Eps 7 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.
"Syukur harimau itu menukar haluan, jikalau tidak, pohonku ini dapat digempur roboh oleh mereka! Sungguh berbahaya!..."
Tapi tak lama, kembali terdengar raungan seperti tadi itu.
Suara itu terdengar lebih dekat, maka itu untuk telinga terasa lebih hebat, sampai ketulian.
Kembali angin menghembus.
Kali ini suara itu disusul dengan munculnya seekor binatang luar biasa, yang bulunya semua kuning keemas-emasan, macamnya mirip singa tetapi terlebih kecil, tubuhnya terlebih panjang daripada tubuh singa hingga dia jadi mirip kera tangan panjang.
Yang hebat ialah larinya keras seperti terbang.
Ketika dia lompat menerkam seekor singa, singa itu menjadi lemas, terus mendekam, berdiam saja.
Belasan ekor beburonan lainnya pun menjadi takut, semua berhenti berlari dan mendekam seperti singa itu.
Lantas binatang liar itu menggunai kukunya yang tajam dan kuat, menghajar pecah batok kepala si singa, untuk disedot polonya!
Singa itu terbinasa tanpa melawan.
Setelah itu, binatang itu menyedot polonya dua ekor harimau, sedang seekor macan tutul digegares jantungnya, isi perutnya.
"Kiranya yang membinasakan Siang Ceng Nio ialah makhluk ini,"
Kata Kim Sie Ie setelah ia menyaksikan keadaan bangkaibangkai singa dan harimau itu, yang lukanya sama dengan lukanya si nyonya.
Seng Lam agaknya jeri, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Sie Ie.
Dia tanya.
"Binatang apa ini begini liehay?"
"Binatang aneh ini dinamakan kimmosoan,"
Menjawab Sie Ie.
"makanannya ialah singa dan harimau. Dulu pernah aku mendengarnya dari guruku, baru ini hari aku melihat binatangnya. Mari kita tunggu sampai dia telah makan kenyang dan dia telah membubarkan semua beburonan itu, hendak aku membinasakannya."
"Binatang demikian liar, lebih baik kita jangan ganggu,"
Berkata Seng Lam.
Habis bersantap, binatang aneh itu menggempur pecah kepalanya kedua ekor harimau, terus dia meraung keras.
Atas itu, bagaikan orang mendapat keampunan, semua beburonan lainnya lantas pada bergerak dan lari, kecuali lagi dua ekor harimau, yang tadi terusap kepalanya, keduanya masih mendekam terus, tidak berani bergerak...
Kimmosoan itu kemudian menggeraki tubuhnya untuk bangun, hingga dia dapat berdiri sebagai manusia.
Dia berjalan dua putaran, matanya melihat kelilingan.
Dia seperti dapat menghendus bau apa-apa.
Mendadak dia meraung pula, untuk terus berlompat ke depan.
Kim Sie Ie terkejut.
Ia menduga binatang itu telah mendapat lihat padanya.
Lekas-lekas ia mematahkan secabang pohon.
Ia pun berniat berlompat turun, hanya belum lagi ia berlompat, telinganya lantas mendengar jeritan yang menyayatkan hati.
Untuk kagetnya, ia mengenali suaranya Kunlun San-in.
Suaranya si imam disusul dengan bentakannya Biat Hoa Hwesio, disusul pula dengan raungannya binatang liar yang luar biasa itu.
Hebat raungan itu, pohon-pohon bagaikan tergetar goyang.
Segera terlihat tak jauh dari pohon dimana mereka berlindung, Biat Hoa Hwesio tengah menempur kimmosoan.
Pendeta itu menggunai tongkatnya.
Di lain pihak, di antara pepohonan lebat, Kunlun Sanjin tertampak lagi dililit pohon oyot seperti rotan, dia meronta-ronta tangan dan kaki, tidak dapat dia meloloskan dirinya.
Imam itu ketakutan bukan main.
Kunlun Sanjin dan Biat Hoa Hwesio bersembunyi di atas pohon, hanya keletakan pohon itu lebih dekat dengan si binatang aneh dibanding dengan tempat sembunyinya Kim Sie Ie dan Le Seng Lam, maka itu ketika binatang itu mengendusendus, itulah disebabkan dia mendapat cium bau manusia dalam dirinya kedua orang suci itu.
Dia lantas bertindak menghampirkan, setelah datang dekat, sambil memperdengarkan suaranya yang menakuti, dia lompat menyambar kedua orang itu.
Kunlun Sanjin terkejut hingga ia terjatuh dari atas pohon.
Apa celaka, dia jatuh di pohon rotan itu, pohon mana lantas bergerak sendirinya, melihat si imam, sebelum imam itu berdaya, ia sudah terlibat tak berdaya, sia-sia belaka percobaannya meronta, hingga kemudian, bernapas pun sulit.
Pohon rotan itu apa yang dinamakan "pohon rotan tukang makan manusia".
Sekalipun harimau atau singa, kalau kena melanggar pohon itu, dapat terlibat dan terbinasa karenanya.
Itulah pohon yang paling menakuti.
Siapa terlibat mati, selang beberapa jam, dagingnya dapat lumer menjadi cair, hingga merupakan "barang hidangan"
Untuk pohon itu.
Karena Kunlun Sanjin seorang tangguh, dia masih dapat bertahan.
Biat Hoa Hwesio menyingkir dari terkaman binatang luar biasa itu, karenanya ia turun ke tanah.
Segera ia mesti menempur binatang itu.
Ia telah mengeluarkan ilmu tongkatnya.
Binatang itu sangat berani dan gesit.
Saban-saban dia dapat berkelit.
Dengan kedua tangannya yang berkuku besar dan tajam, saban-saban dia menerkam.
Kedua tangannya itu dapat diulur panjang.
Dalam bertempur itu, mendadak Biat Hoa menjerit keras.
Itu waktu si pendeta dapat menghajar kepala orang, tetapi kenanya tidak telak.
Binatang itu gusar, dia lompat menerkam, tangannya menyambar ke pundak hingga pundak itu luka dan sakit rasanya, sampai si pendeta menjerit saking kaget dan sakitnya itu.
Sama-sama terluka, kedua musuh renggang untuk sementara.
Kimmosoan gusar sekali, sebelum menerjang pula, ia menyambar sepotong batu besar dengan apa dia menimpuk.
Biat Hoa menangkis.
Batu itu pecah tetapi telapakan tangannya pecah juga, mendatangkan rasa sakit sekali.
Baru sekarang binatang itu meraung pula, kembali dia menerkam.
"Mati aku!"
Biat Hoa mengeluh, karena tangannya sakit begitupun pundaknya.
Kimmosoan sebaliknya masih ganas dan kuat sekali.
Ketika itu Kim Sie Ie sudah keluar dari tempatnya sembunyi.
Ia lari kepada Kunlun Sanjin dengan niat menolongi imam itu, atau mendadak ia mendengar suara raungan, ketika ia berpaling, ia mendapatkan Biat Hoa lagi terancam bahaya maut.
Tanpa bersangsi pula, ia segera menyerang dengan cabang pohon di tangannya.
Ia melontarkannya karena jarak mereka menyukarkan ia berlompat maju.
Bagaikan anak panah, cabang itu meluncur, Kimmosoan berkulit kuat, dia tidak takuti senjata, tetapi ketika itu dia lagi menerkam, mendadak ujung cabang mengenai matanya!
Bukan main kagetnya binatang itu, dia kesakitan sangat, sambil meraung keras luar biasa, tubuhnya roboh bergulingan.
Akan tetapi dia tidak mati, ketika dia berguling bangun, dia lantas lari ke arah Kim Sie Ie, untuk menerkam.
Bukan main gesitnya dia.
Kim Sie Ie mengerti bahaya, maka juga habis menimpuk, ia lompat kepada Kunlun Sanjin, guna mengambil pedangnya si imam, dari itu ketika ia diterkam, ia dapat membikin perlawanan.
Ia memutar pedang bagaikan titiran, sampai binatang itu tahu juga akan rasa ngeri, dia berlompat tinggi lewat kepala, lalu dari belakang dia menerkam pula.
Kim Sie Ie berkelit, tak urung bajunya kena terobek.
Tengah Kim Sie Ie melayani binatang liar itu, telinganya mendengar jeritannya Kunlun Sanjin.
"Biat Hoa Taysu! Biat Hoa Taysu!"
Nyata selagi Kim Sie Ie merintangi kimmosoan, pendeta itu mengangkat kaki, maka melihat kelakuan orang itu, si imam menjadi gusar sekali, hingga dia mengasih dengar panggilannya berulang-ulang itu.
Di dalam hatinya, imam ini kata.
"Kau senantiasa mengaku kita adalah orang sendiri, siapa sangka di saat menghadapi bahaya maut ini, kau kabur seorang diri, kau meninggalkan aku!..."
Coba Biat Hoa menolongi Kunlun Sanjin, lantas bersama Kim Sie le mereka mengepung kimmosoan, tak sulit untuk membinasakan binatang itu, sekarang Biat Hoa kabur dan Kunlun Sanjin tidak berdaya, Kim Sie Ie repot sekali.
Ia mesti lebih banyak membela dirinya.
Sambil mengutuk Biat Hoa, diam-diam Kunlun Sanjin memujikan kemenangannya Kim Sie le.
Ia insyaf, kegagalannya si pengemis edan berarti kebinasaannya sendiri.
Biat Hoa lari bukan karena ketakutannya melulu.
Dia ingin supaya Kim Sie Ie dan kimmosoan terluka bersama.
Tentang Kunlun Sanjin, ia berpikir masa bodoh, kawan itu terbinasa...
Sesudah bertarung sekian lama, Kim Sie Ie bergelisah sendirinya.
Sia-sia ia mencoba menyerang binatang itu, ia masih tidak berhasil.
Dengan kepalanya bekas dikemplang tongkat Biat Hoa dan matanya ketusuk cabang pohon, kimmosoan tetap memperlihatkan ketangguhannya.
Dalam gelisahnya itu, Kim Sie le ingat pesan gurunya bahwa binatang liar, tak perduli kegalakan dan kekuatannya, anggauta tubuhnya yang terlemah ialah matanya.
Tadi ia telah melukai sebelah mata binatang itu, maka sekarang ia mau melukai yang lainnya.
Lantas ia menukar siasat berkelahinya.
Ia sekarang lebih banyak menikam.
Kimmosoan berkelahi sebagai manusia, dia berdiri.
Dia tetap gesit dan waspada, senantiasa dia dapat berkelit dengan lincah.
Dia bergerak bagaikan orang yang mengerti ilmu silat.
Kim Sie Ie melayani terus.
Baik dengan pedangnya, maupun dengan kepalannya, ia selalu mengincar ke mata, cuma kadang-kadang saja tangan kirinya meninju tetapi tanpa hasilnya, sebab binatang itu kuat sekali.
Baru kemudian nampak beburonan itu mulai letih.
Di dalam saatnya Kim Sie Ie menang di atas angin, sekonyong-konyong ia mendengar suara meraung seperti suaranya kimmosoan, hingga ia terperanjat.
Ia lantas melihat munculnya seekor kimmosoan lainnya, bahkan yang tubuhnya lebih besar daripada binatang yang ia lagi tempur.
Itulah hebat.
Yang satu belum dapat dirobohkan, datang yang lain, bahkan tenaga baru.
Ia berpikir.
"Bersama Seng Lam mungkin aku dapat lolos, bagaimana dengan Kunlun Sanjin?"
Hatinya yang mulia berkasihan kepada imam itu meskipun orang bukanlah kawannya.
Tengah berkelahi itu, binatang itu meraung keras, tubuhnya roboh terguling.
Dengan begitu dapat dia menjauhkan diri dari lawannya, dia terus lari kepada kawannya yang baru tiba itu, hingga si kawan tak dapat lari terus ke arahnya tadi.
Lantas kedua binatang itu saling menjilati, mirip dengan kelakuannya binatang jantan dan betina, maka itu dapatlah diduga, yang terluka itu jantan, yang baru muncul betina.
Kim Sie Ie tidak menerjang lebih jauh.
Ia mengawasi dengan waspada, bersiap untuk menempur pula.
Dengan mengawasi itu, lantas ia mendapatkan apa-apa yang luar biasa.
Kimmosoan betina mengasih dengar suaranya.
Dia tidak meraung sebagai tadi, dia hanya merintih, lalu tubuhnya menggigil, sebagai orang kedinginan sangat.
Tubuhnya itu seperti menjadi ciut.
Yang jantan lantas merangkul, seperti dia hendak menolongi dengan hangatnya tubuhnya sendiri.
Hanya selagi begitu, keduanya, dengan ketiga matanya, mengawasi Sie le, seperti mereka takut nanti diserbu...
Kim Sie Ie berdiri diam, hatinya bekerja.
"Teranglah si betina ini telah terserang Beng Sin Thong,"
Pikirnya selang sesaat.
Kimmosoan kuat dan kebal dan gesit tetapi menghadapi Siulo Imsat Kang, dia tidak berdaya, maka itu dia rupanya kabur dari depan Beng Sin Thong dengan membawa lukanya, dan raungannya yang menyeramkan kemudian berubah menjadi rintihan.
Ketika itu ialah ketika paling baik buat membinasakan kedua binatang itu tetapi Kim Sie le tidak mau menurunkan tangan jahat.
Ia menjadi bersangsi karena ia mengingat keeintaannya suami isteri itu.
Ia menjunjung itu pepatah yang membilang "seorang kuncu tidak mencelakai orang yang lagi kesusahan".
Ia tahu, kalau kedua binatang itu sembuh, mereka bertiga bisa dapat celaka...
Di saat Sie le terumbang-ambing dalam kesangsian, kembali ia mendengar suara, yang mengagetkan padanya.
Kali ini bukannya raungan kimmosoan hanya siulan keras dan panjang, siulan seorang yang tenaga dalamnya mahir luar biasa.
Ia mau menduga, mendengar suara itu, orang mungkin terpisah sepuluh lie dari ianya...
Sie Ie menjadi ragu-ragu berbareng berkuatir.
Suara itu bukan suaranya Beng Sin Thong.
Suaranya Sin Thong ia kenal baik.
Itu pun bukan suaranya In Leng Cu.
In Leng Cu tidak mahir tenaga dalamnya seperti itu.
Habis, siapakah orang itu?
Aneh adalah kedua kimmosoan begitu lekas keduanya mendengar suara itu.
Bagaikan ada yang memanggil, yang jantan lantas menggendong yang betina, setelah memandang kepada Kim Sie Ie-yang tidak mengejarnya, hingga sinar matanya adalah sinar mata bersyukur-dia lari ke arah dari mana siulan datang.
Sembari lari itu, dia mengasih dengar raungannya dua kali, rupanya sebagai jawaban untuk siulan tadi.
"Sungguh berbahaya!"
Sie Ie dengar suara di belakangnya, hingga ia terperanjat. Tapi ia lekas dapat menetapkan hatinya, karena ia kenali suara itu, yang melanjuti.
"Syukur kedua binatang itu pergi! Hanya siulan barusan, adakah itu siulan orang atau suara binatang lainnya?"
Kim Sie le tidak menjawab si nona.
Ia masih bersangsi, bahkan berkuatir.
Ia lantas menghampirkan Kunlun Sanjin, guna menolongi imam itu.
Dengan berlalunya kedua binatang luar biasa itu maka kedua ekor harimau, yang mendekam saja semenjak tadi, lantas mengangkat kepalanya, melihat kelilingan, kemudian keduanya bangun berdiri, dengan menggoyang-goyang ekornya, mereka menghampirkan Kim Sie Ie, yang dipandangnya dengan sinar mata bersyukur.
Kim Sie Ie pun mengawasi tajam.
Ia senang waktu ia mendapat kenyataan raja hutan itu tidak berniat jahat.
Ia tertawa dan kata.
"Binatang penaklukmu sudah pergi, bahaya untuk kamu sudah tidak ada, maka pergilah kamu!"
Kedua harimau itu mendekam, keduanya menjilati kakinya si pengemis edan.
Seng Lam menjadi ketarik hatinya, ia mendekati untuk menepuk-nepuk kepalanya kedua raja hutan itu, yang berdiam saja, agaknya mereka seperti binatang-binatang piaraan yang jinak.
"Pergilah kamu!"
Katanya kepada kedua raja hutan itu, yang terus ngeloyor pergi. Sembari tertawa, ia menambahkan.
"Jikalau bukannya aku kuatirkan kimmosoan, suka aku piara kedua harimau itu."
Kim Sie Ie tidak melayani si nona bicara, ia hanya lantas bekerja.
Ia mesti bekerja banyak untuk membabat kutung oyot-oyot rotan itu, baru Kunlun Sanjin lolos dari libatan.
Tubuhnya kontan bengkak dan merah.
Le Seng Lam pun merasa kasihan.
Ia membekal obat pemunah racun, maka ia berikan obat itu pada Kim Sie Ie, untuk dia ini yang mengobati si imam.
Dengan begitu penderitaan imam itu menjadi berkurang, hingga ia berterima kasih karenanya.
"Seng Lam,"
Kata Kim Sie Ie kemudian, menyeringai.
"apakah kau tetap hendak mencari kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng?"
Kunlun Sanjin telah menjadi ciut hatinya, tidak menanti si nona menjawab, ia mendahului.
"Rimba ini jauh terlebih menakuti dari Beng Laokoay!"
Ia kata.
"Aku cuma mengharap dapat lekas-lekas berlalu dari pulau ini! Yang lainnya, segala mustika, tak aku menghendakinya!"
"Kau tidak menghendakinya, aku sebaliknya!"
Kata Seng Lam tertawa.
"Kimmosoan dan rotan yang jahat ini, paling banyak keduanya dapat mengambil jiwaku tetapi tidak merubah maksudku! Kim Sie Ie, kau takut atau tidak?"
"Jikalau aku mengatakan tidak takut, itulah palsu,"
Sahut orang yang ditanya.
"Aku telah memberikan janjiku membantu kau, maka itu meski ada yang lebih menakutkan, aku juga tidak dapat mengubah kata-kataku itu!"
"Kalau begitu, marilah!"
Kata si nona tertawa.
Ia memutar tubuhnya dan berjalan.
Kim Sie Ie turut mengangkat kakinya.
Melihat dua orang itu pergi, Kunlun Sanjin mengikuti dengan terpaksa.
Di tengah jalan sambil tertawa, Kim Sie Ie kata.
"Kimmosoan masih dapat dilayani, tetapi majikannya, mungkin tidak! Apa yang aku kuatirkan ialah manusia yang tidak dikenal itu..."
"Aku pun menduga siulan tadi siulan manusia,"
Kata Kunlun Sanjin.
"Maka itu, mendengar pengutaraan kau ini, mungkin dia benar manusia!"
"Apa? Siulan tadi siulan manusia?"
Seng Lam tegaskan.
Sie Ie mengangguk seraya ia diam-diam memperhatikan wajah si nona.
Seng Lam terkejut tapi dia tidak menunjuki roman takut, melainkan sinar mata yang terus memain.
Teranglah si nona, dalam kagetnya itu, ada merasakan sesuatu yang menggirangkan hatinya.
Sinar mata itu cuma dapat diterka Sie Ie berkat pergaulan mereka berdua yang lama.
Semenjak meninggalkan Coato, Pulau Ular, Sie Ie memperoleh kenyataan Le Seng Lam ialah seorang yang luar biasa, dan sekarang itu berlebihan.
Ia menjadi mendugaduga.
Mungkinkah Seng Lam telah mengetahui bahwa di pulau ini bertinggal manusia luar biasa itu?
Toh inilah yang pertama kali si nona pergi berlayar dan sama sekali dia tidak ketahui keletakannya pulau ini.
Jadi sukarlah dipercaya yang dia ketahui hal adanya si orang aneh...
Dibandingkan dengan Pulau Ular, pulau ini jauh terlebih besar.
Hutannya pun lebat seperti menutupi langit.
Hutan ini mirip dengan "rimba laut", yang tak ada ujung pangkalnya.
Kunlun Sanjin yang tadinya gagah dan berani, sekarang menjadi kuncup hatinya menghadapi pulau luar biasa ini, maka juga selagi berjalan ia mengintil rapat pada Sie Ie dan Seng Lam, ia seperti bocah cilik yang takut ketinggalan orang tuanya, yang takut nanti disambar setan.
Tiba-tiba, selagi berjalan, mereka mendengar lagi satu siulan.
"Itulah suaranya Beng Sin Thong!"
Kunlun Sanjin berseru cepat.
Ia segera bertindak mendahului ke arah dari mana suara itu datang.
Hanya baru beberapa tindak, lantas ia sudah kembali.
Itulah sebab di arah timur terdengar juga siulannya si orang aneh.
Kim Sie Ie berkata.
"Si orang aneh tengah mengejar Sin Thong!"
Lantas kedua rupa siulan terdengar saling sahutan, nanti di timur, nanti lagi di barat.
Didengar dari suaranya, tenaga dalam kedua orang itu rupanya berimbang.
Kumandang siulan-siulan itu terdengar dari delapan penjuru.
Maka kemudian lantas sukar dibedakan, yang mana siulannya Ben Sin Thong dan yang mana suaranya si orang aneh, penghuni pulau yang belum dikenal itu.
"Entahlah, Beng Sin Thong pernah bertemu atau belum dengan orang aneh itu,"
Kata Kim Sie Ie.
"Orang aneh itu menang setingkat dalam tenaga dalam, dia juga dibantu kedua binatang luar biasa itu, bila mereka bentrok, belum tentu Beng Sin Thong dapat melawannya..."
"Perlu apa kau pikirkan dia?"
Kata Seng Lam.
"Dia kalah terlebih baik lagi!"
"Bukan begitu. Rimba ini sangat berbahaya, untuk kita, tambah satu tenaga tambah baik. Tentang permusuhanmu dengan Beng Sin Thong, di belakang hari masih dapat diurus terlebih jauh."
"Baiklah!"
Si nona tertawa dingin.
"Nah pergilah kau membantu dia!"
Ketika itu pelbagai siulan sudah berhenti tetapi kumandangnya masih terdengar.
Baru lewat lagi sekian lama, suara itu menjadi lemah, hingga Kim Sie Ie tidak dapat memperhatikan lebih jauh orang berada di arah mana.
"Apakah kau masih ingat apa aku kata pada kau selama kita berada di atas perahu?"
Mendadak si nona bertanya, matanya menatap.
Tapi ia tidak menanti jawaban.
Lantas ia jalan mendahului si pengemis edan, bahkan dengan tindakan lebar, seperti juga ia telah kenal baik jalan yang harus diambil itu!
Kim Sie Ie heran.
Ia lantas ingat kata-kata si nona di atas perahu -kata-kata yang si nona tanyakan barusan.
Seng Lam membilang, setibanya di pulau, maka ia-Sie Ie-mesti turut nona itu.
Sekarang mulailah ia merasa aneh.
Si nona benar-benar luar biasa.
Oleh karena mereka ada bersama Kunlun Sanjin, Sie Ie tidak mau menanya apa-apa, ia bertindak mengikuti.
Sesudah berjalan sekian lama, mereka tiba di satu tempat dimana rimba tak selebat tadi, bahkan mereka lantas sampai di depannya sebuah kuburan yang pernahnya di tanah yang berumput luas belasan tombak di sekitarnya.
Teranglah lapangan itu buatan manusia.
Malah ada bagian rumputnya, yang di tengah, yang tinggi dan rendahnya tak rata, tanda bekas terinjak-injak orang...
Mulanya Kim Sie Ie menduga kuburannya Kiauw Pak Beng, setelah ia mendekati dan meneliti, ia mendapat kenyataan batu kuburan belum ada cacadnya, tanda itulah bukan kuburan tua, atau paling lama baru belasan tahun, sedang Kiauw Pak Beng ialah orang yang hidup tiga ratus tahun dulu.
Kiauw Pak Beng pergi ke pulau dalam usia enam puluh, andaikata dia dapat hidup seratus tahun yang lalu, tidak nanti kuburannya sebaru ini.
Yang aneh lagi, di depan kuburan itu kedapatan bocah dan bunga, seperti baru saja orang menyambangi dan menyembahyanginya.
Maka itu, kuburan siapakah itu dan siapakah yang menjenguknya?
Apakah dialah si orang aneh yang tadi terdengar siulannya itu?
Selagi berpikir itu, mendadak Sie Ie lihat wajah si nona beda dari biasanya.
"Kenapa disini boleh ada kuburan ini?"
Kata si nona seorang diri, suaranya tak tegas.
"Kenapa disini boleh ada kuburan ini?"
Kim Sie Ie mendengar kata-kata itu, herannya bertambah.
Belum pernah, semenjak tibanya mereka di pulau ini, si nona bersikap demikian.
Sikap yang aneh!
Karenanya, dari heran ia menjadi bercuriga!
Seng Lam berdiri di depan kuburan, ia mengawasi sekian lama.
Kuburan itu tanpa batu nisan.
Mendadak ia menjatuhkan diri, untuk bertekuk lutut dan menganggukangguk dua kali.
"Seng Lam!"
Kata Sie Ie heran.
"Kuburan ini kuburan siapakah?"
"Mana aku ketahui?"
Sahut si nona. Aneh penyahutannya! "Kalau kau tidak kenal dia, karena dia bukannya sanak bukannya kadang, perlu apa kau memberi hormat padanya?"
Tanya si pemuda.
"Dia telah menutup mata di pulau terpencil ini, kecuali si orang aneh, siapakah yang menyambanginya, untuk memberi hormat padanya?"
Sahut si pemudi.
"Kita telah datang kemari, masih belum didapat kepastian kita bakal dapat pulang dengan masih hidup atau tiada, dari itu kita jadi mempunyai pengharapan akan bernasib sebagai dia, mati terlantar di dalam pulau ini, maka juga aku merasa terharu dan memberi hormatku kepadanya..."
Sie Ie dapat menduga kata-kata itu karangan belaka, yang baru saja dapat diingat, bahwa di balik itu mesti ada sebab lainnya.
Kunlun Sanjin terharu mendengar perkataan si nona, ia lantas meniru nona itu.
Ia juga mengangguk dua kali kepada kuburan tidak dikenal itu, dan kata.
"Sahabat yang tidak dikenal yang berada di dalam kuburan, aku minta sukalah kau menolongi supaya kami dapat dengan selamat meninggalkan pulau ini! Jikalau aku telah tiba di kampung halamanku, nanti aku mengundang pendeta lama dari Istana Potala guna menyembahyangi arwahmu!..."
Kim Sie le tertawa.
"Cocok kamu berdua!"
Katanya.
"Sikap kamu ini membuat aku pun merasa seram!-Hayo, mari kita jalan! Mati atau hidup, itulah takdir, baik kita biarkan saja! Orang di dalam kuburan itu masih tidak sanggup melindungi dirinya sendiri, mana dapat dia melindungi kamu?"
Seng Lam mengambil setangkai bunga di depan kuburan itu, ia tancap di ujung bajunya, habis itu ia mulai lagi berjalan.
Ia tetap jalan di muka, sebagai penunjuk.
Ia berjalan dengan menikung ke kiri dan belok ke kanan, ia berjalan terus, hingga tanpa merasa sampailah mereka di kaki gunung.
Sekarang terlihat nyata romannya puncak, yang berwarna merah mirip darah.
Dari atas itu terasa angin meniup turun membawa bau belirang.
Di lereng gunung, pepohonan lebat sekali.
"Kunlun Sanjin, jangan takut!"
Berkata Seng Lam kepada si imam, tiba-tiba "Gunung berapi ini sudah mati!"
Imam itu dongak, memandang ke puncak.
Entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang aneh, hingga hatinya menjadi tidak tenang.
Akan tetapi ia melihat si nona berjalan terus, ia terpaksa membesarkan hati mengikutinya.
Tiba di tengah jalan, ialah di pinggang bukit, Kim Sie Ie memasang telinga.
"He, itulah suara orang bertempur!"
Katanya seraya tangannya terus menunjuk. Belum suaranya berhenti, segera terdengar teriakan berulang-ulang.
"Tolong! Tolong!"
Teriakan itu panjang dan lemah.
"Itulah In Leng Cu!"
Teriak Kunlun Sanjin, yang mengenali suara kawannya.
Ketiganya lantas lompat, untuk berlari-lari ke lembah, lalu dari sana, melihat ke atas, terlihat dua orang lagi bertempur.
Itulah In Leng Cu serta si orang luar biasa penghuni pulau itu.
Si orang aneh mengenakan baju kulit harimau dan rambutnya yang panjang meroyot turun, hingga dia nampak tegas sekali.
Waktu itu In Leng Cu sudah terdesak, hingga dia main mundur saja.
"Celaka!"
Kunlun Sanjin berteriak.
Menyusuli teriakan itu, disana terdengar suara saling susul.
Yang pertama ialah suaranya poankoan pit terhajar mental, terbang ke udara, dan yang lainnya tertawa nyaring dari si orang aneh, yang tangannya lantas dipakai menyambar lawannya!
Tak berdaya ln Leng Cu.
Dia kena ditangkap!
Lantas tubuhnya diangkat tinggi ke atasan kepala dan diputar.
Di saat dia hendak dilemparkan, mendadak orang aneh itu ingat suatu apa, karena itu ia membatalkan niatnya, ia menurunkan lawannya.
"Kau siapa?"
Dia tanya.
"Dari mana kau datang?"
Baru sekarang orang itu membuka mulutnya berbicara dan lagu suaranya pun lagu orang Siamsay. Kim Sie Ie mendengar itu, ia menjadi bertambah heran. In Leng Cu ketakutan.
"Aku datang dari Tibet,"
Sahutnya lekas.
"Akulah In Leng Cu, ketua dari Lengsan Pay."
Partai Lengsan Pay itu untuk di Barat daya besar pengaruhnya, dari itu In Leng Cu mengharap orang aneh ini nanti memberi keampunan kepadanya.
Siapa tahu begitu ia memperkenalkan diri, tiba-tiba orang aneh itu berseru, kedua tangannya digeraki, maka tubuh ketua Lengsan Pay itu lantas terlemparkan pergi!
Kim Sie Ie terkejut.
Jarak di antara mereka jauh, tidak dapat ia menolongi In Leng Cu.
Akan tetapi ketua Lengsan Pay ini dilemparkan ke arah sebuah tikungan di mana dengan mendadak muncul satu orang, yang terus menanggapi tubuhnya.
Melihat demikian, lega hatinya Tokciu Hongkay, apapula penolong itu ialah Biat Hoa Hwesio.
Hanya...
Hwesio itu lagi mencari Beng Sin Thong, justeru ia muncul, justeru ia menampak In Leng Cu dilemparkan.
Ia lantas menolongi.
Tapi hebat lemparannya si orang aneh.
Tak kuat ia menahan tubuh kawannya-Tubuh In Leng Cu jatuh terus ke tanah dimana dia rebah terkulai, tubuhnya sendiri terputar, masih syukur ia tidak turut roboh terbanting.
Dari situ ternyatalah kuatnya si orang aneh, yang habis itu lantas berlompat menyusul.
Dia lantas memandang tajam kepada si pendeta, dia menanya nyaring.
"Eh, apakah sejak dilahirkan kau tidak berambut?"
Agaknya dia sangat heran.
Rupanya dia tidak pernah melihat pendeta.
Habis mengawasi dia menghampirkan, tangannya diulur, niatnya meraba orang punya kepala gundul!
Biat Hoa Hwesio gusar sekali.
Tak suka ia kepalanya diusap-usap.
Ketika itu ia pun sudah dapat berdiri tetap.
Maka ia menyerang dengan tongkatnya.
Orang aneh itu berseru, tubuhnya berjingkrak, tetapi tangannya diajukan ke depan, untak dipakai menyambuti dengan pukulan kepada tongkat itu.
Tongkat dengan tangan bentrok keras, suaranya terdengar nyata.
Tangan itu bagaikan bukan terdiri dari tulang dan daging, tongkatnya Biat Hoa kena dibikin terpental.
Syukurlah untuk si pendeta, ia tak usah kena diusap-usap kepalanya...
Si orang aneh benar-benar aneh kelakuan atau tabiatnya.
Setelah dia gagal merobohkan Biat Hoa, dia tertawa lebar dan berkata.
"Bagus! Kau orang si tak berambut masih lebih menang daripada yang ada rambutnya!"
Dia maksudkan In Leng Cu.
Tapi sebelum berhenti perkataannya itu, dia sudah maju menyerang pula!
Biat Hoa kaget bukan main.
Karena tongkatnya terpental walaupun tak terlepas dari tangannya, tubuhnya menjadi limbung.
Di samping itu, ia juga merasakan tubuhnya dingin, hingga ia menggigil.
Untuk menolong diri, terpaksa ia memutar tongkatnya.
Ia bersilat dengan tipu silat Hokmo Thung-hoat, yang terdiri dari tiga puluh enam jurus.
Sambil membela diri itu, ia berteriak-teriak.
"Lao Beng! Lao Beng! Lekas! Lekas kemari!"
Hokmo Thunghoat, ilmu tongkat Menakluki Iblis, adalah ilmu ciptaannya Tatmo Couwsu, ketua dari kuil Siauwlim Sie.
Itulah ilmu silat penjagaan diri.
Ilmu itu dulu hari oleh Tokpie Sinnie diwariskan kepada Liauw In, hingga pendeta ini menjagoi di Selatan dan Utara sungai Besar tanpa lawan, cuma paling belakang dalam pertarungan di gunung Binsan, dia terbinasa di tangan Lu Su Nio yang menggunai ilmu pedang Hian Lie Kiamhoat.
Biat Hoa mendapatkan kepandaiannya dari Liauw In, gurunya itu, dan dia dapat mewariskan dengan baik, maka itu, dapat dia menggunainya dengan sempurna.
Menyaksikan itu, Kim Sie Ie pun kagum.
Akan tetapi walaupun Biat Hoa kosen, menghadapi orang aneh dari pulau mencil dan tak dikenal ini, dia kewalahan, dia cuma dapat membela diri.
Ilmu silat si orang aneh, walaupun ia bertangan kosong, liehay luar biasa, maka juga tangannya saban-saban dapat meluncur mengancam lawannya.
Sesudah menyaksikan sekian lama, Kim Sie Ie heran dan mengagumi si orang aneh.
Terang dia berkepandaian silat tinggi dan mahir sekali tenaga dalamnya.
Ia menjadi berpikir.
"Mungkinkah orang ini telah mendapatkan kitab ilmu silat Kiauw Pak Beng dan berhasil memahamkannya? Kalau benar, siapakah yang memimpinnya? Adakah dia orang yang rebah tenang di dalam kuburan tadi?"
Hanya aneh si orang aneh!
Kenapa dia tidak tahu, dia tidak kenal hwesio, hingga dia mirip-seumurnya--belum pernah berlalu dari pulau ini?
Kalau begitu, habis dari mana datangnya lagu suaranya orang Siamsay?
Sie Ie tidak cuma memperhatikan jalannya pertempuran.
Diam-diam ia juga memperhatikan Seng Lam, yang berdiri di sisinya.
Nona itu memperhatikan pertempuran itu tak kurang asyiknya, bahkan istimewa perhatiannya.
Ia menjadi heran hingga ia menanya.
"Seng Lam aku rasanya ingat kau pernah membilangi aku bahwa rumah kau adanya di Soyang tin di Siamsay Barat?"
"Tidak salah,"
Menyahut si nona.
"Setelah Kiauw Pak Beng pergi berlayar, leluhurku lantas pindah kesana, sampai sekarang ini sudah kira-kira tiga ratus tahun."
"Mendengar suaranya orang aneh ini, dia mirip dengan orang sekampung halaman dengan kau,"
Sie Ie berkata pula.
"Di Siamsay itu masih ada keluarga siapa lagi yang pandai ilmu silat dan terkenal?"
"Memang, aku pun merasa aneh!"
Berkata si nona.
"Ahli silat kenamaan di Siamsay tak sedikit jumlahnya, hanya mereka itu tak ada yang dapat melebihkan keluargaku, apapula untuk melebihkan ini orang aneh."
Kim Sie Ie berdiam.
Ia heran.
Pertempuran di antara si orang aneh dan Biat Hoa Hwesio berjalan terus, hanya tidak berlangsung lebih lama pula.
Untuk kagetnya si pendeta, tongkatnya telah kena dapat dirampas lawannya, yang dengan berani dan liehay telah menyambarnya.
Ia mundur dengan terhuyung, mukanya pucat.
Si orang aneh tidak menyusul, untuk menyerang, hanya dengan kedua tangannya ia mengerahkan tenaga, maka di lain saat, tongkat besi dari Biat Hoa telah menjadi bengkok dan melengkung bundar, lalu dimasuki ke lengannya.
Dia pun tertawa lebar dan berkata kegirangan.
"Bagus! Bagus!"
Dia mirip seorang bocah yang mendapat gelang permainan!
Kim Sie Ie heran tetapi ia ingin mendapat kenyataan.
Maka ia berniat menghampirkan si orang aneh, untuk berbicara dengannya.
Belum lagi ia bertindak, mendadak ia mendengar si orang aneh berseru, tangannya melemparkan gelang istimewanya itu ke depan!
Di tikungan tempat munculnya Biat Hoa tadi muncul pula seorang lain, ketika ia melihat datangnya serangan, ia menangkis, maka gelang itu kena terhajar hingga mental ke lembah!
Orang yang baru muncul itu ialah Beng Sin Thong!
Habis menangkis, ia merasai lengannya kesemutan, hingga ia menjadi heran dan kaget.
Itulah sebab ia tidak menyangka sekali bahwa di pulau kosong itu ada penghuninya dan yang demikian liehay.
Si orang aneh itu agaknya heran, hingga matanya menjadi mencilak, terlihat putihnya saja.
Cuma sebentar herannya dia, terus dia mengasih suara "Hm!"
Dan menanya.
"Kaukah si orang she Beng?"
Sin Thong bertambah heran, tetapi ia tidak mau kalah jumawa, maka ia tertawa dingin dan menyahuti.
"Ha, kiranya kau seorang biadab pun mengenal aku?"
Orang aneh itu tidak menghiraukan kelakuan orang yang jumawa, ia berkata.
"Ini orang tanpa rambut telah berteriakteriak meminta bantuan, maka kau tentulah terlebih liehay daripadanya. Baiklah, kau coba tanganku!"
Kata-kata itu disusuli satu serangan.
Beng Sin Thong menyambut serangan itu.
Tangan mereka bentrok dengan keras, keras juga suaranya.
Akibatnya ialah Beng Sin Thong mundur tiga tindak, dan si orang aneh terhuyung dua kali, lantas si orang aneh berteriak saking murkanya.
"Ha, kiranya kaulah si jahanam yang telah melukakan binatang piaraanku!"
Kagetnya Sin Thong tidak terkirakan.
Bentrokan itu membuatnya merasakan hawa dingin menyerang tubuhnya.
Jadi tak dapat disangsikan pula, ini orang aneh juga pandai Siulo Imsat Kang, bahkan kepandaian mereka sama tingkatnya...
Di dalam otaknya Sin Thong lantas muncul apa yang dipikir Kim Sie Ie.
Ia tanya dirinya sendiri.
"Mungkinkah dia telah mendapatkan kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng?"
Hanya sejenak kemudian, ia berpikir pula.
"Jikalau benar dia telah mendapatkannya, mestinya kepandaiannya sudah sampai di tingkat ke sembilan, tingkat terakhir. Sekarang ini dia baru menyampaikan tingkat ke tujuh. Kenapakah?"
Si orang aneh tak dapat membiarkan orang berpikir banyak-banyak.
Dia sudah maju pula, untuk menyerang lagi.
Dia mengajukan kedua tangannya.
Beng Sin Thong mengerahkan tenaganya, ia menyambut pula.
Kali ini bentrokan terlebih hebat.
Si orang aneh pun telah mengerahkan tenaganya.
Sin Thong merasai seperti jungkir balik semua anggauta dalam tubuhnya.
Dan si orang aneh menggigil.
Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong sudah menyampaikan tingkat ke tujuh dan lagi meningkat ke tingkat ke delapan, di samping itu ia telah memperoleh pelajaran tenaga dalam asli dari Biat Hoa Hwesio, dia mendapat kemajuan, meski demikian, dalam halnya ilmu dalam, si orang aneh menang unggul tidak hanya satu lipat, maka itu terjadilah kesudahan demikian.
Tegasnya, Sin Thong menang sedikit Siulo Imsat Kang tetapi masih kalah tenaga dalamnya.
"Inilah berbahaya,"
Pikir Sin Thong. Sebagai ahli, dengan dua jurus itu saja sudah cukup untuk ia mengetahui liehaynya orang asing ini. Maka ia berpikir lebih jauh.
"Dengan Siulo Imsat Kang tidak dapat aku membinasakan dia, jikalau aku melayani dia terus-menerus, aku bisa menjadi roboh sendiri karena letih..."
Tapi, untuk menyingkir, ia tidak dapat jalan.
Ia menjadi bingung juga.
Si orang aneh sudah mulai menyerang lagi.
Dia sangat gesit, maka juga ketika dia berlompatan, dia seperti juga terdiri dari tujuh atau delapan orang!
Kecuali tenaga dalamnya, dalam ilmu silat, dia pun seperti menang daripada jago she Beng itu.
Apa yang aneh, beberapa jurusnya ada yang mirip dengan jurusnya Sin Thong, hingga mereka berdua seperti dari satu rumah perguruan...
Biarnya ia heran dan berkuatir, Beng Sin Thong tidak menjadi jeri atau bingung.
Ialah jago, yang sudah berpengalaman.
Maka itu dengan tenang ia mengambil sikapnya membela diri, kapan ada ketikanya baru ia menyerang dengan Pekkhong Ciang, pukulan "Udara Kosong".
Atau kalau mereka terpisah dekat, ia menggunai ilmu "Hunkin Cokut Ciu.
Ia terdesak tetapi ia tidak kacau pikirannya dapat ia dengan baik memecahkan setiap serangan.
Kim Sie Ie menonton, ia mengagumi Beng Sin Thong.
Pikirnya.
"Tidak kecewa Sin Thong menjadi jago nomor satu dalam kalangan sesat. Jikalau aku, belum tentu aku dapat bertahan sampai seratus jurus melayani ini orang aneh..."
Selagi ia berpikir itu, Kim Sie Ie tiba-tiba ditanya Seng Lam.
"Coba kau bilang, berapa usianya ini orang aneh?"
"Dia tentu belum lewat lima puluh."
Nona itu berdiam, agaknya dia mengasah otak.
"Aneh!"
Terdengar suaranya perlahan.
Nampaknya dia bingung.
Sie Ie menjadi lebih heran.
Apa perlunya si nona menanya usia orang?
Belum sempat Sie le memikir lebih jauh, atau ia sudah mendengar suara bentrokan.
Ia melihat lagi sekali Beng Sin Thong kena tergempur.
Meski ia kalah pengalaman, si orang aneh tetap lebih unggul.
Dia menang tenaga dalam dan ilmu silatnya, yang luar biasa seperti asal-usulnya sendiri.
Melihat demikian, lama-lama Beng Sin Thong sukar melawan lebih jauh...
Lantas Kim Sie Ie berpikir.
"Siang Ceng Nio telah dibinasakan kimmosoan. In Leng Cu diluka-kan parah orang aneh ini, dia mungkin bakal tidak hidup lebih lama pula, maka jikalau Beng Sin Thong pun kalah, apa kita bisa bikin terhadap ini orang aneh yang liehay? Jangan kata buat mencari kitabnya Kiauw Pak Beng, buat dapat hidup pun sukar..."
Maka itu, meskipun Beng Sin Thong musuh, ingin ia menolongi. Lantas ia kata pada si nona.
"Seng Lam, mari aku pinjam pedangmu!"
Nona itu dapat menebak hati si pengemis, mulanya ia raguragu, tapi ia memberikan juga pedangnya, ia cuma memesan.
"Paling baik jikalau kau tidak melukakan dia. Umpama kata kau tidak ungkulan, lekas kau lari kesini, ke sisiku!"
Kembali terdengar suara keras, kembali Beng Sin Thong kena dihajar tak perduli dia kebal dan kuat, dia toh merasai kepalanya pusing dan matanya kabur, hingga kacaulah ilmu silatnya.
Masih si orang aneh tidak mau berhenti, lagi-lagi ia merangsak, kembali ia menggunai kedua tangannya.
Dan ia berhasil.
Sin Thong tidak berniat mengadu tenaga lagi, ia ingin senantiasa menyingkir, tapi sekarang, setelah ia tersambar, terpaksa ia mesti bertahan juga.
Ia mesti mengadu kekuatan.
Dengan berkutat, lantas juga Sin Thong bermandikan peluh dan napasnya memburu.
Juga mukanya si orang aneh tampak biru.
Di matanya Kim Sie Ie, si orang aneh masih dapat bertahan sedang Sin Thong sudah menghadapi saatnya seumpama kata telur di ujung tanduk, setiap saat jiwanya terancam maut.
Tak dapat Sin Thong meloloskan tangannya.
Ia merasakan menggetarnya anggauta-anggauta dalam tubuhnya.
Ia sampai menyedot hawa dingin.
Ia menginsyafi bahaya yang mengancam dirinya, hingga ia kata di dalam hatinya.
"Sungguh aku tidak sangka setelah malang melintang separuh hidupku, hari ini aku mesti mati kecewa di tangan ini orang tidak dikenal .."
Selagi Sin Thong berpikir kecewa itu, mendadak si orang aneh berseru dan tubuhnya dilemparkan, hingga tanpa berdaya ia mesti roboh di tanah, tak perduli ia telah mencoba untuk berjumpalitan.
Itulah sebab Kim Sie Ie sudah maju dan ujung pedangnya mengancam punggung si orang aneh hingga, untuk menolong diri, dia mesti melepaskan lawan yang dicekalnya, untuk berkelit.
Lantas orang aneh itu membentak.
"Kau berjumlah berapa orang? Kamu boleh maju semua!"
"Loo cianpwe, harap kau jangan gusar,"
Kim Sie Ie berkata.
"Kami tidak bermaksud jahat terhadap kau. Kami datang kemari karena mesti berlindung dari badai dan hujan lebat..."
"Tidak perduli apa maksudmu, setelah datang kemari kamu tak dapat pulang dengan masih hidup!"
Berkata si orang aneh bengis.
Lantas dia maju, untuk menyerang.
Dengan sebelah tangan dia mengancam pedang, untuk dirampas, dengan tangan yang lainnya-tangan kiri-ia menghajar ke batok kepala Tokciu Hongkay!
Sie Ie lekas-lekas berkelit dengan gerakan "Ieheng hoanwie".
"Memindahkan wujud, menukar kedudukan", setelah mana, ia membalas menikam, dengan tipu pedangnya "Gelombang mendampar tepian", sasarannya ialah nadi si orang aneh.
"Hm!"
Orang aneh itu bersuara, tangannya dibalik, guna dipakai membalas menyerang.
Dia bukan mundur, dia bahkan maju dua tindak, tangan kirinya dipakai menyambar lengan penyerangnya.
Itulah serangan yang luar biasa.
Syukur Sie Ie awas dan tabah.
Barusan ia menyerang dengan tipu pedang istimewa ciptaan Tokliong Cuncia, gurunya.
Di waktu disambar, ia menarik tangannya, untuk diteruskan, guna menyerang pula.
Tapi lawan sangat liehay, kembali dia menyerang, kali ini pedang kena disentil hingga mental!
Hati Seng Lam berdebaran.
Biar bagaimana, ia berkuatir juga.
Beng Sin Thong dapat ketika untuk beristirahat.
Dia duduk bersila, untuk menyalurkan napasnya.
Dia mengharap-harap Kim Sie Ie dapat bertahan sampai dia sudah segar pula.
Dengan dibantu Tokciu Hongkay, dia dapat harapan mengalahkan si orang aneh.
Tidak demikian, dia dan Biat Hoa Hwesio tentulah bagian mati!
Sejurus dengan sejurus, si orang aneh menyerang Kim Sie Ie.
Ia tidak menghiraukan pedang lawan.
Kim Sie Ie memutar pedangnya, tak suka dia mengalah.
Adalah sesudah bertempur sekian lama, mendadak dia merasakan tubuhnya dingin, sampai dia menggigil.
Karena ini, terpaksa dia mesti mundur dua tindak.
Beng Sin Thong melihat mundurnya si pengemis, dia terkejut.
Syukur, setelah mundur, Tokciu Hongkay dapat bertahan.
Sie Ie dapat bertahan sekian lama kecuali disebabkan ia bersenjata pedang juga lantaran si orang aneh sudah mengeluarkan tenaga terlalu banyak, melawan Beng Sin Thong, dia telah menghamburkan tenaga dalamnya.
Sie Ie pula tenaga baru dan orangnya cerdik.
Oleh karena terdesak itu, Kim Sie Ie sudah memikir menggunai jarum rahasianya yang beracun.
Ia baru memikir, atau ia ingat pesan Seng Lam tadi.
Katanya di dalam hati.
"Rupanya Seng Lam tidak menghendaki aku melukakan dia. Cumalah, kalau aku tidak menghajar dia, akulah yang bakal dilukakan... Dengan aku roboh, tentulah Seng Lam turut bercelaka juga demikianpun Sin Thong dan kawan-kawannya. .. Bagaimana sekarang?"
Karena berpikir, Sie Ie menjadi kurang gesit.
Tiba-tiba ia terserang hingga ia terkejut.
Ia telah mendapatkan ilmu tenaga dalam dari Tong Siauw Lan, karena itu ia terus dapat bertahan, tetapi kali ini, hebat hajaran itu.
Lantas ia merasai serangan hawa dingin, yang masuk di dua jalan darah "taysie"
Dan "hieji". Tidak ampun lagi, ia menggigil. Beng Sin Thong melihat itu, dia berteriak.
"Saudara yang baik, kau bertahan terus! Kau tunggu sebentar lagi, dapat aku membantu kau!"
Kim Sie Ie memusatkan pikirannya, ia bertahan.
Tapi ia berpikir, musuh demikian tangguh, taruh kata ia menyerang dengan jarum beracunnya, orang tentu tidak bakal kehilangan jiwanya.
Orang aneh itu menyerang terus.
Dia mendesak hingga lawannya mundur terus enam atau tujuh tindak.
Repot Kim Sie Ie, sedang mundurnya itu ke arah Beng Sin Thong.
Sampai disitu, tak dapat ia menahan sabar lagi.
"Fui!"
Ia berludah, menyemburkan jarum beracunnya. Seng Lam kaget hingga ia menjerit. Si orang aneh berkelebat, tubuhnya bagaikan lenyap. Heran Sie Ie.
"Apakah dia ketahui jarumku liehay?"
Pikirnya.
Ia lantas memutar tubuhnya, guna mencari si musuh.
Atau ia menjadi kaget luar biasa.
Ia mendapatkan Le Seng Lam dicekuk orang aneh itu, yang mengawasi si nona sambil tertawa...
Selagi Sie Ie menyerang dengan senjata rahasianya, Seng Lam kaget, tetapi ia lantas berlompat maju.
Si orang aneh melihat ia, dia meninggalkan Kim Sie Ie, untuk memapaki, guna sekalian mencekuknya.
Kim Sie Ie lupa segala apa, ia lompat untuk menyerang.
Si orang aneh sendiri, sembari tertawa, berkata dengan riang.
"Hihi, kiranya seorang nona! Haha, kau baiklah menjadi aku punya... aku punya..."
Tapi belum sempat dia mengatakan semua, mendadak dia kaget.
Ketika itupun Sie Ie datang dekat kira-kira tiga tombak, ia mendengar suaranya Seng Lam, yang berkata tak tegas, atas mana si orang aneh menjerit, dia melepaskan cekalannya, lantas dia berlompat lari.
Dia agaknya likat dan ingin lekas melenyapkan diri.
Sie Ie heran.
Tengah ia memikir, si orang aneh sudah lenyap di rimba lebat.
Ia heran tetapi hatinya lega, segera ia menghampirkan si nona.
Ia tarik tangan orang.
"Dengan apa kau bikin orang aneh itu kabur?"
Tanyanya, kaget berbareng girang. Seng Lam bersenyum.
"Aku tidak takuti padanya,"
Sahutnya.
"maka itu sendirinya dia mesti takut padaku-Ah, kau terkena Siulo Imsat Kang, lekas kau rebah, mari aku tolongi!"
Seng Lam menggunai pengobatan dengan jarum emas untuk mengusir racun.
Tiga belas batang jarum ditusukkan kepada tiga belas jalan darah.
Setelah itu Sie Ie diminta mengerahkan tenaga dalamnya, untuk membantu mengusir racun Siulo Imsat Kang.
Menyaksikan cara pengobatan si nona, Beng Sin Thong kagum.
Ia telah meyakinkan Siulo Imsat Kang tetapi tak tahu ia cara pengobatan dengan jarum emas itu.
Katanya dalam hatinya.
"Pantas itu hari Kim Sie Ie ketolongan, rupanya budak inilah yang telah menolongi dia. Jikalau aku berhasil mendapatkan kitab silat rahasia dan berhasil pulang ke daratan, tak dapat tidak, ia ini mesti disingkirkan!"
Kim Sie Ie pernah mendapat serangan Siulo Imsat Kang, setelah disembuhkan, ia memperoleh tenaga melawan yang bertambah-tambah, maka itu kali ini, walaupun ia terluka pula, hebatnya tak seperti yang semula itu.
Tidak lama, Seng Lam mencabut semua jarumnya, dia kata.
"Kali ini, asal kau dapat beristirahat tiga hari, kau akan sembuh seluruhnya."
Sie Ie mengangguk, kemudian ia melihat kelilingan. Ia mendapatkan Biat Hoa Hwesio lagi duduk bersila mengerahkan tenaga dalamnya, di atasan kepala gundulnya terlihat uap putih mengepul.
"Baik kau tolongi dia juga,"
Katanya pada Seng Lam.
Biat Hoa terserang Siulo Imsat ieang secara tidak langsung, lukanya tak seberat luka Tokciu Hongkay, dengan bantuan tenaga dalamnya, ia telah berhasil mengusir pergi tujuh atau delapan bagian racun, ketika ia menyaksikan Seng Lam menolong Sie Ie, ia jeri.
Yang ditusuk si nona semualah jalan darah kang dapat membuat orang mati.
kikirnya.
"Kalau dia bermaksud buruk, dia dapat menggunai ketika ini membinasakan aku."
Karena ini, Ia berkata.
"Tak usah aku membikin berabe pada Nona Le. Eh, Lao Beng, kau saja yang membantu aku!"
Seng Lam dapat menduga hati orang, ia tertawa dingin dan kata.
"Kau lebih suka menderita beberapa hari lagi, terserahlah!"
Beng Sin Thong ketahui baik serangan Siulo Imsat Kang memasuki pelbagai jalan darah yang dapat membinasakan jiwa orang, meskipun ia tidak mengerti ilmu pengobatan dengan jarum, ia ketahui baik pengobatannya Seng Lam tepat, sebenarnya tidak suka ia menolongi Biat Hoa, tetapi ia berpikir lain.
"Kawanku tinggal hwesio ini seorang, jikalau aku membujuki dia menerima pertolongannya Seng Lam, andaikata Kim Sie le dan Seng Lam berkhianat, mungkin dia tidak dapat berontak bersama, ia tentunya sungkan memusuhkan mereka itu."
Karena berpikir begini, ia lantas membantu pendeta itu.
Maka kemudian, setelah Biat Hoa ketolongan, keduanya letih bukan main.
Ketika itu dari kejauhan terdengar suaranya Kimmosoan.
Mendengar itu, Beng Sin Thong jeri, maka ia berkata.
"Jikalau orang aneh itu datang pula kemari sambil membawa dua ekor binatang piaraannya itu, tak seorang pun dari kita yang dapat meloloskan diri..."
Le Seng Lam tertawa.
"Kau jangan kuatir,"
Katanya.
"Dia tidak bakal segera datang pula ke mari. Dia pun lagi repot mengobati dua binatang piaraannya itu."
Beng Sin Thong mementang kedua matanya.
"Nona Le,"
Ia berkata.
"kenapa barusan orang aneh itu melepaskan kau?"
Baru sekarang ia ingat dan menanyakannya.
"Aku mempunyai daya untuk menaklukkan dia,"
Sahut si nona.
"Tentu sekali tidak dapat aku memberitahukan itu kepadamu!"
Disenggapi begitu, Sin Thong jengah.
Ia malu sendirinya.
Tapi ia heran, ia menyangsikan keterangan nona itu, maka ia mengawasi orang dengan sorot mata curiga, ingin ia menerka hati orang.
Biarnya ia kosen, berada di pulau ini, yang terahasia dan berbahaya, ia toh jeri juga.
Untuk sejenak mereka berada dalam kesunyian.
Justeru itu mereka mendengar tangisan yang memilukan hati.
Ketika mereka beipaling ke arah dari mana tangisan itu datang, mereka melihat Kunlun Sanjin mendatangi seraya memondong tubuh In Leng Cu.
Imam itulah yang menangis sedih itu.
"Tungkul mengobati diriku, aku melupakan In Leng Cu,"
Pikir Sie le.
Ia lantas lari menghampirkan.
Maka ia mendapatkan orang bermuka sangat pucat, napasnya berjalan sangat perlahan, sedang tubuhnya mulai dingin.
Itulah tanda bahwa orang sukar untuk ditolong lagi.
Meski begitu, ia meletaki jari tangan di punggung, di jalan darah "tay-ie", ia paksa menyalurkan tenaga dalamnya, lantas ia menanya.
"Apakah pesanmu?"
Benar-benar In Leng Cu mempunyai napasnya yang terakhir.
Tubuhnya lantas bergerak dan bibirnya terbuka perlahan-lahan.
Kunlun Sanjin lantas memasang kuping di mulut kawan itu.
Ia mendengar suara orang lemah.
"Aku minta... tolong kau mengurus isteriku dan aku, supaya terkubur bersama... juga... kau lekaslah pulang, jangan, jangan mengharapi lagi segala kitab ilmu silat... Ah, Ceng Nio terbinasa karena aku, dan ia mati secara hebat menyedihkan, aku... aku menyesal terhadapnya..."
Habis itu maka habis juga napasnya. Kunlun Sanjin bersama In Leng Cu suami isteri dan Siang Bok Loo adalah keempat "hantu"
Atau "kepala iblis"
Yang mencari kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng, dari Tibet mereka datang bersama, begitulah akhirnya tiga kawannya.
Siang Bok Loo musnah di dalam lahar gunung berapi, Siang Ceng Nio terbinasa digegares polonya oleh kimmosoan, sekarang In Leng Cu mati terbanting oleh si orang aneh.
Maka tinggal ia sendirian, bukan main sedihnya si imam.
Inilah yang dibilang.
"kelinci mati, rase bersedih". Lama Kunlun Sanjin menguras air matanya, barulah ia dapat menahan kesedihan hatinya.
"Mari kita perbaiki perahu kita,"
Berkata Kim Sie Ie.
"Sedikitnya dalam tempo sepuluh hari kita akan berhasil. Syukur kita masih berjumlah berlima, kalau ada bahaya, rasanya kita masih dapat menentangnya, asal kita bersatu hati!"
Kunlun Sanjin telah mati daya, ia cuma menyatakan setuju.
