Eps 5 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.
"aku cuma menghendaki dia pingsan lamanya satu jam, supaya kita dapat bicara dengan leluasa. Aku tidak ingin ada orang luar yang mengganggu pembicaraan kita."
Cie Hoa mengerahkan tenaganya, untuk melepaskan diri dari tangan Sin Thong.
Meski begitu, air matanya turun deras sekali.
Hebat pertentangan di dalam hatinya menghadapi ini ayah yang ia segan mengakuinya.
Di matanya, ayah inilah seorang sangat busuk.
"Baiklah, jikalau kau mau menangis, kau menangislah!"
Kata Sin Thong.
"Kau boleh menangis sepuasnya! Habis kau menangis, baru kita bicara..."
Cie Hoa menggigit giginya atas dan bawah.
"Tidak dapat aku menunjuki kelemahanku di depannya!"
Ia berpikir Ia menguati hati, ia menahan keluarnya air matanya.
"Jikalau kau mau, kau bunuhlah aku!"
Katanya keras.
"Kau tentu tidak mempunyai keinginan lain! Ada apakah yang hendak dibicarakan?"
Sin Thong menghela napas.
"Apakah sampai hari ini kau tetap tidak mau mengakui aku sebagai ayahmu?"
Ia tanya.
"Aku tidak punya ayah!"
Kata Cie Hoa.
"Ayahku sudah lama mati! Dia mati ketika umurku satu tahun!"
Sin Thong mengusap-usap rambut orang.
"Oh, begini rupa kau membenci aku?"
Katanya.
"Tapi tidak heran kau membenci aku... Aku tidak mempunyai kemampuan melindungi kau, aku seperti membiarkan ibumu mati sengsara dan kau sendiri, kau telah terlunta-lunta selama dua puluh tahun!... Hanyalah, semua penderitaan itu sudah lewat, dan sekarang ini-berterima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa, yang telah melindunginya, akhir-akhirnya kau kembali ke sisiku! Maka selanjutnya kau akan hidup dalam kebahagiaan!"
"Tidak!"
Kata Cie Hoa.
"Selama dua puluh tahun itu, aku hidup sangat beruntung, sedikitpun tidak kumenderita kesengsaraan seperti yang kau pikir itu! Ayah angkatku sangat menyayangi aku, dan guruku telah memelihara dan merawat aku sampai aku dewasa! Merekalah orang-orang yang lurus, aku sangat menghormati mereka, meski mereka sudah meninggal dunia, mereka tetap hidup di dalam hatiku!"
Mukanya Sin Thong menjadi pucat sekali.
"Aku masih hidup di dalam dunia ini tetapi kau menganggapnya aku sudah mati..."
Katanya perlahan.
"Aku tidak tahu, selama hidupmu, kau pernah melakukan perbuatan baik atau tidak,"
Berkata Cie Hoa pula.
"Hanya ketika aku berumur satu tahun itu, kau telah membuang aku, maka itulah satu perbuatan yang sangat baik! Tidak dapat aku memikirkan bahwa aku mempunyai seorang ayah yang demikian dibenci orang banyak! Jikalau kau menghendaki aku hidup bersama-sama kau, maka itulah baru hidup yang sengsara yang penuh penderitaan!"
"Baik atau buruk, itulah ada di pandangan setiap orang,"
Kata Sin Thong.
"Di mataku, itu orang-orang yang menyebut dirinya orang-orang berhati mulia, merekalah bangsa tolol! Akan tetapi tentang ini, baik di belakang hari saja kita bicarakannya. Biar apa pun, aku tetap ayahmu!"
"Biar apa pun, aku tidak sudi tinggal bersama kau!"
Kata si nona. Beng Sin Thong tertawa dingin.
"Apakah karena aku musuh kamu kaum Binsan Pay?"
Dia tanya.
"Co Kim Jie telah mengusirmu, apakah kau masih tetap membelai partainya itu? Apakah kau merasa Co Kim Jie itu lebih dekat kau daripada ayahmu ini?"
"Baik atau jelek Co Kim Jie memperlakukan aku, itulah satu urusan lain,"
Cie Hoa bilang.
"Biarnya dia bertabiat jelek, dia tetap orang dari partai lurus! Memang tidak bagus perlakuan Co Kim Jie terhadap aku, tetapi guruku, guruku itu sangat besar budinya terhadap aku, bagaikan gunung!"
"Maka itu kau jadi menghendaki gurumu yang telah jadi setan yang mati daripada ayahmu yang telah menghidupkan dirimu!"
Katanya.
"Sayang, bulumu belum tumbuh, kau tidak dapat melindungi Binsan Pay kamu itu! Meski juga aku tidak turun tangan sendiri, toh ada lain orang yang hendak membongkar kuburan gurumu itu, guna merusak peti matinya! Orang itu pun bakal merampas kedudukannya Co Kim Jie sebagai ciangbunjin dari Binsan Pay!"
"Aku tahu siapa manusia jahanam itu!"
Kata Cie Hoa.
"Dialah Biat Hoa Hwesio si busuk dan dia sekarang berada bersama kau di dalam rumahmu ini! Dia hendak membongkar kuburan guruku? Hm! Itu tak nanti terjadi kecuali matahari muncul dari barat!"
"Apakah kau mengira benar-benar kau dapat mengalahkan dia?"
Sin Thong tanya.
"Aku cuma ketahui bahwa satu kali aku beruntung dapat mengalahkan dia! Tapi akulah seorang Binsan Pay yang belum masuk hitungan, maka umpama kata dia dapat mengalahkan aku, itu tidak ada artinya apa-apa!"
"Bukan cuma kau,"
Kata Sin Thong.
"di dalam Binsan Pay, siapa pun tidak dapat mengalahkan dia! Bagaimana kau berani bilang, kalau mau merusak kuburan gurumu, dia tidak dapat melakukannya kecuali matahari muncul dari barat?"
"Apakah di kolong langit ini orang dapat malang melintang cuma dengan mengandalkan kepandaian silat?"
Cie Hoa balik menanya.
"Guruku itu, semasa hidupnya ialah pemimpin orang-orang gagah, dan setelah menutup mata, ia dipuja kaum Rimba Persilatan, maka itu, jikalau dia berani mengganggu kuburan guruku itu, sekalipun cuma selembar rumput atau sebatang pohon, aku kuatir, tak usahlah orang Binsan Pay yang nanti membelai, hingga dia bakal mendapatkan kematian tanpa ada tempat untuk mengubur mayatnya!"
Hati Sin Thong tergetar juga mendengar perkataan anaknya ini.
la justeru jeri terhadap orang-orang gagah dari kaum Rimba Persilatan, orang-orang dari kalangan lurus.
Hebat kalau sampai mereka itu bersatu menentang padanya.
Ini pula sebabnya kenapa ia belum berani muncul secara terbuka.
Benar sekarang ini Cie Hoa cuma menyebut Biat Hoa Hwesio, tetapi itu pun dapat ditujukan terhadapnya.
Meskipun demikian, cuma sebentar kekuatirannya itu, lantas ia tertawa dingin dan berkata pula.
"Di dalam dunia ini cuma si kuat hidup dan si lemah musnah, tidak ada perbedaan si benar dan si salah, yang hitam dan yang putih! Jikalau orang dapat mempunyai kepandaian sampai tak ada lawan, aku tidak percaya orang tidak dapat malang melintang di kolong langit ini!"
"Kalau nanti tiba saatnya kau percaya, sudah kasip!"
Kata sang anak.
"Baiklah, kita jangan bicarakan urusan lain orang. Man kita omong tentang urusanmu. Kau bersama Biat Hoa sama-sama jahatnya, mana dapat aku turut bersama kamu?"
Matanya Sin Thong mencilak. Tapi ketika ia bicara, suaranya sabar.
"Jikalau kau suka mengakui aku sebagai ayahmu dan kau suka berdiam di dampingku, nanti aku usir Biat Hoa,"
Demikian katanyp "Aku juga tidak nanti memusuhkan Binsan Pay. Bagaimana, pikiranmu?"
Sin Thong mengandal betul kepada Biat Hoa Hwesio, maka itu bisa dimengerti, dengan berkata-kata demikian ia sudah mengalah banyak sekali "Jikalau benar kau berbuat demikian, terhadapmu aku akan bersikap lebih manis,"
Kata Cie Hoa.
"Tetapi tetap aku tidak dapat berdiam di dampingmu serta tidak bisa segera mengakui kau sebagai ayah, kecuali nanti, sesudah kau memberi bukti bahwa kau sudah mengubah perbuatanmu yang jahat dan berbalik menjadi baik. Sampai itu waktu, tanpa kau memanggilnya, aku nanti pulang sendiri."
"Kau hendak bukti sampai bagaimana?"
Tanya Sin Thong dingin.
"Sedikitnya kau lebih dulu mesti menghaturkan maaf kepada semua tertua Rimba Persilatan,"
Berkata Cie Hoa.
"Yang lainnya boleh dibuktikan belakangan."
Beng Sin Thong tertawa bergelak.
"Kau menghendaki aku menghaturkan maaf pada Co Kim Jie semua? Ah, pikiranmu benar luar biasa!"
Katanya.
"Selama beberapa tahun ini aku justeru menghendaki mereka semua bertunduk di depan kakiku! Mana dapat aku minta maaf dari mereka!"
Muka Cie Hoa pucat. Ia mengerti, untuk membikin ayah itu tobat, sama sukarnya seperti orang naik ke langit... Beng Sin Thong tertawa dingin pula. Ia kata.
"Aku lihat, walaupun kaulah anakku, kau sebenarnya bermusuh denganku! Oleh karena ini, tidak dapat aku merdekakan kau!..."
Berbareng sama kata-kata ini, dengan suara berkontrang, serupa barang jatuh ke tanah.
Nyata itulah sebuah tusuk konde, yang terlepas dari tangannya Cie Hoa, sebab anak ini terkejut mendengar kata-kata ayahnya itu.
Beng Sin Thong lantas menjemput perhiasan rambut itu, ketika ia telah melihatnya, ia menjadi berdiri menjublak.
Ia kenal baik tusuk konde isterinya.
Dalam sekejab itu, lenyap hawa amarahnya terhadap puterinya ini.
Sebaliknya, ia merasakan kepalanya pusing dan sakit.
Tusuk konde itu bertaburkan sebutir yabengcu, ialah mutiara yang di waktu malam, atau di tempat gelap, dapat mengeluarkan cahaya terang.
Cie Hoa mendapatkan itu dari Kok Ceng Peng, yang menyerahkan kepadanya di saat ia diantar ke gunung Binsan.
Hanya Cie Hoa tidak tahu, tusuk konde itu warisan ibunya.
Ia melihat air muka ayahnya berubah, lantas barang itu diselipkan ke rambutnya.
Ia kata di dalam hatinya.
"Tidak perduli dia bersikap keras atau lunak, aku tidak sudi turut padanya!"
Sejenak itu, hati Sin Thong menjadi lunak banyak. Ia dapat berpikir bagaikan ngelamun.
"Anakku ini telah terhilang selama dua puluh tahun, kecuali dia aku telah tidak rrrmpunva sanak yang terdekat... Sekarang ini beruntung sekali, ayah dan anak telah dapat bertemu pula, karena itu, mana dapat aku melepaskan dia pergi kembali?"
Tapi segera ia berpikir pula.
"Tapi dia tidak sudi mengakui aku sebagai ayahnya... Apakah artinya andaikata aku paksa ia tinggal bersama-sama aku jikalau hatinya tidak rela? Juga, jikalau Biat Hoa ketahui dia ada bersama aku, pasti Biat Hoa akan memaksa minta kitab ilmu pedangnya itu? Mana aku dapat meluluskan permintaannya? Jikalau dia sudi mengakui aku sebagai ayahnya, masih ada harganya untuk aku mengusir Biat Hoa... Sekarang dia menganggap aku sebagai musuh, jikalau karenanya aku bentrok sama Biat Hoa, maka seumurku tak usahlah aku mengharap akan berhasil dapat meyakinkan sempurna Siulo Imsat Kang hingga di tingkat ke sembilan!"
Ia hening sejenak, lantas ia berpikir pula.
"Tapi mengenai Siauwyang Sinkang dari Lu Su Nio, di dalam dunia ini cuma dia orang satu-satunya yang mengetahuinya, apabila aku melepaskan dia pergi, siapa dapat menjamin yang kepandaian itu dia tidak bakal mempersembahkannya kepada sekalian saudara seperguruannya? Tidakkah itu tetap bahaya untukku?"
Mengingat kepada bahaya itu, walaupun itu baru ancaman saja, Sin Thong menjadi bimbang.
Ia bersangsi.
Kalau ia menahan Cie Hoa, ia takut Biat Hoa memaksa meminta kitab pedang.
Kalau ia melepaskan anak itu, ia kuatir Siauwyang Sinkang nanti tersiar luas dalam Binsan Pay.
Menahan salah, melepas salah juga, habis, bagaimana?
Coba Cie Hoa lain orang, gampang saja, ia mengayun goloknya dan membunuhnya, habis perkara!
Nyatanya sekarang, Cie Hoa puterinya satu-satunya!...
Ayah ini berpikir bulak-balik, akhirnya ia kata.
"Cie Hoa, aku tahu, di matamu akulah seorang buruk! Akan tetapi, macan tidak makan anaknya, sebagaimana juga anak tidak nanti mencelakai orang tuanya, maka sekarang, hendak aku mengambil keputusanku. Aku hendak melepaskan padamu! Jikalau hatimu kejam, nah, kau lanjutilah memusuhi ayahmu!"
Mendengar perkataan ayahnya itu, Cie Hoa merasai hatinya ditusuk anak panah. Ia mau menangis tetapi ia mengeraskan hati, mencegah turunnya air matanya. Ia kata.
"Jikalau kau melepaskan aku, untuk selama-lamanya aku nanti menyingkir dari kau, aku tidak bakal melihat pula padamu!"
"Bagaimana dengan Siauwyang Sinkang yang kau telah pelajarkan? Apakah kau tetap bakal menyerahkan itu kepada ciangbunjin dari Binsan Pay? Sebenarnya apakah itu Siauwyang Sinkang?"
"Meskipun aku telah dikeluarkan dari Binsan Pay, guruku tetap pendiri partai itu, maka itu mengenai Siauwyang Sinkang, yang menjadi warisannya, jikalau Co Kim Jie memintanya, sulit untuk aku menolaknya."
Wajahnya Sin Thong guram. Ia mengerti, ia benar-benar terancam. Cie Hoa melihat air muka orang, ia kata.
"Kau pernah membilang bahwa kau tidak takut Siauwyang Sinkang! Kenapa sekarang kau agaknya takut?"
Disenggapi begitu, terbangun kejumawaannya Sin Thong. la tertawa lebar.
"Kau suka omong terus terang, aku juga suka omong terus terang padamu!"
Ia kata.
"Memang Siauwyang Sinkang dapat melawan Siulo Imsat Kang tetapi tidak dapat memecahkannya! Orang-orang sebagai Co Kim Jie dan Ek Tiong Bouw, yang kepandaiannya masih rendah, taruh kata mereka dapat meyakinkan Siauwyang Sinkang, mereka membutuhkan sedikitnya lima tahun, sedang selama itu, Siulo Imsat Kang dari aku pasti aku telah meyakinkannya sempurna! Sampai itu waktu, apa perlunya aku jeri terhadap mereka? Hanya ada kemungkinan, ada sedikit sulit untuk aku dapat mengalahkan mereka itu. Baik, biarlah kau terhadap aku tidak mempunyai keeintaan anak terhadap ayahnya, tetapi aku sebagai ayah, aku tetap menganggap kau sebagai anakku. Nah, kau pergilah!"
Cie Hoa memandang ayahnya itu. Sekarang ia tidak membenci seperti bermula tadi. Tapi ia berdiri tanpa berkutik. Sin Thong mengibas dengan tangannya.
"Aku mengasih ijin kau pergi, kenapa kau tidak mau lantas pergi?"
Dia tanya.
"Jikalau kau tidak lantas pergi, apabila sebentar Biat Hoa Hwesio mendapat tahu kau ada disini, sekalipun kau mau pergi, tentulah sulit. Pergilah, lekas pergi!"
Cie Hoa mengasih bangun kepada Kim Bwee.
"Kau melepaskan aku, kau lepaskan ia ini bersama,"
Ia kata. Ilmu totoknya Sin Thong luar biasa, ilmu itu dihubungi sama Siulo Imsat Kang, maka itu, tidak berdaya Cie Hoa menolongi saudara angkatnya itu. Sin Thong menggelengkan kepala.
"Tidak bisa!"
Katanya.
"Kau sekarang telah mendapatkan Biat Hoa Hwesio, perlu apa kau tidak mau melepaskan ia ini?"
Sang anak tanya. Sin Thong mengawasi anaknya itu, ia kata dingin.
"Siapa yang memusuhkan aku dan dia dapat berlari dari hadapanku, berlalu dengan masih hidup, itulah cuma kau orang yang pertama. Apakah kau, sesudah mendapatkan tanah Long, masih mengharap pula tanah Siok!"
"Nona kecil ini baik hatinya, dia polos, dia belum pernah mengganggu lain orang, mengapa kau memandang dia sebagai musuhmu?"
Tanya Cie Hoa.
"Telah dua kali dia kena ditangkap aku, maka itu, meskipun dia bukan musuhku, sendirinya dia menjadi musuh juga,"
Sin Thong bilang.
"Itulah kesalahanmu, ada apakah sangkutannya dengan dia?" (bersambung) CATATAN 1) halaman 20. Hubungan antara Thian Oe dan Shanpii dapat dibaca di cerita Peng Coan Thian Lie (Bidadari Dari Sungai Es). 2) halaman 41. Peristiwa ini terjadi dalam cerita Peng Coan Thian Lie (Bidadari Dari Sungai Es). 3) halaman 94. Kisah Kiauw Pak Beng dapat diikuti dalam cerita Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu). 4) halaman 141. Kelak, dalam cerita-cerita selanjutnya putera Kang Lam yang bernama Kang Hay Thian menjadi murid Kim Sie Ie. Kisahnya dapat diikuti di Kisah Pedang di Sungai Es, Geger Dunia Persilatan dan Pendekar Jembel. 5) halaman 213. Kisah akhir riwayat Le Khong Thian dapat dibaca dalam cerita Khong Ling Kiam (Pendekar Pemetik Harpa).
Jilid 2
"Oh, aku tidak berebut omong denganmu tentang benar atau salah!"
Kata ayah itu yang tertawa dingin.
"Aku hanya maksudkan tentang bencana di belakang hari. Peribahasa pun membilang, menangkap harimau itu gampang, melepaskannya sukar. Dapat aku memberi ampun kepadanya tetapi pemimpin-pemimpin dari Thiansan Pay, dapatkah mereka memberi ampun padaku?"
"Kau merdekakan dia, aku nanti tanggung dia tidak bakal membuka rahasiamu,"
Cie Hoa mendesak "Hati manusia sukar dibade!"
Kata Sin Thong, kembali tertawa dingin.
"Orang yang menjadi ayah dan ibu masih dapat menjamin anak-anaknya lelaki atau perempuan, bagaimana kau dapat menjamin dia ini! Seumurku, aku tidak percaya lain orang, dari itu jangan kau banyak omong lagi!"
"Aku tahu dia mau pergi berlayar bersama-sama Kim Sie Ie, aku rasa sedikitnya lagi beberapa tahun baru dia pulang,"
Kata Cie Hoa pula.
"maka itu umpama kata kau tidak percaya dia akan tetapi itu waktu kau pastilah sudah selesai meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai pada tingkat ke sembilan! Andaikata ketua Thiansan Pay ketahui tentang kau, kau toh tak usah takut lagi, bukan?"
Kata-kata itu tepat mengenai kelemahannya Beng Sin Thong. Itulah soal yang dibuat jeri jago Siulo Imsat Kang ini. Hanya keliru Cie Hoa, dia menyebut-nyebut nama Kim Sie Ie. Ayah itu menjadi bercuriga.
"Kau benar!"
Berkata ayah itu tertawa.
"Sesudah lewat lagi beberapa tahun, sekalipun Tong Siauw Lan suami isteri ditambah dengan Phang Lim, mereka itu tidak ada di mataku! Tapi kau menyebutkan Kim Sie Ie mau pergi berlayar serta bahwa lagi beberapa tahun baru dia kembali. Kenapakah dia mau pergi berlayar?"
Ditanya begitu, Cie Hoa menjadi sangat menyesal.
Kenapa barusan ia membawa-bawa nama Kim Sie le?
Bagaimana ia bisa memberi keterangan bahwa Kim Sie Ie mau pergi mencari kitab rahasia warisannya Kiauw Pak Beng.
Maka itu, ia lantas mengangkat ayahnya ini.
"Aku juga tidak tahu kenapa Kim Sie Ie mau pergi berlayar,"
Ia menyahut.
"akan tetapi mungkin dia menginsyafi bahwa dia telah bersalah kepadamu dan menjadi ketakutan kau nanti mencari dia buat menuntut balas, maka dia mau menyingkir ke pulau-pulau."
Beng Sin Thong tertawa bergelak.
"Kiranya sedikit juga kau tidak ketahui sifatnya Kim Sie Ie!"
Kata dia.
"Aku pernah bertempur sama dia, aku tahu dia sama dengan aku, ialah kita ada orang-orang bangsa tidak takut Langit tidak takut Bumi! Aku merasa pasti dia mau pergi keluar lautan bukan disebabkan dia takut padaku, dia tentulah hendak meyakinkan sesuatu ilmu atau dia mau mencari kawan untuk menghadapi aku! Tentu sekali aku tidak takut kepadanya, aku hanya tidak ingin mencari kesulitan, maka itu, anak ini lebih-lebih tidak dapat dilepaskan!"
Cie Hoa menyesal sekali, ia masgul dan berkuatir.
Mana bisa ia meninggalkan saudara angkat ini di tangan ayahnya yang hatinya keras itu?
Ia masih hendak berkata pula ketika ayahnya, dengan suara pasti, berkata lagi.
"Kau ingin aku melepaskan dia, sekali-kali tidak dapat! Jikalau kau masih tidak mau pergi, maka kau pun aku akan tahan sekalian!"
Cie Hoa terkejut, lekas ia berpikir. Daripada ia ditahan bersama Kim Bwee, lebih baik ia pergi, untuk ia mencoba berpikir dan berdaya bagaimana baiknya. Maka ia mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, akan aku pergi,"
Ia kata.
"Sekarang aku ingin majukan dua permintaan."
"Apakah itu?"
"Pertama-tama aku minta kau jangan perlakukan kejam padanya!"
Berkata anak itu.
"Yang kedua ialah supaya selanjutnya kau jangan berbuat jahat lagi."
"Yang pertama itu dapat aku terima baik,"
Menjawab Beng Sin Thong.
"Tentang yang kedua, pandanganmu beda dari pandanganku, maka tak usahlah kau banyak bicara lagi. Ini pedangmu, kau boleh bawa pergi!"
Pedang itu dirampas ketika Cie Hoa kena ditawan Yang Cek Hu dan Yang Cek Hu serahkan kepada Sin Thong sebagai suheng, kakak seperguruannya.
Sebenarnya Sin Thong menyayangi pedang itu hingga tak suka ia melepaskannya, tetapi karena sekarang ia ketahui Cie Hoa ialah puterinya, hatinya tidak tega, ia mengembalikannya kepada anaknya itu.
Cie Hoa menyambuti pedangnya itu, lantas air matanya turun menetes, air mata yang sekian lama ia telah mencoba mencegah mengalir keluarnya.
Dengan pedangnya itu ia menjura kepada ayahnya dan berkata.
"Bencana dan keberuntungan itu tidak ada pintunya, terserah kepada manusia sendiri memilihnya, maka itu aku harap kau... kau pilihlah sendiri baik-baik..."
Pintu kamar batu itu sudah dipentang, Beng Sin Thong mengangkat tangannya dan berkata.
"Tidak usah kau menguatirkan tentang diriku! Kau pergilah!"
Keras nadanya ayah ini, yang mengantarkan punggung anaknya sampai di luar pintu, setelah mana, hatinya menjadi lemah, tak sanggup ia mencegah keluarnya air matanya...
Sudah beberapa tahun Beng Sin Thong tinggal di dalam lembah, disitu banyak rumahnya, untuk keluar dari situ, Cie Hoa memerlukan waktu, la ikuti petunjuk ayahnya itu, ia keluar dari taman di belakang.
Ia baru keluar dari pintu pekarangan ketika mendadak ia mendengar bentakan.
"Berhenti!"
Tentu sekali ia menjadi kaget apapula segera ia mendapat kenyataan, orang itu ialah Biat Hoa Hwesio, si pendeta liehay yang menjadi musuhnya.
Biat Hoa ini, setelah ditinggal masuk oleh Beng Sin Thong, merasa heran untuk sikap Sin Thong, yang ia lihatnya kurang wajar, ia memikirkannya, ia menjadi tidak dapat tidur pulas.
Dengan tidak tidur, telinga dan matanya menjadi tajam sekali.
Ia memang mempunyai latihan tenaga dalam puluhan tahun, yang mahir, suara yang bagaimana perlahan juga, sukar lolos dari telinganya itu.
Demikian, meskipun ilmu ringan tubuh dari Cie Hoa mahir, suara tindakannya yang enteng masih terdengar juga pendeta yang liehay itu, hingga dia ini menjadi bertambah curiga.
"Siapakah yang bernyali demikian besar berani datang ke rumah Beng Sin Thong?"
Demikian pikirnya, heran.
Lantas ia berbangkit dan pergi keluar, untuk mencari tahu, hingga ia melihat si nona dan menyusulnya, menyandak.
Sebelum Cie Hoa mengambil sesuatu tindakan, si pendeta sudah berlompat tinggi ke atasan kepalanya, melewati ia, hingga di lain detik ia sudah kena dirintangi.
Dengan tongkatnya yang besar, pendeta itu menghadang di depan orang.
Hanyalah ia terperanjat sekali ketika ia telah mengenali nona itu.
"Eh, apakah kau datang mencari ayahmu?"
Ia tanya.
"Aku datang mencari kau!"
Membentak Cie Hoa, menjawab. Lagi-lagi si hwesio terperanjat, herannya bukan buatan. Ia melengak.
"Kau mencari aku?"
Ia menanya tegas.
"Ya!"
Membentak pula Cie Hoa.
"Siapa menyuruh kau hendak membongkar kuburan guruku?"
Kata-kata ini segera disusuli tikaman pedang!
Biat Hoa kaget.
Tempat ini bukan gunung Binsan, tempat ini tempat kediamannya Beng Sin Thong, maka itu menghadapi Kok Cie Hoa, sebelum ia mengetahui maksud orang, tidak berani ia bertindak sembrono.
Karena ini, ia menjadi tidak bersiap sedia, dari itu sedang serangan si nona mendadak dan luar biasa, jubahnya kena ter-sontek pedang!
Syukur untuknya, ia masih keburu menyedot diri, hingga ujung pedang tidak sampai melukai padanya.
Akan tetapi ia tidak menjadi gusar, sebaliknya, ia tertawa lebar.
"Ini dia yang dinamakan air banjir menyerbu kuilnya si raja laut!"
Katanya.
"Inilah yang disebut, orang sendiri tidak mengenali orang sendiri! -"Eh, apakah kau tidak tahu bahwa ayahmu justru tinggal disini? Aku justru sahabat karib dari ayahmu itu! Kenapa kau menyerang aku?"
Pendeta ini tidak menyangka si nona berada disini, ia pun tidak menduga orang berani datang ke sarangnya Beng Sin Thong.
Sudah begitu, sikapnya Cie Hoa seperti juga si nona tidak tahu hal rumah ayahnya ini.
Cie Hoa membawa terus aksinya itu.
"Fui!"
Ia berludah.
"Kau ngaco belo! Ayahku sudah lama mati!"
Sembari berkata begitu, nona ini mainkan terus pedangnya, ia merangsak dengan tikaman dan tabasannya berulangulang, hingga Biat Hoa mesti main mundur.
Ia sengaja berbuat demikian, supaya ia bisa membuka jalan, untuk lekaslekas menyingkir.
"Mungkinkah dia benar-benar tidak ketahui inilah rumah ayahnya?"
Biat Hoa berpikir heran, ia bersangsi.
"Ataukah ia sengaja tidak mau mengakui ayahnya? Atau ia memikir menebus dosanya, sekarang dia membantui Co Kim Jie mencari aku hingga ia tiba disini?"
Oleh karena kesangsiannya itu, pendeta ini juga tidak berani menempur sungguh-sungguh, la masih memandang kepada Beng Sin Thong.
Lantaran ini, di waktu didesak itu, ia membuatnya si nona dapat melewatkan padanya.
Ia tidak menjadi gusar, bahkan sebaliknya, ia tertawa berkakak.
"Kau sudah sampai disini, apakah kau tidak mau menemui ayahmu?"
Ia tanya.
Lantas ia berseru panjang, lantas ia menjejak tanah, maka tempo tubuhnya melesat pesat, ia lantas menyusul hingga di belakang nona itu.
Cie Hoa mengerti maksudnya seruan panjang itu.
Itulah pertanda atau isyarat untuk Beng Sin Thong.
Ia tidak takut, tetapi ia sangat ingin tidak menemui pula ayahnya itu, maka ia mendongkol sekali Biat Hoa merintangi padanya.
Pendeta Itu pun sudah lantas menyerang ia, karena maksudnya dia ialah untuk merintangi padanya.
Dengan terpaksa ia menyerang juga, guna memaksa jalan lolos.
Ia lantas mendapat merasakan, aneh serangannya Biat Hoa.
Si pendeta menyerang keras, hanya tiba saat tongkat bakal mengenai sasarannya, serangan itu lantas diperlunak.
Karena ini, hatinya Cie Hoa menjadi besar.
Ia menyerang dengan hebat, ia mengeluarkan ilmu pedang Hian tie Kiamhoat, hingga bisalah ia mendesak pendeta itu.
Hian Lie Kiamhoat ada ilmu pedang istimewa dari Tokpie Sinnie.
Lu Su Nio mendapat ilmu itu tintuk dapat mengalahkan Liauw In.
Cie Hoa mewariskan itu, benar Ia sendiri, sebaliknya, menyerang hebat hingga ia seperti melupakan pembelaan dirinya. Lagi satu kali, jubah Biat Hoa kena dirobek ujung pedang! Maka kagetlah muridnya Liauw In, hingga ia menggertak gigi. "Biarnya aku bersalah terhadap Beng Sin Thong, tidak dapat aku membiarkan dia ini lolos," Pikirnya. "Terpaksa, biarlah aku membikin dia terluka sedikit!" Dengan keputusannya ini, Biat Hoa lantas melawan keras dengan keras, mendesak dengan sianthung, tongkatnya yang besar dan berat itu. Segera setelah itu, Cie Hoa merasai dirinya seperti terkurung tembok besi, beberapa kali ia mencoba menoblos, saban-saban ia gagal. Di lain pihak, beberapa kali juga hampir tubuhnya menjadi sasaran senjata lawan, syukur ia gesit dan matanya celi. Diam-diam ia mengeluarkan hawa dingin. Sekarang ia insyaf benar liehaynya si pendeta. Kalau selama di Binsan ia bisa menang unggul, itu waktu ia mengandal kepada Kim Sie Ie, yang mengganggu pendeta itu, yang telah dicurangi. Lantas Cie Hoa menggunai "Thianlie sanhoa", atau Bidadari Menyebar Bunga. Inilah satu pukulan dari Hian Lie Kiamhoat untuk dapat menyerang tujuh jalan darah. Untuk ini dibutuhkan tenaga dalam yang sempurna, sebab tikaman diarahkan ke tujuh bagian anggauta tubuh musuh. Ia dapat menggunai itu, sayang tenaga dalamnya masih kurang. Di samping itu, ia mesti menghadapi Biat Hoa yang liehay itu. Maka ketika si pendeta menangkis, hingga senjata mereka beradu keras, pedangnya itu kena ditempel lawannya. "Nona Beng, kau lepaskan pedangmu!" Berkata pendeta itu tertawa. "Marilah kau turut aku pergi menemui ayahmu!" Tepat itu waktu, sebelum Cie Hoa menjawab terdengar suara nyaring dari Beng Sin Thong, yang menanya. "Biat Hoa Hweshio, apakah katamu? Siapakah itu yang ada bersamamu?" "Beng Laokoay, lekas!" Biat Hoa menjawab. "Lekas! Inilah puterimu datang!" Dengan berkata begitu, pendeta ini memecah perhatiannya. Ia pun telah menjadi lenyap kekuatirannya si nona lolos dari cegatannya, sebab Beng Sin Thong sudah datang. Pula, di depan sahabat itu, ia tidak mau mengunjuki sikap terlalu mendesak anak gadis orang. Justeru itu, Cie Hoa menggunai ketikanya yang baik Dengan jurus "Yacee tamhay", atau "Hantu malam menyelidiki laut", dengan lincah ia meloloskan pedangnya dari tempelan, lantas ia berlompat, untuk lari! Biat Hoa tidak kaget, ia bahkan tertawa. "Nona Beng, ini ayahmu datang!" Ia kata. "Apakah kau tidak percaya aku?" Ketika itu, Beng Sin Thong sudah sampai di depannya. Maka pendeta itu pikir sesudah ada ayahnya, tak usah dikuatir lagi anak itu dapat kabur terus... Beng Sin Thong lantas beraksi. Agaknya ia heran. "Kau menyebut anakku!" Katanya. "Benarkah itu?" Biat Hoa tertawa. "Sedikit pun tidak salah!" Jawabnya. "Lao Beng, aku memberi selamat padamu! Kamu ayah dan anak, hari ini kamu berkumpul!" Tanpa menanti orang berhenti berkata-kata itu, tubuh Sin Thong sudah lompat mencelat, demikian pesat hingga segera ia dapat menyandak anaknya, selagi mendekati, ia mengasih dengar seruan kegirangan. "Lihatlah, Lao Beng girang tidak terkira!" Kata Biat Hoa seorang diri. Ia dapat mendengar seruan sahabatnya itu. "Hanya entahlah anaknya-anak itu suka mengakui ia atau tidak..." Sebenarnya pendeta ini ingin menyaksikan bagaimana cara bertemunya itu ayah dan anak, akan tetapi kapan ia ingat, mereka itu tentulah bakal omong banyak sekali, ia mengubah niatnya. Ia mengerti, kalau ia datang pada mereka itu, mereka akan menjadi kurang merdeka, apapula ialah seorang suci. Karena ini, ia lalu berdiri berdiam di depan pintu, akan menantikan kembalinya mereka... Disusul ayahnya itu, Kok Cie Hoa menghentikan tindakannya. Ia masih belum tahu sikapnya ayah itu. la masuki pedangnya ke dalam sarungnya, dengan mengasih turun kedua tangannya, ia berkata. "Sahabat kekalmu itu tidak mau melepaskan aku, maka kau tangkaplah aku, untuk dibawa pulang!" Mendadak Beng Sin Thong menolak dengan tangannya, begitu keras hingga tubuh si anak mencelat jumpalitan kiratiga tombak. Tapi itulah tolakan yang bagus sekali, karenanya anak itu tidak roboh terguling, hanya ketika dia tiba di tanah, dia dapat berdiri dengan kedua kakinya. Cie Hoa heran hingga ia melengak. Atau ia mendengar suara ayahnya itu. "Lekas pergi! Lekas kau panggil kawanmu!" "Eh, mana aku mempunyai kawan?" Pikir si anak heran, hingga ia tercengang. Beng Sin Thong tidak mengasih kesempatan anaknya itu berpikir, mendadak dia mengayun sebelah tangannya ke arah belakang maka disana terdengar satu suara menggebus atau menjerujus, lantas terlihat sinarnya api menyala. Hanya sekejab itu, mengertilah Cie Hoa maksud ayahnya itu. Terang ayah itu hendak melepaskan ia. Kalau tidak, tidak nanti ia dapat lolos. Terang ayah itu hendak mengelabui Biat Hoa Hwesio, maka dia melepaskan pertandanya itu, senjata rahasia yang merupakan api. Sebagai juga tanda si anak memanggil kawan. "Maju semua!" Cie Hoa mendadak berseru. Ia mengerti maksud ayahnya, maka ia turut main sandiwara. Beng Sin Thong mengulangi aksinya itu, ia menimpuk pula ketiga penjuru, hingga disana sini terdengar suara menjerujus itu dan api terlihat menyala, bahkan yang sebuah jatuh di atas genting sebuah rumah yang terdekat, menyusuli mana dengan suara yang menyatakan gusarnya ia berteriak. "Bagus ya, budak, kau berani membakar rumahku! Tidak, kau tidak dapat lari dari sini!" Cie Hoa juga berseru. "Kau gila! Ayahku sudah lama mati' Kenapa kau berani mengaku menjadi ayahku?" Tapi sambil berseru, ia lari. Di lain pihak, Beng Sin Thong lantas berlari mundar-mandir ke pelbagai jurusan, sengaja ia mengasih dengar tindakan kakinya, hingga disitu seperti ada beberapa orang yang lagi berlari-lari. Dengan mahirnya ilmu ringan tubuhnya, ia bisa berlari-lari bulak-balik itu dengan sangat cepat. Demikian ayah dan anak, seperti orang yang sudah berjanji, bermain sandiwara, hingga Cie Hoa dapat menyingkir jauh, hingga ketika Biat Hoa datang kepada Sin Thong, ia tidak dapat melihat lagi si nona. Biat Hoa muncul karena ia terperanjat melihat api menyambar ke rumah. Ia juga dapat mendengar orang berlari-lari ke segala penjuru itu. "Lekas padamkan api! Lekas pulang!" Begitu terdengar teriakannya Sin Thong berulang-ulang, memerintahkan orangorangnya, yang lantas pada muncul, karena mereka itu mendengar suara jerujusan dan api menyambar rumah, hingga mereka kaget dan berkuatir. Biat Hoa heran. "Api tidak berkobar besar, mengapa Sin Thong begini bingung?" Ia berpikir. Ia heran akan tetapi ia tidak bercuriga bahwa ia tengah dipermainkan sahabat itu yang sempurna sekali sandiwaranya. Senjata rahasia Sin Thong itu terbuat dari belirang, apinya itu dapat membikin kulit lawan melepuh atau hangus, tetapi untuk membakar rumah, tidaklah gampang, apinya terlalu kecil dan bekerjanya lambat. Demikian sudah terjadi, meskipun orang kacau, api yang menyala di atas rumah dengan cepat dapat dipadamkan. Meski begitu, ia berpurapura gusar, ia menegur orang-orangnya itu, ialah muridmuridnya, yang dikatakan alpa dengan penjagaan hingga musuh dapat menyerbu... Tengah ia menegur itu, Sin Thong melihat munculnya Hang Hong serta beberapa murid yang lain, yang menggotong dua muridnya yang luka. Ia lantas mengenali dua murid itu, ialah Gouw Bong serta Thio Yam. Ia menjadi heran, di dalam hatinya ia kata. "Ah, budak itu benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Aku meloloskan dia, dia sebaliknya melukai murid-muridku!" Ia memikir demikian karena ia menduga Cie Hoa, yang ia namakan "budak" Itu. Setelah Gouw Bong dan Thio Yam dibawa datang, hingga terlihat muka pucat dari mereka berbayang hitam, Sin Thong kaget dan ia berseru. "Celaka!" Lantas ia merobek bajunya mereka itu, dengan begitu ia jadi mendapatkan sebatang tokkielee di punggung mereka masing-masing. Itulah senjata rahasia mirip duri yang beracun. "Ah, benar-benar ada musuh!" Pikirnya kemudian. Biat Hoa Hwesio melihat bersama, ia pun heran. Ia tahu betul, orang Binsan Pay tidak menggunai senjata rahasia yang beracun. "Mustahilkah orang-orangnya Keluarga Tong dari Sucoan datang kemari?" Kata pendeta ini, yang bercuriga. "Lao Beng, apakah kau pun bermusuh sama Keluarga Tong itu?" "Bukan, inilah bukan senjata rahasia Keluarga Tong!" Kata Sin Thong. "Cara melepaskan pun lain. Keluarga itu biasa menyerang jalan darah." Sambil berkata, Sin Thong bekerja. Dengan menekan dagingnya Gouw Bong dan Thio Yam, ia mengeluarkan senjata-senjata rahasia itu, ia mengeluarkan juga darahnya yang beracun, sesudah mana ia menyuruh Hang Hong membawa mereka itu ke dalam, untuk beristirahat. Biat Hoa kagum menyaksikan kepandaian Sin Thong menyingkirkan racun di tubuh murid-muridnya itu. Tapi, mengenai si penyerang gelap, ia kata di dalam hatinya. "Penyerang itu, walaupun dia bukan dari pihak Keluarga Tong, dia berbahaya! Ah, bagaimana Kok Cie Hoa dapat mengajak demikian banyak orang yang liehay?" Pendeta ini percaya itulah kawannya si nona yang datang... Cie Hoa, yang sudah berlari-lari terus, ketika ia memasuki rimba di depannya, ia melihat dua orang berada di dekatnya. Agaknya mereka itu lagi mencari apa-apa, mungkin ialah yang lagi dicari mereka. Syukur, mereka itu tidak mendapat lihat padanya, la lantas mengenali Gouw Bong, orang yang ia paling benci, hingga ia berniat memberi hajaran terhadapnya, la baru memikir begitu, atau mendadak saja Gouw Bong berdua menjerit sendiri dan terus roboh. Ia kaget dan heran. "Mungkinkah, karena aku harus dapat menyingkir, dia tak sayang lagi kedua muridnya, yang dia korbankan?" Ia berpikir. Ia menduga kepada perbuatannya Beng Sin Thong. Tapi ia perlu menyingkir, ia tidak mau kena disusul, maka ia tinggalkan Gouw Bong dan Thio Yam itu. Selama lari itu, Nona Kok telah mendapat kesegarannya. Ketika itu sudah fajar, kecuali hawa udara nyaman, angin pun bertiup halus dan mendatangkan harumnya bunga-bunga. Ketika ia menoleh ke belakang, ia tidak melihat sinar api kebakaran, ia pun tidak mendapatkan ada yang mengejarnya. Maka ia lantas memperlambat tindakannya seraya ia memikir kemana ia mesti menuju. Benar ia sudah bebas tetapi hatinya tidak lantas tenang kembali. Disana ada Kim Bwee, yang paling dulu mesti ditolongi. "Aku tidak ingin bertemu pula ayahku, tetapi masih ada urusannya Kim Bwee, mungkin sukar aku untuk tidak menemuinya pula..." Ia berpikir. "Jikalau aku minta pertolongan orang, ayah mungkin tidak akan melukai aku, tetapi Biat Hoa, dia mana suka melepaskan padaku? Disana juga masih ada Yang Cek Hu serta sekalian murid ayahku itu." Meski ia telah berpikir berulang-ulang, Cie Hoa tidak bisa mendapatkan lain daya kecuali mencari bala bantuan. Ia sendiri terang sudah tidak berdaya, la tidak sanggup. Habis, siapakah ia mesti cari? "Ibunya Kim Bwee dapat melawan ayahku, ialah salah satu dari tiga pendekar wanita, tetapi ia berada jauh di Thiansan, mana bisa ia lekas-lekas dikasih datang?" Demikian pikirnya lebih jauh. "Tinggal Kim Sie Ie cuma dapat melawan Biat Hoa, dia sukar menandingi ayahku. Kim Sie Ie pernah melukai ayahku itu, dia sangat dibenci, kalau dia yang membantu, jangan-jangan sebelum aku berhasil, dia akan bercelaka terlebih dahulu di tangan ayahku... Maunya ialah Kim Sie Ie bekerja sama dengan aku, baru ada harapan untuk melawan Beng Sin Thong, bagaimana aku bisa menempur ayahku?" Keras Cie Hoa berpikir, akhirnya ia merasa kepalanya pusing. Urusan sangat ruwet, sulit untuk ia memecahkannya. Ia pun memikirkan halnya perhatian sangat dari Kim Bwee terhadap Kim Sie Ie. Nona itu menyintai Tokciu Hongkay. "Biar bagaimana halnya Lie Kim Bwee ini mesti aku beritahukan padanya," Kesudahannya ia pikir. Karena ini, ia berdiam mendelong, mulutnya mengasih dengar suara perlahan, menyebut nama Kim Sie Ie. Dengan sekonyong-konyong saja, telinganya mendengar suara tertawa geli dan pundaknya terasa dingin seperti bekas ditiup. Ia menjadi kaget sekali. Dengan wajar, ia menikam ke belakang, untuk menyerang. Demikian biasanya orang, atau orang-orang yang mengerti silat, jikalau ada bokongan terhadapnya. "Aha, liehay sekali!" Demikian terdengar seruan, yang menyusuli tikaman itu. Seruan itu nyaring tetapi halus. Kok Cie Hoa dengar suara itu, yang nadanya bukan nada bermusuhan jadi orang bukanlah musuh--akan tetapi sudah terlanjur, ia tidak bisa membatalkan tusukannya yang kedua kali. Kali ini ia sudah memutar tubuhnya. Maka ia melihat tubuh seorang nona lompat mencelat, hingga pedangnya lewat di bawah kaki nona itu. Dengan begitu juga ia menjadi mendapat kenyataan, ilmu ringan tubuh dari nona itu tak ada di bawah kepandaiannya sendiri. Dengan lantas Nona Kok menahan gerakan selanjutnya dari pedangnya. Ia berniat menyapa nona itu, atau ia sudah lantas didului. Kata nona itu. "Aku telah menolongi kau mengusir dua orang tetapi sekarang kau memberi hadiah padaku dengan dua tikaman! Tidakkah ini keterlaluan?" Nona itu mengawasi, wajahnya tersungging senyuman, sedang suaranya itu manis. Mendengar perkataan itu Cie Hoa mengerti bahwa nona inilah yang sudah menyerang dan melukai Gouw Bong berdua dengan senjata rahasia. Maka ia lantas memberi hormat sambil nenjura dan berkata. "Enci, aku menghaturkan banyakbanyak terima kasih untuk bantuanmu! Akupun memohon maaf untuk kesembronoanku." Ia berkata demikian sedang di hatinya ia berpikir. "Kau dan aku belum pernah bertemu, datang-datang kau bergurau terhadapku, selagi aku tidak menegur kau, kenapa kau justeru mengatakan aku keterlaluan?" Ia berpikir begitu sebab ialah nona keluaran partai lurus dan ia telah terdidik baik. Nona itu tertawa pula, tertawa geli seperti tadi. Dia rupanya dapat menebak hati orang. Dia kata. "Aku kuatir, di dalam hatimu, kau tengah menyesalkan aku lantaran aku telah mempermainkan kau! Bukankah kau menghendaki aku matur maaf kepadamu? Haha!" Mukanya Cie Hoa menjadi bersemu dadu. Ia tidak biasanya mendusta. Lagi-lagi nona itu tertawa. "Jikalau aku tidak mencoba kau, mana aku ketahui kaulah muridnya Lu Su Nio?" Ia menyahut. "Aku mendengar kabar, murid penutup dari Lu Su Nio bernama Kok Cie Hoa. Bukankah Nona Kok itu kau sendiri adanya?" "Benar, aku Kok Cie Hoa," Menyahut Nona Kok, yang lantas balik menanya she dan nama orang Si jail itu tidak lantas memberitahukan namanya. "Kau ada bersama Lie Kim Bwee, apakah Lie Kim Bwee tidak pernah menyebut namaku?" Dia menanya. "Jadinya kaulah enci Le?" Cie Hoa kata. "Adik Kim Bwee sangat bersyukur kepadamu. Adik Kim Bwee bilang, ketika pertama kali ia ditangkap Beng... Beng Sin Thong dan dipenjarakan di dalam gua, kau yang telah menolongi dia." "Benar!" Menyahut nona itu. "Aku ialah Le Seng Lam. Haha! Lie Kim Bwee tidak melupakan aku, aku juga tidak melupakan dia. Aku menduga pasti Beng Laokoay tidak bakal kesudian melepaskan dia, nyata dugaan cocok. Hanya, apa yang aku tidak sangka, Biat Hoa Hwesio telah menggunai dia sebagai hadiah untuk meminta sesuatu! Jikalau kedua siluman itu bekerja sama, itulah hebat!" Ketika Lie Kim Bwee ditolongi Seng Lam, ia berterima kasih pada nona itu berbareng merasa heran atas sepak terjangnya, dan ketika ia berbicara sama Cie Hoa, Cie Hoa dan ianya tidak dapat menebak maksud hati orang. Di matanya Cie Hoa, Seng Lam mestinya seorang wanita gagah yang berhati mulia sebab dia berani menolongi orang dari tangannya Beng Sin Thong. Akan tetapi sekarang, setelah bertemu sama orangnya sendiri, ia merasa dugaannya kurang tepat. Baik gerak-geriknya, maupun cara bicaranya, Seng Lam tidak mirip-miripnya dengan seorang dari kalangan lurus. Bahkan sebaliknya, pada alisnya terlihat tanda-tanda dari kesesatan. Tapi meskipun begitu, ia masih mau berpikir. "Di dalam dunia kangouw ada banyak orang yang kelakuannya luar biasa, umpamanya Kim Sie Ie adalah suatu contoh. Siapa tahu kalau dia ini bukan orang sebangsa Kim Sie Ie itu?" Setelah memikir demikian, Cie Hoa pun ingat lagi yang Nona Le sudah menolongi Kim Bwee, maka itu, meski orang agaknya sesat, ia tidak mau bersikap sembarangan. "Memang," Katanya. "dengan Beng Sin Thong bekerja sama Biat Hoa Hwesio, itulah hebat. Bagaimana sekarang, ada daya apa untuk menolongi pula Kim Bwee?" Seng Lam melirik nona itu, mendadak ia tertawa. "Bukankah kau berniat pergi kepada Kim Sie Ie untuk memohon bantuan?" Ia tanya. "Kenapa kau mendustai aku, menanya aku bagaimana harus menolongi Kim Bwee itu?" Cie Hoa melengak. "Eh, bagaimana kau ketahui itu?" Ia tanya. Ia tidak merasa bahwa barusan ia telah menyebut namanya Kim Sie Ie, sebutan mana didengar Seng Lam dan Nona Le yang cerdas lantas dapat menduga maksudnya. Seng Lam tertawa. "Aku mengerti ilmu meramalkan, kau tahu?" Sahutnya. "Aku dapat menerka apa yang orang pikir dalam hatinya..." Mukanya Cie Hoa kembali menjadi merah. "Sudah, enci, jangan kau bergurau!" Katanya. "Memang aku memikir meminta bantuan dari Kim Sie Ie, cumalah, andaikata aku dapat mencari dia, baru selang satu bulan aku dapat kembali kemari. Di samping itu, Kim Sie Ie juga belum tentu dapat melawan Beng Sin Thong. Maka itu, enci, aku minta bantuan kau. Kau mempunyai daya lain apakah?" Lagi sekali Ie Seng Lam tidak lantas menjawab pertanyaan orang. "Apakah kau tahu sekarang ini Kim Sie Ie ada dimana?" Dia menanya pula. "Menurut katanya dia ingin berlayar keluar laut," Menjawab Cie Hoa. "melainkan keberangkatannya mungkin sesudah lewat dua bulan. Maka itu selama waktu itu, bilangnya, orang dapat pergi ke kelenting Sianceng Kiong di Laosan untuk menantikan dia disana." Untuk sejenak, air mukanya Seng Lam menjadi padam, lantas dia tertawa pula. "Benarkah Kim Sie Ie membilang demikian?" Dia menanya. "Orang Kangouw membilang dialah orang yang tidak jeri akan Langit dan tidak takut akan Bumi, itulah benar! Benarkah dia berani pergi berlayar keluar lautan? Mau apakah dia pergi berlayar itu?" "Memang asalnya dia menjadi besar di pulau di luar lautan," Kata Cie Hoa. "Maka itu pelayaran baginya tidak berarti apa-apa. Tentang apa keperluannya dia mau pergi berlayar, itulah aku tidak tahu." Tidak biasanya Cie Hoa omong bohong akan tetapi urusan keper-giannya Kim Sie Ie ini adalah satu rahasia, mau atau tidak, ia mesti mendusta terhadap Seng Lam. Urusan mencari kitab warisannya Kiauw Pak Beng tidak bisa diberitahukan lain orang. Seng Lam tidak menduga bahwa orang telah mendustai ia. Sebaliknya, hatinya lega. Pikirnya. "Bagus! Nyata Kim Sie Ie tidak memberitahukan rahasiaku kepada nona ini!" Maka ia tertawa, lalu ia menanya. "Mengenai asal-usulnya Kim Sie Ie, rupanya kau mengetahui jelas sekali!" Mukanya Nona Kok kembali bersemu dadu. "Gurunya Kim Sie Ie, yaitu Tokliong Cuncia, bersahabat baik dengan guruku," Ia berkata. "dan aku sendiri, dengan Kim Sie Ie pernah aku bertemu beberapa kali, jikalau tidak demikian, tidak nanti aku memikir untuk memohon bantuannya. Enci, bukankah kau pun kenal Kim Sie Ie?" Nona itu tertawa. "Dengan dia pernah aku bertemu sekali dua kali!" Ia menjawab. "hanya persahabatan kita beda dengan persahabatan kamu. Cuma, menurut apa yang aku dengar dari dia, agaknya dia tidak memikir untuk pergi berlayar." Heran Cie Hoa mendengar itu. "Paling belakang ini, kapannya enci telah bertemu dengannya?" Ia tanya. "Kemarin dulu. Dia bilang dia ingin mencari seorang sahabatnya, yang tinggal di kota Souwciu. Maka, kecuali dia mendusta terhadapku, mana bisa dalam tempo dua bulan dia tiba di Laosan serta sekalian mau bersiap untuk berlayar?" Cie Hoa heran hingga ia berpikir. "Aku toh bertemu dan baru berpisahan dengan Kim Sie Ie kemarin dulu lagi! Benarkah ada kejadian begini kebetulan, ialah ia bertemu Seng Lam kemarin dulu? Kim Sie Ie bicara dengan pasti padaku, kenapa di dalam satu malam dia mengubah niatnya itu?" Karena kesang-siannya, ia menanya. "Kim Sie Ie tidak pernah omong padaku bahwa dia hendak mencari sahahatnya itu. Siapakah si sahabat?" "Dia kata dia mau cari Tan Thian Oe, ialah sahabatnya asal dari Tibet," Sahut Seng Lam. Cie Hoa berpikir pula. Ketika pertama kali ia bertemu Kim Sie Ie, Kim Sie Ie justeru memberikan Thiansan Soatlian untuk dengan perantaraan Kang Lam disampaikan kepada Tan Thian Oe. Memang Kim Sie Ie ada hubungan perihal persahabatannya sama Thian Oe itu. "Mungkinkah Tan Thian Oe menemukan sesuatu halangan maka Kim Sie Ie hendak lekas-lekas mencari dia?" Ia berpikir lebih jauh. Cuma di hatinya Cie Hoa menduga-duga, tidak berani ia tidak mempercayai keterangannya Seng Lam itu. Tapi karena ia berduka ia kata "Cade! Kalau Kim Sie Ie datang, mungkin masih ada pengharapannya, sekarang bagaimana? Bantuan siapa lagi dapat diminta untuk menolongi Lie Kim Bwee?" "Aku mempunyai satu jalan, cumalah kau, enci, kau mesti omong terus terang padaku," Kata Seng Lam, yang sekian lama membiarkan saja orang berpikir. "Bagaimana?" Tanya Nona Kok. "Tadi aku melihat, Beng Sin Thong itu seperti sengaja melepaskan kau. Benarkah itu?" Parasnya Cie Hoa menjadi guram. "Benar," Ia menyahut, perlahan. Tak dapat ia mendusta. "Memang dia sengaja melepaskan aku..." "Beng Laokoay itu bangsa suka membunuh orang dengan matanya tak berkesip! Orang yang telah terjatuh ke dalam tangannya, mana bisa gampang-gampang dia melepaskannya? Bukankah dalam urusan kau ini ada sesuatu sebabnya?" Hati Cie Hoa memukul. Itulah pertanyaan sulit untuknya. Ia menjadi bingung. Di satu pihak, ia telah dikeluarkan dari Binsan Pay. Itulah ada rahasia partai dan mengenai nama baiknya sendiri. Tapi, di lain pihak lagi, Kim Sie Ie telah mendapat tahu hal dirinya dipecat itu. Apakah halangannya kalau sekarang Le Seng Lam pun mengetahuinya? Pihak Binsan Pay umumnya telah ketahui hal ikhwal dirinya. Hingga itu sebenarnya bukan rahasia lagi... Ia berpikir pula. Akhirnya ia menger-tak gigi. "Memang ada sebabnya," Sahutnya kemudian. "Dia... dialah ayahku." Le Seng Lam kaget tidak terkira. Sedetik itu, matanya menjadi bersinar merah. Ketika ia memandang Cie Hoa, pandangannya ialah pandangan dari seorang musuh besar! Musuh berada di hadapannya! Tapi Cie Hoa, yang tidak menyangka jelek, menambahkan. "Meski benar dialah ayahku, sekarang ini aku telah tidak menganggap dia sebagai ayahku lagi! Dialah musuh besar dari partaiku Binsan Pay!" Seng Lam masih mengawasi tajam, tapi ia mengangguk. "Aku tahu tentang permusuhannya dengan Binsan Pay," Katanya. Cie Hoa sendiri, habis memberikan keterangannya itu, ia merasa hatinya lega. Tadi ia tidak memperhatikan perubahan air mukanya Seng Lam itu. Baru sekarang ia melihat. Tapi sekarang, dengan hati lega, ia dapat memikir bahwa urusannya itu dengan ayahnya memanglah suatu hal yang mengejutkan orang luar. Ayah bentrok dengan anak, atau sebaliknya, memang hebat sekali. Tapi ia tidak memperhatikan lebih jauh air mukanya si Nona Le. Mimpi pun ia tidak sangka, nona ini justeru musuh besar ayahnya itu. Dan sedetik itu, Seng Lam lagi memikir bagaimana dia harus membalas sakit hatinya-membalas secara kejam! Cuma sekejab, kembali air mukanya Seng Lam berubah. Ia dapat bersenyum. "Jadinya kaulah anaknya Beng Sin Thong!" Katanya. "Kalau begitu, ada dayanya." "Tidak bisa!" Kata Cie Hoa. "Aku tidak bisa pergi minta pertolongannya!" Ia menduga Seng Lam mau menyuruhnya minta tolong ayahnya itu. "Aku tidak menghendaki kau minta bantuannya," Seng Lam bilang. "Sebentar malam kita pergi bersama. Asal Beng Sin Thong tidak berani mencelakai kau, aku mempunyai jalan untuk menolongi Lie Kim Bwee. Tugasmu ialah menyingkirkan Beng Sin Thong dan tugasku ialah menolong orang." "Akan tetapi disana masih ada satu Biat Hoa Hwesio," Cie Hoa memperingati. "Jangan kuatir. Asal aku berhasil menolongi Lie Kim Bwee, nanti bersamanya cukuplah aku melayani hwesio itu." "Tapi dia... ilmunya Siulo Imsat Kang liehay sekali..." Cie Hoa beritahu pula. "Jikalau aku gagal memancing lama pada Beng Sin Thong, dia dapat mencelakai kau..." "Tentang itu, kau jangan buat kuatir. Benar aku tidak dapat mengalahkan Beng Sin Thong tetapi Siulo Imsat Kang-nya itu tidak dapat mencelakai aku. Pendeknya, asal kau pergi bersama-sama aku, aku mempunyai jalanku!" Cie Hoa heran hingga ia berpikir. "Mungkinkah ia pun mengerti Siulo Imsat Kang? Yang pertama kali dia menolongi orang, dia berani mendatangi Beng keechung, maka itu, mungkin benar dia mempu-nyakan kepandaiannya itu..." Seng Lam mengawasi nona di depannya, ia tertawa. "Aku lihat tadi malam kau tidak dapat tidur cukup," Katanya. "maka itu sekarang mari kita pergi ke desa di sebelah depan, untuk bersantap-an, untuk terus beristirahat, supaya kau dapat memulihkan kesegaran-mu, agar sebentar malam kita bisa pergi dengan tenaga baru." Sampai disitu, selesai sudah mereka bicara, maka berdua mereka turun dari gunung. Tapi, di tengah jalan, Seng Lam mencoba memancing, untuk mencari tahu apa benar-benar Cie Hoa tidak ketahui hal perjanjiannya sama Kim Sie Ie. Ia mendapatkan bukti Nona Kok benar tidak mengetahui itu. Hal ini membuatnya berhati lega. Cie Hoa sebaliknya ingin mengetahui asal-usul ini sahabat baru, tetapi Seng Lam pandai menutup mulut, hingga ia tidak berhasil memperoleh sesuatu keterangan. Ia tidak mendesak. Ia mau percaya, Seng Lam mempunyai kesukaran apa-apa. Cuma tetap ia memikirkan. Menurut suaranya, mestinya persahabatan dia dengan Kim Sie Ie bukan persahabatan baru, mengapa Kim Sie Ie tidak pernah menyebut tentang dia? Ketika baru ini Kim Sie Ie berbicara sama Le Seng Lam, mereka berjanji untuk tiga bulan kemudian mereka bertemu pula di kuil Siang-ceng Kiong di gunung Laosan di malaman bulan purnama. Mengenai janji itu, Seng Lam dapat menduga maksudnya Kim Sie Ie Ia pikir. "Dari sini ke Laosan di pesisir Laut Timur, waktu perjalanan cuma setengah bulan. Mengapa dia menjanjikan sesudah tiga bulan itu? Kenapa dia tidak mau berjalan bersama aku? Ah, tentulah dia berniat mencari Lie Kim Bwee." Tanpa merasa, itu waktu, Seng Lam jelus sedikit terhadap Kim Bwee. Ia telah mendapat dengar partai Binsan Pay hendak membikin rapat di gunung Binsan bertepatan hari ulang tahun yang ke-50 dari wafatnya Tokpie Sinnie, ia menduga disana tentu bakal hadir banyak orang kosen, yang hendak memberi hormatnya, maka itu ia memikir untuk pergi juga ke gunung itu, untuk melihat Kim Sie Ie bertemu dengan Lie Kim Bwee atau tidak. Apamau, ia tiba disana terlambat satu hari, ketika ia sampai, rapat sudah bubar. Tengah Seng Lam berada di tempat yang berdekatan dengan gunung Binsan, untuk mencari Kim Sie Ie, ia bertemu dengan beberapa muridnya Beng Sin Thong. Diam-diam ia menguntit mereka itu. Kebetulan sekali ia mempergoki Biat Hoa Hwesio menawan Lie Kim Bwee, yang dimasuki ke dalam kantung. Biat Hoa tidak kenal padanya, maka leluasalah ia menguntit terus pendeta itu. Seterusnya Biat Hoa tidak bercuriga. Demikian ketika tadi malam Beng Sin Thong melepaskan Cie Hoa, Seng Lam lagi bersembunyi dan dapat memmergokinya. Sebagai orang cerdik, ia lantas mendapat tahu sandiwaranya Sin Thong itu. Maka bagus sekali untuk Cie Hoa, dia telah tidak mendusta terhadap ini sahabat baru. Seng Lam bercuriga pula. Tidak saja ia telah memperoleh kenyataan Cie Hoa anaknya Sin Thong, pula dari gerakgeriknya, dari omongannya, Cie Hoa mungkin mempunyai sangkutan dengan Kim Sie Ie, mungkin perhubungan Cie Hoa dengan Sie Ie tak kalah akrabnya dengan perhubungan Sie Ie dengan Kim Bwee. Dari curiga, timbul juga rasa cemburunya. Mereka berjalan terus sampai mereka mendapat lihat tiga orang lagi mendatangi dari arah depan mereka. Mereka itu menunggang kuda. Ketika Seng Lam melihat tegas mereka itu, ia mengeluarkan suara kaget. "Ah, celaka, aku bertemu musuh! Baik kita menyingkir dari mereka?" Habis berkata Seng Lam mau pergi ke dalam pepohonan lebat di pinggir jalanan, atau tepat itu waktu, Cie Hoa mendengar tertawa nyaring yang ia kenal, yang disusuli sama kata-kata. "Bangsat perempuan yang mau mencuri barang, aku telah melihat kau!" Bukan main herannya Nona Kok. Itulah Kang Lam. Dengan cepat Kang Lam sudah tiba dengan kudanya, dari atas punggung kuda tunggangannya, ia mencelat, berjumpalitan dua kali, berlompat turun ke tanah, maka seketika juga ia telah sampai di dekatnya Seng Lam. Seng Lam tertawa dingin dan berkata. "Hai, bocah, kau berani menghina aku? Aku disini, kau tangkaplah!" Sambil berkata begitu, nona ini meluncurkan sebelah tangannya, untuk memapaki si anak muda, maka "Bruk!" Robohlah Kang Lam ke tanah! "Enci!" Berseru Cie Hoa, kaget. "Inilah kenalan kita? Dia kacungnya Tan Thian Oe!" Belum berhenti suara nona ini atau terlihat tubuh Kang Lam mencelat bangun, sebelah tangannya menyambar lengan Seng Lam, sembari tertawa dia kata. "Haha! Kau lihat, apakah aku tidak dapat membekukmu?--Ai, Nona Kok! Kenapa, kau ada bersama penjahat wanita ini?" Kang Lam pernah belajar ilmu "Tianto hiattoo" Dari Hong Sek Toojin. Itulah ilmu memutar balik jalan darah, untuk dibikin kacau, kefaedahannya mirip dengan ilmu menutup jalan darah, agar tidak berbahaya apabila ditotok musuh. Maka juga barusan, sengaja ia kasih dirinya kena ditotok si nona dan terus ia berpura-pura jatuh tanpa berkutik lagi, atau sekarang mendadak ia berlompat, untuk menangkap tangan nona itu. Itulah kepandaiannya yang istimewa, sayang kepandaiannya ilmu silat masih rendah, ia kalah jauh dari Seng Lam. Justru itu ia menangkap tangan Nona Le sambil berbicara, maka ketika Seng Lam meronta dengan gerakan "Toatpauw kaykah",-"Meloloskan jubah membuka baju perang", gampang saja cekalannya dibikin terlepas, setelah mana dengan satu gerakan susulan lain, dia kena dibikin terpental jungkir balik! Dengan meminjam tenaga si nona, Kang Lam menggeraki tubuhnya dengan lincah, dengan begitu tidaklah ia sampai kena dibanting roboh. Ketika ia menaruh kakinya, untuk berdiri, sebenarnya ia hendak mementang mulutnya, untuk mencaci nona itu atau si nona mendahului ia, sambil tertawa, nona itu kata. "Jikalau aku tidak mengingat bahwa kau kenal dengan saudara Kok Cie Hoa, pasti aku banting kau hingga tulang-tulangmu patah dan ringsak!" Kang Lam cerdas sekali, ia pun lantas menginsyafi bahwa orang berlaku baik terhadapnya, maka batal ia mencaci si nona. "Kang Lam, jangan bergurau!" Cie Hoa berkata. "Sebenarnya, bagaimanakah duduknya urusan kamu ini?" "Disana ada kakak dan adik angkatku," Menyahut Kang Lam. "jikalau kau kuatir aku mendusta, kau tanya mereka saja! Memang benar tadi malam dia ini hendak mencoba mencuri barang milik kami... Lagi, aku... aku sekarang bukan kacung lagi! Apakah Kim Sie Ie tidak memberitahukan sesuatu kepadamu?" Cie Hoa menahan hati untuk tidak tertawa karena kejenakaan orang. "Maaf, maaf!" Katanya. "Benar-benar aku lupa!" Ketika itu, dua penunggang kuda lainnya, yang datang bersama Kang Lam, sudah tiba di antara mereka. Cie Hoa berpikir. "Kang Lam membilang merekalah kakak angkat dan adik angkatnya, pastilah mereka Tan Thian Oe suami dan isteri..." Seng Lam pun berkata. "Kim Sie Ie pergi mencari mereka, kenapa mereka sebaliknya datang kemari?" Kang Lam sudah lantas berkata kepada dua orang yang baru tiba itu, sembari berkata ia menunjuk Cie Hoa. "Inilah Nona Kok yang itu hari membantui Kim Sie Ie memukul mundur Chong Leng Siangjin bertiga hingga jiwaku dapat ditolong!" Penunggang kuda yang pria, yang masih muda, ialah Tan Thian Oe, sudah lantas merangkap kedua tangannya terhadap Cie Hoa. "Terima kasih, nona, atas bantuanmu itu," Katanya hormat. "Aku Tan Thian Oe." Penunggang kuda lainnya, seorang wanita muda, ialah Yu Peng, pun turut menghaturkan terima kasih seraya berkata. "Aku berterima kasih atas bantuannya Kim Tayhiap dan kau, nona, dengan begitu Kang Lam berhasil mengantarkan obat untuk menolong jiwaku." Selagi berkata begitu, dia terus melirik Seng Lam. Mukanya Nona Le bersemu dadu, tetapi dia paksakan tertawa dan berkata. "Kiranya kamulah suami isteri Tan Thian Oe, maaf, maaf! Sebenarnya kemarin malam aku main-main saja denganmu!" "Ha, masih kau menyebutnya main-main!" Kang Lam menegur. "Kemarin malam itu, jikalau bukannya aku mengetahui siang-siang, hampir kau berhasil mencuri pedangnya enso-ku!" Dengan enso itu, Kang Lam maksudkan Yu Peng yang tadi dia katakan adik angkatnya. Sebagai Yu Peng, ia menjadi adik angkat, dan sebagai isteri Thian Oe, ialah enso yakni ipar. Malam itu Tan Thian Oe bertiga singgah di Sin-an tin, mereka mengambil pondokan dimana pun Seng Lam berada. Pedangnya Yu Peng lantas menarik perhatiannya Nona Le. Itulah pedang yang terbikin dari sisa atau hancuran pedangnya Pengcoan Thianlie si Bidadari dari Sungai Es, sedang pedang Pengcoan Thianlie, asalnya ialah miliknya puteri Nepal, yang menjadi ibunya, pedang mana terbuat dari han-giok, kemala es yang usianya sudah selaksa tahun, maka juga pedang itu dinamakan Pengpok Hankong Kiam, Pedang Inti Es. Sisa han-giok itu dibikin menjadi sembilan bocah pedang Hankong Kiam, dibagikan kepada pelayan-pelayannya Pengcoan Thianlie, dan pedang Yu Peng ini, salah satu yang terbaik. Seng Lam ketarik karena, meskipun tersimpan di dalam sarungnya, pedang itu samar-samar memperlihatkan hawa atau cahaya dingin hingga dia menjadi heran. Tengah malam, Seng Lam keluar dari kamarnya, untuk pergi ke kamar Yu Peng, guna mencuri pedang itu. Ia menggunai asap pulas, hingga Thian Oe dan Yu Peng tidur tak sadarkan diri, hingga pedangnya kena dicuri, hanya, belum lagi ia sempat mencabutnya dari sarungnya, ia kepergok Kang Lam, lantas Kang Lam menguber sambil berteriak-teriak. Seng Lam merasa pasti ilmu silat Kang Lam tidak berarti untuknya, maka ia tidak bikin pulas pemuda itu yang tidur di kamar sebelah, siapa tahu, orang tajam kupingnya, sedang dalam ilmu ringan tubuh, Kang Lam mahir sekali. Dalam ilmu silat, kepandaian Kang Lam pun campur aduk. Demikian kali ini, dalam mengepung Nona Le, untuk merampas pulang pedang itu, dia menyerang si nona dengan pelbagai ragam kepandaiannya itu. Untuk menotok, dia menggunai ilmu totok ajarannya Kim Sie Ie. Dalam ilmu pedang, dia pakai ilmu pedangnya Pengcoan Kiamhoat didikan Tan Thian Oe. Seng Lam kena dilibat, beberapa kali ia berhasil membikin Kang Lam roboh jumpalitan, tapi pemuda itu bandel, berulang kali dia berlompat maju pula. Di saat Seng Lam menjadi gusar dan hendak mengasih rasa, ia disusul Thian Oe dan Yu Peng. Mereka ini men-dusin sendirinya sebab mereka mempunyai latihan tenaga dalam yang sempurna. Dengan menggunai Pengpok Sintan, Peluru Inti Es, Yu Peng memaksa Nona Le melepaskan pedang curiannya dan kabur. Maka itu, ketika kali ini mereka bertemu, Kang Lam lantas menuduh Nona Le itu. Thian Oe dan Yu Peng melihat nona itu ada bersama Cie Hoa, mereka tidak mau menimbulkan urusan pencurian pedang itu, bahkan Thian Oe meredakannya dengan menegur Kang Lam. "Jangan kau ngaco belo! Jikalau Nona Le penjahat benar, kau tentunya telah dihajar mampus!" Kang Lam berdiam, tetapi di dalam hatinya, ia kata. "Masih dibilang bukannya penjahat! Yang benar ialah dia bukannya penjahat yang telengas!..." Seng Lam mengerti, ia tertawa dan berkata. "Kang Lam bukannya ngaco belo! Pedang Nyonya Tan luar biasa sekali, memang aku berniat mencurinya, untuk aku dapat melihatlihat. Yang benar ialah cara main-mainku keterlaluan..." Yu Peng pun tertawa. "Pedangku ini memang tidak ada di Tionggoan," Katanya. "Memang tidak heran kalau enci jadi sangat ketarik hati." "Enso," Kang Lam menyelak. "coba enso kasih dia pinjam lihat!" Pedang itu pedang luar biasa, begitu dicabut dari dalam sarungnya, kecuali cahayanya yang berkilau, pun mendatangkan hawa sangat dingin, hawa dingin mana tak tertahankan oleh orang yang ilmu silatnya biasa saja, bahkan ada kemungkinan karena terserang hawa dingin itu, orang mendadak mendapat sakit. Kang Lam mau percaya, nona ini tidak akan jatuh sakit, tetapi sedikitnya dia tak sanggup melawan hawa dingin itu. Jadi ia mau "mengajar adat" Kepada si nona... "Jikalau kau tidak keberatan, enci, sukalah kau kasih aku pinjam lihat," Seng Lam pun berkata. "Aku ingin mataku menjadi terbuka." Yu Peng memikir untuk jelaskan keistimewaan pedangnya itu, tetapi ia kuatir Nona Le salah mengerti, maka ia meluluskan permintaan itu. Ia percaya nona ini tidak bakal terganggu pedang itu sebab kemarin malam pun dia dapat bertahan dari Peluru Inti Es. Seng Lam memegang pedang, untuk dibawa dekat ke mukanya. Ia juga mementil dua kali. "Sungguh pedang luar biasa!" Ia memuji. "Inilah bukan pedang emas atau besi. Dari apakah terbuatnya?" Ia belum berhenti bicara, atau mendadak tubuhnya menggigil, maka lekas-lekas ia menjauhkan pedang itu dari mukanya. Sembari tertawa, ia menambahkan. "Hawa dingin ini, aku lihat, tak kalah dengan hawa dingin dari Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong. Sudahlah, aku tidak berani melihat lama-lama..." Maka ia masuki pedang ke dalam sarungnya dan membayarnya pulang. Yu Peng kagum. Ia mendapatkan nona itu cuma menggigil sebentaran, sedang kulit mukanya tidak berubah. Sedang Cie Hoa, yang berada di samping mereka, tidak terganggu sama sekali oleh hawa dingin pedang itu. Ia tidak tahu bahwa Seng Lam sebenarnya telah bersiap sedia, yaitu si nona sudah melindungi diri dengan mengerahkan tenaga dalamnya yang istimewa. Sedang Cie Hoa pernah meyakinkan Siauwyang Sinkang, dia tidak takuti hawa dingin. Setelah itu, mereka mulai bicara dari hal lainnya. Thian Oe kagum untuk mendengar Cie Hoa sebenarnya muridnya Lu Su Nio. "Sayang kami terlambat," Kata ia. "karena itu kami tidak keburu menghadiri rapat partai kamu itu, nona." "Itulah rapat biasa saja," Kata Cie Hoa singkat. Tidak mau ia membeber halnya dipecat Co Kim Jie. la lalu menanya mereka itu mau pergi kemana "Kami mau mencari Kim Tayhiap," Jawab Thian Oe. "Dengan obatnya yang mustajab ia telah menolongi isteriku, aku sangat bersyukur. Pula, sudah beberapa tahun kami tidak pernah bertemu dengannya, maka itu kami ingin mencari untuk sekalian menghaturkan terima kasih kami. Sayang kami tidak tahu tayhiap berada di mana. Kami telah memikir, jikalau tayhiap tidak dapat diketemukan, kami ingin pergi ke Thiansan guna menjenguk Tong Keng Thian suami isteri. Kami harap disana akan mendengar kabar tentang Kim Tayhiap." Cie Hoa heran mendengar perkataan orang itu. "Kim Sie le justeru tengah mencari kamu!" Katanya. "Jadinya kamu tidak bersomplokan di tengah jalan?" Thian Oe pun heran. "Kapan dia berangkatnya?" Ia menanya. "Ia berangkat dari mana?" "Aku bertemu dia kemarin dulu di dusun Sin-an," Berkata Le Seng Lam, yang turut bicara. "Sayang kamu tidak bertemu satu dengan lain di tengah jalan." "Ah, heran!" Kata Kang Lam "Kemarin dulu itu kami justeru singgah di dusun Sin-an. Dusun itu tidak besar dan disana cuma ada dua bocah rumah penginapannya kalau kami tidak melihat dia, sepantasnya dia melihat kami..." "Kamu mengambil pondokan yang mana?" Seng Lam tanya. "Kami tinggal di hotel Ban Lie," Jawab Thian Oe. "Kita tiba selagi cuaca baru gelap, tetapi setibanya, kami lantas mencari tahu. Kami mendapat keterangan disitu tidak ada orang Kangouw..." "Kalau begitu, inilah sebabnya!" Berkata Nona Le. "Kim Sie Ie berdandan sebagai pengemis yang kurang beres ingatannya dan ia mondoknya pun di kuil yang bobrok. Aku sendiri mondok di hotel Eng Hoat. Kita memangnya telah berjanji, maka tengah malam itu kami membuat pertemuan di kuil tersebut. Kita bicara sampai jam empat, baru aku pulang ke hotel, justeru di saat kamu berangkat meninggalkan hotel kamu. Ketika itu sang fajar baru tiba. Sayang aku tidak kenal kamu, jikalau tidak, pasti aku menemui kamu, untuk memanggil kembali." "Ya, sayang, sayang!" Kata Thian Oe berulang-ulang, menyesal. Cie Hoa sebaliknya heran atas kata-kata Seng Lam itu. la kata dalam hatinya. "Kim Sie Ie mirip orang otak tetapi dia sebenarnya teliti sekali dan dia pula gemar mencampuri urusan lain orang, mungkinkah dia tidak mendapat-tahu kedatangannya rombongan Thian Oe? Mereka datang sesudah sore dan mereka pun naik kuda. Benarkah dia tidak mendengar suara mereka, hingga dia tidak melongoknya? Ini satu soal. Kim Sie Ie belum pernah menyebut-nyebut Seng Lam terhadapku. Dia benar gemar bergurau tetapi jikalau bukan dengan sahabat akrab, mana bisa dia suka pasang omong sama Seng Lam? Mustahil dia tidak likat karenanya? Ini yang kedua. Lagi pula, kenapa dia menyamar menjadi pengemis? Ini soal yang ketiga. Bukankah dia telah membilangi aku bahwa dia mau berangkat sesudahnya lewat dua bulan dan dia pun mengajaki aku pergi mencari tahu halnya Lie Kim Bwee? Bukankah dia berjanji agar aku menantikan dia di kuil Siangceng Kiong di gunung Laosan?" Meskipun ada kesangsiannya ini, Cie Hoa tidak berani tidak percaya keterangannya Seng Lam itu. Maka juga, tetap ia heran dan bersangsi. Sebenarnya Seng Lam mengatakan demikian dengan maksud sengaja mendustai Cie Hoa. Ia tidak ingin Cie Hoa bersama Kim Bwee, nanti bertemu Sie Ie sebelumnya Kim Sie Ie berlayar. Sebabnya ini ialah ia kuatir rencananya nanti gagal. Pula, tanpa ia mengerti, ia jelus terhadap kedua nona itu, ia cemburu... Thian Oe sebaliknya tidak mencurigai Seng Lam. Memang mereka berangkat dari Sin-an pada kira jam lima. Mereka pun tidak tahu, sudah semenjak dua hari Seng Lam menguntit mereka karena Nona Le mengarah pedangnya Yu Peng itu. "Kalau begitu, marilah kita susul Kim Tayhiap!" Kang Lam mengajaki. "Jikalau kita mengaburkan kuda kita, mungkin kita dapat menyusul dia sebelum dia sampai di Souwciu. Dengan begitu pun kita bisa mencegah dia sampai disana untuk menubruk tempat kosong saja. Kalau sekarang kita gagal menemui dia, entah sampai kapan kita nanti dapat menemukannya..." "Kau benar!" Kata Thian Oe setuju. "Nona Kok, Nona Le, disini saja kita berpisahan." Ia pun lantas memberi hormat, untuk meminta diri, lalu terus ia mau naik atas kudanya. "Tan Kongcu, tunggu sebentar!" Cie Hoa berkata. "Ada apa, Nona Kok?" "Apakah kongcu kenal Nona Lie Kim Bwee dari Thiansan Pay?" "Tentu saja!" Menjawab Kang Lam sambil tertawa. Ia mendahului majikan atau kakak angkatnya itu. "Kongcu kami ialah sahabat-sahabatnya Tong Keng Thian dan Kim Sie Ie." Thian Oe heran atas pertanyaan itu. "Aku kenal nona itu," Ia menyahut. "Menurut apa yang aku dengar, Nona Lie Kim Bwee juga sedang mencari Kim Tayhiap. Apakah Nona Kok bertemu dengannya?" "Tadi malam aku ada bersama-sama dia," Cie Hoa menjawab. Thian Oe nampak girang. "Kalau begitu, kenapa kita tidak mau menemui dia terlebih dulu?" Katanya. "Setelah itu baru kita berangkat bersama menyusul Kim Tayhiap." "Tetapi, kongcu," Berkata pula Cie Hoa. "Sulit untuk menemui Nona Lie. Sayang sekali, dia sekarang justeru terjatuh dalam tangannya seorang hantu dan tengah dikurung dalam sebuah kamar batu. Aku sendiri, aku tidak berdaya menolongi dia..." "Siapakah yang demikian besar nyalinya berani mengurung Lie Kim Bwee?" Ia tanya. "Mustahil orang itu tidak tahu siapa Nona Lie itu?" "Dia mengetahuinya," Sahut Cie Hoa. "Justeru lantaran itu, dia tidak mau melepaskannya." "Apakah orang itu tidak takut kepada Tong Siauw Lan dan Phang Lim?" Thian Oe tanya pula. "Mungkin sekarang ini dia masih merasa jeri. Tapi dia, si hantu, tengah meyakinkan semacam ilmu silat yang liehay sekali. Tong Siauw Lan berada jauh di Thiansan, umpama kata ia mendengar hal kemenakannya ini dan ia datang mencari si hantu, si hantu sendiri mungkin sudah berhasil dengan peryakinan ilmunya itu hingga dia tidak takut lagi terhadapnya. Sekarang dia tidak mau membebaskan Lie Kim Bwee, karena dia justeru kuatir Tong Siauw Lan dan Phang Lim nanti datang mencari dia sebelum ilmu silatnya sempurna." "Siapakah yang demikian liehay? Menurut keteranganmu ini, sekarang dia tidak dapat dibandingkan dengan Tong Siauw Lan akan tetapi, rupanya, kepandaiannya sudah tidak kalah jauh..." "Benar demikian," Cie Hoa memberi jawaban. "Ini pun sebabnya kenapa dia berani melakukan perbuatannya itu. Dia... dia... dia bernama Beng... Beng Sin Thong..." "Beng Sin Thong?" Thian Oe mengulangi nama orang. "Nama itu baru pertama kali ini aku pernah dengar. Kok Liehiap, bukankah mengatakan bahwa tadi malam kau berada bersama Nona Lie Kim Bwee itu? Bukankah itu waktu dia masih belum tertawan hantu itu?" "Ketika itu dia bersama-sama aku telah ditangkap dan dikurung hantu itu," Cie Hoa memberi keterangan. "Aku sendiri berhasil meloloskan diri." Cie Hoa lalu menjelaskan mengapa Beng Sin Thong bermusuh dengan pihak Binsan Pay serta tentang Kim Bwee dan ia ditangkap hantu itu, tetapi tentang hubungannya sendiri dengan Sin Thong, ia tidak menyebutkan sama sekali. Mendengar keterangan itu, Thian Oe terkejut berbareng heran. Pikirnya. "Nona ini menuturkan si hantu demikian liehay, kenapa dia dapat lolos dari kurungannya? Mungkinkah dia dapat lolos karena kebetulan si hantu alpa menjaganya? Tapi ia ada bersama Lie Kim Bwee, kenapa ia tidak lari bersama nona itu? Juga, ketika ia menyebutkan nama si hantu, kenapa ia agaknya ragu-ragu dan parasnya tampak berubah daripada biasanya? Kenapakah?" Walaupun ia bercuriga, Thian Oe tidak menyangka jelek. Cie Hoa ini murid Lu Su Nio dan dia pernah menolong Kang Lam. "Sikapnya ini mencurigakan tetapi mungkin ada sebab lain," Pikirnya kemudian. "Tidak nanti dia mengandung maksud buruk..." Sekian lama Thian Oe berdiam, lalu ia kata. "Lie Kim Bwee berada dalam bahaya, bisakah kita duduk diam saja tanpa menolongnya? Meski juga Beng Sin Thong liehay luar biasa, mesti kita pergi untuk menempurnya!" Cie Hoa tidak bisa berbuat lain daripada menyatakan setuju. Mereka lalu berunding, memikirkan akal untuk menghadapinya. Kesudahannya mereka mengambil putusan menuruti pikiran Le Seng Lam, ialah lebih dulu mereka pergi ke dusun di sebelah depan mencari rumah penginapan, guna beristirahat, supaya sebentar malam jam tiga, mereka dapat berangkat menolong Kim Bwee. Selagi berjalan itu, Kang Lam yang paling banyak bicara. Ia terus ibicara dengan Nona Kok Cie Hoa, memujinya, karena ilmu silatnya maju pesat. Pemuda itu tertawa girang. "Bukankah itu karena petunjuk Kim Tayhiap? Tapi, liehiap, kau juga telah membantu banyak sekali padaku!" Katanya. "Kapan aku membantumu?" Kata si nona, tertawa. "Sama sekali belum pernah aku mengajarkan kau ilmu silat, sekalipun setengah atau satu jurus..." "Ah, kau lupa, liehiap!" Kata Kang Lam. "Bukankah hari itu kau telah minta aku menyampaikan serupa bingkisan kepada Kim Tayhiap? Mulanya kau membikin aku bingung sekali! Baru kemudian aku tahu bahwa bingkisan itu ialah gambar lukisan aneh yang didapatkan dari Chong Leng Siangjin. Ketika Kim Tayhiap melihat itu, girangnya bukan kepalang. Ia mengatakan, meski itulah bingkisan darimu, aku toh turut berjasa, maka lantas saja ia memberikan pelajaran kepadaku, tentang ilmu totok serta pokok ilmu silat, yang aku mesti ingat di luar kepala. Sayang waktunya sangat pendek, apa yang ia ajarkan, aku tidak bisa ingat semuanya, aku tidak dapat lantas menggunakannya. Tapi, -haha! -aku si Kang Lam, meski aku tidak mempunyai kebaikan apa-apa, aku paling tidak dapat melupakan budi orang! Demikian, dengan memperoleh kebaikan dari Kim Tayhiap, aku lantas ingat akan pepatah yang berarti. 'Minum air, ingat sumbernya'. Maka, nona, aku mengandal kepada bantuanmu itu untuk mana aku belum sempat menghaturkan terima kasih padamu!" Habis berkata begitu, tanpa menghiraukan mereka berada di tengah jalan besar Kang Lam menjatuhkan diri di depan Cie Hoa, untuk memberi hormat sambil mengangguk-angguk. "Sudah, sudah!" Cie Hoa lekas-lekas mencegah. Ia menjadi kuatir mendapatkan Kang Lam sangat suka bicara. Ia kuatir orang nanti membocorkan rahasia Kim Sie Ie. Ia mendapat kenyataan, Le Seng Lam sangat menaruh perhatian kepada perkataan pemuda ini, dan Nona Le itu mengawasi anak muda dengan tajam. Bahkan dia lantas menanya. "Gambar apakah itu? Coba kau jelaskan, supaya aku dapat menambah pengetahuanku..." "Kang Lam paling gemar membual!" Kata Cie Hoa cepat. "Sebenarnya itu tidak berarti apa-apa..." Belum nona ini menutup perkataannya, Kang Lam sudah berseru. "Aku bukannya membual! Rupanya nona juga belum pernah melihat gambar itu, bukan? Itulah sebuah gunung besar di tengah lautan, gunung yang menyemburkan api. Lalu ada seorang bertubuh besar bagaikan raksasa berdiri di kaki gunung itu, tangannya mementang panah! Coba pikir, apakah itu... itu... tidak aneh? Tentang gunung berapi itu serta raksasanya dan panahnya pernah kutanyakan kepada kongcu, tetapi kongcu juga merasa aneh, katanya ia tidak mengerti arti gambar itu!" Dengan "kongcu" Atau tuan muda, Kang Lam menyebut Thian Oe, sang majikan. "Kalau begitu, benar-benar aneh!" Kata Seng Lam, heran. Mendengar kata-kata orang itu, Kok Cie Hoa memandang muka Seng Lam. Ia mendapatkan paras nona itu tidak wajar. Hingga ia pun menjadi turut merasa heran. Ia menduga-duga, apakah ada hubungan antara gambar itu dengan Seng Lam atau antara Kim Sie Ie dan Seng Lam ini? Kang Lam masih berkata lagi. "Nona Kok, itulah bingkisan untuk mana kau telah pinjam tanganku untuk menyampaikannya kepada Kim Tayhiap! Oh, jadi nona juga belum pernah melihat gambar itu? Itulah suatu mestika!" Cie Hoa tertawa. "Ah, mengapa kau menyebut-nyebut mustika?" Katanya. "Jikalau bukannya mestika, kenapa Kim Tayhiap menjadi demikian girang?" Kata Kang Lam dengan ngotot. Nona Kok kewalahan. Ia tahu tabiat pemuda ini, tanpa penjelasan, dia tidak akan mau mengerti atau berhenti mengoceh, tetapi, urusan yang demikian penting, mana dapat dijelaskannya? Itulah rahasia yang menyangkut kaum Rimba Persilatan. Tapi ia toh berpikir, maka ia berkata. "Chong Leng Siangjin itu ialah seorang guru besar, maka itu gambar lukisan yang ia simpan itu pasti bukan sembarang gambar. Kim Sie Ie menggemari barang-barang yang aneh, dari itu aku mengirimkannya kepadanya." Agaknya Kang Lam masih belum puas. Cie Hoa dapat melihat sikap orang, ia mengulapkan kedua tangannya dan mendahului berkata. "Apa yang aku ketahui hanya sebegini, jadi percumalah andaikata kau menanyakan aku lebih jauh!" Tan Thian Oe percaya gambar itu pasti ada sesuatu kepentingannya, ada rahasianya, maka sambil tertawa, ia kata pada orang itu. "Kang Lam, sampai kapan kau hendak mengubah tabiatmu banyak mulut?" Kang Lam tidak puas, di dalam hatinya, ia kata. "Bukankah ketika aku menyebutkannya kau pun merasa aneh? Sekarang, selagi aku hendak menanya jelas, kau lantas mengatakan aku banyak mulut!" Syukurlah yang menegur itu Thian Oe, kalau tidak, ia tentu masih mengoceh. Sampai disitu barulah Yu Peng, yang sebegitu jauh berdiam saja, berkata sambil tertawa. "Oleh karena semua tidak mengerti gambar itu, percumalah kita meletihkan pikiran membicarakannya panjang lebar! Paling benar mari kita lekas-lekas sampai di dusun di depan itu, untuk mencari rumah penginapan. Kita perlu beristirahat untuk dapat membicarakan pula rencana kita sebentar malam." Sementara itu, Le Seng Lam juga tidak pernah campur bicara, tetapi ia bukannya tidak pikir. Ia berdiam sambil mengasah otak. Ketika itu, di lain pihak, Beng Sin Thong pun tidak tenteram hatinya. Berhubung dengan kepergian anaknya, dia jadi berpikir keras. Itulah karena kekuatirannya, kalau-kalau Biat Hoa Hwesio nanti mengetahui rahasia hatinya. Ia takut nanti dicurigai sudah melepaskan anaknya itu. Syukur bahwa Biat Hoa itu, selama di gunung Binsan, telah mendengar percakapan antara Kok Cie Hoa dan Co Kim Jie. Iapun berkata di dalam hatinya. "Aku mulanya menyangka Kok Cie Hoa hanya tidak mau mengakui ayahnya di depan Co Kim Jie, siapa tahu dia benar-benar keras kepala..." Lantas Sin Thong memikirkan hal terlukanya Gouw Bong, yang terkena tok tielee atau duri beracun. Berhubung dengan itu teranglah sudah, Kok Cie Hoa itu mempunyai kawan, yang datang bersamanya. Karena ini, dia pikir, tidak nanti Biat Hoa mencurigainya. Kekuatiran Beng Sin Thong ini berlebihan. Sebetulnya, umpama kata Biat Hoa Hwesio mengetahui, bahwa dialah yang melepaskan si nona Kok, tidak nanti si pendeta menariknya panjang. Biat Hoa justeru membutuhkan persahabatannya, sebagaimana ia pun mengandalkan bantuan si hwesio. Hari itu Beng Sin Thong mulai mengajarkan Biat Hoa tentang kauwkoat, atau teori Siulo Imsat Kang, sedang Biat Hoa pada malamnya, mulai menjelaskan lweekang simhoat, atau ilmu tenaga dalam, yang lurus. Jadi mulailah mereka saling memberi pelajaran. Kira-kira jam tiga, selagi sang malam sangat sunyi, tiba-tiba kuping Biat Hoa yang tajam mendengar satu suara yang samar-samar sekali saking perlahannya. Segera ia menghentikan pemberian pelajarannya, sembari terus memasang telinga, ia berkata. "Coba dengar, Lao Beng, apakah itu bukan suara yahengjin?" "Yahengjin" Ialah orang yang berkeliaran di waktu malam. "Benarkah?" Sin Thong tanya. "Oh, ya, baru aku dengar..." Sengaja Sin Thong berkata demikian. Sebenarnya, lebih dulu daripada si pendeta, telinganya sudah menangkap suara itu, tidak perduli betapa samar. Suara itu justeru membuatnya susah hati, hingga ia mengeluh di dalam hatinya. "Budak itu tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Aku telah melepaskan dia, sekarang dia datang pula! Apakah ini bukan berarti dia sengaja mempersulil diriku?" Sin Thong sudah lantas menduga kepada Kok Cie Hoa, anaknya itu. Ia melepaskan anaknya itu bukan hanya disebabkan adanya hubungan ayah dengan anak di antara mereka berdua. Masih ada pula satu sebab atau kekuatiran lain. Ialah ia takut, bahwa kalau Cie Hoa kena dibekuk, Biat Hoa nanti memaksa menghendaki Hian Lie Kiampouw, ialah kitab ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat dari Tokpie Sinnie. Jikalau Biat Hoa mendapatkan kitab pedang itu berbareng memperoleh kepandaian Siulo Imsat Kang, meski ia berhasil meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai di tingkat ke sembilan, tidak nanti ia dapat mengalahkan hwesio itu. Atau tegasnya, ia akan kalah dan si hwesio menang daripadanya. Beng Sin Thong sudah hendak pergi keluar, tetapi justeru pada saat itu dari luar terdengar teriakan yang menyayat hati, disusul munculnya seorang yang berlari-lari dengan terhuyung-huyung hampir roboh berulang-ulang. Untuk kagetnya, ia mengenali murid kepalanya, ialah Hang Hong, muka siapa bertandakan bekas bacokan pedang. Tapi, yang membuatnya heran sekali, setibanya di depannya, murid itu menggigil seluruh tubuhnya, dan tubuhnya memancarkan hawa dingin. Hang Hong bagaikan tengah diserang demam hebat sedang dia telah memahamkan Siulo Imsat Kang tingkat kedua. Di antara murid-murid Sin Thong, dia pula yang ilmu silatnya paling mahir. Bagian terbesar daripada jago-jago Kangouw tidak nanti nempil terhadapnya. "Suhu, di luar telah muncul seorang siluman wanita," Hang Hong lantas berkata. Ia tidak menanti sampai ditanya gurunya. "Aku telah dilukakan dia... Oh, dingin, dingin sekali! Aduh, mati aku!... Suhu, tolong, tolong!..." Sin Thong menjadi bertambah kaget. Ia tidak tahu sebab apa murid itu kedinginan demikian rupa. Biat Hoa pun tidak menjadi kecuali. Mereka menjadi bingung karenanya. Justeru itu, mereka mendengar suara berkeresek di genting. "Lao Beng, kau tunggu!" Kata Biat Hoa akhirnya. "Nanti aku lihat!" Ia menyangka, bahwa Kok Cie Hoa datang pula. Kalau benar, ia kuatir Sin Thong nanti melepaskan anak itu, maka ialah yang hendak membekuknya. Iapun lantas melompat keluar kamar, dan terus naik ke atas rumah, maka di lain saat di atas tembok di sebelah depan, ia melihat dua orang-satu pria, satu wanita-yang dua-duanya masih muda. Ia lantas mengenali, si wanita bukannya Cie Hoa. Ia heran hingga ia melengak sejenak. "Siapa bernyali demikian besar, malam-malam buta rata datang kemari?" Ia menegur. Kedua orang itu, ialah Tan Thian Oe dan Yu Peng, suami isteri, tidak menjawab. Adalah Yu Peng yang serentak menyerang dengan tiga butir Pengpok Sintan, peluru esnya. Mata Biat Hoa sangat tajam. Ia melihat menyambarnya tiga rupa barang yang berkilau berkeredepan seperti mutiara yabengcu. "Eh, senjata rahasia apakah itu?" Ia tanya dirinya selagi senjata musuh menyambar ke arahnya itu. Ia tidak takut, karena ia percaya benar akan kekuatan tenaga dalamnya yang lurus, la juga tidak dapat mencium bau apa-apa, hingga ia tidak menguatirkan senjata beracun. Di samping itu, ia ingin memamerkan kepandaiannya. Maka tepat tibanya senjata, baru ia beraksi. Dengan je-riji tangannya, ia menyentil ketiga butir peluru inti es itu. Ia menggunakan ilmunya, Tancie Sinkang, dan ia berhasil. Dengan menerbitkan suara, ketiga peluru itu tersentil hancur. Tapi ia tidak tahu liehaynya peluru inti es itu-senjata rahasia yang paling mujijat. Dengan terhajar pecah dan buyar, peluru itu tidak mati kutunya. Sebaliknya, hawa dinginnya segera terhambur di atas kepala si hwesio, bagaikan kabut yang tebal! Baru sekarang Biat Hoa kaget. Segera ia merasakan hawa yang sangat dingin menyerangnya. Tak dapat ia menghindarkan diri dari serangan itu. Ia bagaikan masuk ke dalam gua es. Hawa dingin menyerang dari luar terus ke dalam tubuh. Ia liehay tapi hampir tak tertahankan rasa dingin itu. Ia mengerahkan semangatnya, ia melawan dengan tenaga dalamnya yang mahir Tidak urung, ia menggigil berulangulang. Yu Peng heran melihat orang terhajar pelurunya tetapi tidak menjerit atau roboh atau terhuyung, maka ia kata di dalam hatinya. "Pantas Kok Cie Hoa mengatakan dia sangat liehay, benar-benar dia tangguh sekali!" Di dalam keadaannya seperti itu, Biat Hoa masih tidak takut. Kecuali hawa dingin itu, ia tidak kurang suatu apa. Sebaliknya dari kabur, ia justeru maju, untuk menghampirkan penyerangnya itu. Bagaikan terbang ia menyambar. Menampak demikian, Yu Peng juga tidak mau mengerti, dengan berlompat, ia maju memapak, pedangnya sekalian dikasih bekerja, menusuk ke jalan darah thayyang hiat. Tubuh Biat Hoa masih seperti di udara ketika ujung pedang menyambut padanya. Kembali ia merasakan serangan hawa dingin, karena pedangnya Nyonya Tan Thian Oe bersifat dingin. Untuk menghindarkan diri, saking liehay-nya, ia masih sempat berjumpalitan, sembari berjumpalit, tangannya dikibaskan, tangan bajunya itu berkibar, menyampok. Maka akibatnya, robohlah keduanya! Biat Hoa liehay, begitu tubuhnya mengenai tanah, ia lantas mencelat pula, untuk berlompat bangun dengan gerakan "Leehie tateng" Atau "Ikan gabus meletik". Yu Peng kalah tenaga, dia terbanting lebih hebat, maka itu, ia tidak bisa lantas berlompat bangun seperti si hwesio. Menampak demikian Biat Hoa menggunai ketikanya yang baik, dengan cepat dia berlompat maju, untuk menyambar, guna mencekuk lawannya itu. Justeru hwesio ini berlompat, justeru ia mendengar angin menyambar ke arahnya. Ia terkejut. Ia ketahui baik sekali, itulah serangan untuknya. Tentu sekali ia ingin melindungi dirinya. Maka, batal menyerang terus, ia berkelit ke samping, sambil berkelit, sebelah kakinya meneruskan menendang dengan tendangan "Kwee Seng tek-tauw" Atau Kwee Seng menendang bintang". Tepat ia berkelit itu, ujung pedang lolos meminta dirinya sebagai korban. Habis itu, seorang muncul di dekatnya. Itulah Tan Thian Oe yang menyerang pendeta itu. Itulah tikaman guna menolongi Yu Peng. Dalam kepandaian menggunai pedang, Thian Oe lebih liehay daripada isterinya, melainkan pedangnya pedang biasa, kalah daripada Hankong kiam dari isterinya itu. Selagi si pendeta berkelit, Yu Peng berlompat bangun, tetapi ia tidak mengundurkan diri, sebaliknya, ia maju pula menyerang, pertama dengan tusukan "Pengcoan kaytong", atau "Air sungai es lumer". Ia membuatnya hawa dingin melulahan. Biat Hoa merasakan hawa dingin itu, lekas-lekas ia menahan napas. Tapi ia tidak berdiam saja, ia melawan dengan menggunai ilmu silat Kimna ciuhoat, dengan apa ia mencoba merampas pedang berhawa dingin dari lawannya itu. Menyaksikan keberanian pendeta itu, Thian Oe membentak, sambil membentak, ia maju untuk menikam dengan tipu silatnya "Bintang-bintang mengambang". Ujung pedangnya itu mencari jalan darah honghu -hiat. Pendeta itu tengah melayani Yu Peng ketika Thian Oe maju pula guna membantu isterinya. Melihat datangnya serangan, ia mengibas dengan tangan bajunya, la mau percaya tenaga dalam lawan ini tidak mahir sebab ia mendapatkan orang masih berusia muda. Tadi ia merobohkan Yu Peng dengan kibasan "Tiatsiu Sinkang" Atau Tangan Baju Besi, ia duga, dapat ia menggunai pula kibasannya itu terhadap pemuda ini. Nyata dugaannya meleset. Thian Oe itu, semasa kecilnya, telah mendapatkan pelajaran Tong-cu kang dari Siauw Ceng Hong, gurunya, kemudian dari Tong Keng Thian, ia memperoleh ilmu tenaga dalam Thiansan Pay, maka itu, ia jauh lebih menang daripada isterinya itu. Maka juga, ketika ujung pedang kena dikibas, ujung bajulah yang terpapas kutung. Walaupun demikian, anak muda itu mesti mundur juga empat tindak, hingga ia gagal dengan serangannya itu. Biat Hoa penasaran, ia menyerang pula, ia mendesak dengan kibasannya, dengan tendangannya yang dinamakan Tiattwie atau Kaki Besi, tetap ia gagal merobohkannya, dari itu sekarang baru ia mengerti, ini lawan yang muda tidak dapat dipandang enteng. Yu Peng mendapat bantuan suaminya, semangatnya terbangun. Ia menyerang pula dengan hebat, setiap serangannya diberikuti hawa dinginnya. Kali ini ia membuat si pendeta kewalahan. Biat Hoa tidak berani bernapas, atau segera ia terserang hawa dingin itu. Pernah ia mendesak, memaksa Yu Peng mundur, untuk ia dapat bernapas. Tapi, selagi si nyonya mundur, Thian Oe menggantikan merangsak. Tanpa merasa, Biat Hoa membuka mulutnya, maksudnya untuk bernapas, tapi justeru ia bernapas, justeru hawa dingin menyerang ia. Tak dapat bertahan lagi, tubuhnya menggigil. Justeru itu, Thian Oe menikam ia, menikam dengan tipu silat "Melintang menunjuk Langit Selatan". Maka, terpapas pulalah ujung bajunya! Hwesio ini kaget berbareng gusar sekali. Ia menjadi panas hatinya saking mendongkol dan penasaran. Tiga kali beruntun ia menyerang dengan Pekkhong ciang, Memukul Udara Kosong. Yu Peng tidak dapat mendekati diri dan Thian Oe mesti main mundur, tidak dapat mereka melawan pukulanpukulan dahsyat itu. Akan tetapi itu bukan berarti mereka kalah. Sebaliknya, tetap mereka mengepung pendeta itu. Mereka menggunai siasat mundur setiap kali mereka dirangsak. Dalam hal berkelahi bersama, sudah mahir dan bersatu padu ilmu pedang mereka--ilmu pedang Pengcoan Kiamhoat ajarannya Pengcoan Thianlie, sedang si nyonya muda mengandal sangat kepada pedangnya yang berhawa dingin itu. Tan Thian Oe juga penasaran, maka satu kali, ia menyerang dengan ilmu pedang "Pasir mengalir di gurun besar". Dengan itu ia mengarah tujuh jalan darahnya Biat Hoa. Untuk melindungi dirinya, muridnya Liauw In itu menggunai tipu silat "Iepou hoanheng", atau Memindahkan tindakan, menukar wujud". Ia bergerak dengan lincah, menyingkir dari setiap serangan, dengan saban-saban ia membalas menyerang ke kiri dan ke kanan. Hebat pertempuran ini. Yu Peng kembali terdesak, ia mundur. Thian Oe menikam, guna membela isterinya itu. Mendadak ia diserang Biat Hoa dengan Pekkhong ciang, hingga ia terpental mundur. Syukur tenaga dalamnya kuat ia bisa mempertahankan diri tidak terluka. Dalam segebrakan ini, Biat Hoa yang menang, meski benar ia tidak berhasil merobohkan kedua musuh itu. Hanya rugi untuknya, ia telah menggunakan tenaga terlalu besar, ia tidak beristirahat, pernapasannya juga tidak merdeka lagi. Lagi-lagi ia menggigil. "Jikalau terus-terusan aku bertempur secara begini, aku bisa jadi celaka," Pendeta itu berpikir. Maka ia lantas memikirkan daya guna merobohkan musuh atau mengundurkannya. Selagi ia berpikir keras itu, tiba-tiba ia mendengar suaranya Beng Sin Thong. "Kedua siluman laki-laki dan wanita ini sesat, mari kasih aku yang membereskan mereka!" Sin Thong sudah keluar dan ia telah menonton pertempuran itu hingga ia bisa melihat tegas cara berkelahinya itu sepasang suami isteri, ia kena dibikin heran walaupun ialah seorang yang telah banyak pandangannya dan luas pengetahuannya. Ia tidak bisa menerka, pedang Yu Peng itu pedang apa. Akan tetapi ialah seorang jago, ialah ahli, setelah menyaksikan sekian lama. dapat ia memahamkan ilmu pedang kedua lawan itu. Sambil menonton itu, ia kata dalam hatinya. "Biat Hoa lebih gagah tetapi dia kewalahan terhadap pedang si wanita, makin keras dia bertempur, makin banyak dia menghamburkan tenaganya. Itulah berbahaya! Umpama kata di akhirnya dia menang, mungkin dia bakal mendapat sakit berat!" Tapi, meski ia dapat berpikir demikian, tidak berani ia sembarang maju, untuk membantui kawan itu. Ia memandang kepada derajat si hwesio, ia kuatir orang tidak senang kalau ia maju secara tiba-tiba, tanpa menyapa lagi. Demikianlah, ia menantikan ketikanya, baru ia 'mengasih dengar suaranya itu. Biat Hoa dapat memikir. Ia menginsyafi sukar untuk ia merebut kemenangan, maka ia anggap baiklah ia mengalah. Dan ia mundur dengan lantas. Beng Sin Thong segera menggantikan maju. "Usia kamu muda, nyali kamu ptapinya besar!" Kata jago ini, [menegur. "Lekas kamu menerangkan apa perlunya kamu datang kemari?" Selagi orang mementang mulut Btu, Yu Peng menimpuk dengan tiga biji peluru cs-nya. Tapi Sin Thong bukan sembarang orang. Bahkan jago ini sengaja ingin menguji senjata rahasia itu. Dia me-Inanti tibanya peluru, lantas dia mengulur tangannya, untuk menanggapi. Begitu dia menggenggam keras, begitu peluru itu hancur! "Hahaha!" Si jago tua tertawa lebar. "Benar-benar radarada sesat!" Yu Peng melengak. Ia kaget tak terkira. Tapi cuma sejenak, ia lantas maju untuk menikam. Sin Thong tidak jerikan tikaman itu. Ketika pedang sampai, dia menyentil, hingga senjata itu mental ke samping. Berbareng dengan itu, dia pun berseru. "Tinggalkanlah pedangmu!" Dengan sebelah tangannya, dia menyambar, guna menangkap senjatanya si nyonya muda. Selagi isterinya didesak itu, Thian Oe maju menyerang dengan jurusnya "Ciansan lokhio", atau "Daun rontok di seribu gunung". Tapi Sin Thong liehay. Juga pedang ini dia sentil balik! Thian Oe penasaran, ia mengulangi tusukannya, kali ini dengan jurus "Gempurnya es bersusun". Ia mengarah jalan darah kwieehong. Pedangnya itu mengasih dengar suara mengaung ketika diputar balik. Sekarang Sin Thong telah mendapat kenyataan, tenaga dalam anak muda ini tidak lemah, karenanya, ia meninggalkan Yu Peng, sambil memutar tubuh, ia membalik tangannya untuk mengibas. Dengan begitu maka gagallah pula serangannya Thian Oe itu. Thian Oe dan isterinya heran bukan main. Musuh ini tidak takut pedang dan peluru dingin. Tentu sekali, Beng Sin Thong menjadi demikian tangguh karena dia mengandal pada Siulo Imsat Kang. Ilmu silat yang istimewa itu justeru berhawa dingin, jadinya, dingin lawan dingin, dari itu, hawa dingin si nyonya muda menjadi tidak berjalan. Pula, tenaga dalam Sin Thong dahsyat luar biasa. Laginya, Hankong kiam tidak sama dengan Pengpok Hankong kiam, pedangnya Pengcoan Thianlie. Juga Sin Thong, dia heran tak kalah dengan herannya Thian Oe suami isteri itu. Dia mengenal baik liehaynya Siulo Imsat Kang tetapi sekarang kedua lawannya tidak dapat dihajar, mereka itu cuma mundur dan peluh mereka membanjir. Itulah tanda bahwa mereka cuma kalah tenaga dalam. Pada paras Thian Oe dan Yu Peng tidak ada sedikit tanda juga bahwa mereka telah terpengaruhkan Pek-khong ciang yang dahsyat dari majikan Beng keechung itu. Biasanya, siapa terserang Siulo Imsat Kang, kulit mukanya lantas menjadi pucat. Dia tidak mengetahui, ketika Yu Peng diajari ilmu pedang Pengcoan Kiamhoat oleh Pengcoan Thianlie, ia diajari juga ilmu tenaga dalam guna melawan hawa dingin, ilmu mana sekarang dapat digunai untuk bertahan dari hawa dinginnya Sin Thong. Beng Sin Thong sudah memikir untuk merobohkan lawan dalam delapan atau sepuluh jurus, melihat bukti sekarang, dia merasa bahwa dugaannya bakal meleset. Tentu sekali, dia juga menjadi penasaran dan tidak mau gampang-gampang berhenti. Dasar dia banyak lebih tangguh, dalam pertempuran selanjutnya, Yu Peng dan Thian Oe lantas kena didesak, umpama kata, mereka tidak dapat bernapas dan pakaian mereka kuyup dengan keringat mereka sendiri. Pula, dengan perlahan, mereka mulai merasakan juga serangan hawa dingin. Begitu lekas dia telah menang di atas angin, Sin Thong tertawa berkakak. "Insyafkah kau akan liehayku?" Dia tanya seraya menuding Yu Peng. "Lekas persembahkan pedangmu! Habis itu, kau terangkan, siapa memerintahkan kamu datang kemari! Mungkin aku nanti berlaku murah hati terhadap kamu! Jikalau kamu membandel, terpaksa aku akan menggunai tangan kejam!" Yu Peng tidak menjawab, hanya mendadak ia mengeluarkan seruan panjang. "He, kamu main gila apa?" Bentak Sin Thong. Dia heran atas sikap si nyonya muda. Yu Peng mengayun sebelah tangannya, dengan gerakan "Thianlie sanhoa", atau "Bidadari menyebar bunga", ia menyerang dengan enam butir peluru es-nya mengarah enam jalan darah. Beng Sin Thong tidak takut, tapi juga dia tidak sudi membiarkan tubuhnya kena terhajar, maka dengan kesehatan luar biasa, dia sentil setiap butir, hingga ke enam peluru pecah hancur, hingga di sekitar mereka hawa menjadi dingin sekali. Menggunai saat orang menyentil peluru es-nya, Yu Peng bersama Thian Oe mundur dengan lekas, hingga mereka menjadi terpisah sepuluh tombak kira-kira. "Apakah kamu memikir untuk menyingkir?" Sin Thong membentak pula. Dia mendongkol kena orang permainkan. Terus tubuhnya mencelat maju, untuk mengejar. Hanya sebentar, dia telah dapat menyandak. Dengan kedua tangannya, dia lantas menyerang. Tenaganya itu bergerak bagaikan gunung ambruk atau laut karam... Tan Thian Oe membela diri tetapi toh tubuhnya terhuyunghuyung, tubuhnya itu seperti sebuah perahu dalam permainan sang gelombang dahsyat. Beng Sin Thong agaknya telah menjadi gusar sekali, hingga dia benar-benar hendak menurunkan tangan jahat, hanya belum lagi dia sempat berbuat begitu, tiba-tiba telinganya mendengar seruan panjang, suara itu halus dan bening. "Tan Kongcu, jangan takut! Aku Le Seng Lam, aku datang!" Mendengar suara itu, Sin Thong terkejut. Ia mengenali suara itu, suara si nona pakaian hitam yang pernah datang memasuki Beng keechung. Katanya dalam hatinya. "Dia benarlah anaknya musuhku!" Dulu hari itu Sin Thong sudah membinasakan ayah bundanya Seng Lam sekalian merampas kitab ilmu silat Keluarga Le, karena itu ia dapat memahamkan Siulo Imsat Kang, ia jeri terhadap turunan keluarga itu, ia jeri melebihkan Co Kim Jie, Ek Tiong Bouw dan Kim Sie Ie. Selagi Seng Lam itu berseru dan muncul, untuk menghampirkan Sin Thong, buat menolongi Thian Oe dan Yu Peng, di belakangnya terlihat berkelebatnya satu bayangan yang pun terus membentak. "Bangsat perempuan, kau hendak lari kemana?" Seng Lam tidak memperdulikan bentakan itu, ia cuma mengayun tangannya ke belakang. Atas itu robohlah bayangan itu, ialah salah seorang muridnya Sin Thong. Orang itu terguling sambil menjerit kesakitan. Sin Thong terkejut. Hebat si nona. Maka berpikirlah ia. "Dia dapat menggunai jarum Bweehoa ciam dalam jarak tiga tombak lebih, itulah bukti tenaga dalamnya tidak ada kecelaannya. Sekarang dia baru berumur kurang lebih dua puluh tahun, jikalau dia beryakin lagi sepuluh tahun, itulah hebat! Maka haruslah dia disingkirkan lekas-lekas!" Oleh karena ia memikir demikian, untuk berlaku telengas, Sin Thong lantas bersiap sedia mengerahkan tenaganya. Ia menanti datangnya si nona hingga dekat untuk menyerang dengan tiba-tiba. Tempat dimana Sin Thong dan Biat Hoa saling meyakinkan ilmu adalah sebuah tempat rahasia, kecuali Hang Hong dan Gouw Bong, lain-lain muridnya dilarang datang kesitu, hingga tidak ada yang ketahui mereka berdiam dimana, akan tetapi sekarang tempat itu didatangi musuh, bahkan ternyata, si guru dan si pendeta lagi menempur musuh! Mereka sendiri tidak merasa bahwa mereka seperti dipancing Seng Lam untuk datang kesitu. Atas serangan si nona, mereka berhenti mengejar. Sebaliknya, mereka lantas berkaok-kaok. "Si nona she Lie kaum Thiansan Pay telah dibawa lari konco-konconya'" "Ada satu penjahat perempuan yang telah melukai jiesuko! Dialah yang tadi malam dapat lolos!" "Yang Susiok juga terlukakan!" "Suhu hati-hati! Senjata rahasianya perempuan ini sangat liehay!" "Di dalam pun ada seorang bangsat kecil, dia main melepas api!" Sin Thong kaget sekali, terutama mendengar halnya ada satu penjahat wanita lainnya. Siapakah nona itu kalau bukan gadisnya sendiri? Tengah Sin Thong berpikir itu, ia mendengar teriakan kemurkaan dari Yang Cek Hu, ketika ia menoleh dengan segera, ia mendapatkan dua bayangan berlompat ke tembok. Ia sangat tajam matanya, lantas ia mengenali, nona yang satu ialah Lie Kim Bwee, dan yang lain anaknya sendiri, Kok Cie Hoa. Sejenak itu, jago tua ini bingung. Lie Kim Bwee tidak dapat lolos. Jikalau dia lolos, dia bakal membuka rahasianya. Itulah memalukan dan membahayakan untuknya. Tapi sekarang ia lagi menghadapi Le Seng Lam anak musuhnya. Dia ini juga tidak dapat dilepaskan! Habis, yang mana satu yang ia mesti bekuk dulu? Selagi Sin Thong bingung itu, Thian Oe dan isterinya kembali mengundurkan diri. Yu Peng membuka jalan dengan timpukan-nya sebutir Pengpok sintan. Murid-muridnya Sin Thong tidak sanggup bertahan, beberapa yang masih lemah kepandaiannya, lantas saja roboh terkapar. Kali ini suami isteri itu dapat mundur untuk terus menggabungkan diri dengan Le Seng Lam. Dengan menggunai keringanan tubuh mereka, mereka berlompat ke atas tembok. Seng Lam tertawa dan berkata. "Bangsat tua she Beng, lain kali kita bertemu pula! Aku juga tidak bakal melepaskan kau!" Sin Thong mendongkol bukan main, tapi ia lantas mendengar suaranya Biat Hoa. "Aku akan mewakilkan kau membekuk itu nona she Lie!" Ada maksudnya kenapa pendeta ini berkata demikian. Itulah karena ia telah mengenali Kok Cie Hoa. Ia kuatir Sin Thong nanti melepaskan pula nona itu. Sebab yang lain ialah ia jeri untuk melayani Tan Thian Oe dan Yu Peng. Maka ia memilih yang ia anggap paling gampang. Ia pikir, biarlah Beng Sin Thong sendiri melayani Seng Lam serta sepasang suami isteri itu. Begitu mendengar suaranya si pendeta, begitu Sin Thong mengambil keputusannya. Ia tidak mau melepaskan Seng Lam, Segera tubuhnya bergerak, berlompat ke tembok, guna mengejar Nona Le. Ia dapat bergerak lebih sebat daripada si hwesio, yang pun sudah lantas berlompat, maka di lain saat, ia sudah berhasil menyandak Seng Lam, dan sebelah tangannya lantas diulur, menjambak nona itu. Tepat Seng Lam hampir kena dicekuk itu, mendadak disitu terdengar satu suara nyaring, dari sesuatu yang meledak. Itulah akibat melayangnya sebelah tangan Nona Le, yang meluncurkan sebuah benda, yang meledaknya lantas menghembuskan asap dan di dalam asap itu nampak melesat berhamburan banyak jarum halus-ialah jarum Bweehoa ciam. Sin Thong kaget sekali. "Ah, aku melupakan senjata rahasianya Keluarga Le!" Katanya di dalam hati. Ia sebenarnya hampir melatih diri sebagai "tubuh Kim-kong yang tak dapat rusak", apa-pula baru asap seperti asapnya Seng Lam itu, akan tetapi ia toh tidak sudi jalan darahnya tertusuk jarum itu, untuk mengeluarkannya berabe untuknya, sedang kalau darahnya kecampuran racun, ia membutuhkan waktu sepuluh hari atau setengah bulan untuk beristirahat. Maka itu, ia lantas lompat minggir beberapa tombak. Tapi ia bukan melainkan menyingkir, sambil berlompat itu-lompat jumpalitan-ia sekalian menyerang dengan pukulan Pekkhong ciang. Hingga asap kena dibuyarkan, buyar berikut jarum-jarumnya yang meluncur entah kemana. Senjata asap tercampur jarum dari Seng Lam ini ialah dinamakan Tokbu Kimciam Hweeyam tan. Itulah peluru, yang kalau ditimpuki lantas pecah hancur, lantas asapnya mengepul dan jarum menyambar-nyambar. Itulah senjata rahasia miliknya dua keluarga Kiauw dan Le. Hanya, tiba pada ayahnya Seng Lam, pembuatannya telah berubah, apinya tidak ada lagi, cuma asap saja, serta jarumnya juga tidak memakai racun lagi. Hanyalah Beng Sin Thong tidak mengetahui itu maka ia menjadi jeri. Seng Lam juga percaya, jarumnya itu tidak nanti melukai Sin Thong, hanya ia tidak menyangka, Pekkhong ciang lawan itu dapat membubarkannya demikian dahsyat. Untungnya penyerangan peluru ini, karena Sin Thong beraksi membela diri itu, Tan Thian Oe dan Yu Peng kembali dapat ketika untuk menjauhkan diri mereka hingga belasan tombak. Ketika itu api berkobar di rumah Sin Thong, asapnya mengepul naik. Dari tempat yang jauh orang dapat melihat kebakaran itu. Itulah api yang dilepas Kang Lam. Meski ia tidak gagah perkasa, untuk menghadapi murid-muridnya Beng Sin Thong, anak muda ini dapat bergerak dengan leluasa. Beberapa musuh, yang hendak menghalang-halangi aksinya, ia totok roboh. Sedang di antara murid-muridnya Sin Thong itu, Hang Hong yang paling pandai sudah terobohkan Yu Peng. Dalam kegembiraannya, ia melepas api di enam tujuh tempat. Gouw Bong ialah murid yang paling dulu menyerukan gurunya. "Suhu, celaka! Lekas balik! Tolongi orang!" Sin Thong heran, dia membentak. "Apa? Tolongi api atau orang?" Dia menyangka murid itu, dalam bingungnya, salah menyebut "api" Menjadi "orang". Gouw Bong menyahuti dengan teriakannya. "Tolongi orang! Api sudah ada yang pergi memadamkannya! Aku minta suhu lekas kembali untuk menolongi orang!" Ilmu totok Kim Sie Ie itu aneh, siapa kena totokan itu, jangan kata Gouw Bong, sekalipun Yang Cek Hu tidak dapat membebaskannya, Justeru karena melihat paman gurunya tidak berdaya, lantaran takut saudara-saudaranya lama-lama nanti terbinasa, dia lari pergi mencari gurunya, untuk minta pertolongan gurunya itu. Ia pun lantas menjelaskan bahwa mereka yang tertotok tak dapat ditolongi. Sin Thong kaget dan heran. Ia pun melihat api berkobar terus. Kang Lam membakar di pelbagai tempat, meski Sin Thong banyak murid dan orangnya, kebakaran cuma dapat segera dipadamkan di dua atau tiga tempat, maka di bagian mana belum ada pertolongan, api berkobar semakin besar. "Mungkin mereka ini telah mengundang lain-lain orang pandai?" Sin Thong menduga-duga sedang hatinya panas sekali. "Mereka dapat melukai murid-murid hingga Yang Cek Hu tidak dapat menolongi mereka! Mungkin mereka pun datang dalam jumlah besar..." Selama itu Tan Thian Oe dan isterinya serta Seng Lam sudah menyingkir ke dalam rimba, belakang mereka pun sudah tidak tertampak lagi. Sebenarnya, kalau Sin Thong mau mengejar, ia masih dapat menyandak, tetapi di dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat inenguber. la pula sangsi untuk dapat mengalahkan tiga orang itu. Bukankah senjata rahasia Seng Lam liehay? Bukankah pedang Yu Peng tidak boleh dipandang enteng? Sedang tenaga dalam dari Thian Oe pun cukup mahir. Ia juga masih menguatirkan ada lain musuh yang liehay, yang beraksi di flalam rumahnya. Maka ia mengambil keputusan terpaksa melepaskan Seng Lam, untuk menolongi murid-muridnya itu. Di lain pihak, Biat Hoa Hweishio telah berhasil menyusul Lie Kim Bwee dan Kok Cie Hoa. Mereka itu kalah dalam ilmu ringan tubuh. Setelah memasuki cukup jauh rimba di hadapannya, baru Biat Hoa mendapat lihat belakang mereka itu. Cie Hoa segera mendapat tahu yang menyusul mereka cuma Biat Hoa satu orang, maka ia menduga tentulah ayahnya-Sin Thong-sudah kena dilibat Seng Lam. Hatinya menjadi lega, hingga ia bisa tertawa ketika ia berkata pada Kim Bwee. "Mari kita mengasih rasa kepada keledai botak itu!" Kim Bwee akur. Ia memang sangat benci pendeta itu. Sekarang ketikanya untuk melampiaskan kemendongkolannya itu. Ia percaya Cie Hoa cukup liehay, hingga berdua mereka tentulah sanggup melayani si pendeta. "Baiklah!" Ia memberikan jawabannya. Keduanya mengawasi Biat Hoa, lantas mereka lari belok sana dan belok sini, untuk melihat tempat yang baik, akhirnya mereka lompat naik ke atas pohon, untuk bersembunyi dulu. Biat Hoa menyusul terus, sampai ia lantas kehilangan kedua nona itu. la heran, maka dengan mata celingukan, hatinya berpikir. "Tidak bisa dalam sejenak saja mereka lenyap," Katanya dalam hati. la lantas menduga orang bersembunyi di pepohonan lebat atau di atas pohon. Maka ia segera mulai mencari, matanya melihat ke atas pohon, atau gombolan yang rujuk. Mendadak ia mendengar bentakan nyaring tetapi halus, yang mana disusul dengan berkelebat turunnya dua sinar terang dari pedang yang tajam. Ia tidak memegang tongkat besinya, tidak berani ia menangkis dengan tangan kosong. Karena ia dibokong dari kiri dan kanan, tidak sempat ia berpikir banyak. Dengan satu lompatan "Jumpalitan di dalam awan", ia mengundurkan diri gesit sekali. Maka lacurlah ia! Di belakangnya itu ada kobakan yang airnya bau, bagian atas dari itu ditutup dengan rumput, hingga kobakannya tidak terlihat kecuali tadinya orang memperhatikannya. Kobakan itu terpisah dari pohon sekira tiga tombak. Cie Hoa yang cerdik telah mengatur tipunya. Biat Hoa lompat mundur, maka keceburlah dia! Sebenarnya pendeta ini ketahui kobakan itu, karena itulah jebakan yang dipasang Sin Thong, tetapi untuk membebaskan diri dari ujung kedua pedang, terpaksa ia lompat kesitu. Berlompat ke lain arah sudah tidak mungkin. Kim Bwee heran hingga ia tercengang. Cie Hoa pun merasai kakinya menginjak sesuatu yang bergerak, sambil menjerit "Celaka!" Ia menarik mundur pada kawannya. Dengan begitu mereka tidak turut kejeblos ke dalam perangkap itu. Menyusul itu, tubuhnya Biat Hoa mencelat keluar dari kobakan, untuk tiba di tepian. la lantas mirip seekor lindung yang penuh lumpur. Tentu sekali ia gusar bukan kepalang. Tanpa mensia-siakan ketika lagi, ia lompat kepada Cie Hoa, untuk menyerang si nona. Kim Bwee tertawa melihat roman tidak keruan dari Biat Hoa, hanya ia tidak tertawa lama. Segera hidungnya mencium bau tak sedap, hingga ia muak dan hendak tumpah-tumpah. Justeru itu, datanglah serangan Biat Hoa, yang gagal menyerang Nona Kok, terus menyerang padanya, la tidak takut, sebaliknya dari mundur, ia menyambut dengan tikaman! Biat Hoa menyampok pedang Nona Lie hingga pedang itu terpental balik. Tapi di saat itu, Cie Hoa menikam punggungnya. Ia merasakan sambaran angin Ia meninggalkan Kim Bwee, untuk mengibas bokongan itu Cie Hoa berlompat mundur, ia bebas dari cipratan lumpur dari tangan bajunya si pendeta. Tidak demikian dengan Kim Bwee, yang rada lambat, maka Nona Lie kena kecipratan, hingga ia menjadi mendongkol. Dengan kecipratan sedikit, si nona gusar, dari itu bisa dimengerti kegusaran si hwesio. Biat Hoa maju, untuk menerjang. Dia telah sesumbar. "Jikalau hari ini aku tidak dapat membetot otot-ototmu, aku sumpah tidak mau menjadi manusia!" Cie Hoa tidak takut, sebaliknya sambil tertawa ia mengejek. "Lindung bau, apakah kau masih belum cukup gegares lumpur? Kenapa kau masih berjumawa? Nah, ini rasai!" Kata-kata itu disusuli tikaman. Biat Hoa berkelit. Tanpa senjata, dia repot. Tapi dasar liehay, dia masih dapat melawan. Bergantian dia menyerang Kim Bwee atau Cie Hoa setiap kali dia memperoleh ketikanya. Beberapa kali Nona Lie kena dibikin terhuyung-huyung tapi ia masih melawan terus. Ia pun lantas ditolong Cie Hoa. Dalam tenaga dalam Kim Bwee kalah jauh dari Biat Hoa, tetapi ilmu pedangnya sudah mahir. Ketika pertama kali ia menempur pendeta itu, sampai tiga puluh jurus baru ia kena ditawan. Sekarang Biat Hoa tidak menggunai senjata, sulit untuknya mengalahkan si nona, sedang sekarang nona itu dibantu kawan yang tangguh. Kok Cie Hoa bersilat dengan ilmu silat Hian Lie Kiamhoat. Itulah ilmu pedang yang diperuntukkan menakluki Liauw In. Biat Hoa telah mewariskan ilmu silat gurunya, dia mengerti segala macam ilmu silat Binsan Pay, tetapi dia gelap mengenai ilmu pedang si nona, dia mengalami kesulitan, lebih-lebih dia tidak bersenjatakan tongkatnya. Tengah bertempur seru itu, tiba-tiba, Cie Hoa berseru, pedangnya lantas dikasih bekerja hingga berkilauan. Dengan itu ia telah keluarkan kepandaian ilmu pedangnya itu. Itulah gerakan yang dinamakan. "di luar tubuh menciptakan tubuh, di luar pedang memecah pedang". Maka pedangnya seperti juga menjadi beberapa puluh pedang yang meluruk atas tubuh Biat Hoa. Hwesio itu terperanjat, ia mengerti bahwa ia terancam bahaya. Tidak berani dia melayani lebih jauh dengan ilmu "Tangan kosong masuk dalam pedang putih". Maka dengan lantas ia berlompat tinggi, sambil berlompat tangannya mengibas. Berbareng dengan itu terdengarlah dua kali suara nyaring. Itulah suara dari ujung baju yang kena disambar pedang dan menjadi putus karenanya, hingga ia menjadi kaget. Sudah begitu, belum lagi ia tetap menaruh kakinya, Lie Kim Bwee yang tadinya terdesak, telah maju pula, untuk membalas menyerang. Biat Hoa mendongkol, hingga ia berseru. "Hai, budak, kau berani menghina aku!" Meski kakinya belum tetap, ia mengulur tangannya, untuk menyambuti pedang si nona, guna dirampas. Terhadap nona ini berani ia menggunai ilmu silat "Tangan kosong masuk dalam pedang putih". Dengan mengulur tangannya, ia menggunai tipu silat "Keng Tek toatpian", atau "Uttie Kiong merampas ruyung", salah satu jurus dari Kimna Ciuhoat, ilmu menangkap. Ia memandang rendah kepada Nona Lie, yang ia tahu kalah jauh daripadanya. Dalam Thiansan Kiamhoat, ilmu silat pedang partai Thiansan, sebenarnya Lie Kim Bwee sudah menyampaikan puncak tujuh dalam puluh bagian, ketika ia membalas menyerang ini, ia menggunai tipu silat dari "Tay Siebie Kiamsie", yang diubah menjadi "Twiehong Kiamsie" Atau ilmu pedang "Menguber Angin". Ia pun dapat bergerak sangat gesit. Maka terjadilah hal di luar terkaan Biat Hoa. Belum lagi jari tangannya dapat mencekal pedang, atau ujung pedang sudah menusuk ke lengannya! Syukur untuknya, dia bisa dengan cepat menarik pulang tangannya, jikalau tidak, lima jarinya bisa terpapas kutung! Api yang membakar rumahnya Beng Sin Thong berkobar lebih hebat, di bawah pengaruh angin, api berikut asapnya mengulek naik. Ketika Biat Hoa melihat bekerjanya sang jago merah itu, dia pun terkejut. Maka berpikirlah dia. "Lao Beng masih belum menyusul kemari, rumahnya itu telah terbakar, maka itu, apakah benar-benar telah datang banyak musuh liehay?" Dia ingat begini sebab tadi malamnya Sin Thong sengaja mengatakan padanya bahwa telah datang banyak orang liehay mengintai ke rumahnya. Ketika itu dia sangsi tetapi sekarang dia mempercayai sepenuhnya. Pertempuran berlangsung terus, mendekati jurus yang ke lima puluh. Dengan hanya berkelahi dengan tangan kosong, tetap Biat Hoa tidak mampu berbuat banyak. Dalam keadaannya sulit itu maka ke dalam rimba itu sekarang datang pula Tan Thian Oe bersama Yu Peng dan Le Seng Lam. Nona Le melihat si hwesio, lantas dia tertawa dan berkata. "He, dari mana datangnya ini makhluk aneh?-Lekas! Lekas! Mari kita membekuk siluman!" Biat Hoa menjadi jeri, tidak berani ia bertempur lebih lama pula. Pikirnya. "Jikalau aku tidak lekas mengangkat kaki, mungkin perahu nanti karam di dalam kobakan..." Maka lantas ia menyerang Lie Kim Bwee, untuk mendesak, begitu lekas si nona terkejut dan mundur, ia meneruskan berlompat, untuk menerobos kabur. Yu Peng menghajar pendeta itu dengan tiga butir pelurunya. Tapi Biat Hoa licik, ia lekas berkelit, untuk kabur ke lain jurusan. Le Seng Lam melihat lagak orang, ia berteriak. "Keledai botak yang tua, kau juga rasai peluruku!" Ancaman itu diberikuti terayunnya tangan, untuk menimpukkan satu biji peluru api asap jarum rahasia Kimciam Liathoh tan. Siat Hoa mendengar ancaman itu, ia berpikir. "Kecuali peluru es si siluman wanita itu, ada senjata rahasia apa lagi yang dapat mencelakai aku?..." Ia belum berhenti memikir, atau barang sesuatu meledak di dekatnya, lantas matanya menjadi gelap. Tapi masih ia bisa melihat-melihat sinar bergemirlapan. Ia menjadi heran sekali. "Senjata rahasia apakah itu?" Pikirnya pula. Ia tidak berdiam saja. ia lantas menyerang dengan Pek-khong ciang, untuk membuyarkannya. Jarum rahasia Bweehoa ciam dari Seng Lam liehay, hanyalah jarum itu tidak dapat menyerang di jarak yang jauh, maka itu, selagi si pendeta berlompat sangat cepat dan terus menyerang dengan pukulan Udara Kosong itu, jarum itu tidak dapat meminta korban. Adalah asapnya, yang menyukarkan Biat Hoa. Kedua mata si pendeta terasakan perih, mata itu lantas bengap dan mengeluarkan air! Seng Lam bertepuk tangan bersorak ketika ia melihat hasilnya serangannya itu. Ia berseru. "Si keledai tua yang botak mengerti liehayku maka juga dia menangis!" Tak terkirakan panas hatinya Biat Hoa, tetapi ia mesti mengucak-ucak matanya itu. Untuk membalas, ia ingin memungut batu, guna menyerang nona yang jail itu. Ia baru memikir, atau kupingnya mendengar satu seruan halus. "Kau juga merasai sebutir peluruku!" Ia menjadi kaget lagi. Ia menduga si Nona Le hendak menyerang pula padanya, segera ia menyerang dengan Pekkhong ciang, habis menyerang, dia berlompat mundur, guna menjauhkan diri. Hanya di luar dugaannya, baru kakinya terangkat, mendadak ia merasakan mata kakinya sakit sekali, seperti kakinya itu dibetot ototnya! Itulah Kang Lam yang menyerang dengan sebutir batu tetapi ia mengatakannya peluru. Ia telah habis bekerja membakar rumah Beng Sin Thong, ketika ia tiba di dalam rimba, ia telah dapat menyaksikan pengepungan atas Biat Hoa yang tangguh itu, maka lantas ia turut mengambil bagian. Ia menyerang dengan batu tetapi kepandaian yang ia gunakan ialah kepandaian ajarannya Kim Sie Ie. Coba di dalam keadaan biasa, tidak nanti ia berhasil mengenai kaki si hwesio. Biat Hoa menjadi korban lantaran pandangan matanya kurang awas, sedang hatinya telah dibikin ciut oleh senjata-senjata rahasianya kedua nona lawannya itu. Biat Hoa menjaga diri dari serangan jarum Bweehoa ciam dari Seng Lam, ia menduga ia bakal diserang di tiga bagian, atas, tengah dan bawah, maka juga ia menyerang dengan Pekkhong ciang sambil berlompat. Kang Lam sebaliknya berlaku cerdik, ia menimpuk di saat orang baru menaruh kaki dan ia menyerang jalan darah yongcoan hiat. Timpukannya Kim Sie Ie luar biasa, demikian juga timpukannya Kang Lam ini. Biat Hoa segera merasakan kakinya sakit dan tidak enak, lekas-lekas ia menutup jalan darahnya. Nyata ia gagal, kakinya terus terasa sakit, hampir ia tergelincir, la kaget hingga ia menduga. "Benarkah telah datang kemari orang-orang penting dari Thiansan Pay?" Terpaksa ia mengempos semangatnya, untuk paksa menutup jalan darahnya. Kali ini ia berhasil juga, dapat ia mengurangi rasa sakitnya, tetapi ia menjadi lemas, ia merasa dirinya bagai baru sembuh dari penyakit berat. Jalan darah Yongcoan hiat ada hubungannya dengan urat syaraf di mata, maka itu, siapa terserang jalan darahnya itu, lantas air matanya keluar. Ini sudah terjadi atas matanya Biat Hoa, justeru dia baru saja terkena asap sampai matanya bengap dan berair. Kang Lam tertawa haha-hihi. "Hai, tidak tahu malu!"dia mengggoda. "Kamu paderi tua bangka, kamu kalah, tetapi kamu menangis! Haha-haha! Sebenarnya aku si Kang Lam, ingin aku menghajar pula padamu, akan tetapi karena kau menangis begini sedih, baiklah, suka aku memberi ampun padamu!" Sekarang Biat Hoa mendapat dengar suaranya pemuda nakal itu, ia mengenali suara yang berlagu seperti suara kebocah-bocahan, ia menjadi sangat mendongkol. Ia lantas memaksa mementang matanya. Ia melihat seorang bocah, yang usianya ia taksir baru enam atau tujuh belas tahun (sedang sebenarnya Kang Lam telah berumur dua puluh, cuma tubuhnya lebih kate dan kecil daripada biasanya orang sepantaran dia serta wajahnya memang wajah kekanakkanakan). Ia pun melihat, dengan aksinya, Kang Lam lagi mengejek padanya, hingga darahnya menjadi meluap. Di lain pihak, ia terpengaruhkan rasa jerinya. Seorang bocah sudah begitu liehay, apapula si orang tuanya... "Biat Hoa Taysu ! Biat Hoa Taysu!" Begitu mendadak Biat Hoa mendengar suara memanggil. "Biat Hoa Taysu, kau dimana? Sudah, jangan kejar musuh yang sudah kabur! Mari lekas kembali" Itulah suaranya Yang Cek Hu. Beng Sin Thong sudah pulang untak menolongi murid-muridnya, dia berkuatir untuk Biat Hoa, dari itu dia menitahkan sutee-nya itu pergi mencari, maka di sepanjang jalan Cek Hu memanggil-manggil nama pendeta itu. Inilah ketika baik untuk Biat Hoa, tetapi dia masih berlagak, dia berkata nyaring. "Aku tidak sempat melayani kamu, kali ini aku memberi ketika, aku melepaskan kamu, kawanan bocah!" Tapi Kang Lam cerdik, dia tertawa dan menyahuti. "Jikalau kau masih tidak puas, mari kita bertempur lagi satu gebrakan!" "Hm!"bersuara pendeta itu. "Aku tidak dapat berpandangan cupat sebagai kau, bocah! Kau mau mundur atau tidak, jikalau tidak, nanti aku tiup roboh padamu!" Kang Lam tertawa dan berkata pula. "Orang membilang aku si Kang Lam doyan omong gede, kiranya ada kau yang lebih pandai meniup kerbau!..." La belum bicara habis atau Biat Hoa, dengan tindakan agung-agungan, menghampirkan padanya, untuk lewat di sisinya. Sambil mengawasi lagak orang, Kang Lam berkata dalam hatinya. "Tadi aku hajar jalan darah dia dengan batu, tidak ada hasilnya, sekarang aku coba pula, aku nanti menjajal ilmu totok dari Kim Tayhiap. Aku tidak percaya dengan jalan meniup dia dapat membikin aku roboh..." Ia tengah memikir itu benar-benar Biat Hoa meniup ke arahnya, lantas ia merasai mukanya sakit bagaikan disayat, benar ia tidak tertiup jatuh, ia toh terhuyung. Karena ia kuatir matanya rusak, lantas ia lari sambil mulutnya mengatakan. "Oh, ibuku, hwesio ini benarbenar liehay!" Thian Oe kaget. Ia menduga saudara angkatnya itu terluka, maka ia lari memburu, untuk menolongi. Biat Hoa lantas menggunai ketikanya itu untuk mengangkat langkah seribu. "Celaka, celaka!" Kata Kang Lam berulang-ulang. "Aku tidak dapat melihat!" Thian Oe semua lantas datang dekat. Untuk kagetnya, mereka melihat muka Kang Lam bertanda beberapa garis berdarah. Sebenarnya hebat Biat Hoa terserang jalan darah yongcoan hiat di kakinya itu, yang membuatnya lemas dan mengeluarkan banyak air mata, kalau itu waktu ia diserang pula, oleh Tan Thian Oe atau Lie Kim Bwee, atau siapa saja, pasti ia tidak dapat melawan, hingga ia bakal kena tertawan. Bahkan kalau Kang Lam keburu menotok ia, tentulah ia bakal roboh juga, atau sedikitnya ia roboh disebabkan ia paksa diri berlompat berkelit. Dasar Biat Hoa mahir tenaga dalamnya, tiupannya masih cukup keras untuk membikin sakit matanya Kang Lam, sampai Thian Oe semua pun kena terpengaruh akan keliehayan pendeta itu... "Tidak apa," Kata Cie Hoa tertawa. "Kau bisa menimpuk dia, itulah bagus! Bukankah kau telah melihatnya kita membikin dia seperti si lindung terpendam di dalam lumpur? Maka itu, kemen-dongkolanmu ini dapat dilampiaskan." Orang tertawa. Memang runtuhlah pendeta itu. Lie Kim Bwee girang sekali bertemu dengan Tan Thian Oe, Yu Peng dan Kang Lam. Selama di Tibet, mereka sudah berkekenalan. Ia pun menghaturkan terima kasih kepada Seng Lam, yang telah menolong padanya. Kemudian ia memegangi Yu Peng dan menanyakan melihat bagaimana datangnya ini ke Utara. "Kami datang kemari untuk mencari Kim Sie le," Jawab Nyonya Thian Oe. "Jikalau kami gagal, kami berniat pergi ke Thiansan untuk mencari kau serta Tong Keng Thian." "Apakah kamu berhasil mendapat keterangan tentang dia?" Tanya Kim Bwee cepat. Agaknya ia sangat tertarik hati mendengar disebutnya Kim Sie le. "Kita belum berhasil menemukan dia," Sahut Thian Oe. "Katanya dia tengah mencari kau, nona. Di tengah jalan kita pun tidak berpapasan." "Jikalau begitu mari kita lekas kembali!" Kata Kim Bwee. "Mungkin kita dapat bertemu dengannya di tengah jalan'" "Itulah enci Le ini yang memberi keterangan pada kita," Yu Peng menerangkan. "Katanya Kim Tayhiap berangkat pada kemarin dulu lagi dan mengambil jalan dusun Sin-an ini. Kita memang mau menyusul dia, supaya kita dapat menyandak sebelum dia tiba di Souwciu." "Enci Le, pandai sekali kau mendengar kabar," Berkata Nona Lie. "Pertama kali karena petunjuk kau, aku bertemu sama suheng-ku, dan sekarang mengenai halnya Kim Sie Ie. Bagaimana kau mendapatkannya itu, enci?" "Aku mendengar itu dari mulutnya Kim Sie Ie sendiri di dusun Sin-an," Sahut Seng Lam. Ia ulangkan, apa yang ia terangkan pada Thian Oe -itu keterangan bohong. Lie Kim Bwee tidak menyangka bahwa ia lagi didustai. "Kalau begitu, aku suka turut kamu!"katanya. "Marilah kita pergi! Aku memang mau cari dia!" Yu Peng tertawa. "Adik yang baik, bagus sekali kau suka berjalan bersamasama kami!"katanya. "Kita memang lagi berduka lantaran kita belum dapat membalas budinya Kim Tayhiap, dengan kita berjalan bersama kau, itulah lebih berharga daripada kita mengirim bingkisan terhadapnya!" Kim Bwee likat. Sebenarnya, ia masih mau bicara banyak tetapi batal. "Enso Tan, kau jail!" Katanya, berpura mendongkol. "Sudah beberapa tahun kita tidak bertemu, sekarang lantas kau menjaili aku..." Kemudian ia mencekal tangannya Cie Hoa, untuk berkata. "Enci, mari kita pergi bersama! Bukankah enci tidak mempunyai urusan lainnya lagi? Sedang dengan Kim Sie Ie, enci kenal. Dengan kita pergi bersama, kita boleh tidak usah kesepian!" "Tidak," Kata Cie Hoa tertawa. "Aku mempunyai urusan lain, tentang mana aku belum sempat menuturkan kepada kau. Sudah lewat beberapa tahun semenjak ayahku menutup mata, sampai hari ini aku masih belum menjenguk pula kuburannya." Kim Bwee memikir untuk menyuruh sahabat itu menunda maksudnya, belum lagi ia membuka mulutnya, sambil tertawa Cie Hoa telah menambahkan. "Pikirannya Kim Sie Ie sering berubah, aku kuatir baru jalan setengah jalan, ia sudah mengubah pula pikirannya, hingga mungkin dia tidak jadi pergi ke Souwciu..." Kim Bwee heran. "Mengapa kau tahu akan tabiatnya itu?" Ia tanya. Ia menanya begitu, tapi di dalam hatinya sendiri, ia kata. "Aku sudah kenal dia sekian lama, masa aku tidak ketahui tabiatnya itu? Biasanya dia menyebut satu tidak menyebut dua..." Syukur yang bicara itu Kok Cie Hoa, kalau lain orang, mungkin tidak saja ia tidak percaya, bisa jadi ia gusar juga. "Kim Sie Ie pernah membilangi aku bahwa selewatnya satu bulan ia hendak pergi berlayar," Kata pula Kok Cie Hoa. "Dia memesan aku, apabila aku mendapat ketahui hal kau, dia minta ditunggui di Siang-ceng Kiong di Laosan. Harus aku jelaskan, ia bicara padaku terlebih dulu dan pembicaraannya sama enci Le belakangan, tapi bedanya ma satu hari. Kau lihat bukankah cepat perubahan pikirannya itu?" Cie Hoa ini, makin ia pikirkan, makin ia sangsikan keterangannya Seng Lam, ia hanya tidak berani memastikan bahwa itulah dusta belaka, dan ia pun tidak berani mengutarakan kesangsiannya itu. Maka itu, ia melainkan memberitahukan hal pembicaraannya sendiri dengan Kim Sie Ie, supaya si nona Lie dapat mengambil keputusan sendiri. Lie Kim Bwee polos,.tak pernah ia mencurigai orang, maka itu, mendengar perkataan Cie Hoa itu, walaupun ia heran, ia berpikir. "Engko Sie Ie bersahabat erat dengan Tan Thian Oe, sedang enso Tan baru saja lolos dari bahaya, maka itu mungkin sekali ia mengubah pikirannya. Rupanya ia ingin sebelumnya berlayar menemukan dulu Thian Oe suami isteri. Ini memang pantas." Karena memikir begitu, ia lantas berkata. "Jikalau demikian dia bilang kepada enci Le, mungkin benar dia telah menunda pelayarannya itu. Enci Kok, kau hendak menjenguk kuburan ayahmu, baiklah itupun ditunda dulu!" "Tidak dapat!" Berkata Cie Hoa. "Sudah beberapa tahun sejak niatku itu, sekarang tidak dapat aku menunda lagi." Melihat orang sudah mengambil ketetapan itu, Kim Bwee tidak memaksa. Tapi ia menoleh kepada Seng Lam untuk menanya. "Enci, kau bagaimana?" "Aku pun mempunyai lain urusan penting," Seng Lam menjawab. "Aku minta kau suka memaafkan, tidak dapat aku menemani kamu." Habis berkata, nona ini memberi hormat, untuk meminta diri. Tidak ada orang yang mengenal baik nona she Le ini, dari itu tidak ada yang membilang apa-apa atas keberangkatannya itu, cuma Kim Bwee yang merasa berterima kasih, ia kembali menghaturkan terima kasihnya. Demikian Seng Lam berangkat. Kang Lam mengawasi punggung nona itu, setelah orang pergi jauh, sambil tertawa ia kata pada Cie Hoa. "Turut penglihatanku, nona itu bertabiat rada aneh!" Cie Hoa diam, tetapi Kim Bwee tidak puas, Maka dengan mendelik sebentar kepada si pemuda, ia kata. "Sesuatu orang ada tabiatnya sendiri yang luar biasa. Mengenai Kim Sie Ie, bukankah ada banyak orang yang mengatakan dia tidak mengenal manusia? Demikian kau sendiri, Kang Lam, aku lihat kau pun rada aneh! Tapi, kamu semua ada orang-orang baik!" Kang Lam tertawa. "Aku pun tidak mengatakan Nona Le itu orang jahat!" Katanya. "Aku cuma merasa bahwa dia aneh!" Sebenarnya Cie Hoa masih hendak bicara lagi kepada Kim Bwee tetapi melihat nona itu membelai Seng Lam, ia batalkan niatnya itu. Ia tahu Kim Bwee sangat bersyukur kepada Seng Lam, yang telah menolong kepadanya. Kim Bwee pun berat untuk berpisahan dengan Cie Hoa. Ia menarik tangan orang dan berkata. "Sayang kita cuma dapat berkumpul dua hari. Sebenarnya aku masih ingin minta kau mengajari aku ilmu pedangmu..." "Sang hari masih banyak," Berkata Cie Hoa. "Umpama kata tidak ada ketika untuk kita bertemu pula, satu waktu dapat aku pergi ke Thiansan menjenguk kau. Ah, aku harap semoga kamu dapat mencari Kim Sie Ie!" Selagi begitu, Kang Lam sambil tertawa menyelak. "Nona Kok," Katanya. "persahabatanmu dengan Kim Sie Ie pun erat sekali, kenapa kau tidak dapat menunda dulu urusanmu itu, supaya kita dapat pergi bersama mencari dia?" "Ha, pantas orang membilangnya Kang Lam si banyak bacot!" Berkata Cie Hoa. "Aku bilang tidak dapat pergi, itu artinya aku tidak bisa pergi, maka kenapa kau masih berulangulang membujuki aku?" Sebenarnya tepat kata-kata Kang Lam itu, tetapi si nona bersandiwara, sengaja dia berbalik menegur. Setelah berpisahan, Lie Kim Bwee lantas turut rombongannya suami isteri Tan Thian Oe dan Kang Lam, akan kembali, buat menyusul Kim Sie Ie. Di tengah jalan, Kang Lam menceritakan halnya ia bertemu Kim Sie Ie dan Kok Cie Hoa, tentang mereka itu berdua. Kim Bwee heran. Pikirnya. "Eiasanya engko Sie Ie jarang cocok dengan orang. Yang bersahabat rapat dengannya, kecuali aku cuma Pengcoan Thianlie, tetapi sekarang nampaknya, meski mereka berkenalan belum lama, pergaulannya dengan enci Kok dan enci Le agaknya erat juga." Nona ini polos, ia tidak kenal jelus atau cemburu, maka itu, ia cuma merasa heran, tidak lebih. Masih ada satu hal yang membuat Nona Lie heran. Yaitu halnya Cie Hoa berkeras tidak suka berjalan bersama-sama mereka. Ia belum berpengalaman luas tetapi ia mendapat perasaan bahwa alasan Cie Hoa hendak menjenguk kuburan ayahnya cuma alasan belaka. Maka pikirnya pula. "Katakatanya Kang Lam beralasan. Persahabatannya enci Kok dengan engko Sie Ie bukannya tidak erat, mengapa ia tidak bisa menunda urusannya itu? Toh sudah lewat beberapa tahun yang ia belum pergi menjenguk kuburan ayahnya. Kenapa mesti sekarang juga? Perkenalanku dengan enci Kok memang belum lama, tetapi kelihatannya ia memandang aku mirip saudara dan aku melihatnya dia bukan seorang yang berhati tawar! Kenapa dia tidak mau berdiam denganku lagi beberapa hari? Sikapnya itu membuatnya orang merasa ia tidak suka bergaul..." Karena keheranannya itu, Kim Bwee jadi masgul, maka pengharapan satu-satunya ialah agar ia dapat menemui Kim Sie Ie. Dalam perjalanan ini, Thian Oe berdua Kang Lam duduk atas seekor kuda. Kudanya Kang Lam dikasihkan kepada Kim Bwee. Dalam satu hari, tibalah mereka di dusun Sin-an. Thian Oe lantas mencari keterangan. Ia telah menanyakan beberapa orang tapi semua mereka itu membilang tidak melihat orang yang roman atau potongannya dipetakan sebagai Kim Sie Ie. Ia pun pergi ke dusun belakang dimana menurut katanya Seng Lam ada sebuah kuil tua. Ia berhasil mencari kuil itu, tetapi saking tuanya dan tak terawat, tidak ada tandanya bahwa orang pernah singgah disitu. Yu Peng menjadi heran. "Mungkinkah kita salah?" Katanya. "Dan ini bukannya kuil yang dikatakan Nona Le?" "Aku telah menanyakan penduduk sini, katanya inilah kuil malaikat bumi satu-satunya," Kang Lam memberi kepastian. "Mana bisa salah?" "Tapi kau lihatlah," Kata Yu Peng. "disini mana ada bekasbekasnya pernah didatangi orang?" "Bekasnya memang tidak ada," Kata Kang Lam, tertawa. "tetapi aku tidak keliru! Mungkinkah si Nona Le yang mendusta?" "Apa perlunya dia mendusta?" Tanya Kim Bwee. "Mungkin di dalam ini ada sebabnya," Berkata Thian Oe. "Siapa tahu jikalau Nona Le keliru ingat?" "Mungkin apa?" Kata Kang Lam. "Mana dapat main mungkin, mungkin?... Aku bilang, sembilan dalam sepuluh, pastilah dia sengaja permainkan kita!" "Ah, selamanya kau memandang aneh terhadap Nona Le!" Menegur Kim Bwee. "Tanpa sebab, kenapa dia mesti permainkan kita?" "Benar, jangan kita sembarang menduga-duga!" Kata Thian Oe. "Mari kita kembali, untuk mencari terlebih jauh. Kita lihat saja beberapa hari ini." Thian Oe pun mencurigai perkataan Seng Lam, tetapi karena telah pasti Kim Sie Ie tidak ketahuan berada dimana, tidak ada ruginya untuk mencari terus beberapa hari. Perduli apa Seng Lam menjaili mereka. Ia pun tidak mengerti, apa alasannya Seng Lam main gila... Dua hari lagi telah lewat, mereka mencari dengan sia-sia. Semua orang yang diminta keterangannya membilang tidak melihat orang semacam Kim Sie Ie. Di hari ketiga malam, Kang Lam habis sabar. "Nona, jangan kata aku banyak bacot!" Ia kata pada Nona Lie. "Menurut aku, Nona Le itu benar rada sesat!" "Ah, janganlah kau mengatakan orang," Kim Bwee bilang. Dia besar kepercayaannya terhadap Seng Lam. "Kau sangat mempercayai dia, nona. Tahukah kau asal-usul dia itu?" Kang Lam tanya. "Aku tidak tahu. Aku bukan seperti kau, yang gemar sekali mencari tahu urusan lain orang! Satu hal yang orang tidak suka omongkan, aku tanya pun tidak." Kang Lam tertawa. "Kau juga jangan banyak omong, nona!" Katanya. "Aku hanya tidak mengerti kau, kenapa kau demikian percaya nona itu?" "Aku tidak kenal dia, dia tidak kenal aku," Menyahut Kim Bwee," Tetapi telah dua kali dia menolongi aku. Yang belakangan ini, kau ketahui kejadiannya. Yang pertama itu terjadi di Beng keechung. Ketika itu aku dikurung di dalam kamar batu oleh Beng Laokoay." "Kalau begitu, benar aneh," Bilang Kang Lam. "Ketika itu apakah dia ada membicarakan urusan Kim Tayhiap dengan kau, nona?" Ditanya begitu, Kim Bwee menjadi heran. "Apakah artinya pertanyaanmu ini?" Ia balik menanya. "Setelah dia menolongi kau, apa katanya dia terhadap kau?" "Dia menyuruh aku pergi mencari Suheng. Aku turut petunjuknya, benar-benar aku berhasil menemui suheng-ku." "Apakah dia tidak menyuruh kau mencari Kim Tayhiap?" "Tidak. Ah, mengapa kau menanya begini melit? Apakah kau ketahui urusanku itu?" Sebelum menyahut, Kang Lam tertawa. "Nah sekarang dapat dilihat banyak bacot pun ada gunanya!" Katanya. "Ketika itu hari Kim Tayhiap mengacau Beng keechung, halnya itu aku mendengarnya dari Kok Liehiap. Tatkala itu disana pun hadir orang-orang Binsan Pay seperti Ek Tiong Bouw, Cia In Cin dan lainnya. Hanya ketika Kim Tayhiap bicara sama Kok Liehiap, dia tidak menyebutnyebut tentang Nona Le itu. Sekarang, menurut kau, nona, Nona Le itu ialah peno-longmu. Itu artinya, ketika itu, ia pun berada di Beng keechung, dan ia telah bertemu sama Kim Tayhiap. Terang ia ketahui kau mau cari Kim Tayhiap tetapi kepada kau, ia tidak mau menerangkan, sebaliknya ia sengaja menyuruh kau mencari suheng-mu! Nah, kau lihat, apakah disini tidak ada apa-apanya yang aneh?" Kim Bwee mengerutkan alisnya. "Benarkah itu?"ia tanya. "Pasti benar! Sekarang kau bilang, kau percaya aku atau Nona Le?" Nona itu membungkam, sambil tunduk, ia berpikir. "Aku tahu kau kurang percaya aku," Kata pula Kang Lam. "Sekarang mari aku tanya pula. Kau percaya Nona Le atau percaya Kok Liehiap?" Kim Bwee berpikir pula. "Mereka berdua ialah orang-orang yang aku percaya," Jawabnya kemudian. "Aku maksudkan, yang mana kau lebih percaya?" Tanya pula Kang Lam. "Gurunya enci Kok bersahabat dengan Thiansan Pay kami, jikalau dibandingkan, pasti aku lebih percaya enci Kok itu," Kim Bwee menyahut. "Eh, kau menanya begini, apakah artinya?" "Kaulah seorang cerdas, nona, mustahil kau tidak mengerti kata-katanya Kok Liehiap?" Kang Lam membalas menanya. "Kemarin ini dia menolak keras untuk berjalan bersama-sama kita. Artinya penolakan itu ialah ia tidak mempercayai perkataannya Nona Le itu." Hari itu memang juga Kim Bwee merasa heran, ia sedikit bercuriga, sekarang mendengar keterangan Kang Lam ini, ia menjadi sadar. "Dia mengatakan pikirannya engko Sie Ie berubah cepat sekali!" Katanya. "apakah... apakah..." "Aku lihat, bukannya Kim Tayhiap yang merubah pikirannya," Berkata Kang Lam. "yang benar ialah Nona Le telah mendusta!" "Engko Sie Ie bilang dia mau pergi ke Cengto untuk berlayar, dan Nona Le kata dia mau pergi ke Souwciu mencari kamu," Kata Kim Bwee, bimbang. "jadi itu berarti..." "Itulah... karangan belaka!" Kang Lam meneruskan. "Kenapakah dia mengarang kedustaan itu?" Kim Bwee masih menanya. "Kau tanyakan dia sendiri!" Menyahut Kang Lam. "Mana aku ketahui?" Kim Bwee polos dan jujur, maka itu, satu kali dia bercuriga dia ingin lantas mendapatkan pemecahannya, dia menyesal sekali tidak bisa segera sampai di Cengto. Sekarang ia menjadi bingung. "Bagaimana sekarang?" Ia tanya Thian Oe dan Yu Peng. Suami isteri itu pun menjadi heran dan curiga. "Begini saja," Kata mereka kemudian. "Kau, nona, kau pergi sendiri ke Cengto untuk mencari di Laosan, dan kami, kami terus pulang, untuk melihat di Souwciu. Siapa saja yang berhasil menemukan Kim Sie Ie, maka dia harus diam menantikan, agar kita tidak usah menjadi saling cari." Kim Bwee setuju. Besoknya mereka berpisahan. Kim Bwe sendiri berangkat ke Laosan, dan Thian Oe suami isteri bersama Kang Lam pulang ke Souwciu. *** Kok Cie Hoa berpisahan dari kawan-kawannya dengan pikirannya bekerja. Ia tidak dapat menerka Le Seng Lam itu orang macam apa. Benarkah kata-katanya Seng Lam itu ataukah itu kedustaan belaka? Ia menjadi bingung. Lama ia memikir akhirnya ia mengambil kepu-tusan bahwa untuk sementara ia batal menjenguk kuburan ayah angkatnya, hendak ia pergi dulu Ke Cengto, untuk melihat keadaan disana. Keputusan ini ia ambil tanpa ia menginsyafi jalan pikirannya, karena ia tidak tahu, adakah itu untuk mencari tahu benar-tidaknya perkataan Seng Lam atau untuk ia tidak menemukan pula Kim Sie Ie?... Perjalanan ini dilakukan dengan menunggang kuda, yang dibeli di tengah jalan. Dengan begitu, perjalanan dapat dilakukan terus-terusan. Tiba di kota Tong-an, ia hendak singgah. Untuk itu, ia membutuhkan rumah penginapan. Baru ia masuk ke dalam kota, belum lagi ia mencari hotel, ia sudah lantas dipapaki oleh dua orang dengan dandanan sebagai pesuruh. Dua orang itu menyambut dengan manis dan hormat, dan sambil tertawa. "Nona, adakah nona she Kok?" Mereka tanya. Cie Hoa melengak. "Kenapa?"ia tanya. "Kami berdua dari Hotel Siang Tay," Berkata satu di antara kedua orang itu. "Di dalam kota ini, hotel kami ialah yang terbaik segala-galanya, sudah kamarnya banyak, pula. ada tempat istimewa untuk tetamu-tetamu wanita. Untuk nona, kami sudah menyediakan sebuah kamar. Kami tinggal menantikan tibanya nona!" "Tunggu dulu!" Kata si nona, heran. "Kenapa kamu ketahui she-ku dan kenapa juga kamu ketahui hari ini aku bakal tiba disini?" "Tadi tengah hari telah ada orang datang memesankan tempat untuk nona, dan katanya di waktu begini pastilah nona bakal sampai disini. Kami sudah menantikan nona setengah jam lebih." "Siapakah orang itu?" Cie Hoa tanya. "Bagaimana romannya dia?" "Dialah kakak nona," Sahut orang yang ditanya sembari bersenyum. "Syukur kami tidak keliru menyambut." Kembali Cie Hoa melengak. "Apa, kakakku?" Ia tanya. "Benar, nona. Katanya kakakmu itu, dia menantikan nona di tempat persinggahan sebelah depan. Bukankah nona datang dari Binsan dan mau pergi ke kuil Siangceng Kiong di Laosan untuk berjiarah? Kakakmu itu, nona, telah menerangkan jelas sekali, bahkan uang sewa kamar dan uang makannya ia sudah bayar sekalian." Cie Hoa heran bukan main. "Ah, kecuali Kim Sie Ie dan Le Seng Lam, tidak ada lain orang yang ketahui aku hendak pergi ke Laosan," Pikirnya. "Adakah Kim Sie Ie yang lagi bergurau atau Seng Lam?" Pesuruh ini menyebut orang itu sebagai kakaknya, ia malu untuk menanya tegas bagaimana romannya sang kakak. Kalau tidak menanya, ia pun penasaran... "Ah, sudahlah," Pikirnya kemudian. "Karena aku mesti menyewa kamar dan bersantap, biarlah, aku terima baik apa yang adanya. Nanti aku mencari tahu dengan perlahanlahan..." Benar saja, di Hotel Siang Tay itu, perlayanan sempurna sekali. Hotelnya sendiri besar dan terawat baik dan barang daharannya lezad apapula masakan ayamnya. Maka Cie Hoa bisa menduga, bukan sedikit uang yang dikeluarkan untuk keperluan bermalamnya itu. Malam itu Cie Hoa tidur dengan berjaga-jaga, ia mau berlaku teliti meskipun ia menduga Kim Sie Ie atau Seng Lam dan mereka itu tentulah tidak bermaksud buruk terhadapnya. Dan sang malam lewat dengan aman tanpa terjadi sesuatu. Besoknya Cie Hoa berangkat pagi-pagi, ia terus melakukan perjalanan satu hari. Mendekati magrib ia tiba di sebuah dusun yang dipanggil Cheeliong cip. Mestinya ia singgah disitu, untuk bermalam, tetapi ia mempunyai pikirannya sendiri. Ia tidak singgah, ia melakukan perjalanan terus, hingga belasan lie. Di waktu orang mulai menyalakan api, ia tiba di sebuah dusun kecil yang ia tidak tahu apa namanya. Katanya dalam hati. "Aku mau lihat, dapatkah kau bergurau terus padaku atau tidak?..." Selagi memasuki dusun itu, tiba-tiba ia dihampirkan oleh seorang dengan pakaian sebagai pesuruh, dengan hormat orang itu menjura dan menyapa. "Apakah aku yang rendah bicara sama Nona Kok? Rumah penginapanku sudah menyediakan kamar untuk nona, maka itu silahkan nona turut aku kesana." Kembali Cie Hoa menjadi heran. Ia menduga orang menyediakan kamar di Cheeliong cip, sengaja ia melewatinya dan mampir disini. Siapa tahu, orang itu dapat menerka tepat. "Apakah kakakku yang menyediakan tempat untukku?" Ia tanya. Ia tertawa untuk menutupi herannya. Sebaliknya, si pesuruhlah yang melengak. "Kami tidak melihat kakakmu nona," Katanya. "Kami hanya bertemu sama ayah nona dan ialah yang memesan kamar, uang sewa kamar serta uang makannya semua sudah dibayarkan terlebih dulu." Mau atau tidak, Cie Hoa tercengang. Ayahnya? Inilah di luar dugaannya. "Ah, dia menjemukan sekali! Sudah dia menggunai nama kakakku, sekarang dia memakai nama ayahku! Tapi, hm! Ayahku ialah si busuk paling besar, maka jikalau kau mau pakai namanya, pakailah!" Segera juga ia memikir lain. "Agaknya ini aneh," Pikirnya lebih jauh. "Bukankah penggoda itu terdiri dari dua orang yang berlainan? Dia menyebut dirinya ayahku, dia mesti telah berusia lanjut. Tidak terlalu gampang untuk menyamar menjadi orang tua..." Oleh karena ia menyangsikan Kim Sie Ie atau Le Seng Lam, dari heran, Nona Kok menjadi sedikit berkuatir. Siapa ini orang yang memakai nama ayahnya? Ia pula tidak dapat menanyakan pesuruh itu perihal potongan tubuh atau roman muka ayahnya itu... "Kau she Kok, nona, romanmu ada miripnya dengan orang tua itu," Berkata si pesuruh, yang melihat si nona heran. "Mungkinkah telah terbit kekeliruan? Bukankah ayahmu itu berkumis putih dan tubuhnya sedikit bongkok?" Pesuruh itu mengatakan demikian karena adalah kebiasaan di kampungnya itu untuk meneliti setiap tetamunya, untuk mencegah terjadinya kekeliruan. Cie Hoa terkejut di dalam hatinya. Orang yang dilukiskan si pelayan hotel ialah Beng Sin Thong, ayahnya sendiri. "Adakah ini bukan penggunaan nama belaka?" Ia jadi berpikir. "Jadi benarlah dia... dia yang datang kemari? Kenapa dia mendapat tahu aku mau pergi ke Laosan? Tapi, kalau dia yang menyusul aku, mungkin untuk mengajak aku pulang, mengapa dia bersandiwara begini rupa? Tidak ada perlunya, bukan? Dialah benar seorang busuk tetapi tidak layaknya dia bersikap begini rupa terhadap anaknya..." "Ayahmu itu, nona, kelihatannya gagah," Berkata pula si pesuruh. "Dia memesan kata-kata untuk nona, katanya umpama kata di sebelah depan ada orang jahat, tidak usah nona buat kuatir, ayahmu sendiri dapat melayani mereka itu. Nona, bukankah kamu dari keluarga piauwsu?" Pesuruh itu mengatakan demikian karena ia tahu hal adanya piauwsu -yaitu orang, atau orang-orang, yang melindungi pengangkutan barang berharga-yang suka bekerja secara berterang atau secara rahasia, dan sekarang ia melihat nona itu membawa-bawa pedang, hingga mau ia menduga Cie Hoa ialah piauwsu wanita. Cie Hoa heran bukan main tetapi di depan pelayan hotel itu ia tidak mau mengutarakannya. "Jikalau benar dia yang datang, percuma aku menyembunyikan diri," Pikirnya kemudian. "Jikalau orang itu bukannya dia, maka ingin aku menemuinya, ingin aku melihat dia sebetulnya orang macam apa! Biar bagaimana, satu hari dia pasti bakal memperlihatkan dirinya!" "Benar, dialah ayahku," Sahutnya kemudian. "Apakah dia ada pesan lainnya lagi?" "Ayahmu itu berkata, nona," Menjawab si pesuruh. "hari ini kau berjalan lebih jauh daripada biasanya, kau mestinya letih sekali, maka ia memesan untuk aku menyampaikan kepada nona untuk nona beristirahat, agar besok nona mengurangkan perjalanan nona." Cie Hoa bersenyum. "Memang, aku memang harus beristirahat," Ia kata. Lantas ia turut pesuruh itu pergi ke hotelnya. "Entah siapa orang itu, tetapi dia benar cerdik," Pikir Cie Hoa pula. "Luar biasa yang dia dapat menduga aku tidak bakal singgah di Cheeliong cip hanya di dusun ini. Aku hendak menggagalkan dia, tetapi aku justeru terkena perangkapnya! Biarlah besok aku jalan pula lebih jauh lagi, hendak aku lihat, bagaimana sepak terjangnya!" Di hotel ini, seperti hotel yang terdahulu, Cie Hoa mendapat perlayanan sempurna. Begitu ia berada di dalam kamar, ia lantas disuguhkan barang hidangan, antaranya seekor ayam panggang yang membangunkan napsu dahar, juga sepoci anggur. Ia tidak kuat minum arak, maka itu ia sangat menyukai anggur yang tak keras sifatnya. Teman nasi lainnya pun cocok dengan seleranya. Tapi karena ia lagi membuat perjalanan, tidak berani ia minum banyak, ia cuma menenggak setengah pui. Malam itu Cie Hoa tidur nyenyak sekali, ketika besoknya ia mendusin, langit sudah terang sekali, bayangan matahari sudah doyong ke Barat. Ia terkejut. Itu tandanya sudah lewat tengah hari. Segera ia memeriksa barang-barangnya. Pedangnya tidak lenyap, uang bekalannya dan kitab pedangnya pun tidak hilang. Ia lantas menjalankan pernapasannya, ia merasa tubuhnya sehat. Hatinya lantas menjadi lega. Tapi ia heran. Kenapa ia tidur demikian nyenyak? Jangan kata ia, yang pandai silat, umpama kata lain orang, apabila dia berniat melakukan perjalanan, tidak nanti dia tidur kelelap seperti itu. Ia tidak menduga anggurnya dicampuri obat tidur. Tadi malam ia telah menciumnya dan tidak merasai bau apa-apa yang aneh pada minuman itu. Juga, jikalau orang menggunakan obat tidur terhadapnya, orang itu mesti mengandung sesuatu maksud, tetapi sekarang ia tidak kehilangan barang apa juga. Ia cerdas tetapi tidak dapat ia menerka. "Lihat, sudah begini siang!" Kata ia pada si pelayan yang ia panggil, untuk ditegur. "Mengapa kau tidak mengasih bangun padaku?" Pelayan itu tertawa. "Ayahmu telah memesan, nona, supaya kau beristirahat," Ia menjawab. "oleh karena itu, aku tidak berani mengganggu tidur nona." Cie Hoa mendongkol tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak bisa menyalahkan pelayan itu sebab memang ia tidak memesan untuk dikasih bangun. Bahkan kemarinnya si pelayan telah menyampaikan pesan "ayahnya" Untuk ia beristirahat. "Untuk bersantap tengah hari, nona, kau ingin dahar apa?" Pelayan itu tanya. "Anggurmu masih ada separuh lagi. Bolehkah aku bawakan itu sekarang?" "Jangan!" Kata Cie Hoa, separuh mendongkol. "Justeru anggurmu itu yang membikin gagal!" "Oh, nona, kau keliru menyalahkan aku!" Berkata si pelayan, agaknya dia terperanjat. "Anggur itu ialah anggur yang ditinggalkan oleh ayahmu sendiri, untuk nona." "Dasar kau!" Si nona tetap mempersalahkan. "Kalau itu ada arak yang ditinggalkan dia untukku, mengapa kau tadinya tidak memberitahukan aku?" Pelayan itu melongo. "Hebat tabiatnya piauwsu wanita ini!" Katanya dalam hati. "Terhadap ayahmu sendiri, mengapa kau menyebutnya dia? Itulah tidak hormat!" Kemudian ia menyahuti. "Anggur itu anggur yang ditinggalkan ayah nona sendiri, mungkinkah itu ada racunnya? Juga masakan ayam dan sayur lainnya semua, ada pesanan ayah nona itu. Sekarang, nona, aku telah menjelaskan semua, maka andaikata kau ingin dahar semua barang hidangan seperti itu, kami tidak sanggup segera menyediakannya." "Aku tidak mau dahar lagi sekarang juga aku mau berangkat," Si nona bilang. Pelayan itu tidak menanyakan kenapa orang mau berangkat demikian cepat, bahkan di dalam hatinya ia menganjurkan orang berangkat dengan segera. Tapi ia berkata. "Semua sewaan kamar dan harga barang makanan sudah dibayar oleh ayah nona dan binatang tunggangan nona juga sudah dipiara kenyang. Jikalau nanti nona kembali bersama ayah nona itu, aku harap sukalah kamu mampir pula pada kami disini." Cie Hoa sudah bersiap, maka ia lantas berangkat. Setelah mengantar tetamunya pergi, di dalam hatinya, pelayan itu kata. "Harga makanan pagi ini sudah dibayar oleh ayahmu, kau tidak sudi dahar, itulah untungku!" Kok Cie Hoa sendiri sudah berjalan terus, dia mampir di kedai teh di tengah jalan, untuk menangsal perutnya sekedarnya, lalu dia berangkat lebih jauh. Kira-kira magrib, dia masih belum menemui dusun. Menurut keterangan, dia mesti berjalan lagi tujuh atau delapan lie. Lantas dia sengaja, dia tidak mampir di dusun itu. Dia berjalan hingga langit sudah gelap, lantas dia meninggalkan kudanya, untuk sebaliknya, berlari-lari dengan ilmu enteng tubuh, untuk melanjuti perjalanan malam-malam. Sembari jalan, dia kata di dalam hati. "Kau hendak menggagalkan perjalananku, baiklah, aku justeru hendak membikin tiba dua hari terlebih dulu di Laosan!" Di depan itu jalan pegunungan. Di atas langit, rembulan sisir, sinarnya tidak terlalu gemilang. Batu-batu gunung banyak yang aneh-aneh macamnya. Pula disitu kadangkadang terdengar suaranya binatang-binatang liar. Di tempat seperti itu dan di dalam suasana demikian, Cie Hoa merasa jeri juga. Ia boleh gagah perkasa akan tetapi dalam dua hari ini, terlalu sering ia dipermainkan orang hingga hatinya menjadi goncang, gempur ketenangannya. Ia lagi berjalan terus ketika mendadak telinganya menangkap suara tertawa dingin, yang datangnya dari lereng bukit. Dengan lantas ia menghunus pedangnya. "Bilang! Kamu manusia atau iblis!..." Ia membentak. Belum berhenti suaranya mendengung, atau mendadak... dung! dung! dung! Sebuah batu besar jatuh bergelindingan dari atas bukit, jatuh ke arahnya! Dengan satu loncatan "Ithoo ciongthian", atau "Burung hoo nyerbu ke langit", ia mengapungi tubuhnya, akan menjauhkan diri setombak lebih. Tepat ia berlompat, tepat batu lewat di bawahan kakinya... "Siapa kau?" Cie Hoa menegur pula, gusarnya bukan kepalang. "Kenapa kau main curang? Jikalau kau mempunyai nyali, mari turun menempur aku!" Dari atas gunung terdengar penyahutan yang tidak sedap. "Jikalau kau bernyali, kau naiklah! Sekarang silahkan kau gegares dulu dua bocah batu!" Pula ada satu suara lain, yang menyusul, katanya. "Kemana perginya Kim Sie le? Sekarang ini kau tidak mempunyai tulang punggungmu! Baiklah kau tahu diri sedikit, kau letaki pedangmu!" Rasanya Cie Hoa kenal suaranya dua orang itu, terutama suara tertawa dari si orang perempuan tua, yang tajam menusuk telinga. Ia tidak usah memikir atau mengingat-ingat lama untuk segera mengenali mereka itu. Merekalah orangorang yang ia pernah tempur di dekat dusun Liu keechung. Merekalah kedua hantu. Kunlun Sanjin dan Siang Bok Loo. Maka ia terkesiap juga hatinya. "Kedua hantu itu memang liehay," Demikian ia berpikir. "Syukur tidak sekalian muncul Kim Jit Sian yang paling liehay! Jikalau mereka bertiga berada disini, sukar untukku lolos dari tangan mereka..." Karena ini, hatinya menjadi tetap. Ia mau percaya, andaikata ia tidak sanggup mengalahkan mereka, sedikitnya tak usah ia terkalahkan mereka. Lalu tanpa ragu-ragu lagi, ia menjejak tanah, untuk berlompat naik setombak lebih sembari ia terus berkata dengan dingin. "Aku kira siapa, tidak tahunya kamu berdua! Kunlun Sanjin, guruku pernah memberi ampun satu kali pada jiwamu, dan Kim Sie Ie baru ini tidak berniat membinasakan kamu, maka jikalau kamu berbudi sedikit saja, seharusnya kamu pergi menyembunyikan diri, untuk kamu merubah kelakuan kamu! Kenapa sekarang, sebaliknya kamu hendak menggangguku? Sungguh kamu tidak dapat diterima Thian!" Kunlun Sanjin pernah dikalahkan Lu Su Nio lalu dikalahkan Kim Sie Ie juga, sebaliknya daripada mengingat budi orang, yang tidak niat membinasakannya, dia menganggap itulah kekalahan yang membuatnya sangat malu, hingga dia jadi bersakit hati. Karenanya, mendengar perkataannya Kok Cie Hoa, dia justeru menjadi sangat gusar. Dia menyangka bahwa dia diperhina. "Lihatlah malam ini, siapa yang bakal meminta ampun!" Bentaknya. "Jikalau kau hendak memohon pengampunanku, itulah mudah! Kau berlutut di depanku, kau mengangguk tiga kali!" Cie Hoa tidak menggubris kata-kata orang, selagi lawan itu berkata-kata, ia justeru berlompat naik pula, untuk menghampirkan, sembari berlompat, sebelah tangannya diayun. Ia menimpuk dengan sebutir batu, menimpuk dengan ilmu timpukan batu huihong sek ke arah jalan darah! "Budak liar! Kematianmu lagi mendatangi, kau masih berani banyak lagak! Sekarang ini, walaupun kau berlutut di depanku dan mengangguk-angguk, tidak nanti aku memberi ampun kepadamu!" Lantas, bersama-sama Siang Bok Loo, dia menggeser sebuah batu besar, untuk digulingkan jatuh, guna menimpa nona itu. Hingga batu itu menggelinding turun dengan mengasih dengar suara gelon-congannya yang berisik. Cie Hoa masih berada di bawah, ia mengalami kesulitan, apapula ketika ternyata, musuh tidak melainkan menjatuhkan satu batu itu hanya yang lainnya lagi, yang digulingkan saling susul. Di antaranya pun ada batu besar seperti batu penggilingan. "Celaka! Sebelum aku tiba di atas, aku bisa mati terhajar batu!" Pikirnya. Di lain pihak ia mengerti, kalau ia lari turun, makin gampang ia terhajar batu itu. Maka, tidak bisa lain, ia berlompatan ke kiri dan kanan, untuk menghindarkan diri dari ancaman malapetaka itu. Selagi nona itu bingung dan berkuatir itu, mendadak ia mendengar jeritannya Siang Bok Loo, habis itu, berhentilah batu-batu menggelinding menyerang ianya. Ia lantas mengangkat kepalanya, memandang ke atas. Ia masih sempat melihat Kunlun Sanjin dan kawannya itu tengah berlari turun di lain bagian dari bukit itu, hingga sejenak kemudian terlihat saja benda merah, ialah jubahnya Kunlun Sanjin, yang bergerak-gerak bagaikan bayangan, serta anting-antingnya Siang Bok Loo, yang bergoyang-goyang dengan bersuara perlahan. Teranglah, mereka itu kabur dengan ketakutan. Tentu sekali, ia menjadi heran. Ia tidak mengerti, kenapa kedua hantu itu kabur secara demikian! Apakah yang membuat mereka takut itu? Nona ini berlari-lari mendaki seraya ia menanya nyaring. "Cian-pwee siapa yang telah membantu aku secara diamdiam? Dengan ini jalan aku menghunjuk hormatku!" Tidak ada suara jawaban, tidak ada orang nampak. Cuma terlihat pohon bergoyang-goyang bagaikan bayangan atau bayangannya bunga. Bukit itu sunyi senyap. Dalam herannya itu, Cie Hoa berpikir. "Jikalau tidak ada orang yang membantu aku, kenapa kedua hantu itu menjadi ketakutan dan mengangkat kaki? Jikalau ada orang, kemana perginya orang itu?" Cie Hoa berlari-lari naik keras sekali, ia mahir ilmunya enteng tubuh, tetapi ia tiba di atas tanpa melihat orang atau bayangannya. Atau, mungkinkah benar ada orang yang membantu ia secara diam-diam tetapi orang itu liehay luar biasa hingga dia dapat berlalu dengan cepat sekali? "Mungkinkah dia Kim Sie le?" Ia menduga pula. Baru ia menerka demikian, atau ia lantas menyangkal sendirinya. Ia tidak percaya Kim Sie Ie demikian liehay. Ia berpikir pula. "Jangan-jangan dialah yang selama ini mengganggu atau menggoda aku, hanya kalau orang itu agaknya hendak mencegah perjalananku, kali ini ia justeru membantu aku mengundurkan musuh, ia seperti membiarkan aku maju terus. Mungkin mereka bukannya satu orang..." Demikian Nona ini kena diumbang-ambing kesangsiannya. Cie Hoa berhenti sebentar, lantas ia melanjuti perjalanannya. Berselang sekian lama, cuaca telah menjadi terang. Karena ia dapat berjalan cepat, ia sudah melalui dua ratus lie lebih. Dengan datangnya sang pagi, tidak dapat ia meneruskan berjalan dengan cepat. Tapi ia ingin tidak mensiasiakan waktu. Maka ia mencari tempat dimana ia dapat membeli seekor keledai. Binatang itu, walaupun tak dapat melawan larinya kuda, lumayan juga, lebih menang daripada ia berjalan kaki perlahan-lahan. Demikian hari itu ia dapat melintasi perjalanan seratus lie lebih, di waktu magrib, tibalah ia di Laybu, tempat yang termasuk wilayah propinsi Shoatang. Itulah sebuah kecamatan. Ia lekas-lekas masuk ke dalam kota guna mencari rumah penginapan. Kata ia dalam hatinya. "Sekarang aku mau lihat, apakah kau masih juga mendapat tahu terlebih dulu tentang tibaku disini?" Setibanya di tempat penginapan, Cie Hoa tidak mendapatkan pelayan hotel yang menyambut ia. Hatinya lega tetapi ia berlaku teliti. Terhadap barang makanan, ia berlaku berhati-hati. Terutama arak, ia tidak berani minum sama sekali. Sayur pun ia celup dulu dengan tusuk kondenya sebelum ia men-daharnya. Dua malam satu hari Cie Hoa telah membuat perjalanannya, ia merasa letih, walaupun demikian, ia tidak berani berlaku alpa. Ia duduk bersila di atas pembaringan, untuk bersamedhi. la mendapat pelajaran sejati, maka itu, bersamedhi belum lama, ia berhasil memulihkan kesegaran tubuhnya, lenyap keletihannya. Karena ini, ia tidak usah tidur lagi. Tepat tengah malam, Nona Kok mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. "Siapa?" Ia tanya, hatinya diliputi keheranan. "Ada beberapa sahabat datang menjenguk kau!" Begitu ia memperoleh jawaban. Itulah di luar dugaan. Bukankah ia seorang diri saja? Taruh kata benar ada sahabat, kenapa mereka datang tengah malam buta rata? Pula, tidak selayaknya pegawai hotel lantas memberi ijin orang mendatangi kamarnya itu. Tadinya Nona Kok hendak mengeluarkan kata-kata keras untuk menegur, atau mendadak ia ingat pula. "Bukankah dialah orang yang selalu menggodai aku? Baiklah, karena dia telah datang, tidak selayaknya aku tidak menemuinya!" Maka ia mencekal pedangnya, untuk membukai pintu. Segera juga ia menjadi heran dan terkejut. Di depan kamar berdiri tiga orang dengan dandanan seperti opsir tentera, bahkan yang dua ia lantas kenali sebagai dua muridnya Biat Hoa Hwesio yaitu Cin Tay dan Kheng Sun, keduanya tongnia atau komandan dari pasukan Gie-limkun. Orang yang ketiga, yang usianya lebih tinggi, ia tidak kenal. "Ha, benar saja si budak perempuan she Kok!" Terdengar suaranya Cin Tay, yang agaknya keheran-heranan. Suaranya ini menyatakan terang sekali bahwa dia tidak berani menentukan sejak di muka bahwa penghuni kamar itu Nona Kok adanya. Hati Cie Hoa tenteram juga melihat tidak ada Biat Hoa Hwesio di antara mereka itu bertiga. "Oh kiranya Cin Tayjin dan Kheng Tayjin!" Ia lantas berkata sambil tertawa. "Apakah keangkaran kamu di atas gunung Binsan masih belum cukup maka sekarang kedua tayjin datang pula kemari untuk melakukan penangkapan? Sayang bukannya guru kamu yang datang kemari! Sayang orang tak sedemikian sabar seperti guru kamu yang sanggup mendapat umpat caci orang! Di gunung Binsan, kedua tong-nia ini telah diperhina Kim Sie Ie. Mereka telah disiksa, diperintah memaki habis-habisan guru mereka. Itulah peristiwa sangat memalukan mereka. Di dalam dunia Kangouw peristiwa demikian belum pernah terjadi. Sekarang Cie Hoa mengejek mereka, bukan main mendongkol mereka, hingga mereka menjadi sangat gusar. Kheng Sun berjingkrak. "Budak bangsat!"dampratnya. "Kematian lagi mendekati kau, kau masih berani mencaci orang!" Cie Hoa tidak gusar. Sebaliknya, ia tertawa. "Mencaci orang ialah kepandaian istimewa dari kamu!" Katanya. "Aku toh tidak mencaci kamu? Aku hanya hendak menanyakan kamu, apakah salahku, apakah dosaku tak berampun, maka sekarang kamu datang kemari berniat menangkap aku? Aku tidak membunuh orang atau membakar rumah, aku juga tidak menghina dan mencaci guru kamu! Kenapa kau bilang kematianku lagi mendatangi...?" Belum berhenti suaranya Cie Hoa atau Cin Tay telah membacok padanya. Sebat sekali komandan Gielimkun itu menghunus senjata yang tergantung di pinggangnya. Cie Hoa masih tidak gusar. Ia tetap tertawa. Ia cuma berkelit mundur. "Jikalau kamu mementang ba-cot kamu dan memaki, aku jeri juga sedikit terhadap kamu!" Katanya dingin. "Tetapi sekarang kamu menghunus golok dan kamu menyerang, itu artinya kamu mencari penyakitmu sendiri!" Dengan melintangkan pedangnya, nona ini menangkis bacokan yang kedua kali. Senjata mereka beradu keras, memperdengarkan suara yang nyaring. Cin Tay penasaran, maka ia menyerang pula, bahkan beruntun ia menyerang hingga enam kali. Si nona berlaku tenang, ia mengganda mundur dan menangkis, dengan begitu, enam kali senjata mereka bentrok satu pada lain. Kesudahannya golok kalah dengan pedang, golok itu sempoak disana-sini, tidak perduli Cin Tay menggunai golok yang terbikin dari baja pilihan. Cie Hoa melayani dengan tenang, meski sebenarnya ia benci ini dua komandan sebab itu hari merekalah yang hendak membongkar kuburan gurunya. Ia memikir, setelah membikin terpental goloknya Cin Tay, hendak ia menggaplok Kheng Sun, guna memberi hajaran pada dua orang itu. Selama itu, selainnya Kheng Sun, juga opsir yang tuaan berdiri menonton saja, baru kemudian, mendadak ia mengasih dengar seruannya, disusul sama melesatnya tubuhnya ke arah si nona, tangannya terus menyambar nona itu. Nyata dia telah menggunai "Taylek Mojiauw Kang", ialah Cengkeraman Iblis. Cie Hoa terperanjat. Syukur ia waspada. Dengan sebat ia menangkis, hingga tangan mereka beradu. Kesudahannya itu, dua-dua mereka terkejut. Sebab mereka merasai telapakan tangan mereka sesemut-an. Si opsir sudah lantas memeriksa tangannya. Kalau si nona cuma sesemutan, dia kena tertotok jalan darahnya, hingga dia menjadi penasaran. Di luar kamar Cie Hoa itu ada satu pekarangan yang cukup lebar, dimana pun ada dua bocah pohon gouwtong. Di tengah malam seperti itu, pekarangan itu sunyi sekali. Tidak ada lagi tetamu lainnya, yang berangin disitu. Tapi si opsir pergi ke pekarangan itu dimana dari pinggangnya ia meloloskan sehelai joanpian atau cambuk. Ia lantas berkata. "Nona Kok, gerakan Hud-in Ciu kau ini tidak dapat dicela! Telah lama aku mendengar ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat dari Lu Su Nio, katanya itu luar biasa sekali, maka itu, sekarang kau keluarkanlah itu, untuk aku membuka mataku!" Cie Hoa heran juga orang mengenal tangkisannya itu, tangkisan Hud-in Ciu. Tapi ia tidak merasa aneh orang mengetahui ilmu pedang gurunya. Karena orang berlaku sungkan, ia tidak mau membawa sikap seperti terhadap Cin Tay dan Kheng Sun. Maka ia memberi hormat seraya memegang pedangnya. "Aku belajar ilmu pedang pada guruku cuma buat beberapa tahun," Katanya. "apa yang aku dapatkan cuma kulit dan bulunya. Kepandaian itu cuma cukup buat dipakai melayani maling-maling cilik, dari itu mana bisa itu dipakai untuk membuka mata tayjin?" Sabar suara si nona tetapi dengan begitu sekalian ia mengejek Cin Tay dan Kheng Sun, maka juga si komandan she Kheng mengasih dengar suaranya. "Hm! Pasti kau tidak bakal dapat melayani Pek Tayjin! Sebentar kau mesti meletaki pedangmu untuk kau mendengar keputusannya!" Mendengar demikian, tahulah si nona bahwa orang itu she Pek. "Oh, kiranya Pek Tayjin?" Ia berkata. "Tayjin, aku menumpang bertanya kepada kau, apakah maksud kau ini? Kau sebenarnya hendak mencoba-coba ilmu pedangku atau sengaja hendak menawan aku? Aku minta tanya, sebetulnya aku melanggar undang-undang fatsal apa?" Opsir usia pertengahan itu tertawa. "Nona Kok, baiklah kau jangan banyak pikir-pikir!" Katanya, sabar. "Pasti sekali aku cuma ingin menyaksikan ilmu pedangmu maka aku hendak mencobanya. Tentang urusanmu dengan kedua tuan ini aku tidak mencampur tahu! Jangan sungkan, nona, kau boleh menyerang terlebih dahulu!" Cie Hoa menganggap jawaban itu lucu, maka ia memikirkannya. "Pek Tayjin," Katanya. "kalau benar tayjin suka memberi pengajaran padaku, baiklah, dengan menunjuki keburukanku, suka aku menemani kau. Tapi silahkan tayjin yang mulai memberikan pengajaran!" Inilah kebiasaan kaum Kangouw, untuk saling merendah atau saling menghormat. Karena orang berlaku sungkan, Cie Hoa tidak mau mendahului menyerang. Ia menyangka opsir itu tentu bakal mengalah terlebih jauh. Nyata ia menduga keliru. "Jikalau demikian, baiklah, aku tidak berlaku sungkan pula!" Berkata si opsir yang mendadak saja maju menyerang. Hebat serangannya itu, yang terus disaling susulkan hingga tiga kali sebab pertama si nona berkelit, lalu berkelit pula. Serangan cambuk itu dengan menggunai tipu silat "Angin puyuh menyapu yangliu". Dan untuk melawannya, dalam repotnya, Nona Kok menggunai tipu silat "Angin meruntuhkan bunga", mengikuti ujung cambuk, ia berkelit dengan lincah, tubuhnya terus berputaran. Opsir itu tidak berhenti dengan desakannya itu. Setelah tiga kali menyerang gagal, ia melanjuti dengan serangan lainnya. Ia memaksa si nona dari kiri berkelit ke depan dua tindak. "Nona Kok, tak usah kau sungkan!" Dia berkata tertawa. Sambil berkata itu, tangan kirinya diluncurkan, lima jari tangannya dibuka, untuk dipakai menyambar menyengkeram! Cie Hoa berkelit pula, ia berlaku sebat, tidak urung dengan satu suara memberebet, ujung bajunya kena juga tersambar robek! Itulah bukannya bersilat untuk mencoba-coba. Itulah serangan yang meminta jiwa. Cie Hoa lantas sadar. Teranglah dengan alasan palsu itu, Pek Tayjin ini hendak merobohkannya. Atau sedikitnya, ia hendak dibikin menjadi letih dan tidak berdaya, supaya leluasalah Cin Tay dan Kheng Sun membekuk padanya. Dengan begitu dia tidak bisa dikatakan mencampur tahu tugasnya dua komandan itu. Mulanya Cie Hoa masih berkesan baik pada tayjin ini, tapi sekarang, ia menjadi mendongkol, ia menjadi gusar sekali. "Kau benar, Pek Tayjin," Katanya dingin. "Untuk bertempur, orang tidak harus main kasihan-kasihan lagi. Aku bersedia untuk menuruti perintah kau!" Kata-kata ini ditutup dengan serangan pedang. Benarbenar si nona tidak berlaku sungkan lagi. la telah menggunai tipu-tipu dari Hian Lie Kiamhoat. Hanya sayang untuknya, walaupun ia paham, ia kurang latihan, tenaga dalamnya belum cukup untuk mengimbangi ilmunya itu, untuk dapat digunai secara mahir sekali. Meski demikian, ia dapat melayani Pek Tayjin itu. Opsir Gielimkun itu liehay ilmu cambuknya, sudah begitu, dia dibantu banyak oleh sambar-sambaran tangan kirinya, maka itu, berselang tiga puluh jurus, mereka berdua masih sama unggulnya. "Hebat," Pikir Pek Taydiin itu. Ia menjadi bergelisah sendirinya, bukan disebabkan ia keteter, hanya ia merasa malu sampai sebegitu jauh ia masih belum menang di atas angin. Ia merasa muka terangnya menjadi guram. Cie Hoa pun berkelahi dengan pikirannya diganggu oleh pertanyaan dalam hatinya sendiri. "Heran! Mengapa mereka, ketahui aku berada disini?" Sebenarnya Pek Tayjin itu bernama Liang Kie. Ialah huciehui, atau komandan muda, dari Gielimkun, pasukan pengiring raja. Ia tengah mendapat tugas untuk pergi membantu sunbu dari Shoatang, untuk membekuk satu perompak yang kesohor. Ia menjadi sahabatnya Cin Tay dan Kheng Sun itu. Kebetulan sekali ia bertemu dua sahabat itu di saat si sahabat malu pulang lantaran mereka kena diperhina Kim Sie Ie dan mereka itu lantas memohon bantuannya. Ia suka menolong. Ia lantas mengajukan permohonan kepada raja, sampai kejadian dua orang itu diangkat menjadi pembantunya. Demikianlah bersama-sama mereka menuju ke Shoatang. Itu hari mereka tiba di Laybu dan menginap di kantor pembesar negeri. Kirakira jam dua tengah malam itu, mereka didatangi seorang yahengjin, yang telah menceploskan sepucuk surat dari jendela. Liang Kie liehay tetapi ia tidak tahu apa-apa, sampai orang telah pergi, hingga yahengjin itu, tidak dapat diketemukan. Ketika ia memeriksa suratnya, bunyinya ringkas saja, ialah. "Kok Cie Hoa dari Binsan Pay menginap di dalam Hotel Jie Ie." Dari Cin Tay dan Kheng Sun, Pek Liang Kie telah ketahui siapa itu Kok Cie Hoa, sudah begitu, dua sahabat itu sudah lantas minta bantuannya guna membekuk nona dari Binsan Pay itu. Sebenarnya ia tidak memikir mencampur tahu urusan itu, ia sendiri lagi bertugas, akan tetapi kapan ia ingat Lu Su Nio ialah musuh besar dari Kerajaan Ceng, ia menganggap baiklah ia memberikan bantuannya. Lu Su Nio itu ialah yang pada empat puluh tahun dulu sudah membunuh Kaisar Yong Ceng, dan ia dicari secara diam-diam oleh pemerintah. Benar Lu Su Nio sudah mati tetapi Kok Cie Hoa ini murid tunggalnya, jadi sama saja kalau murid ini dibekuk. Demikian mereka pergi bersama ke Hotel Jie Ie. Pek Liang Kie seorang cerdik, karena pemerintah sendiri bekerja dengan diam-diam, ia menyontoh sikap pemerintah itu. Tidak sudi ia secara berterang memusuhkan Binsan Pay. Maka ia bawa cara kaum Kangouw untuk menghadapi si nona. Hingga Cie Hoa menjadi semakin heran menghadapi musuhmusuhnya itu. Tidak heran kalau Pek Liang Kie liehay. Inilah murid disayang dari Sinpian In Loopiauwsu, ialah piauwsu tua she In gelar Cambuk Sakti dari kota Taytong. Di samping itu, ia berhasil mewariskan ilmu silat Engjiauw Kang dari See Thian Cun, ketua yang menjadi ahli waris dari partai Engjiauw Bun. Karena menganggap dirinya liehay, ia tidak memandang mata pada Cie Hoa walaupun si nona murid Lu Su Nio. Baru setelah bertempur, ia insyaf akan liehaynya nona muda itu. Pertempuran berlangsung terus, sampai kira-kira lima puluh jurus. Tempat bertempur itu terus dalam kesunyian kecuali angin dari gerak-gerik mereka, dari sambar menyambarnya pedang dan cambuk. Justeru begitu, sekonyong-konyong mereka mendengar satu seruan kecil tetapi tajam. "Kurang ajar! Jam tiga malam buta rata ini kamu membikin banyak berisik dengan bertarung disini! Kamu tidak mau tidur, apakah lain orang juga tidak mau tidur seperti kamu? Lain orang justeru ingin beristirahat! Jikalau kamu mau berkelahi, pergilah keluar!" Suara itu terang datang dari salah sebuah kamar hotel itu. Pek Liang Kie heran, hatinya sampai terkesiap. Biasanya di hotel kecil penghuni-penghuninya paling takut perkara, sedang sekarang ini, orang hotel sudah mengetahui ia beserta kedua kawannya ialah opsir-opsir Gielimkun. Tuan rumah sudah mengunci pintu, dia tidak berani muncul, dari itu, kenapa ada ini seorang tetamu yang menyatakan tidak senangnya, bahkan mereka diusir secara tak sungkan-sungkan lagi? "Ah, aku sembrono..." Pikir Liang Kie. "Bukankah aku masih belum tahu siapa si pengirim surat itu? Kenapa aku lancang melakukan penangkapan? Bukankah aku telah kena terjebak akal muslihat mereka?" Karena ini, ia menjadi mau menduga Cie Hoa mempunyai kawan. Atau si pengirim surat sengaja memancing lain orang lagi datang kesitu, untuk membikin bertambah kacaunya keadaan. Selagi Pek Liang Kie itu ber-sangsi, Kheng Sun sudah habis sabar. "Siapa berani usilan?" Dia menegur. "Kau keluarlah, mari kau menemui toaya kamu!" Orang tadi mengasih dengar suara "Hm!"Kali ini suara itu agak menusuk telinga. Pek Liang Kie terkejut, lekas-lekas ia berkata. "Kita disini sedang mengurus perselisihan di antara kami kaum Kangouw, kami harap sukalah kami diberi maaf! Sebentar kami akan datang untuk menghaturkan maaf!" Kembali orang itu mengasih dengar "Hm!"Hanya sekarang ditambah dengan kata-kata yang dingin. "Siapa perdulikan perselisihan kamu! Jikalau kamu tahu diri, lekas kamu mengangkat kaki, pergi dari sini!" Tidak keras suara itu tetapi terdengarnya seperti di dekat telinga. Cin Tay dan Kheng Sun hendak menahan sabar akan tetapi tidak dapat. "Pembesar Gielimkun berada disini tengah menangkap orang jahat!" Mereka berteriak. "Jikalau kau tahu diri, lekas pergi bersembunyi!" Mendengar teriakan itu, Pek Liang Kie mengeluh di dalam hatinya. "Celaka! Ini artinya rahasia terbuka! Kenapa Cin Tay dan Kheng Sun kurang pengalaman? Mana dapat orang Kangouw seperti orang ini digertak dengan nama Gielimkun?" Belum habis komandan ini berkata di dalam hatinya itu, ia sudah mendengar tertawa dingin dari orang tidak dikenal, yang berkata nyaring. "Sungguh angkar! Dengan berkerebong hanya sehelai kulit harimau, apakah kamu kira dapat kamu berbuat seperti raja-rajaan?" Suara itu disusul suara orang turun dari pembaringan, lalu terdengar orang seperti meraba-raba mencari sesuatu, hingga terdengar pula suara membenturnya semacam senjata tajam. Cin Tay dan Kheng Sun tidak takut, bahkan di dalam hati, mereka berkata. "Apakah itu bukan melainkan suara guntur dan hujan besar? Jikalau dia benar hendak menerjang, perlu apa dia main ayal-ayalan?" Sebaliknya Pek Liang Kie semakin berkuatir. Makin orang itu lambat-lambatan, makin ia bergelisah. Di dalam satu pertempuran jago lawan jago, tidak dapat lengah atau berayal. Ini telah terjadi terhadap Pek Liang Kie, yang perhatiannya terpecah dua. Maka kagetlah ia ketika pedangnya Cie Hoa menyambar ke pundaknya lalu menyontek robek baju lapis besi yang lunak yang melindungi tubuhnya. Di saat itu maka terdengarlah suara orang membuka pintu. Ketika itu, Cin Tay dan Kheng Sun meluruk berbareng, untuk menyerang Cie Hoa. Mereka kaget sebab mereka menyangka Pek Liang Kie terluka parah, mereka pikir, mesti lekas-lekas mereka merobohkan si nona, agar mereka tidak menanti keluarnya orang tidak dikenal itu yang gerak-geriknya aneh. Mereka menyerang dari kiri dan kanan, dengan masingmasing goloknya, untuk mencoba membikin kutung kedua lengan si nona. Dua opsir ini menggunai tipu golok Binsan Pay yang dinamakan "Koaytoo ciat", atau "Golok sebat". Dulu hari, di antara Kanglam Pathiap, Delapan Jago Kanglam, Pek Tay Koan adalah yang terliehay dengan ilmu golok itu. Tentu sekali, Kok Cie Hoa kenal baik ilmu itu. Coba ia cuma melawan dua orang, dengan gampang ia dapat menghindarkan diri. Tapi sekarang ia dikepung oleh Liang Kie yang liehay itu. Tengah ia terancam itu, mendadak ia mendengar seruan yang ia kenal. "Enci Kok, jangan berkuatir! Akan aku bantu kau!" Itulah suara Le Seng Lam. Maka heran Cie Hoa. Suara itu beda daripada suara yang tadi keluar dari dalam hotel. Tapi ia tidak bisa berpikir lagi. Untuk membebaskan diri, ia mendekam sedikit, tubuhnya mencelat ke depan. Ia merasakan seperti golok-golok musuh lewat di punggungnya. Justeru ia tiba di depan, justeru angin menyambar. Itulah Pek Liang Kie dengan tangannya yang menyengkeram bagaikan kuku burung garuda! "Celaka?" Ia mengeluh seraya ia mencoba berkelit. Tapi ketika itu, serangannya Pek Liang Kie sudah tidak diteruskan. Opsir itu berdiri tegak, sebelah tangannya diulur, lima jarinya mengancam. Cuma sebegitu gerakannya itu. Di lain pihak lantas terdengar suara jatuh bergedebuk dua kali, lalu terlihat robohnya Cin Tay dan Kheng Sun ini, agaknya mereka seperti terobohkan oleh totokan pada jalan darah mereka. Cie Hoa terperanjat, la tahu kegagahannya Pek Liang Kie, ia ketahui juga Iiehaynya Le Seng Lam, maka heran nona Le itu dapat mengalahkan si orang she Pek. Si nona mestinya berada di bawahan Liang Kie. Benar Seng Lam sangat cerdik, tetapi untuk menggunai ilmu totok, kecerdikan saja sukar menolong. Pula, walaupun dengan jarum Bweehoa ciam, masih sulit untuk merobohkan Liang Kie. Di sebelah itu Cin Tay dan Kheng Sun bukan sembarang orang, yang dapat dirobohkan dengan mudah. Maka ia menjadi tercengang. "Enci Le, kaukah di sana?" Kemudian ia tanya setelah ia mendusin. Tidak ada jawaban! Hal ini kembali membikin Cie Hoa heran. Bukankah barusan ia mendengar suaranya nona itu? Kemana perginya dia sekarang? Kenapa dia berdiam saja dan tidak muncul juga? Berpikir terlebih jauh, herannya Nona Kok bertambah. Dalam hal ilmu ringan tubuh, ia menang dari Seng Lam. Maka, kenapa nona itu dapat menghilang dari hadapannya? Habis, siapakah yang mempermainkan Liang Kie ini? Adakah dia Seng Lam, atau lain orang? Ataukah dialah si orang aneh yang menggoda ia berulang-ulang? Belum lenyap keheranan Cie Hoa, lain peristiwa sudah menyusul. Di antara tiga orang itu, Pek Liang Kie yang paling liehay. Dia rupanya dapat mengempos tenaga dalamnya, untuk membebaskan totokan atas dirinya. Mendadak dia dapat menggeraki tubuhnya, terus kedua tangannya turut bergerak juga. "Main bokong, apakah itu perbuatan seorang gagah perkasa?" Demikian orang she Pek itu berkata, mengejek. "Jikalau kau mempunyai nyali, mari perlihatkan diri melayani aku!" Perkataan ini dibarengi ayunan cambuk, yang menjeter di udara kosong. Tapi, belum sempat dia menghentikan katakatanya itu, atau dia menjerit "Aduh!" Dan terus dia membungkam pula. Berbareng dengan itu disana terdengar suara tertawa dingin dan ejekan ini. "Apakah binatang sebagaimu sepadan untuk bertanding denganku?..." Aneh suara itu, mulanya terdengar dekat, habisnya lantas terdengar jauh, seperti dari jarak satu lie. Lantas sunyilah suasana di sekitar mereka. Cie Hoa heran hingga ia menjadi bingung. Orang itu liehay luar biasa, la sampai sukar mempercayainya. Kapan si nona memandang Pek Liang Kie, ia mendapatkan lain hal yang menambah keheranannya itu. Di pempilingan Liang Kie nempel selembar daun. Lantas ia mendengar Liang Kie menjerit kaget, sebab waktu orang mengangkat tangannya, akan menyingkirkan daun itu, di pempilingan itu ada tanda bekas daun itu! Komandan Gielimkun itu takut tidak terkirakan, dia seperti juga bertemu hantu, mukanya menjadi pucat dan biru, dengan masing-masing sebelah tangannya menyambar Cin Tay dan Kheng Sun, dia berlompat untuk mengangkat kaki... Gesit sekali gerakan Liang Kie itu, Cie Hoa tidak sempat mengejarnya. Si nona pun memang tidak niat mengejar padanya. Karena ketika Cin Tay dan Kheng Sun itu dibawa pergi, ia masih melihat dari pempilingan mereka itu juga terjatuh dua lembar daun seperti yang terjatuh dari pempilingannya Liang Kie, dan barusan itu, kedua orang itu pun mengasih dengar keluhan... Sekarang tinggal Cie Hoa di paseban itu. Ia mengangkat kepalanya mengawasi ke atas kedua pohon gouwtong. Lagi sekali ia menjadi heran. Kedua pohon itu, yang tadinya berdaun lebat, sekarang daunnya ia tidak dapat melihatnya? Pula ia heran atas kepandaian orang itu menggunai daun sebagai senjata rahasia, untuk merobohkan Pek Liang Kie bertiga. Jangan kata Seng Lam, Kim Sie Ie pun tidak dapat melakukan itu! Maka, siapakah orang aneh itu? Adakah ia yang dua hari yang lalu pun mempermainkan padanya? Ia menduga kepada Le Seng Lam, Kim Sie Ie dan Beng Sin Thong, tetapi kesudahannya, ia menyangsikan mereka itu. Kalau dialah si orang aneh, yang ia tidak kenal, kenapa dia mencoba memperlambat perjalanannya dan sekarang menolong padanya? Apakah maksudnya dia itu? Masih ada lagi! Mengapa Le Seng Lam tidak sudi memperlihatkan diri? Bukankah tadi nona itu telah mengasih dengar suaranya? Suara itu bukannya suara palsu! Dia mengatakan hendak membantui ia tetapi dia tidak muncul-terus tidak sampai sekarang ini. Kenapa-kah? Apakah dia mau menyingkir dari ia? Kalau benar, apakah sebabnya. Pusing Nona Kok kapan ia memikirkannya lebih jauh. Ia pun tidak dapat menduga-duga. Maka kemudian ia masuk ke dalam hotel. Semua pintu kamar dikunci. Tidak ada seorang tetamu juga yang memperlihatkan dirinya. Mereka hati kecil, mereka takut keluar. Karena ini sukar untuk mencari si orang aneh andaikata dialah salah satu penghuni hotel itu. Sia-sia belaka Cie Hoa memeriksa seluruh hotel. Oleh karena itu, ada kemungkinan, habis keluar dengan menutup pintu, si orang aneh terus tidak kembali. Atau dia mungkin sengaja mengasih dengar suara di pintu tetapi kenyataannya dia keluar dari jendela. Sebagai seorang nona, dan bersendirian saja, malu Cie Hoa untuk menggedor setiap kamar, untuk berbicara pada mereka itu masing-masing. Maka kesudahannya, ia pergi ke kamar pemilik hotel. Bukan main hormatnya si pemilik. Dia telah mengetahui si nona sudah mengalahkan dan membikin kabur ketiga komandan Gielimkun, dia takut, dia menaruh hormat. Lalu, dengan menjura berulang-ulang, dengan kata-kata yang merendah, dia meminta sangat untuk si nona lekas-lekas meninggalkan hotelnya itu. Dia kata dia takut nanti kena kerembet-rembet. "Aku hendak menanyakan halnya dua orang," Cie Hoa bilang. "Asal kau sudah memberikan keteranganmu, aku akan lantas berlalu dari sini!" Pemilik itu menjanjikan bantuannya, tetapi ketika ia ditanyakan, ia tidak sanggup memberikan keterangannya. Ia kata ia tidak tahu halnya si orang aneh. Kemudian ia cuma dapat menjelaskan sedikit tentang Le Seng Lam. Katanya. "Nona itu datang tak lama sedalangmu nona. Dia tanya aku apa ada datang wanita muda, yang romannya ia lukiskan mirip dengan kau. Setelah mendengar nona menginap disini, dia lantas pergi pula." Cie Hoa mendongkol. "Kenapa kau tidak memberitahukan aku tentang kedatangan dia itu?" Ia tanya. "Aku takut, nona, aku takut nanti terbit onar..." Katanya, tubuhnya menggigil, saking takutnya. Sebenarnya pemilik hotel ini bicara separuh benar dan separuh-nya dusta. Ketika Seng Lam datang dan menanyakan keterangannya, nona itu memberikan ia banyak uang dengan dia diancam jangan banyak omong. Sekarang ia didesak Cie Hoa, saking takut, ia memberikan keterangannya yang tidak jelas itu. Cie Hoa merasa tidak enak sendirinya mengancam si pemilik hotel, maka ia memberikan sepotong perak, katanya sebagai penggantian kerugian, setelah mana, ia lantas pergi tanpa memperdulikan hari masih malam dan gelap. Bahkan ia pergi tanpa membawa keledainya, hingga binatang itu pun menjadi barang presenan untuk tuan rumah. Sebelum meninggalkan hotel, Cie Hoa masih mencari Seng Lam di sekitar itu, setelah usahanya tidak berhasil, baru ia pergi. Ia berjalan terus sampai sang fajar tiba. Kebetulan ia sampai di sebuah dusun kecil. Maka sembari singgah, ia membeli seekor binatang tunggang, untuk dengan itu melanjuti perjalanannya. Kali ini ia berjalan cepat selama tiga hari. Di tengah jalan, ia tidak memperoleh gangguan apa juga. Seng Lam tetap tidak dikete-mukan, dan ketiga opsir Gielimkun tidak datang pula untuk merintanginya. Kejadian itu sebaliknya membuatnya heran. "Heran, mengapa Seng Lam mengikuti aku?" Demikian ia berpikir. "Kenapa dia tidak mau memperlihatkan diri?" Di hari ke empat, di waktu matahari selam, Nona Kok tiba di Kie-bek. Inilah sebuah kota tua dan terkenal. Di Jaman Peperangan, Cian Kok, Tian Tan telah menggunai pasukan Kerbau Api untuk menggempur tentara negeri Yan. Kota itu membelakangi gunung dan menghadapi laut, tembok kotanya tinggi dan tebal. Dari sini, ke timur orang dapat pergi ke Laosan, ke selatan ke Cengto. Dengan kuda yang dilarikan keras, perjalanan hanya seharian. Disini Cie Hoa singgah untuk beristirahat. Setelah berjalan selama beberapa hari, ia ingin beristirahat. Ia pun percaya, besok malam ia akan sudah dapat menemui Kim Sie Ie. Maka itu, di samping berlega hati, ia pun bergembira... Hotel yang disinggahi Cie Hoa ialah sebuah hotel di dalam kota. Habis bersantap malam, ia ingin merebahkan diri. Tibatiba ia mendengar satu suara parau. "Kasihkan aku sebuah kamar untuk wanita. Ini uang sepuluh tail perak, untuk sewaan kamar dan barang makanannya satu hari, uang kelebihannya untuk kau sendiri." Pengurus hotel girang sekali. Untuk kamar dan makanan, uang tiga tail pun sudah lebih daripada cukup. Maka ia mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Kemudian ia tanya. "Siapa tetamu wanita itu? Bagaimana romannya dia? Kapannya dia akan tiba disini? Nanti aku mengirim pelayan untuk memapaknya." "Dialah anakku," Berkata orang dengan suara parau itu. "Ia bermuka potongan kwacie, rambutnya dijalin menjadi dua bocah kuncir. Ia pun membawa pedang di pinggangnya. Ada sangat gampang untuk mengenali ianya. Aku she Kok. Kami melindungi apa yang disebut pengangkutan piauw gelap. Kalau dia datang, kau bilangi dia supaya besok dia menantikan aku di kuil Siangceng Kiong di Laosan. Mungkin dia tiba disini sesudah sore." Cie Hoa terkejut mendengar kata-kata orang itu, belum sempat ia berpikir apa-apa, ia lantas mendengar suaranya pengurus hotel. "Kok Loopiauwsu, puterimu itu sudah tiba disini..." Agaknya si suara parau itu heran. "Apa? Dia sudah sampai? Dan dia tinggal sama kau disini?" Katanya saling susul. "Dia bukannya Beng... Beng Sin Thong?" Kata Cie Hoa dalam hati. la lantas saja bekerja Dengan hati-hati ia keluar dari jendela, untuk terus naik ke atas genteng, untuk pergi ke depan, ke ruangan yang menjadi kantoran si pemilik hotel. Disini ia menyantel kaki di payon rumah, untuk membikin tubuhnya meroyot turun. Dengan begitu ia bisa mengintai ke dalam kantoran. Segera setelah melihat ke dalam, Cie Hoa menjadi kaget sekali. Orang yang bicara dengan pengurus hotel benar Beng Sin Thong. Tidak ayal lagi, ia memikir untuk mengangkat kaki buat menyingkir dari hotel itu. Belum ia mengangkat tubuhnya, ia mendengar orang itu berkata. "Kalau begitu, dia telah tiba terlebih dulu! Baiklah, sekarang aku mau pergi untuk membelikan dia barang makanan, sebentar aku nanti menemukan dia." Tuan rumah heran, pikirnya. "Biasanya seorang piauwsu dapat menghitung tepat waktu perjalanannya, kenapa dia ini terlambat? Kenapa dia tidak tahu anaknya sudah sampai terlebih dulu? Pula, sesudah sama-sama berada disini, kenapa dia tidak mau menemui lebih dulu pada anaknya ini? Toh masih ada waktu? Kenapa dia terburu-buru begini rupa?" Meski begitu, karena uang sudah ada di tangannya, ia tidak menanyakan itu. Hanya ia kata. "Loopiauwsu aku perlu menyediakan kamar untuk kau sendiri?" Sementara itu, Cie Hoa masih mengawasi dengan tajam. Kalau si tuan rumah heran ia lantas jadi bercuriga. Ia mendapat perasaan bahwa orang ini lebih kate daripada Beng Sin Thong yang menjadi ayahnya itu. Begitu ia merasa pasti, ia menjadi gusar. Katanya dalam hatinya. "Kurang ajar kau! Meskipun ayahku manusia busuk, kau tidak harusnya menyamar menjadi dianya!" Ketika itu, ia mendengar Beng Sin Thong itu kata, raguragu. "Baiklah, kau boleh menyediakan sebuah kamar untukku..." Sembari berbicara, dia berjalan menuju ke pintu. Tepat di itu waktu, di luar pintu muncul tiga orang, maka mereka menjadi berpapasan. Dari antara tiga orang di luar itu, yang satu sudah lantas mengasih dengar suaranya yang nyaring dan keras. "Manusia kurang ajar, siapakah kau? Mengapa kau berani menyamar menjadi aku si Beng tua?" Kembali Cie Hoa terperanjat. Ia melihat nyata, orang itu ialah Beng Sin Thong yang sejati, sedang dua yang lain yaitu Biat Hoa Hwesio serta Cianciu Sintouw Kie Siauw Hong, murid yang baru dari Beng Laokoay. Cie Hoa heran kenapa ayahnya itu dapat menyusul ia. Ia tidak ketahui duduknya kejadian. Ketika malam itu rombongan Tan Thian Oe dapat menolongi Lie Kim Bwee, murid-muridnya Beng Sin Thong mencari berpencaran. Setelah dirobohkannya Hang Hong dan lainnya orang berhenti mencari atau mengejar. Tidak demikian dengan Kie Siauw Hong, sebab dialah seorang Kangouw ulung, ilmu ringan tubuhnya sempurna dan orangnya pun cerdik. Dia mencari dengan mengikuti lain-lain orang, kemudian ia memisahkan diri. Saking pesat larinya, ia berhasil menyandak rombongan Thian Oe. Diam-diam ia menguntit mereka. Sekalipun Kok Cie Hoa dan Lee Seng Lam pun tidak ketahui ada yang menguntitnya. Maka itu, Siauw Hong berhasil mencuri dengar pembicaraan mereka. Baru setelah itu, dia lari pulang, guna mengasih kabar pada Beng Sin Thong. Beng Laokoay cerdas sekali, ia lantas dapat berpikir dan menduga. Ia percaya. Kim Sie Ie benar bersiap di Laosan untuk pergi berlayar, bahwa dusta Kim Sie Ie mau pergi mencari Tan Thian Oe di Souwciu. Ia duga mestinya Kok Cie Hoa bakal mencari Kim Sie Ie. Maka, dengan mengajak Biat Hoa dan Siauw Hong, ia lantas berangkat menyusul. Dalam perjalanan ini ia terlambat setengah hari. Di hari ketiga ia sampai di hotel yang disinggahi Cie Hoa. Pengurus hotel heran melihat padanya. Pengurus itu memegang tangannya dan menanya. "Kok Looyacu, mengapa kau kembali kesini? Puterimu telah bermalam disini, dia telah minum anggur yang kau tinggalkan untuknya. Besoknya dia bangun terlambat, lantas dia menggusari kami..." Beng Sin Thong heran. Ia lantas minta keterangan. Setelah itu ia menarik kesimpulan bahwa orang telah menyamar sebagai dia, untuk mengganggu atau mencelakai puterinya itu. Ia menjadi gusar sekali. Tidak ayal lagi, ia berangkat menyusul. Di sepanjang jalan, ia membuat penyelidikan. Akhirnya ia, bersama dua kawannya itu, sampai di hotel ini dimana ia memergoki Beng Sin Thong palsu itu! Beng Sin Thong palsu kaget, agaknya dia ketakutan. Tapi juga Cie Hoa berkuatir sekali, sebab ia tahu ayah itu tentunya lagi mencari ia. Ia tidak berani berdiam lebih lama pula meski sebenarnya ia ingin menyaksikan si palsu dibuka rahasianya oleh si tulen. Ia menganggap baiklah tengah mereka itu rewel, ia mengangkat kaki. Demikian dari belakang hotel ia menyingkir dengan diam-diam. Di dalam, Beng Sin Thong telah mengasih dengar bentakannya. "Eh, manusia busuk, apakah kau masih tidak mau memperlihatkan ceeongormu?" Sembari membentak itu, sebelah tangannya menyambar bagaikan angin menderu. Beng Sin Thong palsu itu gesit. Dia berkelit sambil terus melompati dua bocah meja. Akan tetapi celaka, kumis jenggot palsunya kena tersambar copot! Beng Sin Thong tidak mau mengejar dengan turut melompati meja. Ia anggap perbuatan itu menurunkan martabatnya. Maka ia Lintas menyerang dengan Pekkhong Ciang, Pukulan Udara Kosong. Untuk membela diri, si palsu mengangkat sebuah bangku pan-ping dengan apa ia menangkis. Maka. "Braak!" Hancurlah bangku itu terhajar pukulan yang dahsyat. Si palsu kena tertolak keras hingga dia terpelanting, hampir dia terjungkal. Beng Sin Thong menyambar sebuah mangkok, yang dia remas hingga remuk, dengan itu dia menimpuk. Sangat cepat gerakannya ini, timpukannya itu memberi hasil. Mukanya si palsu kena terhajar, ltaapi nyata si palsu memakai kedok, ia tidak terluka karenanya, cuma sebab serangan keras, kedoknya itu pecah dengan berbunyi nyaring dan jatuh, hingga terlihatlah wajahnya yang sejati. Ia hanya seorang nona! Beng Sin Thong tercengang saking herannya, tapi sekejab, iegcra dia tertawa bergelak-gelak. "Kiranya kau, budak setan!" Katanya. "Kau berani memalsukan diriku! Kau lihat, hari ini kau dapat lolos dari tanganku atau tidak!" Beng Sin Thong palsu itu, ialah si nona, Le Seng Lam adanya. Ia tidak menghendaki Kok Cie Hoa berhasil menemui Kim Sie le, maka sambil mengikuti, di sepanjang jalan ia menggoda nona itu, untuk merintanginya. Di hari pertama ia menyamar menjadi kakak Cie Hoa, ia mendahului memesan kamar untuk si nona. Di hari kedua, setelah memikir, ia anggap lebih sempurna kalau ia menyamar menjadi Beng Laokoay. Ia tahu Cie Hoa jeri terhadap si siluman tua she Beng itu, dengan ia menyamar jadi si siluman, mungkin Cie Hoa lari kabur saking takutnya. Ia tidak menyangka, meski benar Cie Hoa takut, Cie Hoa melanjuti terus perjalanannya mencari Kim Sie Ie, bahkan Cie Hoa berangkat malam-malam, tanpa singgah lagi di tempat dimana diduga dia bakal bermalam. Karena kegagalan ini, ia menjadi ketinggalan oleh Cie Hoa, baru setibanya di Laybu, dapat ia menyusul. Orang yang mengirim surat dengan kisikan kepada Pek Liang Kie, Kheng Sun dan Cin Tay ialah Seng Lam juga. Maksudnya nona ini ialah dengan meminjam tenaga Liang Kie agar Cie Hoa dapat diperlambat, sedikitnya agar dia mendapat pusing kepala, supaya dia tiba di Laosan bukan pada waktu yang dijanjikan dengan Kim Sie Ie. Habis mengirim suratnya itu, ia bersembunyi untuk menyaksikan perkembangannya. Nyatanya ia menampak Cie Hoa terancam bahaya jiwa. Inilah ia tidak kehendaki. Maka di saat itu juga, ia mengubah pikirannya, mau ia menolongi nona itu; habis menolongi, ia pikir untuk menggunai lain macam akal muslihat, buat melanjuti usaha rintangannya. Di luar dugaannya, belum lagi ia turun tangan, untuk memberi pertolongan, muncullah si orang aneh yang tidak terkenal, yang membuatnya lari. Tidak dapat ia menerka, siapa orang aneh itu. Seng Lam percaya, karena gangguannya Pek Liang Kie, Cie Hoa bakal terlambat, hingga dia bakal dapat ditinggalkan di sebelah belakangnya. Maka itu, setibanya di Ciebek, ia lantas menyamar menjadi Beng Sin Thong, untak menakut-nakuti, guna membikin nona itu kabur pula. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa ialah yang ketinggalan, Cie Hoa sudah sampai terlebih dulu. Pula lacur untuknya, disini ia justeru kepergok Beng Sin Thong, hingga ia menjadi bingung. Sambil tertawa terbahak, Sin Thong maju satu tindak demi satu tindak, untuk menghampirkan nona yang bernyali besar itu, yang berani mempermainkan padanya. "Beng Laokoay!" Seng Lam berteriak saking berkuatirnya. "Anak gadismu berada di dalam hotel ini, tahukah kau? Jikalau tidak lekas kau pergi kepadanya, nanti dia lolos pula!" Mendengar itu, Sin Thong melengak. "Suhu!" Kie Siauw Hong pun lantas berkata. "barusan aku melihat seorang lari di atas genteng! Entah siapakah dia..." Sejenak itu, mengertilah Sin Thong. "Lekas kejar dia!" Perintahnya. Justeru orang lagi melengak dan berbicara itu, Le Seng Lam menggunai ketikanya yang baik. Ia menyerang dengan semacam senjata rahasianya yang istimewa! Ia menimpuk. Timpukannya itu mengasih dengar satu suara, setelah mana terlihatlah menyambarnya segumpal asap atau kabut, di dalam mana tertimpuk juga sinar berkeredepan yang pula mengeluarkan suara sar-ser! Itulah senjata rahasia jahat dari Keluarga Le, namanya Tokbu Kimciam Hweeyam Tan, atau peluru Jarum Kabut Berapi. Dulu hari pernah Le Seng Lam menggunai peluru api dan jarumnya yang liehay ini untuk lolos dari tangan Beng Sin Thong dan sekarang ia mengulangi menggunakannya. Beng Sin Thong ketahui baik liehaynya jarum jahat itu, dengan lantas ia menyerang dengan Pekkhong Ciang, maka dengan cepat, asap berikut peluru jarumnya itu, kena terpukul balik. Seng Lam melihat bahaya, ia berkelit. Pelurunya itu jatuh di meja kuasa hotel, terus meledak, maka berkobarlah apinya. Berbareng dengan itu terdengar suara sar-ser tak hentinya, di dalam asap terlihat segumpal jarum menyambar meja dan nancap! Pengurus hotel, yang ketakutan, sudah menyembunyikan diri di kolong meja, mukanya pucat pias saking takutnya, dengan banyak berisik dia berteriak-teriak. "Celaka! Celaka! Orang bunuh orang! Kebakaran! Tolong! Tolong! Lekas lolong!" Kie Siauw Hong takut terluka-kan, dengan satu lompatan pesat, ia menyingkir keluar jendela. Itulah lompatan "Si tikus tua menoblos h.ing". Setibanya di luar, segera ia bergerak terus. Ialah ia berlompat rtaik ke atas genteng. Hanya, belum lagi ia menaruh kakinya tetap di ulas genteng itu, telinganya dapat menangkap suara dingin ini di sumpingnya. "Eh, bangsat kecil, kau menggelindinglah turun!" Siauw Hong ialah maling liehay nomor satu, gerakannya gesit, telinganya tajam, ia bisa menang berlipat kali daripada lain orang, tetapi kali ini ia kaget bukan kepalang, sebab tak tahu ia ada orang di dekatnya itu. Dalam kagetnya, ia lantas memikir untuk menyelamatkan diri, akan tetapi belum lagi ia dapat menyingkir, kakinya sudah terasakan sesemutan dan baal, hingga sejenak itu juga, ia roboh, terguling, jatuh dari atas genteng! Biat Hoa Hwesio, yang semenjak tadi berdiam saja, mendengar suara di luar itu, ia lompat melewati jendela, untuk melihat. Segera ia menampak satu bayangan berkelebat ke hadapannya, serta telinganya mendengar satu suara halus tetapi dingin. "Kepala gundul bangsat yang tidak mentaati agama, kau juga merasakan gaplokanku!" Atas itu segera ia mengajukan kedua tangannya, untuk menangkis sambil menyerang. Aneh bayangan di depannya itu, yang segera ternyata adalah seorang nyonya, sebab lantas dia lenyap. Ia menjadi kaget, lantas ia mengerti bahwa dirinya terancam. Tengah ia kaget itu, ia merasakan angin berkesiur di belakang kepalanya. Dengan sebat luar biasa, ia memutar tubuh, tangannya turut diajukan untuk menangkis serangan, la telah berlaku sangat cepat, lain orang masih lebih cepat pula! "Plok!" Demikian terdengar satu suara, lantas ia merasakan sakit pada mukanya. Itulah sebuah gaplokan, yang sudah mampir ke mukanya itu -mampirnya tanpa ia melihatnya! Beng Sin Thong telah mendesak Seng Lam, ia lagi menghadapi saatnya untuk membekuk nona itu ketika ia mendapatkan robohnya Kie Siauw Hong serta kejadian atas dirinya Biat Hoa itu, hingga ia jadi melengak. Ia terkejut sebab Biat Hoa menjerit tanpa merasa. "Mungkinkah disini ada bersembunyi musuh liehay?" Ia menduga. Tapi ia tidak usah menduga-duga lama, sebab segera ia melihat masuknya si nyonya tidak dikenal itu. Tanpa bersangsi pula, ia berseru, tangannya menyerang dengan tolakan tenaga dalam yang terkerahkan. Berisik sekali kesudahannya serangan jago she Beng ini. Tembok hotel itu berlubang ambruk karenanya. Sebab serangan tidak mengenai si nyonya. Ambruknya tembok menyebabkan kapurnya melulahan seperti asap. Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 9 Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 9