Perjodohan Busur Kumala 6

Eps 6 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.

Ketika kemudian ia melihat tegas, Seng Lam pun lenyap, yang ada ialah si nyonya, yang tertawa dingin di luar tembok.

"Sungguh suatu tangan yang kuat!"

Berkata nyonya itu, mengejek.

"Orang begini gagah menghina seorang wanita muda, apakah tidak malu?"

Nyonya itu, selagi tembok terbolongkan, telah menarik tangan Seng Lam, untuk dibawa keluar.

Kembali Sin Thong melengak.

Hebat serangannya itu tetapi si nyonya dapat berkelit dari itu, dan dia bisa menolongi juga Seng Lam.

Maka mengertilah ia yang ia lagi menghadapi seorang perempuan yang liehay.

Seumurnya, inilah yang pertama kali ia mendapatkan orang yang bisa melayani ia demikian tangguh.

Tapi ia tidak menjadi kecil hati, bahkan terbangun semangatnya, maka juga, segera ia mengulangi serangannya tanpa ia membalas ejekan nyonya itu.

Kali ini ia membuatnya tembok gempur lebih jauh, ia sendiri menyusul berlompat keluar.

"Nyonya tua, tunggu!"

Ia memanggil.

"Aku Beng Sin Thong, aku ingin belajar kenal denganmu!"

Nyonya itu berjalan pergi, dia menoleh.

"Kurang ajar! Apa kau bilang?"

Dia menegur, bengis.

Kalau tadi ia tidak melihat wajah orang, sekarang Sin Thong dapat melihatnya dengan jelas.

Tadi ia menduga, karena orang liehay, orang mestinya seorang tua, maka ia memanggil "nyonya tua", kesudahannya, ia lagi menghadapi seorang wanita usia pertengahan yang cantik, yang rambutnya diikatkan dua pita kupu-kupu, matanya mengawasi tajam kepadanya, sinar mata itu agaknya Jenaka.

Ia heran, ia merasa lucu juga.

Maka sambil mengawasi, ia kata dalam hatinya.

"Benar panggilanku keliru, aku menyebut kau terlalu tua, tetapi cara dandanmu ini, tidakkah ini lucu? Kenapa kau dandan mirip nona?"

Tidak heran Beng Sin Thong merasa aneh dan lucu itu.

Ia telah menduga, atau melihat keliru, Memang nyonya itu bukannya muda lagi, kecantikannyalah yang mengacaukan pandangan mata orang, sedang di samping itu, dia paling tidak suka orang mengatakan dia lua!

Dia mempunyai tabiat, yang selama beberapa puluh tahun tidak pernah lenyap atau berubah!

Dia lelah menjadi ibu orang tetapi tingkah lakunya mirip dengan lingkah laku bocah cilik!

"Baik!"

Kata Sin Thong, melengak.

"Sekarang aku panggil nona padamu! Nona, barusan ilmumu berkelit mengagumkan aku si Beng Tua, maka sekarang aku mau mohon pengajaran dari kau!"

Kata-kata ini mengandung ejekan berbareng tantangan, sedang disebutnya namanya itu hingga dua kali mengandung kejumawaan, bersifat kepala besar dan ancaman.

Akan tetapi gagallah semua maksudnya itu.

Nyonya cantik usia pertengahan u agaknya tidak tahu siapa Beng Sin Thong, dengan wajar dia mengangguk, dengan manis dan lucu, dia tertawa geli.

"Oh, kau mengagumi aku?"

Katanya, mengimplang.

"Jikalau kau ingin mencobanya pula, untuk belajar kenal, itulah mudah! Sekarang kau lihatlah biar terang -begini!"

Beng Sin Thong memasang mala, dia bersiap untuk menyambut, p.una bertempur.

Ia kecele!

Si nyonya bukan menyerang, hanya gesit bagaikan bayangan, dia berlompat mundur dalam sekelebatan!

Dengan begitu, mereka terpisah jauhnya setombak lebih.

"Apa, kau hendak kabur?"

Ia tanya.

"Eh?"

Si nyonya balik menanya.

"Bagaimana ini? Bukankah kau hendak melihat kepandaianku? Oh, kalau begitu, bukan begitu maksudmu? Jadi kau hendak berkelahi, bukankah?"

Beng Sin Thong melongo. Dia tidak bisa tertawa, dia tidak bisa menangis! Hebat si nyonya.

"Benar, aku ingin mencoba ilmu silat kau!"

Katanya kemudian, terpaksa. Nyonya itu. kembali tertawa.

"Ah, kau omong tidak terus terang!"

Katanya.

"Aku tadinya menyangka, karena kau mengagumi aku, kau hendak belajar, supaya nanti kau pakai kepandaianku ini untuk lari kabur! Hm, kiranya kau bicara dengan memutar? Kenapa tidak terus terang saja bilang kau hendak menempur aku?"

Tahulah Beng Sin Thong bahwa mulut si nyonya liehay, maka ia tidak mau mengadu bicara, ia kena terejek, maka, ia menyahut langsung.

"Sekarang kau telah mengerti maksudku! Bagaimana kalau kita main-main disini saja?"

Tetapi si nyonya mengerutkan alisnya.

"Tidak, tidak bisa!"

Sahutnya.

"Hari ini aku mempunyai sedikit urusan, tidak ada keinginanku untuk berkelahi."

Beng Sin Thong tidak mau mengerti.

"Jikalau kau tidak mau berkelahi, boleh,"

Katanya.

"asal kau serahkan si nona tadi! Kau telah melepaskan dia, sekarang kau mesti menangkapnya kembali!"

"Angin busuk!"

Mendadak nyonya itu mencaci.

"Kau ini makhluk apa? Cara bagaimana kau dapat menyuruh aku menjadi koncomu yang membantu kejahatanmu? Baiklah, jikalau kau benar-benar mau berkelahi, coba kau keluarkan kepandaianmu untuk aku melihatnya, nanti aku putuskan kau setimpal atau tidak untuk menjadi lawanku!"

Belum pernah Beng Sin Thong dipermainkan atau diperhina orang secara hebat begitu, maka bisalah dimengerti yang dia menjadi sangat gusar.

Tanpa bersangsi lagi, dia mengerahkan tenaga Siulo Imsat Kang.

Tapi dia menganggap dirinya seorang guru besar, dia masih ingin mempertahankan martabatnya.

Maka dia lantas berseru.

"Kau sambutlah baikbaik!"

Baru setelah itu, dia mengirim pukulannya. Nyonya itu berkelit, ia lompat jauhnya setombak. Segera ia merasa aneh. Ia menggigil kedinginan.

"Eh, kepandaianmu kepandaian apakah?"

Ia tanya.

"Kau rada sesat!"

Sin Thong heran mendapatkan orang tidak roboh atau terlukakan, dia penasaran, maka dia ingin mengulangi serangannya, justeru itu--belum sempat dia menyerang-dia mendengar bentakan nyonya di hadapannya itu.

"Hari ini aku tidak sempat berkelahi tetapi kau sangat mendesak, baiklah, mari aku bekuk dulu kau, anjing, untuk meringkus padamu!"

Sembari berkata, si nyonya meraba kepada kedua pita kupu-kupu di rambutnya, untuk dilepaskan, menyusul mana, ia mengibaskan.

Maka bagaikan ular, melesatlah benangnya, menyambar ke hidungnya jago tua itu-seperti ular nelusup masuk!

Sin Thong heran dan kaget, meskipun ia seorang jago, belum pernah ia melihat serangan semacam itu.

Tentu sekali ia akan malu sendirinya kalau ia membiarkan hidungnya kena diserang itu, maka dengan satu kelitan "Poanliong jiauwpou", atau "Naga Meringkuk Menindak", ia membebaskan diri.

Tapi serangan itu tidak berhenti sampai disitu, ujung benang menyambar pula, ke lain arah.

Kali ini telinga yang menjadi sasarannya!

Sin Thong menjadi bertambah gusar, tapi terpaksa, ia berkelit pula dengan gerakannya "Pekho liang-cie", atau "Burung Jenjang Membuka Sayap".

Ia meluncurkan jari tangannya yang seperti besi, untuk menjepit ujung benang itu!

Tenaga dalam Beng Sin Thong terlatih hampir menyampaikan puncaknya kemahiran, maka itu walaupun musuh menggunai senjata tajam, mestinya ia dapat menjepitnya, akan tetapi benang si nyonya luar biasa, benang itu dapat bergerak sangat cepat, lincah dan berbahaya, bebas dari jepitan lalu melibat ke lengan, hingga jago tua itu merasa tangannya sesemutan!

Biat Hoa panas hatinya sebab telah dipresen gaplokan oleh nyonya itu, untuk membalas, tanpa pikir lagi bahwa mereka akan main keroyok, dia maju dengan sianthung, tongkatnya, di tangan, akan tetapi setelah dia melihat perkutatan Sin Thong dengan si nyonya itu, dia melengak, sampai dia mengeluarkan seruan tertahan "Oh!..."

Justeru itu Beng Sin Thong berseru, tangannya yang dilibat benang itu digeraki. Hampir berbareng dengan itu, kedua benang lelah terbakar, lalu menjadi hangus. Si nyonya terkejut, dia berteriak.

"Oh, celaka! Anjing yang sudah terkalak, terlepas! Ah, aku tidak mempunyai waktu lagi untuk melayani anjing galak!"

Habis berkata, dia memutar tubuhnya dan terus lari.

Kembali Beng Sin Thong berseni, disusuli dengan serangannya, maka sebuah pohon besar di sebelah depan si nyonya, lantas terhajar patah, akan tetapi si nyonya sendiri, yang dihajar itu, lenyap dalam sekejap!

Sekarang Sin Thong sempat memeriksa lengannya dimana ia melihat tapak merah bekas libatan-nya benang liehay dari nyonya yang tidak dikenal itu.

Itulah akibat ia membuatnya panas kedua lengannya, yang digosok satu dengan lain, hingga timbullah api.

Tanpa itu, tidak bisa ia melepaskan diri dari libatan itu.

Dengan begini insyaflah ia bahwa si nyonya berkepandaian berimbang dengannya.

Baru sekarang Biat Hoa menghela napas lega.

"Saudara Beng, syukurlah kau yang melayani dia,"

Katanya.

"Meski kau telah dilibat, kau masih dapat membebaskan dirimu. Perempuan itu sudah sangat sukar dilayaninya, jikalau telah datang saudaranya, yaitu kakaknya, kesulitan pasti akan bertambah. Maka itu baiklah kita bersabar menerima semua ini..."

Mata Sin Thong mendelik menatap kawannya itu.

"Kau bicara hebat sekali tentang dia itu! Siapakah dia?"

Ia tanya.

"Dialah iparnya Tong Siauw Lan, ciangbunjin dari Thiansan Pay,"

Sahut pendeta itu.

"Dia ibunya Lie Kim Bwee. Dulu hari, nama dia sama terkenalnya dengan nama-nama Lu Su Nio dan Phang Eng, kakaknya itu, hingga mereka disebut Sam Liehiap-Tiga Pendekar Wanita. Dialah Phang Lim. Pada tiga puluh tahun dulu pernah aku membawa surat guruku untuk Jenderal Nie Keng Giauw dan di rumah Keluarga Nie itu aku telah melihatnya. Ketika itu ia baru berumur tujuh-atau delapan belas tahun. Sekarang, setelah lewat tiga puluh tahun, dia masih tetap nakal dan jenaka seperti semasa gadisnya itu, lagaknya tetap kekanak-kanakan. Pula wajahnya, dia seperti tidak pernah tua. Itulah sebabnya kenapa aku mengenali dia."

Sin Thong terperanjat.

"Jadi dialah Phang Lim?"

Katanya.

"Ah, mungkinkah dia telah mengetahui yang aku sudah mengurung anaknya itu?"

Beng Sin Thong "tidak takuti langit tidak menjerikan bumi"

Tetapi terhadap Thiansan Pay, ia ngeri. Ia telah berkata di dalam hatinya.

"Telah aku dengar perihal tiga pendekar wanita itu, di antaranya Lu Su Nio yang paling liehay, Phang Eng yang kedua, Phang Lim yang ketiga, sedang suami Phang Eng, Tong Siauw Lan, berimbang kepandaiannya dengan isterinya itu. Sekarang ini aku berimbang dengan Phang Lim, jikalau dia mengajak kakak dan iparnya itu datang menentang aku, bagaimana dapat aku melawan mereka?"

Tanpa merasa, hati Beng Laokoay menjadi gentar juga.

"Aku percaya dia masih belum mengetahui yang kita sudah mengganggu anaknya itu,"

Berkata Biat Hoa setelah menenangkan hati. Sin Thong berpikir sejenak, ia mengangguk.

"Kau benar,"

Bilangnya.

"apabila dia sudah mendapat tahu, mana dia mau sudah dengan begini saja? Aku tidak takuti dia tetapi sekarang ini aku belum berhasil sepenuhnya meyakinkan Siulo Imsat Kang, maka itu aku tidak memikir untuk menyaterukan Thiansan Pay..."

"Kelihatan dia datang seorang diri,"

Biat Hoa berkata pula.

"Tong Siauw Lan menjadi ketua partai, tidak nanti ia sembarang turun gunung. Lagi, jikalau ia dan isterinya datang bersama, tidak nanti mereka mengijinkan dia main gila. Siauw Lan dan isterinya itu bangsa tidak suka bergurau, senantiasa mereka menunjuki diri sebagai orang-orang agung, tabiatnya itu diketahui baik oleh kaum Rimba Persilatan."

Ketika itu Kie Siauw Hong muncul dengan dingklukdingkluk.

Sin Thong segera memeriksa kaki muridnya itu.

Ia mendapatkan nempelnya selembar daun.

Maka terkejutlah ia.

Ia tahu apa artinya daun itu.

Itulah hasilnya serangan ilmu "Tekyap huihoa"

Atau "Memetik daun, menerbangkan buliga".

Siapa pandai ilmu itu, dia dapat menggunai daun sebagai senjata rahasia.

Ia sendiri tidak mengerti ilmu senjata rahasia semacam itu.

Kaki Siauw Hong itu lantas diurut dan dipakaikan obat, kemudian dia disuruh beristirahat.

Dengan begitu tak usahlah raja pencuri itu musnah ilmu silatnya.

"Murid tidak punya guna,"

Kata Siauw Hong, mukanya merah.

"Di luar dugaanku, baru aku lompat naik ke genteng, lantas aku kena dirobohkan. Entah siapa nona yang kabur itu, belum sempat aku mengetahui dia. Menurut penglihatan sekelebatan, dia mungkin muridnya Lu Su Nio..."

Dia berduka sekali.

"Orang pandai banyak jumlahnya, aku tidak sesalkan kau yang gagal,"

Kata Sin Thong menghibur.

"Sekarang kau beristirahat, sebentar kita mesti melanjuti perjalanan kita ini."

Setelah ia berpikir-pikir, asal dia tidak berada sendirian, Beng Sin Thong merasa tidak jeri terhadap Phang Lim.

Bukankah ia ada beserta Biat Hoa Hwesio?

Mustahil mereka berdua tidak dapat melawan nyonya itu?

"Tentang anakku, tentulah dia pergi ke Laosan mencari Kim Sie le,"

Pikirnya Sin Thong lebih jauh.

"Dia telah tiba disini, itu artinya, perjalanannya ke gunung itu tinggal perjalanan satu hari, tidak nanti dia singgah di tengah jalan. Baiklah, setelah kaki Siauw Hong sembuh, aku segera berangkat menyusul dia."

Oleh karena ini, dengan munculnya Phang Lim, Sin Thong tidak lagi jumawa atau congkak, dengan sendirinya dapat dia membataskan lagaknya, dia berlaku waspada.

Terkaannya Biat Hoa Hwesio tidak salah.

Phang Lim memang bersendirian.

Ia turun gunung untuk menyusul Kim Bwee, anaknya itu.

Inilah disebabkan Ciong Tian dan Bu Teng Kiu, yang dikirim untuk mencari sang anak sampai sekian lama masih belum kembali serta mereka tidak ada kabar ceritanya.

Kebetulan sekali perjalanan Phang Lim ini, ia tiba di hotel justru Beng Sin Thong palsu, yaitu Le Seng Lam, tengah memesan kamar untuk Cie Hoa.

Ia memergokinya.

Dengan matanya yang tajam, dengan lantas ia mengetahui penyamarannya nona itu.

Karena gemar bergurau, ia lantas memasang mata.

Ia heran mendengar Beng Sin Thong palsu menyebut-nyebut seorang nona, ia menjadi curiga.

Dalam mencari anaknya, ia memang biasa memperhatikan dan mencurigai setiap nona, yang ia mau menyangkanya mengetahui hal ihwal puterinya.

Demikian ia singgah, untuk mencari tahu nona siapa itu yang dipesankan tempat, yang hendak dipermainkan, Phang Lim dengan Lu Su Nio bersahabat sangat erat, tidak lama dari datangnya Kok Cie Hoa ke Binsan, pernah ia menjenguk Lu Su Nio di gunungnya itu, maka pernah ia melihat Cie Hoa, hanya waktu itu, si nona masih kecil sekali, usianya belum sepuluh tahun, akan tetapi, ia masih ingat roman orang.

Demikian di malam kedua, tatkala Cie Hoa tiba di hotel di mana dia masuk dalam perangkap Seng Lam, ia lantas mengenalinya.

Ia heran kenapa Cie Hoa digodai itu.

Mulanya ia hendak mengisiki Cie Hoa, atau di lain saat, ia mengubah pikirannya.

Ia ingin mengetahui lebih dulu, Seng Lam itu siapa dan orang macam apa dan apa sebabnya Cie Hoa dibuat guyon.

Di samping merasa heran dan ingin tahu, ia pun menganggap permainan orang jenaka.

la ingin menyaksikan, Cie Hoa mendusin atau tidak.

Ilmu ringan tubuh Phang Lim mahir sekali, maka itu, selama ia menguntit mereka itu, baik Seng Lam maupun Cie Hoa, tidak ada satu yang memergokinya.

Ia senang melihat caranya Seng Lam bergurau, dari itu, ia tidak mau datang sama tengah atau mencegah secara diam-diam.

Ia sudah pikir, jikalau perlu baru ia hendak melindungi murid sahabatnya itu.

Demikian ketika malam itu di atas gunung Cie Hoa menghadap bahaya, ialah yang menolong secara rahasia hingga Kunlun Sanjin dan Siang Bok Loo kena diundurkan.

Ia juga yang itu malam di Lay-bu sudah melukai Kheng Sun dan Cin Tay serta membikin jeri Pek Liang Kie.

Dan Le Seng Lam, dialah yang menarik rambutnya ketika nona she Le itu melompati tembok.

Mulanya Phang Lim merasa permainan Seng Lam terhadap Cie Hoa "terlalu kejam", hingga timbul niatnya memberi ajaran kepada Nona Le itu, tetapi setelah menyaksikan Seng Lam menolongi nona yang ia lindungi itu, ia menganggap Seng Lam tidak terlalu buruk, maka ia cuma menarik rambutnya saja.

Ialah yang menolongi Seng Lam lolos dari tangan Sin Thong di Cie-bek, selagi ia bentrok dengan jago she Beng itu.

Sebenarnya Phang Lim niat menyusul Seng Lam.

Untuk ia itulah perbuatan gampang sekali.

Tapi di sana ada Cie Hoa, yang perlu dilindungi, maka selanjutnya ia membayangi Nona Kok tanpa si nona mendusin.

Cie Hoa sangat ingin menemui Kim Sie Ie, ia membuat perjalanan cepat--malam-malam--maka besoknya lewat tengah hari, ia sudah berada di kaki bukit Laosan.

Seng Lam ketinggalan oleh karena nona itu, yang kuatir disusul Sin Thong, sudah mengambil jalan mengitar, sedang ilmunya ringan lubuh, kalah dari Cie Hoa.

Setibanya, Cie Hoa bersantap dulu di sebuah rumah makan di mana sekalian ia menanyakan jalanan untuk ke kuil Siangceng Koan, habis itu, terus ia mendaki gunung itu.

Ia tiba di atas setelah cuaca mulai gelap.

Dari puncak ia masih dapat memandang laut yang luas, di tengah mana, jauh, tertampak sebuah pulau di atas mana ada puncak gunung.

Pelitanya nelayan-nelayan pun terlihat kelak-kelik.

Hingga hatinya menjadi terbuka.

"Sebentar aku akan bertemu Kim Sie Ie,"

Pikirnya.

Inilah yang membuatnya lega, lalu bersemangat, lenyap semua keletihannya selama perjalanannya itu.

Jalan tidak jauh, Cie Hoa mendapatkan sebuah kuil yang berdiri di antara banyak pepohonan.

Ia menghampirkan dengan tindakan perlahan-lahan.

Sekarang hatinya memukul, berdebaran.

Ia memikirkan, kalau sebentar ia bertemu Sie Ie, apa ia mesti perkatakan?

Kejadian-kejadian terakhir ini sangat hebat untuknya.

Tiba-tiba ia merandak.

Ia mendengar helahan napas panjang.

Hatinya memukul lebih keras.

Ia memandang tajam ke depan.

Ada seorang tengah menyenderkan tubuh kepada sebuah pohon cemara.

Siapa dia kalau bukannya Kim Sie Ie?

Dia itu memandang rembulan dan mengeluarkan napasnya.

Dia seperti lagi berpikir keras hingga dia tidak ketahui datangnya itu.

"Lucu,"

Pikir si nona, yang bersenyum. Ia lantas jalan mutar. Setelah datang dekat sekonyong-konyong ia memanggil, perlahan.

"Sie Ie!"

Ingin ia membuatnya orang terperanjat, lalu menjadi kegirangan. Benar juga Kim Sie Ie kaget, akan tetapi dia tidak lantas menoleh, cuma dia berkata.

"Nona Le, waktunya belum tiba, mengapa kau sudah datang?"

Baru setelah itu dia berpaling, lantas dia menjadi terkejut.

"Oh, kiranya kau!"

Katanya, menambahkan.

"Oh, kau, enci Kok!"

Dia lantas nampak likat. Cie Hoa merasakan jantungnya jatuh.

"Maafkan aku,"

Katanya.

"Aku tidak tahu bahwa kau telah menjanjikan Nona Le Seng Lam. Maaf, aku telah mengganggu kau."

Kim Sie Ie lekas mendusin.

"Enci Kok, jangan salah mengerti,"

Katanya.

"Bertemu dengan kau, aku girang bukan main! Sebenarnya ada urusan apa kau datang kemari?"

Di dalam hatinya, Sie Ie heran kenapa Cie Hoa ketahui nama Seng Lam.

Di saat itu, tiba-tiba Cie Hoa merasa pedih sendirinya.

Tak tahu ia, itu disebabkan urusannya sendiri atau karena halnya Lie Kim Bwee.

Halnya Kim Bwee, Sie Ie sendiri yang menuturkannya kepadanya.

Halnya Seng Lam?

Nyatanya Sie Ie menyembunyikannya.

Mendadak berubah kesannya terhadap Sie Ie ini.

Ia merasa sikap manis Sie Ie terhadapnya kedustaan belaka...

Melihat orang tidak bicara dan bengong saja, Sie Ie menyambar kedua tangannya.

"Enci Kok, apakah kau menyesalkan aku?"

Tanya ia.

"Kau bilang, di dalam urusan apakah?"

Cie Hoa melepaskan tangannya itu.

"Lucu, mana aku menyesalkan kau?"

Sahutnya, tawar.

"Yang menyesalkan kau ialah orang lain, bukannya aku!"

Sie Ie menjadi lebih heran. Aneh kata-kata itu.

"Apakah kau telah ketahui halnya Lie Kim Bwee?"

Ia menanya. Ia menduga urusan nona she Lie itu.

"Benar! Ya, aku sebenarnya datang untuk menyampaikan kabar girang padamu. Tapi sekarang, kau tak dapat menemukan dia..."

Sie Ie berjingkrak.

"Dimana Lie Kim Bwee?"

Ia tanya, bernapsu.

"Kasihlah aku tahu lebih dulu! Tentang Le Seng Lam, aku akan memberitahukannya belakangan..."

Ia pun menatap si nona. Cie Hoa menyingkir dari tatapan itu.

"Kau ingin aku menerangkan apa?"

Ia kata, tetap tawar.

"Kasihan adik Kim Bwee itu, dengan ber-sengsara hati dia mencari kau untuk banyak tahun tetapi sekarang kau tidak dapat menemukannya..."

"Bagaimana?"

Sie Ie tanya pula, mendesak.

"Bagaimana sebenarnya? Apakah kau telah bertemu dengannya? Apakah kau tidak memberitahukan dia bahwa aku ada disini?"

"Bukannya aku tidak memberitahukan dia tetapi dialah yang tidak percaya perkataanku. Dia lebih percaya Nona Le."

"Apa?"

Teriak Sie Ie.

"Dia bertemu dengan Seng Lam? Oh, Nona Le itu, dia paling pandai memperdayakan orang, dia gemar sekali mendusta! Kamu hati-hatilah terhadapnya!"

Cie Hoa melengak. Ia heran. Ia berpikir.

"Kalau Seng Lam ialah si nona yang ia sukai, kenapa dia bicara jelek begini tentangnya? Kenapa dia menyebutkannya di depanku?"

Tetap ia bersikap dingin. Ia kata.

"Dia suka mendustai orang atau tidak, aku tidak tahu. Apa yang aku ketahui ialah.

"Dia membilangi adik Kim Bwee bahwa kau sudah pergi ke Souwciu untuk menjenguk Tan Thian Oe suami isteri. Adik Kim Bwee percaya dia, sekarang ia telah pergi ke kota Souwciu!"

"Celaka betul!"

Sie Ie berjingkrak pula.

"Sudah satu kali dia memperdayakan Kim Bwee, seka-lang dia memperdayakannya pula! Baiklah, mari aku beritahukan kau caranya bagaimana aku bertemu Seng Lam itu hingga kita jadi berkenalan. Aku bertemu dia ketika aku mengacau di Beng keechung. Terhadapku dia melepas sedikit budi... Dia... dia..."

Mendadak ia berhenti.

Ia ingat janjinya kepada Seng Lam untuk tidak membocorkan rahasianya nona itu, terutama tidak membuka rahasia hal dia mengajaknya berlayar mencari kitab warisannya Kiauw Pak Beng.

la telah panas hatinya tetapi, mengingat janji itu, ia mesti menahan hati sendiri, tidak bisa ia merusak janjinya.

Maka ia merandak setengah jalan.

"Kenapa kau tidak bicara terus?"

Tanya Cie Hoa.

"Dia denganku telah berjanji membuat pertemuan disini,"

Kata Sie Ie.

"Ah, maafkan aku, tidak dapat aku menerangkan kepada kau. Asal kau percaya aku... Barusan aku hendak menjelaskan, tetapi aku rasa, sukar untuk menjelaskannya. Maka, aku cuma bisa mengatakan, cuma... asal kau percaya aku!"

Panas hati Cie Hoa.

"Aku ini pernah apa dengan kau!"

Katanya, keras.

"Dan kau, kau pernah apa dengan aku? Kita memang tidak ada sangkutannya satu dengan lain, apakah yang aku ingin kau jelaskan padaku? Dan kau, perlu apa kau menghendaki aku percaya padamu?"

Sie Ie tercengang, tertusuk ia merasa akan kata-kata si nona. Biar bagaimana, ialah seorang dengan perasaan halus. Dengan tiba-tiba ia mengucurkan air mata.

"Enci Kok, kau masih belum mengetahui hatiku?"

Ia menanya.

"Memang perkenalan kita belum lama akan tetapi aku telah memandangnya kau sebagai orang sendiri. Aku ialah seorang tanpa ayah dan tanpa ibu, aku juga anak yatim piatu yang tidak mengetahui asal-usulku. Dan kau, kau mempunyai ayah tetapi sama juga tidak! Maka itu nasib kita sama saja, sedangkan guru kita bersahabat erat satu dengan lain. Gurumu itu ialah orang yang paling aku kagumi. Dan kau sendiri, kau telah ketahui tentang diriku. Dari itu, begitu kita bertemu, kita seperti orang-orang yang sudah bertemu lama satu dengan lain. Karenanya, kenapa kita tidak harus saling mengasihani? Kenapa sebaliknya kita mesti mencurigai? Aku memandang Kim Bwee seperti adik kandungku sendiri. Terhadap kau... Ah!... Mustahilkah kau tidak mengetahui hatiku? Apa aku mesti menjelaskannya pula? Hatiku telah kuberikan kepada kau! Tentang Nona Le itu? Untuknya aku cuma hendak membalas budinya. Setelah urusan selesai, habis sudah kewajibanku, selanjutnya kita ambil jalan masingmasing, satu ke timur, yang lain ke barat, keduanya tidak ada hubungannya lagi. Kau percaya aku atau tidak? Apakah kau tetap tidak percaya aku? Baiklah, nanti aku keluarkan hatiku untuk kau lihat!..."

Mendadak Sie Ie menarik gagang tongkatnya, mengeluarkan pedangnya, untuk pedang itu ditikamkan ke dadanya!

Cie Hoa kaget sekali.

Syukur ia berdiri dekat sekali si anak muda, maka ia lantas menyambar tangan orang, pedangnya diangkat.

"Jangan! Jangan!"

Teriaknya.

"Apakah artinya mencari mati?"

"Siapa suruh kau tidak percaya aku? Aku hendak mengeluarkan hatiku supaya kau lihat!"

Cie Hoa masuki pedang ke dalam sarungnya.

"Tidak pernah aku mengatakan bahwa aku tidak percaya kau!"

Katanya. Mendadak ia tertawa.

"Hatimu pasti akan berlumuran darah dan menakuti dilihatnya? Buat apa aku hingga aku menghendaki kau mengeluarkannya?..."

Belum berhenti suara si nona atau Sie Ie sudah menggenggam kedua tangan orang.

"Oh, enci Kok, mengapa kau tidak mengatakannya siangsiang?"

Katanya. Ia menjadi girang luar biasa.

"Hampir aku menjadi si setan dungu!"

Cie Hoa tertawa pula.

"Ya, tabiatmu tabiat kerbau dungkul,"

Bilangnya.

"Kalau kau menjadi setan dungu, itulah pantas! Ah, sudah, kita jangan bergurau! Mari aku omong dari hal yang benar."

"Baiklah, aku menunggu kau bicara dari hal yang benar!"

Sahut Sie Ie. Ia lantas berdiam, matanya menatap.

"Enci Le kau itu akan lantas datang kemari..."

"Biarnya dia datang, kita bicara urusan kita sendiri, mana dapat dia mencampur tahu!"

Sie Ie memotong, suaranya sungguh-sungguh.

"Bukan begitu,"

Berkata si nona.

"Kau telah menjanjikan dia, bagaimana dia dapat tidak mencampur-tahu? Kau tidak tahu... Beng... Beng... Sin Thong... telah menguber-ubernya! Baru tadi malam terjadi peristiwa, di dalam rumah penginapan di Ciebek. Aku telah kabur sekeras-kerasnya dari mereka. Entahlah Nona Le itu, dia kena ditawan atau tidak... Beng... Beng Sin Thong... Aku tahu, dia tidak bakai melepaskan aku, maka itu, aku takut nanti kena dicandak dia... Maka sekarang, coba kau memberikan pikiran padaku, lebih baik aku menyingkir atau aku menemui saja padanya? Sebenarnya aku berniat menyingkir daripadanya, hanyalah, jikalau aku bersembunyi, mana bisa aku menolongi Nona Le?..."

"Jangan kuatir,"

Kata Sie Ie, menyahuti.

"Aku memang hendak membalas sakit hati terhadapnya, untuk satu serangannya!"

"Tetapi dia ada bersama satu pendeta yang bernama Biat Hoa!"

Cie Hoa memperingati.

"Ya, ini soal sulit juga,"

Sie Ie berpikir.

"Beng Sin Thong sendiri sudah sukar untuk dilayani, kalau dia dibantu lagi Biat Hoa, sudah pasti aku bakal kena dikalahkan... Pula, mendengar lagu suara Cie I loa, dia sangat tidak sudi menemui Beng Sin Thong itu, sedang, biar bagaimana, Beng Sin Thong itu ialah ayahnya dan aku tidak leluasa untuk aku minta dia membantui menempur ayahnya itu..."

Maka itu, ia menjadi berdiam. Tengah ia ragu-ragu itu, mendadak ia merasakan sambaran di belakang kepalanya. Ia tahu datangnya serangan. Maka ia menyambar ke belakang sambil membentak.

"Bangsat tua she Beng, kau majulah!"

Tapi aneh, serangannya itu, yang berupa tangkisan, tidak mengenakan sasarannya.

Ia terkejut, hatinya bercekat.

Justeru itu ia melihat berkelebatnya satu bayangan orang, yang muncul dari pohon-pohon lebat, yang gerakannya bagaikan terbang melayang.

Dengan cepat ia menyambut dengan tongkatnya.

Bayangan itu berjumpalitan tanpa menanti kakinya menginjak tanah, maka itu, serangan Sie Ie mengenai tempat kosong.

Di lain pihak, lantas terdengar suara "Plak!"

Pada pipi.

Karena tanpa ia mengetahui, tanpa merasa, muka Sie Ie kena tergaplok!

Itulah serangan dengan secabang pohon, tetapi rasanya lebih hebat daripada joan-pian.

Maka muka Tokciu Hongkay lantas mengeluarkan darah, rasanya sakit sekali.

Sie Ie gusar berbareng kaget.

Itulah hajaran hebat untuknya.

Ketika itu, bayangan itu berhenti di depannya seraya terus membentak.

"Kim Sie Ie, binatang cilik, kau benar bukannya satu makhluk!"

Mendengar suara itu, Sie Ie berdiri menjublak.

la kaget seperti ditimpa guntur.

Ia sebenarnya hendak menyerang pula dengan tongkatnya, atau lantas ia seperti kehabisan tenaga.

Kedua tangannya dikasih turun.

Bayangan yang sekarang berdiri di depannya itu ialah Phang Lim!

Semenjak tadi nyonya itu bersembunyi di belakang pohon, dia telah mendengar nyata pembicaraan di antara Sie Ie dan Cie Hoa, maka itu, ia gemas bukan main.

Begitulah bermula ia menyerang dengan dua lembar daun.

Karena hatinya panas, ia terus muncul dan menghajar dengan cabang pohon.

Sie Ie tadinya menduga ialah Beng Sin Thong maka ia didamprat sebagai Beng Laokoay, si "siluman tua"

She Beng! "Hm, hm! Kim Sie Ie!"

Berkata Phang Lim, dingin.

"Kau baik, kau baik sekali! Bagaimana kami ibu dan anak telah memperlakukanmu, tetapi kau kiranya seorang tidak berbudi! Apakah tepat perbuatanmu terhadap anakku?"

Dalam gusarnya nyonya itu menyerang pula. Sie Ie bingung dan repot, terpaksa ia menangkis dengan tangannya, maka tangannya itu balan.

"Peebo,"

Kata ia lekas.

"tentang budimu yang besar, aku sangat bersyukur, tetapi urusan di antara pria dan wanita, itulah bukan urusan yang sederhana. Terhadap Kim Bwee, aku memandangnya sebagai adik sendiri... Peebo, kau... kau... suka dengar aku bicara?..."

Belum habis kata-kata itu, kembali si nyonya sudah menyabat.

"Apa lagi yang kau hendak bilang?"

Tanyanya, membentak.

"Aku telah dengar semua! Aku menyesal yang aku tidak dapat membunuh kau! Apakah kau sangka anakku tidak ada yang menghendaki? Apakah kau menyangka aku hendak memaksa kepada kau? Hm! Hm! Ah, benar-benar hendak aku membunuh kau!"

Sie Ie malu berbareng mendongkol. Ia sangat terdesak. Tapi ia mengasih turun kedua tangannya.

"Baiklah!"

Katanya.

"Jikalau peebo tidak dapat mengasih maaf, kau bunuhlah aku! Memang lebih baik aku mati!"

Cie Hoa menyaksikan itu, ia jengah sendirinya.

"Peebo!"

Ia berkata.

"apakah peebo masih mengenali aku?"

Phang Lim menoleh pada nona itu.

"Ya, aku kenali kau,"

Sahutnya.

"Tetapi urusan ini tidak mengenai kau! Kim Sie Ie yang busuk! Kau minggir! Kau tahu dialah seorang tidak berbudi, apakah kau masih hendak omong untuknya?"

Diperlakukan begitu, sakit hatinya Cie Hoa, tanpa merasa, ia lantas menangis.

Dengan menutupi mukanya, ia berjalan pergi.

Phang Lim masih gusar, ia menghajar Sie Ie hingga belasan kali, hingga si pengemis edan balan tangannya, mukanya dan juga kakinya.

Sie Ie menahan sakit, ia berdiam saja.

Di dalam hatinya ia kata.

"Paling kau hajar aku hingga mati, supaya aku tidak usah sulit-sulit lagi!"

Tapi Phang Lim itu, habis menghajar, hatinya mulai reda, dan di akhirnya ia menghela napas dan mengeluh.

"Oh, anakku yang bernasib buruk... Ya, percuma sekalipun aku menghajar mati pada kau..."

Ia mendelik pada Sie Ie, terus ia memutar tubuh, untuk berlalu tanpa menoleh pula.

Kedua kaki Sie Ie menjadi lemas, tubuhnya pun dirasai sakit, tetapi lebih sakit ialah hatinya.

Bukankah Phang Lim sudah pergi?

Bukankah Kok Cie Hoa telah meninggalkannya?

Maka ia berdiri bengong di depan Siangceng Kiong.

Ketika itu di lain pihak, habis berpisah dari Tan Thian Oe suami isteri, Lie Kim Bwee pun berangkat cepat-cepat menuju ke Laosan.

Ia lelah mengaburkan kudanya, kuda jempolan pemberian Tan Thian Oe.

Itulah kuda asal Ferghana.

Selama dia di Tibet, Thian Oe biasa menunggang kuda itu untuk menyampaikan berita-berita peperangan yang penting kepada ayahnya.

Thian Oe sangat menyayangi kuda itu tetapi untuk menolong Kim Bwee, supaya si nona lekas sampai di Laosan, ia menyerahkannya.

Maka itu, walaupun Kim Bwee kena dipermainkan Le Seng Lam, hingga ia mesti mundar-mandir tidak keruan enam hari, toh ia tiba di Laosan satu hari berbareng dengan tibanya Cie Hoa dan Seng Lam, melainkan beda waktunya.

Ketika Nona Lie sampai di kaki gunung Laosan, ia mengirim kudanya pada pemilik hotel dimana ia singgah, dengan bersemangat ia mendaki gunung.

Di saat Phang Lim memukuli Kim Sie Ie, ia tiba di lembah dari mana, jauh-jauh, ia dapat memandang kuil Siangceng Kiong.

Tengah Kim Bwee memandang ke arah kuil itu, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki di sebelah belakangnya.

Ia tidak memperhatikannya, ia menduga suara itu tentulah diterbitkan oleh lain orang, yang mau mendaki juga gunung itu.

Ia baru merasa heran kapan ia mendapatkan orang berjalan cepat sekali, bukan seperti tindakan sembarang orang.

Ia pun segera mendengar satu suara yang keras dan dalam-suaranya seorang tua.

"Kuil di atas itu ialah Siangceng Kiong! Oh, di atas itu nampaknya seperti orang berkelahi! Entah dia Kim Sie le atau bukan..."

Bukan main kagetnya nona ini ketika ia mengenali suara itu-suaranya Beng Sin Thong. Menyusul itu, ia mendengar suaranya Biat Hoa Hwesio.

"Bagus! Mari kita lekas pergi ke atas! Kim Sie Ie tidak boleh dikasih lolos!"

Biat Hoa benci betul Kim Sie Ie, maka juga, turutnya ia kepada Beng Sin Thong ini, sebabnya yang terutama yaitu untuk menuntut balas, la kalah pendengaran dari Sin Thong, dari itu ia tidak mendengar suaranya Phang Lim mendamprat Sie Ie, yang dipukuli itu.

Sebaliknya Sin Thong juga, karena jaraknya masih jauh, dia belum keburu mengenali suaranya Phang Lim.

Lie Kim Bwee jadi takut sekali, tanpa ayal lagi, ia lantas lari.

Baik Beng Sin Thong maupun Biat Hoa tidak dapat melihat Nona Lie, umpama Kim Bwee bisa menenteramkan diri dan lekas bersembunyi, ia tidak nanti kepergok, justeru ia lari, hingga terdengar suaranya dan terlihat bergeraknya, ia segera dapat dilihat Kie Siauw Hong si pencuri liehay.

"Suhu, di depan ada orang!"

Berkata si Malaikat Pencuri. Beng Sin Thong lantas berlompat ke depan, segera terdengar dia tertawa lebar.

"Ha, kiranya kau!"

Dia berkata nyaring. Dia lantas mengenali si nona.

"Tidak, kau tidak dapat lari!"

Baru beberapa hari saja Sin Thong bertemu Phang Lim, sekarang ia menemui pula Kim Bwee, ia menjadi berkuatir.

Ia takut itu ibu dan anak bertemu satu dengan lain, dengan begitu si anak bisa mengadu kepada ibunya, membeber kejahatannya.

Inilah ia tidak kehendaki.

Maka sekarang timbul ingatannya akan membinasakan nona itu.

Tengah Kim Bwee lari itu, di sebelah depan ia, Phang Lim lagi mendatangi.

Sang ibu, yang habis menganiaya Sie Ie, mendongkol dan masgul sekali, pikirannya tidak keruan.

Tapi ia segera melihat si nona.

Ketika ia mengenali puterinya, ia girang bukan main.

"Anak Kim!"

Ia memanggil sambil ia berlari menghampirkan.

Kim Bwee lari keras kepada ibunya, ketika mereka sudah datang dekat satu pada lain, ia berlompat menubruk ibunya itu.

Ia bernapas sengal-sengal hingga untuk sejenak ia tidak bisa membuka mulutnya.

Memangnya ia sangat berkuatir, hatinya bergelisah.

"Anak, mari kita pulang!"

Berkata si ibu, yang menghela napas.

"Tidak usah kau pergi ke Siang-ceng Kiong!"

Kim Bwee heran hingga ia melengak. Tapi ia masih bernapas memburu, hingga ia cuma berpikir, belum dapat ia menanya jelas. Ketika akhirnya ia bisa membuka mulutnya, ia kata.

"Mama, ada orang mengejar aku!..."

Segera ibu itu menjadi gusar.

"Siapa begitu bernyali besar berani menghina anakku?"

Katanya nyaring. Belum berhenti suara nyonya ini atau ia melihat Beng Sin Thong lari mendatangi, di belakang jago tua itu mengintil Biat Hoa Hwesio serta Kie Siauw Hong.

"Mama, itulah dia!"

Kata Kim Bwee sambil menuding Beng Sin Thong.

"Dia sangat jahat! Dia telah menghina anakmu, dia juga menghina enci Kok Cie Hoa!"

"Baik!"

Menjawab si ibu, sengit.

"Kau tunggu, nanti aku bunuh padanya! Ingat anak, kau dengar kataku, jangan kau pergi!"

Beng Sin Thong terkejut kapan ia melihat Kim Bwee bertemu ibunya, tapi sekarang tak sempat ia berkata apa-apa, Phang Lim sudah berlompat maju, dengan cabang pohon, nyonya itu menikam padanya.

Karena ia lagi sangat mendongkol, nyonya itu mengerahkan tenaganya.

Beng Sin Thong mengandalkan sangat tubuhnya yang kedot, ia berkelit terlambat, maka pundaknya kena terhajar, hingga ia menjadi terkejut.

Ketika itu Biat Hoa berlompat maju, ia menyerang pada Phang Lim.

Tanpa pikir lagi, ia hendak membantu kawannya.

Phang Lim menangkis serangan itu.

Hebat caranya.

Ia bukan membikin tongkat si pendeta terpental, sebaliknya ia menekan, hingga dengan meminjam tenaga penyerang itu, berbareng ia dapat berkelit dari serangan pembalasan dari Sin Thong yang penasaran sekali.

Hebat kesudahannya serangan Sin Thong itu.

Biat Hoa seperti menghadang di depannya, maka Biat Hoa kena tertolak.

Syukur untuknya, ia masih sempat berkelit.

Maka serangan Sin Thong itu mengenakan telak sebuah batu besar, hingga batu itu bergerak.

Segera setelah itu, Sin Thong berseru.

"Saudara Biat Hoa, marilah bereskan dulu si tua! Jangan takut si muda nanti bisa lolos!"

Dengan teriakannya itu, Sin Thong bukan melulu mengharapi bantuannya si pendeta, ia juga ingin pegang nama.

Ia kuatir Biat Hoa nanti pergi menyerang Kim Bwee.

Cara itu, ia anggap, akan menurunkan derajatnya.

Ialah seorang guru besar.

Sebaliknya tadi, tanpa banyak pikir, ia mengejar si nona...

Mukanya Biat Hoa merah.

Ia jengah karena hatinya dapat dibade.

Ia memang berniat membekuk Nona Lie.

Tapi ia paksakan diri tertawa.

"Benar!"

Sahutnya.

"Marilah kita binasakan dulu siluman wanita ini!"

Ia maju dengan waspada.

Ia ketahui liehaynya nyonya itu.

Ia merasa, memang dengan mengepung berdua baru ada harapan untuk merebut kemenangan.

Phang Lim lantas dikepung berdua.

Sin Thong bekerja sama Biat Hoa, tidak lama, mereka dapat menang di atas angin.

Meski begitu, tidak dapat mereka lekas-lekas menghalangkan si nyonya, yang ilmu silatnya beraneka ragam.

Ketika itu di depan kuil Siangceng Kiong, Sie Ie tidak ketahui adanya pertempuran di lereng gunung itu.

Ia merasa sangat bersusah hati karena perbuatannya Phang Lim itu, yang membuatnya gusar tidak bisa.

"Sungguh sukar hidupnya manusia..."

Ia mengeluh.

Ketika itu, sang rembulan seperti lagi memanjat pohon, angin bertiup mendatangkan hawa dingin.

Dalam kedukaannya, kemudian ia memikir untuk bertindak turun.

Tiba-tiba ia merandak.

Seorang imam dari kuil Siangceng Kiong itu, keluar dari kuilnya.

Dia bersenandung.

"Keruwetan pikiran itu disebabkan hati kosong... Kenapa mesti melupakan kenyataan?"

Mendadak Sie Ie menoleh.

"Imam hidung kerbau!"

Serunya.

"Imam busuk! Kau benar! Tapi tidak dapat aku turut kau menjadi imam!-Ah, sudahlah, paling benar aku pergi!"

Imam itu menghampirkan, untuk memegang tangan orang. Dia tertawa.

"Apakah kau sangka keruwetan dapat dilenyapkan dengan kau berjalan pergi?"

Kata dia.

"Mari, aku tanya kau. Wanita tadi itu, bukankah dia Phang Lim dari Thiansan Pay?"

"Tidak salah!"

Sahut Sie Ie.

"Kau kenal dia?"

Imam itu tertawa.

"Budak itu sudah hidup beberapa puluh tahun lamanya, tabiatnya tetap dia tidak dapat rubah! Baiklah, nanti aku bicara dengannya..."

"Eh, eh, jangan!"

Sie Ie mencegah.

"Urusanku tak dapat kau mencampurinya tahu!"

Ia menyambar, untuk memegang tangan si imam, tetapi ia menangkap angin. Maka ia heran. Hanya sekejab, imam itu sudah memisahkan diri beberapa tombak, terus dia pergi ke lereng, ke lembah.

"Ah!..."

Sie Ie berseru sendiri.

Ia merasa imam itu hebat.

Tokciu Hongkay heran, inilah bisa dimengerti.

Ia tidak kenal imam itu, yang sebenarnya seorang kenamaan pada lima puluh tahun dulu, sebab dialah yang utama di antara Kwantong Suhiap,"

Empat Jago dari Kwantong.

Dialah Hian Hong Toojin, yang masuk segolongan dengan Kanglam Cithiap, Tujuh Pendekar dari Kanglam.

Dibanding dengan Lu Su Nio, dia berusia lebih tinggi.

Sekarang ini umurnya sudah di atas delapan puluh tahun.

Pula tiga kawannya --ialah Long Goat Hwesio, Liu Sian Kay dan Tan Goan Pa-semua menutup mata, tinggal ia sendiri yang sekarang berdiam di Siangceng Kiong ini bersama dua muridnya.

Disini ia sudah tinggal lebih daripada dua puluh tahun.

Berkat mahirnya tenaga dalamnya, ia nampak seperti baru berusia enam puluh lebih.

Gunung Laosan terpernah di tepi laut, ketika pertama kali Kim Sie Ie mendarat maka di kuil Siangceng Kiong ini ia menumpang satu malam, dengan begitu ia jadi kenal imam itu, melainkan ia belum tahu bahwa orang asalnya seorang jago.

Sie Ie mau pergi berlayar, orang yang pertama ia ingat ialah Hian Hong.

Ia tahu imam ini beribadat, tidak ada campurannya dengan orang Kangouw, maka ia percaya, si imam tidak bakal membuka rahasianya.

Begitulah ia menumpang di Siangceng Kiong, untuk membuat persiapan.

Ia sudah selesai, tapi Seng Lam belum muncul, sebaliknya yang datang ialah Cie Hoa dan Phang Lim.

Dan baru sekarang ia ketahui si imam juga bukan sembarang orang!

Setelah tidak melihat lagi punggung si imam, Tokciu Hongkay berpikir.

"Imam tua ini nyata usilan, biarlah dia pergi! Aku juga bakal berlalu dari sini..."

Pengalamannya barusan membuat hati Sie Ie tawar.

Belum lagi si pengemis edan ini berlalu, ia melihat satu bayangan berkelebat.

Ia segera mengawasi.

Lantas ia terkejut, ia merasa tidak enak hati.

Dengan tiba-tiba ia kata.

"Seng Lam, bagus ya, bagus perbuatanmu!"

Bayangan itu benar si Nona Le. Dia tertawa lebar.

"Apakah perbuatanku yang tidak bagus?"

Dia tanya.

"Kau lihat, batas waktu belum tiba tetapi aku sudah datang! Bukankah dengan begini hatimu menjadi lega?"

"Hm!"

Sie Ie mengejek.

"Mengapa kau mengakali Lie Kim Bwee?"

Seng Lam melengak. Ia pikir.

"Mustahilkah dia telah bertemu dengan Kim Bwee?"

Sie Ie mengawasi dengan tajam. Hanya sebentar, Seng Lam telah mendapat pulang ketenangan hatinya. Ia lantas tertawa.

"Kim Sie Ie, ingatanmu kurang baik!"

Katanya.

"Apakah kau telah lupa janjimu padaku, tentang kalah bertaruhmu? Kau telah menerima baik aku bergurau kepadamu hingga tiga kali, kau berjanji tidak bakal gusar! Sekarang ini baru yang kedua dan masih ada yang ketiga! Maka selanjutnya kau berhatihatilah!"

Sie Ie berdiam. Sungguh hebat nona ini.

"Kau jangan gusar,"

Kata pula nona itu, tertawa.

"Siapa suruh kau menerima baik perjanjian kita? Bagaimana dengan perahumu untuk pelayaran kita, sudah siap atau belum? Kita berangkat sekarang atau lagi dua hari? Beng Sin Thong bersama Biat Hoa Hwesio lagi mengejar aku, umpama kata kau tak menghendaki kesulitan, lebih baik kita berangkat sekarang!"

Kim Sie Ie menghela napas.

"Kau benar-benar penghalang dan penggodaku!"

Katanya, kewalahan.

"Kau juga sama!"

Seng Lam tertawa.

"Jikalau tidak, mengapa ku tidak pilih lain orang hanya kau? Eh, kau ingatlah, kata-katanya seorang kuncu sama dengan dipecutnya satu kali kuda yang keras larinya! Apakah kau menyesali perjanjian kita pergi berlayar?"

Kim Sie le mengertak gigi.

"Baiklah!"

Katanya keras.

"Sekarang juga kita berangkat! Biarlah lekas-lekas aku membalas budimu!"

"Habis itu lantas kau boleh tak usah memperdulikan aku lagi, bukankah?"

Tanya si nona, lagaknya menantang. Kim Sie Ie berdiam. Ia kalah bicara. Di dalam hatinya, ia kata.

"Seumurku aku tukang permainkan orang, tidak ku'sangka kali ini aku menemui tandinganku! Ya, ini rupanya pembalasan..."

"Jikalau kita mau berangkat sekarang, marilah kita berangkat,"

Kata Seng Lam, sekarang suaranya lembut.

"Kau memikirkan apa lagi? Apakah kau ingin menantikan enci Kok kau itu atau adik Lie?"

Kim Sie le merasa seperti tertusuk hebat. Ia menjemput tongkatnya seraya terus berjingkrak.

"Baik! Baik! Baik!"

Katanya berulang-ulang.

"Mari kita pergi! Kita pergi! Kita pergi!"

Lalu ia mengasih dengar seruan yang panjang, yang disusul dengan senandungnya.

"Di dalam dunia sudah biasa mendapat ejekan, untuk apakah hidup dengan sisanya hidup?..."

Le Seng Lam tertawa, dia menyambungi.

"Di luar laut, kalau pulau dewata dapat disampaikan, nanti hati tak dapat dibuatnya berduka..."

Heran Sie le mendengar demikian rupa sambutannya Seng Lam, hatinya gentar. Ia berpikir pula.

"Jikalau di luar laut ada pulau dewata, mungkin sulit aku membebaskan diri dari dia ini..."

Tetapi sekarang sudah tidak ada waktu buat beragu-ragu, biar bagaimana juga, ia mesti turut si nona!

Beng Sin Thong bersama Biat Hoa Hwesio tengah mengepung Phang Lim tatkala kupingnya mendapat dengar suara tindakan kaki yang cepat, benar suara itu masih jauh tetapi ia sudah mendengarnya karena telinganya sangat celi, dan ketika ia melirik, ia melihat mendatanginya satu bayangan orang.

Hatinya menjadi bercekat.

"Bukankah itu Kim Sie le?"

Ia tanya dirinya sendiri.

Karena ini, tanpa menyayangi diri lagi, ia perhebat serangannya terhadap Phang Lim.

Ia menggunai Siulo Imsat Kang tingkat ke tujuh.

Ia menyerang beruntun tiga kali, hingga serangannya itu bagaikan gelombang saling sambar.

Phang Lim boleh liehay akan tetapi diserang secara demikian, ia repot juga.

Tubuhnya mesti turut bergerak bagaikan gelombang juga, guna mempertahankan diri dari kehebatannya Siulo Imsat Kang.

Biat Hoa Hwesio melihat itu, karena dia licik, dia hendak menggunai ketikanya yang baik, majulah dia, untuk menghajar si nyonya, yang dia arah punggungnya!

Dia membokong tetapi sambil berseru.

Di dalam keadaannya terdesak itu, Phang Lim masih dapat melihat aksi si pendeta, maka itu, ia menjadi mendongkol bukan main.

"Hai, keledai gundul, kau juga berani menghina aku?"

Bentaknya.

Dengan luar biasa sebat, ia meloloskan ikat pinggangnya, begitu lekas ia menyambar, ia dapat menahan datangnya tongkat si imam, terus ia menjempar, untuk membikin imam itu terpelanting.

Biat Hoa liehay, dapat ia mempertahankan diri.

Dengan menarik pulang tongkatnya, dapat dia membebaskan diri dari libatan, setelah mana, ia maju pula untuk mengulangi serangannya, tiga kali saling susul, dengan tipu silatnya "Inliong samhian", atau "Naga di mega muncul tiga kali".

Phang Lim telah didesak terus oleh Sin Thong, begitu ia dapat meloloskan diri dari serangan orang she Beng itu, ia juga hampir berbareng membebaskan diri dari tongkat si imam yang liehay itu, tongkat mana ia libat dengan ikat pinggangnya.

Tepat kedua senjata--tongkat dan ikat pinggang lagi berkutat, Beng Sin Thong sudah maju pula.

Maka melihat ancaman bahaya, Phang Lim lekas-lekas meloloskan libatannya.

Justeru itu waktu, tibalah si bayangan.

Dialah Hian Hong Toojin.

Dia lantas tertawa dan berkata.

"Budak Lim, apakah kau masih kenalkan aku si imam tua?"

Phang Lim segera menoleh.

"Ha, imam hidung kerbau, kiranya kau masih hidup?"dia menyahuti.

"Selama dua puluh tahun ini, kau bersembunyi dimana saja?"

Hian Hong tertawa pula.

"Aku si imam tua masih belum ingin mati!"

Katanya.

"Aku ingin menyaksikan kamu si anak-anak muda! Ha, budak Lim, lagakmu masih tetap seperti pada empat puluh tahun dulu itu!"

Selagi melayani orang bicara, ibunya Kim Bwee terkejut.

Dengan berbicara pada lain orang perhatiannya menjadi terpecah, maka hebat ia diancam Beng Sin Thong, yang menggunai ketikanya untuk menyerang, syukur ia masih dapat berkelit.

Maka ia segera berkata.

"Tunggulah aku usir dulu ini dua manusia busuk, nanti aku melayani kau bicara!"

Hian Hong tidak berhenti sebaliknya dia maju satu tindak. Dia tertawa.

"Sudah lama kita tidak bertemu, sekalinya bertemu lantas kau merepoti lain urusan!"

Katanya.

"Tidakkah dengan demikian kau menjadi mensia-siakan aku si imam tua?"

"Tetapi,"

Kata Phang Lim, cepat.

"aku tidak mengharapi bantuanmu!..."

Masih imam tua itu tertawa.

"Aku cuma hendak bicara dengan kau!"

Katanya.

"Siapa mau membantu kau?"

Dengan enak saja dia bicara, dengan merdeka juga dia mengajukan diri, untuk menyelak di antara tiga orang yang lagi bertarung mati-matian itu.

Sebab Beng Sin Thong dan Biat Hoa ingin sekali merobohkan si nyonya, sebaliknya nyonya itu, walaupun terdesak, tetapi ia dapat melayaninya dengan baik.

Biat Hoa tidak kenal imam itu.

Ia melihat bukannya Kim Sie Ie, ia lantas membentak.

"He, dari manakah datangnya ini imam busuk yang lagaknya mirip orang edan? Apakah kau mau mencari mampus?"

"Ya,"

Menjawab Hian Hong, lagaknya tetap acuh tak acuh.

"aku si imam sudah berusia tinggi, aku sudah bosan hidup!"

Dan ia maju pula dua tindak. Karena disitu orang tengah bertempur, tidak dapat ia maju terlebih jauh. Tongkatnya Biat Hoa segera juga menyambar ke pinggangnya.

"Hai, kau gila!"

Hian Hong membentak.

"Aku lagi bicara dengan sahabat lamaku. Kenapa kau mengganggu aku?"

Ia lantas mengebut dengan kebutannya, hingga tongkat si imam kena terlibat.

Baru sekarang Biat Hoa kaget.

Dia boleh liehay tetapi ketika dia menggunai tenaganya, untuk menarik pulang tongkatnya itu, untuk dimerdekakan, dia tidak sanggup membebaskannya, dia bagaikah terpaku.

Hian Hong tetap tidak menggubrisnya, dia tertawa pula.

"Budak Lim, aku bukan membantu kau!"

Katanya.

"Adalah ini bangsat bau yang telah menyerang aku! Jikalau aku terhajar mampus, bukankah aku menjadi tidak dapat bicara denganmu? Karena itu, tidak ada jalan lain, terpaksa aku menahannya dia satu kali! Kau toh tidak akan menyesalkan aku, bukan?"

Beng Sin Thong terkejut sekali. Ia telah menyaksikan lagak orang yang keangot-angotan itu. Ia pun heran dan penasaran. Maka ia lantas menyerang kepada imam itu.

"Hai!"

Berseru si imam.

"Udara begini indah, mengapa tidak keruan-keruan datang hawa dingin!"

Ia terus mengibas dengan sebelah tangannya.

Beng Sin Thong kembali terkejut.

Ia merasakan sambarannya tenaga, tidak hebat, tetapi tenaga itu membuatnya seperti sukar menggunai tenaganya sendiri.

Sampokan angin dari kebutan itu terasa bagaikan berkesiurnya angin musim kemi...

"Ah!"

Phang Lim berkata.

"oleh karena mengadu birunya kau ini, kau membuatnya terganggu pertempuran kita ini!"

"Ah, kau aneh!"

Kata si imam.

"Belum aku menegur, kau telah mendahulukannya!"

"Tetapi kau mengacau kita! Apakah salahku terhadap kau?"

Phang Lim tanya. Ketika itu, Sin Thong sudah menyerang pula. Dia penasaran.

"Baiklah!"

Kata si imam tua kemudian.

"Budak Lim, jangan kau gusari aku, sekarang aku membiarkan kau bertempur sampai puas!"

Phang Lim sendiri lompat berkelit, lincah gerakannya "lepou hoanheng", atau "memindahkan tindakan, menukar wujud"

Ia menyingkir dari depan, ia pergi ke samping, dari mana, ia membalas menyerang pada lawannya.

Sin Thong terkejut.

Ia merasakan tenaganya berkurang.

Ia menjadi sangat penasaran, hendak ia maju pula, guna mengulangi serangannya.

Tiba-tiba, Hian Hong menyelak di antara mereka.

Dia tertawa berkakakan dan berkata.

"Eh, budak Lim, kau jangan main berkelahi saja hingga kau tidak meladeni aku pasang omong!"

Agaknya Phang Lim kewalahan. Berat mesti melayani Beng Sin Thong, sekarang dia "diganggu"

Si imam tua, maka dia menjadi mendongkol. Dia menghentikan gerakannya, dia berkata.

"Baiklah, imam tua! Jikalau kau hendak bicara, nah, bicaralah, terus terang!"

"Baik, kau dengar!"

Berkata si imam. Ia pun lantas beroman sungguh-sungguh.

"Sekarang aku hendak menegur kau! Kim Sie Ie menjadi tetamuku, mengapa kau menghajarnya di depan kuilku? Apakah itu bukan berarti kau sengaja hendak mengganggu muka terang dari aku?"

"Oh, kiranya, binatang itu tetamumu?"

Kata Phang Lim.

"Hian Hong, urusan itu baiklah kau jangan campur!"

"Tetapi aku si imam tua seumurku paling aku usilan, paling gemar aku mencampur tahu urusan orang lain!"

Menjawab si imam.

"Apapula urusan itu terjadi di depan kuilku! Mana bisa aku tidak mencampur tahu?"

Asyik sekali kedua orang itu bicara, si imam dan si nyonya tidak memperdulikan yang Biat Hoa Hwesio, begitu juga Beng Sin Thong, telah menyerang pula masing-masing dua kali.

Si nyonya senantiasa berkelit, sedang si imam itu tidak menangkis, hanya karena kelitnya itu, kedua tangannya turut bergebrak, dan gerakan tangannya itu mendatangkan angin yang halus, yang membuat serangan Biat Hoa dan Sin Thong gagal.

Bahkan angin itu membantu banyak kepada Phang Lim, yang menjadi tidak terlalu terancam bahaya.

Beng Sin Thong satu guru besar, ia lantas dapat merasa dan melihat bahwa imam ini bukan sembarang imam, maka dengan sendirinya, ia gentar.

Ia dapat menduga, kalau si imam membalas menyerang padanya, akan musnahlah Siulo Imsat Kang-nya!

Terang orang ini jauh lebih liehay daripada Phang Lim.

Melawan si nyonya ia cuma menang unggul tetapi tidak sanggup merobohkannya walaupun ia mengepung berdua Biat Hoa.

Ketika itu, Lie Kim Bwee kaget sekali.

Sekian lama ia berdiri di pinggiran menonton pertempuran, mendengari ibunya bicara dengan si imam tua, waktu ia mendengar halnya ibunya menganiaya Sie Ie, ia tidak bisa berdiam lebih lama.

"Ibu!"

Tanyanya.

"kenapa ibu menganiaya Kim Sie Ie?"

"Binatang cilik itu bukan manusia baik-baik, dia membuatnya ibumu gusar,"

Phang Lim menjawab anaknya.

"Kenapa ibu bilang engko Sie Ie bukan orang baik?"

Si anak tanya pula "Tunggu sebentar, habis berkelahi, nanti perlahan-lahan aku memberi penjelasan ..."

Menyahut pula ibu itu.

Tepat itu waktu, dari atas puncak terdengar seruan yang nyaring dan panjang dari Kim Sie Ie, yang Tokciu Hongkay memperdengarkannya tadi.

Mendengar itu Kim Bwee, yang mengenalinya, menjadi kaget.

"Ah, dia masih ada di atas gunung!"

Serunya. Hanya, dengan satu gerakan tubuh, nona ini berlompat, untuk lari naik! Phang Lim terkejut.

"Anak Bwee!"

Dia memanggil.

"Kembali!"

Kim Bwee tapinya tidak mem-perdulikan ibunya itu, dia lari terus, bahkan larinya semakin keras.

"Anak, kau tidak dengar kata?"

Teriak Phang Lim.

"Baiklah, tidak dapat aku berkelahi terus! Kau kembali! Kau kembali!"

Kim Bwee berlari terus.

Ibu ini menjadi bergelisah, dia lompat keluar gelanggang, tanpa mengatakan apa-apa, dia menyusul puterinya.

Hian Hong tertawa bergelak, ia pun ngeloyor pergi.

Beng Sin Thong dan Biat Hoa terbengong.

Tadi Sin Thong kaget mendengar suaranya Sie Ie itu.

Ia ketahui baik sekali, umpama Kim Sie Ie datang kesitu, terang ia dan Biat Hoa bakal terkalahkan.

Phang Lim seorang sudah sukar dirobohkan, disana ada si imam tua, apalagi kalau si pengemis pun tiba?

Maka bersyukurlah ia atas perginya Phang Lim itu disusul si imam...

Phang Lim dapat menyandak anaknya.

"Anak Bwee, jangan kau cari pula dia itu,"

Katanya, lembut.

"Mari pulang!"

"Jikalau ibu tidak mengijinkan aku menemui dia, aku juga tidak mau turut ibu pulang,"

Berkata sang anak.

"Anak tolol!"

Kata si ibu.

"Dia... dia telah ada orang yang dicintainya... Mana dia menaruh hati -kepada kau?..."

Kim Bwee tercengang.

"Tidak aku tidak percaya!"

Dia berseru. Phang Lim bersenyum sedih.

"Kau tidak percaya ibumu, anak?"

Tanyanya lembut.

"Meskipun benar dia menyintai lain orang, mesti aku tanyakan Keterangannya,"

Kata si nona. Ia berkata-kata, kakinya tidak berhenti berlari. Phang Lim mengikuti, ia menghela napas.

"Anak ini lebih kukuh daripada Aku..."

Katanya seorang diri.

Ia tidak dapat mencegah lagi, maka ia mengikuti terus.

Sesampainya di atas puncak, di depan kuil, keadaan sangat sunyi.

Tidak ada Kim Sie Ie disitu.

Kim Bwee berdiri diam, bagaikan semangatnya telah terbang pergi.

"Mari pulang, anak,"

Katanya.

"Dia tidak suka menemui kau, maka tidak ada perlunya kau mencari dia..."

Kim Bwee berdiam, ketika ia berkata-kata, ia seperti omong sendiri atau menanyakan ibunya. Katanya.

"Benarkah dia menyintai lain orang? Siapa? Siapa?..."

Phang Lim bersusah hati "Baiklah aku menjelaskan padanya,"

Pikirnya kemudian.

"Biarlah hatinya mati. Dia tentu akan ber-sakit sebentar, tetapi ini lebih baik daripada ia terus berada dalam kegelapan..."

Maka ia lantas berkata.

"Yang dia cintai bukan hanya satu orang. Disana ada yang dia panggil enci Kok, ada yang dia panggil enci Le... Tak tahu aku, dia sebenarnya menyintai yang mana..."

"Enci Kok?"

Kata Kim Bwee.

"Enci Le? Bukankah mereka Kok Cie Hoa dan Le Seng Lam?"

"Benar, Kok Cie Hoa aku tahu. Dialah murid penutup dari Lu Su Nio. Dan Nona Le itu pernah aku lihat. Mungkinkah dia Le Seng Lam."

"Ibu, apakah ibu tidak salah dengar?"

Kim Bwee tanya.

"Tidak,"

Sang ibu menjawab.

"Aku menguntit mereka berdua sampai di depan kuil dimana Kim Sie Ie tengah mengutarakan rasa hatinya terhadap Kok Cie Hoa. Sebenarnya lucu, mulanya dia mengira Cie Hoa ialah si Nona Le! Sebenarnya dia datang kemari karena perjanjiannya dengan Nona Le itu."

Kim Bwee masih seperti melamun.

"Dia bersama Le Seng Lam berjanji akan bertemu disini..."

Katanya.

"Aku mengerti sekarang!"

"Kau mengerti, itulah bagus,"

Kata sang ibu.

"Eh, bagaimana ini, ya?"

Kim Bwee kata pula.

"Sedikit juga aku tidak mengerti, aku tidak mengerti!"

Phang Lim meraba dahi puterinya, ia tidak merasakan hawa panas. Ia menjadi heran sekali. Terang anak itu tidak sakit.

"Kenapa dia bilang mengerti, lalu tidak mengerti?"

Ibu ini tidak mengerti, itulah tidak heran.

Pertama kali Kim Bwee bilang "mengerti", itulah sebab ia mengerti kenapa Le Seng Lam menipunya.

Kedua kalinya ia membilang "tidak mengerti", itu benar-benar disebabkan ia tidak mengerti duduknya hal.

Ketika itu Hian Hong datang menyusul, kelihatannya dia bernapas sengal-sengal, tetapi lantas dia tertawa.

"Apakah kamu, ibu dan anak, berselisih karena urusan Kim Sie Ie?"

Dia tanya Lucu imam ini. Dia mempunyai ilmu enteng tubuh tak kalah dari Phang Lim tetapi dia ketinggalan. Dia pun sengaja seperti dia bernapas mengorong. Phang Lim segera berkata kepada anaknya.

"Anak Bwee, mari ketemui ini Hian Hong Tootiang! Kau memanggil empe tootiang saja padanya!"

Si nona memberi hormat, lantas dia menanya.

"Empee tootiang, apakah kau tahu Kim Sie Ie pergi kemana?"

"Ibumu telah menghajar dia sampai dia lari kabur, mana aku tahu?"

Sahut si empee atau paman imam. Tapi, ketika ia melihat roman si nona, yang mau menangis, ia lantas cepat berkata.

"Dia tinggal denganku disini hampir satu bulan, dia telah memanggil tukang untuk membuat sebuah perahu. Aku kira dia sudah pergi berlayar."

Mendengar itu, tanpa bilang apa-apa, Kim Bwee lari turun gunung. Phang Lim kaget.

"Anak Bwee!"

Panggilnya.

"Aku hendak menyuruh dia kembali!"

Sahut si anak sembari lari terus.

Kewalahan ibu ini, terpaksa ia lari mengikuti.

Mereka lari sampai di kaki gunung, di tepi laut.

Di bawah sinar permai dari si Puteri Malam, air laut terlihat jernih dan tenang, tapi di tepian itu tidak ada lain orang.

Kapan orang memandang jauh ke tengah, samar-samar tampak sebuah titik hitam.

"Engko Sie Ie! Engko Sie Ie!"

Kim Bwee memanggilmanggil.

"Engko Sie Ie, kau dengar aku atau tidak?"

Sia-sia panggilan itu. Melihat demikian, Phang Lim berdongak, lalu mengasih dengar suaranya yang nyaring.

"Kim Sie Ie, kau kembali!"

Mendengunglah suara yang keras dan nyaring itu, yang dikeluarkan karena pengerahan tenaga dalam yang mahir apapula mereka berada di tempat yang sunyi, di antara gunung dan lautan dimana biasa suara berkumandang.

Akan tetapi titik itu, ialah perahunya Kim Sie Ie, tidak kembali ke tepian, bahkan di lain saat taklah nampak pula.

Kim Bwee mengawasi jauh, matanya sayup-sayup, air matanya lantas meleleh keluar...

Suaranya Phang Lim itu terdengar Kim Sie Ie, yang bersama Le Seng Lam telah mulai dengan pelayaran mereka.

Ia pun mengenali suaranya Phang Lim.

Sayang ia idak dapat mendengar suaranya Lie Kim Bwee.

Ia menyangka si Nona Lie sudah berada di Souwciu.

Ia tidak menduga sama sekali, ibu dan anaknya itu justeru berada di tepi laut dan bersama-sama memanggil padanya.

Tentu sekali ia tidak sudi menemui Phang Lim, bahkan sebenarnya, ia hendak menjauhkan diri daripadanya.

"Siapakah nyonya itu?"

Tanyanya.

"Dialah Phang Lim dari Thiansan,"

Sahut Sie Ie dingin. Seng Lam tertawa pula.

"Oh, ibunya Kim Bwee! Mertua memanggil menantu, mengapa kau tidak menyahuti?"

"Kenapa kau ngaco belo?"

Kata Sie Ie mendongkol. Seng Lam berdiam, ia tidak menggubris orang marah.

"Kim Sie Ie,"

Katanya kemudian, agaknya bersungguhsungguh.

"pernahkah kau mendengar kata-kata tua, 'Dalam perahu bersama berlayar?' "

"Bagaimana?"

Tanya Sie Ie. Untuk sejenak, ia tidak mengerti. Seng Lam tertawa terkikik.

"Jikalau kau mengerti, itulah bagus!"

Sahutnya.

"Tidak perduli kau selalu tidak merasa senang terhadapku, akan tetapi sekarang ini sudah berada bersama dalam sebuah perahu!"

Sie Ie berdiam, ia sangat kewalahan.

Ia sekarang memikirkan, pelayaran ini tentunya akan mengambil waktu lama dan entah kapan mereka bakal sampai di pulau tidak terkenal itu.

Di dalam waktu yang lama itu, dapatkah ia tidak berbicara dan tertawa dan terus-terusan bersikap dingin terhadap Seng Lam.

"Sebenarnya aku tidak memikir apa-apa terhadap kau, hanyalah kau sangat gemar mempermainkan orang,"

Kata ia kemudian, kemarahannya pun berkurang. Seng Lam tertawa.

"Tidak lebih tidak kurang aku menyontoh kau!"

Sahutnya.

"Bicara dari hal mempermainkan orang, kaulah orang tertua daripada aku!"

Kim Sie Ie menyeringai. Kembali ia ketemu batunya. Memang, kalau dipikir-pikir, dulu hari ia sangat usilan. Maka sambil tertawa dalam hati ia kata.

"Inilah pembalasan!"

Le Seng Lam cerdas sekali, dia mengerti segala apa.

Dalam keadaan biasa kata-katanya pun bagaikan bunga segar.

Banyak hal aneh yang ia ketahui.

Maka itu, di dalam pelayaran ini, mereka tidak kesepian.

Perahu buatannya Sie Ie ini lebih kecil daripada kebanyakan perahu pelayaran di laut yang biasa, akan tetapi pembuatannya jauh terlebih kuat, sebab bahannya terpilih semua, dan lajunya juga pesat.

Di dalam perahunya ini, ia mempersiapkan perbekalan untuk dua bulan.

Apa yang kurang ialah daging segar.

Seng Lam tidak mengerti ilmu mengemudikan perahu, maka itu di waktu iseng, ia mengail ikan, dengan begitu, ikan itu menggantikan daging yang dibutuhkan itu.

Dibalik itu, ialah ahli masak, santapan yang dibuatnya tidak ada kecelaannya.

Ia memasak nasi dan lauk pauknya, ia bebenah.

Ia juga mencucikan pakaian Kim Sie Ie.

Maka itu, cukuplah rawatannya terhadap Tokciu Hongkay, hingga perbuatannya ini kembali mengurangi kesan tak manis dari si pengemis edan itu.

Selama beberapa hari pertama itu, untuk melewati waktu luang mereka, Kim Sie Ie suka menutur pelbagai hal kaum Rimba Persilatan, sedang Le Seng Lam tidak berkeberatan menceritakan hal leluhurnya.

Nyatalah leluhur Seng Lam ini orang gagah kaum sesat dari tiga ratus tahun dulu yaitu Le Kong Thian, yang telah menjadi murid berbareng koankee, pengurus rumah tangga, dari Kiauw Pak Beng, jago nomor satu golongan sesat.

Hanya sekarang setelah ratusan tahun berselang, nama kedua keluarga itu seperti telah dilupakan orang.

Menurut Seng Lam itu, dulu hari itu Kiauw Pak Beng telah mendapat luka parah, dia telah ditolongi Le Kong Thian, untuk mana Kong Titian menghadapi bahaya maut.

Sejak itu keduanya, guru dan murid, majikan dan pegawai, lama tidak pernah berpisah.

Mereka baru berpisah setelah di akhirnya Kiauw Pak Beng mengambil putusan untuk pergi berlayar.

Ketika mereka hendak berpisahan, Pak Beng menyerahkan semua kitab ilmu silatnya.

Ia mengatakan kepada Kong Thian, ia pergi untuk melatih diri guna menggabung pelbagai ilmu silat lurus dan sesat, setelah peryakinannya berhasil sempurna, baru ia mau kembali ike Tiongkok.

Akan tetapi ia pergi untuk selamanya, tidak pernah ia kembali.

Le Kong Thian menyimpan semua kitab itu, tidak pernah ia beritahukan pada lain orang.

Setelah turun temurun, entah bagaimana duduknya, Beng Sin Thong telah dapat ketahui tentang kitabkitab itu dan dia merampasnya, untuk mana dengan telengas dia membinasakan keluarga Le yang terdiri dari beberapa puluh jiwa pria dan wanita, yang lolos cuma Seng Lam dan ibunya.

Sin Thong berhasil merampas pelbagai kitab silat di antaranya kitab ilmu Siulo Imsat Kang itu yang terliehay.

Ibu Seng Lam meninggal dunia beberapa tahun yang baru lewat.7' Nampaknya Seng Lam bangga ketika ia memberikan penuturan tentang leluhurnya itu.

Ia bergembira di waktu ia menceritakan halnya Kiauw Pak Beng menjagoi, me-nempur pelbagai musuhnya.

Kim Sie Ie sebaliknya menjadi masgul.

Ia jadi memikir jauh.

Umpamanya Seng Lam berhasil mencari kitab-kitab warisan Kiauw Pak Beng itu dan berhasil juga mewariskan ilmu silat yang mahir, tidakkah, di sebelah mencari balas, dia nanti menjadi seorang memedi wanita.

Jikalau itu benar terjadi, tidakkah hebat akibatnya?

Tapi ia sudah berjanji mengantarkan si nona, tidak dapat ia menarik pulang janjinya.

Pula sekarang, mereka tengah berlayar...

Satu hal lain membikin Kim Sie Ie heran.

Menurut Seng Lam ini, setelah Kiauw Pak Beng pergi berlayar, Le Kong Thian juga pergi menyembunyikan diri di gunung.

Sekarang dari mana Seng Lam mendapat tahu Pak Beng sudah berhasil dengan minatnya mencari ilmu itu, tanpa menghiraukan bahaya pelayaran?

Pernah ia menanyakannya tapi Seng Lam, yang sangat cerdik, mengegosinya.

Beberapa hari pertama itu, laut tenang, perahu berlayar dengan tenang juga.

Seng Lam biasa berdiri di kepala perahu, memandang jauh ke depan.

Di hari pertama, tengah hari, selagi Seng Lam berada di kepala perahu seperti biasa, mendadak ia melihat sekawanan ikan berlompatan meletik ke atas permukaan air, ada yang seperti bersayap, ada yang seperti memakai payung, dan ada juga yang bacotnya menyemburkan cair hitam.

Ia kagum, hingga ia mau memanggil Sie Ie.

Atau mendadak, ia merasakan perahu goncang keras, hingga ia terkejut.

Justeru itu Sie le berteriak.

"Lekas masuk ke dalam!..."

Belum berhenti suara Tokciu Hongkay ini, mereka lantas mendengar suara sangat keras dan berisik, kepala perahu lantas tergempur gelombang dahsyat.

Sie Ie berlaku sangat sebat, dia berlompat kepada si nona dan menariknya ke dalam, tetapi tidak urung, baju nona itu telah kebanjur air hingga kuyup lepek.

Sie Ie pun terlihat takut, seorang diri ia kata tak tedas.

"Langit begini terang mengapa datang gelombang yang didului deruman laut?"

"Apakah deruman laut?"

Seng Lam tanya.

"Itulah akibatnya suatu goncangan di dasar laut,"

Sie Ie menerangkan.

"Gelombang timbul karenanya, suaranya terdengar keras sekali. Sekarang ini tidak ada badai. Mungkinkah gunung berapi itu meletus lebih cepat daripada mestinya?"

Seng Lam heran, dia menatap.

"Eh, apakah kau ketahui gunung berapi di pulau itu kapan bakal meletusnya?"

Dia tanya.

"Apakah artinya kau mengatakan meletusnya terlebih cepat daripada mestinya itu?"

Belum berhenti suara Sie Ie, kembali datang gelombang, maka perahu mereka terangkat sampai tinggi, bergoncang keras.

Seng Lam belum pernah mengalami pelayaran semacam ini, meski dia tangguh, dia lantas merasai kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, lantas dia roboh di lantai perahu, kedua tangannya memeluki erat-erat karung beras.

Ketika perahu bergoncang terus, naik dan turun dia juga merasai isi perutnya jungkir balik!

Lantas dia muntah-muntah, hingga terudal keluarlah barang makanan tadi malam dari dalam perutnya...

Kim Sie le tetap berdiam pada kemudi.

Air laut telah membanjur tubuhnya, hingga ia bagaikan ayam kecebur basah semua.

Ia telah mengasih turun layarnya, untuk mana ia mesti membabat putus tiangnya.

Di lain pihak, dengan ilmu silat "Berat Seribu Kati", ia memasang kuda-kuda, membikin tubuhnya berat, mempertahankan perahunya agar perahu itu tidak karam.

Sekian lama perahu itu terum-bang-ambing, akhirnya dia lolos juga dari bahaya, cuma disana-sini terlihat lubang, hingga Sie Ie mesti menggunai karung beras untuk menyumbatnya.

Kemudian baru ia memimpin bangun pada Seng Lam.

Nona itu mengeluh.

"Jikalau aku tahu pelayaran begini sengsara, aku lebih suka tak menghendaki segala kitab rahasia itu..."

Katanya. Ketika ia memandang Kim Sie Ie, ia mendapatkan kawan itu, meskipun pakaiannya kuyup, wajahnya yang tampan tersungging senyuman! "Aku bakal lekas mampus, tetapi kau bergirang ya!"

Kata nona itu, mendelu.

"Kau tidak bakalan mati!"

Kata Sie Ie tertawa.

"Kau rebahlah baik-baik. Nanti aku carikan obat untukmu. Ha, kau tahu kenapa aku bergembira?"

"Siapa tahu kau mengandung maksud jahat apa!"

Kata si nona, masih mendongkol. Sie le tertawa terbahak.

"Memangnya juga aku bukan asalnya orang baik!"

Ia bilang.

"Tetapi sekarang ini aku mengandung maksud mulia. Apakah kau telah merasakan? Air laut dingin, bukan?"

"Jikalau air laut bukannya dingin, apakah panas?"

Si nona mem-baliki.

"Jikalau gunung berapi meletus maka air laut menjadi panas!"

Sie Ie kasih tahu.

"Haha, aku keliru melihat! Gunung berapi tidak meletus! Gelombang barusan, serta derum laut tadi, rupanya disebabkan gempa bumi di dasar laut, cuma gempanya tidak hebat."

Ia baru mengatakan begitu, mendadak tampak romannya berduka, lalu ia mengoceh seorang diri.

"Kenapa ada gempa di dasar laut? Mustahil ini alamat untuk meletusnya gunung berapi itu? Apakah gunung bakal segera meletus?"

Seng Lam bingung, dia berkuatir.

"Eeh, eh,"

Tegurnya.

"kau berulang-ulang menyebut gunung berapi meletus! Bagaimana sebenarnya?"

Sie Ie tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya ia menatap sungguh-sungguh.

"Kau takut mati atau tidak?"

Tanyanya.

"Jikalau kau takut mati, nanti aku perbaiki perahu ini dan mengantarkan kau pulang! Akan aku berlayar seorang diri."

Seng Lam mengawasi. Tahu ia laut ini berbahaya, sebenarnya ia ngeri, tetapi, untuk berpisah dari Kim Sie Ie, inilah ia tidak kehendaki. Ia pun masih mengharap kitab peninggalannya Kiauw Pak Beng itu.

"Jikalau perahu ini hancur dan karam,"

Katanya.

"jikalau aku mati, kau pun rasanya tidak bakal hidup, maka itu, apakah kau kira aku takut mati?"

"Belum tentu karena gempuran gelombang perahu karam,"

Sie Ie bilang.

"Aku mau maksudkan petualangan kita ini yang sangat berbahaya, yang mungkin meminta jiwa. Apakah kau suka mengikuti aku?"

"Jikalau kau dapat pergi, aku juga dapat!"

Berkata si nona, memberikan jawabannya.

"Untuk mendapatkan kitab peninggalannya Kiauw Pak Beng itu, aku memang telah menyediakan jiwaku untuk dikorbankan!"

"Baik!"

Sie Ie bilang.

"Sekarang kau jangan main tanyatanya hal gunung berapi meletus, jikalau nanti telah tiba saatnya, kau bakal mengerti sendiri!"

Seng Lam jadi berpikir.

"Di dalam peta gambar ada gunung berapinya, apakah itu gunung berapi yang dimaksudkan Sie le ini? Mungkin dia belum pernah pergi ke pulau itu tetapi kenapa dia tahu, kapan gunung berapi itu bakal meledak?"

Sie le berdiam terus, sampai nona kawannya itu sudah salin pakaian.

Ia ambil obatnya, ia memberikan beberapa butir pel untuk si nona telan.

Seng Lam merebahkan diri, untuk beristirahat.

Tidak lama, ia tidur pulas.

Ketika besoknya ia mendusin dan pergi ke kepala perahu, jauh di depannya ia menampak daratan dengan warna hijaunya...

Angin laut bertiup tetapi hawanya panas, panas sekali.

"Sie Ie! Sie Ie!"

Tiba-tiba Seng Lam memanggil. Agaknya ia mendusin dengan kaget. Ketika ia berpaling, ia mendapatkan Sie Ie berada di belakangnya, lagi tertawa.

"Ada apa kau nampakaya kaget?"

Tanya kawan itu.

"Udara di laut ini aneh,"

Berkata si nona.

"Begini pagi tetapi hawanya sudah panas begini! Kita sekarang telah sampai dimana?"

"Sebentar lagi hawa bakal menjadi terlebih panas,"

Sahut Sie Ie.

Ia tidak membilangi mereka sudah sampai di tempat apa.

Ketika itu pulau di depan mereka nampak semakin tegas.

Disana warna hijau bercampur dengan warna merah.

Yang merah itu ialah puncak gunung yang gundul, benar saja, hawa mulai menjadi semakin panas, hingga Seng Lam bermandikan peluh.

"Tempat setan apa ini?"

Kata si nona.

"Mari kita lekas meninggalkannya!"

Sie Ie tidak menyahuti, ia hanya mengangkat layar, untuk membikin perahunya justeru menghampirkan pulau. Seng Lam heran.

"Mungkinkah ini pulaunya Kiauw Pak Beng itu?"

Pikirnya.

"Hawa begini panas jangan-jangan gunung itu gunung berapi..."

Ia belum sempat berpikir lebih jauh, ia mendengar Sie le tertawa "Inilah kampung halamanku!"

Katanya gembira.

"Inilah tempat yang indah sekali! Mengapa kau menyebutnya tempat setan?"

Si nona benar-benar heran.

"Jadinya kau dibesarkan disini?"

Ia tanya.

"Heran kau dapat bertahan untuk hawa begini panas..."

"Benar,"

Sahut Sie Ie.

"Disini aku tinggal selama tiga belas tahun. hanya dulu hari itu, hawa tak panas begini. Tak perduli apa juga, aku telah tiba di kampung halamanku, aku mesti menjenguknya! Kau mau atau tidak menjadi tetamuku?"

Seng Lam tak setuju singgah di pulau itu tetapi Sie Ie nampak keras keinginannya, tidak ada daya, ia terpaksa mengiring.

Di tepi laut, pasir panas seperti bara, Seng Lam merasai kakinya sakit, maka Sie Ie membantui dengan mempepayangnya.

Senang si nona dipegangi si pemuda, ia jadi merasa kurangan panasnya...

Jalan di darat, mereka mendapati angin laut membawa bau harum, lepat mereka sampai dimana terdapat rumput dan pepohonan, lantas Seng Lam menjadi kaget hingga dia berteriak-teriak.

"Ular! Ular!"

Di depan mereka, di atas pohon, di cabang-cabang, disanasini ular melulu yang tampak, hingga pohon-pohon itu mirip pohon ular!

Ada ular yang pendek, ada yang panjang, melingkar melilit dan mereyot, lidahnya pun ditarik masuk dan dikeluarkan tak hentinya.

Anehnya, bau harum itu datangnya dari pepohonan itu!

Sie Ie tidak memperdulikan si nona kaget, ia melainkan memegang erat-erat, tetapi ia pun tidak berdiam saja, mendadak ia bersiul keras dan lama.

Mendadak, mendadak saja, sekalian ular itu pada bergerak, berlompat dan merosot turun, semua menggeleser ke arah dua orang itu!

Seng Lam kaget sekali, ia lantas saja mengayun tangannya, untuk menyerang dengan jarum Bweehoa ciam, akan tetapi Sie Ie segera menyentil ke telapakan tangannya, dengan begitu semua jarumnya itu melesat ke udara!

"Jangan serang mereka!"

Kata Tokciu Hongkay tertawa.

"Mereka semua sahabat-sahabat kita! Dengan aku berada disini, tidak nanti mereka pagut kau! Tapi, kalau kau membunuh atau melukai mereka, tak sanggup aku menjamin lagi!"

Sekumpulan ular itu menggeleser terus, langsung mereka menghampirkan Sie Ie, lantas mereka berhenti, lantas semua mengangkat kepala mereka, dengan memainkan lidah mereka, mereka pada mengasih dengar suara sas-sus.

Benar-benar lagak mereka seperti lagaknya sahabat kekal, tidak ada yang mengganggu si nona.

Seng Lam heran, ia mengawasi mendelong, hatinya masih tak tenteram.

"Kamu masih tidak melupai aku, terima kasih!"

Kata Sie Ie tertawa. Ia menoleh kepada si nona dan kata.

"Mari turut aku!"

Dan ia bertindak ke arah semua ular itu, yang lantas saja bergerak membuka jalan, akan kemudian semuanya menggeleser pula mengikuti, mengiringi.

Dengan tubuh lemas, Seng Lam menggelendot pada tubuh Sie Ie.

Dengan perlahan-lahan barulah ia mendapat pulang ketabahannya.

Sie Ie mengajak si nona berjalan terus ke tengah pulau.

Sekarang, setelah hilang kuatir-nya, Seng Lam merasai pula hawa panas.

Banyak pohonnya pulau ini tetapi dalam sepuluh, delapan atau sembilan gundul, tinggal cabang-cabangnya saja, yang kuning dan kering, seperti bekas digarang.

Melainkan pohon-pohon yang mirip ular, yang tetap berdaun subur dan berkembang, bunganya harum.

Hanya, walaupun bunga harum, kapan Seng Lam menyedot harumnya, ia merasai kepalanya pusing.

Saking terpaksa, ia menurut ketika Sie Ie ajak ia meneduh di bawah sebuah pohon.

"Janganlah kau sebal terhadap ini pohon yang aneh,"

Kata si pengemis edan-edanan, tertawa.

"Inilah pohon moahong yang menjadi obat manjur untuk penyakit kusta!"

Seng Lam heran.

"Benarkah ini pohon moahong?"

Tanyanya "Hebat!"

Sie Ie tertawa pula "Guruku korban kusta paling hebat,"

Katanya.

"syukur dia sampai di pulau ini, setelah makan obat ini, dia sembuh seluruhnya. Guruku yang menyebut nama pohon moahong dan Pulau Ular ini!"8) Biar bagaimana, Seng Lam jeri mendengarnya.

"Marilah kita kembali ke perahu,"

Katanya.

"Badai dan gelombang menakuti tetapi itu masih lebih mending daripada daratan pulau ini..."

"Aku justeru hendak berdiam di daratan pulau ini,"

Sie le bilang.

"Apa?"

Tanya si nona terkejut.

"Kau hendak tinggal disini? Berapa lamakah?"

"Sedikitnya sepuluh hari atau setengah bulan,"

Menjawab si anak muda.

"Atau setengah atau satu tahun, lihat saja nanti."

Seng Lam melengak, hampir ia menangis.

"Kalau begitu kau menipu aku!"

Katanya sengit.

"Kau bersakit hati aku mempermainkan kau, lantas kau bawa aku kemari! Hm, sungguh liehay pembalasan kau ini! Kenapa kau tidak mau menikam mati saja padaku?"

"Aku tidak menipu kau,"

Kata Sie Ie.

"Masih kau mengatakan tidak menipu! Kau toh telah menerima baik mengikut aku mencari kitab warisannya Kiauw Pak Beng?"

"Memang aku hendak membantu kau. Cumalah kau harus mengerti, tidak apa andaikata kita mencari sampai lagi satu atau dua tahun..."

"Kau gila! Apakah sakit hatiku, yang mesti dibalas, urusan tidak perlu?"

Kata si nona, keras.

"Tidak ada alasan sama sekali untukmu mau tinggal disini sampai satu tahun atau lebih! Jadinya bagimu, menjenguk ular-ular beracunmu ini lebih penting daripada urusanku!"

"Memang, ini memang lebih penting daripada urusan pembalasan sakit hatimu,"

Sahut Sie Ie, sungguh-sungguh. Seng Lam melengak melihat kesungguhan orang itu. Ia hendak mendamprat, lalu batal sendirinya.

"Sekarang ini mari kita masak nasi dulu,"

Kata Sie Ie, sabar.

"Habis dahar, aku mau pergi melihat perahu kita sekalian merondai pesisir, untuk memeriksanya."

"Sebenarnya bagaimana ini?"

Kemudian si nona tanya, mulai sabar.

"Jikalau kau tidak memberi penjelasan, aku tidak mau dahar!"

Sie Ie memungut cabang-cabang kering, ia menyalakan api.

Ia membekal sekantung beras, maka ia menyuruh si nona menanaknya, ia sendiri pergi menangkap beberapa ekor burung, kemudian sembari masak, baru ia bicara.

"Ketika dulu pertama kali guruku tiba di pulau ini, hawanya sangat dingin,"

Ia kata.

"Lalu hawa udara berubah setiap tahun, dari hangat menjadi panas. Tempo aku datang ialah waktu hawa paling nyaman. Bunga-bunga tak musnahnya selama empat musim dan rumput-rumput hijau selamanya setahun penuh. Selama itu sang ular tidak pernah mencelakai kami. Maka untukku, tempat ini seperti tempat dewa. Baru sekarang hawa begini panas... Ah, tahukah kau sebabnya ini?"

"Mana aku tahu?"

Sahut si nona.

"Sudah, jangan main putar-putar, lekas bicara langsung!"

"Itulah sebab di dasarnya Pulau Ular ini ada gunung berapinya."

Kembali si nona terkejut.

"Ada gunung apinya?"

Ia tegaskan.

"Ya! Di dasar laut ada banyak gunung berapi. Kalau lain gunung berapi di atas pulau meledak mencelakai cuma ikanikan di pesisirnya, maka pulau ini lain, akan hebat sekali akibatnya. Pulau ini terpisah dari daratan cuma seperjalanan beberapa hari..."

Seng Lam bersangsi.

"Kenapa kau ketahui di dasar pulau ini ada gunung berapinya?"

Ia tanya.

"Mari aku ajak kau menyaksikannya!"

Habis bersantap, si pengemis edan benar-benar memimpin si nona memasuki rimba, sampai di bagian tengah sekali pulau itu, di kaki puncak, dimana ada kedapatan sebuah liang mirip gua yang dalam.

Di situ pepohonan gundul, dan di dalam gua tak ada rumputnya.

Sebaliknya disitu kedapatan bangkai ular tak kehitung banyaknya, baunya busuk dan sangit yang memuakkan.

"Aku tidak mau melihat ini lama-lama! "kata Seng Lam, menutup hidung.

"Mari!"

Sie Ie mengeluarkan dua tangkai bunga moahong, bunga yang harum yang paling tepat untuk melawan dan menghapus bau busuk, ketika Seng Lam mencium itu, ia lantas tak merasa bau lagi bahkan menjadi segar.

"Coba kau lihat pula,"

Kata Sie Ie.

Ia tarik si nona hingga ke mulut liang.

Di dalam situ terlihat cahaya merah guram.

Sekarang Seng Lam tidak takuti lagi bau busuk, sebaliknya, tak tahan ia dengan hawa panas, hingga kepalanya menjadi pusing, hingga Sie Ie mesti lekas menarik ia menyingkir dari mulut liang itu, dibawa ke dalam rimba dimana kedapatan sebuah pengempang yang airnya jernih dan hawanya pun paling adem untuk pulau yang panas itu.

Nona Lee lantas jongkok membungkuk, guna membasahkan kepalanya, sesudah mana baru ia dapat bicara.

"Sungguh menakuti! Sungguh menakuti!"

Katanya.

"Mulanya aku pun tidak tahu hal adanya gunung berapi ini,"

Sie Ie menjelaskan.

"Guruku tinggal disini beberapa puluh tahun, selama itu berkat ketelitiannya, setelah menyelidiki seluruh pulau ini, baru ia mendapatkan itu. Mulutnya gunung berapi ialah gua yang barusan kita lihat. Ular beracun di dalam situ tak terhitung banyaknya, mungkin sekarang sudah mati semuanya. Pernah guruku menggunai dadung turun ke dalam gua, setelah penyelidikannya itu, ia percaya gunung berapi ini akan meledak belasan tahun setelah ia menutup mata..."

"Sudah berapa lama gurumu menutup mata?"

Tanya Seng Lam, memotong.

"Lagi beberapa bulan tepatlah sepuluh tahun,"

Sahut Sie le. Si nona terkejut, ia menjadi berkuatir. Sie le dapat melihat roman orang, ia tertawa.

"Syukur sekarang ini gunung berapi itu belum meledak!"

Katanya.

"Melihat suasana disini, tempo meledaknya mungkin lagi setengah tahun atau lebih... Kau lihat sendiri, api atau laharnya masih belum muncrat!"

"Meski demikian, berdiam disini berarti menghadapi ancaman bahaya,"

Kata si nona, yang tetap takut.

"Kau benar. Justeru karena itu, aku datang kemari..."

Seng Lam heran, ia mengawasi muka orang.

"Di dasarnya gua tadi ada banyak racunnya ular,"

Sie le menjelaskan, sabar.

"Racun itu merupakan sebuah kobakan kecil. Itulah berbahaya. Jikalau gunung berapi ini meledak, bukan melainkan pulau ini yang musnah tetapi bahayanya mengancam juga lautan di sekitar ini sampai di pesisir-pesisir Laut Kuning, terutama bangsa ikannya! Bukankah racun ular itu bakal melulahan ke seluruh laut dan akan meracuni dan membikin mati semua binatang di dalam laut ini? Maka juga, guruku memikir menghindarkan malapetaka itu. Daya untuk itu ialah seorang yang tak takut racun, beberapa bulan sebelum gunung meledak, mesti menggali tanah, guna menyalurkan air laut ke dalam gua itu, di lain pihak, liang lain harus dibikin supaya kalau gunung api bekerja, apinya bisa menyembur keluar. Cara begini ia harus dapat mengurangi bahaya perledakan itu. Usaha itu bergantung dengan saat yang tepat. Disini pun kita dapat mengumpulkan asbes, untuk membikin pakaian melawan api..."

Seng Lam lantas saja mengerti.

"Kalau begitu kau sekarang hendak mewujudkan pesan gurumu!"

Katanya.

"Jadi kau mau berdaya melenyapkan ancaman bahaya itu?"

"Aku cuma memikir menghindarkan bahaya untuk orang banyak itu,"

Sahut Sie le tenang.

"Aku pun tak dapat menolak pesan guruku. Ah, kasihan guruku itu, dia sangat menyayangi aku, maka semasa hidupnya tak pernah ia memberitahukan aku halnya gunung api ini..."

Tentang gunung berapi di Coato, yaitu Pulau Ular, Tokliong Cuncia telah membuat catatan dalam sebuah buku catatan hari-hari, catatan mana berdasar penyelidikan dan pengalamannya bertahun-tahun mengenai pulau itu.

Pada lembaran yang terakhir ada dugaan tentang kapan meledaknya gunung berapi itu serta rencana pencegahannya menurut anggapannya sendiri.

Itulah berbahaya tetapi ia ingin mencobanya, guna menghindarkan malapetaka, la menyayangi Kim Sie Ie seperti anak sendiri, maka itu, ia tidak ingin muridnya ini menempuh bahaya, maka juga kecuali ia tidak memberitahukan Sie Ie tentang rahasia itu, di saat hendak menutup mata ia berpesan agar muridnya lekas menyingkir dari pulau itu.

Belakangan buku catatan itu didapatkan di Coato oleh Tang Tay Ceng, ialah muridnya Patpie Sinmo Sat Thian Cie.

Orang she Sat ini sahabat kekal dari Tokliong Cuncia.

Belakangan lagi, dengan cara berlikuliku, akhirnya buku itu terjatuh dalam tangannya Kim Sie Ie.

(Sebagaimana penjelasannya terdapat dalam buku cerita Peng Coan Thian Lie).

Bahwa Sie Ie suka turut Le Seng Lam berlayar, sebagian disebabkan gunung berapi itu lagi mendekati waktu meledaknya dan ia ingin melihat pula sekali lagi.

Apabila Le Seng Lam telah mendengar keterangan Kim Sie Ie itu, walaupun ia bersifat sesat, ia toh gentar juga hatinya.

"Siang-siang aku telah menanya kau, kau takut atau tidak,"

Berkata Kim Sie Ie.

"Kau bilang kau tidak takut, karenanya aku menemani kau datang kemari. Apabila kau menyesal, biarlah, besok aku nanti perbaiki perahuku, lalu aku mengantarkan kau pulang."

"Jikalau aku pulang jikalau aku bertemu Beng Sin Thong, pasti aku bakal mati,"

Berkata Seng Lam.

"Pula ketika aku mau berlayar ini, aku telah mengangkat sumpah, kecuali aku mendapatkan kitab ilmu silat warisan Kiauw Pak Beng itu, tidak sudi aku kembali."

Ia berhenti sebentar, untuk berpikir, terus ia tanya.

"Bukankah tadi kau membilang, gunung berapi ini akan meledak baru nanti, lagi satu atau setengah tahun?"

Mendengar pertanyaan itu, Kim Sie Ie dapat menebak hati si nona. Ia tertawa.

"Jadi kau tetap hendak mencari dulu kitabnya Kiauw Pak Beng, baru kau mau pulang, bukankah?"

Ia tanya. Seng Lam mengangguk. Tapi ia kuatir Sie Ie keliru mengerti, ia lekas menambahkan.

"Setelah mendapatkan kitab itu, tidak nanti aku membiarkan kau seorang diri menghadapi ancaman marabahaya."

Kim Sie Ie sebaliknya berkata di dalam hatinya.

"Jikalau kau meninggalkan aku, itulah hal yang aku minta pun tak berani..."

Tetapi, ia pun menggeleng kepala dan berkata.

"Tidak dapat!"

"Mengapa tidak dapat?"si nona tanya.

"Jikalau aku antarkan kau pulang, paling lama akan makan tempo pergi pulang dua puluh hari lebih,"

Menjawab Kim Sie Ie.

"Sebaliknya jikalau kita pergi mencari kitab warisannya Kiauw Pak Beng itu, kita bakal menghadapi laut yang luas dimana pun ada ancaman badai dan gelombang, yang bahayanya tak dapat diduga-duga, sedang tempo pelayarannya tidak ketentuan, dalam tempo setengah tahun belum tentu kita ilapat kembali ke Coato ini. Masih wla lagi, ialah ini. Ketika aku masih kecil, aku pernah turut guruku lewat pulau aneh itu, biar bagaimana juga, guruku melarang aku pergi mendarat disana. Mendengar lagu suaranya guruku itu, rupanya pulau ?lu sangat berbahaya. Aku bukannya takut, hanya daripada aku In binasa disana, lebih baik aku disini. Disini aku masih mempunyai harapan untuk menyingkirkan ancaman malapetaka."

"Biar ada bahaya apa juga,"

Berkata Seng Lam, mendesak.

"itulah tak terlebih hebat daripada di dalam tanah ada gunung berapinya dan di atas buminya ada ular-ularnya yang berbisa!"

Kim Sie Ie kewalahan. Ia lantas berpikir.

"Kau sangat bernapsu mendapatkan kitabnya Kiauw Pak Beng ilu, kau juga tidak ingin tinggal disini,"

Katanya kemudian.

"Baiklah, disini ada daya yang mempunyai dua kebaikan."

"Bagaimana?"

"Di dalam tempo sepuluh hari atau setengah bulan, aku tanggung kau sudah dapat mengemudikan perahu sendiri. Selama itu, kau juga mesti rajin belajar renang. Nanti aku perbaiki perahuku itu, untuk aku serahkan pada kau. Jikalau kau benar tidak takut bahaya, boleh sendiri pergi berlayar ke pulau itu. Aku masih ingat, keletakannya pulau ialah di utaranya Coato. Jikalau kau menemukan angin baik, kau memerlukan tempo berlayar empat sampai lima puluh hari..."

"Jangan kau mengusir aku!"

Berkata si nona tanpa menanti orang menutup mulutnya.

"Jikalau kau sudah berkeputusan tetap untuk berdiam disini, baiklah, aku pun tetap akan menemani kau!"

"Bukankah kau membenci tempat ini?"

Tanya Sie Ie, dingin.

"Aku membenci tempat ini tetapi aku tidak membenci kau!"

Sahut si nona. Ia hening sejenak, lantas ia menambahkan.

"Sejak aku dilahirkan, meski aku tidak pernah melakukan kejahatan besar, aku pun belum pernah berbuat kebaikan, maka jikalau kali ini aku dapat membantu kau menyingkirkan ancaman bahaya, mati pun ada harganya."

Nona ini bicara dengan sungguh-sungguh, tetapi ini pun setelah dia menerka hati Tokciu Hongkay.

Mendengar itu, Sie Ie girang berbareng mendongkol.

Benar-benar Le Seng Lam ini menjadi bayangannya.

Teranglah sudah, sangat sukar menyingkir dari dianya.

"Eh, kau baliklah tubuhmu!"

Sekonyong-konyong terdengar suara Seng Lam, yang tertawa. Sie Ie heran, hingga ia melengak.

"Kau hendak bikin apa?"

Ia tanya.

"Ah, sungguh kau sangat memperhatikan aku!"

Berkata pula si Nona, kembali dia tertawa.

"Apakah setiap apa yang aku lakukan, mesti aku beritahukan kau?"

Sembari berkata si nona mem-bukai kancing bajunya, melihat mana, Kim Sie Ie lantas mengerti bahwa orang hendak mandi, maka sendirinya mukanya menjadi merah, lekas ia memutar tubuh, untuk membalik belakang, untuk kabur ke antara pepohonan!

Segera juga terdengar suara air berjebur, tandanya Le Seng Lam sudah terjun.

Pula itu disusul tertawanya nona yang binal dan nakal itu, Jenaka tetapi juga telengas...

"Bagus, bagus!"

Suara si nona terdengar.

"Air ini sangat jernih dan adem! Kim Sie Ie, kau aneh, kau seperti juga tidak takut hawa panas!"

Sie Ie tidak menyahuti.

Ia sekarang melihat tegas sifatnya nona ini.

Dia sangat bebas, dia merdeka dari adat istiadat, dia bukan seperti Kok Cie Hoa yang lemah lembut, tidak miripnya Lie Kim Bwee yang polos.

Dia mendekati keberan-dalannya sendiri, tetapi aneh, ia tak cocok dengan si nona, ia bahkan merasa jeri...

Malam itu Sie Ie membuat dua bocah gubuk di dekat telaga, untuk di tempati masing-masing oleh ia dan si nona.

Akan tetapi tengah malam, tengah ia tidur layap-layap, ia terperanjat karena telinganya mendengar suara apa-apa, baru ia memasang kuping, atau ia telah ditubruk dan dipeluk orang, hanya segera juga ia dengar suaranya Seng Lam.

"Mati aku! Lekas kau usir itu ular-ular jahat!"

Suara si nona menyatakan dia takut sekali. Sebab barusan ada ular masuk ke dalam gubuknya, saking takut dia lari pada kawannya yang satu-satunya itu... Sie Ie lekas menolak tubuh orang.

"Buat apa takut pada ular?"

Katanya tertawa "Mereka sahabat karib dari kau, pasti kau tidak takuti mereka,"

Kata Seng Lam.

"Aku lain, aku takut!..."

"Baiklah, besok aku nanti carikan kau daun obat-obatan, untuk kau tumbuk halus, lantas kau sebar di seputar gubukmu, ular nanti tidak berani datang masuk."

"Sekarang bagaimana? Aku takut..."

Sie Ie habis akal.

"Baiklah, sekarang kau tidur di gubukku ini. Nanti aku jaga malam."

Benar-benar malam itu, sampai pagi Sie Ie duduk bercokol di luar gubuk dengan mata terus melek, Seng Lam sebaliknya tidur sangat nyenyak.

Pernah dua kali Sie Ie melongok, ia mendapatkan nona cantik itu tidur bersenyum.

Besoknya Sie Ie pergi mencari asbes sedang Seng Lam diperintah pergi ke perahu mengambil barang makanan serta perabotan.

Sekarang beradalah ia di tempat yang lama, hingga ia ingat pula segala pengalaman dulu hari ketika ia mengikuti gurunya sambil belajar silat.

Ia pun ingat hal gurunya mencari tahu rahasia gunung berapi serta pesan terakhir dari guru itu untuk menghindarkan meledaknya gunung itu.

"Biar bagaimana, aku mesti dapat jalankan pesan suhu itu,"

Katanya, dengan ketetapan hati.

"maka sayang sekali orang dengan siapa aku hidup bersama disini bukannya Kok Cie Hoa hanya Le Seng Lam."

Setelah berpikir demikian, Sie Ie dapat juga kesan baik mengenai si Nona Le.

Sebab si nona telah bersedia untuk bersama ia menempuh bahaya besar...

Tiba-tiba jauh disana terdengar jeritan Nona Le.

Ia terkejut.

"Apakah dia ketemu ular pula?"

Ia menduga-duga.

Karena berkuatir, ia lantas lari ke pesisir, akan melihat nona itu.

Begitu, ia keluar dari rimba yang lebat, paling dulu Sie Ie melihat sebuah perahu rusak yang kandas, rupanya bekas dihajar gelombang dan didampar arus hebat.

Ia terkejut.

Adanya sebuah perahu lain daripada perahunya sendiri menyatakan bahwa disitu ada orang lain juga yang mendarat seperti ia.

Maka itu, ia lari lebih cepat pula.

Belum lagi Tokciu Hongkay sampai di tepian dimana ia tambat perahunya, dari masih jauh ia sudah dapat melihat Le Seng Lam berlari-lari dengan rambut riap-riapan, sembari lari, nona itu terus berkaok-kaok minta tolong.

Di belakang si nona ada berlari mengejar empat orang, pria dan wanita.

Ketika mereka itu hampir menyandak, Seng Lam menyerang dengan senjata rahasianya yang istimewa, Tokbu Kimciam Hweeyam tan, yaitu peluru kabut jarum beracun.

Begitu peluru itu pecah, asapnya pecah juga dan apinya muncrat, terus jarum rahasianya menyambar.

Sie Ie kenal baik senjata rahasia itu dan ia merasa jeri.

Tapi liehay empat pengejar itu, begitu mereka diserang, mereka lompat berpencar ke empat penjuru seraya terus menyerang dengan pukulan udara kosong, hingga anginnya serangan mereka memukul buyar dan runtuh kabut dan jarum maut itu.

Mereka selamat, tetapi Seng Lam terhuyung-huyung karena terhembus angin tangan mereka itu, kebetulan dia kesandung, lantas dia roboh terguling.

Seorang di antara empat pengejar itu, seorang tua yang rambutnya merah, tertawa terbabak-bahak, terus dia berlompat maju, untuk mencekuk si nona.

Dia mengulur tangannya yang panjang, menjambak ke punggung.

Sie Ie kaget bukan main.

Ia masih terpisah kira sepuluh tombak dari mereka itu.

Tidak dapat ia berlompat, untuk mencegah jambakan si tangan panjang itu.

Syukur kebetulan ia memegang sebutir batu, maka ia lantas menimpuk dengan batu itu.

Ia tidak dapat dibanding dengan Phang Lim, yang bisa menimpuk dengan lembaran bunga atau daun, tetapi ia menimpuk dengan batu, dapat dimengerti hebatnya itu.

Orang tua rambut merah itu berani sekali, ketika dia mendengar suara batu menyambar, lantas dia mengulur tangannya, untuk me-nyambuti, hanya begitu batu kena terpegang, baru dia menjadi kaget sekali.

Dia merasai tangannya sakit, sebab telapakannya pecah terluka.

Dia kaget dan sakit berbareng gusar.

Maka batal dia mencekuk Seng Lam, terus dia maju untuk menghadapi orang yang menimpuknya itu.

Sie Ie terkejut untuk mendapatkan orang berani menyambuti batunya itu.

Sementara itu, segera mereka berdiri berhadapan, hingga si rambut merah itu, begitupun kawankawannya, terlihat tegas.

"Hm!"

Sie Ie mengejek.

"Kiranya kamu segala hantu tak tahu hidup atau mampus!"

Dari empat orang itu, Tokciu Hongkay mengenali dua, ialah orang-orang dengan siapa ia pernah bertempur, yaitu Kunlun Sanjin serta Siang Bok Loo.

Dua yang lain itu ialah si orang tua rambut merah serta seorang wanita dengan muka biru dan rambut terurai.

"Enci, apakah binatang ini Kim Sie Ie?"

Tanya si wanita muka biru dan rambut riap-riapan itu. Itulah pertanyaan untuk Siang Bok Loo. Belum lagi Siang Bok Loo menyahuti, Kim Sie Ie sudah mendahului, sembari tertawa melenggak, ia berkata.

"Aku Kim Sie Ie, aku duduk tidak mengubah nama, berjalan tidak menukar she! Jikalau kamu takut, lekas kamu berlutut dan mengangguk meminta ampun!"

Wanita itu mengertak gigi, dia tertawa dingin hingga tiga kali.

"Tahun dulu itu di Tibet tidak dapat aku mencari kau,"

Katanya.

"itulah untung bagusmu, hingga kau dapat hidup terus untuk beberapa tahun!"

"Adik Ceng, tunggu dulu!"

Berkata si rambut merah, yang terus menghadapi si pengemis edan, untuk berkata.

"Thian itu maha murah, maka lekas kau serahkan gambarnya Chong Leng Siangjin, suka aku memintakan keampunan untukmu, supaya kau bebas dari kematian!"

Kim Sie Ie menyambut dengan tertawa dingin.

"Angin busuk!"

Ejeknya.

"Kau makhluk apa? Kau lihatlah siapa yang nanti minta-minta ampun!"

Ia terus mengangkat tongkat besinya, untuk berkata pula.

"Apakah kamu hendak maju berbareng berempat?"

Si wanita muka biru gusar sekali.

"Bocah jumawa!"

Dia mendamprat.

Lantas dia meloloskan ikat pinggangnya yang merah, terus dikibaskan, maka di tengah udara seperti terlihat menyambarnya sinar bagaikan bianglala, terus menyambar ke pinggang Tokciu Hongkay!

Kim Sie Ie mencoba menangkap ikat pinggang itu, yang bekerja bagaikan joanpian, atau ruyung lunak, akan tetapi lolos.

Ikat pinggang itu licin sekali, sangat bagus digunainya, maka kembali ujungnya menyambar, sekarang ke arah mata.

"Pantas siluman wanita ini bicara besar!"

Pikir Sie le.

Wanita itu ialah Siang Ceng Nio, adik dari Siang Bok Loo.

Dialah isterinya In Leng Cu, ketua dari partai Lengsan Pay.

Semasa di Tibet, suami isteri ini beberapa kali bertempur dengan Tong Keng Thian, hingga pernah mereka dikalahkan oleh Tong Keng Thian yang bekerja sama Pengcoan Thianlie, hingga untuk banyak tahun mereka hidup menyembunyikan diri.

Siang Ceng Nio mempelajari Jiukang, atau ilmu lunak, dari partai Biteong di Tibet, dia lebih kosen dari Siang Bok Loo, kakaknya itu.

Siang Bok Loo bersama Kunlun Sanjin pernah dikalahkan Kim Sie Ie ketika mereka kedua pihak bentrok di kecamatan Tong-peng propinsi Shoatang.

Kemudian mereka mendapat tahu Chong Leng Siangjin sudah mati, maka mereka menduga, gambar rahasianya Chong Leng mesti jatuh di tangannya Kim Sie Ie atau Kok Cie Hoa.

Lantas mereka memperhatikan gerak-geriknya dua orang itu, setelah mana Siang Bok Loo minta adiknya, Siang Ceng Nio dan In Leng Cu, membantu mereka.

Di kaki gunung Laosan mereka pernah memegat Cie Hoa, Siang Bok Loo berdua Kunlun Sanjin menyerang nona itu.

Syukur untuk Cie Hoa, ia ditolongi Phang Lim, hingga mereka itu kabur dengan ketakutan.

Oleh karena jeri terhadap Phang Lim, tidak lagi mereka berani menguntit dengan cara yang biasa, mereka berlaku terlebih teliti.

Baru paling belakang mereka melihat Kim Sie Ie bersama Seng Lam pergi berlayar, maka besoknya mereka lantas menyusul.

Untuk itu, mereka merampas sebuah perahu.

Mereka tidak bisa memegang kemudi, mereka menampak kesukaran, meski di dalam perahu itu ada dua anak bocahnya.

Mereka ini dipaksa mengeluarkan tenaga dan kepandaian mereka, hingga mereka kewalahan, maka di hari ke tujuh, kebetulan datang badai, mereka kabur dengan menggunai papan.

Dua hari dua malam perahu itu terumbang-ambing di laut, hampir mereka menemui ajal mereka lantas mereka ketolongan angin besar, yang mendampar perahu mereka ke tepian, hingga perahu itu kandas dan rusak.

Lantas mereka mendarat.

Segera mereka mendapatkan perahu Kim Sie le.

Tapi mereka mengharap mendapatkan perahu lain, untuk merampas barang bekalannya berikut awak perahunya.

Sementara itu mereka mau mencari tahu keadaan pulau itu, atau dengan kebetulan mereka bertemu Le Seng Lam.

Tidak berani nona ini melawan empat hantu itu, maka juga ia lari sambil berteriak-teriak, sampai munculnya Kim Sie Ie.

Siang Ceng Nio percaya betul kepandaiannya, dialah yang maju paling dulu.

Tapi, begitu Sie Ie menggunai tongkatnya, dia terperanjat segera dia terdesak.

Ilmu ikat pinggangnya itu, yang liehay, belum ia latih mahir.

In Leng Cu melihat gelagat jelek, ia mengeluarkan sepasang poankoan pit dengan apa ia maju membantui isterinya.

Sie le menyambut dengan berseru, dengan menggunai tipu silat "Guntur menggelar, kilat menyambar", hingga kedua senjata beradu.

In Leng Cu ingin menotok, siapa tahu, sepasang pit-nya mental.

Bagus ialah seorang guru besar, masih bisa ia menyingkir dari tongkat si pengemis edan.

"Hm!"

Sie Ie mengejek, terus tertawa berkakak.

"Kiranya ketua Lengsan Pay yang datang kemari! Benarlah, mendengar tak sama dengan melihat, melihat lebih menang daripada mendengar!"

Muka dan telinga In Leng Cu menjadi merah.

"Kim Sie Ie, jangan bertingkah!"

Dia berteriak.

"Kau sambutlah lagi!"

Dengan memutar pit-nya, dia menerjang pula, menotok ke jalan darah di kiri dan kanan tubuh lawan.

Ketika itu, Siang Ceng Nio, menyerang pula dengan ikat pinggangnya, untuk melibat musuh yang dianggapnya jumawa itu.

Karena dia menyerang dari belakang, dia sekalian hendak memegat jalan mundur lawan itu.

Dalam hal mengepung musuh ini, mereka telah mempunyai latihan yang baik.

Digencet dari depan dan belakang, Kim Sie Ie tidak maju atau mundur, bahkan ia tertawa lebar dan berkata nyaring.

"Lihat. Ilmu silatnya si tua bangka dikeluarkan! Nah, kamu juga lihat kepunyaanku!"

Tokciu Hongkay mengasih dengar suaranya sambil menggeraki kedua tangannya.

Dengan tongkatnya ia menghalau ikat pinggang, berbareng sambil berkelit ke samping In Leng Cu, ia membalas menyerang dengan tangan kirinya, guna juga menotok jalan darah.

Jikalau musuh mencari tujuh jalan darahnya, ia mencari hanya lima, ialah ke lima jalan darah ciangtay, bengmui, koankie, yangpek dan wietiong.

Itulah tipu silat menotok ajarannya Tokliong Cuncia yang istimewa, yang dapat memecahkan ilmu tubuh kedot.

Gagallah serangannya Siang Ceng Nio sedang In Leng Cu mesti lompat untuk menyingkir dari serangan pembalasan si pengemis edan.

Dengan begitu mereka sama-sama luput dari bahaya.

Setelah itu, Sie Ie memutar tubuh, guna menyerang pula si wanita muka biru.

Siang Ceng Nio menjadi repot.

Dengan ikat pinggangnya, tidak dapat ia melibat tongkat lawan, bahkan sebaliknya, ia yang kena dirangsang.

Satu kali bisa juga ia melibat, ia girang sekali, tapi celaka, ketika Sie Ie mengerahkan tenaganya, ikat pinggang itu kutung, dan tongkat bebas.

In Leng Cu kaget melihat isterinya terancam bahaya.

"Apa benar Kim Sie le lebih liehay daripada Tong Keng Thian?"

Pikirnya.

Dulu hari di Tibet, bersama isterinya ia menempur Keng Thian.

Kalau satu lawan satu, ia kalah desak, kalau dengan mengepung, mereka merasa bakal menang, tetapi mereka toh dikalahkan Keng Thian dan Pengcoan Thianlie.

Sekarang, berdua mereka menempur Kim Sie Ie merekalah yang kalah angin...

Ilmu silat Tong Keng Thian dan Kim Sie Ie sebanding, hanya dulu hari itu, Tong Keng Thian masih muda, kepandaiannya belum mahir seperti sekarang, dari itu, repot ia sendirian melayani In Leng Cu dan Siang Ceng Nio.

Sekarang lain, kalau umpama ia dikepung pula suami isteri itu, pasti ia sanggup bertahan.

Kim Sie Ie lain lagi, dia memperoleh kemajuan pesat hingga ilmu lurus dan sesat ia berhasil menggabungnya menjadi satu, sedang ilmu totoknya itu dimalui In Leng Cu.

Demikian ia menang unggul.

Bertempur lebih jauh, ikat pinggang Siang Ceng Nio kembali kena dibikin kutung, hingga ikat pinggang itu menjadi bertambah pendek.

Sebenarnya Kim Sie Ie lagi menghadapi In Leng Cu ketika ia diserang itu, ia menggunai tipu silat "Ciethian watee"

Atau Menunjuk langit, menggaris bumi".

Ujung tongkat meluncur terus, mengarah dada si wanita tua, hingga nyonya itu menjadi sangat terancam.

Justeru itu terdengar suara nyaring dari bentroknya senjata.

"Hahaha!"

Kim Sie Ie tertawa.

"Terima kasih untuk hadiahmu uang emas! Sayang disini pulau kosong, emas ini tidak dapat dipakai belanja!"

Apakah yang telah terjadi?

Siang Bok Loo hendak menolong saudaranya, untuk mencegah ujung tongkat Sie Ie mengenai dada saudaranya itu, ia menyerang dengan dua batang gelang emas, gelang mana tepat mengalungi ujung tongkat.

Dengan begitu, arah tongkat jadi mencong dan si wanita muka biru ketolongan.

Akan tetapi gelang diam terus pada tongkat dan kena terampas sendirinya!

Selagi bergurau itu, Sie Ie diterjang pula oleh Siang Bok Loo.

"Tak tega kau menyerahkan gelang emasmu?"

Tokciu Hongkay mengejek.

Siang Bok Loo penasaran, ia mengajukan tangannya dengan sepuluh jeriji tangan berikut kuku-kuku yang tajam.

Sie Ie alpa, hampir ia celaka, meski benar ia telah berkelit, bajunya toh kena terobek.

Ia menjadi kaget, maka, kecuali tongkatnya itu, ia juga menghunus pedang pendeknya.

Samar-samar ia mendapat cium bau amis, dari itu ia menduga, kukunya si nyonya mesti ada racunnya.

Siang Bok Loo benar penasaran, lagi sekali ia mendesak.

Sekarang Sie Ie dikepung bertiga.

"Kim Sie Ie!"

Kunlun Sanjin membentak.

"Apakah kau masih tidak mau menyerah kalah? Ketahui, lain tahun pada hari ini ialah hari ulang mampusmu satu tahun!"

Lalu, dengan menghunus pedangnya, dia maju mengeroyok.

Sebentar saja, ramai bunyinya senjata-senjata mereka, yang sering bentrok satu pada lain.

Dikerubuti empat musuh, Kim Sie Ie mesti menggunai benar-benar kedua senjatanya, tongkat di tangan kiri dan pedang pendek di tangan kanan.

Di pihak sana, poankoan pit In Leng Cu bergerak-gerak bagaikan ular, selalu ujungnya mencari jalan darah.

Siang Ceng Nio tetap menggunai ikat pinggangnya yang buntung itu.

Kunlun Sanjin menggunai pedangnya diiring tangan kirinya, yang pun senantiasa mengarah jalan darah.

Yang istimewa adalah Siang Bok Loo, dia maju selalu dengan jambakan jeriji tangan yang kukukukunya kuat.

Maka selang tiga puluh jurus, kelihatan Tokciu Hongkay mulai terdesak.

"Kim Sie Ie!"

Berkata pula Kunlun Sanjin, maksudnya mengejek.

"jikalau kau memikir untuk jiwamu diberi ampun, lekas kau serahkan peta gambarnya Chong Leng Siangjin!"

Le Seng Lam jadi berkuatir sekali.

Sekian lama ia berdiam saja, baru sekarang ia memikir untuk memberikan bantuannya.

Justeru ia mau turun tangan, justeru ia dengar Kim Sie Ie bersiul, terus dia tertawa bergelak-gelak dan berkata nyaring.

"Kasihan, kasihan'.... Kematian kamu lagi mendatangi tetapi kamu tidak mendapat tahu!..."

Suaranya si pengemis edan ini lantas disusul suara sas-sus atau sar-ser tak hentinya, datangnya dari arah rimba, dari mana lantas terlihat munculnya banyak sekali ular, yang semua menyelosor ke arah gelanggang pertempuran, lalu di lain saat, gelanggang itu sudah kena dikurung!

Siang Bok Loo semua kaget dan ketakutan, tidak demikian dengan Kim Sie Ie, yang telah berlompatan keluar kalangan, melewati kurungan ular itu, ia terus menarik tangan Seng Lam, untuk diajak mementahkan diri.

Apa yang aneh, dimana kaki Sie Ie tiba, semua ular pada menyelosor minggir!

"Hahaha!"

Sie Ie tertawa.

"Aku bilang semua ular ini sahabatku, kau tidak percaya, sekarang kau tentu percaya bukan?"

Le Seng Lam menutup rapat matanya.

"Engko Sie Ie,"

Katanya.

"kalau sebentar mereka semua mampus digigit ular, baru kau beritahu padaku agar aku membuka mata dan melihatnya! Aku takut menonton orang digigiti ular!..."

Kim Sie Ie bersiul dua kali, kembali ia tertawa.

"Ah, kiranya hatimu tidak buruk!"

Kata ia.

Siulan itu hebat akibatnya.

Tadi semua ular cuma mengurung, sekarang empat antaranya lantas bergerak.

Merekalah ular-ular yang besar, yang panjangnya kira-kira dua tombak.

Mereka menghampirkan ke empat hantu itu, untuk masing-masing melilit setiap hantu.

Siang Bok Loo mencoba mempertahankan diri, ia memegang leher ular, untuk dicekek dan dijauhkan, agar ia tidak sampai tergigit.

Perbuatan serupa dilakukan In Leng Cu, Siang Ceng Nio dan Kunlun Sanjin.

Karena dikurung rapat, semenjak tadi mereka tidak dapat berlompat, untuk melarikan diri.

Untuk itu, tidak ada tempat buat mereka menaruh kaki.

Siang Bok Loo mempunyai kuku tajam dan tangan kuat, ia mencakar luka leher binatang itu, tetapi ia tidak bisa membinasakan-nya, bahkan sebaliknya, ia membuatnya sang ular kesakitan dan menjadi gusar.

Binatang itu mengulur lidahnya, dia menjilati seluruh muka si nyonya.

Sekarang tak dapat lagi ia membela diri, saking takut, ia roboh pingsan!

Aneh adalah keempat ular itu, mereka melilit, mereka mengancam, akan tetapi mereka tidak menggigit, mereka cuma berontak tempo leher mereka dicekek.

Tentu sekali semua orang disitu tidak ketahui bahwa keempat ular itu ialah ular piaraannya Kim Sie le, hingga mereka dapat diperintah menangkap binatang liar.

Dengan sempurna mereka telah dididik, hingga mereka mengerti segala titah.

Sie Ie tertawa pula.

"Mari kita lihat, sebenarnya siapa yang bakal minta-minta ampun!"

Katanya.

Kecuali Siang Bok Loo, tiga hantu yang lainnya belum roboh, mereka melainkan menanti kematian ketika mereka mendengar suaranya Kim Sie Ie, mendadak lega hati mereka, lantas hilanglah keeongkakan mereka.

"Kim Tayhiap, tolong, tolong!"

Mereka berseru.

"Ampun!"

"Kamu dapat ampun kalau kamu mau dengar perkataanku!"

Jawab Sie Ie.

"Jikalau kita diberi ampun, meski mesti mati, kita akan turut titahmu!"

Ia mendapat jawaban.

Sie Ie bersiul, dua kali beruntun.

Keempat ular besar itu lantas meloloskan lilitan mereka, untuk kembali kepada bundaran kurungan.

Bagaikan kehabisan tenaga, ketiga hantu itu roboh terkulai, begitupun Siang Bok Loo.

Karena berkutat sekian lama, ratarata mereka mendapat luka-luka di beberapa tempat akibat sentuhannya dengan mulut ular yang bergigi tajam.

Le Seng Lam baru membuka matanya ketika rombongan ular telah dibubarkan Kim Sie Ie.

Ia tertawa.

"Benarlah, hatimu lebih murah daripada hatiku!"

Katanya.

"Aku cuma tak tega melihat mereka digigiti ular hingga mati. Kau dapat mengampuni mereka..."

"Kita kekurangan bujang, kebetulan Thian mengirimkannya,"

Kata Sie Ie.

"Dengan dikasih tinggal hidup, mereka lebih berharga daripada kawanan binatang bertubuh panjang dan licin itu..."

Kunlun Sanjin sudah lantas menolongi Siang Bok Loo, hingga isteri itu sadar dan membuka matanya.

Nyonya ini melihat ke sekitarnya.

Ketiga kawannya berdiam saja, dan Sie Ie berdiri berendeng bersama Le Seng Lam.

Kim Sie Ie maju ke depan empat hantu itu.

"Aku menjadi orang baik hati, aku hendak berbuat baik untuk seterusnya,"

Ia berkata.

"Sekarang aku hendak mengobati kamu, setelah mana kamu boleh bersantap hingga kenyang."

"Mari aku yang menolong mengobati mereka,"

Kata Seng Lam.

"Mari obatnya, kasih aku!"

Sie Ie hendak menanyakan sebabnya kenapa si nona mau berbuat begitu, atau nona itu sudah mendahului.

"Aku tidak percaya mereka! Kalau kau yang mengobati lantas mendadak mereka membokong kau, bukankah celaka? Aku tidak dapat memerintahkan semua ular itu..."

Kunlun Sanjin tertawa.

"Kau terlalu bercuriga, nona,"

Katanya. Seng Lam tidak menyahuti, ia menyambuti obat dari tangan Sie Ie.

"Bagaimana cara pakainya?"

Ia tanya.

"Borehkan saja di tempat yang luka dan bengkak,"

Sahut Sie Ie. Seng Lam lantas bekerja, habis dia tertawa dan kata.

"Sejak sekarang ini kami tidak takut yang kamu tidak mendengar kata-kata kami!-Baiklah, sekarang kau boleh memberikan pesan dan titah kepada mereka!"

Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada Kim Sie Ie.

Kunlun Sanjin dan In Leng Cu adalah orang-orang dengan kedudukan sebagai guru besar, tentu sekali mereka tak sudi menjadi budak-budaknya Kim Sie Ie, benar mereka bersikap menurut, mendengar kata, akan tetapi sinar mata mereka menunjuki nyata tak puasnya mereka, terang mereka sangat mendongkol dan penasaran.

Seng Lam melirik mereka itu.

"Coba kamu raba punggung kamu, di antara tulang-tulang ke tujuh dan ke delapan,"

Katanya, dingin.

"Setelah itu kamu menyedot napas. Lihatlah bagaimana kesudahannya..."

Keempat hantu itu menurut.

Di dekat jalan darah tiongkie terasa sakit sedikit.

Di waktu bernapas, napas mereka pun tidak lancar.

Kunlun Sanjin percaya tenaga dalamnya mahir, ia mencoba mengerahkannya.

Tapi ia gagal.

Bahkan ia lantas merasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, hingga peluhnya keluar mengucur.

Dengan lekas ia melepaskan percobaannya.

Sebagai ahli-ahli, keempat orang itu insyaf bahwa mereka telah dipermainkan si nona.

Memang selagi mengobati, diam-diam Seng Lam telah menusuk punggung mereka itu.

Ia menggunai ilmu totok yang berpokok dasar ilmu enteng tubuh.

Begitu enteng ia menusuk hingga korban-korbannya tak merasa.

Jarumnya itu kosong di dalamnya, di dalam situ ada tersimpan racun, maka racun itu terinjeksikan masuk ke dalam tubuh mereka berempat.

"Apakah kamu pernah mendengar nama racun Ngotok San?"

Tanya si nona sambil tertawa.

"Siapa terkena racun itu, dia tidak segera merasakannya, hanya nanti setelah berselang empat puluh sembilan hari, baru racun itu bekerja. Di itu waktu, jikalau orang tidak mendapatkan obat pemunahnya, dia bakal mati dengan tubuhnya rusak nowah. Bisalah dimengerti siksaan karena itu, sebab orang melebihkan mati dipagut ular berbisa. Dan obat untuk itu, melainkan aku yang memilikinya. Maka itu, kamu dengarlah kata, nanti sampai pada waktunya, aku menolong kamu dengan memberikan obat itu."

In Leng Cu, yang luas pengetahuannya, kenal racun Ngotok San itu. Ia pun percaya kata-kata si nona. Sebenarnya ia sangat mendongkol tetapi ia paksakan diri tertawa.

"Aku tidak membenci kau, nona,"

Ia kata.

"Aku mengharap pertolonganmu."

"Baiklah sekarang terserah kepada kamu, kamu dengar kata atau tidak."

"Nona mau menitahkan apa? Titahkanlah!"

Seng Lam tertawa.

"Engko Sie le, merekalah budak-budakmu! Maukah kau menyerahkan mereka padaku untuk aku yang menyuruhnyuruh?"

Ia tanya kawannya.

"Kau lebih bisa mengurus mereka, baiklah aku serahkan mereka padamu,"

Kata Sie Ie.

"Kau titahkanlah!"

Si nona mengangguk, ia bersenyum.

"Sekarang pergi kamu membikin betul perahu,"

Kata ia, yang mulai dengan perintahnya.

"Semua barang yang berada di atas perahu, barang makanan dan segala alatnya, kamu angkut kemari. Kamu bekerja setelah kamu dahar."

Kunlun Sanjin berempat menurut, mereka lantas bekerja di bawah penilikan si nona.

Habis mengangkuti semua barang, mereka masak nasi, setelah bersantap, baru mereka pergi bekerja.

Seng Lam membawa sekantung rangsum, bersama Sie Ie ia pergi ke dalam rimba Selagi pergi, Sie Ie pesan.

"Kamu berempat kerjalah baikbaik. Sebentar sore kamu boleh beristirahat di panggung di dalam rimba itu. Kamulah budak-budakku, maka itu kamu harus dengar kata. Sahabatku ini tidak nanti mengganggumu "

Empat hantu itu gusar sekali, hati mereka panas bukan main, walaupun begitu, mereka menutup mulut. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Selagi berjalan, Sie Ie kata pada Seng Lam.

"Orang Kangouw menyebut aku Tokciu Hongkay, si pengemis edan yang bertangan beracun, akan tetapi apabila aku dipadu dengan kau, aku mesti menyerah kalah!"

Si nona tidak gusar, dia tertawa malah.

"Aku bekerja untuk kebaikanmu!"

Katanya.

"Bukankah kau tidak dapat menyuruh ular-ularnya terus-terusan menjagai mereka itu? Pula itu sangat memusingkan kepala. Semua ular itu cuma mendengar perintahmu, bila kau tidak berada di dekatnya, mana dapat dipastikan mereka dapat menjagai terus? Ke empat hantu itu tidak dimusnahkan ilmu silatnya, setelah perahu betul, bisakah mereka tidak melarikan diri? Aku pernah memikir untuk memusnahkan kepandaian mereka, tetapi setelah itu, mana dapat tenaga mereka dipakai? Kalau tenaga mereka tidak dapat dipakai, apa perlunya kita dengan mereka?"

"Bagus, kau teliti dan memikir sempurna!"

Sie le memuji.

"Jarum beracunmu itu pun lebih liehay daripada ularku. Aku cuma merasa cara itu rada kejam..."

Seng Lam tertawa terkekeh.

"Benarkah itu? Kalau begitu, kau mesti berhati-hati! Kalau pada suatu hari kau berlaku tak pantas padaku, mungkin dengan diam-diam aku menusuk padamu! Dengan begituhaha! -seumurmu, kau bakal menjadi budakku!"

Si nona bicara dengan riang gembira, Sie Ie sebaliknya gentar hatinya, ia menggigil tanpa kedinginan. Memang hebat nona ini. Seng Lam berhenti tertawa ia kata, sungguh-sungguh.

"Sayang kau beda daripada empat hantu itu. Menghadapi mereka, kita boleh tak memperdulikan mereka setuju atau tidak Menghadapi kau, lain. Jikalau kau tidak menyetujuinya, apa enaknya untuk memaksa kau?"

"Hm!"

Sie Ie memperdengarkan suaranya, tandanya ia mendongkol sekali. Seng Lam tertawa pula.

"Aku berguyon, eh!"

Katanya.

"Jangan kau gusar!"

Serba salah Sie Ie. Gusar salah, berdiam salah. Ia pikir.

"Sebenarnya, semenjak ia mengobati aku, sendirinya aku telah menjadi budaknya, aku sudah tak dapat lolos dari dia..."

Maka ia berdiam, hatinya masgul.

Malam itu Sie Ie dan Seng Lam tidur di tenda masingmasing.

Seng Lam telah mempunyai obat ular, ia tak usah mengganggu Sie Ie lagi.

Sie Ie sebaliknya, satu malam ia tidak dapat tidur nyenyak.

Bahkan mendekati fajar, ia dapat impian buruk sekali.

Ibaratnya Seng Lam telah menginjeksi punggungnya, hingga ia mendusin dengan kaget.

Segera ia mendengar tertawanya si nona di luar tendanya, dan nona itu terus menanya.

"Kim Sie Ie, kau mimpi apa? Lekas, lekas bangun!"

Sie Ie mengucak-ucak mata. Untuk sejenak, hatinya masih ber-debaran. Ketika ia menyingkap tendanya, ia tanya.

"Kenapa kau tahu aku mimpi?"

"Aku dengar kau berteriak-teriak dan menyebut-nyebut namaku,"

Sahut si nona.

"Benarkah kau mimpi buruk dan memanggil-manggil aku untuk menolongi-nya?"

"Justeru kaulah yang paling menakuti!"

Kata Sie Ie dalam hati. Ia tidak mengutarakan itu, sebaliknya ia tanya.

"Pagipagi kau membanguni aku, ada apa?"

"Aku mau ajak kau melihat pekerjaan mereka itu,"

Berkata si nona.

"Mereka sudah selesai atau belum."

"Kenapa kau kesusu begini?"

Tanya si pemuda.

"Jikalau mereka sudah selesai, kau dapat lantas menitahkan mereka mengumpulkan asbes."

Sie Ie heran.

"Ah, mengapa kau dapat menebak hatiku?"

Ia tanya.

"Apakah perlunya kau menaklukkan mereka?"

Si nona balik menanya.

"Bukankah kau hendak menitahkan mereka bekerja, untuk mereka lekas-lekas menggali liang saluran, supaya air laut masuk ke gunung berapi?"

"Benar."

Sie Ie mengaku.

"Ah, kau sangat cerdas!"

Tokliong Cuncia ingin memadamkan apinya gunung dengan kekuatan air, dan menurut perkiraannya cukup tenaga satu orang untuk menyalurkan air asal itu dilakukan tepat yaitu dua atau tiga bulan sebelumnya perletusan.

la percaya di saat itu tanah atau batu gunung gampang digali, sebab mestinya sudah mulai "longgar".

Dan sekarang, Kim Sie Ie menduga, gunung berapi bakal bekerja lagi satu tahun, dari itu karena ia bekerja dengan beberapa orang, dapat ia memulainya dari sekarang.

Ia bukan ahli, begitupun Tokliong Cuncia, maka keduanya tak pernah memahamkan terlebih jauh sifatnya gunung berapi, hingga mereka tidak pernah memikir kemungkinan ancaman malapetaka lainnya.

Ketika Sie Ie dan Seng Lam tiba di tepi laut, keempat hantu tengah duduk berangin, begitu mereka itu melihat datangnya si nona berdua, lekas-lekas mereka berbangkit, hormat sikap mereka.

"Kim Tayhiap, perahu telah selesai dibikin betul,"

Kata satu di antaranya.

"sembarang waktu dapat kita berangkat."

"Coba kamu turun, nanti aku periksa,"

Kata Sie Ie.

"Kim Tayhiap,"

Berkata Kunlun Sanjin.

"sekarang kami tidak menginginkan lagi kitab ilmu silat, kami cuma mengharap kau membawa kami menyingkir dari pulau ini."

Mereka berempat tidak mengerti ilmu mengemudikan perahu di tengah laut, dari itu takut mereka nanti ditinggal pergi, hingga mereka bakal dibiarkan berdiam terus di pulau mencil itu.

"Omonganku tetap satu, tidak dua!"

Kata Sie le tertawa.

"Asal kamu bersetia terhadapku, di saatnya kami berangkat, tentu kamu akan diajak bersama!"

Lantas bersama Seng Lam, Sie le naik ke perahu dan memeriksanya. Benarlah semua bocor telah ditambal.

"Kamu bekerja baik sekali!"

Seng Lam puji keempat hantu itu.

"Pikiran mereka sama dengan pikiran kau!"

Kata Sie Ie tertawa.

"Kamu semua sangat menghendaki lekas-lekas meninggalkan pulau ini, maka itu ketika kamu ditugaskan memperbaiki perahu, kamu lantas bekerja dengan sungguhsungguh hati!"

Selesai memeriksa, keduanya turun dari perahu, untuk menghampirkan Kunlun Sanjin berempat.

"Pekerjaan membetulkan kendaraan air ini kamu telah lakukan dengan baik sekali,"

Kata Sie Ie, yang pun memuji mereka itu.

"Sekarang masih ada beberapa pekerjaan lain, apabila semua itu-pun sudah dapat diselesaikan, kita boleh lantas berangkat berlayar!"

Keempat orang itu merasa kecewa mendengar halnya mereka tidak akan segera berlayar pulang, mata mereka menunjuk sinar menyesal berbareng penasaran.

Walaupun begitu, mereka tidak berani mengatakan sesuatu, untuk menentang atau membantah.

"Hari ini bagus hawa udaranya,"

Berkata Sie Ie kemudian.

"Nah, pergilah kamu mengumpulkan asbes."

Telah beberapa puluh tahun Tokliong Cuncia berdiam di Coato, Pulau Ular, maka itu ia telah mendapatkan asbes, yang ia tahu kefaedahannya.

Ia hendak membuat pakaian guna dipakai nanti.

Kunlun Sanjin berempat menurut, mereka mengumpulkan asbes, dari itu Sie Ie dapat menyuruh Seng Lam menenunnya untuk dijadikan bahan pakaian.

Ia juga mengajarkan si nona berenang di telaga kecil.

Seng Lam tahu, perlu sekali ia pandai berenang, terutama di laut, maka ia belajar dengan sungguh-sungguh, maka selang beberapa hari ia sudah mulai dapat mandi dan belajar berenang lebih jauh di pesisir.

Untuk beberapa hari, udara terus terang, lalu pada suatu hari, hujan turun besar dan deras, hingga air telaga naik tinggi.

Ketika itu, asbes pun telah dapat dikumpul cukup banyak.

Maka Kim Sie Ie memberikan lain tugas kepada empat "budaknya".

Mereka dititahkan mulai menggali tanah, guna membuat saluran, guna menyalurkan air keliang gunung berapi.

Yang dialirkan ialah air telaga.

Liang itu tak bertumbuhkan rumput, hawanya sangat panas, maka itu hebat penderitaannya ke empat hantu, sedang mereka itu datangnya dari Soatsan, gunung salju, di Tibet.

Beberapa kali mereka berniat mogok saja dan ingin menentang titahnya Sie le, akan tetapi kapan mereka ingat ancaman bahaya ular-ular berbisa, terpaksa mereka menutup mulut.

Mereka juga menjerikan bekerjanya racun di punggung mereka...

Siang Bok Loo dan Siang Ceng Nio kepanasan sampai beberapa kali mereka roboh pingsan.

Untuk menolongnya, Sie Ie mencarikan daun obat-obatan yang dapat melenyapkan rasa panas, ia memasaknya dan menyuruh mereka minum itu.

Kemudian ia pun bekerja sama, membantui mereka memacul.

Dengan begitu ia membuatnya mereka tidak terlalu penasaran lagi.

Sie Ie tahu orang sangat tidak senang dan sangat membenci padanya, akan tetapi saking terpaksa, supaya saluran dapat cepat dirampungkan, ia membiarkan mereka bekerja terus.

Sambil menemani bekerja, Sie Ie selalu memasang mata.

Ia kuatir amarah mereka nanti meledak seperti gunung berapi...

Lewat lagi beberapa hari, saluran yang digali itu sampailah sudah di mulut liang gunung berapi, maka itu air lantas mengalir masuk ke dalam liang, menyapu bangkai-bangkai ular yang berserakan di sepanjang jalan yang dilewati.

Sie Ie telah bersiap siang-siang ialah ia sudah menyediakan sejumlah bunga moahong untuk melawan bau busuk dan bau bacin dari bangkai ular, dari itu ia memberikan masing-masing dua tangkai kepada mereka berempat, walaupun begitu, dua kali Siang Ceng Nio masih muntah-muntah.

Itu pun suatu sebab lain yang membuatnya ke empat hantu bertambah membenci pada si pengemis edan, si majikan...

Supaya air dapat mengalir banyak, Kim Sie Ie menitahkan Kunlun Sanjin memacul lebar mulut gua, supaya sinar matahari dapat masuk ke dalamnya.

Maka itu, liang yang tadinya gelap lantas berwarna terang merah.

Sebaliknya, hawa panas dari dalam menyedak keluar makin keras, hingga sukar untuk bertahannya.

Sudah setengah bulan keempat hantu berdiam di atas pulau dan telah lima hari mereka menggali tanah, meski mereka dapat dibilang sudah biasa lagi dengan hawa panas itu, kali ini mereka toh merasakannya hebat sekali.

"Kamu pakailah pakaian ini,"

Kata Kim Sie Ie kemudian. Ia memberikan pakaian asbes buatannya Seng Lam, hingga mereka menutup semua tubuh mereka kecuali kedua matanya masingmasing. Mereka juga diberi makan obat guna melawan racun.

"Sekarang masuklah kamu ke dalam,"

Akhirnya Sie le menitahkan. Ia menghendaki mereka membuat jalan terowougan di tembok gunung... In Leng Cu menjadi sangat gusar hingga ia melemparkan paculnya.

"Kim Sie Ie, kau panggillah semua ular beracunmu!"

Ia kata nyaring dan dingin. Ia agaknya nekad.

"Apa kau mau?"

Tanya Sie Ie.

"Biar bagaimana, aku tetap seorang guru besar!"

Kata imam itu.

"Mana dapat aku diinjak-injak begini rupa olehmu!"

Kunlun Sanjin bertiga juga mengawasi si pengemis dengan bengis. Rupanya bakal meledaklah mereka... Sie Ie memandang mereka itu dengan sikap tak berubah.

"Aku menitahkan kamu bekerja begini juga untuk kebaikan kita bersama!"

Katanya tawar.

"Rupanya kamu masih belum tahu! Di dasarnya pulau Coato ini ada gunung berapinya!"

Keempat hantu itu terkejut.

"Apa?"

Berteriak Kunlun Sanjin dengan pertanyaannya.

"Gunung berapi?"

"Tidak salah!"

Sahut Sie Ie.

"Dan mulutnya gunung berapi itu ialah liang yang kita salurkan air telaga. Maka itu aku hendak membuka satu jalanan agar hawanya gunung dapat disalurkankan keluar, supaya hembusan apinya tak keras sebagaimana layaknya. Kalau hawanya keluar dan apinya tersiram air, mungkin tak bakal ada bahaya lagi... Maukah kamu gunung meledak supaya kamu semua menjadi abu?"

Keempat hantu melengak, mereka saling memandang, terus mengawasi ke mulut liang dimana hawa panas menghembus naik.

Tembok gunung disitu telah berubah menjadi merah seperti arang batu terbakar.

Tidak dapat mereka tidak percaya si pengemis edan.

"Jikalau begini, mengapa kau tidak mau lekas-lekas menyingkir dari sini?"

Kemudian Kunlun Sanjin tanya.

"Karena aku hendak menghindarkan malapetaka!"

Sahut Sie Ie keras.

"Aku juga akan masuk bersama, buat bekerja sama dengan kamu! Jikalau mesti mati mari kita mati bersama!"

Keempat hantu itu kembali saling mengawasi.

"Meski gunung ini sangat menakuti,"

Kata pula Sie Ie.

"kita bukannya tak berdaya untuk menentangnya. Bukankah kamu dapat menahan napas selama setengah jam? Tanpa menyedot hawa panas, tubuh kita menjadi terlebih kuat. Setiap setengah jam kita keluar untuk bernapas dan beristirahat. Jikalau kita berhasil maka kamu pun turut berbuat banyak untuk orang banyak."

Masih keempat hantu itu saling memandang, semua membungkam. Cuma air muka mereka tak seguram tadi, suatu tanda mereka telah berpikir dan telah mulai menjadi sedikit tenang.

"Jikalau kamu tidak sudi bekerja, aku juga tidak akan memaksa kamu,"

Sie Ie berkata pula selang sejenak.

"Hanya baiklah kamu menginsyafi, ular-ular berbisa di pulau ini tentulah tidak tahu hal memberi ampun kepada kamu..."

"Dan kau juga jangan mengharap mendapatkan obat pemunah-ku."

Seng Lam turut bicara.

Sampai sebegitu jauh, ia berdiam saja.

Kunlun Sanjin berpikir.

Sekarang mereka mau percaya, paling juga mereka tersiksa hawa panas tetapi tidak akan sampai hilang jiwa.

Kalau mereka menolak, mereka bakal dikepung ular-ular berbisa.

Mana dapat mereka mempertahankan diri?

Tidak lama mereka berpikir, lantas Kunlun Sanjin mulai menjemput paculnya, maka ia lantas ditiru oleh ketiga kawannya.

Kim Sie Ie pun lantas bertindak, untuk mulai bekerja, guna memberi contoh dan bukti bahwa ia tidak membiarkan mereka itu bekerja sendiri.

Beberapa hari orang bekerja membuka terowongan, maka dapatlah mereka hasil sepanjang enam atau tujuh tombak.

Usaha mereka itu membikin air laut pun mulai meresap masuk.

Hebat pekerjaan itu, bukan main penderitaannya, meski benar mereka mengenakan pakaian asbes dan telah makan obat pelawan hawa panas.

Kulit mereka menjadi pada hitam legam seperti terbakar hangus.

Maka berulangkah mereka menanya, sampai kapan pekerjaan itu baru selesai.

Si Ie tidak dapat menjelaskan, ia kata tunggu saja sampai air laut sudah dapat mengalir dengan sempurna...

Bukan main gelisahnya ke empat hantu itu.

Itu artinya tak ada batas waktu.

Mereka melihat batu tebal-tebal dan panjangnya tempat yang digali mungkin seribu lebih tombak.

Akhirnya diam-diam mereka bersepakat untuk mencoba bekerja lagi tiga hari, andaikata tetap air laut tak tersalurkan, baiklah mereka kepung Kim Sie le...

Itu hari mendekat tengah hari, orang keluar untuk beristirahat di luar gua.

Mereka membasahkan tenggorokan dengan air telaga yang mereka telah salurkan.

Mereka beristirahat sambil menantikan datangnya Le Seng Lam, yang sedang menanak nasi untuk mereka bersantap.

Mereka sudah menantikan dengan tak sabaran ketika mereka melihat si nona lari mendatangi, romannya tergesa-gesa, sedang tangannya kosong tanpa membawa apa-apa.

Kim Sie le segera menegur.

"Ada apakah?"

"Disana ada datang sebuah perahu!"

Sahut Seng Lam.

Baru si nona menyahut, atau mereka semua mendengar siulan yang nyaring, yang membuat rimba bagaikan tergetar.

Kim Sie Ie terperanjat, tanpa ayal lagi ia mengasih dengar suaranya, untuk memanggil berkumpul semua ularnya.

Ia tahu orang mahir sekali tenaga dalamnya, melebihkan ia, karena ia belum tahu orang kawan atau lawan, ia hendak bersiaga terlebih dahulu.

Siulan dahsyat itu berbunyi terus, makin lama terdengarnya makin dekat.

Itulah tanda si penghuni perahu lagi mendatangi.

Atau di lain saat mereka melihat munculnya dua orang.

Lantas semua menjadi heran, dan Kim Sie Ie bersama Seng Lam kaget sekali.

Itulah Beng Sin Thong bersama Biat Hoa Hwesio.

Yang mengherankan Sie le, ular yang ia panggil tak ada yang mengikuti atau mengejar kedua orang itu!

Beng Sin Thong sangat cerdik, ia menyusul begitu lekas mengetahui Sie Ie dan Seng Lam berlayar.

Mereka cuma menanti dua hari untuk mendapatkan kendaraan air.

Mereka merampas perahu orang.

Sin Thong bisa mengemudikan perahu tetapi tak kenal jalanan, sudah ketinggalan dua hari, sering dia berputaran.

Begitulah ketika Sie le sudah hampir satu bulan berada di Coato, baru ia tiba di pulau itu.

Ia mulanya melihat asap mengepul.

Itu tandanya pulau itu ada penghuninya.

Lantas ia menuju ke tepian.

Seng Lam tidak menyangka apa-apa, ia mendapat tahu sesudah Sin Thong berdua Biat Hoa menyembunyikan diri di dalam rimba.

Beng Sin Thong dan Biat Hoa heran menemui rombongannya Sie le itu.

Sin Thong tidak lantas mengenali si pengemis, yang mukanya telah menjadi hitam.

Sebaliknya In Leng Cu lantas menyapa.

"Hai, Lao Beng!"

"Oh, In Leng Cu!"

Seru Sin Thong, yang mengenali suara orang, hingga ia lantas mengenali juga orangnya.

"Ha! Mengapa kamu berada disini?"

Kuat ingatannya Sin Thong. Pada dua puluh tahun ia pernah pergi ke Tibet, untuk mencari ilmu silat "Biteong"

Ialah ilmu silat kaum Lama Merah.

Sebab Siulo Imsat Kang datangnya dari India dan yang membawa masuknya yaitu kaum Lama Merah itu.

Ia ingin ketahui apa ada Lama yang mengetahui ilmu silat itu.

Hasil penyelidikannya itu membuatnya berhati lega.

Tidak ada Lama yang mengetahui Siulo Imsat Kang.

Selama itu juga ia telah berkenalan dengan In Leng Cu.

Matanya Sin Thong sangat tajam.

Segera ia melihat Seng Lam, yang bersembunyi di belakang Kim Sie Ie.

Nona itu memang tidak mengumpatkan diri.

Lebih jauh, ia pun lantas mengenali Tokciu Hongkay, yang sengaja berdiam saja.

Ia lantas tertawa lebar.

"Sungguh kebetulan aku mendapatkan kamu disini!"

Kata jago tua itu.

"Lihat, Kim Sie Ie, lihat, di pulau ini kemana kau hendak menyingkirkan dirimu?"

Mendengar itu, In Leng Cu lantas dapat menduga bahwa di antara Beng Sin Thong dan Kim Sie Ie ada permusuhan.

Ia jadi berpikir keras, begitupun ketiga kawannya; tak dapat mereka pikir sikap apa mereka harus ambil.

Dengan Sin Thong bermusuh dengan Sie le, dapat mereka mengambil pihaknya Sin Thong itu.

Cuma mereka terluka di dalam tubuh...

"In Leng Cu, bagaimana dengan kamu ?"

Beng Sin Thong tanya. Ia tidak menantikan jawabannya Sie Ie.

"Kenapa kamu ada bersama Kim Sie le? Apakah kamu tidak tahu dialah musuh? Dialah yang membunuh Chong Leng Siangjin!"

Matanya In Leng Cu terbuka lebar.

Ia tetap bersangsi.

Lebih banyak ia membenci Sie Ie.

Akan tetapi, kapan ia berpaling kepada si pengemis edan, ia mendapatkan orang tenang-tenang saja.

Baru setelah itu, Sie Ie kata, dingin.

"Bangsat tua she Beng, kau benar! Memang ini pulau mencil sendirian! Meski begitu, aku kuatir kaulah yang bakal tak dapat menyingkirkan dirimu!..."

Ketika itu dari dalam rimba segera terdengar suara berbisik sas-sus.

Lantas terlihat empat ular yang mengepalai belasan ular lainnya yang panjang-panjang.

Hanya aneh tubuh ular itu menggigil dan agaknya semua jeri.

Sie le heran, terutama atas datangnya yang terlambat dari semua ular itu.

Itulah tidak biasanya.

Juga yang datang demikian sedikit.

Mungkinkah titahnya telah tak ditaati lagi?

Yang melegakan juga sedikit ialah semua ular ini ular-ular paling berbisa.

Ia percaya, biarnya Sin Thong gagah, kalau dia dikepung semua ularnya ini, paling celakanya kedua pihak terbinasa bersama...

Melihat kawanan ular itu, Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Kim Sie Ie, jangan kau mengandali semua ularmu ini!"

Kata dia.

"Apakah kau tidak takut mendapat malu? Baiklah kau ketahui bahwa aku, Beng Sin Thong aku mempunyai kepandaian menaklukkan naga dan harimau! Apakah kau kira aku takut pada ularmu ini? Hm!"

Sie Ie mau menyangka orang omong besar, akan tetapi waktu ia mengasih dengar isyaratnya, ia menjadi heran.

Semua ularnya, tak terkecuali yang empat, agaknya takut pada Beng Sin Thong.

Benar ular itu pada maju tetapi sejarak empat atau lima tombak mereka diam mendekam, tak ada yang berani maju lebih jauh, cuma kepalanya diangkat, bunyinya diperdengarkan.

Habis tertawa, Beng Sin Thong membentak.

"Binatang, kau cari mampus?"

Lalu tangannya diayun, dipakai menyerang ke arah semua ular itu.

Ia menyerang tanpa maju menghampirkan.

Belasan ular itu pada merengkat.

Sin Thong mengulangi serangannya, karena mana, walaupun hawa udara panas, orang lantas merasa dingin.

Empat ekor ular yang besar sudah lompat lari ke dalam rimba, dan yang belasan tetap mendekam saja, tubuhnya kedinginan.

Kembali Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Kim Sie Ie,"

Katanya menantang.

"kau masih mempunyai kepandaian apa lagi? Lekas keluarkan! Atau kau terimalah mampusmu!"

Selagi Sie le belum sempat menjawab, mendadak Le Seng Lam berseru kepada Kunlun Sanjin berempat.

"Kamu usirlah dua orang ini dari pulau Coato! Aku akan lantas memberi obat pada kamu!"

Sie Ie heran, ia tercengang. Tapi segera ia insyaf. Ia pun berseru.

"Usirlah mereka berdua! Akan aku ajak kamu berlayar!"

In Leng Cu berempat saling mengawasi.

"Baik!"

Berseru Kunlun Sanjin.

"Satu laki-laki, satu kali katakatanya keluar..."

Kim Sie Ie segera menyambut.

"Pasti empat ekor kuda tak dapat mengejarnya!"

Kunlun Sanjin menghunus pedangnya, perbuatan mana segera ditiru ketiga kawannya. Maka itu Beng Sin Thong dan Biat Hoa Hwesio lantas dikurung mereka itu.

"Sahabat baik, mengapa kau membantui orang luar?"

Membentak Beng Sin Thong.

Kim Sie Ie tertawa panjang, dengan tongkatnya ia menghajar.

Sin Thong menangkis dengan tangan kosong, membikin tongkat mental.

Justeru itu, ia merasakan angin menyambar di belakang kepalanya.

Itulah Siang Bok Loo, yang menyerang dengan sepuluh jari tangannya dibuka, untuk menyengkeram.

Menyambut bokongan itu, Sin Thong mengibas ke belakang, atas mana, Siang Bok Loo roboh berjumpalitan, meski demikian, ujung tangan baju jago tua she Beng itu kena juga tersambar robek!

Ketika itu Kim Sie Ie maju merangsak.

Ia telah mencabut tongkatnya, maka sekarang ia berge-gaman, tongkat di kiri, pedang di kanan, dengan kedua senjatanya itu, ia menyerang hebat.

Beng Sin Thong lebih gagah seurat daripada Kim Sie Ie tetapi toh dia menjadi repot, lantaran Siang Bok Loo maju pula, mengepung padanya.

Sebenarnya dia berniat meminta penjelasan dari In Leng Cu tetapi sudah tak sempat lagi.

Disana Kunlun Sanjin, dengan menggunai pedangnya, menempur Biat Hoa Hwesio.

Ketika pedang membentur sianthung, tongkat si hwesio, terdengarlah suaranya yang nyaring dan terlihat lelatu api muncrat.

Biat Hoa menang tenaga dalam, dia mundur dengan terhuyung setindak, sebaliknya lawannya sempoyongan beberapa tindak.

In Leng Cu tidak mempunyai niat memusuhkan Beng Sin Thong, ia lantas maju pada Biat Hoa Hwesio, untuk menotok pundak kiri si pendeta.

Cepat sekali ia mainkan sepasang poankoan pit, senjatanya mirip alat tulis, yang diperantikan menotok jalan darah.

Sebagai ciangbunjin, ketua ahli waris sebuah partai, ilmu totoknya ialah ilmu istimewa sendiri.

Biat Hoa terkejut menghadapi lawan imam ini, dengan lekas ia memutar tongkatnya, guna melawan sambil mengutamakan pembelaan diri.

Ia tidak sudi kasih dirinya kena ditotok.

Kunlun Sanjin, setelah beristirahat sebentar, maju pula.

Ia menggunai pedangnya dan tangan kirinya yang tak bersenjata.

Karena tadi ia kena dibikin terhuyung-huyung, sekarang ia mengerahkan seluruh tenaganya.

Biat Hoa tetap membikin pembelaan, rangsakannya Kunlun Sanjin membuatnya terpaksa main mundur.

Ia tetap berjagajaga dari totokannya In Leng Cu.

Beng Sin Thong telah melirik Siang Ceng Nio, mendadak dia berseru, dengan kedua tangannya dia menyerang kepada musuh yang tenaga dalamnya lebih lemah ini.

Siang Ceng Nio terkejut, ia lompat berkelit.

Sebenarnya ia mempunyai ilmu ringan tubuh yang sempurna akan tetapi ujung bajunya, yang terbuat dari sutera merah, kena juga terobek, hingga dia kaget dan menjerit.

Syukur untuknya, selagi ia berkelit itu, Kim Sie Ie menyerang Sin Thong, hingga dia ini tidak mendesak terus terhadapnya.

In Leng Cu melihat isterinya menghadapi bahaya, ia meninggalkan Biat Hoa Hwesio, guna membantu isterinya itu.

Inilah yang dikehendaki Beng Sin Thong.

Ketika itu dengan jurus Kim-kong Hokhouw, atau Arhat Menak-luki Harimau, Kim Sie Ie menyerang Sin Thong dengan tongkatnya, menyerang ke bawah.

Sedangkan In Leng Cu, dengan sepasang pit-nya, menotok ke dada, mencari jalan darah.

Serangan ini cuma untuk mencegah orang membikin celaka isterinya, yang ia ingin lindungi, meski demikian, ia telah mengerahkan tenaganya.

Dikepung dua musuh yang tangguh itu, Beng Sin Thong berseru keras, kedua tangannya bekerja secara hebat.

Segera juga kedua pilnya In Leng Cu tersampok mental, sedang tongkat Sie Ie kena tersampok miring.

Kedua senjata itu telah memperdengarkan suara nyaring.

Berbareng dengan itu, Sin Thong lompat mundur satu tindak.

"In Leng Cu!"

Ia menegur.

"kau memusuhkan aku, maka janganlah kau persalahkan aku jikalau aku tidak sungkansungkan lagi terhadapmu!"

"Beng Sianseng!"

Berkata In Leng Cu cepat.

"aku cuma meminta kau meninggalkan pulau ini, supaya persahabatan kita tidak sampai terganggu. Aku... aku..."

Ia sebenarnya mau menyebutkan.

"Aku terpaksa,"

Akan tetapi karena malang adanya Sie Ie disitu, batal ia berkata terlebih jauh meski kata-katanya itu sudah sampai di bibirnya...

Justeru itu Beng Sin Thong sudah mengerahkan tenaganya, sambil berseru, dia menyerang dengan Siulo Imsat Kang, hingga hawa yang dingin sekali sudah lantas menyambarmenolak dengan keras!

Kunlun Sanjin berdiri berendeng dengan In Leng Cu, bersama-sama mereka mempertahankan diri.

Kim Sie Ie sebaliknya, dengan lantas dia meludah terhadap musuhnya itu.

"Fui!"

Dan melesatlah reaknya!

Beng Sin Thong telah pernah merasai jarum beracun dari Tokciu Hongkay, dia mengetahui Iiehay-nya itu, dengan lekas dia berkelit seraya menyampok dengan tangan kirinya, membuat ludah atau jarum itu mental ke samping.

In Leng Cu bersama Kunlun Sanjin terus bertahan, benar mereka dibantu Kim Sie le akan tetapi mereka merasai tubuh mereka dingin sekali, hingga mereka menggigil-Kim Sie Ie tertawa dan berkata.

"Sekarang aku tengah kepanasan, kebetulan ada angin dingin ini! Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepadamu!"

Beng Sin Thong merasa dirinya diejek, dia menjadi gusar sekali.

Dia memutar tubuhnya, untuk menghadapi langsung si pengemis edan, sembari memutar tubuh itu, dia menyerang.

Kim Sie Ie sudah siap sedia, dengan menotok tanah dengan tongkatnya, tubuhnya berjumpalitan tinggi dan jauh, untuk menyingkir dari serangan Siulo Imsat Kang itu.

Indah cara jumpalitannya itu.

Justeru itu terdengar suara keras, lantas terlihat terpentalnya tubuh dari Siang Bok Loo.

Ia ini membokong Beng Sin Thong selagi Beng Sin Thong menyerang Sie Ie, akan tetapi Sin Thong mengetahui itu, dia terus menyampok ke belakang, tepat sekali, maka tidak ampun lagi, Siang Bok Loo kena dibikin terpental.

Menyaksikan demikian liehay-nya Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong, semua orang merasa jeri, sebaliknya adalah Le Seng Lam.

Nona ini sudah lantas berkata dengan nyaring.

"Perlu apa takut terhadapnya? Kepandaiannya Siulo Imsat Kang itu kepandaian boleh mencuri dari keluargaku, jikalau orang terlukakan pukulannya itu, dapat aku mengobatinya!"

Kim Sie Ie juga menimpali berseru.

"Siulo Imsat Kang paling meminta pengerahan tenaga, lihat saja, berapa lama dia dapat bertahan? Asal kita tidak kasih diri kita kena terhajar pukulannya, tuan-tuan dapat melayani terus kepadanya!"

Suaranya Kim Sie Ie ini memberi pengaruh besar, dengan lantas orang mengambil masing-masing tempatnya, guna mengurung jago tua itu, sedang Kim Sie Ie sendiri mengambil kedudukan di tengah, guna membantu ke segala penjuru.

Dengan begitu, Beng Sin Thong berdua Biat Hoa Hwesio kena dikurung dalam jarak tiga tombak sekitarnya.

Sin Thong tidak berani sembarangan menyerang meskipun ia tahu, kecuali Kim Sie Ie, semua musuh lainnya dapat ia robohkan asal ia berhasil menyerang tepat kepada mereka itu.

Pernah ia mencoba menyerang bergantian ke segala penjuru, guna menoblos kurungan tetapi ia tidak mendapatkan hasil.

Setiap diserang, orang yang diserang itu lekas berkelit, sebaliknya yang lain, mereka merangsak.

Sesudah berkelahi sekian lama cara begitu, yang untuknya tidak ada untungnya, Beng Sin Thong menjadi berdebaran hatinya.

Dia memikir.

"Inilah berbahaya! Dengan berkelahi begini macam lama-lama, mungkin sekali aku akan kehabisan tenagaku sendiri..."

"Lao Beng!"

In Leng Cu berkata.

"kau baiklah mengaku kalah saja! Mengapa kau memaksa hendak mempersulit kita di pulau ini?"

Beng Sin Thong memikirkan kata-kata orang ini.

Bukankah ia tidak berhasil merebut kemenangan dengan kekerasan, seperti semula ia pikir?

Mesti ia menggunai kecerdikannya.

Bukankah agaknya In Leng Cu tidak mengandung permusuhan terhadapnya?

Mungkin demikian juga pikirannya yang lain lain.

Ia tidak usah mengasah otak lama-lama, atau segera ia mendapat akal.

"Apakah kamu semua telah terkena jarum Ngotok Ciam dari si perempuan siluman?"

Ia menatapnya dengan tajam, guna mengawasi perubahan air muka orang.

"Jangan kamu takut! Aku dapat menyembuhkannya!"

Kata-kata itu mempengaruhkan keempat pengepung, mereka nampak sangsi, hingga dengan demikian, pengepungan mereka menjadi lunak sendirinya. Le Seng Lam kaget, dia lantas berteriak.

"Jangan percaya ocehannya! Di kolong langit ini tidak ada orang yang dapat menyembuhkan keracunan Ngotok Ciam!"

Beng Sin Thong tertawa ber-gelak.

"Kau sudah lupa!"

Katanya, menggunai terus siasatnya perang dingin.

"Dari kitab-kitab yang aku ambil dari rumahmu itu justeru ada sebuah yang memuat resep untuk mengobati dan menyembuhkan keracunan jarum Ngotok Ciam itu! Bukankah racun Ngotok Ciam kau dapat membuat tubuh orang nowa dalam waktu empat puluh sembilan hari hingga orang lantas terbinasa kerenanya?"

"Hm!"

Seng Lam menyambut. Nona ini mau berkata-kata tetapi Sin Thong dului ia.

"Kamu takut apa?"

Kata jago ini kepada musuh-musuhnya.

"Apakah kamu jeri untuk ular beracun dari Kim Sie Ie? Apakah kamu takut tidak ada perahu untuk kamu berlayar pulang? Mari kamu turut aku si Beng Tua! Apa pun kamu tak usah takuti! Kecewa kamu menjadi guru-guru besar suatu partai persilatan, kamu telah dipermainkan dua bocah cilik! Apakah kamu tidak malu? Mari, mari kita bikin mampus bocah ini! Aku si Beng Tua, suka aku bersama kamu pergi mengambil kitab ilmu silat warisan Kiauw Pak Beng itu!"

Hebat kata-katanya Beng Sin Thong ini.

Dia telah menggedor hati orang.

Bukankah mereka telah menyaksikannya bagaimana si orang tua she Beng telah membikin tak berdaya ular beracun dari Sie le?

Dan sekarang mereka mau dito-longi Sin Thong untuk mengobati dan memunahkan keracunan jarum Ngotok Ciam...

In Leng Cu lantas berseru dialah yang mulai berlompat menyerang Kim Sie Ie!

Tokciu Hongkay segera melintangkan pedangnya.

"Tahan!"

Ia berseru.

"Dengar dulu perkataanku..."

Tapi Kunlun Sanjin pun telah maju dengan pedangnya sambil dia menegur nyaring.

"Kemana perginya keangkaranmu? Siapa kesudian mendengar ocehanmu?"

In Leng Cu juga tidak memperdulikan, dia maju pula, sembari berseru.

"Kau telah menghina kami, itu sudah cukup! Hari ini kau mesti mampus dengan tak ada tempat untuk memendam tubuhmu!"

Segera serangan meluruk.

Kim Sie Ie tidak berdaya, terpaksa ia mesti menangkis, untuk membuat perlawanan.

Beberapa kali ia mesti lompat berjumpalitan, untuk menyingkir dari serangan berbahaya.

Suara bentrokannya senjata-senjata berisik sekali.

Kunlun Sangjin maju terus.

Suasana telah berubah sekarang.

Kawan-kawan telah menjadi lawan.

Dengan pedangnya, Sanjin menyerang saling susul hingga tujuh atau delapan kali, sebab selama itu Sie le melainkan menangkis atau menghindarkan diri.

Dengan tongkat besinya, Sie Ie membela diri, atau mendadak ia berlompat jauh, memisah diri dari Kunlun Sanjin hingga beberapa tombak.

In Leng Cu suami isteri memburu.

Kim Sie Ie berjumpalitan lagi, untuk menjauhkan diri, tapi sekarang ia lantas menunjuk ke arah gua untuk berkata.

"Tidak apa kamu membinasakan aku, tetapi kalau nanti gunung berapi meledak, maka banyaklah korban yang akan jatuh! Tidak nanti kamu dapat lolos dari malapetaka itu!"

In Leng Cu tertawa dingin, dia berkata.

"Setelah kami membinasakanmu, kami segera naik perahu untuk berlalu dari sini! Jikalau benar gunung berapi meletus maka kami sudah berada jauh di tengah laut!"

"Apakah benar kamu tidak memikirkan lagi jiwanya penduduk pesisir?"

Sie Ie tanya.

Sia-sia Sie Ie mengharap dapat mengingat orang untuk berlaku murah hati, pertanyaannya itu tidak diambil perduli.

Maka ia lantas lari ke arah gua itu.

Ia mengandalkan perkenalannya dengan gua, ia percaya ia bisa masuk ke dalam.

Setibanya di dalam, tak usah ia berkuatir lagi.

Ketika itu Sie Ie masih terpisah dengan mulut gua sekira empat tombak.

Biat Hoa Hwesio liehay sekali, mendadak dia berlompat maju, dengan tongkatnya, dia lantas menyerang Sie Ie.

Dengan terpaksa Kim Sie Ie menangkis.

Kedua senjata beradu, bentrokan berimbang karena tenaga mereka pun bersamaan.

Justeru terdengar suara nyaring dan lelatu api muncrat, mendadak terdengar suara lain, dari terpental robohnya dua-dua Sie Ie dan Biat Hoa.

Karena itu, Sie Ie jadi datang lebih dekat dengan mulut gua.

Tiba-tiba terdengar gelak tertawa Beng Sin Thong, sebab dialah yang telah berlompat maju dan datang di sama tengah di antara Sie Ie dan Biat Hoa dan tenaganya yang besar memisah mereka, keduanya terpelanting jatuh.

Dia tahu baik, percuma Kim Sie le dikepung Biat Hoa dan yang lainnya, Tokciu Hongkay tidak bakal terkalahkan, maka ia maju.

Ia sendiri malu untuk mengepung si pengemis edan, sebab dia merasa dialah seorang guru besar!

Biat Hoa Hwesio berlompat bangun, dia penasaran, maka dia maju pula, tangannya menuding ketika dia menegur.

"Mana dia keangkaran kau selama di gunung Binsan? Apakah sekarang kau tidak mau lekas berlutut dan mengangguk kepadaku?"

Justeru itu, dari dalam gua menghembus keluar hawa panas.

Sie Ie mengenakan baju asbes, ia tidak kurang suatu apa.

Celaka Biat Hoa, yang bajunya terus terbakar, hingga dia kaget, maka lekas-lekas dia menjatuhkan diri, untuk bergulingan di tanah, hingga apinya padam.

Sie Ie merasa hawa panas beda daripada biasanya, ia pun heran.

Tengah ia berpikir itu, telinganya mendengar jeritan kaget dari Seng Lam.

Sebab nona itu telah dikejar Siang Bok Loo dan kecandak di mulut gua, sepuluh jeriji tangan dengan kuku-kuku yang tajam dari dia itu sudah mengancam dada dan punggung!

Sie Ie kaget karena ia terpisah beberapa tombak dari nona itu, hingga tak dapat ia memberikan pertolongannya.

Saking putus asa, ia mengeluh.

"Tidak kusangka sekali, bersama Seng Lam aku bakal terbinasa di ini Pulau Ular..."

Di saat ia putus asa itu, tiba-tiba Sie le mendengar suara menggelegar yang datangnya dari dalam tanah...

Suara itu tidak berbunyi cuma satu kali, hanya saling susul, lalu terasa bumi bergoyang.

Tidak lama dari itu, dari dalam gua terlihat menghembus keluarnya gumpalan asap, lalu mendadak, mata orang melihat cahaya terang!

Kali ini asap itu, yang menghembus terus, menyemprotkan api yang muncrat dalam rupa lahar!

Semua orang menjadi kaget, mereka juga merasakan mata mereka perih.

Kejadian terus saling susul.

Mendadak orang mendengar jeritan yang menyayatkan hati dari Siang Bok Loo, tatkala semua mata berpaling ke arahnya, terlihat dia sudah diterkam lahar!

Dia berada dekat mulut gua, dia merintangi Seng Lam, yang hendak dicekuk, maka dialah yang lebih dulu menjadi korban.

Di dalam sekejap saja, tubuhnya telah ketutupan, maka tentulah tubuhnya itu hangus...

Sie Ie kaget, apalagi kapan ia melihat Seng Lam, yang coba berkelit dari Siang Bok Loo, telah roboh.

Setahu dari mana datang tenaganya, dia berlompat kepada si nona.

Biasanya ia dapat berlompat kira-kira tiga tombak, kali ini sampai kira enam tombak, maka ia berhasil menyambar tubuh Seng Lam, untuk diangkat, buat dibawa berlompat balik, untuk terus dibawa lari menyingkir dari lahar, yang masih keluar terus bagaikan air banjir...

Lagi sekali terdengar suara menggelegar, kembali terlihat muncratnya lahar, di waktu muncrat itu, lumpur api itu mirip dengan sebuah tiang hitam yang naik tinggi, lalu buyar, hingga di lain saat tampak abu atau bubuk putih berhamburan.

Hebat muncratnya lahar kali ini, pepohonan di dekat situ, yang kena tersembur, lantas terbakar hangus!

Beng Sin Thong semua menjadi takut sekali, tidak lagi mereka memikirkan Seng Lam atau Kim Sie Ie, tanpa menoleh pula, semua lari sekeras-kerasnya ke arah tepi laut.

Sie Ie, dengan membawa Seng Lam, pun lari terus.

Di belakang ia, ia saban-saban mendengar suara bekerjanya lahar.

Dan lahar yang mengalir terus, meminta korban-korban pepohonan dan juga batu.

Kim Sie Ie lari terus dengan hatinya pepat.

Ia merasa seperti putus asa.

Sia-sia belaka percobaannya untuk mencegah bekerjanya gunung berapi itu.

Ia tidak tahu, umpama kata percobaannya berhasil, akibatnya akan lebih hebat lagi.

Percuma air laut dialirkan ke gunung, bencana tak dapat dihalangi karenanya.

Tokliong Cuncia, juga Kim Sie Ie ini, ada orang-orang dari beberapa ratus tahun yang lampau, pengetahuan mereka tentang gunung berapi tidak seperti sekarang ini.

Secara sederhana mereka berpikir, kalau api disiram air, padamlah.

Mereka tidak menginsyafi, gunung berapi bukanlah api biasa.

Jikalau gunung berapi disiram air, pastilah itu mempercepat perletusan atau perledakan.

Pula tak dapat gunung berapi dimasuki air...

Syukur mereka cuma dapat membuat satu saluran enam tujuh tombak dalamnya, sangat sedikit air laut yang dapat mengalir masuk ke dalam saluran itu, tetapi mesti demikian, meski itu tidak menyebabkan perledakan, toh mempercepat juga.

Hanyalah ini bukan perledakan, melainkan perletusan, kalau perledakan, gunung berapi hancur semua dan pulau akan karam.

Maka beruntung juga atas adanya perletusan kecil ini, goncangan tak menerbitkan gempa bumi hebat.

Tapi Kim Sie Ie semua-semua mereka takut bukan main.

Hebat akan melihat contoh Siang Bok Loo tadi.

Kecuali burung-burung, juga ular dan binatang lainnya, berebut kabur.

Di saat demikian, ular berbisa pun tak ingat mencari mangsanya, semua lari menyelosor secepat bisa, siapa tercandak lahar, dia terbinasa...

Kim Sie Ie membawa kabur Seng Lam separuh diseret, si nona mendapat luka-luka besot.

Hampir nona itu tidak dapat bertindak.

Untuk tiba ke tepian, jarak masih sedikit jauh.

Akhirnya Sie Ie menggendong si nona.

'Tutup mata!"

Ia kata.

"Jangan takut! Akan aku bawa kau menyingkir!"

Benar-benar Tokciu Hongkay lari seperti kalap.

Syukur untuk mereka, mereka mengenakan baju asbes, dengan begitu, pakaian mereka tidak dimakan muncratan api lahar.

Akhir-akhirnya, tiba juga mereka di tepi laut.

Di laut, angin pun tengah mengamuk, suaranya menakuti.

"Celaka!"

Kim Sie Ie menjerit.

Di antara sinar api, disana tertampak Beng Sin Thong semua sudah naik atas sebuah perahu, dengan menimpuki sebuah golok, jago itu membuatnya dadung dari sebuah perahu yang lain menjadi putus, hingga kendaraan air itu kena tersapu gelombang, bukan terdampar ke darat hanya ke tengah, tertarik sang ombak.

Sama sekali ada tiga bocah perahu tertambat di tepian itu.

Yang satu yaitu perahunya Sie Ie dan Seng Lam.

Perahu ini telah diperbaiki.

Perahu yang lain kepunyaannya keempat hantu itu dan belum sempat dibikin betul, karena selalu terdampar pergi pulang, kerusakannya hebat, maka segala isinya telah dipindah ke perahunya Kim Sie Ie.

Perahu yang ketiga milik Beng Sin Thong berdua Biat Hoa Hwesio.

Inilah perahu yang barusan dadungnya diputuskan Beng Sin Thong.

Sebab Sin Thong sudah naik di perahu Sie Ie yang banyak barang makanannya.

Jago itu tidak membutuhkan perahunya lagi, dan supaya perahu jangan dipakai Sie Ie, dia melepaskannya supaya hanyut dan karam.

Inilah sebab yang membikin Sie Ie menjerit mengeluh itu.

Tidak ada lain jalan bagi Sie Ie kecuali perahunya Beng Sin Thong itu, maka itu habis menjerit, dengan melupai bahaya, bersama Seng Lam ia terjun ke laut, untuk berenang menuju ke perahu yang lagi terumbang-ambing menjadi permainan sang ombak itu.

Terpisahnya mereka belasan tombak.

"Kita mesti dapatkan itu!"

Teriak Sie Ie di kuping si nona. Ia tidak perduli yang ia digempur pergi datang sang gelombang.

"Lepaskan aku,"

Kata Seng Lam.

"Kau bisa berenang lebih leluasa!"

Memang Sie Ie masih belum melepaskan si nona, ketika nona itu menarik tangannya, hingga terlepas, benar-benar ia jadi merdeka, bisa ia berenang dengan merdeka.

Untung untuknya, ia sudah biasa berenang di laut, maka ia bisa maju dengan pesat.

Ia tahu baik sifatnya gelombang.

Seng Lam tidak pandai berenang tetapi dengan kemauannya yang keras, dapat ia mengintil di belakang Sie Ie, siapa, melihat demikian, hatinya menjadi lega.

Sesudah berkutat sekian lama, dapat juga Sie Ie mendekati perahu Sin Thong yang kosong dan lagi terumbang-ambing itu, selagi hatinya mulai lega, mendadak ia melihat benda seperti bola api menyambar, api menyambar turun, la kaget sekali, ia berhenti berenang.

Ia melihat benda itu, peletikan suatu batu yang marong, tepat menimpa perahu, maka hancurlah kendaraan air itu, tenggelam ditelan sang ombak, kecuali beberapa lembar papan, yang masih mengambang tetapi ada apinya.

Kecelakaan mereka belum berakhir sampai disitu.

Ketika Sie Ie menoleh kepada Seng Lam, hatinya mencelos.

Nona itu, yang ketinggalan di belakang, lagi digulung arus.

"Jangan takut!"

Teriak Sie Ie.

"Tahan, napas! Nanti aku tolong kau!"

Tokciu Hongkay berenang sekuatnya, untuk menghampirkan kawan itu, guna ditolongi.

Ia melihat nona itu seperti lagi melawan sang ombak.

Bahaya masih terus mengancam.

Selagi berenang itu, mata Sie Ie yang celi sekali menyaksikan lain ancaman, yang tidak kurang dahsyatnya.

Di sebelah depan terlihat seekor ikan hiu mendatangi sambil binatang itu mementang mulutnya yang lebar dan penuh gigi tajam.

Ikan jahat itu menghampirkan Seng Lam, berenangnya cepat sekali.

Tidak bisa Sie le tiba lantas pada ikan itu.

Ia berada di dalam air, bukan di darat dimana ia bisa lompat mencelat.

Tapi ia tabah, ia tidak jadi putus asa.

Ia ingat tongkat besinya, maka dengan senjata itu ia menimpuk, tepat tongkat tercaplok ikan, maka di lain saat, sang ikan sudah hilang nyawanya, tubuhnya ngambang di sisi Seng Lam, terseret arus!

Tengah keadaan sangat berbahaya itu, mendadak terlihat sebuah perahu muncul dari antara gelombang, lajunya sangat pesat.

"Tolong! Tolong!"

Kim Sie Ie menjerit-jerit.

Permintaan tolong itu mendapat sambutan baik, ia bersama Seng Lam lantas ditolongi, diangkat naik ke perahu itu yang dilajukan mendekati mereka.

Akan tetapi, kapan Kim Sie Ie telah melihat orang yang menolonginya, ia kaget tidak terkira.

Penolong-penolong itu ialah Beng Sin Thong serta beberapa hantu.

Perahu itu pun perahunya sendiri yang dirampas mereka itu.

Hanyalah ia tidak ketahui sebabnya kenapa perahu itu balik kembali.

Kalau tadinya ia berlega hati telah mendapat pertolongan, sekejab saja Sie Ie berdua menjadi berkuatir pula.

Kembali mereka terancam bahaya.

Selagi Sie le tawar hatinya, ia melihat Seng Lam mengeluarkan sehelai gambar.

Ia menjadi heran.

Ia kenal baik gambar itu, yang merupakan peta kepulauan sasaran mereka.

Selama di Coato, ialah yang menyimpan gambar itu di dalam sebuah peti di bagian belakang dari perahu mereka.

Ia menyembunyikannya karena kuatir gambar itu kena terbakar.

Hal itu ia tidak beritahukan Seng Lam, maka heran sekarang Seng Lam memiliki itu.

"Dari mana Seng Lam mendapatkannya? Mustahilkah dia mengetahui rahasiaku?"

Demikian ia menduga-duga.

Seng Lam melemparkan gambar itu ke lantai perahu.

Karena bekas digenggam, gambar itu seperti bergumpal.

Pula nyata terlihat bekasnya terbakar.

Beng Sin Thong menjemput gambar itu.

Ia berlaku hati-hati tetapi tidak urung telah pecah beberapa bagiannya, hingga sukar untuk melihat tegas rupanya gambar.

Hanya samarsamar saja nampak bayangannya gunung berapi dan orangnya yang bertubuh besar bagaikan raksasa itu.

Saking mendongkol, Sin Thong menggenggamnya dengan keras, terus ia melemparkannya ke laut!

"Gambar ini sedikitpun tak ada faedahnya!"

Katanya, dingin.

"Syukur disini ada orangnya yang ada gunanya!"

Ia menoleh pada Kim Sie Ie dan bertanya.

"Kau hendak melayarkan perahu ini kemana?"

"Pasti pulang ke daratan!"

Sahut Tokciu Hongkay. Jago itu menjadi mendelu, tapi ia kata.

"Kau pasti tahu pulaunya Kiauw Pak Beng! Kau tunjukilah arahnya! Mari kita bekerja sama pergi kesana!"

Sie Ie tertawa.

"Kau bicara enak saja!"

Ejeknya.

"Kau jadi ingin aku membantui kamu mencari kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng!"

Sin Thong tertawa dingin.

"Kalau bukan karena ada faedahnya kau bagi aku, perlu apa aku membiarkan kamu berada di atas perahu ini?"

Katanya.

"Kau jangan kuatir, kau tetapkan hatimu, tidak nanti aku mensia-siakan bantuanmu ini! Jikalau kitab silat itu telah didapatkan, setiap orang di dalam perahu ini ada haknya masing-masing, aku nanti memberi ijin kamu mendapatkan sehelai salinannya."

"Hm!"

Bersuara Sie Ie, yang terus membungkam. Tapi Le Seng Lam turut bicara. Ia kata.

"Kata-katanya seorang kuncu..."

"Sama dengan dipecutnya sang kuda!"

Menyambungi Sin Thong.

"Mustahilkah aku akan menipu kamu kedua bocah?"

"Bagus!"

Seru Seng Lam. Ia terus menoleh pada Sie Ie dan kata.

"Engko Sie le, kau pernah omong padaku bahwa kau ketahui letaknya pulaunya Kiauw Pak Beng itu, maka itu dengan memandang kepadaku, aku minta sukalah kau menujukan perahu ini ke pulau itu! Kitab ilmu silat warisannya Kiauw Pak Beng itu ialah milik keluargaku, jikalau itu bisa didapatkan, meski juga harus dibagi kepada lain orang, itu terlebih baik daripada lenyap sama sekali!"

Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Dasar Nona Le yang terlebih mengerti!"

Katanya, riang. Kim Sie Ie dapat melihat sinar matanya Seng Lam bercahaya lain daripada biasanya, ia menduga pada sesuatu.

"Baiklah!"

Ia kata.

"Dengan memandang kepada Nona Le, suka aku mengemudikan perahu ini ke gunung berapi itu!-Nona Le, tolong kau mengambilkan obat, sekalian kau membawa kompas kemari."

Kunlun Sanjin terperanjat.

"Apakah gunung itu pun ada apinya?"

Dia tanya.

"Apinya sudah meletus sejak banyak tahun!"

Kata Sie Ie dingin.

"Tak nantilah kau ketambus mampus!"

Seng Lam pergi ke dalam gubuk perahu. Hanya sebentar, ia telah kembali.

"Celaka betul! Celaka betul!"

Katanya, menyesal, mendongkol.

"Kenapa, eh?"

Tanya Sie Ie.

"Apakah obat telah habis?"

"Obat dan kompas ada, tetapi air tak ada barang setetes!"

Tak heran mereka kehabisan air.

Tidak ada rencana mereka untuk berangkat itu hari, mereka berangkat secara tiba-tiba, maka itu, mereka belum menyediakan air.

Mendengar keterangan itu, semua orang terkejut.

Bahkan heran sekali, lantas mereka merasa berdahaga, ingin minum!

"Kalau begitu,"

Kata Sie Ie.

"baik berikan mereka obat pusing kepala."

Seng Lam lantas mengeluarkan obat untuk mabuk laut. In Leng Cu semua mengawasi, mata mereka mendelong tetapi mereka tidak berani menyambuti obat itu.

"Kepalaku juga pusing sedikit, mari bagi aku!"

Kata Beng Sin Thong. Dan ia makan obat pusing kepala itu, sedikitpun tak terlihat ia ragu-ragu. Dan selang tidak lama, ia tertawa bergelak dan kata.

"Bagus! Benar-benar kepalaku sembuh!"

Melihat Sin Thong berani makan obat si nona, ketiga hantu pun lenyap kekuatirannya, mereka mengambil obat itu dan menelannya.

Sin Thong beranggapan lain daripada ketiga hantu itu.

Ia mempunyai kepercayaan Seng Lam atau Sie Ie tidak berani mencelakai padanya.

Di samping itu, ia juga tidak takut.

Tenaga dalamnya demikian mahir hingga ia tak takuti racun.

Ia merasa pasti, umpama kata racun bekerja, sebelum ia roboh, bersama-sama Biat Hoa dapat ia membinasakan Sie Ie dan Seng Lam.

Sementara itu kendaraan air berlayar terus.

Badai pun telah berkurang, hingga gelombang menjadi rada tenang.

Ketiga hantu, habis makan obat, merasakan tubuhnya sehat, tetapi dahaga mereka menjadi semakin hebat.

Kunlun Sanjin tak dapat bertahan lebih jauh, terpaksa ia mencegluk air laut yang asin, tetapi justeru karena minum air asin, ia menjadi gelagapan, ia merasakan kerongkongannya panas bagaikan dibakar...

Sin Thong tertawa.

"Apakah kau sangka air laut dapat melenyapkan dahaga?"

Katanya.

"Kamu sabarlah, nanti aku berdaya!... Ia pergi ke tepi perahu, matanya memandang tajam ke air. Ketika itu sering terlihat ikan-ikan berlompatan mengikuti aliran gelombang. Tepat ada ikan meletik, Sin Thong menggeraki kedua tangannya, menyambar sambil menarik. Hebat tangannya itu, ada beberapa ekor ikan yang seperti tersedot. Sie Ie terkejut di dalam hati menyaksikan liehaynya jago she Beng ini.

"Dia baru saja menderita tetapi nyatanya dia masih kuat sekali,"

Pikirnya. Sin Thong mencekal seekor ikan, ia tertawa dan kata.

"Makan ikan hidup dapat buat sementara waktu mengurangi dahaga!"

Ia terus merobek ikan itu, untuk dimakan mentahmentah.

"Jangan! Jangan!"

Sie Ie berteriak dengan cegahannya. Sin Thong sudah menggayam ikannya dan telah menelan sarinya. Ia membuka lebar matanya dan kata.

"Kenapa tak boleh? Bukan main segar dan lezad rasanya!"

Sie Ie tidak menyahuti, hanya menarik tusuk kondenya Seng Lam, lalu dengan itu ia menusuk seekor ikan, ketika ia mencabut tusuk konde itu, yang terbuat dari perak, tidak ada perubahan apa-apa.

Menyaksikan demikian, Sin Thong tertawa pula.

"Apakah yang kau coba itu?"

Katanya.

"Mungkinkah ikan di laut pun ada yang meracuni?"

Hati Sie Ie pun tenteram. Pikirnya.

"Rupanya racun ular dari kobakan itu sudah terbakar habis hingga tak ada yang mengalir dan melulahan ke laut..."

Karena ini, ia pun menjadi lega.

Kalau begitu, perledakan tak sedemikian hebat seperti disangka gurunya Maka ia juga mulai makan ikan hidup itu...

Habis itu Sie Ie memernahkan kompas, lalu sambil menyerahkan itu pada Sin Thong, ia kata.

"Kau lajukan perahu kita ini ke arah yang ditunjuk jarum kompas ini. Jikalau tidak ada rintangan badai dan gelombang, di dalam tempo kira-kira dua puluh hari kita dapat tiba di pulaunya Kiauw Pak Beng itu. Nona Le sudah letih sekali, aku hendak beristirahat bersamasama dia. Malam ini kau yang memegang kemudi, umpama kata ada bahaya, kau lekas membanguni aku."

Sin Thong menurut, dalam hatinya ia kata.

"Ya, kamu kedua bocah, kamu beruntung sekali!..."

Biar bagaimana, di tengah laut ini, ia membutuhkan bantuan orang, terpaksa ia menyabarkan diri dan mengalah.

Maka ia pergi pada Biat Hoa, untuk bekerja sama.

Bergantian mereka memegang kemudi.

Sie Ie berdua Seng Lam masuk ke dalam gubuk perahu.

Gubuk itu terpecah dua, bagian depan dan belakang.

Maka di bagian pemecahannya, yang merupakan pintu, Seng Lam menumpuk beberapa karung beras.

"Apakah kau takut sebentar malam mereka diam-diam masuk kemari untuk mencelakai kita?"

Tanya Sie Ie tertawa.

"Aku percaya, selama mereka belum diantar pulang dan mendarat, tidak nanti mereka berani menurunkan tangan jahat."

"Aku juga percaya mereka tidak nanti berani mencelakai kita,"

Kata si nona.

"hanya kita berada bersama mereka dalam sebuah perahu, tak dapat aku menenteramkan hatiku. Sedikit pemisahan berarti menambah ketenangan."

Itulah maksudnya Sie Ie mengapa ia ajak si nona pergi ke ruang belakang ini. Ia memang ingin si nona tenang hatinya. Di antara mereka sekarang tak ada perasaan likat lagi.

"Kau tidurlah lebih dulu!"

Kata si pengemis edan.

"Aku tak dapat tidur, aku lagi pikirkan..."

Kata si nona.

"Kau lagi pikirkan apa?"

Sie Ie tanya.

"Kalau enci Kok dan adik Lie kau mengetahui sekarang ini kau ada bersama-sama aku disini, entah bagaimana mereka membenci aku..."

Kata nona itu.

"Kau ngaco!"

Sie Ie membentak. Meski begitu, ia toh lantas ingat Cie Hoa dan Kim Bwee. Memang, bagaimana nanti ia menjelaskannya kepada kedua nona itu? "Sudahlah?"

Kata Seng Lam tertawa melihat orang terbengong.

"aku tidak mau menyebut-nyebut lagi urusan enci Kok dan adik Lie kau itu, cuma-cuma mendatangkan kedukaan kau saja. Sebenarnya aku lagi memikirkan satu hal yang penting."

"Mati dan hidup kita juga masih belum ketentuan, ada apa lagi yang terlebih penting?"

Kata Sie Ie.

"Apa yang aku pikir itu ada sangkut pautnya sama soal mati dan hidup kita,"

Berkata Seng Lam.

"Apakah kau pernah memikirkan dengan cara bagaimana kita dapat lolos dari rombongan hantu ini?"

Kim Sie Ie menyeringai.

"Ada daya apakah?"

Katanya.

"Kecuali kita nyebur ke laut..."

"Setelah kita sampai di pulau sana, bukankah masih ada daya?"

Tanya si nona. Sie Ie terperanjat.

"Kenapa kau menganjurkan aku mengajak mereka ke itu pulau?"

Ia tanya, perlahan.

"Jikalau Beng Sin Thong berhasil mendapatkan kitab silatnya Kiauw Pak Beng itu, bukankah dia bakal menjadi terlebih liehay, hingga dia mirip harimau yang tumbuh sayap? Siapa nanti dapat menaklukkan dia?"

"Tetapi jikalau kau membawa perahu kembali,"

Berkata si nona.

"asal dia dapat mendarat, pasti dia tidak bakal memberi ampun padamu! Oleh karena itu, sama-sama bakal mati, lebih baik kita membawa dia ke pulau itu. Mungkin disana kita dapat pikiran baru untuk menolong diri... Bagaimana dengan peta kita itu, kau sudah simpan atau belum? Hati-hati, dia tak dapat diberitahukan!"

Kim Sie Ie mencari-cari dengan tangannya, ia lantas menjadi heran. Ia dapat meraba peta itu. Lantas ia berbisik di telinga si nona.

"Bagaimana ini? Bagaimana dengan petamu itu?..."

Seng Lam menyahuti.

"Itulah peta palsu yang aku tiru. Aku tidak sangka bahwa hari ini aku dapat menggunainya."

Kim Sie Ie menjadi bertambah heran. Ia menanya dalam hatinya.

"Kapan Seng Lam membuatnya? Di atas pulau Coato toh tidak ada kertas dan alat tulis? Jikalau dia telah membuatnya semenjak siang-siang, habis sebelumnya ini, dari mana dia dapat aslinya? Dimana dia pernah melihat peta itu?"

Seng Lam dapat melihat keheranan kawannya itu, ia memencet tangan orang.

"Sudah, jangan kita bicarakan urusan ini,"

Katanya perlahan.

"Nanti, setibanya di pulau itu, kau cuma tahu mendengar dan menuruti apa kataku. Lihat, malam ini sang rembulan indah!"

Kata-kata yang belakangan ini diucapkan nyaring. Sie Ie cerdas sekali, ia mengerti, maka ia pun menyahuti, cukup keras.

"Di tengah laut, apabila sang badai dan gelombang telah berlalu, cuaca mesti bagus. Ya, menggadangi sang Puteri Malam di tengah laut memang menarik hati."

Ketika itu di luar gubuk perahu terdengar suara perlahan sekali, cuma sejenak, lantas lenyap pula.

Kim Sie Ie menduga kepada Beng Sin Thong, yang mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.

Ia berpura-pura tidak tahu, ia terus membawa sikap seperti biasa, bersama Seng Lam ia berpegangan loneng menggadangi rembulan, Tiba-tiba Seng Lam menanya.

"Bukankah kau sebenarnya mengajaki enci Kok Cie Hoa untuk pergi berlayar?"

"Ah! Inilah urusan yang sudah lewat, buat apa ditimbulkan pula?"

Sahut Sie Ie masgul. Seng Lam tertawa.

"Sudah, jangan kau sembunyikan pula rahasia hatimu padaku!"

Ia kata.

"Kok Cie Hoa ialah muridnya Lu Su Nio, dia dengan pihak gurumu ada hubungannya yang erat. Sebenarnya juga kamu berdua cocok segalanya, apa yang harus disayangi dari dia ialah soal ayahnya..."

Kata-katanya Seng Lam dikeluarkan dengan keras.

"Sudah, aku minta kau jangan timbulkan pula soal itu,"

Sie Ie minta, agaknya dia mendongkol.

"Seumurku rasanya aku tidak bakal bertemu pula dengannya. Maka, apakah yang hendak dibicarakan lagi?"

Orang di luar perahu itu benar Beng Sin Thong. Dia mendengar pembicaraan orang hanya bagian yang belakang saja, yang diucapkan dengan keras. Mendengar itu, hatinya bercekat.

"Kiranya anakku menyintai dia?"

Pikirnya.

"Pantas anakku juga mau pergi ke Laosan, ke kuil Siang-ceng Kiong... Menurut pembicaraan mereka ini bukankah mereka telah ketahui Cie Hoa anakku?"

Maka ia menjadi merasa tidak enak hati.

Sama sekali ia tidak menduga, kata-katanya Le Seng Lam itu justeru disengaja, untuk ia dengar.

Hati Sie le pun tidak tenang, ia juga merasa aneh akan tindak-tanduk Seng Lam.

Hati si nona sulit untuk diterka.

Karena ini, malam itu sukar ia tidur pulas.

Tidak demikian dengan Seng Lam, mungkin dia terlalu letih, dia tidur nyenyak sekali.

Hal ini membuat lega hati Sie Ie.

Ia mengambil selimut dengan apa ia mengerebongi tubuh si nona.

Di dalam hatinya, ia kata.

"Dia muda sekali, dia menderita dari gunung berapi dan laut yang galak, dia harus dikasihani..."

Tapi segera dia berpikir pula.

"Di antara ketiga nona, yang aku benci justeru dia, tetapi justeru dialah yang sekarang ini senantiasa berdampingan denganku... Oh, benar-benar Thian pandai sekali mempermainkan hidupnya manusia."

Mendadak ia terkejut. Tiba-tiba telinganya seperti mendengar pertanyaan ini.

"Eh, eh, apakah benar-benar kau membenci dia?"

Maka hatinya menjadi tidak tenang.

Mendekati fajar, barulah Sie Ie dapat tidur, walaupun layap-layap.

Belum lama, lantas ia sadar, disebabkan gempuran ombak kepada perahunya bagian depan, yang mana disusul suara orang yang berisik.

Seng Lam pun mendusin, bahkan sembari tertawa, dia kata.

"Mari kita pergi nonton pertunjukan!"

Ketika mereka keluar, mereka melihat Beng Sin Thong dirumung Kunlun Sanjin bertiga. Kebetulan itu waktu Kunlun Sanjin berkata.

"Lao Beng kau bilang kau mempunyai obat pemunah racun, aku minta sukalah kau serahkan itu pada kami!"

Mereka bertiga terkena jarum Ngotok Ciam dari Seng Lam, setelah diganggu badai, mereka jadi sangat letih, karenanya mereka menjadi sangat lemah, tubuh mereka seperti tubuhnya orang yang sakit berat, hilanglah tenaga perlawanannya, bahkan mereka merasa sakit.

Pula, luka-luka mereka mulai nowah.

Maka itu sekarang mereka mendesak meminta obat.

Beng Sin Thong itu mengerti obat-obatan disebabkan dia melihat sisa-sisa kitab ilmu silat Keluarga Kiauw, kebetulan disitu ia membaca cara pengobatan luka-luka keracunan jarum, tetapi tentang obat pemunahnya, ia tidak mengerti sama sekali.

Ketika di Coato, Pulau Ular, ia dikepung Kim Sie Ie serta keempat hantu, untuk membikin keempat hantu itu berbalik berontak terhadap Kim Sie Ie, sengaja ia mendustai mereka itu bahwa ia mempunyai obat pemunah.

Sekarang, didesak oleh Kunlun Sanjin, dalam bingungnya, ia mendapat akal.

Ia memang sangat cerdik.

Ia mengulapkan kedua tangannya dan berkata.

"Obat pemunahku itu telah ludas dihanyutkan gelombang! Kemarin badai hebat sekali, menolong jiwa ialah yang paling penting! Siapa sempat memperhatikan obat pemunah itu?"

Ketiga memedi itu nampak bersangsi. In Leng Cu berkata.

"Habis, apakah sekarang kau hendak mengawasi saja kematian kami? Lao Beng, tenaga dalammu sangat mahir, aku minta sukalah kau mengobati kami dengan jalan tenaga dalammu itu. Untuk sementara, bantuanmu itu perlu sekali. Mungkin kami tak luput dari bercacad, tetapi jiwa kami dapat tertolong..."

Sin Thong memang mempunyai kekuatan tenaga dalam untuk menolongi mereka itu, akan tetapi ia tidak suka membantu secara demikian.

Ia tahu baik sekali, ia bakal mengorbankan hebat tenaga dalamnya, hingga kalau ia bentrok dengan Kim Sie Ie, pasti ia tidak akan sanggup bertahan.

Biat Hoa Hwesio seorang diri tidak dapat melawan pihaknya Sie le itu, maka itu pihaknya bakal bercelaka...

Adalah di itu waktu, Sie Ie dan Seng Lam muncul.

Lantas Sin Thong mendapat akal.

la tertawa lebar dan berkata.

"Nona Le, telah aku katakan, kita naik perahu bersama, senang dan susah bersama juga, oleh karena itu, tidak dapat kita saling bermusuh lagi! Kau telah melukai mereka dengan Ngotok Ciam, sekarang aku minta sukalah kau mengeluarkan obat pemunah-nya!"

Ketiga hantu sebenarnya pun pernah memikir demikian akan tetapi mereka malu untuk minta sendiri kepada Seng Lam, maka itu, mendengar perkataannya Beng Sin Thong itu, lantas mereka mengawasi si nona.

Seng Lam tahu akalnya Sin Thong itu, ia juga lantas memikir memakai akal serupa.

Ia mengulap-kan kedua tangannya, ia kata dengan dingin.

"Aku telah terapung-apung di tengah laut, sekalipun peta lukisanku tidak dapat aku lindungi, apapula obat pemunah!"

Mendengar itu, hatinya kawanan hantu itu mencelos. Mereka menjadi hilang harapan. Karena ini, sinar mata mereka lantas mulai berubah menjadi bengis. Itu waktu, tiba-tiba Kim Sie Ie berkata.

"Seng Lam, ketika kemarin ini kau bebenah, aku melihat kau menggantung satu bungkusan di para-para di perahu belakang, coba kau lihat, mungkin disana masih ada sisa obat pemunah keracunan Ngotok Ciam..."

Seng Lam cerdas sekali, ia mengerti maksudnya Sie le di balik kata-katanya itu, ia hanya belum mengerti betul, mengapa kawan itu berniat menolongi ketiga hantu itu.

"Benar! Aku sampai lupa!"

Katanya.

"Baiknya kau mengingatkan aku. Mungkin benar di dalam kantung itu masih ada obat pemunahnya..."

Seng Lam lantas pergi ke belakang. Tapi ia cuma jalan selewatan, lantas ia kembali, wajahnya terang, tersungging dengan senyuman, sembari tertawa ia berkata.

"Dasar untung kamu bagus! Di dalam kantung itu ada obat pemunahnya, yang tidak sampai basah terkena air!"

Kawanan hantu itu tidak tahu bahwa mereka lagi "dijual".

Obatnya Seng Lam, cuma beberapa butir yang kecil, memangnya dibungkus dengan kertas minyak dan diselipkan di ikat pinggangnya, maka obat itu tidak kemasukan air.

Ketiga hantu girang bukan main, mereka menyambuti obat itu, lantas mereka telan seorang satu butir.

Seng Lam juga berlaku baik hati, dengan besi berani ia mencabuti jarumnya yang melukai mereka itu, setelah mana, luka-luka mereka itu diborehkan obat bubuk.

Lewat seminuman teh, Seng Lam kata pada kawanan hantu itu.

"Coba sekarang kamu raba punggung kamu, di antara sambungan tulang yang ke tujuh dan ke delapan, lantas kamu menyedot napas kamu."

Ketiga hantu itu menurut, mereka meraba ke punggung dan menarik napas dalam.

Mereka mendapat kenyataan, mereka tidak merasa sakit dan pernapasan mereka berjalan lurus.

Mereka menjadi girang sekali.

Mereka percaya si nona telah memberikan obat yang tepat.

Karena ini, mereka bersyukur terhadap Kim Sie Ie, sedang kebenciannya terhadap si nona sendiri lantas berkurang banyak.

Tengah hari itu kembali datang angin besar dan turun hujan lebat.

Kim Sie Ie segera mengambil kemudi dari tangan Biat Hoa Hwesio, untuk ia sendiri yang menguasai perahu mereka.

Seng Lam sendiri lantas mengeluarkan dua bocah jambangan, ia letaki itu di kepala perahu, untuk menadahkan air langit.

Kim Sie Ie memegang kemudi dengan pandai, ia membuatnya gangguan hujan dan angin tidak menyulitkan mereka.

Kedua jambangan pun lantas penuh air.

Tidak lama, berhentilah hujan dan angin.

Semua orang girang, dapat mereka minum air tawar, hingga juga, tak usahlah mereka makan ikan mentah lagi...

Demikian, seterusnya, Kim Sie Ie dan Seng Lam, hidup bersama di tengah laut dengan kawanan hantu itu.

Lama-lama mereka dapat bicara satu dengan lain secara baik dan tertawa-tawa, kesan mereka tak seburuk semula.

Cuma Biat Hoa masih sangat membenci Kim Sie Ie, sebab dia tidak bisa melupai halnya Sie Ie menyuruh murid-muridnya mencaci dia habis-habisan!

Juga Beng Sin Thong, berubah sikapnya terhadap Kim Sie Ie, hingga ia suka mengajak si anak muda berunding tentang ilmu silat.

Meski demikian, di mulut dan di muka mereka baik, di dalam hati, mereka masing-masing sama-sama berjaga diri.

Dengan lewatnya banyak hari, ketiga hantu menjadi biasa juga dengan hawa udara di tengah laut, gangguan gelombang tak lagi menyiksa mereka, sedang Kim Sie Ie dengan baik hati mengajari mereka bagaimana harus memegang kemudi, hingga selanjutnya mereka bisa bergantian mengurus perahu mereka itu.

Lantaran begini, Sie le dapat lebih banyak tempo untuk beristirahat, kecuali bila datang badai, baru ia yang berada pula di buntut perahu.

Berselang dua puluh hari, ketika Kim Sie Ie pergi ke kepala perahu dan memandang jauh ke timur, samar-samar ia menampak sesuatu yang berwarna hijau.

"Itulah dia pulau yang di tempati Kiauw Pak Beng tiga ratus tahun yang lampau!"

Katanya nyaring.

"Ha! Gunung berapi di atas gunung itu pun telah padam!"

Girang sekalian hantu itu mendapat tahu pulau yang dicari itu sudah berada di depan mata, lantas mereka membantui menggayuh perahu.

Maka, di saat matahari selam, di depan mereka telah tampak tegas sebuah pulau.

Segera perahu di kepinggirkan dan jangkar lantas diturunkan.

Di atas pulau itu tampak sebuah gunung besar, puncaknya gundul, berwarna merah darah.

Tidak ada rumput atau pohon tumbuh di atas itu.

Kalau ada datang angin bertiup dari arah atas gunung, hidung orang dapat mencium sedikit bau belirang.

Sebaliknya di lereng gunung terlihat segala apa hijau, sebab disitu tumbuh pepohonan bagaikan rimba.

Pulau itu penuh dengan pepohonan.

Tidak heran kalau dari dalam rimba sering terdengar suara-suara yang menyeramkan, ialah suaranya pelbagai beburonan.

Disana pun ada harumnya bunga-bunga, ada yang baunya luar biasa, yang sedikit berbau amis.

Kalau Coato membuatnya orang jeri, pulau ini agaknya aneh, hingga hati menjadi kurang tenang...

Oleh karena sudah mendekati sore, walaupun keinginan Sin Thong keras sekali untuk segera mencari warisannya Kiauw Pak Beng, ia mesti menguasai dirinya.

Ia tidak berani lancang mendaki gunung itu.

Maka semua orang terpaksa berdiam terus di perahu mereka.

Sesuatu dari mereka merasa hatinya tegang sendirinya, girang bercampur kekuatiran...

Kim Sie Ie cuma menguatirkan Beng Sin Thong berhasil mendapatkan kitabnya Kiauw Pak Beng itu, ia kuatir jago itu nanti tak ada yang dapat menaklukkan.

Melainkan Seng Lam seorang yang tenang-tenang saja.

Melihat sikap nona ini, Kim Sie Ie heran, hingga ia merasa, Nona Le sama anehnya seperti pulau itu sendiri...

Malam itu, seperti biasa, mereka bergiliran menjaga, walaupun demikian, tidak ada orang yang lidur nyenyak.

Tepat tengah malam, mereka dibikin mendusin dengan kaget.

Kiranya dua ekor badak muncul dari dalam rimba, datang ke pinggir laut.

Kedua binatang berkulit tebal itu lantas diserbu dan dibunuh.

Binatang itu kuat sekali, mereka membuatnya semua orang letih.

Syukur selanjutnya tidak muncul lain gangguan.

Besoknya pagi, Beng Sin Thong mengumpulkan semua orang.

Ia berkata.

"Pulau ini besar sekali, binatang liarnya pun banyak. Di sumping itu, kita masih belum tahu dimana tempat simpannya kitab warisannya Kiauw Pak Beng. Maka itu, aku anggap, tidak dapat kita pergi semua dengan berbareng. Hagaimana kalau binatang liar datang merusak perahu kita? Baiklah aku yang pergi lebih dulu bersama In Leng Cu suami isteri, untuk membuat penyelidikan. Biat Hoa Taysu, kau bersama Kunlun Sanjin, Kim Sie Ie dan Nona Le, baiklah berdiam terus di perahu. Untuk mendapatkan kitabnya Kiauw Pak Beng itu, aku rasa, itu bukan pekerjaan sehari semalam, maka baiklah kita bergiliran. Jikalau aku belum berhasil, kamu tunggu sampai aku kembali, nanti aku mengatur giliran siapasiapa."

Beng Sin Thong ada terlalu cerdik untuk tidak bertindak seperti kata-katanya ini.

Ia berbuat demikian karena ia kuatir Kim Sie Ie yang berhasil mendapatkan warisannya Kiauw Pak Beng itu, maka tak ingin ia si pengemis edan pergi mencari bersama.

Ia juga kuatir Kim Sie Ie dan Le Seng Lam nanti pergi seorang diri, ia mengatur agar Biat Hoa dan Kunlun Sanjin menemani, untuk mengawasi.

Kepandaian Biat Hoa berimbang dengan kepandaian Kim Sie Ie dan Kunlun Sanjin menang daripada Seng Lam, pengawasan ini, --dia anggap --tepat sekali.

Kim Sie Ie dapat menerka hati orang, akan tetapi karena ia melihat Seng Lam berdiam saja ia tidak membilang lain daripada setuju.

Ia telah berjanji kepada Seng Lam akan selalu menuruti nona itu.

Agaknya Beng Sin Thong masih belum tetap hatinya, ketika ia mau berangkat, ia masih berkata pula.

"Sebentar magrib pasti aku akan kembali, jikalau ada terjadi sesuatu, aku akan bersiul, begitupun kamu disini, supaya kita dapat saling menolong."

Seberlalunya Sin Thong bertiga, Sie Ie melewati waktu nganggur dengan memasang omong dengan Kunlun Sanjin, bicara mengenai peristiwa-peristiwa dalam Rimba Persilatan serta tentang keindahan sang laut.

Biat Hoa tidak turut bicara.

Ia tetap masih mendongkol terhadap si pengemis edan.

Maka ia duduk bercokol sendirian saja di lain bagian dari perahu mereka.

Hari berjalan seperti biasa.

Sebentar saja sudah tengah hari.

Dari pihak Beng Sin Thong tidak terdengar apa-apa, orangnya pun tidak muncul.

Biat Hoa lantas tak tenang hatinya.

Masih sang waktu berjalan, sekarang datanglah sang magrib.

Tetap Beng Sin Thong belum kembali.

Beberapa kali Biat Hoa mendarat, berjalan sampai di pinggiran rimba, ke dalam mana ia melangak-longok seraya mementang matanya, mengharap-harap dapat melihat Beng Sin Thong.

Tapi rimba lebat dan gelap, sunyi juga, ia tidak melihat suatu apa, telinganya tidak mendengar suara ini dan itu, kecuali kadang-kadang suaranya binatang-binatang liar atau kutu-kutu.

Ia jadi semakin tak tenang hati.

la tidak berani pergi lebih jauh lantaran ia takut Sie Ie nanti diam-diam melayarkan perahunya.

Ia terpaksa ngeloyor kembali ke perahu ketika cuaca mulai gelap.

Sampai itu waktu, Sin Thong masih juga belum kembali.

"Bukankah si siluman tua she Beng membilangi kita bahwa dia pasti bakal kembali sebelumnya langit gelap?"

Berkata Seng Lam, sengaja menanya.

"Benar, demikian dia membilangnya,"

Sahut Kunlun Sanjin.

"Sekarang sang rembulan telah mulai naik, kenapa dia belum kembali juga?"

Si nona bertanya pula.

"Mana aku ketahui?"

Kunlun Sanjin membaliki.

"Dia tidak kembali, habis bagaimana kita harus bertindak?"

Masih saja si nona menanya. Kunlun Sanjin tidak dapat menjawab, dia berdiam. Dia pun agaknya mulai bergelisah. Dia memandangi Kim Sie Ie dan menanya.

"Kim Sie Ie apa kau bilang?"

Belum lagi Sie Ie menyahuti, Biat Hoa sudah berpikir.

"Hm! Dengan tidak ada Beng Sin Thong disini, akulah pemimpin kamu, kenapa kau justeru berbicara dan berdamai dengan Kim Sie Ie?"

"Jikalau dia tetap tidak kembali, jalan kita ada dua,"

Kim Sie Ie menjawab Kunlun Sanjin.

"Apakah dua jalan itu?"

"Kita pergi ke dalam rimba untuk menyusul dan mencari dia atau segera kita memasang layar untuk berlalu dari sini,"

Sahut Sie Ie tenang.

"Ngaco belo!"

Biat Hoa membentak.

"Beng Sin Thong gagah luar biasa, bencana apa yang dapat merintangi dia? Sekarang baru saja dia terlambat, apakah kamu niat berontak?"

"Menurut kau, bagaimana?"

Kunlun Sanjin tanya pendeta itu.

"Kita tetap menantikan dia! Dia pasti akan kembali?"

Kata si pendeta pasti.

"Kamu sabar, kamu tunggulah!"

Kata Seng Lam, tawar.

"Apa? Apakah kau hendak melarikan diri?"

Biat Hoa tanya.

"Tidak nanti aku pergi dari sini,"

Sahut si nona, tetap tawar.

"Aku hendak menyaksikan akhirnya Heng Sin Thong!"

"Aku juga mengharap dia dapat kembali,"

Sie Ie menimpali si nona, tanpa ia memperdulikan si pendeta sangat panas hati.

"Dengan jumlah kita lebih banyak sedikit, jikalau ada bahaya apa-apa, dapat kita melayani..."

Kunlun Sanjin menduga ada apa-apa tersembunyi di balik perkataannya si pengemis edan.

"Mustahilkah di dalam rimba ini, kecuali binatang liar, ada lainnya makhluk yang sangat berbahaya?"

Dia tanya.

"Itulah aku tidak tahu,"

Sahut Sie le tenang.

"Apa yang aku ketahui, guruku pernah datang ke pulau ini dan ia tidak berani masuk jauh ke dalam rimba. Ketika guruku kembali dia memesan wanti-wanti kepadaku agar aku jangan mencoba dalang kesini. Jikalau pulau ini tidak berbahaya, buat apa guruku memesan demikian rupa? Ilmu silatnya liong Laokay memang liehay tetapi guruku masih menang jauh daripadanya!"

Kunlun Sanjin bergelisah mendengar juga Tokliong Cuncia yang liehay tidak berani menjelajah pulau ini. Biat Hoa tidak dapat bersabar lagi.

"Kim Sie Ie, jangan kau menga-co belo!"

Dia menegur. Kim Sie Ie tertawa.

"Jikalau kau tidak suka mendengar, kau sumbatlah kupingmu!"

Dia kata tertawa.

"Memangnya siapa yang menggubrismu?"

Bukan main panasnya hati Biat Hoa Hwesio, akan tetapi, ia mesti menutup mulut.

Tidak ada alasan untuknya menentang terus pada Kim Sie Ie.

Ia juga mendongkol terhadap Kunlun Sanjin, karena orang itu-yang dipandang sebagai kawan -bukannya membantu ia, sebaliknya dia menanya ini dan itu kepada Kim Sie Ie.

Sang malam datang.

Orang kembali tidak berani tidur sepuasnya.

Sampai malam, Beng Sin Thong terus tidak kembali, juga tidak ada siulannya.

Yang terdengar cuma suara yang keras dan seram dari pelbagai beburonan, yang terdengar seperti tak hentinya.

Supaya tidak ada binatang liar itu yang menyerbu ke perahu, Kim Sie Ie menyuruh Kunlun Sanjin dan Biat Hoa menyalakan unggun di tepian.

Penjagaan ini berhasil, malam itu lewat tanpa gangguan.

Kunlun Sanjin dan Biat Hoa bergelisah semalaman suntuk, terus sampai paginya.

Sampai matahari terbit, Beng Sin Thong tetap tidak muncul juga.

"Kunlun Sanjin,"

Berkata Kim Sie Ie, tanpa menghiraukan kegelisahan orang.

"bukankah kau menghendaki memperoleh warisan kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng?"

"Apakah artinya kata-katamu ini?"

Kunlun Sanjin balik menanya.

"Jikalau aku tidak menghendaki warisan kitab itu, perlu apa aku berlayar menempuh bahaya ini?"

Biat Hoa mendongkol, tetapi mendengar kata-katanya Kunlun Sanjin, dia tertawa.

"Ngoceh saja!"

Katanya, tertawa terbahak. Kim Sie le tidak menentang, tetapi dengan dingin ia kata.

"Cobalah kau pikir masak-masak, kau nanti dapat mengetahui itulah bukan ocehan belaka!"

Ketika itu angin keras berkesiur dari atas puncak gunung, angin itu membawa bau belirang.

Kunlun Sanjin mengawasi ke puncak yang nampak merah seperti darah, mendadak ia merasakan kekuatiran yang hebat.

Ia bingung karena ia tidak tahu, kekuatiran apakah itu.

Lantas ia kata.

"Aku tidak menghendaki pula warisan kitab silat itu! Aku lebih suka mengangkat kaki dari ini pulau hantu!"

"Bagus!"

Berseru Kim Sie Ie. Agaknya dia sangat setuju.

"Biat Hoa Hwesio, kau bagaimana?"

"Kamu mau bikin apa?"

Tanya Biat Hoa, gusar.

"Kunlun Sanjin ingin berlalu bersama-sama aku,"

Sahut Sie Ie.

"Jikalau kau tidak suka pergi, nah kau berdiamlah sendiri disini menantikan Beng Sin Thong!"

Mata Biat Hoa mendelik dan berputar, dengan bengis dia mengawasi Kunlun Sanjin.

"Benar-benarkah kau hendak turut Kim Sie Ie pergi?"

Dia tanya.

"Aku... aku..."

Sahut orang yang ditanya ragu-ragu. Dan ia bungkam terus. Biat Hoa mendongkol dan sengit, hingga dia berseru.

"Baiklah! Jikalau kau mau pergi, kau boleh pergi! Jikalau Beng Sin Thong tidak mati, meskipun kau kabur ke pangkal langit, tidak nanti dia mengampuni kau!"

Kunlun Sanjin menjadi ber-sangsi pula.

Ia lantas menimbang-nimbang apa untungnya akan turut Kim Sie le.

Dengan begitu, ia menjadi membikin Beng Sin Thong membenci dan memusuhkannya.

Sebenarnya, ia jeri terhadap orang she Beng itu.

Di lain pihak lagi, ia masih mengharap mendapatkan warisan kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng itu...

"Sebenarnya sekarang ini kita sudah menjadi orang sendiri,"

Kata Hiat Hoa sesaat kemudian.

"maka sudah selayaknya jikalau ada rejeki kita mengicipinya bersama dan likalau ada bahaya kita menentangnya bersama juga. Jikalau sekarang kau turut Kim Sie Ie-Hm! Hm!--selanjutnya kau terserah kepadanya!"

Hatinya Kunlun Sanjin berdenyut. Kata-kata itu merupakan satu pukulan untuknya. Hingga timbul pula ragu-ragunya.

"Jikalau kami hendak mempengaruhi kamu, buat apa kami memberikan obat pemunah kepada kau?"

Kata Sie le sabar, tetapi lagu suaranya tetap.

"Itulah sebab Lao Beng ada bersama-sama disini!"

Kata Biat Hoa. Sie Ie tertawa dingin.

"Tak lebih tak kurang, si tua bangka she Beng itu hendak menghina kamu untuk menghadapi kami!"

Katanya.

"Apakah kamu percaya benar-benar dia nanti membagi atau mengajari kamu ilmu silat warisan Kiauw Pak Beng itu? Hm!"

Kedua pihak ini lagi mencoba mempengaruhi Kunlun Sanjin. Biat Hoa kalah sabar, dia berteriak.

"Kim Sie Ie, kau berani mengaco belo membikin kami renggang? Kau rasailah tongkatku ini!"

Kata-kata itu dibarengi dengan satu kemplangan.

Kim Sie Ie berani sekali, ia menangkis dengan tangannyamenangkis dengan menyampok, tetapi hebat serangan si pendeta walaupun ia bisa membikin tongkat mental, ia sendiri terhuyung tiga tindak.

Tapi juga Biat Hoa terkejut, karena tongkatnya bagaikan mengenakan batu yang keras.

"Tahan!"

Kunlun Sanjin berseru, datang sama tengah.

"Kita masih belum tahu kita bakal menghadapi keberuntungan atau mala petaka, maka janganlah kamu berkelahi, cuma-cuma merusak kerukunan kita!"

Justeru mereka lagi berselisih itu, dari dalam rimba terdengar siulan nyaring dan panjang.

"Lao Beng memanggil kita!"

Biat Hoa berseru. Ia bukannya lantas lompat ke darat, hanya dua kali beruntun ia menghajar perahu, disusul kemplangannya pada tiang layar hingga tiang itu patah.

"Kim Sie Ie!"

Katanya kemudian, tertawa dingin.

"Aku mau lihat, kau masih dapat berlayar atau tidak?"

Ia lantas lompat ke darat, sambil menanya nyaring.

"Kunlun Sanjin, kau turut aku atau tidak?"

Kunlun Sanjin melihat perahu rusak, itu artinya perlu tempo beberapa hari untuk membetulkannya, maka lenyaplah kesangsiannya, terus ia lompat ke darat, untuk menyusul Biat Hoa, hingga sejenak kemudian, mereka lenyap bagaikan ditelan sang rimba "Bagus!

Bagus!"

Berkata Kim Sie Ie. Sebaliknya daripada murka, ia justeru tertawa.

"Mereka telah pergi semua! Mari kita menggunai tempo dua hari untuk membetulkan perahu ini! Asal dalam dua hari Beng Sin Thong tidak kembali, pasti dapat kita menjauhkan diri dari kawanan hantu itu!"

"Tidak!"

Berkata Seng Lam, tiba-tiba.

"Kita sudah sampai disini, mana dapat kita pulang dengan tangan kosong?"

"Jadinya kau masih mengharapi kitab warisannya Kiauw Pak Beng itu?"

Tanya Sie Ie.

"Semenjak turun temurun, keluargaku mengharap sangat ilmu silat keluarga Kiauw itu,"

Sahut Seng Lam.

"sampaipun malam dan bermimpi, kami tidak dapat melupakannya, hingga sekarang tinggal aku satu orang, mana dapat aku membikin lenyap ini ketika yang baik? Dengan berangkat pergi, apa kata terhadap leluhurku itu? Bukankah aku menjadi tidak dapat mewujudkan pengharapan mereka? Di samping itu, sakit hatiku juga masih belum terbalas!"

"Justeru kau tinggal sendiri, kau tidak dapat mempertaruhkan jiwamu!"

Sie Ie memberi ingat.

"Tentang pembalasan sakit hati, kau perhatikanlah keadaan sekarang ini. Beng Sin Thong sudah terkurung di pulau kosong ini, dia tidak mempunyai perahu, meski benar dia mungkin tak terancam bahaya di dalam rimba, tetapi terang dia tidak dapat berlayar pergi, tak dapat dia pulang! Bukankah itu berarti sakit hatimu telah terbalas sendirinya?"

"Tidak!"

Kata si nona, berkeras.

"Tidak dapat tidak, aku mesti dapatkan kitab warisannya Kiauw Pak Beng itu! Apakah kau masih ingat bagaimana kau telah menerima baik sumpahku? Apakah katamu baru ini?"

Kim Sie Ie menghela napas.

"Baiklah,"

Sahutnya.

"Aku telah berjanji akan membantu kau mencari kitab warisan itu, karena kau tidak berniat melepaskannya, mari kita mencarinya! Kita pertaruhkan jiwa kita!"

"Belum tentu kita akan menjual jiwa kita!"

Katanya.

"Jikalau toh kita mati, kita akan mati bersama! Tidakkah itu pun menyenangkan?"

Sie Ie mengeluh dalam hatinya, matanya menyingkir dari sinar mata si nona.

"Mana gambar peta itu?"

Seng Lam tanya.

"Ada. Tapi gambar itu aneh, aku tidak mengerti. Perlu apakah itu?"

"Jikalau kau tidak menghendakinya, kasihlah padaku,"

Kata si nona tertawa. Mustahilkah kau mengerti itu!"

Sie Ie menegaskan.

"Itulah kau tak usah perdulikan! Kau serahkan padaku, nanti ada faedahnya!"

Sie Ie heran.

Di dalam keadaan seperti mereka itu, di pulau terpencil ini, apa ia bisa bikin?

Terpaksa ia serahkan gambar peta itu.

Berdua mereka mendarat, memasuki rimba, yang pohonpohonnya tinggi seumpama kata sundul ke langit.

Gelap rimba itu, sunyi dan seram suasananya.

Sie le gagah tetapi ia dapat juga perasaan tidak enak.

Dengan waspada mereka maju.

Beberapa kali mereka bertemu dengan serombongan binatang liar, mereka melewatinya terus.

Binatang-binatang itu tidak datang mengganggu, sebab tidak diserang, mereka pun tidak menjadi galak.

Memangnya mereka tidak kenal manusia.

Jalan sampai di satu tempat, Seng Lam berseru kaget, matanya mengawasi ke depannya.

Sie Ie turut mengawasi, ia pun kaget.

Ia melihat satu mayat terkulai di gombolan rumput.

Dan itulah mayatnya Siang Ceng Nio, isterinya In Leng Cu, yang batok kepalanya bolong, mungkin bekas disedot polonya.

Ia heran karena ia tahu.

Siang Ceng Nio liehay.

Singa atau harimau tidak dapat merobohkan nyonya itu, apapula dia ada bersama Beng Sin Thong dan suaminya.

Habis, kenapakah dia?

Siapakah yang membinasakannya?

Benarkah suatu binatang liar?

Tak kuat hati Sie Ie menyaksikan mayat orang, ia lantas menutupinya dengan daun-daun.

"Mari!"ia mengajak Seng Lam lekas berlalu, untuk melanjuti perjalanan mereka memasuki rimba itu. Sekonyong-konyong terdengar suara meraung keras bagaikan guntur yang sangat menusuk telinga, dengan lantas suara itu diikuti suara badai, lalu suara kaburnya ratusan binatang liar, antaranya harimau dan kera, yang agaknya seperti kalap, hingga berisiknya bukan main. Kim Sie le berseru.

"Celaka!"

Sambil ia membetot tangan Seng Lam, untuk mengajak si nona lompat naik ke atas sebuah pohon besar.

Segera terlihat pelbagai binatang beburonan lari ke arah mereka, yang terdepan seekor harimau besar, lalu singa, lalu biruang, macan tutul dan lainnya, seperti babi hutan dan badak.

Semua binatang itu lan seperti berlomba, semua nampak ketakutan.

Rupanya mereka terancam bahaya besar.

Kim Sie Ie menyalakan api, untuk menyulut cabang kayu, yang mana ia lemparkan ke bawah pohon dimana api itu terus berkobar.

Di bawah pohon itu ada banyak daun dan cabang pohon lainnya yang kering.

Seng Lam pun menimpuk dengan sebatang senjata rahasianya yang dapat meledak mengeluarkan api, tepat senjata itu mengenai harimau yang terdepan itu, ketika terdengar perledakan, raja hutan itu ketakutan, dia lari ke lain arah, hanya baru belasan tombak, dia roboh binasa.

Beburonan lainnya lari terus dengan melompati atau menginjak tubuh raja hutan itu.

Habis itu barulah hati Seng Lam lega, tetapi ia mengeluarkan peluh dingin.

Katanya.

Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 10

Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger