Perjodohan Busur Kumala 2

Eps 2 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.

"Hanyalah si saudagar yang berlayar itu pada akhirnya dia tidak dapat pulang ke negerinya. Dia telah terbawa hanyut hingga ke teluk Persia, dia lantas tinggal menetap di negara asing itu, menikah dan memperoleh anak, hingga turunannya dengan sendirinya menjadi orang Persia, tidak lagi ada yang pulang negeri."

"Jikalau demikian adanya, cara bagaimana kau dapat mengetahuinya?"

"Pada tiga puluh tahun yang lalu aku telah mendapat undangan dari raja Nepal untuk berkunjung ke negerinya itu. Di sana hendak diadakan suatu rapat besar kaum Budhist. Di dalam rapat aku berkenalan sama seorang jago bangsa Persia, maka itu sebubarnya rapat itu, aku pulang dengan berjalan bersama-sama orang Persia itu, kita ambil jalan melewati Afghanistan sampai di Persia. Disini terjadi suatu hal yang kebetulan, ialah aku bertemu sama turunan si saudagar. Keluarga itu telah lupa bahasa Tionghoa dan satu huruf Tionghoa pun mereka tidak kenal lagi."

"Dia melupakan bahasa Tionghoa tetapi toh dia masih ingat bahwa dialah keturunan Tionghoa!"

Kata Kim Sie le.

"Dan dia masih ingat bahwa leluhurnya adalah seorang saudagar Tionghoa, yang pernah kesasar ke pulau kosong itu dimana si leluhur bertemu sama Kiauw Pak Beng?"

"Duduknya hal ialah si saudagar mempunyai sebuah buku catatan tentang pelayarannya dan pengalamannya di pulau kosong itu ia telah catat dengan jelas. Ketika turunan itu mengetahui aku berasal dari Tiongkok, dia girang bukan kepalang."

"Karena itu dia lantas menuturkan bahwa dialah keturunan Tionghoa dan dia telah perlihatkan kepada kau buku catatan harian leluhurnya itu?"

"Dugaan kau ini tepat sekali. Demikian memang kejadiannya. Maka sekarang kau tentulah percaya aku, bukan?"

Kata Chong Leng.

"Kalau aku percaya kau, habis bagaimana?"

Kim Sie Ie balik bertanya.

"Kiauw Pak Beng itu telah meninggalkan pesannya, siapa dapat mengambil pulang jenazahnya, dialah muridnya yang sah, ,murid dari berlainan jaman. Karena pesannya itu, dapat dipercaya bahwa kitab warisannya tentang ilmu silat mestinya ia telah simpan bersama di dalam peti matinya itu. Jikalau tidak sesudah dia mati, .entah untuk berapa tahun, kenapa dia masih dapat mempunyai murid?"

Kim Sie Ie tertawa dingin pula.

"Kau telah mendapat tahu rahasia ini, mengapa kau tidak pergi sendiri ke pulau itu?"

Ia tanya.

"Kenapa kau mengajak aku untuk kkita memperolehnya bersama? Di antara kita sebenarnya ada persahabatan apa?"

"Ada tiga sebabnya kenapa aku ingin bekerja sama dengan kau,"

Chong Leng memberikan jawabannya. Ia seperti tidak menghijaukan ejekan orang.

"Pertama-tama ialah aku tidak bisa berlayar, 'kau sebaliknya menjadi besar di Coato, Pulau Ular. Nomor dua, kau sendiri ketahui baik yang ilmu silatku bukanlah dari kalangan sejati, sedang sekarang ini aku telah mulai melihat tanda-tandanya, maka mungkin kejadian, di dalam tiga tahun ini, sembarang waktu aku bisa tersesat, aku bisa mendapat bahaya. Kau sendiri, kau telah dapat menyingkir dari bahaya kese-satan itu. Aku menduga di dalam wasiat peninggalan gurumu mungkin ada rahasia pelajaran untuk menyelamatkan diri itu. Tentu sekali aku tidak berani minta pinjam kitabmu itu, hingga aku cuma dapat mengharap kau sudi memberi petunjuk agar akupun dapat membebaskan diri. Aku mempunyai kepercayaan, sebelum aku mendapatkan peti matinya Kiauw Pak Beng itu tubuhku sendiri akan mendahului masuk ke dalam peti mati..."

"Kenapa kau tahu guruku telah meninggalkan kitab kepadaku?"

"Untuk tidak mendusta, sebenarnya aku mengetahuinya dari Tang Thay Ceng semasa Thay Ceng masih hidup."

Kim Sie Ie tertawa, ia bagaikan orang sadar.

"Aku mengerti sekarang!"

Katanya.

"Namanya kau datang untuk membantu Cek Ho Ciang, sebenarnya kau bermaksud mencari kepastian tentang mati atau hidupnya Tang Thay Ceng."

"Jikalau tidak untuk itu, mustahil aku kesudian benterok sama Yo Liu Ceng seorang wanita?"

Menjawab si pendeta terus terang.

"Di masa hidupnya itu Tang Thay Ceng telah omong padaku bahwa dia pernah pergi ke Pulau Ular dimana dia telah mendapatkan se

Jilid kitab warisan gurumu, kitab mana kemudian dia telah serahkan padamu.

Menurut dia, kitab Tokliong Pitkip adalah kitab tentang ilmu silat ciptaan gurumu, sedang kitab warisan yang didapatkan dia, yang dia serahkan padamu, ada untuk melawan bahaya kesesatan yang bisa mencelakai diri sendiri."

Diam-diam Kim Sie Ie tertawa di dalam hatinya.

Kitab yang didapatkan Tang Thay Ceng itu, yang disebutkan Chong Leng Siangjin ini, adalah catatan hari-hari dalam mana yang paling penting ialah catatan cara untuk menghindarkan meletusnya gunung berapi di pulau Coato itu.

Gurunya menduga, kira-kira sepuluh tahun sepeninggalnya, gunung berapi itu bakal meledak.

Jadi kitab, atau buku itu, tidak membicarakan soal ilmu silat.

Lagi pula, buku itu bukannya Tang Thay Ceng sendiri yang menyerahkan kepadanya hanya buku dirampas dari tangannya Thay Ceng oleh Phang Lim, kemudian Phang Lim menyerahkannya pada Tong Siauw Lan, baru oleh Siauw Lan, ketika secara kebetulan dia menemui ia di gunung Himalaya, buku itu dikembalikan kepadanya.

Rupanya Tang Thay Ceng mendusta melulu dengan maksud mengabui banyak jago dari golongan sesat untuk memusuhkan padanya.

Tapi tentang ini, ia tidak mau beber pada Chong Leng Siangjin.

Dengan dingin, ia berkata.

"Jadi beginilah maksudmu! Coba Tang Thay Ceng masih belum mati, kau tentunya mencari Thay Ceng untuk bekerja sama dengannya!"

"Bukan!"

Chong Leng menyangkal, sedang lagaknya likat.

"Aku melulu hendak mencari kepastian."

La berdiam pula, baru ia meneruskan.

"Kim Sie Ie, kau jangan banyak curiga! Sekarang kita bagaikan menjual beli, untuk kedua pihak samasama ada kebaikannya! Kau membantu aku memecahkan pelajaranku yang sesat, supaya aku bebas dari ancaman bahaya, aku membantu kau mencari dan membongkar peti matinya Kiauw Pak Beng itu Dengan begini siapa tahu di belakang hari kau bakal menjadi guru silat yang terbesar tanpa tandingan!"

Kim Sie Ie tertawa lebar.

"Aku menghaturkan terima kasih banyak untuk kebaikan hatimu ini!"

Katanya.

"Dengan begitu, apa yang aku akan peroleh pasti bakal jauh terlebih banyak!"

"Kenapa tidak?"

Kata Chong Leng.

"Kau baru menyebutkan dua alasanmu. Yang satu lagi?"

"Kau bersama aku bekerja sama, dengan begitu di kolong langit ini siapa yang dapat melawan kami? Inilah sebab yang ketiga mengapa aku mengajak kau menggabungkan diri denganku."

"Jadinya kau takut ada orang yang mengetahui sepak terjangmu ini, jadi kau menghendaki aku sebagai pembantumu!"

"Kau jangan lupa, sekarang ini ada beberapa iblis lagi mencari kau. Maka soalnya ialah, kau memerlukan aku sebagai pembantumu ada terlebih penting daripada kau menjadi pembantuku!"

Kim Sie le tertawa terbahak-bahak "Eh, bilanglah, kau mupakat atau tidak?"

Chong Leng mendesak.

"Kau mau berbuat baik padaku, cara bagaimana bisa aku tidak setuju?"

Jawab Kim Sie Ie.

"Sekarang juga aku menolong kau mengusir bencana kesesatan yang mengancam dirimu!"

Chong Leng mau percaya perkataan orang, ia menjadi girang.

"Apakah ada rahasianya untuk itu?"

Ia tanya.

"Tidak usah! Nah, kau mendekamlah!"

"Untuk apakah itu?"

"Aku hendak merangket kau tiga kali."

Pendeta itu melengak, lalu mendadak ia menjadi gusar.."Chong Leng Siangjin, jangan kau curiga!"

Kim Sie le berkata sebelum orang membuka bacot guna mengumbar hawa amarahnya.

"Kau belum menginsyafi liehaynya Wmu silat guruku. Tiga rangketan Bari aku ini akan membuatnya jalan Marahmu tersalurkan benar-benar, hingga hawa jahat, yang sekarang mengeram dalam dirimu, yang mengeramnya secara bertentangan, akan bubar semuanya!"

Chong Leng ragu-ragu.

"Apakah kau bukan lagi guyon?"

Ia menegaskan.

"Jikalau kau tidak percaya, sudahlah"

Pendeta itu kalah desak.

"Baiklah!"

Katanya, dan ia mendekam di batu, untuk membiarkan kempolannya dirangket.

Kim Sie le tidak sungkan-sungkan lagi, tiga kali ia mengasih tongkatnya naik dan turun, maka tiga kali pendeta itu merasai rangketan hingga terdengar suaranya yang nyaring.

Habis itu ia tertawa berkakakan dan kata dengan nyaring.

"Memang benar-benar aku lagi guyon denganmu!"

Bukan main gusarnya Chong Leng hingga dadanya mau meledak.

Dia berlompat bangun, tangannya segera mengeluarkan sepasang tongpoat, atau cecer kuningan, ketika ia menepuk beradu senjatanya yang luar biasa itu, suaranya nyaring menulikan telinga, habis mana, ia menyambar ke arah orang yang dianggap sudah mempermainkan dirinya.

Kim Sie le berlompat berkelit.

"Eh, apakah kau tidak jadi bekerja sama denganku?"

Ia menegaskan.

"Kau gila!"

Mendamprat Chong Leng dalam murkanya.

"Aku berlaku baik seperti boddhisatwa, tetapi kau permainkan aku!"

"Jikalau kau benar menjadi boddhisatwa maka akulah Sang Budha yang maha murah hati!"

Kim Sie Ie tertawa.

"Aku menghajar kau dengan tiga rangketan, aku tidak membuatnya kau mampus, apakah itu bukannya perbuatan murah hati? Hm! Aku Kim Sie Ie, aku biasa berjalan sendiri dan bekerja sendiri, mana aku membutuhkan kerja sama dengan kau bangsa manusia rendah!"

Sebenarnya Kim Sie le telah mengenal baik Chong Leng Siangjin sebagai seorang kosen bagaikan iblis, jahat dan kejam, dan walaupun dongengnya benar, ajakannya bekerja sama itu tak lain tak bukan ada siasat belaka, untuk mempergunakan tenaganya, untuk di belakang hari ia dibikin celaka atau sedikitnya didupak.

Ia tentu tidak sudi mengasih dirinya dijadikan perkakas belaka.

Chong Leng Siangjin marah tak kepalang, ia memutar hebat sepasang cecernya, untuk menyerang secara bengis sekali.

Kim Sie le berlaku waspada dan lincah.

Ia menginsyafi hebatnya serangan itu, saban-saban ia berkelit.

Setelah membebaskan diri liga kali beruntun, ia berseru.

"Aku menghajar kau tiga kali, tiga kali aku telah berkelit, maka jikalau kau terus menerus menyerang aku, aku tidak dapat menaruh belas kasihan lagi!"

Sepasang cecernya Chong Leng segera dirangkap rapat, hingga suaranya nyaring sekali, lalu keduanya dikasih turun, untuk menggempur batok kepala si penderita kusta. Kim Sie Ie berseru.

"Hari ini benar kau tidak bersalah dosa tetapi wajahmu menyeramkan sedang cecermu berisik menulikan kuping, kau jadi sangat menjemukan!"

Lantas ia mengangkat tongkat besinya, guna menyerang.

Kedua senjata sama-sama barang logam, keras suara benterokannya, kumandangnya mendengung di lembahlembah, kuping terasa ketulian.

Habis itu Chong Leng Siangjin mundur dua tiga tindak, ketika ia maju pula, tubuhnya berlompat, sepasang cecernya turun berkilauan seperti hendak menungkrap lawannya.

Kim Sie le menyaksikan gerakan orang itu, ia tertawa dingin.

"Apakah kau hendak mengadu jiwa benar-benar denganku?"

Ia tanya.

Ia menarik tongkatnya, maka di tangan kanannya segera tampak sebatang pedang besi dan tangan kirinya tetap memegangi tongkatnya, yang nyatanya adalah sarung pedangnya itu.

Maka dengan kedua senjata di tangan itu, dengan sarung pedang ia menangkis, dengan pedangnya ia menyerang, atau ia menyerang bergantian atau berbareng dengan kedua senjatanya itu, hingga sebentar kemudian, ia membuatnya Chong Leng repot, suara cecernya pun menjadi seperti parau.

Hebat bentroknya senjata kedua pihak, berisiknya bagaikan gunung ambruk dan bumi gempa.

Kim Sie Ie benar-benar mengasih lihat kepandaiannya.

Ia mendesak tidak hentinya.

Maka satu kali kembali dalang gempurannya yang dahsyat.

Tidak dapat jalan lain, Chong Leng menangkis.

Lagi-lagi kedua senjata bentrok, lagi-lagi terdengar suara nyaring tetapi parau, lak sedap didengarnya.

Kali ini tongpoat atau cecer si pendeta pecah menjadi empat potong dan terbang berhamburan.

Yang paling hebat ialah keluarnya darah dari mulutnya, hidungnya, mata dan kupingnya!

Itulah kesudahannya kedua pihak mengadu kepandaian mereka.

Chong Leng hebat, meski telah luka di dalam, ia masih dapat bergerak dengan gesit dan cepat, kali ini ia terus kabur, sembari lari, ia mengasih dengar caciannya.

"Kim Sie Ie, makhluk aneh yang tidak tahu gelagat! Bahaya mampus sudah mengancam di atasan kepalamu, kenapa kau masih belum insyaf? Tak usahlah aku datang sendiri menuntut balas terhadapmu, sebentar lagi itu beberapa kepala iblis bakal datang untuk membikin tulang-tulangmu hangus menjadi abu!"

Kim Sie Ie tertawa bergelak-gelak.

"Baiklah kau simpan sehem-busan lagi napasmu!"

Ujarnya.

"Jikalau kau bergusar satu kali lagi, kau bakal pergi terlebih dulu mendaftarkan diri ke kantornya Raja Akherat, hingga tidaklah keburu lagi aku membikin tulang-tulangmu berubah menjadi abu!"

Chong Leng Siangjin rupanya menginsyafi dirinya, dia tidak berani membuka mulut terlebih jauh, dia lantas juga menghilang.

Kim Sie Ie tertawa terbahak, sampai mendadak ia ingat perkataan si pendeta tentang warisan Kiauw Pak Beng itu.

Karena ini, dengan lantas ia berlari keras, akan mengejar pendeta itu.

*** Sia-sia belaka Kang Lam gentayangan setengah malaman, tidak berhasil ia mencari Kim Sie Ie.

Ia melihat bintangbintang seperti sisa berkelak-kelik dan di ufuk timur, langit mulai bersinar terang samar-samar, tandanya sang matahari bakal lekas memunculkan diri.

"Jikalau Kim Sie Ie suka menemui kau, dia pasti sudah datang!"

Berkata Ciang Hee, yang terus menemani anak muda ini.

"Langit bakal lekas terang, mari kita lekas pulang!"

Kang Lam belum putus asa.

"Mungkin Kim Tayhiap lagi menguji kesungguhan hatiku,"

Katanya.

"Kita menanti lagi sebentar, kalau sampai terang tanah terus Kim Tayhiap tidak kembali, baru kita pulang."

"Ah, kau benar-benar rada tolol!"

Kata si nona kewalahan. Kang Lam tertawa.

"Apakah kau takut dieomeli ibumu?"

Ia tanya.

"Kalau begitu pergilah kau pulang terlebih dulu."

Tapi Ciang Hee kata.

"Dengan membiarkan kau seorang diri berdiam disini, siapa tahu kau bakal terbitkan onar macam apa lagi? Tidak bisa lain, mari aku terus menemani kau. Nah, jalanlah, kita pergi cari Kim Sie le-mu itu!"

"Enci-ku yang baik,"

Kata Kang Lam, tertawa.

"aku memang ketahui kau pasti akan menemani terus padaku, seperti juga aku merasa pasti Kim Tayhiap bakal menemui aku!"

Mukanya si nona merah, ia jengah.

"Tidak tahu malu!"

Katanya.

"Siapa si enci-mu yang baik?"

Kang Lam mengulur lidahnya panjang-panjang, ia menggodai pula nona itu sampai ia terperanjat sebab mendadak ia merasa pundaknya ada yang tepuk. Ia menjadi girang, hingga ia berteriak.

"Kim Tayhiap, benar-benar kau datang! Aku menghaturkan banyak terima kasih kepada kau! Kau..."

Sembari berkata begitu, ia berpaling, atau tak dapat ia meneruskan kata-katanya yang niat dikeluarkan, hanya sambil berlompat mundur, ia berteriak.

"Oh, ibuku! Siapakah kau?"

Orang yang menepuk pundak itu, yang datangnya tanpa ketahuan, bukannya Kim Sie le.

Dialah seorang dengan muka berlumuran darah, dari mata dan hidungnya, darah masih mengucur keluar.

Masih selang sekian lama baru Kang Lam mengenali orang adalah si pendeta jubah merah.

Ciang Hee pun turut tercengang, ketika ia sadar dan hendak menghunus pedangnya, tangan si pendeta asing sudah menyambar tulang selangka dari Kang Lam dan dia berkata dengan suara dalam dan seram.

"Simpan pedangmu! Asal kau berani bergerak, aku akan lantas mengambil jiwa dia ini!"

Kang Lam berdaya. Hebat si pendeta, gerakannya sangat cepat, cekalannya pun keras. Tadi saja dia mendekati mereka itu tanpa bersuara.

"Aku, aku toh tidak bersalah kepadamu?..."

Ia lantas berkata.

"Aku tidak berani piebu sama kau. Apakah tidak dapat aku mengaku kalah saja?"

"Hm!"

Bersuara Chong Leng Siangjin.

"Tidak dapat!"

"Tadi aku telah mengalahkan beberapa sahabatmu, semua itu disebabkan bantuannya Kim Sie Ie,"

Kata Kang Lam pula.

"Maka itu tidak boleh kau mencari balas atas diriku. Menurut aturan kangouw, kau mesti mencari Kim Sie le."

Chong Leng Siangjin gusar hingga ia membentak.

"Siapa bicara tentang aturan kangouw denganmu? Masih kau banyak bacot, nanti aku remas tulang selangkamu ini, nanti aku korek biji matamu!"

Kang Lam berdiam. Ia benar-ibenar berkuatir. Ciang Hee, yang mencoba menenangkan diri, lantas bicara.

"Chong Leng Siangjin."

Kata-mya.

"Turut katanya ayahku kaulah salah satu guru silat terbesar di jjaman ini, karena itu mengapa kau hendak membikin susah pada seorang dari tingkat lebih muda?"

"Karena kau telah ketahui tingkat derajatku, kau mesti dengar perkataanku!"

Ada jawaban dari si pendeta.

"Kau menghendaki apa?"

Kang Lam tanya.

"Kau turut aku!"

Menyahut Chong Leng, menitah.

Dan dia menolak tubuh si anak muda ke arah sebuah gua di dekat situ.

Ciang Hee berdiam, tetapi ia mengikuti, tangannya mencekal erat-erat gagang pedangnya.

Sembari jalan ia mendengar si pendeta sengal-sengal napasnya, suatu tanda bahwa dia telah terluka parah.

Ketika akhirnya mereka masuk ke dalam gua, langit mulai putih, maka itu di dalam gua itu tampak juga sedikit cahaya terang.

Chong Leng Siangjin kelihatan jadi sangat bengis dan menakuti.

Beberapa kali dia bernapas keras.

Kalau tadinya dia berdiam saja, sekarang dia mendadak mengasih dengar suaranya yang bengis.

"Keluarkan obat Pekleng Tan!"

Kang Lam melengak.

"Apa?"

Ia menegaskan.

"Kau berani berlagak pilon, binatang cilik?"

Bentak Chong Leng.

"Tadi Kim Sie Ie memberikan kau peles. Bukankah isinya itu pel Pekleng Tan?"

"Tidak!"

Kang Lam menjerit.

"Pekleng Tan itu tidak dapat diberikan kepada kau!"

Chong Leng mengerahkan tenaga di lima jari tangannya.

"Jikalau kau tidak menyerahkan Pekleng Tan, kau mesti menyerahkan jiwamu!"

Ancamnya.

"Kau pilihlah, kau menghendaki yang mana?"

Kang Lam tercengkeram keras tulang piepee-nya, ia merasakan sakit bukan main hingga ia meringis-ringis. Tapi ia berhati keras.

"Jikalau kau paksa aku, akan aku hancurkan peles obat itu!"

Ia berseru.

"Satu kali Pekleng Tan terkena angin, dia akan buyar sendirinya, meskipun kau bunuh aku, kau tidak bakal mendapatkan obat!"

Kang Lam masih dapat menggeraki tangannya yang sebelah lagi, selagi Chong Leng membuka mulut barusan, ia telah mengambil keluar peles obat itu, untuk digenggam di tangannya yang masih bebas itu.

Si pendeta dari Tibet terkejut.

Ia tidak menyangka bocah ini berani mengadu jiwa.

Orang nekat, apa ia bisa bikin?

Maka ia melengak, lalu ia memandang bengis pada bocah itu.

Tanpa kehendaknya, cengkeramannya pun menjadi kendor sendirinya.

"Obat ini obat untuk enso-ku,"

Kang Lam mengasih keterangan.

"maka itu terpaksa aku tidak dapat memberikan kepada siapa juga! Ah, aku lihat, kau rupanya telah mendapat luka parah dan kau sangat membutuhkan Pekleng Tan guna menolong jiwamu! Jikalau kau tidak bengis tidak keruan, kita sebenarnya masih dapat berdamai..."

"'Kau serahkan Pekleng Tan padaku, nanti aku mewariskan semua kepandaianku padamu,"

Berkata Chong Leng.

"Aku tidak menghendaki ilmu silatmu itu!"

Kata Kang Lam.

"Habis kau menghendaki apa?"

"Aku tidak menghendaki apa juga!"

Sahut Kang Lam.

"Hanya aku berkasihan melihat lukamu."

Inilah di luar dugaan si pendeta.

"Kau mengasihani aku?"

Ia tanya.

"Ya. Aku mendengar kaulah orang gagah nomor satu di Tibet, tetapi sekarang orang telah melukakan kau begini rupa, hingga kau bakal mati tunggal di kampung lain orang --mati menderita dan mereras, tanpa yang merawati, melainkan aku si Kang Lam sendiri yang bakal menggalikan liang kuburmu, untuk mengubur mayatmu! Coba pikir, apakah kau tidak harus dikasihani?"

Memang benar-benar Kang Lam merasa berkasihan, maka itu, suaranya sungguh-sungguh dan sedih nadanya.

"Sudahlah, jangan omong lebih jauh!"

Kala Chong Leng, yang hati nuraninya terpukul telak.

"Tidak, kau dengar aku,"

Berkata Kang Lam, membelar.

"Aku mengasihani kau, dari itu aku berniat menolongi kau..."

"Jikalau benar begitu, buat apa kau omong banyak lagi?"

Kata si pendeta asing.

"Kau serahkan peles obatmu itu!"

"Tidak! Kau baiklah dengar terus perkataanku..."

Chong Leng terdesak.

"Baik, kau bicaralah!"

Katanya.

"Lekas!".

"Kau bicara keras-keras, kau membikin aku takut!"

Kata Kang Lam.

"Aku tidak dapat bicara."

Chong Long kewalahan.

"Tuan mudaku, kau bicaralah,"

Katanya, perlahan.

"Pernah aku mendengar penjelasan dari Tong Tayhiap,"

Berkata .Kang Lam.

"Siapa terluka parah di bagian dalam, asal dia dapat menyingkirkan kesesatannya, dengan tiga butir Pekleng Tan, jiwanya bakal ketolongan. Tenaga dalam dari enso-ku sudah mahir, dia cukup disembuhkan dengan dua butir Pekleng Tan. Kau sendiri, tenaga dalammu jauh terlebih mahir daripada tenaga dalam enso-ku itu, rnaka untuk kau, dengan sebutir Pekleng Tan saja jiwamu dapat dilindungi..."

"Baiklah,"

Memotong Chong Leng.

"satu butir pun boleh, itu ada lerlebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, kasihkan peles obatmu kepadaku, aku akan makan satu butir saja."

"Semenjak tadi kau berlaku sangat bengis padaku, aku tidak dapat mempercayai kau,"

Kata Kang Lam terus terang.

"Enci Hee, mari, kau pegang peles ini, kau keluarkan satu butir, tetapi kau mesti lekas mengasih masuk ke dalam mulutnya."

Chong Leng diam mendengar perkataan si anak muda.

Di dalam hatinya ia sudah pikir, asal ada kesempatannya, hendak ia merampas semua, setelah mana, dua bocah itu ingin ia membinasakannya.

Ciang Hee menghampirkan Kang Lam, tepat selagi ia mengangsurkan tangannya, untuk menyambuti peles obat dari tangan si pemuda, kupingnya mendengar seruan tajam dan nyaring yang terbawa angin.

Ia terkejut.

Untuknya, hebat seruan itu.

Kang Lam sebaliknya mengerti seruan itu, yang dikeluarkan dalam bahasa Tibet.

Itulah panggilan untuk Chong Leng.

Seruan itu membuktikan tenaga dalam yang mahir.

Chong Leng, yang mendengar suara itu, agaknya terkejut, lalu sinar matanya menunjuki hatinya berkuatir.

Mendadak dia menyambar si pemuda sambil dia berseru.

"Aku menghendaki jiwamu!"

Kang Lam telah bersiap sedia.

Ia telah menggunai kecerdikannya.

Di saat Chong Leng memperhatikan seruan yang membuatnya jeri itu, hingga perhatian orang menjadi terpecah, mendadak ia menciutkan pundaknya dan mendak untuk terus berlompat, ketika si pendeta menyambar, ia menjatuhkan dirinya.

Pendeta itu menjerit dalam murkanya sebab orang meloloskan diri.

Sebagai kesudahan sambarannya, yang dahsyat itu, batulah yang kena dieengkeram hingga batu itu pecah!

"Binatang!"

Chong Leng mendamprat.

"Kemana kau hendak lari? Hm'"

Kang Lam takut bukan main.

la menggelinding cukup jauh, hingga ia dapat lantas menyembunyikan diri di satu pojokan.

Si pendeta tidak melihatnya, dia menyambar-nyambar seperti orang buta rapa-repe.

Pendeta ini terlukakan parah oleh Kim Sie Ie, darah keluar dari mata, hidung, mulut dan kupingnya, setelah itu berjalan sekian lama, sekarang biji matanya rusak, ia benar-benar tidak bisa melihat benda lagi.

Sudah begitu, ia juga jeri kepada orang yang berseru tadi, sebab orang itu adalah orang yang ia jerikan selama beberapa tahun, dari siapa ia terus berjagajaga diri.

Ia menjadi takut sebab sekarang justeru ilmu silatnya dapat dikatakan sudah ludas...

"Bruk!"

Demikian terdengar suara nyaring. Itulah Chong Leng, yang menubruk dinding gua batu itu, dan lantas saja tubuhnya roboh.

"Binatang cilik, kau menganiaya jiwaku!"

Ia kata tajam. Itulah mirip jeritannya binatang yang terlukakan. Kang Lam kaget berbareng heran.

"Aku hendak menolongi kau, kenapa kau bilang aku justeru mencelakai?"

Saking takut, ia terus berdiam.

Chong Leng bersuara pula berulang-ulang, dia menjeritjerit, hanya makin lama suaranya makin lemah.

Dia tidak bangun berdiri, bahkan terasa dia bergulingan di tanah, kedua tangannya merobek-robek jubahnya, lagaknya seperti orang edan kalap.

Lagi sekian lama, berhentilah suaranya, lalu dia rebah tak bergeming.

Ciang Hee berdiam terus, ia menyaksikan segala apa dengan hati berdebaran.

Tadi Kang Lam menghadapi bencana besar.

Sampai disitu, ia menghampirkan si anak muda Ia dapat melihat segala apa.

"Apakah dia telah mati?"

Ia berbisik.

"Chong Leng Siangjin!"

Kang Lam memanggil keras, membesarkan hatinya. Chong Leng tidak menyahuti.

"Chong Leng Siangjin!"

Ia memanggil pula. Tetap si pendeta tidak memberikan penyahutan. Si anak muda mengeluarkan napas lega.

"Dia benar telah mati,"

Katanya akhirnya.

"Aku takut,"

Berkata Ciang Hee.

"Mari kita lekas berlalu dari sini, mari kita pulang..."

"Tunggu sebentar,"

Berkata Kang Lam.

"Aku telah berjanji hendak mengubur dia, sebagai seorang budiman, tidak dapat aku menyalahi janjiku itu."

Dengan tindakan berindap, ia menghampirkan Chong Leng.

.Dengan berhati-hati ia meraba hidung si pendeta.

Ia tidak merasakan hembusan napas, sebaliknya, ia memegang hidung yang dingin.

Maka benarlah, jago Tibet itu telah menutup mata.

, Selanjutnya, beranilah Kang Lam menyentuh tubuh orang untuk dibaliki.

"Eh, apakah ini?"

Ciang Hee berseru tiba-tiba Kang Lam melihat si pemudi lagi menjumput serupa barang yang tergulung.

Ketika barang itu-sehelai kertas-dibeber, maka itu nyata ada selembar gambar lukisan.

Mereka lantas membawanya ke tempat lebih terang, untuk dilihat terlebih jauh.

Itulah lukisan sebuah pulau mencil di tengah laut, di atas pulau ada gunung apinya, gunung mana tengah mengepulkan asap tebal.

"Heran, gunung dapat mengeluarkan api!"

Kata Ciang Hee.

"Memang ada gunung api,"

Kata Kang Lam.

"Selama di Turfan aku pernah melihat sendiri gunung api. Apakah kau belum pernah baca buku cerita See Yu? Kauw Cee Thian telah meminjam kipas mustika Pa-ciauw-sie dari Thie Sie Kongcu, dengan itu barulah ia dapat memadamkan gunung api Hweeyam San yang panjangnya delapan ratus lie."

"Ayah dan ibuku melarang aku membaca buku cerita demikian,"

Kata si pemudi.

"Kau tolol!"

Kata si pemuda.

"Buku itu sangat menarik hati, kau dapat bacanya dengan mencuri!"

"Ah, mari kita periksa gambar ini,"

Berkata Ciang Hee.

"Lihat, disini ada orangnya, dia memegang busur dan anak panahnya. Apakah artinya? Dia mengenakan pakaian cara orang jaman Beng, dia memegang busur yang besar sekali, dia berdiri di kaki gunung, dengan sebatang anak panah yang panjang, dia mengancam ke arah atas gunung itu..."

"Aku pun heran,"

Berkata Kang Lam.

"Mungkin dia benci gunung api dan hendak memanahnya!"

"Ngaco belo, ini toh gambar lukisan belaka!"

Kata si nona.

"Ini gambar kuno!"

"Aku tidak sangka pendeta ini mempunyai rasa seni, dia membawa-bawa gambar kuno di tubuhnya,"

Berkata si pemuda.

"Pernah aku dengar dari kakak angkatku, kalau gambar ada gambar karyanya seorang pelukis ternama, gambar itu berharga besar sekali. Tapi kita tidak berhak merampas gambar ini, biarlah kita kubur bersama, supaya gambar tetap dapat menemani dia."

Ciang Hee mengawasi.

"Gambar ini belum terlalu tua,"

Katanya pula kertas hitam ini bekas digarang ke api hingga menjadi mehongan.

Kertas semacam ini, kakek luarku pun mempunyai.

Mungkin ini barang baru tiga ratus tahun yang lampau.'" ''Tidak perduli dia barang kuno atau bukan,"

Berkata Kang Lam.

"dia barang dari tubuhnya Chong Leng Siangjin, aku anggap ada bau apesnya, aku tidak menghendaki itu."

"Aku juga tidak memikir untuk mempunyainya,"

Kata Ciang Hee.

"hanya gambarnya yang aneh sekali. Ada orang bertubuh besar memegang busur dan panah, bersiap untuk memanah gunung api! Apakah artinya itu? Aku tidak mengerti. Tidak puas aku sebelum aku mengerti maksudnya..."

"Perkataanmu ini membangkitkan rasa anehku! Baiklah, nanti aku bawa pulang, untuk diperlihatkan kepada kakak angkatku. Kakakku itu telah membaca banyak sekali kitab dan menyimpan juga banyak gambar tulisan dan lukisan, mungkin dia mengerti. Kalau nanti dia sudah menjelaskan padaku, aku akan menjelaskan pula kepada kau."

Lantas ia mengoceh seorang diri.

"Chong Leng Siangjin, Chong Leng Siangjin, sekarang aku hendak menggali liang untuk mengubur tubuhmu, sebagai upahnya aku menghendaki gambaran ini. Kau tidak keberatan, bukan?"

Ciang Hee tertawa geli.

"Kau hati-hati, kau hati-hati!"

Katanya.

"Mungkin dari tanah baka dia menjumpai kau! Ah, Kang Lam, Kang Lam, dasar kau tolol, kata-katamu pun aneh! Hayolah kita kubur dia, lalu lekas-lekas kita pulang! Berdiam di dalam gua ini menghadapi mayat orang, sungguh aku takut!"

"Aku juga takut!"

Berkata si pemuda.

"Marilah, kau bantui aku menggali!"

Maka keduanya lantas bekerja, mereka menggali dengan menggunai pedang.

Tengah mereka bekerja, lagi-lagi mereka mendengar suara aneh tadi, bahkan sekarang semakin dekat, rasanya di sebelah belakang mereka.

Kemudian terdengar tegas suara satu orang.

"Mungkin Chong Leng Siangjin telah dicelakai orang!' Lihatlah darah segar di sepanjang jalan ini!"

Kata-kata itu disusul oleh seorang lain.

"Entah gambarnya, orang dapat mengambilnya atau tidak! Tapi, tidak perduli siapa, kita bertiga, mesti kita hajar dia, kita keset kulitnya dan patahkan tulang-tulangnya!"

Kedua orang ilu bicara dalam bahasa Tibet, Ciang Hee tidak mengerti, tetapi lagu suaranya hebat sekali, menusuk telinga, membuatnya hati tidak tenang.

Kang Lam, yang hidup lama di Tibet, mengerti itu dengan baik.

"Hebat, hebat,"

Pikirnya.

"Mereka sangat galak dan kejam, kalau mereka memergoki kita, kita boleh belaka, mungkin sebelum main tanya lagi, kulit kita sudah dibeset dan tulang kita dipatahkan..."

Maka ia lantas membisiki Ciang Hee Lntuk jangan mengasih dengar suara apa-apa, terus ia ajak si nona menggulingkan sebuah batu besar ke mulut gua, untuk menutup mulut gua itu, benar tidak tertutup anteronya, tetapi mungkin orang di sebelah luar kurang memperhatikan...

Tidak selang lama, terdengarlah tindakan kaki orang, terus berhenti.

Kang Lam menaruh tubuhnya di batu besar itu, untuk mengintai keluar.

Maka ia melihat tiga orang, yang luar biasa.

Orang yang satu jangkung dan kurus, bajunya baju Tibet, rambutnya merah marong, kidungnya menjulang ke langit.

Orang yang kedua, yang tubuhnya kekar, mirip orang gembala HuiiKiang, kedua tangannya lebih panjang daripada orang yang kebanyakan sebab melewati dengkul.

Yang ketiga ialah seorang wanita tua yang kurus kering dan kedua kupingnya digantungi anting-anting yang dapat bersuara tingtang.

Dia pun dandan sebagai wanita Tibet.

Mereka itu bertindak depan gua, mata mereka celingukan.

"Ah, kemana sembunyinya Chong Leng Siangjin?"

Kata si rambut merah, agaknya heran dan penasaran.

"Kau lihat, tanda darahnya telah lenyap di pinggiran gunung,"

Kata si orang Hui.

"Mungkinkah dia merayap naik ke atas."

"Hm!"

Bersuara si wanita, yang terus berseru.

"Disini! Mengapa kamu tidak dapat mencium bau?"

Kang Lam terkejut.

"Hebat hidungnya siluman wanita ini!"

Pikirnya.

"Aku dapat mencium baunya Chong Leng Siangjin,"

Kata lagi si wanita.

"Dia pasti bersembunyi di dekat-dekat sini!"

Si orang Tibet berambut merah, dalam bahasa Tibet, berkata dengan nyaring.

"Chong Leng Siangjin, kami tidak bermaksud jahat! Silahkan kau keluar untuk menemui kami!"

Kata-kata itu tidak memperoleh jawaban, maka itu si rambut merah mengulanginya hingga beberapa kali. Tentu sekali, ia tetap tidak mendapat penyahutan.

"Disini tidak ada gua, dimana dia bersembunyinya?"

Kata si orang Hui yang tangannya panjang dan kakinya panjang juga, yang mirip cengeorang.

"Chong Leng Siangjin!"

Berseru si wanita tua.

"jikalau kau tetap tidak mau keluar, kami terpaksa nanti melakukan apaapa yang di luar garis!"

Dia tidak menanti jawaban, yang tidak kunjung tiba, sambil menoleh pada kedua kawannya, dia lanjutkan.

"Dia tentu sembunyi di sela-sela batu gunung ini, mari kita menjambak dia keluar!"

Dia tidak menunggu penyahutan kawan-kawannya itu, sebelah tangannya lantas menyambar, hingga sepotong balu pecah hancur. Kang Lam kaget.

"Celaka kalau orang terjambak olehnya!"

Pikirnya.

Sedang begitu, pemuda ini merasa tubuh Ciang Hee nempel rapat padanya, tubuh itu sedikit menggigil, suatu tanda si nona pun merasakan hebatnya si wanita tua itu.

Ia lantas mencekal erat tangan orang.

"Jangan takut!"

Ia menghibur.

"Dengan mereka membuat berisik begini maka pastilah Kim Tayhiap bakal datang ke mari!"

Tangan si nona dingin, mengeluarkan keringat.

"Kalau nanti Kim Tayhiap sudah datang, kita sudah tercekuk di tangan mereka..."

Katanya, perlahan.

"Hm..."

"Baiklah, mari kita bekerja sama!"

Menyambut si cengeorang la lantas menyerang, dengan satu pukulan dari Pekkhong ciang, Menyerang Udara Kosong.

Dengan satu kali suara berisik maka sepotong batu besar bergerak jatuh menggelinding ke bawah gunung.

"Dia tidak ada disini!"

Berkata si orang Tibet rambut merah.

Meski ia mengatakan demikian, tangannya toh menyampok, membuatnya sepotong batu bergoyang-goyang mau jatuh Si orang Hui membantu kawannya itu, satu kali lagi serangannya membuat batu itu, yang besar, roboh juga hingga suaranya menjadi sangat nyaring dan berisik.

Kang Lam dan Ciang Hee terkesiap hatinya.

Suara robohan itu membikin mereka seperti tidak dapat berdiri tetap.

"Bukankah kau mendapat luka parah?"

Si orang Hui tanya. Dia menanya Chong Leng Siangjin.

"Lekas kau keluar, jangan nanti terlambat!"

"Eh, aku pun mendapat cium baunya orang hidup!"

Kata si wanita tiba-tiba.

"Apa mungkin, selelah dia terluka, dia kena dipengaruhi orang?"

Ia lantas berkata terus, dalam bahasa Tionghoa.

"Kim Sie Ie, jikalau kau mempunyai nyali, kau keluarlah!"

Tiga orang ini sama pendapatnya.

Orang yang dapat melukakan Chong Leng Siangjin, kecuali Kim Sie le, sudah tidak ada lainnya lagi.

Maka itu, Kim Sie le lantas ditantang.

Diam-diam Kang Lam memuji agar Kim Sie le mendapat dengar tantangan tiga orang itu.

Ia kata dalam hatinya.

"Semakin hebat kamu pentang bacot, itu semakin bagus!"

Bergantian tiga orang itu menantang, bahkan mencaci Kim Sie le, tapi ternyata mereka tetap tidak ada yang melayani, mereka kasak-kusuk berdamai, setelah mana mereka menyerang pula dengan pukulan-pukulan Pekkhong ciang.

Maka terdengarlah suara batu yang sangat berisik, dengan ada batu-batu yang hancur berhamburan!

Selagi Kang Lam goncang hatinya, mendadak ia merasakan ada tenaga besar yang menggempur besar penghalang mulut gua, hingga batu itu bergoncang.

la menjadi sangat kaget, hingga ia lantas menarik tangannya Ciang Hee untuk dibawa berlompat ke samping.

Sedang ia berkelit, kembali ia mendengar suara yang myaring.

Kali ini disebabkan batu itu, yang bergerak keluar, tergempur pula masuk ke dalam gua, hingga tubuh Chong Leng Siangjin kena tertindih.

Si wanita tua lantas tertawa bergelak-gelak.

"Disini! Disini!"

Teriaknya berkilang kali.

"Chong Leng Siangjin, apakah kau masih tidak mau keluar?"

Kedua muda-mudi itu berkuatir bukan main, mereka takut.

Mereka mielihat tiga orang itu bertindak untuk mendekati mereka.

Si orang Hui sangat celi matanya.

Segera ia melihat sepasang muda-mudi itu.

Ia menjadi heran.

"Siapa kamu?"

Dia menegur. Mendadak tubuhnya berlompat melesat tinggi setombak lebih. Berbareng dengan itu, si wanita tua mendamprat.

"Kim Sie Ie bermuka tebal, apakah tetap kau tidak mau muncul? Kau main sembunyi di dalam gua yang gelap gulita, adakah kau satu enghiong atau hoohan?"

Kang Lam girang luar biasa, lenyap kaget dan takutnya. Ciang Hee pun terpengaruh karenanya. Pemuda ini mau menyerukan.

"Kim Tayhiap!"

Hanya, belum lagi ia keburu membuka mulutnya, telinganya sudah mendengar suara tertawa yang nyaring mirip suara kelenengan yang terbawa angin, menyusul mana pun ada suara tajam tetapi merdu.

"Kamu sendiri yang mata kamu picak! Terang-terang aku berada disini! Siapakah yang bersembunyi di dalam gua untuk membokong kamu?"

Kang Lam heran tidak terkirakan.

Yang muncul itu bukannya Kim Sie Ie hanya seorang wanita muda, seorang nona, yang nampak berdiri di batu gunung di sebelah depan mereka.

Ujung bajunya nona itu berdebiran tertiup angin, bagaikan ia hendak terbang melayang...

Ketiga orang itu pun kaget melebihkan kagetnya Kang Lam.

Merekalah orang-orang liehay, inilah mereka percaya betul, akan tetapi mereka tidak mendengar sesuatu suara mengenai datangnya nona itu, mereka pun tidak dapal melihatnya.

Hanya tahu-tahu telah terdengar suara tertawanya, terdengar juga kata-katanya, yang seperti berbareng dengan munculnya.

Si cengeorang menjadi sangat mendongkol, sambil membentak ia mengayun sebelah tangannya, hingga semacam benda mirip anak panah melesat menyambar ke arah si nona.

Inilah sebab tadi si nona sudah menimpuk kepadanya dengan sebatang cabang kering, disusul sama serangan Pekkhong ciang dari si orang Tibet rambut merah dan si wanita tua.

Si nona, yang ternyata sangat enteng tubuhnya, telah memperlihatkan kepandaiannya, membebaskan diri dari serangan itu, setelah mana, dia berlompat ke depan hingga sekarang dia menempati kedudukannya itu.

Nona ini yang mengenakan pakaian di atas hijau dan di bawah merah, menyapu dengan matanya yang celi ke arah ketiga orang itu, habis itu dia tertawa.

"Apakah kamu hendak menurunkan tangan?"

Tanyanya, manis.

"Baiklah, aku bersedia untuk melayani!"

Si orang Tibet rambut merah agaknya sangsi.

"Siapakah gurumu?"

Ia tanya.

"Apakah kau datang dengan maksud sengaja untuk menyaterukan kami?"

"Eh, Kunlun Sanjin!"

Berkata si nona, yang tidak menjawab pertanyaan orang.

"Suka aku memberi nasihat kepada kamu, kamu bertiga baiklah pulang saja! Apakah kau telah melupai janjimu pada tiga puluh tahun yang lalu dengan seorang tingkat tua dari Rimba Persilatan? Dan kau, Siang Bok Loo, kau telah berusia begini tinggi, perlu apa kau masih mau datang ke Tionggoan untuk mengadu biru? Dan kau juga, Kim Jit Sian, dengan kepandaian kau, kau dapat membangun suatu partai persilatan baru, maka itu kenapa kau masih mengarah kepandaian lain orang yang tersimpan di dalam peti mati?"

Lagi-lagi ketiga orang itu kaget sekali.

Kenapa tidak?

Bukankah si nona kenal mereka semua selagi mereka sendiri tidak tahu nona ini siapa adanya?

Lebih-lebih herannya Kunlun Sanjin, si orang Tibet berambut merah itu.

Memang, pada tiga puluh tahun yang lampau itu ia telah datang ke Tionggoan, guna mengacau, akan tetapi ia bertemu sama Lu Su Nio dan dalam pertempuran ilmu pedang, ia kena dipecundangi dan Lu Su Nio memaksa ia mengangkat sumpah bahwa selama hidupnya tidak dapat ia melangkahkan kakinya ke bagian selatan dari gunung Kun-lun San.

Tapi ia telah mendengar kabar, bahwa Lu Su Nio telah meninggal dunia, maka sekarang ia melanggar sumpahnya itu.

Si wanita tua, yang hidungnya tajam sekali itu, ialah Siang Bok Loo, enci atau kakak perempuan dari Siang Ceng Nio, isteri dari In Leng Cu, tiangloo atau ketua dari Lengsan Pay.

Dia muncul bersama Kunlun Sanjin dan Kim Jit Sian ini sebab dia gagal mengajak adik perempuannya serta ln Leng Cu, si ipar, disebabkan suami isteri tengah mengeram diri meyakinkan semacam ilmu silat yang katanya liehay sekali.

Dan si orang Hui, yang tangan dan kakinya panjang itu, ialah Kim Jit Sian, ialah seorang luar biasa, yang dengan sendirinya dapat memahamkan pelbagai macam ilmu silat See Hek, atau Wilayah Barat, hingga ia benar-benar mempunyai hak untuk membangun suatu partai tersendiri.

"Kau pernah apa dengan Lu Su Nio?"

Menanya Kunlun Sanjin sambil ia mementang lebar kedua matanya, mengawasi dengan tajam.

"Apakah kau dapat menyebut nama guruku secara sembarangan sebagai caramu ini?"

Si nona menegur. Mendengar itu, Siang Bok Loo tertawa.

"Sama sekali aku tidak pernah mendengar kabar Lu Su Nio mengambil seorang murid wanita!"

Katanya, mengejek.

"Apakah kau kira, dengan memakai nama Lu Su Nio, dapat kau menggertak kita? Hm! Hm! Biarnya Lu Su Nio hidup kembali, aku masih tidak takut!"

Apa yang dibilang Siang Bok Loo bahwa Lu Su Nio tidak mempunyai murid wanita adalah hal umum yang diketahui kaum Rimba Persilatan, jadi pembilangannya wanita tua ini tidaklah heran, meskipun demikian, Kunlun Sanjin toh bersangsi.

Jago Tibet ini kata di dalam hatinya.

"Kenapa dia ketahui yang tiga puluh tahun dulu itu aku telah mengangkat sumpah di depannya Lu Su Nio? Mungkinkah benar dia ini murid penutup dan Lu Su Nio itu?"

Di antara tiga jago itu, Kim Jit Sian adalah yang usianya paling muda dan ia pun yang paling meng-aguli diri, ia pernah mendengar halnya Lu Su Nio dan Moh Coan Seng adalah jagojago Rimba Persilatan di dalam jamannya itu, ia tidak percaya, ia menyesalkan diri tidak mendapat ketika akan bertemu sama mereka itu untuk menguji kepandaian mereka, karena keburu mati.

Sekarang ia mendengar suaranya bocah wanita ini, ia lantas memasang mata terhadap si nona, kemudian tanpa memperdulikan Kunlun Sanjin yang lagi ragu-ragu itu, ia kata kepada kawannya ini.

"Kau tentunya mengenali ilmu silatnya Lu Su Nio, kau lihat, hendak aku mencoba bocah ini!"

Belum berhenti mendengungnya suara orang Hui ini atau Kang Lam mendengar satu suara menyambar disusuli berkelebatnya sinar bagaikan halilintar, sinar mana melesat dari tangannya orang itu.

Ia kaget sekali hingga ia tanya dirinya sendiri.

"Ilmu siluman apakah itu? Mungkinkah itu Ciangsim lui, Guntur Telapakan Tangan?"

Sinar itu menyambar ke arah si nona, tubuh siapa sudah lantas mencelat tinggi.

Sembari mencelat, ia menggeraki pedangnya yang berkilauan.

Maka itu segera terdengar suara benteroknya dua rupa senjata, terdengarnya seperti lagu.

"Bagus!"

Memuji Kim Jit Sian sambil ia menggeraki pula tangannya.

Kang Lam telah memasang mata, ia melihat senjatanya orang Hui itu, ialah sebatang tongkat panjang, entah terbuat dari logam apa, ketika digeraki, senjata itu mengeluarkan tiga rupa sinar berkilauan merah, putih dan kuning.

Saking cepatnya bergeraknya, maka terlihatlah sambaran seperti kilat berkelebat.

Kim Jit Sian telah paham pelbagai ilmu silat See Hek, setelah itu ia menciptakan ilmu tongkat "Thianlui Panghoat", atau "Halilintar dan guntur".

Adalah maksudnya untuk menjagoi di Tionggoan.

Inilah yang pertama kali ia muncul, justeru pertama kali ia bertemu sama si nona tidak dikenal ini.

Kang Lam mementang matanya.

Ia lantas menyaksikan satu pertempuran yang dahsyat sekali.

Kim Jit Sian hebat, si nona sebat.

Dengan cepat tiga puluh jurus telah berlalu.

Selama itu jago Hui itu tidak bisa berbuat apa-apa, menang di atas angin pun dia tidak dapat.

Hal ini membuatnya terkejut, hingga dia berkuatir nanti hilang muka di hadapan kedua kawannya.

Kalau mulanya dia cuma ingin coba kepandaian si nona, sekarang dia memikir lain.

Mendadak dia berseru, lantas dia menyerang dengan satu sodokan "Biang guntur berkaca".

Dengan berkelebat, ujung toya meluncur ke dada lawannya, mencari jalan darah soankie hiat.

Lagi-lagi Kang Lam terkejut.

Hebat sekali serangan ini.

"Lihat! Lihat!"

Tiba-tiba Ciang Hee berseru-seru.

"Bagus! Bagus!"

Itulah sebab si nona telah menggeraki pedangnya menangkis tongkat, bukan menangkis dengan menyampok, hanya terus diputar, tongkat itu seperti dililit, maka kedua senjata jadi bentrok dan berkutat, akan akhirnya si nona mengibas.

Kim Jit Sian mengasih dengar seruan, tubuhnya terhuyung mundur beberapa tindak.

Kedua senjata mereka juga menerbitkan suara nyaring hingga menulikan telinga.

Kunlun Sanjin terkejut.

Ia mengenali si nona bersilat dengan ilmu pedangnya Lu Su Nio, ialah yang dinamakan ilmu pedang "Hian Lie Kiamhoat".

Nampaknya nona itu telah mewariskan sempurna ilmu silatnya Lu Su Nio itu.

Ia menjadi berpikir.

"Kalau dia berlatih lagi sepuluh tahun, bukankah bakal muncul Lu Su Nio yang kedua? Kalau begitu, mana kami mendapat ketika untuk menjagoi?"

Setelah berpikir demikian, jago Tibet ini lantas terpengaruh niatnya turut turun tangan, karena mana ia sampai lupa bahwa ialah satu orang kenamaan.

Dengan sekonyongkonyong ia lompat mencelat ke arah si nona, sebelah tangannya diangkat, terus dikasih turun, guna menghajar batok kepala nona itu!

Jago tua ini pandai ilmu silat golongan Agama Merah dari Tibet, yaitu yang dinamakan "Tay Ciu In", atau "Tapak Tangan Besar".

Ilmu ini, yang ada ilmu "kasar", lebih hebat daripada ilmu Kimkong Ijiang atau "Sutpay Ciu".

Maka itu bisa dimengerti bahwa ia menaruh kepercayaan besar sekali bahwa serangannya ini, yang seperti bokongan, akan memberikan hasil seperti yang ia harapkan.

Tapi kesudahannya adalah lain.

Si nona bagaikan mempunyai mata di belakang kepalanya.

Tepat ia dihajar, tepat ia berkelit sambil bertunduk ke depan.

Lalu, sambil berkelit, ia memutar balik tangannya yang memegang pedang itu, untuk membalas menyerang dengan berkilauan, ujung pedangnya meluncur ke telapakan tangan Si jago Tibet.

Inilah jurus "Songhoa Kiam", atau jurus pedang "Inti Salju"

Dari Lu Su Nio.

Serangan ini memungkinkan pedang memapas kutung senjata lawan.

Mau atau tidak, Kunlun Sanjin mesti menarik pulang tangannya, guna membatalkan serangannya itu, kalau tidak, tangannya tentu bakal menjadi korban pedang.

Ia boleh kebal, tidak mempan senjata tajam, tetapi pedang si nona tidak mengenal kekebalan.

Ketika ia menarik pulang serangannya itu, tangannya menyambar batu penutup mulut gua, hingga dengan suara nyaring keras, batu itu berkisar lebih jauh ke sebelah dalam gua.

Hingga sekarang mulut gua jadi terbuka seluruhnya!

Kang Lam kaget hingga ia mencekal keras tangan Ciang Hee, yang pun membalas mencekalnya.

Mereka merasakan tangan mereka masing-masing mengeluarkan keringat dingin.

Meski begitu, si pemuda tidak takut, bahkan dia merasakan hangat...

Setelah itu, Kunlun Sanjin seperti mengamuk.

Berulang kali serangannya menyebabkan batu-batu gunung terbang berhamburan, hingga antaranya ada yang mental ke dalam gua, jatuh di belakang si anak muda, mengenakan dinding gua itu.

Dua kali Kunlun Sanjin mendesak si nona, dua-dua kalinya ia gagal.

Dengan secara gampang, dengan kelincahan, si nona menyingkir dari dua serangannya itu.

Ia menjadi sangat mendongkol hingga ia memikir untuk membinasakan nona ini.

Ia merasa ia bagai dipermainkan.

Demikian setelah mengerahkan tenaganya di tangan, ia menyerang pula untuk ketiga kalinya.

Ia tetap menggunai pukulan Tay In Ciu.

Selama itu, Kim Jit Sian juga tidak berdiam saja.

Tepat kawannya menghajar, ia turut menurunkan tangan, tongkatnya bergerak dalam jurus "Pathong hong-ie"

Atau "Hujan angin di delapan penjuru".

Dengan itu ia seperti mengurung si nona dengan tongkatnya itu.

Menampak itu Kunlun Sanjin tertawa terbahak.

Ia sampai lupa bahwa mereka, sebagai orang-orang kenamaan, sudah mengepung seorang nona.

Ia percaya benar si nona tidak bakal lolos lagi.

Nona itu, kecuali sangat enteng tubuhnya, sangat gesit gerakannya, ia pun cerdik sekali, ringan tangan dan kakinya.

Di saat menghadapi ancaman bahaya itu, ia mendapat memikir jurus yang indah.

Berkelit dari ujung tongkatnya Kim Jit Sian, ia justeru lompat menyingkir ke belakang lawan ini.

Gerakannya ini tepat ketika serangannya Kunlun Sanjin tiba.

Kim Jit Sian dengan sendirinya menjadi tamengnya, maka tidak tempo lagi, serangannya Kunlun Sanjin membuat kawannya itu terhajar mundur tiga tindak.

Tapi ia sendiri juga terhuyung akibat pembelaan diri dari Kim Jit Sian itu, yang telah memainkan tongkatnya guna terhindar dari serangan seperti nyasar dari kawannya itu.

Inilah saat yang digunai si nona.

Pedangnya telah berkelebat hebat!

Kunlun Sanjin mencoba untuk menghalau diri, tidak urung rambutnya kena dipapas hingga putuslah segumpal.

Syukur untuknya, Kim Jit Sian pun dapat menangkis pedang nona itu, hingga pedangnya mental.

Sekarang ternyata jelas.

Kalau mereka bertempur satu lawan satu, terang sudah, baik terhadap Kim Jit Sian maupun terhadap Kunlun Sanjin, si nona menang seurat, akan tetapi dia dikepung berdua, ia cuma dapat bertahan sampai lima atau enam puluh jurus, hanyalah berkat kelincahannya, ia dapat mencegah dirinya terdesak hebat, hingga kesudahannya mereka seimbang saja.

Kang Lam tetap bersembunyi di dalam gua, sambil bersembunyi ia menonton.

Ia melihat suatu pertempuran dahsyat sekali.

Gerak-gerik ketiga orang itu membuatnya angin saling sambar, bagaikan berombaknya gelombang lautan.

Ia pun melihat sinar-sinar merah dan hijau saling membulang-baling.

Itulah sinarnya pedang si nona dan tongkat aneh Kim Jit Sian si orang Hui yang liehay.

Tubuh mereka seperti terkurung sinar senjata mereka itu.

Sampai sekian lama, Kang Lam masih belum bisa membedakan siapa terlebih tangguh di antara kedua belah pihak yang bertempur pula.

Ia masih terus menonton dengan hati kebat-kebit ketika mendadak ia mendengar suaranya Ciang Hee.

"Ada orang bagaikan bayangan mendatangi kemari!"

Demikian si nona mengisiki.

"Lihat, siapa dia!"

Mata Kang Lam silau tetapi dia masih lebih menang daripada si nona, lantas dia mengawasi ke arah yang ditunjuk Ciang Hee, guna melihat bayang itu, di dalam hatinya, dia berkata.

"Bagus kalau Kim Sie Ie yang datang!..."

Tapi dia kecewa. Orang itu bukannya Kim Sie Ie hanya Siang Bok Loo, si wanita tua. Dia menjadi berkuatir. pikirnya.

"Nenek-nenek ini pasti kejam! Entah dia akan berbuat apa terhadap kita..."

Ciang Hee heran mendengar giginya Kang Lam bercatrukan, apapula ketika ia merasakan sebelah tangan pemuda itu merangkul padanya.

Dengan sendirinya menjadi mukanya merah.

Ingin ia menolak tubuh orang akan tetapi ia merasakan seperti tidak mempunyai tenaga.

Pula aneh, ia seperti lupa bahwa ia lagi berada di tempat yang berbahaya...

Siang Bok Loo mempunyai maksudnya sendiri kenapa ia tidak membantui Kunlun Sanjin dan Kim Jit Sian.

Ia tidak memperdulikan mereka itu tidak berhasil merobohkan si nona.

Ia berpikir.

"Biarlah mereka berdua pihak bertempur terus, sampai mereka mampus dua-duanya! Aku boleh duduk diam saja, seperti si nelayan yang menantikan hasil. Sekarang lebih baik aku masuk dulu ke dalam gua, untuk mengambil peta dari Chong Leng Siangjin..."

Maka ia berindap-indap ke arah dalam gua. Tapi ia terlihat Ciang Hee. Ia belum tiba di dalam gua ketika ia mendengar suaranya Kim Jit Sian keras.

"Akur! Mari kita berkelahi bergantian untuk membikin mampus wanita siluman ini! Kunlun Sanjin, apakah kau yang berniat beristirahat terlebih dulu?"

Kim Jit Sian berkata begitu karena ia melihat Siang Bok Loo mendatangi, ia menyangka nyonya itu hendak membantui mereka.

Tanpa merasa, ia telah membikin terkesiap hatinya si nyonya.

Kunlun Sanjin sebaliknya menyangka nyonya itu bermaksud kurang baik, menggunai ketikanya itu, ia memberikan penyahutannya.

"Baiklah, aku akan mengaso terlebih dulu!"

Sambil berkata begitu, ia berlompat mundur, untuk terus mendahului menghampirkan mulut gua.

Beruntung bagi si nona muda yang Kim Jit Sian berkata demikian rupa dan Kunlun Sanjin menyambutinya, kalau tidak, ada kemungkinan ia dibokong Siang Bok Loo.

Nyonya itu merandak untuk memasuki gua begitu lekas dia mendengar suaranya Kim Jit Sian, yang menyangka salah maksudnya tadi.

Nona itu lantas menggunai kesempatannya.

Selagi Kunlun Sanjin mundur dan Siang Bok Loo belum maju, untuk menggantikannya, hingga ia jadi senggang, ia lantas bergerak sebat dan keras.

Dengan satu sabatan ia membikin Kim Jit Sian mundur, lalu mendadak ia berlompat maju seraya sambil menikam dengan jurusnya.

"Unggun tunggal di gurun pasir". Ia memapaki Siang Bok Loo dengan menikam ke dadanya! Siang Bok Loo menjadi mendongkol sekali. Ia tidak menangkis, hanya ia berkelit, sambil berkelit, ia meloloskan kedua bocah anting-antingnya, untuk dengan itu menyerang si nona. Anting-anting itu adalah senjata rahasianya yang istimewa. Itulah anting-anting yang berenceng, setiap rencengnya terdiri dari sepuluh biji. Di waktu digu-nai, antinganting itu dapat bersuara. Digunainya pun, yang satu ditimpuki lebih dulu, yang satu yang lainnya menyusul. Yang belakangan ini menyerang yang pertama, begitu beradu, keduanya dapat melesat sendiri. Demikian ketika telah beradu, kedua anting-anting itu mental ke depan mulut gua, hingga dengan sendirinya kedua senjata rahasia luar biasa itu mencegah majunya si nona dan menghalangi Kunlun Sanjin memasuki gua. Nona itu menyelamatkan dirinya dengan satu lompatan berjumpalitan, pedangnya pun dikasih bekerja, maka ia berhasil menyampok jatuh empat biji anting-anting. Kunlun Sanjin menolong diri dengan satu pukulan berbareng dengan kedua tangannya, yang menggunai jurusjurus dari "Tay In Ciu". Ia berhasil menghancurkan empat biji anting-anting hingga pecahannya berhamburan jauhnya beberapa tombak. Hanyalah, karena rintangannya Siang Bok Loo ini, si nyonya berhasil mendahului tiba di mulut gua. Ketika itu terdengar suara nyaring tetapi halus dari si nona. Katanya.

"Kalau ada kunjungan tidak dibalas, itulah tidak pantas. Maka kau juga, kau sambutlah kepunyaanku ini!"

Tangan si nona bergerak sangat cepat menyusuli katakatanya itu, lantas satu sinar perak meluncur ke arah si wanita tua yang liehay itu.

Siang Bok Loo bersenjatakan sebatang tongkat, dengan itu ia lantas mengibas.

Ia menggunai "Tiat-siu Kanghu", yaitu ilmu silat Ujung Baju Besi, niatnya untuk menggulung senjata rahasia si nona.

Akan tetapi senjata rahasia nona itu hebat.

Dengan mengasih dengar satu suara, senjata itu menembusi ujung baju, lewat terus, menyambar ke kuping, merusak liang peranti anting-anting!

Luka itu tidak membahayakan jiwa, hanya semenjak itu, tak dapat diharap si nyonya tua memakai pula sebelah antingantingnya yang liehay itu!

Bukan kepalang gusarnya nyonya tua ini.

Ialah orang yang merasa kepandaiannya sangat liehay, yang kedudukannya tinggi, sekarang ia dipermainkan seorang bocah, inilah ia tidak mau mengerti, la merasa kehormatannya sangat tersinggung.

Maka ia segera meloloskan ikat pinggangnya, dengan itu ia lantas menyerang si nona.

Itulah ikat pinggang, yang digunai sebagai joanpian atau cambuk lemas.

Di dalam gusarnya, si nyonya pun kata dengan nyaring.

"Siluman perempuan ini sangat kurang ajar, mari kita hajar padanya! Terhadapnya kita jangan pakai lagi segala aturan kangouw! Ya, tidak usah kita main berkelahi bergilir! Setelah memampuskan dia, baru kita masuk ke dalam gua untuk menggeledah!"

Di antara tiga orang itu, Kim Jit Sian yang lebih jujur, tetapi itu artinya ia bukannya tolol.

Lantas ia dapat menduga maksudnya Siang Bok Loo dan Kunlun Sanjin, yang pada mau meluruk memasuki gua.

Maka, ia lantas berpikir.

"Dengan bertiga mengepung budak ini, perbuatan itu bukan perbuatan bagus, tetapi tidak apalah asal dengan begini dapat dicegah salah satu masuk terlebih dulu ke dalam gua..."

Maka, ialah yang paling dulu menyambuti seruan si wanita, terus ia menyerang dengan tongkatnya yang luar biasa itu. Ia juga menyahuti.

"Benar! Benar! Mari kita bekerja sama, ada rejeki sama mengecapnya, ada bahaya sama menderitanya! Setelah membinasakan dia baru kita cari mustika berharga!"

Mendengar orang telah omong dengan terus terang, Kunlun Sanjin menjadi isin rasa, ia malu hati untuk melanjuti niatnya nelusup terlebih dulu ke dalam gua.

"Ya, marilah!"

Ia berkata, terus ia menyerang.

Demikian tiga jago, dengan menebali muka, mengepung si nona, nona yang mereka tidak kenal, nona yang sangat muda yang baru pernah muncul dalam Sungai Telaga.

Kepandaiannya Siang Bok Loo adalah "Jiu Kang"

Atau ilmu lunak dari silat Biteong Pay dari Tibet.

Itulah kepandaian dengan apa Siang Ceng Nio, adiknya, melawan Pengcoan Thianlie dan kena dikalahkan dengan pedangnya si Bidadari dari Sungai Es, --dikalahkan setelah seratus jurus lebih.

Dan kepandaiannya Siang Bok Loo ini lebih liehay daripada adiknya itu, maka bisa dimengerti bagaimana hebatnya ikat pinggangnya itu, yang bisa dibikin keras dan lunak menurut kehendak hati.

Keras dapat dipakai menghajar, lunak dapat dipakai melibat!

Dengan lekas si nona kena terdesak.

Melayani dua musuh, ia masih bisa bertahan, tetapi menghadapi tiga lawan, satu antaranya wanita tua ini, itulah hebat.

Dengan cepat terlihat ia cuma bisa membela diri, tidak lagi ia dapat membalas menyerang seperti semula tadi.

Syukur ia gesit sekali, dapat ia senantiasa menghalau diri dari bahaya.

Kunlun Sanjin dengan Tay Ciu In saban-saban menyampok mental pedang si nona, Siang Bok Loo dengan ikat pinggangnya selalu mencoba melibat lengan nona itu.

Sedang Kim Jit Sian, dengan tongkatnya, hendak mempengaruhi pedang orang.

Selagi mereka bertempur dahsyat itu, mendadak terdengar tertawa aneh dari Kunlun Sanjin, yang tangannya-secara mendadak menepuk ke jidat si nona!

Sambil berkelit tunduk dengan gerakan "Hong tiamtauw"

Atau "Burung hong mengangguk", si nona menolong dirinya, berbareng dengan itu, tusuk konde di rambutnya lantas melesat menyambar!

Kunlun Sanjin mengenal baik liehaynya tusuk konde perak itu, karena memang ia selalu waspada, ia bisa lantas melayaninya.

Dengan tangan kiri, dengan satu gerakan lunak, ia menghalau senjata rahasia itu, di lain pihak, dengan tangan kanan, dengan tenaga keras dari Tay Ciu In, ia membarengi menyerang ke kepala si nona.

Dengan tenaga lunaknya, dengan kepandaiannya yang tinggi, Kunlun Sanjin percaya ia dapat mengawasi tusuk konde perak si nona, bisa ia menangkapnya.

Tapi di luar dugaannya, justeru ia menangkap, justeru ia merasakan sakit di lengan kirinya itu, seperti tusukan jarum.

Karena kagetnya, serangan tangan kanannya menjadi ayal sendirinya, tenaganya yang dikerahkan menjadi berkurang.

Ini kelambatan Berarti memberi ketika kepada tusuk konde, yang melesat ke atas, tepat nancap di telapakan tangan, hingga gagallah tepukan itu!

Si nona sangat cerdik.

Melihat ia telah berhasil, ia berlaku sebat luar biasa.

Ia bergerak lincah dengan tindakan "Ular naga melingkar bertindak mutar", sambil memutar diri, pedangnya menyontek maka tidak ampun pula, ikat pinggang kiri dari Siang Bok Loo kena diputuskan.

Tapi ia tidak berhenti sampai disitu.

Pedangnya itu, dengan jurus "Menolak jendela memandang si puteri malam", dipakai menyampok tongkatnya Kim Jit Sian!

Siang Bok Loo dan Kim Jit Sian masih belum tahu yang Kunlun Sanjin telah kena dilukai si nona, mereka bahkan heran kenapa mereka, yang mengepung, masih belum dapat merobohkannya.

Adalah si orang Tibet sendiri, yang tangannya mengucurkan darah, berseru dalam kegusarannya.

"Perempuan siluman, kau menggunai senjata rahasia jahat apa? Hari ini tidak dapat tidak, aku mesti menghendaki jiwamu!"

Sehabis mengatakan demikian, ia mengertak gigi, untuk menahan sakit, guna mencabut senjata yang nancap di tangannya "itu, hingga sekarang ia mengetahui, bahwa senjata si nona itu ialah tusuk konde perak.

Dalam murkanya ia mengeluarkan sepasang poankoan pit, senjata semacam alat tulis, sembari maju ia memutar yang kanan, guna menjaga dadanya, sedang dengan yang kiri, terus ia menyerang.

Di saat kalapnya Kunlun Sanjin ini, di lereng gunung terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak seraya terus berkata dengan nyaring.

"Siluman tua bangka yang picak matanya! Tadi bukannya aku yang menghajar kau, kau menuduh aku! Sekarang terang-terang akulah yang menghajar, kau sebaliknya menuduh lain orang! Sungguh lucu! Orang tua dungu sebagai kau, yang ada matanya tetapi tidak ada bijinya, cara bagaimana kau masih berani muncul disini untuk mencari malu saja?"

Kang Lam mendengar suara itu, ia menjadi demikian girang hingga ia lupa pada takutnya, ia lantas menarik tangannya Ciang Hee sambil berkata.

"Aku telah bilang dia pasti datang! Nah, kau lihat, apakah itu bukan dianya?"

Terus ia merayap keluar dengan niat melihat orang yang tertawa dan berbicara itu.

Justeru itu serangannya Kim Jit Sian mengenai batu di mulut gua, hingga batu itu pecah dan meletik ke segala penjuru, maka lekas-lekas ia mundur pula untuk melindungi diri.

"Kau sabarlah!"

Kata Ciang Hee tertawa.

"Kau tunggu sampai Kim Tayhiap-mu itu menang, baru kau keluar untuk menemuinya!"

Kang Lam berdiam. Di luar lantas terdengar pula suaranya orang tadi, ialah Kim Sie le. Katanya.

"Kang Lam, hatimu baik sekali! Kau nyata masih mengingat aku! Baiklah dengan memandang kau, hendak aku membikin ketiga telur busuk ini menggelinding pergi!"

Ciang Hee tertawa mendengar perkataan orang itu. Ia kata di dalam hatinya.

"Ayah dan ibu menyebut-nyebut Kim Sie le dengan cara yang sangat menakuti, siapa kira dia justeru orang begini jenaka dan menarik hati."

Kang Lam pun girang sekali, ia mengawasi si nona sambil menunjuk hidungnya, maksudnya hendak mengatakan.

"Kau lihat, bukankah aku tidak meniup kerbau? Kim Sie Ie telah datang karena dia memandang mukaku!"

Akan tetapi sebenarnya, Kim Sie Ie datang untuk si nona kecil yang liehay itu.

Ketika dia dimaki-maki rombongan dari tiga orang liehay itu, dia sudah datang sekian lama, dia dari itu mengetahui itu, bahkan dia mengetahui juga si nona bersembunyi di dekat mereka.

Dia lantas bersembunyi di belakang nona itu, terus dia mengintai.

Siang Bok Loo bertiga tidak mendapat tahu yang si nona lagi mengintai mereka.

Si nona juga, karena dia sangat memperhatikan tiga orang itu, tidak menginsyafi dirinya diawasi orang lain.

Maka itu, mereka jadi saling mengintai.

Kim Sie Ie terus bersembunyi karena ia ingin menyaksikan kepandaiannya si nona, yang kelihatannya bernyali besar itu.

Ia heran akan mendapat kenyataan si nona liehay, dari itu di saat nona itu menghadapi ancaman bencana, ia lantas keluar dari tempatnya sembunyi, untuk memperlihatkan diri.

Tiga orang itu heran atas munculnya Kim Sie Ie, hanya sejenak, mereka lantas bersiap sedia.

Akan tetapi mereka menanti dengan sia-sia belaka.

Kim Sie le cuma mengejek, terus dia berdiam saja, tidak ngoceh terus, pula tidak datang menghampiri, dia hanya berbicara dengan Kang Lam.

Mereka menjadi mendongkol.

Terang mereka tidak dipandang mata.

Akhirnya Kim Jit Sian menjadi gusar.

Hanyalah, di saat ia hendak mengajukan tantangan, tiba-tiba Kim Sie le berlompat maju, dia tertawa dingin dan berkata secara jenaka.

"Ha! Apakah kau berniat berkelahi?"

Habis menanya, tanpa menunggu jawaban, dia menyerang dengan tongkat besinya, kelihatannya serangannya itu tidak memakai aturan ilmu silat, tetapi sebenarnya dengan lantas dia mengarah jalan darah.

Si orang Hui terkejut, dengan lantas ia membela diri.

Karena serangan Kim Sie Ie lantas saling susul, ia menggunai Thianlui Panghoat untuk mengimbangi.

Dengan lantas mereka bertempur seru, yang satu mendesak, yang lain melayani, agaknya yang melayani ini repot.

Segera juga terdengar satu bentrokan keras, atas mana Kim Jit Sian lompat melesat jauhnya sekira satu tombak.

"Mari, Mari!"

Kim Sie Ie menantang.

"Jurusmu ini liehay sekali!"

Bentrokan barusan menunjuki keliehayannya Kim Jit Sian meskipun benar karena itu, telapakan tangannya terluka melekah dan mengeluarkan darah, sebaliknya Kim Sie le, tubuhnya sedikit terhuyung.

Kim Sie le menyerang hebat, Kim Jit Sian dapat mengelakkannya.

Kim Sie le merasai ketangguhan orang, dari itu ia menjadi kagum.

Tapi ia segera menantang pula.

Menyaksikan aksinya Kim Sie Ie itu, Kunlun Sanjin dan Siang Bok Loo maju serentak, untuk menyerang.

Mereka membantui Kim Jit Sian tanpa memikir-mikir lagi.

Tadipun, melawan si nona, mereka main mengeroyok.

Kunlun Sanjin adalah yang maju paling dulu, terus ia menyerang dengan ilmu silatnya Tay Ciu In.

"Aduh, celaka!"

Menjerit Kim Sie le, ketika ia diserang dengan tepukan, tubuhnya juga lantas roboh jumpalitan.

Jago Tibet itu heran bukan main, ia kaget.

Belum pernah ia menyaksikan orang bersilat secara aneh seperti Kim Sie Ie ini.

Tengah ia memikir, Kim Sie Ie sembari jatuh telah mengulurkan tongkatnya, yang ujungnya tepat mengenai betis lawan.

Maka tanpa ampun lagi, lawannya yang garang itu lantas roboh terguling.

Justeru itu Siang Bok Loo sudah datang dekat, segera dia menyerang dengan ikat pinggangnya, dengan niat melilit tangan orang.

Tidak tahunya, karena robohnya kawannya, ia telah kena melibat tubuh kawannya itu, yang roboh tak berdaya!

Kim Sie Ie tertawa lebar, tanpa menghiraukan Kim Jit Sian, yang maju ke depan Siang Bok Loo, ia kata dengan tertawa.

"Jangan kuatir! Tidak biasanya aku menghajar lawan yang sudah habis tenaga perlawanannya!"

Ketika itu Siang Bok Loo telah berhasil meloloskan ikat pinggangnya dari kawannya dan si kawan, Kunlun Sanjin, lantas berlompat bangun.

Orang Tibet ini gusar bukan main, dengan poankoan pit-nya, ia lantas menyerang.

Ia agaknya hendak mengadu jiwa.

Di dalam tongkatnya Kim Sie Ie ada pedang pendeknya, pedang itu ia keluarkan, untuk dipakai melayani sepasang senjata model alat tulis dari lawannya itu.

Dengan tongkatnya ia menangkis mental tongkatnya Kim Jit Sian, dengan pedangnya ia menghalau ancaman bahaya dari Kunlun Sanjin.

Siang Bok Loo melihat orang menggunai dua senjata, pedang dan tongkat, ia memasang mata, kapan telah datang ketikanya, ia menyerang dengan ikat pinggangnya.

Ia membuat ujung ikat pinggang itu kaku, guna menusuk mata musuh.

Kalau ini gagal, ikat pinggang itu dapat diteruskan guna melilit leher.

"Hai, nenek kejam!"

Membentak Kim Sie Ie, yang bisa menerka maksud wanita kurus kering itu.

Belum lagi serangan datang, ia sudah menjatuhkan diri.

Tapi justeru ia berkelit, justeru Kunlun Sanjin berlompat maju untuk menikam punggungnya dengan sepasang poankoan pit-nya.

Si nona, yang seperti diwakilkan Kim Sie Ie, memperhatikan jalannya pertempuran itu.

Begitu juga Kang Lam dan Ciang Hee.

Sepasang muda-mudi ini berseru bahna kaget menyaksikan Kim Sie Ie terancam bahaya itu.

Tapi si nona adalah lain.

Ia berlompat maju, pedangnya dikerjakan, dipakai menggagalkan bokongannya Kunlun Sanjin itu, hingga sepasang poankoan pit mental ke samping.

Kim Sie Ie berlompat bangun begitu bahaya lewat, ia berdiri dan tertawa.

"Bagus ilmu pedangmu!"

Katanya memuji.

Nona itu heran atau segera ia mengerti, orang ini lagi mainmain dengannya.

Itu artinya, tanpa ia membantui, Kunlun Sanjin tidak nanti dapat melukai orang yang dibokong itu.

Kim Sie Ie maju pula, ke depannya Siang Bok Loo.

Ia maju sambil jumpalitan.

"Kang Lam, Kang Lam!"

Katanya.

"Kau lihat, aku mengajari kau sejurus ilmu yang aneh!"

Nyonya itu tidak menggubris kelakar orang itu, ia segera menyerang dengan ikat pinggangnya.

Seperti biasa, ia memegang ikat pinggang di tengah-tengah, hingga ujungnya menjadi sepasang.

Ia mencoba melibat tongkat musuhnya.

Kim Sie Ie berjingkrak, mengelil tongkatnya dari sambaran, dengan tangannya yang lain, ia mengusap mukanya wanita tua kurus kering itu, sembari tertawa dia menggoda.

"Ha, mukamu penuh keriputan! Orang tua sebagai kau mestinya berdiam di dalam rumah untuk mengicipi kebahagiaan, kenapa kau justeru masuk ke dalam dunia kangouw menciptakan yang tidak-tidak?"

Mukanya Siang Bok Loo menjadi merah padam, hatinya bukan main panasnya.

Ia menyerang dengan ikat pinggangnya, mendahului mana, Kim Sie Ie lompat mundur, sembari lompat dia tertawa hihi-hihi.

Kang Lam merasa sangat lucu hingga ia tertawa terpingkalpingkal hingga ia lupa pada keadaannya yang sebenarnya.

Dengan nyaring ia kata.

"Eh, eh, aku masih belum melihat tegas!"

"Jurusku yang aneh ini cuma dapat dilakukan satu kali, kalau hampai dua kali, cade!"

Berkata Kim Sie Ie.

"Siapa suruh kau tidak memperhatikan betul-betul?"

Kali ini Kim Sie Ie tidak lagi bergurau.

Memang, orang segagah Siang Bok Loo tidak dapat dipermainkan terus menerus.

Tadi pun dia diserang di saat dia tidak pnenyangka, tidak mengira, k "Lekas minta dia membereskan ketiga siluman itu,"

Ciang Hee berbisik pada si pemuda.

"Tidak ingin aku mendengar ocehan mereka itu lebih lama pula!"

Nona ini bicara dengan perlahan tetapi Kim Sie le rupanya dapat mendengar, karena dia lantas berkata.

"Benar! Aku juga tidak memikir untuk mendengari ocehan mereka! Baik, baiklah, untukmu aku tidak mau bekerja kepalang tanggung, supaya seperti mengantar Budha, mesti mengantarnya sampai di Tanah Barat! Sekarang hayolah kau bantui aku bertempur, jikalau tidak, sendiri saja tidak sanggup aku menghajar mereka!"

Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada si nona, sebab semenjak tadi nona itu seperti berdiam saja.

Si nona mendelu karena orang main-main dengannya, sudah begitu ia juga ingin menyaksikan kepandaian orang-ia hendak melihat, Kim Sie Ie dapat melayani tiga jago itu atau tidak.

Ia tidak menduga, Kim Sie Ie dapat menebak pikirannya itu.

Kang Lam mengerti, ia lantas berkata.

"Di dalam kalangan kangouw, budi itu yang utama! Nona, tadi Kim Tayhiap membantui kau, maka itu apa boleh kau tidak membantu dia?"

Bukannya gusar, nona itu justeru tertawa.

Ia tahu, dua orang itu lagi mengolok padanya.

Justeru ia tertawa, justeru Kim Jit Sian menyerang Kim Sie Ie.

Kim Jit Sian telah menggunai jurusnya "Guntur dan halilintar saling mendengung".

Kim Sie Ie melihat serangan itu, ia menangkis.

Dengan begitu, senjata mereka jadi bentrok keras.

Kemudian dengan perlahan Kim Sie Ie kata pada si nona.

"Nona, kau berkelahilah dengan sungguh-sungguh. Ini ada permainan jiwa, kita tidak boleh main-main!"

Mendongkol nona itu, mukanya menjadi merah.

Kim Sie Ie yang main-main, sekarang ialah yang dituduh, bahkan ia dikatakan berkelahi kurang sungguh hati.

Untuk sejenak itu ia bersangsi.

Ingin ia meninggalkan pergi tetapi ia melihat ilmu silat orang luar biasa, ia ketarik hati.

Kim Sie Ie mengambil kedudukan begitu rupa hingga ia seperti mau menghalangi kepergiannya si nona.

Ia pun seperti sengaja supaya ketiga lawan itu menyerang juga nona itu.

Inilah si nona dapat melihatnya Di samping itu, ketiga musuh itu memang liehay sekali, mereka tidak dapat dilayani secara main-main.

Maka akhirnya, saking terdesak suasana, si nona terpaksa berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Dengan begitu, beberapa kali ia mesti melayani desakan mereka itu.

Kim Sie le membantu si nona dari samping.

Ia bukan seperti lagi berkelahi, hanya bagaikan tengah menggerecok.

Dengan caranya ini ia memperhatikan terlebih jauh ilmu silatnya itu tiga orang yang liehay.

Ia merasa, kalau ia mesti bersendirian saja melawan mereka, itulah hebat, mungkin ia keteter.

Dengan caranya ini pun ia bisa mencari ketika untuk menyerang secara benar-benar.

Demikian mereka bertempur terus.

"Kena!"

Mendadak Kim Sie Ie berseru.

Dengan tongkat besinya, dengan gerakan "Mengangkat obor membakar langit", ia menyerang Kunlun Sanjin, justeru orang Tibet itu hendak menyerang padanya dengan pukulan Tay Ciu In.

Tepat serangan itu mengenai sasarannya, sampai Kunlun Sanjin merasakan nyeri hingga di uluhati, hingga sebelah tangannya tak dapat digunai lagi.

Kim Sie Ie tertawa lebar.

Mendadak ia memutar tubuh ke samping.

"Fui!"

Ia meludah, ke arah Siang Bok Loo, si wanita tua kurus kering.

Nyonya ini tahu liehaynya ludah orang, dia berkelit sambil lompat berjumpalitan.

Justeru dia menyingkir, justeru Kim Sie le berlompat mengejar, dengan ujung tongkatnya, Kim Sie Ie, menusuk kempolannya.

Dia menjerit keras, tubuhnya roboh terbanting terus menggelinding.

Ketika dia berlompat bangun, dia melihat Kunlun Sanjin mendahului dia lari kabur bagaikan terbang disebabkan tangannya luka parah, mungkin sebelum berobat dan berlatih pula tiga tahun, tidak dapat tangan itu dipakai pula bersilat dengan ilmu silatnya Tay Ciu In itu.

Seumurnya belum pernah Siang Bok Loo terhina secara begini, maka bisa dimengerti yang kegusarannya telah memuncak, akan tetapi, kendati begitu, ialah seorang yang insyaf, yang dapat menggunai otaknya, dari itu ia tahu baik sekali, dengan Kunlun Sanjin sudah kabur, percuma ia ngotot, bukannya ia akan mendapat kepuasan, sebaliknya mungkin dia bakal perhinakan terlebih jauh.

Demikian di akhirnya, ia menyontoh kawan-fciya, ia juga lantas mengangkat langkah seribu!

Ia kabur tanpa memperdulikan Kim Jit Sian.

Si orang Hui lantas melihat bahwa ia berada sendirian, tetapi ia tengah didesak si nona, ia repot Kekali.

Kim Sie Ie menunda penyerangannya, ia kata pada orang Hui Itu.

"Bocah, kau mempunyai tulang, maka itu, dengan memandang tulang tulangmu, aku tidak tega hati menghajar padamu! Nah, kau pergilah, jangan kau tunggu waktu lagi!"

Kim Jit Sian menghela napas. Ia menyimpan tongkatnya. Ia lantas kata dengan sengit saking penasarannya.

"Jikalau aku tidak dapat membangun suatu partai persilatan baru, selanjutnya tidak dapat aku datang pula ke Tionggoan!"

Kim Sie le tertawa.

"Janganlah bersumpah berat, sahabat!"

Ia berkata.

"Lebih baik karilah kita bersahabat!"

Dan ia mengulur tangannya. Kim Jit Sian mengulur tangannya. Ia pikir.

"Jikalau dia hendak membinasakan aku, aku toh tidak bakal dapat lari..."

Begitu mereka iberpegangan tangan, ia merasakan tenaga menolak dari Kim Sie Ie.

Lekas-lekas ia mengerahkan tenaganya, untuk melawan.

Justeru ia menggunai tenaga, justeru tenaganya Kim Sie Ie lenyap, tangan dia itu menjadi seperti lilin dan terlepas.

Ia sendiri, karena ia berkuat-kuat, tubuhnya menjadi terhuyung ke depan.

Kim Sie Ie tertawa.

"Bagus kau tidak roboh!"

Katanya.

"Baiklah, dengan pokok dasarmu ini, kau dapat membangun satu partai persilatan! Sekarang kau pulanglah, baik-baik kau jaga dirimu!"

Kim Jit Sian tercengang, sekarang baru ia tahu bahwa orang lagi menguji padanya.

Dengan muka merah, tak tahu mesti tertawa atau menangis, ia membuka langkah lebar!

Kang Lam lompat keluar dari dalam gua.

"Bagus! Bagus!"

Serunya girang.

"Hebat kempolannya si wanita bangkotan!"

Kim Sie Ie tidak tertawa, ia tidak menganggap orang jenaka. Sebaliknya, ia mengasih lihat roman bengis.

"Kang Lam, lekas kau kembali sembunyi ke dalam gua!"

Bentaknya.

"Kau mesti lagi sekali menjadi si tikus tua! Sebentar saja! Aku belum puas berkelahi!"

Kang Lam heran dan hendak menanya.

"Kau hendak bertempur sama siapa lagi?"

Atau mendadak ia melihat Kim Sie Ie,-dengan cara sekonyong-konyong,--menyerang ke pinggang si nona! Bukan main kagetnya ia. Lantas ia berteriak-teriak.

"Celaka! Celaka! Kim Tayhiap tersesat!"

Si nona juga kaget bukan kepalang.

Itulah serangan di luar dugaannya.

Akan tetapi ia bermata celi, gesit dan enteng tubuhnya.

Dengan menjejak tanah, ia berkelit mencelat.

Ia hendak membuka mulutnya, untuk menanya, atau serangan yang kedua kali telah menyusul.

Bahkan inilah serangan liehay dua kali lipat, saking cepatnya.

Lagi sekali si nona berkelit, sekarang dengan mengapungi tubuh seraya kedua kakinya diangkat tertekuk.

Karena serangan itu menuju ke bawah.

Dengan begitu, tongkat besi lewat di bawahan kakinya.

Berbareng dengan itu, pedang besi menyambar ke arah perut.

Serangan ini juga dapat dihindarkan si nona, yang berbareng membabat dari samping, maka dengan begitu kedua pedang bentrok sambil memperdengarkan suara nyaring.

"Eh, apakah artinya ini?"

Menegur si nona selagi menaruh kaki. Belum berhenti pertanyaan nona ini atau kembali datang serangan tongkat besi Kim Sie Ie, yang menggunai jurus "Taypeng tiancie"

Atau "Burung garuda mementang sayap".

Ujung tongkat umpama kata menuju ke timur tetapi arahnya yang benar ialah barat!

Kang Lam kaget, kembali ia berteriak.

Ketika ada peletikan batu, yang mengenai jidatnya, ia ngelepot ke dalam.

Ciang Hee menarik si anak muda.

"Syukur, syukur, kau tidak terluka!"

Katanya.

"Ah, Kim Sie Ie aneh sekali..."

"Pasti sekali dia sesat!"

Kata Kang Lam.

"Aku ingin memberikan dia obat Pekleng Tan, supaya pikirannya tidak terganggu pula, tetapi mereka lagi bertarung dahsyat sekali, dia tidak dapat di dekati. Kecuali salah satu terhajar roboh, baru mereka itu dapat dipisahkan..."

Ciang Hee memegang tangan Kang Lam erat sekali.

Ia berkuatir untuk si nona, yang diserang hebat oleh Kim Sie le.

Nona itu merasakan desakannya Kim Sie Ie, ia terpaksa menggunai ilmu pedangnya untuk melayani dengan sungguhsungguh.

Ia heran.

Sembari berkelahi, ia perhatikan penyerangnya itu.

Ia merasa orang bukannya lagi bergurau dengannya, juga orang bukan terganggu asabatnya.

Pula, di waktu demikian, tidak dapat ia memecah perhatiannya, untuk berbicara.

Oleh karena Kim Sie Ie mendesak hebat, dalam waktu yang pendek, mereka sudah bertempur kira-kira lima puluh jurus.

Selama itu, keadaan mereka berimbang saja.

Masih Kim Sie Ie menyerang hebat, sampai mendadak ia berseru membarengi serangannya yang sangat dahsyat, yang seperti datangnya dari empat penjuru Kang Lam terus mengintai, lagi-lagi ia terkejut.

Ia berkuatir sangat si nona, yang muda belia dan cantik Itu, nanti terbinasakan di bawah tongkat besi yang seperti tidak mengenal kasihan itu.

Di saat yang sangat mengancam itu, Kang Lam lantas melihat sesuatu yang membuatnya sangat kagum.

Ia hampir tidak percaya pada matanya sendiri.

Si nona telah menempel ujung tongkat besi dengan ujung pedangnya mengikuti gerakan tongkat Kim Sie Ie, rubuhnya turut naik, selagi tubuhnya itu terangkat, dengan menekan tongkat, ia terus melesat berjumpalitan, hingga dapat ia memisahkan diri beberapa tombak jauhnya dari si pengemis "edan"

Itu! Berbareng sama menyingkirnya si nona, Kim Sie le tertawa terbahak-bahak.

"Benar! Benar!"

Serunya, gem->bira.

"Kau benarlah muridnya Lu 'Su Nio!"

Mendengar itu, bukan main leganya hati Kang Lam.

Sekaranglah baru ternyata, Kim Sie Ie benar-benar lagi bergurau, bahwa si nona sedang diuji.

Di antara gurunya Kim Sie Ie ini, yaitu Tokliong Cuncia, dan Lu Su Nio, ada hubungan yang erat pertaliannya.

Tokliong Cuncia, yang sesat, telah ditolong Lu Su Nio hingga dia bebas dari kesesatannya itu.

Tokliong Cuncia tidak menghargai siapa juga, tetapi terhadap Lu Su Nio adalah lain, karena itu sering ia omong sama muridnya tentang jago wanita itu, hingga semenjak dia kecil, di otak Kim Sie Ie sudah berpeta tentang kegagahannya Lu Su Nio.

Ia mendapat kesan baik terhadap nona ini, yang ilmu pedangnya sempurna dan mengaku sebagai muridnya Lu Su Nio itu.

Ia sering mendengar tentang Lu Su Nio dan ilmu pedangnya, tetapi ilmu pedang itu ia belum pernah lihat, maka juga, melihat ilmu silat si nona, yang ia duga ilmu pedang Hian Lie Kiam-hoat adanya, timbul niatnya untuk mencoba-coba.

Demikian ia membawa lagak edannya itu, untuk memaksa si nona mengeluarkan semua kepandaiannya.

Dulu hari itu, Tokliong Cuncia dibikin kagum dengan Hian Lie Kiamhoat dan untuk beberapa puluh tahun dia mengaguminya terus.

Sekarang Kang Lam melihat Kim Sie Ie, sehabisnya memasuki pedang pendeknya ke dalam sarungnya, yang berupa tongkat besi itu, menghampirkan si nona dengan tindakan perlahan.

Si nona sebaliknya, dengan pedangnya di dada, mengawasi dia dengan tajam, siap sedia untuk sesuatu penyerangan.

"Apakah Lu Su Nio cuma mempunyai kau satu murid?"

Kim Sie Ie menanya si nona.

"Benar!"

Menjawab nona itu.

"Apa perlunya kau menanya begini?"

Kim Sie Ie mengawasi, ia menunjuki roman sungguhsungguh.

Mendadak ia menjura kepada nona itu, kedua tangannya dikasih turun hingga ke dengkulnya.

Itulah pemberian hormat istimewa, jarang dilakukannya kecuali terhadap gurunya.

Nona itu terkejut, segera ia menyingkir.

"Aku menghormati gurumu, jangan kau menyingkirkan diri,"

Berkata Kim Sie Ie.

"Juga jangan kau membalas hormat. Kalau tidak, itu artinya kau tidak memandang aku."

Habis memberi hormat, tiba-tiba dia menangis menggerung-gerung.

"Heran!"

Kata Kang Lam di dalam hatinya.

"Dia tahu orang muridnya Lu Su Nio, sudah cukup dia menghaturkan maaf, kenapa sekarang dia menangis begini sedih? Ah, apakah benar-benar dia telah terkena gangguan kesesatan?"

Oleh karena memikir demikian, pemuda ini ingin keluar untuk menghiburkan.

Akan tetapi begitu ia ingat perkataan Kim Sie Ie barusan, yang mengharuskan ia menjadi si "tikus tua", ia batal, kakinya yang sudah diangkat, untuk dipakai bertindak, lantas ditarik pulang.

Si nona agaknya bingung.

"Kiranya kau telah mengetahui guruku telah berpulang ke lain dunia,"

Katanya kemudian.

"Gurumu itu dikubur di mana?"

Kim Sie Ie tanya. Ia tidak menyahuti.

"Di atas gunung Binsan, di sisi kuburan kakek guruku."

"Sayang, seumur hidupku, tidak dapat aku menemui gurumu,"

Kata pula Kim Sie Ie. Air matanya si nona mengem-beng. la tahu hal ikhwalnya Tokliong Cuncia, yang ditakluki dan ditolong gurunya. Ia mengagumi Kim Sie Ie ini. Pikirnya.

"Orang menyebutnya murid Tokliong Cuncia sebagai seorang Rimba Persilatan yang aneh, sebenarnya dia berbudi pekerti halus."

Maka ia lantas menghiburkan.

"Sebenarnya telah dua kali guruku melihat kau, hanyalah kau sendiri tidak mengetahui itu."

"Di manakah itu terjadinya?"

Kim Sie Ie tanya, heran.

"Yang pertama kali di atas gunung Ngobie San, di waktu Mo Locianpwee mengadakan khotbah tahunan yang dinamakan kiatyan. Mukanya Kim Sie Ie menjadi merah. Ia ingat itu hari ia justeru terkena racunnya Tong Beng Cu si siluman, hingga ia mesti kabur turun gunung.

"Yang kedua?"

Ia tanya pula.

"Yang kedua kali ialah di atas gunung Himalaya. Guruku melihat kau mendaki puncak Cholmo Lungma tetapi kau tidak melihatnya. Bukankah benar kau telah mendaki puncak gunung itu?"

Cuma dua hal yang mendukakan Kim Sie Ie, pertama kekalahannya di tangan Tong Beng Cu, dan kedua kegagalannya di gunung Himalaya itu, siapa tahu, dua-duanya itu justeru diketahui Lu Su Nio.

"Guruku mengagumi ilmu silat-jmu,"

Berkata si nona. Kim Sie Ie malu berbareng girang.

"Ada apa lagi yang gurumu bilang tentang aku?"

Ia tanya. Nona itu menatap muka orang.

"Tidak ada apa-apa lagi,"

Sahutnya.

"Guruku melainkan mengatakan, mengharap kau nanti membikin tersiar dan harum ilmu silat ciptaannya Tokliong Cuncia."

Kim Sie Ie melihat sinar mata orang.

Sebagai seorang cerdik, ia menduga si nona masih hendak mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak berani membilang apa-apa.

Coba terhadap lain orang, tentulah ia [sudah mengejek.

Ia sekarang melainkan bisa berduka sendirinya.

"Kim Tayhiap-mu ini menarik hati,"

Ciang Hee berbisik pada Kang Lam. Seperti si anak muda, ia pun mengintai dan menonton gerak-geriknya itu dua orang, terutama tindak-tanduknya si pengemis kusta.

"Tadi tidak keruan-keruan dia menyerang orang, habis dia memberi hormat dia memasang omong. Ah, dia mirip kau ketika pertama kali kita bertemu!"

"Begitu?"

Kata Kang Lam.

"Kalau benar, Kim Tayhiap dan dia pasti akan mengikat tali persahabatan..."

Ciang Hee likat sendirinya. Di dalam hatinya, ia kata.

"Jadinya kau, begitu kau bertemu dengan aku, ingin kau mengikat persahabatan?..."

Mereka tidak sempat bicara banyak-banyak, atau berpikir. Terlihat pula Kim Sie Ie menjura lagi kepada si nona, siapa tetap menyingkirkan diri, hanya sekarang cuma sambil memiringkan tubuh.

"Untuk apakah ini?"

Si nona tanya, tertawa. Ia tidak gusar atau kurang senang mengenai kelakuan orang itu.

"Sebenarnya ketiga siluman tadi hendak mempersulit aku, aku menghaturkan terima kasih yang kau telah mendahului menalangi aku melayani mereka,"

Menyahut Kim Sie Ie.

"Di samping itu, barusan aku bersikap kurang ajar terhadap kau, untuk itu aku belum sempat menghaturkan maafku."

"Itulah tidak ada artinya!"

Berkata si nona tertawa.

"Jikalau kau tidak menguji aku, aku justeru hendak menguji kau. Sekarang aku mendapat bukti bahwa kau benarlah muridnya Tokliong Cuncia. Bukan saja kau gagah, pula sifatmu mirip sama sifat gurumu itu."

Kim Sie Ie tertawa.

"Kapannya kau bertemu guruku?"

Dia tanya.

"Guruku yang membilanginya. Suhu membilang, separuh dari penghidupan gurumu itu ada penghidupan yang luar biasa, baru kemudian, yang separuh lagi menjadi mendingan. Benarkah itu?"

Kim Sie Ie nampaknya masgul, ia mengangguk perlahan.

"Benar,"

Ia menyahut. Di dalam hatinya, ia berkata.

"Guruku bertemu sama Lu Su Nio, yang mengetahui sifatnya, dia dapat mengubah tabiatnya. Tapi aku, aku tidak demikian beruntung..."

"Ya, tadi kau telah membantui aku, untuk itu aku harus menghaturkan terima kasihku!"

Kata si nona kemudian. Tanpa menanti lagi, ia memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya. Kim Sie Ie tertawa terbahak.

"Aku ialah orang yang paling tidak gemar banyak tingkah!"

Katanya.

"Tadinya dua kali aku memberi hormat padamu, itulah karena hatiku yang sungguh-sungguh, untuk itu aku tidak mengharap pembalasan budimu."

Ia melirik si nona, terus ia menambahkan.

"Tapi, aku pun melihat, hormatmu ini, hormat sungguh-sungguh, maka aku tidak mau sungkan-sungkan lagi, aku terima hormatmu ini."

Kang Lam ketarik menyaksikan kelakuan dua orang itu.

"Lihatlah mereka saling memberi hormat!"

Katanya pada Ciang Hee, perlahan tetapi sambil tertawa.

"Mereka mirip tetamu-tetamu yang saling menghormati satu pada lain!"

Kata-kata ini Kang Lam me-nyangkoknya dari Tan Thian Oe, majikannya yang muda. Ciang Hee tertawa.

"Kau tahu apa tentang saling menghormat bagaikan tetamu itu?"

Katanya.

"Sudah, jangan kau ngaco belo!"

"Tentu aku tahu artinya itu!"

Menyahut Kang Lam.

"Begitulah aku terhadap kau, aku menghormati kau sebagai tetamu!"

Nona Ciang tertawa terpingkal-pingkal.

"Sudahlah!"

Katanya.

"Kau ketahui namaku, aku belum ketahui nama kau,"

Demikian mereka mendengar pula suaranya Kim Sie le, hingga mereka berhenti bergurau.

"Aku bernama Kok Cie Hoa,"

Menyahut si nona.

"Kok artinya lembah dan Hoa ialah keindahan."

"Bagus, itulah nama yang batas!"

Kim Sie le memuji. Ia berkelakuan mirip anak-anak. Si nona tertawa dan lalu mengadakan.

"Namamu itu aku justeru Kurang menyukainya!"

Kim Sie ie mementang matanya lebar-lebar.

"Kenapa?"

Ia tanya. Si nona tertawa.

"Namamu itu, kalau didengar,"

Katanya.

"seperti mengandung maksud bahwa di masa hidupmu sekarang ini kau sebagai juga orang mensia-siakannya!"

Tepat tafsiran si nona.

Kim Sie ia memakai namanya itu memang dengan maksud demikian.

She-nya, Kim, berarti "emas", dan namanya, Sie le, artinya, dibuang atau disia-siakan dunia.

Habis tertawa dan berkata itu, si nona berkata pula, perlahan.

"Sebenarnya, kenyataannya, manusia itu tak ada demikian menakuti seperti yang kau pikir..."

Kim Sie le tertawa sambil berlenggak.

"Kata-katamu ini pernah diutamakan oleh beberapa orang lain,"

Tatanya.

"Baiklah, mungkin untuk separuh dari selebihnya hidupku ini, namaku akan aku ubah..."

Si nona tertawa pula.

"Kau tahu adat kebiasaan di kampung halamanku"

Katanya.

"Kalau di sana ada satu orang yang singgah di rumah orang, untuk minta bermalam, lalu kebetulan yang empunya rumah melahirkan anak, maka dia harus memberikan sesuatu hadiah..."

Kim Sie le tercengang. Ia heran. Kenapa si nona boleh mendadak omong tentang kebiasaan yang langka dari kampung halamannya itu? Si nona, dengan perlahan, menambahkan.

"Hari ini kau telah mengutarakan niatmu untuk merubah namamu itu, sikapmu ini mirip sama si bayi yang baru dilahirkan itu, yang belum mempunyai nama, yang bakal diberikan namanya. Biar bagaimana, setelah ada kata-katamu ini, kau lain dari Kim Sie Ie yang dulu, kau seperti ada dua macam Kim Sie Ie..."

Si nona bicara dengan polos sekali, tetapi kata-katanya itu mengandung arti. Dan Kim Sie Ie, yang cerdas, dapat mengerti itu. Maka dia lantas tertawa terbahak. Dia kata.

"Aku sendiri juga tidak tahu kapan aku bakal jadi manusia lagi. Baiklah! Kau hendak memberi hadiah padaku. Barang apakah itu? Mari kasih aku lihat!"

"Aku hendak meminjam bunga untuk dihaturkan kepada Sang Budha,"

Menyahut si nona.

"Bunga? Mana bunganya?"

"Aku telah minta sahabat kecilmu untuk menyampaikannya kepada kau,"

Menjawab si nona, yang terus berpaling seraya melanjuti.

"Hai, sahabat, kaukah yang dipanggil Kang Lam? Aku minta sukalah kau menyerahkan kepada Kim Sie Ie yang sekarang ini!"

Kang Lam menjadi heran.

"Eh, eh!"

Katanya, gugup.

"kapan aku pernah menerima hadiahmu?..."

Belum habis kata-katanya Kang Lam itu atau si nona, yang telah tertawa nyaring tetapi halus bagaikan kelenengan, sudah berlalu dengan cepat.

Dan selagi Kang Lam keheran-heranan, Kim Sie Ie sendiri terbengong mengawasi sang mega, hatinya bekerja, di dalam hatinya itu berulang kali ia mengatakan.

"Kok Cie Hoa! Kok Cie Hoa! Di dalam lembah, ada si nona cantik manis... Ah, namanya itu serta namaku, kalau dihubungi, seperti ada artinya..."

Pertemuan mereka ada pertemuan sebentaran akan tetapi nama si nona, dan gerak-geriknya itu, telah meninggalkan kesan yang dalam di dalam hatinya Kim Sie Ie.

Si nona tidak sama dengan Lie Kim Bwee, dia juga beda dari Pengcoan Thianlie.

Sampai sebegitu jauh, ia menganggapnya Pengcoan Thianlie sebagai nona satu-satunya yang mengenalnya, akan tetapi sekarang, setelah ia memikirinya, ia mendapat kenyataan Pengcoan Thianlie melainkan menaruh simpati terhadapnya dan mengasihaninya, akan tetapi nona kecil ini, dia memandang ia bagaikan sesamanya...

Ketika itu Kang Lam tertawa geli.

"Eh, setan cilik, kau mentertawakan apa?"

Kim Sie Ie menegur.

"Kau mengatakan aku tikus tua,"

Menyahut si anak muda.

"Tikus tua itu mesti bersembunyi mendekam di dalam liangnya, tidak keluar-keluar..."

"Jadinya kau mendongkol? Kau tidak ketahui, di dalam ilmu silat juga ada yang dinamakan ilmu silat tikus tua, yang liehay sekali. Baiklah, jikalau kau tidak senang, mari aku menemani kau menjadi tikus tua!"

Dengan mendadak Kim Sie Ie mencelat ke dalam, mencekal anak muda itu.

"Nah, inilah jurus 'Kucing menangkap tikus'!"

Katanya.

"Aku akan melepaskan kau sebentar setelah matahari berada di tengah-tengah langit!"

Entah disengaja atau tidak, Kim Sie Ie melirik kepada Ciang Hee. Nona itu dapat melihat sinar mata orang, ia lantas berpikir.

"Mungkinkah dia hendak mengajari sesuatu ilmu kepada Kang Lam?"

Ia lantas tertawa dan kata.

"Aku sendiri, aku tidak sudi menjadi tikus, aku hendak pergi!"

Kang Lam hendak menyusul nona itu tetapi Kim Sie Ie menahannya, hingga ia tidak dapat berkutik. Ia lantas kata perlahan.

"Benar-benar aku tidak menerima hadiah dari nona itu. Jikalau aku mendustai kau, biarlah aku menjadi tikus tua."

Kim Sie Ie tertawa.

"Saudara kecil, aku bukannya hendak menerima hadiah,"

Katanya.

"Aku justeru hendak mengantar hadiah kepadamu!"

Kang Lam heran tetapi ia girang.

"Benarkah?"

Ia menanya.

"Kau baik terhadap aku, aku senang padamu,"

Kim Sie Ie berkata pula.

"Kau jauh terlebih baik daripada Tan Kongcu-mu itu."

Di antara begitu banyak orang yang mengenal ia, Kim Sie Ie mendapatkan cuma Kang Lam seorang yang menghargai ia, ia tidak dipandang sebagai "makhluk luar biasa".

Adalah Kang Lam, yang masih kekanak-kanakan, tidak menginsyafi gerakgerik Kim Sie Ie, yang disebabkan kesepiannya.

Kang Lam berpikir, lantas dia berkata.

"Kau telah memberikan aku hadiah yang paling berharga, habis apa lagi kau hendak berikan padaku? Aku tidak berani menerima pula. Kongcu telah membilangi aku bahwa orang tidak boleh temaha!"

"Kau sangat mendengar kata terhadap kongcu-mu!"

Kata Kim Sie Ie tertawa lebar.

"Pekleng Tan yang kuberikan padamu, asalnya ialah miliknya Tong Keng Thian. Laginya, aku cuma meminjam tanganmu untuk menyampaikan itu kepada Tan Thian Oe. Hadiah itu tidak masuk hitungan. Aku mempunyai hadiah lain yang lebih baik daripada Pekleng Tan itu, dan ini sengaja dihadiahkan kepada kau! Kau mau atau tidak mempelajari ilmu silat yang liehay?"

Kim Sie Ie menduga Kang Lam bakal jadi girang luar biasa, akan tetapi ternyata dugaannya ini meleset. Kang Lam justeru mengasih lihat roman bingung, seorang diri dia mengoceh.

"Hadiah... hadiah... hadiah..."

Atau mendadak dia berjingkrak dan berseru.

"Ya, aku ingat sekarang! Justeru nona itu ada hadiahnya untuk kau! Sekarang juga aku hendak menyampaikannya kepadamu!..."

Kim Sie Ie heran.

"Benarkah dia mempunyai hadiah untukku?"

Ia bertanya.

"Apakah kau... kau lagi bergurau?"

"Terhadap lain orang aku suka bergurau, terhadap kau tidak,"

Menjawab Kang Lam. Kim Sie Ie menjadi ketarik hati.

"Sebenarnya, bagaimanakah duduknya hal?"

Ia tanya. Kang Lam mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

"Pada tubuhnya Chong Leng Siangjin ada sehelai gambar atau peta yang luar biasa,"

Ia menyahut.

"Dan tadi aku dengar ketiga iblis itu ngoceh tidak hentinya, mereka mau merampas gambarnya Chong Leng Siangjin itu. Mereka bicara dalam bahasa Tibet. Aku pernah tinggal di Tibet sepuluh tahun lamanya, maka aku mengerti setiap perkataannya itu."

Ia berhenti sebentar, lantas ia meneruskan.

"Kalau bukan disebabkan datangnya si nona tadi dan kedua pihak bertarung, mungkin mereka bertiga sudah masuk ke dalam gua ini dan mungkin juga gambar itu sudah terjatuh ke dalam tangan mereka itu. Karena itu, aku menganggap gambar itu gambarnya si nona. Jadi hadiah yang si nona hendak memberikannya kepada kau ialah gambar itu adanya!"

Kim Sie Ie menjadi tambah ketarik hati.

Ia lantas menolak batu besar, yang menindih tubuhnya Chong Leng Siangjin.

Segera ia mendapatkan gambar atau peta yang disebutkan Kang Lam itu.

la pungut itu, untuk dibeber.

"Kau lihat, apakah itu bukannya aneh?"

Berkata Kang Lam, yang turut melihat.

"Satu raksasa memanah gunung api. Apakah artinya itu? Mustika apakah yang diartikan, hingga ketiga siluman tadi sangat mengarahnya?"

Kim Sie le mengasih dengar suara heran, sekian lama ia berdiam saja.

Ia seperti tengah memikirkan sesuatu.

Kang Lam heran melihat sikap orang itu, karenanya, ia tidak berani mengoceh lebih jauh.

Melihat pulau beserta gunung apinya, sebagaimana itu terlukis di dalam gambar, Kim Sie Ie menjadi ingat sesuatu.

Ia mengenalinya dengan baik Ketika untuk pertama kali Tokliong Cuncia membawa ia ke Coato, Pulau Ular, di tengah pelayaran, ialah di tengah laut, ia pernah melihat pulau itu, yang dilewatinya.

Ketika itu baru beberapa tahun usianya, ia heran dan ketarik hati menyaksikan gunung api di atas pulau, gunung yang menyemburkan api.

Pernah ia menanyakan keterangan kepada Tokliong Cuncia dan gurunya mengatakan itulah sebuah pulau tanpa penduduknya.

Pulau itu terletak di selatan Coato.

Kalau angin baik, di dalam tempo tiga hari, orang akan tiba di pulau itu.

Hanyalah Tokliong Cuncia pernah memberi ingat, kalau Kim Sie Ie sudah besar, jangan sekalikali muridnya ini pergi main-main ke pulau itu, seperti juga di sana ada ancaman bahaya hebat.

Belum pernah ia pergi kesana.

Ketika kemudian dari Coato ia pergi ke daratan Tionggoan, di tengah jalan ia tidak mendapat lihat pulau itu atau pulau bergunung api yang lainnya.

Sekarang, melihat gambar ini, ia ingat pulau itu.

Ia tidak bisa menerka maksudnya gambar itu tetapi ia merasa pasti, itulah pulau yang gurunya melarang ia mengunjunginya.

"Mungkinkah benar apa yang dibilang Chong Leng Siangjin?"

Kemudian Kim Sie Ie berpikir.

"Ialah bahwa pada tiga ratus tahun dulu itu pernah hidup seorang yang bernama Kiauw Pak Beng, yang dapat memahami dan mengatasi ilmu silat dari kalangan sesat dan sejati, tetapi kemudian dia hidup dan mati menyendiri di pulau terpencil itu?"

Kim Sie Ie tertarik hatinya.

Ia bukan tertarik karena liehaynya ilmu itu, yang menggabung dua menjadi satu, hanya ia ketarik sama khasiatnya, yaitu dapat menyingkirkan kesesatan dan mengubahnya menjadi kebaikan.

Kalau ia pun bisa memahami itu, alangkah baiknya untuk kaum persilatan sesat seperti ia di belakang hari...

Tidak lama Kim Sie Ie memandangi gambar itu, ia lantas menggulungnya.

"Hadiah ini aku terima baik,"

Katanya pada Kang Lam. Ia tertawa.

"Aku menghaturkan terimakasih padamu yang telah mengingat ini dan menyerahkannya padaku. Untuk membalas budimu, aku juga hendak menghadiahkan sesuatu kepadamu."

Kang Lam tidak lantas menghaturkan terima kasih.

"Eh, eh,"

Katanya.

"apa yang kau bilang tadi, aku masih kurang mengerti. Bukankah kau membilangnya hendak menunjuki aku suatu ilmu silat yang liehay?"

"Tidak salah!"

Menjawab Kim Sie Ie. Kang Lam menjadi sangat girang. Sekarang, tidak sangsisangsi pula, ia berlutut untuk paykui, guna mengangkat guru pada orang aneh itu. Kim Sie Ie tertawa dan berkata.

"Bedanya usia kita berdua tidak terlalu jauh, lebih baik kita menjadi sahabat-sahabat saja supaya dapat kita bicara dengan merdeka, tanpa likat-likat! Apakah artinya begitu lekas kita menjadi guru dan murid Lain daripada itu, sekarang ini aku belum memikir untuk menerima murid."

"Aku dapat menebak pikiran kau,"

Berkata Kang Lam tertawa.

"Kau tentu kuatir, dengan menjadi muridmu, aku bakal membikin kau hilang muka. Baiklah, tidak apa kau tidak suka menjadi guruku, asal kau mengajari aku ilmu silat. Aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh, supaya aku tidak sampai memalukan kau!"

"Ilmu silat itu tidak dapat dipelajari sempurna dalam tempo satu pagi atau setengah hari,"

Berkata Kim Sie Ie.

"lagi pula, kalau baru satu jurus saja, faedahnya tidak besar. Maka sekarang aku hendak mengajarkan dulu pokoknya kepada kau, kau mesti apalkan itu, setelah kau dapat mengingatnya dengan baik, aku ingin melihat kesadaran kau. Setelah kau insyaf, segala apa selanjutnya bakal jadi gampang, segala pelajaran akan tak sukarnya dipahamkan. Di dalam ilmu lweekang, tenaga dalam, kau dapat meyakinkan terus seorang diri dengan rajin, jadi aku tidak usah mengajarkannya pula."

Kim Sie Ie tidak mensia-siakan tempo, habis berkata, ia mulai memberikan pelajarannya itu, ialah kouwkoat atau teorinya ilmu silat, yang terdiri dari beberapa puluh kata-kata.

Kang Lam berbakat baik sekali, baru beberapa kali diajari, ia lantas dapat mengingat baik-baik dan membacanya di luar kepala tanpa salah, bahkan ia pun segera dapat menangkap arti atau sarinya, maka juga Kim Sie le lantas terus mengajari juga rahasia tiamhiat hoat, ilmu menotok jalan darah atau otot utama.

Maka itu, di dalam tempo yang pendek, bocah ini telah memperoleh hasil yang bagus sekali, yang oleh lain orang tak dapat dipahamkan dalam tempo satu atau dua tahun.

Ciang Hee dan Kang Lam berada berduaan, bahkan Kang Lam memperoleh kepandaian, akan tetapi di lain pihak, ayah dan ibu si nona bingung sekali, sebab mereka telah menantikan satu malam, anak mereka tidak juga kembali.

Tentu saja mereka berkuatir anak mereka itu nampak bahaya apa-apa.

Maka juga setelah terang tanah, mereka lantas pergi ke gunung belakang, untuk mencari.

Lama mereka mencaricari, akhirnya tiba mereka di gua di mana mereka berhasil menemui si nona.

Hanya, untuk herannya mereka, Ciang Hee memberi tanda untuk mereka jangan bicara.

Dengan paksa menahan hati, mereka terus berdiam.

Adalah kira-kira tengah hari, dari dalam gua terdengar tertawa nyaring dari Kim Sie Ie, lalu terlihat orang muncul sambil berpegangan tangan dengan Kang Lam.

Matanya Yo Liu Ceng tajam sekali, dengan lantas ia melihat sinar muka terang dari si bocah, dari itu ia lantas menduga, tentulah bocah itu telah memperoleh pengajaran apa-apa dari Kim Sie le.

Sebenarnya ia tidak puas terhadap Sie Ie tetapi mengingat tadi malam orang telah memberikan pertolongannya, ia menemuinya, ia menghaturkan terima kasih.

Ciang Hee suka sekali kepada Kim Sie le, dari itu ia minta orang suka tinggal lebih lama di rumahnya, sedikitnya untuk dua hari lamanya.

"Apakah maksudmu hendak menahan aku disini?"

Kata Kim Sie Ie pada si nona. Ia telah menduga, dan lantas mengatakannya terus terang.

"Apakah kau kuatir nanti datang pula beberapa iblis untuk mengganggu padamu?"

Yo Liu Ceng tidak berniat mengundang orang tersebut berdiam di rumahnya, maka itu, mendengar perkataan itu, ia mengerutkan alis.

la lantas berpikir untuk mengatakan sesuatu, guna memberi selamat jalan.

Tapi belum sempat ia membuka mulut, ia sudah mendengar tertawanya orang luar biasa itu, yang terus bersenandung sendirian.

"Dengan tongkat besi malang melintang, pergi dan kembali! Mengangkat kepala di luar langit, bernyanyi tinggi seorang diri!"

Suara itu dibarengi dengan kibasan kedua tangan serta gerakan tubuhnya yang pesat, maka di lain detik dia telah melesat, lenyap, di dalam rimba di samping mereka.

Dia lenyap sebelum suara kumandangnya itu hilang.

"Sungguh seorang makhluk aneh!"

Kala Yo Liu Ceng.

"Bukannya makhluk aneh!"

Ciang Hee, menyangkal ibunya.

"Turut penglihatanku, dia tentu tengah dipengaruhi sesuatu yang mendukakan hatinya. Dia liehay sekali, sayang dia terlalu hidup menyendiri..."

Kim Sie le tidak mendengar apa yang orang omong tentang dirinya.

Dengan cepat ia telah menjauhkan diri dan dengan pikiran yang pepat.

Ia telah bersudi gawe membantui Kang Lam, maksudnya yang utama ialah untuk merangkap jodoh bocah itu dengan Ciang Hee.

Kesudahannya membuatnya menjadi puas.

Hanya, apabila ia memikirkan dirinya sendiri, yang hidup sebatang kara, ia menjadi masgul.

Tanpa merasa, ia pun menjadi ingat si nona muda belia tadi, bayangannya lantas berpeta di depan matanya.

"Guruku pernah menerima budi Lu Su Nio,"

Kemudian ia berpikir.

"aku pun paling menghargai dia, dan sekarang aku mendengar berita kematiannya, dapatkah aku tidak pergi menyambangi kuburannya, untuk mengunjuk hormatku?"

Di dalam hatinya, Kim Sie Ie mengatakan demikian, dan dalam hatinya itu juga ia teringat si nona, ialah Kok Cie Hoa dengan siapa ia sangat ingin bertemu...

Gunung Binsan berada di wilayah propinsi Hoolam, maka itu Kim Sie le lantas meninggalkan kecamatan Tongpeng di propinsi Shoa-tang ini untuk menuju ke propinsi itu.

Dia berangkat dari Shoatang Selatan.

Setelah hampir satu bulan di perjalanan, ia mulai memasuki propinsi itu.

Ia telah menyeberangi sungai Honghoo, lalu jalan di sepanjang bagian barat dari gunung Thayheng San.

Pada suatu hari tibalah ia di Sin-an, sebuah kota kecil, dari mana, lagi tiga ratus lie, ia akan sampai di gunung yang dituju itu.

Adalah niat Kim Sie Ie, untuk tidak singgah di dusun ini, meski ketika itu hari sudah mulai magrib.

Ia tengah berdiri di depan sebuah rumah penginapan tatkala sinar matanya kebentrok dengan dua ekor kuda yang mestinya binatang-binatang pilihan.

Kedua kuda itu panjang lehernya, pendek ke empat kakinya, dan bagian paling bawah bulu kakinya berwarna putih seperti salju.

Ia tahu itulah kuda, atau kuda turunan Ferghana, maka ia menjadi heran.

"Pemilik kedua ekor kuda ini mungkin sekali dari daerah perbatasan,"

Pikirnya.

"Baiklah aku lihat, siapa mereka itu..."

Maka ia lantas masuk ke dalam rumah penginapan itu, untuk meminta kamar.

Habis bersantap malam, ia segera duduk bersame-dhi.

Dengan begitu iapun menantikan waktu.

Tepat kira-kira jam tiga, ia keluar dari kamarnya, untuk mengintai ke lain-lain kamar.

Ia tidak melihat sesuatu yang mencurigai sampai ia tiba di kamar paling timur.

Ia baru saja mendekati jendela, kupingnya lantas mendengar suara dari dalam kamar itu.

"Kim Sie Ie si makhluk siluman itu, sampai mati barulah dia menjadi bersih!"

Tentu sekali, ia menjadi heran.

"Siapakah orang ini?"

Pikirnya.

"Kenapa ia boleh mencaci aku?"

Ia mau percaya, dengan kepandaian meringankan tubuh seperti ia, tidak nanti orang dapat mempergokinya. Pula malam itu gelap sekali.

"Mungkinkah dia lebih gagah daripadaku?"

"Bu Loojie,"

Terdengar suara seorang lain.

"mengapa tidak keruan-keruan kau mencaci orang? Ini namanya mencaci di belakang orang..."

"Jikalau aku tidak mencaci dia, habis aku mesti mencaci siapa?"

Tanya orang yang bicara terlebih dahulu itu.

"Kau ketahui sendiri, kita membuat perjalanan ini, apakah itu bukan untuknya? Juga urusan kau, bukankah itu belum dapat dilakukan karena dia? Hm! Yang paling menyukarkan sekarang ialah tidak ketahuan dia sudah mati atau masih hidup!..."

Mendengar itu, hatinya Kim Sie Ie lega juga.

la bukannya diketahui orang atau orang telah mengintainya, hanya orang tengah mencari padanya.

Ia sekarang memikir lain.

Ia tidak kenal dua orang itu.

Mendengar suaranya orang yang pertama, yang rupanya masgul atau mendongkol, mungkin mereka itu mendendam sakit hati terhadapnya.

Siapakah mereka itu?

"Aku mengharap-harap Kim Sie Ie masih hidup,"

Berkata orang yang kedua, yang lagu suaranya mirip kekanakkanakan.

"Jikalau tidak, aku kuatir adik seperguruanku yang kecil itu nanti berduka untuk seumur hidupnya..."

Dengan "adik", orang itu menyebut sumoay-nya, ialah adik seperguruan yang wanita. Orang yang pertama kali bicara itu lantas berkata.

"Paman kecil, harap kau tidak mengatai aku, bilang kau mirip kanakkanak! Umpama kata benar Kim Sie Ie itu mati, mungkinkah siauwkouw, bibiku yang kecil itu, nanti hidup menjadi janda? Ah, paman kecil, tahukah apa yang gurumu telah pikir? Dia justeru penuju padamu! Pernah dengan telingaku sendiri aku mendengar gurumu itu bicara sama ibunya Kim Bwee mengenai perjodohan kamu itu!"

Kim Sie le terperanjat mendengar disebutnya nama Kim Bwee itu.

Segera di depan matanya berbayang romannya seorang nona yang mungil dan polos tetapi lincah.

Ia lantas ingat pertemuannya pertama kali dengan nona itu di gunung Ngobie San, bagaimana bersama ibunya si nona serta si nona sendiri, ia berjalan bersama di padang rumput di perbatasan.

Ia ingat pula bagaimana gerak gerik si nona selama di atas gunung Himalaya.

Ia tidak memikir untuk mengganggu nona itu, yang usianya masih terlalu muda, ia justeru mengagumi kebersihan hatinya.

Maka itu, biar bagaimana, tidak dapat ia melupakannya!

Sekarang Kim Sie Ie dapat menduga siapa dua orang di dalam kamar itu.

Yang dipanggil Bu Loo-jie itu mestinya Bu Teng Kiu, ialah puteranya kakak misan dari Lie Kim Bwee.

Dengan si nona, dia menjadi bertingkat lebih rendah.

Sebab mertua perempuan dari Phang Lim adalah Bu Keng Yauw, salah satu dari Thiansan Citkiam --tujuh ahli pedang dari Thiansan.

Bu Keng Yauw itu ada mempunyai adik laki-laki ialah Bu Seng Hoa dan Bu Seng Hoa ini mempunyai dua cucu buyut ialah Bu Teng Ciu dan Bu Teng Kiu, kakak dan adik.

Persanakan sudah jauh akan tetapi Thiansan Citkiam mempunyai kebiasaan turun temurun ialah setiap lima tahun sekali mengadakan pertemuan kekeluargaan, maka itu, walaupun turunan yang muda sekali, sering dapat dilihat atau ditemui satu dengan lain, dari itu Lie Kim Bwee dengan dua saudara Bu itu kenal satu pada lain dan ketahui juga urusan keluarga masing-masing.

Pemuda yang suaranya kekanak-kanakan itu adalah Ciong Tian, murid satu-satunya dari Tong Siauw Lan.

Pengcoan Thianlie pernah bentrok sama pemuda she Ciong ini, yaitu ketika untuk pertama kali si nona mendaki To Hong atau Puncak Unta di muka pertemuannya sama suami isteri Tong Siauw Lan.

Hal ini Kim Sie Ie ketahui dari ceritanya Pengcoan Thianlie sendiri.

Maka itu, setelah mengetahui siapa adanya kedua pemuda itu, Kim Sie Ie menjadi berpikir keras.

Tengah ia berpikir itu, kedua orang di dalam kamar berbicara terus.

Berkata Bu Teng Kiu.

"Itu hari aku bersama Kim Bwee tengah meyakinkan ilmu pedang tempo Tong Keng Thian datang dan bicara sama ibunya Kim Bwee, membicarakan halnya Kim Sie Ie. Tong Tayhiap bilang bahwa Kim Sie Ie telah lenyap untuk banyak tahun, bahwa ia telah mengirim orang mencari kemana-mana tanpa hasil, hingga ia berkuatir Kim Sie Ie lebih banyak mengalami bahaya daripada keselamatan. Habis itu, mereka membicarakan urusan jodohnya Kim Bwee. Nah, kau terkalah, siapakah yang disebut-sebut Tong Tayhiap? Itulah kau! Maka itu kecuali telah didapat kepastian hal kematiannya Kim Sie Ie, sukar untuk mengubah pikirannya Kim Bwee itu. Ibunya Kim Bwee juga menguatirkan sangat jodoh puterinya. Kim Bwee mendengar jelas pembicaraan itu. Mungkin sengaja ibunya berbuat demikian supaya anaknya dapat mendengarnya. Aku melihat wajahnya Kim Bwee berubah, tetapi aku tidak memperhatikannya. Maka adalah di luar dugaan malam itu, tanpa menanti ibunya mencari dia, untuk diajak bicara, dia telah pergi dengan diam-diam!"

Ciong Tian menghela napas.

"Kiranya itulah sebabnya kenapa adik Kim Bwee minggat!"

Katanya, masgul.

"Paman kecil, jangan kau bersu-sah hati,"

Kata Teng Kiu tertawa.

"Dia minggat untuk mencari kepastian perihal Kim Sie Ie, kalau nanti dia sudah kewalahan mencari, mustahil dia tidak akan menikah untuk seumur hidupnya?"

Ciong Tian berdiam, air mukanya guram.

"Aku paling mendongkol terhadap Kim Sie Ie si makhluk aneh itu!"

Kata pula Bu Teng Kiu, 'Dia satu pengemis gila, kenapa Kim Bwee justeru menyintai dia hingga ia sekarang membuat sulit ibunya sendiri serta gurumu juga?

Untukku, kematian Kim Sie Ie tidak ada artinya, hanya adik Kim Bwee, dia membikin kita pusing dan cape mencarinya!

Kemana kita mesti pergi?"

"Ya, sudah lebih dari setengah tahun kita mencarinya, dia tidak ada kabar ceritanya,"

Kata Ciong Tian.

"Dia masih muda, dia pun seorang wanita, harap saja dia tidak mengalami sesuatu bencana..."

"Sayang suaramu ini tidak terdengar dia!"

Kata Bu Teng Kiu tertawa.

"Sebenarnya tidak usahlah kau berkuatir. Gurumu adalah orang pandai nomor satu di kolong langit ini, dan ilmu silatnya adik Kim Bwee juga tidak ada di bawahan kita, siapa berani mengganggu dia? Ada berapa orang yang bisa mengalahkan padanya? Umpama kata benar ada orang yang menem-pur dia, asal mereka bergerak, siapa tidak akan mengenali dialah dari Thiansan Pay? Coba pikir, siapa berani main gila terhadap partai itu?"

Kim Sie Ie di luar jendela mendengari dengan hatinya berpikir keras.

"Aku tidak menyangka Lie Kim Bwee menyintai aku dan selama empat atau lima tahun, hatinya tidak berubah... Orang she Ciong ini tidak buruk, yang menjemukan adalah si orang she Bu!"

Di dalam kamar, Bu Teng Kiu masih saja mengoceh, mencaci Kim Sie Ie dan menggoda Ciong Tian, maka akhirnya Kim Sie Ie menjadi mendongkol.

Ia pergi mencari tanah basah, setelah merobek kertas jendela, ia menimpuk ke dalam, tepat di saat Teng Kiu membuka mulutnya, hingga dia gelagapan, karena mulutnya tersumpal tanah.

Tentu sekali dia menjadi sangat kaget, demikian juga kawannya.

Ciong Tian menyambar pedangnya, pedang Cengkong kiam, yang digantung di tembok, dengan membawa itu ia buka jendela, untuk berlompat keluar.

Bu Teng Kiu menyusul dengan lantas selekasnya dia membuang tanah sumbatan pada mulutnya itu.

Ia mendongkol bukan buatan, dari itu ia memburu sambil mencaci.

Ia belum sempat menutup mulutnya, atau kembali ada gumpalan tanah yang menyambar ke arah mulutnya itu, hingga ia menjadi kaget.

Hanya kali ini ia dapat berkelit.

Tapi tidak urung mukanya terkena juga, hingga ia tetap gelagapan, murkanya bukan main.

Kim Sie Ie tidak pergi menghilang.

Ia sengaja mengasih lihat tubuhnya, supaya dua orang itu mengubernya.

Bu Teng Kiu mengejar.

Ciong Tian terpaksa menyusul meski ia dapat menduga, orang di depannya itu mestinya liehay.

Kim Sie Ie memancing orang hingga di luar kota.

Dengan tim-pukannya, dengan batu kecil atau tanah, ia membikin Teng Kiu mengejar terus-terusan.

Dengan begitu juga ia mempermainkan mereka itu.

Dengan Iiehaynya kepandaiannya ringan tubuh, ia senantiasa membikin tubuhnya terlihat bagaikan bayangan, dan kapan orang agaknya tidak ingin menyusul terus, ia menyambit mereka itu hingga mereka mendongkol dan penasaran, hingga mereka mengejar pula, mengejar terus.

Sia-sia belaka mereka mencaci.

Kesudahannya mereka menjadi letih dan cape mulut.

"Mungkinkah dia Kim Sie Ie?"

Akhirnya berpikir Ciong Tian, yang terlebih cerdik.

Justeru ia menduga demikian, justeru bayangan di depan mereka lenyap dibarengi sama satu siulan panjang yang nyaring, yang rasanya tajam masuk ke dalam telinga.

Dengan caranya itu Kim Sie Ie meninggalkan dua orang itu, dengan mengambil jalan kecil, ia pulang terlebih dahulu ke rumah penginapan.

Ia merasa puas telah mempermainkan mereka, ia tertawa di dalam hati.

Hanya, ketika ia sampai di kamarnya ia menghadapi suatu kejadian di luar dugaannya, hingga tidak dapat ia tertawa terlebih jauh.

Itulah sebuah tusuk konde!

Begitu lekas Kim Sie Ie bertindak masuk ke dalam kamarnya itu, di atas mejanya ia menampak tusuk konde tersebut, yang memperlihatkan cahaya berkeredepan.

Ia heran sampai hampir tak mempercayai matanya.

Itulah sebuah tusuk konde kumala model kupu-kupu, model yang istimewa.

Itu juga tusuk kondenya Lie Kim Bwee.

Ia lantas mengenali karena ia telah melihat tusuk konde itu dipakai si nona, baik di permulaan perkenalan mereka maupun di pertemuan yang paling belakang di kaki Puncak Mutiara.

"Bagaimana datangnya tusuk konde ini?"

Ia kata di dalam hatinya.

"Apa mungkin Lie Kim Bwee sendiri telah mencari aku?"

Keras ia menduga-duga, tidak ia berhasil mendapati jawabannya.

Ketika ia meneliti, ia menampak sedikit tanda darah pada tusuk konde itu, hingga ia menjadi heran berbareng berkuatir.

Ia menjadi berpikir pula.

"Adakah dia terluka ataukah dengan ini dia mau menunjuki hatinya?"

Melihat tusuk konde itu Kim Sie le merasa ia seperti melihat Lie Kim Bwee sendiri.

Ia lantas membayangi tertawa manis dari nona itu.

Ia seperti menampak pula sinar mata si nona, yang seperti menyesalinya...

Mendadak ia menjadi berduka.

"Adakah ini sang cinta dari mana orang tak dapat menyingkir?"

Pikirnya akhirnya.

Di waktu malam yang sunyi seperti itu, tiba-tiba Kim Sie Ie mendapat dengar satu suara yang perlahan sekali di atas genting.

Demikian perlahan suara itu hingga cuma ialah yang dapat mendengarnya.

Ia terkejut.

"Siapakah yang tubuhnya begini ringan?"

Tanya ia dalam hatinya.

"Tidak salah, dia mestinya Lie Kim Bwee!"

Maka lantas ia lari keluar dari kamarnya, untuk terus berlompat naik ke atas wuwungan.

Tepat ia tiba di atas ketika satu bayangan berkelebat lewat.

Dilihat dari potongan tubuhnya, bayangan itu tidak miripnya seorang pria.

Bayangan itu pergi ke ujung timur penginapan itu di mana ada sebuah kamar-ialah kamarnya Ciong Tian dan Bu Teng Kiu.

Tanpa sangsi lagi tetapi dengan berhati-hati, Kim Sie Ie menguntit.

Orang itu mengintai di jendela, mengawasi ke dalam.

Mendadak ia mengasih dengar suara perlahan.

Rupanya ia heran mendapatkan kamar itu kosong dari penghuni-nya.

Menggunai ketikanya yang baik, tengah orang heran itu Kim Sie le lompat untuk menotok ke arah iga, setelah mana ia memutar tubuh orang sambil ia membentak.

"Siapa kau? Kau mau cari siapa?"

Orang itu melengak. Kim Sie le mengasih lihat tusuk konde kumala.

"Apakah kau yang membawa ini?"

Ia menanya, perlahan sekali.

Matanya orang itu terbuka lebar, agaknya ia menjadi heran.

Ia tidak menjawab.

Kim Sie Ie menduga orang bukanlah si pembawa tusuk konde, akan tetapi ia masih menduga orang ada sangkut pautnya, maka ia bawa tusuk konde itu ke depan mata orang.

"Lekas bicara!"

Ia membentak.

"Atau aku akan tusuk matamu!"

Baru sekarang orang itu mengasih dengar suara kaget.

"Apakah kau murid dari Thiansan Pay?"

Ia menanya.

"Akulah Kim Sie Ie!"

Kim Sie Ie perkenalkan dirinya.

Orang itu kaget tidak terkira.

Kim Sie Ie, yang lebih terkenal dengan julukannya, yaitu Tokciu Hongkay, si Pengemis Edan Tangan Beracun, sangat terkenal dan dimalui.

Dia dikenal sebagai makhluk aneh atau iblis.

Maka ia lantas bergemetar seluruh tubuhnya.

"Aku bukan mengintai kau, tuan,"

Katanya, suaranya tidak tegas.

"Aku... aku menguntit seorang wanita muda..."

"Wanita macam apakah itu?"

Kim Sie Ie tanya.

"Aku tidak... tidak tahu..."

"Bukankah dia si nona Lie dari Thiansan Pay?"

"Bukan, bukan..."

Kembali Kim Sie Ie mengasih lihat tusuk konde di tangannya.

"Kenalkah kau barang ini?"

Ia tanya.

"Itulah barang yang si wanita curi dari rumah kita..."

Kim Sie Ie heran.

"Curi?"

Katanya di dalam hati.

"Kenapa tusuk konde Lie Kim Bwee dapat terjatuh ke dalam tangan lain orang? Siapakah wanita yang dimaksudkan dia ini?"

Maka ia menanya pula.

"Bilang, kau bekerja atas titah siapa?"

"Beng... Beng..."

Menjawab orang itu, suaranya parau, lalu mendadak dia roboh dibarengi sama jeritannya yang menyayatkan hati.

Dia roboh untuk lantas berhenti bernapas.

Kim Sie le adalah satu ahli melepaskan senjata rahasia, maka itu ia telah mendengar suara serangannya senjata rahasia sebelumnya orang tawanannya itu menjerit, akan tetapi ia cuma bisa membela diri tidak dapat ia menolongi si orang tawanan, yang mesti menjadi korban.

Ia lantas menduga, penyerang gelap itu mestinya konco orang tawanan ini, bahwa dia itu menurunkan tangan jahat guna mencegah kawannya membuka rahasia.

Karena ini, tanpa memperdulikan lagi kamarnya Ciong Tian dan Bu Teng Kiu itu, ia pergi memburu si pembokong.

Di dalam tempo yang pendek, penyerang gelap itu sudah pergi jauh, akan tetapi Kim Sie Ie ialah seorang liehay luar biasa, ia dapat mengejar dengan cepat.

Ia berlari-lari dengan ilmunya "Lioktee hui-teng", atau "Terbang di daratan".

Ia baru mengejar satu rintasan, kupingnya lantas mendengar bentrokan senjata.

Ia segera melekaskan tindakannya.

Maka di sebelah depannya itu ia melihat dua anak muda, dengan masing-masing bersenjatakan pedang, lagi mengepung seorang yang mukanya terkerudung tutup, yang bergegaman sebatang Citeiat pian, atau cambuk dengan tujuh tekukan, darimana, tiga sudah kena dibabat kutung anak-anak muda itu, hingga cambuknya yang panjang itu menjadi pendek.

Kedua anak muda itu ialah Ciong Tian dan Bu Teng Kiu.

Girang Kim Sie Ie, karena si penyerang gelap itu kena dirintangi, akan tetapi di samping itu ia berkuatir mereka nanti membinasakan orang ini, maka ia mau maju, guna menangkap orang hidup-hidup.

Hanyalah, hampir berbareng dengan itu, ia mendengar si orang bertopeng itu berseru.

"Kamu salah mengerti! Orang yang mendatangi itu ialah Kim Sie Ie! Mengapa kau memegat aku?"

Ciong Tian telah mendengar suara orang mendatangi, ia heran. Bu Teng Kiu sebaliknya sudah lantas berseru.

"Benar, benar, Kim Sie Ie datang!-Baiklah, hari ini tuan kecilmu akan mengadu jiwa denganmu!"

Dia lantas meninggalkan si orang bertopeng, untuk lompat kepada Kim Sie Ie, dari itu, ketika yang baik itu digunai lawannya untuk meninggalkan Ciong Tian, guna membuka langkah seribu...

Kim Sie Ie tertawa.

"Kau hendak mengadu jiwa?"

Katanya, main-main.

"Tidak, sekarang ini aku tidak sempat melayani kau..."

Belum berhenti suaranya Tok-ciu Hongkay atau dua rupa benda berkelebatan menyambar ke arahnya, warnanya benda itu merah tua.

Ia mengenali benda itu ialah senjata rahasia yang dinamakan "Thiansan Sinbong", atau "rumput tajam dari gunung Thiansan".

Senjata rahasia itu sangat liehay, pernah ia melihat Pbng Keng Thian menggunainya.

Tapi dalam tenaga dalam, Ciong Tian kalah jauh dari Tong Keng Thian, walaupun demikian, dia telah dapat menggunainya dengan baik, hingga anginnya mendesir keras Kim Sie Ie tidak berani menyambuti.

Ia berkelit dari yang satu, ia menang-Ikis yang lainnya.

Karena gerakannya ini, Ciong Tian bersama Bu Beng Kiu lantas dapat mendekatinya, dengan berbareng ia diserang pedang mereka itu.

Dua-dua Ciong Tian dan Bu Teng Kiu belum pernah melihat Kim Sie le, mereka cuma pernah mendengar keterangannya Lie Kim Bwee tentang romannya si "pengemis edan"

Itu serta senjatanya, maka itu, mereka mengenali pengemis ini.

Satu malam mereka dipermainkan, hati mereka menjadipanas, sekarang mereka dapat menemuinya, lantas mereka menyerang hebat.

Tadi pun mereka menyerang secara dahsyat kepada si terang bertopeng, yang mereka sangka Kim Sie Ie adanya.

Sebenarnya mereka bersangsi mendapatkan erang bersenjatakan citeiat pian, maka itu, dengan datangnya Kim Sie Ie, yang mereka lantas mengenalinya, mereka berbalik menyerang hebat pada Tokciu Hongkay, Kalau Ciong Tian menggunai ilmu pedang Twiehong Kiam dari Thian san Pay, maka Bu Teng Kiu menggunai ilmu pedang warisan nya Pekhoat Molie si Iblis Wanita Berambut Putih.

Kim Sie Ie berkelit dari pedangnya Ciong Tian.

Ia baru lolos atau pedangnya Bu Teng Kiu menikam ke arah perutnya.

Itulah tikaman sangat berbahaya.

Tapi ia dapat menghindarinya dengan menyentil ujung pedang itu, hingga sentilan itu mengasih dengar satu suara nyaring dan cekalannya si anak muda hampir terlepas.

Gagal serangannya yang pertama itu, Ciong Tian menyusuli dengan yang kedua.

Kali ini ia menggunai satu jurus yang liehay dari ilmu pedang Thiansan Pay, yang dapat menyerang berbareng membela diri, hanyalah dia belum berhasil meyakinkan itu hingga sempurna.

Kim Sie Ie tidak mau melayani sungguh-sungguh, ia berkelit.

"Sayang!..."

Berseru Bu Teng Kiu, yang melihat serangan kawannya cuma hampir mengenakan sasarannya.

Ciong Tian sendiri menyesal atas kegagalannya itu.

Bu Teng Kiu lantas merang-sak, untuk menyusuli serangannya Ciong Tian itu.

Ciong Tian tidak berniat mencelakai tetapi sebab kena dipermainkan, hatinya menjadi panas, maka ia menyerang hebat.

Ia ingin sekali merobohkan lawan ini.

Kim Sie Ie menjadi kewalahan.

Ia ingin mengejar si orang bertopeng tetapi ia dirintangi ini dua anak muda.

Dengan bertangan kosong, ia tidak dapat meninggalkan kedua lawan ini.

Bu Teng Kiu pun penasaran.

"Jikalau kau tidak segera menggunai senjata, jangan kau menyesali pedangku!"

Dia mengancam. Kim Sie Ie tertawa.

"Jikalau aku menggunai senjata, aku kuatir kamu tidak dapat melawan!"

Katanya.

"Kamu anak-anak muda yang tidak tahu diri, seharusnya kamu dirangket, tetapi dengan memandang muka kouwkouw kamu, hari ini suka aku memberi ampun. Maka lekaslah kamu pergi!"

Bu Teng Kiu gusar bahwa kouwkouw, atau bibinya, dibawabawa.

"Kau masih mempunyai muka menyebut-nyebut kouwkouw-ku!"

Katanya sengit.

"Kaulah si kodok buduk yang berniat menelan daging angsa kahyangan!"

Adalah biasanya Kim Sie Ie tidak senang jikalau orang memandang enteng kepadanya, dari itu ia mendongkol mendengar suaranya anak muda ini.

"Baiklah kalau kau memang mengantarkan diri untuk dihajar!"

Bentaknya. Tapi justeru ia berseru, pedangnya Ciong Tian meluncur ke tubuhnya, hampir saja ia kena tertikam. Itulah tikaman "Menguber angin, mengejar halilintar".

"Nah, lihatlah siapa yang ingin dihajar?"

Teng Kiu mengejek tertawa dingin.

"Benarkah itu?"

Tanya Kim Sie Ie.

Mendadak ia menggunai tongkat besinya, ia membentur kedua pedang itu, hingga kedua anak muda itu merasakan telapakan tangannya tergetar dan nyeri.

Syukur mereka masih dikasih ampun, jikalau tidak, getaran itu akan melukai anggauta dalam dari tubuh mereka.

Bu Teng Kiu kaget sekali, la tidak menyangka, dengan tenaga dalam dari Thiansan Pay, mereka masih tidak sanggup bertahan terhadap gempuran Kim Sie Ie itu.

Tapi ia tidak takut.

Ia pikir.

"Kau toh tidak menang lebih banyak daripada kami..."

Ciong Tian pun berpikir sama seperti kawannya, dari itu keduanya lantas berkelahi terlebih jauh dengan jalan tidak sudi mengadu senjata.

Mereka menggunai siasat menjauhkan diri dari bentrokan senjata mereka.

Diam-diam Kim Sie le mengerahkan tenaganya, lalu ia menantikan saatnya.

Kapan saat itu telah tiba-ialah selagi ia diserang Berbareng dengan kedua pedang -mendadak ia menyontek!

Maka terbanglah pedang Cengkong kiam dari Ciong Tian!

Kim Sie Ie tertawa terbahak.

Menyusuli sontekannya itu, tubuhnya maju, sebelah tangannya diulur bagaikan kilat berkelebat.

Ciong Tian tidak cuma pedangnya terbang, juga tubuhnya terhuyung mutar, sedang telapakan tangannya tergetar dan sakit.

Dalam keadaan tidak berkuasa atas dirinya Itu, Kim Sie le melesat ke arahnya, maka tak dapat ia menyingkir lagi, punggungnya kena dijambak, terus diayun.

Sambil berbuat begitu, Kim Bie Ie kata padanya perlahan.

"Kau, bocah cilik, kau tidak seberapa menyebalkan, kau dapat bebas dari hukuman rangket! Tapi, hm! -itu bocah she Bu si kurang ajar, dia mesti dihajar kempolannya!"

Ciong Tian merasa bahwa ia telah dilemparkan, ia menduga ia bakal terbinasa atas sedikitnya terluka parah, tidak tahunya ketika tubuhnya melayang, ia tidak melayang cepat, hanya ia berputar 'perlahan, hingga ia bisa meneruskan jumpalitan dan turun di tanah dengan berdiri tanpa kurang suatu tepa.

Sekarang ia baru tahu bahwa Kim Sie Ie berbuat baik terhadapnya.

Tentu sekali ia menjadi melengak karenanya.

Ia melengak sebentar, lantas ia menjadi kaget.

Kecuali matanya melihat, kupingnya pun mendengar suara membeletek.

Pedang Bu Teng Kiu kena dirampas secara gampang oleh Kim Sie Ie, pedang itu terus ditekuk patah.

Teng Kiu kaget, niat ia menyingkir buru-buru, akan tetapi sudah kasep, tubuhnya lantas kena dicekuk, tubuh itu dibaliki, maka di lain saat dengan berulang-ulang kempolannya telah dihajar dengan tongkat.

Setelah tiga rangketan, Kim Sie Ie tertawa, cekalannya dilepaskan, tubuhnya melesat.

Ketika Ciong Tian berlompat maju, dengan niat menolongi kawannya, si pengemis edan lenyap dalam sekejap!

Bu Teng Kiu berlompat meletik sebagai ikan gabus ketika ia memperbaiki tubuhnya untuk berdiri tegak, dalam gusarnya, ia lantas mencaci kalang-kabutan.

Ciong Tian mendengar suara nyaring dari kawan itu, hatinya menjadi lega.

Suara nyaring itu ialah bukti bahwa si kawan tidak kurang suatu apa, hanya dia melainkan terluka di kulit bekas rangketan.

"Sudahlah, Bu Loojie,"

Kata pemuda she Ciong itu.

"Mari kita berdamai, untuk mencari jalan guna melampiaskan penasaran kita ini. Bagaimana pikiranmu, kejadian ini harus diberitahukan kepada guruku atau jangan?"

"Jangan, jangan!"

Mencegah Bu Teng Kiu.

"Gurumu berpihak pada pengemis gila itu! Lebih baik kita mencari lain orang guna melawan dia!"

Kim Sie le telah pergi jauh, ia tidak tahu apa yang dipikir Teng Kiu. Mulanya ia puas, tetapi sesaat kemudian, ia menyesal. Pikirnya.

"Bocah itu memang harus diajar adat, hanya, karena itu mungkin Kim Bwee nanti menyesalkan aku. Aku pun keliru sudah mempermainkan Ciong Tian. Tong Siauw Lan penuju padanya, kalau dia dipasangi dengan Lie Kim Bwee, sembabat jugalah..."

Setelah memikir begitu, Kim Sie Ie merasa ada apa-apa yang aneh pada dirinya.

"Biasanya kalau aku melakukan apa-apa, belum pernah aku menyesal,"

Pikirnya pula.

"Kenapa kali ini, setelah mengajar adat kepada dua bocah itu, aku bolehnya menyesal? Benarkah tabiatku seperti katanya si nona, bahwa aku telah berubah tanpa aku mengetahui? Sudahlah, aku telah mengajar adat, sudah saja, buat apa aku memikirkannya pula! Kalau nanti aku ketemu Kim Bwee, cukup aku menghaturkan maaf padanya..."

Sekarang ia bingung bagaimana harus mencari Nona Lie itu.

Untuk ini perlu ia mencari si orang bertopeng.

Tapi orang bertopeng itu entah telah kabur kemana.

Rintangannya Ciong Tian berdua membuat ia kehilangan orang yang ia kejar itu.

Lalu ia ingat akan kejadian di rumah penginapan, tentang orang yang dibinasakan secara diam-diam oleh si orang bertopeng itu, Orang itu baru dapat menyebutkan dua kali kata-kata "Beng".

"Ah! Apakah dia bukannya maksudkan Beng Sin Thong?"

Pikirnya pula sejenak kemudian.

"Ya, tidak salah, tidak salah lagi! Beng Sin Thong tinggal di lembah sebelah selatan Thayheng San, di dalam sebuah kampung sunyi. Rumahnya itu cuma terpisah seratus lie dari sini! Baiklah, benar atau tidak, aku pergi dulu ke rumah orang she Beng itu!"

Dan ia mengambil putusannya. Beng Sin Thong itu ada seorang yang luar biasa.

"Sin Thong"

Itu pun berarti "mengerti segala apa".

Nama ini, dari julukan belaka, lantas berubah menjadi nama benar, hingga nama benarnya orang telah melupakannya.

Telah lama ia hidup menyendiri, maka selama belasan tahun, sedikit sekali orang yang mengetahui tentang tempat kediamannya.

Kim Sie Ie ada salah satu dari sedikit orang itu.

Ia mengetahuinya sebab semenjak meninggalkan Coato, Pulau Ular, ia telah merantau, ia telah mencari orang-orang gagah, untuk dirobohkan.

Ia mendapat tahu tempat tinggalnya Beng Sin Thong, pernah ia mengunjunginya, tetapi sampai ia menghilang, belum pernah ia ertemu orang luar biasa itu.

Ketika la mengunjunginya, Beng Sin Thong kebetulan tidak ada di rumah.

Maka sekarang, ia pikir, umpama kata Lie Kim Bwee tidak ada di Beng keechung, di rumah Bin Thong itu, ia boleh terus mencari Sin Thong sendiri untuk menguji kepandaiannya.

Perjalanan dari Sin-an ke kegunungan Thayheng San, yang ada kira-kira seratus lie, meminta tempo paling sedikitnya satu hari, akan tetapi bagi Kim Sie Ie, yang Inahir ilmu lari kerasnya, tempo itu hanya satu jam lebih.

Beng keechung, yang pernahnya di lembah sebelah selatan Berdiri dari dua puluh bocah rumah lebih, penghuninya semua ialah sanak atau muridnya Beng Sin Thong sendiri.

Rumahnya Beng Sin Thong adalah yang terbesar dan aneh pula bentuknya.

Karena ia pernah datang, Kim Sie Ie tahu rujilah orang, dengan begitu ia dapat menuju langsung.

Dari tempat yang tinggi, ia lantas memandang ke arah rumah itu di mana, segala apa tampak tenang.

Untuk sejenak Tokciu Hong-kay berpikir.

baik ia menyatroni secara diam-diam atau berterus terang?

Ia tengah berpikir itu ketika kupingnya dapat menangkap suara berisik dari gombolan pepohonan di sampingnya.

Baru ia menoleh, htau ia mendengar bentakan.

"Aku mau lihat kemana kau hendak menyembunyikan diri-Mari, mari! Aku telah dapat cari si budak perempuan liar!"

Suara nyaring itu disusuli sama tepukan tangan tiga kali, atas mana terus terlihat datangnya tiga bayangan dari tiga penjuru di sekitar situ.

Dengan sebat Kim Sie Ie lompat naik ke atas pohon, untuk dari situ ia memasang mata.

Dari suara orang itu ia tahu bukannya ia sendiri yang dipergoki orang itu.

Ia hanya menduga-duga.

"Budak liar siapa yang dia ketemukan? Mungkinkah dia Lie Kim Bwee?"

Tidak usah lama Kim Sie Ie menduga-duga atau ia lantas menampak munculnya satu bayangan orang, ialah bayangan dari seorang wanita, yang potongan tubuhnya mirip dengan potongan tubuhnya Lie Kim Bwee, baik tingginya maupun gayanya.

Ia pun segera mendengar suaranya wanita itu.

"He, bangsat, lihat pedang!"

Suara itu disusuli suara bentroknya senjata, lalu ketiga bayangan lainnya nampak terpukul mundur beberapa tindak.

Kim Sie Ie hilang harapan.

Suara itu, ia kenali, bukan suaranya Lie Kim Bwee.

Ia pun tidak dapat melihat muka orang, yang ditutup dengan sehelai sutera hitam.

Tapi ia mengawasi terus, sedang di dalam hatinya ia berkata.

"Meski ia bukannya Lie Kim Bwee, kelihatannya kepandaiannya tidak kalah. Ah, malam ini sungguh suatu malam yang aneh! Baru aku menemui pria bertopeng atau sekarang ada lagi seorang wanita. Adakah mereka berdua dan satu golongan?"

Pertempuran telah berlangsung terus di antara wanita itu dan ketiga pria.

Si nona benar gagah tetapi ketiga lawannya juga bukan orang sembarang.

Sampai dua puluh jurus, mereka masih seimbang kekuatannya.

Lama-lama si nona agaknya gelisah, ia lantas menyerang dengan hebat.

Walaupun demikian, ia bersikap waspada.

Ketiga pria itu masing-masing bersenjatakan cambuk, ruyung, dan golok besar, semua mereka berge-gaman berat, tetapi selagi si nona menggunai kekerasan, mereka tidak sudi melayani, mereka cuma membela diri.

Mereka mengurung bagaikan tembok besi, hingga sulit si nona merangsak atau menoblos-kan kurungan mereka itu.

"Apakah kau kira Beng kee-chung dapat dibikin sesukamu?' kata si pria yang memegang cambuk sambil tertawa dingin.

"Jangan kau harap, andaikata kau memikir, untuk mengangkat kaki dari sini! Paling benar ialah dengan baik-baik kau turut kami menemui chungcu kami untuk kau mendengar keputusannya, mungkin kau akan dibebaskan dari hukuman mati! Jikalau kau melawan terus, aku kuatir kau nanti membuang jiwamu secara sia-sia disini!..."

Si nona membungkam, cuma serangannya diperhebat. Sambil mengawasi terus, Kim Sie le berpikir.

"Nona ini rupanya telah memasuki Beng keechung, maka baik aku minta keterangan darinya. Melihat permainan pedangnya, asal ia tidak terburu napsu, di dalam seratus jurus ia bakal merebut kemenangan. Tapi aku, mana aku dapat menanti demikian lama? Bagaimana kalau mereka ini memperoleh bantuan dari pihaknya?"

Kim Sie Ie menjadi tidak sabar-an, si nona melebihkan.

Demikian terlihat nona itu menyerang tambah hebat, sampai dia seperti tidak memperhatikan lagi pembelaan dirinya.

Lawan yang mencekal ruyung itu melihat si nona bagaikan kalap, ia menggunai ketikanya.

Mendadak ia menyerang, hingga dengan mengeluarkan suara nyaring, bajunya si nona kena tersontek hingga robek.

Tapi inilah kehendak si nona.

Justeru orang berhasil, justeru ia menikam.

Maka pundaknya musuh itu lantas tertusuk ujung pedang.

Musuh itu kesakitan dan kaget, dengan lantas dia berseru.

Dia tidak lari, bahkan dia menyerang semakin keras.

Hanyalah ketika dilukai, tanpa ingat malu, dia mengasih dengar seruannya itu, untuk memohon bantuan.

Mereka itu bertiga ada murid-murid kesayangannya Beng Sin Khong.

Mulanya disebabkan tiga mengepung satu, mereka malu meminta bantuan, sekarang ini lain, terpaksa dia berseru juga.

Dia telah 'melihat, bertiga mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap satu musuhnya itu.

Akan tetapi dia cuma dapat menjerit satu kali, lantas dia Bungkam.

Karena mendadak dia merasakan kerongkongannya sakit, tidak dapat mementang mulut lagi.

Itulah Kim Sie Ie, yang membantu si nona dengan diamdiam, dengan menimpuk dengan jarum-riya yang liehay.

Si nona sendiri berlaku cerdik dan sebat, ia menghilangi tikamannya hingga musuhnya itu lantas roboh dengan jiwanya melayang pergi.

"Biarkan mereka ini menjadi mulut-mulut yang hidup!"

Kim Sie Ie berseru sambil melompat turun dari atas pohon di mana ia menyembunyikan diri.

Berbareng dengan itu ia menyerang pula Bengan dua batang jarumnya kearah kedua pria itu-jarum yang satu nancap di nadi orang yang memegang cambuk, jarum yang lain mengenai bawahan bocah dada dari yang lainnya, hingga senjata mereka itu lantas terlepas dari tangan masing-masing.

Nona itu rupanya telah mengumbar hawa amarahnya, walaupun telah ada pemberian ingat dari Kim Sie Ie, ia menyerang terus seperti tadi, maka di dalam sekejab, dua musuhnya itu pun roboh binasa.

Kim Sie Ie kaget sekali.

Ia tidak menyangka orang demikian tele-ngas.

"Kau siapa?"

Mendadak si nona tanya, romannya bengis.

"Kenapa kau memintakan keampunan bagi mereka?"

Dia seperti juga tidak tahu bahwa barusan orang telah memberikan bantuan kepadanya.

"Mungkin kau pernah mendengar namaku!"

Jawab Kim Sie Ie tertawa. Ia tidak menjadi gusar.

"Aku Kim Sie Ie. Aku..."

Mendengar nama itu, si nona agaknya terperanjat, belum sempat Kim Sie Ie berbicara terus, tangannya sudah terayun, lalu dengan satu suara, terlihatlah berhamburannya suatu benda hitam sebagai kabut.

Ia juga kaget, bahkan ia kuatir kepada senjata rahasia yang beracun, maka ia lompat berjumpalitan guna menjauhkan diri dari kabut itu, sambil berlompat, ia menahan napasnya.

Ia menjauhkan diri tiga tombak.

Ketika benda hitam itu buyar lenyap, si nona telah hilang lenyap dari hadapannya.

Ia tahu orang berlalu dengan meminjam kabut itu sebagai tedeng aling, hanya ia tidak mengerti kenapa orang menyingkir dari ianya.

"Siapakah dia?"

Kim Sie Ie berpikir keras. Kembali ia menghadapi keanehan.

"Bukankah dia si pengirim tusuk konde? Apakah mungkin adik Kim Bwee terjatuh di dalam Beng keechung ini?"

Walaupun ia berpengalaman, sekarang ia toh heran.

Karena itu ia lantas mengambil putusan.

cuma dengan memasuki terus rumahnya Beng Sin Thong barulah ia akan berhasil memperoleh keterangan atau mengetahui duduknya hal yang benar.

Dengan lewatnya sang tempo, rembulan sudah selam di barat dan bintang-bintang tinggal sisanya.

Dengan begitu, sang langit bukannya bakal menjadi semakin gelap, hanya sang fajar segera menyingsing.

Meski begitu, Kim Sie Ie maju terus.

Ia melihat beberapa rombongan orang mendatangi.

Rupa-rupanya mereka itu datang atas seruan tadi.

Melihat orang-orang itu, ia berpikir.

"Ini berarti bahwa Beng keechung telah tersadar dari tidurnya. Pasti penjagaan pun diperkeras. Aku mesti masuk di luar tahu mereka. Apa akal?"

Dengan memasang mata dan telinga, dengan gerakan yang gesit, Kim Sie Ie bertindak maju.

Ia menyingkir setiap kali ia melihat ada orang mendatangi.

Ia tidak mau berlaku sembrono karena ia merasa pasti orang-orang di rumahnya Beng Sin Thong pasti bukan sembarang orang.

Setibanya di depan pekarangan, di sana terlihat dua orang ronda.

Dengan berhati-hati, tanpa terlihat, ia mendekati mereka itu.

"Tadi malam ada orang mencuri masuk ke dalam rumah kita ini, bahkan dialah seorang wanita,"

Terdengar seorang berkata perlahan.

"inilah heran sekali. Sudah belasan tahun aku melayani suhu, belum pernah terjadi hal yang semacam itu."

"Pula tadi, mendengar suara pertandaan dari atas gunung, mungkin juga ketiga kakak seperguruan kita itu bukan lawannya wanita itu,"

Berkata yang lain.

"Dan beberapa hari yang lalu, katanya ada datang seorang wanita lain, yang telah kena ditawan suhu kita dan ditahan. Benarkah, itu?"

"Sst!"

Kata sang kawan, memperingati.

"Hati-hati kau membicarakan urusan ini. Di antara kita berdua tidak ada soal, tetapi kalau warta ini bocor, bisa-bisa suhu nanti menghendaki jiwamu..."

Orang yang ditegur itu mengulur lidahnya. Ia agaknya jeri.

"Kalau begitu, tidak apalah jikalau kau tidak suka memberi keterangan padaku,"

Katanya.

"Kalau kau suka, nah, kau bisikilah!"

Dua orang itu lantas bicara berbisik.

Kim Sie Ie tidak dapat mendengar apa-apa hanya ia melihat orang yang dibisiki itu mengulur lidah pula, kelihatannya dia heran dan berkuatir.

Kim Sie Ie berpikir pula.

"Jadi disini masih ada satu nona yang dipenjarakan? Beng Sin Thong berani menawannya, mengapa mereka ini agaknya jeri? Siapakah nona itu? Ah, mungkinkah dia Kim Bwee? Apakah mungkin si nona tadi datang kemari guna menolongi Kim Bwee? Mestinya, sedikitnya, si nona dan nona yang dipenjarakan itu ada sangkut pautnya satu dengan lain... Nona bertopeng itu liehay tetapi dia tidak miripnya orang Thiansan Pay..."

Ia lantas merogoh keluar dua batang jarumnya, untuk digunakan, maka dua orang yang berbicara kasak-kusuk itu lantas merasai bawahan tetek mereka, ialah jalan darah kiebun hiat, seperti digigit semut, atau di lain detik keduanya menjadi lemas, hingga mereka lantas terjatuh terkulai.

Dari tempat sembunyinya, Kim Sie Ie berlompat keluar, mengham-pirkan dua orang itu.

Ia menekan punggung seorang, dengan begitu, orang itu lantas merdeka pula.

Ia berkata perlahan tapi berpengaruh.

"Jangan menjerit, atau otot-ototmu bakal putus!"

Ancaman ini, yang nadanya diberikuti emposan tenaga dalam, membikin orang itu ciut nyalinya.

Dia bukannya orang pandai tetapi sebagai orangnya Beng Sin Thong dia menginsyafi hal kemahirannya tenaga dalam itu.

"Kau... kau siapa?"

Tanya dia, matanya mendelong.

"Seorang laki-laki tidak pernah merubah she dan namanya,"

Sahut Kim Sie Ie.

"Demikian juga aku! Akulah Kim Sie Ie yang pada tujuh tahun yang lalu pernah datang mencari guru kamu!"

Orang itu kaget bukan main, mukanya menjadi pucat.

"Tok... Tok..."

Kata dia, atau dia berdiam tiba-tiba. Kim Sie le tertawa dingin.

"Tidak salah, akulah yang dunia kangouw menyebutnya Tokciu Hongkay!"

Jawabnya terus terang.

"Sekarang aku hendak menanya kau! Ada sepatah kata saja omonganmu tidak benar, aku akan menurunkan tangan jahat, kau bakal tersiksa hingga mau hidup tidak bisa, mau mati tidak bisa juga!"

Orang itu bergemetar tubuhnya.

"Kau bilangi aku apa she dan namanya si nona yang ditawan gurumu?"

Kim Sie Ie tanya.

"Dengan sebenar-benarnya aku tidak tahu..."

Menyahut orang itu dengan suara susah.

"Bukankah dia orang Thiansan Pay?"

Kim Sie Ie tanya pula.

"Ini juga aku tidak tahu..."

"Baiklah, kau main tidak tahu saja! Sekarang aku tanya lagi. Kau tentu mendapat tahu romannya nona itu?"

"Aku... aku belum pernah melihat dia..."

Matanya Kim Sie Ie mendelik. Orang itu ketakutan.

"Aku... aku mendengar dari kakakku seperguruan yang tertua..."

Katanya.

"nona itu berumur kurang lebih dua puluh tahun, ilmu pedangnya liehay, mukanya potongan kwaci, wajahnya cantik sekali..."

Kim Sie Ie pikir.

"Siapa lagi dia kalau bukannya Lie Kim Bwee?"

Lantas ia menanya.

"Bagaimana kejadiannya maka dia tertawan disini?"

"Dia datang kemari kira-kira lima atau enam hari yang baru lalu. Dia datang seorang diri tanpa ada yang ketahui sampai dia dapat menghampirkan kamar tempat chungcu meyakinkan ilmu silat. Di sana dia kepergok, lantas dia bertempur sama toasuko, ialah kakak seperguruan kami yang usianya paling tua, yang biasa mendampingi chungcu atau guru kami itu. Toasuko telah kena dilukai. Setelah itu muncullah guru kami dan si nona lantas kena ditangkap. Hal ini aku baru ketahui kemarin ketika suko memberitahukan kepadaku. Lantaran peristiwa itu maka sekarang diadakan penjagaan kuat ini."

"Di mana nona itu di penjarakan?"

Kim Sie Ie tanya.

"Juga hal ini aku tidak tahu. Suhu larang membocorkannya dan suko tidak sudi memberitahukan padaku meskipun kita bersahabat erat sekali."

"Sekarang di mana adanya gurumu?" 'Di dalam taman di belakang. Suhu tinggal di kamar batu di sampingnya tiga bocah pohon pek."

"Kau bernama apa?"

Orang itu melengak, agaknya ia berkeberatan, tetapi ia dideliki. Akhirnya ia menyahut juga.

"Aku bernama Kat Tiong."

Perlahan bicaranya.

"Baik. Sekarang mari aku pinjam baju bulumu."

Lantas Kim Sie Ie membebaskan orang yang satunya lagi, lalu kepada mereka ia kata.

"Kamu boleh berdiam terus disini, meronda seperti biasa, tetapi aku larang kamu bicara! Awas, atau aku nanti ambil jiwa kamu!"

Habis mengancam, dia menge-robongi dirinya, lantas dia pergi tanpa mengambil mumat pula kedua orang itu.

Dua orang itu saling mengawasi, mereka berdiam.

Benarbenar mereka tidak berani bertindak apa-apa kecuali mengharap-harap guru mereka berhasil membekuk dan membinasakan orang ini, agar rahasia mereka tertutup terus...

Dengan lincah Kim Sie Ie meloncati tembok, ia bagaikan seekor burung yang enteng tubuhnya dan gesit.

Ia berhasil melewati beberapa orang.

Kalau toh ada juga yang melihatnya, ia dibiarkan, karena mantelnya itu, saban-saban ia disangka orang sendiri.

Setibanya di dalam taman, tengah ia berjalan, Kim Sie Ie mendengar bersiurnya tangan baju di belakangnya-Ia terkesiap.

Ia mengerti ada orang liehay di belakangnya itu.

Ia pun segera mendengar teguran.

"Eh, Kat Tiong, sekarang belum tiba saatnya menukar giliran, kenapa kau sudah kembali? Apakah ada terjadi sesuatu?"

Sambil memutar tubuh, Kim Sie Ie menjawab pertanyaan itu dengan satu totokan sebelah tangannya ke belakang.

Tepat serangan itu, tanpa bersuara lagi, orang itu jatuh roboh.

Dia sebenarnya murid nomor dua dari Beng Sin Thong, dia cukup kosen, mungkin dia akan dapat bertahan delapan jurus melawan penyerangnya, tetapi dia tidak mencurigai Kat Tiong palsu itu, maka dia roboh sebagai korban.

Kim Sie Ie tertawa dan berkata dengan perlahan pada orang itu.

"Selang satu jam, kau akan merdeka sendiri."

Lantas dia menggusur orang ke dalam gua dari gunung palsu disitu. Di dalam hatinya ia kata.

"Beng Sin Thong berani menawan dan mengurung adik Kim Bwee, aku mesti membuat perhitungan dengannya!"

Dengan menuruti petunjuk Kat Tiong, ia tiba di rumah batu di dekat tiga bocah pohon pek.

Ketika ia mendekati, ia lantas mendengar suara bicara yang keluar dari dalam rumah itu.

Maka, dengan berpikir bahwa baiklah ia mencoba memasang kuping, ia lantas mencari tempat untuk memernahkan diri dengan ia dapat mengintai ke dalam rumah.

Jendela disitu berdaun kaca.

Di dalam rumah itu ada tiga orang, dua tua dan satu muda.

Dengan lantas ia mengenali satu di antaranya adalah Beng Sin Thong, si chungcu atau tuan rumah, yang tubuhnya tinggi besar tetapi punggungnya bungkuk.

Ia tidak tahu orang tua yang kedua, sedang yang muda ia duga ada murid kepalanya orang she Beng itu.

Pembicaraan ketiga orang itu perlahan akan tetapi Kim Sie Ie dapat mendengarnya begitu lekas ia memasang kuping dengan menempelnya di batu.

Ia memang mengerti ilmu "Hoktee tengseng", -"Mendekam di tanah, mendengar suara".

Siapa yang mahir ilmu ini, dia dapat mendengar tindakan kaki kuda dua tiga lie jauhnya.

"Wanita tadi malam itu mungkin gadisnya Le Hoan San,"

Demikian terdengar suaranya Beng Sin Thong.

"Yang tidak jelas ialah murid wanita dari Thiansan Pay itu ada apa hubungannya dengan dia. Pula tentang itu tusuk konde kumala, tidak diketahui apakah dia yang menolongi gadisnya Phang Lim untuk menyampaikannya atau bukan..."

Terkesiap juga hati Kim Sie Ie mendengar itu kata-kata "gadisnya Phang Lim". Jadi tidak salah lagi, nona yang tertawan itu ialah Lie Kim Bwee. Maka berpikirlah ia.

"Beng Sin Thong telah mengetahui siapa adanya Kim Bwee dan dia masih berani menahannya, sungguh besar nyalinya."

"Kau telah melakukan pengejaran, apakah kau berhasil membekuk pencuri tusuk konde kumala itu?"

Terdengar Beng Sin Thong menanya muridnya.

"Tidak,"

Menyahut sang murid.

"Sebaliknya, aku bertemu sama seorang lain."

"Siapakah dia itu?"

"Kim Sie Ie!"

Menjawab sang murid.

"Ah!"

Berseru sang guru.

"Kembali dia muncul dalam dunia kangouw! Adakah dia masih hendak mencari aku untuk mengadakan piebu denganku? Kim Sie Ie itu menyebalkan, baiknya dia tidak mempunyai hubungan sama Thiansan Pay. Coba kau tuturkan bagaimana kau menemuinya?"

"Aku telah mengejar sampai di Sin-an. Di sana aku melihat dua ekor kuda Ferghana. Oleh karena aku mencurigai ada orang Thiansan Pay di sana, aku pergi mengintai..."

"Habis benarkah dia orang Thiansan Pay?"

Sang guru menanya, bernapsu.

"Ya, merekalah dua orang tingkat muda dari Thiansan Pay."

"Ah!"

Kembali si guru berseru perlahan.

"Dapatkah mereka menerima tusuk konde itu?"

"Tidak. Tusuk konde justeru berada di tangannya Kim Sie Ie. Cui Kiu kena ditawan Kim Sie le, dia mau dipaksa menutur tentang tusuk konde itu, untuk mencegah dia membuka rahasia, terpaksa aku panah dia dengan jarum beracun..."

"Bagus, bagus!"

Kata guru itu.

"Benar Kim Sie Ie tidak ada hubungannya sama Thiansan Pay akan tetapi kalau dia mengetahui hal itu, itulah kurang baik. Hanya, kenapa Kim Sie Ie yang mendapatkan tusuk konde itu serta apa dia mau menyelidikinya? Inilah aneh!"

"Bukan begitu saja, dia bahkan mengejar aku. Ketika itu kedua bocah Thiansan Pay itu tidak ada di dalam kamar mereka, hanya belakangan kita bersomplokan di tengah jalan. Mereka tengah mengutuk Kim Sie Ie. Ketika mereka melihat aku, lantas mereka menyangka akulah Kim Sie Ie "' Lebih jauh murid ini menuturkan pengalamannya sampai dia lolos sesudah dia menunjuki Kim Sie Ie kepada dua orang muda itu, Bampai mereka menyerang Kim Sie Ie dan dia bebas, Beng Sin Thong berpikir.

"Kim Sie le membuat garagara Berhadap murid-murid Thiansan Pay, kejadian itu berarti keringanan bagi kita,"

Katanya sesaat kemudian.

"hanya di belakang hari, kalau rahasia terbuka dan dia bertindak terus, begitupun murid-murid Thiansan Pay itu, itulah tidak bagus. aku lihat kita haruslah berdaya untuk menghadapi Kim Sie le."

Setelah mendengar semua pembicaraan itu, dan sesudah memadamkannya sekian lama, Kim Sie le mengambil kesimpulan.

"Mungkin sekali ayahnya si nona bertopeng bermusuhan sama Beng Sin Thong dan Lie Kim Bwee datang mendahului nona bertopeng itu dan ia kena ditangkap. Hanya tusuk konde kumala dari Kim Bwee itu, siapakah yang membawanya pergi? Mungkin tusuk konde itu mau dijadikan bukti untuk minta bantuan kepada kaum sendiri. Mungkin dialah si nona bertopeng itu, atau mungkin juga seorang lain. Bentang ini baiklah aku membiarkannya dulu. Si pembawa tusuk konde itu rupanya melihat kedua ekor kuda di luar rumah penginapan, dia menyangka kepada orang-orang Thiansan Pay, hanya kemudian, nyatanya dia keliru memasuki kamarku. Sekarang tinggal soalnya. Kenapa Lie Kim Bwee mendatangi Beng keechung? Kenapa Sin Thong mengurung Kim Bwee sedang dia telah ketahui asal-usulnya si nona?"

Tengah ia berpikir itu, Kim Sie Ie mendengar satu suara yang nyaring.

"Beng Suheng,"

Demikian suara itu.

"tanpa perlunya buat apa kita mencari urusan dengan pihak Thiansan Pay? Baiklah kau menghaturkan maaf kepada nona itu dan lantas memerdekakannya. Dengan begitu kita bisa menyingkir dari segala kesulitan."

Mendengar itu, hati Kim Sie le ketarik. Inilah soal yang ia ingin ketahui. Beng Sin Thong tertawa tawar, ia berkata.

"Yang Sutee, kau bicara gampang saja. Jangan bicara dari hal orang dengan kedudukan sebagai aku tidak dapat menghaturkan maaf kepada bocah itu, pula andaikata dia dimerdekakan, belum tentu ibunya mau melepaskan kita. Bukankah ibunya itu tersohor sebagai seorang wanita telengas? Di samping itu masih ada tiga keberatan lainnya."

Orang tua yang dipanggil "Yang Sutee"

Itu-ialah adik seperguruan she Yang-nampaknya heran.

"Coba kau jelaskan, suheng,"

Dia minta.

"Boleh kita menimbangnya."

"Pertama-tama aku tidak ingin membocorkan tempat persembunyianku ini,"

Berkata Beng Sin Thong, menjawab adik seperguruannya itu.

"Kau ketahui sendiri, kecuali Le Hoan San, aku masih mempunyai beberapa musuh lainnya. Yang kedua ialah aku bercuriga nona she Lie murid Thiansan Pay ada hubungannya sama si nona gadisnya Le Hoan San, bahkan mungkin dialah yang sengaja mendahului datang kemari untuk membuat penyelidikan. Dan yang ketiga, dengan menawan dia, mungkin bukan bahaya hanyalah rejeki besar yang bakal datang kepada kita! Haha! Sebenarnya kau harus dapat menerkanya. Nona itu besar sekali faedahnya untuk kita!"

"Bagaimana itu?"

Tanya si orang tua, heran.

"Aku tidak mengerti."

"Bagaimana tentang peryakinanmu atas Siulo Im Kang?"

Balas tanya Beng Sin Thong.

"Kau sudah berhasil sampai di tingkat ke berapa?"

"Siauwtee bebal, siauwtee kalah jauh dengan kecerdasan suheng,"

Menyahut orang tua itu, si adik seperguruan she Yang.

"Sekarang aku baru sampai pada tingkat yang ke lima."

Kim Sie Ie mendengar jelas pembicaraan di antara kedua kakak dan adik seperguruan itu, ia terkejut. Berkata ia di dalam hatinya.

"Semasa hidupnya suhu, pernah suhu merundingkan tentang ilmu silat pelbagai partai, di antaranya ada disebut-sebut tentang ini ilmu Siulo Im Kang, yang katanya telah lenyap lama. Suhu menerangkan bahwa ilmu itu adalah ilmu yang liehay dalam kalangan kaum sesat, bahwa asal mulanya datang dari India, kemudian dibikin sempurna oleh seorang Lhama Agama Putih dari Tibet dan namanya pun lalu ditetapkan sebagai Siulo Imsat Kang. Didalam agama Sang Budha ada dikenal sembilan lapis atau tingkat neraka, menuruti itu, maka ilmu silat Siulo Imsat Kang ini pun dipecah dalam sembilan tingkat, dan siapa dapat memahamkan sampai di tingkat ke sembilan itu, kepandaiannya telah menyampaikan kemahirannya. Itu artinya dia liehay luar biasa. Kalau dengan ilmu itu orang menghajar lawannya, si lawan seperti juga dijeblus-kan kedalam neraka tingkat yang ke sembilan itu, dia jadi tidak bakal hidup pula. Tentu sekali, itulah perumpamaan belaka tetapi itu menandaskan liehaynya ilmu itu. Hanya saja, belum pernah ada yang menyaksikannya. Si pendeta Lhama Putih itu, katanya, tidak mempunyai murid yang mewariskan ilmu silatnya itu. Sampai dipertengahan kerajaan Beng, tentang itu ilmu cuma ada catatannya tetapi tidak pernah terdengar ada yang mempelajarinya. Maka heran sekarang ternyata Beng Sin Thong mengerti itu dan telah mempelajarinya sampai beberapa tingkat."

Selagi Kim Sie Ie masih berpikir itu, kembali ia mendengar suaranya Beng Sin Thong.

"Kau telah mencapai tingkat ke lima, kau tidak usah berkuatir. Aku telah sampai di tingkat ke tujuh, telah ada tanda-tandanya ancaman kesesatannya. Aku merasa, sampai di tingkat ke delapan nanti, apabila aku tidak sanggup mengendalikannya, aku bisa sesat dan gagal, dan habis dan sia-sia belaka peryakinanku ini. Maka sekarang aku memikir untuk mendapatkan pelajaran tenaga dalam yang sejati guna menindihnya. Mungkin dengan begitu aku bisa membebaskan diri dari bahaya terjerumus."

"Sekarang aku mengerti, su-heng,"

Kata si orang tua.

"Rupanya kau hendak memaksa si nona itu menuliskan untukmu rahasianya pelajaran tenaga dalam dari Thiansan Pay untuk kau meyakinkannya."

Beng Sin Thong tertawa gembira.

"Sedikit pun tidak salah dugaan kau ini!"

Katanya.

"Hanya sayang gadisnya Phang Lim itu sangat berkepala batu, sudah tiga hari aku membuatnya kelaparan, dia masih tidak mau mencatat pelajaran lweekang-nya itu. Meski begitu, aku tahu bagaimana caranya untuk memaksa dia. Kalau aku berhasil meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai tingkat ke sembilan itu -haha!-tak usah aku jeri lagi terhadap sekalian musuhku! Biar suami isteri Tong Siauw Lan yang datang sendiri, belum tentu aku kalah!"

"Biarpun begitu, suheng, kita harus berhati-hati,"

Kata sang sutee, yang memperingati.

"Begitu aku berhasil mendapatkan ilmu lweekang Thiansan Pay, aku akan lantas membinasakan anak perempuan itu,"

Berkata Beng Sin Thong, suaranya tetap.

"setelah itu kita pergi menyembunyikan diri pula. Thiansan terpisah jauh puluhan ribu lie, umpama kata kemudian Tong Siauw Lan dan Phang Lim dapat mencari aku, ketika itu peryakinanku sudah selesai!"

Mendengar ini maka mengertilah Kim Sie Ie.

Jadi dengan mengurung Lie Kim Bwee, Beng Sin Thong hendak mendapatkan ilmu lweekang, ilmu sejati, dari Thiansan Pay, guna mencegah dia terjerumus dalam kesesatan, agar dia dapat berhasil meyakinkan Siulo Imsat Kang, guna menjadi jago.

Pantas dia ingin lekas-lekas, supaya pihak Thiansan Pay tidak mencari padanya.

Pastilah dia kuatir sekali tusuk kondenya Kim Bwee nanti membawa berita kepada pihak Thiansan Pay itu.

Setelah itu, Beng Sin Thong memanggil seorang muridnya kepada siapa ia memerintahkan.

"Kau bawa ini cambuk Pekbong pian, kau lihat itu bocah wanita, jikalau tetap dia tidak mau menulis catatannya, kau hajar dia setiap pagi, tengah hari dan sore, setiap kalinya sepuluh rangketan. Setelah dirangket dengan cambukku ini, dia akan merasakan nyeri luar biasa pada seluruh tubuhnya, sesudah dia kelaparan sekian lama dan tubuhnya telah lemas lelah, biar tenaga dalamnya sudah mahir, dia tidak akan bertahan untuk tiga kali rangketan!"

Sang sutee, adik perguruan, kaget mendengar kata-kata itu.

"Dengan demikian,"

Katanya.

"kita jadi pasti membuat permusuhan dengan Thiansan Pay!"

"Ya!"

Sahut kakak itu.

"Kau harus ingat, menangkap harimau gampang, melepaskannya sukar. Sampai di batas ini, jalan lain sudah tidak ada. Muridku, kau pergilah!"

Kim Sie Ie menjadi kaget, gusar dan girang dengan berbareng.

Ia kaget dan gusar untuk ketelengas-annya orang she Beng itu.

Ia girang sebab ia mendapat harapan.

Maka tanpa menyia-nyiakan tempo, ia lantas menguntit murid orang itu yang membawa Pekbong pian, Cambuk Ular Naga Putih yang katanya liehay itu.

Murid itu menuju ke depannya sebuah gunung palsu lainnya, setelah batuk-batuk dua kali, ia memanggil-manggil.

"Liok sutee! Cit sutee!"

Itulah panggilan untuk adik seperguruan yang ke enam dan ke tujuh.

Tapi ia tidak memperoleh jawaban walaupun ia telah mengulanginya.

Ia menjadi heran.

Ia lantas mengulur sebelah tangannya, memegang sebuah batu gunung untuk terus diputar.

Segera batu itu.

terbelah dua, merupakan sebuah pintu.

"Kiranya mereka mengurung adik Kim Bwee di dalam gunung palsu ini!"

Pikir Kim Sie Ie, yang girang luar biasa. Ia terus memasang mata.

"Kalau tidak ada jahanam ini, mana bisa aku mencari ini tempat rahasia"

Tepat di itu waktu, dari arah taman terdengar bunyinya genta nyaring sekali diikuti teriakan-teriakan.

"Kim Sie Ie sudah masuk ke dalam! Masing-masing menjaga tempat penjagaannya! Jangan bingung! Biar suhu sendiri yang membekuk dia!"

Muridnya Beng Sin Thong itu kaget, ia segera menoleh, hingga batal ia bertindak memasuki guanya itu.

Justru itu, ia pun kaget luar biasa.

Ia melihat di belakangnya telah berdiri seorang yang tidak dikenal!

Kim Sie Ie berlaku sebat.

Ia tidak menanti orang mementang bacot atau menggeraki kaki atau tangan.

Dengan tangan kanannya, dengan perakan "Keng Tek toatpian", atau Keng Tek merampas cambuk", ia menyambar lengannya orang itu, untuk membarengi menotok dengan tangan kirinya pada jalan darah "kauw-im hiat".

Maka lemaslah orang itu, cambuknya lantas kena dirampas, sedang tubuhnya, dengan dupakan susulan, kena dibikin terlempar ke pojokan.

Habis bekerja sebat itu, Kim Sie Ie menoleh ke belakang, la mendengar suara berisik tetapi tidak melihat orang datang ke arahnya, la mau menyangka bahwa orang tidak menduga kepada gua rahasia ini.

Tapi ia dapat menerka sebabnya suara berisik itu.

Ketika ia mulai masuk ke Beng keechung ini, ia telah menotok roboh dua orang ronda.

Ia tidak mencelakai, ia hanya menutup jalan darah mereka itu untuk satu jam, selewatnya itu, larang akan bebas sendirinya.

Disini ?ia keliru.

Dua orang itu telah berhasil mewariskan tiga bagian pelajaran gurunya, dengan mengempos semangat sendiri, mereka ibebas tak sampai setengah jam, maka mereka lantas membikin berisik, guna melaporkan pengalamannya itu.

"Biar bagaimana, paling perlu aku menolongi dulu adik Kim Bwee,"

Demikian Kim Sie le pikir.

Maka dengan memutar cambuk rampasannya ia bertindak masuk.

Ia tidak menemui rintangan hanya mendapatkan tubuh dua orang, yang rebah tidak berdaya, bukan miripnya orang masih bernyawa.

Ia menjadi heran sekali.

Ia mengawasi tubuhnya dua orang itu, ia menendang.

Dua orang itu berdiam saja.

Ia lantas memeriksa.

Hasilnya ialah kenyataan kedua orang itu sudah menjadi mayat.

"Tentulah mereka ini si sutee ke enam dan ke tujuh yang barusan dipanggil-panggil,"

Pikir Kim Sie Ie.

"Entah siapa yang membinasakannya..."

Di dalam keadaan seperti itu, tidak dapat Kim Sie Ie main ayal-ayalan. Ia mengawasi ke sebelah dalam. Ia seperti melihat berkelebatnya satu bayangan kurus. Ia kaget dan girang dengan berbareng.

"Aku tahu kau datang,"

Ada jawaban dari tempat gelap itu.

Hampir berbareng dengan jawaban itu, Kim Sie Ie merasakan tangannya tersambar, lalu telapakan tangannya tercengkeram.

Ia pun lantas melihat, si nona bukannya Kim Bwee hanya si nona bertopeng.

Sekarang si nona tidak mengenakan topeng lagi, sinar matanya tajam.

Nona itu berkata.

"Jangan maju mendekati aku, nanti aku menarik banderinganku hingga tanganmu bakal hancur, hingga meskipun kau dapat membunuh aku, kau sendiri bakal bercacad seumur hidup!"

Suara nona itu dingin. Seumurnya baru kali ini Kim Sie Ie kena dibokong orang, maka bukan main mendongkolnya. Sebelum ia membilang apa-apa, si nona sudah menanya padanya.

"Bukankah kau datang kemari untuk menolongi si nona murid Thiansan Pay?"

Kim Sie Ie tidak menjawab hanya ia mengerahkan tenaga dalamnya, sambil berbuat mana ia kata dengan tertawa.

"Kepandaianmu masih rendah, tidak dapat kau main gila terhadap aku!"

Dan benar-benar, tangannya lantas terlepas dari cengkeraman.

Ia telah menggunai Siokkut kang, yaitu ilmu meringkaskan tulang.

Si nona tersadar sesudah tangan orang bebas.

Ia terkejut.

Tapi hanya sejenak, ia pun kata dengan tertawa.

"Kepandaianku memang masih rendah, tetapi juga kepandaian kau belum mahir! Kau tahu, kau telah terkena bisa tetapi kau tidak merasa!"

Kim Sie Ie kaget.

Segera ia merasakan sedikit gatal pada tangannya.

Ketika ia mengerahkan pula tenaga dalamnya, sekarang ia merasa nyeri sekali pada lengannya.

Kembali ia kaget.

Nyata si nona tidak mendusta.

Pasti bandering si nona dipakaikan racun dan barusan kulitnya terlukakan.

Ia menahan hawa amarahnya, ia kata dengan dingin.

"Sebelum aku mati, aku akan membinasakan kau dengan cara yang serupa!"

Ia memang ahli racun.

"Kau percaya atau tidak?"

Pertanyaan ini disusul sama gerakan cepat bagaikan kilat, maka tahu-tahu tubuhnya telah melesat ke depan si nona, tangan siapa lantas kena dicekuk dua-duanya.

Ia membawa mukanya ke muka nona itu, ia mengasih lihat roman bengis sekali.

Inilah sifatnya di waktu murka.

Dapat ia menyiksa orang menuruti suara hatinya itu.

Ia lebih kejam kepada orang yang kejam.

Nona itu luar biasa.

Kalau dia mau berkelit, mungkin dia dapat.

Kalau dia mau melawan, mungkin dia dapat bertahan untuk beberapa jurus.

Tapi sekarang dia diam saja tangannya dicekal, dia tidak mengerahkan tenaganya.

Dia juga tidak menunjuki roman takut.

Sebaliknya, dia bersenyum.

"Kau hendak membinasakan aku?"

Tanyanya.

"Aku percaya kau mempunyai kepandaian untuk melakukannya. Hanya, aku pikir, kenapa kita mesti bercelaka berdua-dua? Kau pun belum menjawab pertanyaanku? Bukankah kau datang kemari untuk menolongi nona she Lie dari Thiansan Pay itu?"

"Benar,"

Menyahut Kim Sie Ie. Ia memang sangat memperhatikan kim Bwee.

"Mana dia nona she Lie itu?"

"Jadinya, kau juga hendak menyeterukan Beng Sin Thong?"

Si nona tanya pula.

"Lekas bilang, kau bertemu Nona Lie atau tidak?"

Kim Sie Ie tanya.

"Buat apa terburu napsu?"

Kata si nona, ayal-ayalan.

"Taman ini luas, mereka itu tidak bakal lekas-lekas sampai disini! Tidak nanti mereka menyangka kita berada di dalam ini gua rahasia! Masih ada lempo kita berbicara sebelumnya Beng Sin Thong dapat mencari kau."

Kembali Kim Sie Ie panas patinya. Kembali ia terpengaruhkan orang sedang biasanya ialah yang mempengaruhi orang lain.

"Kau mau bicara apa?"

Ia menanya sengit. Untuk Kim Bwee, ia dapat mengendalikan diri.

"Bagus kalau kau ketahui itu,"

Kata Kim Sie Ie.

"Habis kenapa kau pembalas budi dengan cara bermusuhan ini?"

"Mulanya aku tidak tahu!"

Kata pula si nona, tertawa.

"Bukankah manusia banyak akalnya dan kau pun dikenal sebagai hantu? Kita baru bertemu satu dengan lain, cara .bagaimana kau dapat menghendaki aku lantas mempercayai kau?"

Berdua mereka bicara dengan tubuh mereka berada dekat sekali, maka Kim Sie le dapat membaui harum tubuhnya si nona, dengan begitu berkuranglah hawa amarahnya.

Bahkan sejenak kemudian, ia mulai merasa tidak enak hati.

"Sekarang kau telah ketahui aku datang untuk mencari si nona she Lie berbareng untuk menyateroni juga Beng Sin Thong, habis kau mau apa?"

Ia tanya nona itu.

"Maksud kita berdua berlainan kecuali di dalam halnya mencari Beng Sin Thong,"

Menyahut si nona.

"Baiklah, hari ini mari kita bekerja sama bagaikan kita naik sebuah perahu, kau membantu aku mencari balas dan aku membantu kau meloloskan diri, untuk itu kita jangan saling menghaturkan terima kasih! Begitu kau menerima baik ajakan ini untuk bekerja sama, segera aku memberikan kau obat pemunah racunku!"

"Tunggu sebentar!"

Kata Kim Sie Ie.

"Bagaimana sebenarnya dengan si nona she Lie itu? Kenapa aku tidak melihat dia? Kau sendiri, mengapa kau berada di dalam gua itu?"

Nona itu tertawa.

"Kau begini tergesa-gesa hendak menemui dia?"

Tanyanya.

"Untuk itu kau harus menanti sedikitnya sampai sebentar malam!"

"Jadi dia tidak ada disini?"

"Sebentar jauh malam jam tiga, kau pergi ke puncak Kimkee Hong di atas gunung Thayheng San, kau tunggui dia di bawahnya pohon tua, dia nanti datang mencari kau."

"Bagaimana kau ketahui itu?"

"Karena aku telah menjanjikan dia begitu!"

"Itu artinya kau telah bertemu dengannya! Bagaimana terjadinya itu?"

"Bukan saja kita telah bertemu, bahkan akulah yang memerdekakan dia."

"Jadinya kaulah yang membinasakan dua orang menjaga gua ini?"

Nona itu mengangguk.

"Syukur kau telah membikin tidak berdaya beberapa muridnya Beng Sin Thong di luar dan di dalam pekarangan, menggunai ketika baik itu, aku nelusup kedalam terus kesini. Sebenarnya aku mencari nona itu untuk mengajak dia bekerja sama-sama aku, siapa tahu setibanya aku disini untuk mana aku mesti membinasakan dulu dua penjaga itu-ternyata dia tengah kelaparan hingga habis tenaganya, hingga dia tidak ada gunanya lagi untukku, dari itu aku menyuruh dia mengangkat kaki. Dia menyangka aku datang untuk menolongi dia, sangat bersyukur, berulang-ulang dia menghaturkan terima kasih padaku. Aku menganggap bersahabat dengan pihak Thiansan Pay tidak ada salahnya, benar dia sekarang tidak dapat membantu aku, tetapi di belakang hari mesti ada gunanya. Demikian aku menjanjikan dia akan sebentar jam tiga bertemu di puncak Thayheng San itu."

"Kau bilang dia tengah kelaparan, tapi kau membiarkannya dia pergi seorang diri. Ini... ini..."

"Sebenarnya juga mulanya aku tidak berniat melindungi dia,"

Menyahut si nona jujur, sambil tertawa.

"Dengan dia tetap berdiam disini dan dia tidak dapat menjadi pembantuku, bukankah dia cuma-cuma akan memecah perhatianku? Tapi, kau tenangkanlah hatimu. Benar dia tidak dapat segera mendapat pulang tenaganya, akan tetapi untuk lari cepat atau berlompatan, dia masih sanggup! Baiklah, sekarang kita sudah bicara cukup. Mau apa kau sekarang?"

Kim Sie Ie tertawa.

"Aku tidak memikir untuk bekerja denganmu!"

Sahutnya, dingin. Jawaban ini mengejutkan si nona, yang menjadi heran.

"Apakah kau tidak mengharap obat pemunah racun?"

Tanyanya.

"Benarkah kau menghendaki kita berdua bercelaka bersama? Tidakkah dengan begitu kita jadi membikin senang itu bangsat tua she Beng?"

"Seumurku, belum pernah aku dipengaruhi lain orang,"

Kata Kim Sie le terus terang.

"Kau telah membokong aku, lantas kau menginginkan aku membantu kau! Hm! Hm! Hatimu terlalu buruk!"

"Eh, kata-kata ini tidak seharusnya keluar dari mulutmu!"

Kata si nona heran.

"Jadi kau pun bicara dari hal kebatinan? Haha! Aku mengerti, kau sebenarnya jeri untuk Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong!..."

"Jangan kau mencoba membangkitkan hawa amarahku,"

Kata Kim Sie Ie sabar.

"Seumurku aku biasa pergi sendiri dan bekerja pendiri, aku merdeka, biasa aku malang melintang, belum pernah orang memaksa aku!"

"Habis, apakah kau berniat membunuh aku?"

Si nona tanya.

"Dengan mengandal kepada tenaga dalamku, aku masih bisa bertahan setengah atau satu harian,"

Kata Kim Sie Ie.

"Maka itu sekarang aku tidak mau membunuh kau, aku hendak memberi ketika untuk kau membalas dulu sakit hatimu. Umpama kata kau terbinasakan Beng Sin Thong, setelah itu, aku nanti menempur dia. Seandainya kau berhasil membunuh dia, setelah itu ?kru aku membunuhmu! Secara begini, aku berbuat baik terhadapmu!"

Dan ia tertawa, Mendengar kata-kata orang itu serta suara tertawanya, gempurlah Ketenangan si nona.

Dari sinar matanya pun tampak bahwa ia mulai berkuatir.

Kim Sie Ie mengawasi dengan tajam.

Maka sunyilah gua itu.

"Kau benar-benar manusia sangat sesat!"

Kata si nona kemudian, suaranya perlahan.

"Tapi dibandingkan sama kau, aku masih kalah seurat!"

Sahut Kim Sie Ie. Aneh keadaan mereka ini. Mereka pun merasakan itu. Tanpa disengaja, keduanya lantas sama-sama tertawa. Baru mereka berhenti tertawa atau di luar gua terdengar suara berisik.

"Sam suko! Sam suko! Oh, ada orang menemui Sam suko!"

Lalu.

"Bagus! Bagus! Suhu datang!"

Suara itu csama suara tindakan kaki, yang mendatang. Menyusul itu terdengar suara nyaring dari Beng Sin Thong.

"Kim Sie Ie! Bukankah kau datang untuk menantang aku piebu? Kenapa kau bersembunyi saja dan tidak mau keluar? Secara diam-diam kau mencelakai murid-muridku, apakah itu caranya seorang laki-laki sejati?"

Suara tindakan kaki makin lama datang makin dekat.

"Baiklah!"

Berkata si nona.

"Kau tidak mau bekerja sama denganku, biar aku sendiri yang menempur raja iblis itu! Perkataanmu dapat dipegang atau tidak? Mengapa kau masih tidak mau melepaskan cekalanmu?"

Kim Sie Ie merasa tidak enak sendirinya, dengan cepat ia melepaskan cekalannya.

Ia memang menawan si nona guna memaksa dia, buat membalas sakit hati, tapi sekarang setelah berada berdekatan begitu lama dan berbicara jelas satu pada lain, ia mendapat kesan lain mengenai nona itu.

Pula, sesudah berdiam lama di dalam gua, matanya menjadi biasa dengan tempat gelap, hingga ia bisa melihat wajah orang.

Muka si nona bersemu dadu.

Setelah merdeka, nona itu mendadak tertawa.

"Aku tidak mau minta bantuanmu!"

Katanya.

"Nah, ini obat pemunah bisa aku berikan padamu! Kau boleh beristirahat di dalam gua ini! Sebentar setelah aku dan Beng Sin Thong bertempur hingga terbinasa dua-duanya, kau boleh menggunai ketikamu untuk berlalu dari sini!"

Kim Sie Ie menyambuti obat yang diberikan, ialah dua butir obat pulung.

Tanpa sangsi lagi, ia telan itu.

Ia lantas merasakan hawa masuk ke uluhatinya.

Tidak menanti lama, rasa nyeri di tangannya lantas lenyap.

"Syukur kau tidak menyangka obat yang aku berikan kau ialah racun!"

Kata si nona, tertawa. Kim Sie Ie tidak menjawab, tapi ketika ia melihat si nona hendak berlompat keluar, ia menyambar tangan orang dan menariknya.

"Bagaimana, eh?"

Tanya si nona, heran.

"Jangan tergesa-gesa keluar!"

Berkata Kim Sie Ie, yang mencegah.

"Seorang diri kau bukannya lawan mereka! Mari kita tetap berdiam di dalam gua ini, kita menantikan mereka. Setiap seorang masuk kemari, kita bunuh padanya!"

"Eh, itu artinya kau membantu aku!"

Kata si nona.

"Kenapakah?"

"Tadi itu disebabkan kau memaksa aku,"

Menjawab Kim Sie Ie.

"Sekarang aku suka sendiri. Inilah lain. Sebenarnya, permusuhanmu dengan Beng Sin Thong permusuhan apa itu?"

"Dia telah membunuh ayahku!"

Menyahut si nona.

"Dia juga telah mencuri kitab ilmu silat rahasia kami yaitu Siulo Imsat Kang!"

Kim Sie Ie terkejut.

"Jadi benar di dalam dunia ini masih ada itu macam ilmu silat?"

Katanya.

"Kau she Le! Bukankah kau puterinya Le Hoan San?"

Sekarang si nona yang merasa heran.

"Cara bagaimana kau dapat mengetahui nama ayahku?"

Dia tanya.

"Keluarga kami telah hidup menyendiri buat beberapa turunan, sekalipun orang kangouw tidak nanti mendapat tahu..."

Kim Sie le heran tetapi ia menjawab.

"Aku mendengar dari mulutnya Beng Sin Thong."

Si nona masih mau bicara ketika ia terpotong oleh pertanyaan nyaring di luar gua.

"Kim Sie Ie, kau mau keluar atau tidak?"

Kim Sie Ie heran. Ia tanya dirinya sendiri.

"Mustahilkah dia ketahui aku berada di dalam gua ini?"

Ia belum memikir untuk menyahuti, ketika kembali ia mendengar suara lain, yang santar. Siulan yang panjang terdengar dari empat penjuru taman. Ia heran bukan main. Pikirnya pula.

"Kenapa dalam tempo begini pendek boleh datang begini banyak orang liehay?"

Ia mengenali siulan itu siulan dari tenaga dalam yang mahir. Lagi sekali terdengar suara riuh, dari murid-muridnya Beng Sin Thong.

"Kim Sie Ie datang! Kim Sie Ie datang! Kim... Kim..."

Dengan sekonyong-konyong suara berisik menjadi sirap.

Itulah sebab tibanya orang atau orang-orang yang bersiul itu, yang ternyata bukannya Kim Sie Ie!

Kim Sie Ie sendiri turut merasa heran, lantas ia mengintai keluar.

Ia melihat enam orang, kecuali satu, yang lima ia kenal semuanya.

Itulah Siauw Ceng Hong suami isteri serta Toatbeng Siancu Cia In Cin, si Dewi Perampas Jiwa, isterinya Thiekoay Sian.

Yang dua lagi ialah Ciong Tian bersama Bu Teng Kiu.

Yang tidak dikenal itu, orang yang ke enam, adalah seorang pengemis yang matanya picak sebelah dan umurnya kira-kira lima puluh tahun.

Di antara enam orang itu, menurut Kim Sie Ie, adalah Siauw Ceng Hong suami isteri yang tingkat derajatnya paling tinggi, akan tetapi Beng Sin Thong justeru berlaku sungkan terutama terhadap si pengemis picak.

Sambil mengangkat kedua tangannya, dia memberi hormat kepada pengemis itu seraya terus berkata.

"Ek Pangcu, kau telah melakoni perjalanan ribuan lie, ada pengajaran apakah dari kau untukku?-Siauw Sianseng, sudah lama kita tidak bertemu!"

Ia menambahkan pada Ceng Hong. Mendengar itu sebutan "Ek Pangcu"

Dan melihat juga tongkat besi di tangannya si pengemis, Kim Sie le lantas mendusin.

Ia ingat tongkat itu ialah tongkat yang biasa dipakai Thiekoay Sian Lu Ceng semasa hidupnya orang she Lu itu.

Itulah hoatehung, atau tongkat suci, dari Kaypang, Partai Pengemis, di Kanglam.

"Jadi dialah Ek Tiong Bouw atau sutee-nya Lu Ceng,"

Pikirnya.

"Dia telah menggantikan Lu Ceng menjadi pangcu dari Kaypang."

Dengan sinar mata tajam pengemis itu mengawasi Beng Sin Thong si tuan rumah.

"Beng Sin Thong!"

Katanya.

"kau sudah tahu sendiri perlu apa kau menanya lagi? Mustahilkah kau telah melupai itu perkara darah dua puluh tahun yang lampau?"

Dengan tawar Beng Sin Thong menyahuti.

"Orang gagah yang terbinasa di tanganku telah tidak terhitung banyaknya! Maka itu, kau maksudkan perkara yang manakah?"

Pengemis itu nampak gusar, mai.anya jadi bersinar bengis sekali.

"'Aku maksudkan pangcu ke tujuh belas dari Kaypang di Kanglam!"

Jawabnya.

"Bukankah suheng-ku yang kedua, Ciu Kie, kau yang membinasakannya?"

"Oh, kiranya itu orang termashur!"

Kata Beng Sin Thong, berpura-pura heran.

"Tunggu dulu, nanti aku mengingat-ingat, benar atau tidak aku membunuh dia..."

"Di jaman ini cuma kau yang mengerti ilmu silat Siulo Imsat Kang!"

Membentak pangcu itu.

"Apakah kau masih hendak menyangkal?"

Thiekoay Sian Lu Ceng itu bersama-sama Ciu Kie dan Ek Tiong Bouw adalah tiga saudara satu perguruan, guru mereka ialah Tayhiap Kam Hong Tie yang di jaman Kaisar Yong Ceng dari ahala Ceng tersohor sekali namanya untuk bagian Selatan dan Utara sungai Besar.

Kam Hong Tie itu bersahabat kekal dengan Leng Pek To, pangcu ke enam belas dari Kaypang.

Kebetulan itu waktu Kaypang mengalami kemunduran, Pek To kuatir ia tidak mendapatkan pengganti yang tepat, maka ia minta kepada Kam Hong Tie untuk mengijinkan salah satu muridnya nanti menjadi pangcu Partai Pengemis, untuk menggantikan dia.

Kam Hong Tie setuju, ia menanyakan pikirannya murid-muridnya.

Lu Ceng si murid kepala bangsa merdeka, ia tidak bersedia.

Ek Tiong Bouw masih terlalu muda.

Maka kejadian Ciu Kie yang masuk menjadi anggauta Kaypang itu, hingga kemudian ia menjadi pangcu yang ke tujuh belas itu.

Kira dua puluh tahun yang lalu, ketika Ciu Kie beserta dua anggauta Kaypang berada di propinsi Shoatang, ia telah terbunuh orang secara menggelap, tubuhnya kedapatan matang biru dan dingin bagaikan es.

Telah dicari keterangannya tetapi pembunuhan itu tinggal gelap, tidak ketahuan siapa si pembunuhnya.

Karena itu.

Lu Ceng lantas menggantikan menjadi pangcu.

la terpaksa menerimanya, untuk dapat mencari balas untuk adik seperguruannya itu.

Pada tujuh tahun yang lalu, Lu Ceng pergi ke Tibet, ke satu untuk meluluskan permintaan Moh Coan Seng mencari Pengcoan Thianlie, dan kedua guna sakit hatinya sutee-nya itu.

Di luar dugaan, selagi berada di dalam Istana Es, ia terbinasa di tangannya pendeta Nepal (sebagaimana ceriteranya dalam buku "Pengcoan Thianlie").

Setelah binasanya Lu Ceng itu, Kaypang mengangkat Ek Tiong Bouw sebagai ketuanya yang ke sembilan kelas.

Penyelidikan masih terus dilakukan guna mencari pembunuhnya Ciu Kie itu.

Kira tiga tahun yang lalu, Beng Kin Thong telah membunuh satu prang, mayat siapa kedapatan matang biru dan dingin seperti mayat Ciu Kie.

Mulanya orang tidak tahu siapa si pembunuh.

Tiong Bouw telah minta keterangannya satu pendeta, tiangloo dari kuil Siauwlim Sie, ia pun menjelaskan keadaan mayat.

Tiang-loo itu menerangkan, itulah akibat-?ya serangan ilmu silat Siulo Imsat Kang.

Penyelidikan dilanjuti sampai beberapa bulan yang lalu didapat keterangan, kepandaian itu puma dipunyai Beng Sin Thong Kari Beng keechung.

Hanya tidak diketahui darimana asalnya Beng Bin Thong mendapatkan ilmu itu.

Mendengar penjelasannya Ek Hiong Bouw, diam-diam Beng Sin Tiong kaget juga, tetapi ia-lah satu jago, bisa ia menenangkan diri, maka itu ia sengaja tertawa terbahak idan berkata.

"Tidak salah! Tidak salah! Memang ada kejadian itu dan akulah yang membuatnya, tidak nanti aku mau menyangkal! Ek Pangcu, habis kau mau apa?"

Ketua Kaypang itu mengangkat tongkat keramatnya.

"Kau menghendaki urusan dibereskan sekarang juga atau kau sudi mengikut aku ke tempatku rapat Kaypang yang memutuskan perkaramu ini?"

Tanyanya bengis.

Itulah aturan kaum kangouw.

Kalau satu pembunuh tidak berdaya, dia menyerah untuk diperiksa rapat musuhnya.

Kalau itu terjadi, dia berhak meminta hadirnya satu atau lebih orang kangouw kenamaan untuk menyaksikannya, untuk membantu menimbang dan memberikan keputusan.

Kalau urusan mesti dibereskan lantas, itu artinya disitu juga mereka mesti bertempur.

"Sungguh mulut besar!"

Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Aku ini orang macam apa? Mana dapat aku mengikut kau untuk kamu yang menghukumnya? Aku menghargai kau sebagai ketua satu partai, aku menghormatimu, aku tidak menegur kelancanganmu memasuki rumahku ini, maka bagaimana kau berani bawa lagak jumawa hendak menghukum aku? Kau tahu kenapa dulu hari itu suheng-mu terbunuh aku? Itulah sebab kepala besarnya dan terhadap aku dia tidak sudi mengalah!"

"Bangsat tua she Beng!"

Berseru Ek Pangcu, yang menjadi murka sekali.

"Kau berhutang jiwa, kau seharusnya dipenggal batang lehermu, cara bagaimana kau masih menyebut-nyebut tentang derajat dirimu? Karena kau tidak suka mengikut aku, baiklah, aku pun mau berlaku murah. Baiklah, disini saja kita memutuskannya!"

Dengan sepasang matanya, Sin Thong menyapu semua lawannya. Kembali ia tertawa, dingin nadanya.

"Apakah kamu semua datang untuk membantu Kaypang?"

Dia tanya, jumawa.

"Kamu bilanglah, kamu hendak bertanding hanya sampai saling towel saja atau sampai terbinasa tanpa perkara? Baiklah kamu memikir dulu masak-masak!"

Siauw Ceng Hong mengulap-kan kebutannya dan berkata.

"Sudah lama aku mendengar ilmu silat Siulo Imsat Kang dari Beng Loo-cianpwee, ilmu mana katanya dapat menyebabkan orang mati lantas, maka ingin aku mencoba-coba beberapa potong tulangku yang tua ini untuk mendapat pengajaran!"

"Sabar!"

Ciong Tian berseru seraya dia berlompat maju, dia pun menghunus pedangnya.

"Kau telah menangkap dan mengurung sumoay-ku, di mana kau menahannya? Lekas keluarkan dulu padanya!"

"Oh, kiranya kau datang untuk lain orang?"

Kata Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Siapakah sumoay-mu itu?"

"Dialah Lie Kim Bwee murid wanita dari Thiansan Pay!"

Menjawab si anak muda.

"Apakah kau sangka orang tak akan ketahui kau telah menangkap dan menahan sumoay-ku itu? Kau harus ketahui tusuk konde dari sumoay-ku itu telah ada yang membawanya pada pihakku!"

Diam-diam Beng Sin Thong terkejut juga.

Memang tusuk konde itulah yang ia curigai, yang tak ketahuan bagaimana dapat dikeluarkan dari rumahnya itu.

Ia tidak menduga sama sekali adalah Toat-beng Siancu Cia In Cin yang membawa tusuk konde itu ke kamarnya Kim Sie Ie.

Selagi orang-orang Kaypang bekerja keras mencari tempat sembunyinya Beng Sin Thong, Cia In Cin adalah yang paling dulu mengetahuinya.

Kebetulan di dalam Beng keechung itu ada anggauta Kaypang yang bekerja sebagai pegawai.

Dia inilah yang mengasih kisikan pada In Cin hal ditangkapnya Lie Kim Bwee, bahkan dia menyerahkan juga tusuk kondenya nona itu, untuk disampaikan terlebih jauh pada orang Thiansan Pay.

Ketika Cia In Cin sampai di rumah penginapan, kebetulan Ciong Tian dan Bu Teng Kiu dipancing keluar Kim Sie Ie.

Cia In Cin tahu di antara Kim Sie Ie dan Lie Kim Bwee ada hubungannya, lantas sengaja ia meletaki tusuk konde itu di kamar Tokciu Hongkay, setelah itu ia pergi menemui Ciong Tian dan Teng Kiu, untuk mengasih keterangan, habis mana mereka lantas bekerja sama.

Cia In Cin tidak mau menemui Kim Sie Ie, ia kebal terhadapnya, meski benar ia pernah ditolongi.

In Cin bertiga pergi menemui rombongannya Ek Kong Bouw, lantas mereka bersama-lama menyateroni Beng Sin Thong.

b Sin Thong terkesiap hati.

Ia tidak berkuatir terhadap pihak Kaypang, adalah lain mengenai pihak Thiansan Pay.

Ia lantas berpikir.

"Baiknya mereka ini hanya orangorang dari tingkat muda, sudah kepalang, baik aku habiskan jiwa mereka semua, guna menutup mulut mereka!"

Hanyalah untuk menjaga kehormatan dirinya, tidak dapat ia turun tangan sendiri.

"Hang Hong, baik-baiklah kau mewakilkan aku melayani tetamu!"

Katanya kepada murid kepalanya.

"Orang-orang liehay dari Thiansan pay, diundang pun tidak bakal Batang, maka kebetulan sekali kedatangan mereka ini, jadi mereka itu sebisa-bisa mesti diminta berdiam lama disini!"

Kata-kata itu mengandung maksud yang terlebih dalam.

Untuk muridnya itu, itulah pesan atau petunjuk agar si murid turun tangan tanpa kasihan-kasihan lagi, bahwa Kedua anak muda dari Thiansan Pay itu tidak dapat dikasih pergi pulang dengan masih hidup.

Ciong Tian baru pertama kali ini turun gunung, ia tidak mengerti kata-kata rahasia kaum kangouw, mendengar Sin Thong demikian manis budi, ia heran hingga ia melengak.

"Kami datang bukan untuk menjadi tetamu!"

Ia lantas berkata.

"Aku minta sukalah sumoay kami dikasih keluar. Kami perlu lekas-lekas pulang ke Thiansan. Melihat sikapmu ini, setelah kami menjelaskan segala sesuatu pada guru kami, mungkin juga kami dapat memohonkan keampunan untukmu."

Mendengar perkataan itu, Kim Sie Ie di tempatnya bersembunyi hampir tertawa nyaring, baiknya ia masih dapat menahan.

Beng Sin Thong tidak membilang apa-apa, adalah murid kepalanya itu yang tertawa lebar terus berkata.

"Sumoay-mu hendak menahan kau sebagai kawannya, maka itu, meski kamu mau pergi juga tidak bisa!"

Biar bagaimana Ciong Tian toh mendusin juga.

Lantas ia menjadi gusar.

Ia mencabut pedangnya terus menikam kepada orang di depannya itu.

Ia menggunai jurus "Gelombang di Liongbun", salah satu jurus dari Twiehong Kiamhoat, ilmu pedang Mengejar Angin.

Maka berkelebatkelebatlah pedangnya.

Hang Hong menjadi murid kepala dari Beng Sin Thong, ia baru mewariskan empat bagian kepandaian gurunya, sedang Siulo Imsat Kang ia baru mendapatkan tingkat nomor dua, dari itu ia tidak berani melayani dengan tangan kosong, ia lantas menggunai senjatanya ialah sebuah kipas besi.

Ketika ia menggerak-geraki kipasnya, ia seperti mengipas-ngipas sinarnya pedang.

Ciong Tian menjadi heran dan penasaran dengan berbareng.

"Disini ada banyak orang tua-tua, kalau aku tidak dapat merobohkan muridnya Beng Sin Thong, apakah aku tidak bakal merusak pamornya Thiansan Pay?"

Demikian ia berpikir. Lantas tanpa ayal lagi, ia mulai mendesak. Hang Hong menjadi repot, dia main mundur. Kim Sie Ie mengawasi, dengan perlahan ia kata pada si nona.

"Beng Sin Thong besar namanya saja! Lihat, murid kepalanya masih tidak sanggup melayani orang Thiansan Pay dari tingkat termuda ini. Maka kenapa kau agaknya jeri?"

"Apa?"

Menjawab si nona.

"Mungkin kau salah melihat. Beranikah kau bertaruh!"

"Bertaruh apakah?"

"Aku bilang murid Thiansan Pay itu bukan tandingannya Hang Hong,"

Berkata si nona.

"Kalau dia kalah, kau mesti berjanji, andaikata kelak di kemudian hari aku berbuat salah terhadapmu, kau tidak boleh memarahi aku, dan batasnya ialah sampai tiga kali. Beranikah kau? Sebaliknya, apabila murid Thiansan Pay itu yang menang, akupun akan berjanji padamu, kau boleh berbuat salah padaku, aku tidak akan marah padamu. Batasnya tiga kali juga."

Kata Kim Sie le di dalam hatinya.

"Nona ini benar-benar berbau sesat, sampai pertaruhannya pun aneh caranya!"

Lantas ia menyahuti.

"Baiklah, begini kita bertaruh!"

Keduanya lantas saling mengulur tangan, untuk berjabatan, selagi berbuat begitu, tiba-tiba si nona tertawa di kuping orang!

Kim Sie Ie heran, ia lantas mengintai pula.

Selama mereka berbicara barusan, pertempuran Ciong Tian dengan Hang Hong berjalan terus.

Sekarang Kim Sie Ie menampak alamat kurang bagus bagi jagonya.

Penyerangannya Ciong Tian dahsyat pada permulaannya, bagaikan turunnya hujan deras, lawannya kena terdesak hingga menjadi repot, tetapi selewatnya rintasan hebat itu, gerakan selanjutnya mulai kendor.

Maka di matanya ahli terlihatlah bahwa ia kalah tenaga atau kurang latihan, hingga ia ber-balik mulai terpengaruh lawannya.

Kim Sie Ie heran.

Ketika ia memperhatikan Hang Hong, ia mendapat kenyataan kipas besi murid kepala Beng Sin Thong itu dapat dimainkan dengan baik.

Dirapatkan kipas itu dapat dipakai menotok jalan darah, dipentang lebar boleh digunakan sebagai tameng Juga kipas itu bisa dipakai sebagai pedang Ngoheng kiam.

Umumnya kepandaian dua orang itu berimbang, dari itu heran Ciong Tian seperti kalah angin.

Lagi sekian lama, suasana bagi Ciong Tian makin memburuk.

Kipas besi seperti juga dapat mengarung pedang.

Itu artinya murid Thiansan Pay itu sukar bergerak, dia cuma masih dapat membela diri.

"Jangan-jangan dia pun pernah mempelajari Siulo Imsat Kang..."

Kemudian Kim Sie Ie menduga-duga.

"Benar!"

Menjawab si nona iertawa.

"Kalau tidak, tidak nanti aku berani bertaruh. Hanyalah dia paru belajar sampai di tempat nomor dua, bedanya masih jauh sekali apabila dia dibanding sama gurunya."

Kim Sie Ie tetap heran.

Sampai sebegitu jauh, ia belum dapat melihat jurus atan pukulan-pukulan yang istimewa dari Hang Hong.

Itu artinya belum nampak liehaynya Siulo Imsat Kang itu.

Sebenarnya Siulo Imsat Kang Itu adalah ilmu silat yang luar biasa.

di waktu dipakai bertempur, ilmu itu bergerak dengan wajar tetapi, tahu-tahu sudah dapat mempengaruhi lawan, sedang penonton yang asing, tidak dapat melihat sesuatu yang istimewa.

Ini sebabnya Kim Sie Ie yang liehay pun kena dibikin heran karenanya.

Syukur untuk Ciong Tian, Hang Hong baru menyampaikan tingkat kedua.

Tingkat itu tidak dapat dipakai lantas membinasakan musuh.

Meski begitu, murid Thiansan Pay ini menjadi bingung sekali, karena ia merasa sulit bergerak, tenaganya menjadi berkurang.

Ia tidak bisa menggeraki tangan dan kakinya seperti hatinya atau pikirannya, menghendaki.

Siauw Ceng Hong heran menyaksikan pertempuran itu, dari heran ia menjadi berkuatir hingga tak dapat ia menguasai dirinya lagi, seraya mengebut, ia maju ke depan.

Beng Sin Thong dapat melihat gerak-gerik orang, mendadak ia tertawa.

"Apakah Siauw Loosu hendak memberi petunjuk pada muridku?"

Ia tanya.

"Aku justeru hendak mohon pengajaran dari Beng Loo cianpwe sendiri,"

Menyahut Ceng Hong.

"Kita orang-orang dewasa maju ke depan, mereka anak-anak boleh pergi beristirahat!"

Beng Sin Thong mengurut kumisnya. Ia tertawa pula.

"Murid-murid Thiansan Pay meminta orang kepadaku,"

Berkata Sin Thong.

"dan kamu sendiri, kamu hendak mencari permusuhan, maka itulah dua orang itu, yang harus dipisah satu dari lain. Orang tua ada caranya berkelahi sendiri, anakanak muda ada main-main mereka sendiri pula! Kenapa kita mesti mengganggu kegembiraan anak-anak muda? Tapi Siauw Loo-su hendak memberi pengajaran, baiklah! Yang Sutee, kau mintalah pengajaran dari Siauw Loosu ini!"

Kata-kata Sin Thong yang belakangan ini ditujukan kepada orang yang ia panggil sutee itu, ialah si orang she Yang, yang sebenarnya bernama Cek Hu.

Dia jarang muncul dalam dunia kangouw, dari itu sedikit orang yang mengenalnya.

Siauw Ceng Hong tidak berani memandang enteng.

Sin Thong pun menyebut orang itu sebagai sutee, adik seperguruan.

Ia mengibas dengan kebutannya, untuk memberi hormat "Yang Loosu, silahkan keluarkan senjatamu!"

Ia berkata. Yang Cek Hu mengangkat sebelah tangannya, ia tertawa.

"Aku tidak biasa menggunai senjata,"

Katanya, ramah tamah.

"Siauw Loosu, silahkan!"

Ceng Hong heran berbareng terkejut.

Ia heran sebab orang berani melawan ia dengan tangan kosong.

Ia terkejut karena gerakan tangan orang itu membuatnya merasakan sitiran angin dingin yang keras.

Maka ia lantas melindungi dadanya, tidak berani ia membuka mulut.

Dengan satu gerakan "Hujan dan angin", ia mulai menyerang.

Kebutan Siauw Ceng Hong itu nampaknya seperti terbikin dari bulu ekor kuda, hal yang sebenarnya tidak demikian.

Itulah kebutan dari apa yang dinamakan kawat emas hitam, sifatnya yang lemas tapi kuat.

Ketika terkibas, lembaranlembaran kawat halus itu mengasih dengar suara mendengungnya.

"Sungguh liehay orang pandai dari Cengshia Pay!"

Memuji Yang Cek Hu.

Ia lantas membuka jeriji tangannya, untuk mengibas.

Sama sekali tidak terdengar suara apa juga.

Kesudahannya itu membikin Ceng Hong heran.

Tanpa angin, kebutannya kena dibikin buyar dan terbang balik!

Dalam heran dan penasaran, Ceng Hong menyerang pula.

Dengan begitu, mereka menjadi bertanding.

Sampai lebih dari sepuluh jurus, jago Cengshia Pay ini tetap heran.

Tanpa ia merasa, ia sekarang terpengaruh tangan kosong lawannya itu, sedang ia bersenjatakan gegaman yang luar biasa.

Lewat lagi beberapa jurus, mendadak terdengar Yang Cek Hu tertawa dan berkata.

"Siauw Loosu, silahkan beristirahat!"

Kata-kata ini dibarengi sama gerakan kedua tangannya, yang memainkan jurus-jurus tingkat ke lima dari Siulo Imsat Kang.

Siauw Ceng Hong lagi mengebut dengan kebutannya tatkala terdengar suara nyaring perlahan saling susul, lantas kebutannya pada putus dan beterbangan, karena mana ia lantas lompat berjumpalitan, mukanya pucat pasi.

Ek Tiong Bouw dan Gouw Ciang Sian kaget tidak terkira, tanpa berjanji lagi, keduanya Berlompat maju.

Juga di saat itu, Ciong Tian sangat terdesak Hang Hong, hingga Bu Teng Kiu kaget dan berlompat maju seraya menghunus pedangnya, untuk menolongi kawannya itu.

Menampak sepak terjang orang itu, Beng Sin Thong tertawa berkakak dan berkata.

"Kamulah orang-orang dari partai silat sejati dan kenamaan, kiranya kamu suka main keroyok!"

"Menghadapi kau, kepala iblis, mana bisa kita memakai aturan kangouw lagi?"

Menjawab Ek Tiong Bouw.

"Kalau kau mau memakai aturan itu, bayarlah hutang darahmu!"

Meski ia mengatakan demikian, sebagai ketua Kaypang, Tiong Bouw masih ingat akan kehormatan dirinya, maka ia menoleh kepada Ciang Sian untuk berkata.

"Enso Siauw, tolong kau melihat Siauw Toako!"

Baru setelah menutup mulutnya, ia lompat ke arah Sin Thong. Beng Chungcu tertawa, ia Iberkata pula.

"Pangcu, seorang diri kau bukanlah tandinganku! Karena kau juga tidak menghendaki memakai lagi aturan kaum kangouw, nah, kamu majulah berbareng!"

Ketua Partai Pengemis menjadi sangat murka, lantas ia menyerang dengan tongkat. Ia mengarah pinggang sebagai sasarannya. Jurusnya pun jurus "Naga sakti keluar dari laut". Ia kata.

"Kau makan dulu tongkatku ini! Kalau kau sanggup, sebentar baru kita bicara!"

Serangan tongkat ini sangat cepat, akan tetapi lebih cepat gerakannya Beng Sin Thong, yang tubuhnya sangat gesit.

Mendadak saja ia lenyap dari hadapan ketua kaum pengemis itu.

Tiong Bouw kaget bukan main.

Segera ia menarik tongkatnya, guna menutup diri.

Ia lantas merasakan angin berkesiur.

Itulah tubuh besar dari Sin Thong, yang melesat lewat di atas kepalanya.

Ketika ia berpaling cepat sekali, Sin Thong telah memisahkan diri setombak lebih daripadanya dan yang berdiri di depannya ialah Yang Cek Hu!

Sin Thong tertawa pula, ia berkata.

"Jikalau kamu main keroyok, aku si orang tua akan melayaninya, tetapi karena kau maju seorang diri--Hm! hm!--aku tidak mempunyai kegembiraanku, biarlah sutee-ku ini yang melayanimu!"

Bukan melulu mau mengejek yang Beng Sin Thong membawa sikapnya yang jumawa ini.

Ia tahu Kim Sie Ie bersembunyi di tempatnya itu, disitu juga masih ada beberapa musuh lainnya, maka guna menjaga Tokciu Hongkay, ia tidak mau sembarang turun tangan hingga tenaganya nanti habis.

Yang Cek Hu tidak banyak omong, ia juga tidak mau menanti, lantas ia maju menyerang.

Ia sudah melayani Siauw Ceng Hong tetapi nampaknya ia tetap segar Dengan terpaksa, Ek Tiong Bouw menempur musuh ini.

Ialah murid kesayangan Kam Hong Tie, pula ia terlebih gagah daripada Ceng Hong, maka tempo ia diserang tiga kali saling susul oleh Cek Hu, dengan mengandal tenaga dalamnya, dapat ia memecahkan serangan berantai itu.

Yang Cek Hu melihat pelbagai serangannya tidak memberikan hasil, ia mengerti musuh ini tangguh, lantas ia mengerahkan tenaganya, untuk memperhebat penyerangannya itu.

Dari tingkat ketiga dari ilmu silatnya itu, Siulo Imsat Kang, ia menambah sampai tingkat keempat dan kelima.

Karena ia baru belajar sampai di tingkat ke lima itu, ia menjadi telah mengobral kepandaiannya.

Ia terpaksa berbuat begini lantaran dengan tingkat ke empat ia tetap tidak memperoleh hasil.

Ek Tiong Bouw terkejut.

Ia tidak lantas kena dirobohkan lawan akan tetapi ia merasa tenaga dorongan yang kuat, dan tubuhnya pun terasakan dingin luar biasa.

Ia juga heran waktu ia mencoba membalas menyerang, musuh nyata lincah sekali.

Lama-lama ia merasakan napasnya tegang dan hatinya goncang.

Dalam penasarannya, Ek Tiong Bouw melakukan penyerangan hebat sekali, ia membuat tongkatnya seperti mengurung tubuh Yang Cek Hu.

Tongkatnya itu mengeluarkan suara angin menderu-deru.

Selagi ia berlaku keras itu, musuh tetap bersikap lunak, segala serangan nampaknya dapat dihalau secara gampang.

Akhirnya murid Kam Hong Tie ini mengertak gigi.

Ia insyaf, tanpa mengeluarkan semua kepandaiannya, tidak nanti ia berhasil merebut kemenangan.

Maka ia lantas menggunai tenaga dan perhatian sepenuhnya, ia menyerang dengan Hokmo Thunghoat, yaitu ilmu tongkat Menaklukkan Iblis.

Ilmu silat tongkat ini, mulanya ialah ciptaannya Tokpie Sinnie, si Bhiksuni Suci Tangan Satu, lalu itu diperbaiki oleh Liauw In Hwesio, yang menambahkannya hingga jurusnya jadi terdiri dari seratus delapan jurus dan setiap jurusnya, hajarannya berat sekali, karena mana, semua jurus itu memerlukan tenaga dalam dalam jumlah besar.

Ada dibilang, siapa bersilat habis dengan ilmu silat ini, akhirnya dia bisa dapat sakit, maka itu, kecuali sangat perlu, orang tidak berani menggunai semua jurus.

Benar juga, serangan selanjutnya dari Ek Tiong Bouw menjadi liehay luar biasa.

Melayani serangan dahsyat itu, Yang Cek Hu selalu bertindak di kedudukan Ngoheng Patkwa, ialah delapan penjuru atau garis, dan kedua tangannya tak henti-hentinya bergerak menolak.

Lawan cepat, dia cepat juga.

Luar biasa adalah Siulo Imsat Kang, lawan makin hebat, tenaga melawannya pun tambah hebat, lawan tambah mendesak, dia tambah menolak.

Demikian Tiong Bouw merasakan, selagi ia mendesak, tenaga mendorong musuh semakin bertambah besar dan kuat.

Dengan lekas habis sudah di jalankan babak pertama dari Hokmo Thunghoat itu.

Ilmu silat ini terdiri dari tiga babak, atau rintasan, dan setiapnya terdiri pula dari tiga puluh enam jurus.

Sampai disini, kekuatan kedua pihak masih sama tangguhnya.

Mereka berdua tidak ada yang menang atau kalah.

Dalam penasarannya, Ek Tiong Bouw menyerang terus, ia melanjuti ilmu silatnya dengan babak babak kedua.

Ia telah mengumpul tenaga sejatinya.

Hanya kali ini ia tidak nampak bertambah garang tetapi tenaganya bertambah banyak.

Kali ini dengan perlahan, nampak Yang Cek Hu main mundur.

Dia agaknya bergerak rada lambat, sedang dari kepalanya terlihat menghembusnya uap putih.

Di pihak lain, Ciong Tian masih terus melayani musuhnya.

Hanya sekarang ia dibantu Bu Teng Kiu.

Dengan perlahan ia dapat merebut keunggulan.

Kepandaiannya Hang Hong cuma dapat memenangkan Ciong Tian atau Teng Kiu jikalau mereka bertempur satu lawan satu, sekarang ia dikerubuti, ia menjadi repot.

Teng Kiu kalah dari Ciong Tian tetapi ia bersilat dengan ilmu silat pedang warisan Pekhoat Molie, Hantu Wanita Berambut Putih, maka ia dapat membantu baik sekali kepada kawannya itu.

Dengan kipas besi di tangan kanannya, Hang Hong melayani Ciong Tian, dengan tangan kirinya yang tidak bersenjata, ia melawan Teng Kiu, lama-lama ia terdesak juga, maka ia kaget sekali ketika satu kali Teng Kiu menyerang ia dengan jurus "Bianglala putih menutupi matahari", percuma ia berkelit, ujung bajunya terkena juga ujung pedang hingga sobek dan suaranya memberebet!

Hampir ia terlukakan.

Di dalam tempatnya sembunyi, si nona tertawa perlahan.

"Dua mengepung satu, kalau yang dua menang, kemenangannya itu tidak masuk hitungan,"

Katanya Jenaka. '"Bagaimana dengan pertaruhan kita, kau tetap menerimanya atau tidak-kau mengaku kalah atau tidak?"

"Aku telah mengeluarkan kata-kataku, aku tidak menyesal."

Menjawab Kim Sie le.

"Baiklah, aku akan membiarkan kau menyerang aku tiga kali, aku tidak bakal marah."

Tapi ia mengintai keluar, terus ia berkata pula.

"Sekarang ini Kaypang dan Thiansan Pay bekerja sama, ketikamu untuk mencari balas telah tiba, maka aku pikir bolehlah kita jangan berkukuh pada rencana kita untuk membelai saja gua ini..."

"Biar saja sampai mereka bercelaka dulu dua-duanya,"

Berkata si nona.

"habis itu baru kita muncul untuk membereskannya. Tidakkah ini terlebih bagus?"

Kim Sie Ie mengerutkan kening. Hendak ia bicara, ia batal sendirinya. Ia mengendalikan dirinya. Si nona seperti dapat menebak hati orang, dia tertawa.

"'Jikalau kita muncul sekarang, Beng Sin Thong masih belum mengeluarkan tenaganya sedikit jua,"

Ia berkata.

"Aku kuatir dengan begitu, bukan saja kau sukar menolong orang, bahkan ada kemungkinan kau sendiri nanti terluka-kan..."

"Hm!"

Kim Sie Ie bersuara di dalam hatinya.

"Aku tidak percaya Siulo Imsat Kang demikian liehaynya! Beng Sin Thong boleh melukakan lain orang, tidak nanti dia dapat melukakan aku!..."

Ia kembali melihat keluar.

Pertarungan di antara Yang Cek Hu dan Ek Tiong Bouw tetap berlangsung, hanya gerak-gerik mereka bertambah ayal.

Demikian terlihat tegas ketika Tiong Bouw menggunai tangan kirinya, menghajar Cek Hu dengan tongkat besinya, dengan jurusnya "Gunung Taysan menindih kepala".

Perlahan serangan itu tetapi lawan seperti lelah ketutupan..."

Tiong Bouw tengah bersilat dengan babakan Hokmo Thung-hoat yang kedua. Sekonyong-konyong Yang Cek Hu berseru.

Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa Khu Lung

Baca Juga: Pendekar Cacad 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger