Eps 4 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.
Sebenarnya, jikalau Kok Cie Hoa mengajukan permohonan pula, suasana pasti akan menjadi reda.
Dia dapat, dengan menjalankan aturan kaum Rimba Persilatan, berlutut di depan kuburan gurunya, untuk berjanji seberat-beratnya, untuk bersumpah akan mentaati perintah ciangbunjin, bahwa ia tidak akan memberontak atau berkhianat, dengan bantuan atau membantu orang luar--mengenai hal ini, ialah persoalan ayahnya itu.
Dengan begitu, dengan adanya janji dan sumpah itu selaku jaminan, mesti Co Kim Jie mengalah.
Pula Khouw An Kok, sebagai orang luar, tidak dapat menganjurkan dia meminta dan berjanji sedemikian rupa.
Kok Cie Hoa sendiri, setelah mengetahui asal-usulnya, telah terbenam dalam kesangsian.
Ia boleh berjanji di dalam hati sendiri akan tidak mengakui pula ayahnya, akan tetapi di muka umum, mana dapat ia berbuat demikian?
Mana bisa ia berjanji akan memusuhkan ayah sendiri?
Inilah kesulitan yang membuat air matanya mengalir.
Oleh karena merasa percuma ia berdiam lebih lama pula di gunung Binsan ini, walaupun pikirannya kusut, Cie Hoa membiarkan Kim Sie Ie menariknya, untuk diajak pergi.
Hanya kemudian, mendadak ia berontak, melepaskan tangannya.
"Eh, apa lagi yang kau berati?"
Tanya Kim Sie Ie.
"Jikalau kau tidak hendak berangkat sekarang, kau hendak menunggu sampai kapan?"
Cie Hoa tidak menyahut, ia hanya pergi ke kuburan gurunya, la paykui tiga kali, kemudian ia berkata dengan nyaring.
"Suci yang terhormat, hari ini adikmu memohon diri, untuk pergi!"
Ia pun memberi hormat pada kakak seperguruan itu.
Sementara itu Co Kim Jie panas hati bukan main.
Kim Sie Ie telah mengatakannya si "perempuan busuk".
Ia sampai bergemetar seluruh tubuhnya, untuk dapat mengendalikan diri.
Bukankah barusan Kim Sie Ie telah menghukum hebat kepada kedua perwira jahat itu?
Bukankah si pengemis edan telah menyingkirkan satu bencana?
Bukankah Kim Sie Ie yang telah menolong hingga Kok Cie Hoa dapat mengalahkan Biat Hoa Hwesio, hingga nama baik Binsan Pay dapat dilindungi?
Karena jasa Kim Sie Ie itu, tidak dapat ia menyerang si pengemis, apapula menyuruh saudara-saudaranya mengepungnya.
Pun, orang dengan kedudukan sebagai ia, tidak bisa melayani Kim Sie Ie mengadu bicara.
Maka itu, ia lantas menyingkir dari pemberian hormat Cie Hoa, dengan dingin, ia berkata.
"Mulai hari ini, aku bukan lagi suci-mu, kau juga bukan adik seperguruanku! Kepada siapapun kau hendak mengikut, aku tidak nanti mengambil perduli!"
Biar bagaimana, kata-kata yang terakhir ini ditujukan kepada Kim Sie Ie. Tokciu Hongkay tertawa.
"Co Kim Jie!"
Katanya dingin.
"kau tidak melihat sebelah mata padaku, aku semakin tidak memberi muka padamu! Jikalau bukannya aku memandang kepada Lu Su Nio maka hari ini pastilah aku akan menghajarmu dengan tongkatku ini!"
Bukan main panasnya hati Kim Jie, hingga ia mengangkat tongkatnya. Belum orang bergerak terus, Kim Sie Ie melotot dan membentak.
"Beranikah kau banyak omong lagi?"
Ketua Binsan Pay itu agaknya gentar, tanpa merasa, ia mundur setindak. Lagi-lagi Kim Sie Ie tertawa bergelak-gelak.
"Puas! Puas!'' katanya berulang-ulang, lalu ia menarik tangan Kok Cie Hoa, untuk diajak turun dari gunung itu. Sekian lama mereka berjalan dengan membisu, Kim Sie Ie melihat si nona masgul, dia tertawa.
"Apakah ruginya, jika tidak dapat menempatkan diri dalam Binsan Pay?"
Dia berkata.
"Jikalau aku di tempatmu, sungguh, tak senang hatiku mengaku suci kepada wanita semacam itu!"
"Walaupun Co Kim Jie bersikap keras, dia tetap seorang gagah dari golongan sejati,"
Kata Cie Hoa.
"Barusan dia hanya keterlaluan..."
Kim Sie Ie memandangnya sesaat, kemudian tertawa.
"Justeru karena aku tidak puas terhadap sikapnya itu maka sengaja aku membantu kau melampiaskan kemendongkolan dan penasaranmu,"
Dia berkata.
"Apakah kau tidak memperhatikan aksinya barusan?"
Lantas dia menirukan gerak-gerik ketua Binsan Pay itu, dapat dia melakukannya dengan baik, untuk membikin Cie Hoa tertawa.
Akan tetapi si nona terlalu masgul untuk dapat bersenyum.
Si nona tetap berduka.
"Hari ini kau telah berhasil mengalahkan Biat Hoa Hwesio, dengan itu kau dapat membela dan melindungi nama baik Binsan Pay,"
Kim Sie Ie berkata pula.
"Kau tahu, dalam seluruh Binsan Pay, kecuali Co Kim Jie, ada siapakah yang tidak bersyukur kepadamu? Benar kau diusir oleh Co Kim Jie, tetapi jangan kau kecil hati, pemecatan atas dirimu ini beda dengan pemecatan yang seumumnya. Siapa nanti berani tidak memandang sebelah mata padamu?"
Cie Hoa menghela napas.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kecuali dua kali, di musim semi dan musim rontok, tidak dapat lagi aku menemani guruku di Binsan,"
Katanya dengan sedih.
"Aku telah berjanji kepada suhu untuk menemani dia selama tiga tahun, tetapi sekarang janji itu tidak dapat dipenuhkan..."
Kim Sie Ie tertawa.
"Asal saja di dalam hatimu ada gurumu itu, serta kau dapat meniru perbuatannya, kau melakukan pelbagai perbuatan mulia dalam dunia kangouw, bukankah itu jauh lebih luhur daripada menemani saja kuburannya?"
Ia berkata. Cie Hoa kalah bicara. Mereka berjalan terus dengan membisu. Kemudian si nona berkata.
"Walaupun demikian, aku menyesal, bahwa aku tidak dapat mendengar lagi segala ajaran suhu..."
Ia berhenti sebentar, lalu mendadak ia menanya.
"Tadi aku mendengar perkataan suheng Ek Tiong Bouw, katanya kalian telah mengacau di Beng keechung. Apakah kau, telah benterok dengan Beng... Beng Sin Thong?"
Guram air muka nona ini, Beng Sin Thong musuh umum partainya, tetapi Beng Sin Thong juga ayahnya.
Ia tidak tega menuruti orang banyak menyebut Beng Sin Thong sebagai si "iblis besar", ia pula tidak ingin menyebutnya sebagai ayah, maka terpaksa ia menyebutnya "Beng Sin Thong".
Inilah siksaan untuk perasaannya.
"Aku telah bertempur dengannya,"
Kim Sie le memberitahukan.
"Melihat kepandaian Beng Sin Thong, biarpun semua orang Binsan Pay dari tiga angkatan maju mengepungnya, mereka bukanlah tandingannya!"
Wajah si nona menjadi pucat.
Ia menjadi ingat, kalau nanti Binsan Pay mencari ayahnya itu, sedangkan si ayah demikian liehay, bukankah banyak yang akan roboh menjadi korbankorban.
Jikalau ia tidak pergi membantu Binsan Pay, bagaimana jadinya dengan partainya itu?
Dan kalau ia pergi membantu, bagaimana ia harus menghadapi ayahnya?
Maka ia mengangkat kepalanya, mengawasi langit.
Ia mau menangis tetapi tidak dapat.
Oleh sebab itu ia hanya dapat menyesal sendiri, kenapa ia menjadi anak Beng Sin Thong...
Kim Sie Ie bisa mengerti kesedihan dan kesulitan si nona, ia tidak mau menyentuhnya.
Tapi ia mesti berusaha untuk membikin si nona jangan berduka terus.
Mendadak ia mencekal keras tangan nona itu, lalu ia kata, juga dengan keras.
"Kau ialah kau! Dia ialah dia! Bukankah -siapa bersih, dia tetap bersih-siapa yang kotor, tetap kotor? Lihatlah bunga teratai, yang tumbuh dari dalam lumpur! Bunga teratai tetap bunga teratai yang bersih dan harum! Kecewa kau menjadi murid Lu Su Nio, jikalau kau tidak mengerti perbedaan ini!"
Cie Hoa mengawasinya, la dapat mengerti.
"Habis bagaimana kata orang luar?"
Tanyanya. Kim Sie le tertawa lebar.
"Perduli apa kata orang luar?"
Jawabnya.
"Untuk kita, sudah cukup jikalau kita bertindak, ke atas tidak malu kepada Langit, ke bawah tidak malu kepada Bumi! Lihat aku sendiri! Orang menyebut aku Tokciu Hongkay, si pengemis edan yang beracun, aku dituduh sebagai iblis yang tidak ada kejahatan yang aku tidak lakukan! Tapi aku tidak menghiraukan semua itu! Aku merasa bahwa belum pernah aku membunuh orang baik-baik, belum pernah aku melakukan kejahatan atau pengkhianatan! Sampai sekarang ini, tetap sama sepak terjangku, sama sekali aku tidak perdulikan orang lain, apakah orang memandang hina padaku atau menghormat! Aku tidak mengambil mumat, bahwa orang menyebut aku sebagai si hantu jahat! Apapula kau, yang baru menjadi anak hantu? Baru-baru ini kau pernah memberi nasihat padaku, kau menghendaki aku menjadi bayi yang baru dilahirkan. Maka sekarang, baiklah dengan nasihatmu itu aku menasihati padamu! Mulai sekarang kau boleh menganggap ayah dan ibumu sudah menutup mata! Apakah artinya Beng Sin Thong untukmu? Dia tidak tepat mempunyai anak gadis sebagai kau! Maka hayolah, kau juga menjadi si bayi yang baru dilahirkan!"
Tandas kata-kata Kim Sie Ie, Cie Hoa lantas saja mandi air mata.
Sie Ie pun lega hatinya setelah ia mengeluarkan katakatanya itu.
Itulah kata-kata yang sudah lama terkandung dalam hatinya.
Maka ketika ia mengucapkannya, makin lama kata-katanya jadi semakin lancar dan nyaring, suatu tanda bahwa hatinya itu sangat tergerak.
Setelah itu, tanpa ia merasa, ia datang lebih dekat kepada si nona, yang pun sendirinya mendekatinya.
Pula kata-katanya itu berkumandang dalam lembah, rasanya sampai lama baru suara itu lenyap...
Cie Hoa dengan sekonyong-konyong mendapat serupa perasaan, yang luar biasa.
"Semua orang mengatakan Kim Sie Ie tidak mengenal manusia, kelihatannya adalah mereka yang tidak mengenal baik padanya,"
Demikian pikirannya.
"Siapa sangka dia, yang sepak terjangnya seperti tidak mengenal aturan, sebenarnya berpandangan begini tajam. Sungguh baik hatinya."
Melihat orang berdiam, Kim Sie Ie bersenyum.
"Biasanya aku tertawa, bergusar dan mendamprat tidak keruan!"
Ia kata.
"Baru hari ini aku bicara benar-benar!"
Ia berkata demikian tetapi ia sendiri tidak mengetahui kenapa sikapnya menjadi begini, lain daripada biasanya.
"Benarkah itu?"
Si nona bertanya perlahan.
"Apakah dalam hidupmu ini benar kau tidak mempunyai sahabat dengan siapa kau dapat berbicara dengan akrab?"
Mendapat pertanyaan itu, di depan mata Kim Sie Ie berbayang Lie Kim Bwee.
"Boleh dikata tidak ada orang semacam kau,"
Ia menyahut setelah berpikir sejenak.
"Orang-orang lain yang aku kenal, membenci aku, menganggap aku sebagai siluman, atau mengasihani aku, memandang aku sebagai anak yang tiada terawat..."
Dalam pandangan Sie le, di antara orang-orang yang memandang ia sebagai bocah termasuk juga Pengcoan Thianlie, si Bidadari dari Sungai Es.
"Tetapi ada satu orang yang kau belum kenal,"
Kata Cie Hoa.
"Dia tidak membencimu dan juga tidak berkasihan terhadapmu, sebaliknya dia memandang kau sebagai batu kemala yang mulus, bahwa meskipun kau berkelakuan aneh, kau masih dapat digosok menjadi barang yang berharga."
Kim Sie le mementang matanya lebar-lebar.
"Benarkah ada orang semacam itu?"
Tanyanya.
"Siapakah dia?"
"Dialah guruku."
"Aku, tidak bisa jadi!"
Kata Sie le tertawa.
"Benar aku sendiri belum pernah bertemu dengan Lu Su Nio, akan tetapi aku telah mengenal dia dari cerita guruku. Bahkan mulai hari ini aku merasa gurumu itu ialah orang yang aku kenal baik sekali, sangat baik."
"Kenapa begitu?"
Cie Hoa tanya heran.
"Oleh karena kaulah muridnya satu-satunya, yang telah dididiknya dengan sempurna! Kaulah seorang wanita yang jujur dan baik, yang hatinya lapang, yang dapat bersabar. Ada guru ada muridnya, kata pepatah. Begitulah dari guruku aku mengenal Lu Su Nio, dan sekarang aku mengenal kau. Barubaru ini pernah satu kali aku bertemu denganmu, aku merasa bahwa kau seperti orang yang sudah lama aku kenal. Hari ini, karena urusanmu, aku menjadi mengenal gurumu lebih jauh."
Muka Cie Hoa menjadi merah sendirinya.
"Kenapa kau membandingkan aku dengan guruku?"
Katanya.
"Mana aku dapat disamakan dengan guruku itu?"
Tapi ia lantas bersenyum, dan menambahkan.
"Aku tidak menyangka kau pun seorang yang dapat mengangkatangkat!..."
"Aku bukannya mengangkat-angkat!"
Kata Sie Ie sungguhsungguh.
"Mungkin sekarang kau belum dapat disamakan, tetapi kelak, kau tentu mirip dengan gurumu itu."
Sie Ie mengawasi nona itu, yang pun tengah mengawasi padanya, maka kedua sinar mata mereka jadi bentrok. Si nona agaknya likat, ia melengos. Kim Sie Ie ingat kata-kata si nona tadi, ia bertanya.
"Sebelum gurumu menutup mata, ia menyuruh kau memperhatikan aku. Aku ingat, bukankah kau pernah berkata begitu padaku?"
"Tidak salah,"
Si nona mengangguk.
"Guruku senantiasa mengingat Tokliong Cuncia, maka semasa hidupnya ia jadi menaruh perhatian atas dirimu. Adalah pengharapan guruku agar kau dapat mewariskan kepandaian gurumu itu, supaya kau dapat membangun sebuah partai di wilayah Tionggoan, agar kau tidak membikin ilmu silat gurumu itu lenyap."
Mata Kim Sie Ie bersinar lebih tajam.
"Sekarang aku hendak menanyakan satu urusan lagi,"
Katanya.
"Maukah kau menuturkannya dengan sebenarbenarnya?"
Heran Cie Hoa melihat sikap orang demikian sungguhsungguh, tetapi ia tertawa ketika ia berkata.
"Kau hendak menanyakan urusan apa itu? Jikalau kau tidak percaya padaku, tak usahlah kau menanyakannya."
"Bukan, aku bukannya tidak percaya padamu!"
Kata Sie le cepat-cepat.
"Pertanyaanku ini ada hubungannya dengan satu rahasia besar dari kalangan Rimba Persilatan, aku kuatir, walaupun kau mengetahuinya, tetapi lantaran sesuatu sebab mungkin kau tidak sudi mengatakannya..."
Hati si nona tergerak, hingga ia berdiam sekian lama. Akhirnya ia bersenyum pula.
"Kau tanyalah!"
Katanya.
"Aku ingat,"
Kata Kim Sie Ie.
"ketika kita bertemu pertama kali, kau telah berkata, bahwa dengan perantaraan Kang Lam kau mengirim suatu barang bingkisan padaku, bukan?"
"Benar,"
Jawab si nona, membenarkan.
"Bukankah bingkisan itu kau telah terima dengan baik?"
Kim Sie Ie tidak menjawab, hanya ia bertanya pula.
"Tahukah kau, bingkisan itu barang apa?"
"Aku menduga kepada sebuah gambar?"
"Pernahkah kau melihat gambar itu?"
"Belum pernah."
Sie le tertawa.
"Jikalau begitu, sungguh aneh caramu mengirimnya padaku. Kau sendiri belum pernah melihatnya dan kau toh mengirimkannya kepada orang lain!"
"Aku melakukan itu seperti caranya meminjam bunga untuk dihaturkan kepada Sang Budha, berbuat baik untuk orang lain."
Inilah soal yang sudah lama membingungkan Kim Sie Ie, sekarang tiba saatnya untuk ia memperoleh penjelasan.
"Mengapa kau tahu, bahwa di tubuh Chong Leng Siangjin ada semacam gambar aneh?"
Tanyanya.
"Aneh bagaimana?"
Si nona berbalik menanyanya. Kim Sie Ie mengeluarkan gambar yang dibicarakan itu, untuk diperlihatkan kepada si nona.
"Kau lihat gambar ini,"
Katanya.
"Di dalamnya, di tengah laut, ada sebuah gunung berapi. Disitu ada seorang raksasa sedang mementang panah mengincar ke arah gunung berapi itu. Apakah artinya itu?"
"Sudah kukata, belum pernah aku melihat gambar ini, bagaimana aku bisa tahu?"
Kata si nona. Sie Ie menjadi putus harapan, dengan mendelong ia mengawasi nona di depannya itu. Kok Cie Hoa tertawa.
"Meski aku tidak tahu maksud gambar aneh ini, aku tahu riwayatnya,"
Ia berkata.
"Kau cerdas sekali, lantas kau mengetahui gambar ini mesti ada rahasianya, bahkan rahasia besar yang mengenai kalangan Rimba Persilatan."
Sie Ie heran, la tetap mengawasi.
"Aku mengetahuinya dari pengutaraan Chong Leng Siangjin,"
Katanya.
"Apakah Chong Leng Siangjin sendiri yang memberitahukan padamu bahwa dia menyimpan gambar ini?"
"Dia tidak menyebut-nyebut tentang gambar ini. Dia hanya mengajak aku pergi untuk membongkar kitab ilmu silat dari Kiauw Pak Beng yang berada di sebuah pulau. Dia memberitahukan, bahwa kecuali dia, di dalam dunia ini tidak ada seorang lain juga yang mengetahui rahasia itu. Setelah dia mati, Kang Lam yang mendapatkan gambar ini dari tubuhnya. Aku tidak menyangka, bahwa kau pun mengetahuinya dan kau menyuruh Kang Lam menyerahkannya padaku. Aku menduga bahwa guruku pernah pergi ke pulau itu."
"Baiklah. Sekarang kau tuturkan dulu segala apa yang kau tahu,"
Kata Cie Hoa sambil mengangguk.
Kim Sie Ie tidak berkeberatan untuk bicara lebih dulu.
Ia menuturkan segala uraian Chong Leng Siangjin kepadanya kemudian ia memberitahukan juga larangan gurunya-Tokliong Cuncia-agar ia jangan mengunjungi gunung berapi di pulau itu.
Ia hanya tidak menjelaskan hal Le Seng Lam si gadis keturunan Le Kong Thian, bahwa Le Kong Thian itu murid kepala dari Kiauw Pak Beng.
Kim Sie Ie tahu pasti, bahwa pada waktu itu, Le Seng Lam adalah orang satu-satunya yang erat hubungannya dengan Kiauw Pak Beng.
Kalau hal ini ia sembunyikan dari Kok Cie Hoa, itulah bukan karena ia hendak mendustakan si nona, tetapi karena ia sudah berjanji pada Seng Lam untuk tidak membicarakan rahasia Seng Lam itu.
Ia pun merasa aneh, bahwa semenjak pertemuannya yang luar biasa dengan Le Seng Lam, ia saban-saban ingat orang she Le itu, dan di dalam hatinya, ia merasa "jeri"
Tidak keruan.
Maka ia selalu mencoba untuk tidak memikirkan nona itu.
Hanya sekarang, selagi membicarakan kitab silat Kiauw Pak Beng, segera ia ingat akan si nona dan roman si nona lantas berbayang di depan matanya, berpeta di benak pikirannya.
Cie Hoa mendengar cerita orang dengan tenang, sampai ia merasa lagu suara Kim Sie Ie sedikit kurang wajar.
Ia menjadi heran sekali.
Justru itu, habis sudah penuturan Tokciu Hongkay.
"Apakah kau berhasrat pergi ke pulau itu untuk mencari kitab Kiauw Pak Beng, tetapi kau berkuatir?"
Tanyanya.
"Benar,"
Sie Ie mengaku.
"Aku menduga, bahwa di atas gunung berapi itu, mesti ada sesuatu yang luar biasa atau mungkin berbahaya. Jikalau tidak, tidak nanti guruku melarang aku pergi kesana."
Inilah bukan pengakuan terus terang.
Ia sama sekali tidak jeri atau takut.
Dia hanya ingat pada Le Seng Lam, bayangan si nona terus berbayang di depan matanya.
Dia hanya jeri kepada bayangan itu yang tak dapat diraba, yang tak tampak, tetapi berpeta dalam otaknya saja...
"Kalau begitu,"
Kata Cie Hoa kemudian.
"terang sudah bahwa di pulau itu mesti tersimpan kitab ilmu silat Kiauw Pak Beng itu tidak usah disangsikan lagi. Tadi kau tanya aku kenapa aku tahu, bahwa Chong Leng Siangjin mempunyai gambar ini, sekarang aku boleh memberi keterangan padamu. Tentang itu aku diberitahukan guruku sehari sebelum ia meninggal dunia. Pesan guruku supaya aku mengambil gambar itu, untuk dihaturkan kepadamu sebagai bingkisan. Pada hari itu kebetulan Chong Leng Siangjin telah terlukakan olehmu dan dia mati di dalam gua, hanya kau tidak mendapatkan gambar yang dia simpan itu. Maka aku menyuruh Kang Lam yang menyampaikan padamu."
"Habis, bagaimana gurumu mengetahui itu?"
"Semasa hidupnya, gurumu telah membicarakan pada guruku tentang pulau itu serta gunung berapinya,"
Cie Hoa menerangkan lebih jauh.
"Menurut gurumu, di pulau itu terdapat tulisan yang bertandatangankan Kiauw Pak Beng. Gurumu tidak tahu siapa Kiauw Pak Beng, pulau itu sudah lama tidak berpenduduk, penghuninya hanya beribu ular berbisa dan binatang liar lainnya, benar gurumu tidak takut tetapi dia sungkan menempuh bahaya yang tidak ada perlunya, jadi dia tidak mau pergi untuk menyelidikinya. Kemudian gurumu menanyakan guruku tentang Kiauw Pak Beng itu. Maka guruku menduga, bahwa hantu terbesar dari tiga ratus tahun yang sudah lampau itu mungkin telah meninggalkan kitab ilmu silatnya di pulau itu."
"Jangan-jangan di pulau itu bukan hanya terdapat ular berbisa dan binatang liar saja,"
Kata Sie Ie, yang mendugaduga.
"Jika bukannya demikian, tidak nanti guruku melarang aku pergi kesana. Entah apa yang guruku pernah jumpai di pulau itu. Apakah kepada gurumu, guruku tidak menceritakan apa-apa?"
Kok Cie Hoa menggeleng kepala.
"Banyak tahun telah lewat dan gurumupun telah meninggal dunia,"
Ia melanjutkan pula.
"Kemudian lagi, ialah tiga tahun yang lalu, guruku telah pergi ke Thiansan untuk menjenguk Tong Siauw Lan. Kebetulan Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie pun ada disana. Mereka lantas membicarakan urusan itu. Pengcoan Thianlie lalu ingat akan suatu hal. Kui Hoa Seng, yaitu ayah Pengcoan Thianlie, dalam usahanya mencari ilmu silat yang luar biasa, telah merantau ke negara asing, sampai ia mendapat jodohnya, dan menjadi menantu raja Nepal. Disana Kui Hoa Seng dapat bertemu dengan banyak orang gagah. Di antaranya, seorang jago bangsa Persia telah memberitahukan bahwa seorang ahli silat kenamaan dari Tibet pernah sampai di negerinya, dan ahli-silat itu sudah dapat membeli sehelai gambar dari seorang keturunan Tionghoa yang sudah menjadi rakyat Persia. Gambar itu bertuliskan huruf-huruf Tionghoa. Katanya, leluhur orang Tionghoa itu, yang sudah turun menurun tinggal di Persia, asalnya ialah seorang saudagar yang biasa berdagang ke seberang laut. Leluhur itu mempunyai sebuah buku catatan harian, yang berisikan catatan-catatan pengalamannya, antara lain, bahwa di sebuah pulau dia pernah bertemu dengan seorang bernama Kiauw Pak Beng, yang luar biasa. Keturunan saudagar Tionghoa itu sudah tidak faham bahasa Tionghoa. Bahwa dia masih ingat nama Kiauw Pak Beng, itulah karena kisah Kiauw Pak Beng itu diceritakan turun menurun. Jago Persia itu tahu, bahwa Chong Leng Siangjin, pendeta dari Tibet itu, ialah seorang ahli silat. Ia menduga, bahwa gambar yang dibeli itu mesti ada hubungannya dengan ilmu silat. Karena Kui Hoa Seng seorang Tionghoa, maka jago Persia itu bercerita kepadanya tentang gambar Kiauw Pak Beng itu. Kui Hoa Seng juga tidak tahu, siapa sebenarnya Kiauw Pak Beng tetapi ia ingat baik nama itu. Pikirnya, setelah pulang ke Tionggoan nanti, ia hendak mencari keterangan pada guruku. Sayang, Kui Hoa Seng tidak pernah bertemu dengan guruku itu, hanya anak gadisnya, ialah Pengcoan Thianlie, yang berhasil menemuinya."
Mendengar keterangan ini, barulah Kim Sie Ie mengerti.
"Aku tidak menyangka bahwa hal ini demikian berbelitbelit,"
Katanya.
"Jadi gurumupun mengetahui tentang gambar Chong Leng Siangjin itu sesudah dia mendengar keterangan Pengcoan Thianlie, sedang Pengcoan Thianlie mengetahuinya dari ayahnya."
Cie Hoa mengangguk.
"Tidak lama semenjak kembali dari Thiansan, guruku mendapat firasat bahwa hidupnya sudah tinggal tak lama pula,"
Cie Hoa melanjutkan.
"maka ia telah meninggalkan pesan padaku supaya, setelah ia menutup mata, aku memperhatikan dua orang. Yang pertama ialah kau, dan yang kedua Chong Leng Siangjin. Guruku menerangkan, bahwa ilmu silat gurumu ialah ilmu silat istimewa, yang lain dari yang lain. Ada bagian-bagiannya yang indah, yang tak dapat ditandingi oleh ilmu silat kebanyakan partai umumnya. Hanya sangat disayangkan guruku, bahwa ilmu silat itu tidak dapat disalurkan dengan ilmu tenaga dalam yang sejati, hingga akhirnya, siapa memahamkan itu, akan sukar lolos dari kesesatan. Guruku telah memeriksa pelbagai kitab, memeriksa catatan dari beberapa tertua Rimba Persilatan, maka ia kemudian mengetahui, bahwa Kiauw Pak Beng ialah orang sesat nomor satu dalam kalangan persilatan semenjak ahala Beng. Ketika untuk kedua kalinya Kiauw Pak Beng bertempur pula dengan Thio Tan Hong, latihannya dengan Siulo Imsat Kang sudah sampai pada tingkat ke delapan dan sedang mulai menanjak ke tingkat ke sembilan."
"Dan menurut apa yang aku tahu, Beng Sin Thong baru sampai pada tingkat ke tujuh,"
Kata Sie Ie.
"jadi dia masih beda jauh jikalau dipadu dengan Kiauw Pak Beng. Meskipun demikian, Beng Sin Thong sudah kuatir, kalau-kalau dia nanti masuk ke jalan sesat."
"Menurut kitab Bit Cong dari Tibet,"
Kata Cie Hoa pula.
"kalau Siulo Imsat Kang sudah diyakinkan sampai pada tingkat ke delapan, maka tibalah saatnya bahaya tersesat, maka luar biasalah Kiauw Pak Beng, dia telah mulai beralih ke tingkat ke sembilan, tetapi dia masih dapat melawan Thio Tan Hong, bahkan dia dapat berdiam di pulau dengan gunung berapi itu serta hidup sampai usia hampir seratus tahun. Melihat buktinya, mungkin sekali dia telah berhasil menggabung ilmu sesat dengan ilmu sejati, hingga dia dapat menyingkirkan bagian-bagian berbahaya dari ilmu sesat itu. Dan inilah soal yang hendak dipecahkan oleh gurumu. Begitulah maka guruku memesan supaya aku mencarimu, untuk diberitahukan tentang rahasia gambar aneh yang berada pada Chong Leng Siangjin itu. Guruku mengharap, supaya kau nanti dapat mencari dan mengambil kitab ilmu silat Kiauw Pak Beng tersebut."
"Sekarang mengertilah aku sudah. Ketika bulan yang lalu Kunlun Sanjin, Siang Bok Lo dan Kim Jit Sian, ketiga hantu itu, berkawan mencari Chong Leng Siangjin, dan di dekat rumah keluarga Yo di kecamatan Tong-peng, bertemu denganmu, rupanya ketika itu kau sudah mengetahui soalku dengan pendeta Tibet itu, bukan?"
"Benar, Aku memang terus menguntit kamu berdua. Kamu mesti berjaga-jaga dari musuh kamu, tak sempat kamu memikirkan aku. Kemudian, sesudah Chong Leng Siangjin mati, maka gambarnya itu serta buku catatan si saudagar pelayaran oleh Kang Lam telah diserahkan kepadamu, dan semenjak itu, aku telah tidak memperhatikannya pula."
"Waktu itu kau belum menjelaskan rahasianya, rupanya kau masih belum menaruh kepercayaan kepadaku, kau masih hendak menangguhkannya guna mencari tahu tentang diriku, tentang sifatku. Setelah mengetahui bahwa aku orang baikbaik, baru kau akan berbicara, bukan?"
Mendengar perkataan si pengemis edan, Cie Hoa tertawa.
"Kau berhasil menebak separuhnya saja!"
Katanya.
"Masih ada separuh pula! Aku telah menduga, bahwa kau mestinya akan pergi ke gunung Binsan menjenguk kuburan guruku, untuk memberi hormat!"
Kim Sie Ie pun tertawa.
"Kau juga baru dapat menebak separuhnya!"
Dikembalikannya.
"Pergiku ke gunung Binsan itu, di samping aku hendak menjenguk kuburan gurumu, di dalam hatiku, aku ingin sekali dapat bertemu denganmu..."
Sinar mata sepasang muda-mudi ini kembali beradu, dan sama-sama mereka jadi semakin saling mengerti.
"Nona Kok!"
Tanya Kim Sie le kemudian.
"setelah meninggalkan gunung Binsan, kemana saja kau hendak pergi?"
"Kemana saja, menuruti rasa hatiku, tidak ada tempat tujuanku yang tertentu,"
Jawab si nona.
"Apakah kau mempunyai kegembiraan untuk mengikuti angin dan menempuh gelombang laut?"
Tanya Sie Ie.
"Bagaimana jikalau kita berdua pesiar di laut?"
Kok Cie Hoa tertawa.
"Adakah kau menghendaki kita berdua pergi mencari pulau Kiauw Pak Beng itu?"
Ia menegaskan.
"Benar!"
Jawab Kim Sie Ie.
"Hanya kau dan aku berdua saja?"
Si nona menegaskan lagi.
Cie Hoa adalah orang Rimba Persilatan, ia polos dan bebas, hatinya lapang, akan tetapi ketika ia ingat, bahwa ia akan naik perahu berdua saja dengan Kim Sie Ie sedangkan ialah seorang gadis, dan Sie Ie seorang pemuda, ia toh merasa...
tidak merdeka, ia likat sendirinya.
Ingin ia menampik, maka itu, ia menegaskan.
Ketika Kim Sie Ie mendengar pertanyaan itu, ia terkejut di dalam hatinya.
Dengan mendadak bayangan Le Seng Lam berpeta di depan matanya, dengan sendirinya pikirannya menjadi kusut.
Ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat paseban teh di depannya, tanpa berkata-kata, ia memasuki paseban itu.
Kok Cie Hoa merasa aneh, ia lantas mengintil masuk.
"Kenapa kau berdiam saja?"
Tanya ia, tertawa.
"Aku haus, aku ingin cari arak,"
Menyahut Sie Ie.
Di tengah jalan seperti itu ada beberapa paseban atau kedai teh yang berbareng menjual arak, setelah mengambil tempat duduk, Kim Sie Ie memanggil pelayan untuk minta disediakan tiga kati arak.
"Aku tidak minum arak,"
Kata Cie Hoa, yang minta sepoci teh wangi.
Begitu arak disajikan, Kim Sie Ie lantas mulai menenggak secawan demi secawan.
Ia benar nampak berdahaga sekali.
Dengan lekas araknya habis, maka ia memanggil pelayan, akan minta lagi tiga kati.
Belum lama, arak itu sudah ludas, maka ia lantas meminta pula.
Pelayan kedai menjadi heran.
Belum pernah dia menemui tetamu yang demikian kuat minum, hingga dia mengawasi dengan matanya di pentang lebar.
"Tuan, kau minum cepat sekali!"
Katanya. Menyaksikan kelakuan kenalan itu, Cie Hoa menjadi masgul.
"Kim Sie Ie seorang cerdas,"
Pikirnya.
"dia mendengar pertanyaanku, rupanya dia mendapat kesan aku tidak suka menemani dia berlayar, dari itu dia menjadi bersusah hati. Ah, mengapa dia tidak memikir sebaliknya, dari sudutku? Memang di antara kita kaum Rimba Persilatan, wanita dan pria sama saja, kita tidak usah terlalu mengukuhi adat istiadat, akan tetapi seorang pria dan seorang wanita, yang bukan sanak dan bukan kadang, mana dapat mereka berdiam berdua saja di dalam sebuah perahu dan berlayar bersama? Tidakkah itu bakal menimbulkan kecurigaan?"
Cie Hoa menyangka keliru.
Kim Sie le justeru memikirkan janji pertemuan di antara ia dan Le Seng Lam, hal ia telah menjanjikan suka berlayar bersama nona she Le itu, guna mencari kitabnya Kiauw Pak Beng.
Ia sudah menjanjikan Seng Lam, bagaimana ia bisa mengajak Cie Hoa pergi bersama?
Bukankah pada Seng Lam ia telah berjanji tidak akan membocorkan rahasia?
Itu artinya Seng Lam pasti tidak mengijinkan seorang lain, yang tidak dikenal, berlayar bersama-sama mereka berdua.
Sie Ie berandalan tetapi ia bukan seorang sembrono.
Kenapa, tanpa memikir lagi, ia mengajak Cie Hoa?
Nyata ia telah dilibat sang cinta.
Cinta itu kegaiban.
Ia ketarik pada Cie Hoa, ia jatuh hati.
Merasa, nona itu cocok untuknya.
Maka itu, ia seperti melupakan Seng Lam.
Hanya sekarang, mendadak bayangan Nona Le berkelebat di depan matanya.
Ia menyesal sesudah kasip.
Syukur untuknya, Cie Hoa tidak tahu apa yang ia pikirkan itu, si nona menyangka ia lagi ruwet pikiran saja...
Sie Ie sudah menenggak tujuh cawan ketika dengan roman masgul dan suara perlahan ia kata.
"Kau tidak suka turut pun tidak apa. Mungkin aku dapat mengajak lain orang pergi bersama..."
"Tetapi untuk mencari kitab ilmu silat yang luar biasa itu, mana dapat kau mengajak sembarang orang?"
Berkata Nona Kok.
"Apakah benar kau kualirkan di pulau itu ada sesuatu yang luar biasa?"
Di waktu mengatakan demikian, Cie Hoa telah berpikir.
Ia baru saja mendapat semacam pemecahan.
Andaikata Sie Ie mengulangi mengajak ia, akan ia menerima baik.
Ia bakal menggunai sebuah perahu lain.
Jadi mereka bakal pergi dengan masing-masing sebuah perahu.
Tapi ia melihat Kim Sie le minum sambil berdiam saja.
"Aku tidak takut,"
Sahutnya kemudian.
"aku cuma, cuma..."
"Cuma... cuma apa?"
Si nona menegaskan.
"Aku cuma takut pada diriku sendiri!"
Sahut Sie Ie, mendadak suaranya keras. Itulah aneh, akan tetapi, mendengar itu, Cie Hoa tertawa.
"Apakah artinya ini?"
Ia menanya. Kim Sie Ie mengangkat cawannya.
"Mari minum!"
Ia mengajak. Lantas ia menenggak araknya itu, yang berbunyi di kerongkongannya. Nona Kok tertawa.
"Bukankah aku telah mengasih tahu aku tidak minum arak?"
Tanyanya. Ia lantas menatap, untuk menambahkan dengan perlahan dan halus.
"Baiklah kau mengurangi meminum arak..."
Kim Sie Ie sangat berduka, ia bukannya menyahuti, hanya ia bernyanyi dengan nada tinggi. Ia menyanyikan syairnya Sin Sie Kie dari jaman Song, yang ia ubah.
"Inilah arak! Hari ini aku si tua menjadi berandalan! Tahun ketemu tahun aku berdahaga, kerongkonganku menjadi kering, maka hari ini, aku minum hingga sinting! Apakah halangan habis minum lalu mabuk, lalu mati, lalu dikubur? "
"Engko, kau sudah mabuk!"
Kata Cie Hoa.
"Jikalau kita minum bersama sahabat kekal, seribu cawan masih kekurangan!"
Berkata Kim Sie Ie.
"Beberapa kati arak ini mana dapat membuat aku mabuk? Pelayan tambah lagi tiga kati!"
"Engko, dengar aku!"
Kata Cie Hoa.
"Sudah, jangan minum pula!"
Dengan mata guram, Kim Sie Ie mengangkat kepalanya. Kebetulan di tengah jalan ada beberapa orang berlalu. Ia melihat mereka, agaknya ia terkejut.
"Bukankah mereka itu Ciong Tian dan Bu Teng Kiu?"
Katanya. Ia lantas mengawasi lalu mendadak, ia menepuk meja dan berbangkit untuk berkata sembari tertawa.
"Dicari sampai sepatu besi pecah, tidak dapat, sekalinya ketemu, gampang saja! Ha, kiranya kedua bocah, kamu ada disini!-Nona Kok, tolong kau tunggu sebentar, aku pergi dulu, nanti aku kembali untuk minum pula!"
Cie Hoa heran.
"Engko Kim, jangan terbitkan onar!"
Katanya.
"Aku hendak menanyakan sesuatu kepada bocah itu!"
Menjawab Sie Ie.
"Kau jangan perdulikan aku! Pasti aku tidak mengacau!"
Memang rombongan itu Ciong Tian bersama Bu Teng Kiu, yang turut mengambil bagian dalam pertemuan di Binsan.
Mereka mempunyai dua kawan, ialah Louw Too In dan Lim Seng, masing-masing murid-muridnya Co Jin Hu dan Louw Bin Ciam.
Mereka ini belum muncul ketika Thia Ho membacakan nama-nama tetapi Thia Ho memberitahukan Co Kim Jie bahwa masih ada dua orang, yang bakal hadir.
Itulah mereka ini.
Dan masih ada seorang kawan lain, murid bukan pendeta dari Siauwlim Sie, ialah Khu Goan Ka, muridnya Pek Toat Siangjin, kamsie dari Siauwlim Sie.
Ciong Tian dan Bu Teng Kiu bertemu mereka bertiga di tengah jalan, maka itu, mereka lantas berjalan bersama-sama.
Berlima mereka berjalan sambil memasang omong dengan asyik, ketika mendadak mereka mendengar bentakan.
"Eh, dua bocah, berhentilah kamu!"
Teng Kiu kaget ketika ia sudah lihat orang yang membentak itu, yang berdiri di sebelah depan mereka.
Ia mengenali Kim Sie Ie.
Ciong Tian pun kaget tetapi ia dapat menguasai dirinya.
Ia lantas menghunus pedang.
"Jalanan ini bukan jalananmu, mengapa kau melarang kami?"
Ia membentak. Kim Sie Ie tertawa.
"Bocah-bocah, apakah kau belum cukup menderita?"
Ia tanya.
"Bagaimana kamu berani menggunai senjata tajam terhadap aku? Mari, mari! Hendak aku menanyakan satu urusan kepada kamu, jikalau kamu sudah memberikan keterangan jelas, baru aku ijinkan kamu lewat!"
Teng Kiu menetapkan hati. Ia berkawan banyak, ia menjadi berani.
"Di kaki gunung Binsan, mana dapat kau dibiarkan banyak lagak!"
Katanya bengis.
"Kau hendak membuka jalan atau tidak?"
Sengaja Teng Kiu menyebut "di kaki gunung Binsan", untuk membangkitkan kemurkaan kawan-kawannya.
Ia berhasil, hanya mereka itu, lantaran belum tahu duduknya hal, dan mereka pun belum tahu Kim Sie Ie siapa, mereka menahan sabar, ingin mereka mendengari terlebih jauh.
Kim Sie le tertawa besar.
"Kalau di kaki gunung Binsan, kenapa?"
Tanyanya, menantang.
"Aku mempunyai urusan, aku menanya kamu, jika kamu berani tidak memberikan keterangan, akan kuhajar kaki kamu sampai patah, supaya kamu mendaki gunung Binsan sambil merayap!"
Lim Seng muridnya Louw Bin Ciam tak dapat menahan sabar lagi.
"Tuan, kau dari kalangan apa?"
Tanyanya-"Apa itu yang kau hendak tanyakan? Silahkan! Buat apa kau berlaku begini galak?"
Mata Kim Sie le mencilak dan berputar.
"Namaku?"
Dia membaliki.
"Kau baiklah tak usah mengetahui itu! Aku menanya mereka, kenapa mereka tidak mau bicara? Kenapa mereka mengatakan aku galak? Taruh kata benar aku galak, habis mau apa?'"
Sie Ie bicara dengan suara keras, selain bau arak, pula ia membiarkan ludahnya menyembur keluar. Lim Seng mundur setindak.
"Binatang ini tentunya sudah sinting,"
Pikirnya. Tapi ia kata pada kawannya.
"Ciong Toako, coba dengar dulu pertanyaannya. Di kaki Binsan ini, aku menjadi tuan rumah, tidak nanti aku membiarkan kau mendapat kesukaran."
Ciong Tian lebih sabar, ia melirik kepada Bu Teng Kiu untuk mencegah saudara separtai itu berlaku sembrono. Ia pun maju setindak.
"Tuan Kim, kau hendak menanya apa?"
Ia menanya. Ia dididik Tong Siauw Lan untuk banyak tahun, pula ia ingat selama di Beng keechung orang telah diam-diam membantu pihaknya, maka ia berlaku sabar.
"Bagus, dibanding sama bocah she Bu itu, kau lebih mengerti urusan!"
Sahut Kim Sie Ie.
"Aku ingin menanyakan kau tentang Lie Kim Bwee. Dia pergi kemana? Kenapa dia tidak bersama kau?"
"Oh, kau menanyakan tentang sumoay-ku itu?"
Kata Ciong Tian.
"Dia... dia..."
"Dia kenapa?"
Tokciu Hongkay memotong.
"Aku... aku tidak tahu..."
"Kau tampaknya lebih jujur kenapa di depanku kau berpura-pura? Setelah lolos dari ancaman bahaya di Beng keechung, bukankah Lie Kim Bwee pergi ke dusun Sin-an mencari kamu? Mustahil kamu tidak bertemu dengannya?"
Selagi menanya begini, Sie Ie pikir.
"Kalau bukan Ciong Tian yang mendusta tentulah Le Seng Lam."
Habis mengacau di Beng keechung, Seng Lam pernah menggunai namanya Lie Kim Bwee memancing Kim Sie Ie datang ke puncak Kimkee Hong di Thayheng San, ketika Sie Ie minta penjelasan, dia kata dia sengaja berbuat demikian, agar Lie Kim Bwee bertemu sama suheng-nya, si kakak seperguruan, maka itu, melihat Ciong Tian dan Bu Teng Kiu, Sie Ie lantas minta keterangan mereka ini.
Sebenarnya Le Seng Lam tidak mendusta.
Karena pengunjukannya, Lie Kim Bwee dapat bertemu sama Ciong Tian dan Bu Teng Kiu itu.
Ciong Tian berniat memberitahukan Kim Bwee halnya Kim Sie Ie, tetapi Teng Kiu mendongkol, dia membenci Kim Sie Ie, dia sengaja membilang bahwa "Kim Sie Ie telah dilukai Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong", keadaannya berbahaya, mungkin Sie Ie sudah mati.
Teng Kiu ingin memadamkan pengharapannya Lie Kim Bwee mengenai Kim Sie Ie, supaya Kim Bwee mau pulang ke Thiansan.
Kim Bwee percaya keterangan itu, ia menjadi sangat berduka.
Tapi ia ingin memperoleh kabar pasti, ia penasaran, maka ia justeru lantas berpisah dari suheng-nya itu, ia lantas pergi mencari Kim Sie Ie.
Ciong Tian tidak dapat membujuk atau mencegah, bahkan ia tidak bisa menyusul nona itu, maka juga ia menyesalkan Bu Teng Kiu.
Tapi sekarang, di depan Kim Sie Ie, tidak dapat ia omong dari hal yang benar.
Menampak orang bersangsi, Sie Ie menjadi semakin curiga.
"Eh, bocah, kau kiranya berpura-pura jujur!"
Bentaknya.
"Lie Kim Bwee dimana? Kau mau omong atau tidak?"
Bu Teng Kiu tidak puas. Ia tertawa dingin.
"Kim Sie Ie, Lie Kim Bwee itu pernah apa dengan kau?"
Dia tanya, mendahului Ciong Tian.
"Kenapa kau memaksa mau mengetahui tentang dia?"
Kim Sie le gusar sekali, ketika ia hendak membentak, ia didahului anak muda itu, yang dengan dingin berkata.
"Nanti aku beritahu! Lie Kim Bwee itu tunangan dari ini pamanku yang muda! Jadi jangan kau memperhatikan pula padanya!"
Mukanya Ciong Tian menjadi merah, tetapi di depan banyak orang itu, tidak dapat ia menegur Teng Kiu.
Sebenarnya ia menyayangi Lie Kim Bwee sebagai adik seperguruannya, tetapi Tong Siauw Lan pernah melamar nona itu kepada Phang Lim untuknya, melainkan Lie Kim Bwee tidak mau menerima lamaran itu.
Kim Sie le tercengang, ia berdiri menjublak.
Hanya sejenak, ia menegur.
"Eh, bocah, usiamu masih sangat muda, mengapa hatimu busuk sekali? Kim Bwee dengan aku mirip dengan kakak dan adik, aku tahu dia lagi mencari aku, maka itu, kenapa aku tidak dapat mencari dia?"
"Saudara apa!"
Kata Teng Kiu, mengejek, tertawanya dingin.
"Kim Bwee masih muda, dia belum tahu apa-apa, justeru kau yang hendak memperdayakan padanya! Kalau kau mau cari dia, mengapa kau tidak pergi ke Thiansan? Sekarang, selagi dia merantau seorang diri, lantas kau kau mencari padanya!"
Sebenarnya Kim Sie Ie sudah mencoba untuk menyingkir dari libatan asmara, tidak mau ia mencari Lie Kim Bwee, tetapi ia telah mendengar pembicaraan di dalam hotel di antara Bu Teng Kiu dan Ciong Tian, maka ia mengetahui Lie Kim Bwee bersumpah tidak mau menikah kecuali dengannya, hatinya menjadi bangun pula.
Inilah di luar dugannya.
Ia pikir, bukanlah cara yang baik untuk ia selalu menyingkir dari nona itu.
Ini pula sebabnya kenapa ia mendongkol karena Le Seng Lam mendustainya.
Maka itu, sebelum mendaki gunung Binsan, buat beberapa hari ia sudah mencari Lie Kim Bwee di sekitar dusun Sinan tin ini.
Sekarang ia mendengar ejekan Bu Teng Kiu, dan anak muda itu seperti menduga ia berniat jelek terhadap si nona, ia menjadi gusar.
Ketika itu tiga kawan seperjalanan dari Bu Teng Kiu dan Ciong Tian gusar mendengar disebut-sebutnya nama Kim Sie Ie, semua mereka mengawasi si pengemis edan.
"Saudara Bu,"
Bertanya Lim Seng.
"adakah orang ini Kim Sie Ie yang dunia Kangouw menyebutnya Tokciu Hongkay?"
Ia heran karena ia melihat orang baru berumur dua puluh lebih sedang tadinya ia menduga, dengan mempunyai nama kesohor, sedikitnya Kim Sie le berusia pertengahan.
"Benar dia Tokciu Hongkay!"
Bu Teng Kiu menjawab keras.
"Inilah sebabnya kenapa dia menjadi begini kurang ajar! -Eh, Kim Sie Ie, di lain tempat kau boleh banyak lagak, tetapi kaki gunung Binsan ini bukan tempatnya kau bertingkah! Tentang tunangan orang, baiklah kau jangan tanya-tanya! Sekarang kita sudah bicara habis, kau mau membagi jalan atau tidak?"
Sepasang matanya Kim Sie le seperti terbalik. Ia berada di bawah pengaruh air kata-kata, hawa amarahnya meluap. Mendadak ia tertawa nyaring, sambil mendelik terhadap Bu Teng Kiu, ia kata sengit.
"Di mulut anjing tidak dapat tumbuh caling gajah! Apakah kau masih hendak merasakan pula sari luar biasa?"
Bu Teng Kiu mundur tiga tindak. Ia berada di antara banyak kawan, ia membesarkan nyalinya.
"Kau berani?"
Ia menantang. Kim Sie le tertawa bergelak.
"Baiklah!"
Katanya.
"Dengan memandang hari ini kau datang ke Binsan untuk menghunjuk hormat kepada Locianpwee Lu Su Nio, suka aku tidak menyuapi lumpur lagi padamu, sekarang aku hendak mengundang kau minum arak!"
Habis berkata begitu, dengan mengempos tenaga dalamnya, Kim Sie Ie lantas memuntahkan beberapa kati arak yang tadi telah masuk ke dalam mulutnya, lantas arak itu meluncur bagaikan air mancur.
Bu Teng Kiu masih hendak mencaci pula, baru ia membuka mulutnya, arak sudah menyemprot ke mulutnya itu, lekaslekas ia menutupnya pula, meski begitu, arak toh sudah masuk juga dan ada yang mengenai mata dan hidungnya, hingga ia kelabakan.
Ia tidak doyan arak, inilah hebat untuknya.
Ia merasakan arak itu perih dan bau, sedang arak pun keluar dari dalam mulut!
Tidak ampun lagi, ia tumpahtumpah hingga mengudal isi perutnya.
Kim Sie Ie tertawa melengak.
Bu Teng Kiu menjadi sangat gusar.
Ia terhina dan malu.
Maka ia menghunus pedangnya, untuk segera menikam, la lantas diturut oleh Ciong Tian.
Ia ini kecipratan muntahan arak itu hingga hatinya menjadi panas.
Ciong Tian berada lebih dekat, maka itu, meski ia menyerang belakangan, pedangnya sampai terlebih dulu.
Serangannya pun dengan tipu silat "Burung elang menyerbu ke tengah udara".
Kim Sie le ketahui ilmu silat pedang orang ini sudah terlatih cukup, ia tidak berani memandang enteng, dengan tongkatnya, ia menangkis.
Ia menggunai tenaga lima bagian.
Habis itu ia putar terus tongkatnya, guna menangkis serangannya Bu Teng Kiu, justeru pedangnya orang she Bu ini tiba dan masuk dalam lingkaran tongkatnya itu.
Karena kena terlilit dan tertarik, pedang Teng Kiu itu terlepas dari cekalannya, kena dibikin terpental.
Melihat demikian, Ciong Tian menyerang pula, untuk menghalangi Teng Kiu nanti didesak.
Bu Teng Kiu berlompat, untuk menyambuti pedangnya yang lagi jatuh turun.
Ia mendongkol tidak terkira hingga ia berteriak-teriak.
Ia sesumbar.
"Tokciu Hongkay! Hari ini kalau bukan kau yang mampus tentulah aku yang terbinasa!"
Lantas ia maju pula. Kim Sie Ie tertawa dan kata.
"Baru kamu dua orang bocah, tidak dapat kamu melukai walaupun selembar rambutku! Aku pun belum menginginkan jiwamu!"
Lalu dengan tongkatnya ia menangkis terus ia membalas menyerang.
Saban-saban ia menyerang ke jalan darah, tetapi saban-saban juga ia tidak melanjuti mengenai.
Dengan caranya itu ia membuatnya kedua lawan menjadi repot.
Menampak demikian Louw Too In, dengan memutar tiat piepee, atau piepee besi, yang menjadi senjatanya, lantas maju untuk membantui.
Sebagai murid Binsan Pay, tidak dapat ia menonton saja.
Louw Too In murid kepala dari Co Jin Hu, Co Jin Hu ialah salah satu dari Kanglam Cithiap, Tujuh Jago dari Kanglam, dengan Co Kim Jie dia pernah saudara seperguruan, maka itu di dalam generasi ketiga dari Binsan Pay, ilmu silatnya cuma kalah sedikit daripada Co Kim Jie.
Ek Tiong Bouw ialah yang ketiga.
Mulanya Too In tidak niat mengepung, tetapi melihat gelagat tidak baik bagi Bu Teng Kiu dan Ciong Tian, ia terpaksa turun tangan juga.
Ia tidak tahu bahwa Kim Sie Ie lagi mempermainkan Teng Kiu dan Ciong Tian, ia hanya ketarik dan berkuatir karena liehaynya tongkat Kim Sie Ie itu.
Ia pikir.
"Dua orang ini murid-murid Thiansan Pay, jikalau mereka terluka di ujung tongkat Kim Sie Ie, bagaimana pihak Binsan Pay dapat memberi pertanggungan jawab? Kim Sie Ie ternama buruk dalam dunia Kangouw, kalau sekarang aku membantu pihak Thiansan Pay membinasakan dia, pasti kaum Rimba Persilatan tidak akan mencela aku."
Kim Sie Ie melihat orang bersenjatakan piepee besi, dia membentak.
"Inilah bukan urusan kamu kaum Binsan Pay, lekas kau mundur!"
Louw Too In tidak mau mengerti, ia menjawab dengan bentaknya.
"Mereka orang-orang Thiansan Pay tetapi mereka datang menjenguk dan mengunjuk hormatnya kepada kuburan sucouw, mana mereka tidak ada sangkutannya dengan pihak kami? Tokciu Hongkay, kau suka malang melintang main gila, kau mungkin dapat melakukannya di lain tempat, akan tetapi disini, di kaki gunung Binsan, aku tidak dapat membiarkannya!"
Kim Sie Ie tertawa lebar.
"Jikalau begitu, baiklah, kau boleh maju!"
Sambil berkata begitu, habis berkelit, mendadak Sie Ie menotok ke dada orang Binsan Pay itu.
Too In terkejut.
Ia tidak menyangka orang demikian gesit.
Ia lantas berkelit dengan melengak dalam tipu silat "Tiatpoan kio"
Atau Jembatan Besi, hingga tongkat lewat di atasan dadanya.
"Bagus!"
Sie Ie memuji, tertawa.
"Di dalam Binsan Pay, kau tidak dapat dicela, hanyalah caramu ini untuk menolong diri bukan cara yang tepat! Tidak seharusnya kau menggunai Tiatpoan kio! Tiatpoan kio kuat di bawah tapi kurang lincah, jikalau aku mengubah siasat, batok kepalamu bisa dihajar hancur!"
Sie Ie mengoceh tetapi tongkatnya tidak didiamkan, ia mendesak Ciong Tian dan Teng Kiu, hingga mereka menemui saat-saat yang membahayakan, dengan susah payah baru mereka dapat menolong diri mereka.
Too In sendiri, mukanya menjadi merah.
Ia malu untuk penjelasannya Kim Sie Ie itu.
Maka ketika ia menyerang pula, ia berlaku telengas.
Ia menekan alat rahasia pada senjatanya, hingga dari situ melesat keluar tiga batang Touwkut teng, Paku Menembusi Tulang.
Itulah senjata rahasia yang ia umpatkan di dalam piepee-nya itu.
Itu pula senjata rahasianya Co Jin Hu, senjata yang telah memperoleh nama dalam dunia Kangouw, cuma Co Kim Jie, yang sudah menjadi ketua Binsan Pay, tidak ingin menggunai, ia menganggap itu kurang tepat dengan kedudukannya.
Kim Jie pun merasa, tenaga dalamnya bertambah maju dari itu ia tidak membutuhkan senjata rahasia lagi.
Begitulah, senjata rahasia itu diwariskan pada Too In yang sudah meyakinkannya lebih dari sepuluh tahun.
Jarak di antara Louw Too In dan Kim Sie le cuma setombak lebih, tidak selayaknya Tokciu Hongkay lolos dari bokongan paku rahasia itu, yang menyerang di tiga jurusan, yang sasarannya semua ialah jalan darah.
Itu waktu ia pun lagi dibarengi diserang Ciong Tian dan Teng Kiu, hingga ia mesti menggunai tongkatnya menghalau senjata-senjatanya kedua lawan itu.
Tapi toh, di saat ketiga paku hampir mampir di jalan darah, mendadak Kim Sie Ie berseru, lantas ketiga paku runtuh sendirinya!
Louw Too In heran hingga ia melengak, tetapi segera ia ingat cerita orang banyak tentang keistimewaannya Tokciu Hongkay, lantas tanpa merasa, ia menggigil sendirinya.
Kim Sie le tidak menjadi gusar, sebaliknya, dia tertawa lebar.
"Aku beri ingat kepadamu untuk kau jangan menggunai lagi senjata rahasia!"
Ia mengancam.
"Jikalau kau tetap menggunai itu, jikalau aku terbangun kegembiraanku, aku juga dapat menggunai senjata rahasiaku! Apabila itu sampai terjadi, hebatlah penderitaanmu nanti! Barusan aku menggunai kepandaianku yang tidak berarti meruntuhkan tiga biji pakumu, dari itu, apabila kau memakai pula pakumu, nanti jarumku masuk ke semua liang dalam tubuhmu -mata, hidung, mulut dan kuping!"
Louw Too ln terkejut. Memang barusan, pakunya kena dirobohkan jarumnya Tokciu Hongkay. Ia kaget hingga ia mengeluarkan keringat dingin. Di dalam hatinya, ia kata.
"Tadinya aku menganggap ceritera itu dongeng belaka, sekarang baru aku menyaksikan sendiri. Dia benar-benar liehay!..."
Karena ini, ia benar-benar tidak berani menggunai pula pakunya itu, terpaksa ia terus menggunai piepee besi.
Tentu sekali ia menggunai seantero kepandaiannya.
Nyata ia bisa bekerja sama Ciong Tian dan Teng Kiu, dengan begitu, meski mereka bertiga tak dapat mengimbangi Kim Sie Ie, mereka tidak serepot semula Tengah bertempur itu, Kim Sie Ie tertawa dan berseru.
"Kamu kaum Binsan Pay, benar-benar kamu tidak dapat membedakan yang baik dari yang buruk! Ketua kamu masih berhutang budi kepadaku, belum lagi dia membayarnya, sekarang kamu menggunai senjata rahasia menyerang aku! Sebenarnya dengan memandang kepada Lu Su Nio, tidak ingin aku berurusan dengan kamu, tetapi sekarang kamu ngotot, kalau dipikirkan, hatiku menjadi panas! Baiklah, sekarang aku memberi hukuman enteng kepada kau, hendak aku menghajar kempolanmu!"
Kata-kata ini ditutup sama gerakan tongkat menyerang kepala Too In.
Dia ini berkelit dengan terpaksa menggunai tipu silat "Menekuk pinggang, mematahkan cabang yangliu", tubuhnya membungkuk.
Tapi ini justeru yang dikehendaki Sie Ie.
"Duk!"
Demikian satu suara ketika Tokciu Hongkay berlompat maju menyusuli lawan yang berkelit itu, ujung tongkatnya mampir di kempolan si orang she Louw, syukur kempolannya kuat dan serangan tidak keras, walaupun demikian dia menjerit teraduh-aduh!
Lim Seng gusar melihat kakak seperguruannya dipermainkan secara demikian, ia maju untuk menyerang.
Ialah murid kesayangan Louw Bin Ciam.
Louw Bin Ciam ini, dalam Kanglam Cithiap, namanya tersohor sama seperti tersohornya Pek Tay Koan.
Muridnya ini telah memperoleh kepandaian yang sempurna.
Sekarang Lim Seng tengah sangat bergusar, meski begitu, ia bisa berlaku tenang seperti gurunya.
Cuma di waktu menyerang, lantas ia menggunai ilmu totoknya.
Dalam generasi ketiga dari Binsan Pay, ia orang yang ke empat.
Kim Sie Ie tertawa.
' Bagus!
Ini ada artinya juga sedikit!"
Katanya, bergurau.
"Disana masih ada seorang lagi, kenapa dia tidak maju sekalian?"
Ia maksudkan Khu Goan Ka, muridnya.
Kamsie, hwesio penilik, dari Siauwlim Sie.
Goan Ka menjadi tetamu, ia tidak memikir untuk mencampur tangan, tetapi melihat empat kenalan itu terdesak sedang ia ditantang, walaupun ia sabar, ia habis sabarnya, maka itu, ia lantas berkata.
"Kim Sie Ie, karena kau sangat bertingkah, mari belajar kenal sama ilmu silat dari murid Siauwlim Sie!"
Lalu, tanpa menggunai senjata, ia berlompat maju, guna menyerang.
Ilmu silat gereja Siauwlim Sie, atau partai Siauwlim Pay, ada sangat kesohor, terutama ilmu pukulannya yang disebut "Lohan Ngo-heng Kun!"
Atau "Panca Benda Arhat", yang ada ciptaannya Bodhidharma, ialah Tat-mo Couw-su, si pendeta suci, ilmu mana sejak seribu tahun lalu terus menerus memperoleh perubahan oleh muridnya, atau cucu-cucu muridnya, yang terpandai.
Demikian Khu Goan Ka, murid pandai dari Siauwlim Kamsie, penilik Siauwlim Sie.
Begitu dia bergerak, dia mengasih dengar suara angin, kepalannya meluncur.
Kim Sie le menangkis seraya membangkol, ia merasakan tenaga lawan yang keras.
Segera ia menggunai siasat menarik, guna meminjam tenaga lawan.
Nyata ia tidak berhasil.
Sebaliknya, ia telah memberikan ketika untuk lawannya itu meninju pula.
Terpaksa ia mengenjot diri, untuk lompat berjingkrak, sambil berlompat, sebelah kakinya mendupak ke atas.
Itulah tendangan yang dinamakan "Ceebie kiak", atau "Kakinya rata dengan alis".
Tepat tendangan ini mengenai tangan lawan.
Atas itu, kedua-duanya sama mencelat mundur.
Tapi Kim Sie Ie tidak dapat diberikan ketika untuk beristirahat.
Biar bagaimana, ia telah kena tertinju satu kali oleh Khu Goan Ka, sedang dengan tongkatnya, ia mesti membikin terpental pedangnya Bu Teng Kiu, dan Ciong Tian, sambil berkelit ia menyingkir dan totokannya Lim Seng, serta dengan pukulan Pekkhong ciang, ia paksa mundur kepada Louw Too In.
"Saudara Khu, jangan kasih dia lolos!"
Berseru Bu Teng Kiu berempat. Mereka ini nampaknya bersemangat sekali. Maka berlima, mereka mengambil tempat di lima penjuru, untuk mengurung.
"Kim Sie Ie, kau mengertilah sekarang!"
Kata Louw Too In.
"Binsan Pay tidak dapat mengijinkan kau main gila! Kau mau mengaku salah atau tidak? Apakah kau tidak mau menghaturkan maaf?"
Kim Sie Ie tertawa.
"Baiklah, kau tunggulah!"
Ia kata.
"Nanti aku matur maaf kepada kamu!..."
Belum berhenti kata-katanya itu, Tokciu Hongkay sudah berlompat ke depan Too In, terus ia menjura dan mengangguk-menjura dan mengangguk dalam gerakan "Hong Tiamtauw,"
Atau "Burung hong mengangguk".
Menyusuli itu pemberian hormat, Too In menjadi kaget dan merasa sakit sekali.
Di luar dugaannya, di antara suara membeletuk, jidatnya telah kena terhajar hingga jidat itu menjadi bertelur.
Ia merasa begitu sakit hingga air matanya keluar mengalir.
Terpaksa ia mencelat mundur.
Kim Sie Ie tertawa pula.
"Aku menghaturkan maaf kepadamu, kenapa kau tidak terima?"
Ia menanya.
Lantas mendadak ia memutar tubuh ke arah Bu Teng Kiu, sambil berputar, ia berlompat dengan sebelah tangannya menyambar, untuk menyengkeram ke arah pundak, dan sambil menyerang itu, ia menanya keras.
"Kau mau memberitahukan halnya Lim Kim Bwee atau tidak?"
Ciong Tian melihat kawannya terancam bahaya, ia menyerang dengan pedangnya -pedang Cengkong kiam-dan dengan jurusnya "Lie Kong memanah batu", sasarannya ialah punggung si pengemis edan.
Kim Sie Ie melihat serangan itu.
"Kau juga harus mendapat pengajaran!"
Katanya seraya ia berkelit dengan memiringkan tubuhnya, sambil sebelah tangannya terayun, untuk menghajar kuping, hanya sebab si orang she Ciong berkelit, pundaknya yang kena terhajar.
Kim Sie Ie tertawa pula seraya berkata.
"Bagus! Karena sebatnya kau berkelit, lantaran memandang kepada sumoaymu, sukalah aku menitipkan dulu gaplokanku sekali ini!"
Selagi Kim Sie Ie berbicara, ia diserang Khu Goan Ka, yang menggunai pukulan dari "Liong Kun", atau "Kuntauw Naga".
Melihat datangnya serangan itu, si pengemis edan tidak menangkis atau berkelit, sebaliknya ia menyambuti dengan cengkeramannya, ia memegang keras kepalan penyerangnya itu, untuk membikin habis tenaga orang.
Syukur untuk Khu Goan Ka, Lim Seng menolong ia dengan jalan menyerang menotok Kim Sie Ie, hingga ia ini terpaksa melepaskan cengkeramannya, tetapi ia melepaskannya sambil mendorong, karena mana tubuhnya orang she Khu itu terhuyung beberapa tindak.
Sambil mempertahankan diri, supaya dia tidak roboh, Khu Goan Ka menginsyafi bahwa, melayani dia, Kim Sie Ie belum mengeluarkan semua tenaganya.
Lim Seng gagal menotok Kim Sie Ie, lekas-lekas ia mundur, tetapi meski begitu, ia masih kurang gesit, ketika Kim Sie Ie menyambar padanya, ujung bajunya kena tersambar hingga robek!
Ciong Tian penasaran karena kepungannya gagal.
"Mari maju rapat!"
Ia menyerukan kawan-kawannya.
"Jangan kita memisahkan diri!"
Ia pun lantas mulai menyerang, dengan ilmu pedang "Tay Siebie Kiamsie"
Dari Thiansan Kiamhoat, ilmu pedang Thiansan Pay.
Inilah penyerangan sambil membela diri, untuk membikin kawankawannya dapat memernahkan diri, hingga mereka mirip merupakan "Tiangcoa Tin", barisan Ular Panjang.
Umpama kata Ciong Tian bersilat sendiri dengan ilmu silat pedangnya, ia masih sukar melayani Kim Sie Ie, tetapi ia membantu kawan-kawannya dengan kawan-kawan itu seperti membantu padanya, kedudukan mereka jadi kuat.
la bersilat tetap dengan pedangnya itu, demikian kawan-kawannya dengan masing-masing senjatanya, seperti Louw Too In dengan thie piepee, Lim Seng dengan seruling kemalanya.
Tidak gampang untuk mereka melukai Kim Sie Ie tetapi orang toh dibikin repot.
Sedang Khu Goan Ka, yang paling liehay di antaranya, saban-saban menyerang dengan Lohan Ngoheng Kun yang anginnya menderu-deru.
Dia ini lebih banyak membantu Ciong Tian, untuk memperkuat pembelaan diri mereka.
Dikepung secara demikian, Kim Sie Ie jadi berimbang kekuatannya dengan mereka itu.
Akan tetapi ia tidak menjadi kecil hati.
Ia melihat orang lebih kuat dalam pembelaan diri daripada dalam penyerangan.
Berselang tidak lama, ia tertawa bergelak-gelak.
"Pertempuran ini menarik hati!"
Katanya gembira.
Katakatanya ini disusuli dengan permainan tongkatnya yang melebihkan yang sudah-sudah.
Lawan ada di lima penjuru, ia pun menyerang ke pelbagai penjuru itu, bergantian ke timur ke barat, ke selatan dan utara.
Ia mencoba mendesak.
Dalam mengepung itu, menampak perubahan serangannya si pengemis edan, Ciong Tian berlima gentar hatinya.
Kalau mereka berlaku tabah terus, mereka masih dapat bertahan, tetapi sekarang, mereka kalah hati.
Dengan perlahan-lahan mereka mulai terdesak, hingga barisan mereka kena dibikin bergerak.
Di antara lima orang itu, Lim Seng yang paling cerdik.
Ia melihat gelagat kurang baik, ia lantas memikir untuk meloloskan dirinya.
Segera matanya celingukan, guna melihat jalan mundur.
Justeru begitu, ia melihat di bawah sebuah pohon ada seorang nona yang menyoren pedang.
Dengan lantas ia berpikir.
"Pernah aku mendengar pembilangan Ek Suheng, katanya Susiok Lu Su Nio mempunyai seorang murid penutup, nona itu membekal pedang, pedangnya rada luar biasa, kalau tidak salah itulah pedang Songhoa Kiam dari Lu Susiok itu, maka mungkin sekali, dialah ahli warisnya susiok!..."
Dugaannya Lim Seng ini tidak salah.
Nona itu memang Kok Cie Hoa.
Si nona tidak dapat menenangkan diri, walaupun Kim Sie Ie menyuruh dia menanti di paseban teh, diam-diam ia toh mengikuti, hingga ia mendapat dengar tegas perselisihan dan bentrokan di antara Kim Sie Ie dan Bu Teng Kiu.
Gurunya bersahabat kekal dengan Phang Eng dan Phang Lim, sudah tentu ia ketahui yang Lie Kim Bwee itu gadisnya Phang Lim.
Maka berkatalah ia di dalam hatinya.
"Jadi urusan yang dikatakan penting oleh Kim Sie le adalah urusan mencari-tahu dimana adanya Lie Kim Bwee itu! Kenapa dia belum pernah menyebutnya padaku?"
Baru ia berpikir demikian, atau ia sudah menegur dirinya diri.
"Hus! Kau pernah apa dengan Kim Sie Ie? Kenapa dia beritahukan kau segala urusannya? Kau toh sahabatnya dengan siapa kau baru pernah bertemu hanya dua kali?"
Ada pepatah kuno yang membilang "Pek tauw jie sin, Keng kay jie kouw", artinya.
"Kepala putih seperti baru. Tenda kereta seperti sediakala". Atau jelasnya. Ada orang yang bersahabat seumurnya, mereka tetap bagaikan sahabatsahabat yang belum kenal baik satu dengan lain, bagaikan sahabat-sahabat baru; bagaikan sahabat-sahabat yang baru bertemu di tengah jalan, kereta mereka dihentikan, untuk saling bertanya, untuk itu tenda kereta mereka dimiringkan, disingkap, untuk mereka berbicara sebentar, tetapi dalam waktu sebentar, lantas mereka menjadi sahabat-sahabat lama. Jadi persahabatan itu tidak selamanya dapat diukur dengan sang waktu perkenalan. Demikian dengan Kok Cie Hoa dan Kim Sie le ini, yang guru-gurunya mempunyai hubungan yang luar biasa. Sudah diketahui, sebelumnya Cie Hoa mengenal Kim Sie Ie pribadi, ia sudah mengetahui Kim Sie Ie itu orang macam apa, sedang di hatinya Kim Sie Ie, Lu Su Nio ada orang satu-satunya yang dia puja. Berhubung dengan peristiwa di atas gunung Binsan itu, meski mereka saling bertemu tidak sering, tidak banyak kali, persahabatan mereka bukan lagi persahabatan baru. Maka itu, meski Cie Hoa sadar dan ia dapat menegur dirinya sendiri, ia tetap belum dapat mententeramkan diri... Kapan Lim Seng telah melihat Nona Kok dan telah menduga siapa si nona itu, ia lantas berpikir pula, guna mengambil keputusan. Mendadak saja ia melakukan penyerangan, ketika Kim Sie Ie menangkis, mendadak juga ia lompat mundur, untuk keluar dari dalam gelanggang. Menyaksikan sikap orang itu, Kim Sie Ie tertawa lebar.
"Memang juga aku tidak menggubris urusan kamu kaum Binsan Pay!"
Katanya.
"Maka siapa yang cerdas baiklah dia lekas-lekas mengangkat kaki!"
Ciong Tian dan Bu Teng Kiu menjadi tidak puas.
Mereka menyangka Lim Seng bukanlah sahabat sejati.
Demikian juga anggapannya Louw Too In, yang seperti yang lainnya, tidak mendapat lihat Kok Cie Hoa.
Ketika itu, Kim Sie Ie mendesak lebih jauh, maka ia membuat barisan orang menjadi goncang.
Kok Cie Hoa sedang menyaksikan pertempuran itu ketika ia mendapatkan Lim Seng mengundurkan diri dan terus lari ke arahnya.
Ia menjadi heran, hingga ia melengak mengawasi orang.
Napas Lim Seng tersengal-sengal, ia berhenti di depan si nona, untuk lantas menanya.
"Nona, bukankah kau Kok Sumoay'' Aku Lim Seng, aku murid nomor tujuh belas dari generasi ketiga dari Binsan Pay..."
"Oh, jadi kaulah muridnya Louw Supee?"
Kata si nona Ia sebenarnya mau memanggil "Lim Suheng", tapi segera ia dapat membatalkan itu, karena ia ingat ia sudah diusir oleh Tio Kim Jie, sang suci, atau kakak seperguruan, yang sikapnya keras.
Maka ia lantas menyahuti dengan suaranya yang tawar.
"Benar, aku Kok Cie Hoa..."
Lim Seng heran atas sikap orang yang tawar itu.
"Sumoay, kau lihat atau tidak?"
Katanya.
"Kami orangorang Binsan Pay, kami tengah diperhina Kim Sie Ie! Jikalau kami kena dikalahkan di atas gunung Binsan ini, sungguh muka terang kami tidak dapat dieuci bersih..."
"Oh, ya, aku melihat'"
Berkata si nona, agaknya dia terperanjat. Lim Seng menduga nona itu belum tahu siapa adanya Kim Sie le, maka ia berkata pula, menjelaskan.
"Di dalam dunia Kangouw ada seorang hantu yang dinamakan Tokciu Hongkay, nah, dialah Kim Sie Ie itu! Dia sekarang mau merampas tunangannya si orang she Ciong dari Binsan Pay, dia berani mati sekali sudah memegat di tengah jalan, dia melarang orang mendaki gunung Binsan! Maka urusan itu tidak dapat kita tidak mengurusnya! Kim Sie Ie itu sangat menyebalkan, dia tetap tidak mau mengerti, dia telah menyerang kami! Siapa termasuk saudara seperguruan, dia harus membantu kami, oleh karena itu, sumoay, aku minta sukalah kau lekas memberikan bantuanmu!"
Tepat Lim Seng berkata demikian, kuping mereka mendengar suara bentrokan senjata yang keras, lalu tertampak tongkatnya Kim Sie Ie membuat terpental pedangnya Bu Teng Kiu dan Ciong Tian, hingga pedang mereka itu terbang ke udara.
Louw Too In kaget sekali, dia mau berkelit, tetapi sudah tidak keburu.
Kim Sie le pun tertawa nyaring dan berkata.
"Piepee besi kau ini bagus untuk dibuat permainan, mari kasih aku lihat!"
Dan dengan satu jambretan, ia telah berhasil merampas gegaman orang itu, terus dia ketok dengan tongkatnya, hingga terdengar suara tingting-tongtong.
"Benar, benar, sungguh sedap didengarnya!"
Kata pula Sie Ie, berguyon.
Harus dikasihani adalah Louw Too In, senjatanya itu yang ia sangat sayang, karena diadu sama tongkat besi, lantas menjadi bengkok melengkung bagaikan bulan sisir!
Khu Goan Ka melihat bahaya mengancam pihaknya, dia terpaksa maju, dengan dua kepalannya, dia menyerang, tangan kirinya dengan tipu silat "Chongliong cuthay"
Atau "Naga keluar dari laut", dan dengan tangan kanan dengan tipu silat "Pauwhouw kwiesan"
Atau "Memondong harimau pulang ke gunung". Itulah serangan mati-matian. Kim Sie Ie tertawa pula.
"Sudah setengah harian kau berkelahi, kau pasti sudah sangat letih!"
Katanya.
"maka kau beristirahatlah!"
Tengah orang nekat, ia justeru bergurau.
Dan tengah ia diserang mati-matian itu, ia berkelit ke samping, lalu merapatkan diri, sebelah tangannya diajukan ke ketiak Goan Ka!
Oleh karena ia maju secara nekat itu, Goan Ka terlepas dari perlindungannya Ciong Tian, maka juga tidak perduli dia gagah, dia tidak dapat membebaskan diri, tak dapat dia berkelit.
Sekonyong-konyong saja dia merasakan tubuhnya gatal luar biasa, sampai tidak dapat dilawan, setelah mana, seluruh tubuhnya menjadi lemas, meskipun dia tertawa, dia toh lantas roboh terkapar!
Begitulah di dalam tempo yang pendek, Kim Sie Ie telah membikin kabur dan roboh tiga jago dari Binsan Pay.
Ia menjadi puas sekali, maka tidak berhentinya ia tertawa.
Kendati demikian, ia tidak mau lantas berhenti bertindak, oleh karena ia masih mempunyai urusannya.
Maka ia berlompat maju, dengan niatnya membekuk Ciong Tian dan Bu Teng Kiu, guna mengorek keterangan dari mulut mereka.
Tepat di saal dia hendak bertindak, mendadak.
"Kim Toako, tahan!"
Itulah satu suara tajam, suaranya Kok Cie Hoa! Dengan terperanjat, Kim Sie Ie menoleh. Ia lantas melihat datangnya Cie Hoa diikuti Lim Seng, keduanya berlari-lari. Ia menjadi heran.
"Eh! bagaimana kau hendak mencampuri urusanku ini?"
Ia bertanya. Kok Cie Hoa tidak memberikan keterangan hanya ia bilang.
"Di kaki gunung Binsan ini, aku minta sukalah kau memberi muka padaku!"
Sie Ie bertambah heran.
"Apakah kau belum cukup dibikin penasaran oleh Co Kim Jie?"
Tanyanya pula.
"Kenapa kau masih hendak melindungi muka dia?"
Cie Hoa menyahuti, dengan romannya sungguh-sungguh.
"Walaupun aku bukan lagi orang Binsan Pay akan tetapi kuburannya guruku tetap berada di gunung Binsan ini. Kedua tuan ini datang kemari untuk mengunjuk hormatnya pada guruku, oleh karena itu, jikalau kau hendak menanyakan sesuatu dari mereka, selayaknya itu ditunggu sampai mereka sudah turun dari gunung ini."
Mendengar perkataannya Cie Hoa itu, Lim Seng terkejut. Kok Cie Hoa bukan orang Binsan Pay lagi? Kok Cie Hoa bisa melihat keheranan orang, ia lantas berkata.
"Kim Toako ini pernah membantui ciangbun suci kamu selama mereka berada di gunung Binsan, jikalau sebentar kamu menanyakan itu kepada suci kamu itu, akan kamu mendapat keterangan yang jelas. Maka itu aku memberi nasihat kepada kamu agar kamu tidak menganggap dia sebagai musuh."
Lim Seng berempat saling mengawasi.
"Kau melakukan perlanggaran apa maka Co Suci memecat kau?"
Tanya Louw Too In.
"Tentang itu pergi kau tanya saja Co Suci kamu,"
Menjawab Cie Hoa.
"Aku sendiri tidak mendapat tahu apa kesalahanku."
Kim Sie Ie tidak mau mendengar pembicaraan orang.
"Dengan memandang kepada Nona Kok, hari ini suka aku mengalah membiarkan kamu pergi!"
Ia kata bengis.
"Apa perlunya kamu masih banyak rewel, main tanya-tanya?"
Ia tahu Cie Hoa berduka karena itu, ia tidak ingin soal itu ditimbulkan pula.
Too In tidak enak hati karena teguran itu, tetapi dia jeri, maka dia lantas memungut senjatanya, piepee besinya, untuk mengangkat kaki.
Bu Teng Kiu dan Ciong Tian pun sudah lantas turut berlalu.
Khu Goan Ka.tidak puas, maka ia berkata.
"Aku menyesal karena kepandaianku tidak sempurna hari ini aku telah membikin malu perguruanku, dari itu jikalau lain hari kita dapat bertemu pula, aku masih hendak memohon pengajaran dari kau, tuan."
Kim Sie Ie tertawa.
"Kepandaianmu Lohan Ngo-heng Kun sudah tidak ada kecelaannya,"
Ia berkata.
"maka itu dengan roboh di tanganku, jangan kau anggap itu sebagai satu kehinaan! Akan tetapi, jikalau kau memangnya hendak menuntut balas untuk kejadian hari ini, baiklah, aku nanti menunggu sampai latihanmu sudah sempurna, aku akan menerima pengajaran dari kau!"
Tokciu Hongkay menyangka orang berbicara untuk menutup malu saja, sama sekali ia tidak pernah menyangka bahwa di belakang hari orang benar-benar mengajak saudarasaudara perguruannya untuk menyeterukan padanya.
Seberlalunya empat orang itu, juga Kok Cie Hoa, dengan membungkam, lantas mengangkat tindakan kakinya meninggalkan Kim Sie Ie.
Si pengemis edan heran, ia menyusul.
"Eh, kau kenapakah?"
Ia tanya.
"Kau mempunyai tempat ke mana kau dapat pergi, demikian juga aku sendiri, dari itu, buat apa kau tanya lagi?"
Menyahut si nona.
"Bukankah tadi kau membilang kau belum mempunyai tempat tujuanmu?"
Tegaskan Kim Sie Ie.
"Tapi sekarang aku telah mengingatnya. Semenjak ayah angkatku menutup mata, aku belum lagi menjenguk kuburannya, maka hendak aku pergi kesana. Aku minta kau maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau pergi berlayar, tidak dapat aku mengawani kau pergi mencari orang."
Kim Sie Ie melengak.
"Eh, mengapa dia mendadak menjadi bersikap dingin terhadapku?"
Pikirnya.
"Sampai disini, sudah seharusnya kita berpisah jalan,"
Berkata Cie Hoa kemudian.
"Mengapa kau masih mengikuti aku?"
Kim Sie Ie heran tetapi ia tertawa.
"Apakah kau gusar karena peristiwa barusan?"
Ia menanya. Mukanya si nona menjadi merah.
"Alasan apakah aku mempunyai untuk menggusari kau?"
Katanya, balik bertanya.
"Perkenalan kita bukannya perkenalan dari banyak hari, hari ini kau justeru telah membantu padaku, buat itu aku malah bersyukur tidak habisnya, maka, kenapa aku mesti gusar terhadapmu?"
Mendengar demikian, Kim Sie Ie menjadi bertambah heran. Ia tidak dapat menduga urusan Lie Kim Bwee, hanya ia menyangka peristiwa barusan. Ia melihat roman orang yang berubah tak wajar.
"Kenapa dia bermuka merah?"
Pikirnya pula. Ia menerkanerka, lalu ia mau menduga sebabnya hal. Lantas ia bersenyum. Ia kata.
"Nona Kok, tentang diriku kau mengetahuinya dengan jelas, hanya ada satu urusan, yang kau masih belum tahu. Aku ada berhutang kepada satu orang, hutang itu belum aku dapat lunaskan, maka itu aku merasa kurang tenteram hatiku."
Cie Hoa heran berbareng tertarik hati, hingga ia batal bertindak ke lain arah, untuk mereka berpencaran disitu. Ia berhenti berjalan dan menoleh.
"Apakah itu yang membuatmu tidak puas?"
Ia tanya.
"Kau mengingat kepada hutangmu itu, mestinya itulah hutang luar biasa! Apakah hutang itu? Kepada siapakah kau berhutangnya?"
"Aku berhutang kepada seorang nona kecil, namanya Lie Kim Bwee,"
Kim Sie Ie menyahuti, memberitahu. Mendengar disebutnya nama itu, hati Cie Hoa bercekat.
"Nona itu juga mengetahui baik sekali tentang diriku,"
Kim Sie Ie menjelaskan terlebih jauh.
"Mungkin disebabkan dia berkasihan atas diriku yang sebatang kara ini, ia memandangnya aku sebagai kakaknya. Sudah beberapa tahun ia melihat diriku, ia mengetahui ilmu silat yang diyakinkanku tidak sempurna, jalannya tidak tepat, ia kuatir aku tersesat, maka ia berniat mencegah, untuk menolongi aku. Untuk itu ia telah bekerja keras, sampaipun jiwanya ia tidak harga-kan lagi, ia bersedia mengorbankannya untukku."
Tanpa melupakan segala apa, Kim Sie Ie, lalu menuturkan hal perkenalannya sama Lie Kim Bwee sampai untuk mencari dia, nona itu telah mendaki gunung Himalaya menempuh bahaya.
Sebagai seorang jujur dan baik hatinya, Kok Cie Hoa terharu, hingga air matanya mengembeng.
"Sungguh seorang nona yang harus disayangi,"
Ia memuji. Sekarang ia mengertilah "hutang"
Luar biasa dari Tokciu Hongkay itu.
Ini pula menyebabkan ia semakin menghargai orang yang dijuluki pengemis edan yang tangannya beracun ini...
Kim Sie Ie memandang si nona, ia berkata pula dengan perlahan.
"Dia memandang aku sebagai kakaknya, maka aku pun menganggap dia sebagai adikku, hanyalah sayang, kedudukan kami berlainan. Aku telah ditakdirkan mesti hidup merantau seorang diri di dalam dunia Kangouw, dia masih terlalu muda usianya, dia belum menginsyafi, dia belum mengerti sedalam-dalamnya tentang diriku. Dia pula dari partai lurus, yang berkenamaan dan ayah dan ibunya sangat menyayangnya, maka haruslah dia tinggal dan hidup dengan aman dan berbahagia. Dengan mengikuti aku, dia tidak bakal mengicipi ketenteraman dan kebahagiaan itu. Mengertikah kau sekarang?"
Kok Cie Hoa mengerti.
"Apakah nona itu sampai sekarang masih tetap mencari kau?"
Ia tanya.
"Benarkah? Ah, tidak dapat kau membuatnya menjadi bersusah hati..."
"Dia sekarang masih berusia terlalu muda,"
Berkata pula Kim Sie Ie.
"kalau nanti usianya bertambah, dia akan mengerti dan insyaf bahwa aku cuma dapat menjadi kakaknya, tidak dapat... tidak dapat..."
Cie Hoa mengerti, Sie Ie pasti maksudkan "menjadi suami yang baik", maka ia lantas tertawa sendirinya.
"Itulah belum tentu!"
Katanya.
"Tetapi itulah benar,"
Bilang Kim Sie Ie, sungguh-sungguh.
"Akulah seorang yang hatinya paling gampang tergerak. Dunia memandang aku sangat aneh, maka itu aku, aku juga ingin mencari sesuatu yang luar biasa sekali. Ada saatnya yang aku mendapat anggapan bahwa dunia ini memandang diriku sangat tidak tepat, aku merasa itulah aneh sekali. Kau mengerti tidak?"
"Aku mengerti,"
Sahut Cie Hoa.
"Aku sebaliknya bukan orang yang hatinya gampang dibikin tergerak, hanya di saat sekarang ini, aku seperti mendapat serupa pandangan seperti pandanganmu itu."
Tidak aneh nona itu mengatakan demikian sebab ia pun baru mengalami peristiwa yang menggoncang-kan hatinya yang muda dan polos. Kim Sie Ie mencekal tangan orang, erat-erat.
"Dibanding dengan aku, kau jauh terlebih gagah,"
Katanya.
"Jikalau aku mendapat pengalaman seperti kau, seperti perbuatannya Co Kim Jie terhadap dirimu, mungkin aku menjadi gila benar-benar!"
Hatinya Cie Hoa tergerak.
Memang ia telah menderita pukulan yang hebat sekali.
Bahwa ia masih dapat bertahan, itulah terutama disebabkan dia telah memperoleh didikannya Kok Ceng Peng dan Lu Su Nio, ayah angkat dan guru yang bijaksana itu, dan sekarang, ia mendengar suaranya Kim Sie le, yang cocok benar dengan perasaannya, hingga hatinya menjadi terbangun, hingga keberaniannya menjadi bertambah sendirinya.
Ia pula merasakan cekalan erat dari si pengemis edan, hawa hangat dari si pengemis bagaikan tersalurkan ke dalam dirinya.
"Kim Toako,"
Katanya kemudian, perlahan.
"aku mengerti kau. Tapi ingatlah olehmu, tidak seharusnya kau melukai hatinya seorang nona muda belia."
"Itu pun sebabnya mengapa selama beberapa tahun ini aku senantiasa menyingkir dari ianya,"
Kim Sie Ie bilang.
"hanya sekarang aku ingin lekas-lekas dapat menemui ia. Kau tetapkan hatimu, tidak nanti aku melukai hati dia. Seumurku, aku nanti menjadi seperti kakaknya untuk menyayangi dan melindunginya. Dia masih muda sekali, maka itu hendak aku membuatnya insyaf bahwa dia haruslah mencari kebahagiaan."
Di dalam hatinya, Cie Hoa menghela napas, di dalam hatinya itu juga ia berkata.
"Kau mengerti dirimu sendiri, kau juga mengerti dia, hanya kau tidak mengerti perasaannya seorang wanita muda di saat si wanita mengagumi seorangorang, bahwa untuknya itu, laut kesengsaraan berubah menjadi taman hiburan dan neraka berubah menjadi nirwana. Kau membilangnya tentang kebahagiaannya, mana dia mengerti itu?"
Kim Sie Ie mengawasi nona itu, menatap sinar matanya.
"Nona Kok, kau memikirkan apa?"
Ia tanya.
"Oh,"
Kata si nona.
"Aku merasa nona itu harus dikasihani. Kapan kau akan mulai berlayar?"
Kata-kata itu tiada hubungannya satu dengan lain. Maka mendengar itu, Kim Sie Ie tercengang. Ia kata di dalam hatinya.
"Mungkinkah si nona telah merubah pikirannya?"
Ia lantas menyahut.
"Mungkin lagi dua bulan."
"Dari mana kau akan mulai berangkat?"
Si nona bertanya pula.
"Aku pikir mulai dari pelabuhan bukit Lauwsan di Cenghay,"
Kim Sie Ie memberitahu.
"Bagaimana? Apakah kau sudi berangkat bersama-sama aku?"
Kok Cie Hoa bersenyum.
"Tidak,"
Jawabnya.
"Aku memikir buat membantu kau mencari tahu tentang Lie Kim Bwee. Umpama kata di dalam tempo dua bulan ini aku dapat mengetahuinya, aku dapat pergi menyusul kau di Cenghay. Hanya pengharapan itu sangat samar-samar, hingga ada kemungkinan aku harus menanti sampai kau sudah pulang kembali..."
Dengan perlahan nona ini meloloskan tangannya dari cekalan Tokciu Hongkay.
"Di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar,"
Katanya pula, perlahan.
"Maka sekarang ini, haruslah kita berpisahan. Apakah kau hendak membilang apa-apa lagi?"
Kim Sie Ie merasakan hatinya berat sekali.
Sebenarnya hendak ia mengatakan, banyak yang ia hendak bicarakan, mungkin itu tak habis dalam tiga hari dan tiga malam, akan tetapi, apa ia bisa mengatakannya?
Sudah terang tidak dapat ia mengajak si nona pergi berlayar.
Ia masih mempunyai janjinya dengan Le Seng Lam.
Kalau nona ini mengikut ia, mungkin ada kesulitannya kelak.
Bukankah di dalam urusannya dengan Le Seng Lam itu ia telah memberikan janjinya bahwa urusan itu tidak dapat ia memberitahukan lain orang?
Kalau mengenai Lie Kim Bwee ia menyebut berhutang, maka terhadap Le Seng Lam ia berhutang juga.
Bedanya ialah.
Lie Kim Bwee itu orang dari siapa ia berhutang tetapi ia ingin sangat menemukannya, dari Le Seng Lam ia ingin menyingkirkan diri tetapi tak dapat ia menyingkirnya!
Tokciu Hongkay menghela napas.
"Nona Kok,"
Katanya selang sesaat.
"nah, kau jagalah dirimu baik-baik. Tentang urusan lain orang, itu dapat dimengerti atau tidak, bolehlah kau tidak usah memikirkannya..."
"Baiklah, kata-katamu ini benar sekali!"
Berkata si nona, menyahuti.
"Kata-katamu melebihkan selaksa atau seribu kata-kata, dapat aku mengingatnya..."
Dua orang itu merasa berat untuk berpisahan tetapi mereka toh berpisahan juga.
Seberpisahnya dari Kim Sie Ie, Kok Cie Hoa berjalan dengan hati masgul.
Ia menginsyafi bahwa dirinya sendiri senasib sama dirinya Kim Sie le.
Kim Sie Ie tidak mempunyai sanak atau kadang, demikianpun ianya.
Benar ia mempunyai ayah tetapi ayah itu mirip tidak ada, bahkan ayahnya luar biasa buruk.
Semenjak masih kecil ia sudah sebatang kara, maka sekarang ia merasai benar hidup seorang diri ini...
Dalam kemasgulan, nona ini berjalan buat beberapa puluh lie.
Syukur untuknya, ketika sang matahari turun ke barat, tandanya sang sore lagi mendatangi, di depannya ada sebuah kota kecil, maka lekas-lekas ia menuju kesana, untuk mencari pondokan.
Di tempat itu cuma ada sebuah rumah penginapan, yang kamarnya, bagian luar dan dalam, cuma enam.
Maka itu, ruang tetamu berbareng dijadikan ruang kantor dan tempat bersantap.
Ketika itu sudah ada tujuh atau delapan orang tengah berdahar.
Maka juga tertarik hati mereka itu mendadak melihat tibanya seorang nona, yang bersendirian saja.
Semua lantas mengawasi dengan mata dipentang lebar.
Tuan rumah seorang yang usianya sudah lanjut, kecil hatinya ketika ia mendapatkan tetamu wanita ini, bersendirian tetapi menyoren pedang di pinggangnya.
"Hotelku ini sudah... sudah..."
Katanya, perlahan, raguragu. Ia mau membilang hotelnya "sudah penuh"
Tetapi disitu cuma ada beberapa tetamu, ia takut untuk mendusta, tapi ia mesti melanjuti. Katanya.
"...semua kamar sudah ada yang pesan..."
Kota kecil ini bukan kota hidup, yang ramai hubungannya dengan tempat-tempat lain, nyata sekali tuan rumah itu bicara tak benar.
Cie Hoa sudah berpengalaman juga, ia bisa menebak hatinya tuan rumah itu, maka ia bersenyum dan berkata.
"Kalau baru pesanan, malam ini belum tentu si pemesan tiba, maka itu coba tolong sediakan untukku sebuah kamar..."
"Tidak bisa, nona,"
Kata tuan rumah, agaknya bingung.
"Jikalau si pemesan tiba, aku bakal mengganti kerugian tiga lipat..."
Cie Hoa tertawa.
"Aku akan membayar kau tiga lipat!"
Katanya, lantas ia merogoh ke sakunya, atau sekonyong-konyong ia kaget di dalam hatinya.
Tadi ia lupa bahwa ia berangkat dengan kesusu, bukan cuma uang, bahkan buntalannya pun ia telah melupakannya.
Apa yang sekarang ada di tubuhnya ialah beberapa biji kancing emas, yang tadinya ia mau pakai untuk kutangnya, kancing mana ia simpan di dalam sakunya.
Terpaksa, ia mengeluarkan satu biji, seraya memberikan itu kepada tuan rumah, ia kata.
"Kau terimalah ini. Kau menyediakan sebuah kamar untukku, lalu membikin matang beberapa rupa sayur untuk aku berdahar. Kelebihannya ini kau boleh ambil untukmu."
Kancing itu berat satu cie lebih, artinya seharga lima tahil lebih.
Si tuan rumah juga mengerti barang, maka ia tahu itulah emas tulen.
Ia sebenarnya bercuriga tetapi ia terpengaruh oleh benda yang berkilauan itu, maka lantas ia mengasih lihat wajah yang gembira.
"Baik, baiklah!"
Katanya cepat.
"Nanti aku berikan kau sebuah kamar yang dipesan Ong Toakoan-jin!"
Kelakuan si nona ada kelakuan yang tak biasanya, maka itu, ia menarik perhatiannya beberapa tetamu itu, yang lantas bicara kasak-kusuk.
Bukankah Cie Hoa bersendirian saja dan romannya cantik?
Lantas terdengar kata-kata dalam bahasa rahasia kaum Kangouw.
"Toasuheng, kau lihat wanita ini dari kalangan apa?"
"Ah, perduli apa, dia bukannya orang yang kita lagi cari!"
"Tidak banyak wanita yang mengerti silat. Siapa tahu kalau dia ini ada hubungannya dengan orang yang kita cari itu?"
Cie Hoa menoleh dan mengawasi orang ketika kawannya menyahuti pula, tak tedas.
Ia melihat dua orang itu beroman luar biasa.
Yang satu tinggi besar, pempiling-annya munjul.
Yang lainnya gemuk, matanya bersinar tajam.
Teranglah sudah, mereka itu pandai ilmu silat.
Pula ia mendapatkan roman tak wajar dari si gemuk itu.
Inilah sebab dia itu lagi memikir.
"Toasuheng terlalu berhati-hati. Kita berbicara perlahan, kita juga menggunai bahasa rahasia, mustahil nona itu mendapat tahu?"
Ia tidak tahu, mahir ilmu dalam si nona, maka biar mereka bicara dengan perlahan, kata-kata mereka terdengar nyata sekali.
Tanpa memperdulikan dua orang itu, Cie Hoa masuk ke kamarnya.
Ia cuma tahu, sikap dua orang itu mencurigai.
Nyata sekali mereka itu hendak mencari seorang nona.
Entah siapa nona itu, yang agaknya mereka tidak kenal baik.
Teranglah nona itu musuh mereka.
Kenapa terjadi begitu?
Kalau si nona tidak dikenal, kenapa dia dianggap sebagai musuh?
Atau mungkinkah mereka lagi bekerja untuk musuh si nona?
Cie Hoa lantas memikir-mikir, siapa nona itu.
Sedikit wanita yang mengerti ilmu silat.
Ia tahu Phang Eng dan Phang Lim dua saudara yang liehay, tetapi mereka berdiam di gunung Thiansan.
Umpama kata mereka mempunyai musuh, tidak nanti musuhnya berani sembarang mencari mereka.
Juga tidak nanti musuh menyuruh orang-orang yang kenal kedua wanita itu mencari secara sembrono seperti mereka ini.
Mereka pasti bukannya tandingan dua saudara Phang itu.
Kecuali kedua wanita itu, ada lagi Pengcoan Thianlie dan Co Kim Jie.
Juga mereka ini pasti bukannya lawan mereka itu.
Ada pula Tong Say Hoa dan menantunya, akan tetapi mereka sudah berusia lanjut, bahkan si nona mantu sudah berumur lima puluh lebih dan mereka pun tinggal menyendiri serta sudah menutup pintu, seandainya mereka mempunyai musuh, tidak nanti musuh baru mencarinya sekarang untuk menuntut balas, dan juga tidak perlu mereka dicari putar-putaran.
Sia-sia Kok Cie Hoa memikirkan, siapa si nona yang lagi dicari mereka ini.
Di Kalangan Putih, juga di Jalan Hitam, ia tidak ingat wanita lainnya.
Baru paling belakang ia ingat Lie Kim Bwee.
Mengenai nona ini, ia pun bersangsi.
Ia tahu nona itu masih terlalu muda dan berada di bawah perlindungan ayah dan ibunya.
Nona itu belum pernah mengacau di dalam dunia Kangouw, mustahil dia mempunyai musuh?
Sesudah lelah memikir tanpa hasil, akhirnya Cie Hoa tertawa sendirinya.
"Urusanku sendiri masih belum beres, mengapa aku mesti mencapaikan hati urusan lain orang?"
Kata ia dalam hatinya.
Oleh karena ingat akan urusannya sendiri, ia lantas menjadi berduka.
Di luar kesalahannya ia diusir dari Binsan Pay.
Ia memang yatim piatu, maka itu sekarang, kemana ia mesti pergi?
"Bukankah Kim Sie Ie pun senasib seperti aku?"
Kemudian ia ingat.
"Bukankah Kim Sie Ie dapat hidup merantau? Kenapa aku tidak?"
Toh ia tetap berduka.
Ia mendapatkan pukulan batin yang hebat sekali.
Maka sambil rebah, otaknya bekerja terus.
Ia bergulak-gulik, tidak dapat ia tidur pulas.
Karena itu kupingnya mendengar beberapa kali tindakan kaki mundar-mandir di depan pintu kamarnya.
Ia tidak takut.
Ia percaya, ia menarik perhatian karena tadi ia menggunai kancing emasnya sebagai alat pembayaran.
Dengan sendirinya tibalah sang malam.
Masih Cie Hoa belum dapat pulas.
Kupingnya lantas mendengar suara orang bicara.
Ialah dari dua orang tadi, si tubuh besar dan si gemuk.
Rumah penginapan itu kecil, tidak heran kalau ia dapat mendengar suara orang walaupun orang berada di lain kamar.
Ia memasang kupingnya.
"Kabarnya kemarin ialah hari ulang tahun matinya Tokpie Sinnie dan katanya banyak orang Rimba Persilatan yang datang bersembahyang, apa tidak mustahil wanita she Lie itu pun hadir disana?"
"Jikalau dia benar pergi ke Binsan, kita tidak perlu menyusul ke gunung itu, kita tunggu saja dia disini."
Orang yang pertama bicara itu tertawa.
"Lu Su Nio sudah mati, buat apa jeri terhadap Binsan Pay!"
Kok Cie Hoa berpikir.
Orang menyebut-nyebut Binsan Pay dan si wanita she Lie.
Ia menduga-duga.
Ia mendengari terus.
Setelah itu, orang bicara perlahan sekali, suara mereka tidak terdengar tegas, la penasaran, ingin ia mengetahuinya.
Maka ia turun dari pembaringannya, ia keluar dari kamarnya, dengan berindap-indap ia pergi ke kamar mereka itu, untuk memasang kuping diluar jendela.
"Toasuheng, katanya kau pernah melihat si nona she Lie?"
Katanya seorang, yang suaranya serak. Orang yang dipanggil toasuheng itu, kakak seperguruan yang sulung, menyahuti.
"Ketika malam itu suhu menawan wanita itu, aku berada bersama." (Suhu ialah guru, atau pangilan untuk guru).
"Jikalau begitu, kalau nanti kau bertemu dengannya, kau pasti akan mengenal dia?"
"Pasti!"
Sahut pula si toasuheng, tertawa.
"Jikalau tidak, mustahil suhu menugaskan aku?"
"Tapi, aku dengar, Thiansan Pay mempunyai obat untuk mengubah warna kulit muka..."
"Sebenarnya itulah obat kepunyaan Kam Hong Tie dari Binsan Pay,"
Kata si toasuheng, memotong.
"Kebiasaan membuat obat itu kemudian diturunkan kepada Tong Siauw Lan dari Thiansan Pay."
"Luas pengetahuan kau, toasuheng, aku kalah. Sekarang sudah terang, Thiansan Pay juga mempunyai obat menyalin rupa itu..."
Si toasuheng tertawa.
"Aku tahu hati kau..."
Katanya.
"Sebenarnya kau ketarik dengan si nona di kamar depan itu. Kau ingin main-main dengannya, kau takut aku merintangi. Benarkah?"
"Bukan begitu, toasuheng. Karena nona she Lie itu dari Thiansan Pay, siapa berani pastikan dia tidak mengubah kulit mukanya? Nona di kamar depan itu, aku lihat, umurnya baru dua puluh tahun lebih kurang, dia membekal pedang, dia pun menggunai emas perhiasan sebagai uang, maka aku percaya dialah nona yang belum ada pengalamannya. Tidakkah, dengan begitu, dia mirip dengan si nona she Lie itu? Mungkin dialah nona yang kita sedang cari."
"Kau ngaco!"
Kata si toasuheng.
"Taruh kata dia mengubah kulit mukanya, aku toh mengenali dia! Mustahil dia mengubah juga potongan tubuhnya? Apakah kau kira orang pun dapat mengubah sinar matanya dari mana bisa dapat diketahui mahir dan tidaknya ilmu silat orang? Kau tidak melihat, tetapi aku dapat. Bukan, dia bukan si nona yang kita lagi cari maka janganlah kau menimbulkan yang tidak-tidak!"
Si sutee, adik seperguruan, mengasih dengar suara tidak puas.
"Umpama kata aku menerbitkan yang tidak-tidak, suheng, janganlah kau begini galak!"
Katanya.
"Di dalam partai kita tidak ada semacam larangan!"
Hati Cie Hoa panas mendengar perkataan orang ini.
"Baiklah, aku nanti yang mengajar adat padamu!"
Pikirnya.
"Aku bilang, kau buta matamu!"
Berkata si toasuheng, menegur.
"Wanita di depan itu jauh terlebih liehay daripada si wanita she Lie. Aku tidak berani mengganggu dia, apakah kau sebaliknya berani? Jikalau dia dapat dibuat permainan, mustahil aku menanti kau?"
Mulanya Kok Cie Hoa menganggap si toasuheng lurus hatinya, maka ia menyesal bahwa sangkaannya itu keliru, meski demikian, ia mengagumi juga ketajaman matanya, yang melihat dari roman dan sinar mata saja, dia mengetahui orang pandai ilmu silat.
Sutee itu berdiam, agaknya dia mendongkol sekali.
Tapi tidak lama, dia sudah berkata pula.
"Semenjak Kim Sie le mengacau, toasuheng, kelihatannya hatimu menjadi jauh terlebih kecil. Bukankah Kim Sie le yang liehay itu toh terluka di tangan guru kita? Suhu bilang, kalau Kim Sie le tidak mati, sedikitnya dia bakal bercacad seumur hidupnya. Dunia jeri terhadap Kim Sie le, Kim Sie le sebaliknya takut pada guru kita! Maka kau, mengapa kau jadi begini takut?"
"Sebenarnya telah berapa lama kau belajar silat sama guru?"
Si kakak menegaskan.
"Kau benar tidak menginsyafi berapa tingginya langit dan berapa tebalnya bumi! Di kolong langit ini ada berapa orang yang dapat melebihkan liehaynya guru kita? Sekalipun Kim Sie le, aku sangsi yang dia bakal bercacad! Bahkan aku percaya, wanita she Lie itu dialah yang membawa lari..."
"Ah, kau menjadi tidak percaya perkataan suhu? Apakah suhu mendusta?"
"Kau tidak tahu. Aku pernah mencoba sendiri kepandaiannya Kim Sie le, aku pernah terkena senjata rahasianya. Syukur senjatanya itu tidak dipakaikan racun. Sampai sekarang ini, apabila aku ingat itu, aku masih jeri..."
Kok Cie Hoa terus memasang kuping.
Ia tidak tahu bahwa si toasuheng itu ialah murid kepala dari Beng Sin Thong, namanya Hang Hong, dan si sutee, adik seperguruan, ialah Kie Siu, murid nomor sebelas.
Ketika itu hari Kim Sie le mengacau di Beng keechung, rumahnya Beng Sin Thong, benar Sie le telah terlukakan Siulo Imsat Kang, tetapi Beng Sin Thong sendiri juga terkena Tokliong ciam, jarum Naga Beracun.
Kemudian ketika Kim Sie le bersama kawan-kawannya berlalu, Beng Sin Thong juga berlalu dari kampungnya itu, yang ia bakar habis.
Ia terluka, tempat kediamannya itu ketahuan, maka perlu ia mencari lain tempat bersembunyi.
Selagi terluka ia kuatir kaum Kaypang nanti menyateroni pula.
Dengan mengajak murid-muridnya, ia pergi ke kaki gunung Thayheng San dimana di dalam sebuah lembah ia mempunyai suatu tempat sembunyinya.
Ia sudah pikir, setelah sembuh dari lukanya, ia mau menyingkir terlebih jauh ke gurun Utara, untuk disana meyakinkan terlebih jauh Siulo Imsat Kang.
Menurut dugaan Beng Sin Thong, Kim Sie Ie itu mesti terbinasa atau bercacad, ia jadi tidak berkuatir lagi.
Ia pun tidak berkuatir untuk Le Seng Lam, sebab meski benar nona ini musuhnya, orang masih berusia sangat muda kepandaiannya tidak dibuat takut.
Yang membuatnya berkuatir ialah buron atau lenyapnya Lie Kim Bwee.
Semenjak meninggalnya Lu Su Nio, maka Tong Siauw Lan dari Thiansan Pay ialah pemimpin utama dari kalangan Bu Lim, atau Rimba Persilatan.
Umpama kata Lie Kim Bwee dapat pulang ke Thiansan, dia pasti akan membuatnya Tong Siauw Lan, Phang Eng dan Phang Lim muncul untuk memu-suhkannya, dan hal itu akan membuatnya makan tak bernapsu, tidur tidak nyenyak.
Mungkin Lie Kim Bwee tidak lari pulang ke Thiansan guna meminta ayah dan ibunya mencari balas, tetapi Thiansan Pay itu luas pergaulannya, Lie Kim Bwee dapat pergi meminta bantuannya setiap tertua orang Rimba Persilatan guna memusnahkan dia.
Benar Beng Sin Thong jeri cuma terhadap beberapa orang, tetapi kalau setiap tertua menentang dia, itu artinya pusing kepala dan bahaya.
Oleh karena itu, sambil menyembunyikan diri di dalam lembah di Thayheng San, di satu pihak Beng Sin Thong meyakinkan terus dengan sungguh-sungguh ilmu silatnya yang liehay, di lain pihak ia menitahkan adik seperguruannya, Yang Cek Hu, bersama Hang Hong si murid kepala dan Gouw Bong si muridnya nomor tiga, dan lainnya, dengan berpencaran, pergi mencari Lie Kim Bwee.
Hang Hong berkawan dengan Kie Siu, kebetulan sekali mereka bertemu Kok Cie Hoa di rumah penginapan itu.
Kok Cie Hoa tidak mendapat tahu halnya Beng Sin Thong mengurung Lie Kim Bwee.
Kim Sie le tidak mau menuturkannya karena ia kuatir urusan cuma membikin si nona berduka saja.
Ia juga tidak sudi banyak bicara tentang Beng Sin Thong, ayahnya nona ini.
Akan tetapi tentang Kim Sie Ie mengacau di Beng keechung, Kok Cie Hoa pernah mendengar.
Maka sekarang mendengar pembicaraan Hang Hong berdua halnya si nona she Lie orang Thiansan Pay seraya menyebut-nyebut Kim Sie Ie, ia menjadi heran, ia diam tercengang.
Siapa nona itu kalau bukan Lie Kim Bwee?
Ia dapat menduga tetapi ia tidak berani memikirnya, ia tidak berani juga menyebut nama Lie Kim Bwee itu...
Oleh karena pikirannya kacau, Cie Hoa membuat tindakannya bersuara.
Mendadak Hang Hong membuka jendela, dengan mendadak juga dia menyerang dengan sebelah tangannya.
Cie Hoa kaget bukan main.
Ia merasakan hawa dingin menyerang dirinya.
Tanpa merasa ia berseru.
"Siulo Imsat Kang!"
Kepandaiannya Hang Hong baru sampai di tingkat kedua, Cie Hoa tidak takut, kalau ia terkejut, itulah sebab kepastian Hang Hong ini muridnya Beng Sin Thong.
Yang membuatnya jeri ialah ayahnya sendiri, ayah dengan siapa ia belum pernah bertemu muka, ayah yang menjadi hantu atau iblis!
Menyusul serangannya yang tidak berhasil itu, Hang Hong berlompat keluar dari jendela dengan diikut Kie Siu, dan Hang Hong terus menanya, bengis.
"Kau juga kenal Siulo Imsat Kang?"
Pertanyaan ini dibarengi dua serangan pula saling susul!
Serangannya Hang Hong belum dapat menyebabkan kematian orang dengan lantas, akan tetapi angin kepalannya sudah mendatangkan hawa dingin luar biasa, hawa yang dapat melukai orang pada goankhie atau resam tubuh, sedang siapa tenaga dalamnya belum mahir, hawa dingin itu akan membikin lemas otot-otot dan tulang-tulang hingga orang dapat gampang dibekuk, Hang Hong lantas dapat melihat tenaga dalam si nona mahir, maka ia mengerti, seranganserangannya tidak akan melukai, akan tetapi ia ingin mencecar, mendesak nona itu.
Hanya, di luar dugaannya, bukan nona itu menyingkir, berkelit atau kabur, sebaliknya, dia sengaja maju merangsak, menyambut serangan Siulo Imsat Kang.
Orang berada di depannya, ketika ia menyerang, ia pun menghajar tempat kosong!
Cie Hoa bahkan tertawa, sambil tertawa, sebat luar biasa, dia merangsak, sebelah tangannya diluncurkan.
Sebab dengan tipu silat Siauwkimna, atau Tangkapan Kecil, dia menjambak ke arah pundak, di bagian yang colong dan lemas.
Jikalau Nona Kok telengas, dia dapat menyambar tulang piepee orang untuk dipencet keras, buat dibikin patah atau remuk, tetapi dia murah hati, tidak pernah ia memikir kejam.
Ia cuma berniat membikin Hang Hong terbekuk, guna ia minta keterangan dari hal Lie Kim Bwee.
Tapi Hang Hong murid kepala Beng Sin Thong, dia tidak dapat dipandang enteng, begitu dia merasa gelagat jelek, lekas-lekas dia meloloskan diri dengan tipu silatnya "Toatpauw kaykah", atau "Meloloskan jubah, melepaskan baju perang".
Dengan mendak tubuh, dia lolos, cuma bajunya kena terjambret robek.
Dia menjadi gusar, sebat sekali dia membalas menyerang, sebelah tangannya melayang.
Inilah tidak disangka Cie Hoa, jalan darah kioktie hiat di lengannya kena tertekan ujung jari tangan, hingga biar bagaimana, ia merasakan lengannya kesemutan dan kaku, hingga ia menjadi kaget sekali, tubuhnya menggigil sendirinya.
Kie Siu melihat kakaknya berhasil, ia girang.
Ia mau percaya, walaupun si nona mengerti ilmu menutup jalan darah, totokan kakaknya toh mesti berbahaya sekali, maka sambil tertawa lebar, ia kata.
"Kami tidak mengganggu kau, kenapa kau justeru mengganggu kami? Karena kau mengantarkan diri, aku tidak mau sungkan lagi! Haha! Nona manis begini dimana hendak dicari lagi?"
Kata-kata itu ditutup sama lompatan maju, guna menubruk si nona.
Belum berhenti tertawanya orang ceriwis ini, atau mendadak sebelah mukanya kena digaplok nyaring oleh si nona, yang menyerang dengan tiba-tiba, hingga dia menjerit kesakitan, mukanya menjadi mengok, dua bocah giginya copot!
Hang Hong terkejut, dia berlompat maju, guna membantu saudaranya.
"Kau juga rasai tanganku!"
Berseru si nona, yang menggeraki dua tangannya saling susul, tangan kiri dengan pukulan "Bunga yang menyambar muka", dan tangan kanan dengan "Bulir bunga liu beterbangan".
Itulah dua jurus dari ilmu silat Hian Lie Cianghoat, Tangan Dewi Hian Lie Nionio.
Hang Hong terkejut, ia berkelit, ia mundur, atas mana, ia dirangsak.
Ia juga kaget karena ia tidak menyangka si nona demikian tangguh, sudah tertotok tetapi tidak kurang suatu apa.
Ia heran si nona tidak takut pada Siulo Imsat Kang.
Lu Su Nio mengetahui dengan baik bahwa di pihaknya tidak ada orang yang dapat melawan Siulo Imsat Kang, maka ia mengurung diri selama sepuluh tahun meyakinkan ilmu ciptaannya, Siauwyang Sinkang, yang diutamakan untuk menandingi ilmunya Beng Sin Thong itu.
Ilmu itu tidak dapat memecah tetapi bisa mempertahankan diri dari angin jahat.
Maka kalau ada dua atau tiga orang saja yang mengerti Siauwyang Sinkang itu, mereka dapat bekerja sama mengepung Beng Sin Thong.
Mulanya ia cuma mengharapi Co Kim Jie bersama Ek Tiong Bouw dan Cia In Cin dari partai Ngobie Pay, maka itu ia memesan Kok Cie Hoa menyerahkan kitab "Siauwyang Hiankong Pitkoat", kepada Co Kim Jie.
Ini sebabnya selama di Binsan, meski ia telah diusir, Cie Hoa toh menyampaikan kitab itu.
Semasa hidupnya, Lu Su Nio tidak mengajar muridnya ini ilmu itu dan juga tidak melarang muridnya mempelajari.
Cie Hoa juga tidak ketahui maksud gurunya itu, tetapi setelah gurunya meninggal dunia, ia mempelajari itu sendiri.
Tentu saja lantaran waktunya singkat, ia belum sempat memahirkannya.
Ada maksudnya mengapa Cie Hoa meyakinkan juga Siauwyang Sinkang itu.
Inilah sebab ia beranggapan, untuk dapat melindungi Binsan Pay, bertambah satu orang ada kebaikannya tidak ada kejelekannya.
Untuk mengepung Beng Sin Thong, tambah satu orang berarti tambahan besar.
Tapi setelah asal-usul dirinya terbeber dan Co Kim Jie mengusir ia dari Binsan Pay, ia menjadi heran hingga ia mau menduga, mungkin gurunya sudah mengetahui tentang riwayatnya itu, karena ia anaknya Beng Sin Thong.
ia jadi tidak diajari Siauwyang Sinkang, dan pastilah ini disebabkan guna mencegah ia tak usah turut mengepung ayahnya sendiri.
Ia mau percaya gurunya tentu beranggapan bahwa rahasia dirinya itu akan terus tertutup seumur hidupnya.
Siapa tahu, rahasia itu terbuka dalam tempo begini cepat.
Baru dua tahun Cie Hoa meyakinkan Siauwyang Sinkang.
Perya-kinan itu tidak ada artinya untuk dipakai melawan Beng Sin Thong, tetapi lain guna menghadapi Hang Hong, yang baru mendapatkan Siulo Imsat Kang tingkat kedua.
Demikian, mereka bertempur baru belasan jurus, maka pundak Hang Hong sudah kena dihajar satu kali hingga kelabakan.
Ketika itu semua penghuni hotel telah pada mendusin dengan kaget, tetapi tidak ada satu yang muncul untuk datang sama tengah, guna memisahkan.
Adalah si tuan rumah yang berteriak-teriak dari dalam kamarnya.
"Tuan-tuan! Kalau tuan tuan mau berkelahi, silahkan pergi keluar! Penginapanku ini kecil, kalau barang-barangku rusak, aku tidak dapat menggantinya..."
Belum habis suara ini atau terdengar suara brak-brik-bruk hebat.
Itulah karena Hang Hong menyambar meja dengan apa ia menyerang Cie Hoa, kemudian dia ditiru Kie Siu.
Dia ini, untuk membantui kawannya, menggunai kursi dan bangku dan meja kecil untuk menghajar si nona.
Nona Kok repot juga, terutama disebabkan ruang sempit.
Dengan tenaga tangannya ia dapat me-nyampok semua meja kursi dan bangku itu hingga semuanya rusak, tetapi ini ia tidak lakukan.
Ia menyayangi barang dan berkasihan terhadap si tuan rumah, maka ia main berkelit.
Ketika ini digunai Hang Hong dan Kie Siu, untuk kabur keluar dengan terus melompati tembok pekarangan yang kate.
Adalah dari luar, mereka mementang bacot.
"Budak tidak tahu mampus, jikalau nyalimu besar, mari kejar kami!"
Pada saat itu, Cie Hoa berpikir keras.
Tahulah ia dua orang itu siapa adanya.
Ia bersangsi.
Ia tahu sekarang yang Sin Thong itu ayahnya tetapi tidak dapat ia berpandangan seperti Kim Sie Ie, untuk menganggap si ayah tidak berarti sama sekali.
Ada saatnya ia memikir untuk jangan bertemu sama ayahnya itu, ada saatnya juga ia ingin menemuinya...
Demikian terhadap Hang Hong berdua, ingin ia tidak mengejar, ingin juga ia mengejarnya.
Ingin ia menanyakan mereka tentang ayahnya...
Ia mau percaya, dengan munculnya Hang Hong berdua, mungkin sekali ayahnya berada di tempat yang berdekatan.
Binsan Pay memusuhkan ayahnya itu, sudah pasti, ayahnya pun akan memusuhkan Binsan Pay.
Urusan mereka berdua mestinya timbal balik.
Untuk Binsan Pay, berarti ancaman bencana apabila benar Beng Sin Thong bersembunyi di dekat-dekat sini.
Ia sudah diusir Co Kim Jie, toh hatinya tidak bisa melepaskan Binsan Pay.
Maka karena itu, perlu ia mengetahui hal ikhwalnya Beng Sin Thong.
Masih ada satu sebab lain kenapa Cie Hoa ingin membekuk Hang Hong berdua.
Ialah buat guna Kim Sie Ie, ia hendak menanyakan mereka tentang Lie Kim Bwee, si nona yang mereka itu buat pembicaraan.
Maka di akhirnya, setelah raguragu sekian lama, lantas ia mengambil keputusan mengejar Hang Hong dan Kie Siu.
Dua orang itu sebaliknya memang lagi memancing nona ini.
Hang Hong tertawa mengejek.
"Budak liar, apakah kau tidak berani mengejar aku?"
Dia menantang. Kok Cie Hoa baru berhenti satu tindak ketika orang menoleh kepadanya dan.
"Ser!"
Sebatang anak panah menyambar ke arahnya.
Ia bisa berkelit akan tetapi anak panah itu lewat di sampingnya, hidungnya mencium bau bacin.
Maka teranglah senjata rahasia itu telah dipakaikan racun.
Walaupun serangan itu tidak mengenakan padanya, Cie Hoa menjadi gusar, maka ia menguber pula.
Ia dapat mendekati.
Hang Hong terpaksa, untuk membela diri, ia menyerang dengan Siulo Imsat Kang.
Dengan begini, ia berhasil membuat dirinya tidak kena terbekuk.
Si nona kewalahan melayani pukulannya itu yang mendatangkan hawa dingin luar biasa.
Dengan kelicikannya, Hang Hong melayani nona itu.
Setiap kali ia tercandak, ialah terdesak, baru ia menyerang dengan Siulo Imsat Kang, habis itu, dia lari pula.
Cara licik ini digunai terus menerus.
Maka itu, mereka terus main kejar-kejaran.
Tanpa merasa, mereka telah mensia-siakan waktu setengah jam.
Pula, segera mereka tiba di kaki bukit Giokliong San, tidak jauh dari dusun Sin-an tin.
Selama itu, tiga kali Hang Hong meluncurkan ke udara anak panahnya, panah Coa-yam cian, yang menjadi tanda rahasia.
Anak panah itu meluncur naik dengan mengasih lihat sinar api.
Kok Cie Hoa menjadi mendongkol sekali, hingga ia berpikir.
"Jikalau aku tidak berlaku telengas, ini artinya mempermainkan ketika, dan kawan-kawannya bisa keburu datang, itu artinya dia tidak bisa dibekuk!"
Maka kali ini, tidak menanti menyandak orang dekat seperti tadi-tadinya, ia menjejak tanah, tubuhnya lantas mencelat, bagaikan terbang menyambar, di waktu mana dengan pedang di tangan kanan ia menikam membabat, dengan tangan kirinya, ia menyerang dengan jurusnya "Siauw-thian chee"
Atau "Bintang Kecil", menotok jalan darah taytwie hiat.
Di dalam ilmu ringan tubuh, Cie Hoa mahir sekali, dari itu, tubuhnya melesat sangat cepat.
Penyerangannya ini membuatnya Hang Hong kaget dan bingung, hingga dia menyerang dengan Siulo Imsat Kang tanpa persiapan lagi.
Tapi di saat sangat berbahaya dari si licik ini, mendadak Cie Hoa merasai sambaran angin yang dingin luar biasa, hingga mau atau tidak, ia terus berjumpalitan untuk menyingkirkan diri.
Ketika ia sudah lantas menginjak tanah, ia menoleh ke arah mana serangan datang.
Maka ia melihat seorang tua dengan kumis jenggot panjang berdiri di depannya, orang tua mana lantas menanya ia dengan suaranya yang dingin.
"Siapakah gurumu? Mengapa kau menurunkan tangan jahat terhadap keponakan muridku ini?"
"Sebab dia yang terlebih dulu hendak mencelakai aku dengan Siulo Imsat Kang!"
Menyahut Cie Hoa.
"Mengapa kau menyalahkan aku? Sebenarnya aku tidak berniat melukai dia!"
Cie Hoa tidak tahu bahwa orang tua ini ialah Yang Cek Hu, sutee atau adik seperguruan dari Beng Sin Thong.
Dia ini terkejut mengetahui si nona mengenal ilmu silatnya yang istimewa itu.
Dengan sinar mata tajam dia lantas mengawasi nona di hadapannya itu.
"Kau toh tidak terluka, mengapa kau berniat merampas jiwa orang?"
Dia tanya.
"Kau telah menurunkan tangan jahat, apakah itu bukan berarti kau hendak membinasakan dia?"
"Aku melainkan hendak membekuk dia, untuk ditanyakan suatu urusan."
Nona Kok tidak dapat menjawab. Ia ingin ketahui tentang dimana adanya Beng Sin Thong serta juga urusannya Lie Kim Bwee. Mana bisa ia mengutarakan itu? "Dia telah mengetahui rahasia kami!"
Hang Hong menyelak.
"Susiok, jangan kasih dia lolos!"
Yang Cek Hu menatap.
"Jadinya kau mau mencari tahu urusan Lie Kim Bwee murid Thiansan Pay?"
Dia menegaskan. Cie Hoa tahu bahwa ia tidak bakal bebas dari satu pertarungan seru, maka ia tidak mau mendusta.
"Tidak salah!"
Sahutnya.
"Apakah salahnya dia terhadap kamu? Kenapa kamu lancang menawan dan mengurung dia?"
Yang Cek Hu tertawa dingin.
"Lie Kim Bwee sudah kabur!"
Katanya.
"Kebetulan kau datang, kau boleh mengambil kedudukannya, menggantikan dia! Bukankah kau mau mencari tahu tentangnya? Baiklah, kau boleh tanya pada suheng-ku yang menjadi ketua kami!"
Cie Hoa heran.
Justeru begitu, Yang Cek Hu sudah maju untuk membekuk padanya.
Tangannya orang tua itu dipentang.
Yang Cek Hu pikir nona ini mesti dibekuk-Bukan saja ia telah mengetahui halnya Lie Kim Bwee, ia pun mengerti ilmu mempertahankan diri dari Siulo Imsat Kang.
Siapa mengerti ilmu itu, dialah lawan untuk pihaknya.
Di dalam kepandaian Siulo Imsat Kang itu, Cek Hu sudah mencapai tingkat ke lima, maka itu, dia ada beda jauh daripada Hang Hong.
Satu suara keras dan berisik sekali ada akibatnya serangan Yang Cek Hu ini.
Disebabkan Kok Cie Hoa berkelit dengan tepat, ia lolos dari serangan yang dahsyat itu, maka sebuah pohon cemara di belakangnya menalanginya sebagai korban.
Pohon itu terhajar patah dan roboh seketika.
Yang Cek Hu berlompat, guna memegat si nona.
Ia mau bikin nona itu tidak bisa menyingkir ke belakang pohon.
Dengan cepat ia mengulangi serangannya yang kedua, disusul dengan yang ketiga.
Karena lagi-lagi si nona bisa berkelit, lagilagi ada pohon yang runtuh.
Tanpa terhalang, Cie Hoa bisa menyingkir ke jalanan di tepi pepohonan itu.
"Kemana kau hendak mabur?"
Membentak Yang Cek Hu, yang mengulangi serangannya.
Dua tangannya bergerak ke kiri dan kanan, guna menghalangi si nona berkelit ke kedua arah.
Nona Kok mengeluarkan napas untuk melegakan hatinya, la berlompat mengapungi diri menyingkir dari serangan hebat itu.
Sekarang ia sempat menghunus pedangnya -pedang Songhoa kiam.
Maka selagi tubuhnya turun, ia melakukan penyerangan membalas.
Ia menggunai tipu silat "Pengpok kiusiauw", atau "Burung garuda menyerbu ke angkasa".
"Eh,"
Berseru si orang tua, yang berlompat mundur hingga tiga tindak.
"Kiranya kaulah muridnya Lu Su Nio dari Binsan Pay!"
"Kau sudah ketahui nama guruku, maka kenapa kau masih berani main gila di sekitar gunung Binsan?"
Cie Hoa menegur. Yang Cek Hu tertawa dingin.
"Umpama kata Lu Su Nio masih hidup, mungkin aku jeri terhadapnya!"
Katanya.
"Sekarang dia sudah mati, maka kenapa kau masih berani menggunai nama Binsan Pay untuk menggertak aku?"
Yang Cek Hu tahu baik Beng Sin Thong musuh dari Binsan Pay, maka itu dia tidak mau melepaskan nona ini.
Kembali dia menyerang, selalu dengan pukulan-pukulan dari Siulo Imsat Kang, yang tenaganya senantiasa dia empos bertambah.
Kok Cie Hoa pernah meyakinkan "Siauwyang Sinkang"
Tetapi tempo peryakinannya pendek sekali, ia belum mencapai puncak kemahiran, dari itu sesudah bertempur kira-kira tiga puluh jurus, ia merasai dadanya sesak, napasnya tidak wajar lagi, walaupun demikian, ilmu pedangnya masih belum kalut.
Mau atau tidak, Yang Cek Hu menjadi heran sekali.
"Mustahilkah Lu Su Nio telah mewariskan suatu ilmu kepandaian yang istimewa?"
Pikirnya.
"Dia masih berusia sangat muda, sekarang dia dapat mempertahankan diri dari pelbagai seranganku, sudah lewat tiga puluh jurus, dia masih belum kelihatan gelagatnya bakal kalah!..."
Juga Kok Cie Hoa berpikir keras.
"Siulo Imsat Kang dari tua bangka ini benar liehay,"
Demikian pikirnya.
"Semasa hidupnya suhu, aku telah diberitahukan dia baru mencapai tingkat ke lima, dia kalah jauh dari Beng... Beng Sin Thong... Pantas dulu hari itu pangcu dari Kaypang di Kanglam telah terbinasa di tangannya Beng... Beng Sin Thong!..."
Nona ini tidak sudi mengakui Beng Sin Thong sebagai ayahnya, maka itu setiap kali memikir atau menyebut nama orang, ia ragu-ragu, ia mesti menguati hati melawan rasa sakit di hatinya itu...
Yang Cek Hu masih kalah dari Biat Hoa Hwesio, maka itu dengan Siulo Imsat Kang tidak dapat ia membuatnya Kok Cie Hoa roboh, dan si nona, dengan mengandal pada ilmunya ringan tubuh dan pedangnya yang tajam, sanggup melakukan perlawanan terus sampai dua ratus jurus atau lebih, cuma disebabkan kekuatiran-nya Beng Sin Thong nanti muncul disitu, pikirannya sudah kacau sendirinya, hilang niatnya untuk bertempur terus, ia cuma pikir jalan untuk mengangkat kaki.
Jikalau seorang liehay lagi bertempur, yang paling penting tidaklah dapat pemusatan pikirannya terganggu, demikian dengan Cie Hoa, semakin dia memikir untuk berlalu, semakin dia kena terdesak, sedang itu waktu, Yang Cek Hu sudah menggunai kepandaiannya sampai di tingkat ke lima, tingkat penghabisan untuknya, dengan begitu dapat dia menguasai, memegat jalan mundurnya lawan.
Di saat sangat genting itu sekonyong-konyong Yang Cek Hu berseru keras sekali, sebelah tangannya menggempur sangat hebat, maka tanpa merasa Kok Cie Hoa roboh tak sadarkan diri.
Ketika kemudian ia mendusin, ia sudah berada di dalam sebuah kamar batu di dalam lembah di Thayheng San itu, tempat sembunyinya Beng Sin Thong.
Begitu lekas ia membuka kedua matanya, Cie Hoa melihat dirinya terkurung dan Hang Hong bersama Kie Siu menjagai ia di luar pintu kamar batu itu.
Ia mau berbangkit, apamau tangan dan kakinya lemas, tangan dan kaki itu tidak mau menuruti kehendak hatinya.
Hang Hong mengawasi sambil tertawa.
"Apakah sampai disini kau masih memikir untuk lari?"
Dia mengejek. Belum berhenti suaranya orang she Hang ini, jauh di luar terdengar suara batuk-batuk atau berdehem-dehem yang terputus-putus, lalu terdengar juga suara tindakan kaki.
"Bagus! Suhu datang!"
Berkata Kie Siu, separuh berseru.
Cie Hoa terkejut hingga ia merasakan di atasan kepalanya ada guntur menggelegar, setelah mana dengan samar-samar ia menampak sebuah tubuh yang tinggi besar, yang rada bongkok, sedang muka orang merah warnanya.
Itulah seorang tua, yang masuk terus ke dalam kamar.
Itulah ayahnya sendiri, ayah yang ia belum pernah ketemukan, ayah yang menjadi musuh besar dari Binsan Pay.
Beng Sin Thong!
"Apakah suhu sudah baik?"
Tanya Hang Hong sambil mengasih turun kedua tangannya, tanda menghormat.
"Hm!"
Menyahuti orang tua itu.
"Jarum beracun dari Kim Sie Ie itu bisa mencelakai lain orang, tidak aku! Buat apa kau menguatirkan aku? Bagaimana dengan urusan yang aku tugaskan kepada kamu? Apakah kamu masih belum mendapat kabar tentang dimana adanya Lie Kim Bwee sekarang?..."
Lagi-lagi dia batuk-batuk, suatu tanda dia belum sembuh seanteronya dari sakitnya.
"Tentang Lie Kim Bwee masih belum didapat keterangan,"
Hang Hong menjawab.
"Syukurnya ialah kami telah mendapatkan ini wanita muda. Hebat dia ini, dia dapat melawan Siulo Imsat Kang, jikalau susiok tidak keburu datang, tentulah teecu berdua telah kena dilukai dia."
Kata-katanya Hang Hong ini mempunyai dua maksud.
Pertama-tama ialah ia mau menunjuki jasanya, dan kedua ia ingin gurunya itu nanti mengompes si nona.
la memang tahu baik sekali, guru ini paling membenci ada lain orang yang bisa melawan Siulo Imsat Kang, ilmu kepandaiannya yang paling diandalkan itu.
"Hm!"
Bersuara guru itu.
"Makhluk tidak berguna! seorang budak cilik saja kau tidak mampu lawan! Dan kau masih mempunyai muka untuk menemukan aku!"
Di mulut dia mengatakan demikian, di dalam hati dia berpikir, bahkan dia berkuatir. Pikirnya.
"Hang Hong baru meyakinkan sampai di tingkat kedua, bahwa dia kena dikalahkan, masih tidak apa. Tetapi Yang Sutee! Bukankah Yang Sutee sudah mencapai tingkat ke lima? Kenapa ia cuma dapat merobohkan, tidak dapat melukai budak cilik ini? Inilah aneh! Dia ini masih berusia sangat muda, dia sudah dapat bertahan dari tingkat ke lima, jikalau nanti dia telah mencapai peryakinannya sendiri, bagaimana?"
Dengan mementang mata lebar-lebar, Beng Sin Thong mengawasi Kok Cie Hoa.
"Katanya Lu Su Nio mempunyai seorang murid kwanbun teecu, adakah murid itu kau adanya?"
Ia menanya dingin. Muka si nona pucat pasi, ia menutup mulutnya, tidak ia menjawab.
"Hm!"
Beng Sin Thong bersuara pula.
"Kecewa kau menjadi muridnya Lu Su Nio, kau tidak mempunyai nyali barang sedikit juga! Asal kau omong terus terang, tidak nanti aku membinasakanmu. Kau jangan takut!"
Mendadak Cie Hoa membuka mulutnya.
"Aku bukan takut untuk diriku sendiri, aku takut untuk dirimu!"
Sahutnya.
"Ah, inilah heran!"
Kata Sin Thong.
"Sungguh kau baik sekali berkuatir untuk diriku... Apakah yang kau takutkan itu?"
"Kau mempunyai kepandaian liehay tetapi belum pernah kau melakukan perbuatan-perbuatan baik!"
Menyahut si nona.
"Kau... kau..."
Beng Sin Thong tertawa bergelak memotong kata-kata orang.
"Kau seperti mau membilang bahwa aku ini ialah hantu yang jahat tak terkirakan!"
Katanya.
"Mengapa kau tidak mau bicara langsung?"
Cie Hoa merasakan hatinya sakit seperti disayat.
"Kau telah mengetahui kejahatanmu sendiri, apakah kau... kau tidak takut bahwa kelak di kemudian hari akan datang pembalasan atas dirimu? Aku... aku berkuatir untuk dirimu, aku kuatir kau nanti menemui akhir yang tidak baik..."
Kembali Beng Sin Thong tertawa tergelak.
"Seumurku aku tidak percaya pembalasan kelak di kemudian hari!"
Katanya nyaring.
"Maka tak usahlah kau berkuatir untuk diriku..."
Baru ia mengucap demikian atau mendadak merasa heran sekali, la tahu benar, sepanjang hidupnya belum pernah ada orang yang bicara begini rupa terhadapnya.
Bukankah orang ini musuhnya?
Mengapa musuh justeru memperhatikan dirinya, seperti menaruh belas kasihan?
Maka ia lantas memandangi pula si nona, dari atas ke bawah dan sebaliknya.
"Nona kecil, kau rada aneh,"
Katanya kemudian.
"Hm! Hm! Dengan mengasihani aku, kau tidak akan memperoleh kebaikan! Tidak suatu halangannya untuk memberitahukan kau! Dengan kepandaian yang aku miliki sekarang, sekarang ini cuma dua atau tiga orang yang dapat mengalahkan aku, akan tetapi nanti, setelah aku selesai meyakinkan hingga di tingkat ke sembilan, maka di kolong langit ini yang luas, tidak ada orang lainnya lagi yang dapat melawan aku! Apa yang aku buat kuatir? Kenapa aku bakal tak memperoleh akhir yang baik?"
"Apakah orang dapat menjagoi cuma dengan mengandalkan ilmu silatnya saja?"
Cie Hoa tanya.
"Apakah kau belum pernah mendengar kata-kata tua bahwa siapa melakukan banyak kejahatan dia bakal mati celaka sendirinya? Lagi pun di dalam dunia yang begini luas mana kau ketahui pasti tidak ada orang yang sanggup melawan Siulo Imsat Kang yang kau miliki itu? Lainnya aku tidak tahu tetapi guruku telah meninggalkan semacam ilmu yang bisa dipakai untuk menindas kepandaianmu itu!"
Beng Sin Thong tertawa dingin.
"Sudah sepuluh tahun aku hidup bersembunyi di gunung Thayheng San, selama itu belum pernah aku mengganggu dia!"
Katanya. Ia maksudkan Lu Su Nio.
"Siapa tahu dia justeru memikir untuk membikin celaka padaku! Lu Su Nio, oh Lu Su Nio, kau memandang aku terlalu enteng! Di masa hidupmu kau tidak datang untuk mencm-pur aku, setelah mampus kau suruh seorang bocah datang menyeteru-kan padaku, maka mana dapat kau mencelakai aku?"
Kok Cie Hoa berkata, juga dengan dingin.
"Memang sekarang aku bukanlah tandingan kau, tetapi nanti, di dalam tempo lima tahun, nanti ada orang yang bakal meyakinkan sempurna kepandaian peninggalannya guruku itu dan orang itu pasti bakal datang mencari kau! Maka kalau dari sekarang kau mengubah hatimu yang jahat, selama lima tahun yang mendatang kau mengumpul kebaikan, bila saatnya tiba, mungkin musuhmu itu dapat memberi maaf kepadamu!"
Beng Sin Thong tertawa lebar.
"Selama beberapa puluh tahun, cuma ada orang yang datang kepadaku untuk memohon ampun!"
Katanya jumawa.
"Sebaliknya, mana dapat aku bertekuk lutut terhadap orang lain? Sekalipun gurumu, di masa hidupnya, dia tidak berani datang mencari aku! Maka aku tidak percaya, sesudahnya mati, dia dapat meninggalkan kepandaian yang liehay luar biasa! Kau bicara demikian rupa tentang ilmu warisan gurumu itu, coba kau membacakannya untuk aku dengar!"
"Oleh karena kau tidak takut, buat apa aku membacakannya untukmu?"
Berkata si nona. Mukanya Beng Sin Thong menjadi merah. Ia batuk-batuk.
"Eh, budak cilik, kau benar-benar tidak tahu langit tinggi dan bumi tebal!"
Katanya.
"Apakah kau kira karena aku takut maka aku menyuruh kau membacakannya? Sebaliknya aku hendak menunjuki ngebraholnya gurumu itu, supaya kau, si katak di dalam tempurung, dapat mementang matamu lebarlebar! Supaya kau menginsyafi Iiehaynya Siulo Imsat Kang, ilmu yang jauh diluar terkaan gurumu itu!"
Kok Cie Hoa juga tertawa dingin.
"Justeru kau sendiri si katak di dalam tempurung!"
Ia mengejek balik.
"Apakah kau kira kau dapat menerka kepandaiannya guruku? Hm! Sebenarnya, tanpa kau menyebutkannya aku sudah ketahui hatimu! Yang benar ialah kau jeri terhadap guruku, dan kau juga takut ada orang lain yang nanti dapat memunahkan Siulo Imsat Kang! Maka juga kau memancing kemurkaanku, supaya aku mau memberitahukan kau kepandaiannya guruku itu, supaya dengan begitu kau jadi dapat bersedia-sedia untuk melawannya!"
Air mukanya Beng Sin Thong berubah. Nona itu telah membeher rahasia hatinya.
"Kau sekarang berada dalam tanganku, kau masih berani ngaco belo,"
Katanya dingin, bengis.
"Kau berani berlaku kurang ajar terhadap aku! Apakah kau menyangka aku benarbenar takut pada Binsan Pay kamu hingga aku tidak berani berbuat sesuatu atas dirimu? Lekas kau membacakan! Mungkin aku nanti memberi keringanan terhadapmu!"
Cie Hoa berlaku bandel.
"Meski kau meminta sehingga selaksa kali, tidak nanti aku suka membacakannya di luar kepala!"
Katanya pasti. Beng Sin Thong menjadi sangat mendongkol, ia murka tidak kepalang.
"Kau menyayangi jiwamu atau tidak?"
Ia membentak. Kok Cie Hoa mengangkat kepalanya, untuk mengawasi ayahnya itu, yang tidak mengenalnya.
"Aku tahu kau memang si raja iblis yang biasa membunuh orang dengan mata tidak berkesip!"
Katanya nyaring.
"Aku justeru penasaran sekali untuk mereka yang telah terbinasa di tanganmu! Tetapi aku, jikalau aku mesti terbinasa di tanganmu, aku puas sekali! Itulah kehendakku!"
Cie Hoa bicara dari hal yang benar, la telah mengatakan di dalam hatinya.
"Kau melahirkan aku, maka kau juga dapat membinasakan aku! Dengan begitu kau akan dapat mengakhirkan perhubungan kita ayah dan anak! Memangnya aku tidak ingin mempunyai ayah semacam kau, dan aku juga tidak menghendaki yang kau mengetahui akulah anakmu!"
Nona ini berlaku berani tetapi tenang, ia bersiap sedia menanti ayah itu membunuhnya.
Tapi sikapnya ini justeru membuat herannya ayah itu.
Bukankah Sin Thong telah melihat seorang nona yang tidak takut mati?
Sin Thong menatap nona di depannya itu.
Ia heran, ia tidak mengerti sekali.
Dengan tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh.
Ia merasa bahwa ia pernah melihat nona ini, bahwa ia pernah mengenalnya...
"Ya, siapakah dia? Mengapa dia seperti aku telah kenal baik?"
Demikian pertanyaan yang timbul berulang-ulang dalam hati sanubarinya.
"Suhu,"
Berkata Hang Hong, ketika ia menampak sikapnya guru itu.
Ia pernah dihajar Cie Hoa selama di rumah penginapan, ia bersakit hati, ia membenci sangat si nona.
Ia pikir sekaranglah saatnya untuk ia mencari kepuasan.
"Suhu, ini macam manusia tulang rendah, tanpa dihajar, tidak nanti dia suka bicara! Jikalau dia lantas dibinasakan, untuknya sangat menyenangkan, maka itu baiklah suhu tunggu sebentar, nanti aku mengambil cambuk Pekliong pian, dengan cambuk itu dia dihajar! Lihatlah, apakah tulangnya jauh terlebih kuat daripada cambuk itu!"
Beng Sin Thong berpaling kepada muridnya itu, matanya mendelik.
"Siapa menghendaki kau banyak mulut?"
Bentaknya.
"Lekas pergi!"
Hang Hong menepuk-nepuk kempolan kuda tetapi kena menepuk kakinya binatang itu, ia menjadi jengah, dengan mengangguk-angguk dan menyahuti "ya"
Berulang-ulang, ia mengundurkan diri.
Ia heran bukan kepalang.
Bukankah si nona berlaku kasar sekali dan bahkan kurang ajar?
Mengapa gurunya tidak menjadi gusar sebaliknya seperti orang yang merasa kasihan?
Tentu sekali murid ini tidak dapat menebak hati gurunya itu.
Pada detik itu dengan tiba-tiba Beng Sin Thong ingat isterinya.
"Tidak salah, tidak salah!"
Demikian pikirnya.
"Inilah gerakgerik isteriku! Beginilah biasanya sikap isteriku setiap kali aku berbuat sesuatu yang busuk! Inilah sinar matanya! Ah, dia telah meninggal selama dua puluh tahun, aku hampir lupa, atau sekarang aku melihat pula sikapnya ini..."
Seumurnya Beng Sin Thong tidak pernah takut kepada apa juga, hanya entah kenapa, sesaat ini ia menggigil sendirinya, tubuhnya gemetaran, hingga ia lekas-lekas menyingkir dari tatapan Cie Hoa.
"Kau... kau siapa?"
Ia tanya, cepat, gelisah.
"Bukankah kau telah mengetahuinya dari siang-siang?"
Si nona balik menanya.
"Akulah muridnya Lu Su Nio dari Binsan Pay!"
"Aku tanya kau-kau she apa dan apa namamu?"
Sin Thong menjelaskan. Hatinya Cie Hoa sakit sekali, maka ia mesti mengeraskannya untuk menahan kesedihannya.
"Aku Kok Cie Hoa..."
Sahutnya perlahan.
"Siapakah ayahmu?"
Beng Sin Thong tanya pula.
"Ayah... ayahku ialah..."
"Lekas bilang!"
Sin Thong mendesak, makin bergelisah hatinya tegang sendirinya.
"Ialah... ialah..."
Menyahut si nona, susah.
"Ialah siapa?"
Desak pula jago tua itu.
"Ialah Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng..."
Menyahut Cie Hoa akhirnya. Sin Thong menghela napas, ia berlega hati.
"Jadinya kaulah anaknya Kok Ceng Peng,"
Dia mengulangi.
"Eh, mengapa kau mengeluarkan air mata?"
Ia heran. Ia melihat nona itu menangis. Tak tahan lagi Cie Hoa akan kedukaannya. Ia menangis sesenggukan.
"Aku teringat akan ayahku,"
Ia menyahut.
"Ayahku itu... ayahku itu... ia telah meninggal dunia. Mana ayahku ketahui penderitaanku hari ini?..."
Sin Thong tidak tahu bahwa di matanya, di hatinya, puterinya ini, dia telah dianggapnya sudah mati...
"Sudah, jangan menangis, jangan kau menangis,"
Kata Sin Thong, seperti membujuk.
"Kau tidak suka bicara, sudahlah. Aku tidak akan membunuh kau, aku tidak akan memukulmu, jangan kau takut..."
Habis mengatakan demikian, kembali Sin Thong merasa aneh sekali.
Untuk pertama kalinya, inilah perasaan kasihan pertama yang timbul di dalam lubuk hatinya yang keras, terutama terhadap seorang yang "tidak dikenal".
Kok Cie Hoa menyusuti air matanya.
"Apakah kau akan membiarkan aku berlalu?"
Katanya. Tapi Beng Sin Thong menggeleng kepala.
"Tidak bisa!"
Sahutnya, cepat dan keras. Atau mendadak, kembali ia ingat suatu apa. Ia lantas menanya.
"Tahun ini berapa usiamu?"
"Dua puluh tahun,"
Sahut Cie Hoa sebenar-benarnya. Tubuhnya Sin Thong bagaikan terhuyung, ia seperti tak kuat berdiri tetap. Hanya, lagi-lagi dapat ia segera menguati hati. Ia kata di dalam hatinya.
"Di kolong langit ini mustahil ada kejadian yang begini kebetulan? Dulu hari itu tidak sempat aku menolongi dia... dia terluka parah... Mereka, ibu dan anak, tertinggalkan di tegalan belukar. .. Anak umur setahun itu, tidak ada yang rawati, apa mungkin dia dapat hidup seorang diri? Tetapi dia ini, dia mengapa menatap aku dengan sinar matanya ini? Dia pun berumur dua puluh tahun!"
Lagi-lagi tubuh jago tua ini menggigil sendirinya.
"Kau tidak mau membunuh aku, juga kau tidak mau melepaskan,"
Kata Cie Hoa.
"Habis buat apakah aku berada disini?"
Sin Thong mengawasi. Ia lantas ingat pula bahwa orang ialah muridnya Lu Su Nio. Ia lantas seperti sadar pula. Katanya di dalam hatinya.
"Lu Su Nio mewariskan ilmu kepandaian yang dapat menaklukkan aku, dia ini ialah muridnya, mana dapat aku gampang-gampang membebaskan dia? Ah, mungkin karena aku terlalu memikirkan isteriku dan mendapatkan dia mirip sifatnya dengan sifat isteriku, hatiku menjadi lemah, hingga aku menjadi bersangsi... Bukankah di dalam dunia ini tak terhitung banyaknya nona-nona usia dua puluh tahun? Mustahilkah ada begini kebetulan bahwa dialah anakku perempuan?"
Ia memandang pula si nona, kembali mata mereka bentrok. Kembali ia melihat sinar mata isterinya, hingga ia bergemetar pula. Lekas-lekas ia menyingkir dari sinar mata nona itu.
"Aku hendak membiarkan kau berada di dampingku!"
Katanya kemudian, suaranya dalam.
"Seumurku, kau mesti mendampingi aku!"
Hati Cie Hoa terkesiap.
"Mendampingi kau seumur hidupmu?"
Katanya.
"Jikalau begitu, aku lebih suka kau binasakan saja padaku!"
"Jikalau tidak demikian, kau mesti menuliskan semua kepandaian yang diwariskan gurumu itu!"
Kata Sin Thong.
Cie Hoa berdiam, hatinya berpikir.
Kepandaian yang diwariskan gurunya itu memang diperuntukkan menaklukkan Beng Sin Thong, kalau kepandaian itu ia ajarkan pada Sin Thong percuma ia ketolongan dan hidup terus.
Dengan membuka rahasia, ia seperti menolong Sin Thong.
Siapakah Sin Thong itu?
Dialah si raja hantu tetapi dia pun ayahnya sendiri!
Tegakah ia membiarkan ayahnya dibinasakan orang?
Hanya, kalau ia membuka rahasia, bagaimana ia terhadap gurunya yang telah berada di alam baka itu?
Bagaimana ia terhadap semua saudara asal seperguruan, atau sesama kaumnya dari Binsan Pay?
Bukankah ia menjadi berdurhaka, murtad terhadap partainya?
Maka bimbanglah nona ini.
"Tidak, tidak!"
Pikiran sejenak kemudian.
"Tidak dapat aku memberitahukannya! Memang benar aku tidak berjanji suatu apa pada sekalian saudara partai akan tetapi di depan kuburan suhu telah aku mengangkat sumpah-aku telah mengangkat sumpah akan tidak mengakui pula dia sebagai ayahku!..."
Bukan main bingung dan berdukanya Cie Hoa maka air matanya lantas mengucur deras "Eh, kenapa kau menangis pula?"
Tanya Beng Sin Thong heran.
"Dengan memastikan kau mendampingi aku, adalah maksudku untuk mewariskan semua kepandaianku kepadamu! Apakah tidak bagus untuk menjadi muridku? Buat orang lain, meminta juga masih belum dapat!"
Cie Hoa membungkam, ia menggeleng kepala.
Melihat keragu-raguan orang itu, Beng Sin Thong menjadi heran dan bercuriga karenanya, la mau menanya pula nona itu, atau mendadak ia melihat munculnya muridnya yang nomor dua, Gouw Bong.
"Cianciu Sintouw Kie Siauw Hong minta bertemu sama suhu!"
Kata murid itu.
"Suruh dia pergi!"
Kata Sin Thong, keras dan mendadak.
"Hari ini aku tidak mau menemui siapa juga!"
"Tetapi, suhu,"
Kata murid itu, heran.
"dia bilang dia datang untuk urusan yang sangat penting. Dia datang dengan tubuhnya telah terluka berat!"
"Apa sangkutannya denganku kalau dia hidup atau mampus?"
Sin Thong kata.
"Biar urusan perlu bagaimana juga, aku tidak mau campur tahu!"
Belum lagi Gouw Bong berkata pula, di luar pintu sudah terdengar suara yang parau.
"Beng Sin Thong, tahukah kau kenapa aku terluka? Aku terluka karena untuk kau, tahu? Jikalau hari ini kau tidak menolongi aku, maka di lain ketika kau pasti bakal terbinasa di tangan orang Binsan Pay!"
Sin Thong heran, ia tercengang.
"Baiklah, Cianciu Sintouw!"
Katanya kemudian.
"Kau berani lancang masuk kemari, baik, aku memberi ijin kau masuk! Jikalau kau bicara dusta, akan aku hajar kau setengah mampus!"
Habis berkata begitu, Sin Thong menguncikan Cie Hoa di kamar samping, lalu ia membuka pintu mengasih masuk kepada Kie Siauw Hong, orang yang dijuluki Cianciu Sintouw, ialah si Malaikat Pencopet Tangan Seribu.
Orang itu lantas bertindak masuk, tubuhnya berlumuran darah, sebelah tangannya tergantung.
Begitu melihat luka orang itu, Beng Sin Thong kata.
"Tidak salah! Kau telah terlukakan Tangan Piepee Besi dari Co Kim Jie! Kenapa kau bentrok dengannya?"
"Aku datang dari Binsan dimana aku memperoleh kabar penting selama mereka itu membuat rapat besar,"
Kie Siauw Hong menyahut. Ia tidak menjawab langsung.
"Aku mendapat tahu, lagi lima tahun maka Co Kim Jie bersama Ek Tiong Bouw bakal membunuh kau! Buat guna kau, aku menaruhkan jiwaku, aku telah curi barangnya mereka itu!"
"Perlahan, perlahan!"
Kata Sin Thong, walaupun ia merasa heran.
"Orang dengan derajatmu ini, dapatkah kau turut menghadiri rapat besar Binsan Pay itu?"
"Apakah tidak dapat aku minta keterangan dari lain orang?"
Kie Siauw Hong membalik.
"Ciang Lok Ciauw menjadi saudara angkatku, ketika dibuat rapat besar Binsan Pay itu, dari mulanya hingga akhirnya dia terus turut hadir, maka apa pun yang dibicarakan dan terjadi disana, dia ketahui semua. Dan aku, aku mengetahui segala apa dengan jelas dari mulutnya Lok Ciauw itu!"
Kok Cie Hoa berada di kamar samping, ia mendengar nyata semua pembicaraannya dua orang itu. Ia menjadi kaget dan heran. Ia kata di dalam hatinya.
"Dengan kedatangannya orang ini, bukankah dia... dia bakal mengetahui siapa aku sebenarnya-bahwa akulah anaknya?"
Hanya sejenak ia berpikir pula.
"Ciang Lokeiauw ialah seorang ahli pedang partai lurus dari Hoolam, Kie Siauw Hong sebaliknya seorang pencuri kecil yang dibenci oleh semua orang Rimba Persilatan, mengapa mereka berdua dapat mengangkat saudara? Mungkinkah dia omong begini melulu untuk mengabui Beng Sin Thong?"
"Ha, kiranya Ciang Lok Ciauw pun hadir dalam rapat itu!"
Terdengar pula suaranya Beng Sin Thong.
"Aku mengerti sekarang! Eh, mengapa kau tidak bicara terus?"
Mendengar suaranya Beng Sin Thong itu Cie Hoa bercekat hati.
Lagu suara orang menyatakan Sin Thong tidak menyangsikan pula Kie Siauw Hong.
Tentu sekali Nona Kok tidak ketahui hubungannya di antara Ciang Lok Ciauw, seorang ahli pedang, atau kiamkek, dan Kie Siauw Hong, seorang setan tangan-tangan yang liehay.
Persahabatan itu sudah terjadi karena peristiwa sebagai berikut.
Untuk sebuah piauwkiok, kantor perusahaan mengantar dan melindungi barang angkutan, yang minta pertolongannya, Ciang Lok Ciauw sudah bentrok sama Pui Kun Hiong, seorang begal tunggal yang kenamaan di Hoolam.
Dalam satu pertempuran, Kun Hiong kena ditabas sebelah lengannya, sebaliknya Lok Ciauw, kena dihajar dengan pukulan Tiatce ciang, Tangan Pasir Besi, hingga ia terluka parah.
Lantas datang pertolongan dari Kie Siauw Hong, yang berhasil mencuri obat dari istana raja muda Siauw Ong.
Itulah obat siu-ouw yang umurnya sudah seribu tahun.
Lukanya Lok Ciauw sembuh karena obat itu.
Ia ingat budi orang, ia lantas suka bergaul dengan Siauw Hong.
Tentang pengangkatan saudara ini, sedikit orang kaum Kangouw yang mengetahuinya.
Sin Thong ketahui itu semenjak sekian lama.
Mendadak tubuh Kie Siauw Hong terhuyung, dia mencoba mengulur tangannya ke tembok tetapi kepalanya sudah membentur terlebih dulu, hingga benturan itu memperdengarkan suara nyaring.
Beng Sin Thong lantas mengulur tangannya, untuk menolongi raja copet itu.
Segera dia menotok ke pelbagai jalan darah, seperti soan-kie, giokheng, honghu, kwie-chong, wietoo, kieliauw dan hong-bwee.
Itulah totokan penutupan, untuk menghentikan mengalir keluarnya darah terus menerus.
"Lekas kau ambil dua butir pel Siauwhoan Tan, habis itu, kau sambung tangannya!"
Beng Sin Thong kata pada muridnya, ialah Gouw Bong, ia sendiri terus memeriksa luka orang. Di akhirnya, ia tertawa dan kata.
"Syukur Co Kim Jie telah menyerahkan senjatanya, Tiat piepee, kepada Louw Too In yang menjadi adik seperguruannya, dan kepandaiannya dalam ilmu Tangan Besi masih belum terlatih sempurna, kalau kau terlukakan senjata, mana dapat kau hidup sampai detik ini?"
Cepat sekali Gouw Bong telah kembali bersama pel yang diminta.
Itulah obat mujarab buatan Beng Sin Thong, maka juga, sekira lamanya sehirupan teh, wajah pucat dari Kie Siauw Hong lantas berubah menjadi bersemu merah.
Maka dengan dipakaikan obat, lengannya lantas ditolong, disambung pula.
Begitu lekas dia dapat bangun berdiri, bukan Kie Siauw Hong menghaturkan terima kasih pada tuan rumah, sebaliknya Beng Sin Thong yang mengucap syukur terhadapnya.
Kata jago tua ini.
"Bagus, kau benar-benar telah berkorban untukku! Bilanglah, dengan cara apa kau ingin aku membalas budimu ini?"
"Emas dan perak, asal aku mengulurkan tanganku, aku dapat memiliki,"
Menjawab Siauw Hong.
"Maka tak usahlah kau memberikan itu padaku! Apa yang aku minta dari kau, loojinkee, ialah kau mengambil aku sebagai muridmu!"
Dengan lantas pencopet itu menyebut "loojinkee", orang tua yang dihormati.
"Mengapa kau ingin menjadi muridku?"
Beng Sin Thong tanya.
"Kekuranganku sekarang ini ialah ilmu silat yang liehay,"
Menyahut Kie Siauw Hong.
"Jikalau aku dapat tambahan sejumlah kepandaian dari loojinkee, apabila aku pergi mencuri pula, maka terjaminlah bahwa aku tidak bakal kena orang hajar hingga terluka! Haha! Sampai itu waktu maka aku nanti mencuri barang-barang mustika dari istana dan keraton kaisar untuk dihaturkan kepada loojinkee sebagai guruku!"
Sin Thong tertawa lebar. Agaknya dia girang sekali.
"Baiklah!"
Katanya.
"Kau omong terus terang, suka aku menerima kau sebagai muridku!"
Kie Siauw Hong lantas berlutut, untuk mengangguk tiga kali. la pun memanggil.
"Suhu!"
Kemudian, sambil tertawa riang, ia berkata.
"Suhu, aku telah mencuri barang untuk suhu, benar aku telah dihajar Co Kim Jie akan tetapi aku anggap itu ada harganya!"
"Sekarang kau tuturkan padaku tentang rapat Binsan Pay serta pencurianmu itu,"
Berkata Beng Sin Thong.
"Kau tuturkanlah biar jelas jangan bikin ada yang kelompatan."
"Baik, suhu, akan aku menutur dari mulanya,"
Menyahut murid itu.
"Lu Su Nio telah mempunyai seorang murid penutup, ialah murid kwanbun teecu. Apakah suhu tahu?"
Hatinya Cie Hoa berdebaran mendengar perkataan orang itu. Ia berkuatir sekali rahasianya nanti terbuka.
"Oh, begitu? Apakah namanya murid itu?"
Itulah suaranya Beng Sin Thong, suaranya yang sedikit bergemetar.
"Dia bernama Kok Cie Hoa,"
Menyahut Kie Siauw Hong. Kembali Cie Hoa kaget.
"Tahukah kau siapa ayah dan ibunya Kok Cie Hoa itu?"
Beng Sin Thong tanya.
"Kabarnya dialah anak perempuan dari Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng."
Sin Thong menghela napas. Ia tidak bilang suatu apa, cuma di dalam hatinya ia berkata.
"Anak itu benar, dia tidak mendustakan aku."
Cuma sebentar, hati Cie Hoa pun menjadi sedikit lega. Ia kata di dalam hatinya.
"Dia membilang bahwa saudara angkatnya menghadiri rapat Binsan Pay, mengapa dia tidak mendapat tahu akulah anaknya Beng Sin Thong? Mungkinkah dia hendak menyembunyikan sesuatu untukku? Kita tidak kenal satu dengan lain, apa maksudnya dia menyembunyikan apa-apa itu? Apakah dia mau menanti sampai kata-katanya yang terakhir baru ia hendak membuka rahasiaku?"
Karena ini, si nona mulai berkuatir pula. la memasang kupingnya,. Kie Siauw Hong melanjuti keterangannya.
"Sebenarnya Lu Su Nio telah mendapat tahu dari siang-siang yang loojinkee tinggal berdiam di gunung Thayheng San ini. Sebabnya mengapa Lu Su Nio tidak lantas mencari kau, loojinkee, itulah karena ia belum memperoleh kepastian yang ia bakal dapat mengalahkan kau. Selama itu Lu Su Nio telah meyakinkan semacam kepandaian, di dalam tempo sepuluh tahun ia telah berhasil menciptakannya. Ilmu itu dipanggil Siauwyang Sinkang. Katanya ilmu itu diperuntukkan memunahkan Siulo Imsat Kang dari loojinkee."
"Lu Su Nio meyakinkan kepandaiannya itu secara rahasia, mengapa kau bisa mendapat tahu?"
Beng Sin Thong tanya.
"Sebab hal itu diterangkan oleh murid wanita itu di dalam rapat Binsan Pay tersebut. Dia yang bicara sendiri pada kakak separtainya yang menjadi ketua partainya itu."
"Itulah semacam kepandaian rahasia, yang penting sekali untuk partainya, kenapa dia membicarakannya di muka rapat, di depan banyak orang?"
Beng Sin Thong tanya pula.
"Tindakan itu sangat tidak beralasan?"
"Sampai sebegitu jauh, itulah aku tidak tahu,"
Menjawab Siauw Hong.
"Hanya aku mengetahui pasti, kakak angkatku itu tidak biasanya omong dusta. Pula tidak ada alasannya mengapa dia mesti mendustakan aku."
Beng Sin Thong menanya demikian karena dia tidak ketahui ketika itu Cie Hoa sudah terdesak sangat oleh Co Kim Jie, sebab setelah ia membeber hal asal-usul dirinya, Kim Jie hendak mengusir ia dari kalangan partai, terpaksa ia bicara di muka rapat, la juga berkuatir, karena ia bakal diusir, jikalau ia tidak lantas menutur tentang Siauwyang Sinkang itu, lantas bakal tidak ada ketikanya lagi akan ia bertemu pula sama kakak separtai yang bengis itu.
Sekarang, mendengar pembicaraan di antara Siauw Hong dan Sin Thong, ia menyesal yang dulu hari itu ia bicara di muka umum, hingga rahasia menjadi bukan rahasia lagi.
Ia menyesalkan dirinya, yang dikatakan kurang pengalamannya dalam dunia Kangouw.
"Hanya aneh,"
Pikirnya lebih jauh.
"mengapa Kie Siauw Hong masih belum juga membeber rahasiaku pribadi? Apakah benar-benar ia tidak mengetahui itu? Dia tahu aku telah membuka rahasia tentang ilmu silat itu, kenapa dia tidak mengetahui juga akulah anaknya Beng Sin Thong ini?"
Kembali Kie Siauw Hong menutur pula.
"Suhu, jikalau suhu tidak percaya, muridmu masih mempunyai bukti kenyataan. Kitab Siauwyang Sinkang dari Lu Su Nio itu terdiri dari tiga jilid, kitab itu oleh Kok Cie Hoa telah diserahkan kepada Co Kim Jie, tetapi kitab itu sekarang telah dapat dicuri olehku."
Sinar matanya Beng Sin Thong jelilatan.
"Mari kasih aku lihat!"
Katanya, cepat dan keras.
"Hm! Hm! Sungguh aku ingin mengetahui apa benar-benar Lu Su Nio mempunyai kepandaian untuk melawan aku!"
Kok Cie Hoa sebaliknya kaget dan menyesal, di dalam hatinya, ia mengeluh.
Kitab itu telah lenyap!
Benar lenyapnya bukan di tangannya sendiri, hanya di tangan Co Kim Jie, akan tetapi kalau bukannya ia yang membeber rahasia di depan banyak orang, cara bagaimana Kie Siauw Hong mendapat tahu dan dapat mencurinya?
Jadi tetap ialah biang celaka...
Kie Siauw Hong menyerahkan kitab curiannya itu dan Beng Sin Thong lantas membeber dan memeriksa.
Mulanya dia ini berulang kali mengasih dengar tertawa dingin, agaknya dia memandang enteng, hingga Siauw Hong menjadi heran dan berpikir.
"Apa mungkin Lu Su Nio bicara secara berlebihan, bahwa kitabnya tidak berarti banyak hingga Beng Sin Thong tidak melihat mata? Ah, kalau benar begitu, tidak perlunya aku memperbahayakan jiwaku untuk mencurinya..."
Tidak lama, berhentilah tertawa menghina dari Beng Sin Thong.
Sebaliknya, wajahnya tampak muram, lalu bersungguh-sungguh.
Hingga, melihat demikian, hati si pencopet menjadi lega.
Sudah diketahui ilmu silat Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong adalah ilmu yang asalnya asing, yang kalangannya kalangan sesat.
Pastilah itulah ilmu yang liehay nomor satu.
Lu Su Nio boleh liehay akan tetapi ia pun tidak mengetahui tentang ilmu sesat itu, maka ia memikirkan jalan untuk menaklukinya.
Karena ia tidak tahu asal-usulnya ilmu itu, sulit untuk ia mencari daya penaklukkannya.
Maka tidak ada jalan lain.
Lu Su Nio lantas memperhatikan tanda-tanda dari korban-korbannya pukulan ilmu yang liehay itu.
Ia berhasil menciptakan Siauwyang Sinkang, tetapi itu baru untuk perlawanan saja, bukan untuk memecahkannya.
Jadi ilmunya itu masih ada cacatnya.
Maka tidaklah heran mulanya Sin Thong senantiasa tertawa dingin.
Baru kemudian, jago tua itu jadi berpikir keras.-Bunyinya lebih jauh dari kitab Siauwyang Sinkang itu menjelaskan cara-cara untuk bertahan.
Itulah hebat.
Dengan dapat dilawan, Siulo Imsat Kang jadi kurang artinya.
Bukankah percuma kalau Siulo Imsat Kang tidak dapat merobohkan perlawanannya Siauwyang Sinkang itu?
"Benar-benar Lu Su Nio jauh terlebih liehay daripada aku,"
Pikir Sin Thong akhirnya.
"Dia belum tahu tentang Siulo Imsat Kang toh dia dapat mendaya-kan perlawanannya, untuk bertahan. Sungguh dia harus dikagumi. Kalau ada seorang yang sama liehaynya dengan aku, lantas dia mengerti Siauwyang Sinkang. Apa aku bisa bikin terhadapnya jikalau aku tidak sanggup merobohkan dia? Bagaimana kalau ada dua atau tiga orang yang pandai Siauwyang Sinkang, yang bekerja sama mengepung aku? Bukankah artinya aku bakal terbinasa di tangan mereka itu?"
Inilah pikiran yang membikin si jago tua berhenti tertawa.
"Suhu, bagaimana suhu melihat kitabnya Lu Su Nio ini?"
Tanya Siauw Hong, yang tidak dapat menebak hati gurunya.
Beng Sin Thong ada seorang yang liehay dan telah banyak pengalamannya, ia tahu bagaimana harus membawa dirinya.
Ia lantas tertawa terbahak-bahak.
Ia merasa lucu juga tadi ia mendesak Cie Hoa sia-sia, sekarang ia mendapatkan Siauwyang Sinkang dengan gampang sekali.
"Kitab ini masih ada harganya dicuri kau!"
Ia menjawab muridnya itu.
Sebagai seorang cerdas, yang otaknya kuat, Beng Sin Thong sudah lantas mengerti maksudnya kitabnya Lu Su Nio itu.
Ia juga lantas dapat mengambil keputusan-nya.
Dengan kedua tangannya ia memegang ketiga
Jilid kitab Siauwyang Sinkang itu, ia mengerahkan tenaganya, ketika sedetik kemudian ia membuka kedua tangannya, kitab itu sudah pecah hancur dan jatuh belarakan!
Ia tertawa pula dan kata dengan nyaring.
"Hebat Lu Su Nio, sesudah mati, dia masih memusuhkan aku! Hm! Hm! Sekarang aku membuatnya dia mati tidak dapat meram matanya!"
Hebat kata-kata itu.
Kok Cie Hoa merasai seperti terpukul dahsyat, hatinya bagaikan tertusuk jarum.
Ia berduka karena kitab gurunya dirusak Sin Thong dalam sekejab saja.
Ia merasa bahwa selanjutnya cuma ia sendiri yang mengetahui Siauwyang Sinkang.
Sama sekali ia tidak menduga, bahwa Beng Sin Thong telah menyimpannya di dalam otaknya!
"Beng Sin Thong tidak dapat dikendalikan kecuali aku menulis pula kitab itu,"
Pikirnya terlebih jauh.
"Aku mesti menulis pula dan menyerahkannya pada Suci Co Kim Jie, atau aku sendiri yang mesti mempelajarinya untuk melawan Beng... Beng Sin Thong... Hanya biar langsung atau tidak langsung, aku toh tetap mesti memusuhkan ayahku sendiri..."
Pusing kepalanya Cie Hoa.
Dapatkah ia memusuhkan ayahnya sendiri itu?
Dapatkah ia menurunkan tangan jahat terhadap ayahnya?
Dalam pusingnya itu, yang membuat hatinya pepat, mendadak Cie Hoa dapat ingatan untuk menghabiskan jiwanya sendiri!
Buat apa hidup sulit seperti ini?
Benar pedangnya telah dirampas Beng Sin Thong tetapi dengan tenaga dalamnya, ia bisa memutuskan nadinya sendiri.
Tapi cuma sekejap ia berpikir demikian, atau segera ia ingat gurunya.
Bukankah telah sepuluh tahun lebih ia dididik Lu Su Nio?
"Bukankah suhu cuma mempunyai aku satu muridnya?"
Demikian pikiran baru, yang menyan-dingi padanya.
"Dalam tempo sepuluh tahun suhu mencapaikan hati mendidik aku, adalah pengharapannya supaya aku dapat mewariskan kepandaiannya, agar aku bisa menggunai kepandaian itu mengusir musuh bangsa asing, atau sedikitnya menjadi seorang yang mulia, yang dapat menolong kepada sesamanya. Mana dapat aku mensia-siakan pengharapan suhu itu? Mana bisa aku mati secara begini kecewa?..."
Setelah mengingat gurunya, Cie Hoa lantas ingat juga Kim Sie Ie, bayangan siapa bagaikan berkelebat di depan matanya. Ia seperti mendengar suaranya Tokciu Hongkay, yang berkata di kupingnya.
"Teratai itu keluar dari dalam lumpur tetapi tidak menjadi kotor! Yang bersih tetap bersih, yang kotor tetap kotor-dia ialah dia, kau ialah kau, ada hubungan apakah di antara dia dengan kau? Kau boleh menganggap saja bahwa kau tidak mempunyai ayah semacam itu! Mengapa kau boleh menyusahkan diri karenanya?"
Mengingat pengajaran gurunya dan nasihatnya Kim Sie Ie, semangat Cie Hoa menjadi terbangun. Katanya di dalam hatinya.
"Benar! Kecuali dia yang hendak membunuh aku, dalam hal mana aku tidak dapat berbuat apa-apa, aku sendiri, tidak dapat aku mengakhirkan penghidupanku dengan tanganku sendiri!"
Walaupun demikian ia tetap bersusah hati. la tengah dikurung, ia lagi menghadapi urusan sulit.
"Mengenai rapat Binsan Pay itu, ada kabar apa lagi?"
Beng Sin Thong melanjuti menanya Kie Siauw Hong.
"Masih ada satu urusan lainnya yang penting,"
Menjawab murid itu.
"Muridnya Liauw In Hwesio, yaitu Biat Hoa Hwesio, juga telah muncul pula."
"Ha!"
Kata Sin Thong heran.
"Sudah beberapa puluh tahun dia menyembunyikan diri, sekarang dia muncul lagi? Mungkin dia mendapat tahu Lu Su Nio sudah meninggal dunia maka hatinya menjadi besar pula..."
"Benar. Dia telah datang ke Binsan dimana dia mengacau. Katanya dia hendak merampas kedudukan ciangbunjin Binsan Pay dari tangannya Co Kim Jie. Hanya di akhirnya, dia telah kena diusir pergi oleh Kim Sie Ie dan Kok Cie Hoa..."
Hal yang benar ialah Kim Sie Ie tidak sampai turun tangan. Tentang ini, Ciang Lok Ciauw tidak omong jelas, raja pencopet ini jadi bicara sembarangan saja. Toh Beng Sin Thong terperanjat.
"Jadi Kim Sie Ie telah datang ke Binsan dan telah membantu Binsan Pay mengusir Biat Hoa Hwesio?"
Katanya.
Ia heran sebab ia menyangka Kim Sie le bercelaka akibat serangannya dengan Siulo Imsat Kang.
pengemis itu mati atau bercacad seumur hidupnya.
Siapa tahu, dia masih hidup dan tetap gagah seperti sediakala!
Tapi cuma sejenak, dia lantas tertawa dan kata.
"Kembali Binsan Pay mendapatkan seorang musuh tangguh! Haha! Aku sekarang boleh melegakan hati!..."
Kok Cie Hoa juga heran sekali.
Ia heran mengapa Kie Siauw Hong tetap tidak memberitahukan halnya ialah anaknya Beng Sin Thong ini.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka yang Ciang Lok Ciauw tidak sudi membeber halnya itu.
Lok Ciauw seorang ahli pedang kaum lurus, dia bersimpati terhadap si nona, maka itu, selagi dia suka membicarakan urusan Binsan Pay, urusan si nona dia membiarkannya saja.
Dia menganggap urusan si nona ialah urusan pribadi.
Selagi Cie Hoa kalut pikiran itu, ia mendengar Beng Sin Thong berkata-kata pula.
"Siauw Hong,"
Katanya.
"begitu kau masuk dalam partaiku, kau telah membuat satu jasa besar, maka aku pasti tidak akan mensia-siakan padamu. Sekarang pergi kau belajar silat pada toasuheng-mu, guna memulai dengan pokok dasarnya, nanti berselang tiga bulan, aku sendiri yang akan mulai mendidikmu. Aku akan lantas mengajari kau Siulo Imsat Kang. Haha! Lewat lagi beberapa tahun, sesudah aku berhasil mencapai tingkat ke sembilan, pastilah aku menjadi orang tak tandingan di kolong langit ini, sedang kau, kaulah si nabi pencopet di dalam dunia!"
Kie Siauw Hong girang sekali, kembali ia berlutut, untuk mengangguk-angguk beberapa kali, guna menghaturkan terima kasihnya, setelah mana ia pergi mengundurkan diri.
Beng Sin Thong segera membuka pula kamar samping.
Begitu daun pintu terpentang, begitu ia melihat muka Cie Hoa sangat pucat, seperti wajahnya seorang mayat.
Ia tidak menjadi kaget atau heran, sebaliknya, ia tertawa puas.
"Kau telah mendengar semua, bukan?"
Katanya.
"Nah, sekarang baru kau tahu takut, bukan? Aku justeru mengingini kau ketahui, ilmu silat Siauwyang Sinkang gurumu itu, sekarang ini cuma kau dan akulah yang mengetahuinya!"
Cie Hoa mengawasi muka orang, ia terkejut di dalam hati.
"Ah, kali ini mungkin benar-benar dia bakal membunuh aku..."
Ia menduga-duga. Kembali terdengar suaranya Beng Sin Thong.
"Bukankah kau puas sekarang? Di jaman ini, kecuali kau, maka tidak ada seorang lain lagi yang dapat menggunai Siauwyang Sinkang untuk mempersulit aku!"
Mendadak dia berubah sikapnya, sinar matanya menjadi bengis sekali. Dia meneruskan, dengan suaranya yang dingin.
"Sekarang terbuka hanya dua jalan untuk kau pilih! Yang pertama-tama ialah kau masuk dalam partaiku, kau ikhlas mengangkat aku menjadi gurumu! Itu artinya, satu hari yang aku masih hidup di dalam dunia ini, satu hari juga tidak dapat kau berpisah dari aku! Jikalau kau tetap hendak menuntut balas untuk Binsan Pay, untukmu terbuka jalan yang nomor dua itu, ialah jalan kematian! Aku hendak menyiksa kau, supaya kau keracunan hawa dingin, supaya kau matinya perlahan-lahan! Jikalau itu sampai terjadi, jangan kau menyesalkan aku ganas atau kejam! Siapa suruh kaulah muridnya Lu Su Nio dan sekarang ini, kecuali aku, melainkan kau yang mengetahui Siauwyang Sinkang? Baiklah, sekarang aku beri tempo satu hari padamu, untuk kau pikir baik-baik. Besok pada jam seperti ini, mesti kau memberikan jawabanmu! Nah, kau telah mendengar nyata, bukan?"
Beng Sin Thong telah mendengar keterangannya Kie Siauw Hong barusan bahwa Kok Cie Hoa gadisnya Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng.
Keterangan itu cocok sama keterangan si nona.
Maka mengertilah ia, dan ia tidak meraguragukan pula, maka ia sudah lantas mengambil keputusannya.
Jikalau Cie Hoa tidak mau menyerah, hendak ia membinasakannya!
Cie Hoa melawan sebisa-bisa kepada kesedihan hatinya, ia menatap matanya ayah itu, dengan roman jumawa, ia berkata.
"Kenapa mesti menanti sampai besok? Sekarang juga aku berikan jawabanku! Sekarang juga kau boleh turun tangan!"
Beng Sin Thong heran.
"Apa?"'dia tanya, tegas.
"Apakah pikiranmu itu?"
"Biarnya aku mati, tidak sudi aku menjadi muridmu!"
Menjawab si nona.
"Kau begini muda, kau tidak takut mati?"
Sin Thong tanya pula.
"Bukan, aku bukannya takut mati,"
Sahut Cie Hoa terus terang.
"Hanya jikalau kau tetap menghendaki aku menjadi muridmu, maka itu akan menyebabkan kesengsaraan yang jauh lebih hebat daripada kematian!"
Sin Thong mendongkol tidak kepalang.
"Apakah karena kau mengandal dirimu asal partai lurus maka kau jadi memandang enteng padaku?"
Ia bertanya sambil tertawa mengejek.
"Baiklah, jikalau kau ingin mati, nanti aku bikin maksudmu kesampaian!"
Kata-kata ini disusul sama diangkatnya tangan, yang dikerahkan dengan tenaga Siulo Imsat Kang.
Maka juga telapakan tangan jago tua ini lantas berubah menjadi hitam, dan tangan itu turun dengan perlahan-lahan ke arah batok kepala si nona.
Ketika itu dua orang ini berdiri berhadapan, maka mereka saling mengawasi.
Beng Sin Thong melihat si nona tidak menggeraki tubuh atau kaki tangannya, cuma kedua matanya mengalirkan air yang deras.
Ia tidak tahu apa yang dipikir si nona.
Cie Hoa tidak takut, dia hanya-dia hanya merasakan hatinya sangat sakit.
Inilah dia lakon sedih dahsyat antara ayah dan gadisnya!
Inilah lakon dari satu ayah, yang membinasakan anak sendiri di luar tahunya!...
Tetapi Beng Sin Thong bukan tidak tahu Cie Hoa ialah anaknya.
Sekarang dia tidak menyangsikan lagi nona itu ialah gadisnya.
Maka itu, ketika dia melihat air mata si anak, hatinya lemah sendirinya.
Dia berhati keras, kalau dia membunuh orang, dia memandangnya perbuatan itu seperti dia membabat rumput, matanya tidak pernah berkesip, tidak pernah dia merasa kasihan.
Tapi sekarang, inilah kejadian yang luar biasa.
Kok Cie Hoa merapatkan kedua matanya.
Ia tidak menatap terlebih jauh.
Ia cuma merasakan dari embun-embunannya keluar hawa dingin, seperti juga ada sepotong besar es yang menindih kepalanya itu.
Ia menanti, menanti sekian lama.
Ia tidak merasakan turunnya tangan dari kematian!
Lama-lama ia menjadi heran, maka ia membuka pula matanya, ia berkata tajam.
"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah! Mengapa, ayal-ayalan?"
Sin Thong mengertak giginya.
Ia mengerahkan pula tenaganya.
Tapi ia merasakan tangannya seperti terjaga oleh suatu tenaga yang kuat sekali.
Tangannya itu terpisah tiga dim dari batok kepala si nona, lantas tak dapat turun lebih jauh...
Tepat di saat itu, Gouw Bong, murid yang nomor dua, datang masuk dengan tiba-tiba.
"Suhu,"
Katanya, memberi-tahu.
"di luar, di mulut lembah, ada seorang hwesio tua yang luar biasa! Dia datang tetapi dia menunjuk suhu, untuk suhu sendiri yang menyambutnya!"
Sin Thong heran, ia menarik pulang tangannya.
"Di mulut kau membilang tidak takut, di hatimu sebenarnya kau takut sekali!"
Dia kata pada bakal mangsanya.
"Jangan kau mendustakan aku lagi! Sekarang aku mau berlaku murah kepadamu, aku menguatkan kata-kataku tadi, aku beri tempo satu hari padamu!"
"Perlu apa kau dengan lebih banyak satu hari untuk menyiksa aku?"
Kata Cie Hoa.
"Jawabanku besok tidak bakal berubah sekalipun setengah huruf! Jikalau kau hendak membunuh aku, lekaslah bunuh!"
Tetapi Beng Sin Thong sudah keluar dari kamarnya, dia berpura-pura tidak mendengar suara tantangan itu.
Cuma pintu yang menggabruk keras, tertutup dan terkunci, hingga gelaplah kamar itu.
Pintu memang pintu batu yang tebal dan berat.
Cie Hoa mendengar tindakan kaki Sin Thong pergi makin jauh, ia juga mendengar suara orang yang bergusar.
"Siapa itu yang bernyali demikian besar memastikan aku yang menyambut padanya?"
Tidak heran kalau Sin Thong bergusar dan mengatakan demikian.
Dialah seorang jago!
Cie Hoa berduka dan letih, ia tidak mau mendengari lebih lama lagi, maka ia menyenderkan diri pada tembok kamar, yang menjadi penjaranya itu, akan selang sesaat, ia tidur pulas...
Di luar sana, muridnya Sin Thong menyahuti gurunya, dengan hatinya terpengaruh rasa takut.
Katanya.
"Sebenarnya aku tidak berani mengganggu kau, suhu, tetapi hwesio tua itu luar biasa. Dia rupanya bukan sembarang hwesio, karena mana aku tidak dapat mencegah dia..."
Belum berhenti suaranya murid ini, mereka mendengar suara tongkat besi membentur tanah berulang-ulang, suaranya nyaring dan berisik.
Di kupingnya Sin Thong, orang mestinya terpisah jauh dari ia sekira satu lie, atau sejenak kemudian, suara itu sudah datang dekat sekali, atau segera orang telah tiba di depan pintu!
Bercekat hatinya jago tua ini.
"Tidak salah!"
Katanya.
"Dia benar bukan orang sembarang, pasti kau tidak dapat menghalang-halangi dia!"
Tiba di luar pintu, dimana ada cahaya rembulan terang, disana nampaklah si tetamu pendeta tua yang katanya luar biasa itu.
Dia bertubuh besar dan kekar, alis dan kumisnya telah putih semua.
Dia sudah tua tetapi wajahnya bercahaya segar, warnanya merah.
Itulah tanda dari tenaga dalam yang mahir, bahkan dari tenaga dalam yang lurus, yang dasarnya kuat.
Mau atau tidak, Sin Thong tercengang.
"Di dalam kalangan lurus belum pernah aku mendengar orang semacam dia ini,"
Pikirnya.
"Mungkinkah dia seorang tiangloo dari ruang Tatmo Ih dari Siauwlim Sie?"
Sin Thong menduga demikian karena ia tidak kenal pendeta ini.
Apa yang ia dengar ialah pendeta-pendeta tertua dari Siauwlim Sie biasa mengeram diri di dalam ruang Tatmo Ih dan tidak pernah muncul hingga puluhan tahun.
Di lain pihak, anehnya, pendeta ini tidak beroman sebagai seorang pendeta suci.
Pada mukanya itu terlihat dagingdaging yang berenjul, dan pada alisnya seperti bersembunyi apa yang dinamakan "hawa pembunuhan".
Pula dandanannya luar biasa juga.
Dia menggendol sebuah kantung yang besar sekali dan tongkatnya, tongkat sianthung, mirip sebesar mangkok.
Beng Sin Thong mengawasi pendeta itu sekian lama, baru ia membuka mulutnya.
"Toasuhu,"
Katanya.
"tengah malam begini kau datang berkunjung, entah ada pengajaran apakah dari kau?"
Belum lagi menjawab, pendeta itu sudah tertawa berkakak.
"Tanpa urusan tidak nanti aku datang berkunjung!"
Katanya.
"Pasti sekali ada maksudku maka aku datang kemari! Beng Laojie, sudah lama aku mendengar namamu yang besar, marilah kita bersahabat!"
Pendeta ini lantas menyebut "Beng Laojie", artinya si "orang tua she Beng".
Itulah sebutan dari suatu sahabat kekal.
Dia lantas meletaki kantungnya di lantai, dia bertindak maju-lebar tindakannya, sedang sebelah tangannya diulur, untuk berjabat tangan sama tuan rumah.
Tangannya itu besar dan lebar!
Beng Sin Thong seorang Kangouw kawakan, tahulah ia maksud orang.
Ia hendak diuji!
Tentu sekali, ia menjadi mendongkol.
Di dalam hatinya ia berkata.
"Apakah karena kau menyangka kau telah mempelajari ilmu tenaga dalam yang lurus maka aku jeri terhadapmu?"
Tapi ia pun tidak berani memandang enteng, maka ketika kedua tangan saling memegang, ia mengerahkan tenaga dalam dari Siulo Imsat Kang tingkat ke tujuh.
Ia merasakan satu dorongan tenaga yang besar, hingga ia mundur tiga tindak!
Pendeta itu mundur tiga tindak juga!
Hanya tubuhnya terhuyung, dan tubuhnya itu dia rasakan dingin mendadak!
Maka itulah tanda bahwa dia sudah kalah.
Beng Sin Thong hendak membuka mulut, atau ia didulukan pendeta itu, yang tertawa lebar seraya terus berkata.
"Benarbenar nama Beng Laokoay bukan nama kosong belaka, ada harganya aku menghadiahkan kau bingkisan yang berarti!"
Beng Sin Thong heran, ia mele-ngak. Kali ini orang pun menyebut ia Beng Laokoay atau si siluman tua she Beng!"
Katanya di dalam hati.
"Kiranya orang datang untuk menghadiahkan sesuatu padaku... Di pihak lain, ia kagum pendeta itu sanggup bertahan dari tenaga Siulo Imsat Kang, dia tidak terluka.
"Di kolong langit ini tidak seberapa gelintir orang yang dapat bertahan dari Siulo Imsat Kang,"
Ia berkata.
"kau dapat melayani aku, ada harganya aku keluar sendiri menyambut padamu! Sekarang aku minta taysu sudi menyebutkan gelaran sucimu yang besar!"
Pendeta itu kembali tertawa lebar.
"Kau hendak mengetahui gelaran suciku, baiklah!"
Sahutnya.
"Aku Biat Hoa Hwesio!"
Mendengar nama itu, Beng Sin Thong melengak.
"Jadinya kaulah Biat Hoa Hwesio?"
Katanya.
"Pantas aku tidak mengenali kau! Sebenarnya kita sudah lama mendengar nama masing-masing!"
Biat Hoa itu, semenjak matinya gurunya, telah menyembunyikan diri, maka itu meskipun Beng Sin Thong pernah mendengar namanya, mereka belum pernah bertemu satu dengan lain.
"Kau benar!"
Biat Hoa berkata.
"Memang sudah lama kita saling mendengar nama kita! Dan aku, sudah sekian lama aku memikir untuk mencari padamu, baru sekarang aku datang kemari. Lebih dulu aku hendak mengantarkan suatu hadiah yang berarti kepadamu, sebagai tanda dari pertemuan kita ini. Aku percaya, begitu melihat hadiah itu, kau bakal menjadi sangat girang!"
Adalah luar biasa, orang yang mengantar hadiah, menyebutnya sendiri hadiahnya itu berarti.
Sekalipun seorang Kangouw berandalan, tidak nanti dia berani berbuat demikian.
Maka anehlah pendeta ini.
Di dalam hatinya, Beng Sin Thong juga berkata.
"Baiklah aku lihat dulu hadiahnya hadiah apa! Mustahilkah itu jauh lebih berharga daripada kitab Siauwyang Sinkang dari Kie Siauw Hong?"
Biat Hoa Hwesio lantas bekerja, la menarik kantung besarnya yang tadi ia letaki di atas batu, ia balik itu untuk mengeluarkan isinya.
Maka sekejab itu juga, disitu muncul satu orang, ialah seorang wanita muda.
Lantas ia bekerja terlebih jauh, ialah ia menotok si nona, hingga nona itu lantas berlompat bangun bagaikan ikan gabus meletik!
Hanya begitu bangun berdiri, dia memandang si pendeta sambil mencaci.
"Keledai gundul, kita tidak bermusuh, mengapa kau menghina aku begini rupa?"
Kata-kata itu disusul dengan dihunusnya pedang, untuk dipakai menyerang si pendeta. Pendeta itu tertawa.
"Kau lihatlah, siapa itu di depan kau?"
Katanya.
Nona itu mengangkat kepalanya, maka ia melihat Beng Sin Thong.
la kaget hingga ia berseru.
Roman Beng Sin Thong, ia melihat, seperti roman hantu.
Justeru itu, mendadak, dengan kesehatannya luar biasa, Biat Hoa menotok, hingga ia kembali menjadi tidak berdaya!
Beng Sin Thong benar-benar girang alang tak kepalang!
Nona itu bukan lain daripada Lie Kim Bwee!
Dia sudah mengirim beberapa muridnya mencari ke delapan penjuru, guna menawan si nona, semua tidak ada hasilnya, siapa sangka, Biat Hoa sekarang menghadiahkan dia nona itu!
Lantas dia tertawa.
"Benar-benar hadiah yang aku paling menyenanginya!"
Katanya, mengaku terus terang.
"Bagaimana kau ketahui bahwa aku menghendaki dia?"
"Ketika aku berada di dekat-dekat gunung Binsan, aku bertemu salah seorang muridmu,"
Biat Hoa menjawab.
"Muridmu itu menanya aku kalau-kalau aku pernah bertemu seorang nona mirip dia ini. Lantas aku bisa menduga, nona yang kau cari itu mesti puterinya Phang Lim."
Mendengar itu, Sin Thong menduga tentulah muridnya menyangka Biat Hoa pendeta biasa.
Ia tidak bisa menebak, muridnya itu murid yang mana.
Pasti sekali perbuatan murid itu sembrono sekali.
Syukur dia bertemu Biat Hoa, coba dia bertemu lain hwesio, yang ada dari partai lurus, dia bisa celaka, atau sedikitnya rahasia bocor bahwa ia mengarah Lie Kim Bwee.
Tapi ia telah mendapatkan nona itu, tak perlu ia menegaskan lagi Biat Hoa, muridnya itu bernama apa.
"Nona kecil ini benar-benar bernyali besar,"
Biat Hoa berkata, melanjuti keterangannya.
"Semenjak dua tahun yang lalu, dia sudah merantau seorang diri, karenanya telah aku ketahui tentangnya. Dulu hari itu dia belum mempunyai musuh, tidak apa dia merantau sendiri saja. Aku tidak menduga sekali, dia justeru menanam permusuhan dengan pihakmu, seorang musuh yang liehay sekali. Juga aku tidak menyangka yang dia memikir turut hadir dalam rapat di Binsan itu."
Sebenarnya Lie Kim Bwee datang ke Binsan guna mencari Kim Sie Ie, hanya tidak beruntung untuknya, di gunung itu ia bertemu Biat Hoa dan bahkan kena tertawan si pendeta.
Beng Sin Thong lantas memanggil muridnya yang nomor dua.
"Gouw Bong,"
Perintahnya.
"kau bawa dan penjarakan dulu padanya!"
"Apakah dia pun mesti dikurung di dalam rumah batu?"
Sang murid tanya. Beng Sin Thong berpikir sebentar.
"Baiklah, kau kurung mereka berdua menjadi satu,"
Katanya.
"Kau mesti menjaga dengan hati-hati, jangan nanti dia lolos seperti baru ini."
"Suhu boleh legakan hati, kali ini meskipun ada sayapnya tidak nanti dia dapat terbang pergi!"
Berkata Gouw Bong.
Beng Sin Thong mengangguk, hatinya girang meluap-luap.
la merasa sangat beruntung.
Kie Siauw Hong telah datang dengan membawa kitab Siauwyang Sin kang.
Sekarang Biat Hoa membawakan ia Lie Kim Bwee.
Inilah seumpama sulaman yang ditambahkan bunga indah.
Hanya kemudian, ia berpikir.
"Kie Siauw Hong datang untuk minta aku mengajari ia ilmu silat, untuk itu dia berani menempuh bahaya mencuri kitabnya Co Kim Jie. Biat Hoa ialah seorang pendeta yang pandai ilmu silat, yang termasuk golongan kelas utama, mengapa dia datang untuk berbuat baik terhadap aku? Dia pun menempuh bahaya karena dengan tindakannya ini dia tidak menghiraukan bakal bermusuhan dengan Thiansan Pay..."
Biat Hoa dapat menerka hatinya tuan rumah. Tanpa menanti orang menanyakan keterangan, ia mendahului memberikannya.
"Aku datang hari ini buat tiga urusan, aku ingin dapat memasang omong sama Beng Kiesu selama satu malaman,"
Demikian katanya.
"Bagus, Bagus!"
Menyambut Sin Thong girang.
"Mari, silahkan masuk ke dalam!"
Tuan rumah ini mengundang tetamunya ke kamar samedhinya. Lebih dulu ia memerintahkan seorang muridnya menyeduh teh wangi dari Bu-ie San.
"Aku mohon tanya tentang tiga urusan itu,"
Ia berkata setelah keduanya berduduk.
"Yang pertama itu aku datang untuk mengantarkan hadiah dan hadiahnya sudah dihaturkan,"
Berkata Biat Hoa, menyahuti.
"Kau pun telah menerimanya."
"Aku berterima kasih untuk hadiahmu yang berarti itu, taysu,"
Berkata Beng Sin Thong.
"Aku tidak tahu bagaimana nanti membalasnya."
"Aku tahu musuhmu banyak,"
Berkata pula Biat Hoa tanpa menyentuh hal pembalasan budi yang disebutkan tuan rumahnya itu.
"Buat bicara terus terang, di antara musuh musuhmu itu ada dua orang yang juga bermusuh denganku. Yang satu Co Kim Jie, yang satu lagi Kim Sie le."
Beng Sin Thong lantas ingat keterangannya Kie Siauw Hong bahwa Biat Hoa sudah mengacau di gunung Binsan, maka ia berpikir.
"Mungkinkah dia datang untuk mengajak aku untuk berserikat dengannya?"
Lantas ia mendengar lanjutan perkataannya Biat Hoa itu.
"Kita mempunyai musuh yang sama, sudah seharusnya kita saling membantu. Maka itu, tentang pembalasan budi, baiklah kita jangan buat sebutan."
"Aku mengenal baik Co Kim Jie serta Ek Tiong Bouw dari Binsan Pay itu,"
Berkata Beng Sin Thong.
"Sekarang mereka itu dibantu Tokciu Hongkay Kim Sie le. Di antara mereka bertiga, cuma Kim Sie Ie yang dapat bertempur sama aku, dua yang lainnya tidak berarti apa-apa. Maka jikalau aku dapat bekerja sama dengan kau, taysu, pasti mereka bertiga akan dapat disingkirkan secara mudah. Hanyalah di pihakku, aku masih mempunyai satu kesulitan. Untuk sementara ini aku belum mau terlalu muncul di muka umum. Aku mau minta taysu suka menanti sampai lima tahun. Ialah, sesudah aku selesai meyakinkan Siulo Imsat Kang, nanti aku membantu taysu membalas sakit hatimu. Bagaimana pendapat taysu?"
Beng Sin Thong jeri terhadap Tong Siauw Lan suami isteri dari Thiansan Pay, maka itu ingin ia menyempurnakan dulu pelajarannya yang istimewa itu.
la telah menyampaikan tingkat yang ke tujuh, ia ingin manjat ke tingkat ke sembilan, tingkat terakhir, untuk ia menjadi jago satu-satunya.
Ia pun jeri terhadap PekToat Siangjin dari Siauwlim Sie.
Dengan musuhnya demikian banyak, ia jadi tidak mau sembarangan memperlihatkan diri di hadapan khalayak ramai, supaya ia tidak mengundang penyerangan musuh-musuhnya itu.
Tanpa menamatkan Siulo Imsat Kang, ia masih kurang tetap hatinya.
Biat Hoa Hwesio tertawa.
"Memang,"
Katanya.
"untuk satu kuncu, membalas sakit hati sampai sepuluh tahun masih belum terlambat, hanya aku menguatirkan, Siulo Imsat Kang kau nanti tidak dapat dipelajari sampai kepada ke tingkat ke sembilan itu..."
Hati Sin Thong bercekat. Itulah justeru yang ia buat pikiran siang dan malam, yang belum ia dapat pemecahannya. Ia heran mengapa Biat Hoa mendapat tahu "penyakitnya"
Itu. Bukankah itu rahasia dari Siulo Imsat Kang? "Taysu,"
Katanya, sengaja.
"apakah taysu menyangka Siulo Imsat Kang aku ini masih ada kekurangannya? "
"Bukan,"
Menyahut pendeta itu.
"Siulo Imsat Kang kau ini sudah sampai di tingkat kemahirannya. Aku hanya mau menduga bahwa kau, pada belum lama berselang, mestinya sudah bertempur sama salah seorang liehay dan karenanya, kau mendapat luka di dalam. Jikalau kau bukannya seorang tangguh, mungkin kau sudah tidak dapat bertahan lagi..."
Beng Sin Thong terkejut di dalam hatinya. Ia pikir.
"Pendeta ini masih kalah dari aku dalam hal tenaga dalam tetapi matanya sangat tajam."
Ia tidak mau mendusta, maka ia berkata.
"Kau benar. Aku telah terlukakan Kim Sie Ie, yang telah menggunai jarum beracunnya terhadap aku. Masih perlu lagi dua hari barulah aku sembuh seluruhnya."
Biat Hoa pun terkejut mendengar orang telah terlukakan Kim Sie Ie, hingga ia berkata di dalam hatinya.
"Sekalipun Beng Laokoay telah terlukakan Kim Sie Ie, maka beruntunglah aku di atas gunung Binsan itu aku tidak sampai bertempur dengannya..."
Biat Hoa tidak ketahui, bahwa Kim Sie Ie juga terluka, bahkan terlebih hebat, daripada lukanya Beng Sin Thong, hanya syukur untuk Tokciu Hongkay, dia bertemu Le Seng Lam dan telah diobati nona itu, hingga dia taklah sampai mesti bercacat.
"Taysu,"
Beng Sin Thong bertanya.
"barusan taysu membilang kau kuatir aku tidak akan mencapai tingkat ke sembilan, dapatkah kau menjelaskan alasan atau sebabnya kata-katamu itu?"
"Aku belum pernah mempelajari Siulo Imsat Kang akan tetapi semasa hidupnya guruku, guruku itu pernah membicarakan tentang ilmu itu,"
Menyahut Biat Hoa.
"Guruku memberitahukan, meski Siulo Imsat Kang ada sangat liehay, tetapi setelah orang mencapai tingkat ke delapan, dia sukar lolos dari kesesatan. Menurut guruku, semenjak dahulu kala hingga sekarang ini, cuma pada tiga ratus tahun yang lampau pernah ada seorang yang berhasil meyakinkan itu hingga tamat ialah Kiauw Pak Beng. Dia telah menyampaikan tingkat ke sembilan tetapi sekarang ini telah lenyap rahasia peryakinannya itu. Guruku juga mempunyai keinginan untuk mempelajari Siulo Imsat Kang, dia sampai memikir pergi ke Cenghay, guna belajar pada salah seorang Lhama Putih, akan tetapi akhirnya dia tidak mewujudkan cita-citanya itu. Beng Kiesu, sekarang ini kau telah mencapai tingkat ke berapa?"
Sebelum menjawab, Beng Sin Thong menghela napas.
"Sayang aku terlahir terlambat,"
Katanya.
"hingga aku menjadi tidak mempunyai ketika untuk bertemu sama gurumu itu, taysu, jikalau tidak, pasti aku telah berkunjung kepadanya untuk memohon pengajaran. Sebenar-benarnya aku sekarang baru menyampaikan tingkat ke tujuh."
Biat Hoa tertawa.
"Demikian adanya, aku tiba pada waktunya yang tepat!"
Ia berkata gembira.
"Baiklah aku omong terus terang! Di hari tuanya itu, guruku pernah membilangi aku bahwa meskipun ia tidak tahu rahasianya Siulo Imsat Kang, kalau ia mempelajarinya, dengan mengandal pada tenaga dalamnya, ia tidak bakal menjadi tersesat."
Ia berhenti sejenak, ketika ia melanjuti, ia tidak bersenyum lagi, romannya menjadi sangat bersungguh-sungguh.
"Sayang belum lama habis guruku berkata begitu, di dalam partai kami telah terbit perubahan yang besar sekali, lantas guruku itu terbinasa di tangannya Lu Su Nio si budak perempuan bangsat itu! Tentang ini tentulah kau sudah mendengarnya hingga tidak usah aku menjelaskannya lebih jauh."
Seharusnya, kapan Beng Sin Thong mendengar hal kebinasaannya gurunya Biat Hoa itu, ia mesti mengutarakan kedukaannya, akan tetapi sebaliknya, ia sudah lantas berjingkrak bangun dan sambil menepuk batok kepalanya sendiri ia berkata dengan nyaring.
"Kau lihat, bukankah aku tolol sekali? Gurumu ialah murid kepala dari Tokpie Sinnie, apa yang dia pelajari ialah ilmu tenaga dalam sejati, yang tak ada di bawahan tenaga dalam dari suami isteri Keluarga Tong dari partai Thiansan Pay, maka kenapa aku mesti melepaskan yang dekat untuk mencari yang jauh? Seharusnya aku mencari kau, taysu!"
Jago tua ini mengatakan demikian tanpa ia berpikir panjang lagi.
Sebelumnya Lu Su Nio meninggal dunia, mana Biat Hoa berani muncul dalam dunia Kangouw?
Dengan Lu Su Nio masih hidup, mana Biat Hoa berani berserikat dengannya?
Tapi Biat Hoa tertawa.
"Dan sekarang akulah yang mencari kau!"
Katanya.
"Tanpa kau mencari, aku telah datang sendiri! Jikalau aku mengajarkan kau ilmu dalamku yang sejati, lalu kau mengajari aku Siulo Imsat Kang, bukankah itu berarti kita sama-sama memperoleh kebaikan? Beng Laokoay, bagaimana pikiranmu, kau setujui ini cara jual beli atau tidak? Inilah maksudku yang kedua kenapa aku mencari kau."
Beng Sin Thong girang melewatkan batas, dengan keras ia jabat tangannya Biat Hoa.
Ia tertawa puas.
Maka tak usah menanti dia berkata-kata, Biat Hoa tahu orang menyetujui sarannya itu.
Hanya, dalam kegirangannya itu, tiba-tiba Beng Sin Thong ingat.
"Dia suka mengajari ilmu tenaga dalamnya yang sejati kepadaku, memang hal itu ada kebaikannya untuk kedua belah pihak, cuma dengan begitu maka kepandaianku yang istimewa aku mesti wariskan kepada lain orang! Pula ia mempunyai kepandaian tenaga dalam yang sejati, maka ada kemungkinan dia bakal berhasil terlebih lekas dari aku, dia akan menang dari aku, dengan begitu, meskipun aku mencapai Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan, aku tidak dapat menjagoi sendiri di kolong langit ini..."
Tapi ia cepat berpikir lainnya. Pikirnya pula.
"Akan tetapi ini ketika yang baik tidak dapat aku kasih lewat! Mengapa aku tidak mau mengajari dia dengan mengubah sedikit dari ilmuku itu? Mana dia mendapat tahu? Dengan begitu, kepandaiannya tidak nanti dapat melebihi kepandaianku..."
Sebagai seorang cerdik dan berpengalaman, meski ia berpikir demikian, Beng Sin Thong tidak mengasih kentara sesuatu pada paras mukanya. Ia dapat bersenyum wajar.
"Beng Laoko, sekarang urusan yang nomor tiga,"
Lantas ia mendengar pula suaranya si pendeta.
"Aku tanggung, setelah kau mendengar, kau bakal menjadi terlebih girang lagi!"
Hebat Biat Hoa.
Ia memanggil Sin Thong dengan pelbagai sebutan.
Mulanya ia menyebut Beng "Kiesu".
Itulah tanda menghormat.
Lalu Beng "Laokoay", artinya, si "Siluman Tua".
Tentu sekali, inilah ejekan.
Tapi sekarang ia memanggil Beng "Laoko", itulah berarti "kakak".
Panggilan yang terakhir ini menandakan mereka lebih akrab satu dengan lain.
Beng Sin Thong sendiri melengak.
"Apakah yang lebih menggirangkan pula?"
Ia menerkanerka.
Seumurnya, Sin Thong mengutamakan Siulo Imsat Kang, ia meyakinkan itu, ia memikirkan tak hentinya.
Ia memikirkan bagaimana untuk mencapai tingkat terakhir, yang ada ancaman bahayanya ia nanti tersesat.
Sekarang ia mendengar saran Biat Hoa, untuk saling mengajari, atau saling menukar kepandaian.
Inilah hal yang paling menggirangkan ia di sampingnya ia mendapatkan Lie Kim Bwee.
Sekarang Biat Hoa menyebut hal yang lebih menggirangkan lagi!
Apakah itu?
Biat Hoa membiarkan orang berdiam.
"Beng Laoko,"
Katanya.
"lebih dulu hendak aku memberi selamat padamu!"
"Pemberian selamat untuk apakah itu?"
Tanya Sin Thong. Ia heran tetapi ia mencoba berlaku sabar. Kali ini Biat Hoa tidak mau lantas cepat-cepat membuka mulutnya, sebaliknya, ia berlaku ayal-ayalan.
"Beberapa hari yang lalu aku telah mengacau di gunung Binsan, bukankah kau telah mendengar itu?"
Dia tanya. Beng Sin Thong telah mendengar dari Kie Siauw Hong halnya pendeta ini sudah diusir pihak Binsan Pay serta Kim Sie Ie, maka ditanya demikian, dengan orang roman heran, ia pikir.
"Itulah kejadian yang memalukan untuknya, kenapa dia agaknya gembira sekali?"
La mengangguk, ia menjawab.
"Benar, ada orang yang mengatakannya itu kepadaku, katanya kau bersama Co Kim Jie memperebuti kedudukan Ciangbunjin. Sebenarnya jikalau kita berdua bekerja sama, sesudah kita berlatih beberapa tahun, siapakah yang dapat melawan kau atau aku? Apakah artinya kedudukan seorang ciangbunjin?"
Dengan kata-katanya ini, Sin Thong hendak menghibur si pendeta. Tapi Biat Hoa berkata padanya.
"Aku tidak pikirkan kedudukan ciangbunjin itu! Benar aku telah menampak kekalahan di gunung Binsan tetapi aku girang sekali! Coba bade, aku dirobohkan di tangan siapa?"
Sin Thong si licik berpura-pura heran.
"Siapakah yang demikian kosen yang dapat merobohkan kau?"
Ia tanya.
"Bukankah Pek Toat Siangjin dari Siauwlim Sie telah datang ke Binsan? Ah, tak mungkin! Tidak, aku tidak dapat menerka!"
Sin Thong merasa tidak enak hati untuk menyebut namanya Kim Sie Ie. Benar Kim Sie Ie telah membuat nama akan tetapi dialah orang tingkat lebih muda bila dibandingkan dengan Biat Hoa.
"Jikalau aku dikalahkan Pek Toat Siangjin dari Siauwlim Sie, itulah tidak aneh,"
Berkata Biat Hoa.
"Mengapa kau tidak dapat menerka? Orang yang merobohkan aku itu ialah muridnya Lu Su Nio!"
Benar-benar Beng Sin Thong menjadi heran.
"Apakah kau maksudkan Kok Cie Hoa?"
Ia menegaskan.
"Dia... dia... benar-benar demikian liehay?"
Biat Hoa tertawa terbahak-bahak.
"Inilah sebabnya mengapa aku hendak memberi selamat kepadamu!"
Ia berkata, gembira. Beng Sin Thong heran bukan kepalang. Dia bagaikan seorang yang tercemplung ke dalam kabut.
"Saudaraku, apakah artinya kata-katamu ini?"
Akhirnya dia tanya.
"Eh, apakah kau masih belum mengerti?"
Si pendeta balik menanya.
"Kau tahu, muridnya Lu Su Nio itu, ialah murid penutup-dialah anak perempuanmu sendiri! Dia masih demikian muda tetapi dia telah mendapatkan kepandaian yang tinggi sekali! Tidakkah itu ada harganya untuk kau menjadi girang luar biasa?"
Demikian rupa cara bicaranya Biat Hoa Hwesio, dia membuatnya Beng Sin Thong seperti mendapat gempuran yang hebat sekali, tidak perduli orang she Beng ini seorang yang banyak pengalamannya.
Dengan tubuh bergemetar, dia berjingkrak bangun.
"Apakah kau omong benar-benar?"
Dia menegaskan-Dia bukan heran karena kegagahannya Kok Cie Hoa hanya karena nona itu, katanya, puterinya sendiri. Biat Hoa tertawa bergelak.
"Beng Laoko!"
Katanya.
"Lihat, bagaimana kau girangnya! Mustahil aku mendustakan padamu? Mustahil aku tengah bergurau? Aku juga bukannya hendak mengambil hatimu! Benar-benar muridnya Lu Su Nio itu puterimu sendiri!"
Beng Sin Thong berdiam, ia menenangkan hatinya.
"Bagaimana kau ketahui itu?"
Ia masih menanya.
"Ketika aku tiba di Binsan, disana justeru Co Kim Jie lagi memeriksa perkara puterimu itu. Itulah sebab dia ada sangkut pautnya dengan kau."
"Bagaimanakah duduknya itu?"
"Sebab dialah puterimu, Co Kim Jie telah mengusir dia keluar dari Binsan Pay!"
"Oh, dia diusir Co Kim Jie..."
Kata Sin Thong di dalam hati. Ia masih bersangsi meskipun yang bicara itu Biat Hoa.
"Turut apa yang aku dengar,"
Ia bilang.
"murid-penutup dari Lu Su Nio itu anaknya Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng. Apakah itu kabar dusta belaka?"
"Tidak! Kok Ceng Peng cuma menjadi orang yang memungut anakmu itu. Mari aku tanya kau. Ketika dulu hari itu kau membinasakan Ciu Kie, ketua dari Kaypang, bukankah kau telah kena orang kepung?"
"Benar. Itulah benar."
"Setelah itu kamu suami isteri, karena kamu sangat dikepung-kepung, kamu menjadi tercerai berai, bukankah?"
Beng Sin Thong mengertak gigi. Ia gusar sekali kapan ia ingat peristiwa dulu hari itu.
"Tatkala itu isteriku terluka parah, aku tidak berdaya menolongi dia,"
Ia berkata.
"Sampai sekarang hal itu masih membuatnya aku sakit hati. Isteriku itu, selainnya terluka, juga berada bersama anakku yang baru berumur satu tahun. Aku telah menyangka mereka ibu dan anak sudah tidak ada di dalam dunia itu..."
"Dugaanmu itu keliru. Ketika itu Kok Ceng Peng bersama muridnya, yang bernama Liu Heng Som, turut dalam rombongan yang mengepung kamu."
"Aku ketahui itu guru dan murid. Tapi mereka itu tidak dapat menyandak aku, maka aku tidak sampai bertempur sama Kok Ceng Peng."
"Itu pun benar. Baiklah kau ketahui, segala urusan ini diterangkan oleh Liu Heng Som kepada Co Kim Jie, diterangkannya di atas gunung Binsan."
Keterangan ada demikian jelas, tidak dapat Beng Sin Thong menyangsikannya pula.
Sekian lama ia berdiam, kumisnya bergerak-gerak.
Biat Hoa mengawasi, ia heran, mendapatkan Sin Thong girang tetapi pada itu tercampur rasa takut atau bingung.
Kenapakah?
Pendeta ini belum ketahui yang Kok Cie Hoa telah terjatuh di tangannya jago Siulo Imsat Kang itu.
Dan dalam berdiamnya itu, Beng Sin Thong justeru lagi membayangi tatapan matanya si nona terhadapnya, tatapan mata yang luar biasa.
"Jadi dialah anakku sendiri..."
Dia berpikir.
"Dan dia, lebih suka dia mati daripada berdiam di dampingku!... Ah, anak, kenapa kau sangat membenci aku, aku ayahmu sendiri?"
Memikir sampai disitu, tanpa merasa Beng Sin Thong mengucurkan air mata.
Inilah air mata yang ia keluarkan untuk yang kedua kali selama hidupnya.
Yang pertama kali ialah pada dua puluh tahun dulu ketika ia terpisah dari isteri dan anaknya.
"Eh, Beng Laoko, kau kenapakah?"
Tanya Biat Hoa heran.
"Aku girang sampai mengeluarkan air mata,"
Menyahut Sin Thong. Ia tidak mau membeber rahasia hatinya. Tidak dapat ia menuturkan sikap apa ia telah ambil terhadap Cie Hoa. Ia paksakan diri untuk tertawa.
"Terima kasih untuk kabarmu ini."
Ia lantas ingat apa-apa, maka ia menanya.
"Apakah Co Kim Jie tidak mempersulit lainnya terhadap anak itu?"
"Mulanya Co Kim Jie hendak memaksa minta kitab ilmu pedangnya,"
Biat Hoa menjawab.
"kemudian dia mengubah itu sebab dia ingat anakmu sudah berjasa terhadap Binsan Pay. Meski demikian, dengan diusir saja, anakmu telah cukup menderita."
Sin Thong berdiam, hatinya bekerja pula. Ia heran. Pikirnya.
"Tidak salah, Biat Hoa ini telah dikalahkan Cie Hoa, maka itu, Cie Hoa menjadi berjasa terhadap Binsan Pay. Hanya, bagaimana Cie Hoa dapat mengalahkan Biat Hoa?"
Biat Hoa tidak tahu apa yang orang pikir. Ia tertawa dan berkata.
"Beng Laoko, aku memberi selamat padamu yang kau mempunyai puteri yang gagah perkasa! Sekarang tibalah saatnya aku hendak memohon sesuatu daripadamu!"
"Apakah itu?"
Tanya Sin Thong, yang hatinya masih bekerja.
"Inilah untuk kau, untuk aku juga! Semoga kamu, ayah dan anak, dapat lekas berkumpul! Lao Beng, aku mau minta supaya kau lantas mencari puterimu itu!"
Berkata si pendeta akhirnya.
"Itulah pasti!"
Menjawab Sin Thong, yang agak tergugu.
"Tapi aku masih kurang jelas. Apakah maksudmu dengan kata-katamu, buat aku dan juga buat kau itu?"
Biat Hoa mengawasi, ia memberikan penyahutannya.
"Lu Su Nio mewariskan tiga bocah kitab Siauwyang Sinkang. Isi, atau pelajaran yang didapatkan di dalam kitab itu, diperantikan utama untuk menghadapi kau. Di samping itu, Lu Su Nio telah mempunyai ilmu silat pedangnya Hian Lie Kiamhoat. Ilmu pedang itu diperuntukkan melawan guruku almarhum. Kasihan guruku, yang terbinasa secara hebat itu. Dengan begitu, dengan sendirinya, ilmu pedang itu pun berupa ancaman bahaya untukku. Dasar manusia tidak dapat melebihkan Thian, maka telah terjadi sesuatu yang luar biasa! Siapa suruh ahli warisnya Lu Su Nio itu ialah puterimu sendiri!"
Baru sekarang Sin Thong dapat menebak maksudnya si pendeta. Katanya.
"Jadi kau mengharap aku mencari anakku supaya aku bisa mendapatkan kitab Siauwyang Sinkang itu untuk aku sendiri sedang kitab ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat itu untukmu?"
"Puterimu itu telah diusir Binsan Pay,"
Menjawab Biat Hoa.
"maka itu kalau kau berhasil mencari dia dan lalu bicara dalam hubungan ayah dengan anak, dia tentu sekali akan meluluskan permintaanmu meminta kitab ilmu pedangnya itu. Baiklah aku jelaskan, kitab itu aku cuma mau pinjam untuk aku menyalinnya, kitab aslinya akan aku memulangkan kembali."
"Bagus sekali pikiranmu,"
Kata Sin Thong dalam hatinya.
"Kau datang padaku untuk membaiki aku, untuk minta diajari Siulo Imsat Kang. Tapi inilah maksudmu yang kedua. Nyatanya, maksudmu yang utama ialah untuk meminjam tanganku, guna kau mendapatkan kitab ilmu pedang anakku itu!"
Terkaannya Sin Thong ini tepat.
Gurunya Biat Hoa, yaitu Liauw In Hwesio, telah lama sekali mengikuti gurunya, Tokpie Sinnie.
Maka itu, Liauw In pandai segala macam kepandaian gurunya kecuali ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat itu.
Inilah disebabkan, ilmu pedang itu diciptakan Tokpie Sinnie sesudah usianya lanjut dan diwariskan hanya kepada Lu Su Nio seorang.
Biat Hoa ingin menjadi ciangbunjin, sudah sepantasnya saja ia harus memiliki kepandaian ilmu pedang itu, hingga ilmu pedang itu lebih penting daripada Siulo Im Sat Kang.
Ia hanya tidak mendapat tahu, meskipun dipaksa Sin Thong, Cie Hoa tidak suka menyerahkan kitab Siauwyang Sinkang, apapula kitab pedang itu.
Tentu sekali, biar bagaimana, Sin Thong menjadi merasa sulit.
Pikirnya.
"Cie Hoa sudi mengakui aku sebagai ayahnya atau tidak, masih menjadi soal sukar, sekarang kau ingin aku menggunai pengaruh sebagai ayah terhadap anaknya untuk menipu kitab ilmu pedangnya itu! Tidakkah kau memikir yang tidak-tidak?"
Biat Hoa mengharap terlalu banyak.
Meski umpama kata Sin Thong berhasil mendapatkan kitab ilmu pedang itu dari tangan anaknya, belum tentu ia suka menyerahkannya kepada si hwesio.
Bukankah Sin Thong telah mendapatkan kitab Siauwyang Sinkang itu?
Mana sudi ia bekerja untuk Biat Hoa, guna membikin Biat Hoa menjadi jauh terlebih gagah daripadanya?
Sin Thong tidak dapat berdiam lama-lama.
Ia mesti mengambil putusan, untuk memberi jawaban kepada Biat Hoa.
Tapi kepu-tusannya ialah ia pikir lebih baik ia terus menutup rahasia yang Cie Hoa itu telah dapat diketemukan olehnya.
Bagaimana sekarang?
Sin Thong pikir lebih jauh.
Ia membutuhkan ilmu dalam sejati dari Biat Hoa.
Biar bagaimana, ia harus membuat senang hatinya pendeta itu.
"Baik,"
Katanya kemudian.
"Mulai sekarang ini kita berdua harus menjadi seperti sebuah tubuh, maka itu, saudara, kau harus melegakan hatimu. Jikalau ada sesuatu padaku, tidak nanti aku melupakan kau. Baiklah, besok nanti kita pasang omong lebih jauh."
Biat Hoa masih ingin bicara pula tetapi Sin Thong, dengan kecerdikannya, menyilahkan dia beristirahat, hingga, biarnya dia tidak puas, dia tidak bisa memaksa lagi.
Dia cuma mengharap orang tidak nanti menyangkal janjinya.
Dia pikir, sang waktu toh masih panjang...
Kok Cie Hoa di dalam rumah batu lagi tidur layap-layap tatkala mendadak ia merasakan di sampingnya ada suara napas orang.
Ia menjadi kaget.
Dengan lantas ia bergerak bangun seraya dengan sebelah tangannya meraba-raba.
Ia kena pegang rambut yang halus, hingga ia mengetahui orang itu seorang wanita.
Tentu sekali ingin ia melihat orang itu.
Dari rambutnya, ia mencabut tusuk kondenya yang ditabur dengan sebutir mutiara ya-beng-cu, mutiara mana dapat mengeluarkan sinar terang yang lemah.
Maka terlihatlah olehnya seorang wanita yang terlebih muda daripadanya, yang mukanya potongan kwaci dan menarik hati, membuatnya orang berkasihan dan menyukainya.
Ia lantas mengangkat tubuh nona itu tetapi si nona berdiam saja, dari itu ia lantas mendapat tahu bahwa orang tertotok jalan darahnya.
Ia segera memeriksa.
"Hebat!"
Pikirnya, la mendapatkan, yang ditotok itu ialah dua jalan darah.
koatpun hiat di punggung, dan pekhwee hiat di embun-embunan.
Itulah dua jalan darah yang dinamakan "jalan darah kematian".
Cuma orang Binsan Pay yang liehay yang dapat menotok kedua jalan darah itu tanpa menyebabkan matinya si korban.
Siapa kena tertotok ilmu itu, meski tenaga dalamnya liehay, dia tidak nanti dapat membebaskan diri, dia mesti ditolong orang Binsan Pay juga.
Cie Hoa menjadi heran sekali.
Ia lantas menduga-duga.
"Orang Binsan Pay siapakah sudah menotok nona ini? Yang dapat melakukan ini mestinya cuma Co Kim Jie dan Ek Tiong Bouw... Kalau mereka, atau salah satunya, yang melakukannya, kenapa dia ini sekarang terjatuh di tangannya... Beng... Beng Sin Thong?..."
Meskipun ia bersangsi, Cie Hoa toh lantas menotok nona itu, untuk membebaskannya. Lie Kim Bwee, demikian nona itu, juga menjadi heran sekali, la sadar untuk segera mengingat segala apa.
"Kau pernah apa dengan si bangsat tua she Beng?"
Ia lantas menanya orang di depannya itu. Cie Hoa berduka sekali. Ia mesti mendengar sendiri orang mencaci ayahnya.
"Akulah yang senasib denganmu, yang terkurung di dalam ini rumah batu,"
Ia menyahut perlahan, terpaksa.
"Kau siapa?"
Begitu pertanyaan Kim Bwee.
"Kau siapa?"
Begitu juga pertanyaan Cie Hoa Mereka saling menanya, mereka pun saling menatap.
"Aku Lie Kim Bwee,"
Si nona Lie menjawab.
"Aku dari Thiansan Pay. Kau?"
Cie Hoa terkejut, hingga bukannya menjawab, dia lantas menanya.
"Kenapa kau kembali terjatuh ke dalam tangan dia"
"Eh, kenapa kau ketahui aku pernah terjatuh ke dalam tangannya?"
Kim Bwee balik menanya. Ia heran bukan main.
"Kau siapa?"
"Aku Kok Cie Hoa, dari Binsan Pay,"
Cie Hoa memperkenalkan diri.
"Ah, mungkin Ek Tiong Bouw pernah berbicara denganmu,"
Kata Kim Bwee.
"Aku telah ditolongi seorang nona she Le, dia mengatakan bahwa si bangsat tua she Beng bermusuh besar dengan kamu dari Binsan Pay. Tepat di itu malam Nona Le menolongi aku, Ek Tiong Bouw bersama Cia In Cin justru datang mengacau di Beng keechung. Sayang aku tidak dapat bertemu dengan mereka itu..."
Sebenarnya Cie Hoa mendapat tahu Lie Kim Bwee dikurung di rumah batu dari keterangannya Kim Sie Ie akan tetapi ia tidak mau lantas memberikan keterangannya kepada Nona Lie ini.
"Enci Lie,"
Kemudian Cie Hoa tanya.
"siapakah yang telah menawan kau?"
"Dialah seorang pendeta tua,"
Menyahut Kim Bwee.
"Dia bersenjatakan sebatang tongkat sianthung yang besar, romannya bengis sekali, tubuhnya gemuk."
Cie Hoa kaget.
"Kalau begitu dialah Biat Hoa Hwesio!"
Katanya, suaranya parau.
"Dia... dia... apakah dia datang ke mari?"
"Apakah kau ketahui hal ikhwalnya hwesio jahat itu?"
Kim Bwee tanya.
"Justeru dialah yang membawa aku kemari dan menyerahkannya pada si bangsat tua she Beng! Ah, enci, mengapa kau nampaknya takut sekali! Memang dia jahat tetapi apakah bukan si bangsat tua she Beng terlebih jahat pula? Kita sekarang telah terjatuh ke dalam tangan mereka itu. Yang satu hantu, yang lain hantu juga, bukankah mereka sama saja? Paling-paling kita bakal dibunuh mereka!..."
Nona ini tidak ketahui sebab dari ketakutannya Cie Hoa itu.
"Biat Hoa datang, Biat Hoa datang,"
Demikian hatinya Nona Kok bekerja.
"Ah, dia tentu membuka rahasiaku kepada... kepada ayahku yang aku tidak sudi mengakuinya..."
La masih berdiam ketika ia merasa Kim Bwee menyekal tangannya erat-erat, dan nona she Lie itu mendapatkan tangannya itu dingin seperti es.
"Ah, enci, kau kenapakah?"
Tanya Kim Bwee, kaget.
"Tidak apa-apa,"
Cie Hoa menjawab.
"Aku bukannya takut. Kau jangan kuatir..."
"Tanganmu dingin sekali,"
Kata si Nona Lie.
"Apakah pakaianmu terlalu tipis? Memang hawa di dalam gua ini sangat dingin! Maukah kau memakai baju lapis?"
Sembari berkata, Kim Bwee berniat meloloskan baju luarnya. Sebenarnya Cie Hoa sangat berduka, tetapi melihat kelakuan ini sahabat baru, mau atau tidak, ia tertawa.
"Kau baik sekali, terima kasih!"
Ia kata.
"Aku tidak dingin."
Dengan tertawa ini, benar-benar Nona Kok menjadi terbuka hatinya, hingga kaki dan tangannya pun lantas tidak dingin lagi sebagai barusan.
Mengetahui itu, hati Kim Bwee lega.
Mendapatkan hati orang demikian baik, Cie Hoa berpikir.
"Pantas Kim Sie Ie sangat menyukai dia, kiranya dia berhati sangat baik dan polos. Sungguh dia pantas disayangi..."
Karena ini ia lantas pikirkan, baik atau tidak ia memberitahukan halnya Kim Sie Ie. Sebelum ia dapat mengambil keputusan, Nona Lie sudah berkata pula.
"Pernah ibuku membilangi aku bahwa Lu Su Nio mempunyai seorang murid penutup ialah anaknya Liang Ouw Tayhiap Kok Ceng Peng,"
Kata nona itu.
"Bukankah nona itu ialah enci sendiri?"
"Tidak salah,"
Cie Hoa membenarkan.
"Aku pun pernah mendengar guruku menyebut-nyebut kau dan suhu sangat memuji kecerdasanmu."
Kim Bwee girang sekali.
"Sungguh aku tidak pernah menyangka bahwa kita dapat bertemu disini!"
Katanya.
"Di masa hidupnya, gurumu itu sangat baik dengan ibuku, maka itu, kau pun seperti kakakku saja. Apakah enci suka aku menjadi adikmu? Berapa usia enci sekarang?"
"Dua puluh satu tahun,"
Cie Hoa menjawab.
"Aku lebih muda dua tahun,"
Kata Kim Bwee.
"Maka pantas aku memanggil enci."
Cie Hoa girang untuk kepolosan nona di depannya ini. Ia tertawa, terus ia memeluk erat-erat.
"Adik kecil, aku juga sangat menyukai kau!"
Ia kata.
"Baiklah, mulai hari ini, kita menjadi saudara-saudara angkat!"
Benar-benar keduanya, dengan menggunai tanah seperti hio, lantas mengangkat saudara.
"Kapannya kau ditangkap si bangsat tua she Beng?"
Kemudian Lie Kim Bwee tanya.
"Juga ini hari,"
Menyahut Kok Cie Hoa.
"Mungkin bangsat tua she Beng itu hendak memaksa kau mengajari dia ilmu tenaga dalam Laykang Simhoat,"
Kata Kim Bwee.
"Dia pun pernah memaksa demikian terhadap aku. Biarpun mesti mati, kita tidak dapat membantu orang jahat melakukan kejahatannya. Bukankah begitu, enci?"
"Benar,"
Cie Hoa menjawab.
"Enci kena ditangkap ini hari. Apakah enci hadir dalam rapat Binsan Pay itu?"
Cie Hoa ingat apa-apa.
"Apakah kau bukan hendak menanyakan hal seorang-orang kepadaku?"
Ia balik menanya. Kim Bwee berjingkrak bangun.
"Enci, mengapa kau ketahui itu?"
Tanyanya heran.
"Apakah kau mengerti ilmu meramalkan maka kau lantas dapat menebak hatiku?"
Cie Hoa tertawa.
"Siapakah orang yang kau hendak mencari-tahu itu?"
Kim Bwee merasa likat.
"Orang itu namanya di dalam dunia Kangouw kurang bagus..."
Sahutnya, terpaksa.
"Dia pula mempunyai gelaran yang tidak sedap didengar telinga, ialah Tokciu Hongkay, si Pengemis Edan Tangan Beracun. Akan tetapi hati dia baik sekali. Dia..."
Kok Cie Hoa tertawa.
"Jadi yang kau tanyakan itu ialah Kim Sie Ie!"
Katanya berpura pilon.
"Apakah kau pernah bertemu dengannya?"
Tanya Kim Bwee cepat.
"Bahkan dia telah berbicara denganku!"
"Apakah yang dia bicarakan itu?"
"Dia justeru membicarakan tentang kau, adikku. Dia minta bantuanku mencari kau!"
"Oh, kiranya dia pun ketahui aku lagi mencari padanya! Sayang kita sekarang lagi dikurung si bangsat tua she Beng di dalam sini! Habis apa daya untuk membuatnya ketahui hal kita ini?"
"Apakah kau sangat memikirkan Kim Sie Ie?"
Tanya Cie Hoa.
"Enci, tidak niatku mendustai kau,"
Kata Kim Bwee.
"Memang aku sangat memikirkan dia. Aku merasa dia harus sangat dikasihani. Dia tidak mempunyai orang tua lagi dan juga tidak mempunyai orang yang paling berdekatan dengannya... bahkan dia pun tidak mempunyai sahabat yang mengerti hatinya. Aku ingin sekali menemani dia. Di dalam hal ini, aku tidak takut orang luar nanti mentertawai aku."
Cie Hoa berkasihan terhadap nona polos ini.
"Sebenarnya kau belum mengerti hati Kim Sie Ie,"
Katanya dalam hatinya. Lantas ia kata.
"Adikku, kau jangan kuatir, asal bisa lolos dari sini, pasti aku akan membantu kau mencari dia."
Kim Bwee memegang keras kedua tangannya itu enci angkat.
"Enci, kau baik sekali!"
Ia kata bersyukur. Lantas ia menambahkan.
"Katanya Kim Sie le telah terlukakan si bangsat tua she Beng, entah lukanya itu sudah sembuh atau belum?"
Ditanya begitu, Cie Hoa heran.
"Aku lihat dia sehat, tidak miripnya orang lagi terluka,"
Jawabnya.
"Sebaliknya di atas gunung Binsan itu dia sudah memberi hajaran hebat kepada dua muridnya Biat Hoa Hwesio. Dari siapakah kau dengar kabar itu?"
"Si nona she Le dan Siauw Bu pun membilang demikian. Mustahilkah mereka itu membohongi aku? Siauw Bu ialah keponakan muridku, usianya lebih tinggi sedikit daripada aku, dia bahkan berbicara dengan terlebih sungguh-sungguh. Dia kata dia melihat sendiri Kim Sie le sudah terkena tangannya bangsat tua she Beng itu, ia terlukakan Siulo Imsat Kang, hingga katanya, walaupun tidak mati, ia mungkin akan bercacat..."
Mendengar itu, Kok Cie Hoa berpikir.
"Tenaga dalam dari Kim Sie Ie memang lebih mahir daripada aku tetapi, jikalau dia benar terlukakan pukulan Siulo Imsat Kang, tidak nanti dia demikian lekas sembuh. Kalau begitu, perlu apa si nona she Le dan pemuda she Bu itu mendustakan Kim Bwee?"
Maka ia merasa pada ini ada halnya yang aneh.
Tapi tidak dapat ia menanyakan jelas tentang nona Le dan pemuda she Bu itu, yang ia tidak kenal, ia merasa kurang leluasa meskipun sekarang ia sudah jadi saudara angkat dari nona ini.
"Apakah Kim Sie Ie pernah beritahukan kau, enci, kemana dia mau pergi?"
Kemudian Lie Kim Bwee menanya pula.
"Ya,"
Menyahut Cie Hoa.
"Ia mengutarakan niatnya pergi ke sebuah pulau untuk mencari warisan kitab rahasia dari Kiauw Pak Beng, itu jago Siulo Imsat Kang pada tiga ratus tahun yang lampau. Ia mau percaya di dalam kitab warisan itu mungkin ada ilmu untuk memunahkan Siulo Imsat Kang."
Kim Bwee menghela napas.
"Ini dia yang dibilang, air yang jauh tak dapat menolong api yang dekat..."
Katanya masgul.
"Dia mana ketahui kita sekarang lagi dikurung di dalam ini kamar batu? Aku kuatir, untuk seumur kita, kita tidak bakal bertemu pula dengannya..."
"Janganlah bicara demikian,"
Cie Hoa menghibur.
"Di dalam dunia ini sering terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Bukankah kau pernah lolos dari sini?"
Selagi menghibur itu, Cie Hoa sudah memikirkan daya bagaimana harus menolong lolos ini saudara angkat yang polos.
Bagaimana anak kecil, dihiburkan begitu, Kim Bwee lantas dapat pulang kegembiraannya, hingga ia bisa tertawa.
"Biar bagaimana,"
Katanya.
"kali ini aku dikurung ada jauh lebih menyenangkan daripada yang bermula kali! Yang semula itu aku berada bersendirian saja disini tetapi kali ini aku ada bersama kau, enci. Enci, sesungguhnya aku sangat girang dapat berkenalan dengan kau!"
Cie Hoa pun girang, ia merangkul adik angkat itu.
"Adik, aku pun sangat girang!"
Ia kata. Mereka hening sejenak.
"Enci,"
Tiba-tiba si adik tanya.
"enci, apakah kau menyukai Kim Sie Ie?"
Cie Hoa terkejut. Inilah ia tidak sangka. Ia tidak dapat lantas menjawab langsung.
"Gerak-geriknya Kim Sie Ie itu tidak wajar,"
Berkata pula Lie Kim Bwee.
"bahkan dia mirip orang yang otaknya miring, akan tetapi jikalau kau baik terhadapnya, dia pun dapat berbuat baik terhadapmu. Tidakkah enci pun merasa demikian?"
Baru sekarang Cie Hoa mengerti. Kiranya Kim Bwee bukan maksudkan soal cinta.
"Aku merasa dialah bukan seorang buruk,"
Ia menjawab, tertawa. Kim Bwee berdiam, ia agak berpikir. Kemudian ia berkata pula.
"Enci menyukai dia atau tidak, aku tidak tahu,"
Demikian katanya.
"Tapi aku tahu benar, dia tentunya menyukai kau!"
Hati Cie Hoa tadi tegang, lalu tenang, tetapi sekarang, hatinya itu tegang pula. Hebat pertanyaannya anak polos ini.
"Bagaimana kau ketahui itu?"
Ia balik menanya, memaksakan diri.
"Dialah seorang sangat besar kepala!"
Menjawab Kim Bwee.
"Jikalau bukan terhadap orang yang dia sukai, atau takluk terhadapnya, dia pasti tidak sembarang mau memohon bantuan. Demikian halnya terhadapmu ini. Dia bukan saja telah sudi omong banyak bahkan dia juga telah minta kau membantui dia mencari aku. Jikalau dia tidak menganggap kau sebagai sahabat yang mengenal hatinya, tidak nanti dia berlaku demikian. Maka itu aku berani bilang, dia tentu suka padamu, sangat suka padamu, enci! Aku girang sekali, orang yang aku sukai, dia pun menyukainya, dari itu sekarang aku makin menyukai kau!"
Cie Hoa menghela napas di dalam hatinya.
"Sungguh seorang nona yang dadanya putih bersih!"
Pikirnya.
Maka ia merangkul nona itu semakin keras.
Hanya, selagi merangkul itu, tanpa merasa, ia berduka sendirinya, la menjadi bimbang.
Ia mengasihani Kim Bwee atau Sie Ie?
Ataukah ia mengasihani dirinya sendiri?...
Tanpa merasa, air matanya mengetes turun, jatuh ke muka putih halus dari Kim Bwee.
"Eh, enci, mengapa kau menangis?"
Si Nona Lie tanya, heran.
"Aku tidak tahu kenapa, aku jadi ingin menangis,"
Menyahut orang yang ditanya.
"Aku juga pernah menangis hanya di saat aku berada sendirian dan kesepian,"
Kata Kim Bwee, mengaku sendirinya.
"Ah, sudahlah, jangan menangis! Nah, enci dengar, enci dengar, suara apa itu?"
Tiba-tiba mata mereka menjadi terang.
Nyata pintu kamar telah dibuka dan sinar api mencorong masuk.
Kim Bwee berlompat bangun, hanya belum lagi ia bersuara, ia sudah roboh pula.
Sebab orang yang datang itu dan masuk ke dalam kamar, sudah menotok padanya tanpa ia berdaya.
Dialah Beng Sin Thong!
Cie Hoa kaget dan bingung, hingga ia merasakan bagaikan dunia berputar.
Tubuhnya limbung dan terhuyung.
"He, kau bikin apa?"
Dia berteriak. Beng Sin Thong memegang tubuh orang, agar tidak jatuh.
"Jangan kau takut,"
Katanya.
Baca Juga: Sukma Pedang 6
Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 1