Perjodohan Busur Kumala 3

Eps 3 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.

"Jikalau bukannya kau yang mampus, akulah yang terbinasa!"

Seruan ini dibarengi gerakan kilat dari kedua tangan, yang dipakai menyambar tongkat.

Terang sekali dia telah mengerahkan tenaganya, sebab terdengar otot-ototnya, bersuara meretak.

Dia telah berhasil menyambar, maka ketika ia menarik, tongkatnya menjadi mulai melengkung..."

Cia In Cin dan lainnya menjadi kagum dan heran, mereka saling memandang dengan mata mendelong.

Yang Cek Hu menarik, Ek Tiong Bouw mempertahankan, maka dengan begitu, berdua mereka menjadi berkutat.

Muka mereka itu dari merah berubah menjadi pucat, peluh mereka pun turun mengucur.

Dari kepala meresa terlihat mengkedusnya hawa butih.

Cia In Cin berkuatir hingga ia Berseru.

"Celaka!"

Ia berkuatir dua-dua orang itu binasa bersama, kalau itu sampai terjadi, sayang Ek piong Bouw.

Dialah murid terakhir dari Kam Hong Tie, dia pun ketua Kaypang.

Kecewa dia mati menemani seorang iblis...

Nyonya ini tidak menginsyafi, Kang Cek Hu menjadi nekat karena terpaksa, untuk membela diri.

Cek Hu mempelajari Siulo Imsat Kang sampai di tingkat ke lima, itu artinya kepandaiannya hampir berimbang sama kepandaian Ek Tiong Bouw, sekarang ia cuma kalah seurat, maka kalau sebentar Ek Tiong Bouw habis menjalankan jurus yang terakhir dari babak kedua, ia menjadi terancam bahaya.

Sudah pasti ia tidak akan sanggup bertahan terlebih lama pula.

Sekarang ia sudah memberikan perlawanannya yang terakhir, maka itu pun berarti serangannya yang penghabisan juga, yang memutuskan.

Cia In Cin menghunus pedangnya, ia mau maju, untuk memisahkan.

Melihat sikap nyonya ini, Beng Sin Thong tertawa terbahak dan berkata.

"Bagus betul! Jadi kamu benarbenar mau main keroyok? Baiklah, aku si orang tua nanti melayani kamu!-Gouw Bong, pergi kau membantu toasuhengmu, kau bereskan itu dua bocah dari Thiansan Pay!"

Sebenarnya Sin Thong telah melihat Cek Hu terancam bahaya tetapi ia masih menghargai dirinya, ia bersabar untuk tidak membantui atau memisahkan, siapa tahu, Cia In Cin kalah sabar, dia maju.

Inilah kebetulan bagi Sin Thong yang lalu tidak memperdulikan orang maju untuk membantui atau memisahkan, bahkan sengaja ia menuduh orang main keroyok...

Demikian, begitu suaranya terdengar begitu tubuhnya mencelat maju!

Cia In Cin telah bekerja, ujung pedangnya dipakai menyontek bagian tengah dari tongkat besi yang diperebuti kedua lawan.

Berbareng dengan itu, Ek Tiong Bouw mengerahkan tenaganya sambil berseru.

"Pergilah!"

Dan tongkatnya itu bergerak!

Menyusul semua itu, terlihat tubuhnya Yang Cek Hu berlompat berjumpalitan, hingga ia terpisah setombak lebih daripada lawannya itu.

Ek Tiong Bouw berdiri diam dengan napasnya memburu keras sekali, atau mendadak ia melihat bayangan hitam mengancam ke arahnya.

Bayangan itu juga membawakan terjangan angin yang keras, hingga ia menjadi susah bernapas.

Untuk membela diri, ia menggeraki tongkatnya.

Tapi tongkat itu segera tertangkap Beng Sin Thong, ialah bayangan yang mencelat ke arahnya itu.

Ia menjadi kaget, telapakan tangannya tergetar dan sakit.

Mendadak ia menjerit, memuntahkan darah hidup Cia ln Cin kaget, ia maju menyerang.

Tiong Bouw tidak roboh, ia berseru keras dan lompat menerjang.

Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Biarlah kamu kenal liehaynya Siulo Imsat Kang!"

Katanya nyaring.

Lantas ia melemparkan tongkat besi rampasannya itu.

Tiong Bouw tidak berani menyambuti, ia mendak berkelit.

Justru itu, sambarannya Sin Thong tiba pada dadanya.

Itu waktu tiba juga tikamannya In Cin ke punggung jago itu.

Tikaman itu ialah tikaman "Tukang kayu menanyakan jalanan".

Ek Tiong Bouw mengerahkan tenaga kedua tangannya ketika ia mendorong tubuhnya Beng Sin Thong.

Untuk kagetnya, ia merasa bahwa ia seperti mendorong sasaran kosong meskipun tangan mereka bentrok.

Ia baru mendusin dan menjadi kaget karenanya, atau kupingnya mendengar bentakannya Sin Thong.

"Naik!"

Tanpa merasa tubuhnya lantas terangkat dan tertarik keras, hingga ia terjeru-nuk ke depan sampai beberapa tombak.

Tanpa berdaya, disitu ia roboh terbanting, seluruh tubuhnya dirasakan sakit seperti diiris-iris.

Dengan susah payah baru ia dapat berbangkit bangun Syukur untuknya, Sin Thong mesti berkelit dari pedang In Cin, kalau tidak, entah apa jadinya dengan dirinya.

Beng Sin Thong menarik Tiong Bouw dengan tangan kirinya, dengan tangan kanannya ia menyelamatkan diri dari pedang Cia In Cin, yang ia sambar, untuk ditangkap.

Cia In Cin bergelar Toatbeng Siancu, si Dewi Perampas Jiwa, maka bisa dimengerti hebatnya pedangnya, akan tetapi di saat lagi tiga dim pedang akan mengenakan sasarannya, datanglah perlawanan lawan itu.

Ia terkejut.

Tangannya Sin Thong mau mencekal lengannya.

Kalau ia kena dipegang, itulah hebat.

Ia dapat menikam terus, mungkin ia berhasil melukai Sin Thong, tetapi berbareng dengan itu, ia bakal bercelaka.

Maka itu, guna menolong diri, ia lantas berlompat mundur, batal menyerang.

"Bagus!"

Sin Thong memuji.

Ia gagal mencekuk lengan nyonya itu Ketika itu Gouw Ciang San pun telah maju, bersama Cia In Cin ia menyerang jago she Beng itu.

Sin Thong berani dan liehay, belum serangan tiba, dia merangsak.

Hebat serangannya ini, pelangnya Ciang San kena di pegang, terus dipatahkan.

Terus ia Biendesak ln Cin hingga orang fcrpaksa mundur.

Di lain kalangan, Ciong Tian Ban Bu Teng Kiu juga menghadapi ancaman bahaya.

Di antara muridmuridnya Beng Sin Thong, dua telah mendapat pelajaran Siulo Imsat Kang.

Ialah Kang Hong sudah sampai di tingkat kedua, dan Gouw Bong baru mulai mempelajari tingkat pertama.

Meski Begitu, dengan Hang Hong terbantu sutee-nya, si adik seperguruan, ia menjadi mendapat angin, dari itu, dari terdesak, ia berbalik dapat merangsak.

Mereka sekarang dua melawan dua.

Ciong Tian dan Teng Kiu kalah pengalaman, dan Teng Kiu sendiri, hatinya kurang mantap.

Dengan cepat mereka jatuh di bawah angin.

Dengan jurus "Kaisar Han Kho Houw membunuh ular", Teng Kiu menikam Hang Hong, tetapi ketika Hang Hong menangkis, pedangnya kena dibikin terpental.

Berbareng dengan itu, Gouw Bong menyerang tenggorokannya.

Gouw Bong itu bersenjatakan poankoan pit, ialah alat semacam pena Tionghoa.

Dia kaget hingga dia menjerit!

Di saat sangat tegang itu, mendadak semua orang dibikin Ferkejut oleh satu suara nyaring, yang disebabkan terlemparnya batu besar yang tadi dipakai menutupi mulut gua, menyusul mana dari dalam gua itu berlompat keluar dua orang.

Lalu sejumlah muridnya Sin Thong, dalam kagetnya, berteriak-teriak.

"Kim Sie Ie datang! Kim Sie Ie datang!"

Ujung poankoan pit Gouw Bong tinggal lagi tiga dim akan sampai pada kerongkongan Bu Teng Kiu ketika dia terkesiap mendengar disebutnya nama Kim Sie Ie, dengan sendirinya tikamannya menjadi tertahan, maka juga Ciong Tian keburu lompat padanya, untuk menusuk lengannya.

Dia kesakitan hingga senjatanya terlepas, tubuhnya lantas diputar, untuk kabur.

Ciong Tian tidak bekerja sampai disitu.

Di dekatnya itu ada Hang Hong, ia meneruskan menikam musuh itu.

Kembali tepat serangannya ini, pedangnya mengenakan dengkul si orang she Hang, hingga dia berteriak "Aduh!"

Dan lantas lari, nampaknya dia ketakutan bukan main.

Meski ia berhasil melukai dua orang, Ciong Tian toh heran.

Gouw Bong lebih rendah kepandaiannya, pantas kalau dia kena dikalahkan dan lari, tidak demikian dengan Hang Hong, yang terlebih liehay daripadanya.

Hang Hong sudah mementang kipasnya, kenapa dia bukan menangkis atau menyerang hanya dia justeru seperti membiarkan dirinya ditikam dan habis itu lantas mengangkat langkah seribu Karena herannya ini, ia tidak berani mengejar.

Bu Teng Kiu ada bagian mati, maka itu karena ketolongan, bukan main leganya hatinya.

Ia pun girang menyaksikan kemenangannya Ciong Tian.

"Paman muda, hebat!"

Dia memuji pamannya itu.

"Dua serangan kau barusan ada dua jurus dari ilmu pedang Thiansan, hebat kau menggunakannya!"

Sementara itu, habis jatuhnya batu besar, sunyilah suasana disitu.

Bu Teng Kiu berdiam, dan Ciong Tian berdiam semenjak tadi.

Beng Sin Thong sebaliknya terperanjat akan menyaksikan Kim Sie Ie muncul dengan tiba-tiba dari dalam gua, diikuti seorang nona yang ia tidak kenal, sebab si nona bukannya Lie Kim Bwee.

Ia lantas merasa tidak enak hati.

Kim Sie le sudah lantas tertawa terbahak.

"Beng Sin Thong, oh, Beng Sin Thong!"

Katanya nyaring.

"aku mendengar kabar kau sudah berhasil mempelajari ilmu Siulo Imsat Kang, maka itu sekarang aku datang untuk mohon pengajaran dari kau. Ingin aku mendapat kepastian, kau yang terlebih liehay atau aku!"

Beng Sin Thong menenangkan diri.

"Kau datang justeru di saat aku lagi mempunyai urusan!"

Ia berkata.

"Dengan begini, kau sebenarnya orang gagah macam apa?"

"Tapi aku hendak bertempur sama kau satu orang, ada hubungannya apa kita dengan mereka itu?"

Kim Sie Ie membaliki. Inilah jawaban yang diharap-harap Sin Thong. Dia lantas tertawa lebar.

"Baiklah,"

Katanya.

"Kata-katanya seorang kuncu sama dengan dicambuk larinya seekor kuda! Mari kita bertempur satu lawan satu, untuk memastikan siapa jago siapa betina! Ingat, tidak dapat kau membokong pula murid-muridku!"

Beng Sin Thong takut betul Kim Sie le nanti mengadu biru, benar ia telah meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai di tingkat ke tujuh tetapi ia tetap masih jeri untuk jarum beracunnya Kim Sie le, ia kuatir nanti murid-muridnya roboh berserakan tanpa berdaya.

Ia tahu, adik seperguruannya sendiri saja sulit menahan serbuannya kaum Kaypang.

Kim Sie le mengetruk tongkatnya, ia tertawa.

"Hari ini aku tidak memikir untuk membuka larangan pembunuhan besar-besaran!"

Ia berkata.

"Umpama kata aku niat membuka pantangan, aku tentunya akan mencari lawan yang setimpal Kau jangan kuatir, tidak usah kau membagi perhatianmu, kau boleh menjaga jiwamu sendiri saja!"

Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Kim Sie Ie, jikalau kau memikir hendak membunuh aku, kau nanti lihat itulah tidak gampang seperti kau rasa!"

Katanya, menantang. 'Yang Sutee, tetamu-tetamu yang terhormat dari Kaypang, semua aku serahkan pada kau untuk melayaninya! Baiklah, Kim Sie Ie, kau majulah!"

Kim Sie Ie mengangkat tongkatnya, ia bertindak maju dengan perlahan.

Belum ia sampai kepada lawannya, kupingnya sudah mendengar suara tertawa yang tajam mari si nona, yang terus berkata.

'Kim Sie le, kau hendak lebih dulu menempur dia, aku memberikan ijinku, tetapi ingat, inilah untuk serintasan ini saja.

Jikalau kau berniat membunuh dia, akulah orang pertama yang melarangnya!

Beng Sin Thong, dengan begini bukankah hatimu akan menjadi 'terlebih tetap pula?"

Tentu sekali Beng Sin Thong dapat menangkap maksudnya si nona.

Nona itu menghendaki Kim Sie le mengalah, untuk dialah yang nanti menempur dan membinasakan padanya, untuk dia menuntut balas.

Sama sekali ia tidak melihat mata pada nona itu hanyalah ia heran, setiap kali ia melihat sinar mata tajam dari si nona, ia bergidik sendirinya.

Melirik kepada nona itu, Sin Thong menduga-duga.

"Dia tentulah anak perempuannya si siluman tua she Le!"

Ia justru menguatirkan, di samping orang-orang Thiansan Pay, ialah turunan keluarga Le itu, maka ia lantas memikir bagaimana ia mesti menghadapi musuh wanita ini.

Kim Sie Ie tidak mau mengasih ketika orang berpikir.

"Kenapa kau tidak mau lekas-lekas mengeluarkan kepandaianmu yang liehay?"

Kata Tokciu Hong-kay sambil tertawa dingin. Ia pun mengejek dengan kata-katanya itu "kepandaian yang liehay", sebab demikianlah arti nama "Sin Thong"

Dari Beng Sin Thong. Beng Sin Thong tidak mau kalah perang dingin itu.

"Jikalau gurumu masih hidup, tentulah aku akan lebih dulu memberi hormat kepadanya dengan aku menganggap diriku adalah orang yang bertingkat terlebih muda!"

Bilangnya.

Itulah penghinaan.

Dia seperti mau mengatakan, dia berderajat lebih tinggi, maka menghadapi Sie Ie, tidak pantas ia turun tangan terlebih dulu!

Kim Sie Ie menjadi gusar, akan tetapi ia dapat mengendalikan diri.

Sebaliknya daripada kalap atau mendamprat, ia tertawa terbahak-bahak hingga melengak.

"Baiklah, locianpwee, siauw-pwee akan memperlihatkan kejelekannya!..."

Katanya.

Ia menyebut locianpwee, orang tingkat lebih tua, dan membahasakan dirinya siauwpwee, orang terlebih muda, akan tetapi menyusul kata-katanya itu, tongkatnya berkelebat menyambar ke pinggang orang!

Itulah jurus "Sinliong lauwhay", atau "Naga sakti mengacau lautan", salah satu jurus dari ilmu silat tongkat warisan Tokliong Cuncia.

Ilmu silat tongkat itu bernama "Sin-koay Sippat Ta", artinya.

"Delapan Belas Jurus Tongkat Sakti". Biasanya jurus itu mengarah saling susul kepada ketiga jalan darah di pinggang dan paha. Beng Sin Thong telah bersiap sedia, dapat ia melihat serangan liehay itu. la berlaku sangat sebat. Ia berkelit seraya tangannya diajukan, dipakai menyambar guna menangkap tongkat lawannya itu.

"Hebat bangsat tua ini,"

Pikir Kim Sie Ie. Ia terkesiap juga sedikit.

"Dia sebat dan bertenaga besar!"

Ia tidak mau menarik pulang tongkatnya, hanya dengan menggeser sedikit, ia menyerang terus, menusuk ke depan musuh.

Ia telah menggunai tenaga "hangliong hok-houw",-"menaklukkan naga, menundukkan harimau".

Sembari menyerang itu ia percaya tidak ada orang yang berani menangkap tongkatnya kecuali Lu Su Nio menjelma pula.

Beng Sin Thong melihat bahaya yang mengancam itu.

Ia sudah lantas mengasih lihat kelincahannya.

Ia tidak berani menangkap tongkat seperti bermula tadi.

Ketika serangan tiba, tubuhnya bergerak, menyingkir dari tongkat.

Untuk itu, tangannya dipakai menekan tongkat, guna membuat tubuhnya naik terapung.

Adalah setelah bahaya lewat, tangannya terus diajukan pula, kali ini guna menangkap tongkat, yang tenaga serangannya sudah berkurang.

Kim Sie Ie heran dan kagum untuk keliehayan lawannya ini.

Tentu sekali ia tidak sudi mengasihkan tongkatnya terpegang atau terampas musuh.

Ia menarik pulang tongkat dengan lebih dulu diteruskan untuk diputar, setelah mana sebat luar biasa, ia mengulangi serangannya.

Beng Sin Thong tidak mau berlaku sembrono.

Kali ini ia tidak menangkis atau menekan tongkat, ia cuma berkelit.

Sesudah itu, baru ia maju pula.

Setelah mencoba-coba itu, Kim Sie Ie tidak berani memandang enteng kepada lawannya ini.

Sekarang ia telah dapat membuktikan liehaynya si lawan.

Mau atau tidak, ia mesti senantiasa mengerahkan tenaganya.

Maka dalam pertempuran selanjutnya, kedua pihak sama-sama menggunai tenaga besar, sama-sama menunjuki kelincahan mereka.

Mukanya Beng Sin Thong lantas menjadi merah.

Sesudah pertempuran berlang-lung tiga puluh jurus Kim Sie Ie, yang bertindak sebagai si penyerang, merasakan suatu perubahan luar biasa.

Seharusnya tongkatnya menjadi panas, tetapi ini sebaliknya, tongkatnya itu terasa dingin.

"Mungkinkah ini disebabkan Ilmunya Siulo Imsat Kang?"

Tok-ciu Hongkay menduga-duga.

tongkat itu dingin tetapi dinginnya tidak tersalurkan ke tubuh.

Ia tidak takut tetapi ia waspada, ia mesti menjaga diri.

Ketika itu Yang Cek Hu telah memimpin murid-muridnya Beng Bin Thong melayani musuh-musuhnya, ialah rombongannya Cia In Cin, maka itu disitu menjadi 'berisik sekali.

Di pihak Kaypang ada banyak anggautanya yang liehay akan tetapi itu waktu, mereka menampak perugian.

Ek Tiong Bouw dan Siauw Ceng Hong telah terluka tergempur Siulo Imsat Kang, tenaga dalam mereka menjadi terganggu, pedang Gouw Ciang San terpatahkan pedangnya, walaupun benar ia lelah menggantinya dengan yang ?ain, senjata ini kurang leluasa Dipakainya.

Syukur Cia In Cin tidak terluka, maka ialah mengandalkan pedangnya dengan apa dapat ia melindungi kawan-kawannya.

Yang Cek Hu memimpin dengan baik sekali, dengan lekas ia membuat semua murid-muridnya Beng Sin Thong dapat mengurung musuhnya berikut Ciong Tian dan Bu Teng Kiu.

Begitu seru orang-orang bertempur, adalah si nona she Le yang sikapnya acuh tak acuh, sambil tangannya mencekal cambuknya, cambuk Pekbong pian, dengan tubuh disenderkan pada batu gunung-gunungan, matanya di arahkan pada Beng Sing Thong dan Kim Si Ie berdua.

Cambuk di tangannya itu ialah cambuknya keluarga Beng, cambuk itu diperantikan untuk menyiksa Lie Kim Bwee, Kim Sie Ie yang merampas dan diserahkan kepadanya.

Sekarang ada murid-muridnya Beng Sin Thong yang melihat cambuk itu, beberapa di antaranya lantas menghampirkan nona ini, untuk merampasnya pulang.

Celaka untuk mereka, belum lagi mereka datang dekat, karena sikap mereka mengancam, mereka lantas dihajar si nona hingga mereka roboh memegang tanah.

Habis itu barulah tidak ada yang maju lagi, sebab ternyata si nona kembali memperhatikan pertempuran Kim Sie Ie -Beng Sin Thong itu.

Tatkala itu, pertempuran Kim Sie Ie dan Beng Sin Thong sudah sampai pada jurus yang ke seratus lebih.

Sering Kim Sie Ie menyerang, sering tongkatnya tidak ditangkis hanya dibacok dengan tangan.

Disini terjadi hal yang mengherankan dia.

Ialah saban kali tongkatnya kena dibacok, lantas ada hawa dingin yang tersalurkan dari tongkat pada telapakan tangannya, sedang tongkatnya itu tetap terasakan dingin.

Lainnya perubahan ialah tenaganya Beng Sin Thong makin lama makin tambah.

Sebaliknya setiap kali ia membacok, Sin Thong tentu-tentu mengeluarkan napas beberapa kali, seperti ia telah menjadi letih sekali.

Masih ada perubahan selanjutnya.

Tidak lama, atau gerakgeriknya kedua pihak sama-sama menjadi kendor dengan perlahan-lahan.

Kalau tongkat Kim Sie Ie menusuk atau menyambar melintang, agaknya dia seperti lagi menggeraki barang berat seribu kati.

Begitu juga dengan Sin Thong, ia terlihat ayal dan gerakan tangannya kacau...

Dengan perubahan itu, air muka mereka pun turut berubah menjadi pendiam dan guram...

Dalam keadaan begitu tiba-tiba Beng Sin Thong tertawa tiga kali, lalu terlihat kulit mukanya yang guram itu berubah menjadi hitam.

Si nona Le melihat perubahan kulit muka itu, ia kaget hingga ia berseru perlahan.

Kim Sie Ie juga lantas rasakan sesuatu yang tak baik untuknya, ialah tongkatnya menjadi dingin bagaikan es, sampai hampir ia tidak dapat memegang terus senjatanya itu.

Karena kagetnya, ia lantas berludah dengan ludahnya yang kental!

Ludah itu tersemburkan hingga terdengar suaranya seperti suara senjata rahasia.

Beng Sin Thong mengibas dengan tangan bajunya, berbareng dengan itu tubuhnya mencelat.

Tubuh Kim Sie Ie juga berlompat jumpalitan hingga dua tombak jauhnya, jatuhnya rebah.

Menyusul itu, Beng Sin Thong dan si Nona Le memperdengarkan jeritan kecil tetapi tajam.

Kim Si Ie lantas berlompat bangun dengan gerakannya "Leehie Tateng", atau "Ikan gabus meletik".

Lantas Beng Sin Thong terlihat menolak kaget dengan kedua tangannya.

Sebaliknya si nona, tubuhnya nampak bagaikan layangan putus lagi melayang turun.

Sie Ie melihat itu, ia maju, niatnya untuk melindungi.

Nona itu, belum lagi kakinya menginjak tanah, sudah memutar tubuhnya, sebelah tangannya terayun, menerbangkan satu gumpalan hitam seperti kabut, sedang dari mulutnya keluar seruan.

"Menyingkir! Lekas!"

Kabut itu menjadi besar dalam sejenak, hingga di depan mata mereka, orang tidak bisa melihat apa-apa.

Karena itu, murid-muridnya Beng Sin Thong tidak dapat berkelahi terlebih jauh.

Cia In Cin dan rombongannya, yang jatuh di bawah angin menggunai ketika ini untuk mengangkat kaki, bahkan terus mereka berlalu dari Beng keechung.

Baru sesudah pergi tujuh atau delapan lie, mereka berhenti untuk beristirahat di dalam sebuah rimba.

Itu waktu tengah hari tepat, hawa udara panas terik, tetapi di antara delapan orang itu, kecuali Kim Sie Ie serta si nona, semua merasakan kedinginan dan tubuhnya menggigil, sedang Bu Teng Kiu dan Ciong Tian, yang tenaga dalamnya paling lemah, giginya bercatrukan.

Dua-dua Teng Kiu dan Ciong Tian telah dipermainkan Kim Sie Ie, sekarang mereka berada di depan si pengemis edan, mereka likat sendirinya.

Tapi di dalam keadaan seperti itu, Teng Kiu dapat menguasai diri.

Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya seraya berkata.

"Inilah obat Pekleng Tan yang Tong Suci membekali aku di saat aku turun gunung. Obat ini terbuat dari teratai salju dari Thiansan, khasiatnya dapat memunahkan pelbagai macam racun, maka itu sekarang dapat kita menggunainya."

Sama sekali obat itu terdiri dari tujuh butir.

Teng Kiu menuangnya ke dalam telapakan tangannya.

Paling dulu ia memberikan Ek Tiong Bouw satu butir demikian juga Siauw Ceng Hong, Gouw Ciang San dan Cia ln Cin.

"Aku bersama enci Gouw cukup dengan sebelah butir,"

Berkata Cia In Cin.

"Kau Ek Sutee, kau boleh makan satu butir."

Tiong Bouw terluka parah, ia menyambuti, tanpa sungkansungkan, ia lantas makan obat itu. Di tangan Teng Kiu masih ada tiga butir, ia ambil satu untuk Ciong Tian, kemudian ia tanya si nona.

"Nona, kau she apa? Barusan kami terlolos dari bahaya karena mengandal padamu. Kau... apakah kau merasa dingin? Mau atau tidak kau... obat ini?"

Tidak menanti orang bicara habis, nona itu tertawa.

"Terima kasih, aku tidak menghendaki itu,"

Sahutnya.

"Kau berikan lain orang saja."

Bu Teng Kiu menoleh kepada Kim Sie Ie.

Ia telah dipermainkan, mulutnya ditimpuki tanah, hatinya panas, akan tetapi barusan Kim Sie Ie yang membantu mereka dan bertahan untuk melawan musuh yang tangguh, tanpa si pengemis edan, entah bagaimana jadinya mereka.

Maka itu hatinya bertentangan sendirinya.

Mau bergusar, tidak dapat.

Mau ia memberikan obat, mulutnya rapat.

Kim Sie Ie tidak menghiraukan sikap orang, ia melempangkan pinggang secara malas-malasan, terus ia memandang si nona.

"Kau memuji tinggi liehaynya Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong, tapi aku melihatnya tidak seberapa,"

Kata ia.

"Benarkah itu?"

Menyahut si nona tertawa.

"Sebatang jarummu mengenai dia, mungkin itu dapat membuatnya sakit kepala beberapa hari, maka itu, kau menjadi bisalah tidak mendapat kerugian apa-apa..."

Kim Sie Ie terkejut di dalam hati.

Menurut katanya nona itu, ia seperti juga mendapat celaka.

Tapi barusan, dengan mengempos tenaga dalamnya, ia bisa mengusir rasa dingin yang dahsyat itu, lantas ia tidak merasakan apa-apa yang aneh.

la kata di dalam hatinya.

"Serangannya Beng Sin Thong barusan memang liehay, ilmunya yang dinamakan Siulo Imsat Kang itu memang rada-rada sesat, akan tetapi aku tidak terluka. Mengapa nona ini mengatakan begini?"

Selagi Kim Sie Ie berpikir dan si nona menyebut-nyebut jarum beracun, Ciong Tian juga berkata di dalam hatinya.

"Bukankah barusan Kim Sie le membantu kita secara diamdiam? Bukankah kedua muridnya Beng Sin Thong telah terhajar jarum itu maka mereka telah roboh dengan gampang di tanganku?"

Bu Teng Kiu sementara itu dapat mengambil putusannya.

Ia mendapatkan Kim Sie Ie bersikap besar kepala, amarahnya timbul pula.

Maka ia masuki pula obatnya ke dalam polesnya dengan berkata di dalam hatinya.

"Kau tidak menghendaki obat ini, baiklah, akan aku simpan untuk kelak dipakai menjaga diriku..."

Kemudian Ciong Tian hendak menanya si nona tentang asal-usulnya, atau niatnya itu ia batalkan.

Itu waktu juga mereka melihat asap mengepul besar di arah Beng kee-chung, apinya pun berkobar naik.

Menampak itu, si nona berkata.

"Bangsat tua she Beng itu takut pada kita, dia menyalakan api membakar rumahnya. Pastilah dia mau mengajak murid-muridnya mencari lain tempat di mana dia dapat menyembunyikan diri!"

"Nona,"

Berkata Cia In Cin.

"kau memanggil dia bangsat tua mungkinkah di antara dia dan kau ada permusuhan besar?"

Si nona menyahut, tetapi lebih dulu ia mengibaskan tangan.

"Bermusuh atau tidak, itulah urusanku sendiri'"

Katanya.

"Kim Sie le, kau ingatlah jam tiga malam ini!"

Ia bicara seraya menghadapi si pengemis edan, habis itu tanpa memperdulikan Cia In Cin semua, ia ngeloyor pergi. Cia In Cin menjadi kebogehan, ia menggeleng-geleng kepala.

"Hm!"

Bu Teng Kiu mengasih dengar suara.

"Entahlah asalusulnya wanita itu! Dia sangat tidak tahu urusan, bicara sama orang tua dia bawa sikapnya yang tidak hormat!"

Tapi Ek Tiong Bouw berkata.

"Kamu ada orang-orang yang baru masuk dalam dunia kangouw, kamu masih belum mengetahui pelbagai pantangan. Nona itu mungkin ada kesulitannya. Maka itu, meskipun kita suka bersahabat dengannya, dia sendiri belum tentu mau mempercayai kita dan suka menuturkan segala apa..."

Biar bagaimana, si nona dan sikapnya yang aneh itu, membual orang ramai membicarakannya dan menduga-duga.

Cuma Kim Sie Ie yang seperti tuli telinganya, dia hanya berdiri di pinggiran, otaknya bekerja.

Bukankah si nona sengaja telah memberi ingat padanya untuk jangan melupai janji jam tiga malam itu!

Dia mau percaya, pertemuannya dengan Lie Kim Bwee nanti tentulah nona itu yang mengaturnya.

Tentu sekali dia girang luar biasa bakal bertemu sama Nona Lie.

Di samping itu, dia juga tidak luput dari kesangsian.

Pikirnya.

"Si nona rada sesat, apakah dia bukan sedang berguyon denganku?"

Di dalam kesunyian itu, Cia In Cin berbicara sama Kim Sie Ie.