Beng Sin Thong sangat berduka.
Bersama-sama Biat Hoa Hwesio, ia belum pulih kesehatannya.
Kalau dalam beberapa hari ini si orang aneh datang pula, celakalah mereka.
Karena itu sebagai seorang licik, ia lantas berlaku manis pada Kim Sie Ie dan Le Seng Lam, untuk mengambil hatinya dua orang itu.
Seng Lam bersikap sangat tenang.
Orang tidak tahu apa yang si nona pikir, tetapi karena sikapnya itu, kawan-kawannya turut dapat melegakan diri.
Bersama-sama mereka turun gunung.
Di antara pepohonan lebat mereka membangun tenda.
Beng Sin Thong berkumpul bersama Biat Hoa Hwesio dan Kunlun Sanjin.
Sie le tetap bersama Seng Lam.
Di antara mereka berdua, mereka memasang alingan di tengah-tengah tendanya.
Besoknya Kunlun Sanjin dapat membawa balik mayatnya Siang Ceng Nio, maka pesan In Leng Cu lantas dipenuhkan, suami isteri itu dikubur bersama, hingga di dalam rimba itu tambah satu kuburan lain yang baru.
Menyaksikan kuburan itu, hati mereka berlima menjadi tawar.
Syukur, selama dua hari itu, tak terjadi apa-apa.
Juga si orang asing yang aneh tak nampak, tak terdengar suaranya.
Pula kimmosoan tidak terlihat lagi dan tidak terdengar raungannya yang menyeramkan.
Selewatnya tiga hari, kesehatannya Kim Sie Ie telah pulih, sedang Beng Sin Thong sembuh tujuh atau delapan bagian.
Cuma Biat Hoa Hwesio yang masih tetap lemah, hingga ia belum dapat menggunai seluruh tenaganya, la cuma bisa jalan atau bergerak seperti biasa.
Pada malam ketiga itu, rebah di dalam tendanya, Kim Sie Ie berpikir keras.
Ia memikirkan pengalamannya itu.
Ia menjadi bergulak-gulik karena ia tidak dapat tidur.
Maka itu telinganya dapat menangkap ketika ada suara berkelisik yang disusul dengan disingkapnya kelambu alingan.
"Seng Lam, kau mau apa?"
Ia tanya, terkejut. Itulah si Nona Le.
"Jangan bersuara!"
Kata si nona di telinga orang. Dia lantas mendekati dan berbisik.
"Lekas turut aku!"
Sie le heran bukan kepalang, tetapi ia tidak diberi kesempatan, ia lantas ditarik, hingga terpaksa ia mesti mengikut.
Seng Lam mengajak ia itu pergi keluar.
Di tendanya Beng Sin Thong, malam itu giliran Kunlun Sanjin menjadi si cinteng atau orang ronda.
Seng Lam dan Sie Ie menyingkir dari imam itu, mereka jalan nelusup di antara rumput tebal.
Si imam seperti mendengar suara apa-apa, matanya celingukan.
Seng Lam cerdik, ia mengasih dengar suara berkukuk dua kali.
Justru seekor burung malam yang terbang naik bergelapakan, burung mana mengasih dengar dua kali suara berkukuk serupa.
Kunlun Sanjin terkejut, lantas ia menjatuhkan diri untuk mendekam.
Rupanya dia ketakutan.
"Mari!"
Seng Lam berbisik pada kawannya, kepalanya ditaruh di pundak kawan itu.
Sie Ie menurut, maka bersama-sama mereka nelusup terus, akan di lain saat mulai berlari-lari keras dengan ilmu ringan tubuh mereka.
Sebentar saja, mereka sudah terpisah jauh belasan tombak.
"Syukur bukan Beng Sin Thong yang menjadi cinteng!"
Kata Seng Lam tertawa.
"Jikalau tidak, tidak nanti kita dapat lolos dari telinganya yang liehay!--Kau dengar, tidakkah mirip suaraku meniru burung malam itu? Tentulah burung itu mengira kawannya memanggilnya, dia menyahuti lalu terbang mencari. Sungguh kecil nyalinya Kunlun Sanjin!..."
"Kau sangat cerdik!"
Memuji Sie Ie, tertawa.
"Eh, kemana sebenarnya kau hendak mengajak aku?"
"Sudah tentu untuk mencari kitab warisannya Kiauw Pak Beng!"
Si pengemis edan heran.
"Bagaimana kau ketahui kitab itu berada di mana?"
"Jangan banyak tanya-tanya. Kau turut saja aku! Dengan susah payah kita datang kemari, bukankah itu untuk kitab tersebut? Apakah kita mesti membiarkan Beng Sin Thong yang mendahului mendapatkannya? Biarnya tidak dapat dicari, aku mesti cari juga!"
Sie Ie tetap heran.
Dengan hati berpikir, ia mengikuti si nona.
Segera juga mereka tiba di kaki gunung.
Seng Lam tetap jalan di depan, dia pandai memilih jalanan.
Dia membiak rumput-rumput tebal, dia berjalan ke kiri dan kanan, membu-lak-belok tak habisnya.
Hingga akhirnya keduanya berada di antara gombolan rumput yang tinggi dan tebal.
"Si orang aneh tinggal di atas gunung ini, jikalau kita bertemu dengannya, bagaimana?"
Sie Ie tanya. Seng Lam tertawa.
"Ah, kenapa nyalimu mendadak menjadi kecil?"
Katanya.
"Baiklah, kalau kau jeri, kau peganglah pedangku ini!"
Sie Ie hendak menampik tetapi si nona berkata pula.
"Kau peganglah! Kalau kau bertemu dengan orang aneh itu, sedikitnya kau dapat melawan dia sampai lima puluh jurus! Kemarin ini dia tidak mencelakai aku, umpama kata kita bertemu pula, aku tidak takut, tak ada bahayanya untukku, hingga sebenarnya aku tak usah membawa pedang!"
Sie Ie menyambuti pedang itu, meski ia tetap heran.
"Seng Lam, mesti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari aku!"
Katanya kemudian.
"Jikalau aku memikir mendustai bau, buat apa aku ajakajak kau?"
Si nona kata.
"Kau jangan kesusu, jangan kau main duga-duga! Akhirnya aku akan memberikan keterangan padamu!"
Sie Ie membungkam.
Tidak lagi ia menanya pula.
Maka mereka berjalan tanpa bersuara.
Setelah jalan sekian lama, Seng Lam berhenti bertindak.
Mereka sekarang berada di bawah sebuah pohon besar.
Itulah pohon yang besar luar biasa.
Cabang-cabangnya, bersama daunnya yang lebat, mirip dengan -sebuah payung raksasa.
Mungkin lebarnya itu beberapa bauw.
Batangnya, yang berdiri tegak juga besar istimewa, beberapa puluh orang mungkin tak dapat memeluknya.
Apa yang heran pula, di sekitar Itu tidak ada pohon lainnya.
Dia tumbuh sendiri saja!
Seng Lam berdiam, ia memperhatikan pohon itu.
Lantas ia mengasih lihat roman heran dan girang.
Hingga Sie le pun menjadi heran, mengherani dia.
Si nona menggapai lantas ia mulai memanjat pohon itu.
Tidak perduli ia heran, Sie Ie mengikuti, cuma di dalam hatinya ia kata.
"Mungkinkah kitab ilmu silat berada di atas pohon ini?"
Mereka manjat terus, manjat hingga di tempat paling tinggi.
Disini Seng Lam menyingkap cabang-cabang pohon itu, hingga ia mendapati ujung pohon yang buntu dan celong.
Ia meluncurkan tangannya ke tempat celong itu, untuk menekan, lantas tangan itu digeser dari kiri ke kanan, beberapa kali.
Mendadak di tempat yang celong itu terbuka sebuah liang yang besar.
Sie le heran meskipun ia tahu itulah gerohongnya batang pohon.
Itu berarti pohon itu tidak ada hatinya.
"Cocok!"
Berkata Seng Lam.
"Akhirnya aku mendapatkannya!"
Tanpa sangsi lagi, si nona masuk ke dalam liang, yang merupakan terowongan itu.
Tidak sempat Sie Ie mengatakan sesuatu, ia juga turut turun.
Berdua mereka mesti menggunai "Pekhouw kang", yaitu ilmu "Cecak melapai", dengan perlahan-lahan mereka turun sampai di dasarnya sekali.
Disini, di depan mereka, tampak sebuah terowongan, yang entah di mana ujung pangkalnya.
Terowongan itu gelap dan sendirinya menyeramkan.
Seng Lam lantas mengeluarkan serenceng mutiara yang ia bekal.
Dengan itu mereka memperoleh cahaya terang hingga mereka dapat melihat luasnya terowongan itu yang dapat memuat tubuh mereka.
"Masuklah!"
Kata Seng Lam. Sie le berdiri tak bergerak.
"Seng Lam!"
Katanya.
"Apakah sampai waktu begini kau masih tidak suka omong terus terang padaku? Bukankah dulu kau pernah datang ke mari?"
Nona itu tertawa.
"Jikalau dulu pernah aku datang kemari, tak perlu aku dengan kau sebagai pengantar!"
Sahutnya. Sie Ie berdiam. Ia ingat keadaan si nona selama di atas perahu. Dia memang seorang asing untuk pelayaran di laut. Karena ini, herannya bukan main.
"Kau belum pernah datang ke mari, habis kenapa kau ketahui tempat ini?"
Ia tanya pula.
"Ini toh tempat rahasia!"
Seng Lam tertawa, dia tidak menjawab.
"Aku membahayakan jiwaku, aku menemani kau datang kesini,"
Kata Sie Ie.
"kau sebaliknya membohongi aku! Kenapa kau memandang aku sebagai orang luar? Baiklah, kitab rahasia itu kau bakal segera dapatkan, aku sudah tidak perlu lagi bagimu, karena kau tidak sudi omong terus terang, kitab itu aku tidak menghendakinya pula! Disini saja kita berpisahan! Kau boleh masuk seorang diri!"
Seng Lam menarik tangan orang. Ia tertawa pula.
"Kenapa kau marah?"
Katanya, manis.
"Kau tahu, selama beberapa hari yang lalu, aku juga masih belum tahu pasti aku bakal dapat cari tempat ini atau tidak! Baik, mari aku omong terus terang pada kau..."
Ia hening sejenak, terus sikapnya jadi sungguh-sungguh. Ia kata dengan suara dalam.
"Kitab ilmu silat itu tidak disimpan di dalam ini terowongan! Aku sebenarnya mau pergi mencari si orang aneh itu!"
Sie Ie terkejut.
"Mencari si orang aneh?"
Ia tegaskan.
"Ya!"
Sahut si nona.
"Di depan itu ada bahaya atau ada keselamatan, aku masih belum tahu! Umpama kata kita kena cari orang yang keliru, sudah pasti kita tidak dapat lolos lagi dari bahaya! Aku tidak mau membikin susah pada kau, maka jikalau kau hendak pergi, tidak dapat aku mencegah kau!"
Sie Ie bingung.
"Bagaimana sebenarnya ini?"
Ia tanya.
"Asal kau omong jelas, aku bukannya si manusia yang takut mati!"
"Baiklah kalau begitu!"
Kata si nona.
"Jalanlah!"
Lantas dia bertindak, sembari jalan, dia bercerita, hingga herannya Tokciu Hongkay bukan alang kepalang...
"Tentang lelakonnya Kiauw Pak Beng mungkin kau tahu,"
Berkata Keng Lam.
"Ketika dulu hari dia roboh di ujung pedangnya Thio Tan Hong dan terluka parah karenanya, orang semua menduga dia sudah terbinasa Siapa sangka dia sebenarnya menyingkir ke pulau ini di mana dia menyembunyikan diri. Bentang rahasianya ini cuma keluargaku yang mengetahui. Maka juga keluargaku, turun temurun, menghendaki mendapatkan pulaunya Kiauw Pak Beng, untuk mendapatkan kitab ilmu silat yang Diwariskannya. Selama dua ratus tahun turunanku, serombongan pengan serombongan, kami telah pergi mencarinya, hanya hasilnya mirip dengan kerbau tanah yang dimasuki ke dalam laut, begitu. Dengan begitu mereka tidak ada Kabar ceritanya lagi. Sampai kemudian tidak ada lagi anggauta keluargaku yang berani pergi mencari lebih jauh. Akan tetapi pada enam puluh tahun yang lalu, maka dua pemuda she Le telah mencoba pergi juga Mereka itu termasuk paman tingkat kakek, siokcouw. Untuk beberapa tahun mereka itu terumbang-ambing dalam pelayaran, akhirnya mereka tiba di pulau ini dan berhasil menemukan gua tempat kediamannya Kiauw Pak peng. Yang belum juga ditemukan Ialah kitab warisannya Kiauw Pak Keng itu. Mereka lantas berdiam di pulau ini dan terus mencari. Untuk dapat tinggal dengan leluasa, mereka memperbaiki gua. Guna mencegah gangguan binatang liar atau lain orang, mereka menutup mulut gua asal, sebagai gantinya, mereka membuat mulut gua lainnya. Mulut gua itu ialah terowongan pohon kayu yang besar itu. Dan terowongan itu ialah yang sekarang kita lalui ini."
Sie Ie mendengari. Seng Lam melanjuti penuturannya.
"Tahun lewat tahun, usaha telah dilanjuti mencari kitabnya Kiauw Pak Beng itu. Boleh dibilang semua bagian dari gua telah digali atau dibongkar, seluruh pulau ini telah dijelajah. Tetap kitab itu tak terdapatkan. Selama itu sepuluh tahun lewat. Dua kakak beradik itu, dari usia pertengahannya memasuki usia lanjut. Setelah itu mereka berpikir bahwa cara mencari mereka itu bukanlah cara yang sempurna. Lantas mereka berdamai. Kesudahannya diambil putusan, sang kakak akan berdiam terus di pulau, dan sang adik harus pulang, guna memberi kabar, supaya keluarga mereka tingkat muda yang nanti pergi melanjuti usaha mereka itu. Di dalam perjalanan pulang, sang adik menderita sekali, selain dari gangguan badai hingga perahunya karam, juga dia telah dibajak. Hampir sepuluh tahun dia terlunta-lunta di laut, akhirnya dapat dia tiba di rumah. Setelah merantau tiga puluh tahun lebih, dia telah ubanan rambut dan kumis jenggotnya. Mengandal kepada kekuatan otaknya, dia telah membuat gambar atau petanya pulau dimana pun dia mencatat jelas tentang gua dan lainnya yang terahasia itu. Ketika itu ayahku baru berusia dewasa. Ayahku itu cerdas sekali, sedang ilmu silatnya mengatasi semua kaum keluarga kami sebayanya. Maka itu, peta gambar itu diserahkan padanya. Ayah lantas belajar ilmu berlayar, supaya setelah pandai ia nanti berangkat. Sementara itu, setahu bagaimana duduknya, rahasia bocor tentang pulangnya siokcouw dengan hasil pengembaraannya mendapatkan pulaunya Kiauw Pak Beng itu, bahkan kemudian ketahuan ada dua orang yang senantiasa mengincar saja. Karena itu, ayah tidak berani belajar berlayar secara berterang. Karena itu juga, pelayarannya itu pun turut tertunda. Tanpa merasa, sang waktu lewat pula hampir sepuluh tahun. Ayah pun menikah."
Mendadak Seng Lam menangis.
Sie Ie lantas menduga bahwa Seng Lam dan si orang luar biasa itu mesti ada hubungannya satu dengan lain.
Oleh karena ia belum mendapat kepastian, terhadap orang aneh itu ia memasang mata secara diam-diam.
Ia kuatir nanti diserang secara tiba-tiba.
Lebih celaka kalau Seng Lam terbinasakan sebelum dia menutur selesai.
"Yang lewat biarlah lewat,"
Ia menghibur.
"Apakah kedukaanmu itu? Kau tuturkanlah padaku. Kau bicaralah dengan perlahan."
Seng Lam menepas air matanya.
"Di luar dugaan sekali, di tahun yang aku dilahirkan, keluargaku menampak bencana besar,"
Kata dia, mulai lagi.
"Keluargaku itu, tua dan muda, semua telah terbinasa di tangannya Beng Sin Thong. Yang lolos cuma ibuku seorang, yang membawa aku menyingkir. Maka juga tanggung jawab pembalasan sakit hati dipercayakan padaku seorang. Semenjak aku dapat membaca, aku, telah ditunjuki peta gambar itu, aku diwajibkan melihatnya siang dan malam, supaya aku ingat dan apal di luar kepala, supaya sekalipun dengan meram, aku dapat mengingatnya. Habis itu, peta gambar itu lantas dibakar. Kepadaku ibu berkata.
"Sekarang ini di dalam ini dunia cuma kau satu orang yang ketahui rahasianya pulau itu. Dimana peta gambar sudah dibakar, asal kau menutup rapat mulutmu, tak nanti ada lain orang yang mengetahuinya. Kau harus pergi ke pulau itu untuk mencari siokcouw-mu itu. Umpama kata dia telah meninggal dunia, kau dapat memasuki guanya. Disana kau boleh berdiam, untuk terus mencari kitabnya Kiauw Pak Beng itu, supaya dengan mempelajarinya, nanti bisa mencari-balas sakit hati keluarga kita. Tidak lama sejak pesannya itu, ibu menutup mata. Ketika itu aku berumur tujuh belas. Pernah aku memikir memasuki satu rombongan perampok, untuk belajar ilmu berlayar. Kemudian aku membatalkan niat itu. Akulah seorang wanita, tak leluasa aku bercampur gaul dengan bangsa perompak. Karenanya terpaksa aku hidup merantau. Secara demikian tiga tahun telah lewat. Syukur akhirnya aku bertemu dengan kau. Lebih syukur lagi hari ini cita-citaku telah terwujudkan. Aku telah sampai di pulau ini, di ini tempat rahasia. Begitulah semua keteranganku. Apakah kau masih mencurigai sesuatu?"
Di dalam hatinya, Sie Ie kata.
"Pantaslah selagi dia belum pernah sampai disini tetapi dia telah ketahui segala apa dengan jelas..."
Ia pun terharu karena si nona sangat mempercayainya.
"Tak perduli ada bahaya apa di depan kita, Seng Lam, aku akan turut kau maju terus!"
Ia kata. Seng Lam menggenggam keras tangannya si anak muda.
"Engko Sie Ie, kau sungguh baik sekali!"
Katanya, perlahan, tetapi dengan nada sangat bersyukur. Hati Sie le guncang. Tiba-tiba ia tanya.
"Menurut keterangan kau ini, jadinya siokcouw-mu itu masih hidup..."
"Kalau benar, dia mestinya sudah berumur sembilan puluh lebih!"
Kata si nona.
"Tetapi orang aneh itu, nampaknya dia baru berusia lima puluh lebih..."
Kata Sie Ie.
"Benar. Itulah sebabnya aku tidak berani sembarang mengakui dia..."
Kalau dia bukan siokcouw dari Seng Lam, habis siapakah orang aneh itu?
Kenapa dia ketahui gua rahasia ini?
Memikir begini, Sie Ie tetap heran dan curiga.
Mereka berjalan terus.
Di depan mereka ada sebuah pintu batu.
"Mari kita jalan lebih jauh,"
Kata Seng Lam.
"Habis ini mungkin kita memperoleh penjelasan."
Si nona mengajukan kedua tangannya, meraba daun pintu, guna mencari pesawat rahasianya.
Tiba-tiba terdengarlah suara berkeresek atau berkelotek, lantas pintu batu itu terbuka sendirinya.
Tengah mereka tercengang, mendadak terdengar suara angin menyambar keras, membarengi menyambarnya selembar cambuk, yang ujungnya hendak melilit tubuh!
Sie Ie berlompat maju, ia menyambar ujung cambuk itu, tetapi di luar dugaannya, tenaga penyerang besar luar biasa, tangannya kena terlilit, sebelum ia sempat berdaya, tubuhnya telah tertarik masuk ke dalam pintu itu!
Berbareng dengan itu terdengarlah suatu suara menggabruk keras!
Dan itu berarti daun pintu batu itu tertutup sendirinya!
Dengan begitu, Seng Lam menjadi ketinggalan sendirian di sebelah luar!
Di dalam keadaan seperti itu, Sie Ie tidak menjadi takut atau mati daya.
Tanpa memperdulikan tenaga orang kuat sekali, dengan tidak menghiraukan orang mungkin sangat liehay, ia lantas memasang kuda-kuda, menancapnya dengan tipu silat "Berat Seribu Kati", sedang tangannya diputar, guna meloloskan lilitan cambuk.
"Kau siapa?"
Ia menegur nyaring.
"Kau berada dimana?"
Di dalam gelap itu terdengarlah tertawa yang menyeramkan.
"Aku disini!"
Terdengar jawaban orang yang tertawa itu.
"Mustahilkah kau juga buta?"
Suara itu, Sie Ie rasa, suaranya seorang wanita tua.
Apa yang aneh, suara itu berlagu suara orang Siamsay.
Melainkan, nadanya yang beda dengan suara si orang aneh.
Nada orang ini menusuk telinga.
Sie Ie berdiam, ia memusatkan perhatian dan matanya.
Karena sudah sekian lama ia memasuki terowongan di dalam gua itu, matanya telah menjadi biasa pula.
Di dalam situ pun ada sedikit cahaya terang.
Maka ia lantas dapat melihat cukup tegas keadaan ruang itu.
Itulah sebuah kamar batu dari beberapa tombak luas.
Wanita tua itu duduk bercokol di satu pojok, tubuhnya menyender pada tembok.
Dia mempunyai rambut panjang, yang terurai turun ke pundaknya.
Hidungnya pun tampak nyata, mancung hidung itu, sedang kedua matanya bersinar tajam, warnanya rada biru.
Dia tak miripnya wanita Tionghoa.
Sie Ie menjadi bertambah heran.
Disini keanehan ditindih keanehan.
"Kau mau melepaskan tanganmu atau tidak?"
Tiba-tiba si wanita tua membentak.
Sie Ie memang belum melepaskan tangannya, maka itu, berbareng dengan bentakan itu, ia merasakan tarikan yang keras.
Mungkin tenaga mereka tak berjauhan, cambuk itu terlepas.
Menyusul itu, angin menyambar pula, cambuk itu kembali menyerang, cepatnya luar biasa.
Sie Ie berkelit seraya ia menghunus pedangnya.
"Locianpwce!"
Ia berkata.
"kami datang kemari tak dengan maksud jahat!"
Ia memanggil loocianpwee walaupun ia belum kenal siapa nyonya tua itu.
Si nyonya tak memperdulikan-nya, dia mengulangi serangannya hingga beberapa kali Dengan terpaksa Sie Ie membela diri dengan menggunai pedangnya.
Sembari bertempur itu, ia merasa heran.
Si nyonya tak bangun berdiri, dia tetap duduk bercokol, cuma tangannya yang terus bekerja.
"Heran, kenapa dia berduduk saja?"
Pikirnya.
Walaupun cambuk si nyonya liehay, lantaran dia tak berkisar dari tempatnya duduk, tak sulit untuk Sie Ie melayaninya.
Sie Ie pun segera mendapat akal.
Dengan tibatiba ia lompat berputaran, sangat gesit gerakannya, habis mana, mendadak ia berdiri diam, napasnya pun ditahan.
Nyonya itu masih menyerang beberapa kali meski ia merasa lawannya telah lenyap.
Tidak pernah ia memperoleh hasil.
Maka ia lantas berdiam seraya memasang telinganya.
"Aku tahu sekarang!"
Kata Sie Ie di dalam hati sesudah ia berdiam sekian lama seraya terus ia memasang mata terhadap nyonya.
"Kiranya dia buta! Pantas tadi dia mengatakan apakah aku pun buta..."
Sie Ie pun lantas memikirkan Seng Lam. Nona itu tidak turut masuk, dia pun tak terdengar suara panggilannya dari luar.
"Mungkinkah pintu batu ini ada rahasianya?"
Ia mendugaduga.
"Atau apakah Seng Lam pun menemui bahaya?"
Ia menjadi bingung dan berkuatir.
Justeru itu mendadak si nyonya menyerang pula ke arahnya.
Selagi matanya buta, telinganya si wanita tua celi luar biasa.
Sie Ie tidak terus menahan napas, maka sekali ia bernapas, suara napasnya itu terdengar si nyonya, yang lantas menyerang padanya.
"Aku tidak bermaksud jahat, mengapa kau keterlaluan?"
Sie Ie kata.
"Habis apa perlunya kau datang kemari?"
Nyonya itu tanya, suaranya dingin.
"Aku hendak mencari seorang sahabat,"
Sie Ie jawab.
"Hm!"
Nyonya itu mengejek.
"Tahukah kau aku siapa?"
"Aku justeru mohon diberitahu!"
Nyonya itu tertawa pula dengan dingin.
"Sampaipun aku kau tidak kenal, kau toh berani datang kemari?"
Katanya.
"Mana mungkin kau hendak mencari sahabat! Aku tahu kau datang kemari untuk kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng! Benar, bukan?"
"Tidak salah!"
Sie Ie jawab.
"Hanya yang menghendaki itu bukannya aku, aku cuma menemani dia..."
Sie Ie mau menyebutkan namanya Seng Lam sekalian menanyakan, nyonya tua ini ada apa sangkutnya dengan keluarga Le, atau mendadak si nyonya menjadi sangat gusar, dia berseru.
"Memang aku telah duga kau bukannya makhluk baik-baik! Kau telah masuk ke dalam pintu ini, tak nanti kau dapat keluar dari sini dengan masih hidup!"
Kata-kata itu disusul dengan sabetan cambuk yang berulang-ulang, yang datangnya bagaikan hujan lebat atau taufan! Sie le berkelit, la telah lantas berpikir.
"Urusan sulit dijelaskan dengan satu-dua patah kata, baiklah aku membikin dia tunduk lebih dulu..."
Nyonya itu benar gagah tetapi dengan mata buta dan tubuh bercacad, hingga dia tidak dapat berkisar, dia tidak bisa berbuat banyak terhadap si anak muda.
Sie le menggunai kegesitannya, akan berlompat ke pelbagai arah, sembari berbuat begitu, ia mencoba merangsak, masuk ke dalam kalangan cambuk, hingga ia mendekati si nyonya sekira satu tombak.
Tiba-tiba si nyonya bersiul nyaring, suara mana lekas juga disambut suaranya kimmosoan.
Mendengar suara binatang itu, Sie le terperanjat.
Hebat kalau nyonya itu dibantu binatang liar tersebut.
Tak usah lama atau lantas terlihat berlompat masuknya binatang itu.
Terpaksa Sie Ie memutar tubuhnya, untuk menyambut serangan.
Tetapi segera ia menjadi heran.
Kimmosoan tidak lompat menerjang padanya, binatang itu sebaliknya lantas diam mendekam, suaranya pun tak terdengar lagi.
Sebenarnya binatang itu mengenali Sie Ie dan dia tahu membalas budi.
"Binatang, lekas gigit dia sampai mati!"
Si nyonya membentak. Kimmosoan berbunyi dua kali, bukannya dia menyerang Sie le, dia justeru memutar tubuh, untuk ngeloyor pergi, ekornya digoyang-goyangi. Sie Ie tertawa.
"Lihatlah!"
Katanya.
"Kimmosoan yang begitu bengis masih suka bersahabat denganku! Mengapa kau tidak mau bicara, supaya kita pun dapat menjadi sahabat satu dengan lain?"
Nyonya itu mendengar suara orang, ia menyabet ke arah suara itu.
Sie Ie berlompat dengan mengapungi diri, ia bebas, ketika ia turun pula, kakinya tidak memperdengarkan suara apa juga, sebab ilmunya ringan tubuh sudah mahir sekali.
Ia turun dengan cepat, bukannya mundur, ke tempatnya tadi.
Ia turun justeru di depan si nyonya, untuk terus menyabet dengan tangannya ke arah nadi nyonya itu, untuk membikin cambuk orang terlepas.
Ia hendak mengulangi serangannya, guna menotok, ketika mendadak ada angin menyambar keras sekali, sampai ia menggigil karena angin itu sangat dingin, terpaksa ia berkelit sambil lompat berjumpalitan, sedang telinganya segera mendengar suaranya si orang aneh.
"Ibu, bagaimana?"
"Hampir aku terhajar mati,"
Sahut si nyonya yang dipanggil ibu itu.
"Orang ini menghina aku, kau bunuhlah dia!"
Kata-kata "bunuh"
Itu sangat menyeramkan.
keras, dingin dan bengis.
Si orang aneh berseru, dengan mendadak dia menyerang.
Dia menggunai semacam senjata besar yang sinarnya kuning berkilauan.
Hebat serangannya itu, yang merupakan jurus "Gunung Taysan menindih kepala".
Sie le terkejut.
Dia melihat nyata, orang menggunai tokkak tong-jin, yaitu gegaman yang berupa orang-orangan dari kuningan.91 Itulah senjata berat, yang paling sukar digunainya, terutama sebab orang mesti bertenaga raksasa, Siapa liehay, dengan boneka itu dia pun dapat menotok jalan darah.
Untuknya, inilah yang pertama kali ia menghadapi musuh bersenjatakan boneka kuningan itu.
Dengan sebat Sie Ie berkelit, ketika ia diserang pula, ia berkelit pula.
Tapi, kapan ia terus didesak, diserang berulangulang, satu kali ia mencoba menangkis juga.
Kesudahannya hatinya bercekat.
Bentrokan keras, nyaring suaranya, tetapi yang hebat ialah tangannya dirasai sakit.
Maka tahulah ia yang orang bertenaga besar luar biasa.
Tadinya ia cuma menduga saja.
Selanjutnya, ia tidak mau mengadu senjata lagi.
"Tahan!"
Kemudian Sie Ie berseru.
"Kau kasih ketika untuk aku bicara dulu! Habis itu baru kita bertempur pula!"
"Kau menyelundup masuk kemari, tak dapat kau diberi ampun!"
Berteriak si orang aneh.
Benar-benar, sembari bicara itu, ia menyerang terus, dan semakin hebat pula.
Ia pun beberapa kali mencari jalan darah Sie Ie terdesak mundur, repot ia berkelit, hingga tak ada ketika untuknya berbicara pula, terpaksa ia mengeluarkan antero kepandaiannya untuk dapat bertahan.
"Kiranya wanita asing ini ialah ibunya,"
Ia berpikir sembari berkelit.
"Dengan begini teranglah dia bukannya siokcouw dari Seng Lam. Hanya entahlah bagaimana duduknya maka mereka ini, ibu dan anak, dapat tiba dan berdiam di pulau ini..."
Ada pula lainnya keanehan, ialah si anak terlebih liehay dari si ibu.
Di dalam keluarga persilatan, hal itu tak biasanya terjadi.
Dengan kepandaiannya, kalau Sie Ie melayani lawan ini dengan tangan kosong, dapat ia berkelahi sampai seratus jurus, tetapi sekarang, baru lima puluh jurus, ia sudah keteter sangat.
Pula segera terjadi hal di luar dugaan.
Ialah ia merasai pedangnya menjadi dingin seperti es.
Tentu sekali ia tidak tahu, Siulo Imsat Kang Beng Sin Thong beda dari Siulo Imsat Kang orang aneh ini.
Siulo Imsat Kang dia ini dapat disalurkan di antara senjata mereka selama mereka bertempur, dia jauh terlebih liehay daripada si orang she Beng.
Saking heran dan kaget, Sie Ie mengeluh dalam hatinya.
"Aku tidak sangka sekali bahwa aku bakal terbinasa kecewa disini..."
Tetap Sie Ie melawan, la kedinginan tetapi ia bermandikan keringat.
Di saat anak muda ini menghadapi ancaman maut, tiba-tiba terlihat molosnya sinar terang serta terdengar suara tindakan kaki.
Si orang aneh agaknya heran, dia lantas berhenti menyerang, dia memutar tubuhnya untuk lari pergi.
Si nyonya pun lantas membentak.
"Siapa kau? Mengapa kau datang dari dalam?"
Sie Ie lantas melihat Seng Lam, yang menghalangi menyingkirnya si orang aneh.
la dapat menduga tentulah nona itu, setelah ketinggalan di luar, sudah berdaya mencari jalan masuk.
Dugaan itu cocok.
Sia-sia belaka Seng Lam mencari pesawat rahasia dari pintu yang terkunci sendirinya itu, ia pun berkuatir untuk Sie Ie.
Maka ia lantas mencari lebih jauh.
Ketika ia pergi ke bagian belakang, baru ia berhasil.
Disana ia mendapatkan pintu belakang yang gampang ia memasukinya.
Setibanya di dalam ia mendapatkan segala apa yang membuatnya merasa pasti--yang membikin ia tahu siapa adanya si orang aneh.
Maka ia masuk terus hingga ia menyaksikan pertempuran, sampai si orang aneh mau menyingkir dari ianya.
"Mana aku punya siokcouw Tiong Cu?"
Ia tanya orang aneh.
"Kamu siapa? Kenapa kamu, menduduki guanya siokcouw-ku itu?"
Si nyonya heran.
"Apa?"
Tanyanya.
"Siapa itu siokcouw kau?"
"Akulah turunan ke sebelas dari Le Kong Thian!"
Sahut Seng Lam.
"Tiong Cu ialah siokcouw-ku!"
"Kalau begitu,"
Kata si nyonya, heran, dan suaranya berubah menjadi lunak.
"kaulah sanakku yang terdekat. Tiong Cu itu suamiku dan Poan Kwie ini anakku."
Si orang aneh lantas melepaskan boneka kuningannya, ia nampak likat.
"Paman, apakah kau tidak sudi mengakui aku?"
Seng Lam kata pada si orang aneh, yang bernama Poan Kwie itu.
"Baiklah kau periksa kimpay-ku ini!"
"Aku tidak tahu bahwa kaulah keponakanku,"
Kata si orang aneh akhirnya, ia tetap jengah.
"Kemarin ini..."
"Aku pun tidak tahu yang siokcouw-ku meninggalkan turunannya disini,"
Kata Seng Lam cepat.
"Karena, kita samasama tidak kenal, sudahlah, kita jangan menyebut-nyebut pula kejadian itu."
Pada lebih daripada lima puluh tahun dulu, anggauta keluarga Le yang berangkat mencari pulaunya Kiauw Pak beng ialah dua saudara, Pek Cu dan Tiong Cu.
Pek Cu, si kakak, ialah yang berlayar pulang.
Tiong Cu, si adik, terus diam dan terus mencari kitabnya Pak Beng itu.
Tahun lewat tahun, tidak ada kabar dari kakaknya, dan juga tak ada sanak keluarga lainnya yang datang.
Ia tetap berdiam, tak mau ia meninggalkan pulau ini.
Sampai pada suatu hari ada sebuah perahu yang diterjang badai dan melanggar karang hingga karam, di antara penumpangnya ada seorang wanita Arab yang dapat ditolongi.
Kejadianlah ia menikah dengan wanita asing itu.
Di tahun berikutnya, dari isterinya ini ia mendapat satu anak laki-laki.
Karena ia sangat mengharap-harap pulang, maka ia beri nama Poan Kwie pada anaknya itu.
Nama itu berarti "mengharapi pulang".
Wanita itu tidak mengerti ilmu silat, sesudah menikah, baru Tiong Cu mengajarnya.
Silat perlu untuk wanita itu, yang mesti hidup bersendirian di pulau kosong.
Inilah sebabnya kenapa wanita itu, ialah si nyonya tua, kalah gagah dari Poan Kwie, anaknya.
Baik Pek Cu maupun Tiong Cu mempunyai masing-masing sebuah tanda mata, ialah itu kimpay atau medali emas, dimana ada diukir romannya Le Kong Thian, leluhur mereka.
Dua saudara itu berjanji, medali itu dijadikan bukti kalau-kalau ada anggauta keluarga yang terlebih muda datang ke pulau, dengan begitu dapat dibuktikan andaikata ada orang yang memalsu atau menipu.
Dan ketika Pek Cu pulang, ia memesan dan mewariskan medalinya itu kepada anggauta keluarganya yang mana saja yang berniat berlayar ke pulau kosong itu.
Le Tiong Cu menutup mata setelah masuk umur delapan puluh tahun.
Sebelumnya ia menghembuskan napasnya yang terakhir, ia telah menuturkan segala hal ikhwalnya kepada puteranya itu, dan ia memesan untuk si anak berdiam dan menjagai pulau ini, menanti sampai ada anggauta keluarganya yang lainnya datang mencari.
Le Poan Kwie menantikan tahun ketemu tahun.
Sudah lewat belasan tahun semenjak ayahnya menutup mata, tak pernah ia mendapatkan anggauta atau sanak pamilinya yang datang menyusul dan mencari, bahkan tak pernah terlihat lain perahu datang ke pulaunya itu.
Lekas sekali ia telah berumur empat puluh tahun lebih.
Ia menjadi lebih bergelisah karena tak mendapatkan isteri.
Ia kualir, setelah ia menutup mata, pasti tak ada turunannya.
Dengan begitu sia-sia usahanya mereka dua turunan-ayah dan anak-di pulau kosong ini.
Itulah sebabnya waktu itu hari ia menem-pur Kim Sie Ie, mendapatkan Seng Lam seorang wanita, ia menjadi girang luar biasa, lantas ia meninggalkan musuhnya, terus ia menangkap Nona Le.
Hanya ketika ia sudah berhasil memegang si nona.
tiba-tiba ia melihat medali di lehernya nona itu, ia menjadi malu sendirinya, segera ia menyingkirkan diri.
Tapi sekarang ia telah mengenali Seng Lam sebagai keponakannya, ia girang.
Di akhirnya ia menemukan juga sanak keluarganya.
Di balik kegirangannya, ia berduka juga ia terharu sendirinya.
Ia kata.
"Siokcouw-mu telah lama menutup mata. Kuburan di dalam rimba tadi ialah kuburannya. Sie le telah dapat beristirahat, melihat kedua pihak sudah saling mengenali, ia lantas bertindak menghampirkan. la berniat memberi hormat pada Le Poan Kwie ketika mendadak Poan Kwie mementang kedua matanya lebar-lebar dan bengis dan dengan keras menanya Seng Lam.
"Apakah dia ini pun dari keluarga Le?"
"Bukan,"
Sahut Seng Lam.
"Dia... dia..."
Belum habis si nona berkata atau Poan Kwie sudah membentak.
"Kenapa kau ajak orang luar masuk kemari?"
Lalu sambil berseru itu, dengan tangannya yang besar, ia menyambar Sie Ie, untuk menjambak!
Seng Lam terkejut, dia lantas maju untuk menghalang, meski begitu, sebab Poan Kwie sangat gesit dan sambarannya secara sangat mendadak, baju Sie Ie kena juga tersambar pecah.
Syukur Sie Ie dapat berkelit, kalau tidak mungkin dadanya tercengkeram dan ter-lukakan.
"Paman!"
Seng Lam berteriak.
"Dialah sahabat kekalku!"
"Meski begitu, masih tak dapat dia masuk kemari!"
Kata Poan Kwie keras.
"Apakah kau telah melupakan pesan leluhurmu? Kitab ilmu silat Kiauw Pak Beng tidak dapat dikasih lihat pada orang luar dan pulaunya ini dilarang diinjak orang lain she! Dia bukannya sanak Keluarga Le, tidak dapat aku membiarkan dia keluar dari sini dengan masih hidup!"
Seng Lam kaget dan bingung.
"Paman!"
Dia kata dalam bingungnya itu.
"dialah suami keponakanmu ini!"
Poan Kwie heran hingga ia tercengang.
"Ah, mengapa kau tak mengatakannya siang-siang?"
Katanya kemudian.
"Hampir aku membuat dia celaka..."
Mukanya Seng Lam menjadi merah, tetapi sudah terlanjur, ia membawa sikap likat, sembari bersenyum ia kata.
"Bukankah tadi aku telah bilang bahwa dialah sahabat kekalku? Siapa suruh paman berlaku tidak sabaran?"
Poan Kwie mengawasi keponakan itu, hatinya bekerja.
Ia pikir ia tentu tidak bakal dapat isteri lagi, sedang kitab warisannya Kiauw Pak Beng entah sampai kapan bakal didapatkannya.
Maka ia anggap baiklah ia membiarkan ini suami isteri berdiam disini, kalau nanti sang keponakan perempuan mendapat anak, anaknya itu toh cucu luar, hingga bersama suami isteri itu, sang cucu boleh melanjuti mencari kitabnya Kiauw Pak Beng.
Maka akhirnya ia tertawa dan kata.
"Kalau begitu, dia pun bukan orang luar. Sunsay, Mari! Barusan aku telah membikin kau kaget."
Sie Ie bingung, dia likat. Untuknya, mengakui salah, tidak mengakui salah juga. Kalau dia menyangkal, dia bisa celaka. Karena ini, dia berdiam saja. Poan Kwie tertawa pula.
"Sudah berapa lama kamu menikah?"
Dia tanya.
"Sudah satu tahun tiga belas hari,"
Sahut Seng Lam terpaksa. Atas jawaban itu Sie Ie berpikir. Benarlah kata si nona, semenjak ia berkenalan dengannya, ia telah mengenal nona itu satu tahun lewat tiga belas hari.
"Hebat dia mengingat demikian tepat,"
Pikirnya pula.
"Aku tadinya menyangka dia ngoceh saja. Rupanya perkenalan itu dia menganggapnya sebagai hari nikah kita..."
Sie Ie memuji si nona sedang ia sendiri pun mengingat baik tanggal perkenalan mereka itu, kalau tidak, tidak nanti ia dapat mengingat atau menghitung sedemikian cepat.
"Satu tahun tiga belas hari!"
Kata pula Poan Kwie.
"Hari itu bukannya hari yang pendek! Mengapa kamu nampaknya masih malu-malu?"
Sie Ie menjadi sangat serba salah. Terpaksa ia memberi hormat sambil memanggil.
"Cekkong!"
Lalu ia memberi hormat juga pada si nyonya tua, si nenek. Senang nyonya itu, dia tertawa girang. Dengan begitu buyar juga sikap bermusuhnya terhadap anak muda itu.
"Taysiokpo,"
Tanya Sie Ie kemudian pada nenek itu.
"bukankah di waktu melatih diri telah terjadi kekeliruan menyalurkan napas maka juga taysiokpo menjadi tersesat?"
"Benar,"si nyonya tua mengakui.
"Bagaimana kau ketahui itu?"
"Karena dulu hari cucumu pun hampir tersesat serupa,"
Sie Ie menerangkan.
"Syukur kemudian aku dapat petunjuknya seorang berilmu yang sekalian mengajari aku ilmu dalam yang lurus, hingga aku bebas dari ancaman malapetaka. Aku lihat, taysiokpo, meskipun telah tersesat, kau belum kasip. Kalau suka, marilah taysiokpo mencoba cara menyalurkan napasku itu."
Le Tiong Cu belum mendapatkan kitabnya Kiauw Pak Beng, dia tidak mengerti pergabungan lurus dan sesat, maka itu Le Poan Kwie, anaknya, cuma dapat meyakinkan Siulo Imsat Kang sampai di tingkat ke tujuh.
Isteri Tiong Cu dinikah di tengah jalan, dapat dimengerti yang isterinya itu tidak memperoleh kemajuan yang berarti, bahkan dia tersesat.
Sie Ie lantas memberikan pelajarannya.
Si nyonya tua dan anaknya menurut, mereka meyakinkannya.
Belum lama, keduanya menjadi girang sekali.
Baru saja mulai, mereka sudah merasakan kefaedahannya itu, yaitu napas mereka dirasai tersalur lurus.
Poan Kwie pun lantas mengajari Sie Ie beberapa macam ilmu silat Keluarga Le.
Ada maksud yang jauh dari Sie Ie mengapa ia mau mengajari si nenek.
Ia bukannya mau mengambil hati.
Ia tahu disana ada Beng Sin Thong yang liehay, maka perlu si nenek disembuhkan agar mereka memperoleh bantuan yang berharga.
Ia percaya, selang tiga bulan, nenek itu bakal bisa bangun dan berjalan seperti biasa.
Setelah itu, Poan Kwie tanya Seng Lam siapa itu rombongannya Beng Sin Thong, apa mereka itu bukan sahabatnya juga.
"Bukan,"
Sahut Seng Lam.
"bahkan yang tua ialah musuhnya keluarga kita!"
Ia lantas menangis, tetapi ia masih dapat menguati hati untuk bicara terus.
"Semua beberapa puluh anggauta keluarga kita telah dibinasakan dia, yang dapat meloloskan diri cuma aku satu orang..."
Poan Kwie gusar sekali, tetapi ia heran.
"Habis kenapa kau datang bersama mereka itu?"
Dia tanya.
"Mereka bukan datang bersama hanya mereka mengejar kami, mereka pun mau mencari kitabnya Kiauw Pak Beng,"
Sahut Seng Lam, yang terus menuturkan peristiwa di Coato, Pulau Ular, bagaimana mereka berdua dipaksa mengantarkan rombongan itu ke pulau ini, hingga mereka jadi sampai berbareng.
"Dia begitu jahat!"
Kata Poan Kwie gusar sekali.
"Baiklah, besok akan aku bunuh dia!"
"Beng Sin Thong seperti terkurung di pulau ini, tidak nanti dia dapat menyingkirkan diri,"
Kata Sie le.
"Baiklah kita menanti sampai taysiokpo sudah sembuh baru kita cari padanya. Kita masih mempunyai waktu."
Poan Kwie cerdas, ia lantas dapat menangkap maksudnya Sie Ie.
Sin Thong musuh besar keluarga Le, sudah seharusnya yang membalas terhadapnya ialah turunan sah dari keluarga yang bersangkutan itu.
Di dalam hal ini, turunan itu ialah Le Seng Lam.
Sie Ie sendiri suka membantu Seng Lam sebab ke satu ia telah menerima budi dan kedua ia merasa kasihan si nona sebatangkara.
Sekarang Seng Lam sudah berkumpul dengan sanaknya, pembalasannya itu bukan soal sukar lagi, maka ingin ia tidak campur tangan.
Jadi mereka tinggal menanti sembuhnya si nenek.
Seng Lam dapat menerka pikiran Sie Ie, ia pun menyatakan kesetujuannya.
"Baiklah,"
Katanya.
"Biarlah kita tinggal disini dulu, biarlah dia dapat hidup lagi sekian hari! Sekarang perlu kita bicarakan soal mencari kitabnya Kiauw Pak Beng."
"Tapi aku hendak mengobati dulu kimmosoan,"
Katanya.
"setelah sembuh, biarlah binatang itu yang lebih dulu menyiksa mereka itu."
Akhirnya si nyonya tua tertawa dan kata.
"Kau telah membikin mereka ini berdua kaget, sekarang kau kasihlah mereka beristirahat!"
Poan Kwie mengangguk. Ia lantas menyalakan lilin.
"Seng Lam,"
Katanya.
"keluarga Le tinggal kau satu orang, maka itu rumah ini ialah rumahmu. Sekarang mari aku menunjuki kau keadaan rumah ini!"
Seng Lam mengangguk.
Lilinnya Poan Kwie itu lilin besar, terbuatnya dari minyak kerbau, maka itu terangnya luar biasa.
Seng Lam dan Sie le mengikuti paman itu, yang membawa lilin tersebut.
Jalan berliku-liku saling melintang, saban-saban ada perangkapnya.
Itulah persiagaannya Kiauw Pak Beng dulu hari, yang kemudian ditambah oleh Pek Cu dan Le Tiong Cu dua saudara, Sembari menyaksikan semua itu, Sie Ie kata dalam hatinya.
"Jikalau tidak bersama Le Seng Lam, jangan harap aku nanti dapat datang kemari. Atau kalau toh aku bisa masuk, pasti aku bakal mati terperangkap atau terkurung..."
Di bagian dalam, ruang luas, ada beberapa kamar batunya, dan perabotannya pun lumayan.
Semua itu, pembuatnya dua keluarga Le ayah dan anak, antaranya ada barang tembikar bakaran mereka sendiri.
Poan Kwie kemudian menunjuki kamarnya Kiauw Pak Beng.
"Kamu boleh tidur di dalam kamar ini,"
Katanya.
Bahkan ia membantu mengaturnya.
Tikar ialah kulit binatang liar.
Beberapa lilin kecil pun disediakan.
Malah di dalam pot ada ditaruhkan bunga hutan.
Hingga kamar diumpamakan kamar pengantin!
Paling akhir Poan Kwie membawakan arak buatannya sendiri serta abon.
"Inilah yang pertama kali kamu pulang, maka kamulah mempelai!"
Katanya tertawa.
"Sudah selayaknya aku memberi selamat kepada kamu!"
Sie Ie mesti melawan rasa likat-nya. Ia bersandiwara untuk melayani cekkong itu. Seng Lam juga mesti turut membawa peranan. Poan Kwie sudah minum banyak juga ketika ia kata sambil tertawa.
"Cukuplah sudah, tak mau aku mengganggu kamu lebih lama! Aku mendoakan, semoga kamu lekas memperoleh anak yang manis!"
Mirip dengan "orang hutan", paman ini polos sekali, apa yang dia pikir, dia lantas mengatakannya, hingga dia membikin mukanya Sie Ie dan Seng Lam menjadi merah.
Ketika Poan Kwie mengundurkan diri, ia sekalian menarik pintu untuk dirapatkan.
Seng Lam, menyingkirkan lelatu lilin, kedua belah pipinya merah.
"Engko Sie Ie, apakah kau menyesali aku?"
Ia tanya perlahan. Sie Ie menyeringai.
"Aku tidak tahu bahwa keluargamu mempunyai ini macam aturan,"
Ia menjawab.
"Jikalau aku tahu, tidak nanti aku datang ke pulau ini..."
Dari merah, parasnya Seng Lam menjadi pucat. Ia pun lantas mengalirkan air mata. Ia jengah, menyesal dan mendongkol.
"Memang aku tahu aku tidak sembabat untukmu,"
Katanya, perlahan, nadanya nada penasaran.
"Oh, oh, tentulah di dalam hatimu kau mengatai aku tidak tahu malu!..."
Tak tega Sie Ie melihat nona itu bersusah hati demikian, ia merasa kasihan, hampir ia mengulur kedua tangannya guna merangkul. Syukur ia masih dapat menguasai diri.
"Seng Lam, jangan kau berkata begini!"
Ia kata, sungguhsungguh.
"Aku... aku sebelumnya aku bertemu dengan kau, di dalam hatiku sudah berpeta seorang lain... Kau cantik bagaikan bunga, kau pun sangat cerdas, pasti bakal ada orang yang melebihkan aku sepuluh lipat ganda yang nanti mendampingimu. Untukmu, cukup asal kau melirik. Buat apa kau menaruh hatimu padaku?"
Air mata si nona mengembeng.
"Aku juga tahu, di hatimu telah ada lain orang,"
Ia berkata.
"Aku pun terpaksa, mengatakan demikian kepada pamanku. Sekarang bagaimana?..."
"Sebenarnya aku bersyukur untuk kebaikan hatimu,"
Bilang Sie le.
"Maka itu umpama kata kau tidak mencela aku..."
Si nona segera mengangkat kepalanya, ia memandang tajam.
"Bagaimana?"
Tanyanya.
"Usiaku lebih tua daripada usiamu,"
Kata Sie Ie.
"umpama kau tidak buat celaan, marilah kita saling memanggil kakak dan adik... Bagaimana kau pikir?"
"Apakah begitu juga kita saling berbahasa di depan pamanku?"
Si nona menegaskan.
"Sebelum kita meninggalkan pulau ini, biarlah untuk sementara kita menjadi suami isteri palsu,"
Kata Sie Ie.
"Asal di dalam hati, kita ialah kakak dan adik. Aku tahu, Seng Lam, hal ini membuatmu sangat bersusah hati. Tapi ini daya satusatunya, apa mau dikata? Harap kau memaafkan aku."
Seng Lam menahan keluarnya air matanya.
"Koko!"
Ia memanggil perlahan sambil ia memberi hormat. Baru sekarang Sie Ie berani memegang tangan orang, untuk dipimpin bangun.
"Adik!"
Ia membalasi.
"Koko, kau baik sekali terhadapku,"
Kata pula si nona.
"Baiklah, selanjutnya aku akan menjadi adikmu yang sejati. Tentang lain pria, tak nanti aku meliriknya."
Sie Ie merasa tak enak di hatinya.
Sungguh-sungguhkah si nona di waktu dia mengucapkan demikian?
Benar-benarkah Seng Lam puas menjadi adik angkatnya?
Ia pikir, itulah tak mungkin...
Malam itu Sie Ie minta si nona tidur di atas pembaringan, ia sendiri tanpa membuka pakaian luar rebah di bawah, di tanah.
Sampai fajar ia tak pulas sekejab juga.
Ia telah berpikir keras.
Memang semenjak pertama kali bertemu si nona, ia mendapat perasaan nona itu telah menjadi seperti bayangannya, sulit untuk menyingkir daripadanya.
Sekarang sifatnya itu berubah tetapi tak merubah tanggung jawabnya.
Ia mau percaya, setelah mendapatkan kitabnya Kiauw Pak Beng dan telah pulang ke daratan, belum tentu ia dapat dengan sesukanya memisahkan diri dari adik angkatnya ini.
Siapakah dapat memisahkan diri dari bayangannya?
Lantas, habis itu, Sie Ie memikirkan Kok Cie Hoa.
Ia ingat si nona dan lantas romannya nona itu berpeta.
Seperti embun pagi menimpa kelopak matanya, demikian ia disadarkan.
Ia merasa, kalau ia berkumpul dengan Cie Hoa, hatinya menjadi bersih dan jernih, pikirannya menjadi terang, semangatnya menjadi terbangun, bagaikan ia ingin naik menanjak, dan terhadap penghidupan, terhadap dunia, ia makin menyayangi.
Tapi, berada dengan Seng Lam, jauh bedanya, hatinya terasa berat, tubuhnya seperti tertarik bandulan tenggelam dalam, tenggelam terus, dan mengenai hari depannya, ia merasakan sesuatu yang tak menenangkan.
Ia merasakan sesuatu yang aneh...
Seng Lam demikian menyinta ia.
Mungkinkah kemudian si nona mencelakainya?
Toh ia jeri!
Seng Lam itu aneh dan bagaikan terahasiakan, tak dapat ia menebak atau menerkanya.
Ia tetap ber-sangsi...
Pula masih ada bayangannya seorang lain lagi, yang menyeiak di antara mereka.
Dialah Lie Kim Bwee!
Nona ini sangat lurus dan polos.
Berdekatan dengan Kim Bwee, ia dibuatnya menjadi riang gembira.
Nona itu mendatangkan rasa kasih sayangnya.
Dibanding dengan Cie Hoa, Kim Bwee tak beda seberapa...
Cuma di matanya, Kim Bwee itu ialah nona belum dewasa, ia ingin memandangnya sebagai adik kandungnya...
la mengharap sangat mempunyai adik seperti si nona Lie, bukan adik seperti Seng Lam ini...
Sie Ie tidak dapat tidur, akan tetapi ia toh terperanjat di waktu Seng Lam mengasih ia bangun.
Ia kelelap dalam lamunan.
Ia heran wakta ia melihat matahari pagi telah bersinar di sela-sela batu yang merupakan tembok.
"Kau tidur nyenyak sekali!"
Kata si nona tertawa.
"Lihat, cuaca telah menjadi terang sekali! Sebenarnya aku ingin membiarkan kau tidur terus, tetapi hari ini ada hari pertama yang kita 'pulang ke rumah', maka itu perlu kita bangun pagipagi untuk menghormati orang tua-tua..."
Nona itu bicara dari hal "pulang ke rumah", tetapi Sie Ie sendiri berpikir.
"Mana kau ketahui bahwa aku tak tidur semalam suntuk!"
Seng Lam mengawasi, mukanya merah ketika ia kata pula, perlahan.
"Kita telah menjadi engko dan adik, akan tetapi di depan pamanku kau mesti bersikap lebih erat dengan aku, supaya kita mirip suami isteri tulen, agar janganlah rahasia kita terbuka..."
Dengan terpaksa, Sie Ie mengangguk.
Lantas berdua mereka pergi keluar.
Mereka tidak menemukan Poan Kwie.
Ketika si nyonya tua ditanyakan, dia membilangi bahwa anaknya itu telah pergi dari pagi-pagi sekali mengajak kimmosoan.
Sampai tengah hari barulah Poan Kwie pulang bersama binatang piaraannya itu, binatang mana sebenarnya masih harus dirawat beberapa hari akibat serangan Siulo Imsat Kang dari Sin Thong.
Begitu tiba dia kata.
"Bangsat tua she Beng itu bersama dua kawannya entah bersembunyi dimana! Bukankah kamu bilang kamu telah membangun tenda di tepi telaga di dalam rimba? Aku telah pergi kesana, apapun aku tidak dapat lihat, bahkan tidak ada tapak kaki juga!"
Beng Sin Thong itu sangat cerdas licik.
Dia segera bercuriga begitu dia melihat sikapnya si orang aneh terhadap Seng Lam.
Dia lantas menduga-duga mesti ada sesuatu hubungannya berkenaan menyingkirkan Sie Ie dan Seng Lam dari rombongannya.
Dia cuma tak dapat menerka bahwa Seng Lam ialah keponakannya si orang aneh.
Saking curiga dia pikir.
"Mungkinkah Kim Sie Ie dan Seng Lam mau berserikat dengan si orang aneh untuk menghadapi aku?"
Mengingat ini, dia menggigil sendirinya. Kalau benar, itulah ancaman bahaya untuknya.
"Mesti aku menjauhkan diri dari mereka!"
Akhirnya dia mengambil keputusan.
Maka tengah malam itu dia ajak Biat Hoa Hwesio dan Kunlun Sanjin menyingkir dengan diam-diam.
Sebagai orang-orang Kangouw berpengalaman, mereka tahu harus berbuat apa.
Begitulah mereka meloloskan sepatu mereka, sebagai gantinya, kaki mereka itu dibungkus.
Juga mereka jalan di tempat dimana ada rumput tebal.
Dengan ilmu ringan tubuh mereka yang mahir, sama sekali mereka tidak meninggalkan tapak kaki.
"Sungguh liehay hantu tua itu!"
Kata Seng Lam.
"Tentulah selanjutnya dia semakin berhati-hati. Pulau ini luas ratusan lie sekitarnya, kalau dia main menyembunyikan diri, mana dapat dia dicari?"
"Meski mereka sangat liehay, tidak nanti mereka lolos dari pulau ini!"
Kata Sie le tertawa.
"Sekarang lebih perlu kita mencari kitab, sesudah itu perlahan-lahan kita mencari mereka untuk membereskannya."
Seng Lam mau percaya Sie Ie.
Di antara tiga orang itu, cuma Sin Thong yang dapat melayarkan perahu.
Perahu pun telah dirusak Biat Hoa, untuk memperbaiki itu dibutuhkan waktu sedikitnya setengah bulan.
Kalau mereka membikin betul perahu itu, mesti mereka kepergok.
"Benar!"
Ia kata.
"Memang paling perlu kita lantas mencari kitab silat, supaya Sin Thong tidak mendahuluinya!"
Poan Kwie mengerutkan kening.
"Bersama-sama ayah aku mencarinya sudah puluhan tahun, tetap kita tidak berhasil,"
Ia kata.
"Kau bicara gampang saja..."
Seng Lam tidak menjadi kecil hati karena kata-kata pamannya itu.
"Sie Ie,"
Ia bilang.
"coba kau keluarkan gambar kita itu. Katanya dengan melihat gambar itu kita akan dapat memecahkan rahasianya tempat menyimpannya. Cuma sampai sebegitu jauh kita belum dapat menangkap artinya. Paman telah tinggal puluhan tahun disini, pasti paman mengenal seluruh tempat dengan baik, umpama kata selembar rumputnya atau sebatang pohonnya, maka itu mungkin paman dapat menangkap maksudnya."
Sie Ie menurut, ia mengeluarkan dan membeber gambarnya. Poan Kwie melihat gambar itu, ia mengawasi sekian lama, lalu ia menggeleng-geleng kepala dan romannya pun putus asa.
"Gambar apa ini?"
Katanya.
"Aku juga tidak mengerti..."
Tapi ia mengawasi terus, romannya sungguh-sungguh, agaknya ia berpikir keras.
"Paman, apakah kau telah melihat sesuatu?"
Seng Lam tanya.
"Raksasa itu aneh!"
Kata Poan Kwie.
"Aku tidak dapat memikirnya. Baiklah aku ajak kamu melihat suatu tempat..."
Paman ini mengajak keponakan itu serta Sie le keluar dari gua mereka, mereka memanjat gunung untuk tiba di atas dimana pepohonan sedikit.
Selang dua jam, dia berhenti di mulut gunung, untuk memandang puncak gunung yang gundul.
"Coba kamu lihat, puncak ini mirip apa?"
Dia tanya. Sie Ie tengah memikir atau Seng Lam berseru.
"Mirip manusia!"
"Ah, jangan-jangan si raksasa di dalam gambar dimaksudkan puncak ini!"
Kata ia, kata-katanya pun keterlaluan.
"Itu sebabnya kenapa aku ajak kamu melihat ini,"
Kata Poan Kwie.
"Hanya puncak itu pernah aku mendakinya beberapa kali, disana tidak ada guanya, cuma romannya mirip patung batu. Mungkinkah kitabnya Kiauw Pak Beng disimpan di dalam puncak itu? Pula masih ada halnya lukisan dalam gambar, yaitu tentang kedua tangan si raksasa lagi menarik busur. Memang bagian kiri dan kanan puncak ini mirip tangantangan. Kalau begitu, mana busurnya? Juga tidak ada apa-apa yang mirip jemparing..."
Seng Lam berdiam, juga Sie Ie. Tapi bertiga mereka terus mengawasi gambar, otak mereka bekerja. Poan Kwie telah mendapat tahu dari Sie Ie lelakon gambar aneh itu.
"Gambar ini dibuat oleh Kiauw Pak Beng sendiri,"
Kata Poan Kwie kemudian.
"gambar ini dibuang ke laut untuk dibiarkan didapati orang yang berjodoh dengannya, maka itu mesti ada artinya. Sekarang kita telah mendapatkan si raksasa, tinggal lain bagiannya lagi..."
"Paman bilang di puncak ini tidak ada guanya,"
Kata Seng Lam sesudah ia berpikir sekian lama.
"akan tetapi mulutnya si raksasa toh dipentang, bukan?"
"Itulah terjadi karena dua potong batu atas dan bawah, tengahnya menjadi seperti renggangnya, sebesar kepalan cuma,"
Sahut Poan Kwie.
"Itu bukannya liang atau gua..."
"Coba kita naik dan lihat,"
Seng Lam mengajak.
Puncak gundul dan tinggi, tak ada tempat untuk menaruh kaki, tetapi Poan Kwie telah mempunyai dadung dan kapak serta pahat, maka tak sulit untuk mereka manjat.
Bersama Kim Sie Ie ia menggunai ilmu "Pekhouw Kang"
Atau "Cecak"
Untuk melapai naik, setelah mana mereka membuat sebuah liang, untuk menancap sebatang besi dimana dadung ditambat, dengan begitu di lain saat Seng Lam telah dapat dikerek naik.
Mereka manjat terus.
Mendekati tengah hari, mereka tiba di batu besar mirip raksasa itu, di bawahnya mulutnya.
Mereka mencari tempat untuk menaruh kaki, untuk memandanginya.
Yang disebut mulut itu cuma muat sebuah tangan.
Juga agaknya tenaga mereka tak cukup guna mementang mulut itu...
"Telah kita dapatkan mulutnya, sekarang bagaimana dapat kita masuk ke dalamnya?"
Kata Poan Kwie menyeringai. Ia kecele. Seng Lam mengawasi sekian lama.
"Lihat mulut itu!"
Katanya.
"Bukankah ada beberapa bocah giginya? Aku maksudkan batu-batu kecil panjang yang berdiri itu, yang dinamakan rebung batu."
"Apakah artinya gigi-gigi semacam itu?"
Tanya sang paman. Seng Lam membeber gambarnya.
"Kiauw Pak Beng memberi tanda disitu,"
Katanya, tangannya menunjuk.
Sie le melihat ke tempat yang ditunjuk itu.
la mendapatkan, dihitung dari sebelah kiri, jaraknya gigi kedua dan ketiga lebih jarang daripada yang lain-lainnya.
Itu artinya lebih lebar.
"Baik, nanti aku coba,"
Kata Poan Kwie.
Dan ia mengulur kedua tangannya, dikasih masuk ke dalam mulut itu.
Dengan tangan kiri ia memegang gigi yang kedua dan dengan tangan kanan mencekal gigi yang ketiga, terus ia memeng-kang.
Ia menggunai tenaganya.
Tiba-tiba terdengar suara berkeresek.
Kedua gigi itu bergerak ke kiri dan kanan, batu hancurannya pada meluruk.
Apa yang luar biasa, mulut itu lantas terbuka lebar, hingga tubuh seorang orang dapat merayap masuk ke dalamnya!
Ketiganya menjadi heran berbareng girang.
"Nanti aku coba,"
Kata Seng Lam, yang tubuhnya paling kecil. Dan ia lantas merayap masuk.
"Aku pun dapat masuk,"
Kata Sie Ie di dalam hati.
"Pamannya ini bertubuh besar, dia tidak..."
Tengah ia berpikir itu, ia melihat Poan Kwie melempangkan tubuhnya dan menyedot napas dalam-dalam, lalu terdengar tulang-tulangnya pada berbunyi meretak, lalu lagi lantas terlihat tubuhnya menjadi ciut ringkas, maka ketika dia pun merayap, dia dapat merangkang masuk!
Bukan main herannya Tokciu Hongkay.
Di luar dugaannya, orang she Le ini pandai Siukut Kang, ialah ilmu menciutkan tubuh.
Ia mengetahui ilmu itu tapi baru sekarang melihat untuk pertama kalinya.
"Benar-benar hebat!"
Ia berpikir.
"Ilmu silat keluarga Le didapat dari Kiauw Pak Beng dan itu selama Pak Beng belum menyingkir ke pulau ini. Entah bagaimana sesudah dia meyakinkannya lebih jauh seorang diri... Pasti Kong Thian belum dapat mewariskan semua kepandaian guru atau majikannya itu tetapi kepandaiannya Poan Kwie ini sudah mengagumkan. Coba kita berhasil memperoleh kitab rahasia dan berhasil juga memahamkan-nya, siapa nanti dapat menandingi kita?"
Karena orang sudah masuk, Sie Ie pun menyusul. Karena liang sempit dan batu tidak rata, ia mendapat beberapa luka lecet. Poan Kwie tertawa melihat luka orang itu.
"Kalau tahu begini, lebih dulu aku mengajarkan kau Siukut Kang!"
Katanya.
"Kau berbakat dan cerdas, di dalam tempo tiga hari, kau tentu dapat menguasainya."
Mulut gua itu kecil di depan, di dalamnya lebar sekali.
Dengan seikat cabang cemara, Poan Kwie membuat obor, lalu bertiga, dengan berhati-hati, mereka memasukinya lebih jauh.
Mulanya mereka menyangka gua itu mestinya aneh, kemudian ternyata, mereka dapat masuk tanpa rintangan apaapa.
Sekian lama mereka berjalan, mendadak mereka melihat cahaya terang.
"Itukah busur!"
Poan Kwie berseru.
"Ah!"
Seng Lam pun berseru.
"Entah dari apa dibuatnya busur ini! Sungguh luar biasa? Koko Sie Ie, pernahkah kau melihat busur raksasa semacam ini?"
Sie Ie maju mendekati, untuk meneliti.
Di tembok batu ada menonjol sebuah rebung batu, pada itu tergantung busur yang dimaksudkan Poan Kwie dan Seng Lam.
Busur itu besar luar biasa, sebelumnya belum pernah ia melihatnya.
Poan Kwie menyuluhi dengan obornya.
"Busur begini besar, mungkin kau tak kuat mengangkatnya, Seng Lam,"
Dia kata.
"Cobalah kau angkat, Sie Ie!"
Sie Ie maju, ia mengulur kedua tangannya, untuk memegang dan mengangkat.
Dengan lantas ia menjadi terperanjat saking heran.
Ia memang sudah menduga, busur mesti berat, tetapi ia tidak pernah menyangka, ia tak kuat mengangkatnya.
Ia baru berhasil sesudah ia mengerahkan tenaga besar!
Selain berat, busur pun dingin sekali.
"Inilah busur kemala putih!' ia berseru. Poan Kwie meraba-raba.
"Memang kemala tetapi bukannya kemala putih yang umum,"
Ia bilang.
"Inilah kemala yang didapatkan dari dasar laut. Ketika dulu hari ayahku selulup di laut, ia telah mendapatkan dua potong kemala semacam ini, kecil sekali, tetapi berat timbangannya beda sepuluh lipat dari kemala biasa. Talinya busur ini terbuat dari otot ular naga, juga serupa benda yang sukar didapatkan. Inilah busur aneh, jikalau kita bawa pulang ke daratan, pasti dunia Rimba Persilatan bakal gempar karenanya!"
Sie Ie tertawa.
"Siapakah yang sanggup mementang busur ini?"
Ia kata.
"Kalau aku membawanya dengan menggendolnya di punggungku, mungkin belum lewat sepuluh lie, punggungku akan sudah bongkok melengkung!"
Pemuda ini mencoba menarik tali busur, ketika ia menghabiskan tenaganya, ia cuma dapat menarik seperti bulan sisir, tak sanggup seperti bulan purnama.
"Mari aku pun mencobanya!"
Kata Poan Kwie tertawa, la menyerahkan obor pada Seng Lam, ia menyarnbuti busur dari Sie Ie, lantas ia menarik. Dan ia dapat menarik, hingga busur itu melengkung penuh! Sie Ie kagum bukan main.
"Cekkong bertenaga besar luar biasa!"
Ia memuji.
Ketika Poan Kwie mencoba menarik hingga dua kali, napasnya sengal-sengal juga.
Jemparingnya busur itu kedapatan di bawahnya rebung batu yang menjadi tempat gantungan.
Semuanya cuma tiga batang.
Ketika Poan Kwie jumput itu, ia mendapatkan anak panah yang luar biasa juga, sebab yang satu ujungnya, yaitu kepalanya, terpecah dua, dan yang dua lagi, pecahannya lebih lebar.
"Entah apa maksudnya ketika dulu hari Kiauw Couwsu membuat panah ini,"
Kata Poan Kwie kemudian.
"Mungkin benar banyak binatang liar disini tetapi dengan kepandaiannya saja, bukankah sudah cukup untuk melayaninya? Jadi, buat apakah panah semacam ini?"
"Lihat!"
Seng Lam berseru tiba-tiba.
"Ada lagi benda mustika!"
Sie Ie lantas mengawasi ke arah si nona menunjuk.
Dari tanah terlihat sinar terang hijau.
Benda itu mudah terlihat, tetapi barusan orang dibikin heran dan kagum sang panah, perhatian mereka tidak lantas tertarik.
Ketika ia bertindak menghampirkan, Sie Ie dapatkan itulah sebuah pedang, yang nancap di tanah.
Barusan ia dapat pengalaman dari busur, maka untuk mencabut pedang ini ia memasang kuda-kuda, ia mengerahkan tenaganya.
Tapinya, setelah mencabut, ia kecele.
Melesetlah perkiraannya.
Bukannya berat atau sukar, pedang itu justeru terlalu enteng, nancapnya tak keras dan kuat, maka itu, ia telah terhuyung dua tindak.
"Eh, kenapakah?"
Tanya Seng Lam heran. Ia lompat menghampirkan.
"Tidak apa-apa,"
Sahut Sie Ie.
"Cuma pedang ini nancap kendor sekali..."
Sembari berkata begitu, ia cabut pedang itu.
Mendadak ruang itu, yang tadinya cuma diterangi obor, lantas jadi terang luar biasa sekitar tiga tombak, sedang cahayanya, yang hijau, berkilau-kilau.
Poan Kwie periksa pedang itu, tak dapat ia menerangkan dari logam apa terbuatnya.
Bertiga mereka menjadi heran dan kagum tak terkirakan.
Ketiga-tiganya benda aneh, ketiga-tiganya mustika.
Sie Ie ingin menguji pedang itu.
Ia membabat sebatang rebung batu.
Hanya sekali tabas, rebung itu putus.
Ketika ia menusuk ke tembok gunung, batunya hancur berjatuhan, nancapnya dalam beberapa dim.
Tempo ia memeriksa, ujung dan tajamnya pedang tidak tertekuk atau gompal.
"Pedang mustika!"
Kata si anak muda, girang.
"Pasti pedang ini lebih tajam daripada pedang Yuliong Kiam kepunyaannya Tong Keng Thian!"
"Tongkat dan pedangmu lenyap di dasar laut,"
Kata Seng Lam tertawa.
"maka pedang ini tepat untukmu."
"Inilah pedang keluargamu,"
Kata Sie Ie.
"tak dapat aku memakainya."
Dan ia mengangsurkan pedang itu kepada Poan Kwie. Si orang aneh mengawasi dengan mata terbuka lebar, nampak ia tidak senang.
"Ingat, Sie Ie, kaulah sunsay kami,"
Katanya.
"kau telah terhitung anggauta keluarga kami, maka apakah kau masih hendak memisahkan diri? Aku mempunyai tok-kak tongjin pengajaran leluhurku, aku tidak membutuhkan pedang, maka kau ambillah ini!"
Tidak ingin Sie le menerima banyak budi dari keluarga Le, akan tetapi kata-katanya Poan Kwie tidak dapat ditolak, atau ia bakal membangunkan rasa curiga, maka terpaksa ia ambil pedang itu.
Puas hati Poan Kwie, ia pun girang.
Bukankah benda pusaka Kiauw Pak Beng telah didapatkan disitu.
Maka mungkin sekali, kitab ilmu silat pun disimpan bersama di dalam ruangan ini juga.
"Mari kita mencari lebih jauh!"
Ia mengajak.
Seng Lam dan Sie Ie menyambut ajakan itu dengan gembira.
Memang bukan main faedahnya akan mendapatkan kitab warisan Pak Beng itu.
Kitab pasti jauh lebih berharga daripada panah dan pedang.
Maka ruang itu lantas diperiksa dengan teliti.
Hanya hasilnya, tidak ada.
Sie Ie penasaran, ia pakai pedang mustikanya untuk mencokel-cokel.
Sudah beberapa puluh kali ia membuat liang, masih ia tidak berhasil.
Tidak ada tembok batu yang kosong.
"Cukup sudah!"
Kata Seng Lam.
"Kalau Kiauw Couwsu menyimpan kitabnya disini, mesti sudah kita dapatkan, tak perlu ia membuatnya kita meraba-raba tak hentinya..."
"Benar,"
Kata Poan Kwie.
"Kiauw Couwsu telah membuat gambar dia menunjuki kita datang kemari, kita berhasil mendapatkan dua macam pusaka secara gampang sekali. Kalau kitab disimpan disini, mestinya ia telah memberi petunjuknya di dalam gambarnya."
Ia lantas ambil gambar itu, untuk diawasi dengan seksama. Ia menjadi bingung. Ia tidak dapatkan tanda apa juga, juga tak nampak bagian-bagian yang mencurigakan.
"Ketika dulu hari Kiauw Pak Beng bertemu dengan saudagar yang perahunya terdampar ke pulaunya ini,"
Kata Sie le.
"dia telah memberikan janji, siapa dapat membawa pulang tulang-tulangnya ke daratan, orang itu bakal diambil sebagai muridnya, murid dari lain dunia atau lain jaman. Chong Leng Siangjin yang berhasil mendapatkan buku catatan harian dari saudagar Persia itu, dia telah datang mencari aku, mengajaki aku bekerja sama. Maka itu, kalau benar ada kitabnya itu, mestinya kitab itu disimpan bersama jenazahnya. Ia berada sendirian disini, kalau dia mati di dalam gua, terang sudah tidak ada orang yang kedua yang dapat menolong mengubur jenazahnya. Bukankah gua ini sukar didatangi dan dimasukinya? Bukankah disini pun banyak ular berbisa dan binatang liarnya? Siapakah dapat datang kemari? Memang sudah lewat dua ratus tahun semenjak dia meninggal dunia, walaupun begitu, mestinya ada sisa atau sisa-sisa tulang atau benda peninggalannya. Tapi sekarang, ruang ini tak ada isinya Yang lainnya, sepotong tulangpun tidak ada. Maka aku percaya, jenazahnya tentulah bukan dikubur disini..."
Poan Kwie mulai menjadi putus asa. la telah mencari puluhan tahun lamanya. Baru dapat panah dan pedang. Sekarang jalan mereka buntu. Seng Lam menghibur, katanya.
"Meski kita tidak mendapatkan kitab, diperolehnya panah dan pedang pun berarti usaha kita tidak sia-sia belaka."
Oleh karena sang malam sudah lantas tiba, mereka bermalam di dalam gua itu.
Tengah malam itu terdengar suaranya kimmosoan.
Hati Poan Kwie tak tenang.
Ia kuatir binatang piaraannya itu bertemu dengan Sin Thong.
Karena itu ia tidak dapat tidur pulas, baru terang tanah, ia sudah berbangkit bangun, untuk melakukan perjalanan pulang.
Di lamping gunung tak jauh dari rumah kedapatan bangkainya seekor harimau.
"Rupanya kimmosoan keluar mencari makanan sendiri,"
Kata Seng Lam tertawa.
"Lihat batok kepala binatang ini, polonya telah dimakan habis..."
Poan Kwie menggeleng kepala.
"Aneh suaranya kimmosoan tadi malam,"
Ia bilang.
"Rupanya dia menemukan sesuatu yang menakuti. Harimau ini pasti bukan terbinasa olehnya. Pula tak mungkin dia takut kepada harimau..."
Jalan lebih jauh, mereka lantas menemukan bangkainya seekor singa, yang kepalanya utuh tetapi lehernya patah dan robek.
Terang itu buah tangannya seorang yang liehay ilmu silatnya.
Karena di pulau itu tidak ada lain orang, pasti itulah pekerjaannya Beng Sin Thong!
Bertiga mereka terkejut.
"Sungguh besar nyalinya bangsat tua she Beng itu!"
Kata Poan Kwie gusar.
"Bagaimana berani dia datang kemari!"
Seng Lam teliti, dia berpikir.
"Mungkin bangsat tua itu telah mendapat tahu tempat bernaung kita dan senantiasa memasang mata, hingga dia ketahui yang kita telah meninggalkan rumah. Kalau tidak, tidak nanti dia muncul disini. Dia benar-benar berbahaya, satu hari dia belum disingkirkan, satu hari ancaman bertambah!"
Pikiran ini diutarakan kepada Kim Sie Ie.
"Memang,"
Kata Tokciu Hongkay, yang pun berkuatir.
Ia lega sedikit kalau ia ingat bahwa suasana sekarang telah berubah.
Biar bagaimana, pihaknya telah menjadi terlebih unggul.
Mereka jalan terus.
Mereka manjat pohon, untuk turun dari terowongan.
Poan Kwie memeriksa dengan teliti.
Ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, tak ada bekas orang datang kesitu.
Akhirnya ia tertawa dan kata.
"Mungkin kebetulan saja dia lewat disini. Jikalau dia berani berterang datang kemari, itulah hal yang aku mengharap pun tidak berani. Umpama kata aku tidak ada di rumah, pelbagai pesawat rahasia juga dapat mengurung padanya!"
Lekas juga mereka tiba di dalam dan menemui nyonya rumah, yang tidak kurang suatu apa.
Ibunya Poan Kwie menerangkan ketika ditanya bahwa ia cuma mendengar suara kimmosoan mengejar binatang liar, tak ia dengar ada orang menelusup masuk atau hanya datang di sekitar pohon besar.
Poan Kwie memanggil kedua binatang piaraannya, untuk diperiksa, ia tidak mendapatkan luka apa-apa di tubuhnya.
Maka ia mau menduga, ketika bertemu kedua binatang itu, Beng Sin Thong semua telah lantas menjauhkan diri.
Besoknya mereka memeriksa pula gambar mereka, tetap mereka tak memperoleh sesuatu.
Di hari ketiga, dengan membawa kimmosoan, Poan Kwie pergi mencari Beng Sin Thong.
Sie Ie berdiam di rumah, untuk belajar Siukut Kang, yang cekkong-nya sudah lantas mengajari padanya.
Untuknya cukup berlatih dua hari, lantas ia sudah mengerti, hingga tinggal memahirkannya saja.
Ketika Poan Kwie pulang, ia sudah paham.
"Apakah paman berhasil mendapatkan tempat sembunyinya Beng Sin Thong?"
Seng Lam tanya. Ia melihat roman gembira dari pamannya itu.
"Bangsat tua itu benar liehay,"
Sahut Poan Kwie.
"Entah dia pakai daya apa, dia dapat membikin kimmosoan tidak berhasil mencium baunya. Cuma, meski demikian, aku berhasil mendapatkan suatu yang berharga..."
"Apakah itu?"
Seng Lam tanya, bernapsu.
"Sie Ie, mari gambarmu,"
Kata Poan Kwie.
"Mari kita periksa pula."
Sie le menurut, ia membeber gambarnya.
"Menurut gambar ini, si raksasa memanah gunung dengan panah raksasanya juga,"
Kata orang aneh she Le itu.
"maka itu sekarang aku mau menduga, tempat simpannya kitab wasiat ita mesti ada hubungannya dengan panah ini. Tadi aku pergi ke gunung berapi di depannya manusia raksasa itu, disana aku melihat samar-samar sebuah batu gunung yang mirip dengan apa yang dilukiskan di dalam gambar ini. Inilah dia. Aku melihatnya makin mirip."
Kabar itu benar menggirangkan, sampai malam itu mereka tak dapat tidur nyenyak. Besoknya pagi semua orang tetap bergembira, kecuali Seng Lam yang agaknya rada berduka.
"Thian tak mensia-siakan orang yang rajin dan tekun,"
Kata Sie Ie tertawa.
"Kali ini tentulah kita bakal berhasil!"
"Aku pun mengharap demikian,"
Kata si nona, yang menarik napas dalam.
"Semoga kali ini kita berhasil... Hanya aku kuatir, aku kuatir sekali..."
"Kau kuatirkan apa?"
Tanya Sie Ie.
"Aku kuatir, setelah kitab didapatkan, kau dan aku bakal berpisahan ..."
Berkata Seng Lam.
"Apabila aku memikir itu, sungguh, aku lebih suka tak usahlah kita mendapatkannya..."
Sie Ie berdiam. Inilah kekuatiran si nona yang tidak disangka-sangka. Hatinya gentar. Tak ia kira ia dihargai si nona melebihkan kitabnya Kiauw Pak Beng itu. Mau atau tidak, ia merasa terharu juga.
"Jikalau begini lagak-lagaknya,"
Pikirnya pula.
"umpama kata kitabnya Pak Beng telah diketemukan dan kita pulang ke darat, tentu sekali tak mudah aku melepaskan diri dari padanya..."
Tapi ia mesti bersandiwara, maka ia paksakan diri tertawa.
"Kau ngelamun!"
Katanya.
"Keluargamu mencari kitab, lamanya sudah dua ratus tahun, sekarang harapan baru timbul, kenapa kau bukannya bergirang? Kenapa kau memikir sebaliknya, yang tidak-tidak? Laginya masih belum ketahuan kapan waktunya kita dapat berlayar pulang..."
Ketika itu Poan Kwie sudah siap sedia, maka syukur bagi Sie Ie, sang paman atau cekkong itu lantas mendesak, hingga Seng Lam mesti melupakan kekuatirannya itu.
Poan Kwie tidak mengajak kedua binatangnya, yang ia tinggal untuk menjaga rumah.
Ia memeriksa semua perangkapnya, sedang ibunya diminta berdiam di tengahtengah perangkap pusat, untuk sekalian berjaga-jaga.
Ia mau percaya, kalau toh rombongan Beng Sin Thong memaksa masuk, mereka itu tak akan dapat berbuat banyak.
Gunung berapi di pulau ini ialah gunung mati, tak lagi ada letusannya, dan laharpun kering dan menjadi karang yang beraneka macamnya.
Kesana Poan Kwie mengajak keponakan dan sunsay-nya-cucu menantu itu.
Dengan gampang mereka menemukan batu karang yang disebutkannya, batu yang mirip dengan lukisan dalam gambar.
Disitu tidak ada tanda sesuatu.
Sie le menghunus pedangnya.
"Coba aku besarkan mulutnya,"
Katanya.
"Jangan! Jangan!"
Seng Lam mencegah.
"Kenapa?"
Tanya si suami teti-ron.
"Apakah kau ada dayamu yang lain?"
"Kau lihat renggangan ini,"
Kata Seng Lam.
"Tidakkah ini mirip liang kunci? Siapa tahu kalau di dalam sini ada pesawat rahasianya? Kalau dugaanku benar dan kuncinya dibikin rusak, pastilah kita tidak dapat membukanya."
Poan Kwie dan Sie le mengawasi sekian lama.
"Ah!"
Seru si paman.
"Aku lihat renggangan ini sama besarnya dengan pecahan ujung panah. Tunggu, nanti aku coba!"
Dari tiga batang jemparing, yang satulah yang paling cocok ke liang renggangan mirip liang kunci itu, akan tetapi ketika diputar, liang itu tidak bergerak. Poan Kwie heran dan masgul.
"Mungkin kita ngelamun..."
Katanya.
"Sabar,"
Kata Sie Ie.
"Kita jangan rusaki liang ini. Mari kita memeriksa dulu bagian lain lagi."
Ia lantas merayap naik, sampai di atasannya batu itu.
la coba menggoyang, ia gagal, bahkan tangannya terasa sakit, ia sendiri hampir terpeleset jatuh.
Ia mencoba mencolek dengan pedangnya, masih ia tidak berhasil.
"Mungkin Poan Kwie yang kuat juga tak dapat menggempur batu ini,"
Pikirnya. Selagi Sie Ie berkutat, Seng Lam mengawasi gambar, matanya bekerja, pikirannya bekerja juga. Tiba-tiba ia kata nyaring.
"Lihat, paman! Menurut gambar ini, si raksasa menghadapi gunung berapi! Kenapa paman tidak mau mencoba memanahnya?"
Kata-kata ini menyadarkan Poan Kwie.
"Benar!"
Katanya, yang lantas menjadi girang.
"Dasar kau yang pintar!"
Le Poan Kwie berjalan seratus tindak lebih, ia menyiapkan panahnya dan mengincar, tangan kirinya ditekuk ke depan, tangan kanannya menarik ke belakang.
Maka melengkunglah biang panahnya, bagaikan bulan purnama.
Ketika ia melepaskan cekalan tangan kanannya kepada anak panah, melesatlah anak panah itu yang panjang, tepat mengenai bagian yang renggang dari batu di depannya, yang diincar itu.
Menyusul meletiknya batu-batu hancur yang berapi, disana terbukalah sebuah pintu batu yang berdaun dua.
Pintu yang berat itu harus dihajar dengan panah, dihajar dengan keras dan kaget, barulah dapat terbuka.
Tadi Poan Kwie menusuknya dengan anak panah, ia menggunai tenaga lengannya, tidak ada hasilnya, sebab tenaga lengannya itu tak dapat melawan tenaga panah.
Poan Kwie dan Seng Lam girang bukan kepalang.
"Paman, pintu telah terbuka!"
Si nona, atau keponakan wanita, berseru.
"Hari ini pasti kita akan mendapatkan kitab ilmu silat itu! Pasti dapatlah kita menghibur leluhur kita!"
Poan Kwie girang berbareng berduka.
Ia terharu sekali.
Bersama-sama ayahnya ia mencari kitabnya Kiauw Pak Beng itu, lalu ayahnya mati sengsara di pulau mencil ini.
Ia sendiri, ia mesti hidup puluhan tahun, terpisah dari dunia, sampai sekarang ia telah berusia lanjut.
Di atasan ia, beberapa leluhurnya pun telah berkorban dalam usaha mereka mencari kitab ilmu silat itu.
Baru sekarang ia berhasil.
Selagi terharu dan bergirang itu, ia angkat kepalanya, berdongak, mendadak ia tertawa lebar.
Tapi, meski ketavva, ia mengucurkan air mata!
Setelah itu, Poan Kwie lantas merasa sangat letih, napasnya memburu.
Barusan, waktu memanah itu, ia telah menggunai tenaga terlalu besar.
Sie Ie menolongi menggendol busur yang besar itu, di dalam hatinya ia kata.
"Syukur kita bertemu dengan Le Poan Kwie ini. Tanpa pertolongan dia, percuma kita menemukan panah ini, pintu batu itu tetap tidak bakal dapat dibuka..."
Bertiga mereka lantas bertindak memasuki pintu. Itulah sebuah lorong yang panjang. Kapan mereka sampai di ujungnya, mereka menghadapi sebuah pintu batu lainnya.
"Hebat!"
Poan Kwie mengeluh. Ia letih sekali dan belum pulih tenaganya. Mana dapat ia menarik pula busur raksasa itu? Seng Lam menyuluhi dengan obornya.
"Paman, lihat!"
Dia berseru.
"Lihat, disini ada peninggalan tulisan tangannya Kiauw Couwsu!"
Poan Kwie melihat tempat yang ditunjuk keponakan itu.
Ada belasan huruf melesak di tembok.
Pasti itulah hasilnya tekanan jeriji tangan Kiauw Pak Beng yang menggunai Itcie Siankang, ilmu Sebuah Jeriji.
Ia lantas membaca.
Untuk girangnya, itulah teori atau ajaran melatih tenaga dalam yang dinamakan "Tayciuthian Touwlap Liankhie."
Siapa dapat melatih dengan ilmu itu, sebentar saja keletihannya bakal lenyap dan dia menjadi segar pula.
Dalam Keluarga Le memang ada ilmu semacam itu, hanyalah sudah tidak lengkap lagi, cuma permulaannya saja, maka syukurlah disini bisa didapatkan yang lengkap dan sempurna.
Tanpa ayal lagi, Poan Kwie lantas berlatih menurut ajaran Kiauw Pak Beng ini Begitu ia selesai, begitu ia memperoleh hasil.
Bahkan sekarang ia merasa jauh terlebih segar!
"Sungguh Kiauw Couwsu seorang sakti!"
Seru Poan Kwie saking girang.
"Rupanya pada dua ratus tahun dulu Couwsu telah menduga, aku bakal memasuki tempatnya ini dan bakal tak kuat memanah untuk kedua kalinya, maka disini ia meninggalkan ini ilmu Taycu-thian Touwlap Liankhie!"
Pintu itu sama dengan pintu yang pertama tadi, ada garisnya yang menjadi sambungan kedua daun pintu, maka pastilah anak panah dibutuhkan untuk membukanya.
"Kau berdiri di samping pintu dan menyuluhi dengan obormu,"
Poan Kwie kata pada Seng Lam kemudian.
Ia sendiri mundur sedikit, untuk menyiapkan busurnya, yang ia minta dari Sie Ie.
Ia tidak menanti lama akan memanah.
Benar hebat cara memanah itu.
Tepat kenanya.
Kedua daun pintu lantas terbuka seperti pintu di depan itu.
Pintu ini pun menjurus kepada sebuah lorong yang panjang.
Ketika Seng Lam bertiga memasukinya, kembali mereka menghadapi pintu batu, yang sama segalanya.
Panjangnya lorong pun tak berjauhan.
Pula di tembok ada ukiran huruf-huruf oleh jari tangan Kiauw Pak Beng, ukiran bagian kedua dari pelajaran Tayciuthian Touwlap Liankhie tadi.
Dengan kegirangan, Poan Kwie lantas melatih diri.
Ia sangat letih tetapi lantas keletihannya itu lenyap, diganti dengan kesegaran.
Maka ia pun dapat lantas bekerja pula.
Dengan anak panahnya berhasil ia membuka pintu rahasia ini.
Sekarang mereka menjadi kagum luar biasa.
Begitu kedua daun pintu terpentang, begitu mata mereka menjadi silau.
Disini terdapat cahaya terang dan yang berkilauan.
Itulah sebuah kamar dimana antaranya ada sebuah sinkam yang memuat lengkap tulang belulang seorang yang lagi duduk bersila, tangannya memegang se
Jilid kitab.
Yang menyilaukan ialah banyaknya pelbagai batu permata di dalam kamar itu.
Pastilah itu harta yang dulu hari dikumpul Kiauw Pak Beng, yang sekarang menemani tulang-tulangnya di dalam kamar rahasia ini.
Poan Kwie berdiri tercengang.
Kegirangannya meluap-luap lantaran sekarang ia lagi menghadapi benda yang dicari itu, yang setiap malam ia seperti buat impian.
Sie Ie pun heran dan kagum, tetapi matanya bekerja.
Maka di tembok samping ia menampak beberapa baris huruf, yang begini bunyinya.
"Seumurku ada tiga hal yang membuat aku menyesal dan penasaran. Yang pertama yaitu tidak dapat aku bertempur pula secara memuaskan dengan Thio Tan Hong. Yang kedua aku tidak mempunyai ahli waris ilmu silatku ini. Dan yang ketiga aku tidak sanggup pulang ke daratan Tiongkok. Siapa dapat mewakilkan aku memuasi ketiga keinginanku itu, dia boleh mengambil dan memiliki harta berikut kitab warisanku ini. Pesan Kiauw Pak Beng di saat meninggalnya."
Membaca surat wasiat itu, Kim Sie Ie berpikir.
"Inilah hebat! Sampai di saat ia bakal menutup mata ia masih tak lupa niatnya menempur pula Thio Tan Hong. Ia tentu tidak menyangka bahwa selewatnya dua ratus tahun barulah kami yang menemui surat wasiatnya ini, hingga bukan saja Thio Tan Hong sudah tidak ada di dalam dunia, bahkan turunannya pun tak tahu dimana adanya! Tapi dua pesannya yang terakhir, dapat Le Seng Lam mewujudkannya..."
Ketika itu Poan Kwie sudah sadar dari tergugunya dan ia bertindak menghampirkan sinkam, tangannya diulur untuk mengambil kitab di tangannya patung tengkorak. Justeru itu Seng Lam menjerit tajam.
"Paman, hati-hati!"
Belum berhenti jeritan nona itu atau tengkoraknya Kiauw Pak Beng roboh dibarengi teriakannya Poan Kwie, yang roboh ke lantai, sedang kitab di tangannya rerongkong turut jatuh dengan pecah rusak menjadi sehelai dengan sehelai.
Poan Kwie bergulingan dua kali, dengan napas sengalsengal ia kata.
"Jangan pegang kitab itu! Lekas berlutut dan mengangguk kepada couwsu untuk memohon maaf!"
Seng Lam maju mendekati lembaran-lembaran kitab itu, yang kosong, tak ada hurufnya satu pun jua, sedang setelah lewat dua ratus tahun, ke atasnya sudah tepok atau amoh.
Ia menjadi putus asa hingga ia bertanya.
"Paman, bagaimana?"
Poan Kwie tapinya menyahuti.
"Lekas berlutut dan mengangguk! Lekas minta maaf!"
Dalam bingungnya, Seng Lam menurut.
Ia lantas menjalankan kehormatan terhadap couwsu itu, kemudian baru ia mengangkat kepalanya.
Lebih dulu daripada itu, meja batu telah berkisar, maka di belakang sinkam terlihat sebuah kotak kemala.
Bersama-sama Sie Ie, si nona menghampirkan, untuk mendekati.
Pada tutup kotak ada huruf-huruf yang berbunyi berikut.
"Kau telah memberi hormat padaku, itu tandanya, kau telah menjadi muridku di dunia lain. Kitab di tanganku ada racunnya, jangan sekali disentuh. Isi kotak ini ialah kitab yang tulen. Untuk membuka kotak kemala ini, pakailah pedang mustika yang aku wariskan. Jikalau kau dapat memenuhi keinginanku ini, maka terhiburlah hatiku. Semua barang peninggalanku ini, aku wariskan kepada kau. Kiauw Pak Beng, di lain dunia."
Kiauw Pak Beng sangat cerdik dan memikir jauh, maka juga di saat hari terakhirnya itu, ia telah mengatur semua dengan sempurna, la tidak menghendaki orang datang cuma untuk mengambil kitabnya, maka ia ingin orang itu menjadi muridnya, untuk melakukan pesannya.
Untuk orang yang temaha akan kitabnya ia menyediakan kitab palsu itu yang beracun.
Untuk Seng Lam, upacara kehormatan itu sebenarnya tak perlu lagi, sebab si nona turunan Le Kong Thian dan Le Kong Thian itu berbareng menjadi kuasa rumah dan muridnya.
Habis mengambil kotak, Seng Lam tidak segera membukanya, la lantas menghampirkan pamannya.
Poan Kwie sudah bangun dan duduk bersila, dari kepalanya terlihat uap putih.
Sekian lama ia memusatkan perhatiannya, baru ia dapat menyeringai.
Katanya.
"Aku mungkin dapat hidup untuk tiga bulan lagi, tetapi karena kita berhasil mendapatkan kitabnya Kiauw Couwsu, mati pun aku puas.
"Jikalau aku telah menutup mata, aku minta kamu sukalah bawa tulang-tulangku dan tulang-tulangnya Kiauw Couwsu pulang ke rumah..."
Racun di kitab palsu Pak Beng racun sangat jahat, terkena itu orang dapat mati seketika, hanya setelah berselang dua ratus tahun, racun itu sudah berkurang liehaynya, maka itu, Poan Kwie masih dapat bertahan, sedang Poan Kwie ialah jejaka asli, dan semenjak kecil ia telah meyakinkan ilmu silat Tongcu kang.
la dapat mendesak racun menjadi berdiam di kakinya, di jalan darah yongcoan.
Seng Lam mengerti hal racun, habis memeriksa pamannya, ia kata.
"Paman, jangan kuatir. Tenaga paman belum cukup kuat maka racun itu baru dapat didesak ke ujung kaki. Kalau nanti paman sudah meyakinkan isi kitab, dapat paman mengusir habis, bahkan setelah itu, paman bakal jadi tambah kuat luar biasa. Jangan paman takut!"
Sinar-matanya Poan Kwie memain, ia mendapat harapan. Setelah berpikir sejenak, kembali matanya guram. Ia menggeleng-geleng kepala.
"Kau cuma tahu satu, tidak tahu dua,"
Katanya.
"Meski benar kitab ini memuat pelajaran istimewa tetapi untukku sudah tidak ada faedahnya lagi..."
Racun itu liehay luar biasa, Poan Kwie mesti mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, baru ia dapat menolak, mendesak sampai di ujung kakinya, di dekat jalan darah yongcoan.
Karena mesti mengerahkan seluruh tenaganya, ia jadi tak dapat memisahkan tenaga untuk berlatih lagi.
Pula tenaga dalamnya itu setiap hari akan berkurang, hingga dengan sendirinya, racun akan bekerja semakin hebat.
Mungkin paling lama ia dapat bertahan tiga bulan, atau racun bakal menyerang jantungnya.
Dan itu berarti akan habis sudah jiwanya..."
Seng Lam tunduk, ia berpikir. Tidak lama, ia mengangkat kepalanya dan terlihat air mukanya terang. Bahkan ia tertawa dan kata.
"Paman, kau cuma tahu satu tidak tahu dua!"
Poan Kwie heran.
"Apa?"
Tanyanya.
"Kami berdua, dapat kami menggunai tenaga dalam kami untuk membantu paman,"
Kata sang keponakan. Paman itu menggeleng kepala. Ia memandang Sie Ie, ia membungkam. Seng Lam dapat menebak hati paman itu, ia tertawa pula.
"Sekarang ini memang tenaga dalam Sie Ie beda jauh bila dipadu dengan tenaga dalam paman,"
Katanya.
"dan tenaga dalamku juga tidak berarti. Akan tetapi kita masih mempunyai waktu tiga bulan. Jikalau kita melatih diri menurut ajaran kitabnya Kiauw Couwsu, siapa tahu kita tak akan peroleh kemajuan pesat?"
Matanya Poan Kwie lantas menyorotkan sinar harapan.
Memang yang ia kuatirkan ialah tenaga dalam Sie Ie tak cukup kuat guna membantu padanya.
Beberapa kali ia pernah menempur si anak muda, ia tahu habis tenaga orang.
Kalau Sie Ie membantui ia, ia bisa disambung umurnya sampai satu tahun.
Sebaliknya, Sie Ie sendiri akan berkurang tenaga dalamnya itu.
Disitu ada Beng Sin Thong, itu artinya mereka terus terancam bahaya, kalau tenaga mereka lemah semuanya, bukankah bahaya menjadi terlebih besar?
Sekarang ia mendengar pikiran Seng Lam itu, hatinya terbuka.
Sang keponakan benar.
Ia boleh mengandalkan bantuan kitabnya Kiauw Pak Beng.
"Mari kitab itu, kasih aku lihat,"
Ia minta.
"Mari aku periksa apakah ada obat atau cara untuk membikin tambah tenaga dalam dalam waktu yang singkat."
Seng Lam menyerahkan kotak kemala.
Kotak itu kecil, tetapi sama seperti busur kemala, beratnya luar biasa.
Sie le segera menggunai pedangnya guna mengorek kotak itu.
Mulanya ia menggores, terus ia menyongkel.
Terbukalah kotak itu.
Kagum ia.
Tanpa pedang itu, sulit untuk membukanya.
Heran Kiauw Pak Beng, bagaimana caranya dulu hari dia menutupnya?
"Pasti bagus dan kuat sekali kalau kotak ini aku bawa pulang ke daratan dan menyuruh tukang yang pandai membuatkan aku tameng untuk melapis tubuhku,"
Pikirnya. Poan Kwie sendiri segera memeriksa kitab ilmu silat itu. la menggunai waktu satu jam untuk membacanya. Akhirnya ia menjadi girang sekali dan sangat memuji.
"Sungguh Kiauw Couwsu seorang manusia luar biasa!"
Katanya.
"Kitab ini, membuatnya orang mengerti jelas banyak kesulitan ilmu silat!"
"Apakah ada di antaranya cara mempersingkat pelajaran?"
Tanya Seng Lam. Inilah yang ia anggap paling penting.
"Ada,"
Sahut Poan Kwie.
"Itulah pelajaran gabungan lurus dan sesat. Kalau Sie Ie memahamkan ini, mungkin dalam waktu tiga bulan dia akan berhasil menambah tenaga dalamnya berlipat ganda."
Seng Lam menjadi girang sekali.
"Benar, cukuplah itu!"
Katanya "Koko Sie Ie, besok kau boleh mulai belajar!"
Ia berkata sambil menoleh kepada si anak muda, atau ia menjadi heran. Ia mendapatkan air muka yang tak bergembira atau ragu-ragu. Hanya sekejab, Sie Ie berkata.
"Buat guna cekkong, aku akan pelajarkan itu."
Ada keberatannya Sie Ie meyakinkan ilmu kepandaiannya Kiauw Pak Beng.
Bukankah Pak Beng seorang hantu pada tiga ratus tahun yang lampau?
Ia pun tak sudi menjadi murid Pak Beng-murid dari lain jaman...
Tapi di samping itu ia insyaf, tanpa ia mempelajarinya, tidak ada lain jalan untuk menolongi Poan Kwie.
Menolongi Poan Kwie pun berarti menolongi mereka sendiri.
Terpaksa, bertentangan dengan suara hatinya, ia menyerah, suka ia mengalah.
Hanya di dalam hatinya ia berjanji.
"Kecuali untuk menolongi Poan Kwie, tidak nanti aku menggunai kepandaiannya Pak Beng."
Ia pun tidak mengangkat guru pada Pak Beng.
Poan Kwie lantas bekerja, memasuki tulang-tulangnya Pak Beng ke dalam kantung.
Karena ia menguatirkan tenaganya habis, ia tidak mau mengangkat pulang busur kemala raksasa yang sangat berat itu.
Maka busur itu terpaksa ditinggalkan di dalam gua.
Di dalam perjalanan pulang, sinar matahari nampak merah bagaikan darah.
Kiranya sang waktu ialah magrib.
Poan Kwie berjalan cepat.
Ingin ia memberi kabar girang pada ibunya.
Mendekati tengah malam baru mereka tiba diluar rimba "rumah"
Mereka.
Langsung mereka memasuki rimba dan manjat pohon.
Disini Poan Kwie terperanjat, hingga hatinya berdebaran.
Ia melihat ada baret pada batang pohon yang besar itu.
Ia jadi bercuriga dan lantas menyangka.
"Mungkinkah Beng Sin Thong telah datang kemari?"
Sie Ie dan Seng Lam pun heran.
Lekas-lekas mereka masuk di terowongan pohon.
Sie Ie jalan di muka dengan pedang di tangan.
Poan Kwie jalan di belakang.
Seng Lam, yang memegang obor, jalan di tengah.
Ketika baru tiba di ujung terowongan, Sie Ie berkata kaget.
"Ini toh Kunlun Sanjin!"
Imam itu rebah meringkuk di ujung tembok, jidatnya bolong, tubuhnya tertancap beberapa batang jemparing Ia sudah tidak bernyawa.
"Dia terkena perangkap,"
Kata Poan Kwie.
"Pasti di waktu dia memegang pintu dia terpanah, lantas kimmosoan melukainya. Entah si bangsat tua she Beng, dia turut terjebak atau tidak..."
Di antara empat hantu yang datang dari Tibet, Kunlun Sanjin yang paling lumayan, sekarang dia mati kecewa, Sie le terharu juga. Hati mereka itu menjadi tidak tenang, semuanya bergelisah.
"Ibu! Ibu!"
Poan Kwie memanggil-manggil.
"Ibu! Ibu!"
Demikian kumandang di dalam gua itu.
Suara sang ibu tak terdengar.
Sebisa-bisa orang aneh ini menenangkan diri, tetapi ketika ia menolak pintu batu, ia bekerja sebat.
Baru jalan sepuluh tindak, atau ia menjadi kaget.
Di depannya terlihat bangkainya kimmosoan yang betina!
Kehebatan masih berlangsung.
Di pintu kedua kedapatan bangkainya binatang itu yang jantan!
Itulah hebat!
Cuma Beng Sin Thong yang dapat membinasakan kedua ekor binatang istimewa itu!
Bukan main gelisahnya Poan Kwie.
"Kenapa Beng Sin Thong bisa masuk begini jauh?"
Ia tanya dalam hati.
"Apa mungkin ibu tak berdaya mengerjakan pesawat rahasianya? Benarkah dia tak dapat dipengaruhi?"
Justeru itu, hidung mereka menangkap bau harum, yang membuat kepala mereka sedikit pusing. Sie Ie lantas menahan napas, tapi ia kata perlahan.
"Inilah asap pelupa Keebeng Ngokouw Toanhun hio!"
Ialah "asap pulas pada saat jam lima pagi ayam berkokok".
Seng Lam segera mengeluarkan obat, ia mengasihkan masing-masing sebutir pada Sie le dan pamannya, untuk mereka lantas mamah dan telan.
Ia sendiri turut makan juga obatnya itu.
Ia kata.
"Asap hio ini sangat liehay, inilah bukan hio kepunyaan sembarang orang Kangouw!"
Nona Le biasa merantau seorang diri, maka itu ia menyimpan obat pemunah itu.
Poan Kwie kuat sekali, ia tak membutuhkan obat pemunah itu, tetapi ia baru terkena racunnya Kiauw Pak Beng-racun yang istimewa liehay-maka itu, ia perlu makan juga obat itu, Sekarang ia pun lagi bingung.
"Ibu! Ibu!"
Ia memanggil-manggil pula. Tetapi ia tetap tidak mendapat jawaban.
"Paman, apa kita tidak keliru jalan?"
Seng Lam tanya.
"Kenapa kita belum juga sampai di pintu Soanmui?"
Poan Kwie berdiam, matanya mengawasi tajam. Akhirnya ia menyeringai.
"Ah, mataku kabur!"
Katanya.
"Pergi kau jalan di depan!"
Seng Lam telah mengenal baik gua itu, dengan ia jalan di depan, sebentar saja mereka telah sampai di pintu pusat. Tapi sekarang ia berkuatir sangat. Pikirnya.
"Paman terkena racun, kalau benar Beng Sin Thong ada di dalam sini, siapa yang nanti melayani dia?"
Tengah si nona berpikir, Poan Kwie sudah menolak pintu, atau segera terdengar bentakan dari dalam.
"Berhenti!"
Benarlah, itulah Beng Sin Thong di dalam gua.
Bahkan dia sekarang terlihat sangat bengis, sedang tangan kirinya menjambak punggungnya si nyonya tua--Nyonya Le Tiong Cu, ibunya Poan Kwie!
Di samping Sin Thong berdiri Biat Hoa Hwesio.
Pendeta ini juga beroman menakuti, sebab di samping tertawanya yang dingin, mukanya pada baret berdarah!
Beng Sin Thong mengerti ilmu "Kiebun Patkwa", maka itu dapat ia masuk ke dalam gua istimewa ini, sedang ia pun dibantu asap hio-nya yang luar biasa itu.
Tak beruntung Kunlun Sanjin, imam dari Tibet itu.
Toanhun hio dari Sin Thong ada obat kepunyaan muridnya, Kie Siauw Hong, si Malaikat Copet.
Asap hio itu mempunyai kekuatan melupakan sejauh satu lie dan dapat bertahan selama dua belas jam.
Maka cuma orang yang sangat mahir tenaga dalamnya tak kena terobohkan itu.
Atau orang harus mempunyakan kayyo, yaitu obat pemunahnya.
Kie Siauw Hong diangkat jadi murid, sebagai persembahan ia memberikan obat pulasnya itu.
Sin Thong tidak membutuhkan itu, tapi ia menyimpannya sebab ia anggap itulah "barang permainan"
Yang menarik hati, ia biasa membekal-nya, tidak disangka disini ia telah mempergunakannya.
Sebaliknya Poan Kwie semua tidak menyangka sekali sebagai seorang guru besar, Sin Thong sudi menggunai asap pulas itu.
Sin Thong telah memasang mata, ia mendapat tahu Poan Kwie bertiga pergi keluar, maka ia lantas mengajak Kunlun Sanjin dan Biat Hoa Hwesio pergi menyate-roni gua orang, Begitu ia memasuki terowongan, untuk menjaga diri, Sin Thong lantas menyulut asap pulasnya itu.
Ibunya Poan Kwie telah lantas mendapat tahu ada orang asing masuk ke guanya, ia mengerjakan perangkapnya, tetapi berbareng dengan itu, ia kena mencium bau hio, hingga tak ampun lagi ia roboh.
Lacur Kunlun Sanjin, dia terpanah mati dan Biat Hoa terluka.
Kunlun Sanjin diserang kimmosoan, tetapi kedua binatang itu bergantian dihajar mati Sin Thong dan Biat Hoa.
Semasuknya mereka ke dalam, tak susah-susah, si nyonya tua kena ditawan si orang she Beng.
Sebagai seorang cerdik, Sin Thong merusak semua perangkap, ia memeriksa seluruh gua, untuk melihat jalan keluarnya, guna nanti ia mengundurkan diri, habis itu, ia terus berdiam, menanti pulangnya Poan Kwie bertiga.
Melihat ibunya terjatuh di tangan musuh, Poan Kwie kaget, gusar dan berkuatir.
Sin Thong tertawa dingin dan mengancam.
"Jangan kau maju lagi satu tindak atau aku nanti gempur ibumu hingga dia binasa seketika!"
"Habis apa kau mau?"
Bentak Poan Kwie. Sin Thong tertawa lebar.
"Tidak apa-apa!"
Sahutnya.
"Apa perlunya aku datang kemari, kau tentunya telah ketahui sendiri! Asal kau serahkan kitab silatnya Kiauw Pak Beng, tidak nanti aku mencelakai ibumu!"
Mukanya Poan Kwie menjadi pucat.
"Kau kasih ketika untuk aku bicara sebentar dengan ibuku,"
Ia bilang. Sin Thong tertawa pula.
"Ibumu masih hidup, kau jangan takut!"
Ia bilang. Ia lantas menjejali sebutir obat ke dalam mulutnya si nyonya tua serta membebaskan juga jalan darahnya yang ia telah totok, berbareng mana ia kata keras pada nyonya itu.
"Lekas kau suruh anakmu menyerahkan kitabnya Kiauw Pak Beng padaku!"
Nyonya itu mendusin dengan cepat, dengan roman sangat membenci ia awasi si orang she Beng, kemudian ia berpaling pada anaknya, untuk menanya.
"Apakah benar kau telah dapatkan kitab itu?"
Nada suara itu tercampur nada kegirangan. Biar bagaimana, Poan Kwie kurang pengalaman, tak dapat ia mendusta.
"Ya, ibu,"sahutnya.
"Syukur Sie le telah membawa peta gambarnya, maka kitab itu telah dapat dicari!"
"Anak,"
Berkata si ibu.
"ayahmu terbinasa karena kitab itu dan kau sendiri berkorban disini karenanya, maka itu jangan kau serahkan kitab tersebut pada jahanam ini! Aku sudah tua, kematianku tidak harus disayangi, maka kitab itu, kau mesti simpan dan lindungi!"
Sin Thong menjadi sangat gusar, segera ia menotok si nyonya.
"Bagus!"
Serunya.
"Ibumu mau mampus! Bagaimana dengan kau?"
Ia bersikap bengis sekali.
Poan Kwie sangat berbakti dan menyayangi ibunya, tidak dapat ia membiarkan ibu itu dibinasakan secara demikian, tetapi kitab itu demikian berharga, untuk itu ibunya bersedia mengorbankan jiwa.
Bagaimana sekarang?
Bukankah kitab itu pusaka keluarganya dan telah meminta banyak korban jiwa?
"Aku akan menghitung sampai sepuluh!"
Sin Thong kata melihat orang ragu-ragu.
"Jikalau kau tetap tidak mau menyerahkan kitab itu, aku bersedia mati bersama ibumu!"
Jago ini mengerti, kalau ia lantas membinasakan si nyonya tua, sukar untuk ia lolos dari gua itu. Biar bagaimana, ia pun jeri. Matanya Poan Kwie lantas mengucurkan air.
"Tak usah kau menghitung!"
Ia kata.
"Aku nanti serahkan kitab itu!"
Sin Thong tertawa bergelak.
"Bagus!"
Serunya.
"Kaulah seorang hutan tetapi kebaktianmu harus dipuji! Nah, mari serahkan kitab itu!"
Poan Kwie mengeluarkan kitabnya. Ia maju setindak. Ia mengulurkan tangannya.
"Berhenti!"
Sin Thong membentak.
"Kau beber kitab itu, kau taruh di ujung tongkat!"
Sembari berkata begitu, dengan tangan kiri ia mengancam punggung si nyonya, dengan tangan kanan ia menyodorkan tongkatnya Biat Hoa Hwesio.
Ia berlaku hati-hati karena ia bercuriga orang nanti menggunai siasat untuk menerjang secara tiba-tiba.
Berbahaya kalau Poan Kwie datang terlalu dekat padanya.
Sebaliknya Poan Kwie jujur dan terhormat, tak mau ia main gila.
Cuma, dengan hati sangat mendongkol, ia membeber kitabnya, untuk diletaki di atas tongkat.
"Ambillah ini!"
Katanya nyaring.
"Lekas lepaskan ibuku!"
Bukan main girangnya Sin Thong, hingga dia tertawa terbahak-bahak, hanya belum lagi ia menutup mulut, sekonyong-konyong terdengar si nyonya tua menjerit keras dan tubuhnya roboh sebagai balok, roboh ngusruk ke depan, dari mulutnya menyembur darah hidup!
Nyonya ini tak ingin anaknya menyerahkan kitab itu, ia mengorbankan diri.
Selagi anaknya itu bicara dengan Sin Thong, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, dengan ilmu kaum sesat yang dinamakan "Thianmo Kaytee Hian-kang", yaitu ilmu "Hantu Langit Memecah Tubuh", ia memutuskan semua otot-ototnya yang utama hingga ia roboh dan mati seketika.
Sin Thong repot bicara, ia pun tidak menyangka jelek, ia kena diselomoti, maka itu, ia pun kaget.
Tapi ia sempat menolak tubuh orang hingga jatuh.
Cuma karena tenaga dalam si nyonya telah tersalurkan ke tangannya yang ditempel di punggung nyonya itu, tak merasa ia bahwa ia pun telah terkena gempuran hingga ia memperoleh luka di dalam.
Beng Sin Thong kaget begitu juga Poan Kwie bertiga.
Tapi melainkan sebentar, Sin Thong sadar terlebih dulu, maka ia lantas menarik tongkat di tangannya, guna menyambar kitabnya Kiauw Pak Beng.
Poan Kwie pun segera tersadar, sambil berseru hebat, dia lompat maju, untuk menerjang.
Sin Thong sangat sebat, ia membuang tongkatnya Biat Hoa, diarahkan ke lehernya Kim Sie le, tangan kirinya menyambar kitab.
Justeru itu, serangan datang.
Poan Kwie menggunai dua-dua tangannya, tangan kanan menuju ke batok kepala, tangan kiri ke pundak.
Masih sempat Sin Thong menggunai kedua tangannya, untuk menangkis, guna menghindarkan diri dari serangan itu.
Maka beradulah tangan mereka, suaranya keras sekali, anggauta dalam tubuh mereka turut berguncang, hanya berbareng dengan itu, Sin.
Thong mendapat kenyataan tangannya si orang hutan tak sekuat semula, kalau tidak, ia bisa sedikitnya terpukul mundur.
Tidak ayal lagi, ia berontak, untuk melepaskan lengan kirinya, yang kena tercekal Poan Kwie.
Karena kedua pihak sama-sama memegang kuat, ketika tangan mereka terlepas satu dari lain, lengan mereka patah sebatas sikut, dan kitab pun terbeset menjadi dua!
Ketika itu juga terdengar satu suara keras.
Itulah suaranya tongkat Biat Hoa Hwesio, yang dipakai Sin Thong menyerang Sie Ie.
Si pengemis edan melihat serangan, dia berkelit, sambil berkelit, dia menabas.
Maka kutunglah tongkat itu menjadi dua potong dan kuningannya jatuh ke tanah.
Habis itu Sie Ie berlompat kepada Sin Thong, untuk menikam!
Sin Thong berkelit sambil berseru, sambil juga menyerang dengan pukulan Siulo Imsat Kang, maka itu serangannya Sie Ie gagal dan Sie Ie kena tertahan.
Poan Kwie dengan sendirinya kena terserang Sin Thong, dia lantas roboh.
Sie le menyerang pula.
Sin Thong berkelit lagi, tapi sekarang, sambil berkelit, ia mendorong tubuhnya Biat Hoa, mendorong ke arah si pengemis edan.
Ia tidak cuma mendorong kawannya itu, berbareng ia menotok jalan darah cengciok, maka robohlah Biat Hoa, tubuhnya memapaki pedangnya Sie Ie!
Menggunai ketika itu, Sin Thong terus berlompat, untuk menyingkir!
Serangan jalan darah cengciok ialah totokan ilmu sesat, siapa terkena itu, dia menjadi lupa ingatan, pikirannya kabur.
Demikian sudah terjadi dengan Biat Hoa.
Hwesio ini menubruk Sie Ie, benar ia kena ditikam, tetapi kedua tangannya masih sempat merangkul.
Karena ia kuat seimbang dengan Sie Ie, tidak dapat Sie Ie lantas melepaskan diri.
Seng Lam tercengang menyaksikan semua itu, segala apa berjalan dengan cepat sekali, ketika ia lihat Sie Ie terpukul, ia kaget, tapi ia lantas sadar.
"Serahkan pedang padaku!"
Ia serukan Sie Ie.
Sie Ie melepaskan cekalannya, maka jatuhlah pedangnya.
Seng Lam pungut itu, untuk terus dipakai membabat ke arah Biat Hoa, hingga kedua tangan si pendeta putus, dengan begitu, bebaslah Sie Ie.
Biat Hoa roboh dengan mengasih dengar jeritan yang menyayatkan hati, tubuhnya mandi darah, sedang darah yang menyembur membasahkan pakaian si pengemis edan.
Ketika Sie Ie sadar, baru ia tahu Sin Thong sudah kabur, sedang Poan Kwie rebah di tanah, mukanya pucat pasi, matanya merah, napasnya tinggal setarikan demi setarikan.
Maka tak sempat ia menyusul Sin Thong.
Ia menghampirkan cekkong itu.
"Jangan perdulikan aku..."
Kata Poan Kwie perlahan.
"Lekas kejar Beng Sin Thong si bangsat tua, nanti dia keburu lolos..."
Seng Lam periksa pesawat terowongan, ia mendapatkan itu telah dirusak Sin Thong.
Itu berarti musuh tak dapat dicegah pula.
Dengan menyesal ia kembali ke sisi pamannya.
Tapi sang paman dengan gusar kata.
"Kenapa kamu tidak mau turut perkataanku?"
"Sabar, paman,"
Kata si nona.
"Baiklah paman merawat diri dulu. Tak usah kita kuatirkan bangsat tua itu nanti dapat lolos naik ke langit!"
Poan Kwie menghela napas.
"Aku tak dapat disembuhkan pula,"
Katanya.
"Justeru dia terluka dan belum sembuh, pergi kamu susul dia, kamu dapat mengalahkannya! Jikalau ditunggu sampai dia sembuh dan sempat berlatih lebih jauh, di kolong langit ini tidak ada lagi orang yang dapat mengekang dia, hingga dengan begitu janganlah diharap sakit hati Keluarga Le dapat dilampiaskan! Pergi, lekas pergi! Apakah kamu mau membikin aku mati tak meram?"
"Baik, cekkong, kami nanti pergi!"
Kata Sie le.
Pemuda ini masih mempunyai pengharapan, ia berkata begitu ia bergerak hendak mengangkat tubuh orang, guna memeriksa lukanya.
Ketika ia meraba, ia terkejut.
Lekas sekali tubuh cekkong itu sudah kaku.
Berbareng dengan itu, separuhnya kitabnya Kiauw Pak Beng terlepas dari cekalan dan jatuh.
Seng Lam pun kaget, ia lantas memeriksa hidung pamannya, akan mendapatkan napasnya sudah berhenti berjalan.
Maka kasihan paman ini, namanya berarti "mengharapi pulang"
Tetapi nyatanya dia tak dapat pulang ke daratan...
Tak tahan dukanya Seng Lam, dia menangis menggerunggerung.
Sie Ie pun berduka bukan main.
Ia terharu dan menyesal untuk nasib malang dari Poan Kwie anak dan ibu.
Ia pun mengagumi kebaktiannya Poan Kwie terhadap ibunya itu.
Seng Lam menangis terus hingga matanya menjadi merah, tak mau ia berhenti.
"Orang mati tak dapat hidup pula,"
Akhirnya Sie Ie menghibur.
"Paling perlu marilah kita membalaskan sakit hatinya. Benar pesan pamanmu ini. Bangsat tua itu masih ada di pulau ini, jikalau dia tidak segera disingkirkan, pamanmu mati tak meram! Kita yang hidup, kita juga tidak bakal berhati tenteram!"
Seng Lam dapat dikasih mengerti, ia menepas air matanya. Tetapi ia masih terisak.
"Sekarang ini benar-benar aku tidak punya lagi orang yang terdekat..."
Katanya berduka.
"maka selanjutnya, aku cuma dapat mengandal pada kau..."
Sie Ie tunduk, tidak berani ia menyambut tatapan matanya si nona.
Untuk nasibnya nona ini, ia sangat terharu.
Ia pun membayangi bagaimana berat tanggung jawabnya...
Karena ia tunduk, Sie Ie dapat melihat kitabnya Pak Beng, yang tadi jatuh dari tangannya Poan Kwie tanpa ada yang sempat memperhatikan.
"Seng Lam, inilah kitab pusaka Keluarga Le kamu,"
Katanya.
"Benar kitab ini tinggal sebagian tetapi mesti masih ada faedahnya. Kau simpanlah!"
"Jikalau bukan gara-gara kitab ini, tak nanti pamanku terbinasa!"
Kata si nona, sengit.
Sie Ie pun mau percaya kitab itu kitab sial.
Bukankah karenanya turunan keluarga Le lenyap satu demi satu, hingga tinggal Seng Lam seorang?
Tidakkah kecewa kematiannya Poan Kwie dan ibunya ini?
Akan tetapi, meski ia memperoleh kesan demikian, ia tidak sepaham dengan sikapnya Seng Lam.
Ketika ia menjemput kitab itu, ia lantas mengangsurkannya pada si nona.
"Karena kitab ini, pamanmu terbinasa,"
Ia kata.
"Untuk pamanmu itu, kau mesti menuntut balas! Maka itu, di belakang hari, kita harus mengandal pada kitab ini. Golok dapat dipakai membunuh orang, golok juga dapat dipakai menolong orang, tinggal terserah kepada caranya orang yang menggunainya. Maka kau simpanlah ini. Semoga sebentar kita dapat mencari Beng Sin Thong, agar tak usahlah kita sampai menggunainya!"
Seng Lam dapat dikasih mengerti, dari itu mereka lantas meninggalkan mayatnya Poan Kwie anak dan ibu, lantas mereka lari menyusul Beng Sin Thong.
Ketika mereka tiba di luar, lenyap sudah tapak kakinya bangsat tua itu, hingga sulit untuk mencarinya.
Pulau luas dan rimbanya lebat, mana diketahui Sin Thong bersembunyi dimana?
"Pernah dua kali paman mencari dia dengan membawabawa kimmosoan, binatang itu pun tidak dapat mencari,"
Kata Seng Lam.
"maka itu, kemana kita harus mencarinya?"
Sie le berpikir.
"Mari kita lihat dulu di tepi laut,"
Ia kata.
"Kita lihat juga, apa perahu kita masih ada disana."
"Ya, kita jagai saja perahu itu,"
Seng Lam pun akur.
"atau kita merusaknya lebih hebat! Mustahil dia dapat lolos dari pulau ini..."
Keduanya lantas lari ke tepi laut.
Ketika mereka sampai, keduanya mengeluh.
Sama pikiran mereka dengan pikiran Beng Sin Thong tetapi Beng Sin Thong dapat bekerja terlebih cepat.
Di tepian itu tidak ada Beng Sin Thong, perahu mereka juga lenyap tanpa bekas-bekasnya.
Sebaliknya di laut nampak sebuah getek dengan penumpangnya, satu orang.
Dialah Beng Sin Thong!
Perahu mereka telah dirusak Biat Hoa, perahu itu tak dapat dipakai lagi, kalau toh hendak dipakai juga, harus diperbaiki terlebih dulu.
Itu berarti waktu beberapa hari.
Beng Sin Thong tidak mempunyai waktu sekalipun beberapa jam.
Tapi dia tidak kurang akal.
Atau dia nekad.
Dia tahu rupanya, berdiam lama di pulau itu berarti dia terancam bahaya.
Maka dia bongkar perahu itu, sedapatnya dia membuat semacam getek, dengan itu dia lantas mendayung ke tengah, meninggalkan tepian.
Coba tadi Sie Ie dan Seng Lam segera mengejar, mungkin mereka sempat menyandak selagi orang membuat getek.
"Beng Sin Thong!"
Sie Ie berteriak.
"Apa kau cari mampusmu? Dengan naik getek, sang gelombang akan membawamu ke istananya Hayliong Ong!"
"Hayliong Ong"
Ialah raja naga. Disana terdengar tertawanya Sin Thong yang pun berkata.
"Terima kasih untuk kebaikan kamu! Tapi aku lebih suka menghadap Hayliong Ong! Coba Hayliong Ong tak sudi menerima aku dan aku berhasil kembali ke daratan, bukankah aku bakal jadi si orang gagah tanpa lawan di kolong langit ini?"
Sin Thong tidak tahu Poan Kwie telah mati, menduganyapun tidak, maka itu, ia jadi takut berdiam di pulau itu.
la tahu, celakalah ia kalau ia sampai dapat dicari musuh tangguh itu.
Dengan terpaksa ia menggunai getek.
Dengan ini sedikitnya ia masih mempunyai harapan ketolongan.
Kalau ia tahu Poan Kwie mati, itu berarti bahaya untuk Seng Lam dan Sie Ie, sebab asal ada ketika beberapa hari untuk ia bersembunyi dan merawat diri, sesudah sembuh, muda-mudi itu pasti tak dapat melawan padanya, tak ada kesempatan untuk Seng Lam dan Sie Ie melatih diri menurut ajaran kitab.
Lewat lagi sekian lama, sang angin pun membawa lenyap tertawanya Sin Thong itu, yang bersama geteknya seperti ditelan sang lautan...
"Ah..."
Mengeluh Seng Lam.
"yang mati telah mati, yang pergi telah pergi, tinggal kita berdua di pulau ini..."
Ia menatap si anak muda dengan sinar mata guram Selama hidupnya Sie le kenyang menerima damparan hidup tetapi kali inilah yang paling hebat.
Perahu telah musnah, tidak ada jalan lain untuk mencoba pulang ke daratan, kecuali meniru Sin Thong, membuat dan memakai getek juga.
Tapi itulah bahaya, tak dapat ia membiarkan Seng Lam menempuhnya!
Dengan tetap menyingkir dari sinar mata si nona, anak muda ini kemudian berkata.
"Hari sudah gelap, mari kita pulang!"
Seng Lam menurut dengan mulut bungkam, tindakannya perlahan.
Sie Ie berpikir keras.
Mungkinkah ia mesti hidup terus berdua Seng Lam di pulau kosong ini, seperti hidupnya sang paman dan ibunya?
Apakah mereka mesti tinggal disini sampai hari penghabisan mereka?
Benarkah ia, untuk selamanya, tak akan dapat melihat pula Cie Hoa dan Kim Bwee?
Mau atau tidak, ia mengalirkan air mata...
"Ah, hawa disini dingin, dingin sekali!"
Tiba-tiba terdengar Seng Lam.
"Engko Sie Ie, semua-semua akulah yang mencelakai kau!..."
Sie le bagaikan disadarkan dari mimpinya.
"Kalau Thian menghendaki kita berdua hidup di pulau ini, biarlah,"
Katanya perlahan.
"Tidak dapat kita membilang siapa mencelakai siapa..."
Tanpa merasa keduanya saling menggenggam tangan mereka.
"Engko Sie Ie, tak tahu aku bagaimana aku harus mengucapkan syukur kepada, kau,"
Kata si nona.
"Engko, benar-benarkah kau berpikir seperti ini?"
"Janjiku terhadap kau belum pernah aku ubah,"
Jawab Sie Ie.
"Kau rupanya lupa bahwa kita pun sudah mengangkat saudara! Mengapa kau mesti berkata begini?"
Muka Seng Lam menjadi merah, ia tunduk.
Ketika itu matahari sudah turun ke laut, rimba menjadi gelap dan dingin.
Bayangan kedua orang itu sudah sirna, akan tetapi di hati Sie Ie, bayangan si nona tetap tak mau lenyap, tetap tak dapat di tedeng alingkan.
Orang dari siapa ia ingin menyingkir seperti terikat jadi satu dengannya, sebaliknya orang yang ia ingin jumpai, orang itu dipisahkan daripadanya dengan laut yang lebar dan jauh...
Hal yang sebenarnya bukan melainkan Kim Sie Ie seorang yang lagi memikirkan keras orang yang ia ingin jumpai itu, disana, di daratan yang jauh, ada seorang yang pun lagi memikirkan ia hingga orang itu mengeluarkan air mata, sedang di lain pihak lagi, dalam dunia Rimba Persilatan, telah tersiar luas berita bahwa ia telah meninggal dunia...
Ketika itu hari Lie Kim Bwee melihat dari kaki gunung Laosan lenyapnya perahunya Sie Ie di antara laut yang luas, kedukaannya bukan main besarnya.
Si nona lantas mengambil keputusan, apa juga terjadi, ingin ia menyusul.
Sang ibu, Phang Lim, menjadi kewalahan.
Tentu sekali ibu ini tidak dapat membiarkan puterinya berlayar seorang diri.
Maka dengan menjanjikan sewaan besar, dia telah mendapatkan sebuah perahu dengan apa mereka berlayar, untuk menyusul Tokciu Hongkay, si pengemis edan yang beracun, yang di matanya Nona Lie tak beracun sama sekali.
Ketika Phang Lim masih kecil, ia pernah diculik Satsie Siangmo, hingga ia pernah tinggal sekian lama di Miauw-eng To, pulau Kokok-beluk.
Pulau ini mirip dengan Coato, Pulau Ular, sedang di Coato pernah satu kali ia pergi, hingga walaupun sudah banyak tahun, ia masih ingat dimana letaknya.
Ia menduga Kim Sie Ie berlayar bukan tanpa arah tujuan, ia menerka Coato di pulau mana Sie Ie dibesarkan, dari itu ia menitahkan anak-bocah perahu langsung menuju ke pulau itu.
Selang sepuluh hari, Coato tampak sudah tak jauh lagi.
Justeru orang tengah berlayar, tiba-tiba terdengar suara menggelegar tak hentinya, mirip suara guntur.
Itulah suara meletusnya Coato.
Untuk menyingkir dari badai dan gelombang, perahu lantas ditujukan ke tempat yang aman, selewat belasan hari, setelah keadaan aman, baru mereka berlayar pula.
Mereka pun mengambil jalan mutar.
Karena ini, mereka terlambat.
Maka ketika akhirnya mereka tiba di pulau, lewat sebulan sejak meletusnya gunung berapi.
Setelah perledakan, Coato bagaikan menyalin rupa.
Pepohonan ludas.
Pulau seperti mati.
Seperti tak ada makhluk hidup di atasnya.
Yang terlihat ialah batu-batu karang dengan macamnya yang aneh-aneh.
Di pesisir kedapatan sisa bangkainya seekor ikan cucut yang besar.
Bangkai itu membikin orang kaget dan cemas.
Di perut ikan terdapat tongkatnya Kim Sie le.
Lalu di sela-sela rebung batu kedapatan beberapa barang yang dikenali sebagai milik si pengemis edan, yang tak terusakkan lahar, di antaranya ialah tusuk konde kemala kepunyaan Kim Bwee.
Tusuk konde itu, semasa Kim Bwee dikurung Beng Sin Thong, telah diserahkan pada Cia In Cin, untuk dijadikan bukti guna memohon bantuan pihak Thiansan Pay, belakangan lalu jatuh di tangan Sie ie.
Duduknya hal tidaklah Kim Bwee ketahui, tetapi sekarang, menemui miliknya itu, hati si nona pepat.
Tak berani ia memikir pula bahwa Kim Sie Ie masih ada di dalam dunia...
Sambil memegangi tusuk kondenya itu, Kim Bwee roboh pingsan.
Tatkala ia sadar, ia berada dalam pelayaran pulang.
Syukur ia beserta ibunya, maka ibunya itu dapat membujuki hingga ia tidak menjadi nekad, hingga ia dapat mempertahankan kegagahannya untuk hidup terus.
Phang Lim membawa puterinya pulang ke Thiansan.
Disini musim-musim dilewati.
Sang bunga mekar dan rontok.
Tahun lewat tahun, sampai tahun yang ketiga.
Sang waktu dapat juga membikin luka di hatinya Kim Bwee menjadi sembuh sedikit.
Tapi ia masih saban-saban mencekal dan mengawasi tusuk kondenya, bersendirian saja ia suka menepas air matanya...
Demikian pada suatu hari, di dalam kamarnya sendiri, Kim Bwee mengeluarkan tusuk kondenya itu.
Ia mengawasinya dengan otaknya bekerja.
Berpetalah di benak pikirannya saatsaat mereka masih kecil, di waktu mereka memain bersamasama seperti bocah-bocah.
Kim Sie le bengal, gemar dia menjadi lain orang, tetapi terhadap Kim Bwee dialah si pelindung.
Ia menyukai kenakalan Sie le, meskipun benar ada kalanya mereka berselisih.
Sekarang semua itu telah berlalu.
Kapan si nona membayangi hebatnya perletusan Pulau Ular, ia merasa seperti lagi bermimpi.
Ia tidak ingin memikirkan itu tetapi ia toh memikirkannya.
Ia telah menutup rapat kedua matanya.
Justeru itu, ia seperti melihat sang cucut yang ganas mementang bacotnya yang lebar menelan tubuhnya Sie Ie...
Selama tiga tahun itu Kim Bwee telah mendengar pelbagai hal penghidupannya Kim Sie Ie, antaranya orang membilang Sie Ie berlayar bersama Seng Lam, sedang ibunya memberitahukan paling belakang Sie Ie ada bersama Kok Cie Hoa.
Mengenai Seng Lam dan Cie Hoa, kabar-beritanya tak ada sama sekali, seperti juga kedua nona itu turut lenyap bersama Sie Ie sendiri.
Warta kematiannya Sie Ie tersiar mulai dari mulutnya murid-murid Thiansan Pay, lalu menjalar luas, menggemparkan Rimba Persilatan.
Disini penyambutan terpecah dua.
ada yang senang, ada yang menyesalkan.
Tong Siauw Lan pernah membaca buku catatan hari-hari dari Tokliong Cuncia, gurunya Kim Sie Ie, maka itu ia menduga kepergian Sie le ke Coato pasti untuk mencegah perledakan gunung berapi di pulau itu.
Karena ini pernah ia kata pada Lie Kim Bwee.
"Tak perduli sifatnya Sie Ie itu, hingga dia dibenci sejumlah orang, hingga dia dijuluki Tokciu Hongkay, tetapi kematiannya ini menunjuki dialah seorang berhati mulia."
Sie Ie mau mematikan gunung berapi guna mencegah bahaya untuk manusia."
Mendengar kata-kata paman ini ---ie-thio-lega juga hati Kim Bwee.
Ia terhibur untuk pujian buat kemuliaan dan kegagahannya Sie Ie, yang berkorban untuk peri kemanusiaan...
Dengan Sie Ie meninggal dunia, Kim Bwee jadi lebih mengerti pemuda itu, lebih menghargainya.
Tengah si nona kelelap dengan lamunannya itu, tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki mendatangi, terus ada suara ketukan perlahan pada pintu kamarnya, ia terperanjat.
"Masuk!"
Ia menjawab.
Kapan ia mengangkat kepalanya ia mendapati yang datang itu sang suheng, kakak seperguruan.
Ciong Tian.
Selama tiga tahun ini, tak pernah setengah tindak juga Ciong Tian memisahkan diri dari Nona Lie, tetapi juga selama itu, tak pernah ia menimbulkan soal perjodohan mereka berdua.
Itulah kehendaknya Phang Lim.
Ciong Tian murid satu-satunya dari Tong Siauw Lan, setelah kematiannya Kim Sie Ie, Siauw Lan dan Phang Lim mengharap sangat Ciong Tian dan Kim Bwee, terangkap jodohnya.
Tapi Phang Lim kenal hati anaknya itu, ia tidak mau berlaku sembrono, ia pasrah kepada sang waktu.
Kim Bwee itu polos, lama-lama-selang tiga tahun itu-karena setiap hari bergaul erat dengan Ciong Tian, ia merasa orang sebagai kakaknya saja.
Maka sukalah ia bicara dengannya, keduanya bergaul erat.
Begitulah Ciong Tian merdeka memasuki kamar si anak dara.
Tapi ketika ia melihat tusuk konde di tangan Kim Bwee dan mata Kim Bwee merah, masih ada bekas air matanya, ia berduka sendirinya.
Ia kata di dalam hati.
"Sudah tiga tahun Kim Sie Ie mati tetapi ia masih tak melupakannya..."
Walaupun demikian, ia berpura pilon. Ia bersenyum dan kata.
"Di atas puncak salju ada kedapatan beberapa tangkai soatlian, sumoay, mengapa kau menyekap dirimu didalam kamar saja? Apakah kau tidak ada niat keluar untuk jalanjalan?"
"Entah kenapa, aku malas jalan-jalan,"
Sahut si nona.
"Apakah sumoay suka mendengar aku menutur sesuatu?"
"Apakah itu?"
"Suhu telah kedatangan tiga orang tetamu. Apakah sumoay tahu?"
"Tidak. Siapakah mereka bertiga?"
"Yang satu ialah Cia In Cin dari Ngobie Pay,"
Ciong Tian menerangkan.
"Hanya dia sekarang lagi mewakilkan Kaypang. Yang satu lagi yaitu Thia Ho dari Binsan Pay. Yang ketiga ialah Siauw Ceng Hong dari Cengshia Pay."
"Mereka datang bersama, mungkinkah dalam Rimba Persilatan telah terjadi sesuatu yang hebat?"
Si nona tanya.
"Memang! Kita disini mirip Taman Bunga Tho yang tersembunyi, hingga kita tidak ketahui dunia Kangouw sebenarnya sudah seperti langit ambruk bumi gempa!"
"Sebenarnya telah terjadi apakah?"
"Duduknya hal hebat. Empat hiocu dari Kaypang telah terbinasakan orang. Pangcu dari Kaypang, yaitu Ek Tiong Bouw, dan ciangbunjin dari Cengshia Pay, yakni Han In Ciauw, telah terluka-kan. Dan dua saudara Tio Eng Hoa dan Tio Eng Bin dari Binsan Pay, dua-duanya telah orang culik. Sedang ciangbunjin dari Binsan Pay, Co Kim Jie, sudah diancam supaya lain tahun, di harian hari ulang matinya Tokpie Sinnie, ia membunuh diri di gunung Binsan, untuk mana ia diharuskan mengumpulkan dulu semua anggauta Binsan Pay, supaya mereka itu menyaksikan, jikalau tidak, Binsan Pay bakal ditumpas musnah."
Kim Bwee terkejut. Ia heran bukan main. Benar-benar hebat.
"Begitu?"
Dia tanya berjingkrak.
"Siapakah orang yang mengancam itu yang nyalinya demikian besar?"
"Dialah seorang yang mengenakan pakaian berkabung dan bertopeng muka,"
Ciong Tian memberi keterangan terlebih jauh.
"Pada tanggal tiga bulan delapan, Kaypang membikin upacara seperti biasanya setiap tahun. Orang itu muncul dengan tiba-tiba dan lantas menangis menggerung-gerung. Bukankah sengaja dia mengacau?"
"Habis?"
"Dia lantas dikurung keempat hiocu, yang menegur dia. Dia jawab. 'Kenapa aku berbelasungkawa ini, sebentar kamu semua kaum Kaypang akan mendapat tahu! Cuma kamu berempat yang sudah tidak keburu mengetahuinya!' Habis mengatakan begitu, dia lantas turun tangan. Secara sangat cepat dan luar biasa sekali dia menyerang dan membinasakan ke empat hiocu itu!"
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
Tanya si nona, kaget dan heran, hingga ia menanya dengan suara keras.
"Keempat hiocu itu liehay dan mempunyai masing-masing kepandaiannya sendiri, mereka tergolong kelas satu. Bagaimana mereka terbinasa hanya dalam segebrakan saja?"
"Memang itu aneh! Tapi masih ada lain keanehan lagi! Disitu hadir Han In Ciauw dari Cengshia Pay. Dialah sahabat kekal dari Ek Tiong Bouw, Pangcu dari Kaypang, dan Ek Pangcu sendiri hadir bersama. Keduanya lantas maju menyerang si pengacau bertopeng. Cuma sebentaran, keduaduanya telah kena dirobohkan, bahkan tubuh Han In Ciauw menjadi bercacad, katanya dia sampai tak dapat berkutik!"
Kim Bwee tercengang.
Han In Ciauw, ketua dari Cengshia Pay itu, tergolong satu kelas dengan Tong Siauw Lan, ie-thionya itu, dia pandai ilmu dalam dan luar, terutama dengan tindakan Thianlopou, pukulan Thiankong ciang dan pedang Thiantun kiam, dan dia ada bersama Ek Tiong Bouw, ketua Partai Pengemis, tetapi mereka masih dapat dirobohkan dalam waktu pendek, benar-benar hebat si orang bertopeng itu!
Siapakah dia?
"Habis si orang bertopeng merobohkan ketua-ketua dari Cengshia Pay dan Kaypang itu, dia tertawa sambil berlenggak dan berkata,"
Ciong Tian melanjuti.
"Dia kata. 'Ek Tiong Bouw, bukankah sekarang kau kenal keliehayan aku si orang tua? Jikalau kau memikir untuk mencari balas, kau datanglah lain tahun bulan tiga tanggal lima belas ke gunung Binsan!' Habis itu dia tertawa pula, atau tahu-tahu dia sudah pergi jauh satu lie, hingga orang-orang Kaypang tak dapat mengejar pula. Dengan terpaksa mereka mesti menolongi orang-orang yang terluka dan mengurus yang terbinasa. Tubuh keempat hiocu lantas menjadi beku dan mukanya merah biru. Ek Tiong Bouw, yang mukanya muram, lantas menitahkan membubarkan pertemuan serta mengirim orang untuk memberi kabar kepada ketuanya, katanya. 'Lekas menghentikan upacara! Lekas mengabarkan pada Ciangbun Suci, bilang... bilang... Beng...' "
"Oh, Beng Sin Thong!"
Kim Bwee berseru.
"Benar!"
Sahut Ciong Tian.
"Benar Beng Sin Thong! Teranglah dia sengaja datang mengacau upacara untuk menantang, cuma karena dia kuatir ada yang mengenali, maka dia memakai topeng."
Kim Bwee terbengong.
"Sungguh tidak disangka hantu tua itu muncul pula..."
Katanya.
Semenjak bertempur dengan Phang Lim di gunung Laosan, sudah tiga tahun Beng Sin Thong tidak pernah muncul dalam dunia Kangouw, hingga Kim Bwee menyangka dia sudah hilang di luar negeri.
Sekarang dia muncul pula dengan sepak terjangnya yang luar biasa itu, munculnya itu berbareng membikin si nona teringat pula akan Kim Sie Ie.
Sin Thong dan Sie Ie berlayar di saat yang sama, Sie le menjadi makanan ikan cucut, si hantu sebaliknya masih hidup!
Kesedihan dan kegusaran berkumpul menjadi satu dalam hati si nona, ia mau menangis tetapi air matanya tidak keluar, la jadi terus berdiam saja.
"Sumoay, kau kenapakah?"
Tanya Ciong Tian.
"Kejadian itu membikin hatiku pepat,"
Sahut Kim Bwee.
"Sekarang aku sudah merasa lega. Coba lanjuti ceritamu. Bagaimana kemudian?"
Ciong Tian heran melihat sikapnya adik seperguruan ini, ia tidak menyangka bahwa si nona ingat Sie Ie. Ia lantas meneruskan penuturannya.
"Ek Tiong Bouw menitahkan orang untuk memberi kabar kepada ketuanya, tetapi di luar dugaan, Beng Sin Thong telah mendahului setindak. Ketika pesuruh Kaypang itu sampai di Tokkoan, di rumah Keluarga Tio, Beng Sin Thong sudah menculik kedua cucunya Co Kim Jie..."
"Jadi cucunya Co Kim Jie yang diculik itu?"
"Ya. Co Kim Jie menikah dengan Keluarga Tio di Tokkoan itu. Tio Eng Hoa dan Tio Eng Bin ialah cucu-cucunya. Beng Sin Thong tidak melainkan menculik, dia pun memberi batas waktu, memastikan Co Kim Jie membunuh diri di harian ulang tahun matinya Tokpie Sinnie, seperti tadi aku bilang. Aku lihat, Beng Sin Thong muncul pula dengan maksud menumpas Binsan Pay. Sebab Ek Tiong Bouw murid Binsan Pay yang menjadi ketua Kaypang, dari itu Kaypang turut menjadi korban."
"Memang erat hubungan di antara Binsan Pay dan Kaypang,"
Kata Kim Bwee.
"hanya kurang tepat untuk membilang Kaypang turut menjadi korbannya Binsan Pay. Rupanya ibuku masih belum memberitahukan kau, pangcu turunan ke tujuh belas dari Kaypang, yaitu Ciu Kie, telah terbinasa di tangan Beng Sin Thong juga, jadi Kaypang itu dengan Beng Sin Thong bermusuh besar."
"Kalau begitu pantaslah sekarang iparnya Ciu Kie, yaitu Cia In Cin, yang menjadi isterinya Tiat-koay Sian Lu Ceng, telah turut datang kesini,"
Kata Ciong Tian.
Lu Ceng itu bersama-sama Ciu Kie dan Ek Tiong Bouw menjadi murid-muridnya Kam Hong Tie dan Kam Hong Tie sahabat erat dari Leng Pek To, ketua turunan ke enam belas dari Kaypang.
Semasa hidupnya Leng Pek To, dia melihat kemerosotan partainya, dia kuatir nanti tidak ada orang yang me-nyambungi kedudukannya, dari itu dia minta Ciu Kie murid Kam Hong Tie itu menggantikan dia menjadi ketua.
Hal itu terjadi begitu dia menutup mata.
Ketika kemudian Ciu Kie terbinasa di tangan Beng Sin Thong, Lu Ceng yang menggantikan kedudukannya itu menjadi ketua turunan ke delapan belas.
Kemudian lagi, dengan meninggalnya Lu Ceng, kedudukan diwariskan pada Ek Tiong Bouw.
"Dengan sepak terjangnya ini, Beng Sin Thong seperti menantang Rimba Persilatan,"
Kata Ciong Tian kemudian.
"Cia In Cin datang bersama Thia Ho dan Siauw Ceng Hong, apakah mereka mau minta bantuan ie-thio-ku?"
Kim Bwee tanya.
"Benar. Bahkan katanya, lain-lain partai juga hendak mengirim utusan dengan permintaan yang serupa. Datangnya mereka ini bertiga membuktikan mereka sangat menghargai Thiansan Pay."
"Apakah ie-thio telah memberikan jawabannya?"
"Sekarang mereka justeru lagi berbicara."
"Baiklah, aku pun mau turut mendengari pembicaraan mereka!"
Kata si nona.
Melihat orang ketarik hatinya, Ciong Tian bergirang dan berduka.
Girang sebab sejak habis berlayar, adik seperguruan ini tak menghiraukan segala urusan lainnya, dan berduka lantaran urusan Kaypang ini membuat si nona sangat tertarik hati.
Ia kuatir urusan itu membikin Kim Bwee ingat pula Sie Ie.
Ia tidak tahu, si nona siang-siang telah ingat Tokciu Hongkay...
Phang Lim bersama Phang Eng, kedua saudara itu, tinggal bertetangga, maka itu dengan cepat Kim Bwee telah sampai di rumah bibi atau ie-thio-nya itu.
Disana ia mendapatkan sang ie-thio, Tong Siauw Lan, dan sang bibi, Phang Eng, bersama ibunya, lagi menemani ketiga tetamunya di ruang besar, dan romannya Tong Siauw Lan muram.
Siauw Lan tengah memikir siapa yang dapat dikirim untuk memberikan bantuannya.
Ia berniat pergi sendiri, ia bersangsi.
Ia akan hilang derajatnya kalau ia pergi membantu mengepung Beng Sin Thong seorang.
Kalau ia tidak pergi sendiri, siapa dapat mewakilinya?
Phang Eng pun tengah bertanya, siapa harus dikirim.
Dia menanya suaminya.
"Ie-thio, aku yang pergi!"
Kim Bwee menyeletuk. Siauw Lan berpikir.
"Kau yang pergi?"
Katanya, balik bertanya.
"Baik! Tapi kau mesti tanya dulu ibumu. Jikalau ibumu setuju, aku tidak akan menentang."
Kim Bwee menarik ujung baju ibunya.
"Ibu, kita pergi bersama, dapat bukan?"
Ia tanya, manja. Phang Lim mengawasi anaknya, ia tertawa.
"Syukur kau bergembira!"
Katanya.
"Baik, ibumu akan menemani kau! Supaya kau nanti dapat membuka matamu!"
Siauw Lan dan Phang Eng terpaksa menyetujui, tetapi Phang Eng memesan.
"Adikku, kamu bakal menghadapi musuh berbahaya, aku harap kau suka berlaku hati-hati."
Phang Lim tertawa.
"Musuh berbahaya apa!"
Katanya.
"Sudah dua kali aku menempur Beng Sin Thong, aku lihat dia tak lebih tangguh seberapa!"
"Tetapi itulah kejadian tiga tahun yang sudah lewat,"
Siauw Lan memberi ingat.
"Han In Ciauw roboh di tangan Beng Sin Thong, itu berarti dulu hari dia telah tidak mengeluarkan seantero kepandaiannya atau sekarang dia telah memperoleh kemajuan pesat. Singkatnya janganlah kita memandang enteng kepada lawan."
"Baik,"
Kata Phang Lim, yang melihat ciehu itu demikian berhati-hati.
Sebenarnya ia tetap kurang percaya.
Ia mau percaya Sin Thong memperoleh kemajuan tetapi ia sendiri juga tidak mundur, maka itu, mungkin mereka berimbang.
Ia tidak tahu Beng Sin Thong sudah mendapatkan separuh kitabnya Kiauw Pak Beng dan sudah mema-hamkan dan melatihnya hingga si hantu menganggap dirinya tak ada lawannya lagi!
Kalau tidak, mustahil dia berani menantang demikian rupa?
Kemudian Tong Siauw Lan tanya Cia In Cin apa nyonya ini ketahui partai-partai lainnya telah mengutus siapa-siapa.
"Sebelumnya aku berangkat aku mendapat tahu Butong Pay telah menetapkan Lui Cin Cu, ketuanya, dan Ngobie Pay memilih Kim Kong Taysu, juga ketuanya,"
Sahut Cia In Cin.
"Yang lainnya yaitu Siauwlim Pay mengutus Kam-sie Pun Bit Taysu dan Khongtong Pay, Tiangloo Ouw Thian Long. Han In Ciauw lagi merawat lukanya, kedudukannya diwakilkan pada adik seperguruannya, Sien In Long. Ia telah menetapkan akan mengirim murid-muridnya sampai tingkat ketiga."
Phang Lim heran. Untuk melawan satu Beng Sin Thong, perlu apa demikian banyak orang? Sebaliknya Tong Siauw Lan berkata.
"Aku juga harus menambah mengirim dua orang lagi. Adik Lim, kalau nanti kau lewat di gunung Nyenchin Dangla, tolong kau sampaikan pesanku supaya Keng Thian suami isteri turut pergi bersama."
Tong Keng Thian, puteranya Siauw Lan, tinggal di gunung Nyenchin Dangla bersama isterinya, Pengcoan Thianlie, si Bidadari dari Sungai Es-tinggal menetap di Istana Es.
Selama belasan tahun, rriereka berdua sudah berdiri sendiri.
Mereka telah berhasil menggabung ilmu pedang Pengcoan Kiamhoat dengan ilmu pedang Thiansan Kiamhoat, hingga mereka dapat menyamai ayah atau mertua mereka.
Maka itu, mendengar Siauw Lan menyebut pasangan dari Nyenchin Dangla itu, Cia In Cin bertiga menjadi girang sekali.
"Adik Lim,"
Siauw Lan memesan pula iparnya itu.
"andaikata kau seri melayani Beng Sin Thong, kau jangan melayani terlebih jauh, kau janjikan saja dia untuk menempur aku satu sama satu, tentang tempat dan tanggalnya, terserah kepadanya!"
Kata-kata itu, yang ditujukan kepada Phang Lim, menimbulkan juga kesan di hatinya Cia In Cin, Thia Ho dan Siauw Ceng Hong.
Mereka merasa tuan rumah itu terlalu berhati-hati.
Phang Lim sendiri terang tidak puas.
Maka setelah bersenyum, ia kata.
"Siauw Lan, apakah tak baik untuk menambah mengirim satu orang lagi?"
"Siapakah yang kau pikir ingin mengirimnya itu?"
Siauw Lan tanya.
"Bagaimana kalau Ciong Tian?"
Siauw Lan dapat menduga hati iparnya itu, yang ingin ada terlebih banyak ketika untuk Kim Bwee bergaul dengan muridnya itu.
"Baik!"
Sahutnya, cepat.
"Memang sudah seharusnya Ciong Tian pun mencari pengalaman."
Lantas ia memberi titah pada muridnya itu.
Disitu lantas ditetapkan hari keberangkatan.
Cia In Cin bertiga diminta berdiam lagi dua hari, selama mana Kim Bwee dan Ciong Tian dititahkan melatih diri sungguh-sungguh.
Menggunai ketika sedang senggang, Kim Bwee mencari Cia In Cin untuk memasang omong.
Sudah beberapa kali In Cin datang ke Thiansan, maka itu Kim Bwee kenal baik padanya.
Ia menanyakan hal Cie Hoa.
Sejak pengalamannya dikurung Beng Sin Thong, Kim Bwee menganggapnya Cie Hoa seperti saudara sendiri.
Demikian dengan pergi ke Binsan ini, ia ingin sekalian mencari sahabatnya itu.
Ditanyakan halnya Cie Hoa, In Cin agak jengah.
"Selama tiga tahun ini aku juga tidak mendengar hal dia,"
Sahutnya sesaat kemudian.
Kok Cie Hoa telah diusir Co Kim Jie dari Binsan Pay, dengan begitu Cie Hoa telah menjadi murid yang murtad.
Putusan itu tak dapat ditentang oleh In Cin dan Tiong Bouw dan lainnya walaupun mereka tak menyetujui.
Karena pengusiran itu, Cie Hoa tak dapat diajak bergaul pula sekalipun secara pribadi.
Hal ini tidak dapat In Cin memberitahukan Kim Bwee, maka itu, ia jengah sendiri.
Nona Lie kecewa, ia menyesal sekali tetapi ia menghibur diri, ia kata di dalam hati.
"Peristiwa Binsan Pay ini hebat sekali dan sangat menggemparkan, semua pihak yang bersangkutan pada mengirim wakilnya, dari itu tak mungkin Cie Hoa tidak mendengarnya juga. Dialah murid satu-satunya dari Lu Su Nio, meski dia telah diusir Kim Jie, dia tetap orang Binsan Pay, dia tentu tak dapat berpeluk dagu saja. Setibanya di Binsan, mungkin aku akan dapat bertemu dengannya..."
Selagi si nona berdiam, Cia In Cin dapat melihat tusuk kondenya. Ia heran. Kim Bwee pun ingin menanyakan hal itu, ia tertawa dan menanya.
"Cia Liehiap, masih kenalkah kau tusuk konde ini? Inilah barang yang ketika aku dikurung di rumah Beng Sin Thong telah aku serahkan pada kau. Aku menyerahkannya dengan perantaraan anggauta Kaypang yang berdiam di Beng keechung."
In Cin mengangguk.
"Tak dapat aku melupakan ini,"
Ia menyahut.
"Aku hanya tidak mengerti, kenapa tusuk konde ini kembali ke tanganmu."
"Coba Liehiap memberitahukan lebih dulu kepada siapa liehiap telah serahkan ini'?"
Kata si nona.
"Hari itu di dusun Sin-an aku telah bertemu Kim Sie Ie serta suheng-mu, Ciong Tian,"
Sahut ln Cin.
"Sebenarnya aku hendak menyerahkan itu pada Ciong Tian tetapi kejadiannya aku meletakkannya di kamarnya Sie Ie."
Disini Cia In Cin menjusta.
Sebenarnya memang sengaja ia menaruh di kamar Sie Ie.
Sin Thong sukar dilayani, ia berkesan tak manis terhadap Sie Ie, di sebelah itu ia ingin Sie Ie membantunya secara diam-diam.
Hanya maksudnya itu tidak kesampaian.
Ketika Sie Ie tiba di rumah Sin Thong, Kim Bwee sudah lebih dulu ditolongi Seng Lam.
Tapi keterangan itu cukup jelas bagi Kim Bwee halnya Sie Ie sangat memperhatikan ia.
Maka ia berduka sekali, hingga ia menepas air mata.
Ia menyesal tak dapat bertemu dengan Tokciu Hongkay.
"Inilah barang peninggalannya Sie le yang aku ketemukan di Coato..."
Katanya terisak.
"Orang yang sudah menutup mata tak dapat hidup pula,"
In Cin menghibur.
"maka itu baik tak usahlah kau terlalu berduka. Di dalam dunia ini masih banyak orang yang terlebih baik daripada Kim Sie le..."
"Biar ada orang yang terlebih baik tetapi di masa hidupnya dia telah berbuat banyak untukku,"
Kata Kim Bwee.
"Kecuali ibuku, lain orang tak dapat menandingi kebaikannya itu. Untuk selama-lamanya tak dapat aku melupakannya!"
"Sungguh kekuatan jodoh,"
Pikir In Cin.
"Kim Sie Ie orang yang tak kenal manusia tetapi Lie Kim Bwee tak dapat melupakan dia!"
Selagi keduanya berduka itu, hingga mereka tak dapat berkata-kata, syukur datang Ciong Tian yang menyampaikan pesan Siauw Lan untuk mereka berdua berlatih, maka itu, lega hatinya In Cin.
Dua hari kedua muda-mudi itu berlatih, Siauw Lan terus menilik mereka dan mereka dipesan bagaimana harus bersikap andaikata mereka menghadapi lawan yang tangguh.
Semenjak tiga tahun dulu dikalahkan Kim Sie Ie, Ciong Tian sudah berlatih keras hingga ia maju pesat, kalau tadinya ia kalah dari Kim Bwee, sekarang ia dapat menyamainya, sedang dalam tenaga dalam, ia menang.
Di hari ketiga Tong Siauw Lan suami isteri mengantarkan rombongan In Cin turun gunung.
Siauw Lan memesan pula Phang Lim, sang ipar, untuk jangan memandang enteng kepada musuh.
Kim Bwee dipesan jangan memisahkan diri dari ibunya.
Ciong Tian pun dipesan untuk terus mendampinginya.
Phang Lim tidak gusar tetapi diam-diam ia mentertawai ciehu itu.
Ia tahu Beng Sin Thong telah melukai Han In Ciauw tetapi ia tetap tidak takut.
Ketika itu baru di permulaan musim rontok, sedang hari sembahyang Tokpie Sinnie tanggal lima belas bulan tiga lain tahun, dari itu tak usahlah mereka melakukan perjalanan terburu-buru.
Mereka punya tempo setengah tahun.
Jumlah mereka enam orang.
Di antara mereka Siauw Ceng Hong dan Cia In Cin yang paling luas pengetahuannya hal dunia Kangouw, dengan begitu di sepanjang jalan, dapat Phang Lim bicara banyak dengan mereka itu.
Di tempat yang ramai atau tersohor, orang pun singgah satu atau dua hari, untuk pesiar.
Nampaknya Phang Lim lagi pesiar, bukannya hendak menghadapi musuh liehay...
Thia Ho bergelisah sendirinya.
Ia berduka memikirkan partainya.
Tapi ia ada orang dari tingkat lebih muda, tidak berani ia mendesak si nyonya untuk melakukan perjalanan lekas-lekas.
Tiga tahun lamanya Kim Bwee berdiam di dalam rumah dengan pikirannya pepat, sekarang ia dapat melakukan perjalanan dan kawannya pun banyak, hatinya terbuka sedikit, di waktu berbicara dengan Ciong Tian, dapat ia tertawa.
Senang Phang Lim melihat perubahan puterinya itu.
Pada suatu tengah hari tibalah orang di Nyenchin Dangla.
Setelah gempa, Thian Ouw atau telaga Tengri Nor, masih tetap ada, cuma sekarang tempat arus deras di hulunya sudah tertutup tanah, hingga perjalanan tak sukar dan berbahaya lagi.
Di hari kedua tibalah mereka di puncak utama dari mana Peng Kiong, atau Istana Es, telah dapat terpandang, di bawah sorotan matahari, terlihat cahayanya yang berkilauan dan berwarna rupa dan indah.
Thia Ho belum pernah datang ke Istana Es, ia menjadi kagum, hingga untuk sesaat itu dapat ia melegakan hatinya, suka ia menikmatinya.
"Sungguh Keng Thian berbahagia!"
Phang Lim memuji.
"Istana Es ini ia telah perbaharui hingga indahnya melebihkan yang sudah-sudah!"
"Itulah sebab ia telah menikah enso yang bagaikan bidadari itu!"
Kim Bwee pun memuji--memuji kepada ensonya--iparnya--ialah Pengcoan Thianlie si puteri Nepal. Phang Lim tertawa, ia kata pada puterinya.
"Ayah bundanya enso-mu itu dapat memberi pesalin Istana Es kepada puterinya, tetapi aku, tak tahu aku, apa yang dapat aku berikan pada kau!"
"Ah ibu, gemar sekali ibu menggoda!"
Kata si anak, yang lantas saja wajahnya yang bergembira menjadi guram.
Ibu itu menjadi menyesal sekali.
Ia insyaf akan kekeliruan omongannya itu, hingga ia membangkitkan kedukaan si puteri.
Ia paksakan diri tertawa dan kata.
"Beginilah tabiat ibumu, yang gemar bergurau dengan kamu anak muda! Ensomu juga dulu pernah berdongkol karena guyonku!--Eh, heran, mengapa tidak ada dayang yang menyambut kita? Apakah ia masih mendongkol terhadapku?"
Tepat nyonya ini berkata demikian, tepat mereka mendengar suara genta yang menulikan telinga, yang berbunyi terus menerus. In Cin heran. Ia tahu itulah isyarat untuk Istana Es. Pikirnya.
"Siapakah berani datang membentur kepalanya kepada gunung Taysan? Mungkinkah Beng Sin Thong datang kemari?"
Selagi orang she Cia ini berpikir demikian, mendadak terdengar Phang Lim membentak.
"Berhenti!"
Dan belum lagi ia melihat tegas, seorang bagaikan bayangan melesat lewat di samping mereka, berbareng dengan mana, tubuhnya ibunya Kim Bwee pun berlompat tinggi!
Orang bagaikan bayangan itu menjerit satu kali, ketika tubuhnya turun di tanah, dia telah memisahkan diri jauh-jauh, akan tetapi Lie Kim Bwee telah mengenali dia maka nona ini berseru.
"Dialah Kie Siauw Hong muridnya Beng Sin Thong!"
Phang Lim menyambar tetapi gagal, maka ia lantas menyerang dengan seraup daun rahasianya, yang diperantikan menusuk jalan darah, daun mana dapat ditimpuki sambil tubuh mencelat tinggi.
Meski demikian, orang itu masih dapat menyingkir juga.
Cia In Cin kagum dan heran.
Ia liehay dan matanya tajam, toh ia baru pernah menyaksikan orang dengan gerakan tubuh demikian gesit.
Maka berpikirlah ia.
"Muridnya Beng Sin Thong sudah begini liehay, apapula Beng Sin Thong sendiri..."
Ia tidak tahu, Kie Siauw Hong itu di samping menjadi murid memanglah seorang dengan tubuh ringan dan lincah luar biasa, kalau tidak, tidak nanti dia dijuluki Sin Tauw, si Malaikat Pencuri nomor satu di kolong langit ini...
Dia menjadi murid Sin Thong dengan membawa kepandaiannya itu, tidak heran dia menjadi bertambah liehay.
Selagi Phang Lim merintangi Kie Siauw Hong itu, dayangdayang dari Istana Es sempat memburu keluar, untuk mengejar, sembari berlari-lari, mereka mengasih dengar seruan mereka yang riuh.
Di antara mereka tertampak seorang berada di muka, gerakannya sangat pesat.
Dia nampak lebih nyata karena pakaiannya serba putih.
Dialah Pengcoan Thianlie.
Ketika itu Phang Lim sudah bergerak terlebih jauh guna merintangi Siauw Hong.
Ia menyerang pula dengan seraup daunnya, hingga Siauw Hong terhajar dua antaranya, tubuhnya terhuyung.
Dengan kegesitannya, nyonya itu mendatangi dekat tak sepuluh tombak.
"Masih kau tak hendak berhenti?"
Ia membentak.
"Apakah kau cari mampusmu?"
Ketika itu Pengcoan Thianlie sudah menghalang dengan Peng-pok Sintan, peluru esnya.
Begitu peluru itu pecah, terlihatlah benda bagaikan uap atau asap, yang membawa hawa dingin sekali, yang sinarnya terang.
"Selagi kedua negara berselisih, tidak ada aturan membunuh utusan!"
Kie Siauw Hong berseru. Dia nyata besar nyalinya.
"Aku menggunai aturan kaum Rimba Persilatan mewakilkan guruku menyerahkan surat tantangan perang, kenapa kamu bersikap begini tidak tahu aturan?"
Pengcoan Thianlie membentak.
"Kau mencuri pedangku! Aturan apakah itu?"
Kie Siauw Hong tertawa.
"Itulah aturan tindak-tandukku sendiri!"
Ia menjawab lantang.
"Tidak perduli aku pergi ke rumah siapa, paling sedikitnya aku mesti mengambil serupa barang! Jikalau kau tidak sudi mengantar pedangmu ini kepadaku, baiklah, kau serahkan serupa barang apa saja sebagai gantinya!"
"Ngaco belo!"
Bentak pula Pengcoan Thianlie.
"Apakah pencuri juga ada aturannya?"
Kie Siauw Hong tertawa berkakak.
"Untukku memang ada aturan itu!"
Jawabnya.
"Itulah aturan yang diwariskan oleh kakek guruku! Kamu tentulah tidak ketahui itu!"
"Aku juga ada aturanku!"
Kata Phang Lim, tertawa dingin.
"Jikalau aku membekuk panca longok, dia harus dirotani tiga ratus kali!"
Kata-kata ini disusul dengan jejakan kepada tanah, hingga tubuhnya melesat dalam gerak "Kokokbeluk Menyambar", sedang Pengcoan Thianlie membarengi menyerang pula dengan peluru esnya, guna mencegah orang kabur.
Di saat Kie Siauw Hong terancam bahaya itu, terdengar dia tertawa dan kata.
"Pengcoan Thianlie, nyata kau cupat pandanganmu! Kau masih tak rela melepaskan sebatang pedang! Baiklah, ini aku bayar pulang padamu!"
Phang Lim sedang menyerang ketika ia melihat suatu sinar putih menyambar ke arahnya.
Ia lantas mengenali itulah pedangnya Pengcoan Thianlie, pedang Pengpok Hankong Kiam yang istimewa.
Tentu sekali ia tidak berani me-nyambuti.
Dengan terpaksa ia berkelit seraya menyampok dengan tangan bajunya, atas mana pedang meluncur ke tembok gunung, di antara batu karang.
Pengcoan Thianlie tidak suka pedangnya itu terjatuh ke lembah, ke dalam jurang, maka ia berlompat untuk menyambarnya.
Membarengi ketika itu Kie Siauw Hong lompat di sampingnya si nyonya dipertuan dari Sungai Es, ia menyingkir dari hawa dingin, untuk mengangkat langkah seribu...
Pengcoan Thianlie repot dengan pedangnya, tak sempat ia memegat-nya pula.
Phang Lim pun tidak dapat merintangi terus, temponya tak ada lagi.
Di samping itu, ia terkejut di dalam hati.
Tiga tahun dulu, kecuali ringannya tubuhnya, Kie Siauw Hong tidak nanti dapat melayani ia secara demikian licin.
Duluhari di Kiebek, Shoatang, ketika ia bertemu dengan Beng Sin Thong, cuma dengan satu kali timpuk ia membikin Siauw Hong terjungkal.
Sekarang, orang dapat lolos dari ia, yang dibantu Pengcoan Thianlie!
"Dia aneh!"
Pikirnya lebih jauh.
"Turut pantas, biar bagaimana juga, tak mungkin dia menjadi begini liehay hanya dalam tempo tiga tahun... Mungkinkah Beng Sin Thong telah berhasil menemui kepandaian luar biasa hingga dia dapat mewariskan kepandaiannya itu kepada muridnya ini?"
Baru sekarang nyonya ini mau percaya Sin Thong benarbenar liehay, hingga ia tak lagi mau memandang enteng.
Tinggal keragu-raguannya yang belum mau lenyap...
Pengcoan Thianlie telah memungut pedangnya, selagi ia menghampirkan Phang Lim, nyonya itu pun menghampirkan ia, bahkan terus menanya.
"Bagaimana? Benarkah Beng Sin Thong menantangmu? Apakah dia sendiri datang kemari?"
"Ada datang beberapa orang,"
Kata bidadari dari Sungai Es itu.
"Entahlah, di antaranya ada dia atau tidak... Eh! eh! Aku punya..."
Dia telah meraba ke rambutnya dimana ia kehilangan kupu-kupunya yang terbuat dari batu kemala.
Itulah kupu-kupu dari Istana Nepal, hingga bisa dimengerti tingginya harganya.
Ia percaya rupanya kemala itu disambar Kie Siauw Hong barusan dan ia tidak bersiaga karena ia lagi menyambar pedangnya.
Mau atau tidak, ia mengagumi pencuri yang liehay itu.
Ketika itu dari arah Istana Es terdengar suara senjata beradu.
"Bagus!"
Phang Lim berseru.
"Mari kita menemui Beng Sin Thong!"
Lantas rombongan itu lari naik ke atas, menuju ke Istana Es.
Pengcoan Thianlie mengajak mereka pergi ke taman bunga dari mana suara senjata beradu terdengar, maka disana terlihat rombongan dayang tengah mengurung dua orang yang istimewa dandanannya.
"Ah,"
Kata Pengcoan Thianlie.
"itu yang di sebelah kiri ialah Can Bit Hoatsu, pendeta berilmu dari golongan Biteong dari agama Lhama Merah!"
Sebagai puteri negara Nepal, yang mengutamakan agama Budha, Pengcoan Thianlie, mengenal baik segala apa mengenai agama itu.
la sendiri berbareng menjadi liehokhoat, pelindung agama itu, maka itu ia pun kenal Budha dari agama Lhama Kuning serta raja agama dari Lhama Putih dari Cenghay, Tibet.
Ketika itu ketiga Lhama Putih, Kuning dan Merah, masih bersatu, benar Pengcoan Thianlie tidak berhubungan erat dengan ketiganya tetapi dengan beberapa tiang-loo, atau Lhama tertua, ia kenal baik.
Di antara tiga golongan itu, jumlah pihak Merah yang paling sedikit, dan sudah begitu, pihak Merah ini-golongan Biteong-tak suka mencampuri urusan luar, maka juga Nyonya Tong Keng Thian heran mendapatkan Can Bit Hoatsu disitu.
Tidak selayaknya Can Bit macam Beng Sin Thong.
Mereka tak pantas ada hubungannya dan derajatnya Can Bit pasti turun karenanya.
Toh kenyataannya pendeta itu sekarang berada bersama Kie Siauw Hong!
Dayang-dayang dari Istana Es mengurung kedua orang itu dengan tin atau barisan mereka yang bergaris Patkwa, yang dinamakan "Kiukiong Patkwa Tin", dengan begitu Can Bit Hoatsu serta kawannya, seorang Hoan Ceng, atau pendeta bangsa Hoan, kena terkurung di tengah-tengah.
Hebat Can Bit Hoatsu, meskipun puluhan pedang Hanpeng kiam menikam dan menabas ke arahnya, semua pedang tak dapat mengenai tubuhnya, hanya tiba di jarak tiga kaki, semua pedang tak dapat maju lebih jauh.
Pengcoan Thianlie memikir untuk menyuruh dayangdayangnya berhenti menyerang atau dia didahului si Hoanceng, yang berseru bagaikan guntur, atas mana puluhan pedang Hanpeng kiam lantas pada terbang sendirinya.
Bukan main kagetnya si Puteri Nepal.
Ia tahu itulah seruan yang dinamakan "Saycu Houw"
Atau "Deruman Singa"
Dari kalangan persilatan kaum agama Budha. Ia tidak menyangka pendeta ini demikian liehay, maka pasti dia tak ada di bawahan Can Bit Hoatsu.
"Perduli apa dia siapa!"
Kata Phang Lim murka.
"Dia yang datang bersama muridnya Beng Sin Thong, dia mestinya bukan orang baik-baik! Demikian mereka ini!"
La lantas lompat, untuk melintasi gunung-gunungan. Justeru itu Tong Keng Thian tertampak muncul untuk menghalangi si pendeta asing seraya ia menegur.
"Taysu, ada urusan apa maka kamu datang berkunjung dan menantang?"
Pendeta asing itu agaknya sangat mendongkol, dia berteriak-teriak sebelum dia menjawab, setelah itu baru dia kata, keras.
"Apakah kau Tong Keng Thian? Kami datang mewakilkan Tuan Beng untuk menyampaikan surat, tetapi kau tidak memakai aturan menyambut kami, kau justeru menitahkan segala budak ini mengurung dan menyerang kami! Siapakah yang sebenarnya yang menantang?"
"Siapa itu Tuan Beng?"
Keng Thian tanya tanpa menghiraukan kegusaran orang. Can Bit Hoatsu lantas maju ke depan, ia memberi hormat.
"Dialah Beng Sin Thong, Tuan Beng!"
Ia menerangkan.
"Kamilah utusannya untuk menyampaikan surat."
Pengcoan Thianlie benar-benar heran.
Benarlah sangkaannya.
Benar-benar hebat Beng Sin Thong yang dapat membuat pendeta berilmu dan kesohor ini dari kaum Biteong agama Lhama Merah menjadi orang suruhannya!
"Oh, Beng Sin Thong?"
Kata Keng Thian.
"Nama itu pemah aku dengar. Tetapi dia dengan kami ada bagaikan kuda dan kerbau yang berlainan jenisnya, dari itu, dia mengirim kamu membawa surat apakah?"
Pendeta asing itu tertawa mengejek.
"Aku cuma tahu menyampaikan surat!"
Ia kata.
Baca Juga: Naga Merah 2
Baca Juga: Dua Musuh Turunan 11