Perjodohan Busur Kumala 10

Eps 10 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.

"Sekarang ini aku pikirkan urusan kita. Masih ada tempo beberapa hari, untuk tiba di kota raja. Kita belum bisa berlega hati benar-benar. Kita harus ingat pergaulan Thiansan Pay luas sekali. Maka aku pikir, baiklah kita berhati-hati..."

"Jangan kuatir!"

Kata si Han Toako, tertawa.

"Kereta kita toh dipernahkan di dalam pekarangan. Untuk itu, aku sudah melakukan persiapan. Kalau ada terjadi sesuatu, tak mungkin kita tak mendengarnya."

Mendengar pembicaraan orang itu, Sie Ie terkejut. Sungguh di luar dugaan, sepak terjang Seebun Bok Ya itu mempunyai latar belakang demikian macam. Bahkan orang itu raja sendiri.

"Kalau begitu, Kian Liong jauh terlebih liehay daripada Yong Ceng ayahnya!"

Pikirnya.

"Yong Ceng cuma membakar ludas Siauwlim Sie, tapi dia ini hendak membasmi semua orang Rimba Persilatan!..."

Sie le tidak jeri untuk pengaruh raja, ia hanya berkuatir untuk keselamatannya kaum Bulim, terhitung Kok Cie Hoa.

Cie Hoa murid tunggal Lu Su Nio, sedang Lu Su Nio ialah musuh besar Kerajaan Boan.

Dapatlah Seebun Bok Ya membiarkan kemerdekaan nona itu?

Seng Lam berdiam sekian lama, lantas ia menyentuh tangan Sie le seraya berbisik.

"Aku mengundang banyak musuh untukmu, meski demikian, dengan kau membantui aku, kau berbareng membantu Kok Cie Hoa. Maka itu kau toh tidak menyesali aku, bukan?"

Kata-kata itu diucapkan dengan ilmu "Thiantun Toan-im", maka perkataan Seng Lam ini dalam lingkungan lima tombak tak akan terdengar lain orang.

Mengenai ilmu bicara itu, ia belum mencapai tarap-nya Sin Thong atau Sie Ie tapi toh sudah lumayan, sekarang ia berbisik, maka itu, meski mereka liehay, Pek Liang Kie dan si Han Toako tak dapat mendengar sama sekali.

Muka Sie le menjadi merah.

Ia tidak sangka Seng Lam dapat mem-bade apa yang ia pikir.

Cumalah, si nona baru menerka sebagian saja.

Di dalam kamar, kedua orang yang berbicara itu, makin lama suaranya menjadi makin perlahan.

Rupanya, bicara tentang Seebun Bok Ya, mereka itu jeri.

Hingga selanjutnya mereka saling berbisik.

Tengah Sie Ie mendengari terus, tiba-tiba ia mendengar suara berkelisik sangat perlahan, yang datangnya dari arah luar.

Ia lantas menduga kepada datangnya dua orang yang liehay.

"Apakah itu, Phang Lim?"

Ia menduga, la tidak menduga kepada Kie Siauw Hong atau lainnya sebab mereka itu tidak mempunyai kepandaian ringan tubuh seperti dua orang ini.

Setelah itu lantas terdengar tindakan kaki yang lebih berat.

"Celaka!"

Sie le kata dalam hati.

Tindakan kaki berat itu membikin ia menduga orang berlalu dengan membawa barang yang berat juga.

Bukankah Ciong Tian dan Kim Bwee yang dibawa pergi itu?

Kalau yang membawanya Phang Lim, tidak apa, jikalau lain orang, sungguh hebat, Maka segera ia berkata kepada Seng Lam, bicara dengan "Thiantun Toan-im"

Sambil memetakan tangan juga.

"Kau berdiam terus disini mendengari pembicaraan mereka ini terlebih jauh, aku mau pergi keluar untuk melihat siapa mereka itu di luar."

"Aku mengerti,"

Seng Lam menjawab.

"Pergi kau menolongi mereka."

Sie Ie lantas pergi keluar, ke dalam pekarangan.

Disana ada dua buah kereta.

Ia mengenali keretanya Pek Liang Kie, maka itu ia langsung menuju ke kereta si komandan muda Gieliemkun.

Ketika ia menyingkap tenda kereta, ia terkejut.

Di dalam kereta itu terlihat si kusir rebah tak berkutik, mukanya matang biru, mulutnya terbuka, seperti orang yang gagal berteriak akibat satu serangan gelap.

Tubuh itu kaku tetapi tidak ada tanda lukanya.

Nadi orang pun masih mengetuk hanya jalannya keras.

"Aneh orang ini,"

Pikir Tokciu Hongkay.

"Dia terluka terkena apakah? Tubuhnya kaku tetapi nadinya masih bergerak-gerak. Kelihatannya dia tak kalah Iiehaynya daripada Pek Liang Kie. Tak mungkin dia kena tertotok jalan darahnya. Siapakah yang demikian liehay dapat membikin dia tak berdaya begini?"

Sie le ahli silat dan paling gemar menyelidiki, akan tetapi sekarang ini ia tidak mempunyai temponya.

Ia lantas lompat naik ke atas kereta dimana ada sebuah peti besi tinggi lima kaki, di empat penjurunya kedapatan liang-liang kecil.

Ketika ia membuka tutup peti, kosong di dalamnya, cuma hidungnya mencium bau bunga asura.

Tidak ada Ciong Tian dan Lie Kim Bwee di dalam kereta itu.

"Terang mereka dimasuki ke dalam peti ini,"

Ia pikir.

"Cara apa orang pakai guna membuka tutupnya? Liang-liang itu pasti akibatnya totokan jeriji tangan yang liehay sekali."

Dalam herannya, Sie le memasang telinga. Ia masih mendengar tindakan kaki tadi.

"Tak perduli mereka siapa, aku mesti susul!"

Ia mengambil kepu-tusan.

Lantas ia lari keluar dari pekarangan hotel, guna menyusul dua orang itu.

Ia tak usah lari jauh akan lantas menyandak.

Ketika ia sudah melihat tegas, hampir ia tertawa.

Ia mengenali Tong Keng Thian serta Pengcoan Thianlie.

Dengan begitu, hatinya menjadi lega.

Sekarang pun ia mengerti kenapa si kusir kereta menjadi kaku, terang dia terserang Pengpok Sintan, yang masuk ke dalam mulutnya di saat dia mau berteriak.

Liang-liang kecil itu juga tentu disebabkan serangan peluru es istimewa.

Keng Thian berjalan dengan memanggul Ciong Tian dan Pengcoan Thianlie membawa Kim Bwee, mereka itu berlarilari.

Sie Ie melihat orang memperoleh kemajuan apabila kepandaian mereka dipadu dengan tiga tahun yang lalu.

Hampir Sie Ie kembali, baiknya sebelum ia memutar tubuh, ia ingat suatu apa.

Ia mesti amproki Kim Bwee dan Ciong Tian.

Bagaimana?

Setelah bersangsi sebentar, ia lantas bekerja.

Lebih dulu ia hendak main-main dengan Keng Thian suami isteri itu.

Maka ia mengambil segumpal tanah, ia remas itu hingga remuk, lalu ia tiup ke arah mereka, hingga debu itu berterbangan ke kepalanya Keng Thian dan Pengcoan Thianlie.

Tong Keng Thian selalu waspada.

Ia bersiaga kalau-kalau musuh mengejar.

Maka itu walaupun debu sangat enteng, ia curiga tempo mendadak ia mendengar suara angin sangat halus.

Segera ia menyampok ke belakang!

Habis debu itu melayang balik, kecuali sepotong tanah yang kecil sekali, yang mengenai tangan.

Keng Thian terkejut, la tidak terluka tapi tanah itu mendatangkan rasa nyeri sedikit.

Lekas-lekas ia meletaki Ciong Tian sambil melihat tajam sekitarnya.

Ia tidak melihat siapa juga.

Sie le sudah bersembunyi di belakang sebuah pohon "Apakah Beng Sin Thong menyusul?"

Ia tanya, heran.

Pengcoan Thianlie juga meletaki Lie Kim Bwee, sambil menghunus pedangnya, ia mendampingi suaminya, untuk sama-sama memasang mata.

Sie Ie terus sembunyi seraya ia mengawasi mereka itu.

Ia pikirkan daya untuk bekerja.

Sulitnya ialah ia tidak mau kasih dirinya dilihat mereka itu.

Tidak demikian, ia bisa lantas turun tangan.

Keng Thian tidak melihat siapa juga, terpaksa ia berkata.

"Tuan, dua orang sutee dan sumoay kami, kau telah menawannya, tidak dapat kami membiarkan saja. Melihat kepandaian kau, tuan, kau bukannya bangsa tikus atau anjing, maka kalau kau mempunyai sangkutan sesuatu dengan Thiansan Pay, disini kami suami isteri bersedia menyambutmu. Aku minta janganlah kau main-main dengan kami si orangorang muda, terutama janganlah dengan cara sembunyisembunyi ini..."

Jago muda dari Thiansan ini menduga kepada orang yang menculik Kim Bwee dan Ciong Tian, maka itu ia bicara demikian rupa.

Kim Sie le mendengar itu, hampir ia perdengarkan tertawanya.

Syukur ia keburu menutup mulutnya, la anggap Keng Thian lucu.

Di lain pihak, ada orang lain yang tertawa geli, disusul oleh orangnya sendiri, ialah Le Seng Lam, yang muncul dengan tangannya mengidapkan sebuah pedang yang berkilauan, ialah pedang Yuliong Kiam.

"Maaf! maaf!"

Berkata nona ini, Jenaka.

"Tong Siauwciangbun, mengapa terhadapku kau mengaku sebagai si orang muda?"

Keng Thian terperanjat saking heran.

Karena ia mengenali orang, segera ia menimpuk dengan Thiansan sinbong.

Seng Lam melintangi pedangnya, membikin peluru itu terpotong menjadi dua.

Ia tertawa dan kata.

"Sungguh pedang mustika! Telah lama aku mendengar tiga mustika dari Thiansan, bahwa sinbong lebih kuat daripada besi, dan pedang dapat memutuskan emas, sekarang terbukti, pedanglah yang terlebih menang seurat!"

Selagi orang bicara itu, Pengcoan Thianlie menyerang dengan tiga bocah pengpok sintan, peluru inti esnya, atas mana Nona Le menunjuki kegesitan tubuhnya, ialah dia berkelit sambil berlompatan, bukan dia mundur, dia justeru maju, hingga dia menjadi berada di depan Keng Thian!

Cuma kira setombak terpisahnya mereka.

Pengcoan Thianlie lompat maju, ia menyerang dengan jurusnya "Lumernya sungai es".

Pedangnya berkelebat sambil mengeluarkan hawa yang dingin.

Keng Thian memegang pedang biasa, dengan itu ia turut maju juga.

Seng Lam tidak kasih dirinya dilukai, ia melawan.

Hanya untuk sementara, ia tidak melayani dengan penyerangan membalas Ia lebih banyak main berkelit.

Keng Thian merangsak hebat.

Ia kuatir orang membawa lari Kim Bwee dan Ciong Tian, ia tidak mau membiarkan nona ini mendekati muda-mudi yang masih tak berdaya itu.

Inilah ketika baik lagi bagi Sie le, dari itu tak mau ia mensia-siakannya.

la keluar dari tempatnya sembunyi, ia menggunai ilmunya yang luar biasa.

Dengan sangat gesit ia lompat ke arah Kim Bwee dan Ciong Tian, dengan masingmasing sebelah tangannya, ia sambar tubuh mereka.

Begitu ia datang, begitu ia pergi.

Hanya sekelebatan, ia sudah kembali ke tempat sembunyinya.

Disitu ia lantas mengasih dengar suara Thiantun Toan-im.

"Kau jangan main gila terhadap mereka! Pancinglah supaya mereka menyingkir! Sebentar kita bertemu pula di itu bukit sepuluh lie terpisah dari sini!"

Seng Lam mendengar itu, ia menjawab.

"Aku mengerti! Jangan kuatir!"

Suaranya Sie le cuma didengar Seng Lam, tetapi berkelemiknya mulut Nona Le dapat dilihat Keng Thian, yang matanya sangat tajam.

Ia menjadi curiga, maka ia lantas menggunai ketika untuk berpaling.

Untuk kagetnya, ia melihat lenyapnya Kim Bwee dan Ciong Tian.

la kaget hingga ia berseru.

"Celaka! Kita kena diakali! Perempuan siluman ini ada konconya!"

Seng Lam tidak gusar, sebaliknya, dia tertawa.

"Siauwciangbun, kali ini kau roboh!"

Katanya, menggoda.

Lantas ia menyerang dengan sebat sekali.

Kembali jago muda dari Thiansan itu kaget.

Di luar dugaannya, ujung bajunya kena dirobek pedang nona itu, tidak perduli ia sudah bergerak cepat untuk menyingkirkan tubuhnya.

Maka ia menjadi sangat gusar.

"Baiklah!"

Ia berseru.

"Aku nanti minta orang dari kau!"

Ia lantas menyerang deagan sengit sekali.

Pengcoan Thianlie juga heran tetapi ia berlaku tenang, dengan sama kerasnya, ia menyerang nona itu.

Seng Lam gagah sekali.

Ia tetap melayani dengan sabar tapi gesit.

"Kamu ingin berkelahi, aku sebaliknya tak dapat menemani kamu!"

Ia kata.

Ia pun tertawa.

Mendadak tubuhnya mencelat jumpalitan ke belakang, niatnya untuk lari.

Tong Keng Thian benar liehay, selagi orang mencelat itu, ia menyambar dengan pedangnya, tepat ia menikam pundak orang, akan tetapi si nona tidak terluka, lantaran dia ditolong tameng tubuh-nya.

Nona itu lari terus, hingga sebentar saja dia sudah kabur jauh ke tanjakan bukit!

Keng Thian dan isterinya mengejar terus.

Mereka mau menolongi orang sekalian merampas pulang senjatanya, pedang Yu-liong Kiam.

Ketika itu Kim Sie Ie sudah sampai di dalam rimba di atas bukit.

Ia cari tempat yang merupakan tegalan kecil.

Ia merebahkan Kim Bwee dan Ciong Tian di atas rumput.

Ia mengawasi orang yang rebah diam, cuma napasnya berjalan perlahan.

Hawa mulut mereka mengeluarkan bau soatlian, maka teranglah, Keng Thian telah memberikan mereka Pekleng Tan, pil teratai salju.

Dengan begitu, mereka itu sudah terbebas dari gangguan bunga asura.

Bahwa mereka masih belum sadar, itulah akibat totokan jalan darah.

"Totokan apakah ini?"

Pikirnya.

"Kenapa Keng Thian tak dapat menyadarkannya?"

Sambil berpikir itu, Sie Ie memeriksa teliti. Tak lama, ia lantas ingat sesuatu. Tanpa ayal lagi, merobek baju di betulan punggung mereka. Maka disitu ia melihat tapak merah sebesar uang emas.

"Ah, kiranya orang yang dipanggil Han Toako itu anggauta Keluarga Han dari Sengtouw!"

Katanya.

Memang keluarga Han yang disebutkan itu memiliki ilmu totok yang beda daripada ilmu totok pelbagai partai atau kaum persilatan lainnya.

Itulah totokan yang dinamakan "anhiat", atau "menekan atau meraba"

Jalan darah.

Dan itu dilakukannya dengan Angsee Ciu, atau Tangan Pasir Merah.

Siapa kena diraba mereka, ia cuma dapat ditolong oleh keluarga itu, oleh si penotok sendiri.

Siapa tak ketolongan cepat, setelah terlambat, dia bakal musnah ilmu kepandaiannya.

"Binatang itu jahat,"

Kata Sie le dalam hatinya.

"Syukur aku yang menemuinya."

Kitab warisannya Kiauw Pak Beng mencatat pelbagai macam ilmu totok, disitu kedapatan juga ilmu totok Keluarga Han ini.

Kebetulan untuk Sie le, ia mendapatkan kitab Bagian Atas itu, maka ia ketahui ilmu "meraba"

Ini.

Disitu juga ada caranya untuk membebaskannya.

Keng Thian tidak dapat membebaskan totokan istimewa itu, tanpa Sie Ie, dia mesti membawanya ke Siauwlim Sie, untuk minta pertolongannya Tong Sian Siangjin.

Pendeta berilmu itu dapat menolong dengan bantuan tenaga dalamnya.

Hanya itu membutuhkan waktu serta juga pengorbanan besar.

Habis menolongi kedua korban itu, Tong Sian bakal kehilangan tenaga latihannya yang tiga tahun...

Sie Ie masih memeriksa Kim Bwee, sampai ia mendapat kenyataan nona itu tidak mendapatkan lain-lain luka.

Hal itu membuat hatinya lega.

Ia terharu kalau ia ingat kebaikan hati nona ini, yang pernah sekian lama tinggal bersama dan bergaul erat dengannya.

Lain orang tak menyukai ia, sebaliknya Kim Bwee.

Ia pun terharu untuk cintanya si nona terhadapnya, cinta yang ia menyesal tak dapat membalasnya.

Sambil membungkuk Sie Ie mengawasi nona yang seperti tidur nyenyak itu.

Dia tenang luar biasa.

Katanya di dalam hati.

"Sekalipun di dalam mimpinya dia tidak akan ketahui bahwa aku sekarang lagi mendampinginya..."

Tokciu Hongkay menghela napas kalau ia ingat ia bakal mendustai nona ini, sebab ia tetap ingin merahasiakan dirinya.

Tengah ia kelelap pikiran itu, mendadak telinganya mendengar tindakan kaki.

Ia mendusin.

"Aku mesti lekas menolongi mereka, nanti orang keburu tiba,"

Pikirnya. Lantas Sie Ie menotok mereka. Seperti rencananya, lebih dulu ia menolongi Ciong Tian. Anak muda itu pun tenang sekali. Dialah pemuda putih bersih.

"Mereka ini pasangan yang cocok satu dengan lain,"

Ia berpikir pula.

"Baiklah aku amproki jodoh mereka. Kim Bwee tentu bakal hidup berbahagia. Itulah bakal membikin aku berbahagia juga..."

Ada perbedaan tenaga yang digunai Sie Ie di waktu ia menolongi kedua muda-mudi itu, itulah totokan lebih enteng dan lebih berat, supaya mereka sadar saling susul.

Habis menotok Kim Bwee, Sie le merapikan rambut orang yang kusut.

Tanpa merasa, ia mengetel-kan air mata di pipinya si nona.

Lekas-lekas ia menyingkir ke belakang pohon.

Tatkala itu tindakan kaki terdengar makin dekat.

Benar saja, yang datang itu Pek Liang Kie bersama si Han Toako.

Justeru itu Ciong Tian mendusin.

Dia terperanjat.

Dengan lantas dia melihat ke sekitarnya.

"Adik Kim, lekas bangun!"

Kata dia, berseru.

"Kita berada dimana ini?..."

Seruan itu tidak mendapat jawaban. Kim Bwee masih belum sadar. Itu justeru terdengar Pek Liang Kie.

"Ha, kiranya kau sembunyi di sini, bocah!"

Hutongnia itu berseru. Ciong Tian terkejut, dia lantas berlompat bangun. Sekarang dia telah mendapat kenyataan Kim Bwee rebah di sisinya dengan masih belum mendusin. Tentu sekali, dia pun berkuatir.

"Biar bagaimana, aku mesti adu jiwa!"

Pikirnya.

"Tidak dapat mereka dibiarkan mencelakai adik Kim,"

Maka dia menghunus pedangnya dan lari maju, untuk me-mapaki.

"Bocah ini tak dapat dicela,"

Pikir Sie Ie.

"Tak kecewa aku menyerahkan Kim Bwee kepadanya!"

Ia lantas memasang mata.

Ciong Tian murid Thiansan akan tetapi dia masih muda dan latihannya belum sempurna, dia bukanlah lawan Pek Liang Kie dan si Han Toako berdua, tetapi dia bernyali besar, dia mau melindungi Kim Bwee, dia menjadi tidak kenal takut.

Pek Liang Kie berlari-lari.

Selagi ia mendekati Ciong Tian, mendadak ia menjerit, lantas ia muntah, hingga keluarlah semua barang makanan yang tadi malam dia belesaki ke dalam perutnya.

Si Han Toako terkejut.

"Kau... kau kenapa?"

Tanya dia, yang lari di sisinya.

Dia tak dapat melanjuti bicara.

Dia lantas muntah seperti kawannya itu.

Mendadak dia merasa perutnya sakit.

Kim Sie Ie sudah menyiapkan jarum rahasianya yang beracun, Tokliong ciam.

Ia mau membantui Ciong Tian di saat pemuda itu tidak sanggup melawan kedua musuhnya.

Maka ia heran mendapatkan kedua pihak belum bertempur, Liang Kie dan kawannya itu muntah-muntah tidak keruan-keruan.

Mulanya ia heran, atau lantas ia mendusin.

"Entah Seng Lam sudah main gila apa terhadap mereka..."

Pikirnya.

"Inilah lebih baik lagi, aku jadi tak usah menggunai jarumku."

Tatkala itu Ciong Tian sudah sampai kepada musuh, lantas ia menyerang Pek Liang Kie.

Hutongnia itu lagi membung-kuk-bungkuk, tidak dapat ia lantas mengangkat dada untuk berdiri tegak, maka atas datangnya tikaman, terpaksa ia memutar diri sambil membungkuk terus.

Itulah tipu silat "Menancap pohon yangliu sambil membungkuk".

Ia dapat membebaskan diri sambil ia menarik cambuknya, cambuk Coaliong pian yang panjangnya setombak lebih, untuk membuat perlawanan.

Hanyalah sayang, meski ia gagah, sekarang ia tidak dapat bersilat sempurna, Disebabkan muntah-muntah itu, tenaganya telah berkurang.

Karena kurang sebat, ujung cambuknya segera terbabat kutung!

Si orang she Han terlebih celaka lagi.

Dia sudah lantas menyerang dengan Angsee Ciu, tangannya yang berbahaya itu.

Dalam keadaan biasa, dapat dia menyampok pedang lawan sampai terpental, mungkin lawannya roboh sekalian dengan pingsan.

Ketika itu, mestinya pedang lawan sudah terlibat cambuknya Liang Kie.

Di luar dugaannya, cambuk lawannya itu kutung.

Pula untuk kagetnya, dia merasa tenaganya hilang.

Tatkala tangannya melayang, jerijinya dipapaki pedang dan terbabat putus karenanya.

Saking kaget dan sakit, dia sampai menjerit.

Kemalangannya Liang Kie dan sahabatnya itu akibat liehaynya Seng Lam, yang pun doyan guyon.

Diam-diam Nona Le sudah menarahkan racun tanpa bau dan tanpa rasa di dalam tehkoan mereka itu.

Mereka asyik bicara, tehkoan itu ada di atas meja di dekat jendela, leluasa sekali Seng Lam menyemburkan obatnya ke dalamnya.

Habis bicara, mereka itu haus, maka keduanya bangun, untuk minum teh.

Mereka minum tanpa curiga apa-apa.

Tak lama habis minum, Liang Kie mendengar suara yang mencurigai dari luar, ia mengajak kawannya keluar, untuk melihat.

Segera mereka mendapat kawan mereka, si kusir tetiron, sudah kaku tubuhnya, sedang kedua muda-mudi yang diculiknya lenyap.

Mereka kaget, heran dan mendongkol.

Tak sempat mereka memeriksa lebih jauh kawan itu, lantas mereka mencari, sampai kebetulan mereka mendengar suaranya Ciong Tian.

Mereka lega hati melihat si anak muda bersendirian saja.

Mereka tidak mau perdulikan lagi halnya kenapa Ciong Tian dapat sadar.

Celakanya untuk mereka, di saat mereka mau turun tangan itu, obatnya Seng Lam bekerja.

Mereka merasa perut mereka sakit dan mules, lantas mereka muntah-muntah!

Syukur untuk mereka, tenaga dalam mereka mahir, lekas-lekas mereka mengerahkan tenaga dalam itu, hingga dapat mereka mencegah tumpah-tumpah.

Meski demikian, mereka menjadi repot, lantaran Ciong Tian berkelahi secara nekad, datang-datang si anak muda menggunai "Twiehong Patsie", ilmu pedang "Mengejar Angin"

Dari Thiansan Pay, yang terdiri dari delapan jurus.

"Rupanya kita kena makan racun!"

Kata Pek Liang Kie, yang sadar akan kesehatannya yang tak wajar itu. Ketika itu Lie Kim Bwee men-dusin, ia lantas bangun lari menghampirkan.

"Engko Tian, apa artinya ini?"

Ia tanya heran. Sejak membuka mata, ia sudah menjadi bingung hingga ia melihat kelilingnya dengan mata membelalak.

"Oh, kau lagi menempur kawanan jahat ini? Jangan takut! Jangan takut! Akan aku bantu kau!"

Tentu sekali Ciong Tian tidak takut, apapula itu waktu ia sedang menang di atas angin.

Yang bingung, yang takut, ialah Pek Liang Kie beserta kawannya, yang berbaju kuning itu.

Belum sampai Kim Bwee menyerbu dalam gelanggang pertempuran, Liang Kie sudah menjadi korban pula.

Mulanya cambuknya terbabat lagi hingga tinggal separuh, menyusul itu pundaknya berkenalan dengan pedang si anak muda.

Sudah begitu, lagi-lagi dia muntah, bahkan sekarang muntah darah.

Tidak ayal lagi, dia memutar tubuh, untuk lari kabur.

Si Han Toako melihat dirinya terancam ia mendahului menyingkir, ialah dengan menjatuhkan diri ke tanah, untuk bergulingan, hingga dia menggelinding turun ke bawah bukit!

Lie Kim Bwee takut kena muntahan, ia menjauhkan diri.

Ciong Tian lantas menghampirkan.

"Kau sudah mendusin?"

Tanyanya sambil bersenyum.

"Bagaimana perasaanmu? Kedua manusia jahat itu sudah terluka, sudah, biarkan mereka kabur, tak usah kita kejar!"

Kim Bwee membuka mata lebar, kembali ia melihat ke sekitarnya, la masih bingung.

"Sungguh seperti mimpi,"

Katanya.

"Kenapa kita berada disini? Bagaimana kau dapat meloloskan diri? Aku tidak kurang suatu apa, bagaimana dengan kau?"

"Aku juga tidak tahu bagaimana duduknya hal,"

Sahut si pemuda.

"Ketika aku tersadar, aku melihat kita berada disini. Cuma aku merasai sarinya Pekleng Tan dalam mulutku. Mungkinkah suheng datang kemari?"

"Aku pun menduga demikian,"

Kata si pemudi.

"Hanya kalau Tong Suheng datang kemari, dia sekarang kenapa tak nampak?"

Sie Ie tertawa dalam hati mendengar pembicaraan mudamudi itu. Pikirnya.

"Mereka menerka hanya sebagian. Kalau sebentar Keng Thian datang, mereka tentu tidak akan menyangka aku."

"Ketika tadi aku baru mendusin,"

Kata Ciong Tian pula.

"aku mendengar suaranya senjata rahasia yang datang dari arah barat daya, mungkin itu Tong Suheng melepaskan Thiansan sinbong. Maka itu, sebentar baiklah kita melihat ke sana..."

Ia hening sejenak, lalu menambahkan.

"Ketika aku mendusin, kecuali kau, tidak ada lain orang disini. Tak lama datanglah Pek Liang Kie berdua. Aku kira, habis Tong Suheng membebaskan totokan kita, dia lantas ketemu lain musuh yang tangguh. Tentulah Liang Kie berdua datang belakangan sebab mereka tak dapat susul suheng."

Penjelasan itu masuk di akal, Sie Ie mengangguk-angguk.

"Dia masih hijau tetapi dia dapat berpikir baik,"

Pikirnya.

"Dia hanya tidak dapat memikir aku."

Lie Kim Bwee tertawa.

"Kenapa kau tidak lantas menyadarkan aku?"

Dia tanya.

"Kenapa kau berlagak berani sendirian saja melayani dua jahat itu? Lihat kau telah mesti mengeluarkan banyak tenaga!"

Memang napasnya si pemuda memburu.

Si nona menyangka ia mendusin sendiri karena berisiknya pertempuran.

Pertanyaannya itu mirip teguran, akan tetapi itulah pengutaraan rasa berkasihan.

Senang Ciong Tian mendengar kata-kata si pemudi.

"Aku tidak letih,"

Katanya, tertawa.

"Benar-benar tidak! Sebaliknya, aku menguatirkan kau, sumoay. Lihat, rambutmu kusut sekali, mari aku beresi..."

Dengan membesarkan hati, si pemuda menghampirkan si nona.

Mukanya Kim Bwee merah, ia tunduk.

Ia tidak mencegah pemuda itu merapikan rambutnya.

Sie le menonton, lega hatinya.

Toh, tanpa merasa, ia merasa pedih juga.

Maka lantas ia kata dalam hati.

"Apa yang aku mesti lakukan disini, sudah aku lakukan! Buat apa aku terus mengintai mereka?"

Maka ia lantas mengeraskan hati, dengan cepat ia mengangkat kaki, berlalu dari dalam rimba itu.

Ciong Tian bersama Kim Bwee tidak mendengar apa-apa.

Ia terus menuju ke tempat dimana ia sudah berjanji dengan Seng Lam untuk bertemu.

Ketika ia tiba, ia heran.

Disana tak ada Nona Le.

Ia menjadi berkuatir, maka lantas ia mendekam di tanah, untuk memasang telinga, itulah ilmu "Hoktee tengseng", atau "Mendekam di tanah mendengar suara".

Lapat-lapat ia mendengar suara pertempuran di arah barat daya.

la heran sekali.

"Seng Lam dapat lari lebih keras daripada Tong Keng Thian suami isteri, kenapa ia tak dapat meloloskan diri dari mereka itu?"

Ia berpikir.

Ia tidak tahu bahwa Nona Le sudah mendapat rintangan.

Habis memancing Tong Keng Thian suami isteri, kalau ia mau, Seng Lam dapat lantas meninggalkan mereka itu, apa mau hatinya panas karena Pengcoan Thianlie terus menghajar ia dengan Pengpok sintan, hingga biar bagaimana, larinya terhalang sedikit.

Di lain pihak, ia sungkan menggunai peluru asapnya untuk membikin si Bidadari dari Sungai Es tak dapat melibatnya.

Saking mendongkol, timbul niatnya merampas juga Pengpok Hankong Kiam, pedang mustika Kui Peng Go.

Demikian, tengah berlari-lari keras, mendadak ia menghentikan tindakannya dan ia memutar tubuhnya, untuk meluncurkan tangannya, guna merampas pedang si nyonya!

Pengcoan Thianlie terkejut.

Di waktu berlari keras, memang sukar orang menahan kakinya, untuk berhenti lari seketika juga.

Dalam hal ini, suami isteri itu kalah dari si nona she Le.

Seng Lam dapat lantas berhenti, untuk menggeser tubuh ke samping, selagi lawan tiba, tangannya itu menyambar.

Itulah "Hut-in ciu", atau Tangan Mengebut Awan, tipu yang liehay di antara macam-macam tipu silat tangan kosong melawan senjata.

Lantas ujung pedang tersentuh jeriji tangan!

Dua-dua pihak kaget.

Pengcoan Thianlie sebab pedangnya terlanggar.

Dan Le Seng Lam karena merasai hawa yang sangat dingin.

Sebenarnya Siulo Imsat Kang dari Seng Lam sudah pada tingkat ke delapan, seharusnya ia tidak usah takut hawa dingin, meskipun Pengpok Han-kong Kiam dingin luar biasa, tapi ia lagi menggunai Hut-in Ciu, tangannya tak dingin lagi, maka itu, tangannya itu menyentuh pedang dingin, ia menggigil, tenaganya menjadi berkurang sendirinya.

Pengcoan Thianlie tidak berdiam saja.

Begitu pedangnya tersentuh, begitu ia menarik pulang, terus ia pakai menikam.

Seng Lam terkejut.

Sudah begitu, Tong Keng Thian pun tiba dan dia lantas menyerang membantui isterinya itu.

Untuk meloloskan diri, Seng Lam bertindak dengan tindakan Thianlo Pou.

Ia lolos dari pedang Pengcoan Thianlie, akan tetapi jalan mundurnya terintang Keng Thian.

Maka kembali ia diserang nyonya itu, yang dua kali beruntun menikam dengan jurus-jurus "Selaksa lie es terbang"

Dan "Daun rontok di seribu gunung". Terdesak demikian rupa, Nona Le menjadi gusar.

"Bagus!"

Ia kata dalam hatinya.

"Aku memandang engko Sie Ie, aku cuma main-main dengan kamu, siapa tahu, kamu bersungguh-sungguh! Baiklah!"

Segera juga terdengar bentrokan kedua senjata.

Itulah sebab nona ini sudah mengeluarkan pedangnya Kiauw Pak Beng dengan apa ia menangkis Pengpok Hankong Kiam.

Memangnya Cay-in Kiam lebih tajam daripada pedang dingin dari si nyonya.

Kedua pihak terperanjat.

Si nyonya sebab tidak menyangka pedang lawan liehay, si nona karena mendadak telapak tangannya terasa sangat dingin akibat tersalurnya hawa dingin Hankong Kiam.

Hanya mereka syukur, pedang mereka masing-masing tidak bercacad lantaran bentrokan itu.

Seng Lam bertempur dengan sepasang pedang.

Yuliong Kiam di tangan kiri, Cay-in Kiam di tangan kanan.

Pengcoan Thianlie merasa berat menandinginya.

Tong Keng Thian, karena pedangnya pedang biasa, terpaksa sering mundur.

Girang si nona melihat lawannya keteter.

Lantas ia ingin meninggalkan mereka itu.

Akan tetapi, belum lagi ia berlompat, untuk menerobos, mendadak Keng Thian merangsak pula, pedangnya menikam.

Berbareng dengan itu, si nyonya pun maju.

Aneh gerakan suami isteri itu, mereka lantas mengurung.

Sebenarnya Keng Thian bersilat dengan ilmu silat "Sumeru Besar", suatu jurus simpanan dari ilmu pedang Thiansan Pay.

Itulah ilmu pedang untuk menyerang berbareng menjaga diri, lebih-lebih dalam pembelaan diri, tak perduli orang lagi menghadapi lawan yang berlipat lebih liehay.

Jikalau mereka bertempur satu lawan satu, dalam sepuluh jurus Seng Lam dapat lolos dari kurungan ilmu pedang "Sumeru Besar"

Itu, atau dalam tiga puluh jurus ia memecahkannya, sekarang Pengcoan Thianlie membantu suaminya, ia repot juga.

Suami isteri itu memang dapat bersilat bersatu padu.

Seng Lam menjadi menyesal, terutama karena ia menduga tentulah Sie Ie lagi menantikannya.

Ia malu andaikata Sie le menyusul dan membantui ia meloloskan diri.

Maka ingin ia lekas menyingkir.

Ia lantas mendapat akal.

Keng Thian girang melihat orang bergerak ayal.

Ia menduga si nona mau menggunai tipu.

Ia tidak kuatir, malah ia anggap ini ada baiknya.

Terus ia menyerang.

Pengcoan Thianlie menyerang juga mengikuti suaminya itu.

"Biarnya kau liehay, siluman, tak nanti kau lolos lagi!"

Kata Keng Thian dalam hati.

Tepat sekali, Seng Lam kena tertikam, hanya tikaman itu mengasih dengar suara nyaring.

Itulah karena yang menjadi sasaran kemala yang menjadi pelindung tubuhnya itu.

Keng Thian terkejut.

Justeru itu, pedangnya terbabat kutung oleh Cay-in Kiam.

Sedang tikamannya Pengcoan Thianlie ditangkis dengan Yuliong Kiam.

Dengan begitu si nona lantas sudah terlepas dari kurungan.

Dia tertawa manis dan kata.

"Tong Siauwciangbun, jangan sesalkan aku yang aku tak sempat melayani kamu lebih lama pula..."

Belum berhenti suaranya nona ini, atau telinganya mendengar bentakan yang nadanya dingin.

"Jangan bergerak!"

Menyusul itu, terdengar seruannya Keng Thian.

"Ayah!"

Seng Lam terkejut.

Ia lantas menoleh.

Maka ia melihat dua orang, pria dan wanita, dan yang wanita mirip Phang Lim.

Yang pria itu, yang kumisnya panjang, nampak agung dan keren, usianya sudah lima atau enam puluh tahun.

Yang mengherankan, suara itu memekakkan telinga.

Ia menduga kepada Tong Siauw Lan sebab Keng Thian memanggil ayah.

Tong Siauw Lan menghargai derajatnya sendiri, tidak mau ia turut dalam pertempuran di gunung Binsan itu untuk mengerubuti Beng Sin Thong, meski demikian, hatinya merasa kurang enak, dari itu tanpa menanti undangan Tong Sian Siangjin, ia mengajak isterinya, Phang Eng pergi menyusul ke gunung itu.

Ia sudah memikir, andaikata pihak Binsan Pay terkalahkan, baru ingin ia mencoba Beng Sin Thong.

Tentu saja, ia mau bertanding satu lawan satu.

Hanya kebetulan sakali malam itu mereka mendengar suara Thiansan sinbong, dan tempo mereka pergi melihat, mereka menyaksikan Keng Thian dan Pengcoan Thianlie kena dipermainkan si nona, di tangan siapa tercekal Yuliong Kiam, hingga ia menjadi heran dan tak puas.

Seng Lam jeri, bukannya ia berdiam, ia justeru lari.

Ia percaya, dengan ilmu larinya yang keras, ia akan dapat menyingkirkan diri.

Siauw Lan mengerutkan kening.

"Adik Eng, tolong kau bekuk dia!"

Ia kata pada isterinya.

"Kau tanya kenapa dia merampas pedang pusaka kita dan ada permusuhan apa di antara dia dan Thiansan Pay."

Sekalipun lagi mendongkol, jago tua ini tidak mau melayani seorang wanita, maka itu ia minta bantuan isterinya.

"Jangan gusar, engko,"

Kata Phang Eng tertawa. Ia sabar dan halus budi pekertinya.

"Dia dapat merampas pedang dari tangan Keng Thian, itu tandanya dia liehay sekali. Kalau sebentar aku bekuk dia, kau baik-baik, jangan kau bikin dia kaget..."

Seng Lam lagi berlari ketika ia mendengar kibarannya ujung baju disusul dengan satu bayangan melewati ia, atau di lain saat ia sudah kena dirintangi.

"Kalau barusan dia menghajar aku dari belakang, tidakkah aku celaka?"

Ia berpikir.

"Tapi aku mempunyai dua pedang, apa aku takuti? Baiklah aku coba, dia..."

Seng Lam ini menyangka Phang Eng sebagai Phang Lim.

"Nona kecil, jangan kau lari!"

Berkata Phang Eng, tertawa.

"Mari pulangi pedang Yuliong Kiam padaku, lalu kau turut aku, untuk kita memasang omong. Asal bicaramu beralasan, tidak nanti kami ganggu padamu."

"Baik, ini aku kembalikan pedangmu!"

Kata Seng Lam. Ia mengangsurkan pedang sambil menikam dengan tiba-tiba. Ia menggunai jurus "Pekhong koanjit"

Atau "Bianglala putih menutupi matahari".

Berbareng dengan itu, dengan Cay-in Kiam ia menyerang ke kaki dengan jurus "Angin merontokkan bunga".

Dengan Yuliong Kiam, ia mengincar dada si nyonya.

Seng Lam menyerang seperti membokong, ia percaya ia akan berhasil, tidak dengan dua-dua pedangnya, tentu satu di antaranya.

Kesudahannya di luar dugaannya.

Ia terkejut ketika ia melihat sinar putih berkelebatan di depan matanya, menyusul mana ia merasa kedua pedangnya tergubat sesuatu dan lengannya seperti tertarik keras, sedang telapakan tangannya terasa nyeri.

Ia lantas menarik sekuatnya, tubuhnyapun berlompat mundur dengan jungkir balik.

Ia berlompat dengan tipu silat "Yauw-cu hoansin", atau "Burung elang membalik badan", la lompat mundur kira-kira tiga tombak.

Ketika itu pun terdengar suara robeknya cita, yang robekannya melayang turun.

Phang Eng mengerutkan alis.

Kata dia.

"Kenapa orang begini muda sudah licin sekali? Jikalau bukannya aku, bukankah orang bakal bercelaka?..."

Tong Keng Thian lantas berkata nyaring.

"Ibu, dia sangat licik, jangan sungkan terhadapnya!"

Phang Eng lantas mematahkan sebatang cabang yangliu, dengan itu ia maju. Sekarang Seng Lam ketahui nyonya itu ialah Phang Eng, ia jeri tetapi ia percaya kedua pedangnya. Ia pikir.

"Mereka sudah terkenal, tidak nanti Tong Siauw Lan membantui isterinya. Mustahil dengan dua batang pedang tidak dapat aku memapas kutung cabang yangliu-nya itu? Ia tidak tahu, dalam usia mendekati enam puluh tahun, Phang Eng telah mendapat kemajuan pesat hingga dia jauh melebihkan Phang Lim, adiknya. Melihat orang menyerang, Seng Lam menangkis dengan pedang di tangan kanannya, dengan pedang di tangan kiri, ia menjaga diri. Ia ingin menabas kutung senjata si nyonya tua. Tapi ia cuma dapat memapas dua lembar daun, sedang belakang tangannya kebentur ujung cabang. Phang Eng heran. Maksudnya adalah menggempur telapakan tangan si nona, guna dia melepaskan cekatannya, siapa tahu, nona itu benar-benar liehay. Seng Lam bergerak gesit dengan tindakan Thianlo Pou, dengan begitu ia dapat meluputkan diri. Thianlo Pou ada ilmu berkelit dari Cengshia Pay, di tangannya Kiauw Pak Beng, itu telah diolah terlebih jauh hingga menjadi terlebih sempurna. Itulah sebabnya Nyonya Tong Siauw Lan gagal.

"Pantas pedang anak Keng kena dirampas dia,"

Phang Eng kata dalam hati.

"Aku pun tidak lantas dapat mengenali ilmu silatnya ini dari partai mana, maka mungkin aku harus melayani dia sampai tiga puluh jurus..."

Bertempur lebih jauh, Seng Lam terkejut.

Mendadak ia merasa pedang Yuliong Kiam hampir terlepas.

Lantas ia menolongnya dengan tikaman Cay-in Kiam.

Cabang Yangliu-nya Phang Eng bekerja terus, lincah seperti lidah ular yang berulang-ulang mencari mangsanya, hingga lekas juga mata si nona kena dibikin silau, sampai ia tak tahu pasti dari mana datangnya serangan.

Baru sekarang ia berkuatir sangat.

Terpaksa ia mengandalkan terus pada kelincahannya.

Phang Eng menyerang berdasarkan tipu-tipu huruf "Nempel".

Ia tetap mencoba untuk merampas Yuliong Kiam, pedang "Naga Memain".

Syukur Seng Lam memegang dua bocah pedang, saban-saban ia dapat menggunai yang satunya untuk membelai yang lain, atau sebaliknya.

Baru lewat sepuluh jurus, Seng Lam sudah mandi keringat, tak dapat ia melakukan penyerangan membalas.

Terusterusan ia repot berkelit atau membela diri.

Ia terkurung ujung yangliu.

Ketika Sie le sampai, ia menjadi bingung.

Ia menyaksikan Seng Lam terdesak Phang Eng.

Disana ia melihat Tong Siauw Lan lagi menonton.

Lekas-lekas ia menyembunyikan diri.

Syukur Siauw Lan lagi menonton, hingga dia tak melihat Tokciu Hongkay.

"Bagaimana dapat aku menolongi dia?"

Tanya Sie Ie pada dirinya sendiri.

"Dengan diam-diam, tak ada jalan untuk aku bekerja. Jikalau aku maju berterang, tentulah mereka mengenali aku..."

Tengah bingung itu, Sie Ie mendengar suara berkeresek terpisah beberapa tombak dari ianya.

Ia lantas menoleh dan mengawasi.

Dengan matanya yang tajam, ia melihat dua orang lagi bersembunyi di antara rumpun rumput tebal.

Ia mengawasi terus, sampai ia mendapat kenyataan merekalah Ku Chong Cu dan Tie Too An.

Dua orang itu terluka di Hianlie Koan, mereka menyingkir ke sebuah gua di dekat situ, untuk memakai obat.

Luka mereka tidak berbahaya tetapi mereka toh mensia-siakan waktu.

Tetap mereka tak bertemu dengan rombongan Seebun Bok Ya.

Lantas mereka mencari Pek Liang Kie serta si Han Toako.

Kebetulan mereka menemuinya selagi dua kawan itu mau mencari Ciong Tian dan Lie Kim Bwee.

Lantas mereka berempat mencari dengan berpencaran.

Berdua mereka mendengar suara pertempuran, lalu mereka pergi menghampirkan.

Tadinya mereka menyangka kepada Ciong Tian dan Kim Bwee.

Mereka kaget ketika mereka mengenali Tong Siauw Lan suami isteri.

Dulu pun mereka hampir hilang jiwa di tangan Siauw Lan.

Maka itu, mereka menyembunyikan diri.

Sie Ie lagi keras memikirkan akal ketika ia mendengar suara nyaring dari Tong Siauw Lan.

"Siapa lagi bersembunyi disitu?"

Suara itu bengis.

Ia terperanjat.

Ia mengira ialah yang terpergok.

Tapi ia melihat Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie lari ke arah Ku Chong Cu dan Tie Too An.

Rupanya, suami isteri ini pun mengetahui ada orang bersembunyi disitu.

Berbareng dengan itu, Phang Eng juga berseru.

"Masih kau tidak mau melepaskan pedang? Kau mau tunggu kapan lagi?"

Le Seng Lam kaget.

Pedangnya telah tertempel cabang yangliu, hingga telapakan tangannya terasa nyeri terus sampai ke uluhatinya, sebelum tangan kanannya dapat menolong Yuliong Kiam sudah tertarik Phang Eng.

Di saat itu, Sie Ie mendapat akal.

Belum lagi Keng Thian dan isterinya sampai pada Chong Cu dan Too An, ia mendahului berlompat lari kepada dua orang itu.

Kedua pihak terpisah hanya beberapa tombak, ia telah lantas sampai.

Sebelum Chong Cu dan Too An tahu apa-apa, mereka sudah tercekuk Tokciu Hongkay.

Too An memakai kedok, kedok itu dirampas Sie le, untuk terus dipakai.

Tong Keng Thian cuma melihat satu bayangan berkelebat sangat cepat, ia heran hingga ia tercengang.

Ketika itu sinar rembulan lagi guram.

Ia tidak mengenali Sie Ie, yang ia menyangka pun tidak.

Sementara itu Phang Eng sudah bekerja terus.

Habis membikin Yuliong Kiam terpental belasan tombak, ia pun merampas sarungnya.

Seng Lam tidak dapat membelainya lagi, ia bingung sekali.

Justeru itu, ujung yangliu mampir di punggungnya di betulan jalan darah cietong.

la mendengar suara angin dari tikaman itu.

Ia menggunai ilmu sesatnya yang liehay, membikin darahnya berjalan bertentangan.

Toh ia merasa nyeri, matanya berkunang, kepalanya pusing, dan tubuhnya terhuyung-huyung.

"Biarnya kau mau, tak dapat kau lari!"

Kata Phang Eng.

"Lekas kau turut aku, supaya kau tidak tersiksa!"

Ujung cabang yangliu si nyonya sudah mengancam jalan darah ciauwhun di belakang kuping si nona, asal ia mengenai, pasti Seng Lam roboh pingsan, tapi ia berkasihan, ia menyayangi ilmu silat orang, ia melainkan menggertak.

Tengah Seng Lam terancam itu, mendadak terdengar suara angin menyambar dan terlihat sesosok tubuh melayang ke arah Phang Eng.

Itulah hasil perbuatannya Sie Ie, yang melemparkan Chong Cu dan Too An kepada si nyonya.

Sebenarnya, Nyonya Siauw Lan liehay mata dan telinganya, ketika, Sie le mendatangi, ia sudah mendapat dengar, lantas ia melirik, hanya ia tidak menyangka, orang bakal menimpuknya dengan dua tubuh manusia.

Ia mengagumi kecepatan Sie le hingga ia heran dan menduga dalam hatinya.

"Dialah orang liehay sekali! Mungkinkah dia Beng Sin Thong?"

Tapi tak sempat ia berpikir, ia mesti berkelit dari serangan itu...

Sie le berlaku cerdik.

Ketika ia melemparkan Chong Cu dan Too An, ia menotok bebas mereka itu, maka itu di saat mati dan hidup, setelah merasa kaki tangannya merdeka, Too A n lantas menyerang kepada si nyonya.

Phang Eng lagi mengancam Seng Lam, karena serangan Too An itu, cabang yangliu-nya menggeser arah.

Ia tidak menjadi gugup.

Dengan sebat ia meneruskan menotok nadi penyerang itu.

Tubuh Too An berat, cabang yangliu patah, tapi Too An sendiri roboh terbanting di tanah.

Justeru itu Ku Chong Cu menyerang dengan kebutannya, dia berhasil melibat sisa cabang yangliu si nyonya.

Phang Eng tidak diam saja.

Ia meneruskan menusuk dengan cabangnya itu.

Tepat ia mengenai pundak orang, maka saking nyerinya, terlepaslah senjatanya penyerang itu, yang tubuhnya turut roboh terbanting, hingga tak dapat dia berkutik lagi.

Sie Ie menggunai ketikanya yang baik sekali.

Selagi Phang Eng repot itu, ia mengajak Seng Lam lari menyingkir.

Tong Siauw Lan menyaksikan semua kejadian itu, ia heran.

Ia pun menyangka Sin Thong, hanya orang bukannya seorang yang usianya sudah lanjut.

Ia kata dalam hatinya.

"Dari mana datangnya si jelek ini yang begini liehay? Tidak kusangka, selainnya Beng Sin Thong, ada lagi orang sama Iiehaynya..."

Maka ia lantas berkata nyaring.

"Tong Siauw Lan dari Thiansan ingin menemui tuan untuk kita melakukan pertandingan persahabatan! Kau telah sampai disini, tuan, mari kita membuat pertemuan!"

Sie le dengar itu, ia tidak mengambil mumat, bahkan dia menarik tangan Seng Lam, untuk diajak lari terlebih keras pula! Siauw Lan menjadi tidak senang, hingga alisnya bangkit berdiri.

"Tuan tidak mau berhenti, jangan kau katakan aku tak tahu aturan!"

Katanya nyaring, lantas tangannya melayang.

Menyusul itu, tiga biji Thiansan sinbong terbang dengan suaranya mengaung nyaring.

Jago Thiansan ini menyangka orang tidak menghormatinya, tak tahunya Sie le mempunyai alasannya sendiri tak suka bertemu dengannya.

Sie Ie kaget dan jeri.

Ia tahu liehaynya senjata Siauw Lan itu.

Tapi ia perlu menolong diri, terpaksa ia membelanya.

Ketika sinbong tiba, ia menghalau dengan sentilannya, dengan ilmu "Cietan Sinthong", yang ia peroleh dari kitabnya Kiauw Pak Beng.

Dua kali ia menyentil tepat, tetapi sinbong yang ketiga lari ke punggungnya Seng Lam!

Nona itu tidak berdaya, sedang kawannya tak sempat menolongi lagi.

Ia kena terhajar, tubuhnya terjerunuk lima tombak dimana ia roboh.

Sie Ie kaget, ia berlompat dengan lompatan "Burung walet menyambar air".

Ia tiba lantas di samping si nona, ia mengulur tangannya menyambar tangan kiri nona itu untuk diangkat, buat ditarik, guna diajak lari pula.

Maka di lain saat, mereka sudah jauhnya setengah lie.

Hebat serangan sinbong tetapi kokoh tamengnya Seng Lam, walaupun ia terjatuh ngusruk, dia tidak terluka.

Adalah sinbong, yang patah menjadi dua potong dan jatuh di sisinya.

Seng Lam kaget dan takut, tapi Siauw Lan heran dan kagum.

Ia heran untuk kegesitan Sie Ie dan ketangguhan Seng Lam, ia kagum untuk liehaynya sentilan Sie Ie itu, Sie Ie menggunai kepandaiannya Kiauw Pak Beng, kepandaiannya sendiri ia simpan terus.

Sebab ia membikin Siauw Lan tidak dapat menebak padanya.

Phang Eng telah membikin Ku Chong Cu dan Tie Too An tak berdaya lagi.

Ia sebenarnya mau menyusul Seng Lam, tetapi suaminya menghampirinya.

Siauw Lan kata padanya.

"Kiranya mereka ini berdua! Baiklah kita mengusut dari mereka ini perihal si jelek itu. Dia liehay sekali, pasti kita tak dapat menyandaknya."

Jago Thiansan ini berkata begitu sebab ia mengira Too An dan Chong Cu kenal Sie Ie.

Belum lagi Phang Eng menjawab suaminya, telinga mereka sudah mendengar suara tindakan kaki mendatangi.

Keng Thian, yang telah menjemput pedang Yuliong Kiam, mau maju memapaki.

"Tunggu,"

Siauw Lan mencegah.

"Mendengar tindakannya, mereka mungkin orang pihak kita..."

Ia lantas mengasih dengar suaranya perantaraan ilmu "Toan-im Jip-bit", yang mirip dengan "Thiantun Toan-im", hanya suaranya nyaring tapi halus.

Atas itu datanglah jawaban dari Ciong Tian dan Lie Kim Bwee.

"Suhu!"

Dan "Ie-thio!"

Disusul dengan munculnya sepasang muda-mudi itu.

Phang Eng menurut kepada suaminya, ia tidak mau mengejar Sie le dan Seng Lam.

Ketika itu, murid dan keponakannya pun telah tiba.

Itulah ada baiknya untuk Sie Ie berdua Seng Lam.

Setelah lari beberapa lie dan mendapat kenyataan mereka tidak dikejar, mereka mempertahankan tindakan mereka.

Mendadak Sie le tertawa geli.

"Aku mendapat malu, Yuliong Kiam juga lenyap, apakah kau mentertawakan aku?"

Tanya Seng Lam mendongkol.

"Kau lihat dulu dirimu!"

Kata Sie Ie bersenyum.

Ketika itu sudah terang tanah kebetulan di dekat mereka ada sebuah kali kecil, Seng Lam lantas pergi ke tepi kali itu untuk berkaca.

Ketika ia melihat bayangannya, ia menjerit kaget, terus ia meraba rambutnya.

"Baiklah!"

Dia kata sengit.

"Nanti datang satu hari yang aku pun akan membabat kutung rambutnya Siauw Lan!"

Rambut nona ini telah tersambar pedangnya sendiri ketika tadi ia menghajar Thiansan Sinbong, rambut itu menjadi pendek, hingga ia seperti menjadi lelaki bukan, perempuan pun bukan, hingga hatinya menjadi sangat panas.

Tadi dalam keadaan berbahaya dan berlari-lari, Sie Ie tidak melihatnya, ia sendiripun tidak engah.

"Kau yang membabat sendiri, buat apa kau gusari Tong Siauw Lan!"

Kata Sie le, tertawa pula.

"Menurut aku malah baik sekali Yuliong Kiam terambil pulang oleh Tong Keng Thian. Tidak demikian, apakah kau sangka orang tuanya mau sudah saja? Jikalau mereka itu mengejar, apakah kau kira dapat kau lari menyingkir?"

"Jadinya kau takut kepada Tong Siauw Lan dan isterinya?"

Tanya Seng Lam, masih sengit.

"Hm! Kau tentu masih ingat Lie Kim Bwee! Kalau nanti Tong Siauw Lan membunuh aku, pasti kau tidak sudi menolong!"

Sie le tertawa.

"Benarkah kau memandang aku begini rupa?"

Ia menanya.

Seng Lam berdiam.

Memang, habis mengucap itu, ia sudah menyesal sendirinya.

Buktinya baru saja Sie le menolongi jiwanya.

Tanpa Sie le, mana ia bisa lolos dari Phang Eng?

Sie le mengawasi, terus ia kata sungguh-sungguh.

"Jikalau kau main gila pula, benar-benar aku akan tak memperdulikan lagi! Bilang terus terang, aku tidak suka bentrok dengan Thiansan Pay. Laginya, tidak sanggup aku melawan Tong Siauw Lan!"

Ia lantas menunjuk jeriji tengah dan manis dari tangan kanannya, kedua jeriji itu hitam legam. Jeriji itu terluka sebab dipakai menyentil sinbong.

"Baiklah,"

Berkata si nona, terpaksa.

"Urusan Thiansan Pay kita tunda dulu sampai selesainya urusan Beng Sin Thong. Pula, kalau nanti aku mencari balas, tak usahlah kau membantui aku. Kau puas, bukan?--Eh, bagaimana jerijimu itu, sakit, atau tidak?"

Sembari berkata begitu, ia mengeluarkan bekalan obat bubuknya, untuk terus memboreh-kan sambil ia meniupi, untuk meringani rasa nyerinya.

Ia bersikap lemah lembut, hingga Sie Ie tidak mau menegur pula.

Kemudian Seng Lam merapikan rambutnya, untuk dibungkus dengan sapu tangan, habis itu sambil tertawa ia tanya kawannya.

"Dengan rambut digubat ini, tidakkah aku mirip dengan si nona tukang jual silat?"

"Kau mirip dengan si pendeta wanita tukang jual lagak di kota kecil!"

Sahut orang yang ditanya. Tangannya Seng Lam melayang.

"Kau ngaco belo, siluman jelek!"

Katanya. Sie Ie meloloskan topengnya.

"Syukur ada ini,"

Katanya.

"jikalau tidak, Tong Siauw Lan dapat mengenali aku. Baiklah, aku menyingkirkannya, supaya kau tak usah mengatakan pula aku si jelek..."

Lantas keduanya melanjuti perjalanan mereka. Sampai magrib, mereka tiba di sebuah kota.

"Kota apakah ini?"

Seng Lam tanya.

"Kota kecamatan Hinteng,"

Jawab Sie Ie.

"Dari sini sampai ke Pakkhia tinggal seperjalanan tiga hari."

Tengah berbicara itu, mereka mendengar derap kuda mendatangi dari arah belakang, keduanya lantas berpaling.

Dua penunggang kuda lagi mendalangi, dua-duanya sudah berusia tinggi.

Pandai mereka memegang kendali, kuda mereka lari pesat, tubuh mereka duduk tegak.

Berulang kali cambuk mereka berbunyi nyaring.

Tatkala mereka itu lewat di sampingnya, mendadak Sie Ie merandak.

"Sie Ie, apakah kau kenal mereka?"

Tanya Seng Lam, heran. Ia lihat kawannya melengak.

"Jangan bicara, dengar apa kata mereka,"

Sahut Sie le. Orang sudah lewat tetapi Tok-ciu Hongkay dan Seng Lam masih dapat mendengar suara mereka itu.

"Bagus malam ini kita tiba di Hinteng dimana kita bisa bermalam,"

Kata yang satu.

"Apakah kau lupa In Jieko tinggal di luar kota?"

Kata yang lain.

"Baik kita jalan lebih jauh sedikit, untuk sampai di rumahnya, untuk menjenguknya."

"Benar, benar!"

Kata yang pertama itu, tertawa.

"Mungkin... mungkin... Tentu ln Jieko sama seperti kita, ia sudah menerima..."

Lantas suara mereka tak terdengar lagi.

"Apakah mereka mau bilang?"

Tanya Seng Lam.

"Apa bukan tua bangka itu mau berhemat, supaya mereka tak usah mengodol saku menyewa kamar rumah penginapan? Karena itu dia mau mampir pada kenalannya..."

Sie le tertawa.

"Kau memandang enteng orang itu!"

Ia menyahut.

"Kau tahu siapa mereka?"

"Jikalau aku tahu, tak usah aku tanya kau!"

Sahut Seng Lam bergurau.

"Nanti aku bilangi kau,"

Kata Sie Ie.

"Jangan kau memandang hina pada pakaian mereka dari kain kasar itu! Sebenarnya, dipadu dengan kau, mereka jauh terlebih kaya raya! Yang satunya ialah Liu Chungcu dari dusun Samliu Chung, hartanya jutaan. Jarang yang ketahui bahwa dialah seorang jago Rimba Persilatan."

"Mungkin dia Liu Sam Cun?"

Si nona menyela.

"Kalau benar, dia tidak ternama seberapa!"

"Pada tiga tahun yang sudah lewat, kau pasti bukan lawan dia!"

"Bagaimana kau ketahui itu?"

"Ketika dulu dari pulau Coato aku mendarat di Tionggoan,"

Sie le memberi keterangan.

"aku gemar sekali bergurau dengan orang-orang Rimba Persilatan atau mereka yang namanya kesohor, jikalau aku dapat mengalahkan mereka, aku tertawa, senang hatiku. Maka itu, saking sering merantau, aku menjadi mendapat tahu banyak orang Bulim sekalipun yang lain orang tidak kenal..."

"Jangan kau ngepul!"

Seng Lam memotong.

"Cara kau bergurau dulu hari itu sudah sangat terkenal di kolong langit ini! Dulu kau biasa menyamar menjadi pengemis edan, bahkan juga menyaru jadi si penderita kusta yang menjemukan, karena kau suka mengganggu orang, kau dijuluki Tokciu Hongkay si pengemis edan dan jahat, bukankah?"

Kim Sie le bersenyum. Ia melanjuti.

"Aku telah pergi cari Liu Sam Cun. Dia tidak berani melawan aku bertempur. Malamnya aku menyateroni, untuk mencari uangnya. Dialah bangsa penyinta uang seperti dia menyinta jiwanya, maka itu, terpaksa dia menempur aku. Sampai di jurus ke tujuh, baru aku mendapatkan ketikaku, aku hajar telinganya satu kali sampai dia keluar ilarnya! Karena dia sanggup melawan aku sampai tujuh jurus, batal aku mencuri sepuluh laksa, aku melainkan menggaruk beberapa potong emasnya..."

Seng Lam tertawa.

"Jikalau begitu, ada harganya juga gaplokanmu itu!"

Ia kata.

"Siapa itu tua bangka yang lainnya? Orang macam apakah dia?"

"Dia bernama Pui Eng Siang. Kau lihat romannya yang bengis itu, orang memanggil dia Pui Bu Siang. Bu Siang ialah malaikat Bu Siang yang bengis."

Si nona tertawa pula.

"Apakah malaikat Bu Siang itu membetot nyawamu?"

Dia tanya.

"Bukan dia yang membetot nyawaku, hanya aku yang hampir menarik rohnya! Dialah ciangbunjin, ketua, dari partai persilatan Hekhouw Kun. Pada suatu hari aku datangi dia, untuk menantang. Dia lebih liehay daripada Liu Sam Cun, sampai di jurus kedua puluh tiga, baru aku dapat mengalahkannya."

"Pantas tadi dia mengawasi kau."

"Mungkin dia rada mengenali aku. Pasti dia tidak dapat menyangka akulah si pengemis edan dan berpenyakit kusta dulu hari itu."

"Menurut kau, mereka juga jago Bulim. Cumalah mereka tidak sangat kesohor. Kalau sekarang kau menghajarnya, tentu kau tak memerlukan lebih daripada tiga jurus, lantas mereka akan sudah berkaok-kaok meminta ampun..."

"Memang aku ingin menghajar pula mereka itu!"

Kata Sie le, tertawa.

"Kau katakan aku sesat, aku lihat kesesatanmu pun belum lenyap!"

Kata si nona, turut tertawa.

"Kau tidak bermusuh dengan mereka, buat apa kau mau menghajarnya pula? Apakah kau masih ketagihan? Kau harus ingat, kita mempunyai urusan kita sendiri."

"Aku main-main saja! Sebenarnya aku mengharap sesuatu keterangan dari mereka itu. Merekalah orang-orang yang tidak suka menonjolkan diri, lebih-lebih Liu Sam Cun, yang berharta besar. Kenapa sekarang mereka membuat perjalanan ini?"

"Kau makin aneh! Kau tahu mereka tidak suka bergaul, habis kabar apa kau ingin dapatkan dari mereka itu?"

"Itu justeru yang menyebabkannya. Kau lihat, bukankah mereka melarikan keras kuda mereka? Itu berarti mereka mempunyai urusan penting. Tentu mereka ingin lekas tiba di kota raja! Ini toh jalanan ke kota Pakkhia? Bukankah Seebun Bok Ya mengumpul orang-orang sesat dan lurus? Siapa tahu jikalau mereka ini ada hubungannya dengan orang she Seebun itu? Atau mungkin kita mendengar hal urusan lainnya..."

Seng Lam mengangguk.

"Kata-katamu beralasan juga,"

Katanya.

"Hanya aku lihat, rombongan orang berbaju kuning dari Seebun Bok Ya itu liehay semuanya, sedang mereka ini pastilah tak cukup tangguh untuk dijadikan kawan. Tapi marilah, mari kita lihat!"

"Mereka itu menyebut-nyebut In Jeko,"

Kata pula Sie Ie.

"dia tentulah In Tiong Hian yang tinggal di luar kota timur kota Hinteng. Dia ketua dari partai Yuliong Too. Aku tahu tempat tinggalnya. Dulu hari, karena kesusu, aku tidak sempat mampir padanya. Dia pun kaya raya, hanya dia beda dari Liu Sam Cun, dia terkenal dermawan. Sebagaimana kebanyakan hartawan, yang tak suka banyak urusan, dia cuma terkenal di desa sekitarnya."

"Sudahlah, aku tahu maksudmu!"

Kata Seng Lam, tertawa.

"Sebentar malam kita pergi ke rumahnya untuk mengintai, andaikata kita mesti bertempur, terhadap In Tiong Hian aku akan mengenal kasihan..."

Demikian mereka berbicara sambil jalan terus.

Di dalam kota, mereka singgah dengan mencari hotel.

Habis bersantap malam, mereka duduk bersamedhi, untuk beristirahat sambil melatih diri.

Pada kira-kira jam dua, Seng Lam berbangkit dengan ia merasa bersemangat.

Sambil tertawa ia kata.

"Ajaranmu ilmu tenaga dalam Thiansan Pay bagus sekali! Ilmu ini bertentangan dengan ilmu ajarannya Kiauw Couwsu akan tetapi faedahnya sama. Sudah satu malam aku tidak tidur, sekarang setelah berlatih beberapa jam, aku merasa segar sekali."

"Sekarang sudah waktunya kita pergi,"

Kata Sie Ie. Ia pun berbangkit. Seng Lam pergi ke jendela, untuk membukanya, setelah mana, keduanya lompat keluar.

"Ah, hampir aku lupa!"

Kata Sie Ie. Ia merogoh sakunya dan melemparkan sepotong perak ke dalam kamar. Keduanya lompat naik ke atas genting.

"Aku kira kau tetap sesat, tak tahunya makin lama kau makin lurus!"

Seng Lam menggoda.

"Kau masih ingat membayar uang hotel!"

Sie le cuma bersenyum.

Lantas ia jalan di sebelah depan.

Perjalanan cuma beberapa lie, dengan lekas mereka tiba di rumahnya In Tiong Hian.

Rumah itu besar dan banyak kamarnya, tak mudah segera mencari kamarnya tuan rumah.

Di saat Sie Ie mau cari kamar dimana ada sinar api, mendadak ia dengar rangketan disusul tangisan minta-minta ampun.

"Heran,"

Tokciu Hongkay pikir.

"In Tiong Hian kesohor dermawan, mustahil dia sama seperti kebanyakan hartawan busuk?"

La segera mengajak Seng Lam menghampiri kamar dari mana suara itu datang, ialah sebuah kamar kecil.

Ketika mereka mengintai ke dalam, terlihat seorang wanita gemuk yang romannya bengis lagi merangket seorang nona yang mukanya mandi air mata.

"Kau tidak tahu diri!"

Kata perempuan itu.

"Looya kasihan kau, ibumu mati, kau tidak kuat beli peti mati, looya berikan sepuluh tahil perak pada ayahmu. Coba looya tidak demawan, mana dia sudi memberikan uangnya? Dia melepas budi besar, kenapa malam ini, dia ingin kau melayaninya, kau menampik dan main menangis saja?"

Nona itu berlutut.

"Pohpoh, tolong kau mintakan belas kasihannya looya,"

Dia memohon.

"Aku minta sukalah aku dimerdekakan. Sedari masih kecil aku sudah ditunangkan..."

Cambuknya si nyonya tua diayun.

"Benar-benar kau tidak tahu diri!"

Katanya sengit.

"Looya telah beli kau, kaulah orannya looya! Siapa perduli kau sudah ditunangkan atau belum?"

Hati Sie Ie panas.

"Kiranya In Tiong Hian pun manusia palsu!"

Pikirnya.

"Dengan sepuluh tahil perak dia mau beli kehormatannya seorang nona!..."

Tiba-tiba terdengar si wanita galak menjerit.

"Aduh!"

Lalu tubuhnya roboh dengan lidahnya melelet keluar.

Sebab Seng Lam, yang sangat gusar, sudah mengasih hadiah sebatang pakunya.

Nona itu pun lantas menolak pintu masuk ke dalam, diikut Sie le.

Si nona kaget dan ketakutan, tubuhnya bergemetaran.

Tak dapat dia bicara.

"Jangan takut!"

Seng Lam kata.

"Di mana kau tinggal? Sebentar aku nanti antarkan kau pulang."

Nona itu mengawasi, lantas dia mengangguk-angguk. Setelah hilang kagetnya, dia memberitahukan alamatnya.

"Malam ini aku pun mau menjadi si pendekar pembela keadilan!"

Kata Seng Lam tertawa.

"St! Ada orang!"Sie le berbisik. Benar saja, dari luar lantas datang panggilan.

"Gui Pohpoh! Gui Pohpoh!"

Seng Lam menekan hidungnya, dia menyahuti.

"Ada apa? Mau apa kau?"

Suara di luar itu terdengar pula.

"Malam ini looya kedatangan tetamu, looya tak ingin dilayani maka itu kau boleh menghemat tenagamu, tak usah kau memukuli dia lagi..."

Seng Lam menanti sampai orang bertindak masuk, dengan mendadak ia menyambar.

"Oh, kau baik hati!"

Katanya. Orang itu, seorang pegawai laki-laki, kaget dan kesakitan.

"Lie tay-ong, ampun!"

Ia meratap, la ketakutan, sampai membasa-kan "lie tay-ong",-raja wanita.

"Mudah untuk mengampuni kau!"

Kata Seng Lam, tertawa.

"Bilang, dimana majikanmu?"

Tubuh hamba itu gemetaran.

"Di lauwteng Timhiang Kok..."

Sahutnya.

"Kau ngoceh!"

Seng Lam membentak.

"Siapa tahu Timhiang Kok dimana adanya?"

Hamba itu ketakutan.

"Di... di... sebelah barat... disana ada sebuah pengempang, di tepinya dibangun sebuah taman, lauwteng itu didirikan di dalam taman itu. Di..."

Seng Lam tidak sabaran, ia menotok orang roboh hingga berhentilah dia berkata-kata, hanya dia ditotok enteng, dalam satu jam, dia akan bisa sadar sendirinya.

"Kau berdiam disini, jangan berisik,"

Ia pesan si nona.

"Sebentar kami akan antarkan kau pulang."

Habis itu, ia ajak Sie Ie berlalu. Si anak muda tertawa.

"Aku datang kemari guna mendengar-dengar berita, siapa tahu aku jadi turut kau menjadi pendekar!"

Ia kata.

"Seng Lam, apakah kau membawa obat pulas Ngo-kouw Toanhun Hio?"

Si nona tertawa.

"Ada!"

Sahutnya.

"Ada banyak orang disini, kita tidak takut, tapi lebih baik kita jangan ganggu mereka, supaya mereka tidak lagi kalang kaburan dengan membikin banyak berisik! Nanti aku menggunai obatku membikin semua orang itu tidur pulas, kau boleh bekuk tiga tua bangka itu, guna mengompes mereka!"

Lantas keduanya berpisah, untuk bekerja masing-masing.

Dengan mudah Sie Ie dapat mencari Tim Miang Kok.

Ia mendekam di atas payon, memasang mata sambil mendengari, la liehay maka ia tidak mengasih dengar suara hingga orang-orang di dalam situ, meski mereka pun jago semua; tak mendengar apa-apa.

Empat orang berkumpul dalam ruang, yang tiga duduk dekat jendela.

Meja mereka diatur madep empang, dari mana tersiar harumnya bunga teratai.

Rembulan bersinar terang.

Mereka menghadapi cangkir teh.

"Sungguh senang orang she ln ini..."

Pikir Sie Ie.

"Rumah besar dan indah, dan makan pakainya berlebihan..."

Orang yang ke empat rupanya baru sampai, karena dia kata.

"Baiknya camat mengirim opas membantui kita, maka semua penagihan telah diterima beres. Pendeta dari Tongsian Tong di dalam kota minta suhu suka menderma sedikit."

Teranglah orang ini murid merangkap koankee, pengurus rumah.

"Itulah pantas,"

Kata In Tiong Hian, yang menghirup tehnya.

"Kau sediakan lima ratus tahil perak, besok kau membawanya. Bilang supaya dia pakai namaku, di waktu uang dibagikan kepada orang-orang melarat itu, kau yang mengawasi, supaya tidak ada yang main gila!"

Liu Sam Cun tertawa.

"In Jieko sungguh mulia!"

Dia kata.

"Sekali keluar, kau keluarkan lima ratus tahil perak!"

Pui Eng Siang bersenyum, dia pun kata.

"In Jieko pandai bekerja. Camat membantui melakukan penagihan dan orang melarat tak menggerutu terhadapnya! Dengan ini berarti, dengan selembar bulu kau membuatnya orang banyak bersyukur! Maka, Liu Toako, baiklah kau belajar dari In Jieko!"

In Tiong Hian tidak gusar. Ia tahu orang bergurau.

"Kau memuji aku!"

Katanya.

"Aku nanti jadi besar kepala..."

"Sebenarnya, jieko, aku mengagumi kau,"

Eng Siang bilang.

"Aku dengar ada orang-orang gagah yang mulia hati yang mengaku kau sebagai rekan mereka! Haha!"

Tuan rumah mengurut kumisnya.

"Sama-sama tahu saja! Bilang terus terang, jikalau aku tidak bergaul dengan mereka itu, mana bisa Sukhong Tayjin mengundang aku.15)"

"Oh, kiranya In Jiko sudah menerima undangan!"

Kata Sam Cun.

"Kenapa jieko masih belum berangkat!"

"Aku justeru mau minta pikiran saudara berdua,"

Sahut ln Tiong Hian.

"Bagaimana, baik aku pergi atau jangan?"

"Mana bisa kita tidak pergi?"

Kata Sam Cun.

"Kita harus menimbang,"

Tiong Hian bilang.

"Kita bangsa berumah tangga. Kalau kita pergi, kita tentu tak disukai bangsa orang gagah mulia itu. Inilah berbahaya. Sebaliknya, apabila kita tidak pergi, kita bisa dibenci Sukhong Tayjin. Ini pun dapat mengundang bencana. Maka itu, aku sangsi..."

Pui Eng Siang tertawa.

"Jiko, kau terlalu berhati-hati!"

Katanya.

"Aku kuatir, karena terlalu berhati-hati itu, kali ini kau akan menjadi menyesal setelah kasip..."

"Tolong saudara Pui menunjuki aku jalan,"

Tiong Hian minta.

"Jieko tahu,"

Kata Eng Siang.

"kali ini Sri Baginda Raja sudah ?ertekad bulat menumpas orang-orang gagah yang menentang Pemerintah Agung, untuk mereka 'dibikin habis. Sukhong Tayjin mengundang kita datang ke kota raja, maksudnya tak lain tak bukan supaya kita bekerja untuk dia..."

In Tiong Hian menyeringai.

"Sebenarnya, saudarasaudara,"

Katanya, menyela.

"sudah lama aku tidak melatih diri lagi..."

"Jangan merendah, In Jieko!"

Eng Siang tertawa.

"Siapakah tidak tahu ilmu golok Yuliong Too dari jieko yang istimewa dalam Rimba Persilatan? Lain daripada itu, di Istana ada sangat banyak orang kosen, belum tentu kita diminta mengadu jiwa kita. Mungkin seperti jieko kata tadi, lantaran kita kenal banyak orang kaum lurus, Su-khonp Tayjin menghendaki kita pergi ke sana guna mencegah rahasia bocor. Jikalau kita tidak pergi, pasti Sukhong Tayjin menjadi curiga."

"Saudara berdua biasa mudah mendapat berita,"

Kata Tiong Hian.

"bagaimana saudara pikir sepak terjang Seebun Bok Ya? Dia hendak membasmi pelbagai partai, apakah dia bakal berhasil?"

"Sepak terjang Seebun Bok Ya sangat dirahasiakan,"

Kata Eng Siang.

"tapi saudara mengetahuinya, itu saja sudah bukti bahwa saudara pun pandai memperoleh kabar. Mungkin ada satu hal lain, yang saudara belum dengar. Pada setengah bulan yang baru lewat, Seebun Bok Ya sudah bekerja. Di gunung Binsan telah terjadi pertarungan di antara pelbagai partai lurus dengan pihak Beng Sin Thong, mendadak Seebun Bok Ya dan rombongannya menyerbu mereka itu. Dia berhasil. Banyak korban mati, terluka dan tertawan di pihak pelbagai partai dan Beng Sin Thong itu. Justeru karena aku mendengar berita itu, maka aku ajak Liu Toako lantas melakukan ini perjalanan ke kota raja."

"Aku duga,"

Kata Liu Sam Cun.

"Sukhong Tayjin mengundang kita tentulah disebabkan dia kuatir semua jasa nanti dikangkangi Seebun Bok Ya sendiri. Seebun Bok Ya kesohor telengas, memang lebih baik jikalau kita berlindung kepada Sukhong Tayjin."

"Maka itu, In Jieko,"

Kata Eng Siang, menambahkan.

"jikalau jieko tetap mau mengukuhi diri sebagai orang lurus, sebelum kau bercelaka di tangan kaum lurus itu, mungkin kau nanti roboh di tangannya Seebun Bok Ya."

Mendengar sampai disitu, bagi Sie Ie, hal sudah jelas tujuh atau delapan bagian. Justeru itu, mendadak In Tiong Hian berseru tertahan.

"Aiih"

Terus ia berbangkit. Si koankee heran.

"Ada apa, suhu?"

Tanyanya.

"Sekarang sudah tiba waktunya mereka membawa keluar kembang gula dan yan-oh, kenapa mereka belum juga muncul?"

Kata Tiong Hian.

"Nanti aku lihat..."

Koankee itu tidak mengerti sikapnya sang guru.

"Inilah urusan kecil, buat apa suhu yang pergi sendiri,"

Katanya.

"Nanti aku yang melihat mereka dan menyuruh mereka lekasan menyajikannya."

"Mereka itu memang suka malas-malasan, nanti aku yang ajar adat!"

Kata pula Tiong Hian.

Herannya si koankee bukan main.

Sikap si guru tak selayaknya.

Bukankah mereka lagi menemui tetamu?

Masa tetamu ditinggal untuk mengajar adat pada segala bujang dan budak?

Selagi koankee ini melongo, dari luar terdengar suara tertawa yang merdu disusuli kata-kata ini.

"Ini yan-oh!"

Berbareng dengan itu, dua batang paku rahasianya Tiong Hian menyambar!

Itulah Seng Lam yang muncul dan ia disambut serangannya tuan rumah.

Di antara mereka bertiga, Tiong Hian paling liehay.

la heran dan bercuriga karena tak munculnya budak pelayan, kebetulan ia mendengar tindakan kaki yang enteng, kecurigaannya menjadi kepastian.

Ia mau keluar untuk melihat, alasannya menilik budak pelayan alasan belaka.

Menyusul menyambarnya pakunya Tiong Hian, seorang terdengar menjerit, lantas tubuh orang itu roboh.

Dialah Liu Sam Cun, chung-cu dari Samliu Chung.

Kim Sie Ie telah menggeraki tangannya.

Ketika In Tiong Hian menyerang, ia menimpuk paku rahasia.

Ia menggunai dua batang jarum Bweehoa Ciam.

Ia menggunai ilmu meminjam tenaga, maka juga jarumnya yang enteng dapat melawan paku yang berat, hingga paku itu terhajar mental, menyerang ke arah Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang.

Eng Siang lebih liehay, dia berkelit, paku cuma membuat kulitnya lecet.

Sam Cun terhajar betisnya, maka dia menjerit dan roboh.

Seng Lam muncul sambil tertawa pula.

"Bagaimana, apakah rasanya yan-oh ini kurang lezad?"

Ia tanya.

Kata-kata itu dibarengi melayangnya tangan seperti kilat, maka juga telinganya tuan rumah kena tergaplok keras.

Dengan tangan yang lain, si nona juga menyambar ke pundak orang guna menyengkeram tulang pipee.

Tapi ia gagal.

Tiong Hian dapat berkelit.

Dia menjadi gusar sekali, maka dia lantas menghunus goloknya dengan apa dia terus menyerang.

Sie Ie lantas muncul.

Ia tertawa nyaring.

"Sababat karib, apakah kau masih ingat aku?"

Ia tanya. Pui Eng Siang kenal suara orang, kagetnya bukan main, semangatnya lantas terbang pergi.

"Kau... kau... Tokciu Hongkay!..."

Katanya, matanya membelalak. Kim Sie Ie tertawa pula.

"Benar! Akulah Tokciu Hongkay dahulu hari!"

Sahutnya.

"Jikalau kamu menyayangi jiwa kamu, lekas berhenti dan berdiri diam."

Pui Eng Siang mati kutunya, benar-benar dia berdiri tak berkutik.

Si koankee melihat bahaya, dia lari.

Tapi dia segera dicekuk Sie Ie dan ditarik balik.

Habis itu Sie le menjatuhkan diri, duduk di atas kursi.

' "Tunggu aku mau lihat ilmu golok Yuliong Too dari In Chung-'cu!"

Ia kata, tertawa. Ia terus menghitung.

"Satu! Dua! Tiga! Empat!..."

Ketika ia menghitung tujuh belas kali, disitu terdengar suara berisik dari jatuhnya golok ke lantai batu.

Itulah goloknya Tiong Hian, yang tangannya kena ditotok Seng Lam.

Sebenarnya tuan rumah ini gagah dan ia masih dapat bertahan lama, tetapi ia kaget mendengar nama Tokciu Hongkay, saking bingung, mudah saja ia dirobohkan Nona Le.

Seng Lam tertawa dan kata.

"Dia dapat melawan aku sampai tujuh belas jurus, Pantas kalau dia diberi ampun, tetapi aku paling benci tukang berpura-pura sedang dialah si demawan tetiron, maka dia tak dapat ampun lagi!"

Ketika itu Liu Sam Cun merayap bangun, ia kata pada Kim Sie Ie.

"Kim Tayhiap, kau... kau ampuni aku. Dulu hari kau pernah berjanji bahwa kau tidak akan bunuh aku..."

Sie Ie mengangguk "Tidak salah,"

Sahutnya.

"memang dulu hari itu aku pernah janji begitu padamu. Dulu hari itu aku cuma mau menguji kepandaian kau, aku bukan berniat mengambil jiwamu."

"Kim Tayhiap,"

Pui Eng Siang pun berkata.

"kau juga pernah menjanjikan aku..."

Sie le tertawa pula.

"Sungguh ingatan kamu kuat hingga kamu semua masih ingat janjiku dahulu hari itu!"

Katanya.

"Cuma ada satu hal yang kamu telah tak ingat pula! Dahulu hari itu, kejahatan kamu masih belum ketahuan, maka juga aku, dengan memandang kita sesama orang Rimba Persilatan, suka aku memberi keringanan kepada kamu. Bukankah aku telah bilang aku datang untuk main-main saja? Karena itu, tak dapat aku membunuh kamu."

"Benar begitu,"

Kata Eng Siang.

"Karena tayhiap mengatakan begitu, maka aku berani melayani tayhiap mainmain..."

Sie Ie berhenti tertawa, romannya lantas jadi sungguhsungguh.

"Sekarang ini lain!"

Katanya bengis.

"Sekarang kamu hendak membantu orang-orang jahat, untuk membikin ludas kaum Rimba Persilatan! Maka kamu tidak dapat diberi ampun! Aku si orang she Kim, aku hendak mewakilkan Yang Maha Kuasa menjalankan keadilan!"

"Memang tadinya aku tidak berniat pergi,"

Tiong Hian turut bicara. Dia pun putus asa.

"Tapi mereka ini membujuki aku! Bukankah tayhiap telah mendengar sendiri apa kata mereka! Maka itu, aku minta tayhiap memberi ampun padaku. Aku bersedia mengorbankan harta bendaku..."

Tuan rumah ini ingat perkataannya Seng Lam tentang si dermawan tetiron, maka ia menambahkan kata-katanya ini.

Sam Cun dan Eng Siang menjadi ketakutan, mereka menyangkal, berbareng dengan itu, mereka minta dikasih ampun seraya mereka berjanji akan merubah kelakuan, mereka, untuk selanjutnya menjadi orang baik-baik.

Mereka kata akan lantas mundur dari dunia Rimba Persilatan dan akan tak campur urusan apa juga lagi...

"Sudah, kamu jangan bikin banyak berisik!"

Kata Sie Ie tertawa.

"Jikalau benar kamu ingin diberi ampun, kamu mesti dengar perkataanku!"

"Baik! Baik!"

Kata mereka itu bertiga.

"Siapakah itu yang kamu sebut Sukhong Tayjin?"

Tanya Sie Ie.

"Dialah Sukhong Hoa, tongnia dari Gieliemkun,"

Sahut Tiong Hian.

"Bagus!"

Kata Sie Ie.

"Disini tersedia pit bak dan kertas, hayo kamu masing-masing menulis, menulis..."

"Menulis syair ahala Tong!"

Seng Lam mendahului. Sie le melengak.

"Kau serahkan ini padaku!"

Kata Seng Lam, alisnya bangun.

"Aku tanggung beres!"

Sie le mengawasi nona itu. Ia tahu si nona mengerti ia, hanya ia belum jelas apa artinya syair ahala Tong yang diminta itu.

"Syair yang mana yang mesti ditulis?"

Tanya Tiong Hian. Dia pun bingung.

"Tulis jangan yang terlalu pendek dan juga jangan yang terlalu panjang,"

Sahut Seng Lam setelah berpikir sejenak.

"Baik kau tulis syairnya Touw Hu tentang "Menonton tari pedang muridnya Kongsun Tay Nio."

Sam Cun dan Eng Siang saling mengawasi melongo, agaknya mereka jengah.

"Aku... aku... belum pernah piembacanya..."

Kata mereka. Tiong Hian sebaliknya gembira.

"Setuju! Aku nanti menulis itu!"

Kata dia.

"Cuma, kalau tulisanku jelek, aku minta nona maklum,"

Kalau Sam Cun dan Eng Siang Hak mengerti surat, orang she In ini paham syair ahala Tong, bahkan syairnya Touw Hu baru dua hari yang lalu ia tulis untuk salah satu muridnya.

"Baiklah,"

Kata Seng Lam.

"Kamu berdua tidak bisa, kamu boleh menyontoh dari dia ini. Aku tidak perduli tulisannya bagus atau jelek, asal menulisnya sungguh-sungguh!"

In Tiong Hian lantas membeber kertas, dia mencolot pitnya, terus dia menulis syairnya Touw Hu itu.

Kongsun Tay Nio cantik parasnya.

Hebat tari pedangnya, penonton sangat banyaknya, semua sangat mengaguminya.

Aksinya.

Mirip Houw Ek memanah matahari, seperti para dewa melayang pergi.

Sunyi bagaikan guntur berdiam, tenang bagaikan laut semayam.

Selagi orang menulis, Sie Ie mengikuti dengan membacanya bersenandung, habis mana ia memuji.

"Bagus! Bagus! Sunyi bagaikan guntur berdiam! Tenang bagaikan laut semayam! Ilmu silat pedang demikian liehay, sungguh luar biasa! Membaca syair ini orang menjadi ingat masa yang lampau itu! Seng Lam, kau memilih syair ini sungguh bagus pikiranmu! Jikalau nanti kau sudah rampung dengan pelajaran pedangmu, bolehlah kau berlomba dengan muridnya Kongsun Tay Nio itu!"

Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang sudah menulis mencontoh tulisannya In Tiong Hian itu, mereka menulis dengan mandi keringat.

Mereka menulis sehuruf demi sehuruf, tak mereka ketinggalan.

Maka ketika In Tiong Hian selesai, mereka selesai juga.

Girang dan puas hati Tiong Hian apabila ia telah menyaksikan tulisan kedua kawannya itu.

Ia telah melihat tulisan yang tidak keruan, seperti cakar bebek, seperti tulisannya anak-anak.

Cepat-cepat ia serahkan tulisannya itu kepada si nona, dengan sikap sangat menghormat ia kata.

"Nona, kaulah seorang ahli, tolong kau lihat!"

Seng Lam mengulur tangannya, ia bukan menyambut syair itu, mendadak ia menotok ke kerongkongan orang. Ketika ia mengulur tangannya itu, ia tertawa, ia kata nyaring.

"Bagus! Bagus!..."

Hanya berbareng dengan habisnya pujiannya, jeriji tangannya bekerja!

In Tiong Hian tidak menduga sama sekali.

Ia roboh lantas dengan mengeluarkan suara tertahan.

Tenggorokannya berlubang dan mengeluarkan darah hidup.

Seketika juga jiwanya terbang melayang.

Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang kaget hingga mereka melengak.

"Ampun!..."

Mereka memohon saking takutnya.

Tapi selagi suaranya belum berhenti, mereka pun roboh bergantian, sebab jalan darah kematian mereka masing-masing sudah lantas ditotok Seng Lam, yang bekerja dengan kesebatan istimewa.

Sie le juga tidak menyangka kawannya bakal berbuat demikian, sampai ia tidak sempat mencegah.

Ia menjadi gusar hingga ia kata nyaring.

"Seng Lam, kenapa kau begini kejam? Kau tahu aku telah menjamin jiwa mereka!"

Si nona tidak gusar, ia bahkan tertawa.

"Kaulah yang menjamin, aku tidak!"

Sahutnya. Muridnya In Tiong Hian takut sekali, ia mau lari, tapi kakinya tak dapat digeraki. Seng Lam pun berkata.

"Aku telah membinasakan tiga orang, dia ini tak dapat dibiarkan hidup!"

Maka dengan senjata rahasianya, ia merampas jiwa si koankee. Sie Ie sengit hingga ia sambar lengan si nona.

"Jikalau kau terus membunuh orang, nanti aku musnahkan ilmu silatmu!"

Dia membentak. Nona itu tertawa.

"Seorang enghiong. Seorang hiapkek besar!"

Katanya.

"Kau cekal tanganku sampai nyeri, kau mau lepaskan tanganmu atau tidak? Jikalau tidak, lain kali aku akan tidak memperdulikan pula padamu! Kau tahu, empat orang ini tak dapat tidak dibinasakan! Apakah kau menyangka aku benarbenar gemar membunuh orang?"

Mau atau tidak, Kim Sie le melepaskan cekalannya.

"Mereka ini busuk tetapi tak seharusnya mereka dibinasakan,"

Kata ia.

"Bilangi aku, apa alasannya maka kau merampas jiwa mereka?"

Seng Lam mengawasi, dia berkata tawar.

"Kecewa kau sudah merantau untuk banyak tahun! Bahkan orang telah menyebutnya kau si hantu besar! Hm! Kenapa kau tak mengerti maksudku? Kau duduk, nanti aku berikan penjelasanku kepada kau!"

Mau atau tidak, kembali Kim Sie le mesti menyabarkan diri. Dengan malas-malasan ia menjatuhkan diri di atas kursi. Seng Lam tertawa geli.

"Sayang tak ada kaca rasa disini!"

Katanya.

"Kalau tidak, dapat kau mengacakan rupamu pedangnya kau bergusar! Kau mirip orang yang mau makan orang!"

"Lekas omong!"

Sie Ie bentak.

"Jikalau kau tidak memberikan alasanmu yang tepat, memang aku dapat makan orang!"

Toh waktu menyebut "makan orang"

Itu, ia bersenyum sendirinya. Di dalam hatinya, ia kata.

"Sebenarnya kaulah yang hendak makan aku..."

Seng Lam berlaku tenang.

"Bukankah kau memikir menyuruh mereka ini bertiga menulis Surat untukmu untuk Sukhong Hoa?"

Dia tanya.

"Benar, bukan?"

Sie Ie mengangguk.

"Tidak salah!"

Sahutnya mengaku.

"Aku memikir menyuruh mereka menulis surat perantaraan memujikan kita kepada Sukhong Hoa. Kita dapat menyaru menjadi murid mereka. Dengan membawa surat mereka, kita dapat menghadap komandan Gieliemkun itu."

"Bagus kau mendapat semacam pikiran,"

Seng Lam bilang bersenyum.

"Tapi, dapatkah kau percaya mereka nanti bisa menutup mulut mereka seperti botol rapatnya?"

"Aku dapat menotok otot gagunya supaya sesudah lewat tujuh hari barulah mereka bisa bicara pula,"

Sahut Sie Ie.

"Mereka dapat menulis surat pujian untukmu, apakah dengan begitu mereka pun tak dapat menulis surat lainnya untuk disampaikansecara diam-diam kepada Sukhong Hoa? Mulut mereka gagu, tangan mereka dapat bergerak dengan leluasa!"

"Hati mereka sudah seperti remuk saking takut, aku percaya tidak nanti mereka berani membocorkan rahasia."

"Dapatkah itu dipastikan? Mereka ini manusia licik yang ulung, inilah kau harus ingat. Bukankah ada pepatah. Yang cupat pikiran bukannya budiman-Yang tak kejam bukannya laki-laki sejati? Paling benar mereka dibinasakan, sebab itulah jalan yang paling selamat!"

Sie Ie dapat mengerti jalan pikirannya Seng Lam ini.

Ia pun telah memikir demikian rupa, tetapi ia tidak mau mengerjakannya.

Semenjak ia berkenalan dengan Pengcoan Thianlie, Lie Kim Bwee dan Kok Cie Hoa, pikirannya sudah berubah.

Di dalam hal ini, ia lebih suka menempuh jalan berbahaya daripada meminta jiwa tiga orang itu.

Atas penjelasan Seng Lam ini, meski tetap ia menganggap nona itu tak lenyap kesesatan-nya, ia terpaksa berdiam.

Jalan pikiran itu dapat dimengerti dan itu memang paling menjamin keselamatan.

Seng Lam kembali tertawa.

"Orang semua mengatakan kaulah ahli tetapi di mataku, kau masih kurang pengalamanmu!"

Kata dia.

"Kau memikir menyuruh mereka menulis surat pujian. Itulah pikiran yang tak sempurna sekali! Syukur aku berada disini dan aku dapat memikir, maka aku menitahkan mereka menulis syairnya Touw Hu itu!"

Sie Ie seorang cerdas, dengan lantas ia mengerti maksudnya nona ini.

"Apakah kau kuatir mereka ini nanti main gila, dan tak menulis dengan tulisannya yang asli?"

Ia tanya.

"Atau kau kuatir di dalam suratnya itu mereka menuliskan juga kata-kata rahasia?"

Seng Lam bersenyum.

"Memang! Kalau begitu, kau masih cerdas, dapat kau menangkap maksudku! Sekarang aku mau meniru tulisan mereka, buat menulis surat untuk Sukhong Hoa. Sekarang ini kita dapat menulis apa yang kita kehendaki. Di antara mereka ini bertiga, In Tiong Hian yang paling gagah dan rumahnya pun terpisah paling dekat dengan kota raja, inilah harus kita jaga. Siapa tahu jikalau dia banyak kenalannya, yang mengetahui baik keadaan di dalam rumah tangganya ini? Maka itu aku pikir baik kita menyamar menjadi muridmuridnya Pui Eng Siang dan Liu Sam Cun."

Tanpa menanti jawaban Sie le, nona ini lantas mengambil pit guna menulis suratnya, masing-masing atas namanya Eng Siang dan Sam Cun.

Ia meniru dengan sempurna sekali, hingga melihat itu, Kim Sie le girang.

Tapi juga risih hati Tokciu Hongkay, maka ia kata dalam hatinya.

"Dia sangat cerdas, jikalau dia terus tersesat, dia dapat menjadi jahat melebihkan Beng Sin Thong..."

Habis menulis dan menutup rapat kedua surat, Seng Lam menyerahkan yang sepucuk kepada kawannya.

"Aku paling benci Liu Sam Cun, kau saja yang menyamar jadi muridnya!"

Ia kata. Sie le tertawa.

"Pui Eng Siang tidak menerima murid wanita, jikalau kau menyamar jadi muridnya, rahasia kita bakal terbuka,"

Katanya.

"Mengenai itu aku sudah pikir daya menghindarkannya,"

Kata Seng Lam, yang bersenyum.

"Kau lihat rambutku ini? Bukankah ini ketika yang baik untuk aku menyamarkan diri?"

Sie le mengerti, ia cuma bersenyum.

Semua orangnya keluarga In masih tetap tak sadarkan diri, merdeka Seng Lam masuk ke dalam, untuk mencari pakaian yang cocok dengan tubuhnya, kemudian rambutnya yang kepalang tanggung itu ia gunting pula menjadi terlebih pendek dan rata bagian depannya, setelah mana ia tutup itu dengan sebuah kopiah.

"Kau lihat, sempurna atau tidak?"

Ketika ia keluar pula, ia menanya Sie Ie.

"Cumalah kau terlalu tampan!"

Kata kawan itu tertawa.

"Eng Siang si jelek tak pantasnya mempunyai murid yang ganteng. Nanti aku olah pula parasmu!"

Sie Ie ahli menyamar, ia pun mempunyai pel peranti merubah warna kulit muka orang, maka itu, setelah menyepuh muka orang, ia menambahkan juga dua bocah tahi lalat yang besar, hingga di lain saat, si nona yang cantik menjadi seperti seorang yang romannya kasar.

Seng Lam tertawa ketika ia memandang kaca.

"Bagus!"

Katanya.

"Biarlah jelek sedikit! Aku percaya sekalipun Seebun Bok Ya tak bakal mengenali aku!"

Sie Ie juga turut menyamar, bahkan ia menambah kumis kecil, hingga pantaslah kalau dia menjadi calon ciangbunjin.

"Sungguh aku tidak menyangka kita bakal jadi muridmuridnya dua makhluk ini!"

Kata Seng Lam akhirnya, tertawa.

"Aku telah mengambil jiwa mereka, dengan kita menjadi murid mereka, mungkin mereka puas..."

Lantas Sie Ie mengantar pulang si nona korbannya In Tiong Hian itu, ia memberikan uang sepuluh tahil perak, menyuruh dia serta ayahnya pindah ke lain tempat, setelah itu, justeru sudah terang tanah, mereka terus berangkat ke kota raja.

"Hatiku lega sekarang,"

Kata Seng Lam.

"Inilah yang pertama kali aku melakukan perbuatan baik!"

"Maka itu tepat dibilang, setiap orang ada hatinya yang mulia,"

Kata Sie Ie.

"Siapa pun, asal dia tak tersesat, dia dapat menjadi orang baik-baik."

"Kau, aku lihat, makin lama kau jadi makin buruk!"

Kata si nona, tertawa.

"Turut penglihatanku, kau surup menjadi guru sekolah! Kati bade, kenapa aku melakukan perbuatan baik ini? Mungkin kau tak dapat menerkanya..."

"Bagaimana sebenarnya?"

Seng Lam tertawa geli.

"Itulah untuk membikin hatimu senang!"

Sie Ie berdiam. Sungguh, inilah tidak ia sangka. Ia berpikir.

"Dia dapat berbuat baik, itu bagus. Dia pun tidak menyembunyikannya. Mungkin masih ada obat untuk menolongnya. Hanya aku, mungkin buat selama-lamanya aku tak bakal lolos dari libatannya..."

Tiga hari kemudian tibalah mereka berdua di Pakkhia, kota raja.

Tak sulit untuk mereka mencari Sukhong Hoa, yang sebagai komandan Gieliemkun, namanya sangat terkenal.

Mereka lantas menyerahkan surat palsu mereka, untuk dapat menghadap kepada komandan pasukan pengiring raja itu.

Sukhong Hoa berada di lapangan berlatih ketika ia menerima surat.

Tak puas ia menerima surat-surat dari Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang itu.

Katanya, tawar.

"Guru kamu sudah memperoleh kedudukan bagus, mereka mau hidup berbahagia di dalam rumah, pantaslah aku pun sampai tidak dapat mengundangnya! Hm! Mereka yang hidup berbahagia dan tenang, kamulah yang disuruh menderita! Sekarang pergi kamu beristirahat dulu! Andaikata kamu suka bekerja disini, besok kamu boleh pergi pada Ong Huciang, untuk melihat disana ada lowongan apa untuk kamu isi."

Komandan ini menunjuk pada salah satu orang sebawahannya dan berkata.

"Baik-baik kau merawati mereka ini, nanti besok kau menyuruh mereka menghadap Ong Huciang."

Teranglah Sukhong Hoa tidak menghargai dua orang ini.

Sie le dan Seng Lam tidak puas.

Dengan bekerja di bawah perintah Ong Huciang pangkat mereka pastilah rendah.

Mereka mempunyai maksud mereka sendiri.

Atas kata-kata Sukhong Hoa itu, keduanya tidak lantas memutar tubuh untuk mengundurkan diri.

Seng Lam tertawa dan kata.

"Kami datang bukan untuk meminta sesuatu pekerjaan."

Komandan Gieliemkun itu menjadi semakin tak puas.

"Benar juga!"

Katanya, tawar.

"Guru kamu semuanya berharta besar, kamu menjadi juga murid-murid yang berharta, pasti kamu tak menghiraukan pangkat! Baiklah tidak apa kamu tidak mau bekerja disini, jikalau kamu mau pergi pula, aku tidak cegah!"

"Bukan begitu maksud kami,"

Kata Seng Lam.

"Tayjin keliru menganggap guruku!"

"Bagaimana?"

Tanya Sukhong Hoa, heran.

"Apakah ada sebab lainnya kenapa dia tak sudi datang ke kota raja ini?"

"Ketika guruku menyuruh aku datang kemari,"

Jawab Seng Lam.

"dia berkata begini padaku. 'Sukhong Tayjin menghargai aku, seharusnya aku pergi ke kota raja, untuk bekerja untuknya, maka sayang sekarang ini usiaku sudah lanjut, sedang untuk menghadapi segala orang Kangouw tidak keruan, Sukhong Tayjin juga tak membutuhkan aku. Sebaliknya, untuk menghadapi orang-orang liehay, aku kuatir tenagaku tak dapat mengikuti semangatku. Maka itu aku lihat baiklah kau saja yang pergi. Kau sudah mewariskan semua kepandaianku, kau juga sedang mudanya, dengan kau yang pergi, kau jauh lebih menang daripada aku!' Nyatalah dengan kata-katanya itu, guruku sudah Keliru beranggapan. Sebenarnya kata-kata seorang guru kepada muridnya seperti ini, tak dapat aku beritahukan lain orang, akan tetapi karena tayjin keliru memandang guruku itu, terpaksa aku mengadakannya kepada tayjin. Benar-benar, guruku bukannya menyayangi jiwanya maka dia telah mengirimku sebagai wakilnya."

"Oh, gurumu mengatakan demikian?"

Kata Sukhong Hoa.

"Nah.

"apakah kata gurumu?"

Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada Kim Sie Ie.

"Guruku,"

Sahut Sie Ie.

"dia mengatakan begini padaku. 'Kau .sekarang pergi untuk bekerja kepada Sukhong Tayjin, itu artinya 'kau bekerja juga untuk Sri Baginda Raja, maka itu kau mesti bersungguh-sungguh dan bersetia, jangan kau pikirkan soal pangkat tinggi atau rendah. Kau harus ketahui sekarang ini Sri Baginda Raja telah bulat tekadnya untuk membasmi semua orang lurus dan tidak lurus, asal mereka itu tidak menakluk kepada Pemerintah Agung. Dengan kepergian kau ini, kau pasti ,bakal menemui lawan-lawan yang tangguh, walaupun demikian, jangan kau berkecil hati. Aku tahu sampai dimana sudah kepandaian kau. Kau jangan takut tetapi juga tidak boleh kau temaha akan kemenangan!' Ketika itu aku tanya guruku bagaimana andaikata aku menghadapi orang atau orang-orang yang harus dimalui. Guruku menekuk-nekuk jari tangannya menghitung-hitung, dia kata. 'Jikalau kau bertemu dengan Tong Siauw Lan ketua Thiansan Pay, Tong Sian Siangjin ketua Siauwlim Pay, Kim Kong Taysu ketua Ngobie Pay, serta Beng Sin Thong si hantu besar, semua orang-orang yang paling kenamaan, jangan kau temahai jasa. Jikalau kau menghadapi yang lain-lainnya, aku percaya tidaklah kau bakal membikin malu pada gurumu!'"

Sie Ie cerdik sekali, maka juga katanya Seng Lam. Dia tidak membikin "gurunya"

Memuji dia tetapi kata-kata "guru"

Itu bernada angkuh dan jumawa, berarti, kecuali Tong Siauw Lan berempat itu, yang lainnya sudah tidak ada artinya. Sukhong Hoa terkejut, hingga ia berpikir.

"Belum pernah aku melihat sendiri ilmu silatnya Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang, toh aku mengetahuinya juga. Kenapa sekarang mereka begini berani menganggap diri mereka liehay sekali? Kenapa mereka itu percaya murid-murid mereka ini dapat mengalahkan pelbagai partai? Apa bukannya dua anak muda ini lagi membuka mulut lebar-lebar untuk mereka dapat memperdayakan aku?"

Sama sekali taklah dipikir komandan ini bahwa orang muda di depannya ini justerulah Tokciu Hongkay Kim Sie Ie yang sangat ditakuti kaum Rimba Persilatan karena kegagahan dan ketelengasannya.

Malah kata-katanya Sie le ini sebenarnya masih merendah.

Seng Lam tidak menanti suara komandan itu, ia kata.

"Tayjin, kami sudah berbicara, harap ijin-kanlah kami mengundurkan diri!"

"Tunggu dulu! Tunggu dulu!"

Mendadak mencegah komandan itu.

"Ada titah apakah, tayjin?"

Tanya Sie le, hormat tapi tegas.

"Maaf! Maaf!"

Berkata Sukhong Hoa.

"Kiranya jiewie-lah orang-orang muda gagah perkasa! Barusan aku berlaku kurang hormat, aku minta jiewie suka maafkan."

Sambil berkata, ia mengulur tangannya mengajak Sie le berjabatan. Sie Ie belum tahu kepandaiannya komandan ini, dalam hatinya ia telah berpikir.

"Dulu hari aku telah merantau di Selatan dan Utara, belum pernah aku mendengar nama Sukhong Hoa, maka itu entah apa yang membuatnya menjadi pemimpin pasukan pengiring raja..."

Oleh karena ini, ia berlaku hati-hati. Sukhong Hoa mengerahkan tenaga Thay-it Sinkang. Kapan Sie Ie merasakan tekanan tenaga dalam komandan itu, ia kata dalam hatinya.

"Aku tidak menyangka bahwa dia dari partai lurus golongan Tookauw. Inilah aneh! Kaum Coancin Pay toh tidak mempunyai murid bukan imam? Atau kalau ada, tak semua ilmu silatnya diturunkan? Mungkinkah dia ini berasal imam yang kembali menjadi orang biasa? Kelihatannnya dia liehay tak melebihkan beberapa guru besar yang pernah aku tempur tetapi pun tak di bawahnya Leng Siauw Cu tokoh Coancin Pay yang tersohor itu..."

Sukhong Hoa mengerahkan tenaganya dari tiga bagian terus naik sampai sembilan bagian.

Ia heran bukan main sebab ternyata orang dapat bertahan terus.

Mula tenaga tiga bagian itu, ia tetap tidak merasakan tenaga timbal balik, tidak merasakan perlawanan apa juga,--itulah seperti suatu barang berat dilempar ke tengah lautan, lenyap tidak keruan paran.

Oleh karena ini, lekas-lekas ia melepaskan tangannya itu.

Sie Ie tidak mau memamerkan kekuatannya, ia sengaja lawan kekerasan dengan kelunakan, jikalau tidak, pastilah komandan itu sudah jatuh.

Habis itu Sukhong Hoa berjabatan juga dengan Seng Lam.

Oleh karena tadi ia sudah dapat pengalaman, sekarang ia lantas menggunai tenaga delapan sampai sembilan bagian.

Seng Lam belum mencapai kepandaian seperti Sie Ie, ia terpaksa melayani dengan kekerasan juga, karenanya, ia lantas mengerutkan alis, terpaksa ia menggunai Siulo Imsat Kang, yang ia alirkan dengan jeriji tengahnya.

Mulanya Sukhong Hoa dapat menjabat keras sekali, atau mendadak ia merasakan telapakannya seperti tertusuk jarum, bukannya nyeri hanya dingin sekali hingga tenaganya buyar sendirinya.

Karenanya itu lekas-lekas ia melepaskan cekalannya itu.

"Saudara, kau benar liehay!"

Ia terpaksa memuji, mengalihkan likatnya.

Tapi ia heran sekali.

Ia pikir "Pui Eng Siang ketua dari Hekhouw Ciang, pelajarannya yaitu Gwakang, kenapa muridnya ini mempunyai tenaga dalam yang mahir hingga dia dapat memecahkan tenaga Thay-it Sinkang dari aku?

Kenapa perlawanannya pun luar biasa sekali?

Bukankah ini tenaga dalamnya kaum sesat?

Mungkinkah Pui Eng Siang telah menyimpan rahasia kepandaiannya ini?

Atau orang ini muridnya yang palsu?..."

Sukhong Hoa, luas pengetahuannya dan tahu juga Beng Sin Thong sebagai ahli Siulo Imsat Kang, akan tetapi sampai sebegitu jauh, belum pernah ia bertemu dengan orang she Beng itu serta belum tahu juga sifatnya ilmu orang itu, maka ia tidak tahu Seng Lam menggunai ilmu apa, sedang si nona dengan cerdik mengalirkannya dengan cuma satu jeriji.

Tentu sekali, dengan begitu, ia pun tak kenal tenaga dalamnya Sie Ie.

Hingga ia cuma heran dan menduga-duga saja.

Oleh karena ini, ia membatalkan putusannya menyuruh kedua anak muda itu pergi kepada Ong Hu-ciang.

la menoleh kepada seorang busu di sisinya dan berkata.

"Lamkiong Loosu, bukankah dulu hari pernah Loosu berlatih dengan Pui Eng Siang?"

Busu she Lamkiong itu bernama It, tingkat derajatnya seimbang dengan tingkat derajat gurunya Sukhong Hoa, dari itu Sukhong Hoa telah mengangkatnya menjadi kauwtauw, pelatih dari pasukan Gieliemkun.

Dia memangnya sudah tidak puas mendengar kata-kata Seng Lam tadi, maka atas pertanyaan si komandan, ia menyahut lekas.

"Benar! Itulah kejadian dua puluh tahun yang sudah lalu. Pui Lootoa telah pertun-juki ilmu silat Hekhouw Kun di depanku. Aku bilangi dia, meski ilmu silatnya itu kokoh tapi toh banyak cacadnya. Dia tidak percaya aku, maka kejadianlah kita berdua mainmain. Sampai pada jurus ketiga puluh tiga, dia menggunai jurus 'Hekhouw Tauwsim' yang paling hebat akan tetapi aku melawannya dengan Tangan Yang. Baru setelah itu, dia menyerah. Sekarang setelah dua puluh tahun entahlah kelemahannya itu sudah diperbaiki atau belum..."

Mendengar suara orang itu, yang nadanya angkuh, Seng Lam berkata.

"Benar, dulu hari guruku pernah memberitahukan aku peristiwa itu, hanya guruku membilangi aku bukannya ilmu silatnya yang lemah, itu hanya disebabkan pengalamannya yang kurang. Sebenarnya ketika Lamkiong Loosu menggunai Tangan Yang, ia mesti menyambut dengan satu jurus lain, tidak demikian, yang kalah pastilah loosu dan bukan guruku itu..."

Lamkiong It menjadi tidak senang, sampai parasnya berubah.

"Benarkah gurumu mengatakan demikian?"

Ia menegas.

"Kalau benar, aku mohon pengajaran! Saudara Lie sudah mewariskan semua kepandaian gurumu, mari kita mencobacoba! Bersediakah kau? Aku ingin lihat jurus apa itu dari Hekhouw Kun yang bakal dapat mengalahkan aku!"

Dua-dua Seng Lam dan Sie le telah memakai nama palsu.

Seng Lam memakai she Lie nama Seng, maka itu, ia dipanggil saudara Lie itu.

Kim Sie le memakai she Kam nama Hui.

Atas perkataan kauwtauw itu, Seng Lam menyahut.

"Lamkiong Loosu menjadi cianpwee kami, mana berani aku berlaku kurang ajar?"

Ia berlaku merendah akan tetapi nada suaranya tajam. Paras Lamkiong It menjadi suram.

"Untuk pelajaran silat tidak ada yang tua dan yang muda!"

Katanya, keras.

"Saudara Lie, kau telah mewariskan kepandaian gurumu, maka janganlah kau sungkan. Kita hanya berlatih, umpama terjadi kesalahan tangan, tidak nanti aku menyalahkan kau. Saudara jangan kuatir apa-apa, kau keluarkanlah semua kepandaianmu!"

Ketika itu para busu lainnya pada berpikir.

"Anak muda ini jumawa sekali, dia tak tahu malu! Bagaimana dia berani melayani Lamkiong Loosu'.' Gurunya sendiri bukan lawannya, apapula dia si murid? Apa ini bukannya telur melawan batu?"

Seharusnya Seng Lam berlaku sabar dan berhati-hati, tapi sampai itu waktu, ia justeru bersikap acuh tak acuh, dengan wajar ia tertawa dan kata.

"Meskipun guruku telah memberi petunjuk kepadaku, aku kuatir aku masih belum dapat menggunainya dengan tepat, dari itu aku mohon sukalah Loo cianpwe serta para busu lainnya nanti memberi petunjuk terlebih jauh padaku!"

Lamkiong It telah menjadi sebal, ia perdengarkan suara di hidung.

"Dulu hari itu gurumu sudah menggunai Hekhouw Kun bagian pertama yaitu Kie Ciu Sie,"

Ia kata.

"Sekarang kau tidak mau lantas mulai, apakah kau ingin aku si orang tua yang mendahului penyerang padamu?"

Adalah aturan kaum Rimba Persilatan, dalam pertandingan persahabatan, kaum tua mengalah jdari kaum muda. Maka itu tak 'senang Lamkiong It melihat sikap Byal-ayalan Lie Seng... Seng Lam tertawa.

"Jurus pertama Kie Ciu Sie itu jurus permulaan,"

Katanya.

"maka itu aku pun tidak hendak mengupahnya."

Kata-kata ini ditutup de-'ngan diluncurkannya tangannya yang kiri.

Inilah suatu cara pihak muda tak sudi menerima menga-Hahnya pihak tua, bahwa si muda bergerak saking terpaksa.

Nampak-'nya gerakannya itu sangat perlahan.

Lamkiong It menjadi sangat mendongkol.

Di dalam hatinya, ia ikata.

"Kau lihat, di dalam satu jurus ?tni, aku akan bikin kau malu!" ^Vlaka ia mengulur kedua tangannya, guna menyambut. Sepuluh jari tangannya menjadi kaku seperti gaetan. Itulah tipu silat "Uttie IKiong merampas cambuk", salah saru jurus terliehay dari ilmu silat Taykimna yang semuanya terdiri dan tiga puluh enam jurus Seng Lam tidak mau mengadu kekuatan. Ia pun mendapat kenyataan orang benar tak dapat dipandang enteng. Lamkiong It ingin menangkap tangan si nona, dia ini berkelit dengan tindakan Thianlo Pou. Tapi Seng Lam tidak berkelit untuk menyingkirkan diri, ketika tangannya berhasil dibalik, dengan tangan itu juga ia menggempur. Komandan Gieliemkun itu terkejut. Tangan mereka beradu keras. Mereka sama-sama mundur tiga tindak. Syukur dia cepat mempertahankan diri, kalau tidak, mungkin tangannya patah.

"Hm! Apakah namanya jurusmu ini?"

Dia tanya. Seng Lam bergerak terus, kembali ia menyerang, sampai tiga jurus beruntun, sedang mulutnya membacakan.

"Hekhouw Tiauwkan! Hekhouw Tengsan! Hekhouw Cengsit!"

Semua itu pukulan Hekhouw Kun, artinya Harimau Hitam Melompati Kali, Harimau Hitam Mendaki Gunung, dan Harimau Hitam Berebut Makan.

Lamkiong It memukul pecah ketiga jurus itu.

Setelah itu baru si nona berbicara, menyahuti.

"Ketiga serangan-ku ini semua ciptaan dari jurus Hekhouw Cuttong. Adakah ini kurang tepat?"

Lamkiong It ketahui semua itulah jurus-jurus umum dari Hekhouw Kun, hanya ia masih belum kenal jurus yang dipakai menggempur tangannya barusan. Maka ia pikir.

"Mungkin itulah salah satu jurus simpanan yang dirahasiakan. Dulu hari waktu Eng Siang melayani aku, ia tidak gunakan itu..."

Pertandingan berlangsung terus, sampai dua puluh jurus. Si kauwtauw menjadi heran. Pikirnya pula.

"Kelihatan bocah ini bergerak kurang lincah, hanya terang, tenaga dalamnya melebihkan gurunya dulu hari itu. Kenapakah?"

Seng Lam belajar Hekhouw Kun dari Sie le, dan Sie Ie menyangkoknya dari Pui Eng Siang dengan siapa dia pernah bertempur.

Seperti biasa, kalau ia bertanding, Sie Ie suka memperhatikan ilmu silat lain orang, mengingat-ingat atau mencangkoknya.

Kecerdasannya membuatnya mudah berhasil.

Dia mengalahkan Eng Siang di jurus kedua puluh tiga, semua itu dia turunkan pada Seng Lam.

Nona ini pun cerdas, cepat sekali ia mengingatnya, cuma ia belum mahir.

Maka sekarang, sesudah dua puluh dua jurus, ia sibuk sendirinya.

Lawan masih belum dikalahkan.

Bagaimana?

"Hati-hati!"

Mendadak ia berseru.

"Inilah Hekhouw Tauwsim!"

Dan tangannya menyerang.

Lamkiong It menangkis dengan "Hok-ie Hoan-in", atau "Angin menutup, mega berbalik".

Itulah jurus yang dulu dipakai meruntuhkan jurus kedua puluh tiga dari Pui Eng Siang.

Itu dia yang dinamakan Tangan Yang, yang dipakai menggempur "Tangan Jembatan"

Dari Eng Siang. Sekarang tipu itu diulangi, dipakai terhadap Seng Lam.

"murid"

Orang.

Seng Lam sudah berpikir, ia tahu bagaimana harus melawan.

Ia tidak menanti, ia justeru mendahului.

Selagi serangan lawan belum tiba, ia menghajarnya di tengah jalan.

Untuk ini dengan berani ia mengajukan diri, merapatkan lawan.

Dada Lamkiong It mengasih dengar suara nyaring.

Dada itu tertinju kepalan si nona, yang molos secara di luar dugaan.

Pukulan juga keras.

Lamkiong It mundur beberapa tindak, tubuhnya berputar beberapa kali, baru ia dapat berdiri tetap.

Seng Lam tertawa, dia kata.

"Guruku bilang, untuk memecahkan Tangan Yang dari kau, aku harus gunakan jurus pertama dari jurus utama Kie Ciu Sie, namanya yaitu Chiaciu Sie, artinya Tangan Undangan. Nyatalah benar keterangannya guruku itu! Lamkiong Loosu, kau toh tidak terluka, bukan?"

Mukanya Lamkiong It menjadi merah, ia malu dan jengah.

Ia heran sekali.

Ia tentu tidak tahu Seng Lam yang cerdik itu secara diam-diam sudah mencampur pukulan ajarannya kitab Kiauw Pak Beng.

Selagi bertindak dengan Thianlo Pou, di dalam Hekhouw Kun itu si nona menyelipkan Siauwthian Ciang.

Kekalahan itu membikin ia mendongkol, maka ia kata nyaring.

"Bagus! Benar-benar hijau itu asalnya biru! Sukhong Tayjin, kau telah mempunyai ini enghiong muda, tak usah kau pakai pula aku si tua bangka tidak punya guna!"

Habis berkata, terus ia pergi keluar dari pintu besar.

Sukhong Hoa heran, ia mau menahan tetapi sudah tidak keburu.

Dalam herannya itu pun memikir "Pemuda ini menggunai Hekhouw Kun, mungkin dia bukan orang yang menyamar menjadi muridnya Pui Eng Siang.

Memang ilmu silat itu terjadi separuh dari bakat, separuh lagi dari kerajinan belajar.

Pula sudah umum ada murid melebihkan guru.

Laginya nama Pui Eng Siang tidak tersohor, kalau dia ini mau pakai nama orang, tidak dia pakai nama Eng Siang!"

Sekarang komandan Gieliem-kun itu masih sedikit menyangsikan Kim Sie le.

la sudah mencoba orang dengan berjabatan tangan, meski belum ada kesudahannya, ia sendiri tidak berani mencoba pula.

Tapi ia penasaran, maka setelah berpikir pula, ia menggapaikan seorang opsir Gieliemkun nama Ouwyan Hiok.

Dialah ahli silat Gwakang, bagian luar, dan ilmu silatnya yaitu Kimkong Ciang dengan apa dia dapat memukul batu pecah dan hancur.

Kata komandan ini pada seba-wahannya itu.

"Katanya kau pernah pergi ke Liu Keechung menyambangi Liu Chungcu, maka itu kau tentulah kenal muridnya Liu Chungcu ini."

Ouwyan Hiok menoleh pada Sie Ie.

"Kam Hui"

Lantas tertawa dan kata.

"Ouwyan Ciangkun, ketika dahulu hari kau bersama gurumu yang terhormat, Ekpak Jinmo Touw Kong Loo cianpwe datang kepada guruku, aku berguru belum lama, dari itu aku belum berhak hadir menemani tetamu, aku cuma menanti di lorak untuk diperintah-perintah. Aku sebaliknya mengenali ciangkun, adalah ciangkun yang belum tentu ingat atau mengenali aku!"

Wajar bicara dan sikapnya Tokciu Hongkay, tidak dapat ia mendatangkan kecurigaan orang.

Ia sudah merantau ke segala penjuru, ia telah menemui banyak orang gagah, ia ketahui baik segala partai, maka itu begitu mendengar nama Ouwyan Hiok, ia ingat orang pernah turut Touw Kong menjenguk Liu Sam Cun.

Memang Touw Kong itu, sebaya Liu Sam Cun, bersahabat baik, dengan tuan dari Liu Keechung.

Ia menduga pastilah Ouwyan Hiok belum pernah mencoba ilmu silatnya Liu Sam Cun.

Ouwyan Hiok gemar diangkat-angkat, ia girang sekali.

"Benar, aku ingat!"

Katanya.

"Itu anak muda. yang menuangi teh, bukankah itu kau adanya? Ha, satu kali berpisah, lewat sudah sepuluh tahun, sekarang kau telah jadi begini besar!"

Sie Ie mentertawakannya di dalam hati.

"Kuat sekali tenaga mengingat kau!", ia memuji pula.

"Itu hari, seperginya kau, guruku telah memuji ilmu silatmu!"

"Benarkah itu?"

Ouwyan Hiok menegaskan.

"Dulu hari itu di depan gurumu aku mempertunjuki ilmu memukul batu sampai hancur. Sayang kita dari perguruan yang berlainan, itu waktu kita tidak sampai mengadakan pertandingan..."

Agaknya dia menyesal tidak sempat menguji kekuatan kedua belah pihak.

"Guruku membilang aku bahwa Kimkong Ciang keluarga Touw ialah yang paling tangguh di kolong langit ini,"

Kim Sie Ie mengangkat pula.

"Guruku kata pula. Dalam ilmu Gwakang, yang terlie-hay ialah mereka guru dan muridnya! Sekalipun ahli Laykang, orang harus mengira-ngira..."

Ouwyan Hiok tertawa, alisnya terbangun.

"Kau terlalu memuji!"

Katanya, girang tak terkira.

"Guruku itu waktu membilang pula,"

Kata Sie le menyambungi, romannya sungguh-sungguh.

"mungkin cuma ilmu silat Bian-ciang dari kita yang dapat menimpali Kimkong Ciang itu..."

Parasnya Ouwyan Hiok berubah dengan tiba-tiba.

"Mungkin ilmu silat Bianciang gurumu itu telah diwariskan semua kepada kau, tuan?"

Dia kata.

"Tak berani aku memastikan itu,"

Menjawab Sie Ie.

"Sayang kita dari lain perguruan, jikalau tidak pastilah aku suka sekali mohon Ouwyan Ciangkun memberi beberapa petunjuk kepadaku. Guruku bilang, kelunakan dapat mengalahkan kekerasan, bahwa kalau kedua pihak sudah belajar sama-sama mahir, ahli Gwakang toh mesti mengalah sedikit dari ahli Laykang. Tentang ini aku tidak tahu kepastiannya karena aku belum pernah bertemu dengan ahli Gwakang kelas satu."

Di dalam dunia persilatan ada aturan, kalau orang kedua kaum mencoba kepandaian, itu namanya "piebu", ialah bertanding, sedang kalau sesama kaum yang mencobanya itu hanya "saling memahamkan"

Atau berlatih. Dulu hari itu di hadapan Liu Sam Cun, Ouwyan Hiok cuma mengasih pertunjukan, maka itu Sie Ie mengatakan demikian. Ouwyan Hiok agak penasaran.

"Saudara Kam,"

Katanya.

"karena kamu datang untuk bekerja sama disini, kita sudah termasuk rekan, di antara rekan tak usahlah orang kukuhi aturan Rimba Persilatan itu. Tidak ada halangannya untuk kita main-main, bukan?"

Sukhong Hoa justeru mengehendaki mereka bertanding, supaya ia dapat membuktikan kepandaiannya Kim Sie Ie, melihat orang saling merendah itu, ia mencela "Ouwyan Ciangkun benar!"

Katanya.

"Di belakang hari kamu bakal pergi bersama menghadapi musuh, walaupun kamu dari lain perguruan, tidak ada halangannya kamu saling berlatih, untuk persi-|apan menghadapi musuh, bahkan utu ada kebaikannya. Laginya, di pntara rekan saling berlatih lain halnya dengan bertanding. Dengan berlatih orang tidak menghiraukan siapa menang dan siapa kalah..."

Komandan Gieliemkun itu berkata demikian karena ia ingat peristiwa barusan di antara Lamkiong It dan Lie Seng, hingga kauwtauw itu ngambek dan mengangkat kaki.

Itulah ia ingin cegah walaupun ia tahu Ouwyan Hiok jujur dan sebagai orang sebawahannya tidak nanti dia penasaran.

"Memang, karena kita dari berlainan kaum, tak dapat kita bertanding,"

Sie Ie bilang.

"Kita dapat memakai cara lain,"

Kata Ouwyan Hiok.

"Kau berpengalaman luas, dan aku orang baru,"

Kata Sie Ie.

"maka itu, baiklah kau yang menunjuk caranya. Buat aku, aku bersiap sedia mengiringi saja."

"Bagus! Bagus!"

Kata Ouwyan Hiok. Dia sebenarnya penasaran tetapi dia dapat menenangkan diri.

"Bagaimana kalau kita main-main tiga membayar lima? Mulanya aku membiarkan diriku dipukul kau tiga kali, kemudian aku membalasnya lima kali?"

Sebagai Laykee, atau ahli Lay-kang, Ouwyan Hiok tidak takut dipukul terlebih dulu.

Ia percaya ia tidak bakal terlukakan.

Sebaliknya, kalau nanti datang giliran ia membalas lima kali, ia percaya Sie Ie bakal meminta-minta ampun.

Dengan begitu, nampak ia suka mengalah, sebenarnya, ia mau lebih menang!

"Bagus caramu ini!"

Kata Sie Ie tertawa.

"Hanya aku memikir untuk membaliknya, dan pula bukan tiga membayar lima. Aku maksudkan lima membayar tiga. Artinya kau pukul dulu aku sampai lima kali, kemudian baru aku membalas hormat kepadamu tiga tinju..."

"Hm, kau berani memandang enteng padaku?"

Kata Ouwyan Hiok di dalam hati.

"Inilah kau yang cari penyakit sendiri, jangan kau nanti sesalkan aku!"

Maka terus ia memberi jawabannya.

"Kau gagah dan bernyali besar, saudara Kam! Karena kau yang menghendaki sendiri, baiklah, aku menurut. Maafkan aku, sebab dengan begini aku seperti tidak memandang mata kepada kau."

"Tidak apa,"

Kata Sie le.

"apa yang kau mau bilang pun ada apa yang aku pikir."

La lantas menggaris bundar di tanah dan terus masuk kedalam bundaran itu, seraya ia kata pula.

"Silahkan saudara mulai!"

"Eh, apakah artinya ini?"

Tanya Ouwyan Hiok.

"Kimkong Ciang kau sangat terkenal,"

Kata Sie Ie menerangkan.

"maka itu kita pakai garis perbatasan ini. Kalau kau dapat memukul aku hingga aku keluar dari bundaran ini, itu berarti kaulah yang menang."

Bundaran itu cuma mual seorang berdiri menaruh kaki. Ouwyan Hiok heran, ia menjadi mendongkol, la merasa diperhina.

"Baik! Kepalan datang!"

Serunya.

"Kau sambutlah, dengan Bian-ciang kau!"

Hebat pukulannya jago Gwakang ini.

Segeralah terdengar suara yang keras dan nyaring.

Hanyalah yang terhajar patah atau roboh bukannya pinggang orang tetapi sebuah tiang kayu!

Ketika Sie Ie diserang, sebat sekali ia menarik sambil berkelit, tangan si penyerang lewat terus hingga menghajar pelatok peranti berlatih silat itu.

Pelatok, yang kuat sekali, patah menjadi dua potong!

Opsir itu menjadi sangat mendongkol.

Karena kegagalan itu tubuhnya sampai terjerunuk ke depan.

Maka ia mau mengulangi serangannya.

Ia berhak sampai lima kali.

la memukul ke punggung muridnya Liu Sam Cun, yang belum sempat membalik tubuh.

Sie Ie berkelit pula seperti tadi.

Ouwyan Hiok menyerang dengan dua-dua tangannya, ia penasaran sekali.

Tapi ia mengenakan sebuah tambur batu, sampai tambur itu pecah terbelah empat potong.

Benar-benar itulah pukulan sangat dahsyat!

Menyaksikan itu, Sukhong Hoa menggeleng kepala, sampai timbul niatnya menghentikan pertandingan persahabatan itu.

Akan tetapi...

Ouwyan Hiok merasakan sangat nyeri, tetapi ia heran berbareng mendongkol, ia jadi semakin penasaran, sambil berseru keras, ia mengulangi serangannya.

Tentu sekali ia mengerahkan tenaganya seluruhnya.

Kali ini ia berhasil mengenai punggung Sie le, sampai baju orang robek dan tubuhnya bergoyang perlahan.

Tapi tetap orang berdiri di dalam bundaran!

Lalu tampak yang terlebih heran.

Ouwyan Hiok menyerang tepat hanya habis menyerang itu, ia berdiri diam, tangannya dikasih turun.

Ia berdiri seperti patung.

Diam-diam Sie Ie mengerahkan tenaga dalamnya, ketika ia dihajar itu, ia menyedot, ia menghisap, maka penyerangnya itu menjadi tak dapat bergeming lagi.

"Masih ada dua pukulan lagi,"

Kata Sie le.

"Apakah saudara masih hendak meneruskannya?"

"Aku mengaku kalah,"

Sahut opsir itu.

"Kau boleh hajar mati padaku! Aku tidak memikir hidup pula..."

Ouwyan Hiok menyangka ilmu silat telah dimusnahkan orang. Ia bakal dihajar tiga kali. Apa artinya itu kalau bukannya kematian? Sie le tertawa, ia menarik tangan orang.

"Ouwyan Ciangkun, kau terlalu merendah,"

Katanya.

"Sebenarnya kita seri! Kenapa kau mengaku kalah?"

Ditarik tangannya itu, Ouwyan Hiok merasai hawa hangat tersalurkan ke dalam tubuhnya, lantas dalam sejenak ia mendapat pulang kesegarannya, la lega hati, karena itulah tanda ia belum menjadi orang bercacad.

Tapi ia kata.

"Kita harus menetapi janji kita. Aku menyerah, maka sekarang datang giliranmu untuk memukul aku tiga kali. Tak dapat aku menyangkal itu. Aku puas terbinasa di tanganmu."

"Dialah seorang yang pantas dijadikan sahabat,"

Pikir Sie Ie. Maka ia tertawa dan kata.

"Memang demikian perjanjian kita! Tapi kau baru memukul aku tiga kali, dari itu masih ada sisanya dua lagi. Kau tidak mau meneruskan memukul aku, buat apa aku membalasnya? Sebenarnya Kimkong Ciang suatu ilmu yang langka dalam Rimba Persilatan, kalau kau menghajar aku lagi dua kali itu, belum tentu aku sanggup menerimanya. Kita rekan, bukankah? Maka itu tak usah kita bertaruh pula dan kita juga jangan bicara dari hal menang dan kalah!"

Ouwyan Hiok tahu orang hendak melindungi mukanya, itulah bukti bahwa ia tak dipandang sebagai musuh.

Kalau tidak, ia tinggal dihajar saja hingga runtuh.

Ia bersyukur, tapi tetap ia heran.

Maka ia masih memikir.

"Belum pernah aku mengetahui Bianciang dari Liu Sam Cun, akan tetapi guruku bilang tidak nanti dia telah mencapai batas kemahiran, maka itu, tak nanti Liu Sam Cun dapat bertahan dari Kimkong Ciang, siapa sangka muridnya begini liehay?"

Bukan melainkan Ouwyan Hiok seorang yang kagum, hanya seluruh keluarga Gieliemkun itu tak kecuali Sukhong Hoa. Komandan ini heran hingga ia juga memikir.

"Sebenarnya aku hendak pakai Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang sebagai matamataku, benar mereka tidak datang tetapi murid mereka ini dapat menjadi pembantu-pembantu yang berharga. Inilah di luar dugaanku. Maka tak usahlah aku minta yang bukan-bukan lagi."

Begitulah Sie le dan Seng Lam diterima.

Sukhong Hoa minta mereka menjadi kauwtauw, guru silat dari pasukan Gieliemkun.

Tujuh hari lewat dengan cepat.

Magrib itu, Sie Ie dan Seng Lam menerima pemberitahuan dari Sukhong Hoa, yang menghendaki mereka turut menghadiri sebuah perjamuan.

Kemudian ternyata, yang turut serta ada belasan opsir lainnya terhitung juga Ouwyan Hiok, Pek Liang Kie serta si orang she Han.

Sejak tiba di kota raja, inilah yang pertama kali Sie le melihat tiga orang itu.

Menurut apa yang ia dengar, mereka sudah pulang sedari tiga hari yang lalu.

Tampaknya mereka kurang sehat, rupanya akibat keracunan oleh Seng Lam.

Mereka tidak mengenali Tokciu Hongkay, meski sebenarnya berulang kali mereka telah dipermainkan.

Sebab sama sekali mereka belum pernah lihat wajah Sie le.

Liang Kie dan si orang she Han merasa malu sendirinya.

Mereka gagal.

Bahkan mereka mendongkol juga.

Di tengah jalan Liang Kie kata sengit.

"Sebenarnya kita telah berhasil membekuk dua orang murid Thiansan Pay, menjemukan sekali, Seebun Bok Ya telah tidak datang menyambut kita. Tinggal lagi dua hari perjalanan ke kota raja, dua orang tangkapan ita kena ditolongi Tong Siauw Lan, ketua mereka."

"Jikalau Tong Siauw Lan yang datang sendiri,"

Kata Sukhong Hoa, menghibur.

"sekalipun aku, aku bisa mengawasi saja dia membawa lari murid-muridnya itu. Malah syukur kamu sendiri dapat lolos dengan selamat dari tangannya! Kamu sudah bekerja sungguh-sungguh, meski kamu gagal, kamu gagal sebagai orang gagah, maka nama kamu tetap aku catat dalam daftar pahala."

Mendengar itu, Sie le tertawa di dalam hati. Pikirnya.

"Pek Liang Kie menukar aku dengan Tong Siauw Lan, kedustaannya itu ada yang mau percaya, lucu juga!"

Yang benar, Sukhong Hoa juga tidak mempercayainya, cuma sebab dialah seorang yang berpengalaman, dia tidak mau membeber rahasia sebavvahannya. Si orang she Pek pun kata.

"Masih tidak apa kami gagal, hanya kami sangat penasaran, pahala jadi didapatkan oleh Seebun Bok Ya! Dan sekarang kita harus memberi selamat atas jasanya itu! Tidakkah ini memalukan?"

"Kamu berdua tak dapat tak turut hadir,"

Berkata Sukhong Hoa.

"Sri Baginda sendiri yang menitahkan Kouw Congkoan mengadakan pesta untuk memberi selamat pada rombongannya Seebun Bok Ya itu. Sebaliknya dengan adanya kamu berdua di medan pesta, pasti mereka tidak bakal berani mengagulkan diri."

Dari pembicaraan mereka itu Sie Ie mendapat tahu bahwa pesta yang bakal dihadirkan itu pestanya Kouw Hong Kauw, congkoan dari Taylwcc, istana.

Sebenarnya busu, atau wie-su, di dalam istana terbagi di dalam dua rombongan.

Yang satu ialah rombongannya Hong Kauw.

Yang lain yaitu rombongannya Sukhong Hoa.

Hong Kauw sebagai congkoan, kuasa istana, dan Sukhong Hoa sebagai tongnia, komandan pasukan Gieliemkun.

Sekarang, dengan munculnya Seebun Bok Ya, menjadi ada rombongan yang ketiga.

Mereka itu mencoba berebutan membangun jasa.

Hong Kauw tak suka memberi selamat kepada Seebun Bok Ya akan tetapi ini ada titah raja, tak dapat ia menentang.

Dari apa yang ia dengar terlebih jauh, Kim Sie le ketahui juga rombongannya Seebun Bok Ya tiba kemarin di kota raja.

la menjadi heran.

Itulah berarti mereka itu terlambat.

Pikirnya.

"Jikalau mereka pulang terus dari Binsan, mereka mesti sampai terlebih dulu daripada aku. Disini ada selisih sepuluh hari. Kemana mereka itu pergi lebih dahulu?"

Pesta itu diadakan di istana Tay-heng yang berada di dalam kota terkurung Toan Shia.

Inilah kota bagian luar dari Ciekim Shia, Kota Terlarang.

Maka itu rumah pesta itu masih terhitung dalam hubungan istana kaisar.

Di jaman kerajaan Kim, ketika di luar istana dibangun taman kerajaan Pakhay, lumpur laut dikeduk dijadikan sebuah gunung kecil.

Itulah yang dipanggil Toan Shia.

Di jaman Ahala Ceng, disitu dibangun pula istana peristirahatan itu.

Oleh karena keletakannya yang tinggi, Kaisar Kian Liong menjadikan istana itu sebagai asrama rombongan pengawalnya.

Gedungnya Kouw Congkoan berada di dalam lingkungan istana itu.

Ketika tiba di ruang pesta, Kim Sie Ie melihat sudah banyak tetamu lainnya, yang terdiri dari sekalian siewie.

Api dipasang terang-terang hingga mirip siang hari.

Seebun Bok Ya sudah datang, bersama Kouw Congkoan dia menyambut tetamu.

Tempo Seebun Bok Ya melihat Seng Lam, dia tercengang sebentar, lantas saja dia berpikir.

"Kenapa aku rasanya mengenal dia?"

Seng Lam menyamar baik sekali, tak heran Seebun Bok Ya tidak menyangka dialah anak perempuan musuh besarnya.

Sukhong Hoa duduk di meja pertama menemani Kouw Hong Kauw dan Seebun Bok Ya, oleh karena itu Sie Ie dan Seng Lam hadir bersama-sama mereka.

Lantas juga Sukhong Hoa mengangkat cawan arak untuk memberi selamat kepada Seebun Bok Ya.

Ia kata.

"Jasa Seebun Sianseng kali ini jasa yang sangat menggemparkan! Pastilah sianseng sudah berhasil menawan ketua pelbagai partai!"

Tentang pertempuran di Binsan itu, tongnia dari Gieliemkun ini telah dengar jelas penuturannya Pek Liang Kie, ternyata jangan kata ketua partai, anggauta-anggautanya yang penting saja lolos semua.

Kalau sekarang ia berkata demikian itulah karena di depan kaisar sendiri, Seebun Bok Ya pernah omong besar akan membekuk semua orang Rimba Persilatan.

Jadi itulah kata-kata yang sengaja diucapkannya.

Mukanya Seebun Bok Ya menjadi merah, tapi dia menjawab.

"Kali ini rombongan yang aku pimpin berjumlah sedikit lebih kecil, dari itu si tua-tua semua dapat menyingkirkan diri, meski demikian aku berhasil membinasakan beberapa puluh orang serta membekuk juga belasan orang yang penting."

Hong Kauw tertawa.

"Meski hasil bukan hasil sepenuhnya tetapi toh ini telah membuat itu semua orang yang menamakan dirinya orangorang gagah Rimba Persilatan menjadi gentar nyalinya. Maka juga Sri Baginda Raja telah menitahkan aku mengadakan perjamuan ini untuk menghormatinya. Katanya lain kali jikalau Seebun Sianseng sudah berhasil menawan semua orang Rimba Persilatan itu, Sri Baginda Raja bakal menghadiahkan pesta yang terlebih besar sekalian mengangkat Seebun Sianseng menjadi Koksu, Guru negara. Maka itu waktu pastilah kita bakal berpesta pula'"

Biar bagaimana, kata-katanya Hong Kauw ini bernada mengejek. Seebun Bok Ya merasakan itu, maka dia kata dalam hati kecilnya.

"Kalau sampai harinya aku berhasil dengan jasa besarku itu, itulah saatnya penggeseran dari pangkat congkoan dan tongnia kamu! Hm! Maka itu waktu, di dalam pesta besar itu, kamu tidak mempunyai kedudukan kamu lagi!"

"Seebun Sianseng,"

Sukhong Hoa pun menanya.

"siapasiapa saja yang Sianseng telah tangkap itu? Maukah kau menjelaskannya?"

"Aku justeru hendak menyerahkan semua orang tawanan itu kepada Kouw Congkoan, supaya dia melaporkannya kepada Sri Baginda Raja,"

Berkata Seebun Bok Ya menyahuti.

"Aku ingin dengar bagaimana nanti keputusan Bri Baginda Raja terhadap mereka.

"Mana orang! Bawa menghadaplah semua orang tawanan!"

Kata-kata "bawa menghadap orang tawanan"

Ada kata-kata yang biasa dikeluarkan seorang jenderal yang menang perang, untuk membawa menghadap semua orang tawanannya ke depan raja, jadi perintahnya Seebun Bok Ya ini tidak tepat.

Orang anggap dia cuma berhasil menawan belasan orang Rimba Persilatan, sedang raja pun tidak hadir bersama.

Dia sengaja berbuat demikian, guna mengaguli diri di depan Hong Kauw dan Sukhong Hoa.

Hong Kauw tertawa.

Ia berkata.

"Aku memang mewakilkan Sri Baginda mengadakan pesta ini untuk kehormatanmu, akan tetapi kau bawa menghadap orang-orang tawananmu kepadaku, tidak berani iaku menerimanya. Meski begitu, benar-benar aku ingin melihat mereka itu, maka tak apalah aku sekalian menerima mereka, supaya lain kali tak usah kita menjalankan pula upacara menerima penyerahan tawanan."

Kim Sie le juga ingin melihat orang-orang tawanan, ia lantas memasang matanya.

Empat orang dengan pakaian kuning lantas tertampak mengiringi (serombongan orang tawanan.

Mereka itu mesti didaftar she dan namanya, umur serta romannya juga.

Menurut perintah Hong Kauw, beberapa siewie yang melakukan itu.

Hong Kauw sendiri, dengan diapit di kiri dan kanan oleh Seebun Bok Ya dan Sukhong Hoa, duduk menghadapi sebuah meja yang sudah lantas disiapkan.

Ia yang harus menerima semua orang tawanan meski ia bukannya berkedudukan sebagai utusan raja.

Seebun Bok Ya menunjuk kepada suatu orang tawanan untuk mengasih tahu siapa mereka itu masing-masing.

Semua hadirin berbangkit akan menonton orang-orang tawanan itu.

Hati Sie le lega.

Kata ia dalam hatinya.

"Syukurlah mereka ini orang-orang dari kelas dua dan kelas tiga saja..."

Yang dianggap "boleh juga"

Ialah Touw Cu Siang dari Hoasan Pay, Pui Tong dari Khongtong Pay dan Hoay Cin, pendeta dari Siauwlim Pay. Kouw Hong Kauw tertawa dan kata.

"Sudah lama Seebun Sianseng tidak muncul lagi dalam kalangan Kangouw, maka itu rupanya Sianseng tidak mengenali orang-orang penting pelbagai partai! Mereka ini paling banyak murid-murid generasi kedua dalam partainya masing-masing."

Sukhong Hoa juga tertawa dan berkata.

"Inilah bukan lantaran Seebun Sianseng tidak kenal mereka hanya pemimpin pelbagai partai itu mana bisa mudah saja kena tertawan... Untuk membekuk beberapa orang yang sedikit kenamaan saja sudah bukan kepalang sulitnya! Nah upacara sudah selesai, mari kita kembali ke medan pesta, untuk minum arak kegirangan dari Seebun Sianseng!"

Parasnya Seebun Bok Ya menjadi pucat pias dan guram, tapi dia kata dengan tawar.

"Masih ada seorang tawanan lainnya yang Sukhong Tayjin pastilah mengenali dialah orang macam apa!"

Habis berkata, Seebun Bok Ya memberikan titahnya pula.

Kali ini terlihat dua orang berbaju kuning mengiring seorang tawanan, seorang wanita yang usianya sudah lanjut, melihat siapa Sie Ie terkejut.

Sukhong Hoa juga keterlepasan berseru.

"Oh, Co Kim Jie ciangbunjin dari Binsan Pay!"

"Benar saja Sukhong Tayjin mengenalinya!"

Kata Seebun Bok Ya tawar.

"Kepandaianku tak dapat dibandingkan dengan kepandaian tayjin akan tetapi guna membekuk suatu ketua partai taklah sesukar seperti apa yang tayjin katakan barusan!"

Inilah hasil dari lambatnya Seebun Bok Ya pulang ke kota raja.

Dia ingin menawan Co Kim Jie, maka dia melakukannya.

Setelah pertempuran, semua orang berkumpul di dalam kelenteng Siauwlim Sie di gunung Siong-san.

Mereka beristirahat sambil memikirkan daya untuk menghadapi lebih jauh kepada musuh andaikata musuh datang menyerbu pula.

Lewat beberapa hari, mereka tidak mendengar gerakan apa juga.

Maka ada yang menyangka Seebun Bok Ya sudah lantas pulang ke kota raja.

Co Kim Jie ingat rumah tangganya, ia kuatir mereka itu disatroni musuh, maka ia menyatakan mau pulang.

Di rumahnya itu di Tokkoan, Shoatang, masih ada anak mantunya.

Tong Sian Siangjin mencegah, ia tidak menghiraukannya, maka ia berangkat juga.

Tong Sian Siangjin menyuruh empat muridnya yang tergagah menemani nyonya ini.

Mereka itu adalah Tay Tie, Tay Pie, Hoay Jin dan Hoay Cin.

Ketika Co Kim Jie sampai di rumahnya, anak mantunya semua sudah kabur.

Mereka itu telah mendengar kabar angin buruk.

Sebaliknya, di dalam rumah itu telah menanti Seebun Bok Ya bersama rombongannya.

Dia ini liehay, dia mengatur perangkap.

Maka juga Co Kim Jie berlima seperti mengantarkan diri kedalam jala.

Mereka bertempur tapi Co Kim Jie dan Hoay Cin toh tertawan.

Setelah itu, Seebun Bok Ya lekas berangkat ke kota raja.

Dia kuatir nanti datang lain rombongannya Co Kim Jie.

Seorang berbaju kuning kata dengan nyaring dengan sikapnya yang bangga.

"Ini orang tawanan ialah Co Kim Jie, ketua dari Binsan Pay!"

Lantas riuhlah sambutan para hadirin.

"Ya, benar-benar Co Kim Jie"

"Minggir! Minggir! Aku ingin melihat ketua Binsan Pay orang macam apa!"

"Haha! Kiranya seorang nenek-nenek!"

"Di masa hidupnya Lu Su Nio, bagaimana pamornya Binsan Pay, siapa kira penggantinya ialah bisul yang bernanah!"

"Kalau Lu Su Nio masih hidup, dia tentu mati saking mendongkolnya!"

Sie le tidak memperdulikan pelbagai ejekan itu, ia hanya mengawasi Co Kim Jie, yang romannya kucai sekali, cuma keagungannya tidak sirna.

Dia sudah berumur lima puluh lebih, dia tak nampak tua, hanya sekarang, selang belum sebulan, dia kelihatan tua sekali.

Teranglah dia sangat penasaran dan masgul, batinnya tersiksa.

"Biarnya aku jemu terhadapnya, dia tetap suci dan ketuanya Cie Hoa,"

Pikir Tokciu Hongkay kemudian. Justeru itu mendadak terdengar Co Kim Jie berseru.

"Kawanan tikus, kau berani menghina aku?"

Lantas dia berontak, hendak membenturkan diri kepada tiang. Sie Ie kaget, hampir ia lompat untuk mencegah tapi Seng Lam di sisinya kata dengan perlahan.

"Wanita tua itu tidak bakalan mati! Jangan bingung!"

Kedua orang berbaju kuning itu pun tertawa terbahak dan kata.

"Kau mau mati? Tidak gampang!"

Seebun Bok Ya cerdik, habis menawan Co Kim Jie, ia racuni nyonya itu dengan obat campuran bunga asura, yang bisa melemahkan tubuh, maka itu, sekarang ini Co Kim Jie telah kehilangan tenaganya.

Dia membentur tiang cuma untuk merasai sakit yang hebat.

Kedua penjaganya pun membiarkan dia berontak membenturkan diri itu, guna membikin dia mendapat malu.

Habis itu Kim Jie dikasih bangun, buat digiring ke penjara.

Lantas semua orang kembali ke meja pesta.

Kata Sukhong Hoa.

"Co Kim Jie menjadi ketua Binsan Pay tetapi dia bukanlah persakitan utama!"

"Bagaimana?"

Tanya Seebun Bok Ya.

"Bukankah Binsan Pay itu musuh negara? Sri Baginda Raja pernah menyatakan sendiri padaku, partai lainnya tidak apa tetapi orang Binsan Pay tidak boleh dikasih ampun!"

"Saudara Seebun masih belum tahu,"

Berkata Kouw Hong Kauw.

"Benar Co Kim Jie menjadi ciangbunjin, ketua partainya, tetapi di dalam Binsan Pay, kedudukannya masih kalah dengan Ek Tiong Bouw, adik seperguruannya."

Seebun Bok Ya heran.

"Kenapa begitu?"

Katanya.

"Co Kim Jie ini dari keluarga hartawan saudagar beras di Tokkoan,"

Hong Kauw mengasih keterangan.

"Memang dia tidak tunduk terhadap Pemerintah Agung tetapi juga dia tidak menentang. Adalah adik seperguruannya itu, Ek Tiong Bouw, yang menjadi ketua Kaypang, yang memusuhkan pemerintah. Maka itu dengan menawan Co Kim Jie kau berjasa tapi jasanya masih kalah besar bila dipadu kau berhasil membekuk Ek Tiong Bouw!"

Sukhong Hoa pun berkata.

"Masih ada Tong Siauw Lan suami isteri dari Thiansan Pay! Merekalah orang-orang yang Sri Baginda Raja menghendaki sangat membekuknya! Apakah Sri Baginda tak pernah membicarakan hal mereka itu kepada kau?"

Kedua orang itu, seperti sudah berjanji, berkata-kata begitu untuk memperkecil jasanya Seebun Bok Ya. Justeru dia ini berkepala besar, maka dengan gusar dia berkata.

"Bicara itu mudah, hanya bila tiba saatnya tenaga orang mau dipakai, orang itu tak ada!"

Hebat kata-kata itu.

Teranglah hendak dibilang, dalam pertempuran di Binsan itu, Sukhong Hoa melainkan menonton sambil berpeluk dagu sedang orang-orangnya yang dikirim semua bangsa tak berguna.

Mukanya Pek Liang Kie menjadi pucat.

Parasnya Sukhong Hoa juga turut berubah menandakan mendongkolnya.

Kedua orang itu malu sekali.

Hong Kauw segera menyelak di tengah.

"Sekarang ini usaha kita masih belum berhasil sempurna, kita mesti bekerja sama dengan sepenuhnya tenaga membasmi musuh,"

Demikian katanya.

"oleh karena itu tidak dapatlah kita menuruti saja rasa hati masing-masing hingga karenanya kita menjadi berselisih paham. Mengenai pertempuran di Binsan itu kami mendengar kabar bahwa saudara Seebun telah merasa sangat pasti akan hasil kemenangannya, dari itu bala bantuan yang dikirimkan berjumlah lebih kecil daripada sebagaimana layaknya. Itu pula menyatakan maksud baik dari Sukhong Tayjin yang tidak berniat berebutan dengan saudara Seebun. Dari itu, saudara Seebun, harap kau tidak menyesalkannya."

Habis berkata itu, Hong Kauw tertawa.

Nampaknya orang she Ko itu menyapih, mengakurkan kedua belah pihak, akan tetapi sebenarnya ia berpihak kepada Sukhong Hoa.

Seebun Bok Ya juga tak dapat terus berkeras.

Ia mesti memandang ke sana kemari, sedang pula ia ingat memang di hadapan raja ia sudah omong besar.

Hong Kauw menuangkan arak kedalam cawannya kedua orang itu.

"Mari kita mengcringinya!"

Ia berkata sambil tertawa.

"Habis minum, kita boleh berbicara pula mendamaikan daya untuk membasmi musuh!"

Seebun Bok Ya dan Sukhong jHoa mengangkat cawan mereka masing-masing dan mencegluknya kering. Hong Kauw lantas berkata pula.

"Turut kabar yang didengar, sekacang semua partai musuh itu tengah berkumpul di dalam kuil Siauwlim sie di gunung Siongsan. Jikalau kita mempunyai jumlah orang yang cukup besar, dapat kita pergi ke sana untuk membasmi habis mereka. Di dalam hal ini pemerintah Agung tidak dapat mengerahkan angkatan perang. Itulah tindakan untuk menjaga agar sepak terjang pemerintah tidak terlalu menyolok mata. Maka juga, kita tetap harus bekerja secara bersembunyi. Mengenai ini, kami minta sukalah saudara Seebun yang tetap memegang pimpinan. Bagaimana kalau saudara memilih orang-orang yang diperlukan untuk saudara pergi menyerbu pula mereka itu? Saudara dapat memilih juga orang-orangnya Sukhong Tayjin serta orangorangku untuk saudara memerintahkan mereka melakukan sesuatu."

Seebun Bok Ya menjawab dengan suaranya yang tawar.

"Di pihak musuh itu, orang-orangnya yang liehay sangat besar jumlahnya, banyaknya bagaikan mega, mereka itu hebat sekali. Pada pihakku, tiga belas saudara yang aku undang itu, aku tahu baik sekali kepandaiannya, maka itu aku tahu juga mereka dapat melayani setiap musuh yang mana saja. Jikalau kita menggunai orang-orang yang kepandaiannya belum cukup, itu melainkan akan membuang jiwa mereka cumacuma!"

Kata-kata ini berarti bahwa orang-orangnya Hong Kauw dan Sukhong Hoa yang ditawarkan itu tak mempuaskan hatinya. Hong Kauw dapat menguasai dirinya, maka ia tertawa dan kata.

"Mendengar kata-kata saudara Seebun ini, teranglah saudara kurang tetap hati apabila orang-orang kami itu kamilah yang memilihnya, karena itu silahkan saudara yang memilih sendiri! Apakah saudara setuju?"

"Menurut pantas, taklah seharusnya aku bertindak melewati batas,"

Kata Seebun Bok Ya.

"akan tetapi aku telah menerima tugas dari Sri Baginda Raja, untuk itu aku mesti berlaku dengan berhati-hati sekali, maka sudah selayaknyalah apabila aku melakukan pemilihan yang tepat. Baiklah, kita memilih seperti apa yang diusulkan barusan. Sukhong Tayjin, silahkan tayjin memilih lebih dulu anggauta-anggauta Gieliemkun, lalu kita membiarkan mereka itu main-main dengan saudarasaudaraku. Siapa yang di dalam tiga puluh jurus tidak terkalahkan, dia dapat hak untuk pergi bersama ke Siauwlim Sie. Lebih dulu dilakukan pemilihan pada pihak Gieliemkun, habis itu baru datang gilirannya pihak siewie istana!"

Begitu jumawa Seebun Bok Ya, Sukhong Hoa tidak dapat menahan sabar lagi. Ia lantas kata dingin.

"Aku tidak tahu diri, aku ingin minta saudara Seebun mengajari aku beberapa jurus, untuk melihat aku berhak atau tidak turut pergi ke Siauwlim Sie!"

Seebun Bok Ya melengak.

"Ah, Sukhong Tayjin, kau bergurau denganku!"

Ia kata, cepat.

"Tayjin liehay, inilah aku ketahui baik sekali, untukmu, mana dapat kau mesti dipilih dulu! Hahaha! Apakah tayjin berniat supaya aku memperlihatkan keburukanku maka tayjin hendak mengujinya?"

Orang she Seebun ini ketahui yang kata-katanya sendiri sudah mengundang gara-gara, maka itu ia bicara demikian macam dengan niat meredakannya, supaya Sukhong Hoa tidak bergusar terlebih jauh.

Di luar dugaannya, pemimpin Gieliemkun itu berdiam saja.

Maka itulah berarti dia benar menantang.

Ia menjadi serba salah.

Hong Kauw melihat suasana buruk itu, ia memikir untuk datang sama tengah pula, akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulutnya, seorang anggauta Gieliemkun sudah bertindak menghampirkan Sukhong Hoa, untuk memberi hormat dan berkata.

"Tongnia Tayjin, buat apakah tayjin mesti turun tangan sendiri? Tidakkah itu nanti menurunkan martabat tayjin? Hambamu bodoh tetapi hambamu bersedia untuk diuji dengan cara apa saja! Hambamu ingin mencegah orang nanti mengejek bahwa di dalam Gieliemkun, kecuali tayjin sendiri, sudah tidak ada orang lainnya!"

Habis berkata itu, dia lantas berdiri tegak, mengawasi tajam kepada Seebun Bok Ya. Mendengar suara orang itu, Hong Kauw tanya.

"Benarkah kau bersedia diuji dalam cara apa saja oleh Seebun Sianseng? Sungguh kau gagah! Ya, apakah namamu? Aku rasanya belum pernah melihat! Apakah kau orang baru?"

Anggauta Gieliemkun itu ialah Kim Sie Ie. Sukhong Hoa pun sudah berpikir.

"Kabarnya Seebun Bok Ya liehay sekali, ilmu silatnya luar biasa, selagi aku sendiri bersangsi melayaninya, baiklah dia ini maju mencobanya..."

Maka ia tertawa dan kata.

"Inilah saudara Kam, kauwtauw kami yang baru. la menjadi murid kesayangan dari Liu Sam Cun, pelajarannya bagian luar dan dalam telah mencapai puatu batas kemahiran, dari itu, paudara Seebun sudikah kau memberi pengajaran kepadanya?"

"Hm!"

Seebun Bok Ya mengasih dengar ejekannya, sedang di dalam hatinya ia kata.

"Liu Sam Cun itu makhluk apa? Mana pantas muridnya bertanding dengan aku?"

Tapi Sukhong Hoa sudah memilih orangnya, biar bagaimana, ia mesti memberi muka juga, sedang romannya komandan Gieliemkun itu suram sekali. Maka ia lantas berkata nyaring.

"Bu Hui Taysu, silahkan kemari! Tolong taysu membantu aku memilih orang-orang yang harus ikut serta ke Siauwlim Sie!"

Seorang pendeta asal Tibet, yang mengenakan jubah kuning, menyahut sambil berbangkit dan maju Dialah seorang liehay dari Agama Kuning dari Tibet.

Dengan mengajukan Lhama ini, Seebun Bok Ya isudah merasa ia bersikap berlebihan.

Ia anggap Sie Ie bukanlah lawannya si Lhama.

Tapi ia toh mengajukan pendeta itu karena ia mengandung maksud lain.

Ia ingin menunjuki pengaruhnya.

Ia pikir "Sukhong Hoa mengagulkan orangnya ini, baiklah, akan aku menyontreng mukamu!"

Ia percaya betul, tak usah sampai sepuluh jurus, Bu Hui Taysu bakal dapat merobohkan si anak muda yang tak tahu "langit tinggi dan bumi tebal"

Itu. Kim Sie le menerima baik sikapnya Seebun Bok Ya itu.

"Baik!"

Katanya, gembira.

"Lebih dulu akan aku belajar kenal dengan ilmu silatnya taysu ini, sebentar baru aku mau minta petunjuk dari Seebun Sianseng sendiri!"

Suara ini mengandung maksud lain. Dengan suara itu, Bu Hui Taysu seperti tak dilihat mata. Seebun Bok Ya mengerti itu, maka dia kata dingin.

"Kau cobalah dulu, sebentar baru kau bicara pula!"

Bu Hui Taysu bertubuh besar dan tinggi, dia jauh terlebih tinggi daripada Kim Sie Ie, setelah dia maju, nyata sekali perbedaan mereka. Ia mesti tunduk untuk memandang si anak muda.

"Kau menggunai senjata apa? Kau keluarkanlah!"

Katanya. Kim Sie le tertawa.

"Ilmu silatku tidak ada keistimewaannya!"

Ia menjawab.

"Kau menggunai senjata apa, aku pun menggunakan itu!"

"Hm, orang terkebur!"

Pikir Bu Hui dalam hatinya.

"Bocah kau cari penyakitmu sendiri!"

Ia lantas melirik, terus ia kata tawar.

"Pinceng tidak biasa menggunai alal senjata, yang digunai ialah ini sepasang kepalan!"

"Bagus!"

Kata Sie Ie, cepat dan gembira.

"Kalau begitu, aku juga menggunai sepasang kepalanku untuk menemani taysu!"

Bu Hui Taysu mengutamakan ilmu silat Taychong Hiatciu In, atau pukulan "Tangan Berdarah"

Dari ilmu silat Tibet, dibanding dengan Kimkong Ciu atau "Tangan Kimkong", Tiatce Ciu atau tangan "Pasir dan Besi", dan lainnya, ilmu silat itu jauh terlebih liehay.

Begitu dia menggeraki tangannya, lantas juga tersiar bau bacin.

Kim Sie Ie berdiri tegak, dia tak berkutik sedikit juga, matanya mengawasi tangan si pendeta yang menjadi merah membara, lalu sambil tertawa ia kata.

"Ilmu Taychong Hiatciu In kau ini tidak dapat dicela, hanya sayang masih kurang sedikit untuk mencapai puncaknya kemahiran!"

Bu Hui tercengang.

"He, mengapa bocah ini mengenali ilmu silatku?"

Pikirnya.

Ia heran bukan main.

Ilmu silatnya itu ilmu yang umumnya dirahasiakan.

Jangan kata orang luar, sekalipun Lhama Kuning sendiri, ialah Lhama dari tingkat tertinggi, cuma beberapa di antaranya saja yang mengetahuinya itu.

Toh Kim Sie Ieanggauta Gieliemkun she Kam ini--yang ada orang asing, mengenalnya dengan baik.

Dari heran ia menjadi terperanjat.

"Ilmu silat tangan Taychong,"

Berkata Kim Sie Ie pula.

"apabila itu sudah dipelajari sampai dibatas yang tertinggi, maka tangan kita tak ubahnya dengan tangan orang biasa, tetapi tangan kau ini merah marong dan menyiarkan bau amis, itu menandakan belum tersampaikannya puncaknya. Paling banyak kau baru sampai di tingkat ke tujuh."

Pendeta Lhama itu menjadi terlebih kaget lagi, hingga hatinya guncang. Dengan kesangsian, ia kata.

"Benar, aku baru mencapai tingkat ke tujuh! Tapi, apakah kau berani menyambutnya walaupun sejurus?"

Kim Sie Ie tertawa pula.

"Taruh kata kau sudah mencapai puncaknya kemahiran, aku juga tidak takut!"

Menjawab ia jumawa.

"apapula baru tujuh bagian!"

Bu Hui Taysu lantas menggeraki tangannya, untuk dibikin berputar.

"Kau sambutlah!"

Ia berseru nyaring, tangannya itu segera diluncurkan.

Ia jangkung, tangannya itu dengan sendirinya dari atas turun ke bawah.

Ia menepuk ke rah batok kepala lawannya itu.

Kalau umpama kata ia mengenakkan, pastilah putus segala otot-otot kepala hingga di dalam tempo tak tiga hari, korbannya bakal putus jiwa.

Sebab darah lawan pasti telah keracunan.

Kim Sie le hendak mempertontonkan kepandaiannya ia tidak mengeluarkan tangannya untuk menangkis.

Maka terdengarlah satu suara menepuk yang keras.

Ia pun tidak berkelit, hanya ia menggeraki tubuhnya untuk membiarkan punggungnya kena tertepuk, hingga pada baju di punggungnya itu lantas terlihat tapak tangan yang besar dan merah!

Justeru itu, Kim Sie le sudah bergerak terus, tubuhnya berputar balik.

"Kau pun sambutlah satu tanganku!"

Ia berseru. Bu Hui melengak karena serangannya yang tak memberikan hasil seperti yang ia harap. Ia kaget ,dan heran. Kim Sie le berkata pula.

"Kau lekas menyambut! Dengan kepandaianmu, kau pasti tak dapat menyambut keras lawan keras tangan Taychong-ku!"

Pendeta itu menjadi terperanjat.

Ia melihat tangan lawan segera bakal sampai di dadanya.

Dengan terburu-buru ia mengeluarkan tangannya, untuk menangkis.

Dengan begitu maka terdengarlah suara beradunya kedua tangan.

Bu Hui kaget dan kesakitan.

Bentrokan itu membual telapakan tangannya pecah dan berdarah -darahnya hitam.

Itu artinya pecah juga ilmu silatnya Taychong Hiatciu In itu.

Untuk melatihnya pula, guna mencapai tingkatnya ini, ia harus menyiksa diri selama sepuluh tahun...

"Kau... kau... kau... mengapa kau pun menggunai Taychong Hiatciu ln?"

Ia tanya, suaranya terputus-putus dan parau, mukanya pucat. Kim Sie le berlaku tenang, dia tertawa.

"Bukankah aku telah mengatakannya?"

Sahutnya.

"Bukankah aku sudah bilang, kau menggunai senjata apa, aku menggunai senjata yang serupa juga? Dan kau memakai ilmu apa, aku memakai ilmu itu juga? Tapi, janganlah kau takut! Benar aku menggunai ilmu Taychong Ciang, aku hanya menggunai yang lurus dan damai, aku tidak membikin kau keracunan. Sekarang kau baik-baiklah merawat dirimu, aku jamin jiwamu tidak bakal terancam."

Memang Kim Sie Ie menggunai yang lurus.

Ia telah mempelajari ilmu silat lurus dan sesat, ia gabung itu menjadi satu.

la pula telah memahamkan ilmu silatnya Kiauw Pak Beng bagian atas.

Maka itu, ia telah memperoleh banyak, ia maju luar biasa.

Untuknya, asal ia melihat, maka dapat ia mengerti ilmu silat lain orang walaupun itu asing baginya, dan terus ia dapat menirunya.

Hanya mengenai Taychong Ciang ini, ia cuma bisa menelad sampai di satu batas, ia tak mengerti tentang racunnya.

Tapi ini sudah cukup untuk membikin ciut hati Bu Hui.

Bu Hui sendiri belum tahu halnya orang mencapai tingkat terakhir ilmunya itu.

Maka sekarang ia percaya Sie le berbuat baik, Sie le cuma memecahkan ilmunya tapi tidak meminta jiwanya.

Tanpa banyak omong lagi ia lari meninggalkan gelanggang, untuk mencari kamar yang sunyi dimana ia bisa berdiam untuk merawat lukanya itu.

Semua busu tercengang mendapatkan Bu Hui Taysu kena dirobohkan Sie le.

Ada yang terpentang matanya, ada yang terbuka mulutnya.

Coba mereka tidak menyaksikan sendiri, pasti mereka tidak akan percaya itu.

Toh Sie Ie bukan orang dengan roman luar biasa dan ia juga muridnya Liu Sam Cun, orang Rimba Persilatan kelas dua!

Sukhong Hoa juga turut berdiam bahna sangsinya.

Lain orang heran masih tidak apa, kalau dia turut bersangsi, itulah bukan main.

Ia telah mendapat keterangan jelas dari Lamkiong It hal siapa adanya Liu Sam Cun, yang cuma mengerti ilmu tangan lunak Bian-ciang, tetapi sekarang murid Liu Sam Cun ini pandai Taychong Ciang!

Di dalam herannya, hingga ia bercuriga, Sukhong Hoa kata di dalam hatinya.

"Dia sekarang lagi membelai Gieliemkun, biarlah. Nanti, habis pesta, akan aku tanyakan atau mencari keterangan jelas tentangnya..."

Seebun Bok Ya heran dan penasaran.

"Hm!"

Katanya.

"Orang she Kam ini rada sesat!-Dua saudara Nie, coba kamu tempur dia!"

Atas kata-kata itu dua orang yang duduk di meja sebelah lantas berbangkit dengan berbareng.

Dialah dua orang yang roman dan tingginya sama, mirip satu dengan lain, hingga dengan sekali melihat saja orang akan mendapat tahu merekalah saudara-saudara kembar.

Pihak Gieliemkun girang sekali atas kemenangannya Sie le itu, mereka lantas memandang Sie le sebagai "orang sendiri", maka sekarang, melihat bangunnya dua saudara kembar itu, mereka lantas pada kasak-kusuk.

Antaranya ada yang berkata.

"Sungguh hebat Seebun Bok Ya ini! Benar-benar dia memestikan sebawahan menguji kita dari Gieliemkun! Sudah dia kalah satu kali, lantas dia mau dua melawan satu! Haha! Haha! Sungguhlah suatu hal yang baru bahwa orang yang dinamakan penguji hendak bersama-sama menguji seorang yang harus diuji yang hanya ada orang dari angkatan lebih muda!"

Seorang, yang mengenal baik dua saudara Nie itu, berkata sambil tertawa.

"Saudara, kata-katamu .menunjuki kaulah orang asing! Kau tahu, aku juga menjadi orang yang menghendaki pihak kita yang memperoleh kemenangan, hanya mengenai persaudaraan kembar itu, tak dapat kau mengatakan demikian..."

"Apa?"

Kata orang itu, heran. Dua melawan satu, apakah itu bukannya yang banyak menghina yang sedikit? Adakah itu pertandingan yang pantas?"

Orang itu tertawa pula, ia kata lagi.

"Untuk lain orang, itu memang tidak pantas, tidak demikian dengan Nie Seng Poo dan Nie Seng Giok Memang biasanya mereka ini maju berbareng berdua. Ilmu kepandaian mereka ilmu kepandaian yang istimewa, ilmu kepandaian sekeluarga. Senjata mereka ialah empat batang poankoan pit, senjata yang diperantikan menotok otot-otot nadi Kiekeng patmeh. Kalau empat poankoan pit turun berbareng, biasanya orang bagaimana gagahpun tak dapat menghindarkannya. Pendek, poankoan pit mereka bersatu padu seperti bersatu padunya sepasang pedang. Melawan satu orang mereka maju berbareng, menempur sepuluh orang mereka maju berbareng juga!"

Orang ini bicara dengan suara perlahan, ia pun duduk di pojokan bersama rekan-rekannya yang tidak mengenal dua saudara kembar she Nie itu, suaranya itu tidak terdengar oleh lain-lain orang lagi, tetapi tidak demikian dengan Kim Sie Ie.

Sie le mendengarnya dengan tegas sekali.

Maka juga dengan roman mukanya yang jenaka, ia memandang dua saudara kembar itu, sembari tertawa, ia kata.

"Alat senjatamu peranti menotok otot-otot yang berjumlah empat itu membuatnya aku si orang she Kam menjadi rada sulit! Cobalah kamu tunggu sebentar, untuk aku memikir-mikirkannya bagaimana atau daya apa aku mempunyai untuk menghadapinya..."

Nie Seng Poo tidak dapat menduga artinya kata-kata orang itu, ia kata dingin.

"Apanya yang sulit! Jikalau kau tidak berdaya untuk melayani, kau mengaku kalah saja!"

Kim Sie Ie tertawa bergelak.

"Siapa bilang aku mau lantas mengaku kalah?"

Katanya, terus berjenaka.

"Aku cuma hendak berpikir! Kau lihat, aku Cuma sendiri saja, itu artinya tanganku cuma sepasang. Habis sekarang, dengan dua tangan aku mesti melayani empat buah poankoan pit!"

Dua saudara Nie itu melengak. Kim Sie le tidak memperdulikan orang heran, seperti pada dirinya sendiri, ia berkata pula.

"Ah, sudah ada! Sudah ada! Empat bocah pit itu tidak dapat menyulitkan aku! Baiklah, aku sendiri, aku akan bernyanyi untuk kamu berdua! Biarlah kamu lihat!"

Nie Seng Giok mengawasi mendelong.

"Apa?"

Katanya, menegaskan.

"Apakah kau juga hendak menggunai empat buah poankoan pit? Apakah kau juga hendak menggunai ilmu Supit Tiam Patmeh?"

"Benar! Benar!"

Sie le menjawab, cepat.

"Bukankah tadi aku telah mengatakan, kalau pihak kamu menggunai semacam senjata, aku menggunai semacam senjata juga--senjata yang sama? Begitu juga, kalau kamu menggunai semacam ilmu, aku pun menggunai semacam ilmu!"

Perkataan Sie le ini membikin tercengang semua beberapa ratus busu yang hadir disitu.

Mereka heran bukan kepalang.

Bukankah tangan Sie Ie kosong, tak ada senjatanya?

Bukankah tangannya cuma sepasang?

Bagaimana dia dapat menggunai empat potong senjata?

Bukankah keempat senjata itu mesti digunai berbareng?

Dan yang paling mengherankan.

Ilmu poankoan pit Keluarga Nie cuma diwariskan kepada anak laki-laki, tidak pada anak perempuan!

Itu artinya, kepandaian itu juga tidak diwariskan kepada lain orang.

Dari mana Sie le mempelajari itu?

Masih ada lagi.

Ilmu itu ilmu luar biasa, saking luar biasanya, cuma dua saudara kembar yang dapat menggunai itu.

Sebab dua saudara kembar biasanya mempunyai perasaan yang sama.

Kim Sie le boleh liehay tetapi dari mana ia sendiri dapat memiliki serupa perasaan itu?

Maka, bukankah kata-katanya aneh?

Siapakah dapat mempercayainya?

Seng Poo dan Seng Giok lantas saling mengawasi.

Bersama-sama, mereka pikir.

"Mungkinkah orang ini terganggu urat syarafnya..."

Sukhong Hoa juga kena dibikin menjadi bingung karenanya. Tapi ia tidak bisa berbuat lain, maka ia menyuruh seorang busu.

"Coba kau tolongi Kam Kauwtauw mendapatkan empat buah poankoan pit!"

Sie le segera menggoyangi tangannya.

"Jangan! Jangan!"

Katanya.

"Aku sudah bilang, mereka pakai senjata apa, aku pakai senjata apa! Laginya semua poankoan pit ini tak tepat dipakai!"

Sie Ie benar.

Poankoan pit Keluarga Nie ialah poankoan pit yang terbuat secara istimewa, Poankoan pit yang umum berukuran dua kaki enam dim dan berujung satu, akan tetapi milik persaudaraan ini tiga kaki enam dim serta ujungnya bercagak dua, maka juga sebuah pit menjadi seperti dua bocah, atau empat bocah menjadi delapan.

Itulah sebabnya pit ini dapat sekali menotok delapan otot atau jalan darah, ialah kiekeng patmeh.

Sehubungan dengan poankoan pit, ada pepatah.

"Satu dim pendek, satu dim bahaya -Satu dim panjang, satu dim kuat."

Artinya itu ialah semakin pendek semakin berbahaya, tapi untuk Keluarga Nie, semakin panjang semakin liehay.

Semua itu disebabkan beda ilmunya.

Kongsun Tek, seorang ahli totok, mempunyai poankoan pit satu kaki delapan dim.

Itulah pit paling pendek.

Maka juga pit Keluarga Nie ini pit terpanjang.

Sudah begitu, ujungnya bercagak pula.

Maka taklah heran, di dalam istana tidak ada poankoan pit lainnya semacam itu.

Nie Seng Poo kata dingin.

"Kam Kauwtauw, kami tidak mempunyai kelebihan poankoan pit, tak dapat kami meminjamkannya kepada kamu..."

Sie le tertawa, la seperti tak merasa terejek.

Ia kata sabar.

'Tak usahlah kamu mencapaikan hati memikirkan senjata untuk aku!

Apa yang aku telah bilang, mesti aku sanggup lakukan!

Mana kamu ketahui bahwa aku tidak mempunyai poankoan pit seperti kepunyaan kamu itu?"

Seng Giok menjadi mendongkol.

"Baiklah!"

Bentaknya.

"Sekarang tak usah kita ngobrol pula! Kau keluarkanlah poankoan pit-mu itu! Jikalau sekarang kau dapat mengeluarkan serupa poankoan pit seperti milikku ini, kami dua saudara, sekarang juga kami mengaku kalah!"

Sie le tertawa.

"Kita belum bertempur, kamu lantas menyerah kalah, itulah tidak menggembirakan!"

Katanya.

"Baiklah, karena kau berkata begini, aku juga tidak mau segera mengeluarkan poankoan pit-ku! Mari kita mulai, kamu boleh menyerang aku sampai sepuluh kali, habis itu baru aku turun tangan! Aku pun akan menyerang kau dengan ilmu Supit Tiam Patmeh itu! Jikalau aku menggunai lain macam ilmu silat, hitunglah aku yang kalah!"

Mendengar suaranya Sie le itu, Ouwyan Hiok menjadi berduka dan berkuatir.

Habis dikalahkan Sie le, bukan dia bersakit hati, dia justeru mengagumi lawannya ini.

Inilah sebab dia jujur dan pikirannya sadar.

Sejak itu dia pandang Sie le sebagai sahabat karib.

Maka itu, dia lantas berkata.

"Saudara Kam, ini bukannya main-main! Apakah kau mau menggunai ilmu sulap untuk menciptakan empat buah poankoan pit?"

Kim Sie Ie tertawa.

"Saudara Ouwyan, kau benar!"

Sahutnya.

"Aku memang asal orang Kangouw si tukang sulap! Kau tunggu saja, kau nanti saksikan sesuatu yang bagus dipandang -Eh, mengapa kamu berdua saudara diam saja? Kenapa kamu tidak mau lantas mulai menyerang? Kamu hendak tunggu sampai kapan lagi?"

Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada dua saudara Nie itu.

Seng Poo dan Seng Giok merasa diri mereka dipermainkan, mereka menjadi gusar.

Seperti sudah dibilang, mereka seperti mempunyai serupa perasaan.

Maka juga, di dalam hati mereka, mereka kata.

"Aku mau lihat cara bagaimana kau melawan kami!"

Lalu dengan berbareng mereka menyerang, empat potong poankoan pit meluncur mengeluarkan suara angin yang keras.

"Benar-benar liehay!"

Terdengar suaranya Kim Sie le.

Orang kaget dan heran.

Hebat akibatnya serangan itu.

Benar Sie Ie telah berkelit, hingga mereka bertiga berpisah, tetapi telah robek baju di punggungnya!

Kedua saudara Nie pun heran.

Sie Ie menjadi orang pertama yang dapat meloloskan diri dari poankoan pit mereka.

Mereka lantas saling mengawasi, lantas mereka maju pula, untuk mengulangi serangan mereka.

Dari heran, mereka menjadi penasaran.

Pula luar biasa serangan mereka kali ini.

Nie Seng Poo menyerang dari atas, karena itu ia maju sambil berlompat.

Dua potong poankoan pit, dengan empat cagak, lantas mencari ke empat jalan darah jim, tok, ciong dan tay.

Seng Giok sebaliknya menjatuhkan diri, untuk maju sambil bergulingan, guna menyerang dari bawah.

Dia ini mencari empat jalan darah lainnya, yaitu imwie dan yangwie dan im-kiauw dan yangkiauw.

"Hebat!"

Kim Sie Ie berseru melihat ia diserang dari atas dan bawah itu.

Dengan lantas terlihat tubuhnya mencelat mundur, seperti jemparing terlepas dari busurnya.

Luar biasa caranya Sie Ie menolong diri, luar biasa juga akibat serangannya dua saudara kembar itu.

Senjata mereka mengasih dengar suara yang nyaring.

Sebab, gagal mengenai sasarannya kedua senjata, atau delapan cagak, bentrok satu dengan lain!

"Luar biasa!"

Ouwyan Hiok berseru.

Mulanya dia kaget, lalu menghela napas lega, akhirnya dia memuji.

Masih ada yang terlebih aneh dan hebat sekali.

Gagal serangannya itu, bukannya dua saudara Nie bergerak lebih jauh, adalah poankoan pit mereka yang terlepas dari tangan mereka masing-masing.

Keempat poankoan pit itu melesat menyerang kepada Sie le, justeru Sie Ie baru menaruh kakinya, hingga dia belum dapat berdiri tegak.

'Sungguh berbahaya!"

Sie le berseru.

Matanya Seng Lam sangat awas, maka ia sudah lantas melihat di punggungnya kawannya terdapat dua aliran darah.

Sebegitu jauh ia tabah dan tenang, tetapi melihat itu, ia kaget juga.

Hanya ia tidak berkuatir sebab walaupun sudah terluka, Sie le tak tampaknya terancam bahaya.

Maka ia kata dalam hatinya.

"Alangkah baiknya apabila ia memakai lapis kemalaku..."

Sambil berseru itu, Sie le telah memutar tubuhnya, telunjuknya membarengi menyentil dua bocah poankoan pit yang di belakang, dan sambil menyentil itu, ia kata nyaring.

"Ambil pulang poankoan pit-mu ini! Masih ada tujuh jurus lagi!"

Penyerangannya dua saudara Nie itu penyerangan tipu silat "Huikoan Kengsin"

Atau "Menerbangkan pit menakuti malaikat".

Biasanya siapa terkena serangan itu, jiwanya pasti melayang.

Maka itu aneh Kim Sie Ie cuma terluka enteng dan jiwanya tak terganggu sama sekali.

Bahkan lebih heran pula, dua batang poankoan pit itu kena disentil balik!

Seng Poo sudah lantas berlompat, guna menyambar senjatanya yang lagi mau jatuh turun, sedang Seng Giok memasang kuda-kudanya seraya mengangkat kedua tangannya, guna menyambuti poankoan pit-nya yang disentil kembali itu.

Dengan begitu ia menyambut senjatanya dengan tubuh kokoh tegar.

Walaupun ia sudah bersedia dengan cepat, tidak urung kesudahannya membuat ia kaget dan kesakitan.

Tenaga balik poankoan pit sedemikian keras, sampai telapakan tangannya tergetar dan pecah!

Para hadirin, yang menyaksikan pertempuran itu, heran bukan main.

Sukhong Hoa dan Kouw Hong Kauw, begitupun Seebun Bok Ya, tidak menjadi kecuali.

Mereka ini sampai menahan napas di luar keinginan mereka.

Di samping heran, tak mengerti, mereka kagum dibuatnya.

Dalam melayani tiga jurus penyerangan dua saudara Nie itu, Kim Sie Ie telah menggunai empat macam tipu silat yang luar biasa.

Mengenai dua jurus yang pertama, ia mengambil sikap menyelidiki tenaga penyerangannya lawan, untuk mengetahui lunak dan kerasnya, sekalian "mencuri"

Cara menyerangnya.

Ia berkelit dengan tindakan Thianlo Pou, dan ia menutup diri dengan Kimciong Tiauw atau bubu "Lonceng Emas".

Di luar dugaannya, dengan Thianlo Pou ia tidak dapat meloloskan diri dari serangan "Huikoan Kengsin", sedang dengan "Kimciong Tiauw", ia tidak dapat bebas dari ujung poankoan pit yang tajam hingga ia kena tergores juga kulitnya, hingga ia terpaksa menggunai "Jiakhiat Hoat", tipu silat ajarannya Tokliong Cuncia, menutup jalan darahnya agar ia tak terluka parah.

Lalu paling belakang ia terpaksa menggunai sentilannya yang liehay.

"Cielan Sinthong", atau "Sentilan Jeriji", guna mengusir pulang senjata lawan. Dari empat macam tipu silat itu, Hong Kouw cuma kenal yang tiga, dan Sukhong Hoa dan Seebun Bok Ya melainkan yang dua. Cuma Seng Lam seorang yang mengenali empatempatnya. Seng Lam kata pula di dalam hatinya.

"Empat macam tipu silat itu memang liehay tetapi dengan menggunai itu Sie le terlalu memandang enteng kepada lawannya. Ilmu totok dua saudara Nie ini sungguh liehay!"

Kalau Seng Lam sendiri berkuatir, dapatlah dimengerti kekuatiran-nya semua hadirin lainnya.

Begitulah Ouwyan Hiok dari luar gelanggang sampai mengasih dengar suaranya-"Saudara Kam, mengapakah kau suka mengalah sampai sepuluh jurus?

Menurut aturan kaum Rimba Persilatan, biarnya di antara si tua dan si muda, untuk bertanding, paling banyak orang mengalah hanya tiga jurus!"

Mendengar itu Kim Sie Ie tertawa dan menjawab.

"Saudara tidak tahu, sudah dua hari aku tidak mandi, aku merasa tubuhku gatal, maka beberapa cagak poankoan pit ini, dengan menusuk tubuhku, seperti menggaruk-garuk aku, hingga aku jadi merasa sangat nyaman! --Mari! Mari! Mari! Masih ada tujuh jurus lagi! Lekas kamu turun tangan! Aku sudah tak kerasan menanti terlalu lama!"

Mukanya dua saudara Nie menjadi guram.

Mereka mendongkol dan malu.

Benar mereka berhasil melukai tetapi luka-luka itu tidak ada artinya.

Cuma baju robek dan kulit tergores sedikit.

Sebaliknya, salah satu dari mereka, telapakan tangannya pecah tidak keruan!

Turut aturan pertandingan yang benar, seharusnya mereka lantas menyerah kalah.

Sebenarnya Seng Poo dan Seng Giok telah memikir untuk mengaku kalah, apamau hati mereka kena dibikin panas oleh caranya Ouwyan Hiok dan Sie Ie berbicara itu.

Juga mereka masih terpengaruhkan kenyataan.

Kalau mereka menyerah, habis sudah nama besarnya ilmu silat poankoan pit Keluarga Nie yang demikian istimewa dan kesohor.

Mereka memangnya besar kepala, tak senang mereka diejek Sie Ie.

Di samping itu mereka juga penasaran untuk kata-kata jumawa dari Sie Ie, dan ingin menyaksikan dibuktikannya kata-kata jumawa itu.

Ialah Sie Ie hendak menggunai senjata yang serupa serta akan membalas menotok mereka dengan senjatanya itu sambil menggunai ilmu totok mereka sendiri!

Dapatkah Sie le membuktikan itu?

Bukankah itu hanya omong khayal?

Karena ini, dengan menahan malu, mereka bertahan.

Seperti biasanya dua saudara ini, pikiran mereka berdua pun serupa.

Begitulah dengan berbareng mereka membentak.

"Orang she Kam! Kau tidak memandang mata pada empat buah poankoan pit kami, sekarang kami akan menolongi pula menggaruk gatalmu!"

Berbareng dengan bentakan itu, empat buah poankoan pit benar-benar meluncur bersama!

Di mulut Kim Sie le mengasih dengar suaranya yang memandang enteng, di hati ia waspada.

Ia menginsyafi liehaynya dua saudara itu.

Tiga jurus yang telah lewat itu membikin ia dapat meraba-raba kepandaian orang terlebih jauh.

Atas datangnya serangan itu, ia bertindak pula dengan Thianlo Pou, ambil berkelit, ia bersiul panjang.

Dari garis "lie", ia berpindah ke garis "kam".

Dengan begitu tepat ia molos di sela ke empat batang poankoan pit, di antara delapan cagak!

Kecuali Le Seng Lam bersama Kouw Hong Kauw, Sukhong Hoa dan lainnya, yang liehay, tidak ada yang mendapat lihat tubuh Sie Ie melejit bagaikan bayangan.

Begitu serangan itu gagal, maka Seng Poo berdua lantas mengulanginya yang ke lima kali.

Kali ini mereka menggunai tipu "Thianlo teebong", ialah "Jaring langit dan jala bumi".

Mereka pun menempatkan diri dalam garis Kiukiong Patkwa, majunya saling susul, hingga Sie le menjadi terkurung senjata mereka, karena jalan mundurnya seperti ditutup.

Sie le berkelit dengan tindakan Thianlo Pou dicampur dengan Jiakhiat Pou, masih ia tidak dapat meloloskan diri, maka dengan menerbitkan suara, ke empat poankoan pit mengenakan sasarannya, ialah tubuhnya.

Semua orang pihak Gieliem-kun menjadi kaget.

Bukankah wakil mereka telah kena dihajar?

Tapi kagetnya dua saudara Nie juga tak berkurang.

Senjata mereka telah mengenai sasarannya, hanya ketika pit dan darah daging beradu, mereka merasa pit mereka seperti membentur sesuatu yang berlemak dan licin, hingga serangan mereka menjadi hilang keseimbangannya.

Bukannya lawan yang roboh atau terhuyung kena terhajar, mereka sendiri berdua yang terjerunuk hampir meraba tanah!

Sie Ie sebaliknya lantas tertawa riang, tubuhnya berkelit, mengasih lewat jurus yang ke enam kali tadi, Sie Ie menolong diri dengan kelitan "Ciam-ie Sippat Tiat", suatu ilmu tenaga dalam yang mahir.

Di dalam keadaannya sekarang, tenaga dalam Sie Ie memang telah melebihi liehaynya Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie di jaman yang telah lampau.

Bahwa kedua saudara Nie tak jatuh, itu pun menandakan mereka benar-benar telah menjadi orang-orang kosen kelas satu.

Menyusul pertandingan itu, Sie Ie membebaskan diri pula dari jurus yang ke tujuh dengan tipu silat "Liu-in huisiu", atau "Tangan baju terbang seperti mega melayang".

Lalu kembali dengan sentilan Cietan Sinthong, ia memecahkan jurus yang ke delapan.

Sampai disitu mendadak dua saudara Nie mengganti kedudukan mereka.

Mereka saling bertukaran tempat.

Kalau Seng Poo menotok ke timur dan selatan, maka Seng Giok menotok ke barat dan utara.

Atau mereka saling menukarnya pula dengan mendadak.

Inilah tipu "Ciekwie engsin"

Atau "Hantu menangis, malaikat terkejut".

Untuk ini, Seng Poo telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, untuk membikin pitnya jadi hebat dan gesit luar biasa.

Kim Sie Ie menggunai Ciam-ie Sippat Tiat ditambah dengan Kimciong Tiauw, ia masih tidak sanggup membebaskan diri.

Ujung poankoan pit Seng Poo mengenai jalan darah tiongleng pada nadi imwie, sedang Seng Giok merobek sejuir bajunya!

"Hm!"

Dia berseru, tawar.

"Masih ada satu jurus lagi! Habis ini kamu akan melihat giliranku!"

Dua saudara Nie heran dan kagum, hati mereka jadi dingin.

Mereka jeri sendirinya.

Jurus yang ke sembilan itu jurus yang paling liehay.

Toh orang masih bebas, meski lawan tertotok pada tiongleng hiat dan robek bajunya, lawan toh tidak kurang suatu apa, dia masih segar bugar seperti sediakala.

Maka itu untuk penghabisan kali, mereka menggunai tipu silat "Poankoan pit malang melintang".

Dengan begitu sudah diri sendiri dijaga rapat, lawan pun ditutup jalan mundurnya agar dia tak dapat lolos lagi.

Itu pula serangan nekad, untuk bersedia bercelaka bersama!

Para hadirin mengulur leher mereka, melihat dengan tegas.

Mata mereka semua dipentang lebar-lebar.

Mereka ingin sekali menyaksikan Kim Sie Ie mencipta-kan yang tidak-tidak -dari tidak ada, menjadikan ada".

Bukankah tadi dia mengatakan mau main sulap mendatangkan dua pasang poankoan pit yang mirip seperti kepunyaan dua saudara Nie itu, dan akan menggunai juga ilmu silatnya itu dua saudara kembar?

Dengan sekonyong-konyong Kim Sie Ie berseru nyaring.

Itulah seruan "Saycu Hauwkang"

Atau "Deruman Singa". Dengan seruan itu ia pun mengasih dengar perkataannya.

"Aku hendak membiarkan kamu membuka lebar mata kamu!"

Seng Poo dan Seng Giok terkejut.

Mereka seperti mendengar guntur.

Deruman itu memekakkan telinga, membikin hati gentar dan ciut.

Berbareng dengan itu, angin dingin menyambar muka mereka dan mengenai mata, hingga mereka merasa nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum.

Mau atau tidak, mereka mesti menutup mata mereka.

Dengan begitu, sendirinya kacaulah ilmu silat mereka.

Tepat itu waktu, Kim Sie Ie mengulur tangannya, merampas empat buah poankoan pit lawannya itu, sedang mulutnya mengeluarkan bentakan pula.

"Buka mata kamu! Lihatlah!"

Orang semua heran dan kagum.

Sie Ie memegang poankoan pit bukan dengan kedua tangannya saja, juga dengan lekukan sikutnya.

Karena yang sepasang dicekal dengan kedua tangan, yang sepasang lagi harus dijepit!

Selagi dua saudara Nie belum sempat membuka mata mereka, sembari membentak itu, Kim Sie Ie sudah bergerak terlebih jauh.

Ia menggeraki tubuh berjumpalitan, keempat potong poankoan pit meluncur dari tangan dan lengannya.

Lantas Seng Poo dan Seng Giok menjerit menyayatkan hati.

Itulah sebab jalan darah mereka yang dinamakan kiekeng patmeh, delapan-delapannya telah tertotok poankoan pit mereka sendiri!

Inilah sebab utama kenapa Kim Sie le suka mengalah sampai sepuluh jurus.

Selama itu ingin ia menggunai ketika menyaksikan kepandaian orang, guna ia mengingat-ingat dan memahamkannya, untuk habis itu meneladnya dan memakai senjata orang berbalik menyerang orang itu sendiri.

Dengan mengorbankan bajunya robek dan punggungnya tergores, ia memperoleh hasilnya itu yang sangat memuaskan.

Dengan "Cie-kwie Kengsin", ia menghajar lawan itu.

Ia bukannya berlaku kejam, la hanya melakukannya sebab ia membenci kekejaman dua saudara kembar itu yang pun menjadi tangan kanan Seebun Bok Ya.

Merekalah orang-orang tangguh tanpa lawan, kecuali beberapa ketua partai.

Maka untuk merobohkan Seebun Bok Ya, lebih dulu kaki tangannya mesti disingkirkan.

Sengaja dengan Deruman Singa itu ia membuat telinga orang pekak dan hatinya gentar, hingga leluasalah ia merampas poankoan pit dan pakai itu menamatkan pertandingan mereka.

Itu sebenarnya bukan pertandingan hanya pertarungan.

"Orang she Kam, kau kejam!..."

Kata dua saudara Nie itu, yang terus saja dipepayang pergi oleh dua rekannya yang bersahabat karib dengan mereka.

Dua orang itu juga memandang bengis kepada Sie Ie akan tetapi mereka tidak berani membuka mulutnya.

Kim Sie Ie mengawasi orang sambil tertawa terbahak, habis itu ia melemparkan keempat potong poankoan pit, terus ia kembali ke mejanya.

Kepada Sukhong Hoa ia memberi laporannya dengan berkata.

"Mereka itu berdua menjadi pembesar tukang uji, maka aku si murid yang diuji tidak berani menerima ujian dengan sungguh-sungguh hati. Aku pun telah menggunai senjata serta tipu silat yang dimiliki mereka sendiri. Maka sayang sekali, mereka yang pandai ilmu silatnya itu, mereka tidak sanggup menangkisnya! Aku menyesal sudah kesalahan tangan melukai mereka, dari itu aku mohon sudilah aku diberi maaf!"

Sukhong Hoa tidak lantas menjawab, ia hanya menoleh kepada Seebun Bok Ya.

Orang she Seebun itu berdiam.

Ia sedang menungkuli hatinya sendiri, menyesal dan mendongkol.

Ia menguji Gieliemkun untuk membikin orang malu, siapa sangka ia gagal dan berbalik menjadi malu sendiri, bahkan rugi besar karena robohnya tiga pahlawannya.

Ia tidak bisa berbuat apa-apa sebab ujian itu dikehendaki ia sendiri.

Melihat orang berdiam itu, barulah Sukong Hoa berkata.

"Di dalam ujian orang gagal, dia terlukakan tanpa disengaja, dalam hal itu dia mesti sesalkan nasib sendiri yang malang, maka kau tak dapat dipersalahkan."

Bahkan sep ini bertindak lebih dari kata-katanya itu saja.

Sebaliknya daripada menegur, ia membuka baju luarnya, buat dipakai mengkerebongi tubuh kauwtauw itu yang bajunya robek dan kulitnya tergurat ujung dari poankoan pit.

Kouw Hong Kauw heran.

Ia telah melihat di dalam sepuluh jurus itu, Kim Sie Ie sudah menggunai tujuh atau delapan rupa tipu silat.

Mau atau tidak, ia menjadi curiga, hingga tak dapat ia menahan hati.

"Apakah benar gurunya saudara Kam ini Chungcu Liu Sam Cun?"

Demikian ia tanya.

"Tadi aku mendengarnya kurang terang..."

"Tidak salah,"

Sahut Sukhong Hoa.

"Saudara Kam ini murid kesayangan dari Cianpwce Liu Sam Cun. Liu Loo cianpwe menulis surat sendiri padaku memujikan muridnya, maka hari ini terbuktilah bahwa hijau itu asalnya dari biru!"

Meski demikian, selagi mengucap begitu, komandan ini mengedepi mata pada Hong Kauw.

Sudah buat banyak tahun Hong Kauw bekerja sama Sukhong Hoa, ia dapat menebak kedipan mata rekannya ini Itulah tanda bahwa Sukhong Hoa sendiri bercuriga atau menyangsikan orang she Kam itu.

Hanya karena tenaga Sie Ie dibutuhkan, guna memberi hajaran kepada Seebun Bok Ya, komandan Gieliemkun itu tidak mau lantas bertindak.

Kedipan mata pada Hong Kauw itu berarti meminta Hong Kauw suka bersabar dan memaklumi.

Hong Kauw berpikir.

"Seebun Bok Ya memang menyebalkan, akan tetapi aku menjadi congkoan dari istana, jikalau aku membiarkan seorang yang tak ketahuan asalusulnya masuk ke dalam istana, atau orang itu mengandung maksud berbahaya, bagaimana aku harus bertanggung jawab?"

Karena berpikir begini, ia lantas kata pada Kim Sie Ie langsung.

"Menurut apa yang aku dengar, gurumu paling paham ilmu tangan Bianciang, tetapi kepandaian kau ini banyak sekali ragamnya, mungkinkah kecuali Liu Loo cianpwe, kau pun telah berguru kepada lain guru yang berkenamaan?"

Kim Sie Ie tertawa.

"Ilmu silat itu seharusnya mengerti satu lalu menggabung seratus,"

Ia menyahut.

"Orang luar cuma ketahui guruku sebagai ahli ilmu silat Bianciang, sedang sebenarnya dia pernah memahamkan ilmu silat mahir lainnya."

La berdiam sejenak, lantas ia memandang Seebun Bok Ya, sembari tertawa ia tanya.

"Tuan Seebun apakah kau masih hendak menguji lebih jauh?"

Hati Seebun Bok Ya panas bukan main.

Dia sangat membenci Sie le.

Toh dia jeri, sedang untuk menggunai racun, dia bersangsi.

Kalau dia menggunainya, pasti pihak Gieliemkun tidak puas.

Maka itu terpaksa dia tertawa.

"Kam Kauwtauw sudah menang dua kali, dia berhak untuk turut pergi ke Siauwlim Sie,"

Katanya.

"Sekarang kita tinggal memilih yang lainnya lagi."

Ketika itu Kouw Hong Kauw, yang bercuriga, berpikir.

"Aku belum pernah bertemu dengan Sam Cun, tetapi tentang kepandaiannya, itu tak dapat dipakai mengabui orang yang mengetahuinya dengan baik. Kalau benar katanya orang she Kam ini, bukankah dia jago tanpa lawan? Kenapa pada sepuluh tahun yang lalu, Lamkiong It pernah mencobanya, ia tak dapat mengalahkan aku... Sukhong Hoa pun masih menang daripadanya! Kenapa muridnya begini liehay? Nampaknya orang she Kam ini ngaco belo saja..."

Sukhong Hoa juga lagi memikirkan siapa lagi yang dapat dimajukan. Bukankah habis Kim Sie le, Seebun Bok Ya hendak menguji terlebih jauh? Justeru itu, Kouw Hong Kauw memandangnya dan menanya.

"Bukanlah di dalam Gieliemkun ada Kauwtauw Lamkiong It? Apakah dia turut datang kemari?"

"la sudah meletaki jabatan,"

Sahut Sukhong Hoa.

"Sudah meletaki jabatan?"

Tanya Hong Kauw heran.

"Kapankah dia berhentinya? Rasanya belum lama aku telah bertemu dengannya..."

"Benar. Dia meletaki jabatan belum ada sepuluh hari."

Hong Kauw jadi semakin heran. Ia mencurigai mundurnya Lamkiong It.

"Mesti ada apa-apa di dalam keberhentiannya itu..."

Pikirnya. Tepat itu waktu mendadak orang mendengar suara yang keras dan dalam.

"Bekas Kauwtauw Lamkiong It dari Gieliemkun mohon bertemu dengan Sukhong Tayjin!"

Semua orang heran mendengar itu, bahkan Sukhong Hoa melengak.

"Apa? Dia telah balik kembali?"

Tanya pemimpin Gieliemkun ini heran bukan main. Kouw Hong Kauw tertawa.

"Ha! Baru kita menyebut nama Co Coh, Co Coh telah datang!"

Katanya.

"Silahkan! Silahkan! Lekas undang Lamkiong Kauwtauw masuk!"

Maka itu, hanya sebentar, Lamkiong It sudah tertampak lagi mendatangi, mukanya merah tanda ia mendongkol atau bergusar sangat, tindakannya pun lebar dan keras.

Sukhong Hoa berbangkit.

Ia mengawasi mendelong "Lamkiong Loosu!"

Ia tanya.

"ada urusan apakah?"

Lamkiong It tidak segera menjawab. Lebih dulu dia melirik bengis pada Kim Sie Ie, terus dia menuding Le Seng Lam, baru dia berkata.

"Tayjin! Apakah tayjin ketahui asal-usulnya dua orang ini?"

Dalam herannya, Sukhong Hoa tidak dapat lantas memberi penya-hutan.

"Inilah justeru yang ingin kita ketahui!"

Berkata Hong Kauw.

"Kami justeru ingin menanya kepada kauwtauw! Pasti kauwtauw mengetahuinya!"

Lamkiong It menjawab dingin.

"Untuk ketahui itu, cuma mereka sendiri yang tahu betul! Apa yang aku tahu ialah. Mereka bukannya murid-muridnya Liu Sam Cun dan Pui Eng Siang! Mereka orang-orang palsu!"

Kata-kata itu menggemparkan semua hadirin.

Parasnya Seng Lam pun turut berubah, hingga ia meraba gagang pedangnya.

Semua mata diarahkan kepada ini dua orang.

Sie Ie sebaliknya tabah seperti biasa, bahkan bersenyum.

"Tuan Lamkiong, kau telah menyelidiki hal kami, kau tentunya bersusah payah!"

Katanya, tawar. Perkataan ini secara tidak langsung ditujukan kepada Seng Lam, supaya kawan itu bersabar. Sukhong Hoa mulai sadar.

"Bagaimana kau ketahui itu?"

Ia lanya Lamkiong It.

"Aku telah pergi ke Liu Kee-Ijhung,"

Sahut bekas kauwtauw itu, gagah.

"Disana aku telah menanyakan jelas Liu Sam Cun tidak mempunyai murid she Kam. Setelah itu aku mendapat tahu juga, di In Keechung telah terjadi peristiwa aneh yang menggemparkan Rimba Persilatan!..."

"Oh! Peristiwa apakah itu?"

Sukhong Hoa tanya pula.

"Pada sepuluh hari yang lalu, Liu Sam Cun bersama Pui Eng Siang telah pergi ke In Keechung,"

Lamkiong It menjelaskan.

"Mereka pun bermalam. Justeru malam itu In Tiong Hian bersama kedua tetamunya itu telah terbunuh orang secara gelap. Dua korban lainnya yaitu pengurus rumah In Keechung serta murid kepala In Tiong Hian."

Keterangan ini kembali menggemparkan para hadirin, hingga berisik suara mereka itu.

"Begitu?"

Tanya Sukhong Hoa, kaget.

"Pantaslah surat undanganku tak ada kabar beritanya dan sampai hari ini ln Tiong Hian si tua bangka masih tidak muncul!..."

Nyatalah Lamkiong It penasaran sekali dikalahkan Le Seng Lam.

Ia malu dan heran dan curiga.

Maka itu ia berangkat ke Liu Keechung, untuk mencari keterangan.

Begitu ia ketahui duduknya hal, dengan tak kalah cepatnya ia kembali ke kota raja, tepat di saat pesta pemberian selamat untuk Seebun Bok Ya.

Ia bekas kauwtauw Gieliemkun, semua siewie mengenalnya, maka itu tanpa pemberitahuan lagi, ia diperkenankan masuk terus ke ruang pesta.

Mendengar keterangan Lamkiong It, Hong Kauw mengasih lihat roman keren.

"Apakah peristiwa itu dilakukan kamu?"

Ia tanja Sie Ie berdua.

"Sebenarnya siapakah kamu? Kenapa kamu menyamar datang kemari?"

Walaupun suasana buruk untuknya, Sie Ie tetap bersikap tenang.

"Benar,"

Ia menyahut, dengan gagah.

"Benar ketiga orang itu dibunuh olehku!"

Orang semua heran, semua mengawasi melengak. Seebun Bok Ya gusar.

"Jadinya kamulah mata-mata!"

Dia membentak. Ia pun bergerak, hendak menangkap orang. Tapi Hong Kauw mencegah.

"Mereka tidak bakal lolos'"

Katanya.

"Tahan dulu! Aku mau tanya jelas keterangan mereka! --Bilang, kenapa kamu membinasakan mereka bertiga?"

"Bukankah barusan tayjin telah menanyakan kami?"

Sahut Sie Ie.

"Kami datang kemari tak dengan lain maksud daripada niat bekerja untuk tayjin! Karena itu kami membunuh mereka!"

"Jelaskan lebih jauh!"

Hong Kauw menitah pula.

"Aku sudah omong begini jelas, benarkah tayjin masih belum mengerti?"

Kata Sie Ie berani.

"Jikalau aku tidak menyamar dan memalsukan diri, mana Sukhong Tayjin sudi terima aku? Kami merasa mempunyai kepandaian, maka itu kami berniat bekerja untuk Sri Baginda Raja, untuk kami memperoleh pangkat dan nama. Sayang kami tidak mempunyai jalannya, dari itu terpaksa kami mengambil ini jalan rendah."

"Begitu?"

Kata Sukhong Hoa.

"Sayang caramu sedikit terlalu telengas!"

Walaupun ia mengatakan demikian, di dalam hatinya, kepala Gieliemkun ini pikir.

"Kalau benar keterangan mereka, mereka dapat diberi maaf. Dengan mendapatkan mereka berdua, pasti itu lebih berharga daripada Liu Sam Cun bertiga..."

Sie Ie dan Seng Lam diangkat oleh Sukhong Hoa, sekarang mereka dibawa dia ke medan pesta itu, jikalau mereka berniat jahat, pasti Sukhong Hoa turut terembet-rembet.

Sebab ini, Sukhong Hoa menganggap perbuatan Sie Ie tidak mengapa...

Hong Kauw cerdik dan licin, ia masih menyangsikan keterangan Sie Ie itu.

Hanya, tanpa bukti, tak dapat ia sembarang bertindak.

Di lain pihak, ia jeri juga buat kegagahan Sie le berdua dan mereka itu demikian tenang sikapnya.

Karena ini, ia bersangsi.

Selagi orang berdiam, Seebun Bok Ya mengisikan dua cawan arak.

Ia angkat itu, sembari tertawa ia kata.

"Memang benar, siapa cupat pikiran dia bukan seorang kuncu, dan siapa tidak kejam, dia bukan taytianghu! Kam Kauwtauw, kaulah laki-laki sejati! Kau berani berbuat, kau berani bertanggung jawab! Kaulah orang kaum kita! Mari, mari! Aku hendak memberi selamat secawan arak kepadamu! Mari kita bersatu hati bekerja sama, pasti kita bakal dapat membasmi semua orang Rimba Persilatan di kolong langit ini!"

Sie Ie menyambut! cawan yang diangsurkan itu. Justeru itu ia melihat Seng Lam mengedipi mata padanya. Lantas ia tertawa berkakak, sama gembiranya seperti Seebun Bok Ya itu. Ia kata.

"Aku tidak kuat minum, cawanmu lebih kecil, mari kita menukarnya!"

Sembari berkata begitu, dengan kesehatannya yang luar biasa, ia menyambar cawan di tangannya Seebun Bok Ya, sedang yang di tangannya ia angsurkan kembali.

Seebun Bok Ya gusar sekali diperlakukan demikian macam.

"Kau! Kau!... Kurang ajar!"

Dia membentak.

"Hayo... hayo..."

Seng Lam telah bertindak sebat seperti Sie Ie.

Ia lompat ke belakang Seebun Bok Ya.

Ia lantas menggunai sebelah tangannya guna merangkul leher orang, untuk menarik ke belakang, guna membikin kepala orang ngelengak, karena mana Bok Ya terpaksa mengeluarkan suaranya itu, hingga dia mesti membuka mulutnya.

Justeru itu Sie le menuang arak ke dalam mulut orang!

Dasar dia liehay, orang she Seebun ini dapat berontak.

Seng Lam pun cerdik, ia melepaskan rangkulannya sambil berkelit mundur dengan tindakan Thianlo Pou.

Cangkir arak kena tersampok Seebun Bok Ya, dengan bersuara nyaring, cangkir itu jatuh ke lantai dan pecah, sisa araknya berhamburan.

Hanya aneh, arak itu mengeluarkan sinar api bercahaya.

Sudah ada sedikit arak yang masuk ke dalam mulut Seebun Bok Ya, dia lantas menyemprotkannya keluar, diarahkan ke muka Sie Ie, yang masih berada di depannya itu.

Berbareng dengan itu, dari tangan bajunya mengepul keluar asap yang berwarna.

Sie Ie berlaku awas dan sebat sekali.

Ia berkelit sambil tertawa nyaring, sembari berkelit itu, tangannya menyambar dua orangnya Seebun Bok Ya yang berada di sampingnya.

Ia tarik orang itu, untuk dijadikan tameng!

Maka celakalah dua orang itu, yang mukanya terkena arak dan asap itu.

Yang satu matanya terkena asap dan menjadi buta karenanya, yang lain kesembur arak hingga mukanya menjadi kebakar hangus!

Sie le lantas berteriak dengan pertanyaannya.

"Bukankah barusan kau mengajak aku bekerja sama? Kenapa kau sekarang berlaku begini kejam?"

Kejadian itu sangat luar biasa, semua hadirin kaget. Sukhong Hoa menjadi tercengang. Kouw Hong Kauw yang cerdik lantas maju di antara Seebun Bok Ya dan Sie le.

"Mari kita bicara baik-baik!"

Katanya, cepat.

"Mari kita bicara!"

"Dialah orang jahat yang datang kemari nelusup untuk menjadi mata-mata!"

Kata Seebun Bok Ya parau.

"Sukhong Tayjin, kau masih hendak melindungi mereka?"

Seebun Bok Ya mempunyai lima belas konco, kecuali Bu Hui Taysu dan dua saudara.

Nie tadi, masih ada tiga belas orang dengan pakaian serba kuning.

Mereka itu lantas bergerak mengurung Sie Ie berdua.

Karena itu, suasana seperti juga jemparing di busurnya, segera akan dilepaskannya...

Tepat saat sangat gawat itu, sekonyong-konyong orang mendengar suara tertawa yang nyaring disusuli kata-kata keras ini.

"Seebun Bok Ya, aku juga datang memberi selamat padamu!"

Kata-kata itu menggetarkan telinga, membuat orang terkejut.

Menyusul itu terlihat munculnya serombongan orang, di antara siapa yang berjalan di depan ialah seorang tua dengan tubuh tinggi dan besar, mukanya bercahaya merah.

Dia ini menyambar dua orang serdadu Gieliemkun yang bertugas menjaga, yang menghadang untuk minta keterangan, terus dia melemparkannya, hingga dua serdadu itu terlempar jatuh terbanting, menimpa meja sampai meja itu terbalik.

Yang heran ialah kedua serdadu itu bukan sembarang serdadu tapi mereka tak berdaya sama sekali, tanpa bersuara dicekuk dan enteng seperti dua ekor anak ayam, tubuhnya diangkat dan dilemparkan!

Semua orang heran hingga mereka tercengang.

Sukhong Hoa dan Kouw Hong Kauw kaget tetapi mereka maju bersama.

Tepat itu waktu dari belakang si orang tua kosen muncul seorang imam.

"Jangan turun tangan!"

Dia berseru.

"Inilah Loosianseng Beng Sin Thong!"

Menyusul itu ada lagi suara beberapa orang yang bertanya.

"Apakah itu bukan Kheng Tongcie dan Cin Tongcie?"

Sukhong Hoa melengak.

"Oh, Leng Siauw Tooheng!"

Ia berseru sejenak kemudian.

"Ini toh kau? Ya, benar, benar! Tooheng, aku mohon tanya, ada urusan apa Beng Loosianseng datang kemari?"

Rombongannya Beng Sin Thong lantas masuk semua, semua berdiri berbaris di belakangnya.

Di antaranya ada Yang Cek Hu, adik seperguruannya, Kie Siauw Hong, muridnya, Cin Tay dan Kheng Sun, kedua bekas tongcie Gieliemkun.

Leng Siauw Cu itu orang Coancin Pay seperti Sukhong Hoa.

Ketika Coancin Pay mengalami keruntuhan, Leng Siauw Cu hidup menyendiri di gunung Tay-soat San, sedang Sukhong Hoa membuang jubah sucinya dan menjadi tongnia dari Gieliemkun.

Meski demikian, berdua mereka bercita-cita membangun pula partai mereka.

Maka kebetulan sekali, disini mereka saling bertemu.

Para hadirin heran mendengar Beng Sin Thong datang untuk turut memberi selamat kepada Seebun Bok Ya.

Dia toh si hantu kepala!

Apa maksudnya yang sebenarnya?

Pula, semua orang berdebaran hatinya.

Kouw Hong Kauw berkuatir, hingga mukanya menjadi pucat.

Semua mata diarahkan kepada jago Siulo Imsat Kang itu.

"Urusan kita ini tidak ada hubungannya dengan urusan kamu!"

Berkata Leng Siauw Cu.

"Beng Loosianseng datang kemari untuk berhitungan dengan Seebun Bok Ya! Kamu semua jangan kuatir!"

Beng Sin Thong tertawa nyaring.

"Seebun Bok Ya!"

Dia menegur.

"bukankah kau hendak membasmi habis semua orang Rimba Persilatan di kolong langit ini? Bagus! Sekarang aku si orang she Beng, sekarang aku datang menganteri diriku sendiri! Kenapa kau masih tidak mau turun tangan?"

Peristiwa di gunung Binsan itu diketahui baik oleh Sukhong Hoa dan Hong Kauw.

Sebenarnya Sukhong Hoa ingin menarik Beng Sin Thong ke pihaknya.

Untuk itu ia telah minta perantaraannya Kheng Sun dan Cin Tay.

Ia hanya menyesal, Beng Sin Thong sudah menampik.

Beng Sin Thong terlalu jumawa, dia pun ingin membangun partai sendiri, guna menaklukkan semua jago Rimba Persilatan, maka dia tak sudi bekerja sama dengan lain orang.

Seebun Bok Ya berpikir lain lagi.

Ia menggunai ketika orang bertempur di Binsan, ia datang menyerbu.

Dengan tindakannya itu, Seebun Bok Ya membalas sakit hati pribadi dengan menggunai nama pemerintah.

Begitulah pihak Beng Sin Thong dan Binsan Pay kena dirugikan bersama.

Sukhong Hoa tidak setujui tindakan itu tetapi Seebun Bok Ya lagi sedang jayanya, dia tidak berani bilang apa-apa.

Di luar dugaan, sekarang Beng Sin Thong berani datang secara berterang.

Hong Kauw memberanikan diri.

Ia maju ke depan Seebun Bok Ya.

"Beng Loosianseng,"

Ia kata.

"aku minta kau jangan bergusar dulu, sukalah kau dengar perkataanku."

"Hm!"

Sin Thong bersuara sambil membuka lebar matanya.

"Bagaimana?"

"Loosianseng bilang Seebun Sianseng bersalah terhadap loosianseng dan karenanya loosian-seng hendak membuat perhitungan dengannya, itulah selayaknya,"

Berkata Hong Kauw.

"cuma malam ini malam pesta yang dihaturkan Sri Baginda terhadap Seebun Sianseng, aku minta sukalah kau memandang Sri Baginda dan memberikan muka kepadanya! Seebun Sianseng, kau tuanglah arak satu cawan, kau suguhkan itu kepada Loosianseng untuk menghaturkan maaf!"

Beng Sin Thong tertawa dingin.

"Dia justeru memikir untuk meracuni aku, mana dapat dia hanya menghaturkan maaf?"

Katanya.

Sukhong Hoa mengajukan diri.

la tak akur dengan Seebun Bok Ya tapi urusan ini gawat sekali, terpaksa ia mesti membantu suara kepada Kouw Hong Kauw.

Maka ia tarik tangannya Leng Siauw Cu kepada siapa ia kata.

"Suheng, tolong kau membantu membujuki Beng Loosianseng. Tidak apa dia hendak mencari balas, hanya... hanya..."

Beng Sin Thong tertawa lebar.

"Hanya kalau Seebun Bok Ya terbinasakan, kamu jadi tidak dapat bertanggung jawab terhadap raja, bukan?"

Kata dia, jumawa. Sukhong Hoa dan Kouw Hong Kauw bingung. Tanpa perdulikan lagi Seebun Bok Ya, keduanya menjura pada jago tua itu.

"Benar begitu,"

Kata mereka.

"Beng Sianseng, kaulah seorang yang mengerti keadaan, maka kami minta sukalah kau minum ini arak penghaturan maaf!"

Sin Thong tertawa lebar.

"Sungguh menarik hati, arak pemberian selamat berubah menjadi arak penghaturkan maaf!"

Katanya, mengejek.

"Sayang sekali aku si orang she Beng tak sudi minum arak macam ini!"

Ia berhenti sebentar, ketika ia berkata pula, lagu suaranya berubah.

"Maksudnya raja kamu, aku si orang she Beng tahu baik sekali! Raja kamu hanya memikir membasmi semua orang partai besar yang tak sudi menakluk kepada pemerintah! Usaha itu pasti tak dapat dilakukan oleh Seebun Bok Ya, sebaliknya aku si orang she Beng, suka aku menggantikannya bertanggung jawab untuk menyelesaikan itu! Bahkan aku tidak mengharapi bantuan kamu! Pula apabila aku berhasil nanti, aku pun tidak bakal menagih jasa atau hadiah dari raja kamu, tak nanti aku berebut pahala dengan kamu semua! Demikian, telah aku bicara, maka jikalau kamu masih merintangi aku, jangan nanti kamu katakan aku keterlaluan!"

Sukhong Hoa dan Kouw Hong Kauw tidak menyayangi Seebun Bok Ya, maka itu mendengar suaranya Beng Sin Thong, mereka masing-masing pikir.

"Hilang satu Seebun Bok Ya, dapat satu Beng Sin Thong! Dia pun tidak mau berebutan pahala! Inilah jual beli yang menguntungi dan tidak merugikan!..."

Karena ini, dua-duanya berdiam terus, tanpa banyak omong, mereka menyingkir dari depannya Seebun Bok Ya. Beng Sin Thong lantas membentak musuhnya.

"Seebun Bok Ya, mana kegalakanmu selama di Binsan? Jikalau kau benar laki-laki, mari maju melayani aku! Mesti terdapat kepastian di antara kita, siapa jantan siapa betina!"

Sengaja jago tua itu hendak membikin orang malu.

Ia bersikap terkebur bagaikan kucing hendak menerkam tikus.

Ia seperti hendak mempermainkannya dulu, baru digegares...

Sekonyong-konyong saja terdengar suara meletup, lalu terlihat asap menghembus naik, begitu tebal dan cepat melulahannya, meski ruang besar diterangi beberapa puluh tengloleng, sekalipun di depan mata, sukar orang melihat satu pada lain kecuali bayangan yang bergerak-gerak!

Seebun Bok Ya melihat gagalnya pembicaraan, ia pun mendapat kesan Hong Kauw dan Sukhong Hoa hendak mengorbankan padanya, maka itu justeru ia jeri melayani Beng Sin Thong, ia menggunai akalnya.

Ia melepas layar asapnya itu untuk ia menyingkirkan diri.

Orang menjadi kaget dan takut.

Mereka takut asap itu asap beracun.

Celaka siapa menyedotnya, pikirnya.

Oleh karena itu, orang berebutan lari ke pintu, guna pergi ke tempat terbuka.

Dengan begitu, keadaan menjadi kacau sekali.

"Kemana kau hendak kabur?"

Beng Sin Thong membentak, sambil tangannya menyambar.

Seebun Bok Ya sudah memikir masak-masak untuk meloloskan diri, dari itu begitu ia melepas asapnya, begitu ia lompat lari.

Benar Beng Sin Thong liehay akan tetapi dia masih terlambat sedikit, sambarannya itu tidak mengenai sasarannya, sebaliknya dia kena menjambak seorang dengan jubah kuning yang kebetulan melintas di dekatnya orang she Seebun itu.

Orang itu bernama Ciauw Tam.

Dialah satu di antara Kiepak Sam-mo-Tiga Hantu Utara.

Dia gagah tak di bawahan Seebun Bok Ya.

Ketika dia terjambak, dia merasakan sangat nyeri.

Karena yang tersambar itu tulang pipee-nya.

Karena itu, dia berontak menu-brukkan tubuh kepada penyerangnya.

Dia kuat dan keras tubrukan-nya itu, dadanya Sin Thong kena terhajar sampai Sin Thong merasa seperti dihajar martil besar, sakit dan matanya kegelapan.

Ia menjadi gusar sekali, meskipun matanya gelap, ia mengerahkan tenaganya meremas tulang pipee si baju kuning.

Ciauw Tam merasakan nyeri luar biasa akibat hancurnya tulang pundaknya itu.

Dia lantas roboh untuk tidak berkutik lagi.

Ketika itu, Seebun Bok Ya lari terus.

Layar asap itu tak dapat bertahan lama, meski asapnya dicampuri sedikit racun.

Seng Lam bersama Sie Ie, yang tidak turut menyingkir ke tempat terbuka, tidak takuti asap beracun itu.

Mereka berdua sudah siap dari siang-siang, mereka menjaga diri dengan mengemut Pekleng Tan, pil mustajab yang dibuat dari teratai Salju Thiansan.

Laginya, sebagai orang-orang liehay, mereka tak terhalang hebat oleh layar asap.

Maka dari itu, mereka maju terus.

Seebun Bok Ya mau menyingkir ke jalan atau terowongan rahasia di dalam istana.

Ketika dia baru sampai di muka pintu, Kim Sie Ie menyandaknya.

Sie Ie sudah lantas meluncurkan tangannya.

Sementara itu Hong Kauw senantiasa memasang mata pada Sie le.

Hong Kauw cerdas.

Ia melihat Beng Sin Thong pasti tidak bakal mencelakai raja meskipun Sin Thong kosen sekali dan telengas, karena itu ia bukan memperhatikan orang she Beng itu hanya si orang she Kam, Sie le itu masih gelap baginya.

Syukur bila orang tidak bermaksud jahat, kalau sebaliknya, raja sedikitnya bakal dapat kaget.

Demikianlah melihat Sie le mau menyerang Seebun Bok Ya, ia maju menyerang Sie Ie.

Tokciu Hongkay merasai sambaran angin, ia lantas berkelit ke samping.

Karena dibokong ia terlambat, lengannya kena tercekal.

Sambil memencet jalan darah kioktie dari Sie le, Hong Kauw menanya keras.

"Kam Kauwtauw, mau apa kau masuk ke dalam istana?"

Sie le sudah lantas mengenali orang she Kouw itu, maka ia pikir.

"Dialah congkoan dari istana, pantas dia kosen."

Tapi ia tidak berdiam saja, tanpa menjawab, ia mengerahkan tenaga dalamnya.

Hong Kauw terkejut.

Mendadak ia merasakan ia mencekal lengan yang keras, lalu mendadak pula lengan itu menjadi sangat lunak.

Ia heran sebab ia tahu jalan darah kioktie menjadi jalan darah yang penting, asal kena tertekan, itu dapat melemahkan tenaga lawan sampai lawan tak bergerak lagi.

Siapa tahu ia sekarang mendapatkan perlawanan luar biasa itu.

Cekalannya lantas terlepas dengan ia mesti mundur kaget dua tindak.

Habis melepaskan lengannya itu, Sie Ie menyampok ke samping.

Ia melihat satu bayangan berlompat ke arahnya, ia menyambut.

Bayangan itu mental balik, tetapi ia tidak terhajar celaka.

Ialah Kie Siauw Hong, murid yang pandai mencopet dari Beng Sin Thong.

Di saat kacau itu, ia menggunai ketikanya untuk bekerja memindahkan barang-barang orang.

Ia mengarah barang yang berharga atau yang dapat dijadikan tanda peringatan.

Begitulah dari sakunya Sukhong Hoa ia berhasil mendapatkan dua helai kertas tulis Gieliemkun yang kosong, hingga tinggal mengisi nama dan tanggal saja dengan itu orang bisa memerintahkan atau membekuk orang.

Kertas resmi yang belum terisi itu sudah ada cap kebesarannya.

Sekarang ini, selagi Sie Ie dicekal Hong Kauw, ia hendak meraba isi sakunya Tokciu Hongkay.

Lacur untuknya, ia terlambat, ia tersambut sampokan Hut ln Ciu.

Lebih dulu daripada itu, ia sudah menyambar pieyanhu kemala dari Hong Kauw.

Karena sampokan itu, ia terpental.

Berkat mahirnya ilmunya enteng tubuh, ia tidak terluka karena sampokan.

Tubuhnya jumpalitan dan lantas meluncur turun.

Beng Sin Thong dapat melihat gerakannya Kim Sie Ie, ia heran.

Ia memang baru saja membinasakan Ciauw Tam.

la kenal ilmu silat yang digunai Kim Sie Ie itu.

Bukankah cekatannya Hong Kauw lolos secara luar biasa dan Siauw Hong tersampok hebat?

Itulah ilmu silat Hut-in Ciu, Tangan Mengebut Mega, ilmu yang termuat dalam kitab warisannya Kiauw Pak Beng.

Dari heran, ia menjadi curiga.

Maka ia lompat maju pada Kam Kauwtauw.

"Kau siapa?"

Ia tanya keras.

Ia bukan cuma menanya, ia sekalian menyerang.

Bahkan ia menggunai Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan.

Yang ia jadikan sasarannya ialah batok kepala kauwtauw she Kam palsu itu.

Kim Sie Ie melihat datangnya serangan, ia menyambut dengan sentilan Tancie Sinthong.

Ia menggunai jari tengahnya.

Telak ia mengenai telapakan tangan jago she Beng, hingga ia dapat menyingkirkan pukulan yang dahsyat itu.

Walaupun demikian, ia merasa hawa yang sangat dingin, bingga ia terhuyung beberapa tindak, tubuhnya pun menggigil dua kali!

Kembali Sin Thong heran dan terkejut.

Orang tak roboh karena hajaran Siulo Imsat Kang.

Ini justeru membuatnya menyangka orang ini Kim Sie Ie yang lagi menyamar, cuma ia masih sangsi melihat roman orang yang tua.

Ia lagi memikir untuk menatap, atau mendadak Kim Sie Ie berludah kepadanya, menyerang dengan Tokliong Ciam, jarum Naga Beracun.

Dengan sebat ia mengibaskan tangan bajunya, membikin punah serangan itu, akan tetapi ludah yang lunak itu nempel di tangan bajunya.

Habis berludah, Sie Ie kata tertawa.

"Tak usah kau perdulikan aku siapa! Kau mengganas disini, tak senang aku melihatnya!"

Sin Thong gusar, ia segera menyerang, yang kedua terus disusul dengan yang ketiga.

Ia menggunai pukulan Kimkong Ciang dengan tenaga penuh.

Pukulannya ini beda daripada Kimkong Ciang kebanyakan ahli silat lainnya.

Kimkong Ciang mengandal tenaga luar, tetapi Sin Thong menggabungnya dengan tenaga dalam.

Maka itu, pukulannya ini dahsyat.

Tengah Sin Thong menyerang Sie le itu, ia juga dibarengi diserang oleh dua orang, yang berlompat kepadanya, masingmasing dengan senjata ruyung Hangmuie dan roda Tiatlunpoat, semuanya gegaman yang berat.

Sambil menyerang, dua orang itu berseru.

"Gantilah jiwa adikku yang ketiga!"

Dua orang itu dua dari Kiepak Sammo lainnya.

Yang satu bernama Pauw Hiok, yang lainnya Ong In.

Mereka hendak menuntut balas untuk Ciauw Tam.

Bertiga mereka hidup seperti saudara kandung, tidak heran mereka ini gusar tak kepalang.

Beng Sin Thong berseru, kedua tangannya dibarengi dipentang.

Dengan itu ia menangkis dua senjata dengan tangan kosong, dengan ilmu silat Kimkong Ciang.

la membuatnya terdengar suara beradu yang nyaring.

Pauw Hiok kaget sekali.

Senjatanya mental, menghajar seorang berbaju kuning di sampingnya, hingga orang itu roboh dengan kepalanya pecah dan jiwanya terbang melayang.

Ong In tidak kurang kagetnya.

Di antara tiga Kiepak Sammo, ialah yang terkuat, senjatanya tidak sampai terpental, tetapi getaran tangkisan membikin telapakan tangannya nyeri.

Tiatlunpoat dari Ong In mempunyai ujung yang bergigi seperti gergaji, gigi itu menyambar baju Sin Thong hingga baju itu robek.

Maka itu di samping kaget, Sin Thong menjadi gusar sekali, dalam sengitnya, ia berbalik menyerang!

"Maju semua!"

Berseru Kim Sie Ie sambil ia menyambuti serangan Sin Thong itu, tetapi habis itu, ia menyingkir dengan tindakan Thianlo Pou.

Orang-orangnya Seebun Bok Ya mengira Sie le rekan mereka.

Melihat Sin Thong demikian garang, mereka maju serentak.

Mereka telah menyaksikan Sin Thong di Binsan, mereka tidak puas, benar mereka jeri tapi mereka penasaran.

Mendengar seruan Sie le, yang mereka kenal sebagai Kam Kauwtauw, mereka menerjang.

Di antara mereka ada sembilan orang yang berbaju kuning itu.

Selagi Sin Thong dikurung, Sie le menyingkir di antara sisa layar asap.

Ia bukan jeri terhadap Sin Thong, ia bukannya tak sudi melayani, ia menyingkir karena telinganya menangkap panggilan Le Seng Lam, yang menyerukan ia dengan jalan ilmu Thiantun Toan-im, supaya ia lekas datang.

Seebun Bok Ya dari pintu samping lari masuk ke ruang belakang, ia tahu di dalam istana Lie Kiong rtu ada sebuah jalan rahasianya, ingin ia menyingkir dari pintu rahasia itu.

Ia kabur dengan hatinya terganggu rasa takutnya.

Tadi ia dicekoki arak oleh Sie Ie, benar ia dapat muntahkan itu tetapi sudah ada sedikit yang tertelan Ia takut sebab racun yang ia campur dalam arak itu racun yang berupa nyali merak yang liehay.

Ia menyesal, gagal meracuni Kim Sie le, sebaliknya ia sendiri yang menjadi korban.

Racun makan tuan!

Syukur ia memiliki tenaga dalam mahir dan ia pun keburu makan obat pemunahnya, ia tidak roboh segera karenanya.

Hanya selang sekian lama itu, racun sudah mulai bekerja, dari itu perlu ia dengan sebuah tempat sunyi, untuk ia beristirahat sambil mengobati diri.

Tempat itu ialah jalanan rahasia yang ia kenal itu.

Sepak terjangnya Beng Sin Thong ini menggemparkan seluruh Lie Kiong.

Hanya bagus untuk Sin Thong, bukannya sekalian wiesu pada muncul, untuk mengepung ia, sebaliknya mereka pada menyembunyikan diri.

Mereka jeri sebab mereka tahu Sin Thong kosen luar biasa.

Mereka juga belum tahu Sin Thong datang untuk mencari Seebun Bok Ya seorang, Dalam bingungnya, karena kepalanya pusing, Seebun Bok Ya tidak lantas dapat mencari pesawat rahasia dari jalan dalam tanah itu.

Selagi ia bergelisah, ia mendengar bentakan.

"Kau hendak lari?"

Dalam kagetnya, ia lantas menyerang dengan dua potong Tokliong cwie yang beracun.

Sayang untuknya, ia terganggu racunnya sendiri, tenaga dalamnya telah berkurang, maka senjata rahasianya itu jatuh di tempat tak ada satu tombak jauhnya...

Kemudian ia dapat melihat tegas, orang itu dandan sebagai tentara Gieliemkun.

Hatinya menjadi sedikit lega.

Ia lantas menanya.

"Aku bukannya musuh! Apakah kau tidak kenal aku?"

Opsir Gieliemkun itu menjawab.

"Aku tahu kaulah Seebun Bok Ya! Sri Baginda telah mengeluarkan banyak uang mengundangmu, supaya kau membasmi habis semua orang Rimba Persilatan, supaya kau dapat diangkat menjadi Guru Negara!"

"Itulah benar!"

Sahut Seebun Bok Ya.

"Kau kenal aku, maka itu kitalah orang-orangnya Sri Baginda, yang mesti bekerja untuknya! Kita tidak bermusuh, kenapa kau hendak mengganggu aku?"

"Kau memang tidak bermusuh denganku!"

Sahut opsir itu.

"Tapi hendak aku tanya kau, kalau seorang dibikin celaka, dia pantas mencari balas atau tidak? Hendak aku tanya kau, kau bermusuh apa dengan Keluarga Le? Kenapa kau membantu si hantu she Beng membasmi Keluarga Le itu?"

Seebun Bok Ya kaget tidak terkira. Orang menyebutnya perkara lama.

"Kau! Kau siapa?"

Ia tanya, tubuhnya menggigil, suaranya menggetar. Opsir itu Seng Lam sendiri, la menghunus pedangnya sambil membentak.

"Kau perduli apa aku siapa? Lekas kau serahkan Pektok Cinkeng! Kalau tidak, kau harus binasa di ujung pedangku ini!"

Sebagai ancaman, Seng Lam menabas sebuah pilar di sampingnya, hingga pilar batu itu gempur!

Kembali Seebun Bok Ya kaget, mukanya menjadi pucat.

Sudah disebut urusan Keluarga Le, sekarang ia mendengar halnya kitab itu, kitab Seratus Racun, la mundur saking kagetnya itu.

"Kitab itu tidak ada padaku sekarang..."

Sahutnya.

"Kau biarkan aku pergi dari sini, nanti aku ambil itu untuk diserahkan pada kau..."

Seng Lam tidak tahu pasti kitab ada pada tubuh orang atau tidak, maka ia telah mengancam itu, ia tidak mau segera turun tangan; sekarang melihat roman orang dan mendengar penyangkalannya itu, sebagai seorang yang cerdik, ia dapat menerka.

Ia merasa pasti kitab itu dibawa-bawa jago itu.

Ia lantas tertawa dingin dan berkata.

"Benarkah kitab itu tak ada pada tubuhmu? Mari aku geledah kau!"

Kata-kata itu dibarengi dengan lompatan pesat dan luncuran pedang.

Seebun Bok Ya tak sempat berdaya, maka bajunya bagian depan telah kena terobek.

Meski demikian, ia tidak menyerah dengan begitu saja, ia lantas menimpukkan asap beracunnya, asap yang dicampuri jarum Bweehoa ciam yang liehay!

Baca Juga: Golok Bulan Sabit 7

Baca Juga: Lentera Maut 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger