Perjodohan Busur Kumala 9

Eps 9 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.

Kim Sie le tidak bisa Siulo Imsat Kang tapi ia mengerti jelas tentang ilmu itu, yang tak dapat dipecahkan tapi bisa ditangkis.

Ringkasnya, kedua bagian pelajarannya Kiauw Pak Beng itu, ada hubungannya tapi seperti tidak, kalau dikatakan tidak, dapat saling mempengaruhi.

Itulah sebab yang membikin Sin Thong jeri terhadap Sie Ie.

Kalau Sie Ie masih hidup, tidak dapat ia menjagoi!

Beng Sin Thong tahu baik hubungan apa ada di antara Kim Sie Ie dan Pengcoan Thianlie, maka itu dia ingin menahan si nyonya, guna memaksa Sie Ie muncul.

Maka juga, batal menghadapi terus pada Co Kim Jie, dia menghadang di depan nyonya Keng Thian.

Dia bertindak dengan Thianlo pou, untuk menghalang-halangi orang menyingkir.

Tong Keng Thian terkejut melihat orang mencegah isterinya, sambil berseru ia lompat maju.

Beng Sin Thong tidak menanti sampainya suami si nyonya itu, ia sudah lantas menyambar.

Pengcoan Thianlie tidak diam saja, ia melawan dengan timpukan peluru inti esnya, bahkan beruntun ia menimpuk tujuh kali terus menerus.

Beng Sin Thong liehay luar biasa.

Dia mementang mulutnya lebar-lebar, untuk menanggapi semua peluru es itu, untuk ditelan.

Kalau Yang Cek Hu terkena itu menjadi beku seluruh tubuhnya, jago tua ini sebaliknya, dia malah menjadi tambah kuat.

Dia tertawa lebar dan kata.

"Bagus! Bagus! Inilah melebihkan khasiatnya pil Sipeoan Taypouw Tan!"

Beng Sin Thong benar.

Dia sudah mencapai Siulo Imsat Kang tingkat sembilan, tingkat terakhir, es istimewa itu membikin ia tambah kuat tenaga dalamnya!

Pengcoan Thianlie terperanjat, ia lompat untuk menyingkir, tapi Beng Sin Thong tidak mau sudah, dia lompat sambil mengulur tangannya, guna menyambar pula!

Berbareng dengan itu, di udara terdengar satu suara mengaung, lalu tertampak satu sinar berkilau dan emas hitam, yang datang menyambar!

Itulah Thiansan Sinbong, pelurunya Tong Keng Thian.

Itulah senjata rahasia, yang bersama pedang Yuliong Kiam, yang membikin Leng Bwee Hong, jago generasi kedua dari Thiansan Pay, dapat menjagoi.

Maka itu, melihat senjata itu, Beng Sin Thong pun terkejut.

Ia kata dalam hatinya.

"Kalau Tong Siauw Lan ada disini, dia dapat menjadi musuh berat bagiku..."

La membatalkan sambarannya kepada Pengcoan Thianlie, ia menarik pulang tangannya, guna menyentil jatuh sinbong-nya Keng Thian itu.

Meski begitu ia merasa jari tangannya kesemutan dan kaku!

Tong Sian Siangjin lantas maju ke muka.

"Jikalau ada bicara, mari kita bicara dengan cara baik!"

Ia kata sabar tapi nadanya keren.

"Kenapa mesti mempersulit segala anak muda..."

Beng Sin Thong ketahui pendeta itu pendeta suci, ia pun mesti menghormati dirinya, maka ia melepaskan Pengcoan Thianlie. Ia kata.

"Baiklah, jikalau Siangjin menaruh belas kasihan terhadapnya. Sekarang aku mau tanya Co Kim Jie saja, untuk minta orang dari dianya!"

"Kau keliru, Beng Sianseng!"

Berkata Tong Sian Siangjin sabar.

"Turut pikiran loolap, taruh kata benar disini ada orang liehay yang menyembunyikan diri, dia bukanlah orang yang diundang Co Ciangbun! Sianseng sendiri tidak dapat mencari orang itu, kenapa sianseng memaksakan atas diri si nyonya?"

Kim Kong Taysu juga turut bicara, katanya.

"Mungkin orang liehay itu orang yang gemar bergurau! Dia mungkin melihat Beng Sianseng memberi kisikan kepada sutee-mu, dia menjadi tangan gatal, dia meniru sepak terjang sianseng, dia pun mengasih lihat kepandaiannya itu! Karena dia liehay, tidak mungkin dia penakut, karena itu tepatlah kalau Beng Sianseng menantang padanya. Orang liehay sekarang ini tidak seberapa gelintir, Beng Sianseng sangat liehay, mesti sianseng dapat menerka dia siapa! Kenapa sekarang sianseng justeru memperbesar urusan kecil?"

Baru pendeta itu berkata demikian, atau Kang Lam memperlihatkan kepalanya di antara orang banyak rombongannya, sembari tertawa menyeringai, dia herkata.

"Kata-kata Taysu pantaslah ditambahkan kata-kata mengacau!"

Beng Sin Thong gusar bukan main. Orang kata dia memperbesar urusan kecil, sedang di matanya, urusan penting sekali. Ejekannya Kang Lam menambah kegusarannya itu.

"Kamu kata urusan kecil dibikin besar dan aku mengacau?"

Dia berseru.

"Baiklah, sengaja aku mengacau! Hendak aku menghajar Co Kim Jie dengan tiga ratus rangketan! Dia sudah melanggar aturan pertempuran! Kenapa dia membiarkan lain orang datang kemari dan memusuhkan aku secara menggelap? Mungkin dia itu bukan orang undangannya toh dia sudah bersalah kurang periksa! Dia harus bertanggung jawab!"

"Ah, Beng Sianseng, mengapa kau berkeras begini?..."

Berkata Kim Kong Taysu. Tapi dia dipotong Beng Sin Thong, yang membentak.

"Siapa tidak puas, mari dia bicara dengan aku! Memangnya aku telah melepas kata bahwa aku hendak menempur kamu kepala pelbagai partai!"

Co Kim Jie menggigil saking gusarnya.

"Angin busuk!"

Dia membentak.

"Kau kira aku Co Kim Jie orang macam apa? Cara bagaimana kau berani membuka mulut mengeluarkan kata-kata kotor?"

"Apakah kau menganggap kaulah ketua Binsan Pay yang harus dihormati?"

Tanya Beng Sin Thong.

"Di mataku, kau tak berharga sepeser buta!-Cek Hu, Siauw Hong, Mari, kau bekuklah dia!"

Dalam murkanya, Beng Sin Thong maju, tangannya dipentang. Beberapa orang, yang berada di dekatnya, terpelanting karenanya. Kim Kong Taysu menjadi habis sabar.

"Beng Sianseng, marilah kita berdua main-main!"

Ia kata, terpaksa.

Pendeta ini bicara sambil duduk, dia terpisahkan sedikit jauh dari Sin Thong, yang maju terus, maka kembali dia menyampok roboh beberapa orang, la menyampok, bukannya menyerang, ia hanya mau bertindak maju.

Tiba-tiba.

"Siauw Beng, loohu berada disini, jangan kau begini kurang ajar!"

Itulah kata tiba-tiba, disusul oleh orangnya, yang berlompat maju dari samping sambil terus menyerang.

Beng Sin Thong gusar.

Ia dipanggil "Siauw Beng", artinya si Beng yang kecil atau muda.

Sebaliknya orang itu menyebut diri "loohu", si orang tua.

Tak senang ia dipermainkan.

Maka, tanpa melihat tegas siapa orang itu, dia mendamprat.

"Makhluk apa itu yang berani menyebut dirinya si orang tua?"

Ia lantas menyampok dengan "Ciam-ie Sippat Tiat", sampokan "Delapan belas kali melanggar baju".

Tapi ia mendapat perlawanan keras.

Tangan bajunya kena dibikin membrebet pecah!

la menyampok sia-sia, ia gagal!

Maka ia menjadi bertambah mendongkol, dengan lantas dia menggunai Siulo Imsat Kang!

Orang yang maju itu, seorang tua, ialah Ouw Thian Long, tiangloo atau ketua dari Khongtong Pay.

Dia sudah berumur delapan puluh tahun lebih, kepandaiannya meng gabung kepandaian kaum lurus dan sesat.

Memang tabiatnya dia suka bertingkah sebagai si orang tua.

Dia hadir di medan pertempuran ini dengan hatinya mendongkol.

Itulah sebab orang sudah tidak memilih dia sebagai ketua pertemuan.

Maka dia muncul mendahului Kim Kong Taysu.

Dia pikir baiklah dia mempertontonkan kepandaiannya.

Dia pun pikir tepat kalau dia berbahasai "loohu"

Dan memanggil "Siauw Beng"!

Tentu sekali dia menjadi bertambah mendongkol mendapatkan Beng Sin Thong tidak memandang mata padanya.

Dia memang liehay, tidak heran kalau dia dapat menjambret pecah ujung bajunya jago Siulo Imsat Kang itu.

Sebaliknya, dia terkejut ketika dia merasakan hawa dingin.

Syukur dia mempunyai kepandaian "Thianlo pou"

Dan "Kuchong Pa-in Sin-hoat", maka ia bisa menyelamatkan dirinya.

"Kuchong pa-in"

Itu ialah ilmu "Kura-kura sembunyi, macan tutul menjumput".

Toh dia terhuyung mundur!

Yang Cek Hu tengah maju, dia jadi bersomplokan dengan jago Khongtong Pay itu.

Dia gusar, dia menggunai pundaknya.

Cek Hu mau menyambar, ia kalah cepat, maka ia terbentur hingga terguling!

Hebat Siulo Imsat Kang Sin Thong, hawa dinginnya membikin beberapa musuh roboh, hingga mereka itu perlu lekas ditolong dengan dibawa menyingkir.

Dengan begitu maka disitu terbukalah suatu kalangan yang lebar tiga tombak di sekitarnya.

Beng Sin Thong gusar.

Ia mendengar sutee-nya menjerit, ia melihat sutee itu roboh akibat benturan dengan Ouw Thian Long.

Ia mendongkol sekali.

"Kiranya kau, tua bangka tidak mau mampus!"

Dia kata, setelah dia melihat jago Khongtong Pay itu.

"Mari, mari kau menyambut pula!"

Benar-benar dia menyerang pula, dengan pukulan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilannya!

Di saat yang genting itu, mendadak terlihat satu sinar kuning lompat ke dalam kalangan.

Segera terlihat Kim Kong Taysu dengan jubah sucinya warna kuning.

Pendeta ini terus menggeraki kedua tangannya, untuk menempel kedua tangan Beng Sin Thong.

Dengan sabar, dengan nada tawar, ia kata.

"Beng Sianseng, guna apa kau menjadi murka? Jikalau kau hendak mencari orang untuk main-main mengadu tangan, baiklah kau mencoba-coba dengan loolap saja!"

Beng Sin Thong terkejut.

"Pantas dia dan Tong Sian Siangjin menjagoi Rimba Persilatan di Tionggoan, dia memang liehay sekali, dia sanggup bertahan dari hawa dinginku Siulo Imsat Kang!"

Kim Kong Taysu mengerahkan tenaga dalamnya, untuk menempel terus. Ia memang mahir latihan tenaga dalamnya, yang disebut "Cengcin Khiekang", atau "Hawa bersih jernih".

"Untuk mencari keputusan, aku membutuhkan waktu setengah jam,"

Pikir Sin Thong.

Ia ingin berurusan dengan Co Kim Jie, ia tidak mau melayani lama-lama pendeta ini, maka ia mengerahkan tenaganya, tenaga "Kimkong Poanjiak Sinkang", tenaganya terkumpul di telapakan tangannya.

Dengan itu ia menolak tenaga menempel dari Kim Kong Taysu, sembari berbuat begitu, ia tertawa dan kata.

"Aku berterima kasih yang kau menaruh harga kepadaku dan sudi memberikan pelajaran ini, akan tetapi aku lagi mempunyai urusan, aku minta sukalah kau bersabar sampai sebentar lagi! Kau setuju, bukankah?"

Kim Kong Taysu terkejut.

Ia percaya kemahiran dirinya sendiri, akan tetapi tatkala Beng Sin Thong menolak itu, ia merasa darahnya seperti bergolak naik berbareng hawa sangat dingin tersalur ke tangannya terus ke tubuhnya.

Dalam kaget, ia lantas memusatkan perhatiannya, dia mengumpul semangatnya.

Kedua pihak lantas memisahkan diri.

Kim Kong Taysu mundur, dan Beng Sin Thong mencelat sampai di depan kuburannya Tokpie Sinnie!

Co Kim Jie berkumpul di depan kuburan itu bersama muridmurid Binsan Pay sampai tingkat ketiga, maksudnya untuk melindungi kuburan ketua mereka yang dipandang suci itu.

Ketika dia melihat tibanya Beng Sin Thong, matanya menjadi merah.

Jeri atau tidak, mesti dia mengadu jiwa.

Tak mesti dia membiarkan dirinya diperhina.

Beng Sin Thong tertawa bergolak.

Dia menggeraki tangannya dengan jurus "Cian-ie Sippat Tiat".

Lantas beberapa murid Binsan Pay, yang maju merintanginya, pada roboh terpelanting.

"Co Kim Jie, masih saja kau bersembunyi?"

Dia kata, mengejek.

"Siauw Hong, mari! Kau bekuk dia!"

Disana Ek Tiong Bouw berdiri bersama-sama Co Kim Jie, Louw Too In dan Lim Seng.

Merekalah anggauta-anggauta Binsan Pay paling liehay.

Beng Sin Thong maju ke arah mereka sambil dia membentak Co Kim Jie.

"Ha, kau bersembunyi disini! Apakah kau masih tidak mau menggelinding keluar?"

Lantas tubuhnya berlompat, seperti elang terbang menyambar.

Tapi dia bukannya menerjang Co Kim Jie atau lainnya, dia justeru lompat melewati mereka itu berempat, hingga ia sampai di depan kuburannya Tokpie Sinnie.

Disini dia menyerang kepada Ang Tiong, ialah boneka batu yang biasa ditaruh di depan kuburan di jaman dahulu sebagai penjaga.

Boneka itu berada di pinggiran kuburan, dan dia menyerang ke arah kepalanya.

Perubahan serangan itu terjadi secara mendadak.

Sebenarnya dia mau menyerang Co Kim Jie, tetapi tiba-tiba matanya melihat sesosok tubuh berkelebat di belakang Ang Tiong itu.

Maka dia menduga, di dalam tubuh boneka itu mesti ada orang yang bersembunyi.

Ketika dia menghajar itu, sang boneka lantas roboh!

Segeralah jago ini melihat sesuatu yang membikin dia tercengang.

Seorang berlompat mendahului robohnya boneka.

Orang itu orang yang di luar dugaannya.

Dia tercengang hingga tak dapat dia mengulangi serangannya yang kedua kali!

Di pihak Binsan Pay orang pun pada berdiam, bahkan Co Kim Jie mesti mementang matanya menjublak, roman mukanya nampak luar biasa, la terkejut dan girang berbareng, lalu ia menjadi likat sendirinya.

Orang itu muncul sangat di luar dugaannya!

"Enci Kok!"

Akhirnya terdengar Lie Kim Bwee berseru memanggil "Enci Kok!"

Memang orang yang bersembunyi di dalam tubuh boneka itu Kok Cie Hoa, murid yang dimurtadkan dari Binsan Pay, puterinya Beng Sin Thong!

Cie Hoa mengangkat kepalanya, memandang Kim Bwee.

la tidak membuka suara tetapi sinar matanya, perubahan air mukanya, menandakan ia mendengar panggilan nona she Lie itu.

Kemudian sinar matanya berubah arah ke arah Ben Sin Thong, sang ayah.

Sin Thong melengak sekian lama.

Akhir-akhirnya ia sadar, heran.

"Cie Hoa!"

Tanyanya.

"Kau... kau datang kemari, mau apakah?"

Cie Hoa bertindak ke depan kuburan Tokpie Sinnie dimana ia berdiri dengan hormat.

"Hari ini hari peringatan ulang tahun mendiang kakek guru dan guruku,"

Ia menyahut perlahan.

"maka itu aku datang kemari, kesatu untuk menghunjuk hormatku kepada kakek guru dan guruku itu, kedua ialah aku memikir untuk memohon kamu menghentikan pertempuran ini."

"Ha, kau ingin aku menyudahi urusanku?"

Tanya Sin Thong, heran. Co Kim Jie pun mengetruk tanah dengan tongkatnya. Dia sadar sekarang.

"Kok Cie Hoa,"

Dia kata, keras, nadanya nada gusar.

"Tidak kusangka kau masih mempunyai muka untuk datang kemari. Dan kau berani di depan kakek guru bicara begini rupa! Bagaimana mudah mengucapkan menghentikan pertempuran! Tahukah kau ke empat tiangloo dari Kaypang telah dicelakai siapa? Tahukah kau ayahmu yang sangat jahat tak berampun barusan sudah menghina siapa?"

"Suci, sabar,"

Ek Tiong Bouw berkata. Ia terus berpaling kepada Beng Sin Thong, untuk meneruskan.

"Jangan omong besar! Memang urusan kita ini tak dapat disudahi dengan begini saja! Tadi kau mencari orang liehay yang dimaksudkan olehmu sekarang dia muncul! Dialah murid Binsan Pay yang pada ini hari dari tahun yang sudah, disini dan di ini jam juga, telah diusir ketua kami, diusir dari Partai kami, maka sekarang kau mestinya ketahui baik-baik dia bukanlah orang yang dengan cara diam-diam telah dijanjikan kami, bahwa bukan kami yang menyuruhnya membokong pihakmu! Sekarang, lekas kau mundur dari sini, jikalau kau tetap hendak melanjuti pertempuran, mari kita pergi kesana, ke tempat pertempuran barusan!"

Ek Tiong Bouw mengatakan demikian karena Binsan Pay memandang kuburan itu sebagai tempat keramat, jikalau kuburan itu terganggu Beng Sin Thong, walaupun kejadian Beng Sin Thong terkalahkan atau terbinasakan, mereka sudah merasa terhina sendirinya.

Selama itu Kok Cie Hoa berdiri diam, air matanya mengembeng hendak berjatuhan, la sangat bersusah hati.

Tidak heran jikalau ia didamprat Co Kim Jie.

Tapi sekarang Ek Tiong Bouw pun mengatakan demikian, sedang biasanya Tiong Bouw selalu melindunginya.

Ia menjadi tidak keruan rasa, hatinya sangat tertindih.

Tapi yang membikinnya merentak hati ialah sikap kedua belah pihak, yang nampak tetap keras, hingga ia mau percaya, pertempuran darah tak dapat dicegah lagi.

Itulah rupanya takdir atau tulisan...

la mengertak gigi, untuk menguasai diri.

Atas kata-katanya Ek Tiong Bouw, bukannya Beng Sin Thong likat atau malu, dia justeru tertawa.

"Cie Hoa, kau dengar atau tidak?"

Dia kata pada anak daranya.

"Co Kim Jie tidak mengakui kau sebagai adik seperguruannya? Maka, mau apakah kau masih hendak membantui dia? Jangan kata mereka memangnya tak sudi menyudahi urusan kita ini, walaupun Co Kim Jie sendiri bertekuk lutut di depanku dan mengangguk-angguk hingga tiga ratus kali, aku pun tak sudi menyudahinya!"

Jago ini berkata demikian karena, setelah berpikir sejenak, tetap ia tidak mau percaya bahwa pembantu gelap dari pihak lawan ialah gadisnya ini.

Ia sudah pikir, hendak ia membekuk dulu Co Kim Jie, baru nanti ia cari orang yang disangka itu.

Maka itu ia tidak menggubris puterinya.

Bahkan dia menoleh, dia memandang bengis kepada ketua Binsan Pay.

"Co Kim Jie!"

Ia membentak.

"apakah kau masih tetap tidak mau menerima dosamu? Apakah benar-benar kau menghendaki aku turun tangan sendiri? Pendek, sekali ini aku tidak mau main belas kasihan lagi! Akan aku membikin jiwa kamu tak bakal lolos pula!"

Sambil berkata begitu, Sin Thong menggeraki kedua tangannya ke arah Co Kim Jie.

Kim Jie bersama Tiong Bouw dan beberapa yang lainnya, yang pernah mempelajari Siauwyang Sinkang, merasakan serangan hawa sangat dingin, sampai tubuh mereka menggigil dan gigi bercatrukan.

Belum lagi Co Kim Jie mengambil sikapnya, Kok Cie Hoa sudah berlompat di antara mereka, menghadang di depan Beng Sin Thong.

"Aku minta kamu suka dengar lagi beberapa kata-kataku!"

Ia kata. Beng Sin Thong menarik pulang tangannya.

"Aku telah memikir cara untuk mendamaikan,"

Cie Hoa berkata pula.

"Hanya itu dapat dijalankan atau tidak, aku minta sukalah kamu kedua belah pihak memikirkannya."

"Kau bicaralah, aku mau dengar,"

Kata Sin Thong. Cie Hoa memandang ayahnya itu.

"Kau telah mencelakai empat tiangloo dari Kaypang,"

Katanya.

"kau juga memaksa menghina guru besar pelbagai partai disini, dalam hal itu semua, kaulah yang keliru!"

Beng Sin Thong mengasih dengar suara "Hm!"

Mendengar ia dipersalahkan.

Kalau yang bicara itu bukan gadisnya, mungkin kepalannya sudah melayang menghancurkan batok kepala orang.

Cie Hoa tidak memperdulikan ayahnya senang atau tidak, ia terus menoleh kepada Co Kim Jie.

Ia kata.

"Di dalam Rimba Persilatan ada kata-kata yang berarti bahwa membunuh orang itu sama mudahnya dengan menganggukkan kepala. Maka itu aku mengharap, jikalau pihak sana dapat menginsyafi kesalahannya, kau suka memaafkannya. Pasti sekali, mengaku salah itu bukan hanya kata-kata kosong meminta maaf, untuk itu aku mau minta dipenuhkan tiga syarat..."

Mukanya Sin Thong berubah menjadi guram.

"Kau menghendaki aku menghaturkan maaf? Kau ingin aku minta ampun kepadanya?"

Katanya sengit.

"Hm! Kau lagi bicara dengan siapa? Kau tahu atau tidak? Sampai pada usianya sekarang ini ayahmu belum pernah tunduk kepada siapa juga!"

Sembari berkata, jago Siulo Imsat Kang ini mengangkat tangannya naik dengan perlahan-lahan, akan tetapi kapan ia melihat muka puterinya, yang air matanya mengembeng, yang romannya demikian tenang dan sungguh-sungguh, tangannya itu berhenti di tengah udara.

"Baiklah!"

Katanya.

"Sekarang kau sebutkanlah semua syarat yang kau hendak ajukan itu, aku mau dengar."

Cie Hoa tetap tenang. Ia kata.

"Yang pertama-tama ialah kau harus menghaturkan maaf kepada Ek Tiong Bouw ketua Kaypang, kepada Co Ciangbun dari Binsan Pay, dan kepada Han Ciangbun dari Cengshia Pay. Yang kedua ialah setelah sekarang ini kau mengundurkan diri dari Rimba Persilatan. Dan yang ketiga. Aku ketahui kau telah berhasil mendapatkan kitab rahasia ilmu silat warisan Kiauw Pak Beng. Kitab itu, selama itu masih ada di tangan kau, bakal membikin pelbagai partai tetap tak tenang hati, sebab ada kemungkinan kau nanti wariskan pada orang yang tidak tepat, hingga ada kekuatiran juga di belakang hari akan terbit bencana karenanya. Maka itu mengenai syarat yang ketiga ini, aku minta kau menyerahkan kitab itu pada Tong Sian Siangjin dari Siauwlim Pay sebagai orang yang paling dihormati Co Suci,"

Ia menambahkan pada Co Kim Jie kepada siapa ia terus berpaling.

"jikalau dia suka menerima baik dan menjalankan tiga syarat itu, aku harap kau suka menyudahi apa yang dapat disudahi dan mengampuni dimana bisa!"

Tentang Kiauw Pak Beng, banyak anggauta partai-partai yang tak mendapat tahu, tetapi tidak demikian dengan ketua mereka itu, maka itu mendengar kata-kata si nona bahwa Beng Sin Thong telah memiliki kitab warisan jago itu, pihak ketua itu kaget semuanya.

Co Kim Jie menjadi bingung.

Ia telah melihat tegas kegagahannya Beng Sin Thong hingga mungkin Kim Kong Taysu dan Tong Sian Siangjin juga bukan lawan yang tepat dari jago itu.

Ia pun memikir.

"Dengan tindakannya ini, Kok Cie Hoa juga tidak menyalahi partai, maka kalau Beng Sin Thong dapat menerima baik, tak usah pihak kita ragu-ragu lagi, harus kita menerimanya..."

Sebenarnya untuk Co Kim Jie, disini cuma ada soal muka.

Inilah yang membuatnya berpikir keras.

Tong Sian Siangjin, yang semenjak munculnya Kok Cie Hoa berdiam saja, merangkap kedua tangannya dan memujikan Sang Budha, lalu dia kata.

"Kata-katanya Nona Kok pantas sekali! Maka itu, Beng Siecu, sekarang terserah kepada kau, bencana pergi dan keselamatan datang, atau sebaliknya!"

Atas kata-katanya pendeta ini, semua mata lantas diarahkan kepada Beng Sin Thong seorang.

Jago itu berdiam, air mukanya tenang.

Ia bergusar tak dapat mengutarakannya.

Ia juga sangat bersusah hati.

Syaratsyarat yang disarankan puterinya membikin ia mesti berpikir keras.

Orang semua menantikan, orang mengharap jago ini sadar dan menerimanya dengan baik.

Tak usah lama orang menantikan.

Mendadak Beng Sin Thong tertawa mengguntur, memekakkan telinga.

Orang yang tenaga dalamnya lemah sampai pada roboh pingsan.

Habis itu, dia menjambak rambut kepalanya sendiri.

"Bagus, ya!"

Ia berseru kepada Cie Hoa.

"Kecewa kau menjadi anakku! Kau... kau mau memaksakan ayahmu mendapat malu, minta-minta ampun dari lain orang! Kau bukan berpihak padaku hanya kepada orang luar! Tidak, biarnya aku berdosa besar, tak mungkin aku mendapat ini macam pembalasan!"

Cie Hoa tidak heran mendengar suara ayahnya itu. Ia berlaku tenang dan kata.

"Jikalau kau terima baik ketiga syarat ini, akupun akan mengajukan satu syarat terhadapmu. Inilah. Tak perduli segala kejahatanmu yang sudah-sudah, aku tetap mengakui kau sebagai ayahku, setelah kau mengundurkan diri, kita pergi mencari suatu tempat untuk hidup menyendiri, disana seumurku, aku akan menemani kau, tidak nanti aku memisahkan diri! Ayah, kau setujukah?"

Beng Sin Thong seperti kalap tapi perkataan anaknya itu mirip cambuk peranti merotani menjinakkan binatang liar.

Segera dia menjadi berdiam pula.

Bahkan sekarang pada matanya tampak air mengembeng...

Bukankah nona di hadapannya ini anaknya yang satusatunya?

Dan anaknya ini membikin ia ingat kepada mendiang isterinya.

Lalu ia pun ingat bagaimana untuk banyak tahun ia hidup menyendiri, merasakan kesepian kekeluargaan.

Sebenarnya ia mengharap puterinya melayaninya, untuk mereka hidup bersama berduaan saja.

Ada harganya niatnya menjagoi ditukar dengan penghidupan yang tenang tapi berbahagia itu...

"Baik, anak, baik, suka aku menurut kau. Seumurku inilah yang pertama kali aku suka mendengar perkataan orang..."

Demikian ia pikir.

Ia tinggal membuka mulutnya, atau segera, ia bersangsi pula.

Ia seperti tak mempunyai keberanian akan menyebutnya.

Maka itu, matanya lantas bersinar tajam, menyapu ke kelilingnya.

Cie Hoa mengawasi ayahnya itu.

Ia menanti keputusan.

Di dalam hal ini ia mengharap ayahnya ingat perhubungan di antara ayah dan anak.

Hatinya lega kalau ia melihat wajah tenang dari Sin Thong.

Tapi ia lagi menanti putusan, hatinya berdebar juga.

Ia terumbang-ambing di antara kegirangan dan kedukaan, la pikir.

"Kalau dia menerima baik syaratku, pertumpahan darah akan berhenti, biarlah aku mengikutinya. Tak aku perduli apa kata orang luar..."

Ia tahu kedudukannya tetap sulit.

Sin Thong musuh besar partainya.

Mereka boleh akur, tapi ia turut ayahnya, itu artinya ia menentang partai sendiri.

Binsan Pay menentang manusia jahat dan Sin Thong terang dianggapnya manusia jahat itu.

Karenanya tak usah ia harap yang ia nanti dapat pulang ke dalam Binsan Pay.

Saking memikir itu, Cie Hoa lantas ingat Kim Sie Ie.

la ingat tahun sudah tepat pada ini hari, waktu ia dipecat diusir turun dari gunung.

Kim Sie Ie telah menghiburnya dengan katakata.

"Kau ialah kau! Dia ialah dia! Bukankah siapa bersih dia tetap bersih-siapa yang kotor, tetap kotor? Lihatlah bunga teratai, yang tumbuh di dalam lumpur! Bunga teratai tetap bunga teratai yang bersih dan harum...! Dan sekarang, kalau ayahnya menerima syaratnya bakal terjadi 'yang bersih tinggal bersama yang kotor'."

"Bagaimana anggapannya Kim Sie Ie kalau ia ketahui perbuatanku ini?"

Pikirnya lebih jauh.

Cie Hoa juga pernah mendengar berita kematiannya Kim Sie Ie akan tetapi ia pula orang satu-satunya yang tak mudah mempercayainya.

Sekarang Cie Hoa mau mengorbankan diri, asal partainya lolos dari bahaya, supaya ia dapat merubah cara hidup ayahnya.

Tak apa ia menemani ayahnya itu seumur hidup.

Hanya sayang, percobaannya itu gagal...

Setelah berpikir, Beng Sin Thong kata tawar.

"Tak dapat aku menerima baik semua tiga syaratmu itu!"

Kalahlah ikatan ayah dengan gadisnya!

Yang menang ialah cita-cita menjagoi Rimba Persilatan!

Sin Thong menyayangi pihaknya yang unggul itu, dan ia menyayangi juga menyerahkan kitabnya Kiauw Pak Beng yang ia telah cari dan dapatkan dengan susah payah itu.

Cie Hoa seperti mendengar guntur meskipun ayahnya bicara perlahan serta tercampur nada menyayang.

Yang paling penting ialah keputusannya.

Ia merasa bumi bergoyang, hingga tubuhnya hampir roboh.

"Ah, anak tolol!"

Kata Sin Thong tertawa melihat keadaan puterinya itu.

"Kau mempunyai ayah jago tanpa lawan, bukankah itu terlebih baik?"

Ia maju, ia menolak minggir tubuh anaknya itu, terus ia bertindak menghampirkan Co Kim Jie.

Sambil berjalan itu, romannya muram.

Tapi baru tiga tindak, Cie Hoa sudah menyusul.

Jago itu mengerutkan kening.

Ia berduka dan bersangsi.

Tiba-tiba terdengar suara pedang dicabut dari sarungnya.

Itulah Cie Hoa yang menghunus pedangnya.

"Apa? Kau hendak melawan aku?"

Tanya Sin Thong, tawar, dan matanya mendelong.

Cie Hoa tidak menyahuti, hanya pedangnya ditikamkan ke dadanya!

Co Kim Jie berteriak bahna kaget.

Berbareng dengan tikaman itu, suatu sinar hijau menyambar pedang, lantas terdengar suara yang nyaring, terus senjata itu jatuh ke tanah.

Berbareng dengan itu juga Sin Thong mengulur kedua tangannya menyambar ke arah puterinya!

Semua itu berjalan dengan cepat sekali.

Mendadak Sin Thong merasai tolakan keras ke arahnya.

Itulah gerakannya Tong Sian Siangjin serta Kim Kong Taysu.

Kedua ketua partai ini bertindak menghampirkan Co Kim Jie selagi Kim Jie bicara dengan Sin Thong, untuk melindunginya.

Maka itu, mereka berada dekat satu dengan lain.

Melihat sikapnya Beng Sin Thong itu, yang seperti menyerang anaknya sendiri, keduanya lantas turun tangan.

Beng Sin Thong sempat membela diri.

Dengan tangan kanan menangkis Kim Kong Taysu, dengan tangan kiri ia menolak Tong Sian Siangjin.

Akibatnya itu ialah dua bentrokan sangat keras.

Beng Sin Thong mundur tiga tindak, dan Tong Sian bersama Kim Kong terhuyung tubuhnya, masing-masing menggeser ke kiri dan kanan.

Pada saat itu, Co Kim Jie sudah memondong tubuh Cie Hoa.

"Dialah anakku!"

Kata Sin Thong gusar.

"Aku hendak membawanya pulang! Dia mati atau dia hidup, dengan kamu tak ada hubungannya!"

"Siancay! Siancay!"

Tong Sian Siangjin memuji.

"Memang loolap tak dapat mencampur tahu urusan kamu ayah dan anak tetapi disini ada orang yang berhak mengurusnya!"

Ia lantas berpaling kepada Co Kim Jie, untuk meneruskan berkata.

"Bukankah aku benar? Co Ciangbun, urusan ini kaulah yang berhak menyampur tahunya!"

Kim Jie menyerahkan Cie Hoa pada salah seorang murid wanitanya, dengan tenang tetapi sungguh-sungguh, ia lantas berkata.

"Hari ini sebagai ketua Binsan Pay hendak aku mengumumkan! Aku menyatakan bahwa Kok Cie Hoa semenjak hari ini sudah diterima pula di dalam Binsan Pay!"

Pengorbanan Cie Hoa itu menggedur hati sanubarinya ketua ini, hanya sayang, kata-katanya itu tak didengar Cie Hoa, yang tetap pingsan.

Di dalam kalangan Rimba Persilatan, ayah dan guru sama dihargainya, akan tetapi di saat terjadinya satu perselisihan di antara sang ayah dan sang guru, maka aturan memestikan orang mengikut pada gurunya, kecuali dia menyatakan sendiri meninggalkan perguruan atau partainya.

Di dalam halnya Kok Cie Hoa ini sudah jelas, semua orang mendengar tegas, untuk menyudahi pertempuran, dia memilih ayahnya-memilih untuk menyudahi, bukan untuk menentang partai.

Sebaliknya, kalau Beng Sin Thong menolak, ia tak bakal mengakui ayahnya itu pula.

Cie Hoa memanggil suci--kakak seperguruan --kepada Co Kim Jie, itu bukti terang, ia tak mau meninggalkan partai.

Pula telah terjadi, Kim Jie lantas memaklumkan menerima kembali Cie Hoa sebagai murid Binsan Pay, maka itu, Sin Thong tak berhak apa-apa lagi terhadap puterinya itu.

Sin Thong sudah menolak syarat anaknya.

Habis berkata itu, Tong Sian Siangjin lantas menghampirkan Kok Cie Hoa.

Mata si nona ditutup rapat, mukanya pucat.

Co Kim Jie sambil mengucurkan air mata kata.

"Napasnya seperti sudah berhenti..."

Pendeta itu memegang nadi si nona.

"Tidak, ia tidak apa-apa,"

Katanya. Kim Jie berdiam, ia mau percaya pendeta ini, meskipun ketika barusan ia memondong Cie Hoa, tubuh si nona dingin sekali.

"Dia tidak apa-apa,"

Tong Sian Siangjin mengulangi.

"Cuma aku pun tidak berdaya membuatnya mendusin..."

"Apakah dia terkena obat pulas?"

Kim Jie tanya. Tong Sian menggeleng kepala.

"Jikalau dia terkena obat pulas, itulah mudah diurus,"

Sahutnya.

"Dia kena totokan yang luar biasa. Loolap cuma mengetahui tetapi tidak berdaya..."

Cie Hoa itu terkena totokannya Sin Thong, yang menggunai ilmu totokan "Siauwyauw Cie"

Yang ia peroleh dari kitabnya Kiauw Pak Beng.

Totokan itu tak membahayakan jiwa tetapi si korban tak akan sembuh kecuali disadarkan oleh orang yang mengerti ilmu totok itu.

Sin Thong menotok anaknya tiga sebab.

Pertama supaya si anak tak dapat membunuh diri, kedua supaya anak itu tak usah "ngoceh"

Terlebih lama pula, dan ketiga, andaikata anaknya itu ditolong lain orang, orang itu pasti tak dapat menyadarkannya. Hati Kim Jie lega juga sedikit.

"Habis bagaimana?"

Ia tanya Tong Sian Siangjin. Pendeta itu berpikir, baru ia menyahuti.

"Jikalau urusan disini telah selesai, dan loolap tidak kurang suatu apa, nanti loolap mencoba menolong dia dengan Itcie Siankang, untuk menyalurkan semua jalan darahnya, setelah itu dia nanti sadar sendirinya."

"Itcie Siankang"

Ilmu "Sebuah Jeriji Sakti", menjadi ilmu totok istimewa dari Siauwlim Pay, menggunainya itu harus mengorbankan banyak tenaga dalam dan membutuhkan tempo sedikitnya dua jam.

Maka itu, selagi menghadapi musuh, tak dapat ia membuang temponya.

Penjelasan itu menambah lega hatinya ketua Binsan Pay.

Mengingat Tong Sian begitu baik hati dan suka berkorban, ia jengah sendirinya.

Ia ingat bagaimana keras ia memperlakukan Cie Hoa, siapa sangka nona itu tak segan mengorbankan diri untuk perdamaian.

Tong Sian dapat mengasihani, kenapa ia tidak?

"Jikalau begitu,"

Berkata Ek Tiong Bouw.

"baiklah Cie Hoa dibawa dulu ke wihara, supaya dia tak dirampas lagi oleh Beng Sin Thong."

"Kau benar,"

Kim Jie kata.

"Cuma ia perlu dikawani dua orang yang liehay..."

Ketika tadi Touw Ciauw Beng memecahkan barisan Butong Pay, ada beberapa imam yang terlukakan, mereka itu juga perlu disingkirkan, untuk dirawat, mereka harus dilindungi juga.

Lie Kim Bwee diam-diam menarik tangan ibunya.

Phang Lim tertawa dan kata.

"Aku tahu kau ingin menemani enci Kok kau itu. Baiklah, mari kita sama-sama mengantarkannya."

Tepat sekali apabila ini nyonya gagah yang pergi, karena disitu, kegagahannya tak ada di bawahan Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu. Nyonya itu baru berkata itu, lantas ia menambahkan.

"Ciong Tian mari kau turut. Saudara-saudara imam itu pria semuanya, kaulah yang meniliknya."

Alasan Phang Lim kuat, tetapi di samping itu, ia mengandung maksud lain.

Ialah ia ingin Kim Bwee didampingi pemuda itu, supaya si muda-mudi dapat keleluasaan bergaul bersama.

Untuknya si pemuda telah dipandang sebagai menantunya.

Ciong Tian senang sekali menerima tugas itu, tak perduli ia berat meninggalkan medan adu jiwa.

Kalau pertempuran dilanjuti, ia akan menyaksikan ilmu silatnya semua orang yang liehay itu.

Tong Sian Siangjin berpaling kepada Beng Sin Thong.

"Beng Siecu,"

Katanya.

"orang liehay yang kau cari sudah kedapatan, orang yang mau merekoki urusan juga sudah berbicara, maka itu bagaimana pendapat siecu sekarang? Apakah kita harus melanjuti janji kita, untuk bertempur terus? Beng Sin Thong berpikir cepat. Melanjuti pertempuran berarti ia harus membekuk Co Kim Jie. Itu berarti pertempuran bakal jadi kacau sekali. Kalau mereka tidak memegang aturan lagi, berat ia melayani Tong Sian Siangjin serta Kim Kong Taysu berdua. Kalau mereka bertempur menurut aturan, lebih besar pengharapannya. Maka ia mengangguk. Semua orang lantas kembali ke gelanggang pertempuran tadi, semua mengambil tempatnya masing-masing. Selama itu Beng Sin Thong mengasih lihat sikapnya yang dingin dan keren. Sikapnya itu dapat membuat orang jeri terhadapnya. Ia didampingi Yang Cek Hu dan Kie Siauw Hong. Tadi Cek Hu dilukai kakinya oleh Ouw Thian Long, oleh karena itu jalannya pincang dan romannya kucai. Siauw Hong sebaliknya gembira. Sebab tadi selagi "kacau", diam-diam dengan kesehatannya, ia sudah menunjuki kepandaiannya sebagai setan tangantangan, ia mencopet barang-barang orang, di antaranya mutiaranya Tay Tie Siansu, kembang sulam sepatunya Co Kim Jie, ouwtiap piauw, yaitu piauw kupu-kupu istimewa dari Lou Eng Hu, serta seruling kemala dari Lim Seng. Dialah raja copet, matanya sangat panasan, tangannya gatal, maka barang apa saja ia lihat dan menyukainya, tentu ia arah dan sambar. Malah kalau ia berhasil mencopet barang orang ternama, ia makin girang dan bangga. Beng Sin Thong memandang muridnya itu, ia kata tawar.

"Mari obat Pouw Thian Koh!"

Siauw Hong heran hingga ia melengak, tapi ia cerdas, segera ia pikir.

"Tentu suhu maksudkan salah satu barang yang aku copet barusan."

Memang ia telah menyambar belasan peles dan kotak obat tapi ia tak paham namanamanya.

Beng Sin Thong tidak sabaran, ia menepuk pundak muridnya itu, maka jatuh berlarakanlah barang-barang copetannya itu, atas mana gurunya menunjuk sebuah peles leher panjang dan kata.

"Kau ambil isinya itu, kau panasi, lantas kau pakai mengobati paman gurumu!"

Ia cuma berhenti sejenak, ia menambahkan.

"Makhluk tolol, sudah mengambil barang orang tetapi tidak tahu khasiatnya barang! Pengetahuan kau begini cupat, toh kau namakan dirimu Sintauw! Lain kali kau harus minta pengajaran dari paman!"

Siauw Hong menyahuti gurunya, ia pungut peles leher panjang itu sambil ia membungkuk.

Kembali ia mengasih lihat kepandaiannya yang istimewa.

Menggunai saat membungkuk, ia telah menjemput bersih semua barang lainnya yang belarakan itu.

Umumnya tukang copet dinamakan si "tangan tiga"

Tetapi dia bertangan seribu!

Dia mirip tukang sihir.

Ketika itu orang-orang yang kehilangan barang, yang baru mendusin sesudah hasil tangannya Sintauw, Si Malaikat Copet, berlarakan itu, menjadi pada tercengang.

Ouw Thian Long bermuka merah sebab Pouw Thian Koh itu ialah obatnya, obat peranti menyembuhkan obat tulang patah atau keseleo.

Itulah obat menurut resepnya Biauw Sam Nio, ketua dari Khongtong Pay.

Karena obat tersohor manjur, di waktu Sin Thong baru menyebut nama Pouw Thian Koh, orang sudah pada heran.

Melawan Yang Cek Hu, Thian Long menang, ia girang karenanya, tapi sekarang, ia menjadi sangat malu.

Dengan perbuatannya itu, Beng Sin Thong bukan hendak membikin orang malu.

Ia pun mempunyai obat luka tapi tak semanjur obat Thian Long, dari itu ia mau pakai Pouw Thian Koh supaya Cek Hu sembuh dalam tempo tak setengah jam.

Selagi Siauw Hong mengobati Cek Hu, Sin Thong menegasi muridnya itu.

"Sama sekali pertempuran sudah berjalan berapa rintasan?"

"Tujuh kali,"

Sahut si murid.

"Kesudahannya yaitu tiga menang dan tiga kalah serta satu seri."

Guru itu mengibaskan tangan, Cek Hu dan Siauw Hong mundur. Ia bertindak ke tengah-tengah gelanggang untuk terus berkata nyaring.

"Pertempuran sudah berjalan buat banyak babak dan sang waktu juga sudah tidak pagi lagi, maka itu baiklah aku si orang she Beng yang maju sekarang. Di antara para ciangbunjin dan loosu, jikalau ada yang dapat menangkan aku, aku segera mengalah, tetapi apabila ada untung akulah yang menang-Haha! -maka aku mau minta janji dipenuhkan, yaitu semua ciangbunjin harus menjadi muridku! Bagaimana, apakah para ciangbun mau maju berbareng atau satu demi satu, bergiliran memberi pengajaran padaku?"

Janji mereka ialah lebih dulu bertempur jago-jago kedua pihak, kalau pihak Tong Sian Siangjin yang menang, di pihak Beng Sin Thong ialah Beng Sin Thong yang maju paling belakang.

Menurut aturan itu, mungkin mereka membutuhkan waktu tiga sampai lima hari, baru pertandingan akan selesai.

Tapi sekarang, rupanya Beng Sin Thong sudah habis sabar, dia mengajukan dirinya sendiri.

Pasti dia ingin mengandalkan kepandaiannya menaklukkan semua musuh Tong Sian Siangjin dapat menolak tantangan Sin Thong ini, tetapi ialah orang dengan derajat tinggi, tak sudi ia main minta-minta, maka ia berdiam saja.

Ia hanya sangsi siapa yang harus maju paling dulu.

Sin Thong mengijinkan orang main keroyok tapi ia dan Kim Kong Taysu tak menyukai cara itu.

Sebenarnya menempur bergantian saja sudah menurunkan martabatnya.

"Beng Laotee,"

Tiba-tiba terdengar satu suara.

"aku si orang tua tidak tahu selatan, tadi aku sudah bertempur satu kali, aku masih kurang gembira, maka itu baiklah aku menemani kau barang satu jurus! Bagaimana, setujukah kau?"

Penantang itu yang menyebut dirinya si orang tua, ialah Ouw Thian Long.

Ia tua mengandalkan ketuaannya, matanya jadi tinggi, dan justeru hatinya panas, ia melupakan segala apa dan mengajukan dirinya itu.

"Baik!"

Sahut Sin Thong tawar.

"Ouw Tiangloo sudi memberi pengajaran padaku, silahkan kau menunjuki caramu!"

"Sabar, tunggulah sebentar!"

Kata Thian Long tertawa.

Ia lantas mengeluarkan sebuah bungbung hitam mengkilap, tangannya menekan pada ujung yang satu, maka api lantas menyembur.

Ia belum menghampirkan Beng Sin Thong, api pun tidak menyembur lawan itu.

Hanya api ia pakai membakar tangannya sendiri!

Semua orang heran melihat dikeluarkannya bungbung, sekarang orang menjadi terlebih heran pula, hingga ada yang pikir.

' Kenapa orang tua ini begini aneh kelakuannya?

Dia toh yang paling tua disini'' Meski dia menggunai api, mana bisa dia membakar Beng Sin Thong?

Sekarang dia membakar tangannya!

Kenapa?

Apakah perlunya?"

Ouw Thian Long melihat orang keheran-heranan, ia tertawa dan kata sambil tertawa.

"Aku si orang tua paling takut hawa dingin, dari itu sebelum maju ke gelanggang perlu aku menghangati tanganku ini..."

Pula heran, orang tua ini takut dingin. Kie Siauw Hong berpikir lain lagi.

"Aku sering menyaksikan tukang sulap, yang biasa menelan golok dan memuntahkan api, dari itu mungkin ilmunya tua bangka ini sama dengan ilmunya tukang-tukang sulap itu! Bukankah dia sengaja memakai api untuk menakut-nakuti orang?"

Tengah raja copet ini berpikir itu, api sudah menjadi marong.

"Orang tua takut dingin, baik mari menghangati diri di api yang tersedia ini!"

Ia kata.

"Itu lebih baik lagi!"

Sahut Thian Long.

Ia melemparkan apinya, yang lantas membakar nyala sebatang pohon Siauw Hong terkejut.

Hebat api itu, yang nyalanya demikian mudah.

Pengcoan Thianlie kuatir api melulahan, ia menimpuk memadamkannya dengan sebutir peluru es.

Thian Long lantas duduk bercokol di samping perapian, tangannya digarang.

"Nyaman! Nyaman!"

Katanya berulang-ulang. Siauw Hong heran, ia melongok, kakinya bertindak, hingga makin lama ia datang makin dekat orang yang dianggap berkelakuan aneh itu. Mendadak Ouw Thian Long berseru.

"Hm! Bangsat cilik, apakah kau masih ingin mencuri pula barangku?"

Berbareng itu si raja copet terpental jungkir balik, jatuh jauhnya tiga tombak. Ia malu dan jengah sekali. Ia tidak niat mencuri, ia hanya ingin ketahui "kepandaian"

Si orang tua, apa mau tiba-tiba ia diajar adat! Sebab orang tua itu mau menuntut balas! Ketika ia datang dekat, ia dibentur, terus mental. Itulah tipu silat "Hoktee Sinkang"

Atau "Pelindung diri".

Sebenarnya tak seharusnya Thian Long kecopetan, kalau toh tadi obatnya kena disambar Siauw Hong, itulah sebab ia tidak sangka sama sekali di tempat demikian ada setan tangan-tangan maka sekarang ia membalasnya.

Siauw Hong mencoba berkelit, karena itu taklah ia sampai terluka parah.

Habis itu Ouw Thian Long menarik tangannya, perlahanlahan ia bangun berdiri.

"Beng Laotee,"

Katanya.

"tadi kita tangan menyambut tangan aku tak gembira, bagaimana kalau sekarang kita beradu tangan pula?"

Tanpa menanti jawaban, ia menepuk tangannya sendiri, hingga terdengar suara yang nyaring dan terlihat apinya muncrat.

Orang heran menyaksikan kedua tangan orang merah marong, hingga mereka mau menduga mungkin orang she Ouw ini sudah mencapai tingkat tertinggi ilmu kebal, hingga dia tak dapat terbakar.

Di dalam gua Niauwhong Tong di gunung Imsan, hidup semacam ular sutera yang besar, yang suteranya lebih baik dibanding dengan asbes untuk melawan api.

Hanya sutera itu sangat sedikit.

Untuk mendapatkannya, Ouw Thian Long mengumpulnya selama tiga puluh tiga tahun, ia membuatnya jadi sepasang sarung tangan, yang mana dilapis pula dengan sarung tangan emas campuran yang demikian tipis sampai sulit untuk dilihat atau dibedakannya.

Maka itu, tangannya marong tanpa ia terbakar.

Beng Sin Thong pun heran mendapatkan tangan orang terbakar marong itu dan menyiarkan hawa panas, hingga ia kata dalam hatinya.

"Pantas orang bilang dia berilmu luar biasa."

Ia tidak takut, ia kata.

"Kau sudah menyebut caramu, baiklah, aku terima itu. Nah, kau mulailah!"

Ouw Thian Long lantas menyerang, dengan jurus "Kuda langit naik ke udara".

Ia menggunai kedua tangannya, satu ke dada, satu lagi ke muka.

Hebat serangannya ini.

Orang dapat terluka parah atau sedikitnya kena terbakar.

Beng Sin Thong liehay tetapi ia tidak mau menangkis, tak sudi ia bentrok tangan.

Ia hanya menolak dengan hawa dingin Siulo Imsat Kang tingkat sembilan.

Beng Sin Thong tidak mau mengadu tangan, inilah kehendak Ouw Thian Long.

Meski begitu, tolakan Sin Thong itu membuat napasnya rada sesak, akan tetapi karena ia tidak terancam bahaya, ia mendesak.

Jago Siulo Imsat Kang itu mempertunjuki kegesitannya, ia lompat berkelit.

Selama itu ia memperhatikan hawa panas tangannya lawan.

Ia merasakan bukan panasnya tenaga dalam, maka ia mau menduga orang memakai sarung tangan dari logam.

Ia tidak pernah menyangka kepada sarung-tangan sutera istimewa itu, apapula hawa panas itu tak berubah menjadi dingin meski mereka sudah bertempur tiga puluh jurus lebih.

Ia pun belum dapat memikir daya untuk melawan tangan marong itu.

Hanya setelah sekian lama, ia pikir.

"Kalau aku pakai Siulo Imsat Kang, mustahil tangannya tak bakal jadi dingin, biar misalnya satu jam kemudian..."

Sebenarnya Ouw Thian Long telah memakai tenaga dalamnya, yaitu hawa sun-yang, untuk membikin sarung tangannya itu marong terus.

Beng Sin Thong tidak puas.

Ia mau merobohkan semua ketua partai di depannya itu, sekarang ia dilibat orang she Ouw ini.

Mana dapat ia mencapai maksudnya?

Ia berpikir keras.

Habis itu, ia lantas main mundur.

Ouw Thian Long mendesak.

Ketika ia lihat lawan terhuyung, ia girang sekali.

Tiba-tiba ia menyerang keras dengan jurus "Heng-in toanhong"

Atau "Mega melintang memutuskan puncak".

Tangan kirinya menolak, tangan kanannya menghajar.

Tapi ia menyerang tempat kosong, hingga ia menjadi kaget, sedang menyusul itu, kepalannya merasakan angin dingin.

Ia kaget sekali.

Beng Sin Thong menggunai akal, selagi limbung itu, ia menggunai tindakan "Thianlo pou", Ia melejit ke belakang lawan.

Dari situ bukannya ia menyerang, ia hanya meniup telinga lawannya!

Mengetahui bahaya mengancam, Thian Long menghajar keras ke belakang.

Sia-sia belaka serangannya itu, bahkan tangan bajunya kena terobek.

Ia pun kaget disebabkan telinganya berbunyi dan matanya berkunang-kunang.

Caranya Sin Thong menyerang ini meniru caranya Pengcoan Thianlie tadi ketika Nyonya Tong itu menghajar telinganya Yang Cek Hu dengan peluru inti es.

Syukurnya tenaga dalam Thian Long tangguh, ia tak dapat terobohkan, melainkan gerak-geriknya menjadi ayal.

Dengan menggunai tindakan Thianlo pou dan cengkeraman Im Yang Jiauw, Beng Sin Thong dapat mengalahkan Ouw Thian Long akan tetapi ia tidak berbuat demikian, ia justeru menggunai caranya ini.

Inilah tak lain, maksudnya guna mempertontonkan keliehayannya.

Ia cuma meniup telinga dan merobek ujung baju.

"Mari kita mengadu tangan!"

Katanya kemudian sambil tertawa.

Ia menolak dengan sebelah tangannya.

Ketika Thian Long menyambuti, tangan mereka beradu.

Tangannya itu tidak terbakar atau terasakan nyeri, yang terbakar dan menyala ialah ujung bajunya lawan.

Tangannya telah ditarik pulang dengan cepat sekali, terus ditiup.

Ouw Thian Long mengerti bahwa ia lagi dipermainkan.

Beng Sin Thong tertawa.

"Bentrokan ini belum memuaskan!"

Kata dia, tertawanya lebar.

"Mari, mari lagi sekali!"

Ouw Thian Long menyambuti tantangan.

Lawan menyerang, ia menyambut.

Segera tangan mereka bentrok, beruntun sampai tiga kali.

Kali ini Sin Thong berani beradu tangan.

Tadi hawa dinginnya sudah tersalurkan ke tangan lawannya, dengan begitu, hawa panasnya Thian Long menjadi berkurang.

Dengan hawa panas berkurang itu, ia tak takut tangannya nanti terbakar, hingga tak usah ia memakai alas juiran ujung baju lagi.

Setelah beradu tangan empat kali, muka Thian Long menjadi pucat sebagai abu.

"Masih belum puas, bukan?"

Kata Sin Thong.

Ia menyerang pula.

Ouw Thian Long terpaksa menyambuti.

Kali ini ia tidak dapat bertahan lagi.

Dengan lantas ia muntah darah dan tubuhnya roboh.

Sin Thong berlaku sangat sebat, tangannya mengeluarkan obat pulung, sebelum orang menutup rapat mulut itu pelnya ditimpuki hingga tepat masuk ke dalam mulut Thian Long.

Sembari menimpuk itu, dia tertawa dan kata.

"Muridku mengambil obat Pouw Thian Koh kepunyaanmu, sekarang aku memberikan kau sebutir obat Liokyang Tan, yang akan menjamin usiamu. Serupa barang ditukar dengan serupa barang, dengan begitu aku jadi telah berbuat selayaknya terhadapmu!"

Liokyang Tan pel luar biasa buatan Beng Sin Thong, dibuatnya dengan campuran racun yang paling panas.

Jikalau orang sehat makan itu, kontan dia bakal mengeluarkan darah dan mati karenanya.

Sebaliknya siapa terlukakan Siulo Imsat Kang dan memakannya, dia justeru ketolongan.

Sebab inilah cara pengobatan racun mematikan racun.

Mau tidak mau, Ouw Thian Long kena makan obatnya Sin Thong itu.

Dengan lantas ia merasa nyaman.

Sebab darahnya lantas tersalurkan rapi.

Kalau tadinya ia bersangsi, sekarang ia percaya lawan itu tidak memperdayainya.

Adalah aturan kaum Rimba Persilatan, siapa mendapat pertolongan obat lawan, selanjutnya tidak dapat dia memusuhkan pula lawannya itu.

Ouw Thian Long orang Rimba Persilatan paling tua dan ia menerima budi dengan terpaksa, maka itu, meski jiwanya ketolongan, mendongkolnya bahkan bertambah sampai kedua matanya mendelik.

Kie Siauw Hong tertawa.

Dia kata.

"Guruku berbaik hati terhadapmu, aku si Kie tua juga tidak mau ingat lagi permusuhan kita, maka itu ingin aku mengantarkan kau pulang..."

Dia menghampirkan. Dua murid Khongtong Pay sudah lantas menghampirkan ketua mereka. Di antaranya ada murid yang telah ditetapkan sebagai calon ketua D;a ini gusar, dia bentak Siauw Hong.

"Siapa kesudian menerima pertolongan kau, bangsat kecil?"

Kie Siauw Hong tertawa.

"Sutee, mengapa kau berlaku begini kurang ajar terhadapku?"

Dia berkata.

"Tapi kau hendak mengurus sendiri tua bangka ini, baiklah, aku jadi hemat tenagaku!"

Habis mengucapkan ejekan itu, kembali dia tertawa, terus dia berlompat menjauhkan diri dari Ouw Thian Long, untuk kembali ke tempat asalnya.

Dia mundur bukan tanpa hasil.

Ketika dia maju mendekati jago tua itu, katanya untuk menolongi, kembali dia memperlihatkan kepandaiannya.

Dia telah mengambil sarung tangannya Thian Long!

Calon ketua Khongtong Pay itu gusar sekali, malunya tak terkira.

Ia sekarang tinggal mengandal pada Tong Sian Siangjin atau Kim Kong Taysu.

Kalau mereka ini pun kalah, habis sudah pengharapannya.

Menurut perjanjian, dia bakal terpaksa menjadi muridnya Beng Sin Thong...

Beng Sin Thong dongak, ia kata tawar.

"Ciangbunjin yang mana lagi yang hendak mengajukan diri memberi pengajaran kepadaku?"

"Bangsat tua she Beng, kau terlalu menghina orang!"

Membentak Sin In Long, wakil ketua Cengshia Pay.

Ia lantas maju ke tengah gelanggang.

Berbareng dengan ianya, kesitu pun telah maju seorang lain, ialah Cee Thian Lok, ketua Kielian Pay.

Melihat majunya dua orang, Beng Sin Thong tertawa.

"Bagus!"

Katanya.

"Kamu maju berbareng, tuan-tuan, kamu jadi menghemat aku!"

Sin In Long ragu-ragu, tetapi sebelum ia sempat mundur, Sin Thong sudah menutup jalan mundurnya itu.

la sebenarnya maju guna membalas sakit hati ketuanya, Han In Ciauw, yang dilukakan Beng Sin Thong.

Maka ia pikir.

"Di depan musuh besar, tak dapat aku pikirkan soal muka lagi! Sakit hati suheng mesti dibalas, biarlah aku kepung dia berdua!"

Maka ia menghunus pedangnya dan terus menyerang.

Ketua Kielian Pay itu, Cee Thian Lok, sahabat karib dari Ouw Thian Long.

Dia menempati diri di antara kaum lurus dan kaum sesat, maka dia tak terlalu pikirkan segala tata hormat.

Dia pun maju untuk sahabatnya itu.

Sebenarnya dia tak merasa pasti akan dapat menangkan Beng Sin Thong, maka dia membiarkan In Long maju bersama.

Hanya dia berkelahi dengan tangan kosong.

Segera dia menyerang, dengan sebelah tangannya.

Sin Thong berkelit dengan tipu silat "Poanliong Jiauwpou"

Atau "Naga melingkar memutar kaki".

Segera ia bergerak ke samping ln Long.

Hanya belum lagi ia tetap menaruh kaki, di belakangnya ada angin menyambar.

Itulah Sin In Long, yang bergerak sangat sebat, yang sudah menikam pula kepadanya.

Ia menjadi terkejut.

Meski begitu ia dapat membebaskan diri.

"Ilmu pedangmu menang satu tingkat daripada kakak seperguruanmu!"

Kata jago Siulo Imsat Kang itu tertawa.

"Di dalam Cengshia Pay, kaulah yang terhitung nomor satu! Sekarang sekalian saja kau menggunai Thianlo Ciang!"

Sin Thong menantang ilmu silat "Thianlo Ciang", atau pukulan "Jala Langit"

Dari Cengshia Pay, yang terkenal buat tiga macam ilmu silatnya, yaitu tindakan Thianlo Pou, ilmu pedang Thiantun Kiam, dan pukulan Thianlo Ciang itu.

Cengshia Pay ada pecahan partai Ngobie Pay di jaman kerajaan Song Selatan.

Sampai di pertengahan Ahala Beng, di jamannya Kiauw Pak Beng, ilmu silatnya itu, sudah mencapai kesempurnaan.

Beng Sin Thong mengerti Thianlo Pou sebab ia menyangkok dari kitab warisan Kiauw Pak Beng itu, bisa dimengerti bahwa ia menjadi terlebih mahir.

Ini pula sebabnya kenapa ia menantang Thianlo Ciang.

Kiauw Pak Beng pun memahamkan Thiantun Kiam dan Thianlo Ciang dari Cengshia Pay itu, ia mencatatnya dalam kitabnya Bagian Atas, karena itu Beng Sin Thong tak dapat mempelajari itu.

Ketika Sin Thong melukai Han In Ciauw, ia mengandal melulu Siulo Imsat Kang, maka dengan ini juga ia akan dapat mengalahkan Sin ln Long.

Tapi sekarang ia tidak lantas berbuat demikian.

Ia ingin melihat dulu kepandaiannya In Long, untuk ia memahamkannya.

Ia mau berhati-hati.

Tengah orang berkata-kata, Sin In Long sudah menyerang sampai tujuh kali, setiap serangannya aneh dan hebat, hingga pedangnya nampak berkilauan.

Ia bergerak dengan sangat gesit.

Walaupun demikian, meski nampaknya setiap tikaman atau tabasannya bakal mengenai sasarannya, saban-saban Sin Thong dapat meloloskan dirinya.

Itulah sebab Sin Thong yang liehay menggunai siasat huruf "Lolos".

Ilmu ini mirip dengan "Cian-ie Sippat Tiat!"

Dari Butong Pay, bahkan berlipat lebih liehay.

Setelah jurus yang ke delapan, Sin Thong memancing In Long mengeluarkan pukulan Thianlo Ciang.

Untuk penyerangannya itu, In Long sampai berseru keras.

Ketika tangan kirinya diluncurkan, tangan itu mempunyai tenaga menyedot, sampai tubuh Sin Thong tertarik sedikit, sedang pedangnya membarengi menabas ke pundak.

Cee Thian Lok melihat ketikanya yang baik, dia berlompat ke belakang Sin Thong, menghajar punggung dengan tinju Kaypay Ciu.

"Benarlah, Thianlo Ciang bukan ternama kosong!"

Sin Thong memuji sambil ia berkelit-berkelit dengan menjejak tanah, untuk berlompat lewat di atasan kepalanya orang she Cee itu.

Ia telah memutar tubuh dengan sangat sebat.

Cee Thian Lok menyerang pula, kali ini ke atas, membarengi selagi tubuh lawannya itu terapung tinggi.

"Bagus!"

Sin Thong berseru.

"Sekarang aku ingin mencoba Kun-goan Khiekang milikmu!"

Dan dia menyerang.

Dua pihak bergerak berbareng, maka itu bentroklah tangan mereka.

Mulanya terdengar suara beradu keras, lalu disusul memberebetnya cita sobek.

Mereka berdua lantas mental berpisahan.

Kemudian ternyata, baju Thian Lok di bagian punggung robek, baju Sin Thong kutung tangannya.

Kalau Sin Thong bersikap seperti biasa, Thian Lok bermuka merah padam, romannya seperti orang sinting...

Cee Thian Lok mempelajari Kun-goan Khiekang.

Itulah semacam ilmu kebal, yang dapat bertahan dari serangan dahsyat.

Sin Thong menghajar dengan memakai tenaga Siulo Imsat Kang, ia tidak dapat melukai di luar, hanya dapat menggempur bagian dalam tubuh.

Di samping ilmu kebal itu, Thian Lok juga pandai menangkap tangan orang, untuk dibikin keseleo atau patah.

Itulah "Hunkin Cokut Hoat", yang digunainya dalam pertempuran rapat.

Sin Thong dapat meloloskan diri, cuma ujung tangan bajunya yang tersambar pecah.

Sebenarnya, dikepung berdua itu, Beng Sin Thong berkelahi dengan membataskan diri.

Sebisa-bisa ia tidak mau merapatkan diri.

Baru sekarang ia menyerang mereka itu, berbareng dengan dua-dua tangannya.

Tangan kiri menghajar Cee Thian Lok, tangan kanan terhadap Sin In Long.

Ia pun menggunai tenaga Kimkong Ciang.

Cee Thian Lok telah dapat gempuran di dalam anggauta tubuhnya, ia tidak berani bertahan.

Sin In Long mencoba menangkis dengan Thian Lo Ciang, sedang pedangnya kena dibikin terpental.

Segera setelah dua puluh jurus, Sin Thong menginsyafi sifatnya Thiantun Kiam dan Thianlo Ciang maka ia berkelahi terus tanpa mengandalkan Kimkong Ciang, yang ia tukar dengan Yusin Patkwa Ciang, untuk melayani kedua lawannya dengan kegesitan gerak-gerik.

Sin In Long merasai tenaga orang mulai kendor, ia lantas perkeras desakan pedangnya.

Beng Sin Thong tertawa dan berkata pada kedua lawannya.

"Kita sudah bertempur hampir tiga puluh jurus, inilah tak mudah, maka aku pikir sudah tiba waktunya kita beristirahat!"

Ia berkata begitu seraya menyentilkan jari tengahnya, atas mana hawa yang dingin meluncur ke mata In Long, hingga dia ini gelagapan, lantaran matanya terasa perih dan mengeluarkan air mata juga, hingga ia melihat Sin Thong seperti bayangan yang samar-samar Tentu sekali ia menjadi panas hati, maka ia lantas menikam hebat dengan tikaman "Pekhong koanjit"

Atau "Bianglala putih menutupi matahari". Itulah jurus yang liehay dari Thiantun Kiam, yang ia gunai saking terpaksa, untuk mati bersama...

"Aduh!"

Demikian satu jeritan.

Ketika In Long telah melihat tegas, ia menjadi kaget dan menyesal.

Korban itu bukannya Sin Thong si musuh hanya Cee Thian Lok, kawannya!

Di saat sangat berbahaya itu, Beng Sin Thong telah mengasih lihat kepandaiannya.

Dengan dua bocah jerijinya, ia menempel ujung pedang In Long, untuk diputar arahnya ke samping, kepada Thian Lok ia sendiri berkelit.

In Long menggunai tenaga sepenuhnya, matanya lagi seperti lamur, maka juga pedangnya meluncur terus.

Ia percaya pedangnya itu menuju ke arah sasarannya.

Thian Lok sebaliknya tak menyangka, walaupun ia bertubuh kebal, ujung pedang toh melukai kulit perutnya lima enam dim panjang.

Sin Thong menepuk-nepuk tangan.

"Kamulah orang sendiri melukakan orang sendiri!"

Katanya, tertawa.

"Jangan kamu sesalkan aku! Syukur itulah luka di luar! Kamu pihak Cengshia Pay mempunyai obat luka, jadi tak usahlah aku menghadiahkan obat pula!"

Sin In Long gusar dan mendongkol tanpa berdaya, ia pun tak dapat berkelahi terlebih jauh, maka ia mempepayang Thian Lok untuk diajak mundur, guna ditolongi.

Ketika itu mulai magrib, matahari merah seperti darah.

Di pihak Co Kim Jie, karena kekalahan berulang-ulang itu, orang masgul sekali Kang Lam, yang berada di sisi Tong Keng Thian, kata perlahan.

"Kalau sekarang Kim Tayhiap tidak keluar, kita celaka benar-benar!"

Keng Thian heran. Ia kata dalam hatinya.

"Kalau orang tadi yang memberi petunjuk kepada Peng Go benar Kim Sie Ie, sekarang sudah tiba saatnya buat ia memperlihatkan diri! Benar-benarkah ia telah mati?"

Kim Kong Taysu sementara itu berbangkit, dengan perlahan ia berkata.

"Beng Siecu, loolap tadi telah menerima hadiahmu sebelah tangan, sekarang mari loolap belajar kenal lebih jauh dengan kepandaianmu yang istimewa!"

Cepat luar biasa, pendeta ini sudah sampai di tengah gelanggang.

Kim Kong Taysu bersama Tong Sian Siangjin menjadi bintang-bintang Rimba Persilatan dan mereka pun ternama berbareng, sudah beberapa puluh tahun, belum pernah mereka bertarung dengan siapa juga, maka itu, munculnya ia sekarang adalah luar biasa.

Semua mata lantas diarahkan kepadanya.

Suasana lantas menjadi bertambah tegang sendirinya.

Kalau umpama kata Kim Kong kalah, orang menyangsikan Tong Sian.

Maka ini dapat diartikan pertarungan yang memutuskan, mati atau hidup...

"Taysu menjadi tertua Rimba Persilatan, sekarang taysu sudi memberi pengajaran padaku, aku merasa sangat beruntung,"

Sin Thong bilang.

"Jikalau ada sesuatu cacadku, harap taysu suka memberikan petunjukmu."

Kata-kata itu dibarengi dengan diluncurkannya sebelah tangannya, kelihatannya perlahan gerakannya itu, akan tetapi kesudahannya tangan itu meluncur cepat sekali, tak surup dengan bunyi kata-katanya yang demikian manis.

Dengan ini dia memang hendak menguji tenaga dalam lawannya itu.

Dia menggunai Poanjiak Sinkang keras dan lunak menjadi satu, hebatnya melebihkan waktu tadi dia melayani Sin In Long dan Cee Thian Lok.

Kim Kong Taysu berdiri tegak, ketika serangan tiba, ia menyambuti.

Nampaknya ia seperti tidak menggunai tenaga.

Akibatnya itu tubuh Sin Thong mirip cabang pohon terkena angin, goyang beberapa kali, lalu mundur tiga tindak.

Hingga pihak Ngobie Pay menjadi girang sekali.

Usia Kim Kong Taysu sudah tujuh puluh lebih, ia menjadi pendeta sejak umur muda sekali, maka itu ia meyakinkan ilmu kepandaiannya sudah kira-kira enam puluh tahun.

Sebaliknya Sin Thong mempelajari kitabnya Kiauw Pak Beng baru tiga tahun, dari itu mengenai tenaga dalam, dia kalah setingkat.

Tengah pihak Ngobie bergirang itu Sin Thong, yang dapat segera menegakkan tubuh, sudah mengirim serangannya yang kedua kali.

Kim Kong Taysu menyambut agak lambat.

Ia tetap menggunai jurus yang tadi, yaitu Sauw-in Ciu, atau Menyapu Mega.

Ia menambah tenaganya.

Kembali kedua pihak bentrok.

Kali ini Beng Sin Thong menggunai kecerdikannya.

Mulanya ia tetap menyerang dengan Poanjiak Sinkang, lalu dengan mendadak tenaga kerasnya itu seperti lenyap.

Secara sebat ia menggantikan itu dengan Siulo Imsat Kang.

Dengan begitu tangannya mendadak menjadi dingin bagaikan es dan hawa dingin itu kontan tersalurkan ke tangannya lawan.

Kim Kong Taysu mahir tenaga dalamnya tapi ia masih tak sanggup melawan serangan lawannya ini.

Hawa dingin menyerang secara demikian mendadak, sampai hatinya terkesiap, meski ia telah menutup diri, ia toh tergempur di dalam.

Ia mundur tiga tindak, hawa dingin nelusup ke tulangtulangnya.

Sudah begitu, Sin Thong lantas bersiap pula.

Kim Kong Taysu mengerutkan kening, lalu alisnya terbangun.

Ia kata dengan suara dalam.

"Beng Siecu, memaksa sangat, biarlah, beberapa tulangku yang sudah kering aku berikan kepada kau!"

Dan ia menangkis!

Kali ini mereka bentrok dalam keadaan luar biasa.

Keduanya tidak terhuyung atau mundur, hanya mereka terus berdiri diam bagaikan dua patung batu!

Kim Kong Taysu telah terdesak sangat hingga ia menjadi nekat, maka ia mengambil putusan mengorbankan diri.

Setelah bentrokan yang pertama, ia merasa ia akan cuma dapat bertahan sampai bentrokan yang ketiga, bentrokan ke empat cuma pembelaan diri dan bentrokan ke lima berarti luka di dalam.

Maka ia anggap baiklah ia terbinasa di medan laga.

Tak sudi ia menyerah kalah.

Maka itu ia mengerahkan seluruh tenaga latihannya enam puluh tahun.

Hingga kesudahannya tangan mereka nempel satu pada lain.

Beng Sin Thong terkejut, akan tetapi ia dapat bersikap tenang dan tertawa tawar.

"Taysu, hebat kata-katamu,"

Ia bilang.

"Taysu memaksa aku si orang she Beng memohon kau menyempurnakan diriku!"

Kata-kata "menyempurnakan diri"

Itu berarti menyerahkan jiwa.

Dalam hal ini Beng Sin Thong maksudkan, kalau ia kalah tanpa menyesal, sebaliknya kalau ia yang menang, tak akan memberi ampun pada jago Ngobie Pay itu.

Mendengar perkataan mereka itu, pihak Co Kim Jie terkejut.

Mereka lantas dihinggapi kekuatiran.

Semua mengawasi Kim Kong Taysu, yang embun-embunannya lantas menghembuskan hawa putih seperti uap atau kabut, sedang paras Sin Thong dari biru menjadi ungu dan hitam.

Itulah tanda ia telah mengerahkan Siulo Imsat Kang seluruhnya.

Tong Sian Siangjin, Sin In Long, Tong Keng Thian dan yang lainnya, melihat keadaannya Kim Kong Taysu itu, menjadi berkuatir.

Itulah sebab uap putih dari embun-embunan itu makin lama makin tebal, suatu tanda pendeta itu sudah mengumpul seluruh tenaga dalamnya.

Kalau tenaga dalam itu, Sun-yang khie yang asli, terhamburkan habis, bagaimana jadinya?

Itulah kekalahan...

Tenaga dalam Kim Kong Taysu telah dilatih dalam ilmu Thayceng Khiekang dan telah mencapai puncaknya kemahiran, kalau Beng Sin Thong mengadu tenaga dalam, pasti dia kalah, akan tetapi sekarang dia melawan dengan Siulo Imsat Kang yang bersifat sangat dingin.

Itulah hebat buat jago dari Ngobie Pay itu.

Siulo Imsat Kang itu, kecuali Kiauw Pak Beng, tak ada yang bisa mempelajarinya sampai di tingkat ke sembilan, tapi sekarang, Sin Thong bisa mencapai itu, maka itu bisa dimengerti liehaynya orang she Beng ini.

Sekarang dia mengerahkannya guna merobohkan lawannya yang tangguh.

Meski dia menang di atas angin, dia toh mengeluh di dalam hatinya.

Sekarang dia merasa tenaga dalamnya si pendeta berada di luar dugaannya, meski dia sudah menggempur dan orang nampak mulai lemah, orang masih dapat bertahan, sebab telapakannya masih berhawa hangat.

Di samping itu, masih ada kekuatirannya jago Siulo Imsat Kang ini.

Andaikata ia berhasil membinasakan Kim Kong Taysu, lantas ia mesti menempur Tong Sian Siangjin.

Inilah berbahaya, sebab tak besar harapannya untuk memperoleh kemenangan.

Sebaliknya dengan berlaku nekad, Kim Kong hendak menggempur membikin lemah tenaganya lawan agar Tong Sian mempunyai harapan mengalahkannya.

Lagi sedikit waktu, uap putih itu tetap makin menebal, hingga tubuh dua orang itu seperti ketutupan uap tersebut.

Matahari sudah selam, cuaca magrib menawungi jagat.

Orang pun terus mengawasi kedua jago itu, hati mereka tegang dan gelisah.

Sangat sunyi keadaan di sekitar mereka itu.

Tepat orang terbenam dalam kesunyian dan kegelisahan itu, sekonyong-konyong Kang Lam mengasih dengar suara kaget.

"Ih!"

Dan matanya mengawasi kesuatu arah.

Tong Keng Thian berada dekat bocah itu, ia lantas menoleh, ia mengikuti tujuan mata orang.

Untuk herannya ia menampak antara rumput di sisi mereka ada bunga mekarbunga yang ia tak kenal dan tak tahu namanya.

Bunga itu mekar dengan perlahan-lahan, warnanya merah dan putih, macamnya indah.

Dan, tertiup angin, bau bunga itu harum luar biasa harum tercampur bau bacin...

Pula yang hebat, membaui itu, orang lantas merasa lesu...

Suara kaget Kang Lam itu didengar oleh yang lainnya.

Seperti Keng Thian, mereka lantas mengalihkan pemandangan mata mereka.

Bukan ke satu arah saja, terus ke sekitar mereka.

Aneh, lantas dimana-mana tertampak pohon itu serta bunganya yang merah-putih itu, hingga terlihatlah warna menyolok mata, merah di antara putih meletak!

Siapa perhatikan, akan dapat melihat bukannya semua bunga itu baru mekar, hanya ada yang bekas kemarin kuncup dan sekarang baru mekar pula.

Teranglah bunga itu mekar setelah magrib dan kuncup selama siang, akan mekar pula magrib berikutnya.

Semua orang menjadi heran, sambil melongo mereka memandangi bunga-bunga itu, hingga dengan sendirinya pertempuran di antara Kim Kong Taysu dan Beng Sin Thong menjadi seperti terlupakan.

Mendadak Tan Thian Oe berseru.

"Celaka! Bunga hantu!"

Tong Keng Thian pun menambahkan.

"Benar, itulah bunga asura! Lekas semua menahan napas! Tutup jalan darah!"

Di atas gunung Himalaya ada semacam bunga yang diberi nama asura, atau bunga hantu, bunganya harum, tetapi bau harum itu dapat membikin siapa yang menciumnya menjadi lesu, lemah otot-ototnya.

Bunga itu katanya pertama kali diketemukan oleh seorang pendeta pengembara yang lagi menyiksa diri.

"Asura"

Bahasa Sansekerta dan artinya hantu, bunga itu dinamakan demikian karena khasiatnya yang luar biasa itu.

Ketika dulu hari guru negara dari Nepal menculik puteranya Jenderal Nie Keng Giauw dari dalam penjara, dia menggunai bunga itu membuat penjaga penjara tak sadarkan diri.

Dan pada empat tahun yang lalu, di musim semi, ketika Shanpii menyelundup masuk ke rumahnya Tan Thian Oe, dia pernah pakai bunga itu membikin Yu Peng menjadi tak ingat dirinya hingga leluasa saja dia menikamkan panah beracun di dada nyonya Tan Thian Oe itu.

Maka itu sekarang Thian Oe dan Keng Thian lantas mengenali bunga itu.

Hanya mereka sangat tidak mengerti, kenapa bunga itu kedapatan di gunung Binsan ini...

Gunung Himalaya ialah gunung paling dingin, itulah tempat paling tepat untuk tumbuhnya pohon asura, maka heran pohon ini dapat tumbuh di Binsan dan justeru di musim semi bulan tiga.

Di bulan ini, salju di Binsan sudah lumer.

Yang aneh pula, pohon kedapatan di mana-mana di sekitar gelanggang pertempuran itu.

Thian Oe dan Keng Thian menjadi bingung.

Dalam keadaan seperti itu, sulit untuk berpikir lama.

Juga Keng Thian lantas merasakan asabatnya terganggu.

Karena ia yang tangguh tenaga dalamnya masih terserang harum bunga itu, bisa dimengerti kalau banyak yang lainnya tak sanggup lagi.

"Pastilah ini perbuatannya Beng Sin Thong!"

Pikir orang she Tong itu.

Tapi ketika ia memandang ke arah rombongannya Sin Thong, ia mendapatkan mereka itu juga terserang bau bunga hantu itu, mereka seperti orang sudah sinting karena arak.

Ia jadi berpikir pula.

"Mungkinkah, disini ada pihak ketiga? Kalau benar, pihak itu hebat sekali sebab dia dapat membikin bunga asura tumbuh disini dan mekar di saat seperti ini!"

Justeru itu terdengar Leng Siauw Cu dari pihaknya Beng Sin Thong berseru.

"Kim Laotee, awas!"

Kim Jit Sian tengah bergerak ketika ia mendengar seruan peringatan itu.

Tak menunggu sampai ia sudah melihat tegas, ia mengangkat toyanya untuk menangkis, sebab samar-samar ia melihat sesosok tubuh menyambar bagaikan bayangan.

Setelah itu, ia menjadi kaget hingga ia berteriak, karena tangannya sakit, sebab telapakannya seperti terkena paku.

Karena nyerinya itu, toyanya terlepas dan terlempar.

Sebabnya itu ialah ada orang berlompat ke arahnya, orang itu memakai sepatu yang ada pakunya, sebelum ia dapat menghajar mengenai sasarannya, lebih dulu ia sudah kena terjejak!

Tong Keng Thian heran, ia kata dalam hatinya.

"Dari mana datangnya wanita ini? Hebat ilmu ringan tubuhnya, dia tak ada di bawahnya bibiku!..."

Di pihak Beng Sin Thong, juga Kie Siauw Hong turun tangan, dia berlompat menguber sambil menyerang dengan timpukan tiga batang paku Songbun teng.

Jitu timpukannya itu, tepat mengenai sasarannya, yaitu punggung si wanita, akan tetapi setelah menerbitkan suara nyaring, ketiga batang paku itu mental balik, nancap di batang pohon!

Sia-sia belaka percobaan murid Sin Thong ini, sudah gagal serangannya, dia pun tak sanggup mendekati.

Kecuali beberapa orang yang liehay, yang lainnya cuma menampak segumpal bayangan putih tiba-tiba tiba di tengah gelanggang.

Ketika itu, Beng Sin Thong dan Kim Kong Taysu seperti tak melihat dan tak mendengar, karena mereka masih sama-sama menju-blak seperti patung-patung batu.

"Suhu, awas!"

Siauw Hong berteriak.

Tapi dia belum sempat menutup mulutnya ketika terdengar suara nyaring menyusuli segumpal api menyambar ke antara Sin Thong dan Kim Kong Taysu, terus meledak mengeluarkan asap yang bergulung-gulung dan di antara asap itu nampak sinar terang kecil dan halus seumpama kata bulu kerbau Justeru itu, Kang Lam berseru memanggil.

"Oh, Nona Le! Mana Kim Tayhiap?"

Memang benar bayangan itu Le Seng Lam, yang datang kesitu untuk melakukan pembalasan terhadap Beng Sin Thong.

Sedang apinya yang meledak itu ialah senjata rahasia yang liehay dari Keluarga Le, yaitu peluru api berjarum emas yang beracun.

Tokbu Kimeian Hweeyam tan.

Tiga tahun lamanya Seng Lam bersama Kim Sie Ie berdiam di dalam pulau kosong dimana mereka mendapat kesempatan berlatih terus sambil memahamkan bunyinya kitab warisannya Kiauw Pak Beng, meski itu cuma kitab Bagian Atas, toh ia memperoleh kemajuan luar biasa, hingga di waktu menyerang dengan peluru apinya yang berjarum itu, ia dapat membantu dengan tenaga dalamnya.

Tengah asap memencar itu, terdengar seruannya Beng Sin Thong, dan ketika asap itu buyar, terlihat Sin Thong bersama Kim Kong Taysu terpisah sendirinya, sama-sama mereka mundur jauhnya kira-kira tujuh tombak, Sin Thong sendiri tidak kurang suatu apa, sedang Kim Kong Taysu, pada jubahnya nancap banyak jarum Bweehoa ciam yang bersinar putih perak.

"Celaka, celaka!"

Kang Lam berteriak-teriak.

"Dia bukannya manusia baik-baik! Dia bukan membantui kita! Dia... dia... dia..."

Belum berhenti suaranya pemuda ini, sudah terlihat Kie Siauw Hong berlompat ke belakang Nona Le, yang terus ditikam dengan pedangnya.

Telak tikaman itu, ujung pedang menggenai punggung nona hingga berbunyi nyaring, tapi pedang itu tak nancap hanya mental balik dan ujungnya bengkok!

Siauw Hong menjadi kaget, terutama sebab ia ketahui, kepandaiannya sekarang sudah bertambah liehay dan ia dapat dimasuki dalam golongan jago kelas satu.

Kenapa si nona tak terlukakan?

Maka ia kata dalam hati.

"Dia tak mempan senjata tajam! Bukankah dia menjadi jauh terlebih liehay daripada guruku?"

Ia heran sebab ia tidak tahu nona itu memakai tameng yang dibuat dari kotak kemala di dada dan punggungnya, tameng peranti menyimpan kitab pusakanya Kiauw Pak Beng.

Selagi dibokong itu, Seng Lam tidak berdiam saja.

Ia menyampok ke belakang dengan tangan bajunya atas mana muridnya Sin Thong itu terpelanting jungkir balik, mental jauhnya tiga tombak!

Habis itu, tanpa memperdulikan orang, Seng Lam maju terus ke arah Sin Thong.

Melihat majunya Seng Lam, Tong Keng Thian turut maju juga.

Ia berniat melindungi Kim Kong Taysu.

Ia pernah mendengar nona itu pernah menipu Lie Kim Bwee dan barusan menyerang Sin Thong dan Kim Kong.

la tidak tahu bahwa Seng Lam memusuhkan Sin Thong, hanya karena orang ada berdua, dia menyerang secara sembrono.

Juga beberapa orangnya Sin Thong turut memburu maju.

"Bagus! Kiranya kau!"

Sin Thong membentak.

Dia menyangka orang yang bersembunyi tadi ini ialah Nona Le ini.

Dia pun menduga, melihat kepandaiannya, Seng Lam pasti sudah mempelajari kepandaiannya Kiauw Pak Beng.

Walaupun demikian, dia tak jerikan si nona seperti dia jeri terhadap Kim Sie Ie.

Maka itu dia lantas maju.

Dengan bergerak dengan tindakan Thianlo Pou, dia mendekati dari samping.

Le Seng Lam menghunus pedangnya, setelah mana, ia menyerang.

Itulah gerakan yang sangat sebat.

Ia juga menggunai pedang istimewa, yaitu pedang yang merupakan satu di antara tiga pusakanya Kiauw Pak Beng, sedang yang dua lagi ialah kotak kemala serta pek-giok sinkiong, itu busur kemala putih.

Sebenarnya pedang itu dibawa Kim Sie Ie, tetapi sebab si nona mau menuntut balas, Sie Ie meminjamkannya.

Pedang itu, yang logamnya didapat dari dasar laut, tipis mirip kertas, tetapi tajamnya luar biasa sinarnya berkeredepan.

Melihat sinar itu, Sin Thong terperanjat.

Dengan menggunakan Poanjiak Sinkang, Sin Thong menyentil pedang itu.

Ia mengandal kepada tenaga dalamnya yang liehay.

Seng Lam sudah maju jauh tetapi dalam hal tenaga dalam itu, ia masih kalah dari jago Siulo Imsat Kang ini maka itu sentilan itu membuat hatinya menggetar, darahnya mandek, dadanya sesak dan terasa sesak dan berat bagaikan tertindih barang seribu kati.

Syukur untuknya, Sin Thong telah menghamburkan tenaganya melawan Kim Kong Taysu, apabila tidak, sentilan itu dapat merusak anggauta-anggauta dalam tubuhnya itu.

Walaupun hatinya tergetar, Seng Lam bukannya tak dapat berbuat apa-apa.

Ujung pedangnya mental terus menyambar, seperti juga bianglala, kesudahan yang mana membuat kumis panjang dari Sin Thong kena terpapas kutung hingga tinggal separuhnya!

Juga tengah ia menggunai Poanjiak Sinkang, Sin Thong pun kena menyedot harumnya bunga asura, ia tak luput dari kehebatan bunga itu, ia merasa napasnya sesak.

Karenanya lekas-lekas ia menyalurkan napasnya, untuk mengeluarkan hawa yang beracun itu.

Seng Lam menggunai kesempatan Sin Thong meluruskan pernapasannya, ia berlompat ke dekat Kim Kong Taysou.

Melihat orang mendekati ketua Ngobie Pay, Tong Keng Thian lantas menyerang dengan Thiansan Sinbong.

Untuk itu ia tak bersangsi sejenak juga.

Maka senjata rahasianya itu meluncur dengan menerbitkan suara yang mengaung memecahkan kesunyian.

Le Seng Lam mendengar dan melihat senjata itu, sambil tertawa dingin ia menyampok dengan pedangnya, hingga sinbong terkutung menjadi dua potong, tak perduli senjata itu terbuat dari baja pilihan.

Keng Thian terkejut.

Justeru itu, Seng Lam sudah berlompat ke depannya.

Si nona tertawa dingin dan berkata.

"Aku justeru hendak mencoba ilmu pedang Thiansan Pay dari kau!"

Dan dia segera menyerang.

Tong Keng Thian menangkis tanpa ayal.

la menggunai jurus "Hianniauw wasee".

Oleh karena si nona tidak menarik pulang pedangnya, kedua senjata menjadi beradu, suaranya nyaring, lelatu apinya muncrat.

Ketika Keng Thian memeriksa pedangnya, ia terkejut.

Nyata sekali ketangguhan pedang lawan.

Pedangnya, Yuliong Kiam, sebuah pedang mustika, gompal sedikit hingga ia menjadi melengak...

Tengah orang tercengang itu, Seng Lam sudah berlompat maju dengan kesehatannya yang istimewa, selagi dengan tangan kanan ia mengancam dengan pedangnya, tangan kirinya menyambar.

Kembali Keng Thian terkejut.

Sinar pedang lawan berkeredep di depan matanya, Ia lantas mengangkat pedangnya, guna menangkis.

Justeru ia mengangkat itu, justeru tangan kirinya si nona tiba.

Tidak ampun lagi, Yuliong Kiam kena dirampas!

Seng Lam menggunai ilmu Hian-im Ciekang.

Selagi tangannya itu diluncurkan, ia menyentil.

Hawa sentilan itu merupakan hawa yang dingin, yang mirip dengan hawa dingin Siulo Sat Kang tingkat ke lima.

Mau atau tidak, Keng Thian terserang hawa dingin itu, sampai ia mesti memejamkan matanya walaupun hanya sejenak.

Celakanya, mereka berdiri terlalu dekat satu dengan lain.

Selagi orang meram itu, Seng Lam merampas pedang lawan, kemudian dengan sama sehatnya, ia lompat ke samping jago muda dari Thiansan itu, guna merampas sarung pedangnya!

Kim Kong Taysu menyaksikan tanpa sempat berbuat apaapa.

"Apakah kau turunan Keluarga Le?"

Ia tanya, si nona.

Ia menanya sambil mementang matanya dan menggibriki jubahnya.

Dengan begitu ia membuat terlepas mental semua jarum yang tadi nancap di jubahnya itu.

Tidak ada sebatang jarum juga yang melukai tubuhnya.

Atas pertanyaan pendeta itu, Le Seng Lam menjawab.

"Taysu telah mengenali asal-usulku, tentulah taysu suka memaafkan kelancanganku barusan. Ini ada sebutir obat, silahkan taysu makan. Obat ini dapat menyingkirkan keracunan bunga hantu. Aku telah mengganggu, dengan obat ini aku menebus kesalahanku."

Seng Lam berkata begitu tanpa mengangsurkan obatnya, hanya ia menyentil itu ke arah si pendeta.

"Baiklah, aku percaya kau!"

Menyahut Kim Kong Taysu, yang menyambuti obat itu, bahkan ia segera masuki ke dalam mulutnya, untuk dimamah terus ditelan.

Sebenarnya Kim Kong tak usah takuti bunga asura tak perduli bunga itu beracun, akan tetapi barusan melawan Beng Sin Thong ia telah menguras tenaga dalamnya, biar bagaimana, bunga itu menyebabkan ia lesu juga, maka itu ia tidak menampik pemberian obat itu.

Berbareng dengan itu, melihat suasana, ia menduga akan bakal terjadinya sesuatu yang hebat.

Ia pula tak usah malu mendapat obat dari seorang yang terlebih muda usia dan martabatnya, sebab ialah seorang pendeta tua dan berilmu yang tak menghiraukan lagi soal tingkat derajat.

Ketika itu orang-orang kosen pihaknya Beng Sin Thong maju dari segala arah mendekati Le Seng Lam.

Tan Thian Oe dan isterinya maju juga sebab mereka melihat Seng Lam merampas pedangnya Keng Thian, hingga nona itu dipandang sebagai lawan juga.

Leng Siauw Cu yang tiba paling dulu, dengan hudtim, kebutannya, ia lantas menerjang.

Ia datang dari arah belakang, dengan begitu ia jadi mengebut punggung si nona.

Ialah jago dari Coancin Pay, di dalam rombongannya itu, kecuali Beng Sin Thong, ia yang paling liehay, walaupun demikian, dalam keadaan seperti itu, ia tidak menghiraukan lagi ia main bokong atau tidak.

Kebutan itu, begitu ia mengerahkan tenaganya, lantas menjadi kaku seperti jarum.

Le Seng Lam mendapat tahu ada serangan dari belakang, ia memutar tangannya untuk menangkis ke belakangmenangkis sambil membabat.

Leng Siauw Cu sudah menyerang terus maka beradulah senjata mereka.

Hebat kesudahannya itu.

Kebutan kalah kuat, ujung kebutan kena terbabat kutung.

Tapi, lebih dulu daripada itu, ujung kebutan sudah melibat pedang, hingga Seng Lam merasakan tekanan yang berat.

Inilah karena ia kalah tenaga dalam dan juga sudah memandang ringan kepada si imam.

Karena itu, ia segera mengerahkan tenaga dalamnya, dikumpulkan di ujung pedang, dari itu pedangnya lantas dapat meloloskan diri dari libatan dengan memapas kutung ujung kebutan yang melibat itu.

Leng Siauw Cu terkejut dan menyesal.

Ia sebenarnya ingin merampas pedang si nona, tidak tahunya gagal dan kebutannya yang tangguh itu justeru terusakkan.

Seng Lam panas hati.

Ia memutar tubuhnya ke samping ingin ia melakukan penyerangan membalas, akan tetapi ia melihat tibanya Yang Cek Hu, dan Kim Jit Sian serta lainnya, terpaksa ia mesti menghadapi mereka itu.

Sepasang alis Kim Kong Taysu terbangun.

Ia menghadapi Leng Siauw Cu, ia berkata tawar.

"Leng Siauw Tooheng, kau liehay sekali! Marilah, mari loolap menyambut kau, supaya Nona Le dan Yang Siecu dapat menguji kepandaian mereka."

Leng Siauw Cu terperanjat.

"Maaf!"

Dia kata seraya dia mengundurkan diri, sebab tak berani dia melayani pendeta ini. Le Seng Lam tertawa dingin.

"Baiklah imam hidung kerbau!"

Ia kata, mengejek.

"Kau bebas!"

Selagi begitu, nona ini sudah lantas menggeraki pedangnya menangkis serangannya Yang Cek Hu, hingga pedang orang terkutung dua, menyusul mana, toya Luitian pang dari Kim Jit Sian tersentuh juga hingga melekah sedikit.

Kim Jit Sian kaget, ia lantas mundur.

Yang Cek Hu maju saking terpaksa.

Ia telah terluka, dengan memakai obat Pouw Thian Koh, ia sembuh dengan cepat, walaupun demikian kesehatannya belum pulih anteronya maka ia kurang gesit, ketika Seng Lam menendang, ia kena dibikin terjungkal.

Dengan cepat Le Seng Lam lolos dari kepungan, tapi sekarang ia menghadapi Tan Thian Oe suami isteri.

Ia memandang mereka sambil membuka mata lebar-lebar, sembari tertawa, ia kata.

"Kamu pun datang kemari?"

Ia berkata sambil menyimpan pedangnya, untuk berlompat maju dengan dua tangan kosong menangkap tangannya masingmasing suami isteri itu!

Thian Oe dan Yu Peng bukan sembarang orang, tetapi dibanding dengan Nona Le, mereka terpaut jauh.

Tanpa berdaya, tangan mereka kena dicekal si nona sebelum mereka keburu menghunus senjata mereka, bahkan mereka tak dapat berkutik.

Kang Lam melihat kejadian itu, dia berteriak-teriak.

"Celaka! Celaka! Nona Le, kenapa kau pun menempur sahabat-sahabatnya Kim Tayhiap?..."

Belum berhenti suaranya kacung ini, Le Seng Lam sudah tertawa, kedua tangannya melepaskan cekalannya. Ia kata nyaring.

"Dengan memandang kepada Kim Tayhiap, aku pun memberikan dua butir obat kepada kamu!"

Thian Oe dan istrinya tercengang, mereka cuma bisa melihat nona itu memasuki obat ke dalam mulut mereka, setelah mana si nona mendorong perlahan seraya berkata pula.

"Nah, pergilah kamu!"

Di luar dugaan, mereka telah ditotok Seng Lam, sembari didorong itu, mereka dibebaskan.

Di waktu didorong, mereka terhuyung sedikit, tempo mereka dapat berdiri tetap, nona itu sudah pergi jauh.

Sebenarnya Thian Oe dan Yu Peng terpengaruh bunga asura, jikalau tidak, tidak nanti mereka dengan begitu mudah dipermainkan Seng Lam, mereka hanya tidak tahu tentang pengaruh bunga hantu itu.

Sekarang, setelah makan obatnya si nona, kesegaran mereka pulih dengan lantas.

Mereka malu sendirinya.

Malu sebab mereka tak berdaya.

Merekapun heran mendengar suara orang yang "memandang kepada Kim Tayhiap!"

Bukankah Kim Tayhiap itu Kim Sie Ie?

Benarkah Sie le masih hidup?...

Apa yang semua telah terjadi, jalannya cepat sekali.

Mulanya muncul bunga hantu, lalu Le Seng Lam, lantas dia dikalahkan Beng Sin Thong, di lain pihak dia mengalahkan Leng Siauw Cu, Kim Jit Sian dan lainnya, selama mana dia juga memberikan obat kepada Kim Kong Taysu dan Thian Oe suami isteri.

Setelah itu, dia mencoba menyingkirkan diri.

Dia menganggap Sin Thong terlalu gagah, maka ingin ia berdamai dengan Sie Ie.

Beng Sin Thong bersikap aneh.

Ia tidak mau mengejar Seng Lam, ia berdiri diam mematung.

Tong Sian Siangjin melihat segala apa, diam-diam dia memperhatikan jago Siulo Imsat Kang itu.

Mata Sin Thong bersinar tajam, ia seperti lagi berpikir keras.

Entah apa yang ia pikirkan.

Selagi mengawasi Sin Thong itu, keanehan siapa membuat ia curiga, tiba-tiba Tong Sian Siangjin mendengar banyak tindakan kaki lagi mendatang, datangnya sangat cepat.

Ia terperanjat hingga ia kata dalam hatinya.

"Dari mana datangnya begini banyak orang liehay?"

Menurut taksirannya, jumlah mereka itu dua atau tiga belas orang. Mendadak terdengar teriakannya Beng Sin Thong.

"Bagus, ya, Kamu juga datang!"

Tong Sian Siangjin menoleh Ia melihat datangnya serombongan orang, yang semuanya mengenakan baju kuning.

Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari antara gombolan rumput.

Sembari lari mendatangi, mereka itu mengasih dengar pekik mereka saling susul.

Dan ketika mereka sampai di gelanggang, mereka lantas menyerang kalang kabutan, siapa saja berada di dekat mereka, tak perduli orangnya Sin Thong atau rombongan Binsan Pay.

Yang menjadi kepala ialah seorang tua dengan muka merah yang tubuhnya tinggi dan besar.

Dia bertangan kosong tetapi dia telengas sekali, dia main hajar kepala orang sampai batok kepalanya pecah remuk.

Begitulah telah roboh tiga murid Binsan Pay, dua murid Ngobie Pay serta dua murid nya Beng Sin Thong.

Sin In Long ketua Cengshia Pay segera maju, untuk menghadang.

Dengan tindakan Thian Lo Pou ia dapat tiba, di depan orang tua muka merah itu, bahkan ia lantas menyerang dengan pedangnya, dengan satu jurus dari ilmu pedang Liapin Kiamhoat.

Si muka merah itu liehay.

Dia dapat berkelit dari serangan itu, juga dari serangan susulan yang kedua kali.

Maka itu dia lantas ditikam untuk ketiga kalinya.

Hanya waktu ujung pedang hampir mengenai tenggorokan orang, mendadak tangannya In Long yang mencekal pedang itu turun sendirinya, seperti yang terkena ilmu sihir, tak ada tenaganya lagi.

Si muka merah sendiri, dengan kegesitannya, sudah mencelat ke samping terus ke belakang jago Cengshia Pay ini, maka disitu dengan leluasa sekali ia dapat menghajar punggung lawannya itu.

Tubuh In Long lantas terhuyung tiga tombak.

Syukur untuknya, ia masih mencoba berkelit, kalau tidak, yang kena terhajar mungkin batok kepalanya seperti korban-korban yang lainnya itu.

A Lo Cuncia berseru nyaring, dia lompat ke depan si muka merah itu, sambil memegat dia menyerang dengan sebelah tangannya.

Dia mengarah ke batok kepala dengan niat menghancurkannya.

Si muka merah menangkis.

Kedua tangan mereka beradu keras sekali.

Hebat A Lo Cuncia, ia menyebabkan lawannya mundur tiga tindak.

Lebih hebat si muka merah ini.

A Lo Cuncia mengasih dengar seruan tertahan, lantas ia menyingkir.

Seorang berbaju kuning hendak menghalangi, ia mendorong roboh orang itu, setelah mana ia lari turun gunung...

Melihat kaburnya pendeta itu, semua orang heran.

Orang tahu dia kuat dan liehay sekali.

Tadi pun dia mengalahkan Tay Hiong Siansu dari Siauwlim Sie.

Di samping ilmu silat, dia mengerti ilmu yoga dengan baik.

Sekarang, hanya dengan satu bentrokan dengan si muka merah, dia lantas kabur.

Kenapa?

Maka orang heran dan bertanya-tanya diri sendiri.

Cuma Tong Keng Thian, yang berada paling dekat, dapat melihat tegas.

Habis bentrokan itu, muka A Lo Cuncia menjadi hitam seperti arang dalam sekejab saja.

Maka jago Thiansan ini, dalam herannya, berkata dalam hati.

"Dia pasti telah terkena racun! Hanya, racun apakah itu yang demikian hebat?"

Tapi ia tidak takut. Ia lantas mengeluarkan dua butir pel Pekleng Tan, yang ia serahkan pada Pengcoan Thianlie sambil berkata.

"Kau makan ini! Mari kita tempur dia!"

Ketika itu Le Seng Lam terlihat lompat ke depan si muka merah untuk menghadang, seraya ia berkata keras.

"Ha, konco jahat dari Beng Laokoay! Kau sudah mencuri kitab Pektok Cinkeng milik keluargaku, sekarang kau berani muncul disini dan berbuat jahat!"

Kata-kata itu ditutup dengan satu serangan.

Si muka merah mengibaskan tangan bajunya yang panjang, lantas terlihat mengepulnya asap yang berwarna lima macam.

Itulah Ngotok San, bubuk Lima Racun --lima racun yang paling berbisa.

Seng Lam kenal racun itu, ia berkelit, sembari berkelit, ia menabas.

Kali ini ia berhasil.

Tangan baju si muka merah terbabat putus.

Melihat demikian, si muka merah tidak berani mendesak.

Di matanya Seng Lam terbayang peristiwa celaka yang menimpa keluarganya dulu hari itu.

Ketika itu, ia masih dalam kandungan ibunya.

Ia mengetahui duduknya peristiwa dari penuturan ibunya itu.

Juga ibunya cuma tahu musuh besar keluarga mereka ialah Beng Sin Thong seorang.

Namanya seorang musuhnya yang lainnya, ibu itu tak dapat cari tahu.

Selagi Sin Thong mengganas, kawannya itu bekerja sendiri.

Ialah dia menggeretak buku-bukunya keluarga Le.

Ibunya Seng Lam tak mau banyak mulut mencari pencuri kitab itu, dikuatir Sin Tong nanti bercuriga.

Di luar dugaan Seng Lam, pencuri itu sekarang muncul disini, dia dikenali sebab dia menggunai bubuk racun itu, bahkan dia lebih kejam daripada Sin Thong.10 Teranglah si muka merah ini hendak membasmi orangorang kedua pihak.

Beng Sin Thong pun mengajukan diri.

Dia tertawa dingin, dia lompat melewati kepala banyak orang untuk dapat sampai kepada pemimpin rombongan orang-orang berbaju kuning itu.

Si orang tua muka merah melihat orang datang, dia kata.

"Bagaimana jikalau lagi sekali kita bekerja sama? Orang akan kuserahkan padamu, pedang kau serahkan padaku?..."

Tengah dia berkata-kata itu, Tong Sian Siangjin juga sudah turun tangan.

Ketua Siauwlim Pay ini menimpuk dengan serenceng mutiaranya, yang terdiri dari seratus delapan butir, yang menyambarnya dengan berpencaran, mirip dengan jala tertebar.

Beng Sin Thong, yang menjadi sasaran, tertawa berkakak.

"Milik perseorangan yang terakhir dari si hwesio tua pun dikeluarkan!"

Dia kata seraya dia berlompat tinggi, untuk berkelit, sedang kedua ujung tangan bajunya dikibaskan menggulung, hingga tujuh atau delapan bagian mutiara itu kena dibikin tak berdaya.

Meski dia bergerak sangat sebat dan liehay, toh ada mutiara yang menghajar jalan darah yongcoan di kakinya, jalan darah sinteng di batok kepalanya, serta jalan darah jiekhie di iganya.

Semua serangan itu tidak membahayakan dia yang tangguh, tetapi dia toh mesti turun ke tanah, untuk menaruh kaki.

Hanya sekarang tak dapat dia tertawa lebar seperti barusan, bahkan dia membungkam.

Le Seng Lam tidak kalah dari Beng Sin Thong dalam ilmu ringan tubuh, ia pun tidak bersikap seperti orang she Beng itu.

Tatkala serangan dimulai, ia mendahului berlompat menyingkir, untuk terus lan turun, sembari lari terdengar suaranya.

"Terima kasih untuk bantuan Siangjin! Untuk membalas budi maka aku pun hendak membukai jalan untuk pihakmu!"

Kata-kata ini dibarengi dengan ditimpukinya senjata rahasianya, yaitu peluru api, maka juga rumput disitu kena terbakar, hingga dengan begitu habislah semua pohon atau bunga asura yang tadi pada mekar.

Benar baunya beracun itu tak terhapus bersih akan tetapi sedikitnya, karena racun diserang racun, kekuatannya menjadi berkurang banyak.

Beng Sin Thong maju terus, segera dia sampai di depan si orang tua muka merah.

Dia lantas mengasih dengar tertawa mengejek dan memperlihatkan roman menyeringai yang bengis.

"Bagus, Seebun Bok Ya!"

Dia kata nyaring.

"Kiranya kau belum mampus! Dan sekarang kau hendak membasmi semua orang Rimba Persilatan tak terkecuali aku! Hm! Hm' Apakah kau kira dengan mengandali bunga hantu itu dapat kau malang melintang? Kau keliru! Dengan begitu kau memandang aku terlalu enteng!"

Orang tua muka merah itu, yang dipanggil Seebun Bok Ya, juga tertawa menghina.

"Kau tentunya tidak menyangka bahwa aku dapat datang kemari untuk membuat perhitungan kita dua puluh tiga tahun yang lalu, bukan?"

Ia kata.

"Hm! Hm! Apakah kau kira setelah berhasil mempelajari Siulo Imsat Kang lantas kau dapat menjagoi sendiri di kolong langit ini? Kalau begitu, kau terlalu terkebur!"

Pada dua puluh tiga tahun yang lalu itu, ketika Seebun Bok Ya bersama Beng Sin Thong menyerbu Keluarga Le, mereka dijuluki Bu-lim Jie-ok, si Dua Jahat Rimba Persilatan.

Ketika itu Seebun Bok Ya masih kalah dalam hal ilmu silat begitu pun mengenai racun, maka ingin ia melebihkan Sin Thong.

Ialah yang menyelidiki tempat kediaman Keluarga Le, lalu ia mengajak Sin Thong bekerja sama menyerbunya.

Ia memerlukan kawan sebab ia sendiri tak ungkulan mengalahkan orang yang mau diserbu itu, yang ia tahu liehay luar biasa.

Dengan penyerbuan itu, maksudnya yang utama ialah merampas kitab ilmu silat Keluarga Le Penyerbuan dilakukan di waktu malam yang dipilih, selagi rembulan tidak muncul dan angin bertiup keras.

Seebun Bok Ya mempunyai bunga hantu, ia pakai harumnya bunga itu untuk membikin lesu semua penghuni rumah.

Bunganya itu ia telah bikin menjadi hio, dari itu ia menggunainya dengan membakar hio istimewa itu.

Keluarga Le mempunyai Pektok Cinkeng, kitab Seratus Racun, di dalam kitab itu ada tertulis hal bunga asura jelas berikut khasiatnya, akan tetapi mereka tak sempat mencari pohon bunga itu.

Sebabnya mereka lagi hidup bersembunyi, mereka takut kepergok musuh, tak berani mereka keluar dari lembah persembunyiannya.

Turun temurun mereka hidup menyendiri, sampai dua ratus tahun lebih.

Obat peninggalannya Le Kong Thian, karena lewatnya sang waktu yang lama, sudah habis kekuatannya kecuali hanya beberapa rupa.

Karena asura sukar dicari, tak terpikirkan keluarga itu bahwa lain orang akan mendapatkannya untuk dipakai menyerbu mereka.

Hebat kesudahannya cara memikir keluarga itu.

Demikianlah ketika Seebun Bok Ya bersama Beng Sin Thong datang menyerbu, lebih dulu mereka jadi korban keracunan asap hio asura, hingga mereka menjadi separuh pingsan atau separuh linglung, sampai ilmu silat mereka pun hampir tak dapat digunakan lagi.

Penghuni rumah yang berjumlah tiga puluh orang lebih, semua habis dibinasakan Beng Sin Thong, kecuali seorang wanita yang sedang hamil, ialah ibunya Seng Lam.

Selagi Beng Sin Thong melakukan pembunuhan itu, Seebun Bok Ya sendiri repot mencari kitab warisannya Keluarga Le itu.

Setelah berhasil penyerbuannya, itu dua sahabat ini yang bekerja bersama dengan erat lantas mengandung cita-citanya masing-masing.

Dengan mendadak Seebun Bok Ya membokong Beng Sin Thong.

Dia menyerang dari belakang dengan goloknya yang telah dipakaikan racun.

Tatkala itu Beng Sin Thong sudah letih, Bok Ya percaya bacokannya bakal merampas jiwa orang.

Terkaannya itu nyata meleset.

Kegagahannya Sin Thong jauh melebihkan kekosenannya.

Benar Sin Thong telah kena dilukai tapi sebelumnya racun bekerja, dia sudah bisa menghajar kawan yang curang itu dan merampas kitabnya keluarga Le itu.

Pada itu waktu Beng Sin Thong sudah melatih sempurna ilmu tangan kosong Kimkong Cianglek, dia telah menghajar Seebun Bok Ya hingga orang terluka otot nadinya yang dinamakan Samciauw.

Seebun Bok Ya lantas kabur.

Dia tidak dikejar untuk lantas dibinasakan.

Sin Thong menduga dia tak bakal hidup lewat daripada tiga hari.

Ia sendiri lagi keracunan, perlu ia mengobati dirinya.

Ia tidak menyangka, Seebun Bok Ya tidak mati, sedang ketika itu, Bok Ya kabur dengan Pektok Cinkeng.

Demikian berselang dua puluh tiga tahun, hari ini mereka bertemu di gunung Binsan dengan sama-sama masih hidup, bahkan Seebun Bok Ya dengan sepak terjangnya itu yang telengas.

Selama dua puluh tiga tahun itu, Seebun Bok Ya sudah membaca dan memahamkan Pektok Cinkeng.

Setelah mengerti, ia mencari pelbagai macam bahan obat dan membuatnya.

Mengenai pohon asura, ia juga mempelajari cara menanamnya, hingga ia ketahui baik, bagaimana itu harus ditanam, berapa lama tumbuhnya sampai keluar bunga, bahkan ia berhasil menanamnya juga di tanah yang iklimnya hangat.

Begitulah ia telah tanam pohon racun itu di gunung Binsan itu dan tepat bunganya mekar di harian Beng Sin Thong menempur rombongannya Co Kim Jie.

Ia menanam beberapa ratus pohon, ia pencar itu di dalam gombolan rumput hingga orang sukar melihatnya.

Setiap pohonnya berbunga sepuluh biji, maka itu jumlahnya bunga jadi ribuan, maka juga bisa dimengerti, harumnya menjadi luar biasa.

Satu hal tak diduga Seebun Bok Ya, ialah halnya Beng Sin Thong berhasil mendapatkan kitab warisannya Kiauw Pak Beng.

Dengan begitu ia menjadi tidak mendapat tahu bahwa lawannya ini tetap tangguh luar biasa, kepandaiannia tinggi sepuluh lipat.

Karena itu, belum-belum ia sudah menjadi jeri.

Beng Sin Thong sudah lantas menyerang.

Sambil menyerang itu dia berseru.

Tidak kepalang tanggung, dia lantas menggunai serangan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan.

Seebun Bok Ya tidak mau menyerah dengan begitu saja.

Ia menggunai Ngotok San, bubuk lima rupa racunnya yang paling berbisa itu, yang berwarna mirip bianglala, yang berupa seperti kabut hendak menutupi musuhnya itu.

Beng Sin Thong tidak takut, mendadak ia berseru keras, meniup bubuk itu, yang lantas buyar seperti disapu badai.

Berbareng dengan itu, tangan mereka berdua bentrok satu dengan lain.

Seebun Bok Ya mengasih dengar suara tertahan, lantas tubuhnya menggigil seperti ia diserang penyakit malaria.

Sebenarnya masih beruntung untuknya, Sin Thong belum pulih kesegarannya akibat pertempurannya melawan Kim Kong Taysu, jikalau tidak, ia pasti akan menderita lebih hebat, atau mungkin jiwanya akan melayang, Sin Thong juga turut menderita.

Tangannya Seebun Bok Ya beracun.

Telapakan tangan Sin Thong memperlihatkan bintikbintik merah, tanda dari bekerjanya racun.

Tangan itu kaku, seperti kehabisan tenaga, sampai sukar untuk dikasih bergerak.

Tapi Sin Thong liehay, hatinya tabah, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, untuk mengusir racun itu, sambil berbuat begitu, ia menyerang dengan tangan kirinya.

Di pihak Bok Ya, dua orang kawannya yang berbaju kuning maju menghadapi jago Siulo Imsat Kang ini.

Yang satu dengan berani menangkis serangan itu.

Yang lainnya lantas menonjok ke dada dengan menggunai ilmu silat "Lohan Kun"

Dari Siauwlim Pay.

Sin Thong merasa ia seperti digedor martil besar.

Akan tetapi orang she Beng ini mempunyai Hoktee Sinkang, ilmu pelindung diri yang mahir, di dalam tempo sejenak, ia dapat menutup dirinya.

Tinju si baju kuning menerbitkan suara "Buk!"

Yang nyaring.

Kaget si baju kuning itu, akan tetapi percuma saja, berbareng kaget, tubuhnya terpental mundur.

Dengan kesehatan luar biasa, Sin Thong telah menghajarnya.

Dia roboh dengan luka parah, yaitu sebelah tangannya terlepas dan muntah darah.

Sin Thong memperoleh kemenangan, tak urung ia heran.

Itulah sebab ia melihat musuh-musuhnya yang pada roboh itu, tidak ada satu yang mati.

Inilah bukti di samping tenaganya sudah berkurang, semua lawan pun sangat tangguh.

Ia juga merasa dadanya sedikit nyeri.

"Inilah hebat,"

Ia berpikir.

"Nyata semua orangnya Seebun Bok Ya ini liehay sekali. Siapakah mereka? Kenapa aku tak mengenal walaupun seorang jua? Dari manakah Seebun Bok Ya mendapatkan mereka ini? Kenapa mereka kesudian diperintah orang she Seebun ini?"

Selagi berpikir demikian, Sin Thong merasa sulit untuk merobohkan semua orang berbaju kuning itu.

Bukankah disitu pun ada Seebun Bok Ya, yang sangat berbisa itu?

Bukankah disitu juga ada Tong Sian Siangjin, yang ia malui?

Sebagai seorang cerdik dan licik, ia lantas mengetahui tindakan apa yang ia mesti ambil.

Ialah menyingkir dulu dari gelanggang adu jiwa itu.

Dan begitu berpikir, begitu ia bekerja.

Lantas ia memberikan isyaratnya kepada kawan-kawannya, untuk mereka itu mengangkat kaki.

Ia sendiri memberi contoh.

(bersambung) CATATAN 6) halaman 454.

Kisah masa muda Lu Su Nio, Phang Eng dan Phang Lim dapat diikuti dalam cerita Kang Ouw Sam Liehiap (Tiga Dara Pendekar).

7) halaman 477.

Kisah Le Kong Thian dan Kiauw Pak Beng dapat diikuti dalam cerita Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).

Sedangkan kisah kematian Le Kong Thian ketika berusaha membalas dendam pada Thio Tan Hong, diceritakan dalam cerita Khong Ling Kiam (Pendekar Pemetik Harpa).

8) halaman 482.

Kisah guru Kim Sie le, Tokliong Cuncia, dapat diikuti dalam cerita Kang Ouw Sam Liehiap (Tiga Dara Pendekar).

9) halaman 565.

Orang-orangan dari kuningan (Tokkak Tongjin) adalah senjata yang dipakai Le Kong Thian.

Baca Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).

10) halaman 645.

Pengcoan Thianlie termasuk angkatan tua Lui Cin Cu, Butong Pay.

Hal ini karena dia adalah murid Butong Pay dari garis To It Hang.

Kakek Pengcoan Thianlie, Kui Tiong Beng adalah murid tidak langsung dari To It Hang, Sin Liong Cu yang mewakili To It Hang mengajar Kui Tiong Beng.

Hal ini dapat diikuti dalam cerita Thian San Cit Kiam.

11) halaman 739.

Kitab racun Pektok Cinkeng mempunyai riwayat tersendiri.

Awalnya kitab ini adalah milik perguruan Cit Im Kauw.

Karena Kiauw Pak Beng tidak bisa mencapai tingkat tertinggi dari Siulo Imsat Kang, dia mencari jalan memunahkan hawa dingin dengan racun panas.

Maka ia merampok kitab Pektok Cinkeng dari Cit Im Kauwcu.

Akhirnya, karena keturunan Kiauw Pak Beng musnah, maka kitab ini jatuh ke tangan pengurus rumah tangganya (koanke), yaitu Le Kong Thian, lalu setelah itu turun temurun menjadi kitab pusaka keluarga Le.

Cerita selengkapnya dapat diikuti dalam kisah Lian Kiam Hong In (Kisah Pedang Bersatu Padu).

Jilid 3 Dua belas orang berbaju kuning itu berpencaran, tak dapat mereka lantas mengumpul diri, lantaran mereka pun jeri terhadap Sin Thong, tidak ada yang berani pergi mengejar.

Tak sudi mereka satu lawan satu, buktinya dua lawan satu, yang dua-ialah kedua kawannya-kena terlukakan.

Dua belas orang itu sungguh asing.

Bukan melainkan Beng Sin Thong yang tidak kenal mereka, juga pelbagai ketua partai dalam rombongannya Co Kim Jie.

Satu saja tak ada yang mengenalnya.

Setelah berlalunya Beng Sin Thong, Seebun Bok Ya masih belum mau berhenti dengan penyerbuannya itu.

Mereka menghampirkan orang-orang yang berkumpul paling banyak, untuk menghajarnya.

Mereka juga tidak hanya menggunai tangan kosong, mereka memakai golok atau senjata rahasia yang beracun.

Jumlah rombongannya Co Kim Jie ada tiga ratus jiwa lebih, semua mereka itu, kecuali pelbagai ketua dan beberapa di antaranya, telah terserang harumnya bunga asura, keadaan mereka menyedihkan sekali.

Rata-rata mereka berkepala pusing dan mata berkunang-'kunang, tenaga mereka hampir habis, maka juga, diamuk kawanan orang berbaju kuning itu, banyak yang roboh luka dan terbinasa.

Tong Sian Siangjin melihat suasana buruk itu, ia lantas memberikan titahnya untuk pihaknya mengundurkan diri.

Seebun Bok Ya menelan sebutir obat, dengan itu ia melawan gangguan hawa dingin dari Siulo Imsat Kang akibat serangannya Beng Sin Thong tadi, setelah itu ia ajak tiga orang berbaju kuning untuk mengejar.

Menampak demikian, Tong Sian Siangjin meloloskan jubahnya yang gerombongan, begitu penyerbu datang dekat, ia merabu dengan jubahnya itu.

Keempat orang itu roboh semua, Seebun Bok Ya sendiri sampai jungkir balik.

Kim Kong Taysu gusar, ia pun merobohkan seorang berbaju kuning.

Dua orang baju kuning yang sudah datang dekat lantas mundur sendirinya.

Tong Sian Siangjin bersama Kim Kong Taysu, Tong Keng Thian suami isteri, Ek Tiong Bouw, Co Kim Jie, Sin In Long dan Tay Pie Siansu, memecah diri dalam empat rombongan, mereka masing-masing melindungi satu rombongan untuk menyingkir dari tempat berbahaya itu.

Mereka mengambil jalan di tempat yang tadi dibakar habis oleh Le Seng Lam.

Keadaan kacau tapi mereka menyingkir dengan rapi.

Seebun Bok Ya menyerukan kawan-kawannya.

"Lebih banyak kita bisa membinasakan terlebih baik, tetapi mereka yang kabur, tak usahlah dikejar!"

Mendengar itu, orang-orang berbaju kuning itu lantas menyerbu sisa rombongannya Beng Sin Thong.

Satu pada lain, mereka itu saling berseru selaku isyarat melakukan penyerangan.

Can Bit Hoatsu menjadi panas hati.

Dia memapaki dua orang berbaju kuning, lantas dia berseru nyaring.

Itulah "Deruman Singa"

Dari ilmu "Saycuhauw kang".

Kaget dua orang itu, mereka memutar tubuh dan lari kabur, telinga dan hidung mereka mengucurkan darah sebab tak sanggup mereka mempertahankan diri dari getaran deruman itu.

Tubuh mereka pun menjadi lemas.

Atas itu sejumlah pendeta Lhama lantas turut Can Bit Hoatsu menyingkir.

Seebun Bok Ya memberi obat kepada dua kawannya itu.

Ia membekal obat bubuk Kengsin San yang mujarab.

Kemudian ia maju untuk merintangi yang lainnya.

Dari orang-orangnya Beng Sin Thong itu, yang tinggal ialah mereka yang kepandaiannya masih rendah, yang lainnya dapat kabur turun lebih dulu.

Syukur Seebun Bok Ya tidak mengejar Can Bit, kalau tidak sulit pendeta itu.

Derumannya itu tak dapat dilakukan berulang-ulang, sebab yang pertama itu saja sudah melemahkan sekali tenaga dalamnya.

Di antara orang-orangnya Beng Sin Thong, ada dua anak muda yang lari ngawur.

Merekalah Tio Eng Hoa dan Tio Eng Bin, dua cucu dari Co Kim Dije, yang telah terpedayakan jago Siulo Imsat Kang itu.

Sejak dilahirkan, belum pernah mereka itu menyaksikan pertempuran hebat demikian macam, mereka ketakutan hingga semangat mereka seperti terbang pergi.

Mereka pun takut sebab "guru"

Mereka sendiri sudah kabur terlebih dulu. Selagi mereka kabur, Kie Siauw Hong melewati mereka, lalu di belakang mereka terlihat dua orang berbaju kuning lagi mengejar.

"Kie Suko, tolong!"

Mereka berteriak.

Siauw Hong lari terus tanpa menoleh, sebentar saja dia lenyap dari matanya dua adik seperguruan itu...

Dua orang berbaju kuning itu memburu terus.

Ketika tiba saatnya kedua anak muda itu bakal mati dengan batok kepala hancur lebur, mendadak terdengar bentakan.

"Tikus, kau berani!"

Dan bentakan itu dibarengi dengan terlihatnya sinar terang yang berhawa dingin yang mencar di depan dua pengejar itu.

Itulah Keng Thian dan isterinya, yang muncul dengan tibatiba.

Mulanya Pengcoan Thianlie menimpuk dengan peluru inti es, habis mana, ia dan suaminya terus menghadang, hingga dua saudara Tio terlindung di belakang mereka.

Keng Thian kehilangan pedang Yuliong Kiam, ia sekarang mencekal sebatang pedang biasa, Cengkong kiam, meski demikian, ia masih dapat bersilat dengan baik sekali, dapat ia mengimbangi Pengpok Hankong Kiam, pedang isterinya.

Mereka berdua juga sudah makan Pekleng Tan, pel yang terbuat dari soatlian, teratai salju, mereka tak takuti lagi harumnya asura.

Mereka tak usah bertempur lama untuk menyudahinya.

Setelah beberapa gebrak, dengan ilmu pedang mereka yang bersatu padu, mereka berhasil memukul mundur musuh mereka, hingga mereka terbabat kutung masing-masing lengan kanannya.

Setelah itu, sesudah masuki pedangnya ke dalam sarung, Keng Thian sambar dua saudara Tio di tangan kanan dan kirinya, buat dibawa menyingkir dari medan adu jiwa itu.

Pengcoan Thianlie mengikuti di belakang, guna cegah pengejaran musuh.

Kawanan baju kuning itu tidak berani mengejar Keng Thian.

Mereka jeri melihat sepasang pria dan wanita itu demikian gagah.

Mereka juga jeri untuk peluru inti es si nyonya, yang mereka tak tahu apa adanya.

Umumnya mereka tak sudi menjadi korban seperti dua kawannya itu yang kehilangan sebelah tangannya.

Keng Thian berdua berhasil menyusul rombongannya, dengan lantas ia serahkan Eng Hoa dan Eng Bin kepada Co Kim Jie.

Ketua Binsan Pay itu gusar sekali.

"Binatang"

Dia mendamprat.

"Kamu mempunyai muka untuk menemui aku? Kenapa kamu tidak mau ikut gurumu itu?"

Dia mengangkat Liongtauw Koay-thung, tongkatnya yang berkepala naga untuk menghajar.

"Sabar, ciangbun suci!"

Ek Tiong Bouw mencegah.

"Mereka masih muda dan belum tahu apa-apa, baiklah mereka diberi ampun."

Dua saudara itu berlutut, sambil menangis mereka mintaminta ampun.

Sebenarnya Kim Jie sangat menyayangi kedua cucu itu, tetapi di depan orang banyak, ia mesti memegang kehormatan, maka itu, setelah bujukannya Tiong Bouw, baru suka ia memberikan keampunannya.

Sekarang sempatlah orang memeriksa, maka itu ketahuan mereka yang terbinasa atau lenyap berjumlah delapan puluh tujuh orang, yang luka parah tujuh puluh enam orang, yang luka enteng lebih banyak lagi.

Kim Kong Taysu menghela napas.

"Tidak disangka sekali pertempuran ini berkesudahan begini rupa,"

Kata ia, masgul.

"Baik pihak kita maupun pihak sana, kerugiannya hebat sekali..."

"Namanya Seebun Bok Ya telah aku dengar pada tiga puluh tahun dulu,"

Berkata Ek Tiong Bouw.

"hanya kawanan orang berbaju kuning itu, tak seorang juga yang aku kenal. Kekalahan kita ini bukan kekalahan di tangan Beng Sin Thong hanya di tangan kawanan orang asing itu. Sungguh di luar dugaan."

Di dalam rombongan ini, Pangcu Ek Tiong Bouw, dari Kaypang yang paling luas pendengarannya, ia tidak ketahui rombongannya Seebun Bok Ya itu, maka yang lainnya tak usah disebutkan lagi.

Tong Sian Siangjin berdiam sekian lama, baru ia berkata.

"Beng Sin Thong gagah luar biasa, loolap lihat, kecuali Tong Tayhiap suami isteri, di Tionggoan ini mungkin tak ada lain orang yang dapat menandinginya. Sekarang muncul rombongannya Seebun Bok Ya ini, itu berarti tambahnya nasib celaka Rimba Persilatan. Maka aku pikir baiklah kita pergi dulu ke kelentingku, untuk berobat dan beristirahat, sekalian kita mencoba mengusut halnya rombongan orangorang berbaju kuning itu sambil di lain pihak kita mengundang Tong Tayhiap turun gunung, guna mengajaknya berikhtiar menghadapi kawanan itu."

Kelenting Siauwlim Sie itu tak terpisah jauh dari Binsan, disana pun masih ada ratusan pendeta yang pandai silat, kuil itu tempat yang tepat untuk mereka singgahkan.

Maka itu, sarannya Tong Sian memperoleh kesetujuan umum.

Cuma Co Kim Jie seorang yang berdiam dan alisnya mengkerut.

"Co Ciangbun,"

Tanya Tong Sian, yang melihat kedukaan orang itu.

"apakah kau memikirkan adik seperguruanmu yang muda itu?"

Mukanya ketua Binsan Pay itu menjadi merah. Hatinya kena dibade si pendeta.

"Benar,"

Sahutnya, mengaku.

"Kawanan baju kuning itu datang secara begini rupa, aneh sekali, dari itu aku kuatir mereka pun telah memecah orang untuk pergi ke biara, Cie Hoa tak sadarkan dirinya, jikalau dia terjatuh ke dalam tangan mereka itu, bagaimana kesudahannya nanti? Bagaimana malu aku terhadap Lu Kouwkouw?"

Kim Jie ingat segala perbuatannya terhadap Cie Hoa, tanpa ampun lagi ia sudah mengusir dan memecat muridnya Lu Su Nio itu, sedang nona itu membelai partai dan sekarang membela mati.

Ia menjadi menyesal dan berduka sekali.

Sekarang ia ingat bahwa Cie Hoa itu murid tunggal dari kouwkouw-nya she Lu itu.

Berbareng dengan menguatirkan Cie Hoa, ia menguatirkan juga beberapa orang Butong Pay yang terluka.

Dapatkah Phang Lim melindungi mereka itu?

"Jikalau begitu, baiklah kami berangkat lebih dulu,"

Tong Keng Thian dan isterinya mengajukan diri, begitupun Lui Cin Cu.

"Tong Siauwhiap bertiga suka pergi, itu bagus!"

Berkata Tong Sian Siangjin. Keng Thian lantas bersiap.

"Tunggu sebentar!"

Tong Sian mencegah tiba-tiba.

"Coba kita lihat dulu, siapa itu yang datang..."

Tepat itu waktu, orang mendengar siulan yang lama. Mendengar suara itu, Keng Thian menjadi girang. Ia mengenali suara Ie atau bibinya itu. Ia kata.

"Itulah mereka yang kembali!"

Di lain pihak, ia mengagumi liehaynya telinga si pendeta tua.

Hanya sebentar, orang lantas melihat munculnya serombongan bayangan.

Hari sudah tengah malam akan tetapi rembulan bersinar terang jernih, hingga segala apa nampak tegas.

Itulah benar Phang Lim serta rombongannya.

Lui Cin Cu, Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie berseru girang tetapi cuma sebentar.

Yang lain-lainnya pun turut merasa heran.

Phang Lim datang bersama sembilan murid Butong Pay tanpa Lie Kim Bwee, Ciong Tian dan Kok Cie Hoa.

*** Phang Lim telah memondong Kok Cie Hoa sampai di biara.

Yang pertama ia lakukan ialah menotok nona itu, untuk menyadarkannya.

Ia menggunakan ilmu totok Tay-cong Hiat Kanghu, yaitu ilmunya pendeta Lhama Merah dari Tibet, yang biasanya dapat dipakai membebaskan pelbagai macam totokan jalan darah.

Tapi, terhadap Nona Kok, totokan pembebasan itu tidak ada hasilnya.

Maka ia menjadi heran dan berkuatir.

"Benarlah di luar langit ada langit lainnya,"

Pikir dia.

"Totokannya Beng Sin Thong ini tak dapat aku punahkan, dengan begitu, walaupun aku belum menempur sendiri padanya, dapat sudah dibilang bahwa aku telah dikalahkan dia... Tidak bisa lain, sekarang aku harus menanti kembalinya Tong Sian Siangjin, ia mungkin dapat menolong Cie Hoa. Lantas Phang Lim memernahkan Cie Hoa di sebuah kamar dan memesan Lie Kim Bwee berdua Ciong Tian menjagai, ia sendiri terus pergi mengobati semua murid Butong Pay yang terluka itu. Kim Bwee memanggil Cie Hoa berulang-ulang, ia bawa mulutnya ke telinga nona itu. Sia-sia saja. Cie Hoa tidak mendengar, dia tidak menyahuti atau membuka matanya. Maka ia menjadi berkuatir hingga ia menangis.

"Kasihan enci Kok..."

Katanya.

"Menurut Tong Sian Siangjin dia tidak terluka,"

Kata Ciong Tian.

"dia cuma tak sadarkan diri, kalau sebentar Siangjin tiba, tentu dia dapat dibikin mendusin. Maka itu baiklah sumoay jangan berduka..."

"Kau mana tahu hatiku?"

Kata Kim Bwee.

"Aku ingin enci Kok lantas mendusin. Banyak yang aku hendak tanyakan padanya. Dalam beberapa tahun ini aku sangat kesepian, tak dapat aku mencari seorang juga yang dapat aku ajak bicara dari hati ke hati..."

Parasnya Ciong Tian guram. Dengan paksakan diri ia tertawa dan kata.

"Sungguh aku mengagumi enci Kok kau ini. Belum lama kau kenal dia tetapi kau sudah anggap dia sahabatmu satu-satunya yang mengenal dirimu... Benarlah, setiap orang ada jodohnya masing-masing, jodoh itu tak dapat dipaksakan!"

Kim Bwee nampak heran.

"Suko, kau tahu apa?"

Dia tanya.

"Aku kata setiap orang ada jodohnya sendiri dan jodoh itu tak dapat dipaksakan."

Ciong Tian menjawab.

"Umpamakan kita berdua saja. Kita bergaul semenjak masih kecil, terus sampai sekarang kita sudah dewasa, akan tetapi di mata kau, aku tak dapat disamakan dengan Kok Cie Hoa..."

Ciong Tian tidak pandai bicara, kata-katanya ini terpaksa keluar dari mulutnya, terdesak oleh rasa hatinya.

Ia sebenarnya berduka dan menyesal, pedih hatinya.

Kim Bwee cuma ingat Sie le, ia melupakan segala apa, sekarang ia mendengar suaranya kakak seperguruan itu, baru ia menginsyafi hati orang.

Ia berdiam.

Angin malam membawa datang harumnya bunga.

Sinar rembulan pun molos dari antara daun-daun di luar jendela.

Sinar itu bagaikan mengintai mereka berdua.

Jernih cahaya si Puteri Malam menyinarkan muka putih dan halus dari Kim Bwee, paras yang bersorot dadu.

Ciong Tian tunduk, tak berani ia mengawasi adik seperguruan itu.

Kim Bwee terus berdiam, matanya memandang keluar jendela.

"Suheng, aku tahu kau sangat memperhatikan aku,"

Sesaat kemudian tiba-tiba ia berkata kepada si pemuda.

"karena itu, aku sangat bersyukur terhadapmu. Justeru kita bergaul bersama sedari kecil hingga besar ini, aku telah memandang kau sebagai sanak. Tidak ada orang yang dapat menggantikan kau dan aku pun tidak memikir untuk mencari lain orang untuk dibandingkan denganmu. Tapi terhadap enci Kok, aku mempunyai pandanganku sendiri. Aku menyukai dia, aku mengaguminya, aku pun merasa kasihan. Suheng, kau, kau mengertikah?"

"Aku mengerti,"

Sahut sang suheng, perlahan, wajahnya guram.

"Cuma... cuma...?"

"Cuma apakah?"

Si nona tanya. Pemuda itu menghela napas.

"Ah, sudahlah, lebih baik tak usah dikatakan..."

Katanya, lesu.

"Kau telah ketahui hatiku, itu sudah cukup..."

Kim Bwee menyebut Cie Hoa, sebenarnya hatinya maksudkan Sie Ie.

Ciong Tian dapat menebak itu.

Ingin pemuda ini menyebut bahwa orang yang sudah mati tak nanti hidup pula, akan tetapi karena si pemudi tak menyebut langsung nama orang, ia tidak leluasa mengatakannya jelas.

Pikiran Kim Bwee menjadi kalut.

Sunyi di sekitar mereka.

Tiba-tiba, kata-kata yang mereka tidak berani menyebutnya itu, mendadak keluar dari mulutnya Kok Cie Hoa.

"Sie Ie.. Sie le..."

Demikian suara sangat perlahan dari Nona Kok. Kim Bwee mendengar itu tegas sekali, ia terkejut.

"Enci, bangun!"

Ia berkata cepat seraya menggoyak tubuh orang, la terkejut hingga ia tak dapat memikir lainnya daripada segera mengasih bangun nona di hadapannya itu.

Cie Hoa tidak bangun, ia cuma menggidik tubuh.

Kembali terdengar suaranya yang perlahan sekali, ngelindur "Sie le...

Sie Ie...

jangan tinggalkan aku...

Oh, ya, yang bersih itu bersih, yang kotor, kotor sendirinya...

Kau...

kau benar...

Kau, jangan kau pergi..."

Hati Kim Bwee bercekat. Dengan lantas ia menotok jalan darah lenghu dari nona itu seraya ia menanya.

"Enci Kok, apa kau bilang? Inilah aku di dampingmu! Kau menyangka aku siapa?..."

Tubuh Cie Hoa bergerak seperti menggigil, terus matanya ditutup, sedang tadi ia membukanya mendelong.

Ngelindurnya itu pun lantas berhenti.

Kim Bwee kaget.

Ia menotok untuk menyadarkan, sebaliknya ia membuat orang lupa ingatan pula.

Tadi Phang Lim telah menotok Cie Hoa, totokan itu tidak menyadarkan lantas pada si nona akan tetapi toh bekerja juga, membikin asabat tergerak, setelah berselang sekian waktu itu, Cie Hoa sadar bagaikan bermimpi, ia merasa ada orang yang berkesan paling dalam dalam hatinya, orang yang senantiasa ia mengingatnya.

Totokan Sin Thong bertentangan dengan totokan ilmu lurus, itulah sebabnya kenapa totokan Kim Bwee berakibat sebaliknya daripada apa yang diingin pemudi ini, membikin Cie Hoa bukannya mendusin hanya menjadi tak ingat suatu apa lagi...

Kim Bwee bingung dan menyesal, ia sangat berduka.

Ia menjublak saja.

Selagi ia berdiam itu, ia mendengar suaranya Ciong Tian.

Pemuda itu kata.

"Aku mengira Kang Lam si banyak bacot ngoceh saja, kiranya dia... dia benar..."

"Suheng,"

Tanya si pemudi.

"suheng, kau kata apa? Kang Lam... dia... apa dia bilang?"

"Kang Lam bilang semasa hidupnya Sie Ie, Sie Ie sangat baik terhadap Cie Hoa,"

Sahut Ciong Tian.

"bahwa selama pertempuran di Binsan dulu hari, Sie Ie sudah membelai sangat nona itu. Maka itu, nampaknya, sampai sekarang Cie Hoa tak dapat melupai Sie le. Ah, sayang, sayang orang yang sudah meninggal dunia tidak dapat hidup pula..."

"Ah, sudahlah!"

Kata si nona.

"Sudah, jangan sebut-sebut pula itu, jangan sebut-sebut pula itu!"

Tapi ia hanya berdiam sedetik, lantas ia menanya.

"Sebenarnya peristiwa di Binsan itu peristiwa bagaimana?"

"Sekarang ini orang telah mati satu dan hidup satu, buat apa menimbulkan pula peristiwa itu?"

Kata si pemuda.

"Ya, memang benar, lebih baik kita jangan menyebut-nyebutnya pula..."

"Tidak, tidak demikian!"

Kata Kim Bwee.

"Mereka berdua sahabat-sahabatku yang paling karib, segala apa mengenai diri mereka, ingin aku mendapat tahu, maka itu kau... kau bicaralah!"

Pembelaan Sie Ie terhadap Cie Hoa di Binsan itu diketahui oleh Rimba Persilatan, cuma Kim Bwee sendiri yang belum mendapat tahu, karena terhadapnya semua itu dirahasiakan.

Sekarang timbul ngelindurnya Cie Hoa itu, Kim Bwee jadi tertarik hati.

Ciong Tian didesak, ia lantas pikir.

"Jikalau aku menuturkannya, mungkin peristiwa itu akan membikin dia berhenti memikirkan Sie Ie, mungkin hatinya lantas menjadi lega..."

Maka ia memberikan penuturannya, akan akhirnya menambahkan.

"Bukankah pada empat tahun yang lalu itu pernah kau mendengar dari Kang Lam halnya orang pergi ke gunung Laosan mencari tahu perihal Kim Sie Ie? Katanya ketika itu dia telah bersiap sedia bersama Kok Cie Hoa pergi berlayar di laut, hanya entah kenapa, kejadiannya dia berangkat bersama si nona she Le..."

"Dari siapa kau dengar hal ini?"

Kim Bwee tanya setelah ia berdiam sekian lama dengan mendengari saja.

"Ah..."

Sahut si anak muda.

"apakah ibumu belum pernah memberitahukannya kepadamu?"

Sengaja pemuda ini menanya demikian meski ia tahu Phang Lim memang menyembunyikan segala apa mengenai Sie Ie terhadap anak daranya itu.

Ia pikir sekalian bicara bolehlah ia mengatakannya, untuk membikin pemudi ini benar-benar melupakan Tokciu Hongkay yang aneh sifatnya itu.

Biarlah si nona menderita sebentar, nanti toh dia melupakannya untuk selama-lamanya.

Luar biasa adalah Lie Kim Bwee.

Setelah mendengar semua itu, ia tak menjadi seperti apa yang diterka si pemuda.

Ia cuma berdiam saja.

Baru kemudian dengan suara sedih ngoceh sendirian.

"Enci Kok, aku cuma tahu aku harus dikasihani, siapa sangka kau justeru harus terlebih dikasihani daripada aku... Aku masih mempunyai ibu, masih mempunyai saudara seperguruan, kau sebaliknya, kau telah kehilangan dia, sekarang kau tidak mempunyai lain orang siapa pun juga... Ah, kenapa orang mati tak dapat hidup kembali?... Kenapa orang mati tak dapat hidup pula? Aku... aku percaya dia akan suka mendengar perkataanku, supaya dia dan kau jangan berpisah untuk selama-lamanya..."

Nona ini sangat polos.

Tak dapat dia melupakan cintanya yang pertama.

Akan tetapi setelah dia mengetahui Cie Hoa menyintai Sie Ie seperti dia menyintainya, bukannya dia jelus atau cemburu, sebaliknya dia berkasihan terhadap nona she Kok itu.

Malam itu malam tanggal lima belas, rembulan besar dan bundar mencapai batasnya, cahayanya menembusi cabangcabang pohon berikut daun-daunnya.

Kim Bwee berdiam memandangi sinar yang permai itu.

Ia berdiam bagaikan patung.

Suasana pun tetap sunyi.

Ciong Tian mengawasi dengan berdiam saja.

Ia dapat menenangkan hatinya.

Tapi tiba-tiba ia melihat air mata mengetel dari kedua matanya si nona yang bagaikan patung dewi itu.

Ia heran, ia menduga-duga.

Apa si nona pikirkan?

Sie Ie yang tak dapat hidup pula atau Cie Hoa yang seperti mayat itu?

Ataukah ada lain orang lagi atau ia menangisi dirinya sendiri?

Apa sebenarnya dipikirkan Kim Bwee?

Nona ini lagi memikirkan pengalamannya empat tahun yang lalu, ketika ia dikurung Beng Sin Thong di dalam kamar batu.

Itulah saat pertemuannya yang pertama kali dengan Kok Cie Hoa,nona yang sekarang rebah tak berdaya di hadapannya ini.

Begitu ia berbicara dengan Cie Hoa, hati mereka menjadi seperti satu.

Mereka merasa sangat cocok satu dengan lain.

Dengan jujur Cie Hoa tak menyembunyikan rasa hatinya terhadap Sie Ie, nona itu menunjuki dia pergi ke Laosan akan menyusul pemuda itu, dan kemudian bersama Tan Thian Oe, mereka menolongi-nya.

Ia ingat waktu mereka bicara dari hal Sie Ie, matanya Cie Hoa mengembeng air.

Ia menyangka Cie Hoa berduka untuk dirinya.

Sekarang ia mengerti, kedukaan Cie Hoa itu sama seperti kedukaannya sekarang ini.

Sie Ie-lah yang dipikirkan...

Hanya itu waktu, Kim Sie Ie masih hidup di dalam dunia yang fana ini.

Ketika itu Cie Hoa mempertahankan diri menderita, tak bersangsi dia memberitahukan Kim Bwee halnya Sie le itu.

Ketika itu beda adalah Seng Lam, yang mendustainya.

Mengertilah ia sekarang, supaya ia teramprok dengan Sie Ie, Cie Hoa suka berkorban.

Sinar rembulan menyoroti Cie Hoa, yang terus rebah tak berkutik.

Di mata Kim Bwee, dia seperti lebih jernih daripada si Puteri Malam.

"Enci..."

Ia memanggil, pelahan, hatinya pedih.

"Kasihan, kasihan, dia telah meninggal dunia. Dengan "dia", dimaksudkan Sie Ie.

"Sumoay,"

Ciong Tian berkata.

"kau... kau..."

"Aku tidak menangis,"

Sahut Kim Bwee cepat.

Ia bertindak ke jendela untuk mementangnya lebar-lebar.

Ia menyedot hawa segar, guna melegakan hatinya.

Diam-diam ia pun menepas air matanya.

Tengah memandang keluar itu, mendadak Nona Lie terperanjat, ia seperti melihat bergeraknya suatu bayangan orang di antara cabang-cabang pohon, yang bergerak dengan tiba-tiba.

Hanya sekejab bayangan itu lenyap.

"Sie Ie!"

Ia memanggil, keras suaranya. Hanya sedetik itu, ia ingat Tokciu Hongkay. Malam tetap sunyi, rembulan indah, bayangan tak ada. Kim Bwee mendelong, hatinya bekerja.

"Sumoay,"

Ciong Tian menanya.

"kau... kau melihat siapakah?"

Ia menanya tetapi ia lari ke pintu, membukanya dan terus lompat keluar. Disana ia tidak melihat apa juga.

"Mungkin mataku kabur..."

Kata Kim Bwee perlahan.

"Dia... dia mana dapat hidup pula..."

Ciong Tian melawan kedukaannya, ia memaksa tertawa.

"Kau dan dia sahabat-sahabat karib,"

Katanya.

"karena aku menyebut-nyebut dia, kau lantas teringat akan dianya, lantas kau memikirkannya, tidak heran apabila bayangannya pun berpeta di hadapan matamu..."

"Aku mau pergi kepada ibuku,"

Kata Kim Bwee.

"Aku merasa sedikit takut... Barusan enci Kok ngelindur, mungkin dia sudah mulai mau sadar, maka itu baiklah ibu menotoknya pula..."

"Baiklah aku yang pergi, kau menemani disini,"

Kata si pemuda, ia belum menutup mulutnya, mendadak ia merasa ada yang meniup samping telinganya, meniup dengan perlahan sekali, la menjadi kaget.

Justeru itu, Kim Bwee berseru tajam, seperti orang yang kaget dan ketakutan.

Dalam kagetnya, Ciong Tian berpaling, la memang sudah bertindak keluar, juga si nona, yang bertindak belakangan.

Ketika ia melihat ke pembaringan, ia menjadi kaget luar biasa.

Itulah pemandangan yang membikin si nona menjerit.

Kamar mereka kosong, tak ada orang disitu, juga tidak tubuhnya Cie Hoa, yang tadi rebah berdiam saja dengan didampingi mereka...

Kim Bwee menjublak sebentar, lantas ia lari ke dalam.

Juga si anak muda.

"Lihat ini!"seru Ciong Tian.

"Ini pintu..."

Di samping pembaringan ada sebuah pintu kecil, tadi pintu itu tertutup, ketika si anak muda menarik membukanya, palangannya sudah tidak ada di tempatnya.

Maka teranglah orang masuk dan keluar dari pintu itu, untuk menculik Cie Hoa.

Siapakah orang itu?

Dia liehay sekali!

Dia dapat menculik secara demikian cepat!

Di dalam kamar itu tak ada bekasbekasnya juga...

Lantas muda-mudi ini lari keluar, untuk memburu.

Rembulan terang, tak ada lain orang disitu.

Cuma kesunyian yang menguasai jagat.

Inilah mereka mengerti.

Mereka telah menduga, tak nanti mereka mendapati Cie Hoa serta penculiknya itu...

Tengah mereka ini berdiri diam, sang angin membawakan harum bunga yang terasa harum luar biasa.

Mereka menoleh dan mengawasi.

Ingin ketahui, dari mana datangnya bau harum itu.

Keduanya lantas melihat, tak terpisah jauh dari mereka, ada tiga bocah pohon kembang, pohonnya tak tinggi tetapi bunganya besar sebesar mangkuk, warnanya merah dan putih, nampak sangat segar.

Mereka tidak kenal pohon bunga itu.

"Bagaimana ini?"

Kata Ciong Tian.

"Heran! Kenapa kepalaku rasanya pusing seperti habis minum arak? Eh, mengapa aku merasa lesu?"

Mendadak Kim Bwee menghunus pedangnya.

"Siapa?"

Tanyanya keras.

Pertanyaan itu mendapat jawaban dalam rupa bayangan dua sosok tubuh yang lompat keluar dari belakang gunung-gunungan, lalu terlihat tegas, yang satu dandan sebagai opsir tentera, yang lainnya berbaju kuning.

Dan si opsir segera tertawa nyaring.

"Kedua bocah, jangan kamu lari!"

Katanya. Kemudian dia meneruskan kepada kawannya.

"Kedua bocah ini besar faedahnya untuk kita! Loo Cee, jangan ganggu jiwa mereka!"

Enak dia bicara, dia seperti menganggap sepasang mudamudi ini sebagai benda dalam sakunya.

Kim Bwee gusar sekali, lantas ia menikam.

Opsir itu bersenjatakan sebatang cambuk kulit, dengan itu ia menangkis sekalian mencoba melibat pedang si nona, Berbareng dengan itu, Ciong Tian pun menyerang.

Kim Bwee mau meloloskan diri, ia menolak pedangnya dengan tipu silat "Meluncurkan tangan menolak perahu".

Kaget opsir itu.

Inilah di luar dugaannya.

Luar biasa, sesudah mencium harum bunga-bunga hantu-si nona masih demikian gagah.

Pula ujung pedangnya Ciong Tian sudah menobloskan ujung bajunya sebab tak keburu dia menarik pulang cambuknya, hampir ujung pedang itu mampir pada kulit dagingnya!

Si baju kuning menyaksikan itu, dia tertawa dan kata.

"Benar liehay ilmu pedang Thiansan Kiamhoat!"

Sambil berkata itu, dia menyerang dengan tangan kosong.

Angin dari tangannya itu membawa bau yang harum sangat.

CiongTian terhuyung, hampir tak kuat dia menancap kaki.

Di samping bau harumnya itu, tolakan si baju kuning kuat sekali.

Ia lantas melawan dengan menggunai ilmu pedang "Sumeru Besar", salah satu ilmu pembelaan diri dari ilmu pedang Thiansan Pay.

Dengan itu ia seperti menutup dirinya dengan pedangnya itu.

Si baju kuning liehay akan tetapi, dengan bertangan kosong, tak dapat dia lekas-lekas memperoleh hasil guna merobohkan atau membekuk lawannya.

Si opsir juga sementara itu telah berhasil meloloskan cambuknya.

Untuk ini dia memerlukan bantuannya si baju kuning siapa, di satu pihak mendesak Ciong Tian mundur, di lain pihak ia menyampok mental pedang si nona.

Untuk itu ia menggeraki kedua tangannya kiri dan kanan.

Menggunai kesempatan Ciong Tian terdesak, si opsir berlompat ke belakang orang, untuk menghajar dengan cambuknya itu, hingga punggungnya si pemuda terkena juga, sampai bajunya robek dan pada punggung itu kedapatan tapak balan yang panjang.

Lie Kim Bwee terkejut, ia menjadi gusar, maka ia maju pula.

Ketika itu si opsir menjerit keras, tubuhnya mencelat, sebab Ciong Tian yang gusar, sudah memakai pundaknya sebagai sasaran ujung pedang.

Kim Bwee menikam, ia menikam tempat kosong.

Di lain pihak ia kaget melihat tangan si baju kuning menyambar lengannya.

Ia kaget sebab ia merasai gerakannya menjadi ayal.

"Jangan kuatir!"

Si nona mendengar suaranya Ciong Tian di dekat telinganya.

"Kau membaliki belakangmu kepada belakangku!"

Pemuda itu berlompat mendekati nona, yang ia lihat ayal tidak keruan-keruan itu.

Kemudian ia menarik tangan si nona, untuk berkelahi bersama.

Ia bertempur dengan mati-matian karena ia melihat kedua musuh itu tangguh sekali.

Ia pun mengubah siasat, dari menjaga diri menjadi menyerang.

Walaupun sepasang muda-mudi itu liehay, si baju kuning masih dapat tertawa.

"Aku mau lihat, bocah-bocah, sampai berapa lama kamu dapat bertahan!"

Dia kata.

"Pek Laotee, kau juga jangan terburu napsu ingin lekas-lekas membereskan mereka!"

Ciong Tian dan Kim Bwee melawan terus.

Tetap mereka menempelkan punggung mereka, agar tak ada musuh yang membokong.

Mereka saling merasakan tersalurnya hawa hangat dari tubuh masing-masing.

Dalam keadaan seperti itu, mereka dapat bekerja sama dengan erat.

Semenjak tadi, Lie Kim Bwee seperti mengenali si opsir, setelah mendengar suaranya si baju kuning, mendadak ia ingat orang ialah Pek Liang Kie, hutongnia atau komandan muda dari pasukan Gielimkun.

Dulu hari itu orang she Pek ini pernah muncul di gunung Binsan, maka heran dia berani muncul pula di saat orang lagi berkumpul dalam jumlah besar.

Selagi bertempur itu, Kim Bwee juga heran untuk ibunya.

Kenapa ibu itu tidak segera muncul?

Mustahil dia tak tahu adanya pertempuran itu?

Kenapa ibu itu diam saja?

Dalam perimbangan, kega-gahannya Pek Liang Kie tak ada di bawahan Kim Bwee, sebaliknya si baju kuning mengatasi mereka semua.

Pula ruginya untuk Kim Bwee dan Ciong Tian, mereka sudah menyedot harumnya bunga asura, hingga tenaga mereka menjadi berkurang sendirinya.

Dua kali lagi tangan Ciong Tian terhajar cambuk, sampai lengannya itu luka matang biru.

Kim Bwee lantas berteriak memanggil ibunya, tetapi sia-sia belaka teriakannya itu.

Phang Lim tak juga muncul, pula tak ada jawabannya.

Ketika si nona mengulanginya beberapa kali tanpa hasil, ia menjadi bingung.

Ia jadi bertambah lemah.

Dengan berteriak-teriak itu, ia kena sedot pula harumnya bunga.

Sekarang ia merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang, tubuhnya menjadi letih, hingga ia tak dapat bersilat dengan sempurna.

Bahkan lantas samar-samar ia mendengar tertawanya si baju kuning, yang juga berkata nyaring.

"Roboh! Robohlah!"

Bagaikan terkena ilmu sihir, benar-benar ia lantas roboh tak sadarkan diri... Ciong Tian terkejut karena ia kehilangan senderan tubuhnya. Ia menoleh cepat.

"Sumoay, kau..."

Tanyanya.

Tak dapat ia meneruskan pertanyaannya.

Justeru ia berpaling itu, lawannya menotok padanya.

Tepat itu waktu, dari arah depan terdengar suaranya Phang Lim, akan tetapi sudah terlambat, muda-mudi ini sudah tidak dapat mendengar lagi, hingga mereka tidak dapat memberikan jawaban.

Phang Lim tak segera muncul sebab ia pun terhadang lawan yang liehay, yang melebihkan Pek Liang Kie dan si baju kuning ini.

Tibanya Liang Kie itu dapat diketahui nyonya she Phang ini.

Ia tengah bersamedhi ketika ia mendengar suara berkresek perlahan di atas genting.

Dengan lantas ia pergi keluar untuk melihat.

Ia mendapatkan orang menuju ke arah barat dimana ada lauwteng perpustakaan.

Ketika orang lompat ke atas pohon, ia melihat cukup tegas orang itu.

la mengenali orang ialah pecundangnya selama di gunung Binsan.

"Kiranya kau, binatang!"

Pikirnya, dan ia pun bersenyum.

"Kau bernyali besar berani datang kemari? Apakah kau hendak melakukan pencurian karena kau menyangka wihara ini sedang kosong?"

Jikalau ia mau, mudah Phang Lim membekuk Liang Kie. Sebenarnya ia sudah memetik daun, untuk menimpuk dengan ilmu silatnya.

"Huihoa Tekyap", atau "Menerbangkan bunga, memetik daun". Mendadak ia mengubah pikiran.

"Binatang ini komandan muda Gielimkun. Mau apa dia datang kemari? Baik aku mengintai dulu, untuk mendapat kepastian dia mempunyai konco atau tidak. Dia perlu dikuok!"

Lagi berpikir itu, ia melihat satu bayangan berkelebat di sebelah timur laut, di paseban peranti menyambut tetamu. Itulah seorang bertubuh tinggi besar yang pakaiannya kuning. Ia pikir.

"Dia lebih liehay daripada Pek Liang Kie tetapi si Bwee dan Ciong Tian pasti dapat melawan mereka, baik aku sabar dulu, aku menanti kalau-kalau ada lain kawannya lagi yang terlebih liehay..."

Tiba-tiba nyonya gagah ini terkejut.

Mendadak angin menghembuskan bau yang harum.

Ia segera berpaling ke arah dari mana angin itu datang.

Disana di antara rumput ia melihat dua pohon bunga merah dan putih, yang bunganya belasan tangkai.

"Celaka!"

Ia berseru dalam hati.

Ia pernah pesiar beberapa tahun di Tibet dan mengenal baik bunga asura yang beracun.

Ia sendiri boleh tidak usah takut tetapi bagaimana dengan gadisnya dan Ciong Tian?

Ia pun heran atas terdapatnya bunga ini di wilayah Tionggoan.

Untuk menjaga diri, Phang Lim lantas mengerahkan tenaga dalamnya, menutup jalan darahnya, setelah mana ia menggunai ilmu lari pesat "Patpou Kansiam"

Untuk menyusul.

Justeru itu dari arah tenggara ia mendengar samar-samar suara berisik.

Itulah arah dimana ada kuburannya Tokpie Sinnie, Couwsu dari Binsan Pay.

Itu pula tempat dimana pihak Binsan Pay lagi bertarung dengan pihak Beng Sin Thong.

Heran Phang Lim mendengar suara itu.

Ia dapat menduga, mereka yang lagi bertempur mesti orang-orang yang liehay.

Ia pikir.

"Kalau bukannya orang-orangnya Beng Sin Thong liehay sekali, pastilah di pihak Binsan Pay turun tangan ketua pelbagai partai..."

Apa juga adanya, itulah tanda bahwa pertempuran sudah mencapai babak yang berbahaya.

Kalau sampai pelbagai ketua turun tangan, itulah bukti suasana buruk mengancam pihak Binsan Pay.

Dugaan Phang Lim tepat.

Itulah saat rombongannya Seebun Bok Ya datang mengacau hingga dua-dua pihak rombongannya Beng Sin Thong dan Binsan Pay menjadi korban.

Pihak Seebun Bok Ya bekerja dengan rencana sempurna.

Di satu pihak ia bersama dua belas jago berbaju kuning itu pergi ke tempat adu jiwa, di lain pihak lagi satu rombongannya dikirim ke biara Hian Lie Koan, cuma rombongan ini lebih kecil jumlahnya, yaitu melainkan empat orang.

Pek Liang Kie berdua si baju kuning maju lebih dulu, masuknya dari taman di belakang biara.

Yang dua lagi mengawasi Phang Lim.

Saking liehay-nya, nyonya ini mendapat tahu dimana orang bersembunyi, segera ia mengayun tangannya, menimpuk mereka itu.

Satu suara tertawa dingin terdengar, lalu satu bayangan berlompat keluar.

Dialah seorang dengan baju kuning, yang tubuhnya lebih jangkung daripada kebanyakan orang berbadan tinggi.

Dengan tangannya yang besar dan lebar, dia menyerang si nyonya, yang hendak disambar.

Selagi tangan orang itu datang dekat, Phang Lim mendapat cium bau bacin.

Ia telah memiliki tenaga dalam yang liehay, toh bau itu membuatnya mual, membikin ia merasa tak nyaman.

Tentu sekali ia tidak sudi membiarkan kepalanya kena dieengkeram.

Sambil berkelit, ia memotes sebatang pohon panjang kira-kira tiga kaki, untuk dengan itu membalas menyerang ke dada orang.

Ia menggunai ilmu silatnya Pekhoat Molie, si Rambut Putih.

Si baju kuning berkelit.

Ia gesit sekali, ia dapat menyelamatkan dadanya.

Tapi tengah berkelit itu, ujung cabang menyambar kepalanya, menyampok kopiahnya, yang terlempar jatuh, maka terlihatlah kepalanya -sebuah kepala gundul licin, karena dialah seorang pendeta.

Ketika itu orang yang kedua sudah berlompat keluar juga dari tempat sembunyinya.

Dia bertubuh katai dan dampak, hingga dengan berdiri tegak, dia ada sebatas pinggang si nyonya.

Dia bersenjatakan sebatang kebutan.

Phang Lim melayani si katai ini.

Dia pun gesit sekali, tetapi dia masih kena disambar kopiahnya sampai jatuh, hingga terlihatlah kundainya yang tinggi.

Maka sekarang ternyata, dialah seorang imam.

Pertempuran satu lawan dua itu menjadi hebat.

Si pendeta dan imam bekerja sama.

Mereka benar-benar liehay.

Samasama mengenakan baju kuning, tubuh mereka berkelebatan kuning melulu.

Mereka juga berlaku licik, setiap kali habis menyerang, mereka lantas lompat mundur, tetapi tetap mereka mengambil sikap mengurung.

Masih ada keistimewaan kedua musuh itu.

Muka mereka terang telah terkena timpukan daunnya Phang Lim tadi, daunnya masih nempel.

Kalau muka si pendeta menjadi seperti lagi tertawa, muka si imam meringis menyeringai.

Yang aneh ialah muka mereka itu tidak mengeluarkan darah.

Mereka itu nampak bengis seperti hantu.

Ilmu "Huihoa Tekyap"

Dari Nyonya Phang dapat menyebabkan kematian korban sasarannya, tetapi heran dua orang ini, mereka tidak terluka, mereka tidak mengeluh kesakitan.

"Kenapa muka mereka begini tebal dan kuat? Apakah itu bukan terdiri dari darah dan daging?"

Ibu Kim Bwee berpikir.

Si pendeta tinggi besar itu tertawa dingin, mendadak dia menyambar dengan tangannya yang besar dan lebar.

Seperti tadi, tangannya itu menyiarkan bau yang busuk, bahkan sekarang lebih busuk lagi.

Phang Lim berkelit sambil membalas menikam dengan pedang cabang kayunya itu.

Si pendeta menjadi cerdik sekarang.

Dia waspada, maka dia bebas dari serangan membalas itu.

Habis itu, Phang Lim terus menyerang si imam katai.

Dia ini berkelit sambil terus berlompat tinggi, hingga dia melewati tingginya si nyonya, selagi turun, dia menyerang.

Dia tetap gesit dan lincah.

Ibunya Kim Bwee juga berlaku gesit dan waspada.

Musuhmusuhnya ini liehay semua dan aneh juga.

Ia berkelit seraya terus menggeser tubuh.

Berbareng dengan itu ia meniup ke arah kebutan lawan.

Hebat tiupannya ini, ia menyebabkan kebutan terbuka buyar.

Si imam katai kaget.

Justeru itu, ia kena tertikam pada pundaknya, bajunya robek, darahnya mengucur turun.

Telak tusukan pedang kayu itu.

Si pendeta melihat kawannya terluka, segera dia menyerang dengan Pekkhong Ciang sampai dua kali beruntun.

Itulah pukulan "Udara kosong"

Yang liehay, yang dilakukan cepat sebelum si nyonya menginjak tanah.

Menyerang si katai, Phang Lim melakukannya sambil mengapungi diri, sebab ia berkelit sambil berlompat tinggi.

Dengan cepat-cepat turun, Nyonya Phang menyelamatkan dirinya.

Si katai itu heran.

Pundaknya berdarah, tetapi mukanya tidak.

Ketika Phang Lim meniup ke mukanya, hingga daun yang nempel itu terbang pergi, disitu cuma ada tapak kentop celong, tidak ada luka berdarah.

Sampai disitu, Phang Lim lantas ingat suatu apa.

Ia tertawa dingin kepada dua lawannya itu, ia kata.

"Kiranya kamu dua siluman yang tak mau mampus! Siapa sangka disini kamu bawa lagak hantumu guna menakut-nakuti orang! Tong Tayhiap dapat berlaku murah atas diri kamu, aku tidak!"

Sebenarnya, si imam katai itu bernama Ku Chong Cu, sedang si pendeta asal pendeta asing suku Ouw, yang setibanya di Tionggoan memakai nama Tie Too An.

Ku Chong Cu dari partai Pauwpok Pay, suatu cabang dari Tookauw, dan yang dipujanya sebagai couwsu, kakek gurunya, yaitu Kat Hong, imam pembuat obat pel di jaman kerajaan Chin.

Maka di samping membuat obat-obatan, dia juga dapat membikin hu, atau surat jimat, dan lainnya ilmu kiri yang disebut Pangbun Cotoo.

Di Tionggoan dia tidak berhasil, dia pergi ke perdalaman, ke perbatasan, berniat membangun partai agama di Mongolia atau Tibet.

Ia gagal pula, sebab penduduk sana memuja pendeta Lhama mereka.

Berbareng dengan petualangan Ku Chong Cu itu, Tie Too An dari Khwarazm tiba di Mongolia.

Dia ingin membangun wihara, untuk menerima murid-murid pengikut.

Disini keduanya saling bertemu, lalu mereka mengikat persahabatan-Perbedaan agama tidak menyebabkan mereka asing atau jelus satu pada lain, bahkan mereka bersatu padu.

Lantas datang masanya mereka bentrok dengan pihak Lhama Merah dan melukai tujuh Lhama kelas satu.

Hoat-ong, atau raja Lhama Merah, lantas mengirim murid kepalanya kepada Tong Siauw Lan memohon bantuan.

Tong Siauw Lan menerima baik permintaan itu, kesatu karena ia sukar menolak permintaan raja agama itu, kedua ia telah mendengar pendeta imam itu sering melakukan kejahatan di Tibet dan Mongolia.

Ia pergi seorang diri.

Dalam pertempuran, dengan menggunai pedang Yuliong Kiam dan Thiansan Sinbong, Chong Cu dan Too An kena dirobohkan.

Ku Chong Cu kena dipapas kutung jari manisnya, Tie Too An kena dihajar sinbong pada mukanya.

Sejak itu keduanya pergi menyembunyikan diri, sampai di saat ini, sudah berselang tiga puluh tahun.

Phang Lim mendapat tahu lakon mereka dari penuturannya Siauw Lan.

Sang waktu sudah lewat begini lama, ia telah tak ingat lagi.

Tapi mereka itu mudah dikenali, ialah dari tubuh mereka yang tinggi dan katai luar biasa, yang ilmu silatnya pula tak sama dengan ilmu silat pelbagai partai di Tionggoan.

Kepastian didapat setelah terlihat, tangan kiri si imam katai cuma empat jerijinya.

Kedua orang itu gusar sekali rahasia mereka pecah.

Tie Too An tertawa dingin dan kata.

"Aku justeru mau mencari pihak Thiansan Pay. Sekarang aku bertemu denganmu, baiklah, kau bolehlah rasai tangan Budha kamu!"

Ku Chong Cu juga tertawa dingin dan berkata.

"Lihat saja, siapa yang tak bakal diberi ampun! -Tooheng, aku tahu, perempuan tua ini iparnya Tong Siauw Lan, maka marilah kita ringkus dia dulu, setelah itu jangan kau kuatir Siauw Lan tidak bakal datang mengantarkan dirinya, hingga kita dapat menghemat tempo dan tenaga, tak usah kita sendiri pergi ke Thiansan!"

Phang Lim paling jemu mendengar orang menyebut ia sudah tua, maka itu tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyerang dengan sengit, hingga dengan pedang cabangnya itu ia seperti mengurung kedua lawannya.

Mendadak Ku Chong Cu menjerit keras.

Selagi ia terdesak itu, ujung kayu mampir di mukanya, hingga pipinya terluka.

Tapi juga Phang Lim tidak berhasil seluruhnya.

Tiba-tiba hidungnya terserang bau bacin yang keras sekali, selagi ia repot, pundaknya kena totokannya Tie Too An, sampai pada bajunya bertanda dua tapak jari yang merah Dengan pecahnya muka Chong Cu, terlihatlah wajahnya yang asli.

Nyata dia, seperti Too An, telah memakai topeng.

Dia pun telah menggunai akal yang berbahaya untuk dirinya, la kena tersontek karena separuh disengaja, supaya Too An berhasil menyerang selagi ia diserang itu, selagi si nyonya belum sempat mtnarik pulang tangannya.

Coba Phang Lim menggunai pedang benar mungkin ia tidak berani berbuat demikian.

Phang Lim terkejut.

Ia menyesal yang ia sudah berlaku tak sabaran.

Karenanya, ia lantas berbalik terdesak kedua lawannya itu, yang licik dan tangguh.

Mereka itu memang liehay, tempo dulu hari mereka menempur Tong Siauw Lan, sampai satu hari lamanya barulah mereka kena diusir kabur.

Kalau tadi ia tetap berlaku tenang, tak mudah ia berbalik terdesak.

Pula sekarang, kedua musuh itu menggunai bunga asura, sedang pundaknya telah tertotok.

Totokan Tie Too An itu totokan "Tokhiat Ciang", atau "Tangan Berbisa", suatu ilmu liehay kaum sesat, benar itu kalah hebat bila dibanding dengan Siulo Imsat Kang, sebaliknya dari hawa dingin, dia mengeluarkan bau busuk yang beracun.

Phang Lim dapat menghalau racun, tetapi bau busuk itu tetap memualkannya, hingga ia mau muntah-muntah.

Adalah di saat ia terkepung itu, ia mendengar panggilannya Kim Bwee, puterinya.

Ia tidak berani membuka mulut untuk menyahuti.

Ia tetap percaya anaknya itu berdua Ciong Tian dapat melayani Pek Liang Kie dan si orang berbaju kuning.

Ia memikir untuk merobohkan dulu kedua musuh itu, baru ia pergi melongok anaknya.

Maka kesudahannya ia menyesal dan mulai berkuatir.

Dua lawan ini makin lama terasa makin tangguh.

Sedang Kim Bwee dan Ciong Tian, lantaran gangguannya bunga hantu, akhirnya kena ditangkap musuhmusuhnya...

Paling belakang, Phang Lim memberi penyahutan juga kepada anaknya.

Justeru ia membuka mulutnya, justeru ia kena menyedot bau bacin berikut harumnya bunga hantu.

Hebat bau busuk tangan Tok Hiat Ciang dari Tie Too An itu.

Ia merasa kegelapan dan napasnya sesak.

Sudah begitu, kebutan Chong Cu pun melibat pedang cabang kayunya itu.

Menyusul itu, Too An meninju dada orang!

Tepat di saat nyonya ini bakal bercelaka di tangan kedua musuh liehay itu, terjadilah hal di luar dugaannya.

Mendadak Tie Too An menjerit keras disusul dengan teriakan dahsyat dari Ku Chong Cu.

Mereka itu seperti binatang-binatang liar yang terlukakan hebat, masih mereka perdengarkan suara dahsyat mereka waktu meninggalkan musuhnya itu, untuk lari melompati tembok dan menghilang.

Phang Lim seperti tersadar ketika ia dapat menenteramkan hatinya, ia lantas menyalurkan napasnya, untuk melenyapkan rasa mual.

Ketika ia melihat kelilingnya, disitu ia berada sendirian saja, cuma si Puteri Malam yang permai yang menemaninya.

Ia menjadi bingung sekali.

Apakah yang telah terjadi?

Rupanya ia telah mendapat pertolongan gelap, kalau benar, siapakah penolong yang menyembunyikan diri itu?

Kenapa dia tak sudi perkenalkan dirinya?

Siapa orang yang demikian liehay, yang dapat melukakan dan membikin kabur imam dan pendeta yang liehay itu?

Kenapa penolong itu tidak sekalian menolong Lie Kim Bwee dan Ciong Tian?

Phang Lim bingung hingga sekian lama ia baru dapat menarik kesimpulan mengenai lenyapnya Cie Hoa, Kim Bwee dan Ciong Tian, yaitu mereka kena ditangkap dan diculik musuh, atau mereka tertolong penolong tak dikenal itu, dan di antara ini, yang terbelakang lebih mungkin.

Kalau benar mereka sudah ketolongan, percuma ia mencari dan menyusul, toh kemudian kedua pihak bakal bertemu pula.

Tentang si penolong, ia menerka dialah orang liehay tukang mengembara dan berguyon.

Sama sekali tak ia menyangka Sie Ie Segera setelah itu, nyonya ini ingat bahwa di dalam ruangan Hian Lie Tian di ujung barat daya biara masih ada dua belas orang yang terluka, di antara siapa ada sembilan murid Butong Pay, semua korban terbakar oleh Touw Ciauw Beng, benar mereka sudah diberi obat tetapi dalam tempo yang pendek, mereka belum dapat sembuh dan pulih kesehatannya, jikalau mereka diserbu musuh, itulah berbahaya, la menjadi berkuatir ketika ia mendengar sesuatu suara dari arah mereka itu, hingga ia mau menduga mereka lagi pada jalan merayap...

Apakah mereka itu lagi dikejar musuh?

Atau apakah mereka mengetahui ada musuh dan lagi mencoba menyingkirkan diri?

Dalam bingung dan kuatirnya itu, Phang Lim lari ke arah Hianlie Tian.

Ketika ia tiba, kembali ia menghadapi kejadian sangat di luar pemikirannya.

Begitu ia sampai di muka pintu, tanpa mengasih dengar suara lagi, untuk memperkenalkan diri, ia menolak pintu untuk ncro-bos masuk, tapi sesampainya di dalam, segera ia diancam ujung pedangnya dua orang Butong Pay yaitu Siong Sek Toojin dan Kwee Kee Bok!

Kepandaiannya dua orang itu tidak berarti apabila dibanding dengan Phang Lim tapi toh si nyonya terkejut juga, hingga ia mesti mengibaskan tangan bajunya guna melibat pedang mereka itu.

Mereka itu terkejut mengenali si nyonya, dengan lantas mereka menghentikan sikap mereka itu.

Phang Lim mendapatkan orang-orang Butong Pay itu sudah siap dengan barisan mereka, sedang tiga yang lainnya sembuh juga, serta sudah siap pula dengan senjatanya masingmasing.

Ia merasa, Siong Sek Toojin dan Kwee Kee Bok telah pulih tenaganya lima puluh bagian.

Keanehan lainnya ialah udara di dalam pendopo itu.

Phang Lim membaui harumnya soatlian, teratai salju dari Thiansan.

"Apakah artinya ini?"

Akhirnya ia tanya. Siong Sek pun memperlihatkan rasa heran.

"Phang Loo cianpwe,"

Kata ia.

"bukankah tadi, selagi kami sadar tak sadar, kau telah datang kemari?"

"Tidak!"

Menjawab Phang Lim dalam herannya.

"Ah, jangan, jangan pakai banyak adat peradatan! Kita memang dari partai yang berlainan dan aku benar orang yang terlebih tua tapi jangan kau memakai kata-kata Loo cianpwe, panggilanmu itu dapat membikin muka orang keriputan!"

Phang Lim sudah berumur mendekati enam puluh akan tetapi parasnya paras orang usia lebih kurang empat puluh tahun, dan ia, seperti masa mudanya, tak suka orang menyebut-nyebut umurnya.

Siong Sek Toojin melengak.

"Jikalau begitu, orang yang menolongi kami ialah orang lain..."

Katanya.

"Memang lain orang!"

Kata Phang Lim, yang terus mendesak.

"Lekas bilang! Lekas bilang, apakah sudah terjadi disini?"

"Tak lama mulai gelap,"

Kata Siong Sek.

"kami mendengar suara seperti orang bertempur di luar wihara. Aku kaget, aku hendak ber-bangkit, atau aku lantas mencium bau harum yang menyamankan sekali, karena aku menjadi letih dan lemas. Bau harum itu beda dengan bau harum yang sekarang masih ada sisanya di dalam kamar kami..."

"Aku tahu,"

Sela Pbang Lim.

"Bau harum yang pertama itu, harumnya bunga asura."

Di dalam hatinya, ia pikir.

"Di dalam Butong Pay, Siong Sek ini cuma ada di bawahan Lui Cin Cu, pantas dia masih dapat bertahan dari serangan bunga hantu itu."

"Aku mencoba sebisanya untuk berbangkit, aku gagal,"

Siong Sek menjelaskan pula.

"Buat merayap pun sukar sekali. Ketika itu, pendopo sangat sunyi, suasana sangat tak menyenangkan. Kami merasa seperti mau pingsan. Aku kaget, tapi justeru itu, aku kena menyedot pula dua kali bau harum itu, lantas aku merasa kepala pusing dan mataku was-was. Akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi..."

Phang Lim bergidik.

"Jikalau itu waktu musuh datang, habis sudah mereka ini..."

Pikirnya.

"Kalau itu sampai terjadi, mana aku mempunyai muka untuk menemui Lui Cin Cu dan Tong Sian Siangjin?"

"Aku tidak tahu aku pingsan berapa lama,"

Siong Sek melanjuti.

"aku sadar dengan lantas mendapat cium bau harum lain, yang menyamankan hatiku, yang membikin tubuh kita sama nyamannya. Aku merasakan hawa hangat tersalurkan ke dalam tubuhku. Sayup-sayup aku melihat ada seorang di sisiku. Ketika kemudian aku dapat melihat dengan terang, disitu tidak ada siapa juga kecuali kami beramai. Semua adik seperguruanku sadar saling susul. Menurut mereka, mereka mendapat pengalaman sama seperti aku. Luka kita telah sembuh empat atau lima bagian, luka itu tak terasa sakit lagi. Barusan kami mendengar tindakan kaki mendatangi, kami menduga kepada musuh, maka kami lantas bersiap sedia, siapa tahu yang datang justeru kau, loo...loo... eh, Phang Liehiap..."

Muka Phang Lim menjadi merah.

"Sungguh malu..."

Kata ia dalam hati. Maka ia kata.

"Inilah baunya teratai salju dari Thiansan. Rupanya tengah kamu pingsan, ada orang memasuki obat ke dalam mulut kamu. Siapa dia, aku tidak tahu. Sekarang kamu sudah dapat bergerak, mari kita pergi pada Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu bersama, mungkin disana kita bisa mendapat sesuatu keterangan..."

Siong Sek Toojin menurut, maka itu beramai mereka berangkat mencari rombongannya Tong Sian Siangjin.

Di sepanjang jalan masih mereka diliputi keheranan, hingga terus mereka berpikir dan menduga-duga.

Phang Lim heran, siapa penolongnya itu.

Cuma orang Thiansan Pay yang menggunai obat itu, ialah Pekleng Tan.

Ia sendiri mempunyai cuma tiga butir.

Orang yang terluka itu dua belas orang, tak dapat ia menolong mereka itu.

"Mustahilkah Siauw Lan dan kakakku telah datang?"

Nyonya ini memikir terlebih jauh.

"Kalau bukan mereka, siapa lagi dapat memiliki Pekleng Tan demikian banyak? Kalau benar mereka, kenapa mereka tidak mau memperlihatkan diri? Mereka bukan tukang bergurau, tidak nanti mereka mau mainmain dengan kami..."

Phang Lim cerdas luar biasa, mestinya ia ingat Kim Sie Ie, akan tetapi Sie Ie telah mati dalam hatinya, ia tidak dapat memikirnya.

Ia tidak tahu, sekembalinya Sie Ie dari pulau kosong, dia telah pergi ke Thiansan secara diam-diam, bahkan dia berdiam sampai tiga hari, hanya dia tak diketahui siapa juga.

Selama tiga hari itu, beberapa kali Sie Ie telah melihat Kim Bwee, dan setiap kalinya, nona itu ada bersama Ciong Tian.

Ia mendapat kenyataan Ciong Tian menyintai Kim Bwee, sebaliknya Kim Bwee masih ingat kepadanya dan terhadap Ciong Tian dia cuma bersikap seperti kakak beradik.

Maka itu, Sie Ie pikir, asal ia tidak memperlihatkan diri, Kim Bwee pasti tidak tahu bahwa ia masih hidup, bahwa dengan begitu, lama kelamaan mungkin Kim Bwee dapat menikah dengan Ciong Tian.

Inilah sebabnya kenapa selama pertarungan di Binsan itu, meski secara sembunyi ia membantui Kang Lam, Phang Lim dan Pengcoan Thianlie, ia tetap tak mau menemui Beng Sin Thong.

Selama tiga hari berdiam di Thiansan, Sie Ie sudah memetik belasan bunga teratai salju, dengan itu ia membikin tiga puluh butir obat pel Pekleng Tan, maka adalah di luar dugaannya, ia telah memakai obat itu menolongi orang-orang Butong Pay.

Setelah bertemu dengan Tong Sian Siangjin, baru Phang Lim mendapat tahu mereka bukan ditolongi pendeta itu beramai dan bahwa Tong Siauw Lan dan Phang Eng juga tidak datang.

Bahkan Tong Sian pun merasa bahwa mereka sudah ditolongi orang rahasia, hanya mereka tidak dapat menduga siapa si penolong.

Phang Lim jadi berpikir semakin keras.

Dalam keadaan tidak berdaya itu, nyonya ini turut Tong Sian Siangjin pergi ke Siauwlim Sie di Siongsan untuk memernahkan diri dulu.

*** Kok Cie Hoa telah ditotok Phang Lim, tak ia sadar segera.

Totokan itu menggeraki asabatnya.

Selang sekian lama, ia mendusin juga.

Hanya untuk sementara, ia seperti dalam mimpi.

Ia seperti mimpi mempunyai dua bocah sayap dengan apa ia terbang di udara.

Samar-samar ia merasa bahwa ia bertemu dengan Kim Sie Ie, yang mendampinginya, yang terus meraba-raba padanya, hingga ia merasa nyaman sekali.

Ia merasa hangat, jalan darahnya seperti terbuka dan tersalurkan benar, hingga ia dapat bergerak dengan leluasa.

Dalam sadar, dalam mimpi, ia selalu ingat Sie Ie, demikian juga sekarang ini, begitu mendusin, begitu ia ingat Tokciu Hongkay.

Belum lagi ia membuka matanya, mulutnya sudah berkata perlahan.

"Sie Ie... Sie Ie..."

Mendadak ia mendengar suara yang ia kenal sekali.

"Cie Hoa! Benar, inilah aku!..."

Tergerak hati si nona, matanya lantas dipentang.

Ia menatap.

Benar, di depannya ada Kim Sie Ie!

Ia menjadi bingung!

Tak pasti ia, ia sadar atau lagi bermimpi...

la cuma merasa Sie Ie mencekal keras tangannya.

"Jangan kau takut,"

Berkata Sie Ie, lembut.

"Inilah aku, aku tidak mati..."

Tanpa merasa, Cie Hoa membalas mencekal keras tangan si anak muda.

Benar, ia benar memperoleh kepastian, itulah Sie Ie, bukan setannya.

Sedang sebenarnya ia takut sekali yang ia masih bermimpi...

Perlahan-lahan Cie Hoa merasai hangatnya tangan Sie Ie, lalu ia mendengar denyutan jantung orang.

Semua itu menambah kepastiannya bahwa ia sadar benar-benar, bahwa Sie Ie-lah di dampingnya itu.

"Tempat apa ini?"

Akhirnya ia tanya perlahan. Ia bingung, matanya melihat kelilingan.

"Kenapa kau berada di dampingku ini? Mana mereka itu? Kemana perginya mereka semua? Kenapa kita berada berdua saja...?"

"Inilah sebuah gua,"

Sahut Sie Ie perlahan.

"Kau telah ditotok Beng Sin Thong, lantas kau diantar ke biara Hian Lie Koan untuk diobati. Secara diam-diam aku membawa kau pergi, tak satu dari mereka yang mendapat tahu."

Cie Hoa mengumpul ingatannya.

Keterangan mempercepat kesadarannya.

Maka ia lantas ingat apa yang ia telah lakukan dan apa yang sudah terjadi atas dirinya.

Ia mau jadi juru pemisah tetapi ia gagal.

Ayahnya, yang mulanya berubah pikiran, berubah pula pikirannya itu, karena mana ia putus asa dan mencoba membunuh diri.

Yang terakhir ia ingat ialah Lie Kim Bwee menjerit dan memburu kepadanya.

"Oh, kiranya aku tidak mati!"

Pikirnya.

"Aku hanya kena... kena ditotok dia... Oh, Thian mengapa hambaMu tak dibiarkan saja mati?"

Kim Sie Ie terkejut. Ia merasai telapakan tangan si nona dingin, la mencekal pula erat-erat.

"Cie Hoa, segala apa sudah lewat,"

Ia menghibur, halus.

"maka kau anggaplah semua itu seperti impian yang sudah sirna. Thian berkasihan terhadap kita, kita telah dibikin dapat bertemu hari ini. Mulai ini hari, kita tak dapat berpisah lagi. Mereka itu, orang-orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kita, jangan kita perdulikan pula..."

Cie Hoa belum menyahuti ketika mendadak hatinya tergetar.

Tiba-tiba ia mendengar siulan yang nyaring dan lama.

Ia kenal suaranya Beng Sin Thong, ayahnya itu.

Itulah saatnya Sin Thong menyingkir dari gunung Binsan, dengan siulannya itu ia memberi isyarat kepada pihaknya, untuk mereka itu berkumpul dan turut ia mengangkat kaki.

Juga hati Sie Ie bercekat mendengar siulan Sin Thong itu.

Ia hanya bercekat karena getaran siulan orang itu menyatakan orang telah terluka tenaga dalamnya walaupun luka itu tidak parah.

Sekonyong-konyong saja ia ingat Le Seng Lam, hingga bayangan si nona berpeta di depan matanya.

Kalau Beng Sin Thong terluka tak berbahaya, bagaimana dengan Seng Lam?

Mungkinkah keduanya terluka bersama?

Di saat seperti itu, tak dapat ia memecah perhatiannya, tak .dapat ia pergi mencari Seng Lam..Selagi memegangi tangan Cie Hoa, Sie Ie terkejut.

Tangannya si inona bergemetar dan terus terlepas.

Ia mengawasi terbengong.

Ia mendapatkan paras si nona pucat sekali, hingga paras itu mendatangkan rasa kuatir orang...

Cie Hoa datang ke Binsan, dengan pengharapan penuh akan dapat menghindarkan pertumpahan darah hebat, agar ayah dan anak hidup berkumpul pula, siapa tahu, harapannya itu buyar.

Justeru itu, sekarang ia mendengar siulan ayahnya itu.

Dengan lewatnya sang waktu, siulan itu sudah berhenti lama, akan tetapi di telinga anak ini, suara itu masih mendengung, hingga hatinya goncang dan pikirannya kacau.

Memangnya ia baru saja mendapatkan ketenangannya.

Ia lantas seperti terbenam dalam mimpi yang buruk...

Cie Hoa menjadi ingat Co Kim Jie, itu kakak dalam seperguruan yang menjadi ketua partai.

Bagaimana dengan ciangbun suci itu?

Bagaimana dengan ketua pelbagai partai?

Tidakkah mereka tersiksa lahir dan batin?

Bagaimana dengan ayahnya sendiri?

Bukankah perdamaian sudah gagal?

Gagalnya perdamaian berarti juga bencana Rimba Persilatan!

Maka akhir-akhirnya, ia cuma bisa menyesal.

Inilah pukulan hebat untuk Cie Hoa, walaupun ialah seorang wanita gagah.

Maka ia berdiam saja.

Tak dapat ia bicara lebih jauh dengan Sie Ie.

Tokciu Hongkay mengawasi pemudi di depannya itu.

Ia dapat menginsyafi dan merasai kesusahan hati orang.

Ia pun berdiam.

Apakah ia bisa ucapkan?

Sinar rembulan menembus ke dalam gua.

Hari sudah larut malam.

Hawa dingin meresap ke dalam tubuh.

Cie Hoa berdiam bukannya tanpa berpikir.

Ia kata dalam hatinya.

"Aku beruntung tak mati tetapi aku telah memandangnya bahwa aku sudah meninggalkan dunia! Maka sekarang aku mesti cari satu tempat yang seorang pun belum pernah pergikan, yang siapa pun belum pernah melihatnya!... Itulah pengutaraan dari hati yang telah jadi sangat tawar. Sie Ie mencekal pula tangan orang, yang bergemetaran.

"Cie Hoa,"

Katanya, sungguh-sungguh.

"apa yang kau lakukan hari ini, semua aku telah melihatnya. Kau sudah lakukan apa yang bisa. Nyata sekali bencana Rimba Persilatan tak dapat dihindarkan. Maka itu, apa pun yang telah terjadi dan bakal terjadi pula, semua bukannya kesalahan kau."

Sie Ie hendak mengatakan juga.

"Apa yang kau tak sanggup, nanti aku mewakilkan kau melakukannya..."

Akan tetapi ia batal sendirinya.

Tiba-tiba ia ingat, apa yang ia sendiri dapat lakukan?

Bagaimana kalau ia membantui Seng Lam membunuh Beng Sin Thong?

Ia hanya dapat melakukan itu secara menggelap.

Hal itu tak dapat ia beritahukan Cie Hoa, atau hati si nona bakal sampai di puncaknya ketawaran...

Perlahan-lahan Cie Hoa mengangkat kepalanya.

"Sie Ie, aku bersyukur yang kau telah menolongi aku,"

Kata ia.

"Sebenarnya, jikalau kau tidak menolongi aku, mungkin itu terlebih baik pula. Walaupun demikian, aku tetap bersyukur, berterima kasih kepadamu. Kau mempunyai jalanmu sendiri, aku mempunyai jalanku sendiri, hari ini aku dapat bertemu kau, aku puas. Aku tidak berani, aku tidak akan memikir meminta bantuanmu terlebih jauh... maka, kau pergilah!"

Sie Ie menghadang di depan si nona.

"Cie Hoa,"

Katanya, suaranya menggetar.

"kau... kau hendak pergi kemana? Ingatkah kau apa yang gurumu lakukan di saat ia hendak meninggalkan dunia ini? Kepada kau telah diserahkan kitab ilmu pedang Hian Lie Kiampouw. Bukankah gurumu ingin kau menjadi ahli warisnya? Hal itu kau sendiri yang membilangi aku! Dan kau sendiri juga yang membilangi aku, tak perduli kau mendapatkan pengalaman hebat bagaimana, kau tidak hendak mensia-siakan budi kebaikan gurumu itu, yang untuk sepuluh tahun telah merawat dan mendidik kau secara susah payah..."

Hati Cie Hoa menggetar.

Ia ingat semua itu.

Ia telah mengutarakannya pada Sie Ie sehabisnya peristiwa di Binsan dimana ia didamprat dan diusir Co Kim Jie, yang menghapus ia sebagai orang Binsan Pay.

Hanya penderitaannya itu waktu tak dapat dibandingkan dengan penderitaan hari ini.

Ia sekarang tak ketahui, apa yang sudah terjadi selama ia tak sadarkan diri itu, terutama ia tak tahu halnya Co Kim Jie sudah mengumumkan menerima ia kembali dalam partainya, hingga dengan begitu nama baiknya telah dipulihkan secara hormat.

Sebaliknya daripada mengetahui itu, ia justru memikir.

Sekarang ini entah berapa banyak jiwa yang telah terbinasakan ayahku.

Ayah sangat membenci Binsan Pay, mestinya orang Binsan Pay yang terbunuh paling banyak!

Aku beruntung tidak mati tetapi apakah aku ada muka akan menemui pula orang-orang separtai?"

Walaupun dia memikir demikian si nona terpengaruh katakatanya Sie Ie itu. Memang ia harus ingat gurunya, yang mengharap dan mengandalinya. Setelah berpikir, ia mengangguk, ia kata perlahan.

"Sie le, terima kasih yang kau telah menyadarkan aku. Kau jangan kuatir, buat guna suhu, aku pasti akan hidup terus... Baiklah, karena kau tidak mau pergi, kau biarkanlah aku yang pergi..."

Sie Ie jadi sangat berduka. Berbareng dengan itu hatinya pun terbangun.

"Kenapa kita berdua tak dapat tinggal bersama?"

Katanya, nyaring.

"Jikalau kau tidak menghendaki terlibat pula segala urusan itu, dapat bersama aku mencari sebuah pulau kosong untuk kita tinggal disana. Disana, orang macam apa pun tidak ada, urusan apa jua tak kita perdulikan! Disana kita bersungguh hati memahamkan ajaran gurumu, untuk nanti kita perkembangkan. Di hari tua kita, kita nanti cari seorang murid yang berbakat dan berjodoh, guna mewariskan kepandaian kita kepadanya. Tidakkah ini bagus?"

Sie Ie mengutarakan apa yang dipikir dalam hati si nona.

Itulah cita-cita mereka, yang cocok satu dengan lain.

Akan tetapi cuma selang sejenak, segera si nona ingat Lie Kim Bwee.

Ia kata dalam hatinya.

"Sekarang ini hatiku sudah tawar, kalau toh aku hidup terus, aku hidup melainkan untuk suhu. Kenapa aku mesti menjadi rintangan untuk mereka berdua?"

Walaupun apa yang ia pikir itu, mulut Cie Hoa tertutup rapat, sikapnya tetap tawar.

Dengan perlahan ia menolak tubuh Sie le, lalu dengan perlahan juga ia bertindak keluar dari gua itu.

Ia terus membungkam.

Sie Ie dapat mengerti keputusan Cie Hoa, itu tak dapat ditarik pulang.

Sikap dingin si nona membuatnya, dengan sendirinya, menggeser tubuhnya, membiarkan nona itu lewat di sisinya.

Setelah tak berhasil membujuk, tak mau ia menggunai kekerasan.

Apakah gunanya itu?

Cie Hoa keluar dari gua dengan pikiran tidak keruan.

Berulang-ulang ia tanya dirinya sendiri.

"Aku harus pergi kemana?"

Air matanya, yang ia telah pertahankan sekian lama, turun bercucuran, dan mulutnya mengasih dengar tangisannya perlahan.

Kim Sie Ie dapat mendengar orang terisak-isak, ia memburu keluar, untuk menyusul.

"Enci Kok, kau tunggu!"

Ia memanggil.

"Inilah tak dapat! Mustahilkah dengan begini saja kita mesti berpisahan? Oh, tidak! Kau tunggu, kau kasih ketika untuk aku berpikir! Aku pun masih mempunyai kata-kata untuk diucapkan terhadapmu..."

Hampir Sie Ie dapat menyandak nona itu, atau mendadak ia mendengar panggilan dengan suara yang sangat berduka, suara memanggil-manggil ia.

Segera ia menoleh.

Dengan matanya yang tajam, ia melihat di sampingnya di bawah sebuah pohon besar, ada seorang wanita lagi mengawasi ke arahnya.

Wanita itu riap-riapan rambutnya, bajunya hitam, matanya mendelong hingga dia mirip satu arwah...

Dalam herannya, Sie Ie menghentikan tindakannya.

Ia terus mengawasi.

Nona itu bukan lain daripada Seng Lam!

Sie Ie melihat mata si nona terbuka lebar dan darah mengalir dari ujung mulutnya, mukanya pun berkerut, suatu tanda orang telah mendapat luka parah dan lagi menahan nyeri sebisa-bisa.

Inilah di luar dugaannya.

Selagi Seng Lam memasang mata atas kedua pihak yang bertempur itu, Sie Ie tidak mendampinginya.

Ia berlega hati meninggalkannya sebab ia ingin membiarkan si nona sendiri yang membuat perhitungan dengan Beng Sin Thong.

Ia percaya Seng Lam akan berhasil menuntut balas, atau kalau toh gagal, tak nanti si nona bercelaka.

Sebabnya itu ialah, kesatu itu waktu Beng Sin Thong lagi menempur Kim Kong Taysu yang tangguh, kedua Seng Lam sudah mempunyai dua di antara tiga mustikanya Kiauw Pak Beng, ialah tameng batu kemala serta pedang yang tajam.

Di samping itu, di medan laga itu juga ada Tong Sian Siangjin dan yang lainnya.

Ia sendiri ingin sangat menolongi Cie Hoa, maka habis menyerahkan pedangnya, ia berlalu dengan cepat.

Sekarang ia menjadi menyesal sekali sudah meninggalkan nona itu, hingga dia menjadi terluka parah itu.

la menjadi serba salah.

Di depan ia hendak menyusul Cie Hoa, di belakangnya ada ini nona yang terluka, yang membutuhkan pertolongannya...

"Ah!..."

Ia mengeluh.

Habis sudah harapannya, sebab ia merasa tak nanti ia dapat bertemu pula Nona Kok itu.

Lantas ia menoleh pula ke arah Seng Lam, untuk menghampirkannya.

Ketika ia telah datang dekat si nona kata sengit.

"Aku kira, setelah ada orang lain, kau tidak bakal memperdulikan aku lagi!...."

Kata-kata itu diikuti dengan tumpah darah! "Kau jangan bergusar,"

Berkata Sie le.

"Nanti setelah kau sembuh, baru kita bicara pula."

Ia lantas meraba nadi si nona. Mulanya ia terkejut, lalu ia menjadi mendongkol, hingga ia kata keras tetapi terputusputus.

"Kau... kau!... Kenapa kau memakai caramu ini memperdayai aku'.'"

Seng Lam tertawa dingin, ia kibasi tangan orang.

"Ya, aku telah memperdayai kau!"

Katanya.

"Kau boleh tak usah menggubris aku lagi! Pergi kau susul enci Kok-mu itu! Pergi, pergilah!"

Memang Seng Lam melukai dirinya sendiri, dengan ilmu yang ia dapat pelajari dari kitab warisannya Kiauw Pak Beng.

Dengan akal ini ia mau mencegah Sie Ie menyusul Cie Hoa.

Ia terluka otot nadi samciauw.

Itulah otot yang berbahaya, yang lukanya dapat meminta jiwa, atau entengnya muntah darah, untuk akhirnya orang merojan, ludas tenaga atau kepandaian silatnya.

Tidak demikian, tidak nanti Seng Lam dapat melakukan perjalanan jauh tujuh atau delapan lie-jarak antara medan laga dan biara Hian Lie Koan.

Sie Ie seorang ahli, dengan meraba nadi, tahulah ia hal yang sebenarnya.

Maka ia menjadi terperanjat dan mendongkol, karenanya ia menegur nona itu, tak perduli mereka pernah tinggal bersama tiga tahun dan ia telah mengenal baik tabiat si nona.

Disengaja atau tidak, Seng Lam tetap telah terluka dan di bagian anggauta yang berbahaya itu, jikalau Sie le tidak lekas menolongi, nona itu bakal terbinasa atau bercacad seumur hidupnya.

Oleh karena itu ia tidak berani mengumbar kemendongkolannya terlebih jauh.

Bahkan ia segera memberikan pertolongannya.

Paling dulu ia menutup semua jalan darah, untuk melenyapkan rasa sakitnya, ia pun memberikan tiga butir Pekleng Tan, habis mana ia menyalurkan tenaga dalamnya, guna membikin orang pulih kesegarannya.

Satu jam ia menggunai temponya, lantas tak menderita pula seperti tadi, mukanya tak pucat pias lagi.

Sie Ie menggeleng-geleng kepala.

"Seng Lam, kau terlalu,"

Dia kata.

"Kenapa kau main gila seperti ini? Jikalau kau ada bicara, bicaralah denganku. Nah, kau bicaralah!"

Nona itu tertawa.

"Belum lagi aku mencaci kau melanggar kepercayaan dan men-sia-siakan orang, kau sekarang mengatakan aku main gila!"

Sahutnya.

"Hm! Kau telah mempunyai enci Kok kau itu! Kau juga mempunyai adik Lie-mu! Mana kau mau dengar pula aku? Mungkin selagi aku mau bicara dengan kau, kau sendiri bersama enci Kok-mu itu telah pergi kemana tahu!..."

Muka Sie le merah. Ia kata dalam hati, memang kalau tidak menemui Seng Lam lagi terluka ini, entah sudah sampai dimana ia menyusul Cie Hoa... Kembali Seng Lam tertawa.

"Bagaimana? Bukankah aku telah mengatakan apa yang kau pikir dalam hatimu?"

Kalanya pula.

"Nah, sekarang kau dapat pergi menyusul pula enci Kok-mu itu! Pergilah! Kenapa kau masih tidak mau pergi?"

Sie Ie mengangkat kepalanya, mengawasi nona yang tabiatnya luar biasa itu.

"Apa katamu?"

Ia tanya.

"Aku tidak mau berbantahan dengan kau! Aku cuma mau tanya, kenapa kau katakan aku melanggar kepercayaan dan mensia-siakan orang?"

Di dalam hatinya, ia pun kata.

"Memang selama di pulau kosong, karena desakan, aku mengakui kita menjadi suami isteri, akan tetapi terhadapmu aku tidak menjanjikan sesuatu! Selama tiga tahun kita tinggal bersama, kita tetap bergaul di dalam batas adat istiadat. Mana dapat kau kata aku melanggar kepercayaan dan mensia-siakan orang?"

Tengah Sie Ie berpikir itu, Seng Lam sudah tertawa pula, dingin seperti semula tadi. Dia kata.

"Pada tiga tahun dulu di puncak Kimkee Hong, kau pernah menjanjikan apa padaku?"

"Aku berjanji bersama kau pergi berlayar mencari kitab ilmu silatnya Kiauw Pak Beng."

Sie Ie menjawab.

"Bukankah itu telah dilakukan selesai?"

"Benar, itu dilalukan selesai!"

Kata si nona.

"Masih ada satu lagi!"

Hati Sie le tergetar juga.

"Ya, masih ada satu lagi, yaitu untuk membantu kau mencari balas. Itu..."

"Syukur kau masih ingat itu!"

Seng Lam tetap tertawa dingin.

"Apakah kau telah selesai melakukan itu?"

"Aku menduga hari ini kau sanggup melakukan itu,"

Kata Sie Ie, terpaksa.

"Siapa tahu... siapa tahu, hantu itu masih dapat lolos!..."

"Oh, jadi kau ketahui Beng Sin Thong sudah lolos?"

Si nona kata.

"Kau berjanji membantu aku mencari balas, janji itu belum diwujudkan, apakah dengan begitu dapat kau memikir untuk tidak memperdulikan aku lagi? Apa artinya itu jikalau bukan melanggar kepercayaan dan mensia-siakan orang? Apakah kata-katamu tidak mau kau anggap?"

Sie Ie berdiam. Tajam kata-kata nona ini. Memang pernah ia janji, sebelum membantu Seng Lam menuntut balas itu, ia tidak akan meninggalkannya. Ia berpikir.

"Kiranya dia menggunai janjiku ini untuk mengikat aku*. Hari ini saat yang baik aku membantu dia, tapi sang tempo telah lewat, maka itu entah sampai kapan datang lagi ketika yang baik itu? Ah, dia benarlah hantu tukang jirat leherku..."

Janji Sie Ie itu janji membantu hingga Seng Lam dapat sendiri melakukan pembalasannya itu.

Janji itu dapat dilakukan dengan dua cara.

Yang pertama yaitu mengajari Seng Lam ilmu silatnya Kiauw Pak Beng sampai dia dapat menangkan Beng Sin Thong.

Yang kedua ialah ia membikin Sin Thong menjadi demikian letih sampai si nona dapat turun tangan sendiri mewujudkan pembalasannya.

Sie Ie telah memilih cara yang nomor dua itu, sayang karena hadirnya Lie Kim Bwee dan Kok Cie Hoa di medan laga, tak dapat ia melaksanakannya.

Karena tak dapat ia perlihatkan diri di depan mereka itu.

Maka ia lantas mengandal kepada Kim Kong Taysu dan Tong Sian Siangjin beramai, supaya Sin Thong repot dan lelah melayani mereka.

Memang Sin Thong kena dibikin letih, tetapi toh dia tetap tangguh hingga Seng Lam gagal.

Sekarang Sin Thong kabur entah kemana, kemana dia harus dicari?

Bukankah tak mudah mencarinya?

Pula Sie Ie telah melihat kepandaiannya Beng Sin Thong.

Ia mau percaya, Seng Lam seorang diri tak nanti berhasil mengalahkannya.

Bahkan ia sendiri, ia masih sangsi ia pun sanggup merobohkan jago Siulo Imsat Kang itu.

Mereka masing-masing cuma mendapat separuh kitab, bagian Atas dan bagian Bawah, hingga kepandaian mereka mestinya berimbang.

Malah Sin Thong menang unggul lantaran dia mendapatkan kitab bagian Bawah.

Sekian lama Sie Ie berdiam terus.

Ia bimbang.

Ketika ia menoleh kepada si nona, tiba-tiba ia melihat air mata orang bercucuran.

"Sie Ie,"

Kata Seng Lam, terisak.

"selama beberapa tahun ini sungguh aku membuatnya kau letih dan pusing, sedang sekarang aku pakai janjimu mengikatmu... Di dalam hatimu, kau tentunya penasaran sekali terhadapku, kau membenci aku... Maka itu, jikalau kau memangnya tak sudi, baik sekarang kita berpisahan saja, selanjutnya, aku mati atau aku hidup, tak usah kau menggubrisnya lagi... Sie Ie, suka aku menjanjikan kau, janjimu itu biar dibikin habis, supaya aku tidak mengatakan kau melanggar janji dan mensia-siakan orang.."

Habis berkata begitu, kembali si nona menangis sedih.

Hingga sekarang ia beda dengan waktu tadi ia menegur orang.

Kalau tadi ia bengis, sekarang ia harus dikasihani...

Sie Ie berdiam, ia menjadi jengah sendirinya.

"Dia memperdaya aku, dia menyiksa diri, bukankah itu untukku?"

Ia berbalik pikir.

"Dia pertaruhkan jiwanya untuk menahan aku, aku sebaliknya ingin sangat meloloskan diriku. Herankah kalau ia menggunai dayanya ini? Bukankah pantas dia menegur aku?"

Mau tidak mau, tak perduli dia menyintai Cie Hoa, untuk cintanya Seng Lam ini, hati Sie le toh tergerak.

Sudah tiga tahun mereka tinggal bersama di dalam pulau kosong, erat pergaulan mereka, maka itu, berat juga untuk berpisahan dengan cara begini tawar.

Sie le menjadi tak tega...

Tanpa merasa Tokciu Hongkay menggenggam tangan orang, ia menyusuti juga air matanya.

Kemudian ia kata sungguh-sungguh.

"Untuk seorang laki-laki, satu dia telah mengucapkan kata-katanya, tidak dapat dia menyesal dan mengingkarinya! Maka itu, jangan kau kuatir, biar bagaimana, akan aku bantu kau membalas sakit hatimu itu!"

Seng Lam berhenti menangis. Saking girang, ia tertawa. Ia mengangkat kepalanya mengawasi pemuda di depannya.

"Jikalau sampai sepuluh tahun masih aku belum dapat mencari balas?"

Ia tanya.

"Untuk sepuluh tahun juga aku tak akan meninggalkan kau!"

Sahut Sie Ie.

"Seumurku aku juga tidak akan meninggalkan kau!"

Sie Ie pastikan.

"Ah, bukankah itu berarti aku membikin susah padamu?"

Kata Seng Lam.

"Sie le, kau berlaku begini baik terhadapku, tak tahu aku, bagaimana aku harus bersyukur terhadapmu..."

Berkata begitu, air mata nona ini mengucur pula.

Katakatanya itu pun lembut sekali.

Sie le mengawasi, la terharu sekali.

Tapi tiba-tiba, pada air mata si nona ia menampak bayangannya Cie Hoa.

Lantas mukanya menjadi merah sendirinya.

Di dalam hati sanubarinya, ia jengah terhadap nona she Kok itu.

Hatinya berdenyut.

Maka ia melepaskan tangannya Seng Lam, yang ia genggam.

"Musuhku bukan cuma satu orang,"

Berkata Seng Lam. Ia tidak melihat perubahan orang.

"Masih ada satu lagi, yang mungkin terlebih hebat daripada Beng Sin Thong..."

"Kenapa aku belum pernah mendengar kau menyebutnya?"

Sie Ie tanya.

"Aku pun baru mengetahui hari ini."

Seng Lam lantas menuturkan halnya, seberlalunya Sie Ie, telah muncul rombongannya Seebun Bok Ya, dan bagaimana rombongan yang liehay itu sudah mengacau pertempuran, hingga dua-dua pihak Binsan Pay dan Beng Sin Thong menampak kerusakan besar.

Ia tuturkan pembicaraan di antara orang she Seebun itu dengan Beng Sin Thong, yang kenal satu pada lain dan pernah bekerja sama menyerbu Keluarga Le.

"Jikalau begitu tak heran Beng Sin Thong menyingkir dengan membawa lukanya,"

Kata Sie le, yang sekarang baru mendusin.

"Jadinya dia bukan kalah di tangannya Kim Kong Taysu."

Di dalam hatinya, ia berkata.

"Seebun Bok Ya ialah ahli racun nomor satu di kolong langit ini, dua belas pembantunya yang berbaju kuning itu juga liehay semuanya, kalau begitu, mereka benar terlebih sulit dilawannya daripada Beng Sin Thong..."

Toh ia berkata, menambahkan.

"Tak perduli berapa banyak musuhmu serta bagaimana mereka liehay, pendek, sebelum kau berhasil dengan pembalasanmu, pasti aku tidak akan berpisah dari kau!"

Seng Lam menjura dalam pada pemuda itu.

"Selama hidupku ini, tidak berdaya aku membalas budi kau,"

Ia kata pula.

"biarlah aku membalasnya di lain penitisan tak perduli aku mesti jadi kerbau atau kuda!..."

Kata-kata ini mempunyai dua maksud.

Sebenarnya ia hendak membalas budi dengan menyerahkan dirinya, akan tetapi di dalam hati Sie Ie sudah ada orang lain, maka itu budi itu tak dapat ia membalasnya.

Sie le memimpin bangun pada nona itu, terhadap katakatanya ia berpura-pura pilon.

"Jangan mengucap begini,"

Ia kata perlahan.

"Ketika dulu aku dilukai Beng Sin Thong, bukankah kau yang menyembuhkannya? Sudahlah, sekarang kau baru sembuh tidak dapat kau banyak pikir. Kita beristirahat di dalam gua saja. Eh, mengapa pedangmu lebih satu?"

Ketika Seng Lam menjura, pedangnya kebentur tanah dan berbunyi, mendengar itu, perhatian Sie le tertarik, hingga ia melihat pedang si nona ada dua dan yang satunya itu, bukan pedangnya Kiauw Pak Beng, bahkan ia merasa mengenali pedang itu.

"Inilah pedang pusaka sahabatmu,"

Jawab si nona, tertawa.

"Apakah kau sudah tidak mengenalinya?"

Sie Ie mengawasi tajam, lantas ia tertawa.

"Ah, kiranya pedang Tong Keng Thian!"

Katanya.

"Inilah Yuliong Kiam, pantas aku seperti mengenalnya! Kau berguyon hebat!"

Tong Keng Thian bangsa ksatria, dia beda dengan Sie Ie si berandalan. Sie Ie tak terlalu menyenangi dia. Maka Sie Ie pikir.

"Keng Thian si bau itu, biarlah dia mendapat sedikit rasa! Hanya karena ini, mungkin nanti terbit kesulitan..."

Yuliong Kiam pedang pusaka Thiansan Pay dan Tong Siauw Lan diakui sebagai orang Rimba Persilatan nomor satu, sekarang pedang pusakanya itu lenyap, pasti itu dapat dianggap sebagai suatu kejadian yang memalukan sekali, tak perduli Tong Siauw Lan sangat sabar, apabila dia mengetahui itu, pasti dia bakal mencampur tahu.

Menurut aturan Rimba Persilatan, memang kejadian semacam itu tak dapat disudahi saja.

Itulah sebabnya Sie Ie menganggap perbuatan Seng Lam keterlaluan.

Nona Le sebaliknya acuh tak acuh.

"Aku, bukannya berguyon!"

Dia kata.

"Kau lupa bahwa leluhurku muridnya Couwsu Kiauw Pak Beng, serta aku sendiri pernah memberi hormatku kepada tulang-tulang rerangka Couwsu itu, yang telah meninggalkan pesannya, siapa menerima warisannya dia mesti menjadi muridnya di lain penitisan! Antara pesan itu ada yang membilang, siapa mendapat kitab wasiatnya, dia mesti membalaskan sakit hati Couwsu terhadap Thio Tan Hong, dan andaikata Thio Tan Hong, sudah menutup mata, pembalasan mesti dilakukan terhadap turunannya! Ringkasnya, turunan Thio Tan Hong harus diajar adat!"

Kim Sie Ie tertawa.

"Ketika Kiauw Pak Beng menulis surat wasiatnya itu,"

Ia kata.

"temponya sudah dua ratus tahun paling sedikit, maka itu mungkin dia bakal menyangka bahwa kitalah yang berhasil menemukan warisannya itu. Pula sekarang ini, bukan saja kuburan Thio Tan Hong sudah tak ada bekas-bekasnya, juga turunannya sangat sulit untuk diselidiki!"

"Aku tidak sependapat dengan kau,"

Seng Lam membantah.

"Memang mungkin turunan Thio Tan Hong sukar diselidiki lagi akan tetapi pendiri Thiansan Pay ialah Thian Touw pernah mendapat petunjuknya Thio Tan Hong! Bukankah dengan begitu Thiansan Pay dapat dipandang sebagai turunan Tan Hong juga? Maka itu hari ini aku menghendaki ini pedang Yuliong Kiam dari Tong Keng Thian, untuk sedikitnya bisa juga melampiaskan penasarannya Kiauw Couwsu dulu hari. Sekarang ini aku lagi menghadapi musuh besar, tak ada kesempatan untuk pergi menya-teroni gunung mereka!"

Sie Ie terkejut. Ia tidak sangka Seng Lam menganggap demikian sungguh-sungguh pesan Kiauw Pak Beng itu.

"Sie Ie,"

Ia dengar Seng Lam berkata pula habis berhenti sejenak.

"kau juga terhitung sebagai seorang yang pernah menerima budinya Kiauw Tiouwsu, maka jikalau kau dapat membantu aku merampas pulang kitab Bagian Bawah itu, kita kemudian bakal menjadi orang-orang tanpa lawan. Itu waktu, aku bukan cuma menghendaki Thiansan Pay tunduk, juga aku ingin semua partai di kolong langit ini mengakui keunggulan ilmu silat Couwsu dan takluk karenanya. Secara demikian barulah tak sia-sia Couwsu menyiksa diri di pulau kosong serta terlampiaslah sudah penasaran keluargaku selama tiga ratus tahun!..."

Mendengar itu, Kim Sie Ie menyeringai.

"Menurut pendapat kau ini, bukankah kita jadi selalu menggunakan kekerasan?"

Katanya.

"Habis membunuh satu Beng Sin Thong, nanti muncul dua Beng Sin Thong lainnya..."

"Beng Sin Thong terlalu telengas tanpa sebab, dia membangkitkan amarah Rimba Persilatan,"

Kala Seng Lam.

"Kita sebaliknya. Setelah kita mempelajari sempurna kitab Couwsu, kita jangan membunuh seorang jua, cukup asal kita membikin semua partai takluk di mulut sampai di hatinya. Hendak aku membilangi kau, selama beberapa tahun berdiam di gunung berapi, siang dan malam yang aku selalu pikirkan ialah, kalau nanti aku pulang ke daratan, ke rumahku, bagaimana aku harus bekerja membangun pula kejayaan keluargaku, supaya Rimba Persilatan suka mengakui dan tunduk terhadapnya. Untuk itu aku sudah mempunyai rencanaku."

Sie Ie heran. Ia tidak menyangka ambekan Seng Lam begini besar. Ia menjadi tercengang karenanya.

"Rencana apakah itu?"

Ia tanya.

"Aku ingin mendengarnya."

Sepasang alis Seng Lam terbangun. Ia agak bernapsu sekali.

"Aku ingin dalam ilmu pedang mengalahkan Tong Siauw Lan dan dalam tenaga dalam mengatasi Tong Sian Siangjin serta Kim Kong Taysu,"

Sahut Seng Lam.

"Aku percaya, setelah itu, siapakah lagi yang berani main gila terhadap kita?"

Sie Ie tertawa.

"Kalau begitu, kau memandang terlalu enteng kepada Rimba Persilatan!"

Katanya.

"Dulu hari aku pernah menjagoi hingga aku dikenal sebagai hantu, tetapi berbareng dengan itu akupun menginsyafi, pokok tujuan Rimba Persilatan ialah menunduki orang dengan kebijaksanaan. Mana dapat kita mengandali ilmu silat saja?"

"Apa yang aku jelaskan barusan baru perumpamaan satu bagian rencanaku,"

Seng Lam bilang.

"Di dalam tempo sesingkat ini, tak dapat aku menjelaskan semuanya. Ringkasnya, asal kau suka turut aku, aku mempunyai dayaku untuk tanpa membinasakan satu jiwa juga membuat kaum persilatan di kolong langit ini rela menyerah pada kita!"

"Apapun dayamu itu, itulah pasti sama dengan contohnya Beng Sin Thong,"

Pikir Sie le.

"Karena kau mempunyai cita-cita seperti itu, pastilah Rimba Persilatan tak bakal mengalami harinya yang tenang dan tenteram..."

Le Seng Lam berkata pula.

"Semenjak Kiauw Couwsu menyingkir keluar laut, selama tiga ratus tahun, keluargaku mesti menyembunyikan diri, tak berani kami muncul dalam dunia Kangouw. Itulah sebabnya kenapa kami sangat ingin memperoleh kitab ilmu silat warisan Couwsu itu, supaya dengan begitu kami dapat bangun pula! Sekarang keluargaku mempunyai cuma aku seorang sebagai anggautanya, maka itu, mana dapat aku mensia-siakan pengharapannya itu?"

Sie le bangsa tak jerikan apa juga, akan tetapi mendengar katakata nona ini, ia bergidik. Kata ia dalam hatinya.

"Semenjak kecil dia mendapatkan didikan keluarganya, tak heran apabila dia bersemangat begini rupa."

Ia kenal sifatnya Seng Lam, apa yang dipikir, mesti dikerjakan, tak perduli dengan jalan apa juga.

Maka itu ia mengerti, di dalam tempo yang pendek, pikiran nona itu tak dapat dirubah.

Maka ia kata.

'Urusan begini besar, baik belakangan saja kita bicarakan pula, nanti kita mendamaikannya lagi.

Kau baru sembuh, tak dapat kau berpikir banyak, baiklah kau beristirahat."

Lega hati Seng Lam.

Ia percaya selanjutnya Sie le bakal dengar kata terhadapnya.

Sebenarnya ia masih kurang puas, akan tetapi orang tidak menentang padanya, dapat ia menghibur diri.

Ia percaya, asal Sie le tidak meninggalkan ia, ia akan berhasil membuatnya tunduk terus.

Ia pun merasa sangat letih dan lesu, dari itu ia perlu beristirahat.

Dengan penuh pengharapan, ia lantas membungkam, bahkan tak lama kemudian, ia dapat tidur tenang.

Sie le berdiam di sisi si nona, pikirannya berkerja.

Ketika itu sinar rembulan molos dari sela-sela gua, menyorotkan muka nona itu.

Seng Lam tidur nyenyak sekali, dalam tidurnya itu terlihat ia bersenyum manis.

Itulah bukti bahwa ia merasa puas.

Nampak ia cantik menggiurkan.

Selama tiga tahun, sering sudah Sie Ie menyaksikan Seng Lam tidur pulas, akan tetapi belum pernah ia melihat orang tidur seperti malam ini.

Heran nona itu.

Dia begitu cantik manis dan menarik hati, toh didalam situ ada berbayang sesuatu yang membikin hati Sie Ie jeri.

Perasaan jeri itu didapatkan Sie Ie beberapa kali apabila ia menatap si nona, toh malam ini rasanya paling hebat.

Orang cantik tapi toh menakuti...

Lantas Tokciu Hongkay berpaling.

Tak mau ia mengawasi lebih lama pula.

"Sejak itu hari aku kenal dia, terus-terusan dia melibat aku,"

Sie Ie masih berpikir.

"Dia mirip bayanganku, hingga aku tak dapat menjauhkan diri dari ia-nya. Adakah dia mempunyai maksud lain dalam ia menyintai aku?"

Satu kali gua menjadi gelap.

Rupanya sang mega sudah mengalingi si Puteri Malam.

Berbareng dengan itu, Sie Ie mendapat serupa perasaan.

Seumpama ia ditarik Seng Lam hingga ia terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap.

Berbareng dengan itu, ia jadi ingat Cie Hoa.

Hingga ia membayangkan dan membanding-bandingkan kedua nona, dua-duanya cantik sekali, tetapi mereka beda...

Cie Hoa mirip dengan Sang II itara Surya di waktu pagi, sinarnya hangat dan menyamankan.

Nona itu membangkitkan pengharapan.

Dia putih bersih, dia halus, lemah lembut.

Dan Seng Lam?

Dia ini keras, licik...

Bagaimana dengan Cie Hoa sekarang?

Nona itu mendapat pukulan hebat sekali.

Dimana adanya dia?

Tentu dia lagi menangis sedih, menangis diam-diam...

"Apakah aku mesti terus-terusan menemani Seng Lam berdiam di dalam jurang yang dalam dan gelap?"

Sie Ie tanya dirinya sendiri.

Mengingat itu, mendadak ia mendapat kekerasan hati.

Maka ia bertindak, melewati tubuh si nona.

Hendak ia berlalu secara diam-diam.

Justeru itu, rembulan muncul pula.

Tepat nona itu membalik tubuh.

Pada mukanya tak ada lagi senyumannya yang manis itu.

Mungkin impiannya yang manis lenyap, diganti oleh impian yang tak menyenangi, maka kedua bibirnya dirapatkan.

Dia sekarang seperti lagi berpikir keras.

Sie Ie berhenti bertindak, la berpikir pula.

"Apakah kata-kataku tak aku pegang?"

Ia tanya dirinya.

"Dia lagi mendendam sakit hati hebat. Dia juga sebatang kara. Dapatkah aku membiarkan dia dicelakai Beng Sin Thong dengan aku tidak berbuat suatu apa? Apakah aku keliru menganggap dia busuk? Mungkin dia rada sesat tetapi itulah tidak aneh. Sedari masih kecil dia telah mendapat didikan keluarganya. Untuk merubahnya dibutuhkan banyak hari dan bulan. Jikalau aku membiarkan dia, bukankah dia bakal terjerumus semakin dalam?"

Lantas Sie le mengurungkan niatnya mengangkat kaki.

Bahkan ia lantas merebahkan diri di sisi Seng Lam.

la rebah tetapi tidak tidur pulas, terus sampai fajar datang.

Seng Lam mendusin dengan merasa sudah sembuh benar, parasnya tak lagi pucat hanya bersemu dadu.

Mungkin tenaganya sudah pulih tujuh atau delapan bagian.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat Sie le rebah di sampingnya, ia lantas tertawa nyaring.

"Bangun! Bangun!"

Ia memanggil-manggil.

Ia mentertawai orang sangat suka tidur...

Tentu sekali nona ini tidak ketahui bahwa pria di dampingnya itu tak tidur sekejab juga, bahna satu malam suntuk, si pria berpikir keras, hingga pernah datang ingatannya untuk mengangkat kaki seorang diri...

Lantas keduanya pergi keluar, ke medan pertempuran.

Disana mereka menyaksikan pemandangan yang mengenaskan.

Mayat-mayat tampak tak ada yang urus.

"Ketika yang baik telah lewat,"

Berkata Seng Lam.

"Kita terpaksa mesti mencari ketika yang baik yang kedua. Coba bilang sekarang, kita harus cari Beng Sin Thong atau Seebun Bok Ya?"

"Dua-dua mereka itu tak dapat kau tergesa-gesa. Aku mempunyai satu urusan penting, yang harus dilakukan terlebih dulu..."

"Aku tahu!"

Kata Seng Lam, tertawa.

"Kau hendak menolongi adik Lie-mu itu! Aku tidak mengerti, kau telah tiba di wihara Hianlie Koan, kenapa kau membiarkan dia diculik musuh?"

Sie le heran.

"Eh, mengapa kau ketahui itu?"

Ia tanya.

"Aku melihat Pek Liang Kie menggulung tubuh seorang dengan jubahnya,"

Jawab Seng Lam.

"Aku tidak tahu siapa itu yang dia tangkap, tetapi jubahnya tak cukup lebar, jubah itu tak dapat menutupi rambutnya orang itu-rambut yang bagus. Maka itu aku lantas menduga pada adik Lie-mu itu."

"Bagaimana kau dapat merasa demikian pasti?"

"Bukankah mudah untuk menerka?"

Si nona tertawa.

"Di dalam Hian Lie Koan cuma ada tiga orang wanita. Phang Lim tak nanti dapat diculik. Oleh karena dia bukannya Kok Cie Hoa, habis siapa selainnya Lie Kim Bwee?"

Sie le berdiam, untuk berpikir.

Ia menduga rupanya di saat ia membawa Cie Hoa ke gua.

Seng Lam sudah sampai di dekat-dekat Hianlie Koan, maka itu ada kemungkinan, dia pun telah dapat mendengar pembicaraannya dengan Nona Kok.

Itu berarti bahwa gerak-geriknya telah tak lolos dari matanya nona she Le ini.

"Sekarang datang giliranmu menjawab aku,"

Berkata Seng Lam.

"Kenapa kau membiarkan dia diculik musuh? Kalau begitu, kenapa sekarang kau hendak pergi menolonginya?"

Sie Ie tidak menjawab hanya dia menanya.

"Kecuali Pek Liang Kie, siapa lagi yang kau lihat kemarin!"

"Aku melihat seorang dengan baju kuning. Seperti Pek Liang Kie, dia pun membawa satu orang. Aku tahu korbannya itu seorang pria hanya tak tahu siapa dia."

"Kalau begitu dialah Ciong Tian muridnya Tong Siauw Lan."

Si nona tercengang sejenak, lalu dia tertawa.

"Baik, tak usah kau menjelaskan lagi,"

Katanya.

"Aku tahu maksudmu!"

Sie Ie telah mencuri dengar pembicaraan di antara Lie Kim Bwee dan Ciong Tian, ia beranggap bahwa kesan pemudi itu terhadap si pemuda tak buruk, hanya masih belum tiba saat masaknya pergaulan mereka itu.

Mengenai maksudnya Pek Liang Kie, ia menduga orang menculik Kim Bwee dan Ciong Tian untuk mereka itu dijadikan manusia jaminan, untuk mereka dipakai memeras Tong Siauw Lan.

Karena dugaannya ini, ia tidak berkuatir muda-mudi nanti dibikin celaka, la sudah memikir jalan untuk menolongi mereka itu sambil sekalian membuat keduanya terangkap jodoh...

Inilah jalannya itu.

Lie Kim Bwee dan Ciong Tian dibiarkan diculik.

Waktu menolongi mereka, Ciong Tian akan disadarkan terlebih dulu.

Ciong Tian mesti dibikin mendapat pulang tenaganya, lalu ia membantu dia mengalahkan musuhnya, supaya Ciong Tian terlihat seperti menang atas kemampuan sendiri.

Dengan begitu, Kim Bwee akan merasa bahwa dia telah ditolongi pemuda itu, hingga kesannya menjadi terlebih baik lagi.

Seng Lam sangat cerdas dan cerdik, segera ia dapat menebak jalan pikirannya Sie le.

Ia girang.

Ia mau percaya, Sie Ie berbuat demikian untuk kebaikannya.

Ia kata dalam hatinya.

"Biarlah Lie Kim Bwee itu mendapatkan tempatnya, setelah dia menikah dengan Ciong Tian, aku menjadi kurangan seorang sainganku. Disana tinggal Kok Cie Hoa, dia lebih mudah diurusnya..."

Pek Liang Kie menjadi hu-tongnia, komandan muda, dari pasukan Gielimkun pasukan raja, maka itu Sie Ie menduga dia membawa orang tawanannya pulang ke kota raja.

Maka itu bersama Seng Lam ia lantas menuju ke Utara.

Selama di perjalanan itu, Seng Lam selalu bicara dari hal ilmu silat.

Ia memohon pelbagai petunjuk.

Tak pernah ia omong perihal dirinya, atau hari kemudiannya.

Ia percaya bahwa Sie Ie tak bakal lolos dari genggamannya lagi, bahwa selanjutnya orang akan dengar hanya kata-katanya saja.

Sie Ie sebaliknya memikir, kalau nanti ia sudah berhasil membantu Seng Lam menuntut balas, ia hendak membujuki si nona menghapus niatnya menjadi jago utama Rimba Persilatan.

Karena orang berdiam saja, ia juga membungkam.

Ia tahu menimbulkan urusan itu sekarang berarti mengundang perbantahan mulut.

Jalannya mereka berdua lebih cepat daripada orang kebanyakan, sudah begitu, mereka pun beristirahat seperlunya saja, maka di waktu malam pun mereka berjalan terus.

Demikian di hari ketiga tibalah mereka di sebuah dusun kecil yang dipanggil Liongbu.

Disini mereka melihat Pek Liang Kie bersama si orang berbaju kuning.

Mereka itu berdua naik sebuah kereta di atas mana pun ada seorang kusir.

Lantas mereka itu dikuntit sampai mereka berhenti di sebuah pondokan.

Sie Ie mengajak Seng Lam singgah di pondokan yang berdekatan.

Malam itu juga jam tiga, setelah mengenakan pakaian peranti jalan malam, mereka menyatroni pondokan komandan muda Gielimkun itu.

Kebetulan mereka tiba di saat Liang Kie dan si baju kuning sedang pasang omong.

Sie Ie mengawasi seluruh kamar.

Liang Kie dan kawannya rebah di atas pembaringan.

Kamar itu kosong dari lain orang.

Itu Ciong Tian dan Lie Kim Bwee tidak ada disitu.

Disitu pun tak nampak bungkusan jubah seperti diterangkan Seng Lam.

Mulanya Sie le tercengang saking heran.

Tapi ialah seorang yang berpengalaman, yang luas pengetahuannya.

Segera ia menduga kepada tipu muslihatnya Pek Liang Kie.

Pastilah Kim Bwee dan Ciong Tian dibiarkan tetap di dalam kereta, untuk tak mencurigakan orang andaikata keduanya digotong masuk ke dalam rumah penginapan.

Teranglah orang diserahkan di bawah penjagaan si kusir kereta.

Itu pula berarti kusir itu bukan sembarang kusir, mestinya dia anggauta Gielimkun yang menyamar.

Tentu Kim Bwee dan Ciong Tian ditotok jalan darahnya, hingga mereka tak dapat melarikan diri.

"Baik aku mendengari dulu pembicaraan mereka,"

Sie Ie pikir lebih jauh.

"Han Toako, aneh,"

Terdengar suaranya Liang Kie.

"Hari ini sudah hari ke empat, kenapa mereka tetap tak nampak, seperti hantu-hantu yang menghilang? Kau berpengalaman luas, toako, coba kau terka, mungkinkah terjadi sesuatu di luar sangkaan?"

Orang yang dipanggil Han Toako itu tidak lantas menjawab.

"Turut pantas, Tie Too An dan Ku Chong Cu dapat melayani Phang Lim,"

Katanya selang sesaat.

"Juga Seebun Bok Ya bertiga belas orang pasti dapat melawan pelbagai guru besar itu. Benarkah terjadi sesuatu atas diri mereka itu? Mereka sendiri yang memesan, setelah kita berhasil, kita mesti lantas mengangkat kaki. Seharusnya kita sudah dapat berkumpul dengan mereka itu. Ya, inilah aneh! Tapi lagi tiga empat hari kita akan sudah sampai di kota raja, biar disana saja kita nanti bertemu, itu waktu tentu kita ketahui apa yang telah terjadi..."

"Sebenarnya aku berkuatir..."

Kata Liang Kie.

"Apakah kau kuatirkan mereka terbinasakan Beng Sin Thong?"

Si Han Toako menanya tegas. Liang Kie tertawa.

"Biarnya Beng Sin Thong sangat liehay, tidak nanti dia sanggup membinasakan mereka semua!"

Dia kata.

"Di samping itu, Seebun Bok Ya sudah bersiap-siap sedari masih siang-siang, ialah dengan ditanamnya pohon-pohon asura di sekitar tempat pertarungan. Kalau Beng Sin Thong lolos, dia sungguh besar rejekinya..."

"Habis apa yang kau kuatirkan?"

Si Han Toako tanya pula, suaranya aneh.

"Aku kuatir mereka sengaja tak hendak menemui kita,"

Kata Liang Kie ragu-ragu.

"Siapa tahu jikalau Seebun Bok Ya mengharapi kita gagal? Sebenarnya aku kuatir mereka merampas jasa kita ini... Coba pikir, mana mungkin Seebun Bok Ya berhati baik? Dia berambekan sangat besar! Dia mau menyingkirkan semua orang Rimba Persilatan, supaya jasa itu dapat ditukar dengan pangkat kedudukan yang besar. Selain ingin menjadi jago Rimba Persilatan yang sah, yang dianugerahkan Sri Baginda, dia pasti mengingini kekuasaan Gielimkun di dalam istana! Apakah pergaulan kita dengannya? Ada kemungkin kemudian kita nanti disingkirkan dia..."

Si Han Toako berpikir sebentar, baru dia menyahuti.

"Pikiranmu benar. Pantas dia menolak pikirannya Cin Tay dan Kheng Sun. Pantas dia juga ingin menyingkirkan Beng Sin Thong. Inilah tentu tak lain daripada dia merasa jelus untuk kekosenan Sin Thong itu. Kalau Beng Sin Thong berhasil, dia tentu kuatir Beng Sin Thong dipercaya Sri Baginda."

"Aku percaya begitulah pikirannya Seebun Bok Ya,"

Kata pula Liang Kie.

"Tapi pun Cin Tay dan Kheng Sun, sia-sia saja pengharapannya agar Sin Thong suka bekerja sama untuk Sri Baginda Raja. Sin Thong menjadi orang paling jumawa di kolong langit ini, meski dia mau menjadi jago, tidak nanti dia memikir meminjam pengaruh Sri Baginda. Aku rasa dia tidak memikir sedikit juga anugerah Pemerintah Agung. Jikalau dia gampang dibujuk, pasti siang-siang aku sudah mengusulkannya kepada Sri Baginda."

"Biarlah urusan mereka itu,"

Kata si Han Toako kemudian.

"Mengenai tugas kita, harus kita merasa puas. Kita sudah berhasil. Apa Seebun Bok Ya akan bilang mengenai jasa kita ini? Aku tak percaya dia dapat merebutnya kecuali dia berani turun tangan secara menggelap..."

"Aku rasa dia tak akan bernyali sedemikian besar,"

Kata Liang Kie.

Baca Juga: Telapak Setan 8

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger