yo, kami belum pernah menghendaki lain orang mengasihaninya, juga kami belum pernah memohon pertolongan kepada lain orang!"
Ada sebabnya mengapa Yo Liu Ceng mengatakan begini kepada puterinya itu.
Itulah karena ia tidak akur dengan Phang Lim, dan Phang Lim bukan baru satu kali pernah menggodai ianya.
Tentu sekali sebab itu tidak dapat ia menjelaskan kepada puterinya.
Duduknya hal ialah pada tiga puluh tahun dulu itu Yo Liu Ceng adalah tunangannya Tong Siauw Lan akan tetapi Siauw Lan justeru menyintai Phang Eng, kakaknya Phang Lim, karena mana, Phang Lim suka sekali menjaili padanya.
Selagi ibu dan anak itu bicara, seorang bujang datang mewartakan bahwa tetamu sudah datang.
"Pergi kau minta looya menyambut mereka,"
Berkata Yo Liu Ceng.
Bujang itu mengundurkan diri.
Tidak lama disitu terlihat munculnya seorang berumur kirakira lima puluh tahun dengan alisnya gombiok, matanya besar, dan dadanya lebar.
Dia diiring sejumlah orang.
Dialah Ccc Sek Kiu, suaminya Yo Liu Ceng, serta tetamu-tetamu yang bersedia memberikan bantuannya.
Sebagai suami, dia takut isteri, akan tetapi walaupun dia beroman kasar, dia sedikit bicara.
Demikian dengan singkat dia memerintahkan.
"Pentang pintu besar! Sambutlah mereka sebagai tetamutetamu yang terhormat!"
Dia tidak seperti isterinya, yang kemendongkolan atau kemurkaannya terutara pada wajahnya.
Begitu lekas pintu telah terpentang maka terdengarlah tertawa besar dari seorang hwesio atau pendeta, yang membuka tindakannya untuk masuk ke dalam.
"Silahkan!"
Berkata Sek Kiu.
"Aku menghaturkan diperbanyak terima kasih, taysu!"
Yo Liu Ceng berkata.
"Dengan taysu datang meramaikan, dengan berkumpulnya banyak orang gagah, sungguh inilah suatu kehormatan besar untuk kami!"
Cek Ho Ciang si pendeta tertawa nyaring.
"Dan pihak kamu dari lima propinsi Utara, kamu pun hampir hadir semuanya!"
Berkata ia.
"Sungguh beruntung, sungguh beruntung aku dengan pertemuan kita ini!"
Begitulah, belum apa-apanya, kedua pihak sudah terlebih dulu mengadu bicara.
Yo Liu Ceng agaknya bicara hormat tetapi sebenarnya ia mengejek pihak musuhnya datang dalam jumlah yang besar luar biasa itu.
Dengan kata-katanya itu Cek Ho Ciang di satu pihak, mengangkat mengejek nyonya rumah, di lain pihak ia menunjuk kehormatannya kepada kawankawannya tuan dan nyonya rumah itu dengan siapa ia tidak ingin menanam bibit permusuhan.
Maksudnya Cek Ho Ciang dengan kedatangannya ini adalah dua.
Pertama-tama untuk menyate-rukan Yo Liu Ceng.
Yang kedua ialah-dengan jalan tidak langsung ini-guna, mengangkat keponakannya, yaitu Cek Tat Sam, yang menjadi pangcu atau ketua dari Taysan Pang, menjadi kepala ikatan dari kaum Rimba Persilatan di lima propinsi Utara.
Kawannya Yo Liu Ceng itu sedikit tetapi mereka bukan orang sembarang, maka itu, berhubung sama maksudnya yang kedua ini, Ho Ciang tidak sudi mencari gara-gara.
Ini pun maksudnya Tat Sam.
Di antara kawannya Cek Ho Ciang ada seorang suci suku bangsa Tibet, yang mengenakan jubah merah, yang tubuhnya besar dan tinggi melebihkan yang lain-lainnya hingga dia lantas menarik perhatian dari siapa juga.
Dengan menunjuk kepada pendeta itu, Ho Ciang kata pada Yo Liu Ceng dan Cee Sek Kiu.
"Inilah Chong Leng Siangjin dari Tibet."
Pendeta itu merangkap kedua tangannya seraya berkata.
"Sudah lama aku mendengar nama besar dari tuan dan nyonya, maka itu aku merasa beruntung sekali yang hari ini aku berjodoh bertemu dengan kamu!"
Tuan dan nyonya rumah pun memberi hormatnya, hanya berbareng dengan itu, keduanya segera merasakan desakan suatu tenaga rahasia yang besar yang membikin mereka bukan saja sukar bernapas juga kepala mereka pusing dan mata mereka gelap.
Di saat suami isteri ini hebat mempertahankan dirinya, di antara mereka terdengar tertawa yang nyaring dan aneh iramanya, tidak keras tetapi tajam untuk telinga, hingga si pendeta pun merasakannya, hingga karena herannya, segera desakan tenaga dalamnya jadi berkurang.
Ia pun telah mengasih lihat perubahan kulit mukanya.
Chong Leng bersama Ho Ciang segera menyapu dengan sinar matanya ke antara tuan rumah dan rombongannya, selagi mereka itu repot saling memperkenalkan diri, ada yang bicara, ada yang tertawa, Akan tetapi mereka tidak dapatkan orang yang tertawanya aneh itu.
Selagi Ho Ciang heran terus maka Chong Leng bercekat hati sebab ia lantas ingat seorang aneh dalam dunia Rimba Persilatan hanya saja ia tidak mau mengutarakan sesuatu.
Kang Lam juga mendapat dengar suara tertawa yang menusuk telinga itu, ia pun tidak kurang herannya, ia menjadi berpikir sebagai Chong Leng Siangjin.
Ia merasa kenal suara tertawa itu.
Segera ia kata didalam hatinya.
"Bukankah dia Kim Sie le? Tidak salah! Kalau Kim Sie Ie tertawa, suaranya aneh seperti ini..."
Hanya, meski ia menduga demikian, orangnya-yaitu Kim Sie Ie sendiri-tidak ia lihat hadir di antara orang banyak itu.
Maka ia heran sekali.
Begitu lekas semua orang telah mengambil kursinya, Cee Sek Kiu berkata kepada Cek Ho Ciang.
"Taysu beramai telah berkunjung ke gubuk kami ini, entah ada pengajaran apakah dari pihak taysu kepada kami?"
Cek Ho Ciang berbangkit, untuk berkata kepada Yo Liu Ceng.
"Yo Toasiocia, siapakah yang membunuh kakak seperguruanku? Aku minta sukalah kau sendiri yang menjelaskannya!"
Yo Liu Ceng menjadi heran sekali.
Ia telah menduga orang datang guna menuntut balas buat sebelah tangan dari kakak seperguruannya itu untuk sakit hati dari tiga puluh tahun yang sudah lampau, sedang halnya Tang Thay Ceng telah menutup mata, ia tidak tahu, maka ia menjadi melengak.
"Aku tidak membunuh kakak seperguruanmu itu,"
Katanya singkat bahna herannya itu. Pendeta itu tertawa dingin.
"Dengan kepandaianmu, memang kau tidak nanti sanggup membunuh kakak seperguruanku itu!"
Katanya.
"Aku hanya mau menanya kau, kau telah minta bantuan siapa untuk membunuhnya?"
Yo Liu Ceng menjadi gusar. Ia menganggap itulah fitnah hebat.
"Jikalau aku hendak membinasakan dia, sudah tentu aku dapat melakukannya ketika untuk pertama kali aku bertemu dengannya di Tibet!"
Katanya.
"Aku tahu kau banyak kenalan-mu!"
Kata Ho Ciang tetap dingin.
"'karena aku tahu, kau jeri terhadap kakakku itu, kau tentu minta bantuan salah satunya untuk membunuhnya. Tegasnya, kau pasti telah menggunai tipu daya keji. Tidak perduli siapa si pembunuh, karena kaulah si pemegang peranan, kaulah yang mesti bertanggung jawab! Kau tidak mau mengaku tetapi kau mesti mengganti jiwa!"
Yo Liu Ceng pun gusar hingga ia mengeprak meja.
"Kau main tuduh...!"
Ia berseru.
"Baiklah, kau boleh maju! Apakah kau sangka aku takut?"
"Sabar!"
Cee Sek Kiu malang di tengah.
"Kalau ada bicara, mari kita omongkan dengan baik-baik! Tetamu-tetamu dan tuan rumahnya baru bertemu, mari kita minum dulu tiga cangkir!..."
Belum habis suaranya tuan rumah ini, sudah lantas ada yang menyambuti.
"Bagus! Mari aku memberi selamat dulu dengan tiga cawan kepada nyonya rumah!"
Orang yang membuka suara itu ialah Cek Tat Sam pangcu dari Taysan Pang.
Dialah orang setempat dan dari antara kawan-kawannya, separuh lebih adalah orang-orang undangannya sendiri, maka itu, dia sebenarnya kepala rombongan tetamu itu.
Maka dia menganggap, dialah yang berhak untuk menghormati nyonya rumah.
Pula caranya dia memberi selamat itu ada beda daripada umumnya, tiga cawan arak, yang terisi penuh, ia pegang dengan kedua tangannya, dia mengangsurkan itu kepada Yo liu ceng dengan cara lemparan, maka ketiga cawan itu melesat ke arah si nyonya dalam kedudukan segi tiga.
Yang aneh ialah cawan tidak terbalik, airnya tidak mengc-plok jatuh.
Keluarga Yo tersohor untuk kepandaiannya yang dinamakan "Tiateiang sintan"
Atau "Peluru Tangan Sakti", yaitu kepandaian melepaskan senjata rahasia yang berupa peluru, maka selagi pihak tetamu memperlihatkan keliehayannya itu.
Yo Liu Ceng segera memperlihatkannya.
Siang-siang ia telah mengisi penuh juga tiga bocah cawan, yang ia telah lantas cekal dan mengangkatnya, dari itu ketika Cek Tat Sam memberi hormatnya, ia dapat lantas membalaskan.
Dengan tawar ia berkata.
"Aku tidak kuat minum, tiga cawan tidak dapat aku minum semuanya, maka itu aku membalas menyuguhkan!"
Lantas ketiga cawannya dilemparkan.
Luar biasa kesudahannya itu.
Tiga cangkirnya Cek Tat Sam itu terbentur tiga cawannya si nyonya, orang mendengar suara beradunya keenam cawan itu, keenamnya, terpisah menjadi tiga masing-masing, yang tiga balik kepada Tat Sam dan yang tiga lagi mental ke depannya si pendeta jubah merah yang tinggi dan besar itu!
Menyaksikan semua itu, selain pihak tuan rumah, pihak tetamu pun bertepuk tangan bersorak memuji si nyonya, yang ada terlebih liehay daripada Tat Sam.
Tat Sam, dengan terpaksa, menyambuti tiga cawannya dengan mengulur kedua tangannya, tidak demikian Chong Leng Siangjin.
Ia ini mengangkat tangannya yang besar dan lebar, ia menggapai, telapakan tangannya dibuka, maka ketiga cawan arak itu, dengan bergantian, seperti terbang ke dalam telapakan tangannya itu, sedang sebenarnya ketiga cawan menuju ketiga jurusan yaitu ke batang hidung serta kedua pempilingan.
Maka itu, kepandaiannya pendeta dari Tibet itu menunjuki ia berada lebih atas daripada Cek Tat Sam dan Yo Liu Tieng.
Cek Ho Ciang menantikan selesainya adu kepandaian itu.
"Nyonya,"
Ia berkata.
"baiklah dibuat penjelasan antara kita, sesudah itu baru dapat kita minum arak dengan gembira. Aku mohon tanya, bagaimana dengan hutang jiwa kakak seperguruanku itu?"
Yo Liu Ceng gusar hingga sepasang alisnya terbangun. Terang bahwa orang telah mendesak kepadanya.
"Sudah aku bilang bukanlah aku yang membunuh dia!"
Ia berkata, keras dan sengit.
"Juga aku tidak tahu siapa yang membunuhnya! Jikalau kau paksakan jiwa kakakmu itu dihutangkan kepadaku, apalagi mau dibilang? Tidak bisa lain, terpaksa hendak memohon dipakainya aturan kaum kangouw supaya kau, toahwesio, memberi pengajaran kepadaku."
Seorang undangannya Cee Sek Kiu, ialah seorang tua yang bernama Teng Kian Goan, lantas turut bicara. Ia bertanya.
"Aku mohon menanya kepada toahwesio, kau kata kakakmu telah orang bunuh, Benarkah itu? Kau yang melihat sendiri mayatnya atau cuma karena kau mendengar kabar dari lain orang? Harus diketahui adanya banyak kabar yang keliru."
"Tahun dulu itu kakakku pergi mencari Yo Liu Ceng guna membuat perhitungan,"
Menyahut Cek Ho Ciang.
"dia kena dikalahkan oleh orang Thiansan Pay yang diminta bantuannya Yo Liu Ceng, setelah itu, tentang kakakku itu tidak ada kabar ceritanya lagi, sampai kemudian aku menerima kabar tentang kematiannya dari Hong Sek Toojin. Sebagaimana diketahui Hong Sek Toojin ada orang kenamaan dari Khongtong Pay, maka itu, apakah mungkin kata-katanya itu dusta? Karenanya kalau aku tidak menegur Yo Liu Ceng, aku mesti menegur siapa lagi? Aku mau minta penjelasan."
Mendengar kata-kata itu, bukan cuma Yo liu ceng yang hatinya panas tapi juga Kang Lam yang berada di atas piangok, hingga dia kata di dalam hatinya.
"Kenapa kau tidak pergi menanyakan Kim Sie Ie?"
Sayangnya ialah ia tidak dapat membuka mulutnya. Teng Kian Goan berkeinginan keras untuk mendamaikan urusan, maka itu, ia kata kepada pendeta itu.
"Jikalau kakakmu itu dulu hari dikalahkan orang Thiansan Pay, sudah seharusnya apabila kau pergi terlebih dulu kepada Tong Siauw Lan, ciangbunjin dari partai itu, untuk memohon keterangannya."
Tong Siauw Lan adalah salah seorang nomor satu dalam dunia Rimba Persilatan di jaman itu, dia pun tinggalnya di puncak tertinggi dari gunung Thiansan, di tempat di mana tidak sembarang orang dapat mendakinya, maka itu, tidak senang Ho Ciang dengan perkataannya orang tua she Teng ini.
Ia merasa bahwa ia disenggapi.
Ia melotot kepada orang tua itu.
"Tuan toh..."
"Itulah Lounghiong Teng Kian Goan!"
Cek Tat Sam mendahului pamannya.
"Teng Lounghiong, terima kasih untuk usulmu ini,"
Ho Ciang berkata.
"hanya sayang, aku tidak dapat menerimanya. Di dalam dunia kangouw adalah biasa yang orang datang untuk menuntut balas bahwa untuk itu adalah pantas kalau terlebih dulu orang mencari orang yang bertanggung jawab! Mana boleh, belum lagi orang yang bertanggung jawab dicari, kita mencari lebih dulu orang yang hanya membantui dia? Lagi pula setiap orang tahu apa adanya hubungan di antara Yo Liu Ceng dan Tong Siauw Lan itu, maka kenapa aku mesti meninggalkan yang dekat untuk pergi ke tempat yang jauh? Umpama kata pembunuhan benar dilakukan oleh orang Thiansan Pay, tepat jikalau aku menanyakannya kepada Yo Toasiocia!"
Yo liu ceng murka bukan main, mukanya menjadi merah.
Dulu ia ingin menikah sama Tong Siauw Lan, keinginannya itu tidak berwujud, maka itu ia mendongkol sekali apabila ia mendengar orang menyebut-nyebut urusan perhubungannya sama Siauw Lan itu.
Demikian kali ini.
"Keledai gundul, kau ngaco belo!"
Ia berteriak.
"Kau mengatakannya yang tidak-tidak! Siapa yang mengetahui kakakmu bagaimana mampusnya? Kalau tetap kau hendak memfitnah aku baiklah, kau boleh anggap benar aku yang membinasakannya! Anak Hee, kau ambil panahku!"
Dari berduduk, Cek Ho Ciang bangun berdiri.
"Nyonya, mulutmu baiklah bikin bersih sedikit!"
Katanya.
"Kita mengadu kepandaian, kita tidak mengadu mulut!"
Pandai bicara pendeta itu.
Ialah yang mulai menyindir Yo Liu Ceng, sekarang ialah yang beraksi sebagai orang mulut bersih dengan mengatakan mulut si nyonya kotor.
Segera juga Yo Liu Ceng menyambuti panahnya, lalu dia mau meninggalkan mejanya.
Di saat pedang bakal dihunus dan busur bakal dipentang seperti itu, tiba-tiba satu bujang lari masuk untuk mengabarkan kepada majikannya.
"Di luar ada seorang yang baru tiba, yang mohon bertemu sama nyonya. Katanya dia membawa suatu bingkisan buat minta tolong nyonya menyampaikannya kepada seorang pendeta yang dipanggil Hay Jiak Taysu!"
Dua-dua Yo Liu Ceng dan Cek Ho Ciang heran hingga mereka melengak.
Si nyonya heran untuk tibanya orang demikian kebetulan dan barang bingkisan disampaikan dengan perantaraannya, dan si orang she Cek tidak mengerti kenapa orang menyebut dirinya, sebab dia, setelah menjadi pendeta memang memakai nama Hay Jiak itu.
Setelah meninggalnya gurunya, Taylek Sinmo, hampir tiga puluh tahun dia hidup menyendiri, baru sekarang setelah mendengar kematian kakaknya seperguruan, dia memunculkan diri.
Dia menjadi pendeta, sedikit orang yang mengetahuinya, apapula nama sucinya itu, makin sedikit yang mendapat tahu.
Maka siapakah orang yang memberi bingkisan itu?
Kedua pihak cuma dapat menduga, mungkin dia itu orang yang hendak membantu salah satu pihak yang lagi berselisih itu...
"Tidak perduli dia mengajak berapa banyak orang, kami keluarga Yo dapat melayaninya,"
Kata Yo Liu Ceng dengan keras.
"Ajak mereka masuk!"
Bujang itu heran.
"Yang datang itu cuma satu orang,"
Ia memberitahukan.
"Kau dengar tidak?"
Yo Liu Ceng membentak.
"Ajak mereka masuk!"
Bujang itu mengundurkan diri dengan lekas, akan lekas juga kembali bersama satu orang, ialah orang yang tadi ia menyebutkannya. Yo Liu Ceng menjadi heran.
"Ah, Ong Lootauw, kiranya kau!"
Katanya. Kang Lam segera mengenali orang adalah si empee tua tukang teh di tengah jalan. Maka ia lantas kata di dalam hatinya.
"Empee ini sama dengan aku, gemar menyampur urusan, tentunya dia mencari alasan saja untuk datang ke mari guna menyaksikan pertempuran, kalau tidak, mustahil dia datang tepat begini?"
Empee Ong itu ada memondong sebuah peti besi yang persegi panjang, yang ditempelkan kertas putih dengan bertulisan.
"Tolong haturkan kepada Hay Jiak Taysu sendiri."
Juga Cek Ho Ciang alias Hay Jiak Taysu mengenali si orang tua di kedai siapa ia pernah mampir untuk membasahkan kerongkongannya, maka meski ia merasa heran sekali, ia toh lantas mengajukan dirinya seraya berkata.
"Akulah Hay Jiak Taysu!"
Ia lantas menyambuti peti besi itu seperti juga ia merampas, lantas ia menggoyang-goyangnya, hingga terdengar suara seperti barang besi. Ia menjadi bersangsi hingga ia tidak berani lantas membukanya.
"Mari kasih aku lihat, bingkisan apakah itu!"
Berkata Chong Leng Siangjin.
la menyambuti peti besi itu dari tangannya Cek Ho Ciang, untuk terus membukanya.
Ia tidak berkuatir peti besi itu dipasangi senjata rahasia, ia percaya ilmu silatnya yang tangguh.
Dengan menggunai tenaga Kimkong cie, atau Jcriji Arhat, ia menggunai jari-jari tangannya, ia tidak usah berkutat untuk membikin peti besi itu terbuka, hanya apa yang ia lihat-ialah isinya-membuatnya terperanjat.
Cek Ho Ciang bahkan sampai menjerit.
Isi peti besi itu adalah sepotong lengan tangan, ketika tangan itu diangkat, untuk diletaki di atas meja, ada terdengar suara membentur barang logam, malah ujung meja sampai sempal.
Sebab itulah lengan besi!
"Suheng, benar-benar orang telah bunuh mati padamu!"
Cek Ho Ciang berseru menangis.
Tang Thay Ceng itu, sang suheng, atau kakak seperguruan, setelah sebelah tangan diputuskan ayah Yo liu ceng pada tiga puluh tahun yang lalu, sudah lantas menggunai lengan besi sebagai gantinya.
Dengan tangan palsu ini, ia berlatih terus, hingga ia dapat menggunai-nya dengan baik, maka juga, ia telah berangkat pergi mencari Yo Liu Ceng guna menuntut balas.
Tentu sekali Cek Ho Ciang lantas mengenali lengan palsu dari suheng-nya itu.
"Eh, tangan besi ini seperti ada ukiran suratnya!"
Kata Chong Leng Siangjin, suaranya keras menyatakan keheranannya. Cek Ho Ciang lantas mengangkat lengan itu, untuk diperiksa. Ia melihat ukiran delapan huruf yang besar, yang berarti.
"Dia mati di sungai es, tidak ada hubungannya dengan siapa pun."
Di bawah itu ada dua baris huruf-huruf kecil yang menerangkan halnya Tang Thay Tieng mendaki puncak Cholmo Lungma untuk mencari rumput obat yang mujarab tetapi dia telah mati kedinginan di sungai es.
Disitu pun dijelaskan hari dan bulannya, tahun kematiannya serta sama siapa dia perginya.
Hanya saja, semua surat itu tidak ada tanda tangan penulisnya.
Cek Ho Ciang heran dan bingung.
Maka juga ia menjambak si empee tukang teh.
"Siapa menyerahkan peti besi ini padamu?"
Tanyanya keras.
"Siauw Sam Cu,"
Menyahut si empee.
"Siauw Sam Cu? Siapakah dia?"
"Ya, Siauw Sam Cu. Dialah si bocah tukang menjagai kerbau tetanggaku."
Cee Ciang Hee menganggap kejadian itu lucu sekali, ia mengasih dengar suara tertawa tertahan, hingga ia nampak bagaikan mengejek. Cek Ho Ciang menjadi gusar.
"Apakah ini kejadian lucu?"
Tegurnya. Terus ia menegur si empee.
"Kau berani main gila?"
"Penasaran!"
Empee itu mengeluh.
"Aku si orang tua she Ong, seumurku belum pernah aku bicara dusta! Jikalau kau tidak percaya, nah kau tanyalah ini Yo Toasiocia!"
"Apakah benar peti besi itu si bocah tukang angon yang membawanya padamu?"
"Dengan sebenar-benarnya aku menyambutinya dari tangannya,"
Si empee memastikan.
"Apakah kau tidak tanya kacung itu siapa yang sudah menitahkan dia membawanya padamu?"
Chong Leng Siangjin turut menanya. Ia pun heran.
"Dia sendiri yang membilangi aku bahwa dia dititahkan seorang pengemis di tengah jalan untuk menyerahkan itu padaku dengan permintaan aku membawa kemari kepada Yo Toasiocia untuk disampaikan terlebih jauh pada Hay Jiak Taysu..."
Chong Leng Siangjin heran sekali.
"Pengemis pun mengirim hadiah!"
Ujarnya.
"Mungkin,"
Berkata si empee Ong.
"Siauw Sam Cu bilang, pengemis itu royal sekali, dia telah diberi upah sepotong perak."
Cek Ho Ciang heran hingga ia berpikir keras.
"Apa mungkin pangcu dari Kaypang memusuhkan aku?"
Pikirnya lebih jauh. Maka ia lantas tanya empee Ong itu.
"Apakah dia bukannya satu pengemis tua, yang mengenakan sepotong baju yang banyak tambalannya, yang tambalannya dari juiran cita pelbagai warna?"
"Bukan. Menurut Siauw Sam Cu, dialah seorang pengemis muda yang bibirnya merah dan giginya putih bersih. Siauw Sam Cu telah menyatakan keheranannya kepadaku, sebab menurut ia, pengemis itu--dilihat dari romannya-jauh terlebih bersih dan mewah pakaiannya daripada pakaiannya putera Thio Pek Ban si hartawan dan kecamatan Tongpeng kita ini. Maka ia heran kenapa orang menjadi pengemis..."
Kang Lam di tempat sembunyinya girang berbareng heran.
"Dia tentulah Kim Sie Ie,"
Pikirnya.
"Halia, kalau Kim Sie Ie datang kemari, maka kau, toahwce-shio, jikalau kau tetap tidak tahu maju atau mundur, kau pasti bakal menjadi sial alias apes malang! .."
Hati Cek Ho Ciang lantas menjadi lega apabila ia telah mengetahui si pengemis bukan pangcu, atau ketua, dari Kaypang.
Hanya, di saat ia hendak menanyakan pula, justeru ia mendapatkan air mukanya Chong Leng Siangjin berubah sendirinya, romannya mirip orang jeri, dari itu ia menjadi heran.
Chong Leng Siangjin ini adalah jago dari partai Biteong Pay dari Tibet, dia termasuk kelas satu, usianya sudah tujuh puluh lebih, akan tetapi romannya seperti baru lima puluh lebih, dengan gurunya Ho Ciang, dia terhitung satu tingkat dan golongan.
Dia sengaja diundang Ho Ciang, untuk dijadikan tulang punggung, maka heran dia agaknya berkuatir.
"Mungkinkah Chong Leng jeri terhadap pengemis itu?"
Pikirnya. Chong Leng Siangjin masih saja membulak-balik lengan besi itu.
"Apakah taysu dapat melihat sesuatu yang bisa menjadi pemecahan keanehan ini?"
Tanya Ho Ciang akhirnya.
"Selama beberapa tahun ini tidak terdengar warta apa-apa mengenai Cek Sin Cu,"
Berkata si pendeta Tibet.
"maka itu benarkah dia telah mati kedinginan di Sungai Es?"
"Itulah ngaco belo, tak mestinya dipercaya!"
Kata Ho Ciang.
"Lagi-nya, siapakah telah membawa peti besi ini kemari? Tidakkah ini luar biasa? Kecuali aku memperoleh penjelasannya, tidak nanti aku mau sudah saja!"
Chong Leng berdiam, ia berpikir, cuma matanya terus mengawasi lengan besi itu, yang terus ia membulak-baliknya pergi dan pulang.
Yo Liu Ceng juga mengenali lengan besi dari Tang Thay Ceng itu, ia tidak kalah herannya.
Ia juga memikirkan, siapa si pengemis muda yang membawanya itu.
Selagi ia memikir, ia melihat Chong Leng berdua Ho Ciang kasak-kusuk.
Tadinya ia hendak bicara, tetapi Cek Tat Sam, pangcu dari Taysan Pang telah mendahuluinya.
"Perkara Tang Thay Ceng ini sukar dibikin jelas di dalam sesaat ini,"
Berkata ketua Taysan Pay itu.
"Sehubungan dengan semua ini, hari ini pun ada dua perkara baru, kaum Keluarga Yo tidak dapat melepaskan diri dari sangkut pautnya!"
Yo Liu Ceng melengak.
"Apa maksudmu?"
Ia tanya.
"Apa lagi sangkutannya dengan kau?"
Tat Sam menjadi gusar sekali ketika ia menyahuti.
"Sebelum aku tiba disini untuk memenuhkan janji pertemuan, mengapa kamu telah terlebih dahulu menghina muridku? Kenapa kamu menganiaya muridku itu?"
Yo Liu Ceng menjadi heran sekali.
"Perkara apakah itu?"
Ia tanya.
"Bagaimana duduknya kejadian?"
"Han Tiauw, mari kau!"
Memanggil Tat Sam. Seorang gemuk maju ke depan. Kang Lam mengenali si gemuk yang ia telah permainkan. Muka si gemuk ini bengap dan matanya bengul, pakaiannya masih kotor dengan rumput dan tanah.
"Heran!"
Kata Yo Liu Ceng.
"Orang telah menghajar muridmu, apakah hubungannya itu denganku?"
"Habis, apakah aku yang telah menganiaya muridku ini?"
Tat Sam membaliki, gusarnya bertambah.
Yo Liu Ceng pun gusar, panas hatinya, ketika ia hendak membuka pula mulutnya, Teng Kian Goan, si orang tua, mendahului ia bicara.
Orang tua ini ingin sekali perselisihan dapat dibereskan secara damai.
"Mari kita omong dulu biar jelas!"
Ia datang sama tengah.
"Kita masih mempunyai ketika untuk mengurusnya dan urusan tidak bakal menjadi terlambat."
Ia menoleh kepada Cek Tat Sam, untuk meneruskan.
"Kau menyebutkan dua urusan. Ini baru satu. Apakah itu yang satunya lagi?"
Belum lagi Tat Sam menyahuti, ia telah didului Poanliongkoay Khouw Tay Yu si Tongkat Naga Melingkar. Dia ini bangun berdiri sambil berlompat, dia gusar sekali. Dia kata dengan nyaring.
"Para hadirin yang terhormat! Aku mohon menanya mengenai janji pertemuan kita ini! Aku mau tahu, sebelum pertemuan terjadi, bolehkah salah satu pihak mendahului mengganggu orang-orang yang datang untuk membantui pihak lainnya, bahkan di samping menganiaya secara diam-diam juga membunuhnya secara diam-diam juga?"
Perkataan itu membikin heran semua hadirin, hingga mereka saling mengawasi.
"Siapakah itu yang dibunuh secara menggelap?"
Demikian ada yang bertanya.
"Dialah pangcu Tio Tiat Han dari Cinsan Pay."
Menjawab Tay Yu.
"Dia telah dibunuh secara menggelap dalam cara sangat hebat dan menyedihkan, ialah hidup-hidup Tio Toako telah dicekek hingga putus jiwanya!"
Persahabatan di antara Khouw Tay Yu dan Tio Tiat Han ada persahabatan mati dan hidup, maka juga Tay Yu menjadi sangat gusar berbareng berduka sekali, maka itu sambil mengucurkan air mata, matanya pun merah saking murkanya.
Kalau bisa ingin dia menyerbu Yo liu ceng untuk membeset tubuhnya!
Teng Kian Goan berbangkit.
"Tio Pangcu itu telah dibunuh orang, apakah ada yang melihatnya sendiri?"
Ia bertanya.
"Yang membunuh Tio Pangcu ialah itu orang yang menganiaya dan menghina aku,"
Berkata muridnya Cek Tat Sam.
"Sebenarnya dia orang macam bagaimana?"
Kian Goan menegaskan.
"Dia ada satu binatang cilik, yang usianya belum lagi dua puluh tahun,"
Menerangkan pula si gemuk itu.
"Apakah kau telah melihatnya tegas-tegas atau tidak?"
Lagilagi Kian Goan bertanya. Orang tua mi mau berlaku sangat berhati-hati.
"Aku tidak melihat tegas,"
Menyahut si gemuk. Kang Lam di tempatnya sembunyi di atas pian-gok bersenyum dan berkata di dalam hatinya.
"Makhluk buta, tuan kecilmu toh ada disini!"
Meski berpikir demikian, bocah ini gentar juga hatinya.
Menurut si gemuk ini menjadi benar-benar Tio Tiat Han telah dibinasakan si orang yang tidak dikenal itu, yang sepak terjangnya sangat terahasia.
Dengan begitu, urusan menjadi semakin hebat.
Bukankah si orang rahasia itu Kim Sie Ie adanya?
"Jikalau demikian, dia belum tentu orang undangannya Keluarga Yo,"
Teng Kian Goan berkata pula.
"Bukankah orang itu tidak ada disini?"
"Dia membunuh Tio Pangcu dengan cara menggelap, dia mana berani mengasih lihat dirinya?"
Berseru Khouw Tay Yu.
"Maka itu aku hendak berurusan sama ini bangsat perempuan supaya dialah yang mengganti jiwa!"
"Kurang ajar!"
Yo Liu Ceng berteriak.
"Kau maki siapa?"
Cee Sek Kiu pun berlompat bangun.
Khouw Tay Yu mengumbar kemarahannya, dengan tongkat besinya ia merabu Yo Liu Ceng.
Teng Kian Goan, yang berada paling dekat di antara mereka, mengangkat kursi dengan apa ia menalangi Liu Ceng menangkis, maka di antara suara berisik, ringsaklah kursi itu -kayu melawan besi!
Bahkan ujung tongkat hampir mampir di jidatnya si orang tua, yang keburu berkelit.
Cee Sek Kiu gusar bukan main, maka ia juga lantas menerjang, melayangkan kepalannya ke muka orang.
Ialah ahli waris Ngoheng Kun dan tinjunya ini ialah yang dinamakan "Ciongthian pauw"
Atau "Meriam menyerbu langit".
Khouw Tay Yu lagi menyerang, tidak sempat menarik pulang tongkatnya, dari itu ia berkelit dengan cepat.
Tidak urung ia kalah sebat, tidak mukanya yang terhajar, hanya pundaknya, maka ia terhuyung beberapa tindak, hampir ia roboh.
Tentu sekali ia menjadi seperti kalap.
"Aku akan adu jiwaku!"
Ia berteriak.
Ia lantas menyerang berulang-ulang, hingga orang mesti pada menyingkir dari mejanya masing-masing.
Cee Sek Kiu membuat perlawanan dengan mulut bungkam, ia berlaku gesit untuk menghalau diri dari tiap sambaran tongkat, akan di lain pihak mencari lowongannya.
Demikianlah satu kali, ia menyerang pula, kepalannya dibuka menjadi telapakan lebar, untuk memperlihatkan jurusnya yang dinamakan "Thiejiauw"
Atau "Kuku besi", untuk menyambar tongkat lawan, guna dirampas.
Di saat tangan Sek Kiu hampir mengenai lengan Tay Yu, mendadak datang serangan ke arah mukanya.
Sebab hupangcu, atau ketua muda, dari Cinsan Pay, yaitu Cui Hong, telah lantas turun tangan, hanya dia menggunai sejata rahasia yang berupa kimehie piauw, atau piauw uang emas.
Cee Ciang Hee mendapat lihat orang membokong ayahnya itu.
Ia memang telah menjadi gusar dan hendak turun tangan karena pihak musuh berlaku kasar.
Maka ia lantas menggunai panahnya.
Bahkan ia membayar dengan bunganya sekali, ialah dengan tiga butir pelurunya saling susul.
Peluru yang pertama membikin jatuh kimehie piauw, yang kedua mengenai jidat Khouw Tay Yu hingga jidat itu borboran darah, dan yang ketiga menyerang Cui Hong, hanya sebab jaraknya cukup jauh, orang she Cui itu dapat berkelit, dengan begitu, peluru jadi menghajar hancur pui arak di meja dekatnya, araknya muncrat berhamburan mengenai dua sahabatnya Cek Tat Sam, yaitu Pekma Touw Peng si Kuda Putih dan Kimtoo Teng Bouw si Golok Emas.
Karena arak masih panas dan yang terkena mukanya, dua orang ini menjadi gusar, keduanya berlompat ke tengah, berniat menyerang.
Sambil berlompat maju, mereka mengasih dengar seruan mereka yang nyaring.
"Aturan apa ini?"
Teng Kian Goan berteriak.
"Kalau orang mau piebu, pakailah aturan! Kenapa mesti berlaku seperti caranya buaya-buaya darat?"
Orang tua ini habis sabar sebab sedari tadi sia-sia belaka ikhtiarnya untuk meredakan suasana.
"Baik!"
Berseru Khouw Tay Yu.
"Semua diam, jangan sembarang bergerak! Aku hendak membalas sakit hatinya Tio Pangcu tetapi Cee Chungcu mau melindungi isterinya, maka itu sekarang biarlah aku melayani Cee Chungcu untuk memastikan menang dan kalah!"
Belum lagi Sek Kiu menyahuti, untuk menerima tantangan, Ciang Hee telah mendahuluinya. Kata nona ini, yang maju ke depan.
"Binatang, kau tidak tepat untuk piebu dengan ayahku, maka itu biarlah nonamu saja yang memberi pengajaran padamu!"
Khouw Tay Yu memang panas hatinya sebab si nona memanah jidatnya, disebabkan si nona dari tingkat muda, ia malu untuk menantangnya, sekarang si nona yang maju sendiri, bahkan orang omong besar, menjadi ada alasan untuk ia melayaninya.
Maka ia berseru.
"Baiklah! Kau majulah bersama-sama ayahmu!"
Ciang Hee tertawa dingin.
"Perlu apa tidak kau membalut dulu jidatmu?"
Ia tanya.
Si nona sengaja menanya demikian, untuk menghina musuh itu yang membuka mulut besar, untuk membuat orang mendongkol.
Menghadapi kejadian itu, Cee Sek Kiu menjadi bimbang hatinya, la adalah tuan rumah, ia mesti memegang derajat.
Khouw Tay Yu itu benar ada pangcu dari sebuah partai tetapi dia bukanlah orang utama dari pihak sana, ia merasa tidak tepat ia yang melayani.
Sebaliknya, kalau ia tidak turun tangan, ia berkuatir untuk gadisnya.
Mana bisa Ciang Hee melawan pangcu itu?
Sedangnya begitu, Cui Hong lompat maju.
"Untuk menyembelih ayam buat apa memakai golok kerbau!"
Katanya jumawa.
"Khouw Toako, biarlah aku yang mewakili kau menghajar budak cilik ini!"
Khouw Tay Yu melihat Cee Sek Kiu eelah mengundurkan diri, ia terpaksa turut mundur juga, ia membiarkan Cui Hong yang melawan Ciang Hee.
Maka dua orang itu lantas berdiri berhadapan.
Senjata Cui Hong ialah sepasang poankoan pit, alat semacam alat tulis Tionghoa, yang kegunaannya terutama untuk menotok jalan darah, sedang Ciang Hee menggunai busur.
"Kau tetamu, maka aku suka membiarkan kau menyerang lebih dulu tiga jurus!"
Berkata si nona kepada lawannya.
Ciang Hee telah terdidik ayah dan ibunya maka juga walaupun usianya masih muda, ia mengenal baik aturan kaum kangouw.
Tindakannya ini pun ada cara untuk memegang derajat kaum Rimba Persilatan.
Pula, karena sikapnya yang tampan, ia mendatangkan rasa hormat dari para hadirin, hingga tidak ada yang berani tertawa atau bersenyum untuk mengejek padanya.
Sebagai hupangcu, ketua muda, dari satu partai, Cui Hong pun berkenamaan, dari itu mana sudi ia diperhina, seorang bocah wanita?
Sebenarnya ia tidak suka si nona mengalah untuknya, tetapi si nona telah menggunai alasan aturan kangouw itu, ia telah didesak sampai di pojok, ia menjadi tidak bisa berbuat lain.
"Baiklah!"
Katanya, tertawa dingin.
"Sehabisnya tiga jurus, kau bersiaplah untuk menukar orang!"
Dengan kata-katanya ini Cui Hong mau mengatakan, di dalam tempo tiga jurus, ia pasti akan dapat merobohkan si nona.
"Jangan banyak omong yang tidak keruan!"
Berkata Ciang Hee, romannya bengis, sedang busurnya disiapkan di depan dadanya.
"Aku telah bersedia untuk menerima hadiahmu!"
Cui Hong tertawa dingin.
Ia tidak menjawab lagi hanya kedua tangannya, ialah kedua senjatanya, dipentang ke kiri dan kanan, untuk segera menotok jalan darah kiebun hiat di iga kiri dan kanan si nona.
Gerakannya itu sebat luar biasa.
Pantas ia merasa sanggup menjatuhkan si nona dalam tempo tiga jurus.
Ciang Hee tidak menangkis serangan itu, hanya sambil mendak ia berkelit, lincah sekali gerakannya.
"Ha, kiranya kau sangat gesit!"
Pikir Cui Hong, yang masih tetap memandang enteng lawannya ini, lalu ia meneruskan serangannya, guna menyusul si nona, guna mendesak.
Ciang Hee seperti juga telah mendapat duga akan gerakan susulannya lawannya itu.
Mendadak saja ia membuka mulurnya meniup ke arah muka si lawan.
Senjata rahasia Keluarga Yo telah terkenal lama dalam dunia kangouw, Cui Hong pun mengetahuinya, maka ia menduga si nona mau menggunai senjata rahasianya itu, mungkin bweehoa ciam, jarum "bunga bwee", maka ia lantas mundur.
Nona Cee tahu ia bakal terdesak, maka ia meniup itu.
Ia tidak menggunai senjata rahasia, ia cuma menggertak, maka juga selagi lawan mundur, ia lompat mundur juga untuk menggunai ketikanya yang baik akan menyingkir dari hadapan lawan itu.
"Budak cilik, kau menggunai akal licik!"
Kata Cui Hong mendongkol. Ciang Hee tertawa.
"Aku telah membilang akan tidak membalas menyerang, apakah aku telah tidak membuktikan perkataanku itu?"
Ia balik menanya.
Memang, kecuali membuka mulutnya, nona ini tidak membalas menyerang.
Cui Hong mendongkol tidak kepalang.
Tiba-tiba saja ia maju dengan jurusnya yang ketiga.
Ia menyerang dangan poankoan pit kiri dengan poankoan pit kanan disiapkan untuk susulannya.
Ia mau menanti, begitu lekas si nona berkelit, pit kanan akan membarengi menyerang dengan jalan darah yongcoan hiat sebagai sasarannya.
Ciang Hee benar-benar cerdik.
Atas serangan itu, ia tidak berkelit nyamping atau mundur, sebaliknya, ia mendekam dengan lincah sekali, sembari mendekam, ia mengajukan busurnya.
Maka tepat kedua senjata beradu satu dengan lain dengan memperdengarkan suara nyaring.
Justeru suara itu mendengung, si nona lompat mundur!
Cui Hong telah menanti, ia mau berlompat, guna menyerang.
"Tahan!"
Teng Kian Goan berteriak.
"Tiga jurus sudah lewat! Nona Cee, kau boleh tidak usah mengalah lebih jauh!"
Dengan sangat terpaksa, Cui Hong menarik pulang tangan kanannya itu.
Dengan begitu batallah serangannya, yang baru setengah jalan.
Seruannya Kian Goan membuatnya berhenti di tengah jalan itu.
Sebagai seorang kenamaan, ia tidak mau membantah.
Ia mengawasi Si nona, yang menunjuki sikap jumawa.
Kata Ciang Hee.
"Tidak usah menukar orang! Tetap akulah yang piebu denganmu!"
"Kau maju!"
Cui Hong membentak.
Ia gusar tetapi mesti menahan hawa marah.
Ia baru membuka mulutnya atau busurnya si nona sudah bekerja dan sebiji pelurunya menyambar ke arah nadinya.
Ciang Hee telah menggunai ilmu memanahnya dengan peluru yang ia mewariskannya dari kakek luarnya yaitu Yo Tiong Eng.
Itulah ilmu panah yang dinamakan "Kimkiong Sippat Ta"
Atau "Delapan belas jurus panah emas".
Cui Hong jauh terlebih gagah dari Ciang Hee, ia dapat berkelit dari serangan pertama itu, akan tetapi setelah si nona menyerang ia secara berantai, ia menjadi repot sekali.
Kang Lam menyaksikan pertempuran ramai itu, ia gembira sekali, maka ia menyesal bukan main yang ia tidak dapat berteriak-teriak dengan pujiannya...
Hanyalah, meski ia pandai memanah, latihannya Ciang Hee masih belum sempurna, maka itu selewatnya lima puluh jurus, ia menampak mulai terdesak, dan Cui Hong, dengan sepasang poankoan pit-nya, merangsak padanya, hingga terpaksa ia mesti mengandal pada ilmunya ringan tubuh, akan sabansaban berlompat berkelit, setiap kali ia berkelit, baru dapat ia membalas menyerang dengan pelurunya.
Syukur untuk Cui Hong, ia pun ada satu ahli tukang totok, maka tahulah ia bagaimana harus melindungi jalan darahnya dari peluru si nona.
Setiap kali peluru datang, ia tangkis atau kelit.
Adalah semula tadi, ia lebih banyak berkelit sebab ia tengah didesak.
Para penonton menjadi menonton dengan kekaguman.
Ruang pesta itu penuh dengan kursi meja, kalangan pertempuran tak lebih dari dua tombak persegi, maka itu, disitu Cui Hong dan Ciang Hee mesti mengadu kepandaiannya, disitu keduanya mesti berlompat atau berkelit setiap kali salah satu pihak memberondong atau mendesak.
Jikalau sangat terdesak, Ciang Hee terpaksa menggunai busurnya menangkis serangan.
Sementara itu, karena seringnya menyerang, peluru si nona sudah hampir habis.
Kang Lam di tempat sembunyinya sibuk sendirinya.
Beberapa kali peluru menyasar ke arahnya, menghajar papan alingan sembunyinya, la takut peluru nanti menyasar ke tubuhnya sedang ia tidak mampu menangkis atau berkelit.
Ia juga memikirkan si nona, yang keteter itu...
Untuk para hadirin, menyambar-nyambarnya peluru tidak menjadi soal.
Benar mereka menonton tetapi mereka menonton dengan waspada dan siap sedia.
Sebagai penonton, maka mereka juga jauh terlebih awas.
Demikian, asal peluru datang, mereka berkelit atau menangkis.
Bahkan Cek Ho Ciang mau membanggakan keliehayannya, ia menyambuti peluru dengan jepitan sumpitnya, setiap peluru ia letaki berbaris di atas meja!
Teng Kian Goan melihat Ciang Hee terdesak hebat, ia menunggu sampai seratus jurus, ia lantas berkata nyaring.
"Kamu berdua sudah bertempur seratus jurus lebih, maka baiklah kamu mengundurkan diri, untuk memberi ketika kepada rombongan yang nomor dua!"
La maksudkan supaya semua orang bergilir.
Atas usul itu, Cui Hong tidak mengasih dengar suaranya setuju atau menolak.
Ciang Hee pun tidak mau mundur.
Ia hendak mentaati pesan ibunya, yang berkata padanya.
"Jangan kau merusak nama baik Keluarga Yo!"
Maka ia melanjuti perlawanannya, masih ia menyerang dengan pelurunya, sampai mendadak ia terkejut sendirinya.
Inilah sebab ia mendapat kenyataan, peluru tinggal dua butir lagi!
Cui Hong mengejar justeru orang kaget itu.
Gerakannya si nona menjadi ayal sendirinya.
Ia kaget menampak musuhnya datang dekat.
Tapi ia mendapat akal.
Ia lantas berpura-pura terpeleset, kakinya nyerosot ke depan, selagi nyerosot, ia menyerang ke belakang, pelurunya mengarah jalan darah yangpek-hiat.
Cui Hong bermata celi dan sebat, ia dapat menyampok peluru itu.
Tapi segera juga datang peluru yang kedua.
Ia menduga serangan ke jalan darah tayyang hiat, ke pempilingannya, maka lekas-lekas ia tunduk.
Ciang Hee memang mengarah jalan darah di pempilingan itu, akan tetapi ia cerdik, ia menggunai akal, selagi memanah, ia menggeser sedikit arahnya, maka itu justeru lawannya berkelit, pelurunya justeru mengenai tepat, kepada jidat Maka tidak dapat ampun lagi, di jidatnya ketua muda Cin San Pang itu lantas terlihat tapak hitam dari peluru itu, dari darah mati!
Teng Kian Goan melihat kesudahan itu, ia lantas berteriak menanya bukankah piebu itu sudah boleh disudahi?
"Inilah pertempuran!
Mana dapat pertempuran disudahi?"
Berteriak Cui Hong yang sangat gusar.
Memang juga piebu itu tanpa syarat atau janji, maka kalau satu pihak tidak sudi mengalah, tidak dapat itu dibikin habis sampai disitu.
Ciang Hee juga tidak mau mengalah, hasilnya barusan membuat nyalinya bersemangat.
"Baiklah!"
Serunya, menyambut tantangan.
"Jikalau kau tidak sudi, mengaku kalah, mari kita bertempur terus!"
Mendengar itu, Sek Kiu menggeleng kepala.
Biar bagaimana, berkuatir untuk anaknya itu.
Ciang Hee menduga, setelah kemenangannya itu, lawan pastilah akan kalah semangat.
Dugaannya ini nyata keliru.
Sebaliknya, Cui Hong jadi semakin garang.
Ketua muda Cinsan Pang ini mirip dengan harimau yang terluka, yang menjadi semakin galak dan tangguh, sepasang poankoan pit-nya menyerang hebat tak hentinya.
Maka ia lantas kena terkurung.
Syukur untuknya, karena mahirnya ilmunya enteng tubuh, ia masih dapat berkelit-kelit dengan lincah.
Cuma 'sekarang ia terdesak hingga kalangannya menjadi ciut.
Yo Liu Ceng melihat nyata pertempuran itu, ia bergelisah.
Tidak bisa ia menteriaki puterinya menyuruh si puteri mengaku kalah.
Ia pun tidak mempunyai alasan untuk maju, guna menggantikan tanaknya itu.
Biar bagaimana, Cui Hong ialah orang dari kelas dua, kalau ia maju, ia akan mendatangkan tertawaan orang, ia bakal dihina.
Maka ia menjadi seperti semut di atas kwali panas, ia cemas sendirinya.
Masih ada seorang lain, yang kekuatirannya bahkan melebihkan kekuatirannya Nyonya Cee Sek Kiu ini.
Dialah Kang Lam si bocah yang mendekam di atas papan pian-gok.
Di dalam hatinya dia berteriak celaka berulang-ulang, sebab dia tidak bisa turun untuk membantui si nona.
Di depan dia, Ciang Hee piasih terus didesak Cui Hong, ?bahkan paling belakang sepasang poankoan pit orang she Cui itu ?mengancam hebat, yaitu poankoan pit kiri mencegah bergeraknya busur, poankoan pit kanan siap akan menghajar...
Mendadak Kang Lam merasakan belakang lehernya seperti tertiup angin dingin sekali, ia menjadi begitu kaget hingga ia berteriak, lantas tubuhnya terguling jatuh dari tempatnya sembunyi itu.
Tentu saja ia menjadi sangat kaget.
Tapi ia lebih kaget, atau lebih benar, ia girang luar biasa, ketika ia merasakan ia dapat menggeraki kaki tangannya yang semenjak tadi seperti mati.
Pula sungguh kebetulan, ketika ia jatuh itu, Cui Hong berada di bawahnya, maka berbareng jatuh, kakinya menjejak!
Cui Hong kaget bukan main, ia juga merasakan sakit, tanpa merasa, ia berkaok-kaok, sedang tubuhnya mendak sendirinya.
Di dalam keadaan seperti itu, sudah ia batal menyerang Ciang Hee, ia juga tidak sanggup membela diri.
Ia telah memikir untuk menyerang kepada "pembokongnya"
Itu akan tetapi ia kalah sebat, ia baru memikir, belakang lehernya sendiri di mana ada jalan darah thiancu hiat sudah didului ditotok.
Maka terlepaslah kedua senjatanya, maka robohlah tubuhnya, rebah di lantai tanpa berdaya..
Dengan jatuhnya Kang Lam dari atas pian-gok, seluruh ruang menjadi gempar.
Ciang Hee segera mengenali anak muda itu, ia heran bukan main.
"Eh, bagaimana caranya kau datang kemari?"
Ia tanya. Kang Lam tertawa.
"Bukankah aku telah membilangi kau, jikalau kau mempunyai urusan apa-apa, kau baik mencari aku?"
Sahutnya.
"Sekarang ini kau lagi bertempur, hatiku goncang tidak hentinya, Maka itu aku lantas datang kemari untuk membantui kau!"
Ia mengulur keluar lidahnya, ia mengasih lihat roman Jenaka. Nona Cee menjadi tertawa.
"Kau orang aneh!"
Katanya.
"Kau lucu!"
Di dalam hatinya.
Kang Lam tahu, si orang aneh bukannya ia hanyalah orang yang secara diam-diam membawa ia ke tempat pesta Hongbun Hwee itu, yang dengan mendadak membebaskan ia dari kekangan totokan, hingga sekarang ia bisa turun dari atas pian-gok dan dapat bergerak dengan merdeka.
Ia pun merasa aneh tidak dapat melihat si aneh itu.
Entah di mana sembunyinya dia.
Diakah Kim Sie Ie?
Atau bukan?
Selagi Ciang Hee dan Kang Lam memasang omong, pihak Cek Tat Sam gusar bukan main, sampai ada yang mencaci.
Pertempuran telah menjadi berhenti sendirinya sebab Cui Hong roboh tanpa berdaya.
"Inilah dia si binatang!"
Si gemuk segera mengasih dengar suaranya, sengit.
"Dia... dialah yang mencekek mati pada Tio Pangcu!"
Khouw Tay Yu menjadi sangat gusar hingga ia berlompat maju melewati banyak kawannya.
"Bekuk dia! Tanya dia, siapa yang menitahkannya! Tanya dia, mengapa dia datang mengacau!"
Demikian yang lainlainnya mementang mulut.
Kang Lam menginsyafi keadaan, maka ia tidak melayani lagi Ciang Hee bicara, lantas ia membungkuk untuk mengangkat tubuhnya Cui Hong, yang ia terus lempar ke kalangan dia itu.
Ia hanya kata.
"Tuan kecilmu datang ke mari untuk memberikan bantuannya! Binatang ini tidak dapat menahan satu totokanku, habis siapa yang harus dipersalahkan? Apakah kamu mau melunak semua untuk mengepung aku? Baiklah, aku tidak takut!"
Sebenarnya Kang Lam jeri tetapi Ciang Hee ada di dampingnya, ia jadi nekat. Ia pikir.
"Biarnya aku kena dikeroyok mereka, aku tetap menjadi seorang kosen!"
Tetapi orang banyak itu heran --heran atas cara datangnya, heran atas sikapnya yang tenang dan berani ini, yang acuh tak acuh untuk suasana panas itu, yang dapat membahayakan dia.
Mereka pun heran karena bocah ini tidak ketahuan asal-usulnya.
Maka itu, tidak ada yang berani sembarang maju kecuali Khouw Tay Yu seorang.
Cek Tat Sam dalam kesangsian-nya melotot mengawasi muridnya.
"Adakah bocah ini yang menganiaya kau?"
Ia tanya. Si gemuk takut didamprat gurunya itu, dengan cerdik ia menjawab.
"Tio Pangcu pun dalam beberapa jurus saja kena dicekek dia! Ya, ilmu totoknya liehay luar biasa!..."
Kang Lam mendengar suara si gemuk itu, ia girang bukan main. Ia lantas mengangkat kedua tangannya kepada orang itu, untuk memberi hormat.
"Terima kasih, engko yang baik, kau telah mengangkat aku,"
Katanya.
"Baiklah, kalau lain kali kau berbuat salah pula terhadapku, tidak nanti aku menghajar padamu!"
Khouw Tay Yu tidak dapat menahan sabar lagi.
"Kenapa kau membunuh secara menggelap pada Tio Toako-ku?"
Ia membentak. Sebenarnya Kang Lam sudah memikir buat menyangkal ia membunuh Tio Tiat Han akan tetapi sesaat itu ia pikir pula;
"Orang aneh itu, dia Kim Sie le atau bukan Kim Sie Ie, dia tetap telah berbuat baik padaku, maka itu, kenapa aku mesti beber rahasianya? Baiklah aku mengaku saja..."
Maka dengan nyaring, ia menyahut.
"Eh, sahabat, kau omong sembarang saja! Tio Tiat Han itu bertempur secara terang-terang dengan aku, dia telah kena aku cekek hingga binasa, kenapa kamu membilangnya aku membokong dia? Siapa suruh dia berkepandaian bangpak?"
"Jadinya kaulah yang liehay?"
Bentak Tay Yu.
"Baik, mari kau tempur aku! Mari kita pakai aturan Rimba Persilatan, kita bertempur satu lawan satu, sampai ada yang mati dan hidup! Para hadirin bolehlah menjadi saksi, aku bukannya hendak si besar lawan si kecil, aku hanya hendak membalaskan sakit hatinya Tio Toako-ku itu yang terbinasa secara menyedihkan!"
Tay Yu bukan menyebutkan bertempur untuk memutuskan siapa menjadi jago hanya supaya ada yang mati dan hidup, itu tandanya dia sudah bertekad mengambil jiwa si anak muda.
Ciang Hee berkuatir.
Ia tahu Khouw Tay Yu ada orang kosen kelas satu untuk wilayah Shoatang, dia beda apabila dibanding dengan Cui Hong, akan tetapi selagi ia mau minta ayahnya turun tangan, Kang Lam sudah menyambut tantangannya Tay Yu sambil tertawa.
Katanya.
"Tukang restoran tidak takut pada tetamunya yang perutnya gendut, maka itu apa orang yang datang kemari untuk memberikan bantuannya takut untuk berkelahi? Tuan, kau she apa? Baiklah, aku akan terima pengajaran d arimu!"' Selagi Tay Yu mengadu mulut, orang-orang undangannya Tat Sam justeru mengerubungi si gemuk untuk minta keterangan duduknya hal Tio Tiat Han terbinasa di tangannya si bocah. Atas itu si gemuk, dengan aksi yang baik, menuturkan segala apa yang dia tahu, bahkan dia melebihlebihkan, hingga orang menjadi gusar, hingga mereka pada berkaok-kaok mencaci. Khouw Tay Yu juga dapat mendengar ceritanya si gemuk itu, tetapi ia tidak memperdulikannya, justeru ia hendak menyuruh si bocah maju. ia kembali ditanya Kang Lam.
"Tuan, kau she apa?"
Sikapnya Kang Lam pun manis sekali.
"Aku she Khouw, namaku Tay Yu!"
Ia menyahuti terpaksa.
"Kau ingat baik-baik namaku ini! Sebentar kau boleh pergi mengadu kepada Giamloo Ong! Nah, kau hunuslah senjatamu, untuk kau terima binasa!"
Ketika Kang Lam berangkat dari rumah, Tan Thian Oe tidak memberikan dia pedang, sebab dia dikuatir nanti menerbitkan onar, dia hanya dibekali sepotong pisau belati, maka itu, waktu dia melihat tongkatnya Khouw Tay Yu yang panjang dan besar, dia pikir baiklah dia tidak menggunai pisaunya itu hanya baik dia berkelahi dengan tangan kosong.
Begitulah atas kata-kata tersebut dari orang she Khouw itu, dia bersikap ramah tamah, sembari tertawa dia berkata.
"Aku ini, selama aku tidak bertempur secara resmi, aku biasanya tidak mempergunakan senjata. Kau pun baiklah ingat, aku dipanggil Kang Lam. Ialah Kanglam yang indah di musim semi! Kau juga jangan kuatir, tidak nanti aku menghajar mampus padamu, dari itu sengaja aku menyebutkan namaku ini agar di belakang hari dapat kau mencari aku guna menuntut balas!"
Kang Lam dapat bersikap begini karena ia mendapat pimpinan Thian Oe yang lemah lembut, tetapi keramah tamahannya ini justeru membangkitkan marahnya Khouw Tay Yu, yang merasa dirinya dipermainkan.
"Ini artinya kau cari mampusmu sendiri!"
Bentaknya seraya segera mengemplang dengan tongkatnya. Diserang secara demikian. Kang Lam berkelit sambil berlompat, sedang mulutnya berkaok.
"Oh, ibu! Kau menghendaki jiwaku!"
Gagal serangannya Tay Yu itu.
hingga ia menjadi mendongkol.
Kelincahannya Kang Lam ini adalah hasil pelajaran yang ia terima secara mencuri dari Thian Oe dan Yu Peng, di waktu suami isteri itu berlatih.
Ia cerdik, ia dapat menyangkok dengan baik.
Itulah salah satu jurus dari Pengcoan Kiamhoat, atau ilmu Pedang Sungai Es.
Dalam gusarnya, Tay Yu menyerang pula.
Kang Lam berlaku tabah.
Kembali ia berkelit dengan lincah.
Karena ia main berkelit, ia nampak lucu, hingga ada orangorang di pihak Tat Sam yang tertawa.
Hanya Tat Sam yang bercekat hatinya, hingga dia pikir.
"Benar-benar bocah ini luar biasa. Benarkah dia liehay sekali dan sengaja datang kemari untuk mengacau aku?"
Mukanya Khouw Tay Yu menjadi merah.
Dua kali ia gagal dan kali ini kupingnya mendengar orang riuh tertawa, la menjadi malu, dari malu, ia menjadi penasaran.
Maka ia menyerang pula, saling susul, dengan gencar sekali.
Kang Lam tidak dapat menandingi jago tua itu, untuk melawan terus, ia mengandal pada kelincahannya.
Selalu ia berkelit.
Nyata ia berhasil menolong diri dari setiap serangan.
Maka, melihat aksinya itu, beberapa orang telah mengasih dengar pujiannya.
Dalam sengitnya, Khouw Tay Yu menyerang terus, hingga akhirnya dia membikin Kang Lam bingung juga, hingga ia pikir kali ini habislah ia...
Di saat Khouw Tay Yu seperti mengamuk itu, mendadak ia merasa lengannya sakit nyelenit seperti digigit semut, nyeri sedikit, tetapi itu sudah cukup membuat tongkatnya nyasar.
Kang Lam tengah kaget ketika ia mendapatkan tongkat turunnya luar biasa.
Berbareng dengan itu, dengan matanya yang celi, ia melihat air mukanya Tay Yu berubah, sedang tubuh orang sedikit limbung.
Tongkat yang liehay itu lewat di samping pundaknya, la sangat cerdik segera ia menggunai ketikanya, segera ia menyerang, menotok dadanya si lawan, di jalan darah soankie hiat.
Telak totokan itu maka tubuh besar dari Tay Yu roboh lantas bagaikan ambruknya sebuah pohon kayu yang besar.
Sebenarnya Tay Yu merasa bahwa ia mestinya telah kena orang bokong akan tetapi ia roboh dengan mulutnya sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
Pihak sana kaget lantas ada yang maju, untuk mengangkat tubuh Tay Yu, guna sekalian ditotok, untuk membebaskan dia, tetapi usaha mereka itu tidak memberi hasil, sebab totokan Kang Lam ada totokan ajarannya Kim Sie Ie totokan istimewa itu tidak dimengerti oleh lain orang.
Cek Tat Sam lantas mendapat tahu Khouw Tay Yu tertotok jalan darahnya soankie hiat, untuk menotok bebas mestinya di lain arah, maka ia lantas mencoba menolongi.
Tapi ia gagal.
Dengan tidak dibebaskan, Tay Yu menderita hebat, begitu ia ditotok, begitu ia merasa sakit, sebagaimana terlihat mukanya meringis-ringis, ketika ia mengeluarkan keringat, keringatnya itu dingin sekali.
Tat Sam menjadi sangat kaget hingga ia berdiri diam.
Kang Lam menyaksikan segala usaha orang itu, ia mengawasi dengan tenang.
Kemudian ia tertawa "Aku sudah bilang aku tidak menghendaki jiwanya, maka itu selewatnya dua belas jam, dia bakal bebas sendirinya!
Perlu apa kamu bergelisah tidak keruan?
Tapi ingat, jikalau kamu paksa hendak menolongi dia dengan menotok kalang kabutan, kamu nanti membikin dia binasa!
Kalau itu sampai terjadi, kamu harus bertanggung jawab sendiri, jangan kamu persalahkan aku!"
Tat Sam menjadi gusar, hingga ia memikir untuk turun tangan sendiri guna menghajar bocah ini, tetapi nyatanya, ia didului lain orang.
Kang Lam melihat, yang maju ialah seorang pelajar yang bibirnya merah dan giginya putih, yang romannya tampan, gerak-geriknya pun halus.
Dia memegang sebatang kipas.
Sambil bersenyum, dia lantas menegur.
"Saudara kecil, ilmu totokmu benar-benar luar biasa. Marilah, aku menerima pelajaran dari kau!"
"Maaf,"
Berkata Kang Lam, yang menghunjuk hormatnya karena sikap orang yang manis itu.
"pelajaran aku si Kang Lam adalah pelajaran kasar. Aku mengharap kaulah, siangkong, yang memberi petunjuk padaku."
Kang Lam berlaku hormat karena ia menyangka ia lagi berhadapan sama seorang pelajar yang terhormat, tidak tahunya pelajar di hadapannya ini justeru ada Touw Peng si tukang petik bunga yang kesohor telengasnya, sedang kipasnya itu adalah senjatanya peranti menotok jalan darah.
Untuk di lima propinsi Utara dialah salah seorang kenamaan termasuk kelas satu.
Dia melihat ilmu totok Kang Lam aneh, dan gerakannya tapinya lambat, maka dia percaya, dia sanggup melawannya, dari itu, dia keluar menghadapinya, supaya dia bisa mengangkat nama di depan orang banyak.
Di antara orang-orang undangannya Yo Liu Ceng ada seorang jago tua, Kwee Ciong Liong namanya.
Ialah seorang yang sangat membenci perbuatan busuk, maka itu melihat Touw Peng, yang ia tahu siapa adanya, hatinya jadi panas.
Ia lompat bangun seraya berkata nyaring.
"Bangsat hina dina kenapa bercampuran sama kita disini?"
Touw Peng tidak gusar, bahkan dia tertawa.
"Kwee Looyacu!"
Katanya. Ia pun mengenali jago tua ini.
"Aku tidak mengganggu anak gadismu, mengapa kau tidak keruan-keruan mengumbar adatmu?"
Ciong Liong tidak menyahuti, hanya ia menggeprak meja keras sekali dan kumisnya yang ubanan pun seperti bangun berdiri.
"Saudara kecil, kau mundur dulu!"
Ia kata pada Kang Lam.
"Biarlah aku yang memberi pengajaran kepada ini penjahat cabul!"
"Tetapi ini saudara kecil telah menerima baik hendak mainmain dengan aku!"
Kata Touw Peng, membelar.
"Kwee Looyacu, kau orang yang mengerti aturan, aku harap kau tidak mengacau disini! Aku berjanji, habis ini aku nanti melayani kau."
Kang Lam terkejut mendengar Touw Peng satu penjahat cabul.
"Dia begini tampan, kenapa dia justeru telur busuk..."
Pikirnya.
"Pantas kongcu sering membilang, manusia tidak bisa dilihat dari romannya, seperti air laut tidak dapat ditakar..."
Touw Peng berlaku sabar terhadap Kwee Ciong Liong karena ia hendak mencegah bangkitnya kemarahan para hadirin, sungguh berbahaya bila orang semua bergusar padanya.
Pula ia tahu, pihaknya Cek Tat Sam membenci sangat si bocah, maka ia hendak menggunai ketikanya yang baik Ia kata di dalam hatinya.
"Bocah ini mau ditawan, supaya pihak Tat Sam dapat menuntut balas, maka baiklah aku mendahului merobohkan dia. Tua bangka she Kwee ini benar liehay tetapi belum tentu dia dapat mengalahkan aku, sebentar saja aku layani dia. Asal aku dapat menangkan dua giliran, yang ketiga aku boleh tampik. Jikalau aku memakai aturan, siapa bisa menentang aku?"
Maka itu, ia memberi hormat pada Kang Lam, sambil tertawa, ia berkata.
"Saudara kecil, kau majulah!"
Kang Lam membalas hormatnya. Biar ia pun membencinya, ia tidak bisa berlaku kurang ajar. Pula Thian Oe pernah mengajari ia.
"Kalau orang menghormati kau satu kaki, kau membalasnya satu tombak. Itu dia yang dibilang, ada kehormatan harus dibalas."
Maka ia berkata.
"Aku lebih muda, kau terlebih tua, baik kaulah yang mulai pengajaran kepadaku."
"Kau sungkan, saudara kecil!"
Kata Touw Peng manis.
Hanya, belum lagi suaranya itu berhenti, kipasnya sudah dipakai menotok, cepatnya luar biasa, bagaikan kilat menyambar.
Penyerangan itu di luar dugaan, biarnya ia bermata awas dan gesit, Kang Lam toh kena dibokong, maka tepat jalan darah hoatjie hiat di iga kena ditotok, hingga ia roboh seketika juga, sampai ia tidak keburu bersuara lagi.
Ciang Hee kaget hingga ia menjerit.
Kwce Ciong Liong gusar sekali, ia menggeprak meja sambil mendamprat.
Cee Sek Kiu dan Yo liu ceng tidak kurang kagetnya, hingga mereka berjingkrak.
Touw Peng berlaku tenang sekali, dengan halus ia menjura ke empat penjuru.
"Inilah piebu, di dalam piebu, mesti ada yang terluka atau terbinasa, maka itu kenapa siaute disesalkan?"
Katanya.
Ia tidak merasa malu bahwa ia telah membokong itu.
la baru menutup mulutnya, atau ia merasakan angin menyambar di belakangnya, hingga ia kaget, atau segera ia mendengar tertawanya Kang Lam yang terus berkata.
"Kau benar! Kau benar! Siaute pun berpikir sama denganmu!"
Touw Peng tengah membelakangi Kang Lam, maka ia tidak menyangka sama sekali lawannya yang sudah pingsan terkena totokannya itu telah mendapat pulang kebebasannya, bahkan sekarang ialah yang dibalas dibokong.
Tengah ia kaget, jalan darahnya kianceng hiat telah tertotok hebat, bahkan ia merasakan sangat sakit hingga ia menjerit keras, menyusul mana, tubuhnya roboh terguling, kesadarannya lenyap bersama!
Kembali orang menjadi kaget.
Tetapi orang tidak bisa membilang apa-apa, sebab si penjahat cabul sendiri baru saja membilang, di dalam piebu, orang dapat terluka atau terbinasa.
Pihaknya Cek Tat Sam lantas maju untuk menyingkirkan Touw Peng itu, untuk menolongi, kemudian-dia dapat disadarkan akan tetapi dia terus menjadi orang bercacad karena tulang selangkanya telah remuk, hingga tak dapat dia menyembuhkannya pula hingga dia memperoleh kembali kepandaiannya.
Selama dipimpin oleh Hong Sek Toojin, Kang Lam berhasil mempelajari apa yang dinamai "Tianto hiattoo", atau ilmu membikin jalan darah jungkir balik, maka juga ketika ia kena dibokong Touw Peng hingga ia tidak berdaya lagi, terpaksa ia menggunai ilmunya ini yang luar biasa, benar ia telah tertotok, ia melainkan merasai gatal, setelah itu, ia segera menggunai akal berpura-pura roboh dengan pingsan, lalu di saat Touw Peng beraksi, ia berlompat bangun seraya membalas membokong juga.
Tentu saja ia menyerang dengan membayar bunganya sekalian, hingga Touw Peng menemui kemalangannya itu, Ketika melayani si Kang Lam menghajar musuhnya, si penjahat cabul yang bertingkah sebagai seorang pelajar, yang telah berkelahi dengan cara main bokong.
Ketika melayani siigemuk.
Kang Lam telah menggunai tipunya ini.
Si gemuk menyaksikan itu, dia bercuriga, meski demikian, sebab dia benci Touw Peng, dia diam saja.
Kalau dia memberi kisikan, mungkin si penjahat cabul ketolongan.
Selagi semua orang heran hingga mereka saling mengawasi, Cek Ho Ciang mengawasi Chong Leng Siangjin dan berkata.
"Bocah ini luar biasa, setahu dia murid siapa..."
Chong Leng Siangjin tidak menyahuti, dia masih membulakbalik tangan besi.
Kang Lam girang sekali.
Kali ini ia menang karena kecerdikannya sendiri.
Kwee Ciong Liong yang tua memberi hormat kepada si anak muda seraya ia berkata.
"Kau telah memusnahkan ilmu silatnya si penjahat cabul, itulah sangat menggirangkan semua orang! Untuk itu aku menghaturkan terima kasihku!"
"Maaf, maaf!"
Kata Kang Lam lekas-lekas membalas hormat.
"Binatang itu bicara tidak keruan, maka itu, loosianseng, aku menolongi kau menghajar adat padanya!"
Ciong Liong tertawa terbahak, tangannya mengurut kumisnya.
"Kalau sebentar piebu telah berhasil, kita akan minum bersama sehingga puas!"
Katanya. Itulah undangannya. Sampai disitu Cek Tat Sam membuka jalan di antara kawan-kawannya, ia menghampirkan Kang Lam seraya menantang.
"Kau berani atau tidak menempur lagi aku satu giliran?"
"Aku ini kalau kerja, aku kerja dari mulanya hingga akhirnya,"
Menyahut Kang Lam.
"Maka kalau aku mengantari Sang Budha, pasti aku akan mengantarnya sampai di Tanah Barat! Karena aku datang untuk membantu satu pihak, tidak ada aturan aku tidak turut bertempur Suka, suka, suka aku melayani kau!"
Cee Sek Kiu lantas berbangkit.
"Kang Lam!"
Katanya.
"Giliran ini kau mengalah dan menyerahkannya padaku! Kau sudah bertempur dua kali maka perlu kau beristirahat dulu!"
Cek Tat Sam ada orang kosen nomor satu untuk propinsi Shoa-tang, maka itu Cee Sek Kiu berkuatir untuk itu anak muda.
Sekalipun ia sendiri, ia masih ragu-ragu dapat mengalahkan jago Shoatang itu.
Kang Lam lagi bergembira, ia tidak mau mundur.
Bahkan dia kata.
"Dua orang tadi ada bangsa kantung nasi, aku dapat menang tanpa menggunai tenaga sedikit jua, dari itu tidaklah perlu aku beristirahat! Sekarang ini aku masih ketagihan bertempur! Cee Chungcu, aku datang membantu kau dengan maksudku yang sungguh-sungguh, maka itu jangan kau melarang aku!"
Sek Kiu kewalahan, ia menggeleng kepala. Yo liu ceng, yang merasa heran, berkata perlahan pada suaminya.
"Kejadian hari ini luar biasa sekali, maka biarlah Kang Lam mencoba lagi satu kali..."
Nyonya Yo ini bercuriga sekali, ia menduga mesti ada lain orang pandai yang membantunya, hanya entahlah, siapa orang di balik tirai itu...
Cek Tat Sam sudah lantas menghunus goloknya yang besar dan berkilauan.
"Untuk mendapat kepastian, untuk menyaksikan kepandaian sejati, baik kita menggunai senjata!"
Ia berkata.
"Kau memakai gegaman apa?"
Kang Lam tidak memikir untuk menggunai senjata, tetapi perkataannya Tat Sam membuatnya panas.
Bukankah orang she Cek itu mau mengartikan bahwa tadi ia telah tidak menggunai kepandaiannya ilmu silat sejati?
Tengah ia bersangsi, Cee Sek Kiu berkata kepadanya.
"Kang Lam, disini sedia delapan belas rupa senjata, pergi kau pilih salah satu yang paling cocok untukmu!"
Kang Lam menoleh ke arah para-para senjata, mendadak ia tertawa dan kata.
"Tidak usah aku memilih lagi! Ini satu sangat cocok untukku!"
Sekali berkata begitu, ia berlompat dua tindak seraya sebelah tangannya diulur, maka di lain saat ia telah dapat mencabut pedangnya si kurus yang berdiri di samping Tat Sam.
Si kurus itu muridnya Tat Sam, dia datang mendekati gurunya untuk mengantarkan golok si guru, dia belum keburu mundur ketika Kang Lam lompat kepadanya.
Sama sekali dia tidak menduga jelek, diapun kalah sebat, maka pedangnya tercabut tanpa dia berdaya.
Dia, seperti semua orang lainnya, menyangka si anak muda akan memilih senjata di para-para.
Di dalam ilmu silat, dia sebenarnya lebih menang daripada ini bocah yang sangat cerdas.
Tentu sekali dia menjadi sangat mendongkol, hanya sebab berada di depan gurunya, dia tidak dapat mengumbar kemurkaannya.
Terpaksa dia berdiri diam.
"Anak tolol!"
Tat Sam mendamprat.
"Mundurlah!"
Tat Sam gusar bukan kepalang, la menyangka sengaja Kang Lam hendak menghina padanya, maka ia mengibas goloknya hingga terdengar suara anginnya mengaung.
Ciang Hee terkejut, hatinya ciut.
Hebat orang she Cek ini.
Kang Lam tidak menjadi jeri meski juga orang nampak demikian keren.
Ia ingat ketika ia dibawa si orang tidak dikenal, samar-samar ia mendengar orang membisiki padanya.
"Kau jangan takut, kau bertempurlah dengan hati lega. Aku tanggung namamu bakal kesohor di empat penjuru lautan!"
Ia menyangka kepada Kim Sie le. Ia pikir.
"Kim Sie Ie membantuku dengan diam-diam, aku tidak usah takut kepada siapa juga!"
Yang membikin ia bingung ialah ia harus bersilat pedang dengan ilmu apa untuk membikin rahasianya tidak terbuka sendirinya, sebab ia memang belum pernah belajar pedang...
"Majulah!"
Tat Sam berseru sambil ia melintangi goloknya, siap sedia.
Kang Lam terkejut tanpa ia merasa, tapi ia lantas maju, pedangnya, meluncur ke dada lawan.
Tat Sam juga kaget, sebab begitu ia membuka mulut, begitu ia diserang, dan diserangnya dengan satu jurus dari Pengcoan Kiamhoat, ilmu Pedang Sungai Es-ialah ilmu pedang yang Kui Hoa Seng dan isterinya dapat menciptakan dengan melihat alirannya sungai es.
Kang Lam tidak mengerti ilmu pedang itu tetapi telah terlalu sering ia melihatnya maka dapat ia meniru (meniru).
Saking kagetnya, Tat Sam mundur tiga tindak.
Di dalam hatinya ia mengeluh.
"Aku tidak menyangka sama sekali bahwa dialah satu ahli pedang..."
Kang Lam mendapat hati dengan serangannya itu meskipun ia gagal mengenai sasarannya, ia lantas menikam pula, dengan jurus "Bintang mengambang".
Dalam kuatirnya, Cek Tat Sam terpaksa menangkis serangan ini.
Ia malu untuk main mundur saja.
Hanya ia menangkis dengan bacokan, ia bermaksud menghalau tikaman.
Kang Lam takut rahasianya terbuka, ia berkelit, dan begitu bebas, ia menikam pula.
Di dalam ini hal, kelincahan tubuhnya membantu banyak padanya.
Hanya kali ini ia menggunai jurusnya ilmu pedang Cengshia Pay dari Siauw Ceng Hong.
Tat Sam heran.
"Ah, mengapa begini campur baur ilmu silatnya bocah ini,"
Pikirnya.
"Heran, mengapa ia tidak melanjuti jurusnya yang tadi?"
Ia melihat, serangan yang belakangan dari si bocah rada lambat.
Kang Lam menyerang dengan jurusnya Siauw Ceng Hong itu dengan sengaja, ia baru menyerang separuhnya saja, tetapi karena ia ditangkis, hampir pedangnya terlepas dari cekalannya.
Syukur untuknya, jago Shoatang itu berkelahi dengan sangat waspada, tidak berani dia sembarang mendesak.
Di dalam ilmu silat ada apa yang dinamakan "Cui Pat Sian"
Atau "Delapan Dewa Mabuk", ilmu itu pernah Kang Lam menyaksikannya dijalankan oleh Siauw Ceng Hong, pula pernah ia mengikutinya beberapa jurus, sekarang ia kena disampok, sudah pedangnya mental, tubuhnya pun terhuyung, maka lantas ia meneruskan terhuyung-huyung beberapa kali, mirip gerak-geriknya si pemabukan.
Itulah jurus "Suihong paliu", ialah "Pohon yangliu bergoyang menuruti angin".
Para hadirin menjadi heran menyaksikan bocah ini dalam sejenak saja telah mengasih lihat ilmu silatnya yang luar biasa itu.
Selagi orang heran dan mengagumi ia, Kang Lam sendiri menjadi bingung.
Ia telah merasakan hebatnya Cek Tat Sam ini.
Kalau Tat Sam tidak kalah hati, mungkin ia sudah roboh, baru kemudian, setindak demi setindak, Tat Sam mencoba mendesak.
Dalam kuatirnya itu, Kang Lam ingat pula Kim Sie Ie, maka di dalam hatinya ia kata.
"Kau, main-main macam apa ini? Sekarang saatnya sudah hebat, mengapa kau masih belum mau membantui aku?"
Cek Tat Sam kemudian menjadi bertambah besar hatinya, di akhirnya ia mengirim satu bacokan yang hebat.
"Celaka aku!..."
Kang Lam mengeluh di dalam hati.
Sekarang baru ia tahu takut.
Untuk bacokannya itu, Cek Tat Sam mengangkat tangannya.
Mendadak ia berbangkis, karena mana, turunnya goloknya menjadi terlambat, sasarannya tidak tepat.
Melihat demikian, Tat Sam menjadi tidak berani merangsak.
Kang Lam berkelit, tapi ketika ia melihat itu, ia lantas meneruskan menikam.
Dan tepat ia mengenai lengan lawannya itu, hingga Tat Sam merasakan sangat sakit, goloknya terlepas.
Mau atau tidak, Cek Tat Sam mengaku kalah Kembali orang banyak menjadi heran.
Ciang Hee girang hingga ia tertawa tak hentinya.
"Bagus!"
Adalah teriakannya Teng Kian Goan.
Yo Liu Ceng dan suaminya tergugu saking herannya.
Di pihak Tat Sam, orang semua berdiam, hingga tidak ada yang lantas maju menantang.
Tat Sam menyesal, mendongkol dan bercuriga.
Ketika ia mau menyerang itu, ia merasakan hidungnya kemasukan kutu, entah kutu apa, karena itu ia berbangkis, karena mana, bacokannya gagal dari sasarannya.
Di dalam keadaan sebagai itu, tidak heran yang ia kena tertikam.
Ia bercuriga tetapi ia tidak dapat mencari bukti, sebagai orang kenamaan, terpaksa ia menyerah.
Siapa mau percaya kalau ia membilang orang telah mencurangi padanya.
Cek Ho Ciang dan Chong Leng Siangjin saling mengawasi.
Chong Leng tidak ada minatnya Turun tangan, ia berkata.
"Hay Jiak Taysu, menurut pandanganku, baiklah piebu ini disudahi sampai disini,"
"Jadi kita kena ditakuti-takuti bocah yang masih bau susu ini?"
Kata Ho Ciang.
"Ha! Tidakkah ini lucu?"
"Bukan begitu, taysu,"
Berkata Chong Leng.
"Kita bukan jeri untuk bocah ini! Aku hanya mau percaya, mungkin benar kakak seperguruanmu telah terbinasa di sungai es..."
"Meskipun demikian, setelah piebu berjalan sampai disini, sukar untuk menghentikan,"
Kata Ho Ciang penasaran.
"Kalau kita berhenti dan dunia kangouw mendengarnya--artinya kita dikalahkan oleh satu bocah cilik --kemana kita meski menaruh muka kita?"
Chong Leng Siangjin agaknya terdesak, ia menjadi apa boleh buat.
"Baiklah,"
Katanya, tak bersemangat.
"Nah, kau cobalah lagi satu kali, asal kau berhati-hati..."
Ho Ciang masgul sekali.
Ia mengundang Chong Leng untuk menjadi andalannya, siapa tahu pendeta dari Tibet ini justeru menganjurkan ia menghentikan pertempuran itu, bahkan menurut nada suaranya, dia seperti kuatir ia nanti dikalahkan bocah itu.
Dari masgul, ia menjadi mendongkol.
Ia lompat maju sambil berseru.
"Mari, mari! Mari bertempur sama aku untuk yang penghabisan kali! Jikalau aku kalah, bukan saja urusan ini akan habis sampai disini, juga untuk selanjutnya di dalam dunia kangouw tidak bakal ada namaku lagi!"
Kang Lam merasa lucu melihat orang gusar tidak terkira itu, tetapi yang lainnya, mereka semua terkejut.
Cek Ho Ciang itu dalam gusarnya, masih ingat untuk mempertontonkan kepandaiannya, maka setiap tindakan kakinya meninggalkan tapak.
Yo Liu Ceng berkepala besar, akan tetapi, melihat tapak kaki itu, diam-diam ia mengulur lidahnya.
Pula antara sepuluh tetamu undangannya, terhitung Teng Kian Goan, semua turut berdiam, tidak ada satu yang berani maju untuk menggantikan si anak muda.
Kang Lam sendiri tetap tenang.
Ia menghadapi si pendeta seperti kalap itu dan bertanya dengan sabar.
"Toahwesio, kau hendak piebu dengan cara bagaimana? Silahkan kau menyebutnya, aku si Kang Lam, aku bersedia untuk mengiringinya."
Ho Ciang tercengang melihat orang demikian tenang, sedikit pun tidak nampak bocah itu gentar hatinya.
Ia merasa, ilmu silat bocah ini tidak berarti, hanya kecerdikannya yang harus dimalui.
Ia jadi memandang pula sekian lama, akan akhirnya berkata.
"Tunggu sebentar' Dengan Hong Sek Toojin kau pernah apa?"
Ia lantas ingat halnya barusan, setelah kena ditotok, bocah ini dapat bebas dan bangun pula, hingga berbalik dia berhasil merobohkan Touw Peng.
la tahu cuma Hong Sek Toojin yang mengerti ilmu demikian, menutup diri dari totokan.
Jadi mungkin si bocah muridnya imam itu.
Ditanya begitu, Kang Lam sebaliknya menjadi mendongkol.
Ia menjadi ingat halnya ia dipaksa Hong Sek menjadi murid.
"Pernah apa?"
Sahutnya keras.
"Jikalau aku dapat bertemu dengannya pasti aku akan damprat dia si tua bangka tidak mau mampus, si siluman bangkotan!"
Kaget Ho Ciang. Itulah jawaban yang ia tidak duga.
"Kalau begitu, dia bukan muridnya Hong Sek Toojin. Mungkinkah di kolong langit ini ada lain orang yang mempunyai ilmu totok serupa seperti kepunyaannya imam itu? Atau mungkin bocah ini benar-benar liehay luar biasa? Siapakah dia? Bagaimanakah asal-usulnya? Ilmu pedangnya yang pertama tadi, melihat pun aku belum pernah, itu bukan ilmu silat Khongtong Pay dari Hong Sek Toojin."
Kang Lam melihat orang masih berdiam saja, ia menuding dengan telunjuknya ke hidung orang. Ia juga maju mendekati.
"Eh, toahwesio, sebenarnya kau mau piebu atau tidak?"
Ia menegaskan.
Cek Ho Ciang mendongkol bukan main tapi di samping mendongkol, ia ragu-ragu.
Ia telah melirik kepada Chong Leng Siangjin dan mendapatkan pendeta dari Tibet itu mengerutkan kening, air mukanya menunjuk dia jeri...
Mau atau tidak, hatinya bercekat.
Pikirnya pula.
"Chong Leng jago kelas satu dari Tibet, dia biasanya jumawa, kenapa sekarang, disini dia menjadi kuncup? Mungkinkah bocah masih berbau susu ini benar-benar liehay luar biasa?"
Tapi jari tangannya Kang Lam hampir mengenai hidungnya, terpaksa ia membuka mulutnya.
"Baiklah kita mengadu tenaga dalam,"
Jawabnya.
"Bagaimana itu?"
Kang Lam menegasi.
Cek Ho Ciang berdiam sejenak, untuk berpikir, habis itu ia lantas membuat dua bocah bundaran di depannya, ia menggarisnya dengan kakinya sambil ia bertindak berputaran.
Jaraknya kedua bundaran itu satu dengan lainnya kira-kira tujuh tau delapan kaki.
Kang Lam mengawasi, ia menunjuk roman heran.
"Eh, aku tidak dapat membuat gais sebundar itu!"
Katanya. Kalau aku membuatnya juga mungkin nanti menjadi seperti telur itik"
Ciang Hee lagi berduka, mendengar kata-kata itu, ia tertawa.
Hay Jiak Toojin lantas bertindak masuk ke dalam sebuah lingkaran di mana ia terus duduk bersila.
Ia menunjuk ke arah lingkaran yang lainnya dan kata.
"Mari!"
"Apakah mengadu bersamedhi?"
Kang Lam tanya.
"Bukan!"
Menyahut si pendeta.
"Kau boleh duduk sesukamu, hanya kita menyulut sebatang hio yang menjadi batas temponya, siapa yang keluar lebih dulu dari lingkarannya, dialah yang kalah."
Kang Lam menjadi heran, tetapi ia dapat berpikir.
"Biar aku tidak babaran, duduk selamanya sebarang hio rasanya aku masih sanggup."
Maka ia tanya.
"Kalau kita sama-sama dapat berduduk sampai habis sebatang hio, habis bagaimana?"
Ia teliti, ia masih menanya jelas dulu. Air mukanya Cek Ho Ciang muram "Kalau sampai hio menyala habis, buat apa disebut lagi?"
Sahutnya kaku.
"Apakah kau sangka aku mau main gila dengan menyurangi kau'' Sanggup duduk selama sebatang hio itu, pasti aku yang kalah'"
Kang Lam lantas saja bercokol.
"Begini duduknya?"
Ia menanya.
"Benar! Kita mengadu tenaga dalam, jadi ilmu lainnya tidak usah dieoba lagi."
Senang Kang Lam dengan kata-kata itu.
"Baik!"
Katanya.
"Toahwesio, kau jauh terlebih lemah lembut daripada yang lainnya. Baiklah aku si Kang Lam akan menemani kau duduk sekian lama!"
Lantas ia bersila meniru sikapnya pendeta itu.
Ketika itu sudah ada orang yang menyulut sebatang hio, yang ditaruh di atas meja.
Kang Lam duduk dengan pikirannya terbuka.
Terpisahnya kedua bundaran ada cukup jauh, dengan begitu, mereka berdua sama-sama merdeka.
Janjinya ialah cuma mereka tidak dapat keluar dari bundarannya masing-masing, la menganggap, piebu semacam itu ialah piebu enteng, gampang sekali.
Ia pula percaya, dengan begitu rahasia kepandaiannya sendiri tidak bakal terbeber.
Hanya setelah duduk diam sekian lama, ia merasakan ada tolakan angin ke arahnya, mulai perlahan lalu menjadi berat, bahkan lantas ia merasai dadanya sesak, bagaikan tangan si pendeta menekan keras dadanya.
Ia menjadi heran dan kaget.
"Apakah pendeta ini mengerti ilmu siluman?"
Ia menanya.
Cek Ho Ciang mengajak piebu macam begini pun disebabkan ia jeri terhadap si anak muda, bukan saja ia tidak berani mengadu senjata, ia malah tidak sudi tangan atau tubuh mereka saling tersentuh.
Artinya, supaya tubuhnya tidak dapat ditowel atau dilanggar anak muda itu.
Ia pula pikir, bocah itu belum lenyap bau susunya, walaupun dia benar liehay, tidak nanti tenaga dalamnya sudah mahir sekali hingga sanggup melawan tenaga dalamnya sendiri.
Demikian, begitu piebu dimulai, ia mengerahkan tenaga dalamnya di tangannya, dari situ ia salurkan keluar, ke lawannya itu.
Inilah saluran yang berdasarkan Pek-khong ciang, yaitu ilmu silat "Menyerang Udara Kosong".
Dengan serangan semacam ini ia dapat melukai orang di jarak tiga tombak tanpa ia menggerak!
tangannya.
Maka juga, selagi sekarang jarak mereka di dalam satu tombak, dengan lekas tenaganya itu tiba kepada si lawan.
Kang Lam berkuatir, selagi berkuatir itu ia ingat halnya dulu hari Tong Keng Thian menolongi ia dari gangguannya Hong Sek Toojin.
Dengan tenaga dalam dari Thiansan Pay, Keng Thian menolak sisa tenaga dalam sesat dari Hong Sek yang berada di tubuhnya.
Tenaga dalam Thiansan Pay itu memang mahir untuk menjaga diri, guna menangkis desakan dari luar.
Mengingat begini, lekas-lekas ia duduk tetap, pikirannya dipusatkan, napasnya dikasih jalan dengan beraturan.
Hanya sejenak, ia tak lagi merasai dorongan yang menyesakkan dada seperti tadi.
Cek Ho Ciang berduduk sekian lama, ia tidak merasakan ada desakan dari Kang Lam, adalah ia yang dapat menolak, hanya sesaat kemudian, tolakannya itu terasa terhalang, la menjadi heran.
"Ah, bocah ini benar-benar mempunyai kepandaian luar biasa,"
Pikirnya.
"Kalau begini, sungguh dia tidak dapat dipandang ringan..."
Maka ia memusatkan pula semangatnya.
Kang Lam mengerti ilmu samedhi Thiansan Pay, untuk mengerahkan tenaga dalam, akan tetapi ia tidak pernah melatih diri, dari itu, tidak dapat ia melawan pendeta di depannya itu.
la lantas tidak tetap duduknya.
Berulang-ulang ia tertolak tenaga tak terlihat, yang datangnya saling susul bagaikan gelombang saling mendampar.
"Celaka, celaka..."
Pikirnya.
"Kim Sie Ie, oh, Kim Sie Ie, mengapa kau masih belum muncul?..."
Selagi Kang Lam bingung Jbukan main, para hadirin tengah mengagumi padanya.
Hio telah terbakar hampir separuhnya, pertandingan masih berlangsung tenang tetapi tegang.
Tenang sebab bukankah kedua pihak perdiam saja?
Tegangsebab lewatnya sang waktu berarti pertempuran tenaga dalam itu berlangsung semakin dahsyat.
orang heran pemuda ini dapat bertahan terhadap pendeta itu yang berkenamaan.
Paling heran ialah Yo Liu Ceng, yang kenal baik si anak muda.
Sekarang nyonya ini berpikir.
"Aku tidak sangka bocah ini telah mendapat kemajuan begini rupa!"
Segera juga Yo Liu Ceng mendapat lihat perbedaan di antara kedua orang itu.
Sebagai ahli, ia bermata awas.
Kalau Cek Ho ieiang tetap duduk tidak bergeming, bajunya Kang Lam memain seperti ditiup angin musim semi.
Itu artinya, tenaga dalam si pendeta telah sampai kepada si anak muda.
Jadi ternyata, anak muda itu cuma dapat membela diri, tidak dapat dia membalas menyerang.
Itu pun berarti, lama-lama, si anak muda akan terancam bahaya.
Tadinya Nyonya Cee tidak puas terhadap bocah ini, yang ia cela banyak mulut dan usilan, tetapi sekarang, kesannya berubah.
Bukankah orang telah berpihak padanya dan telah membantu banyak?
Bukankah ternyata, bocah itu sangat polos, dan dalam polosnya terlihat hatinya yang putih bersih, nyalinya yang besar?
Pemuda ini nyatanya gagah dan mulia sifatnya.
Karena ini, ia menjadi berkuatir untuk keselamatannya si anak muda, ia lebihkan kekuatirari puterinya...
Chong Leng Siangjin berlaku aneh sekali.
Ia tetap masih membulak-balik itu tangan besi, yang dibilang tangan besinya Tang Thay Ceng.
Tidak ada orang yang memperhatikan dia sebab semua mata diarahkan kepada Cek Ho Ciang dan Kang Lam bergantian.
Adalah kemudian dengan tiba-tiba ia bertindak menghampirkan Yo Liu Ceng, untuk mengasih dengar suaranya yang seperti gerutuan.
"Tidak salah, tidak salah! Kematiannya Tang Thay Ceng benar terjadi di sungai es dan kematiannya tidak ada sangkut pautnya dengan lain orang siapa juga..."
Yo Liu Ceng heran, ia berbangkit.
"Taysu, apa katamu?"
Ia bertanya. Chong Leng menyerahkan tangan besi itu "Kau lihatlah itu beberapa liang kecil,"
Katanya seraya menunjuki.
"Aku telah berdiam lama di Tibet dan aku mengetahui, liang-liang seperti itu ada serangannya es. Tangan ini benar telah dipungut dari dalam sungai es. Menurut bukti ini, terang Tang Thay Ceng telah mati beku di dalam sungai es."
Yo Liu Ceng girang tidak kepalang. Tidak pernah ia mimpi bahwa pendeta asing ini, orang undangannya pihak sana, nanti berpihak pada pihaknya.
"Kalau begitu,"
Katanya cepat "bukankah perselisihanku dengan pihak Hay Jiak Taysu bisa diselesaikan dengan damai?"
Kata-kata ini dikasih dengar keras juga, sengaja diarahkan kepada Cek Ho Ciang, supaya Ho Ciang suka lantas menghentikan piebu-nya yang luar biasa itu dengan Kang Lam.
Akan tetapi Cek Ho Ciang berpikir lain, sebab ia berada lebih unggul, ia tinggal menanti runtuhnya lawan.
Ia mendengar tapi seperti tidak mendengar.
Ia lagi mengharapharap akan membikin Kang Lam roboh.
Kang Lam menjadi sangat cemas hati.
Ia telah merasakan tolakan keras hingga ia sukar bernapas.
Sekian lama ia masih dapat bertahan, kali ini ia rasanya gagal.
Maka ia ingin berlompat keluar kalangan, untuk menyerah kalah.
Justeru itu ia merasakan ketiaknya geli, mau tidak mau, ia menggeraki tangannya, atau berbareng dengan itu terdengar Cek Ho Ciang menjerit, disusul sama lompat mencelatnya tubuhnya setinggi satu tombak.
Menyusul itu, tenaga yang menolak tubuhnya Kang Lam lenyap seketika.
Ho Ciang sendiri, seturunnya tubuhnya, terus dia tertawa tidak berhentinya, tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti menari, lagaknya seperti orang gila.
Para hadirin menjadi sangat heran, semua mengawasi dengan menjublak.
Siapa yang mengerti ilmu totok, semua tahu Cek Ho Ciang telah kena tertotok urat gagunya, yang dinamakan jalan darah "siauwyauw hiat"
Atau "pinggang tertawa", hanya orang heran, ia tengah bersemedhi enak-enak dan di hadapan begitu banyak mata-siapakah yang telah menotok dia?
Benar Cek Ho Ciang berlompat setelah Kang Lam menggeraki tangannya, tetapi gerakan tangan itu tidak berupa serangan.
Atau mungkinkah Kang Lam mengerti "Pengkhong tiamhoat,"
Yaitu ilmu "Menotok udara"?
Tapi orang tahu benar, ilmu itu ada hanya di dalam cerita.
Dulu katanya cuma Tatmo Couwsu yang mengerti itu, kemudian hilang sebagai warisan.
Kang Lam masih berbau susu, mustahil dia pandai ilmu itu?
Cek Tat Sam kaget dan heran dan gusar berbareng.
Pamannya itu kena dikalahkan seperti ia, kalah dalam cara sangat tidak dapat dimengerti.
Ia lantas lompat pada pamannya itu, guna menotok membebaskan dari totokan yang luar biasa itu.
Ia mengerti ilmu totok.
Tapi kali ini kesudahannya lain.
Kena ditotok keponakannya, 'bukan ia tertolong dan menjadi bebas karenanya, Ho Ciang justeru tertawa makin menjadi, sampai dia mengeluarkan air mata, dan berjingkrakannya menjadi makin binal.
Tat Sam memeluk paman itu, untuk menghentikannya, tetapi dia kena ditampar hingga mukanya menjadi bengap, ketika si paman berontak, dia terlempar roboh hingga dia mesti bangun sambil merayap...
Sampai disitu, Kang Lam mengerti apa yang telah terjadi itu.
la percaya itulah pertolongannya Kim Sie Ie terhadapnya.
Maka tertawa haha-hihi, ia bertindak kepada Ho Ciang, sambil menunjuk, ia kata.
"Kau sudah lompat keluar lebih dulu dari bundaran, itu artinya kau kalah! Apakah kau masih tidak puas?"
Lagaknya Ho Ciang bagai orang edan akan tetapi sebenarnya dia sadar, pikirannya waras seperti biasa.
Beberapa kali sudah dia mencoba menutup diri, guna membebaskan diri dari totokan itu, dia tidak berhasil, maka tahulah dia bahwa dia telah tertotok secara istimewa Dia pun tahu, apabila dia tidak mendapat pertolongan, dia bisa tertawa dan berjingkrak terus hingga dia habis tenaganya, lalu roboh dan binasa.
Maka itu, dia lantas mengangguk pada pemuda lawannya itu.
"Kau suka menyerah kalah, aku suka mengasih ampun padamu,"
Berkata Kang Lam.
Selama itu ia tidak menghiraukan semua mata ditujukan ke arahnya.
Ia menjumput sebatang sumpit dari atas meja, ia bertindak ke belakang si pendeta untuk menotok belakang lehernya pendeta itu.
Cuma sekejab, berhentilah Ho Ciang tertawa, tidak lagi dia berjingkrakan, bahkan sekarang dia berdiri diam dengan napas mengorong, suatu tanda dia telah sangat letih.
Semua orang heran, semua berpikir.
"Ah, benar-benar bocah ini pandai ilmu totok Pengkhong Tiamhoat. Kalau begitu, siapa kena ditotok dia, tidak nanti ia ketolongan kecuali oleh dia sendiri!"
Selang sekian lama, napasnya Ho Ciang menjadi reda. Justeru itu ia menepuk meja keras sekali sambil berseru.
"Anak haram yang membokong aku, lekas kau keluar! Anak haram! Anak haram!"
Cacian itu hebat, lalu diulangkan, tapi sebab tidak ada yang memberikan penyahutan dan tidak juga ada yang muncul, dia menghampirkan para-para senjata untuk menyambar sebuah gembolan, setelah mana dia maju dua tindak kepada Kang Lam.
Melihat demikian, Cee Sek Kiu dan Teng Kian Goan serta beberapa orang lain, menjadi tidak senang, mereka lantas berlompat maju, untuk berdiri menghalang di depan si anak muda.
''Kau sudah menyerah kalah, apa kau masih hendak mengganas?"
Mereka tanya.
"Apakah kau tidak hendak menghormati lagi aturan kaum kangouw? Awas jikalau kau menurunkan tangan jahat!"
Di pihak Tat Sam pun ada yang berseru.
"Hay Jiak Taysu, jangan, jangan!"
Selagi orang sibuk itu, Cek Ho Ciang berseru nyaring, tangannya digeraki membikin gembolannya terbang, bukan untuk menyerang Kang Lam hanya membuatnya wuwungan tembus.
Ia merasa pasti, ia bukan tercurangkan Kang Lam, hanya ada lain orang, yang membokong padanya, bahwa ia bukan terserang totokan "Pengkhong tiamhiat"
Hanya terkena senjata rahasia yang halus, entah barang apa.
Karena ia menduga musuh gelap itu ada di atas wuwungan, maka ia menyerang ke wuwungan itu.
Dengan tembusnya wuwungan itu, genteng yang hancur pada meluruk turun.
Di antara itu ada serupa barang, yang jatuh ke tangannya Kang Lam.
Ketika ini anak muda memeriksanya, itulah sebuah peles perak tinggi lima dim.
Menyusul itu di atas genting itu terdengar seruan panjang dan nyaring, yang mendengung di tiap kuping orang.
Kang Lam terperanjat mendengar suara itu.
"Kim Sie Ie!"
Ia berseru.
"Kim Tayhiap!"
Lantas, tanpa mencari tahu lagi apa isinya peles itu, hendak ia lompat ke atas genteng untuk lari menyusul.
Tapi Cek Ho Ciang jauh terlebih sebat daripadanya.
Habis menimpuk sama gembolannya itu, dia ini segera berlompat, untuk naik, atau orang banyak lantas mendengar jeritan yang menyayatkan hati...
Itulah Ho Ciang yang menjerit itu, yang tubuhnya jatuh balik dari atas genteng di mana ia hendak molos dari liang buatannya itu sendiri, la seperti terkena hajaran barang keras pada kepalanya, kepalanya itu borboran darah, tubuhnya rebah di lantai.
Di dalam keadaan seperti itu, orang mendengar suara nyaring dari Chong Leng Siangjin.
"Tok-ciu Hongkay, apakah kau tidak niat bertemu muka sama aku?"
Kata-kata ini disusul sama bergeraknya tubuhnya untuk berlompat naik ke liang di wuwungan itu, hingga jubahnya yang merah berkelebat bagaikan bara.
Semua itu terjadi secara sangat cepat dan mengherankan, para hadirin menjadi pada tercengang tpapula setelah itu, Kang Lam pun berlompat naik untuk menyusul.
Sebelumnya berlompat dia telah fterkata.
"Kim Tayhiap, majikanku sangat memikirkan kau, juga aku Si Kang Lam, maka itu kau tunggulah aku!"
Itu waktu lantas terdengar suara bersenandung dari Kim Sie Ie.
Di antara manusia, hina menghina adalah lumrah.
Untuk apa manusia hidup terlalu lama?
Ku ingin memeluk bintang di ruang angkasa.
Membuatnya laut Tanghay aman sentosa.
Itu syair yang dulu hari, ketika Kim Sie le menghilang di pegunungan Himalaya, ia telah meninggalkannya, dan Kang Lam pernah mendengarnya tempo Thian Oe membacakannya di luar kepala sambil dilagukan.
Suara itu mulanya dekat, lalu terdengarnya jauh, mungkin di luar satu lie atau lebih.
Kang Lam tidak dapat mengubar terus.
Ia berdiri diam di atas wuwungan, matanya memandang jauh.
Malam itu rembulan terang, bintang-bintang pun menggen-clang, maka itu Kang Lam masih lihat suatu barang merah yang berlari-lariialah Chong Leng Siangjin dengan jubah merahnya.
Juga pendeta itu lantas lenyap, seperti lenyapnya Kim Sie Ie tadi.
Bukan main berdukanya anak muda ini.
Tidak dapat ia mencari Kim Sie Ie.
Tengah ia bersusah hati itu, di belakangnya, ia mendengar suara yang halus.
"Engko Kang Lam, syukur malam ini ada kau..."
Ia lantas menoleh, maka ia melihat Ciang Hee, yang naik ke genteng bersama ibunya.
Adalah si nona, yang memanggil ia, yang suaranya menyatakan syukurnya hatinya.
Semenjak tadi, Kang Lam sudah kegirangan bukan main.
Dengan pelbagai kemenangannya itu, ia pikir, sebentar ia bisa bicara banyak dengan si nona, maka apamau ia telah kehilangan Kim Sie Ie, hingga ia menjadi bungkam, tidak lagi ia menjadi si doyan bicara.
"Engko Kang Lam, kenapa kau diam saja?"
Tanya Ciang Hee tertawa. Yo Liu Ceng datang mendekati, untuk menepuk-nepuk pundak si anak muda.
"Anak, baru beberapa tahun aku tidak melihat kau, nyata kepandaian kau maju pesat sekali,"
Pujinya. Kang Lam mengasih lihat roman masgul. Meski ia doyan bicara, ia jujur.
"Ciang Hee,"
Katanya, perlahan.
"aku tidak mau mendustai kau, tadi aku bukannya menang dengan mengandalkan kepandaianku sendiri hanya diam-diam aku dibantu Kim Sie Ie."
Si nona tertawa.
"Kim Sie Ie si makhluk aneh membantui kau, itulah sungguh tidak disangka-sangka,"
Katanya.
"Biar bagaimana, sudah terang bahwa kepandaianmu telah maju jauh."
Senang juga Kang Lam dipuji nona itu. Tapi ia hendak membelai penolongnya.
"Bukan, Kim Sie Ie bukannya makhluk aneh,"
Katanya.
"Aku tahu betul, hatinya Kim Sie Ie sama seperti hatiku!"
Ciang Hee tertawa geli.
"Dia dan kau rupanya bersahabatan erat sekali!"
Katanya.
"Ya, tadi aku seperti melihat dia mengasihkan sesuatu kepadamu. Benarkah?"
Kang Lam lantas ingat itu peles perak, maka ia lantas mengeluarkan peles itu dari sakunya. Di dalam situ terlihat tiga butir obat pulung warna hijau.
"Ah, inilah Pekleng Tan dari Thiansan!"
Berseru Yo liu ceng, terperanjat saking heran.
"Inilah obat pemunah racun yang dibuat dari soatlian yaitu teratai salju. Obat ini bukan cuma dapat menghalaukan racun atau bisa tetapi juga dapat menambah kekuatan tenaga dalam. Mungkinkah Kim Sie Ie telah pergi ke Thiansan mencurinya? Dia mengasihkan tiga butir ini kepada kau, itu membuktikan persahabatan kamu berdua bukan main eratnya. Inilah yang dibilang jodoh, maka beruntunglah kau, anak muda!"
Kang Lam menjadi girang sekali.
"Benarkah ini Pekleng Tan?"
Ia menegasi.
"Mustahil aku mendustai kau"
Kata Yo liu ceng tertawa.
"Lekas kau makan itu! Tiga butir Pekleng Tan berarti tambahnya kepandaianmu selama tiga tahun!"
Kang Lam kegirangan hingga ia berjingkrakan.
"Kalau begitu, besok aku boleh tidak usah lekas-lekas melakukan perjalananku!"
Katanya, tertawa. Ciang Hee heran, ia mengawasi.
"Bikin perjalanan apa?"
Dia menanya.
"Ah, tentunya kau telah memikir, habis kau memberi bantuanmu lantas kau mau pergi pula! Sudah beberapa tahun kita tidak bertemu, apakah kau tidak berniat berdiam disini untuk dua hari saja?"
Kang Lam mengulur lidahnya, ia mainkan mukanya, hingga ia nampak Jenaka.
"Nyata hatimu lebih tak sabaran daripada aku!"
Katanya.
"Tanpa menanya jelas lagi, baru aku mengucap sepatah kata, kau lantas menyesali orang dan nyeruos seperti petasan renceng!"
Si nona pun memainkan mulutn ya.
"Baiklah!"
Katanya, agak penakaran.
"Sekarang aku tanya apa perlunya kau hendak lekas-lekas berangkat?"
"Aku mesti pergi ke Thiansan atau ke Nyenchin Dangla."
"Untuk apakah itu?"
"Aku mesti menemui Tong Ceng Thian guna meminta Thiansan soatlian."
Mendengar itu, Ciang Hee tertawa.
"Kau memikir enak saja!"
Bilangnya.
"Meskipun engko Tong orang baik sekali, tidak nanti gampang-gampang dia memberikan soatlian padamu. Sudah, sudahlah, lekas kau makan dulu Pekleng Tan ini! Inilah obat yang didapat tanpa dicari!"
"Tidak,"
Berkata Kang Lam.
"Obat ini aku hendak membawanya pulang, untuk diberikan enso-ku."
Ciang Hee heran, ia mengawasi.
"Enso?"
Katanya.
"Dari mana kau dapat enso?"
"Kau belum tahu,"
Menjawab si anak muda.
"Sekarang ini aku panggil toako kepada kongcu-ku, maka itu apakah isterinya toako bukannya enso-ku?"
"Ya, aku ingat sekarang! Bukankah kongcu-mu itu she Tan dan namanya Thian Oe?"
"Benar, benar! Kita telah mengangkat saudara. Dia menjadi toako, kakak, dan aku adik."
"Aku mengerti sekarang!"
Kata Ciang Hee.
"Kau hendak berbuat baik pada kakak angkatmu, karena mana, kau hendak berbuat baik juga kepada enso-mu itu. Sebenarnya, untuk itu tak usahlah sampai kau memberikan ini obat Pekleng Tan yang sangat sukar didapatnya."
"Kau tidak tahu, tidak dapat aku tidak memberikannya,"
Kang Lam memberi keterangan.
"Tanpa soatlian, enso-ku itu tidak bakal hidup lebih lama pula!"
Ciang Hee heran. Yo Liu Ceng pun hendak mendengar pembicaraan itu anakanak, yang makin lama menjadi makin tidak jelas, maka ia tertawa dan campur bicara.
"Hayo, Kang Lam, kau bicaralah biar jelas,"
Ia kata.
"Dan kau, anak Hee, jangan kau main tanya saja. Kita jangan potong pembicaraannya."
Kang Lam meluluskan permintaan Yo Liu Ceng, ia memberikan keterangannya, maka menjadi teranglah bagi Ciang Hee dan ibunya bahwa isterinya Thian Oe telah terkena panah beracun, karena mana Kang Lam mesti pergi mencari teratai salju dari Thiansan.
Ciang Hee menjadi mengasihani si nyonya serta mengagumi anak muda ini.
"Kalau begitu tidak apalah kau tidak hendak makan obat ini "
Berkata si nona kemudian.
"Mengenai ilmu silat, yang didapat dengan jalan latihan, aku mempunyai satu jalan. Ayahnya Tong Keng Thian, yaitu Tong Siauw Lan, dulunya murid kakek luarku, benar sekarang ini ilmu kepandaian kita kalah jauh dari kepandaian keluarga Tong itu, toh asalnya ialah sama, sama-sama dari golongan asli, maka umpama kata kau sudi mempelajarinya, aku bersedia mengajari kau dari bermula hingga di akhirnya."
Mendengar itu, Yo Liu Ceng, sang ibu, tertawa.
"Anak Hee, apakah kau tidak malu?"
Katanya.
"Sekarang ini Kang Lam jauh terlebih pandai daripada kau, maka cara bagaimana kau hendak menerima dia sebagai muridmu?"
Selagi si nyonya mengatakan demikian, Kang Lam sendiri sudah lantas menjura kepada si nona, dan memanggil.
"Suhu!"
Dan lalu menambahkan.
"Kekuranganku justeru pokok permulaannya, maka kalau kau mengajarinya dari bermula, itulah paling bagus!"
Meskipun ia mengatakan demikian, Ciang Hee toh menyingkirkan diri dari pemberian hormatnya Kang Lam, dan di antara sinar rembulan, kelihatan mukanya bersemu dadu.
Justeru itu Cee Sek Kiu muncul di paseban dan sambil mengangkat kepala berkata.
"Kamu membuat apa masih berdiam saja di atas? Lekas turun, kita harus mengantarkan tetamu!"
Yo Liu Ceng menyahuti, lalu sambil tertawa ia kata kepada si anak muda.
"Kang Lam, barusan kau telah menunjuki kegagahanmu, mereka itu tentulah ingin bertemu denganmu, maka mari aku ajar kau kenal dengan mereka!"
Tapi Kang Lam menampik.
"Tidak, aku tidak mau turun,"
Katanya. Heran Yo Liu Ceng.
"Apa? Apakah kau malu?"
Tanyanya.
"Bukan, bukan begitu,"
Menyahut Kang Lam.
"Aku menang tetapi itu bukan kemenanganku, sebentar orang puji-puji padaku, habis dimana aku mesti taruh mukaku? Apakah kupingku tidak bakal menjadi merah? Maka itu, aku tidak mau turun."
"Sudahlah, jangan bawa adat anak kecil!"
Yo Liu Ceng membujuk.
"Tidak, aku tidak mau,"
Kang Lam membelar.
"Aku mau cari Kim Sie Ie. Sedikitnya aku harus menemui dia."
"Dia mirip hantu, datang dan perginya tidak ketahuan, kemana kau hendak mencari dia?"
"Kau tidak tahu tabiatnya Kim Sie Ie. Kalau dia tahu aku bersungguh-sungguh mencari dia, ada kemungkinan diamdiam dia menguntit aku dan akan menepuk pundakku membuat aku kaget, akan akhirnya mentertawai aku!"
"Bagus!"
Kata Ciang Hee, yang turut tertawa.
"Kau bicara menarik sekali! Baiklah, aku pun akan turut padamu, untuk mencari dia. Aku rhau lihat si pengemis aneh yang ditakuti setiap orang, yang setiap \3rang mencacinya, tetapi kau Mendiri, kau menghormati dan memujinya!"
Yo Liu Ceng menggeleng kepala.
"Anak-anak, kamu binal sekali!"
Katanya, kewalahan.
"Kamu mirip aku di waktu aku kecil. Baiklah, kamu boleh pergi. Sekarang ini hampir fajar, kalau kampai terang tanah kamu tidak berhasil, kamu mesti lekas-lekas pulang!"
Kang Lam bicara dengan kepastian, sebenarnya di dalam hatinya, ia ragu-ragu.
la pergi bersama Ciang Hee.
Dari rumah belakang, mereka mendaki bukit, nerobos di antara rimba.
Berulang kali ia memanggil-manggil dengan suara keras.
Tidak pernah ia memperoleh jawaban, Kim Sie le tidak muncul di hadapannya, la menjadi masgul.
"Baiklah kau simpan tenagamu,"
Kata Ciang Hee tertawa.
"Kim Sie te sudah pergi jauh, dia tidak mendengar suaramu ini."
"Siapa tahu sekarang dia lagi ^nengikuti di belakang kita?"
Kata Kang Lam, yang masih penasaran.
"Dia dapat mendengar suaraku."
"Jikalau dia mengikuti di belakangmu, tanpa kau memanggil, dia pasti akan mendapat tahu,"
Berkata si nona bersenyum. Kang Lam sudah berteriak-teriak hingga suaranya parau, ia menganggap si nona benar juga, seterusnya ia tidak memanggil-manggil lagi, tetapi di dalam hatinya ia berpikir.
"Apakah benar-benar Kim Sie Ie sudah pergi jauh hingga ia tidak mendapat dengar panggilanku?"
Kim Sie Ie belum pergi terlalu jauh tetapi benar juga, ia tidak mendengar suaranya si anak muda.
Ketika itu ia berada di puncak tertinggi dari bukit di telaga Tongpeng Ouw, suaranya Kang Lam tidak sampai di sana sebab si anak muda belum mahir tenaga dalamnya.
Sebaliknya, suaranya Kim Sie Ie bisa sampai ke tempat beradanya Kang Lam, hanya sayang, disebabkan tiupan angin.
Kang Lam tidak mendengarnya.
*** Puas Kim Sie Ie telah membantui Kang Lam, dengan jalan apa ia permainkan Cek Ho Ciang semua, tetapi yang paling membuatnya puas ialah ia telah memberikan tiga butir Pekleng Tan kepada si bocah.
Itulah obat yang dulu hari Tong Keng Thian dengan perantaraan Pengcoan Thianlie memberikannya kepadanya dengan diam-diam.
Selama beberapa tahun ini, ingin ia mengembalikan itu pada Keng Thian, tetapi sebab ia takut menemui Pengcoan Thianlie, tidak dapat ia menyerahkannya sendiri.
Ia takut menemui Pengcoan Thianlie sebab si nona adalah nona yang sifatnya ia kenal paling baik, sebagaimana si nona pun mengenal dia sendiri, tetapi nona itu telah menikah sama Tong Keng Thian.
Ia memberikan Pekleng Tan pada Kang Lam karena ia ketahui Kang Lam hendak pergi ke Thiansan untuk mendapatkan soatlian, teratai salju, guna menolongi isterinya Tan Thian Oe.
Di dalam hatinya, ia kata.
"Aku telah menggunai obatmu untuk menolongi sahabatmu! Haha, Tong Keng Thian, Tong Keng Thian, dengan begini aku menjadi tidak menerima budimu!"
Masih ada lagi hal yang membuatnya Kim Sie Ie sangat puas.
Ialah ia telah membuat Kang Lam mendapat nama besar, hingga Kang Lam berhasil merampas hatinya Ciang Hee.
Hanya di samping itu, kalau ia mengingat nasibnya sendiri, ia menjadi masgul...
Tong Keng Thian mempunyai Pengcoan Thianlie yang gagah dan cantik, Tan Thian Oe mempunyai Yu Peng yang gagah dan manis, dan sekarang Kang Lam mendapatkan Cee Ciang Hee yang cantik dan cerdas.
Ia sendiri!
Ia masih sebatang kara, mundar-mandir secara tunggal, sia-sia mencari di antara lautan manusia seorang yang dapat mengenal dirinya sebagaimana Pengcoan Thianlie mengenalnya.
Pernah satu kali bayangannya Lie Kim Bwee berkelebat di depan matanya, la tahu, Lie Kim Bwee lagi mencari padanya.
Tapi Lie Kim Bwee itu ia pandang seperti mega yang terbang lewat, sedang dirinya sendiri ia umpamakan sebagai lautan besar yang bergelombang dahsyat.
Bukankah ia menjadi besar di sebuah pulau yang di sekitarnya hanya laut tanpa ujungnya?
Bukankah mega dan laut cuma bertemu dalam pandangan saja di muka lautan?
Bukankah yang satu di atas, yang lain di bawah?
Mega itu nampaknya bergerak tetapi sebenarnya diam.
Dan laut?
Laut itu kelihatannya diam tetapi sebenarnya, di dalam, goncang terus.
Mega tenang tetapi laut kacau!
Mega dapat mendengar suara laut, tetapi, mana dia mengerti rahasianya sang laut itu?
Lie Kim Bwee menjadi dewasa di bawah asuhan sangat menyayang dari kedua orang tuanya, dia belum mengenal sifat busuk dari dunia, dia belum pernah merasai kegetiran penghidupan.
Dialah nona yang baru saja mulai merasakan asmara.
Tapi Kim Sie Ie?
Benar Kim Sie Ie lebih tua hanya lima atau ?enam tahun tetapi pengalamannya hebat.
Dia merasakan Lie Kim Bwee memperhatikan dirinya, dia bersyukur, karenanya, dia menjadi menyayangi si nona.
Tapi dia mau menyingkir dari nona itu.
Dia ingin hidup terus dalam dunia kangouw, supaya menjadi gelombang laut yang berombak tak hentinya.
Dia merasa berdosa kalau dia membiarkan Lie Kim Bwee menemani dia untuk seumur hidupnya.
^ Kim Sie Ie berdiri diam di atas puncak hingga fajar mulai me-inyingsing, hingga ia menyaksikan Sang awan seperti mengurung bukit, la kagum hingga tanpa merasa ia bersiul keras.
Awan di atasan kepalanya seperti kaget mendengar siulannya itu, awan itu lantas mulai buyar, segumpal dengan segumpal...
Kapan segala apa sudah nampak nyata, maka di sana terlihatlah sesuatu yang merah, yang berkibar-kibar bagaikan bayangan.
Itulah Rubah merah dari Chong Leng Siangjin, si pendeta dari Tibet, yang berlalu dari medan pestanya "Cee Sek Kiu karena dia hendak menyusul Tokciu Hongkay.
Lalu, sekejab kemudian, pendeta itu telah tiba di hadapannya.
Dengan sekonyong-konyong Kim Sie Ie tertawa lebar.
Chong Leng Siangjin mengibas tangan jubahnya, ia pun tertawa nyaring di depan si penderita kusta atau pengemis edan yang tangan beracun itu.
"Kenapa kau tertawa?"
Kim Sie Ie menanya.
"Kau sendiri, kenapa kau tertawa?"
Balik tanya si pendeta.
"Aku tertawa sebab tadi kau tidak berani menempur aku!"
Menjawab Kim Sie Ie.
"Sekarang kau justeru menyusul aku? Apakah itu karena kau takut nanti roboh di depannya orang banyak?"
"Aku tertawa sebab kau terancam bahaya besar tetapi kau masih tidak mengetahuinya!"
Berkata si pendeta "Aku tahu kau adalah jago nomor satu dari partai Biteong Pay di Tibet, tidak tahunya kau pandai meramalkan juga!"
Kim Sie Ie bersenyum.
"Tentang nasibmu tidak usahlah diramalkan lagi!"
Berkata si pendeta.
"Kau telah ditakdirkan mesti terbinasa! Siapa suruh di dalam dirimu ada tersimpan kitab warisannya Tokliong Cuncia? Satu kali kau muncul maka aku kuatir nanti ada hantu jahat yang mengintilimu untuk merampas rohmu!"
Kim Sie Ie tertawa dingin.
"Jadinya kau mengejar-ngejar rohku dan hendak merampas jiwaku?"
Tanya dia.
"Bagus! Bagus sekali! Memangnya aku sudah bosan hidup! Kalau kau benar menghendakinya, tidak ada halangannya. Nah, kau cobalah rampas!"
"Aku bukannya si hantu jahat!"
Berkata Chong Leng Siangjin.
"Akulah orang yang suka menolongi kau lolos dari ancaman bahaya itu. Bukan saja aku akan membikin kau bebas dan menjadi mendapat keselamatan, malah aku bakal membikin kau menjadi juga tertua dari suatu partai persilatan yang baru, ialah satu guru silat yang sejak dulu hingga sekarang ini tak ada yang dapat melebihkannya! Maka kau selamat atau menampak bencana terserah kepada kau sendiri!"
Kim Sie Ie menduga orang hendak bicara dari suatu hal, tidak tahunya dari hal begini.
Mengenai ini, ia dapat menebak separuh, yang separuhnya lagi gelap seluruhnya.
Ia memang mengetahui selama beberapa tahun ini ada beberapa yang dianggap "hantu"
Yang sangat liehay, dari kalangan sesat, yang secara diam-diam lagi mencari padanya.
Ia sendiri ada dari kalangan sesat itu, tetapi ia dapat membawa dirinya.
Sebab sesat atau tidak, apabila orang keliru dan kejam, ia susah lolos dari bahaya.
Hanya si sesat lebih gampang salah bertindak.
Di dalam halnya latihan lweekang, atau tenaga dalam, demikian juga, gampang orang tersesat.
Demikian sudah terjadi dengannya, hanya kebetulan sekali, selagi ia menjadi korbannya kesesatan,-tengah ia rebah pingsan di kaki Puncak Mutiara-Tong Siauw Lan telah menolongi ia dengan bantuan tenaga dalam dari Thiansan serta lima butir Pekleng Tan.
Hanya, setelah ia sadar, meski ia tahu Siauw Lan telah menolongnya, ia tidak ketahui bahwa ia telah dikasih makan obat.
Selagi ia tidak mengetahui, ia telah masuk ke jalan yang benar, ia merasa bahwa kemajuannya terus bertambah.
Hal ini pun membuatnya heran.
Musuh-musuh gelap dari Kim Sie Ie ini tidak mengetahui perubahan sudah terjadi atas dirinya Kim Sie le, mereka cuma tahu Kim Sie le ada menyimpan kitab warisannya Tokliong Cuncia, kitab "Tokliong Pitkip", di dalam mana katanya ada pelajaran guna menyingkirkan akibat yang membahayakan dari latihan sesat itu, maka mereka ingin mendapatkannya guna menolong diri mereka sendiri.
Mereka jerih untuk itu kepercayaan bahwa tenaga dalam yang sesat bisa membinasakan atau sedikitnya membuat mereka bercacad seumur hidup.
Mereka tidak tahu bahwa Tokliong Cuncia sendiri justeru terbinasa karena latihannya yang sesat itu.
Di dalam kitab warisan itu ada termuat pelbagai ilmu silat yang liehay tetapi tidak ada tentang cara pembebasan akibat jahat itu.
Kim Sie Ie menyangka Chong Leng Siangjin sebagai salah satu hantu jahat yang hendak merampas jiwanya, sekarang pendeta itu mengatakan justeru hendak 'membantu melindungi dia, untuk sekalian mengangkatnya menjadi rguru besar dari suatu partai, maka mau atau tidak ia menjadi heran.
Inilah yang membuatnya tidak mengerti.
"Kau tidak percaya?"
Berkata Chong Leng mengawasi orang.
"Mari aku tanya kau. Sejak dulu hingga sekarang ini, di dalam kalangan yang tidak asli, siapakah yang ilmu silatnya paling liehay?"
Kim Sie Ie tidak menjawab, hanya ia tertawa berkakak.
"Aku tahu kenapa kau tertawa?"
Berkata Chong Leng.
"Apa kau menyangka aku hendak menyebutkan Tokliong Cuncia, gurumu itu? Kalau benar, maka tak usahlah kau dibantu pula olehku!"
"Hm!"
Kim Sie Ie mengejek, terus ia tertawa.
"Kalau bukan guruku, siapakah lagi?"
"Biarnya gurumu liehay, paling banyak dia cuma dapat membebaskan diri dari latihan sesat untuk dapat menolong menyelamatkan dirinya,"
Berkata Chong Leng.
"Apakah kau kira dia dapat menggabung pelajaran sesat dan sejati itu, supaya didapatkan kepandaian tergabung itu yang melebihkan liehaynya pelajaran sejati?"
"Kalau pelajaran itu berhasil didapatkan, itu artinya kepandaian istimewa yang dapat menindih siapa pun di jaman dulu dan di jaman sekarang ini!"
Kata Kim Sie Ie.
"Benar! Maka aku memikir untuk membikin kau menjadi guru demikian macam itu!"
Kata Chong Leng.
"Aku kenal seorang dengan kepandaian seperti itu, maka apakah kau suka turut aku pergi kepadanya guna mengangkat dia menjadi gurumu?"
Kim Sie Ie tertawa dingin.
"Kau baiklah membuat perjanjian denganku, perjanjian mengadu kepandaian,"
Katanya.
"Jikalau dia sanggup melayani tongkatku sampai tiga ratus jurus, baru aku suka mengangkat dia menjadi guruku!"
"Kau memikir untuk bertempur tiga ratus jurus dengannya?"
Tanya Chong Leng, yang tertawa.
"Sayang dia telah menutup mata pada tiga ratus tahun yang lampau!"
"Dari Tibet yang jauhnya laksa-an lie itu kau datang kemari hanya untuk berguyon cara begini?"
Ia menegur.
"Bukan, inilah bukan guyon!"
Menyangkal si pendeta.
"Kau pernah mendengar namanya Kiauw Pak Beng atau tidak? Dialah orang jaman tahun Senghoa dari ahala Beng, dialah pemimpin dari golongan sesat di itu waktu. Ketika itu sekalipun Hok Thian Touw, gurunya Hui Beng Siansu, leluhur dari Thiansan Pay, pernah roboh di tangannya. Tentang dia itu, perihal sepak terjangnya yang aneh-aneh, meski sudah berselang ratusan tahun, sampai sekarang masih ada ceritaannya." 'Ketika itu dia bersateru sama murid-muridnya Tayhiap Thio Tan Hong,"
Berkata Kim Sie Ie.
"dia telah menimbulkan gelombang dahsyat hingga dia membangkitkan amarahnya pelbagai partai persilatan, tetapi akhirnya dia terbinasa di ujung pedang Thio Tan Hong! Hok Thian Touw ialah penciptadari ilmu pedang Thiansan Pay, sampai kepada Hui Beng Siansu barulah partai itu berdiri secara resmi, inilah semua orang tahu. Tentang ilmu silatnya Kiauw Pek Beng, sudah lama itu lenyap dari dunia, maka itu, benarkah kau menghendaki aku berguru kepada satu orang mampus? Bicara terus terang, walaupun Kiauw Pek Beng hidup pula, aku tidak sudi menyerah kepadanya!"
"Kau cuma tahu satu, tidak tahu dua!"
Kata pula Chong Leng, berkukuh.
"Kiauw Pak Beng tidak terbinasa di ujung pedangnya Thio Tan Hong, dia cuma terluka parah, setelah itu dia pergi menyingkir ke sebuah pulau di Tanghay, laut Timur. Tidak perduli kau tunduk kepadanya atau tidak, dia tetap orang pandai yang telah menggabungkan dua kalangan sesat dan sejati, maka itu dia itu, untuk kau dan untuk aku,-ialah orangorang kalangan sesat-sungguh besar faedahnya."
Karena disebut-sebutnya kalangan sesat itu, hati Kim Sie Ie tergerak juga.
"Cara bagaimana kau ketahui dia kemudian kabur ke pulau yang kau sebutkan itu?"
Ia tanya.
"Mengenai kejadian tiga ratus tahun yang telah berselang itu, bagaimana caranya maka kau dapat mendapat tahu sejelas begini?"
"Kemudian,"
Kata Chong Leng, menerangkan.
"ada seorang saudagar yang biasa berlayar, perahunya telah menemui badai lautan, perahunya itu terhanyut hingga di pulau itu. Ketika itu Kiauw Pak Beng telah berusia lebih daripada seratus tahun, ia mengetahui yang hari kematiannya sudah tak jauh lagi, maka ia telah membuatnya sebuah peti mati dengan kayu yang tebal yang dalamnya ia perlengkapi dengan barang-barang wewangian pilihan. Ia ingin kalau nanti ia menutup mata, dengan bantuannya bahan wewangian itu, tubuh kasarnya tidak sampai menjadi rusak. Kenapakah ia demikian menyayangi tubuh kasarnya yang bau itu?"
"Dia telah berdiam terlalu lama di pulau kosong itu, keinginannya untuk pulang ke kampung halamannya jadi sangat keras,"
Sahut Kim Sie Ie, yang menjawabnya demikian karena ia mengenal baik Kekali sifat gurunya, yaitu Tokliong Kjuncia. Gurunya itu bertabiat atau bersifat mirip dengan sifatnya Kiauw Pak Beng itu.
"Tidak salah,"
Chong Leng membenarkan.
"Di masa hidupnya ia tidak bisa pulang ke Tionggoan, i ia mengharap sesudahnya ia mati nanti ada orang yang mengangkutnya pulang. Itu waktu ia sudah berhasil menggabungkan ilmu silat Bari kedua golongan sejati dan pesat, hingga ia percaya ia tidak bakal mendapat tandingan lagi baik Idahulu mau pun sekarang. Ia hanya menyesal yang ia tidak mempunyai ahli waris, yang dapat mewariskan ilmu kepandaiannya itu. Ia telah berusia tinggi dan merasakan tubuhnya lemah, hingga ia tidak 'berdaya lagi untuk mencoba mengarungi lautan guna kembali ke kampung halamannya. Maka ia telah mengeluarkan kata-kata. siapa dapat membawa pulang jenazahnya, dialah muridnya, yang akan mendapatkan kepandaiannya itu. Maka sayang, si saudagar adalah seorang dagang, dia tidak kenal ilmu silat, bahkan dia tidak ada minatnya. Saudagar itu tinggal bersama Kiauw Pak Beng lamanya tiga bulan, dari itu banyak ia mendengar hal dunia persilatan, tentang orang kosennya, tentang ilmu silat berikut perbedaan di antara golongan sesat dan sejati. 'Dengan golongan sejati dimaksudkan kaum yang benar. Kiauw Pak Beng telah menjelaskan kepadanya bahwa ia telah berhasil memecahkan kesulitan pihak sesat itu. Di dalam keadaannya itu, si saudagar toh mendengari ceritanya Kiauw Pak Beng, hingga banyak juga yang dia ingat. Demikian apa yang aku tuturkan ini. Dia hanya tidak mengerti faedahnya ilmu silat itu."
Kim Sie le ketarik juga mendengar penjelasan Chong Leng Siangjin ini, sedang pada gerak-gerik orang, ia tidak melihat apa-apa yang dapat dicurigai.
Jadi, maulah ia percaya pendeta ini tidak hanya ngoceh belaka.
"Kemudian bagaimana dengan si saudagar?"
Tanya ia, separuh percaya separuh tidak.
"Kiauw Pak Beng membantui dia membuat getek kayu,"
Chong Leng menjawab.
"Di tahun kedua di musim semi, selagi udara bagus dan angin baik, dia berlayar pulang dengan naik geteknya itu."
Kim Sie Ie tertawa dingin.
"Dongengmu ini dikarang bagus sekali, hanya sayang ada bagiannya yang bocor!"
Katanya.
"Bagian yang manakah itu?"
Chong Leng tanya.
"Saudagar itu berlayar pulang,"
Kata Kim Sie Ie.
"jikalau dia karam di tengah jalan maka kitab warisannya itu mestinya terpendam di dasar laut, terpendam untuk selama-lamanya, atau apabila dia beruntung dan dapat pulang dengan selamat, aku percaya segera akan ada orang Rimba Persilatan yang mengetahui ia mempunyai kitab wasiat itu. Ketika itu, jarak waktu dengan lenyapnya Kiauw Pak Beng baru saja beberapa tahun, ada kemungkinan dia membocorkan rahasianya. Maka aneh, kenapa sampai dua ratus tahun kemudian, masih belum ada orang yang mengetahuinya?"
"Pertanyaan kau ini masuk di akal,"
Chong Leng bilang.
Baca Juga: Pendekar Cacad 7
Baca Juga: Lembah Nirmala 13