Ia dan yang lainnya tidak berkesan baik terhadap si pengemis edan tetapi barusan si pengcmislah yang melindungi mereka, ia merasa tidak enak apabila ia tidak menegur orang.

"Kim... Kim Tayhiap, kau telah bertemu sama Lie Kim Bwee atau tidak?"

Demikian pertanyaannya.

"Kabarnya dia terpenjarakan di dalam Beng keechung."

Berat nyonya ini mengeluarkan kata-kata "Kim Tayhiap"

Itu.

Beberapa kali ia mencoba, bani ia dapat menguasai dirinya.

Karena ini, tidak dapat ia menerangkan bahwa ialah yang meletaki tusuk konde di kamar si pengemis itu.

Kim Sie le bersenyum manis, ia menjura pada nyonya itu.

"Jangan sungkan, jangan sungkan,"

Katanya.

"kau boleh menyebut aku Tokciu Hongkay seperti biasa. Mengenai Lie Kim Bwee, hm, hm, disini ada murid-murid partainya sendiri, dari itu perlu apa aku yang mencapekan hati?"

Pada romannya, Kim Sie Ie menunjuk sikap hormat sekali, tetapi di dalam kata-katanya itu, ia mengejek tajam.

Maka In Cin semua menjadi jengah sendirinya.

Bu Teng Kiu panas hatinya, ia gusar, tetapi ia pun jeri, terpaksa ia menutup mulut.

Adalah Ek Tiong Bouw, yang tertawa riang.

Dia berkata.

"Manusia di kolong langit, masing-masing ada pekerjaannya sendiri, tetapi di antaranya adalah penghidupan kami kaum pengemis yang paling merdeka."

Ia terus menghadapi Kim Sie Ie, untuk meneruskan.

"Laotee, kaulah orang utama di dalam kaum kami, maka itu sayang sekali baru hari ini kita dapat berkenalan. Marilah kita bersahabat."

Dengan kata-katanya ini, Tiong Bouw hendak melenyapkan likat-nya Cia In Cin semua, untuk memecahkan suasana tak wajar itu. Kim Sie le tertawa lebar.

"Kaulah pangcu, aku sendiri satu pengemis kecil!"

Katanya.

"Maka itu tuan besar Pangcu tidak berani aku bersahabat denganmu! Haha! Apakah benar-benar kau ingin bersahabat rapat denganku? Tahukah kau bahwa tanganku ada racunnya?"

Kim Sie le dijuluki Tokciu Hongkay, si Pengemis Edan Tangan Beracun.

Itulah hebat.

Sudah edan, dia pun beracun!

Mendengar perkataan orang itu, Ek Tiong Bouw melengak.

Mulanya ia hendak berjabatan tangan, sekarang ia menarik pulang tangannya, yang telah disodorkan.

Kim Sie Ie kembali tertawa lebar.

"Ek Pangcu, baik-baik saja kau beristirahat!"

Katanya pula.

"Beng Sin Thong, sudah pergi, aku mau pergi juga!"

Mendadak ia datang dekat pada Bu Teng Kiu, untuk terus berkata di kuping orang.

"Ingatlah, lain kali jangan mencaci orang di belakang, atau kau nanti merasakan lebih banyak lumpur!"

Teng Kiu gusar bukan main, matanya melotot.

Begitu lekas Kim Sie Ie sudah pergi jauh, ia lantas mencaci kalangkabutan.

Kim Sie Ie berlalu dengan puas.

Ketika ia sampai di sebuah bukit, disitu ia berhenti, untuk merebahkan diri dan tidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi Lie Kim Bwee datang dengan membawa setangkai soatlian, ialah teratai salju.

Nona itu berada di muka laut, perlahan datangnya.

Permukaan laut licin dan terang bagaikan kaca rasa, sedang sinar layung di laut seperti hendak menungkrapnya.

Tiba-tiba pun muncul Kok Cie Hoa.

Kim Sie le hendak menyambut kedua nona itu, atau sekonyong-konyong muncul juga si nona she Le.

Mendadak laut pun terbelah dua, Lie Kim Bwee dan Kok Cie Hoa masuk tenggelam ke dalam pecahan itu.

Tinggallah si nona Le, yang tertawa terbahak-bahak!

Kim Sie Ie menjadi kaget, lantas ia mendusin.

Ia melihat banyak bintang di langit dan rembulan pun terang.

Ketika itu sudah kira-kira jam tiga.

Lantas ia tertawa sendirinya dan berkata sendiri juga.

"Kali ini aku tidur nyenyak dan lama, impianku pun luar biasa!"

Ketika ia ingat impiannya, ia lantas berpikir mengenai ketiga nona itu.

Lie Kim Bwee itu baik sekali terhadapnya.

Kim Bwee polos, ia tidak mengerti urusan dunia, ia seperti tidak mendapat tahu kebusukan atau kejahatan di dalam pergaulan manusia.

Maka kalau dia tengah berada bersama si nona, dia--Kim Sie Ie-merasa bahwa dirinya kotor sekali dan malu sendirinya.

Dia ingin memandang dan memperlakukan Kim Bwee seperti adiknya sendiri, yang dia menyayanginya dan ingin melindunginya.

Kok Cie Hoa itu muridnya Lu Su Nio.

Kim Sie le menghormati Lu Su Nio, dari itu dia berbareng menghormati nona ini.

Meskipun pertemuan mereka berdua tak lama, dia berkesan baik sekali terhadap nona itu, Kok Cie Hoa itu luas pengetahuannya dan banyak pemandangannya, hatinya terbuka, tabiatnya halus.

Kim Sie Ie berusia lebih tua tetapi dia mau menganggap nona itu sebagai kakaknya.

Kim Sie Ie biasa bergembira, berguyon, bergusar dan mencaci orang, prilakunya berandalan, tetapi di depan Kok Cie Hoa, dia tidak berani mengumbar adatnya itu.

Terhadap si nona she Le, dia merasa aneh.

Dia merasa orang bangsa sesat dan terhadapnya, dia merasa muak, tetapi toh tidak memikirkannya.

Dia merasa nona itu ialah kenalan akrabnya.

Bahkan di dalam dirinya nona itu ia seperti melihat dirinya sendiri.

Mungkin ini disebabkan dia membenci berbareng selalu ingat nona itu...

Ketiga nona itu, walaupun di dalam impian saja, dan meski juga mereka mempunyai sifatnya sendiri-sendiri, yang berlainan satu pada lain, mereka toh telah berkesan di dalam hati Kim Sie Ie.

Mereka telah menduduki tempat di hatinya si pengemis edan ini.

Tidak demikian, tidak nanti mereka terimpikan.

Setelah mendusin, Kim Sie Ie melanjuti perjalanannya.

Ketika si Puteri Malam yang terang benderang berada di tengah-tengah langit, dia telah tiba di gunung Thayheng San, di Kimkee Hong, ialah Puncak Ayam Emas.

Sampai disitu, bayangannya Kok Cie Hoa dan si Nona Le, berpeta tipis di lubuk hatinya.

Sebagai gantinya, muncullah bayangannya Lie Kim Bwee.

Karena segera dia bakal bertemu sama si nona Lie.

Kali ini dia mengharapkan pertemuan bukan dalam impian!

Di waktu cahaya bintang-bintang mulai berkurang dan sinar rembulan mulai guram, Kim Sie Ie telah tiba di puncak sekali.

Ketika dia telah melintasi sekelompok pepohonan lebat, lantas matanya melihat sebuah pohon pek tua yang besar, dan di bawah pohon itu tampak punggung dari seorang wanita yang hitam pakaiannya, lantas hatinya berdebaran.

Jadi benar si nona Le tidak mendustakannya!

Lie Kim Bwee benar-benar telah menantikannya!

Dengan satu gerakan "Ceng-teng tiamsui", atau Cecapung Menowel Air, Kim Sie Ie berlompat pesat sekali ke arah wanita dengan pakaian hitam itu.

Dia ingin secara tiba-tiba berguyon dengan Lie Kim Bwee, untuk meniup punggung si nona selagi si nona tidak menduga apa-apa.

Tepat ketika dia telah datang dekat, belum sempat dia meniup, mendadak nona itu tertawa terkekeh-kekeh, sambil tertawa ia menoleh seraya berkata.

"Kim Sie Ie, kau benar memegang janji! Sekarang ini tepat jam tiga!"

Bukan main herannya Tokciu Hongkay! Itulah bukan Lie Kim Bwee di hadapannya hanya si nona she Le! la mendongkol, hingga bergemetarlah ia.

"Bagus!"

Teriaknya.

"Kiranya kau main-main denganku!"

Nona itu kembali tertawa geli.

"Kim Sie Ie, kau masih ingat perkataanmu atau tidak'?"

Ia tanya.

"Apa?"

Balik tanya Sie Ie, heran.

"Kau telah berjanji mengijinkan aku berbuat sesuatu kepadamu sampai tiga kali!"

Si nona memperingati.

"Dan selama itu, kau berjanji tidak akan marah!"

Kim Sie Ie melengak. Bergurau-nya si nona membuatnya tertawa tidak bisa, menangis tidak bisa juga! Nona itu lagi-lagi tertawa.

"Aku mendengar kabar kau paling pandai menjaili orang,"

Katanya.

"maka itu, dengan aku main-main denganmu, bukankah bagimu tidak ada artinya?"

"Baiklah!"

Kim Sie Ie menyahut kemudian.

"Kau telah bergurau! Sekarang, manakah Lie Kim Bwee?"

"Kau menanya aku, mana aku tahu?"

Sahut nona itu. Kim Sie Ie mengawasi.

"Habis, mengapa kau menjanjikan aku akan bertemu, jam tiga disini?"

Ia tanya.

"Apakah dengan ini kau juga mendustai aku?"

"Tidak, aku tidak mendustai kau."

"Kalau begitu, mengapa dia tidak ada?"

"Aku yang menjanjikan dia akan malam ini, jam tiga, bertemu disini,"

Jawab si nona, hanyalah pada jam dua aku telah bertemu dengannya, lalu mendadak aku mengubah pikiranku, lantas aku minta dia pergi..."

Kim Sie le heran dan tak puas.

"Kenapa begitu?"

Tanyanya keras. Nona itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Bagaimana, eh?"

Tanyanya.

"Sudah dijanjikan kau tidak boleh membawa adatmu, apakah kembali kau hendak bergusar? Jikalau kau tetap membawa adatmu ini, asal kau kembali gusar, jangan kau harap aku nanti sudi menjawabmu pula, sekalipun dengan sepatah kata!"

Kim Sie Ie kewalahan. Ia membutuhkan warta tentang Lie Kim Bwee, ia mesti menguasai dirinya.

"Apa saja yang kau bicarakan dengannya?"

Ia tanya.

"Kau terang-terang tahu bahwa aku hendak menemui dia, mengapa kau justeru menitahkan dia pergi?"

Si nona tertawa.

"Oleh karena aku mengetahui, bahwa yang hendak menemui dia, kecuali kau, masih ada orang lain lagi!"

Sahutnya.

"Aku telah berkata kepadanya.

"Kim Bwee, bukankah kakak seperguruanmu adalah seorang bocah yang dipanggil Ciong Tian?"

Dia menjawab.

"Ya, benar, ada orang dengan nama begitu."

Maka kukata pula.

"Kakak seperguruanmu itu tengah mencarimu. Dia disertai satu bocah lain she Bu, dan bocah itu juga mencarimu."

Atas kata-kataku itu, dia menghaturkan terima kasih, dan ia segera berangkat, berlari-lari turun gunung."

Sembari berkata begitu, nona itu menirukan gerak-gerik Kim Bwee sambil menelad juga lagu suaranya sekali, yang dapat dilakukannya dengan sempurna, hingga ia tampak lucu sekali.

"Hm, bagus betul!"

Kata Sie Ie, yang hatinya mendongkol.

"Sekarang aku ingin tahu, mengapa dan apa perlunya kau mempedayakan aku datang kemari?"

"Saat ini rembulan indah sekali dan angin pun berkesiur halus, aku menjadi iseng, ingin aku mencari satu orang dengan siapa aku dapat mengicipi semua ini,"

Kata si nona bersenyum.

"Aku pun mengetahui baik sekali kau gemar berguyon, kebetulan kita bertemu, kupikir tiada halangannya aku bergurau denganmu!"

Kim Sie le memperlihatkan roman tidak puas.

"Sebaliknya malam ini tidak ada kegembiraanku untuk bergurau denganmu!"

Katanya dingin-dingin.

"Baiklah, sekarang kau sudah berguyon, maafkan aku, aku tidak dapat mengawani kau lebih lama pula!"

Ia lantas memutar tubuhnya.

"Kim Sie Ie, berhenti!"

Sekonyong-konyong nona itu berseru. Tokciu Hongkay sudah bertindak, mendengar suara itu, walaupun ia tidak menghendakinya, ia menghentikan tindakannya tanpa merasa. Nona itu tertawa geli.

"Kim Sie le, barusan aku berguyon!"

Katanya.

"Aku sudah tahu! Tak usah kau rewel lagi!"

"Kau tidak tahu sedikit jua!"

Kata si nona sebaliknya. Masih dia tertawa.

"Apakah yang kau ketahui? Hendak kuberitahukan kepadamu, bahwa semua kataku barusan adalah kelakar belaka! Mengertikah kau? Tapi sekarang lain, sekarang aku hendak menjelaskan bahwa aku menjanjikan kau datang kemari karena ada urusan yang penting luar biasa, dan ini sedikit-pun bukannya guyon lagi!"

Kim Sie Ie mengawasi nona itu. Kata-kata orang membuatnya ber-sangsi. Ia bertindak, untuk mendekati.

"Kau mempunyai urusan penting bagaimana?"

Tanyanya.

"Jiwamu penting atau tidak?"

Si nona balik bertanya. Kembali muncul kemendong-kolan si pengemis edan ini.

"Baiklah, inilah guyonmu yang kedua!"

Katanya.

"Kau ingat baik-baik, guyonmu tinggal hanya lagi sekali!"

"Hus, jangan kau segera membuat perhitungan!"

Kata nona itu.

"Kali ini aku tidak main-main sama sekali, sebaliknya, aku bicara dengan sungguh-sungguh! Nah, coba kau menarik napas dalam-dalam satu kali! Menurut penglihatanku, dengan menarik napas, kau merasakan sesuatu kepada pelbagai jalan darahmu!"

Mau atau tidak, Kim Sie le hendak mencobanya.

Maka ia menyedot perlahan-lahan.

Tiada sesuatu dirasakannya, baikpun pada jalan darah ngokie, wietoo atau kieliauw maupun jalan darah yangleng di pahanya.

Maka hendak ia mengatakan sesuatu guna menegur kedusta-an si nona.

Baru ia hendak membuka mulutnya, atau tiba-tiba ia merasakan gatal sedikit pada pelbagai jalan darahnya barusan, la menjadi terkejut, apapula menyusul itu, merasalah agak kaku dan dingin seluruh tubuhnya, lebih-lebih kakinya, hawa dingin itu melebihkan gangguan hawa dingin pada akhir bulan dua belas.

"Bagaimana?"

Tanya si nona yang terus mengawasinya semenjak tadi.

"Bukankah aku tidak berkelakar denganmu?"

Untuk sejenak Kim Sie Ie membungkam.

"Aku tidak menyangka ilmu Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong begini liehay,"

Katanya sesaat kemudian.

"Inipun disebabkan tenaga dalammu yang mahir,"

Kata pula si nona.

"jikalau tidak, akibatnya akan bekerja di saat serangan dilakukan. Hanya sekarang hawa dingin itu telah mengeram di dalam tubuhmu, di belakang hari, biar kau mencoba, tidak nanti hawa itu dapat diusir bersih. Hawa itu dapat menembus setiap anggauta tubuhmu yang terlemah. Bukankah pada kakimu, di jalan darah yongcoan, hawa itu terasa paling dingin? Nah, itulah dia!"

Mau atau tidak, Kim Sie Ie mengangguk.

"Syukur serangan ini dilancarkan kepadamu,"

Kata si nona.

"coba serangan itu, terjadi di atas diri orang lain, selekas serangan itu mengenai jantung, sekalipun dewa tidak akan dapat menolongnya. Lihatlah Ek Tiong Bouw. Dia telah merasakan tangan Beng Sin Thong, benar dia telah makan obat Pekleng Tan, tetapi dia pasti akan mendapat sakit berat. Kau mahir tenaga dalammu, hawa itu tidak dapat masuk ke dalam jantung, hawa itu sebaliknya mengalir ke kaki, sebagai dapat kau rasakan sekarang. Jikalau setiap hari kau melatih diri tiga kali, untuk melawannya, hawa dingin itu akan tercegah, dan tidak dapat naik ke atas. Dengan demikian, mungkin jiwamu dapat diselamatkan, tetapi kedua kakimu tidak, paling sedikitnya kau akan bercacad dengan kedua kakimu tak dapat digunakan lagi."

Kim Sie le tertawa, tertawa dengan hati pedih.

"Apakah artinya hidup secara demikian?"

Katanya.

"Bagaimana rasanya kalau setiap hari tersiksa?"

Ia tertawa pedih, lalu tertawa lebar, seraya memutar tubuh, ia bertindak pergi.

"Eh, kau mau bikin apa?"

Tanya si nona, heran.

"Beng Sin Thong telah terkena jarumku yang beracun,"

Jawab Kim Sie Ie.

"dia juga tentu tengah menderita sakit berat, maka justeru sedang ia sakit, dan aku sebaliknya masih dapat berjalan dengan merdeka, hendak aku menempur-nya pula sekali! Paling banyak ia dan aku akan terbinasa bersama!..."

Mendengar itu, si nona tertawa dingin.

"Adakah jiwamu demikian tidak berharga?"

Tanyanya.

"Apakah pantas jiwamu diadu impas dengan jiwa Beng Sin Thong? Kau harus ingat juga, bahwa Beng Sin Thong dilindungi murid-muridnya, bahwa disana ada adik seperguruannya yang sudah meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai tingkat ke lima! Kau hendak mengadu jiwa tetapi aku sangsi, apakah kau akan dapat mencapai cita-citamu ini!"

Hati Kim Sie Ie bercekat. Kata-kata si nona memang beralasan. Hingga maulah ia berpikir.

"Mungkinkah dia dapat membantu aku?"

Tapi ia tidak mau mengatakan apa-apa. Ia terlalu angkuh! Bukankah, sekalipun bantuan Lie Kim Bwee telah ditolaknya? Nona itu seperti dapat melihat hati orang.

"Kim Sie Ie, hendak kuminta sesuatu darimu, dapatkah?"

Ia bertanya sambil tertawa manis.

"Aku sudah segera akan bercacad separuh tubuhku, apa yang dapat kuberikan untuk membantumu?"

Tokciu Hongkay menjawab.

"Aku mau minta kau membantu aku menuntut balas,"

Kata si nona.

"Aku tidak mempelajari Siulo Imsat Kang, akan tetapi, di jaman ini akulah orang satu-satunya yang mengerti bagaimana harus mengobati luka karena pukulan ilmu silat itu. Tampaknya kau merasa aneh, bukan? Kau rupanya hendak bertanya, bagaimana aku, yang tidak mengerti Siulo Imsat Kang dapat mengobati luka disebabkan ilmu itu? Sebabnya ialah. Beng Sin Thong hanya berhasil mencuri tiga bocah kitab Siulo Imsat Kang dan kitab cara pengobatannya masih berada di tanganku. Maka, maukah kau berjanji kepadaku untuk kita saling tukar. Aku mengobati lukamu dan kau membantu aku membalas sakit hati?"

Sebagai seorang cerdik, Kim Sie le segera dapat menerka hati si nona.

"Membalas sakit hati kepada Beng Sin Thong?"

Pikirnya.

"Betapa mudah untuk mengatakannya! Mungkin meskipun menggunai tempo tiga atau lima tahun, ataupun sampai sepuluh tahun, maksud itu masih tidak akan dapat diwujutkan! Pula, jika aku menerima tawarannya ini, artinya aku terikat olehnya! Tetapi, tidak perduli aku senang atau tidak, aku mesti bersahabat dengannya!..."

Toh ia bersangsi.

Di kolong langit, kecuali nona ini, tidak ada orang lain yang dapat mengobati lukanya!

Mungkinkah ia rela menjadi bercacad separuh tubuhnya?

Mati memang tidak usah ditakuti, tetapi hidup bercacad seumur hidup-hidup begitu bagaimana dapat dipertahankan?

"Lagi pula, siapakah yang tahu kalau ini bukannya karena kebaikan hatinya?"

Ia berpikir lebih jauh.

"Rupanya dia kuatir jika aku tidak mau menerima kebaikan hatinya, maka kini dia mengajukan tawarannya ini. Dengan begini dapat diartikan dialah yang meminta kepadaku, agar muka terangku tidak menjadi pudar karenanya."

Terkaan Kim Sie le ini tepat.

Memang si nona mengandung dua maksud, menolong Kim Sie Ie sambil mengharap bantuannya, la mau mengikat si pengemis edan.

Untuk itu, ia mesti menggunakan siasat, sebab ia kuatir Kim Sie Ie akan menolak getas diobati olehnya.

Dengan menukar jasa, itulah lain, kedua pihak boleh tidak usah berhutang budi satu pada yang lain.

"Bagaimana?"

Tanya si nona dengan tertawa. Sekian lama ia menantikan jawaban dengan sia-sia.

"Aku sampai memohon padamu, apakah kau masih tidak dapat menerima?"

Ia bertanya.

"Syaratku ini syarat baik sekali. Kedua pihak sama-sama tidak rugi. Satu pada yang lain, kita juga tidak usah menanggung budi! Tidakkah ini bagus sekali?"

Kim Sie Ie menghela napas.

"Baiklah,"

Akhirnya ia berkata.

"Kau memberikan aku obat, aku membantumu membalas sakit hatimu! Beginilah janji kita!"

"Sekarang kau tutup matamu!"

Kata si nona.

"Untuk apakah itu?"

Tanya Kim Sie Ie, heran.

"Aku kuatir, karena kau melihat, kau nanti merasa takut!"

Sie Ie tertawa bergolak.

"Aku tidak tahu di kolong langit ini ada apa yang dapat membuatku takut!"

Katanya. Nona itu melirik, ia tertawa.

"Benarkah itu?"

Ia menegaskan. Mendadak hati Kim Sie Ie terkesiap. Mendadak ia menjadi jeri akan si nona.

"Sekarang aku hendak mengobatimu,"

Kata nona itu seraya memandangnya tajam-tajam.

"Untuk itu aku menghendaki supaya kau jangan takut dan juga kau harus percaya penuh terhadapku!"

Kim Sie Ie tertawa.

"Sekarang ini, akulah si sakit, sebagai orang sakit aku mesti menurut kepada segala perkataan tabib,"

Ia berkata.

"Silakan kau menolong menyembuhkanku, aku tidak takut!"

Nona itu mengeluarkan segeng-gam jarum, yang rata-rata dua dim panjangnya.

"Jikalau kau tidak takut, maka lihatlah!"

Katanya.

"Ingat, jangan sekali-kali kau mengerahkan tenaga, membuat perlawanan atau menentang!"

Sebat sekali si nona, baru perkataannya berhenti atau tangannya sudah sampai di jidat orang, untuk menusuk jalan darah thayyang hiat, ialah bagian anggauta yang berbahaya sekali.

Dan Kim Sie Ie baru berpikir atau segera ia merasakan sakit yang sangat hebat pada jidatnya itu, hingga ia mesti mengertak gigi untuk menahan rasa nyerinya.

Si nona bertindak cepat dan tangkas, tanpa mengaso, ia menusuk terus berulang-ulang, hingga dua belas jalan darah si pengemis edan kena tertusuk, dan pengemis itu merasakan sakit tiada hentinya, rasa nyeri itu datang saling susul, hingga ia mesti menahannya terus-terusan.

Di samping itu, dengan lantas lenyaplah rasa dingin di tubuhnya itu.

"Inilah cara pengobatan yang luar biasa sekali,"

Pikir Sie le selagi ia menderita itu.

"Ah, yang paling heran, ialah aku sendiri, mengapa aku boleh kesudian membiarkan diriku diperlakukan sesukanya oleh dia?..."

Hebat tusukan jarum itu.

Kalau dilakukannya dengan maksud jahat, tentu orang telah terbinasakan karenanya.

Kalau karenanya orang tidak mati, maka nyatalah sudah berhasilnya tusukan itu.

Tentu sekali, pada mulanya Kim Sie Ie tidak tahu bagaimana caranya pengobatan dengan jarum itu, sedang dia mengetahui bahwa si nona rada-rada sesat!

Kenapa ia mempercayainya, tidak sedikit juga curiganya?

Kenapa ia benar-benar tidak menentang tusukan-tusukan jarum itu?

Teranglah sudah bahwa kepercayaannya kepada si nona besar sekali, sedang biasanya jarang sekali ada orang yang ia percaya habis.

Herannya mengapa ia mau percaya kepada si nona sedang nona itu berulang kali telah mempermainkannya!

Kim Sie Ie sungguh tidak mengerti dirinya sendiri.

Selagi rasa nyeri mulai berkurang, si nona berkata.

"Sekarang kau lonjorkan kaki kananmu!"

Kim Sie le menurut tanpa membantah.

Nona itu menampa dengan kedua tangannya, lalu dengan jeriji tangannya, ia menekan jalan darah yongcoan hiat.

Begitu ditekan, Kim Sie Ie merasakan geli luar biasa.

Inilah hebat!

Menahan rasa geli sungguh lebih sulit daripada menahan rasa sakit.

Maka mau atau tidak, ia tertawa sendirinya.

Setelah itu, kembali terjadi sesuatu yang aneh!

Seberhentinya ia tertawa, ia mendapatkan tubuhnya lega sekali, bukan hanya rasa sakitnya berkurang banyak sekali, juga napasnya tersalur baik dan darahnya mengalir dengan lurus.

Si nona memandangnya, dan tertawa geli.

"Sedikitnya kau belum mandi enam atau tujuh hari!"

Katanya menggoda.

"Kakimu bau luar biasa tetapi kau masih dapat tertawa gembira!"

"Mana bisa! Mana bisa!"

Kata Sie le, membantah.

"Baru kemarin dulu aku mandi di kali yang jernih..."

Sie Ie tahu orang berguyon tetapi ia toh merasa likat juga.

Ia merasakan tangan si nona halus, empuk dan lincah.

Diuruti nona itu, ia menjadi tidak keruan rasa, hatinya berdebaran, hilang juga rasa gelinya.

Dengan sendirinya, ia tidak tertawa lagi.

Selang sesaat, hawa panas mulai terasa, pada jalan darahnya, jalan darah yongcoan itu, lalu menjalar juga ke seluruh tubuhnya, maka lekas sekali, hawa dingin di seluruh tubuhnya itu mulai buyar.

Sesudah menguruti jalan darah yongcoan di kaki kanan, si nona menguruti juga kaki kiri dan Kim Sie le merasakan hawa dingin di kakinya ini pun berkurang, terus berkurang.

Si nona masih menanti seketika lama, ialah sampai ia menampak muka si pengemis edan dari pucat menjadi dadu, baru ia mencabut dua belas batang jarum yang ditancapkan di pelbagai jalan darah itu.

Kim Sie Ie merasakan tubuhnya lega sekali, tetapi lemah sekali bagaikan seorang yang baru sembuh dari sakit.

"Selesailah sudah tugasku!"

Kata si nona tertawa.

"Kau lapar atau tidak? Kau tunggu sebentar, aku akan mencarikan kelinci untukmu. Aku pun mau pergi ke solokan untak mencuci tangan. Kau tunggu disini!"

Dengan lekas nona itu lantas berlalu. Kim Sie Ie berduduk untuk terus bersamedhi, guna menenangkan diri dan mengumpul tenaga. Tiba-tiba ia ingat suatu apa, maka ia kata di dalam hatinya.

"Jikalau aku kabur sekarang, dia bisa bikin apa atas diriku? Telah cukup dia mempermainkan aku! Apakah halangannya jikalau aku pun menggoda dia?"

Ia baru berpikir begitu atau ia ingat lainnya.

"Tidak, tidak dapat. Di dalam lain hal boleh aku menggoda dia, tidak dalam keadaan seperti sekarang. Dia telah menolong aku, apabila aku menjaili dia, bukankah dia dapat menyangka aku seorang tidak berbudi?"

Oleh karena berpikir demikian, ia membatalkan niatnya berguyon itu.

Ia terus duduk menanti.

Tidak lama, nona tadi telah kembali.

Ia benar telah berhasil memburu dua ekor kelinci.

Dengan lantas ia menyalakan api, untuk membakar daging binatang itu.

Ketika daging bakar telah matang, ia membagi si pengemis edan sebagaimana ia telah menjanjikannya.

Sembari bersantap, tak hentinya ia bicara sama Sie Ie.

Berbicara tentang Coato, atau Pulau Ular, si nona berkata.

"Aku belum pernah berlayar tetapi akan datang satu hari yang aku nanti pergi pesiar ke laut! Bersediakah kau menjadi juru mudiku?"

"Semenjak aku keluar dari Coato, belum pernah aku kembali,"

Menyahut Sie le.

"Baiklah, nanti di harian aku pulang, akan aku memberitahukannya padamu supaya kau dapat naik bersama dalam perahuku..."

"Ya, kata-katanya seorang kuncu bagaikan dieambuknya seekor kuda yang larinya pesat,"

Kata si nona, memotong. Ia pun berkata-kata dengan roman sungguh-sungguh.

"Kapan telah tiba waktunya, jangan kau mendustakan aku dan nanti pergi sendiri secara diam-diam!"

Memandang nona itu dengan wajahnya bersenyum-senyum manis dan jenaka, Kim Sie Ie ingat akan suatu dongeng yang dituturkan kepadanya semasa ia kecil oleh seorang pengemis tua. Beginilah dongeng itu.

"Di atas sebuah gunung yang tinggi sekali terdapat sebuah gua hantu yang paling gemar membeli arwahnya manusia. Jikalau kau menginginkan uang, dia akan memberikan uang padamu. Jikalau kau menghendaki pangkat, dia akan membantu hingga kau berhasil mendapatkan pangkat itu. Sebagai pembalasan, iblis itu meminta jiwa orang. Maka kau harus membuat surat penjualan dirimu kepadanya. Lalu seumur hidupmu, kau mesti mendengar segala perintahnya."

Sekarang Kim Sie le menerima baik permintaan si nona untuk membantu nona itu membalas sakit hati.

Tiba-tiba ia merasa bahwa ia seperti orang di dalam dongeng itu.

Ia seperti telah membuat surat penjualan dirinya...

Si nona mengawasi orang di depannya itu.

"Kau lagi memikirkan apa?"

Dia tanya.

"Tidak apa-apa,"

Menyahut Kim Sie Ie, yang sebenarnya hatinya terkesiap.

"Kau telah menerima baik untuk membantu aku membikin pembalasan, janji itu bukan kata-kata kosong belaka,"

Berkata si nona.

"Sekarang hendak aku menanya kau, dengan cara apa kau hendak membantu aku? Coba kau tanya dirimu sendiri, dapatkah kau melawan Beng Sin Thong?"

Panas hati Sie Ie mendengar pertanyaan itu.

"Kau telah menolong padaku, maka paling banyak aku dapat membalas budimu dengan menambah bunganya!"

Jawabnya.

"Aku akan membayarnya dengan jiwaku!"

Si nona tertawa terkekeh.

"Menurut suaramu ini,"

Katanya riang gembira.

"walaupun kau tidak merasa enak hati untuk mengatakannya. Kau telah mengaku bahwa dalam ilmu kepandaian, kau kalah daripada Beng Sin Thong, maka itu kau bersiap sedia untuk mengorbankan jiwamu..."

"Aku bakal membantu kau menuntut balas, memang juga paling banyak aku akan mengorbankan jiwaku,"

Kata Sie Ie.

"Apakah dengan begitu masih ada yang membuatnya kau tidak puas?"

Masih saja si nona tertawa.

"Memang aku tidak puas!"

Jawabnya terus terang.

"Jikalau kau mati, untukmu kematianmu itu tidak ada pentingnya, tidak demikian dengan aku, sebab aku tetap belum dapat membalas sakit hatiku! Pula, umpama kata kau tidak dapat mengalahkan Beng Sin Thong, biarpun kau telah mengorbankan jiwamu, terhadapku, kau tetap belum dapat memenuhkan janjimu, sebab pembalasan itu belum terwujudkan. Aku menginginkan pembalasan yang berhasil sempurna!"

"Habis, apakah dayaku?"

Tanyanya.

"Apa yang kumiliki hanyalah selembar jiwaku!"

"Aku mempunyai daya,"

Berkata si nona, cepat.

"Nanti, setelah kepandaianmu liehay, jauh berlimpah-limpah melebihkan kepandaian Beng Sin Thong, baru kau membalaskan sakit hatiku itu. Tidakkah ketika itu, pembalasan dapat dilakukan gampang seperti orang membalik telapakan tangan?"

Mendengar itu, Kim Sie Ie tertawa tanpa merasa.

"Hm, kiraku kau mempunyai daya apa!"

Katanya tawar.

"Baiklah aku omong terus terang padamu. Untukku, untuk dapat melawan Beng Sin Thong, perlu aku berlatih lagi sepuluh tahun sedikitnya. Setelah sepuluh tahun itu, kepandaianku telah maju pesat, tetapi meski demikian, boleh jadi aku baru seimbang dengan dia, tidaklah sampai aku terlukakan Siulo Imsat Kang..."

Mendengar keterangan itu, yang berupa pengakuan, si nona tertawa.

"Jadinya sekarang barulah kau mengakui liehaynya Siulo Imsat Kang?"

Katanya.

"Memang, berdasarkan kepandaian kau sekarang kau membutuhkan tempo belajar lagi sepuluh tahun untuk melawan Beng Sin Thong. Akan tetapi, pada itu ada tapinya. Tapi kalau Beng Sin Thong tetap tidak memperoleh kemajuan dengan ilmu silatnya Siulo Imsat Kang itu! Tapi kalau dia belajar terus dan dia berhasil mencapai tingkat ke sembilan itu, maka selang sepuluh tahun itu, belum tentu kau dapat menandingi dia, belum pasti kau bakal memperoleh kemenangan!"

Kim Sie Ie menjadi masgul.

"Habis, apakah dayamu itu?"

"Asal kau suka mendengar perkataanku, aku tanggung dalam tempo tiga tahun, kepandaianmu bakal bertambah hingga kau dapat melebihkan Beng Sin Thong. Lalu, di dalam sepuluh tahun, tidak akan ada lagi orang yang dapat menandingimu! Bahkan di samping itu, kau bakal menjadi ahli ilmu silat nomor satu, baik di jaman sekarang ini maupun di jaman yang telah lampau!"

Hati Sie Ie tergerak juga. Ia sangsi tetapi ia ketarik. Di dalam keragu-raguannya itu, ia menunjuki roman lesu.

"Jikalau kau benar mempunyai kepandaian semacam itu, apa perlunya kau meminta bantuanku?"

Ia tanya. Nona itu bertindak mendekati, dengan mementang kedua matanya.

"Aku bukan lagi berkelakar denganmu,"

Katanya.

"Ada sebabnya kenapa aku bicara begini rupa denganmu!"

"Apakah sebab itu?"

"Terlebih dahulu aku menghendaki kau mempercayai aku bahwa aku bukan lagi guyon. Coba kau pikirkan baik-baik. Kepandaian Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong cuma berdasar tiga

Jilid kitab pelajaran ilmu itu yang asalnya ada ilmu kepandaian keluargaku.

Baiklah kau ketahui, sejauh aku tahu, kepandaian yang terdapat dalam buku itu tercatat menurut penuturan dari seorang berilmu luar biasa.

Seluruh kepandaiannya orang tua luar biasa itu, apabila dibandingkan dengan apa yang tercatat di dalam buku keluargaku, ada seumpama perbedaannya lautan besar dengan solokan kecil.

Maka jikalau kita berhasil mendapatkan ilmu silat peninggalannya orang tua luar biasa itu, meskipun di sana ada seratus Beng Sin Thong, tidak usah kita kuatirkan lagi."

"Orang tua luar biasa itu telah menutup mata semenjak tiga ratus tahun yang lampau, mana dapat kau mencari kepandaian peninggalannya itu? Lagi pula, cara bagaimana kau ketahui dia meninggalkan warisan ilmu silatnya itu?"

Si nona heran hingga ia berjingkrak.

"Ah, kau juga ketahui tentang orang tua luar biasa itu?"

Tanyanya. Tapi ia lantas meneruskan.

"Tidak salah! Orang tua luar biasa yang aku sebutkan itu memang telah menutup mata pada tiga ratus tahun dulu, dan dialah Kiauw Pak Beng yang liehay! Tahukah kau, siapa aku ini?"

"Nah, inilah soalnya! Kita telah berkenalan selama dua hari tetapi kau masih belum memberitahukan she dan namamu!"

"Akulah Le Seng Lam!"

Menjawab si nona.

"Tapi inilah bukannya pertanyaanku. Tahukah kau, aku orang macam apa?"

"Aku melainkan ketahui kaulah orang yang mencari Beng Sin Thong untuk melakukan pembalasan sakit hati."

"Itulah hal yang aku telah beritahukan kau."

"Ya. Kau tidak menjelaskan, habis, mana aku ketahui?"

"Ah, kau juga bicara mutar. Teranglah, sebelum kau menemui aku, kau sama sekali tidak tahu di dalam dunia ini ada orang semacam aku."

"Jangan heran. Aku terlebih tua beberapa tahun daripadamu, aku telah merantau dan mengacau ke segala penjuru, dengan begitu namaku yang buruk telah tersiar luas sekali, jadi tidaklah aneh yang kau telah mengetahui tentang diriku."

"Bicara sebaliknya, jika kau ketahui namaku, itu barulah aneh, bukan? Hanya aku pun merasa sedikit heran. Kau ketahui pada tiga ratus tahun dulu ada Kiauw Pak Beng tetapi kau tidak ketahui aku ini siapa..."

Dengan kedua matanya yang bersinar tajam, si nona menatap sahabatnya itu. Selang sekian lama, ia menghela napas. Ia telah mendapat kepastian Kim Sie Ie bukan tengah mendusta.

"Tentang diriku belum pernah aku memberitahukan kepada siapa juga,"

Katanya selang sesaat, suaranya perlahan.

"Karena kau mengetahui perihal Kiauw Pak Beng, baiklah aku omong terus terang padamu."

"Aku cuma menduga dirimu ada hubungannya dengan rahasianya kaum Rimba Persilatan. Jikalau benar dugaanku ini, tidak apa, kau tidak menceritakannya juga tidak ada halangannya."

"Akan tetapi kita di belakang hari bakal saling mengandal, aku menerangkannya padamu pun tidak ada bahayanya,"

Berkata si nona pula. Diam-diam Kim Sie Ie bergidik mendengar si nona menyebut-nyebut soal "bakal saling mengandal"

Itu. Di dalam hatinya, ia kata.

"Ah, benar-benar aku telah membubuhkan tanda tanganku pada surat penjualan diriku..."

Si nona tidak mengambil mumat apa yang orang lagi pikirkan, ia berkata pula.

"Di jamannya itu, Kiauw Pak Beng mempunyai seorang murid bernama Le Kong Thian. Seumurnya, murid itu bersetia kepadanya. Kecuali menjadi murid, dia pun berbareng menjadi koankee, yaitu kuasa rumah, maka juga dia pernah mendapat lihat semua kitab ilmu silat keluarga Kiauw itu. Demikian pula ilmu kepandaian Pak Beng, yang Kiauw Pak Beng memperolehnya, itu pun dia yang mencatatnya. Namanya Kiauw Pak Beng demikian terkenal maka juga berselang tiga ratus tahun kemudian masih ada orang yang mengetahui tentang hal ikhwalnya. Hanya tentang kuasanya itu, nama si kuasa telah terhilang lenyap.

"Ah, kiranya Le Kong Thian itu ialah leluhurmu!"

Seru Kim Sie Ie.

"Benar! Dialah leluhurku yang ke tujuh tingkat atas. Di jamannya itu, Kiauw Pak Beng adalah raja iblis nomor satu, dia telah berbuat salah terhadap banyak orang gagah, lalu kemudian dia terluka di tangannya Tayhiap Thio Tan Hong, setelah berpura-pura mati, dia kabur keluar negeri. Leluhurku itu tidak turut gurunya menyingkir, tetapi dia pun berkuatir orang nanti memusuhkan padanya, terutama dia takut kitab rahasianya dirampas orang, maka dia hidup menyendiri di tempat yang sunyi, lalu turun temurun, anak cucunya tidak muncul pula di dalam dunia kangouw."

"Leluhurmu itu pandai merawat dirinya,"

Berkata Kim Sie Ie.

"Kalau aku, tidak sanggup aku mengeram diri secara begitu."

Si nona tidak menyahut, ia hanya melanjuti penuturannya.

"Kiauw Pak Beng lari ke sebuah pulau di Tanghay, Laut Timur. Tentang tempat tinggalnya ini melainkan keluargaku yang mengetahuinya. Di pulau itu dia mewariskan seluruh kepandaiannya. Juga tentang ilmu kepandaiannya itu, melainkan keluargaku yang mendapat tahu."

"Tapi aku ketahui itu!..."

Kata Kim Sie Ie, di dalam hatinya ia tertawa.

Ia lantas ingat gambar yang luar biasa itu.

Makanya ia hendak menanyakan si nona, atau akhirnya ia dapat mengendalikan diri, untuk menutup mulut.

Si nona melirik, ia berkata pula.

"Hal yang sebenarnya umpama kata ada lain orang yang mengetahui itu, itulah tidak ada faedahnya. Seandainya ada orang yang dapat pergi ke pulau di laut Timur itu, dia pasti tak berdaya mendapatkan warisan kepandaian itu, ialah kitab-kitab ilmu silat peninggalannya Kiauw Pak Beng. Sebab pada itu ada rahasianya, rahasia yang kembali cuma diketahui oleh keluargaku. Atau kalau kita bicara sekarang, melainkan aku seorang yang mengetahui itu."

"Jadinya kau menghendaki bersama aku pergi ke pulau itu untuk mendapatkan warisannya Kiauw Pak Beng?"

Kim Sie Ie tanya.

"Benar!"

"Kau dapat melakukan itu, mengapa kau tidak mau pergi sendiri?"

Sie Ie tanya.

"Sebabnya ialah pertama aku tidak mengerti tentang pelayaran,"

Menyahut si nona.

"dan kedua, lantaran pulau itu kesohor sebagai pulau hantu, baiklah kalau aku mendapatkan kawan seperjalanan, jauh terlebih baik daripada apabila aku pergi seorang diri."

Kim Sie Ie lantas ingat pesan gurunya untuk jangan pergi ke pulau itu. Pikirnya.

"Mustahilkah kecuali gunung berapinya, gunung itu mempunyai lainnya yang aneh dan dahsyat?"

"Masih ada sebab yang ketiga,"

Si nona melanjutkan.

"Ilmu silatku masih rendah dasarnya, umpama kata aku pergi kesana dan aku berhasil memperoleh kitab warisan Kiauw Pak Beng itu, aku kuatir aku tidak dapat menangkap arti atau sarinya. Dengan begitu bisa sia-sia belaka aku membuangbuang tempo serta tenaga otakku, hingga bisa terjadi, sampai aku ubanan, aku masih belum mengerti. Apabila benar terjadi demikian, mana bisa aku mencari balas kepada musuhku? Tidaklah demikian dengan kau. Gurumu adalah Tokliong Cuncia yang diakui selama seratus tahun ini sebagai seorang ahli silat yang luar biasa, sebagai jago Rimba Persilatan yang nomor satu, sedang kepandaian silatmu beda dari kepandaian pelbagai partai persilatan lainnya. Bicara terus terang, pelataranmu ada dari golongan sesat, nadi pelajaranmu itu sama dengan pelajarannya Kiauw Pak Beng, maka jikalau kau mendapatkan kepandaian Pak Beng itu, kau bakal jadi gagah berlipat ganda, di dalam tempo yang pendek, kau akan jadi seorang guru silat kenamaan yang Istimewa."

"Bukankah kau telah membilang bahwa di rumahmu masih ada |sisa kitab-kitab silat?"

Tanya Sie Ie.

'Setelah berhasil meyakinkan semua itu, tidakkah itu cukup untuk dipakai melawan Beng Sin Thong?

Buat bicara terus terang, setelah pnendengar perihal Kiauw Pak Beng itu, aku tidak berkesan baik terhadapnya.

Singkatnya, aku tidak sudi menjadi muridnya, murid dari lain jaman!"

Itu artinya, Sie Ie tidak suka berguru pada guru yang sudah mati ratusan tahun. Si nona-Nona Le tertawa lebar.

"Orang semua membilang sepak terjangmu aneh sekali, karenanya kau disebut sebagai si kepala iblis terbesar di jaman ini,"

Katanya.

"maka itu aku tidak menyangka sekarang aku mendapat kenyataan Baru tidak ubahnya dengan orangorang gagah dari kalangan sejati. Baiklah kau mengerti satu hal. Ilmu silat itu turun temurun, sulit untuk menjaga atau mendapatkan keutuhannya. Mengenai kelakuan buruk dari Kiauw Pak Beng, apakah hubungan atau sangkutannya itu dengan kau? Apapula dia sudah mati tiga ratus tahun yang lampau? Apakah ruginya jikalau kita mengambil warisan ilmu silatnya itu? Kau bilang kau tidak suka menjadi muridnya, apakah mungkin arwahnya nanti melekat di tubuhmu dan dia memaksa kau mesti mengangkat dia menjadi gurumu?"

Kim Sie Ie berdiam tetapi hatinya berpikir.

"Di saat kematiannya itu, Kiauw Pak Beng telah memesan si orang pelayaran bahwa siapa dapat membawa jenazahnya pulang ke daratan Tionggoan, dialah muridnya, dan aku, seumurku tidak sudi aku gampang-gampang menerima budi orang, jikalau aku telah mempelajari kepandaian silatnya itu, dapatkah aku melupakan budinya? Bolehkah aku tidak menerima dia menjadi guruku? Lebih baik menghina orang hidup tetapi jangan orang yang telah mati, kata pepatah. Maka itu terhadap seorang tertua yang telah menutup mata itu, tidak perduli dia orang macam apa, tidaklah seharusnya aku menghilangkan kepercayaan dan mensia-siakan kebaikannya..."

Selagi ia bersangsi, ia mendengar si nona berkata pula.

"Kitab silat yang berada di rumahku itu cuma berarti separuh saja dari kepandaiannya Kiauw Pak Beng. Umpamanya itu dapat dipelajarkan semua, kita masih belum dapat dibandingkan dengan guru-guru silat besar jaman ini, sedang juga tiga bocah kitab di antaranya, ialah bagian Siulo Imsat Kang, telah dirampas Beng Sin Thong."

"Bagaimana caranya Beng Sin Thong merampas itu?"

"Itulah peristiwa pada dua puluh tahun yang lalu. Entah bagaimana duduknya, Beng Sin Thong mendapat tahu kita mempunyai kitab itu. Dia lantas datang untuk mencari garagara. Ketika itu ayahku belum berumur tiga puluh tahun, perya-kinannya Siulo Imsat Kang baru sampai di tingkat ketiga. Ayah berhasil merobohkan Sin Thong, yang telah terluka parah, tetapi ayah pun terkena senjata rahasianya karena mana ayah menemui ajalnya sebab lukanya itu tidak dapat diobati. Waktu itu aku masih belum terlahir, aku berada di dalam kandungan ibuku. Ibu mengharap mendapatkan anak lelaki, siapa tahu kenyataannya dia menjadi kecewa, dari itu, dia memberikan namaku, Seng Lam, yang berarti lebih menang daripada laki-laki. Nah, telah aku menjelaskan segala apa, sekarang aku mau tanya kau, kau telah memberikan kata-katamu padaku, kata-kata itu hendak dipegang atau tidak? Jikalau kau hendak membantu aku membalaskan sakit hatiku, mesti kau pergi mencari kitab silat warisannya Kiauw Pak Beng yang ditinggal di pulau tak dikenal itu!"

Kim Sie le berpikir keras. Di samping tak kesudiannya menjadi murid Kiauw Pak Beng itu, kenyataannya ia tidak mempunyai daya lain untuk bisa menepati janji membantu si nona.

"Baiklah, aku turut padamu!"

Katanya akhirnya, terpaksa.

"Sesudah tiga bulan, setelah rembulan bundar, kau tunggulah aku di depan kuil Siangceng Kiong di gunung Lauwsan di tepi laut Tanghay!"

Si nona tidak mengerti.

"Kenapa mesti menanti sampai sesudah tiga bulan kemudian?"

Ia bertanya. Kim Sie Ie tertawa.

"Aku melainkan berjanji akan membantu kau mencari balas kepada musuhmu, aku tidak berjanji untuk setiap hari mengikuti kau!"

Sahutnya.

"Sudah, jangan kau rewel, nanti setelah tiga bulan, bersama-sama kita pergi berlayar!"

Dia lantas memutar tubuhnya dan bertindak pergi. Mendengar itu, si nona mendadak mengasih dengar suaranya yang luar biasa, lalu tubuhnya bergerak untuk menyusul. Sie le menjadi gusar sekali.

"Aku sudah memberikan janjiku, mengapa kau masih menggerembengi aku?"

Tegurnya.

"Selewatnya tiga bulan nanti kita pergi berlayar akan mencari kitab warisannya Kiauw Pak Beng!..."

Belum berhenti teguran itu atau si nona sudah berada di belakang orang seraya jari tangannya yang kuat menotok ke jalan darah cie-tong hiat di punggung.

Itulah jalan darah yang penting sekali.

Sie Ie kaget bukan kepalang.

Ia tidak menyangka si nona dapat menurunkan tangan jahat atas dirinya, la memang dalam keadaan seperti baru sembuh dari sakitnya, kesegarannya belum pulih.

Lagi-nya, biarpun ia bersiap sedia, di saat itu ia bukannya tandingan si nona.

Maka juga, seketika juga ia roboh terbanting dalam keadaan tak sadar akan dirinya, cuma kupingnya samar-samar mendengar nona itu menghela napas dan mengatakan beberapa kata-kata yang tidak jelas.

Berapa lama ia pingsan, Kim Sie Ie tidak tahu, hanya ketika ia mendusin, ia mendapatkan embun masih belum kering, atau matahari baru saja muncul.

Jadi itulah pagi di hari esoknya.

Ia menjadi heran sekali.

"Mengapa aku belum mati?' katanya seorang diri.

"Apa mungkin aku tengah bermimpi?"

Lantas ia melihat ke sekitarnya. Si nona tak tampak. Cuma di tanah ia membaca pesan yang dituliskan dengan ujung pedang, bunyinya.

"Aku minta kau mengingat baik-baik janjimu, sesudah tiga bulan kemudian, di malaman rembulan bundar, aku akan menantikanmu di depan kuil Siangceng Kiong di gunung Lauwsan."

Kim Sie Ie mencoba mengerahkan tenaganya, ia merasakan jalan napasnya, juga jalan darahnya, lurus semuanya.

Dengan tiba-tiba ia menyambar sepotong batu besar di hadapannya.

Batu itu terbelah dua!

la menjadi kaget berbareng heran.

Itu berarti kesehatannya telah pulih seanteronya.

Ia mengawasi ke tanah, disitu ia mendapatkan sedikit darah mati, sedang di kedua kakinya terlekatkan kouwyoh, ialah obat tempel!

Tiba-tiba ia sadar dan insyaf.

"Sekarang mengertilah aku,"

Ia kata di dalam hatinya.

"Aku memaksa mau pergi selagi sisa racun di dalam tubuhku belum dikeluarkan semua, maka itu dia menyerang aku, untuk mengobati. Ah, sungguh hebat Siulo Imsat Kang! Mulanya dia menusuk aku dengan jarum, lalu ia menotoknya, rupanya tusukan jarum dan totokan itu ada hubungannya, satu sama lain, hubungan untuk menyembuhkan lukaku. Hanyalah dia turun tangan secara diam-diam dan dengan caranya yang hebat itu. Siapa tidak menjadi kaget karenanya?"

Ia masih berpikir, la lantas ingat akan kebalikannya.

Kalau si nona omong terus terang sedang ia berkukuh hendak mengangkat kaki, mana ia suka percaya omongannya nona itu?

Mengingat ini, datanglah kesan baik dari Kim Sie Ie mengenai si nona, yang tabiatnya tak kurang anehnya daripada tabiatnya sendiri.

Kalau tadi malam ia sebal terhadap nona itu, sekarang ia masgul tidak dapat melihat padanya...

Tidak lama, Kim Sie Ie lantas pergi meninggalkan gunung Thayheng San itu.

Ia mau mencari Lie Kim Bwee.

Di Sin-an-tin ia mencari keterangan perihal Ciong Tian beramai.

Nyata mereka itu sudah berangkat, entah kemana arah tujuannya.

Ia mau menduga tentulah Kim Bwee mengikuti Ciong Tian semua.

Kapan ia ingat keinginan keras dari Lie Kim Bwee, untuk menemui padanya, tetapi pertemuan itu gagal disebabkan Nona Le datang sama tengah, seperti mengacau, ia menjadi sebal pula terhadap nona itu...

Jarak di antara Thayheng San dan Binsan cuma meminta tempo perjalanan dua tiga hari, maka itu setelah tidak berhasil mencari Lie Kim Bwee, Kim Sie Ie dengan sendirinya teringat akan Kok Cie Hoa.

Karena ia ingin menjenguk kuburan Lu Su Nio, Sie Ie lantas menyeberangi sungai Honghoo akan menuju ke gunung yang belakangan itu.

Lagi kira tujuh puluh lie akan tiba di Binsan, tiba-tiba Sie Ie seperti melamun.

Ia mengingat dan membayangi segala pengalamannya.

Ia jadi menanya-nanya, di dalam dunia ini, sebenarnya siapa orangnya yang mengenal baik-baik akan dirinya.

Karena ini tanpa merasa ia bernyanyi dengan nada tinggi.

Tengah Tokciu Hongkay mengumbar rasa hatinya itu, disitu lewat dua penunggang kuda yang melarikan binatang tunggangannya dengan keras.

Mereka mendengar nyanyian itu, agaknya mereka heran, dari tidak memperhatikan orang, mereka lantas menoleh ke belakang, untuk memandang orang yang bernyanyi itu.

Setelah melihat roman orang, mereka itu tampak kaget, terus mereka mengaburkan pula kuda mereka.

Kim Sie Ie yang bermata tajam segera mengenali kedua orang itu, ialah Lou Eng Ho puteranya Louw Bin Ciam, serta Pek Eng Kiat puteranya Pek Tay Koan.

Louw Bin Ciam dan Pek Tay Koan itu ialah suheng, atau kakak seperguruan, dari Lu Su Nio.

Mereka berdua telah meninggal dunia dengan kepandaiannya diwariskan kepada masing-masing anaknya laki-laki itu, dan anakanak ini, yang telah mulai masuk dalam dunia kangouw, mulai mengangkat nama juga.

Ketika Kim Sie Ie mulai muncul dengan tujuannya menyateroni orang-orang kangouw kenamaan, di Kanglam dan Kangpak pun ia pernah merobohkan beberapa orang, di antaranya Eng Houw dan Eng Kiat ini, maka itu, kapan mereka mengenali siapa orang yang bernyanyi-nyanyi itu, dengan lantas mereka menyingkirkan diri.

Menyaksikan sikapnya kedua anak muda itu, Kim Sie Ie tertawa, tapi segera juga ia masgul sendirinya.

Katanya dalam hati.

"Nyatalah murid-murid golongan sejati telah memandangku bagaikan siluman atau hantu! Sebenarnya, keburukan apakah aku telah lakukan? Paling banyak aku hanya merobohkan nama kosong mereka itu! Alasan apa mereka mempunyai untuk membenci aku?"

Ia memikir demikian tanpa menginsyafi bahwa seorang kenamaan justeru paling tidak menginginkan nama baiknya tercemar atau dieemarkan.

Begitu lekas ia berpikir pula pulang pergi, dengan tiba-tiba Kim Sie Ie merobek-robek pakaiannya sendiri, ia membuka rambutnya untuk dibikin menjadi riap-riapan, sedang mukanya ia labur dengan tanah, hingga ia lantas mirip dengan seorang pengemis.

Setelah itu ia melengak dan tertawa berkakak.

"Baiklah!"

Katanya.

"Kamu memandang aku sebagai Tokciu Hongkay, Si Pengemis Edan Tangan Beracun, maka sekarang aku kembali kepada asalku dulu hari itu!"

La mencari air, untuk mengacai dirinya, lantas ia menjadi puas sekali.

Hanya sejenak, kembali ia menjadi masgul.

Dengan lantas ia teringat kepada Pengcoan Thianlie, ketika pada lima atau enam tahun dulu ia bertemu si Bidadari Sungai Es itu yang mengasihani ia, walaupun ia tengah merupakan diri si pengemis kusta.

Justeru Pengcoan Thianlie, yang tidak menyukai cara hidupnya itu, telah membuatnya menukar pakaian, hingga ia tampak sebagai seorang muda yang tampan.

Sekarang ia ingat si bidadari, kemasgulannya muncul.

"Kecuali aku bertemu pula orang yang mengenal diriku baik sekali, aku akan hidup terus sebagai si pengemis edan,"

Katanya dalam hatinya.

Di saal berduka dan melamun itu, ia ingat Kok Cie Hoa dan bayangannya si nona Kok berpeta di depan selaput matanya.

Baru satu kali ia berkenalan sama nona itu atau ia lantas mendapat perasaan si nona lebih mengenal ia daripada Lie Kim Bwee.

Jalan pula tidak lama, Sie Ie kembali bertemu dua orang yang dikenalnya.

Yang satu ialah Thia Ho muridnya Ciu Sim, dan yang lainnya Lie Eng puteranya Lie Goan.

Mereka ini juga pernah menderita di tangan si pengemis edan, dari jauh-jauh mereka telah menyimpang jalan untuk kedua pihak tidak saling bersomplokan.

Melihat anak-anak muda itu, Kim Sie Ie menjadi ingat bahwa Louw Bin Ciam, Pek Tay Koan, Ciu Sim dan Lie Goan itu, semuanya saudara-saudara seperguruan dari Lu Su Nio, yang termasuk dalam rombongan Kanglam Cithiap, Tujuh Jago dari Kanglam.

Ia menjadi heran dan lalu berpikir.

"Kenapa hari ini aku bertemu dengan anak-anaknya Kanglam Cithiap atau muridnya mereka itu? Mungkinkah mereka itu juga telah berkumpul di Binsan?"

Tidak lama, sampailah Sie Ie di tempat sejarak tiga puluh lie dari gunung itu atau kupingnya lantas mendengar suara kelencngan kuda.

"Entah mereka Kanglam Cithiap yang ke seberapa..."

Pikirnya.

"Baiklah aku lihat mereka."

Maka ia bertindak ke pinggir jalan, untuk duduk disitu.

Lantas ia melihat tiga penunggang kuda, yang tak satu pun yang ia kenal.

Penunggang yang satu ada seorang wanita tua umur mendekati enam puluh tahun, dilihat dari sikap dan dandanannya, ia mestinya dari keluarga hartawan.

Yang dua lagi, yang mengikuti si nyonya, ialah dua orang bocah tanggung umur lima atau enam belas tahun, yang romannya masih kekanak-kanakan tetapi kedua-duanya tampan.

Biarpun ia seorang berpengalaman, Sie Ie toh tidak dapat mem-bade nyonya itu asal golongan atau kalangan apa.

Maka berpikirlah ia.

"Nyonya ini tidak miripnya orang kangouw tetapi gerak-geriknya menandakan ia mengerti silat. Kedua bocah itu terang mengerti silat juga. Adakah mereka cucunya nyonya ini?"

Karena kesangsiannya itu, pengemis tetiron ini jadi mengawasi sekian lama.

Kedua anak tanggung itu melihat roman luar biasa dari Kim Sie Ie, mereka agaknya jeri, akan tetapi karena orang mengawasi mereka, mendadak mereka membentak.

"Hai, pengemis jahat, kenapa kau berani mengawasi kami dengan mata mendelik?"

Sembari membentak mereka menggeraki tubuh untuk membungkuk, selagi kuda mereka jalan terus, tangan mereka telah menyambar sepotong tanah kering.

Gerakan mereka lincah dan sebat sekali.

Si nyonya tua menoleh, ia melihat kelakuan kedua bocah itu, lantas dia menegur.

"Anak-anak tidak boleh usilan!"

Tetapi tegurannya itu sudah kasep, kedua bocah itu telah menimpuk kepada Kim Sie Ie.

"Apakah kamu putera-putera raja?"

Berkata Kim Sie Ie tertawa melihat aksinya kedua bocah itu.

"Kenapa kamu takut dilihat orang! Kalau begitu baiklah kamu tinggal bersembunyi saja di dalam rumah!"

Justeru ia berkata begitu, serangan telah datang.

Maka untuk mengelakkan diri, ia menyentil, membuat dua potong tanah kering itu mental balik!

Si nyonya tua melihat itu, dia terperanjat.

Dua potong tanah kering itu bersifat lembek, meskipun dipegangnya keras, kalau disentil keras, mestinya pecah hancur, atau kalau disentilnya kurang keras, tidak dapat dibikin terpental, tetapi sekarang, ia menyaksikan keanehan itu.

Maka biarpun ia sendiri seorang ahli, ia toh kagum dan heran.

Kedua anak tanggung itu melihat tanahnya mental balik, mereka mau menyanggapi, tetapi lantas mereka kena dibikin bingung.

Tiba di depannya, kedua potong tanah itu mengubah tujuan nyamping sedikit, hingga mereka menjadi kaget.

Mungkin mereka bakal terhajar jalan darahnya!

Di saat itu, si nyonya telah menahan kudanya dan kedua anak tanggung itu kabur melewatinya, maka dengan satu sampokan tangan baju.

ia membuat kedua potong tanah itu tersampok pecah dan jatuh berhamburan bagaikan debu.

"Tuan, kepandaianmu begini hebat, mengapa kau melayani segala anak kecil?"

Dia menegur. Kim Sie Ie tidak menjawab, hanya bagaikan baru mendusin, dia tanya.

"Kau toh Tio Loothaythay? Hm! Di antara turunan Kanglam Cithiap, kaulah yang paling pandai, maka aku si pengemis ingin memohon pengajaran daripada kau!"

Nyonya itu agaknya heran, hingga ia menatap. Ia pun lantas menduga kepada orang yang kaum kangouw menyebutnya Tokciu Hongkay, si pengemis edan yang tangannya beracun.

"Sekarang ini aku tidak mempunyai tempo untuk melayani kau!"

Katanya dingin.

"Jikalau kau ingin mencari aku, datanglah nanti ke kampung Tio keechung di Tok-koan, di sana aku akan menyediakan tempo untuk menantikanmu!"

Dan ia mencambuk kudanya dua kali, membuat binatang tunggangan itu berlompat kabur. Di antara derapnya kuda, Kim Sie le masih mendengar anak-anak tanggung itu berkata.

"Popo, adakah dia Tokciu Hongkay? Kenapa kau tidak hendak memberi rasa kepadanya supaya dia tahu diri?"

Nyonya tua itu anak perempuan dari Co Jin Hu, salah satu anggauta dari Kanglam Cithiap, Tujuh Jago dari Kanglam.

Co Jin Hu adalah yang tertua, maka nyonya ini, Kim Jie namanya, pun menjadi yang tertua di antara anak-anak saudara-saudara angkatnya.

Sekarang, nyonya itu sudah berusia lima puluh delapan tahun.

Karena dia menikah sama seorang she Tio di Tokkoan, dia jadi dipanggil Tio Thaythay, atau Nyonya Tio, dan karena dia telah berusia lanjut, pada panggilannya ditambahkan huruf "loo", yang berarti tua.

Suaminya itu bukan orang Rimba Persilatan, karenanya, dengan sendirinya, si nyonya tidak lagi gemar bersilat seperti masa mudanya, hanya meski demikian, semangatnya tidaklah berkurang, cuma karena telah menjadi terlebih sabar, tidak sudi dia melayani Kim Sie Ie di tengah jalan itu.

"Bagus benar kau membawa tingkahmu yang tinggi!"

Pikir Sie Ie.

"Jikalau aku tidak memandang Lu Su Nio bersahabat dengan guruku dan kau pun telah berusia lanjut, pasti aku akan menyeret kau turun dari kudamu!"

Sementara itu, keheranan pengemis edan ini menjadi bertambah-tambah.

Beruntun-runtun ia bertemu sama turunan Kanglam Cithiap.

Maka maulah ia menerka, mesti ada sesuatu keperluan atau urusan di antara mereka itu.

Karena ini ia lantas mempercepat tindakannya, hingga di waktu tengah hari tibalah ia di kaki gunung Binsan.

Tatkala itu ada di antara akhir musim semi atau di permulaan musim panas, di atas gunung itu tampak bungabunga melulu, sedang dari atas puncak terlihat turunnya air tumpah dan munceratnya air itu tampak indah.

Dengan sendirinya terbangunlah kegembiraannya.

Ia lantas menghampirkan air tumpah itu, untuk membersihkan mukanya, sebab untuk mengunjuk hormat kepada arwah Lu Su Nio, ia tidak harus bertubuh dekil.

Setelah itu, ia berjalan ke arah kuburan jago wanita itu.

Segera juga ia berada di jalanan ke kuburan yang kiri kanannya banyak pepohonannya, baru matanya dapat melihat kuburannya wanita yang ia hormati itu atau lantas kupingnya mendengar satu suara nyaring.

"Tokciu Hongkay datang!"

Ia lantas mengangkat kepalanya, dongak melihat ke atas, dari mana suara itu datang.

Di atas bukit terlihat sekumpulan orang yang tubuhnya tinggi dan kate tak rata, di antaranya ada pangcu atau ketua dari Kaypang atau Partai Pengemis, yaitu Ek Tiong Bouw, serta iparnya yang telah menjadi janda, Cia ln Cin.

"Kiranya turunan Kanglam Cithiap lagi berapat disini,"

Pikir Sie Ie.

Ia terus mengawasi mereka itu, untuk melihat kalaukalau Kok Cie Hoa ada di antaranya.

Ketika itu tampak beberapa anak muda mendatangi dengan cepat, sikap mereka garang.

Di antaranya terdapat Lou Eng Ho dan Pek Eng Kiat.

Sebenarnya hari itu ada hari ulang tahun dari Tokpie Sinnie, Bhikshuni Tangan Satu, nenek guru mereka, yang telah menutup mata pada lima puluh tahun yang lampau, dan mereka hendak memperingatinya.

Maka di gunung Binsan ini berkumpullah turunan Kanglam Cithiap berikut sejumlah sahabat kaum Rimba Persilatan.

Justeru karena berkumpulnya banyak orang itu, Eng Ho dan Eng Kiat menjadi berbesar nyali, mereka mendahului maju guna menghalangi si pengemis edan.

"Eh, Kim Sie Ie, apakah kau menyangka ini ada tempat di mana kau dapat berlagak-lagak?"

Demikian Eng Ho menegur. Kim Sie le tertawa dingin.

"Apakah gunung Binsan ini milikmu?"

Dia balik bertanya.

"Kenapa aku tak dapat datang ke mari?"

Dan dia maju terus, sama sekali dia tidak menggubris anak muda itu.

Eng Ho gusar, juga Eng Kiat, dengan serta merta mereka maju menyerang dengan pedang mereka.

Nampaknya mereka dapat menggunai pedang mereka secara bersatu padu, maka liehay serangan mereka itu.

yang satu menikam jalan darah kiebun di iga kiri, yang lain menusuk jalan darah cengciok di iga kanan.

Kim Sie Ie tertawa.

"Kamu tidak mau menggunai aturan sopan santun, maka akulah leluhurmu yang paling gemar tidak memakai aturan sopan santun itu!"

Hanya dengan satu kelitan "Naga melingkar menggeser kaki", Tokciu Hongkay dapat membebaskan dirinya, sedang di lain pihak, dengan satu sentilan, ie membuatnya kedua pedang lawan dengan bersuara nyaring terbang melesat.

Eng Ho dan Eng Kiat terkejut.

Mereka pun merasakan sakit pada telapakan tangan mereka.

Di luar sangkaan mereka, Kim Sie Ie menyentil pedang mereka dengan Tiatcie Sinkang, Sentilan Jeriji Besi.

Syukur untuk mereka, si pengemis edan berlaku murah hati, jikalau tidak, tangan mereka itu bisa patah karenanya.

Sejenak itu lantas terdengar bentakan dan cacian untuk Sie Ie, yang terus diserang oleh dua orang lainnya, yang dengan satu tangkisan kiri dan kanan telah kena dibikin terpelanting roboh.

Menyaksikan kejadian itu, Co Loothaypo menjadi gusar.

"Kim Sie Ie!"

Bentaknya.

"apakah kau sengaja menyeterukan aku?"

Belum lagi Sie Ie menyahut, atau dua cucunya nyonya itu telah menteriaki neneknya dengan kata-katanya tak usahlah si nenek yang turun tangan, menyusul mana belasan senjata rahasia lantas menyambar si pengemis edan.

Sie le pun menjadi gusar.

Ia mainkan tongkat besinya menghalau setiap senjata rahasia itu, hingga terdengarlah suara "trang tring"

Yang berisik. Pelbagai senjata rahasia itu tidak cuma tertangkis tetapi juga terhajar pecah atau hancur! Sambil tertawa dingin Kim Sie Ie berkata nyaring.

"Kamu mempunyai senjata rahasia, aku juga! Jikalau kamu tidak hendak menghentikan penyeranganmu, jangan menyesalkan aku, nanti aku berlaku tak sungkan-sungkan lagi!"

Tokliong ciam, atau jarum Naga Beracun dari Kim Sie Ie, terkenal sekali, maka itu tidak heran apabila ancamannya ini memberi hasil.

Rombongan pengepung itu bukannya takut tetapi mereka jeri.

Mereka insyaf, meskipun belum tentu kalah, kalau lawan menggunai jarum beracunnya, mesti roboh terlalu banyak korban di pihaknya.

Maka berhentilah penyerangan senjata rahasia itu.

Nyonya Co juga batal maju untuk menyerang, ia lantas memikir untuk menyuruh beberapa orang, yang kepandaiannya cukup, mengepung si pengemis edan, atau ia lantas mendengar suaranya Ek Tiong Bouw.

"Co Toacie, baiklah kau menanyakan dulu maksud kedatangannya."

Perlahan suaranya orang she Ek ini, tetapi Sie Ie telah mendengarnya, dia lantas tertawa dan mendahulukan berkata.

"Kamu murid-murid Kanglam Cithiap biasa menempatkan diri sebagai orang-orang gagah yang mulia, siapa tahu kiranya perbuatan kamu begini kasar dan tidak tahu aturan'"

Co Kim Jie adalah tertua dari saudara-saudara seperguruannya, dia lantas maju ke muka dan berkata.

"Kau yang main gila disini, mengapa kau justeru mengatakan kami tidak tahu aturan?"

Kim Sie Ie tertawa dingin.

"Salah siapa?"

Katanya.

"Begitu aku tiba lantas kamu merumung, apakah itu bukan namanya kasar dan tidak tahu aturan? Apakah kamu masih mau membilang akulah yang kurang ajar?"

Co Kim Jie menggetruk dengan tongkatnya.

"Kami seluruh saudara seperguruan berkumpul disini, kami menjenguk kuburan nenek guru kami,"

Dia berkata, dingin.

"maka apa perlunya kau orang luar lancang datang ke mari?"

Kim Sie Ie menunjuk pada banyak orang lain di atas gunung.

"Apakah mereka itu bukan juga orang luar?"

Ia tanya.

"Mereka itulah sahabat-sahabat kami!"

Menjawab si nyonya.

"Mereka bersahabat sama paman guru kami Kam Tayhiap dan Lu Liehiap. Mereka datang untuk mengunjuk hormat mereka! Perlu apa kau mencampuri urusan kami?"

Kim Sie Ie tertawa.

"Aku juga datang untuk mengunjuk hormatku!"

Katanya.

"Kau hendak mengunjuk hormat kepada siapa?"

"Kepada cianpwce liehiap Lu Su Nio!"

"Akan tetapi kami semua tidak kenal orang semacam kau..."

"Benarkah itu?"

Kim Sie Ie tertawa. Dia lantas menunjuk Ek Tiong Bouw dengan tongkat besinya seraya berkata pula.

"Ek Pangcu, kau masih mengenali aku atau tidak?' Ek Tiong Bouw bertindak maju.

"Co Toacie,"

Berkata ia.

"inilah saudara Kim dan baru-baru ini ia telah membantu banyak kepada kita."

Co Kim Jie menjadi sangat tidak senang, akan tetapi Ek Tiong Bouw menjadi murid tunggal dari Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie dan juga sebagai pangcu dari Kaypang di Kanglam, di antara sesama seperguruan, dialah yang paling tinggi kedudukannya, tidak dapat ia tidak memberi muka, maka ia lantas menanyakan bagaimana duduknya bantuan itu, setelah mana ia kata pada Kim Sie Ie.

"Kalau demikian adanya, dengan memandang kepada Ek Sutee kami, kami tidak hendak mempersulit padamu. Nah, pergilah kau turun gunung!"

"Apa?"

Tanya Sie Ie, romannya heran.

"Kau menyuruh aku menggelinding bagaikan telur?"

"Bukan. Aku hanya dengan sungkan meminta Tuan turun dari gunung ini!"

Kim Sie Ie tertawa pula.

"Nyonya tua, kau masih belum mengenal tabiatku! Aku ini, biarnya kau undang, tidak nanti aku datang, tetapi, setelah aku datang, biarpun kau minta, tidak nanti aku pergi!"

"Hari ini hari peringatan ulang-tahun almarhum nenek guru kami, Tokpie Sinnie,"

Berkata Co Kim Jie.

"tetapi kau berani lancang datang kemari, sudah bagus yang aku tidak menghukum kau untuk kesalahanmu ini, aku telah memberi muka, maka itu jikalau kau tidak tahu gelagat maju atau mundur, apakah kau menyangka benar-benar tidak ada orang yang dapat menguasai dirimu?"

"Di kolong langit di mana ada aturan semacam ini?"

Berkata Kim Sie Ie dingin.

"Aku datang kemari untuk mengunjuk hormat kepada orang yang menjadi tertua kamu, adakah itu suatu kedosaan? Baiklah, jikalau kau hendak menempur, selewatnya hari ini, akan aku melayanimu! Hari ini aku memandang kepada Liehiap Lu Su Nio yang menjadi tertua kamu, tidak suka aku menggeraki tanganku di depan kuburannya!"

Habis berkata, ia mengangkat kakinya untuk bertindak naik. Tapi Co Kim Jie menjadi sangat panas hatinya, la mengangkat tongkatnya untuk menghalangi.

"Kim Sie le, kemana kau hendak pergi?"

Serunya Kim Sie Ie pun menjadi gusar hingga ia tertawa terbahak.

"Apakah benar-benar kau melarang aku mengunjuk hormatku?"

Ia menegaskan. Ek Tiong Bouw lantas maju menghampirkan.

"Saudara Kim,"

Katanya tertawa.

"hari ini ada harian muridmurid kami dan sahabat-sahabat mengunjuk hormatnya, maka itu, sukakah kau datang lain hari saja?"

"Tidak!"

Berseru Kim Jie.

"Lain hari juga tidak boleh! Lu Kouwkouw ialah wanita gagah dari satu jaman, yang datang mengunjuk hormat kepadanya mesti orang-orang gagah dari golongan sejati, aku tidak dapat membiarkan seorang rudin merendahkan kepadanya!"

Lie Goan, anaknya Lie Eng pun menghampirkan.

"Kau bukan sanak bukan kadang, tidak apa kau tidak mengunjuk hormatmu!"

Katanya pada si pengemis edan "Fui!"

Kim Sie Ie meludah.

"Semasa hidupnya Lu Su Nio, dia tidak segarang kamu!"

Co Kim Jie takut terkena ludah berbisa, dia berlompat mundur. Kim Sie Ie maju dua tindak, menyusul mana terdengar suara "Traang!"

Co Kim Jie telah menggeraki tongkatnya, yang ditangkis si pengemis.

"Apakah benar kau hendak memaksa aku menggeraki tangan di depan kuburannya Liehiap Lu Su Nio?"

Menanya Sie Ie, yang tertawa dingin.

Hebat benturan kedua batang tongkat itu.

Co Kim Jie mundur dua tindak.

Lou Eng Ho bersama Pek Eng Kiat, Thia Ho, Lie Eng dan yang lainnya lantas maju, dengan senjata mereka terhunus, mereka menghalang di depan Kim Sie Ie.

Di saat sangat tegang itu, selagi kedua pihak bakal segera menggunai senjata mereka, mendadak terdengar suara nyaring halus seperti suara kelenengan perak.

"Saudarasaudara, tahan dulu! Sukalah kau mendengar perkataan adikmu ini!"

Dengan "adikmu"

Diartikan siauwmoay, ialah wanita.

Kim Sie Ie sudah lantas menarik tongkatnya, hatinya berdebaran.

Ia menoleh memandang orang yang membuka suara itu, yang bukan lain daripada Kok Cie Hoa!

Nona itu muncul dari belakang sebuah batu besar, lalu dia bertindak perlahan-perlahan, bajunya memain di antara sampokan angin, romannya cantik dan segar, membuat beberapa murid Kanglam Cithiap saling berbisik.

"Eh, siapakah dia? Dia murid siapakah?"

Memang, di antara sesama seperguruannya, ada delapan atau sembilan orang yang belum mengenal nona Kok itu, sedang Kim Sie Ie merasa girang berbareng menyesal, hingga dia berkata di dalam hatinya.

"Kenapa baru sekarang kau muncul?"

Co Kim Jie memandang dengan mata tajam.

"Kau muridnya siapa?"

Tanyanya setelah orang datang dekat. Agaknya Kok Cie Hoa rada bergelisah tetapi ketika ia menyahut, sikapnya tenang "Teccu ialah muridnya Lu Su Nio,"

Katanya "Sukalah ciangbun suci menerima hormatku."

Cia In Cin heran mendengar pertanyaannya Co Kirn Jie itu.

Dulu hari di Binsan, setahun sebelumnya, Lu Su Nio meninggal dunia, di saat berkumpulnya kawan seperguruan, ia pernah melihat nona ini, bahkan Kim Jie pun pernah memberitahukan dia bahwa Lu Su Nio mempunyai murid bungsu itu.

Pula, di waktu baru tiba, Cie Hoa pun mengunjuk hormatnya.

Saking heran, dia berpikir.

"Tidak mungkin Co Toacie lupa, atau kalau ia lupa, tidak nanti ia lupa sampai begini..."

Ketika itu murid-murid Kanglam Cithiap belum berkumpul semua, upacara sembahyang belum dapat dimulai, meski jumlah hadirin sudah banyak sekali, mereka belum diperkenalkan satu dengan lain, kedudukan mereka masih belum diatur, di antara mereka banyak yang tidak mengenal Cie Hoa, tidak heran mereka itu merasa heran dan saling bertanya.

Tapi juga ada yang girang sebab Lu Su Nio, dalam usia lanjut, masih mempunyai murid yang muda belia itu.

Nona ini ditaksir baru berumur sembilan belas tahun, jadi dipadu dengan Co Kim Jie, Kim Jie lebih tua tiga lipat, bahkan ada di antara mereka, yang pernah keponakan, yang usianya masih lebih tinggi...

"Kau hendak bicara apa?"

Kemudian Co Kim Jie menanya. Orang sudah memperkenalkan diri, sikapnya masih tawar, pandangan matanya tetap tajam.

"Aku mengharap suci mendapat ketahui,"

Berkata Cie Hoa.

"semasa hidupnya suhu, suhu pernah memberitahukan aku bahwa suhu mempunyai seorang sahabat kekal yang tinggalnya di pulau Coato di laut Tanghay dan namanya Tokliong Cuncia. Menurut apa yang aku tahu, Tokliong Cuncia itu ialah gurunya ini tuan Kim Sie Ie."

"Tidak salah,"

Cia In Cin turut bicara.

"Tentang ini aku pernah mendengar dari Tong Siauw Lan, ciangbunjin dari Thiansan Pay."

Kok Cie Hoa tidak menanti kata-katanya Co Kim Jie, ia melanjuti perkataannya.

"Gurunya Kim Sie Ie bersahabat erat dengan guruku, sekarang Kim Sie Ie datang untuk mengunjuk hormat, sudah sepantasnya saja bila dia diijinkan turut ambil bagian di samping selaku seorang sahabat."

Memang, menurut aturan, tidak dapat sahabat ditolak selagi sahabat itu mau mengunjuk hormatnya. Co Kim Jie tidak dapat mengukuhi sikapnya.

"Jikalau begitu,"

Katanya apa boleh buat.

"baiklah tuan Kim ini turut mengunjuk hormatnya hanya untuk sementara, sukalah dia menanti dulu sampai kita sudah selesaikan semua upacara kita."

Mendengar perkataannya orang she Co itu, Kim Sie Ie tidak berani mendesak pula, terpaksa ia mundur ke pinggiran, tetapi ketika ia mengawasi Kok Cie Hoa, si nona justeru lagi memandang ke arahnya.

Ia menjadi malu sendirinya.

Ia menyesalkan caranya berdandan itu.

"Thia Ho, mari daftar nama-nama!"

Kata Co Kim Jie setelah redanya suasana.

Thia Ho ada murid kepala dari Ciu Sim.

Ia yang mengurus daftar, maka ia menyerahkan itu kepada ini suci, kakak seperguruan, yang menjadi ciangbunjin, ketua mereka.

Ia kata.

"Yang telah datang ada dari tiga tingkat, jumlahnya enam puluh empat orang. Ada enam yang tak dapat hadir. Tiga lagi menyatakan mau datang tetapi sampai sekarang mereka belum tiba."

"Tidak usah kita menantikan mereka lagi,"

Berkata Kim Jie.

"Pertemuan kita ini diadakan setiap sepuluh tahun dan kali ini hadirin berjumlah paling banyak, maka sekalian paman guru di tanah baka tentulah girang sekali."

Lantas Kim Jie membacakan daftar itu, menurut susunannya.

Kim Sie Ie memasang kuping.

Dengan bergantian setiap nama dibacakan.

Ketika telah disebut kira-kira empat puluh nama, namanya Kok Cie Hoa masih belum dibacakan, la menjadi heran.

Walaupun usianya muda sekali, Cie Hoa ada muridnya Lu Su Nio.

Dengan Kanglam Cithiap telah menutup mata semuanya, kedudukan nona ini jadi seimbang dengan kedudukan Co Kim Jie dan Ek Tiong Bow, ialah golongan pertama.

Kim Jie telah membacakan nama golongan kedua tetapi nama Cie Hoa terus tidak kedapatan Yang heran itu bukan melainkan Kim Sie Ie, juga orang dalam sendiri.

Segera juga terdengar Co Kim Jie membaca namanya dua cucutnya.

Itulah orang-orang dari golongan ketiga, bahkan yang usianya paling muda.

Di lain saat, selesai sudah pembacaan daftar, sambil menggulung itu, Kim Jie berkata.

"Sekarang semua berdiri rapi menurut tingkatnya, bersiap untuk memberi hormat kepada sucouw!"

Dengan semua orang mengambil tempatnya maka Kok Cie Hoa tampak berdiri mencil sendirian di pinggiran.

Semua orang menjadi saling berbisik.

Yang paling heran ialah Thia Ho, yang terus berkata di dalam hatinya.

"Terang-terang telah aku mencatat namanya! Mungkinkah suci kelompatan membaca. Kalau benar, setelah sekarang terlihat dia berada sendirian, namanya toh boleh dibacakan juga. Kenapa suci berdiam saja?"

Ek Tiong Bouw menjadi tidak dapat menahan sabar lagi, dari golongan pertama, ialah anggauta yang kedua.

"Suci, bukankah kau kelompatan satu nama?"

Ia menanya berbisik. Kim Jie mementang kedua matanya. Ia tidak menjawab adik Seperguruan itu, hanya ia menggapai kepada Cie Hoa seraya memanggil.

"Kau kemari!"

Cie Hoa pun tidak mengerti kenapa namanya kelompatan, ia menghampirkan dengan likat.

"Ada titah apa, suci?"

Ia menanya.

"Kau tanggalkan pedangmu!"

Berkata kakak seperguruan itu, atau ketua.

"Kau pun harus menyerahkan kitab pedang dari Lu Kouwkouw, bibi kami."

Cie Hoa menjadi sangat kaget.

"Suci, apakah artinya ini?"

Dia tanya.

"Pedang dan kitab pedang itu milik kaum kami!"

Menyahut sang ketua.

"Mana dapat pedang dan kitab itu dibawa-bawa kau?"' Kata-kata ini membuat heran dan kaget semua hadirin. Tadi cuma Cie Hoa sendiri yang tidak mengerti. Titah Kim Jie ini berarti nona itu tidak diaku sebagai kaum mereka. Kim Sie Ie heran hingga ia menduga-duga.

"Di dalam Kanglam Cithiap, ilmu silatnya Lu Su Nio yang nomor satu liehay. Mungkinkah tua bangka ini mengarah ilmu silat Hian Lie Kiamhoat dari Lu Su Nio itu dan ia hendak mengangkanginya sebagai kepunyaannya sendiri?"

Semua hadirin heran.

Co Kim Jie memang bersikap keras tapi diketahui dia jujur, tidak nanti dia bertemaha akan pedang dan kitab pedang.

Kenapa sikapnya itu?

Maka semua makin heran dan menjadi tercengang.

Cie Hoa pun tercengang tetapi ia dapat lekas menyadari diri.

"Ciangbun suci,"

Katanya kemudian.

"tolong kau menjelaskan apa salah dosaku, maka kau hendak mengusir aku dari kaum kita?"

Ia menanya begitu sebab ia mengerti, pengambilan pulang pedang dan kitab pedang berarti pemecatan. Co Kim Jie tertawa dingin.

"Jikalau kau berbuat salah, apa kau kira aku cuma mengusir saja padamu?"

Katanya, balik menanya. Cie Hoa tidak mengerti, ia menjadi penasaran. Maka ia menghadapi para hadirin.

"Para cianpwee, aku mohon menanya, adakah aturan pemecatan secara begini?"

Dia menanya nyaring.

"Adakah orang tidak bersalah tetapi diusir?"

"Inilah urusan keluarga kita sendiri!"

Kata Kim Jie bengis.

"Apakah kau ingin minta orang luar mencampurinya?"

Memang benar ada beberapa tetamu yang merasa heran, yang ingin menanyakan keterangan, tetapi mendengar suaranya Kim Jie itu, mereka terpaksa menahan sabar.

"Jikalau begitu, aku mohon pertimbangannya sesama saudara kita,"

Kata pula Kok Cie Hoa.

"Dapatkah ciangbunjin dibiarkan bertindak sewenang-wenang menurut suka hatinya mengusir siapa yang dia tidak sukai?"

Semua orang separtai itu saling mengawasi atau mereka bengong, berdiam saja Mereka juga heran atas sikapnya ketua mereka ini.

"Suci, aku minta sukalah kau memikir pula masak-masak,"

Ek Tiong Bouw, kembali berbisik.

"Aturan memecat anggauta cuma dapat dilakukan terhadap anggauta yang bersalah besar, baik dia bersalah melanggar aturan maupun karena perbuatannya yang buruk di luaran. Di dalam kalangan kita cuma pernah terjadi pengusiran kepada Liauw In seorang, ketika itu kesalahannya telah terbukti dan keputusan pun diambil setelah didengar suara terbanyak pihak kita."

Kim Jie tertawa dingin.

"Tiong Bouw, apakah kau kira aku tidak ketahui aturan itu!"

Kata ketua ini. Lantas ia menghadapi Cie Hoa dan berkata dengan nyaring.

"Benar-benarkah kau, ingin aku mengatakannya? Sebenarnya, untuk kebaikan kau sendiri, lebih baik aku tidak usah menjelaskan sesuatu!"

"Apa juga kesalahanku, aku minta suci menjelaskan!"

Kata Cie Hoa, suaranya pun nyaring.

"Jikalau memang benar aku bersalah, aku akan mati puas!"

"Baik! Karena memaksa aku, nanti aku menyebutkannya!"

Kata ketua itu.

"Sekarang aku hendak menanya dulu pada kau. Kau she apa?"

"Aku she Kok, namaku Cie Hoa,"

Sahut si nona.

"Bukankah tadi aku telah memberitahukan kepada suci?"

"Siapakah ayahmu?"

Tanya suci itu tanpa menjawab dulu.

"Kok Ceng Peng dari Siang-yang,"

Sahut si nona. Kok Ceng Peng adalah Liang Ouw Tayhiap, atau orang gagah kenamaan dari Ouwpak dan Ouwlam, maka itu para hadirin, yang mengenalnya, pada berpikir.

"Taruh kata nona kecil ini bersalah besar, dengan melihat ayahnya itu, dia dapat dimaafkan..."

Parasnya Kim Jie jadi keren, dengan tajam ia menatap Cie Hoa.

"Aku menanyakan ayahmu sejati!"

Katanya bengis.

"Apakah Cok Ceng Peng itu ayahmu sejatimu?"

"Walaupun dia ayah angkatku tetapi dialah yang merawat aku semenjak kecil, dia sama dengan ayah betulku."

"Jadi kau bukan berasal she Cok! Apakah she asalmu?"

"Tentang itu pernah aku menanya ayah angkatku dan dia mengatakan she Beng."

Kembali Kim Jie bersikap keren. Ia menanya pula tak kurang bengisnya.

"Habis siapa itu ayah betulmu?"

Kedua matanya Cie Hoa menjadi merah, air matanya lantas mengalir turun. Ia menangis. Tapi ia menjawab.

"Ketika aku mulai dirawat ayahku, aku masih bayi. Sampai saat ini, aku masih belum tahu siapa ayah betulku itu..."

Co Kim Jie tertawa dingin.

"Hm, sungguh kau berbakti!"

Katanya.

"Ayah angkatmu menutup mata pada tahun yang baru lalu, ketika ia hendak menutup matanya, apakah dia masih juga tidak memberitahukan itu kepadamu?"

Cie Hoa bersedih bukan main, dia sesegukan.

"Ayah angkatku pun tidak tahu,"

Sahutnya.

"Kalau ia memberitahukan, mustahil aku tidak pergi mencari ayahku itu?"

"Kalau begitu, sukalah aku memberitahu padamu!"

Kata Kim Jie, tawar.

"Ayahmu yang sejati itu tinggal di kaki gunung Thayheng San, jaraknya dari sini cuma seperjalanan tiga hari. Tentang namanya yang benar, aku pun tidak tahu, hanya kaum kangouw menyebutnya Beng Sin Thong!"

Mendengar itu, semua orang terperanjat.

Siapa pun di antara mereka mengetahui bahwa Beng Sin Thong adalah si iblis yang tidak segan melakukan segala macam perbuatan jahat, yang kemudian sepak terjangnya terahasia sekali karena selama dua puluh tahun tak tahu orang di mana beradanya dia.

Siapa menyangka dia justeru tinggal di kaki gunung Thayheng San.

Tapi yang paling di luar dugaan adalah Kok Cie Hoa-si nona ini-ialah puterinya!

Kim Sie Ie tidak menjadi kecuali.

Meski juga dia berpengalaman dan tak takut apa juga, dia menju-blak saking tercengangnya.

"Dia anaknya Beng Sin Thong? Dia anaknya Beng Sin Thong?"

Demikian katanya di dalam hati berulang-ulang.

"Tidak! Tidak! Inilah aku tidak percaya!' Kok Cie Hoa berdiri di hadapannya, nona itu demikian cantik dan agung, hatinya pemurah, tidak sedikit juga tandatandanya bahwa dia turunan kaum sesat, maka mana mungkin dialah puterinya Beng Sin Thong si hantu? Pikirannya Sie Ie ini menjadi juga pikirannya semua hadirin. Bukankah Cie Hoa telah dipiara, dirawat dan dididik Kok Ceng Peng, jago kenamaan dari Liang Ouw, kedua propinsi Ouwlam dan Ouwpak? Bukankah kemudian dia telah dirawat dan dididik oleh Lu Su Nio, seorang tertua mereka yang gagah, hatinya mulia, dan sangat ternama? Setelah belasan tahun dipimpin Lu Su Nio, dia menjadi begini kosen dan polos romannya, begini sederhana! Mana roman dari kesesatannya? Co Kim Jie membiarkan semua hadirin itu terombangambing dengan keheranan mereka, ia menoleh ke belakang kuburan di mana ada taman, tangannya menggapai mulutnya memanggil.

"Liu Toako, silahkan datang kemari!"

Di sana muncul seorang pria umur kira-kira empat puluh tahun, bajunya abu-abu, romannya sangat lesu.

Dialah yang dipanggil, maka dia lantas menghampirkan dengan tindakannya sangat perlahan.

Kapan Cie Hoa melihat orang itu, ia heran.

"Liu Heng Som, Liu Toako!"

Ia berseru.

"Kaukah, toako?"

"Ya,"

Menyahut pria itu.

Dia memang Liu Heng Som, dialah muridnya Kok Ceng Peng, bahkan dia murid satu-satunya, Ceng Peng tidak mempunyai anak perempuan, Cie Hoa dipandang sebagai sumoay, saudara seperguruan, kakak dan adik, akan tetapi pergaulan mereka mirip ayah dan anak.

Ketika Cie Hoa berusia delapan tahun dan dikirim ke Binsan, Heng Som adalah orang yang mengantarkannya.

Heng Som tunduk, ia berkata pula.

"Setelah duduknya hal sampai begini jauh, tidak dapat aku tidak bicara dari hal yang benar..."

Kim Jie berpaling pada Ek Tiong Bouw.

"Ek Sutee,"

Katanya.

"pada dua puluh tahun dulu suheng Ciu Kie telah dibikin celaka orang di phoatang, apakah musuhnya telah ketahuan siapa adanya?"

Pikiran Tiong Bouw sedang kacau, ditanya begitu, ia melengak.

"Ya, sudah ketahuan,"

Sahutnya selang sesaat.

"Musuh itu ialah Beng Sin Thong. Baru beberapa hari yang lalu kami menempur dia, hanya sayang aku tidak mempunyai kepandaian, dia dapat lolos..."

Biarnya Cie Hoa puterinya Sin Thong, Tiong Bouw tidak dapat membencinya. Inilah yang membuatnya menjadi bingung dan pikirannya kacau itu. Akan tetapi Co Kim Jie mendesak.

"Setelah Ciu Suheng itu dicelakai orang,"

Katanya.

"kau telah mengundang banyak sahabat dari Rimba Persilatan, untuk bersama-sama mencari si orang jahat. Benarkah itu?"

"Tidak salah,"

Tiong Bouw mengaku.

"Hal itu pun kemudian aku telah memberitahukan kepada Lu Susiok. Hanya pada mulanya sebab Lu Susiok berada jauh di propinsi Holam, aku tidak keburu mengabarkan padanya untuk sekalian mohon ialah yang memegang pimpinan mencari musuh kita itu."

"Tindakanmu itu benar,"

Kata kim Jie.

"Aku tidak menegur atau mempersalahkan padamu. Sekarang aku hendak menanya kau, apakah kau kenal ini Liu Toako?"

"Aku mengenali dia,"

Menjawab Tiong Bouw.

"Dialah Toako Liu Heng Som. Dulu hari itu Liu Toako datang bersama Kok Loo cianpwe."

"Liu Toako,"

Kim Jie berkata pada Heng Som.

"aku minta sukalah kau menuturkan tentang pengepungan si penjahat, dan ketika di tengah jalan, apakah yang telah diketemukan?"

Liu Heng Som memandang Kok Cie Hoa, baru ia bicara.

"Dulu hari itu orang mencari si penjahat dengan berpencaran,"

Ia bercerita.

"Aku turut rombongannya guruku. Ketika kita menyusul sampai di dekat sungai Ceng-in, di tempat yang belukar, di sana kita menemui seorang nyonya yang terluka parah dan ia sedang memeluki seorang anak umur satu tahun kira-kira. Nyonya itu rebah tidak berdaya, ia seperti menantikan kematiannya."

Mendengar sampai disitu, orang semua merasakan hatinya berat tertindih... Liu Heng Som menghela napas, lalu ia meneruskan.

"Guruku merasa berkasihan, ia telah menolong ibu dan anak itu, yang ia bawa pulang. Nyonya itu terluka parah, beberapa hari kemudian dia menutup mata. Sebelumnya dia mati, guruku pernah menanyakan dia, perihal asal-usulnya dan sebabnya kenapa dia terluka. Nyonya itu melainkan mengatakan dia sekeluarga dicelakai musuh, tetapi siapa musuhnya, dia tidak sudi menyebutkan. Lebih-lebih tak suka dia menutur tentang dirinya. Hanya di saat napasnya mau habis, sambil menunjuk anaknya dia mengatakan 'Beng.' Mungkin dia mau memberitahukan anak itu she Beng. Guruku heran. Ia memeriksa pakaian si nyonya. Ia mendapatkan senjata rahasia istimewa dari Beng Sin Thong yaitu Lengyam piauw. Ketika itu ilmu Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong belum semahir sekarang, maka juga di waktu menghadapi musuh, dia suka menggunai senjata rahasianya itu. Dengan didapatkannya piauw itu, guruku mengetahui nyonya itu ialah isterinya Beng Sin Thong, maka ia lantas mencoba mencari keterangan. Menurut apa yang didengar, Beng Sin Thong dan isterinya itu, di tengah jalan, telah kena dibegal. Dia membuat perlawanan, dia membinasakan beberapa musuh, lalu meloloskan diri. Isterinya itu terluka parah dan terpisah dari dia. Sisa-sisa musuhnya, yang pun terkena Lengyam piauw, tidak berani mengejar padanya. Mungkin, habis melakukan perlawanan, nyonya itu, yang terluka, kehabisan tenaga, maka ia roboh di tengah tegalan itu dalam keadaan menantikan kematian. Musuh-musuhnya Beng Sin Thong, sebagaimana dikatakan isterinya, sebenarnya ialah serombongan orang gagah dan mulia."

Heng Som berhenti sejenak, sinar matanya perlahan-lahan berkisar dari tubuhnya Kok Cie Hoa. Kemudian ia melanjuti keterangannya.

"Setelah mengetahui anak itu anaknya Beng Sin Thong, guruku menjadi merasa sukar sekali. Bayi itu gesit dan manis romannya, sebenarnya ia tidak ingin merawatnya tetapi ia ketarik hatinya, ia tak tega melepaskannya. Aku ingat ketika itu guruku menghela napas dan mengatakan. 'Ayah dan ibu berdosa tetapi anaknya tidak.' Maka ia lantas merawat anak itu. Beng Sin Thong banyak sekali musuhnya, guruku kuatir, setelah anak itu besar, dia nanti mendatangkan kepusingan, dari itu ia menyembunyikan asal-usulnya, hingga kejadian si anak sendiri tidak mengetahuinya..."

Sekonyong-konyong Cie Hoa menjerit nangis. Itulah pukulan hebat untuknya, la merasa terhina dan malu.

"Sumoay, jangan kau sesalkan aku,"

Berkata Heng Som perlahan.

"Co Loo cianpwe menanyakan, tidak dapat aku tidak menjawab. Masih ada satu hal, yang kau belum ketahui. Pada setengah tahun yang baru lalu aku pergi ke Binsan untuk menjenguk kau, di tengah jalan aku bertemu dengan Hang Hong, murid kepala dari Beng Sin Thong, hampir aku terbinasa di tangan dia, syukur Co Loo cianpwe menolongi aku. Hang Hong itu mau mencari tahu segala apa mengenai Beng Sin Thong. Semenjak itu selama dua puluh tahun aku menutup rahasia tentang dirimu, kepada Co Loo-Cianpwee aku tidak membilang suatu apa."

Sekian lama orang tertarik dengan keterangannya Liu Heng Som, orang tidak ingat untuk memperhatikan dirinya, baru sekarang mereka melihatnya tegas.

Dia berkulit kuning, tubuhnya kurus, dan di pempilingannya masih ada beberapa titik hitam yang belum lenyap, tandanya dia belum sembuh betul akibat serangan Siulo Imsat Kang.

Inilah rupanya yang menyebabkan ia sangat membenci Beng Sin Thong.

Justeru yang menanyakan dia ialah Co Kim Jie, dia menjadi suka menutur semua-semua dengan jelas.

"Saudara-saudara seperguruan,"

Kata Kim Jie kemudian.

"bukankah kamu telah dengar ketegangannya Liu Heng Som? Kok Cie Hoa ialah anaknya Beng Sin Thong, inilah tidak dapat disangsikan pula. Ayah dia menjadi musuh besar kami, dari itu cara bagaimana hatiku bisa berlega membiarkan anaknya bercampur baur dengan kita?"

Semua murid Kanglam Cithiap itu berdiam, mata mereka beralih dari ketua mereka kepada Kok Cie Hoa, bergantian. Apa mereka bisa bilang? Selang sejenak Ek Tiong Bouw berkata dengan perlahan.

"Ketika dia diterima menjadi murid, apakah Lu Kouwkouw pernah diberitahukan Kok Ceng Peng tentang asal-usulnya ini?"

Menurut aturan kaum Rimba Persilatan, jikalau Lu Su Nio mendapat tahu Cie Hoa anak musuh partainya dan ia toh menerima anak itu, maka pertanggungan jawab ada pada dirinya Lu Su Nio sendiri, kecuali Cie Hoa melakukan pelanggaran tak berampun, lain orang tidak dapat menghukum padanya.

Kim Jie tidak menjawab pertanyaan Tiong Bouw itu, hanya ia berpaling kepada Heng Som, untuk berkata.

"Liu Toako, tolong kau menjelaskan kejadian di saat kau mengantarkan dia ke gunung Binsan."

Heng Som suka memberikan pula keterangannya.

"Setelah guruku menerima anaknya Beng Sin Thong itu sebagai anak pungutnya, hatiku tidak tenteram,"

Kata ia.

"Itulah sebab orang kangouw yang mencari Beng Sin Thong makin lama menjadi makin banyak. Sementara itu guruku mengandung niat membikin anak itu menjadi seorang nona gagah dan mulia, agar dia dapat menebus dosa ayahnya. Ia lantas memikirkan, siapa yang dapat dijadikan guru anaknya itu. Lantas ia teringat kepada Lu Su Nio yang gagah perkasa. Lu Su Nio itu pernah datang ke rumah guruku sebagai tetamu dan dia pernah melihat Cie Hoa. Dia menyukai anak itu dan membilang bahwa otaknya cerdas. Karena ini, tempo anak itu masuk umur delapan tahun, ia menyuruh aku membawa, mengantarkan ke Binsan, buat diserahkan kepada Lu Su Nio, yang diminta suka menerimanya sebagai murid. Ketika itu guruku memesan, umpama kata Lu Su Nio menerima anak itu, aku diharuskan menutur segala apa dengan jelas. Nyatanya Lu Su Nio menerima anak itu tanpa menolak lagi dan juga tanpa menanyakan hal ikhwalnya. Karena itu, aku tidak memberitahukan apa-apa. Aku kuatir, jikalau aku menjelaskan, Lu Su Nio nanti menampik. Di belakang hari, guruku ada omong hal itu pada Lu Su Nio atau tidak, itulah aku tidak tahu."

"Lu Kouwkouw kami itu pandai ilmu surat, ia mengerti adat istiadat, hidupnya sebagai seorang liehiap sejati,"

Berkata Co Kim Jie.

"maka itu, kalau dia ketahui anak itu anaknya Beng Sin Thong, mana dia sudi menerimanya sebagai murid? Karena itu tentulah Kok Ceng Peng pun tidak memberikan keterangan apa-apa padanya. Saudara-saudara, umpama kata anak ini bukan anaknya musuh partai kami, untuk nama baiknya Lu Kouwkouw, kita pun tidak dapat membiarkan dia menjadi ahli waris Kouwkouw kami itu sebab dialah anaknya musuh khalayak ramai!"

Mendengar itu semua, mukanya Cie Hoa bergantian menjadi merah dan pucat, la malu dan gusar. Maka akhirnya ia menyusut air matanya, ia berkata dengan keras.

"Ciang-bun suci, aku tahu betul belum pernah aku melakukan apa juga yang dapat merusak nama guruku!"

"Sekarang tidak, siapa tahu di belakang hari?"

Menjawab ketua itu.

"Ayah dan ibumu ada orang-orang macam demikian mana dapat aku percaya kau? Apapula sekarang kau telah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya! Umpama kejadian di lain hari ayahmu itu bentrok sama partai kami, selagi kau dengan dia adalah anak dan ayah, mana dapat aku berlega hati? Sekarang begini saja. Mengingat kau tidak mempunyai kesalahan, kau kembalikan saja kitab ilmu pedang dan pedangmu itu, kita tidak akan musnahkan kepandaianmu! Dengan begini kita sudah berlaku murah hati. Apakah kau masih tidak puas?"

"Tentang ayahku pernah bicara atau tidak kepada guruku, aku tidak tahu,"

Kata Cie Hoa.

"akan tetapi di saat guruku hendak menutup mapa, ia telah meninggalkan pesan."

"Pesan apakah itu?"

Tanya Kim cie.

"Guruku membilang bahwa Beng... Beng Sin Thong tinggal di kaki gunung Thayheng San,"

Menyahut si nona.

"bahwa guruku telah mengetahuinya. Atas itu aku tanya... tanya guruku..."

"Kau tanya apa?"

Kim Jie 'memotong "Ketika itu aku belum tahu dialah ayah benarku, maka aku tanya... aku tanya..."

"Kau tanya gurumu kenapa gurumu tidak menyingkirkan Beng Sin Thong, bukankah?"

Ek Tiong Bouw pun memotong. Cie Hoa mengangguk.

"Habis apakah katanya gurumu?"

Kim Jie tanya, keras.

"Guruku bilang bahwa di antara orang partainya tentu bakal ada yang membuat perhitungan dengan Beng... Beng Sin Thong, maka itu aku dilarang turun tangan sendiri..."

Adalah aturan sopan santun seorang anak dilarang menyebut nama ayah dan ibunya, itulah sebabnya kenapa Cie Hoa bersangsi menyebut namanya Sin Thong.

Bahwa ia akhirnya toh menyebutnya juga, itulah karena ia terlalu murka dan mendongkol.

Ketika itu di antara para hadirin, terutama kaum Binsan Pay sendiri, Berdapat pikiran umum ini.

"Anak ini berpisah dari ayah dan ibunya di waktu masih kecil sekali, lalu selama dua puluh tahun ia dirawat dan dididik oleh Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng dan Liehiap Lu Su Nio, maka itu dia dapatlah dipandang sebagai orang sendiri. Dengan begitu juga, dengan Beng Sin Thong dia tidak ada hubungannya sedikit juga, sedang romannya pun tidak mirip-miripnya, maka tak dapat dianggap lagi sebagai anak Beng Sin Thong."

"Guruku juga memesan,"

Berkata pula Cie Hoa.

"katanya kalau di belakang hari ada orang partainya mencari Beng Sin Thong untuk membuat perhitungan, aku harus menyerahkan tiga

Jilid kitab rahasianya yang diberi nama Siauwyang Hiankong Pitkoat.

Guruku menjelaskan juga bahwa ia ketahui sejak sepuluh tahun yang lalu Beng Sin Thong tinggal di kaki gunung Thayheng San.

Bahwa Beng Sin Thong belum selesai dengan peryakinannya ilmu Siulo Imsat Kang, sedang guruku sendiri untuk sementara tidak memperhatikannya.

Sepuluh tahun lamanya guruku berlatih, baru ia menginsyafi ilmu Siauwyang Hiankong itu.

Guruku menjelaskan, ilmu ini belum dapat digunakan memecahkan Siulo Imsat Kang tetapi sudah dapat dipakai menangkis racunnya ilmunya Beng Sin Thong itu.

Katanya, siapa sudah mempunyai dasar ilmu tenaga dalam, dia dapat mempelajari Siauwyang Hiankong dalam tempo paling lama setengah sampai satu tahun.

Guruku membilang juga, asal ada dua atau tiga jago partainya yang mengerti ilmu ciptaannya itu, maka mereka itu akan dapat melawan Beng Sin Thong.

Sekarang ini aku ada bawa kitab Siauwyang Hiankong Pitkoal itu, ini aku serahkan pada suci."

Ek Tiong Bouw sangat memperhatikan perkataannya Cie Hoa, setelah nona itu berhenti berbicara, sesudah berpikir sejenak, ia kata dengan perlahan pada ketuanya.

"Mendengar omongannya dia ini, rupanya Lu Kouwkouw sudah mengetahui bahwa dialah anaknya Beng Sin Thong, maka dia dilarang turun tangan sendiri, dia cuma dipesan untuk menyampaikan kitab ilmu silat istimewa itu. Oleh karena ini, tidak dapatkah dia diberi keringanan?"

Sepasang alisnya Kim Jie bangun berdiri.

"Inilah melulu dugaan!"

Katanya.

"Itulah alasan belaka. Jikalau Lu Kouwkouw telah mendapat tahu asal-usulnya dan juga bersedia mengampuni dia, maka pasti kouwkouw meninggalkan pesan untukku. Beberapa bulan sebelum Lu Kouwkouw menutup mata kau bersama Cia In Cin telah pergi ke Binsan, ketika itu, apa saja katanya kepada kamu?"

"Lu Kouwkouw tidak membilang apa-apa kecuali bahwa ia merasa tenang hati karena suci menjadi ciangbunjin,"

Menyahut Tiong Bouw.

"Lu Kouwkouw telah mengetahui yang hidupnya di dalam dunia tidak bakal lama lagi."

"Itulah lumrah saja,"

Kata Kim Jie mengangguk.

"Aku selalu berlaku jujur, pasti kouwkouw menaruh kepercayaan besar atas diriku."

Ia lantas menghadapi Kok Cie Hoa kepada siapa ia kata dengan nyaring.

"Mengingat yang kau telah menyerahkan kitab Siauwyang Hiankong Pitkoat, suka aku memberi keringanan padamu. Sekarang kau boleh tetap memiliki pedang Songhoa kiam kepunyaan Lu Kouwkouw, tetapi kitab ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat, kitab itu ada karyanya Sucouw kami Tokpie Sinnie, itulah pusaka partai kami, kau harus menyerahkan itu! Setelah kau keluar dari partai kami, asal kau tidak melakukan kejahatan, partai kami tidak akan memandang kau sebagai musuh!"

Cie Hoa kaget.

"Suci,"

Katanya.

"jadinya kau... kau tetap tidak mau mengijinkan aku sebagai anggauta partaimu?"

Suaranya nona ini gemetar saking kerasnya guncangnya hatinya.

"Perkataanku telah diucapkan tegas sekali,"

Kata ketua itu dingin.

"Mustahilkah kau masih kurang jelas?"

"Sebelumnya guruku menghembuskan napasnya yang terakhir,"

Kata Cie Hoa, membandel.

"dengan sungguhsungguh guruku telah mewariskan kitab pedang itu padaku seraya ia menugaskan aku sebagai ahli warisnya, maka itu tidak dapat aku mensia-siakan jerih payahnya selama sepuluh tahun merawat dan mendidik aku!"

Co Kim Jie menjadi gusar sekali.

"Beranikah kau tidak mendengar perkataanku?"

Tanyanya bengis.

"Dengan menitahkan kau menyerahkannya dengan baik-baik, itu tandanya aku telah memberikan muka padamu! Jikalau kau membelar, aku dapat menjalankan aturan partai kami!"

Air mukanya Ek Tiong Bouw menjadi guram, agaknya ia ingin bicara tetapi batal. Kim Jie melirik saudara seperguruan itu, lalu dia menambahkan.

"Anak ini ada anaknya musuh partai kita, sekarang dia telah mengetahui siapa ayahnya yang benar, maka siapakah yang berani menjamin bahwa dia tidak berkongkol sama Beng Sin Thong, ayahnya? Siapakah yang dapat bertenteram hati melihat dia bercampur gaul di antara kita?"

Kali ini Kim Jie bicara terhadap saudara seperguruannya.

Di antara mereka itu ada yang ingin mengutarakan sesuatu, akan tetapi kapan mereka ingat akan jaminan itu, mereka bersangsi.

Mata Kim Jie menyapu Tiong Bouw, dia ini tunduk, tunduk dengan sangat bersusah hati, sebab dia benar-benar menyayang Cie Hoa, sayang ayahnya si nona ialah Beng Sin Thong, orang yang mencelakai kakak seperguruan mereka.

Tentu sekali tidak dapat dia membelai lebih jauh.

Selagi semua kaum separtai itu membungkam, Kim Sie Ie panas hatinya, mendadak dia tertawa bergelak tiga kali, terus dia mengajukan diri.

"Aku berani menjamin dia!"

Katanya nyaring.

"Kau orang macam apa?"

Menanya Kim Jie heran.

"Cara bagaimana kau berani mencampuri tahu urusan partai kami?"

"Tidak salah, aku memang orang luar!"

Kata Sie Ie.

"Tetapi putusanmu tidak adil! Maka aku mengajukan diri, aku tidak dapat membiarkan kau menghina seorang nona yang sebatang kara!"

Habis berkata, dia tertawa pula berbahak.

"Kau mentertawakan apa?"

Tanya Kim Jie.

"Kenapa aku tidak adil?"

"Aku mentertawai kau, sebagai ketua partai, kau berpandangan cupat!"

Menjawab Kim Sie Ie. Kim Jie mendongkol hingga tubuhnya menggigil. Ia hendak mengumbar hawa amarahnya atau Kim Sie Ie mendahulukan padanya.

"Tepat sekali pembilangannya Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng!' berkata Tokciu Hongkay.

"Ayah dan ibu bersalah, tetapi bayinya tidak! Nona ini bercerai berai dari ayah dan ibunya semenjak bayi, maka segala perbuatannya Beng Sin Thong, mana dapat itu ditumplaki kepadanya? Barusan dia menyebutnyebut tentang kitab Siauwyang Hiankong Pitkoat! Itu saja sudah menunjuki hatinya yang baik! Dia dapat menyembunyikan itu, untuk dikangkangi sendiri, dia boleh tak usah memberitahukannya, tetapi dia toh menyerahkannya kepada kamu! Bahkan dengan menyerahkan itu, dia membiarkan kamu memusuhkan ayahnya yang sejati? Kesengsaraan hati dari dia ini, dapatkan kamu mempertahankannya? Coba pikir, tanpa kitab Siauwyang Hiankong Pitkoat itu, dapatkah kamu melawan Beng Sin Thong?"

Co Kim Jie menjadi sangat gusar.

"Hai, pengemis edan yang nama busuknya sangat tersiar luas!"

Dampratnya.

"Cara bagaimana kau berani menegur aku berlaku tidak adil? Baiklah, hari ini aku mau bertindak membantu dunia kangouw membasmi pokok bencana! Kau harus dibekuk!"

Kim Sie Ie tidak takut, bahkan dia tertawa bergelak-gelak.

"Beranikah kau?"

Dia menantang.

Kim Jie menggeraki tongkatnya, dengan itu ia menyerang.

Berbareng dengan itu, Louw Eng Ho dan Pek Eng Kiat pun maju menikam dengan pedang mereka masing-masing.

Mereka ini berdua pecundang tetapi mengandal pada ketua mereka, mereka menjadi berani, pula hebat tikamannya.

Kim Sie Ie tertawa lebar ketika ia menangkis, dengan itu ia membikin terpental tongkatnya ketua Binsan Pay itu, sedang pedangnya kedua anak muda lagi sekali terbang tinggi!

Murid-murid dari tingkat atau generasi ketiga, semua menjadi kaget, meski begitu mereka toh meluruk maju.

Kim Sie le lantas menghunus pedang besi dari dalam tongkat besinya, dengan tongkatnya ia menekan tongkat berkepala ular naga dari Co Kim Jie, dengan pedangnya, yang ia mainkan dengan tangan kiri, ia mengasih dengar bunyi tangtingtong nyaring tak putusnya.

Dengan pedangnya itu ia membabat kutung pedangnya tujuh lawan yang maju paling depan!

Menyaksikan pertempuran itu, Ek Tiong Bouw jadi sangat berduka.

Ia serba salah.

Mana dapat ia mengepung Kim Sie Ie, orang yang telah melepas budi terhadapnya?

Tapi, mana dapat ia menonton saja selagi ketuanya mengadu jiwa?

Tengah ia bersangsi itu, telinganya mendengar bentakan si pengemis edan, bentakan mana menyusuli sapatnya Samciat kun, toya sambung tiga, dari Lie Eng, setelah mana, Co Kim Jie terlihat terdesak hingga jago wanita itu terpaksa main mundur saja.

Sambil berteriak "Celaka!"

Ek Tiong Bouw lompat maju.

Sulit atau tidak, tidak bisa ia membiarkan ketuanya terancam bahaya.

Hebat serangannya Kim Sie Ie, dengan tipu silat pedang "Tiang-hong kengthian", atau "Bianglala panjang melintang di langit", ia menghalau desakan pelbagai pedang dari muridmuridnya Co Kim Jie, hingga mereka itu tidak dapat merangsak, di lain pihak dengan tongkatnya yang telah menjadi bagaikan sarung kosong sebab pedangnya telah dicabut, dia mendesak ketua Binsan Pay itu, akan akhirnya menggempur, maka di antara suara nyaring dan meletik berhamburannya lelatu-lelatu api, tongkat Kim Jie kena dibikin melengkung bagaikan bulan sisir' Di saat sangat genting itu, segera terdengar suara beradunya dua senjata lainnya, nyaring suara itu.

Itulah pedangnya Kok Cie Hoa, yang maju untuk datang sama tengah, yang menyontek tongkat besi sebesar mangkok dari Tokciu Hongkay, karena mana, Co Kim Jie dapat menarik pulang tongkatnya yang bengkong itu, sedang si nyonya sendiri bernapas sengal-sengal, sampai dia tidak dapat membuka suara.

Adalah di saat itu Tiong Bouw tiba untuk menghadang di depannya.

Kim Sie Ie heran hingga ia mementang matanya lebarlebar.

"Bagus betul!"

Serunya.

"Aku membantu kau, aku membela dirimu, mengapa kau membantu dia?"

Pertanyaan ini diajukan kepada Kok Cie Hoa. Nona itu mengucurkan air mata, tangannya yang menyekal pedang, menuding dengan ujung pedangnya. Ia pun memandang si pengemis edan.

"Kim Sie Ie, pergi kau turun gunung!"

Katanya.

"Apakah kau ikhlas dihinakan dia?"

Kim Sie Ie tanya.

"Inilah urusan partai kami,"

Kata si nona.

"Kau, dengan memandang aku, kau pergilah turun gunung!"

Ketika itu Co Kim Jie sudah dapat bernapas, dengan mengerahkan kedua tangannya, ia membikin tongkatnya lempang kembali. Ia gusar mendengar perkataan Cie Hoa itu.

"Siapa berani melepaskan dia turun gunung?"

Katanya bengis.

"Di gunung Binsan yang keramat ini, dapatkah pengemis jahat ini dibiarkan main gila? Dia mesti dibekuk, tidak bisa tidak!"

Binsan Pay dibangun baru kira-kira seratus tahun yang lalu, dibangun oleh Tokpie Sinnie, si bhikshuni tangan satu, yang asalnya ialah puteri kaisar Beng yang terakhir, lalu diteruskan oleh Kanglam Cithiap, Tujuh pendekar dari Kanglam.

di antara siapa, Kam Hong Tie dan Lu Su Nio berdualah yang namanya paling terkenal, karena yang satu ialah pemimpin Rimba Persilatan, yang lain guru besar ilmu pedang yang namanya harum sampai di jaman belakangan.

Co Kim Jie sendiri, ketua yang sekarang, pun kenamaan, sedang anak-anak mudanya juga ada yang telah membuat nama dalam dunia kangouw.

Hari ini adalah hari ulang tahun wafatnya Tokpie Sinnie, maka semua cucu muridnya berkumpul di gunung Binsan ini untuk memperingatinya, maka adalah di luar dugaan, bahwa urusan Kok Cie Hoa telah menerbitkan gara-gara sampai Kim Sie Ie terpaksa mengacau untuk membela nona yang dinista itu.

Tentu sekali Kim Jie menjadi gusar, sebab walaupun ia belum dirobohkan, ia toh sudah kena dipukul mundur oleh si pengemis edan.

Sekarang Kok Cie Hoa benar-benar bersusah hati.

Ia jadi menghadapi soal seperti Ek Tiong Bouw tadi.

Suci itu, atau ketuanya, telah memberikan perintah.

Bagaimana ia harus berbuat.

Menurut perintah dan menawan Kim Sie Ie, untuk menebus dosanya?

Atau turut Kim Sie Ie menyingkir dari gunung itu?

Perintah Co Kim Jie telah lantas dilakukan.

Semua anggauta Binsan Pay mulai mengurung dari empat penjuru, hingga tidak hanya Kim Sie le, tetapi si nona pun turut terkurung.

Kembali muncul suasana tegang.

Asal senjata digerakkan, pertempuran dahsyat akan berkobarlah.

Dalam keadaan sangat genting itu, tiba-tiba orang dikejutkan tangisan keras, yang datangnya dari atas gunung.

Tiong Bouw yang paling dulu mengangkat kepalanya.

Entah dari mana dan kapan datangnya, disana tampak tiga orang asing.

Ialah yang satu seorang pendeta, yang air mukanya seperti tersungging dengan "hawa pembunuhan", karena mukanya itu bermuram durja, dan dua yang lain, yang berada di belakang pendeta itu, adalah dua orang pembesar dengan jubah sulaman serta ikat pinggang kemala.

Tiga orang itu lagi bersembahyang di depan kuburan Tokpie Sinnie, mereka memasang lilin dan hio.

Si pendetalah yang bersujut dengan menangis menggerung-gerung menyayatkan hati, agaknya dia mengandung penasaran atau kedukaan besar.

Maka heranlah semua orang.

Ketika ketiga orang itu tiba, Co Kim Jie tengah bertempur seru dengan Kim Sie Ie, maka itu tidak ada seorang juga dari rombongan Binsan Pay yang memperhatikan atau melihatnya.

Ada juga beberapa orang di pihak tamu yang melihat mereka, akan tetapi, walapun bercuriga, tamu-tamu itu tidak berani lancang mengambil tindakan.

Mereka menginsyafi diri sebagai tamu.

Adalah setelah mendengar tangisan itu, semuanya terperanjat.

Tokpie Sinnie berasal puteri raja Beng yang terakhir, sekarang ada dua orang pembesar negeri yang menghormatinya, itulah luar biasa, benar-benar aneh.

Pula luar biasa, belum lagi pihak Binsan Pay sendiri memulai dengan upacara penghormatannya, mereka bertiga telah mendahului.

Tidakkah inipun di luar daripada kebiasaan?

Oleh karena munculnya tiga orang itu, yang sangat menarik perhatian, kurungan pihak Binsan Pay terhadap Kim Sie Ie menjadi longgar sendirinya.

"Suci, apakah kau kenal mereka itu?"

Ek Tiong Bouw menanya.

Co Kim Jie mengerutkan alisnya.

Untuk sementara, ia berpikir dengan sia-sia belaka, hingga tidak dapat ia segera memberikan jawabannya.

Tengah orang keheran-heranan itu serta mengawasi ketiga orang itu, kejadian lain sudah lantas menyusul Untuk membersihkan kuburan, pihak Binsan Pay membekal pacul dan sekup, guna menguruk atau menutup bagian-bagian kuburan yang rusak gugur, dan tadi pekerjaan mereka tertunda karena mesti menghadapi Tokciu Hongkay.

Sekarang beberapa bocah pacul itu digunakan oleh ketiga orang asing ini.

Sesudah memberi hormat di muka kuburan Tokpie Sinnie, ketiga orang itu menjumput pacul, dan menghampiri kuburan Lu Su Nio.

Si pendeta sudah lantas menuding ke kuburan jago wanita itu sambil mendamprat.

"Bangsat perempuan yang durhaka, yang berani berlaku kurang ajar terhadap orang yang terlebih tua, di masa hidupmu aku tidak dapat membunuh kau, maka sekarang hendak aku membongkar kuburanmu, untuk mengeluarkan tulang belulangmu!"

Dampratan itu ditutup dengan gerakan pacul mereka bertiga, memacul tanah kuburan di depan mereka itu!

Selama hidupnya, Lu Su Nio dihormati orang, dari itu siapa juga tidak menduga, bahwa setelah ia meninggal dunia, sekarang ada orang yang datang membongkar kuburannya.

Untuk sedetik, orang melengak saking heran, tetapi setelah itu, riuhlah terdengar bentakan-bentakan cegahan dan caciancacian untuk alamatnya ketiga orang asing itu, dan dengan serempak, semuanya lari memburu.

Dua orang, yang tiba lebih dulu, sudah lantas menerjang si pendeta dengan cengkeramannya Kimna Ciuhoat, sebab si pendeta hendak dicegah perbuatannya membongkar terus kuburan orang yang mereka hormati itu.

Si pendeta tahu, bahwa ada orang yang menyerangnya, ketika kedua tangannya ditangkap, tanpa memutar tubuh lagi, ia menggerakkan tangannya itu.

Pundaknya diangkat, tangannya diangkat kaget ke atas, dan menyusul itu, tubuh dua murid Binsan Pay itu terangkat, terlempar ke tengah udara!

Semua orang terkejut, hingga dengan sendirinya berhentilah bentakan atau cacian mereka.

Hanya beberapa orang saja yang melihat tegas gerakan si pendeta, yang lain melainkan tahu sesudah dua orang itu terlontarkan.

Ek Tiong Bouw terkesiap hatinya.

Ia mengenali ilmu pendeta itu.

Itulah ilmu, atau tipu silat, dari partainya sendiri, ialah ilmu yang disebut "Ciamie sippattiat", atau "Merendam baju delapan belas kali jatuh", atau tegasnya, dengan melanggar baju saja, orang dapat dibikin roboh.

Itulah ilmu yang membutuhkan lweekang, atau tenaga dalam, yang mahir.

Di antara Kanglam Cithiap, Tujuh Jago Kanglam, Kam Hong Tie yang paling mahir dalam ilmu itu, sedang Tiong Bouw adalah murid utama dari Kam Hong Tie, sekarang ia mesti menyaksikan orang yang pandai ilmu itu, bahkan jauh lebih pandai daripadanya, ia menjadi heran dan malu sendiri.

Beberapa murid Binsan Pay yang lain, yang tidak memperhatikan liehaynya si pendeta, sudah maju menyerang.

Mereka hanya bisa mengumbar hawa amarah mereka.

Mereka disambut kedua orang yang berdandan sebagai pembesar itu.

Dalam sekejap, senjata murid-murid Binsan Pay itu terhajar lepas dari tangan mereka, walaupun dua orang itu hanya menggunakan pacul sebagai senjatanya Co Kim Jie dan Ek Tiong Bouw, yang memasang mata, duadua menjadi heran dan kagum.

Mereka tidak menyangka bahwa juga dua orang hamba negeri itu demikian liehay.

Mereka bergebrak hanya dalam dua tiga jurus saja, dan segera terbuktilah kepandaian mereka.

Si pendeta sudah lantas tertawa terbahak-bahak.

"Hai, kawanan siauwpwee!"

Ia berkata nyaring, sikapnya jumawa. Ia pun menyebut "siauwpwee", ialah orang-orang dan tingkat muda.

"Kenapa kamu begini tidak tahu aturan? Kenapa bertemu dengan aku, bukannya kamu memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk-angguk, kamu justeru berani iturun tangan menyerang aku?"

Mendengar suara itu, Co Kim Jie bersama Ek Tiong Bouw meninggalkan Kim Sie Ie, sambil mencegah murid-murid Binsan Pay bergerak lebih jauh, mereka menghampiri si pendeta.

Hwesio itu bersikap sangat jumawa, melihat datang Co Kim Jie, dia memandangnya dengan congkak.

"Kim Jie!"

Dia berkata, suaranya tetap nyaring.

"kau telah merampas kedudukan ciangbunjin, lalu kau sudah tidak mau mengenali aku! Benarkah?"

Kim Jie tercengang, dan ditatapnya muka orang. Karena murkanya, sepasang alisnya bangun tegak.

"Dulu Lu Susiok berlaku sangat murah hati, dia tidak mau menarik panjang urusanmu,"

Katanya, juga dengan lantang.

"mengapa hari ini kau masih mempunyai muka untuk datang kemari, mengacau di depan kuburan susiok?"

Hwesio itu tertawa dingin.

"Aku datang hari ini justeru untuk membereskan soal dahulu itu!"

Katanya, menantang.

"Biarlah aku berterus terang! Dulu guruku telah dibunuhnya, dari itu hari ini, dapat tidak dapat, aku mesti membalaskan sakit hatinya! Siapa kata aku mengacau? Aku hanya hendak membongkar tanah kuburannya, aku hendak merusak peti matinya, supaya tulang belulangnya dapat dikeluarkan untuk dibakar musna menjadi abu! Setelah itu, aku akan bertindak lebih jauh dengan membersihkan Binsan Pay!"

Pendeta ini bersumbar besar dan berani bersikap demikian kurang ajar karena dialah Biat Hoa Hwesio, murid Liauw In Hwesio.

Sama sekali Tokpie Sinnie mempunyai delapan murid, yang tertua ialah Liauw In.

Kecuali Lu Su Nio seorang.

"kwanbun teecu"

Atau murid penutup, maka enam yang lain, yaitu Co Jin Hu, Lie Goan, Ciu Sim, Pek Tay Koan, Louw Bin Ciam dan Kam Hong Tie, semuanya telah mendapat pelajaran silat dari Liauw In, yang mewakilkan gurunya.

Hanya kadang-kadang saja mereka berenam memperoleh petunjuk langsung dari guru mereka.

Kemudian karena Liauw In murtad, dia dicari oleh Lu Su Nio, yang membawa kimpay, atau tanda kekuasaan dari gurunya, untuk menghukumnya.

Ketika itu Lu Su Nio mengajak enam saudaranya yang lain menyertainya.

Liauw In dapat ditawan dan di depan kuburan gurunya dia menjalankan hukuman mati.

Ketika itu Liauw In sudah mempunyai dua murid, akan tetapi mereka itu tidak turut ditangkap dan dihukum.

Lu Su Nio suka memberi ampun pada mereka, karena alasan, bahwa meskipun mereka pernah melakukan beberapa kejahatan, mereka lakukan itu karena terpaksa, mereka mesti menurut perintah guru mereka.

Hanya dengan suara umum, telah diambil keputusan, bahwa Liauw In dan murid-muridnya dikeluarkan dari Binsan Pay.

Oleh karena itu, kedua murid Liauw In hidup menyembunyikan diri.

Berselang sepuluh tahun, murid kepala Liauw In menutup mata, maka tinggallah muridnya yang kedua, yang telah masuk menjadi pendeta dengan nama suci Biat Hoa Hwesio.

Dia cerdas dan bakatnya baik, dengan peryakinan lebih jauh selama sepuluh tahun itu, dia sudah menjadi liehay.

Dia jeri terhadap Lu Su Nio, maka, selama Lu Su Nio masih hidup, dia terus menyembunyikan diri.

Co Kim Jie mengetahui tentang hwesio ini, tetapi sebab orang tidak muncul di muka umum dan dia tidak terdengar berbuat jahat, ia pun membiarkannya saja, hingga ia lupa.

Maka adalah di luar dugaan, bahwa sekarang, pada peringatan tahun ke lima puluh dari meninggalnya Tokpie Sinnie, murid Liauw In ini muncul secara tiba-tiba bersama dua hamba negara itu, dua muridnya, dan sekarang dia menyebut dirinya Biat Hoa Siangjin.

Biat Hoa lebih liehay daripada enam di antara Cithiap, maka bisalah dimengerti kalau dia memandang tidak mata kepada semua orang Binsan Pay.

Bukankah Lu Su Nio sudah tidak ada?

Pantas kalau tadi dia dapat melemparkan dua anak muda Binsan Pay dan kedua muridnya dapat meruntuhkan pelbagai alat senjata anak-anak muda Binsan Pay yang melunak mengeroyok.

Walaupun hanya murid Liauw In, ilmu silatnya sebenarnya berimbang dengan kepandaian Co Jin Hu berenam.

Bukankah Co Jin Hu berenam, resminya menjadi murid Tokpie Sinnie tetapi kenyataannya, hanyalah murid Liauw In?

"Co Kim Jie!"

Kata pula Biat Hoa.

"Kau menjadi ciangbunjin, siapakah yang mengangkat kau ke dalam kedudukanmu ini?"

Ketua itu menjadi gusar.

"Berdasarkan hak apa kau berani bicara begini rupa terhadap aku?"

Dia menanya bengis.

"Hak? Tentu ada hakku!"

Sahut Biat Hoa, mengejek.

"Guruku adalah murid kepala Tokpie Sinnie, aku sendiri murid satu-satunya dari guruku, maka mengenai kedudukan, tingkat derajatku lebih tinggi daripada tingkat derajatmu! Maka akulah yang berhak menjadi ciangbunjin! Sedikitnya, umpama kata aku suka mengalah, untuk mengangkat ketua, selayaknya saja kau menanyakan dulu pendapatku!"

"Biat Hoa Hwesio!"

Kata Tiong Bouw dengan mendelu, karena hatinya panas mendengar mulut besar si pendeta.

"kau harus ingat, kau bukan lagi kaum Binsan Pay! Ketika Co Suci menerima kedudukannya ini, dia menerima petunjuk dari Lu Susiok kami semasa hidupnya Lu Susiok! Kau sendiri, mana ada hakmu?"

Biat Hoa tertawa, tertawa dingin.

"Ketika Lu Su Nio memutuskan itu, dia telah menyalahi kedudukannya!"

Ia kata.

"Bukankah dia murid termuda? Kenapa dia berani membinasakan kakak seperguruannya? Bukankah itu berarti kurang ajar terhadap yang tua? Kenapa dia mengusir kami? Maka sekarang aku hendak membikin terbalik keadaan dulu hari itu, untuk diperbaiki! Aku menolak segala tindak tanduknya itu! Sekarang akulah yang mesti menjadi ciangbunjin!"

"Tapi kau harus ingat, bahwa Liauw In murid murtad, dia berlaku kurang ajar terhadap gurunya!"

Ek Tiong Bouw menegur.

"Ketika itu kita membersihkan rumah tangga sendiri, dari itu siapa bersalah, dia harus dihukum-dihukum mati! Ketika itu tidak datang tentangan apa juga dari kalangan Rimba Persilatan! Keputusan telah diambil dan dijalankan, apakah kau rasa itu dapat diubah-ubah sekehendakmu? Tidak. Mengapa kau justeru tidak mau ingat kebaikan cianpwee kita, yang dulu telah memberi ampun Kepadamu? Kenapa kau sekarang berani datang kemari, mengacau dan merusak, melanggar kesucian Lu Susiok? Apakah kau kira kami kaum Binsan Pay dapat memberi ampun padamu? Hm!"

Biat Hoa tertawa.

"Ek Tiong Bouw!"

Katanya.

"Kaulah congcu dari satu cabang Binsan Pay, kaulah Pangcu dari Kaypang, dalam kalangan Rimba Persilatan, kau sudah kenamaan, kenapa kau tidak mau ingat, siapa minum air dia mesti tidak melupakan sumbernya? Apakah terhadap guruku kau berani berlaku kurang ajar begini? Tahukah kau bahwa kepandaian silat gurumu, Kam Hong Tie, adalah berkat bimbingan guruku? Kenapa sekarang kau berani lancang menyebut nama guruku? Untuk kurang ajarmu ini kau tidak dapat diberi ampun! --Dan kau, Co Kim Jie! Dulu, sebagai seorang siauwpwee, kau sudah turut-turut Lu Su Nio berbuat kurang ajar kepada orang yang tingkatnya lebih tua, dan hari ini, kau merampas kedudukan ciangbunjin, maka hebat kesalahanmu! Sekarang aku dapat memberikan kau dua jalan untuk kau pilih! Yang pertama ialah kau bersama aku bertempur satu lawan satu! Jikalau kau dapat melawan aku sampai sepuluh jurus, suka aku mengakui kau sebagai ciangbunjin Binsan Pay! Yang kedua sederhana sekali! Ialah kau berlutut dan menganggukangguk padaku, untuk mohon maaf, lalu harus diadakan pemilihan ciangbunjin yang baru! Setelah itu, lantas kamu membikin batu nisan untuk kuburan guruku, dan kamu berkabung untuk berbakti terhadapnya. Dengan begini, bereslah sudah peristiwa dari masa dahulu itu!" (Ada sebabnya kenapa Biat Hoa menyebut Tiong Bouw sebagai congcu, semacam ketua partai. Itulah karena semasa hidupnya, Kanglam Cithiap menyebut dirinya masing-masing sebagai satu kaum-cong. Sedang di antaranya, kaum Kam Hong Tie dan Pek Tay Koan adalah yang paling makmur dan menjadi dua yang terbesar.) Mendengar itu, bukan kepalang gusarnya Co Kim Jie, hingga tidak dapat ia menguasai dirinya lagi, tanpa kata apaapa, ia lantas menyerang dengan tongkatnya! Ek Tiong Bouw juga bersiap dengan tongkatnya, guna membantu kakak seperguruan atau ketuanya itu. Biat Hoa Siangjin diserang, dia tertawa bergelak-gelak. Lincah sekali dia berkelit dari serangan Liongtauwkoay (tongkat kepala naga) Co Kim Jie. Habis itu, bukannya dia membalas menyerang kepada ciangbunjin itu, dia justeru menghadapi Ek Tiong Bouw dan membentak.

"He, kenapa kau tidak mau lekas-lekas mengembalikan sianthung guruku?"

Pendeta ini berkata begitu karena sekarang ia mengenali tongkat di tangan Tiong Bouw itu.

Tongkat itu terbuat daripada besi.

Setelah Liauw In mati sianthung itu diambil Kam Hong Tie, diubah menjadi tongkat biasa, lalu diserahkan pada Lu Ceng.

Lu Ceng, atau Thie Koaysian, adalah murid kepala dari Kam Hong Tie.

Karena bersenjatakan tongkat itu, Lu Ceng memperoleh julukan "Thie Koaysian" (si Dewa Tongkat Besi).

Itulah julukan Lie Thie (Tiat) Koay, salah seorang dewa dari Delapan Dewa (Pat Sian).

Ketika kemudian Lu Ceng menutup mata, tongkat itu diserahkan kepada adik seperguruannya, Ek Tiong Bouw.

Biat Hoa tidak hanya menegur Tiong Bouw, sembari berkata, ia terus menyerang.

Sebab sekali tindakannya yang dinamakan Tindakan Naga Melingkar, atau "Poan-liong Jiauwpou,"

Dengan apa ia menyingkir dari serangan Co Kim Jie.

Tiong Bouw juga berlaku sangat sebat.

Dia mengangkat tongkatnya dengan gerakan "Guntur dan kilat saling menyambar", dia menyerang kepala si pendeta yang murtad seperti gurunya.

"Bagus!"

Seru Biat Hoa.

Dia tidak berkelit, dia tidak menangkis, hanya disambutnya kemplangan itu.

Dengan mengegos kepalanya sedikit, yang dimiringkan, dibiarkannya tongkat itu menghajar pundaknya.

Keras terdengar suara hajaran itu!

Tapi dia tidak kurang suatu apa, sebaliknya, Tiong Bouw kaget dan heran, karena tongkatnya meleset, mental ke samping.

Segera setelah pundaknya dihajar, Biat Hoa bergerak lebih jauh, sebelah tangannya menyambar bagai golok kepada murid Kam Hong Tie.

Tiong Bouw bingung.

Dia sudah liehay, tetapi serangan si pendeta sangat luar biasa.

Untuk menolong diri, dia coba menggunakan tipu mengelit diri yang dinamakan "Tiatpoan kio", atau Jembatan Besi.

Tapi dia kalah sebat.

Tahu-tahu tongkatnya sudah kena disambar lawan yang liehay itu, tubuhnya sendiri merasakan suatu dorongan keras.

Menurut pantas, Ek Tiong Bouw dapat melayani Biat Hoa selama dua atau tiga puluh jurus, kalau sekarang dia menjadi terdesak demikian cepat, itulah karena kesegarannya belum pulih antero-nya bekas terluka pukulan Siulo Imsat Kang Beng Sin Thong beberapa hari yang lalu, teratai salju yang dimakannya belum sempat menolongnya seluruhnya.

Sebisabisa ia masih berkeras mempertahankan gagang tongkatnya, supaya tidak terampas musuh.

Biat Hoa Hwesio menggerakkan tangannya, ditarik dan dilonjorkan, maka robohlah Ek Tiong Bouw, jatuh terpelanting.

Sambil menggenggam tongkat besi, ia tertawa bergolak dan berkata.

"Ek Tiong Bouw, kau masih harus mempelajari banyak ilmu silat kita Ciamie Sippat Tiat!"

Setelah itu, ia cepat memutarkan tubuhnya, tangannya turut bergerak.

Tepat ia berbalik, datanglah serangan yang ketiga dari Co Kim Jie, dengan jurus "Ngoteng Kaysan".

Maka bentroklah tongkat mereka, suaranya demikian nyaring hingga menulikan telinga, lama suara itu masih mendengung.

Celaka untuk Kim Jie, tangannya sakit dan kesemutan, hingga ia tidak berani pula melawan keras dengan keras.

Tapi ia tidak mau menyerah kalah dengan begitu saja, segera ia menyerang pula.

Kim Jie adalah Ciangbunjin, ketua partai, dan semasa kecilnya, ia pernah menerima petunjuk berharga dari Liehiap Ie Lan Cu, jago wanita dari Thiansan, kepandaiannya bukan sembarang kepandaian, maka dapat ia menguasai dirinya.

Kali ini ia menikam lempang, tongkatnya digerakkan bagaikan poankoan pit.

Bahkan ia mendesak.

Beruntun tujuh kali Biat Hoa ditotok pergi pulang, selama itu dia berhasil menyelamatkan diri.

Dialah murid yang mewariskan ilmu silat Liauw ln Hwesio, selain liehay, dia mengenal baik ilmu silat partainya, dari itu, dapat dia melayani ketua Binsan Pay ini.

Tidak berdaya Kim Jie untuk merobohkan lawannya ini.

Setelah menghalau setiap serangan Co Kim Jie, Biat Hoa melakukan penyerangan membalas.

Dengan berani ia pun menggunakan tipu silat serupa, ialah "Ngo-teng Kaysan", atau "Lima orang malaikat membuka gunung".

Mulanya ia menghalau setiap serangan, lalu ia membalas dengan mencari jalan darah soankie hiat di dada si lawan wanita.

Kim Jie mesti membela diri, terpaksa ia menangkis, hingga kembali ia keras lawan keras, dan terhuyung mundur tiga tindak karenanya.

Biat Hoa Hwesio tidak berhenti sampai disitu.

Ia melompat maju, untuk mengulangi serangannya.

Keras-keras ia mendesak, hingga lekas juga Co Kim Jie seperti tak bisa bernapas.

Semua murid Binsan Pay menjadi terkejut karena heran dan kuatirnya.

Mereka tidak menyangka, bahwa pendeta ini demikian liehay.

Mereka juga menghadapi kesulitan.

Cio Kim Jie menjadi ciangbunjin, ketua mereka.

Karena sang ketua yang turun tangan sendiri, mereka sebagai murid, tidak dapat maju bersama untuk membantu.

Itu artinya pengepungan.

Di samping itu, Biat Hoa pun melayani ketua mereka dengan ilmu silat partai mereka.

Terutama di depan demikian banyak orang, kemenangan dengan pengepungan bukannya kemenangan yang mengharumkan nama.

Menurut aturan Rimba Persilatan, masih ada lain jalan untuk membantu Co Kim Jie sebagai ketua, ialah dengan majunya satu orang, untuk menggantikan, akan tetapi tindakan itu tidak dapat dilakukan.

Semua orang jeri untuk maju, setelah melihat betapa liehaynya Biat Hoa.

Bukan saja ketua mereka sendiri telah terdesak hebat, tadipun Ek Tiong Bouw dapat dirobohkan hanya dalam tidak lebih daripada dua jurus.

Dengan maju menggantikan, bukan melainkan tidak ada hasilnya, bahkan mungkin mereka akan berkorban cumacuma-tewas atau terluka parah-yang tentu menambah turunnya pamor Binsan Pay.

Dua perwira yang mengikuti Biat Hoa Hwesio itu juga menonton dengan perhatian sepenuhnya, mata mereka hampir tidak berkesip.

Setelah tiba jurus ke lima Biat Hoa telah makin unggul, tongkatnya bagaikan mengurung Kim Jie.

Menampak demikian, dua perwira itu lega sekali hatinya.

Mereka saling memandang, dan tertawa.

Justeru mereka tengah kegirangan, Biat Hoa Hwesio mendamprat mereka.

"Hai dua makhluk tolol!"

Demikian cacinya.

"Apakah perlunya kamu datang ke Binsan ini? Kenapa kau masih tidak mau lekas-lekas bekerja? Cepat kamu bongkar kuburan Lu Su Nio!"

Kedua perwira itu terkejut, tetapi mereka sadar.

"Baik!"

Mereka menjawab.

Mereka mengangkat sekop dan menghampirkan kuburan Lu Su Nio, guna mulai membongkar.

Itulah hebat!

Tak dapat perbuatan biadab itu dibiarkan saja!

Maka dua orang Binsan Pay segera maju, untuk mencegah.

Merekalah le Kauw dan Khiu Giok, dua orang murid tersayang dari Pek Tay Koan.

Dalam Binsan Pay, mereka termasuk generasi atau angkatan kedua, dan mengenai ilmu silat, mereka hanya kalah sedikit dari Ek Tiong Bouw, Co Kim Jie, Louw Too In dan Lim Kim Seng berempat.

Mereka yang harus maju karena waktu itu Kim Jie repot melayani lawan, sedang Tiong Bouw terluka, dan Too In dan Kim Seng tidak dapat hadir dalam pertemuan itu.

Jadi merekalah yang terhitung paling tangguh di saat itu.

Kedua perwira itu tahu, bahwa ada orang menyerang mereka, salah satu di antaranya menghunus pedangnya dan menangkis tanpa memutar tubuh lagi, menghalau serangan, sedang kawannya terus bekerja.

Pek Tay Koan terkenal sebagai Sintoo Ciu, si Golok Mustika, maka bisa dimengerti betapa liehay ilmu goloknya.

Dalam dunia kangouw, ia terkenal dan dimalui.

Sebagai murid-murid kesayangan Pek Tay Koan, Ie Kauw dan Khiu Giok tentu tidak dapat dipandang enteng, sedang sekarang mereka menyerang dengan hebat.

Dalam gebrakan selanjutnya, empat orang itu bertempur dalam dua rombongan.

Perwira yang lain terpaksa mesti melepaskan sekopnya dan menukar itu dengan pedang.

Artinya, mereka satu lawan satu.

Kedua perwira itu hebat.

Mereka menggunakan pedang tetapi ilmu silat mereka ialah ilmu silat golok Pek Tay Koan.

Inilah di luar daripada kebiasaan.

Sebaliknya daripada kikuk, pedang mereka menjadi liehay sekali.

Pedang bermuka dua, tidak seperti golok yang bermuka satu, jadi kedua tajamnya dapat bergerak lebih leluasa.

Mereka pun sangat sebat.

Dalam beberapa jurus saja, Ie Kauw dan Khiu Giok telah menjadi repot, di waktu didesak, dalam jurus yang ke enam belas, lengan mereka kena terserempet pedang.

Benar lengan itu tidak terluka parah, tetapi darahnya sudah lantas mengucur keluar.

Co Kim Jie tetap terdesak Biat Hoa Hwesio, walaupun begitu, ia masih belum kalah, hingga ia sempat melihat dua adik seperguruan itu terluka.

Ia menjadi kaget berbareng gusar, karena mana, hampir saja ia terhajar tongkat lawannya.

Biat Hoa juga melihat terlukanya Ie Kauw dan Khiu Giok, sembari berkelahi terus, ia tertawa dan mengejek.

"Kamu dikenal sebagai murid-murid angkatan ketiga dari Binsan Pay tetapi muridku pun kamu tidak sanggup lawan! Rupanya kamu sangat asing dengan ilmu silat partai kita! Dan kau, apakah kau masih ada muka untuk menjadi ciangbunjin?"

Kata-kata yang terakhir ini ditujukan kepada Kim Jie.

Coba Liauw In tidak telah dipecat dari Binsan Pay maka kedua perwira itu, yang menjadi muridnya, mesti terhitung sebagai murid-murid Binsan Pay angkatan ke empat.

Atau dengan kata lain, Ie Kauw dan Khiu Giok ialah susiok atau paman guru mereka.

Benar ilmu kepandaian Pek Tay Koan diajarkan oleh Liauw In tetapi aturan derajat tak dapat diabaikan.

Sekarang paman guru dikalahkan keponakan murid, itulah hebat.

Karena itu, le Kauw dan Khiu Giok terpaksa mundur tanpa bersuara.

Semua orang Binsan Pay menjadi bingung.

Siapa lagi dapat maju?

Dua perwira itu tidak menyerang terus pada Ie Kauw dan Khiu Giok, yang sudah mengundurkan diri, sebaliknya mereka bekerja pula, menggunai sekop mereka, untuk menggali kuburan Lu Su Nio.

"Dunia terbalik! Dunia terbalik!"

Ek Tiong Bouw berseruseru saking gusarnya.

Mana dapat keponakan murid membongkar kuburan salah seorang tertuanya?

Maka dalam lukanya, dia menyambar thiecio dari tangan seorang muridnya, dengan membawa itu dia maju untuk menyerang.

Tapi dia sedang terluka, dia tidak bisa dibiarkan saja.

Beberapa orang lantas maju untuk mencegah, sedang beberapa yang lain, maju untuk menghalang-halangi mereka itu membongkar terus.

Dalam suasana sangat tegang itu, belum lagi beberapa murid Binsan Pay sampai di kuburan, mendadak mereka mendapatkan seorang melompat mendahului mereka.

Bagaikan seekor garuda menyambar, kedua tangannya menjambak masing-masing seorang perwira, dan belum sempat mereka itu meronta, tubuh mereka sudah terangkat naik terlempar pergi, dan jatuhnya tepat di depan Ek Tiong Bouw-jatuh terlentang dengan kaki di atas, lalu tubuh mereka tak bergeming lagi!

Semua orang menjadi heran dan kagum.

Orang yang hebat itu ialah Kim Sie Ie.

Bukankah dia baru saja dikepung orangorang Binsan Pay?

Kenapa sekarang dia justeru membantu partai yang tadi memusuh-kannya?

Tidakkah heran, bahwa kedua perwira itu, yang demikian liehay, roboh hanya dalam satu sambaran?

Biat Hoa Hwesio terkejut, hatinya panas.

Ia belum pernah melihat Kim Sie Ie, akan tetapi, menyaksikan roman orang dan sepak terjangnya, ia lantas dapat menduga kepada Tokciu Hongkay.

Di dalam hatinya ia berkata.

"Jahanam ini benarbenar liehay, dia tidak lebih lemah dariku!"

Dengan hebat ia mendesak Co Kim Jie, hingga si nyonya mundur tiga tindak, habis mana dia melengak dan tertawa nyaring.

"Co Kim Jie!"

Serunya, mengejek.

"Kau menjadi ciangbunjin tetapi kiranya kau bersandar kepada lain orang! Binsan Pay disebut partai sejati, jikalau kau harus menggunakan penunjang orang luar, tidak seharusnya kau mengundang Tokciu Hongkay yang namanya kesohor busuk! Dengan ini maka hilanglah sudah muka terangmu, kau merusak nama baik Binsan Pay! Maka hari ini aku akan mengusir kau keluar dari partai kita!"

Muka Co Kim Jie menjadi merah, ia malu dan gusar sekali.

"Siapa minta bantuan orang luar?"

Ia berseru.

"Kau ngaco belo! Mari makan tongkatku!"

Sebenarnya nyonya ini berniat mendamprat Kim Sie Ie, yang membantu tanpa diminta, akan tetapi, ketika ia ingat si pengemis edan telah membantu padanya, ia membatalkan itu.

Ia ingat juga, bahwa para hadirin sudah tahu akan duduknya hal.

Bukankah ia, atau partainya, telah bentrok dengan Tokciu Hongkay?

Hanyalah saking terpaksa, ia menegur Biat Hoa dengan "ngaco belo"-nya itu.

Iapun membuktikan ancamannya, ia segera maju pula.

Biat Hoa Hwesio tidak menggubris caci si nyonya, sembari menangkis ia tertawa mengejek, saban-saban ia bersuara "Hm!"

Nyaring dan menusuk telinga.

Hanyalah tidak dapat terus menerus ia menghina secara begitu.

Segera terdengar tertawa Kim Sie Ie yang nyaring, yang menindih tertawanya itu.

Ia menjadi mendongkol, ia menoleh kepada si pengemis, matanya dipelototkan.

"Kau tertawakan apa?"

Ia menegur.

"Aku mentertawai kau, yang mengeluarkan angin busuk!"

Sahut Kim Sie Ie tenang. Dalam mendongkolnya, Biat Hoa mendesak pula Kim Jie, sesudah orang mundur tiga tindak, ia menoleh pula pada si pengemis.

"Apakah aku salah omong?"

Dia tanya. Dia maksudkan ejekannya kepada Kim Jie. Kim Sie Ie tertawa dingin.

"Memang!"

Sahutnya.

"Co Kim Jie orang macam apa? Mana dia dapat mengundang aku meminta bantuanku?"

"Habis, apakah perlunya kau datang kemari?"

Tegas Biat Hoa.

"Aku datang dengan maksudku sendiri!"

Menyahut Sie Ie.

"Co Kim Jie berkepandaian biasa saja, aku tidak melihat sebelah mata padanya, tetapi Lu Su Nio lain, ialah orang yang seumurku paling kuhargakan! Hari ini aku datang menjenguk kuburan Lu Su Nio! Aku melarang siapa juga merusak kuburannya! Siapa yang mengganggu sebatang pohonnya, atau selembar rumput, atau secokelan tanahnya-Hm! Tidak dapat aku membiarkannya!"

"Jadi kamu datang untuk Lu Su Nio?"

Biat Hoa menegaskan pula.

"Kau boleh berebut mulut dengan Co Kim Jie tentang kedudukan ciangbunjin, tentang urusan partai kamu, semua itu aku tidak perduli!"

Kata Kim Sie Ie.

"Tapi barusan kau mencaci aku, cacian itu aku catat dalam perhitunganku!"

Mendengar orang datang bukan guna urusan Binsan Pay, hati Biat Hoa lega.

"Jadi kau hendak membuat perhitungan denganku?"

Katanya.

"Baiklah! Bagus, bagus sekali! Kau tunggu sampai aku telah membikin beres urusan Binsan Pay, lantas aku bersedia untuk melayani kau!"

Ia melirik si pengemis edan, ia mendapatkan pengemis itu berdiri di samping kuburan Lu Su Nio.

Jadi benar dia tidak lantas turun tangan.

Sekarang Biat Hoa benar-benar berhati lega, maka ia dapat melayani lagi Co Kim Jie dengan bersungguh hati.

Ia ingat, bahwa ia sudah melawan ketua Binsan Pay itu sampai delapan jurus, sedang tadi ia mengatakan, ia hendak merobohkan Kim Jie dalam sepuluh jurus...

Co Kim Jie tidak mengambil mumat bahwa orang lagi mengadu mulut, ia tetap maju, ia menyerang terus dengan tongkatnya.

Bahkan tengah orang berbicara, ia menyerang hebat sekali.

Biat Hoa Hwesio melihat serangan itu.

"Bagus!"

Serunya, sambil menangkis.

Ia menggunakan jurusnya "Naga bersembunyi naik ke langit".

Itulah jurus terliehay dari "Hokmo Thunghoat", ilmu tongkat "Menaklukan Iblis".

Kedua tongkat bentrok keras, suaranya nyaring sekali, berkumandang di lembah-lembah.

Celaka murid Binsan Pay yang tenaga dalamnya masih hijau, telinganya terasa ketulian dan sakit sampai mengeluarkan darah.

Kesudahan bentrokan itu juga hebat untuk Co Kim Jie, ketua Binsan Pay itu.

Tanpa dapat dipertahankan, tongkatnya bengkok melengkung hingga ujung tongkat lawannya bagaikan tercangkel terjepit.

Sudah begitu, bukannya Biat Hoa menarik pulang tongkatnya itu, dia bahkan terus memutarnya dengan tenaga yang dipusatkan.

Kali ini dia menggunakan jurus "Hoankang tohay", yaitu "Membalikkan sungai dan laut".

Mau atau tidak, tongkat Kim Jie tertarik hingga turut terputar!

Di saat ciangbunjin Binsan Pay itu memegang tongkatnya erat-erat seraya memasang kuda-kudanya kuat-kuat, untuk melindungi kehormatannya, di antara mereka terdengar satu suara nyaring halus, lalu tampak berkelebatnya satu cahaya putih.

Cahaya itu mencelat keluar dari antara orang-orang Binsan Pay, yang sejak tadi asyik menyaksikan pertempuran dahsyat itu.

Sebagai kesudahannya, yang dibarengi berkilaunya cahaya pedang, terdengarlah suatu suara nyaring!

Sekarang orang melihat munculnya Kok Cie Hoa, si nona muda belia.

Dia menyerang dengan pedangnya, bukan kepada Co Kim Jie, bukan kepada Biat Hoa Hwesio, hanya ke tengah tongkat mereka, atas mana lantaslah kedua tongkat itu terlepas satu dari lain!

Kesudahannya hebat untuk Co Kim Jie, yang lagi menarik tongkatnya keras-keras, ketika tongkat itu bebas, lolos dari cangkelan, ia tidak dapat menahan tubuhnya.

Maka syukur untuknya, Lie Ho yang sebat sudah lantas berlompat menubruk untuk menahan tubuhnya itu.

Semua orang heran dan kagum.

Sebenarnya, mengenai tenaga dalam, Kok Cie Hoa juga tidak dapat menandingi Biat Hoa Hwesio.

Akan tetapi, di samping kelemahan itu, ia menang ringan tubuhnya dan kecerdasannya, ia dapat menggunakan kecerdikannya.

Ilmu silat pedang Lu Su Nio ialah "Hian Lie Kiamhoat".

Ilmu pedang itu memang teristimewa untuk wanita, yang biasanya kalah tenaga daripada pria.

Maka ilmu itu serasi untuk Cie Hoa.

Ilmu pedang itu jadinya mengutamakan kecerdikan.

Karena itu, kesohornya ilmu pedang itu sama dengan kesohornya Thiansan Kiamhoat, ilmu pedang Thiansan Pay.

Thiansan Kiamhoat menang kuat, Hian Lie Kiamhoat menang lincah.

Demikian, dengan kegesitan dan kecerdikannya, si nona memisahkan mereka, dengan mana pun berarti ia menolong Kim Jie.

Biat Hoa tidak menyangka, bahwa akan ada orang yang menyelak.

Ketika itu ia tengah mengerahkan tenaganya untuk membikin Co Kim Jie terlempar roboh.

Coba ia berlaku tenang, mungkin Cie Hoa tidak berhasil membuat tongkatnya itu terlepas.

Ia terkejut mendapatkan nona itu, yang masih begitu muda, sudah sedemikian liehay.

Ia berniat membuka mulutnya, buat menegur, hanya belum lagi ia sempat berbuat begitu, ia sudah didahului si nona "Suci, untuk menyembelih ayam tak usahlah memakai golok kerbau!"

Kata si nona, yang sengaja bersikap jumawa.

"Pendeta jahat ini berani mengganggu kesucian kuburan guruku, sudah seharusnya saja aku yang memberi hajaran padanya! Maka harap suci memberikan perkenan padaku!"

Hwesio itu menjadi heran.

"Apa?"

Katanya.

"Kau murid Lu Su Nio?"

Kok Cie Hoa membalingkan pedang Songhoa Kiam warisan gurunya itu.

"Keledai gundul!"

Dia menegur.

"apakah manusia sebagai kau dapat sembarang menyebut nama guruku? Hm!"

Lantas saja teguran itu dibarengi tikaman "Gioklie coan-ciam", atau "Bidadari memasukkan jarum", ke tenggorokan si pendeta!

Ketika itu Co Kim Jie, yang napasnya memburu, tengah berduka sekali dan ruwet pikirannya.

Itulah karena kata-kata Cie Hoa, yang memohon perkenan untuk mewakilkan ia menghukum Biat Hoa.

Dapatkah ia meluluskan?

Kalau ia memberi ijin, apakah itu bukan berarti ia mengakui si nona anggauta Binsan Pay?

Nona itu memang murid Lu Su Nio!

Jikalau ia menolak, suasana sedang demikian tegang dan berbahaya!

Tanpa Cie Hoa, siapa dapat menentang Biat Hoa Hwesio yang tangguh dan temberang itu?

Ek Tiong Bouw dapat mengerti kesulitan ketuanya itu.

"Suci, sukar didapatkan orang sebagai Cie Hoa, yang sudah mengajukan diri,"

Ia berbisik.

"maka biarlah dia mencobacoba..."

Kim Jie berpikir keras. Ia tidak dapat menyia-nyiakan waktu lagi. Maka ia berkata dengan nyaring.

"Kok Cie Hoa, kau lakukanlah tugasmu! Kalau sebentar si pendeta jahat telah dipukul mundur, aku tahu bagaimana aku harus bertindak!..."

Kata-kata itu ialah kata-kata pengakuan bahwa Cie Hoa orang Binsan Pay!

Hanya, belum lagi habis suara si ketua Binsan Pay itu, Kok Cie Hoa sendiri sudah bergebrak dengan Biat Hoa Hwesio, yang ia serang keras-keras.

Si hwesio, yang heran dan penasaran, sudah melayani bertempur, hingga pedang dan tongkat itu sering bentrok dengan berbunyi keras dan nyaring.

Hingga suara nyonya itu sampai tak kedengaran tegas.

Cie Hoa menginsyafi, bahwa ia kalah tenaga dalam, maka juga begitu menyerang ia mendesak, ia pun menggunakan siasat, ialah tikamannya kadang-kadang gertakan belaka.

Berbareng dengan itu, ia menggunakan kelincahannya.

ialah ia melompat ke segala penjuru, ke samping dan ke belakang dan balik ke depan atau ke samping lain.

Artinya, ia berputar-putar mengitari lawannya yang kuat itu.

la membuat mata orang berkunang-kunang kesilauan cahaya pedangnya yang berkilauan.

Menghadapi serangan secara demikian, Biat Hoa Hwesio berlaku tenang.

Ia memutar tongkatnya hingga, umpama kata, air pun tak dapat menembusinya.

la berputaran mengikuti si nona, agar tidak sampai ia kesalahan tangan.

Maka saking seringnya senjata mereka beradu, suara berisik tak hentinya menulikan telinga Cepat jalannya pertempuran itu, sebentar saja sudah sepuluh jurus, terus meningkat hingga dua puluh jurus.

Semua hadirin, kecuali Kim Sie Ie, heran dan kagum tak terkirakan.

Semua kenal Biat Hoa, yang liehay sekali.

Buktinya Tiong Bouw roboh dalam segebrakan dan Kim Jie tak dapat bertahan sampai sepuluh jurus.

Sebaliknya nona ini, yang sangat muda, yang baru dikenal dan belum diketahui kepandaiannya, ternyata dapat bertahan demikian lama!

Bahkan setelah dua puluh jurus, ia masih tetap gagah, tidak ada tanda-tandanya, bahwa ia akan kalah!

Akhir-akhirnya, saking kagum, orang lantas bersorak setiap kali serangan si nona tampak berbahaya sekali, tidak perduli Biat Hoa saban-saban dapat menangkis atau mengelakkannya.

Sejenak itu, lenyaplah kekuatiran mereka, bahwa si nona nanti kena dikalahkan pendeta ganas itu.

Co Kim Jie berdiam saja hatinya diliputi kedukaan dan kemendongkolan.

Ia pun malu sekali, hingga kulit mukanya sebentar merah dan sebentar pucat.

Ia merasa sangat risau sendirinya.

Kim Sie Ie melihat kesulitan ketua Binsan Pay itu, ia tertawa dalam hatinya.

Pertempuran terus berlangsung.

Sampai pada jurus ketiga puluh, Biat Hoa tetap terkurung sinar pedang, meskipun tidak ada tandanya bahwa dia sudah dekat kalah.

Dia tampak agak terdesak.

Itulah ada sebab-sebabnya.

Ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat diciptakan Tokpie Sinnie pada han tuanya.

Ilmu silat itu diwariskan kepada Lu Su Nio seorang.

Liauw In Hwesio diajari semua ilmu tetapi tidak ilmu pedang ini.

Maka di samping dia memang gagah, menghadapi Tiong Bouw dan Co Kim Jie, hatinya tabah.

Sama-sama orang dari satu perguruan, dan ia mengenal baik ilmu silat mereka itu.

Demikian, sambil bersedia, dengan gampang saja ia dapat mengalahkan dua orang itu.

Tidak demikian menghadapi Kok Cie Hoa, karena Hian Lie Kiamhoat asing untuknya.

Oleh karena ini, karena ia pun ingin merobohkan si nona, maka ia bertarung dengan waspada, tidak segarang tadi waktu melayani Kim Jie.

Ia malu nanti ditertawakan kaum Rimba Persilatan.

Itulah akan terjadi kalau ia roboh.

Lewat jurus ketiga puluh itu, maka ilmu silat pedang Hian Lie Kiamhoat Kok Cie Hoa telah digunakan lebih daripada separuhnya.

Selama melakukan perlawanan, Biat Hoa sudah mengamat-amati-nya, maka selanjutnya, ia mulai mengenalnya, bahkan ia lantas mendapat kenyataan si nona kalah tenaga dalamnya.

Ia lantas percaya, bahwa akhirnya ialah yang akan memperoleh kemenangan.

Karena ini, dengan perlahan-lahan ia menukar siasat.

Ialah ia mulai melakukan penyerangan juga, untuk membalas merepotkan nona itu.

Dengan begitu, tongkatnya yang kasar dan berat itu lantas dapat mengimbangi pedang Songhoa Kiam Sampai disitu, semua hadirin menonton dengan perhatian sepenuhnya.

Tidak lagi ada yang bersorak seperti tadi.

Sekarang mereka melihat kedua pihak sama imbangannya.

Diam-diam pun ada yang merasa kuatir...

Selagi bertarung seru itu, mendadak Biat Hoa berseru nyaring, dibarengi serangan toyanya dengan jurusnya "Pathong hong-ie", ialah "Angin dan hujan di delapan penjuru".

Benar hebat serangannya ini, sebab tongkatnya mendatangkan suara angin menderu-deru, seperti gemuruh guntur.

Dengan begitu, dengan lantas Cie Hoa seperti berbalik kena dikurung tongkat!

Banyak penonton yang hatinya lantas berdenyutan.

Biat Hoa menggunakan kekerasan, tetapi itu justru membangkitkan semangat perlawanan Cie Hoa.

Si nona ingin melepaskan diri dari kurungan itu.

Maka mendadak saja tubuhnya meloncat tinggi, sambil mencelat itu, pedang dan tongkat beradu.

Ialah ujung pedang menowel dan menekan batang tongkat, membantu ia mencelat.

Tapi, belum sempat ia lolos dari kepungan, dengan liehaynya si pendeta sudah menyusulkan serangan "Cianliong Bengthian"

Yang sangat berbahaya, ialah jurus "Naga bersembunyi naik ke langit", yang tadi Biat Hoa gunakan terhadap Co Kim Jie!

Di antara para hadirin ada beberapa orang tua, yang usianya sudah enam puluh lebih, ketika mereka menyaksikan tipu silat Cie Hoa ini, mereka kagum hingga mereka bersorak.

Tipu silat itu memperingatkan mereka pada saat Lu Su Nio membersihkan partainya, ketika Lu Su Nio, dalam saat sangat berbahaya, merebut kemenangan atas Liauw In.

Hanyalah sayang, meskipun Kok Cie Hoa telah mewariskan ini, masih kurang sempurna latihannya.

Pula ia masih terlalu muda dan kurang pengalaman.

Memang, ketika Lu Su Nio baru mulai muncul, dia tidak segagah Cie Hoa, hanya sesudah berselang belasan tahun, dia telah memperoleh kemajuan pesat, kemajuan yang didapat berkat lanjutan latihan sungguh-sungguh serta pelbagai pengalaman.

Juga, ketika ia menempur Liauw In itu, Liauw In sudah letih melawan enam saudaranya yang lain.

"Bagus!"

Teriak Biat Hoa apabila ia menyaksikan gerakan si nona.

Ia tahu, bahwa itulah jurus yang sangat liehay tetapi ia tidak takut, bahkan ia bersedia untuk menyambutnya.

Demikian ia membuat dua gerakan dengan berbareng.

Dengan tangan kirinya ia menyerang dengan Pekkhong ciang, pukulan "Udara kosong", dan dengan tangan kanan, ialah dengan tongkatnya, ia menusuk ke arah pusar si nona.

Tubuh Cie Hoa seperti lagi melayang di udara, ketika pedangnya disampok dengan "Pekkhong ciang", pedang itu menyamping dari sasarannya, hingga terbukalah tubuhnya bagian depan.

Menyaksikan ini, semua penonton kaget tidak terkira, sebab jiwa Cie Hoa terancam tongkat yang liehay itu.

Pada detik maut itu Cie Hoa memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa.

Ia ternyata masih mempunyai kepandaian istimewa.

Ia menggerakkan kakinya, tubuhnya melengkung, hingga kedua kakinya itu melewati perutnya, kaki mana dipakai menginjak ujung tongkat!

Maka mengikuti serangan tongkat itu, tubuhnya mental balik beberapa tombak, hingga ia lantas dapat menaruh kaki dengan tidak kurang suatu apa!

Di antara para hadirin, kecuali Kim Jie dan Tiong Bouw serta beberapa yang lain, hampir tak ada yang dapat melihat gerakan luar biasa cepat itu, dengan mana Cie Hoa menolong jiwanya, hingga mereka itu kaget dan menyangka si nona telah menjadi korban si hwesio ganas.

"Bagus! Bagus!"

Kim Sie Ie ber-tepuk-tangan menyaksikan pertandingan itu.

"Ini dia yang dinamakan tipu dengan kelebihan sendiri menyerang kekurangan lawan! Co Kim Jie, apakah kau telah melihatnya dengan nyata?"

Kim Sie le mengucapkan kata kata itu dengan suara tenaga dalam yang mahir yaitu "Coan-im jip-bit", artinya.

"Menyalurkan suara masuk merembes". Ketika Biat Hoa mendengar itu, dia terkejut, sebab dia merasakan kupingnya berbunyi mendengung, sedang ketika itu, dia tengah kagum berbareng menyesal sebab dia gagal merobohkan Cie Hoa. Tanpa merasa, hati pendeta ini menjadi kacau sendirinya. Tapi dia lagi menghadapi musuh, dia lekas menenangkannya. Dia tidak berani melayani si pengemis edan, itulah berbahaya. Maka dia mengawasi Cie Hoa tajam-tajam. Setelah terlempar mental itu, Cie Hoa tidak terus berdiam saja. Ia sama sekali tidak terluka. Sambil berseru nyaring, ia melompat maju pula, untuk menempur pula si pendeta. Ia mendapat semangat karena ia mendengar suara Kim Sie Ie barusan, kata-kata yang membuatnya sadar. Juga kali ini ia membuat perubahan pada ilmu pedangnya. Ia membuat gerakan pesat seperti "kupu-kupu menembusi bunga-bunga"

Atau "capung menowel air", begitu menyerang, begitu ia lompat mundur, dan begitu menikam, ia mencelat ke samping.

Demikian ujung bajunya berkibaran dan pedangnya berkilauan.

Pedang Songhoa Kiam nelusup berulang-ulang di antara tongkat Biat Hoa.

Cie Hoa menang ringan tubuhnya, ia kalah tenaga dalam.

Itu artinya, ia kalah ulat.

Pertempuran macam ini meminta tenaga besar.

Si nona terpaksa berbuat begini sebab ia tidak sudi mundur.

Si pendeta ganas, kuburan gurunya mau dibongkar, maka ia hendak bertahan, guna melindungi kuburan gurunya itu.

Kalau ia mau, dengan gampang ia dapat mengangkat kaki, tapi ia tidak sudi berbuat begitu.

Maka juga, selagi Biat Hoa merasakan napasnya mulai sesak, si nona sendiri sudah bermandikan peluh.

"Keledai gundul ini sombong sekali, kiranya dia benar-benar liehay,"

Kata Kim Sie le di dalam hatinya setelah ia menonton sekian lama.

"Dilihat begini, kalau aku menempur ia satu lawan satu belum tentu aku akan dapat mengalahkan dia... Sekarang ini Cie Hoa belum terlihat tanda-tandanya akan kalah, akan tetapi apabila mereka bertempur terus secara begini, mungkin dia sukar lolos dari kekalahan... Aku telah datang ke gunung Binsan ini, apakah aku mesti menonton saja?"

Walaupun ia berpikir demikian, Sie Ie pusing juga.

Ia telah memikirkan tetapi ia belum mendapat jalan untuk membantu si nona.

Jikalau ia menggunakan tipu saja, yakni secara diamdiam ia menyerang dengan senjata rahasia, pekerjaan itu ringan dan mudah sekali, akan tetapi menghadapi Biat Hoa, ia sangsi juga.

Bagaimana kalau ia gagal karena si hwesio sangat liehay?

Di samping itu masih ada satu kesukaran lain.

Kok Cie Hoa lagi membela gurunya, kalau dia menang karena bantuan orang luar, kemenangan itu bukannya mentereng, bahkan memalukan.

Lagi pula ia telah berjanji, bahwa ia tidak akan campur tangan dalam urusan Binsan Pay.

Maka umpama kata ia hendak menempur Biat Hoa, ia mesti menanti sampai lain ketika.

Bagaimana sekarang?

Sementara itu pertandingan telah berjalan sampai seratus jurus.

Biat Hoa tampak tetap gagah, kalau bukan semakin gagah.

Tongkatnya menderu-deru terus, tongkat itu agaknya mencegah Cie Hoa datang dekat kepadanya.

Di samping itu, pedang Songhoa Kiam tetap sama lincahnya, tetap seperti berterbangan menyambar-nyambar, hingga di mata umum kedua lawan ini sungguh setanding, sama tangguhnya, tidak tahu siapa akan menang dan siapa kelak kalah.

Melainkan Kim Sie Ie yang dapat merasa, karena ketika ia mendengar bentrokan pedang dengan tongkat, suaranya itu semakin kendor.

Itulah tanda, bahwa tenaga si nona telah berkurang tiga bagian.

Ia percaya, kalau pertempuran berlangsung sampai dua atau tiga ratus jurus, akhirnya Cie Hoa akan kecundang.

Karenanya, ia menjadi semakin gelisah.

Ketika itu, kedua perwira yang tadi dilemparkan Kim Sie Ie hingga ke depannya Ek Tiong Bouw, telah dibekuk dan dibelenggu orang-orang Binsan Pay.

Tadi mereka tidak sempat didengar keterangannya.

Sekarang, melihat uletnya pertempuran, Co Kim Jie lantas menggunakan kesempatannya.

Kim Jie menitahkan mereka itu digusur ke hadapannya, sedang ia sendiri kasak-kusuk dengan Tiong Bouw, merundingkan tindakan terhadap mereka itu.

Telah disetujui untuk minta bantuan pertimbangan salah seorang luar yang usianya sudah lanjut, yaitu Hok Poo Yu, piauwsu kepala dari Cinwan Piauwkiok dari Pakkhia.

Ketika piauwsu itu mendekat, dengan berbisik ia kata pada Kim Jie dan Tiong Bouw.

"Kedua orang ini adalah tongnia dari pasukan Gielimkun dan telah mendapatkan hadiah baju makwa kuning dari raja. Yang tinggi itu bernama Kheng Sun dan yang kate Cin Tay."

Selagi piauwsu ini berkata begitu, dua tawanan itu tiba di depan mereka. Kheng Sun sudah lantas membuka matanya lebar-lebar dan berkata dengan nyaring.

"Co Kim Jie, kau hendak berbuat apa terhadap kami?"

Itulah perkataan kasar yang sungguh menantang Kim Jie menjadi gusar.

"Kenapa kamu berani datang ke Binsan ini untuk mengacau? Kenapa kamu berani mencoba membongkar kuburan orang?"

Bentaknya.

"Dosa kamu ialah dosa tak berampun! Ciangheng teecu, mari! Rangket mereka tiga ratus kali, kemudian usir mereka turun gunung!"

"Ciangheng teccu"

Ialah murid Binsan Pay yang bertugas menjalankan hukuman. Mendengar itu, Cin Tay tertawa terbahak-bahak.

"Co Kim Jie, beranikah kau?"

Teriaknya.

"Kecuali kalau kau membinasakan kami maka perbuatan menghina pembesar pemerintah yang lagi menjalankan tugas ini, tentu akan hebat akibatnya! Kau sendiri tidak akan sanggup bertanggung jawab, juga tidak seluruh Binsan Pay! Lihatlah, apa jadinya dengan Siauwlim Sie? Siauwlim Sie berani menentang pemerintah, mereka dibakar habis! Jikalau kau tidak berani membunuh kami, maka aku pasti akan menuntut balas!"

Binsan Pay dibangun oleh Tokpie Sinnie, tujuannya yang utama ialah menentang pemerintah Boan Ceng, dan berusaha membangun lagi kerajaan Beng.

Lu Su Nio berani membunuh kaisar Yong Ceng, maka apa yang dibuat takut daripada dua perwira Gielimkun ini?

Hanya di samping itu ada suatu sebab lain, yang membuat pihak Binsan Pay tidak berani berlaku berterang.

Ialah, aksi mereka selalu dilakukan secara diamdiam.

Umpama kematian kaisar Yong Ceng di tangan Lu Su Nio.

Meski umumnya kaum Rimba Persilatan mengetahuinya, mereka membicarakannya selalu secara tersembunyi, tidak ada yang berani menyebut-nyebutnya di muka umum.

Terhadap pemerintah, lebih-lebih itu dirahasiakan.

Tidak ada seorang jua yang mau mengaku ialah yang membunuh raja Ceng itu.

Ini pula sebabnya, mengapa, meski pemerintah membenci Binsan Pay, perkumpulan itu tidak dapat dihukum secara terang-terangan.

Thia Ho murid Ciu Sim, dalam Binsan Pay angkatan ketiga, kedudukannya hanya di bawah Co Kim Jie dan Ek Tiong Bouw.

Mendengar suara Kheng Sun dan Cin Tay, ia lantas dapat berpikir.

Ia memang bertabiat tenang.

Ia menarik Tiong Bouw ke pinggiran 'dan berkata berbisik kepada suheng ini.

"Tiga puluh tahun berselang Bibi Lu telah membunuh Kaisar Yong Ceng, semenjak itu pemerintah Boan memusuhkan Binsan Pay kami, hanya karena belum ada alasannya, pemerintah itu belum bertindak menyengkeram kami. Pemerintah juga tidak mempunyai pegangan suatu apa terhadap ang-gautaanggauta kita sebab di muka umum, perbuatan kita tak tampak nyata. Oleh karena itu, hari ini baiklah kita jangan menantang pemerintah Boan karena dua orang ini."

Ek Tiong Bouw mengerti pikiran adik seperguruan itu yang jauh pandangannya.

"Memang sulit untuk membunuh dua orang ini guna membungkam mulutnya,"

Pikirnya.

"Sekarang ini ada banyak orang luar, maka sukar sekali untuk meminta mereka itu semua menutup mulut... Bagaimana sekarang? Dibunuh tidak dapat, dilepaskan juga tidak bisa..."

Co Kim Jie murka sekali, akan tetapi ketika ia ingat akan kesulitan litu, hawa amarahnya menjadi reda.

Tapi mereka berada di depan orang banyak, mana bisa ia berdiam saja tanpa mengambil suatu tindakan?

Maka ia lantas berpikir keras.

"Kamu berdua jahat sekali!"

Kemudian katanya dingin.

"Kenapa kamu datang kemari dan berani membongkar kuburan tertua kami? Maka itu kamu harus dihukum menumt aturan kaum Rimba Persilatan. Dalam hal ini orang tidak dapat memandang lagi kamu hamba negeri atau bukan!"

Kheng Sun tidak takut, dia pun membawa sikapnya yang tawar.

"Kau tidak sudi mengakui kami murid-murid Binsan Pay, maka kami juga tidak sudi mengakui kaulah ciangbunjin kami!"

Katanya.

"Maka mana dapat kau berlagak sebagai ciangbunjin terhadap kami? Kau juga tidak dapat bicara tentang aturan kaum Rimba Persilatan! Anggaplah benar kita sudah bersalah telah membongkar kuburan tetapi untuk itu kamu harus kirim kami pada pembesar negeri! Mana dapat kamu menghukum kami secara diam-diam begini? Tidak dapat kamu menggunakan hak pribadimu! Apakah pemerintah sudah tidak ada undang-undang?"

Perkataan ini ada alasannya yang pantas, biarpun berupa ancaman, itulah tepat.

Maka, mendengar itu, Co Kim Jie jadi menggigil tubuhnya karena menahan hawa amarahnya.

Ia gusar dan mendongkol tanpa dapat melampiaskannya.

Hampir ia memerintahkan ciangheng teecu melakukan juga tugasnya, atau Cin Tay mendahuluinya.

"Co Kim Jie,"

Kata tongnia Gielimkun itu.

"bukankah kau seorang yang mempunyai rumah tangga? Umpama kami mesti mengorbankan jiwa kami maka kau juga, kau tidak akan luput dari bahaya kemusnahan seluruh rumah tanggamu itu! Hanya sebegini kata-kataku, maka terserah kepadamu, kau hendak membunuh kami atau bagaimana!"

Hebat kata-kata Cin Tay ini.

Co Kim Jie tinggal di kecamatan Tok-koan, suaminya seorang kenamaan tetapi suami itu bukan orang kalangan persilatan, maka umpama kata ia tidak menyayang dirinya sendiri, ia masih harus mengingat rumah tangganya itu.

Ketika ia menoleh kepada Tiong Bouw dan Thia Ho, mereka ini menggeleng kepala seraya memperlihatkan air muka yang guram.

Itulah isyarat supaya ia jangan bertindak sembrono.

Selagi Kim Jie dan semua orang Binsan Pay itu sulit sekali keadaannya, terdengar tertawa nyaring, yang nadanya aneh, tertawa Kim Sie Ie.

"He, Co Kim Jie!"

Kata si pengemis edan.

"Dua orang ini akulah yang membekuknya, mengapa kau lancang sekali menghadapkan mereka kepadamu? Jikalau mereka hendak dihukum, itulah bukan kekuasaanmu untuk menghukumnya!"

Di waktu berkata demikian, Kim Sie Ie sudah dekat dengan mereka, sebab tengah mereka itu berbicara dan bingung, diam-diam ia bertindak mendekati.

Mendengar suara itu, Ek Tiong Bouw menjadi sangat girang.

"Saudara Kim!"

Ia berseru.

"silahkan kau bawa mereka!"

Kim Jie berdiam saja.

Tidak perduli berapa besar mendongkol dan gusarnya, iapun mengerti, bahwa tindakan Kim Sie le ini tepat sekali untuk pihaknya.

Dengan begitu mereka jadi terlolos dari kesulitan mereka.

Kim Sie le tertawa bergclak-gelak, dengan masing-masing sebelah tangannya, ia memegang tubuh Kheng Sun dan Cin Tay, yang ia angkat bagaikan menjinjing benda yang enteng sekali.

Ia menenteng mereka ke depan kuburan Lu Su Nio dimana mereka tadi secara bengis menggali tanah pekuburan.

Disitu mereka menghadapi Biat Hoa Hwesio dan Kok Cie Hoa, yang masih asyik bertempur seru walaupun mereka sudah bertarung selama dua ratus jurus, hingga si nona basah kuyup bajunya, sedang gerakan pedangnya-mau atau tidak-sudah tak segesit semula tadi.

Kim Sie le meletakkan kedua tongnia Gielimkun itu dengan digabrukkan, terus dia melengak, untuk memperdengarkan tertawanya yang mengguntur.

Mendengar tertawa itu Kheng Sun dan Cin Tay bergidik tubuhnya, bangun bulu romanya.

Itulah suara yang penuh napsu membunuh...

Semua hadirin di gunung itu lantas saja berpaling kepada Kim Sie Ie, sepak terjang siapa sangat menarik perhatian, hingga untuk sejenak, pertempuran seru di antara Biat Hoa Hwesio dan Kok Cie Hoa seperti dikesampingkan.

Kim Sie Ie menghadapi kedua perwira itu, satu di antaranya ia injak dengan kakinya, lalu ia berkata dengan nyaring.

"Ketahuilah oleh kamu, aku ini, pertama-tama tidak mempunyai ayah dan ibu, kedua tidak mempunyai isteri dan rumah tangga, ketiga tidak mempunyai milik dan harta benda, dan ke empat tidak mempunyai juga anak atau cucu! Maka aku, memandang ke atas tidak takut pada Langit, melihat ke bawah tidak jeri pada Bumi! Sekalipun raja Tartar kamu, jikalau dia terjatuh ke dalam tanganku, akan kurangket dia tiga ratus kali! Maka juga, membunuh kamu berdua, hambahamba negeri yang berpangkat sangat rendah, bagiku sama saja dengan menginjak-injak dua ekor semut!"

Dua perwira itu takut bukan main.

Kalau tadi di depan Co Kim Jie mereka berani berkepala besar, di depan Tokciu Hongkay, nyalinya menjadi ciut.

Kim Jie berumah tangga, Binsan Pay ada rumah perkumpulannya, mereka dapat diancam, tetapi si pengemis edan yang sebatang kara ini, yang liehay luar biasa.

Mereka tidak berdaya sekali.

Akan tetapi, karena sulit semua-semua, Kheng Sun menjadi nekat.

Dia memang lebih keras tabiatnya daripada Cin Tay.

Maka ia mementang bacotnya.

"Kau... kau... manusia yang sangat beracun, Tok... Aduh! Aduh! Aduh!..."

Sebenarnya ia mau menyebut "Tokciu Hongkay", akan tetapi belum sampai dapat mengatakan itu.

mendadak dia merasakan seluruh tubuhnya sakit seperti dipagut ribuan ular, hingga setelah berteriak teraduh-aduh, dia menjadi setengah mati menderita siksaan.

Dia ingin mati tetapi tidak bisa, dia hanya bisa bergelisah dan menjerit teraduh-aduh...

Kim Sie Ie, yang telah menurunkan tangannya, tertawa.

"Hai, kepala anjing, mengapa kau tidak mau mencaci terus?"

Ejeknya.

"Apakah kau hendak memancing hawa amarahku supaya aku lekas-lekas membinasakan kamu berdua? Tidak demikian gampang, sahabat! Aku masih hendak main ayal-ayalan..."

Biarpun ia merasa sangat sakit, otak Kheng Sun masih sadar.

Kim Sie Ie menggerakkan kakinya ke punggung dua orang itu, ke jalan darah kwiechong hiat, jalan darah terpenting di bagian belakang tubuh manusia.

Dua perwira itu lantas berulang-ulang memperdengarkan jeritan yang menyayatkan.

Mereka mirip dua ekor binatang yang terluka sangat berat.

Mendengar itu, para hadirin menutup kuping mereka.

Mereka yang hatinya lemah tidak sanggup mendengarnya terus menerus.

Kheng Sun dan Cin Tay menjadi anggauta-anggauta Gielimkun, bahkan menjadi tongnia, komandan, akan tetapi merekalah murid-murid Biat Hoa Hwesio.

Juga adalah guru ini, yang menganjurkannya pergi ke Pakkhia, kota raja, untuk melamar pekerjaan dalam Gielimkun.

Karena Biat Hoa mengandung niat untuk pada satu waktu nanti mengacau di gunung Binsan, guna membalaskan sakit hati gurunya terhadap Lu Su Nio.

Hari ini telah tiba saatnya, bertiga mereka datang dengan diam-diam, kemudian mereka beraksi menggali kuburan salah satu jago dari Kanglam Cithiap itu tanpa memperdulikan bahwa disitu ada banyak orang Binsan Pay.

Memang sengaja Biat Hoa berbuat demikian, guna menghina Co Kim Jie semua, guna mengilas-ilas orang-orang Binsan Pay itu.

Hanya si pendeta tidak pernah bermimpi, bahwa disini dia akan berhadapan dengan si pengemis edan!

Selagi melayani Kok Cie Hoa, Biat Hoa Hwesio, mendengar jeritan hebat, teriakan kedua muridnya itu.

Inilah ia tidak sangka, maka ia menjadi kaget luar biasa.

Ia juga merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk.

Ia mempunyai latihan belasan tahun, tenaga dalamnya mahir, tidak urung hatinya tergoncangkan jeritan yang menyayatkan hati itu, hingga pikirannya jadi terganggu, dan asabatnya menjadi kacau.

Ketika itu Kok Cie Hoa tengah menghadapi kesulitan.

Ia kalah tenaga dalam, ia sudah jatuh di bawah angin.

Hanya sebab dapat menguatkan hati, bisa juga ia terus melayani pendeta yang liehay itu.

Ia telah memusatkan perhatiannya kepada perlawanannya, maka itu meski juga ia mendengar jeritan kedua perwira Gielimkun itu, ia tidak menggubrisnya.

Inipun ada baiknya untuknya, karena selagi ia tetap dapat memusatkan pikirannya, Biat Hoa sebaliknya goncang pemusatannya itu, nyalinya seperti tergempur runtuh.

Dengan lekas Cie Hoa mengubah kedudukannya, dari kalah angin menjadi berimbang, dari terdesak, ia dapat membalas menyerang, bahkan dengan hebat.

Maka lagi sekali pedangnya bersinar berkilauan.

Dengan pedangnya itu, ia memaksa lawannya main mundur.

"Celaka!"

Biat Hoa mengeluh dalam hatinya, la merasa sangat sulit.

Ingin ia meninggalkan musuhnya, guna menghampiri Kim Sie Ie, dan menolong kedua muridnya, akan tetapi niat ini tidak dapat diwujudkan.

Si nona sangat mendesak padanya, hingga ia bisa terancam malapetaka.

Terpaksa ia mencoba menguasai diri, guna membuat perlawanan terus.

Baru pendeta ini dapat bertahan, atau segera dia mendengar pula suara Kim Sie Ie.

Tokciu Hongkay berkata dengan nyaring.

"Lu Su Nio ialah orang yang seumur hidupku paling kujunjung, cara bagaimana sekarang kamu berani datang kemari untuk membongkar, merusak kuburannya? Tidak dapat tidak, kamu mesti dihukum berat-berat, agar tahu rasa! Sekarang aku mempunyai dua jalan untuk kamu pilih! Jikalau tetap kamu tidak sudi mengaku berdosa, biarlah, sampaipun tiga hari tiga malam, tetap aku akan menemani kamu! Aku mempunyai delapan belas macam cara menyiksa, sesuatunya berlainan, semua itu akan kucoba atas diri kamu, supaya kamu merasakannya. Sebaliknya, jikalau kamu suka mengaku berdosa, dan kamu suka mendengar kata-kataku--Hm!-dengan memandang pengakuanmu itu, mungkin aku akan memberi ampun!..."

Kheng Sun berdua takut sekali.

Sekarang saja mereka sudah tidak sanggup menderita, apapula kalau disiksa selama tiga hari tiga malam dan dengan delapan belas macam siksaan pula.

Mana dapat mereka bertahan?

"Kami mengerti, kami mengaku salah!"

Cepat-cepat mereka berkata.

"Membuka mulut saja mengaku salah masih belum berarti!"

Kata Kim Sie Ie.

"Sekarang begini dulu. Kamu berlutut dan mengangguk-angguk tiga kali di depan kuburan Loo cianpwe Lu Su Nio, sembari berbuat begitu kamu mengakui kesalahan kamu!"

Kim Sie Ie benar-benar mengangkat kakinya, maka dua perwira itu buru-buru merayap bangun.

Benar-benar mereka berlutut dan mengangguk-angguk, hingga kepala mereka mengenai tanah dengan berbunyi keras.

Dalam takutnya, mereka sampai paykui melebihi jumlah yang dikehendaki Kim Sie Ie, jidat mereka membentur tanah tujuh kali!

Kim Sie Ie menahan tertawanya menyaksikan kelakuan orang itu.

"Sekarang kamu pentang kedua tanganmu, ke kiri dan kanan!"

Ia berkata pula.

"Sekarang kamu menggaplok mukamu sendiri, setiap menggaplok, kamu mencaci dirimu, mencaci diri sebagai si anak haram jadah, si kura-kura buta!"

Kedua perwira itu ialah perwira-perwira Gielimkun, tinggi dan agung kedudukan mereka, mereka mempunyai rasa harga diri, sudah tentu mereka sungkan menggaplok dan mencaci diri secara hina dan kotor itu.

Karena itu, mereka menjadi sangsi.

Selagi orang bersangsi Kim Sie ie tidak mau memberi hati.

Mendadak si pengemis edan tertawa nyaring, segera juga tongkatnya diangkat, sedang matanya melotot bengis.

'Baiklah jikalau tulang-tulang kamu demikian keras!'"

Katanya dingin.

"Kamu tidak sudi mencaci, hendak kulihat! Aku hendak melihat, sampai dimana kerasnya tulang kamu itu!"

Kedua perwira itu kaget sebab mereka melihat tongkat digerakkan.

"Plak Plok! Plak plok!"

Demikian bunyi mereka menggaplok muka sendiri dengan tangan mereka kiri dan kanan.

Bahkan terus mereka mencaci juga, mencaci diri sebagai anak haram, sebagai kura-kura tanpa biji mata!

Maka berisiklah suara tamparan dan cacian silih berganti itu!

Biat Hoa Hwesio dapat mendengar semua itu, matanya pun dapat melirik, dia mendongkol bukan alang kepalang, hawa amarahnya naik tinggi.

Sungguh suatu hinaan, menyaksikan murid-muridnya yang tersayang itu dihina demikian macam di hadapan demikian banyak orang.

Kemana dia hendak membuang mukanya sebagai guru?

Terlalu Kim Sie le pikirnya.

Umpama kata dia berhasil merampas kedudukan ciangbunjin dari Binsan Pay, habis bagaimana dengan penghinaan ini?

Jikalau dua jago lagi bertarung, pantangan paling besar ialah pemusatan pikirannya terganggu.

Demikian dengan Biat Hoa dan Cie Hoa.

Biar bagaimana, kekuatan mereka berimbang, tetapi justeru itu, Biat Hoa mesti menyaksikan penderitaan murid-muridnya itu, yang sangat dihinakan.

Mendadak saja Kok Cie Hoa menyerang dengan tipu silatnya "'Pekhong koanjit", atau "Bianglala putih menutupi matahari".

Ujung pedangnya yang tajam meluncur ke tenggorokan si pendeta!

Biat Hoa melihat itu, dia kaget, dalam kagetnya, dia berkelit mundur.

"Bret!"

Demikian terdengar suara nyaring, dan ujung pedang telah merobek jubahnya.

Biarpun Biat Hoa sebat, ujung pedang lawan berkenalan juga dengan jubahnya itu.

la kaget, tetapi ia boleh bersyukur bahwa ujung pedang itu tidak melanggar dadanya.

Saking kagetnya, ia mengeluarkan peluh dingin.

Di pihak Kim Sie Ie, si pengemis masih memberikan perintah-perintahnya.

Ia mempunyai delapan belas macam cara menyiksa, dan tadi pun ia sudah mengancam "Kamu kedua anak haram, kamu benar-benar mendengar kata!"

Katanya nyaring.

"Sekarang kamu mesti mendamprat pula, mendamprat si gundul bangkotan itu! Bukankah dialah yang membawa kamu kemari? Dia hendak melampiaskan hatinya, dia juga hendak merampas kedudukan ketua dari Binsan Pay! Karena maksud hatinya yang bengkok itu, sekarang dia menyebabkan kamu menderita, dari itu pantaslah kamu mendamprat padanya! Aku mau lihat, siapa yang mendampratnya paling hebat! 'Siapa yang mendamprat paling hebat, dialah yang akan kumerdekakan terlebih dulu!"

Dalam dunia Bu Lim, atau Rimba Persilatan, perhubungan di antara guru dan murid adalah sama dengan perhubungan antara ayah dan anak.

Maka kalau murid memaki gurunya, itulah sama dengan anak mencaci ayahnya.

Itulah penghinaan yang hebat luar biasa, perbuatan durhaka.

"Kim Sie le, kau bunuhlah aku!"

Kheng Sun berteriak. Dia tak dapat mencaci gurunya itu.

"Ha, kau tidak mau memaki?"

Tanya Kim Sie le sambil menatapnya tajam-tajam.

"Jadi kau memikirkan kematianmu? Oh, tidak, sahabat, untuk mati tidaklah sedemikian mudah! Nah, kau rasalah!"

Tokciu Hongkay menggerakkan tongkatnya.

"Tuk!"

Demikian suara tongkat itu, yang mengenai jalan darah kwieehong hiat di punggung itu, atau segera Kheng Sun memperdengarkan jeritannya yang nyaring tetapi menyayatkan hati, dan biarpun dia gagah, dia tidak sanggup bertahan, maka robohlah dia, roboh untuk terus bergulingan di tanah, sebab dia merasa seperti peparu dan isi perutnya bergolak terbalik-balik, sakitnya bukan buatan!

Cin Tay menyaksikan itu, men-ccloslah hatinya.

"Kau mau memaki atau tidak?"

Kim Sie Ie tanya.

"Jikalau tetap kau tidak hendak memaki, artinya kau berkepala batu terus, aku masih mempunyai lain cara lagi untuk kau ieipi!"

Cin Tay takut bukan main, segera ia mencaci.

"Hwesio bangsat! Hwesio bangsat!"

Kheng Sun pun menurut.

"Keledai gundul bangkotan! Keledai gundul bangkotan!"

Demikian dampratnya berulang-ulang.

"Lebih keras! Aku tidak dengar!"

Kim Sie Ie berteriak.

"Nah, begitu baru bagus! Hayo, kamu boleh berlomba! Aku mau lihat, siapa yang suaranya lebih keras!"

Sembari menganjurkan itu, Kim Sie Ie mengawasi dengan tajam, tongkatnya disiapkan untuk menurunkan tangan telengas!

Cin Tay habis daya, Kheng Sun pun mati akal.

Hancur luluh tabiat mereka yang keras.

Mereka lantas mencaci kalang kabutan, mereka berteriak-teriak.

Benar-benar mereka bagaikan berlomba.

Sekarang tidak saja keluar dampratan tadi, hanya yang lebih hebat dan kotor, yang dalam keadaan biasa mereka malu menyebutkannya.

Bahkan segala perbuatan busuk dari Biat Hoa dibeber juga!

Mendengar dampratan Kheng Sun dan Cin Tay kepada Biat Hoa, semua orang Binsan Pay gembira bukan main, lalu setiap kali terdengar "keledai tua gundul"

Setiap kali mereka berseru "Bagus!"

Semua itu Biat Hoa mendengar dengan nyata, ia mendongkol dan gusar hingga hawa amarahnya meluap-luap, bukan main ia membenci Kim Sie le, tak terkira penasarannya kepada murid-muridnya itu yang dia katakan tidak mempunyai semangat.

Kim Sie Ie masih beraksi terus.

Ia menolak tubuh Kheng Sun dan Cin Tay, untuk membikin mereka menghadapi guru mereka, lalu telapak tangannya ditempel pada punggung mereka masing-masing.

Ia tertawa terbahak-bahak, katanya dengan nyaring.

"Bagus! Bagus! Hebat dampratan kamu! Hayo, damprat lagi! Damprat lagi!"

Biat Hoa berjingkrak saking gusarnya. Dia berteriak.

"Kim Sie Ie, kau sangat menghina aku! Biarlah hari ini jikalau kau tidak mampus, aku yang terbinasa!"

Dia lantas hendak berlompat, guna meninggalkan Kok Cie Hoa, untuk menghampiri si pengemis edan itu. Atau mendadak.

"Bias!"

Demikian satu suara pedang mengenai daging!

Justeru orang berjingkrak, justeru Cie Hoa mencelat, untuk mengirim serangannya yang dahsyat.

Sangat cepat serangan itu sedang Biat Hoa sedang terpengaruh hawa amarahnya.

Tepat ujung pedang menyambar pundak si pendeta, hingga dagingnya kena terpapas, dan tulang selangkanya pun terlukakan!

Melihat demikian, Kim Sie Ie menarik pulang kedua tangannya dari punggung kedua korbannya, ia tertawa dan berkata dengan nyaring.

"Bagus sekali dampratan kamu! Baiklah, jasa kamu ini boleh juga untuk menebus dosa kamu! Nah, kamu pergilah!"

Kheng Sun dan Cin Tay bebas dari siksaan, mereka bagaikan menerima keampunan besar.

Tanpa memperdulikan lagi guru mereka, mereka lari kabur sambil menutupi muka mereka, supaya mereka tidak dapat melihat guru mereka itu.

Lagi-lagi Kim Sie Ie tertawa lebar, ia berlompat maju, untuk menghadapi Biat Hoa.

"Kau telah mendaki gunung ini untuk membongkar kuburan Lu Su Nio, biarpun kau tidak menyebutkannya, perhitungan ini akan Kubereskan denganmu!"

Katanya keras.

"Tapi sekarang kau telah terluka, aku Kim Sie Ie, tidak sudi menghina orang yang telah terluka! Sekarang pergilah kau, tunggu sampai nanti, sesudah kau mengobati lukamu, baru kau mencari aku, sembarang waktu aku nanti melayani kau!"

Kena terlukakan Kok Cie Hoa, mendongkol dan gusarnya Biat Hoa bukan main besarnya, tetapi ia menginsyafi, lukanya itu bukan enteng, ia mesti menggunakan juga pikirannya.

Setelah terluka, jangan kata melawan Kim Sie Ie, melawan terus pada Cie Hoa saja, ia tidak sanggup.

Oleh sebab itu ia mesti bersabar.

Kalau berkelahi terus, ada kemungkinan jiwanya pun hilang.

"Baiklah, sampai lain kali!"

Katanya akhirnya, lalu ia memutar tubuh, untuk ngeloyor pergi.

Ia tidak menggubris, bahwa orang-prang Binsan Pay bersoraksorai.

Kok Cie Hoa memasukkan pe-pangnya ke dalam sarungnya, ia menghampiri Co Kim Jie untuk memberi hormat kepada ciangbunjin itu.

"Dengan mengandal kepada perlindungan guruku serta keangkaran suci, telah teecu berhasil mengusir pendeta jahat itu,"

Ia berkata.

Ia melaporkan bahwa ia telah selesai menjalankan tugasnya.

Biar bagaimana, kemenangan Cie Hoa ini disebabkan kecerdasannya serta bantuan Kim Sie le yang sudah menggempur pemusatan pikiran Biat Hoa, dan semua hadirin mengerti itu, Kim Jie tidak menjadi kecuali.

Kalau Cie Hoa telah berbuat demikian, tidak lebih tidak kurang si nona menjalankan keharusannya, guna melindungi muka ketua partai itu.

"Suci,"

Kata Ek Tiong Bouw sebelum si kakak seperguruan sempat membuka mulutnya.

"Kok Cie Hoa telah mengalahkan pendeta jahat itu, ia jadi sudah berjasa besar untuk partai kita, maka aku mohon pertimbangan suci, dapatkah dia diberi keringanan, supaya dia tetap berdiam dalam kalangan kita?"

Kim Jie bersikap dingin, romannya tawar.

"Aku tahu bagaimana harus memberikan putusan, sutee tak usah banyak omong,"

Sahutnya.

Tiong Bouw tidak mendapat muka, ia mundur dengan kecewa.

Sekarang semua mata diarahkan kepada Co Kim Jie.

Ketua Binsan Pay itu, dengan roman gusar, menyingkir dari penghormatan Cie Hoa.

Tapi ketika ia membuka mulutnya, suaranya perlahan.

"Kok Cie Hoa,"

Katanya.

"kau telah berhasil mengusir si pendeta jahat hingga kau berhasil juga melindungi kuburan gurumu, mengingat perbuatanmu ini, aku suka berlaku ringan. Pedang dan kitab pedang, tidak usah kau kembalikan lagi, tetapi sebab ayahmu ialah musuh umum dari Binsan Pay, Binsan Pay tidak menerimamu. Tapi kami dapat mengijinkan kau membangun suatu partai sendiri dan setiap tahun kami juga memberi ijin mendaki gunung Binsan ini, untuk menyambangi kuburan gurumu. Hanya selanjutnya, aku larang kau memakai nama Binsan Pay lagi. Sekarang pergilah kau!"

Mendengar keputusan itu, semua orang terkejut, tidak terkecuali orang-orang Binsan Pay.

Semua orang menganggap keputusan itu terlalu keras.

Akan tetapi semua orang Binsan Pay jeri kepada ketua mereka, terpaksa mereka menutup mulut.

Sekalipun Ek Tiong Bouw membungkam juga karena tadi dia telah dibikin kecewa dan jengah.

Adalah Thia Ho, selang sesaat, yang maju ke depan.

"Kok Cie Hoa sudah mengusir si pendeta jahat, dia telah membuat jasa besar untuk partai kita,"

Ia berkata, perlahan.

"oleh karena itu, suci, dapatkah kau memberi keringanan lebih jauh kepadanya?"

Co Kim Jie lagi-lagi memperlihatkan roman yang bengis.

"Aku telah merubah putusan-ku,"

Ia menyahut dingindingin.

"aku telah menarik pulang perintah supaya dia mengembalikan pedang dan kitab ilmu silat pedang, aku pun sudah mengijinkan dia membangun partai sendiri, untuk menjadi cabang partai kami, apakah itu bukannya suatu keringanan besar? Habis, dia hendak diberikan keringanan macam apa lagi? Ayahnya ialah musuh besar partai kita, karena itu beranikah kau menjamin, bahwa di belakang hari, apabila terjadi sesuatu, dia tidak berpihak pada ayahnya dan berkhianat kepada kita? Biar bagaimana, hatinya sama hati ayahnya! Daripada belakang hari nanti terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki, bukankah lebih baik kalau sekarang juga menyuruhnya keluar?"

Thia Ho berdiam.

Kim Jie bicara untuk kepentingan partai di belakang hari, ia mempunyai alasan.

Dia tentu tidak dapat menjamin Cie Hoa seperti yang dikatakan kakak seperguruan itu, dia pasti tidak tahu hati si nona kelak bagaimana, terpaksa dia berdiam.

Jago tua Hok Poo Yu merasa bahwa ia mempunyai perhubungan erat sekali dengan dua angkatan Binsan Pay, melihat orang Binsan Pay sendiri tidak dapat menggerakkan hati Kim Jie, ia mengajukan diri.

"Binsan Pay tengah membersihkan partai sendiri, aku si orang tua, sebagai orang luar, tidak dapat banyak berbicara,"

Katanya.

"akan tetapi karena aku mengingat Lu Su Nio mempunyai hanya ia, murid satu-satunya, maka hati Lu Su Nio di dunia baka tentulah kurang tenteram apabila muridnya sampai dikeluarkan dari partai. Maka itu dapatkah, dengan memandang kepada almarhum Lu Su Nio itu dia diijinkan menetap dalam Binsan Pay?"

Suara jago tua ini tidak enak bagi telinga Co Kim Jie. Ia menganggapnya hendak mengagulkan diri sebagai jago tua dan sahabat Binsan Pay. Maka dengan air muka berubah, ia berkata.

"Kouwkouw Lu Su Nio, dalam seumur hidupnya, paling membenci kejahatan, jikalau dia mengetahui bahwa dia telah keliru menerima murid, yang sesungguhnya anak si hantu Beng Sin Thong, mungkin sekali hukumannya bahkan akan lebih berat daripada hukumannya ini!"

Hok Poo Yu menjadi kecewa, tetapi di dalam hatinya, ia berkata.

"Jikalau Lu Su Nio masih hidup, mengingat dia cerdas sekali dan pandai menimbang, dia pasti tidak akan bertindak begini..."

Akan tetapi Lu Su Nio sudah mati, siapa dapat menghidupkannya pula?

Maka itu, ia lantas mengundurkan diri.

Jago tua ini mempunyai seorang saudara angkat, ialah Khouw An Kok, yang tidak puas melihat sikap ketua Binsan Pay itu.

Walaupun suasana tak baik, ia maju juga dan berkata.

"Tadi saudara Liu Heng Som telah mengatakan bahwa ketika Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng menerima bayi Beng Sin Thong, jago tua itu pernah berkata, bahwa dosa ayah dan ibu tidak dapat ditagih kepada anak bayinya. Demikian Nona Kok ini, dia telah dirawat oleh Kok Tayhiap, dari kecil hingga besar, lalu diapun dididik Liehiap Lu Su Nio selama sepuluh tahun, maka andaikata dia mempunyai akar jahat, akar itu pastilah sudah terkikis habis. Di samping itu, aku telah melihat watak si nona. Terang sekali barusan dia telah keteter menghadapi musuh, tetapi dia berkelahi terus melawan si pendeta jahat, dia membela partainya tanpa menghiraukan jiwanya. Oleh karena itu, Co Liehiap, aku mohon, sukalah kau menimbang pula. Dapatkah liehiap menarik pulang keputusanmu barusan?"

Beda daripada Hok Poo Yu, Khouw An Kok kini mengajukan alasan yang kuat sekali, kata-katanya juga tidak menyinggung ciangbunjin itu, dari itu, mendengar ucapannya, hati Kim Jie tergerak juga.

Akan tetapi karena soalnya kini soal muka, maka tidak dapat ia meluluskannya.

"Aku pun mengharap dia tetap menjadi seorang gagah budiman seperti sekarang ini,"

Ia berkata.

"akan tetapi ayahnya ialah musuh besar partai kami, urusan bukan sembarangan urusan, maka itu, biarlah saudara-saudara kaum Rimba Persilatan mencela aku terlalu keras atau pandanganku cupat, aku tetap tidak berani membiarkan dia berada dalam kalangan partai, sebab itu berarti mengeram bencana di belakang hari."

Demikian banyak orang berbicara, ternyata Co Kim Jie tetap pada keputusannya.

Mengetahui itu, mata Kok Cie Hoa berlinang-linang.

Beberapa kali ia sudah menggerakkan bibirnya, saban-saban ia batal, tak jadi ia membuka mulut.

Kim Sie le pun berdiam saja mendengar pembicaraan orang panjang lebar, adalah pada saat itu, mendadak dia melompat maju, dari mulutnya terdengar suara tertawa yang nyaring.

Dia melompat kepada Cie Hoa, tangan si nona dia sambar, untuk ditarik!

Co Kim Jie terkejut, dia menyangka Sie le maju untuk mengacau, maka heran ia melihat orang hanya menarik tangan Cie Hoa.

Kim Sie Ie tidak menarik saja, ia lantas berkata dengan keras.

"Seorang laki-laki sejati harus dapat pergi sendiri dan kembali sendiri. dia harus berdiri sendiri, jangan mengandal pada orang! Nona Kok, kaulah si wanita jantan, maka perlu apa kau mendapat penasaran dari perempuan busuk ini? Marilah kau dengar aku! Dia menghendaki kau membangun suatu partai sendiri, inilah ketikanya yang baik! Mari kita pergi, mari kita pergi!"

Kemudian, tanpa memperduli-kan apa juga, ia menarik tangan si nona.

Baca Juga: Pendekar Cacad 8

Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger