Eps 8 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.
"Tak aku perduli-kan, di antara kamu berdua ada urusan apa! Surat ada disana, apakah kamu tidak dapat mengambil untuk membacanya?"
Phang Lim gusar atas sikap orang yang jumawa itu, ia maju sambil tertawa dingin.
"Bagus betul!"
Katanya keras.
"Sebenarnya kamu datang untuk menyampaikan surat atau untuk mencuri? Atau kamu menggabung diri kamu, menjadi pesuruh berbareng menjadi pencuri?"
Can Bit Hoatsu heran. Ia merangkap kedua tangannya.
"Amida Budha!"
Ia memuji.
"Aku mohon nyonya sukalah berlaku hati-hati sedikit. Apakah aku si pendeta kecil surup menjadi orang yang datang untuk melakukan pencurian?"
Phang Lim tertawa dingin.
"Akan tetapi Kie Siauw Hong, muridnya Beng Sin Thong, telah mencuri pedang Pengpok Hankong Kiam dari nyonya rumah!"
Ia kata.
"Kamu bersama-sama datang, apakah kamu bukan konconya? Kau main memuji-muji, apakah itu dapat membersihkan dirimu?"
Parasnya pendeta itu menjadi berubah, dia rupanya tak menyangka akan kejadian itu. Pengcoan Thianlie bersangsi tetapi ia maju dan berkata.
"Pedangku telah dapat diambil pulang! Itulah perbuatannya Kie Siauw Hong! Baiklah hal itu tidak ditarik panjang lagi."
Tetap mukanya Can Bit menjadi merah.
"Sebenarnya kami tidak tahu apa yang ditulis dalam suratnya Tuan Beng,"
Ia berkata, agaknya terpaksa.
"Dan perbuatannya Kie Siauw Hong itu mungkin ada sebab lainnya. Aku minta sukalah dia tidak dibikin sulit. Sekarang ini baiklah lihat dulu suratnya Tuan Beng itu, baru kita bicara pula."
Pendeta itu menduga Siauw Hong telah kena dibekuk Pengcoan Thianlie, maka itu ingin ia menolongi.
"Jangan kuatir, taysu,"
Pengcoan Thianlie berkata, tenang.
"Siapa yang datang bersama-sama taysu tidak nanti kami bikin susah. Kie Siauw Hong itu telah dipersi-lahkan pergi pulang terlebih dulu."
Nyonya ini berkata demikian karena ia percaya Can Bit Hoatsu lagi menghadapi kesulitan apa-apa.
Ia ingin berlaku sungkan.
Tong Keng Thian sementara itu telah mengangkat kepalanya memandang ke arah mana si Hoan-ceng melirik, sedang pendeta asing itu tetap masih mengasih dengar tertawanya yang dingin.
Arah itu ialah arah sebuah menara putih.
Menara itu dibuat oleh ibunya Pengcoan Thianlie, menurut model menara keagamaan cara Nepal.
Menara itu diperantikan untuk memuja Sang Budha, tingginya dua puluh tombak lebih, tingkat yang paling tinggi berujung lancip mirip buli-buli, justeru di atas itu terlihat samar-samar sebuah kotak.
Itulah rupanya suratnya Beng Sin Thong itu.
Dengan kepandaiannya, Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie dapat mengambil turun kotak surat itu, akan tetapi, biar bagaimana, mereka memerlukan tempo sedikitnya sehirupan teh.
Di samping itu, mereka heran.
"Entah bagaimana caranya mereka naik?"
Keng Thian berpikir.
"Mungkin mudah sekali mereka memanjatnya... Sang tempo demikian singkat hingga tidak ada orang-orangku yang mendapat tahu... Tak dapat aku naik sendiri mengambilnya. Akulah tuan rumah disini. Pula kalau aku kalah cepat, inilah kurang bagus... Bukankah cara ini berarti mereka sengaja hendak mengadu kepandaian? Hm!"
Bisa salah satu dayang diperintah naik mengambil kotak itu tetapi itu berarti meminta tempo lebih lama. Selagi tuan rumah berpikir, Phang Lim tertawa tawar.
"Apakah begitu caranya orang menyampaikan surat?"
Ia mengejek.
"Bukankah itu perbuatan kurang ajar terhadap Thiansan Pay? Baiklah, nanti aku periksa surat itu, guna melihat apa yang ditulisnya! Sebentar baru aku membuat perhitungan dengan kamu!"
Habis berkata nyonya ini meloloskan sehelai tali merah, terus ia melemparkan tinggi, hingga nampaknya tali itu bagaikan ular merah yang melesat ke udara, melesatnya cepat luar biasa.
Semua dayang mengawasi dengan melongo saking kagumnya.
Juga si Hoanceng, mukanya menjadi merah dan pucat.
Hanya sebentar, lantas dari atas menara terdengar suatu barang jatuh-seperti jatuhnya sepotong batu.
Lantas seorang dayang memungutnya, untuk diserahkan pada Keng Thian.
Itulah kotak tadi, kotak surat seperti katanya si Hoan Ceng.
Kotak itu diikat sehelai tali kasar.
Phang Lim melepaskan tali merahnya itu.
Teranglah sudah, kotak suratnya Beng Sin Thong itu telah digantung di wuwungan menara oleh Kie Siauw Hong, untuk mana Kie Siauw Hong cukup mahir ilmu enteng tubuhnya.
Tapi sekarang Phang Lim menurunkan dengan benangnya, yang ditimpuki menurut ilmu "Menerbangkan Bunga, Memetik Daun".
Keng Thian membuka kotak tanpa menggunai pisau, cukup dengan kekuatan jari tangannya.
Kotak itu terbuat dan kayu cendana yang tebal tapi kayu itu tak dapat bertahan dari tenaganya tuan dari Istana Es ini.
Si Hoan Ceng berpikir.
"Pantas tempo aku masih ada di India pernah aku mendengar Tong Siauw Lan ialah jago nomor satu dari Tiongkok, sekarang terbukti, puteranya saja sudah begini liehay. Jadi benarlah ceritera orang itu!"
Tong Keng Thian membuka suratnya Beng Sin Thong untuk dibaca bersama isterinya. Begini bunyinya.
"Beng Sin Thong, orang yang rendah dari Rimba Persilatan, dengan ini menghaturkan suratnya kepada pemilik dari Istana Es! Aku telah mendengar tentang ilmu silat pedang partai kamu yang liehay, maka aku si orang tua ingin sekali membuka lebar matanya, dari itu dengan lancang aku mengutus muridku untuk meminjam pedang kamu buat dipandang satu kali saja, nanti lain tahun, bulan tiga tanggal lima belas, selama upacara sembahyang untuk Tokpie Sinnie, di depan kuburan pendeta wanita itu, akan aku membayarnya kembali. Jadi maksudku, dengan meminjam pedang kamu inginlah aku membuatnya kamu datang kesana!"
Menurut Beng Sin Thong dia sudah berlaku hormat sekali, tetapi di matanya Tong Keng Thian, itulah tantangan belaka, maka itu, Keng Thian menjadi tidak senang.
"Nyata Beng Sin Thong terlalu jumawa!"
Ia kata sambil tertawa mengejek.
"Dia boleh sangat liehay tetapi pedang kami tak dapat sembarang dibawa pergi. Kalau dia hendak menguji kepandaian, tak usahlah dia membawa lagak setannya ini! Sekarang pulanglah kamu, untuk memberitahukan dia bahwa lain tahun, bulan tiga tanggal lima belas, pasti aku akan datang tepat di Binsan untuk memohon pengajaran dari dianya! Jadi tak usahlah dia mengirim segala bangsat cilik yang hina dina datang mencuri barang kesini!"
Selagi Keng Thian mengatakan begitu, isterinya melirik padanya tetapi ia tidak menghiraukan itu. Air mukanya Can Bit Hoatsu menjadi muram. Ia kata dingin.
"Tugasku kemari ialah menemani murid yang pandai dari Tuan Beng menyampaikan surat, maka itu, kalau Tuan Beng menantang kamu atau hendak mengambil barang kamu dari Istana Es kamu ini, itulah tak ada sangkutannya denganku, oleh karenanya, siecu, kata-katamu barusan adalah teguran yang berat sekali untuk aku si pendeta kecil."
Mendengar ini, baru Keng Thian ingat lirikan isterinya. Ia tercengang sejenak, lantas ia tertawa, la lekas berkata.
"Taysu, aku harap kau tidak salah tampa. Aku berkata-kata untuk Beng Sin Thong!"
"Benar!"
Phang Lim turut bicara.
"Beng Sin Thong bukannya seorang yang tidak mempunyai nama, jikalau dia mau mengajukan tantangan, kenapa dia tidak mau mengajukannya secara laki-laki? Tak usahlah dia bertindak seperti setan!"
Kata-kata ini tajam, maka juga Can Bit Hoatsu lantas memandang si nyonya.
"Nanti pada bulan tiga tanggal lima belas itu, apakah siecu pun datang ke Binsan untuk membantu meramaikan?"
Ia tanya.
"Kenapa?"
Phang Lim tanya.
"Jikalau benar siecu suka turut datang, maka di itu waktu aku si pendeta kecil ingin sekali menerima pengajaran dari siecu,"
Sahut si pendeta, yang mengajukan tantangannya secara halus.
Sebenarnya pendeta ini ingin menantang Tong Keng Thian tetapi ia masih ingat halnya kaum pendeta Lhama mempunyai hubungan erat dengan Pengcoan Thianlie, jadi ia mau memandang mukanya pemilik Istana Es itu, jadi ia menantang Phang Lim.
Pengcoan Thianlie melirik suaminya juga disebabkan ia tidak ingin bentrok dengan pendeta itu, maka ia tidak sangka, peredakan toh terjadi juga.
Ia menyesal sekali.
Ia pun kuatir Phang Lim nanti bicara terlebih keras.
Syukur Phang Lim dapat mengimbangi kedudukan Can Bit Hoatsu, dia tertawa ketika dia menjawab.
"Aku memang mau pergi ke Binsan untuk mencoba menempur Beng Sin Thong, jikalau taysu sudi memberi pengajaran, baiklah, nanti aku memohon pengajaran terlebih dulu dari taysu!"
"Ada satu hal yang aku masih belum mengerti,"
Berkata Pengcoan Thianlie, yang mendahului siapa juga.
"Dapatkah aku mengajukan pertanyaan kepada taysu?"
Can Bit merangkap kedua tangannya.
"Silahkan!"
Katanya. Ia memanggil "liehokhoat"
Kepada nyonya itu.
"Taysu ialah seorang beragama yang berkedudukan tinggi, kenapa taysu tak segan menjadi utusannya Beng Sin Thong?"
Tanya si nyonya.
"Segala sesuatu di dunia ini ada jodohnya,"
Sahut Can Bit tawar.
"karena jodoh itu, tak dapat aku menghindari diriku. Liehokhoat melindungi agama Budha, jasamu besar, aku yang rendah menghargainya. Aku pun tidak akan melupai adanya hubungan liehokhoat dengan partai kami, maka itu pasti aku tidak akan memusuhkan liehokhoat."
Pengcoan Thianlie tetap tidak mengerti.
Itulah bukan keterangan yang ia harapkan.
Hanya dari sini mengertilah ia kenapa Can Bit menantang Phang Lim.
Ia dihargakan, jadi si pendeta tidak mau bertempur di istananya ini.
Ia hanya menyesal, urusan yang satu belum beres, datang pula yang lainnya.
Baru berhenti kata-katanya Can Bit, atau si Hoanceng tertawa ber-gelak.
Dia berkata langsung.
"Aku tidak mau menjual lagak! Aku telah mendengar liehaynya ilmu pedang Thiansan Kiamhoat, sekarang juga aku ingin minta pengajaran dari Tong Tayhiap!"
Dan tanpa menanti jawaban, dia sudah lantas menghunus goloknya.
Pendeta asing ini sebenarnyalah muridnya Liong Yap Siangjin.
Untuk di India, dialah tergolong jago kelas satu.
Dialah yang dinamakan A Lo Cuncia.
Dia datang ke Tiongkok bukan sengaja.
Dia telah diundang raja Nepal, yang menugaskan ia pergi menentang Tong Keng Thian, untuk membikin susah dan celaka orang she Tong itu.
Raja Nepal yang sekarang ialah kakak misan dari Pengcoan Thianlie, dialah yang buat urusannya Pengcoan Thianlie pernah mengirim belasan laksa serdadu menyerbu ke Tibet hingga terjadi pertempuran di lembah pegunungan Hi-malaya.
Disana tentara Nepal kena dikalahkan.
Tentara Tiongkok lantas mendesak, hingga karenanya terpaksa raja itu memohon perdamaian.
Setelah itu, tentara Tiongkok ditarik pulang 'lapi raja Nepal tidak puas, maka sekarang dia mengirim A Lo Cuncia menantang Tong Keng Thian.
Kebetulan sekali untuk si pendeta, dia memang ingin menguji ilmu silat Tionghoa, hanya sekarang ini, sebab tugasnya itu, dia mau menguji kepandaian berbareng sambil merampas jiwanya tuan dari Istana Es itu.
Beng Sin Thong liehay, dia telah mendapat tahu apa yang dipikir A Lo Cuncia, lantas dia pergi mencari si pendeta, dengan kepandaiannya, dia menunduki pendeta itu, sesudah mana, dia menganjurkan orang mencari gara-gara dengan Tong Keng Thian.
Begitulah A Lo sudi menjadi pesuruh.
Tentang Can Bit Hoatsu, seorang pendeta dengan kedudukan tinggi dan liehay mau menjadi pesuruh pula, ada sebab lainnya.
Ilmu Siulo Imsat Kang berasal dari India, pemiliknya ialah pendeta-pendeta aliran Biteong dari agama Lhama Merah itu.
Sejak pertengahan jaman Beng, ilmu itu terhilang selama hampir tiga ratus tahun.
Can Bit ialah pendeta yang berminat keras mencarinya.
Hal ini juga diketahui Beng Sin Thong, maka Beng Sin Thong lantas menemuinya.
Dia menjanjikan akan menurunkan ilmunya itu asal pendeta ini suka membantu padanya, untuk menemani Kie Siauw Hong dan A Lo Cuncia pergi ke tempatnya Pengcoan Thianlie.
Can Bit kena dilagui, dia suka memberikan bantuannya, maka tibalah ia di gunung Nyenchin Dangla.
Beng Sin Thong memalui Thiansan Pay, ingin ia menentangnya, tetapi di samping itu ia masih belum meyakinkan selesai lagi serupa ilmu, maka ia tidak berani lantas datang sendiri untuk menantang, sengaja ia utus Kie Siauw Hong bertiga kepada Tong Keng Thian.
Terhadap Tong Keng Thian, ia tidak jeri.
Ia sengaja menyuruh Siauw Hong mencuri pedang, untuk membikin Keng Thian suami isteri menjadi gusar dan nanti datang ke gunung Binsan.
Ia percaya, itu waktu ia sudah memaham-kan sempurna semua kepandaiannya, hingga tak usah ia takut lagi pada Tong Siauw Lan.
Sin Thong merasa ia sudah memandang mata pada Tong Keng Thian, sebab terhadap lain lain partai, ia turun tangan sendiri, ia membinasakan atau melukai atau menculik murid orang.
Ia percaya benar liehaynya Kie Siauw Hong, ia percaya muridnya bakal mendapatkan pedangnya Pengcoan Thianlie, siapa tahu mendadak datang Phang Lim sebagai penghalang, hingga Pengcoan Thianlie keburu menyan-dak dan menghalangi.
Kie Siauw Hong kabur tanpa menghiraukan lagi Can Bit Hoatsu dan A Lo Cuncia.
Yang tidak disangka ialah A Lo Cuncia jadi bentrok dengan Tong Keng Thian.
Sambil menghunus pedangnya, Keng Thian kata.
"Taysu menjadi tetamu, silahkan taysu mulai."
Pedangnya Keng Thian ialah pedang Yuliong Kiam, atau Naga Berenang, pedang pusaka dari Thiansan Pay, ketika dihunus, sinarnya bergemirlapan di antara sorotannya sang surya, mata menjadi silau karenanya.
A Lo terkejut melihat itu tetapi ia tetap bersikap jumawa.
"Baiklah!"
Ia berkata sambil ia terus mulai menyerang.
Serangannya itu hebat, suara anginnya sampai mendebar.
Ujung goloknya meluncur ke dada lawan.
Keng Thian menyambut serangan itu.
Juga gerakan pedang mendatangkan suara anginnya.
Inilah tipu silat "Taymo Koteng", atau "Lampu tunggal di padang pasir!"
A Lo Cuncia terkejut untuk cepatnya sambutan pedang, ia ingin menarik pulang goloknya tapi sudah tidak keburu, maka sebagai kesudahan bentrokan keras dan suara nyaring serta lelatu api meletik, goloknya itu kena terpapas bercacad sedikit.
Ia kaget sebab ia tahu goloknya buatan istimewa dan berat empat puluh delapan kati.
Yuliong Kiam itu pedang mustika nomor dua untuk Tiongkok, yang nomor satu ialah Tengkauw Kiam, pedang Ular Naga Terbang, kepunyaan partai Butong Pay, sedang itu waktu, Keng Thian telah lantas bersilat dengan ilmu silat "Twiehong Kiamsie", ilmu pedang "Mengejar Angin", yang semuanya terdiri dari delapan kali delapan menjadi enam puluh empat jurus.
Setelah itu sambutan, Keng Thian bergerak terus.
Ia membalas menyerang.
Ketika serangannya gagal, ia menyambungi dengan jurusnya yang ketiga, tikamannya meluncur ke bawah, ke kaki.
Habis ini menyusullah jurus yang ke empat dan ke lima.
Jurus yang ke enam mengarah punggung lawan.
A Lo menangkis dengan ujung bajunya, maka ujung baju itu terbabat kutung.
Tapi sekarang dia membalas, dengan tangan dari ujung baju yang buntung itu mendadak dia menyambar lengan lawan!
Itulah pukulan hebat dan luar biasa.
Itulah pukulan yang berdasarkan ilmu yoga dari India.
Pengcoan Thianlie pun terkejut melihatnya.
Tapi Tong Keng Thian telah menyampaikan batas kemahirannya, kecuali ia masih kalah tenaga dalamnya, ia sudah hampir me-nyandak ayahnya, Tong Siauw Lan.
Begitulah dengan tubuh nampak limbung ia berkelit.
Gerakannya ini sama anehnya seperti serangan lawan.
Setelah itu menyusullah tikamannya yang ke tujuh kali, mengarah iga, dan ketika ini pun gagal, menyusul lebih jauh yang ke delapan, sekarang ke arah dada!
Mendadak A Lo Cuncia berseru nyaring, goloknya menyambar.
Keng Thian terkejut.
"Benarlah dia tidak takut aku nanti membabat kutung goloknya?"
Ia kata di dalam hati.
Selagi ia berpikir itu, senjata mereka sudah nempel satu dengan lain, lantas ia merasakan tenaga menolak yang besar.
A Lo Cuncia telah bertindak cerdik dan licin.
Dengan seruan "Singa menderum"
Itu ia membikin lawannya terperanjat, terus ia menempelkan senjatanya, lalu ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menempel terus senjata mereka itu.
Memang, setelah serangannya yang ke delapan itu, Keng Thian kena terkejutkan seruan nyaring, karena mana tak sempat ia menarik pedangnya, yang gagal memapas golok lawan.
Phang Lim melihat pertempuran itu, diam-diam ia memuji.
Karena ini mulai berkuranglah pandangannya bahwa musuh dapat dipandang enteng.
Kedua senjata bentrok, tapi tanpa bersuara, maka itu kalau pertempuran semula nampak mirip badai mengamuk dan hujan deras, sekarang segalanya itu sirap dan menjadi sunyi senyap.
Kecuali Lie Kim Bwee dan Ciong Tian, semua hadirin adalah ahli-ahli, saking kagumnya mereka sampai menahan napas.
Pertempuran selanjutnya tidak dilakukan lagi dengan saling tikam atau bacok, hanya saling berdiam diri.
Sekarang ini mereka mengadu tenaga dalam.
Senjata mereka, masingmasing mereka tidak berani memisahkannya, untuk digunakan.
Belum lama lalu terlihat tubuh mereka bagaikan ringkas menjadi terlebih kate.
Inilah sebab, guna memperkokoh kedudukan, mereka memasang kuda-kuda "Berat Seribu Kati".
Dengan sendirinya kaki mereka melesak masuk ke dalam tanah sebatas bawahan mata kaki!
Ek liong Bouw menyedot napas, lalu dia kata.
"Tenaga dalam mereka seimbang, baiklah mereka tidak mengadunya lebih jauh."
Pengcoan Thianlie berpaling kepada Can Bit Hoatsu, ia memberi hormat.
"Taysu, bagaimana jikalau kita berdua memisahkan mereka?"
Ia tanya. Can Bit Hoatsu merangkap kedua tangannya membalasi.
"Pikiran liehokhoat sama dengan pikiranku,"
Sahutnya.
"Marilah!"
Pendeta ini mengeluarkan kebutannya dan Pengcoan Thianlie menghunus pedangnya, lantas keduanya berlompat maju, dengan berbareng mereka menggeraki senjata mereka masing-masing membentur pedang dan goloknya Keng Thian dan A Lo Cuncia.
Nyaring suaranya tatkala empat rupa senjata bentrok, menyusul itu tubuh Keng Thian dan tubuh A Lo Cuncia mental mundur dengan berbareng.
Kedua kaki mereka berbekas berupa tapak kaki yang dalam.
Debu pun mengepul naik bagaikan kabut.
Sama-sama mereka mencelat dua tombak jauhnya.
Muka mereka pucat, dari kepala mereka keluar hawa seperti uap.
Akhirnya Keng Thian memasuki pedangnya ke dalam sarungnya, ia memberi hormat pada A Lo Cuncia sambil berkata.
"Taysu, kau sangat liehay, aku takluk! Aku takluk!"
A Lo Cuncia membalas hormat.
"Sungguh liehay ilmu pedang Thiansan Pay. pujian orang bukan pujian belaka!"
Ia kata. Ia terus menoleh kepada Pengcoan Thianlie, untuk memberi hormat sambil berkata juga.
"Liehokhoat, pedangmu terlebih liehay lagi, hari ini mataku telah dibikin terbuka! Nanti dalam pertemuan di Binsan, apabila kita berjodoh dapat bertemu pula, ingin sekali aku minta pengajaran dari kau!"
Si nyonya cantik tertawa manis.
"Aku pasti akan menghadiri pertemuan di Binsan itu!"
Sahutnya.
"Hanya, buat memberi pengajaran, aku sungguh tidak berani!"
"Jikalau begitu,"
Berkata Can Bit Hoatsu.
"baiklah kita bertemu pula di belakang hari, di gunung Binsan!..."
Baru kata-kata "Binsan"
Diucapkan habis, tubuh si pendeta sudah mencelat jauh bersama tubuh A Lo Cuncia, hingga di lain saat keduanya sudah melintasi tembok taman bunga.
Dalam gerakan mereka masih kalah dengan Kie Siauw Hong tetapi mengingat A Lo Cuncia baru habis bertempur hebat dan ia masih letih, ilmu enteng tubuhnya itu harus dipuji.
Kesudahannya pertandingan itu kelihatannya kedua pihak seri, tetapi sebenarnya A Lo Cuncia yang keteter dan memperoleh pukulan, yaitu tapak kakinya lebih dalam melesaknya, suatu tanda ia mesti mempergunakan tenaga lebih, dan tadi, waktu dipisahkan Pengcoan Thianlie, ia merasakan gempuran hebat dari pedang si nyonya.
Ia merasakan hawa dingin meresap ke tubuhnya.
Hal ini membuatnya tidak puas.
Itu pula sebabnya kenapa ia menantang si Bidadari dari Sungai Es.
"Sesungguhnya di kolong langit yang luas ini entah ada berapa banyak orang liehay,"
Berkata Keng Thian.
"Aku mengira ilmu silat di Tiongkok sangat sempurna, tidak tahunya aku mirip si katak di dalam tempurung yang cuma bisa dongak melihat langit! Tanpa pedang Yulipng Kiam, mungkin aku roboh di tangannya pendeta asing itu!"
"Sudah, jangan kau terlalu memuji lain orang!"
Kata Phang Lim tertawa.
"Jangan kau menyirnakan pamor sendiri! Pendeta itu benar liehay tetapi dibanding dengan ayahmu atau ketuaketua dari Siauwlim Pay dan Butong Pay, dia masih kalah jauh!"
"Aku tidak tahu Beng Sin Thong itu orang macam apa,"
Kata Pengcoan Thianlie, yang ingat jago dari Beng keechung itu.
"akan tetapi melihat Can Bit Hoatsu dan A Lo Cuncia dapat dijadikan sebagai pesuruh-pesuruh mereka, aku menganggap di dalam pertemuan di Binsan ini haruslah pihak kita waspada."
Mendengar demikian Ek Tiong Bouw, Siauw Ceng Hong dan Cia In Cin berduka sendirinya.
Mereka meminta bantuan, mereka cuma berniat menempur Beng Sin Thong satu orang, siapa tahu Beng Sin Thong juga mengumpul kawan dan ternyata kawan-kawannya itu liehay.
Dengan begitu sukarlah diramalkan kesudahannya pertemuan di Binsan nanti.
Sekarang baru Keng Thian dapat membuat pertemuan dengan para tetamunya dan ia dapat mendengar keterangannya Ek Tiong Bouw mengenai permusuhan dengan Beng Sin Thong, begitupun halnya Beng Sin Thong sudah melukakan dan menangkap orang.
"Jikalau begitu, Beng Sin Thong benar menantang Rimba Persilatan,"
Kata Keng Thian.
"Pantas dia mengirim muridnya datang mencuri pedang kemari, untuk menggertak kita. Syukur dia tidak berhasil dengan pencuriannya hingga taklah hilang muka terang Thiansan Pay..."
Ketika suaminya bicara sampai disitu, Pengcoan Thianlie terbatuk satu kali. Keng Thian heran, ia berdiam sejenak.
"Ada apakah yang tak tepat?"
Ia tanya. Pengcoan Thianlie menyeringai.
"Memang pedang kita tidak dicuri dibawa pergi tetapi kemala kupu-kupu di rambutku telah kena dia copot!"
Sahut isteri itu.
"Biar bagaimana, ini memalukan juga pihak kita..."
Mukanya Keng Thian menjadi merah. Baru saja ia keterlepasan omong.
"Baru saja aku mengatakan jangan kamu memandang enteng kepada musuh,"
Katanya menyeringai.
"aku sendiri yang lebih dulu melanggarnya..."
"Itulah segala kepandaian mencuri dan menyopot, tidak ada artinya!"
Kata Phang Lim.
"Biarlah nanti di Binsan kita membuat perhitungan dengan Beng Sin Thong!"
Di mulut nyonya jenaka ini berkata demikian, di dalam hati ia insyaf akan liehaynya musuh, seperti barusan telah dipertunjuki Kie Siauw Hong dan A Lo Cuncia.
Ia merasa tak ada kepastiannya pihaknya akan merebut kemenangan nanti di gunung Binsan itu...
Lantas tuan dan nyonya rumah mengundang tetamutetamunya masuk ke dalam Peng Kiong, Istana Es.
Dengan bertemu dengan Pengcoan Thianlie, sang piauwso, enso piauw atau misan, Kim Bwee lantas ingat pula Kim Sie Ie.
la dengan sang enso, memang sudah lama tak bertemu, pergaulan mereka erat sekali, bahkan kenalnya ia dengan Kim Sie Ie pun karena enso ini.
Ia menjadi berduka sendirinya.
Ketika itu Keng Thian menanya Phang Lim, sang bibi.
"Ie, kabarnya kau telah pergi berlayar..."
Phang Lim lekas menggoyangi kepala dan berkata perlahan.
"Aku menyesal atas pelayaranku itu..."
Keng Thian heran.
Ia melirik Kim Bwee, sang adik misan, ia melihat alis orang mengkerut.
Ia dapat menduga.
Ia lantas menukar haluan pembicaraan.
Inilah sebab ia dan isterinya telah mendengar kabar kematiannya Kim Sie Ie, sekarang melihat sikap Phang Lim, ia mau menduga benarlah kabar itu.
Untuk mencegah Kim Bwee berduka, ia tidak mau membicarakannya lebih jauh.
Pengcoan Thianlie berduka.
Ia ingat halnya dulu hari ia bersama Kim Sie Ie pergi ke Ciakjie San, bagaimana mereka berjalan bersama selama belasan bulan.
Ia menyayangi kematian Sie Ie itu.
Malam itu Kim Bwee tidur bersama ibunya dalam sebuah kamar.
Ia berduka, ia tak dapat tidur.
Ia gulak-gulik saja.
Tapi ia letih dan kantuk, akhirnya ia tidur juga, hanya tengah layaplayap, ia merasa ia berada di Coato, Pulau Ular, dimana pohon-pohon dan bunga-bunga indah permai, justeru disana ia bertemu dengan Kim Sie Ie.
Tokciu Hongkay menggapaikan dengan bunga dan bersenyum.
Ketika ia lari menghampirkan, lenyap tertawanya dia itu, bahkan dengan dingin dia berkata.
"Tidak, bunga ini tidak dapat aku berikan kepada kau!"
Terus bunga itu dirusak dan dilemparkan. Lantas bunga itu berubah menjadi setangkai bunga bwee warna merah dan putih...
"Ah, begini kau perlakukan aku?"
Kata Kim Bwee dalam mimpinya. Tepat di itu waktu, di sisinya Sie Ie muncul seorang nona lain ialah Le Seng Lam dan nona Le dengan bengis menjoroki padanya sambil membentak.
"Aku larang kau datang kemari! Aku larang kau menemui pula engko Sie Ie-ku!"
Kaget Kim Bwee hingga ia roboh, bumi bagaikan terputar.
Berubahlah pulau, lenyap segala pohon dan bunganya, lantas air laut naik.
Sie Ie bersama Seng Lam, dengan bergandengan tangan, terlihat berjalan pergi, apa yang kedengaran ialah tertawa riang mereka.
"Engko Sie Ie, jangan pergi!"
Kim Bwee memanggil. Justeru itu ia melihat ibunya lari mendatangi sambil membentak.
"Bangsat cilik, kau hendak kabur kemana?"
Kim Bwee tercengang, tubuhnya dirasai dingin, ketika ia membuka matanya, ia melihat ibunya berdiri di depannya, di depan pembaringan.
Ia bingung.
Ia mimpikah atau itu kejadian benar-benar?
"Kau sudah bangun, anak?"
Tanya ibu itu lembut.
"Apakah kau kaget? Itulah satu bangsat cilik! Ibumu berada di dampingmu, tak usah kau takut!"
Kim Bwee menggigit jari tangannya, ia merasa sakit. Jadi ia tidak mimpi. Ia menjadi terlebih heran.
"Ibu, kau melihat apa?"
Ia tanya.
"Tengah aku tidur layap-layap aku melihat satu bayangan orang berlompat keluar,"
Sahut sang ibu.
"Aku timpuk dia dengan tancapan lilin tetapi tidak kena. Tubuh dia itu gesit dan lincah sekali. Mungkin juga mataku masih kabur. Kau sendiri, kau melihat apakah?"
"Ah!"
Seru si anak dara.
"Mungkinkah aku bukan bermimpi? Dia... Dia benar-benar datang menjenguk aku!..."
Sang ibu heran.
"Kau mimpi apa, anak? Siapakah dia itu?"
"Aku bertemu dengan Kim Sie Ie. Mulanya dia tertawa, lantas dia lari..."
Anak ini mau menyebutkan Seng Lam tetapi ia muak, ia batal. Phang Lim memperlihatkan roman sungguh-sungguh "Kau ngaco!"
Katanya.
"Orang sudah mati mana dapat hidup pula? Anak, kau dengar perkataan ibumu. Kaulah anakku satu-satunya, jangan kau berduka, jangan memikir hal yang bukan-bukan siang dan malam, jikalau kesehatanmu terganggu, bagaimana aku berduka dan bingung..."
"Sebenarnya mulanya aku bermimpi,"
Anak itu menerangkan.
"Tapi ibu, benar-benarkah ibu melihat satu orang-bayangannya?"
Phang Lim menjadi bingung benar-benar.
Ia melihat satu bayangan itu sangat lincah.
Sayang ia tidak dapat melihat mukanya.
Memikiri punggung orang, bayangan itu bukan bayangan Kie Siauw Hong.
Tapi siapakah lain orang yang ilmu ringan tubuhnya demikian sempurna?
Maka ia mau percaya matanya sudah kabur.
Sekarang mendengar pertanyaan anaknya, ia ingat Kim Sie Ie.
Ya, itulah bayangannya Tokciu Hongkay!
"He, kau memikir kemana?"
Ia tegur dirinya sendiri.
"Kim Sie Ie telah ditelan ikan! Mana bisa jadi inilah bayangan dia! Anakmu mimpi, apakah kau turut mimpi juga?"
Phang Lim menetapkan hati ia ambil lilin, untuk menyuluhi. Tidak ada barang yang lenyap. Ia lantas tertawa dan berkata seorang diri.
"Kalau aku pun kecurian, sungguh lucu!"
Baru ibu ini berkata demikian, atau ia mendengar seruan anaknya.
"Ibu, aku kecurian!"
Demikian suaranya Kim Bwee, si anak dara. Phang Lim kaget.
"Kau kehilangan apa?"
Ia tanya cepat. 'Tusuk kundai kemalaku! -Eh, disini, ada disini? Eh, kenapa boleh ada disini?"
Phang Lim mengawasi ke tempat yang ditunjuk puterinya. Tusuk kundai itu terletak di samping bantal kepala.
"Aku ingat benar, ketika aku mau tidur, aku tancap di rambutku,"
Kata si anak.
Karena tusuk kundai digeser, pasti sudah benar ada orang masuk ke dalam kamar mereka.
Maka Phang Lim tidak mau menyangsikan lagi bahwa matanya kabur.
Hanya sekarang ia menjadi heran, ia curiga, ia bingung...
Siapa itu orang?
Dia pencuri-kah?
Tak mungkin dia Kie Siauw Hong!
Kalau dia Kie Siauw Hong, kenapa dia tinggalkan tusuk kundai yang telah terjatuh ke dalam tangannya?
Habis, siapakah yang dapat melebihkan liehaynya Kie Siauw Hong?
Memang ada orang liehay golongan cianpwee, tetapi bangsa cianpwee tidak nanti mau berguyon begini!
"Aneh kelakuannya orang itu?"
Pikirnya akhirnya.
"Ie, mari, lekas!"
Tiba-tiba mereka mendengar panggilan. Itulah suaranya Pengcoan Thianlie terhadap sang bibi. Phang Lim lompat, untuk membuka pintu.
"Ada apa?"
Ia tanya.
"Mari ke kamarku!"
Kata nyonya rumah.
"Ada terjadi keanehan!"
Pengcoan Thianlie pun heran melihat Phang Lim dan puterinya muncul dengan cepat.
"Apakah ia berdua belum tidur?"
Ia tanya. Sang bibi tertawa.
"Pada kami disini pun terjadi hal aneh!"
Katanya terus terang.
"Seperti ada yahengjin yang datang masuk kemari..."
"Yahengjin"
Yaitu orang yang biasa keluar dan bekerja di waktu malam.
"Benarkah?"
Tanya si nyonya, heran, hingga ia melengak.
"Dalam kamar kami juga ada orang yang masuk..."
"Apakah ada barang yang lenyap?"
Tanya Phang Lim, tertawa.
"Tidak! Sebaliknya ada orang yang mengantarkan barang!. ."
Sahut Pengcoan Thianlie.
"Aha!"
Kata sang bibi.
Mereka bicara sambil jalan, sebentar saja mereka sudah masuk ke kamar nyonya rumah.
Phang Lim lantas melihat barang yang diantarkan itu, ialah kemala kupu-kupu milik Pengcoan Thianlie yang disambar Kie Siauw Hong tadi siang!
Tong Keng Thian berada di dalam kamarnya itu, ia menyambut sang ibu dan anaknya.
"Ie, heran tidak?"
Ia tanya, tertawa.
"Dia mengantar barang tetapi dia tidak mau bertemu dengan kami berdua!"
"Kau menyangka siapakah?"
Phang Lim tanya.
"Dia pasti bukannya Kie Siauw Hong. Kalau dia bukan seorang cianpwee, dialah salah satu sahabat. Dia merampas barang dari tangan Kie Siauw Hong, dia memulangkannya, dengan begitu dia menolong melindungi muka terang kami. Dia liehay, dia bernyali besar. Kalau dia bukannya sahabat mengapa dia bersikap begini aneh? Mengapa dia tak suka bertemu dengan kami?"
"Ie, kau luas pengetahuan dan telah melihat banyak,"
Kata Pengcoan Thianlie.
"dari itu kami mengundang kau, untuk kita membicarakan keanehan ini. Ie lihat, kamar tak terganggu, jendela pintu pun tak terbuka. Di lantai tidak ada tapak kaki. Apakah ie melihat sesuatu?"
"Bagaimana kamu mempergokinya?"
"Aku lagi tidur ketika samar-samar aku melihat bayangan satu orang, yaitu punggungnya,"
Menyahut Pengcoan Thianlie.
"Hanya sekejab, bayangan itu lenyap. Aku menyangka mataku berkunang-kunang, maka aku membanguni Keng Thian. Setelah kami memeriksa, kami mendapati tusuk kundai kemala ini."
"Kejadian disini sama dengan kejadian di kamar kami,"
Phang Lim memberitahu. Ia menuturkan pengalamannya. Keng Thian batuk-batuk.
"Benarlah, di luar langit ada langit lainnya, di samping orang ada orang lainnya lagi!"
Ia kata.
"Kalau dia musuh, apakah kita masih mempunyai jiwa kita?"
Selama itu Kim Bwee diam saja, tapi sekarang ia menanya.
"Enso, coba bilang, punggung orang itu mirip dengan punggung siapa?"
Pengcoan Thianlie tercengang. Itulah pertanyaan aneh.
"Adik, mengapa kau menanya begini?"
Ia balik menanya.
"Apakah kau ingat salah satu sahabat?"
"Tusuk kundaiku digeser selagi aku tidur,"
Sahut sang ipar.
"Aku...aku... Aku kira... aku kira..."
Ia berhenti. Ia sebenarnya mau menyebut.
"Aku kira dia mirip Kim Sie Ie..."
Ia berhenti karena berduka.
"Ah, kau kira apa, anak?"
Kata Phang Lim menegur.
"Kau jangan pikir yang tidak-tidak! Nanti kau ditertawakan orang! Kalau dia sahabat, enso-mu tentu telah menjelaskannya! Tak nanti enso-mu menunggu kau menanyakan."
Pengcoan Thianlie sebaliknya berpikir. Ia mulai curiga.
"Ya, punggung dia mirip Kim Sie le!"
Pikirnya. Ia hampir mengatakan itu, baiknya ia dapat membatalkan. Ia melihat lirikan mata Phang Lim. Kim Sie le sudah mati, kalau ia menyebut nama Tokciu Hongkay, hati Kim Bwee bisa terluka.
"Dia lenyap sangat cepat,"
Ia toh kata.
"Aku percaya dialah sahabat kita dan terhadap kita dia tidak bermaksud jahat. Di belakang hari mungkin kita akan mengetahuinya."
Habislah pembicaraan sampai disitu.
Di hari besoknya Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie turut rombongannya Phang Lim turun gunung, untuk melakukan perjalanan jauh ribuan lie, ialah dari Thiansan ke Tionggoan.
Di tengah jalan mereka mendengar kabar hal pengacauannya Beng Sin Thong.
Syukur mereka tidak menemui sesuatu rintangan.
Pada suatu hari mereka mulai memasuki wilayah gunung Chong-san, di seberang gunung Binsan.
Gunung Binsan dekat dengan Honghoo, Sungai Kuning.
Disitu mereka memasuki lembah segi tiga.
Ketika itu tanggal sembilan bulan tiga, tinggal enam hari sampai pada hari sembahyang Tokpie Sinnie.
Untuk tiba di tempat pertemuan, temponya cukup lagi perjalanan tiga hari, maka itu, mereka mempunyai luang tempo.
Meski sang tempo masih ada enam hari, hati mereka tegang sendiri.
Pertemuan mestinya hebat.
Lembah itu sunyi dan belukar.
Itu waktu sudah mulai magrib dan mereka tidak melihat barang satu rumah.
Terpaksa mereka membangun tenda, guna melewatkan sang malam.
Habis bersantap, selagi mereka hendak beristirahat, tibatiba telinga mereka mendengar suara berisik, yang datang dari luar tenda.
Itulah suara orang berkelahi dan mendamprat.
Siauw Ceng Hong berlompat bangun.
"Suara itu mirip suara Kang Lam'"
Katanya. Ia bergaul dengan Kang Lam sepuluh tahun di Tibet, Kang Lam menjadi besar sebagai kawannya, maka ia ingat benar suara orang. Tong Keng Thian memasang kuping.
"Benar, itulah suaranya Kang Lam!"
Ia pun kata.
"Kang Lam ada disini, Tan Thian Oe dan isterinya mesti ada bersama!"
Ia lantas lari keluar.
Segera ia melihat di lembah ada seorang Hwee yang jangkung dan tangannya panjang, yang bersenjatakan serupa senjata yang berkemilau, lagi bertempur seru dengan seorang pria dan seorang wanita.
Dan Kang Lam berlari-lari mendatangi dengan teriakannya berulang-ulang.
Sepasang pria dan wanita itu memang Thian Oe dan Yu Peng adanya.
Dalam girangnya Tong Keng Thian berseru.
"Saudara Thian Oe, jangan kuatir! Aku datang!"
Thian Oe dan isterinya lagi bertempur hebat sekali, mendengar suara Keng Thian, yang mereka kenali, mereka pun girang luar biasa.
Hanya celaka, lantaran kegirangan itu, perhatian mereka terganggu sejenak.
Ketika itu musuh mereka, si orang Hwee yang jangkung dan tangannya panjang juga, telah menyerang hebat dengan toyanya, yang luar biasa.
Ujung toya itu menyambar jalan darah soankie dari Thian Oe.
Yu Peng terkejut, untuk menolongi suaminya, ia membabat senjata lawannya.
Babatan Yu Peng ini ialah "Sungai es lumer", suatu jurus dari ilmu pedang "Pengcoan Kiamhoat".
Jikalau toya lawan tidak lekas ditarik pulang, dia pasti bakal sekalian tertikam punggungnya.
Tapi dengan si orang Hwee itu, keadaan lain.
Dialah Kim Jit Sian, si jago Rimba Persilatan dari India.
Dia pandai pelbagai ilmu silat di Tanah Barat, dengan keyakinannya, dia menciptakan ilmu toyanya itu, yang diberi nama ilmu toya "Guntur dan Kilat".
Karena kepandaiannya itu, dia ingin menjagoi di Tiongkok.
Demikian pada empat tahun dulu bersama-sama Kunlun Sanjin dan Siang Bok Loo, dia telah menyusul Chong Leng Siangjin sampai di Tionggoan, sampai di propinsi Shoatang, di kota Tongpeng, hingga dia bertemu Kok Cie Hoa bersama Kim Sie le di dusun Liu keechung.
Dengan Cie Hoa ia dapat bertempur seri tetapi oleh Kim Sie le ia kena dikalahkan.
Karena itu, ia balik ke Tibet dimana ia meyakinkan lebih jauh ilmu silatnya.
Selang empat tahun, ia merasa bahwa ia telah memperoleh kemajuan pesat, maka itu sekarang ia menerima undangannya Beng Sin Thong dan muncul pula di Tionggoan, hingga ia bertemu dengan sepasang suami isteri itu.
Yu Peng liehay ilmu pedangnya tetapi dibanding dengan Kim Jit Sian, ia kalah jauh tenaga dalamnya, sudah begitu, Kim Jit Sian mendapat tahu kelemahan orang.
Dengan menyerang Thian Oe si orang Hwee menggunai siasat dan ia berhasil dengan siasatnya itu.
Secara luar biasa sekali, ia meloloskan diri dari pedang Yu Peng, ketika pedang itu meluncur terus, mendadak tangannya menyambar ke arah pedang sekali, atau tahu-tahu, pedang orang telah pindah ke dalam tangannya!
Dengan begitu menjadi nyatalah liehaynya ilmunya "Tangan kosong merampas senjata tajam"
Yu Peng terkejut bukan main, apapula pedangnya itu pedang es, meskipun pedang itu kalah kalau dibanding dengan Pengpok Hankong Kiam, pedang esnya Pengcoan Thianlie.
Herannya ialah Kim Jit Sian dapat bertahan dari hawa dinginnya.
Habis merampas pedang, Kim Jit Sian tidak berhenti bersilat, bahkan toyanya terus menyambar kepada si nyonya muda.
Menampak demikian, Thian Oe berbalik menangkis guna menolongi isterinya.
Yu Peng sendiri berkelit dengan lompat jauh satu tombak lebih.
Inilah yang dikehendaki si jangkung lagi bertangan panjang itu.
Selagi si nyonya lompat jauh, ia pun berlompat menyingkir dari Thian Oe, begitu ia memutar tubuhnya, begitu ia berlompat kabur dengan pedang rampasannya!
Thian Oe tidak mengejar.
Ia tidak tahu isterinya terluka atau tidak, maka itu ia lari kepada isterinya itu untuk melihat, tetapi tidak demikian dengan Kang Lam, dia ini lari mengejar Kim Jit Sian sambil berteriak-teriak, antaranya dia menteriaki.
"Bangsat tangan panjang, bayar pulang pedangnya kakakku! Jikalau tidak, bakal aku beri rasa padamu!"
Selagi Keng Thian dibikin heran dengan keberaniannya Kim Jit Sian merampas pedangnya Yu Peng, ia dibikin heran pula dengan keberanian Kang Lam si kacung. Pikirnya.
"Mungkinkah Kang Lam sudah kalap? Kenapa dia begini tidak tahu diri, berani dia mengejar Kim Jit Sian?"
Keng Thian pun tidak dapat membantu Kang Lam.
Mereka terpisah kira-kira setengah lie.
Tidak ada jalan lain, ia memikir untuk menggunai Thiansan Sinbong, senjata rahasianya yang istimewa.
Sementara itu Kang Lam sudah mendahului.
Dia menjemput sepotong batu, dia menimpuk Kim Jit Sian sambil dia berseru.
"Lihat senjataku!"
Keng Thian bertambah heran, ia menjadi kagum.
"Baru beberapa tahun tidak bertemu, nyata ilmu silatnya Kang Lam maju pesat sekali!"
Katanya didalam hati.
"Hanyalah, mana dapat dia menimpuk jitu pada orang Hwee itu?..."
Meski ia memikir demikian, ia toh sudah lantas menyerang dengan Thiansan Sinbong yang ia telah siapkan dengan cepat.
Senjata itu dipakai menimpuk belakangan tetapi saking liehaynya pemiliknya, melesatnya melombai batunya Kang Lam, tibanya terlebih dulu daripada batu itu.
Kim Jit Sian mendapat tahu serangan senjata rahasia, ia menangkis ke belakang.
Tepat tang-kisannya, toyanya membuat senjata Keng Thian terpukul terpental tinggi, hingga jatuhnya lama daripada semestinya.
Hanya sementara itu, batunya Kang Lam juga sampai pada sasarannya.
Dalam sibuknya, si orang asing menangkis pula dengan toyanya.
Ia berhasil.
Tetapi aneh batu Kang Lam, batu itu terhajar melesat justeru mengenai dengkul orang!
Kim Jit Sian terkejut, tubuhnya terhuyung, dengkulnya tertekuk, terus dia berlutut!
Keng Thian menyaksikan kejadian itu, ia heran bukan main.
Thiansan Sinbong liehay tetapi gagal, siapa tahu, batu yang berhasil, dan batu pun ditimpuki Kang Lam si binal dan Jenaka!
Kang Lam segera terdengar suaranya nyaring.
"Kau lihat, kau masih berani menghina aku atau tidak!-Hm! Hm! Apakah kau kira sudah cukup kau menjalankan ini kehormatan besar? Tidak! Lekas bayar pulang pedangnya kakakku'"
Kim Jit Sian mendongkol bukan main. Ia merayap bangun. Justeru itu Kang Lam berlompat kepadanya. Dalam murkanya, ia menyambut dengan kemplangan toyanya! Keng Thian kaget sekali.
"Celaka! Celaka"
Serunya.
Tak sempat ia menolongi.
Kang Lam mau merampas pulang pedangnya Yu Peng, sendirinya ia membikin tubuhnya kosong tak terjaga, maka itu berbahayalah ia, apapula penyerangnya ialah si orang Hwee yang liehay.
Toya turun ke arah batok kepala...
Dalam saat berbahaya itu, mendadak Kang Lam tertawa.
"Haha, bangsat cilik, kau masih galak?"
Katanya mengejek, sebelah tangannya diangkat tinggi.
Toyanya Kim Jit Sian menyerempet turun di antara lengan si anak muda, belum dia tahu apa-apa, pedang Yu Peng yang berada di tangannya telah pindah ke tangan orang!
Sementara itu toya meluncur terus, maka celakalah tanah yang kena terhajar, tanah itu sampai berlubang dan debunya berhamburan!
Kang Lam tidak berhenti sampai disitu, ia pun mengerjakan kakinya hingga si orang Hwee terpelanting terjengkang!
Keng Thian bengong, ia sampai tak mau percaya penglihatannya sendiri.
"Apakah mataku lamur?"
Dia tanya dirinya.
"Apakah aku melihat salah? Benarkah ilmu silat Kang Lam sudah meningkat ke golongan kelas satu? Benarkah dia telah melewatkan aku?"
Tengah herannya Keng Thian itu, ia mendengar suara menggabruk.
Kali ini Kang Lam yang terguling.
Kembali ia menjadi heran, walaupun di mata ahli sebagai ia, ia mesti mengerti sebabnya itu.
Dipadu dengan Kim Jit Sian, Kang Lam kalah segalanya.
Tapi dia dapat mengalahkan Kim Jit Sian, itulah aneh.
Sebaliknya, kalau Kang Lam roboh menendang Kim Jit Sian.
Itu tandanya dia kalah tenaga dalam, dengan sendirinya dia tertolak tenaga dalam si orang Hwee.
Yang aneh ialah sesudah menang, kenapa sekarang dia pun terjungkal?
Seharusnya, setelah Kang Lam roboh sendirinya dan Kim Jit Sian dapat berlompat bangun dengan gerakan "Ikan gabus meletik", ia mestinya menerjang Kang Lam guna mencari balas.
Di luar dugaan, Kim Jit Sian tidak berbuat demikian.
Di waktu ia bangun berdiri, lantas ia mengasih lihat roman ketakutan, tanpa menoleh lagi kepada si bocah, ia kabur sekeras-kerasnya!
Kang Lam tertawa terkakak.
"Bangsat jangkung tangan panjang, sekarang kau kenallah Kang Lam!"
Demikian katanya.
Tatkala itu semua orang dari semua tenda sudah keluar dari masing-masing tendanya, mereka dengan sendirinya mengambil sikap mengurung.
Kebetulan Kim Jit Sian menyingkir ke arah Lie Kim Bwee dan Ciong Tian, di sebelah selatan.
Ciong Tian tahu kepandaiannya Kang Lam, melihat Kang Lam dapat merobohkan musuh, ia turut tidak memandang mata kepada musuh itu.
Begitulah ia maju dengan pedangnya, buat merintangi.
Kesudahannya, ia kaget tak terkirakan.
Kim Jit Sian menggunai toya-nya menangkis pedang Ciong Tian, keras tangkisannya itu, si perintang kaget dan kesakitan telapakan tangannya, pedangnya hampir lepas dari cekalannya.
Lie Kim Bwee berlompat maju, ia menyerang dengan tipu silat "Memecah bunga, mengebut pohon yangliu".
Tepat serangannya itu, hanya ketika ujung pedang mengenai tubuhnya Kim Jit Sian, pedang itu meluncur terus.
Tak dapat ia menahan diri, tubuhnya terjerunuk ke depan.
Kim Jit Sian melihat keadaan musuh ia mengulur tangannya untuk membekuk tubuh si nona.
Ia menggunai tangan kirinya sedang tangan kanannya mencekal toyanya yang terangkat naik.
Di Tibet dimana ia menjagoi, Kim Jit Sian terkenal sebagai hantu, walaupun demikian, dialah seorang angkuh, dia memegang kehormatan dirinya, maka dia sungkan menghajar seorang wanita muda.
Maka dia memikir untuk membekuk Lie Kim Bwee, agar nona itu dapat dijadikan barang tanggungan, guna menjamin keselamatan dirinya.
Dia ingin dapat lolos dari kepungan itu.
Tong Keng Thian melihat bahaya mengancam Lie Kim Bwee, ia lantas menyusul.
Ia terpisah belasan tombak jauhnya dari si nona.
Justeru ia lari mendatangi, Kim Jit Sian justeru mengenali ialah orang yang tadi menyerangnya dengan Thiansan Sinbong.
Orang Hwee ini lantas melepaskan Nona Lie, sebaliknya, dengan toyanya ia menyambuti orang she Tong itu, untuk dihajar secara hebat.
Keng Thian menangkis dengan tipu silat "Mengangkat obor membakar langit".
Kedua senjata bentrok, suaranya nyaring.
Pedang Yuliong Kiam pedang mustika, biasanya pelbagai senjata putus atau sapat jikalau bentrok dengannya, tetapi toya si orang Hwee kuat sekali, toya itu tak terkutungkan.
"Heran!"
Kata Keng Thian.
Jadi orang liehay ilmu silatnya dan tangguh senjatanya.
Ia menarik pulang pedangnya, ia menyerang dengan tangan kosong.
Kim Jit Sian berani, ia pun menangkis dengan tangan kosong.
Hebat bentrokan mereka itu.
Kim Jit Sian terhuyung mundur tiga tombak, dan Tong Keng Thian sempoyongan enam tujuh tindak.
Begitu ia berdiri tegar, Tong Keng Thian lantas memeriksa pedangnya.
Hatinya lega tatkala ia mendapat kenyataan senjatanya itu tidak rusak.
Di pihak sana, Kim Jit Sian terdengar berkata.
"Tuan, adakah kau ciangbunjin muda dari Thiansan Pay? Sungguh liehay ilmu silatmu, aku kagum, aku kagum! Berhubung tuantuan semua telah memenuhkan janji dengan tepat maka Tuan Beng telah menitahkan aku menyampaikan kepada tuan-tuan, andaikata perlayanan kami tidak sempurna, kami minta sukalah diberi maaf!"
Suara itu nyaring sekali, bagaikan suara logam dipalu, rasanya menusuk masuk ke dalam telinga, sedang di lembahlembah terdengar kumandangnya.
Cepat luar biasa, tubuh Kim Jit Sian, merupakan seperti bayangan, sudah menyingkir hingga di lereng gunung!
Keng Thian terkejut.
"Oh, kiranya dialah pesuruhnya Beng Sin Thong!"
Kata dia di dalam hati.
"Hantu tua itu benar-benar luar biasa, tak kecewa dia mendapat nama besar! Dia berhasil mendapatkan orang kosen luar biasa sebagai pesuruh!"
Tengah orang she Tong ini berpikir itu, mendadak ia mendengar siulan lama dari Phang Lim, yang tubuhnya berlompat melewati ia bagaikan terbang melayang, sebab nyonya itu telah menggunai ilmu ringan tubuhnya yang paling mahir, hingga terlihat tegas dia jauh terlebih liehay daripada Kim Jit Sian.
Dengan bergeraknya Phang Lim itu, semua orang lainnya lantas menghentikan tindakan mereka untuk mengejar Kim Jit Sian.
"Lihat, bibi lebih keras hatinya daripada anak-anak muda!"
Berkata Pengcoan Thianlie, tertawa pada suaminya.
"Sebenarnya tak perlunya bibi menyusul orang Hwee itu..."
Bidadari dari Sungai Es ini menyangka, karena kegembiraannya, Phang Lim ingin menguji sendiri kepandaiannya Kim Jit Sian. Tapi Tong Keng Thian, yang mengawasi Phang Lim itu, mendadak berseru.
"Eh, eh, lihat!"
Nyatanya bergeraknya Phang Lim itu ke arah yang berlainan dari arahnya Kim Jit Sian, jikalau si orang Hwee menyingkir ke puncak timur, si nyonya ke sebelah barat dimana segera dia menghilang.
Puncak barat itu mempunyai pohon-pohon yang lebat.
Sementara itu suami isteri Tan Thian Oe dan Yu Peng sudah menghampirkan Tong Keng Thian semua, untuk memberi hormat dan menghaturkan terima kasih, setelah mana Keng Thian menanyakan tentang hal ikhwal mereka.
"Kami datang memenuhkan undangan Co Kim Jie,"
Thian Oe memberitahu.
"Orang tadi menyambut kami dengan dia memperkenalkan diri sebagai pesuruh dari Beng Sin Thong, hanya entah kenapa, begitu melihat Kang Lam, air mukanya berubah, terus saja dia menjambak tubuh Kang Lam, maka itu, dia jadi bentrok dengan kami."
Ketika itu, dengan napas memburu, Kang Lam pun tiba di antara mereka. Ia membawa pedangnya Yu Peng dan memulanginya, kepada nyonya muda itu. Ia tertawa geli ketika ia berkata.
"Orang tadi liehay sekali! Aku telah mendupak dia tapi aku yang terpental mundur hingga aku rasai sakit pantatku!... Tapi biar bagaimana, dialah yang rugi lebih banyak, dari itu robohku, berharga jua!--Hm. Di belakang hari, dia pasti tidak berani menghina pula aku! Haha, Tong Tayhiap, tidak kusangka disini kita dapat bertemu! Sebenarnya sudah beberapa tahun kita berpisah!"
Tong Keng Thian tertawa. Senang ia dengan bocah jenaka itu.
"Kang Lam, mari!"
Katanya.
"Ada pengajaran apakah, tayhiap?"
Tanya anak itu.
"Kang Lam, ilmu silatmu bagus sekali!"
Keng Thian memuji. Ia mengulur tangannya, untuk berjabatan dengan pemuda itu, ia menggunai tenaga dalam dari tiga sampai lima bagian.
"Aduh"
Kang Lam menjerit kesakitan. Dia meringis. Keng Thian lekas-lekas melepaskan tangannya, ia heran sekali.
"Tong Tayhiap,"
Kata Kang Lam.
"mengapa kau pencet tanganku?"
"Aku mencoba tenagamu!"
Sahut Keng Thian tertawa.
"Hendak aku memberi selamat padamu! Aku tidak sangka, baru lewat beberapa tahun, kau telah berubah seperti menjadi seorang lain! Dengan kemajuanmu cara begini, tak usah sampai sepuluh tahun, kau mesti bakal masuk dalam kalangan kelas satu!"
Di mulut Keng Thian memuji, di hati ia heran.
Memang Kang Lam maju pesat, baru dengan tenaga lima bagian, ia membuatnya orang kesakitan, tetapi itu bukannya kemajuan yang berarti dia dapat mengalahkan Kim Jit Sian, sedang Kim Jit Sian hampir berimbang dengannya.
"Eh, Kang Lam,"
Kemudian ia tanya.
"lantaran apa orang Hwee itu mendadak menyerang kau?"
"Tak lain tak bukan, itulah garagara Kim Tayhiap!"
Sahut si anak muda.
"Tahun dulu bangsat jangkung bertangan panjang itu serta beberapa hantu lainnya telah menguber-uber Chong Leng Siangjin, mereka bertemu dengan Kim Tayhiap, lantas kedua pihak bertempur, disitu mereka dilabrak Kim Tayhiap. Tatkala itu aku berada bersama. Ilmu silatku pun Kim Tayhiap yang mengajarnya. Bangsat tangan panjang itu tak berdaya apa-apa! Sekarang dia melihat aku, rupanya dia ingat kekalahannya dulu hari itu, maka dia hendak melampiaskan kemendongkolannya atas diriku ."
"Kang Lam,"
Keng Thian tanya pula.
"dengan cara apa kau mengalahkan dia barusan?"
Selagi orang berbicara Tan Thian Oe terus mengawasi. Ia pun tak mengerti rupanya. Sebelumnya menjawab, Kang Lam tertawa pula, jenaka lagaknya.
"Aku juga tak tahu!"
Sahutnya.
"Dia menghina aku! Kamu tahu tabiatku, aku kalah dilawan lunak tapi, tak dapat dilawan keras, maka itu siapa menghina aku, biarnya dia Raja Langit, mesti aku lawannya! Meski aku kalah, aku mesti lawan juga! Aku menghabiskan semua tenaga dan kebisaanku melawannya! Demikianlah aku merobohkan dia!"
Habis berkata, Kang Lam menepuk-nepuk tubuhnya, menggibriki pakaiannya. Dia bicara enak saja, sangat polos, urusan demikian berbahaya dia pandang biasa. Tan Thian Oe heran.
"Kang Lam,"
Katanya "kali ini kau menang karena kau beruntung! Lain kali tak dapat kau tak tahu diri seperti sekarang ini! Kau tahu, kau membuat permainan jiwamu!"
"Ya, ya,"
Sahut Kang Lam berulang kali. Pada wajahnya, nampak dia tidak puas. Lantas Tong Keng Thian ingat peristiwa di istananya.
"Apakah tak mungkin ada orang membantu dia secara diam-diam?"
Ia menduga-duga. Ia mau menanya pula, ketika mendadak Kang Lam menanya.
"Apakah benar Kim Tayhiap telah menutup mata?"
Ketika itu Lie Kim Bwee menghampirkan bersama Ciong Tian. Alisnya Keng Thian mengkerut. Ia lantas mengasah otak. Ia pun lantas menyahuti.
"Bibiku bersama adik misanku telah menemui sendiri barang peninggalannya di pulau Coato dan dari dalam perut ikan cucut mendapatkan tongkat besinya. Kematiannya Kim Sie Ie membuat kami sangat menyesal dan berduka... Kejadian itu tak mungkin tak benar..."
Keng Thian sendiri, harapannya bahwa Sie le masih hidup, sangat tipis.
Selama yang belakangan ini, kemasgulan Lie Kim Bwee nampak sedikit berkurang, dan pergaulannya dengan Ciong Tian nampak lebih erat daripada biasanya, dari itu tak mau Keng Thian menuturkan keragu-raguannya mengenai Sie Ie masih hidup atau sudah mati, andaikata benar Kim Sie Ie telah terbinasa, dengan itu ia dapat mengacaukan pula pikiran si nona.
Demikian, melihat datangnya sepasang muda-mudi itu, ia lantas menghentikan pembicaraannya.
"Kang Lam, bagus!"
Kata Kim Bwee kepada orang muda itu.
"Kamu lagi membicarakan urusan apakah?"
"Tidak apa-apa!"
Keng Thian menyahut, tertawa.
"Kita lagi bicara dari hal ilmu silat. Baru beberapa tahun tidak bertemu, kemajuannya Kang Lam pesat sekali! Aku lagi memuji dia!"
"Tidak berani, tidak berani aku menerima pujian!"
Kata Kam Lam tertawa.
"Bahwa aku memperoleh hasil sebagaimana hari ini, semua itu karena petunjuknya Kim Tayhiap! Ha, bicara tentang Kim Tayhiap, aku jadi ingat satu peristiwa! Dulu hari itu Nona Le telah menipu kau! Dia kata Kim Tayhiap sudah pergi ke Kangsouw mencari kita, dia membuatnya kau melakukan perjalanan jauh. Setelah itu aku memberi kisikan pada kau. Apakah kau masih ingat? Akhirnya kau telah pergi ke Laosan. Apakah disana kau bertemu dengan Kim Tayhiap serta Nona Le itu? Bukankah kau telah membuktikan kebohongannya nona itu? Hm! Nona Le itu sungguh buruk! Maka itu suka aku memberi nasihat lain kali baiklah kau jangan ladeni dia!"
Keng Thian menyudahi pembicaraan tadi dengan keinginan tak menyebut-nyebut Kim Sie Ie, siapa tahu Kang Lam justeru ngoceh dan menyebut-nyebut tentang Tokciu Hongkay.
Karena itu Thian Oe, dengan roman tak puas, berkata.
"Kang Lam, tak dapatkah kau mengurangi ocehanmu?"
Sementara itu matanya Kim Bwee telah lantas menjadi merah.
"Aku mengucap terima kasih yang kau telah mengisiki aku,"
Katanya.
"hanya sayang aku mendusin sesudah kasip! Ketika aku tiba disana, tak dapal aku bertemu dengannya. Ah, untuk selamanya tak dapat aku menemukan dia pula..."
Agaknya Kang Lam ingin bicara pula akan tetapi ia melirik Thian Oe, melihat air muka orang, ia batal.
Lie Kim Bwee lagi berduka, tak dapat ia memperhatikan Thian Oe dan Kang Lam itu.
Keng Thian melihat semua, ia masgul sekali.
Di lain pihak, ia tetap bercuriga, ia terus berada dalam kesangsian.
"Lihat, bibi telah kembali!"
Pengcoan Thianlie memecah kesunyian.
Ia membikin perhatian menjadi tertarik ke lain arah.
Hati Thian Oe menjadi lega, diam-diam ia menarik Kang Lam ke pinggiran, untuk memberi ingat agar dia jangan pula menimbulkan urusan Sie Ie.
Hanya sebentar, Phang Lim telah tiba di antara mereka.
Ia nampak lesu, alisnya mengkerut.
Terlihat juga dia agaknya bercuriga, entah apa yang menyebabkannya.
"Apakah bangsat tangan panjang itu tak tercandak?"
Kang Lam tanya. Ia tidak memperhatikan bahwa Phang Lim mengejar orang ke arah yang bertentangan.
"Hm!"
Terdengar suara dingin dari Nyonya she Phang itu.
"Apakah kau kira si tangan panjang itu berharga untuk aku mengejarnya?"
Kang Lam melengak. Itulah jawaban yang ia tidak duga.
"Bukankah ada musuh yang liehay yang bersembunyi?"
Keng Thian tanya.
"Entah!"
Sahut Phang Lim, suaranya bernada kemendongkolan.
"Melihat setan! Melihat setan! Sudahlah, tak usah tanya lagi banyak-banyak!..."
Biasanya Phang Lim jenaka, gembira dan doyan guyon, senantiasa ia tertawa manis, akan tetapi sekarang ia pendiam, bahkan ia tak senang hati.
Sikap luar biasa itu menimbulkan herannya Keng Thian.
Meski begitu, dia ini tidak mau menanya apa-apa pula.
Sikapnya Phang Lim itu tak dapat orang terka.
Di antara merela, si nyonyalah yang ilmu silatnya paling liehay, yang matanya paling awas, tepat di saat Kang Lam mengejar Kim Jit Sian, beda daripada yang lainnya, ia justeru melihat suatu bayangan orang di puncak sebelah barat itu, bahkan potongannya seperti potongannya Kim Sie Ie, akan tetapi ketika ia sudah mengejar, hingga ia melewati dua puncak, ia tidak berhasil mendapatkan bayangan itu.
Herannya ia bahkan dibikin terpeleset batu di tengah jalan sampai hampir ia jatuh memegang tanah.
Ia yang demikian liehay, tak seharusnya ia dapat diganggu sepotong batu, kalau toh itu telah terjadi, justeru ia lagi lan.
Justeru ada batu menggelinding ke kakinya, hingga tak dapat dicegah lagi ia kena menginjaknya.
Ia menduga ada orang yang mengganggunya tetapi ia tidak berani menerka orang itu ialah Kim Sie Ie.
Maka itu ia kembali dengan tangan kosong, pikirannya pepat.
Ia berduka dan bercuriga tak keruan...
Semenjak itu, keadaan tenang tak ada lagi gangguan dari pihak orangnya Beng Sin Thong.
Beberapa hari lewat tanpa terjadi sesuatu.
Rombongannya Phang Lim ini tiba di Binsan tanggal tiga belas Bulan tiga, maka itu hari pertemuan Bang dijanjikan, ialah ulang tahun wafatnya Tokpie Sinnie, tinggal dua hari lagi.
Co Kim Jie, ketua Binsan Pay, dengan mengajak semua anggauta partainya sampai pada generasi ketiga, keluar menyambut.
Ek Tiong Bouw, dengan kaki kiri dingklukdingkluk, dengan dibantu sebatang tongkat, turut menyambut dengan ia berdiri di belakang Kim Jie, si suci atau kakak seperguruan.
Habis kedua pihak mengunjuk hormat dan bicara selayaknya orang yang baru bertemu, Keng Thian lantas bicara dengan Ek Tiong Bouw.
"Kabarnya Ek Pangcu terluka di tangannya si hantu, apakah sekarang pangcu sudah tidak menderita lebih jauh?"
Tanyanya.
"Umpama kata hawa dingin yang mengeram di dalam tubuh masih belum lenyap semuanya, pel Pekleng Tan dari partai kami dapat juga melenyapkan sedikit. Baiklah pangcu mencobanya."
Keng Thian tahu Tiong Bouw jujur, mereka berdua pun bersahabat erat, dari itu ia berani menawarkan obatnya itu, coba terhadap Co Kim Jie, ia pasti sungkan.
"Terima kasih, siauwciang-bun,"
Kata Tiong Bouw tertawa meringis.
"Kecuali kaki kiriku ini, semua anggauta lainnya sudah sembuh. Siulo Imsat Kang dari orang she Beng itu benar-benar liehay, aku cuma terkebut satu kali, lantas aku mesti rebah sakit tiga bulan, baru aku dapat bangun dari pembaringan! Sekarang hawa dinginnya sudah lenyap semua. Jikalau pel Pekleng Tan dari siauw-ciangbun ada kelebihannya, mari bagi barang dua butir kepada Han Ciangbun."
Dengan "Han Ciangbun", ketua she Han, Tiong Bouw maksudkan Han In Ciauw dari partai Cengshia Pay.
In Ciauw itu berbareng satu hari dengannya terhajar Beng Sin Thong, tetapi dia masih belum dapat bergerak dengan leluasa, hingga untuk mendaki gunung Binsan, dia mesti digotong atas tandu.
Keng Thian heran, hingga ia berpikir.
"Han In Ciauw ialah satu di antara lima jago tertua kaum Rimba Persilatan di Tionggoan, dia mestinya lebih mahir tenaga dalamnya dibanding dengan Ek Tiong Bouw, kenapa sekarang justeru Tiong Bouw yang sembuh terlebih dahulu?"
Tetapi ia tidak mau menanyakan apa-apa lekas-lekas ia menyerahkan dua butir obatnya kepada Siauw Ceng Hong supaya obat itu lantas dibawa ke dalam guna diberikan kepada Han In Ciauw.
Sementara itu Phang Lim berpikir sendiri.
"Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong masih belum berhasil meminta jiwanya Ek Tiong Bouw, sedang orang bilang Beng Sin Thong telah mencapai tingkat ke sembilan, mungkin berita itu tak benar seluruhnya..."
Oleh karena ini, timbul pula kebesaran nyalinya yang membikin dia bangga akan kegagahan dirinya.
Lie Kim Bwee diam-diam melirik, ia mengedipi ibunya Setelah orang pada berduduk, Phang Lim lantas tanya Co Kim Jie kalau-kalau anggauta-anggauta Binsan Pay, yang terdiri dari tujuh cabang, telah datang semuanya.
Ditanya begitu, Kim Jie tercengang sejenak.
Adalah aturan kaum Rimba Persilatan, tak selayaknya orang luar menanyakan halnya suatu partai secara demikian.
Tapi Phang Lim berimbang usianya dengan ianya dan tingkat derajatnya jauh terlebih tinggi, ia tidak dapat mengutarakan rasa tak puasnya.
Phang Lim ini bersama kakaknya, Phang Eng, dan Lu Su Nio, ialah yang disebut Kangouw Sam Liehiap, tiga jago wanita kaum Kangouw, cuma mereka berdua memanggil kouwkouw atau bibi pada Lu Su Nio.
"Semua sudah datang,"
Ia menyahut, terpaksa.
"Ada apakah maka locianpwce menanyakan itu?"
"Tidak apa-apa!"
Menjawab Phang Lim tertawa.
"Aku melainkan hendak menanyakan kau halnya satu orang..."
"Siapakah dia?"
"Kabarnya Kouwkouw Lu Su Nio telah mengambil seorang murid, apakah murid itu telah datang juga?"
Itulah Kok Cie Hoa yang ditanyakan, yang tak dapat hilang dari ingatannya Lie Kim Bwee, maka tadi nona itu melirik ibunya dan ibunya ini segera menanyakan halnya Nona Kok itu.
Kim Bwee menduga Cie Hoa turut datang, ia jadi ingin menemuinya, tetapi ia kecewa sebab di antara para hadirin ia tidak melihat sahabatnya itu.
Ia sendiri tidak leluasa menanyakannya, maka ia minta bantuan ibunya.
Selama di tengah jalan ia juga sudah bicara pada ibunya hal Cie Hoa, maka itu, melihat anaknya melirik dan mengedip, Phang Lim lantas ingat muridnya Lu Su Nio itu.
Co Kim Jie jengah karena pertanyaan itu, karenanya tak dapat ia segera memberikan jawabannya.
Dengan menyeringai ia kata.
"Murid itu, lantaran asal-usulnya tidak jelas, dengan persetujuan suara terbanyak, telah dikeluarkan dari partai kami."
Phang Lim berlagak heran dan kaget.
"Orang semacam Lu Su Nio, mana dapat dia menerima murid yang tidak jelas asal-usulnya?"
Katanya. Kim Jie terdesak, terpaksa ia bicara lebih banyak.
"Biarlah aku bicara dengan sebenar-benarnya,"
Katanya.
"Dialah anak perempuannya Beng Sin Thong si pengacau yang menerbitkan huru-hara Rimba Persilatan ini, hingga kita mesti berkumpul menempurnya..."
"Oh, begitu!"
Kata Phang Lim.
"Tapi, mengenai diri dia itu, apakah dia pernah melanggar aturan partai, atau dia pernah membantu ayahnya?"
"Semua itu belum pernah,"
Sahut Kim Jie. Dia mesti omong sebenarnya.
"Urusan partai kamu, tak ada hak aku mencampurinya,"
Berkata Phang Lim kemudian.
"hanya mengenai Kok Cie Hoa, ingin aku bicara juga sedikit. Dialah muridnya Lu Su Nio, dialah ahli waris satu-satunya, dan dia juga tidak pernah melanggar aturan, maka itu Co Toanio, keputusan kau ini sedikit terlalu keras."
Mukanya Co Kim Jie menjadi merah.
"Perkaranya Kok Cie Hoa itu diputuskan oleh umum, dia telah diusir di depan kuburan Couwsu kami,"
Ia berkata.
"maka itu kecuali di belakang hari dia berbuat jasa terhadap partai, sama sekali tidak ada jalan untuk menarik pulang keputusan dan pemecatan itu!"
"Aku justeru hendak melaporkan sesuatu kepada suci,"
Berkata Ek Tiong Bouw, yang sedari tadi diam saja mendengar pembicaraan kedua nyonya itu.
"Aku telah terhindar dari bahaya hebat ini disebabkan aku mengambil kepada kefaedahannya Siauwyang Hiankang. Itu..."
"Aku sudah tahu!"
Co Kim Jie memegat. Dia agaknya mendongkol.
"Sekarang selagi musuh liehay berada di hadapan kita, segala urusan partai baik dibicarakan belakangan nanti!"
Ia hening sejenak, baru ia meneruskan.
"Mungkin sikapku sedikit keras tetapi aku tidak melanggar aturan partai kita dan terhadap semua anggauta aku tidak berat sebelah, siapa berjasa, tak akan aku melupakannya. Urusan itu baik kita bicarakan nanti, dengan kita mengadakan rapat besar, sekarang jangan kau bicarakan banyak-banyak!"
Ketika dulu hari Kok Cie Hoa berangkat pergi karena ia diusir Co Kim Jie, ia telah menyerahkan pada ketua Binsan Pay itu tiga
Jilid kitab Siauwyang Hian Kang karangan gurunya, dan Co Kim Jie membuatkan tiga bocah salinannya yang diberikan kepada tiga anggauta Binsan Pay, ketiga adik seperguruannya yang ilmu silatnya paling tinggi, di antaranya Ek Tiong Bouw.
Maka Tiong Bouw tidak menderita lama dari serangan Siulo Imsat Kang, ia sembuh dalam tempo setengah tahun.
Karena itu ia hendak menyadarkan si ketua tentang jasanya Cie Hoa itu, apa mau Kim Jie tetap bersikap keras maka terpaksa ia menutup mulut.
Setelah mengalihkan perhatian, Kim Jie lantas memperkenalkan Phang Lim semua pada pelbagai ketua partai yang telah tiba terlebih dulu, seperti Kim Kong Taysu dari Ngobie Pay, Lui Cin Cu dari Butong Pay, Ouw Thian Long dari Khongtong Pay dan Sien ln To wakil ketua Cengshia Pay.
Kim Kong Taysu terhitung kepala dari Bulim Ngoloo, lima tertua Rimba Persilatan.
Dia termasuk satu golongan dengan Moh Coan Seng dan Lu Su Nio.
Maka itu dibanding dengan Phang Lim, dia masih terlebih tua tingkat derajatnya.
Sien In To ialah adik seperguruan dari Han In Ciauw, ia bukan salah satu dari Bulim Ngoloo, akan tetapi mengenai ilmu silat, ia tak di bawahan kakak seperguruannya, Han ln Ciauw, dari itu selama sang kakak seperguruan atau ketuanya sakit, ia yang mewakilkannya.
Di antara partai-partai yang memenuhkan undangan Binsan Pay, Cengshia Pay yang mengirim wakil, atau murid-muridnya, yang terbesar jumlahnya.
Sebaliknya yang usianya tinggi ialah Ouw Thian Long dari Khongtong Pay.
Dia sudah berumur delapan puluh lebih tetapi dia masih sehat dan segar sekali, dia melebihkan yang lain-lainnya.
Ilmu silatnya pun berasal dari Tibet.
Untuk partainya, dialah yang paling pandai.
Untuk orang luar, dia tak diketahui jelas.
Lui Cin Cu dari Butong Pay menjadi murid kepala dari Moh Coan Seng, dia pandai bekerja, maka di bawah pimpinannya, partainya itu memperoleh kemajuan, tambah hari tambah makmur.
Habis perkenalan itu, Co Kim Jie berkata pula.
"Masih ada lagi tetamu-tetamu kami yaitu Tong Sian Siangjin, tiangloo dari Siauwlim Sie, bersama Pun Khong Siangjin, kamsie kuil itu, yang mungkin bakal tiba disini besok."
Mendengar itu Ouw Thian Long tertawa.
"Kalau begitu pertemuan ini suatu pertemuan langka yang belum pernah ada semenjak seratus tahun yang lalu!"
Katanya.
"Semua orang pandai dari pelbagai partai bakal berkumpul menjadi satu! Aku rasa meski tambah lagi dua Beng Sin Thong, mereka tak usahlah dibuat kuatir!"
Kata-kata itu bukan kata-kata wajar, itu dapat diartikan bahwa Co Kim Jie sengaja membuat urusan kecil menjadi urusan besar.
Ketua Khongtong Pay itu belum tahu halnya Beng Sin Thong.
Sebaliknya Ek Tiong Bouw, Sien In To dan lainnya, masih belum tenang hatinya.
Lantaran Ouw Thian Long berusia lanjut, Ek Tiong Bouw tidak berani mengatakan apa-apa.
Besoknya lagi datang pula rombongan murid pelbagai partai, hingga jumlah semua yang telah tiba lima ratus orang lebih, hingga untuk menempatkan mereka mesti dibangun belasan gubuk di luar kuil.
Di dalam kuil untuk pelbagai ketua partai dan mereka yang terhitung liehay.
Di dalam keadaan ramai itu, murid-murid pelbagai partai berkelompok di antara sahabat atau kenalan-kenalannya masing-masing, atau mereka berkenalan satu dengan lain.
Lui Cin Cu diam-diam telah mengunjungi Pengcoan Thianlie.
Itulah disebabkan si Bidadari dari Sungai Es menjadi anak perempuan dari Kui Hoa Seng, seorang Butong Pay dari kalangan tertua, dan si nyonya sendiri termasuk orang kalangan tertua partainya.10' Tong Keng Thian bersama Tan Thian Oe, di waktu magribnya, sudah menjenguk kuburan Tokpie Sinnie dimana mereka berjalan mundar-mandir.
Kesitu pun datang orangorang lainnya.
Maka itu Keng Thian lantas mendengar suaranya Kang Lam, yang bicara dengan seorang wanita.
Ketika dicari tahu, nyata dia lagi pasang omong dengan Yo Liu Ceng dan puterinya.
Yo Liu Ceng itu, seperti diketahui, ada anak perempuannya Tiat-ciang Sintan Yo Tiong Eng, sedang Yo Tiong Eng pada empat puluh tahun dulu menjadi guru ayahnya Keng Thian, maka itu Keng Thian lantas menghampirkan nyonya itu untuk menanyakan kesehatannya.
Ketika itu Kang Lam, secara bangga, hingga ia tertawa tak hentinya, menuturkan pada Yo Liu Ceng dan Cee Ciang Hee perihal pertempurannya melawan Kim Jit Sian.
Agaknya ia merasa sangat puas.
"Aku tidak percaya!"
Kata Nona Cee tertawa.
"Bukankah kau menyebut si bangsat jangkung bertangan panjang? Kalau Thiansan Sinbong dari Tong Tayhiap tidak dapat melukai dia, mana bisa kau merobohkannya?"
"Jikalau kau tidak percaya, kau tanyalah Tong Tayhiap!"
Kang Lam berkeras.
"Kali ini Kang Lam tidak lagi mengepul!"
Tong Keng Thian tertawa.
"Memang Kang Lam sekarang bukannya Kang Lam dulu,"
Katanya.
"Ciang Hee, tak dapat kau memandang enteng padanya!"
Kata-kata ini menjelaskan bahwa Kang Lam benar tidak lagi mengepul! Kang Lam girang, lebih-lebih Nona Ciang Hee.
"Bagus!"
Berkata si nona, nyaring, tangannya menarik tangan si anak muda.
"Kiranya selama beberapa tahun ini kau telah meyakinkan ilmu silatmu secara diam-diam hingga kau herhasil secara begini luar biasa! Mengapa kau tidak memberi sedikit warta juga padaku? Coba bilang, dengan tipu silat apa kau merobohkan bangsat bertangan panjang itu? Coba kau bersilat di lapangan itu!"
Kang Lam menjadi kacung tetapi hal itu tidak menjadi halangan bagi Ciang Hee untuk menyukai dia, hingga mereka berdua menjadi sahabat-sahabat kekal.
Yo Liu Ceng tidak bergembira atas bersahabatnya anak-anak itu, baru kemudian sikapnya berubah, ialah ketika Kang Lam dibantu secara diamdiam oleh Kim Sie le sudah membantu dia memukul mundur musuhnya.
Hanya, untuk ia mengambil mantu pada kacung itu, ia masih kurang penuju.
Tapi sekarang, mendengar penjelasan Keng Thian itu, berubah lagi pandangannya.
Pikirnya.
"Benar juga, seorang gagah, tak usah diambil mumat asal-usulnya tinggi atau rendah, asal anakku suka, biarlah dia membawa kesukaannya!"
"Apakah Cee Peehu baik?"
Kemudian Keng Thian tanya.
"Baik!"
Sahut Nyonya Cee.
"Di rumah tidak ada orang, kami minta dia yang menjaga rumah, kami datang berdua. Bagaimana dengan ayahmu?"
"Terima kasih, baik!"
Sahut Keng Thian.
"Ayah menyuruh aku datang bersama bibiku."
Mendengar halnya Tong Siauw Ban tidak turut datang, Yo Liu Ceng tak gembira di dalam hatinya.
"Sayang dia, tidak datang,"
Katanya.
"Jikalau dia datang, sudah pasti kita bakal memperoleh kemenangan."
Dahulu hari, semasa mudanya, Yo Liu Ceng pernah direkoki jodohnya dengan jodoh Tong Siauw Ban, kemudian perangkapan jodoh itu gagal, meski demikian, mereka tetap bersahabat satu dengan lain, lebih-lebih Liu Ceng yang menyukai pemuda itu, yang terus tak dapat dia melupakannya.
Liu Ceng mengharap dapat bertemu orang bekas pujaannya itu, siapa lahu, pengharapannya tak terpenuhkan.
Tepat mereka bicara sampai disitu, mereka mendengar suara genta dari dalam kuil, ketika mereka mengawasi kesana, mereka melihat Co Kim Jie memimpin murid-murid Binsan Pay muncul dari dalam.
"Entah tetamu agung siapa yang datang!"
Kata Yo Liu Ceng.
"Mari kita lihat!"
Ketika Yo Liu Ceng baru sampai, Co Kim Jie cuma mengutus Ek Tiong Bouw menyambutnya, maka itu sekarang ia merasa kurang puas orang membuat perbedaan.
Baru setelah ia melihat, tak puasnya itu lenyap.
Yang datang itu Tong Sian Siangjin bersama Pun Khong Siangjin serta delapan belas murid Siauwlim Sie, semuanya murid-murid kepala.
Tong Sian itu pendeta agung yang dihormati, sekalipun Tong Siauw Lan tak dapat menyamai dia.
la lebih muda sedikit daripada Kim Kong Taysu dan dalam Bulim Ngoloo, dialah yang nomor dua, tetapi di dalam halnya ilmu silat, mereka berimbang.
Sedang delapan belas murid itu sudah tergolong kelas satu, hingga di dalam Siauwlim Sie, mereka dijuluki delapan belas Loohan atau Arhat.
Jadi pantaslah Co Kim Jie menyambut tetamu-tetamu dari Siauwlim Sie itu dengan itu macam kehormatan.
Sementara itu ada suatu hal yang membikin orang tak mengerti.
Selagi semua orang bergembira atas datangnya wakil Siauwlim Sie ini, Tong Sian sendiri menunjuk sikap pendiam, bahkan dia agak berduka.
Dan ke delapan belas Loohan pun turut tak bergembira.
Tong Sian Siangjin melihat Tong Keng Thian di dalam rombongan orang banyak, ia memanggil sambil menggapaikan.
Pertanyaan yang pertama ialah.
"Apakah ayahmu tidak datang?"
"Tidak,"
Keng Thian menjawab.
"Dengan tidak datangnya Tong Tayhiap, kita menjadi kurang seorang yang membantu memegang tampuk pimpinan,"
Berkata Co Kim Jie.
"akan tetapi beruntung Siangjin telah tiba, dengan begitu kita semua dapatlah menenangkan hati kita!"
Delapan dalam sepuluh bagian para hadirin beranggapan sama dengan Co Kim Jie, yaitu dalam pertempuran besok, pihaknya mesti bakal menang, hingga ada yang memikir tak usah sampai Tong Sian Siangjin datang sendiri.
Akan tetapi sekarang pendeta itu bersikap pendiam, orang heran.
Apakah yang menyebabkan itu?
"Tong Tayhiap tidak datang, maka besok kita harus mengandal pada diri kita sendiri!"
Berkata pendeta agung itu.
"Semoga Sang Budha bermurah hati hingga kita berhasil melewatkan malapetaka Rimba Persilatan ini!"
Kata-kata itu membikin heran para hadirin. Rata-rata orang menganggap mesti ada sebabnya sampai si pendeta mengatakan demikian. Lui Cin Cu tapinya berkata.
"Kalau kita mengenal diri sendiri dan mengenal juga musuh, dalam seratus kali perang kita akan menang selamanya! Bukankah pihak kita telah datang semuanya? Sekarang tinggal kita harus mencari tahu, di pihak sana siapa-siapakah yang telah datang!"
Kata-kata itu tertujukan ke kedua pihak.
Co Kim Jie dan Tong Sian Siangjin.
Ketua Butong Pay itu percaya, kalau musuh cuma Beng Sin Thong seorang, tidak nanti ketua Siauwlim Sie itu demikian mengharapi Tong Siauw Lan.
Maka mungkin, pendeta ini sudah ketahui siapa yang berada di pihak lawan itu.
Co Kim Jie lantas berkata.
"Katanya ketika beberapa ciangbunjin mendaki gunung ini, ada di antaranya yang bertemu dengan pesuruh dari Beng Sin Thong, tetapi tentang siapa-siapa yang telah datang dan berapa besar jumlahnya, itulah tak jelas. Menurut keterangan, pesuruhnya Beng Sin Thong itu, walaupun dia liehay, dia tak melebihkan pihak kita..."
"Dimanakah mereka itu mengambil tempat berkumpul?"
Lui Cin Cu tanya pula.
Pertanyaan ini wajar.
Orang mau bertempur dengan tantangan dimajukan banyak waktu yang lampau, dan selama setengah tahun, orang telah siap sedia.
Maka pantas kalau kita mengetahui keadaan diri sendiri tetapi pun mencari tahu perihal musuh.
Co Kim Jie pun telah mengajak rombongannya datang siang-siang, guna menantikan lawan.
Lui Cin Cu pikir, kalau ia ketahui tempat musuh, ia ingin mencari jasa secara diam-diam.
Tapi...
Mendengar pertanyaan orang mukanya Co Kim Jie menjadi merah.
Dia berkata.
"Sama sekali Beng Sin Thong belum pernah muncul. Kita pun belum mendapat tahu dimana dia dan pihaknya mengambil tempat."
Ouw Thian Long tertawa.
"Jikalau begitu maka pesuruhnya pihak sana itu ialah orang-orang luar biasa!"
Katanya. Co Kim Jie jengah, tapi dia kata.
"Tak perduli jumlah mereka berapa banyak, mustahil mereka dapat melebihkan kami pihak Binsan Pay dan pelbagai partai besar?"
"Hanya baiklah kita ingat, di luar langit ada langit lainnya, di samping orang ada lain orang lainnya,"
Berkata Tong Sian Siangjin.
"Bicara tentang Beng Sin Thong saja, kami kuatir kami tak dapat melayaninya..."
Lui Cin Cu kaget.
"Apakah Siangjin sudah pernah bertemu dengan siluman she Beng itu?"
Ia tanya.
"Boleh dibilang sudah, boleh juga dibilang belum,"
Menyahut pendeta itu.
"Semua siecu adalah guru-guru besar, mestinya semua siecu ketahui, ilmu silat itu tak ada batas cetek dalamnya. Kita seharusnya sudah dapat menduga-duga sendiri."
Orang heran.
Sikap pendeta ini aneh.
Tapi karena dia orang suci dan tua dan dihormati, tidak ada yang berani membilang apa-apa.
Tong Keng Thian kenal delapan belas Loohan, maka begitu orang bubaran, ia pergi pada mereka, untuk minta keterangan mengenai sikapnya Tong Sian Siangjin itu.
Ia bicara dengan Tay Pie Siansu, dengan begitu ia menjadi memperoleh penjelasan.
Berhubung dengan pertandingan yang bakal dibikin, Beng Sin Thong yang cerdik telah mengambil tindakan luas.
Ia tidak melainkan menghadapi pihak Co Kim Jie seorang.
Siang-siang ia sudah melepas undangan juga.
Kie Siauw Hong ialah utusannya itu.
Ada tiga orang berkenamaan yang telah menerima surat undangannya, ialah Kim Kong Taysu dari Ngobie Pay, Tong Sian Siangjin dari Siauwlim Pay, dan Tong Keng Thian.
Keng Thian diundang sebagai wakil Thiansan Pay.
Beng Sin Thong sendiri tidak berani lancang mengacau di Thiansan, maka itu ia telah mengutus Kie Siauw Hong ke Istana Es, menyampaikan surat undangan berbareng mencuri pedang.
Yang lainnya, seperti Phang Lim, Ouw Thian Long dan Lui Cin Cu, semua mereka tidak menerima surat undangan.
Tong Sian Siangjin murah hati dan ramah tamah, ketika Kie Siauw Hong datang, ia menyambut dengan hormat.
Ia sama sekali tidak menaruh curiga apa-apa.
Tapi Kie Siauw Hong si raja pencopet tak tahu takut, selagi keduanya saling memberi hormat, mendadak dia mengeluarkan kepandaiannya, dia mencoba menyambar tiga bocah mutiara yang menjadi kalungnya si pendeta.
Ini dilakukan selagi dia meluncurkan tangan menghaturkan surat undangannya.
Dia demikian liehay sampai delapan belas Loohan, yang menghadapinya, tak mendapat lihat.
Tapi Tong Sian orang liehay juga, ia mendapat tahu perbuatan tetamunya itu, siang-siang ia sudah menutup dirinya.
Tepat di saat tangan kedua pihak mau bentrok, mendadak ia mendengar orang tertawa dan berkata!
"Apakah ketua Siauwlim Sie mau melayani segala anak muda?"
Ia terkejut, ia tercengang.
Justeru itu maka berhasillah Siauw Hong memiliki mutiara orang!
Baru kemudian Tong Sian memberitahukan kejadian itu pada delapan belas Loohan.
la menjelaskan bahwa suara tertawa dan kata-kata itu, yang cuma terdengar olehnya sendiri, adalah ilmu paling liehay dari pihak sesat, ilmu itu mirip dengan ilmu pihak lurus.
Pihak sesat menamakannya "Thiantun coan-im", dan pihak lurus "Coan-im jipbit".
Liehaynya sama saja.
Tong Sian tahu adanya ilmu sesat itu tetapi mengalaminya baru itu pertama kali, dengan begitu ia menjadi membuktikan sendiri liehaynya.
Inilah yang membikin hatinya tawar.
Ini pula yang membikin ia membilang ia "sudah dan belum bertemu"
Dengan Beng Sin Thong. Tong Sian percaya, kalau orang itu bukan Beng Sin Thong sendiri, mesti pesuruhnya. Tidakkah hebat pesuruh seliehay itu? Habis menutur, Tay Pie berkata.
"Tadinya kami cuma mendengar tersiarnya berita liehaynya Beng Sin Thong, kami sangsi, tetapi sekarang kami percaya dia benar-benar liehay. Maka itu taklah heran guru kami menjadi berduka."
Mendengar itu, Keng Thian cuma mengangguk-angguk.
Ia memang ketahui liehaynya pesuruh Sin Thong itu yang telah berani mengacau di Istana Es.
Lewat lagi satu hari maka tibalah hari pertempuran yang ditunggu-tunggu.
Pagi-pagi sekali para pemimpin sudah berkumpul dengan ditemani murid-murid mereka.
Orang hendak mengangkat ketua.
Kesudahannya yang dipilih ialah Tong Sian Siangjin dengan Kim Kong Taysu sebagai ketua mudanya.
Co Kim Jie menjadi nyonya rumah tetapi meski demikian, ia dipilih juga menjadi ketua muda.
Itulah melulu untuk kehormatan.
Ouw Thian Long menjadi hadirin yang usianya paling tua, dalam pemilihan itu orang tidak menyebut-nyebut namanya, ia merasa kurang puas, akan tetapi ia dapat menguasai diri untuk berdiam saja dan tanpa mengutarakan sesuatu pada wajahnya.
Selesai pemilihan, maka dengan dipimpin Tong Sian Siangjin, orang lantas berangkat menuju ke tempat pekuburan Tokpie Sinnie dimana, di bagian depannya, ada lapangan yang terbuka cocok guna dijadikan gelanggang pertempuran.
Turut perjanjian, pertempuran bakal dilakukan tengah hari tepat, maka itu, masih ada waktu setengah jam.
Dengan begitu orang dapat ketika untuk memernahkan diri masingmasing.
K-uburannya Tokpie Sinnie dan Lu Su Nio dapat dikitarkan mereka lantaran mereka mengambil kedudukan garis Kiu-kiong Patkwa Tin.
Secara demikian mereka menantikan tibanya Beng Sin Thong.
Pengalamannya Tong Sian Siangjin--hal mutiaranya dicopet Kie Siauw Hong-telah tersiar di antara para hadirin, oleh karena itu dengan sendirinya semua orang berpikir keras, mereka rata-rata heran, hingga sekarang tak ada lagi yang memandang enteng kepada Beng Sin Thong.
Sang waktu lewat detik hitung detik, lantas semua mata diarahkan ke mulut jalanan dimana diduga Beng Sin Thong dan rombongannya bakal muncul, akan tetapi sampai sebegitu jauh, pihak sana belum juga tampak-Sin Thong sendiri tidak, orang-orangnya atau wakilnya tidak juga!
Mau tak mau, orang mulai membicarakannya.
Orang semua heran.
"Mungkin Beng Sin Thong berlagak saja!"
Kata seorang.
"Dia tahu kita telah berkumpul, dia takut datang!"
"Bukan begitu, barangkali,"
Kata yang lain.
"Jangan-jangan dia menggunai akal muslihat..."
"Di tempat begini, tipu muslihat apa dia dapat gunakan?"
Kata yang lain lagi.
"Mungkin dia tahu diri dan dia mundur sendirinya..."
Tengah orang berisik berbicara menduga-duga itu, maka terdengarlah satu suara nyaring hingga semua orang berdiam dan menoleh ke arah dari mana suara itu datang. Itulah ledakan "bom"
Cu-ngo pauw yang menjadi isyarat atau tanda waktu, yang diurus oleh seorang anggauta dari Binsan Pay.
Itulah isyarat yang pertama dari bakal tibanya waktu yang ditetapkan.
Sampai itu waktu Beng Sin Thong masih belum muncul juga.
Tidak selayaknya orang salah janji.
Itu bukannya sembarang pertempuran.
Kalau Beng Sin Thong benar tidak memenuhkan kata-katanya, maka tanpa bertempur lagi, dapat dinyatakan dia sudah kalah dia menyerah kalah.
Lui Cin Cu tertawa dan berkata.
"Apakah yang dikatakan kepandaian luar biasa? Bukankah itu mulut besar belaka? Sejak jaman dahulu, inilah lelucon paling besar dalam Rimba Persilatan!"
Belum berhenti suaranya ketua dari Butong Pay ini, ledakan yang kedua terdengar pula.
Di mulut jalanan tetap keadaannya, tak nampak orang muncul disitu.
Sampai itu waktu, Co Kim Jie sekalipun tak dapat menguasai hatinya lagi hingga dia tertawa dan kata.
"Teranglah bangsat tua she Beng itu jeri terhadap kegagahan saudara-saudara semua maka dia telah mundur sendirinya!"
Dia nampak puas sekali.
Habis itu, dia memandang Tong Sian Siangjin, niat bertanya apa tak baik mereka pulang saja.
Akan tetapi belum sempat ia membuka mulutnya, maka terjadilah hal yang tak diduga-duga!
Mendadak orang mendengar suara tertawa yang nyaring, yang disusul dengan ini kata-kata tegas terang.
"Tuan-tuan kamu benar-benar orang-orang yang dapat dipercaya! Maafkanlah karena aku membikin kamu menantikan lama!"
Itulah suaranya Beng Sin Thong!
Suaranya saja, sebab orangnya, ataupun bayangannya, tak juga nampak!
Hingga orang pada menoleh ke arah dari mana suara itu datang.
Orang pun berdiam saking heran.
Suara itu terdengar berbareng dengan ledakan atau isyarat Cu-ngo pauw yang ketiga!
Tapi itu belum semua!
Ada lagi peristiwa susulannya!
Di lereng puncak di depan mereka, mereka mendapatkan terbukanya sebuah pintu batu.
Mendadak sekali terbukanya pintu itu.
Dari pintu itu, menyusuli suaranya Beng Sin Thong itu, tertampak si orang she Beng meluncur turun.
Ketika itu tengah hari tepat!
Menyusul meluncurnya Beng Sin Thong itu lantas terlihat meluncurnya yang lain-lainnya lagi, yang turun saling susul.
Dapat dikatakan mereka seperti pada terbang melayang, hingga banyak orang rombongan Binsan Pay yang menjadi melongo karenanya.
Co Kim Jie tidak ketahui yang Beng Sin Thong sengaja hendak mengadakan pertunjukannya.
Untuk itu, dia telah bersiap sedia sejak setengah tahun yang lalu.
Ialah di lereng puncak itu, secara diam-diam dia telah menggali dan membuat guanya itu, yang mulutnya ditutup dengan pintu batu, yang disamarkan hingga orang tak mengetahuinya.
Karena itu, dengan merdeka mereka dapat menyembunyikan diri di dalam gua bikinan itu.
Baru hari ini, dan di jam yang tepat, mereka muncul secara tiba-tiba!
Tong Keng Thian sekalian mengawasi ke arah rombongannya Beng Sin Thong itu hingga mereka mengenali belasan orang antaranya ialah Can Bit Hoatsu, A Lo Cuncia, Kim Jit Sian, Thian Liong Tuu, Pek Liong Kie yang menjadi huciehui Gielimkun, Cin Tay yang menjadi tongnia atau komandan Gielimkun, dan Kheng Sun sekalian.
Yang lainnya tak sempat diperhatikan terlebih jauh.
Begitu melihat rombongannya musuh, begitu Co Kim Jie menjerit keras, terus dia lari ke depan, untuk menghampirkan musuhnya.
"Bagaimana, eh?"
Tanya Beng Sin Thong tertawa.
"Kita belum berdamai dulu, apa kita hendak lantas bertempur?"
Co Kim Jie gusar sekali, katanya nyaring.
"Hari ini kita bertanding secara terbuka, tetapi kenapa kau membawa-bawa dua orang cucuku? Apakah kau hendak menggunai mereka untuk memaksa aku? Hm! Aku kuatir, di hadapan para guru besar, tidak nanti kau dapat mencapai maksudmu yang rendah ini!"
Di dalam rombongan musuh itu, Co Kim Jie melihat dua cucunya, ialah Tio Eng Hoa dan Tio Eng Bin.
Mereka itu lenyap pada setengah tabun yang lalu, lenyap diculik Beng Sin Thong.
Karena itu, ia lantas lari untuk menghampirkan kedua cucunya itu.
Justeru itu, mendadak ia dihadang oleh seorang imam tua yang jenggotnya panjang, yang dengan kebutannya membuat tongkatnya terlibat!
"Co Kim Jie!"
Berkata Beng Sin Thong dingin.
"kenapa kau tidak mau tanya jelas dulu? Kenapa kau berlaku begini sembrono? Baiklah kau dengar dulu apa katanya kedua cucumu ini!"
Kim Kong Taysu heran melihat imam itu.
"Bukankah dia Leng Siauw Cu dari gunung Taysoat San?"
Ia tanya Tong Sian Siangjin.
"Kenapa dia pun tunduk kepada itu hantu?"
Imam yang dikatakan Leng Siauw Cu itu imam dari Coancin Kauw, dialah murid generasi ke tujuh dari Khu Cie Kie.
Dalam Rimba Persilatan dia berkenamaan, martabatnya tinggi, tadinya dia kenal banyak ketua pelbagai partai, baru belakangan dia mendadak menghilang.
Orang bilang dia menyembunyikan diri di gunung Taysoat San meyakinkan semacam ilmu, buat beberapa puluh tahun dia tak pernah muncul sampai sekarang--di luar dugaan-dia muncul bersama-sama Beng Sin Thong.
Lui Cin Cu gusar melihat Co Kim Jie dirintangi itu.
"Beng Sin Thong, apakah kau tidak mau bertanding dengan memakai aturan Rimba Persilatan?"
Dia menegur. Dia lantas menghunus pedangnya dan bertindak maju. Belum lagi Beng Sin Thong memberi jawaban, maka Tio Eng Hoa cucunya Co Kim Jie itu terdengar berkata nyaring.
"Nenek, cucumu telah menjadi muridnya Beng Couwsu! Ilmu silat Beng Couwsu liehay sekali, janganlah nenek bermusuh dengannya!"
Menyambungi suara Eng Hoa itu, Beng Sin Thong tertawa lebar dan berkata nyaring.
"Co Kim Jie, kau dengar tidak? Apakah benar aku telah memaksa dia?"
Beng Sin Thong liehay dan licin, habis menculik Eng Hoa dan Eng Bin, dia mempertontonkan kepandaiannya kepada dua anak itu, maksudnya guna membujuk anak-anak itu, yang baru berusia lima atau enam belas tahun.
Dia berlaku manis terhadap mereka.
Sebaliknya Co Kim Jie, sebagai nenek, bersikap keras terhadap cucunya.
Maka itu, mendapat perlakuan yang berbeda itu, anak-anak ini lantas ketarik hatinya dan suka berguru kepada Sin Thong, yang menjanjikan akan mengajari mereka ilmu kepandaian yang sempurna.
Sekarang Beng Sin Thong sengaja mengajak mereka itu, maksudnya untuk membikin malu pada Co Kim Jie, supaya Kim Jie menyerah tanpa bertempur lagi...
Sia-sia belaka Kim Jie mendongkol dan gusar.
Cucu itu mengatakan demikian, apa ia bisa bikin?
Lui Cin Cu juga menjadi jengah, diam-diam ia masuki pula pedangnya ke dalam sarungnya dan mengundurkan diri.
Tong Sian Siangjin, sebagai ketua rombongan, lantas bicara.
"Keruwetan ini baik sebentar saja kita bereskan,"
Ia berkata.
"Tuan Beng, bagaimana pikiranmu sekarang?"
Beng Sin Thong tertawa ber-gelak.
"Biar bagaimana, ketua Siauwlim Sie juga yang mengerti urusan!"
Katanya. Ia terus menoleh kepada Leng Siauw Cu dan berkata.
"Saudara Leng Siauw, silahkan dia pergi!"
Leng Siauw Cu menarik kebutannya, karena mana-sebab libatan telah terlepas-Co Kim Jie menjadi terhuyung mundur beberapa tindak.
Kim Jie mundur ke sisi Phang Lim.
Dia mendongkol bukan kepalang, tak dapat dia lantas melampiaskannya itu.
"Enci Co, kau sabarkan diri,"
Kata Phang Lim tertawa.
"Kita pasti akan berdaya mendapatkan pulang kedua cucumu itu. Sekarang aku ingin menanyakan sesuatu kepada kau. Andaikata mereka berdua dapat ditolongi lolos dari tangannya hantu Beng Sin Thong itu dan mereka dapat dibawa pulang, bagaimana kau hendak bertindak terhadap mereka?"
Co Kim Jie melengak. Untuk sejenak itu, tak dapat ia memikirkan soal itu.
"Bagaimana aku harus menguras dia?"
Katanya, ragu-ragu.
"Aku belum memikirnya... Bagaimana aku harus bertindak terhadapnya?"
Phang Lim tahu apa ia harus lakukan. Ia kata.
"Beng Sin Thong musuh besar Rimba Persilatan! Kedua cucumu itu sudah memberontak, mereka sudi menyerah kepada musuh, mereka bersalah, dosa mereka bukannya kecil!"
Perkataannya nyonya tua ini bernada mengejek Kim Jie. Kim Jie seperti dikatakan sudah tidak berlaku adil. Jadi dia ingin mewakilkan Kim Jie "membersihkan"
Binsan Pay... Kim Jie kaget sekali.
"Mereka berdua cuma bocah-bocah, mereka mengerti apa?"
Katanya cepat. Ia hendak membelai atau melindungi kedua cucunya itu.
"Pertimbangan kau, Phang Loo-cianpwee, terlalu keras..."
Melihat orang kelabakan itu, Phang Lim tertawa. Ia memang gemar bergurau, ia tidak biasa berpura-pura. Ia kata.
"Merekalah cucumu maka kau mengatakan pertimbanganku keras. Bagaimana sikapmu terhadap Kok Cie Hoa? Bukankah kau telah menghukumnya semenjak dia masih dalam kandungan?"
Mukanya Kim Jie menjadi merah, ia malu sekali, hingga ia tidak dapat berkata-kata.
Baru sekarang ia sadar yang sikapnya terhadap Kok Cie Hoa terlalu keras.
Tong Sian Siangjin tidak memperhatikan pembicaraan di antara Phang Lim dan Co Kim Jie itu, ia maju untuk bicara dengan Beng Sin Thong.
Ia menghunjuk hormat.
"Tuan, ingin aku menjelaskan bahwa pelbagai partai besar tak mengerti di dalam hal apa mereka dapat dosa dari tuan,"
Ia berkata sabar.
"Kenapa tuan telah membinasakan empat tiangloo dari Kaypang dan melukakan parah ketua dari Cengshia Pay? Pula, kenapa tuan telah menculik murid Binsan Pay? Kenapa tuan juga mengirim murid menantang kepada Thiansan Pay, Ngobie Pay dan Butong Pay? Aku si pendeta tua ingin menanya permusuhan besar apakah itu yang menyebabkan hingga tuan menjadi berlaku demikian telengas?"
Beng Sin Thong tertawa lebar.
"Loosiansu keliru!"
Katanya. Tong Sian tidak senang.
"Apakah yang keliru?"
Dia tanya.
"Tolong tuan menjelaskannya!"
Beng Sin Tong mengangkat kepalanya memandang langit, dia tertawa pula-tertawa dingin.
"Aku berbuat demikian justeru karena aku menghargai mereka!"
Ia berkata.
"Jikalau mereka orang-orang biasa saja, aku si orang she Beng yang tua tidak nanti kesudian menuruni tanganku!"
Tong Sian gusar hingga tak dapat dia menyabarkan diri lagi.
"Jikalau demikian, tuan, kau jadinya sengaja memancing kemurkaannya Rimba Persilatan!"
Katanya.
"Jadi teranglah kau memusuhkan semua partai besar!"
Beng Sin Tong tidak gusar, dia tetap tertawa.
"Loosiansu, terkaan kau ini cuma benar separahnya!"
Ia menjawab.
"Jikalau aku tidak mengambil sikapku itu, mana dapat kamu semua sekarang datang kemari? Sebenarnya, bukan maksudku untuk bermusuh dengan kamu, hanya aku menggunai ini untuk menghimpun rapat ini, supaya kita dapat ketika untuk saling berlatih. Bukankah kamu pihak Siauwlim Pay, Ngobie Pay, Butong Pay, Cengshia Pay dan Thiansan Pay, biasa mengagulkan diri kamu masing-masing sebagai kaum lurus, hingga kamulah yang menggenggam semua ilmu silat di kolong langit ini?' "Mengenai Siauwlim Pay, aku dapat menjelaskan bahwa kami tidak demikian jumawa!"
Berkata Tong Sian. Lagi-lagi Sin Thong tertawa.
"Tetapi, loosiansu, kau tidak dapat mewakilkan seluruh Rimba Persilatan bukan?"
Katanya.
"Atau bicara terus terang, andaikata benar ada orang yang dapat mewakilkan seluruh Rimba Persilatan, maka aku Beng Sin Thong, suka aku mengangkat dia menjadi guruku!"
"Orang yang demikian itu, tuan, tidak ada di ini jaman!"
Kata Tong Sian. Mau atau tidak, pendeta ini mesti menyabarkan diri.
"Kecuali orang itu tuan sendiri adanya..."
Mendengar itu, Beng Sin Thong tertawa berkakak.
Semua ketua partai, melihat kejumawaan Sin Thong itu, menjadi mendongkol sekali.
Maka Lui Cin Cu bersama Pun Khong Taysu, Sien In To dan Ouw Thian Long, lantas maju setindak.
Mereka siap sedia turun tangan begitu lekas Tong Sian Siangjin memberi isyarat.
Tong Sian sangat mendongkol, tetapi ia tetap dapat menguasai diri.
Ia tidak mengentarakan kegusarannya itu.
"Tuan Beng, urusan ini tak dapat dibereskan dengan main tertawa saja,"
Katanya.
"Untuk membereskannya, kami mohon petunjukmu."
"Semua orang yang hari ini mengikut aku, mereka semua adalah orang-orang dengan ilmu kepandaian luar biasa,"
Berkata Beng Sin Thong, suaranya lantang.
"Mereka semua telah semenjak lama ingin menyaksikan ilmu kepandaian semua partai besar, maka itu justeru ada ini ketika yang baik, baiklah kita sama-sama berlatih! Andaikata tuan-tuan dapat mengalahkan mereka, maka habis itu, dengan bergantian, suka aku sendiri melayani kamu. Di dalam halnya pertandingan tuan-tuan dengan aku sendiri, asal ada satu saja di antara tuan-tuan yang dapat mengalahkan aku, tanpa tuantuan turun tangan, aku akan membunuh diriku sendiri! Sebaliknya, apabila aku si orang she Beng yang beruntung memperoleh kemenangan, aku tidak menghendaki jiwa kamu, cukup asal tuan-tuan mengirim murid-muridmu supaya semua murid itu berguru padaku. Cukuplah sebegitu! Dalam hal ini, Aku bukannya sangat gemar menjadi guru orang, aku cuma bermaksud supaya aku mempersatukan ilmu silat pelbagai partai, supaya ilmu silatku dapat dibikin tersiar, sebab itu ada untungnya tidak ada ruginya. Inilah kehendakku, tidak lainnya lagi!"
Hebat kata-kata itu.
Baru sekarang para hadirin pihak Co Kim Jie mengetahui ambekannya Beng Sin Thong.
Teranglah sekali, hantu itu hendak menakluki semua partai.
Mereka jadi berpikir, tanpa rasa kepastian, mana dapat Beng Sin Thong mementang mulut demikian besar, menantang pelbagai partai?
Akibatnya itu pun bakal jadi hebat sekali!
Asal dia menang, sekalipun guru-guru besar, ketua-ketua partai, bakal jadi murid Beng Sin Thong!
Dapatkah itu?
Betapa terhinanya mereka?
Tong Sian Siangjin, dengan mutiaranya di tangan, mementang matanya.
"Tuan Beng, aku si pendeta tua mengagumi sekali semangatmu ini,"
Ia berkata, tenang.
"Jikalau tuan benarbenar mempunyai kepandaian liehay, baiklah, aku suka mewakilkan semua partai untuk menurut perintahmu! Apalagi yang tuan hendak bilang?"
"Ya, masih ada lagi satu urusan kecil,"
Berkata Beng Sin Thong.
"Aku maksudkan Binsan Pay. Partai itu seharusnya diketuai oleh Biat Hoa Hwesio, yang tak beruntung telah menutup mata. Biat Hoa itu sahabat kekalku. Mengenai Binsan Pay aku menghendaki sesuatu yang istimewa. Umpama kata sebentar aku yang menang, Binsan Pay tak usah mengirim murid-muridnya untuk menjadi murid-muridku, Binsan Pay tetap sebagaimana adanya, hanya aku yang bakal mengangkat Kheng Sun, muridnya Biat Hoa, menjadi ketua yang baru."
Bukan main mendongkolnya Co Kim Jie hingga tubuhnya menjadi menggigil.
Menurut Beng Sin Thong itu, kalau sebentar ia kalah, ia mesti menyerahkan kedudukannya, dan Binsan Pay berarti dikuasai oleh pasukan kaisar, yaitu pasukan Gielimkun!
Hampir ia lompat maju, untuk menerjang orang jumawa itu, baiknya Ek Tiong Bouw, yang mendampinginya, lekas-lekas memegang tongkatnya--tongkat Liongtauw Koaythung yang berkepala naga-nagaan.
Ek Tiong Bouw pun kata perlahan.
"Pertemuan hari ini bukan lagi pertemuan Binsan Pay sendiri, disini telah berkumpul partai-partai lainnya. Baiklah biarkan dia berlagaklagak, kita bersabar dulu."
Co Kim Jie dapat dibujuk. Ia pun insyaf bahwa ia sendiri bukannya lawan dari Beng Sin Thong. Jago Siulo Imsat Kang itu tertawa, la lantas berkata pula.
"Aku telah bicara! Nyata tuan-tuan tak menentangnya! Baik, sekarang kita boleh mulai!"
Ia lantas mengangkat tangan kanannya, perlahan-lahan, kedua matanya dibuka, mengawasi tajam pada Tong Sian Siangjin.
Menurut aturan Rimba Persilatan, kalau kedua pihak telah menyetujui cara pertempuran, lantas masing-masing ketuanya mengangkat tangan untuk bersumpah, maka itu, Beng Sin Thong lantas bersiap sedia.
Dengan ini pun ia ingin mendesak Tong Sian Siangjin.
Karenanya, matanya orang-orang kedua pihak lantas diarahkan kepada kedua ketua itu.
Mendadak terdengarlah suara bentrokan kedua tangan.
Itulah bukti bahwa sumpah telah dilakukan.
Kedua ketua itu telah mengadu tangan mereka.
Sebagai kesudahan dari itu, tubuh Beng Sin Thong bergerak limbung, dia terhuyung satu kali.
Tong Sian Siangjin sebaliknya tubuhnya tak bergeming.
Tapi Beng Sin Thong tertawa.
"Loosiansu,"
Katanya.
"sebentar sesudahnya mereka itu, barulah kita yang bertemu pula!"
Sembari masih tertawa, ia lantas mengundurkan diri.
Melihat kesudahannya adu tangan itu, pihak Co Kim Jie menjadi tenteram hatinya.
Teranglah Tong Sian Siangjin menang tenaga dalamnya.
Karena itu Lui Cin Cu berkata sambil tertawa dingin.
"Kelihatannya cuma sebegitu saja kepandaiannya si siluman bangkotan!..."
Akan tetapi, ketika ia-dan yang lainnya juga-melihat Tong Sian Siangjin mengundurkan diri, ia terperanjat Perlahan tindakannya pendeta itu, biarnya dia tenang, dia nampak muram wajahnya.
Kamsie Pun Khong Siangjin menjadi lebihlebih kaget lagi, dia segera berbangkit.
"Sabar, siangjin, jangan kuatir,"
Berkata Khu Bo Seng, ketua Kunlun Pay, yang duduk di sisi kamsie dari Siauwlim Sie itu. Dia mengerti ilmu tabib.
"Loosiansu cuma terserang sedikit hawa sesat, tidak ada bahaya untuknya."
Pun Khong mengawasi ketuanya, lantas hatinya menjadi tenang pula.
Maka ia berduduk kembali.
Kata-katanya Khu Bo Seng sebaliknya membikin tegang hatinya semua ketua partai.
Dari kata-kata itu teranglah Tong Sian Siangjin sudah merasai gempurannya Beng Sin Thong.
Meski demikian, tidak ada satu yang berani menanyakan sesuatu kepada pendeta itu.
Memang tadi, di waktu mengadu tangan, kedua pihak telah menguji kepandaian mereka.
Tanpa tanggung-tanggung, Beng Sin Thong mengerahkan tenaganya dari Siulo Imsat Kang tingkat sembilan.
Tong Sian Siangjin sebaliknya menggunai tenaga dari "Kimkong Puthoay Sinhoat"-"tubuh Kimkong yang tak pernah rusak".
Itulah bocah latihan beberapa puluh tahun, maka juga Beng Sin Thong menjadi terhuyung.
Walaupun demikian, Tong Sian Siangjin tak luput dari serangan hawa dingin luar biasa, yang dari tangannya tersalurkan ke tubuhnya, ke ulu hatinya, hingga untuk sejenak ia merasa beku seluruhnya.
Syukur ia lantas dapat mengerahkan tenaga pula untuk menolaknya.
Di mata umum, Tong Sian menang seurat, tetapi di dalam hatinya, ia mesti mengakui liehaynya hantu ini.
Ia pikir, dilihat dari bentrokan pertama itu, mungkin ia dapat bertahan tiga kali, kalau empat kali, entahlah.
Setelah Beng Sin Thong dan Tong Sian Siangjin sudah duduk pula di kursinya masing-masing, dari rombongannya tuan rumah muncul seorang pendeta India, yang terus berkata dengan nyaring.
"Sudah lama aku mendengar bahwa ilmu silat Siauwlim Pay berdasarkan kepandaiannya guru besar negara kami yaitu Bodhidharma, karena ilmu itu telah tersiar seratus tahun lebih, mungkin telah terjadi banyak perubahannya, maka itu aku yang rendah, dengan tak menghiraukan jalanan ribuan lie, telah datang kemari untuk meminta pengajaran dari para guru Siauwlim Sie."
Tong Keng Thian lantas mengenali pendeta itu ialah A Lo Cuncia, pendeta yang telah bentrok dengannya di Istana Es. Maka ia pikir.
"Kelihatannya cuma Pun Khong Taysu yang dapat melayani dia..."
Tengah ia berpikir itu, Tong Sian Siangjin sudah menunjuk Tay Pie Siansu, salah satu dari delapan belas Lohan, untuk melawannya.
Inilah ia bisa mengerti, Pun Khong kedudukannya seimbang dengan Tong Sian, jadi kamsie itu tidak dapat melayani orang sebawahannya Beng Sin Thong.
Di antara delapan belas Lohan, Tay Pie menjadi anggauta yang tenaga dalamnya paling mahir, maka itu melihat dia yang ditunjuk, orang merasa penunjukan itu tepat, tidak demikian dengan Tong Keng Thian, yang menyangsikannya.
Segera kedua pihak sudah mulai bertempur.
Setelah beberapa jurus, A Lo Cuncia tertawa dan berkata.
"Benarbenar ilmu silat kita ada dari satu pokok!"
Ia lantas menggunai ilmu silat "Tiangkun"
Atau Kepalan Panjang, untuk melayani terlebih jauh. Tay Pie bersilat dengan "Lo-han Kun"
Atau Kepalan Lohan.
Penonton melihat kedua pihak sebanding, maka pertandingan itu menarik hati untuk ditonton.
Pihak delapan belas Lohan sendiri tak kurang perhatiannya, mereka jadi sekalian dapat memperhatikan kepandaian musuh.
Tengah bertanding seru itu, mendadak Tay Pie menggunai tipu silat "Burung bincarung menclok di para-para".
Tangan kirinya menutup musuh, tangan kanannya menyerang ke dada.
Itulah salah satu jurus dari Lohan Ngoheng Kun yang oleh Bu Cu Siansu, ketua generasi ke tiga belas dari Siauwlim Pay, telah diubah hingga menjadi tiga puluh tiga jurus, yang diberi nama "Cong Siauwlim Shacapsha Louw Sinkun".
Serangan ini segera mengubah keadaan.
Dari berimbang, A Lo Cuncia lantas menjadi terdesak.
Pihak delapan belas Lohan lantas menjadi girang.
Mereka pikir, biar pokoknya sama, toh akhirnya ilmu silat Siauwlim Pay terlebih mahir.
Selagi orang berpikir demikian, pertempuran telah berlangsung terus.
Tangan A Lo cuncia kelihatan seperti telah teringkus atau mendadak tangan itu lolos, bukannya dia yang terhajar, tetapi Tay Pie yang kena terserang hingga terdengar suara buk-buk tiga kali!
Orang terkejut karenanya.
Sebaliknya, Tong Sian Siangjin sendiri girang hingga sambil tertawa ia kata bahwa Tay Pie telah memperoleh kemajuan pesat.
Dan tengah ia bergirang, orang melihat perubahan terlebih jauh.
Habis menyerang dengan berhasil itu, tubuhnya si pendeta bangsa India mendadak mental mundur, dia seperti dikagetkan karena tangannya terbakar besi panas.
A Lo Cuncia terdesak, maka itu ia menggunai ilmu yoga untuk meloloskan dirinya dari bahaya, setelah mana, ia membalas dengan serangannya tiga kali beruntun.
Itulah tidak disangka Tay Pie Siansu, yang menyangka akan segera merebut kemenangan.
Walaupun dia kena diserang, dengan mengandal pada kekuatan tubuhnya, dia dapat pertahankan dirinya, dia tak kurang suatu apa.
Sekarang A Lo Cuncia menginsyafi kekuatan tubuh lawannya itu.
Ketika ia maju pula, ia memer-nahkan diri dalam garis-garis Kiu-kiong Patkwa, walaupun demikian, ia terus berada di pihak yang terdesak.
Ia nampak seperti cuma bisa membela diri saja.
Para penonton rombongan Co Kim Jie-jadi bukan hanya delapan belas Lohan-lantas menduga Tay Pie bakal menang.
Di lain pihak, beda daripada tadi, Tong Sian dan Pun Khong memperlihatkan roman sungguh-sungguh.
Ketika para Lohan melihat roman guru mereka, mereka lantas memasang mata.
Baru sekarang mereka lihat, kendati musuh terdesak, dia tak nampak gelagatnya bakal kalah.
Mereka menjadi heran.
Tay Pie melanjuti desakannya, ia seperti sudah berhasil mengurung lawannya.
Ia mengerahkan tenaga Taylek Kimkong Ciuhoat.
Desakannya itu, membikin beberapa saudara seperguruannya berseru kegirangan.
Tiba-tiba terdengar seruannya A Lo Cuncia, keras bagaikan guntur, menyusul itu tubuh Tay Pie terpental mundur hingga tiga tombak, benar ia tidak roboh tetapi dapat segera menetapkan kakinya, terang sudah bahwa ia telah kena dikalahkan!
Orang semua kaget dan heran.
Tay Pie lantas memberi hormat pada A Lo Cuncia seraya berkata.
"Terima kasih, cuncia, untuk kebaikan hati kau!"
A Lo Cuncia membalas hormat sambil membilang.
"Benarbenar liehay ilmu silat Siauwlim Pay! Pengajarannya Bodhidharma telah memperoleh kemajuan yang melebihkan asalnya!"
Kata-kata mereka itu pun membikin bingung murid-murid pelbagai partai.
Hal yang sebenarnya ialah.
Di dalam ilmu silat, A Lo Cuncia kalah dari Tay Pie, sebaliknya, Tay Pie kalah karena ilmu yoga pendeta India itu.
A Lo Cuncia dapat berseru mengguntur karena latihan ilmu yoganya itu membuat suaranya menjadi keras luar biasa.
Itu yang dinamakan ilmu "Deruman Singa"
Atau Saycu Houw.
Untuk yang hatinya tidak kuat, seruan itu dapat mengguncangkannya.
Roman muka pihak Siauwlim Pay menjadi guram, rombongan Lohan ingin lantas minta Pun Khong Siangjin, kamsie mereka, maju menggantikan Tay Pie Sian-su, tapi sementara itu A Lo Cuncia sudah lantas menghampirkan Tong Sian Siangjin untuk memberi hormat secara keagamaan sambil memperkenalkan nama gurunya, akan kemudian menambahkan.
"Teecu telah dipesan guruku untuk mengunjungi Siangjin di gunung Siongsan, maka itu kebetulan sekali kita dapat bertemu disini."
Tong Sian Siangjin membalas hormat.
"Tentang gurumu itu telah lama aku mendengar dan mengaguminya,"
Ia kata.
A Lo Cuncia menyebutkan nama gurunya, ialah Liong Yap, dari pendeta mana ketika Kui Hoa Seng, ayahnya Pengcoan Thianlie, berada di Nepal, telah memperoleh bantuan.
Sekarang ini, usianya pendeta itu sudah mendekati seratus tahun.
Dialah pendeta nomor satu untuk India, dan Tong Sian untuk Tiongkok, maka itu mereka telah saling mendengar nama masing-masing.
Kemudian A Lo Cuncia berkata pula.
"Guruku telah membilangi aku bahwa pada seribu tahun dulu kakek guru Bodhidharma mempunyai ilmu Ie-kin atau Menukar Otot dengan apa ia menyempurnakan ilmu silatnya, hingga ia dapat membangun ilmu silat Siauwlim Pay. Kitab ilmu itu, dua
Jilid banyaknya, sudah lenyap dari negara kami, sebaliknya pihak Siangjin masih menyimpannya, karena itu dapatkah sekarang Siangjin memberi petunjuk padaku agar dapat aku membuka mataku?"
Kata-kata itu bernada pernyataan kurang puas untuk kepandaiannya Tay Pie Siansu.
Adalah aturan pertandingan, siapa menang dia berhak menantang lebih jauh.
A Lo Cuncia menggunai haknya itu, tetapi karena ia kuatir pihak Siauwlim Pay nanti menolak, sekalian saja ia menggunai alasannya itu untuk menantang.
Pihak Siauwlim justeru berkuatir ia nanti mundur sesudahnya menang itu, sekarang ia menantang, itulah kebetulan.
Pihak Siauwlim Pay tidak jeri karena kegagalannya Tay Pie, yang latihannya ilmu Kimkong Puthoay Sinhoat belum mahir, yaitu baru tiga bagian, hingga dia kena dikejutkan Deruman Singa A Lo Cuncia, hingga dia kena terhajar mental.
Kalau Pun Khong Siangjin, dipercaya, tak nanti ia dapat dikalahkan secara demikian.
Tong Sian Siangjin tidak gusar karena kata-kata orang itu.
Sebaliknya, ia bersenyum.
"Tentang kitab Ie-kin Keng itu, sebenarnya aku sendiri belum dapat memahamkannya dengan sempurna,"
Ia menyahut. A Lo Cuncia menyangka orang merendah, ia memberi hormat pula dan mendesak, akan tetapi belum sempat ia membuka mulutnya, pendeta Siauwlim Sie itu sudah menyambungi kata-katanya.
"Ilmu silat kita berdua memang satu pokok dasarnya, dapat kita merundingkannya, hanya untuk itu tak usahlah kesusu sekarang, nanti saja, setelah selesai urusan disini, aku undang taysu berkunjung ke gereja kami, nanti aku menutur segala apa yang aku tahu untuk meluluskan apa yang taysu minta. Aku minta sukalah taysu jangan menggunai terlalu banyak adat peradatan lagi..."
Habis berkata, Tong Sian Siangjin menggeraki tangannnya, untuk mencegah.
A Lo Cuncia mencoba mempertahankan diri dengan memperkokoh kuda-kudanya, yang dibantu dengan ilmu berat tubuh.
Tetapi Tong Sian Siangjin menggunai siasat, dengan cepat ia mengerahkan tenaganya, maka tanpa keburu lagi, pendeta India itu itu merasai tubuhnya terangkat, tertolak mundur.
Maka kesudahannya ia mundur dengan kekaguman.
Para hadirin tak jelas melihatnya, mereka heran.
Tong Sian Siangjin menoleh pada Pun Khong dan kata sambil tertawa.
"Ini orang cuma ingin mengetahui ilmu silat Tiongkok, dia tidak bermaksud buruk, oleh karena itu tak usah kita bersikap keras terhadapnya, untuk merebut kemenangan. Kalau ada murid kita yang berpikir demikian, itulah menyalahi ajaran agama kita. Dengan gagalnya Tay Pie, mungkinkah ada orang yang nanti memandang tak mata pada kita?"
A Lo Cuncia agaknya tidak puas dengan penampikannya Tong Sian Siangjin itu, maka itu ia lantas mengulangi tantangannya secara umum, dengan menyebut-nyebut ilmu silat Tiongkok seumumnya.
Sikap pendeta India ini membikin orang bersangsi.
Orang tahu dia bermaksud cuma untuk mencoba kepandaian, tetapi di samping itu, dialah orangnya Beng Sin Thong dan dia telah mengalahkan Tay Pie Siansu.
Dapatkah itu dibiarkan saja?
Sebaliknya, untuk melawan dia, siapakah yang dapat maju?
Sudah terang dia liehay sekali.
"Peng Go, kau dapat melawan dia,"
Tong Keng Thian kata perlahan.
"Tapi aku pun bukan berasal Tiongkok asli!"
Kata Pengcoan Thianlie bersenyum.
Tong Keng Thian tidak mau maju sendiri, sebab ia pernah bertempur dengan pendeta itu, kalau ia yang maju, biarnya ia menang, orang bisa mendapat alasan di Tiongkok tidak ada orang lainnya lagi.
Selagi suasana demikian rupa, tiba-tiba terdengarlah satu suara tertawa.
Ketika orang menoleh, orang melihat Ek Tiong Bouw bertindak dengan bantuan tongkatnya.
Dia tertawa pula dan berkata.
"Aku si pengemis tua beruntung sekali belum mati, maka itu ingin aku belajar kenal dengan ilmu kepandaian yang mahir dari tuan pendeta dari India!"
Dia berkata demikian tetapi dia tertawa untuk Beng Sin Thong.
Sin Thong menjadi berpikir.
Dia tidak berniat membinasakan Tiong Bouw, maka itu dia telah menyerang dengan pukulan Siulo Imsat Kang tingkat tujuh.
Tapi sekarang dia melihat--di luar sangkaannya--orang dapat sembuh dalam tempo setengah tahun dan sekarang menantang piebu pula.
"Kalau begitu, benar hebat ilmu Siauwyang Hiankang itu,"
Pikirnya.
"Coba umpamakan Lu Su Nio menjelma pula, pasti hari ini aku gagal..."
A Lo Cuncia tidak ketahui bentrokan di antara Beng Sin Thong dan Ek Tiong Bouw, ia pun menyangka Tiong Bouw ialah si pengemis tua yang ia pernah tempur di Istana Es, dan ketika itu hari ia kena dikalahkan Tong Keng Thian, ia mendengar suara tertawanya si pengemis, maka sekarang, mendengar kata-kata Tiong Bouw, yang bernada mengejek, ia mengira ia yang dipandang tak mata, tak dapat ia tahan sabar lagi.
Maka berkatalah ia dengan dingin.
"Apakah Ek Pangcu ingin main-main dengan menggunai senjata tajam?"
"Benar! Taysu telah mencoba tangan kosongmu, bagaimana kalau kita menukarnya dengan senjata?"
Pendeta dari India itu lantas menghunus goloknya, golok mustika besi hitam.
"Taysu datang dari tempat ribuan lie, sebagai tuan rumah tak dapat aku mendahului,"
Berkata Tiong Bouw pula.
"maka itu silahkan taysu yang mulai!"
"Golok atau pedang tak mengenal kasihan, harap pangcu berhati-hati!"
Kata A Lo Cuncia, yang lantas mulai dengan penyerangannya. Di dalam hati ia berkata.
"Taruh kata aku tidak dapat melukakan dia, sedikitnya dapat aku membikin buntung tongkatnya! Aku mau lihat apa dia masih dapat tertawa..."
Pendeta ini mengandalkan goloknya, yang beratnya empat puluh delapan kati, yang tajam luar biasa, sedang ilmu silatnya, yaitu "Hang-liong Hokhouw"
Atau "Menaklukkan Naga, menundukkan Harimau", berdasarkan tenaga dalam yang mahir.
Maka bacokannya yang pertama ini seumpama kata hebat seperti gempuran kepada gunung!
Ek Tiong Bouw sudah lantas menangkis.
Ia tidak berani berlaku alpa.
Dengan begitu, tak ampun lagi, kedua senjata beradu dengan keras, hingga suaranya menulikan telinga.
Tongkat Tiong Bouw juga bukan tongkat sembarangan.
Itulah tongkatnya Liauw In.
Tempo dulu hari Liauw In Hwesio dikalahkan Lu Su Nio di gunung Binsan ini, ketika ia hendak melepaskan napasnya yang terakhir, tongkatnya itu dilemparkannya nancap ke tembok gunung, kemudian tongkat jatuh di tangan Kam Hong Tie, lalu di tangannya Lu Ceng, lantas akhirnya Tiong Bouw yang memiliki.
Maka sekarang, itulah tongkat pusaka Kaypang, Partai Pengemis.
Tongkat itu tidak takut golok mustika, sedang kepandaian silat Tiong Bouw merupakan warisan Kam Hong Tie hingga dia sebenarnya lebih gagah daripada Co Kim Jie, ketua Binsan Pay.
Begitulah kedua senjata sama kuatnya.
A Lo Cuncia heran.
"Aku tidak sangka pengemis ini lebih tangguh daripada pendeta Siauwlim Pay itu,"
Pikirnya.
Karenanya dia jadi tidak berani'meman-dang rendah, maka dia lantas mengeluarkan ilmu goloknya, Hang-liong Toohoat, ilmu golok "Menaklukkan Naga", yang menjadi bagian dari "Hangliong Chio Toohoat", bahkan ia segera mendesak, hingga tampak musuhnya terkurung sinar goloknya itu.
Orang-orang Binsan Pay dan Kaypang terkejut melihat kegarangan pendeta dari India ini, terutama mereka berkuatir lantaran Ek Tiong Bouw baru saja sembuh dari luka akibat serangan Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong, tetapi cepat sekali, mereka dapat menenangkan diri, yaitu begitu lekas ketua Kaypang itu mengasih dengar siulan yang nyaring dan lama.
"Ha, Pangcu telah menggunai Hokmo Thunghoat!"
Antaranya ada yang berseru.
Ilmu silat Hokmo Thunghoat itu, atau ilmu tongkat Menaklukkan Hantu, ialah ilmu silat yang diciptakan Tokpie Sinnie.
Kam Hong Tie mendapatkan ilmu itu dengan perantaraannya Liauw In.
Jumlahnya semua jurus ialah seratus delapan.
Kam Hong Tie mengubahnya itu hingga menjadi terlebih liehay.
Ialah yang mewariskan pada Lu Su Nio dan Ek Tiong Bouw.
Tongkat itu dapat dipakai menotok jalan darah, dapat juga digeraki menurut jalannya ilmu pedang atau golok.
Hanyalah cacad ilmu tongkat ini yaitu dibutuhkannya terlalu banyak tenaga, hingga siapa yang melatih habis seratus delapan jurus, dia perlu beristirahat lama untuk mempulihkan tenaganya.
Oleh karena ini pihak Kaypang, melihat ketuanya maju, bergelisah sendirinya, hati mereka cemas dan berkuatir.
A Lo Cuncia menerima baik sambutannya Ek Tiong Bouw, maka itu keduanya sudah lantas bertempur tanpa banyak bicara lagi.
Ia menggunai golok karena lawannya bergegaman tongkat.
Maka itu berkilau-kilaulah sinar goloknya.
Beberapa kali senjata mereka beradu menerbitkan suara nyaring dan berisik yang membikin telinga ketuban.
Seratus delapan jurus Hokmo Thunghoat terpecah dalam tiga babakan, setiap babakannya tiga puluh enam jurus.
Babakan yang pertama bersifat kekerasan dan babakan yang kedua pengulangan.
Selama babakan yang pertama itu, kedua lawan ini seimbang kosen-nya.
Kelihatan nyata A Lo Cuncia mesti bekerja keras, sebab otot-otot di dahinya terlihat pada bangun.
Para murid Kaypang menantikan dengan bungkam saja.
Di babak yang kedua ini, mereka mendapatkan ketua mereka lebih unggul sedikit.
Ek Tiong Bouw cuma belum sanggup memukul pecah benteng perlindungan diri dari si pendeta India.
Karena babak ketiga sudah lantas dimulai, mereka itu mulai cemas hatinya.
Segera juga terlihat gerakan kedua pihak mulai menjadi kendor.
Tong Keng Thian mengawasi terus, lalu ia berbisik pada Tong Sian Siangjin.
"Mereka mulai mencapai babak yang berbahaya. Kedua pihak cuma menguji kepandaian masingmasing, dari itu tak ada perlunya mereka mengadu jiwa. Bagaimana Siangjin pikir untuk membikin itu seri?"
Justeru itu, mendadak mereka mendengar Deruman Singa dari A Lo Cuncia, deruman mana menyusuli bentroknya kedua senjata, hingga kedua senjata itu terlepas dan jatuh ke tanah.
Lebih dulu golok yang jatuh.
Tongkatnya Tiong Bouw jatuh disebabkan deruman hebat itu.
A Lo Cuncia merasa berat merebut kemenangan seperti melawan Tay Pie Siansu tadi, ia lantas mengasih dengar seruannya yang maha dahsyat itu, buat membikin kaget dan lemah pihak lawan.
Ia ingin hati Tiong Bouw gentar.
Tatkala itu Tiong Bouw baru bersilat dengan jurusnya yang ke delapan puluh satu.
Kedua pihak tidak ada yang terluka.
Oleh karena golok yang terlepas lebih dulu, menurut pantas Ek Tiong Bouw yang menang, tapi ada pertimbangan untuk A Lo Cuncia.
Ialah dia baru habis menempur Tay Pie Siansu.
Beng Sin Thong menganggap Tiong Bouw menang disebabkan dialah tenaga baru.
Maka Tong Sian Siangjin menyetujui pertandingan itu dianggap seri.
Demikianlah keputusan diambil.
Pihak Kaypang kurang puas, tetapi mengingat pangcu mereka tidak kurang suatu apa, mereka berdiam saja.
Di samping itu mereka pun berpikir, kalau pangcu itu mengeluarkan terlalu banyak tenaga, akibatnya nanti berbahaya.
Segera setelah itu Can Bit Hoatsu maju ke depan.
Melihat majunya orang suci itu, Phang Lim tertawa dan berkata.
"Sekarang datang giliranku!"
Tanpa menanti sampai ditantang, ia mengajukan dirinya. Ia seperti berkelebat dengan ilmunya ringan tubuh, hingga para hadirin kagum Can Bit Hoatsu merangkap kedua tangannya.
"Aku bersyukur yang liehiap sudi memberi pelajaran kepadaku!"
Katanya merendah.
"Bagaimana caranya kita main-main? Silahkan liehiap memberi petunjukmu!"
Phang Lim berpikir sebentar, terus ia tertawa.
"Terima kasih yang kau sudi meminta petunjukku,"
Katanya.
"Tetapi, aku tidak memikir untuk menang sendiri, dari itu baiklah kau keluarkan saja kepandaianmu yang paling istimewa! Hoatsu seorang murid Sang Budha, kau biasa duduk diam menjalankan agamamu, baiklah kau pun berduduk saja."
Umumnya para hadirin heran.
Dengan saling berduduk diam, kepandaian apa yang hendak diadu?
Tengah mereka itu keheranan, mereka melihat Phang Lim menunjuk ke arah kedua bocah pohon di depan mereka.
Nyonya itu berkata.
"Dengan duduk diam di atas bantal rumput tak akan terlihat suatu apa, maka itu marilah kita bercokol di atas pohon itu! Siapa yang jatuh terlebih dulu dialah yang kalah. Tentang tipu apa yang digu-nai untuk membikin jatuh itu, terserah kepada masing-masing!..."
Usul itu membuat orang tambah heran, terutama sebab jaraknya kedua pohon satu dengan lain lebih dari sepuluh tombak. Tenaga "Pekkhong ciang"
Atau pukulan tangan kosong, tak nanti mencapai begitu jauh.
Yang dapat digunakan cuma senjata rahasia.
Sebaliknya orang tahu, duadua Can Bit Hoatsu dan Phang Lim, sebagai jago-jago tua dan kelas satu, biasanya tidak pernah menggunai senjata rahasia.
"Liehiap sudi memberi pelajaran padaku, bagus, tak berani aku menampik!"
Berkata orang pertapaan itu.
"Nah, silahkanlah!"
Phang Lim tidak berlaku sungkan.
Ia lantas menjejak tanah, untuk mengenjot tubuhnya, hingga dengan satu kali melesat saja tibalah ia di atas pohon, menaruh kaki di atas sebatang cabang yang kecil.
Disitu ia lantas menekuk kedua kakinya, untuk duduk bersila.
Ia duduk tak berkutik lagi.
"Bagus!"
Banyak orang berseru saking kagum, tak kecuali mereka yang di pihaknya Beng Sin Thong.
Selagi orang berseru itu, Can Bit Hoatsu juga sudah lantas berlompat naik.
Ia hanya tidak langsung seperti si nyonya, di tengah jalan ia berjumpalitan satu kali, tetapi ia pun memperlihatkan kegesitan dan entengnya tubuhnya.
Ketika ia mulai duduk bersila, cabang pohon yang menjadi alasannya itu bergerak turun ke bawah, lalu naik pula dan berdiam tetap.
Phang Lim duduk atas sebuah pohon teh, begitu ia melihat Can Bit sudah duduk tetap, ia tertawa dan berkata.
"Hoatsu, aku hendak menggunai bunga untuk menghormati Sang Budha, maka itu apakah kau sudi menerimanya!"
Lalu dengan tangkai bunga merah ia menimpuk ke arah lawannya. Can Bit duduk untuk terus tunduk seraya kedua tangan bersi-dakap, kapan ia mendengar suara si nyonya, ia mengangkat kepalanya.
"Terima kasih!"
Sahutnya.
Aneh adalah bunga teh yang merah itu, yang melayangnya cepat, akan tetapi tiba di atasan kepala si pendeta, lantas berdiam, baru kemudian dengan perlahan-lahan semuanya turun ke bawah.
Kejadian itu terulang hingga tangkai bunga yang ketiga, yang semua seperti menclok di atas jubah.
Para hadirin kaum muda tidak tahu artinya timpukan bunga itu, tetapi kaum tua yang ilmu silatnya mahir, mengetahuinya dengan baik.
Itulah ilmu kepandaian "Hui-hoa tekyap"
Atau "Menerbangkan bunga, memetik daun".
Itulah ilmu yang membutuhkan tenaga dalam yang mahir sekali.
Sebenarnya, siapa terkena timpukan bunga atau daun, dia dapat tertotok binasa atau terluka enteng atau berat terserah kepada si penyerang.
Tapi Can Bit liehay, ketika ia mengangkat kepalanya, ia menangkis serangan dengan tiupan hawa panas, hingga ia dapat melenyapkan tenaga menyerang bunga itu, yang jadi turun perlahan seperti daun rontok.
Menyaksikan itu, diam-diam Keng Thian berduka.
Dengan perlahan ia kata pada isterinya.
"Benar liehay ilmu silat Biteong dari partai Agama Merah! Dilihat begini, walaupun iema tidak bakal kalah, untuk merebut kemenangan pastilah tak gampang..."
Di sebelah sana, Phang Lim terdengar tertawa, disusuli kata-katanya yang penuh kegembiraan.
"Bunga merah harus dipasangi dengan daun hijau!"
Ia lantas memetik daun dan melemparnya, dan bagaikan terbawa angin, daun-daun itu terbang melayang-layang ke arah si pendeta.
Karena terpencarnya daun maka lantas dapat dikenali, ilmu melempar yang digunakan yaitu "Thianlie sanhoa", ilmu silat "Bidadari menyebar bunga".
Inilah serangan hebat.
Kalau bunga tadi digunai setangkai demi setangkai, daun ini dengan banyak jumlahnya dan datangnya pun dari pelbagai penjuru angin.
Sulitnya lagi selagi bercokol di atas pohon, tak dapat orang menangkis dengan menggeraki tubuh atau berkelit dengan berkisar, atau orang bakal jatuh dari atas tempat bercokolnya itu.
Pula walaupun orang bernapas kuat, tak dapat dia meniup terus menerus ke segala penjuru!
Can Bit tapinya tidak menjadi gugup.
Cuma tubuhnya menggigil sedikit, tubuh itu lantas mendak turun mengikut cabang pohon.
Ia bersidakap terus dan alisnya dikasih turun.
Sama sekali ia tidak menggunai tangannya untuk menangkis.
Seperti bunga tadi, semua daun itu turun ke tubuhnya, berdiam di atas jubahnya, hingga sebentar saja ia seperti keuruk daun-daun teh, seluruhnya nampak hijau.
Menyaksikan itu, Tong Sian Siangjin berkata.
"Mendiang guruku pernah membilangi, ilmu Biteong dari Agama Merah berasal dari India juga, jikalau itu telah dipelajari sempurna, hasilnya mirip dengan ilmu partai kita, maka sekarang terbuktilah benarnya kata-kata itu!"
Ilmunya Can Bit Hoatsu itu ialah yang dinamai "Sie Bie Kaycu"
Dan ilmu itu mirip dengan ilmu "Kimkong Puthoay Sinhoat"
Dari Siauwlim Pay. Sie Bie Kaycu berarti "biji mosterd sebesar gunung Sumeru,"
Atau lebih jelas lagi, kalau ilmu itu dapat dipahamkan sampai di puncak kemahiran, kecil tapi besar artinya, besar seperti gunung suci pusat kaum Budhist itu.
"Sayang dia belum mencapai kemahirannya,"
Berkata Pun Khong Siangjin.
"tetapi dia sanggup melayani Phang Liehiap, itu pun sudah bagus sekali "
Pun Khong ini telah mencapai ilmu "Kimkong Puthoay"
Sampai di tingkat ke tujuh, dia berimbang dengan Can Bit, tetapi kalau Tong Sian Siangjin yang menyambut bunga atau daunnya Phang Lim, tentunya bunga dan daun itu dapat dibikin hancur.
Maka itu, Phang Lim dan Can Bit itu dapat dianggap berimbang.
Nyonya Phang mengerutkan alis melihat daun dan bunganya tak dapat membikin lawan tergelincir dari atas pohon, tetapi ia cerdik, ia lantas tertawa gembira, ia kata.
"Hoatsu, benar kau liehay sekali, tak kecewa kau menjadi pendeta berilmu tinggi, hanya sayang kau masih belum mencapai batas melihat tak kelihatan, mendengar tak kedengaran, dan membaui tak merasa!"
Kata-kata itu ocehan belaka, Phang Lim mengatakannya secara sembarangan, sebagaimana ia berbicara sambil tertawa.
Tapi sementara itu diam-diam tangan kanannya memotes seraup daun dan tangan kirinya memetik dua tangkai bunga, bunganya diremas hancur bagaikan bubuk.
Setelah itu ia mulai menyerang lagi, mulanya ia menyebar daunnya, terus itu disusul dengan ditiupnya hancuran bunga itu.
Can Bit Hoatsu melihat datangnya serangan itu, ia melayani seperti semula.
Ia membuatnya daun-daun jatuh seperti tadi.
Hanya ketika ia menghalau bubuk bunga, bubuk tak dapat diruntuhkan semua seperti daun, bubuk berhamburan, hingga ada yang masuk ke hidungnya!
Bubuk itu tidak dapat membahayakan padanya, tetapi bubuk mendatangkan rasa gatal, dari itu tak perduli ia bertahan, ia toh berbangkis juga dua kali beruntun!
Mendengar dan melihat orang berbangkis, Kang Lam menganggapnya jenaka, tak dapat ia menguasai hatinya yang kebocah-bocah-an, lantas ia tertawa.
Perbuatan ini diturut oleh anak-anak muda sebayanya hingga ramailah suara tertawa mereka itu.
Karena ini, orang-orang tua pun turut bersenyum di luar keinginan mereka.
"Phang Liehiap terlalu jail!"
Kata Kim Kong Taysu yang menggeleng-geleng kepala. Paras mukanya Can Bit Hoatsu menjadi guram, ia mendongkol sendirinya, maka ia mengasih dengar suaranya.
"Ada kehormatan harus dibalas dengan kehormatan! Nah inilah hormatku!"
Ia lantas memetik seraup daun dengan tangan kiri dan memotes segenggam cabang kecil sebesar sumpit, mulanya ia menyebar dulu daunnya itu, lalu menyusul sumpit cabang kayunya.
Ia menelad perbuatan si nyonya.
Phang Lim melihat datangnya serangan, ia bukan menyambuti dengan berdiam seperti lawan pendeta itu, ia menyambuti dengan sebaran daun juga, untuk menangkis.
Ia membuatnya semua daunnya Can Bit runtuh.
Itulah mirip orang mengadu senjata rahasia.
Hanya, selagi, daun-daun itu beradu, berbareng terdengar juga suara berisik.
Inilah suara cabang-cabang pohonnya si pendeta.
Dia bukannya menghajar daunnya Phang Lim, untuk memunahkannya, dia justeru menyerang cabang pohon di atas mana si nyonya bercokol.
Cabang-cabang pohonnya sebesar sumpit itu datang beruntun bagaikan jemparing.
Dia pula bukan menyerang cabang yang diduduki, hanya ujungnya, untuk menghalau yang mana, nyonya Phang tidak mempunyai tangan cukup panjang untuk diulur.
Cabang itu sendiri panjang dua tombak lebih.
Akalnya Can Bit ini ialah yang dinamakan "Siajin siansia ma", atau.
"Memanah orang, lebih dulu memanah kudanya". Itulah akal umum, hanya pelaksanaannya yang sukar, bukan saja jarak di antara mereka belasan tombak, pula Can Bit menyerang cabang besar dengan cabang kecil sebesar sumpit. Tapi pendeta itu mempunyai tenaga dalam yang mahir dan incarannya pun jitu, maka berulang kali serangannya itu mengenai tepat, bahkan nancap dan nembus, hingga sabansaban terdengar suaranya yang berisik itu. Di atas kuda, biarnya kuda lagi kabur, orang bisa berkelit, tidak demikian di cabang pohon.
"Bangsat gundul ini hebat,"
Pikir Phang Lim. Ia mengerutkan alis.
"Kalau terus-terusan begini, cabang pohon yang aku duduki ini bisa patah juga. Tidak bisa lain, aku mesti menurut buat."
Di dalam halnya kedua orang ini, Phang Lim kalah imbangan.
Kebetulan saja, cabang tempat duduknya itu kalah besar dengan cabangnya Can Bit, kalau mereka main menyerang cabang, cabang si nyonya bakal runtuh terlebih dulu.
Tenaga dalam mereka berdua berimbang.
Kang Lam dan Tan Thian Oe semua berdiri di belakang Tong Keng Thian, bocah Jenaka dan binal itu tak dapat mengendalikan rasa hatinya.
"Celaka! Celaka!"
Demikian dia berteriak-teriak melihat Phang Lim terancam bahaya itu. Sedang tadi dialah yang tertawa-mentertawakan Can Bit Hoatsu. Baru ia berseru-seru itu, atau ia segera tertawa besar.
"Hahaha! Hahaha! Hahaha! Menang! Menang!"
Tengah Kang Lam berseru-seru dan tertawa itu, pertempuran yang berlangsung telah mengakibatkan kagetnya Phang Lim.
Cabang pohonnya tak dapat bertahan terlalu lama, cabang itu rusak dipanah sekian lama itu.
Tak dapat ia duduk lebih lama pula di atas cabangnya itu, mesti ia jatuh.
Kalau ia jatuh, ialah yang kalah.
Maka ia tidak mau menyerah, ia mencoba bertahan.
Secara demikian pertandingan masih berjalan terus.
Di dalam saat bahaya terjatuh itu, Phang Lim mengangkat membal tubuhnya sambil tangannya menyerang dengan bunga, menyerang daunnya Can Bit.
Kali ini ia menyerang benar-benar.
Dua helai bunga merah mengenai kempolannya Can Bit Hoatsu di betulan jalan darah bweelu.
Can Bit terkejut, tubuhnya tergelincir.
Benar Phang Lim jatuh tapi masih sempat ia menjejak cabangnya, membikin tubuhnya mumbul naik tiga kaki.
Itulah saat Kang Lam tertawa girang karena menyangka si nyonya menang.
Can Bit juga liehay, tengah Kang Lam tertawa terbahakbahak, ia mengerahkan tenaganya, ia menjumpalitkan tubuhnya, dari itu, bukannya ia jatuh, tubuhnya juga mental naik, naik tinggi sebatas cabang pohon tadi.
Ketika ia turun pula, ia berdirinya lempang dan tegak, turunnya perlahan.
Tidak demikian dengan Phang Lim, tubuh dia ini turun terlebih cepat.
Dengan demikian, dengan sendirinya dia berada di sebelah bawah Can Bit, sedang tadinya Can Bit di bawahannya.
Kang Lam melongo, ia heran dan bingung.
Hebat pertandingan itu.
Para guru besar mengerti kenapa Can Bit Hoatsu dapat turun terlebih perlahan.
Itulah sebab si pendeta menggunai ilmu memberatkan tubuh.
Tubuh Phang Lim turun terus, terpisahnya dari tanah tinggal lagi tiga kaki.
Kang Lam putus asa hingga dia berseru.
"Ah, kalah juga!..."
Justeru si binal ini mengasih dengar suara dari putus harapannya itu, mendadak Phang Lim menginjakkan kaki kanannya di belakang kaki kirinya, terus tubuhnya membal naik, hingga ia menjadi berada di atas pula, sebaliknya Can Bit Hoatsu terus turun hingga akhirnya dia menginjak tanah, karena dia telah tidak berdaya pula.
Dengan cepat maka menyusullah Phang Lim turun.
Tampik sorak gemuruh menyambut kesudahannya pertandingan itu.
Tak perduli bagaimana duduknya hal, si nyonyalah yang menang, sebab perjanjian mereka ialah siapa turun lebih dulu dialah yang kalah.
Hanyalah aneh sikapnya Phang Lim, ia menang tetapi ia tidak bergirang, tidak ada tertawa atau senyumannya walaupun ialah seorang yang paling bergembira dan gemar guyon.
Ia ragu-ragu atas kemenangannya itu.
Ia ragu-ragu lantaran ada hal yang ia kurang mengerti.
Can Bit Hoatsu sebaliknya tidak menyangsikan sesuatu, ia rela kalah, maka itu sembari merangkap kedua tangannya, ia kata kepada lawannya.
"Phang Liehiap benar liehay, aku si pendeta kagum sekali."
"Hoatsu terlalu memuji,"
Phang Lim berkata.
"Aku menang karena kebetulan saja. Baru-baru ini di Istana Es aku telah keterlepasan kata-kata, aku harap hoatsu tak taruh di hati!"
Orang semua girang atas kemenangan Phang Lim ini, malah Co Kim Jie yang paling dulu menyambut, untuk memberi selamat dan menghaturkan terima kasih.
Yang lainnya turut memberi selamat juga.
Justeru itu Phang Lim mendengar suara tertawa perlahan tapi nyata sekali di telinganya.
Ia heran hingga ia terperanjat.
Ia melihat tegas, di pihaknya tidak ada orang yang tertawa, apa yang tampak melainkan senyuman.
Pula suara tertawa itu seperti tak ada lain orang yang mendengarnya.
Ia ingat ketika Beng Sin Thong mempermainkan Tong Sian Siangjin, Sin Thong pernah menggunai ilmu penyaluran suara yang dinamakan "Thiantun Toan-im", hingga dia dapat bicara seperti berbisik pada orang yang diajak bicara tanpa lain orang dapat turut mendengarnya.
"Mungkinkah Beng Sin Thong tertawa mengejek aku?"
Terkanya.
"Ah! Ataukah mungkin ada orang membantu aku? Memang tak masuk diakal itulah suara Beng Sin Thong! Bahkan kalau dia mendapat tahu, mestinya dia gusar!..."
Tertawa itu juga tak bernada mengejek.
Tiga hal membingungkan wanita gagah ini.
Benarkah ada orang membantu secara diam-diam kepadanya?
Kecuali Beng Sin Thong, siapa lagi disitu yang mengerti "Thiantun Toanim"?
Kalau benar ada orang membantui ia, mesti orang itu ialah ini orang yang tertawa.
Kenapa dia terus merahasiakan dirinya?
Tengah Phang Lim bingung itu, di pihak Beng Sin Thong sudah muncul seorang, yang menantang langsung pihak Butong Pay.
Katanya nyaring.
"Aku Touw Ciauw Beng telah mendengar hebatnya ilmu pedang Citeapjie Ciu Lian-hoan Toatbeng Kiam dari Butong Pay, aku tidak mengenal diri sendiri, ingin aku belajar kenal dengan ilmu itu, maka itu harap pihak Butong Pay suka memberikan pelajaran kepadaku!"
Lui Cin Cu menjadi ciangbunjin yang termuda, bisa dimengerti bahwa ia masih kurang pengalamannya, ia tidak tahu siapa Touw Ciauw Beng itu, maka ia memikir mau memilih salah satu adik seperguruannya yang liehay untuk melayaninya.
Selagi ia memikir itu, ia mendengar Touw Ciauw Beng tertawa pula dan menambahkan kata-katanya.
"Beberapa kali sudah, orang bertempur satu lawan satu, jikalau itu dilanjuti, rasanya kurang menarik hati. Lantaran mendengar liehaynya ilmu barisan pedang Kiukiong Patkwa Kiamtin. Aku minta sukalah kau pimpin orang-orangmu yang liehay membangun tin itu, untuk aku belajar kenal dengannya!"
Tin, atau barisan, ilmu pedang itu, mesti digeraki oleh sembilan orang yang telah terlatih sempurna, sebab orang mesti mengikuti Patkwa garis sembilan (kiukiong).
Semenjak diciptakannya oleh Uy Yap Toojin di akhir Ahala Beng, selama seratus tahun lebih, baru tiga kali tin itu digunakan, yang pertama terhadap Liekiamkek Giok Lo Sat, kedua di waktu melayani hantu besar Han Tiong San dan Yap Heng Po suami isteri, dan yang ketiga, belasan tahun yang sudah, terhadap sembilan murid Lengsan Pay selama pertempuran di atas gunung Ngobie San.
Maka hebat tantangannya Touw Ciauw Beng itu.
Semua orang lantas mengawasi dia.
Salah satu dari Butong Samloo, Tiga Tertua dari Butong Pay, yaitu Han In Toojin, serta Kim Kong Taysu, tiangloo dari Ngobie Pay, ketahui baik siapa Ciauw Beng, mereka terperanjat.
Sebenarnya Touw Ciauw Beng bergelar Khamliekiam, murid nomor dua dari Han Tiong San, ketua dari Lengsan Pay.
Ketika terjadi pertempuran di Ngobie San itu, Han Tiong San hadir bersama lain muridnya tapi Ciauw Beng tidak turut serta.
Dia pernah sutee, adik seperguruan, dari Yap Thian Jim.
Setelah kekalahannya Lengsan Pay itu, dia lenyap dari dunia Kangouw.
Baru kemudian orang mendengar dia telah berguru pula pada seorang ahli pedang yang bersembunyi di pulau Tiangbeng To di laut Tanghay.
Kim Kong Taysu sudah berumur mendekati delapan puluh tahun, ia sepantar dengan Han Tiong San, ia tahu Ciauw Beng murid terpandai pemimpin Lengsan Pay, itu, bahkan dia telah melampaui ketuanya, sekarang dia muncul pula, mungkin dia telah mempunyai kepandaian yang istimewa, tidak demikian, tidak dapat dimengerti dia berani menantang berbareng sembilan musuh, bahkan sebuah tin.
Dia mestinya sudah berumur hampir enam puluh tahun tetapi sekarang dia nampak gagah seperti orang berusia lebih kurang empat puluh.
Itulah bukti bahwa dia telah menguasai tenaga dalam yang mahir.
Han In Toojin ialah paman gurunya Lui Cin Cu, ia telah menghadiri pertempuran Han Tiong San suami isteri melawan Butong Pay, maka itu melihat Ciauw Beng, ia menduga orang hendak membalas kekalahan gurunya dulu hari itu.
Ia terperanjat tapi ia tidak berkuatir.
Ia menyangsikan orang dapat melebihkan liehaynya gurunya.
Lui Cin Cu mirip dengan namanya itu.
"Lui cin"
Berarti "gempuran guntur".
Ia bertabiat keras.
Hanya semenjak menjadi ciangbunjin, ia dapat mengubah banyak, akan tetapi, mendengar suara Ciauw Beng, ia mendongkol sekali.
Ia ditantang memimpin tin-nya itu!
Coba ia tidak ingat ialah ketua Butong Pay, pasti ia sudah umbar kemendongkolannya itu.
Toh ia kata, sengit.
"Hm! Tin kami itu cuma disediakan untuk orang yang benar-benar berilmu tinggi. Tuan bicara begini besar, mungkin tuan benar mempunyai kepandaian istimewa, atau tuan pantas disebut orang berilmu tinggi, akan tetapi nama tuan, baru kali ini aku mendengarnya! Bagaimana sebenarnya kepandaian tuan, itu harus dibuktikan dulu, baru kita mengetahui! Aku tidak merubah aturan kami, kau baiklah mencoba-coba dulu dengan murid-muridku!"
Mendengar suara itu, Ciauw Beng pun tidak senang.
"Hm!"dia memperdengarkan ejekannya, sikapnya jumawa.
"Memang aku bukan orang berilmu akan tetapi tin kamu belum tentu cuma dapat dipecahkan orang berilmu saja! Keliehayan tin itu masih mesti dibuktikan dulu! Kata-kataku tidak dapat ditarik pulang, setelah aku mengatakannya, aku pun tak dapat merubah aturan!"
Suasana lantas menjadi tegang sekali. Kedua pihak berkeras kepala.
"Ciangbun,"
Berkata Han In Toojin kepada ketuanya.
"saudara Touw Ciauw Beng ini ialah muridnya Buhak Taysu Han Tiong San ketua dari Lengsan Pay, dan gurunya itu dulu pernah bermain-main bersama suheng sekalian di dalam tin kita. Oleh karena itu, rasanya tak apa jikalau ciangbun suka mengalah membiarkan dia ini mencoba tin kita."
Touw Ciauw Beng membuka matanya, dia memandang ke langit.
"Sekarang tahulah kamu siapa aku?"
Katanya, tetap terkebur. Lui Cin Cu mengendalikan dirinya.
"Jikalau susiok kata begitu, baiklah..."
Ia bilang, terpaksa.
Ia lantas menyebutkan nama sembilan orang partainya, ialah tiga sutee, adik seperguruan, tiga sutit, keponakan murid, dan tiga teecu, muridnya.
Ia menyuruh mereka itu mengaturnya tin-nya, sembari tertawa dingin, dia kata.
"Tuan sendiri yang menantang hendak mencoba tin kami, baik!-Siong Sek Sutee, kamu baik-baiklah menyambut orang berilmu ini!"
"Hm!"
Ciauw Beng bersuara dingin.
"Jadinya Lui Toaciangbun tidak turun tangan sendiri! Rupanya Toaciangbun menganggap aku si orang she Touw tak sesuai menerima pengajaran dari kau! Baik! Bagaimana andaikata aku si orang she Touw berhasil menoblos tin kamu?"
"Biarlah kita bicara nanti, setelah sampai waktunya!"
Kata Lui Cin Cu keras.
"Tuan masih belum memasuki tin, apakah bukan masih terlalu siang untuk mengatakan kesudahannya?"
Ciauw Beng kembali mengasih dengar "Hm!"
Dan tertawa yang nyaring.
"Kalau kau bilang begitu, baiklah!"
Katanya.
"Baik sebentar kita bicara pula!"
Ia berkata terkebur, didalam hatinya sendiri, ia kata.
"Sekarang kau boleh berjumawa! Kau tidak turun tangan sendiri, itulah terlebih baik lagi! Biar aku robohkan tinmu ini, untuk merobohkan dahulu pamormu! Habis itu nanti aku paksa kau turun tangan juga!"
Maka tanpa mengotot lebih jauh, ia menghunus pedangnya, terus ia bertindak masuk dalam barisan Butong Pay, yang dengan cepat sudah diatur Siong Sek Toojin bersembilan.
Pedang Ciauw Beng yang dinamakan Khamlie kiam, atau pedang Khamiie-Khamlie ialah namanya suatu garis dari Patkwa-istimewa sekali.
Pedang pendek biasa dua kaki delapan dim, dan pedang panjang tiga kaki enam dim, tapi pedangnya ini empat kaki lebih, lebarnya sekira tiga jeriji tangan.
Seluruh pedang bersinar merah tua keungu-unguan.
Melihat itu Han ln Toojin pun heran hingga ia menduga kepada pedang ilmu sesat.
Ciauw Beng bertindak memasuki pintu "soanmui", yang dijaga Leng It Piauw, adik seperguruan Lui Cin Cu.
Dia ini, dengan pedang di dada, mundur setindak membiarkan orang dapat masuk tanpa rintangan.
Lantas penyerang itu menggeraki pedangnya yang mirip pisau belati.
Anginnya itu keras dan berhawa panas, sampai It Piauw terperanjat.
Kedua penjaga pintu-pintu kian-mui dan cinmui lantas bergerak, untuk mengurung.
Ketika mereka menyerang, Ciauw Beng menangkis, meski demikian, dia dipaksa mundur ke tengah kalangan.
Dengan bergeraknya seluruh tin, dia benarbenar lantas kena terkepung.
Ke sembilan jago Butong Pay itu sudah terlatih, benar mereka merasakan hawa panas tetapi mereka mengurung terus.
Kemana Ciauw Beng bergerak, dia terin-tang.
Tak ada lowongan untuk diserbu dan dilewati.
Kesembilan pedang Butong Pay seperti merupakan jala, makin lama bergeraknya makin rapat.
Sia-sia belaka si penyerang mencoba menoblos kurungan itu.
Walaupun demikian, dia sebaliknya tak dapat dirobohkan.
Dia selalu dapat membela diri.
Lui Cin Cu melihat selatan pihaknya bakal menang, dia kata dingin.
"Orang ini omong besar, aku menyangka dia mempunyai kepandaian luar biasa, siapa nyana dialah tombak dengan ujung lilin!"
"Jangan kita lekas memandang enteng kepada lawan,"
Berkata Han ln Toojin, sang paman.
"Kau lihat tindakan kakinya, dia dapat menginjak garis-garis kiukiong patkwa dengan tak kacau. Aku kuatir dia lagi melepas umpan..."
"Tin pedang kita rapat sekali, jikalau dia memancing, kurungan bakal jadi semakin rapat,"
Kata Lui Cin Cu, berkukuh.
"Dengan begitu dia bakal melekaskan kekalahannya!"
Paman itu berdiam.
Ia merasa ketua partainya terlalu memandang enteng kepada lawan, tapi melihat tin-nya demikian rapat dan kokoh, hatinya tenang juga.
Tak lama, Siong Sek Toojin mengangkat pedangnya cepat sekali.
Itulah suatu isyarat.
Delapan kawannya lantas mendesak.
Kontan Ciauw Beng terdesak ke arah sie-mui, pintu mati.
Dia nampak repot.
"Bagaimana, susiok?"
Tanya Lui Cin Cu pada pamannya. Han In Toojin mengawasi, ia mengangguk perlahan.
"Dalam rintasan ini mungkin kita tak kalah..."
Walaupun demikian, ia heran.
Semenjak dimulai pertempuran, selalu pihak Butong Pay yang menang unggul, untuk itu, tak usah orang berkutat memeras peluh.
Akan tetapi kenyataannya, kesembilan imam keringat...
Tengah imam ini berpikir keras, ia mendengar Ciauw Beng bersiul nyaring, menyusul mana, ketika dia meluncurkan pedangnya, ujung pedang itu menyemburkan api!
Leng It Piauw adalah orang yang pertama menjadi sasaran, ia kaget hingga tak sempat ia berdaya.
Sebelah mukanya kena tersemprot api itu.
Dengan begitu dengan sendirinya terbukalah satu keretakan atau lowongan.
Tanpa menyianyiakan ketikanya, Ciauw Beng menerjang guna meloloskan diri dari kurungan.
Dia menyerang hebat ke empat penjuru.
Tin kiukiong patkwa itu lantas menjadi kacau.
Kemana pedang Ciauw Beng menyambar, disana mesti ada orang yang terluka.
Siong Sek Toojin mendadak berlompat, diturut oleh tiga kawannya.
Mereka bergerak dari arah yang berlainan.
Tindakan mereka rapi di garis-garis kian, kun, cin dan twee.
Tapi Ciauw Beng menyambutnya sambil berseru, pedang diputar.
Kembali terlihat sinar apinya pedang itu.
Kali ini runtuhlah tin yang sangat diandalkan Lui Cin Cu.
Sembilan imam roboh semua, semuanya terluka.
Yang terparah ialah Siong Sek Toojin dan Leng It Piauw, muka mereka terbakar hangus, lengan mereka sebelah terpapas.
Lengan bawahan pundak Ciauw Beng juga terluka duaduanya, terkena pedangnya Siong Sek Toojin dan Leng It Piauw, cuma itulah luka di kulit, luka tak ada artinya.
Touw Ciauw Beng ingin membalas sakit hati, sepuluh tahun lebih ia menyembunyikan diri di dalam pulau menuntut pelajaran ilmu pedang dari Kham Lie Tuu, mema-hamkan ilmu pedang Khamlie kiam.
Oleh gurunya, ia dihadiahkan pedangnya itu, pedang Khamlie kiam yang liehay, yang dapat menyemburkan api.
Kalau pesawat di gagang pedang ditekan, maka meletuslah bahan apinya, yang disembunyikan di dalam pedang.
Ia juga diajarkan ilmu tin rahasia, maka itu, dengan sendirinya, ia dapat memasuki garis patkwa dari tin Butong Pay itu, hingga dengan pedangnya yang liehay ia meruntuhkannya, ia hanya tidak menyangka, ia masih kena terlukakan, walaupun cuma luka di kulit.
Lui Cin Cu kaget berbareng malu dan gusar.
Dengan tindakan perlahan, Ciauw Beng menghampirkan.
"Beruntung aku si orang she Touw dapat lolos dari dalam tin,"
Ia kata sambil tertawa.
"Sekarang Lui Ciangbun hendak membilang apa, aku suka mendengarnya!"
Tanpa menghiraukan lukanya, lawan ini mendesak musuhnya.
Ia bersikap sabar tetapi keren.
Dengan itu ia mau memaksa Lui Cin Cu turun tangan sendiri.
Parasnya ketua Butong Pay itu menjadi pucat, lalu guram.
Bukan main menyesalnya ia, yang ia telah tidak turun tangan memimpin sendiri tinnya itu.
Ia pun bingung.
Kalau ia turun tangan, sudah kasip.
Kalau ia diam saja, mana dapat?
Kalau ia turun tangan dan menang, itu tak ada artinya.
Lawan habis bertanding hebat dan sudah terluka juga.
Ia pun menyangsikan ia bakal dapat mengalahkan jago Lengsan Pay itu...
Kalau ia kalah, kemana ia mesti menaruh mukanya?
Dalam kesangsiannya itu, Lui Cin Cu mencekal gagang pedangnya.
Saking terpaksa, ia berniat juga turun tangan.
Hanya, belum sampai ia mengangkat kaki disana muncul seorang muda yang kurus, yang sembari maju berkata dengan nyaring.
"Ketua Butong Pay itu orang dengan martabat apa? Kau sudah terluka, cara bagaimana kau masih berani menantang? Hm! Sekalipun aku, tidak dapat aku turun tangan melayani kau!"
Pemuda itu ialah Kang Lam si Jenaka dan berandalan.
Sudah pasti Touw Ciauw Beng tidak memandang mata seorang bocah.
Bukankah ia telah berhasil merobohkan sembilan imam gagah?
Maka ia mengawasi, dingin.
"Kau makhluk apa?"
Katanya, menghina.
"Kenapa kau ngaco belo? Kenapa kau berani mengacau di dalam medan adu jiwa ini? Lekas kau menggelinding pergi! Atau aku terpaksa memberikan kau rasa satu tusukan pedang!"
Kang Lam tertawa geli, matanya melirik-lirik.
"Bagus, bagus!"
Katanya.
"Aku justeru ingin kau mengucap begini rupa! Aku menanti untuk kau tikam! Hayo maju! Kau tikamlah! Jikalau kau berani mengatakan kau tidak berani, maka kaulah si anak kura-kura!"
Ciauw Beng menjadi sangat gusar.
Mana dapat ia melayani seorang bocah?
Tapi orang demikian bermulut "jahat"!
Dalam mendongkolnya, ia mau juga maju.
Ia tidak memikir menggunai pedang.
Ingin ia membanting saja!
Kang Lam sangat menantang.
Dia maju terlebih dulu, sambil berlompat.
"Ha, telur tua busuk yang telah terluka!"
Katanya mengejek.
"Aku si Kang Lam, aku sebenarnya tidak mau menang di atas angin, akan tetapi kau terlalu bermulut besar, kau menghina aku! Sebenarnya aku malu melayani kau, sebab kalau toh aku menang, aku tidak dapat disebut gagah, sebaliknya mungkin aku ditertawai orang-orang gagah di kolong langit ini! Toh tak dapat tidak, aku mesti memberi sedikit ajaran kepada kau!"
Suara itu suara seperti orang yang tidak mau segera turun tangan, akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Begitu dia datang dekat, bocah itu sudah lantas menyerang, dengan "Senghoo too-kian,"
Suatu jurus dari "Pengcoan Kiamhoat", ilmu "Pedang Es"
Ajarannya Pengcoan Thianlie. Inilah Touw Ciauw tidak sangka. Dia kaget hingga dia mesti berkelit mundur dengan gugup.
"Hahaha!"
Kang Lam tertawa melihat orang berkelit itu. Dia lantas menyerang pula, sehatnya tak kalah dengan serangannya yang pertama. Kali ini Ciauw Beng sudah siap-sedia. Dengan mudah dia menangkis.
"Kau tertawalah lagi!"
Dia membentak.
Pedang Kang Lam kena dibikin terpental, tubuhnya pun terhuyung mundur.
Tapi pedangnya tak terlepas dari tangannya, dan ia dapat lantas membikin tubuhnya berdiri tegar pula.
Ia tidak takut atau jeri, ia bahkan tertawa geli seperti tadi.
"Telur tua busuk, aku si Kang Lam, aku masih tertawa!"
Katanya, menantang, jenaka.
"Apa kau bisa bisa bikin terhadap diriku?"
Ciauw Beng menangkis keras, tangannya dibikin berat, ia menduga orang bakal terluka, atau sedikitnya pedangnya terlepas, maka ia heran mendapatkan bocah itu cuma mundur tiga tindak dan dapat tertawa riang seperti sedia kala.
Hatinya bercekat.
"Bocah ini benar liehay,"
Pikirnya.
"Kalau begini, tidak dapat aku pandang enteng padanya..."
Bicara dari hal tenaga dalam, Kang Lam terpaut jauh dibanding dengan Khamlie kiam, kesudahan demikian rupa itu disebabkan, biar bagaimana, Ciauw Beng masih letih dan lukanya menjadi semacam penghalang juga.
Di lain pihak, Kang Lam, pernah mendapat ajarannya Kim Sie Ie, maka ia ketahui tipu silat yang disebut huruf "Lolos".
Dengan itu, ia meloloskan, membikin meleset kekuatan serangan musuh.
Memangnya, tambah usianya, ia tambah tenaga, ia pula tambah gesit.
Begitulah atas gempuran hebat, ia melainkan mundur tiga tindak.
Ciauw Beng heran, itulah wajar.
Tapi Tan Thian Oe dan yang lainnya, turut heran juga.
Mimpi pun mereka tidak bakal menyangka, bocah ini demikian tangguh, dia dapat melayani musuh yang tak sanggup dilawan sembilan imam berbareng.
"Anak ini benar-benar tidak tahu langit tinggi dan bumi tebal,"
Thian Oe kata pada Tong Keng Thian.
"Dia membuat permainan pada jiwanya sendiri! Bagaimana? Apa baik kita panggil dia balik, buat menyatakan dia menyerah kalah saja? Kita dapat tukar dia dengan lain orang..."
Dengan berkata begitu, juga terhadap Keng Thian, Thian Oe mengharap ini orang she Tong yang menggantikan Kang Lam.
la percaya Keng Thian tidak bakal kalah andaikata dia sukar memperoleh kemenangan.
Keng Thian mempunyai pedang Yuliong Kiam, pedang mustika, serta peluru Thiansan Sinbong yang kesohor.
Tong Keng Thian memandang ke gelanggang, la bersenyum.
"Saudara Tan jangan kuatir,"
Ia berkata, tenang.
"Kang Lam seorang panglima perang yang besar rejekinya, pasti dia tidak bakal kalah! Untuk menghadapi lawan bangsa sesat semacam dia ini, ia terlebih tepat daripada kita!"
Thian Oe bersangsi.
Oleh karena orang mengatakan demikian, ia tidak berani mendesak.
Ia lantas mengawasi dengan perhatian penuh.
Ciauw Beng mendongkol, dia melayani Kang Lam dengan sungguh-sungguh.
Bahkan dia mendesak.
Keras keinginannya untuk mengajar adat, guna melampiaskan kemendongkolannya itu.
Kang Lam cerdik, pengajaran tadi membuatnya tambah cerdik.
Ia main berkelit.
Tidak mau ia menangkis, sebab itu berarti melawan keras.
Ia kalah tenaga dan terutama tenaga dalam.
Ia mempertontonkan kelincahannya, ia bersilat dengan kejenakaannya.
Begitulah, untuk dapat membalas menyerang, ia menjatuhkan diri dulu di tanah, atau ia lompat jungkir balik.
Celakanya untuk Ciauw Beng ialah kalau dia diludahi!
Dalam hal ini, Kang Lam perlihatkan kepandaiannya Kim Sie le.
Dalam ilmu pedang, ia menggunai pelbagai jurus campur aduk, di antara ilmu pedang Pengcoan Kiamhoat dari Pengcoan Thianlie, dan ilmu pedang Cengshia Pay dari Tan Thian Oe.
Keduanya itu ialah ilmu pedang yang mahir.
Cuma dalam hal meludah, ia tidak dapat meludahkan racun seperti Sie Ie.
Toh ludahnya keras dan ia membikin Ciauw Beng sakit kepala juga.
Bagaimana kalau jago ini kena diludahi?
Dia tentu bakal mendapat malu besar!
Saking murka, Ciauw Beng mengeluarkan kepandaiannya ilmu pedang.
Di empat penjuru terlihat melulu bayangannya.
Ia kurung si bocah hingga, menyaksikan itu, hati Lui Cin Cu bercekat.
Ilmu pedang si orang she Touw berdasarkan tindakan garis kiukiong patkwa, jadi itulah ilmu kedudukan sama dengan milik Butong Pay, bedanya yaitu, kalau tin Butong Pay mesti menggunai sembilan orang, orang she Touw ini bersendirian saja!
Ciauw Beng gesit luar biasa, pedangnya liehay, cuma dibanding dengan sembilan pedang tin-nya Butong Pay, dia kalah tangguh.
Apa yang luar biasa ialah dia dapat bersilat seorang diri.
Itulah ilmu silat pedang yang langka.
"Mungkin aku dapat lawan ilmu pedangnya ini, tetapi untuk mengalahkannya, sulit,"
Ketua Butong Pay ini berkata di dalam hatinya. Kang Lam belum mengerti ilmu "Kiebun Patkwa"
Yang dibutuhkan untuk bersilat sebagai Ciauw Beng, tidak heran kalau ia lantas kena dikurung.
Makin lama ia terkurung makin rapat.
Tentu sekali, sulit untuknya mempergunakan lagi kelincahannya.
Ia bahkan terancam bahaya.
Maka itu ia tidak dapat berguyon lagi, malah untuk berludah pun tak sempat!
Tan Thian Oe mengeluarkan keringat dingin.
Ia berkuatir untuk kacungnya.
Juga Keng Thian mulai berkuatir.
Kata ia dalam hatinya.
"Inilah hebat! Mengapa belum ada orang liehay yang membantunya? Jikalau aku menduga keliru, bukankah hebat aku mesti mengantarkan jiwanya Kang Lam?"
Dengan bungkamnya Kang Lam maka datanglah giliran Ciauw Beng untuk merasa puas, hingga dia tertawa terbahakbahak. Terus dia mendesak.
"Tahulah sekarang kau akan liehayku!"
Kata dia sambil satu kali mengirim tusukannya. Dia mengejek. Terus dia mengulangi serangannya. Kang Lam berkelit, dia lompat menyusul. Dari garis "kian"
Ia menggeser ke garis "soan".
Dengan pedangnya di tangan kanan dia menyontek pedang lawannya, lalu dengan tangan kiri, dengan jeriji yang kuat bagaikan tombak, dia menotok ke bawahan iga!
Sebenarnya dengan satu tikaman, ada kemungkinan Ciauw Beng menembuskan tubuhnya si bocah Jenaka, yang tapinya sangat memanaskan hatinya.
Akan tetapi, dia tidak memikir demikian.
Untuk melampiaskan kemendongkolan-nya ia ingin membekuk hidup musuh ini, guna menggunai lain cara, yang ia anggap tepat.
Akan tetapi Kang Lam pernah memperoleh pengajaran dari Hong Sek Toojin si orang Khongtong Pay yang berkenamaan, dia mengerti ilmu silat "jungkir balik"
Dari imam itu, untuk membikin jalan darahnya kacau, bertentangan satu pada lain.
"Aduh, mati aku!"
Kang Lam menjerit.
"Gatal amat!"
Sambil menjerit begitu, ia putar sebelah tangannya, untuk berbalik menyerang dengan lima jerijinya.
Ia menotok dengan ilmu totok yang didapat dari Kim Sie Ie.
Ciauw Beng heran orang tertawa karena totokannya itu.
Sudah begitu, ia dibikin kaget pula oleh totokan luar biasa dari si lawan.
Ia dapat mengenali totokan yang liehay.
Untuk menolong diri, terpaksa ia lompat keluar dari garis "cin"
Dimana ia tengah berada.
Tidak perduli ia bergerak gesit, jari tangannya Kang Lam toh mampir juga di sasarannya.
Ia telah menutup jalan darahnya, tidak urung ia kaget.
Mendadak terasa seluruh tubuhnya kesemutan dan kaku.
Syukur ia sempat dapat meluruskannya pula.
Inilah disebabkan, kepandaiannya Kang Lam masih kurang mahir dan tenaganya pun kurang.
Habis itu si bocah dapat melegakan napasnya.
Ia mengayun pedangnya, ia tertawa pula.
"Eh, telur busuk tua, tahukah kau keliehayanku?"
Ia tanya.
Bukan main mendongkolnya Ciauw Beng.
Walaupun demikian, dia tidak berani mendesak seperti tadi.
Biar bagaimana, jalan darahnya belum pulih seperti asalnya, dan di lain pihak, dia mulai jeri untuk ilmu totoknya lawan ini...
Kang Lam tertawa pula sambil ia menyerang.
Luar biasa cara menyerangnya itu, yaitu ia maju sambil lompat jumpalitan!
Ciauw Beng menggertak gigi.
"Kau cari mampusmu sendiri!"
Dia membentak.
"Jangan kau sesalkan aku kejam!"
Kata-kata itu disusul dengan serangan pedang dengan jeriji tangannya memencet pesawat rahasia pada gagang senjatanya itu, maka juga menghembuslah apinya yang bercahaya, api yang jahat itu, yang tadi telah meminta korban sembilan imam.
Baru sekarang dia terpaksa menggunai Khamlie kiam.
Tadinya dia masih menahan sebab ia malu hati, mustahil melayani seorang bocah mesti seperti berkelahi menghadapi sembilan imam.
Sudah memakai pedang malu, ditambah pula pedang api.
Dengan menggunai apinya, Ciauw Beng sudah pikir lawannya bakal terbinasa atau sedikitnya melainkan terluka.
Ia memikir di pihaknya sendiri, ia tidak memikir pihak lawan.
Kang Lam cerdik, ia senantiasa menduga pada kemungkinan lawan menggunai api yang liehay itu.
Ia tidak takut meski ia sudah dapat bukti robohnya ke sembilan imam dari Butong Pay, tetapi ia waspada.
Begitu ia dituding dengan pedang rahasia itu, begitu ia mendahului lompat berjumpalitan sambil mulutnya ngoceh tidak keruan.
"Hayo, si telur busuk tua mau menggunai api membakar orang! Aduh! Aduh! Hebat! Ha, syukur aku mempnyai wasiat!"
Kang Lam jumpalitan, Ciauw Beng menikam.
Si bocah gesit, si jago lebih gesit pula.
Pedang si jago menunjuk, apinya berkelebat, menyambar ke punggung orang yang lagi berjumpalitan itu.
Tapi Kang Lam keburu berbalik, sambil berbalik itu tangannya diayun!
Api berkobar, warnanya merah, mendadak api itu padam, lenyap hawanya yang panas, terhajar sesuatu yang berhawa dingin!
Ciauw Beng terperanjat.
Inilah ia tidak sangka.
Kang Lam sudah menyerang dengan wasiatnya yang bukan lain daripada Pengpok Sintan, peluru es dari Istana Es.
Ia mendapatkannya itu dari Yu Peng, iparnya, ialah Nyonya Tan Thian Oe.
Tadinya ia dianggap belum cukup kuat, ia tidak diberikan peluru itu, sesudah ia mengalahkan Kim Jit Sian, Yu Peng memberikan lima butir, katanya untuk membela diri.
Yu Peng mendapat kenyataan kacung itu, yang dipandang Thian Oe sebagai adik angkat, sudah melebihkan ia.
Sekarang si kacung menggunai itu untuk menakluki pedang api.
Bahkan sekali hajar ia menggunai tiga butir, tidak heran api itu sirna seketika.
Kang Lam pun segera berkata.
"Kunjungan tak dibalas itulah tidak hormat! Telur tua yang busuk, kau juga sambutlah senjata rahasiaku!"
Dan ia lantas mengayun tangannya, melepaskan dua butir pelurunya saling susul!
Touw Ciauw Beng berani, di mengulur tangannya menanggapi senjata rahasianya lawan.
Ketika dia dapat menggenggam Pengpok Sintan, dia kaget.
Hawanya peluru itu begitu dingin hingga dia menggigil, hingga mulutnya terbuka.
Justru dia menganga itu, justeru tiba peluru yang kedua, tepat masuk ke dalam mulutnya.
Dia gelagapan, lantas dia berdiri diam bagaikan patung!
Khamlie kiam telah mempunyai latihan tenaga dalam beberapa puluh tahun akan tetapi ia belum berhasil mencapai puncak kemahiran, dibanding Kim Kong Taysu atau Tong Sian Siangjin, dia masih beda jauh, akan tetapi dia dapat direndeng dengan Tong Keng Thian suami isteri, seharusnya dia dapat bertahan untuk satu atau dua potong Pengpok Sintan.
Kang Lam juga cuma ingin merusak tenaga dalam orang, untuk ia dapat melayani terus, maka adalah di luar dugaan, sebutir peluru es saja membuat jago itu jengkar!
Begitulah si jenaka menjadi melengak atas kesudahan serangannya itu.
Tengah ia berdiam itu, telinganya mendengar suara yang perlahan dan halus, yang toh terdengarnya nyata sekali.
"Anak tolol! Kenapa kau tidak sekalian hajar padanya?"
Dasar cerdik, bocah ini lantas mendusin.
Tidak ayal lagi ia lompat mendekati ia menggeraki kedua tangannya kiri dan kanan, maka terdengarlah suara plak-plok berkali-kali-suara dari muka yang digaplok pergi datang, setelah mana Kang Lam merebut pedang orang, untuk dilemparkan ke dasar jurang.
"Eh, telur busuk tua yang tak mau mampus!"
Berkata ia.
"sebenarnya hendak aku tabas kau satu kali, akan tetapi karena melihat romanmu yang harus dikasihani ini, sedang aku juga belum pernah membunuh orang, suka aku memberi ampun padamu! Kau tahu, hatiku menjadi lemah, suka aku berlaku murah padamu!"
Kata-kata itu diakhiri dengan satu dupakan kepada kempolan orang, maka tubuh Touw Ciauw Beng lantas roboh terbanting.
Akan tetapi justeru itu, dia sadar dari bekunya, dia mengasih dengar jeritan kesakitan.
Tubuhnya itu terlempar jauhnya tiga tombak!
Yang Cek Hu lantas maju untuk menolongi, buat mengasih bangun.
Ia heran mendapatkan tangan orang kaku dan bengkok, begitu juga kaku kedua kakinya, maka untuk berjalan, Khamlie kiam mesti berlompatan ancluk-ancluk-an.
Semua orang heran menyaksikan kejadian itu.
Mengertilah orang bahwa Touw Ciauw Beng telah tamat lelakonnya sebagai jago, lantaran kakunya kaki tangannya itu berarti ludesnya ilmu silatnya...
Pihaknya Kang Lam girang sekali, kesudahan itu membikin mereka dapat tertawa.
Tadinya semua sudah berkuatir untuk keselamatannya si kacung.
Di lain pihak, orang pun heran dan kagum karena kemenangannya jago cilik ini terhadap si jago besar.
Cee Ciang Hee yang paling girang, ia tertawa hampir tak hentinya, sesudah itu dengan melit ia tanya ini dan itu kepada Kang Lam.
"Kau benar tidak mendustai aku!"
Kata Nona Cee kemudian.
"Benar-benar kau telah berhasil mempelajari ilmu silat yang liehay sekali! Bagus pertempuran kau ini, sedang tadinya aku berkuatir sangat sebab kau terkurung hebat oleh pedang yang luar biasa itu. Coba dia tidak menotok kau, hanya dia menikam, bukankah itu celaka?"
Kang Lam tertawa.
"Aku dapat memandang jauh!"
Dia kata, terkebur, tetapi lucu.
"Aku memang tahu dia pandai menotok. Taruh kata dia benar-benar menikam aku, kau jangan kuatir, aku mempunyai dayaku untuk menghindarinya hingga aku tidak bakal terluka!..."
Kang Lam ngoceh saja, tetapi toh benar, ia telah merasa ungkulan melawan Touw Ciauw Beng, maka ia telah mengajukan dirinya, menantang jago itu.
Andalannya itu ialah kepercayaannya bahwa Kim Sie Ie pasti bakal membantui padanya.
Cuma ia telah dipesan Tokciu Hongkay untuk ia jangan menyebut-nyebut nama si pengemis itu.
Thian Oe dan isterinya terus bingung.
Di mata mereka terang sudah Kang Lam bukan lawannya Ciauw Beng.
Walaupun Kang Lam membekal pengpok sintan, dia masih sukar dapat mengalahkan jago itu.
Toh akhirnya Kang Lam menang!
Sungguh di luar terkaan!
Ada lagi satu orang, yang sangat mencurigai Kang Lam.
Dialah Beng Sin Thong, jago pihak sana.
Maka juga jago tua ini lantas menyapu ke pihak lawannya, mengawasi tajam kepada setiap wajah.
Dia seperti lagi mencari orang.
Dia pun nampak bingung di samping herannya itu.
Pada tiap tahun yang baru lewat, Beng Sin Thong sudah pernah mengalahkan Tan Thian Oe suami isteri.
Benar ketika itu ilmu silatnya tidak semahir sekarang, toh Yu Peng dengan peluru esnya tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.
Sebaliknya Ciauw Beng, dia jauh lebih gagah kalau dipadu dengannya semasa tiga tahun yang lalu itu, turut pantas, peluru es tak dapat merobohkannya.
Tapi dia runtuh!
Bukankah itu aneh?
Walaupun demikian, Beng Sin Thong tidak bisa bikin suatu apa.
Kecurigaannya tidak ada buktinya.
Ia melihat semua wajah, mereka itu tenang atau pun diliputi roman heran seperti ia sendiri.
Tak dapat ia menentukan orang sudah membantui Kang Lam secara gelap, hingga tak dapat juga ia menuduh!
Kekalahannya Touw Ciauw Beng membikin pihaknya heran dan penasaran.
Lantas mereka itu ramai bicara di dalam kalangan sendiri.
Ada yang menyangka Kang Lam bukan orang lurus hanya dia menggunai ilmu sesat.
Ada yang kata sangat kecewa Ciauw Beng roboh di tangan satu bocah tidak dikenal sedang ialah seorang ternama dan baru saja merobohkan sembilan imam Butong Pay.
"Tapi itulah bukan ilmu siluman, itu hanya pengpok sintan,"
Berkata seorang lain lagi.
"Kamu belum tahu itu? Aku ketahui itu baik sekali."
Dia ini seorang pendeta Lhama Putih. Dia pernah turut dalam pergulatan merampas guci emas, dia ketahui halnya Pengcoan Thianlie.
"Apakah kau ketahui hal ikhwal bocah itu?"
Yang Cek Hu tanya.
"Ya,"
Sahut si Lhama.
"Bukankah di pihak sana ada itu orang muda dengan pakaian serba putih? Dialah Tan Thian Oe. Dan bocah ini menjadi kacungnya dia itu!"
Yang Cek Hu ketahui baik kegagahannya Tan Thian Oe sampai dimana, ia berpaling pada Beng Sin Thong dan kata.
"Suheng, babak ini sangat mengherankan!"
Ia kata begitu karena ia pikir.
"Kepandaiannya Tan Thian Oe berbatas sekali, kenapa kacungnya dapat mengalahkan orang kita kelas satu? Itulah tidak pantas!"
Orang-orang pihak Beng Sin Thong heran mengetahui Kang Lam hanya satu kacung.
Mereka saling mengawasi sambil melongo.
Karena ini beberapa jago, yang penasaran, yang berniat menempur Kang Lam, mundur sendirinya.
Sebab, kalah kecewa, menang tak memperoleh nama bahkan merendahkan derajat sendiri.
Pula ketika itu Kang Lam sudah mengundurkan diri, menurut aturan pertandingan dia berhak menampik tantangan.
"Kalah atau menang biasa saja, tak usah itu dipikirkan,"
Kata Sin Thong kemudian.
"Juga bila dibandingkan sampai saat ini, kita masih belum kalah. Sutee, tak usah kau curiga tidak keruan, yang perlu selanjutnya ialah waspada."
Leng Siauw Cu mengurut kumisnya.
"Beng Loosianseng benar!"
Ia bilang.
"Touw Hiantee telah meruntuhkan barisan pedang Butong Pay, dia membikin ketua Butong Pay tidak berani menyambut tantangan, itu saja cukup buat mengangkat namanya saudara Touw!"
Leng Siauw Cu tidak akur dengan Butong Pay, ia bicara demikian-dengan suara keras-untuk membikin Lui Cin Cu dapat mendengar.
Benar-benar tidak senang ketua Butong Pay itu.
Dia memang lagi malu dan mendongkol karena runtuhnya tin-nya.
Benar Kang Lam telah memperoleh kemenangan tapi itu bukan kemenangan oleh pihaknya langsung, ia tetap tidak puas.
Maka itu, mendengar suara orang, ia lantas maju ke depan.
"Kita sudah bertempur beberapa kali, dan sang waktu juga sudah bukan pagi lagi,"
Ia kata.
"maka itu sekarang baiklah kita yang dinamakan pemimpin yang pada maju! Beng Sin Thong, kabarnya kau sudah meyakinkan sempurna ilmu Siulo Imsat Kang, aku Lui Cin Cu, yang tidak tahu diri, ingin aku mohon pengajaran dari kau!"
Sebenarnya ketua Butong Pay ini ingin menantang Leng Siauw Cu, di dalam tempo yang pendek itu, mendadak ia mengubah pikiran. Ia ingat pepatah yang membilang.
"Memanah orang baik memanah dulu kudanya--menangkap penjahat baik membekuk dulu rajanya". Benar Leng Siauw Cu juga terkenal, dia pasti kalah dengan Beng Sin Thong. Ia pikir pula, Butong Pay partai paling besar, dengan menempur Beng Sin Thong, tidaklah ia turun derajat... Beng Sin Thong tidak lantas menerima tantangan itu, dia hanya kata dengan tawar.
"Lui Ciang-bun, ingatanmu buruk sekali! Apakah aku bilang tadi? Apakah kau sudah lupa? Yang Sutee, kau beritahukanlah dia!"
Yang Cek Hu menghampirkan sampai tinggal tiga tombak, ia memberi hormat.
"Apakah Lui Ciangbun hendak mencoba Siulo Imsat Kang kami?"
Dia tanya, tertawa.
"Mudah sekali! Aku si orang she Yang juga pernah mempelajarinya beberapa tahun, tak ada halangannya untuk aku menunjuki kejelekanku sekalian aku belajar kenal dengan ilmu pedangmu yaitu Lianhoan Toatbeng Kiam! Jikalau Lui Ciangbun berhasil dapat mengambil jiwaku, itu waktu barulah kau boleh menantang kakak seperguruanku!"
Memangnya siang-siang Beng Sin Thong sudah menjelaskan kepada Tong Sian Siangjin bahwa setelah orangorangnya dapat dikalahkan, barulah tiba giliran dia sendiri turun tangan dengan ketua pelbagai partai, maka itu, Yang Cek Hu ini cuma mengulangi penjelasan kakak seperguruannya itu.
Apa yang beda melainkan suaranya yang halus tapi nadanya keras.
Lalu dengan kehormatan yang selayaknya, dia memberi hormat pula seraya mengundang.
"Silahkan!"
Habis itu, segera kedua tangannya dikibaskan kepada lawan.
Lui Cin Cu menjadi kaget.
Tiba-tiba ia merasai hawa dingin hingga ia menggigil.
Memangnya ia telah menjadi sangat mendongkol melihat sikap jumawa orang ini.
Syukur ia dapat menguasai hawa marahnya dan menenangkan hatinya, hingga lantas juga hawa dingin itu lenyap.
Justeru itu Yang Cek Hu sudah menghampirkan pula.
Dia bergerak hanya dengan satu kali berkelebat.
Dia tertawa dan berkata.
"Lui Tayciangbun, mengapa kau masih belum menghunus pedangmu? Mungkinkah kau menganggap tak tepat aku melayani kau?"
Sampai disitu, tidak dapat Lui Cin Cu tidak menempur musuh ini yang sikapnya keterlaluan, maka ia cekal gagang pedangnya dan menghunusnya.
Ia maju satu tindak seraya meneruskan menikam jalan darah soankhie dari lawannya itu.
Hebat serangan itu, sampai Yang Cek Hu terkesiap hatinya.
Tapi karena dia sudah siap sedia, adik seperguruannya Beng Sin Thong ini juga sudah siap untuk perlawanannya.
Dia mundur sambil mengibaskan kedua belah tangannya, hingga Lui Cin Cu merasakan tenaga menarik yang keras, sampai pedangnya seperti mau terlepas dari cekalannya.
Dengan begitu, serangannya menjadi tidak memberikan hasil.
Setelah itu, Yang Cek Hu mulai dengan serangannya dengan tenaga dinginnya.
Dia menolak dangan kedua tangannya berbareng.
Maka bekerjalah Siulo Imsat Kang, hawa dinginnya.
Selama tiga tahun yang paling belakang, Yang Cek Hu sudah dididik lebih jauh oleh kakak seperguruannya, Beng Sin Thong, maka ia telah memperoleh kemajuan baik sekali, ia sudah tingkat ke tujuh.
Dengan begitu, begitu ia menolak, ia seperti menukar hawa musim semi dengan hawa musim dingin di saat paling dingin!
Lui Cin Cu telah mendengar Phang Lim tentang liehaynya Siulo Imsat Kang dari Yang Cek Hu, maka itu, ia tidak mau berlaku sembrono.
Tadi saja, ia sudah merasai hawa dingin.
Lantas ia lompat berkelit, dengan lompat tinggi, maka itu, di waktu tubuhnya turun, ia membalas dengan tikamannya yang liehay.
Bahkan ia menggunai tenaga sembilan bagian!
Yang Cek Hu belum menyampaikan kepandaian kakaknya, yang tubuhnya kedot, dari itu tidak berani ia menyambut pedang lawan.
Ia lantas berkelit dengan tindakannya "Ieheng Hoanpouw", yaitu "memindahkan wujud, menukar tindakan kaki".
Ia lolos dari bahaya.
Tetapi Lui Cin Cu sudah menggunai kesehatannya, gagal tikamannya yang pertama itu, segera menyusul yang kedua, bahkan yang ketiga selekasnya yang kedua itu pun tidak memperoleh hasil.
Demikian seterusnya, bagaikan gelombang pedangnya menyerang saling susul.
Yang Cek Hu kewalahan juga.
Dia mesti memisahkan diri jauh-jauh jikalau dia tidak ingin belajar kenal dengan ujung pedang.
Lantaran didesak secara demikian, tak sempat dia menyerang dengan Siulo Imsat Kang.
Selalu dia mesti memasang mata dan gesit menghalau diri.
Lui Cin Cu telah mesti menggunai tenaga luar biasa banyak untuk cecerannya itu, begitu juga Yang Cek Hu untuk kegesitannya luar biasa menyelamatkan diri.
Dengan cepat mereka pada mengucurkan keringat.
Semua orang menonton dengan perhatian luar biasa besar.
Hati mereka tegang seperti tegangnya hati dua orang yang lagi mengadu kepandaian itu.
Kesudahannya itu akan hebat sekali untuk salah satu pihak.
Lui Cin Cu ketua partai, kalau ia gagal, kehormatan partainya bakal menjadi korban.
Yang Cek Hu adik seperguruan dari Beng Sin Thong, kekalahannya akan menampar juga mukanya kakak seperguruan itu.
Beng Sin Thong sering-sering mengerutkan alis.
la melihat bahaya yang mengancam pihaknya.
Kim Kong Taysu diam-diam memperhatikan Beng Sin Thong, ia terperanjat begitu lekas ia melihat bibirnya jago Siulo Imsat Kang itu bergerak-gerak berkelemik tak hentinya.
Ia tahu bahwa orang lagi bicara dengan ilmunya yang luar biasa yaitu "Thiantun Toan-im", untuk memberi kisikan atau petunjuk kepada sutee-nya bagaimana harus membela diri berbareng merobohkan musuh.
"Celaka!"
Pendeta ini mengeluh dalam hatinya.
Ia mengeluh sebab ia tidak dapat membantu.
Bukankah Beng Sin Thong tidak turun tangan?
Bukankah Beng Sin Thong cuma berkelemik-kelemik seorang diri?
Bukti apa bisa didapatkan bahwa dia lagi membantui adik seperguruannya itu?
Tepat Kim Kong Taysu lagi berkuatir itu, terlihat Yang Cek Hu berlompat maju, untuk menghampirkan Lui Cin Cu, tangan kirinya diluncurkan, jeriji tangannya dibuka semua, guna menyambar lengan lawannya.
Ia menggunai tipu silat "Yuliong Tamjiauw", atau "Naga mengulur cakarnya".
Ketika itu Lui Cin Cu baru saja menikam dan tikamannya lewat sebab lawannya berkelit ke samping.
Tangan lawan itu seperti juga hendak merampas pedang.
Lui Cin Cu liehay, ia awas.
Ia dapat menebak maksud lawan.
Dengan sebat ia putar lengannya, berkelit dari sambaran itu, sambil memutar, ia meneruskan menikam pula.
Bagaikan kilat ujung pedangnya menikam ke lengan kiri lawan itu.
Disinilah sudah terjadi peristiwa yang luar biasa, yang hebat.
Yang Cek Hu seperti tidak dapat menyingkirkan tangan kirinya itu, maka dengan satu suara cukup nyaring terlihat ujung bajunya terbabat kutung pedangnya Lui Cin Cu.
Justeru itu di lain pihak, tangan kanannya sutee dari Beng Sin Thong ini, bergerak maju, jeriji tengahnya berhasil menyentil pedangnya ketua Butong Pay itu, hingga terdengar suara nyaring mengaung dari bentrokan kuku tangan dengan tubuh pedang!
Berbareng dengan itu, tubuh dua orang yang telah datang rapat satu dengan lain lantas terpencar pula, karena mereka masing-masing lompat mundur.
Di muka umum terlihat Lui Cin Cu menang unggul.
Benar pedangnya kena disentil akan tetapi ia berhasil menabas kutung ujung baju Yang Cek Hu.
Begitulah pihak Butong Pay bersorak dengan kegirangan mereka.
Akan tetapi, pada kenyataannya, Lui Cin Cu mengeluh di dalam hati.
Sentilannya Yang Cek Hu itu hebat.
Dia telah memperoleh petunjuk dari Beng Sin Thong, kakaknya, dia menggunai siasat dan bekerja.
Sambarannya kepada lengan atau pedang lawan melainkan siasatnya itu.
Tangan bajunya terbabat tetapi tangannya sendiri selamat.
Benar tangan bajunya terbabat tetapi sebelumnya itu, tangan baju itu sudah melibat pedang.
Itulah jurus "Liului hui-siu"
Atau "Menyalurkan guntur, menerbangkan ujung baju".
Di saat pedang tergulung dan terbabat kutung itu, dia menyentil dengan kesehatannya yang luar biasa.
Sentilan pada pedang nampaknya tak berarti apaapa, pedang cuma berbunyi nyaring karenanya.
Pedang pun tak terpental.
Tapi...
Yang Cek Hu menyampaikan Siulo Imsat Kang tingkat ke tujuh.
Itulah tingkat tinggi.
Dengan begitu ia jadi telah pandai "Kekbut toan-kang", yaitu ilmu menyalurkan serangannya dengan perantara sesuatu benda.
Tegasnya, dengan perantaraan pedang, ia menyerang Lui Cin Cu dengan Siulo Imsat Kang, dengan hawa dinginnya yang luar biasa itu.
Secara demikian ketua Butong Pay kena diserang, hawa dingin tersalur dari antara pedang, masuk kedalam tubuhnya, tiba di uluhatinya.
Hingga ia merasa dingin hampir menggigil.
Tadi saja ia sudah menghamburkan tenaga dalamnya, melawan hawa dingin musuh, maka sekarang ia mesti mengempos lebih keras lagi guna melindungi dirinya.
Pertempuran tak berhenti sampai disitu, pertempuran diulangi.
Yang Cek Hu menggunai ketikanya, untuk menyerang pula.
Mau atau tidak, Lui Cin Cu mesti melayani.
Karena ini, lantas terlihat gerak-gerakannya menjadi rada lambat.
Yang Cek Hu telah mendapat kisikan "Thiantun toan-im"
Dari Beng Sin Thong, ia menggunai ketikanya baik sekali, dengan begitu sekarang ialah yang menang di atas angin, Lagi dua kali ia dapat menyentil pedangnya Lui Cin Cu, hingga ketua Butong Pay itu menjadi bagaikan kehabisan tenaga.
Sampai disitu, Yang Cek Hu tak mengulangi serangannya.
Dia bahkan lompat mundur.
"Lui Tayciangbun, apakah pertandingan ini hendak dilanjuti?"
Dia tanya, tertawa.
Lui Cin Cu tidak menjawab, mukanya menjadi pucat, ia terus melemparkan pedangnya dan mengundurkan diri.
Inilah sebab ia merasakan hawa dingin yang seperti membikin beku darahnya, hingga tak dapat ia memegangi terus pedangnya yang telah menjadi sangat dingin.
Memegang pedang lebih lama ia tidak sanggup, apalagi mesti bertempur pula.
Maka itu, malu atau tidak, ia mesti menyerah.
Yang Cek Hu sudah menang akan tetapi dia tidak mau lantas mengundurkan diri.
Dia berdiri tegak di tengah gelanggang, dia kata nyaring.
"Butong Pay sudah runtuh seluruhnya, maka itu apa masih ada lain-lain ciangbunjin yang hendak mencoba-coba Siulo Imsat Kang-ku ini?"
Lui Cin Cu baru saja tiba di luar kalangan tatkala ia mendengar suara orang yang sangat menghina partainya itu, selain mukanya menjadi sangat pucat seperti muka mayat, ia lantas muntahkan darah hidup dan tubuhnya limbung terhuyung!
Tong Sian Siangjin bersama Kim Kong Taysu berlompat dari kursi mereka, untuk mempepayang rekan itu.
Tubuhnya Lui Cin Cu bergemetar saking dinginnya, ketika ia merasakan cekalan kedua rekannya itu, lantas hawa hangat tersalurkan ke tubuhnya.
Ia segera mencoba mengerahkan tenaga dalamnya.
Maka itu, dengan lekas, ia merasa lebih ringan.
Tapi, dengan muka merah ia kata.
"Hari ini Butong Pay menerima malu besar, sebagai ketuanya, aku malu turut campur lagi urusan disini..."
"Inilah kekalahan di satu waktu, jangan pikirkan,"
Tong Sian Siangjin menghibur.
"Saudara Lui, silahkan tenteramkan hatimu, kau beristirahat dulu!"
Baru saja tertua Butong Pay itu habis berkata begitu, lalu terdengar suara yang nyaring tetapi halus.
"Siapa berani memandang enteng kepada Butong Pay kami? Disini masih ada orang Butong Pay! Sekarang juga aku ingin belajar kenal dengan Siulo Imsat Kang!"
Segera orang melihat orang yang mengeluarkan kata-kata itu, ialah seorang wanita muda yang cantik, yang lantas bertindak ke dalam gelanggang, sabar tindakannya.
Ialah Pengcoan Thianlie!
Nyonya muda yang cantik dan gagah ini menarik perhatiannya seluruh hadirin.
Sebab dialah puteri dari negeri Nepal, dia juga tiangloo, tertua, dari Butong Pay, dan dia pula menantu dari Tee-it Kiamkek Tong Siauw Lan.
Pribadinya sendiri pun menarik perhatian umum, karena dia sangat cantik.
Ketika dia bertindak maju itu, dengan tindakan perlahan dan tenang dia mencekal pedang inti esnya.
Pihak Butong Pay girang dan tegang hati.
Girang sebab majunya si nyonya muda.
Tegang sebab mereka, sedikitnya, berkuatir juga.
Musuh sangat liehay, kalau nyonya ini pun kena dikalahkan, runtuhlah Butong Pay, malunya bukan main.
Yang Cek Hu terpengaruh kecantikan si nyonya muda, sirna kejumawaannya.
Ia memberi hormat dan kata dengan halus.
"Pemilik dari Istana Es datang kemari, pertemuan kita ini menjadi gilang gemilang! Telah lama aku mendengar perihal peluru es dan pedang es-mu, nyonya, sekarang aku beruntung menemui kau, sungguh inilah akan membuka mataku!"
Pengcoan Thianlie berlaku tawar.
"Kau ingin belajar kenal, itulah tak sukar,"
Sahutnya.
"Untuk itu tak usahlah kau mencapaikan diri untuk pergi ke Istana Es untuk mencurinya!"
Lantas ia menghunus Pengpok Hankong Kiam, pedang inti esnya itu-pedang yang terbuat dari kemala dingin Han-giok yang sudah ribuan tahun terpendam dalam es.
Pedang itu bercahaya terang mengkilap dan mengeluarkan hawa yang dingin sekali.
Mau atau tidak, Yang Cek Hu menjadi heran.
"Benar aneh di kolong langit ada mustika semacam ini,"
Pikirnya.
"Jikalau aku berhasil memperoleh pedang ini, pasti bukan main faedahnya untuk Siulo Imsat Kang-ku!"
Ia lantas tertawa dan kata.
"Benda mustika itu, jikalau bukan dimiliki orang yang liehay, dapat memperbahaya diri sendiri. Itu pula sebabnya maka dulu hari keponakan muridku sudah pergi ke Istana Es untuk meminjamnya. Maksudnya itu tak lain tak bukan, untuk menyampaikan pesan dari kakak seperguruanku, supaya dengan begitu kamu, nyonya yang mulia dan suamimu, tak usahlah sampai mendapat bahaya yang tak diingin!"
"Jikalau begitu, sungguh kau baik hati!"
Berkata si nyonya cantik, yang tertawa dingin.
"Kepandaianku biasa saja, tak tepat aku memiliki pedang bagus ini, baiklah, jikalau kau mempunyai kepandaian, kau ambillah ini!"
Matanya Yang Cek Hu terbuka lebar dan menyinarkan cahaya.
"Kau telah mengeluarkan kata-katamu, aku minta kau jangan menyesal!"
Katanya, tertawa.
Mendadak dia mengeluarkan kedua tangannya, sekarang tangan kiri diteruskan, untuk menyerang dengan Siulo Imsat Kang tingkat ke tujuh!
Jadinya dia tidak mau main tawar-tawar lagi!
Selagi begitu, tangan kanannya dilanjuti untuk menyambar pedang si nyonya, guna dirampas!
Pengcoan Thianlie sendiri asal dari Istana Es, hawa dingin itu tidak dapat berbuat banyak terhadapnya, cuma ketika diserang itu, tubuhnya terhuyung, seperti kuda-kudanya kena tergempur.
Yang Cek Hu melihat tubuh orang bergoyang, ia girang tidak kepalang.
Ia menyambar terus.
Tubuh Pengcoan Thianlie bergerak lincah, ia bebas dari sambaran itu, menyusul itu, ia mau membalas.
Ia menggunai tipu silat "Pengcoan kaytong", atau "Sungai Es buyar membeku".
Mendadak ia menyerang dengan luar biasa cepat, seperti juga Yang Cek Hu dikurung belasan pedang, yang sinarnya pun berkeredepan seperti halilintar dan hawanya dingin.
Sebagai ahli Siulo Imsat Kang, Yang Cek Hu tidak takut akan hawa dingin.
Ia sendiri tukang menyiarkan hawa itu.
Adalah ilmu pedang si nyonya cantik yang membikin ia repot.
Sudah diketahui, ilmu pedang itu tercipta dari peryakinan sarinya pelbagai macam ilmu pedang Tionggoan dan Barat menjadi satu, hingga tak dapat itu, disamakan dengan ilmu pedangnya Lui Cin Cu.
Tapi ia besar hati, ia percaya akan kegagahannya sendiri, maka ia jadi ingin lekas-lekas menyudahi pertempuran itu.
Setelah mengalahkan ketua Butong Pay, ia tak memandang mata kepada nyonya ini.
Lantas ia paksa merangsak.
Ia mengulur tangannya.
Ingin sekali ia dapat merampas pedang mustika itu.
Baru ia merangsak itu, atau kembali ia merasakan perubahan yang luar biasa.
Pengcoan Thianlie berkelebatan di sekitar tubuhnya, nyonya itu seperti juga salin diri menjadi belasan, maka juga, pedangnya menikam dan memapas terlebih hebat lagi.
"Celaka!"
Yang Cek Hu berseru di dalam hatinya.
Baru sekarang ia terkejut.
Terpaksa ia mengubah caranya berkelahi.
Tidak lagi ia main sambar, guna merampas pedang.
Sebaliknya, ia menolak dengan kedua belah tangannya, guna memukul mundur tubuh musuh.
Ketika ini digunai oleh Pengcoan Thianlie yang gesit, la memisahkan diri sesudah satu kali ujung pedangnya mengenai tubuh orang, ialah jalan darah hunbun dari Cek Hu kena tertotok!
Pedangnya Nyonya Tong Keng Thian bukan sembarang pedang.
Coba ia umpama memakai pedang Yuliong Kiam dari suaminya, pasti sudah lawannya terluka, atau sedikitnya tergores baret.
Kali ini tidak, Yang Cek Hu tidak terluka, sebaliknya, hawa dinginnya totokan pedang meresap ke dalam tubuhnya.
Ia lantas menggigil, seluruh tubuhnya terasa sangat tidak nyaman.
Pengcoan Thianlie berlaku sangat sebat.
Menyusul itu adalah tiga jurus lainnya, yang menyerang saling susul, yaitu jurus-jurus "Gunung es pecah".
"Sungai es meluncurkan airnya", dan "Inti es mengeluarkan sinar". Repot Yang Cek Hu mesti membela diri. Ia menggunai kedua tangannya, untuk menolak pedang, ia juga lompat berkelit kesana-sini. Syukur ia mahir dengan tipu tindakan "Ieheng Hoanpou". Di akhirnya, ia bebas dari tiga serangan berantai itu. Nyonya Tong Keng Thian tidak mau berhenti hanya dengan runtunan serangannya itu saja. Ia ingin menuntut balas guna ketua Butong Pay, yang diperhina keterlaluan. Ia melanjuti dengan serangannya yang bertubi-tubi. Seperti juga gelombang yang satu belum tenang, sudah menyusul ombak yang lain, juga pedangnya menggempur pula. Dua kali ia menghajar dengan "Es terbang berlaksa lie"
Dan "Seribu gunung daun rontok".
Desakan ini membuatnya kurungan merapat, menjadi makin ciut.
Habis itu mendadak Pengcoan Thianlie berseru, halus tetapi nyaring.
Itulah semacam isyarat.
Berbareng dengan itu, sebelah tangannya terayun dan melayang.
Maka lantaslah peluru-peluru inti esnya menyambar berulang-ulang kepada lawannya.
Yang Cek Hu terkejut.
Dalam repotnya itu, ia mengeluarkan kepandaiannya menangkis atau berkelit dari serangan senjata rahasia yang istimewa itu.
Ia liehay dan gesit, tidak urung dua biji peng-tan, atau peluru es itu, mengenai juga tubuhnya, sedang ujung pedang menotok jalan darah hoan-tiauw.
Ia tidak roboh tapi ia dipaksa mesti mengerahkan tenaga dalamnya guna menolong dirinya, supaya kesehatan, atau seluruh kesegarannya, dapat dipulihkan.
Para hadirin di kedua pihak pada menyingkir jauh-jauh.
Mereka tak tahan akan hawa dingin peluru inti es serta penolakannya Yang Cek Hu itu.
Ada di antara mereka yang menggigil.
Di pihak Butong Pay, orang semua gembira, umumnya mereka berpikir.
"Pengcoan Thianlie tidak takut Siulo Imsat Kang, dia liehay ilmu pedangnya dan mahir kepandaiannya enteng tubuh, kelihatannya kali ini kita bakal menang."
Karena ini juga ada yang memikir, kalau Yang Cek Hu cuma kosen sampai disitu, Beng Sin Thong tentulah tak terlalu banyak bedanya.
Tentu sekali mereka tidak tahu, di samping Siulo Imsat Kang, Beng Sin Thong telah memiliki beberapa kepandaian, yang tak dipunyai orang lain.
Beng Sin Thong sudah berhasil mempelajari separuh dari kepandaiannya Kiauw Pak Beng seperti apa yang termuat dalam kitab rahasianya, dan Yang Cek Hu cuma baru diajari sebagian kecil sekali.
Yang Cek Hu mesti memikir keras karena tak dapat ia merobohkan Pengcoan Thianlie dengan "Pekkhong ciang", pukulan "Tangan Di Udara", atau pukulan kosong, sedang Siulo Imsat Kang tak mempan terhadap puteri Nepal itu, yang biasa hidup di Istana Es yang dingin.
Ia lagi berpikir itu ketika ia mendengar suara suheng-nya, yang bicara dengan ilmu Thiantun Toan-im, katanya.
"Bertindak dengan Thianlo pou, menyambar dengan Imyang jiauw, lalu Pekkhong ciang!"
Inilah tepat dengan apa yang ia baru ingat, yang ia sangsi menggunakannya sebab ia masih belum paham betul. Mendengar kisikan kakak seperguruan itu, ia kata dalam hatinya.
"Suheng bermata liehay, pastilah ia telah melihat kelemahan pihak sana. Baiklah aku menurut..."
Selagi ia mengambil keputusan itu, lagi dua kali Cek Hu terkena pedangnya Pengcoan Thianlie, maka tanpa bersangsi lagi, ia bertindak seperti ajaran suheng-nya.
Pengcoan Thianlie puas yang ia sudah berhasil dengan pelbagai tikamannya, ia lantas menikam pula.
Tapi kali ini ia menjadi heran.
Begitu ia menikam, begitu lawan lolos, lawannya itu lenyap dari depannya, terus dia berada di belakangnya.
Ia memutar tubuhnya sembari menabas.
Lagi ia tak peroleh hasil.
Cek Hu dapat berkelit pula.
Itulah hebatnya tindakan Thianlo pou, yang cepat gerakannya, yang menuruti garis-garis Patkwa, hingga tindakan itu lebih menang, daripada "Coanhoa jiauwsie", ilmu "Menembusi bunga, mengitari pohon".
Siapa paham itu, dia dapat melayani musuh yang sepuluh lipat lebih liehay ilmu silatnya.
Sesudah beberapa kali gagal menikam, Pengcoan Thianlie menjadi panas hati.
Ketika ia menyerang pula, ia menjejak tanah berlompat tinggi, serangannya pun dengan jurus "Huipauw liu-coan", atau "Air tumpah terbang", la percaya ia bakal berhasil.
Tidak tahunya, ia gagal pula!
Bahkan kali ini, Yang Cek Hu sudah menggunai ilmunya yang kedua.
Dia tidak berkelit, dia malah dengan berani mengulur tangannya, guna memapaki pedangnya si nyonya, untuk disambar, guna dirampas.
Itulah sambaran "Imyang jiauw"
Seperti diajari Beng Sin Thong.
Sambaran itu sambaran Kimna ciu, Tangan Menangkap, tapi bukanlah tangkapan seperti kepandaian kebanyakan ahli silat.
Dengan begitu, tangan Cek Hu seperti ada tenaga mengisapnya.
Pengcoan Thianlie terkejut.
Ialah wanita, bahkan ia seorang puteri!
Mana dapat tubuhnya dipegang sembarang lelaki?
Mungkin serangannya akan berhasil tapi ia sendiri tentunya bakal kena tercekal lawan.
Maka itu dengan lekas ia menarik pulang pedangnya sambil ia berlompat mundur.
Untuk ini, kaki kirinya dipakai menjejak kaki kanannya.
Meski demikian, ujung bajunya kena juga tersambar Yang Cek Hu, hingga ujung baju itu robek.
Yang Cek Hu tidak berhenti sampai disini, terus ia berbalik menyerang.
Pengcoan Thianlie menjadi terdesak.
Ia menjadi serba salah.
Kalau ia mendesak pula, bisa-bisa ia dijambak musuhnya.
Saking terpaksa, ia bersiasat membela diri.
Dengan begitu dengan sendirinya ialah yang sekarang kena dikurung lawannya.
Tapi ia berpikir.
"Ingin aku lihat, dengan tangan kosong, bagaimana kau dapat menyerang aku..."
Yang Cek Hu cerdik, setelah mengurung itu, ia tidak mau terburu napsu nerobos masuk.
Ia sekarang berlaku lincah dan garang dengan kedua tipu silatnya itu, tindakan Thianlo pou dan sambaran imyang-jiauw ditambah dengan Pekkhong ciang, pukulan udara kosong.
Ialah sambil mengurung, kalau ia gagal dengan sambaran Imyang jiauw, ia menyerang pula dengan Pekkhong ciang.
"Celaka!"
Pikir Pengcoan Thianlie.
Ia kaget dan berkuatir.
Pukulan udara kosong dari Yang Cek Hu berbahaya untuknya.
Ia jeri untuk Imyang jiauw, sekarang ia diancam Pekkhong ciang.
Selagi bingung itu, ia memikir tak ada lain jalan daripada mundur.
Ia percaya tidak nanti musuh dapat merintangi ia keluar dari gelanggang, meski dengan begitu ialah yang terhitung kalah...
Hebat Thianlo pou dari Yang Cek Hu.
Kecuali dapat dipakai untuk menjaga, ilmu itu juga bisa digunakan untuk memegat.
Ketika Cek Hu melihat gelagat si nyonya mau menyingkir, ia lantas menerka.
Lantas ia membentak.
"Kau mau menyingkir? Gampang! Kau tinggalkanlah pedangmu!"
Dan tubuhnya mencelat ke arah kemana si nyonya mau nerobos keluar, tangannya diulur untuk menyambar dengan Imyang jauw!
Pengcoan Thianlie tidak sudi kasih tubuhnya kena diraba, ia berkelit, ia menyingkir ke lain arah, akan tetapi dengan tak kalah cepatnya, Yang Cek Hu kembali sudah menghadang di depannya.
Jadi tepatlah itu nama "Thianlo pou"
Dari ilmu kepandaiannya Yang Cek Hu.
Ilmu itu pun berarti "tindakan jala langit".
Maka si nyonya seperti terkurung jala.
Sekarang lain lagi perasaan pihak Butong Pay.
Semua orang melihat si nyonya cantik terancam bahaya.
Lui Cin Cu menjadi pucat parasnya.
Ia sudah pikir, kalau Pengcoan Thianlie kalah, ia mau ajak semua kawannya mengangkat kaki saja...
Pengcoan Thianlie menjadi bingung.
Kalau Yang Cek Hu terus mengurung dan mendesak, paling lama ia akan dapat bertahan setengah jam lagi.
ia bakal kehabisan tenaga.
Justeru begitu, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang ia kenal, perlahan.
"Bertindak ke garis kian, mutar ke kedudukan soan, lantas hajar kupingnya dengan pengpok sintan!"
Ia tercengang.
Ketika itu, Yang Cek Hu justeru berada di belakangnya, dalam garis kun, untuk menyerang padanya.
Itulah ajaran yang bertentangan dengan pemikirannya.
Tapi suara itu ia kenal baik, suara itu pun bersifat memerintah...
"Biarlah!"
Pikirnya.
Tak ada tempo untuk berpikir lama.
Ia lantas bergerak menurut ajaran itu.
Ia berkelit ke garis kian, terus ia memutar ke kedudukan soan, dan begitu memutar tubuh, begitu ia menimpuk dengan tiga biji peluru es!
Tepat si nyonya bertindak, tepat Yang Cek Hu muncul di kedudukan cin.
Tak sempat dia berdaya.
Sebutir peluru menghajar telinganya, hingga dia kaget dan gelagapan, menyusul mana, dua butir yang lain menghajar kedua telinganya bergantian, mengenai jalan darah hunhian.
Maka tak ampun pula, dia berdiri diam laksana patung batu, dalam sikap.
Sebelah tangan terangkat, dalam gerakan hendak menyerang, dan kakinya diangkat, seperti lagi bertindak.
Kedua matanya dibuka tajam, seperti lagi mengawasi musuh.
Keadaannya itu aneh dan jenaka...
Baru sekarang si nyonya lega hatinya, hingga ia tertawa.
"Bagus ya!"
Katanya.
"Apakah kau masih ingin merampas pedangku ini?"
Ia mengulapkan pedangnya di muka lawannya itu.
Yang Cek Hu mengawasi tanpa berkedip, la sebenarnya mempunyai semacam ilmu sesat, karena mana, ia tak dapat ditotok kecuali di telinganya.
Sekarang ia terhajar tiga kali, terkena jalan darah hunhian, maka serangannya si nyonya menjadi berlebihan.
Kejadian itu membikin tercengang para hadirin dari kedua belah pihak.
Perubahan demikian cepat hingga orang tak dapat memikirnya.
Pihak Beng Sin Thong heran akan tetapi mereka bungkam.
"Baiklah!"
Kata pula si nyonya.
"Kau tidak menghendaki pedangku, aku mau pergi!"
Baru Pengcoan Thianlie jalan dua tindak, atau ia mendengar bentakan mengguntur dari Beng Sin Thong.
"Tahan!"
Si nyonya melengak, tapi segera ia berkata.
"Keng Thian, kau tolongi menalangi aku sebabak ini!"
Ia menduga Beng Sin Thong mau membalas sakit hati adik seperguruannya, ia tidak sudi melayani.
Ia memang berhak untuk menolak.
Habis membentak itu, Beng Sin Thong lantas menyapu ke segala penjuru, terus ia mengerahkan tenaga dalamnya, untuk berkata dengan pertanyaannya.
"Orang pandai siapa telah datang kemari? Maaf, aku si orang she Beng sudah tak menyambut secara selayaknya!"
Pertanyaan itu keras dan menggetarkan telinga, hingga semua orang yang mendengarnya menjadi terperanjat lantaran kaget dan heran.
Semua orang mementang mata, mengawasi jago she Beng itu, lalu ke sekitarnya.
Semua ingin melihat jago siapa itu yang dimaksudkan Sin Thong.
Habis suara yang nyaring itu, sunyi seluruhnya.
Orang menanti dengan sia-sia, hingga orang menjadi heran.
Beberapa orang lantas bicara kasak-kusuk, satu pada lain saling menanya.
Bahkan Ouw Thian Long kata sambil berguyon.
"Beng Sin Thong melihat hantu di siang hari! Mana ada orang liehay datang kemari? Kalau benar ada, dia tak akan lolos dari mataku yang liehay!"
Beng Sin Thong tidak memperdulikan keragu-raguan orang banyak itu. Dia berkata pula tak kurang nyaringnya.
"Tuan, kepandaian kau barusan kepandaian yang sangat liehay! Kau mempunyai kepandaian, kau sudah datang kemari menentang aku, kenapa kau main sembunyi-sembunyi? Kenapa kau tidak berani perlihatkan mukamu?"
Dari heran, pihak Butong menjadi mendongkol, malah Lui Cin Cu, yang panas hatinya, berkata keras.
"Fui! Muka tebal! Apakah kau hendak menyangkal kekalahanmu babak ini?"
Memang juga semua hadirin heran, kecuali Pengcoan Thianlie seorang. Semua orang kata dalam hatinya.
"Jelas sekali kekalahannya Yang Cek Hu! Mana ada orang yang pandai yang membantui secara diam-diam kepada si nyonya? Mustahilkah mata kita semua buta?"
Beng Sin Thong tidak menggubris Lui Cin Cu. Dia memandang Pengcoan Thianlie, dia kata.
"Kita semua orang Rimba Persilatan berkenamaan, kita tidak suka omong dusta! Bukankah barusan ada orang yang memberi kisikan rahasia kepadamu?"
Pengcoan Thianlie jujur, belum pernah dia mendusta. Memang ia sendiri tengah keheranan. Atas pertanyaan itu, ia menjawab terus-terang.
"Tidak salah! Hanyalah aku belum mendapat memastikan dia siapa!"
Nyonya ini pun tidak menyangsikan kematiannya Kim Sie Ie.
Bukankah Phang Lim yang telah membawa warta pasti?
Ia merasa suara tadi suaranya Kim Sie Ie, tetapi orangnya tidak muncul, ia jadi tidak berani memastikan.
Juga Beng Sin Thong menyangka Kim Sie Ie tapi ia pun ragu-ragu.
Jawaban puteri Nepal itu mengherankan semua orang.
Jadi benar nyonya ini ada yang membantui secara rahasia!
Sekarang mereka heran memikirkan siapa itu orang pandai yang membantu secara diam-diam itu.
Sekarang mereka tak mengherani Beng Sin Thong lagi, bahkan mereka mengaguminya sebab Beng Sin Thong mendapat tahu ada lawannya yang menyembunyikan diri itu.
Beng Sin Thong tertawa dingin, sikapnya sangat menghina.
"Co Kim Jie, apa katamu?"
Dia tanya ketua Binsan Pay. Nyonya itu bingung, hingga tak dapat ia segera menjawab. Tong Keng Thian berbangkit, sikapnya tenang.
"Beng Sin Thong!"
Ia kata.
"untuk apakah sikapmu ini? Bukankah kau sendiri tadi, selama dua babak, sudah memberikan kisikan Thian-tun Toan-im pada pihakmu? Untuk itu, Lui Ciangbun dari Butong Pay belum membuat perhitungan denganmu! Jikalau kau tidak puas dengan kekalahan adik seperguruanmu ini, pasti ketua Butong Pay juga tidak puas! Jikalau kita membuat perhitungan, karena kedua-dua pihak ada yang mengisiki, maka kau masih kalah satu babak!"
Mendengar itu, naik darahnya Lui Cin Cu.
"Bagus ya!"
Dia berseru.
"Jadinya kau main gila, setan alas? Pantas aku kalah secara heran sekali!"
Sengaja Lui Cin Cu berkata besar demikian. Sebenarnya, tanpa Yang Cek Hu dikisiki Beng Sin Thong, dia mesti kalah, cuma kalahnya tak demikian cepat.
"Hm!"
Bersuara Beng Sin Thong, yang tetap tidak mau melayani ketua Butong Pay itu. Sebaliknya, ia heran terhadap Tong Keng Thian. Ia kata dalam hati kecilnya.
"Kenapa dia tahu tentang Thiantun toan-im dari aku?"
Ia menyangkal, ia kata berlagak pilon.
"Apa itu Thiantun toan-im? Apakah kau dengar aku mengisiki apa?"
Keng Thian ketahui tentang Thiantun toan-im dari pendengaran saja.
Ia mendapat tahu itu dari Tong Sian Siangjin.
Sendirinya ia belum pernah melihat ilmu itu.
Kim Kong Taysu dan Tong Sian Siangjin sendiri belum tahu juga, bahkan mereka tidak mendengar suaranya Beng Sin Thong tadi, Keng Thian berkata demikian karena sekian lama itu ia selalu mengawasi Beng Sin Thong dan melihat orang berkelemik-kelemik, hingga ia menjadi menerka.
Ia cerdik, ia tidak kasih dirinya didesak.
"Kita orang-orang berkenamaan, jangan kita omong dusta!"
Ia berkata, tertawa.
"Apapula kau, kau seorang guru besar, kau mesti pegang derajatmu! Apakah yang kau katakan tadi? Kau tahu sendiri! Aku tahu juga! Dan sutee-mu ketahui baik sekali! Mungkin masih ada lain orang yang turut mendengarnya! Kau tanyalah dirimu sendiri, benar atau tidak kau sudah menggunai ilmu Thiantun Toan-im! Apakah mesti aku yang membilanginya?"
Beng Sin Thong kena didesak. Ia menjadi bungkam. Maka ia menghampirkan Yang Cek Hu, guna menolong membebaskan totokan atas diri sutee itu. Habis itu barulah ia membuka matanya dan kata.
"Apakah kau kira aku berpandangan cupat? Apakah kau hendak menyangkal kesudahannya babak pertempuran isterimu ini? Memang isterimu liehay, baik ilmu pedangnya maupun ilmunya ringan tubuh, begitupun kepandaiannya melepas senjata rahasia! Hanyalah, tanpa kisikan itu, tidak nanti dia memperoleh kemenangan! Tapi dia sudah menang, aku tidak mau menyangkal!"
Dengan kata-kata itu, Beng Sin Thong mau bikin dia benar seorang guru besar yang menghargai kehormatan diri.
Sampai disitu, orang menyangka urusan sudah habis.
Tapi hanya berhenti sebentar, Beng Sin Thong sudah membuka pula mulutnya.
"Aku bukan merewelkan soal menang atau kalah!"
Katanya.
"Kamu mempunyai pembantu di luar kalangan, yang bekerja secara menggelap, itulah tak selayaknya! Tak dapat tidak, dia mesti disuruh muncul disini! Nanti aku turun sendiri, untuk melayani dia!"
Inilah soal sulit untuk Butong Pay atau Binsan Pay, buat semua hadirin di pihak lawan. Kemana Co Kim Jie mesti cari pembantunya itu? Kang Lam pun heran. Dia berpikir.
"Kenapa Kim Tayhiap dapat bersabar sampai begini? Terang sudah bangsat tua she Beng ini menantangnya, cuma dia belum disebut langsung namanya..."
Kang Lam ini tidak tahu bahwa Kim Sie Ie, setelah mengeram diri tiga tahun di pulau sepi sunyi, untuk mempelajari separuh kitab rahasia, sudah berubah tabiatnya, sedang dia pun mempunyai sebab-sebabnya untuk tidak segera memperlihatkan diri.
Masih Beng Sin Thong mengulangi tantangannya, setelah tiga kali dia tetap tidak memperoleh jawaban, dia menjadi sangat gusar, dia kata pada Co Kim Jie.
"Tetapi ini tempatmu, kau sudah menyembunyikan orang, maka aku cuma mau berhitungan denganmu!"
Sementara itu, Tong Keng Thian juga sudah menduga kepada Kim Sie Ie, ia hanya heran hingga, seperti Kang Lam, ia berpikir.
"Sampai saat ini dia masih belum mau keluar, apakah benar tabiatnya msih belum berubah, hingga urusan ini dia memandangnya secara guyon?"
Sekarang ini lain kesannya Keng Thian terhadap Sie Ie, karena ia tidak memandang lagi orang sebagai musuh, hanya sebagai sahabat.
Beng Sin Thong tidak memperoleh jawaban dari Co Kim Jie, yang membungkam, dia lantas lompat ke arah depan nyonya itu.
Ketika itu Pengcoan Thianlie masih belum mundur dari gelanggang, dia lewat di samping si nyonya.
Mendadak dia kata.
"Baiklah! Co Kim Jie tidak mau bicara, aku bekuk kau saja! Sebentar baru aku tanya padanya! -Hm! Apakah kau tidak mau secara baik-baik menyerahkan pedangmu? Apakah kau hendak turun tangan terhadap aku?"
Beng Sin Thong mengambil sikapnya ini karena sekarang sangkaannya sudah matang, la menduga Kim Sie Ie, tapi ia bersangsi, setelah membebaskan totokan atas dirinya Yang Cek Hu, kesangsiannya itu lenyap.
Inilah sebab ia mendapat kenyataan lawan bisa memecahkan pembelaan diri-penutupan jalan darah-dari Yang Cek Hu itu.
Ia kata dalam hatinya.
"Mungkin ada lain orang yang mengerti Thiantun Toan-im! Tidak mungkin mengenai ilmu menutup jalan darahku ini -ilmu Kun-goan Cinkhie Piehiat hoat! Itulah ilmu yang aku peroleh dari kitab warisannya Kiauw Pak Beng. Memang Yang Sutee belum sempurna mempelajarinya tapi apa yang ia bisa itu, tidak sembarang orang dapat memecahkannya! Kecuali orang itu pernah mempelajari kitab rahasianya Kiauw Pak Beng! Siapa orang itu kalau dia bukannya Kim Sie Ie?"
Ketika itu hari di atas pulau Beng Sin Thong dan Kim Sie Ie memperebuti kitab rahasia warisannya Kiauw Pak Beng, Mereka memperoleh masing-masing sepa-ruhnya.
Kim Sie Ie mendapatkan bagian atas, dan Beng Sin Thong bagian bawah.
Bagian atas itu memuat pelbagai teori istimewa.
Bagian bawah memuat pelajaran melawan musuh, antaranya Siulo Imsat Kang.
Baca Juga: Terbang Harum Pedang Hujan 5
Baca Juga: Hong Lui Bun 7